Donasi

Buat yang punya rejeki berlebih dan merasa terhibur dengan Situs Cerita Silat Cersil Terbaik ini bisa mendonasikan bantuannya ke
No. Rekening BPD Jateng No. 2004084554
demi keberlangsungan dan keberadaan Blog Cersil Cerita Silat yang sama-sama kita cintai ini. Kritik dan Saran hub No HP.083837358519. Atas Bantuannya disampaikan Terimakasih.

Kamis, 31 Mei 2018

Pedang Cheng Hoa Kiam 3

=====
baca juga

Merah wajah Kong Bu. Memang ia sudah tahu akan sepak terjang tunangannya, akan tetapi karena memang sudah menjadi pekerjaan Tai it Cinjin sejak dahulu, yaitu membasmi penjahat dan pembesar atau hartawan jahat, merampasi uang mereka untuk dipakai menolong rakyat yang sengsara, maka iapun tidak bisa apa-apa.
"Dua orang nona ini adalah murid Tai It Cinjin, sudah menjadi tugas mereka membasmi penjahat dan merampas hartanya untuk dibagikan kepada mereka yang membutuhkan pertolongan. Kau mencela orang akan tetapi kau sendiri......... tahu-tahu kau malah mencuri uang itu dan kuda!"
Diam-diam Kun Hong terkejut. Pantas saja dua orang nona itu lihai sekali, tidak tahunya mereka murid Tai It Cinjin yang pernah ia temui di puncak Wuyi-san bersama dua orang lain bernama Im-yang Siang-cu yang lihai juga dan yang berhasil merampas pedangnya, Cheng-hoa-kiam!
"Ah, kiranya ji-wi lihiap ini murid Tai It Cinjin? Kalau begitu aku telah berlaku kurang hormat. Pernah aku bertemu dengan beliau, juga dengan dua, orang tua yang disebut Im-yang Siang-cu. Tidak tahu apakah masih ada hubungan pula dengan ji-wi lihiap?"
"Im-yang Siang-cu adalah susiok (paman guru) mereka!" kata Kong Bu yang mengira bahwa pemuda ini adalah kenalan orang tua itu."Apakah kau kenal baik dengan mereka?"
Kun Hong tersenyum. Pedangnya dirampas, bagaimana bisa disebut kenal baik? Ia menggeleng kepala lalu berkata, "Tidak, hanya pernah bertemu saja. Tentang uang dan kuda, sebetulnya bukan kebiasaanku untuk memakai barang orang lain. Akan tetapi ketika itu pemiliknya sudah tewas, dari pada kuda dan uang menggeletak di sana, maka kubawa. Tentu aku tidak keberatan untuk memberikan kepada siapa saja asal.........”
"Asal bagaimana? Hayo katakan!" bentak Hui Nio
"Benda-benda ini sudah tidak ada pemiliknya lagi. Kalau sekarang diperebutkan, mudah saja. Di antara orang gagah ada pepatah yang berbunyi bahwa kalau tidak bertempur tidak saling mengenal dan dalam memperebutkan sesuatu siapa yang lebih kuat dia yang berhak dan menang!"
"Kau menantang?" seru Kong Bu yang menjadi panas juga hatinya "Mari maju dan kau cobalah golokku!" Dengan gerakan yang kuat dan gagah pemuda ini sudah mencabut golok besarnya yang berkilauan saking tajamnya.
Kun Hong menjura dan mencabut pedangnya perlahan. "Aku mendapat kehormatan besar sekali menerima pelajaran Kong ciangkun." Lalu ia siap-siap menghadapi pemuda ini yang kelihatan amat kuat.
"Bagus, Gan Kun Hong. Lihat golokku!" Seruan ini keras sekali dan tiba-tiba mata Kun Hong menjadi silau melihat sinar golok yang seperti kilat menyambar datangnya.
304
Kun Hong terkejut dan cepat mengelak, maklum akan kekuatan dan kecepatan lawan ini. Benar saja, serangan pertama yang dapat ia elakkan itu disusul serangan ke dua ke tiga dengan amat cepatnya sehingga Kun Hong harus mengeluarkan kepandaiannya untuk menangkis dan mengelak. Diam-diam ia kagum sekali karena ternyata olehnya bahwa kepandaian pemuda ini tidak kalah oleh See-thian Hoat-ong, ayah pemuda itu! Memang demikianlah halnya, Kong Bu sudah semenjak pertunangannya dengan Hui Nio, mendapat banyak petunjuk dari Tai It Cinjin sehingga ia mendapatkan kemajuan pesat sekali.
Akan tetapi segera ternyata bahwa betapapun lihainya ilmu golok yang dimainkan pemuda gagah itu, Kong Bu bukanlah lawan Kun Hong yang mendapat gemblengan dari Thai Khek Sian. Kalau Kun Hong menghendaki, sebentar saja ia sudah pasti dapat merobohkan lawannya. Akan tetapi aneh sekali, watak Kun Hong sudah banyak berubah. Ia tidak haus akan kemenangan, kalau tadi ia ingin bertempur, itu hanya untuk mencoba kepandaian orang-orang yang menarik, hatinya itu. Ia malah merasa suka dan sayang kepada Kong Bu maka dalam pertempuran inipun ia banyak mengalah.
Bagi seorang ahli silat yang sudah tinggi kepandaiannya seperti Kong Bu, tentu saja tahu bahwa lawannya banyak mengalah, dan tahu pula bahwa lawannya ini benar-benar lihai luar biasa dan memiliki ilmu pedang yang aneh sekali. Akan tetapi tentu saja ia tidak mau menerima begitu saja, apa lagi di depan tunangannya. Malang baginya, tingkat kepandaian tunangannya, Hui Nio atau adiknya, Hui Sian. sebetulnya masih lebih tinggi dari padanya, maka tentu saja Hui Nio dan Hui Sian juga tahu bahwa Kong Bu bukanlah lawan Kun Hong dan bahwa pemuda aneh itu memang sengaja mengalah.
”Bu-ko, mundurlah biarkan kami yang mencoba ilmu pedangnya!" teriak Hui Nio sambil melompat dan menyerang dengan pedang ke arah tenggorokan Kun Hong, mewakili tunangannya. Melihat ini, sebagai seorang gagah, Kong Bu cepat- cepat mundur dan berkata, "Orang she Gan benar-benar hebat kepandaianmu!"
Hui Sian tidak tinggal diam. Melihat encinya sudah bertarung, iapun lalu menerjang dengan pedangnya. Pedang enci dan adik ini memang hebat sekali, berkelebatan dan sinarnya bergulung-gulung bagaikan dua ekor naga yang bermain-main di antara mega.
Kun Hong gembira sekali. Kini sepenuhnya ia menghadapi ilmu pedang Bu-tong-pai yang terkenal kuat dan indah. Akan tetapi kembali ia terheran heran karena lagi-lagi ia melihat gerakan gerakan seperti ilmu silatnya sendiri tercampur dalam ilmu pedang Bu-tong-pai itu. Kembali ia merasa menghadapi teka-teki. Kalau gerakan-gerakan Wi Liong yang hampir menyerupai ilmu silatnya sendiri, dia tidak usah heran karena guru Wi Liong adalah Thian Te Cu yang masih terhitung suheng dari gurunya sendiri. Thai Khek Sian. Juga ilmu silat ayahnya, Beng Kun Cinjin: tentu saja mempunyai persamaan dengan ilmu silatnya, karena Beng Kun Cinjin adalah putera Gan Yan Ki yang terhitung masih sute dari gurunya. Akan tetapi mengapa dua orang nona ini mempunyai gerak-gerik yang bersumber sama dengan ilmu silatnya? Apakah mereka ini mewarisi ilmu dari sumber Thian Te Cu, ataukah dari Beng Kun Cinjin?
Di lain lihak, dua orang nona itu, sekali lagi menghadapi kenyataan pahit yang amat mengherankan hati mereka. Dahulu, ketika mengeroyok Kun Hong dengan tangan kosong, mereka sudah merasa aneh mengapa ilmu mereka yang mereka warisi dari Thai It Cinjin. menjadi melempem dan tidak berguna terhadap pemuda ini. Mereka sekarang mengira bahwa dengan pedang yanig menjadi
305
senjata yang paling diandalkan oleh golongan Bu-tong-pai, mereka tentu akan dapat membalas kekalahan tempo hari. Akan tetapi mereka kecele. Juga kali ini pemuda itu dapat menghadapi ilmu pedang mereka dengan ilmu pedang yang amat aneh, kelihatan rancu dan tidak seberapa, akan letapi anehnya selalu dapat menindih sinar pedang mereka dan dapat mengurung mereka dengan gulungan yang aneh, yang membuat enci adik itu merasa dirinya terkurung!
Kalau menurut hasrat hatinya, Kun Hong ingin membikin kapok dua orang gadis yang tak mau terima kalah ini, ingin ia membikin mereka tidak berdaya atau setidaknya melepaskan pedang mereka. Akan tetapi ia segera terimgat kepada Eng Lan dan merasa bahwa tentu Eng Lan tidak suka melihat dia berlaku demikian. maka kembali kali ini ia banyak mengalah. Pedangnya bergerak cepat bukan main, diputar-putar sehingga dua orang gadis itu terpaksa mengikuti gerakan ini karena pedang mereka seakan-akan sudah berakar menempel pada pedang pemuda itu. Pandangan mata mereka menjadi kabur, kepala pening dan tangan kanan pegal-pegal dan tergetar sehingiga hampir saja mereka melepaskan gagang pedang. Bukan main terkejut hati mereka dan kali ini betui-betul mereka harus mengakui bahwa mereka telah berhadapan dengan seorang pemuda yang berkepandaian tinggi! Sama sekali mereka tak mimpi bahwa pemuda ini malah pernah dikeroyok dua oleh susiok mereka yang hanya bisa mendesak setelah mengeroyok dua, malah baru bisa mendesak karena pemuda ini pada saat itu tidak kuat menghadapi serangan tenaga gwakang.
Tiba-tiba mereka berdua merasa lega karena gulungan sinar pedang yang aneh dan membuat mereka tak berdaya itu tiba-tiba lenyap disusul melompatnya Kun Hong ke belakang sambil berkata.
"Ji-wi lihiap benar-benar lihai sekali ilmu pedangnya. Siauwte mengaku kalah dan biarlah uang dan kuda siauwte lepaskan"
Hui Nio boleh jadi berhati keras dan tak kenal takut, akan tetapi dia memiliki semangat gagah dan watak jujur. Melihat sikap Kun Hong. ia lalu berkata.
"Kami sudah kalah, bagaimana kau bisa bilang begitu?" Berkata demikian sambil menyimpan pedangnya. Juga Hui Sian menyimpan pedangnya dan pandang matanya kepada Kun Hong makin kagum.
Kong Bu melangkah maju, wajahnya girang. "Saudara Gan Kun Hong benar-benar hebat! Kau murid siapakah? Baru kali ini aku bertemu dengan orang yang selihai ini ilmu silatnya."
Kun Hong menggeleng kepalanya. Dia sekarang mulai terbuka matanya betapa berbeda sikap dan jalan hidup orang-orang seperti Thai Khek $ian, Buceng Tok-ong, Tok-sim Sian-li dan yang lain-lain. Betapa tidak baik watak mereka. Maka ia merasa malu untuk mengaku bahwa dia murid Thai Khek Sian yang menjadi datuk atau tokoh nomor satu dari Mo-kauw.
"Ah. aku hanya belajar silat sedikit, sedikit dari sana-sini, mana ada harganya untuk dipamerkan? Kong-ciangkun barulah benar-benar gagah perkasa dan ji-wi lihiap inipun mengagumkan sekali."
Sikap merendah ini mendatangkan simpati di hati Kong Bu, juga dua orang gadis itu sekarang dapat menduga bahwa Kun Hong bukanlah "maling kecil" seperti yang tadinya mereka duga.
306
"Saudara Gan Kun Hong harap jangan merendah. Kami bertiga merasa tunduk sekali dan alangkah akan senangnya hatiku kalau kau suka menerima uluran tanganku untuk menjadi sahabat."
Bukan main girangnya hati Kun Hong. Alangkah bedanya sikap orang-orang ini dengan sikap orang-orang di dunianya yang selalu hidup menurut aturan dan seenaknya sendiri, tanpa sopan-santun hidup yang menjadi penghias indah dari kehidupan penuh kepahitan ini. Dengan serta merta dan gembira sekali Kun Hong mengulurkan kedua tangan dan di lain saat ia sudah berpegang lengan dengan Kong Bu.
"Kong-ciangkun, terima kasih......... terima kasih bahwa kalian yang budiman sudi menganggap aku yang rendah sebagai sahabat”.
Pernyataan dan sikap penuh nafsu kegembiraan ini mengherankan Kong Bu dan dua orang nona itu, akan tetapi juga menggirangkan hati mereka.
"Ah, kau selalu merendahkan diri. Kau sudah mendengar tadi bahwa aku bernama Kong Bu putera See-thian Hoat-ong. Dan dua orang nona ini, dia ini bernama Liok Hui Nio........."
"Calon isterinya!" Hui Sian menyambung dengan jenaka dan genit.
"Hushh......... kendalikan mulutmu!" Hui Nio. encinya Membentak.
Kong Bu tersenyum. "Terhadap seorang sahabat baik seperti saudara Gan, kiranya tak perlu ada rahasia apa-apa. Betul, saudara Gan, Liok Hui Nio ini adalah tunanganku dan dia itu adalah adiknya, Liok Hui Sian........"
"Masih belum ada tunangan.........!" kembali Hui Sian memotong sambil melirik dengan wajah merah.
Kali ini terpaksa Hui Nio tersenyum dan Kong Bu terbahak. "Betul, dia masih belum ada tunangan karena setiap orang ditolaknya! Dan mereka berdua ini adalah murid-murid Thai It Cinjin."
Kun Hong mengangguk-angguk. "Aku mendapat kehormatan besar sekali dengan perkenalan ini. Dan harap ji-wi lihiap sudi memaafkan aku bahwa tempo hari aku telah berlaku lancang. Aku sama sekali tidak tahu bahwa ji-wi (kalian) adalah orang-orang gagah yang melakukan tugas sebagai gi-to (maling budiman) Biarlah uang dua kantong dan kuda kukembalikan kepada ji-wi disertai maaf sebesarnya."
Wajahnya dua orang nona itu menjadi merah "Sudahlah, saudara Kun Hong mengapa hal itu diributkan lagi? Kau sedang melakukan perjalanan, tentu membutuhkan kuda itu dan uang untuk bekal. Uang yang didapat dari perampok hina macam Tan Kak itu, boleh saja dipakai," kata Hui Nio.
Kong Bu membenarkan ucapan tunangannya ini dan ikut memaksa sehingga Kun Hong tidak dapat lagi membantah.
"Terima kasih atas kebaikan sam-wi. Biarlah lain kali aku memerlukan datang berkunjung. Tidak tahu di manakah tempat tinggal sam-wi?"
307
"Pada waktu ini aku ditugaskan menjaga keamanan pantai dan tinggal di kota Wen-couw. Adapun dua orang nona ini tinggal bersama guru mereka di dusun Kim-lee-san di pantai laut. Harap saudara Gan sudi mampir kedua tempat itu apa bila kebetulan lewat."
"Tentu, tentu............ biarlah lain kali kita berjumpa kembali”. Setelah memberi hormat kepada tiga orang itu. Kun Hong cemplak kudanya dan melarikan kudanya ke jurusan timur dengan cepat.
Kong Bu dan dua orang nona itu memandang sampai lama, kemudian Kong Bu menarik napas panjang. "Dia lihai sekali, entah murid siapa. Kalau orang seperti dia itu mau membantu perjuangan menentang musuh, tentu akan lebih kuat pertahanan kita."
Dua orang gadis itu tidak berkata apa-apa mendengar pernyataan pemuda yang berpikir seperti seorang pejuang tulen itu, akan tegapi di dalam hati mereka terdapat perasaan yang berlainan. Hui Nio diam-diam merasa curiga dan masih belum percaya betul kepada Kun Hong. sebaliknya Hui Sian diam-diam telah jatuh hati kepada pemuda yang ganteng, gagah dan berilmu tinggi itu.
Perjalanan Kun Hong melalui daerah yang berbukit, daerah yang bukit- bukitnya terdiri dari batu-batu karang yang tinggi dan runcing, sukar untuk dilalui. Memang, di antara daerah datar dan rendah di Tiongkok tenggara. Propinsi-propinsi Hok-kian dan Cekiang merupakan daerah yang agak tinggi dengan bukit-bukit Wuyi-san, Tai-goan-san dan Tien-mu-san. Kaki bukit-bukit ini terus sampai ke laut.
Terpaksa Kun Hong tak dapat melakukan perjalanan cepat. Untung baginya kuda. yang ia rampas dari perampok Thiat-thouw-sai Tan Kak itu adalah seekor kuda yang baik keturunan barat. Kalau hanya kuda biasa saja kiranya sudah tidak kuat dipakai mendaki menurun bukit-bukit yang terjal dan berbatu karang itu. Dari keterangan penduduk dusun ia mendapat keterangan bahwa di laut timur memang banyak terdapat pulau-pulau kecil, pulau-pulau kosong yang jarang didatangi orang, atau malah tak pernah didatangi orang kecuali para nelayan sewaktu mendarat di pulau-pulau kosong untuk beristirahat atau menyelamatkan diri dari serangan taufan.
"Entah apa nama pulau-pulau itu." demikian keterangan seorang dusun yang, sudah tua dan dahulunya juga menjadi nelayan di pantai. "Para nelayan memberi nama yang seram-seram, kadang-kadang memberi nama menurut bentuk pulau- pulau itu sendiri maka timbul nama-nama seperti Kim-ke to (Pulau Ayam Emas), Hek-hi-to (Pulau Ikan Hitam) dan lain-lain. Entah di sana ada pulau namanya Ban-mo-to atau tidak, aku tidak tahu."
Kun Hong tidak menjadi kecil hati mendengar ini. Kalau perlu; ia akan mengelilingi kepulauan kecil itu dengan sebuah perahu sampai ia dapat mencari Bari-mo-to, menemui Kui-bo Thai-houw pemilik mustika Im-yang-giok-cu untuk mengobati luka di jantungnya.
Tiga hari kemudian, setelah melakukan perjalanan yang melelahkan dan sukar sehingga kudanya sudah hampir tidak kuat lagi, Kun Hong tiba di atas bukit karang yang menjulang tinggi di tepi pantai. Ia turun dari kudanya, mendekati tepi batu karang dan menjenguk ke bawah. Laut kebiruan terbentang luas di depannya. Air itu dari tempat tinggi kelihatan tenang tak bergerak seperti kain sutera biru dibentangkan, berkeriput sedikit di sana-sini dengan busa, keputihan.
’Aku sudah sampai di tepi laut’, pikirnya. ’Akan tetapi bagaimana harus berlayar mencari Pulau Ban-mo-to?’ Terlihat jauh di tengah laut pulau-pulau kecil yang hanya merupakan titik-titik hitam besar
308
kecil. Yang manakah di antara pulau-pulau itu letaknya Ban-mo-to? Pemuda ini sama sekali tidak tahu bahwa sejak tadi, dua pasang mata memandanginya dengan penuh keheranan. Dua pasang mata dua orang kakek yang duduk berlindung dari panasnya matahari di balik sebuah batu karang. Ia tidak tahu bahwa ia telah berada di dekat dusun Kim-lee-san, tempat tinggal Tai It Cinjin dan Im-yang Siang-cu! Tidak tahu bahwa pada saat itu. Im-yang Siang-cu malah sudah melihatnya ketika dua orang kakek ini sedang berada di tempat itu.
Im-yang Siang-cu yang tadinya merasa heran melihat datangnya seorang pemuda di tempat sunyi itu ketika mengenal Kun Hong sebagai pemuda di Wuyi-san yang bertempur dengan mereka, tiba-tiba tertawa-tawa.
"Ha-ha-ha, kiranya murid Thian Te Cu yang datang!" kata lm Thian Cu kakek yang tinggi kurus dengan suara mengejek.
"Jadi dia belum mampus terkena pukulanku? Ha-ha, orang muda, apa kau hendak mencari Cheng-hoa-kiam? Pedangmu itu di sini, lihatlah," ejek Yang Thian Cu, kakek yang pendek gemuk, ahli gwakang yang pernah melukai Kun Hong dengan hebat di puncak Wuyi-san.
Tadinya Kun Hong tercengang mendengar suara ketawa dua orang itu, akan tetapi setelah dia menengok dan mengenal siapa adanya dua orang yang mentertawakannya. mukanya berubah merah dan timbullah kemarahannya.
"Kalian benar. Aku datang hendak merampas kembali pedangku Cheng-hoa-kiam." katanya tenang, sedikitpun tidak takut. Dengan sigap ia menghampiri tempat dua orang musuh lamanya itu berdiri.
Im-yang Siang-cu tertawa-tawa, akan tetapi diam-diam mereka kagum juga akan keberanian pemuda itu.
"Orang muda, memang kami akui bahwa kepandaianmu lumayan, akan tetapi menghadapi kami berdua kau sudah kalah. Mengapa sekarang kau berani mati hendak minta kembali pokiam (pedang pusaka)? Apa kau betul-betul sudah bosan hidup?" kata Yang Thian Cu yang maklum bahwa kelemahan pemuda itu adalah menghadapi penyerangan dengan tenaga gwakang.
"Aku tidak bosan hidup dan pasti aku dapat merampas kembali pedangku asal saja kalian dua orang tua tidak bersikap pengecut."
Im-yang Siang-cu adalah jago-jago Bu-tong pai yang berkepandaian tinggi sekali dan kedudukan mereka di dunia kang-ouw memang sudah terkenal, tentu saja mereka marah bukan main mendengar pemuda ini berani menuduh mereka bersikap pengecut.
"Bocah sombong, baru menjadi murid Thian Te Cu saja kau sudah begitu sombong! Kami merampas pedangmu bukan karena inginkan Cheng-hoa-kiam, akan tetapi untuk memberi hajaran dan tahu rasa kepada Thian Te Cu bahwa di dunia ini bukan dia saja yang pandai. Kalau kau memang mempunyai kepandaian, boleh kau kalahkan kami dan ambil kembali pedang itu! kata Im Thian Cu marah.
''Pedangku sudah kalian rampas, tentu saja dengan pedang biasa ini aku tak dapat melawan pedang kalian yang lebih kuat. Coba Cheng-hoa-kiam berada di tanganku, dalam beberapa jurus saja aku akan mampu mengalahkan kalian orang tua kepala besar!"
309
Yang Thian Cu tertawa lebar. ''Benar-benar bermulut besar! Dalam pertempuran di Wuyi-san kau sudah kalah, terluka oleh pukulanku dan pedangmu sampai terampas. Kalau sekarang kau kalah lagi, jangan salahkan kami kalau jiwamu melayang.
"Kesinikan pedangku dan aku akan memperlihatkan kalian bagaimana caranya orang bermain pedang!" Kun Hong sengaja bicara besar untuk memanaskan hati kedua orang jago pedang Bu-tong-pai itu.
Karena percaya bahwa mereka berdua takkan kalah oleh pemuda bekas pecundang ini. Yang Thian Cu melemparkan pedang Cheng-hoa-kiam yang dulu dirampasnya itu kepada Kun Hong. Pemuda itu dengan amat girangnya menyambut Cheng-hoa-kiam dan mengelus-elus pedang pusakanya itu. Dengan pedang ini di tangan ia tidak kakut melawan dua orang kakek ini. Dahulu ia kalah oleh karena ia masih belum sembuh dari pengaruh pukulan Im-yang-lian-hoan bagian Thai-yang sehingga ia memang pantang menerima pukulan gwakang. Akan tetapi sekarang lukanya akibat pukulan Thai-yang itu sudah disembuhkan oleh Beng Kun Cinjin dan sekarang ia berani menghadapi lweekang maupun gwakang dari dua orang kakek ini!
Kun Hong sengaja tidak membantah ketika dua orang kakek itu menyangka ia murid Thian Te Cu, karena entah bagaimana sekarang ia merasa malu dan sungkan untuk mengaku menjadi murid Thai Khek Sian si raja orang jahat! Ia menjura kepada Im-yang Siang-cu dan berkata,
"Terima kasih atas pemberian kembali pedang ini. Hendaknya ji-wi suka memperkenalkan diri, karena kalau sampai aku tewas biar aku tahu siapa yang merobohkan aku."
Dua orang kakek itu saling pandang, agaknya heran menyaksikan perubahan sikap yang sekarang sopan ini.
"Orang muda. belum tentu kami akan membunuhmu. Sebagai murid Thian Te Cu memang kau sudah cukup berharga untuk mengenal kami. Kami adalah Im-yang Siang-cu dari Bu-tong-pai, dia ini suteku disebut Yang Thian Cu dan aku sendiri Im Thian Cu." kata Im Thian Cu sambil mencabut pedangnya diturut oleh sutenya.
Baru sekarang Kun Hong tahu bahwa dua orang kakek lihai yang disebut Im-yang Siang-cu ini kiranya jago-jago terkenal dari Bu-tong-pai. Ia tidak berniat mencelakakan dua orang ini, pertama-tama karena memang ia tidak bermusuhan dengan mereka dan bentrokannya dengan mereka di Wuyi-san adalah karena kebeitulan saja. Tentu mereka ini memusuhinya di waktu itu karena menyangka ia murid Thian Te Cu. Pedang sekarang sudah dikembalikan dan lebih lagi. mereka ini masih susiok (paman guru) dari dua orang dara jelita Hui Nio dan Hui Sian. Bagaimana ia bisa memusuhi mereka? Asal aku dapat mengalahkan mereka, cukuplah. pikirnya sambil bersiap dan berkata, "Ji-wi. silahkan bergerak!"
Im-yang Siang-cu sudah cukup maklum akan kelihaian ilmu pedang pemuda ini. yang sudah mereka rasai di puncak Wuyi-san. maka tanpa membuang banyak waktu dan tanpa seji (sungkan) lagi mereka lalu menggerakkan pedang melakukan gerakan menyerang.
310
Kun Hong berkelebat mengelak, memutar pedang dan balas menyerang. Di lain saat tiga orang itu sudah bertanding seru, saling mengerahkan kepandaian dan tenaga untuk mencoba menindih gerakan lawan. Im-yang Siang-cu yang terkenal sebagai jago-jago pedang dari Bu-tong-pai, masih merasa penasaran bahwa dulu mereka tak dapat mengambil kemenangan dengan ilmu pedang, maka kali ini mereka memusatkan perhatian dan mengeluarikan jurus dan gerak tipu yang paling lihai dari Ilmu Pedang Bu-tong Kiam-hoat.
Namun sebenarnya, baik dalam ilmu pedang maupun tenaga dalam dan luar. Kun Hong yang sudah mendapat gemblengan dari Thai Khek Sian itu masih menang setingkat. Sumber ilmu silat yang dipelajari oleh pemuda itu lebih matang, dan lebih tinggi tingkatnya sehingga ketika Cheng-hoa-kiam ia putar cepat, dua orang lawannya menjadi kewalahan. Kalau dulu di waktu mereka mengeroyok Kun Hong di Wuyi-san. mereka masih terhibur oleh kenyataan bahwa kekalahan mereka disebabkan oleh pedang pusaka yang dipergunakan pemuda itu, sekarang alasan ini tak dapat diajukan lagi. Mereka sekarang sengaja menggunakan dua batang pedang yang baik pula, yang tidak mudah terusak oleh Cheng-hoa-kiam seperti dulu lagi. Akan tetapi hebatnya, mereka malah terdesak dengan cepat sekali, jauh lebih cepat dari pada dahulu dalam pertempuran pertama.
Dua orang kakek ini tidak tahu bahwa dahulu adanya mereka dapat bertahan lama malah akhirnya dapat merampas pedang, adalah karena Kun Hong terluka hebat dan kemudian tidak kuat menghadapi pukulan-pukulan gwakang. Sekarang pemuda ini boleh dibilang sudah tidak menderira rasa sakit sama sekali, kepandaian dan tenaganya sudah pulih semua. Dilihat begitu saja, ia seperti sudah sembuh sama sekali dan hanya dia sendiri yang tahu bahwa di dalam dadanya, jantungnya mengalami luka yang akan membawanya ke lobang kubur tak lama lagi kalau tidak mendapat pengobatan.
Karena sinar pedang Cheng-hoa-kiam yang bergulung-gulung itu sudah mulai menindih dua sinar pedang mereka, malah setiap saat mengancam keselamatan mereka. Im-yang Siang su mulai merasa khawatir. Yang Thian Cu mengeluarkan seruan keras dan mulailah tangan kirinya mengirim pukulan- pukulan yang sepenuhnya mengandung tenaga gwakang! Juga ayunan pedangnya mengandung tenaga gwakang. sedangkan di lain fihak. Im Thian Cu mempergunakan tenaga lweekang-nya. Dengan demikian, dua orang kakek ini sudah mengeluarkan kepandaian simpanan mereka yang membuat mereka terkenal dengan sebutan Im-yang Siang-cu karena dengan maju bersama mereka merupakan dua tenaga Im dan Yang untuk menggempur lawan. Inilah semacam ilmu seperti Im-yang-lian-hoan dari Kunlun-pai. hanya saja dilakukan oleh dua orang!
Sebelum mereka bergerak, Kun Hong sudah tahu lebih dulu dari pengalamannya yang lalu. Ia menjadi gemas juga karena teringat betapa dahulu ia menderita luka parah oleh pukulan-pukulan gwakang dari Yang Thian Cu. pukulan yang sungguhpun tidak sehebat pukulan Thai-yang dari Kun-lun Lojin ketua Kun-lun-pai. akan tetapi cukup mengerikan kalau mengenai orang yang tidak kuat menerimanya.
Pemuda ini sengaja menerima pukulan-pukulan itu dengan tangkisan tangan kirinya sambil mengerahkan tenaga sesuai dengan sifat tenaga penyerangnya. Mula-mula Yang Thian Cu yang lebih dulu berbentur lengan dengannya. Yang Thian Cu sudah merasa girang karena pemuda itu sudah berani menangkis pukulannya yang berarti pemuda itu akan terluka dan roboh. Akan tetapi begitu dua lengan bertemu. Yang Thian Cu berseru kaget dan keras sekali, kemudian tubuhnya yang gemuk pendek itu terlempar ke belakang sampai bergulingan seperti binatang trenggiling! Di dettik
311
selanjutnya, Im Thian Cu yang beradu lengan dengan pemuda itu, terhuyung mundur tiga langkah lalu berdiri dengan muka pucat dan kaki menggigil. Iapun telah terkena pukulan dari hawa lweekangnya sendiri sehingga menderita luka yang biarpun tidak parah cukup menyakitkan di dalam dadanya.
Pada saat itu, tak jauh dari situ datang berlari seorang berkepala gundul yang bertubuh tinggi besar. Akan tetapi ketika tiba di dekat tempat pertempuran, hwesio ini berhenti berlari, mukanya berubah dan ia lalu memutar tubuh melarikan diri!
"Iblis jahanam, aku sudah mengenalmu, jangan lari kau,!" Kun Hong berseru seperti orang gila ketika ia mengenal muka hwesio itu. Itulah Beng Kun Cinjin, ayahnya dan musuh besarnya, orang yang harus dibunuhnya! Dengan langkah lebar ia mengejar, tanpa memperdulikan lagi kepada Im-yang Siang-cu yang masih terheran menghadapi kekalahan mereka tadi. Dengan pedang Cheng-hoa-kiam di tangan. Kun Hong mengejar terus. Hatinya girang karena tidak dinyana-nyana ia berjumpa dengan musuh besar itu di sini. Ia mengerahkan seluruh ginkangnya untuk menyusul Beng Kun Cincin yang juga memiliki ilmu lari cepat istimewa.
Beng Kun Cinjin menjadi gelisah sekali. Ia sama sekali tak pernah menduga akan bertemu dengan pemuda itu di sana. Ketika dahulu ia dikejar-kojar oleh Kun Hong, ia memang melarikan diri ke tempat tinggal pamanny yaitu Tai It Cinjin yang bukan lain adalah ipar dari ayahnya sendiri. Di tempat ini ia boleh merasa aman, selain tempatnya tersembunyi, juga di situ terdapat pamannya yang berilmu tinggi. Siapa kira, belum lama ia berada di situ, pada hari itu ia mendengar suara orang bertempur. Ia tahu bahwa sute-sute dari pamannya, Im-yang Siang-cu sedang bertempur dengan orang maka ia hendak membantu mereka. Tidak tahunya yang bertempur melawan dua orang kakek itu, malah yang sudah mengalahkan Im yang Siang-cu, adalah bocah yang ia takuti, anaknya sendiri!
Ilmu lari Beng Kun Cinjin amat cepat, akan tetapi ia harus mengakui kehebatan ginkang dari bocah itu. Sebentar saja ia sudah hampir tersusul. Ah, alangkah akan bangganya kalau bocah yang sebetulnya anaknya itu tidak memusuhinya! Beng Kun Cinjin mulai menyesal mengapa dulu ia terburu nafsu membunuh Kiu Hui Niang. lebih menyesal lagi mengapa ia dulu tidak sekalian saja membunuh bocah itu ketika ia menewaskan isterinya. Akan tetapi, semua penyesalan tiada gunanya, bocah itu sudah mengejar dan malah sudah menyusulnya.
"Iblis jahanam, jangan lari!" Kun Hong membentak dari belakang, siap melakukan serangan maut.
Tiba-tiba ia melihat berkelebatnya sinar putih menghantamnya dari depan, diikuti oleh angin pukulan tangan kiri yang amat hebat. Itulah penyerangan yang dilakukan secara tiba-tiba oleh Beng Kun Cinjin. Melihat ia telah tersusul, Beng Kun Cinjin tadi menanti saat baik, lalu tiba-tiba membalikkan tubuh sambil menyerang dengan tasbehnya disusul pukulan tangan kiri yang menggunakan tenaga Lui-kong-jiu, yakni pukulan jarak jauh yang akan merobohkan setiap orang lawan yang kurang kuat, biarpun pukulan ini tidak menyentuh tubuh lawan.
Akan tetapi Kun Hong yang sudah maklum akan kelihaian hwesio itu. tidak berlaku lambat. Cepat ia miringkan tubuh dan melompat ke kiri. pedang Cheng-hoa-kiam berkelebat dan ia sudah membalas dengan serangan kilat yang tak kalah hebatnya. Pedang dan tasbeh bertemu, keduanya menggunakan tenaga yang demikian besarnya sehingga mereka terhuyung mundur dua langkah. Kini keduanya saling berhadapan seperti dua ekor ayam jago berlagak, maju lagi saling pandang penuh kebencian. Napas mereka agak memburu karena habis berkejaran tadi.
312
"Bedebah, jangan harap bisa melarikan diri dari tanganku l" Kun Hong berkata dengan bibir terkatup saking bencinya.
"Bocah edan....... aku sudah mengobatimu, menolong nyawamu........." Beng Kun Cinjin yang agak serem melihat sikap pemuda itu, mengingatkan.
"Ya, untuk kau bunuh kalau saja tidak datang ayah angkatku..... kau...... iblis jahat, kau sudah membunuh dia, orang berbudi itu........ kau sudah membunuh ibuku........" Kun Hong menusuk dengan pedangnya, akan tetapi dapat ditangkis oleh Beng Kun Cinjin dengan tasbehnya sambil melompat mundur. Kun Hong maju lagi, perlahan-lahan, sikapnya penuh ancaman maut.
"Ibumu....... perempuan durhaka itu menipuku......... bermain gila dengan orang lain....... kau sendiri mungkin bukan anakku......... aku masih kasihan dan tidak membunuhmu di waktu kecil dulu........."
"Keparat, kau hwesio jahanam tak tahu malu! Kau......... kau mendatangkan cemar dan kehinaan kepada aku yang malang sekali menjadi anak isterimu! Aku harus membunuhmu, membersihkan dunia ini dari mianusia palsu macam kau!"
"Anak durhaka!" Beng Kun Cinjin tiba-tiba menyerang dengan tasbehnya sambil mengerahkan tenaganya. Hebat sekali serangan ini sehingga Kun Hong tidak berani berlaku sembrono menangkisnya. Cepat ia mengelak dan tasbeh itu menghantam batu besar di belakangnya sampai hancur! Pecahan-pecahan batu ini bagaikan peluru terbang ke sana ke mari. ada yang menuju ke tubuh Kun Hong. Terpaksa pemuda ini memutar pedangnya untuk menangkis peluru-peluru batu ini,
Beng Kun Cinjin yang banyak pengalaman bertempur kembali mendapat kenyataan bahwa ia berhadapan dengan lawan yang amat tangguh dan menakutkan. Ia dapat menduga bahwa bocah ini tentu sudah menerima warisan ilmu dari Thian Te Cu atau Thai Khek Sian, maka diam-diam ia bergidik dan pada saat Kun Hong sibuk menangkis hujan pecahan batu itu. Beng Kun Cinjin mendapat kesempatan baik lalu lari cepat-cepat!
"Berhenti kau, pengecut!" Kun Hong berteriak mengejar.
Beng Kun Cinjin berlaku cerdik. Ia sengaja membawa pengejarnya ke dusun Kim-Ie-san di mana tinggal pamannya. Tai It Cinjin. Ketika ia sudah tiba di luar dusun, ia berseru keras mengerahkan khikangnya.
"Paman, tolonglah pinceng.........!"
Kun Hong menjadi gemas dan juga terheran. Siapakah paman hwesio itu? Ia mengejar terus dan tiba-tiba dari dalam dusun itu berlari keluar seorang kakek tinggi besar yang berkepala botak, bermata lebar dan kedua lengan tangannya berbulu dilindungi lengan baju yang lebar. Inilah Tai It Cinjin, kakek yang pernah menyerbu Wuyi-san bersama Im-yang Siang-cu! Kun Hong segera mengenalnya dan diam-diam pemuda ini kecewa. Kembali ia harus menghadapi lawan tangguh dan lawan ini selain menjadi paman ayahnya, ternyata adalah guru dari dua orang nona she Liok yang telah menjadi sahabatnya! Akan tetapi ia sedang menghadapi urusan penting, maka ia cepat berseru.
313
"Tai It Cinjin harap jangan mencampuri urusan kami berdua!"
Akan tetapi, sambil mengeluarkan suara ketawa aneh, Tai It Cinjin berkata. "Murid Thian Te Cu benar-benar keterlaluan. Masa urusan keponakanku tak boleh aku mencampurinya! Kau berhentilah!"
Sambil berkata demikian, sepasang tangannya bergerak ke depan dan hampir saja Kun Hong berteriak kaget karena tahu-tahu tangan kanan kakek itu mulur panjang mencengkeram ke arah tangannya yang memegang pedang sedangkan tangan kiri kakek itu mengebutkan ujung lengan baju ke arah jalan darah di pundaknya. Hebat bukan main serangan ini dan kalau bukan Kun Hong yang diserang, agaknya tak mungkin dapat melepaskan diri. Kun Hong cepat membuang tubuh ke belakang, berjumpalitan dan setelah dua kali berpoksai (berjungkir balik) barulah ia dapat berdiri dengan selamat,
"Paman, jangan lepaskan dia. bocah ini jahat bukan main!" seru Beng Kun Cinjin yang kini maju menyerang dengan tasbehnya, "mendapat hati"' setelah pamannya datang membantu. Kun Hong menangkis dengan pedangnya dan kembali bunga api berpijar dari pertemuan dua senjata itu yang digerakkan dengan tenaga besar,
Tai It Cinjin kagum sekali. Ia tahu bahwa kepandaian Beng Kun Cinjin sudah hebat, tidak kalah oleh Im Thian Cu atau Yang Thian Cu, akan tetapi keponakannya ini sampai melarikan diri dari bocah ini, benar-benar hebat. Juga ia merasa heran mengapa pedang Cheng-hoa-kiam bisa berada di tangan bocah itu. Akan tetapi, betapapun juga ia tidak mau kalau murid Thian Te Cu sampai tewas di tangannya. Tai It Cinjin memang seorang yang tidak mau kalah dalam hal ilmu silat sehingga beberapa kali ia mencari Thian Te Cu untuk diajak mengadu kepandaian.
Juga ia tidak senang kepada Thian Te Cu, ikut-ikutan dalam persaingan yang ada antara tiga orang kakek Wuyi dahulu. Padahal dia hanya ipar dari Gan Yan Ki dan tidak mempunyai sangkut-paut dengan urusan persaingan turun-temurun itu. Akan tetapi ketidak-senangannya terhadap Thian Te Cu hanya berdasar kekalahannya yang berkali-kali saja jadi lebih bersifat iri hati bukan benci. Oleh karena itulah ia tidak menghendaki terbunuhnya pemuda yang ia sangka murid Thian Te Cu ini.
"Minggirlah!" katanya kepada Beng Kun Cinjin. "Biar kulihat sampai di mana kelihaian murid Thian Te Cu yang satu ini!" Memang semenjak ia bertempur melawan Wi Liong di puncak Wuyi-san, Tai It Cinjin menjadi makin penasaran.
Telah bertahun-tahun ia melatih diri dan memajukan kepandaiannya, akan tetapi kenapa menghadapi murid Thian Te Cu yang memegang suling itu saja ia tidak mampu mengalahkannya? Sekarang muncul murid Thian Te Cu yang lain, maka tentu saja ia ingin sekali mencoba lagi, apakah ia pun takkan mampu mengalahkan yang ini. Memang demikianlah sifat orang aneh ini, selalu ingin menjajal kepandaian orang dan tidak mau kalah!
Beng Kun Cinjin tidak berani membantah perintah pamannya, dan ia melompat ke pinggir dengan napas lega karena kali ini bocah iblis itu tentu akan tewas di tangan pamannya, demikian pikirnya.
Kun Hong yang mengerti bahwa tak mungkin ia minta kakek ini mundur karena kakek ini paman Beng Kun Cinjin, kini menjadi marah. Tidak mungkin baginya untuk mengaku begitu saja bahwa ia
314
berurusan dengan ayahnya sendiri. Malu ia untuk mengaku sebagai aruak Beng Kun Cinjin. Melihat bahwa tidak ada jalan lain baginya, diputarnya pedangnya sambil berseru,
"Orang tua usilan. kalau kau ingin bertempur denganku, majulah!" Pedangnya diputar menjadi segulumg sinar yang menyambar-nyambar ke arah Tai It Cinjin.
"Bagus, keluarkanlah kepandaianmu, orang muda!" seru Tai It Cinjin yang menyambut serangan itu dengan gembira sekali. Segera terjadi pertandingan yang amat hebat dan menarik, membuat Beng Kun Cinjin yang memiliki kepandaian tinggi dan seringkali bertempur menghadapi orang-orang pandai itu menjadi bengong saking kagumnya. Belum pernah ia melihat pedang dimainkan sedemikian indah dan kuatnya seperti permainan Kun Hong, juga ia mengenal gerakan-gerakan yang serasi dengan ilmu silat yang ia pelajari dari ayahnya dulu. Di dalam gerakan Kun Hong terselip banyak sekali yariasi dan gaya yang amat berbahaya, curang, dan ganas sekali, sampai-sampai ia mengeluarkan seruan heran dan kaget.
Tentu saja Tai It Cinjin juga melihat ini dan tiba-tiba kakek ini mengebutkan ujung lengan bajunya untuk menangkis ujung pedang Kun Hong sambil berseru kaget. "Kau murid Thai Khek Sian.........!"
Kun Hong tidak menjawab, hanya tertawa mengejek. "Kau boleh terka sendiri aku murid siapa, pendeknya kau tidak berhak mencampuri urusanku dengan keparat kepala gundul itu!"
Akan tetapi tiba-tiba sikap Tai It Cinjin berubah, perubahan yang amat merugikan dan membahayakan keselamatan Kun Hong. Kakek itu tiba tiba memandang dengan matanya yang lebar menjadi merah dan ia kelihatan marah sekali.
"Kau murid Thai Khek Sian si iblis laknat? Bagus sekali, tak dapat membasmi gurunya, lumayan juga bisa membasmi muridnya!!" Setelah berkata demikian, kakek itu bergerak maju, bergantian ia mengulur lengan sampai panjang melakukan serangan-serangan maut. Kali ini Kun Hong menjadi sibuk juga dan harus ia akui bahwa kakek ini benar- benar luar biasa lihainya. Memang, kalau diukur tentang kepandaian, kakek ini masih menang satu dua tingkat dari Kun Hong. Kalau dulu ia tidak mampu mengalahkan Wi Liong, adalah karena ia memang tidak mau mencelakakan pemuda murid Thian Te Cu. Akan tetapi sekarang ia tahu bahwa Kun Hong murid Thai Khek Sian maka ia menyerang untuk membunuh!
Tai lt Cinjin biarpun tak boleh dibilang seorang yang menjadi hamba kebajikan, namun ia selalu menjaga nama agar jangan terjerumus ke dalam jurang kejahatan. Malah ia amat membenci kejahatan, maka iapun benci sekali kepada Thai Khek Sian. Terhadap Thian Te Cu ia hanya tidak suka saja, akan tetapi karena Thian Te Cu adalah seorang budiman yang sakti ia tidak membencinya. Sebaliknya, terhadap Thai Khek Sian ia amat benci, dan kalau sekiranya kepandaiannya mengijinkan, tentu ia sudah mencari raja penjahat itu untuk membunuhnya!
Menyaksikan perubahan ini. Beng Kun Cinjin menjadi girang sekali. Terbukalah kesempatan untuk membunuh musuhnya ini, ya musuh anak, yang mendurhaka dan hendak membunuhnya itu. pikirnya. Tanpa banyak cakap lagi ia lalu menyerbu dan membantu pamannya menyerang Kun Hong. Sekarang Tai It Cinjin tidak melarangnya karena kakek ini menganggap pemuda itu musuhnya pula!
315
Melawan Tai It Cinjin seorang saja sudah amat berat bagi Kun Hong karena memang ia masih kalah pandai, apa lagi kakek itu sekarang di bantu oleh Beng Kun Cinjin. Ia terdesak hebat, gulungan sinar pedangnya makin lama makin menyempit Kesempatan ini dipergunakan oleh Beng Kun Cinjin yang dengan gerakan cepat melibatkan tasbehnya pada pedang Kun Hong, sehingga pemuda itu tidak dapat menggerakkan senjatanya lagi. Selagi ia berkutetan untuk melepaskan pedangnya. Tai It Cinjin sudah menyerang dengan totokan bertubi-tubi ke arah jalan darahnya. Kun Hong masih dapat mengelak dua tiga kali, akan tatapi totokan ke empat dan ke lima membuat ia roboh lemas tak berdaya lagi!
Beng Kun Cinjin girang sekali, akan tetapi ketika ia mengangkat tasbeh hendak dihantamkan ke arah kepala pemuda itu, seperti juga dulu ketika Kun Hong masih bayi tiba-tiba tangannya menjadi lemas dan ia tidak kuasa melakukan pembunuhan terhadap diri anaknya sendiri ini! Akan tetapi ia betul-betul menghendaki dibunuhnya pemuda yang akan membahayakan dirinya kalau tidak dibunuh, maka katanya.
"Bocah setan murid Thai Khek Sian ini kalau tidak dibunuh, kelak hanya akan mengacaukan dunia saja." Ia berkata demikian untuk mendesak pamannya membunuh Kun Hong.
"Ha-ha. Gan Tui. kau agaknya menuruni watak mendiang ayahmu, tidak tega membunuh seorang muda biarpun dia itu jahat. Kau lihat, biar aku yang mengirim nyawanya kembali ke asalnya dengan pedang ini!" Disambarnya Cheng-hoa-kiam dan diangkatnya pedang itu untuk diayun memenggal leher Kun Hong Pemuda itu hanya tersenyum, sedikitpun tidak gentar menghadapi maut yang sudah berada di depan matanya.
Mata pedang Cheng-hoa-kiam tertimpa sinar matahari berkilauan, lalu merupakan sinar terang terayun ke arah leher Kun Hong dan......”Suhu, tahan dulu.......!" terdengar jerit melengking tinggi.
Pedang itu sudah hampir menyentuh kulit leher Kun Hong. Baiknya Tai It Cinjin memang seorang ahli pedang Bu-tong-pai yang tinggi ilmunya, maka biarpun pedang itu sudah diayunnya, serentak ia dapat menahan dan menariknya kembali ketika ia mendengar suara yang amat dikenalnya ini. Ia -menoleh dan Liok Hui Sian berlari-lari lalu dengan berani ia merampas pedang Cheng-hoa-kiam dari tangan suhunya yang melongo saja. Dengan manja gadis ini berkata.
"Suhu tidak boleh membunuhnya! Gan Kun Hong ini adalah sahabat baik teecu!"
Makin terheranlah Tai It Cinjin dan ia hanya bisa menoleh kepada Hui Nio yang juga sudah datang berlari-lari.
"Betul. suhu. Dia sudah bertemu dengan teecu berdua dan sudah menjadi sahabat. Mengapa suhu hendak membunuhnya?" kata Hui Nio sambil memandang dengan heran. Sementara itu. Hui Sian sudah membuka jalan darah Kun Hong yang tertotok oleh suhunya tadi, malah ia mengembalikan pedang Cheng-hoa-kiam setelah Kun Hong dapat bergerak kembali. Pemuda ini menjadi malu sekali karena kekalahannya, akan tetapi diam diam ia berterima kasih kepada Hui Sian yang sudah menolong nyawanya.
"Dia murid Thai Khek Sian. orang jahat harus dibunuh. Bagaimana kalian bisa menjadi sahabatnya?" tanya Tai It Cincin yang masih belum hilang herannya. Kakek ini memang amat mencinta dua orang
316
muridnya terutama sekali Hui Sian amat disayang dan dimanjanya. Oleh karena itu maka Hui Sian tadi berani mencegah suhunya membunuh Kun Hong.
"Suhu. Kong-twako sendiripun sudah menjadi sahabatnya. Teecu dan enci Hui Nio tadinya berebutan milik seorang penjahat, akan tetapi teecu berdua kalah olehnya, malah Kong Bu twako juga kalah. Setelah bertempur teecu bertiga menjadi sahabatnya. Masa sekarang suhu hendak membunuhnya?" kata Hui Sian cemberut sambil mengerling ke arah Kun Hong.
Tiba-tiba Tai It Cinjin tertawa terbahak-bahak. Kakek ini tentu saja sekilas pandang maklum akan isi hati muridnya. Sudah banyak sekali pemuda-pemuda yang gagah dan baik ia carikan untuk Hui Sian, akan tetapi gadis itu selalu menolaknya. Selalu Hui Sian menyatakan bahwa ia baru mau kalau dijodohkan dengan pemuda yang lebih gagah dan lebih baik dari pada Kang Bu calon kakak iparnya. Tentu saja hal ini bukan soal mudah saja. Jarang di dunia ini ada pemuda segagah Kong Bu. Eh, tidak tahunya sekarang ada pemuda ini dan agaknya muridnya jatuh hati kepadanya.
"Ha-ha-ha, kau suka pada murid Thai Khek Sian ini? Boleh, boleh! Asal bocah ini suka berjanji tidak akan meniru kelakuan yang jahat dari suhunya. Ha-ha-ha bagus sekali!"
"Tidak bisa terjadi!" tiba-tiba Beng Kun Cinjin berseru keras, membuat semua orang menjadi kaget.
"Eh, Gan Tui. apa maksudmu?" tanya Tai It Cinjin.
"Karena......... karena iblis cilik ini adalah......... adalah anakku sendiri, anak durhaka yang hendak membunuhku! Iblis ini tak boleh dibiarkan hidup, dia terlalu jahat!" Setelah berkata demikian Beng Kun Cinjin menggerakkan tasbehnya menyerang Kun Hong yang masih agak lemas.
Kun Hong mengangkat pedangnya menangkis, akan tetapi karena jalan darahnya belum pulih betul, ia terhuyung ke belakang dan sebuah tendangan kilat dari Beng Kun Cinjin tepat mengenai pahanya membuat dia terguling. Beng Kun Cinjin berseru girang, memburu dan mengayun tasbehnya.
"Traangg............J" Pedang di tangan Hui Sian mencelat ketika ia menangkis tasbeh itu dalam usahanya menolong nyawa Kun Hong. "Jangan bunuh dia......... aahhh......jangan bunuh dia.........!" Gadis itu menangis.
"Hui Sian!" gurunya membentak. "Kalau dia anak Gan Tui, kita tidak boleh campur tangan!"
Hui Sian juga maklum akan hal ini maka gadis ini hanya bisa berlutut sambil menangis terisak-isak, dipeluk encinya. Adapun Beng Kun Cinjin yang merasa penasaran dan marah karena serangannya tadi ditangkis Hui Sian, kini maju lagi" dan mengayun tasbehnya.
Tiba-tiba bertiup amgin dingin dan di antara tiupan angin ini terdengar suara ketawa yang amat merdu, akan tetapi yang membuat para pendengarnya menjadi lemas dan dingin-dingin punggungnya! Anehnya, tasbeh yang sudah diangkat oleh Beng Kun Cinjin dan digerakkan menimpa kepala Kun Hong itu seperti terkena sambaran angin, membuat tasbeh itu terpental ke belakang dan tubuh Beng Kun Cinjin juga terjengkang dan hampir saja roboh kalau hwesio itu tidak cepat-cepat melompat ke samping!
317
Pada saat itu, entah dari mana datangnya, tahu-tahu telah muncul seorang wanita yang sudah tua akan tetapi amat cantik dan keren sikapnya, pakaiannya gilang-gemilang penuh perhiasan emas permata serba indah. Ia berdiri dengan tegak, angkuh dan keren tiada ubahnya seorang ratu. Ketika ia sedang berdiri seperti itu, tak jauh dari situ terdengar suara banyak orang perempuan berbisik-bisik dan berdencingnya senjata-senjata tajam. Wanita itu menoleh ke arah suara tadi dan sekejap suara itu yang tadinya berisik namun tak kelihatan orangnya seperti sekumpulan siluman, menjadi berhenti dan keadaan menjadi sunyi. Dalam kesunyian ini tiba-tiba terdengar wanita itu berkata, suaranya halus dan kata-katanya teratur, akan tetapi entah mengapa mengandung sesuatu yang membikin serem para pendengarnya seakan-akan di dalam suara itu mengandung ancaman maut bagi setiap penentangnya,
"Kalau ada anak tersesat, hukumlah ayahnya! Seorang ayah tidak menyalahkan diri sendiri malah hendak membunuh anaknya. Benar-benar tak tahu malu! Kau patut diberi hukuman!" Setelah ucapan halus ini dikeluarkan, wanita itu menggerakkan tangan kirinya ke arah Beng Kun Cinjin. Hwesio ini merasa datangnya sambaran hawa dingin, maka cepat ia mengangkat tasbehnya.
Terdengar suara keras dan tasbeh itu menjadi putus, berarakan terlepas dari untaiannya dan Beng Kun Cinjin cepat-cepat menarik tangannya yang sudah terluka berdarah seperti digurat pedang telapak tangannya. Hanya terlihat tadi sinar putih keperakan menyambar dan kiranya wanita tadi telah menyerangnya dengan sehelai tali kecil yang melibat pinggangnya seperti tali sutera. Dengan senjata macam begini bisa memutuskan untaian tasbeh dan melukai tangan Beng Kun Cinjin dengan sekali pukul, dapat dibayangkan betapa hebatnya kepandaian wanita ini!
Wanita tua itu lalu berpaling kepada Kun Hong yang masih bengong saking kagum dan herannya, lalu membentak, "Tidak lekas pergi dari sini menanti apa lagi?"
Kun Hong maklum bahwa orang telah menolongnya dan menyuruh ia pergi, maka ia lalu memungut Cheng-hoa kiam dan pergi dari tempat itu. Sekilas pandang ia melihat Hui Sian menoleh kepadanya dan melempar pandang yang amat menusuk perasaannya. Ia seakan-akan melihat mata Eng Lan yang memandangnya dan tahulah ia bahwa gadis ini mencintanya, mencinta dengan sepenuh hati seperti cinta kasih Eng Lan pula. Dan ia menjadi terharu!
Sementara itu!, ia mendengar suara Tai It Cinjin, "Kami telah mendapat kehormatan besar dengan kunjungan Thai houw (permaisuri) dari Ban-mo-to, biarlah lain kali aku yang rendah mengadakan kunjungan balasan!"
"Aku tidak ada urusan dengan segala orang Bu-tong-pai!" wanita itu menjawab dan tubuhnya sudah melesat pergi.
Kun Hong yang memperhatikan melihat wanita itu sudah berjalan jauh dan tiba-tiba dari kanan kiri muncul belasan orang wanita yang pakaiannya indah-indah, tanpa bicara apa-apa para wanita ini berjalan di belakang wanita aneh itu. menuju ke pantai! Sampai lama Kun Hong berdiri. Jadi dia itukah Kui-bo Thai houw dari Ban-moto? Ia bergidik. Tidak aneh gurunya dulu pernah memperingatkan supaya jangan sembarangan bentrok dengan Thian Te Cu dan Kui-bo Thai-houw. Thian Te Cu sudah ia duga kehebatannya karena kakek itu terhitung suheng dari suhunya. Akan tetapi baru sekarang ia menyaksikan kehebatan Kui-bo Thai-houw. Ia menghela napas panjang. Dia harus mendapatkan Im-yang-giok-cu dan wanita itu! Bagaimana mungkin. Orangnya selain sakti luar biasa, juga aneh dan
318
agaknya luar biasa angkuhnya. Betapapun juga, pikir Kun Hong, aku sudah melihat orangnya dan ternyata aku tidak salah jalan. Aku harus pergi ke Ban-mo-to biarpun untuk perbuatan itu aku harus berkorban nyawa.
Dengan mengambil jalan ke mana wanita-wanita tadi pergi, akhirnya Kun Hong sampai di pantai laut yang berpasir dan rendah. Ketika ia tiba di pantai, ia melihat sebuah perahu besar berkepala naga berlayar pergi dan samar samar ia melihat wanita-wanita tadi berada di perahu itu.
Kun Hong cepat mencari-cari dan melihat beberapa orang nelayan membetulkan jala di tepi pantai, ia lalu menghampiri. Para nelayan itu memandang heran karena pantai di situ memang jarang sekali didatangi pelancong. Baiknya biarpun kantong-kantong uang tertinggal di tempat di mana ia bertempur melawan Im Yang Thian Cu, Kun Hong masih menyimpan banyak di saku bajunya untuk bekal dan keperluan di jalan. Setelah mengeluarkan beberapa buah uang emas, akhirnya ia dapait menyewa sebuah perahu layar yang dikemudikan oleh seorang nelayan muda.
Perahu diluncurkan ke tengah didayung lalu layar dipasang.
"Pemandangan di sini tidak begitu indah, akan tetapi banyak sekali ikanya!" Nelayan itu bercerita mengira bahwa pemuda itu menyewa perahunya untuk berlayar menikmati pemandangan alam.
"Kauikuti perahu besar itu!" tiba-tiba Kun Hong berkata dengan suara keren.
Nelayan itu menjadi pucat. "Ti....... tidak.......! Tuan jangan main-main....... mendekatpun aku tidak berani....... berarti mengantar nyawa!"
"Bagus, jadi kau sudah mengenal mereka pula? Siapa mereka itu dan di mana mereka tinggal?'
Nelayan itu menjadi marah karena mengira pemuda itu hanya seorang biasa saja. "Aku tak dapat mengantar tuan. Kita kembali saja dan ini uangmu kukembalikan!"
Kun Hong menggerakkan tangannya dan nelayan itu merintih tubuhnya lemas dan sakit sakit karena jalan darahnya kena ditowel pemuda itu. Kun Hong lalu memulihkan jalan darahnya dan mencabut pedangnya. "Kau takut mereka, apakah kau tidak takut padaku? Membunuhmu di sini, apa sih sukarnya? Hayo bilang terus terang, mereka itu siapa dan di mana tinggalnya!'"
"Ampuni, taihiap........ ampunkan aku seorang nelayan biasa yang tidak bersalah apa-apa. Mereka itu........ mereka itu adalah para pengikut Thai-houw yang tinggal di Ban-mo-to. Jangankan mengikuti mereka, mendekat di pulau merekapun tak seorang berani. Mereka iitu tidak apa-apa asal tidak diganggu, akan tetapi sekali orang bersalah......... mereka lebih ganas dari pada angin taufan dan gelombang membadai. Lebih baik kita pergi ke lain tempat saja.........”
"Tidak hayo antar.aku ke Ban-mo-to. Kau jangan khawatir semua tanggung jawab aku yang memikul."
Akhirnya nelayan itu terpaksa menuruti kehendak Kun Hong biarpun di sepanjang pelayaran ia menjadi pucat dan makin ketakutan setelah mereka mendekati Pulau Ban-mo-to. Dari jauh pulau ini sudah menyeramkan, kelihatan hijau kebiruan dan angker sekali. Kalau tadi banyak perahu nelayan di dekat pulau-pulau lain di pulau yang cukup besar itu sunyi sekali, seakan-akan ikanpun takut mendekatinya. Di ujung pulau yang merupapakan teluk kelihatan perahu besar berkepala naga tadi.
319
"Daratkan aku di pulau itu dan kau boleh pergi kalau kau takut!" kata Kun Hong dengan suara tetap, akan tetapi tidak urung hatinya berdebar kalau ia teringat akan kelihaian Kui-bo Thai-houw.
Tukang perahu itu menjadi agak tenang karena sementara itu senja telah mendatang. Perahunya mendekati pulau dari kiri, agak jauh dari teluk itu. Setelah mepet dengan daratan. Kun Hong melompat ke darat. Nelayan itu cepat-cepat mendayung perahunya ke tengah lagi. Tiba-tiba terdengar suara melengking dari daratan dan dua batang anak panah menyambar, sebatang ke arahnya dan sebatang lagi ke arah perahu. Ia cepat menyelinap ke dalam rumput-rumput tinggi, akan tetapi anak panah yang ke dua mengenai sasaran.
Tukang perahu menjerit dan tubuhnya terjungkal ke dalam laut. Perahunya yang kosong berputaran dan bergerak-gerak terbawa ombak!
Kun Hong bersembunyi di dalam rumput tinggi, tak berani bergerak. Karena tahu bahwa penghuni pulau itu terdiri dari orang-orang pandai, ia harus berlaku hati-hati dan tidak memancing pertempuran terbuka. Ia mendengar suara dua orang wanita berbisik-bisik lalu terdengar langkah mereka meninggalkan tempat itu. Lapat lapat terdengar suara ketawa yang amat halus dan merdu.
Kun Hong menanti sampai senja terganti malam dan keadaan menjadi gelap. Baru ia muncul dari tempat sembunyinya dan membersihkan pakaiannya yang kotor dan agak basah. Dicabutnya pedang Cheng hoa-kiam, dipegang erat-erat. kemudian ia berjalan menuju ke tengah pulau, ia masih bingung bagaimana ia harus mendapatkan obat Im-yang-giok-cu dari tangan Kui-bo Thai houw. Minta berterang? Mencuri? Terang kalau merampas takkan berhasil. Mana ia bisa menangkan wanita itu yang agaknya ditakuti oleh Tai It Cinjin? Untuk mencuri juga sukar, karena ia tidak itahu di mana adanya benda itu dan tidak tahu pula bagaimana macamnya.
Dengan memanjat sebatang pohon besar ia dapat melihat cahaya penerangan di tengah pulau yang menunjukkan bahwa di tempat itu ditinggali orang. Ia lalu berjalan dengan hati-hati. Sejam kemudaan sampailah ia di tempat itu dan ia melihat beberapa bangunan rumah besar-besar di tengah pulau! Ia tertegun karena melihat persamaan dengan Pulau Pek-go-to tempat tinggal Thai Khek Sian. gurunya. Juga Thai Khek Sian tinggal di tengah Pulau Pek-go-to seperti ini!
Ada tujuh bangunan rumah di situ, yang enam mengitari sebuah yang besar. Mudah saja diduga bahwa di tengah yang besar itu pasti tempat tinggal Kui-bo Thai houw. Sampai lama Kun Hong menanti dan melihat keadaan. Di situ sunyi saja seakan-akan kelompok bangunan itu tidak ditinggali orang. Akan tetapi tiba-tiba terdengar suara tetabuhan yangkim indah sekali disusul nyanyian seorang wanita yang tidak kalah indahnya. Bangun bulu tengkuk Kun Hong. Benar-benar keadaan yang amat ganjil. Di tempat yang begitu sunyi, begitu serem, tiba-tiba terdengar tetabuhan dan nyanyian tingkat tinggi yang indah! Benar-benar menggambarkan keganjilan Kui bo Thai-houw sendiri, seorang wanita yang kelihatannya lemah-lembut, halus tutur sapanya, akan tetapi menyeramkan dan mengerikan sepak terjangnya! Serem-serem indah, inilah sifat Kui-bo Thai-houw dan sekelilingnya.
"Takut basah takkan dapat memperoleh ikan!" Kun Hong berkata kepada diri sendiri untuk menghibur hatinya yang agak berdebar menghadapi semua bahaya yang mengancam dirinya. Ia segera mengayun tubuh mengenjotkan kaki. Tubuhnya melayang naik ke atas genteng dengan ringan sekali.
320
Tanpa mengeluarkan bunyi kedua kakinya berlari di atas genteng. Ia berlaku hati-hati sekali, selalu memandang ke empat penjuru sebelum melanjutkan langkahnya.
Baiknya malam itu gelap sekali, pikirnya. Hanya beribu bintang di angkasa yang menerangi alam, tidak kelihatan bulan yang masih bersembunyi di balik bumi. Ia sudah melalui rumah-rumah samping dan mendekati rumah besar dari mana terdengar tetabuhan dan nyanyian.
Tiba-tiba saja, amat mengejutkan sampai-sampai Kun Hong menjadi pucat, terdengar suara ketawa cekikikan dari kanan k'iri dan atas genteng itu menjadi terang oleh lampu-lampu penerangan yang entah kapan tahu-tahu telah digantung-gantungkan orang di sekeliling tempat itu. Ia telah terkurung lampu- lampu penerangan di atas genteng yang agak rata. Kemudian muncullah empat orang yang membuat Kun Hong merasa punggungnya dingin dan tengkuknya tebal!
Empat orang itu tubuhnya gemuk-gemuk montok, keempatnya tertawa- tawa, sama sekali tidak merdu karena terkekeh-kekeh dan cekikikan seperti empat kuntianak. Yang mengerikan, muka mereka serupa, juga pakaian mereka sama. Orang kembar empatkah gerangan? Kulit muka mereka penuh bekas luka koreng melepuh- membuat mereka nampak menggelikan tapi tidak menjijikkan, usia mereka sedikitnya ada empatpuluh tahun. Hebatnya, empat orang setengah nenek ini berpakaian indah dan baru, di leher mereka tergantung kalung yang indah dan mahal, dan sepatu mereka mengkilap, sepatu pria yang menunjukkan betapa besar- besar kaki mereka! Benar-benar empat orang wanita yang kalau muncul di tengah kota tentu menjadi tontonan orang.
Yang membingungkan hati Kun Hong, empat orang ini benar-benar sukar dibedakan satu dari yang lain, dan hebatnya, suara ketawa mereka juga sama benar! Karena empat orang wanita buruk ini hanya terkekeh dan cekikikan genit, sama sekali tidak menyerangnya maupun bertanya. Kun Hong menjadi tidak enak kalau diam saja.
"Kalian ini siapakah?”
Memang janggal sekali. Dia yang malam-malam datang ke rumah orang tanpa permisi, sekarang malah dia yang bertanya siapa mereka! Kun Hong menjadi merah mukanya ketika mendengar suara ketawa mereka makin menjadi- jadi. lapun merasa betapa janggalnya pertanyaannya tadi.
"Hi-hi-hi, orang muda lucu...... lucu sekali......" kata seorang di depannya.
"Kau yang datang malah bertanya! Apa ingin sekali berkenalan dengan kami.......?" sambung yang ke dua.
"Biarlah kalau kau ingin sekali tahu, kami ini empat orang gadis........" sambung yang ke tiga
"Aku Tung Hwa Siocia (Nona Bunga Timur)........" kata yang ke empat.
"Aku Si Hwa Siocia (Nona Bunga Barat).......” sambung yang pertama.
"Aku Nam Hwa Siocia (Nona Bunga Selatan)........" sambung yang ke dua.
"Aku Pai Hwa Siocia (Nona Bunga Utara)........." sambung yang ke tiga.
321
Kon Hong menjadi geli, juga terheran-heran. Masa orang-orang macam begituan kok namanya indah indah sekali? Mengaku-aku masih gadis lagi! Namanya pakai nona-nona segala. Yang membingungkan mereka bicara sambung-menyambung secara otomatis seperti sudah diatur sebelumnya.
"Orang muda yang lucu......." kata yang ke empat.
"Kau sudah mengenal kami" yang pertama menyambar.
"Sekarang kau bilanglah siapa namamu........!" kata yang ke dua.
"Jangan bohong supaya tak usah kami menggunakan kekerasan!" tutup yang ke tiga.
Kun Hong siap siaga dengan pedangnya, lalu menjawab, suaranya ia bikin tenang dan gagah, "Aku datang untuk menemui Kuibo Thai-houw, untuk minta......."
Tiba -tiba saja empat orang "nona" itu marah sekali.
"Kurang ajar........" memaki yang pertama.
"Berani kau memaki Thai-houw......." kata yang ke dua.
"Kami harus seret kau ke depan Thai-houw........." kata yang ke tiga.
"'Untuk menerima hukuman!" sambung yang ke empat.
Kun Hong kaget sekali. Baru ia teringat bahwa Tai It Cinjin sendiripun tidak menyebut Kui-bo Thai-houw akan tetapi hanya Thai-houw (Permaisuri) dengan menghilangkan sebutan Kui bo (Biang Iblis)! Kini tahulah ia bahwa sebutan Kui-bo adalah sebutan di luaran, di dunia kang-ouw unltujc menggambarkan betapa hebat dan ganas seperti biang iblis adanya nyonya cantik seperti permaisuri kaisar itu I Akan tetapi, ucapan itu sudah dikeluarkan, tak mungkin bisa ditarik kembali. Ia memasang kuda-kuda dan siap menghadapi keroyokan empat orang perawan tua itu dengan tenang.
Mulailah mereka maju. yang pertama mencengkeram hendak menangkap tangannya. Sebelum gerakan serangan ini selesai, dilanjutkan oleh yang ke dua yang berada di sebelah kanannya, kemudian disusul pula oleh gerakan yang ke tiga dan akhirnya yang ke empat yang menyempurnakan gerakan itu.
Kun Hong kaget bukan main. Inilah hebat, pikirnya. Empat orang wanita ini bukan saja rupa dan pakaian maupun bicaranya yang sambung-menyambung dan kembar, bahkan ilmu silatnya juga merupakan rangkaian ilmu silat yang satu macam akan tetapi dimainkan oleh empat orang! Dengan demikian, ia seakan- akan menghadapi seorang lawan dengan delapan tangan dan empat kepala!
Cepat ia mengelak, akan tetapi hampir saja ia terkena cengkeraman mereka. Ia maklum bahwa ia tidak mungkin mengandalkan kegesitannya untuk mengelak. Dari angin cengkeraman itu maklumlah ia bahwa mereka rata-rata memiliki tenaga lweekang yang hebat dan ia tentu akan terluka parah kalau sampai terkena serangan mereka. Apa boleh buat, perkara sudah menjadi begini, pikirnya. Diputarnya pedangnya untuk melakukan perlawanan. Ia tidak berani berlaku sungkan-sungkan lagi,
322
setiap serangan ia tangkis dengan pedang unituk membabat taugan lawan dan ia malah balas menyerang tak kalah hebatnya. Pemuda ini sudah menjadi nekat.
Benar benar mengerikan sekali empat orang "nona manis" itu. Selain gerakan mereka mengandung lweekang tinggi dan amat cepat serta teratur sambung-menyambung, juga mereka sekarang mulai tertawa-tawa lagi, cekikikan dan inilah yang benar-benar membingungkan hati Kun Hong. Akan itetapi ia masih ragu-ragu untuk melukai mereka (karena ia masih ingat bahwa kedatangannya ini adalah untuk minta obat, artinya minta pertolongan. Bagaimana ia bisa melukai anggauta keluarga orang yang dimintai tolong?
"Kalian berempat janganlah terlalu mendesak!" bentaknya sambil memutar pedang melindungi tubuhnya. "Biarkan aku menghadap Thai-houw.........!"
Tiba-tiba empat orang itu berhenti bergerak, membuat hati Kun Hong girang sekali, ia tersenyum ramah dan mengangguk-angguk "Kalian memang orang-orang baik!"
Akan teltapi. empat orang nona itu masih berdiri mengurung.
"Kami mau memberi laporan baik........."
"Kepada Thai-houw. asal saja........”
"Kau mau berjanji.........”
"Mengawini kami berempat.........!" Demikian ucapan yang mereka keluarkan secara sambung-menyambung dan empat orang nona manis itu membalas senyuman Kun Hong tadi sambil mengerling-ngerling dengan lagak bintang-bintang film!
Seketika itu juga senyum di bibir Kun Hong lenyap, dan bibirnya sampai pucat saking kagetnya ia mendengar ocehan mereka.
"Kau seranglah aku kau bunuhlah.........!" bentaknya marah sekali dan kembali pedangnya diputar cepat.
Empat orang itupun tanpa banyak cakap lagi menerjangnya sambil cekikikan. Mereka menggunakan tangan kaki, menerjang mencakar menendang akan tetapi yang paling berbahaya adalah tali tali sutera yang diikat di pinggang mereka. Ikat pinggang tali sutera ini merupakan senjata yang ampuh merupakan dua helai senjata lemas yang berbahaya karena selain dapat melukai tubuh lawan juga dapat merampas senjata! Ternyata mereka telah mendapat ilmu ini dari Thai-houw dan ini mudah diduga karena Kun Hong teringat betapa dengan tali seperti itu pula Kui-bo Thai-houw sekali serang telah mengalahkan Beng Kun Cinjin!
Namun kini Kun Hong benar-benar sudah mengamuk hebat Ia mengeluarkan seluruh kepandaian yang ia pelajari dari Thai Khek Sian dan benar saja, empat orang wanita itu tidak mampu melawannya.
Makin lama empat orang wanita itu makin kacau gerakannya, napas mereka terengah-engah dan sinar pedang Cheng-hoa-kiam yang bergulung-gulung telah mengurung mereka dari kanan kiri.
323
"'Pemuda lucu........."
"Gagah sekali........."
"Terlalu lihai.........”
"Kami tidak kuat melawan........."
Tiba-tiba empat orang wanita aneh itu mengebutkan ujung tali pinggang sutera mereka dan berhamburanlah empat macam warna seperti asap tipis. Kun Hong mencium bau harum yang amat aneh. Ia kaget dan maklum bahwa lawan mengeluarkan senjata rahasia berbahaya. Tidak percuma ia pernah menjadi murid Bu-ceng Tok-ong Si Raja Racun. Ia cepat mengerahkan lweekang, menahan napas dan menggunakan tangan kiri untuk memukul ke sekelilingnya, mendatangkan angin pukulan yang mengusir semua asap itu.
Ketika ia melihat lagi empat orang wanita itu sudah tidak ada dan sebagai gantinya di situ berdiri wanita tua yang cantik dan berpakaian mewah. Kui-bo Thai-houw sendiri sudah berdiri di depannya dengan sikap yang amat agung, namun sepasang alis yang panjang kecil bekas cukuran itu dikerutkan tanda bahwa hatinya tidak senang.
Kun Hong seorang yang amat cerdik. Ia datang untuk minta tolong dan ia maklum pula bahwa kepandaiannya masih jauh di bawah tokoh ini sehingga takkan ada gunanya kalau menggunakan kekerasan. Maka begitu melihat munculnya "Ratu" ini ia serta-merta menyimpan pedang Cheng-hoa-kiam dan menjatuhkan diri berlutut!
“Mohon pengampunan dari Thai-houw bahwa teecu Gan Kun Hong berani berlaku lancang menghadap tanpa dipanggil." katanya dengan sikap hormat.
Wanita itu yang memang betul Kui-bo Thai-houw sendiri adanya, mengeluarkan seruan heran. Tercengang ia melihat perobahan sikap pemuda tampan ini dan ia menarik napas panjang. Memang sudah menjadi kelemahannya selalu menjadi lunak kalau berhadapan dengan pemuda, apa lagi setampan ini! Akan tetapi, ia masih belum percaya betul kepada Kun Hong dan setiap saat ia masih sanggup menjatuhkan tangan maut.
"Apakah Thai Khek Sian yang menyuruhmu datang ke sini?"
Kun Hong terkejut. Kiranya nenek ini sudah pula mengetahui bahwa ia murid Thai Khek Sian. Tentu dari gerakan ilmu silatnya. Nenek ini terlalu lihai sehingga sekilat pandang saja sudah dapat mengenal ilmu silatnya. Celaka kalau dia memusuhi suhu, pikirnya. Karena takut menggunakan nama suhunya yang ia tahu banyak dibenci orang di luaran, ia menggeleng kepala.
"Tidak, teecu datang atas kehendak sendiri."
Nenek yang dulunya tentu seorang wanita cantik jelita ini menarik napas panjang lalu terdengar suara ketawanya, halus merdu namun di dalamnya terkandung keluhan batin yang amat aneh kedengarannya.
324
"Haaahhh, manusia tak ingat budi itu mana masih ingat kepadaku........."
Biarpun masih muda, dalam kehidupannya dulu di Pulau Pek-go-to. Kun Hong sudah mengenal banyak wanita. Ia dijadikan kekasih para selir gurunya dan banyak sudah ia mengenal wanita dan dapat menangkap isyarat-isyarat atau tanda-tanda perasaan yang terpancar keluar dari batin wanita melalui gerak-gerik mereka. Melihat dan mendengar sikap dan kata-kata Kui-bo Thai-houw, hatinya berdebar. Tak salah lagi, wanita ini pernah "ada apa-apa" dengan gurunya, sedikitnya pernah ada hubungan akrab. Cepat-cepat ia berkata.
"Akan tetapi suhu pernah pesan kepada teecu bahwa kalau teecu ada rejeki bertemu dengan Thai-houw, teecu diperintah menyampaikan salam hormatnya dan semoga Thai-houw panjang usia dan hidup bahagia."
Meledak suara ketawa Kui-bo Thai-houw. Anehnya, bibirnya hanya bergerak tapi muluknya tidak terbuka, bagaimana bisa mengeluarkan suara ketawa yang merdu dan halus itu? Sekarang suara ketawanya tidak mengejek seperti tadi melainkan geli dan sepasang mata yang masih bening itu bersinar-sinar.
"Anak nakal, kau kira aku tidak kenal bagaimana watak suhumu? Menarik dan binal, tapi tidak pandai mengambil hati seperti kau! Kau tanpa diutus suhumu datang mencariku, tentu ada keperluan penting soal mati hidup. Kau berani melawan Tai It Cinjin, cukup memperlihatkan ketabahanmu. Kau memusuhi ayah dan hendak membunuh ayah sendiri, luar biasa puthauwnya (tidak berbaktinya) dan tentu terselip hal-hal yang aneh. Kau cukup menarik hati dan mengherankan, mari masuk dan ceritakan apa keperluanmu!"
Setelah berkata demikian Kui-bo Thai-houw memberi isyarat dengan tangannya. Dari kanan kiri genteng muncullah banyak gadis-gadis cantik yang membawa lampu. Kemudian ia melambaikan tangan menyuruh Kun Hong. mengikutinya. Pemuda itu tidak berani membantah, dengan kepala tunduk ia pun mengikuti ratu itu turun dari atas genteng melalui sebuah anak tangga, terus memasuki bangunan besar di tengah kelompok bangunan rumah itu.
Ia menjadi tercengang ketika memasuki ruang an besar di rumah itu. Luar biasa terangnya dan luar biasa mewahnya. Para gadis berpakaian seperti pelayan-pelayan keraton kaisar, cantik-cantik dan gesit-gesit melayani Thai-houw dengan amat hormat. Tempat tinggal suhunya di Pek-go-to juga mewah, juga selir-selir suhunya cantik-cantik, akan tetapi dibandingkan dengan keadaan di sini, masih kalah jauh,
Kui-bo Thai-houw membawanya ke dalam sebuah kamar besar yang indah dan mengambil tempat duduk di atas kasur yang ditilami sutera-sutera merah berkembang emas yang memenuhi sebagian kamar itu. Bantal-bantal sutera berkembang tersusun di situ. Ketika Thai-houw menjatuhkan diri duduk di atas kasur yang empuk, empat orang gadis berbaju kuning segera melayaninya, menyusun dua bantal di belakang punggungnya sehingga Thai-houw dapat duduk enak. Thai-houw lalu memangku sebuah bantal bundar dan berkata halus kepada Kun Hong yang masih berdiri membungkuk dengan hormat, "Orang muda, kau duduklah."
325
Kun Hong bingung. Di mana ia harus duduk? Dengan canggung iapun lalu duduk di atas lantai dengan kedua kaki ditekuk ke belakang. Kui-bo Thai-houw mengeluarkan suara ketawa perlahan dan empat orang gadis cantik berbaju kuning itupun tersenyum-senyum.
"Lantai bukan tempat duduk. Pelayan Hijau, layani tamu!" kata nenek itu.
Bagaikan peri-peri kahyangan, muncul empat orang gadis lain yang berpakaian serba hijau, cantik-cantik manis seperti empat yang berbaju kuning itu. Mereka itu segera menghampiri Kun Hong. menariknya bangun dan menuntunnya duduk di atas kasur pula menghadapi Thai-houw. Dari tarikan tangan mereka yang halus-halus Kun Hong mendapat kenyataan bahwa mereka itu tidaklah sehalus orang kira, melainkan di balik kehalusan itu bersembunyi tenaga lweekang tingkat tinggi!
Lalu datang berganti-ganti pelayan-pelayan cantik menghidangkan makanan dan minuman serta, buah-buahan yang segar. Anehnya, mereka ini semua merupakan barisan dari empat orang. Setiap datang empat orang dan hanya warna pakaian mereka yang macam-macam, ada yang serba kuning, serba hijau, serba merah, serba putih. serba biru dan lain-lain. Benar-benar mendatangkan suasana yang riang gembira dan amat indah, seakan-akan mereka itu bunga-bunga memenuhi taman dan gerakan-gerakan mereka begitu halus dan indah seperti penari-penari ulung! Kun Hong maklum bahwa mereka dapat bergerak demikian ringan hanya karena mereka memiliki ginkang yang tinggi maka ia menjadi makin kagum. Para wanita yang tinggal bersama Thai Khek Sian di Pek-go-to juga rata- rata memiliki kepandaian tinggi, akan tetapi agaknya masih kalah oleh pelayan-pelayan ini.
"Orang muda. sekarang kau ceritakan semua tentang dirimu dan tentang gurumu, mengapa kau bermusuhan dengan ayahmu Beng Kun Cinjin dan mengapa pula kau datang mencariku," kata, Kui-bo Thai-houw sambil menatap wajah di depannya yang tampan itu.
"Teecu bernama Kun Hong, semenjak kecil kehilangan ibu yang telah dibunuh oleh Beng Kun Cinjin........."
"Aahhh. jadi kau anak Kiu Hui Niang?" Thai-houw itu memotong.
Kun Hong merasa heran mengapa wanita ini tahu akan hal itu. "Betul kata-kata Thai-houw. teecu anaknya. Kemudian teecu diangkat anak atau dipelihara oleh Seng-goat-pian Kam Ceng Swi dari Kun-lun-pai. Akhirnya teecu bertemu dengan suhu Thai Khek Sian dan diambil murid sampai teecu dewasa. Karena inilah maka teecu dimusuhi oleh Kun-lun-pai dan pada suatu hari beberapa bulan yang lalu, dengan curang orang-orang Kun-lun-pai menangkap teecu dan melukai teecu dengan pukulan Im-yang-lian-hoan. Baiknya teecu sudah diobati oleh Liong Tosu dan oleh......... Beng Kun Cinjin sendiri yang tadinya teecu tidak tahu bahwa dia ayahku sendiri. Teecu sudah sembuh dari luka pukulan itu., akan tetapi menurut Liong Tosu kalau teecu tidak diobati dengan Im-yang-giok-cu, umur teecu takkan panjang lagi. Oleh karena itu teecu mohon pertolongan Thai-houw untuk memberi obat Im-yang-giok-cu kepada teecu........."
Kui-bo Thai-houw mengangguk-angguk mendengar penuturan singkat ini. Dia adalah bekas selir dari Kerajaan Sung Selatan, tentu saja ia tahu akan segala apa yang terjadi di kota raja. Biarpun ia sudah mengasingkan diri, namun ia masih selalu ingin tahu apa yang terjadi di utara dan selatan malah ia ingin tahu juga apa yang terjadi di kota raja utara di mana Kaisar Bangsa Mongol memegang
326
kekuasaan. Oleh karena itu ia juga mendengar tentang Beng Kun Cinjin. seorang hwesio yang roboh oleh kecantikan Kiu Hui Niang dan kejadian kejadian selanjutnya ia ikuti dengan hati tertarik.
Dahulunya Kui-bo Thai-houw adalah selir Kaisar Sung Selatan yang terkasih. Akan tetapi setelah dijadikan kekasih nomor satu oleh kaisar, dia mempunyai hati murka, ingin merobohkan kedudukan thai-houw (permaisuri). Pelbagai jalan ia lakukan untuk merobohkan kedudukan permaisuri agar dia sendiri dapat diangkat menjadi permaisuri nomor satu! Akan tetapi gagal malah kalau ia tidak berkepandaian tinggi tentu ia sudah tertangkap dan dihukum mati. Kegagalan ini membuat dia menjadi putus asa dan kecewa sekali, menyinggung batinnya mengganggu ingatannya. Semenjak itu, ia menghilang dan tahu-tahu di Pulau Ban mo-to muncul seorang wanita cantik berilmu tinggi yang memakai julukan Thai-houw (Permaisuri)! Dengan kepandaiannya yang tinggi, Kui-bo Thai-houw ini mengumpulkan harta kekayaan dan benar-benar hidup seperti seorang permaisuri di pulau itu. Akan tetapi ia diam-diam selalu suka bermenung duka karena hidupnya ”amat sunyi", tidak ada suami tidak ada anak!
Sekarang bertemu dengan Kun Hong tergerak hati nenek tua ini. Pemuda yang amat tampan ini menarik hatinya. Kalau saja ia bisa mempunyai kawan hidup seperti pemuda ini, tampan dan gagah, sebagai kekasih atau sebagai anak baginya sama saja! Kun Hong sama sekali tidak tahu apa yang terkandung dalam kepala wanita itu dan apa yang tersembunyi di balik sinar matanya yang masih bening dan tajam.
Kui-bo Thai-houw tersenyum manis mendengar penuturan Kun Hong.
"Anak baik, jangan kau khawatir. Semua maksudmu akan tercapai......... semua kataku, asalkan kau menuruti kehendakku. Jangan khawatir mengobati lukamu apa susahnya? Membunuh Beng Kun Cinjin apa sukarnya? Jangankan hanya mengalahkan Tai It Cinjin dan kesemuanya urusan-urusan tak berarti itu, biarpun kau ingin merebut tahta kelak akan tercapai kalau aku berada di sampingmu........” Wanita itu lalu tertawa merdu sekali tanpa membuka mulutnya. Kun Hong menjadi bingung dan meremang bulu tengkuknya. Kata-kata wanita ini seperti bukan ucapan orang waras!
Kui-bo Thai-houw menoleh kepada pelayan baju merah. "Ambil guci terisi Liong-hiat-ciu (Arak Darah Naga) dan cawan emas!”
Empat orang gadis berpakaian merah bergerak cepat. Kaki mereka, seperti pelayan-pelayan lain, tidak kelihatan, tersembunyi di dalam baju yang panjang sampai terseret di atas lantai yang mengkilap bersih. Karena mereka tidak kelihatan menggerakkan kaki mereka itu meluncur maju seperti terbang saja!
Tak lama kemudian mereka sudah muncul lagi, seorang membawa sebuah guci berwarna hijau indah sekali dan seorang pula membawa sebuah menampan perak di mana terletak dua buah cawan merah berukirkan burung-burung sedang bercumbuan. Indah bukan main, merupakan barang berharga yang kiranya hanya dapat ditemui dalam istana kaisar atau rumah gedung bangsawan dan hartawan besar.
Dengan gerakan lemah gemulai empat orang nona baju merah itu menurunkan guci menaruh cawan-cawan itu di depan Kun Honjg dan Thai-houw. Kun. Hong duduk tak bergerak, kagum sekali dan hatinya berdebar. Ia mencium bau harum yang lain lagi dari nona nona baju kuning dan baju hijau.
327
Agaknya tidak hanya warna pakaian dan tugas pekerjaan yang berbeda bahkan minyak wangi yang dipakaipun berbeda-beda!
Akan tetapi bau sedap yang keluar dan pakaian empat orang nona baju merah itu segera lenyap dan kalah oleh bau harum yang keluar dari arak ketika minuman berwarna merah darah itu dituangkan oleh jari-jari tangan halus itu ke dalam cawan emas. Kun Hong memandang ke arah cawan emas di depannya. Timbul rasa muak kalau dia melihat warna arak itu karena merah seperti darah betul.
Agaknya Kui-bo Thai-houw dapat membaca pikirannya, maka sambil tersenyum wanita itu berkata. "Jangan kau sembarang sangka. Arak ini disebut Liong-hiat-ciu karena memang betul-betul digunakan darah naga sebagai campuran. Akan tetapi biarpun darah naga, rasa arak ini tidak kalah oleh arak Nan-cang yang sudah disimpan ratusan tahun!"
Nenek itu lalu mengeluarkan sehelai kantong sutera kuning yang disulam sepasang naga berebut mustika, ia membuka kantong itu dan silau mata Kun Hong ketika melihat batu-batu kemala yang amat indah ada yang putih ada merah, biru. kuning dan kesemuanya merupakan kumpulan batu yang amat indah dan mahal. Kui-bo Thai-houw mengeluarkan sebutir batu kemala yang warnanya kehijauan. Dengan hati-hati ia memasukkan batu giok itu ke dalam cawan arak Kun Hong. lalu katanya perlahan.
"Kau lihat, arak ini bukan sembarang arak giok (batu kemala) inipun bukan giok sembarangan Bisa mencair di dalam arak Liong-hiat-ciu ini. Nah sekarang sudah mencair, hayo kita minum!" la mengangkat cawannya sendiri dan memberi isyarat supaya Kun Hong minum araknya yang sudah dicampuri batu kemala hijau yang mencair tadi.
Kun Hong tidak berani membantah. Ia maklum bahwa wanita ini jauh lebih tinggi ilmunya dari padanya dan apapun yang akan kita lakukan, ia sudah berada di tangan Kui-bo Thai-houw, tidak ada artinya membangkang. Lagi pula. bukankah dia datang untuk minta tolong? Orang sudah berlaku baik menerimanya dengan segala kehormatan. Tak mungkin dengan minuman arak dicampur kemala itu Kui-bo Thai-houw akan bermaksud jahat. Kalau memang hendak mencelakakan dia apa sukarnya bagi wanita ini? Apa perlunya mesti menggunakan minuman beracun seperti kelakuan penjahat-penjahat kecil yang rendah? Dengan pikiran ini. tanpa ragu-ragu lagi Kun Hong mengangkat cawan emasnya dan minum arak merah itu sekali tenggak. Terdengar suara ketawa tertahan dari seorang nona baju merah ketika ia minum arak itu ditenggak habis sekaligus.
Kui-bo Thai-houw juga mendengar suara ketawa ini karena tiba-tiba setelah menghabiskan araknya ia menoleh dan sepasang matanya memandang seorang di antara empat nona baju merah itu dengan pandang mata berapi!
Gadis baju merah itu tiba-tiba menggigil mukanya yang manis menjadi pucat dan ia menjatuhkan diri berlutut di depan Kui-bo Thai-houw sambil berkata lemah.
"Mohon ampun. Thai-houw........."
Kui-bo Thai-houw mengeluarkan senyum mengejek, alisnya tetap berkerut dan ia berkata, halus akan tetapi mendesis seperti ular marah, "Kau berani mentertawakan kami ya? Hayo keluarkan hatimu, hendak kulihat bagaimana besarnya maka kau seberani itu!"
328
Kun Hong setelah minum arak bercampur batu giok itu merasa tubuhnya ringan dan enak sekali. Ada sesuatu yang mendorongnya untuk tertawa-tawa dan bergembira seperti orang mabok. Ia mengerahkan tenaga melawan desakan ini dan tetap tinggal diam dan tenang. Akan tetapi melihat kejadian di depannya itu ia menjadi heran dan bingung. Ia tidak tahu apa artinya perintah terakhir itu dan hatinya berdebar, siap untuk menolong nona baju merah itu kalau hendak dicelakakan.
Ia melihat nona itu mengeluarkan isak tertahan mendengar perintah ini dan tiga orang nona baju merah yang lain berlutut dengan tubuh gemetar. Juga nona-nona rombongan baju berwarna lain yang berada di situ pada pucat mukanya namun tidak berani berkutik. Kemudian terjadi hal yang agaknya takkan dapat dilupakan oleh Kun Hong selama hidupnya.
Ia melihat nona baju merah itu tiba-tiba bangun berdiri dan mulai menanggalkan baju atasnya, dilepaskannya semua begitu saja di depan Thai-houw, berarti di depan matanya juga. Tak lama kemudian nona itu sudah berdiri dengan tubuh bagian atas telanjang sama sekali dan di tangan kanannya memegang sebilah pisau pendek yang berkilauan saking tajamnya. Kemudian, tanpa mengeluarkan kata-kata lagi, gadis itu menusukkan pisau ke dadanya yang berkulit putih itu. membelek dan tangan kirinya bergerak cepat dimasukkan ke dalam dada melalui luka lalu merenggut sebuah jantung yang masih berlumur darah! Kemudian tubuh itu roboh tak bernapas lagi di depan Kui-bo Thai-houw dan Kun Hong!
Kui-bo Thai-houw memberi aba-aba keras dan seorang nona baju merah yang lain telah menyambar jantung yang berada di tangan kiri kawannya yang sudah mati itu, lalu memberikannya kepada Thai-houw. Tanpa banyak cakap nenek ini lalu merobek jantung menjadi dua dan memasukkannya ke dalam cawan araknya dan cawan arak Kun Hong. Nona baju kuning yang diberi perintah lalu memenuhi lagi cawan-cawan itu.
Kun Hong melompat berdiri, mukanya pucat sekali dan berpeluh. Ia berdiri memandang mayat nona baju merah yang setengah telanjang itu dengan mata terbelalak.
"Ini......... ini......... terlalu sekali........ keji.........!" katanya gagap.
Tiba-tiba ia merasa tangannya ditarik ke bawah yang memaksanya duduk kembali dan terdengar suara lirih halus.
"Kun Hong kau duduklah kembali yang enak!"
Pemuda itu terduduk dan aneh sekali, kepalanya mulai berputar-putar rasanya dan semua yang nampak di situ berputaran. Akan tetapi ia tidak merasai sesuatu yang tidak enak malah tubuhnya terasa nyaman sekali. Ia masih dapat mendengar Thai-houw memberi perintah dan nona-nona dalam berbagai macam pakaian berwarna itu hilir-mudik dengan cepat membawa pergi mayat nona baju merah dan membersihkan lantai. Minyak wangi disiram di lantai mengusir bau darah yang amis.
"Kun Hong. Liong-hiat-ciu dan jantung anak dara merupakan obat yang amat mujarab guna memperoleh usia panjang. Minumlah" Dalam ucapan terakhir ini terkandung pengaruh begitu luar biasa kuatnya sehingga seperti dalam mimpi Kun Hong minum arak dari cawannya. Terasa sesuatu
329
yang manis dan hangat-hangat. Kemudian ia teringat dan membelalakkan mata berusaha sekuat tenaga untuk menguasai pikirannya.
"Thai-houw. mana Im-yang-glok-cu? Yang kuminum tadi bukan Im-yang giok-cu karena menurut pendengaranku, Im-yang-giok-cu harus dimakan dengan ramuan obat........" Biarpun ia berada di bawah pengaruh obat luar biasa, kecerdikan Kun Hong tidak menjadi lenyap, maka ia masih bisa menggunakan akal untuk memancing.
Kui-bo Thai-houw tertawa merdu. "Kau kira begitu mudah aku melepaskan Im-yang-giok-cu. biarpun itu untuk menyambung nyawamu? Harus kulihat dulu apakah nyawamu itu berguna bagiku atau tidak. Yang kau minum adalah Liong-hiat-ciu yang dapat melemahkan kemauanmu dan semenjak saat ini kau harus tunduk kepada segala kehendakku. Kalau kelak kau ternyata seorang anak baik, mudah saja mengobatimu dengan Im-yang-giok-cu. Pantas tidaknya kau tetap untuk hidup tergantung dari kau sendiri selama berada di sampingku Wanita itu tertawa lagi dan Kun Hong yang hendak melompat karena marah dan merasa tertipu itu tiba-tiba merasa tubuhnya kehilangan semua tenaga. Pandang matanya kabur dan tanpa ia sadari ia telah terguling dan kepalanya rebah di atas pangkuan Kui-bo Thai-houw.
Kun Hong bermimpi atau hidup seperti dalam mimpi. Ia seperti lupa akan segala, tidak mempunyai kemauan lagi. Tahunya bahwa ia harus tunduk, taat. dan setia kepada Thai-houw yang kadang-kadang bersikap sebagai kekasihnya, kadang-kadang pula sebagai ibunya! Ia hidup dalam dunia yang aneh penuh keganjilan, penuh keseraman, penuh keindahan dan kesenangan. Ia disebut Thai-cu (pangeran) dan diperlakukan sebagai pangeran pula, semua gadis-gadis ayu berpakaian aneka warna itu menjadi hambanya, menjadi pelayannya! Juga empat orang wanita kembar yang aneh dan lihai itu menjadi pelayannya! Ia hanya tahu bahwa Thai-houw amat baik kepadanya, memberi pelajaran ilmu silat yang aneh sehingga kepandaiannya maju pesat, dan memberi obat Im-yang-giok-cu kepadanya beberapa bulan kemudian setelah ia betul-betul dianggap sebagai anak dan....... sebagai kekasih!
Kita tinggalkan dulu Kun Hong yang hidup seperti di lain dunia dalam keadaan setengah sadar di bawah pengaruh obat perampas ingatan, hidup dalam keadaan mimpi di bawah kekuasaan Kui-bo Thai-houw, tokoh yang benar-benar hebat mengerikan dan luar biasa kejamnya itu.
Sudah lama kita meninggalkan Wi Liong. Seperti telah dituturkan di bagian depan, setelah berhasil merenggut nyawa Siok Lan dari bahaya maut ketika gadis itu hendak membunuh diri dan terjun ke dalam jurang, Wi Liong sendiri tak dapat menolong diri dan kaitan kakinya pada akar pohon terlepas membual tubuhnya melayang turun ke dasar jurang! Sudah diceritakan pula betapa Kwa Cun Ek yang merasa berterima kasih kepada pemuda itu menuruni jurang dan mencari-cari. akan tetapi tidak menemukan tubuh pemuda itu, hanya melihat bekas darah dan robekan pakaian. Kwa Cun Ek pulang dengan hati duka mengira bahwa pemuda penolong puterinya itu tentu sudah tewas dan mayatnya digondol binatang buas. entah harimau entah ular besar.
Betul demikiankah keadaan Wi Liong, seperti yang dikirakan oleh Kwa Cun Ek? Betulkah Thio Wi Liong, pemuda perkasa dan berhati mulia itu sudah tewas dalam keadaan mengerikan? Memang kadang-kadang nasib mempermainkan manusia dan sering kali terjadi hal-hal yang dalam anggapan manusia dan menurut perhitungan manusia seperti tidak adil nampaknya. Banyak manusia berhati baik bernasib buruk dan sebaliknya orang-orang berhati buruk bernasib baik. Memang pekerjaan Thian penuh rahasia yang taik dapat ditembusi oleh akal budi manusia sebagian besarnya sehingga
330
nampak janggal. Akan tetapi kali ini Thian betul-betul masih melindungi orang baik, dalam hal ini Thio Wi Liong.
Kalau dipandang sepintas lalu, memang tak masuk akal sekali kalau seorang manusia jatuh ke dalam jurang itu tidak kehilangan nyawanya. Jurang itu amat dalam lagi di bawahnya terdapat tetumbuhan liar dan batu-batu karang yang keras. Sekali tubuh manusia jatuh menimpa batu-batu itu pasti akan hancur lebur.
Akan tetapi apa yang terjadi dengan Wi Liong? Ketika tubuhnya melayang ke bawah, ia merasa sesak tak dapat bernapas dan ia menjadi pingsan karenanya. Tubuhnya tertumbuk-tumbuk akar dan batu, terlempar ke kanan kiri dan pakaiannya robek-robek. Justeru pakaian yang robek-robek inilah yang menolong nyawanya. Pakaian yang robek itu melambai-lambai ketika ia jatuh dan kebetulan sekali, kita hanya bisa memakai kata kebetulan karena kekuasaan Thian demikian anehnya sehingga kata-kata yang sesuai bagi manusia hanyalah "kebetulan", ujung pakaian itu mengait kayu pohon yang menonjol keluar di tebing jurang dekat dasar. Tubuh Wi Liong tersentak, terputar-putar akan tetapi justru ini membuat "ikatan" pakaiannya dengan kayu pohon itu menguat dan mencegah kejatuhannya ke bawah. Demikianlah, Wi Liong "tergantung" di kayu pohon itu dalam keadaan pingsan!
Aneh,, bukan? Tidak, tidak aneh setelah kita mengetahui sebab-sebabnya. Di situ ada kayu pohon menonjol, baju Wi Liong terbentur-bentur sampai robek-robek dan "kebetulan" menyangkut kayu itu. Tidak aneh, hanya kebetulan! Dan kebetulan inipun tidak aneh karena selama hidupnya dia adalah seorang pemuda yang berhati baik dan berpikiran bersin.
Ketika ia siuman kembali, pertama-tama yang terasa oleh Wi Liong adalah tubuhnya yang sakit -sakit, ia mengerang perlahan dan menggerakkan tubuhnya. Akan tetapi sukar digerakkan dan ia merasa seakan-akan kedua tangannya terbelenggu. Ketika ia membuka mata dan kesadarannya sudah pulih betul, barulah ia tahu bahwa tubuhnya tergantung di udara pada ujung kayu pohon, bajunya dari bawah sampai leher tergulung ke belakang di kayu itu sehingga kedua tangannya seperti ditekuk ke belakang. Ia tergantung tak jauh dari dasar jurang hanya lima enam kaki lagi".
Wi Liong bergidik. Sekarang terbuka matanya dan tahulah ia bahwa nyawanya tertolong pada detik-detik terakhir. Kemudian ia teringat kepada Siok Lan. Wi Liong tersenyum! Memang ada betulnya juga kalau orang bilang bahwa orang muda yang bercinta itu sudah miring otaknya! Buktinya si Wi Liong ini. diri sendiri berada dalam keadaan seperti itu, lebih mati dari pada hidup kok masih bisa tersenyum begitu teringat kepada Siok Lan! Ia tersenyum karena girang ketika teringat bahwa ia telah dapat menolong gadis itu dari bahaya maut. Akan tetapi tiba-tiba mukanya yang berseri itu berubah, malah dua titik air mata turun ke atas pipinya, bibirnya berbisik, "Bu-beng Siocia...... Sok Lan...... ah, manusia tolol kau!"
Dengan gemas sekali Wi Liong menggerakkan kedua tangan memberontak, tangan kanan dipakai menampar kepalanya sendiri. Oleh gerakan ini bajunya yang menyangkut kayu menjadi robek dan ia jatuh ke bawah, baiknya tidak tinggi dan ia terguling ke atas rumput becek dan basah.
Gila tidak? Memang orang muda yang di-mabok cinta suka melakukan perbuatan-perbuatan yang gila, lucu, dan......... mengharukan. Betapa tidak? Lihat saja Wi Liong itu. Pemuda tampan ganteng, berkepandaian tinggi sebagai murid tunggal Thian Te Cu. Gagah perkasa dan berwatak budiman,
331
sekarang seperti anak kecil atau seperti orang yang miring otaknya, bergulingan di atas rumput becek sambil menangis dan menyebut-nyebut nama Bu-beng Siocia dan Siok Lan!
"Aku harus mencari dia, aku harus minta ampun kepadanya....... ah. Siok Lan....... aku......... aku menolakmu karena tidak tahu bahwa kaulah Bu-beng Siocia......" Wi Liong bangun berdiri tapi terguling pula karena pahanya terasa sakit sekali. Ia meraba pahanya dan ternyata pahanya terluka berdarah.
Ia tersenyum! Siok Lan yang melukainya dengan pedang. Dia tentu mau mengampuniku. dia sudah melukaiku. Tapi aku tak boleh sembrono, harus mencari perantara. Suhu.........? Ah, suhu mana mau mencampuri urusan perjodohan? Paman Kwee? Ah, justeru paman Kwee yang sudah memutuskan pertunangan itu.
Demikianlah, sambil merawat lukanya Wi Liong melakukan perjalanan keluar dari tempat itu, memasuki hutan dan mengembara di dalam hutan seperti orang yang kehilangan ingatannya. Pakaiannya compang-camping, mukanya kurus kotor dan ia hanya makan buah-buah kalau perutnya sudah tak tertahankan lagi laparnya.
Ia mengembara terus sampai beberapa pekan tanpa tujuan tertentu karena ia selalu masih merasa bimbang. Hatinya ingin sekali ia mendatangi rumah Kwa Cun Ek di Poan-kun untuk menemui Siok Lan dan minta ampuni, akan tetapi ia bergidik kalau teringat betapa gadis itu akan menjadi marah-marah melihatnya. Bagaimana kalau Siok Lan mengambil keputusan pendek membunuh diri lagi kalau melihat ia datang?
Akhirnya ia menguatkan hatinya dan pergilah Wi Liong ke Poan-kun. Kakinya gemetar gelisah ketika ia berjalan memasuki pekarangan depan rumah kekasihnya itu. Mulut dan tenggorokannya terasa kering sehingga beberapa kali ia menelan ludah untuk menenangkan hatinya. Rumah itu sunyi saja. Ia naik anak tangga dan tiba di ruangan depan. Semua pintu dan jendela tertutup, ia makin heran dan maju ke pintu diketuknya pintu itu. Sunyi saja. Diketuknya lagi agak keras.
Terdengar tindakan kaki di sebelah dalam.
Wi Liong mundur tiga tindak dan jantungnya berdebar-debar keras. Siapakah yang akan keluar? Kwa Cun Ek, Tung-hai Sian-li, ataukah Siok Lan sendiri? Ia melirik; pakaiannya dan tiba-tiba merah mukanya, Bagaimana perasaan Siok Lan kalau melihat keadaannya seperti pengemis itu? Cepat- cepat secara otomatis ia membetulkan letak topinya yang selama ini miring di kepalanya tanpa diperdulikan.
Gesit-gesit suara pinlu dibuka dari dalam dan....... seorang pelayan laki-laki sudah tua muncul, memandang kepada Wi Liong penuh selidik.
"Mencari siapa?" tanyanya kurang hormat karena keadaan Wi Liong dengan pakaiannya yang tidak karuan itu memang tidak bisa memancing penghormatan orang.
Kembali lagi darah Wi Liong yang tadinya sudah meninggalkan mukanya dalam ketegangannya menanti siapa yang akan muncul di depannya. Kembali lagi ketenangannya yang tadi sudah terbang pergi entah ke mana.
332
"Lopek, aku mencari Kwa-lo-enghiong......” katanya.
"Tidak ada orang........ tidak ada orang sama sekali di rumah. Semua pergi, mula-mula siocia, lalu hujin lalu Kwa-loya sendiri........ hanya ada aku yang menjaga rumah" jawab pelayan itu.
Kembali Wi Liong pucat mukanya, kini pucat karena gelisah. Ke mana mereka itu pergi dan kenapa pula pergi?
"Lopek. ke mana mereka pergi dan kenapa?" Mulutnya meniru suara hatinya, dengan suara perlahan agak gemetar.
"Siapa tahu? Kwa-loya tidak menanggalkan apa-apa kecuali harus menjaga rumah baik-baik. Kau siapakah mau tahu segala urusan?”
Wi Liong menarik napas panjang, tidak tahu harus menjawab apa dan pelayan itu nampak marah karena diganggu, tanpa berkata apa-apa lagi lalu membanting daun pintu di depan hidungnya. Wi Liong berdiri seperti patung untuk beberapa lama. Kemudian ia melangkah keluar, menengok lagi lalu menyelinap ke pinggir rumah dan mengayun tubuhnya melompat naik ke atas genteng. Bagaimanapun juga. ia harus membuktikan sendiri bahwa rumah itu kosong bahwa Siok Lan tidak berada di situ.
Benar saja, ketika ia mengintai dari atas. rumah itu kosong, yang ada hanyalah pelayan tadi yang sibuk menjahit pakaiannya sendiri yang robek. Dengan hati kosong Wi Liong melompat turun dan langkah kakinya lemas ketika ia berjalan keluar dari pekarangan rumah itu.
"Heh-heh-heh, orang muda, kau kecewa? Aku juga kecewa mendapatkan rumah itu kosong, hanya dijaga pelayan galak!"
Wi Liong sadar dari keadaannya seperti melamun itu dan memandang. Ia melihat seorang kakek gemuk pendek berpakaian seperti pengemis akan tetapi kain baju tambal-tambalan ini semuanya baru dan bersih. Lengan kiri kakek ini buntung sebatas siku dan tangan kanannya memegang sebatang tongkat bambu butut. Sepatunya mengkilap hitam, baru! Kakek itu sedang duduk di atas rumput dan karena tubuhnya memang pendek sekali ketika ia duduk tadi ia tidak begitu kelihatan.
Mula-mula Wi Liong tidak mengenalnya dan mengira ia berhadapan dengan seorang pengemis. Akan tetapi ketika pikirannya sudah terang benar, ia terkejut karena mengenal kakek ini yang bukan lain adalah Lam-san Sian-ong tokoh selatan yang amat terkenal di dunia kang-ouw ini. Tentu saja pertemuan ini menggirangkan hatinya karena Lam-san Sian-ong juga hadir ketika dulu mereka semua diserang oleh Kun Hong dan kawan-kawannya di Kelenteng Siauw-lim-si, di mana selain Lam-san Sian-ong juga hadir Tung-hai Sian-li See-thian Hoat-ong, Pak.thian Koai-jin. Eng Lan dan Siok Lan. Kakek ini sahabat baik keluarga Siok Lan, tentu ia tahu di mana adanya mereka. Cepat ia memberi hormat, menjura dan berkata.
''Kiranya lodanpwe Lam-san Sian-ong yang berada di sini. Maafkan aku berlaku kurang hormat, karena tidak mengenal locianpwe"
333
Kakek buntung itu tertawa aneh. "Orang muda seperti kau mana bisa mengenal aku? Kalau kau orang lainpun tentu takkan mengenal aku. Hanya orang tolol saja yang tidak mengenal orang yang buntung tangannya!" Memang kakek ini kalau bicara seenak perutnya sendiri. Wi Liong kembali memberi hormat dan berkata merendah. "Harap locianpwe sudi memberi maaf."
"Aku tidak punya maaf mana bisa diberi-berikan orang?" Ia memandang lebih teliti kemudian berkata dengan suara keras seperti berteriak, "Aha, kiranya kaukah ini? Ah. aku mendengar kau murid Thian Te Cu, hebat...... hebat......! Tapi kenapa kau sekarang begini kurus? Pakaianmu compang-camping. Apa sekarang kau menjadi pengemis?”
Wi Liong sudah tahu akan keanehan kakek ini maka ia tidak menjadi marah mendengar kata. kata yang tidak karuan itu.
"Aku datang hendak mencari..... Kwa-lo-enghiong." Tentu saja sebetulnya ia mencari Sok Lan, akan tetapi mana bisa ia mengaku di depan setiap orang?
"Haa......... mana bisa. Orang she Kwa itu selamanya seperti orang gila. Sekarangpun ia sudah pergi, katanya menyusul anak dan isterinya yang juga pergi. Tahu aku jauh-jauh datang hendak memberi selamat atas berkumpulnya suami isteri itu kembali, kenapa malah pergi?" Ia lalu menarik napas panjang, menggeleng-geleng kepala dan memukul mukulkan tongkatnya di atas tanah. "Apa mereka marah kepadaku? Apa orang she Kwa cemburu kepadaku? Ha-ha. agaknya tak mungkin. Biarpun Lee Hui Goat menolak pinanganku dan kembali kepada suaminya, aku tidak iri hati. malah girang......... ha-ha. orang dua itu memang gila berkumpul kembali mencari kepusingan!" Ia lalu tertawa tawa dan Wi Liong mendengarkan dengan heran.
Biarpun ia tidak tahu nama Tung-hai Sian Li akan tetapi dapat menduga bahwa yang disebut Lee Hui Goat itu tentulah Tung-hai Saan-li. Tiba tiba ia merasa kasihan kepada kakek buntung ini. Orang seperti dia ini meminang Tung-hai Sian-li? Benar-benar lucu. lucu dan tak tahu diri. juga...... kasihan sekali. Apakah orang buruk rupa dan orang bercacad tidak berhak mencinta? Cinta kasih tidak memilih orang,, yang dirangsang hatinya, bukan-tubuhnya. Lam-san Sian-ong mencinta Tung-hai Sian-li! Agaknya Wi Liong akan tertawa dan tidak percaya kalau tidak mendengar omongan kakek buntung ini sendiri.
"Kalau begitu locianpwe juga tidak tahu ke mana perginya Kwa lo-enghiong dan anak isterinya?"
"Kwa Cun Ek tak pernah bepergian, sekali pergi tentu sukar dicari tempatnya. Puterinya itu gadis berandalan, ke mana perginyapun siapa yang tahu? Kalau Tung-hai Sian-li, mudah saja mencarinya. Eh. orang muda. kau bernama apa? Kabarnya kau keponakan Kwee Sun Tek, betulkah?”
"Namaku Thio Wi Liong dan memang Kwee Sun Tek adalah pamanku......."
"Eh, kau datang ke sini mencari mereka ada apakah? Kau kelihatan seperti orang sakit, sakit badan sakit pikiran. Hee........ sampai lupa aku, bukankah Kwa Cun Ek akan berbesan dengan Kwee Sun Tek. Jadi....... kau ini....... kau calon mantunya Tung.hai Sian-li?"
Mendengar ini, tergerak hati Wi Liong. Tentu kakek ini yang akan dapat menolongnya sebagai perantara untuk penyambungan kembali perjodohannya yang telah ia patahkan sendiri. Serta-merta
334
ia menjatuhkan diri berlutut di depan kakek itu sambil menitikkan air mata, "Locianpwe, tolonglah saya......."
Kakek itu melengak keheranan. Diketuknya kepala Wi Liong dengan tongkat bututnya sambil berkata, "Orang muda. apa ingatanmu sudah berubah? Apa kau tidak gila? Kalau tidak, coba ceritakan yang jelas."
Wi Liong lalu menuturkan semua pengalamannya, tentang pertunangannya dengan Kwa Siok Lan yang dibatalkan mula-mula oleh pamannya kemudian diperkuat olehnya sendiri, tentang Bu-beng Siocia yang ternyata adalah Kwa Siok Lan tunangannya sendiri dan tentang peristiwa akhir-akhir ini. Ia ceritakan semua, tidak ada yang disembunyikan karena ia mengharapkan pertolongan kakek ini.
Setelah mendengar penuturan ini, Lam-san Sian-ong terkekeh-kekeh seperti mendengar sebuah cerita yang amat lucu. "Salahmu sendiri, mengapa kau tolong dia dan tidak mati saja bersama di dasar jurang? Bukankah lebih enak mati bersama dari pada hidup terpisah merana? Ha-ha-ha. memang hidup itu sengsara, tak perlu dihadapi dengan air mata.
"Saya yang muda dan bodoh masih mengharapkan hidup bahagia di samping Siok Lan, kalau locianpwe sudi menolong tentu akan berhasil menyambung kembali tali perjodohan." kata Wi Liong memohon.
"Bodoh! Ayahnya keras kepala mana anaknya tidak keras kepala pula? Ibunya mudah tersinggung tentu anaknya mudah marah. Tolong sih bisa. akan tetapi berhasil atau tidak entah. Paling perlu menemui Tung-hai Sian-li. bicara dengan dia aku lebih senang. Tentu dia sedang menghibur diri di sepanjang mulut Sungai Yang-ce yang masuk ke laut seperti biasa kalau dia berduka selalu menghibur diri dengan burung-burung di sana....... akan tetapi enak saja kau minta tolong. Kau sendiri bisa tolong apa padaku!"
"Locianpwe boleh menyuruh apa saja. akan saya penuhi untuk membalas budi locianpwe yang besar ini," kata Wi Liong girang.
Kakek itu memandang tajam, mengerutkan kening berpikir-pikir. Kemudian ia mengangguk-angguk dan berkata, "Kau harus menjadi auak angkatku, karenanya aku bisa menjadi walimu. Dan sebagai anak angkat, kau harus berganti pakaian yang baik dan patut. Pula, sebagai anak angkat, kau harus membantu aku membalaskan perbuatan Bu-ceng Tok-ong terhadapku ini!" Ia mengacungkan lengan kirinya yang buntung.
Wi Liong berpikir sejenak. Tidak ada keberatannya menjadi anaik angkat orang aneh ini dan berpakaian pantas, tentang membalaskan Bu ceng Tok-ong, tokoh itu memang orang jahat, patut kalau diberi hukuman. Ia lalu mengangguk angguk dan berjanji mentaati semua kehendak ayah angkatnya". Semenjak itu ia menyebut gi-hu (ayah angkat) kepada kakek itu yang menjadi girang sekali.
Dataran rendah di lembah Sungai Yang-ce amatlah indah pemandangannya. Apa lagi kalau datang musim semi, segala macam tetumbuhan menjadi, seribu macam bunga berkembang. Sungai Yang-ce yang amat panjang itu mengakhiri aliran airnya di Laut Kuning, melalui sebelah selatan Propinsi Kiang-
335
su, atau boleh juga dibilang bahwa alirannya memasuki perbatasan antara Laut Kuning dan Laut Timur.
Di sepanjang lembah sungai yang mendekati laut ini amat indah pemandangannya. Airnya tenang sungai di bagian ini sudah melebar dan alirannya tidak deras lagi. Banyak juga ikan di perairan ini, akan tetapi tidak ada yang mencari ikan di sini karena pera nelayan tentunya lebih suka mencari ikan di laut yang lebih banyak menghasilkan ikan-ikan besar. Maka tempat ini pun sunyi saja.
Pada suaitu hari, pagi-pagi ketika matahari mulai naik dari ufuk timur sebuah perahu kecil meluncur dari arah timur ke barat. Perahu ini didayung oleh seorang wanita dan melihat perahu yang amat cepatnya melawan arus sungai sedangkan pendayungmya hanya seorang wanita, dapat diduga bahwa wanita ini bukanlah orang sembarangan. Ia sudah berusia empat puluhan lebih-namun masih kelihatan cantik, pakaiannya sederhana namun rapi, sikapnya keren dan di punggungnya terselip sebatang pedang. Rambutnya digelung ke atas dan pada wajah yang masih berkulit putih halus dan cantik itu terbayang kedukaan yang mendalam sehingga muka itu kelihatan agak kurus.
Ketika tiba di tempat yang indah di mana burung-burung belibis putih beterbangan riang gembira, wajah itu menjadi berseri sedikit dan pipinya menjadi agak merah, bibirnya tersenyum. Dengan gerakan ringan ia mendayung perahunya ke pinggjr, lalu melompat ke darat sambil memegang ujung sebuah tambang perahunya. Gerakannya lincah seperti burung-burung yang beterbangan itu. Cepat ia mengikatkan ujung tambang pada sebatang pohon untuk mencegah perahunya hanyut, kemudian ia berjalan mendekati burung-burung yang beterbangan.
Dengan wajah gembira wanita itu meruncingkan mulutnya dan mengeluarkan bunyi mencicit yang tinggi nyaring. Aneh sekali burung-burung belibis yang beterbangan di udara itu tiba-tiba menukik ke bawah menghampirinya, malah burung-burung yang tadinya menyambari ikan-ikan kecil di permukaan air, juga terbang menghampiri ketika mendengar "panggilan" istimewa itu. Tak lama kemudian, ketika wanita itu mengembangkan kedua lengan, beberapa ekor burung hinggap di atas lengannya seperti burung-burung peliharaan yang jinak, sedangkan yang lain beterbangan di atas kepalanya,
"Anak-anak yang baik......." terdengar wanita itu berkata perlahan dan mesra, "anak-anak yang baik, sudah kenyangkah kalian?" Kedua tangannya mengelus-elus kepala dua ekor burung yang hinggap di kedua lengannya. Amat mengharukan perhubungan mesra antara seorang manusia dengan burung-burung liar di tempat yang sunyi itu. Memang demikianlah kiranya yang dikehendaki oleh alam, hubungan baik bukan saja antara makhluk sebangsa, melainkan antara sesama hidup. Alangkah harmonis dan menyedapkan pandangan mata keadaan itu, tempat sunyi, air mengalir perlahan dan tenang, menampung bayangan batu karang, pohon, dan bukit-bukit kecil. Angin bersilir lembut membelai daun-daun pohon. Dan wanita yang tidak muda lagi akan tetapi masih cantik itu bermain-main dengan burung-burung belibis putih yang sebetulnya adalah burung-burung liar. Enak dipandang!
Tiba-tiba burung-burung yang beterbangan di atas kepala wanita itu terbang pergi sambil mengeluarkan suara mencicit keras seperti kaget dan ketakutan. Hanya dua ekor burung yang hmggap di lengannya itu yang masih belum terbang. Wanita itu kaget lalu menoleh. Kiranya yang mengagetkan burung-burung itu adalah seorang kakek pendek berlengan buntung sebelah dan seorang pemuda tampan.
336
"Di dunia penuh orang-orang yang akan suka menjadi sahabatmu, akan tetapi kau memilih burung-burung menjadi kawan! Banyak sudah kujumpai wanita aneh, akan tetapi tidak ada yang seperti kau, Tung-hai Sian-li!" kata kakek itu menyeringai dan mengetuk-ngetukkan tongkat bambunya di atas tanah, membuat dua ekor burung yang tadinya masih hinggap di atas kedua lengan wanita itu kini terbang pergi saking kagetnya. Sementara itu, melihat ibu Siok Lan. dengan muka merah Wi Liong cepat mengangkat kedua tangan ke dada memberi hormat.
Tung-hai Sian-li membalikkan tubuh menghadap mereka. Keningnya berkerut ketika ia melihat Wi Liong dan pandang matanya melembue ketika ia melihat kakek itu yang bukan lain adalah Lam-san Sian-ong, seorang sahabatnya yang amat baik seorang laki-laki yang mendatangkan rasa kasihan di dalam hatinya, tidak saja karena lengan buntung, akan tetapi juga karena pernah jatuh cinta kepadanya tanpa ia dapat membalas.
"Memang dunia penuh orang, akan tetapi orang orang macam apa, Sian-ong? Kebanyakan orang-orang dengan hati palsu, orang-orang yang tidak setia dan orang-orang yang suka menyusahkan orang lain saja. Bagiku lebih baik memilih hewan-hewan yang tidak sekotor manusia!" Sambil berkata demikian, sepasang mata yang bening tajam itu menyambar ke arah Wi Liong yang menjadi makin merah mukanya. Ia merasa disindir oleh orang yang sedianya akan menjadi ibu mertuanya ini.
Lam-san Sian-ong tertawa terkekeh. "Heh-heh-heh aku tahu maksudmu. Sian-li, kau tentu menujukan omonganmu kepada mantumu ini keponakan Kwee Sun Tek. ha-ha-ha."
"Aku tidak punya mantu macam dia, aku tidak berbesan dengan manusia bernama Kwee Sun Tek!"
"Ho-ho, perlahan dulu, dewi! Kau takkan berbesan dengan dia lagi melainkan dengan aku dan kau akan bermenantukan anak angkatku, bukankah ini pengikat hubungan yang baik sekali?”
Tung-hai Sian-li tertegun dan heran. "Apa....... apa maksudmu?"
"Mari kita duduk, tak enak bicara sambil berdiri seperti ini." kata kakek buntung itu sambil mengajak Tung-hai Sian-li dan Wi Liong duduk di atas batu-batu di pinggir sungai. Anehnya terhadap kakek buntung ini. Tung-hai Sian-li yang biasanya berhati keras itu, kelihatan menurut tanpa banyak cakap.
"Ceritakanlah kehendakmu, ringkas saja. Aku tak banyak waktu,'' kata wanita itu, sikapnya masih keren dan tegas.
"Baik. baik......" Kakek buntung itu mengangguk-angquk. kemudian ia menceritakan persoalan yang dialami oleh Wi Liong secara singkat, tentang pertemuan yang aneb antara Wi Liong dan Bu-beng Siocia sehingga antara mereka terikat semacam cinta kasih, sehingga pemuda itu rela memutuskan pertunangannya dengan Kwa Siok Lan tanpa mengetahui bahwa Bu-beng Siocia yang dicintanya itu bukan lain adalah Siok Lan sendiri. Semua ia tuturkan dengan ringkas namun cukup jelas dan Tung-hai Sian-li agaknya amat tertarik sehingga ia sama sekali tidak mengganggu penuturan itu dan kadang-kadang melirik ke arah Wi Liong yang selalu menundukkan muka dengan terharu.
"Nah, sekarang kau tahu persoalannya." Lam-san Sian-ong menutup penuturannya. "Memang Wi Liong bodoh, akan tetapi puterimu juga keterlaluan mempermainkan tunangannya sendiri sehingga
337
terjadi salah pengertian yang mengakibatkan korban perpecahan. Sekarang bocah ini menjadi anak angkatku dan aku berhak membicarakan urusan perjodohannya dengan kau. Aku menghendaki supaya tali perjodohan antara anakmu dan anak angkatku ini disambung lagi Tung-hai Sian-li." Mendengar kata-kata ini, tahulah Wi Liong bahwa kalau biasanya kakek buntung ini bicara tidak karuan itulah bukan wataknya, hanya menurutkan kebiasaannya yang aneh. Buktinya sekarang ia bisa bicara begitu jelas dan baik.
Akan tetapi mendengar penuturan itu. Tunghai Sian-li kelihatan berduka sekali lalu menggeleng-gelengkan kepalanya. "Mencari dia saja belum bisa bertemu bagaimana mau bicara tentang perjodohannya?" Ia menarik napas panjang. Kemudian sambil melirik ke arah Wi Liong ia berkata.
"Kalau pemuda ini bisa mendapatkan kembali anakku yang hilang, baru aku mau bicara tentang perjodohan."
Mendengar ini, Wi Liong berdiri lalu berkata dengan tegas. "Aku akan mencari Lan-moi sampai dapat!" Setelah berkata demikian, ia memberi hormat kepada Lam-san Sian-ong dan berkelebat pergi dari tempat itu.
Dengan cepat sekali Wi Liong berlari kembali ke Poan-kun. Sepanjang jalan ia berpikir-pikir. Sekarang ternyata olehnya bahwa gadis itu sudah pergi berpisah dengan ibu dan ayahnya. Entah ke mana perginya kekasihnya yang berwatak aneh dan keras itu. Ia harus menerima sampai dapat, harus dapat membujuknya pulang dan mengampuninya.
Dengan sabar dan teliti Wi Liong menyelidiki sekeliling Poan-kun, bertanya-tanya tentang diri Siok Lan. Gadis ini terkenal di daerah itu. maka akhirnya usahanya berhasil Ada seorang anak kecil yang melihat gadis itu berlari cepat keluar dari Poan-kun menuju ke barat. Berdasarkan petunjuk inilah Wi Liong mulai dengan perjalanannya mencari jejak Siok Lan. Berbulan-bulan ia melakukan perjalanan, menurutkan petunjuk setiap kabar mengenai diri Siok Lan yang makin tidak jelas lagi jejaknya. Namun Wi Liong tak pernah berputus asa mencari dengan penuh harapan.
Beberapa bulan kemudian, ia tiba di tepi Sungai Wu-kiang. yaitu sungai yang memuntahkan airnya di sungai besar Yangce-kiang. Jejak Siok Lan, atau kabar yang ia dengar dari orang-orang tentang gadis itu, lenyap sebulan yang lalu di Telaga Tung-ting sehingga ia merana terus ke barat sampai di tepi Sungai Wu-kiang itu, dalam sebuah hutan yang liar dan sudah sepekan lebih ia tidak bertemu dusun tak bertemu manusia.
Agak gembira juga, hatinya ketika ia melihat beberapa orang nelayan sedang menangkap ikan dengan jala dari perahu-perahu mereka. Pada saat Wi Liong hendak mendekati mereka, tiba-tiba ia mendengar suara banyak orang di sebelah kanan dan kagetlah ia ketika ia mengenal orang, orang yang sedang berduyun-duyun memasuki perahu besar di tepi sungai iitu. Mereka adalah orang-orang kang-ouw dan di antara mereka ia melihat beberapa orang panglima yang dulu bersama Bu-ceng Tok-ong dan Kun Hong pernah mengeroyok dia dan orang-orang gagah di Kuil Siauw-lim-si. Dari gerak-gerik mereka ketika melompat ke perahu, dari senjata-senjata yang mereka bawa, tahulaih ia bahwa mereka adalah orang-orang kang-ouw yang berilmu tinggi. Semua ada tujuh orang yang beramai naik perahu itu menyeberang sungai.
Setelah mereka itu menyeberang, baru Wi Liong muncul. Ia melilhat dua orang nelayan yang tadinya mencari ikan kini bercakap-cakap sambil menuding ke arah seberang sungai, agaknya
338
mempercakapkan orang-orang yang menyeberangi sungai tadi. Melihat munculnya seorang pemuda, mereka segera menghentikan percakapan.
"Ji-wi toako. kulihat tadi banyak orang menyeberang. Ada keramaian apakah di sana?" tanya Wi Liong yang berlagak seorang pelancong, dan yang haus aikan tontonan.
Akan tetapi dua orang nelayan itu malah memperlihatkan muka heran mendengar pertanyaan ini. Memang di tempat ini'tak pernah didatangi pelancong, tentu saja mereka merasa heran melihat seorang pelancong berjalan kaki muncul di hutan tepi sungai itu. Masih mending kalau pelancong ini datangnya berperahu.
"Setahu kami tidak ada keramaian apa-apa kecuali pesta perkawinan di rumah Chi-loya. Mungkin sekalil tuam-tuan tadi adalah tamu- tamu yang hendak mengunjungi pernikahan Chi-loya!" jawab seorang di antara mereka.
Wi Liong memang tadinya tertarik melihat orang-orang kang-ouw itu. Di tempat seperti ini. di selatan pula. muncul orang-orang yang membantu bala tentara Mongol, benar-benar amat mencurigakan dan aneh. Hal ini harus ia selidiki, pikirnya. Akan tetapi ia berpura-pura tidak begitu mengacuhkan orang-orang tadi dan sebaliknya kelihatan tertarik mendengar pesta perkawinan.
"Ada pesta, tentu ramai! Siapakah Chi-loya itu dan di mana ia tinggal?"
Dua orang nelayan itu saling pandang, terheran-heran mendengar ada orang belum mengenal Chi-loya. Padahal semua orang yang tinggal di sepanjang lembah sungai, tahu belaka siapa itu Chi-loya.
"Aku datang dari jauh, sengaja melancong mencari pemandangan bagus, tentu saja tidak mengenal Chi-loya," kata pula Wi Liong melihat keheranan mereka Dua orang nelayan itu mengangguk-angguk dan kini malah dengan penuh kegairahan mereka menceritakan siapa adanya Chi-loya itu.
"Tanah yang tuan injak ini milik Chi-loya. juga tanah di seberang sana dan di sepanjang lembah sungai ini sampai berpuluh li jauhnya." nelayan itu memberi penjelasan dan kemudian ia menuturkan bahwa Chi-loya adalah seorang hartawan besar yang boleh dibilang merajai daerah itu, pengaruh kekayaannya sampai meliputi beberapa buah desa di sektar situ. Juga selain kaya raya. Chi-loya amat dermawan dan tak seorangpun penduduk di sepanjang Sungai Wu-kiang yang tidak mengenalnya dan mentaatinya. Ia disegani dan ditakuti bukan saja karena hartanya dan dermawannya. akan tetapi juga karena kepandaian ilmu silatnya yang tinggi. Di daerah itu Chi-loya malah mendapat sebutan Wu-kiang Siauw-ong (Raja Muda Sungai Wu-kiang)!
Wi Liong mengangguk-angguk dan tahulah sekarang ia mengapa ia melihat orang-orang kang-ouw di situ. Tentu untuk mengunjungi orang she Chi yang ternyata juga seorang berkepandaian tinggi itu. Akan tetapi mengapa panglima-panglima dari utara!
”Apakah Chi-loya hendak mengawinkan anaknya?" tanyanya karena orang yang dipanggil loya (tuan tua) tentulah sudah tua dan kalau merayakan perkawinan tentu perkawinan anaknya atau cucunya.
Dua orang nelayan itu menggeleng kepala. "Bukan, untuk merayakan pernikahan Chi-loya sendiri dengan seorang gadis perkasa yang cantik jelita."
339
"Ah......, apakah Chi-loya itu masih muda?"
"Sudah putih rambutnya, bagaimana dibilang muda? Sedikitnya ada lima puluh tahun........."
"Aahh....... begitu.......? Baru sekarang beristeri?”
Nelayan-nelayan itu kelihatan tidak senang. "Baiknya pertanyaan-pertanyaan tuan ini ditujukan kepada kami, kalau kepada orang lain mungkin tuan akan mendapat banyak susah. Segala yang dilakukan Chi-loya adalah baik. Isterinya sudah meninggal beberapa tahun yang lalu. apa salahnya kawin lagi? Kami sedang hendak mencari ikan segemuk-gemuknya untuk disumbangkan, kalau tuan mengajak kami bicara saja. mana kami bisa dapat ikan gemuk?” Dengan sikap uring-uringan karena menganggap Wi Liong terlampau cerewet, dua orang nelayan itu lalu menengahkan perahunya dan mulai menjala ikan lagi.
"He, tunggu ji-wi twako. akupun hendak menyeberang. Tolong seberangkan aku!" teriak Wi Liong,. Akan tetapi dua orang nelayan itu menggeleng kepala. "Tidak ada waktu lagi." kata mereka dan selanjutnya tidak perdulikan Wi Liong lagi.
Tentu saja untuk menyeberangi sungai sebesar Wu-kiang, bukanlah merupakan hal sulit bagi seorang pemuda sakti seperti Wi Liong. Ia segera mencari beberapa batang pohon bambu dan sebentar kemudaan ia sudah kelihatan menyeberangi sungai itu hanya dengan pertolongan beberapa batang bambu. Kedua kakinya menginjak bambu-bambu itu dan dengan sebatang gala bambu ia mendayung dan......... perahu istimewa ini meluncur menyeberangi sungai.
Dua orang nelayan yang melihat hal ini menjadi bengong dan barulah mereka tahu bahwa orang muda itu ternyata adalah orang pandai yang dapat dijajarkan dengan orang-orang aneh yang sering kali datang mengunjungi Chi-loya. Mereka menjadi menyesal atas sikap mereka tadi, juga agak takut. Siapa tahu kalau-kalau pemuda itu sahabat Chi-loya dan kelak akan mengadu!
Akan tetapi Wi Liong tidak perdulikan mereka. Setelah tiba di seberang ia lalu melompat ke darat dan melanjutkan perjalanan. Tidak seperti di sebelah timur sungai, ternyata di sebelah baratnya terdapat lorong yang bersih dan Wi Liong lalu mengambil jalan melalui lorong ini. Dari jejak-jejak sepatu yang kelihatan di atas tanah yang agak membasah tahulah ia bahwa rombongan orang tadi juga lewat melalui lorong ini. Ia ingin mengetahui siapakah sebetulnya Chi-loya yang berpengaruh itu dan apa pula hubungannya dengan para kaki tangan Mongol.
Pemandangan di kanan kiri jalan juga berbeda dengan di sebelah timur sungai. Kalau di sebelah timur penuh hutan melulu, di bagian ini nampak subur dengan sawah ladang yang kehijauan. Makin ke barat makin banyak sawah ladang dan mulailah Wi Liong melihat petani-petani menggarap sawah. Dari keadaan tubuh mereka yang segar dan pakaian mereka yang lumayan Wi Liong mulai percaya akan cerita nelayan-nelayan tadi bahwa Chi-loya yang kaya raya memang baik sikapnya terhadap buruh-buruhnya.
Kemudian Wi Liong melihat orang-orang berdatangan melalui jalan itu juga, ada yang datang dari kanan ada yang muncul dari kiri pada jalan perempatan. Melihat keadaan mereka mudah diduga bahwa mereka tentulah orang-orang kang.ouw yang hendak mengunjungi pesta pernikahan itu. Hal ini menguntungkan baginya karena kini iapun merupakan seorang di antara tamu-tamu yang tidak
340
dicurigai. Orang-orang lain tentu saja mengira diapun seorang tamu yang hen dak mendatangi pesta itu pula. Diam-diam Wi Liong menjadi geli hatinya akan tetapi jalan satu-satunya untuk mengenal siapa Chi-loya hanyalah ikut para tamu ini mengunjungi rumah hartawan itu. Pula, iapun perlu mendapatkan hiburan dan perubahan setelah merana berbulan-bulan dengan sengsara.
Rombongan tamu itu ternyata menuju ke sebuah rumah besar yang aneh sekali didirikan di antara sawah ladang, jauh dari tetangga dan sama sekali tak boleh dibilang kampung. Rumah besar ini menyendiri, akan tetapi megah dan besar sekali, juga amat mewah. Rumah ini dihias dengan indah dan nampak banyak orang sibuk melayani para tamu yang biarpun hanya beberapa puluh orang jumlahnya, namun suara mereka memenuhi tempat itu. Sebagian besar para tamu itu terdiri dari orang-orang kasar dan hampir semua membawa senjata dan menunjukkan sikap orang-orang berkepandaian silat.
Para tamu disambut oleh beberapa orang yang agaknya menjadi panitia yang mewakili tuan rumah dan semua barang sumbangan diterima. dicatat dan ditumpuk di atas meja besar yang sudah disediakan di situ. Wi Liong yang tidak membawa apa-apa hanya ikut saja duduk di ruang tamu sambil memperhatikan keadaan di situ. Ruang tamu itu sebetulnya merupakan sebuah taman bunga besar di pekarangan depan gedung itu dan di tengah-tengah taman bunga ini terdapat sebuah ruangan luas yang berlantai licin dan bersih. Agaknya tempat yang dikelilingi bunga-bunga ini merupakan tempat berlatih silat atau mencari hawa sejuk dengan pemandangan indah di sekelilingnya.
Memang dapat dibayangkan betapa nikmatnya untuk duduk-duduk di sini di waktu semua bunga mekar sambil minum arak atau membaca kitab. Tempat-tempat tamu diatur sedemikian rupa sehingga merupakan setengah lingkaran menghadap gedung, di mana pintunya masih tertutup dan hanya di ambang pintu dihias indah dengan kain-kain merah. Dengan pengaturan tempat duduk seperti itu, maka di tengah-tengah para tamu terdapat tempat kosong yang lega, dengan garis tengah sepuluh meteran
Para pelayan yang berpakaian bersih putih-putih setrip merah melayani tamu dengan hormat. Hidangan dan arak yang dikeluarkan benar-benar membuktikan bahwa tuan rumah adalah seorang yang beruang banyak. Serba enak serba mahal. Tanpa disengaja pandang mata Wi Liong menyapu bagian di mana berkumpul tamu-tamu wanita dan hatinya berdebar ketika ia mengenal seorang wanita setengah tua yang cantik sekali. Tak salah lagi, pikirnya. Itulah Tok-sim Sianli! Akan tetapi wanita itu agaknya tidak mengenalnya, atau sudah lupa barangkali. Siapa sih yang memperhatikan seorang pemuda kurus di antara tamu-tamu kang-ouw yang gagah itu?
Setelah arak dibagikan beberapa putaran dan para tamu mulai jengkel karena tuan rumah dan pengantinnya belam juga muncul, tiba-tiba pintu gedung terbuka dan seorang pelayan yang berpakaian mewah berseru, "Chi-loya dan Chi-hujin keluar menyambut para tamu!"
Seruan ini lucu karena buktinya bukan dua orang tuan dan nyonya rumah itu yang menyambut tamu. melainkan para tamu yang berdiri dan menyambut mereka! Karena tempat duduk Wi Liong agak di belakang, ketika semua orang berdiri dan iapun berdiri, ia tidak bisa melihat jelas. Hanya melihat sepintas tadi pengantin wanitanya masih dikerudungi mukanya, juga potongan tubuhnya tidak terlihat jelas karena pakaian pengantin yang kebesaran itu menyembunyikan potongan tubuh. Adapun yang dipanggil Chi-loya adalah seorang pria tinggi gemuk, berusia limapuluhan akan tetapi
341
masih nampak kuat dan sehat, nampak kuat sekali dan wajahnya terang peramah dengan sepasang mata bercahaya.
Chi-loya mengangkat kedua tangan dan menjura kepada para tamu lalu mempersilahkan para tamu duduk kembali. Ia sendiri bersama isterinya lalu menghampiri tempat duduk yang memang sudah disediakan di situ, yaitu sepasang kursi perak yang dihias indah. Pengantin wanita duduk di samping kiri suaminya, diam tak bergerak bagaikan patung. Muka itu tertutup oleh hiasan kepala yang bergantungan di depan mukai hanya kadang-kadang kalau hiasan-hiasan itu bergerak, nampak kulit dagu yang putih kemerahan. Orang-orang, terutama sekali tamu-tamu pria yang masih muda menjulurkan leher memasang mata baik-baik untuk tidak menyia-nyiakan kesempatan mencuri pandang kepada muka pengantin itu setiap kali hiasan itu tersingkap. Akan tetapi sayang, wanita yang menjadi pengantin itu agaknya malu-malu dan menundukkan mukanya saja sehingga biarpun ada kalanya hiasan itu tersingkap, tidak nampak sesuatu kecuali bayangan hidung yang kecil mancung!
Setelah semua tamu duduk. Wi Liong dapat melihat tuan rumah dengan jelas. Ia menjadi kagum. Laki-laki itu memang jantan sekali sikapnya. Wajahnya yang gagah, matanya yang tajam, mulutnya yang tersenyum ramah dagunya yang mengeras, sikap duduknya, semua membayangkan kejantanan yang menggugah rasa kagum dalam hatinya. Orang she Chi ini tidak patut menjadi seorang hartawan, lebih patut menjadi seorang pendekar atau seorang tokoh yang amat disegani di dunia kang-ouw. Di samping tubuhnya yang besar dan kuat itu, pengantin wanita nampak kecil tak berarti, lemah dan tidak sesuai duduk di sampingnya. Diam-diam Wi Liong jadi ingin sekali melihat wajah gadis yang beruntung itu. Ya. memang boleh dibilang beruntung menjadi isteri seorang segagah Chi-loya, biarpun usia laki-laki itu jauh lebih tua.
Sementara itu. dengan sinar matanya yang ramah, Chi-loya menyapu ruang tamu sambil mendengarkan seorang petugas membacakan catatan dari para tamu yang memberi sumbangan. Juga para tamu mendengarkan sehingga keadaan ruangan itu sunyi, hanya terdengar suara petugas itu yang bernada tinggi dan suara sana sini mengirup arak.
Mendengar petugas iitu menyebut nama orang, orang gagah sambil menyebutkan macam barang sumbangannya, biarpun membosankan namun ada juga menariknya. Wi Liong melihat tuan rumah selalu mengangguk dan tersenyum kepada tamu yang disebut namanya, tentu saja yang dikenalnya. Banyak juga yang ia tidak kenal sehingga tuan rumah itu hanya mengangguk-angguk kepada para tamu, tidak tahu kepada siapa.
"Sebuah cawan perak berukir liong dari Thio Ki Sun kauwsu (guru silat) di Heng-yang! Suara petugas itu menyambung terus daftar nama-nama dan Chi-loya mengangguk ke arah seorang kate yang duduk tak jauh dari Wi Liong.
"Sebatang tusuk konde emas permata untuk pengantin wanita, dari Tok-sim Sian-li di Wi-san!"
Chi-loya mengerutkan alis dan menoleh ke arah Tok-sim Sianli di ruang wanita, lalu terdengar suaranya yang ternyata amat nyaring dan jelas. "Sungguhpun tidak ada hubungan dengan saudara-saudara dari Mo.kauw. namun hari ini menerima sumbangan dari Sian-li. Terima kasih....... terima kasih.........!" Baru kali ini tuan rumah memberi komentar atas sumbangan seorang tamu. Dari sini saja dapat diketahui bahwa Tok-sim Sianli tergolong seorang tamu yang agung.
342
Pandang mata Wi Liong yang tajam dapat melihat betapa pengantin wanita bergerak di atas kursinya mendengar disebutnya nama Tok-sim Sianli, kedua lengan yang terbungkus pakaian pengantin itu tergetar seakan-akan mengeluarkan tenaga.
"Sebatang akar jimat penambah usia untuk Chi-loya dan sepasang merpati kemala untuk Chi- hujin (nyonya Chi) dari Sin-chio Lo Thung Khak dan kawan-kawannya dari utara!" Semua orang ikut memandang ketika tuan rumah mengangguk ke arah orang yang bernama Lo Thung Khak dan bergelar Sin-chio (Tombak Sakti) ini. Bukan karena gelarnya melainkan karena pemberiannya yang amat berharga. Sepasang merpati kemala masih mudah didapatkan asal kita memiliki uang, akan tetapi akar jimat penambah usia adalah sebuah benda yang amat langka, sebuah akar obat yang luar biasa dan termasuk satu di antara obat- obat dewa. Tak mudah mencari akar ini yang kekuningan seperti kulit daging manusia, malah bentuknya juga seperti manusia kecil, berkaki bertangan! Khasiatnya besar sekali untuk menambah kekuatan badan dan dikabarkan orang dapait menambah panjang usia!
Akan tetapi, kalau orang-orang di situ mengharapkan senyum manis dan ucapan terima kasih dari Chi-loya. mereka ini kecele. Malah Chi-loya nampaknya tidak senang, pandang matanya ke arah Sin-chio Lo Thung Khak yang berusia lima puluh tahunan itu penuh selidik dan curiga. Si Tombak Sakti agaknya juga merasa akan pandang mata tuan rumah, maka ia buru-buru berdiri dan menjura sambil berkata.
"Chi-loya yang baik kami bertujuh datang dari utara tidak membawa apa- apa yang berharga. Selain akar jimat dan merpati kemala, juga kami membawa salam hangat dari Raja Sekalian Raja dengan harapan mudah mudahan Chi-loya panjang umur dan kelak dapat membantu Raja Sekalian Raja!"
Ucapan ini bagi sebagian besar orang yang hadir di situ merupakan rahasia yang sukar dimengerti dan kini mereka memandang lebih penuh perhatian kepada pembicara. Lo Thung Khak berusia lima puluh tahun lebih dan enam orang kawannya kini juga berdiri menjura, terdiri dari tiga orang berpakaian gagah dua orang seperti sasterawan-sasterawan dan seorang seperti seorang pertapa yang memelihara rambut juga. Wi Liong berdebar hatinya, maklum bahwa tujuh orang ini adalah kaki tangan Bangsa Mongol dan yang dimaksud dengan Raja Sekalian Raja tentulah Kaisar Mongol.
Ogotai yang menggantikan Jengis Khan, ayahnya. Wi Liong sudah mendengar bahwa di bawah pimpinan kaisar baru ini, banyak sekali orang Han yang pandai menjadi kaki tangan Mongol, malah orang-orang pandai di selatan juga banyak yang sudah tergerak hatinya untuk kelak membantu apabila gelombang Bangsa Mongol menyerbu ke selatan. Maka tahulah Wi Liong apa tugas tujuh orang ini, tentu menghubungi orang-orang pandai di selatan dan membagi-bagi hadiah untuk mengambil simpati mereka. Tiba-tiba saja hati Wi Liong menjadi panas dan bencilah ia kepada tujuh orang utusan itu.
Sementara itu, ketika Chi-loya mendengar ucapan Sin-chio Lo Thung Khak tadi, tiba-tiba wajahnya menjadi merah. Ia juga bangkit berdiri dan matanya mengeluarkan cahaya ketika ia balas menjura kepada tujuh orang tamunya itu. Terdengar suaranya menggeledek.
"Sin-chio Lo Thung Khak! Kalau kau dan saudara-saudara ini datang seperti Tok-sim Sian- li, datang demi persahabatan dan perkenalan, aku orang she Chi selamanya tidak pernah memilih orang dan membedakan tamu. Akan tetapi kalian bertujuh datang membawa pesan raja yang sama sekali tidak
343
ada hubungannya dengan kau, malah boleh dibilang musuh dalam hatiku. Oleh karena itu, kaubawa kembali sumbangan-sumbang darimu dan aku tidak bisa menerima kunjungan utusan-utusan raja!"
Inilah kata-kata keras yang sama sekali tak pernah disangka oleh Lo Thung Khak sehingga mukanya menjadi pucat. Dia dan kawan-kawannya yang selalu diterima dengan sikap dua macam oleh orang-orang gagah, yaitu kalau tidak dengan ramah-tamah tentu dengan segan-segan dan takut-takut, sekarang dihina begitu saja oleh orang she Chi ini!
Seorang yang masih muda dan yang berdiri di kanannya, dengan cambang bauk yang kaku berdiri melangkah maju dan mukanya merah sekali ketika ia berkata,
"Orang she Chi alangkah sombongnya kau! Kau mengandalkan apamu sih begitu kepala besar berani menghina kami bertujuh? Kabarnya kau memiliki sedikit kepandaian, apakah itu yang kau sombongkan? Lihat, aku orang she Lu tidak bisa terima begitu saja penghinaanmu!"
Chi-loya tersenyum mengejek. "Habis kau mau apa?”
Orang she Lu itu adalah seorang panglima yang membantu gerakan bala tentara Mongol. Adapun Sin-chio Lo Thung Khak pernah kita kenal ketika pada awal cerita ini ia ikut pula menyerbu untuk menangkap Beng Kun Cinjin. Orang she Lu ini adalah tangan kanannya.
"Mau apa? Mau paksa kau berlutut minta ampun atas hinaanmu tadi!" Setelah berkata de-mikian, orang itu melompat maju ke depan Chi- loya yang masih berdiri dengan tenang.
Tiba-tiba pengantin wanita bergerak. berdiri dan kedua tangannya bergerak ke depan. Terdengar pekik mengerikan dan........ panglima she Lu itu roboh, matanya yang kiri mengucurkan darah dan menjadi buta. Ternyata mata itu telah tertimpuk oleh sebutir batu giok yang tadinya merupakan sebuah di antara batu-batu giok yang bergantungan menghias kepala pengantin wanita! Tentu saja semua tamu menjadi kaget bukan main dan juga kagum, karena tak seorangpun mengira bahwa pengantin wanita itu ternyata memiliki kepandaian yang lihai sekali. Orang jadi ingin sekali melihat wajahnya yang masih tertutup.
Chi-loya tidak kelihaian heran, malah tertawa bangga. "Cuwi sekalian yang hadir harap maafkan bahwa isteriku terpaksa turun tangan karena tidak sabar melihat tamu kurang ajar ini. Sin-chio Lo Thung Khak harap kaubawa temanmu itu keluar sebelum isteriku timbul lagi kemarahannya."
Tentu saja LoThung Khak marah bukan main. Penghinaan ini sekaligus akan menghancurkan namanya di dunia kang.ouw kalau ia tidak bertindak. Ia menyuruh seorang kawan merawat orang she Lu itu, kemudian ia memberi isyarat. Seorang kawannya yang berpakaian seperiti pendeta memelihara rambut itu maju ke depan dan meranglkapkan kedua tangannya ke arah Chi-loya.
"Hujin telah memperlihatkan kepandaian, benar-benar membuat kami merasa kagum sekali dan juga memuji pilihan Chi-loya yang tepat. Karena sudah sampai di sini, sebelum memenuhi pengusiran Chi-loya, aku Tak Pouw Taisu meng.. harapkan sedikit petunjuk dalam ilmu silat dari Chi-loya dan Chi-hujin."
344
Mendengar namanya dan melihat mukanya serta dari irama suaranya, dapat diduga bahwa saikong ini adalah seoramg dari utara yang tinggal di luar daerah perbatasan, mungkin peranakan Mongol atau Mancu. Chi-loya segera melompat ke depan, mengikatkan ikat pinggangnya yang terlampau panjang.
"Kalian ini hendak mengunjungi pernikahanku ataukah hendak mengacau? Tak Pouw Taisu, kalau memang sengaja kau hendak mengacau. majulah dan jangan kira aku orang she Chi takut pada gertakanmu. Marilah, biar aku hitung-hitung menggembirakan hati para tamuku karena kebetulan tidak diadakan pertunjukan apa-apa. Tak Pouw Taisu, di sini tempatnya lega!" Ia melompat ke tengah ruangan itu dan biarpun tubuh orang she Chi ini tinggi besar, namun gerakannya amatlah ringan,, membuat Wi Liong yang menonton menjadi kagum.
Sambil mengeluarkan seruan keras. Tak Pouw Taisu juga melompat ke tempat itu dan tahu-tahu tangannya sudah memegang sebatang cambuk hitam yang panjangnya ada empat kaki.
"Ha-ha, kau menggunakan senjata? Terang datangmu dengan kawan-kawanmu memang bermaksud mengacau. Tidak apa majulah!" seru Chi-loya tanpa mengeluarkan senjata karena dari gerakan calon lawan ini ia tahu bahwa "isi" lawannya tidak berapa berat.
"Biarlah aku menghajarmu dengan cambuk ini membalas penghinaanmu!" kata Tak Pouw Taisu yang cepat menyerang dengan sabetan cambuknya ke arah leher tuan rumah.
Chi-loya tidak mengelak, melainkan mengangkat tangan kiri, diulur untuk merampas cambuk itu. Dengan tepat sekali ia dapat menangkap cambuk dan sudah merasa geli mengapa dalam segebrakan saja lawannya, ini sudah begitu tolol untuk membiarkan senjatanya dirampas, akan tetapi tiba-tiba ia kaget sekali karena ujung cambuk itu masih bergerak dan memukul ke arah kepalanya dari belakang! Kini tahulah Chi-loya bahwa permainan cambuk lawan memang hebat, Kalau ditangkis atau dipegang, ujung cambuk masih menyerang terus! Terpaksa ia melepaskan pegangannya dan melompat ke belakang.
Kini Chi-loya tidak berani main-main lagi. Dengan lincahnya ia mengelak dari serbuan lawan yang memainkan serangkaian serangan cambuk bertubi-tubi sehingga terdengar bunyi "tar-tar-tar" susul menyusul. Namun sampai belasan jurus cambuk itu menyambar-nyambar, jangankan mengenai kulit tubuh Chi-loya, menjamah ujung bajupun tidak pernah! Memang hebat tuan rumah ini, gerakan kakinya begitu rapi dan setiap serangan cambuk cukup dikelit dengan tubuh miring sedikit saja.
Melihat gerakan kakinya, Wi Liong yang menonton dengan gembira mengenal bahwa tuan rumah ini menggunakan gerakan kaki Sha-kak-pouw dari Sha-kak kun-hoat (Ilmu Silat Segi Tiga) yang cukup lihai dan sukar dipelajari. Diam, diam ia kagum dan gembira. Tuan rumah ini ilmunya lumayan pengantin wanita juga hebat, kiranya tidak kalah oleh suaminya. Benar-benar pasangan yang amat serasi, sayang pengantin prianya sudah agak tua. Tidak tahu bagaimana wajah pengantin wanitanya.
Pada jurus ke dua puluh lebih, ketika menghindarkan diri dari sambaran cambuk tiba-tiba Chi-loya melompat ke belakang tubuhnya merendah kedua lengannya bergerak maju.
345
"Pergi!" seru tuan rumah itu dan di lain saat, cambuk sudah terampas dan tubuh saikong itu sudah terlempar lima meter lebih! Sambil meringis kesakitan saikong itu merayap bangun dibantu oleh seorang kawannya.
Terdengar seruan keras dan sinar berkilau. Tahu-tahu Sin-chio Lo Thung Khak sendiri telah maju dan menyerang Chi-loya dengan sebatang tombak perak yang putih gemerlapan cahayanya. Gulungan sinar tombaknya bergelombang dan ujungnya terpecah menjadi tujuh. Hebat sekali ilmu tombak orang she Lo ini sehingga itidak mengherankan kalau ia dijuluki Sin-chio Si Tom-bak Sakti. Dahulu ia pernah memegang jabatan sebagai komandan Kim-wi (pasukan pengawal baju sulam) kelas dua, maka dapat dibayangkan bahwa ilmunya memang sudah tinggi dan lihai.
Akan tetapi Chi-loya sudah siap sedia. Diloloskannya sebatang rantai baja dari pinggangnya. Iapun memutar senjatanya dan di lain saat dua orang jago itu sudah bertanding hebat. Mereka seimbang kekuatannya dan agaknya pertandingan ini.akan berlangsung lama kalau saja tidak ada perobahan mendadak yang hebat. Pengantin perempuan yang semenjak tadi duduk diam seperti patung setelah membikin buta sebelah mata orang she Lu tadi dengan sebutir mutiara, sekarang tiba-tiba melompat dan tangan kanannya sudah memegang pedang. Gerakan pedangnya cepat, kuat dan ganas sekali. Tiga kali saja ia menggerakkan pedangnya menyerang dan tusukan yang ke tiga kalinya menembus dada Lo Thung Khak!
Ngeri sekali pemandangan di situ ketika pengantin wanita mencabut pedangnya, darah mengucur dari dada Lo Thung Khak yang roboh tak berkutik lagi. Para tamu menjadi pucat dan sebagian besar memandang dengan mulut melongo.
"Suami isteri she Chi terlalu sekali!" tiba-tiba terdengar seruan nyaring ketika dengan tenang pengantin wanita kembali duduk di kursinya dan pedangnya sudah sembunyi lagi di balik baju.
Yang berseru nyaring ini adalah seorang wanita dan dengan gerakan ringan sekali tahu-tahu Tok.sim Sian-li sudah berada di tengah ruangan itu. Mukanya sebentar merah sebentar pucat menandakan kemarahan hatinya. Melihat wanita ini maju dengan marah. Chi-loya cepat menjura dengan hormat.
"Sianli harap maafkan kami terpaksa turun tangan terhadap orang-orang jahat yang sengaja datang hendak mengacau."
"Kau ini tuan rumah macam apa? Kau hanya mengandalkan kebiasaanmu dan juga hendak menyombongkan kepandaian isterimu! Apa kaukirim undangan kepada semua orang gagah hanya untuk menyaksikan kehebatan isterimu? Cih. kepandaian begitu saja apa sih anehnya? Coba suruh dia menusuk padaku jangan tiga kali, biar tiga ratus kali, hendak kulihat sampai di mana kelihaiannya!" Tok-sim Sian-li marah sekali dan hal ini memang mudah dimengerti. Lo Thung Khak adalah kaki tangan Mongol dan dia sendiri bersama Bu-ceng Tok-ong, Hek-mo Sai-ong dan yang lain-lain juga menghambakan diri kepada orang-orang Mongol. Sekarang biarpun dia tidak datang bersama Lo Thung Khak akan tetapi melinat orang-orang yang sudah ia kenal itu mengalami bencana di rumah keluarga Chi-loya, tentu saja ia tidak mau tinggal diam.
"Sianli kenapa marah-marah? Bukankah sudah jelas bahwa orang she Lo dan kawan-kawannya itu yang sengaja datang hendak membikin ribut? Mereka pura-pura datang hendak memberi sumbangan
346
dan mengucapkan selamat, akan tetapi diam-diam mengandung niatan untuk membujuk aku menjadi anjing Mongol, bukankah itu hinaan luar biasa besarnya?"
"Cih, pandai bicara! Apapun kesalahan orang, kalau dia itu tamu harus dihormati oleh tuan rumah. Kau berhak menyalahkan siapa saja dan sebagai tuan rumah kau berhak mengusir, akan tetapi kau membunuhnya dengan jalan mengeroyok! Kegagahan macam apakah ini? Hayo kau dan binimu itu maju keroyok aku, hendak kulihat!" kata Tok-sim Sianli sambil mencabut pedangnya.
Keadaan menjadi tegang dan semua orang memandang dengan hati berdebar. Chi-loya marah sekali sedangkan kawan-kawan Lo Thung Khak mengurus jenazah orang she Lo itu, mengundurkan diri. Chi-loya sudah cukup mengenal kehebatan nama dan kepandaian Tok-sim Sian-li dan ia tahu bahwa dia, bahkan dibantu isterinya, bukanlah lawan iblis wanita ini. Akan tetapi sebagai tuan rumah yang dihina, tentu saja ia tidak akan mundur selangkah. Dengan muka agak pucat ia bertanya,
"Tok-sim Sian-li. benar-benar kau hendak menantangku?”
Tok-sim Sian-li sudah "naik darah". Ia membusungkan dadanya dan menjawab. "Benar, aku menantangmu dan siapa saja yang akan membelamu di sini!”
"Chi-loya, serahkan perempuan galak ini padaku untuk menghajarnya!" terdengar seruan marah dan seorang laki-laki tinggi besar bermuka hitam melompat maju sambil menyeret sebatang toya besi.
Orang ini adalah seorang jagoan dari kota Cun-yi tak jauh dari situ, seorang ahli silat yang kerjanya sebagai pengawal barang-barang berharga yang dikirim orang, jadi semacam piauwsu. Akan tetapi ia melakukan pekerjaan ini seorang diri saja, jadi tidak seperti perusahaan-perusahaan piauwkiok umumnya. Tenaganya besar, ilmu silatnya lumayan dan karena mukanya hitam dan sikapnya keras kasar, ia diberi julukan Hek-bin-houw (Macan Muka Hitam). Melihat Hek-bin-houw maju, Chi-loya terpaksa mundur dan duduk lagi di kursinya. Ia maklum bahwa si kasar ini bukan musuh Tok-sim Sian-li, akan tetapi ia juga sudah mengenal Hek-bin-houw yang tak mungkin dilarang,. Setidaknya ini merupakan selingan yang memberi kesempatan padanya untuk berpikir bagaimana nanti menghadapi Tok-sim Sian-li yang ia tahu amat lihai dan berbahaya itu.
"Silaman betina itu mencari keributan, dia lihai bukan main, bagaimana baiknya?" bisiknya perlahan sekali kepada pengantin wanita di sebelah kirinya.
Isterinya mengangguk perlahan lalu berbisik kembali. "Dia memang lihai akan tetapi kita tak boleh takut Majulah, aku akan membantu, kita keroyok dia!"
Mendengar jawaban isterinya, Chi-loya bernapas lega, bersenyum kembali dan memandang ke arah Tok-sim Sian-li yang kini sudah berhadapan dengan Hek-bin-houw. Chi-loya kini tak takut lagi. Andaikata ia akan kalah dan mati, kalau di samping isterinya, ia akan rela!
Sementara itu, Hek-bin-houw yang telah berhadapan dengan Tok-sim Sian-li, setelah dekat baru ia melihat bahwa wanita itu sebetulnya sudah tua biarpun dari jauh masih nampak cantik sekali.
"Hemm. kau sombong dan centil, kiranya nenek-nenek keriputan.!" ia memaki dan dua jari kiri, telunjuk dan jari tengah, ia tudingkan ke arah hidung Tok-sim Sian-li. "Sikapmu menjemukan sekali
347
seakan-akan di daerah Kwi-cu ini tidak ada orang pandai. Hayo kau boleh menari pedang, tuan besarmu hendak melihat. Kalau jelek kau boleh minggat dari si........."
Belum habis ucapan Hek-bin-houw, tahu-tahu sinar pedang yang menyilaukan berkelebat ke arah leher orang kasar itu. Hek-bin-houw terkejut bukan main karena tahu bahwa sinar pedang itu luar biasa hebatnya. Ia cepat membuang tubuh ke belakang dan berjumpalitan, kemudian secara membabi-buta menghantamkan toyanya ke depan untuk melindungi diri.
Namun, dia memang bukan lawan Tok-sim Sian-li. Begitu pedang di tangan wanita itu bergerak menyambut toya, senjata toya itu putus menjadi dua! Hek-bin-houw kaget hendak melompat ke pinggir, akan tetapi tangan kiri Tok-sim Sian-li bergerak memukul dengan gerakan berputar. Angin pukulan hebat menyambar dada Hek-bin-houw menjerit, terpental, muntahkan darah segar dan roboh tak bernapas lagi. Jantungnya telah pecah oleh pukulan Toat-sim-ciang (Tangan Pencabut Jantung) yang jahatnya bukan main!
Keadaan menjadi makin tegang dan para tamu mulai marah melihat pesta itu terganggu. Dua orang tamu, kakak beradik she Kwee yang sudah sering mendapat pertolongan Chi-loya yang mengangkat mereka dari keadaan yang amat miskin hampir kelaparan, melompat berdiri dan menyerang Tok-sim Sian-li dengan golok. Dua orang ini adalah murid-murid Min-kiang Lojin seorang kakek sakti yang hidup di lembah Sungai Min-kiang.. Ilmu golok mereka cukup kuat karena Min-kiang Lojin sebetulnya masih anak murid Bu-tong-pai.
Chi-loya kaget sekali dan hendak mencegah, akan tetapi terlambat. Terdengar suara ketawa Tok-sim Sian-li, suara ketawa yang merdu dan nyaring, akan tetapi suara ketawa ini mengandung tenaga khikang yang luar biasa. Memang selain ilmu pedangnya yang hebat. Tok-sim Sian-li masih memiliki ilmu pukulan Toat-sim-ciang dan di samping ini masih sering kali menggunakan ilmunya yang aneh, yaitu menyanyi atau tertawa yang kedengarannya merdu akan tetapi mengandung tenaga khikang dan lweekang yang dapat membuat lawan roboh atau kacau permainan silatnya! Dua orang saudara Kwee itu begitu mendengar suara ketawa ini menjadi lemas kaki mereka dan sebelum mereika tahu apa yang terjadi, leher mereka sudah terbabat putus oleh pedang di tangan Tok-sim Sian-li! Memang wanita ini sekali turun tangan, tentu menjatuhkan korban. Inilah sebuah di antara sebab-sebab mengapa ia dijuluki Tok-sim (Si Hati Beracun)!
"Tok-sim Sian-li iblis jahat, kau benar-benar terlalu sekali!" Chi-loya membentak marah, tubuhnya berkelebat dan rantai bajanya sudah menyambar tubuh Tok-sim Sian-li.
"Hi-hi-hi, orang she Chi. Hari ini aku akan merobah hari kawinmu menjadi hari matimu!" Tok-sim Sian-li tertawa-tawa mengejek dan dengan cepat ia mengelak sambil balas menyerang dengan pedangnya.
Tiba-tiba tampak berkelebatnya sinar pedang dan terdengar suara berkerincingan. Itulah sinar pedang di tangan pengantin wanita dan yang berbunyi adalah hiasan kepalanya yang bergerak-gerak sehingga batu-batu mutiara itu saling bertemu, suaranya nyaring bening.
Kembali Tok-sim Sian-li tertawa mengejek sambil menangkis pedang pengantin wanita itu.
"Bagus sekali, pengantin setia biarpun suaminya tua! Kau mau mengantar suamimu ke neraka? Boleh, boleh sekali!" Pedang di tangan Tok-sim Sian-li bergerak cepat sekali dan di lain saat ia telah
348
dikeroyok dua oleh sepasang pengantin itu! Semua tamu baru sekarang melihat bahwa pengantin wanita itu malah lebih hebat kepandaiannya dari pada Chi-loya! Dialah yang menandingi Tok-sim Sian-li bermain pedang, cepat dan hebat gerak-geriknya membuat para tamu melongo dan kagum. Namun, betapapun juga suami isteri itu masih belum mampu mendesak Tok-sim Sian-li yang memang lebih tinggi tingkat kepandaiannya.
Tiba-tiba terdengar seruan tertahan. Yang berseru ini adalah Wi Liong. Pemuda ini sejak tadi duduk menonton dan amat tertarik, sekarang ia menjadi pucat sekali. Gerak-gerik pedang di tangan nona pengantin itu!! Ia seperti sudah mengenalnya!
"Tok-sim Sian-li jangan menyebar maut. Akulah lawanmu!" Wi Liong yang berkhawatir kalau-kalau suami isteri itu celaka di tangan Tok-sim Sian-li. sekarang melompat maju dengan suling di tangannya.
"Takkk.......!" Sekali sulingnya membentur pedang Tok-sim Sian-li wanita itu terhuyung mundur dan memandang kepada Wi Liong dengan mata terbelalak dan muka yang cantik itu tiba-tiba pucat. Setelah pemuda ini memegang sulingnya, barulah ia ingat kembali kepada pemuda ini yang pernah membikin dia sekawan dahulu kocar-kacir.
"Kau.........?" serunya gagap sambil mundur.
Akan tetapi seruannya ini lenyap ditelan suara seruan lain yang nyaring.
"Kau......... masih hidup.........?!" Dan hiasan kepala itu disingkapkan, terlihatlah muka yang cantik jelita, mata yang jernih akan tetapi pada saat itu dibuka selebar-lebarnya, muka seorang gadis muda yang memandang kepada Wi Liong dengan kaget dan heran. Muka itu menjadi pucat sekali dan iapun terhuyung akan roboh.
"Siok Lan......!!" Wi Liong menjerit dan cepat memeluk tubuh yang terguling itu. Siok Lan pingsan dalam pelukan Wi Liong yang juga berdiri tidak tetap karena kedua kakinya menggigil saking tegangnya hatinya. Cepat ia mengurut punggung gadis itu dan seketika Siok Lan siuman kembali lalu menangis di atas dada Wi Liong!
Tentu saja keadaan ini menggegerkan para tamu. mereka kaget heran dan akhirnya menjadi bingung tidak tahu harus berbuat apa. Demikian pula Chi-loya, orang tua ini benar patut dikasihani karena ia hanya berdiri bengong memandang isterinya dengan bingung.
Sementara itu, Tok-sim Sian-li yang tadi marah sekali karena tangkisan suling membuat ia terhuyung-huyung, kini melihat Wi Liong memeluk Siok Lan yang menangis, cepat mengirim tusukan yang kalau mengenai tentu akan menembus tubuh Wi Liong dan Siok Lan.
"Takk......!" Tanpa menoleh, masih mendekap kepala Siok Lan di dadanya dengan mata dimeramkan. Wi Liong mengangkat tangan kiri yang memegang suling dan berhasil menangkis serangan pedang ini"!
"Siok Lan.......!" kembali pemuda itu berbisik di dekat telinganya.
349
"Wi Liong, kau....... kau yang terjungkal dalam jurang....... kau masih hidup.........? Betul-betulkah ini, tidak mimpikah.........?" Siok Lan balas berbisik.
"Tidak Siok Lan, aku tidak mati. Thian masih melindungi aku, masih memperpanjang hidupku agar aku dapat mencarimu, dapat bertemu kembali dengan kau."
Chi-loya melangkah maju, suaranya menggeledek akan tetapi agak gemetar saking gelisahnya hatinya. "Siok Lan.......... ingat kau sekarang sudah menjadi isteriku, kita sudah......... sudah bersembahyang di depan meja leluhur........."
Mendengar ini, bagaikan baru sadar dari mimpi, Siok Lan merenggutkan kepala dan tubuhnya dari pelukan Wi Liong, lalu sambil terisak ia berkata.
"Wi Liong, apa yang ia katakan itu betul. Kau........ kau pergilah........."
Wi Liong yang menjadi pucat dan sepasang matanya basah air mata. memegang tangan gadis itu berkata memohon, "Siok Lan, masa kau begitu kejam? Bagaimana kau bisa sampai menjadi isterinya di luar tahu orang tuamu.......?"
Siok Lan menjatuhkan diri duduk di atas lantai sambil terisak-isak, hatinya bingung dan sedih bukan main. Wi Liong juga ikut duduk bersila di atas tanah sambil memegangi tangan kiri Siok Lan dengan tangan kanannya.
"Ceritakanlah Siok Lan. Ceritakan agar aku tidak mati penasaran........."
Dengan terisak-isak Siok Lan mulai menuturkan pengalamannya, "Aku........ aku dahulu melihat kau terjerumus ke dalam jurang, aku merasa berdosa dan aku......... aku menyesal dan berduka-sekali........."
Kembali angin serangan datang;, dan pedang Tok-sim Sian-li mencari kesempatan selaga dua orang itu mengobrol, mengirim bacokan ke arah kepala Wi Liong.
"Takkkk.........!" Seperti juga tadi, tanpa melihat sedikitpun ke belakang Wi Liong telah berhasil menangkis pedang itu dengan sulingnya membuat pedang terpental keras!
Baik Wi Liong sendiri maupun Siok Lan terus bersikap tak acuh terhadap keadaan di sekelilingnya, bercakap-cakap dan tidak menghiraukan serangan-serangan yang dilakukan oleh Tok-sim Sian-li terhadap Wi Liong.
"Thian tidak menghendaki kematianku, Lan-moi. Aku selamat dan aku mencarimu, berbulan-bulan lamanya. Siapa kira akan berjumpa di sini dan kau......... kau tahu-tahu sedang melangsungkan......... pernikahan........."
Siok Lan menarik napas panjang, dan dua titik air matanya berhenti di atas sepasang pipinya yang pucat. Ia memandang Wi Liong, pemuda itu memandangnya dan dua pasang mata bertemu. mengeluarkan sinar mesra, menumpahkan perasaan hati dalam seribu bahasa tanpa kata-kata. Hanya
350
tangan mereka yang berpegangan itu saling menggetarkan gelora hati masing-masing. melalui jari-jari tangan mereka.
"Aku menyesal sekali. Wi Liong koko aku menyesal sekali........ akan tetapi apa hendak dikata? Aku tidak sengaja........ semua salah nasibku yang buruk........"
Kembali pedang Tok-sim Sian-li menyambar kali ini pedangnya menyambar dengan dahsyat dibarengi pukulan Toat-sim-ciang ke arah dada Wi Liong. Ia pikir inilah kesempatan baik sekali selagi pemuda itu seperti gila bercakap-cakap dengan Siok Lan, kalau bisa ia hendak membunuh pemuda ini yang amat berbahaya kelak, baik bagi dia maupun bagi kawan-kawannya.
Wi Liong sedang menumpahkan seluruh perhatiannya kepada Siok Lan, maka ketika ia merasa ada sambaran pedang, dengan jengkel karena terganggu, sulingnya ditangkiskan dengan tenaga dikerahkan, sedangkan dada yang menghadapi angin pukulan Toat-sim-ciang itu ia biarkan saja, hanya mengerahkan sinkang untuk menolaknya.
Akibatnya hebat. Tidak saja pedang di tangan Tok-sim Sian-li terpental, juga wanita itu terjengkang karena hawa pukulannya sendiri yang membalik, membuat dia hampir saja roboh kalau tidak cepat-cepat berjungkir balik sampai tiga kali! Para tamu menjadi makin kagum akan kehebatan pemuda itu, sedangkan Chi-loya yang juga terpengaruh sekali oleh pertemuan aneh mengharukan itu, mencela keras.
"Tok-sim Sian-li, mengapa kau berlaku begitu curang? Kalau mau berkelahi kau tunggu sampai mereka habis bicara!"
Tok-sim Sian-li mendongkol, malu dan marah bukan main. "Heh-heh, orang she Chi kambing bandot tolol! Isterimu dipermainkan orang, kau dihina habis- habisan dan aku membantumu membunuh dia, kau malah menghalangiku? Benar tolol!"
Muka Chi-loya sebentar pucat sebentar merah. Malunya bukan main melihat isterinya dipeluk-peluk dan saling berpegang tangan, bercakap-cakap dengan pemuda itu penuh kemesraan. Memang itu merupakan penghinaan yang luar biasa. Rantai baja di tangannya menggigil, siap hendak dipukulkan ke arah kepala Wi Liong. Akan tetapi Chi-loya adalah seorang yang mengutamakan kegagahan, tidak sudi ia menyerang orang yang tidak bersiaga.
"Aku tidak butuh bantuanmu. Ini urusanku sendiri, kau boleh pergi!"
"Manusia tak kenal budi, kalau begitu lebih baik kau mampus dari pada hidup terhina oleh isteri sendiri di depan umum!" Sambil berkata demikian, kini pedang di tangan Tok-sim Sian li menyerang hebat kepada Chi-loya!
Siok Lan yang sedang bercakap cakap dengan Wi Liong, melihat suaminya diserang, cepat melompat dan menangkis pedang Tok-sim Sian-li lalu balas menyerang. Wi Liong juga berdiri.
"Siok Lan, apakah dia mengganggumu?”
"Usir dia, membikin ribut saja mengganggu percakapan kita.” jawab Siok Lan.
351
Wi Liong menggerakkan sulingnya dan sekaligus senjata istimewa ini melakukan tiga macam serangan yang amat sulit. Tok-sim Sian-li sibuk mengelak dan menangkis, akan tetapi serangan ketiga tidak dapat dicegah lagi mengenai pundaknya, perlahan saja akan tetapi cukup membuat lengan kanannya lumpuh dan ia tak dapat menggerakkan pedangnya lagi. Ia memang jerih terhadap Wi Liong, sekarang ia tahu bahwa melanjutkan pertempuran takkan mencuci mukanya. Ia melompat pergi sambil berseru.
"Bocah setan, akan datang saatnya aku membalas semua ini!"
Akan tetapi Wi Liong sudah menarik tangan Siok Lan dan diajak duduk lagi.
"Siok Lan apakah kau mencinta suamimu, Chi-loya itu?" tanya Wi Liong, teringat betapa tadi Siok Lan membantu Chi-loya ketika diserang oleh Tok-sim Sian-Ii.
Siok Lan tidak menjawab, juga tidak memandang ke arah suaminya, akan tetapi ia mengangguk.
"Jadi kau tidak cinta padaku?" pertanyaan itti terdengar sedih.
"Kau tahu aku mencinta padamu, dahulu, sekarang, kelak......... selama-lamanya.........”
"Kalau begitu hayo kita pergi dari sini berdua....... selamanya........."
Siok Lan menggeleng kepala. "Namamu akan rusak karenanya........."
"Perduli apa? Orang-orang ini........." ia mengembangkan kedua lengannya ke sekeliling, "atau orang-orang sedunia boleh mencelaku, boleh merusak namaku asalkan kau selalu berada di sampingku."
"Tidak bisa. Liong ko. tidak mungkin. Aku sudah menjadi isteri orang dan aku mencinta suamiku. Kau pergilah dari sini dan lupakan aku." Setelah berkata demikian. Siok Lan menangis lagi terisak-isak.
"Siok Lan, kau kejam.........setidaknya ceritakan bagaimana kau bisa menjadi isteri orang lain......... betapa kejam kau, betapa mudah melupakan aku dan mencari pengganti........."
"Jangan kau menyangka begitu, Liong ko. jangan. Sungguh mati, tadinya kuanggap kau sudah meninggal ketika terjerumus ke dalam jurang. Aku seperti gila, hidup kosong bagiku. Aku pergi tanpa tujuan sampai berbulan-bulan dan akhirnya aku tiba di daerah ini dalam keadaan jasmani lemah dan sakit-sakit sedangkan ingatanku juga bingung tidak karuan, lebih gila dari pada waras, lebih mati dari pada hidup karena aku lupa makan lupa tidur........."
"Kasihan kau........."
"Aku tentu akan menjadi korban orang-orang jahat atau binatang-binatang buas di dalam hutan sepanjang sungai di sebelah timur, kalau saja tidak muncul dia itu.........”
"Chi-loya............?”
352
Siok Lan mengangguk. "Dia menolongku, merawatku penuh kesabaran, penuh kasihan dan cinta, ia sopan, hormat, mencinta dan aku merasa seperti hidup kembali dari kematian. Aku merasa berhutang budi kepadanya. Kuanggap hidupku sudah tamat semenjak kau........ kukira mati, dan ada orang yang menghidupkan aku, menanam budi, sekarang aku hanya ingin membalas budinya selagi masih hidup......... Liong-ko kau harus mengerti keadaanku........." Siok Lan nampak sedih sekali.
Akan tetapi Wi Liong bangkit berdiri dengan marah. Ia menoleh ke arah Chi loya dan membentak keras,
"Bandot tua! Sungguh tak bermalu! Kau pura-pura menolongnya, berlaku baik padanya hanya untuk membujuknya menjadi isterimu. Jadi kau menolong untuk menanam budi agar ia terpaksa mau menjadi isterimu? Keparat.........!"
"Wi Liong, jangan kau bilang begitu! Dia betul-betul orang baik tidak seperti yang kau-sangka!" Siok Lan menjerit akan tetapi Wi Liong tidak perdulikan dia. Pemuda ini saking sedih dan kecewanya, menjadi mata gelap dan ia lalu menyerang maju hendak memukul Chi-loya.
Chi-loya sendiri hatinya sudah panas karena dibakar oleh Tok-sim Sian-li tadi. Kalau saja, ia tidak mendengar percakapan dua orang muda itu dan tahu bahwa di sini terdapat kesalah-fahaman tentu ia sudah menyerang Wi Liong. Ia tahu bahwa nasib buruk telah memisahkan dua orang muda yang saling mencinta itu dan hatinya tergerak. Ia hendak membiarkan persoalan itu dalam tangan Siok Lan. Biarlah gadis itu memilih jalannya sendiri. Andaikata Siok Lan memilih Wi Liong dan meninggalkannya, iapun tidak akan menghalanginya. Akan tetapi ternyata Siok Lan memilih dia dan sekarang pemuda itu marah-marah hendak menyerangnya. Tentu saja iapun lalu menggerakkan rantai bajanya menyambut serangan ini.
Berbareng pada saat itu. belasan orang gagah yang menjadi tamu Chi-loya, serentak maju mengeroyok Wi Liong. Dalam pandangan mereka Wi Liong terlalu kurang ajar. Selain menodai kehormatan keluarga Chi dengan sikap kurang ajar terhadap pengantin wanita, sekarang malah hendak membunuh Chi loya.
"Pemuda jahat jangan kurang ajar!" teriak mereka dan sebentar saja Wi Liong yang hendak menyerang Chi-loya sudah dikepung. Pertempuran hebat terjadi di ruangan itu.
Wi Liong mengamuk. Sebentar saja empat orang sudah roboh terkena totokan sulingnya. Dua orang lagi roboh terkena tendangan kakinya. Sungguh amat hebat sepak terjang pemuda ini. Biarpun ia sudah mata gelap karena marah, kecewa dan duka, namun watak dan sifatnya yang baik dan penuh welas asih itu masih menahannya, melarangnya membunuh orang secara sembarangan saja. Oleh karena itu, mereka yang ia robohkan tidak sampai tewas. Dengan muka merah Wi Liong mendesak maju terus dengan maksud merobohkan Chi-loya yang mungkin akan ia tewaskan karena hatinya penuh cemburu dan marah.
Para tamu yang maklum akan maksud pemuda itu membunuh Chi-loya. serentak maju membantu tuan rumah sehingga tidak mudah bagi Wi Liong untuk mendekati Chi-loya yang sudah siap berdiri tegak dengan rantai baja di tangannya. Dengan gemas Wi Liong kembali bergerak cepat sekali dan belasan orang roboh malang-melintang. Dengan lompatan jauh akhirnya ia berhadapan dengan Chi-loya!
353
"Bandot tua, kau hendak lari ke mana?" bentaknya.
"Siapa yang akan lari? Pemuda hijau, hamba nafsu!" Chi-loya balas memaki dengan senyum sindir sambil memutar rantai untuk menjaga diri.
Wi Liong menggerakkan sulingnya dan menyerang maju. Dua orang tamu bertubuh kurus kering menyerangnya dari kanan kiri, akan tetapi segebrakan saja dua orang itu terpental ke kanan kiri. Mereka bangun dengan mulut melongo saking herannya. Mereka ini adalah sepasang saudara yang berjuluk Hong-pek (Malaikat Angin) dan Lui-kong (Malaikat Guntur) dan nama mereka sudah amat terkenal di daerah selatan. Akan tetapi begitu keserempet hawa pukulan pemuda ini, mereka terjengkang! Siapa orangnya tidak menjadi terheran-heran?
Chi-loya bukannya orang lemah. Rantai bajanya merupakan senjata berat yang amat kuat dan sukar dilawan. Maklum bahwa pemuda ini memiliki kesaktian tinggi, ia memutar rantainya sambil mengerahkan segenap tenaga lweekangnya. Melihat suling kecil itu meluncur maju ia menyabet dengan rantainya, dengan gerakan sedemikian rupa sehingga ujung rantai dapat membelit senjata lawan.
Di luar sangkaannya, pemuda itu membiarkan saja ujung sulingnya terbelit rantai lawan. Chi-loya sudah menjadi girang sekali. Inilah sebuah di antara keistimewaannya, membelit senjata dengan rantai lalu mengerahkan tenaga sekuatnya untuk membetot dan merampas senjata lawan. Demikianlah, sambil memasang kuda kuda-kuat sekali ia berseru sambil menarik rantainya dengan gerakan mendadak.
Akan tetapi Wi Liong bukanlah orang yang dengan mudah begitu saja dapat dirampas senjatanya. Ilmu silatnya sudah terlalu tinggi kalau dibandingkan dengan Chi-loya, beberapa tingkat lebih tinggi. Maka. dapat dibayangkan betapa kagetnya hati Chi-loya ketika tiba-tiba ada tenaga dahsyat sekali membuat ia melepaskan gagang rantainya! Benar-benar sukar dimengerti dan aneh kalau dibicarakan Chi-loya yang menggunakan rantainya membelit suling dan dia yang mengerahkan tenaga membetot, eh. tahu-tahu malah rantainya sendiri yang terlepas dan terampas lawan! Sebelum ia dapat mengelak kakinya sudah diserampang oleh kaki Wi Liong sehingga tubuhnya terlempar dan roboh telentang.
"Bandot tua. bersiaplah kau untuk menghadap Giam-kun (Malaikat Akhirat)!" kata Wi Liong dan ia melangkah maju.
Tiba-tiba terdengar jerit mengerikan dan Wi Liong menahan langkah kakinya malah ia lalu mundur ketika melihat Siok Lan yang menangis tersedu- sedu itu sudah menubruk Chi-loya dan kini gadis itu menghadapinya dengan pedang di tangan dan air mata di pipi.
"Mau bunuh dia.........? Mau bunuh suamiku.........? Bunuhlah aku lebih dulu!"
Wi Liong menjadi pucat mukanya. Pukulan ini hebat sekali baginya. Siok Lan telah dihadapkan dua pilihan dan ternyata gadis itu memilih suaminya yang tua, malah sekarang hendak melawannya!
"Siok Lan......... kau......... kau lebih cinta padanya.........?"
354
"Tentu! Bagaimana seorang isteri tidak mencinta suaminya? Thio Wi Liong, jangan harap kau akan dapat menjamah tubuh suamiku sebelum melalui mayatku!”
Kedua kaki Wi Liong menggigil. Tadi ia masih ragu-ragu, masih mengira bahwa gadis itu mencintanya dan hanya karena kesusilaan belaka maka terpaksa tidak mau mengikutinya meninggalkan Chi-loya. Sekarang terbukalah matanya, jelas baginya bahwa cinta gadis ini terhadapnya hanya di bibir saja dan sekarang ternyata bahwa gadis itu lebih mencinta Chi-loya, malah bersedia mengorbankan nyawa untuk suaminya, rela menghadapinya sebagai lawan! Ini terlampau hebat baginya dan tiba-tiba Wi Liong melihat keadaan sekelilingnya menjadi gelap menghitam, bumi yang diinjaknya serasa terputar-putar dan di lain saat ia sudah roboh pingsan!
Dengan tangan kanan memegang pedang terhunus dan air mata bercucuran di atas pipinya. Siok Lan menyuruh suaminya dengan suara lirih.
"Ikat kaki tangannya dan bubarkan para tamu!"
Melihat keadaan sudah begitu. Chi-loya tidak ada lain jalan kecuali menuruti kehendak isterinya. Ia memohon maaf kepada semua tamu dan minta mereka meninggalkan rumahnya, kemudian dengan ragu-ragu akan tetapi tidak berani membantah ia mengikat kaki tangan Wi Liong dan menyuruh pelayan-pelayannya mengangkat tubuh pemuda Itu ke dalam rumah. Setelah itu ia bersama isterinya memasuki rumah dengan hati tidak karuan.
Para pelayan hanya dapat saling pandang dengan bengong, lalu mengangkat pundak. Baiknya mayat kawanan kaki tangan pemerintah Mongol tadi sudah dibawa pergi kawan-kawan sendiri dan yang terluka juga sudah dibawa pulang oleh kawan-kawan mereka, maka para pelayan kini hanya tinggal membersihkan ruangan itu dan mencuci lantai yang terkena darah.
Wi Liong masih pingsan dan ia dibaringkan di atas dipan di ruangan tengah. Siok Lan dan Chi-loya duduk di atas kursi dekat dipan itu. Keduanya tidak bicara sejak tadi dan Chi-loya memandang kepaida isterinya dengan hati bingung, ia maklum bahwa isterinya amat mencinta pemuda sakti ini dan agaknya ia akan rela kalau isterinya mau pergi bersama Wi Liong. Akan tetapi, hatinya tidak mengijimkan. Ia sendiri amat mencinta isterimya dan terbayanglah semua, pengalamannya semenjak ia belum bertemu dengan Siok Lan sampai saat pernikahannya yang menjadi geger tidak karuan itu.
Dahulu pernah Chi loya yang sebetulnya bernama Chi Kian mempunyai seorang isteri akan tetapi isterinya meninggal dunia tanpa meninggalkan seorangpun keturunan. Telah banyak wanita yang dilihatnya, banyak pula yang mengharapkan menjadi isteri hartawan yang terkenal dermawan dan gagah perkasa ini sehingga dijuluki orang Wu-kiang Siauw-ong. Akan tetapi belum pernah ia menemui seorang wanita yang cukup berharga untuk dijadikan pengganti isterinya yang telah meninggal dunia.
Pada suatu hari, sebulan lebih yang lalu, ia menerima laporan dari penduduk sebelah timur sungai bahwa di dalam sebuah hutan yang lebat muncul rombongan perampok yang suka mengganggu penduduk. Mendengar laporan ini, Chi-loya yang berjiwa gagah cepat membawa rantai bajanya menyeberangi sungai menuju tempat itu. Ia memasuiki hutan seorang diri saja karena tidak mau membahayakan keselamatan pembantu-pembantunya yang tidak memiliki ilmu silat tinggi.
Dan apa yang ia dapatkan di dalam hutan liar yang masih termasuk wilayahnya ini? Seorang gadis cantik jelita yang gagah perkasa yang dengan sebilah pedang telah menewaskan tiga ekor harimau
355
yang agaknya mengganggunya di tengah perjalanan, dan ketika ia tiba di situ sedang dikeroyok oleh belasan orang perampok! Ia kagum bukan main menyaksikan ilmu pedang gadis itu dan sekali pandang saja ia maklum bahwa gadis itu memiliki ilmu silat yang tinggi, yang tidak kalah olehnya sendiri. Akan tetapi gadis itu pucat wajahnya dan gerak-geriknya lemah seperti orang sakit sehingga biarpun ia berhasil merobohkan beberapa orang perampok ia sendiri sudah amat lemah dan hampir roboh. Chi-loya lalu turun tangan membantu dan mengusir para perampok pada saat gadis itu roboh pingsan saking lelah dan lemahnya. Kemudian tanpa ragu-ragu lagi setelah melihat gadis itu benar benar menderita sakit deman hebat, ia memondong tubuh gadis itu dibawa pulang dan dirawat.
Gadis itu bukan lain adalah Siok Lan. Sampai hampir satu bulan Siok Lan menderita sakit hebat, terserang demam panas yang hampir saja membawa pergi nyawanya kalau saja Chi-loya tidak berusaha sekuat tenaga untuk menolongnya. Siang malam Chi-loya melayani dan merawat sendiri gadis yang sekaligus telah merampas hatinya itu. Ia memasak sendiri obat-obat untuk Siok Lan setelah mendatangkan sinshe (tukang obat) terpandai dari kota terdekat, menjaga dan merawat dengan kedua tangannya sendiri dengan penuh perhatian dan penuh kesabaran.
Siok Lan amat terharu menerima budi kebaikan yang luar biasa ini. Ia anggap dirinya sudah mati, setidaknya semangatnya untuk hidup sudah terbawa pergi oleh Wi Liong yang terjerumus di dalam jurang. Baginya, tidak ada yang lebih dinantikan selain kematian, kematian yang memungkinkan ia menyusul Wi Liong pemuda yang dikasihinya itu. Akan tetapi kini ia terikat lagi oleh dunia, terikat dengan budi yang amat besar yang dilimpahkan oleh Chi-loya kepadanya. Cinta kasih yang besar, yang suci dan tidak terdorong naf su semata dari hartawan itu mengharukan hatinya, membuat ta tidak tega untuk menolak ketika Chi-loya menyatakan perasaannya, meminangnya. Maka untuk sekedar membalas budi, ia menerima pinangan Chi-loya!
Semua ini terbayang di depan mata Chi-loya, juga terbayang di dalam benak Siok Lan ketika keduanya menjaga Wi Liong yang masih pingsan di atas dipan.
Setelah malam tiba dan keadaan menjadi sunyi, Siok Lan berkata kepada suaminya, "Bawa dia ke sungai dan bunuh saja di sana, hanyutkan tubuhnya di sungai yang deras."
Chi-loya terkejut sekali mendengar ini, wajahnya sampai menjadi pucat.
"Siok Lan, apa artinya ucapanmu ini?"
"Artinya, aku baru bisa menjadi isterimu kalau dia sudah tidak ada lagi di dunia ini seperti yang tadinya kukira" jawab Siok Lan tenang.
"Siok Lan, kau tahu bahwa aku mencintamu dengan seluruh jiwa ragaku. Akan tetapi biarpun tidak ada apapun di dunia ini yang ingin kumiliki seperti dirimu, aku lebih suka melihat kau bahagia biarpun harus kubeli dengan nyawaku. Kalau kau mencinta pemuda ini. kau boleh tinggalkan aku dan ikutlah dengan dia kalau memang itu yang kau kehendaki kalau memang itu yang akan membikin kau bahagia. Aku rela........."
"Tidak!" kata Siok Lan terharu. "Dengan berbuat begitu aku akan merusak penghidupan dua orang, dia yang akan cemar namanya dan kau yang akan menjadi berduka. Sudahlah, kaubawa dia dan
356
kaubunuh dia, barulah keadaanku biasa kembali seperti kemarin sebelum dia muncul! Kalau kau tidak mau melakukan ini, aku sendiri akan membunuhnya kemudian aku akan tinggalkan kau!"
Mendengar ketidaksabaran dan kejengkelan di dalam suara isterinya; Chi-loya tahu bahwa tidak ada pilihan lain baginya. Ia sudah cukup mengenal watak Siok Lan yang amat keras.
"Baiklah, kalau demikian kehendakmu." katanya kemudian menarik napas panjang. lalu mengenakan jubah panjang dan mengikatkan rantai baja di pinggangnya.
Siok Lan menghampiri tubuh Wi Liong yang masih telentang pucat di atas dipan, membungkuk dan memberi ciuman tanpa malu-malu lagi penuh keharuan pada kening pemuda itu.
"Bawalah, bunuhlah........." katanya perlahan dan air matanya bercucuran turun ketika ia memandang suaminya yang tinggi besar itu, yang sudah melangkah keluar dengan cepatnya sambil memondong tubuh Wi Liong.
Siok Lan berdiri terus di ambang pintu, pucat seperti mayat, tidak bergerak seperti patung. Hanya air matanya yang bergerak, seperti batu-batu giok berjatuhan di atas pipinya tanpa dirasa dan diusapnya. Seakan-akan, semangatnya terbang mengikuti tubuh Wi Liong yang dipondong pergi oleh suaminya,. Ia yakin betul bahwa Chi-loya pasti akan memenuhi permintaannya, pasti akan membunuh Wi Liong sebagaimana yang dipintanya. Ia tahu betapa besar cinta kasih orang tua itu kepadanya.
Setelah semalaman gadis itu berdiri di pintu. Menjelang pagi, sesosok bayangan berkelebat dan masuklah Chi-loya berkerudung baju panjangnya karena pagi itu dingin sekali. Wajahnya nampak gembira akan tetapi menjadi terkejut dan cemas melihat isterlnya berdiri di ambang pintu.
Dipeluknya Siok Lan. dirangkul dan ditanya penuh kasih sayang, "Mengapa kau masih di sini dan belum tidur?"
Siok Lan menatap wajahnya, mencari-cari dengan pandang mata untuk menjenguk isi hati suaminya, berkata lirih, "Sudah.........?”
Chi-loya hanya mengangguk, menarik lengan gadis itu memasuki rumah, menutup pintu. "Kau seharusnya sudah tidur, berdiri di luar bisa masuk angin." kata Chi-loya sambil merangkulnya.
Siok Lan diam saja, malah merebahkan kepala di dada suaminya sambil menangis terisak-isak. Chi-loya menggeleng-gelengkan kepala, menarik napas dan mengelus-elus rambut yang halus hitam itu untuk menghibur hati isteri yang amat dicinta itu.
Siok Lan dapat tidur sejenak. Akan tetapi begitu cahaya matahari pagi memasuki kamar melalui kaca-kaca jendela, ia tiba-tiba melompat bangun dan cepat mencuci muka dan membereskan rambutnya,.
"Hayo antar aku, lekas........." katanya kepada Chi-loya yang juga ikut bangun dengan kaget dan memandang heran.
"Antar ke mana?"'
357
"Ke mana lagi? Ke Sungai Wu-kiang, bodoh!" Siok. Lan menghardik.
Berdiri bulu tengkuk Chi-loya mendengar isterinya berkata kasar itu. Sambil mengerutkan kening, ia turun dan memegang lengan isterinya.
"Mau apa pagi-pagi ke sungai?" tanyanya hati-hati.
"Hendak melihat apakah betul-betul dia sudah mati. Hayolah!"
Sambil berkata demikian, Siok Lan menangkap pergelangan tangan suaminya, menyambar pedang di dinding lalu menarik suaminya keluar gedung. Setibanya di luar, para pelayan memandang heran melihat tuan dan nyonya itu pagi-pagi pergi secara tergesa-gesa, bahkan Chi-loya masih kusut pakaiannya, belum juga mencuci muka!
Chi-loya menurut saja dan di lain saat keduanya sudah nampak berlari cepat menuju ke sungai.
"Percuma kita ke sana, tentu jenazahnya sudah hanyut.....” kata Chi-loya perlahan.
Akan tetapi Siok Lan tidak menjawab, malah mendengar ini ia lalu berlari makin cepat Terpaksa suaminya mengikuti dan belakang dengan muka berubah amat khawatir.
"Di mana......... di mana kaubunuh dan buang dia.........?." tanya Siok Lan setelah mereka tiba di tepi Sungai Wu-kiang yang airnya mengalir tenang dan penuh.
Chi-loya nampak gugup dan tanpa berkata-kata ia membawa Siok Lan ke sebuah tebing tinggi' di tepi sungai. Dari tebing itu ke permukaan air ada seratus meter lebih dan dari tempat itu air kelihatan kehijauan, tenang sekali seperti tidak bergerak, seperti sutera hijau dibentangkan panjang. Dengan telunjuknya Chi-loya menunjuk ke arah air.
"Di situ.........?" Suara Siok Lan menggigil dan matanya memandang ke bawah, mencari-cari kalau-kalau ia menemukan mayat Wi Liong. Akan tetapi yang mengambang di permukaan air hanyalah benda -benda kecil keputihan, yaitu busa- busa air dan kotoran-kotoran sisa yang termakan ikan. "Mana......... mana dia? Mana jenazahnya.........?"
Chi-loya menjadi pucat dan menarik napas panjang, sedih sekali melihat isterinya bersikap seperti itu.
"Sudah kukatakan tadi, tentu jenazahnya sudah hanyut dan tenggelam. Siok Lan isteriku, kenapa kau bersikap begini? Kau menghendaki dia mati; dan dia sudah mati. Marilah kita pulang......”
Siok Lan memandang ke permukaan sungai dan seakan akan kelihatan bayangan Wi Liong di sana. Mendengar kata kata suaminya, ia menoleh, mukanya pucat dan matanya tertutup air mata.
"Pulang..........? Kau bilang pulang, Wi Liong.........? Ya, pulang, kau tunggu aku, mari kita pulang..........!" Dan secepat kilat, tanpa diduga-duga oleh Chi-loya. tahu-tahu Siok Lan sudah melompat ke depan sambil mencabut pedang. Sebelum tubuhnya menyentuh air, pedangnya ditusukkan sendiri ke dadanya dan.........
358
"Byuuurrr...........!" Chi Loya memekik tinggi, tubuh Siok Lan tenggelam dan permukaan air menjadi sedikit merah.
"Siok Lan..........!!!" Chi-loya memekik ngeri, untuk sesaat hanya berdiri pucat seperti patung. Kemudian iapun melompat ke bawah!
"Byuuurrr!" Untuk kedua kalinya air memercik tinggi, permukaan air yang tadinya tenang menjadi bergelombang. Makin lama gelombang makin kecil dan warna merah makin pudar. Tak lama kemudian permukaan air di sungai itu sudah tenang kembali dan tidak ada sedikitpun bekas peristiwa ngeri tadi di situ. Yang ada hanyalah mayat dua orang yang timbul di permukaan air jauh di hilir dan tak lama kemudian lenyap pula dari permukaan air, entah apa yang terjadi di dalam, tidak kelihatan.........
Wi Liong berjalan seorang diri, langkahnya ringan, bibirnya tersenyum-senyum, namun kalau orang memandang lebih teliti, di antara sepasang alisnya timbul gurat-gurat membujur yang membuat wajahnya nampak beberapa tahun lebih tua dari pada usianya. Kedua kakinya seperti bermata, berjalan menyusup-nyusup dan melangkahi rintangan di depanj, akan tetapi sebenarnya kedua kaki ini maju tanpa tujuan tertentu. Ia berjalan asal melangkah saja. tidak perduli sampai di mana. Pikirannya melayang-layang, teringat akan segala peristiwa yang dialaminya baru-baru itu, peristiwa yang aneh, menyedihkan, mengharukan, memberi tekanan berat pada batinnya dan akhirnya mendatangkan kebahagiaan juga!
Belum lama tadi, tahu-tahu ia siuman di atas sebuah perahu kecil yang bergoyang-goyang di pinggir sungai. Ketika ia membuka matanya, ia melihat Chi-loya duduk di kepala perahu, tangannya yang besar kuat memegang rantai baja, matanya memandang jauh melalui permukaan air. mata memandang jauh tapi tidak melihat apa-apa.
Wi Liong bergerak bangun dan terheran-heran. Melihat dia bangun. Chi-loya menghadapinya dan tersenyum ramah.
"Kau sudah siuman? Bagus, tak usah terlalu lama menanti" katanya. Pada saat itu, fajar sudah hampir menyingsing, keadaan masih remang-remang hanya diterangi oleh bulan sepotong yang sudah hampir tenggelam dan sudah pudar sinarnya.
"Kita berada di mana? Mengapa di dalam perahu?" tanya Wi Liong yang masih bingung dan heran, kemudian ia melihat sulingnya di dalam perahu, lalu diambilnya.
Chi-loya mendiamkannya saja mengambil senjatanya itui. lalu ia berkata tenang, "Seperti kau lihat, kau berada di dalam perahu baru saja siuman dari pingsan dan aku......... aku tadinya bertugas mengetuk kepalamu sampai pecah dan melempar mayatmu di sungai ini........." Orang tua tinggi besar itu menghela napas panjang, lalu meludah ke dalam air tanda hati merasa sebal.
"Kalau begitu......... kenapa aku masih hidup dan kau masih duduk diam saja memegang rantai baja yang masih bersih?" tanya Wi Liong, bukan bermaksud untuk berkelakar karena memang ia betul-betul heran
359
"Kau kira aku orang macam apa, membunuh orang yang tidak berdaya, dalam keadaan pingsan? Kalau saja aku dapat menangkan kau, ingin memang aku menghancurkan kepalamu, kau orang yang hendak merusak kebahagiaan hidupku!" Chi-loya memukulkan rantainya pada pinggiran perahu sampai somplak dan hancuran kayu beterbangan.
Kagum hati Wi Liong. Orang ini baik sekali, gagah dan jujur, juga berhati jantan. Sayang dia salah mengambil Siok Lan.........”eh, di mana Siok Lan.........?”
"Mengapa kau membawaku ke sini tadi?" tiba-tiba ia bertanya ketika ia teringat akan Siok Lan.
"Sudah kukatakan, aku harus membawamu ke sini untuk dibunuh dan dibuang. akan tetapi sayang sekali......... aku tidak tega membunuh orang pingsan, bodoh dan lemah aku!"
Wi Liong tiba-tiba menjadi pucat dan memegang lengan orang itu ernt erat.
"Chi-loya, kau orang gagah yang karena kegagahanmu saja sudah patut kuhormati, katakanlah sejujurnya, apa artinya semua ini?”
Chi-loya memang seorang gagah yang berwatak mulia. Ia memandang Wi Liong, kini kemarahan lenyap dari mukanya, terganti perasaan kasihan. Melihat muka pemuda itu pucat dan menatapnya penuh permohonan, ia membuang muka lalu terdengar suaranya yang jelas dan nyaring, "Kau pingsan, kemudian dia menyuruh aku membawamu ke sini, membunuhmu dan melempar mayatmu ke sungai."
"Dia......... dia menyuruhmu membunuhku? Siok Lan yang menyuruh kau membunuhku?” Suara pemuda itu membayangkan hati yang perih dan luka, berdarah
Chi-loya menjadi makin kasihan. "Dia sudah menjadi isteriku. dan dia menyatakan bahwa hanya kalau kau sudah mati seperti yang tadinya ia kira, maka baru dia bisa menjadi isteriku. Dia yang menyuruhku....... dan sayangnya aku seorang lemah.........”
Tiba-tiba Wi Liong tertawa bergelak-gelak sambil berdiri di perahu dan mendongak ke udara. Tertawa terbahak-bahak keras sekali.
Chi-loya menangkap lengannya dengan bulu tengkuk meremang. "Diam! Diam, kau seperti mayat tertawa.........! Apa sih yang kau tawakan?”
Akan tetapi Wi Liong tertawa terus, kemudian berhenti dan ternyata air matanya bercucuran di atas kedua pipinya dan wajahnya pucat sekali. "Kau tidak bodoh, dan tidak lemah, Chi-loya. Akulah segoblok-gobloknya orang, setolol- tololnya manusia. Aku merindu gila seorang diri. padahal dia tidak cinta kepadaku. Ah. Siok Lan. Bu Beng Siocia semua itu khayalku semata, angan-angan kosong belaka. Dia tidak cinta padaku, hanya kasihan......... dan dia sudah menjadi isterimu yang tercinta. Syukurlah......... syukurlah, semoga kau dan dia hidup bahagia. Chi-loya. Kau seorang gagah, kau manusia baik, sedangkan aku........... aku si pandir si pemabok angan-angan, si tukang menerawang......... ha-ha-ha,.kembaililah kepada isterimu. Chi-loya. Selamat tinggal!" Dan melompatlah ia dari perahu itu ke darat, dengan gerakan ringan sekali. Entah mengapa, tiba-tiba saja ia merasa tubuhnya ringan dan dadanya serasa kosong melompong!
360
Demikianlah; pemuda ini jalan terus dengan cepatnya, tersenyum-senyum karena merasa tubuhnya enak dan kosong, ringan sekali. Kedua kakinya seperti mesin bergerak maju. tanpa tujuan. Pada saat seperti itu, teringatlah kembali ia akan ajaran-ajaran Thian Te Cu. akan wejangan-wejangan dan gemblengan- gemblengan ilmu batin, dan insyaflah ia bahwa selama ini ia ditunggangi oleh nafsunya sendiri. Bahwa selama ini ia tergila-gila kepada Siok Lan karena nafsu mudanya, karena kebetulan Siok Lan memiliki bentuk wajah dan potongan tubuh yang mencocoki seleranya, karena segala gerak geriik gadis itu menyentuh perasaannya, membangkitkan nafsu dan kasihnya. Padahal semua itu kosong be!aka, buktinya sekarang setelah semua naifsu dan perasaannya padam oleh kesadarannya bahwa Siok Lan tidak mencintanya ia tidak merindu lagi!
Memang manusia kadang-kadang menggelikan sekali. Bodoh mengaku pandai, itulah sifat setiap orang manusia. Wi Liong, pemuda hijau mengaku pandai, merasa telah dapat membongkar rahasia cinta seorang gadis seperti Siok Lan! Terlalu hijau ia, terlalu muda, hanya tahu tentang cinta dari perkiraan belaka, dari logika mentah. Mana dia tahu akan hikmat cinta kasih, akan kemurnian cinta kasih dalam lubuk hati seorang gadis, mana dia bisa mengira bahwa pada saat ia tersenyum senyum mentertawakan diri sendiri dan Siok Lan itu, pada saat ia berfilsafat tentang cinta, pada saat itu Siok Lan telah membunuh diri di Sungai Wu-kiang. sengaja untuk menyusul dia yang disangka sudah mati! Mana ia tahu akan kasih sayang seperti yang memenuhi hati Chi-loya terhadap Silok Lan. sehingga laki laki gagah ini rela pula mati bersama Sioik Lan. mayatnya terapung-apung di samping mayat Siok Lan. di permukaan air Sungai Wu-kiang! Akan tetapi memang jauh lebih baik bagi Wi Liong tidak mengetahui akan semua ini, tidak mengetahui untuk selamanya.
Karena hasil renungan dan filsafatnya tentang cinta, akhirnya Wi Liong dapat memulihkan semangatnya dan dapat menerima nasib. Ia anggap bahwa Siok Lan tidak cinta kepadanya dan bahwa gadis itu kini telah menjadi nyonya Chi yang hidup beruntung, kaya raya, suami mencinta. Dia malah merasa merdeka karena tidak ada lagi ikatan baik ikatan lahir sebagai bekas tunangan maupun ikatan batin sebagai bekas kekasih. Dia sekarang telah bebas, merdeka!
Beberapa bulan kemudian, pemuda ini sudah tiba di Tung-ting. sebuah telaga besar di Propinsi Hu-nan. Bersama dengan banyak pelancong ia menikmati keindahan telaga ini dan berdiam di situ sampai berpekan-pekan. Ia sengaja bermalam di dalam sebuah kuil tua yang terdapat dalam hutan kecil di barat telaga, kuil yang sudah rusak dan tidak ada penghuninya.
Setiap hari orang dapat melihat pemuda ini memancing ikan sambil melamun di pinggir telaga. Atau melihat dia dengan senangnya memanggang ikan hasil pancingannya di kuil tua itu, makan seorang diri dengan lahap dan nikmatnya! Atau kadang kadang ia juga memilih tempat yang sunyi di ujung barat telaga, di mana masih liar tanamannya dan tak pernah dikunjungi orang, dan di sinilah ia setiap hari mandi di antara batu-batu yang tinggi menonjol di pinggir telaga. Sampah berjam-jam ia berenang ke sana ke mari. memukui-mukul air dan merasa segar sehat lahir batin.
Sementara itu. di balik segerombolan batu-batu besar di pinggir telaga. terjadi hal yang aneh dan lucu. "Tadinya nampak seorang kakek kecil pendek berpakaian pengemis bermata besar, kedua tangannya memegang tongkat bambu dan sebuah mangkok butut. Kakek ini memandang ke arah Wi Liong yang sedang mandi, lalu tertawa-tawa sendiri, agaknya merasa lucu nonton orang mandi bertelanjang bulat di telaga itu. Kemudian ia pergi sambil berlari-lari langkah kakinya ringan sekali sampai-sampai Wi Liong yang lihai juga tidak mendengar langkah 'kakinya.
361
Tak lama kemudian, kakek itu datang lagi berlari-lari dengan seorang gadis cantik yang berwajah muram.
"Dialah baru orangnya yang akan dapat menolong kita membasmi iblis- iblis itu!" kata kakek itu sambil berlari-lari.
"Siapa sih yang suhu maksudkan?" tanya gadis cantik itu sambil berlari di samping suhunya.
"Kau lihat sendiri nanti, tentu kau mengenalnya!" Kakek itu terkekeh lalu membawa gadis itu ke balik gerombolan.batu besar tadi. Setelah tiba di tempat itu, ia menunjuk ke arah setumpuk pakaian yang berada di situ sambil berkata.
"Nah. itu orangnya dan ini pakaiannya. Hayo kita curi pakaiannya untuk memaksa dia berjanji!"
Gadis itu memandang heran ke arah tumpukan pakaian pria yang bersih dan ditumpuk rapi di atas batu licin, kemudian menurutkan tempat yang ditunjuk suhunya ia memandang ke air dan..... tiba-tiba wajahnya menjadi merah sekali dan cepat-cepat ia memutar tubuh membuang muka ketika ia melihat seorang pemuda bertubuh tegap berkulit kuning berada di air bertelanjang bulat. Baiknya pemuda itu membelakangi mereka.
"Ah. suhu sungguh membikin malu orang.........!" katanya sambil berdiri membelakangi orang mandi itu.
"Eee....... eeeee, bagaimana sih kau ini? Orang itu bukan orang sembarangan. dialah pemuda yang kita jumpai dulu di Kelenteng Siauw-lim-si, pemuda sakti yang......... yang menjadi pilihanku. Kau sepatutnya menjadi isteri orang seperti itu, Eng Lan. Untuk apa kau menanti nanti pemuda macam Kun Hong yang tidak setia dan tidak memegang janji?"
"Suhu.........harap jangan berkata begitu........" gadis itu mengeluh.
Wi Liong sekarang mendengar suara mereka dan cepat ia menengok. Alangkah kagetnya ketika ia melihat seorang kakek dan seorang gadis cantik yang ia kenal sebagai Pak-thian Koai-jin dan muridnya, Pui Eng Lan si gadis hitam manis! Ia kaget bukan apa-apa, hanya karena ia berada dalam keadaan telanjang dan pakaiannya justeru bertumpuk di dekat kakek dan gadis itu! Cepat-cepat ia menyelam dan hanya kepalanya saja yang kelihatan sekarang, dengan muka kemerah-merahan di permukaan air yang jernih.
"Dia sekarang tidak terikat lagi, sudah putus pertunangannya dengan puteri keluarga Kwa......." Wi Liong mendengar ucapan terakhir kakek itu. Ia merasa heran mengapa kakek itu berkata demikian dan tidak tahu apa yang sedang mereka bicarakan.
"Ah. kiranya locianpwe Pak-thian Koai-jin yang berada di situ dan nona Pui Eng Lan........ harap suka menyingkir dulu agar aku dapat...... berpakaian." katanya gagap.
Muka Eng Lan menjadi makin merah dan gadis ini tak dapat berdiam lebih lama lagi di situ, terus saja mengangkat kaki pergi menjauhi tempat itu tanpa menoleh lagi.
362
'"Ha-ha-ha-ha!" Pak-thian Koai-jin tertawa, natanya bersinar-sinar. "Orang muda, kalau aku mengambil pakaianmu ini dan membawa pergi, kau mau bisa bikin apa terhadapku?”
Wi Liong kaget sekali. Ia memang sudah nendengar tentang keanehan kakek ini yang amat nakal, dulupun pernah kakek ini secara mendadak dan terang- terangan di depan orang banyak hendak menjodohkan dia dengan Eng Lan! Sekarang kakek ini mengancam hendak mengambil pakaiannya bisa celaka dia!
"Jangan, locianpwe yang baik kalau kauambil, habis aku bagaimana? Janganlah ganggu aku, biar lain kali aku membalas kebaikanmu itu!"
"Betul-betulkah? Mau kau berjanji akan membalas kebaikanku tidak jadi mengambil pakaianmu? Hayo janji!"
"Aku berjanji," kata Wi Liong yang benar-benar tak berdaya menghadapi kakek nakal ini.
Pak-thian Koai-jin tertawa terbahak-bahak. "Kalau begitu, lekas kau naik berpakaian dan kita bicarakan tentang perjodohanmu dengan muridku. Pui Eng Lan."
Seketika Wi Liong menjadi lemas dan hampir ia tenggelam ke dalam air mendengar ucapan ini.
"Kalau.......... kalau urusan itu......... aku......... aku tidak bisa menjalani, locianpwe........" ratapnya bingung,
"Heh-heh. dahulu kau menggunakan alasan sudah bertunangan, sekarang bukankah pertunanganmu dengan puteri keluarga Kwa itu sudah diputuskan? Ada keberatan apa lagi kau? Coba katakan, apa muridku itu kurang manis, kurang denok dan kurang gagah? Hayo katakan kalau kau pikir begitu!''
Menghadapi kakek nakal ini. Wi Liong benar-benar merasa tobat dan ia melihat Eng Lan yang berdiri jauh membelakangi mereka sudah terisak menangis. Tentu saja gadis itu dapat mendengar semuanya. Kasihan, pikirnya. Kemudian ia teringat akan hubungan gadis itu dengan Kun Hong. Tak salah lagi, gadis itu mencinta Kun Hong. Maka ia lalu mendapat akal dan berkata dengan suara tetap.
"Locianpwe, bukan sekali-kali aku mencela muridmu, malah aku seorang rendah dan bodoh ini mana patut menjadi jodohnya? Akan tetapi, perjodohan satu kali gagal sudah lebih dari cukup bagiku, locianpwe........." Wi Liong tersenyum masam, "usulmu itu baik sekali, akan tetapi sayang hanya terbatas pada keinginanmu sendiri. Aku tentu takkan membantah andaikata nona Pui sendiri yang berkata bahwa dia......... dia suka menjadi jodohku. Hanya itulah syaratku."
Pak-thian Koai-jin membanting-banting kakinya, menggaruk-garuk kepalanya. "Mana bisa? Mana dia mau.........?”
"Tentu saja dia tidak mau karena hatinya tidak condong kepadaku. Locianpwe, perkara perjodohan harus diserahkan kepada yang akan menjalani barulah tepat karena suka duka perjodohan kelak hanya dua orang yang akan merasai."
363
"Suhu, mari kita pergi kalau tidak teecu akan pergi sendiri!" terdengar Eng Lan berkata setelah hilang kekhawatirannya akan dipaksa berjodoh dengan Wi Liong setelah ia mendengar ucapan pemuda itu. Di dalam hatinya, ia berterima kasih kepada pemuda ini, "Nanti dulu......... nanti dulu........." Pak-thian Koai-jin menudingkan tongkatnya kepada Wi Liong.
"Eh, orang muda. kau pintar mengakali aku orang tua. Akan tetapi kau masih kalah janji, sekarang kau harus mau berjanji untuk menolong aku membasmi iblis-iblis Ngo-tok-kauw (Perkumpulan Lima Racun).
"Baik, aku berjanji, locianpwe. asal saja perkumpulan itu memang sudah sepantasnya dibasmi."
"Tentu saja pantas dibasmi. Kau datang saja menyusul kami ke hutan sebelah utara kota Siang-tan, di sanalah sarang mereka."
"'Baik, locianpwe, aku pasti akan menyusul ke sana" janji Wi Liong yang menjadi girang sekali dapat terbebas dari godaan kakek nakal itu. Pak-thian Koai-jin lalu pergi menyusul muridnya sambil mengomel panjang pendek, hatinya kecewa karena lagi-lagi Eng Lan menolak pilihannya. Ia suka sekali kepada Wi liong dan akan besarlah hatinya kalau mempunyai murid mantu seperti dia!
Setelah bayangan dua orang itu lenyap, baru Wi Liong berani naik ke darat dan memakai pakaiannya dengan hati lega. Lain kali dia tidak akan mandi tanpa pakaian dan meninggalkan pakaian begitu saja, pikirnya. Bagaimana kalau ada orang jail mencuri pakaiannya? Tentu terpaksa ia akan merendam diri sampai malam gelap, baru berani keluar. Celaka!
Kemudian ia ingat akan janjinya. Ngo-tok-kauw? Perkumpulan apakah itu? Belum pernah ia mendengar nama ini. Sebelum utara kota Siang-tan? Siang-tan tak terlalu jauh letaknya dari situ. Aku sudah berjanji, harus kupenuhi janji itu. Setelah mengambil keputusan ini Wi liong lalu berangkat menuju ke Siang-tan.
Kota Siang-tan letaknya di sebelah selatan Tung-ting di mana mengalir Sungai Kemala. Ketika Wi Liong sedang berlarian menuju ke selatan dan menjelang senja ia sudah tiba di sebelah utara kota itu, ia melihat Pak-thian Koai-jin sudah menantinya di pinggir jalan, di luar hutan!
"Cepat muridku telah mereka culik.........!" kata-kata pertama yang menyambutnya ini mengejutkan hati Wi Liong.
"Locianpwe. harap kau memberi penjelasan dulu. Siapakah mereka itu? Apakah orang-orang Ngo-tok-kauw yang kau sebutkan tadi? Mengapa memusuhi mereka dan bagaimana pula nona Pui dapat terculik?”
Pak-thian Koai-jin memukulkan tongkatnya di tanah, kelihatan tidak sabar.
"Aku sudah menunggumu sejak siang tadi, setelah bertemu masa hanya disuruh mengobrol? Mengobrol tidak ada gunanya, paling perlu cepat bertindak menolong muridku!"
"Akan tetapi aku harus tahu lebih dulu duduknya perkara, locianpwe. Tidak sempurna bertindak tanpa dipikir dulu. bukan?"
364
"Alaaaaa, sudahlah mari kuceritakan sambil berjalan. Jangan-jangan muridku sudah mereka tewaskan selagi kita mengobrol di sini!" Setelah berkata demikian kakek itu lalu berlari memasuki hutan. Terpaksa Wi Liong juga berlari karena pemuda ini kaget mendengar ucapan tadi.
Sambil berlarian cepat, kakek itu secara singkat menceritakan bahwa Ngo-tok-kauw adalah perkumpulan agama baru yang muncul dari pantai laut selatan. Sebetulnya tidak dapat disebut perkumpulan jahat karena para anak buah atau anggautanya tak pernah mengganggu orang lain, dan mata pencaharian mereka adalah mencari batu-batu Sungai Kemala yang ternyata kaya akan batu-batu berharga. Hanya saja, mereka mengandalkan kepandaian mereka untuk mengusir setiap orang nelayan yang berlalu lintas di sepanjang sungai itu dan seakan-akan menganggap sungai itu milik mereka! Memang mereka sering kali membantu penghidupan para nelayan, memberi sumbangan sejumlah uang besar kepada para nelayan yang miskin.
"Kalau begitu mereka tidak jahat!" seru Wi Liong terheran.
"Mereka memang tidak melakukan praktek-praktek jahat, akan tetapi mereka itu kejam dan ganas luar biasa. Setiap orang nelayan yang berani membantah perintah mereka, yang berani berperahu di sungai itu, tanpa ampun lagi mereka bunuh dan mayat nelayan itu mereka jadikan bahan untuk racun-racun mereka yang jahat!"
Wi Liong melebarkan matanya, ngeri dan heran.
"Kenapa perkumpulan mencari batu kemala itu memakai nama kauw (perkumpulan agama)?"
"Entah, siapa tahu! Mereka menyembah ular-ular berbisa, yang menjadi kauwcu (ketua agama) juga seorang wanita tua seperti ular Sampai di sini Pak-thian Koai-jin kelihatan ngeri dan takut. Hebat sekali kauwcu itu ilmunya tinggi dan kalau aku tidak panjang langkah, tentu akan mampus di tangannya!"
"Locianpwe, kau dan muridmu mengapa memusuhi mereka sampai nona Pui sekarang diculik?”
"Dasar Eng Lan yang keras kepala. Kalau dia mau memilih kau sebagai calon suami, kan beres, tidak timbul permusuhan dengan Ngo-tok-kauw......." kakek itu mengomel, membuat Wi Liong terheran-heran. "Bocah itu kegilaan si Kun Hong murid Thai Khek Sian itu dan ia sambil menangis minta bantuanku mencarikan batu kemala yang disebut Im-yang-giok cu, katanya batu itulah yang akan dapat menyambung nyawa Kun Hong yang terluka hebat oleh pukulan Im-yang-lian hoan dari Kunlun-pai. Katanya ia rela mempertaruhkan nyawa untuk mencarikan obat pemuda itu......" Pak-thian Koai-jin menarik napas panjang. "Orang muda kalau sudah jatuh cinta, otaknya menjadi miring.........!"
Wi Liong merasa terharu sekali, terharu dan juga terkejut. Ia teringat bahwa Kun Hong memang sudah terluka hebat ketika bersama Eng Lan mengunjunginya di Wuyi-san, akan tetapi ia tidak sangka bahwa itulah luka akibat Im-yang-lian-hoan dari Kun-Iun-pai.
"Aku bukan hanya guru Eng Lan. akan tetapi dia juga kuanggap seperti anak sendiri. Ayah mana yang takkan bingung ditangisi anaknya seperti itu? Terpaksa aku lalu berusaha mencari Im-yang-giok-cu di Sungai Kemala."
365
"Kenapa di sungai itu?"
"Im-yang-giok-cu hanya dimiliki oleh Kui-bo Thai-houw di Ban-mo-to. Kalau batu itu sudah berada di tangan biang iblis itu, siapa orangnya berani mencari ke sana? Aku biarpun sudah tua bangka belum ingin mampus, maka aku mengajak Eng Lan mencari di Sungai Kemala karena tidak ada batu apapun yang tidak terdapat di sungai itu. Nah, itulah yang menyebabkan adanya permusuhan antara kami dan Ngo-tok-kauw. Mereka melarang aku mencari batu di sungai itu dan terjadi pertempuran. Melawan anak buah mereka aku dan Eng Lan masih sanggup. Akan tetapi setelah muncul pentolan-pentolan mereka, benar-benar berat. Terpaksa aku dan Eng Lan melarikan diri, dikejar terus sampai di Tung-ting di mana kebetulan sekali aku bertemu dengan kau. Tadi ketika aku dan Eng Lan tiba di hutan ini, tiba-tiba kami diserang oleh orang-orang Ngo-tok-kauw dan Eng Lan diculik mereka! Kau sih yang datang terlambat!"
Wi Liong terkejut sekali. Kalau sampai terhadap pentolan-pentolan saja kakek sakti ini tidak berdaya, betapa hebatnya kepandaian kauwcu mereka! Dalam urusan ini, biarpun masih sukar disebut siapa benar siapa salah, akan tetapi keselamatan Eng Lan terancam dan bagaimana juga ia harus menolong nona itu dari bahaya maut.
Sementara itu, senja telah terganti malam. Sebetulnya kalau orang berada di luar hutan, mungkin cuaca belum begitu gelap. Akan tetapi, hutan itu liar dan penuh pohon besar maka keadaan di situ sudah amat gelapnya. Pak-thian Koai-jin berhenti di bawah sebatang pohon siong tua. lalu berkata perlahan.
"Sarang mereka berada di sana itu, di sebelah barat sungai yang mengalir dalam hutan ini. Kita harus berhati-hati karena mereka itu rata-rata memiliki kepandaian tinggi dan penjagaan tentu diperkuat. Ketika aku pertama kali menyerbu dengan Eng Lan, kami mengambil jalan dari sungai. Akan tetapi mereka sekarang tentu sudah menjaga tepi sungai."
Mendengar suara kakek itu terdengar jerih sekali. Wi Liong tersenyum dalam gelap. Agaknya fihak musuh memang luar biasa hebatnya, kalau tidak tak mungkin dapat membikin jerih kakek sakti ini yang sudah terkenal di dunia kangouw. terutama sekali di utara, tempat asalnya.
"Harap locianpwe menanti di sini saja dulu, dan biarkan aku mencari tahu tentang kedudukan mereka. Kalau mungkin akan kutolong nona Eng Lan dan kubawa keluar dari sarang mereka. Ke padaku mereka belum kenal, tentu kurang perhatian mereka, tidak seperti terhadap locianpwe."
Pak-thian Koai-jin sudah mengenal pemuda ini dan sudah tahu pula akan kelihaiannya, maka ia mengangguk dan banya memesan, "Kalau mendapat kesulitan harap bersuit tiga kali dan......... hati-hatilah, mereka benar-benar lihai sekali."
Wi Liong mengangguk sambil tersenyum lalu berkelebat dan lenyap dalam kegelapan hutan itu setelah mendapat petunjuk di mana sarang perkumpulan itu. Ia menyelinap di antara pohon-pohon besar. Matanya awas dan gerakannya gesit sekali sehingga di tempat yang demikian liar dan gelap dia masih dapat bergerak dengan lincah dan cepat.
366
Betul saja, ia melihat penjaga-penjaga di dalam hutan itu., penjaga-penjaga yang menjaga di sekitar bangunan-bangunan megah yang merupakan sebuah dusun kecil di tengah hutan liar itu. Para penjaga ini berpakaian biasa saja. hanya topi mereka seragam, yaitu topi kebundaran seperti bentuk kepala ular dan lima warna pula! Gerak-gerik mereka memang menunjukkan bahwa mereka terdidik dan berkepandaian ilmu silat, akan tetapi tentu saja tingkat mereka masih amat rendah kalau dibandingkan dengan Wi Liong maka mereka itu tak seorangpun dapat mendengar atau melihat kedatangan Wi Liong yang bergerak amat rincan dan cepatnya. Dengan mudah saja Wi Liong menerobos penjagaan itu dan memasuki perkampungan Ngi-tok-kauw.
Keadaan di perkampungan itu terang-berderang. jauh se/kali bedanya dengan di dalam hutan tadi. Pohon-pohon telah dibabati dan perkampungan itu nampak bersih dan pada saat itu nampak penerangan memenuhi tengah-tengah perkampungan. Sementara itu bulan purnama yang baru mulai muncul menambah terangnya cuaca.
Akan tetapi keadaannya sunyi dan ketika Wi Liong mendekati sebuah rumah di pinggir, di situ kosong saja. Tiba tiba ia mendengar suara orang-orang yang datangnya dari arah tengah perkampungan yang terang itu. Ia cepat melompat naik ke atas genteng dan bergerak maju menuju ke tengah.
Kiranya para anggauta Ngo-tok-kauw sedang berkumpul di sebuah lapangan yang agaknya sengaja diadakan di tengah perkampungan, semacam alun-alun yang tidak begitu luas akan tetapi cukup menampung para anggauta yang jumlahnya ada limapuluhan orang laki -laki wanita. Seperti para penjaga tadi. baik laki-laki maupun wanita yang berkumpul di situ semua memakai topi berbentuk kepala ular yang berwarna lima, hanya bentuknya berbeda, kalau wanita memakai hiasan bunga-bunga sutera di kepala.
Orang orang itu sedang duduk mengelilingi seorang nenek tua berpakaian hitam yang mengerikan sekali keadaannya. Wanita tua ini tubuhnya kecil tinggi dan berlenggak-lenggok seperti ular gerak-geriknya. Ketika itu ia tidak duduk, melainkan berbaring di atas tilam permadani, kadang-kadang melingkar, kadang-kadang mengangkat kepala gerak geriknya meniru ular, akan tetapi ia mengeluh dan mengaduh, agaknya menderita sakit.
Para anggauta Ngo tok-kauw duduk di atas rumput begitu saja mengelilingi tempat nenek itu yang cukup lega. Seperti juga para anggautanya, nenek yang menjadi kauwcu (ketua perkumpulan agama) inipun mengenakan topi berbentuk kepada ular dan Wi Liong dari jauh dapat melihat bahwa memang topi yang dipakai nenek itu terbuat dari pada kepala ular aseli. Bahkan mata dan taring ular itu masih kelihatan, di atas kepalanya, menimbulkan pemandangan yang mengerikan. Tak jauh dari tempat nenek ini berbaring, kelihatan sebatang tongkat hitam bengkak-bengkok yang panjangnya ada dua meter, tertancap di atas tanah seperti tonggak.
Selain nenek ini, yang duduk di dalam lingkaran orang-orang itu. kelihatan tiga orang muda duduk di pojok. Yang seorang adalah Pui Eng Lan, duduk di atas tanah dengan kaki tangan terbelenggu kuat-kuat. Gadis ini yang wajahnya pucat kelihatan merasa ngeri memandang nenek itu, akan tetapi ia sama sekali tidak kelihatan takut, malah sinar matanya memancarkan keangkuhan. Di sebelah kiri Eng Lan duduk seorang gadis lain, gadis cantik berkulit kemerahan yang dari mata dan bibirnya menunjukkan watak yang genit dan cabul. Lirikan-lirikan matanya tajam, bibirnya tersenyum-senyum dan pakaiannya amat ketat membungkus tubuhnya sehingga potongan dan bentuk tubuhnya tercetak
367
nyata, apa lagi kain pakaiannya terbuat dari sutera tipis. Pakaiannya indah dan di punggungnya tergantung sebatang pedang pendek.
Di sebelah kanan Eng Lan duduk seorang pemuda bertubuh tegap tinggi besar, juga pakaiannya indah dan kelihatan gagah sekali. Sayang mukanya hitam dan bopeng (burik), hidungnya terlalu besar dan matanya terlalu sempit, mulutnya tak pernah tertutup. Pendeknya, muka yang tidak akan menimbulkan rasa suka pada hati wanita. Juga pemuda yang usianya duapuluh lima tahun ini pada pinggangnya tergantung sebatang pedang panjang.
Wi Liong dengan sepintas lalu memandang ini semua dan ia heran dan ingin tahu apakah yang akan terjadi selanjutnya. Untuk menolong Eng Lan begitu saja tidak mudah karena tempat gadis itu duduk telah dikurung. Di sudut lain terdapat lima buah keranjang bambu yang bentuknya bundar, tingginya dua kaki. Wi Liong tidak tahu apakah isi keranjang itu. Ia menanti saat baik untuk menolong Eng Lan, sambil bersembunyi memperhatikan nenek yang ia dapat menduga tentulah kauwcu Ngo-tok-kauw. Pada saat itu, nenek yang seperti ular tubuhnya itu nampak marah-marah, berguling-gulingan gelisah dan berdengus-dengus, menambah keseraman keadaannya.
"Aku masiih kuat.........! Aku tidak akan mati.........! Siapa bilang aku terlalu tua menjadi kauwcu? Hayo bilang, siapa berani berkata demikian??" tiba- tiba nenek itu menggeliatkan tubuhnya dan tahu-tahu ia sudah berdiri, tinggi dan kecil seperti pohon bambu.
Di antara para anggauta yang duduk mengelilingi tempat itu, tidak ada yang berani berkutik. Mereka kelihatan takut sekali kepada nenek itu. Nenek itu lalu memutar tubuhnya menghadapi dua orang muda tadi, matanya jelilatan dan Wi Liong melihat sepasang mata kemerahan.
"Kalian berdua bukan anak anak keponakan yang baik! Kalian berdua adalah anak-anak yang puthauw (durhaka). Kalau tahu kalian bakal menentangku, dulu-dulu ketika masih bayi sudah kucekik mampus. Ha-ha-hi-hi!" Wanita itu menggerak-gerakkan kepalanya dan bergemerlapan cahaya batu-batu permata yang menghias leher dan dadanya terkena sinar obor dan bulan. Rata-rata anggauta Ngo-tok-kauw. apa lagi gadis dan pemuda di dalam lingkaran itu, memakai banyak permata-permata atau batu batu kemala yang bermacam-macam warnanya.
"Pek-bo (uwa), kami mengusulkan pengunduranmu demi kebaikanmu sendiri. Sudah tua lebih baik mengaso dan biarkan yang muda-muda bekerja menggantikanmu," terdengar pemuda buruk rupa itu berkata.
"Coba tuh dengar, menyebut pek-bo. Apakah aku sudah kauanggap bukan kauwcumu lagi?" bentak wanita tua itu sambil menggeliat-geliatkan pinggangnya seperti seorang penari perut.
"Hih, sudah tua tak tahu tuanya!" gadis genit itu mencela sambil meruncingkan bibirnya yang merah.
"Ciu Kim.........!!" Nenek itu membentak marah sambil menghentak hentakkan tongkat hitamnya yang sudah dicabut, matanya bersinar-sinar menatap wajah gadis itu. Akan tetapi gadis bernama Ciu Kim itu juga berdiri tegak, tangan kanan meraba gagang pedang, siap untuk menanti serangan, sikapnya menantang sekali.
368
Nenek itu ragu-ragu, lalu menarik napas panjang dan suaranya seperti orang menangis ketika berkata, "Anak-anak nakal....... dulu kutimang- timang......... dulu kuajar silat......... setelah lebih pandai melawan.........!"
Pada saat itu, dari luar lingkaran orang melompat masuk lima orang kakek yang pakaiannya berbeda beda. Seorang berpakaian serba merah, ke dua serba putih, ke tiga serba hitam, ke empat serba kuning dan ke lima serba hijau, akan tetapi topi mereka serupa, lima warna dan berbentuk kepala ular. Melihat sikap mereka dan pakaian mereka, Wi Liong menduga bahwa mereka inilah kiranya yang disebut pentolan-pentolan Ngo-tok-kauw oleh Pak-thian Koai-jin dan yang mengalahkan kakek itu bersaima muridnya.
Melihat lima orang itu kauwcu Ngo-tok-kauw menghentikan kemarahannya dan bertanya. Ada laporan apa?”
Si baju hitam menjawab hormat. "Kauwcu, Pakthian Koai-jin datang bersama seorang pemuda, akan tetapi pemuda itu lenyap entah di mana sedangkan Pakthian Koai-jin tidak memasuki batas penjagaan, hanya berkeliaran di luar saja."
"Hih-hih-hih. tua bangka mabok itu. Mau apa dia? Tak usah dijaga, biar dia masuk kalau berani. Kalian berlima di sini saja. menjadi saksiku." Lima orang pembantu ketua itu lalu duduk di atas tanah di belakang tempat duduk ketua dan diam tak bergerak.
"Kalian dua orang bocah durhaka tidak berhak bersikap sesuka sendiri!" si nenek itu kembali menghadapi Ciu Kim dan pemuda itu yang bernama Hak Lui. "Akulah kauwcu dan aku pula yang menetapkan siapa yang menjadi penggantiku. Karena kau berdua kurang ajar, biar aku yang memilih. Dan aku memilih dia ini! Mulai sekarang dia menjadi muridku dan kelak menggantikan kedudukanku menjadi kauwcu dari Ngo-tok-kauw!" Nenek ini menudingkan telunjuknya ke arah Eng Lan. Tentu saja Eng Lan menjadi kaget dan heran bukan main.
Hak Lui mengerutkan kening memandang kepada Eng Lan dan sebaliknya Cui Kim melompat ke depan dan menghunus pedangnya.
"Tua bangka mau mampus! Kau sudah gila? Perkumpulan ini dahulu dengan susah payah didirikan oleh ayah bundaku. Setelah mereka meninggal, kau menjadi kauwcu hanya karena aku dan kakak misanku Hak Lui masih kecil. Sekarang kami sudah dewasa dan akulah yang berhak menggantikan kedudukan ayah bundaku sebagai Ngo-tok-kauwcu. Masa begitu saja kau mau berikan kepada orang lain? Aku tidak membolehkannya!"
"Cui Kim! Kau ada hak apa melarangku dan mengangkat diri sendiri menjadi kauwcu?" bentak nenek itu marah.
"Hakku kau tanya? Hak sebagai ahli waris pendiri Ngo-tok-kauw. hak sebagai orang terbaik, tercantik, paling kuat dan pandai di sini. Siapa tidak setuju boleh maju dan mencoba pedangku!"
Nenek itu menoleh kepada lima orang pembantunya. "Hayo kalian mengapa diam saja? Bocah ini hendak memberontak, tangkap dia!" perintahnya.
369
Akan tetapi lima orang itu saling pandang dan tidak bergerak. Kemudian yang berpakaian putih berkata.
"Kauwcu, mana bisa kami melawan Theng-siocia? Tugas kami hanya membantunya dan membantu kauwcu, akan tetapi bukan melawannya."
Nenek itu makin marah. Ia membanting-banting kakinya dan tubuhnya makin menggeliat-geliat aneh, itulah tanda bahwa dia marah sekali. Tiba-tiba ia mencabut sebatang tongkat dan mata Wi Liong menjadi silau melihat tongkat itu karena segera cahaya kebiruan tercampur cahaya kemerahan, kuning, dan lain-lain seperti sinar pelangi bersinar dari tongkat itu. Tongkat itu pendek saja, hanya satu kaki terbuat dari pada kayu kehitaman yang mengkilap dan di kepala tongkat itu terdapat sebuah batu kemala besar yang mengeluarkan cahaya aneh itu.
"Kalian lihat. Ngo-heng-giok-cu (batu kemala lima elemen) berada di tanganku, siapa yang tidak menurut pada pemegang ngo-heng-giok-cu dihukum mati!" katanya kepada lima orang pembantu itu. Melihat tongkat ini, lima orang kakek itu menjadi bingung sekali dan segera berlutut dan membentur-benturkan kepala di atas tanah.
"Hamba menurut perintah......... menurut perintah........." terdengar mereka berkata.
"Tangkap Cui Kim! Tangkap atau bunuh! Dia memberontak kepada kauwcu!" kata nenek itu dengan sikap dan suara seperti seorang ratu mengeluarkan perintah, tongkat Ngo-heng-giok-cu itu diangkat tinggi-tinggi di atas kepalanya.
Benar-benar mengherankan, kalau tadi lima orang pembantu itu ragu-ragu dan segan untuk menyerang Cui Kim puteri pendiri Ngo-tok-kauw, sekarang melihat tongkat dengan batu kemala warna lima itu mereka segera serentak berdiri dan meloloskan senjata mereka, masing-masing sebatang golok besar.
Menjunjung tinggi Ngo-heng-giok-cu lambang perkumpulan Ngo-tok-kauw, mentaati perintah kauwcu kami harap Theng siocia suka menyerah dan tunduk kepada kauwcu!" kata si baju putih mewakili kawan-kawannya.
Terdengar suara ketawa merdu dan nyaring akan tetapi mengandung nada mengejek.
"Kalian berlima ini sudah seperti bukan manusia lagi hanya alat. Mau menangkap atau membunuh aku? Majulah!" Setelah berkata demikian, gadis itu malah mendahului, menyerang dengan pedang pendeknya dengan gerakan yang amat gesit.
Lima orang pentolan Ngo-tok-kauw itu menggerakkan golok, berpencar dan sebentar saja telah membentuk barisan lima penjuru dan melakukan ilmu silat Ngo heng-kun yang amat kuat. Diam-diam Wi Liong kagum dan terkejut. Pantas saja Pak-thian Koai-jin dan muridnya kalah, kiranya lima orang ini memiliki Ilmu Silat Ngoheng-kun yang dijalankan oleh lima orang dan demikian kuatnya. Akan tetapi ketika melihat bagaimana gadis itu menghadapi Ngoheng-kun, ia menjadi makin kagum dan terkejut.
370
Tidak saja gadis itu dapat melayani dengan baik, malah dengan ilmu silat semacam Ngo-heng-kun yang sudah dicampur ilmu Silat lain yang aneh, gadis itu dapat menindih gerakan-gerakan lawan dan dapat mengatasi semua desakan karena nampaknya hafal sekali akan semua gerak-gerik lima oramg pengeroyoknya! Dilihat begitu saja seakan-akan lima orang kakek itu adalah murid-muridnya.
Sebetulnya hal ini memang tidak begitu mengherankan kalau orang tahu akan duduknya perkara. Gadis itu adalah Theng Cui Kim puteri tunggal Theng Gak pendiri dari Ngo-tok-kauw. Ketika Cui Kim masih kecil, baru berusia sebelas tahun, ayah bundanya meninggal dibunuh orang. Karena Cui Kim masih kecil, juga kakak misannya The Hak Lui yang yatim piatu dan menjadi murid ayahnya belum dewasa, maka pimpinan Ngo-tok-kauw diserahkan kepada kakak perempuan ibunya, yaitu nenek yang seperti ular tubuhnya itu. Akan tetapi sebelum tewas.
Theng Gak meninggalkan sebuah kitab pelajaran ilmu silat Ngo-tok-kauw yang ia ciptakan sendiri berdasarkan Ilmu Silat Ngo-heng-kun. Theng Cui Kim dipesan oleh ayahnya agar kitab itu jangan diperlihatkan lain orang. Cui Kim berhati keras dan berkemauan besar maka selanjutnya ia belajar ilmu itu secara diam-diam dan mendapatkan kepandaian tinggi. The Hak Lui pemuda muka hitam itu juga belajar ilmu silat dan karena dia memang tekun mencari guru-guru di luaram iapun memiliki kepandaian yang tidak rendah dengan ilmu silat campuran.
Setelah dua orang muda ini menjadi dewasa, mereka merasa bahwa Ngo-tok-kauw telah diselewengkan oleh kauwcu yang sekarang ini, tidak hanya khusus pencari batu kemala seperti yang dimaksudkan oleh Theng Gak semula, akan tetapi diperhebat dan diperdalam tentang agama yang menyeramkan dan penuh ketahyulan. Maka dua orang muda itu mengusulkan supaya kauwcu sekarang itu mengundurkan diri dan mereka berdua yang akan memimpin, pendeknya mereka hendak mere-tool kauwcu bertubuh seperti ular itu sehingga terjadi keributan pada hari itu.
Pertempuran berlangsung cepat dan empat-puluh jurus telah lewat. Wi Liong dapat menduga bahwa akhirnya lima orang pengeroyok itu akan kalah. Dugaannya ini terbukti pada jurus ke empatpuluh lebih. Sambil tertawa dan memutar pedang lebih cepat lagi, pedang pendek yang sudah menindih lima batang golok itu menyambar, terdengar suara keras disusul teriakan-teriakan kaget kelima orang itu karena golok mereka telah terlepas dari tangan, yang dirasakan perih dan sakit sekali. Ketika mereka melompat mundur, ternyata tangan mereka telah terluka dan tergores pedang! Mereka kagum sekali dan juga amat berterima kasih karena puteri pendiri Ngo-tok-kauw itu kiranya masih mengampuni nyawa mereka, kalau tidak tentu mereka sekarang sudah menggeletak menjadi mayat!
Diam-diam merekapun insyaf bahwa Ngo-tok-kauw akan menjadi jauh lebih baik kalau dipimpin oleh nona ini. Di bawah pimpinan kauwcu yang sekarang, sering kali terjadi hal-hal kejam dan nyawa anak buah Ngo-tok-kauw tidak terjamin, demikian mudahnya kauwcu membunuh anggautanya kalau dianggap membangkang. Tadi merekapun sudah ragu-ragu, hanya karena melihat tongkat Ngo-heng-giok-cu saja mereka terpaksa tidak dapat membantah lagi.
Melihat orang-orang kepercayaannya dikalahkan, marahlah kauwcu. Ia memekik ngeri dan maju menghadapi Cui Kim sambil mengacungkan tongkat dengan kemala lima warna itu.
"Pemberontak cilik! Kau tidak melihat tongkat ini,? Masih berani kau melawan kehendak kauwcumu?" bentaknya.
371
Tongkat itu biasanya ditakuti oleh semua anggauta Ngo-tok-kauw. Memang tongkat ini merupakan tanda kebesaran atau lambang Ngo-tok-kauw dan mempunyai riwayat yang menarik. Ketika dahulu Theng Gak memimpin anak buahnya mencari batu-batu kemala di Sungai Kemala ia mendapatkan batu kemala besar yang mengeluarkan cahaya lima macam ini. Dan pada hari itu juga ia digigit ular berbisa di pinggir sungai sehingga ia roboh dalam keadaan empas- empis dan tubuhnya membengkak semua. Hebatnya, tidak hanya seekor ular yang menggigitnya, melainkan lima ekor ular berbisa sekaligus.
Baiknya isterinya pernah mendengar tentang khasiat batu kemala yang disebut Ngo-heng-giok-cu ini. maka cepat ia menggosok-gosokkan semua luka gigitan dengan batu itu. Hebatnya, racun ular keluar semua dihisap oleh batu Ngo-heng-giok-cu dan cahaya batu itu makin bersinar terang seakan-akan semua racun itu merupakan alat pencuci! Maka selamatlah nyawa Theng Gak. Semenjak hari itu, ia menganggap batu itu batu keramat yang harus dijunjung oleh semua anggauta Ngo-tok-kauw, sedangkan nama perkumpulan Ngo-tok (Lima Racun) pun diambil dari peristiwa itu. Juga lima macam ular yang menggigitnya dipelihara baik-baik sampai hari itu. sudah berkali-kali berganti kulit.
Melihat tongkat dengan batu kemala itu, Cui Kim membentak.
"Kembalikan tongkat ayah!'" Cepat seperti ular menyambar, lengan kiranya bergerak merampas tongkat itu.
Nenek itu yang dahulu terkenal dengan nama Siu-toanio, cepat mengelak dan terjadilah perebutan tongkat dengan ramainya.
Akhirnya dari perebutan tongkat menjadi pertempuran dahsyat. Cui Kim menggunakan pedang pendeknya Siu-toanio mempergunakan tongkat hitamnya, sedangkan tongkat bermata Ngo-heng-giok cu sudah ia simpan lagi, diselipkan di ikat pinggangnya.
Pertempuran yang terjadi kini amat cepatnya dan amat indah dipandang di bawah sinar bulan yang sudah memancarkan cahaya sepenuhnya tanpa dihalangi mega. Langit bersih biru. sinar bulan bersih kuning keemasan.
Tongkat panjang nenek itu berubah menjadi segunduk sinar hitam yang mengerikan, yang bergerak ke sana ke mari menimbulkan angin bersiutan.
Pedang di tangan Cui Kim berubah menjadi segulung sinar putih. Bagi mata orang-orang di situ. yang terlihat hanyalah dua gulung sinar hitam dan putih ini, saling desak saling tindih dengan hebat. Akan tetapi bagi mata Wi Liong yang bersembunyi di atas pohon, ia dapat mengikuti jalannya pertandingan dengan pandang matanya. Diam-diam ia kaget juga melihat Ilmu Silat Ngo-heng-kun yang diperlihatkan nenek itu. Benar-benar amat ganas, curang, dan cepat kuat. Tubuh nenek yang lenggak-lenggok seperti ular dapat menggeliat-geliat itu menambah kelihaiannya karena ia dapat mengatur serangan penuh gerak tipu yang sukar diduga.
Akan tetapi Cui Kim mengagumkan sekali. Tidak saja ilmu silatnya memang lebih tinggi' tingkatnya biarpun kalah matang dan kalah taktik, juga ia memiliki tubuh yang lebih gesit dan ringan. Dengan ilmu silatnya Ngo-tok-kun yang merupakan perbaikan dan penyempurnaan Ngo-heng-kun yang dimainkan oleh Siu-toanio, gadis itu dapat mengimbangi malah mengatasi permainan lawan.
372
Tiba-tiba Siu-toanio mengeluarkan seruan keras dan topi kepalanya terlempar, rambutnya terurai dan sebagian putus terbabat pedang. Dengan amat marah nenek itu mengeluarkan dua buah benda dari dalam saku dan memasangkan dua benda itu di kedua ujung tongkat hitamnya. Wi Liong dari atas pohon dengan kaget dan ngeri melihat benda-benda itu bergerak-gerak dan ternyata itulah dua ekor ular kecil, yang seekor berwarna putih yang seekor lagi hitam, ular-ular beracun yang berbahaya tentunya!
Melihat dua ekor ular itu. Cui Kim yang tahu bahwa itu adalah dua ekor ular yang amat berbisa, menjadi kaget dan jerih. Permainan pedangnya menjadi kacau-balau dan sebentar saja ia sudah terdesak hebat. Mulailah nenek itu tertawa-tawa dan terus menggencet gadis itu tanpa mengenal ampun lagi. Jelas dari serangan-serangannya bahwa ia bermaksud membunuh Cui Kian.
"Semua ular takut kepada Ngo-heng-giok-cu!" tiba-tiba terdengar seruan Hak Lui pemuda muka hitam tadi. Dalam hal ilmu silat, kiranya pemuda ini tidak selihai Cui Kim, akan tetapi dia memiliki kecerdikan luar biasa. Inilah sebabnya Cui Kim suka bekerja sama dengan dia untuk membantunya memimpin Ngo-tok-kauw. Kalau tidak cerdik sekali pemuda ini, mana Cui Kim sudi bekerja sama dengan pemuda yang selain kepandaiannya tidak dapat melebihinya, juga mukanya amat buruk tidak menyenangkan hatinya itu?
Mendengar ucapan The Hak Lui tadi. Cui Kim tiba-tiba tersadar dan cepat ia merobah gerakan pedangnya, kini mati-matian melancarkan serangan maut bertubi-tubi dengan jurus-jurus yang paling berbahaya dari Ngo-tok-kun.
Siu-toanio kaget sekali sampai berseru keras dan terdesak mundur. Kesempatan fini dipergunakan oleh Cui Kim untuk menubruk maju, tangan kirinya menyambar dan di saat yang sama. ia berhasil merampas tongkat bermata Ngo-heng-giok-cu, akan tetapi pundak kanannya digigit oleh ular hitam!
Siu-toanio marah sekali akan tetapi juga girang bahwa ularnya dapat menggigit Cui Kim. Ia mengharapkan Cui Kim roboh tak bernapas lagi. Dapat dibayangkan betapa gemas dan kecewanya ketika melihat gadis itu sambil tertawa-tawa menggosok-gosokkan mata tongkat itu pada pundaknya dan semua racun dihisap oleh Ngo-heng-giok-cu!
Nenek itu menyerang lagi. akan tetapi Cui Kim mengangkat tongkat bermata Ngoheng-giok-cu dan dua ekor ular itu jatuh terlepas dari ujung tongkat, melingkar di tanah seperti tak bertenaga lagi, sama sekali tak berdaya oleh hawa yang keluar dari Ngo-heng-giok-cu yang benar-benar merupakan batu mustika yang jarang bandingannya!
Pedang Cui Kim menyambar lagi, terdengar jerit kesakitan dan tongkat hitam terlempar. Sebuah tendangan membuat nenek itu terpaksa jatuh berlutut karena tulang kaki kirinya patah! Cui Kim melompat maju pedangnya bergerak dan.........”tak!" lima jari tangan nenek itu yang sebelah kanan putus semua!
"Kau masih belum mengakui aku sebagal kauwcu setelah Ngo-heng-giok-cu berada di tanganku?" bentak Cui Kim.
373
Siu-toanio berlutut dan menganggukkan kepala. "Kauwcu........!" ia berkata tanpa mengeluh sakit biarpun tulang kakinya patah dan lima jari kanannya putus.
Lima orang kakek tadi juga berlutut dan menyebut "Kauwcu.........!"
Para anggauta bersorak, "Hidup kauwcu baru........!" Mereka rata-rata memang tidak suka kepada Siu-toanio yang amat ganas dan kejam, maka gembiralah mereka sekarang dapat mengangkat Cui Kim sebagai ketua perkumpulan mereka.
Hanya Hak Lui yang tersenyum-senyum saja dan tidak ikut berlutut memberi hormat kepada kauwcu baru itu. Cui Kim mengerutkan alis tanda tak senang, akan tetapi karena baru saja menjadi kauwcu dan ia membutuhkan bantuan Hak Lui. ia diam saja tidak menegur kakak misannya yang sebetulnya juga suhengnya itu karena Hak Lui ketika kecil belajar ilmu silat pada ayahnya.
Dengan bangga dan wajahnya yang cantik manis berseri-seri, matanya mengerling ke sana ke mari dengan tajam, sambil membawa tongkat bermata Ngo-heng-giok-cu. Cui Kim lalu duduk di atas permadani yang tadi menjadi tempat duduk Siu-toanio.
"Menurut peraturan yang berlaku kauwcu baru belum sah kedudukannya sebagai pemimpin kalau belum berkenalan dengan Ngo-tok-coa (Lima Ular Beracun)!" tiba -tiba Siu-toanio berkata, suaranya keras dan mengandung ejekan biarpun sikapnya menghormat sambil berlutut.
Cui Kim mengejek dalam senyum manisnya. "Kau kira aku tidak tahu akan peraturan ayah sendiri?" la menoleh kepada lima orang kakek tadi sambil memberi perintah "Hayo lakukan upacara itu!"
Wi Liong yang sejak tadi mengintai semua pertunjukkan itu, menjadi makin tertarik dan ingin sekali ia meliihat "upacara." itu. Dilihatnya bahwa sampai sebegitu jauh, keselamatan Eng Lan tidak terancam, maka ia hendak melihat gelagat sebelum secara sembrono turun tangan menolong Eng Lan dan mengganggu upacara perkumpulan agama yang aneh itu.
Sementara itu Theng Cui Kim yang sekarang sudah menjadi calon kauwcu baru itu. telah melepaskan topi kepala ularnya dan tampaklah rambutnya yang hitam halus dan panjang terurai di kedua pundak dan punggungnya. Wajahnya yang putih kelihatan pucat dikelilingi rambut hitam itu. kemudian gadis ini menggulung lengan bajunya sampai seatas siku sehingga kedua lengan tangan yang berkulit putih kekuningan itu nampak.
Adapun lima orang kakek pembantu tadi telah mengeluarkan tambur, gembreng. dan suling. Empat orang di antara mereka terus saja membunyikan alat tetabuhan ini dan terdengar musik yang aneh dan nyaring. Wi Liong sendiri sebagai seorang ahli suling dan suka akan musik, mendengar bunyi-bunyian ini merasa kagum karena ia dapat menangkap pengaruh yang gaib dan keramat dalam bunyi-bunyian itu.
Cui Kim memberi isyarat dan kakek ke lima yang berpakaian serba putih membuka tutup lima buah keranjang bambu tadi. Suara suling ditiup makin nyaring ketika sumbat kelima keranjang itu dibuka dan......... perlahan-lahan tampaklah kepala ular tersembul keluar dari keranjang-keranjang itu. Mula-mula kepala-kepala ular itu tersembul, memandang ke kanan kiri sambil menjulurkan lidah yang kecil
374
merah, kemudian seperti tertarik oleh suara musik terutama sulingnya, ular-ular itu merayap keluar dari keranjang masing-masing.
Wi Liong sudah banyak menjelajah tempat-tempat berbahaya, hutan-hutan besar dan gunung-gunung. Melihat ular-ular itu dengan terkejut ia mengenal ular- ular beracun yang paling hebat dan berbahaya. Hebatnya, ular-ular itu berlainan warnanya, tidak besar tapi cukup panjang dan kelihatan liar dan gesit sekali. Inilah lima ekor ular yang dulu menggigit ayah Cui Kim, pendiri Ngo-tok kauw. Ular- ular yang sudah tua sekali akan tetapi selalu berganti kulit, yang makin lama menjadi makin berbahaya racunnya.
Para penabuh musik makin kencang menabuh alat masing-masing, keadaan menjadi makin serem dan......... Cui Kim mulai menari-nari dan mulailah para anak buah Ngo-tok-kauw bertepuk-tepuk tangan menguatkan irama musik. Tarian Cui Kim aneh dan indah, juga menyeramkan hati Wi Liong. Gadis yang rambutnya terurai ini mulai menari mengelilingi lima ekor ular itu, tubuhnya yang langsing berlenggak-lenggok, lemas sekali seakan akan ia tak bertulang. Pinggangnya menggeliat -geliat, kedua lengan yang berkulit putih bersih dan nampak merah kekuningan tertimpa cahaya bulan itu, bergerak-gerak dan lemas seperti dua ekor ular, matanya bersinar-sinar bibirnya setengah terbuka, penuh nafsu yang amat aneh.
Wi Liong bergidik, juga Eng Lan yang menonton pertunjukan ini. Benar- benar upacara yang aneh dari Agama Lima Racun ini. Hebatnya lima ekor ular itu seakan-akan sudah biasa bergembira seperti ini, buktinya mereka itupun menggeliat dan seperti menari-nari ke sana ke mari. Betapapun juga menghadapi gadis yang menari aneh mengelilingi mereka itu lima ekor binatang liar itu amat menaruh perhatian dan selalu curiga. Ke manapun juga Cui Kim memutar, lima ekor ular itu selalu mengikuti dengan mata, kepala mereka bergerak-gerak dan leher diangkat ke atas.
Cui Kim yang seperti telah kemasukan pengaruh ajaib, tiba-tiba melakukan tarian rendah, tubuhnya merendah menggeliat-geliat seperti seekor ular, kadang- kadang mukanya yang cantik itu hampir menyentuh tanah. Ia makin mendekati ular yang berkulit keputih-putihan, mendekat sambil tersenyum-senyum dan mengeluarkan bunyi mendesis perlahan. Ular putih itu nampak marah juga mendekat dan muka binatang itu sudah dekat berhadapan dengan muka Cui Kim yang sama sekali tidak takut atau jijik, malah matanya mengerling dan bibirnya tersenyum seperti laku seorang wanita menggoda pria. Tiba-tiba ular itu mendesis dan cepat sekali kepalanya bergerak maju, menyerang dan menggigit! Hampir saja Wi Liong menggerakkan tangan menyambit ular itu kalau ia tidak ingat bahwa nona yang menari dengan ular itu adalah kauwcu perkumpulan Ngo-tok-kauw yang tentu saja seorang ahli dalam hal racun dan sebagainya!
Memang Cui Kim sama sekali tidak mengelak, malah menerima serangan ular itu dengan mulutnya yang kecil, membiarkan bibirnya yang bawah tergigit! Ketika ular itu melepaskan gigitannya dan mundur, nampak darah memerahi bibir gadis itu! Akan tetapi Cui Kim kelihatan tersenyum saja, biarpun dari pandang matanya dan menggembungnya urat-urat lehernya Wi Liong dapat mengerti bahwa gadis itu menahan kesakitan hebat.
Dengan gerakan-gerakan seperti tadi Cui Kim menari-nari mendekati ular-ular lain sehingga lima kali ia menerima ciuman pada bibirnya oleh lima ekor ular berbisa itu! Hebat sekati! Ciuman ini bukan sembarang ciuman, melainkan ciuman maut yang akan mencabut nyawa setiap orang gagah sekalipun. Bibir Cui Kim sudah merah sekali dan benar-benar kelihatan menyeramkan, seakan-akan
375
gadis itu yang tadi menggigiti ular dan darah ular membasahi mulutnya. Semua anggauta Ngo-tok-kauw kini tidak ada yang bergerak, memandang dengan penuh perhatian dan gelisah.
Cui Kim dengan tubuh menggigil dan muka mulai membiru, cepat mengeluarkan tongkat bermata Ngo-heng-giok-cu dari pinggangnya dan menyapu- nyapukan batu kemala itu pada bibirnya beberapa kali. Semua ini ia lakukan sambil menari – nari, biarpun tariannya sudah lemah dan tubuhnya gemetar semua akibat mengamuknya racun lima ekor ular tadi.
Kalau racun-racun ular itu hebat Ngo-heng-giok-cu lebih hebat lagi. Makin diusap ke mulut, makin bercahaya sinar yang terpancar keluar dari batu kemala itu dan makin lincah gerakan Cui Kim tanda bahwa gadis ini sudah sembuh kembali, tertolong oleh Ngo-heng-giok-cu, seperti ayahnya dulu.
Wi Liong kagum bukan main. Gadis itu benar-benar memiliki ketabahan luar biasa, berani bermain-main dengan maut. Ia dapat menduga bahwa karena ular-ular itu menggigit secara bergantian, maka racun-racun yang lima macam itu bertemu di dalam tubuh Cun Kim dan karenanya malah memperlambat pengaruh kejahatan racun itu. Kalau hanya seekor ular yang menggigit, kiranya Cui Kim takkan bertahan sampai begitu lama sebelum terobat oleh batu kemala itu. Pertemuan lima macam racun di tubuhnya malah mengurangi kekerasan racun- racun itu sendiri. Betapapun juga, batu kemala itu benar luar biasa sekali dan merupakan sebuah jimat yang jarang terdapat di dunia ini.
"Tua bangka sudah puaskah kau?" Cui Kim menghentikan tariannya dan mengejek Siu-toanio. Nenek itu berlutut dan mengangguk-angguk, tanpa berani mengeluarkan kata-kata lagi.
Sementara itu, lima orang kakek pembantu sudah berhenti menabuh musik dan mereka hendak menggiring ular-ular itu kembali ke keranjang, akan tetapi Cui Kim memberi isyarat mencegah dengan tangannya. Lima orang kakek itu mundur kembali, mengeluarkan sebuah pengebut atau pecut rambut yang warnanya sama dengan pakaian mereka. Lucunya, sekarang setiap orang kakek itu mengurung ular-ular itu di tengah-tengah dengan menggunakan pecut itu kakek baju putih "menggembala" ular putih kakek baju merah menjaga ular merah dan seterusnya. Ular-ular itu agaknya takut kepada cambuk atau pengebut, buktinya mereka menjadi jinak dan tidak berani bergerak lagi.
”Siapa sekarang berani menyangkal bahwa aku adalah Ngo-tok-kauwcu (Ketua Perkumpulan Agama Lima Racun) yang baru?" Cui Kim berdiri tegak membusungkan dada dan memandang ke sekeliling.
Semua orang, kecuali Hak Lui. berlutut dan menyebut. "Kauwcu........ Ngo-tok-kauwcu banswe (panjang usia ketua)!!"
Cui Kim tertawa puas, giginya yang berderet putih mengkilap tertimpa sinar bulan. Kemudian ia duduk di atas permadani itu dan matanya memandang ke sana ke mari seperti ular mencari mangsa. Tiba-tiba ia menghentikan pandangnya kepada Eng Lan, dan keningnya mengeriput. Di bawah sinar bulan purnama, Eng Lan nampak cantik manis sekali, kulitnya yang agak hitam itu seperti tembaga digosok, wajahnya manis bukan main, dengan sepasang mata seperti bintang gadis tawanan itu kelihatan gagah menarik.
"Seret dia ke sini!" bentaknya dan perintah ini ia tujukan kepada Hak Lui.
376
Pemuda muka hitam itu yang duduk di sebelah Eng Lan lalu berdiri dan dengan halus ia menarik lengan Eng Lan mengangkatnya dan meletakkan gadis yang tak dapat berjalan karena kedua kakinya terikat itu di depan Cui Kim.
"Bocah lancang, kau dan gurumu kakek gila itu telah berani main gila. melanggar wilayah kami malah berani mencari batu di Sungai Kemala. Kau yang tidak mundur mengorbankan nyawa untuk mencari batu. sebetulnya apakah kehendakmu? Batu apa yang kalian cari mati-matian itu?"
"Aku dan suhu mencari batu Im-yang-giok-cu untuk mengobati kawan yang terluka." jawab Eng Lan terus terang. "Sungai adalah buatan alam, bagaimana manusia berani mengakui sebagai hak miliknya?"
Cui Kim dan semua anggauta Ngo-tok-kauw nampak tercengang mendengar disebutnya Im-yang-giok-cu sehingga kalimat terakhir yang diucapkan Eng Lan tak mereka perdulikan.
"Im-yang-giok-cu?" kata Cui Kim dengan wajah berubah. "Di dunia ini mana ada dua Im-yang-giok-cu? Satu-satunya yang adapun hanya terdapat di Sungai Kemala. Aah, Im-yang-giok-cu......... ayah dan ibu terpaksa harus mengorbankan nyawa untuk itu.........." Dan tiba-tiba saja Cui Kim menangis tersedu-sedu!
Semua anggauta Ngo-tok-kauw menundukkan kepala, nampak berduka dan sebagian besar anggauta-anggauta wanitanya ikut-ikut menangis. Malah Siu-toanlio, nenek buruk mengerikan itupun menangis terisak-isak. Eng Lan memandang ke kanan ke kiri dengan bingung karena tidak mengerti mengapa mereka itu tiba-tiba menangis dan mengapa pula ayah bunda kauwcu ini mati karena Im-yang-giok-cu.
Akan tetapi Wi Liong yang berotak terang, dalam tempat persembunyiannya sudah dapat menduga apa yang dahulu telah terjadi.
Tiba-tiba Cui Kim marah-marah. Ia melompat berdiri dan menudingkan telunjuknya kepada Eng Lan sambil memerintah lima orang kakek pembantunya yang biasanya terkenal dengan sebutan Ngo-heng-tin (Barisan Lima Elemen). "Berikan dia kepada Ngo-tok-coa!"
Lima orang kakek itu lalu menghampiri Eng Lan. Gadis ini maklum bahwa nyawanya terancam maut, ia tidak takut malah marah dan penasaran.
"Siluman betina! Aku tidak takut mati, akan tetapi ingin aku tahu apa sebabnya kau hendak membunuh aku?" teriaknya.
Cui Kim tersenyum dingin. "Siapa tahu kau bukan mata-mata dari Ban-mo-to? Kalau Kui-bo Thai-houw menyukai Im-yang-giok-cu, tentu saja ia lebih-lebih menyukai Ngo-heng-giok-cu. Hayo lempar dia ke sana!" Ia menuding ke arah lima ekor ular yang masih menggeliat-geliat di tengah lingkaran.
"Tahan dulu”. Tiba-tiba Hak Lui melompat ke dekat Eng Lan dan memberi isyarat dengan tangannya mencegah lima orang kakek Ngo-heng-tin itu menyeret Eng Lan. "Kim-moi (adik Kim)......”
"Kau tidak bisa menyebut kauwcu?" bentak Cui Kim.
377
Pemuda muka hitam itu tersenyum. "Tidak, janggal bagiku. Kau tetap adik piauwku Cui Kim bagiku. Adik Kim. apa kau sudah lupa akan niat kita semula? Kita ingin menumbangkan kekuasaan Siu-toanio karena tidak suka kalau perkumpulan kita diselewengkan dan banyak terjadi hal-hal kejam. Mengapa kau sekarang hendak mengulangi semua kekejaman itu? Mengapa kau hendak memulai kedudukanmu sebagai kauwcu baru dengan perbuatan keji? Tidak semestinya kalau nona ini dihukum mati secara kejam!"
"Ha-ha-ha. Lui-ko. Kau kira aku tidak dapat menjenguk hatimu melalui mukamu yang hitam buruk itu? Kau sudah jatuh hati kepada gadis ini, bukan? Hi-hi, lucu sekali. Betapapun juga. dia ini harus mampus! Aku tidak melakukan kekejaman, melainkan menjalankan peraturan yang harus dilaksanakan. Dia mata-mata Ban-mo-to. harus dibunuh!"
Wajah hitam pemuda itu menjadi makin hitam ketika ia mendengar kata-kata yang amat menghinanya akan tetapi yang juga tepat ini. Ia lalu berkata keras.
"Kim-moi, kau mengetahui isi hatiku apa kau kira akupun tidak dapat melihat isi hatimu? Bukan karena menuduh nona ini mata-mata Ban-mo-to kau hendak membunuhnya. melainkan karena kau iri hati kepadanya! Kau merasa kalah cantik, kalah gagah, maka kau menjadi benci padanya."
Memang ucapan ini tepat sekali. Cui Kim tidak sekejam Siu-toanio. akan tetapi kalau gadis ini sudah membenci orang, dia bisa kejam sekali. Dan alasannya satu-satunya untuk membenci Eng Lan hanya karena cantik manisnya gadis tawanan ini. Hak Lui sudah mengenal watak Cui Kim, tidak mau kalah oleh gadis lain!
Mendengar ucapan ini. merah wajah Cui Kim. "Kalau begitu, biar dia mampus sekarang juga!" Pedangnya bergerak cepat menusuk dada Eng Lan.
"Traangg............!" pedang itu ditangkis oleh Hak Lui dengan pedangnya. Memang pemuda muka hitam ini sudah siap sedia dan maklum akan perangai piauw moinya yang keras.
"Kau berani melawan aku? Baik tidak mendapat bantuanmu juga tidak apa!" Dan gadis itu menyerang hebat.
Hak Lui terpaksa melawan sedapatnya. Akan tetapi mudah dilihat bahwa sebentar saja pemuda itu sudah terdesak hebat dan takkan lama tentu ia roboh oleh pedang Cui Kim yang lihai itu. Betul saja. baru tigapuluh jurus lewat, pedang di tangan Hak Lui sudah terlempar dan secepat kilat pedang pendek di tangan Cui Kim meluncur ke arah dada Hak Lui tanpa pemuda itu dapat mengelak atau menangkis lagi.
"Takk......! Ayaaaa....!" Jeritan itu keluar dari mulut Cui Kim ketika secara tiba-tiba pedangnya membentur sebuah suling dan membuat tangannya tergetar dan tubuhnya limbung ke belakang. Ketika ia melompat dan memandang, ternyata yang menolong Hak Lui tadi adalah seorang pemuda tampan ganteng yang memegang sebatang suling dan yang entah dari mana datangnya tahu-tahu sudah berdiri di depannya sambil tersenyum-senyum.
378
Cui Kim hampir tidak mempercayai pandang matanya sendiri. Ia membuka lebar-lebar matanya yang genit dan indah bentuknya itu untuk memandang lebih teliti. Memang benar, seorang pemuda bergaya lemah lembut seperti seorang pelajar berwajah tampan sekali, berdiri di situ dan tadi telah menangkis sambaran pedangnya menolong nyawa Hak Lui yang sekarang sudah berdiri di pinggiran. Akan tetapi ia masih ragu-ragu.
"Kaukah yang menangkis pedangku tadi?" Cui Kim masih bertanya sangsi.
Wi Liong pemuda itu. mengangguk. "Tidak perlu ada pembunuhan." katanya halus.
Tiba-tiba Cui Kim menggerakkan pedangnya dan menyerang lagi ke arah leher Wi Liong. Pedangnya berkelebat cepat dan kuat. Wi Liong dengan perlahan mengangkat sulingnya menangkis. Lagi-lagi pedang itu terpental dan tangan Cui Kim gemetar, tubuhnya terhuyung. Ia masih penasaran menyerang lagi menusuk ke arah perut.
"Traanggg.........!" Kini Wi Liong memperbesar tenaganya dan pedang itu terlepas dari pegangan, menancap ke atas tanah karena dipukul suling dari atas.
Wajah Cui Kim berseri, matanya bersinar-sinar. Baru kali ini selama hidupnya ia bertemu dengan pemuda sehebat ini. Pandang matanya bertemu dengan pandang mata Hak Lui. Dalam sedetik ini, dua orang muda ini sudah dapat menyelami pikiran masing-masing. Cui Kim lalu maju menjura kepada Wi Liong dan berkata, suaranya halus sikapnya hormat sekali.
"Taihiap ini siapakah? Kehormatan apa yang akan diberikan kepada Ngo-tok-kauw dengan kunjungan taihiap yang gagah perkasa ini?"
Wi Liong tertegun. Tak disangkanya ketua baru Ngo-tok-kauw ini akan merobah sikap, begini sopan. Iapun menjura sebagai pembalasan hormat dan berkata.
"Aku she Thio bernama Wi Liong kedatanganku hendak minta kebaikan hati Ngo-tok-kauw untuk membebaskan nona Pui Eng Lan itu." Ia menoleh ke arah Eng Lan, lalu tanpa menanti jawaban ia menghampiri nona ini. Sekali tangannya meraba ke arah kaki dan tangan Eng Lan, semua ikatan putus dan dara ini sudah bebas. Eng Lan cepat berdiri, mukanya merah dan untuk menghilangkan jengah dan maJunya, ia menggosok-gosok pergelangan kedua tangannya yang masih terasa kaku dan sakit-sakit bekas belenggu tadi.
''Dia itu......... apamukah?" tanya Cui Kim kepada Wi Liong.
"Dia sahabat baikku, dia dan gurunya adalah sahabat-sahabatku," jawab Wi Liong sejujurnya.
"Kau lihai sekali, boleh aku mengetahui siapa suhumu?”
Karena maklum akan bahayanya bermusuhan dengan Ngo-tok-kauw. Wi Liong berterus terang untuk membikin mereka jerih, menyebut nama suhunya.
"Suhu adalah Thian Te Cu........."
379
Tiba-tiba Cui Kim menjura dalam sekali, malah Hak Lui juga datang memberi hormat, dan semua anggauta Ngo-tok-kauw juga berlutut memberi hormat kepada Wi Liong.
"Eh eh, apa-apaan ini.........?" tanya pemuda itu.
"Kiranya taihiap adalah murid dari locianpwe Thian Te Cu yang menjadi in-kong (tuan penolong) kami. Kalau dahulu tidak ada suhumu yang mulia, kiranya sekarang ini sudah tidak ada Ngo-tok-kauw lagi." kata Cui Kim.
"Memang, locianpwe Thian Te Cu yang menolong Ngo-tok-kauw dari pada kehancurannya. Sekarang Thio-taihiap yang menjadi muridnya telah datang, inilah kesempatan kami untuk membalas budi, menyambutnya sebagai seorang tamu agung dan seorang penolong. Sekalian untuk mohon maaf atas kesalah-fahaman dengan nona Pui Eng Lan........" kata The Hak Lui.
"Betul sekali, harap Thio-taihiap tidak menampik penghormatan kami dan Pui-siocia, harap kau sudi maafkan kami yang tadinya tidak mengenalmu sebagai sahabat baik Thio-taihiap........"
Cui Kim menjura kepada Eng Lan, terpaksa gadis ini membalas penghormatannya.
Wi Liong ragu-ragu. Baru sekarang ia tahu bahwa mereka ini amat menghormat gurunya, maka berlaku begitu hormat kepadanya. Akan tetapi ia berlaku hati-hati. karena ia tak pernah mendengar bagaimana suhunya sampai ada hubungan dengan perkumpulan semacam ini.
"Tak usah repot-repot.......... kedatangan siauwte ini hanya untuk mengajak pergi nona Pui ini dari sini........." katanya sambil mengangkat tangan kiri menolak.
"Aah, jadi taihiap mendendam kepada kami karena perlakuan kami yang buruk terhadap nona Pui tadi? Kalau begitu biarlah kami mohon ampun kepada taihiap.........!" Setelah berkata demikian, Cui Kim memberi komando dan ia bersama semua anak buahnya menjatuhkan diri berlutut di depan Wi Liong. Malah Hak Lui setelah bertemu pandang dengan Eng Lan, juga ikut pula menjatuhkan diri berlutut!
Bukan main kaget dan sibuknya Wi Liong menerima penghormatan ini. “Nona Pui, kau bangunkan dia!" katanya kepada Eng Lan sambil menunjuk ke arah Cui Kim, sedangkan ia sendiripun membangunkan Hak Lui. Eng Lan juga tidak enak melihat semua orang begitu menghormat, iapun memegang pundak Cui Kim dan dibangunkannya ketua Ngo-tok-kauw itu.
"Kalau kalian bermaksud baik dan selanjutnya akan dapat memimpin perkumpulan ini ke arah kebaikan dan tidak bertindak sewenang-wenang, biarlah aku dan nona Pui menerima undangan kalian, sekedar memperdalam perkenalan. Akan tetapi jangan begitu merendahkan diri dan menghormat, akupun bukan apa-apa, seorang pelancong biasa saja," kata Wi Liong, tidak berdaya lagi menolak karena mereka bersikap seperti itu.
Cui Kim dan Hak Lui nampak gembira sekali. Lebih-lebih Cui Kim. Cepat ia menyuruh anak buahnya mengadakan persiapan dan pada malam hari itu juqa sebuah pesta meriah diadakan untuk penghormatan Eng Lan dan Wi Liong. Sambil makan minum, Wi Liong dan Eng Lan mendengarkan penuturan Cui Kim tentang pertolongan Thian Te Cu kepada Ngo-tok-kauw.
380
Seperti telah dituturkan Ngo-tok-kauw didirikan oleh Theng Gak, ayah Cui Kim. Theng Gak adalah seorang ahli silat selatan yang pandai. Karena kehidupan yang sukar, Theng Gak dan isterinya memimpin orang-orang selatan untuk mencari untung dengan jalan mencari batu-batu berharga di Sungai Kemala. Karena Theng Gak orangnya gagah dan jujur serta adil dalam memimpin, maka makin lama makin banyaklah anggauta pencari batu kemala itu dan dia diangkat menjadi kepala. Tahu bahwa kini anggauta-anggautanya merupakan sekumpulan orang-orang berkeluarga dan untuk menjamin kehidupan mereka ini tidaklah ringan. Theng Gak lalu memperkuat perkumpulan itu dan menamakannya perkumpulan Ngo-heng-pang karena dia adalah seorang ahli silat Ngo-heng-kun. Ia melatih semua anggautanya dengan Ilmu Silat Ngo-heng-kun untuk memperkuat diri.
Pada masa itu banyak terdapat perampok-perampok dan bajak-bajak sungai yang sering kali hendak mengganggu mereka dan merampas batu-batu kemala mereka yang berharga. Semua penjahat itu dapat mereka hancurkan sehingga nama perkumpulan Ngo-heng-pang menjadi makin terkenal.
Sungai Kemala benar-benar cocok dengan namanya. Sungai itu mengandung banyak batu kemala dan berkat kerajinan mereka, akhirnya perkumpulan itu menjadi makmur dan para anggautanya tidak kekurangan lagi. Apa lagi setelah ditemukan batu-batu kemala yang amat indah dan berharga tinggi, perkumpulan itu menjadi kaya raya. Di antara batu-batu kemala yang indah itu, terdapat Im-yang-giok-cu, batu kemala yang sukar dicari keduanya di dunia ini, dan batu kemala Ngo-heng-giok-cu, juga sebuah batu ajaib yang luar biasa sekali. Theng Gak dan isterinya menyimpan batu-batu kemala ini dengan hati-hati dan tidak pernah mempunyai ingatan untuk menjualnya karena mereka sekarang sudah kaya raya.
Para ahli menyatakan bahwa Ngo-heng-giok-cu dapat menyembuhkan segala macam keracunan sedangkan Im-yang-giok-cu dapat menyembuhkan segala macam luka pukulan atau luka-luka sebelah dalam yang bagaimana beratpun. Tentu saja sebagai seorang ahli silat, Theng Gak amat menyayang dua buah batu itu dan lebih hati-hati lagi menjaga jangan sampai hilang.
Pada suatu hari, ketika ia sedang memimpin orang-orangnya mencari batu kemala di sebuah kedung sungai itu yang belum pernah dijelajahnya karena tempat itu berbahaya dan sukar, Theng Gak yang merogoh sebuah lubang telah digigit lima macam ular berbisa, yaitu Ngo-tok-coa yang sampai sekarang masih dipelihara oleh puterinya. Ia roboh dengan tubuh hangus dan tentu ia akan binasa kalau saja isterinya tidak cepat-cepat mempergunakan Ngo-heng-giok-cu untuk menyembuhkannya.
Semenjak itu, watak Theng Gak menjadi aneh, entah karena gigitan ular-ular entah bagaimana. Ia menyuruh tangkap ular itu dan selanjutnya ia merobah Ngoheng-pang menjadi Ngo-tok-kauw {Perkumpulan Agama Lima Racun), menyembah lima ekor ular berbisa itu dan mempergunakan Ngo-heng-giok-cu sebagai mata tongkat kebesarannya! Adapun pembantu-pembantunya adalah lima orang kakek yang terkenal menjadi Ngo-heng-tin, isterinya sendiri dan kakak perempuan isterinya yaitu Siu-toanio yang sejak muda amat genit dan cabul.
Pada suatu hari. ketika itu Cui Kim masih kecil dan juga Hak Lui yang menjadi murid ayahnya masih kecil, datanglah malapetaka hebat di Ngotok-kauw. Berita tentang Im-yang-giok-cu yang sebagai batu kemala obat segala macam luka pukulan amat dirindukan oleh semua ahli silat, telah tersebar luas sekali dan menarik perhatian banyak tokoh besar.
381
Sudah beberapa kali ahli silat pelbagai cabang datang untuk minta lihat, beli bahkan hendak merampas Im yang-giok-cu, namun mereka ini seorang demi seorang dikalahkan oleh Ngo-tok-kauw yang sementara itu telah menjadi sebuah perkumpulan besar yang memiliki orang-orang pandai.
Malapetaka itu datang dalam bentuk diri Kui-bo Thai-houw dari Ban mo-to! Tokoh besar ini mendengar pula tentang Im-yang-giok-cu dan pada suatu malam ia datang mengunjungi Ngo-tok-kauw. Dengan sikapnya yang tinggi dan angkuh sebagai seorang ratu, Kui-bo Thai-houw tadinya menawarkan sejumlah emas untuk membeli batu kemala itu. Namun Theng Gak yang belum mengenal kelihaian Kui bo Thai-houw. memandang rendah dan menolak.
Marahlah Biang Iblis ini dan ia menurunkan tangannya yang keji. Theng Gak dan isterinya tewas dan kiranya semua anak buah Ngo-tok-kauw akan terbasmi habis oleh Kui-bo Thai-houw kalau saja pada saat itu tidak muncul Thian Te Cu yang mencegah wanita kejam itu membunuh lebih banyak orang lagi. Melihat kedatangan Thian Te Cu yang ia ketahui amat sakti, Kui-bo Thai-houw melarikan diri membawa Im-yang-giok-cu.
"Demikianlah, Thio-taihiap, maka sampai sekarang kami orang-orang Ngo-tok-kauw selalu menganggap locianpwe Thian Te Cu sebagal bintang penolong kami. Oleh karena secara tidak terduga-duga taihiap sudi mengunjungi kami, maka sekarang siauw-moi yang bodoh hendak menghaturkan benda ini untuk diberikan kepadamu sebagai tanda penghargaan," Cui Kim mengeluarkan tongkat pendek bermata Ngo-heng-giok-cu dan diberikan kepada Wi Liong.
Pemuda ini tercengang sekali. Apa lagi ketika ia mendengar seruan-seruan tertahan dari para anggauta Ngo-tok-kauw. Ia maklum bahwa benda ini merupakan lambang kejayaan Ngo-tok-kauw, bagaimana bisa diberikan begitu saja kepadanya?
Tentu saja ia amat mengagumi batu kemala anti segala macam racun itu, akan tetapi tidak enaklah kalau menerima benda yang dianggap suci oleh semua orang Ngo-tok-kauw. Juga hatinya tidak enak ketika tadi mendengar ketua perkumpulan ini menyebut diri sendiri "siauw-moi". Gerak-gerik, pandang mata senyum dan gerak bibir ketika berkata-kata kepadanya, semua membayangkan sifat cabul dan genit wanita ini yang seakan-akan berusaha sekuatnya untuk menarik hatinya.
"Mana bisa aku menerima lambang Ngo-tok-kauw?" katanya merendah dan tidak mau menerima tongkat pendek yang disodorkan kepadanya.
Tiba-tiba Cui Kim menjatuhkan diri berlutut lagi di depannya, dan berbareng Hak Lui juga menjatuhkan diri berlutut. Cui Kim malah mulai menangis dengan penuh nafsu!
"Dahulu,", katanya terengah-engah di antara isaknya, "mengandalkan kebaikan budi locianpwe Thian Te Cu kami terhindar dari bahaya di musnahkan oleh iblis betina Ban-mo-to. Sekarang kalau tidak mengandalkan bantuan taihiap sebagai murid locianpwe Thian Te Cu, kapan sakit hati terhadap Ban-mo-to dapat terbalas? Apakah taihiap tidak menaruh kasihan kepada kami?"
"Mohon Thio-taihiap sudi menaruh kasihan" Hak Lui juga ikut membujuk, "hanya kalau taihiap sudi menerima tongkat pimpinan Ngo-heng-giok-cu dan menjadi pembimbing kami, kiranya Ngo-tok-kauw akan dapat membalas dendam terhadap iblis betina dari Ban-mo-to."
382
Mendengar ucapan dua orang itu, makin terkejut hati Wi Liong. Kiranya mereka ini hendak membujuknya menjadi ketua Ngo-tok-kauw untuk memimpin mereka membalas dendam terhadap Kui-bo Thai-houw di Ban-mo-to!
"Jadi maksud semua upacara ini hanya untuk mengajakku melakukan pembalasan dendam terhadap Ban-mo-to? Kalau begitu, mari kita bicara baik- baik. Kalau hendak menjadikan aku sebagai ketua kalian, biar bagaimanapun juga aku tidak berani terima. Harap kalian maafkan. Bangunlah, kauwcu," katanya sambil membungkuk untuk membangunkan Cui Kim yang berlutut di depannya.
"Thio-taihiap....... awas........!" Eng Lan menjerit namun terlambat sudah. Dengan kecepatan seperti kilat, Cui Kim sudah mengebutkan sehelai saputangan yang tadi ia pakai menyusuti air matanya dan kebutan ini tepat mengenai muka.Wi Liong yang sama sekali tidak menyangka karena tadi berniat membangunkan ketua Ngo-tok-kauw itu. Ia hanya melihat berkelebatnya saputangan kuning, mencium bau harum sekali dan mendengar suara ketawa menyeramkan dari Siu-toanio tercampur pekik Eng Lan yang memperingatkannya. Tangannya bergerak ke depan dan tubuh Cui Kim terlempar sampai empat meter lebih. Masih baik bagi ketua Ngo-itok-kauw itu bahwa dalam keadaan terkejut itu Wi Liong masih belum kehilangan ingatannya dan tidak melancarkan pukulan maut sehingga gadis ini tidak menderita apa-apa melainkan kaget.
Wi Liong mencoba untuk mengendalikan diri, namun sia-sia. Bau harum itu memabokkannya, membuat kepalanya serasa terputar-putar, pandang matanya kabur dan ia roboh lemas, setengah pingsan.
Eng Lan melompat marah, menerjang Cui Kim. Akan tetapi ia disambut Hak Lui. Segera dua orang ini bertempur seru. Cui Kim datang membantu Hak Lui dan terlampau beratlah dua orang lawan ini bagi Eng Lan. Tak lama kemudian Eng Lan roboh tertotok jalan darahnya oleh Hak Lui. Baik Wi Liong maupun Eng Lan tak berdaya lagi, tertawan para pemimpin Ngo-tok-kauw yang lihai.
Cui Kim dan Hak Lui tertawa gembira. Kedua orang muda ini lalu menuang arak ke dalam cawan dan minum arak itu, saling menberi selamat!
"Dengan seorang seperti dia menjadi suamimu, kita tak usah takut lagi kepada Ban-mo-to!" kata Hak Lui tersenyum girang dan mainkan matanya kepada Cui Kim.
Wajah Cui Kim memerah, akan tetapi bibirnya tersenyum dan matanya bersinar-sinar. "Dan Pui Eng Lan itupun merupakan sisihan yang amat baik bagimu."
Dua kalimat yang mereka ucapkan ini sudah cukup bagi mereka bahwa masing masing telah tahu akan rahasia hati yang terpendam dan dengan kata-kata itu pula mereka sudah mengikat perdamaian, saling bantu demi kesenangan hati masing-masing.
Memang, semenjak ia melihat Wi Liong, apa lagi setelah mendapat kenyataan bahwa kepandaian pemuda ini jauh lebih tinggi dari padanya, hati Cui Kim sudah jatuh dan ia mau menggunakan akal apa saja, baik maupun busuk, untuk memiliki pemuda ini dan menjadikannya sebagai suaminya. Dan karena Wi Liong memperlihatkan sikap yang sukar untuk dibujuk, terpaksa ia mempergunakan racun dan dalam urusan seperti ini sebagai ketua Ngo-tok kau w tentu saja Cui Kim adalah seorang ahli. Sementara itu, Hak Lui juga gembira sekali karena memang ia tergila-gila melihat Eng Lan dan
383
sekarang Cui Kim tidak hanya membatalkan niatnya membunuh Eng Lan, malah rela melihat gadis tawanan ini menjadi isteri Hak Lui.
Fajar telah menyingsing. Pak-thian Koai-jin yang menanti-nanti kembalinya Wi Liong, menjadi tak sabar lagi. Tadinya kakek ini tidur bersandarkan pohon dan menanti sabar. Akan tetapi setelah fajar menyingsing belum juga pemuda yang berjanji hendak menolong muridnya itu muncul, ia menjadi gelisah dan setelah mencuci muka di sebuah anak sungai yang jernih, kakek ini lalu berlari-lari menuju ke perkampungan Ngo-tok-kauw.
Dapat dibayangkan betapa kagetnya ketika ia mengintai dari atas pohon, ia melihat Wi Liong menggeletak pingsan dan Eng Lan juga rebah tak bergerak, sedangkan Cui Kim dan Hak Lui minum arak, dilihat oleh Siu-toanio dan lima orang kakek pembantu sambil tertawa-tawa! Pak thian Koai-jin maklum bahwa ia memasuki sarang naga yang amat berbahaya, namun melihat Wi Liong dan Eng Lan menggeletak, mana dia bisa mendiamkannya saja?
"Siluman-siluman jahat, tunggu kakekmu membasmi kalian semua!" bentaknya sambil melompat turun.
Semua orang terkejut. Beberapa orang anggauta Ngo-tok-kauw yang ingin berjasa segera maju menyerbu, namun mereka itu bergulingan roboh terkena sabetan tongkat butut di tangan kakek itu. Yang hebat adalah mangkok bobroknya. Mangkok ini ia sambitkan, "menari – nari” di atas tiga buah kepala orang yang segera roboh lalu terbang kembali kepada tuannya! Dalam segebrakan saja kakek sakti yang sedang marah itu telah merobohkan delapan orang anggauta Ngo-tok-kauw!
Akan tetapi, setelah lima orang kakek pembantu yang merupakan Ngo-heng-tin itu maju mengepungnya, Pak-thian Koaji-jin segera terdesak mundur. Memang hebat sekali Ngo-heng-tin ini, sukar ditawan dan lima orang yang berpakaian lima macam warna itu bergerak otomatis seperti seorang dengan lima kepala dan sepuluh tangan saja. Repotlah kakek dari utara itu menghadapi lima orang lawan ini dan ia bermain mundur terus tanpa dapat membalas serangan-serangan lawan. Akan tetapi, mengalahkan Pak-thian Koai-jin memang bukan tak mungkin, biarpun demikian, tidak mudah menangkap kakek nakal ini yang licin bagai belut dan sudah banyak makan asam garam pertempuran. Biarpun Cui Kim dan Haik- Lui berteriak.
"Tangkap tua bangka itu!" Namun dengan lincahnya sambil memaki-maki Pak-thian Koai-jin dapat meloloskan diri ke sana ke mari dan akhirnya ia tidak kuat melawan lebih lama lagi, melompat ke dalam semak-semak dan menghilang sambil meninggalkan ancaman "Kalau kalian berani mencelakai mereka berdua, aku takkan berhenti berusaha sebelum dapat membasmi kalian!"
Hak Lui tertawa bergelak dan berteriak ke arah menghilangnya kakek itu. "Ha-ha-ha. Pak-thian Koai-jin, jangan khawatir. Kami malah hendak mengawini mereka!”
Tentu saja Pak-thian Koai-jin terkejut mendengar ini. Celaka, pikirnya, kalau Wi Liong dan Eng Lan dikawin oleh kepala-kepala siluman Ngo-tok-kauw, celakalah......... aku harus menghalangi hal itu terjadi! Maka iapun tidak mau meninggalkan hutan itu dan mengamat-amati dari jauh sambil mencari akal bagaimana bisa menolong muridnya dan Wi Liong. Ia harus bertindak hati-hati sekali. Orang seperti Wi Liong sampai bisa tertawan, ini menunjukkan betapa lihainya perkumpulan siluman ular itu.
384
Sementara itu, selagi Cui Kim dan Hak Lui bergembira dan hendak mengangkat tubuh Wi Liong dan Eng Lan ke dalam kamar masing-masing tiba-tiba terdengar pekik mengerikan. Seketika itu pucatlah wajah Cui Kim dan yang lain-lain. Bagaikan mendapat komando, semua orang mencabut senjata masing- masing dan celingukan memandang ke sana ke mari.
Tiba-tiba terdengar suara cekikikan, suara wanita-wanita tertawa. Anehnya, suara ketawa ini datangnya dari semua penjuru seakan-akan mereka semua telah terkepung oleh orang-orang yang tidak kelihatan. Kemudian......”braakkk!" genteng di atas pecah berhamburan dan melayang turunlah tubuh lima orang anggauta Ngo-tok-kauw dalam keadaan pingsan. Setelah ini terdengar lagi suara cekikikan mentertawakan.
Tahulah Cui Kim dan yang lain-lain bahwa musuh berada di atas genteng rumah.
"Pengecut-pengecut tak tahu malu! Kalau memang hendak mencoba Ngo-tok-kauw, turunlah jangan mengganggu anak buah yang tidak bisa apa-apa. Nonamu sudah siap memenggal leher setiap orang pengacau!" teriak Cui Kim sambil menggerak-gerakkan pedangnya.
Sunyi seketika, kemudian terdengar suara mengejek. "Hemm........ hmmm......... bocah masih ingusan sombong benar.........!" Menyusul suara ini, perlahan- lahan saja, dari luar berjalan masuk seorang wanita tua berpakaian mewah dengan sikap angkuh luar biasa, sikap seorang ratu! Di belakang wanita ini berjalan seorang pemuda tampan dan di belakangnya lagi berjalan empat orang wanita gemuk yang kembar segala-galanya.
"Kui-bo Thai-houw.........!" terdengar suara seorang anggauta Ngo-tok-kauw tua yang dulu pernah melihat wanita ini ketika datang merampas Im-yang-giok-cu dan membunuh Theng Gak dan isterinya.
Celakalah orang itu. Merupakan pantangan besar menyebut "Kui-bo" (Biang Iblis) di depan tokoh wanita ini. Kui-bo Thai-houw mengerling, sinar matanya menyambar orang itu, kemudian tangan kirinya mengebut ke arah orang itu. Terdengar pekik mengerikan dan orang itu terjungkal menjadi mayat!
Semua orang kaget buikan main dan Cui Kim sendiri merasa ngeri. Ia masih muda akan tetapi sudah tahu gelagat. Cepat-cepat ia lalu menjura dan berkata dengan hormat.
"Kiranya Thai-houw yang berkenan mengunjungi tempat kami yang buruk. Harap Thai-houw maafkan bahwa kami terlambat menyambut dan suka maafkan pula kalau di antara anggauta kami ada yang bersikap kurang ajar. Tidak tahu keperluan apakah gerangan yang membawa Thai-houw sudi mengunjungi kami?"
"Mengambil titipanku pada Ngo-tok-kauw!" jawab nenek itu singkat sambil matanya yang masih bening itu menyapu keadaan di situ, memandang agak tertarik kepada Wi Liong yang masih menggeletak di pinggiran, kini sudah dibaringkan di atas bangku. Hati Cui Kim sudah gelisah sekali, mengira bahwa nenek ini datang berhubung dengan penyerbuan Wi Liong. Akan tetapi tak mungkin, pikirnya. Pemuda ini murid Thian Te Cu. Dalam detik itu ia merasa menyesal sekali mengapa pemuda ini telah dirobohkan dengan racun. Kalau pemuda ini berdiri di fihaknya. alangkah baiknya.
"Titipan apakah, Thai-houw?" tanyanya, jantungnya berdebar.
385
Kini pandang mata Kui-bo Thai-houw menatap ke arah pinggang Cui Kim dan matanya seakan-akan dapat menembusi baju luar dan melihat apa yang terselip di ikat pinggang gadis itu.
"Apa lagi kalau bukan Ngo-heng-giok-cu? Dulu belum sempat kuambil, kutitipkan dulu di sini. Sekarang sudah tiba waktunya kuambil. Serahkan benda itu!"
Cui Kim agak lega hatinya karena ternyata bukan Wi Liong yang diminta nenek ini. Akan tetapi tentu saja sebagai kauwcu Ngo-tok-kauw ia tidak bisa begitu saja memberikan lambang kehormatan Ngo-tok-kauw, apa lagi nenek ini adalah musuh besarnya, pembunuh ayah bundanya yang harus ia balas.
"Tapi......... tapi........." ia menggagap.
"Jangan banyak tingkah. Mana kauwcumu yang sekarang, suruh dia keluar," katanya lagi, keren.
Tiba-tiba terdengar suara ketawa meringkik yang menyeramkan dan Siu-toanio melompat maju. "Hi-hi-hi, dia itulah kauwcunya! Penggantiku! Jangan serahkan lambang kita kepada siluman ini, kauwcu, jangan........."
Ucapan nenek buruk ini terhenti sampai di situ dan ia terjungkal roboh tertelungkup dengan napas putus dan semua orang lagi-lagi melihat Kui-bo Thai-houw hanya menggerakkan tangan ke arah Siu-toanio!
Makin kaget dan gelisah orang-orang Ngo-tok-kauw melihat hal ini. Akan terulang kembalikah peristiwa sepuluh tahun yang lalu ketika Biang Iblis ini datang mengamuk dan membunuh-bunuhi orang Ngo-tok-kauw? Sementara itu, setelah membunuh Siu-toanio yang dianggap telah menghinanya, Kui-bo Thai-houw lalu menghadapi Cui Kim dan berkata dengan senyum mengejek.
"Aha. jadi kaukah kauwcunya? Bagus sekali! Hayo lekas serahkan Ngo-heng-giok-cu kepadaku”
Melihat musuh besarnya ini, hati Cui Kim sudah benci dan marah sekali, apa lagi sekarang melihat lagak musuh besarnya yang terlampau menghina Ngo-tok-kauw. Saking marah dan bencinya, gadis ini menjadi nekat, la menoleh ke arah Haik Lui dan lima orang kakek Ngo-heng-tin sambil berseru, "Melihat lambang kita diminta orang dan kehormatan Ngo-tok-kauw diinjak-injak orang, apakah kalian begitu pengecut tak berani berkutik?"
Lima orang kakek Ngo-heng-tin segera melompat maju. Mereka ini adalah tokoh-tokoh paling lama di Ngo-tok-kauw di samping Siu-toanio karena mereka ini merupakan pembantu Theng Gak dahulu, jadi boleh dibilang juga pendiri-pendiri Ngo-tok-kauw. Sekarang mendengar ucapan Cui Kim, tentu saja mereka menjadi panas. Tadinya memang mereka gentar menghadapi Kui-bo Thai-houw, akan tetapi demi membela kehormatan sendiri, mareka mempertaruhkan nyawa dan serentak maju.
Si baju putih yang mewakili kawan-kawannya, menjura di depan Kui-bo Thai-houw sambil berkata, "Thai-houw adalah seorang tokoh besar di dunia dan nama besarnya sudah terkenal luas di Pulau Ban-mo-to. Sayangnya sekarang mempergunakan keunggulan kepandaian untuk menindas kaum lemah. Akan tetapi, di dunia ini terdapat kegagahan yang tidak gentar menghadapi penindasan di kuat, yaitu dalam membela kehormatan negara, kehormatan perkumpulan, dan kehormatan keluarga. Kami berlima siap mengorbankan nyawa demi menjaga kehormatan Ngo-tok-kauw!"
386
Melihat lima orang kakek ini. Kui-bo Thai-houw memandang rendah. Akan tetapi mendengar ucapan si baju putih, ia merasa sungkan juga untuk turun tangan sendiri, maka ia berkata sambil mengangkat kepala dengan angkuhnya,
"Siapa mengandalkan keunggulan? Kauwcu-mu sudah menantang bertanding dengan majunya kalian ini. Baiklah, mari kita bertanding untuk menentukan siapa yang lebih kuat. Ngo-heng-giok-cu menjadi taruhan." Kui-bo Thai-houw lalu memberi isyarat kepada empat orang nenek kembar yang buruk, yaitu pelayannya yang tersayang. Memang mereka ini, perawan-perawan tua kembar empat ini adalah pelayan kesayangan Kui-bo Thai-houw, mereka setia dan ke manapun juga Thai-houw berada, mereka selalu membayanginya. Kepandaian merekapun boleh dibilang paling tinggi di antara semua pelayan Kui-bo Thai-houw di Ban-mo-to. Melihat isyarat nyonya besar mereka, empat orang nenek ini lalu tertawa-tawa dan melompat maju menghadapi Ngo-heng-tin.
"Si Hwa........." kata yang pertama, memperkenalkan diri.
"Tung Hwa........." sambung yang ke dua.
"Nam Hwa........." yang ke tiga memotong.
"Pai Hwa........." sambung yang ke empat.
"Kami berempat siap menghadapi lima orang kakek ompong!" kata pula yang pertama setelah memberi kesempatan pada tiga orang saudaranya memperkenalkan diri. Keempatnya lalu tertawa cekikikan sambil mengambil tempat masing-masing. Si Hwa mengambil tempat di barat, Tung Hwa di timur, Nam Hwa di selatan dan Pai Hwa di utara. Inilah kelihaian empat orang wanita ini, yang sudah memiliki tempat tertentu dalam barisannya. Biarpun kalau bertempur mereka itu bergerak-gerak ke sana ke mari, akan tetapi tetap mereka bersumber dari tempat semula masing-masing.
Melihat empat orang "nona genit" ini tidak bersenjata, hati lima orang kakek itu besar. Dengan golok di tangan lima orang kakek itu lalu menyerbu garang, merupakan barisan Ngo-heng-tin yang kuat sekali. Empat orang wanita itu tertawa terkekeh sambil mengelak dan mulailah mereka berputaran,.tertawa-tawa dan menyerang dengan tali pinggang-tali pinggang mereka yang lihai dibarengi cengkeraman-cengkeraman yang berbahaya sekali. Baru kagetlah lima orang kakek itu. Tak tahunya empat orang wanita ini adalah ahli-ahli lweekang yang mahir dan sepasang tali panggang itu malah melebihi senjata tajam lihainya.
Pertempuran antara lima orang kakek yang merupakan Ngo-heng-tin melawan empat orang wanita yang juga merupakan barisan segi empat yang luar biasa itu benar-benar amat menarik dan seru sekali. Tenaga mereka seimbang dan juga mereka memiliki gerakan-gerakan yang sama aneh dan sulitnya sehingga agak sukarlah bagi mereka untuk mendesak lawan. Pakaian, wajah, suara dan gerak-gerik yang sama dari nona-nona kembar empat itu membingungkan lawan, sebaliknya lima orang kakek dengan lima macam warna pakaian itupun membuat pandang mata lawan menjadi silau dan bingung.
Betapapun juga, setelah melalui pertandingan yang amat seru di mana kedua fihak mengerahkan seluruh tenaga dan kepandaian, akhirnya empat orang wanita itu dapat juga mendesak lima orang
387
lawannya. Dan harus diakui bahwa kemenangan mereka ini adalah karena suara ketawa mereka yang cekikikan itu benar-benar membingungkan kelima orang kakek. Memang suara ini bukanlah ketawa sekedar ketawa saja. melainkan suara ketawa yang memang disengaja, dikeluarkan dengan pengerahan khikang dan mempunyai pengaruh membingungkan lawan. Apa lagi kalau yang tertawa itu empat orang wanita buruk yang sama rupa sama pakaian sama suara. Benar-benar dapat membingungkan orang di samping sifat-sifat yang aneh menyeramkan.
Ketika kakek baju merah yang sudah bingung terdesak itu melakukan gerakan nekat, menubruk seorang wanita sambil mengerjakan golok, ia menjadi agak kaget dan heran melihat wanita yang diserangnya itu sama sekali tidak bergerak untuk menangkis atau mengelak, malah berjebi dan melerok kepadanya sambil tertawa cekikikan. Karena tingkah ini perhatian kakek baju merah menjadi tertarik dan membuat ia ragu-ragu serta lambat gerakannya, maka ia tidak tahu bahwa dari belakang menyambar tali pinggang seorang wanita lain mengarah kepalanya. Ia baru tahu setelah senjata aneh itu menyambar dekat, ia hendak mengelak sudah tidak keburu lagi. Ujung tali pinggang itu tepat mengenai belakang kepalanya, tidak mengeluarkan suara akan tetapi tahu-tahu kakek baju merah terguling dengan napas putus karena jalan darah yang terpenting di belakang kepalanya telah putus oleh ujung tali pinggang tadi.
Empat kakek yang lain menjadi kaget dan marah, lalu mengamuk membabi-buta. Akan tetapi hal ini justeru mempercepat kekalahan mereka. Sambil tertawa-tawa empat orang nenek itu menggencet mereka dengan pukulan-pukulan dan mengurung mereka dengan senjata tali pinggang.
Berturut-turut empat orang kakek inipun roboh dan tewas sehingga tamatlah riwayat Ngo-heng-tin yang sejak lama menjagoi daerah itu.
Dengan muka pucat saking marahnya Cui Kim memberi tanda supaya orang-orangnya mengangkat pergi mayat-mayat itu, kemudian ia sendiri maju sambil mencabut pedang pendeknya.
"Thai-houw, biarpun kepandaianku tidak seberapa dan kiranya bukan apa-apa kalau dibandingkan denganmu, akan tetapi aku Theng Cui Kim tidak gentar menghadapi kematian untuk mempertahankan kehormatan Ngo-tok-tauw " katanya gagah tanpa kelihatan takut sedikitpun.
Kui-bo Thaihouw menghela napas panjang. "Kenapa kau begini bodoh? Kau serahkan batu kemala itu dan, beres. Mengapa muda-muda harus membuang nyawa?"
Kini Cui Kim tak dapat menahan kemarahannya lagi. "Kui-bo Thai-houw siapa takut mati? Lihat baik-baik, kau telah membunuh ayah bundaku, telah menghina perkumpulanku, sekarang hendak merampas lambang kehormatan Ngo-tok-kauw. Apa hal-hal itu tidak lebih hebat dari pada mati? Kau majulah, siapa sih takut kepadamu? Orang lain boleh takut, akan tetapi aku Theng Cui Kim tidak!" Sambil mengucapkan kata-kata gagah ini Cui Kim mengerling Hak Lui. Pemuda muka hitam inii menjadi malu sekali dan sambil mencabut pedangnya iapun melompat maju berdiri di sebelah Cui Kim.
"Aku The Hak Lui juga siap membela kehormatan Ngo-tok-kauw dan membalaskan sakit hati mendiang suhu!".katanya dengan suara keras.
388
Kui-bo Thai-houw mengerutkan kening, kemudian terdengar ia bersuara perlahan, "Apa boleh buat kalau kalian ingin mampus!!" Nenek ini lalu memberi isyarat kepada pemuda yang sejak tadi berada di sampingnya. Pemuda itu berulang kali menoleh ke arah Eng Lan dan mukanya yang tampan itu berubah pucat. Namun ia belum menyatakan sesuatu semenjak tadi, malah pertempuran yang seru tadi seperti tidak menarik perhatiannya. Sekarang melihat isyarat yang diberikan Kui-bo Thai-houw, pemuda ini mencabut pedangnya dan melompat maju, gerakannya ringan sekali, pedangnya berkilauan saking tajamnya.
"Kalian berdua boleh maju bareng mengeroyok thai-cu (pangeran)!" kata Kui-bo Thai-houw sambal tertawa. Diam-diam Cui Kim dan Hak Lui heran karena belum pernah mereka mendengar bahwa wanita ini mempunyai putera dan sekarang tahu-tahu muncul seorang pangeran! Betapapun juga, Cui Kim kagum melihat pemuda yang tampan dan berpakaian indah ini.
Hak Lui tidak sabar lagi. Dengan pedangnya ia lalu melakukan serangan pertama menusuk ke arah dada. Cui Kim tidak tinggal diam. Ia dapat menduga bahwa pemuda yang sudah dijago oleh Kui-bo Thai-houw tentulah lihai, maka iapun menyusul dengan serangannya ke arah leher.
Pemuda tampan itu dengan gerakan perlahan saja mengelak. Tampaknya ia hanya menggoyang badan tanpa memindahkan kedua kaki akan tetapi nyatanya dua serangan itu mengenai angin kosong. Dan sebelum dua orang lawannya hilang kagetnya, tahu-tahu pedangnya yang tajam sudah menyambar, mengeluarkan hawa dingin dan mengancam leher Cui Kim dan Hak Lui!
"Ayaaa.........!" Cui Kim dan Hak Lui mengeluarkan peluh dingin saking kagetnya dan cepat-cepat mereka melompat mundur. Kini mereka tidak berani memandang rendah. Dengan nekat mereka mengerahkan seluruh tenaga dan mainkan jurus-jurus yang paling mereka andalkan untuk mendesak pemuda tampan yang lihai sekali itu.
Pemuda itu hanya bergerak ke sana ke mari mengelak. Sampai belasan jurus ia mengelak terus, perhatiannya terpecah karena dalam menghadapi keroyokan ini ia selalu menoleh dan memandang ke arah Eng Lan yang masih rebah tak bergerak dalam pengaruh totokan. Sebaliknya, Eng Lan yang sejak tadi juga memandang pemuda itu, kini bercucuran air mata tanpa ia dapat mengusapnya karena tangannya tak dapat digerakkan. Betapa ia takkan menangis kalau ia mengenal pemuda itu sebagai Kun Hong, kekasihnya.
Memang, pemuda itu bukan lain adalah Kun Hong yang kini sudah menjadi pangeran di Ban-mo-to! Seperti telah dituturkan di bagian depan, ketika menyerbu Ban-mo-to dan minta obat Im-yang-giok-cu dari Kui-bo Thai-houw, pemuda ini yang menjatuhkan hati nenek lihai itu, telah dirobohkan dan dipengaruhi obat yang membuat pemuda ini seperti kehilangan semangat dan menurut saja menjadi permainan Kui-bo Thai-houw! Semenjak saat itu diaku sebagai putera Kui-bo Thai-houw dan selain menerima pengobatan Im-yang-giok-cu sehingga tubuhnya pulih kembali dari bekas-bekas luka pukulan Im-yang-lian-hoan dari Kun-lun pai, juga ia malah menerima pelajaran ilmu silat yang aneh dari Kui-bo Thai-houw yang amat menyayangnya. Dengan wataknya yang aneh dan mengerikan, nenek ini menyayang Kun Hong sebagai anak, juga sebagai kekasih! Kun Hong juga samar- samar masih ingat akan keadaannya, akan tetapi pengaruh obat itu membuat ia seperti mabok dan lupa segala, menurut saja akan segala macam kehendak Kui-bo Thai-houw.
389
Sekarang, dalam penyerbuan ke Ngo-tok-kauw untuk merampas Ngo-heng-giok-cu, secara kebetulan sekali ia melihat Eng Lan. Cinta kasihnya yang suci dan mendalam terhadap gadis ini membuat ia tak dapat melupakan wajah gadis ini dan biarpun ia sama sekali belum ingat siapa adanya gadis yang menggeletak di situ, akan tetapi ia tak dapat mencegah dadanya berdebar-debar dan matanya selalu memandang kepada gadis itu.
"Kun Hong, balas! Mengapa membuang waktu?" bentak Kui bo Thai-houw tak sabar ketika melihat pemuda itu hanya mengelak saja tanpa balas menyerang.
Kun Hong tersentak kaget dan menggunakan pedang Cheng-hoa-kiam di tangannya untuk menangkis dua pedang yang menyambar itu.
"Traanggg.........!" Cui Kim dan Hak Lui mengeluarkan seruan kaget karena pedang mereka telah patah ketika tertangkis. Sebelum mereka sempat mengelak, Kun Hong sudah mendorong mereka roboh tak dapat bangun kembali karena jari-jari tangan Kun Hong yang cekatan dan penuh keahlian itu telah menotok jalan darah mereka. Biarpun ia berada di bawah pengaruh Kui-bo Thai-houw, namun pengaruh Eng Lan yang sudah meresap ke dalam jiwanya membuat Kun Hong selalu menjauhkan diri dari pembunuhan.
Kui-bo Thai-houw tertawa girang dan sekali kakinya bergerak, ia telah melayang mendekati tubuh Cui Kim. Tangannya bergerak dan di lain detik tongkat bermata Ngo-heng-giok-cu telah berada di tangannya. Mudah saja baginya mencabut permata itu keluar dari tongkat, kemudian........ ia mematahkan tongkat menjadi dua dan menyambit dua potongan tongkat itu ke arah Cui Kim dan Hak Lui. Kasihan sekali dua orang muda ini yang tanpa dapat berteriak lagi harus melepaskan nyawanya karena potongan-potongan tongkat itu menghancurkan kepala mereka,
Kui-bo Thai-houw masih penasaran, takut kalau batu kemala itu palsu, ia tadi sudah tertarik oleh Wi Liong, bukan saja tertarik oleh ketampanan pemuda ini. juga karena ia tahu bahwa pemuda itu pingsan karena semacam racun yang kuat. Maka ia lalu menghampiri Wi Liong, mendekatkan mukanya ke muka pemuda itu. Ketika ia mencium bau harum luar biasa yang membuat kepalanya tiba-tiba pening, cepat-cepat ia membawa batu kemala itu ke hidungnya. Ia tersenyum karena seketika itu juga kepeningan kepalanya lenyap. Ia lalu mendekatkan batu kemala itu ke bawah hidung Wi Liong, menggosok-gosoknya sebentar. Warna merah yang tidak sewajarnya cepat sekali menghilang dari muka Wi Liong, napasnya menjadi normal dan pemuda ini mengeluarkan keluhan, tangannya bergerak perlahan.
Kui-bo Thai-houw tertawa puas. Tak salah lagi, inilah Ngo-heng-giok-cu. Ia lalu memberi isyarat kepada empat orang pelayan dan kepada Kun Hong untuk pergi dari situ. Dengan tindakan lemah lembut wanita hebat ini meninggalkan tempat itu, diikuti oleh empat orang pelayannya. Kun Hong juga meninggalkan tempat itu akan tetapi lebih dulu ia menghampiri Eng Lan dan menyabar tubuh gadis itu, dipanggulnya dan dibawa pergi menyusul Kui-bo Thai-houw!
Wi Liong membuka matanya dan ia merasa seperti baru sadar dari tidur yang enak sekali. Kemudian ia teringat dan cepat-cepat ia bangun, apa lagi selelah mendengar suara tangisan riuh-rendah di sekelilingnya. Ia melompat dan melihat keadaan yang mengerikan. Tempat itu penuh dengan mayat, tidak saja mayat Cui Kim, Hak Lui, Sui-toanio dan lima orang kakek Ngo-heng-tin. akan tetapi juga
390
mayat belasan orang anak buah Ngo-tok-kauw yang tadi menjadi korban ketika tamu-tamu agung itu pergi dan mereka hendak membela kematian kauwcu mereka
Ketika melihat semua ini dan mendapat kenyataan pula. bahwa Eng Lan tidak berada di situ, Wi Liong seketika menjadi cekatan dan waras kembali.
"Apa yang telah terjadi? Siapa membunuh mereka dan mana nona Pui......?" tanyanya kepada orang-orang yang sedang menangisi kematian pemimpin-pemimpin mereka itu.
"Siapa lagi kalau bukan iblis-iblis Ban-mo-to? Nona tawanan itupun mereka bawa pergi........" jawab seorang anggauta Ngo-tok-kauw.
Mendengar ini, Wi Liong tanpa berkata apa-apa lagi cepat melompat pergi dari tempat itu untuk mengejar orang-orang Ban-mo-to. Ia dapat menduga bahwa Kui-bo Thai-houw kembali datang mengacau dan membunuhi orang-orang Ngo-tok-kauw, malah kini menculik Eng Lan. Apa maksudnya menculik Eng Lan?
Selagi ia berlari-lari di dalam hutan, tiba-tiba muncul Pak-thian Koai-jin. Kakek ini kelihatan girang ketika mengenalnya. "Eh, eh, kau sudah bisa membebaskan diri? Syukur......... syukur........ dan mana Eng Lan?"
Dari ucapan ini saja Wi Liong tahu bahwa kakek ini tadi sudah melihat dia dan Eng Lan tertawan akan tetapi tidak kuasa menolong, maka iapun menuturkan dengan singkat,
"Selagi aku pingsan Ngo-tok-kauw diserbu orang-orang Ban-mo-to, para- pemimpinnya dibunuh dan tahu-tahu Eng Lan mereka bawa pergi. Aku hendak menyusul ke Ban-mo-to untuk menolongnya."
Pak-thian Koai-jin nampak terkejut. "Ayaaa.........! Anak itu memang bernasib baik......!"
Wi Liong mau tak mau melongo mendengar kata-kata ini.
"Bernasib baik? Bagaimana maksud locianpwe? Bukankah dia berada dalam bahaya?"
Pak-thian Koai-jin mengangguk-angguk. "Justeru itulah kukatakan bernasib baik, selalu dalam bahaya akan tetapi aku percaya selalu akan tertolong. Coba saja pikir, mana ada orang yang begitu banyak menghadapi pengalaman-pengalaman hebat seperti dia? Baru saja ditawan Ngo-tok-kauw, sekarang ditawan orang-orang Ban-mo-to! Dia ditawan berarti tidak dibunuh, dan ini berarti dia masih ada harapan ditolong."
Memang Pak-thian Koai-jin kalau bicara seenaknya saja, akan tetapi diam-diam Wi Liong harus membenarkan pendapatnya itu biarpun kedengarannya aneh. "Betapapun juga, locianpwe, aku sudah lama mendengar tentang kekejaman orang-orang Ban-mo-to yang kabarnya tidak kalah oleh Thai Khek Sian dan orang- orang Mo-kauw yang lain, tentu saja jauh lebih kejam dari pada Ngo-tok-kauw. Lebih baik kita cepat-cepat menyusul dan berusaha menolong muridmu itu."
391
Tiba.-tiba kakek itu tertawa bergelak. "Ha-ha-ha, kelihatan ekormu! Jadi kau mencinta muridku? Bagas......... bagus......... setelah dia tertolong akan kuusahakan supaya dia mau menerimamu......... ha-ha-ha!"
Wi Liong kaget dan mengerutkan keningnya, lalu berkata dengan suara sungguh-sungguh, "Locianpwe, bagaimana kau bisa bilang begitu? Aku......... aku tidak bisa mencinta dia, juga tidak mencinta wanita lain, aku hendak menolongnya karena itu sudah merupakan kewajibanku. Kuharap mulai sekarang locianpwe janganlah mengganggu muridmu itu tentang perjodohannya dengan aku, karena kalau aku tidak salah terka, muridmu itu mencinta Kun Hong dan ini baik sekali. Locianpwe sebagai gurunya seyogianya, membantunya supaya dia dapat berjodoh dengan pilihan hatinya sendiri, jangan malah merintangi."
Pak-thian Koai-jin melengak mendengar kata-kata yang panjang lebar ini. Ia terang sekali kecewa, lalu mengomel sambil menghela napas panjang pendek,
"Apa kau kira aku tidak tahu bahwa dia tergila-gila pada Kun Hong? Aku ke mana-mana mengikutinya dan mencarikan batu Im-yang-giok-cu, apakah itu semua bukan karena aku hendak membantunya menolong Kun Hong? Hanya saja, aku lebih suka. kalau dia memilih engkau. Sudahlah......... sudahlah......... orang- orang muda jaman sekarang memang keras kepala........."
"Locianpwe, marilah segera menyusul orang-orang Ban-mo-to. jangan sampai kita terlambat dan terjadi apa-apa dengan muridmu itu."
Teringat akan hal ini, Pak-thian Koai-jin menjadi bersemangat lagi dan berangkatlah dua orang itu, berlari cepat ke timur untuk menyusul orang-orang Ban-mo-to. Baru saja mereka keluar dari hutan itu dan tiba di jalan besar, terdengar seruan nyaring sekali dari kanan, "Haaaiii! Bukankah itu Pak-thian Koai-jin yang di depan!"
Pak-thian Koai-jin dan Wi Liong berhenti dan membalikkan tubuh. Seorang laki-laki tinggi besar dan berpakaian panglima perang dengan langkah lebar berlari-lari ke arah mereka.
"See-thian Hoat-ong, dari mana kau berlari-lari seorang diri? Apa hendak maju perang?" Pak-thian Koai-jin menyambut kawan ini dengan kelakarnya.
"Hendak menengoki Kong Bu, puteraku yang pada waktu ini bertugas di pantai timur. Kau hendak ke mana dan ini........." See-thian Hoat-ong sudah sampai di depan mereka dan tiba-tiba kata-katanya terhenti ketika ia mengenal Wi Liong. Mukanya berubah dan sepasang alis yang tebal itu berkerut menandakan hatinya tak senang.
"Hemmm, orang muda she Thio. Jadi kau masih hidup?"
Wi Liong menjura memberi hormat sambil berkata dengan senyum, "Berkat doa restu lo-enghiong, siauwte masih dapat bernapas sampai sekarang."
Jawaban ini merupakan tangkisan serangan atau pembalasan atas sikap yang tidak menyenangkan dan kata-kata teguran yang tidak semestinya tadi, akan tetapi See-thian Hoat-ong yang jujur, seperti tidak merasakan ini. Malah ia menjawab.
392
"Siapa mendoakan kau hidup? Lebih baik kau mati di jurang itu dari pada hidup mengandung dosa-dosa besar. Keluarga Kwa hancur berantakan karena kau. Kwa-suheng dan isterinya yang baru saja berkumpul kembali setelah belasan tahun, karena kau menjadi terpisah lagi dan sekarang masing-masing entah berada di mana. Lebih hebat lagi, karena kau Siok Lan menghabiskan hidupnya, mati muda. Kasihan sekali! Bukankah semua dosa ini perbuatanmu?”
Mendengar ucapan itu, tadinya muka Wi Liong menjadi merah, akan tetapi kalimat-kalimat terakhir yang menyatakan bahwa Siok Lan mati, membuat mukanya seketika menjadi pucat dan suaranya menggigil ketika ia membantah,
'"Lo-enghiong harap jangan main-main. Belum lama ini aku sendiri dengan sepasang mata melihat nona Kwa Siok Lan melangsungkan pesta pernikahannya dan sekarang sudah menjadi nyonya yang berbahagia dan terhormat dari Wu-kiang Siauw-ong Chi Kian yang terkenal dengan sebutan Chi-loya seorang gagah perkasa, budiman dan pengaruhnya di wilayah Sungai Wu-kiang amat besar. Bagaimana lo-enghiong sekarang secara ngawur menyatakan bahwa dia, mati muda?"
"O-ho-ho, jadi kau sudah tahu akan hal itu, he? Kau tahu kepala tidak tahu ekornya. Baiklah sekarang kau mendengar dari aku, hendak kulihat bagaimana sikapmu, orang muda perusak rumah tangga orang. Dengarlah baik-baik. Memang betul Siok Lan telah menikah dengan Chi Kian. kaukira aku tidak tahu? Akupun baru saja datang ke sana karena ingin mengurus hal itu, ingin menegur mengapa tahu-tahu dia bisa menikah dengan murid keponakanku. Dan kau tahu apa yang kulihat di sana? Hanya makam Siok Lan dan makam Chi Kiam! Kau tahu apa yang terjadi menurut para penduduk di sana? Semenjak kau pengacau ini datang lalu pergi, Siok Lan menyusul ke sungai dan menusuk dada sendiri dengan pedang sambil melompat ke sungai disusul oleh Chi Kian yang tidak pandai berenang dan hendak menolong isterinya. Nah. matilah mereka. Coba katakan, kalau bukan untuk kau, mengapa Siok Lan melakukan perbuatan gila merampas nyawa sendiri itu?”
Wajah Wi Liong makin pucat, kakinya menggigil dan tanpa daya lagi ia jatuh berlutut di depan See-thian Hoat-ong. "Lo-enghiong........ demi Tuhan, tidak bohongkah kata-katamu ini ;........?" Suaranya pilu dan gemetar, matanya yang memandang See-thian Hoat-ong benar-benar memelas (menimbulkan kasihan).
Agak reda kemarahan See-thian Hoat-ong melihat keadaan Wi Liong ini. Ia terkejut juga dan diam-diam ia harus mengaku bahwa pemuda ini memang betul- betul mencinta Siok Lan. Akan tetapi ia mendongkol sekali mendengar pertanyaan Wi Liong yang seakan-akan tidak percaya kepadanya.
"Selama hidup aku tak pernah membohong, tidak seperti kau!" jawabnya ketus.
"Siok Lan.........!" Wi Liong memekik kemudian roboh pingsan!
See-thian Hoat-ong dan Pak-thian Koai jin saling pandang, kemudian menoleh ke arah tubuh pemuda yang pingsan itu. Pak-thian Koai-jin menggeleng- geleng kepala. "Sayang......... sayang......... orang muda gagah menjadi lemah karena cinta kasih......."
See-thian Hoat-ong sebaliknya menjadi kasihan sekali kepada pemuda ini. Ia tidak tahu bagaimanakah sebenarnya hubungan antara pemuda ini dan Siok Lan yang kelihatannya begitu penuh rahasia. Ia hanya berdiri dengan kaki terpentang dan mengelus-elus dagunya, melihat Pak-thian Koai-jin yang
393
mengurut jalan darah di belakang kepala Wi Liong. Tak lama kemudian pemuda itu sadar kembali. Pemuda ini siuman, bangun duduk, menggeleng-geleng kepala lalu tersenyum! Ia hanya berkata perlahan, akan tetapi dapat terdengar oleh dua orang kakek itu,
"Bagus, Siok Lan, kau telah mengakali aku......... aku terima kalah dan biarlah sisa hidupku penuh penderitaan batin sebagai hukuman kebodohanku........."
"Wi Liong, kau ini pemuda apa? Mengapa begini lemah? Yang sudah mati biarlah mati, apa sih enaknya orang hidup? Baru enak kalau hidup bisa menolong orang hidup yang lain. Sekarang Eng Lan dalam bahaya, apa artinya hidupmu kalau kau tidak bisa menolong orang lain yang sengsara?" kata Pak-thian Koai-jin sambil menepuk pundak pemuda itu.
Ucapan orang aneh yang kadang-kadang seenak perutnya sendiri itu kali ini benar-benar menancap di ulu hati Wi Liong. Pemuda ini serentak bangun, menoleh kepadanya dan berkata, "Kau betul, locianpwe. Mari kita kejar iblis-iblis Ban-mo-to!"
Pak-thian Koai-jin girang sekali. "Eh, panglima, kau bilang anakmu bertugas di pantai timur? Kalau begitu kita sejalan, hayo kita jalan bersama."
See-thian Hoat-ong terpaksa ikut berlari mendampingi dua orang itu dan ia bertanya, "Ada terjadi apa sih dengan nona Eng Lan?"
Sambil berlari Pak-thian Koai-jin lalu menceritakan secara singkat apa yang telah ia alami menghadapi Ngo-tok-kauw dan bagaimana Eng Lan terculik oleh orang-orang Ban-mo-to yang menyerbu perkumpulan Agama Lima Racun itu. Mendengar penuturan itu, See-thian Hoat-ong berkata marah, "Sudah lama sekali Kui-bo Thai-houw di Ban-mo-to melakukan perbuatan sewenang-wenang dan mengandalkan kepandaian sendiri menghina orang lain. Benar-benar keterlaluan kalau dalam membasmi Ngo-tok-kauw dia masih menculik muridmu. Pak-thian Koai-jin, biarpun aku belum tentu bisa menangkan Kui-bo Thai-houw, akan tetapi percayalah, golok besarku masih cukup tajam untuk kupakai membantumu menyusul ke Ban-mo-to!"
Tentu saja Pak-thian Koai-jin girang sekali dan ia memang membutuhkan bantuan orang-orang pandai seperti See-thian Hoat-ong ini. Mereka bertiga lalu melanjutkan perjalanan lebih cepat lagi. Dasar ketiganya orang-orang memiliki kepandaian ilmu silat tinggi, maka perjalanan itu dilakukan amat cepatnya. Mereka mempergunakan ilmu lari yang kecepatannya tidak kalah dengan orang menunggang kuda sehingga sebentar saja mereka sudah melalui beberapa li dan dalam waktu sehari mereka telah melewati jarak yang jauh sekali.
Pada suatu siang hari ketika tiga orang ini sudah mendekati pantai timur. ketika tiba di daerah yang berbukit batu karang, mereka mendengar suara orang mengeluh dan mencaci-maki.
"Itu suara Bu-ji (anak Bu)..........!" kata See-thian Hoat-ong.
Tergesa-gesa mereka lalu menuju ke tempat itu. ketika mereka melewati sebuah batu besar, benar saja mereka melihat pemuda gagah itu, Kong Bu, sedang berdiri sambil mengaduh-aduh memegangi pundak kanannya yang berdarah. Pemuda ini nampak kesakitan sekali, ia menyumpah-nyumpah dan
394
sikapnya yang kasar jujur ini benar-benar serupa dengan watak ayahnya. See-thiari Hoat-ong. Juga wajah dan bentuk tubuhnya yang kekar serupa benar dengan ayahnya.
"Aduh......... aduh...... keparat Beng Kun Cinjin......." pemuda itu mengeluh dan memaki-maki.
"Bu-ji, kau kenapa?" ayahnya berseru keras sambil lari menghampiri puteranya.
Agaknya saking menahan sakit dan kemarahan. Kong Bu tadi tidak melihat datangnya tiga orang itu. Mendengar suara ayahnya, ia mengangkat muka dan jalan terpincang-pincang menghampiri ayahnya, menjatuhkan diri berlutut dan berkata,
"Ayah, harap ayah balaskan penghinaan ini dan tolong dua nona Liok......!"
"Nanti dulu soal itu. Kau maju sini, coba kuperiksa lukamu," kata ayahnya. Kong Bu berdiri dan melangkah maju. See-thian Hoat-ong memeriksa luka di pundak dan paha. Pak-thian Koai-jin dan Wi Liong juga turut memeriksa.
Pundak pemuda itu tidak besar lukanya akan tetapi warna biru kehitaman di sekitar luka itu yang makin membesar amat mengkhawatirkan. Juga pahanya yang hanya luka sebesar tusukan jarum terasa sakit dan berwarna hitam pula.
"Hemm, agaknya terluka oleh senjata beracun........." kata See-thian Hoat-ong.
"Seperti pukulan Hek-tok-sin-ciang!" tiba tiba Wi Liong berseru heran. Ia tahu bahwa Hek-tok-sin-ciang (Tangan Sakti Racun Hitam) adalah sebuah di antara ilmu-ilmu lihai dari Thai Khek Sian. Kiranya hanya Thai Khek Sian atau......... Kun Hong sebagai murid tokoh itu yang mampu melakukannya. Akan tetapi, seingatnya, Kun Hong tidak memelihara kuku panjang dan untuk menggunakan ilmu ini, diperlukan kuku panjang untuk menjadi senjata. Kuku-kuku jari tangan yang direndam racun akan merupakan senjata yang amat ampuh dalam menggunakan Hek-tok-sin-ciang. "Mungkinkah Thai Khek Sian keluyuran sampai di sini?"
Mendengar ini. Kong Bu memandang kepada Wi Liong dengan heran. "Bagaimana kau bisa tahu? Ayah, siapakah saudara ini?"
"Dia Thio Wi Liong, murid Thian Te Cu. Bu-ji, apa yang terjadi? Betulkah kau terluka oleh Thai Khek Sian?”
"Memang betul, ayah. Beng Kun-Cinjin datang bersama Thai Khek Sian, maksudnya Thai Khek Sian hanya mengundang Tai It Cinjin untuk menghadiri pertemuan di Pek-go-to yang akan diadakan, oleh Thai Khek Sian pada musim semi tahun depan. Akan tetapi iblis itu melihat dua orang nona Liok murid Tai It Cinjin dan dia menculik mereka. Aku melihat dan mencoba mencegahnya, akan tetapi dua pukulannya membuat aku roboh."
See-thian Hoat-ong mengerutkan alisnya yang gompyok. "Bukankah Beng Kun Cinjin itu masih keponakan Tai It Cinjin? Mengapa datang bersama Thai Khek Sian"
395
"Itulah yang amat menggemaskan," kata Kong Bu mengertak gigi menahan sakit. "Tadinya ia bersembunyi di Kim-le-san sini bersama Tai it Cinjin. Akan tetapi semenjak dua nona Liok menghalanginya membunuh Kun Hong, agaknya dia mendendam dan marah. Dia pergi tanpa pamit dan tahu-tahu telah bersekutu dengan Thai Khek Sian. Mungkin dia juga yang membujuk iblis itu untuk menculik ji-wi Liokmoi......" Ia berhenti sebentar dan nampak gelisah sekali, gelisah memikirkan dua orang gadis itu tanpa memperdulikan rasa sakit pada bubuhnya sendiri. Hal ini mudah dimengerti oleh karena Liok Hui Nio adalah tunangannya dan Liok Hui San adik tunangannya itu!.
"Ayah, harap ayah suka menolong dua nona itu. Ayah, kejarlah Thai Khek Sian dan minta kembali Hui Nio dan Hui Sian!"
See-thian Hoat-ong bingung. Permintaan puteranya ini hanya mudah diucapkan akan tetapi sungguh amat sukar dilaksanakan. Bagaimana dia bisa menghadapi Thai Khek Sian? Membantu Pak-thian Koai-jin yang hendak menolong muridnya dari Ban-mo to saja sudah sukar apa lagi sekarang menolong dua orang nona dari tangan Thai Khek Sian, seorang diri lagi!
Selagi ia termangu-mangu, Wi Liong cepat berkata, "Lo-enghiong, biarlah aku yang pergi menyusul Thai Khek Sian dan mencoba menolong dua orang nona Liok." Kemudian pemuda ini berpaling kepada Pak-thian Koai-jin dan berkata. "Locianpwe, sekarang timbul dua urusan yang hampir sama sifatnya, keduanya membutuhkan bantuan kita untuk menolongnya. Nona Pui Eng Lan perlu sekali ditolong, demikian juga kedua orang nona Liok, dan kesemuanya memerlukan pertolongan cepat. Oleh karena itu. sebaiknya kita membagi tugas. Biarlah aku yang mengejar Thai Khek Sian dan mencoba menolong ji-wi Liok siocia, sedangkan locianpwe bersama lo-enghiong pergi ke Ban-mo-to menolong nona Pui. Aku tidak begitu mengkhawatirkan keselamatan nona Pui karena aku menduga bahwa Kun Hong berada di Ban-mo-to kalau menilik dari penuturan Kong-ciangkun tadi. Malah agaknya Kun Hong yang sudah membawa pergi nona Eng Lan. Benar tidaknya harap locianpwe selidiki di Ban-mo-to."
Karena ucapan ini memang beralasan, Pak-thian Koai-jin dan See-thian Hoat-ong tak dapat membantah lagi. Akan tetapi Kong Bu ragu-ragu. Masa urusan begitu pentingnya, menolong dua orang gadis itu dari tangan iblis Thai Khek Sian, harus diserahkan kepada pemuda yang nampak lemah ini?
"Ayah, Thai Khek Sian itu amat lihai dan berbahaya........ bagaimana saudara Thio ini bisa pergi sendiri saja?"
"Hemm, kau tidak tahu. Sepuluh orang ayahmu ini masih belum mampu menandingi dia seorang." kata See-thian Hoat-ong yang sudah tahu akan kelihaian murid Thian Te Cu itu.
Kong Bu tercengang, juga girang sekali. Ia memberi hormat dengan amat canggung karena pundaknya sakit, lalu berkata. "Maaf aku bermata tidak dapat melihat orang pandai. Kalau saudara Thio yang akan menolong ji-wi Liok-siocia itulah baik sekali. Tentang urusan ke Ban-mo-to kalau perlu bantuan, kiranya Tai It Cinjin dan Im-yang Siang-cu berdua tentu suka menolong, apa lagi kalau mendengar bahwa saudara Thio mau menolong ji-wi Liok-siocia. Biar aku yang akan minta bantuan mereka."
Wi Liong mengangguk-angguk. "Tepat sekali dan Kong-ciangkun sendiri juga harus berobat. Obat yang paling baik bagi pengusiran racun berada di tangan Kui-bo Thai-houw, yaitu Ngo heng-giok-cu yang dirampasnya dari Ngo-tok-kauw belum lama ini." Wi Liong memang sudah melihat betapa tongkat
396
pendek lambang Ngo-tok-kauw telah patah dan batu kemala Ngo-heng-giok-cu lenyap. Siapa lagi yang mengambilnya kalau bukan pentolan Ban-mo-to itu?
Demikianlah, setelah semua setuju, Wi Liong lalu berpisah dari tiga orang itu. Ia berlari cepat sekali dan sekali berkelebat ia lenyap, membuat Kong Bu kagum dan baru percaya bahwa pemuda itu betul-betul lihai. Tadinya ia sudah amat kagum melihat Kun Hong yang dianggapnya lihai sekali dan jarang tandingannya, akan tetapi siapa kira sekarang ada pemuda ke dua yang juga luar biasa lihainya.
Sementara itu, Wi Liong melakukan perjalanan cepat sekali. Ia sudah tidak sabar dan ingin cepat-cepat pergi ke Pek-go-to, pulau yang menjadi sarang Thai Khek Sian dan kaki tangannya. Yang membuat Wi Liong buru-buru mengajukan diri untuk mengejar Thai Khek Sian. bukan hanya karena ingin menolong dua orang gadis she Liok yang belum dikenalnya. Kalau bicara tentang menolong, tentu saja ia lebih mengutamakan Eng Lan untuk dtolongnya, karena gadis ini sudah dikenalnya.
Akan tetapi, tadi ia mendengar disebutnya nama Beng Kun Cinjin! Nama yang sudah lama dicari-cari, yang sudah lama ia ingin jumpai, nama musuh besarnya, pembunuh ayah bundanya! Tentu saja mendengar nama ini ia mengesampingkan urusan-urusan yang lain dan mengutamakan mengejar Beng Kun Cinjin. Jadi sesungguhnya ia bukan hanya hendak menolong dua orang saudara Liok dan mengejar Thai Khek Sian. melainkan lebih penting lagi ia mengejar Beng Kun Cinjin. musuh besarnya yang tahu-tahu sekarang muncul di samping Thai Khek Sian, hal yang sama sekali tak pernah disangka-sangkanya itu.
Bagaimanakah Beng Kun Cinjin tahu-tahu bisa bersekutu dengan Thai Khek Sian, pentolan golongan Mo-kauw itu? Biarpun Kong Bu sudah menceritakannya dengan singkat, akan tetapi hal ini perlu dijelaskan lagi. Tadinya Beng Kun Cinjin yang melarikan dini karena takut akan pembalasan anaknya sendiri, bersembunyi di tempat Tai It Cinjin pamannya. Akan tetapi setelah ia gagal membunuh Kun Hong yang malah dibela oleh dua orang saudara Liok yang menjadi murid Tai It Cinjin, ia merasa tidak aman di tempat itu. Pergilah ia ke Pek-go-to dan menyerahkan diri kepada Thai Khek Sian serta mohon perlindungan. Tentu saja Thai Khek Sian suka mendapat kaki tangan baru yang cukup tangguh seperti Beng Kun Cinjin, apa lagi mengingat bahwa orang ini adalah putera Gan Yan Ki yang terhitung masih saudara seperguruan sendiri. Dengan menyerahnya Beng Kun Cinjin Gan Tui kepadanya, berarti bahwa permusuhan turun-temurun antara tiga orang kakek sakti Wuyi-san, yang seorang telah ia menangkan. Dengan Beng Kun Cinjin kiranya ia akan dapat menang menghadapi Thian Te Cu kelak.
Thai Khek Sian malah menurunkan pelajaran kepada Beng Kun Cinjin setelah ia mendengar obrolan Beng Kun Cinjin bahwa murid tokoh itu, Kun Hong, sekarang telah menyeleweng dan mendekati musuh-musuh Mo-kauw, dan bahwa Kun Hong adalah puteranya sendiri yang hendak membunuhnya. Dalam diri Beng Kun Cinjin yang pandai mengumpak dan menjilat, Thai Khek Sian mendapatkan seorang murid yang cocok sekali.
Beng Kun Cinjin pernah menjadi pembantu Raja Mongol. maka sekarang ia membisikkan siasat kepada Thai Khek Sian untuk mengadakan undangan kepada para tokoh besar di dunia kang-ouw, untuk menentukan siapa di antara para tokoh yang paling jago, sekalian merayakan ulang lahun ke delapan puluh dari Thai Khek Sian.
"Kita melakukan persiapan, memberi tahu Kaisar Mongol untuk menyergap mereka. Dengan demikian sekali tepuk kita mendapatkan dua lalat. Pertama, membasmi golongan-golongan berbahaya yang
397
memusuhi kita, ke dua. Kaisar Mongol akan berterima kasih sekali kepada kita," kata Beng Kun Cinjin menutup siasatnya.
Thai Khek Sian menjadi girang sekali. Makin jahat rencana orang, makin kagumlah dia, karena di dalam benak orang ini tidak ada istilah jahat, yang ada hanyalah pintar atau bodoh, menang atau kalah. Setiap jalan, betapapun kejinya, betapapun jahat dan curangnya, akan ditempuh demi kemenangannya.
Di samping menyebar undangan untuk menghadiri pesta ulang tahun ke delapanpuluh di Pek-go-to, juga Beng Kun Cinjin menyatakan bahwa Tai It Cinjin yang menjadi pamannya, kakak ipar dari Gan Yan Ki selalu mengagulkan kepandaian.
"Dia perlu diundang," kata Beng Kun Cinjin, dan dia mempunyai dua orang murid yang cantik-cantik. Sayang sebetulnya dua orang gadis itu berada di sana, sebetulnya lebih patut berada di Pek-go-to menjadi murid Sian-su."
Gosokan-gosokan ini tentu saja mudah termakan oleh Thai Khek Sian. Maka bersama Beng Kun Cinjin ia lalu mendatangi Tai It Cinjin di Kim-le-san, memberi undangan sekalian "minta" dua orang murid itu. Hui Nio dan Hui Sian, menjadi muridnya! Tai It Cinjin tidak berani apa-apa, akan tetapi Kong Bu yang melihat kekasihnya hendak dibawa lalu menyerang, akibatnya dia sendiri yang dua kali kena dipukul oleh Thai Khek Sian sampai terluka.
Hui Nio dan Hui Sian sedih dan gelisah bukan main ketika mereka dibawa dengan paksa oleh manusia iblis Thai Khiek Sian ke Pulau Pek-go-to. "Heh-heh-heh. kalian akan hidup senang di pulauku, dan kalian baru mengenal ilmu silat tinggi kalau menjadi muridku." kata kakek mengerikan itu kepada mereka. Baiknya Thai Khek Sian sudah terlalu tua untuk memperlihatkan sikap kurang ajar dan tidak mengganggu mereka. Memang kakek ini wataknya luar biasa sekali. Semenjak ia masih muda sekalipun, biar ia amat jahat, keji dan tidak ada kekejaman yang tak dilakukannya, namun ia tidak sudi menguasai wanita dengan kekerasan.
Wanita harus tunduk kepadanya, malah sebagian besar memperebutkan kasih sayangnya! Memang aneh, akan tetapi kakek sakti ini memiliki kesaktian yang dapat menarik hati wanita. Hebatnya, biarpun di pulaunya banyak terdapat wanita-wanita muda yang cantik dan yang menjadi selir juga muridnya, namun ia tidak perduli apakah mereka itu setia kepadanya atau tidak. Malah sudah beberapa tahun ini. mungkin berhubung dengan usianya yang sudah delapanpuluh kurang, ia tidak begitu perdulikan mereka lagi dan sudah merasa "ayem" melihat selir- selirnya itu berada di sekelilingnya, berpakaian rapi, tersenyum-senyum dan menggembirakan hatinya dengan kemudaan mereka, dengan kegembiraan mereka dan semangat mereka belajar ilmu silat.
Thai Khek Sian menculik Hui Nio dan Hui Sian sama sekali bukan karena ia kegilaan dua orang gadis ini. Di pulaunya terdapat banyak wanita muda yang jauh lebih cantik dari pada mereka enci adik ini. Dia menculiknya hanya untuk memperlihatkan kepada murid barunya, Beng Kun Cinjin. akan kekuasaan dan kepandaiannya, bahwa dia berani menculik murid Tai It Cinjin. Terutama sekali untuk menghina Tai It Cinjin yang sikapnya sombong itu.
Maka, biarpun sedih dan gelisah. Hui Nio dan Hui Sian merasa lega juga ketika di Pulau Pek-go-to mereka berdua dilepas begitu saja di pulau itu. Pedang mereka malah tidak dirampas dan mereka boleh berbuat sesuka hati mereka. Makan, pakai sudah tersedia cukup dan Thai Khek Sian tak pernah
398
mengganggu mereka karena kakek ini merasa yakin bahwa akhirnya dua orang gadis inipun, seperti yang lain-lain. dengan suka rela akan tunduk kepadanya.
Dua orang enci adik itu merasa bingung, Biarpun mereka dibiarkan bebas di pulau yang amat indah itu, akan tetapi apakah enaknya orang ditawan? Mereka sama sekali tidak berdaya. Tidak ada perahu yang tidak terjaga kuat yang dapat mereka curi. Untuk pergi dari pulau itu menyeberang ke daratan adalah hal tidak mungkin. Memberontak? Percuma, jangankan sampai Thai Khek Sian atau Beng Kun Cinjin turun tangan, baru murid-murid Thai Khek Sian, wanita-wanita cantik yang berada di situ dan hidup seperti puteri-puteri kahyangan itu saja sudah merupakan lawan tangguh sekali.
Pernah mereka didatangi dua orang gadis cantik sekali di antara banyak sekali wanita muda cantik-cantik itu. Seorang berpakaian merah dan yang ke dua berpakaian hijau. Pakaian mereka indah dan ketat dan harus diakui oleh enci adik ini bahwa dua orang wanita muda ini benar-benar cantik dan gagah, membuat mereka terheran-heran bagaimana dua orang wanita seperti ini bisa menjadi selir Thai Khek Sian. Si baju hijau berkata tersenyum manis,
"Kedua adik, bukankah kalian ini Liok Hui Nio dan Liok Hui Sian murid Tai It Cinjin yang berkenan dibawa ke sini oleh Siansu? Ah, kalian beruntung sekali kalau terpilih menjadi murid Siansu. Hendaknya kalian baik-baik menjaga diri dan kalau kalian bisa mengambil hatinya menerima warisan ilmu, benar-benar kalian akan menjadi dua orang wanita perkasa........"
"Tutup mulut!" Hui Sian membentak marah. "Siapa sudi menjadi muridnya? Kami diculik dan dipaksa ke sini. Kalau tidak, apa kau kira kami sudi menginjakkan kaki ke pulau kotor ini?"
"Aduh galaknya! Enci, buat apa kita bicara dengan dua serigala ini? Mari kita pergi saja," kata yang berbaju merah.
Akan tetapi yang berbaju hijau menggelengkan kepala sehingga anting-antingnya yang terbuat dari batu kemala indah itu bergoyang-goyang lucu sekali.
"Sudah jamak yang baru datang bersikap begini. Kelak juga akan berubah kalau sudah bosan bersikap marah-marah. Dua adik Liok, ketahuilah, aku Cheng In dan ini adikku Ang Hwa. Kalau kalian perlu akan sesuatu, boleh cari kami dan kami akan senang sekali kalau dapat menolong kalian."
Tiba-tiba Hui Nio memberi isyarat kepada adiknya dan keduanya mencabut pedang lalu melompat ke dekat Cheng In dan Ang Hwa sambil menodongkan pedang masing-masing.
"Kalian mau tolong? Baik, hayo lekas antar kami ke tempat perahu agar kami dapat lolos dari tempat ini. Kalau kalian membantah, pedang ini akan menembus dada kalian!" kata Hui Nio perlahan. Ia melihat kesempatan baik sekali. Agaknya Cheng In dan Ang Hwa ini merupakan orang-orang penting pula di situ, maka siapa tahu mereka ini dapat menolong di bawah ancaman pedang.
Akan tetapi, Cheng In dan Ang Hwa tiba-tiba tertawa cekikikan lalu menutupi mulut masing-masing.
"Kenapa tertawa?" Hui Nio membentak gemas.
"Kalian ini lucu, lucu sekali!" Cheng In berkata lalu tertawa lagi dengan adiknya, Ang Hwa.
"Apanya yang lucu? Apakah ujung pedang ini lucu?" Hui Sian membentak sambil menodongkan ujung pedangnya ke arah leher Ang Hwa.
399
"Apa kalian hendak memamerkan sedikit permainan pedang? Baiklah, mari kita main-main sebentar," kata Ang Hwa dan dengan gerakan bagaikan kilat cepatnya dia dan Cheng In sudah melompat ke belakang. Gerakan ini demikian gesitnya, sama sekali berlawanan dengan gerak-gerik mereka yang lemah lembut tadi dan di lain saat mereka sudah memegang sebatang pedang yang berkilauan tajamnya.
"Mau main-main dengan pedang? Boleh, majulah!" kata Cheng In, senyumnya manis mengejek.
Hui Nio dan Hui Sian sudah kepalang untuk mundur, mereka lalu maju menerjang dengan pedang mereka. Cheng In dan Ang Hwa menangkis dan kedua pasang enci adik ini bertempur seru. Akan tetapi ternyata bahwa tingkat dua orang murid dan kekasih Thai Khek Sian itu masih jauh lebih unggul. Sebentar saja gulungan sinar pedang mereka sudah mengurung rapat dan membuat murid-murid Tai It Cinjin kewalahan, terdesak mundur akan tetapi tidak ada jalan untuk keluar dari kurungan sinar pedang lawan. Beberapa jurus kemudian, terdengar suara nyaring dan pedang di tangan Cheng In dan Ang Hwa telah berhasil membuat pedang lawan terpental dan menancap di atas tanah.
Hui Nio dan Hui Sian berdiri pucat. Akan tetapi Cheng In dan Ang Hwa tidak menyerang lagi, malah menyimpan pedang masing-masing dan sambil tertawa-tawa meninggalkan enci adik itu yang menjadi malu sekali. Hui Sian segera menjatuhkan diri menangis di atas rumput. Hui Nio menghampiri adiknya dan menghibur.
"Mereka terlampau kuat. Tidak ada jalan untuk keluar dari pulau ini dengan kekerasan. Kita harus bersabar sambil menanti kesempatan dan mencari akal," kata Hui Nio menghibur adiknya.
Dua orang gadis ini tidak tahu bahwa pada saat itu, seorang pemuda menghampiri mereka dari balik batu gunung-gunungan. Baru mereka kaget ketika pemuda itu menyapa, "Apakah ji-wi (kalian) ini ji-wi Liok-siocia dari Kim-le-san?"
Hui Nio dan adiknya menengok dan melihat seorang pemuda berpakaian seperti orang kota atau golongan terpelajar, sikapnya lemah lembut dan wajahnya tampan sekali. Mereka tidak mengenalnya dan mengira bahwa orang ini tentu anggauta penghuni pulau ini atau kaki tangan Thai Khek Sian
"Betul." jawab Hui Nio ketus, "apakah kau ini begundal Thai Khek Sian dan mau apa dekat-dekat di sini? Pergilah!"
Pemuda itu tersenyum dan mengangkat tangan menjura. "Ji-wi siocia jangan salah sangka. Aku datang atas suruhan Kong Bu ciangkun untuk menolongmu."
Hui Nio sudah kelihatan girang sekali akan tetapi Hui Sian membentak. "Bohong! Siapa percaya obrolanmu? Apa kau bisa terbang ke pulau ini?"
"Aku tidak bisa terbang." kata pemuda itu yang bukan lain Wi Liong adanya, "akan tetapi dengan pertolongan perahu kecil aku bisa menyeberang ke sini dan memasuki pulau tanpa ketahuan. Nona Liok, ada hal penting yang hendak kutanyakan kepada kalian. Apakah Beng Kun Cinjin berada di pulau ini?" Wi Liong mengajukan pertanyaan ini dengan bernafsu sehingga suaranya agak menggigil. Hal ini disalah-artikan oleh Hui Sian yang berkata ketus,
400
"Kalau terhadap Beng Kun Cinjin saja kau ketakutan setengah mati, bagaimana kau akan mampu menolong kami?"
"Hui Sian, jangan sembarangan bicara." Hui Nio menegur adiknya yang kewat (genit) itu, kemudian ia menghadapi Wi Liong. "Sudara ini siapakah dan untuk apa menanyakan Beng Kun Cinjin?”
Wi Liong menarik napas panjang. Ia mendongkol tidak dipercaya penuh oleh dua orang gadis ini. "Namaku Thio Wi Liong. Aku mendapat tugas menolong kalian berdua, akan tetapi sebelum aku lakukan hal itu, lebih dulu aku hendak mencari dan membunuh Beng Kun Cinjin."
Mendengar ini, dua orang enci adik itu melongo. Alangkah mudahnya pemuda ini bicara. Tidak saja Beng Kun Cinjin. sendiri merupakan seorang jago tua yang berilmu tinggi, juga di situ banyak orang pandai seperti Cheng In dan Ang Hwa tadi, jangan lagi bicara tentang Thai Khek Sian. Kalau saja tidak ingat bahwa pemuda ini hendak menolong mereka, mau rasanya mereka mentertawakan pemuda ini seperti tadi Cheng In dan Ang Hwa mentertawakan mereka.
"Tentu saja Beng Kun Cinjin berada di rumah besar sana bersama Thai Khek Sian." kata Hui Sian sambil menudingkan telunjuknya yang kecil ke arah timur di mana tepat di tengah tengah pulau itu terdapat perumahan Thai Khek Sian dan murid-murid atau selir-selirnya. Dengan menyebut nama Thai Khek Sian, gadis ini hendak membikin kaget Wi Liong supaya jangan demikian besar omongannya. Akan tetapi siapa sangka, pemuda itu dengan mata bersinar-sinar girang mendengar Beng Kun Cinjin benar-benar berada di situ, lalu berkelebat pergi sambil berkata,
"Kalau begitu aku akan mencarinya lebih dulu!" Tubuhnya sekali berkelebat lenyap dari pandang mata dua orang gadis itu, membuat Hui Nio dan Hui Sian melongo terheran-heran dan kagum. Timbul harapan dalam hati mereka melihat kelihaian pemuda itu maka dengan cepat mereka memungut pedang masing- masing dan berlari mengejar, dengan maksud hendak membantu pemuda yang hendak menolong mereka dan membunuh Beng Kun Cinjin itu. Dua orang gadis ini memang orang-orang berjiwa gagah dan tabah sekali. Biarpun maklum akan menghadapi orang-orang sakti, mereka tidak gentar.
Dengan gerakan cepat sekali Wi Liong berlari menuju ke bangunan rumah-rumah di tengah pulau yang indah itu. Beberapa orang wanita muda cantik jelita yang duduk di taman bunga kaget melihat ia berlari-lari dan para wanita itu lalu membicarakan pemuda tampan yang lewat itu dengan penuh gairah.
Semenjak Kun Hong pergi meninggalkan pulau ini. mereka kesunyian dan sekarang melihat Wi Liong, tentu saja mereka menjadi gembira. Serentak mereka berdiri dan dengan gerakan ringan mereka mengejar, menyangka bahwa pemuda itu adalah tamu dari Siansu.
Wi Liong tidak memperdulikan para wanita itu yang pakaiannya indah-indah, orangnya muda-muda dan cantik-cantik. Ia terus berlari maju penuh nafsu, dan tak lama kemudian ia tiba di sebuah taman penuh batu-batu besar berbentuk gunung-gunungan yang membuat tempat itu kelihatan indah sekali. Tempat ini letaknya tak jauh dari perumahan yang sudah kelihatan dari situ tembok-temboknya dan tiba-tiba ia melihat seorang laki-laki tinggi besar berkepala gundul di atas sebuah batu, duduk bersila sambil minum arak dari guci, kelihatan senang puas sambil menikmati
401
pemandangan yang memang indah, bunga-bunga dan gadis-gadis cantik bermain-main di antara bunga yang bertebaran di seluruh pulau itu!
Wi Liong belum pernah bertemu dengan Beng Kun Cinjin. Ia pernah melihat Thai Khek Sian maka ia tahu bahwa kakek ini bukan Thai Khek Sian, dan melihat bentuk tubuh yang kekar dengan kulit kehitaman, kepala gundul dan tasbeh panjang tergantung di leher hwesio itu, hatinya berdebar. Ia sudah mendengar dari pamannya bagaimana macamnya musuh besar itu.
"Apakah kau yang bernama Beng Kun Cinjin?" tanyanya singkat, tangannya yang memegang suling gemetar saking tegangnya perasaannya.
Beng Kun Cinjin yang baru merasa aman setelah berada di Pek-go-to dekat dengan Thai Khek Sian, sedang duduk melamun penuh kesenangan. Ia tidak suka lagi mendekati gadis-gadis itu, akan tetapi melihat mereka bermain di dalam taman sungguh merupakan pemandangan yang menyedapkan hati dan pikiran. Di tempat ini ia merasa aman betul, maka ia kembali kepada kebiasaan lama ketika masih berada di istana kaisar, yaitu minum arak wangi sepuasnya! Siapa yang ia takuti di tempat Thai Khek Sian? Kun Hong boleh datang, ia tidak takut!
Maka iapun kaget mendengar suara orang menyebut namanya. Ketika ia menengok ogah-ogahan sambil menenggak arak, hampir saja ia lepaskan gucinya karena mengira pemuda itu Kun Hong. Memang Wi Liong sebaya dengan Kun Hong,dan keduanya memang orang-orang muda yang tampan sekali. Akan tetapi ia segera melihat bahwa pemuda ini bukan Kun Hong, maka ia memandang rendah lalu balas bertanya.
"Orang muda, kau siapa dan bagaimana bisa mengenal nama pinceng?"
"Beng Kun Cinjin, kalau begitu kau bersiaplah untuk mampus di tanganku!" Wi Liong maju selangkah, suling di tangannya tergetar.
Beng Kun Cinjin menunda minumnya, matanya memandang terbelalak kepada pemuda tampan itu, terheran-heran. "Eh. eh, orang muda apa kau sudah gila? Ataukah kau kemasukan roh dari malaikat pencabut nyawa? Siapakah kau yang tiada hujan tiada angin hendak membunuhku?" Ia masih tidak perdulikan pemuda ini, memandang rendah dan sekali lagi menenggak arak dari guci itu.
"Mau tahu siapa aku? Baiklah agar kau jangan mampus penasaran. Bukalah telingamu baik-baik, jahanam keparat. Masih ingatkah kau kepada Thio Houw dan Kwee Goat?"
Beng Kun Cinjin terkejut dan menurunkan guci arak dari mulutnya.
"Dia......... mereka......... itu murid-muridku. Kau siapalkah?"
"Thio Houw adalah ayahku dan Kwee Goat ibuku. Namaku Thio Wi Liong, Nah, Beng Kun Cinjin, tentu kau tahu mengapa anak dari orang-orang yang kaubunuh sekarang datang hendak menuntut balas. Bersiaplah!"
Pucat wajah Beng Kun Cinjin mendengar ini. bukan pucat karena takut melihat pemuda ini, melainkan karena kaget diingatkan akan perbuatannya dahulu yang benar-benar amat ia sesalkan itu. Apa lagi
402
sekarang ketika ia memandang penuh perhatian, wajah Wi Liong membayangkan wajah, Kwee Goat, murid perempuan yang dahulu amat ia sayang sebagai puteri sendiri. Biarpun ia kaget sekali, namun ia masih memandang rendah dan tidak mau kalah gertak.
"Ah, jadi kau anak dua orang muridku yang durhaka itu? Wi Liong, kau masih muda dan melihat wajahmu mirip wajah ibumu, baik kuampunkan kekurang-ajaranmu ini. Pergilah saja dan ketahuilah bahwa orang tuamu mati karena salah mereka sendiri, karena kedurhakaan mereka terhadap guru."
"Bangsat gundul keparat! Selain membunuh ayah bundaku, kau secara keji membutakan mata paman Kwee Sun Tek. Setelah melakukan kekejian-kekejian itu, apakah sekarang masih berani menyangkal? Rasakanlah pembalasanku!" Cepat Wi Liong menerjang maju. akan tetapi sambil menggereng marah Beng Kun Cinjin menubruk dari atas dan memukul kepala Wi Liong dengan guci araknya. Wi Liong menangkis dengan sulingnya.
"Prakkk............!" Guci arak itu pecah berkeping-keping dan isinya menyiram muka Beng Kun Cinjin, membuat dia gelagapan. Baiknya dia terus menggulingkan diri ke belakang dengan amat cepat, kalau tidak tentu kepalanya yang gundul itu berkenalan dengan suling di tangan Wi Liong.
"Hebat.........!" Beberapa suara halus mengeluarkan suara pujian. Itulah suara Cheng In, Ang Hwa, dan perempuan-perempuan lain yang tertarik dan sudah berada di situ. Mereka hanya menonton karena Beng Kun Cinjin adalah murid baru yang selalu menyendiri, sedangkan pemuda itu tak seorangpun kenal. Akan tetapi, para murid Thai Khek Sian yang rata- rata memiliki ilmu silat tinggi, melihat segebrakan saja sudah kagum karena mereka sudah tahu akan kelihaian Beng Kun Cinjin dan kini. sekali tangkis dengan suling saja Beng Kun Cinjin menjadi sibuk. Ini saja sudah cukup membuktikan kehebatan pemuda itu maka mereka pada mengeluarkan suara pujian.
Sementara itu, Beng Kun Cinjin yang tadinya kaget setengah mati sekarang menjadi marah dan penasaran. Ia telah mengambil tasbeh dari lehernya dan dengan suara seperti seekor harimau mengamuk, ia menerjang maju menyerang pemuda yang hanya bersenjata sebatang suling itu.
"Cici Cheng In. benar dia itu........ benar orang she Thio itu.........!" tiba-tiba Ang Hwa berkata. Memang dahulu pernah Cheng In dan Ang Hwa bertempur melawan Wi Liong ketika mereka berdua menjadi utusan Thai Khek Sian mengadakan pertemuan dengan ketua-ketua Hai-liong-pang dan mereka telah dikalahkan oleh pemuda tampan itu.
Adapun Wi Liong yang mengelak dari serangan tasbeh. mendengar suara ini serasa ia kenal. Ketika ia melirik, ia melihat Cheng In dan Ang Hwa. Tahulah ia bahwa ia telah terkepung oleh murid-murid Thai Khek Sian yang lihai. Akan tetapi ia tidak takut dan kini mencurahkan perhatiannya untuk melayani Beng Kun Cinjin. Melihat hebatnya gerakan tasbeh, ia segera memutar sulingnya dan dalam beberapa gebrakan saja ia sudah mendesak hebat dan membuat Beng Kun Cinjin mandi keringat!
"Adik Ang Hwa, orang she Thio ini benar-benar mengagumkan sekali Kepandaiannya sudah makin lihai saja.......!" terdengar Cheng In memuji.
"Hwesio itu mana bisa menang!" kata Ang Hwa.
403
Memang Beng Kun Cinjin terdesak hebat oleh suling di tangan Wi Liong yang mengerahkan seluruh kepandaiannya untuk membunuh musuh besar ini. Akan tetapi Beng Kun Cinjin bukannya lawan sembarangan. Ilmu silatnya tinggi dan tenaganya besar, baik tenaga lweekang apa lagi tenaga gwakangnya. Dia adalah seorang ahli gwa-kang yang sudah dapat menguasai lweekang tinggi, dan senjatanya berupa tasbeh itupun merupakan senjata yang amat ampuh dan sukar dilawan.
Kalau saja bukan Wi Liong murid terkasih Thian Te Cu yang menghadapinya, sukarlah menangkan hwesio yang banyak pengalamannya ini.
Yang bingung dan cemas adalah Beng Kun Cinjin sendiri. Sungguh di luar sangkaannya sama sekali bahwa di samping Kun Hong yang ditakuti kini muncul seorang pemuda lain yang menjadi musuh besarnya, putera dari Thio Houw dan Kwee Goat, yang kepandaiannya malah tidak kalah oleh Kun Hong. Beng Kun Cinjin boleh jadi gagah perkasa dan sakti, akan tetapi dalam satu hal ia amat lemah, yaitu ia takut mati.
Ngeri ia menghadapi kematian, maka ia selalu ketakutan terhadap Kun Hong. sekarang ia makin takut lagi dengan munculnya Wi Liong. Ia masih mencoba untuk mengerahkan tenaga dan balas menyerang dengan tasbehnya. Kalau perlu ia akan mengadu nyawa, pikirnya nekat karena suling pemuda itu seakan-akan telah berubah menjadi berpuluh batang dan mengurungnya dari semua jurusan. Ia yang tadinya hanya mampu menangkis saja, sekarang tidak perduli suling lawan dan membarengi dengan hantaman tasbeh ke arah kepala pemuda itu. Serangan yang nekat sekali!
Mana Wi Liong sudi mati bersama musuh besarnya? Ia menarik sulingnya dan menangkis hantaman itu. Hebatnya, begitu tasbeh tertangkis, senjata aneh ini terus melibat suling dengan kuatnya, tak dapat terlepas lagi! Beng Kun Cinjin merasa diri cerdik, dengan girang ia membetot untuk merampas suling. Kepandaiannya "melibat dan merampas" ini dahulu selalu menjadi modalnya dalam pertempuran menghadapi lawan berat dan jarang sekali gagal. Dengan modal gerakan ini ia selalu dapat merampas senjata lawan dan mencapai kemenangan. Akan tetapi kali ini. ia tidak mampu merampas suling yang ringan itu! Malah-malah ketika ia hendak menarik kembali tasbehnya dan melepaskan libatan, ia tidak sanggup, seakan-akan suling itu berakar dan menjadi satu dengan tasbeh. Kini ia tidak tahu lagi apakah tasbehnya yang melibat ataukah suling lawan yang menahan!
Beng Kun Cinjin menggunakan tangan kirinya untuk memukul ke depan sambal melangkah maju. Angin menyambar kuat karena inilah pukulan Pat-in-ciang (Pukulan Mendorong Awan) yang lihainya bukan main dan dahulu sudah merobohkan entah berapa banyak lawan. Akan tetapi kali ini ia menghadapi Wi Liong. Pemuda itu dengan tenang juga menggerakkan tangan kirinya dan dengan telapak tangan dibuka ia menerima pukulan itu.
"Plakk.........!" Beng Kun Cinjin mengeluh dan mencelat ke belakang, tasbehnya putus untaiannya dan berjatuhan di atas tanah, menggelinding ke sana ke mari. Hwesio itu sendiri setelah dapat menguasai keseimbangan badan dan tidak terhuyung lagi, berdiri dengan muka pucat. Ia telah mendapa luka di dalam dada karena pukulannya sendiri membalik ketika bertemu dengan tangan Wi Liong.
"Bagus sekali.........!" terdengar Cheng In memuji.
"Pemuda hebat.........!" Ang Hwa juga memuji dengan muka merah dan mata bersinar-sinar.
404
Wi Liong tidak perdulikan semua itu, ia melangkah maju perlahan untuk menghampiri musuh besarnya dan melanjutkan pertempuran. Akan tetapi pada saat itu terdengar suara mencela, "Biar tampan dan lihai, musuh tetap musuh tak boleh dipuji. Hayo kalian pergi!"
Para wanita muda itu tidak ada yang berani membantah, cepat pada pergi berlari-lari dari tempat situ.
Wi Liong menengok dan kagetlah ia melihat Thai Khek Sian muncul dengan tiba-tiba. Ia kaget karena melihat kakek ini sekarang lebih mengerikan lagi dari pada dahulu ketika ia bertemu untuk pertama kalinya. Kakek ini masih tetap berkulit hitam, bertelanjang dada hanya mengenakan celana hitam panjang, kepalanya gundul, kuku jari tangannya panjang-panjang seperti cakar setan. Yang lebih mengerikan lagi, sekarang kakek ini memakai sebuah kalung yang mengikat sebuah tengkorak manusia. Tengkorak itu bergerak-gerak tergantung di depan dadanya, mengerikan sekali. Ia tidak tahu bahwa inilah "pakaian" Thai Khek Sian di waktu ia sedang bersamadhi atau melatih ilmunya. Tadi ia tengah bersamadhi maka ia "berpakaian" seperti ini dan ia keluar karena terganggu oleh suara-suara itu, terutama sekali karena pendengarannya yang luar biasa itu sudah dapat menangkap angin-angin pukulan dua orang yang sedang bertempur di taman.
"Gan Tui, kau mundurlah!"
Tentu saja Beng Kun Cinjin menjadi girang sekali dan cepat pergi dari situ untuk mengobati luka di dalam dadanya.
"Bocah kurang ajar, kau siapa dan bagaimana kau berani memasuki pulauku membuat kacau?" Thai Khek Sian menegur.
Wi Liong berlaku waspada dan bersikap tenang. "Aku bernama Thio Wi Liong. aku bukan pengacau hanya akan membunuh Beng Kun Cinjin untuk membalaskan sakit hati ayah bundaku. Thai Khek Siansu, harap kau minggir dan jangan mencampuri urusanku dengan........."
Tiba-tiba Thai Khek Sian menubruk maju dan menyerang dengan kuku-kuku jari tangan kirinya, mencengkeram ke arah leher Wi Liong sambil tertawa-tawa.
"Kau curang!" Wi Liong berseru marah sambil menangkis dengan sulingnya. Ketika suling itu bertemu dengan kuku meruncing itu. terdengar suara nyaring seperti senjata-senjata tajam bertemu dan Wi Liong merasa telapak tangannya tergetar. Ia maklum akan kelihaian lawan, maka ia berlaku hati-hati sekali. Tadipun kalau ia tidak hati-hati, ia sudah kena dibokong dengan penyerangan tiba-tiba selagi ia bicara. Selain lihai, juga Thai Khek Sian amat curang, licin, penuh tipu muslihat, pendeknya segala macam kejahatan dan kecurangan memenuhi kepala yang gundul plontos itu.
Thai Khek Sian penasaran sekali. Ia sebagai seorang tokoh besar, seorang pentolan Mo-kauw nomor wahid, masa tidak bisa merobohkan seorang pemuda dengan sekali serang? Benar memalukan, pikirnya. Baiknya selir-selirnya sudah pada pergi dari situ, kalau tidak ia dapat kehilangan muka karena serangannya tadi gagal. Dengan kemarahan meluap ia menyerang lagi, Wi Liong menangkis dan di lain detik terjadilah serang-menyerang yang hebatnya bukan main. Wi Long memusatkan seluruh perhatian, tenaga, dan kepandaiannya ke dalam semua gerakannya. Selama hidupnya baru
405
kali ini ia menghadapi lawan setangguh ini dan setiap gerakan harus diperhitungkan benar-benar. Ia cukup maklum bahwa sekali saja meleset dan terkena pukulan kakek ini berarti maut baginya.
Thai Khek Sian makin penasaran. Ternyata bocah ini dapat melayaninya dengan baik! Setiap serangan darinya selalu dapat dielakkan atau ditangkis, malah dapat membalas dengan penyerangan kilat. Suling itu hebat sekali. Ia memperhatikan gerak tipu-gerak tipu pemuda itu dan tiba-tiba ia berteriak,
"Kau murid Thian Te Cu.........!!" Sambil berteriak begini ia melompat mundur.
Wi Liong menyilangkan suling di depan dadanya, sikapnya tetap tenang dan keren. "Betul, dan aku musuh besar Beng Kun Cinjin. Dia pembunuh ayah bundaku. Harap kau orang tua jangan mencampuri urusanku."
Thai Khek Sian tertawa bergelak. Tengkorak di depan dadanya bergerak- gerak mengangguk-angguk. "Bocah kurang ajar, kau berhadapan dengan susiokmu (paman gurumu) sendiri berani bersikap begini tak tahu adat?"
Wi Liong tersenyum sindir. "Kau tidak pernah mengakui suhu sebagai suheng (kakak seperguruan), bagaimana aku bisa mengakui kau sebagai susiok?"
"Bocah sombong, kau perlu dihajar!" Dengan gemas sekali Thai Khek Sian menerjang maju dengan sepuluh jari kukunya. Kukunya panjang-panjang dan setiap jari merupakan semacam pisau berbisa yang amat menakutkan. Bukan hanya berbisa, malah mengandung kekuatan tak kalah oleh pedang sehingga tiap kali bertemu dengan suling Wi Liong, terdengar suara nyaring seperti baja bertemu.
Wi Liong tidak berani berlaku lambat. Cepat ia menandingi kakek itu dengan ilmu pedangnya yang sempurna, yang dimainkan dengan suling. Kalau pukulan-pukulan Thai Khek Sian mendatangkan angin bersiutan sehingga daun-daun tetanaman di taman itu pada gugur, adalah suling Wi Liong mengeluarkan suara melengking seperti ditiup, dan suling itu dalam tangannya seperti berubah menjadi banyak sekali. Gulungan sinar suling bergelombang mengimbangi gerakan kuku-kuku jari lawannya. Mereka telah bertanding lagi dengan hebatnya, seru dan mati-matian. Makin lama Thai Khek Sian makin marah karena penasaran sekali. Sampai puluhan jurus belum juga ia dapat mengalahkan lawannya yang muda. Jangan kata mengalahkan, mendesakpun tidak mampu. Matanya mengeluarkan cahaya berapi, kepalanya seperti mengeluarkan uap dan gerakannya makin menggila.
Wi Liong diam-diam terkejut bukan main. Setiap pertemuan antara sulingnya dengan tangan manusia iblis itu, ia merasa lengannya tergetar.
Akan tetapi ia mengumpulkan semangatnya dan melawan mati-matian sepenuh tenaga. Pertempuran itu bukan main hebatnya. Pepohonan tercabut dan roboh, batu-batu pada pecah yang berada di dekat tempat itu. semua itu hanya terkena hawa pukulan yang membabi-buta.
Dua orang gadis, Hui Nio dan Hui Siam yang sudah menyusul sampai di situ. menonton dari belakang batu besar dengan muka pucat. Selama hidupnya belum pernah mereka menyakskan pertandingan sehebat itu. Angin-angin pukulan menyambar sampai ke tempat mereka dan hanya dengan berlindung di balik batu besar itu mereka dapat menonton. Kalau tidak, hawa pukulan itu tentu menyerang mereka dan biarpun jaraknya jauh, kiranya mereka takkan dapat menahan dan akan
406
roboh. Malah suara melengkingnya suling yang keluar dari senjata Wi Liong tak kuat mereka dengarkan lebih lama lagi. Suara itu mengandung khikang tinggi, membuat mereka lemas dan tulang-tulang terasa sakit. Terpaksa mereka menggunakan saputangan untuk menutupi kedua telinga!
Puluhan jurus telah lewat. Bahkan ratusan jurus. Sejam, dua jam, tiga, empat jam sudah dua orang itu bertanding, akan tetapi masih belum ada yang kalah atau menang. Mereka sudah tidak kelihatan lagi, sudah berubah menjadi dua gundukan sinar yang aneh, sinar bergulung-gulung dan menyambar ke sana ke mari seperti dua ekor naga sakti bermain-main di angkasa raya.
Akhirnya Thai Khek Sian tak dapat menahan sabar lagi. Memang Wi Liong sudah lama sejak tadi terdesak hebat, akan tetapi ia masih terus mempertahankan diri dan karena Thai Khek Sian ingin merobohkan pemuda itu dengan ilmu silatnya maka sebegitu lama ia belum mampu merobohkan pemuda itu. Setelah-kesabarannya habis, tiba-tiba kakek ini mengeluarkan pekik yang luar biasa dahsyatnya, bukan pekik manusia lagi melainkan suara yang patutnya keluar dari neraka jahanarm. Tengkorak yang tergantung di dadanya tiba-tiba mengeluarkan asap putih dari mulut yang menyambar ke arah Wi Liong.
Pemuda ini memang sudah sibuk terkurung oleh jari-jari tangan berkuku tajam itu sehingga ia tidak keburu lagi menghindarkan diri. Sekali ia menyedot asap itu, tubuhnya terhuyung dan ia roboh pingsan di atas tanah! Thai Khek Sian tertawa tergelak, akan tetapi, ia masih ingat bahwa pemuda ini adalah murid Thian Te Cu maka ia tidak mau membunuhnya. Betapapun juga. ia masih merasa ngeri untuk menanam permusuhan dan menimbulkan marahnya Mayat Hidup Thian Te Cu itu. Baru muridnya saja sudah begini hebat, pikirnya, entah bagaimana lihainya kakek itu yang sudah lama sekali tak pernah ia jumpai.
Selagi Thai Khek San tertawa-tawa girang, muncul Hui Nio dan Hui Sian dari tempat sembunyinya. Dua orang gadis ini yang menganggap Wi Liong sebagai penolong mereka, tentu saja tidak bisa tinggal diam melihat penolong mereka roboh pingsan. Mereka takut kalau-kalau Thai Khek Sian membunuh pemuda itu. Hui Sian dengan tabah lalu melompat ke depan Thai Khek Sian dengan pedang di tangan.
"Kau baru bisa bunuh dia melalui mayatku!" katanya gagah sambil bersiap untuk bertempur.
Sedangkan Hui Nio yang melihat wajah pemuda itu pucat dan napasnya tidak ada lagi, cepat mengangkat tubuh atas Wi Liong dan dipangkunya. Wi liong sudah lemas dan pucat, napasnya tidak ada lagi seperti orang mati.
"Kau.........kau membunuhnya.........!" kata Hui Nio marah sekali. Dengan perlahan ia lalu menurunkan tubuh Wi Liong di atas rumput dan melompat di samping Hui Sian dengan pedang di tangan.
"Eh-he-he. kalian ini mau apa?" Thai Khek Sian mentertawakan mereka. "Pemuda itu apamu sih?"
"Bukan apa-apa!" jawab Hui Sian tegas. "Akan tetapi dia mau menolong kami keluar dan sini. Oleh karena kau telah membunuhnya, kamipun hendak mengadu nyawa denganmu!" Setelah, berkata demikian, Hui Sian lalu menerjang maju, diikuti oleh Hui Nio.
Thai Khek Sian tertawa bergelak. Tentu saja dua orang gadis itu bukan lawannya. Ia membuat gerakan aneh ke kanan kiri, terdengar bunyi "krak-krak!" dan dua batang pedang di tangan Hui Nio dan Hui
407
Sian itu telah kena ia rampas dan ia patah-patahkan! Lalu ia melempar pedang-pedang itu sambil tertawa terkekeh-kekeh.
Akan tetapi Hui Nio dan Hui Sian tidak mau sampai di situ saja. Biarpun pedang mereka sudah dirampas, mereka serentak maju dan menyerang dengan kepalan dan tendangan mereka! Thai Khek Sian mulai marah. Ia membiarkan dua orang gadis itu memukul dadanya, pukulan-pukulan itu terpental dan dua orang gadis itu merasa tangan mereka sakit sekali. Pada saat itu Thai Khek Sian memberi tanda panggilan dengan teriakannya dan datanglah Cheng In dan Ang Hwa berlarian.
"Robohkan mereka, tapi jangan bunuh" kata Thai Khek Sian.
Cheng In dan Ang Hwa bertindak cepat. Mereka menyerang Hui Nio dan Hui Sian yang tentu saja berusaha melawan. Akan tetapi dari jauh Thai Khek Sian mendorong mereka sehingga keduanya jatuh terguling. Pada saat itu Cheng In dan Ang Hwa sudah menotok jalan darah mereka, membuat dua orang gadis tawanan itu tak berdaya lagi.. Melihat Wi Liong juga rebah tak bergerak, Cheng In dan Ang Hwa menjadi khawatir sekali.
"Bawa mereka ke dalam perahu, lepaskan perahu di tengah lautan. Biarkan ombak yang memutuskan mati hidup mereka!" perintah Thai Khek Sian.
Cheng In dan Ang Hwa sudah kenal betul watak Thai Khek Sian. Dari suara kakek ini saja tahulah mereka bahwa kakek ini sedang kesal hati dan tidak ingin perintahnya dibantah. Maka tanpa berani banyak cakap lagi dua orang wanita cantik ini lalu menjalankan perintah itu. Mereka mengangkat tubuh Wi Liong yang sudah lemas seperti mayat, juga tubuh dua saudara Liok dan membawanya ke dalam sebuah perahu, dibantu oleh seorang kawan lain. Lalu perahu itu mereka dayung ke tengah lautan, antara Pulau Pek-go-to dan daratan kemudian berpindah perahu dan meninggalkan perahu kecil bergolak-golek di atas lautan. Dengan hati berat Cheng In dan Ang Hwa meninggalkan perahu itu, berat hati mereka melihat Wi Liong, akan tetapi tidak berdaya menolong, takut kepada Thai Khek Sian.
Apa sebabnya Thai Khek Sian tidak mau membunuh Wi Liong? Dan mengapa pula ia melepaskan Hui Nio dan Hui Sian? Kakek ini biarpun kejam dan berwatak aneh, ia cerdik luar biasa dan dapat melihat datangnya akibat-akibat buruk kalau ia membunuh pemuda itu. Ia tahu dari pertempurannya melawan Wi Liong tadi bahwa Thian Te Cu sudah menurunkan hampir seluruh kepandaiannya kepada muridnya. Dia takkan mampu mengalahkan Wi Liong kalau saja ia tidak mempergunakan uap beracun. Dengan ilmu silat saja, kiranya ia takkan dapat mengalahkan Wi Liong. Maka ia dapat membayangkan betapa besar kesayangan Thian Te Cu kepada muridnya. Kalau ia membunuh Wi Liong, tentu kelak Thian Te Cu takkan mau mengampunkannya. Lain lagi kalau ia bisa mengatasi Thian Te Cu. tentu ia takkan takut. Akan tetapi, melihat tingkat kepandaian Wi Liong, benar-benar Thian Te Cu tak boleh dipandang ringan.
Beberapa bulan lagi ia akan mengadakan pertemuan dengan tokoh-tokoh besar maka tak boleh ia menanam permusuhan besar dengan tokoh yang masih terhitung suhengnya itu. Inilah yang menyebabkan ia tidak mau membunuh Wi Liong dan menyuruh dua orang muridnya, Cheng In dan Ang Hwa. melepaskan Wi Liong di atas perahu di tengah lautan. Juga ia tidak mau mengganggu Hui Sian dan Hui Nio karena ia tidak mau kalau hal ini kelak dipergunakan oleh Thai It Cinjin yang
408
membencinya untuk menyerangnya di depan umum. Pula, diam-diam ia kagum melihat sikap dua orang gadis yang membela Wi Liong tadi.
Akan tetapi Thai Khek Sian menjadi amat penasaran dan gelisah. Hatinya mengkal dan tak senang sekali oleh kenyataan bahwa menghadapi Wi Liong saja ia tidak mampu mengalahkannya. Ia merasa khawatir bahwa ia takkan dapat menjadi tokoh nomor satu di dunia, yang penentuannya akan ia adakan kelak pada waktu para tokoh berkumpul di pulaunya. Maka sepergi Cheng In dan Ang Hwa yang memenuhi perintahnya, yaitu membawa tubuh Wi Liong. Hui Nio, dan Hui Sian ke perahu dan melepaskan perahu itu di atas laut, kakek ini lalu memasuki bilik samadhinya untuk tekun melatih diri mencari kemajuan untuk ia pergunakan kelak menghadapi tokoh-tokoh besar, terutama sekali Thian Te Cu.
Sementara itu. di atas lautan, sebuah perahu kecil terapung-apung dipermainkan ombak, miring ke kanan kiri, terayun-ayun seperti dalam buaian tangan ibu yang mencinta. Beberapa ekor ikan hiu yang sisiknya loreng-loreng seperti harimau meluncur di kanan kiri perahu, mendorong-dorong dengan moncongnya, mengharapkan perahu itu terguling seakan-akan binatang air yang amat ganas ini sudah tahu atau mencium bahwa orang-orang yang berada di dalam perahu itu tak berdaya lagi. Gerakan perahu oleh ayunan ombak amat halus, akan tetapi dorongan moncong ikan-ikan itu kasar dan keras seperti menggugah orang-orang yang berada di dalam perahu.
Wi Liong lebih dulu sadar atau lebih tepat lagi siuman dari pada keadaan pingsan. Goyangan-goyangan kasar akibat perbuatan ikan-ikan itu membuat kepalanya beberapa kali terbentur pada kayu keras pinggiran perahu. Begitu siuman, pemuda ini membuka mata dan alangkah kaget, jengah dan herannya ketika ia mendapatkan dirinya bertumpuk tidak karuan dengan dua orang gadis Liok, boleh dibilang saling berpelukan tidak sewajarnya dengan Liok Hui Nio dan Liok Hui Sian! Yang membuat ia malu bukan main adalah kenyataan betapa ia beradu muka dengan Hui Sian seperti orang berciuman. Ia melihat pipi yang kemerahan dan mata yang bersinar aneh dari gadis itu, seakan-akan Hui Sian membiarkan keadaan seperti itu, bahkan merasa senang! Tentu saja ia tidak tahu bahwa gadis itu seperti juga encinya, biarpun panca inderanya masih bekerja, namun karena jalan darah mereka tertotok, mereka tidak kuasa bergerak. Oleh karena inilah, betapapun malu dan jengah hati Hui Sian, gadis ini tidak dapat mencegah ia berciuman tanpa disengaja dengan Wi Liong.
Wi Liong cepat bangun duduk dan memandang ke kanan kiri. Baru ia tahu bahwa ia bertumpuk di dalam perahu kecil bersama Hui Sian dan Hui Nio, dan betapa perahu itu terayun-ayun di tengah lautan. Kaget ia melihat ikan-ikan hiu berseliweran di pinggir perahu. Kedua tangannya digerakkan ke kanan kiri perahu mengirim pukulan dan dua ekor ikan hiu sebesar bantal berkelojotan lalu terapung dalam keadaan mati. Bangkai mereka ini segera menjadi rebutan kawan-kawan sendiri. Mengerikan! Dengan tangannya pula, Wi Liong mendayung perahu menjauhi gerombolan ikan liar itu. Kemudian ia menoleh ke arah Hui Nio dan Hui Sian.
Melihat dua orang nona ini masih saja rebah seperti tadi, tidak bergerak sama sekali, barulah Wi Liong sadar bahwa mereka itu berada dalam keadaan tertotok. Lenyaplah sebagian besar rasa heran dan jengahnya akan sikap dua orang gadis yang seakan-akan mandah dan diam saja berpelukan dengan dia tadi. Segera ia mengulur tangan membuka jalan darah mereka.
Hui Nio dan Hui Sian mengeluh, menggeliat melemaskan urat-urat tubuh yang kaku, kemudian Hui Sian menangis sambil menyembunyikan muka di pangkuan encinya yang menghiburnya.
409
"Eh, nona mengapa menangis? Kita sudah terhindar dari bahaya, terbebas dari Thai Khek Sian yang keji. Seharusnya kita bergirang, biarpun aku tidak mengerti bagaimana kita bisa tertolong dari bahaya maut."
"Sian-moi, sudahlah jangan menangis, Thio-taihiap berkata betul, tak perlu kau bersedih karena kita sudah dibebaskan oleh siluman itu dan tak perlu kau malu karena kau tidak berdaya."
Wi Liong terheran mendengar kata-kata terakhir, ia sama sekali tidak tahu bahwa Hui Sian tadi menangis karena setelah siuman menjadi malu sekali teringat akan keadaannya dengan Wi Liong tadi. juga tidak tahu bahwa Hui Nio mengerti pula akan keadaan mereka yang aneh tadi. Namun, tetap saja warna merah menjalar di seluruh mukanya ketika Hui Sian mengangkat muka dan bertemu pandang dengannya. Bukan main keadaan tadi. pikirnya, dan sekarang dia yang tak berani memandang pipi merah itu lama-lama!
"Sekarang harap ji-wi terangkan bagaimana kita bisa berada di perahu ini?" tanya Wi Liong, menujukan pertanyaannya kepada Hui Nio karena sekarang pandang mata Hui Sian kepadanya seakan-akan mengandung seribu bahasa yang membuat ia berdebar dan takut-takut.
"Memang aneh pengalaman kita." Hui Nio mulai menuturkan pengalaman tadi. "kau bertempur dengan kakek siluman dan kau tiba- tiba roboh pingsan entah mengapa aku tidak tahu. Kami mencoba untuk melawan kakek itu. akan tetapi pedang kami dipatahkan dan segebrakan saja kami roboh. Kami ditotok tak berdaya oleh perempuan-perempuan baju hijau dan merah........." sampai di sini Hui Nio kelihatan gemas sekali. "Tentu saja aku sudah habis harapan dan menyerahkan diri kepada nasib. Akan tetapi aneh sekali, kakek itu tidak membunuh dan tidak mengganggu kita malah ia menyuruh dua orang perempuan itu untuk membawa kita ke perahu lalu dilepas di tengah lautan, ditinggalkan begitu saja........." Wajah Hui Nio tiba-tiba menjadi merah karena tadipun ia rebah dengan kepala di atas dada Wi Liong!
Mendengar penuturan ini, Wi Liong mengangguk-angguk dan berkata perlahan, seperti kepada diri sendiri. "Bagus dia masih punya rasa takut kepada suhu.........!"
Tiba-tiba ada suara menjawab kara-kata ini, suara yang datangnya sayup sampai seperti terbawa angin yang datang bertiup.
"Siapa takut gurumu? Aku sengaja memberi kau hidup supaya kau bisa cerita kepada suhumu betapa muridnya tidak berdaya menghadapi aku, dan bahwa pada musim chun nanti gurumu harus datang mengadu ilmu!"
Wi Liong berdiri di atas perahu, lalu menghadap ke arah Pulau Pek-go-to, berkata mengerahkan khikangnya, melakukan ilmu yang disebut Coan-im-jit-bit (Mengirim Suara dari Jauh),
"Thai Khek Siansu. tidak usah guruku sendiri datang. Kelak cukup aku yang datang membalas kebaikanmu membebaskan aku dari maut!" Ucapan ini dikeluarkan oleh Wi Liong dengan nada penasaran dan pahit sekali. Memang, bagi seorang gagah, dibebaskan begitu saja oleh seorang musuh, merupakan semacam penghinaan yang harus dibalas pula!
410
Thai Khek Sian tidak menjawab pula, hanya terdengar suara ketawanya yang menggema di seluruh permukaan air seperti suara iblis tertawa. Memang hebat kepandaian kakek itu, tidak tahunya sejak tadi ia masih mengawasi orang-orang muda ini dari jauh. Betapapun lihainya Thai Khek Sian yang harus diakui pula oleh Wi Liong, namun pemuda ini masih penasaran. Dia memang kalah, akan tetapi kekalahan yang tidak sah, karena kakek itu menggunakan kecurangan. Ia harus minta nasihat gurunya dalam hal ini dan kelak, jika masanya tiba. ia akan menghadapi Thai Khek Sian lagi untuk menebus kekalahannya, untuk menebus penghinaan tadi dan sekali waktu ia harus dapat membebaskan pula kakek iblis itu dari maut, seperti tadi!
Sementara itu, Hui Nio dan adiknya memandang kepada Wi Liong dengan melongo. Memang tadipun ketika menyaksikan pertempuran antara pemuda ini dengan Thai Khek Sian, mereka sudah kagum sekali. Sekarang baru mereka takluk betul dan mengakui bahwa pemuda ini adalah seorang sakti. Malah lebih hebat dari pada Kun Hong, pikir mereka. Hui Sian makin kagum saja. Baru-baru ini ia bertemu dengan Kun Hong yang amat mengagumkan hatinya, sekarang ia bertemu dengan pemuda yang malah melebihi Kun Hong. Hal ini adalah karena hati gadis ini masih kosong, maka ia tertarik kepada pemuda-pemuda yang gagah perkasa dan tampan. Tidak demikian dengan Hui Nio. Biarpun ia juga merasa kagum sekali melihat Wi Liong, namun hatinya sudah tertambat kepada Kong Bu dan di dunia ini tidak ada pemuda yang dapat melebihi Kong Bu tunangannya itu.
"Thio-taihiap telah bersusah payah menolong kami berdua kakak adik. maka kau adalah penolong kami yang patut kami muliakan. Terima kasih banyak. Thiotaihiap dan semoga Thian saja kelak membalas budi ini kalau kami tidak kuasa membalasnya." kata Hui Nio sambil menjura dengan hormat.
Wi Liong terkejut dan cepat-cepat membalas penghormatan itu. "Harap ji-wi siocia (nona berdua) jangan mempergunakan banyak peraturan sungkan. Mana bisa aku disebut penolong!" Ia tertawa pahit teringat akan kekalahannya lagi. "Belum sempat menolong aku sudah tertawan! Kalau ada bicara tentang menolong, kiranya harus dikatakan bahwa kita bertiga ini tertolong oleh Thai Khek Sian!"
"Jangan berkata begitu, taihiap. Yang patut di hargai bukanlah perbuatannya, melainkan usahanya. Usaha yang baiklah yang patut dihargai tanpa melihat bagaimana hasilnya. Taihiap sudah bersusah payah berusaha menolong kami dengan melupakan keselamatan diri sendiri, betapapun hasil usaha pertolongan itu. tetap saja kami merasa berterima kasih sekali dan taihiap adalah penolong kami!"
Wi Liong tersenyum dan kagum mendengar ucapan gadis ini yang sekaligus membayangkan kecerdasan otaknya dan kebaikan hatinya.
"Enci Hui, kau bagaimana sih? Kalau tidak datang Thio-taihiap. apakah kita sekarang bisa ter-bebas dan berada di atas perahu ini? Biarpun yang melepaskan kita adalah Thai Khek Sian, akan te-tapi sebetulnya yang dilepas adalah taihiap dan kita hanya membonceng saja. Bukankah begitu?”
Hui Nio tertawa menutupi mulutnya, memandang kepada Wi Liong. "Kau betul, Hui Sian. Aku sampai lupa. Nah, taihiap. Kau mendengar sendiri. Memang, biarpun kau dirobohkan Thai Khek Sian. akan tetapi usahamu menolong kami berhasil baik, buktinya kami sudah terbebas! Kalau tidak kau datang menyerbu, mana bisa kami dibebaskan?"
411
Wi Liong terpaksa mengakui kebenaran kata-kata ini. "Sudahlah, di antara orang sendiri mana perlu bicara tentang tolong-menolong? Yang ada hanya wajib."
"Ketika datang, taihiap bilang disuruh oleh Kong-twako. Bagaimana kau bisa bertemu dan berkenalan dengan dia?" tanya Hui Sian.
"Apakah luka-lukanya sudah sembuh......?" Hui Nio menyambung dengan suara mengandung penuh kekhawatiran akan keselamatan tunangannya itu.
"Mari bantu aku mendayung perahu ini menuju ke daratan, nanti kuceritakan," ajak Wi Liong.
Tiga orang muda itu lalu mendayung perahu mempergunakan tangan saja. Biarpun hanya telapak tangan yang menggantikan dayung, Hui Nio dan Hui Sian di sebelah kiri perahu sedangkan Wi Liong di sebelah kanan, namun karena mereka bertiga adalah orang-orang terlatih dan memiliki ilmu silat tinggi dan tenaga yang luar biasa, maka perahu dapat meluncur cepat, tidak kalah oleh perahu yang didayung oleh tukang-tukang perahu mempergunakan dayung yang baik.
Dengan singkat Wi Liong lalu menceritakan perjalanannya.
Dua orang gadis itu gembira sekali mendengar bahwa Wi Liong sudah kenal baik dengan See-thian Hoat-ong Kong Lek In ayah Kong Bu dan lebih kagum lagi mendengar betapa Pak-thian Koai-jin juga datang untuk bersama See-thian Hoat-ong menolong Pui Eng Lan murid Pak-thian Koai-jin yang terculik oleh Kui-bo Thai-houw.
"Kui-bo Thai-houw lihai dan berbahaya sekali........." kata Hui Nio.
"Karena itu aku harus lekas-lekas menyusul ke sana untuk membantu kawan-kawan," kata Wi Liong yang kini merasa khawatir juga mengingat betapa See-thian Hoat-ong dan Pak-thian Koai-jin hendak menolong Eng Lan di Pulau Ban-mo-to, menghadapi Kui-bo Thai-houw yang berbahaya.
"Taihiap, biarkan kami ikut. Kami akan membantu sedapat mungkin," kata Hui Sian dengan suara memohon. "Dengan perahu ini dari sini kita bisa langsung pergi ke Ban-mo-to. arahnya ke selatan."
Wi Liong menggeleng kepala. "Tidak perlu, nona. Selain kalian sudah lelah dan mengalami kekagetan, juga perjalanan itu amat berbahaya. Kalau sampai terjadi apa-apa dengan kalian, bagaimana aku akan berkata kepada See-thian Hoat-ong lo-enghiong? Mari kalian kuantar mendarat lebih dulu setelah itu terpaksa aku akan mendahului kalian pergi ke Ban-mo-to."
Hui Sian nampak merengut, akan tetapi kakaknya yang lebih cerdik lalu berkata, "Hui Sian. kau ini masa masih hendak membikin susah Thio-taihiap? Kau sendiri tahu betapa lihainya penghuni Ban-mo-to dan perjalanan itu kiranya tidak kurang bahayanya dari pada ke Pek-go to Malah-malah iblis betina itu bisa lebih kejam dari pada iblis Pek-go-to. Kita yang berkepandaian rendah jangan kata membantu, malah-malah membikin repot saja. Jangan bersikap seperti anak kecil!"
Hui Sian mengangguk-angguk maklum. Wi Liong merasa tidak enak sekali. "Aku sama sekali tidak berani memandang rendah kepada kalian. Ilmu kepandaian kalian sudah cukup tinggi, malah lebih tinggi dari pada kebanyakan gadis ahli silat. Sedikitnya setingkat dengan kepandaian nona Pui Eng
412
Lan. Akan tetapi, biarpun aku tidak bermaksud meremehkan kalian, namun kata-kata yang diucapkan oleh nona Hui Nio tadi tepat sekali. Kalau sampai terjadi pertempuran, seperti ketika aku menghadapi Thai Khek Sian tadi, bagaimana aku bisa melindungi kalian? Kabarnya, Kui-bo Thai-houw tidak kalah lihainya oleh Thai Khek Sian."
Dua orang gadis itu tak dapat membantah lagi setelah mendengar ucapan yang jujur ini. Mereka menjadi makin kagum dan suka kepada pemuda yang selain lihai, juga halus perangainya dan jujur sikapnya ini. Setelah memandang beberapa lamanya dengan kagum, Hui Sian bertanya, "Thio-taihiap ini murid siapakah? Agaknya Thai Khek Sian takut kepada suhumu."
"Suhu disebut Thian Te Cu."
Dua orang gadis itu terkejut sekali. "Si Mayat Hidup?"
"Hush...... Hui Sian. jangan kurang ajar!" tegur Hui Nio kepada adiknya yang tadi menyebutkan "Si Mayat Hidup".
Akan tetapi Wi Liong hanya tersenyum. "Begitulah orang-orang yang tidak suka menyebut nama suhu. Anehnya, bagaimana kau bisa tahu nama poyokan itu, nona?"
Muka Hui Sian menjadi merah. "Maafkan, aku tidak sengaja mengejek. Aku mendengar nama itu dari......... dari........."
"Begini, taihiap. Yang suka menyebut nama itu adalah suhu kami,"
"Siapakah guru kalian?"
"Suhu adalah Thai It Cinjin di Bukit Kum-Ie-san," jawab Hui Nio.
Wi Liong tercengang. Teringat ia kepada kakek tinggi besar berkepala botak bermata lebar yang lengannya berbulu, kakek yang bersama Im-yang Siang-cu pernah menyerbu Wuyi-san. Ia mengangguk-angguk dan maklumlah ia kini mengapa Hui Sian mengenal poyokan gurunya itu. Memang ia tahu bahwa ipar dari Gan Yan Ki itu benci kepada Thian Te Cu dan lebih benci kepada Thai Khek Sian. seorang tokoh yang amat aneh.
"Dan di sana tinggal pula dua orang kakek yang disebut Im-yang Siang-cu?" tanyanya minta kepastian.
"Im-yang Siang-cu adalah tokoh-tokoh Bu-tong-pai, mereka paman- paman guru kami," kata Hui Sian. kaget dan heran bagaimana pemuda ini bisa mengenal susiok-susioknya.
"Dan Beng Kun Cinjin, itu, bukankah dia itu....... keponakan suhu kalian, Thai It Cinjin? Mengapa dia malah bersama Thai Khek Sian menculik kalian yang menjadi murid-murid pamannya?"
"Keledai gundul itu!" Hui Sian memaki. "Siapa tahu akan maksudnya? Tadinya ia berada di Kum-Ie-san, menumpang kepada suhu, sikapnya baik-baik dan dia diperlakukan baik pula oleh guru dan kami semua. Ia melarikan diri setelah Kim-Ie-san didatangi pemuda yang bernama Kun Hong itu. Tahu-tahu.ia lari ke Pek-go-to dan bersekutu dengan iblis itu menculik kami."
413
Selama perjalanan ke daratan, Wi Liong mengobrol dengan dua orang gadis itu. Hui Sian memang ramah-tamah, lincah dan pandai bergaul. Juga Wi Liong mendapat banyak keterangan sehingga ia tahu banyak tentang Kun Hong. tentang Ban-mo-to, tentang Thai It Cinjin dan lain-lain. Setelah tiba di darat, ia lalu berpisah dengan kedua orang gadis itu.
"Kalian tahu betapa perlunya aku harus menyusul ke Ban-mo-to. Di sana ada Kong Bu, ada See-thian Hoat-ong, ada Pak-thian Koai-jin, ada nona Pui. dan mungkin mereka itu membutuhkan bantuanku. Maafkan aku terpaksa meninggalkan kalian, menyesal sekali karena sesungguhnya menyenangkan melakukan perjalanan dengan kalian yang ramah dan manis budi."
"Taihiap, kalau sudah pulang dari Ban-mo-to. harap kau sudi mampir ke Kim-Ie-san." kata Hui Sian,
Wi Liong mengangguk. "Kalau tiada halangan," jawabnya. Kemudian setelah berpamit sekali lagi, tubuhnya berkelebat lenyap dan dua orang aadis itu untuk beberapa lama masih berdiri kagum. Kemudian keduanya lalu melanjutkan perjalanan, pulang ke Kim-Ie-san.
Dengan cepat sekali Wi Liong melakukan perjalanan kembali ke Kim-Ie-san. Untung baginya bahwa Thai Khek Sian benar-benar tidak ingin menimbulkan kemarahan Thian Te Cu maka ketika merobohkannya, hanya mempergunakan asap beracun yang tidak berbahaya, hanya membuat dia pingsan saja. Akan tetapi pengalaman ini bagi Wi Liong terasa amat pahit dan menyakitkan hati. Sudah dua kali dia roboh oleh kakek pentolan Mo-kauw itu. Pertama kali dahulu lebih hebat lagi, baru segebrakan saja ia sudah roboh dan pasti akan tewas kalau tidak ada Cheng In dan Ang Hwa yang menolongnya. Sekarang kembali dia roboh setelah ia menerima gemblengan dari suhunya. Pengalaman ini membuatnya lebih hati-hati kelak kalau menghadapi lawan-lawan tangguh semacam Thai Khek Sian.
Cheng In dan Ang Hwa.........! Teringat akan dua orang gadis ini, mau tidak mau Wi Liong terkenang pula kepada Hui Nio dan Hui Sian. Terutama sekali Hui Sian! Terbayang ia ketika ia rebah di perahu, boleh dibilang bertumpang tindih dengan dua orang gadis itu. Lagi-lagi pemuda ini menarik napas panjang. Kenapa nasibnya selalu membawanya kepada wanita-wanita yang menarik dan yang mendebarkan jantungnya? Setelah ia kehilangan Siok Lan, setelah hatinya rusak dan patah mendengar betapa Siok Lan telah meninggal dunia karena hendak bersetia kepadanya, kenapa masih saja ada gadis-gadis yang menghadang dalam perjalanan hidupnya? Tidak, pikirnya mantap. Aku takkan memperdulikan mereka. Tidak ada seorangpun gadis di dunia ini seperti Siok Lan!
Ketika tiba di Kim-Ie-san, ia mendapat kenyataan bahwa tak seorangpun di antara tokoh-tokoh yang hendak menolong Eng Lan nampak sudah kembali! Semua orang pergi ke Ban-mo-to. Tidak hanya See-thian Hoat-ong, Pak-thian Koai-jin, dan Kong Bu, bahkan Thai It Cinjin dan kedua Im-yang Siang-cu keduanya juga ikut pergi menyeberang ke Ban-mo-to. Dan tak seorangpun kembali!
Hati Wi Liong menjadi tidak enak sekali. Ia belum pernah bertemu dengan Kui-bo Thai-houw, akan tetapi sudah lama ia mendengar akan kelihaian nenek itu dan tentang bahayanya pergi ke Ban-mo-to yang kabarnya malah tidak kalah hebatnya kalau dibandingkan dengan Thai Khek Sian di Pekgo-to. Ia merasa amat khawatr akan keselamatan Eng Lan dan yang lain-lain.
Tanpa membuang waktu lagi Wi Liong lalu niengejar ke pantai, hendak menyusul ke Ban-mo-to menghadapi Kui-bo Thai-houw! Ia belum pernah merasai kelihaian permaisuri itu, maka diam-diam ia
414
ingin belajar kenal. Ternyata harapannya ini terpenuhi dengan cepat, malah sebelum ia tiba di Ban-mo-to.
Ketika ia menuju ke pantai dan melewati daerah pegunungan yang masih termasuk dalam wilayah kekuasaan Thai It Cinjin di Kim-Ie-san, dari jauh ia melihat banyak orang berkumpul di sebuah tanah datar di antara gunung-gunung kecil dari batu kapur.
Di bagian kiri berkumpul sederetan orang berpakaian seragam, nampaknya seperti ahli-ahlj silat dan sikap mereka tenang keren dengan kedua lengan disembunyikan di belakang badan. Ada duapuluh empat orang yang berdiri di sebelah kiri dengan kaki terpentang lebar dan mata memandang ke depan. Di sebelah kanan kelihatan beberapa orang petani yang agaknya juga tertarik dan melihat apa yang terjadi di situ. Apakah yang mereka lihat?
Dua orang kakek aneh yang saling berhadapan seperti dua ekor ayam jago tengah berlagak. Yang seorang bertubuh pendek, kepalanya gundul pelontos, jangankan rambut, bekasnyapun tidak ada seperti kulit bawang yang menutupi batok kepalanya. Kepala itu tidak rata pula, benjal-benjol biarpun bentuknya bundar. Matanya seperti meram terus, akan tetapi mulutnya nyengir terus seperti orang merasa geli hatinya. Bajunya, seperti celananya, sudah koyak-koyak pada ujungnya. Kakek pendek gundul ini berdiri dengan sebuah senjata aneh di tangan kanan. Senjatanya ini belum pernah terlihat di dunia persilatan, karena merupakan senjata bergagang yang luar biasa. Bentuknya gepeng bulat, merupakan gigi-gigi seperti roda bergigi, gagang itu dipasang sampai di tengah roda sehingga roda dapat berputaran. Gigi-giginya tajam dan runcing.
Yang dihadapinya adalah seorang setengah tua yang menyeramkan. Laki-laki ini bertubuh tinggi besar, alisnya tebal sekali akan tetapi tidak panjang, dahinya lebar dan yang paling menarik dan menyeramkan adalah gurat-gurat bekas luka pada mukanya di alis mata kanan kiri dan di pipinya seperti bekas luka bacokan senjata tajam. Kedua tangan orang tinggi besar ini memegang senjata sepasang gembolan yang dahsyat, gembolan baja yang diberi duri. Melihat sikap dan pakaiannya, tentu orang ini serombongan dengan barisan orang yang berdiri di belakangnya.
Wi Liong menjadi tertarik hatinya dan menyelinap untuk mengintai karena ia mendengar nama Kui-bo Thai-houw disebut-sebut. Yang menyebut nama ini adalah orang tinggi besar yang mukanya bergores cacad itu.
"Tak perduli kau sahabat baik Kui-bo Thai-houw atau masih keponakan Raja Neraka, jangan harap kau akan menakutkan aku dan boleh menghina Pek-eng-pai (Perkumpulan Garuda Putih)," kata si muka cacad.
Mulut yang selalu tersenyum-senyum itu tiba-tiba terbuka dan mengeluarkan suara ketawa terbahak. Wi Liong bergidik mendengar ini, juga geli. Suara ketawa ini mengingatkan ia akan suara seekor ular besar di dalam hutan.
"Kak-kak-hah-hah! Sombongmu! Mukamu yang penuh goretan pedang itu saja sudah menunjukkan kelemahanmu, toh kau bersikap seperti orang yang tak pernah terkalahkan! Hah-hah, kau dan dua losin orang-orangmu ini sudah bosan hidup agaknya, berani sekali menghina Thai-houw. Aku Si Naga Sakti tidak bisa memberi ampun lagi!" Sambi1 berkata demikian, orang gemuk pendek, yang lucu ini menggerak-gerakkan senjata roda bergigi di tangannya penuh ancaman. Akan tetapi karena mulutnya
415
selalu menyeringai ia sama sekali tidak kelihatan galak atau keren, malah lucu menggelikan. Wi Liong sampai menahan suara ketawanya mendengar orang lucu ini menyebut diri sendiri Si Naga Sakti!
Akan tetapi, bagi orang yang cacad mukanya itu sama sekali tidak dapat melihat kelucuan ini, dengan marah ia lalu mengayun sepasang senjata gembolannya dan sambil menggereng seperti singa ia mulai menyerang. Gembolan baja yang demikian beratnya, ditambah duri-duri lagi, menyambar ke arah kepala yang gundul pelontos dan kehhatan halus kulitnya itu seperti buah tomat besar yang sudah masak. Kalau kena tentu akan bejat!
Tidak disangka orang gemuk pendek berkepala gundul itu ternyata gesit sekali gerak-geraknya. Sambaran gembolan kiri ke arah kepalanya yang licin pelontos itu dapat ia kelit ke kiri dengan mudahnya dan ketika lawannya menyerang lagi dengan gembolan kanan, ia sudah menangkis dengan senjatanya roda bergigi. "Klang.........!!" Terdengar bunyi nyaring disusul muncratnya bunga api ketika dua senjata itu bertemu. Keduanya terpental mundur, sekilas memeriksa senjata masing-masing dan merasa lega karena senjata mereka tidak rusak dalam pertemuan dahsyat itu. Dengan cepat mereka menerjang maju lagi, lebih hebat dan lebih hati-hati dari pada tadi karena maklum bahwa lawan bukan orang lemah. Di lain saat dua orang jagoan itu sudah saling hantam lagi dengan sengitnya.
Siapakah kedua orang yang tahu-tahu sudah berkelahi mati-matan ini? Pertanyaan ini memasuki kepala Wi Liong. Orang muka cacad itu memang kepala perkumpulan Pek-eng-pai, bernama Tek Loan berjuluk Eng-jiauw-ong (Raja Kuku Garuda), merupakan orang terkemuka di selatan dan perkumpulannya Pek-eng-pai biarpun tidak besar namun cukup berpengaruh. Pada hari itu ia membawa anggauta-anggautanya hendak mengunjungi Thai It Cinjin dengan keperluan............ meminang Liok Hui Sian! Ia pernah bertemu dengan Hui Nio dan Hui Sian, dan karena ia sudah tahu pula bahwa Hui Nio sudah bertunangan dengan putera See-thian Hoat-ong, maka ia datang melamar adiknya, Hui Sian. Tentu saja kalau mengingat akan usia dan mukanya yang bercacad, tidak patut orang ini melamar Hui Sian. Akan tetapi ia mengandalkan kepandaiannya, dan kekayaannya. Pula, ia memang kenal baik dengan Thai It Cinjin dan Im-yang Siangcu. Maka besar harapannya akan diterima pinangannya itu.
Ketika tiba di Kim-Ie-san. ia mendapatkan rumah Thai It Cinjin kosong dan. tak seorangpun dapat dijumpainya kecuali para pelayan yang menyatakan bahwa Thai It Cinjin dan kawan-kawannya sedang pergi ke Ban-mo-to. Tek Loan orangnya sombong. Ia memang sudah pernah mendengar nama Kui-bo Thai-houw dari Ban-mo-to, akan tetapi karena di daerahnya sendiri ia merupakan orang nomor wahid. mana ia takuti segala macam Kui-bo Thai-houw? Dengan semangat sebesar Gunung Thai-san. ia lalu mengajak anak buahnya menyusul ke Ban-mo-to. Dalam perjalanan inilah ia bertemu dengan si gundul lucu itu. Si gundul ini petentang-petenteng menghadang jalan, malah datang-datang menegur marah suaranya -akan tetapi masih tersenyum-senyum mulutnya,
"Kalian ini bocah-bocah dari mana berani memasuki wilayah yang sudah dikuasakan oleh Thai-houw kepadaku untuk menjaga? Tanpa seijin Thai-houw, tidak boleh orang luar dan orang asing memasuki wilayah sini. Hayo kalian ini lekas pergi minggat, kecuali kalau sudah meninggalkan benda tanggungan."
"Benda tanggungan apa?" tanya Tek Loan yang masih bingung mendengar teguran itu.
"Benda tanggungannya kepala kalian." Si gundul berkata sambil pecengas-pecengis.
416
Tentu saja Tek Loan menjadi marah dan seperti sudah dituturkan di bagian atas, mereka lalu bertempur hebat. Tentu saja Tek Loan terkejut sekali ketika mendapatkenyataan bahwa si gundul yang lucu ini ternyata tidak lucu kepandaiannya jauh dari pada lucu, tak boleh dibuat mainan. Senjata roda bergigi itu lihai dan berbahaya sekali. Terpaksa Tek Loan yang di kandang sendiri menjadi jago nomor satu itu mengerahkan seluruh kepandaiannya dan berusaha mati- matian merobohkan lawan gundul pacul ini.
"Remuk kepalamu!" bentaknya sambil mengerahkan tenaga, menghantam kepala si gundul itu. Hantaman ini hebat sekali, agaknya sudah tak keburu ditangkis atau dielakkan lagi.
"Belum, tidak kena!" terdengar si gundul mengejek dan aneh sekali, tiba- tiba kepalanya hilang! Benar-benar hebat si gundul ini. Agaknya ia mempunyai ilmu bulus, karena kepalanya seperti disedot masuk bersembunyi di dalam dadanya. Tentu saja tidak demikian halnya, hanya saking cepatnya gerakan lehernya dan tubuhnya yang merendah, seakan-akan kepalanya hilang.
Seketika Tek Loan kaget sekali dan terheran-heran. Akan tetapi melihat bahwa lawannya sudah berhasil menghindarkan diri kemarahannya memuncak.
"Pecah dadamu!" bentaknya dan kini tubuhnya mumbul ke atas dan seperti seekor burung garuda, ia menyambar dari atas, mengayun gembolan kanan menghantam dada si gundul.
"Pecah apanya, kena juga tidak!" Si gundul kembali mengejek sambil menangkis dengan senjata roda bergigi.
"Klangggg.........!" Bunga api berpijar dan tiba-tiba si gundul marah-marah. Ia berjingklak-jingklak (meloncat-loncat dengan sebelah kaki), kaki kirinya diangkat dan dengan kaki kanan ia meloncat berputaran.
"Aduh...... aduh...... curang.......!" keluhnya. Ternyata ketika dua senjata tadi bertemu, sebuah di antara duri-duri baja di gembolan Tek Loan telah patah dan menyambar betis kaki kirinya. Tentu saja ini menyakitkan sekali.
Tek Loan yang melihat ini, tertawa bergelak. "Hah ha-ha, monyet gundul rasakan kelihaianku. Ha-ha-ha!"
"Curang! Cuhhh.........!!" Si gundul tiba-tiba meludah ke arah muka Tek Loan.
Karuan saja ketua Pek-eng-pai ini menjadi gelagapan, Ia tadi sedang tertawa karena girang, mentertawakan lawannya yang terluka, maka ketika serangan air ludah lawan datang, ia tidak sempat mengelak dan penuhlah mukanya dengan air ludah. Hebatnya, air ludah yang mengenai mukanya itu menimbulkan rasa perih dan sakit. Ini karena si gundul bukan sembarangan orang dan bukan sembarangan meludah, melainkan mempergunakan lweekangnya.
Lebih celaka lagi bagi Tek Loan, selagi matanya pedas terkena hujan air ludah dan ia tengah gebres-gebres karena hidung dan mulutnya juga kebagian air ludah, si gundul sudah maju menerjangnya lagi dengan mulut tetap menyengir kuda!
417
Dengan repot sekali Tek Loan memutar sepasang gembolannya melindungi tubuhnya sambil memberi isyarat kepada kawan-kawannya. Serentak lima orang kawannya melompat maju mengeroyok si gundul itu.
"Eh-eh. curang! Licik! Mana ada aturan main keroyokan?" Biarpun ia sibuk sekali-melompat ke sana ke mari menghadapi keroyokan itu, si gundul ini masih sempat memaki dan mencela.
"Apa macammu ini tidak curang?" Tek Loan membentak marah.
"Apanya yang curang?" Si gundul balas membentak sambil melompat ke belakang akan tetapi segera dikejar dan dikepung lagi.
"Mana ada aturan bertempur terdesak lalu meludahi muka!" omel Tek Loan mendongkol.
Untuk sesaat si gundul tak dapat menjawab, memutar senjata melindungi diri sambil memutar otak. Kemudian ia menjawab, agaknya sudah mendapat alasan baik untuk menyangkal bahwa ia curang.
"Habis baumu tidak enak, bikin orang ingin meludah!"
Tentu saja jawaban ini bukan membikin Tek Loan menarik kembali tuduhannya bahwa si gundul curang, malah-malah membuat ia marah bukan main.
"Bunuh monyet gundul ini! Penggal lehernya!" Sambil berkata demikian, bersama lima orang kawannya Tek Loan mendesak maju. Si gundul masih mencoba mempertahankan diri, akan tetapi repot sekali dia sampai tubuhnya basah semua oleh peluh. Kepalanya yang seperti bola karet itupun sampai mengeluarkan keringat berbutir-butir.
Melihat ini. Wi Liong menjadi kasihan. Biarpun ia tidak tahu siapa adanya si gundul ini, dan orang macam apa adanya mereka semua itu, tidak tahu pula siapa salah siapa benar dalam pertempuran itu. akan tetapi ia suka melihat si gundul yang amat lucu.
Sekarang melihat si gundul dikeroyok dan terdesak hebat sehingga berbahaya keselamatannya, Wi Liong mengambil keputusan hendak menolongnya. Akan tetapi ia tidak jadi bergerak karena tiba-tiba telinganya mendengar berkesiurnya angin disusul suara ketawa cekikikan, suara ketawa beberapa orang wanita. Kagetlah dia karena dalam suara ketawa ini terkandung khikang yang hebat juga.
"Engko Ek Kok, apa kadal-kadal itu mengganggumu?" terdengar suara seorang wanita dan muncullah empat orang wanita yang lucu, gemuk-gemuk genit-genit dan serupa, baik wajah maupun pakaiannya, mukanya burik-burik semua, serupa pula bopengnya.
"Jangan takut," sambung wanita ke dua.
"'Kami membantumu," kata yang ke tiga.
"Mari basmi kadal-kadal ini, engko Ek Kok!" kata yang ke empat.
418
"Ha-ha-ho-ho-kak-kak-kak, bagus sekali kalian datang, adik-adikku yang manis, adik-adikku yang denok ayu! Kadal-kadal ini menjemukan, hayo ganyang!" sahut si gundul yang sebetulnya bernama Phang Ek Kok dan dia adalah saudara sekandung, kakak empat orang wanita kembar ini. Empat orang wanita kembar ini bukan lain adalah Phang Si Hwa, Phang Tung Hwa, Phang Nam Hwa, dan Phang Pai Hwa yang menjadi pelayan-pelayan kesayangan dari Kui-bo Thai-houw!
Begitu empat orang perawan tua kembar empat yang genit dan lihai ini menyerbu, mainkan sabuk tali dan pukulan-pukulan mereka yang hebat dalam bentuk barisan segi empat, bubarlah keroyokan Tek Loan dan lima orang kawannya.
Hebat dan anehnya, begitu terlepas dari kepungan dan mendapat bantuan, Phang Ek Kok kakek gundul itu lalu menjatuhkan diri di atas tanah, bersandar kepada batu gunung dan..... tidur mendengkur, mengorok seperti babi dipotong lehernya! Benar-benar tokoh yang lihai, aneh dan lucu sekali. Belum lama Phang Ek Kok datang ke Ban-mo-to. Seperti biasa, ia datang untuk menjenguk empat orang adik kembar yang amat dikasihinya itu, datang bersama seorang anaknya yang sudah remaja puteri. Akan tetapi Kui-bo Thai-houw tidak suka melihat dia lama-lama di Ban-mo-to.
Sungguhpun tiada alasan bagi Kui-bo Thai-houw untuk membenci orang lucu ini, akan tetapi ia tidak suka melihat tokoh yang kadang- kadang bermulut lancang, bicara seenaknya saja tanpa sungkan lagi. Akan tetapi mengingat empat orang pelayannya, Kui-bo Thai-houw masih selalu bersabar. Sekarang melihat kedatangan kakek gundul aneh ini yang bicara tidak karuan ketika kakek ini melihat Kun Hong di situ, ia lalu menyuruh Ek Kok untuk mengawasi keadaan di wilayah Kim-le-san.
"Daerah itu sekarang tidak bertuan, kau boleh awasi dan wakili aku menjaga daerah itu. Jangan boleh lain orang kangkangi," demikian pesan Kui-bo Thai-houw. Karena dia memang aneh, Ek Kok taat tanpa banyak bertanya lagi. Puteri-nya yang masih suka tinggal di Ban-mo-to. terpaksa ikut juga, akan tetapi tidak ikut ayahnya yang suka berkeliaran, melainkan tinggal di dekat bekas tempat tinggal Thai It Cinjin melakukan penjagaan mentaati perintah ratu Ban-mo-to.
Setelah empat orang nenek kembar itu menggantikan kakak mereka menghadapi Tek Loan dan kawan-kawannya, ketua Pek-eng-pai menjadi terdesak. Malah dua orang pembantunya telah kena dirobohkan sehingga sekarang keadaan menjadi empat lawan empat.
"Maju, serbu.........!!" perintah Tek Loan kepada orang-orangnya dan menyerbulah belasan orang itu dengan senjata tajam di tangan. Betapapun lihainya empat orang pelayan Kui-bo Thai-houw itu, menghadapi keroyokan duapuluh lebih orang-orang Pek-eng-pai yang rata-rata memiliki kepandaian tinggi itu, repot jugalah mereka.
"Engko Ek Kok........."
"......... jangan ngorok aja........."
"......... bangunlah segera........."
"......... bantulah kami.........!" Demikian mereka bersahut-sahutan minta bantuan kakak mereka yang masih tidur mendengkur sambil bergerak secepatnya untuk melindungi diri dari hujan senjata para pengeroyok. Akan tetapi kakek gundul itu tetap saja mengorok.
419
Melihat munculnya empat orang wanita yang juga amat lucu dan aneh. mukanya buruk-buruk dan ada mirip-miripnya dengan Ek Kok si gundul. Wi Liong menjadi makin geli dan tertarik. Alangkah banyaknya orang-orang aneh di dunia ini, pikirnya kagum. Juga ia harus memuji ilmu silat empat orang wanita itu yang betul-betul lihai sekali. Akan tetapi ia juga kaget melihat betapa setiap orang pengeroyok yang roboh di tangan empat orang wanita ini, kesemuanya roboh untuk selamanya karena tak dapat bangun lagi, sudah tewas. Diam-diam ia ngeri juga melihat keganasan hati orang yang dilakukan dengan tertawa-tawa cekikikan! Karena melihat kekejaman inilah membuat Wi Liong ragu-ragu dan tidak mau turun tangan membantu biarpun empat orang wanita itu mulai terkurung dan terdesak oleh para anggauta Pek-eng-pai.
Pada saat ia sedang bimbang, ia kaget sekali mendengar berkesiurnya angin yang luar biasa disertai bau semerbak harum. Segera disusul jerit-jerit mengerikan dan ketika Wi Liong memandang, hampir ia berteriak kaget karena semua orang Pek-eng-pai, berikut kepalanya, Tek Loan dan sisanya yang masih ada sembilan belas orang, semua rcboh tak dapat bangun lagi! Dan sebagai gantinya, di atas sebuah batu besar berdiri seorang wanita cantik agung dan angkuh, seorang wanita yang sebetulnya sudah tua akan tetapi karena pakaiannya yang indah, karena hiasan-hiasan dan rawatan mukanya yang dulu memang cantik jelita, ia masih nampak muda dan tetap menarik, apa lagi kerling matanya yang masih seindah mata burung hong dan bibirnya yang merah semringah membayangkan gairah hati yang tak kunjung padam.
Dari tubuhnya keluar bau semerbak yang harum tadi. Wi Liong melongo. Tak dapat disangikal lagi, wanita ini memiliki kepandaian yang amat luar biasa. Ginkangnya sempurna sampai-sampai kedatangannya begitu cepat sukar diikuti pandangan mata. kepandaiannya tinggi sehingga dalam sekejap mata saja semua pengeroyok sudah dirobohkannya Akan tetapi alangkah kejam dan ganasnya! Ataukah dia tidak membunuh semua orang itu? Dari tempat Wi Liong bersembunyi, orang-orang yang rcboh itu seperti orang pingsan atau terkena totokan saja. akan tetapi tarikan muka pada para korban itu mengerikan dan meragukan hatinya.
Wanita cantik itu membuka mulut dan suaranya halus berpengaruh. "Ek Kok. percuma saja kau memakai julukan Sin-liong (Naga Sakti). Menghadapi orang-orang seperti ini saja kau tidak dapat mengatasi. Karena sudah cukup lama kau bertemu dan melepas rindu dengan keempat orang adikmu, sekarang kau pergilah bersama anakmu dan jangan kau datang kembali sebelum membawa serta anakmu yang seorang lagi. Aku ingin melihat si kembar bersatu kembali!" Setelah berkata demikian, wanita itu memberi isyarat dengan lambaian tangannya dan empat orang wanita burik yang aneh itu seperti anjing-anjing piaraan lalu mengikuti wanita itu. Adapun kakek gundul itu, tanpa berani membantah lagi lalu pergi dari situ berlari-lari cepat. Tadi begitu wanita cantik itu muncul, ia sudah bangun dan berdiri dengan kepala tunduk.
Tinggal Wi Liong seorang diri di tempat sembunyinya. Keadaan sunyi sepi, mengerikan sekali kalau melihat tubuh-tubuh bertumpuk menggeletak di sana-sini! Wi Liong melompat keluar dan seruan kaget serta marah keluar dari bibirnya ketika ia memeriksa dan mendapat kenyataan bahwa semua anggauta Pek-eng pai itu sudah mati terkena pukulan jarak jauh yang luar biasa keji dan lihainya.
"Kui-bo Thai-houw.........!" bisiknya mengertak gigi saking gemasnya. "Tak salah lagi, dia tentu Kui-bo Thai-houw. Siapa lagi kalau bukan dia di dunia ini yang begini kejam?"
420
Makin gelisah hatinya memikirkan keselamatan Eng Lan dan orang-orang lain yang mendatangi Ban-mo-to. Ia cepat melompat, memanggil-manggil para petani yang tadi lari cerai-berai setelah terjadi pertempuran hebat.
"Sudah tidak ada orang jahat lagi. Mayat-mayat itu perlu segera dikubur, kalau tidak, akan membusuk dan akan meracuni daerah ini. Harap saudara-saudara mengumpulkan teman-teman untuk mengurus dan menguburnya. Aku hendak menyusul kawan-kawan ke Ban-mo-to." Setelah berkata demikian, pemuda ini cepat berlari kencang mengejar Kui-bo Thai-houw dan empat orang pelayannya. Ia tidak perdulikan lagi kakek gundul tadi. Kalau saja Wi Liong mengikuti perjalanan kakek gundul ini dan melihat puterinya, tentu pemuda itu akan mengalami kekagetan yang hebat!
Wi Liong mengerahkan kepandaiannya untuk mengejar Kui-bo Thai-houw, akan tetapi karena yang dikejarnya juga bukan sembarang orang, maka ketika ia tiba di pantai, ia melihat Kui-bo Thai-houw dan empat orang pelayannya itu telah naik sebuah perahu mewah yang sudah mulai bergerak ke tengah lautan pula. Di atas perahu itu ia hanya melihat empat orang pelayan kembar yang gemuk-gemuk tadi, yang berdiri memandang kepadanya sambil tertawa-tawa cekikikan dan menuding-nuding dengan telunjuk seakan-akan mentertawakannya. Wi Liong membanting kaki saking gemasnya, kemudian mencabut sebatang tonggak yang agaknya tadi dipakai untuk mengikat perahu.
"Tunggu dulu.........!!" teriaknya dan pemuda perkasa ini mengenjot tubuhnya melompat kc depan. Seperti seekor burung melayang, tubuhnya meluncur ringan dari pantai, mengejar perahu. Akan tetapi jarak antara pantai dan perahu itu sudah terlampau jauh. maka lompatannya yang hebat ini tidak bisa mencapai perahu. Hal ini sudah diperhitungkannya, maka ia segera melempar tonggak tadi ke atas air dan ketika kedua kakinya turun, ia menginjak tonggak yang terapung itu dan mengenjot lagi mempergunakan tonggak sebagai dasar loncatan. Dengan cara demikian ia bisa sampai di perahu!
"Hebat sekali.........”
"Pemuda ganteng.........”
"Tapi tidak boleh........."
"Naik ke perahu.........!" Empat orang nenek kembar itu berkata dan bagaikan dikomando saja, tangan mereka dengan gerakan sama menyambit sebuah kim-chi-piauw (senjata rahasia seperti uang logam) ke arah tubuh Wi Liong yang masih melayang ke arah perahu itu. Serangan ini benar-benar berbahaya sekail Tubuh yang sedang melayang dalam loncatan itu mana bisa mengelak? Wi Liong yang melihat serangan ini, mengulur iangan dan berhasil menyampok dua buah mata uang, akan tetapi yang dua lagi ia biarkan mengenai dada dan perutnya setelah ia mengerahkan lweekang menghentikan jalan darah dan membikin kebal dada dan perutnya. Dengan demikian, dua buah senjata rahasia itu mental ketika menyentuh kulit dada dan perutnya, dan hanya membikin bolong pakaiannya saja.
"Ayaaa..... Lihai sekali......”
"Pemuda ganteng......."
"Perlu lekas......."
421
"Laporkan Thai-houw........!!" Empat orang wanita itu serentak berlari memasuki bilik perahu yang dicat merah.
"Siluman-siluman jangan lari........!" Wi Liong membentak. Akan tetapi alangkah kagetnya ketika kedua kakinya turun ke atas perahu, baru saja dua kaki itu menyentuh papan perahu dan ia masih menjaga keseimbangan tubuhnya, secara mendadak perahu itu terguling ke kanan seperti roboh terkena serangan hebat dari bawah perahu.
"Celaka.........!' Wi Liong berseru keras. Hal ini sama sekali tak pernah ia sangka-sangka, karenanya ia menjadi kaget dan bingung. Dari pada terguling bersama perahu dan ada bahaya tertindih, ia malah melompat ke kiri dan menceburkan diri ke dalam air. Biarpun bukan seorang ahli, akan tetapi kalau hanya berenang saja Wi Liong juga dapat maka ia tidak takut-takut melompat ke dalam air melihat perahu itu roboh.
Aneh bin ajaib! Perahu yang tadinya mendadak terguling roboh ke kanan itu kini tiba-tiba dan serentak bisa bangun lagi! Dan muncullah Kui-bo Thai-houw di atas dek diiringkan oleh empat orang nenek dan delapan orang pelayan yang muda-muda dan cantik-cantik.
"Hih-hih-hih........."
"Aduh lucunya........”
"Ada ikan bagus.........”
"Tak ada buntutnya.........!" Empat orang nenek itu mengejek Wi Liong yang masih menggerak-gerakkan kaki tangannya di dalam air untuk menjaga tubuhnya jangan sampai tenggelam. Delapan orang pelayan yang berpakaian serba hijau dan serba merah menutupi mulut dengan ujung lengan baju menahan ketawa. Mereka ini selain cantik-cantik jelita, juga gerak gerik mereka halus dan sopan seperti puteri-puteri istana saja.
"Tangkap ikan itu," terdengar Kui-bo Thai-houw memerintah dengan suara halus.
"Ikan liar itu........."
"Berbahaya dan kuat........."
"Kalau akan ditangkap.........”
"Sebaiknya menggunakan jala emas."
Kui-bo Thai-houw mengangguk setuju dengan mata masih menatap tajam ke arah Wi Liong. Empat orang nenek kembar itu segera berlari masuk dan tak lama kemudian keluar lagi membawa sebuah jala yang terbuat dari pada benang halus berwarna keemasan. Atas isyarat Kui-bo Thai-houw, mereka lalu melempar jala itu ke arah Wl L;ong sambil tertawa-tawa dan memegangi ujung jala yang merupakan tali panjang.
422
Wi Liong boleh menjagoi di daratan, akan tetapi di dalam air kepandaiannya terbatas, tak banyak bedanya dengan orang biasa. Ia tadi mendongkol bukan main ketika melihat perahu itu tiba-tiba "bangun" lagi dan tahulah ia bahwa ia telah ditipu mentah-mentah, bahwa perahu tadi miring bukannya akan roboh tenggelam melainkan sengaja dimiringkan oleh orang pandai dari dalam perahu. Orang sakti seperti Kui-bo Thai-houw tentu saja sanggup melakukan hal ini.
Sekarang, tidak ada lain jalan baginya kecuali menyerah saja. Ia takkan melawan sampai ia dinaikkan ke dalam perahu. Karena itu, biarpun menjadi bahan tertawa dan diperlakukan seperti seekor ikan yang dijala dari perahu, pemuda ini hanya menggigit bibir menahan kemarahannya, dan menyerah saja ketika tubuhnya dijatuhi jala kemudian ia dikerek naik ke atas perahu seperti seekor ikan.
"Hi-hi-hi......... dapat ikan.........!"
"Alangkah gantengnya ikan ini.........!"
"Tentu enak dagingnya.........!"
"Berikan saja kepada kami.........!" Demikian empat orang nenek kembar itu berkata sambil cekikikan dan menarik tali jala itu ke atas mengerek tubuh Wi Liong yang berada di dalam jala.
Akan tetapi, ketika jala itu sudah tiba di tengah-tengah antara pinggiran perahu dan air, tiba-tiba Kui-bo Thai-houw memberi isyarat supaya pengerekan itu jangan dilanjutkan. Malah tali jala itu lalu diikatkan di atas dan dengan demikian Wi Liong tergantung di tengah-tengah, di pinggir perahu!
"Eh, kenapa tidak dikerek terus?” seru pemuda ini yang mulai merasa bingung. Tidak ada jawaban dari atas kecuali suara ketawa cekikikan dan ketawa halus merdu para pelayan muda yang mulai mengiringkan Kui-bo Thai-houw memasuki bilik perahu lagi. Wi Liong menyumpah-nyumpah. Perahu itu tinggi sekali, berbeda dengan perahu-perahu biasa.
Badan perahu itu dari permukaan air ada tiga meter lebih dan kini ia berada di dalam jala, tergantung antara air dan pinggir perahu, tak berdaya sama sekali. Ia tidak mau berusaha memberontak keluar dari jala itu karena kalau hal ini terjadi, berarti ia akan jatuh ke dalam air lagi. Dari pada berenang dan ada bahaya dimakan ikan hiu, lebih baik berada di jala ini. Apa lagi karena ia memang hendak ke Ban-mo-to. Biarpun dalam keadaan tidak enak dan memalukan, ia sudah membonceng perahu orang ke pulau itu. Masih untung baginya bahwa benang-benang jala itu benar-benar luar biasa dan halus sehingga ia boleh "duduk" melenggut, terayun-ayun enak juga. Hanya satu hal yang amat mengganggunya, yaitu pakaiannya yang basah kuyup.dan tak lama kemudian setelah pakaiannya agak mengering, ia merasa seluruh tubuhnya kaku-kaku dan asin!
"Awas kalian nanti kalau sudah mendarat," pikirnya gemas. Sekarang ia tidak meragukan lagi bahwa wanita setengah tua yang cantik dan sikapnya agung itu tentulah Kui-bo Thai-houw. Diam-diam ia merasa heran. Tadinya, mendengar nama Kui-bo Thai-houw (Permaisuri Biang Iblis) ia membayangkan seorang wanita yang amat buruk rupa dan menakutkan. Tidak tahunya demikian cantik dan sikapnya seperti seorang permaisuri yang tulen.
Girang hati Wi Liong ketika akhirnya perahu itu berhenti di pinggir sebuah pulau. Ia masih mandah saja tidak melawan ketika jala itu diseret turun. Akan tetapi begitu jala berikut tubuhnya dilempar ke
423
atas pasir di pantai pulau itu, ia serentak melompat berdiri. Ia melihat penyambutan yang mengagumkan terhadap Kui-bo Thai-houw. Di kanan kiri berderet barisan wanita-wanita cantik dengan pakaian beraneka warna, merupakan gapura indah.
"Selamat datang Thai-houw yang mulia! Ban-ban-swe( hidup).........!!" demikian pekik sambutan itu. Dan Kui-bo Thai-houw dengan langkah halus dan lenggang menarik menuruni anak tangga yang dipasang di pinggir perahu agar kaki wanita ini jangan terkena air laut.
Wi Liong sudah tak dapat menahan kesabarannya lagi Ia merenggut jala itu dengan kedua tangan, lalu ditariknya agar benang-benang jala itu putus. Akan tetapi alangkah kagetnya ketika benang jala itu mulur dan tidak mau putus! Ia menarik-narik lagi, mengerahkan tenaga, namun hasilnya sia-sia belaka. Benang jala itu tidak bisa ia putuskan dengan kedua tangannya! Wi Liong mulai gelisah. Ia terheran-heran. Tenaga lweekangnya sudah mencapai tingkat tinggi sekali. Benang bajupun sanggup ia menarik putus, masa benang biasa yang berwarna keemasan ini tak dapat ia memutusnya? Ia mencoba-coba lagi, tubuhnya meronta-ronta mencari jalan keluar, tetap saja sia-sia. Ia seperti ikan dalam jala yang di lempar ke daratan, meronta-ronta, bergerak-gerak hendak keluar.
Tiba-tiba terdengar suara ketawa cekikikan dan empat orang nenek kembar tadilah yang menertawakannya. Wi Liong marah sekali. Dengan geram ia lalu menerjang maju dan mengamuk dari dalam jala! Empat orang nenek itu masih tertawa-tawa melihatnya, akan tetapi segera mereka lari tunggang-langgang ketika mendapat kenyataan bahwa amukan pemuda itu tak boleh mereka pandang ringan. Mereka hendak mengelak atau menangkis, akan tetapi entah bagaimana, tahu-tahu dua orang di antara mereka, yaitu Nam Hwa dan Si Hwa. sudah tak dapat mempertahankan diri dan roboh tertotok! Cepat Tung Hwa menyambar Nam Hwa dam Pai Hwa menyambar Si Hwa, dibawa lari menjauhi pemuda di dalam jala itu, lari menuju kepada Thai-houw untuk minta bantuan.
Mendengar laporan mereka. Thai-houw mengerutkan kening dan dua totokan tangannya membuat Nam Hwa dan Si Hwa terbebas dari pengaruh totokan. Kemudian Kui-bo Thai-houw menghampiri Wi Liong. Pemuda ini yang sudah marah sekali memaiki, "Siluman betina, apakah kau yang bernama Kui-bo Thai-houw.........?"
Beberapa orang pelayan wanita yang muda dan cantik menahan jerit kengeriannya mendengar ada orang muda begini tampan berani menghina Thai-houw. Mereka maklum bahwa menyebut Kui-bo (Biang Iblis) di depan Thai-houw, berarti mencari kematian secara mengerikan. Mereka sudah berdebar menanti Thai-houw menjatuhkan tangan mautnya. Akan tetapi aneh! Setelah beberapa menit saling pandang tanpa berkedip. Kui-bo Thai-houw malah tersenyum dan mengangguk!
"Benar dugaanmu. Orang muda yang berani, kau siapakah dan apa maksudmu membikin marah kami?"
"Aku Thio Wi Liong," jawab Wi Liong singkat. "'Kui-bo Thai-houw. kalau kau memang orang gagah, lepaskan jala ini dan mari kita berhadapan secara gagah, tidak curang!"
Wanita itu tersenyum dan semua pengikutnya memandang penuh kekaguman kepada pemuda di dalam jala itu. yang begitu berani, begitu gagah dan begitu ganteng.
"Lepaskan sih gampang. Katakan dulu apa maksud kedatanganmu di perahu kami."
424
"Aku datang untuk minta kau bebaskan nona Pui Eng Lan yang kau culik, juga hendak menyusul rombongan Pak-thian Koai-jin yang kabarnya datang ke Ban-mo-to untuk menolong nona Pui."
Tiba-tiba Kui-bo Thai-houw tertawa. Jarang wanita ini tertawa memperlihatkan giginya, dan sekarang ketika ia tertawa, Wi Liong harus mengakui bahwa wanita ini memang cantik sekali. Giginya masih bagus, kecil rata putih berkilat. Aneh, dalam ketawanya itu, Wi Liong melihat adanya bayangan iri hati yang besar di sudut mata Kui-bo Thai-houw.
"Semua orang tergila-gila kepada si hitam manis! Apa kau mencinta Eng Lan?"
Wi Liong terkejut. Pertanyaan yang sama sekali tak pernah diduganya akan keluar dari mulut Ratu Ban-mo-to ini.
"Ti.........tidak.........! Kui-bo Thai-houw, alasan apa yang membuat kau majukan pertanyaan gila-gilaan ini?"
Kembali Kui-bo Thai-houw tertawa, kini lirih dan tidak menggerakkan bibirnya. "Kau memasuki jala emas adalah kesalahanmu sendiri, seperti ikan sudah masuk jala, mana bisa dilepas? Kalau ada kepandaian, boleh coba melepaskan diri."
Wi Liong marah dan dari dalam jalanya ia menerjang maju, tak dapat melangkah leluasa hanya melompat bersama jalanya. Akan tetapi Kui-bo Thai-houw menggerakkan tangan dan di lain saat ia sudah memegang ujung jala dan memutar tali jala itu di atas kepalanya. Tubuh Wi Liong di dalam jala itu ikut terputar di udara, di atas kepala Kui-bo Thai-houw! Sambil tersenyum-senyum dan diikuti pandang mata kagum dari para pengikutnya, wanita ini berjalan terus sambil memutar-mutar jala berikut tubuh Wi Liong itu, seperti seorang anak nakal bermain-main.
Wi Liong mendongkol tak usah diceritakan lagi, akan tetapi apa dayanya? Ia berada di dalam sebuah jala yang luar biasa kuatnya, yang terbuat dari pada benang-benang halus yang tak dapat diputus, dan selain itu berada dalam tangan seorang sakti yang berilmu tinggi lagi. Ia hanya mengharapkan akan dapat kesempatan bertemu muka dan bertanding secara seimbang dengan Ratu Ban-mo-to ini.
Kui-bo Thai-houw membawanya terus ke taman bunganya yang hebat. Bukan hanya taman bunga, lebih patut dinamakan kebun raya, karena di situ selain terdapat seribu macam tanaman kembang serba indah, juga terdapat pohon-pohon besar segala macam yang tumbuh dengan megahnya, merupakan sebuah hutan kecil akan tetapi semua tanaman dan pepohonan teratur rapi. Dengan gerakan ringan seperti burung walet, Kui-bo Thai-houw melompat ke atas sebuah pohon yang besar dan tinggi, kemudian ia mengikatkan ujung jala itu berkali-kali ke sebuah dahan sehingga jala berikut tubuh Wi Liong itu tergantung! Pemuda itu marah-marah dan menuntut supaya dilepaskan, namun percuma saja, Kui-bo Thai-houw hanya tersenyum dan berkata. "Kau bocah nakal harus diberi hajaran biar kapok!" Kemudian pergi dari situ melenggang memanas hati.
Selagi Wi Liong marah-marah dan tak berdaya seperti seekor burung dalam kurungan itu, tiba-tiba pohon itu dahannya tergoyang dan ia melihat seorang gadis melompat ke atas dahan di mana jalanya tergantung.
425
"Nona Eng Lan.........!" Wi Liong berseru kaget heran, dan girang.
"Ssttt........." Gadis manis itu mengisyaratkan dengan jari di depan bibir menyuruh Wi Liong jangan berisik. "Bagaimana kau bisa sampai di sini dan ditawan dengan jala emas!" bisiknya.
"Mereka curangi aku!" jawab Wi Liong gemas. "Nona Eng Lan, lekas kau bantu aku putuskan tali-tali ini dari luar dengan pedangmu."
Eng Lan menggeleng kepalanya. "Percuma, jala ini terbuat dari pada benang yang berasal dari sutera ular emas. Pedang biasa saja takkan mampu memutusnya. Ah, kalau saja Cheng-hoa-kiam......... kau tunggulah, aku akan berusaha mengambil Cheng-hoa-kiam." Gadis itu hendak pergi lagi.
Wi Liong tertegun memandang gadis itu meloncat turun dan lenyap di antara gerombolan pohon. Ia bingung Bagaimana Eng Lan bisa bebas saja di situ? Apakah yang telah terjadi di Pulau Ban-mo-to ini? Di mana yang lain-lain? Untuk dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan yang memenuhi kepala Wi Liong, marilah kita mundur sebentar dan mengikuti pengalaman-pengalaman Eng Lan.
Telah dituturkan di bagian depan bagaimana Eng Lan yang tak berdaya karena totokan Hak Lui, telah disambar dan dibawa lari oleh Kun Hong yang datang bersama Kui-bo Thai-houw membasmi Ngo-tok-kauw dan merampas Ngo-heng-giokcu.
Biarpun tubuhnya tak dapat bergerak, akan tetapi Eng Lan masih ingat dan semenjak melihat kedatangan Kun Hong, gadis ini sudah merasa terheran-heran kemudian menjadi amat gelisah melihat betapa pemuda itu seakan-akan menjadi boneka hidup, menurut dan taat saja atas kehendak dan perintah wanita setengah tua yang lihai itu, Kui-bo Thai-houw. Ia mandah saja dibawa lari dan dipondong oleh kekasihnya, sungguhpun hatinya tidak rela karena ia masih penasaran hendak mendengar penjelasan semua itu dari mulut Kun Hong. Di balik rasa keraguan dan kegelisahan ini, iapun merasa bahagia sekali, bukan karena dapat melepaskan rindunya dalam pondongan orang yang dikasihinya, akan tetapi terutama sekali karena melihat kekasihnya itu selamat dan agaknya sehat-sehat saja. Sudah sembuhkah Kun Hong? Mengapa sekarang seperti menjadi kaki tangan wanita siluman itu?
Kun Hong yang memondong Eng Lan, di tengah jalan diam-diam membuka jalan darah gadis itu, lalu memberi isyarat supaya Eng Lan jangan banyak membantah.
"Kau bawa aku ke mana.........?" gadis ini berbisik setelah dapat menormalkan kembali peredaran darahnya.
"Diamlah, sayang......... diamlah dan serahkan saja kepadaku........." jawab Kun Hong sambil mendekap tubuh kekasihnya erat-erat pada dadanya. Untuk sejenak Eng Lan meramkan matanya, merasa berbahagia sekali. Akan tetapi kembali timbul keraguan dan kesangsian hatinya dan ketika ia membuka mata. ia melihat Kun Hong memandang kepadanya dengan mesra. Akan tetapi di balik kemesraan ini ia melihat sesuatu yang ganjil memancar keluar dari mata pemuda itu, seperti orang marah, seperti orang iri, seperti orang cemburu.
Ketika Kui-bo Thai-houw melihat pemuda itu memondong Eng Lan. keningnya berkerut akan tetapi senyumnya manis dan suaranya lembut ketika bertanya, "Kau bawa gadis ini?"
426
Kun Hong mengangguk. "Dia kawan baikku, aku suka padanya, biar tinggal di pulau bersama kita."
"Siapa namanya?" tanya pula Kui-bo Thai-houw, garis kerut-merut pada keningnya makin jelas.
"Pui Eng Lan,” jawab Kun Hong singkat.
Kui-bo Thai-houw mengangguk-angguk. "Sudah pernah kumendengar nama itu kau sebut-sebut dalam tidurmu." Lalu wanita ini melanjutkan perjalanan dan tidak memperdulikan lagi pada Kun Hong dan Eng Lan. Kui-bo Thai-houw tidak seperti Thai Khek Sian yang membolehkan kekasih-kekasihnya bermain gila dengan siapapun juga. Wanita ini amat cemburu. Akan tetapi terhadap Kun Hong ia tidak berani melarang. Hal ini adalah karena ia terlampau sayang kepada pemuda itu yang sudah menjadi kekasih, anak angkat dan murid sekaligus.
Pernah ia melihat Kun Hong berkasih-kasihan dengan seorang pengikutnya. Ia marah. Pelayan itu dibunuhnya dan melihat ini Kun Hong memberontak, hampir minggat dari pulau. Kui-bo Thai-houw menyesal dan selanjutnya berjanji takkan melarang pemuda itu berkasihan dengan siapapun juga asalkan tidak meninggalkan dirinya dan selalu taat! Kun Hong yang masih belum mendapatkan pengobatan Im-yang-giok-cu, merasa seperti diikat kaki tangannya. Ia terpaksa tunduk kepada wanita aneh ini. Selain menanti datangnya saat pengobatan untuk menyambung nyawanya, juga di samping ini ia masih menambah kepandaiannya dari Kui-bo Thai-houw yang tidak segan-segan menurunkan ilmunya kepada pemuda itu.
Inilah sebabnya mengapa Kun Hong berani membawa Eng Lan bersamanya ke Ban-mo-to dan Kui bo Thai-houw tidak melarangnya. Akan tetapi kalau Kun Hong merasa gembira dapat membawa Eng Lan bersamanya, adalah gadis itu yang menjadi panas hatinya dan sakit perasaannya, dibakar api cemburu.
Ia memberontak dari pondongan Kun Hong. Kun Hong mencegahnya, "Kalau kau lari, Thai-houw akan membunuhmu!" ia memperingatkan.
"Aku tidak sudi kau pondong!" jawab Eng Lan yang cukup cerdik untuk menahan diri tidak lari, karena iapun maklum bahwa menghadapi orang-orang sakti itu ia takkan berdaya melarikan diri. Eng Lan mengikuti rombongan itu berjalan kaki dan Kun Hong berjalan di sampingnya.
"'Kenapa kau bisa melakukan perjalanan bersama Wi Liong? Ada apa antara kau dan dia?" tak tertahan lagi Kun Hong mengajukan pertanyaan ini karena ia dibakar oleh api cemburu sejak tadi melihat Eng Lan dan Wi Liong menjadi tawanan Ngo-tok-kauw. Suaranya jelas membayangkan cemburu dan iri hatinya, dan hal ini diketahui baik oleh Eng Lan yang menjadi lebih marah lagi.
"Manusia tak tahu diri!" desisnya perlahan. "Kau yang katanya pergi mencari obat, kiranya hidup mewah dan senang di dekat siluman-siluman itu. menjadi orang hina-dina. Dan semua itu masih kau tambah lagi dengan pikiran yang rendah dan bukan-bukan terhadap diriku? Sungguh memualkan!" Dan gadis ini jalan menjauhi Kun Hong tidak sudi menengok lagi.
Merah wajah Kun Hong. Ia mengerti bahwa Eng Lan sudah dapat menduga akan keadaannya dengan Kui-bo Thai-houw. Ia ingin bicara banyak, ingin menerangkan isi hatinya kepada Eng Lan, akan tetapi
427
karena mereka sedang berjalan bersama rombongan Kui-bo Thai-houw, tentu saja tidak leluasa baginya untuk bicara di situ. Maka ia diam saja dan hanya menjaga agar Eng Lan jangan sampai melarikan diri.
Demikianlah, Eng Lan dibawa ke Ban-mo-to, mendapatkan kebebasan karena ia dianggap kekasih Kun Hong. Tak seorangpun mengganggunya. Akan tetapi mana sudi Eng Lan didekati Kun Hong? Ia malah selalu menjauhkan diri dari pemuda itu dan berkeliaran di atas Pulau Ban-mo-to yang indah. Pernah Kun Hong berhasil menjumpainya seorang diri dan pemuda ini berkata perlahan,
"Eng Lan, kau pertimbangkan keadaanku baik-baik. Aku memang mencari obat dan satu-satunya orang di dunia ini yang bisa mengobati aku dan menyambung nyawaku hanyalah Thai-houw. Oleh karena itu, mana bisa aku tidak mentaatinya? Selain pengobatan, akupun menerima petunjuk ilmu silat. Budi yang begitu besar, apakah tidak patut kalau dibalas? Harap kau jangan cemburu, aku......... aku tetap mencinta padamu. Percayalah, kalau ada gadis yang kucinta sepenuh jiwaku, kaulah gadis itu."
Dengan sinar mata berapi gadis itu memandang Kun Hong. "Siapa perduli? Siapa perduli kau mau apa? Mau jungkir-balik di sini, mau hidup sebagai pangeran, mau menjadi begundal atau......... kekasih siluman-siluman di sini...... tidak perduli aku!" Air matanya mulai bercucuran. "Aku......... aku lebih suka melihat kau mati karena lukamu.........!" Tak tertahan lagi Eng Lan menangis sambil berlari pergi menjauhi Kun Hong.
Pemuda ini berdiri bengong. Hatinya risau dan ia tidak tahu harus berbuat apa. Memang sesungguhnya pengakuannya tadi. Semenjak bertemu dengan Eng Lan, hatinya sudah terisi dan tidak ada lain wanita di dunia ini yang dapat merebut cinta kasihnya. Kalau ia menjadi kekasih Kui-bo Thai-houw dan wanita-wanita lain, itu bukanlah cinta kasih hanya sekedar menuruti hati muda dan terutama sekali karena ia terpaksa menuruti kehendak hati Kui-bo Thai-houw yang ia butuhkan untuk menolongnya memberi obat. Demikianlah pentingnya pendidikan. Kun Hong yang semenjak mudanya terdidik oleh orang-orang sesat dan hidup di dalam lingkungan orang-orang seperti Bu-ceng Tok-ong, Tok-sim Sian-li, dan Thai Khek Sian, jalan pikirannyapun terpengaruh dan baginya, bermain gila dengan wanita-wanita penghuni Ban-mo-to, bukanlah apa-apa dan tak perlu dipusingkan oleh Eng Lan. Ia belum dapat menjajaki hati Eng Lan dan menyelami isi hati yang murni dari seorang gadis sopan dan putih bersih seperti Eng Lan. Selama ini Kun Hong hanya mengenal isi hati wanita-wanita seperti Tok sim Sian li!
Di lain fihak. biarpun hatinya terasa perih dan sakit sekali melihat keadaan Kun Hong di Ban-mo-to, namun cinta kasih yang bersemi dalam hati Eng Lan sudah amat mendalam. Ia boleh kecewa, boleh berduka, akan tetapi tak dapat ia membenci Kun Hong. Boleh mulutnya memaki-maki dan sinar matanya berapi hendak membakar pemuda itu, namun hatinya tetap sejuk dan tidak bisa ia melempar atau membuang bayangan Kun Hong dari lubuk hatinya. Cinta kasihnya terhadap pemuda itu sudah mendarah daging, sudah terlalu mendalam sehingga gadis ini malah tidak mempunyai ingatan untuk mencoba melarikan diri dari Ban-mo-to. Kun Hong berada di situ, iapun tidak mau pergi, biarpun ia harus menderita kesengsaraan hati dan selalu bersikap benci dan menjauhi Kun Hong. Memang cinta kasih bisa membikin banyak macam dongeng dan menimbulkan banyak macam perangai yang aneh-aneh pada orang-orang muda.
428
Beberapa hari kemudian, sebuah perahu besar mendekati Pulau Ban mo-to. Hal ini menimbulkan geger di pulau itu. Para gadis penjaga pantai yang melihat perahu ini terheran-heran. Belum pernah ada perahu asing berani mendekati Ban-mo-to, apa lagi mendarat, karena mendarat berarti mengantar nyawa dengan sia-sia. Mereka cepat-cepat mengirim laporan kepada Kui-bo Thai-houw dan sebagian pula mempersiapkan perlawanan dan memperkuat penjagaan.
Yang pertama kali keluar dari perahu itu adalah seorang kakek tinggi besar. Thai It Cinjin diikuti oleh Im yang Siang-cu. Kemudian muncul Pak-thian Koai-jin dan See-thian Hoat-ong, di belakangnya menyusul puteranya yaitu Kong Bu yang nampak pucat dan lemah karena lukanya bekas pukulan Hek-tok-sin-ciang dari Thai Khek Sian.
Para gadis penjaga pantai tentu saja mengenal Thai It Cinjin, maka mereka tidak berani sembarangan bergerak. Namun tetap saja mereka tidak bisa membiarkan pulau yang mereka anggap keramat ini didatangi orang-orang begitu saja. Mereka membentuk barisan menghadang di jalan dan seorang gadis yang berpakaian merah berkata,
"Pulau Ban-mo-to tidak boleh didatangi orang tanpa seijin Thai-houw!"
Melihat barisan gadis-gadis cantik ini, Thai It Cinjin dan kawan-kawannya berhenti. Thai It Cinjin tertawa bergelak lalu berkata.
"Nona-nona manis, lekas laporkan kepada Thai-houw bahwa aku Thai It Cinjin dari Kim-Ie-san dan beberapa orang kawan sengaja datang berkunjung untuk membalas kebaikan kunjungan Thai-houw ke Kim-Ie-san tempo hari,"
Sebelum ada yang menjawab dari tengah pulau itu terdengar suara halus akan tetapi berpengaruh sekali, suara Kui-bo Thai-houw.
"Biarkan mereka datang menghadap!"
"Terima kasih, Tiai-houw yang baik, terima kasih. Kami datang menghadap!" kata Thai It Cinjin sambil berjalan menuju ke tengah pulau, diikuti oleh kawan-kawannya.
Seperti sudah dituturkan terdahulu, Kong Bu. See-thian Hoat-ong, dan Pak-thian Koai-jin yang hendak menolong Eng Lan pergi ke Ban-mo-to lebih dulu mampir di Kim-Ie-san minta bantuan Thai It Cinjin dan dua orang sutenya, Im-yang Siang-cu. Kong Bu yang minta tolong kepada Thai It Cinjin. Tadinya Thai It Cinjin segan membantu karena maklum bahwa menentang Kui-bo Thai-houw bukanlah hal yang mudah dan tidak berbahaya. Akan tetapi ketika ia mendengar bahwa dua orang muridnya terculik oleh Thai Khek Sian dan kini sedang dikejar oleh seorang pemuda murid Thian Te Cu, ia menjadi tidak enak juga kalau tinggal peluk tangan. Thai It Cinjin orangnya cerdik sekali maka seketika itu juga ia mendapatkan akal.
"Boleh saja dan tentu aku suka membantu kalian," katanya. "Akan tetapi karena Kui-bo Thai-houw tak boleh dipandang ringan, harap kalian bersabar dan biarkan aku menghadapinya dengan jalan damai. Jangan ada yang bersikap sembrono dan mengambil keputusan sendiri. Setuju?"
429
Demikianlah, dengan langkah tenang dan muka ramah Thai It Cinjin memimpin kawan-kawannya menuju ke tengah pulau. Setelah dekat dengan perumahan Kui-bo Thai-houw dan anak buahnya; di kanan kiri jalan berderet barisan gadis-gadis cantik, sikap mereka keren dan gagah, tangan kanan memegang pedang tangan kiri bertolak pinggang! Thai It Cinjin dan Pak-thian Koai-jin tersenyum-senyum, yang lain memandang kagum. Benar-benar sebuah pulau wanita yang aneh dan indah, orangnya cantik-cantik dan tetanaman di pulau itu kesemuanya tidak ada yang liar, semua terawat dan teratur indah.
Tiba-tiba melompat bayangan yang gesit dan Eng Lan muncul, langsung maju menghadap Pak-thian Koai-jin.
"Suhu.........!"
Melihat muridnya bebas lepas, malah pedangnya masih dibawa di pinggang, bergerak begitu saja seperti menjadi seorang di antara penghuni-penghuni pulau, Pak-thian Koai-jin menjadi bengong terlongong. Tentu saja hal ini sama sekali tak pernah disangkanya, ia susah-susah datang untuk menolong muridnya yang disangkanya terculik orang jahat eh, tidak tahunya muridnya itu bebas saja kelihatan enak-enak di pulau ini!
"Kau......... tidak apa-apa.........!" tanya Pak-thian Koai-jin kepada muridnya, memandangi muridnya itu dari kepala sampai ke kaki.
Eng Lan menggeleng kepala, tersenyum akan tetapi matanya menitikkan dua butir air mata! Gadis ini lalu ikut berjalan bersama suhunya, mengikuti Thai It Cinjin yang hanya terganggu sebentar oleh kedatangan Eng Lan. Baginya, munculnya Eng Lan yang membuat Pak-thian Koai-jin girang sekali itu tidak ada artinya.
"Suhu, teecu telah bertemu dengan........ Kun Hong........."
"Hemm, di sini? Bagus, karena itukah kau bisa bebas?" jawab Pak-thian Koai-jin dengan suara berbisik pula.
Eng Lan mengangguk, "Suhu, dia......... dia berubah sekali........ dia......." Eng Lan menahan-nahan, akan tetapi pipinya tahu-tahu sudah basah oleh air mata.
Pak-thian Koai-jin adalah seorang yang sudah banyak pengalamannya. Ia tadi melihat adanya banyak gadis-gadis cantik di pulau ini dan ia dapat menduga orang macam bagaimana adanya Kun Hong murid Thai Khek Sian.
"Bangsat muda itu tidak pantas untukmu........." celanya.
"Suhu.........!"
Pak thian Koai-jin menarik napas panjang sambil menggeleng-geleng kepalanya.
"Hemmm, baiklah........... baiklah.......... aku takkan mencela pilihanmu itu."
430
"Suhu. teecu biarpun bebas akan tetapi tidak bisa pergi dari Ban-mo-to. Di sini berbahaya sekali, Kui-bo Thai-houw lihai bukan main. Harap suhu berhati-hati."
"Aku hanya datang untuk minta kau dibebaskan. Mudah-mudahan Thaihouw tidak membikin urusan menjadi sengketa," kata Pak-thian Koai-jin, suaranya terdengar biasa dan tenang-tenang saja. akan tetapi sebetulnya ia gelisah sekali. Bukan gelisah menghadapi musuh berat seperti Kui-bo Thai-houw karena bagi tokoh besar seperti dia ini, menghadapi lawan-lawan berat bukanlah hal yang asing lagi. Akan tetapi yang membuat ia gelisah adalah keadaan muridnya ini mengenai diri Kun Hong.
Juga Eng Lan gelisah bukan main. Belum tentu gurunya kalah oleh Kui-bo Thai-houw, melihat bahwa gurunya datang bersama orang-orang pandai. Akan tetapi biarpun andaikata suhunya menang dan ia diperbolehkan meninggalkan Ban-mo-to, apa artinya baginya kalau Kun Hong tetap berada di situ? Apa artinya baginya kalau dengan mendapatkan kembali kemerdekaannya ia kehilangan Kun Hong?
Rombongan itu telah tiba di depan rumah besar tempat tinggal Kui-bo Thai-houw dan berhenti di situ karena di depan pekarangan yang lebar terjaga oleh belasan orang gadis pelayan yang memegang tombak. Akan tetapi tidak lama mereka tertahan di situ karena tampak Kui-bo Thai-houw dalam pakaian seindah- indahnya berjalan keluar dari pintu rumahnya dengan langkah halus. Mukanya baru dibedak, putih kemerahan, matanya bersinar bibirnya tersenyum, ia diikuti oleh Kun Hong, kemudian di belakangnya berjalan empat orang nenek kembar dan belasan orang pelayan cantik-cantik barisan serba empat. Benar-benar amat ganjil melihat Kun Hong di antara sekian banyaknya wanita. Satu-satunya pria dalam sebuah dunia wanita! Kui-bo Thai-houw duduk di atas sebuah kursi kuning yang sudah disediakan di pekarangan itu, yang lain-lain berdiri di belakangnya. Setelah itu barulah dia memberi isyarat ke depan supaya tamu-tamu disuruh masuk.
Pintu pekarangan dibuka dan masuklah rombongan itu, Thai It Cinjin di depan, baru yang lain-lain.
"Thai It Cinjin, apa maksud kau dan kawan-kawanmu datang mengganggu kami di sini?" Kui-bo Thai-houw menegur dan dari suaranya saja sudah dapat diketahui bahwa wanita ini merasa tidak senang hatinya. Matanya menyambar ke aran semua tamunya dan sekilas ia memandang Eng Lan yang berdiri di sebelah kiri suhunya. Wajah Kun Hong menjadi berubah sedikit ketika ia melihat Eng Lan bersama rombongan itu, akan tetapi aneh, pemuda ini tidak memandang lama dan selanjutnya bersikap tidak mengacuhkan hal itu sama sekali. Bukan main mendongkolnya hati Eng Lan.
Thai It Cinjin cepat memberi hormat kepada wanita cantik itu, lalu berkata, mukanya ramah tersenyum, "Thai-houw yang baik. harap maafkan aku dan kawan-kawanku. Aku datang untuk memberi hormat, untuk membalas kunjunganmu beberapa bulan yang lalu, dan untuk mengagumi pulaumu yang indah ini."
"Tak usah plintat-plintut panjang lebar, hayo katakan apa keperluanmu!" Kui-bo Thai-houw membentak dengan suara masih halus.
Thai It Cinjin menjadi gugup juga. Bukan main wanita ini. tidak bisa diajak bersopan-sopan, la menarik napas panjang untuk menenangkan hatinya yang berguncang. Lalu ia melangkah maju dan berkata,
"Dahulu Thai-houw sudah datang mengunjungi Kim-Ie-san dan dalam kesempatan itu aku melihat kelihaian Thai-houw, Juga ketika itu aku tidak jadi menewaskan saudara muda ini," ia menuding ke
431
arah Kun Hong, "karena ternyata dia ini sudah menjadi sahabat-sahabat baik kedua orang muridku Hui Nio dan Hui Sian. Urusannya dengan Beng Kun Cinjin adalah urusan ayah dan anak dan kami tidak ikut campur. Baiknya Thai-houw keburu datang sehingga saudara muda ini selamat dan sekarang malah berada di sini. Aku merasa girang melihat hal ini dan........."
"Cukup, jangan berbelit-belit. Apa maksudmu sebenarnya?" Thai-houw memotong tak sabar lagi.
Thai It Cinjin melanjutkan kata-katanya dengan tergesa-gesa, "Saudara muda ini murid Thai Khek Sian. akan tetapi sungguh aneh sekali, beberapa hari yang lalu Thai Khek Siansu dan Beng Kun Cinjin datang dan menculik kedua orang muridku dan melukai tunangan muridku, Kong Bu ini," Ia menuding calon suami Hui Nio. "Karena mengingat bahwa murid-muridku itu sahabat baik saudara muda ini, mengingat pula akan kelihaian Thai-houw dan nama besar Thai-houw yang tentu saja tidak kalah oleh Thai Khek Siansu. maka kedatanganku ke sini selain kunjungan penghormatan juga hendak minta kemurahan hati Thai-houw untuk mengobati Kong Bu yang terkena pukulan Hek-tok-sin-ciang dan kemudian menggunakan pengaruh Thai-houw untuk minta kedua orang muridku dibebaskan,"
Kun Hong mengerutkan alisnya. Tak senang hatinya mendengar gurunya. Thai Khek Sian, menculik Hui Nio dan Hui Sian. Juga ia merasa aneh bagaimana gurunya bisa datang bersama Beng Kun Cinjin. Hatinya panas dan ingin ia segera mengejar 4ce Pek-go-to mencari ayahnya yang amat dibencinya itu, akan tetapi ia berada dalam kekuasaan Kui-bo Thai-houw, tak dapat ia pergi sembarangan saja.
Mendengar omongan Thai It Cinjin itu, Pak-thian Koai-jin tersenyum pahit. Ia maklum bahwa urusan Eng Lan sama sekali tidak diperdulikan oleh orang tua itu maka tidak disebut-sebut.
Adapun Kui-bo Thai-houw memandang sejenak ke arah Kong Bu, kemudian ia menatap wajah See-thian Hoat-ong dan Pak-thian Koai-jin, pandang matanya menduga-duga dan menaksir-naksir, Im-yang Siang-cu tak ditolehnya.
"Saudara yang seperti panglima perang gagah perkasa ini siapakah?" tanyanya menuding See-thian Hoat-ong.
"Aku adalah ayah Kong Bu yang luka ini, namaku Kong Lek In........."
Thai-houw mengingat-ingat. Dahulu dia tinggal di istana kaisar dan dia paling memperhatikan urusan negara maka banyak ia mengenal nama-nama panglima besar yang berkuasa dan terkenal. "Kau dari Sin-kiang?" tanyanya tiba-tiba, teringat.
Kong Lek In mengangguk hormati. "Mohon kemurahan hati Thai-houw untuk mengobati puteraku yang terluka," katanya.
"Ah, kau tentu See-thian Hoat-ong, bukan?" Ketika Kong Lek In kembali mengangguk, wanita itu kelihatan gembira. "Bagus, bagus! Sudah lama mengenal nama, dahulu tiada kesempatan bertemu. Dan pengemis ini siapa?" Ia menuding ke arah Pak-thian Koai-jin.
Kakek ini mengangguk-angguk sambil tertawa, menggerak-gerakkan mangkok butut di tangan kanan seperti seorang pengemis sedang meminta-minta. "Kiranya Thai-houw bersifat pemurah, buktinya Cinjin (orang berkedudukan tinggi) dan Hoat-ong pada datang minta berkah. Aku seorang pengemis
432
mana mau ketinggalan? Tongkat pembantu jalan sudah kubawa, mangkok tempat sedekah sudah kupegang! Thai-houw, aku Pak-thian Koai-jin datang minta kau bebaskan muridku ini sekalian menghaturkan terima kasih bahwa selama ini muridku sudah menjadi tamumu di sini."
Ucapan yang agak aneh dan berputar-putar ini tidak memarahkan Kui-bo Thai-houw, malah wanita ini kelihatan tercengang dan gembira. "Ah, kiranya tokoh-tokoh besar belaka yang datang ke sini." Tiba-tiba sikapnya berubah, nampak keren dan sepasang mata yang indah itu mengeluarkan sinar berapi. "Semua bilang mohon, minta pada hakekatnya menuntut! Boleh saja kalian membuka mulut, akan tetapi mana aku takut terhadap tuntutan kalian? Hemm, Thai It Cinjin, soal Thai Khek Sian adalah urusanku sendiri untuk mengajar adat atau tidak, tak perlu kau membawa-bawa aku dan Kun Hong. Juga tentang mengobati puteramu, See-thian Hoat-ong, tergantung dari sikapnya dalam beberapa hari ini di sini. Aku yang memutuskan kelak hendak diobati ataukah tidak. Dan kau, pengemis dari utara, sudah lama aku mendengar nama besarmu, kiranya kau hanya seorang pengemis yang tidak mampu mengajar adat pada murid. Kalau aku tidak mau membebaskan muridmu, kau mau apakah?"
Menarik sekali kalau memperhatikan muka tiga orang tokoh besar itu pada saat mendengar kata-kata ini. Muka Thai It Cinjin berubah pucat, muka See-thian Hoat-ong yang sudah kemerahan itu menjadi merah sekali dan muka Pak-thian Koai-jin bergerak-gerak tersenyum lebar.
"Thai-houw. jawabannya berada di mulutmu. Sebenarnya kau menghendaki apakah?" Pak-thian Koai-jin bertanya.
Bagi orang lain. kiranya pertanyaan ini akan dianggap kurang ajar, akan tetapi tidak bagi Kui-bo Thai-houw. Ia malah tersenyum mengangguk-angguk.
"Tak percuma kau berjuluk Koai-jin (Orang Aneh). Kau sudah dapat menangkap kehendakku, Dengarlah, kalian hari ini datang sebagai tamu-tamu tak diundang, karenanya harus mentaati undang-undangku, begini : Siapapun juga berani menginjak pulau ini tanpa seijinku, harus mati!"
Tentu saja Thai It Cinjin, Im-yang Siang-cu, See-thian Hoat-ong, dan Pak-thian Koai-jin marah sekali mendengar "undang-undang" seenaknya sendiri saja ini, akan tetapi mereka diam saja. ingin mendengarkan apa yang selanjutnya akan diucapkan oleh wanita cantik akan tetapi berhati iblis ini. Setelah berhenti sebentar untuk melihat bagaimana sikap tamu-tamunya mendengar ucapannya tadi, sambil tersenyum Kui-bo Thai-houw melanjutkan kata-katanya, "Akan tetapi, karena kalian adalah tokoh-tokoh penting di dunia kangouw dan datang dengan permintaan-permintaan, biar kurobah sedikit undang-undang itu. Kalian tidak akan mati begitu saja, akan tetapi diberi kesempatan membela diri. Malah ada pahalanya. Karena kalian adalah ahli-ahli silat, biarlah kalian seorang demi seorang melawan anak angkatku ini. Kalau kalian kalah, tak perlu bicara lagi, berarti mati. Kalau menang, selain kuanggap sebagai tamu yang kuundang, juga permintaan. permintaanmu tadi akan dipertimbangkan."
Kaget bukan main para tamu itu mendengar keputusan ini. Lebih-lebih Eng Lan, gadis ini menjadi pucat dan memandang ke arah Kun Hong dengan mata terbelalak. Kemudian ia melompat maju dan menghunus pedangnya menghadapi Kun Hong. "Dia ini yang akan maju menjadi jagonya? Baik sekali, biar dia mengadu jiwa dulu dengan aku. baru dengan suhu!" Dengan marah sekali Eng Lan melompat maju menerjang dan menyerang Kun Hong dengan pedangnya. Sukar sekali untuk menduga bagaimana rasa hati dan perasaan Kun Hong di saat itu. Pemuda ini berdiri tanpa bergerak,
433
memandang kepada Eng Lan dengan mata sayu dan bibir gemetar, akan tegapi ia tidak mengelak sedikitpun dari tusukan pedang yang mengarah ulu hatinya! Pedang litu dengan cepat dan kuatnya meluncur ke depan dan agaknya sudah pasti akan menembus ulu hati Kun Hong.
"Plak! Traaanggg..........!" Pedang itu tiba-tiba terlepas dan terlempar ke atas tanah sedangkan tubuh Eng Lan terhuyung mundur.
"Tangkap si liar ini, masukkan dulu di kamar tahanan jangan boleh keluar!" perintah Kui bo Thai-houw yang tadi menggerakkan tangan menangkis pedang itu dan menyelamatkan Kun Hong. Wajah wanita ini merah sekali karena ia marah melihat Kun Hong diam saja tidak melawan, rela mati di bawah tangan gadis itu.
"Akan tetapi jangan ganggu dia!" terdengar suara Kun Hong cukup berpengaruh karena diucapkan dengan nada ancaman ketika ia melihat Eng Lan dipegang oleh dua orang gadis pakaian putih.
Kui-bo Thai-houw melirik kepadanya lalu berkata perlahan kepada gadis- gadis itu, "Yaaaah, jangan ganggu dia."
Pak-thian Koai-jin tadinya hendak memberontak melihat muridnya ditangkap, akan tetap melihat sikap Kun Hong dan mendengar kata-kata tadi, ia menahan diri. Ia cukup cerdik unluk menginsyafi bahwa tidak ada gunanya mempergunakan kekerasan di sini karena takkan menang. Apa lagi ia berada di pulau orang dan tadi nyonya rumah sudah mengajukan syarat-syarat.
Pak-thian Koai-jin dan See-thian Hoat-ong sudah pernah merasai kelihaian Kun Hong, maka tentu saja syarat yang diajukan tadi terasa berat bagi mereka dan membuat mereka ragu-ragu. Akan tetapi tidak demikian dengan Thai It Cinjin dan dua orang sutenya. Im-yang Siang-cu yang berkepandaian lebih tinggi. Mereka ini, terutama Thai It Cinjin, merasa akan sanggup mengalahkan Kun Hong. maka mereka tersenyum dan bersiap-siap.
Thai It Cinjin melangkah maju dan berkata dengan senyum. "Thai-houw malah mengajukan murid Thai Khek Sian menjadi jago untuk menguji kami? Baiklah kalau demikian kehendakmu. Orang muda, majulah."
Kun Hong sudah pernah bertanding melawan Thai It Cinjin dan dalam pertandingan dahulu itu, ia terdesak oleh kakek yang lihai ini. Ia masih merasa penasaran dan sekarang terbuka kesempatan baginya untuk menebus kekalahannya.
"Kun Hong, kau tahu bagaimana harus mengalahkan dia. Majulah," kata Kui-bo Thai-houw dengan muka berseri dan mata bersinar penuh harapan. Kun Hong mengangguk, lalu meloloskan pedangnya. Cheng-hoa-kiam. Memang, selama berada di Ban-mo-to ia tidak hanya menghabiskan waktunya untuk bersenang. senang saja. Ia telah menerima banyak petunjuk ilmu silat dari Kui-bo Thai-houw. malah telah mewarisi berbagai ilmu pukulan yang hebat-hebat dan selain ini, pernah ia membicarakan tentang kekalahannya dari Thai It Cinjin dahulu dan mendapat petunjuk-petunjuk bagaimana umtuk menghadapi kakek dari Kim-Ie-san ini.
Melihat Kun Hong sudah bersiap di depannya, tanpa sungkan-sungkan lagi Thai It Cinjin lalu membuka serangan dengan sepasang ujung lengan bajunya yang ampuh. Kun Hong juga menggerakkan tubuh
434
dan pedangnya dan di lain saat keduanya sudah saling terjang dengan hebat. Baru beberapa gebrakan saja Thai It Cinjin terkejut. Benar-benar ia telah melihat perubahan luar biasa dalam gerakan pemuda ini. Dahulu ketika ia menghadapi pemuda ini, ia masih dapat mengenal ilmu pedang dan gerakan-gerakan pukulan aneh dari Thai Khek Sian, akan tetapi seaneh-anehnya masih berdasarkan ilmu silat dari Wuyi-san dan sebagai seorang yang pernah menerima pelajaran dari Gan Yan Ki, tentu saja ia dapat menghadapi ilmu silat warisan Wuyi-san biarpun sudah amat berubah. Akan terapi sekarang: menghadapi dia, agaknya pemuda ini tidak mau lagi mempergunakan ilmu silat Wuyi-san, melainkan mainkan ilmu silat lain yang amat aneh akan tetapi di dalam gerak-gerik yang halus terkandung pukulan-pukulan maut yang amat ganas dan tak kenal ampun. Ia dapat menduga bahwa ini tentulah ilmu dari Ban-mo-to karena sifatnya serasi benar dengan keadaan Kui-bo Thai-houw, halus lemah lembut namun kejam dan keji luar biasa.
Memang dugaan tokoh besar ini tepat. Kun Hong sekarang mainkan Ilmu Pedang Giok li-coan-ciam (Dewi Kemala Menusuk Jarum) yang ia pelajari dari Kui-bo Thai-houw. Ilmu pedang ini adalah ilmu simpanan dari Kui-bo Thai-houw dan baru diajarkan kepada Kun Hong seorang saking sayangnya ia kepada pemuda itu. Sesuai dengan namanya, ilmu pedang ini halus gerak-geriknya seperti gerak-gerik seorang dewi, akan tetapi ganas dan kejam seperti jarum menusuk-nusuk kain tanpa kenal ampun lagi!
Thai It Cinjin mulai terdesak. Ia masih menduga-duga dan masih mempelajari gerakan-gerakan lawan, sebaliknya Kun Hong tentu saja dapat mengenal dasar gerakan-gerakannya. Biar-pun dalam hal lweekang maupun ginkang ia tidak kalah akan tetapi kekalahan ilmu silat ini benar-benar membuat ia terdesak hebat. Sambil menggereng keras Thai It Cinjin lalu mencabut sebatang pedang dari pinggangnya. Kakek ini memang jarang sekali menggunakan pedang, biasanya dengan kedua tangan berikut ujung lengan baju saja ia, sudah jarang terkalahkan. Akan tetapi sebagai seorang lokoh Bu-tong-pai, tentu saja iapun seorang ahli ilmu pedang dan selalu membawa pedang yang jarang ia keluarkan.
Setelah memegang pedang di tangan. Thai It Cinjin lalu mainkan ilmu pedang Bu-tong-pai yang paling lihai, masih dibantu lagi dengan ujung lengan baju tangan kirinya. Keadaan menjadi makin ramai karena sekarang keduanya menggunakan pedang dan biarpun sudah mengenal Bu-tong Kiam-hoat (Ilmu Pedang Bu-tong). namun tidak sampai sedalam-dalamnya, maka sekarang Kun Hong harus bersilat dengan lebih hati-hati lagi. Karena Thai It Cinjin memang lihai sekali, perlahan-lahan Kun Hong mulai terdesak.
Tiba-tiba pemuda ini mengeluarkan seruan keras dan tangan kirinya bergerak cepat. Sinar kuning emas menyambar ke arah muka Thai It Cinjin yang menjadi kaget sekali dan cepat menangkis sambil melompat mundur.
Hampir ia mendamprat karena mengira lawan menggunakan senjata rahasia, akan tetapi ketika ia memandang, ternyata itu bukanlah senjata gelap, melainkan sebuah tali pengikat pinggang dari benang sutera kuning yang tadi dipergunakan oleh Kun Hong.
Sekarang pemuda ini telah berlambah sebuah senjata lain di tangan kiri, senjata yang menjadi keistimewaan Kui-bo Thai-houw. Ternyata bahwa pemuda yang pintar ini dalam waktu singkat saja, selain mewarisi Ilmu Pedang Giok-lt coan-ciam, juga telah mahir ilmu silat mempergunakan tali ikat pinggang yang lihai Itu!
435
Pertandingan dilanjutkan dan keadaan berubah lagi. Kun Hong telah mulai dapat mendesak lagi, akan tetapi karena lawannya memang seorang tokoh besar yang amat lihai, tetap saja masih sukar baginya untuk mencapai kemenangan walaupun pertandingan sudah berlangsung hampir duaratus jurus. Akhirnya ia melihat tanda-tanda bahwa lawannya kehabisan napas. Maklum Thai It Cinjin sudah tua dan napasnya tidak sepanjang dahulu, tenaganyapun terbatas Melihat ini Kun Hong mengerahkan semangat dan menerjang dengan hebat.
Tiba-tiba terdengar seman marah dan dua bayangan orang, Im Thian Cu dan Yang Thian Cu dua orang kakak beradik tokoh Bu-tong-pai yang menjadi sute Thai It Cinjin, menyerbu ke dalam kalangan pertempuran membantu kakak seperguruan mereka. Mereka semenjak tadi menahan hati. akan tetapi akhirnya tidak kuat melihat suheng mereka mulai terdesak dan mandi keringat.
Penyerbuan mereka dalam keroyokan ini tidak menguntungkan Thai It Cinjin yang tidak keburu mencegah. Hampir berbareng terdengar suara ketawa halus, dua sinar merah menyambar dan Im Yang Siang Cu berdua roboh terguling. Thai It Cinjin terkejut sekali dan kesempatan baik ini dipergunakan oleh Kun Hong untuk menotok pundaknya dengan ujung tali ikat pinggangnya, tepat mengenai jalan darah dan tubuh Thai It Cinjin yang tinggi besar terhuyung ke belakang lalu roboh lemas.
"Jangan bunuh mereka!" bentak Kun Hong keras sekali yang membuat Kui-bo Thai-houw menoleh kepadanya dengan heran sambil menahan sabuk benang sutera merahnya yang sudah akan ia gerakkan untuk membunuh tiga orang itu.
"Kun Hong, kau kenapa?” tanyanya heran dan agak gelisah.
"Thai-houw, harap kau penuhi permintaanku ini. Para tamu ini jangan dibunuh. Memang mereka melanggar peraturan Thai-houw, akan tetapi pelanggaran yang tidak begitu hebat. Kalau dibunuh, aku akan merasa tidak enak dan tidak senang selalu. Kalau Thai-houw hendak menghukum mereka, hukumlah dan penjarakan mereka, akan tetapi jangan sekali-kali dibunuh."
Menarik sekali untuk mempelajari wajah Kui-bo Thai-houw di saat itu. Cahaya merah berubah pucat berganti-ganti, alis yang melengkung hitam itu bergerak-gerak naik turun, bibirnya yang masih manis sekali bergerak-gerak perlahan, matanya melirik ke kanan kiri. Akhirnya ia menatap wajah Kun Hong dan menarik napas panjang.
"Aku bodoh sekali, akan tetapi aku tak sampai hati membikin kau tidak senang." Ia lalu menoleh ke arah Thai It Cinjin dan berkata, suaranya lantang berpengaruh. "Thai It Cinjin, kau sudah berdosa besar. Seharusnya kau dihukum mati, akan tetapi mengingat permintaan anak angkatku, kau mendapat keringanan. Kau dihukum satu tahun dalam kamar tahanan di pulau ini, dan Kim-Ie-san semenjak sekarang menjadi hak milik dan wilayah kami. Im-yang Siangcu dihukum satu tahun pula dan setelah itu harus cepat pergi jangan sampai memperlihatkan diri lagi. Sekali lagi bertemu dengan kami berarti mengantar nyawa dan harus mati!" Setelah berkata demikian ia memberi isyarat dengan tangannya. Belasan orang gadis pelayan beraneka warna pakaiannya memburu datang dan segera tiga orang kakek yang sudah tak berdaya itu diseret dan dimasukkan ke dalam kamar tahanan!
436
"Ha, sudah kukatakan berkali-kali, muridku yang berhati keras telah salah pilih. Orang muda untuk aku pengemis hina tak perlu kau mintakan ampun. Hayo maju dan bertanding mengadu nyawa kalau kalian tidak mau membebaskan Eng Lan dari pulau siluman ini!" Pak thian Koai jin melangkah maju dengan marah.
"Pak-thian Koai jin, bawalah muridmu itu pergi dan sini dan selanjutnya jangan ganggu kami!" kata Kui-bo Thai-houw yang sebetulnya tidak suka melihat Kun Hong tergila -gila kepada gadis itu.
"Tidak boleh!" Kun Hong menbantah, suaranya gemetar. "Thai-houw, aku tidak rela kalau Lam-moi dia bawa pergi. Dahulu juga hampir saja Lam-moi celaka oleh Ngotok kauw tanpa gurunya ini dapat membela. Harap tangkap dan penjarakan saja Pak-thian Koai-jin!"
Mendengar ini, Pak-thian Koai-jin marah sekali dan tanpa banyak cakap lagi ia menerjang Kun Hong dengan tongkat bambunya. Kun Hong cepat mengelak dan melawan.
Kui-bo Thai-houw terheran mendengar ucapan Kun Hong tadi, akan tetapi ia girang juga bahwa pemuda itu tidak membela pengemis ini malah suruh memenjarakan. "Kun Hong, kalau begitu bunuh saja pengemis tua bangka ini!" perintahnya.
Kun Hong terkejut. Bukan maksudnya demikian. Ia sengaja hendak menahan Pak-thian Koai-jin agar Eng Lan juga tidak pergi dan di samping itu, kelak kalau tiba saatnya ia memberontak terhadap Kui-bo Thai-houw, yaitu kalau ia sudah mendapat pengobatan, ada kawan-kawan yang tangguh membantunya. Kalau ia selalu membantah, akhirnya Kui-bo Thai-houw akan kehilangan kesabarannya. Ia sudah mengenal betul watak wanita ini. Amat sayang kepadanya dan beberapa buah permintaannya selalu diluluskan. Akan tetapi kalau wanita ini sudah marah dan hilang kesabarannya, segalanya bisa gagal dan rusak.
Sambil menghadapi serangan-serangan Pak-thian Koai-jin, ia mencari akal dan akhirnya berkata, "Thai-houw, beberapa bulan lagi akan ada pentemuan puncak antara tokoh-tokoh di Pek go to. Para lo-enghiong yang hari ini datang ke sini termasuk tokoh-tokoh penting dan ternama. Kalau kita ini hari membunuhnya, bukanlah kelak hal ini akan. dapat dipergunakan orang untuk menurunkan derajat dan merendahkan nama besar Thai-houw? Lebih baik kita penjarakan mereka ini semua dan kita lepaskan menjelang pertemuan puncak itu."
Sampai lama Kui-bo Thai-houw diam saja, hanya memandang ke arah pertempuran itu. Kun Hong diam-diam gelisah sekali, apa lagi karena Pak-thian Koai-jin mendesaknya dengan hebat. Ilmu kepandaian Pak-thian Koai-jin juga istimewa sekali, apa lagi mangkok bututnya yang selain merupakan "lambang" kedudukannya sebagai pengemis aneh, juga merupakan senjata yang tidak boleh dipandang ringan. Tongkat bambu yang amat ringan itu bergerak cepat bagaikan kilat menyambar sehingga biarpun tingkat kepandaian Kun Hong lebih tinggi, namun tetap saja pemuda ini harus mencurahkan perhatiannya kalau tidak mau celaka. Pedang Cheng-hoa-kiam lagi-lagi memperlihatkan keunggulannya, berubah menjadi gulungan sinar terang yang melindungi tubuhnya.
Sebelum ada keputusan dari Kui-bo Thai-houw, pemuda ini tidak berani sembarangan memutuskan sendiri. Ia berani membantah dan mengajukan usul hanya bermodalkan kasih sayang wanita itu terhadapnya. Kalau wanita itu tidak setuju, iapun tidak berdaya apa-apa. Ia tahu betul akan kelihaian Kui-bo Thai-houw dan mengerti bahwa apa bila ia menggunakan kekerasan, ia akan celaka dan takkan
437
dapat menang. Biarpun dibantu oleh Eng Lan. Pak-thian Koai-jin, See-thian Hoat-ong, Kong Bu, Thai It Cinjin dan kedua Im yang Siang-cu agaknya mereka semua takkan berdaya menghadapi Kui-bo Thai-houw yang juga banyak sekali pembantunya yang lihai- lihai.
Akhirnya Kui-bo Thai-houw yang tahu bahwa pemuda itu masih menanti keputusannya berkata, "Usulmu baik, Kun Hong. Robohkan dan tawan mereka semua seperti kehendakmu."
Bukan main girangnya hati Kun Hong. Tadinya ia sudah khawatir sekali oleh kedatangan rombongan ini yang dianggapnya amat sembrono. Dia sendiri biarpun dianggap anak angkat, murid, juga kekasih, sebetulnya hanyalah seorang tawanan yang tak mampu melarikan diri dari situ. Ia sengaja membawa Eng Lan karena selain ia merasa rindu dan ingin terus berdekatan, juga ia baru merasa aman kalau melihat Eng Lan selamat. Semenjak ada Eng Lan di situ, makin tekun ia belajar dengan maksud kelak dapat mengatasi Kui-bo Thai-houw dan selain membebaskan diri sendiri, juga diri Eng Lan. Ia merasa yakin hal ini tak lama lagi akan dapat ia lakukan, yaitu kalau dia sudah mendapat pengobatan Im-yang giok-cu dari Kui-bo Thai-houw. Maka kedatangan rombongan ini membikin dia bingung sekali. Baiknya dia bisa membujuk Kuii'bo Thai-houw sehingga mereka tidak dibunuh. Hal ini baik sekali karena kelak mereka ini boleh diharapkan bantuannya menghadapi wanita iblis yang amat lihai itu.
"Pak-thian Koai-lo-enghiong, apakah kau masih tidak mau mengalah? Thai-houw mengampuni kalian semua dan hanya menghukum satu tahun, Tidak ada satu tahun malah, sampai menjelang pertemuan di Pek go-to. Asal saja muridmu dalam selamat, kau mau apa lagi? Harap jangan bodoh!" kata Kun Hong sambil menangkis serangan tongkat dibarengi dengan gerakan memutar sehingga tongkat bambu itu tak dapat ditahan lagi terlepas dari pegangan kakek itu. Pak-thian Koai-jin melompat ke belakang dan menarik napas panjang berulang-ulang.
"Seorang gagah tidak menarik kembali omongannya. Aku sudah kalah, terserah kepadamu. Mau bunuh boleh bunuh, mau hukum boleh hukum asal Eng Lan jangan diganggu." Tanpa banyak bantahan lagi ia lalu mengikuti rombongan penjaga yang membawanya ke kamar tahanannya!
Melihat semua kejadian ini, See-thian Hoat-ong yang berwatak keras, bekas seorang panglima perang, menjadi tak senang hatinya. Ia berdiri tegak di dekat puteranya, menatap wajah Kui-bo Thai-houw dengan muka merah lalu berkata, suaranya lantang dan tegas,
"Aku datang bersama anakku selain untuk menemani Pak-thian Koai-jin minta pembebasan muridnya, juga untuk minta tolong kepada Thai-houw supaya suka menggunakan Ngo-heng giok-cu mengobati luka anakku karena pukulan beracun. Kalau fihak nyonya rumah menganggap aku sebagai tamu. aku minta diperlakukan sepantasnya, tidak semestinya dihina. Kalau aku dan puteraku datang dianggap musuh, aku orang she Kong selamanya belum pernah takluk kepada musuh tanpa mempertaruhkan nyawa. Seribu kali lebih baik tewas dari pada menaluk kepada musuh!"
Kui bo Thai-houw adalah bekas selir kaisar. Melihat sikap ini, mendengar omongan yang gagah, memandang orang tinggi besar gagah perkasa bersama puteranya yang tampan dan gagah itu, timbul rasa kagumnya. Akan tetapi dia orang aneh dan kehendaknya selalu ingin ditaati orang saja. Baiknya Kun Hong yang melihat sinar kagum di mata Thai-houw. cepat-cepat ia maju dan berkata.
"Biar aku mewakili Thai-houw agar tidak membikin beliau lelah bicara denganmu, See-thiau Hoat-ong. Ketahuilah, terhadap orang orang gagah seperti kau dan puteramu, kami mana tidak menghormat?
438
Adalah karena kalian melanggar larangan mengunjungi pulau ini yang membikin Thai-houw marah. Kau minta tolong pengobatan puteramu. Pukulan itu adalah Hek-tok-sin-ciang yang hebat Apa kau kira gampang saja mengobatinya? Sedikitnya makan waktu berbulan. Kalau kau mau puteramu diobati, harus taat kepada peraturan. Tamu-tamu tidak boleh berkeliaran sesukanya, harus tinggal di kamar khusus. Setelah puteramu sembuh, baru kalian boleh pergi. Kalau tidak suka akan aturan ini, lebih baik kau dan puteramu pergi saja membawa luka-luka itu."
Thai-houw mengangguk-angguk puas. Setidaknya ucapan Kun Hong itu masih mengangkat derajatnya dan membayangkan dengan jelas akan besarnya pengaruhnya. See-thian Hoat-ong orangnya jujur dan agaknya Kun Hong yang memang cerdik itu dapat menduga akan hal ini, maka sengaja pemuda itu tadi mengeluarkan kata-kata seperti itu. Menurut jalan pikiran See-thian Hoat-ong, ucapan tadi mengandung banyak cengli (aturan yang betul) juga. Dia datang untuk mengobatkan puteranya, tentu saja ia harus mentaati peraturan yang akan menolongnya.
"Hemm, kalau begitu baiklah. Aku dan Kong Bu akan tinggal untuk sementara di sini, mengobati luka-lukanya. Di mana kamar kami?"
Beberapa orang pelayan datang dan membawa mereka pergi dari situ. Kun Hong tersenyum lega dan memandang kepada Kui-bo Thai-houw dengan wajah berseri, "Bagus sekali, Thai-houw. Hari ini urusan dapat diselesaikan tanpa banyak membuang tenaga, bukan?"
Kui-bo Thai-houw berdiri dan membelai dagu pemuda itu penuh kasih sayang.
"Kau hampir membikin marah aku karena Eng Lan. Akan tetapi apa yang kau lakukan tadi memang cerdik. Biar mereka tahu rasa dalam tahanan dan tidak lagi berani memandang ringan orang-orang wanita!"
Akan tetapi Kun Hong tidak khawatir akan keselamatan para tawanan itu. Dia boleh dibilang "kenal baik" dengan semua pelayan yang berkuasa dan ia dapat memesan mereka supaya memperlakukan para tawanan dengan baik. Adapun tentang luka yang diderita oleh Kong Bu, dia adalah murid terkasih dari Thai Khek Sian, tentu saja ia mengenal luka pukulan Hek-tok-sin-ciang itu dan tahu cara pengobatannya. Malah tadi sepintas lalu ia melihat bahwa gurunya tidak bermaksud membunuh Kong Bu, dan luka itu hanyalah luka di luar yang tidak akan membahayakan nyawanya.
Demikianlah, para tawanan itu sebetulnya tidak seperti tawanan nasibnya. Mereka tinggal di dalam kamar-kamar tersendiri di bawah tanah, kamar-kamar yang indah dan mewah, mendapat makan minum yang amat baik. dilayani oleh gadis-gadis cantik Hanya penjagaan amat kuat dan mereka betul-betul dikurung, tak dapat keluar dari ruangan di bawah tanah. Eng Lan sendiri yang bebas di luar, biarpun tahu bahwa suhunya dan yang lain. lain terkurung di dalam ruangan-ruangan di bawah tanah, namun ia tidak diperkenankan masuk untuk menengok.
Beberapa hari kemudian datanglah Phang Ek Kok, kakak dari empat orang nenek kembar pelayan Kui-bo Thai-houw, di Pulau Ban-mo-to. Beberapa tahun sekali kakek pendek gemuk gundul ini tentu datang mengunjungi empat orang adiknya di pulau itu. Dia datang bersama seorang gadis cantik yang masih muda, gadis yang sikapnya pendiam dan nampak berduka saja. Ketika ia muncul di depan Kui-bo Thai-houw bersama Ek Kok, Kun Hong memandang dengan mata terbelalak, kaget bukan main karena ia mengenal Kwa Siok Lan dalam diri gadis ini! Muka itu tiada bedanya dengan muka Kwa Siok
439
Lan, seperti pinang dibelah dua, hanya sanggul rambut dan cara berpakaian saja yang lain, dan gadis ini lebih muda. Bentuk tubuh dan potongan muka persis tidak ada bedanya sedikitpun juga sampai Kun Hong memandang dengan bengong. Gadis itu sendiri setelah menjura di depan Kui-bo Thai-houw, berdiri menundukkan mukanya, sama sekali tidak perduli kepada pemuda yang memandangnya dengan bengong itu.
"Kun Hong, kau melihat apa?" tegur Kui-bo Thai-houw. bibirnya tersenyum akan tetapi pada matanya terbayang lagi iri hati.
Kun Hong sadar dan mukanya menjadi merah. "Aku......... aku seperti sudah pernah bertemu dengan nona ini......... lupa lagi entah di mana........"
Phang Ek Kok tertawa terkekeh kekeh, persis seperti empat orang adiknya kalau tertawa, hanya dia ini lebih besar suara ketawanya.
"Dia puteriku, selamanya berada di samping ayahnya ini, mana pernah bertemu dengan kau? Orang muda, jangan ngawur!"
Phang Ek Kok tidak lama berada di Pulau Ban-mo-to. Pertama karena memang Kui-bo Thai-houw tidak begitu suka dengan orang aneh ini, keduanya karena Thai-houw khawatir kalau kalau Kun Hong tertarik oleh gadis langsing puteri Ek Kok itu. Maka baru sehari di situ, ia lalu memberi tugas kepada Phang Ek Kok untuk "mengawasi" dan menjaga wilayah Kim-Ie-san bekas tempat tinggal Thai It Cinjin yang telah dirampasnya.
Demikianlah keadaan di Pulau Ban-mo-to sebelum Wi Liong datang ke pulau itu dan tertangkap oleh jaring emas Kui-bo Thai-houw. Dan sekarang mari kita lanjutkan cerita ini dan mengikuti pengalaman Wi Liong lebih lanjut.
Seperti sudah dituturkan di bagian depan, munculnya Eng Lan yang sudah mendapat kebebasan lagi setelah gurunya dan yang lain-lain ditahan dalam ruangan-ruangan bawah tanah, membuat Wi Liong terheran-heran, juga ia merasa girang sekali karena ada harapan tertolong keluar dari dalam jala yang mujijat itu. Kalau ia tidak dapat keluar lebih dulu dari dalam jala emas itu, bagaimana ia bisa bergerak leluasa menghadapi musuh-musuh yang demikian lihainya seperti Kui-bo Thai-houw dan anak buahnya?
Akan tetapi malang baginya. Selagi ia menanti kembalinya Eng Lan penuh harapan, tiba-tiba muncul Kui-bo Thai-houw dan seorang pemuda, berjalan-jalan sambil bergandeng tangan, tertawa-tawa bersendau-gurau di bawah pohon-pohon itu. Ketika Wi Liong menggerakkan tubuh agar jala yang mengurung dirinya berputar sehingga ia dapat melihat mereka dengan jelas, pemuda ini terkejut, heran, dan marah sekali. Ternyata bahwa pemuda yang bersendau-gurau dengan Kui-bo Thai-houw, yang bercakap-cakap dan tersenyum-senyum mesra itu bukan lain adalah Kun Hong!
"Aku tadi mendengar orang-orang bicara tentang Thai-houw menjala ikan. Tidak sari-sarinya Thai-houw suka menangkap ikan. Ikan apa sih yang begitu menarik hati?" terdengar Kun Hong bertanya.
Kui-bo Thai-houw tertawa genit. "Tidak ada ikan di dunia ini yang dapat menarik perhatianku seperti engkau, anak manis. Memang ikan itu istimewa dan aku mengajakmu ke sini juga untuk memperlihatkannya kepadamu."
440
"Aah. Souw Niang. harap kau jangan main-main," kata Kun Hong dengan sikap merayu. Jika berada berdua saja, memang Kun Hong tidak lagi menyebut Thai-houw, melainkan memanggil nama kecil wanita itu. "Souw Niang, untuk apa bicara tentang ikan? Aku sudah sering kali melihat ikan. Ada urusan yang lebih penting dari pada itu, yang selalu menggelisahkan hatiku........."
Kui-bo Thai-houw berseri wajahnya dan melebar senyumnya, kelihatan senang sekali dirayu pe-muda ini. "Kun Hong, apa sih yang menggelisahkan hatimu? Bukankah aku berada di sampingmu?"
"Souw Niang, kau berjanji hendak mengobati lukaku dengan Im-yang-giok-cu. Mengapa sampai sekarang belum juga kaulakukan? Souw Niang, lupakah kau bahwa luka ini bisa mendatangkan kematian bagiku?" Suara Kun Hong memohon.
Kui bo Thai-houw tertawa kecil. "Pemuda bodoh. Kalau aku berada di sampingmu selamanya, apa lagi yang kautakuti? Biar Giam-lo-ong (Raja Akhirat) sendiri yang datang, ia tidak akan mampu merampas kau dari hatiku. Jangan kau bingung, kekasih........."
Wi Liong merasa terkejut, heran dan muak sekali sampai ia menggigit bibirnya. Tak disangkanya bahwa Kun Hong adalah pemuda serendah itu. pemuda tak tahu malu yang benar-benar di luar dugaannya. Memang ia tahu bahwa Kun Hong semenjak kecil hidup di antara orang-orang jahat. Akan tetapi sampai menjadi kekasih Kui-bo Thai-houw hanya untuk mencari obat, merayu wanita tua itu dan melupakan Eng Lan, benar-benar mendatangkan kemarahan luar biasa dalam hati Wi Liong. Saking marahnya ia tidak dapat melihat lagi ke arah dua orang itu dan terpaksa meramkan mata karena tidak dapat membalikkan tubuhnya.
Kun Hong hendak membantah lagi, akan tetapi wanita itu mencegahnya dengan kata-kata lirih.
"Ssttt, hal itu kita bicarakan lagi nanti. Sekarang mari kaulihat ikan yang kutangkap. Tanggung kau akan tertarik sekali." Sambil berkata demikian. Kui bo Thai-houw memegang lengan pemuda itu dan sekali tubuhnya bergerak, ia telah melompat ke atas pohon sambil menggandeng Kun Hong!
"Eh........eh.........kenapa lihat ikan ke pohon? Ikan atau burung yang......." tiba-tiba Kun Hong tak dapat melanjutkan kata-katanya saking heran dan terkejutnya melihat Wi Liong di dalam jala, tergantung dan terayun-ayun pada cabang pohon, persis seperti seekor burung dalam sangkar!
Tak dapat ditahan lagi saking geli hatinya, Kun Hong tertawa terbahak-bahak ketika bersama Kui-bo Thai-houw ia duduk di atas sebuah cabang pohon yang melintang tepat di depan Wi Liong.
"Ha-ha-ha-ha, alangkah lucunya ikan yang kau jaring! Ha-ha-ha!" demikian Kun Hong tertawa, akan tetapi diam-diam otaknya yang cerdik bekerja dan mencari siasat. Wi Liong, inilah orangnya yang ia butuhkan, pikirnya! Dengan Wi Liong di sampingnya, ia merasa akan kuat menghadapi Kui-bo Thai-houw. Akan tetapi, ia sengaja tertawa dan mengejek, dan karena memang ia betul- betul merasa geli melihat keadaan Wi Liong, maka tidak sukarlah permainan sandiwara ini.
Kui-bo Thai-houw tersenyum. "Tahukah kau? Bocah ini datang hendak merampas Eng Lan dari sini."
Wajah Kun Hong agak berubah. Memang Kui-bo Thai-houw sengaja menyebar racun melalui kata-katanya agar supaya pemuda kekasihnya ini membenci Eng Lan. Hal ini mudah saja termakan oleh
441
Kun Hong yang memang sudah menaruh hati cemburu kepada Wi Liong ketika ia dahulu melihat Eng Lan bersama Wi Liong tertawan oleh Ngo tok-kauw.
"Dia tentu ada hubungan dengan Eng Lan. Kalau tidak masa ia berani mati datang ke sini untuk membawa pergi gadis itu!" Kui-bo Thai-houw melanjutkan penyebaran racunnya. "Apakah orang ini juga akan dimaafkan dan diampuni seperti yang lain? Kun Hcng, aku serahkan dia padamu, mau kau bunuh atau kauampuni. terserah."
Sementara itu, Wi Liong tak dapat menahan kemarahannya lagi. "Kun Hong manusia tak tahu malu! Lepaskan aku dan mari kita bertempur secara laki-laki sampai seribu jurus! Boleh kau dibantu oleh Kui-bo Thai-houw sekalian, aku Thio Wi Liong bukan manusia yang takut dikeroyok!"
Kun Hong tertawa terbahak-bahak, mentertawakan Wi Liong yang marah-marah dan meronta-ronta dalam jaring itu. "Ha ha, lucu benar orang ini, Thai-houw. Dia ini adalah anak keponakan Kwee Sun Tek, orangnya sombong sekali akan tetapi tidak berapa kepandaiannya. Betapapun juga, aku ingin menjajal kepandaiannya setelah aku menerima petunjuk darimu. Thai-houw, harap kau lepaskan dia, biar aku menghadapinya barang seratus jurus kalau dia kuat bertahan."
Kui-bo Thaihouw mengangguk. "Mana pedangmu? Kenapa tidak kau bawa pedangmu Cheng-hoa-kiam?”
"Aku akan mengambilnya dulu." kata Kun Hong sambil melompat turun dari cabang pohon itu dan berlari cepat ke kamarnya.
Kui-bo Thai-houw masih duduk di atas cabang di depan Wi Liong.
"Orang muda. apakah kau cinta kepada Eng Lan?" ia bertanya sambil memandang wajah yang tampan itu, merasa sayang juga bahwa pemuda setampan ini datang memusuhinya.
Wi Liong adalah seorang pemuda yang berotak tajam dan cerdik sekali. Ketika ia tadi mendengar pembicaraan antara wanita ini dan Kun Hong di depannya, ia sudah mengerti bahwa ada hubungan mesra antara mereka berdua itu dan bahwa wanita setengah tua yang genit ini menaruh hati cemburu terhadap Eng Lan dan mengharapkan Eng Lan pergi dari pulaunya agar ia dapat memiliki Kun Hong tanpa adanya saingan. Ia merasa jemu dan muak, dan tadinya ia tidak sudi melayani wanita ini bercakap-cakap. Akan tetapi mendengar pertanyaan itu mau tidak mau ia menjawab juga dengan singkat.
"Tidak. Jangan mengacau yang bukan-bukan."
"Sayang........." Kui-bo Thai-houw mengangkat pundaknya, gerakannya genit sekali tak kalah oleh gadis-gadis remaja puteri. "Kalau kau cinta padanya dan berjanji padaku mau membawanya pergi dari sini dan takkan kembali lagi, aku akan dapat mencegah Kun Hong membunuhmu."
"Hemm, bagaimana kau bisa tahu Kun Hong hendak membunuhku?"
"Apa lagi? Kau akan kulepaskan dari jaring itu. Kun Hong mengajakmu bertanding dan kau tentu akan mampus."
442
"Belum tentu! Aku tidak takut kepada Kun Hong!"
Kui-bo Thai-houw tersenyum manis, matanya memandang wajah pemuda dalam jaring itu dengan sinar berseri. "Ah, kau gagah juga! Pemuda lumayan......... bukan lumayan lagi.......... boleh dibandingkan dengan Kun Hong.......... sayang kau sombong dan tidak taat kepadaku, sayang kau harus mampus.....!"
Wi Liong mendongkol sekali. Tahu dia jalan pikiran wanita tua yang cabul dan gila pemuda ini.
"Kuibo Thai houw, jangan kira aku pemuda semacam Kun Hong yang sudi dan mandah saja kau-permainkan!"
Pada saat itu, bayangan Eng Lan berkelebat melompat ke belakang Wi Liong dan pedang Cheng-hoa-kiam di tangannya digerakkan membacok dengan maksud membabat putus jaring yang tergantung itu. Wi Liong girang sekali. Bagaimana gadis itu berani bergerak selagi Kuibo Thai houw berada di dekat situ?
Kekhawatiran hati Wi Liong ini terbukti. Melihat gadis itu datang-datang membawa pedang hendak dibacokkan ke arah Wi Liong, Kui-bo Thai-houw salah sangka. Dikiranya bahwa gadis itu hendak membunuh Wi Liong.
"Gadis liar jangan kurang ajar. Pergi!" Dari tempat duduknya, Kui-bo Thai-houw menggerakkan tangan mengirim pukulan jarak jauh ke arah dada Eng Lan.
Wi Liong kaget sekali, maklum bahwa itulah pukulan maut yang belum tentu dapat ditahan oleh Eng Lan. Cepat ia mengerahkan tenaga dan dari dalam jaring ia menggerakkan kedua tangannya mendorong ke arah Kui-bo Thai-houw. Dua tenaga luar biasa bertemu di udara. Eng Lan selamat karena tenaga atau hawa pukulan Kui-bo Thai-houw kena digempur meleset oleh Wi Liong, akan tetapi karena hawa pukulan itu memang hebat, baru anginnya saja membuat Eng Lan kehilangaii keseimbangan tubuhnya, pedangnya tidak mengenai jaring dan tubuhnya terhuyung lalu terpaksa ia melompat turun agar tidak jatuh!
Kui bo Thai-houw ketika hawa pukulannya digempur oleh hawa pukulan lain dari depan, kaget setengah mati, apa lagi karena cabang yang ia duduki sampai menjadi patah saking hebatnya gempuran tadi. Seujung rambutpun ia tak pernah mengira bahwa pemuda di dalam jaring ini memiliki tenaga sehebat itu, akan tetapi ia tidak sempat memikirkan hal ini karena ia harus cepat menggerakkan tubuh melompat ke cabang lain supaya tidak ikut terpelanting bersama cabang yang ia duduki tadi.
Sebelum ia hilang kagetnya, tiba-tiba datang empat orang gadis pelayan berpakaian hijau berlari-lari sambil menjerit-jerit,
"Thai-houw......... harap lekas datang....... thai-cu memasuki kamar besar, dicegah oleh empat toanio dan sekarang mereka bertempur!"
443
Kagetlah Kui-bo Thai-houw mendengar ini. Kamar besar adalah kamarnya dan di situ ia menyimpan semua miliknya yang paling berharga. Tak seorangpun boleh memasuki kamar itu, juga Kun Hong yang disebut thai-cu (pangeran) tidak pernah diperbolehkan masuk.
Kamar besar itu selalu dijaga oleh empat toanio yaitu empat wanita kembar yang gemuk buruk rupa itu, dijaga keras dan siapapun dilarang menginjakkan kaki di dalam kamar ini. Kalau Kun Hong sudah nekat memasuki kamar dan sampai berkelahi dengan para penjaga itu, benar-benar kejadian yang hebat dan tentu terjadi perubahan yang luar biasa. Semua benda pusakanya disimpan di situ, termasuk kemala mujijat Im-yang-giok-cu dan Ngo-heng-giok-cu! Tanpa perdulikan Wi Liong dan Eng Lan lagi, wanita ini sambil mengeluarkan seruan aneh berkelebat pergi cepat sekali, menuju ke kamar besar.
Eng Lan tidak menyia-nyiakan kesempatan ini. Cepat ia melompat lagi ke dekat Wi Liong dan sekali babat saja putuslah jaring itu dan tubuh Wi Liong melayang ke bawah. Namun pemuda yang sakti ini dapat mencapai tanah dengan tubuh ringan. Cepat ia melepaskan jaring yang masih menyelubunginya dan ia menghadapi Eng Lan yang sudah ikut melayang turun.
"Terima kasih, nona," katanya singkat akan tetapi suaranya mengandung rasa syukur.
"'Cepat, mari bebaskan suhu dan yang lain-lain lebih dulu " kata Eng Lan.
"Nanti dulu. kita bantu dulu Kun Hong, Ke sinikan Cheng-hoa-kiam itu, Kui-bo Thai-houw lihai sekali" kata Wi Liong.
Eng Lan mengerutkan kening akan tetapi memberikan pedang itu kepada Wi Liong. "Manusia macam dia perlu apa dibantu?" Kemudian ia berkata lagi dengan sikap mendongkol, "Laginya, dia mana perlu bantuan? Dia sudah menjadi tapak kaki siluman betina itu."
"Kurasa tidak demikian, nona. Kun Hong hanya bersandiwara. Dia ingin obat dan ingin menyelamatkan kau dan yang lain-lain. Aku dapat menduga isi hatinya dari pandang matanya tadi. Tentu sekarang ia mengharapkan bantuanku maka ia berani menentang Kui-bo Thai-houw. Mari....... atau kau boleh membebaskan suhumu, biar aku membantu Kun Hong."
Wi Liong berlari-lari dan Eng Lan setelah ragu-ragu sebentar lalu menyusul pemuda itu. Dugaan Wi Liong memang tidak keliru. Kun Hong mempergunakan kesempatan ketika mengambil pedangnya yang ternyata sudah tidak berada di kamarnya lagi, ia cepat menuju ke kamar besar di mana ia tahu disimpan Im-yang giok-cu dan Ngo-heng giok-cu. Tentu saja ia dilarang oleh empat orang wanita kembar.
"Aku disuruh Thai-houw mengambil Im-yang giok-cu," katanya kepada empat orang wanita kembar itu.
"Biarpun thai-cu........”
".........tak boleh masuk.......”
"......... tanpa ijin.........."
444
"......... Thai-houw!” demikian kata mereka.
Kun Hong menjadi marah. "Apa kalian tidak tahu bahwa Thai-houw amat sayang padaku? Thai-houw yang menyuruh aku masuk!"
"Tidak ada bukti........."
"Tak boleh masuk........."
"Kecuali kalau.........”
"Thai-houw sendiri datang............!”
Kun Hong tidak sabar lagi. "Aku mau masuk, coba kalian mau apa!" Cepat ia menerjang empat orang wanita itu dengan hebat sekali. Mereka kaget bukan main, tidak mengira bahwa pemuda yang selama ini mendapat perlakuan dan rawatan baik sekali ternyata sekarang menyerang mereka dengan sungguh- sungguh, menyerang dengan pukulan maut! Saking kagetnya mereka melompat ke belakang dan kesempatan itu dipergunakan oleh Kun Hong untuk menerobos masuk ke dalam kamar besar. Sudah sering kali dari luar ia memperhatikan kamar yang indah ini dan ia tahu betul di mana Thai-houw menyimpan Im-yang-giok-cu dan Ngo-heng-giok-cu, karena dalam keadaan gembira wanita itu pernah menceritakan hal itu kepadanya.
Cepat ia menyambar sebuah peti hitam berukir naga di bawah ranjang dan membukanya. Untuk sedetik ia silau karena di dalam peti itu terdapat perhiasan yang serba indah, dari batu-batu giok (kemala) yang jarang ada di dunia ini. Akan tetapi Kun Hong hanya mengambil dua buah benda, yaitu sebuah tongkat potong dengan kepala batu kemala lima warna yaitu Ngo-heng-giok-cu dan sebuah kalung dengan mata batu warna dua yang aneh sekali warnanya, disebut hitam putih kadang-kadang putihnya menjadi kuning hitamnya menjadi merah dan kalau dipandang lebih teliti berubah lagi, akan tetapi selalu dua warna yang bertentangan. Inilah Im-yang-giok cu!
Ketika Kun Hong mengantongi dua benda ini, empat orang nenek kembar itu sudah dapat melenyapkan kebingungan mereka dan kini dengan wajah keren mereka menyerbu masuk. Empat helai tali ikat pinggang mereka yang lihai menyambar ke arah Kun Hong, mengarah jalan darah yang berbahaya. Kun Hong melompat mundur. Sayang Cheng-hoa-kiam tidak ada padaku, pikirnya. Ia melihat sebatang pedang dengan sarung berukir indah tergantung di dinding kamar itu. Cepat pedang itu disambarnya dan dihunus. Girang hatinya karena pedang itupun sebatang pedang yang tua dan selain indah juga tajam sekali. Ia memutar pedang dan di lain saat ia sudah dikeroyok oleh empat orang nenek itu, bertempur dengan serunya.
Dahulupun ketika untuk pertama kali Kun Hong datang ke Ban-mo-to, empat orang nenek ini tidak kuat melawannya. Apa lagi sekarang Kun Hong sudah menerima pelajaran ilmu silat dengan tali ikat pinggang itu, maka tentu saja ia lebih mudah menghadapi empat orang pengeroyoknya yang sudah ia kenal ilmu silatnya yang berdasarkan barisan segi empat. Dalam belasan jurus ia sudah dapat mendesak mereka mundur dan keluar dari kamar itu, dan pertempuran dilanjutkan di luar kamar.
445
"Mundur! Apa kalian sudah bosan hidup?" Kun Hong membentak, mendongkol sekali dengan adanya rintangan ini karena ia ingin buru-buru melepaskan Wi Liong agar supaya dapat membantunya menghadapi Kui-bo Thai-houw yang lihai.
Akan tetapi empat orang nenek yang amat setia terhadap Kui-bo Thai houw itu mana mau mundur? Mereka malah mendesak dengan nekat dan melakukan serangan-serangan yang herbahaya. Banyak pelayan-pelayan yang cantik dan muda melihat pertempuran ini. Mereka serentak maju. akan tetapi karena maklum bahwa ilmu kepandaian mereka masih jauh kalau dibandingkan dengan mereka yang sedang bertempur, maka mereka ini hanya menonton saja dengan pedang di tangan, tidak berani mengeroyok Kun Hong. Empat orang pelayan pakaian hijau cepat lari mencari Kui bo Thai-houw di dalam taman hutan.
Maklum bahwa keadaan amat tidak baik baginya, Kun Hong mempercepat gerakan pedangnya dan berturut-turut ia merobohkan empat orang nenek kembar itu dengan tendangan dan totokan tangan kiri. Ia masih tidak mau memperbesar urusan dengan pembunuhan, maka ia robohkan empat orang nenek itu dengan luka-luka ringan
Selagi ia merasa lega karena tidak dikeroyok lagi dan hendak cepat-cepat lari kembali ke dalam taman, tiba-tiba ia mendengar bentakan halus, "Manusia tak kenal budi. Kau berbuat apa?" Suara ini halus sekali, akan tetapi bagi Kun Hong terdengar lebih menyeramkan dari pada suara yang kasar dan parau. Mukanya menjadi pucat. Bukannya ia terlalu takut menghadapi wanita ini, akan tetapi karena ia merasa telah terlambat dan rencananya gagal. Ia kaget sekali melihat Kui-bo Thai-houw yang tidak disangka-sangkanya akan tiba di situ. Dan Wi Liong belum ia lepaskan lagi!
Akan tetapi pemuda ini segera bisa menenangkan dirinya lagi. Ia tersenyum dan berkata,
"Thai-houw, tadi aku hendak mengambil pedangku, akan tetapi siapa kira pedang Cheng-hoa-kiam telah lenyap dari kamarku. Aku teringat bahwa di dalam kamarmu terdapat sebatang pedang, maka aku pergi ke situ untuk mengambilnya, hendak kupergunakan melawan pemuda sombong itu. Eh, tidak tahunya empat orang penjagamu begitu kurang ajar dan tidak mempercayaiku sehingga kami bertempur dan aku terpaksa merobohkan mereka dengan totokan dan tendangan. Harap kau jangan marah."
Api kemarahan dalam dada Kui-bo Thai-houw mengurang kobarannya mendengar keterangan ini. "Memang masuk di akal sekali. Tadipun ia melihat pedang itu di tangan Eng Lan. Bagaimana kalau Kun Hong bersekongkol dengan Eng Lan dan sengaja memberikan pedang Cheng-hoa-kiam kepada gadis itu untuk pergi membunuh Wi Liong? Tak mungkin. Pertama, apa perlunya membunuh Wi Liong meminjam tangan Eng Lan? Pula, Kun Hong tidak begitu goblok menyuruh Eng Lan melakukan sesuatu di hadapannya. Kalau begitu, lebih tepat keterangan Kun Hong. Pedang Cheng-hoa kiam bisa jadi sekali dicuri oleh Eng Lan. Ia hampir mempercayai kekasihnya ini dan sudah membayang senyumnya, senyum lega bahwa kekasihnya tidak menghianatinya.
Akan tetapi, Si Hwa yang robohnya tidak terkena totokan melainkan terkena tendangan Kun Hong, masih bisa mengeluarkan suara, "Thai-houw.......dia mengambil Im-yang-giok-cu dan Ngo-heng-giok-cu............!"
446
Api kemarahan yang hampir padam itu berkobar lagi, kelihatan dari sinar mata yang berapi-api. "Kun Hong, apa benar itu?"
Kun Hong tersenyum. Rahasianya sudah ketahuan, tidak ada jalan lain baginya kecuali menentang wanita ini secara berterang. Ia memegang pedang itu lebih erat lagi dan siap sedia menghadapi serangan mendadak yang menjadi kebiasaan wanita itu. "Terpaksa kuambil karena kau sendiri tahu betapa aku amat membutuhkannya untuk mengobati lukaku di dalam tubuh," jawabnya singkat, menanti penuh kewaspadaan.
Tag:cersil cersil indo cersil mandarin full cerita silat mandarin online cersil langka cersil mandarin lepas cerita silat pendekar matahari kumpulan cerita silat jawa cersil mandarin beruang salju. cerita silat pendekar mataharicerita silat indonesia cerita silat kho ping hoo cerita silat mandarin online cerita silat mandarin full cerita silat jawa kumpulan cerita silat cerita silat jawa pdf cerita silat indonesia gratis cerita silat jadul indonesia cerita silat indonesia pendekar rajawali sakti cersil indonesia pendekar mabuk cersil langka cersil dewa arak cerita silat jaman dulu cersil jawa download cerita silat mandarin full cerita silat mandarin online cersil mandarin lepas cerita silat mandarin pendekar matahari cerita silat jawa pdf cersil indonesia pdf cersil mandarin beruang salju kumpulan cerita silat pdf
kumpulan cerita silat cersil online
Share:
cersil...
Comments
0 Comments

Arsip Cersil

Best Cersil

Pecinta Cersil