Donasi

Buat yang punya rejeki berlebih dan merasa terhibur dengan Situs Cerita Silat Cersil Terbaik ini bisa mendonasikan bantuannya ke
No. Rekening BPD Jateng No. 2004084554
demi keberlangsungan dan keberadaan Blog Cersil Cerita Silat yang sama-sama kita cintai ini. Kritik dan Saran hub No HP.083837358519. Atas Bantuannya disampaikan Terimakasih.

Kamis, 31 Mei 2018

Kasih di antara Remaja 1

=====
baca juga
Kasih Diantara Remaja
Asmaraman S. Kho Ping Hoo
01. Misteri Kematian Pahlawan
Rakyat
“KANDA Cia Sun ......! Kanda ...... tunggulah .....!!”
Suara wanita ini terdengar amat memilukan hati penuh
permohonan dan kehancuran hati.
“Balita, perempuan rendah. Pergilah kau, jangan
ganggu aku!” terdengar suara laki-laki menjawab
penuh kegemasan dan kebencian.
“Kanda Cia Sun ....... ohhh ..... kanda Cia Sun ......
Ingatlah anakmu ini ......” Suara wanita ini sekarang
bercampur tangis.
Kalau ada orang lain berada di dalam hutan itu, tentu
dia akan menjadi seram dan takut, mengira bahwa itu
adalah suara iblis-iblis hutan. Memang aneh. Suaranya
terdengar dekat, bergema di seluruh hutan, baik suara
wanita maupun suara pria itu. Akan tetapi orang-orangnya tidak kelihatan.
Setelah sunyi beberapa lamanya, akhirnya terdengar derap kaki kuda memasuki hutan.
Penunggangnya seorang laki-laki tampan tegap, gagah perkasa dan dipundaknya duduk seekor
monyet kecil yang sudah tua. Monyet betina ini agaknya sudah biasa ikut tuannya menunggang
kuda. Tubuhnya tegak tidak bergoyang biarpun tuannya membalapkan kuda itu. Sebentar-sebentar
monyet itu menengok ke belakang dan akhirnya mengeluarkan bunyi cecowetan seperti ketakutan.
Yang ditakuti oleh monyet itu adalah seorang wanita muda berlari cepat sekali, mengejar dari
belakang. Wanita ini masih muda dan cantik jelita. Rambutnya panjang halus dan amat hitam, riapriapan
karena tidak terpelihara dan ikatan rambutnya agaknya terlepas sehingga rambut itu tertiup
angin, berkibar di belakang kepalanya. Dia memondong seorang bayi perempuan yang usianya baru
beberapa bulan.
Baru mendengar suara mereka tadi saja yang amat nyaring dan bergema di dalam hutan sedangkan
orang-orangnya masih jauh, sudah dapat diduga bahwa mereka bukanlah orang-orang sembarangan,
melainkan orang-orang yang mempunyai kepandaian tinggi sehingga khikang mereka membuat
suara mereka terdengar sampai jauh. Apalagi sekarang, melihat wanita muda itu berlari cepat sekali
sehingga bisa menyusul larinya kuda yang dibalapkan, benar-benar luar biasa sekali.
Orang muda itu masih mencoba untuk menangkan perlombaan lari itu, namun wanita yang
menggendong anak itu lebih cepat lagi bagaikan terbang saja larinya dan di sebuah tikungan dia
telah dapat menyusul, mendahului kuda dan sekali mengangkat tangan menahan kepala kuda.
Binatang itu berhenti berlari.
Koleksi Kang Zusi
Monyet yang duduk di pundak orang muda itu mengeluarkan pekik ketakutan dan dari atas pundak
ia meloncat ke sebuah cabang pohon yang terdekat. Adapun orang muda itu dengan muka merah
dan mata melotot lalu melompat turun.
“Perempuan hina, kau mengejar-ngejarku mau apakah?” bentaknya
Sambil menangis wanita itu menjatuhkan diri berlutut di depan orang muda itu, memegangi
sepatunya.
“Sun-ko ...... pujaan hatiku ..... di dunia ini hanya kau seorang yang kucinta. Sun-ko, kasihanilah
aku, kasihanilah anakmu ini ..... bawa aku serta, biar aku akan menjadi bujangmu, menjadi pelayan
di rumahmu. Biar aku akan merawat isteri dan anak-anakmu ...... asal aku selalu bisa berdekatan
dengan kau .....,” ratap tangis itu tentu akan melumpuhkan kekerasan hati pria. Namun laki-laki
yang bernama Cia Sun itu malah memperlihatkan muka penuh kebencian.
Wanita ini memang cantik sekali. Usianya juga tidak lebih dari dua puluh lima tahun. Rambutnya
yang kini tidak digelung riap-riapan karena terlepas ikatannya, menutupi sebagian lehernya yang
berkulit putih kekuningan. Rambut yang panjang, gemuk dan hitam sekali. Mukanya manis dan
tidak akan membosankan siapa saja yang memandangnya, dengan sepasang mata lincah dan bening,
tajam ujungnya membuat lirikan mata seperti itu setajam tusukan pedang, hidungnya mancung dan
bibirnya merah segar tanpa gincu. Karena tadi berlari cepat, sepasang pipinya yang putih halus itu
agak kemerahan dan rambut di dekat telinganya yang agak basah terkena peluh itu menambah
manisnya. Keindahan tubuhnya muda dibayangkan karena pakaiannya robek di sana sini. Namun
orang muda berusia tiga puluh tahun itu tidak menghiraukan semua keindahan ini, agaknya malah
tidak melihat kecantikan wanita ini yang dalam pandangan matanya malah merupakan seorang
wanita jahat yang menyeramkan.
“Siluman betina!” makinya marah. “Jangan coba menipuku. Anak ini bukan anakku! Kau kira aku
tidak tahu? Untuk menuruti nafsu jahatmu, kau mempergunakan ilmu siluman membuat aku lupa
diri, kemudian kau malah tidak segan-segan untuk membunuh suamimu. Cih, perempuan macam
apa kau ini? Anak ini bukan anakku dan aku Cia Sun telah bersumpah selama hidupku takkan sudi
berdekatan denganmu. Pergilah!”
“Kanda Cia Sun ......., begitu kejamkah hatimu? Biarlah, kalau kau tidak mau mengaku menjadi
ayah anak ini ... tidak apa, asal aku kau bolehkan selalu dekat denganmu. Aku ..... aku cinta
padamu, Sun-ko ....., aku cinta padamu dengan seluruh jiwaku ......” Kembali wanita itu memeluk
kedua kaki Cia Sun dan kini malah menciumi kaki itu.
Cia Sun menjadi makin marah. Digerakkan kaki kanannya dan ditendangnya wanita itu. Tendangan
yang keras sekali, dilakukan oleh seorang ahli silat kelas tinggi. Kalau orang lain yang terkena
tendangan ini, tentu akan mati di saat itu juga. Akan tetapi wanita itu hanya terlempar dan
berjungkir balik dengan anak bayinya masih dalam pondongan. Jangankan terluka, menangispun
tidak anak bayi itu! Kembali wanita itu maju berlutut.
“Kanda Cia Sun, aku benar-benar cinta padamu. Lebih baik mati dari pada harus berpisah darimu
.....”
“Kalau begitu mampuslah!” Cia Sun melangkah maju dan mengerahkan tenaganya memukul
dengan tangan kiri ke arah kepala wanita itu. Pukulan ini bukan sembarangan pukulan, melainkan
pukulan dengan gerak tipu yang disebut Bu-siong-phak-houw (Bu-siong menghantam macan).
Dilakukan dengan tenaga ratusan kati dan kiranya kepala seekor macan akan pecah kalau terkena
pukulan ini. Namun wanita itu hanya mengangkat lengan melindungi kepalanya dan ketika kepalan
Koleksi Kang Zusi
laki-laki itu bertemu dengan lengannya, Cia Sun mengeluh kesakitan dan terhuyung mundur ke
belakang. Ia menghela napas dan memaki,
“Memang kau siluman! Ilmu kepandaianmu amat tinggi, luar biasa sekali, akan tetapi kau
pergunakan untuk hal-hal yang tidak patut. Balita, jangan kau ganggu aku. Kau kembalilah kepada
bangsamu, di sana kau adalah puteri yang dimuliakan orang. Kenapa kau begitu gila hendak
mengejar-ngejar aku dan rela menjadi bujang?”
“Sun-ko, sudah kukatakan tadi. Aku cinta kepadamu dan cintaku inilah yang membuat aku akan
merasa jauh lebih berbahagia menjadi bujangmu dari pada menjadi seorang puteri akan tetapi jauh
darimu. Sun-ko ......, kau bawalah aku. Selain menjadi bujang, akupun sanggup membelamu,
sanggup melindungimu dari semua musuh-musuhmu.”
Cia Sun kelihatan bimbang. Akan tetapi ia teringat akan isterinya. Terbayang wajah isterinya yang
lembut, isterinya yang dikasihinya sepenuh jiwa. Tidak tega ia menyakiti hati isterinya dengan
mengambil seorang selir seperti iblis wanita ini. Hatinya mengeras kembali.
“Tidak, sekali lagi tidak! Biarpun kau hendak membunuhku sekarang juga aku tidak sudi
berdekatan denganmu. Pergilah! Di mana ada perempuan yang lebih tak tahu malu seperti engkau?
Aku tidak sudi padamu, Balita!” Setelah berkata demikian, Cia Sun mencengklak kudanya lagi dan
membalapkan kudanya. Monyet kecil tua yang sejak tadi menongkrong di atas dahan, sekarang
meloncat amat ringannya di atas pundak Cia Sun.
Wanita cantik jelita yang disebut Balita itu bangun berdiri, wajahnya pucat, matanya sayu. Ia berdiri
seperti patung, ia hendak mengejar lagi, akan tetapi tiba-tiba anak yang digendongnya menangis
keras. Berubahlah raut wajah wanita ini. Mata yang tadi sayu sekarang menjadi beringas, mulut
yang tadinya seperti hendak menangis dan bermohon minta dikasihani itu, sekarang tersenyum
pahit, menyeringai menyeramkan. Sepasang matanya berkilat memandang bayangan Cia Sun yang
membalapkan kudanya.
Tangan kanan wanita ini bergerak memukul ke depan. Terdengar ringkik kuda mengerikan dan
kuda itu terguling roboh. Cia Sun terlempar jauh dan baiknya dia memiliki kepandaian tinggi
sehingga dengan cara membuat poksai (salto) sampai tiga kali ia dapat berdiri di atas tanah dengan
selamat. Monyet di pundaknya sudah meloncat lebih dulu dengan sigapnya.
Cia Sun membalikkan tubuh dan memandang ke arah Balita yang tersenyum lebar, malah kini
wanita ini tertawa merdu namun baginya menyeramkan sekali seperti mendengar siluman tertawa.
Tanpa banyak cakap lagi Cia Sun lalu menggerakkan kaki melarikan diri dari situ, diikuti oleh
monyetnya. Ia masih mendengar suara ketawa Balita yang disusul kata-kata mengejek,” Laki-laki
tidak berjantung! Kalau aku menghendaki nyawamu, apa sukarnya? Akan tetapi, membunuhmu pun
masih belum cukup untuk membalas hinaan dan sakit hati yang kau jatuhkan kepadaku. Hi hi, Cia
Sun, kau tunggulah saja pembalasanku!” Setelah tertawa lagi cekikikan, tiba-tiba wanita itu lalu
menangis sedih sambil menyusui anaknya. Benar-benar lakunya seperti seorang yang sudah miring
otaknya.
“Hi hi hik, Cia Sun. Aku memang cinta padamu, sangat cinta padamu karena kau tampan dan
gagah. Kau tidak mau mengakui anak ini .... ha ha, memang bukan anakmu. Tapi kau berani
menolakku .... setelah kau berhasil menjatuhkan hatiku. Awas kau ..... awas binimu dan anakanakmu
......” Demikianlah, wanita itu sambil menyusui anaknya bicara seorang diri dan tertawatawa.
Koleksi Kang Zusi
Adapun Cia Sun bersama monyet kecil sudah lari jauh menuju ke puncak-puncak bukit di luar
hutan. Sambil berlari cepat, ia juga bicara seorang diri, atau sebetulnya ia bicara kepada monyet
yang kini sudah nongkrong lagi di pundaknya.
“Lim-ong (raja hutan), kepandaian siluman betina itu benar-benar luar biasa sekali. Sayang dia jahat
..... ah, mulai saat ini kita harus waspada, dialah orang yang paling berbahaya di antara semua orang
yang memusuhiku.”
Monyet itu menggerakkan bibir dan mengeluarkan suara cecowetan, seakan-akan ia mengerti akan
maksud kata-kata tuannya ini dan ikut pula berprihatin. Setelah melakukan perjalanan cepat,
menjelang senja Cia Sun dan monyetnya telah tiba di sebuah puncak yang penuh batu-batu putih.
Pemandangan di daerah ini indah sekali dan ditengah-tengah puncak, di antara batu-batu putih itu
berdiri dengan megahnya sebuah bangunan rumah.
Lim-ong meloncat turun dari pundak tuannya dan keduanya lalu mendaki puncak, meloncat-loncat
di atas batu-batu putih dengan gesitnya. Dari gerak Cia Sun yang tidak kalah gesitnya dari pada
monyetnya ketika berlompatan di antara batu-batu putih itu, dapat diketahui bahwa kepandaian
orang gagah ini sebenarnya sudah tinggi sekali.
Ketika Cia Sun sudah mendekati gedung itu, dua orang laki-laki berpakaian pelayan berseru girang
dan tak lama kemudian bergema di dalam gedung seruan-seruan, “Cia-enghiong datang!”
Seorang wanita muda yang cantik berlari keluar sambil memondong seorang anak perempuan yang
masih bayi, di belakangnya tampak seorang pengasuh memondong seorang anak laki-laki berusia
dua tahun. Inilah isteri Cia Sun bersama dua orang anaknya. Dengan wajah berseri dan mata basah
saking terharu dan bahagia, isteri muda itu menyambut kedatangan suaminya.
Monyet itu mendahului tuannya berlari ke depan, lalu berlutut di depan nyonya Cia seperti orang
memberi hormat. Kemudian ia berjingkrak-jingkrak kegirangan melihat Cia Sun memegang tangan
isterinya dan menciumi kepala anak perempuannya yang berusia tiga bulan itu. Dalam kebahagiaan
pertemuan ini, awan gelap menyelimuti wajah Cia Sun karena ketika mencium kepala anak
perempuannya ia teringat akan anak perempuan dalam gendongan Balita tadi.
“Ayah .......!” Anak laki-laki yang digendong oleh pengasuh tadi berseru dan seruan ini mengusir
pergi awan gelap dari wajah Cia Sun. Ia mengulurkan kedua tangannya dan menggendong anak
sulungnya.
“Han Sin, kau rindu kepada ayahmu?” tanyanya sambil mencium pipi anak laki-laki itu yang
tertawa-tawa gembira. Keluarga bahagia ini lalu berjalan memasuki gedung dengan lambat, diikuti
oleh para pelayan yang juga menjadi gembira sekali melihat tuan mereka kembali dengan selamat.
Si monyet kecil mendahului mereka masuk sambil berjingkrak kegirangan.
Siapakah sebetulnya Cia Sun ini dan siapa pula puteri yang bernama Balita itu?
Cia Sun bukanlah orang sembarangan. Ketika masih kecil, baru setengah dewasa, ia telah ikut
berjuang di samping ayahnya yang menjadi seorang kepercayaan pemimpin barisan petani Lie Cu
Seng. Ayah Cia Sun bernama Cia Hui Gan, seorang ahli silat kelas satu yang dengan gagah
beraninya bersama putera tunggalnya berjuang membantu Lie Cu Seng berperang melawan orangorang
Mancuria yang dibantu oleh pengkhianat Bu Sam Kwi.
Biarpun akhirnya bala tentara rakyat di bawah pimpinan Lie Cu Seng dapat dihancurkan oleh
tentara Mancu yang dibantu pengkhianat Bu Sam Kwi, namun para patriot Han masih terus
Koleksi Kang Zusi
melakukan perlawanan dan merupakan pengganggu-pengganggu yang memusingkan kerajaan baru
yang didirikan oleh bangsa Mancu itu ialah Kerajaan Cheng. Orang-orang gagah yang tadinya
menjadi pembantu-pembantu perjuangan melawan penjajah dari utara itu, diam-diam tersebar dan
masih menaruh kebencian terhadap pemerintah baru.
Cia Hui Gan ayah Cia Sun, adalah seorang di antara orang-orang gagah ini. Biarpun telah
mengalami kegagalan dalam perang, namun dia tidak menghentikan perjuangannya. Di samping
memusuhi pembesar-pembesar dan penjilat-penjilat kerajaan baru, Cia Hui Gan tiada hentinya
mengulurkan tangan membela kepentingan rakyat yang tertindas. Ia tidak segan-segan membunuh
orang-orang jahat yang menindas rakyat, merampok bangsawan-bangsawan pengkhianat yang telah
menjadi anjing penjilat kerajaan Cheng dan membagi-bagikan hasil perampokan itu kepada orangorang
miskin. Pendeknya, Cia Hui Gan terkenal sebagai seorang pendekar rakyat yang amat
terkenal. Semua ini ia kerjakan dengan bantuan putera tunggalnya, Cia Sun yang dalam usia belasan
tahun sudah mengalami banyak pertempuran.
Akhirnya Cia Hui Gan tewas dalam sebuah pertempuran ketika dikeroyok oleh jagoan-jagoan
pemerintah Cheng. Cia Sun yang sejak kecil memang sudah tidak beribu lagi, berhasil melarikan
diri. Pemuda inipun melanjutkan sepak terjang ayahnya, malah lebih hebat lagi karena
sesungguhnya Cia Sun telah mewarisi semua kepandaian ayahnya. Sebagai seorang pemuda
berdarah panas, sepak terjangnya melebihi ayahnya dan sebentar saja ia amat terkenal, dipuji-puji
rakyat yang menerima bantuannya, akan tetapi juga dimusuhi oleh orang-orang jahat, terutama
sekali pemerintah Cheng. Pemerintah sampai mengumumkan hadiah besar bagi siapa yang berhasil
membawa kepala Cia Sun.
Cia Sun membangun sebuah rumah gedung yang kuat dan indah di sebuah puncak pegunungan
Min-san yang terletak di daerah utara Se-cuan. Dalam usia dua puluh lima tahun ia menikah dengan
seorang gadis dari keluarga Lie. Isterinya cukup maklum siapa adanya suaminya ini, maka dia tidak
mengeluh kalau suaminya itu meninggalkannya sampai beberapa bulan. Bahkan diam-diam dia
membantu suaminya dengan bersikap manis budi dan memuji perjuangan suaminya sebagai seorang
pendekar.
Setelah Cia Sun menikah tiga tahun lamanya, ia dikurnia seorang putera yang ia beri nama Cia Han
Sin dan kini sudah berusia dua tahun. Setahun setelah puteranya lahir terjadilah urusan dengan
Balita yang amat memusingkan otaknya.
Ketika itu seperti biasanya, kembali ia merantau untuk melakukan tugasnya sebagai seorang
pendekar. Kali ini ia pergi ke daerah pegunungan Tapa-san karena mendengar bahwa sering kali di
daerah itu terjadi kejahatan, perampokan dan penggangguan terhadap penduduk oleh serombongan
orang-orang bersuku bangsa Hui. Dikawani oleh Lim-ong, monyet kecil yang dipeliharanya
semenjak monyet itu masih muda sekali, ia berangkat menunggang kuda ke daerah itu melakukan
penyelidikan.
Betul saja. Segerombolan orang Hui terdiri dari seratus orang lebih melakukan penindasan dan
perampokan kepada orang-orang Han yang hidup sebagai petani di daerah itu. Seperti biasa, Cia
Sun segera menggulung lengan baju turun tangan. Akan tetapi kali ini ia kecelik. Rombongan orang
Hui itu dipimpin oleh seorang perempuan muda cantik jelita bernama Balita yang ternyata memiliki
ilmu kepandaian yang amat hebat.
Dalam pertempuran hebat Cia Sun tertawan oleh Balita yang jatuh hati melihat pemuda gagah
perkasa dan tampan ini. Balita menawan Cia Sun dan membujuk rayu orang muda ini. Akan tetapi
Cia Sun bukan sembarang laki-laki yang suka bermain gila dengan wanita, maka dengan berkeras ia
menolak dan tidak sudi melayani niat busuk dari puteri bangsa Hui itu.
Koleksi Kang Zusi
Akan tetapi ia belum mengenal siapa Balita. Wanita muda ini biarpun cantik jelita sekali dan amat
menarik hati, mempunyai watak kasar, dan di samping ilmu silatnya yang tinggi sekali, dia juga
seorang ahli dalam pembuatan racun-racun jahat. Dengan senyum manis dan kerling mata memikat,
Balita mempergunakan ramuan obat yang ia masukan dalam arak sehingga ketika Cia Sun
meminumnya, orang muda ini menjadi lupa diri, lupa daratan dan dalam keadaan tidak sadar
dikuasai oleh pengaruh minuman mujijat, akhirnya ia tunduk kepada Balita dan melakukan apa saja
yang dikehendaki puteri Hui itu.
Tiga hari kemudian tiba-tiba seorang laki-laki bangsa Hui yang bertubuh tinggi besar bermuka
buruk, berusia empat puluh tahun lebih melompat masuk ke dalam kamar sambil membawa
sebatang golok. Datang-datang ia menyerang Cia Sun sambil memaki-maki. Dengan cepat Cia Sun
mengelak dan terdengar bentakan keras ketika Balita melayang ke depan sambil menendang lakilaki
tinggi besar itu. Laki-laki itu terlempar dan goloknya terlepas dari tangannya.
Namun ia masih melotot dan kini ia memaki Balita. “Perempuan rendah! Selama menjadi isteriku,
entah sudah berapa kali kau berlaku serong. Akan tetapi selama kau bermain gila dengan bangsa
sendiri, aku tidak perduli amat karena memang aku tahu bahwa dibalik kecantikan dan kelihaianmu,
kau hanyalah perempuan yang berwatak kotor. Biarpun begitu sekarang kau bermain gila dengan
seorang Han. Bagaimana aku bisa mendiamkannya begitu saja? Jahanam Han ini harus mampus!”
“Anjing tak tahu diri! Orang macam kau berani bertingkah di depanku? Ayoh pergi, jangan ganggu
kami!” Balita membentak dan pada saat itu baru terbuka mata Cia Sun. Tadinya ia memang sudah
menyesal sekali setelah sadar dan insyaf akan perbuatannya sendiri melanggar kesusilaan, akan
tetapi kemenyesalannya tidak sehebat sekarang ini setelah ia mendengar bahwa perempuan puteri
Hui ini ternyata sudah bersuami! Ia merasa malu, merasa rendah dan tak tahu harus berbuat apa.
Sementara itu, laki-laki bangsa Hui yang tinggi besar itu menudingkan telunjuknya kepada Balita,
“Balita, andaikata kau tak boleh dicegah, tergila-gila kepada orang Han ini, setidaknya jangan kau
lakukan dalam keadaan seperti sekarang. Ingat akan kandunganmu ....... jangan kau cemarkan
anakku yang kau kandung ......!” Kata-kata ini belum habis karena tiba-tiba ia terguling roboh dan
tewas di saat itu juga, terkena pukulan jarak jauh yang dilakukan Balita dengan gemasnya.
“Jangan hiraukan orang gila ini,” katanya halus sambil memeluk Cia Sun yang kelihatannya pucat
sekali.
Akan tetapi Cia Sun memberontak dan memukul ke arah dada perempuan itu dengan maksud
membunuh. Ia merasa ngeri mendengar ucapan orang Hui tadi, merasa ngeri akan perbuatannya
sendiri yang ia anggap amat memalukan dan terkutuk.
“Persetan kau perempuan busuk!” katanya.
Balita mengelak akan tetapi tidak balas menyerang. Makian Cia Sun dan sikapnya yang berbalik
membenci itulah yang membuat Balita merasa terpukul dan hanya berdiri dengan muka pucat.
Bahkan kedua kakinya lemas tak dapat menyusul Cia Sun yang telah melompat keluar dan
melarikan diri.
Demikianlah Cia Sun yang gagal dalam membasmi orang-orang Hui malah sebaliknya dia terlibat
urusan memalukan dengan Balita, telah berhasil melarikan diri dan kembali ke Min-san. Semenjak
itu ia merasa berduka dan menyesal kalau teringat akan perbuatannya dengan Balita yang ia lakukan
di luar kesadarannya itu. Berjina dengan isteri orang, isteri orang yang telah mengandung pula!
Alangkah rendahnya! Alangkah kejinya. Apa lagi kalau ia teringat betapa suami Balita sampai
Koleksi Kang Zusi
tewas karena gara-gara dia menuruti kemauan Balita yang amat busuk, Cia Sun merasa makin
terpukul dan malu hatinya.
Setelah ia berhasil menghindarkan diri dari Balita yang tidak berhasil mencari-cari Cia Sun. Sampai
pada suatu hari itu, seperti yang telah dituturkan di permulaan cerita ini, tiba-tiba saja Balita muncul
sambil menggendong seorang anak bayi yang dikatakannya adalah puterinya! Tentu saja ia marah
sekali karena ia tahu bahwa anak itu adalah anak suami Balita. Ia tahu bahwa Balita membohong,
menggunakan anak itu untuk menjatuhkan hatinya, untuk mengikatnya. Namun sebagai seorang
gagah, ia tidak sudi menerima permintaan Balita.
Demikianlah, seperti telah dituturkan di bagian depan. Balita hanya membunuh kuda tunggangan
Cia Sun namun tidak mengganggu laki-laki yang berhasil melarikan diri bersama keranya, pulang
ke rumahnya di puncak Min-san.
****
Tiga hari kemudian.
Semalaman tadi anak Cia Sun yang kecil, yang diberi nama Cia Bi Eng, menangis terus, rewel tidak
karuan sebabnya. Cia Sun dan isterinya sampai menjadi bingung karenanya, karena anak itu tidak
memperlihatkan tanda-tanda sakit sesuatu. Akan tetapi rewel terus tidak seperti biasanya.
Menjelang pagi barulah anak itu dapat tidur dan Cia Sun yang semalaman tidak dapat tidur,
sekarang duduk bersamadhi mengumpulkan ketenangan. Sesungguhnya hatinya tidak tenang karena
ia seperti mendapat firasat tidak baik dengan adanya kerewelan anaknya itu. Akan terjadi hal
apakah? Ia teringat akan Balita dan mulai merasa khawatir kalau-kalau puteri Hui itu menjadi nekat
dan menyerbu ke situ.
“Betapapun jadinya, aku akan melawannya mati-matian,” pikirnya.
Memang ternyata terbukti apa yang ia khawatirkan, pada keesokan harinya terjadi sesuatu. Akan
tetapi bukan Balita yang datang, melainkan orang-orang lain yang menjadi musuh ayahnya, juga
menjadi musuhnya. Seorang pelayan datang melapor bahwa di luar datang empat orang aneh yang
hendak berjumpa dengan Cia-enghiong.
Dengan tenang dan waspada Cia Sun keluar menjumpai tamu-tamunya. Sesampai di luar, ia melihat
tiga orang hwesio gundul yang berwajah bengis dan bertubuh kekar. Ia segera mengenal hwesiohwesio
ini sebagai Thian-san Sam-sian (Tiga Dewa dari Gunung Thian-san). Tiga orang hwesio ini
adalah musuh-musuh ayahnya yang pernah dikalahkan ayahnya ketika terjadi bentrokan antara Cia
Hui Gan dan Thian-san Sam-sian. Urusannya tidak begitu besar. Seorang murid dari tiga orang
hwesio ini terluka oleh Cia Hui Gan ketika melakukan kejahatan di kaki gunung Thian-san dan
Thian-san Sam-sian membela muridnya itu. Setelah dikalahkan, mereka mengancam kelak akan
mencari Cia Hui Gan untuk membuat perhitungan.
Cia Sun mengenal mereka karena dahulu ketika pertempuran itu terjadi, ia memang
menyaksikannya, hanya ketika itu ia baru berusia empat belas tahun dan tidak ikut dalam
pertempuran. Sekarang melihat kedatangan mereka setelah belasan tahun lewat, ia dapat menduga
bahwa mereka tentu akan membalas dendam. Akan tetapi ia tidak takut dan memandang mereka
dengan tenang.
Ketika ia memandang orang keempat, ia mengerutkan kening dan merasa heran siapa adanya orang
ini. Tadi sekilas pandang ia berdebar juga karena menyangka dia itu Balita. Orang ini adalah
Koleksi Kang Zusi
seorang wanita yang cantik juga dan seperti juga Balita, dia mengendong seorang bayi perempuan!
Akan tetapi bedanya, biarpun wanita ini juga cantik dan sebaya dengan Balita, jelas bahwa dia ini
adalah seorang wanita bangsa Han dan mukanya yang cantik itu agak pucat seperti seorang yang
menderita penyakit berat.
Cia Sun menjura kepada tiga orang hwesio sambil berkata, “Kiranya Thian-san Sam-sian yang
datang mengunjungi tempat tinggalku yang buruk. Selamat Datang!”
Tiga orang hwesio itu saling pandang, agaknya lupa siapa adanya orang muda yang tampan dan
gagah ini. Seorang di antara mereka yang tertua, lalu mengangkat tangan balas menghormat sambil
berkata, “Pinceng bertiga datang untuk menjumpai Cia Hui Gan. Harap kau minta ia keluar.”
Cia Sun menggeleng kepala, “Sayang permintaan sam-wi losuhu tak mungkin dapat dilaksanakan
karena orang yang sam-wi cari telah lama meninggal dunia.”
Kembali tiga orang hwesio ini saling pandang, nampaknya kecewa sekali, “Kalau sicu (tuan gagah)
ini siapakah dan bagaimana dapat mengenal pinceng bertiga?”
“Aku adalah puteranya, namaku Cia Sun. Ada keperluan apakah gerangan maka sam-wi jauh-jauh
datang dari Thian-san untuk mencari mendiang ayahku,” tanya Cia Sun, pura-pura tidak tahu akan
urusannya.
Tiba-tiba wanita yang mengendong anak itu melangkah maju dan suaranya terdengar lemah namun
penuh kemarahan. “Aya ....... kiranya inikah yang bernama Cia Sun, manusia sombong yang
mengandalkan kepandaian sendiri untuk membunuh orang?”
Cia Sun terkejut. Dia tidak mengenal wanita ini dan tidak tahu apakah yang menyebabkan nyonya
muda ini datang-datang marah kepadanya. Ia cepat menjura dan bertanya.
“Toanio ini siapakah dan apa sebabnya toanio mengatakan aku sombong dan membunuh orang?”
Wanita itu tersenyum mengejek dan jari telunjuk tangan kanannya ditudingkan ke arah muka Cia
Sun. “Orang she Cia, apakah kau sudah lupa kepada Phang Kim Tek yang kaubunuh di I-kiang?”
Tentu saja Cia Sun masih ingat akan Phang Kim Tek di I-kiang. Seorang tuan tanah yang amat
kejam yang menggunakan kekayaan dan kekuasaannya menjadi tuan tanah dan raja kecil di dusun
sebelah selatan I-kiang. Dengan kejam tuan tanah ini memeras tenaga rakyat petani, bahkan
menggunakan kekuasaannya untuk merampas sedikit tanah yang dimiliki beberapa orang petani
miskin.
Sebagai seorang pendekar, melihat kejadian tidak adil ini Cia Sun turun tangan sehingga ia bentrok
dengan tuan tanah Phang Kim Tek yang dibantu kaki tangannya. Dalam pertempuran ini Phang
Kim Tek tewas olehnya. Ia telah mendengar bahwa isteri Phang Kim Tek adalah seorang wanita
yang amat lihai, yang dijuluki Ang-jiu Toanio (Nyonya Tangan Merah), yang dalam kekejaman dan
kelihaiannya malah lebih hebat dari pada tuan tanah itu. Akan tetapi pada waktu pertempuran
terjadi, nyonya itu sedang mengandung tua, maka tidak dapat keluar membantu suaminya.
Sekarang, setengah tahun setelah peristiwa itu terjadi, tiba-tiba nyonya ini muncul membawa
puterinya yang baru berusia tiga bulan untuk membalas dendam!
Cia Sun melirik ke arah tangan kanan yang menudingkan telunjuk kepadanya. Ia melihat bahwa
tangan itu memang mengeluarkan cahaya kemerahan sampai di pergelangan tangan dan diam-diam
Koleksi Kang Zusi
ia terkejut. Benar-benar inilah Ang-jiu Toanio dan ia dapat menduga apa artinya warna merah pada
tangan itu. Dia adalah ahli Ang-see-chiu (Tangan Pasir Merah) yang amat keji dan lihai!
Cepat ia menjura lagi dan berkata sambil tersenyum tenang, “Ah, tidak tahunya siauwte berhadapan
dengan Ang-jiu Toanio! Toanio yang baik, urusan dengan mendiang suamimu itu adalah kesalahan
suamimu sendiri yang tidak ingat akan tenaga buruh tani yang membantunya mengumpulkan harta
kekayaan. Biarpun suamimu memiliki sawah lebar, kalau tidak ada bantuan tenaga buruh tani, mana
bisa dia mengerjakan sendiri sawahnya yang demikian luas? Akan tetapi sebaliknya dari membalas
jasa para petani miskin, suamimu malah menindas mereka. Karena itu, kematian suamimu adalah
karena kesalahan sendiri. Maka harap toanio suka menimbang dengan adil dan suka menghabiskan
perkara itu.”
Sepasang mata Ang-jiu Toanio bernyala. “Jahanam keparat! Kau telah membunuh suamiku,
membuat anakku ini menjadi anak yatim dan kau menyuruh aku menghabiskan urusan itu? Cia Sun,
kalau dahulu aku tidak sedang mengandung, kiranya bukan suamiku yang tewas, melainkan kau.
Sekarang bersiaplah kau menerima pembalasanku!” Sambil berkata demikian, Ang-jiu Toanio lalu
menurunkan anaknya di pinggir, kemudian ia melompat maju menghadapi Cia Sun.
Pendekar ini menarik napas panjang, maklum bahwa urusan ini harus diselesaikan dengan adu
kepandaian. Diam-diam ia merasa kasihan kepada wanita ini yang baru saja melahirkan anak harus
bertanding dengannya. Akan tetapi ia tidak bisa berbuat lain kecuali menghadapinya. Dengan
tenang iapun memasang kuda-kuda dan bersikap waspada.
“Kalau demikian kehendakmu, silahkan toanio!”
Ang-jiu Toanio mengeluarkan bentakan nyaring dan tiba-tiba tubuhnya menerjang maju dengan
ganasnya. Kedua tangannya terkepal erat dan menjadi makin merah warnanya. Kemudian ia
menyerang dengan pukulan-pukulan yang mendatangkan angin saking kerasnya. Cia Sun bersikap
tenang akan tetapi hati-hati sekali karena maklum bahwa kepandaian wanita ini lebih lihai dari pada
kepandaian Phang Kim Tek. Beberapa pukulan yang menyerangnya bertubi-tubi ia elakkan dengan
lincah tanpa balas memukul. Pukulan keenam yang datangnya cepat mengarah ke dadanya dan tak
mungkin dielakkan, terpaksa ia tangkis. Ia mengerahkan tenaga lweekang kepada lengannya,
maklum tangan merah adalah tangan yang sudah dilatih hebat dan tenaga pukulannya mengandung
hawa beracun yang dapat merusak jalan darah.
“Plak ......!” Ketika kedua tangan itu bertemu, Cia Sun merasa lengannya panas sekali, akan tetapi ia
berhasil menangkis keras membuat lawannya terpental mundur. Wajah Ang-jiu Toanio makin pucat
karena dari tangkisan ini maklumlah ia bahwa tenaga lweekang Cia Sun amat tinggi sehingga
mampu menolak kembali pukulan Ang-see-jiu.
“Kalau bukan kau, tentu aku yang menggeletak di sini!” nyonya muda itu berteriak dan dengan
nekat lalu menyerang lagi, lebih ganas dan lebih cepat dari yang sudah-sudah.
Menghadapi serangan bertubi-tubi ini, terpaksa Cia Sun mengeluarkan kepandaiannya dan mainkan
ilmu silat Thian-te-kun, sambil mengerahkan tenaga Pek-kong-jiu. Inilah kepandaian warisan
ayahnya, kepandaian dari keluarga Cia yang membuat ayahnya dahulu terkenal sebagai seorang
pendekar yang sukar menemui tandingan.
Ang-jiu Toanio sebenarnya bukan seorang lemah dan dalam hal ilmu silat, kiranya takkan mudah
bagi Cia Sun untuk mengalahkannya. Boleh dibilang mereka berimbang, baik dalam kegesitan
maupun kehebatan tenaga. Akan tetapi nyonya muda ini baru tiga bulan melahirkan anak dan selain
tenaganya belum pulih juga agaknya di dalam tubuhnya terkandung penyakit yang dapat dilihat dari
Koleksi Kang Zusi
wajahnya yang selalu pucat. Maka kini menghadapi Cia Sun ia merasa berat sekali sehingga dalam
jurus ke lima puluh, ia telah menjadi lelah sekali. Gerakannya menjadi lambat dan ia terdesak hebat.
Baiknya Cia Sun bukan seorang yang berhati kejam. Kalau pendekar ini menghendaki, tentu ia bisa
membuat lawannya tidak berdaya dengan pukulan-pukulan maut, akan tetapi sebaliknya Cia Sun
hanya mendesaknya agar kehabisan tenaga dan suka menyerah.
“Toanio, kenapa kau mendesak terus? Sudahlah, habiskan urusan ini,” ia mencoba untuk
membujuk.
Akan tetapi lawannya menjadi makin bernafsu.
“Aku belum mampus, jangan kira aku takut!” bentak Ang-jiu Toanio dan nyonya muda ini
mengumpulkan tenaga terakhir untuk menyerang terus.
Cia Sun mencari akal. “Toanio, apakah kau tidak kasihan kepada anakmu?” Demikian akhirnya ia
berkata. “Kalau kau tewas, siapa yang akan memeliharanya?”
Ucapan ini benar-benar tepat sekali, merupakan ujung pisau berkarat yang menikam jantung.
Nyonya muda itu mengeluarkan keluhan perlahan dan pukulan-pukulannya menjadi ragu-ragu.
Akan tetapi ia dapat menetapkan hatinya lagi dan menyerang terus.
Pada saat itu, kebetulan sekali ada seekor semut menggigit kaki bayi itu yang menjadi kesakitan dan
menangis keras. Mendengar tangis bayinya, makin tidak karuan hati Ang-jiu Toanio.
“Toanio, anakmu menangis minta tetek, masa kau masih terus berkelahi mati-matian?” kembali Cia
Sun mendesak dengan omongannya.
Dari mulut Ang-jiu Toanio keluar rintihan dan tiba-tiba nyonya muda ini melompat mundur,
menyambar anaknya dan lari dari situ sambil berseru, “Cia Sun, kau tunggu saja sampai anakku
besar dan tidak membutuhkan aku lagi. Aku akan kembali dan mencarimu!” Setelah berkata
demikian, sambil menangis penuh dendam sakit hati, nyonya muda itu memondong anaknya pergi.
Cia Sun menarik napas panjang, hatinya lega. Sebuah urusan rumit telah dapat dipecahkan, tinggal
urusan kedua, yaitu menghadapi tiga orang hwesio dari Thian-san itu.
Ketika tadi pertempuran berjalan, tiga orang hwesio itu menonton dengan penuh perhatian.
Sekarang mereka maju menghadapi Cia Sun lagi dan hwesio tertua yang bernama Gi Thai Hwesio
berkata memuji,
“Omitohud, Cia-sicu benar-benar gagah perkasa, tidak kalah oleh ayahnya. Benar-benar
mengagumkan.”
“Losuhu terlalu memuji. Aku bukan apa-apa kalau dibandingkan dengan Thian-san Sam-sian yang
nama besarnya telah bergema di seluruh pojok jagat. Losuhu telah melihat sendiri bahwa aku tidak
suka akan adanya permusuhan-permusuhan, maka apabila losuhu datang dengan maksud baik,
silahkan masuk sebagai tamu-tamuku yang terhormat.”
“Hemm, orang she Cia, agaknya kau sombong dengan kemenanganmu tadi,” potong Gi Hun
Hwesio, orang kedua di antara tiga hwesio itu. “Ayahmu telah menghina pinceng bertiga. Biarpun
sekarang dia telah mati, masih ada kau anaknya yang harus membayar hutangnya kepada kami.”
Sambil berkata demikian Gi Hun Hwesio sudah mencabut pedang dengan tangan kanan dan tasbeh
Koleksi Kang Zusi
di tangan kiri, sepasang senjata Thian-san Sam-sian yang membuat nama mereka terkenal. Gerakan
ini diturut oleh dua orang saudaranya dan mereka membuat gerakan segi tiga mengurung Cia Sun.
Cia Sun masih berlaku tenang. Ia tidak gugup sama sekali menghadapi musuh-musuh ayahnya ini.
“Sam-wi losuhu, harap sam-wi ingat bahwa permusuhan antara sam-wi dengan mendiang ayah
adalah karena kesalahan murid sam-wi sendiri. Muridmu telah melakukan pelanggaran sebagai
murid orang-orang beribadat, telah menjadi seorang jai-hoa-cat (bangsat pemetik bunga) yang
merusak anak bini orang. Sudah sepatutnya kalau ayah turun tangan membasminya. Sam-wi tidak
menghukum murid murtad, sebaliknya memusuhi ayah, bukankah itu salah dan tidak sesuai dengan
kedudukan sam-wi sebagai hwesio-hwesio beribadat?”
Mendengar ucapan ini, Gi Hun Hwesio dan Gi Ho Hwesio tidak dapat menahan kemarahannya.
Serentak keduanya hendak menyerang, akan tetapi Gi Thai Hwesio yang lebih sabar memberi
isyarat mencegah kedua orang sutenya (adik seperguruannya). Kemudian ia berkata kepada Cia
Sun. “Omitohud, ucapan Cia-sicu gagah benar. Salah atau tidaknya murid kami adalah urusan kami
untuk memutuskan, akan tetapi ayahmu telah berlaku lancang membunuhnya. Bukankah itu sama
saja dengan tidak memandang kepada kami dan menghina kami? Akan tetapi, ayahmu telah
meninggal dunia dan karena itu kalau saja sicu suka berdamai, pinceng bertiga pun tidak akan
terlalu mendesakmu untuk membayar hutang ayahmu.”
Cia Sun dapat menangkap maksud tertentu dalam ucapan ini. Dia seorang yang gagah dan jujur,
maka tidak menyukai segala sikap plintat-plintut. Katanya tegas.
“Terserah kepada sam-wi losuhu. Apakah yang sam-wi maksudkan dengan perdamaian?
Bagaimana caranya?
Gi Thai Hwesio tertawa, menutupi rasa malu dan sungkan-sungkan. Kemudian setelah menarik
napas panjang, ia berkata lagi.
“Omitohud, sicu terlalu tergesa, baiklah pinceng terangkan. Kami bertiga tidak akan mendesakmu
dan menghabiskan urusan dengan ayahmu yang sudah mati kalau kau mau menyerahkan surat
wasiat dari pemberontak Lie Cu Seng kepada kami.”
Cia Sun mengangkat alisnya dan membelalakkan matanya. “Surat wasiat Lie Cu Seng?” Lie Cu
Seng adalah seorang pahlawan rakyat, seorang pejuang pemimpin barisan tani dan kawan
seperjuangan Cia Hui Gan, ayahnya. Mendengar tiga orang hwesio ini menyebut nama Lie Cu Seng
sebagai pemberontak, tahulah Cia Sun dengan orang-orang macam apa ia berhadapan. Akan tetapi
ia masih menahan sabar dan bertanya dengan heran tadi karena memang ia tidak pernah mendengar
tentang surat wasiat itu.
“Harap sicu jangan berpura-pura. Lie Cu Seng telah merampok harta kekayaan Kaisar Beng-tiauw
dan membawa harta kekayaan itu ketika melarikan diri dari kota raja. Sebelum mati dia
meninggalkan surat wasiat tentang harta benda itu. Mendiang ayahmu adalah tangan kanan Lie Cu
Seng, maka sudah tentu surat wasiat itu terjatuh ke dalam tangannya. Setelah ayahmu meninggal
kepada siapa lagi surat wasiat itu terjatuh kecuali kepadamu?”
Herannya Cia Sun bukan kepalang. Memang cerita ini ada kemungkinannya benar, akan tetapi ia
betul-betul tidak pernah mendengar tentang itu. Ayahnya tidak pernah bercerita tentang surat wasiat
itu. Ia mulai mengingat-ingat. Peninggalan ayahnya tidak banyak, hanya pakaian dan barang-barang
seperti cawan arak, cangkir minum, guci arak, dan pipa panjang kesayangan ayahnya menghisap
Koleksi Kang Zusi
tembakau. Tidak ada surat wasiat! Barang-barang itu memang masih ia simpan bersama pakaianpakaian
sebagai peringatan, ia taruh di meja sembahyang ayahnya. Di mana ada surat wasiat?
“Aku tidak tahu menahu tentang surat wasiat ....” ia berkata perlahan.
“Sicu tidak perlu membohong, dan kamipun tidak memerlukan pengakuan sicu. Yang terpenting,
sicu suka memberikan atau tidak?”
02. Bayi Perempuan Siapa ........??
CIA SUN tiba-tiba tertawa mengejek. “Baik, sam-wi losuhu. Lepas dari pada tahu atau tidaknya
aku tentang surat wasiat itu, aku ingin sekali mengetahui. Sam-wi adalah tiga orang hwesio tua
yang sepatutnya melakukan hidup suci dan beribadat, melepaskan diri dari ikatan duniawi, kenapa
sam-wi mencari surat wasiat tentang harta karun? Apakah kalau sudah mendapatkan harta karun,
sam-wi lalu hendak memelihara rambut dan berubah menjadi hartawan-hartawan?”
Merah muka tiga orang hwesio itu. Inilah penghinaan yang amat besar, mereka anggap penghinaan
karena memang cocok sekali dengan idam-idaman hati mereka. Siapa orangnya tidak kepingin kaya
raya, pikir mereka membela diri.
“Cia-sicu, tak usah banyak komentar. Pendeknya kau berikan atau tidak surat wasiat Lie Cu Seng
itu?”
Sebagai jawaban, Cia Sun meloloskan pedangnya dan melintangkan senjata ini di depan dadanya.
“Sekali lagi kutekankan, Thian-san Sam-sian. Aku Cia Sun bukan seorang yang suka membohong.
Aku tidak pernah mendengar atau melihat surat wasiat yang kalian maksudkan itu. Terserah mau
percaya atau tidak.”
“Kalau begitu kau harus membayar hutang ayahmu!” Sambil berkata demikian Gi Thai Hwesio
mulai menyerang, diikuti oleh dua orang sutenya. Penyerangan mereka teratur dan amat kuat,
merupakan barisan Sha-kak-tin (Barisan segi tiga) yang berbahaya.
Akan tetapi Cia Sun adalah seorang pendekar yang sudah banyak mengalami pertempuran, ilmu
kepandaiannya tinggi sekali dan ia sudah memiliki ketenangan. Selama ia menghadapi musuhmusuh
yang amat banyak, baru sekali karena kepandaian puteri Hui itu memang luar biasa dan
aneh. Kini menghadapi keroyokan Thian-san Sam-sian, ia bisa berlaku tenang dan pedang ia
gerakan cepat memutari tubuhnya merupakan benteng kuat melindungi tubuh sambil kadangkadang
sinar pedangnya menyelonong ke kanan kiri untuk mengirim serangan-serangan yang tak
kalah hebatnya.
Pertempuran kali ini malah lebih hebat dari pada tadi ketika Cia Sun melawan Ang-jiu Toanio.
Empat batang pedang berkilauan saling sambar di antara sambaran tiga buah tasbeh yang
bergulung-gulung sinarnya. Selama menanti sampai belasan tahun semenjak dikalahkan oleh Cia
Hui Gan, Thian-san Sam-sian telah melatih diri dengan tekun, maka kepandaian mereka kalau
dibandingkan dengan dahulu ketika menghadapi ayah Cia Sun, sekarang mereka telah menjadi lebih
kuat dan lihai.
Namun, Cia Sun juga telah mendapatkan kemajuan sehingga pada saat itu tingkat ilmu silatnya
sudah melampaui tingkat ayahnya. Maka pertempuran ini adalah pertempuran mati-matian yang
membuat tubuh mereka lenyap ditelan gulungan sinar senjata mereka. Hanya debu mengebul ke
atas dan para pelayan menjauhkan diri dengan muka pucat.
Koleksi Kang Zusi
Kera kecil yang sudah sejak tadi muncul, mengeluarkan bunyi cecowetan dan kaki tangannya
bergerak-gerak seperti orang bersilat. Kera inipun bukan kera sembarangan karena sudah dapat
menggerak-gerakan ilmu silat yang sering ia lihat kalau tuannya, Cia Sun, berlatih. Akan tetapi
menghadapi tiga orang hwesio yang demikian lihai, tentu saja ia tidak berani mendekat, hanya ribut
sendirian bersilat melawan angin sambil mengeluarkan bunyi seakan-akan menjagoi tuannya dan
memaki-maki tiga orang hwesio itu.
Sebetulnya kalau melawan seorang di antara tiga hwesio itu, tentu Cia Sun akan menang. Tingkat
kepandaiannya masih lebih menang setingkat dari pada seorang di antara mereka. Akan tetapi
dikeroyok tiga, ia sibuk juga dan terdesak hebat. Monyet peliharaannya, Lim-ong, makin ribut.
Agaknya binatang ini mengerti bahwa tuannya terdesak dan berada dalam keadaan berbahaya.
Monyet ini sudah terlampau sering ikut tuannya merantau dan menyaksikan Cia Sun bertempur,
maka matanya menjadi awas dan ia dapat melihat keadaan pertempuran.
Pada suatu saat, pedang di tangan Gi Thai Hwesio dan tasbeh di tangan Gi Hun Hwesio menyambar
dengan cepat dan berbareng ke arah tubuh Cia Sun. Pendekar ini cepat menggunakan pedangnya,
sekali tangkis ia dapat membikin terpental dua senjata ini. Akan tetapi pada saat itu, Gi Ho Hwesio
menyerangnya dengan sambaran tasbeh ke arah kepala dan tusukan pedang ke arah perut. Monyet
kecil menjerit ngeri.
Cia Sun merendahkan tubuhnya dan melintangkan pedang. Tasbeh melayang melewati atas
kepalanya dan pedangnya bentrok dengan pedang lawan. Pada saat berikutnya Gi Thai Hwesio dan
Gi Hun Hwesio sudah menyerangnya lagi, membuat ia kewalahan dan meloncat ke sana sini sambil
menangkis dengan pedangnya untuk menyelamatkan diri. Namun tetap saja pundak kirinya terkena
sambaran tasbeh di tangan Gi Thai Hwesio. Biarpun ia tidak sampai terluka karena keburu
mengerahkan tenaga lweekang ke arah pundaknya, namun ia merasa pundaknya sakit sekali dan
gerak-gerakannya menjadi kurang lincah karenanya. Dengan terpukulnya pundak kirinya Cia Sun
menjadi semakin terdesak dan keadaannya benar-benar berubah berbahaya.
“Orang she Cia, apakah kau masih membandel?” tanya Gi Thai Hwesio, membujuk karena melihat
pihaknya terdesak.
“Aku tidak tahu tentang surat wasiat!” kata Cia Sun sambil memutar pedang menghalau hujan
senjata.
“Kau memang sudah bosan hidup!” kata Gi Hun Hwesio membentak dan kini tiga orang hwesio itu
mengerahkan tenaga memperkuat serangan. Cia Sun terhuyung mundur, kedudukannya berbahaya
sekali dan gerakan pedangnya sudah lemah.
Tiba-tiba terdengar angin bersiutan dan tiga orang hwesio itu mengeluarkan suara kaget sambil
melompat mundur terhuyung-huyung. Tiga buah pisau kecil runcing telah menancap di pundak
mereka, pundak sebelah kanan dan tepat sekali mengenai urat besar membuat tangan kanan mereka
lumpuh. Mereka menjadi pucat dan tahu bahwa Cia Sun dibantu orang pandai.
“Kami akan kembali lagi .....!” Gi Thai Hwesio menggerutu sambil pergi dari situ diikuti oleh dua
orang sutenya. Mereka maklum bahwa untuk melawan terus percuma saja setelah mereka menderita
luka yang cukup hebat itu, maka sebelum pembantu Cia Sun muncul dan mendatangkan kerugian
yang lebih besar lagi kepada mereka, lebih dulu paling baik mereka angkat kaki.
Cia Sun maklum bahwa ia dapat bantuan orang. Akan tetapi ia tidak memperlihatkan muka girang
seperti monyetnya yang sekarang bertepuk-tepuk tangan melihat tiga orang lawan tuannya itu
melarikan diri. Ia mengenal pisau-pisau kecil itu. Mengenal pisau yang merupakan hui-to (pisau
Koleksi Kang Zusi
terbang) ini yang lihainya bukan kepalang. Ia tahu siapa penyambitnya dan karenanya, biarpun ia
telah dibebaskan dari bahaya maut, mukanya malah menjadi suram.
Dugaannya tidak meleset. Terdengar anak kecil menangis dan muncullah Balita mengendong
anaknya!
“Hik hik,” Balita tertawa mengejek. “Kanda Cia Sun, kalau tidak ada aku, bukankah kau sudah
menjadi mayat di tangan tiga orang anjing gundul tadi? Kanda Cia Sun, biarlah aku tinggal di
rumahmu ini sebagai penjaga keselamatanmu.”
“Balita, kenapa kau masih saja menggangguku? Pergilah, aku lebih baik mati dari pada kau dekati!”
Cia Sun menjawab marah.
Balita hendak memaki, sepasang matanya sudah mendelik, mukanya sudah menjadi merah sekali,
akan tetapi tiba-tiba dari pintu depan muncul seorang wanita muda cantik menggendong anak kecil
pula. Melihat wanita itu, tiba-tiba sikap Balita berubah. Ia pura-pura tidak melihat, akan tetapi lalu
berkata dengan suara mohon dikasihani, “Kanda Cia Sun, kenapa kau begitu kejam kepadaku?
Tidak ingatkah kau betapa selama tiga hari tiga malam kita saling mencinta sebagai suami isteri?
Tidak ingatkah kau bahwa yang kugendong ini adalah anakmu? Ah, kanda Cia Sun ..... apakah kau
tidak kasihan kepadaku dan anakmu ini .....?”
Cia Sun juga melihat betapa isterinya keluar dan menjadi pucat sekali mendengar dan melihat sikap
Balita, malah isterinya lalu menangis dan sambil merintih lari lagi masuk ke dalam gedung.
“Siluman, jangan kau ngaco tidak karuan!” bentaknya.
Balita tertawa. Sikapnya berubah lagi setelah isteri Cia Sun masuk ke dalam.
“Hik hik hik! Cia Sun, kau tidak tahu bahayanya menyakiti hati seorang wanita. Baik, kau
tunggulah saja pembalasanku. Hik hik hik!” Balita lalu membalikkan tubuhnya dan pergi dari situ,
cepat sekali seperti melayang dan sebentar saja lenyap di balik batu-batu putih yang mengelilingi
puncak itu.
Cia Sun berdiri seperti patung. Hatinya gelisah sekali. Baginya sendiri, ia tidak takut menghadapi
bahaya. Akan tetapi dalam ancaman Balita tadi terkandung sesuatu yang mengerikan. Bagaimana
kalau iblis wanita itu mengganggu isteri dan anak-anaknya? Balita memiliki ilmu kesaktian yang
luar biasa dan ia tahu andaikata Balita menghendaki nyawanya, nyawa isteri dan anak-anaknya, dia
sendiri tidak berdaya menolaknya. Tidak ada yang akan dapat menolongnya, demikian pikirnya
dengan gelisah.
Tiba-tiba ia teringat akan seorang sakti yang masih terhitung susiok (paman guru) ayahnya. Orang
sakti itu bukan lain adalah Ciu-ong Mo-kai (Raja Arak Pengemis Setan) bernama Tang Pok,
seorang pengemis aneh yang telah diangkat menjadi kai-ong (raja pengemis) dari seluruh
perkumpulan pengemis di daerah selatan. Untuk daerah selatan, boleh dibilang Ciu-ong Mo-kai
Tang Pok adalah orang sakti nomor satu yang jarang ada lawannya.
“Kalau saja susiok-couw sudi membantuku, tentu dia dapat mengusir Balita ......” Cia Sun berkata
seorang diri sambil menarik napas panjang. Akan tetapi di mana dia bisa mencari susiok-couw itu?
Tempat tinggal Ciu-ong Mo-kai tidak tentu, dia seorang perantau yang tidak pernah bertempat
tinggal di suatu tempat. Muncul di sana sini dan wataknya amat aneh. Andaikata dapat
ditemukannya juga, belum tentu sudi membantunya.
Koleksi Kang Zusi
Kembali Cia Sun menarik napas panjang, kemudian ia teringat kepada isterinya. Tentu dia cemburu,
pikirnya. Tentu dikiranya aku bermain gila dengan Balita sampai mempunyai anak yang tidak sah.
Cia Sun tersenyum pahit. Balita telah melakukan pembalasan, biarpun hanya dengan menimbulkan
kebakaran dalam rumah tangganya. Memang patut ia dihukum karena perbuatannya yang ia sendiri
anggap tidak patut itu. Dengan perlahan ia lalu berjalan menuju ke pintu.
Akan tetapi pada saat itu terdengar ledakan keras. Cepat ia membalikkan tubuh dan masih sempat
melihat betapa sebuah batu putih yang besar telah hancur berkeping-keping. Kemudian di bekas
tempat batu itu berdiri seorang tosu yang bertubuh tegap dan bersikap keren. Di punggung tosu itu
terselip sebatang pedang. Entah dari mana datangnya tosu itu, dan sepasang matanya membuat Cia
Sun terpaku di mana ia berdiri. Mata tosu itu bukan seperti mata manusia, bersinar-sinar
menakutkan. Rambutnya digelung ke atas, jenggot dan kumisnya lebat. Sukar menaksir usianya,
karena rambut dan brewoknya masih hitam, akan tetapi pada mukanya terbayang usia tua.
Karena terpesona oleh sinar mata yang luar biasa itu, Cia Sun sampai tak dapat mengeluarkan suara
untuk menegur atau menyambut, hanya berdiri memandang. Ia seorang yang pemberani dan tabah,
namun sinar mata itu benar-benar membuat hatinya berdebar. Di dalam sinar mata itu terkandung
ancaman yang bahkan lebih mengerikan dari pada ancaman Balita.
Tosu itu membuka mulut dan terdengarlah suaranya yang parau dan serak seperti suara burung
gagak. “Bocah she Cia! Kau berikan surat wasiat Lie Cu Seng kepada pinto (aku)!”
Cia Sun tercengang. Sudah dua kali orang menyebut-nyebut tentang surat wasiat Lie Cu Seng yang
sama sekali tidak mengerti di mana tempatnya.
“Totiang,” jawabnya sebal. “Aku benar-benar tidak tahu apa itu surat wasiat Lie Cu Seng.”
Tosu itu tidak berubah air mukanya, akan tetapi suaranya menunjukkan bahwa dia marah. “Bocah
tidak tahu diri, kau kira sedang berhadapan dengan siapa berani membantah?” Setelah demikian,
tosu itu menggerakkan tangan kiri ke depan perlahan saja. Akan tetapi alangkah kagetnya Cia Sun
ketika ia merasakan adanya dorongan yang tidak kelihatan, hawa pukulan yang bukan main kuatnya
sehingga biarpun ia sudah mengerahkan lweekangnya, tetap saja ia terjatuh terjengkang! Belum
pernah selama hidupnya ia menghadapi manusia sehebat ini pukulan jarak jauhnya. Bahkan Balita
sendiri kiranya tidak sekuat ini!
“Apa sekarang kau masih berani banyak membantah?” terdengar lagi tosu menyeramkan itu
mendesak.
Cia Sun sudah merayap bangun, wajahnya pucat. Jarak antara dia dan tosu itu ada lima tombak
jauhnya, namun dengan pukulan jarak jauh seenaknya saja tosu itu mampu merobohkannya. Benarbenar
bukan lawannya. Akan tetapi kalau betul-betul dia tidak tahu menahu tentang surat wasiat itu,
bagaimana?
“Totiang, aku benar-benar tidak tahu tentang surat wasiat yang totiang maksudkan itu .....”
Sepasang mata tosu itu mengeluarkan sinar yang membuat Cia Sun seakan-akan merasa dibelek
dadanya dan dilongok isi hatinya. Kemudian tosu itu berkata lagi, “Tidak diberikan ya tidak apa.
Rebahlah kau!” Kini tangan kirinya kembali didorongkan ke depan, tidak perlahan seperti tadi
melainkan disentakkan.
Cia Sun hendak mengelak karena dapat menduga bahwa ia diserang secara hebat sekali, akan tetapi
tiba-tiba saja tosu itu menarik kembali tangannya dan wajahnya memperlihatkan penasaran. Dari
Koleksi Kang Zusi
belakang rumah gedung itu berkelebat bayangan seorang pengemis jangkung kurus yang
pakaiannya penuh tambalan, rambut dan jenggotnya awut-awutan dan memegang sebuah tempat
arak. Hanya sekelebatan saja Cia Sun melihat bayangan ini yang tertawa terkekeh-kekeh, lalu
lenyap kembali. Tosu itu juga berkelebat lenyap dan Cia Sun hanya mendengar suara tinggi kecil
berkata mencela.
“Hoa Hoa Cinjin masih suka menggoda segala orang muda, lucu sekali!” Dalam ucapan ini
terkandung ejekan berat.
Lalu terdengar suara parau si tosu tadi, “Pengemis iblis, kau mencari apa keliaran di sini?”
Suara-suara itu terdengar dari tempat jauh sekali, tanda bahwa dua orang aneh itu sudah pergi jauh,
meninggalkan Cia Sun yang berdiri termangu-mangu. Itulah Ciu-ong Mo-kai Tang Pok, pikirnya.
Tak salah lagi. Ayahnya dulu pernah menggambarkan keadaan susiok-couwnya, seorang pengemis
yang membawa tempat arak. Akan tetapi ia merasa kecewa sekali mengapa kakek itu tidak mau
singgah di rumahnya. Betapapun juga ia dapat merasa bahwa munculnya kakek pengemis itu telah
menolong nyawanya dari ancaman tosu yang bernama Hoa Hoa Cinjin.
Hoa Hoa Cinjin! Teringat akan nama ini tiba-tiba jalan darah di tubuh Cia Sun serasa membeku.
Mengapa tadi ia lupa? Hoa Hoa Cinjin! Ah, siapa orangnya yang tidak pernah mendengar nama ini?
Seorang saikong yang amat jahat, ditakuti seluruh orang kang-ouw, memiliki kepandaian yang
jarang keduanya di kolong langit. Bagaimana orang seperti ini yang jarang dijumpai orang, tiba-tiba
muncul di situ? Dan kemunculan Ciu-ong Mo-kai, apa pula artinya ini?
Cia Sun menarik napas panjang. Di dunia ini banyak sekali orang-orang sakti, pikirnya. Ia merasa
dirinya kecil, lupa bahwa dia sendiri juga dianggap sebagai seorang pendekar yang sakti oleh
puluhan ribu orang, karena tingkat kepandaian Cia Sun sebetulnya sudah mencapai tingkat tinggi
dan tidak sembarang orang dapat menandinginya.
****
Tepat seperti yang diduga oleh Cia Sun, isterinya menangis saja di dalam kamar tanpa mau
menjawab pertanyaan-pertanyaan. Ia tahu betapa besar cinta isterinya kepadanya, dan tahu pula
watak isterinya yang amat cemburu di samping cintanya. Tentu munculnya Balita tadi menusuk
perasaannya dan membakar hatinya.
“Isteriku, jangan kau percaya obrolan wanita tadi. Dia itu seorang iblis betina,” Cia Sun menghibur
isterinya.
“Kau manusia kejam .... ahh .... lebih baik aku mati saja ....” ratap nyonya Cia sambil menangis
kemudian menutupi kepalanya dengan bantal, tidak mau lagi mendengarkan suaminya.
Percuma saja Cia Sun menghibur isterinya karena tidak didengarkan lagi. Sambil menghela napas
duka Cia Sun mengangkat anak perempuannya yang menangis dan didiamkan ibunya, menimangnimangnya
sampai anak itu tertidur, hatinya berduka sekali.
Semua pelayan dalam rumah yang berjumlah tiga orang, yaitu dua orang pelayan laki-laki dan
seorang pelayan wanita tua yang semenjak Cia Sun masih kecil telah menjadi pelayan Cia Hui Gan,
merasa ketakutan dengan adanya peristiwa-peristiwa siang tadi. Dua orang pelayan laki-laki sudah
bersembunyi di kamar belakang tidak berani keluar.
Koleksi Kang Zusi
Pelayan wanita she Lui yang amat setia, dengan tubuh gemetar dan muka pucat menjaga di depan
pintu kamar majikannya, mendengar tangis nyonyanya dan iapun ikut menangis. Siang tadi sambil
bersembunyi ia melihat segala kejadian, melihat pula kedatangan wanita cantik dengan rambut riapriapan
yang menggendong anak. Sebagai seorang wanita yang sudah tua dan banyak pengalaman, ia
dapat menduga apa yang telah terjadi. Tentu tuannya telah mempunyai anak di luar dan kini terjadi
percekcokan antara tuan dan nyonyanya.
Malam itu amat menyeramkan bagi uwak Lui dan dua orang pelayan laki-laki. Malam gelap dan
sunyi sekali, seakan-akan meramalkan datangnya malapetaka yang mengerikan. Uwak Lui yang
berada di luar kamar akhirnya tertidur di atas lantai. Ia tidak merasa betapa angin malam bertiup
perlahan mendatangkan hawa dingin sekali.
Tengah malam lewat, keadaan makin sunyi. Tiba-tiba uwak Lui terkejut karena kakinya ditariktarik
Ketika ia membuka mata, ia melihat Lim-ong, monyet kecil itulah yang menarik-narik
kakinya. Kemudian monyet itu meloncat dan melesat pergi, lenyap ditelan gelap. Akan tetapi uwak
Lui tidak memperdulikannya lagi karena ia amat tertarik oleh suara-suara yang terdengar di saat itu.
Mula-mula terdengar suara wanita tertawa menyeramkan, suaranya terdengar dari dalam kamar
majikannya. Hatinya tidak enak. Biarpun suara ketawa ini menimbulkan bulu badannya berdiri
semua, dengan nekat ia membuka pintu kamar dan terhuyung-huyung masuk. Pelita di atas meja
masih bernyala, mendatangkan bayang-bayang yang menyeramkan di dalam kamar yang setengah
gelap itu.
Hampir saja uwak Lui terguling roboh pingsan ketika matanya yang tua melihat apa yang berada di
kamar itu. Majikan perempuan, nyonya Cia telentang di atas ranjang mandi darah, lehernya hampir
putus! Dan majikannya Cia Sun, menggeletak di lantai dekat ranjang, juga mandi darah dengan
dada penuh luka-luka! Matanya yang kurang awas masih melihat berkelebatnya bayangan keluar
jendela.
“Ya, Tuhan .......!” Suara ini hanya mengganjal tenggorokannya saja. Dengan mata terbelalak ia
melangkah maju ke tempat tidur dua orang anak kecil yang berada di pojok kamar. Ia melihat Han
Sin, anak laki-laki berusia dua tahun itu duduk di atas kasur menggosok-gosok matanya dan Bi Eng,
bayi berusia tiga bulan itu mulai menangis. Cepat uwak Lui merahi bayi itu, digendongnya dengan
tangan kiri dan memondong Han Sin dengan tangan kanan, lalu lari keluar tersaruk-saruk. Dari
tenggorokannya keluarlah kini teriakan-teriakan menyayat hati.
“Tolong .....! Tolong .....! Ya, Tuhan ...... tolonglah ......!” Ia membawa dua orang anak itu lari ke
kamar belakang, menuju ke kamar belakang, menuju ke kamar dua orang pelayan laki-laki. Sampai
disitu ia menggedor-gedor pintu, akan tetapi dua orang pelayan laki-laki itu saling peluk di kamar,
tidak berani keluar!
Sambil menangis tidak karuan uwak Lui lalu tinggalkan kamar itu, lari ke kamarnya sendiri. Ia
menurunkan Han Sin dan Bi Eng di atas tempat tidurnya. Dua orang anak itu mulai menangis dan
uwak yang setia ini, sekarang sibuk menghibur dan menidur-nidurkan mereka.”
Ketika memandang kepada Bi Eng, hampir ia menjerit. Ini bukan Bi Eng! Bukan! Bukan bayi yang
setiap hari ia gendong, bukan anak majikannya! Ia menoleh kepada Han Sin. Anak laki-laki itu
memang betul Han Sin, putera sulung majikannya. Akan tetapi bayi perempuan ini, biarpun sebaya
dengan Bi Eng, terang sekali bukan bayi perempuan majikannya! Uwak Lui bingung bukan main.
Dari mana datangnya bayi perempuan yang juga amat montok dan mungil ini? Bayi ini mempunyai
tanda kecil merah di bawah telinga sedangkan Bi Eng tidak. Di mana Bi Eng .....?
Koleksi Kang Zusi
Uwak Lui teringat kembali kepada majikan-majikannya ketika dua orang anak itu sudah tertidur. Ia
harus kembali ke kamar itu. Ia bergidik dan kembali dadanya sesak. Air matanya mengucur keluar.
Tidak kuasa ia memandang isi kamar yang amat mengerikan itu. Akan tetapi, masa harus didiamkan
saja? Dan siapa tahu, barangkali Bi Eng masih berada di kamar itu.
“Aduuuhh ........ Cia-siauwya ....... Cia-hujin .....” dengan air mata mengucur dan langkah
terhuyung-huyung, nyonya tua yang amat setia dan sudah menganggap majikan-majikannya seperti
anak-anaknya sendiri, menuju ke kamar maut tadi.
Hampir ia tidak kuat berdiri lagi ketika sudah memasuki kamar. Hampir ia tidak kuat menahan jerit
tangisnya. Akan tetapi ia menguatkan hatinya dan matanya mulai mencari-cari, siapa tahu Bi Eng
masih ketinggalan di situ. Akan tetapi tidak ada anak lain lagi. Sekarang baru ia menuju ke tempat
tidur dan menubruk majikannya.
“Cia-hujin .....!” Tiba-tiba matanya terbellak. Penuh kengerian ia memandang muka nyonya Cia.
Muka yang biasanya tersenyum ramah dan cantik itu kini telah rusak, pecah-pecah pipi dan
keningnya. Ia terbelalak heran. Tadi ia tahu benar bahwa nyonyanya ini hanya terluka di lehernya
saja, hampir putus. Akan tetapi mukanya tidak apa-apa. Kenapa sekarang menjadi rusak muka itu
seperti ada orang yang datang lagi merusaknya?
Ia menengok ke arah tubuh Cia Sun yang menggeletak di lantai. Kembali ia terbelalak dan hampir
menjerit. Matanya penuh ketakutan memandang ke sana ke mari, mencari-cari apakah di situ tidak
ada orang lain. Benar-benar aneh dan mengerikan. Tadi Cia Sun menggeletak dengan baju penuh
darah karena luka-luka di dada. Akan tetapi sekarang darah itu tidak kelihatan lagi karena tubuhnya
telah tertutup oleh sehelai selimut yang aneh. Selimut indah dari sutera kuning, selimut yang belum
pernah ia lihat sebelumnya! Saking herannya uwak Lui menghampiri mayat Cia Sun.
Benar saja selimut itu asing, jangankan di dalam rumah, malah selamanya ia belum pernah melihat
selimut seperti itu. Corak dan warnanya aneh sekali, akan tetapi amat indahnya. Tak terasa lagi
nyonya tua ini memegangi selimut itu, meraba-raba kainnya yang halus dan hangat.
Dengan selimut masih d tangan dan mulutnya sesambatan sambil menangis, tiba-tiba ia mendengar
suara tangis dari atas genteng! Suara tangis terisak-isak.
“Ah .... kanda Cia Sun ...... kanda Cia Sun ....... kau tega tinggalkan aku ......!” Tangis itu makin
tersedu-sedu dan uwak Lui dapat mengenal suara itu. Suara Balita. Siang tadi ia telah mendengar
pula suara wanita cantik yang aneh itu.
Kemudian tangis terhenti dan berubah suara ketawa yang merdu sekali akan tetapi yang membuat
uwak Lui menggigil seluruh tubuhnya. Ia teringat akan dua orang anak kecil yang ditinggalkan,
maka saking khawatir kalau-kalau terjadi hal-hal yang kurang baik, ia cepat berlari meninggalkan
kamar majikannya, menuju ke kamarnya sendiri. Saking bingung, duka, takut, dan kaget, uwak Lui
yang tua ini sampai lupa bahwa selimut kuning itu masih ia pegang dan terbawa olehnya ketika ia
lari ke kamarnya.
Setelah tiba di kamar, ia cepat-cepat menjenguk Han Sin yang masih tidur di samping adiknya.
Akan tetapi ketika ia memandang kepada bayi perempuan yang mempunyai tanda merah di dekat
telinga, uwak ini menjerit dan selimut yang dipegangnya tadi jatuh ke atas lantai. Ia mundur dua
tindak, dengan mata terbelalak dan mulut ternganga memandangi wajah anak perempuan yang tidur
nyenyak. Kemudian ia melangkah maju lagi untuk memandang lebih teliti.
Koleksi Kang Zusi
Naik sedu sedan dari dada uwak itu. Wajahnya lebih pucat dari wajah mayat-mayat yang berada di
kamar majikannya. Anak perempuan yang berada di situ ternyata telah berubah pula! Ini bukan
anak yang ada tanda merah di dekat telinganya tadi. Anak ini juga perempuan juga sebaya, juga
montok dan mungil, akan tetapi bukan Bi Eng juga bukan anak perempuan yang bertanda merah
tadi! Heran, ajaib! Apakah yang terjadi? Tidak kuat uwak ini menghadapi semua ini.
“Siluman .....! Iblis .....! Tolong .... tolong ......!” Ia berlari sampai terjatuh-jatuh menuju ke kamar
dua orang pelayan, dan kini ia menggedor terus pintu kamar pelayan-pelayan itu yang dengan tubuh
menggigil membuka pintu dan mereka mendapatkan uwak Lui sudah terguling roboh di depan kaki
mereka, pingsan!
****
Ketika pelayan-pelayan yang tiga orang itu mengurus jenazah Cia Sun dan isterinya pada tengah
malam itu, mereka merasa ketakutan. Mereka mendengar suara hiruk-pikuk, seperti orang-orang
berjalan di dalam rumah dan meja kursi terbalik. Akan tetapi tidak kelihatan orangnya, hanya ada
angin bersiutan yang beberapa kali membuat pelita padam. Dengan tangan menggigil pelayanpelayan
itu menyalakan kembali pelita tanpa berani melihat apakah yang menyebabkan datangnya
suara-suara itu. Uwak Lui lalu memasang hio dan bersembahyang, mohon kepada Thian supaya
melindungi mereka dan mengusir siluman-siluman itu!
Pada keesokan harinya suara-suara itu lenyap dan setelah terang barulah ketahuan bahwa rumah
gedung itu telah digeledah dengan teliti sekali. Sampai-sampai kamar mandi diperiksa semua. Petipeti
dibuka, lemari-lemari dibongkar. Akan tetapi anehnya tidak ada barang yang hilang.
Seorang di antara pelayan laki-laki lalu lari ke bawah puncak, ke dusun terdekat untuk minta
bantuan penduduk dusun. Karena nama Cia Sun sudah dikenal baik sebagai seorang dermawan dan
sudah banyak pendekar ini menolong mereka, maka berduyun-duyun penduduk dusun itu datang
untuk melayat dan membantu penguburan jenazah Cia Sun dan isterinya.
Uwak Lui diam-diam mengasuh Han Sin dan adiknya. Sama sekali ia tidak mau bicara tentang
ditukarnya Bi Eng sampai dua kali, karena ia tahu bahwa kalau ia bicara tentang itu, tentu
menimbulkan geger dan juga bagi dia sama saja apakah asuhannya itu benar-benar Bi Eng atau
bukan. Anak kecil yang terakhir ditukarkan ini amat manis dan montok, sehat dan mungil tidak
kalah oleh Bi Eng yang asli. Maka ia berjanji di dalam hati tidak akan membuka rahasia ini dan
tetap menyebut anak kecil itu dengan nama Bi Eng.
Malam tadi tidak hanya terjadi keanehan di dalam gedung yang menimbulkan rasa takut hebat pada
tiga orang pelayan itu. Juga di dalam hutan tak jauh dari puncak itu terjadi hal yang aneh. Kelihatan
di dalam hutan itu Balita menggendong anak sambil sebentar-sebentar menangis dan sebentarsebentar
tertawa.
Tiba-tiba dari atas dahan pohon melompat seekor kera terus menyerangnya dan mencoba untuk
merampas bayi yang dipondongnya, Monyet ini bukan lain adalah Lim-ong, monyet peliharaan Cia
Sun yang memang biasanya suka bermalam di pohon-pohon. Serangan monyet ini bagi orang lain
tentu ganas dan berbahaya. Akan tetapi tidak demikian terhadap Balita. Sekali saja wanita ini
menggerakkan tangannya, tubuh monyet itu terlempar jauh dan jatuh tak bergerak lagi! Setelah
Balita pergi, baru monyet itu bergerak perlahan, mengerang dan merayap perlahan memasuki
segerombolan pohon.
Di lain bagian dari hutan itu, Ang-jiu Toanio juga menggendong anaknya, berlari-lari. Tiba-tiba
terdengar suara geraman hebat sehingga hutan bagian itu seakan-akan tergetar. Kemudian munculah
Koleksi Kang Zusi
seekor harimau yang besar sekali, sikapnya galak, kulitnya loreng dan taringnya besar runcing. Di
belakang harimau ini muncul pula seorang laki-laki tinggi gundul, telinganya pakai anting-anting,
mukanya lucu, kepalanya yang gundul meruncing ke atas. Dilihat dari wajahnya, jelas bahwa dia
bukan orang Han.
Baik harimau maupun orang aneh itu tidak memandang kepada Ang-jiu Toanio, melainkan kepada
bayi yang digendongnya, nampaknya keduanya merasa mengilar sekali!
Ang-jiu Toanio adalah seorang berkepandaian tinggi yang tentu saja tidak takut melihat harimau itu,
malah ia menjadi marah dan membentak keras, “Setan! Suruh pergi kucingmu itu sebelum kubikin
mampus dia. Bikin kaget anakku saja.”
Akan tetapi orang gundul itu tertawa ha ha, he he, lalu bicara dengan suara bindeng (suara hidung),
“Belikang anakmu padanya, dia lapang!”
Selain bindeng, juga bicaranya tidak jelas, tanda bahwa dia itu seorang asing.
Ang-jiu Toanio yang sudah banyak melakukan perantauan, mengerti bahwa dia berhadapan dengan
seorang Mongol. Sebetulnya ia merasa geli mendengar suara yang bindeng itu, akan tetapi karena
mendengar kata-kata yang minta anaknya untuk dijadikan mangsa macan itu, ia menjadi marah
sekali dan lenyap geli hatinya.
“Binatang, jangan main gila di depan Ang-jiu Toanio!” bentaknya.
“He he he, aku Kalisang tidak takuti segala tangang melah atau tangang hitam!”
Ang-jiu Toanio makin marah, akan tetapi tiba-tiba macan itu menubruk dengan kekuatan yang
dahsyat dan cepat sekali. Ang-jiu Toanio mengelak dan hendak mengirim pukulan, akan tetapi
orang Mongol yang bernama Kalisang itu sudah melompat ke depan dan mengulur tangannya yang
panjang untuk menjambret pundaknya. Ia cepat menggunakan tenaga Ang-see-chiu untuk
menangkis.
“Plak!” Dua tangan bertemu dan orang Mongol itu miring tubuhnya, kesakitan dan panas sekali
tangannya bertemu dengan si Tangan Merah. Akan tetapi alangkah kagetnya Ang-jiu Toanio ketika
tangan kiri lawannya tiba-tiba mulur panjang sekali dan tahu-tahu tangan itu sudah dapat merampas
anaknya dari gendongan.
“Jahanam, kembalikan anakku!” Ang-jiu Toanio menubruk maju menyerang si tangan panjang yang
lihai itu. Akan tetapi Kalisang sudah melompat ke belakang dan terus saja lari cepat bukan main.
Kedua kakinya yang kecil panjang-panjang itu berlari seperti terbang saja.
Ang-jiu Toanio terus mengejar, akan tetapi harimau besar itu menghadangnya dan menubruk dari
pinggir. Dalam kegemasannya, Ang-jiu Toanio memukul dada harimau dengan tenaga Ang-seechiu.
“Bukk!” Tubuh harimau yang besar terlempar ke belakang. Akan tetapi tubuh harimau itu kuat
sekali dan karena dia bukan manusia sehingga jalan darah dan otot-ototnya tidak sama dengan
manusia pula, maka pukulan tadi hanya membuat ia sakit dan terlempar, sama sekali tidak
mendatangkan luka di dalam tubuh. Ia menggereng keras dan menyerang lagi.
Ang-jiu Toanio gemas bukan main. Dengan halangan ini, terpaksa ia tidak dapat mengejar si tangan
panjang. Ia lalu menghujani pukulan dan tendangan, tidak memberi kesempatan kepada harimau ini.
Koleksi Kang Zusi
Akhirnya ia dapat menyambar ekor harimau dan dengan tenaga luar biasa wanita muda itu
membanting tubuh harimau sekuatnya.
“Blekk!” Harimau itu mengaum dan lari terbirit-birit, takut menandingi wanita kosen itu. Ang-jiu
Toanio tidak memperdulikan binatang hutan tadi dan cepat lari ke depan mencari bayangan
Kalisang. Akan tetapi betapa kaget dan cemasnya karena ia tidak dapat mencari Kalisang yang
lenyap di waktu gelap. Ang-jiu Toanio menjadi cemas sekali. Ia mengejar terus, lari secepat
mungkin sambil memaki-maki dan kadang-kadang menangis.
Sementara itu, sambil tertawa-tawa serem Kalisang membawa anak kecil itu bersembunyi di dalam
semak-semak, mendekap mulut anak itu supaya jangan menangis. Setelah Ang-jiu Toanio berlari
jauh sekali, ia keluar dan memanggil harimaunya. Harimau besar itu datang dan melihat anak kecil
dalam pondongan, ia mengaum dan memperlihatkan taringnya.
“Heh heh, anakku, kau udah lapang (lapar) sekali! Heh heh heh!”
Setelah berkata demikian, ia melemparkan anak bayi itu ke atas tanah di depan binatang buas itu! Si
harimau mendekam, matanya bersinar-sinar, mulutnya meringis dan kaki belakangnya sudah
menegang, siap menubruk dan menikmati daging bocah yang tentu lunak, segar dan lezat itu.
Akan tetapi tiba-tiba pada saat harimau maju hendak menubruk, binatang ini sebaliknya terlempar
ke samping, menggeram kesakitan dan bergulingan.
Adapun bayi itu tahu-tahu telah disambar orang dan di lain saat telah berada dalam pelukan tangan
kiri seorang saikong yang memegang pedang.
Inilah Hoa Hoa Cinjin, saikong sakti yang kemaren sudah muncul di depan Cia Sun.
Melihat hal itu, Kalisang marah sekali. Ia menubruk maju dan kedua tangannya mulur sampai
panjangnya hampir dua meter! Akan tetapi, pedang di tangan Hoa Hoa Cinjin berkelebat dan
Kalisang menjerit kaget sambil menarik kembali tangannya. Betapapun juga, ujung jari tangan
kirinya terbabat sehingga terluka dan sapat di bagian kukunya.
“Setan Mongol, kau tidak mengenal Hoa Hoa Cinjin?” bentak saikong itu keren.
Nama besar Hoa Hoa Cinjin memang sudah terkenal. Bahkan orang Mongol ini pernah mendengar
nama itu. Tadipun ia telah membuktikan sendiri kelihaian saikong yang matanya begitu
mengerikan, lebih mencorong dari pada mata harimaunya. Hatinya jerih dan sambil memekik aneh
orang Mongol itu lari pergi dari situ, diikuti oleh harimaunya yang juga takut menghadapi saikong
yang bermata setan itu.
Hoa Hoa Cinjin tertawa dan memandang bocah dalam pelukannya.
“Anak baik ....... anak baik ..... kau patut menjadi muridku. Hemm ..... hendak kulihat kelak siapa
yang bisa mengalahkan kau.” Iapun pergilah dari hutan itu sambil membawa bocah yang tidak
menangis karena kini merasa hangat dalam pelukan, dibungkus dalam jubah lebar tebal, menempel
pada dada yang panas.
Semua kejadian ini tidak ada orang lain melihatnya, hanya monyet kecil. Lim-ong yang melihatnya.
Monyet yang sudah terluka parah oleh pukulan Balita ini, diam-diam mengintai dan menyaksikan
semua itu. Ia lalu menyelinap di antara daun-daun pohon dan di lain saat iapun menggendong
Koleksi Kang Zusi
seekor monyet kecil, monyet jantan yang masih kecil sekali. Ia mengeluarkan bunyi cecowetan dan
aneh, dari kedua matanya keluar dua butir air mata. Monyet betina itu, Lim-ong menangis.
Pada keesokan harinya, pagi-pagi sekali jenazah Cia Sun dan isterinya telah dibersihkan, diberi
pakaian baik-baik dan dimasukkan dalam dua buah peti sederhana yang diusahakan oleh penduduk
dusun. Kemudian hio dipasang dan semua orang bersembahyang memberi penghormatan terakhir
kepada pendekar budiman dan isterinya itu. Uwak atau Bibi Lui meratap-ratap dan menangis ketika
membawa Han Sin dan Bi Eng yang diajak sembahyang pula. Dua orang anak kecil yang tidak tahu
dan mengerti apa-apa ini, tidak menangis. Akan tetapi ketika mendengar uwak Lui dan semua
penduduk menangis pilu, mereka pun mulai menangis. Suara tangis mereka memenuhi ruangan
depan gedung itu di mana dua peti mati itu ditaruh berjajar.
“Kanda Cia Sun ...... ohh, kanda Cia Sun ......!”
Mendengar seruan ini, wajah uwak Lui menjadi pucat dan otomatis tangisnya berhenti. Juga para
penduduk memandang orang yang datang ini dengan heran dan tertarik. Balita dengan mengendong
anak, rambutnya tetap riap-riapan dan pakaiannya sobek sana sini, datang terhuyung-huyung sambil
menangis.
Setelah ia tiba di ruangan depan itu, tiba-tiba uwak Lui mempunyai pikiran yang cerdik. Uwak yang
setia ini segera berdiri dan menyambut kedatangannya, sedikitpun tidak takut biarpun ia tahu bahwa
wanita ini adalah seorang iblis betina yang menyeramkan dan mungkin sekali menjadi pembunuh
majikan dan nyonyanya. Ia melirik ke arah bocah di dalam gendongan Balita, akan tetapi Balita
agaknya sengaja menutupi bocah itu sehingga tubuh dan muka anak kecil itu tidak kelihatan sama
sekali.
“Toanio apakah sahabat mendiang majikanku dan hendak bersembahyang? Silahkan .... silahkan,
biarlah kugendongkan dulu anak toanio itu,” kata uwak Lui dengan ramah tamah sambil cepat
menghampiri Balita dan memegang kaki anak kecil itu untuk digendong. Bayi anak majikannya
sendiri sudah tadi-tadi ia baringkan ketika ia mendapatkan akal untuk melihat dan mengenal anak
digendongan Balita.
03. Ciu-ong Mo-kai Pengemis Sakti
AKAN tetapi Balita merenggut anaknya, matanya mendelik kepada uwak Lui yang baru saja
memegang kaki anak itu. “Pergi kau! Aku bisa bersembahyang sambil menggendong anakku!”
Uwak Lui kaget dan mundur, akan tetapi di dalam hatinya ia terheran-heran dan makin bingung,
karena anak di gendongan Balita itu bukanlah puteri majikannya, bukan Bi Eng! Tadi ia sengaja
memegang kaki anak itu, karena biarpun tidak melihat muka anak itu, dari kakinya saja ia dapat
mengenal kalau anak itu Bi Eng adanya. Di kaki sebelah kiri Bi Eng, di dekat mata kaki, terdapat
sebuah tahi lalat hitam yang merupakan tanda anak itu yang tak akan lenyap.
Akan tetapi ketika ia tadi memegang kaki kiri bayi di gendongan Balita itu dan melihat dengan
teliti, kaki kiri anak itu bersih saja dan tidak ada tahi lalatnya. Anak itu bukan Bi Eng, dan anak
kecil yang ia tidurkan itupun bukan Bi Eng. Di manakah lenyapnya Bi Eng yang asli? Diam-diam
uwak Lui bingung dan berduka, akan tetapi ia hendak menyimpan rahasia ini di dalam hatinya
sendiri. Biarlah, anak bayi perempuan yang sekarang berada dalam asuhannya, dia itulah Cia Bi
Eng.
Balita tidak mempergunakan hio, langsung ia berlutut di depan peti mati Cia Sun sambil menangis
sesambatan dan memeluki peti itu. “Kanda Cia Sun ...... tega benar kau kepadaku .... kanda Cia Sun,
Koleksi Kang Zusi
hidup ini tiada artinya bagi Balita .......” Ia menangis tersedu-sedu, lalu dengan beringas ia pindah
ke depan peti mati nyonya Cia Sun, menggedor-gedorkan kepalanya yang berambut riap-riapan itu
pada peti mati nyonya Cia!
Uwak Lui menjadi khawatir sekali dan baiknya Balita hanya menggedorkan kepalanya perlahan
saja. Akan tetapi jangan kira bahwa gedoran kepala ini hanya tanda kedukaannya, karena diamdiam
ia mengerahkan tenaga lweekang untuk menghancurkan isi peti mati itu.
Tiba-tiba terdengar suara tinggi melengking dan tahu-tahu seorang pengemis yang rambutnya awutawutan
sudah berdiri di belakang peti nyonya Cia Sun. Ia menepuk-nepuk peti itu sambil berkata,
“Cia-hujin, tenanglah. Orang-orang ini benar gila, menangisi kau yang sudah senang. Ha ha ha!”
Balita kaget bukan main ketika kepalanya terasa sakit begitu digedorkan kepada peti mati. Ia
maklum bahwa serangannya untuk menghancurkan mayat nyonya Cia telah digagalkan oleh
tepukan-tepukan tangan pengemis itu pada belakang peti mati. Ia mengangkat kepala memandang
dan melihat pengemis yang rambutnya awut-awutan itu memegang sebuah guci arak, ia terkejut. Ia
pernah mendengar nama Ciu-ong Mo-kai si Raja Pengemis dari seluruh perkumpulan pengemis di
daerah selatan.
“Ha ha ha,” kembali pengemis itu tertawa dengan suara tinggi. “Memang dunia ini palsu. Orang
yang terbebas dari derita hidup ditangisi, di balik air mata muncul kepalsuan-kepalsuan jahat. Aduh,
lebih enak yang mati dari pada yang hidup harus menyaksikan segala macam kepalsuan!”
Balita mundur sambil mendekap anaknya. Menghadapi seorang pengemis sakti seperti ini ia harus
hati-hati, apa lagi ia sedang menggendong anak.
“Ciu-ong Mo-kai Tang Pok, omonganmu benar. Kalau kau lebih suka mati, biar aku coba
mengantarmu ke neraka.” Tangan kanan Balita menampar ke depan dan angin pukulannya dari
jarak jauh menyambar ke arah dada pengemis itu.
Ciu-ong Mo-kai Tang pok, pengemis sakti itu sambil tertawa menegak arak dari guci araknya,
kemudian menyemburkan araknya ke depan. Arak itu merupakan senjata penangkis pukulan dan
begitu bertemu dengan hawa pukulan Balita arak itupun tertahan dan terpental kembali!
“Ha ha, hebat! Kau perempuan Hui benar hebat!” pengemis itu memuji dan pujian ini memang
setulusnya hati karena siapa orangnya tidak kagum melihat seorang perempuan semuda itu memiliki
pukulan jarak jauh yang demikian kuatnya? Sebaliknya, Balita maklum bahwa pengemis itu
merupakan tandingan sangat berat. Ia tidak bisa melepas anaknya untuk berkelahi, maka sambil
melompat pergi ia berkata.
“Pengemis tua bangka, lain waktu aku Balita tentu mencarimu!”
Pengemis itu hanya tertawa-tawa kemudian menjawab kepada bayangan Balita yang sudah pergi
jauh. “Jembel tua bangka buruk rupa macam aku ini mana ada harga kau cari-cari? Tentu kau lebih
suka mencari yang muda rupawan, bagus dan tampan. Ha ha ha!”
Uwak Lui dan dua orang pelayan keluarga Cia serta semua penduduk dusun yang berada di situ
memandang kepada pengemis itu tak senang. Mereka ini tentu saja sama sekali tidak tahu betapa
pengemis ini telah menolong mayat nyonya Cia dari kehancuran. Bagi mereka, pengemis itu terlalu
kurang ajar dan sebaliknya nyonya muda tadi patut dikasihani. Bukankah nyonya muda tadi datang
untuk berbelangsungkawa sedangkan pengemis itu datang-datang mengacau? Apalagi sekarang
pengemis itu sambil tertawa-tawa dan minum arak berkata kepada mereka,
Koleksi Kang Zusi
“Kalian jangan menangis, tidak boleh menangisi orang mati!”
Semua orang yang berada di situ saling pandang. Mereka merasa takut melihat pengemis ini, karena
sikapnya dan rambutnya yang awut-awutan itu lebih pantas disebut orang yang sudah miring
otaknya. Akan tetapi uwak Lui yang amat setia menjadi tak senang karena upacara perkabungan
majikannya dikacau. Ia maju menghampiri pengemis itu sambil menggendong Bi Eng. Dirogohnya
saku bajunya dan dikeluarkan sekeping uang perak, lalu diberikan kepada pengemis itu.
“Nih, sedekahnya, harap sekarang kau suka pergi dan jangan mengganggu kami. Tidak tahukah kau
bahwa kami sedang berduka, mengabungi kematian majikan-majikanku yang tercinta?”
Pengemis itu memandang kepada uwak Lui dengan mata meram-melek sambil menyeringai, lalu
berkata seperti orang bersajak.
“Siapa bilang hidup lebih senang dari pada mati?
Siapa bilang mati harus diantar susah hati?
Samua berasal dari tiada.
Dan kembali kepada tiada
Bila musimnya tiba?
Bukankah mati hanya pulang ke asalnya?”
Kemudian sambil menghelus-elus peti mati Cia Sun, pengemis itu berkata seperti kepada diri
sendiri, “Cia Sun semasa hidup memenuhi kewajiban sebagai satria sejati, melanjutkan sepak
terjang ayahnya sebagai pendekar pembela rakyat. Matipun tidak penasaran!”
Mendengar ucapan ini, uwak Lui menangis dan memeluki Bi Eng. “Pengemis aneh, jangan kau
menyusahkan hati kami yang sudah berduka. Boleh kau bilang apa saja, akan tetapi tidak
kasihankah kau kepada dua orang anak ini yang ditinggal mati ayah bundanya? Mereka menjadi
yatim piatu, ah ...... yatim piatu .....” Uwak Lui menangis terisak-isak dan semua penduduk dusun
yang berkumpul di situ juga ikut menangis.
“Diam! Diam semua!” Pengemis itu membentak, lalu sekali ulur tangan ia telah merampas Bi Eng
dari gendongan uwak Lui yang menjadi kaget sekali.
“Anak baik ..... ah, anak bertulang baik.” Pengemis yang seperti orang gila itu lalu mengayun-ayun
bayi itu malah kemudian ia melemparkan bayi itu ke atas diterima lagi dan dilemparkan lagi seperti
seorang anak nakal bermain dengan sebuah bola!
Uwak Lui menjerit dan melompat maju merampas anak itu. Pengemis tadi memberikan Bi Eng
kepada uwak Lui sambil berkata, “Jaga baik-baik muridku ini!”
“Muridmu? Apa artinya ini?” tanya uwak Lui sambil mendekap anak itu.
“Bibi yang baik, jangan salah menyangka orang. Aku adalah paman guru Cia Hui Gan! Aku datang
untuk menyelidiki siapa orangnya yang membunuh Cia Sun dan isterinya.”
Suara pengemis itu berubah keren dan sikapnya agung, membuat uwak Lui surut mundur. Uwak
Lui lalu menjura dengan hormat sambil berkata. “Terserah kebijaksanaan, taisu!”
Pengemis itu tertawa-tawa lagi lalu maju melangkah ke arah peti mati. Tutup peti mati telah dipaku,
akan tetapi sekali angkat saja tutup peti mati Cia Sun telah dibukanya! Ia membungkuk dan melihat
tanda-tanda luka di dada mayat itu. Muka mayat pendekar itu tenang, malah mulutnya agak
Koleksi Kang Zusi
tersenyum. Setelah memeriksa beberapa lama, pengemis itu berkali-kali mengeluarkan seruan
tertahan.
“Aneh .... aneh sekali ..... pedang biasa, tusukan biasa ..... masa dia mati karena serangan macam itu
....?”
Kemudian ia menutup lagi peti mati dan sekali tekan paku-paku itu telah amblas mengunci tutup
peti. Kemudian ia membuka peti mati nyonya Cia Sun. Mayat nyonya muda ini lebih menyedihkan
karena selain lehernya putus, juga mukanya luka-luka. Ciu-ong Mo-kai memeriksa leher yang
terluka dan kembali ia menggelengkan kepala.
“Bukan karena tenaga, melainkan karena tajamnya pedang. Heran .... heran .... lebih patut kalau
dikatakan pembunuhnya seorang kanak-kanak lemah!” Akan tetapi ketika ia melihat muka nyonya
muda yang sudah menjadi mayat itu, ia mengerutkan kening.
“Perempuan Hui itu masih melampiaskan marahnya melihat saingannya sudah mati. Terlalu sekali
....!” Juga lalu menutup kembali peti mati dan menoleh kepada semua orang yang melihat
perbuatannya ini dengan penuh rasa ngeri dan heran.
“Cia Sun tidak berkeluarga kecuali dua orang anaknya. Orang yang boleh diandalkan adalah bibi
pengasuh ini, maka mulai sekarang semua kekuasaan mengurus rumah dan memelihara dua orang
anak ini kuserahkan kepada bibi pengasuh. Siapa yang berani mengganggunya berurusan dengan
aku! Sekarang, saudara-saudara dari dusun di bawah puncak boleh pulang. Biar aku dan bibi
pengasuh mengurusnya sendiri.”
Karena semua orang merasa takut, mendengar perintah ini tanpa banyak cakap mereka lalu pergi
dari situ. Uwak Lui tidak berani membantah! Dia bersama dua orang pelayan laki-laki yang berada
di situ hanya bisa saling pandang.
“Kenapa kalian dua orang masih tidak mau pergi?” Pengemis itu bertanya ketika masih ada dua
orang laki-laki berjongkok di ruang itu.
“Taisu, dua orang ini adalah pelayan-pelayan di sini, semenjak kecil mereka membantu majikan
kami,” kata uwak Lui.
Ciu-ong Mo-kai mengangguk-angguk. “Kalau kalian masih suka, mulai sekarang kalian menjadi
pelayan dia ini.” Dia menunjuk uwak Lui dan dua orang pelayan itu mengangguk. “Ayoh, kalian
ambilkan arak untukku!”
Ketika dua orang pelayan itu ragu-ragu, uwak Lui memberi isyarat supaya mereka memenuhi
permintaan Ciu-ong Mo-kai. Uwak Lui sudah terlalu lama mengikut Cia Sun dan sudah banyak
melihat kawan-kawan Cia Sun dan sudah banyak melihat kawan-kawan Cia Sun yang terdiri dari
orang-orang kang-ouw yang aneh-aneh dan sakti. Sekarang ia percaya bahwa pengemis itu tentulah
orang sakti yang benar-benar datang untuk menyelidik pembunuhan majikannya. Ia merasa lega
karena biarpun pengemis itu wataknya aneh menakutkan, namun keselamatannya, terutama
keselamatan dua orang anak kecil yang sejak itu diasuhnya sebagai anak-anak sendiri, akan terjaga
dan terjamin.
Ciu-ong Mo-kai tidak mau menggunakan cawan perak yang dibawakan oleh para pelayan. Ia
menuang arak dari guci besar ke dalam tempat araknya sendiri lalu minum arak dari mulut gucinya
yang kecil. Sambil minum arak ia bernyanyi-nyanyi dengan kata-kata yang tidak karuan.
Koleksi Kang Zusi
Tiba-tiba uwak Lui dan dua orang pelayan itu mendengar suara roda kereta datang di depan gedung.
Mereka kembali melongo dan saling pandang. Bagaimana ada kereta bisa sampai di tempat itu?
Dengan jalan kakipun amat sukar sampai di situ, apalagi berkereta. Kudapun tidak bisa naik di
antara batu-batu putih yang mengitari gedung. Apakah kuda dan kereta itu bisa terbang?
Benar saja. Sebuah gerobak kecil roda dua ditarik oleh seekor keledai berhenti di depan gedung itu
dan dari dalamnya melompat keluar seorang laki-laki setengah tua yang bertubuh gemuk, bertopi
dan berkumis lucu seperti kumis kucing. Laki-laki itu mengambil sebuah swipoa (alat menghitung)
dengan tangan kiri dan membawa sebuah cambuk di tangan kanan, lalu melangkah lebar ke ruang
depan dengan mulut tersenyum lebar. Mukanya yang gemuk itu kemerahan dan berkali-kali ia
mengusap muka dengan ujung lengan bajunya untuk menghapus peluhnya.
Memang bagi orang-orang biasa, aneh sekali ada orang bisa naik gerobak ke tempat seperti puncak
gunung Min-san ini. Orang-orang dusun situ yang sudah biasa mendaki puncak masih merasa sukar
untuk mendatangi puncak yang menjadi tempat tinggal Cia Sun. Apalagi menunggang gerobak, hal
ini merupakan sesuatu yang tidak mungkin. Lebih-lebih lagi bagi seorang berpakaian seperti
saudagar yang bertubuh gemuk itu!
Akan tetapi bagi Ciu-ong Mo-kai yang melihat kedatangan orang ini, bukanlah merupakan hal yang
aneh atau mengherankan. Yang baru datang ini, yang ke mana saja membawa-bawa alat swipoa dan
pecut bukan lain adalah Lie Ko Sianseng yang berjuluk Swi-poa-ong (Si Raja Swipoa)! Bukan
saudagar sembarang saudagar biarpun ke mana saja membawa-bawa swipoa, akan tetapi seorang
tokoh besar di dunia kang-ouw yang bukannya tidak terkenal!
Lie Ko Sianseng memang seorang saudagar dan dalam hal pekerjaan ini usahanya luas sekali,
bukan hanya berdagang barang-barang yang meliputi macam barang dari hasil bumi, hewan ternak
sampai sayur mayur dan emas intan. Akan tetapi adakalanya ia juga berdagang jiwa dan kepala
orang.
Dengan langkah lebar Lie Ko Sianseng menuju kedua buah peti mati yang berjajar di ruangan
depan itu, tanpa melirik kepada Ciu-ong Mo-kai yang duduk bersila sambil minum arak di belakang
peti-peti itu. Dari saku dalam jubahnya yang lebar, jubah saudagar, Lie Ko Sianseng mengeluarkan
sebungkus dupa dan menyalakan dupa-dupa itu pada lilin yang bernyala di meja sembayang depan
peti. Lalu ia acung-acungkan hio itu di atas menghadapi peti mati dan mulutnya yang tadi
menyeringai sekarang bergerak-gerak, bibirnya kemak-kemik, matanya meram-melek. Sikapnya
lucu sekali akan tetapi uwak Lui dan dua orang pelayan memandang dengan hormat melihat
saudagar ini bersembahyang di depan peti mati majikan mereka.
“Ha ha ha!” Ciu-ong Mo-kai tertawa geli, kemudian ia bernyanyi sambil memukul-mukulkan guci
araknya pada peti mati untuk mengiringi nyanyiannya.
“Acung-acungkan hio, mulut berkemak-kemik
Pikir diputar-putar, mata melirik-lirik
Isi hati saudagar selalu mencari untung
Orang lain siapa bisa hitung?”
Kembali Ciu-ong Mo-kai tertawa-tawa sambil minum araknya. Wajah Swi-poa-ong Lie Ko
Sianseng menjadi makin merah dan untuk menutupi kejengkelannya karena disindir oleh raja
pengemis itu, saudagar ini lalu perdengarkan doanya, tidak lagi berkemak-kemik dan tidak berbunyi
seperti tadi.
Koleksi Kang Zusi
“Cia-enghiong, sungguh menyesal sekali sebelum sempat berkunjung memberi hormat, kau telah
meninggal dunia bersama nyonyamu. Semoga arwahmu dan arwah nyonyamu mendapat tempat
yang aman dan tenteram.”
Ia lalu menancapkan hio di tempat, bersoja dan duduk bersila di atas lantai, wajahnya
memperlihatkan kedukaan besar. Keadaannya demikian sungguh-sungguh membuat uwak Lui
terharu sekali.
Akan tetapi Ciu-ong Mo-kai menjenguk dari balik peti mati dan berkata, “Ah, makelar ulung! Kau
menyesal dan kecewa melihat Cia Sun mati, bukankah karena kau tidak bisa lagi mencatut
barangnya, sebuah surat wasihat ......?”
Tiba-tiba wajah saudagar itu berubah dan kini kelihatan bersemangat sekali. Ia memandang kepada
Ciu-ong Mo-kai dan suaranya lemah lembut, suara seorang saudagar yang sedang menjalankan
siasat menjual dagangan atau membeli dagangan atau untuk mencari untung.
“Ciu-ong yang baik, sudah lima tahun lebih tidak bertemu denganmu. Apakah baik-baik saja? Maaf
tadi aku tidak melihatmu karena terlalu sedih dan terharu melihat peti mati-peti mati Cia-enghiong
dan isterinya. Eh, Ciu-ong, terimalah sedekahku ini, dikumpulkan selama lima tahun walau sehari
setengah chi juga menjadi banyak. Terimalah!” Saudagar itu mengeluarkan sebuah uang emas dan
secara sembarangan melontarkannya ke arah Mo-kai.
Bagi orang lain yang berada di situ, tentu saja perbuatan ini dianggap royal sekali. Masa memberi
sedekah kepada seorang pengemis sampai sepotong uang emas yang harganya amat mahal? Akan
tetapi sebetulnya lemparan uang emas itu adalah sebuah tipu serangan dari ilmu menyambit Limchi-
piauw yang amat lihai. Selain dilontarkan dengan penggunaan tenaga lweekang yang tinggi,
juga mengarah jalan darah dan kiranya orang yang diserang takkan dapat menghindar lagi kalau
tidak memiliki kepandaian tinggi. Bagi Lie Ko Sianseng, penyerang ini bukanlah merupakan
penyerangan, lebih menyerupai kelakar untuk menguji kepandaian raja pengemis itu yang sudah
bertahun-tahun tidak ia jumpai.
Sinar kuning dari uang emas itu berkilat menyambar ke arah Ciu-ong Mo-kai. Pengemis maklum
bahwa saudagar gemuk itu hendak mengujinya, maka ia ulurkan tangan kanan dan menerima uang
emas itu. Terdengar suara “plekk!” dan ketika ia membuka tangan, uang emas itu telah berada di
telapak tangannya dalam keadaan gepeng seperti dijepit tang baja! Ini bisa terjadi karena sambitan
itu luar biasa kuatnya dan telapak tangan yang menyambut luar biasa kerasnya.
“Ha ha ha, dalam urusan dagang kau boleh pelit dan licik, akan tetapi menghadapi pengemis kau
menjadi dermawan. Ha ha ha, baik sekali kau, tukang catut!”
“Tidak apa, Ciu-ong. Di antara kita, mana perlu bersungkan-sungkan? Eh, raja pengemis, kau tadi
menyebut-nyebut tentang surat wasiat. Apakah maksudmu dengan itu?”
Pengemis itu tertawa bergelak. “Ha ha ha ha, Swi-poa-ong. Apakah kau kira aku ini anak kecil?
Jangan kau berpura-pura lagi. Muslihatmu sebagai seorang pedagang sudah kuketahui baik. Kau
kira tidak tahukah aku bahwa di antara semua orang yang mengobrak-abrik dan menggeledah
rumah keluarga Cia malam tadi, juga termasuk kau? Apa yang kau cari?”
Swi-poa-ong Lie Ko Sianseng menggerakkan jari-jari tangannya kepada alat hitungnya. “Trek trek
trek!” bunyi swipoa itu.
Koleksi Kang Zusi
“Angka satu hanyalah satu, angka nol tidak ada nilainya. Akan tetapi angka satu ditambah tiga nol
merupakan jumlah besar, apalagi kalau berupa potong uang emas. Jembel tua, apakah seribu potong
uang emas tidak cukup untuk membeli surat wasihat itu?” Saudagar aneh itu menepuk saku bajunya
yang gendut dan terdengarlah bunyi gemercing yang nyaring dan bening.
Ciu-ong Mo-kai Tang Pok membelalakkan matanya yang sipit. “Eh, makelar edan, apa kau sudah
gila?”
“Kau sudah menyebut edan, mana bisa gila lagi?” Lie Ko Sianseng berkelakar, sama sekali tidak
marah dimaki-maki oleh pengemis itu. Akan tetapi sepasang matanya masih bersinar kesungguhan.
“Apa kau mau melepas surat itu untuk seribu potong emas?”
Tang Pok menggelengkan kepalanya. “Kau tentu gila. Sepotong surat wasiat lapuk, biarpun
mengenai rahasia harta karun belum kau ketahui berapa banyak harta itu, juga apakah masih ada.
Lebih-lebih kalau dipikirkan bahwa segala macam surat wasiat belum tentu asli, mungkin bohong.”
“Seorang saudagar harus berani berspekulasi, untung atau buntung. Bolehkah?”
“Kau aneh ........”
“Jembel tua, seribu lima ratus!”
Tang Pok hanya menggeleng kepala. “Sinting kau .......!”
Lie Ko Sianseng kembali mencetrek-cetrekan swipoanya, mulutnya berkemak-kemik menghitung
angka, keningnya berkerut, peluhnya mengucur. Ia lalu berdiri dan mengebut-ngebutkan ujung
bajunya. “Dua ribu! Nah, dua ribu kutawar, jembel. Tidak ada orang kedua di dunia ini berani
menawar dua ribu. Emas tulen!” Kembali ia menepuk-nepuk kantung uangnya di saku jubahnya
yang lebar.
Ciu-ong Mo-kai Tang Pok menggeleng kepala dan juga berdiri. “Kamu mimpi. Melihatpun aku
belum surat wasiat itu. Aku hanya mendengar orang-orang lain dan kau yang gila harta itu
menyebut-nyebut perihal surat wasihat harta karun. Aku sendiri mana butuh?”
“Jadi tidak ada padamu?”
“Kalau ada padaku, jangankan dua ribu potong uang emas kautawarkan, untuk sepotong uang emas
saja akan kulemparkan kepadamu. Bodoh!”
“Setan!” Pedagang itu memaki, lalu cambuknya menyambar udara mengeluarkan bunyi “ tar tar
tar!” nyaring sekali. “Ciu-ong Mo-kai, tidak baik mempermainkan orang seperti aku. Kalau tidak di
depan jenazah Cia-enghiong dan isterinya, cambukku pasti akan menikmati pantat anjing.”
Tang Pok hanya mentertawakan saudagar itu yang sudah menjura di depan peti mati, lalu berjalan
terhuyung-huyung ke gerobaknya kembali, naik ke gerobak dan membentak keledainya. Gerobak
bergerak perlahan, diputar dan menuruni puncak.
Pada saat itu terdengar bunyi cecowetan dari dalam rumah dan ketika semua orang menengok,
ternyata Lim-ong monyet tua itu berlari keluar sambil memegang sebatang huncwe (pipa tembakau
panjang). Pipa itu mengebulkan asap dan dari mulut dan hidung monyet itu masih keluar asapnya,
sedangkan jalannya terhuyung-huyung seperti orang mabok!
Koleksi Kang Zusi
“Lim-ong, jangan kurang ajar. Kembalikan huncwe itu di tempatnya!” Uwak Lui memerintahkan
dengan bentakannya. Akan tetapi Lim-ong tidak menurut, malah melompat dari jendela dan
membawa huncwe itu.
Tang Pok tertawa sampai perutnya kaku melihat pemandangan lucu ini.
“Biarkan dia pergi. Monyet itu pintar sekali, pintar isap tembakau, dia lebih pintar dari pada Swipoa-
ong si makelar curang! Ha ha ha!”
Karena huncwe itu memang tidak dipakai, yaitu sebuah di antara barang peninggalan tuan tua Cia
Hui Gan yang ditaruh di meja sembahyang, maka uwak Lui dan dua orang pelayan itupun tidak
mau ambil pusing lagi. Dalam keadaan berkabung seperti itu, siapa sih mau perduli tentang hal ini
dan mau ribut-ribut karena sebatang huncwe yang dibawa lari monyet nakal! Juga Ciu-ong Mo-kai
yang biasanya bermata tajam sekali, karena kunjungan Lie Ko Sianseng tadi dan kini sibuk dengan
minum arak, tidak melihat bahwa tubuh monyet itu menderita luka dalam yang amat hebat dan
bahwa cara monyet itu mengisap huncwe adalah cara yang amat ganjil seakan-akan monyet itu
hendak mengobati lukanya dengan merokok!
Dengan bantuan dua orang pelayan, Ciu-ong Mo-kai lalu menguburkan dua peti mati itu di
belakang rumah, kira-kira satu li jauhnya dari gedung itu. Setelah selesai, ia lalu berkata kepada
uwak Lui dan dua orang pelayan.
“Mulai sekarang, semua barang dan rumah ini berada dalam kekuasaan bibi Lui dan kalian berdua
harus mentaati semua perintah bibi Lui. Boleh kalian pergunakan semua barang di sini sambil
memelihara dua orang anak keluarga Cia. Aku akan sering kali menengok ke sini dan kalau sudah
tiba masanya, anak Bi Eng akan menjadi muridku. Sementara itu, tentang perawatan dan pendidikan
dua orang anak ini kuserahkan kepada bibi Lui. Hah, selamat tinggal!” Ia lalu meninggalkan
sekantong uang yang membuat bibi Lui dan dua orang pelayan itu terbelalak heran. Dari mana
seorang pengemis mempunyai uang sebegitu banyak? Mereka tidak tahu bahwa Tang Pok bukanlah
sembarang pengemis.
****
Lima belas tahun telah lewat dengan amat cepatnya tanpa terasa oleh manusia. Anak-anak menjadi
dewasa, orang dewasa menjadi tua, dan yang tua kembali ke asalnya, lenyap dari permukaan bumi
diganti oleh manusia-manusia baru yang terlahir.
“Siauw-ong (raja kecil) ......! Siauw-ong, kembalikan pitaku. Kurang ajar kau ......! terdengar suara
nyaring dan merdu.
Seekor monyet jantan kecil berlari-lari membawa sehelai pita sutera merah. Monyet itu berlari
sambil jingkrak-jingkrak, lagaknya mempermainkan sekali. Di belakangnya mengejar seorang gadis
cantik manis berusia lima belas tahun. Gadis ini jelita sekali, kulit mukanya putih halus, pipinya
kemerahan dan matanya jeli seperti mata burung hong. Mulut yang kecil itu berbibir merah segar,
tubuhnya ramping dan pakaiannya biarpun sederhana, tapi bersih dan terbuat dari sutera.
Gadis ini sambil tertawa berlari lincah mengejar monyet itu yang dipermainkannya. Di kejar ke
sana lari ke sini, dikejar ke sini lari ke sana, memutari pohon sambil mencibir-cibirkan bibirnya
yang tebal. Mata kecil itu mencorong nakal, kadang-kadang ia ulurkan pita ke depan, akan tetapi
tiap kali hendak diambil gadis cilik ini, ia lari lagi.
Koleksi Kang Zusi
“Siauw-ong, kembalikan pitaku. Jangan nakal kau, nanti kupukul dengan ini!” Gadis itu lalu
mengambil sebatang ranting. Melihat ini, sambil mengeluarkan bunyi cecowetan, monyet itu
melompat dan memanjat pohon dengan amat cepatnya.
Gadis itu membanting-banting kakinya, kepalanya tergeleng membuat rambut yang terlepas pitanya
itu terurai, panjang sekali sampai ke bawah punggungnya, rambut yang hitam dan gemuk. Saking
gemasnya ia mulai menangis! Mudah saja gadis ini mengucurkan air mata yang membasahi kedua
pipinya.
Tiba-tiba ia mendengar suara monyet itu cecowetan tidak karuan dan ketika ia mengangkat muka
memandang monyet yang duduk di atas cabang pohon itu, seketika itu juga gadis yang tadi masih
menangis ini lalu tertawa terkekeh-kekeh! Ia melihat monyet itu mencoba untuk memakai pita
merah di kepalanya! Pemandangan ini memang amat lucu dan orang yang melihat tingkahnya yang
nakal tentu akan tertawa akan tetapi orang itu akan lebih heran melihat sikap gadis cantik manis ini
yang dapat menangis lalu tertawa pada saat itu juga, tertawa terkekeh dengan geli hati selagi air
matanya masih membasahi pipinya!
Namun, pemandangan lucu itu agaknya telah mengusir kemarahan dan kejengkelannya, ia
mengamang-amangkan tinjunya yang kecil ke atas sambil berkata.
“Siauw-ong, kalau kau tidak mau kembalikan pitaku, akan kulaporkan pada Sin-ko!”
Aneh, mendengar disebutnya “Sin-ko” (kakak Sin) ini, tiba-tiba monyet itu nampak ketakutan,
cepat-cepat ia merayap turun dan kedua tangan diulurkan dan tubuh membungkuk seperti orang
menghormat, ia sodorkan pita itu kepada pemiliknya! Gadis itu menerima pitanya dan mengeluselus
kepala monyet nakal itu. Dia amat cinta kepada monyet ini, kawan bermainnya semenjak kecil
di samping kakaknya.
Tentu pembaca sudah dapat menduga siapa adanya gadis cantik lincah, mudah menangis mudah
tertawa ini. Dia adalah Cia Bi Eng, puteri Cia Sun yang baru berusia tiga bulan ketika ayah
bundanya meninggal dalam keadaan yang amat mengerikan. Semenjak itu dia dan kakaknya, Cia
Han Sin, dirawat dengan amat teliti dan penuh kasih sayang oleh uwak Lui.
Ketika Bi Eng baru berusia setengah tahun, beberapa bulan semenjak peristiwa mengerikan itu
terjadi di puncak Min-san, pada suatu hari Lim-ong monyet betina tua datang terhuyung-huyung
menggendong seekor monyet kecil. Ia menurunkan monyet kecil itu di dekat Han Sin, kemudian
monyet tua itu roboh, berkelonjotan dan ...... mati! Uwak Lui menangis melihat ini karena monyet
itu adalah peliharaan Cia Sun yang amat disayang.
Semenjak monyet itu mencuri huncwe, ia tidak kelihatan lagi dan pada hari itu ia datang-datang
membawa seekor monyet jantan kecil dan mati di situ. Bangkai monyet itu dikubur tidak jauh dari
makam Cia Sun dan isterinya, sedangkan monyet kecil itu lalu menjadi kawan bermain Han Sin dan
Bi Eng. Uwak Lui memberinya nama Siauw-ong (raja kecil) untuk disesuaikan dengan nama
monyet tua Lim-ong (raja hutan).
Uwak Lui menganggap dua orang anak itu seperti anaknya sendiri. Ia merawat mereka penuh kasih
sayang, malah dengan bayaran mahal ia mendatangkan seorang guru untuk mengajar mereka.
Semenjak kecil, Han Sin, ternyata amat suka membaca buku, terutama cerita-cerita kuno dan kitabkitab
filsafat amat menarik hatinya. Sampai jengkel uwak Lui harus memenuhi permintaannya,
mencari dan membeli kitab-kitab itu.
Koleksi Kang Zusi
Baik ada Thio sianseng, guru anak-anak itu yang sebetulnya adalah seorang terpelajar, seorang
siucai yang tinggal di kampung dan tidak mau menerima jabatan pemerintah yang diam-diam
dibencinya. Memang hanya orang-orang yang berjiwa rendah saja yang tidak membenci pemerintah
penjajahan seperti pemerintah Boan-cu pada waktu itu. Lima tahun kemudian setelah dua orang
anak itu cukup pandai membaca menulis sehingga tidak ada yang harus diajarkan lagi, Thio
sianseng meninggalkan puncak itu.
Han Sin benar-benar luar biasa. Ia amat tekun membaca kitab-kitab. Bahkan kitab-kitab filsafat
yang berat-berat, yang akan memusingkan otak orang-orang tua kalau membacanya, telah ia baca
dan renungkan di waktu ia baru berusia belasan tahun! Ia tekun sekali dan inilah keistimewaannya,
berbeda dengan Bi Eng yang tidak sabaran belajar, gadis lincah gembira yang suka bermain di
udara bebas, tidak seperti Han Sin yang mengeram diri di dalam kamarnya, berkawan puluhan
kitab-kitabnya!
Selain suka membaca kitab, juga Han Sin wataknya pendiam, sabar, namun di dalam diamnya ini
ada semacam pengaruh dan wibawa yang amat kuat dalam sinar mata maupun suaranya yang halus.
Bi Eng amat bengal, tidak takut siapa-siapa, bahkan uwak Lui seringkali dibantahnya, apalagi
pelayan-pelayan lain. Akan tetapi menghadapi kakaknya yang amat dicintainya itu, ia amat penurut.
Uwak Lui sendiri amat menghormat tuan muda Han Sin yang selamanya tidak pernah bohong, tidak
pernah menjengkelkan hatinya karena sikapnya yang halus dan sopan, dan tidak banyak rewel.
Jangankan manusia, bahkan seekor binatang kera seperti Siauw-ong, yang seperti juga Bi Eng tidak
takuti siapa-siapa, menghadapi Han Sin menjadi mati kutunya, amat takut dan amat taat. Mungkin
pengaruh dan wibawa yang keluar dari diri Han Sin itu tidak hanya karena pembawaan pribadinya,
akan tetapi adalah karena ia suka sekali bersiulian (bersamadhi) yang ia pelajari menurut petunjuk
kitab-kitab kuno itu. Dengan latihan siulian yang tanpa kenal lelah, secara tidak disadarinya Han
Sin telah melatih tenaga dalam dan tenaga batinnya, mempunyai hawa tian-tan yang kuat dan
darahnya mengalir bersih sedangkan tulang-tulangnya menjadi kuat dan bersih pula.
Sebetulnya Han Sin orangnya juga amat peramah, mudah tersenyum jarang bermuram, apalagi
marah. Akan tetapi perasaan hatinya tidak pernah tergores pada mukanya yang amat tampan itu,
selalu tenang, sabar dan tak banyak cakap.
Itulah sebabnya mengapa Bi Eng lebih sering bermain-main dengan Siauw-ong, monyet itu. Dan di
dalam pergaulan sehari-hari ini terdapat suatu keanehan. Seringkali Bi Eng melihat Siauw-ong
mencak-mencak seperti orang main silat, memukul sana sini dan kakinya bergeser ke sana sini
secara teratur. Ia menamakan ini “tari monyet” dan sebagai seorang anak yang tidak mempunyai
kawan lain, iapun meniru-niru tarian monyet ini, meniru-niru gerak gerik Siauw-ong, memukul ke
sana ke mari, menggeser kaki ke sana ke sini, malah kadang-kadang meniru-niru tarikan muka
monyet itu, memoncong-moncongkan mulutnya yang mungil, malah meniru suara monyet yang
cecowetan tidak karuan itu. Dasar Bi Eng bocah centil dan lincah.
Ia sama sekali tidak tahu bahwa itulah gerakan ilmu silat keluarga Cia yaitu ilmu silat Thian-te-kun!
Monyet kecil itu dahulu meniru-niru gerakan yang suka “dimainkan” oleh Lim-ong dan sekarang
Bi-eng malah belajar ilmu silat keturunan keluarganya dari monyet kecil itu! Benar-benar hal yang
amat aneh. Sudah tentu saja gerakan-gerakan ilmu silat itu sudah kacau tidak karuan dan sudah
menyeleweng jauh dari pada gerakan aslinya, namun tetap saja masih memperlihatkan kelincahan
dan kecepatan yang membuat monyet kecil itu memiliki kecepatan melebihi monyet lainnya.
Ternyata bahwa pengemis aneh dahulu itu, Ciu-ong Mo-kai, agaknya melupakan janjinya karena
selama belasan tahun itu baru dua kali ia mengunjungi puncak Min-san. Yang terakhir ketika Han
Sin berusia sepuluh tahun dan Bi Eng berusia delapan tahun. Dua orang anak itu menyebutnya
Koleksi Kang Zusi
“Taisu”, ikut-ikut sebutan yang dipergunakan oleh uwak Lui kepada pengemis tua itu. Mereka
hanya mengenal pengemis itu sebagai “guru besar” yang amat ditakuti oleh Uwak Lui
Setelah dua orang anak itu berusia belasan tahun, baru uwak Lui bercerita kepada mereka tentang
kematian ayah bunda mereka. Dua orang anak itu menangis sedih mendengar cerita itu. Akan tetapi
ada perbedaan besar antara Han Sin dan Bi Eng ketika mendengar bahwa orang tua mereka mati
terbunuh orang yang tidak ketahuan siapa. Han Sin hanya menarik napas panjang dan berkata,
“Bagaimana di dunia ini ada orang begitu jahatnya membunuh ayah dan ibu? Apa kesalahan ayah
dan ibu?”
Sebaliknya Bi Eng berdiri dengan kedua tangan terkepal, mukanya merah dan matanya mendelik.
“Aku harus mencari penjahat-penjahat pembunuh ayah ibu! Mereka itu harus dihancurkan
kepalanya!”
Han Sin memandang adiknya dengan mata penuh teguran, “Bi Eng, apa yang kau katakan itu?”
Bi Eng sadar kembali dan menundukkan mukanya. Air mata mengalir di sepanjang pipinya. “Sinko,
ayah ibu dibunuh orang, apakah kita akan diam saja?”
Han Sin memeluk adiknya dan menghapus air mata dari pipi adiknya itu, “Percayalah, adikku.
Orang yang jahat akhirnya tentu akan menerima hukumannya!”
Demikianlah, sampai berusia lima belas tahun, Bi Eng selalu masih tetap panas hatinya kalau
teringat akan kematian ayah bundanya. Tidak ada cita-cita lain di dalam hatinya melainkan mencari
musuh-musuh itu dan membalas dendam. Sebaliknya, Han Sin lebih banyak bersembunyi di dalam
kamarnya dan tak seorangpun tahu apa yang dilakukan orang muda pendiam itu.
Kita kembali ke dalam taman di belakang gedung, di mana Bi Eng bermain-main dengan Siauwong.
Sampai hampir satu jam monyet dan gadis itu mencak-mencak di bawah pohon. Akhirnya Bi
Eng menjadi lelah dan jemu. Ia berhenti, duduk di atas sebuah batu putih dan mengikatkan pita pada
rambutnya.
“Siauw-ong, ah, aku lelah sekali .....!” katanya sambil tersenyum, manis sekali. Monyet kecil itu
masih saja mencak-mencak sambil cecowetan, agaknya gembira bukan main.
Tiba-tiba ada sinar putih melayang, menyambar ke arah gadis yang masih duduk dan menyusuti
peluh dari lehernya dengan sehelai saputangan itu.
“Awas ular!” terdengar seruan orang dan pandang mata Bi Eng yang awas memang tadi melihat
sinar putih itu belang-belang hitam seperti seekor ular yang menyambar ke arah kepalanya. Karena
ia seringkali melakukan “tari monyet”, otomatis kepalanya mengelak dan ular yang menyambarnya
itu tidak mengenainya. Ular belang itu terus merayap dan merambat ke pohon yang tumbuh di situ.
“Aneh .... heran sekali .....! dari mana kau belajar semua ini?” terdengar suara yang tadi berseru dan
dari balik batu muncullah Ciu-ong Mo-kai sambil tertawa-tawa.
Untuk sesaat Bi Eng berdiri bingung. Memang ia masih terkejut karena diserang ular tadi dan
sekarang tahu-tahu di depannya berdiri seorang pengemis tua yang memegang tempat arak sambil
tertawa-tawa. Ia bertemu dengan pengemis tua ini ketika ia berusia sepuluh tahun, akan tetapi
karena keadaan pengemis yang amat aneh ini, ia masih teringat.
Koleksi Kang Zusi
“Taisu ......,” katanya perlahan.
“Ah, kau Bi Eng,” Ciu-ong Mo-kai mengangguk-angguk. “Bagus,! Bagus! Tidak keliru
pandanganku dahulu. Kau berbakat baik sekali dan kiranya sekarang sudah terlampau lambat aku
membuang-buang waktu. Mulai saat ini kau harus rajin-rajin belajar ilmu silat yang hendak
kuturunkan semua padamu.”
Bi Eng sudah dapat menenangkan pikirannya dan ia kini memandang kepada pengemis itu dengan
mata terbelalak. “Apa .... apa katamu? Menjadi muridmu ......?”
Ciu-ong Mo-kai mengangguk lalu tertawa bergelak sambil menenggak araknya. Heran sekali,
belasan tahun telah lewat namun tidak kelihatan ada perubahan sedikitpun juga pada diri pengemis
tua ini. Padahal dalam waktu belasan tahun itu telah terjadi banyak sekali hal kepadanya dan di
dunia kang-ouw telah mengalami perubahan hebat. Selain itu, juga kakek jembel ini telah
mempertinggi ilmu kepandaiannya sehingga kalau dibandingkan dengan lima belas tahun yang lalu,
tingkat kepandaiannya sudah naik dua tiga tingkat lagi.
Bi Eng menatap pengemis itu dengan matanya yang bagus, dipandangi kakek itu dari kanan kiri,
dari atas bawah dan tiba-tiba ia tertawa terkekeh sambil menutupi mulutnya dengan punggung
tangan.
“Hik hik hik ....!”
Ciu-ong Mo-kai menurunkan guci araknya dan berusaha membuka matanya yang sipit itu selebar
mungkin. “Kau .... kaukah yang tertawa tadi?”
04. Persyaratan Murid Kepada Guru
SAMBIL menahan tawanya Bi Eng mengangguk, matanya berseri nakal. Dari belakang batu besar
terdengar suara ketawa lain, suara ketawa cecowetan dari monyet kecil! Tadi ketika ada ular
menyambar, monyet ini yang paling takut terhadap ular, sudah lari tunggang langgang bersembunyi
di balik batu besar. Baru setelah mendengar Bi Eng tertawa, monyet ini berani muncul!
Ciu-ong Mo-kai makin penasaran. Dia, tokoh terbesar dari selatan yang dianggap raja oleh puluhan
ribu pengemis, sekarang ditertawakan seenaknya oleh seorang gadis muda dan monyetnya.
“Apa-apaan kau tertawa?” bentaknya.
Sambil menahan geli hatinya, Bi Eng menjawab,
“Taisu yang baik, apakah aku mau kau hajar ........ mengemis dan minum arak?”
Ciu-ong Mo-kai membelalakkan matanya lagi dan sudah siap-siap hendak memaki marah kepada
bocah yang dianggapnya kurang ajar sekali itu. Akan tetapi melihat senyum yang wajar, sinar mata
yang penuh kejujuran memandang kepadanya, tahulah ia bahwa gadis itu tidak berpura-pura,
melainkan bicara sejujurnya. Sebaliknya dari marah, ia lalu tertawa bergelak sambil menenggak
araknya lagi dari guci arak.
Tiba-tiba ia menoleh dan mulutnya menyemburkan arak dari mulutnya. Ular belang yang tadi naik
ke pohon, dan pada saat itu merayap turun lagi terkena semburan arak itu dan jatuh dengan kepala
hilang karena kepala itu telah hancur terkena semburan arak!
Koleksi Kang Zusi
Tentu saja Bi Eng menjadi heran dan kaget sampai mengeluarkan seruan kecil. Ciu-ong Mo-kai
berpaling kepadanya. “Ha ha ha, Bi Eng anak baik, apa katamu sekarang?”
Akan tetapi gadis itu menggeleng kepalanya yang cantik. “Taisu, aku tidak suka belajar membunuh
ular. Apa sih artinya membunuh ular, apalagi kalau menggunakan arak? Melihat ularnya aku jijik,
minum araknyapun tidak suka.”
Ciu-ong Mo-kai maklum bahwa kata-kata ini menunjukkan bahwa Bi Eng memang sama sekali
tidak tahu akan ilmu silat. Bagi yang mengerti akan ilmu silat, tentu saja demonstrasi membunuh
ular dengan semburan arak itu sudah cukup membuktikan bahwa pengemis tua ini memang lihai
sekali.
“Ha ha, bocah bodoh. Kau kira kebisaanku hanya minum arak dan membunuh ular belaka? Lihat
ini?” Ia melangkah maju dan sekali kakinya terayun, batu hitam di belakangnya yang sebesar
gentong dan beratnya tidak kurang dari lima ratus kati telah ditendangnya sampai terlempar sejauh
lima tombak lebih! “Apa kau tidak ingin memiliki kepandaian seperti ini?”
Bi Eng membelalakkan matanya. “Untuk apa? Batu baik-baik ditempatnya kok ditendang pergi!
Aku tidak mau melakukan hal itu, tiada gunanya, malah merusak taman yang indah.”
Untuk sejenak Ciu-ong Mo-kai tercengang. Tak disangkanya gadis yang lincah gembira ini
demikian polosnya. Kembali ia mendemonstrasikan tenaganya. Dengan telapak tangan kiri,
ditamparnya batu putih sampai hancur berkeping-keping.
“Ahaiii ..... kau kuat sekali, taisu. Akan tetapi aku tidak mau menjadi tukang pukul batu.”
Ciu-ong Mo-kai sampai hampir menangis saking jengkelnya. Mukanya menjadi merah dan
diminumnya araknya sampai ia tersedak-sedak. “Bocah gemblung, bocah goblok! Kau berbakat
baik tapi buta. Seribu orang ngimpi-ngimpi ingin menjadi muridku, semua kutolak. Akan tetapi kau
malah mentertawakan aku, setan!”
“Aku tidak mentertawakan kau, taisu. Jangan kau marah, ya? Cuma saja, untuk apa aku menjadi
muridmu kalau hanya diberi pelajaran membunuh ular, menendang batu hitam dan memukul hancur
batu putih?” Pertanyaan ini keluar dari hati yang polos dan begitu jujur sehingga saking bingungnya
Ciu-ong Mo-kai menjatuhkan diri di atas tanah, bengong tak tahu harus berkata apa.
“Laginya, taisu,” kata pula Bi Eng sambil ikut-ikutan duduk di atas tanah depan pengemis itu.
“Menurut kata Sin-ko, orang belajar ilmu silat hanya mendatangkan malapetaka, menimbulkan
kerusuhan dan membuat orang jadi suka berkelahi saja. Tidak baik menurut kata Sin-ko dan Sin-ko
memang benar.”
Ciu-ong Mo-kai melongo. “Mengapa benar?”
Gadis itu menggoyang pundak. “Sin-ko selalu memang benar.”
“Siapa itu Sin-ko?” tanya pula kakek itu penuh curiga. Jangan-jangan ada orang luar yang
mempengaruhi anak ini, pikirnya. Kalau benar begitu, harus kuhajar!
“Sin-ko adalah kakakku, masa taisu sudah lupa lagi?
Ciu-ong Mo-kai makin terheran. “Kau maksudkan Cia Han Sin?” Melihat gadis itu mengangguk, ia
bengong. Bagaimana putera Cia Sun, cucu pahlawan besar Cia Hui Gan, keturunan orang-orang
Koleksi Kang Zusi
gagah yang menggegerkan dunia kang-ouw, seorang pemuda pula, bisa bicara seperti itu? Apakah
sudah lupa akan ayah bundanya yang terbunuh orang? Teringat akan ini, tiba-tiba ia mendapatkan
jalan untuk menggerakkan hati gadis ini agar suka menjadi muridnya.
“Eh, Bi Eng. Tahukah kau kenapa ayah bundamu mati?”
Bi Eng memandang dengan matanya yang tajam dan diam-diam Ciu-ong Mo-kai kagum dan
terkejut juga melihat sepasang mata yang luar biasa tajam dan liarnya ini.
“Kata uwak Lui, ayah dan ibu mati dibunuh orang,” jawabnya dan dalam suaranya terkandung
kemarahan yang ditahan-tahan. “Hanya belum diketahui siapa-siapa penjahat –penjahat celaka itu.”
Mendengar suara ini, Ciu-ong Mo-kai melompat berdiri dan menari girang. Ternyata gadis ini
mengandung dendam yang hebat akan kematian ayah bundanya! “Nah, ..... nah .... anak baik.
Apakah kau tidak ingin mencari pembunuh-pembunuh ayah bundamu dan membalas dendam?”
“Siapa mereka?” Tiba-tiba Bi Eng juga meloncat bangun dan lagi-lagi Ciu-ong Mo-kai terkejut
melihat betapa gerakan gadis itu amat cepat dan ringan, terlalu cepat bagi seorang gadis yang tak
pernah belajar silat. Tadipun ketika melihat gadis ini menari-nari dengan monyet kecil, ia sudah
terheran karena mengenal dasar-dasar ilmu silat keluarga Cia. Tadi dialah yang menyambit dengan
ular sambil memberi peringatan karena hendak menguji dan betul saja, gadis itu cukup lincah untuk
mengelak.
“Siapa mereka bisa dicari. Akan tetapi tahukah bahwa siapapun juga mereka itu, mereka adalah
orang-orang yang amat lihai dan kau hanya akan mengantar nyawa kalau kau tidak memiliki
kepandaian silat tinggi! Ayoh, sekarang jawab. Mau tidak kau menjadi muridku? Aku akan
memberi pelajaran ilmu silat sehingga kelak kalau kau bisa mendapatkan musuh-musuh besar itu
kau dapat membalas dendam atas kematian ayah bundamu!”
Bi Eng menundukkan mukanya. Benar juga ucapan kakek ini. Kalau orang sudah bisa membunuh
ular begitu gampang, menendang dan memukul batu, tentu ia memiliki tenaga besar. Kalau dia bisa
memiliki tenaga seperti itu, kelak kepala orang-orang yang membunuh ayah bundanya akan dapat ia
hancurkan.
“Aku mau, taisu, akan tetapi .........!”
“Tapi apa lagi?” Ciu-ong Mo-kai tak sabar.
Bi Eng menoleh ke belakang. “Siauw-ong, ke sinilah kau!” serunya dan monyet kecil itu yang sejak
tadi mengintai dari balik batu besar, mendengar panggilan Bi Eng barulah berani keluar dan
berindap-indap menuju ke tempat itu.
“Taisu, aku mau jadi muridmu belajar silat asal Siauw-ong juga kau terima menjadi muridmu.”
Pengemis tua itu melengak, akan tetapi melihat monyet itu atas isyarat Bi Eng lalu menjatuhkan diri
berlutut dan manggut-manggut di depannya, ia tersenyum. “Baiklah, dia boleh belajar
mengawanimu, akan tetapi aku tidak mau menjadi gurunya.”
Bi Eng berseri wajahnya. “Asal dia boleh sama-sama belajar, cukuplah, Dan lagi ........”
Koleksi Kang Zusi
“Masih ada lagi?” Ciu-ong Mo-kai membentak jengkel. “Ayoh katakan, syarat gila apalagi yang
hendak kau ajukan? Benar-benar runyam, bukan gurunya yang mengajukan syarat, malah muridnya.
Murid macam apa kau ini?”
“Taisu, kalau aku belajar ilmu silat, Sin-ko juga harus belajar. Apa lagi dia laki-laki, dia harus
menjadi muridmu pula.”
Ciu-ong Mo-kai ragu-ragu. Memang sudah sepatutnya kalau ia memberi pelajaran pula kepada
puteranya Cia Sun itu, akan tetapi sebetulnya dahulu ia mengharapkan Cia Han Sin akan menjadi
ahliwaris ilmu silat keluarga Cia. Ia lebih suka kepada Bi Eng, merasa lebih berjodoh menjadi guru
anak ini. Semenjak Bi Eng masih bayi perasaan ini sudah berada dihatinya.
“Hemm, terserah padanya. Boleh saja kalau dia suka. Sebetulnya kau lebih berjodoh menjadi
muridku,” jawabnya lalu menegak araknya.
“Taisuhu, kau hendak mengajar ilmu silat kepada Bi Eng untuk apa?” tiba-tiba terdengar suara dan
muncullah Han Sin sambil membawa sebuah kitab tebal.
“Sin-ko kau di sini juga? Lihat, taisuhu hendak mengajar kita. Dia kuat sekali, Sin-ko. Ular
dibunuhnya dengan semburan arak, batu-batu besar ditendang jauh dan dipukul hancur,” kata Bi
Eng dengan wajah girang sambil menghampiri kakaknya dan menggandeng tangan kanan kakaknya
dengan penuh kasih sayang.
Ciu-ong Mo-kai menurunkan guci araknya mendengar teguran tadi dan ia menengok. Dilihatnya
bahwa Han Sin telah menjadi seorang pemuda tanggung yang bertubuh tinggi sedang, malah agak
kurus, wajahnya tampan sekali dan mulutnya tersenyum tenang. Akan tetapi ketika pandang mata
pengemis tua ini bertemu dengan pandang mata Han Sin, Ciu-ong Mo-kai terkejut sekali. Tadi ia
sudah kagum melihat sinar mata Bi Eng yang amat tajam, akan tetapi sekarang bertemu pandang
dengan pemuda ini, ia merasa seakan-akan matanya pedas dan terpaksa ia mengejap-ngejapkan
mata karena tidak tahan lagi.
“Ayaaa ........! serunya perlahan. Mata seperti itu hanya dimiliki orang yang sudah mencapai tingkat
tertinggi dalam ilmu lweekang! Ia teringat akan ini dan kembali ia menggunakan kekuatan matanya
menatap wajah dan sinar mata pemuda itu. Ia melihat pemuda itu memandangnya tenang saja, akan
tetapi mata itu! Mata itu mencorong dan mengandung daya kekuatan yang luar biasa sekali,
membuat Ciu-ong Mo-kai sampai menitikkan dua airmata ketika ia bertahan untuk tidak berkejap!
Akhirnya ia tundukkan mukanya dengan penuh keheranan dan untuk menutupi perasaannya yang
terguncang, pengemis itu menenggak lagi araknya.
“Sin-ko, taisu hendak mengajar ilmu silat kepada kita agar kita memiliki kepandaian untuk kelak
mencari pembunuh-pembunuh ayah-ibu dan membalas dendam!” terdengar lagi ucapan Bi Eng
penuh gairah dan mata yang bening itu memandang wajah kakaknya dengan seri gembira.
Han Sin menarik napas panjang dan mengelus-elus pundak adiknya. “Eng-moi, hanya jurang
kesengsaraanlah yang dituju oleh langkah kaki yang terikat oleh dendam dan benci. Pembunuhpembunuh
orang tua kita memang telah melakukan perbuatan yang jahat dan buruk. Akan tetapi
bukan kita hakimnya. Biarlah hidup mereka kelak menjadi hakim bagi mereka sendiri.”
Ciu-ong Mo-kai melongo mendengar ucapan yang bagi Bi Eng sudah tidak asing lagi itu. Memang
biasa Han Sin bicara penuh kesabaran, penuh filsafat-filsafat dari kitab-kitabnya. Ketika Ciu-ong
Mo-kai melirik ke arah kitab di tangan pemuda itu, tahulah ia bahwa saking banyak membaca kitab
Koleksi Kang Zusi
tanpa ada yang memberi petunjuk, agaknya pemuda ini telah menjadi kutu buku dan jalan
pikirannya terkurung seluas lembaran-lembaran bukunya saja.
“Omongan apa itu?” bentaknya. “Pembunuh adalah orang jahat dan kiranya bukan orang tua-tua
kalian saja terbunuh, penjahat-penjahat harus dibasmi dan kalau tidak memiliki kepandaian,
bagaimana bisa membasminya? Harimau tanpa gigi dan kuku, mana bisa menjaga kulitnya?
Manusia tanpa kepandaian, apa bedanya dengan monyet? Han Sin, kau selalu tinggal di sini, tidak
tahu keadaan di dunia ramai. Ketahuilah bahwa di sana, siapa lemah dia terhina.”
Han Sin memandang kepada pengemis tua itu dengan tenang dan tersenyum. “Taisu, maaf kalau
aku terpaksa membantah pandangan taisu. Menurut pendapatku yang bodoh, membasmi kejahatan
tak dapat dilakukan dengan kekerasan, melainkan dengan kebenaran dan cinta kasih. Harimau
menjaga kulit dengan gigi dan kuku, akan tetapi manusia menjaga namanya dengan pribudi baik,
bukan dengan pukulan dan tendangan. Orang terhina atau tidak bukan karena kepandaiannya,
melainkan karena sikapnya, karena wataknya.”
Untuk sejenak mata pengemis itu terbelalak, kemudian ia tertawa bergelak. Suara ketawanya yang
penuh tenaga khikang itu sampai bergema di seluruh puncak. Siauw-ong sampai lari terbirit-birit
ketakutan sambil menutupi telinganya. Akan tetapi melihat betapa Han Sin dan Bi Eng tidak lari,
iapun merayap-rayap kembali lagi sambil memandang ke arah pengemis itu dengan takut-takut.
“Ha ha ha ha! Kalau tidak melihat sendiri, aku takkan percaya bahwa ucapan ini keluar dari mulut
putera keluarga Cia, cucu pahlawan rakyat Cia Hui Gan yang gagah perkasa, putera Cia Sun
pendekar budiman yang terkenal di seluruh dunia! Lebih pantas keluar dari mulut seorang hwesio
yang alim. Ha ha ha!”
“Taisu, omongan Sin-ko adalah betul sekali. Kenapa kau mentertawainya?” Bi Eng membela
kakaknya. Ia amat cinta kepada kakaknya ini, maka tidak senang ia melihat kakaknya ditertawai
orang.
“Cia Han Sin, lihat baik-baik. Adikmu ini lebih wajar, lebih gagah menuruni sifat keluargamu.
Melihat kakaknya diserang oleh tertawaan, ia sudah marah dan hendak membela. Andaikata kau
diserang orang jahat dengan pukulan, bagaimana adikmu akan membelamu kalau dia tidak
mempunyai kepandaian silat?”
“Adikku pemarah, harap taisu maafkan,” kata Han Sin merendah.
“Sayang ..... kau anak baik terlalu tenggelam di antara kitab-kitabmu. Orang sabar dan mengalah
adalah baik sekali. Akan tetapi kalau berlebihan, ada bahayanya menjadi pengecut dan menjadi
orang yang tidak tahu akan harga diri dan kehormatan. Han Sin, kalau semua orang baik seperti kau
sikapnya, mana bisa muncul patriot-patriot, mana bisa muncul orang-orang gagah, dan mana bisa
negara dan bangsa menjadi kuat? Mengelus dada menerima nasib mengandalkan kesabaran dan
mengalah bukanlah laku yang budiman! Melihat orang jahat tanpa berusaha membasminya, sama
saja dengan membantu orang jahat itu! Rakyat kita sengsara, apa lagi pada waktu ini sedang
ditindas oleh pemerintah penjajah. Kalau tidak ada orang-orang gagah yang membela mereka, siapa
lagi? Para dewata takkan mampu mengangkut mereka dari lembah kesengsaraan.”
Han Sin mengerutkan kening. Inilah kata-kata baru yang belum pernah ia jumpai dalam kitabkitabnya.
Akan tetapi ia tidak membantah, hanya mendengarkan terus dan sepasang matanya yang
luar biasa itu menatap wajah Ciu-ong Mo-kai yang tidak kuat lama-lama menentang pandang
matanya.
Koleksi Kang Zusi
“Memang tidak seharusnya orang yang berkepandaian itu berlaku sewenang-wenang mengandalkan
kepandaiannya. Akan tetapi, mengalah dan sabarpun ada batasnya dan harus lihat-lihat kepada siapa
kita berhadapan. Kalau kau melihat rakyat dirampoki para penjahat yang mengandalkan ketajaman
golok dan kekerasan tangan, apa yang hendak kau perbuat? Apakah kau akan mendatangi
perampok-perampok itu dan menggunakan kata-kata indah berfilsafat yang kau petik dari kitabkitabmu?
Ah, kau akan ditertawai, malah mungkin akan dibacok mati. Menghadapi kejahatan
seperti itu, jalan satu-satunya hanyalah membasmi mereka dan untuk dapat melakukan ini, kau
harus memiliki kepandaian silat untuk melawan mereka, kau masih dapat membujuk mereka untuk
kembali ke jalan yang benar. Akan tetapi, tanpa mengalahkan dulu mereka, mana mereka sudi
menurut nasehatmu?”
Han Sin memiliki kecerdikan yang luar biasa. Memang selama belasan tahun ini ia mengeram diri
dalam kamar bersama kitab-kitabnya, maka alam pikirannya seluruhnya dipengaruhi oleh filsafatfilsafat
kuno. Akan tetapi setelah mendengar ucapan Ciu-ong Mo-kai sebentar saja ia sudah dapat
menangkap isinya dan dapat membenarkannya.
“Baiklah, moi-moi. Kau boleh belajar ilmu silat dari taisu,” katanya sambil memegang lengan
adiknya.
“Siauw-ong juga,” adiknya berkata manis.
“Siauw-ong? Han Sin tersenyum. “Tanpa belajar ia sudah pandai bersilat.”
“Dan kau juga, koko,” kata Bi Eng manja sambil menarik tangan kakaknya.
“Aku ........?”
“Ya, kalau kau tidak mau, akupun tidak mau.”
Han Sin kewalahan. Ia sudah menyetujui adiknya belajar silat. Kalau dia menolak, berarti dia
menarik kembali persetujuannya.
“Baiklah, baiklah, Aku akan mencatat semua pelajaran itu.”
Pada saat itu, Siauw-ong sibuk mencokel-cokel tanah di belakang batu hitam yang besar. Dia tadi
melihat seekor jengkerik di belakang batu. Ketika hendak ditangkap, jengkerik itu masuk ke dalam
lubang dan dicokel-cokelnya tanah untuk menangkap jengkerik. Batu besar itu berada di tanah yang
miring dan tidak disangka sama sekali ketika bawahnya dicokel-cokel, tiba-tiba batu itu
menggelinding turun dan akan menimpa monyet itu.
Siauw-ong memekik keras dan cepat meloncat lari. Celakanya, ia lari ke bagian bawah sehingga
terus dikejar batu besar yang menggelinding cepat sekali.
Han Sin berada terdekat dari tempat itu. Pemuda ini, di luar sangkaan sama sekali dan amat
mengejutkan hati Ciu-ong, melompat ke depan dan tangan kanannya mendorong batu besar yang
sedang menggelinding cepat mengejar Siauw-ong.
“Han Sin, jangan!” Ciu-ong Mo-kai berseru keras mencegah karena ia maklum bahwa batu besar
yang menggelinding itu mengandung tenaga ratusan kati dan Han Sin pemuda lemah itu tentu akan
patah tulang lengannya kalau berani mendorong untuk mencoba menolong monyet itu. Sambil
berseru mencegah iapun berkelebat ke arah batu itu.
Koleksi Kang Zusi
Bukan main herannya hati Ciu-ong Mo-kai ketika melihat betapa batu besar itu menggelimpang,
terlempar oleh dorongan kedua tangan Han Sin dan karenanya menyelamatkan Siauw-ong. Makin
heran dan terkejut lagi hati pengemis tua itu ketika ia memukul batu itu, batu menjadi hancur dan
ternyata bahwa di bagian dalam batu besar itu sudah remuk sebelum ia memukulnya! Hebat sekali!
Benarkah Han Sin tidak hanya mendorong batu itu terpental, malah dengan dorongannya itu
biarpun batu masih utuh akan tetapi di sebelah dalamnya sudah remuk? Tak mungkin! Untuk
memukul hancur batu itu, dia Ciu-ong Mo-kai masih sanggup lakukan, akan tetapi mendorong batu
begitu saja dan membikin remuk bagian dalam batu itu, hemmm, kiranya hanya dapat dilakukan
oleh orang yang tenaga lweekangnya sudah hampir sempurna!
Selagi Ciu-ong Mo-kai tertegun menatap batu yang sudah hancur itu, tiba-tiba Bi Eng menjerit dan
menangis. Ia cepat menengok dan melihat Han Sin sudah menggeletak pingsan, wajahnya pucat
sekali! Bi Eng menubruk kakaknya, mengangkat kepala Han Sin ke atas pangkuan dan sambil
menangis panik memanggil-manggil, “Sin-ko ....! Sin-ko ...., kau kenapakah, Sinko? Bangunlah
.......!”
“Bi Eng, tenanglah. Dia tidak apa-apa, coba kau lepaskan dan biarkan dia berbaring hendak ku
periksa!” kata Ciu-ong Mo-kai dengan suara keren. Bi Eng menurut, melepaskan kepala Han Sin
dari atas pangkuannya dan ia berlutut di pinggir memandang dengan cemas.
Siauw-ong juga datang mendekat dan mengeluarkan bunyi lirih seperti orang menangis ketika
melihat Han Sin tak bergerak, telentang pucat seperti mayat.
Ciu-ong Mo-kai menghampiri Han Sin dan melakukan pemeriksaan, menekan urat nadi dan meraba
dada. Alangkah kagetnya ketika dari tubuh pemuda itu memancar hawa yang membuat ia tergetar
dan terpaksa ia mengerahkan tenaga lweekangnya untuk menahan datangnya hawa yang merupakan
tenaga dahsyat yang berbahaya itu. Ia lalu menekan pusar pemuda itu dan makin besar
keheranannya. Ternyata pemuda ini memiliki kekuatan besar dalam tubuhnya. Hawa dalam
tubuhnya panas dan kuat sekali. Jalan darahnya bersih dan tulang-tulangnya sempurna. Hebat! Dari
mana pemuda ini bisa mendapatkan kekuatan seperti ini?
“Tenaga tian-tan di pusarnya telah terlatih kuat, malah ia sudah dapat memusatkan hawa dan jalan
darahnya,” pikirnya terheran sambil meraba-raba. “Pantas saja tadi dorongannya dapat membikin
remuk bagian dalam batu itu. Agaknya dia ini tanpa disengaja telah melatih diri dengan semacam
lweekang yang mujizat dan ia menjadi seorang ahli lweekeh tanpa ia sadari sendiri. Karena
dasarnya tidak terlatih dan ia tidak tahu cara mempergunakannya, maka tadi tenaga lweekang yang
ia gunakan di luar kesadarannya dalam usahanya menolong monyet, membalik dan melukai dirinya
sendiri.”
Sampai lama Ciu-ong Mo-kai termenung. Benar-benar telah terjadi sesuatu yang hebat. Putera
keluarga Cia tanpa disadarinya sendiri telah memiliki modal ilmu kepandaian yang mujizat, dan
anak ini sama sekali tidak suka akan ilmu silat. Aneh sekali. Dengan penuh ketelitian pengemis
sakti itu lalu mengurut dada Han Sin, membuka jalan darah di sana sini untuk menormalkan
kembali gunjangan hebat yang timbul dari tenaga dahsyat yang dikeluarkan oleh Han Sin tanpa
disadarinya itu. Kemudian ia menghancurkan sebuah pil merah dengan arak dan menuangkan arak
itu ke dalam mulut Han Sin.
Akhirnya pemuda itu siuman dan bangun sambil terbatuk-batuk. Begitu ingat lalu mencari
monyetnya. Melihat Siauw-ong duduk di situ dengan muka sedih akan tetapi dalam keadaan
selamat, Han Sin berkata perlahan.
Koleksi Kang Zusi
“Berbahaya sekali batu itu, Siauw-ong. Lain kali jangan nakal kau. Untung kau tidak tertimpa
batu.”
Saiuw-ong nampak girang, melompat dan duduk di pangkuan pemuda itu. Bi Eng juga girang.
Dengan air mata berlinang ia memegang tangan kakaknya.
“Sin-ko, kau tadi pingsan dan baiknya ada taisu yang menolongmu sampai kau bisa sembuh
kembali.”
Han Sin memandang kepada Ciu-ong dengan bertanya. Memang ia tidak ingat akan apa-apa yang
terjadi dengan dirinya dan tidak tahu pula sebabnya ia sampai pingsan.
“Han Sin, sekali lagi terbukti bahwa pandanganku tentang ilmu silat lebih cocok. Kau tadi melihat
Siauw-ong terancam bahaya, lalu cepat berusaha menolong dan mendorong batu .........”
“Bagaimana Siauw-ong bisa selamat?” Han Sin memotong, kini terheran setelah teringat semua
akan peristiwa tadi.
“Kau mendorong batu malah roboh pingsan dan batu itu dipukul hancur oleh taisu,” kata Bi Eng.
“Nah, terbuktilah, Han Sin. Andaikata kau memiliki ilmu silat, tentu kau dapat menolong Siauwong
atau siapa saja yang terancam bahaya, bukan? Juga, andaikata kau telah mempelajari ilmu silat,
tentu kau takkan pingsan. Eh, apakah kau belum pernah belajar silat?” tanya Ciu-ong Mo-kai sambil
menatap tajam dengan pandang mata mengukur dan menyelidik.
Han Sin menggeleng kepala. “Kesukaanku satu-satunya hanya belajar memahami kitab-kitab.”
Kemudian ia bertanya, “Mengapa taisu bertanya begitu?”
“Karena kau memiliki keberanian dan kegagahan, tidak mengenal tenaga sendiri dengan nekat
mendorong batu untuk menolong Siauw-ong,” jawab Ciu-ong menyimpang dan memancing.
“Aku ngeri dan kasihan melihat Siauw-ong akan tertimpa batu, maka tanpa ingat kelemahan sendiri
aku berusaha menolongnya,” jawab Han Sin dan ucapan ini demikian sungguh-sungguh sehingga
kini yakinlah Ciu-ong Mo-kai bahwa pemuda ini memang betul-betul tidak mengerti bahwa dia
mempunyai tenaga lweekang dan hawa sakti (Sin-kang) di dalam tubuhnya yang mujizat.
Tiba-tiba Siauw-ong mengeluarkan seruan seperti ketakutan dan Ciu-ong Mo-kai yang sudah
memiliki pendengaran tajam sekali menangkap suara beberapa orang mendaki puncak itu. Siauwong
dapat mencium bau mereka dan Ciu-ong dapat menangkap tindakan kaki mereka. Han Sin dan
Bi Eng tidak mendengar apa-apa maka mereka heran melihat Siauw-ong cecowetan seperti
ketakutan.
“Ada orang datang, “ kata Ciu-ong dan mereka semua berdiri. Siauw-ong segera meloncat ke
pundak Han Sin sambil menyembunyikan mukanya di belakang kepala pemuda itu.
Betul saja, tak lama kemudian muncullah tiga orang laki-laki dari balik batu-batu putih. Mereka ini
adalah tiga orang yang bertubuh tinggi besar, bermuka gagah dan kepala mereka terbungkus kain
panjang yang dilibat-libatkan. Di Punggung mereka tampak gagang pedang dengan ronce-ronce
merah.
Koleksi Kang Zusi
Begitu tiba di situ, tiga orang itu memandang ke arah Cia Han Sin dan Cia Bi Eng dengan pandang
mata tajam menyelidiki, lalu melirik tak acuh kepada pengemis tua, kemudian sekilas mereka
memandang ke arah gedung besar keluarga Cia.
Han Sin sebagai tuan rumah, segera melangkah maju dan menuju kepada tiga orang laki-laki asing
itu. “Sam-wi datang ke sini hendak mencari siapakah?” Suaranya tenang dan penuh hormat.
Tiga orang itu saling pandang, lalu bicara pendek dalam bahasa yang tidak mengerti oleh Bi Eng
maupun Ciu-ong Mo-kai. Akan tetapi, alangkah kagetnya Ciu-ong Mo-kai ketika Han Sin
menjawab orang-orang itu dengan bahasa asing yang sama! Ternyata bahwa orang-orang itu adalah
bangsa Hui yang bicara dalam bahasa Hui.
Han Sin ketika “bertapa” di dalam kamarnya selama belasan tahun ini, tidak saja mempelajari
filsafat dari kitab-kitab kuno, juga ia telah mempelajari bahasa-bahasa asing yang macam-macam,
diantaranya bahasa Hui. Tentu saja Bi Eng tidak merasa heran karena ia sudah tahu dan percaya
penuh akan kepintaran kakaknya yang dianggapnya bisa segala itu! Maka ia memandang dengan
kagum dan bangga.
Tiga orang Hui nampak tercengang akan tetapi seorang di antara mereka yang berkumis pendek lalu
berkata dalam bahasa Han yang kaku dan lambat, “Hemm, kiranya kau mengerti juga bahasa kami?
Kalau begitu, tak usah kami memperkenalkan diri lagi. Kami memang bangsa Hui dan kedatangan
kami ini hendak mencari anak-anak keturunan Cia Sun.”
Mendengar ini, Bi Eng melangkah maju dan berkata gembira, “Akulah anak Cia Sun, dia ini yang
pintar adalah kakakku, namanya Cia Han Sin dan aku bernama Cia Bi Eng. Kakek ini adalah guru
kami, namanya ...... namanya ..... biasanya disebut taisu!” Bi Eng memang belum tahu nama
gurunya.
Wajah tiga orang berubah, kelihatan beringas. Yang berkumis pendek kini menoleh dan
menghadapi Ciu-ong Mo-kai dengan sikap mengancam. Karena diperkenalkan sebagai guru dua
orang anak itu, kini ia tidak memandang tak acuh lagi.
Kawan-kawan, tangkap dua anak kambing itu, biar aku mengusir anjing gembala ini!” katanya.
Karena ia bicara dalam bahasa Hui, Ciu-ong Mo-kai tidak mengerti artinya, akan tetapi ia sudah
siap siaga maka ketika si kumis itu menerjangnya dengan pedang dihunus, ia dapat mengelak
dengan mudah. Dari sambaran pedang ia mendapat kenyataan bahwa orang Hui ini lihai juga, maka
pengemis sakti itu khawatir sekali akan keselamatan dua orang muridnya.
Ia menggerakkan guci araknya menangkis pedang sambil menyemburkan arak ke arah muka si
kumis. Terdengar suara keras dan pedang itu terlepas jauh. Akan tetapi si kumis dapat mengelak
dari serangan semburan arak dan tiba-tiba tangan kirinya melayang, memukul ke arah dada dengan
telapak tangan dimiringkan. Pukulannya keras sekali dan angin pukulannya menunjukkan kekuatan
lweekang yang hebat.
Ciu-ong Mo-kai mengangkat tangan menangkis. Dua lengan yang kuat bertemu dan si Kumis
terlempar ke belakang, terhuyung-huyung dan mengeluh kesakitan.
Pada saat itu terdengar teriakan-teriakan kesakitan dan ketika Ciu-ong Mo-kai memutar tubuh untuk
menolong dua orang muridnya, ia melihat dua orang Hui yang hendak menangkap Han Sin dan Bi
Eng, juga terlempar ke belakang, jatuh dan bangun lagi sambil memegangi tangan kanan mereka
yang sudah patah-patah tulangnya.
Koleksi Kang Zusi
Si Kumis berseru dalam bahasa Hui mengajak kawan-kawannya lari dan tanpa menoleh lagi
ketiganya lari sifat kuping, meloncat-loncat di atas batu putih. Ciu-ong Mo-kai hendak mengejar,
akan tetapi Han Sin menahan, “Suhu, biarkanlah mereka pergi. Kelak mereka akan menyesal sendiri
atas perbuatan-perbuatan mereka yang tidak selayaknya.”
Ciu-ong Mo-kai tertegun. Baru kali ini ia diperintah orang dan orang itu adalah ..... muridnya
sendiri! Akan tetapi karena terlalu heran melihat dua orang tadi yang dari gerakan-gerakannya ia
dapat menduga tidak kalah pandai dari pada si kumis, ternyata terpukul mundur sampai patah-patah
tulangnya, ia segera menoleh dan menghampiri Han Sin.
“Yang dua orang tadi itu ..... bagaimana mereka tidak jadi menangkap kalian?” tanyanya.
Han Sin kelihatan bingung, tidak tahu harus menjawab bagaimana. Bi Eng yang tertawa geli sambil
berkata, “Suhu, dua orang itu adalah badut-badut yang lucu. Mereka tadinya hendak menangkap
aku dan Sin-ko. Akan tetapi Sin-ko membentak mereka supaya jangan kurang ajar. Eh, dibentak
begitu saja mereka lalu lari terbirit-birit. Entah ia takut akan bentakan Sin-ko ataukah takut melihat
Siauw-ong dipundak Sin-ko meringis hendak menggigit mereka.”
“Han Sin, kau apakan mereka tadi?” tanya Ciu-ong kepada Han Sin, kini memandang tajam dan
kembali timbul kecurigaannya kalau-kalau pemuda ini diam-diam menyimpan kepandaian yang
dirahasiakan.
“Sesungguhnya tepat seperti yang diceritakan oleh Eng-moi, suhu. Teecu tidak berbuat apa-apa.
Ketika melihat mereka menangkap moi-moi, teecu membentak mereka dan melarang mereka
berbuat kurang ajar. Mereka malah seperti mencengkeram atau memukul ke arah lengan teecu yang
melarang mereka. Entah mengapa, mereka lalu mundur dan lari.” Ketika bicara demikian, Han Sin
melihat ke arah lengan kanannya yang tadi terpukul dan matanya terbelalak. Kiranya bajunya di
bagian lengan sudah robek-robek dan hancur. “Eh, mereka malah merusak bajuku ........”
Ciu-ong Mo-kai melihat lengan pemuda yang berkulit halus dan putih itu sama sekali tidak terluka
dan ia menarik napas panjang, penuh kekaguman. Benar-benar pemuda ini memiliki kesaktian hebat
yang tidak diketahuinya sendiri. Ia sekarang mengerti. Tadi diwaktu menahan dan mendorong batu,
pemuda yang belum mempunyai dasar ini terkena hawa pukulannya sendiri maka ia roboh pingsan.
Sekarang, karena ia tidak menggunakan tenaga dan ada dua orang menyerangnya atau setidaknya
hendak mencengkeram dengan tenaga lweekang, maka otomatis dua orang Hui itu menjadi korban
tenaga mujizat dari lengan pemuda ini sehingga sekali bertemu saja tangan mereka sampai patahpatah
tulangnya! Dan pemuda ini sama sekali tidak mengerti!
Diam-diam Ciu-ong Mo-kai menjadi girang sekali. Dia adalah seorang pendekar gagah yang sejak
dahulu amat kagum dan menjunjung tinggi kepahlawanan Cia Hui Gan dan Cia Sun. Sekarang
keluarga Cia mempunyai keturunan yang demikian hebat, benar-benar merupakan anugerah besar.
Akan tetapi ia sangsi melihat sikap Han Sin, ia tidak berani membuka rahasia pemuda itu karena
melihat betapa Han Sin benar-benar tidak suka akan ilmu silat. Pemuda itu benar-benar telah
menjadi seorang yang penuh welas asih, halus dan tidak suka kekerasan.
Demikianlah dengan amat tekun dan menggunakan sistem kilat, Ciu-ong Mo-kai menurunkan ilmu
kepandaiannya kepada Bi Eng, Han Sin dan Siauw-ong. Akan tetapi yang betul-betul ia pimpin
hanyalah Bi Eng yang langsung berlatih dan belajar dibawah pimpinannya. Siauw-ong, monyet
kecil itu hanya ikut-ikut saja kalau Bi Eng berlatih silat.
Koleksi Kang Zusi
Dan bagaimana dengan Han Sin? Lebih aneh dan lucu dari Siauw-ong. Pemuda ini kalau Bi Eng
menerima pelajaran dan berlatih, dia sendiri tidak ikut berlatih melainkan duduk di bawah pohon
membawa sebuah buku kosong dan alat tulis. Ia mencatat semua pelajaran teori, dan mencoret-coret
menggambar Bi Eng bersilat dalam pelbagai gerakan.
Lukisannya amat tepat, malah pada suatu waktu ketika Ciu-ong Mo-kai melihat lukisan itu, ia
menggelengkan kepalanya karena gerakan-gerakan orang bersilat dalam lukisan itu demikian
sempurna sehingga dia sendiri kiranya tidak akan mungkin melakukan gerakan lebih baik lagi dari
pada gerakan gambar orang bersilat itu. Diam-diam ia ngeri juga melihat Han Sin dan harus
mengakui bahwa pemuda ini benar-benar seorang anak ajaib yang berwatak aneh dan
berkepandaian aneh pula.
Ciu-ong Mo-kai adalah seorang tokoh kang-ouw yang semenjak mudanya tidak pernah menikah,
juga tidak pernah menerima murid yang ia warisi semua kepandaiannya yang luar biasa. Memang
benar banyak murid-muridnya, yaitu tokoh-tokoh pengemis kang-ouw yang kini menjadi jago-jago
di daerah selatan bahkan tersebar luas di beberapa daerah. Akan tetapi ilmu silatnya yang tunggal,
yaitu ilmu silat Liap-hong-sin-hoat (Ilmu Kesaktian Mengejar Angin) tak pernah ia turunkan kepada
siapapun juga.
Malah di antara tokoh-tokoh pengemis yang menjadi pangcu (ketua) perkumpulan-perkumpulan
pengemis dan pernah menerima petunjuk-petunjuknya dan mengaku menjadi muridnya, hanya
beberapa orang saja yang pernah melihat Ciu-ong Mo-kai mainkan Liap-hong-sin-hoat ini, baik
bertangan kosong, menggunakan tongkat dan senjata lain. Memang ilmu silat Liap-hong-sin-hoat
ini dapat dimainkan dengan tangan kosong maupun dengan senjata apa saja, karena pada
hakekatnya ilmu silat bersenjata adalah cabang dari pada ilmu silat tangan kosong.
Akan tetapi kali ini, dengan sepenuh hati dan rela Ciu-ong Mo-kai menurunkan Liap-hong-sin-hoat
kepada Bi Eng! Nona muda inipun amat cerdik dan memang bakatnya baik sekali sehingga dengan
cepat ia dapat mewarisi ilmu silat tunggal yang ampuh itu. Sayangnya Bi Eng kurang memiliki
dasar atau jelasnya ia melatih ilmu silat setelah berusia lima belas tahun. Masih untung baginya
bahwa ia suka bermain-main “tari monyet” dengan Siauw-ong sehingga ia mempunyai kelincahan
dan kelemasan tubuh yang cukup.
Mula-mula Ciu-ong Mo-kai kecewa melihat Han Sin tidak pernah mau ikut berlatih praktek tetapi
hanya mencatat dan menggambar saja. Dengan menghafal semua gerakan dan tipu-tipu ilmu silat,
mana bisa mempergunakan dalam praktek tetapi tanpa latihan? Demikian pikir pengemis sakti itu
dengan gelisah. Biarpun tanpa disadari memiliki tenaga kesaktian dalam tubuh, namun tanpa ilmu
silat bagaimana akan dapat melawan musuh yang tangguh?
Dengan amat penasaran, beberapa bulan kemudian guru ini mengintai ke dalam kamar Han Sin.
Terlalu banyak pemuda itu menyembunyikan diri di dalam kamar, apa sih rahasianya?
Waktu itu sudah lewat tengah malam namun kamar Han Sin masih ada cahaya lampu redup-redup,
Ciu-ong Mo-kai mengintai dari atas genteng dan ia melihat pemandangan yang aneh. Ternyata Han
Sin berada di atas pembaringannya bertelanjang bulat sama sekali dan pemuda itu berada dalam
keadaan yang amat aneh, yaitu berjungkir balik dengan kepala di atas pembaringan dan kakinya di
atas. Tubuhnya yang terbalik ini lurus sekali seperti sebatang tongkat kayu saja, kedua lengan
bersedakap dan tubuhnya tidak ada penahannya sama sekali!
Selama hidupnya belum pernah Ciu-ong Mo-kai melihat kejadian seperti ini. Gilakah pemuda itu?
Tak mungkin gila. Sehari-hari tabiatnya tidak membayangkan kemiringan otak. Laginya, tanpa
latihan yang lama tak mungkin orang bisa “berdiri” di atas kepala seperti itu. Ketika ia mengawasi
Koleksi Kang Zusi
dengan teliti, makin berdebar hatinya. Pemuda itu tidak bernapas! Atau lebih tepat menahan napas.
Ia menghitung perlahan sampai tiga ratus kali, baru kelihatan pemuda itu mengeluarkan napas,
panjang dan lama sampai tiga ratus hitungan pula, menahan di dada dalam waktu yang sama.
Pendeknya, tiap kali menyedot, tiap kali menahan napas, dan tiap kali mengeluarkan pernapasan itu
masing-masing selama tiga ratus kali hitungan.
Inilah latihan samadhi dan pernapasan yang amat aneh! Bagi Ciu-ong Mo-kai, seorang tokoh kangouw
yang sudah kawakan, berlatih napas seperti itu sih bukan hal aneh. Akan tetapi ketika ia
perhatikan betul-betul dan mendapatkan kenyataan bahwa pemuda itu menilik dari pernapasan yang
tetap dan halus adalah dalam keadaan tidur. Bukan main!
Dalam keadaan tidak sadar atau tidur dapat mengatur pernapasan seperti itu, berjungkir balik lagi.
Sudah tak dapat dibilang latihan lagi, melainkan hal yang sudah mendarah daging sudah menjadi
kebiasaan bagi jasmaninya. Inilah tingkat yang tak sembarang orang mampu mencapainya.
Tingkat teratas bagi ahli-ahli siulian (samadhi) sehingga tidak ada bedanya antara sadar dan tidak,
antara berlatih dan tidak. Pendeknya, bagi orang yang sudah mencapai tingkat itu, setiap detik baik
ia tidur maupun sadar, makan maupun bicara, ia tak pernah lepas dari pada keadaan samadhi.
Napasnya secara otomatis teratur terus, panca inderanya selalu terkumpul pada setiap keluangan
kalau ia tidak sedang berpikir lain!
Dalam menghadapi pemandangan yang membuat Ciu-ong Mo-kai melongo saking kagumnya itu,
teringatlah ia akan penuturan mendiang gurunya dahulu bahwa di puncak Himalaya banyak terdapat
pertapa-pertapa yang sanggup bertapa tanpa bergerak tanpa makan sampai setahun lebih. Itulah
puncak kesempurnaan samadhi, kata gurunya. Akan tetapi, demikian gurunya menerangkan,
samadhi seperti itu dilakukan tanpa kehendak sesuatu, karenanya tidak mendatangkan kekuatan
jasmani, hanya membersihkan rohani. Kalau dilakukan dengan keliru, memang akibatnya
bermacam-macam. Bisa menimbulkan hal-hal yang aneh.
Agaknya Han Sin telah mempelajari cara samadhi dari kitab-kitab kuno, dari ilmu-ilmu batin jaman
dahulu, akan tetapi agaknya pemuda itu yang berlatih semenjak kecil tanpa petunjuk, telah
“tersesat” dan akibatnya malah mendatangkan tenaga dalam yang mujizat! Inilah kurnia yang luar
biasa dan baiknya pemuda itu memang pada dasarnya berwatak baik. Andaikata ia berwatak jahat,
tentulah penyelewengan atau kesesatan latihan ini akan mendatangkan malapetaka atau ilmu hitam
padanya!
Ciu-ong Mo-kai mengambil sepotong pecahan genteng dan disambitkannya ke bawah, mengarah
bagian tubuh yang tidak berbahaya dari pemuda itu, yakni di bagian betis kaki. Akan tetapi, tepat
seperti ia sudah menduga sebelumnya, pecahan genteng itu terpental dan jatuh sebelum mengenai
betis Han Sin dan pemuda itu segera terjaga dari “tidurnya!”!
Cocok dengan dugaan Ciu-ong Mo-kai yang menjadi makin kagum bahwa di dalam tubuh Han Sin
telah timbul dan dipelihara sin-kang (hawa sakti) tanpa di sengaja atau dimengerti oleh pemuda itu
sendiri. Ia maklum bahwa untuk mengajar seorang pemuda seperti ini, ilmu silatnya masih terlalu
rendah. Kalau Han Sin melatih diri dengan ilmu silatnya yang gerakan-gerakannya berdasarkan
lweekang yang masih belum tinggi kalau dibandingkan dengan tingkatnya, maka ilmu silat itu
takkan ada gunanya malah dapat merusak kekuatan luar biasa yang tersembunyi di dalam tubuh
Han Sin itu.
Setelah membuktikan sendiri bahwa dugaan-dugaannya memang tepat, semenjak itu Ciu-ong Mokai
tidak mau meributkan tentang sikap Han Sin yang tidak ikut berlatih, hanya mencatat dan
melukis semua pelajaran silat yang ia turunkan kepada Bi Eng. Malah dengan tekun pengemis sakti
Koleksi Kang Zusi
ini lalu menggembleng Bi Eng, menurunkan bagian-bagian terpenting dari ilmu silatnya dan
mengajar gadis itu dengan tipu-tipu dan gerakan-gerakan yang praktis tanpa membuang waktu
dengan segala macam gerakan variasi yang hanya disebut ilmu silat kembang.
05. Siucai Lemah Pelatih Silat.
SETELAH mengajar tanpa mengenal lelah selama dua tahun, habislah sudah semua dasar ilmu silat
tinggi dan ilmu silat Liap-hong-sin-hoat ia turunkan kepada Bi Eng. Han Sin tetap belum pernah
kelihatan belajar ilmu-ilmu silat yang diajarkan oleh Ciu-ong Mo-kai, akan tetapi seringkali Ciuong
Mo-kai menjadi bengong kalau melihat betapa Bi Eng yang sedang berlatih silat ditonton oleh
Han Sin, sering kali mendapat teguran-teguran dari kakaknya itu!
Pernah ia mendengar Han Sin memberi nasehat kepada Bi Eng ketika gadis itu bersama kakaknya
dan Siauw-ong berada di taman belakang. Pengemis tua ini diam-diam mengintai dan alangkah
herannya ketika ia melihat Bi Eng mainkan Liap-hong Sin-hoat dengan cepat dan baiknya ditonton
oleh Han Sin yang mencela sana-sini.
“Gerakanmu dalam jurus ke tiga belas ada kesalahan, moi-moi. Juga dalam jurus ke lima tadi
kurang sempurna,” kata Han Sin setelah Bi Eng selesai berlatih.
Bi Eng menghampiri kakaknya, “Apa kesalahannya dan yang manakah kurang sempurna, Sin-ko?
Harap kau memberi petunjuk.”
Diam-diam Ciu-ong Mo-kai menjadi geli hatinya, ia sendiri tadi melihat dengan penuh perhatian
akan tetapi tidak melihat kesalahan-kesalahan. Apakah pemuda ini yang belum pernah melatih diri
berani mencela adiknya yang selalu giat berlatih?
“Coba kau ulangi gerakan ke lima tadi, bukankah itu gerakan tipu Pek-in-kan-goat (Awan Putih
Mengejar Bulan)?”
“Betul, koko. Kaulihat baik-baik dan katakan nanti mana yang kurang sempurna.” Gadis itu lalu
membuat gerakan Pek-in-kan-goat, amat cepat, sigap dan kuat.
Ciu-ong Mo-kai memandang penuh perhatian dari tempat sembunyinya, akan tetapi ia tidak dapat
menemukan kesalahan dalam gerakan itu, maka ia ingin sekali mendengar apa yang hendak
dikatakan Han Sin.
“Menurut catatan dan gambaranku tentang gerakan Pek-in-kan-goat ini ketika aku melihat suhu
memberi contoh, pada saat kedua tangan melakukan pukulan bertubi-tubi empat kali ke depan, tiap
kali melangkah, kaki yang depan berdiri di ujung jari-jari kaki. Akan tetapi kakimu tadi kulihat
masih rata dengan tanah, kurang berjungkit. Coba kau lakukan lagi.”
Bi Eng kelihatan menaruh kepercayaan sepenuhnya kepada Han Sin dan kini ia bersilat lagi,
memperbaiki kedudukan kaki yang dianggap keliru oleh Han Sin tadi. Anehnya, biarpun Han Sin
tak pernah ikut berlatih silat, gadis itu tetap saja menganggap kakaknya jauh lebih pandai dan setiap
pendapat kakaknya itu betul belaka! Secara membuta karena kepercayaannya sudah mendalam, ia
menurut semua nasehat Han Sin.
Yang terheran-heran adalah Ciu-ong Mo-kai karena sekarang ia baru tahu dan harus mengakui
bahwa memang murid perempuannya itu melakukan kesalahan, biarpun kesalahan yang amat kecil.
Andaikata dia sendiri sendiri melihat hal itu, dia tidak akan menganggapnya satu kesalahan gerak
tipu ini, hanya kalau diingat lagi, memang jauh lebih sempurna kalau kaki berdiri berjungkit
Koleksi Kang Zusi
sebagaimana mestinya dalam gerakan ini sehingga dalam melakukan serangan berikutnya yang
disertai tendangan, kedudukan akan menjadi lebih baik karena dapat menendang lebih cepat!
“Bagus, sekarang baru sempurna, cocok sekali dengan ajaran suhu.” Han Sin memuji setelah
adiknya mengulangi latihannya. “Sekarang coba kau ulangi jurus ketiga belas, jurus Po-in-gan-jit
(Sapu awan melihat matahari).”
Dengan patuh Bi Eng melakukan gerak tipu ini dan mata Ciu-ong Mo-kai dibuka selebar-lebarnya
untuk menemukan kesalahan dalam gerakan muridnya ini. Akan tetapi dalam gerakan inipun ia
tidak melihat kesalahan apa-apa, malah ia berani pastikan bahwa gerakan muridnya kali ini sudah
amat baik dan sempurna. Mau bilang apa lagi pemuda ajaib itu, pikirnya girang dan bangga.
Han Sin mengerutkan keningnya setelah adiknya selesai melakukan gerakan Po-in-gan-jit, lalu
katanya perlahan. “Kau harus lebih memperhatikan kalau suhu memberi contoh padamu. Menurut
catatan-catatanku ketika suhu melakukan gerakan ini, jalan napas dibagi tiga bagian. Menyedot
napas ketika meloncat, menahan napas ketika tangan diputar menangkap tangan lawan lalu
membuang napas ketika memukul ke arah pusar musuh. Akan tetapi jalan pernapasanmu tadi tidak
sesuai. Coba kaulakukan lagi dengan baik dan ingat jalan pernapasanmu.”
Bi Eng lagi-lagi menurut dan mentaati nasehat kakaknya. Adapun Ciu-ong Mo-kai di tempat
sembunyinya menjadi pucat. Kagetnya bukan alang kepalang. Tidak dinyana, tidak disangka bahwa
biarpun pemuda itu hanya mencoret-coret dan menggambar semua pelajaran, ternyata demikian
teliti sampai-sampai jalan pernapasan ketika bersilat dia catat! Dan diam-diam ia harus mengakui
kebodohan sendiri.
Pernapasan dalam ilmu silat amat penting, bagaimana ia lalai untuk memperhatikan cara Bi Eng
berlatih? Ah, kalau dilihat begini naga-naganya, ia harus akui bahwa Han Sin merupakan pelatih
yang jauh lebih cermat dan baik dari pada dia sendiri. Dalam teori, kiranya dia sendiri takkan
sehafal Han Sin.
“Bagus .....!” Tak terasa lagi ia meloncat keluar dari tempat sembunyinya. Kemuncullannya
menggirangkan Bi Eng akan tetapi membuat Han Sin berdiri dengan malu dan kepala tunduk. Di
depan suhunya, belum pernah Han Sin berani memberi petunjuk kepada adiknya, hanya di waktu
tidak ada gurunya saja Han Sin berani memberi petunjuk demi kemajuan ilmu silat Bi Eng.
“Suhu, maafkan kelancangan teecu tadi, berani mencela gerakan-gerakan Eng-moi,” kata Han Sin
sambil menjura.
Lagi-lagi Ciu-ong Mo-kai tertegun. Bagi orang lain, melakukan kesalahan yang tidak terlihat orang
tentu akan diam-diam saja. Akan tetapi Han Sin tanpa ditanya belum-belum sudah mengaku dan
minta maaf. Sungguh sifat jujur dan merendah yang jarang terdapat.
“Tidak apa, Han Sin. Petunjuk-petunjukmu memang amat berfaedah bagi adikmu. Bi Eng,
selanjutnya kau harus selalu patuh dan taat akan petunjuk dan nasehat kakakmu. Dua tahun sudah
aku tinggal di sini, bersembunyi dari dunia ramai dan semua ilmu yang kupunyai sudah kuwariskan
kepadamu. Kau hanya tinggal melatih diri saja. Karena itu, aku hendak turun gunung. Banyak tugas
menantiku di dunia ramai. Kelak kalau kalian turun gunung, hati-hatilah berhadapan dengan orangorang
yang kusebut ini. Mereka inilah yang dahulu berada di puncak ini pada saat orang tua kalian
terbunuh. Pertama-tama adalah Balita, puteri bangsa Hui yang tinggi sekali kepandaiannya. Apalagi
sekarang setelah ia mendapat julukan Jin-cam-khoa (Algojo Manusia). Ia kejam dan lihai sekali.”
Koleksi Kang Zusi
“Puteri Hui? Jangan-jangan ada hubungannya dengan orang-orang Hui yang dua tahun yang lalu
menyerang ke sini, suhu,” kata Bi Eng.
“Mungkin ..... mungkin .... sayang sekali dahulu kita tidak bisa mendapat keterangan dari mereka.
Jin-cam-khoa Balita ini dahulu tergila-gila kepada ayah kalian yang tidak mau memperdulikannya
sehingga ia menaruh kebencian kepada mendiang ibumu. Orang-orang yang termasuk golongan
kedua yang harus kalian hadapi dengan hati-hati adalah Thian-san Sam-sian, tiga hwesio Thian-san
yang bernama Gi Thai Hwesio, Gi Ho Hwesio dan Gi Hun Hwesio. Ayahmu pernah bentrok dengan
mereka ini karena kong-kongmu membunuh seorang murid mereka yang jahat. Mereka ini juga
lihai sekali, apa lagi kalau maju berbareng merupakan Sha-kak-tin (Barisan Segi Tiga) yang sukar
dilawan. Juga mereka menaruh dendam kepada ayahmu dan selain dendam ini, mereka ingin sekali
mendapatkan surat wasiat Lie Cu Seng yang dikabarkan orang berada di tangan ayahmu.”
“Surat wasiat Lie Cu Seng? Surat wasiat apakah itu, suhu?” kembali Bi Eng bertanya sedangkan
Han Sin hanya menunduk kepala mendengarkan penuh perhatian.
“Nanti kuceritakan tentang itu. Sekarang orang ke tiga. Dia adalah Ang-jiu Toanio di I-kiang yang
memusuhi ayahmu karena ayahmu dahulu membunuh suaminya, tuan tanah Phang Kim Tek yang
kejam. Ang-jiu Toanio ini adalah seorang ahli Ang-see-chiu (Tangan pasir merah), tangannya
mengandung hawa beracun dan lihai sekali.”
“Hemmm, nyonya tuan tanah di I-kiang ....” kata Bi Eng mengingat-ingat.
“Ke empat adalah Swi-poa-ong Lie Ko Sianseng ......”
“Kok ada orang berjuluk raja Swipoa? Apa dia seorang pedagang?” tanya Bi Eng heran.
“Memang seorang pedagang, akan tetapi lihainya tidak kalah oleh orang-orang lain. Dia sih tidak
mempunyai permusuhan dengan ayahmu, akan tetapi dia juga mengincar surat wasihat. Hati-hati
terhadap manusia yang penuh akal bulus dan tipu muslihat licik ini.”
Apakah hanya empat orang-orang itu yang berada di sini ketika pembunuhan ayah ibu terjadi?”
tanya pula Bi Eng.
“Ya, yang terang-terangan memperlihatkan diri hanya mereka. Akan tetapi ketika secara diam-diam
aku berada di puncak, aku melihat berkelebatnya bayangan orang-orang aneh. Pertama seorang
gundul bangsa Mongol yang membawa-bawa harimau besar, berkeliaran di sekitar hutan di
pegunungan Min-san ini.”
“Orang bawa macan?”
“Aku tidak mengenal siapa dia, akan tetapi gerak-geriknya cukup mencurigakan dan dari gerakgeriknya
dapat diketahui bahwa diapun bukan orang sembarangan dan lihai sekali. Adapun orang
terakhir, yang hanya kulihat bayangannya, adalah seorang raja iblis yang amat ganas dan yang
memiliki kepandaian sukar ditaksir berapa tingginya. Dia ini sudah amat terkenal di dunia kangouw,
tingkatnya lebih tinggi dari pada yang lain-lain tadi. Terhadap orang ini, baiknya kalian jangan
mencari-cari perkara karena selain sakti, dia juga berhati kejam melebihi iblis.”
“Siapa dia, suhu?” Bi Eng bertanya biarpun merasa ngeri akan tetapi tidak takut. Belum pernah
gadis ini merasa takut terhadap apapun juga.
Koleksi Kang Zusi
“Dia itu bernama Hoa Hoa Cinjin, ilmu pedangnya pernah menjagoi dunia dan pernah ia
mengeluarkan tantangan mengadu pedang dengan siapa saja di dunia ini. Menurut kabar, belum
pernah ada orang dapat mengalahkan ilmu pedangnya itu. Nah, terhadap orang-orang yang
kusebutkan tadi, kalian harus berlaku hati-hati, murid-muridku.”
“Suhu, begitu banyak orangkah yang dahulu memusuhi ayah? Siapa di antara mereka yang telah
membunuh ayah dan ibu!” tanya Bi Eng, tangannya terkepal dan ia sudah lupa lagi akan nasehat
suhunya supaya berhati-hati menghadapi orang-orang itu.
“Itulah yang masih merupakan rahasia sampai sekarang. Dahulu di depan peti mati ayah bundamu,
aku sudah berusaha menanti datangnya pembunuh, berusaha menyelidiki siapa-siapakah
pembunuhnya. Akan tetapi sia-sia belaka. Kematian ayah bundamu memang dapat disebut suatu
keanehan dan kalian berdualah yang bertugas dan berkewajiban untuk menyelidiki dan mencari
pembunuhnya.” Kemudian pengemis sakti itu menuturkan dengan jelas semua peristiwa yang ia
ketahui tentang Cia Sun, juga tentang surat wasiat Lie Cu Seng yang sampai sekarang tidak pernah
ditemukan.
“Nah, cukup kiranya, murid-muridku. Selanjutnya terserah kepada kalian sendiri untuk menentukan
langkah. Kalian sudah tahu siapa ayah kalian, seorang pendekar perkasa yang patut dijunjung tinggi
namanya dengan perbuatan-perbuatanmu yang melanjutkan sepak terjangnya. Kelak apabila kalian
berkesempatan turun gunung terjun di dunia ramai, di mana saja kalian berada, kalau kalian
menyebut namaku sebagai guru, agaknya kalian tidak akan banyak mengalami keruwetan dan
banyak pula orang membantumu.”
Ciu-ong Mo-kai lalu mendatangi uwak Lui yang sudah sangat tua dan tidak dapat keluar dari kamar
untuk berpamit. Uwak Lui sudah amat tua, sudah tujuh puluh lebih usianya dan sakit-sakitan saja.
Kemudian kakek pengemis itu turun gunung, diantar oleh dua orang murid berikut Siauw-ong
sampai di daerah berbatu yang mengelilingi gedung di puncak itu.
****
Dua bulan setelah Ciu-ong Mo-kai pergi meninggalkan puncak Min-san, uwak Lui meninggal dunia
karena sakit tua. Dapat dibayangkan betapa sedih hati dua orang anak yatim piatu itu ditinggal mati
oleh uwak Lui yang mereka anggap sebagai nenek dan pengganti orang tua sendiri. Bi Eng
menangis sampai jatuh pingsan, berbeda dengan Han Sin yang menanggung kesedihan itu dengan
tenang-tenang saja dan tidak kelihatan dari luar bahwa dia merasa amat berduka. Tanpa banyak
cakap pemuda ini, dibantu dua orang pelayan, mengurus jenazah uwak Lui dan mengubur dengan
upacara sederhana. Jenazah uwak Lui dikubur tak jauh dari makam Cia Sun dan isterinya.
Ucapan terakhir yang dipesankan oleh uwak Lui dengan suara pelo dan tidak jelas, amat
mengharukan dan berkesan dalam-dalam di hati Han Sin dan Bi Eng. Pesan itu masih saja bergema
di dalam telinga mereka :
“ ....Anak-anakku ... ingatlah ..... jangan kalian berpisah satu dari yang lain .... selama-lamanya .....
Han Sin .... jaga baik-baik adikmu .... kalian .... ah, kalian .... cari gadis bertahi lalat di .... mata kaki
kiri .... awas terhadap gadis yang .... di dekat telinganya ada tanda merah .... kalian bukan .... bukan
..... ahhh .....” Sampai di situ habis napas uwak Lui dan kedua orang muda itu menghadapi rahasia
atau teka-teki yang sama sekali tidak mereka mengerti maksudnya.
Setelah penguburan selesai dan dua orang kakak beradik itu meninggalkan kuburan di mana mereka
berkabung, Siauw-ong masih juga belum mau meninggalkan kuburan. Malam itu malah Siauw-ong
tidak pulang. Agaknya monyet kecil ini amat berduka atas kematian uwak Lui.
Koleksi Kang Zusi
Pada keesokan harinya, ketika Han Sin dan Bi Eng keluar dari ruangan dalam hendak mencari
Siauw-ong, mereka melihat monyet kecil ini datang berloncat-loncatan sambil membawa sebuah
gulungan kertas kuning. Binatang ini cecowetan sambil mengacung-acungkan gulungan kertas itu.
“Siauw-ong, benda apakah yang kaubawa itu?” tanya Han Sin sambil berjongkok dan menerima
gulungan kertas dari tangan Siauw-ong. Bi Eng memandang dengan heran dan tertarik. Kakak
beradik ini lalu duduk di bangku dan Han Sin membuka gulungan kertas kuning itu.
Kertas itu amat tebal dan kuat, kiranya bukan terbuat dari pada kertas biasa, mungkin dari kulit
kayu atau kulit binatang yang amat kuat dan sudah tua sekali. Ketika dibuka gulungannya, di situ
terdapat sebuah peta dengan tanda-tanda dan huruf-huruf di sana-sini. Dengan tertarik sekali Han
Sin dan Bi Eng memeriksa. Alangkah terkejut hati mereka ketika membaca huruf-huruf kecil di
ujung kiri peta itu yang berbunyi :
PENINGGALAN LIE UNTUK CIA
“Koko, tak salah lagi. Inilah surat wasiat Lie Cu Seng yang pernah disebut-sebut suhu,” kata Bi
Eng, berdebar girang dan perasaannya menegang.
Namun Han Sin tetap tenang. Sambil mengamati penuh ketelitian, ia menjawab, ”Agaknya
dugaanmu betul, Eng-moi. Inilah surat wasiat yang diperebutkan orang. Akan tetapi kita tidak ikut
memperebutkan karena memang surat ini menjadi hak kita. Baca saja, bukankah di situ disebutkan
bahwa surat wasiat pahlawan Lie Cu Seng ini memang diperuntukkan keluarga Cia? Agaknya betul
dugaan suhu dulu bahwa pahalawan Lie sebelum gugur meninggalkan surat ini untuk kong-kong
Cia Hui Gan yang kemudian menurunkannya kepada ayah kita.” Ia memandang lagi dengan teliti
lalu berkata perlahan, “Hemmm, di pegunungan Lu-liang-san lembah sungai Huang-ho ......”
Bi Eng memegang pundak kakaknya. “Koko, kau hendak apakan surat wasiat ini?”
Han Sin menggulung surat itu, memasukkannya ke dalam saku bajunya, lalu menoleh dan
memegang kedua lengan adiknya. “Adikku yang baik, setelah di sini tidak ada siapa-siapa lagi yang
menjadi tanggungan kita, sekarang tiba saatnya bagi kita untuk turun gunung, memasuki dunia
ramai.”
Untuk sejenak gadis itu tidak dapat menjawab. Hanya sepasang matanya terbelalak memandang
kakaknya, sinar bahagia dan seri gembira memancar dari muka yang manis itu. “Turun gunung ....?”
Ucapan ini merupakan pelepasan rindu yang sudah bertahun-tahun dipendamnya yaitu rindu akan
dunia ramai yang banyak ia dengar akan tetapi belum pernah dilihatnya itu. “Ahh .......! Sin-ko,
turun gunung ke dunia ramai .....?” Tak terasa lagi dua butir airmata yang bening mengalir di kedua
pipi merah itu.
Han Sin tersenyum. Melihat adiknya bergembira seperti ini, sudah cukup bahagia rasa hatinya. Ia
mengusap pipi adiknya lalu membelai rambut yang terurai ke jidat yang halus itu. “Tentu saja turun
gunung menemui manusia-manusia lain dunia ramai. Kita kan bukan dilahirkan untuk menjadi
pertapa-pertapa di puncak ini sampai kita menjadi kakek-kakek dan nenek-nenek?”
Mendengar ini, Bi Eng tertawa dan saking girangnya gadis ini meloncat, merangkul leher kakaknya,
lalu melepaskannya lagi dan menari-nari kegirangan, tari monyet yang sering ia tarikan dulu.
Melihat ini, sambil mengeluarkan bunyi cecowetan girang, Siauw-ong juga mulai menari-nari di
dekat nonanya!
Koleksi Kang Zusi
“Sin-ko, jangan kau sebut-sebut lagi tentang kakek-kakek dan nenek-nenek. Tak tahan aku
mengenangkan bagaimana kau berubah menjadi seorang kakek-kakek, hi hi hi!”
Han Sin tersenyum. “Apa kau suruh aku menjadi ular yang tiap kali berganti kulit?” Kemudian ia
teringat akan sesuatu dan tersenyum. Wanita di manapun juga memang pantang memikirkan usia
tua. “Akan tetapi aku percaya, kau selamanya akan seperti sekarang, cantik jelita manis mungil, tak
pernah bisa jadi tua.”
Bi Eng kembali merangkul pundak kakaknya dengan gaya manja. “Sin-ko, jangan memuji-muji.
Adikmu ini bocah gunung mana bisa disebut cantik? Nanti akan kautemui banyak gadis cantik jelita
seperti puteri-puteri dalam gambar itu di kota-kota besar dan kau akan melihat betapa buruknya
rupa adikmu.”
Memang Bi Eng amat sayang kepada kakaknya. Tidak saja sayang, juga ia amat taat kepada
kakaknya yang dalam anggapannya adalah satu-satunya orang yang paling mulia, paling pandai dan
paling ... segala di dunia ini. Bahkan, setelah ia belajar ilmu silat tinggi dari Ciu-ong Mo-kai dan
tahu bahwa kakaknya jauh lebih pandai masih saja memenuhi hatinya.
Mereka segera berkemas dengan gembira. Han Sin lalu panggil dua orang pelayan yang setia itu
dan berkata, “Kedua paman yang baik, kami akan membawa Siauw-ong turun gunung. Kami
hendak merantau, hendak mengenal dunia. Entah kapan kami kembali, malah kembali atau tidak
masih belum dapat ditentukan sekarang. Oleh karena itu, dari pada barang-barang di sini rusak tidak
karuan, kalau paman-paman membutuhkan, boleh paman ambil dan pakai. Kami tidak
membutuhkan lagi.”
Dia orang pelayan itu mengucurkan air mata. Mereka amat sayang kepada Han Sin dan Bi Eng yang
mereka kenal semenjak masih bayi.
“Kongcu ..... Siocia ....., hendak ke manakah? Dunia ini sedang kacau, di mana-mana terdapat
banyak penjahat. Bagaimana kalau jiwi (kalian berdua) sampai diganggu orang jahat?” kata seorang
di antara mereka dengan penuh kekhawatiran.
Bi Eng menjawab, “Justru karena banyak terjadi kejahatan itulah aku dan koko hendak turun
gunung, hendak membasmi orang-orang jahat dan menolong orang-orang yang perlu ditolong!”
Mendengar ini, Han Sin tersenyum saja. Di dalam hatinya ia tidak setuju akan kata-kata “basmi”
ini, akan tetapi karena terlampau sayang kepada Bi Eng ia tidak mau mengecewakan hati adiknya
yang sedang bergembira itu.
“Kami akan menjaga diri baik-baik, paman.”
Setelah bersembahyang di depan kuburan ayah bundanya dan kuburan uwak Lui, dua orang kakak
beradik itu lalu turun gunung. Mereka berjalan perlahan saja, dan hati-hati. Bi Eng yang sudah
memiliki ginkang yang tinggi berkat latihan Ciu-ong Mo-kai, tidak mau mempergunakan ilmu lari
cepat karena takut kakaknya tertinggal. Malah ia selalu menggandeng tangan kakaknya ketika
melalui daerah berbatu yang amat sukar dilewati, menjaga kalau-kalau kakaknya itu jatuh! Adapun
Siauw-ong selalu “membonceng” di pundak Han Sin.
Melihat tingkah monyet ini, Bi Eng marah. “Siauw-ong! Kau pemalas. Ayoh turun, masa kau
membikin lelah Sin-ko, enak-enakan duduk di pundak. Apa kau sudah tak punya kaki untuk jalan
sendiri?”
Koleksi Kang Zusi
Siauw-ong yang agaknya mengerti, lalu melompat turun. “Biarlah,” kata Han Sin sabar. “Dia
agaknya takut karena baru pertama kali ini turun gunung.”
Mendengar kata-kata ini, Bi Eng berdebar hatinya. Tentu saja Siauw-ong takut, bahkan dia sendiri
yang tak pernah kenal takut, kini menjadi berdebar penuh ketegangan hati. Seperti apa macamnya
dunia ramai? Seperti apa macamnya kota-kota besar dan penduduknya? Karena ini, ia tidak
menegur lagi ketika mereka tiba di kaki gunung. Monyet kecil itu kembali melompat ke atas
punggung Han Sin.
Dusun-dusun dan penduduknya yang dilalui ketika mereka menuruni puncak, tidak menarik
perhatian Bi Eng, karena memang sudah sering kali ia melihat dusun-dusun itu. Penduduk dusundusun
sebagian besar mengenal Han Sin dan Bi Eng yang mereka sebut Cia-kongcu (tuan muda
Cia) dan Cia-Siocia (nona Cia) Mereka semua menyambut dua orang kakak beradik ini dengan
ramah, mengingat bahwa dua orang muda ini adalah keturunan Cia-enghiong yang sudah banyak
dan kerap kali menolong penduduk dusun sekitar Min-san.
Han Sin dan Bi Eng melanjutkan perjalanan menuju ke timur, karena menurut pengetahuan Han Sin
dari kitab-kitabnya, Lu-liang-san terletak di sebelah timur.
“Kita harus menyelidiki tentang isi surat wasiat,” katanya kepada adiknya. “Karena ayah menerima
surat wasiat ini, tentu menjadi kewajiban kita untuk menyelidiki, apakah gerangan yang tersimpan
dalam tempat rahasia itu sampai-sampai orang sakti memperebutkan surat ini. Aku mendapat
perasaan bahwa agaknya karena surat ini maka ayah ibu terbunuh orang.”
Ketika mereka sudah jauh dari kaki bukit Min-san, di sebuah jalan gunung yang sunyi dan kasar,
dari depan mereka melihat seorang perempuan tua yang duduk di dalam kereta dorong dan kereta
ini didorong oleh seorang pemuda sebaya Han Sin yang wajahnya tampan dan pakaiannya
sederhana.
Melihat sikap dan pakaian wanita dan pemuda itu berbeda dengan penduduk dusun, segera Han Sin
dan Bi Eng tertarik.
“Kenapa perempuan itu tidak berjalan sendiri? Apa dia sakit?” kata Bi Eng.
“Ssstt, membicarakan orang jangan keras-keras,” cegah Han Sin.
Wanita ini memang kelihatan seperti orang sakit. Kepalanya dilibat sehelai saputangan putih dan
kelihatan lemah. Sebaliknya, pemuda yang tampan itu kelihatan gagah dan sehat, bersemangat dan
biarpun peluhnya sudah membasahi muka dan leher, mulutnya tersenyum dan mukanya terang.
“Yan Bu, berhenti dulu!” terdengar perempuan itu berkata dan ternyata suaranya berbeda dengan
keadaannya yang kelihatan lemah. Suaranya nyaring dan tajam.
Pemuda yang dipanggil Yan Bu itu berhenti dan menyusuti peluhnya. Adapun wanita tua itu tanpa
turun dari kereta, menatap ke arah Han Sin dan Bi Eng dengan tajam sekali, pandangannya penuh
selidik. Yang ia pandang terutama adalah gerakan kaki kedua orang muda itu.
“Aneh, wajahnya sama benar. Akan tetapi orang-orang lemah itu pasti sekali bukan mereka. Yan
Bu, mari jalan lagi.”
Pemuda itu menurut, hanya melepas kerling sekilas ke arah Han Sin dan matanya penuh kekaguman
ketika ia melirik ke arah Bi Eng, akan tetapi ia segera tundukkan muka dan mendorong kereta itu,
Koleksi Kang Zusi
tanpa menoleh lagi. Wanita di dalam kereta dorong mash terus melirik ke arah kakak beradik itu
terutama sekali kepada Han Sin yang menggendong Siauw-ong di punggungnya.
Yang lucu adalah Siauw-ong. Agaknya monyet ini girang melihat orang di dalam kereta dorong,
maka ia mengangkat tangan kanan lambai-lambaikan seperti orang memberi salam!
Han Sin dan Bi Eng masih terus memandang sampai menoleh. Terutama sekali kereta dorong itu
menarik perhatian mereka karena belum pernah mereka menyaksikannya. Setelah berpisah jauh,
perempuan tua dan pemuda pendorong kereta itu menjadi bahan pembicaraan, terutama sekali Bi
Eng yang masih heran.
“Melihat cara pemuda itu mendorong kereta, tentu ia kuat sekali, koko. Kenapa wanita itu didorong
dalam kereta? Apa dia lumpuh? Dan orang sakit-sakitan seperti dia itu, mau apa datang ke tempat
ini?”
“Entahlah, moi-moi. Akan tetapi menurut cerita suhu, memang banyak terjadi hal-hal aneh di dunia
ini dan banyak pula manusia-manusia yang aneh wataknya. Biarlah kita anggap mereka itu orangorang
aneh pertama yang kita jumpai.”
Ucapan Han Sin ini biarpun hanya merupakan hiburan bagi adiknya yang ingin mengetahui segala,
ternyata memang tepat. Tentu saja mereka tidak pernah menduga bahwa memang orang di dalam
kereta itu bukan manusia sembarangan. Dia itu bukan lain adalah Ang-jiu Toanio! Dan pemuda
yang mendorong kereta itu adalah puteranya, putera sulungnya yang bernama Phang Yan Bu.
Pernah diceritakan betapa Ang-jiu Toanio kehilangan anak perempuannya, yaitu anak bungsunya
yang dirampas oleh Kalisang. Orang mongol aneh yang membawa-bawa harimau Ang-jiu Toanio
mengejar terus namun tidak berhasil mendapatkan kembali puterinya itu. Dengan hati hancur dan
mengandung penasaran ia terpaksa pulang ke I-kiang dan memperdalam ilmu silatnya karena
merasa bahwa kepandaiannya masih kurang tinggi sehingga menghadapi orang Mongol yang
merampas anaknya ia tidak berdaya. Ia hidup bersama puteranya, yaitu Phang Yan Bu dan
semenjak itu nyonya ini sering kali terserang penyakit jantung yang membuat kadang-kadang amat
lemah.
Yan Bu adalah seorang anak yang amat berbakti. Iapun memiliki bakat baik sekali dalam ilmu silat.
Dalam usia lima belas tahun saja ia sudah mewarisi kepandaian ibunya, kemudian oleh ibunya ia
dikirim kepada Yok-ong Phoa Kok Tee yang amat terkenal di dunia kang-ouw. Yok-ong (Si Raja
Obat) ini adalah seorang tua yang mengasingkan diri di pegunungan, tidak mempunyai tempat
tinggal tertentu. Pekerjaannya hanya mencari daun-daun dan akar-akar obat, kemudian ia merantau
dari gunung ke gunung, dari kota ke kota dan selalu mengulurkan tangan mengobati orang-orang
yang terserang penyakit.
Ketika Yan Bu berusia lima belas tahun, pada suatu hari Yok-ong Phoa Kok Tee singgah di I-kiang
mengunjungi murid keponakannya. Ang-jiu Toanio adalah murid sutenya (adik seperguruannya),
yaitu Koai-sin-jiu (Si Tangan Sakti Aneh) Bhok Kim yang tewas dalam pertempuran melawan Hoa
Hoa Cinjin. Begitu bertemu dengan murid keponakannya yang sudah berpisah belasan tahun ini,
Phoa Kok Tee terkejut.
“Kau menderita luka di jantungmu karena banyak berduka!” katanya kaget.
Ang-jiu Toanio menjatuhkan diri berlutut dan menangis. “Susiok, selama belasan tahun ini teecu
telah menerima banyak penghinaan dan sakit hati.” Sambatnya, kemudian ia menuturkan tentang
Koleksi Kang Zusi
kematian suaminya oleh Cia Sun dan kehilangan puterinya yang dirampas oleh orang Mongol
bernama Kalisang.
“Suami dibunuh orang tanpa bisa membalas karena pembunuhnya sudah keburu meninggal dunia,
anak dirampas orang untuk dijadikan mangsa harimau. Ah, teecu sendiri begini lemah berpenyakit,
bagaimana sakit hati dapat dibalas?”
Mendengar penuturan itu, Yok-ong Phoa Kok Tee menarik napas panjang. “Dari dulu sudah
kukhawatirkan ketika aku melihat cara hidup suamimu yang hartawan dan berlebihan. Sebagai
seorang tuan tanah, suamimu terlalu memeras rakyat kecil dan aku tidak bisa terlalu salahkan
pendekar muda Cia Sun itu kalau sampai bentrok dengan suamimu. Memang kalah atau mati hidup
dalam pertempuran seperti itu, sukar untuk berbicara tentang sakit hati. Kau yang mempunyai anak
bayi, mengapa membawa-bawa anakmu yang kecil itu untuk mencari musuh? Kejadian tentang
anakmu benar-benar amat menyesalkan hati dan orang Mongol itu patut dibasmi. Biar kucatat
namanya dan kalau sampai bertemu dengan dia, aku akan berusaha melenyapkan manusia keji itu.
Sekarang biarkan aku memeriksa penyakitmu.”
Sebagai seorang yang sudah mendapat julukan Yok-ong (Raja Obat), dengan menekan urat nadi
saja, tahulah Yok-ong Phoa Kok Tee bahwa tidak ada obat lagi bagi nyonya ini kecuali banyak
beristirahat lahir batin. Akan tetapi ia memberi juga obat penguat jantung sambil berkata,
“Kau tidak boleh banyak berduka, tidak boleh mengandung pikiran benci dan mendendam. Tidak
baik untuk penyakitmu.”
Mendengar ini, Yan Bu menjatuhkan diri berlutut sambil menangis dan minta-minta kepada Yokong
supaya mengobati ibunya. “Susiok-couw, tolonglah ibuku yang tercinta. Obatilah ibu sampai
sembuh.”
Melihat kesungguhan hati anak itu, Phoa Kok Tee tertarik dan kagum. “Anak ini baik sekali, kau
beruntung mempunyai anak seperti dia ini.”
Karena tertarik dan suka melihat bocah berbakti itu, Phoa Kok Tee berkenan mewariskan ilmu
goloknya yang tinggi tingkatnya kepada Yan Bu. Selama dua tahun ia memberi pelajaran ilmu silat
kepada Yan Bu yang dengan amat cepat menguasai semua itu dan mendapatkan kemajuan pesat.
“Yan Bu, jagalah baik-baik ibumu. Terus terang saja, ibumu itu mempunyai watak yang kurang
baik, terlalu ganas dan keras hati. Ini adalah kesalahan suteku sendiri yang tidak dapat menuntunnya
dengan baik, malah menurunkan watak yang keras dan mau menang sendiri. Kau seorang anak baik
yang dapat membedakan mana keliru mana benar, jangan kau mengecewakan sebagai muridku,”
pesan Raja Obat itu kepada muridnya sebelum ia pergi meninggalkan I-kiang.
Semenjak itu, Yan Bu menjadi seorang pemuda yang lihai ilmu silatnya, akan tetapi ia selalu
bersikap sederhana. Malah iapun sudah mempelajari beberapa macam ilmu pengobatan dari
gurunya. Makin dewasa, makin terbukalah matanya dan harus ia akui bahwa ibunya memang
berwatak keras luar biasa dan ternyata ibunya tidak mau menurut nasehat Yok-ong. Diam-diam
ibunya masih menaruh hati dendam kepada keluaraga Cia dan kepada Hoa Hoa Cinjin yang sudah
membunuh guru ibunya, Koai-sin-jiu Bhok Kim.
Ketika ia berusia dua puluh tahun, ibunya berkata, “Yan Bu, mari kau ikut aku pergi ke Min-san!”
Koleksi Kang Zusi
Yan Bu sudah tahu bahwa Min-san adalah tempat tinggal keluarga Cia. Ia mengerutkan kening dan
bertanya, “Ibu, perlu apakah kita pergi ke sana? Bukankah musuh besar kita, Cia Sun, sudah
tewas?”
“Masih ada anak-anaknya!” bentak ibunya.
Yan Bu adalah seorang anak yang amat berbakti dan tidak berani membantah kehendak ibunya
yang amat dikasihani dan disayangnya. “Ibu masih belum sehat benar, melakukan perjalanan begitu
jauh apakah tidak melelahkan?”
Ibunya maklum bahwa anaknya ini agak lemah hatinya, maka ia berkata ketus, “Yan Bu, apa kau
sudah lupa bahwa ayahmu mati dibunuh orang? Selain mencari sisa keluarga Cia untuk menagih
hutang, juga aku hendak mencarikan warisan untukmu. Ibu tidak lama lagi hidup di dunia dan aku
ingin melihat kau kelak menjadi seorang yang makmur hidupmu. Di sana terdapat sebuah surat
wasiat peninggalan Lie Cu Seng. Kalau bisa kita dapatkan .......”
Yan Bu tidak berani membantah lagi dan berangkatlah ibu dan anak ini menuju ke Min-san. Karena
mengkhawatirkan keselamatan ibunya, Yan Bu membuat sebuah kereta dorong dan membujuk
ibunya suka duduk di kereta itu yang selalu didorongnya tanpa mengenal bosan dan lelah. Jarang
memang mencari seorang pemuda yang begitu berbakti seperti Yan Bu.
Demikianlah, sudah diceritakan betapa anak dan ibunya ini di jalan bertemu dengan Cia Han Sin
dan Cia Bi Eng. Ang-jiu Toanio tercengang melihat persamaan wajah antara pemuda yang
membawa monyet itu dengan Cia Sun. Akan tetapi setelah melihat cara berjalan pemuda itu
menunjukkan bahwa pemuda itu adalah seorang pemuda dusun yang tidak mengerti ilmu silat,
kecurigaannya lenyap dan ia melanjutkan perjalanannya dengan puteranya, mendaki puncak Minsan.
Dapat mendorong kereta ibunya mendaki puncak Min-san ini saja sudah membuktikan bahwa ilmu
kepandaian Yan Bu memang sudah mencapai tingkat tinggi. Ginkangnya amat mengagumkan
sehingga dalam melalui batu dan jurang, ia dapat melompatinya sambil masih mendorong kereta!
Dan hebatnya, semua ini ia lakukan dengan senyum dan wajah berseri, sedikitpun tidak pernah
mengeluh.
Ang-jiu Toanio agaknya tidak perdulikan kelelahan puteranya, malah melengut dalam kereta.
Ketika membuka mata dan melihat bahwa mereka sudah tiba di daerah berbatu di sekeliling puncak
dan atap rumah gedung keluarga Cia sudah tampak, wanita ini membuka lebar-lebar matanya dan
berseru, “Cepatlah, Yan Bu, cepat! Aku sudah ingin sekali bertemu dengan adikmu!”
Tentu saja Yan Bu terheran-heran mendengar ucapan ibunya ini. Pernah ibunya bercerita kepadanya
bahwa adik perempuannya yang masih bayi dirampas oleh Kalisang dan hendak dijadikan makanan
harimau.
“Ibu, apa Kalisang penjahat itu berada di rumah itu?” tanyanya penuh gairah. Ingin ia membalas
dendam kepada orang Mongol jahat yang sudah merampas adiknya itu.
Ang-jiu Toanio agaknya sadar bahwa ia tadi telah bicara tanpa dipikir lagi. “Cepatlah dan jangan
banyak bertanya.”
Tak lama kemudian mereka tiba di depan rumah gedung itu. Dua orang pelayan laki-laki tua yang
sedang sibuk mengangkut-angkuti barang dari gedung itu, menyambut kedatangan mereka. Dua
orang pelayan ini adalah pelayan keluarga Cia dan mereka memenuhi pesan Han Sin, mengangkuti
Koleksi Kang Zusi
barang-barang yang berada di gedung. Barang-barang itu tidak banyak karena sebagian besar sudah
dijuali untuk biaya hidup keluarga itu selama uwak Lui memelihara kedua orang anak keluarga Cia.
Karena tidak betah lagi tinggal di puncak tanpa kawan, dua orang pelayan itu hendak membawa
semua sisa barang turun gunung dan hidup di dusun.
Melihat datangnya seorang wanita tua bersama seorang pemuda, dua orang pelayan itu segera
menyambut dengan heran. Akan tetapi belum juga mereka membuka mulut, Ang-jiu Toanio sudah
melompat ke depan mereka dan membentak,
“Di mana adanya anak-anak dari keluarga Cia?”
Dua orang pelayan itu tentu saja tidak senang melihat sikap tidak tahu aturan dari tamu ini, akan
tetapi mereka sudah cukup lama ikut keluarga Cia dan sudah banyak melihat orang-orang kang-ouw
yang aneh. Seorang di antara mereka yang tak dapat mengendalikan kemendongkolan hatinya
menjawab.
“Mereka sudah tiga hari ini turun gunung. Toanio mencari mereka mau apakah?”
Tangan kiri Ang-jiu Toanio bergerak dan pelayan itu sudah dicengkeram bajunya di bagian dada.
“Banyak cerewet! Hayo katakan mereka pergi ke mana?”
Pelayan itu makin penasaran. “Toanio mengapa begini tidak tahu aturan? Kongcu dan Siocia sudah
pergi, mana aku tahu ke mana?”
“Keparat, kau berani bicara begini terhadap aku?” Tangan kanan Ang-jiu Toanio menampar.
“Ibu ....!” Yan Bu mencegah namun terlambat. Terdengar suara “plak!” disusul jerit mengerikan
dan pelayan itu terlempar dan roboh tak bernyawa lagi. Di kepala bagian pelipisnya nampak tanda
tapak lima jari tangan merah.
Dua orang pelayan itu sudah berpuluh tahun ikut Cia Sun, setidaknya mereka telah kenal akan
kegagahan dan menerima pula warisan sifat gagah dari majikan mereka. Pelayan yang seorang lagi
melihat kawannya dibunuh, segera maju dan menudingkan telunjuknya.
“Menggunakan kepandaian untuk menindas pelayan-pelayan lemah, sungguh tak tahu malu!”
Melihat sikap pelayan ke dua ini, Ang-jiu Toanio makin marah dan ia sudah bergerak maju. Akan
tetapi Yan Bu memegang lengan ibunya.
06. Kesombongan Tosu Cin-ling-pai
“IBU, sabarlah, ibu ingat, kemarahan tidak baik bagi kesehatanmu.”
Baru saja Yan Bu berkata demikian, Ang-jiu Toanio sudah terhuyung-huyung sambil menekan dada
kirinya. Memang tadi dalam kemarahannya ia lupa akan pantangannya, maka tiba-tiba ia merasa
dada kirinya sakit sekali. Cepat-cepat Yan Bu memondong ibunya dan mendudukkannya ke dalam
kereta. Pemuda yang berbakti ini lalu mengurut-urut punggung ibunya sehingga keadaan Ang-jiu
Toanio berangsur baik.
“Kau tanyai dia, ke mana perginya anak-anak keluarga Cia,” kata nyonya itu sambil terengahengah.
Koleksi Kang Zusi
Yan Bu menghampiri pelayan ke dua yang memandang kejadian itu dengan heran. “Toapek, harap
kau sudi memaafkan ibuku yang sedang marah. Kami perlu sekali mencari anak-anak keluarga Cia.
Harap kau sudi memberi keterangan ke manakah gerangan perginya kongcu dan Siocia keluarga
Cia.”
Pelayan itu tadinya sudah nekat dan bersedia dibunuh oleh nyonya galak itu menyusul kawannya,
sekarang menghadapi pemuda yang demikian berbakti dan sopan, ia menarik napas panjang.
“Kawanku ini memang berkata benar. Kami mana tahu ke mana perginya kongcu dan Siocia?
Mereka hanya bilang hendak turun gunung tidak kembali lagi, mereka baru tiga hari pergi bersama
Siauw-ong.”
Yan Bu membelalakkan matanya. “Kau maksudkan Siauw-ong itu seekor monyet kecil?”
“Betul, betul ..... bagaimana kongcu bisa tahu?”
Akan tetapi Yan Bu sudah lari kepada ibunya. “Ah, ibu. Ternyata merekalah anak-anak keluarga
Cia!” serunya.
“Mereka siapa?”
“Dua orang yang kemaren dulu kita jumpai di jalan, yang membawa monyet.”
Mulut Ang-jiu Toanio celangap. “Apa .....? Mereka .....??”
Ia teringat betapa wajah pemuda yang menggendong monyet itu sama benar dengan Cia Sun. Akan
tetapi gadis itu .... dan cara mereka berjalan .....
“Yan Bu, ayoh kejar mereka!” katanya kemudian dan di lain saat, pemuda itu sudah mendorong
kereta dan cepat berlari menghilang dari puncak, diikuti pandang mata terheran-heran oleh pelayan
yang kemudian dengan sedih terpaksa merawat mayat kawannya yang terbunuh secara mengerikan.
Sambil mencangkul tanah membuat kuburan, mulutnya tiada hentinya bicara seorang diri, “Keji ....!
Sungguh kejam orang-orang kang-ouw yang pandai silat. Semoga kongcu dan Siocia diselamatkan
dari pada kekejaman mereka ....”
****
Doa dari pelayan ini memang perlu sekali bagi Han Sin dan Bi Eng, karena memang dua orang
muda ini turun gunung untuk menghadapi bahaya yang selalu mengancam keselamatan mereka.
Mereka ini boleh diumpamakan dua ekor burung muda yang baru saja meninggalkan sarang, baru
belajar terbang dan tidak tahu dari mana kemungkinan datangnya bahaya, belum mengenal apa-apa
dan belum tahu bahwa dibalik segala keindahan yang mereka lihat bersembunyi bahaya-bahaya
maut yang selalu mengintai.
Beberapa hari kemudian setelah menuruni puncak Min-san, dua orang kakak beradik ini terhalang
perjalanan mereka oleh sebatang sungai yang jernih airnya. Inilah sungai Cia-leng yang mengalir ke
selatan untuk kemudian menggabungkan airnya dengan sungai Yang-ce-kiang yang besar.
Karena tidak pandai berenang dan di situ amat sunyi tidak tampak sebuahpun perahu, terpaksa Han
Sin dan Bi Eng lalu membuat alat penyeberang dengan batang-batang bambu yang mereka jajarjajar
dan ikat dengan akar-akar pohon. Dengan hati-hati mereka lalu menggunakan getek atau rakit
istimewa ini untuk menyeberangi sungai yang tenang airnya dan jernih itu. Siauw-ong amat
gembira melihat banyak ikan-ikan berenang di dekat perahu. Beberapa kali ia menyambar dengan
Koleksi Kang Zusi
tangannya, mengira ikan-ikan itu dekat, akan tetapi sebetulnya jauh di bawah sehingga selalu ia
hanya menangkap air saja. Akhirnya Siauw-ong menjadi marah dan terjun ke air!
“Siauw-ong, hati-hati .....!” kata Bi Eng cemas.
“Jangan khawatir, dia pandai berenang. Lihat!”
Kata Han Sin. Betul saja. Monyet kecil itu ternyata pandai menyelam, malah ketika ia muncul
kembali, di kedua tangannya sudah mencengkeram empat ekor ikan yang menggelepar-gelepar.
Bi Eng bersorak girang. “Bagus, Siauw-ong. Kau hebat sekali!” Cepat ia menerima ikan itu dan
terus menggunakan sebatang pisau kecil yang dibawahnya untuk membelek perut ikan dan
membersihkannya. Setelah mereka tiba di seberang, Bi Eng lalu memanggang empat ekor ikan itu
tanpa bumbu apa-apa. Akan tetapi baunya amat sedap dan menimbulkan selera. Siauw-ong sudah
tidak sabar dan beberapa kali hendak menyambar ikan di pemanggangan kalau saja tidak dibentak
oleh Bi Eng. Setelah ikan-ikan itu matang, mereka bertiga makan ikan panggang dengan enaknya.
Perjalanan mereka tidak mudah, akan tetapi hati mereka selalu gembira. Tentang makanan, mereka
tidak kuatir. Kalau ada orang menjual makanan, mereka cukup membawa bekal sekantung emas
peninggalan uwak Lui, hasil dari penjualan sebagian barang perhiasan. Seandainya kehabisan bekal,
Bi Eng masih menyimpan hiasan rambut dari batu kemala dan dua buah gelang emas bertabur intan
peninggalan ibunya. Kalau tidak ada dusun, mereka sudah puas makan buah-buahan atau Bi Eng
menangkap binatang-binatang kecil seperti kijang atau kelinci dengan menggunakan batu-batu yang
ia sambitkan. Kepandaiannya dalam menyambit dengan batu cukup tinggi berkat kekuatan
lweekangnya.
Empat pekan kemudian Han Sin dan Bi Eng tiba di kaki sebuah bukit yang kelihatannya
menyeramkan. Kaki bukit itu, berbeda dengan gunung-gunung lainnya, amat sunyi tidak ada
dusunnya. Di puncaknya kelihatan hutan-hutan besar yang menyeramkan, akan tetapi di antara
pohon-pohon kelihatan atap rumah-rumah besar, bahkan tampak pula pagar tembok seperti benteng.
“Koko. Lihat. Ada orang-orang lain yang mempunyai rumah di puncak gunung seperti kita. Mari
kita lihat ke sana!”
“Rumah di puncak gunung saja apa sih anehnya, moi-moi. Perjalanan kita masih jauh. Akan tetapi
untuk menuju ke timur, terpaksa kita harus melalui bukit ini. Baiknya kita mencari jalan lain supaya
tidak melalui rumah-rumah di atas itu.”
Bukit yang menghalang perjalanan mereka itu adalah bukit Cin-ling-san. Dan orang-orang yang
tinggal di puncak Cin-ling-san bukanlah orang-orang sembarangan. Mereka itu adalah tosu-tosu
dari Cin-ling-pai, sebuah partai yang cukup besar, mempunyai banyak anggauta dan kuat
kedudukannya. Memang, sebelum kerajaan Beng roboh, ketidak puasan rakyat dan orang-orang
gagah menimbulkan banyak pemberontakan dan di sana sini tumbuh perkumpulan-perkumpulan
rahasia yang dibentuk oleh orang-orang gagah di dunia kang-ouw. Yang terkenal di antaranya
adalah Cin-ling-pai, Pek-lian-pai, Sin-tung Kai-pang dan masih banyak perkumpulan-perkumpulan
lain.
Cin-ling-pai adalah perkumpulan rahasia yang terdiri dari tosu-tosu pemeluk aliran Im-yang-kauw.
Cin-ling-pai ini diketuai oleh seorang tosu tua yang terkenal sebagai seorang ciang-bun-jin yang
cakap mengatur perkumpulan sehingga semua anak buahnya amat berdisiplin dan taat, bernama
Giok Thian Cin Cu, seorang kakek ahli kebatinan yang sudah berusia enam puluh tahun lebih
namun masih nampak muda dan sehat.
Koleksi Kang Zusi
Giok Thian Cin Cu tidak pelit dalam kepandaian silatnya. Dia menurunkan ilmu silatnya kepada
para anggauta Cin-ling-pai sehingga para tosu Cin-ling-pai terkenal amat lihai. Tentu saja
kedudukan para tosu itu disesuaikan dengan tingkat kepandaian mereka yang juga merupakan
tingkat kedudukan mereka sebagai murid Giok Thian Cin Cu. Ada murid kepala, murid dalam dan
murid luar. Murid dalam adalah mereka yang secara langsung dilatih oleh Giok Thian Cin Cu
sendiri sedangkan murid luar adalah para tosu yang dilatih oleh murid-murid kepala. Betapapun
juga tidak ada seorang tosu anggauta Cin-ling-pai yang tidak berkepandaian tinggi!
Karena kedudukan yang amat kuat inilah maka setelah kerajaan bangsa Boan (Mancu) berdiri, yaitu
kerajaan Ceng, kerajaan baru inipun tidak berani mengganggu Cin-ling-pai. Partai-partai atau
perkumpulan-perkumpulan rahasia gurem (yang kecil-kecil) sudah dibasmi oleh bala tentara
Mancu, akan tetapi mereka tidak berani mengganggu Cin-ling-pai, malah dengan secara pandai
sekali pembesar-pembesar Ceng mendekati dan membaiki Cin-ling-pai untuk sedapat mungkin
menarik mereka ini menjadi pembantu atau setidaknya pendukung pemerintah baru.
Giok Thian Cin Cu cukup maklum kerajaan baru ini amat kuat dan tidak mungkin dilawan, maka ia
memberi perintah kepada anak muridnya agar jangan membuat ribut dan memancing permusuhan
dengan pemerintah. Akan tetapi bagaimanapun juga, tosu tua ini berpesan dengan keras agar anak
muridnya, jangan sekali-kali membantu pemerintah baru dan biarlah perkumpulan hidup
menyendiri, jangan sampai diperalat oleh pemerintah penjajah.
Sikap Giok Thian Cin Cu ini sama benar dengan sikap banyak partai besar yang tidak diganggu
oleh pemerintah Ceng. Oleh karena ini, pemerintah Mancu lalu mencari akal, menggunakan siasat
adu domba di antara partai besar ini agar kedudukan mereka menjadi lemah. Pelbagai cara dan tipu
muslihat licin dijalankan untuk membakar api permusuhan di antara mereka agar siasat adu domba
ini berhasil baik.
Pada waktu Han Sin dan Bi Eng tiba di kaki gunung Cin-ling-san, keadaan di antara partai-partai
besar sudah mulai genting dan panas. Malah partai Cin-ling-pai sudah menaruh curiga terhadap
partai-partai lain yang disangkanya berkhianat dan membantu pemerintah Ceng. Penjagaan markas
mereka diperkuat dan mereka semua sudah siap siaga menghadapi pertempuran dengan siapapun
juga yang dianggap mengganggu dan merupakan ancaman bagi pendirian Cin-ling-pai.
Tentu saja gerak-gerik Han Sin dan Bi Eng di kaki gunung sudah diketahui oleh tosu-tosu Cin-lingpai
dan menarik perhatian mereka. Kehati-hatian Han Sin yang mencari jalan lain untuk melewati
gunung itu malah mendatangkan curiga kepada para tosu penjaga.
Kalau saja Han Sin menurut kehendak Bi Eng dan langsung naik ke gunung itu lalu menyatakan
maksudnya hendak melewati gunung, kiranya para tosu malah tidak menaruh curiga dan tidak akan
mengganggu. Akan tetapi ketika melihat betapa dua orang muda bersama seekor monyet kecil itu
mencari jalan yang sunyi dan menjauhi bangunan rumah-rumah Cin-ling-pai, mereka menjadi
bercuriga sekali dan mengira bahwa dua orang muda itu memata-matai dan menyelidiki keadaan
Cin-ling-pai.
Betapa heran dan kagetnya hati Han Sin dan Bi Eng ketika mereka sedang mendaki bukit itu
melalui jalan hutan yang kecil, tiba-tiba dari depan mendatangi tosu-tosu dalam barisan yang teratur
rapi. Sikap para tosu itu keren sekali dan mereka menghadang perjalanan Han Sin dan Bi Eng. Di
depan sendiri berdiri tiga orang tosu yang rambutnya digelung menjadi lima dan paling belakang
berdiri belasan orang tosu, berjajar seperti pasukan. Mereka ini mempunyai gelung kecil-kecil dan
banyak, ada yang tujuh ada yang delapan sehingga mereka kelihatan lucu.
Koleksi Kang Zusi
Bi Eng tertawa, tak tertahankan lagi geli hatinya melihat kepala tosu-tosu itu demikian aneh
gelungnya. “Heran, kenapa gelung rambut mereka begitu banyak?” katanya di antara tawa.
“Bi Eng, jangan bicara sembarangan.” Han Sin mencegah adiknya, akan tetapi karena Bi Eng bicara
dengan keras, semua tosu mendengarnya dan mendelik kepadanya. Bi Eng dan Han Sin tentu saja
tidak tahu bahwa gelung-gelung itu merupakan tanda kedudukan para tosu Cin-ling-pai. Banyaknya
gelung menunjukkan tinggi rendahnya kedudukan. Tosu bergelung tujuh adalah murid-murid
tingkat ke tujuh, yang bergelung lima adalah murid-murid tingkat ke lima dan begitu seterusnya.
Makin sedikit gelungnya makin tinggi tingkatnya dan tiga orang tosu paling depan adalah muridmurid
tingkat empat, termasuk murid-murid “luar” yang paling tinggi tingkatnya. Hanya tosu
gelung tiga, dua, dan satu adalah murid-murid “dalam” atau murid langsung dari Giok Thian Cin
Cu.
“Eh, orang-orang muda, siapa kalian dan mengapa lancang mengambil jalan ini tanpa minta
perkenan dari kami lebih dulu?” tanya seorang di antara tiga tosu gelung empat itu, yang mukanya
burik (bopeng).
Pertanyaan ini diajukan dengan sikap memandang rendah dan tanpa sopan santu. Han Sin
menerimanya dengan tenang-tenang saja akan tetapi tidak demikian dengan Bi Eng. Dengan mata
bersinar marah gadis ini menjawab,
“Kalian ini berpakaian seperti pendeta tapi bersikap seperti perampok, mau apakah menghadang
perjalanan kami? Orang lewat di gunung ini harus minta perkenan darimu, apakah kalian ini
termasuk setan-setan penjaga gunung?”
“Eng-moi ....!” Han Sin menegur adiknya yang surut kembali ketika ditegur oleh kakaknya. Bi Eng
bersungut-sungut dan membela diri.
“Biarlah Sin-ko. Sikap mereka kurang ajar dan keterlaluan, dikiranya aku takut kepada mereka?
Cih!”
Sementara itu, Siauw-ong yang melihat sikap Bi Eng memusuhi para tosu itu, tentu saja membela
nonanya. Ia dari pundak Han Sin lalu membuat panas hati para tosu itu dengan ejekan-ejekan,
menyengir-nyengir mencebi-cebi dan kedua tangannya dikepal dan diacung-acungkan seperti orang
menantang berkelahi!
“Eng-moi, biar orang berlaku kasar kepada kita, jangan membalas dengan kekerasan. Biar orang
menyerang kita, kita jangan menggunakan kekerasan,” Han Sin menegur adiknya yang tunduk
terhadap peringatan kakaknya ini, biarpun hatinya mendongkol bukan main terhadap tosu-tosu itu.
Adapun para tosu itu yang biasanya amat ditakuti dan disegani orang, ketika melihat sikap Bi Eng
dan monyet kecil, menjadi marah. Bala tentara kaisar asing masih menaruh hormat dan segan
kepada mereka, masa bocah perempuan ini berani bersikap galak? Datang-datang mereka dimaki
perampok dan setan penjaga gunung, tentu saja para tosu menjadi marah dan memandang dengan
mata mendelik.
“Suheng, biar siauwte menangkap bocah-bocah gunung ini, tentu mereka ini mata-mata partai lain
yang sengaja hendak menyelidik dan mencari perkara!” berkata dua orang tosu gelung lima yang
melompat maju. Ketika tosu-tosu gelung empat mengangguk, dua orang tosu gelung lima yang
bertubuh gemuk-gemuk ini melangkah lebar menghampiri Han Sin dan Bi Eng, lalu menudingkan
telunjuk mereka yang besar. Seorang di antara mereka membentak, “Kalau orang baik-baik, lekas
berlutut minta maaf atas kelancangan kalian, terangkan nama dan tujuan!”
Koleksi Kang Zusi
Bi Eng hampir tak dapat mengendalikan kemarahannya lagi. Siauw-ong yang melihat sinar mata
nonanya, maklum bahwa ia berhadapan dengan musuh-musuh, maka sambil mengeluarkan suara
pekik dahsyat monyet kecil ini melompat maju. Cepat bukan main gerakannya sehingga di lain saat
ia telah menangkap lengan yang diacungkan itu dan menggigit telunjuk yang menuding.
“Auuu .... aduuuuhh ...! Tosu gemuk yang digigit telunjuknya itu marah sekali dan tangan kirinya
dikepal terus menghantam kepala monyet kecil itu. Akan tetapi Siauw-ong bukanlah sembarang
monyet. Jelek-jelek iapun “murid” Ciu-ong Mo-kai maka begitu kepalan menyambar, ia telah
berpindah ke pundak tosu yang kedua. Sebelum tosu ini tahu apa yang terjadi, rambutnya sudah
dijambak-jambak dan gelungnya yang lima buah banyaknya itu terlepas dan awut-awutan! Lebih
celaka lagi, kuku-kuku tangan Siauw-ong mencakar dan berdarahlah telinganya.
“Binatang jahat!” seru mereka berdua dan dengan pukulan-pukulan berat mereka menyerang
monyet itu. Siauw-ong berlompatan ke sana ke mari sambil menyeringai dan mengejek. Ketika
monyet itu meloncat turun ke atas tanah, payah juga kedua orang tosu itu mengejar dalam usaha
mereka memukul dan menangkap, karena mereka harus membungkuk-bungkuk dan tubuh yang
gemuk itu betul-betul membuat gerakan mereka kurang leluasa.
Siauw-ong memiliki gerakan yang amat cepat dan lincah. Monyet ini menari-nari dan mulai
menggunakan pukulan-pukulan ilmu silat yang aneh karena ilmu silat yang ia tiru-tiru dari Bi Eng
itu bercampur dengan gerakan asli monyet itu. Namun harus diakui kehebatannya karena berkalikali
ia telah dapat menampar, menendang, mencakar bahkan menggigit pakaian dua orang tosu itu
sampai robek-robek.
Bi Eng tak dapat menahan kegembiraan hatinya. Gadis itu tertawa-tawa terkekeh sambil bertepuktepuk
tangan. “Bagus, Siauw-ong, bagus! Cakar mukanya, pukul perutnya yang gendut-gendut itu.
Hi hi hi!”
“Siauw-ong, mundur!” Bentakan Han Sin ini ternyata berpengaruh sekali karena sambil cecowetan
takut Siauw-ong lalu meloncat ke atas pundak Han Sin.
Bi Eng kecewa. “Koko, mengapa tidak biarkan Siauw-ong menghajar mereka? Agaknya orangorang
macam inilah yang dikatakan orang-orang jahat oleh suhu.”
“Diamlah, adikku, biar aku yang menghadapi mereka,” kata Han Sin yang melangkah maju dan
menjura kepada dua orang tosu yang masih mencak-mencak saking marahnya. Tubuh mereka sakitsakit,
kulit lecet-lecet karena cakaran Siauw-ong dan pakaian mereka robek-robek sedangkan
rambut awut-awutan. Han Sin menjura dan berkata,
“Harap cuwi taisu memaafkan monyetku ini dan maklum bahwa monyet tentu saja tidak sesopan
manusia.”
Kata-kata ini keluar dari hati jujur tanpa terkandung sesuatu, namun para tosu itu mengira Han Sin
mengejek mereka dan memaki mereka menyatakan bahwa mereka sebagai manusia-manusia juga
tidak sopan seperti monyet.
“Eh, bocah-bocah kurang ajar. Kalian berani main gila terhadap tosu-tosu Cin-ling-pai? Ayoh lekas
berlutut minta ampun, baru kami masih pikir-pikir untuk meringankan hukumanmu,” kata tosu yang
mukanya bopeng.
Biarpun Han Sin seorang pemuda aneh yang amat sabar dan rendah hati namun ia keturunan orang
gagah dan dalam pelajaran-pelajaran di kitabnya terdapat pantangan untuk orang berlaku merendah
Koleksi Kang Zusi
dan menjilat. Bagaimana ia bisa berlutut minta ampun tanpa kesalahan? Hal serendah dan sehina ini
tentu saja tak mungkin ia mau melakukan. Hanya orang bersalah yang wajib minta ampun terhadap
siapapun juga. Selagi ia ragu-ragu, Bi Eng mendamprat tosu itu.
“Pendeta bopeng! Terhadap manusia macam kau, mana bisa kakakku berlutut minta ampun? Kami
tidak bersalah apa-apa, kalian yang sengaja menghadang perjalanan kami. Ayoh, minggir dan
biarkan kami meneruskan perjalanan kalau kalian memang tidak mempunyai niat busuk.”
“Bocah bermulut lancang! Kalau tidak mau minta ampun, terpaksa pinto menggunakan kekerasan
menangkap kalian!” Si tosu bopeng lalu mengulur tangan hendak mencengkeram pundak Bi Eng.
Akan tetapi sambil mengeluarkan suara tertawa mengejek, Bi Eng mengelak dan begitu kaki kirinya
yang kecil bergerak, ujung sepatunya yang keras telah mencium tulang kering tosu itu,
mengeluarkan bunyi “tak!” yang keras.
Tosu Bopeng itu megap-megap menahan sakit sambil berjingkrak dengan sebelah kaki. Tulang
keringnya retak terkena tendangan tadi, sakitnya bukan alang kepalang, sampai menusuk ke
jantung.
Kawannya, tosu bergelung lima yang kedua, marah sekali. “Berani kau merobohkan tosu Cin-lingpai?”
katanya sambil menubruk maju dengan sikap beringas.
Han Sin kuatir sekali melihat ini, takut kalau adiknya mengalami celaka. Mana adiknya bisa
menang menghadapi tosu yang begini galak dan beringas? “Harap taisu jangan celakai adikku ....!”
katanya memohon sambil mengangkat tangan untuk menahan serangan tosu itu.
Tosu kedua yang botak kepalanya dan empat gelungnya amat kecil-kecil karena rambutnya hanya
sedikit ini, maka ia robah cengkeramannya ke arah Bi Eng dan memukul lengan pemuda itu untuk
merobohkannya.
“Plakk ....!” Aneh sekali. Tosu yang bergelung empat ini, begitu tangannya bertemu dengan lengan
Han Sin yang diangkat untuk mencegahnya menyerang Bi Eng, tiba-tiba menjerit, tubuhnya
terpental dan ia roboh dengan tulang lengannya patah! Ia menyeringai kesakitan dan memandang
kepada Han Sin dengan heran dan terkejut sekali. Bi Eng tidak tahu bahwa tosu itu roboh oleh
tangkisan kakaknya. Ia terkejut sekali melihat Han Sin maju, takut kalau kakaknya terluka. Maka ia
lalu menerjang maju dan berkata keras,
“Tosu-tosu bau! Jangan ganggu kakakku yang tidak bisa ilmu silat. Kalau mau berkelahi, lawanlah
aku!” Siauw-ong yang melihat sikap nonanya ini lalu melompat turun dan berdiri di dekat Bi Eng
sambil angkat dada, lalu tangan kanannya menepuk-nepuk dadanya dengan sikap menantang sekali.
Semua tosu mengira bahwa robohnya tosu gelung empat tadi karena serangan gelap dari Bi Eng,
malah si tosu sendiri mulai ragu-ragu apakah betul ia roboh dan patah lengannya oleh pemuda
lemah itu. Apa lagi ketika semua tosu melihat betapa dalam usahanya mencegah Bi Eng, Han Sin
maju tergesa-gesa sampai kakinya tersandung batu yang membuat ia jatuh terjungkal!
Bi Eng menjerit, menghampiri kakaknya. “Koko, kau jatuh? Sakitkah?”
Dengan muka merah Han Sin merayap bangun sambil menggeleng kepalanya. “Tidak apa-apa, moimoi.
Janganlah kau mencari perkara dengan para taisu ini .....”
Koleksi Kang Zusi
Sementara itu, para tosu Cin-ling-pai sudah memuncak marahnya. Dua orang tosu gelung lima
sudah dihina seekor monyet, dua orang tosu gelung empat sudah dikalahkan oleh seorang gadis
cilik, kemana mereka harus menaruh muka kalau tidak bisa membalas kekalahan ini?
Tosu tingkat rendahan tidak berani lancang maju, hanya memperlihatkan sikap waspada dan
mengurung, sedangkan tosu gelung lima yang masih ada tiga orang bersama seorang tosu gelung
empat, maju bersama, sikapnya mengancam. Di pihak Bi Eng, nona inipun berdiri dengan sikap
gagah, memasang kuda-kuda dan di sebelahnya, Siauw-ong juga memasang kuda-kuda sambil
meringis-ringis memperlihatkan giginya yang runcing! Han Sin menarik napas panjang pendek,
tidak berdaya mencegah pertempuran yang akan terjadi ini. Ia amat kuatir, apa lagi ketika melihat
empat orang tosu itu tiba-tiba mencabut pedang dari punggung mereka.
“Cih, tak tahu malu!” Bi Eng memaki dengan suara menyindir. “Empat orang tosu tua bangka
hendak mengeroyok, malah menggunakan senjata tajam. Gagah amat!” Memang sengaja ia
menyindir karena diam-diam ia bingung juga melihat empat orang lawan hendak mengeroyoknya
dengan pedang di tangan, biarpun di dalam hatinya sama sekali ia tidak takut.
Mendengar ini, empat orang tosu itu saling pandang dengan muka merah. Mereka jadi tidak berani
maju, karena memang amat memalukan kalau empat orang tosu Cin-ling-pai yang sudah terkenal
gagah perkasa harus maju mengeroyok seorang gadis cilik yang bertangan kosong.
“Suheng, biar siauwte menghajarnya!” kata tosu gelung lima sambil melangkah maju. Akan tetapi
baru saja ia maju, Siauw-ong sudah menyerangnya dengan cakaran dan gigitan, bukan sembarangan
melainkan dengan gerakan teratur, gerakan yang dipengaruhi gerakan-gerakan ilmu silat!
“Binatang ini harus dimampuskan dulu!” seru tosu gelung lima itu dan pedangnya kini berkelebatan
menyambar, menghujankan serangan kepada tubuh monyet yang kecil itu.
Akan tetapi Siauw-ong gesit luar biasa. Setelah tosu Cin-ling-pai ini memegang pedang, memang ia
hebat sekali. Kepandaian khas dari para tosu Cin-ling-pai memang dalam penggunaan pedang yang
menjadi senjata khusus ketua mereka Giok Thian Cin Cu. Maka menghadapi sambaran pedang yang
berputar-putar dan berkelebatan seperti kilat menyambar-nyambar itu, Siauw-ong menjadi kecil
hatinya, tidak dapat menyerang kembali.
Akan tetapi, bagi tosu itupun merupakan hal yang luar biasa sukarnya untuk mengenai tubuh si
monyet. Bukan main lincahnya, meloncat ke sana ke mari dan selalu bacokan-bacokan dan tusukantusukan
hanya mengenai angin belaka! Ini masih belum seberapa kalau si monyet tidak
mengeluarkan suara seperti orang mentertawakan dan mengejek. Tosu gelung lima itu menjadi
makin marah, seperti bernyala api sinar matanya, berbusa mulutnya dalam nafsu besarnya untuk
mencacah-cacah tubuh monyet nakal ini.
Si tosu sudah senen-kemis napasnya karena selalu ia membacok dan menusuk angin. Juga Siauwong
nampak lelah biarpun gerakan-gerakannya tidak menjadi lambat. Hal ini amat mencemaskan
hati Bi Eng. Biarpun ia harus mengakui bahwa ilmu pedang tosu itu lihai, namun setelah melihat
tosu itu menyerang Siauw-ong, dalam hati kecilnya ia sanggup menghadapi tosu ini dengan kosong
saja. Ia dapat mengelak selincah Siauw-ong untuk menghindarkan diri dari hujan senjata dan di
samping ini, tidak seperti Siauw-ong, ia melihat kesempatan-kesempatan dan lowongan-lowongan
untuk menyerang kembali.
“Siauw-ong, mundurlah!” serunya kepada monyet itu yang cepat melompat ke belakang, langsung
naik ke pundak Han Sin sambil meleletkan lidah dan memanjangkan hidungnya kepada tosu tadi.
Beberapa orang tosu di belakang menahan ketawa mereka. Betapapun gemas dan mendongkol hati
Koleksi Kang Zusi
mereka, didalam hati mereka geli juga melihat kenakalan monyet yang ternyata amat lihai itu. Masa
suheng mereka yang bertingkat lima tidak mampu mmbacok leher monyet dalam puluhan jurus
tadi? Benar-benar aneh sekali. Padahal, suheng mereka itu menghadapi seekor harimau ganas
sekalipun, pedangnya tentu akan dapat membunuh harimau itu tidak lebih dari dua puluh jurus.
Tosu itu biarpun napasnya sudah senen-kemis, akan tetapi saking marahnya dipermainkan oleh
monyet itu, begitu melihat Bi Eng, maju, ia lalu menyerang dengan tusukan yang ganas.
“Moi-moi, awas!” Han Sin berteriak ngeri.
Namun gerakan Bi Eng tidak kalah gesitnya oleh Siauw-ong. Ia dengan mudah mengelak. Tosu itu
kini tidak mau gagal lagi, ia menggerakkan pedang cepat sekali dan mengirim serangan bertubitubi.
Kini para tosu melihat hal yang aneh dan lucu. Gadis cantik jelita itu mulai berloncat-loncatan,
persis seperti gerakan-gerakan monyet cilik tadi, begitu cepat, begitu lucu dan selalu dapat
menghindarkan ancaman pedang!
Tidak seperti Siauw-ong tadi yang hanya bisa mengelak tanpa dapat membalas menyerang. Bi Eng
sekarang mempergunakan setiap lowongan untuk balas menyerang lawannya sehingga tosu itu
makin sibuk dan serangan-serangannya mengendur.
“Sute, lepaskan pedangmu. Mari kubantu kau menangkap gadis liar ini!” seru tosu gelung empat
yang menjadi penasaran sekali melihat bahwa sutenya ini tak lama lagi tentu akan dirobohkan gadis
cilik itu. Ia teringat bahwa andaikata sutenya dapat merobohkan gadis cilik itu yang bertangan
kosong, hal ini tidak akan mengharumkan nama Cin-ling-pai yang sudah terkenal. Maka lebih baik
menangkap gadis ini dan kakaknya untuk diseret kepada suhu-suhu mereka dan menanti keputusan.
Asal dapat menangkap mereka berdua dan monyet itu, sudah tertebuslah kekalahan-kekalahan tadi
dan nama baik Cin-ling-pai takkan tercemar.
Tosu gelung lima itu girang sekali mendengar suhengnya hendak membantu. Ia lalu menyimpan
pedangnya dan melompat ke belakang sambil terengah-engah.
“Biar kuganti kau, sute!” kata seorang kawannya, tosu gelung lima lain lagi yang maju mengawani
si tosu gelang empat. Dua orang tosu ini tanpa banyak cakap lalu menyerbu dan berusaha
menangkap atau menotok jalan darah Bi Eng.
Bi Eng mengelak cepat dan serangan-serangan ini dan ia menjadi terdesak. Tingkat kepandaian
tosu-tosu itu sebetulnya sudah amat tinggi dan Bi Eng baru belajar silat dua tahun saja, mana dia
bisa melawan mereka? Hanya karena semenjak kecil ia belajar menari-nari dengan monyet yang
gesit maka ia memiliki kegesitan luar biasa, ditambah lagi biarpun hanya belajar dua tahun namun
ia belajar langsung dari tangan seorang sakti seperti Ciu-ong Mo-kai, maka tadi ia dapat
menghadapi pedang tosu tingkat lima dan empat, gadis ini benar-benar hanya dapat mengelak dan
berloncatan ke sana ke mari menggunakan kegesitannya dalam tari monyet, sama sekali tidak
mampu membalas serangan lawan.
Tiba-tiba terdengar suara Han Sin yang membuat gadis itu girang sekali.
“Eng-moi, Pek-in-koan-goat (Awan Putih Tutup Bulan) ke kiri!”
Setelah mendengar seruan ini, barulah terbuka mata Bi Eng dan secara membuta ia lalu melakukan
gerakan yang disebutkan oleh kakaknya itu. Dua orang tosu itu terkejut sekali karena tiba-tiba
gerakan Bi Eng berubah dan tahu-tahu telah menyerang mereka dengan dahsyat. Mereka terpaksa
mengelak sambil melompat mundur, baru berani menyerang lagi dari kanan kiri.
Koleksi Kang Zusi
“Hui-in-ci-tiam (Awan Terbang Keluarkan Kilat)!” Lagi-lagi Han Sin berseru sambil memandang
pertempuran itu dengan penuh perhatian.
“In-mo-sam-bu (Payung Awan Tiga Kali Menari)!”
Seruan-seruan ini adalah gerak tipu yang paling tepat untuk dimainkan dalam keadaan seperti Bi
Eng. Han Sin memang tidak pernah melatih diri dengan ilmu silat, akan tetapi ilmu silat Liap-hong
Sin-hoat telah ia pelajari teorinya sampai hafal benar, sampai sempurna sehingga ia dapat melihat
bagaimana gerak tipu itu harus dimainkan sungguhpun kalau dia sendiri disuruh main, tentu
gerakan-gerakan kaki tangannya kaku dan tidak biasa.
Bi Eng percaya penuh kepada kakaknya yang memang ia anggap manusia paling pintar di dunia ini,
maka secara membuta ia dengan girang mentaati seruan-seruan itu dan berturut-turut ia mainkan
Hui-in-ci-tiam disusul Im-mo-sam-bu yang mempunyai tiga jurus gerakan. Makin girang hatinya
ketika dalam jurus kedua dari gerak tipu ini, jari-jari tangannya telah mengenai sasaran dengan
tepat, yaitu di iga kiri tosu gelung lima.
Akan tetapi selama hidupnya Bi Eng belum pernah menotok orang. Ketika ia berlatih dengan
suhunya, yang menjadi korban percobaan ilmu totokannya adalah Siauw-ong dan karena ia kasihan
kepada monyetnya, ia selalu hanya menotok urat ketawa monyet itu untuk tidak menyiksanya. Kini
setelah jari-jari tangannya menyentuh kulit tosu itu, ia menjadi jijik dan geli maka otomatis jari
tangannya lalu mencari urat ketawa dan di lain saat tosu gelung lima itu berjingkrakan ke belakang
sambil memegangi perutnya dan tertawa terpingkal-pingkal.
“Hah hah hah hah heh heh heh heh ....!”
Melihat sutenya dipukul lawan, tosu gelung empat kaget dan cepat mendekati sutenya, akan tetapi
sutenya itu ternyata tidak luka malah tertawa-tawa seperti orang kemasukan setan. Ia menepuk
pundak sutenya dan membentak, “Sute, tidak melanjutkan serangan kok malah ketawa-tawa.
Bagaimana sih kau ini?”
“He he he .... pinto (aku) ....... hah hah hah hah!” Tosu gelung lima itu terkekeh-kekeh dan bergelakgelak,
tak dapat lagi menahan ketawanya sampai perutnya terasa kaku dan sakit.
Melihat keadaan ini, barulah tosu tingkat empat itu kaget dan maklum bahwa ketawa sutenya ini
bukanlah sewajarnya. Ia mencoba untuk memulihkan jalan darah sutenya, akan tetapi tidak berhasil.
Ilmu totok yang dipergunakan oleh Bi Eng berbeda dengan ilmu totok Cin-ling-pai, maka tosu yang
baru bertingkat empat itu tidak sanggup mengobati sutenya.
Sementara itu, Bi Eng dan Siauw-ong berloncat-loncatan saking girangnya melihat hasil
pertempuran itu. Bi Eng girang dan bangga dan Siauw-ong mentertawai tosu yang masih terbahakbahak
dan terkekeh-kekeh sampai keluar air matanya itu. Han Sin hanya menggeleng-geleng
kepalanya dengan kening dikerutkan.
“Eng-moi, kau tidak boleh bertempur lagi,” katanya keren.
“Koko, ini merupakan latihan yang baik sekali, bukan?” kata Bi Eng girang.
Han Sin menggeleng kepalanya. “Ayoh kau bebaskan dia yang kau totok tadi!” perintahnya. “Totok
ia punya in-tai-hiat dan tepuk urat di tengkuknya.”
Koleksi Kang Zusi
Bi Eng tersenyum mengangguk. “Aku juga belum lupa cara pembebasannya, koko, akan tetapi baik
sekali kau ingatkan agar jangan keliru.” Dengan langkah lebar ia lalu menghampiri tosu gelung lima
yang masih terpingkal-pingkal itu. Cepat ia menotok jalan darah in-tai-hiat lalu berkata kepada
Siauw-ong. “Siauw-ong, kau tepuk tengkuknya tiga kali!”
Ia sendiri tidak sudi harus menepuk-nepuk tengkuk tosu itu. Siauw-ong yang mengikuti nonanya
menurut, meloncat dan menepuk tosu itu tiga kali dengan telapak tangannya. Tosu itu gelayaran
(terhuyung-huyung) hampir jatuh akan tetapi ketawanya berhenti. Tubuhnya terasa lemas dan ia
jatuh duduk dengan napas terengah-engah.
Pada saat itu, dari atas puncak datang serombongan tosu lain dan semua tosu yang berada di situ
bernapas lega. Kiranya yang datang ini adalah serombongan tosu yang terdiri dari tosu-tosu tingkat
empat, tiga dan dipimpin oleh tiga orang tosu tingkat dua! Kali ini tiga ekor monyet cilik ini pasti
akan tertawan, pikir mereka.
Tiga orang tosu tingkat dua itu adalah murid-murid langsung dari Giok Thian Cin Cu. Di Cin-lingpai
hanya terdapat dua orang tingkat satu, dan tiga orang tosu tingkat dua yang sekarang memimpin
pasukan ini. Tosu tingkat tiga hanya ada lima orang, jadi tosu-tosu tingkat satu dua tiga yang
langsung dipimpin oleh Giok Thian Cin Cu sendiri hanya ada sepuluh orang tosu. Ilmu kepandaian
mereka ini tentu saja amat tinggi.
Apalagi Giok Thian Cin Cu sendiri yang selalu bertapa di puncak jarang keluar, bahkan dua orang
muridnya, tosu tingkat pertama, juga jarang keluar, merupakan tosu-tosu tua terhormat yang untuk
segala macam urusan dalam mewakili suhu mereka. Semua urusan luar diserahkan kepada tiga
orang tosu tingkat dua ini yang memang tinggi kepandaiannya, dibantu oleh lima orang tosu tingkat
tiga.
“Ada apakah ribut-ribut di sini?” terdengar suara keren dari tosu gelung dua yang mukanya merah.
Sambil bertanya demikian, sepasang mata yang tajam itu menyapu ke arah Bi Eng, Han Sin dan
Siauw-ong.
“Sam-wi suhu harap suka turun tangan membersihkan muka kita yang dihina orang!” kata tosu
tingkat empat tadi. Kemudian ia menceritakan betapa dua orang muda dan monyetnya itu
melanggar wilayah mereka kemudian mengeluarkan kata-kata kasar, malah sudah merobohkan
beberapa orang tosu.
Tiga orang tosu tingkat dua itu mendengarkan penuturan ini dengan sabar. Akan tetapi mereka
mengerutkan kening dan pandang mata mereka terheran ketika mendengar bahwa gadis cilik itu
telah merobohkan beberapa orang tosu, di antaranya malah mengalahkan tosu tingkat empat!
Hampir mereka tak dapat percaya. Gadis itu paling banyak berusia tujuh belas tahun, dengan
kepandaian macam apakah bisa mengalahkan tosu Cin-ling-pai tingkat empat?
Tiga orang tosu tingkat dua itu memiliki kedudukan yang tinggi di Cin-ling-pai, merupakan
komandan-komandan semua pasukan Cin-ling-pai, tentu saja mereka tidak memandang mata dan
tidak mau ribut mulut dengan orang-orang muda seperti Han Sin dan Bi Eng, apalagi dengan seekor
monyet kecil! Tosu muka merah memberi isyarat kepada tiga orang tosu tingkat tiga. “Tawan
mereka dan bawa ke puncak, biar nanti kami selidiki murid siapa mereka ini berani mengacau di
Cin-ling-pai!”
Tiga orang tosu tingkat tiga itu menjadi merah mukanya. Mereka adalah murid-murid Giok Thian
Cin Cu sendiri, biarpun hanya bertingkat tiga, namun mereka ini adalah tosu-tosu muda yang
langsung dilatih oleh Giok Thian Cin Cu. Masa sekarang mereka bertiga disuruh menangkap dua
Koleksi Kang Zusi
orang muda dan seekor monyet? Menghadapi yang tiga ini, seorang di antara merekapun sudah
cukup, masa harus maju bertiga? Benar-benar pekerjaan yang merendahkan kedudukan mereka.
Akan tetapi karena yang memerintah adalah ji-suheng mereka, tentu saja tiga orang tosu ini tidak
berani membangkang dan dengan muka merah mereka maju serempak.
Melihat majunya tiga orang tosu muda yang kelihatan kuat dan galak, Bi Eng tetap tersenyum
mengejek dan sama sekali tidak memperlihatkan rasa takut. Akan tetapi Han Sin khawatir sekali,
takut kalau-kalau adiknya bertempur lagi, bukan takut adiknya kalah. Ini belum tentu, akan tetapi
takut kalau-kalau adiknya akan mencelakai orang. Ia cepat melangkah lebar menghadang datangnya
tiga orang tosu itu sambil berkata.
“Sam-wi totiang jangan terlalu mendesak kami. Biarlah kami melanjutkan perjalanan kami!”
Tiga orang tosu ini memang merasa segan kalau harus melawan gadis cilik dan monyet. Setidaknya
kalau melawan pemuda ini, tidak terlalu memalukan. Mereka melihat Han Sin maju, lalu berebut
untuk mendahului kawan menangkap pemuda ini. Tosu terdepan lalu mengerahkan lweekangnya
mendorong Han Sin dari jarak dua meter, maksudnya merobohkan Han Sin tanpa menyentuh
tubuhnya memamerkan lweekangnya, setelah pemuda itu roboh baru ditawan. Ia menggunakan
pukulan jarak jauh dengan gerak tipu To-tiu-thai-san (Merobohkan gunung Thai-san). Akan tetapi
alangkah kagetnya ketika tenaga lweekangnya itu membalik dan menyerang dirinya sendiri,
membuat ia roboh terguling-guling!
Melihat seorang tosu melakukan gerakan mendorong lalu roboh sendiri terjengkang dan tergulingguling.
Bi Eng tertawa dan mengejek. “Apa-apaan ini, tosu badut main komidi!”
Tosu kedua kaget sekali dan iapun cepat melakukan pukulan jarak jauh yang lebih hebat. Ia
menggunakan gerakan Pek-lui-pai-san (Geledek menolak gunung) juga sebuah gerak tipu dari ilmu
silat Im-yang-kun warisan gurunya. Ia tidak mendorong melainkan memukul ke arah dada Han Sin.
Seperti tadi, pemuda ini melakukan gerakan mengangkat lengan untuk menangkis karena takut
dipukul dan akibatnya hebat. Tosu itu terlempar jauh dan untuk beberapa menit tak dapat bernapas
karena hawa pukulannya sendiri yang membalik membuat napasnya sesak.
Tosu ke tiga menjadi bengong dan ragu-ragu, tidak berani dekat dan semua tosu memandang
dengan mata terbelalak. Apa lagi tiga orang tosu kelas dua yang memimpin pasukan itu. Mereka
hampir tak dapat percaya akan kejadian itu.
07. Kematian Utusan Kaisar Boan
PADA saat itu terdengar suara aneh menyeramkan, suara melengking tinggi seperti burung rajawali,
makin lama makin keras sampai membikin sakit telinga. Bi Eng yang sudah belajar ilmu silat
tinggi, cepat menahan napas dan mengerahkan lweekang. Akan tetapi tetap saja ia merasa
kepalanya pening dan harus cepat-cepat menutupi kedua telinga dengan telunjuknya. Siauw-ong
termangu-mangu saja, agaknya alat pendengarannya berbeda dengan manusia sehingga ia tidak
terpengaruh suara yang penuh mengandung tenaga lweekang dan khikang ini. Di antara para tosu,
mereka yang masih rendah kepandaiannya, yaitu gelung enam dan tujuh, banyak yang jatuh
bergelimpangan! Han Sin terheran-heran melihat ini karena dia sendiri tidak merasakan sesuatu,
hanya mendengar suara yang aneh dan melengking tinggi rendah tidak karuan.
Tiga orang tosu kelas dua dari Cin-ling-san berubah air mukanya dan mereka segera menjura ke
arah datangnya suara dan si muka merah berseru, “Kami para tosu Cin-ling-pai telah menanti
kedatangan Cinjin!”
Koleksi Kang Zusi
Suara lengking itu lenyap, disusul suara ketawa terbahak-bahak, “Ha ha ha ha ha! Para tosu Cinling-
pai tahu diri. Aku datang!”
Angin bertiup dan entah dari mana datangnya, tahu-tahu di situ telah berdiri seorang laki-laki
berusia lima puluh tahun lebih, bertubuh tinggi besar dengan muka penuh berewok hitam, matanya
besar-besar dan menakutkan. Pakaiannya seperti seorang pembesar saja biarpun tidak ada tanda
pangkatnya, sepasang lengannya yang besar dan penuh urat-urat itu bertolak pinggang, kakinya
dipentang dan sikapnya jumawa sekali. Ia menoleh ke kanan kiri memandang dengan mulut
tersenyum mengejek dan memandang rendah, kemudian ketika melihat Bi Eng, senyumnya melebar
dan matanya berseri. Ia menatap terus wajah Bi Eng sambil tangan kanannya mengelus-elus
jenggotnya lalu mengangguk-angguk.
“Cantik ....... cantik manis ...... sungguh menggiurkan ......!” katanya.
Bi Eng mendongkol bukan main. Gadis ini membuang muka dan cemberut. Akan tetapi Han Sin
berkedip kepadanya, memberi tanda supaya adiknya itu jangan mencari perkara. Biarpun bukan ahli
silat, pemuda ini sekali pandang saja maklum bahwa yang baru datang ini adalah seorang jagoan
kelas berat yang lihai sekali. Buktinya para tosu Cin-ling-pai kelihatan takut-takut.
Tosu muka merah lalu melangkah maju setindak sambil menjura. “Kami telah mendapat
kehormatan besar dari kunjungan Cinjin. Tidak tahu ada perintah apakah dari Cinjin yang perlu
kami sampaikan kepada twa-suheng?” Ucapan ini terdengar amat menghormat, akan tetapi
mengandung sindiran bahwa tamu terhormat itu cukup bicara dengan mereka saja dan semua pesan
akan disampaikan kepada twa-suheng, yaitu murid-murid tingkat pertama. Jadi sama saja dengan
mengatakan bahwa kedudukan twa-suheng Cin-ling-pai masih lebih tinggi dari pada tamu ini.
Kakek tinggi besar itu mengeluarkan suara jengekan dari hidungnya. Dia ini bukan lain adalah Ban
Kim Cinjin, seorang kakek berilmu tinggi yang menjadi kaki tangan kerajaan Ceng. Dia masih
terhitung sute (adik seperguruan) Hoa Hoa Cinjin, maka kepandaiannya luar biasa sekali. Di dunia
kang-ouw tidak ada orang yang belum mengenal namanya, nama yang ditakuti karena kakek ini
terkenal jahat dan cabul. Tentu saja ia dapat menangkap sindiran dalam kata-kata si tosu muka
merah, maka ia berkata, suaranya keras nyaring.
“Tosu-tosu Cin-ling-pai terkenal sombong, tidak kukira sesombong ini! Kalau suhu kalian si Giok
Thian Cin Cu terlalu angkuh menemuiku, masih tidak apa karena dia seorang ciang-bun-jin. Akan
tetapi hanya tosu-tosu bau tingkat dua yang menemui aku, sungguh-sungguh tidak pandang mata.
Aku mewakili kerajaan untuk berunding dengan Cin-ling-pai, karena mengingat persahabatan kami
hendak minta bantuan Cin-ling-pai mencari surat wasiat peninggalan pemberontak Lie Cu Seng.
Masa hanya disambut oleh tosu-tosu pemakan nasi yang tiada gunanya?”
Dapat dibayangkan betapa besar kemarahan para tosu Cin-ling-pai mendengar maki-makian ini.
Siapapun adanya kakek ini, betapa lihaipun Ban Kim Cinjin, tidak semestinya menghina Cin-lingpai
sampai demikian hebatnya. Tiga orang tosu tingkat dua dari Cin-ling-pai adalah tiga orang
gagah yang dijuluki Cin-ling Sam-eng (Tiga Orang Gagah dari Cin-ling-san). Mereka juga muridmurid
terpilih dan tersayang dari Giok Thian Cin Cu, sudah mewarisi ilmu-ilmu silat Im-yang-kun
dan Cin-ling-kun.
Yang tertua dan bermuka merah bernama Hap Tojin, seorang ahli ilmu pedang Cin-ling Kiam-hoat
yang jarang bandingannya, yang kedua, tosu bermuka hijau adalah Hee Tojin yang terkenal sebagai
seorang ahli lweekang yang amat kuat di samping ilmu silatnya yang juga lihai sekali, dan orang
ketiga yang bermuka hitam adalah Tee Tojin yang keistimewaannya adalah ilmu ginkang yang luar
biasa. Digabung menjadi satu, tiga orang ini sudah merupakan wakil Cin-ling-pai yang tidak
Koleksi Kang Zusi
mengecewakan dan karenanya dipercaya oleh Giok Thian Cin Cu untuk membereskan segala
macam urusan yang menyangkut kepentingan perkumpulan mereka.
Sambil menahan kemarahan, Hap Tojin si muka merah lalu melangkah maju dan menjura lagi.
“Harap Cinjin jangan mengeluarkan ucapan seperti itu. Kami sesaudara yang berada di sini sudah
mendapat perintah dari suhu untuk membereskan semua urusan. Jangankan hanya seorang diri
seperti Cinjin, biarpun andaikata Kaisar Ceng mengirim utusan sebarisan, kiranya cukup
dirundingkan dengan kami semua yang berada di sini. Kalau Cinjin ada urusan untuk disampaikan,
harap katakan saja dan kami dapat memutuskan.”
Merah muka Ban Kim Cinjin, matanya bersinar-sinar marah. “Sombong! Kalau aku tetap hendak
naik ke puncak berunding sendiri dengan Giok Thian Cin Cu, kalian mau apa?”
“Tidak bisa, Cinjin. Kalau kami diamkan saja, kami akan mendapat teguran keras dari suheng.
Kecuali kalau Cinjin bisa melewati pasukan Cin-ling-pai, baru kiranya dapat sampai di puncak,”
kata Hap Tojin. Begitu mendengar ucapan ini, para tosu bergerak merupakan bentuk-bentuk tin
(barisan) yang teratur rapi. Semua tosu menghunus pedang dan terbentuklah barisan sebanyak tujuh
lapis. Inilah barisan Cin-ling-tin yang amat kokoh kuat, terdiri dari tosu-tosu gelung tujuh di depan,
lalu di belakangnya tosu-tosu gelung enam dan makin ke belakang makin kuat kedudukannya
karena anggauta-anggauta barisannya lebih lihai dari pada yang di depan.
Ban Kim Cinjin mengangkat kepala dan tertawa bergelak. “Ha ha ha! Cin-ling-pai berkali-kali
unjuk gigi. Baiklah, kali ini hendak kucoba betapa kuat barisannya!”
Tubuh kakek ini berkelebat ke depan dan kembali terdengar bunyi melengking rajawali yang
dahsyat, dibarengi serbuannya ke depan, menyergap barisan terdepan. Barisan ini terdiri dari tiga
belas orang tosu gelung tujuh yang memegang pedang. Begitu kakek itu mengeluarkan bunyi
lengking, barisan ini sudah kacau karena mereka menjadi lumpuh semangat dan tergetar
jantungnya. Akan tetapi dengan gagah para tosu Cin-ling-pai maju juga dan menyerbu Ban Kim
Cinjin. Kakek ini tidak memegang senjata, akan tetapi begitu ia menggerakkan kedua tangannya,
ternyata kedua tangan ini lebih ampuh dari pada senjata tajam.
Beberapa gebrakan saja kakek ini menerjang seperti seekor burung rajawali menyambar korban,
robohlah berturut-turut lima orang anggauta pasukan tosu itu dengan kepala remuk atau dada pecah!
Darah berhamburan dan jerit terdengar mengerikan. Tosu-tosu lain dalam barisan itu tidak kenal
takut dan pantang mundur, mereka terus menyerbu menggantikan kawan-kawan yang tewas. Akan
tetapi mereka ini seperti nyamuk-nyamuk melawan nyala api, begitu maju mereka bertemu dengan
pukulan-pukulan tangan sakti yang membuat mereka rebah tak bernyawa lagi. Sebentar saja, dari
tiga belas orang tosu gelung tujuh ini, hanya tinggal tiga orang lagi yang belum tewas.
Bi Eng memandang kagum dan heran melihat kehebatan ilmu silat kakek itu. Siauw-ong
bersembunyi di belakang nonanya, ngeri melihat begitu banyak darah muncrat keluar. Sedangkan
Han Sin berdiri dengan muka pucat. Tak tahan ia melihat pembunuhan besar-besaran seperti ini.
Tanpa dapat dicegah oleh Bi Eng lagi, pemuda ini lalu lari ke depan menuju ke medan pertempuran.
“Koko ..... jangan ....!” Bi Eng juga mengejar ke depan untuk menahan atau melindungi kakaknya.
Ia cukup mengerti bahwa kakaknya itu biarpun amat pintar, namun adalah seorang pemuda lemah
yang tidak pernah melatih diri dalam ilmu silat. Mendatangi tempat yang demikian berbahaya,
benar-benar seperti mengantar nyawa.
Han Sin tidak perdulikan cegahan adiknya. Hatinya tidak kuat menahan melihat pembunuhan besarbesaran
itu, apa lagi kalau ia lihat betapa kakek ganas itu maju terus hendak melabrak barisanKoleksi
Kang Zusi
barisan berikutnya dan para tosu Cin-ling-pai agaknya juga tidak mau mengalah. Ia angkat kedua
tangannya sambil berteriak-teriak keras.
“Cuwi totiang, hentikan pertempuran! Lo-enghiong yang gagah, harap hentikan pembunuhanpembunuhan
ini!” Ia terus berlari menghampiri Ban Kim Cinjin, dan terus mengangkat kedua
tangan untuk memegang tangan kakek itu dalam usahanya mencegah kakek itu melancarkan
pembunuhan dengan kedua tangan mautnya.
Melihat pemuda ini datang sambil mengangkat tangan, berlari-lari kaku, Ban Kim Cinjin menjadi
marah dan mengira pemuda itu hendak membela para tosu Cin-ling-pai. “Bocah lancang, pergilah!”
serunya sambil menggaplok pundak Han Sin dengan perlahan untuk merobohkan pemuda itu.
“Plak!” Tubuh Han Sin terlempar, akan tetapi kakek itu sendiri terjengkang ke belakang. Mukanya
pucat dan napasnya terengah-engah. Ia merasakan tenaganya tadi seperti bertemu dengan baja yang
keras.
“Jangan pukul kakakku! Bangsat, berani kau pukul kakakku!” Bi Eng dengan marah menyambar
sebatang pedang dari tosu Cin-ling-pai yang terjatuh ke atas tanah, kemudian ia menyerang Ban
Kim Cinjin dengan sebuah tusukan.
“Moi-moi, jangan .....!” Han Sin mencegah adiknya sambil merayap bangun. Ia tidak terluka dan
tidak merasa sakit sama sekali.
Namun terlambat. Pedang di tangan Bi Eng sudah menusuk dan kakek itu menggerakkan tangan
menangkis. Bi Eng menjerit, pedangnya terpukul patah oleh tangan kakek sakti itu dan gadis itu
terhuyung lalu roboh.
Ban Kim Cinjin merasa lega mendapatkan bahwa tangannya masih tidak kehilangan
keampuhannya. Ia tadinya sangsi apakah tenaganya tiba-tiba lenyap maka ketika mendorong
pemuda lemah itu dia sampai terjengkang. Kini ia marah dan menggunakan separuh tenaganya
untuk memukul Han Sin yang sudah datang lagi. Han Sin sedang sibuk hendak menolong Bi Eng,
maka ia tidak bisa menjaga datangnya pukulan yang tepat mengenai dadanya.
“Blekk ....!” Kembali Han Sin terpelanting dan terguling-guling sampai tiga tombak lebih, akan
tetapi ia dapat bangun lagi karena tidak merasa sakit.
Hebatnya, kakek itu mengeluarkan seruan kesakitan dan terguling roboh, dari mulutnya muntahkan
darah segar! Saking herannya, sampai ia lupa akan sakitnya dan dengan beringas ia meloncat
bangun, kemudian menubruk Han Sin, mengerahkan seluruh tenaganya menghantam kepala Han
Sin.
Pemuda itu mendengar angin pukulan dahsyat mengancam kepalanya, segera mengangkat tangan
kiri untuk menangkis.
“Dukkk ....!” Kini Han Sin hanya jatuh lagi terduduk, akan tetapi kakek itu seperti daun kering
tertiup angin, mencelat sampai empat meter dan jatuh di atas tanah dengan mata mendelik dan
nyawa putus!
Bukan main kagetnya Han Sin. Ia berlari menghampiri kakek itu dan melihat kakek itu sudah mati,
tiba-tiba pemuda itu menangis!
“Apa yang kulakukan .... ah, Thian Yang Maha Kuasa .... apa yang telah kulakukan .....??”
Koleksi Kang Zusi
Bagaimana seorang tokoh besar kang-ouw seperti Ban Kim Cinjin yang sudah amat tinggi tingkat
kepandaiannya itu bisa tewas ketika memukul dan tertangkis oleh Han Sin? Sedangkan yang lainlain,
para tosu gelung tiga yang kepandaiannya jauh lebih rendah kalau dibandingkan dengan Ban
Kim Cinjin, ketika memukul Han Sin mereka hanya terpental dan roboh saja akan tetapi tidak
sampai mati? Hal ini memang ada sebabnya.
Dengan latihan samadhi yang istimewa, yang dipetiknya dari kitab-kitab kuno dan dilatihnya tanpa
petunjuk seorang ahli-ahli, secara keliru Han Sin telah melatih siulian semenjak ia kecil sampai
belasan tahun lamanya. Latihan ini ia lakukan tanpa mengenal bosan dan lelah, bahkan dilakukan
siang malam tak kenal waktu. Kekeliruannya ini tentu akan mencelakakan, dapat membuat orang
menjadi gila atau kemasukan pengaruh iblis lalu mempelajari ilmu hitam kalau saja Han Sin tidak
memiliki dasar watak yang memang bersih dan baik.
Sebaliknya dari pada mencelakakan, kekeliruan ini malah mendatangkan hawa sinkang yang
mujizat di dalam tubuh pemuda ini. Sinkang ini demikian kuat sehingga sukar untuk diukur lagi
kehebatannya, tanpa disadari oleh si pemilik.
Karena Han Sin tidak tahu mempergunakan hawa sinkang ini, maka hawa sinkang itu bekerja dan
bergerak menurut jalan pikirannya. Kalau ia mengangkat tangan dan pikirannya ditujukan hendak
menangkis pukulan atau mencegah serangan orang, secara otomatis, hawa sinkang itu menjalar ke
seluruh tangannya yang menangkis dan di situ bersembunyi hawa pukulan yang mujizat.
Akan tetapi karena tidak dipergunakan untuk menyerang, hawa sinkang itu hanya bersifat menahan
belaka. Maka tergantung dari kekuatan lawan yang ditangkis. Kalau lawan itu mempunyai tenaga
pukulan tiga ratus kati, maka ketika tertangkis tenaga pukulan seberat itu akan membalik dan
memukul penyerangnya sendiri.
Tosu-tosu tingkat tiga dari Cin-ling-pai ketika memukul Han Sin tidak mengerahkan tenaga
sepenuhnya, paling banyak tenaga dorongnya hanya tiga ratus kati, itupun dilakukan dengan
pukulan jarak jauh karena mereka memang tidak berniat membunuh Han Sin. Maka akibatnya pun
tidak sangat hebat bagi mereka, hanya terjengkang dan terlempar oleh hawa pukulannya sendiri
yang membalik ketika membentur hawa sinkang yang keluar dari lengan Han Sin.
Sebaliknya, Ban Kim Cinjin yang sudah marah sekali, menggunakan pukulan sepenuh tenaganya,
sedikitnya ada seribu kati lebih. Maka begitu terbentur lengan Han Sin dan pukulan itu membalik,
mana kakek itu kuat menerimanya? Isi dadanya remuk dan nyawanya melayang!
Han Sin sampai saat matinya Ban Kim Cinjin, masih belum sadar akan kekuatannya sendiri. Masih
belum mengerti bahwa di dalam tubuhnya bersembunyi kekuatan mujizat. Ia hanya tahu bahwa
kakek itu mati setelah memukul dan ditangkisnya, maka ia menjadi kaget bukan main. Hatinya yang
sudah merasa ngeri melihat banyak terjadi pembunuhan, yang mendatangkan rasa kasihan di dalam
hatinya yang mulia dan welas asih, tentu saja menjadi hancur ketika melihat ada orang sampai mati
karena beradu lengan dengannya. Ia merasa menjadi pembunuh dan karena perasaan inilah ia
menangis sedih.
Para tosu Cin-ling-pai ketika melihat Ban Kim Cinjin tewas, menjadi terkejut sekali. Bagaimana
pun juga, Ban Kim Cinjin adalah seorang utusan kerajaan Ceng. Kalau yang membunuh kakek ini
tosu-tosu Cin-ling-pai, hal itu masih tidak hebat karena para tosu Cin-ling-pai yang gagah tentu saja
akan mempertanggung jawabkan perbuatan mereka. Akan tetapi sekarang yang membunuh kakek
itu adalah dua orang muda yang tidak terkenal, maka karena matinya di Cin-ling-san, tentu saja para
tosu Cin-ling-pai yang akan didakwa membunuh Ban Kim Cinjin.
Koleksi Kang Zusi
Inilah hebat! Bukan saja Ban Kim Cinjin utusan kaisar Ceng, malah ia itu sute dari Hoa Hoa Cinjin!
Dalam pikiran para tosu, mereka mengira bahwa Ban Kim Cinjin mati oleh Han Sin dan dibantu
secara menggelap oleh Bi Eng, sama sekali mereka belum bisa menerima kalau ada dugaan pemuda
itu dapat membunuh Ban Kim Cinjin hanya dengan jalan menangkis pukulannya.
“Tangkap pembunuh-pembunuh ini!” seru Cin-ling Sam-eng, tiga orang tosu Cin-ling-pai kelas dua
itu. Mereka sendiri menubruk maju untuk menangkap Han Sin dan Bi Eng.
Han Sin melompat maju, mengangkat dadanya dengan sikap gagah, dan suaranya luar biasa sekali,
nyaring dan berpengaruh sehingga sekian banyaknya tosu yang menerjang maju tiba-tiba berhenti
dan terpaksa mendengarkan. Bahkan Bi Eng sendiri sampai bengong memandang kakaknya yang
tiba-tiba mempunyai suara demikian hebat pengaruhnya.
“Nanti dulu! Cuwi totiang adalah orang-orang beribadat, orang-orang yang menjalani kesucian dan
mengutamakan tata susila dan kebajikan. Apakah patut menghina seorang perempuan?”
Hap Tojin ketawa dingin untuk melenyapkan rasa jengahnya mendengar teguran ini. “Hemm, kalian
sudah membunuh seorang utusan kaisar di sini, kalau tidak mau tangkap, bukankah kesalahannya
akan ditimpakan kepada kami?”
“Cinjin ini tewas karena menyerangku, kalau mau bilang tentang pembunuhan, adalah aku yang
membunuh. Adik perempuanku ini apa sangkut pautnya dengan kematiannya? Akulah yang
bertanggung jawab dan kalau mau tangkap, boleh tangkap aku, jangan ganggu adikku.”
Semua tosu ragu-ragu mendengar ini. Cin-ling Sam-eng juga merasai kebenaran ucapan pemuda ini
biarpun mereka masih tidak percaya kalau kematian Ban Kim Cinjin adalah karena perbuatan
pemuda yang kelihatan lemah ini. “Kalau kau yang bertanggung jawab semua, biarlah kami
lepaskan adikmu. Kamipun bukan orang-orang yang suka mengganggu perempuan. Nah, ayoh ikut
kami ke puncak.”
Bi Eng menjadi pucat dan meloncat maju. “Tidak boleh! Tidak boleh kakakku ditangkap!” serunya
marah dan gadis ini kembali menyambar sebatang pedang di atas tanah, siap untuk melakukan
pertempuran besar-besaran melindungi kakaknya. Juga Siauw-ong kembali meringis-ringis
menantang perang.
“Eng-moi, mundur! Kali ini kau harus menurut kata-kataku dan jangan menurutkan kekerasan hati.
Kau pergilah dulu dengan Siauw-ong, lanjutkan perjalananmu dan tunggu aku di pantai sungai Weiho.
Aku akan menyusulmu setelah urusan ini selesai. Aku percaya ketua Cin-ling-pai akan dapat
mempertimbangkan urusan ini dengan adil.”
Pandang mata Han Sin berpengaruh dan luar biasa sekali, dari sepasang matanya mencorong keluar
sinar yang biarpun Bi Eng adiknya sendiri merasa bergidik dan takut. Ia maklum bahwa kakaknya
bersungguh-sungguh dalam hal ini dan akan menjadi marah kalau dia tidak mau menurut. Dengan
muka pucat dan isak tertahan ia menggandeng tangan Siauw-ong, lalu membalikkan tubuh pergi
dari situ sambil berkata, “Sin-ko, aku menanti-nantimu di pinggir sungai Wei-ho!”
Sebentar saja Bi Eng dan Siauw-ong lenyap dari situ. Han Sin menjadi lega hatinya. Dengan
perginya Bi Eng yang ia tahu amat keras hatinya dan berani, ia merasa dadanya ringan dan urusan
yang ia hadapi itu terasa lebih mudah dibereskan. Ia tersenyum kepada Cin-ling Sam-eng.
“Cuwi totiang, mau tangkap aku sebagai pembunuh, tangkaplah!”
Koleksi Kang Zusi
Cin-ling Sam-eng maju bersama, takut kalau pemuda ini yang amat aneh dan mencurigakan diamdiam
mempunyai kepandaian tinggi dan turun tangan lagi. Sebelum Han Sin bergerak, mereka
sudah menubruknya dan dilain saat tubuh Han Sin sudah mereka belenggu dengan sebuah rantai
besi yang besar. Rantai itu diikatkan kedua tangannya yang ditekuk ke belakang, terus dilibatkan ke
leher dan dada, membuat Han Sin tak dapat berdaya sedikitpun. Pemuda ini sama sekali tidak
melakukan perlawanan, tersenyum saja. Baju pada lengan kiri dan celananya sedikit robek ketika ia
tadi terjatuh menerima serangan-serangan Ban Kim Cinjin.
Para tosu mengiringkan Cin-ling Sam-eng yang membawa Han Sin ke atas dan beramai-ramai
mereka membawa kawan-kawan yang terluka dan tewas tidak lupa membawa pula jenazah Ban
Kim Cinjin ke atas. Tempat yang tadi menjadi medan pertempuran itu kini sunyi kembali. Hanya
darah yang membasahi rumput di sana-sini menjadi bukti bahwa di situ tadi telah dilayangkan
beberapa nyawa manusia.
Hati Han Sin sudah tenang kembali, tidak seperti tadi ketika pada mula-mula ia melihat Ban Kim
Cinjin tewas karena tangkisan tangannya. Diam-diam ia memutar otak dan merasa heran sendiri.
Bagaimana seorang yang demikian menyeramkan dan lihai seperti Ban Kim Cinjin, yang demikian
mudah membunuh beberapa orang tosu Cin-ling-pai, bisa tewas hanya karena ia tangkis
pukulannya. Bagaimana hal ini mungkin terjadi? Dia tidak pernah belajar silat, hanya hafal teori
ilmu pukulan Liap-hong Sin-hoat. Selain itu tidak belajar apa-apa lagi kecuali membaca isi kitabkitab
kuno dan melatih siulan untuk membersihkan pikiran dan menjernihkan hati.
Biarpun latihan-latihannya membuat pemuda ini mempunyai watak yang penuh welas asih dan
sabar, namun tidak menghilangkan jiwa patriotnya yang diturunkan oleh leluhurnya. Apalagi kitabkitab
kuno, para pujangga dan bijaksanawan semenjak jaman dahulu selalu mengutamakan cinta
negara dan bangsa. Oleh karena itu, di dalam hati kecil Han Sin juga terpendam rasa tidak suka
kepada bangsa Mancu yang telah menjajah negara dan tanah airnya. Kalau ia teringat akan hal ini,
teringat pula bahwa Ban Kim Cinjin adalah utusan kaisar Ceng karena itu berarti kaki tangan
pemerintah penjajah, kecemasan bahwa ia telah menjadi sebab kematian orang itupun berkurang.
Pemuda ini yakin sepenuh hatinya bahwa dia tidak akan menghadapi malapetaka di puncak bukit
itu, di depan para ketua Cin-ling-pai. Orang tak bersalah takkan kalah, demikian pelajaran di dalam
kitab-kitabnya. Ah, Han Sin masih terlalu hijau, belum terbuka matanya bahwa di dunia ini banyak
sekali terdapat orang-orang yang menyeleweng dari pada kebenaran, orang yang tidak mengenal
atau sengaja tidak mau mengenal keadilan, yang tidak perduli akan kebajikan, hanya menurunkan
nafsu hati berdasarkan keuntungan untuk diri sendiri!
Dengan dada lapang dan pikiran ringan pemuda ini menurut saja digiring ke puncak dalam keadaan
terbelenggu seperti seorang penjahat besar. Dia toh tidak salah, pikirnya. Dia dan adiknya melewati
gunung itu dan dihadang serta diganggu oleh para tosu, kemudian diapun bermaksud baik ketika
mencegah Ban Kim Cinjin agar kakek itu tidak melakukan pembunuhan besar-besaran. Betul kakek
itu telah binasa karena tangkisannya, namun ia tidak sengaja bermaksud hendak membunuh orang.
Demikian sambil berjalan Han Sin berpikir dan hatinya tenteram.
Pada masa itu, ketua Cin-ling-pai yaitu Giok Thian Cin Cu, merupakan seorang di antara tokohtokoh
terbesar di dunia persilatan. Kakek ini jarang memperlihatkan diri, apalagi kepada dunia
ramai, bahkan para anggauta Cin-ling-pai sendiri jarang ada yang melihatnya karena kakek ini
selalu menyembunyikan diri di dalam kamar pertapaannya. Selain bertapa dan memperdalam
keahliannya dalam ilmu silatnya yang terkenal, yaitu Im-yang-kun dan Cin-ling-kun yang menjadi
ilmu silat wasiat dari para tosu Cin-ling-pai, kakek inipun dengan diam-diam sedang melatih diri
dengan semacam ilmu silat baru yang amat hebat.
Koleksi Kang Zusi
Tiga tahun yang lalu di dalam perantauannya Giok Thian Cin Cu bertemu dengan paman gurunya
yang paling muda dan yang masih hidup di antara gurunya dan paman-paman gurunya, yaitu
seorang pendeta aneh yang sudah disebut setengah dewa berjuluk Hui-kiam Koai-sian (Dewa Aneh
Berpedang Terbang)! Hui-kiam Koai-sian ini dari nama julukannya saja sudah dapat diketahui
bahwa dia adalah seorang manusia aneh ahli pedang. Lebih dari dua puluh lima tahun yang lalu dia
masih menjagoi kalangan kang-ouw, akan tetapi tiba-tiba ia melenyapkan diri dan semenjak itu
namanya tak pernah disebut orang. Oleh karena hal itu telah puluhan tahun, maka lambat laun
namanya lenyap dan jarang ada orang kang-ouw mengenal namanya, kecuali tokoh yang tua-tua.
Dapat dibayangkan betapa girang hati Giok Thian Cin Cu ketika pada suatu hari, dalam
perantauannya, di daerah Telaga Barat yang amat sunyi, ia bertemu dengan Susioknya ini. Hui-kiam
Koai-sian yang melihat sinar mata murid keponakannya itu mengeluarkan cahaya dan wajahnya
mengandung kebijaksanaan, menjadi girang karena maklum bahwa murid keponakan ini telah
memperoleh kemajuan pesat, baik di bidang ilmu silat maupun di bidang kerohanian.
Apalagi ketika mendengar bahwa murid keponakan ini telah menjadi ketua Cin-ling-pai yang ia
dengar tidak sudi tunduk kepada pemerintah Mancu, ia makin bangga. Dalam kegirangannya, ia
berkenan menurunkan ilmu pedangnya, yaitu Lo-hai-hui-kiam (Pedang Terbang Pengacau Lautan).
Tentu saja dalam waktu pertemuan yang amat singkat, Hui-kiam Koai-sian hanya menurunkan
teori-teorinya saja dengan pesan agar ilmu ini jangan dipergunakan sebelum dilatih sampai
sempurna.
Sepulangnya ke puncak Cin-ling-san, Giok Thian Cin Cu lalu menyembunyikan diri di dalam
kamarnya dan diam-diam secara rahasia ia melatih ilmu pedang baru itu. Melatih sampai tiga tahun
belum sempurna betul, padahal dilakukan oleh seorang ahli silat selihai Giok Thian Cin Cu, betulbetul
dapat dibayangkan. Agar perhatiannya untuk mempelajari ilmu baru ini tidak terganggu, Giok
Thian Cin Cu lalu menyerahkan semua urusan kepada kedua orang muridnya yang menjadi murid
kepala, yaitu It Cin Cu dan Ji Cin Cu, sedangkan urusan di luar Cin-ling-pai, diserahkan kepada
Cin-ling Sam-eng, murid-muridnya yang bertingkat dua.
Adapun dua orang murid kepala itu, It Cin Cu dan Ji Cin Cu, adalah dua orang tosu berusia empat
puluh tahunan yang pendiam. Kepandaian mereka sudah mencapai tingkat tinggi. It Cin Cu lebih
banyak mewarisi ilmu pedang suhunya sedangkan Ji Cin Cu lebih banyak mewarisi ilmu lweekang.
Biarpun ada perbedaan ini, namun pada umumnya ilmu silat mereka setingkat dan di masa itu
kiranya hanya sedikit orang yang akan mampu mengatasi mereka.
It Cin Cu tinggi kurus bertahi lalat di pipi kanannya, sedangkan Ji Cin Cu orangnya gemuk pendek
seperti arca Buddha maka ia mendapat julukan Siauw-bin-hud (Arca Buddha Tertawa) karena
memang air mukanya ramah sekali dan selau tersenyum. Sebaliknya It Cin Cu bermuka muram dan
angker maka ia mendapat julukan Thio-te-kong (Malaikat Bumi).
Biasanya, Cin-ling Sam-eng selalu dapat membereskan semua urusan luar tanpa mengganggu kedua
orang suhengnya ini. Maka berkerutlah jidat It Cin Cu ketika tiga orang sute ini menghadap mereka
dan minta mereka memutuskan sebuah urusan luar. Apa lagi ketika mendengar bahwa tiga orang
sutenya ini minta keputusan akan diri seorang pemuda mata-mata yang mengacau Cin-ling-san.
“Sute, urusan mata-mata saja kenapa kalian bertiga tidak bisa membereskan sendiri?” tegurnya
dengan keren.
“Suheng, urusan ini bukan hanya mengenai diri pemuda yang mencurigakan itu, akan tetapi
menyangkut pula diri Ban Kim Cinjin yang datang sebagai utusan kerajaan Ceng,” kata Hap Tojin
yang kelihatan takut menghadapi suheng yang memang amat keren dan galak itu.
Koleksi Kang Zusi
Siauw-bin-hud Ji Cin Cu tersenyum lebar, lebih lebar dari biasanya karena memang ia selalu
tersenyum. Ia menggerakkan tangan kanannya tak sabar. “Urusan dengan kerajaan bangsa Mancu
itupun tidak penting, masa kalian tidak bisa membereskan setelah kalian tahu pendirian kita yang
tidak mau tahu menahu tentang urusan negara dengan pemerintah Mancu?”
“Bukan demikian soalnya, ji-suheng.” Kata pula Hap Tojin. Terhadap Ji Cin Cu yang ramah dan
jarang marah, ia lebih berani. “Soalnya ialah pemuda itu dengan adik perempuannya telah
membunuh mati Ban Kim Cinjin di daerah kita.”
Dua orang murid kepala Cin-ling-san melengak dan memandang heran. Adanya mata-mata di
daerah Cin-ling-san bukan hal aneh karena pada masa itu memang banyak sekali persaingan dan
permusuhan dengan partai-partai lain yang tumbuh seperti jamur di musim hujan. Juga datangnya
utusan dari pemerintah Ceng bukan hal yang mengherankan.
Akan tetapi Ban Kim Cinjin terbunuh oleh orang-orang muda? Ini amat menarik. Biarpun
kepandaian Ban Kim Cinjin tidak bisa disamakan dengan kelihaian suhengnya, Hoa Hoa Cinjin,
namu kakek itu adalah seorang tokoh besar yang berkepandaian tinggi. Sekarang terbunuh orang
lain di daerah mereka, dan kalau sampai Hoa Hoa Cinjin tidak mau terima dan meluruk ke situ, hal
ini akan menjadi cukup penting dan berbahaya!
“Dua orang muda kakak beradik membunuh Ban Kim Cinjin katamu?” tanya It Cin Cu memandang
tajam.
“Soalnya tidak jelas,” Hap Tojin menerangkan dengan muka merah karena memang ia masih raguragu.
“Ban Kim Cinjin memaksa hendak naik menemui suhu. Tentu saja kami melarang dan terjadi
pertempuran. Beberapa orang sute rendahan kami telah roboh oleh kakek itu. Tiba-tiba pemuda itu
maju mencegah dan ia dipukul oleh Ban Kim Cinjin. Kesudahannya, malah Ban Kim Cinjin yang
tewas secara aneh, tanpa dipukul oleh pemuda itu. Siauwte sendiri dan saudara-saudara semua tidak
tahu siapakah yang membunuhnya, apakah pemuda yang kelihatan lemah dan telah kami tawan,
apakah adiknya yang sudah pergi ataukah ada orang lain yang bersembunyi dan membantu mereka
dengan diam-diam.”
Dengan jelas Hap Tojin lalu menceritakan semua kejadian itu dan kedua orang suhengnya mulai
tertarik. Apalagi ketika mendengar bahwa pemuda itu seperti orang yang tidak mengerti ilmu silat
dan betapa pemuda itu menanggung jawab semua kesalahan dan menyuruh adik perempuannya
pergi. Ini benar-benar aneh dan menarik.
“Bawa dia ke sini!” kata It Cin Cu tidak sabar lagi.
Hap Tojin keluar dan tak lama kemudian ia kembali ke dalam ruangan itu sambil mengiringkan Han
Sin yang masih dibelenggu. Dua orang murid kepala Cin-ling-pai itu memandang ke depan dan
melihat seorang pemuda taruna yang tampan dan halus gerak-geriknya, sedikitpun langkahnya tidak
membayangkan keahlian silat, pakaiannya robek dan tubuh bagian atas terbelenggu. Namun
pemuda itu wajahnya tidak memperlihatkan sesuatu, malah tersenyum tenang dan mengangkat
dada. Ketenangan yang wajar tidak dibuat-buat sehingga dua pasang mata murid kepala Cin-lingpai
yang amat tajam itu diam-diam memandang kagum.
Han Sin melangkah maju ke depan dua orang tosu itu dan menjura dengan hormat tapi kaku karena
tubuhnya diikat. It Cin Cu menunjuk ke sebuah bangku dan Han Sin lalu menduduki bangku itu.
Sebagai seorang pendeta, It Cin Cu tetap memakai sopan-santun, biarpun ia hanya menunjuk karena
tentu saja ia tidak memandang kepada seorang pemuda seperti ini.
Koleksi Kang Zusi
“Congsu, siapakah nama, murid siapa dan apa perlunya congsu berdua adik datang menimbulkan
keributan di Cin-ling-san?” tanyanya singkat dan bernada keras.
Han Sin kecewa. Di dalam kitab-kitabnya yang mengandung pelajaran kebatinan, orang diajar
bersopan-santun, lemah lembut dan ramah terhadap sesama manusia. Apalagi yang sudah menjadi
pendeta, tentu lebih-lebih bersikap halus, tidak sekasar tosu tinggi kurus yang bertahi lalat di pipi
kanannya itu. Namun Han Sin tetap bersikap tenang dan sabar, ingat akan pelajaran di dalam kitabkitabnya
bahwa “yang baik harus ditiru dan yang keliru dinasehati”.
“Totiang, aku yang bodoh she Cia bernama Han Sin datang dari Min-san di sebelah barat. Guruku
adalah seorang siucai miskin bernama Thio-sianseng. Adapun aku dan adikku sebetulnya sama
sekali tidak bermaksud menimbulkan keributan di Cin-ling-san. Kami hanya lewat saja akan tetapi
dicegat dan diserang oleh para tosu di Cin-ling-san.”
Han Sin memang tidak mau menyebut nama Ciu-ong Mo-kai sebagai gurunya, karena selain ia
merasa tidak patut menyebut murid kakek sakti itu, juga bukankah Ciu-ong Mo-kai berpesan bahwa
kalau menghadapi kesukaran ia harus menyebut namanya untuk mencari keselamatan? Dia tidak
merasa menghadapi kesukaran karena yakin bahwa dia tidak bersalah. Perlu apa mesti
menggunakan nama besar Ciu-ong Mo-kai untuk menakut-nakuti orang dan untuk mencari selamat?
Ia anggap hal ini tidak patut dan malah merendahkan nama besar pengemis sakti itu.
Tentu saja para tosu tidak pernah mendengar nama Thio-sianseng. Dan makin rendah pandangan
mereka terhadap pemuda tampan ini. Akan tetapi tidak demikian dengan dua orang murid kepala
Cin-ling-san. Sikap Han Sin yang penuh kehalusan dan sopan-santun itu membuat mereka diamdiam
makin curiga. Bocah seperti ini sudah pasti bukan bocah sembarangan yang berandalan dan
lancang.
“Kenapa kau membunuh Ban Kim Cinjin?” tanya It Cin Cu pula.
Han Sin menggerakkan pundaknya. “Aku sendiripun tidak tahu bagaimana aku bisa
membunuhnya,” jawab pemuda ini dengan jujur. “Agaknya dia mempunyai penyakit jantung yang
berat. Begitu dia menyerangku, eh, tahu-tahu dia terjungkal dan mati. Di dalam hatiku, jangankan
membunuh manusia, membunuh seekor ayampun kalau bisa jangan sampai kulakukan itu.”
It Cin Cu dan Ji Cin Cu saling pandang. “Sute,” kata It Cin Cu kepada Ji Cin Cu. “Coba kau periksa
tubuh Ban Kim Cinjin!”
Siauw-bin-hud Ji Cin Cu melengeh dan biarpun tubuhnya gemuk pendek, begitu tubuh itu
digerakkan tahu-tahu ia telah berada di luar pintu. Han Sin sampai terbelalak memandang keanehan
ini. Apakah tosu gendut itu bisa terbang? Tak lama Ji Cin Cu masuk lagi, juga cepat seperti tadi.
Memang si gendut ini hendak memperlihatkan kepandaiannya kepada Han Sin untuk melihat reaksi
pemuda itu. Melihat pemuda itu dengan muka wajar terheran-heran, diam-diam ia makin tidak
mengerti.
“Suheng, isi dadanya remuk terkena hawa pukulan lweekang yang hebat. Tenaga pukulan yang
merusak isi dada itu kiranya tidak lebih rendah dari pada tenaga kita berdua disatukan. Hebat sekali!
Bocah ini tentulah bukan pembunuhnya,” kata Ji Cin Cu.
Kembali It Cin Cu mengerutkan kening. “Bocah she Cia, apakah selain adikmu, masih ada orang
lain yang datang bersamamu di bukit ini?”
Han Sin mengangguk. “Memang ada!”
Koleksi Kang Zusi
Semua orang kaget. It Cin Cu dan Ji Cin Cu mengepal tangan, siap mendengar siapakah yang
datang bersama anak muda ini, tentulah seorang sakti, yang sudah terkenal. Dengan muka
sejujurnya Han Sin meneruskan jawabannya.
“Selain aku dan adikku masih ada Siauw-ong.”
Di antara semua tosu yang hadir, kiranya yang lebih banyak pengalamannya di dunia luar dan
mengenal semua orang-orang gagah, hanyalah Cin-ling Sam-eng.
“Hap-sute, kenalkah kau seorang locianpwe berjuluk Siauw-ong?” tanya It Cin Cu kepada Hap
Tojin, orang tertua dari Cin-ling Sam-eng.
Hap Tojin menggeleng kepala. “Ada Kim-i Tok-ong (Raja Racun Baju Sulam) ada Ban-jiu Touwong
(Raja Copet Tangan Selaksa) ada Hui-thian Mo-ong (Raja Setan Terbang) dan banyak tai-ong
tai-ong (sebutan kepala perampok) yang siauwte kenal, akan tetapi Siauw-ong (Raja Muda) tidaklah
pernah dipergunakan orang kang-ouw sebagai nama julukan. Siauwte tidak mengenal nama ini,”
jawab Hap Tojin.
It Cin Cu menoleh kepada Han Sin.
“Siauw-ong yang kau sebut itu adalah cianpwe dari golongan dan partai manakah?”
Han Sin maklum bahwa jawabannya tadi telah mendatangkan salah paham, diam-diam ia menjadi
geli. Akan tetapi kesopanan melarang dia mentertawakan mereka itu. Dengan muka masih tenang
dan sikap tidak berubah ia menerangkan, “Siauw-ong dari golongan monyet atau munyuk, bukan
golongan lutung hitam, tidak berpartai. Dia adalah monyet kecil yang kami pelihara semenjak
kecil.”
Mendengar keterangan ini, terdengar suara ketawa kecil di antara para tosu yang dibikin kecele.
Mereka tadi sudah tegang hendak mendengar siapa adanya “locianpwe” itu, tidak tahunya seekor
kera! It Cin Cu memutar matanya penuh teguran dan suara ketawa itu berhenti seketika. Akan tetapi
suara ketawa yang paling keras datang dari mulut Ji Cin Cu, dan It Cin Cu tidak mau menegur
sutenya ini di depan orang banyak. Ia berlaku tenang serius.
“Selain kera itu, siapa lagi yang ikut datang?”
“Tidak ada lagi, totiang,” jawab Han Sin.
It Cin Cu mengerutkan kening. Inilah aneh, pikirnya. Apakah ada orang luar biasa yang tidak
dikenal pemuda ini yang diam-diam membantunya dan membunuh Ban Kim Cinjin? Hal itu bukan
urusan Cin-ling-pai, akan tetapi karena pembunuhan dilakukan di Cin-ling-san dan Ban Kim Cinjin
adalah utusan kerajaan Ceng, itulah amat berbahaya. Tiba-tiba ia mengulurkan tangan kanan
menepuk pundak Han Sin. Sebelum tangannya menyentuh pundak, Han Sin merasa datangnya
angin pukulan yang hebat.
Pemuda ini terikat kedua tangannya, tak dapat ia menangkis. Akan tetapi begitu tangan itu
menyentuh pundaknya, It Cin Cu berseru perlahan dan menarik kembali tangannya. Ia merasai
pundak yang empuk seperti kapas akan tetapi yang dibawahnya mengandung tenaga menyedot luar
biasa kuatnya sehingga tenaga pukulannya amblas! Inilah lweekang yang amat tinggi tingkatnya. Ia
membelalakkan matanya dan membentak.
“Anak muda, jangan kau main-main! Siapa gurumu?”
Koleksi Kang Zusi
Han Sin memang tidak tahu akan peristiwa yang terjadi tadi. Tanpa ia sadari, sinkang di tubuhnya
secara otomatis mengalir ke pundak membangkitkan tenaga penolakan yang luar biasa. Inilah
karena kematangan latihan samadhinya, yang membuat ia seperti dalam keadaan samadhi di setiap
detik. Bahkan ketika ia tidur, pernapasannya masih tetap saja lambat dan halus seperti dalam
keadaan siulian. Ia tidak tahu apa yang telah terjadi ketika tosu tadi menepuk pundaknya.
“Sudah kuterangkan tadi, totiang, guruku Thio-sianseng yang mengajarku membaca, menulis, dan
menggambar,” jawabnya, suaranya tetap dan pandang matanya memancarkan kejujuran. Ketika
menentang pandang mata pemuda itu, lagi-lagi It Cin Cu dan Ji Cin Cu terkejut karena melihat sinar
mata yang membuat mereka tidak tahan lama-lama memandang.
“Kau telah membunuh utusan kerajaan di daerah kami. Terpaksa kami harus menyerahkan kau
kepada pemerintah Ceng untuk mencuci bersih tangan kami. Masukkan dia di Can-tee-gak
(Ruangan Dalam Neraka)!” perintahnya kepada para sutenya.
Cin-ling Sam-eng lalu menggusur tubuh Han Sin, dibawa ke sebelah belakang bangunan, lalu
menurunkan pemuda itu dengan sehelai tambang ke dalam sebuah jurang. Yang disebut Can-teegak
itu adalah sebuah jurang yang amat terjal dan sekali orang dimasukkan ke situ, jangan harap
akan dapat keluar lagi tanpa pertolongan. Jangankan dalam keadaan terikat badannya, biarpun bebas
kaki tangannya, teramat sukarlah untuk dapat keluar dari situ. Tempat ini memang disediakan untuk
menghukum para anak murid yang melanggar peraturan. Memang Cin-ling-pai amat keras dan
berdisiplin, maka para anak muridnya juga tidak ada yang pernah menyeleweng.
08. Kecerdikan Puteri Thio-ciangkun
KETIKA diturunkan di dalam jurang itu, Han Sin masih tenang saja. Ia mendapatkan dirinya di
dalam ruangan yang merupakan dasar jurang. Baiknya tanah di situ kering dan lebarnya ada empat
lima meter. Di belakang dan depan dinding batu yang amat tinggi, di kiri kanan jurang yang lebih
dalam lagi. Sukar bagi seorang manusia untuk melarikan diri dari tempat ini, kecuali kalau dia bisa
terbang. Han Sin menarik napas panjang, duduk menyandarkan punggung di dinding batu. Dia
memang tidak mempunyai pikiran untuk lari. Mengapa lari? Tentu aku ditahan hanya untuk
sementara waktu selagi para tosu ini mengadakan perundingan untuk memutuskan urusan ini,
pikirnya. Hawa di situ enak, angin gunung menghembus melalui kanan kiri dinding batu, segar dan
sejuk membuat dia mengantuk. Tak lama kemudian pemuda ini tertidur sambil bersandar batu.
****
Tepat dugaan Han Sin. Di puncak Cin-ling-san, dua orang tosu murid kepala bersama sutenya
mengadakan perundingan mengenai peristiwa yang cukup penting bagi Cin-ling-pai itu.
“Gadis itu ilmu silatnya lihai juga, dan aneh gerakan-gerakannya. Akan tetapi tenaganya belum
seberapa dan ilmu silatnya itupun belum matang benar,” demikian Hap Tojin menerangkan kepada
It Cin Cu dan Ji Cin Cu. “Monyet kecil itupun hanya gesit saja, apa sih anehnya pada diri seekor
monyet kecil? Pemuda itu biarpun sikapnya amat aneh, namun terang dia tidak mengerti ilmu silat.
Ini dapat dilihat dari gerak-geriknya, malah ia terguling roboh ketika berlari dan kakinya tersandung
batu. Masa seorang ahli silat bisa roboh begini? Akan tetapi, suheng, sekali tangkis dia bisa
menewaskan Ban Kim Cinjin! Bukankah hal ini aneh di atas aneh!”
“Ajaib sekali!” seru Ji Cin Cu yang tersenyum-senyum terus.
It Cin Cu mengerutkan kening. “Tidak bisa lain, tentu ada orang pandai yang diam-diam
menggunakan kesempatan itu membunuh Ban Kim Cinjin. Tak mungkin kalau hanya untuk
Koleksi Kang Zusi
menolong pemuda itu ia harus membunuh Ban Kim Cinjin, tentu dia sengaja membunuh di daerah
ini agar kita bentrok dengan pemerintah Ceng. Inilah hebat.”
“Kenapa susah-susah, twa-suheng?” kata Ji Cin Cu. “Pemuda itu sudah kita tangkap, tinggal
serahkan saja dia kepada pemerintah Ceng sebagai pembunuh Ban Kim Cinjin. Bukankah itu beres
dan tangan kita tercuci bersih?”
Ucapan ini agaknya memuaskan Cin-ling Sam-eng, mereka mengangguk-angguk membenarkan.
Akan tetapi It Cin Cu menggeleng kepala perlahan. “Gampang diomongkan, susah dilaksanakan.”
“Kenapa begitu, suheng?” tanya Hap Tojin.
“Apa sih susahnya membawa pemuda she Cia itu ke kota raja?”
“Apa kalian kira pemerintah Ceng begitu bodoh seperti anak kecil? Mereka mempunyai banyak
orang-orang lihai. Kalau kita menyerahkan pemuda itu kepada mereka sebagai pembunuh Ban Kim
Cinjin dan mereka mendapat kenyataan bahwa pemuda itu tolol tidak mengerti ilmu silat, apakah
mereka mau percaya bahwa pemuda itu membunuh Ban Kim Cinjin? Jangan-jangan malah kita
makin dicurigai!”
Semua tosu melengak mendengar ini dan baru terbuka mata mereka bahwa memang hal ini amat
sukar dilaksanakan. Siapapun orangnya, mereka sendiri juga, tak mungkin bisa percaya seorang
pemuda yang kesandung batu saja roboh bisa membunuh seorang tokoh besar seperti Ban Kim
Cinjin. Ji Cin Cu mengangguk-anggukkan kepala sambil berkata,
“Heh heh, kau betul, twa-suheng. Kau betul, heh heh heh. Habis, apakah kita harus melaporkan hal
ini kepada suhu dan minta keputusan suhu?”
It Cin Cu menarik napas panjang. “Suhu sedang sibuk meyakinkan ilmu pedang yang baru. Sudah
dua bulan suhu tidak keluar kamar, dan beliau melarang kita mengganggu. Apa kau tidak ingat?
Masa untuk urusan kecil ini kita harus mengganggunya?
“Tidak, itu aku tidak berani.”
“Habis, bagaimana kita harus menyelesaikan urusan ini?” Hap Tojin kuatir.
“Tidak ada lain jalan. Kau kubur dengan diam-diam jenazah Ban Kim Cinjin dan pura-pura tidak
tahu bahwa kakek itu pernah menginjakkan kaki di bukit Cin-ling-san. Toh tidak ada orang lain
tahu akan pembunuhan itu.”
Semua orang menganggap keputusan ini baik sekali. “Dan bagaimana dengan orang she Cia itu?”
tanya Ji Cin Cu.
“Biar untuk sementara kita tahan dulu di sini, perlahan-lahan kita mencari keputusan yang baik,”
jawab suhengnya.
Segera para tosu Cin-ling-pai bekerja. Jenazah Ban Kim Cinjin dimasukkan ke dalam peti mati
yang tebal dan kuat. Karena mereka semua adalah orang-orang beribadat, maka tentu saja tidak
melanggar peraturan. Jenazah itu sebelum dikebumikan, mereka sembahyangi lebih dulu. It Cin Cu
bersembahyang sambil berkata keras,
“Ban Kim Cinjin, kau tahu sendiri bahwa kematianmu bukan disebabkan oleh Cin-ling-pai, oleh
karena itu untuk menyingkirkan salah mengerti antara kami dengan kawan-kawanmu, terpaksa kami
Koleksi Kang Zusi
mengubur kau dengan diam-diam. Harap rohmu mendapat tempat yang baik.” Hio yang mengebul
asap putih ditancap dan semua tosu ikut bersembahyang lalu membaca doa.
Pada saat itu secara tiba-tiba muncul empat orang. Mereka ini adalah tiga orang pengemis tua dan
seorang gadis yang cantik jelita. Tadinya para tosu kaget mengira bahwa yang datang adalah Bi Eng
yang membawa teman-teman untuk menolong Han Sin, akan tetapi setelah mereka datang dekat,
ternyata gadis itu bukan Bi Eng.
Dia seorang gadis yang berpakaian indah dan mewah, mukanya bulat telur, berkulit putih halus,
rambutnya yang hitam panjang itu di gelung ke atas secara istimewa dan indah seperti gelung para
puteri keraton. Cantik manis bukan kepalang gadis ini, hanya sepasang matanya memancarkan sinar
galak dan bibir yang manis itu membayangkan kekerasan hatinya. Seorang gadis muda yang
angkuh, ini mudah sekali dilihat.
Tiga orang pengemis itu usianya lima puluhan tahun lebih. Pakaian mereka tambal-tambalan,
anehnya biarpun tambal-tambalan dan butut, mereka itu pakaiannya sama, seragam! Tidak hanya
potongan dan warnanya, bahkan tambal-tambalannya pun sama, sekain sewarna. Di tangan mereka
terlihat tongkat yang aneh pula karena bentuknya seperti ular kering, terbuat dari logam hitam yang
kelihatannya berat. Lucunya, tiga orang pengemis tua itu, kaki kirinya bersepatu butut akan tetapi
kaki kanan telanjang!
Tadinya para tosu tidak memandang mata kepada empat orang yang baru muncul ini, akan tetapi
ketika It Cin Cu, Ji Cin Cu dan Cin-ling Sam-eng melihat tongkat mereka yang berbentuk ular,
mereka ini menjadi terkejut dan menduga-duga.
Cin-ling Sam-eng memang bertugas di luar, maka tanpa minta perkenan dari kedua orang
suhengnya, mereka bertiga segera berdiri dan menyambut empat orang tamu itu. Hap Tojin menjura
dan berkata.
“Sam-wi Lo-enghiong ada keperluan apakah menaiki puncak? Mohon maaf kami para tosu Cinling-
pai tidak dapat menyambut sebagaimana mestinya karena kami sedang berkabung.” Ia
menuding ke arah peti mati.
Tiga orang kakek pengemis itu memandang ke arah peti dan seorang di antara mereka yang
matanya buta sebelah kiri, melangkah setindak dan bertanya, “Siapakah yang mati itu, harap saja
bukan Giok Thian Cin Cu si orang tua.”
Tak senang hati para tosu Cin-ling-pai mendengar pengemis mata satu ini menyebut julukan ketua
mereka begitu saja, agaknya memandang rendah saja. Hap Tojin yang sudah banyak mengenal
orang kang-ouw, memandang penuh perhatian kepada si mata satu, lalu menjura dan menjawab.
“Bukan ketua kami yang kembali ke alam asal. Lo-enghiong ini apakah bukan Tok-gan Sin-kai,
yang terkenal di antara para orang gagah dari Coa-tung Kai-pang (Perkumpulan pengemis tongkat
ular) dari utara?”
Pengemis mata satu itu tertawa, “Awas sekali mata tosu-tosu Cin-ling-pai. Kalian bertiga ini
tentulah Cin-ling Sam-eng.”
“Kami bertiga yang bodoh, murid-murid Cin-ling-pai yang rendah tingkatnya mana berani
menggunakan julukan Sam-eng? Tok-gan Sin-kai, seingat kami, antara Cin-ling-pai dan Coa-tung
Kai-pang tidak pernah ada urusan apa-apa, sekarang kau datang ke sini ada keperluan apakah?”
“Kami datang mencari Ban Kim Cinjin!”
Koleksi Kang Zusi
Pernyataan ini membuat wajah para tosu menjadi pucat. Dan dalam pikiran It Cin Cu dan Ji Cin Cu
timbul dugaan yang membuat muka mereka merah. Apakah tidak boleh jadi kalau pengemis mata
satu ini yang diam-diam membunuh Ban Kim Cinjin kemudian pura-pura datang untuk
menelanjangi mereka?
“Di mana Ban Kim Cinjin? Dia naik ke sini, bertempur dengan kalian lalu lenyap,” desak pula Tokgan
Sin-kai dengan suara garang. “Ketahuilah, kami bertiga mengantar nona Thio ini yang
mewakili ayahnya, Thio-ciangkun, bersama Ban Kim Cinjin menjadi utusan kaisar. Ban Kim Cinjin
berjalan lebih dulu karena tidak ingin mengagetkan kalian tosu-tosu Cin-ling-pai dengan kunjungan
banyak orang. Di mana dia?”
Kecurigaan It Cin Cu dan Ji Cin Cu lenyap, dan kini mereka malah kaget sekali. Celaka, pikir
mereka sebelum mayat Ban Kim Cinjin dikubur, datang utusan-utusan kaisar ini. Kalau sampai
rahasia terbuka, tak dapat tiada pasti akan timbul keributan.
Cin-ling Sam-eng juga mempunyai pikiran seperti itu. Hap Tojin lalu berkata sambil tersenyum.
“Coa-tung Kai-pang telah bersekutu dengan pemerintah baru, itu bukan urusan kami orang-orang
Cin-ling-pai. Kenapa kami harus mencelakakan utusan kaisar?”
Tiba-tiba gadis yang pendiam dan kelihatan galak itu menggerakkan kakinya. Ringan bagaikan
burung walet tubuhnya melayang ke dekat peti mati dan sebelum ada orang menduga apa yang
hendak dilakukannya dan sebelum mereka sempat mencegah, gadis itu telah mengayunkan tangan
kirinya ke arah peti mati.
“Brakk!” Tutup peti mati itu pecah terbuka dan kelihatanlah mayat Ban Kim Cinjin membujur kaku
di dalam peti mati. Nona itu mengeluarkan seruan tertahan dan meloncat mundur dekat tiga orang
pengemis tadi, wajahnya yang cantik berobah bengis. Sungguh mengherankan orang kalau melihat
kejadian itu. Tangan nona manis itu berkulit halus dan putih, agaknya tak pernah bekerja kasar,
bagaimana sekali gempur saja tutup peti mati yang demikian tebalnya sampai pecah? Benar-benar
ia menunjukkan bahwa lweekang nona itu sudah tinggi tingkatnya dan kepandaiannya pun hebat.
Semua orang tosu menahan napas saking tegang hatinya. Dipukulnya peti mati itu bukan
merupakan hinaan bagi mereka karena di dalam peti mati adalah mayat Ban Kim Cinjin. Akan
tetapi, terbukanya peti mati itu sekali gus membuka rahasia mereka yang hendak menyembunyikan
tentang kematian Ban Kim Cinjin.
Tiga orang pengemis itu bersinar-sinar matanya karena marah. “Hemm, tidak kusangka tosu-tosu
Cin-ling-pai pandai membohong dan curang!” seru pengemis mata satu. Matanya yang sebelah
kanan berkilat menyapu ke arah Cin-ling Sam-eng, penuh ancaman.
Hap Tojin mengeluarkan suara ketawa nyaring untuk menindas hatinya yang tadi terguncang. “Tokgan
Sin-kai, jangan sembarangan saja kau membuka mulut memaki orang! Sejak kapan kami orangorang
Cin-ling-pai membohong?”
“Tosu tua bau!” Tok-gan Sin-kai marah sekalidan melangkah maju. “Tadi mulutmu sendiri yang
menyangkal membunuh Ban Kim Cinjin. Di dalam peti mati itu mayat siapa lagi kalau bukan mayat
Cinjin? Apa mulutmu yang bau masih hendak bilang mayat itu tidak mati?” Sambil berkata
demikian, Tok-gan Sin-kai menggerakkan tongkat ularnya yang dengan gerakan berputaran
menghantam kepala Hap Tojin.
“Sratt!” Sebatang pedang telah berada di tangan Hap Tojin dan sekali pedangnya berkelebat,
tongkat ular sudah ditangkisnya. “Traanggg!” Bunga api berpijar dan ternyata kini bahwa tongkat
Koleksi Kang Zusi
itu terbuat dari logam yang amat kuat. Hap Tojin terkejut sekali di dalam hatinya ketika merasa
telapak tangannya panas dan sakit-sakit akibat benturan senjata itu.
“Pengemis tua, jangan kau memaki sembarangan!” Hap Tojin juga sudah marah karena pengemis
itu mulai mendamprat. “Memang di dalam peti mati itu mayat Ban Kim Cinjin, siapa yang pernah
menyangkal itu? Akan tetapi matinya bukan karena kami orang-orang Cin-ling-pai. Kalau kami
bermusuh kepadanya dan membunuhnya, masa kami sudi bersusah payah mengurus penguburannya
dan menyembayanginya?”
Ucapan ini masuk akal dan agak menyabarkan hati Tok-gan Sin-kai. Ia lalu melangkah maju
menghampiri mayat di dalam peti itu. Biarpun Ban Kim Cinjin adalah seorang tokoh besar yang
memiliki kedudukan tinggi juga di antara para pembantu pemerintah Ceng, namun karena bukan
seorang tokoh partainya, pengemis mata satu ini juga tidak banyak menaruh hormat. Dengan
sembarangan saja ia memeriksa tubuh Ban Kim Cinjin, membuka bajunya dan melihat di bagian
dada itu biru-biru menghitam, tanda bahwa matinya terkena pukulan hebat.
“Cin-ling Sam-eng, apa kau mau bilang bahwa orang ini mati sendiri tanpa sebab?” ia mengejek
sambil mundur lagi dua langkah.
“Tok-gan Sin-kai, dia mati dipukul orang. Cuma saja, siapa orangnya, itu kami masih sedang
menyelidiki.”
“Hemm, omongan bayi! Dia adalah utusan pemerintah dan datang ke sini untuk memenuhi tugas.
Tahu-tahu dia mati di sini, di antara para tosu Cin-ling-pai dan kau mau bilang bahwa kau tidak
tahu siapa yang memukulnya sampai mati?” Dua orang pengemis yang lain mengeluarkan suara
ejekan, dan gadis manis itu, yang tadi disebut Thio-Siocia (nona Thio) puteri Thio-ciangkun,
berkata dengan nyaring dan keren.
“Tosu-tosu Cin-ling-pai kalau sudah membunuh, berlakulah sebagai orang gagah! Sudah berani
membunuh mengapa takut mengaku dan menjelaskan sebab-sebabnya? Kami melihat sendiri tadi
Cinjin bertempur dikeroyok beberapa orang tosu.”
“Cin-ling-pai tidak mempunyai anggauta pengecut tukang bohong. Kami selalu menjaga diri
dengan pedang, tak pernah menggunakan pukulan curang. Andaikata Ban Kim Cinjin mati ditangan
kami, tentulah matinya tertusuk pedang, Kami tahu Ban Kim Cinjin dibunuh orang akan tetapi
belum tahu siapa pembunuhnya. Kalau kalian pecaya kepada kami, boleh kalian membawa pergi
mayat Ban Kim Cinjin dan pergi dari sini dengan baik-baik. Kalau tidak percaya, terserah hendak
berbuat apa. Aku Hap Tojin mewakili Cin-ling-pai sudah habis bicara!” Ia lalu berdiri dengan
pedang melintang di dada akan tetapi menjura dengan hormat, ini tandanya ia menghormati para
tamu akan tetapi tidak mau mengalah atau tunduk begitu saja.
“Bagus! Memang sudah lama aku mendengar nama besar Cin-ling Sam-eng yang tersohor gagah
dan angkuh. Hendak kulihat sampai di mana kehebatannya!” Sambil berkata demikian, Tok-gan
Sin-kai lompat menyerang Hap Tojin.
“Pengemis buta jangan main gila di Cin-ling-san!” seru Hap Tojin sambil memutar pedangnya
menangkis. Di saat itu, berkelebat dua bayangan yang cepat mengurung pengemis mata satu itu,
ternyata Hee Tojin dan Tee Tojin sudah maju membantu saudaranya itu.
“Tahan dulu, harap jangan menurutkan nafsu marah. Urusan ini baik dirundingkan secara damai!”
Yang bicara adalah It Cin Cu yang bersama Ji Cin Cu semenjak tadi hanya duduk diam
mendengarkan saja.
Koleksi Kang Zusi
Mendengar seruan suheng mereka, Cin-ling Sam-eng melompat mundur menahan senjata dan
berdiri memandang kepada Tok-gan Sin-kai dengan mata melotot. Adapun Tok-gan Sin-kai ketika
mendengar suara yang berpengaruh inipun tidak berani sembarangan turun tangan, lalu berdiri
menghadapi It Cin Cu dan Ji Cin Cu yang sudah melangkah maju dengan tenang.
It Cin Cu menjura kepada pengemis mata satu itu, lalu berkata, suaranya tenang. “Tok-gan Sin-kai
lo-sicu harap maafkan sute-sute kami yang berdarah panas. Biasanya, urusan mengenai Cin-ling-pai
memang sudah kami serahkan kepada ketiga orang sute kami ini, akan tetapi mengingat bahwa
urusan kali ini bukan kecil dan amat pentingnya, terpaksa pinto berdua ikut-ikut.”
Tok-gan Sin-kai balas menjura. Kalau dua orang ini adalah suheng-suheng (kakak-kakak
seperguruan) Cin-ling Sam-eng, maka mereka ini bukanlah orang sembarangan. “Ucapan totiang
lebih menarik hati, memang bukan maksud kami datang ke Cin-ling-san untuk berkelahi. Tidak
tahu siapakah totiang dan ada petunjuk apakah?”
“Sam-wi losicu dan nona jauh-jauh datang dan kami tidak dapat menyambut secara sewajarnya,
harap banyak maaf. Seperti cu-wi (tuan sekalian) melihatnya, kami sedang menjalankan upacara
sembahyang dan memang pada kematian Ban Kim Cinjin ini terselip hal-hal yang amat aneh.
Bukan bohong ketika para sute tadi mengatakan bahwa kami sendiri merasa berhadapan dengan
teka-teki sulit dan masih meraba-raba dan menduga-duga siapa sebenarnya pembunuh Ban Kim
Cinjin.” Kemudian dengan suara tenang dan sabar It Cin Cu menceritakan peristiwa yang telah
terjadi di Cin-ling-san. Sebagai penutup ceritanya ia berkata,
“Untuk penyelidikan, kami sengaja menahan bocah she Cia itu dan mengurungnya di Can-tee-gak.”
Mendengar ini, nona cantik yang tadi diperkenalkan sebagai Thio-Siocia puteri dari Thio-ciangkun
(perwira Thio) melompat dan sekali tangannya menyambar, ia telah menangkap seorang tosu
terdekat. Tosu itu mencoba untuk menangkis, akan tetapi sekali totok tubuhnya lumpuh dan leher
bajunya sudah dicengkeram oleh nona yang gagah ini!
“Ayoh, antar aku ke Can-tee-gak!”
It Cin Cu tersenyum kecil dan Ji Cin Cu tertawa lebar. “Hayaa, sute, kau benar-benar sial!” katanya
kepada tosu yang ditangkap oleh nona Thio yang sebenarnya bernama Thio Li Hoa. Nona ini adalah
murid terkasih dari ketua Coa-tung Kai-pang (perkumpulan pengemis tongkat ular) dan selain
mewarisi ilmu silat ketua Coa-tung Kai-pang, iapun sudah mewarisi kepandaian tunggal ayahnya,
Thio-ciangkun. Maka biarpun tiga orang pengemis tongkat ular adalah terhitung suheng-suhengnya,
namun dalam ilmu silat, kiranya dia tidak akan kalah oleh mereka.
It Cin Cu memandang kepada Thio Li Hoa dengan mata tajam. “Nona Thio, kau sungguh tidak
memandang kami. Setelah kami berterus terang, mengapa menggunakan kekerasan? Tanpa
mengeluarkan kepandaianmu, kami tentu bersedia mengantarmu membuktikan kebenaran ceritaku
tadi.”
Mendengar ini, Li Hoa menjadi merah mukanya, akan tetapi dasar ia keras hati, ia hanya
mendengus dan melepaskan cekalannya. Tosu itu ketika dilepaskan, lalu roboh terkulai dengan
lemas. Ji Cin Cu mendekati dan sekali menepuk, tosu itu sudah sembuh kembali. Melihat ini, diamdiam
Li Hoa memuji. Tak disangkanya, tosu gemuk pendek yang selalu tertawa itu demikian
lihainya.
“Nona Thio, ketahuilah. Can-tee-gak berada di sebelah belakang puncak ini. Kau jalan dari sini ke
belakang sampai dua li, membelok ke kiri setengah li dan tibalah kau di jurang Can-tee-gak.
Koleksi Kang Zusi
Dengan kepandaianmu, kau tentu akan dapat menuruni jurang itu dan memeriksa bocah she Cia
yang menjadi tangkapan kami itu. Nah, tanpa diantarpun tentu nona tidak takut pergi seorang diri,
bukan?” Ucapan Ji Cin Cu yang disertai suara ketawa ini memang dia sengaja. Tadi tosu itu diamdiam
merasa mendongkol melihat kekasaran nona ini yang menghina seorang sutenya, maka ia
sekarang sengaja memanaskan hati untuk membalas biar nona itu pergi sendiri mencari Cia Han Sin
di tempat tahanannya. Ia tahu bahwa tidak mudah menuruni Can-tee-gak, maka sengaja ia berkata
bahwa tentu nona itu tidak takut.
Memang Li Hoa berwatak keras. Mana dia kenal takut? Apalagi setelah orang berkata demikian
tentu saja ia malu kalau tidak berani pergi sendiri. Ia tersenyum mengejek, tubuhnya berkelebat dan
terdengar suaranya. “Kau lihat saja apakah aku tidak dapat menyeretnya ke sini!”
“Sumoi, biar aku menemanimu,” kata seorang pengemis sambil menggerakkan kaki hendak
mengejar. Namun bayangan gadis itu yang sudah tidak kelihatan lagi menjawab dari jauh. “Tidak
usah, suheng, jangan bikin aku ditertawai orang!” Pengemis itu menggeleng kepala, menarik napas
panjang lalu memandang kepada Ji Cin Cu dengan mata melotot.
“Ha ha ha ha!” Ji Cin Cu yang dipelototi tertawa bergelak. “Nona itu jauh lebih berani dari suhengsuhengnya.
Kagum, kagum .....!”
It Cin Cu lalu mempersilakan tamu-tamunya mengambil tempat duduk dan dia lalu melanjutkan
upacara sembahyang yang tadi tertunda. Peti mati ditutup lagi dan upacara dilanjutkan dengan
penuh khidmat sehingga tiga orang pengemis tua itu merasa tidak enak untuk mengganggu. Namun
diam-diam mereka tidak bisa duduk diam dan hati mereka kebat-kebit kalau mengingat sumoi
mereka yang pergi seorang diri hendak mengambil tawanan yang akan mereka paksa untuk
mengaku siapa adanya pembunuh Ban Kim Cinjin.
Setelah upacara sembahyang selesai, It Cin Cu lalu minta kepada Tok-gan Sin-kai untuk
menceritakan apakah sebetulnya tugas mereka dan usul apa gerangan yang diajukan oleh
pemerintah Ceng kepada Cin-ling-pai. Dengan suara tinggi dan memperlihatkan sikap bangga
sebagai utusan pemerintah Ceng, Tok-gan Sin-kaiyang kini setelah Ban Kim Cinjin tewas boleh
dibilang menggantikan kedudukannya sebagai pemimpin rombongan, lalu berkata,
“Karena ternyata bahwa pemerintah baru telah diperkenankan oleh Thian (Tuhan) memimpin
rakyat, sudah sepatutnya kalau para orang gagah membantu pemerintah baru ini mengenyahkan
segala kekacauan dan membantu penertiban di kalangan rakyat. Ada beberapa gelintir manusia tak
tahu diri coba memberontak dan membangkang, aahh, tak lama lagi tentu mereka ini akan digilas
hancur. Cin-ling-pai selama ini tidak memperlihatkan sikap bermusuhan dengan pemerintah baru,
hal ini amat menggirangkan hati Thio-ciangkun yang bertugas menertibkan para perkumpulan
orang gagah di dunia kang-ouw. Akan tetapi, totiang, sikap diam tidak bermusuhan saja masih
belum sempurna. Untuk mempererat hubungan dan kerja sama demi kepentingan rakyat jelata,
sudah sepatutnya kalau Cin-ling-pai menggunakan kekuasaan dan nama besarnya untuk membantu
usaha pemerintah. Dan adalah harapan besar dari Thio-ciangkun agar Cin-ling-pai suka mencari
surat wasiat Lie Cu Seng yang lenyap di tangan mendiang Cia Sun si pemberontak di Min-san.”
Tok-gan Sin-kai berhenti bicara dan matanya yang tinggal satu itu memandang wajah It Cin Cu dan
Ji Cin Cu bergantian dengan sinar mata penuh selidik dan tajam. Namun wajah It Cin Cu yang
keren itu tidak memperlihatkan bayangan isi hatinya, tetap keren dan tenang, sedangkan wajah
Siauw-bin-hud Ji Cin Cu tetap tersenyum-senyum seperti orang kegirangan, tidak ada perubahan
apa-apa. Padahal dibalik “kedok” muka ini, di dalam dada dua orang tosu Cin-ling-pai ini timbul
gelombang hebat mendengar ucapan Tok-gan Sin-kai.
Koleksi Kang Zusi
Mereka tahu bahwa dengan cara licin memutar, pemerintah Ceng telah minta bukti dari Cin-ling-pai
bahwa perkumpulan ini tidak menentang pemerintah Ceng dan suka melakukan perintahnya. Kalau
memang pemerintah baru ini menghendaki surat wasiat itu, mengapa harus minta bantuan Cin-lingpai
dan tidak mengerahkan kaki tangannya sendiri yang banyak dan lihai-lihai? Akan tetapi It Cin
Cu yang berwatak jujur, tidak sanggup menjawab dan diam saja. Sebaliknya, Ji Cin Cu yang selalu
tertawa itu ternyata memiliki otak yang lebih cerdik. Sambil tertawa-tawa ia mengutarakan isi
hatinya ini dengan cara memutar pula.
“Lo-sicu, kami dari Cin-ling-pai memang tidak mempunyai maksud bermusuh dengan siapapun
juga, apa lagi dengan pemerintah yang berkuasa. Juga orang-orang bodoh seperti kami, yang setiap
hari hanya menyucikan diri dan sedapat mungkin menjauhi urusan dunia, mana ada kesanggupan
dan kemampuan untuk mencari surat wasiat yang demikian pentingnya? Kalau lo-sicu sudah tahu
bahwa surat wasiat itu berada di tangan Cia-enghiong di Min-san, bukankah kau orang tua tinggal
datang ke sana dan mengambilnya saja?”
Nama besar Cia Sun sebagai keturunan pahlawan dan juga sebagai seorang pendekar besar, biarpun
kepandaiannya belum begitu hebat, sudah terkenal di seluruh dunia dan mendapat penghormatan
besar dari pada para ciang-bun-jin (ketua) partai dan orang-orang gagah. Maka Ji Cin Cu juga
menyebutnya Cia-enghiong (pendekar Cia), tidak seperti Tok-gan Sin-kai yang menyebut si
pemberontak tadi.
Tok-gan Sin-kai tersenyum pahit dan menjawab, “Tidak semudah itu, Ji Cin Cu totiang! Memang
kami sudah menyelidik ke Min-san, akan tetapi puncak itu kosong dan kabarnya dua orang anak
keturunan Cia Sun sudah turun gunung. Tentu surat wasiat itu mereka bawa pergi.”
Tiba-tiba hati It Cin Cu dan Ji Cin Cu berdebar, akan tetapi dua orang tosu yang sudah tinggi
kepandaiannya ini dapat menekan perasaan mereka dan wajah mereka tidak berubah sama sekali.
Akan tetapi dari pandang mereka masing-masing tahu apa yang terkandung di hati mereka.
Bocah yang aneh itu she Cia dan datang bersama seorang adik perempuannya, apakah tidak
mungkin mereka itu anak-anak dari pendekar Cia Sun? Kalau benar demikian halnya, mereka
sebagai orang-orang gagah yang amat mengagumi Cia Hui Gan dan Cia Sun, tentu saja tidak akan
membiarkan pemuda itu terjatuh ke dalam tangan kaki tangan pemerintah Ceng! Karena pikiran ini,
mereka lalu bersikap tenang dan diam, namun berjanji dalam hati untuk melindungi pemuda itu
kalau benar dia keturunan Cia Hui Gan dan Cia Sun.
****
Dengan amat nyaman Han Sin yang di”hukum” di Can-tee-gak (Ruangan Dalam Neraka) bukannya
mengeluh dan berkuatir, malah tidur nyenyak sekali. Tempat itu yang diapit batu karang tinggi
merupakan terowongan untuk angin gunung maka tubuhnya serasa dikipasi dan sejuk sekali.
Setelah kenyang tidur, tiba-tiba ia bangun ketika telinganya mendengar suara yang amat dikenalnya.
Suara cecowetan.
“Siauw-ong, kau di mana?” tegurnya. Tak salah lagi, itulah suara monyetnya. Akan tetapi ia tidak
melihat monyet itu dan suara monyetnya terdengar dari atas. Tahulah ia bahwa tentu Siauw-ong
berada di atas jurang. Tiba-tiba ia menjadi gelisah. Kalau Siauw-ong muncul, tentu muncul pula Bi
Eng. Bukankah monyet itu tadi pergi mengikuti adiknya? Dan kalau Bi Eng kembali, tentu adiknya
yang berwatak keras dan berani itu akan bentrok dengan para tosu Cin-ling-pai.
“Siauw-ong! Eng-moi! Kalian pergilah dari sini, biar nanti aku menyusul!” serunya ke atas. Akan
tetapi tidak terdengar jawaban kecuali gema suaranya sendiri. Malah suara Siauw-ong tidak
Koleksi Kang Zusi
terdengar lagi. Ia menarik napas lega. Mudah-mudahan mereka mau menuruti permintaanku dan
melarikan diri, pikirnya.
Pemuda ini sama sekali tidak tahu bahwa ketika ia tadi tertidur, seorang gadis yang cantik telah
menuruni jurang itu melalui seutas tambang. Dengan gerakan lincah melebihi seekor kera gadis itu,
Thio Li Hoa, telah menuruni Can-tee-gak untuk melihat sendiri kebenaran cerita tosu-tosu Cin-lingpai
tentang seorang pemuda she Cia yang sudah membunuh Ban Kim Cinjin. Gadis ini memang
cerdik sekali, melebihi para suhengnya, maka begitu mendengar seorang pemuda bershe Cia, timbul
kecurigaannya.
Tidak semata-mata ia hendak menyelidiki kebenaran cerita para tosu itu, melainkan ia menaruh
dugaan bahwa mungkin sekali pemuda dan adik perempuannya itu adalah keturunan Cia Sun yang
sudah turun gunung. Cia Sun seorang pendekar besar, tidak aneh apabila mempunyai seorang putera
yang berkepandaian tinggi. Kalau ia dapat menemui pemuda itu dan mendahului orang lain
merampas surat wasiat Lie Cu Seng, bukankah ini baik sekali? Seluruh orang pandai di dunia kangouw
mengilar untuk mendapatkan surat wasiat itu, apa lagi dia! Terpincuk oleh harta terpendam?
Cih, siapa memikirkan harta terpendam?
Sesungguhnya, bukan harta terpendam, melainkan kitab rahasia yang hebat, kitab pelajaran ilmu
silat yang luar biasa dan tiada keduanya di dunia ini. Itulah kitab pelajaran peninggalan Tat Mo
Couwsu yang paling dirahasiakan, yang kabarnya terjatuh ke dalam tangan Lie Cu Seng namun
belum ada seorangpun manusia sempat mempelajari isinya.
Kitab yang tiada bandingannya di dunia lebih berharga dari pada harta dunia yang paling mahal,
yang dibuat rindu oleh semua tokoh kang-ouw! Inilah yang membuat gadis cerdik ini tergesa-gesa
mencari Cia Han Sin karena ia menduga bahwa pemuda ini tentulah putera Cia Sun dan membawa
surat wasiat.
Ketika Li Hoa berhasil menuruni dasar jurang Can-tee-gak, ia melihat seorang pemuda sedang tidur
pulas dengan duduk bersandar pada batu karang. Hatinya terkesiap dan jantungnya berdebar ketika
ia melihat Han Sin. Tak disangkanya ia akan menjumpai seorang pemuda setampan ini dan segagah
ini. Dalam tidur, biarpun dalam keadaan terbelenggu dan berada di dasar jurang dalam, bibirnya
masih tersenyum dan pada wajah yang amat tampan itu seujung rambutpun tidak kelihatan tanda
gelisah atau ketakutan.
Melihat wajah pemuda ini, diam-diam Li Hoa merasa denyut jantungnya menjadi cepat sekali dan
kedua pipinya menjadi panas. Aneh, mengapa aku menjadi begini? Demikian pikir gadis itu dengan
heran. Ketika itu, Han Sin menggerakkan sebelah kakinya dan cepat ringan bagaikan seekor burung
walet, gadis itu sudah melompat dan menyelinap bersembunyi ke balik sebuah batu disebelah kanan
pemuda itu. Ia mengintai dari tempat sembunyinya dan diapun mendengar suara cecowetan seekor
monyet dari atas jurang.
Ketika pemuda itu memanggil-manggil nama monyet itu dan nama adik perempuannya, hati Li Hoa
girang bukan main. Ketika ayahnya menyuruh orang menyelidik ke Min-san, diapun mendengarkan
laporan penyelidik-penyelidik itu bahwa Min-san sudah ditinggal pergi oleh putera dan puteri Cia
Sun yang turun gunung membawa seekor monyet. Tak salah lagi, inilah putera Cia Sun dan tentu
dia inilah yang membawa pergi surat wasiat itu! Aku harus cepat turun tangan, jangan sampai
didahului oleh para tosu Cin-ling-pai, pikirnya, Maka keluarlah ia dari tempat persembunyiannya.
Akan tetapi pada saat itu, Han Sin berseru girang dan dari atas meluncur turun bayangan hitam kecil
yang merosot dengan amat cepatnya. Li Hoa kaget sekali. Dia sendiri tidak akan dapat meluncur
turun melalui tambang secepat itu. Kalau lawan yang datang ini, tentu hebat kepandaiannya. Akan
Koleksi Kang Zusi
tetapi setelah dekat, ternyata yang meluncur itu adalah seekor monyet yang kecil yang kini sudah
tergantung-gantung di atas kepala Han Sin.
“Siauw-ong, kau turun juga? Mana nonamu?” tegur Han Sin yang masih belum melihat bahwa kini
Li Hoa sudah berdiri di belakang batu.
Siauw-ong lebih awas. Monyet ini mengeluarkan bunyi nyaring dan cepat meloncat turun, lalu
membalikkan tubuh menghadapi Li Hoa dengan mulut meringis memperlihatkan taring-taringnya.
Baru sekarang Han Sin menengok dan ia kaget bukan main. Matanya melongo memandang wajah
gadis yang cantik bukan main ini. Bagaimana di tempat ini ada seorang gadis sedemikian cantik
manisnya? Tentu seorang dewi dari kahyangan, pikirnya. Kalau manusia biasa, mana bisa seorang
gadis selemah itu menuruni tempat ini?
“Siauw-ong, mundur kau! Jangan kurang ajar!” bentaknya keras melihat sikap Siauw-ong hendak
menyerang nona itu. Siauw-ong tidak berani membantah perintah tuannya, lalu melompat mundur
dan duduk di atas pundak Han Sin, mengeluarkan bunyi sedih melihat tubuh pemuda itu dibalut
rantai-rantai besi yang amat besar dan kuat.
Li Hoa melangkah maju dan Han Sin segera mencium bau harum yang keluar dari pakaian gadis itu
yang indah dan mewah. Melihat dandanan dan sanggul yang indah luar biasa itu, Han Sin tidak
sangsi lagi bahwa ini tentulah seorang dewi. Ia seringkali membaca dongeng-dongeng tentang dewi
dan dewa, maka cepat ia berlutut, dan mengangguk-anggukan kepalanya sambil berkata.
“Hamba Cia Han Sin yang penuh dosa mohon ampun bahwa hamba tidak dapat menyambut
kedatangan dewi yang bijaksana!”
Ia mengira akan mendengar jawaban yang merdu dan berpengaruh seperti layaknya suara seorang
dewi, akan tetapi alangkah herannya ketika ia sebaliknya mendengar suara ketawa kecil cekikikan
karena geli hati. Celaka, pikirnya, teringat akan dongeng-dongeng dalam buku-bukunya, kalau dewi
tidak pernah tertawa seperti ini, kecuali siluman! Dia siluman .....!
Ia memberanikan hati dan mengangkat muka, akan tetapi tidak melihat gadis itu tertawa lagi,
melainkan melihat wajah yang keren, cantik sekali, dan agung. Memang watak Li Hoa tidak periang
dan gadis ini keras hati serta angkuh. Tapi melihat sikap Han Sin tadi, ia tidak dapat menahan
kegelian hatinya dan tertawa. Baiknya ia cepat dapat menguasai hatinya lagi sehingga ketika
pemuda itu mengangkat muka, ia sudah dapat menggigit bibirnya dan memandang tajam dengan
muka merah.
“Tak usah main gila, aku bukan dewi segala macam!” bentaknya ketus.
“... kau bukan .... bukan .....” kata Han Sin gagap karena masih bingung oleh jalan pikirannya
sendiri tadi.
“Bukan apa?” bentak Li Hoa lebih ketus lagi.
Han Sin tak dapat menjawab. Tak mungkin ia melanjutkan kata-katanya yang kurang kata-kata
“siluman betina” tadi. Ia hanya menjawab, “Aku tidak menyangka di tempat ini dapat bertemu
dengan nona, maka aku menjadi kaget dan bingung. Harap nona suka memaafkan sikapku tadi,”
katanya dan mukanya menjadi merah saking jengah mengingat sikapnya tadi.
Koleksi Kang Zusi
Gadis itu mendengus kecil lalu duduk di atas sebuah batu di depan Han Sin. Mata yang jeli itu
memandang penuh selidik, dan ia berhasil menyembunyikan kekagumannya melihat potongan
tubuh dan wajah pemuda itu.
“Aku turun ke sini untuk memeriksamu. Siapa namamu?”
Sampai lama Han Sin tidak dapat menjawab. Ia terheran-heran. Yang menangkapnya adalah tosutosu
Cin-ling-pai dan tadi ia hanya melihat banyak sekali tosu-tosu tua muda, tidak seorangpun ada
wanitanya. Bagaimana sekarang tahu-tahu muncul seorang gadis secantik bidadari datang untuk
memeriksa perkaranya? Saking tercengang dan heran, ia sampai tidak mendengar pertanyaan tadi.
“Hei! Siapa namamu?” Li Hoa mengulang.
Han Sin sampai menjumbul (tersentak), tapi dengan senyum tenang ia menatap wajah penanyanya.
“Ah, sampai kaget aku. Kenapa sih nona yang belum mengenal aku sudah membentak-bentak
seperti orang marah? Apakah ada sesuatu yang menjengkelkan hatimu, nona?” Han Sin memang
berhati mulia dan halus. Melihat orang marah-marah itu ia salah duga dan mengira nona ini sedang
mengandung kejengkelan, maka ia berusaha menghibur malah.
“Jangan banyak cerewet. Jawab, siapa namamu?” Li Hoa membentak, makin keras karena marah
dan mengira Han Sin mempermainkannya.
Han Sin menarik napas panjang. “Kasihan, semuda ini sudah banyak mengalami kejengkelan hati.
Bisa lekas tua .....”
“Plak! Plak!” Dua tamparan tangan Li Hoa jatuh di pipi kanan kirinya. Di pipi yang putih itu
tampak membekas merah lima jari tangan Li Hoa. Tentu pedas dan sakit rasanya, akan tetapi Han
Sin hanya tersenyum saja. Dia seorang pemuda yang berani, tenang dan kuat menderita.
“Terima kasih, nona,” katanya dengan senyum dikulum.
Tak kuat Li Hoa menghadapi senyum itu, apalagi pancaran sinar mata yang tajam luar biasa dari
pemuda aneh ini, jantungnya berdenyut dan pipinya menjadi merah, lebih merah dari pipi Han Sin
yang sudah mulai menghilang tapak jarinya.
“Habis kau .... kau kurang ajar sih ....” katanya perlahan seperti pernyataan menyesal bahwa ia
sudah memukul orang yang begini halus.
Han Sin mengangkat alisnya. “Maaf, aku tidak bermaksud kurang ajar. Baiklah, kujawab
pertanyaanmu tadi. Namaku Cia Han Sin, dan kau siapa, nona?”
“Kau putera Cia Sun?” tanya lagi Li Hoa tanpa menjawab pertanyaan orang.
“Eh, bagaimana kau bisa tahu? Apa kau kenal orang tuaku? Sayang ayah sudah meninggal, kalau
belum aku dapat menanyakan namamu kepadanya.”
Li Hoa tidak memperdulikan ucapan orang, hatinya terlampau girang mendapat kenyataan bahwa
dugaannya tadi benar. Nafsunya untuk mendapatkan surat wasiat tak dapat ditahannya lagi. “Orang
she Cia, kau tentu membawa surat wasiat Lie Cu Seng, betul tidak?” Suaranya sampai menggetar
saking tegang hatinya.
Koleksi Kang Zusi
Han Sin bukannya tidak tahu bahwa orang-orang kang-ouw menghendaki surat wasiat itu dan iapun
mengerti bahwa dia harus merahasiakannya. Akan tetapi melihat seorang gadis cantik dan muda
seperti gadis ini juga ikut memperebutkannya, ia menjadi penasaran. Ia tertawa masam dan
menjawab, “Eh nona! Kenapa kau tahu segala? Tahu ayahku, tahu tentang surat wasiat segala.
Benar-benar kau hebat, siapa sih kau?”
“Namaku Li Hoa, she Thio. Cia Han Sin, tahukah kau bahwa jiwamu terancam karena kau
membawa-bawa surat wasiat itu? Semua orang jahat di dunia menghendakinya. Kaupun dikurung di
sini karena kau menyimpan surat itu. Kau berikanlah kepadaku dan aku akan bantu kau melarikan
diri dari tempat ini.” Tiba-tiba sikap Li Hoa menjadi manis sekali, ramah dan kerling matanya
memikat.
Kini Han Sin tertawa sungguh-sungguh. Ha ha ha, begini baru manis kau, Li Hoa. Orang secantik
engkau memang seharusnya ramah tamah, baru patut. Akan tetapi kau tadi bilang bahwa orangorang
jahat di dunia menghendaki surat itu, kurasa kau keliru. Bukan hanya orang-orang jahat,
malah orang-orang baik dan cantik seperti engkau sekalipun menghendakinya!”
09. Kemusnahan Surat Wasihat Lie Cu Seng
WAJAH Li Hoa menjadi merah akan tetapi ia tersenyum. Dia dipuji-puji orang, tentu saja hatinya
senang, biarpun dia seorang gadis yang keras hati. “Aku tidak menghendaki harta benda, aku hanya
ingin menolongmu supaya kau terhindar dari gangguan orang jahat.”
“Eh, kenapa kau begini baik hati? Kita baru saja bertemu,” kata Han Sin sambil tertawa, pandang
matanya tidak percaya dan curiga.
“Sudahlah, kau dibaiki orang tidak mengerti. Kelak kuceritakan semua. Sekarang lebih baik
kuambil dulu surat itu darimu.” Setelah berkata demikian, tangan Li Hoa digerakkan dan
menggeledahi pakaian di tubuh Han Sin. Sepuluh buah jari tangan yang runcing halus dan kecilkecil
itu seperti sepuluh ekor ular menggelitik tubuh Han Sin. Pemuda ini tidak tahan lagi dan
tertawa terkekeh-kekeh. “Ha ha hi hi, ah gelinya. Aduhh .... aduh geli, jangan kau kitik-kitik aku,
nona .....!”
Li Hoa makin jengah dan segera menghentikan geledahnya. Ternyata dia tidak mendapatkan surat
itu biarpun kedua tangannya sudah menggeledah ke sana-sini hingga menyentuh tubuh pemuda itu.
Memikirkan perbuatannya tadi, diam-diam ia merasa lucu dan malu, juga jantungnya berdebar
makin keras. Selama hidupnya belum pernah jari-jari tangannya menyentuh kulit tubuh seorang
pemuda seperti ini.
“Kau tidak mau memberikan, sih. Awas, akan kukitik-kitik lagi kau sampai tidak kuat dan mati
kaku kalau kau tidak memberitahu kepadaku di mana kau simpan surat wasiat itu.”
Han Sin menahan tawanya dan menggeleng-geleng kepalanya. “Nona .....eh, Li Hoa, kau anak baik,
kalau adikku melihatmu tentu dia senang. Sayang kita berkenalan dalam keadaan seperti ini.
Dengarlah, surat yang kau maksudkan itu tidak mungkin kuberikan kepada lain orang, karena
memang menjadi hak milikku sebagai warisan ayah. Selain itu, kuberitahukan juga kepadamu, tak
mungkin kau bisa mengambilnya.”
“Masa? Coba kau beritahukan di mana. Aku pasti dapat mengambilnya. Kau kira aku begitu bodoh
dan lemah?” tantang Li Hoa, hatinya girang sekali. Kiranya pemuda ini seorang yang tolol,
pikirnya. Tampan dan kelihatan cerdik pandai, akan tetapi sesungguhnya tolol dan lemah. Maka ia
memperlihatkan sikap seramah itu, sungguh berlawanan dengan tabiatnya yang biasanya keras dan
Koleksi Kang Zusi
kaku. Menghadapi seorang pemuda tolol harus menggunakan siasat halus, pikirnya. Dia sama sekali
tidak mengira bahwa Han Sin sama sekali tidak tolol, melainkan seorang yang amat jujur dan terlalu
percaya kepada orang karena bagi dia yang selalu hidup dalam kitab-kitab sucinya, manusia di
dunia ini kesemuanya baik-baik belaka, malah ia belum begitu percaya ada orang bisa berhati jahat!
Tiba-tiba pemuda itu tertawa bergelak. “Tidak .... tidak .... kau takkan berani mengambilnya, Ha ha
ha!”
“Aku tidak berani? Asal tidak di neraka, aku akan menempuh api menyeberang laut, aku akan
berani mengambilnya,” jawab Li Hoa agak mendongkol. Dia gadis paling berani di dunia ini
menurut pendapatnya, masa pemuda ini bilang dia takkan berani?
“Aku tidak bisa memberitahukan, aku .... aku ... ah, memalukan!”
Gadis itu melengak. Apakah pemuda ini sudah miring otaknya. Ia mendongkol dan merasa
dipermainkan, akan tetapi ia masih ragu-ragu dan memaksa diri berlaku manis. “Han Sin yang baik,
kau beritahukanlah, aku pasti akan berani mengambilnya. Ini demi kebaikanmu sendiri, tahu? Kalau
harta benda itu terjatuh ke dalam tanganku, aku Thio Li Hoa bersumpah akan menyerahkan semua
harta itu ke tanganmu. Aku sudah cukup kaya, aku tidak butuh lagi harta dunia.”
Han Sin memandangnya. “Li Hoa, aku tahu kau anak baik. Aku percaya kepadamu. Akan tetapi
sudah kukatakan, surat itu warisan ayah, tak boleh diberikan kepada orang lain. Selain itu, juga ....
juga takkan dapat kau mengambilnya, karena kusimpan .... kusimpan ....”
“Di mana ....??” Li Hoa berteriak tak sabar lagi.
“Di dalam ... di dalam celana .... kuikatkan dibalik celanaku. Nah, kau memaksa aku mengaku sih,
bukannya aku tak tahu malu. Apa kau berani mengambilnya? Kurasa tidak mungkin kau gadis baikbaik
dan sopan.”
Tadinya mata gadis itu membelalak lebar, kemudian ia menundukkan mukanya yang menjadi
merah sekali, di lain saat Li Hoa sudah tertawa bergelak, akan tetapi hanya sebentar saja. Sementara
itu, melihat gadis itu tidak mengganggu Han Sin, monyet Siauw-ong sejak tadi memandang gerakgerik
mereka dan ikut tertawa dan melonjak-lonjak girang tiap kali melihat dua orang itu tertawa.
Sekarangpun ia tertawa sambil berloncat-loncatan.
“Han Sin, kau benar. Aku tidak berani mengambilnya. Akan tetapi akupun tidak percaya kepadamu,
kau tentu bohong.”
“Selama hidupku, aku Cia Han Sin tidak pernah bohong dan tidak akan mau membohong!” bentak
Han Sin marah.
“Kalau betul tidak bohong, tunjukkan buktinya. Seorang laki-laki harus berani membuktikan
kebenaran omongannya!”
“Mana bisa? Kedua tanganku dirantai.”
“Tunggulah, akan kubebaskan kau!” kata Li Hoa dan “srett!” pedangnya telah ia cabut. Melihat
pedang ini, Siauw-ong mengeluarkan pekik kaget dan tiba-tiba ia menyerbu, meloncat tinggi
dengan tangan kiri berusaha merampas pedang dan tangan kanan mencengkeram ke arah leher Li
Hoa.
Koleksi Kang Zusi
Kaget sekali gadis ini menyaksikan gerakan yang begitu cepat dan lincah, juga tidak secara ngawur,
melainkan gerakan seorang ahli silat! Biarpun ia sudah mengelak ke kiri, namun ujung lengan
bajunya kena disambar dan robek! Boleh jadi gadis ini seorang ahli silat tinggi, murid kesayangan
ketua Coa-tung Kai-pang, akan tetapi monyet inipun bukan monyet sembarangan. Dia seorang
“murid” tak langsung dari Ciu-ong Mo-kai Tang Pok yang ilmunya tidak kalah oleh Coa-tung Sinkai
ketua dari Coa-tung Kai-pang!
“Siauw-ong, jangan kurang ajar. Mundur kau! Nona itu bukan hendak membunuhku, melainkan
hendak menolongku. Mundur!” Benar saja, Siauw-ong mentaati perintah ini dan dia melompat
mundur, akan tetapi sepasang matanya yang kecil masih memandang tajam penuh curiga ke arah Li
Hoa.
Gadis ini kagum sekali. “Eh, Han Sin. Monyetmu ini ternyata lebih setia dari pada manusia biasa.
Kepandaiannya pun lumayan. Coba kau berdiri membelakangiku, biar kuputuskan rantai ini.”
Dengan tenang dan penuh kepercayaan, pemuda itu berdiri lalu membelakangi Li Hoa. Gadis itu
makin terharu. Benar-benar seorang pemuda yang hebat, penuh keberanian, jujur dan amat baik
hati, terlalu baik hati. Kalau dia mau, bukankah sekali tabas saja ia akan dapat menewaskan pemuda
itu. Pedangnya diangkat, sinar berkelebat disambung bunyi nyaring dan ternyata rantai itu telah
putus oleh sabetan pedang di tangan Li Hoa!
Siauw-ong memekik dan meloncat-loncat kegirangan sedangkan Han Sin lalu meloloskan rantai
yang sudah putus itu dari tubuhnya. Ia menarik napas dan memandang kagum kepada Li Hoa.
“Li Hoa, melihat adikku yang bisa belajar silat aku heran. Sekarang ternyata kaupun seorang gadis
muda sudah memiliki kepandaian silat dan begini kuat, benar-benar aku menjadi makin heran.
Untuk apa sih gadis-gadis cantik jelita belajar silat dan menjadi kuat dan kasar seperti laki-laki.
Bukankah lebih baik kalau gadis cantik halus lembut dan lemah gemulai?”
“Jangan ngaco! Lekas kau ambil surat itu kalau memang kau tidak membohongiku!” kata Li Hoa
tidak sabar lagi.
“Akan tetapi hanya untuk bukti bahwa aku tidak bohong, sama sekali bukan hendak kuberikan
kepadamu atau kepada siapapun juga,” kata Han Sin sambil membalikkan tubuh membelakangi Li
Hoa lalu merogoh ke dalam celananya. Dalam sebuah saku yang dipasang pada balik celananya, di
situlah selama ini ia menyimpan peta kuno itu. Ketika ia membalikkan tubuh lagi menghadapi Li
Hoa, ia sudah memegang peta itu dengan wajah berseri.
“Aku Cia Han Sin tak pernah membohong. Inilah wasiat itu!”
Tiba-tiba tangan kiri Li Hoa menyambar dan peta itu sudah direbutnya. Terdengar suara kertas
robek dan ternyata peta itu sudah robek menjadi dua potong, sepotong di tangan Li Hoa dan yang
sebelah lagi di tangan Han Sin. “Eh, kau ... kenapa kau merampasnya?” teriak Han Sin marah.
Li Hoa tersenyum, pedangnya bergerak menodong di depan dada Han Sin.
“Tolol, memangnya kau kira nonamu suka bercanda denganmu? Berikan yang sebelah lagi, kalau
tidak ujung pedangku akan menembusi dadamu!”
Melihat ini, Siauw-ong marah dan menyerang akan tetapi Han Sin mencegahnya. “Jangan Siauwong!
Nona ini hanya main-main!” Siauw-ong mundur lagi. Binatang ini memang paling taat dan
takut kepada Han Sin.
Koleksi Kang Zusi
“Li Hoa, jangan kau begini. Apa kau tidak malu?”
“Tutup mulut, berikan potongan yang di tanganmu itu!”
Han Sin tertawa getir. Ia kecewa. Baru sekarang terbuka matanya bahwa gadis ini memang benarbenar
menghendaki surat wasiat, bahwa sikap yang ramah tadipun hanyalah pura-pura sebagai
siasat merampas surat wasiat. Kembali ia dikecewakan orang. Ia tertawa-tawa keras. “Ha ha ha, Li
Hoa, tidak ada gunanya potongan peta ditanganmu itu. Itu hanya corat-coret tidak ada artinya.
Penjelasannya berada di tanganku ini. Dan kau takkan bisa mendapatkannya, biarpun kau akan
menusuk mampus dadaku.”
Setelah berkata demikian, dengan hati gemas Han Sin meremas peta di tangannya itu. Ia tidak
sengaja hendak merusak peta itu karena tidak tahu bahwa ia akan dapat melakukannya. Akan tetapi
begitu ia mengerahkan tenaga karena marah dan kecewanya, mengalirlah tenaga ke dalam jari-jari
tangan yang memegang peta, terdengar suara aneh dan ...... tahu-tahu potongan peta di tangannya
itu menjadi hancur berkeping-keping tak mungkin bisa dibaca atau disambung lagi. Ia menyebar
kepingan kertas itu ke atas dan sambil tertawa ia melihat kepingan itu diterbangkan oleh angin,
sebagian jatuh di atas rambut kepala Li Hoa dan menambah kecantikannya.
“ Ha ha ha, kau lihat tidak, Li Hoa? Potongan di tanganmu itu tidak ada artinya sama sekali!”
Li Hoa buru-buru melihat potongan peta itu dan benar saja, di situ hanya terdapat gambar sebagian
gunung dan lembah, tidak ada huruf-hurufnya sama sekali. Bagaimana orang dapat mengenal
gambar sebelah gunung tanpa tanda-tanda yang jelas. Diapun kaget melihat pemuda itu sekali remas
dapat menghancurkan kertas yang tipis dan lunak. Tanpa memiliki lweekang yang tinggi, mana bisa
melakukan hal itu? Meremas hancur sepotong batu yang keras masih lebih mudah dilakukan dari
pada meremas hancur sepotong kertas yang lunak dan ulet.
Akhirnya ia menyimpan potongan itu ke dalam saku bajunya lalu berkata, “Han Sin, kau benarbenar
tolol. Kau tidak mau memberikan peta itu kepadaku, sebaliknya malah merusaknya. Setelah
rusak di tanganmu, bagaimana kau akan dapat memenuhi kehendak ayahmu supaya kau mencari
rahasia peta itu?”
Han Sin memang jujur. Biarpun gadis cantik ini sudah menipunya, dia tidak merasa sakit hati, tidak
menaruh dendam. “Bukan aku yang tolol, Li Hoa, mungkin kau sendiri. Apa aku mau merusaknya
sebelum semua isi peta itu pindah ke dalam ingatanku? Bagiku sama saja, ada peta atau tidak.”
Li Hoa memandang tidak percaya. Han Sin menjadi penasaran. Dia sejak kecil hanya hidup berdua
dengan adiknya dan tiga orang pelayan. Belum pernah mempunyai teman lain dan sekarang
bertemu dengan Li Hoa, dia merasa senang. Sebagai seorang manusia biasa, tentu saja pemuda ini
masih mempunyai sifat ingin dipuji kepandaiannya. Maka cepat ia berjongkok di atas tanah. “Kau
lihat, bukankah bagian yang ada padamu itu seperti ini?”
Jari telunjuknya mencorat-coret di atas tanah dan mata Li Hoa membelalak kaget. Memang, persis
sekali gambar itu dengan gambar pada peta yang ia rampas! Diam-diam ia menjadi girang sekali.
Kalau begitu, asal dia bisa menawan pemuda ini, perlahan-lahan ia dapat membujuknya untuk
menggambar kembali peta yang tadi sudah diremasnya sampai hancur. Memang Li Hoa
menghendaki peta kertas, akan tetapi kalau peta kertas sudah rusak, peta di dalam otak pemuda
inipun boleh juga. Ia tersenyum manis sekali ketika berkata,
“Han Sin, kau kira aku ini orang macam apakah? Aku tadi hanyalah ingin mencoba kepandaianmu
saja. Untuk apa bagiku peta ini? Kau lihatlah baik-baik!” Ia lalu mengeluarkan peta sepotong tadi
Koleksi Kang Zusi
dan dirobek-robeknya sampai hancur. Tidak dapat ia meremasnya seperti yang dilakukan Han Sin
tadi. Pemuda itu menjadi girang sekali.
“Ah, kiranya aku tadi salah sangka. Memang aku tahu kau baik sekali, Li Hoa.”
“Sekarang kau ikutlah aku keluar dari neraka ini. Biar aku yang membujuk para tosu supaya kau
dibebaskan.”
Han Sin mengangguk-angguk. “Memang akupun tidak percaya para tosu itu akan mengurungku
selama hidup di tempat ini.” Ia memandang ke atas, lalu menggeleng-geleng kepala. “Tempat
begini tinggi, bagaimana aku bisa keluar dari sini?”
“Bukankah sudah kupasangi tambang? Monyetmu tadipun bisa turun melalui tambang.”
“Monyetku tentu bisa, akan tetapi aku bukan monyet.”
“Eeh, kau jadinya mau menyamakan aku dengan monyet?” Li Hoa cemberut dan hendak menampar
pipi pemuda itu, akan tetapi ia teringat bahwa tadipun ia sudah menampar dua kali, maka sebagai
gantinya, jari tangannya mencubit pundak orang.
“Aduh, cubitanmu sama sakitnya dengan tamparanmu.” Han Sin tertawa dan memandang wajah
gadis yang kemerahan itu. “Aku tidak hendak memakimu, hanya terus terang saja, kau dan Siauwong
tentu bisa memanjat naik, akan tetapi aku ... ah, aku tidak bisa.”
Entah mengapa, setelah bercakap-cakap dengan pemuda itu beberapa lamanya di dasar Can-tee-gak,
timbul perasaan mesra dalam hati Li Hoa. Tanpa ia sadari, rupanya ia telah jatuh cinta kepada
pemuda ini, biarpun suara hatinya sendiri itu ia bantah keras-keras terdorong oleh wataknya yang
keras. Ia berusaha bersikap kasar dan memperlihatkan kekejaman terhadap Han Sin, namun
beberapa kali ia jatuh.
“Tak usah banyak cakap, ayoh ku bantu!” Dengan cepat Li Hoa lalu menyambar lengan orang dan
tak lama kemudian dengan bantuan gadis itu, Han Sin memanjat tambang itu ke atas. Li Hoa berada
di bawahnya dan gadis inilah yang menahan tubuhnya sampai akhirnya mereka berdua tiba di atas
jurang. Siauw-ong yang mengikuti dari belakang juga melompat dengan girangnya, lalu ia meloncat
ke atas pundak Han Sin, telunjuknya menuding-nuding ke bawah gunung, agaknya hendak
mengajak pemuda itu pergi selekasnya.
“Nonamu di mana, Siauw-ong?” tanya Han Sin yang tak pernah melupakan Bi Eng. Siauw-ong
mengeluarkan suara cecowetan sambil menunjuk ke bawah puncak.
Pada saat itu, tiga orang pengemis tua nampak berlari mendatangi dengan wajah gelisah. Mereka itu
setelah menanti beberapa lamanya belum melihat kembalinya Li Hoa, menjadi gelisah dan
menyatakan perasaannya kepada It Cin Cu dan Ji Cin Cu. Ji Cin Cu tertawa dan berkata, “Janganjangan
Thio-siocia celaka pula di tangan bocah aneh itu. Lebih baik sam-wi losicu menengoknya di
Can-tee-gak.”
Maka pergilah tiga orang tokoh Coa-tung Kai-pang itu ke jurang Can-tee-gak dan kebetulan sekali
pada saat mereka tiba di situ, Li Hoa dan Han Sin serta Siauw-ong juga sudah sampai di tepi jurang
dengan selamat. Tentu saja Tok-gan Sin-kai dan kawan-kawannya menjadi lega dan girang.
Sebelum mereka sampai bicara, Li Hoa sudah mengedipkan matanya lalu berkata,
Koleksi Kang Zusi
“Sam-wi suheng, saudara ini memang tidak mengerti ilmu silat dan tidak mungkin dia yang
membunuh Ban Kim Cinjin. Akan tetapi karena dia tersangkut dalam pembunuhan itu, biar, kita
melindungi dia turun gunung dan kita pancing orang yang melakukan pembunuhan.”
Tiga orang kakek itu mengangguk-angguk. Tentu saja mereka sama sekali tidak pernah menyangka
bahwa dalam urusan dengan pemuda ini sumoi mereka telah menyimpan rahasia, yaitu rahasia surat
wasihat Lie Cu Seng. Mereka menganggap kata-kata sumoi mereka itu memang cocok dengan
keadaan, maka mereka lalu menyetujuinya bulat-bulat. Hanya Han Sin yang melongo dan tidak tahu
mengapa tiba-tiba nona itu bicara tentang kematian Ban Kim Cinjin dan sama sekali tidak
menyinggung soal peta. Pula dia tidak kenal siapa adanya tiga orang pengemis itu.
“Nona Li Hoa, setelah kau menolongku keluar dari jurang, biarlah aku tidak mengganggu kau lebih
lama. Aku hendak menyusul adikku. Aku tidak kenal dengan tiga orang lo-enghiong ini. Adapun
tentang Ban Kim Cinjin, dia seorang jahat yang banyak membunuhi tosu Cin-ling-pai. Kematiannya
entah sebab apa, mungkin ..... aku yang membunuhnya, tapi itupun amat aneh ..... ah, biarlah aku
pergi.”
“Cia-twako, kalau kau pergi seorang diri, apa kau kira para tosu di sini akan membiarkan kau pergi
begitu saja? Kau harus ikut dengan kami.”
Pada saat itu, terdengar suara orang dan muncullah It Cin Cu, Ji Cin Cu dan ketiga Cin-ling Sameng.
Melihat pemuda she Cia sudah naik dan bercakap-cakap dengan empat orang tamunya, mereka
segera menghampiri.
“Nona Thio, bukankah keterangan kami tadi benar? Mengapa bocah ini kau bawa naik?” tegur It
Cin Cu. Diam-diam para tosu tadi seperginya tiga orang pengemis yang menyusul Li Hoa,
berunding dan mereka mengambil keputusan untuk melindungi Cia Han Sin. Setelah mempunyai
dugaan bahwa pemuda itu keturunan Cia Sun, mereka tidak bisa memeluk tangan begitu saja,
menyerahkan pemuda keturunan pahlawan yang mereka kagumi itu terjatuh ke dalam kaki tangan
pemerintah Ceng.
“Kami hendak membawanya sebagai pembunuh Ban Kim Cinjin,” kata Tok-gan Sin-kai dengan
suara geram.
Ji Cin Cu tertawa. “Ha ha, nanti dulu, sobat. Pembunuhan atas diri Ban Kim Cinjin terjadi di tempat
kami. Kalau kami tidak bisa membereskan sendiri perkara ini, apa akan dikatakan oleh orang-orang
kang-ouw? Apakah kami orang-orang Cin-ling-pai sudah tidak becus mengurus persoalan ini?
Tidak, bocah ini tidak boleh kalian bawa turun gunung.”
Serentak tiga orang pengemis tua itu mengangkat tongkat ular mereka melintang ke depan dada,
dan Tok-gan Sin-kai berseru keras, “Tosu-tosu Cin-ling-pai, apakah kalian berani memberontak?”
“Omongan busuk! Siapa memberontak? Adalah kalian ini pengemis-pengemis kelaparan hendak
mengacau Cin-ling-pai!” bentak Hap Tojin yang bermuka merah. Memang tosu tertua dari Cin-ling
Sam-eng ini sudah tidak bisa menahan sabar lagi. Ikut campurnya dua orang suhengnya sudah
menimbulkan rasa tidak puas di hatinya karena biasanya semua urusan Cin-ling-pai cukup
dibereskan oleh dia bertiga yang sudah terkenal dengan julukan Cin-ling Sam-eng. Sekarang
ditambah oleh sikap para tamunya itu membuat darahnya menjadi panas.
Li Hoa menjadi khawatir sekali. Ia makin curiga dan menduga bahwa para tosu ini tentulah sudah
tahu bahwa Han Sin adalah putera Cia Sun dan karenanya hendak menahan pemuda itu dengan
maksud menyelidiki rahasia surat wasiat Lie Cu Seng. Maka ia mengejek dan berkata untuk
Koleksi Kang Zusi
memanaskan hati suheng-suhengnya. “Kami utusan pemerintah dan kalian menghalangi maksud
kami membawa tawanan, bukankah itu sama halnya dengan memberontak?”
It Cin Cu cepat berpikir. Bahayanya bentrok dengan pemerintah Ceng memang besar, akan tetapi
bahaya itu hanyalah bahaya lahir yang dapat mereka lawan dan dapat mereka usahakan
penolakannya. Kalau sampai mereka mendiamkan saja putera Cia Sun ditangkap kaki tangan
pemerintah penjajah, dalam hal ini terdengar oleh para orang gagah, bahayanya lebih hebat lagi,
yaitu nama Cin-ling-pai akan diseret ke dalam lumpur. Tentu suhunya takkan mendiamkan saja hal
ini. Maka It Cin Cu lalu berkata singkat.
“Terhadap anjing-anjing penjilat kaki tangan pemerintah Ceng kami tak pernah ada urusan, juga
tidak mau kami disuruh merangkak di depan mereka. Pendeknya, bocah she Cia ini adalah tawanan
kami dan tak seorangpun boleh merampasnya!”
Sejak tadi Han Sin hanya mendengarkan dengan mulut melongo. Setelah sekarang ia tahu akan
duduknya perkara, mukanya menjadi pucat dan memandang kepada Li Hoa dengan mata terbelalak.
“Kau ..... kau kaki tangan pemerintah Ceng .... Ah .... celaka, aku tertipu! Siapa sudi kau tolong?
Lebih baik kembali ke jurang!” Han Sin lalu melarikan diri dan karena jalan turun ke bawah
dihadang oleh para pengemis, ia lalu turun dari lain jurusan menuju ke belakang gunung.
Li Hoa tak dapat menjawab atas seruan ini, akan tetapi Tok-gan Sin-kai menudingkan tongkatnya,
menggerakkannya sedikit dan berseru,
“Bocah she Cia, berhenti kau!” dan dari ujung tongkatnya itu menyambar sinar kuning ke arah Cia
Han Sin. Pemuda itu berteriak kesakitan dan roboh terguling ke dalam sebuah jurang di sebelah
kirinya. Ternyata pundaknya telah terkena paku Coa-ting (Paku Tulang Ular) yang merupakan
senjata rahasia ampuh dan berbisa dari kaum Coa-tung Kai-pang. Bersama dia, Siauw-ong juga
turut terguling masuk jurang.
“Pengemis busuk!” Hap Tojin berseru marah dan pedangnya berkelebat menyambar ke arah Tokgan
Sin-kai yang cepat ditangkis oleh tongkat pengemis mata satu ini. Di lain saat terjadilah
pertempuran hebat di atas puncak itu. Tok-gan Sin-kai dan seorang sutenya yang berhidung merah
menghadapi It Cin Cu dan Ji Cin Cu, sedangkan seorang pengemis lagi bersama Li Hoa
menghadapi keroyokan Cin-ling Sam-eng. Tak seorangpun di antara mereka dapat mengurus
keadaan Han Sin lagi karena pihak lawan merupakan lawan-lawan berat dan seorang saja di antara
kedua belah pihak itu meninggalkan gelanggang, berarti pihaknya akan terancam kekalahan.
****
Ke mana perginya Bi Eng? Kenapa Siauw-ong kembali sendiri ke Cin-ling-san mencari Han Sin?
Seperti telah diketahui, Bi Eng terpaksa dengan hati berat meninggalkan kakaknya di puncak Cinling-
san, pergi bersama Siauw-ong setelah Han Sin memerintahkannya pergi lebih dulu dan menanti
di tepi sungai Wei-ho. Tidak karuan rasa hati gadis ini ketika ia menuruni bukit Cin-ling-san
Tak terasa lagi Bi Eng mengucurkan air mata. Ingin sekali ia melompat dan lari mendaki gunung itu
kembali untuk melihat kakaknya dan kalau perlu membelanya mati-matian. Namun suara perintah
kakaknya masih bergema di telinganya dan ia tidak berani membantah lagi. Pandang mata kakaknya
demikian pasti, tak boleh dibantah lagi.
Koleksi Kang Zusi
Betapapun juga, ketika ia tiba di kaki gunung hatinya tidak kuat dan tiba-tiba ia berhenti berjalan,
lalu menyandarkan diri di pohon dan menangis. “Sin-ko ..... bagaimana dengan keadaanmu .....?”
bisiknya sambil terisak-isak.
Siauw-ong mendekati nonanya dan ikut menangis cecowetan, sambil menarik-narik lengan gadis itu
diajak kembali ke atas gunung. Telunjuk tangan monyet itu menuding-nuding ke atas, kadangkadang
ia mencak-mencak dengan kaki dibanting-banting ke atas tanah menyatakan kemarahannya
dan tantangannya kepada para tosu di atas.
“Tidak bisa, Siauw-ong. Kalau aku kembali tentu koko akan marah. Dia begitu baik, tidak boleh
marah kepadaku .....” kata Bi Eng. Kemudian ia mendapat pikiran baik. Kalau dia sendiri yang
kembali, tentu kakaknya akan marah. Akan tetapi kalau Siauw-ong yang kembali, biarpun marah,
kakaknya itu takkan marah kepadanya. Dan kakaknya perlu kawan, perlu pembantu.
“Siauw-ong, kau kembalilah kesana. Kau cari Sin-ko sampai dapat dan kau ajak dia turun gunung.
Aku akan pergi lebih dulu.” Mendengar ini, Siauw-ong nampak girang, melompat-lompat dan di
lain saat ia telah berloncatan ke atas gunung kembali ke puncak. Bi Eng melihat sampai bayangan
monyet itu lenyap, kemudian ia sendiripun melanjutkan perjalanannya, menuju ke sungai Wei-ho di
sebelah utara pegunungan Cin-ling-san.
Seorang diri ia melakukan perjalanan itu, cepat-cepat agar lekas sampai di tempat itu di mana ia
akan menanti kedatangan kakaknya dan Siauw-ong. Ia, seperti biasa sejak kecil, percaya penuh
akan kepandaian kakaknya dan merasa pasti bahwa ia akan ketemu lagi dengan Han Sin.
“Kakakku hebat,” pikirnya, “Tidak bisa ilmu silat akan tetapi sekarang menghadapi bahaya dengan
demikian tabah dan tenang. Dia gagah luar biasa.” Hatinya bangga bukan main dan dipercepatnya
perjalanan menuju ke sungai Wei-ho. Gadis ini sama sekali tidak tahu bahwa semenjak tadi ada
seorang pemuda yang diam-diam mengikuti perjalanannya, seorang pemuda yang gagah dan
tampan sekali, yang dapat berjalan cepat dan tidak pernah ketinggalan biarpun gadis ini
menggunakan ilmu lari cepat.
Berhari-hari Bi Eng melakukan perjalanan, hanya beristirahat untuk bermalam dan makan. Jalan
yang dilaluinya adalah jalan liar yang melalui banyak hutan dan bukit kecil. Ia merasa kesepian
sekali dan saat inilah, dalam beberapa hari ini, merupakan saat-saat yang paling menyedihkan
baginya. Merupakan pengalaman tidak menyenangkan hati yang pertama kalinya. Namun ia
seorang gadis yang tabah dan sama sekali tidak mengenal takut biarpun harus bermalam di dalam
hutan liar tak berkawan.
Akhirnya sampai juga ia ke sungai Wei-ho. Sungai Wei-ho ini adalah anak sungai besar Huang-ho
atau sungai kuning. Biarpun hanya anak sungai, namun cukup besar dan lebar, pula dalam dan
airnya mengalir deras. Saking lelahnya, ketika tiba di pinggir sungai ia lalu menjatuhkan diri duduk
di atas rumput dan bersandar pohon. Dia lelah dan lapar, tengah hari itu amat panas sehingga ia
malas untuk pergi mencari makanan. Sejuk juga duduk di bawah pohon di pinggir sungai itu. Tak
lama kemudian Bi Eng jatuh pulas.
Pemuda yang semenjak dari kaki gunung Cin-ling-san membayanginya, sekarang muncul dan
duduk di atas sebuah batu di depan Bi Eng, paling jauh lima meter. Pemuda itu duduk dan
memandang gadis itu dengan mata penuh kekaguman dan cinta kasih. Makin dipandang, gadis yang
tidur itu makin jelita menarik. Memang, di dunia ini orang-orang muda mengenal apa yang disebut
“cinta kasih pada pertemuan pertama”.
Koleksi Kang Zusi
Sudah jamak kalau seorang pemuda tertarik melihat seorang pemudi cantik jelita atau sebaliknya
seorang pemudi tertarik melihat seorang pemuda gagah dan tampan. Akan tetapi tertarik tidaklah
sama dengan cinta kasih. Dalam cinta kasih terkumpul semua perasaan yang bermacam sifatnya.
Menyayang, tertarik, terharu, kasihan, malu, menghormati dan lain-lain tergantung dari sifat
masing-masing. Biasanya seorang pria tertarik oleh wanita karena cantik moleknya, karena tutur
bahasanya, atau karena gerak-geriknya. Akan tetapi dalam cinta kasih, ada sesuatu yang mengatasi
semua ini, sesuatu yang mendorong orang untuk mencinta, sesuatu yang sudah mencakup semua
perasaan di atas, sedemikian rupa pengaruh perasan sesuatu ini sehingga kadang-kadang
membutakan orang karena dalam pandang matanya, si “dia” itu selalu tampak baiknya saja
sehingga banyak orang tertipu dan terjerumus.
Pemuda tampan itu adalah Phang Yan Bu, putera Ang-jiu Toanio! Juga pemuda ini begitu melihat
Bi Eng, terjadilah sesuatu yang ganjil di dalam dadanya. Yan Bu semenjak kecil seorang pemuda
pendiam, sama sekali tidak pernah perduli akan gadis-gadis cantik. Bukan karena ia tidak pernah
melihat gadis cantik. Yan Bu sudah lama melakukan perantauan dengan ibunya dan di dunia kangouw
sudah banyak ia melihat gadis-gadis yang cantik jelita, bahkan banyak sudah gadis-gadis
cantik jatuh hati kepadanya.
Akan tetapi dia sendiri belum pernah merasakan perasaan seperti yang sekarang ia rasakan begitu ia
melihat Bi Eng di kaki gunung itu. Pertemuan ini memang sudah untuk kedua kalinya. Dahulu di
kaki gunung Min-san dia sudah melihat Bi Eng, namun sebagai seorang pemuda sopan, ia hanya
melirik saja dan tidak begitu memperhatikan. Sekarang, begitu melihat kontan hatinya terikat.
Seperti kita ketahui, Phang Yan Bu bersama ibunya yang duduk dalam kereta dorong, setelah
mencari keluarga Cia di puncak Min-san, mendengar dari pelayan bahwa Cia-kongcu dan Ciasiocia
bersama seekor kera sudah turun gunung. Ang-jiu Toanio marah-marah, membunuh seorang
di antara dua pelayan itu, lalu mengajak puteranya mengejar ke bawah gunung. Akan tetapi mereka
kehilangan jejak dua orang muda itu dan karena marah-marah penyakit Ang-jiu Toanio kambuh
lagi. Nenek ini muntah-muntah darah dan menyumpah-nyumpah. Yan Bu amat berbakti kepada
ibunya, cepat ia menghentikan kereta dorong dan mengurut-urut punggung ibunya.
“Ibu, harap kau suka bersabar dan tenang ....” katanya kasihan.
“Sabar ..... sabar ...., belasan tahun aku bersabar dan kau masih hendak memberi kuliah supaya aku
bersabar lagi?” bentak ibunya melotot. Yan Bu terkejut karena belum pernah ibunya ini, biarpun
amat galak, marah-marah kepadanya seperti ini.
Ia sudah pernah mendengar dari ibunya bahwa ayahnya, Phang Kim Tek, telah tewas di tangan
seorang musuh, yaitu Cia Sun di Min-san, sedangkan guru ibunya, Koai-sin-jiu Bhok Kim telah
tewas di tangan Hoa Hoa Cinjin. Ibumya selalu mendendam kepada dua orang ini.
Membalas dendam kepada Hoa Hoa Cinjin bukanlah hal mudah, bahkan biarpun dia sudah
mendapat gemblengan dari susiok-couwnya, Phoa Kok Tee si Raja Obat, tetap saja ibunya
melarang dia mencari Hoa Hoa Cinjin karena takut puteranya belum kuat menandingi kakek yang
sakti itu. Adapun Cia Sun pembunuh ayahnya, telah meninggal dunia.
“Ibu, ayah telah meninggal dunia, akan tetapi musuh besarnya, Cia Sun, juga sudah meninggal
dunia. Mengapa ibu masih selalu jengkel? Paling perlu anak pergi mencari Hoa Hoa Cinjin untuk
membalaskan kematian su-kong (kakek guru). Tentang anak-anak Cia Sun, kurasa mereka itu tidak
tahu menahu tentang permusuhan antara ayah dan Cia Sun .....”
Koleksi Kang Zusi
“Tutup mulut!” Ibunya membentak makin marah dan “Uwaaahh!” Sekali lagi Ang-jiu Toanio
menyemburkan darah hidup. Yan Bu cepat-cepat menolong ibunya dan anak yang berbakti ini
menarik napas panjang.
“Ibu sih dulu terlalu terburu nafsu mempelajari Ang-see-chiu, inilah akibatnya.” Memang, untuk
mempelajari ilmu pukulan Ang-see-chiu yang amat beracun ini, sebelumnya orang harus memiliki
dasar lweekang yang kuat. Ang-jiu Toanio memang semenjak mudanya berwatak keras dan galak,
tidak kenal takut maka tanpa memperdulikan bahaya itu siang-siang sudah mempelajari ilmu
pukulan dahsyat itu. Memang akhirnya ilmu ini dapat mengangkat namanya tinggi-tinggi, namun
kesehatannya menjadi korban pula, dalam usia tua ia menjadi sakit-sakitan saja.
“Tidak begitu hebat kalau tidak ditambah oleh kelakuanmu!” damprat ibunya. “Yan Bu, pendeknya
kau mau menurut permintaan ibumu atau tidak? Kalau tidak, lebih baik kau pergilah, biarkan aku
sendiri mencari musuh besar, tak perlu kau bantu!”
“Ibu, bagaimana ibu berkata demikian? Aku adalah anakmu, anak tunggal, tentu saja akan menurut
segala permintaan ibu.”
“Nah, kalau begitu, pergilah kau kejar dua bocah she Cia itu. Kejar sampai dapat. Bunuh bocah she
Cia yang laki-laki dan tawan yang perempuan bawa kepadaku. Selain itu, yang lebih penting lagi
rampas sebuah surat wasiat Lie Cu Seng yang ada pada mereka. Kau tahu, surat wasiat itulah yang
kelak akan membantu kita dapat membalas dendam suhuku kepada Hoa Hoa Cinjin.”
Yan Bu mengangguk-angguk, biarpun di dalam hatinya ia tidak dapat menyetujui kehendak ibunya.
Anak-anak Cia Sun tidak salah apa-apa, mengapa harus dibunuh? Akan tetapi mulutnya tidak berani
membantah, dia hanya bertanya karena memang heran mendengar ucapan terakhir. “Bagaimana
surat wasiat itu bisa membantu kita, ibu?”
“Kau kira aku tergila-gila akan harta dunia yang tersimpan dalam rahasia surat wasiat itu? Bodoh.
Semua orang gagah di dunia kang-ouw mengejar-ngejar surat wasiat itu, berlomba untuk
mendapatkannya. Apakah orang-orang gagah menghendaki harta? Sudah lebih dari cukup aku
hidup kaya raya dahulu. Yan Bu, dengarlah. Surat wasiat itu menunjukkan di mana adanya harta
simpanan Lie Cu Seng dan di antara harta benda itu, terdapat sebuah kitab rahasia ilmu silat ciptaan
Tat Mo Couwsu. Siapa mendapatkan dan mempelajari isi kitab, pasti akan menjadi jago silat nomor
satu di dunia ini. Nah, setelah mendapatkan pelajaran dari kitab itu, apa sih sukarnya bagi kita untuk
membalas dendam kepada Hoa Hoa Cinjin? Karena itu, lekas kau lakukan tugas ini. Bunuh bocah
laki-laki she Cia, rampas surat wasiat dan tawan bocah perempuannya, bawa padaku. Mengerti?”
“Akan kulakukan semua perintahmu, ibu.”
“Berangkatlah sekarang, aku menantimu di I-kiang, aku harus beristirahat. Akan tetapi obat satusatunya
untuk menyambung usiaku adalah bocah perempuan she Cia dan surat wasiat. Ingatlah ini!”
Demikianlah, dengan hati berat Phang Yan Bu berangkat mengejar Han Sin dan Bi Eng. Jejak dua
orang muda dan monyetnya itu tidak sukar ia cari. Memang dua orang muda yang membawa-bawa
monyet itu adalah rombongan yang mudah diingat, maka setelah mendapat keterangan dari orang di
jalan ke mana arah perjalanan musuh-musuhnya, ia lalu mengejar dan sampai di kaki gunung Cinling-
san.
Kebetulan sekali pada waktu itu ia melihat Bi Eng berlari seorang diri turun gunung, maka diamdiam
ia mengikuti gadis ini yang sekali gus telah membetot semangatnya, membuat ia ragu-ragu
bagaimana harus bertindak terhadap gadis ini. Menangkapnya seperti yang diperintahkan ibunya?
Koleksi Kang Zusi
Ah, bagaimana dia bisa berbuat demikian? Laginya yang laki-laki tidak berada di situ. Aku harus
bersabar menanti sampai keduanya berkumpul, pikirnya.
Hari telah menjadi senja ketika Bi Eng mengulet dan membuka matanya. Ia menyingkap selimut
yang menutupi tubuhnya, baru terheran hatinya ketika melihat bahwa yang menutupi tubuhnya
adalah sehelai jubah luar yang lebar dan tebal. Pemandangan pertama ini sudah mengherankannya,
akan tetapi penglihatan ke dua amat mengejutkannya. Di depannya, hanya dalam jarak dua meter,
menggeletak seekor bangkai harimau besar yang masih mengucurkan darah dari lehernya yang
terluka lebar bekas bacokan. Seketika gadis ini melompat bangun dan ..... ia berhadapan dengan
seorang pemuda tampan yang berdiri memandangnya dengan kagum.
“Apa ..... apa .... kenapa ....., siapa kau?” serunya kaget sambil melompat ke depan dan memandang
pemuda itu dengan mata terbelalak.
Untuk sejenak Yan Bu tak dapat menjawab, terlalu terpesona oleh sepasang mata yang amat indah
seperti bintang pagi dalam pandangan matanya itu. Akhirnya, dengan gagap ia menjawab juga,
“Aku ....... aku Phang Yan Bu.”
Merah wajah Bi Eng. Dia seorang gadis yang lincah, jujur, dan terbuka hatinya. Akan tetapi dengan
sikapnya barusan, seolah-olah sebagai seorang gadis ia lebih dulu menanyakan nama orang, benarbenar
memalukan.
“Siapa tanya namamu?” katanya cemberut.
Makin kagum Yan Bu. Gadis ini dalam segala gerak-geriknya terlalu manis menarik, ketika tidur,
kaget dan cemberut, selalu makin manis! Ditegur oleh gadis itu, ia makin bingung. “Aku ... aku
hanya menjawab, bukankah nona tadi menanyakan?” katanya sambil tersenyum.
“Jangan pringas-pringis (menyeringai)! Aku tidak tanya nama, kumaksudkan .... kenapa kau di sini,
dan ... dan selimut ini, ... bangkai harimau itu? Siapa menyelimuti aku?”
“Aku ......”
“Kenapa??”
“Nona tidur kelihatan kedinginan, angin amat .... besar .....”
“Siapa bunuh harimau ini?”
“Aku .....”
“Kenapa?”
“Dia hendak menubruk nona yang sedang tidur, aku menggunakan golokku membunuhnya.”
“Hemmmm ....”
“Ya ......., begitulah ........”
Keduanya terdiam, sukar untuk mulai bicara. Entah mengapa, Bi Eng yang biasanya lincah itu,
sekarang kehilangan keterampilan lidahnya. Pandang mata pemuda itu terlalu tajam, seakan-akan
hendak menjenguk isi hatinya, membuat dia bingung.
Koleksi Kang Zusi
“Kalau begitu, terima kasih,” akhirnya ia berkata perlahan.
“Mengapa berterima kasih?”
“Untuk .... untuk selimut dan harimau .......” Bi Eng menarik napas lega, dia sudah berterima kasih
jadi tidak hutang budi lagi dan ini membuat ia lebih bebas rasanya. Ia lalu duduk lagi di atas akar
pohon. Juga Yan Bu yang tadinya berdiri, kini duduk lagi di atas batu, entah bagaimana, dia merasa
girang bukan main. Belum pernah selama hidupnya, ia merasai kesenangan hati yang hanya bisa
dirasa oleh dia sendiri.
Bi Eng tak sengaja menyentuh jubah yang tadi menyelimuti dirinya. Wajahnya menjadi merah dan
ia mengambil jubah itu, digulungnya lalu berkata, “Nih jubahmu, kukembalikan!”
Ia melemparkan gulungan jubah itu sambil mengerahkan tenaga ke arah pemiliknya. Ia hendak
menguji dan tidak mempunyai maksud buruk karena ia tahu bahwa orang yang telah membunuh
seekor harimau tentulah berkepandaian. Benar saja, sambil tersenyum Yan Bu menyambut
timpukan itu dan tidak merasa berat ketika menerimanya. Bi Eng menatap wajah yang tampan itu
dan keningnya berkerut. Tiba-tiba ia melompat.
“Heee! Kau ....?” Ia menuding dengan telunjuknya.
10. Bhok-kongcu Yang Tercinta
YAN BU kaget dan meloncat bangun pula. Ia merasa nona ini amat aneh dan lucu gerak-geriknya.
Dalam gugupnya, ia menjawab sambil menuding ke arah hidungnya sendiri. “Ya, ini aku, ada apa?”
“Kau .... kau pemuda yang mendorong kereta nenek sakit itu!”
Yan Bu tersenyum melebar, lalu membungkuk. “Betul, nona. Terima kasih bahwa sekali bertemu,
ternyata nona masih ingat kepadaku.”
“Cih, siapa yang mengingat-ingat kau? Siapa kau dan kenapa kau berada di sini?”
“Aku Phang Yan Bu, nona dan ......”
“Aku sudah tahu! Sekali aku mendengar namamu Phang Yan Bu, kau kira aku sudah lupa dan harus
diulang-ulang?”
Yan Bu membungkuk lagi. “Terima kasih banyak, nona. Sekali mendengar namaku, ternyata kau
tidak bisa lupa lagi ......”
“Gila! Jangan main-main kau. Aku tidak bermaksud berkenalan denganmu, biar seratus kali kau
memperkenalkan nama, aku tidak akan memperkenalkan diri padamu. Aku hanya akan bertanya
......”
“Tidak perlu memperkenalkan diri, karena aku sudah tahu siapa nona. Namamu Cia Bi Eng, bukan?
Nama yang amat indah .....”
Bi Eng tertegun. Untuk sejenak ia menjadi bingung oleh serangan ini, akan tetapi ia bisa
menenangkan hatinya. “Kenapa kau mengikuti aku ke sini? Apa maumu? Kau mendorong kereta
nenek sakit, kenapa kau pergi meninggalkan nenek mau mampus itu?”
“Dia ibuku, nona .....” kata Yan Bu dengan suara berduka.
Koleksi Kang Zusi
Bi Eng terharu. Seorang pemuda mendorong-dorong ibunya dalam kereta, benar berbakti. Akan
tetapi mengapa ditinggalkan? Dalam keharuannya ia kecewa.
“Lebih-lebih dia ibumu! Tak boleh ditinggalkan.”
“Justru ibu yang menyuruh aku datang ke sini, nona Cia.”
“Ibumu sakit dan lemah , malah minta ditinggalkan? Benar aneh .....”
“Ibuku biar sakit, tapi dia bukan orang biasa, nona. Di dunia kang-ouw, ibuku dijuluki orang Angjiu
Toanio dan .... “
“Setan ......!!” Bi Eng melompat dan mencabut pedangnya. “Kiranya kau anak dia?”
Yan Bu bingung dan menengok ke kanan kiri. “Mana setan ....? Siapa yang kau maki tadi?”
“Maki siapa lagi kalau bukan kau! Jadi, kau anak Ang-jiu Toanio ? Bagus, bagus. Sudah dapat
dipastikan kau tidak bermaksud baik datang ke sini!”
“Bagaimana nona bisa tahu?” Yan Bu khawatir sekali melihat sikap gadis yang membetot
semangatnya ini sekarang memusuhinya.
“Ibumu adalah pembunuh ayah bundaku!”
Yan Bu melengak, memandang bodoh dan sampai lama tidak bisa menjawab. Bi Eng menjadi tidak
sabar dan menggerak-gerakan pedangnya di depan dadanya.
“Hei, jangan melongo seperti kerbau! Ang-jiu Toanio itu adalah seorang di antara para pembunuh
ayah bundaku di Min-san, kau tahu? Aku harus membalas dendam, dan karena kau anaknya,
kedatanganmu tentu bukan bermaksud baik, maka aku akan membunuhmu lebih dulu!”
“Sabarlah, nona. Kurasa keadaannya terbalik. Bukan ibu yang membunuh ayah bundamu,
sebaliknya ayahmu yang bernama Cia Sun adalah pembunuh ayahku, Phang Kim Tek di I-kiang.
Kenapa nona bolak-balikkan perkara?”
“Heh, siapa tidak tahu bahwa ayahmu, Phang Kim Tek tuan tanah di I-kiang yang kejam dan busuk
itu terbunuh oleh mendiang ayahku? Andaikata ayahmu bernyawa dua, sekarang akupun tentu akan
membunuh nyawanya yang satu lagi itu karena kekejamannya.”
Yan Bu menarik napas panjang. Ia bukan tidak tahu akan keadaan ayah bundanya di waktu dahulu,
karena dia cerdik dan sering kali menyelidiki keadaan orang tuanya sendiri. Diam-diam ia menyesal
akan kesesatan ayahnya dahulu. “Nona Cia, sesungguhnya, ibu menyuruh aku menuntut balas atas
kematian ayahku. Akan tetapi, bagiku sendiri, kematian ayahmu sudah menutup dan menghabiskan
semua permusuhan. Aku tidak bermaksud memusuhi anak-anaknya. Cuma saja ...... menuruti
perintah ibu ....., kau harap suka ikut aku menemui ibu dan membawa surat wasiat Lie Cu Seng ....”
“Jangan banyak cakap! Siapa percaya omonganmu? Lihat pedang!”
Bi Eng menyerang dengan sebuah tusukan kilat. Melihat datangnya serangan yang hebat ini, Yan
Bu cepat melompat ke belakang. “Nona, percayalah, aku tidak .... tidak suka bertempur denganmu
.....”
Koleksi Kang Zusi
“Pengecut, keluarkan senjatamu!” Lagi-lagi Bi Eng menyerang, pedangnya menyambar secepat
kilat. Kembali Yan Bu mengelak sampai tiga kali sambil berkata sedih.
“Nona Bi Eng, sungguh-sungguh aku tidak suka bermusuhan dengan engkau .....”
“Orang she Phang! Di mana kejantananmu? Aku tidak sudi membunuh seorang pengecut yang tidak
melawan. Apa benar-benar kau takut melihat pedang ini?”
Betapapun berat rasa hati Yan Bu harus bertanding senjata dengan nona yang diam-diam telah
meruntuhkan hatinya itu, mendengar sindiran ini ia tidak kuat menahan. Dia berjiwa gagah dan
tidak takut mati, maka ia segera meloloskan goloknya dan berkata sambil menjura.
“Biarlah, aku yang bodoh minta petunjuk nona Cia yang perkasa.”
“Cih, banyak dongeng!” seru Bi Eng sambil memutar pedangnya dan di lain saat, dua orang itu
sudah bertempur seru sekali. Bi Eng adalah murid Ciu-ong Mo-kai yang sudah mewarisi ilmu silat
Liap-hong Sin-hoat yang amat lihai, tentu saja ilmu silatnya ini adalah ilmu silat tinggi yang sukar
dilawan. Namun di lain pihak, Yan Bu adalah murid tunggal dari Yok-ong Phoa Kok Tee. Ilmu
silatnya lihai sekali dan tenaga lweekangnya juga sudah sempurna. Bi Eng yang terlambat belajar
silat, kurang latihan dan kurang pengalaman, selain ini tentu saja kalah tenaga.
Tadinya Yan Bu terkesiap dan kaget serta kagum melihat gerakan pedang nona itu yang mainkan
jurus-jurus Liap-hong Sin-hoat yang tidak dikenal oleh Yan Bu. Belum pernah pemuda ini melihat
ilmu pedang sedemikian indah dan hebatnya. Akan tetapi setelah dilawannya selama lima puluh
jurus lebih, ia mendapat kenyataan bahwa betapapun lihai ilmu pedang gadis itu, ternyata Bi Eng
kurang latihan dan kurang tenaga. Maka kalau dia mau, dengan mudah saja ia dapat merobohkan
gadis itu.
Justru Yan Bu tidak mau merobohkan Bi Eng, tidak sampai hati ia mengalahkan gadis itu. Tidak
tega ia melihat gadis itu kalah olehnya dan menjadi malu karenanya, apalagi sampai melukainya.
Lebih baik dia sendiri yang terluka dan kalah! Memang, cinta bisa memutar balik jalannya keadaan.
Setelah pertempuran itu berlangsung hampir seratus jurus, biarpun Bi Eng masih kurang
pengalaman dan kurang latihan, gadis itu dapat maklum bahwa pemuda ini tidak berkelahi secara
sungguh-sungguh. Hal ini menambah kemarahan dan penasaran hatinya tanpa mengenal lelah ia
mempercepat serangan-serangannya. Keringat sudah membasahi leher dan jidatnya dan napasnya
mulai terengah-engah. Yan Bu tidak tega melihat ini dan pada suatu saat, ia sengaja membiarkan
pedang gadis itu “memakan” ujung pundaknya. Ia memekik kesakitan, goloknya menangkis dan
pedang gadis itu patah!
Sambil mendekap pundak kirinya yang terluka berdarah, Yan Bu melompat mundur dan berkata,
“Nona Cia, hebat ilmu pedangmu, aku Phang Yan Bu mengaku kalah!”
Akan tetapi, gadis itu menjatuhkan diri di atas rumput dan menangis! “Kau bunuhlah aku! Tak usah
banyak cerita, angkat golokmu dan bunuhlah aku, siapa takut mampus?”
Yan Bu melongo. Ia anggap sikap gadis ini lucu dan aneh. Ia melangkah maju dan berkata halus.
“Cia-siocia, kau telah melukai pundakku, kau lebih menang dariku, mengapa kau bersikap begini?
Aku sudah kalah olehmu dan aku mengakui kekalahanku ini ...”
Koleksi Kang Zusi
“Siapa sudi kau permainkan? Kau sengaja mengalah, apa kau kira mataku buta? Hemmm, manusia
sombong, kalau kakakku berada di sini dan memberi petunjuk padaku, jangan kira dengan ilmu
golok cakar ayammu itu kau akan mampu mengalahkan aku!”
Yan Bu menarik napas panjang, berduka sekali. “Memang, memang aku mengalah, akan tetapi
terus terang saja, kau kurang latihan dan kurang tenaga. Agaknya kau belum lama mempelajari ilmu
silat. Kalau kau cukup terlatih dan cukup tenaga terus terang saja ilmu pedangmu tadi tak sanggup
aku melawannya. Nona, memang aku hendak mencari kakakmu, hendak kurundingkan dengan dia
supaya kita, biarpun orang tua kita saling bermusuhan, kita sebagai anak-anaknya jangan
melanjutkan permusuhan yang berlarut-larut ini. Aku ...... aku tak sanggup bermusuh dengan kau
.....”
“Kau ..... ayahmu dibunuh ayahku ..... apa kau tidak akan membunuhku?” tanya Bi Eng terheranheran.
Yan Bu menggeleng kepala, lalu menyimpan goloknya. “Tidak.”
“Kenapa?”
Merah wajah Yan Bu. “Karena ..... karena .... tak mungkin aku mengganggumu, jangankan
membunuh. Lebih baik aku mati dari pada membunuhmu!”
Inilah pernyataan isi hati yang sejujurnya, pernyataan cinta kasih yang diucapkan dengan lain katakata.
Tiba-tiba hati Bi Eng berdebar dan mukanya juga menjadi merah. Gadis ini belum tahu
menahu tentang cinta namun sikap dan kata-kata pemuda ini membuat ia merasa jengah. Tiba-tiba
ia mendapat pikiran baik. Pemuda ini lihai sekali, tinggi kepandaiannya. Kalau pemuda ini mau
membantu, tentu kakaknya dapat ditolong keluar dari Cin-ling-pai.
“Betul-betul kau tidak memusuhi aku dan kakak Han Sin?”
“Tuhan menjadi saksi. Aku tidak memusuhi kau dan kakakmu,” jawab Yan Bu dengan suara tetap.
“Biar ibu akan marah karenanya, aku bertanggung jawab karena sadar bahwa sikapku ini benar.”
“Kalau begitu kau .... kau hendak bertemu dengan kakakku?”
“Tentu saja. Di mana dia? Bukankah kakakmu bernama Cia Han Sin dan turun dari Min-san
bersamamu dan membawa seekor kera? Di Mana kakakmu itu?”
Bi Eng mengerutkan kening, gelisah sekali nampaknya. “Itulah celakanya. Sin-ko telah ditawan
oleh tosu-tosu bau dari Cin-ling-pai di Cin-ling-san.”
“Kenapa bisa terjadi hal itu?”
Dengan singkat Bi Eng lalu menceritakan pengalamannya ketika dihadang oleh para tosu Cin-lingpai
sehingga kakaknya ditawan. Mendengar ini, Yan Bu menjadi marah.
“Terlalu sekali tosu-tosu itu! Selama ini aku mendengar nama besar Cin-ling-pai, mengapa
sekarang menghina orang-orang muda? Nona Cia, harap jangan kau kuatir. Kau tunggulah di sini,
biar aku sekarang juga menyusul ke Cin-ling-pai dan agaknya para tosu itu akan suka memandang
muka ibuku untuk membebaskan kakakmu. Kalau sudah dibebaskan, kakakmu akan kuajak
menyusul kau ke sini.”
Koleksi Kang Zusi
Bi Eng memandang dengan matanya yang lebar dan bagus. “Kau .... ayahmu sudah dibunuh
ayahku, pundakmu sudah kulukai karena kau mengalah .... dan kau sekarang mau menolong Sin-ko
.....?”
Yan Bu tersenyum dan mengangguk. “Dengan persahabatan anak-anaknya, sakit hati orang-orang
tua bisa ditebus, bukan?” Setelah berkata demikian, ia menjura lalu membalikkan tubuh, hendak
pergi ke Cin-ling-san.
Untuk sejenak Bi Eng tertegun memandang bayangan pemuda itu. Ia melihat betapa pakaian di
pundak robek dan penuh darah yang masih mengucur keluar. Tiba-tiba ia melangkah maju dan
memanggil,
“Saudara Phang Yan Bu .....!”
Pemuda itu berhenti, memutar tubuh lalu melangkah maju. “Kau memanggil aku, nona Cia?”
“Kau tidak bisa pergi dengan luka dibiarkan begitu saja.”
Yan Bu tertawa senang, “Terima kasih atas perhatianmu. Luka ini ringan saja. Tidak apa-apa.”
“Kesinilah. Biar kubalut. Aku yang melukaimu, tidak enak hatiku kalau membiarkan saja.”
Yan Bu hampir tak percaya akan pendengarannya dan hampir ia bersorak girang. Cepat ia maju dan
merobek baju di pundaknya. Sementara itu, Bi Eng sudah mengambil saputangannya lalu dengan
cekatan jari-jari tangan yang halus itu membalut luka di pundak. Yan Bu sebagai murid Yok-ong,
diam-diam geli dan tahu bahwa luka itu kalau tidak diobati, dibalut begitu saja amat tidak baik,
namun ia diam saja. Ketika ia begitu dekat dengan Bi Eng dan mencium bau yang amat harum dari
rambut dan saputangan gadis itu, ia meramkan matanya dan malah tidak tahu bahwa pembalutan itu
sudah selesai.
“Eh, kenapa kau meram? Sakitkah?” Bi Eng bertanya heran dan dengan nada kasihan.
Yan Bu menggeleng kepala, masih meram. “Aku tidak berani membuka mata .....”
“Kenapa ....?”
“Kau begini dekat ......, begini cantik ...... aku takut menjadi gila .....”
Karena sudah selesai, Bi Eng melangkah mundur dan tiba-tiba gadis ini tertawa geli. “Kau manusia
lucu sekali!”
Yan Bu membuka matanya. “Terima kasih, nona Cia. Perbuatanmu membalut lukaku ini selama
hidupku takkan pernah kulupakan, akan menjadi kembang mimpi setiap malam.”
“Kau ..... kau aneh sekali!” kata Bi Eng, benar-benar terheran dan merasa lucu, namun di dalam hati
harus mengakui bahwa pemuda ini menyenangkan hatinya dengan sikapnya yang aneh itu.
Yan Bu menjura lalu berangkat ke Cin-ling-pai. Bi Eng duduk lagi bersandar pohon dan baru
sekarang terasa olehnya betapa lapar perutnya. Ia pegi ke pinggir kali, mencari air yang jernih untuk
diminumnya. Kemudian ia pergi ke dalam hutan di lembah sungai Wei-ho untuk mencari buah yang
dapat dimakannya. Untung baginya baru setengah li ia berjalan, ia mendapatkan sebatang pohon
Koleksi Kang Zusi
buah-buahan yang penuh mengandung buah sejenis apel yang sudah matang-matang. Segera ia
memetik beberapa buah dan memakannya sampai kenyang.
Tiba-tiba ia mendengar suara orang ketawa dan dari balik pohon besar muncul seorang laki-laki
setengah tua yang bertubuh tegak dan berkepala gundul. Dia itu jelas seorang pendeta hwesio, akan
tetapi sikapnya kasar dan kedua lengannya penuh bulu, matanya memandang kurang ajar kepada Bi
Eng. Gadis ini kurang pengalaman tentang kekurangajaran pria, maka ia tersenyum dan menegur,
“Twa-hwesio, di tempat sunyi ini bertemu dengan seorang pendeta, sungguh aneh dan
menyenangkan.”
Hwesio itu tertawa bergelak. “Ha ha ha ha, nona manis. Kau tadi bilang menyenangkan? Ha ha ha!”
Kening Bi Eng mulai berkerut. Ia adalah seorang wanita, perasaannya halus maka ia dapat merasai
sesuatu yang tidak beres dalam sikap hwesio ini. “Betul, aku bilang menyenangkan. Apa salahnya
itu? Kakakku sering berkata bahwa bertemu dengan orang lain di tempat sunyi adalah amat
menyenangkan. Salahkah itu?”
Hwesio itu membuka matanya lebar-lebar dan tertawa makin keras. Ha ha ha ha, kau betul.
Memang menyenangkan sekali. Betapa tidak? Kau begini molek, begini manis, begini muda, begini
... begini harum. Aduh, kau tadi bilang tempat sunyi? Ha ha ha, setelah ada aku dan engkau, mana
bisa sunyi lagi? Mari, mari, manis sayang, mari kita jalan-jalan menikmati pemandangan indah di
lembah Wei-ho. Jangan takut, aku Goan Si Hwesio dari Siauw-lim-pai biasanya berlaku halus pada
seorang gadis manis seperti kau ..... ha ha ha!” Biarpun kata-katanya lambat, namun gerakan tangan
hwesio itu cepat sekali dan tahu-tahu pergelangan tangan kiri Bi Eng sudah ditangkapnya.
Bi Eng menggigil ngeri dan jijik ketika merasa betapa tangannya dipegang oleh telapak tangan yang
kasar dan dingin. Cepat ia mengibaskan tangannya sambil berseru, “Jahanam, lepaskan tanganku!”
Lalu disusul dengan gerakan Po-in-gan-jit (Sapu Awan Melihat Matahari), sebuah jurus yang lihai
dari ilmu silat Liap-hong Sin-hoat.
“Dukk!” tak dapat dicegah lagi hwesio bernama Goan Si itu sudah kena dipukul perutnya sampai ia
mengeluarkan suara “ngekk!” dan terlempar ke belakang lalu jatuh terduduk. Baiknya Bi Eng
belum memiliki tenaga lweekang yang besar, kalau demikian halnya tentu isi perut gendut itu sudah
acak-acakan (cerai berai). Ia hanya merasa mulas saja sebentar. Dengan kedua matanya yang lebar
hwesio itu memandang Bi Eng. Heran dan kaget karena tidak mengira gadis manis itu ternyata
demikian lihai. Kemudian ia menjadi marah dan melompat berdiri.
“Bagus, kiranya kau ini seekor serigala betina? Kalau begini harus dihajar dulu sebelum jinak!” Ia
lalu menubruk maju dan Bi Eng cepat mengelak dan membalas dengan jurus-jurus Liap-hong Sinhoat.
Hwesio itu ternyata kosen dan pandai, juga bertubuh kuat. Dengan ilmu silatnya lihai
beberapa kali Bi Eng dapat menghantam tubuh lawan, namun agaknya lawannya memiliki tubuh
yang kebal, sehingga pukulan-pukulannya hanya membuat hwesio itu jatuh terduduk saja. Makin
lama gadis ini makin menjadi lelah. Akan tetapi si hwesio makin buas dan menyeringai, tertawatawa
dan napasnya berbau sekali membuat Bi Eng menjadi muak.
“Ha ha ha, nona manis lebih baik kau menyerah dan bilang twa-suhu yang tercinta tiga kali baru
aku ampunkan kekurangajaranmu tadi!”
“Hwesio bau! Hwesio bau! Hwesio bau!” Bi Eng memaki tiga kali.
Koleksi Kang Zusi
Goan Si Hwesio menjadi marah, ia mendesak makin hebat dan Bi Eng sudah lelah sekali karena
tadi sebelum menghadapi hwesio ini sudah bertempur melawan Yan Bu, tak dapat mengelak lagi
ketika kedua tangan hwesio yang kasar itu tahu-tahu telah menggunakan tipu Eng-jiauw-kang
menangkap kedua pergelangan tangannya! Gadis itu meronta-ronta, namun ia tak dapat melepaskan
cekalan hwesio itu, malah pergelangan tangannya terasa sakit sekali. Hwesio itu tertawa terkekehkekeh,
dari mulutnya keluar bau busuk seperti bangkai.
“Hah hah hah, nona manis. Sekarang kau harus cium aku satu kali, baru kulepaskan kedua
tanganmu! Hah hah hah!”
Bi Eng menjadi muak dan marah sekali, namun ia tidak berdaya. Ia tak dapat berbuat lain kecuali
meludahi muka hwesio itu sambil memaki-maki, “Hwesio bau! Hwesio tengik! Kau boleh bunuh
aku!”
Pada saat itu terdengar suara suling yang merdu, terdengar amat jauh akan tetapi secara
mengherankan sekali, dengan cepat suling itu terdengar makin dekat, makin dekat seakan-akan
dibawa terbang ke tempat itu. Tiba-tiba suara suling itu terhenti, disusul suara seorang laki-laki
yang terdengar halus dan merdu, suara orang yang jenaka. “Ha ha ha, memang dia itu hwesio kopet
(belum mencuci tubuhnya), maka berbau tengik dan busuk!”
Tiba-tiba, entah dari mana munculnya, di situ sudah kelihatan seorang pemuda yang berpakaian
indah dan mewah sekali, pakaian seorang sasterawan kaya, tangan kanan memegang sebatang
suling berukir, tangan kiri memegang kipas indah yang dipakai mengebuti mukanya. Pemuda ini
berusia kira-kira dua puluh lima tahun, tubuhnya sedang wajahnya tampan sekali. Aneh dan
sayangnya wajahnya yang tampan itu amat putih seperti dibedaki hingga nampak pucat.
Pemuda itu tersenyum-senyum dengan gerakan seenaknya kipasnya dikebutkan ke arah muka
hwesio itu. Jarak antara dia dan Goan Si Hwesio ada tiga empat meter. Akan tetapi angin kebutan
itu membuat Goan Si Hwesio merasa mukanya dingin dan napasnya sesak. Saking kagetnya ia
terpaksa melepaskan cekalannya pada tangan Bi Eng dan melompat mundur.
“Setan cilik, siapakah kau berani kurang ajar padaku? Ayoh, kau menggelinding pergi dari sini!”
Setelah berkata demikian, hwesio itu menggerakkan tangan kanannya dan tiga batang senjata
rahasia piauw menyambar ke arah tubuh pemuda tampan pesolek itu. Goan Si yang tadinya sudah
girang mendapatkan seorang gadis calon korban, menjadi marah sekali diganggu orang maka begitu
bergerak ia menurunkan tangan maut. Tiga batang piauw itu disambitkan secara hebat sekali
sehingga lebih dari cukup untuk mengantar nyawa orang menghadap Giam-kun di neraka.
“Hemmm, segala macam hwesio kopet!” dengan kipasnya pemuda itu masih mengebut-ngebut
badannya dan ... tiga batang piauw itu ketika menyambar tubuhnya tahu-tahu runtuh terkena angin
kebutan kipas, malah ketika pemuda itu mendadak menutup kipasnya dua batang piauw kena
di”bungkus” oleh kipas itu. Sambil tersenyum-senyum pemuda itu lalu membuka kipasnya secara
mendadak dan ..... dua batang piauw yang tadi ditangkap oleh kipas itu menyambar dan tanpa dapat
dielakkan lagi telah mengenai jalan darah di lutut Goan Si Hwesio. Hwesio itu mengeluarkan
seruan kaget, namun sudah terlambat ketika ia hendak meloncat karena tiba-tiba kedua kakinya itu
dari lutut ke bawah tak dapat digerakkan lagi, membuat ia berdiri seperti patung dengan kedua kaki
mati!
Hwesio itu membelalakkan kedua matanya, takut setengah mati melihat pemuda aneh yang luar
biasa ini. “Kau ..... kau siapakah .....?”
Pemuda itu kembali mengeluarkan dengus mengejek, lalu membuka kipasnya dan mengebut-ngebut
badannya perlahan. Bau yang amat wangi keluar dari pakaiannya dan kini hwesio itu dapat melihat
Koleksi Kang Zusi
lukisan sebuah gunung putih tertutup salju di atas kipas. Seketika wajahnya pucat seperti mayat dan
tubuhnya bagian atas menggigil.
“Kau .... kau .... Bhok .... Bhok-kongcu ... dari Pak .....”
“Hemm, kiranya matamu yang berminyak itu belum buta.” Pemuda itu menegur, suaranya tetap
halus merdu akan tetapi mengandung ancaman yang membuat Goan Si Hwesio makin takut. Ia
ingin menjatuhkan diri berlutut, akan tetapi kedua kakinya sudah mati tak dapat digerakkan. Maka
ia lalu menjura dan memberi hormat dengan merendah sekali, mulutnya berkata.
“Mohon maaf sebesarnya ..... mohon kongcu yang mulia mengampunkan hamba yang rendah.
Siauwceng telah berani kurang ajar, biarlah Siauw-lim-si memberi hukuman kepada siauwceng dan
kelak minta maaf kepada kongcu ....”
“Ha, kau hendak bertopeng Siauw-lim-si untuk menakut-nakuti aku? Eh, hwesio kopet, kau tahu
aku orang macam apa?”
“Siauwceng tidak berani .... tidak berani ....”
Pemuda itu tidak memperdulikan lagi, lalu meniup sulingnya dan matanya yang jenaka itu
mengerling ke arah Bi Eng. Gadis ini semenjak tadi memandang kepada pemuda itu dan merasa
lucu sekali melihat seorang pemuda begitu pesolek seperti wanita, juga diam-diam heran melihat
kelihaian pemuda yang ternyata amat ditakuti hwesio itu.
Kini ia melihat pemuda itu meniup sulingnya, tidak merdu dan indah seperti tadi, melainkan
bersuara aneh dan menyeramkan, melengking tinggi rendah kadang-kadang menusuk anak telinga.
Anehnya, hwesio itu menjadi makin ketakutan dan menggigil keras sedangkan kepala dan mukanya
penuh keringat.
Tak lama kemudian terdengar suara “kresek-kresek” dari jauh, makin lama makin keras dan suling
itupun ditiup makin hebat. Sebentar lagi suara berkresek makin dekat dan ....” Ular ....! Ular .....!”
Bi Eng berteriak sambil melompat ke atas. Siapa takkan takut melihat banyak sekali ular besar
kecil, dari berbagai macam dan warna, merayap-rayap datang ke tempat itu dari segenap penjuru?
“Jangan takut!” kata pemuda itu dengan suara merdu dan halus kepada Bi Eng. Akan tetapi mana
bisa gadis itu tidak takut? Sebenarnya bukan takut, melainkan jijik dan geli. Otomatis gadis ini
melompat ke dekat pemuda itu untuk mencari perlindungan karena ia tahu bahwa agaknya pemuda
ini yang memanggil ular-ular itu.
Makin lama makin banyaklah ular berkumpul di situ, ada ular sendok, ular belang, ular hijau, ular
hitam, ular sungai dan pendeknya, agaknya segala macam ular yang berada di daerah ini telah
berkumpul di situ, tertarik oleh suara suling! Sekejap mata saja tempat mereka bertiga sudah
dikurung oleh ratusan ekor ular beracun.
“Bhok-kongcu, ampun ...... ampunkan siauwceng ....” hwesio itu masih mengeluh, ngeri
menyaksikan ular begitu banyak.
“Nona, hwesio kopet ini tadi kurang ajar padamu, bukan?” tanya si pemuda muka putih kepada Bi
Eng, mulutnya tersenyum dan matanya jenaka.
Bi Eng merasa geli mendengar pemuda itu memaki Goan Si sebagai hwesio kopet. Benar-benar
makian yang aneh, lucu dan menjijikkan. Kini melihat muka yang tampan sekali ini tersenyum dan
Koleksi Kang Zusi
matanya bergerak-gerak lucu, mau tak mau Bi Eng yang memangnya berwatak jenaka, timbul
kegembiraannya dan iapun tersenyum.
“Dia kurang ajar, akan tetapi kau sudah menghajarnya,” jawabnya. Jawaban ini sama saja dengan
pujian kepada pemuda itu, dan si pemuda agaknya merasa juga bahwa nona jelita itu memujinya,
maka senyumnya melebar, matanya yang bagus itu makin bersinar-sinar.
“Nona, namaku Bhok Kian Teng.”
Melihat sikap orang yang sewajarnya tanpa ada sifat-sifat kurang ajar, Bi Eng merasa senang dan
iapun memperkenalkan diri, “Dan aku Cia Bi Eng.”
“Aku dari Al-tai-san di Pak-thian (daerah utara).” Kata pula Bhok Kian Teng.
“Dan aku dari .... dari Min-san,” kata Bi Eng sejujurnya. Orang bersikap jujur kepadanya, mengapa
dia tidak? Mendengar kata-kata ini, pemuda she Bhok itu tiba-tiba tertawa, lalu menoleh kepada
Goan Si Hwesio dan berkata,
“Bukankah kau hwesio kopet dan bau tidak takut mampus? Berani kurang ajar kepada nona Cia Bi
Eng, puteri pahlawan she Cia di Min-san? Hmm, benar-benar sudah bosan hidup!”
Hwesio itu makin pucat dan mengangguk-anggukkan kepala minta ampun. Sedangkan Bi Eng juga
terheran mendengar ini. “Bagaimana kau bisa tahu?” tanyanya.
Bhok Kian Teng tersenyum. “Kau she Cia dari Min-san, di dunia ini mana ada orang she Cia dari
Min-san lain lagi kecuali keturunan orang-orang gagah Cia Hui Gan dan Cia Sun?”
Girang hati Bi Eng mendengar orang tuanya dipuji-puji sebagai orang gagah. “Cia Hui Gan
kakekku, Cia Sun ayahku!” katanya girang. Bhok Kian Teng mengangguk-angguk.
“Pantas saja kau begini gagah, nona. Kiranya puteri Cia Sun lo-enghiong. Terimalah hormatku.”
Pemuda itu menjura dan ketika ia bergerak, dari tubuhnya kembali tersiar bau yang harum wangi.
“Bhok-kongcu sudah menolongku terlepas dari tangan hwesio ko .... eh, hwesio bau tengik ini.
Akulah yang harus menghormatmu.” Bi Eng tidak sampai hati mengucapkan kata-kata “kopet”,
karena kata-kata ini biasanya ditujukan kepada orang yang tidak mencuci tubuh sehabis buang air!
“Nona, kadal ini tadi berlaku kurang ajar. Menurut pendapatmu, dia harus dihukum secara
bagaimanakah?”
Bi Eng melirik-lirik memandang hwesio itu. Dia memang marah sekali kepada kepala gundul itu,
dan amat benci. Apalagi kalau ingat betapa tadi dia disuruh menciumnya segala. Hemm, mau
rasanya ia memenggal leher orang itu agar kepalanya yang gundul menggelundung di antara ratusan
ular. Alangkah senangnya kalau melihat hwesio ini dikeroyok ular! Hampir saja ia mengucapkan
keinginan hatinya ini kalau saja ia tidak ingat akan kakaknya. Terbayang wajah kakaknya yang
halus budi, yang penuh kasih kepada sesamanya, yang mudah mengampunkan orang. Bergidik ia
kalau teringat betapa kakaknya itu akan marah kepadanya kalau saja tahu bahwa ia menghukum
hwesio supaya dikeroyok ular! Maka ia lalu berkata,
“Kalau ia sudah bertobat, biar dia menampari muka sendiri sampai bengap!”
Koleksi Kang Zusi
Bhok Kian Teng tertawa. “Enak amat baginya! Eh, hwesio kadal kopet, ayoh kau maki dirimu
sendiri hwesio kopet seratus kali sambil menampari mukamu sampai bengkak-bengkak!”
Inilah hinaan hebat. Akan tetapi Goan Si Hwesio agaknya takut dan ngeri menghadapi pemuda aneh
itu. Begitu mendengar perintah ini, ia lalu menggunakan kedua tangannya menampari muka sendiri
dari kanan kiri sambil mulutnya memaki, “Hwesio kopet .... hwesio kopet .....hwesio kopet ....!”
berulang-ulang sampai mukanya menjadi bengkak-bengkak, bibirnya juga bengkak tebal sehingga
makiannya makin lama makin tak terdengar jelas lagi.
Bhok Kian Teng merogoh saku jubahnya yang lebar dan mengeluarkan sebuah pisau kecil
berbentuk golok. Hwesio itu nampak kaget sekali melihat ini. Ia mengenal “huito” atau golok
terbang ini, yang belum pernah dilihatnya akan tetapi sudah sering kali didengarnya.
“Kongcu .... am ... ampun ....” katanya.
Bhok Kian Teng tertawa. “Kedua tanganmu kotor sekali, berani kau tadi mencekal kedua tangan
nona Cia yang putih bersih dan suci murni. Ayoh, kau buntungi kedua tanganmu!”
Ia melemparkan golok kecil itu ke arah Goan Si Hwesio yang menyambut dengan tangan kanan.
Kemudian, tanpa ragu-ragu lagi ia lalu membacok putus tangan kirinya, kemudian ia menggigit
gagang golok kecil itu dan membacok putus pula tangan kanannya! Golok itu jatuh ke bawah
mengeluarkan bunyi berdencing dan hwesio itu roboh pingsan. Darah mengalir keluar dari kedua
lengannya yang sudah buntung. Bi Eng mengeluarkan teriakan perlahan karena ngeri sungguhpun
diam-diam di lubuk hatinya terdapat perasaan puas melihat penderitaan hwesio yang dibencinya itu.
Bhok Kian Teng tertawa. “Muak dan menjemukan sekali melihat hwesio ini, bukan? Mari kita
tinggalkan dia, nona!”
Bi Eng mengangguk. Memang tidak menyenangkan tinggal di tempat itu, selain ngeri juga takut
melihat banyaknya ular-ular beracun. Kian Teng lalu meniup sulingnya, pendek dan cepat,
kemudian ia membungkuk kepada Bi Eng mempersilahkan Bi Eng berjalan dengan sikap yang amat
hormat. Bi Eng senang, tersenyum dan di lain saat dan dua orang muda ini sudah berjalan,
berendeng dan beromong-omong. Belum jauh mereka berjalan, tiba-tiba terdengar pekik
mengerikan. Bhok Kian Teng nampak tenang-tenang saja, akan tetapi Bi Eng dengan kaget
memutar tubuh memandang.
Tiba-tiba wajahnya menjadi pucat dan bulu tengkuknya berdiri. Apa yang ia lihat? Ternyata bahwa
sepergi mereka, tubuh Goan Si Hwesio dikeroyok ular-ular itu yang menggigitnya, beratus
banyaknya. Celakanya hwesio itu sudah siuman dari pingsannya sehingga dapat dibayangkan
betapa takutnya sampai ia mengeluarkan pekik tadi. Tapi hanya sebentar karena dalam sekejap saja
kulit dan daging hwesio itu sudah habis dimakan ular, tinggal tulang-tulangnya saja yang masih
dijilat-jilat oleh ratusan ekor ular, yang masih merasa belum kenyang.
Bi Eng memutar lagi tubuhnya dan menutupi muka dengan ke dua tangannya. “Ah, alangkah
ngerinya. Kenapa dia dibunuh?” katanya perlahan, agak gemetar karena merasa ngeri.
Terdengar suara Bhok Kian Teng bersungguh-sungguh. “Nona Cia, hatimu memang terlalu baik,
karena itu banyak orang jahat suka mengganggumu. Manusia macam itu mampus dimakan ular,
memang sudah sepatutnya. Apa kau dapat membayangkan betapa nasibmu akan lebih mengerikan
dari pada nasibnya kalau tadi kau sampai terjatuh ke dalam tangannya? Nona, terus terang saja
kukatakan, dia lebih jahat dari pada ular-ular tadi!”
Koleksi Kang Zusi
Bi Eng menurunkan tangannya, memandang kepada pemuda itu dengan pucat. Ia hanya dapat
setengah menduga apa yang akan terjadi padanya kalau tadi pemuda ini tidak muncul menolongnya.
Hebat! Kenapa di dunia ini banyak sekali orang jahat? Ia memandang wajah pemuda ini dengan
tajam penuh selidik. Wajah yang tampan dan gagah, pikirnya. Selalu tersenyum mulutnya, selalu
berseri wajahnya, selalu bersinar matanya, halus kata-kata dan gerakan-gerakannya.
Akan tetapi dibalik itu semua, Bi Eng merasa sesuatu yang aneh, seakan-akan ada sesuatu yang
mengancamnya dengan hebat, ada sesuatu yang lebih mengerikan dari pada hwesio tadi, dari pada
ular-ular tadi. Dia tidak tahu apakah itu. Hanya di dasar hatinya ia merasa tidak senang dan takut
kepada pemuda yang berwajah terlalu putih ini, yang bersikap terlalu baik, sungguhpun di luarnya
ia merasa kagum dan suka mendengar omongan-omongannya yang halus merdu dan penuh pujian.
Dua orang muda-mudi ini berjalan perlahan, kembali ke pinggir sungai Wei-ho. Ketika tiba di
tempat di mana tadi ia bertemu dengan Yan Bu, Bi Eng melihat sebuah perahu besar yang amat
indah dengan cat merah berada di pinggir sungai dan ia melihat belasan orang wanita cantik di atas
perahu itu.
Wanita-wanita itu masih muda-muda, rata-rata berusia dua puluh tahun, dan tak seorangpun di
antara mereka yang berwajah buruk. Pakaian mereka dari sutera warna warni, amat indah dengan
potongan yang ketat sehingga dari jauh nampak bentuk tubuh mereka yang penuh dan
menggairahkan.
Akan tetapi pada wajah-wajah cantik itu bersinar sesuatu yang memuakkan hati Bi Eng, sinar dari
wajah-wajah yang genit dan cabul yang hanya dapat ia rasai dalam hati akan tetapi yang tidak
dimengertinya. Sebelum ia bertanya kepada Bhok Kian Teng siapa adanya wanita-wanita di atas
perahu indah itu, ketika melihat pemuda ini serentak wanita-wanita itu mengeluarkan suara yang
merdu dan girang.
“Kongcu-ya telah pulang ....!” Suara itu merupakan sorakan dari hati yang amat girang.
Dari atas perahu melayang seorang wanita dengan gerakan yang amat ringan dan wanita ini
meloncat ke depan Bhok Kian Teng. Ternyata dia seorang wanita yang cantik sekali, usianya lebih
tua dari pada yang lain, kira-kira dua puluh delapan atau dua puluh sembilan tahun, akan tetapi
mempunyai kecantikan yang menonjol dengan bentuk tubuh yang amat bagus. Di punggungnya
nampak gagang sepasang pedang dan dari gerakannya melompat tadi dapat diketahui bahwa
kepandaiannya juga luar biasa.
“Kepergian kongcu meninggalkan perahu menggelisahkan kami,” kata wanita ini dengan suara
berlagu dan merayu. “Akan tetapi suara seruling kongcu tadi memberitahukan bahwa kongcu
sedang menghajar seorang jahat.” Ia mengerling ke arah Bi Eng dan pada mata yang tadinya berseri
itu, tiba-tiba menyambar hawa dingin. “Tidak tahu siapakah yang membikin kongcu tidak senang?
Siauw-moi sekalian akan menghajar manusia itu!”
Bhok Kian Teng tersenyum, lalu menggerakkan kipasnya. “Tidak apa-apa, Leng-moi. Hanya
seorang hwesio kopet yang mengganggu nona ini. Baiknya aku keburu datang merintangi
maksudnya yang buruk.”
Wanita itu tertawa genit. “Dan bagaimana dengan hwesio ...... kopet itu?”
“Ha ha, dia sudah dimakan habis oleh ratusan ular.”
Koleksi Kang Zusi
“Bagus. Bagus!” Wanita itu bertepuk tangan. “Memang kongcu luar biasa dan berhati mulia.
Dimana-mana melepas budi dan tak pernah ular-ular setempat tidak diberi makan. Makin lama
kongcu akan makin terkenal dan dikagumi di antara para ular di dunia ini.”
Para wanita di atas perahu tiba-tiba menyanyi dengan irama bersemangat dan merdu merayu:
“Lebih tampan dari pada Tan Po An
Lebih gagah dari pada Ciu Goan Ciang!
Dengan suling dan kipas menjagoi dunia
Melintasi gurun dan mengarungi lautan.
Siapa dia?
Bhok-kongcu kami yang tercinta!”
Nyanyian ini diulang sampai tiga kali. Diam-diam Bi Eng terheran. Bagaimanakah ada orang
sampai dipuji setinggi langit seperti itu? Memang, dia sendiri tidak menyangkal bahwa Bhok Kian
Teng memang tampan akan tetapi kalau lebih tampan dari Tan Po An, ini dia tidak dapat menerima.
Pernah kakaknya, Han Sin yang suka membaca dongeng kuno, menceritakan bahwa ketampanan
Tan Po An di jaman dahulu mengguncangkan dunia bahkan menggegerkan langit sehingga para
bidadari menjadi keedanan dan turun ke dunia, bikin ribut untuk memperebutkan Tan Po An!
Dan biarpun ia sudah melihat bahwa Bhok-kongcu lihai, akan tetapi lebih gagah dari Ciu Goan
Ciang pemimpin barisan rakyat yang berhasil mengusir penjajah Mongol? Ah, inipun obrolan
besar! Diam-diam Bi Eng memandang wanita-wanita itu dengan hati tak senang. Ia menganggap
mereka itu penjilat-penjilat besar.
“Kau lihat, nona Cia. Aku amat dimanja-manjakan mereka. Ah, lama-lama membosankan juga.”
Kata Bhok Kian Teng ketika melihat kening gadis itu mengerut. Ia lalu memberi tanda dengan
tangannya dan para wanita itu berhenti menyanyi.
“Nona, ini adalah pembantuku nomor satu, namanya Yo Leng Nio. Leng-moi, nona ini adalah nona
Cia Bi Eng, tamu kita yang terhormat. Mari, nona Cia, mari naik ke perahuku, kita bicara di sana.”
11. Lepas dari Srigala Masuk ke Sarang Buaya
BI ENG ragu-ragu, sebetulnya enggan kalau harus naik ke perahu orang.
“Aku .... aku menanti datangnya kakakku di sini ....” katanya perlahan.
Kian Teng tertawa. “Perahuku memang berlabuh di sini. Apa bedanya menanti di darat ataupun di
atas perahu? Kalau kakakmu datang, kan bisa kelihatan dari perahu? Nona, kami mengundangmu
sebagai tamu, apakah kau tidak suka?”
Tentu saja Bi Eng tidak dapat menolak lagi. Orang sudah menolongnya dari malapetaka yang besar.
Bagaimana dia bersikap kurang terima. Ia tersenyum. “Kau terlalu menghormat, Bhok-kongcu. Kau
penolongku, tentu saja aku mau menerima undanganmu. Hanya aku khawatir membuat kalian repot
saja.”
“Tidak repot ….. tidak repot …….” Kata Bhok Kian Teng sambil mengajak Bi Eng naik ke perahu.
Para wanita cantik itu sejak tadi sudah sibuk memasang papan tangga sehingga pemuda itu bersama
Bi Eng dengan mudah dapat naik ke perahu, tak usah meloncat. Di belakang mereka berjalan Yo
Leng Nio yang masih agak muram mukanya kalau melihat Bi Eng. Di sudut kerling matanya
Koleksi Kang Zusi
nampak jelas perasaan cemburunya. Melihat ini, Bi Eng hanya tersenyum mengejek. Kau tak usah
takut, pikirnya, siapa sudi merampas kongcumu yang kalian dewa-dewakan?
Setelah naik ke atas perahu dan menghitung, Bi Eng mendapat kenyataan bahwa wanita-wanita itu
bersama Yo Leng Nio berjumlah lima belas orang. Dan di pinggir-pinggir perahu, mungkin bekerja
sebagai pengemudi dan anak buah perahu, kelihatan sepuluh orang laki-laki tinggi besar yang
berpakaian tidak seperti orang Han, juga sikap mereka ini aneh, diam saja seperti patung. Malah
pandangan mata mereka tidak langsung seakan-akan kosong. Orang-orang lelaki yang berada
perahu itu sama sekali tidak memperdulikan segala keributan wanita-wanita yang menyambut
Bhok-kongcu. Hanya mereka ini berdiri tegak seperti barisan untuk menghormat pemuda itu.
Bi Eng diajak ke sebuah ruangan dalam perahu dan di situ ia dipersilahkan duduk. Sementara itu,
Bhok-kongcu sudah “dikeroyok” empat belas orang gadis cantik kecuali Yo Leng Nio yang berdiri
dan bersikap sebagai penjaga. Bhok-kongcu duduk di atas kursi dan mulailah empat belas pasang
lengan melayaninya. Wanita-wanita ini tersenyum dan melirik, menarik muka semanis-manisnya,
tertawa kecil amat genit. Ada yang melepas sepatu dan kaus kaki Bhok-kongcu lalu mencuci kaki
itu, ada yang menggantikan jubah luar, ada yang membuka topi lalu menyisir rambutnya.
Pendeknya keadaan Bhok-kongcu seperti seorang calon mempelai yang didandani! Hebatnya.
Wanita-wanita itu dengan sikap menarik hati melakukan perbuatan yang membuat Bi Eng melongo
lalu tak berani memandang lagi. Bayangkan saja, yang mencuci kaki ….. mencium kaki itu, yang
menyisir rambut mencium rambut dan sebagainya. Benar-benar penglihatan yang amat aneh dan
membikin Bi Eng tidak kuat memandang lebih lama, lalu gadis itu berdiri dan pura-pura melihatlihat
air di pinggir perahu.
Setelah selesai “mendadani” pemuda itu, seorang demi seorang para wanita itu menjual lagak. Ada
yang berkata dengan suara halus merdu, “Kongcu, hidangan sudah siap siauw-moi bikin selezatlezatnya.”
Ada yang merayu, “Apakah kongcu ingin melihat siauw-moi menari lebih dulu?” Ada
pula yang berkata manja, “Tentu kongcu ingin mendengar siauw-moi bernyanyi?”
Akan tetapi Bhok Kian Teng menggerakkan tangan dan berkata, “Pergilah kalian mengaso.
Keluarkan hidangan, aku hendak mengundang nona Cia makan minum. Jangan kalian mengganggu.
Boleh keluarkan hiburan tarian dan nyanyian untuk nona Cia, akan tetapi agak jauh, jangan dekatdekat.”
“Ah, kongcu …..?” masih ada suara-suara halus merdu membantah.
Tiba-tiba Yo Leng Nio membentak, “Kongcu sudah keluarkan titah, kalian masih berani cerewet?”
Sepasang mata wanita ini melotot dan undurlah wanita itu. Yo Leng Nio sendiri juga pergi untuk
memenuhi perintah tuannya.
“Nona Cia, harap kau maafkan melihat mereka itu,” kata Kian Teng setelah mengundang Bi Eng
duduk kembali. “Sebetulnya akupun jemu dilayani oleh begitu banyak tangan. Ahh …..” Ia menarik
napas panjang sambil menatap ke arah kedua tangan Bi Eng yang runcing halus. “Alangkah akan
bahagianya kalau aku hanya dilayani oleh sepasang tangan yang penuh kasih sayang …..”
Entah mengapa, mungkin karena mata pemuda itu memandang ke arah tangannya, wajah Bi Eng
menjadi merah dan ia otomatis menyembunyikan kedua tangannya di bawah meja! Untuk
menghilangkan dan menyembunyikan rasa bingung dan jengahnya, Bi Eng berkata sambil tertawa
dan memandang wajah tuan rumah, “Bhok-kongcu, kau benar-benar seorang aneh. Belum pernah
aku melihat orang dengan keadaan seaneh kau!”
Koleksi Kang Zusi
Bhok Kian Teng tertawa terbahak dan ketika tertawa ini, lenyaplah keanehan yang menyeramkan
yang menyelubungi dirinya, dia berubah menjadi seorang pemuda tampan yang gembira sehingga
Bi Eng juga ikut gembira. “Apanya yang aneh? Nona, itu adalah karena kau belum mengenal aku.
Bhok Kian Teng bukan orang aneh, orang biasa saja ….” Kemudian suaranya berubah bersungguhsungguh.
“Tentu saja aku pun bukan gentong nasi yang tak mempunyai cita-cita! Aku seorang lakilaki
dari darah dan daging, aku bercita-cita tinggi sekali. Nona Cia, mari minum!” Ia menuangkan
arak ke dalam cawan ketika dua orang gadis datang mengeluarkan arak wangi.
Bi Eng tidak biasa minum arak, akan tetapi karena tidak sudi disangka “perawan dusun”, terutama
sekali oleh para gadis itu, ia menerima cawannya, menghaturkan terima kasih dan meneguknya
habis. Arak itu wangi dan manis, enak sekali, akan tetapi hampir ia tersedak karena tidak biasa akan
minuman keras. Diam-diam ia teringat akan suhunya. Kalau suhu mendapat suguhan arak seenak
ini, tentunya akan dihabiskan segentong! Demikian pikirnya gembira.
Sementara itu, hidangan dikeluarkan di atas meja, hidangan-hidangan yang masih panas mengebul
dan mewah. Gadis-gadis tadi keluar lagi membawa alat musik dan dalam jarak yang agak
jauhmereka mulai menari dan bernyanyi sementara Bhok Kian Teng mengajak Bi Eng makan
minum. Hidangan amat enak, arakpun wangi, ditambah tari-tarian yang lemah gemulai indah dan
nyanyian dengan suara merdu merayu, bagaimana Bi Eng takkan senang? Apalagi ia memang sudah
lapar, maka sebagai seorang gadis lincah dan terbuka, ia tidak malu-malu lagi dan menyikat
makanan sampai kenyang
Melihat sikap gadis yang terbuka ini, timbul kegembiraan Bhok Kian Teng dan sambil menggerakgerakan
kipasnya ia lalu membaca sajak dengan lagak seorang sasterawan dan dengan suara yang
lantang, sementara para gadis menabuh khim perlahan-lahan.
“Air We-ho mengalir gelisah di bawah perahu
kacau tak menentu, kemanakah kau hendak pergi?
Lebih senang duduk diperahu minum arak
menjamu tamu agung jelita gagah!
Menyaksikan tarian mendengar nyanyian
senyum madu mata bintang
Aku berhasil menyenangkan tamu agung!
Bawa arak! Biarkan aku minum sepuasnya!”
Tanpa banyak berpikir dapat membuat sajak bukanlah hal yang mudah. Bi Eng sudah pernah
mempelajari ilmu surat bersama kakaknya, akan tetapi dalam hal kepandaian ini dia kalah jauh oleh
kakaknya. Maka ia merasa kagum sekali melihat Bhok-kongcu dapat membuat syair yang
merupakan sindiran dan pujian bagi dirinya. Tak terasa lagi mukanya menjadi merah jengah dan
juga diam-diam girang karena ia disebut-sebut sebagai tamu agung jelita gagah bersenyum madu
bermata bintang.
Setelah mengucapkan syairnya, sambil tertawa Kian Teng kembali mengisi cawan arak Bi Eng lalu
berkata, “Sekarang kuharap Cia-siocia sudi membuatkan sebait-dua bait sajak untukku.”
“Ah, aku tidak bisa, Bhok-kongcu,” kata Bi Eng sambil tertawa.
“Siapa percaya? Nona seorang Bun-bu-coan-jai (ahli silat dan surat), tentu lebih pandai dari pada
aku. Kalau nona tidak sudi memperlihatkan sedikit kepandaian untuk membuka mataku, terpaksa
aku mendenda nona dengan tiga cawan arak!” Berkata demikian, pemuda itu tertawa-tawa gembira
dan sewajarnya.
Koleksi Kang Zusi
Bi Eng juga tertawa, lalu menarik napas panjang. “Ah, kalau saja Sin-ko berada di sini, tentu dia
gembira sekali dan kau tak akan kecewa, karena dalam membuat sajak, kiranya di dunia ini tidak
ada yang dapat mengalahkan Sin-ko.”
Perhatian Bhok-kongcu segera tertarik. “Sin-ko? Siapakah dia?”
Bi Eng tidak tahu bahwa dalam pertanyaan ini terkandung cemburu yang amat besar. Dia sudah
agak dipengaruhi arak, maka sedikit keadaan ini tidak terlihat olehnya.
“Sin-ko adalah kakakku ……. Dan tiba-tiba Bi Eng menjadi berduka. Kakaknya masih tertahan di
Cin-ling-san, usaha pertolongan dari Yan Bu juga belum ada ketentuan hasil tidaknya, dan dia enakenak
dan senang-senang di atas perahu ini bersama Bhok-kongcu. Wajahnya menjadi muram,
senyumnya menghilang, bahkan di matanya terdapat dua titik air mata!
“Eh, nona Cia, kau kenapakah?” tanya Bhok Kian Teng, suaranya terdengar demikian menaruh
perhatian dan berkhawatir sehingga dilain saat Bi Eng menjadi begitu sedih dan menangis benarbenar.
Di luar tahu Bi Eng, Kian Teng memberi isyarat dengan matanya dan semua wanita di situ
mengundurkan diri, meninggalkan pemuda itu berdua saja dengan Bi Eng. Bahkan anak buah
perahu juga tidak menampakkan diri. Senja telah terganti malam dan bulan muda sudah muncul di
angkasa raya, memuntahkan cahaya gemilang di permukaan air sungai, menimbulkan pemandangan
indah dan suasana yang romantis.
Bi Eng yang sedang menangis dan menutupi mukanya di atas meja tidak melihat bahwa dia
sekarang hanya berdua saja dengan pemuda itu. Ketika merasa betapa sebuah tangan dengan mesra
dan halus menepuk-nepuk pundaknya, ia kaget dan mengangkat kepala. Dilihatnya kongcu itu
sudah berdiri dari kursinya, berdiri dekat dengan dia dan menepuk-nepuk pundak dengan sikap
menghibur. Ia menjadi jengah dan melihat ke kanan kiri, akan tetapi tidak ada seorang pun di situ,
bahkan Yo Leng Nio juga tidak ada lagi di situ.
“Nona Cia, tenanglah dan sabarlah. Kau agaknya berduka sekali, bolehkah aku mengetahui
persoalannya? Percayalah, selama masih ada Bhok Kian Teng hidup di dunia ini, tidak seorang pun
boleh menyusahkan hatimu. Aku menyediakan selembar nyawaku untuk membela dan
melindungimu, nona.” Suara ini demikian mesra, demikian halus mengharukan sehingga biarpun
tak senang disentuh pundaknya, namun Bi Eng tidak tega bersikap kasar.
“Bhok-kongcu, duduklah baik-baik. Aku sangat berterima kasih padamu dan akan kuceritakan
kesukaranku, biarpun agaknya kaupun takkan dapat menolongku.”
Bhok Kian Teng melangkah mundur, membungkuk lalu duduk di kursinya, senyumnya masih
membayang di mulut, wajahnya tampak tenang dan sabar, kelihatan amat halus budi dan baik hati.
“Kau berceritalah, nona, aku siap mendengarkan.”
Bukan maksud hati Bi Eng untuk menceritakan semua riwayatnya, ia hanya merasa tidak enak
kalau menyimpan rahasia hatinya, dan pula, melihat kelihaian kongcu ini, iapun mengharapkan
petunjuk-petunjuknya. Maka dengan singkat ia bercerita, “Bhok-kongcu, maafkan kalau tadi aku
tidak dapat menahan perasaan dan menangis, membikin kau jemu saja. Aku bersama kakakku, Cia
Han Sin, dan seekor monyet peliharaan kami, turun dari Min-san untuk … untuk lihat dunia ramai.”
Ia mulai menutur. Kian Teng yang cerdik tentu saja tahu akan keraguan nona ini ketika hendak
bicara tentang maksudnya turun gunung, namun ia tidak bertanya, tidak mencela dan mendengarkan
dengan sabar.
Koleksi Kang Zusi
“Kami sudah yatim piatu, dan hidup kami hanya bertiga dengan monyet kami itu. Kami kira dunia
ini indah dan manusia-manusianya baik-baik. Tidak tahunya, baru tiba di Cin-ling-san kami
menemui malapetaka. Tosu-tosu bau dari Cin-ling-pai, entah mengapa, marah-marah kepada kami
dan tidak mau membiarkan kami lewat dengan aman. Mereka malah hendak menyerang dan
menangkap kami. Tentu saja aku melawan mereka dan kakak …. Sin-ko yang tidak bisa ilmu silat
sudah bersikap gagah melindungi aku. Lalu datanglah seorang kakek bernama Ban Kim Cinjin,
katanya utusan pemerintah dan antara kakek ini dan orang-orang Cin-ling-pai timbul perkelahian
hebat sehingga banyak tosu Cin-ling-pai tewas di tangan Ban Kim Cinjin.”
Bhok Kian Teng mengangguk-angguk.” Sudah kudengar nama Ban Kim Cinjin. Dia memang
lihai.”
“Melihat orang itu melakukan banyak pembunuhan, Sin-ko tidak tega dan mencegah. Akan tetapi
dia malah beberapa kali dipukul oleh Ban Kim Cinjin. Kemudian …..
“Kemudian bagaimana, nona?” Kian Teng bertanya penuh perhatian, agaknya ia tertarik sekali.
“Ban Kim Cinjin memukul Sin-ko dan … tahu-tahu kakek itu roboh binasa …..”
“Aahhh ….!” Bhok Kian Teng melongo saking herannya.
“Siapa yang membunuhnya?”
“Akupun tidak tahu. Dia mati mendadak. Para tosu Cin-ling-pai lalu menyalahkan kami. Kakakku
bertanggung jawab untuk semua itu, menyuruh aku pergi lebih dulu menanti di sini dan dia hendak
memikul semua pertanggungan jawab. Padahal, kakakku yang tidak bisa silat mana bisa membunuh
seorang seperti Ban Kim Cinjin?”
“Memang tak bisa ….. tak bisa ….” Kongcu itu menggeleng-geleng kepala lalu merenung,
nampaknya berpikir keras.
“Begitulah, Sin-ko ditawan. Aku tadinya hendak membelanya, akan tetapi Sin-ko tidak mau dan
memaksa aku harus pergi dulu. Aku tidak berani membantah, lalu pergi dan hanya suruh Siauw-ong
monyetku itu mengawaninya. Sin-ko masih ditawan orang, entah bagaimana nasibnya dan aku ….
Aku bersenang-senang di sini, siapa yang tak sedih …..?”
Tiba-tiba Bhok Kian Teng memukulkan tangannya kepada ujung meja, perlahan saja, akan tetapi
alangkah kagetnya hati Bi Eng melihat betapa ujung meja yang tebal dan keras itu menjadi hancur!
“Nona Cia, kenapa tidak tadi-tadi kau ceritakan hal ini kepadaku? Jangan kau kuatir, orang-orang
Cin-ling-pai mana berani mengganggu kakakmu kalau ada aku? Hee! Leng-moi …..! Kesinilah!”
Yo Leng Nio cepat muncul, wajahnya tetap muram dan ia melirik satu kali ke arah Bi Eng.
“Kongcu memanggil siauw-moi?” tanyanya sambil menghadap Bhok Kian Teng.
“Leng-moi, sekarang juga kau berangkatlah ke Cin-ling-san, kau temui tosu-tosu pengurus Cinling-
pai, atau kalau perlu boleh kau minta bertemu sendiri dengan Giok Thian Cin Cu ketuanya,
tunjukkan kartu namaku dan kau minta atas namaku agar Cin-ling-pai suka membebaskan seorang
bernama Cia Han Sin. Setelah bebas, kau ajak pemuda itu ke sini, katakan bahwa adiknya, nona Cia
Bi Eng, menantinya di sini dalam keadaan selamat.”
Koleksi Kang Zusi
Yo Leng Nio mendengar penuh perhatian. Kemudian berkata, “Siauw-moi telah menerima perintah.
Hanya sebuah pertanyaan, kongcu, bagaimana kalau …..”
“Kalau mereka menolak, jangan bikin malu aku! Kalau kau tidak sanggup mengalahkan mereka,
katakan aku akan datang sendiri!” Bhok-kongcu memotong tak sabar lagi sambil menggerakkan
tangannya menyuruh gadis itu pergi. Yo Leng Nio mengangguk, lalu sekali meloncat gadis ini
sudah berada di darat!
Diam-diam Bi Eng kagum sekali.
“Jangan kau gelisah, nona Cia. Kakakmu pasti akan selamat dan segera datang ke sini.”
“Bhok-kongcu, kau baik sekali. Banyak terima kasih atas segala jerih payahmu.”
“Ah, setelah kita menjadi sahabat, mana perlu segala ucapan sungkan? Nona, sekarang mengasolah,
dan jangan berduka.” Kongcu itu menepuk tangan tiga kali dan lima orang gadis cantik muncul.
“Antarkan nona Cia ke dalam kamar biar dia beristirahat.”
Melihat kebaikan orang, Bi Eng terharu dan tidak sampai hati menolak. Memang lebih baik
bermalam di dalam perahu dari pada di pinggir sungai. Ia lalu diantar oleh gadis-gadis itu dan
ternyata di dalam perahu besar itu disediakan kamar-kamar yang indah dan bersih. Ia mendapat
sebuah kamar dan setelah sampai di kamarnya, dia dilayani oleh seorang gadis cantik berbaju
merah.
“Nona, kongcu telah berlaku baik sekali padamu, kau beruntung,” kata nona baju merah itu sambil
menarik napas panjang, di dalam suaranya terkandung iri hati besar. Namun Bi Eng tidak merasa ini
dan dia tersenyum.
“Kalian semua orang-orang baik,” katanya. “Enci, siapakah namamu?”
“Aku hanya pelayan, kau tamu agung. Panggil saja aku Ang-hwa (Bunga Merah),” katanya.
Bi Eng dapat menduga bahwa nama ini hanya nama samaran, sesuai dengan bajunya yang merah.
Namun ia tidak perdulikan lagi karena matanya sudah mengantuk, kepalanya agak pening karena
banyak minum arak. Begitu ia merebahkan diri di atas kasur yang empuk, segera ia tidur pulas.
Menjelang tengah malam, ia terbangun dan mendengar suara orang menarik napas panjang. Suara
itu seperti di dalam kamarnya, maka Bi Eng segera memandang ke sana ke mari tanpa bergerak. Ia
melihat lampu masih menerangi kamarnya dan ketika melirik ke arah jendela, lapat-lapat ia melihat
sepasang mata yang tajam mengintai ke dalam kamarnya.
Ia mengenal mata ini, seperti mata Bhok-kongcu. Dan kembali terdengar tarikan napas panjang,
juga dari balik jendela itu. Kemudian menyusul bisikan-bisikan perlahan, “Bhok Kian Teng … kau
sudah gila. Mengapa tiba-tiba hatimu lemah? Gila …. Gila ….” Dan suara itu makin menjauh
sedangkan sepasang mata itupun lenyap.
Bi Eng terkejut dan heran, juga takut. Belum pernah ia merasa takut, akan tetapi berada dalam
tempat asing di antara orang-orang asing yang aneh, ia merasa ngeri juga. Kau bodoh, pikirnya.
Mereka itu orang-orang baik, mengapa takut? Tiba-tiba ia mendengar suara bisik-bisik dari balik
dinding kamarnya. Ia mengulet dan mendekatkan telinga mepet di dinding kamarnya karena
kebetulan tempat tidurnya mepet di dinding itu. Kini ia dapat mendengar suara dua orang wanita
berbicara berbisik-bisik. Yang satu ia kenal sebagai suara Ang Hwa.
Koleksi Kang Zusi
“Aneh,” kata suara kedua. “Kongcu sama sekali tidak mengganggu bocah dusun itu. Memasuki
kamarnyapun tidak! Malah mengintai. Apa artinya ini? Belum pernah terjadi hal seperti ini. Apa dia
takut?”
“Goblok!” terdengar suara Ang-hwa mencela. “Kongcu takuti siapa? Tentu dia …. Dia telah jatuh
cinta ….” Suaranya menjadi sedih.
Orang kedua menghela napas. “Hemmm, untung orang tak dapat diduga. Tadinya kami kira kau
yang akan menjadi kekasihnya, Ang-hwa. Tidak tahunya kau juga sama dengan kami, hanya
barang-barang permainan belaka. Tadinya kami kira dia tidak mempunyai hati untuk menyintai
orang, menyinta dengan sungguh-sungguh seperti seorang pria menyinta wanita, kami kira dia
memang hanya menganggap wanita sebagai barang mainannya. Tidak tahunya, dia menyinta gadis
dusun …! Ah, Ang Hwa, belum pernah dia memandang kau seperti ketika memandang perempuan
itu …… Haiii ….. nasib!”
Terdengar Ang Hwa mendengus, lalu suara itu sirep, Bi Eng terheran dan tidak mengerti sama
sekali bahwa yang dimaksudkan dengan “gadis dusun” adalah dia sendiri! Karena itu dia tidak
menaruh perhatian lagi dan mulai layap-layap hendak pulas.
Tiba-tiba ia mendengar pintu dibuka orang. Ketika ia membuka mata, ia melihat sinar kuning
melayang ke arahnya dan di lain saat ia merasa lengan kirinya sakit sekali. Ia melihat dan ….. Bi
Eng menjerit kaget. “Ular …. menggigit ….. celaka ….!”
Ia melihat seekor ular belang kuning sudah menggigit lengannya dan melingkar di situ.
Tiba-tiba daun jendela terpentang dan sesosok bayangan melayang masuk. Bhok Kian Teng telah
berada di situ. “Celaka …..!” Pemuda itu berseru. Sekali tangannya diulur, kepala ular itu dipencet
remuk. Tubuhnya lalu berkelebat ke arah pintu, terdengar suara gedebukan dan di lain saat ia telah
kembali ke dalam kamar, menyeret …. Ang Hwa yang dilemparkannya ke atas lantai. Kemudian
tanpa banyak cakap ia lalu menarik lengan Bi Eng yang tergigit ular dan memeriksa.
“Tenang, nona Cia. Aku akan menolongmu.” Tanpa sangsi-sangsi lagi Bhok Kian Teng lalu
merobek baju bagian lengan ini sehingga nampak kulit lengan kiri Bi Eng yang putih, di mana kini
terdapat bintik-bintik merah bekas gigitan ular. “Duduklah baik-baik, aku akan mengeluarkan racun
dari lenganmu.” Setelah berkata demikian, Bhok-kongcu lalu menempelkan bibirnya pada lengan
itu dan menghisapnya!
Bi Eng yang masih belum hilang kagetnya, kini terkesima dan tak dapat bergerak. Ia merasa ngeri,
kaget, dan juga malu bukan main. Ketika merasa mulut pemuda itu yang hangat basah menempel di
kulit lengannya dan menghisap, ia meramkan mata, mukanya merah dan hampir ia merenggutkan
lengannya saking malu. Akan tetapi ia ingat bahwa pemuda ini sedang berusaha mengeluarkan
racun, maka ia pertahankan dirinya.
Sehabis menghisap, pemuda itu lalu meludahkan darah yang berwarna hitam, lalu menghisapkan
lagi, meludah lagi sampai lima kali, baru darah yang diludahkan berwarna merah. Lalu Bhokkongcu
mengeluarkan sebutir pil warna merah. “Telanlah ini,” katanya kepada Bi Eng sambil
menyodorkan secawan air bersih.
Bi Eng tidak membantah. Ditelannya pil itu dengan air dan ia merasa dadanya hangat-hangat
nyaman. Rasa sakit pada lengannya masih ada, akan tetapi tidak ada lagi rasa gatal-gatal. Bhokkongcu
lalu menempelkan sehelai koyo (obat tempel) pada bekas luka, lalu menarik napas panjang
karena lega sambil menyusuti peluhnya di jidat.
Koleksi Kang Zusi
“Sudah selamat …….syukurlah …..” Kemudian pemuda itu menoleh ke arah Ang-hwa yang masih
berlutut di atas lantai dengan muka pucat. “Keluar kau, ikut aku!” Tanpa menoleh lagi pemuda itu
keluar dari kamar Bi Eng. Ang-hwa berdiri dan dengan kepala tunduk dan isak tertahan iapun ikut
keluar.
Berdebar hati Bi Eng menyaksikan ini, hatinya merasa tidak enak sekali. Biarpun tubuhnya masih
terasa lemah gemetar dan kepalanya pening, ia lalu membetulkan pakaiannya, mengeluarkan
saputangan dan mengikat lengan bajunya yang robek tadi. Kemudian ia turun dari pembaringan dan
keluar dari dalam kamarnya.
Ia melihat mereka semua sudah berkumpul di atas dek, diterangi bulan, nampaknya menyeramkan.
Bhok Kian Teng duduk di tengah-tengah, di atas sebuah kursi. Ang-hwa yang menundukkan
kepalanya berdiri tak jauh di depannya dan disekeliling mereka berdiri belasan orang wanita. Para
anak buah perahu masih di tempat masing-masing, tak bergerak seperti patung, menambah
keseraman pemandangan itu.
“Ang Hwa, sudah tahukah kau akan dosa-dosamu dan hukumannya?” terdengar suara Bhok Kian
Teng, terdengar tidak bernada, akan tetapi masih halus sekali.
Ang Hwa mengangguk. “Siauw-moi berusaha mencelakakan wanita pilihan baru kongcu dan
hukumannya seperti biasa, siauw-moi akan menjadi pelayan wanita itu untuk setahun dan selama itu
….. selama itu …. kongcu tidak akan mendekati siauw-moi …..” Ucapan terakhir ini dikeluarkan
dengan isak tertahan dan sedih sekali kedengarannya.
“Kau telah berani mati mencoba untuk membunuh nona Cia!” terdengar lagi suara Bhok Kian Teng,
masih halus akan tetapi sekarang mengandung kemarahan besar sehingga di sekelilingnya tidak ada
orang berani mengeluarkan suara, bahkan bernapaspun ditahan-tahan. “Karena itu, kau harus mati!
Nih, hui-to (golok terbang), tublas dadamu dan keluarkan hatimu yang hitam hendak kulihat!”
Ucapan ini seperti petir menyambar bagi semua wanita di situ. Biarpun mereka tahu bahwa Bhok
Kian Teng dapat membunuh orang tanpa berkedip, namun belum pernah ia memberi hukuman mati
kepada para selirnya yang ia sayang. Lebih-lebih lagi terhadap Ang Hwa yang selama ini dianggap
seorang di antara selir-selirnya yang paling disayang, dan sebabnya hanya karena hendak
membunuh seorang gadis dusun!
“Kongcu ……..!” Seorang wanita baju kuning, Oey Hoa, berkata dengan suara memohon. Dia juga
seorang di antara mereka yang disayang.
“Siapakah yang hendak membelanya, boleh mengantarnya ke neraka!” kata Bhok Kian Teng dan
Oey Hoa menjadi pucat, lain-lain wanita tidak ada yang berani mengeluarkan suara lagi. Dengan
isak tertahan Ang-hwa lalu melangkah maju dan menerima golok kecil dari tangan Bhok Kian
Teng.
“Bhok-kongcu-ya …… demi cinta kasihku yang suci kepadamu ……, aku rela mati ……, hanya
aku kuatir … dia … dia … takkan dapat membahagiakanmu ……”
Sampai di situ, Bi Eng tak dapat menahan lagi gelora hatinya. Ia melompat maju dan berseru,
“Tahan hukuman ini!”
Semua orang terkejut. Bhok Kian Teng cepat menengok dan melihat gadis itu berdiri dengan muka
pucat akan tetapi dengan sikap gagah dan dalam pandang matanya makin cantik jelita, ia berkata
Koleksi Kang Zusi
lirih, penuh kasih sayang. “Nona Cia ….. kau jangan keluar dari kamar. Lukamu belum sembuh
benar, jangan kau terkena angin malam …..”
Alangkah mesra penuh kasih sayang kata-kata ini, membuat semua wanita di situ saling pandang
dan melongo. Belum pernah mereka mendengar kongcu mereka memperlihatkan kasih sayang
demikian besarnya, kasih sayang sewajarnya, bukan hanya karena dorongan nafsu.
“Bhok-kongcu, kuanggap kau seorang yang baik budi, siapa kira kau bisa berlaku sekejam ini,
menghukum mati begitu saja seorang wanita!” Bi Eng menegurnya dengan suara keras dan marah.
Semua wanita sekali lagi terheran-heran, masa ada gadis yang begitu berani mencela kongcu
mereka, padahal begitu disayang. Mereka yang mencari muka, mengambil-ambil hati minta dicinta,
masih belum mendapat cintanya. Gadis ini begitu kasar dan berani mencela, malah dicinta.
Anehnya cinta
“Dia ….. dia hendak membunuhmu!” kata Bhok Kian Teng sambil memandang ke arah Ang-hwa
dengan marah.
“Aku yang hendak dibunuh, bukan kau. Mengapa kau yang hendak menghukumnya? Sepatutnya
akulah yang bersakit hati.” Setelah berkata demikian Bi Eng melompat maju ke depan Ang-hwa dan
sekali ia menggerakkan tangan, hui-to itu telah dirampasnya dan dikembalikannya kepada Bhokkongcu.
Kemudian Bi Eng menghadapi Ang-hwa dan bertanya.
“Enci Ang-hwa, tadi sikapmu baik sekali kepadaku. Kenapa kau melepas ular beracun hendak
membunuhku? Apa salahku kepadamu?”
Ang-hwa dengan muka pucat memandang Bi Eng penuh selidik, seakan-akan hendak mencari tahu
rahasia apakah yang membuat gadis ini demikian mudah merebut hati kongcunya. Kemudian ia
menarik napas panjang dan dengan suara terisak-isak ia berkata,
“Aku tidak mempunyai permusuhan apa-apa dengan engkau. Akan tetapi kenapa kau datang-datang
merampas hati kongcu? Aku yang sudah dua tahun melayaninya, mengurbankan nama, kehormatan,
orang tua dan merendahkan diri sendiri dari puteri seorang hartawan menjadi pelayannya, mencuci
kakinya, melakukan segala perintahnya dengan segala senang hati, aku tidak dapat mengambil
hatinya. Akan tetapi, kau ….. ah, bagaimana aku takkan iri hati dan cemburu? Aku sudah gagal
membunuhmu, sekarang kau hendak berbuat apa, sesukamulah. Boleh bunuh, boleh siksa …….!”
Wajah Bi Eng sebentar merah sebentar pucat. Tak disangkanya sama sekali bahwa keadaan menjadi
begitu macam. Tak disangkanya sama sekali bahwa kehadirannya di situ menimbulkan kekacauan
yang amat hebat, menimbulkan kebencian yang hampir merenggut jiwanya. Padahal ia tidak merasa
berdosa.
“Goblok! Siapa yang berebut denganmu? Aku hanya seorang tamu, seorang sahabat baru yang baik
dari Bhok-kongcu. Kau bicara ngaco-belo, apakah otakmu sudah gila?” Ia lalu menghadapi Bhokkongcu
dan berkata tegas, “Bhok-kongcu, aku minta dengan sangat supaya wanita ini diampuni.
Jangan kau bunuh padanya!”
Bhok Kian Teng bangun berdiri dan menjura di depannya. “Nona Cia adalah seorang tamuku yang
terhormat. Namanya sudah dihina perempuan rendah ini, malah hendak dibunuhnya. Akan tetapi
sekarang nona mengampuni dia, itu menandakan budi nona yang mulia dan hati nona yang bersih.
Baiklah, aku memenuhi permintaan nona. Ang-hwa, kau telah diampuni oleh nona Cia, akan tetapi
aku tetap tidak bisa melihat mukamu. Kau kira kau ini terlalu cantik maka hendak menjual lagak di
sini? Hendak kulihat kalau kau tidak mempunyai hidung, bagaimana macamnya!”
Koleksi Kang Zusi
Baru saja Bi Eng hendak mencegah, tangan Bhok-kongcu bergerak, sinar terang meluncur bagaikan
api terbang, terdengar jerit mengerikan dan sinar terang dari hui-to itu setelah membabat hidung
Ang-hwa, ternyata dapat terbang kembali ke tangan Bhok-kongcu!
Ang-hwa memegangi mukanya di bagian hidung yang berdarah, hidungnya yang kecil mancung
sudah lenyap dibabat golok terbang, dia menangis tersedu-sedu.
“Pergilah, aku tidak sudi lagi melihat mukamu!” kata Bhok-kongcu.
Sambil mengeluarkan jerit menyayat hati, Ang-hwa melompat dan tubuhnya merupakan bayangan
merah melesat ke arah daratan. Sebentar saja ia lenyap di antara pohon-pohon, hanya jeritnya yang
melengking saja berkali-kali masih terdengar dari jauh.
”Bhok-kongcu, kau terlalu sekali menyakiti dia. Kenapa tidak diampuni dan diusir saja?” Bi Eng
menegur.
Bhok Kian Teng tertawa. “Mana ada kesalahan yang tidak dihukum? Kalau semua menuruti
engkau, dunia ini makin penuh kejahatan, nona.”
Semenjak terjadi peristiwa itu, hati Bi Eng makin tidak enak tinggal di perahu Bhok-kongcu. Akan
tetapi karena ia harus menanti kakaknya dan Yo Leng Nio belum juga datang, terpaksa ia menahan
hatinya dan selalu bersikap hati-hati sekali. Terhadap wanita-wanita lain ia bersikap manis dan
terhadap Bhok-kongcu ia bersikap dingin dan sombong.
Diam-diam ia sering memikirkan, siapakah gerangan Bhok-kongcu ini. Begitu kaya raya
nampaknya, begitu agung dan aneh, beberapa kali ia berusaha memancing, bertanya kepada wanitawanita
itu, akan tetapi tak seorangpun berani membuka mulut. Ketika Bi Eng mencoba bertanya
kepada para anak buah perahu, alangkah kagetnya ketika mendapat kenyataan bahwa mereka ini
tidak berlidah dan telinga mereka rusak! Tidak dapat bicara dan tidak mendengar!
Memang Bhok Kian Teng bukanlah orang biasa. Dia itu sebetulnya memiliki kedudukan tinggi
sekali baik di kalangan pemerintah Ceng maupun di dunia kang-ouw. Di kalangan pemerintah,
siapakah yang tidak mengenal pangeran Bhok, atau pangeran muda, putera dari pangeran tua Bhok
Hong? Di dunia kang-ouw, siapakah yang tak pernah mendengar nama besar Bhok-kongcu, seorang
bun-bu-coan-jai yang lihai ilmu silatnya dan tinggi pengertiannya tentang kesusasteraan? Siapa pula
tidak pernah mendengar nama yang menggemparkan dunia kang-ouw dari tokoh besar dari utara
yang berjuluk Pak-thian-tok (Si Racun dari Utara), yaitu julukan dari pangeran Bhok Hong?
Pada saat itu, seluruh daratan Tiongkok sampai ke Korea telah diduduki oleh orang-orang Mancu
yang mendirikan kerajaan Ceng dengan kaisar Kang Shi. Dalam penyerbuannya ke Tiongkok ini
bala tentara Mancu dapat bantuan besar dari bangsa Mongol, terutama para pangeran yang masih
penasaran karena bangsa mereka terusir dari Tiongkok yang pernah mereka jajah.
Kaisar Kang Shi naik tahta pada tahun 1663 dan semenjak kekuasaan Mancu makin besar dan
kedudukan para patriot yang masih berusaha mempertahankan wilayah masing-masing makin
terdesak dan ambruk, mulailah pemerintah penjajah yang baru ini mengadakan peraturan-peraturan
yang amat menghina bangsa Tiongkok.
Penduduk dibagi dalam empat lapisan atau empat tingkat. Tingkat paling tinggi tentu saja diduduki
oleh bangsa Mancu sendiri sebagai penjajah. Tingkat kedua terdiri dari bangsa Mongol yang sudah
banyak membantu bangsa Mancu dalam penyerbuan ke Tiongkok, dan hal ini menunjukkan betapa
Koleksi Kang Zusi
cerdiknya bangsa Mancu yang hendak mengambil hati orang-orang Mongol agar tetap setia kepada
mereka.
Selain bangsa Mongol juga suku bangsa lain yang telah membantu pemerintah Mancu, seperti suku
bangsa Hui dan lain-lain. Tingkat ketiga diberikan kepada penduduk Tiongkok utara. Hal ini bukan
saja karena penduduk Tiongkok utara lebih dulu ditaklukkan, juga karena di daerah ini telah
terdapat percampuran darah karena antara penduduk Tiongkok asli dengan orang-orang Mongol dan
Mancu sendiri. Setelah ini, barulah pada lapisan keempat atau tingkat paling rendah duduk orangorang
Tiongkok selatan yang masih saja ada yang melakukan perlawanan terhadap pemerintah
Mancu di sana sini.
Banyak sekali orang-orang gagah, pahlawan-pahlawan rakyat di daerah selatan merasa sedih sekali
dan memberontak terhadap pemerintah penjajah. Para patriot ini makin berduka dan mendongkol
kalau ingat akan kerajaan Beng yang telah jatuh dan memeberikan tampuk kekuasaan kepada
penjajah.
Semua ini dapat terjadi karena kaisar dan pembesar-pembesar Beng tidak becus mengurus negara.
Korupsi dan penyuapan merajalela, tidak ada seorangpun pembesar yang jujur, semuanya ahli
korupsi dan pemakan sogokan. Kalau ada pembesar yang jujur dan setia, tentu pembesar ini akan
dimakan oleh rekan-rekan sendiri yang mengkhianati dan mencelakakannya dengan pelbagai jalan
rendah.
Itulah yang menyebabkan lemahnya pemerintah Beng, pemerintah yang dipegang oleh bangsa
sendiri. Karena kaisarnya lalim dan para petugasnya menyeleweng dari kebajikan. Negara yang
dipimpin oleh kaisar yang kurang tegas, yang membiarkan petugas-petugas menyeleweng tanpa
bertindak keras karena dia sendiri mabok kesenangan dunia, sudah tentu menjadi lemah dan mudah
diserbu oleh bangsa lain. Demikianlah keadaan kerajaan Beng di Tiongkok dan setelah negara
dijajah oleh bangsa Mancu, barulah rakyat yang merasakan pahit-getirnya dan para pendekar matimatian
melakukan perlawanan.
Namun semua perlawanan sia-sia belaka karena keadaan pemerintah Mancu sudah amat kuat. Tidak
saja mempunyai bala tentara yang kuat dan mendapat bantuan suku-suku bangsa di utara, juga
sebentar saja muncul pengkhianat-pengkhianat bangsa. Mereka ini tidak lain adalah bangsawanbangsawan
Beng dan tuan-tuan tanah yang pada waktu kerajaan Beng sudah hidup enak-enak,
sekarang mempergunakan siasat bunglon. Mengandalkan harta mereka, dengan muka menjilat-jilat
dan ekor dilipat seperti anjing-anjing rendah, mereka datangi “tuan-tuan baru” mereka ini sambil
membawa hadiah-hadiah. Akhirnya mereka diterima oleh pemerintah baru, bahkan dijadikan kaki
tangan dan pembantu pemerintah Mancu.
Memang orang-orang Mancu itu cerdik sekali. Mereka tahu bahwa rakyat kecil tidak suka melihat
tanah air dijajah dan tentu mereka akan menjumpai tentangan dan perlawanan rakyat. Akan tetapi
mereka cukup maklum pula akan kehidupan rakyat yang melarat, akibatnya dari pada ketidak
becusan pemerintah Beng yang lalu. Jika rakyat ini tidak mendapat sokongan orang-orang kaya,
tuan-tuan tanah dan bangsawan-bangsawan Beng, sudah dapat dipastikan perlawanan rakyat itu
takkan ada artinya. Apa sih tenaga perlawanan rakyat yang sudah hampir kelaparan? Karena ini
maka pemerintah penjajah ini dengan sengaja membaiki orang-orang bangsawan, hartawan dan tuan
tanah, mengumumkan takkan mengganggu harta milik mereka asal saja mereka ini mau tunduk
kepada kerajaan Ceng.
Yang paling hebat di antara praturan yang menghina bangsa Tiongkok adalah kewajiban bagi
orang-orang Tiongkok untuk memelihara rambut dan mengelabangnya ke belakang seperti ekor!
Biarpun lambat laun hal ini bahkan merupakan semacam ”mode baru”, namun pertama kalinya
Koleksi Kang Zusi
benar-benar dirasakan sebagai penghinaan hebat dan entah berapa puluh ribu orang yang tewas
karena memberontak dan sengaja tidak mau memenuhi perintah menghina ini!
Demikianlah sedikit tentang keadaan orang-orang Tiongkok setelah pemerintah penjajah Mancu
berkuasa di sana. Tentu saja banyak sekali hal-hal terjadi, banyak cerita-cerita tentang keadaan ini
yang kalau ditulis semua mungkin akan menghabiskan beberapa jilid buku. Pendeknya, kaum
penjajah selalu berusaha melemahkan penduduk tanah jajahannya dengan berbagai jalan, menindas
lahir batin.
Akan tetapi ada hal aneh terjadi di Tiongkok, yang menjadi kebalikan dari pada keadaan tanahtanah
terjajah lain di dunia ini, dan sekali gus menunjukkan betapa tebal kepribadian bangsa
Tiongkok serta betapa hebat pengaruh kebudayaan mereka. Sejarah menunjukkan betapa kaum
penjajah itu selain menghisap kekayaan tanah jajahan, juga memasukkan kebudayaan, agama dan
lain-lain ke tanah jajahan untuk dijejalkan kepada penduduk tanah jajahan. Akan tetapi keadaan di
Tiongkok malah sebaliknya.
Kepribadian asli penduduk Tiongkok demikian tebal sehingga tidak dapat ditembus oleh cara-cara
penjajah. Kebudayaan Tiongkok demikian kuatnya sehingga tidak goyah oleh kebudayaan baru
yang dibawa penjajah. Malah sedemikian kuatnya lambat laun para penjajah itu sendiri yang
terbawa hanyut oleh kebudayaan Tiongkok.
12. Peminum Darah Pek-hiat-sin-coa
HAL ini agaknya sukar dipercaya akan tetapi kembali sejarah yang mencatatkan betapa bangsa
Mancu itu setelah menjajah Tiongkok, melihat kebudayaan dan kepribadian Tiongkok lalu terpicuk.
Mereka mulai berbahasa Tiongkok, tidak hanya dengan penduduk asli, malah membawa bahasa
tanah jajahan ini ke dalam rumah tangga.
Hidup mereka juga seperti orang Tiongkok, berpakaian seperti orang Han, bahkan mereka
mengundang guru-guru bangsa Han untuk mengajar mereka dalam hal membaca dan menulis,
mempelajari kesusasteraan dan filsafat Tiongkok. Dengan cara ini, dalam satu dan dua generasi saja
orang-orang Mancu ini boleh dibilang sudah melebur diri dengan menjadi orang Han, hidup,
berpakaian dan bicara seperti orang Han dan sebagian besar di antara mereka sudah tidak dapat
bicara dalam bahasa Mancu lagi! Ini aneh tapi kenyataan!
Baiklah kita kembali kepada cerita kita. Dalam penyerbuan ke Tiongkok seperti sudah dituturkan
tadi, bangsa Mancu banyak mendapat bantuan orang-orang Mongol. Orang yang banyak sekali
jasanya dalam bantuan ini kiranya adalah pangeran Bhok Hong. Menurut kata orang-orang Mongol.
Pangeran Bhok Hong ini masih keturunan kaisar Jenghis Khan yang amat termasyhur di Mongol,
kaisar yang menaklukkan hampir separuh dunia itu.
Dan di dunia kang-ouw, pangeran Bhok Hong ini dijuluki Pak-thian-tok, nama julukan yang
membuat setiap orang gagah menggigil karena nama ini terkenal sakti, aneh dan kejam. Tentu saja
pemerintah Mancu amat menghargai pangeran ini dan segera pangeran ini diberi kedudukan sebagai
Raja Muda, diberi gedung indah besar di Peking dan mendapat penghormatan besar. Karena itu
kekuasaan pangeran Bhok Hong juga besar sekali, dan otomatis putera tunggalnya, Bhok-kongcu,
juga amat terkenal dan berpengaruh.
Bhok-kongcu atau Bhok Kian Teng adalah seorang pemuda yang memiliki otak luar biasa
tajamnya, mempelajari ilmu kesusasteraan. Ia pandai sekali dan bakatnya untuk ilmu silat juga
jarang bandingannya. Sudah banyak ia mewarisi ilmu silat ayahnya, dan semua guru-guru sastera
Koleksi Kang Zusi
yang pandai di ibu kota rata-rata memuji ketajaman otaknya. Maka tidak berlebihan kalau Bhokkongcu
segera mendapat sebutan bun-bu-coan-jai di kota raja.
Dia tampan dan halus tutur sapanya, siapa melihatnya tentu menjadi suka, apalagi gadis-gadis yang
melihat pemuda tampan dan halus serta amat pandai ini, siapa yang takkan jatuh hati? Sayang
seribu sayang, di balik semua kebaikan ini pada dasar hatinya Bhok Kian Teng adalah seorang
pemuda yang sudah dikuasai oleh nafsu-nafsunya.
Ia mengumbar nafsu, mengambil setiap gadis yang menarik hatinya sebagai selir dan pelayan, dan
dalam cara mendapatkan gadis-gadis ini ia menggunakan jalan apa saja. Dengan cara membeli,
membujuk, atau kalau perlu dengan kekerasan! Dan disamping amat pesolek dan cabul, juga
pemuda ini agaknya mewarisi watak ayahnya yang amat aneh dan kejam sekali. Inilah Bhokkongcu
yang dalam pesiarnya telah bertemu dengan Bi Eng!
Tentu saja gadis ini tidak pernah mimpi orang macam apa adanya pemuda yang ia anggap baik budi
itu! Kalau ia tahu siapa adanya Bhok-kongcu, tentu ia akan menjadi ngeri. Akan tetapi, sejahat-jahat
dan sepandai-pandai manusia, ia tentu lemah tak berarti kalau menghadapi kekuasaan alam.
Demikianpun dengan Bhok-kongcu. Keanehan terjadi pada dirinya. Biasanya, kalau melihat gadis
cantik yang menarik hatinya, tanpa banyak cincong lagi tentu akan mendapatkan gadis ini sebagai
kekasih dan selirnya dan di antara seratus orang gadis, kiranya belum tentu satu yang dapat lolos
dari jari-jari tangannya. Akan tetapi aneh bin ajaib, begitu berhadapan dengan Bi Eng, hati Bhok
Kian Teng tiba-tiba menjadi lunak! Ia tidak sampai hati mengganggu Bi Eng, tidak tega
menggunakan cara-caranya yang sudah biasa, yaitu dengan kekerasan mengandalkan
kepandaiannya, dengan bujukan disertai minuman-minuman beracun yang memabukkan, dan caracara
keji lainnya.
Tidak, ia tidak mau menggunakan cara ini menghadapi Bi Eng. Malah anehnya, ia mengharapkan
cinta kasih yang suci dan sewajarnya dari gadis ini! Memang, aneh sekali cinta kalau sudah
menempati hati manusia. Yang lemah menjadi kuat, yang halus menjadi kasar, yang kuat menjadi
lemah, yang kasar menjadi halus, yang baik menjadi jahat, yang jahat menjadi baik dan sebagainya!
Bi Eng sama sekali tidak tahu bahwa Bhok Kian Teng sebetulnya merupakan orang yang jauh lebih
berbahaya dari pada orang-orang jahat yang pernah ia jumpai, lebih jahat dari pada hwesio Goan Si
malah. Juga ia tidak tahu bahwa dibalik semua penghormatan, selain pemuda ini betul-betul telah
jatuh cinta kepadanya, juga di dalam otak yang cerdik dari Bhok-kongcu telah diatur rencana yang
hebat.
Tentu saja sebagai seorang muda yang luas pengetahuannya tentang dunia kang-ouw, Bhok Kian
Teng sudah mendengar pula tentang adanya surat wasiat Lie Cu Seng dan ia dapat mengetahui pula
bahwa surat wasiat itu tentu berada di tangan Cia Han Sin. Inilah sebabnya ia tidak ragu-ragu lagi
menitah Yo Leng Nio untuk pergi menolong Han Sin! Jika ia bisa mendapatkan surat wasiat itu, ah,
itulah sesuai dengan cita-citanya yang maha besar, cita-cita yang dahulu pernah dimiliki dan
dilakukan dengan berhasil oleh nenek moyangnya, Jengis Khan! Cita-cita untuk menguasai
Tiongkok kembali, menguasai Asia, menguasai dunia!
****
Sudah terlalu lama kita meninggalkan Cia Han Sin, marilah kita menengoknya. Seperti telah kita
ketahui, pemuda ini ketika hendak melarikan diri pundaknya terkena paku Coa-kut-teng (Paku
Tulang Ular) yang dilepas oleh Tok-gan Sin-kai si pengemis mata satu dari Coa-tung Kai-pang
Koleksi Kang Zusi
sehingga Han Sin terguling dan bersama Siauw-ong terjerumus ke dalam sebuah jurang! Sungguh
masih untung baginya, atau lebih tepat lagi, nyawanya masih dilindungi Tuhan.
Jurang itu biarpun amat dalam, namun di lerengnya tumbuh pohon-pohon kecil sehingga ketika
tubuh pemuda itu menggelundung ke bawah, ia tertahan-tahan oleh tetumbuhan itu. Memang
pakaiannya koyak-koyak berikut kulit tubuh dan sedikit dagingnya, namun ia tidak sampai
mengalami patah tulang atau luka parah.
Pula, ia sudah pingsan ketika jatuh sehingga tubuhnya menjadi lemas dan hal ini amat
menguntungkan baginya. Orang yang terjatuh dalam keadaan tidur atau pingsan sehingga tubuhnya
lemas, tidak akan mengalami luka lebih hebat dan parah dari pada kalau orang jatuh dalam keadaan
sadar. Dalam sadar tentu orang yang jatuh melakukan perlawanan, tubuhnya menegang dan
karenanya malah terbanting hebat.
Dengan mandi darah dari kulit-kulit yang lecet, Han Sin menggeletak di dasar jurang. Siauw-ong
yang sebagai seekor monyet tentu saja lebih gesit, tadi sudah berhasil menjambret tetumbuhan dan
berlompatan turun. Kini dengan cecowetan sedih binatang ini menangisi tubuh tuannya. Luka-luka
kecil yang diderita oleh Han Sin sebetulnya tidak berbahaya. Yang berbahaya adalah luka di
pundaknya di mana masih menancap sebatang paku yang mengandung racun.
Hanya sebentar Han Sin pingsan. Biarpun pemuda ini tidak pernah melatih diri dengan ilmu silat,
namun latihan-latihan samadhi dan bernapas yang ajaib membuat tanpa ia sadari, tubuhnya menjadi
amat kuat dan jalan darahnya benar-benar sempurna. Juga sinkang di dalam tubuhnya sudah luar
biasa sekali sehingga hawa beracun dari ujung paku itu dapat tertahan, tidak menjalar turun.
Ketika membuka mata dan melihat Siauw-ong menangis di dekatnya, Han Sin ingat akan semua
kejadian. Ia bangun duduk dan menarik napas panjang, sama sekali tidak mengeluh biarpun seluruh
tubuhnya terutama pundaknya, sakit-sakit. Ia melirik kepada Siauw-ong lalu merangkul monyet itu
dan mengelus-elus kepalanya. Hatinya terharu.
Tidak dinyana sama sekali bahwa berkali-kali ia bertemu dengan manusia-manusia yang begitu
jahat. Tadinya ia berpikir bahwa manusia-manusia di dunia ini tentulah baik dan cinta sesama. Akan
tetapi kenyataannya, begitu turun gunung ia sudah menemui orang-orang seperti para tosu Cin-lingpai
yang tanpa sebab menyerang dan menawannya.
Ban Kim Cinjin yang suka membunuh orang, Thio Li Hoa yang demikian cantik akan tetapi
ternyata kejam dan palsu, kemudian para pengemis tua yang juga jahat dan telah melukainya.
Semua ini membuat hati Han Sin terheran-heran dan tercengang. Siauw-ong, biarpun seekor
monyet, bukan manusia ternyata lebih baik dari pada manusia-manusia itu, pikirnya. Benar-benar
Han Sin tidak mengerti dan penasaran sekali.
Lalu ia teringat akan kata-kata suhunya, Ciu-ong Mo-kai yang dahulu menyatakan bahwa di dunia
kang-ouw banyak orang jahat. Dahulu ia mentertawakan gurunya ini, akan tetapi sekarang, baru
beberapa lama turun gunung ia sudah menjadi korban kejahatan manusia. Entah kejahatankejahatan
lebih hebat bagaimana lagi yang akan ia lihat kelak. Ia bergidik dan merasa khawatir
sekali akan keselamatan adiknya Bi Eng.
”Aku harus dapat pergi dari sini menyusul Bi Eng,” pikirnya dengan hati tetap. Ketika ia bangkit
berdiri, ia merasa pundaknya sakit sekali. Dilihatanya pundaknya itu dan kelihatan sebuah kepala
paku menancap. ”Ah, pengemis tuia itu menyambit dengan paku,” pikirnya. Tanpa ragu-ragu lagi ia
mengulur tangan dan mencabut paku itu dari pundaknya.
Koleksi Kang Zusi
Tenaga lweekang pemuda ini luar biasa besarnya tanpa ia ketahui sendiri. Ke mana jalan pikirannya
menuju, ke situlah tersalur tenaga sinkang di dalam tubuhnya. Inilah tingkat yang sudah amat
tinggi. Begitu ia berpikir hendak mencabut paku itu, tenaga yang amat besar sudah tersalur ke
dalam jari-jari tangannya dengan amat mudah ia mencabut paku Coa-ku-teng. Darah hitam muncrat
keluar.
Han Sin kaget. ”Celaka,” pikirnya. ”Paku ini mengandung racun, harus kukeluarkan semua racun
dari pundak.” Begitu pikirannya memikir demikian, hawa sinkang mendorong ke pundak, memaksa
jalan darahnya mengalir cepat ke arah pundak dan segera darah hitam keluar banyak sekali seperti
pancuran. Akhirnya darah hitam habis, terganti darah merah. Han Sin menutupi luka dengan jari
tangannya, namun tidak berhasil menghentikan keluarnya darah. Makin banyak darah keluar
membuat ia bingung sekali.
“Celaka, mengapa darah keluar terus? Kalau habis darahku, bukankah aku mati?” Dengan sekuat
tenaga pikirannya ia menghendaki darah berhenti dan ….. tiba-tiba darah itu berhenti keluar.
Hatinya lega dan perasaannya menjadi nyaman. Tak terasa sakit lagi luka dipundaknya, akan tetapi
ia merasa tubuhnya lemas. Terlampau banyak darah ia keluarkan.
”Siauw-ong, kita harus bisa keluar dari jurang ini,” kata pemuda itu kepada monyetnya. Siauw-ong
agaknya mengerti akan maksud majikannya. Maka binatang ini mulai mencari ke sana ke mari,
jalan keluar. Akan tetapi agaknya jalan keluar hanya satu, yaitu merayap kembali melalui
tetumbuhan ke atas. Maka sambil cecowetan monyet itu lalu mulai melompat-lompat dan merayap
ke atas.
”Tidak, Siauw-ong. Tidak boleh lewat sana. Selain sukar dan aku tidak sanggup, juga di atas
banyak orang-orang .....” Ia hendak menyebut ”jahat” akan tetapi dasar hati pemuda ini mudah
memaafkan orang, ia melanjutkan. ” ..... sedang marah! Marah kepada kita. Mari kita mencari jalan
lain!”
Iapun mulai menengok ke sana ke mari. Jurang ini dikurung batu karang yang tinggi, di sebelah kiri
terdapat jurang yang lebih dalam lagi. Akan tetapi jalan menuruni jurang ini melalui batu-batu
karang yang menonjol dan agaknya bisa dilalui. Maka dengan nekad Han Sin lalu merayap turun
melalui jalan berbahaya itu. Siauw-ong sendiri mengeluarkan bunyi ketakutan dan ngeri melihat ke
bawah yang dalamnya sampai ratusan meter. Sekali terpeleset ….. habislah riwayat! Akan tetapi
karena melihat Han Sin nekat, iapun lalu merambat turun, malah mendahului pemuda itu.
Setelah turun sejauh puluhan meter, tiba-tiba Siauw-ong berseru cecowetan, kelihatan girang.
Ternyata dia tiba di sebuah guha yang besar. Han Sin juga menuju ke situ dan keduanya lalu
memasuki guha, untuk beristirahat karena jalan yang dilalui tadi amat sukar dan melelahkan,
apalagi bagi Han Sin yang sudah lemas tubuhnya.
Siauw-ong tentu saja tidak begitu merasa lelah dan monyet ini tidak mau diam, terus menggeretak
ke sana ke mari di dalam gua. Tiba-tiba monyet itu memekik dan mencongkel batu bentuknya
lonjong. Batu itu bergoyang lalu tergeser dan terbukalah sebuah lubang selebar dua kaki lebih dan
pada saat itu terdengar suara mendesis dan tahu-tahu tubuh Siauw-ong telah dibelit oleh seekor ular
putih yang panjangnya ada satu setengah meter dan besarnya selengan orang! Siauw-ong menjerit
dan menggigit sekenanya. Ia kena menggigit ekor ular itu dan dia sendiri digigit pundaknya oleh
ular tadi. Siauw-ong bergulingan, akan tetapi belitan ular makin mengeras.
Melihat Siauw-ong dibelit dan digigit ular, bukan main bingung dan kagetnya hati Han Sin. Dia
merasa ngeri, akan tetapi untuk menolong monyet itu, cepat ia meloncat mendekat. Ia berusaha
melepaskan belitan, dan menggunakan tangannya untuk merenggangkan tubuh ular dari Siauw-ong.
Koleksi Kang Zusi
Akan tetapi tiba-tiba lengannya dibelit juga dan ular itu saking marahnya, sudah membalikkan
kepalanya, melepaskan gigitan dari pundak Siauw-ong dan kini secepat kilat ia menyerang Han Sin,
menggigit lambung pemuda itu sebelah kanan!
Tadinya Han Sin tidak bermaksud membunuh ular itu. Hatinya terlampau baik untuk gampanggampang
membunuh, biarpun seekor ular. Akan tetapi melihat ular itu masih mengancam
keselamatan Siauw-ong, malah sekarang menggigitnya, ia menjadi marah. Begitu menggigit ia
merasa separuh tubuhnya yang sebelah kanan mati dan kaku, gatal-gatal dan sakit luar biasa. Ia
mencoba menggerakkan kedua tangan, akan tetapi tangan kirinya sudah dibelit dan tangan
kanannya juga ikut mati kaku.
Dalam gugupnya, tanpa pikir panjang lagi Han Sin menggunakan senjatanya yang paling sederhana,
yaitu …. giginya! Ia menunduk dan di lain saat ia sudah berbuat seperti Siauw-ong tadi, menggigit
sekenanya. Kebetulan sekali ia menunduk ke kanan, maka ketika ia membuka mulut menggigit, ia
dapat menggigit leher ular itu.
Ia menggigit sekerasnya, darah muncrat keluar dari tubuh ular memenuhi mulutnya. Ia tidak
perduli, malah menelan darah itu terus menggigit dan menghisap. Aneh sekali, darah ular itu
biarpun berbau amis dan memuakkan, namun terasa ada manis-manisnya. Mati-matian Han Sin
terus menghisap dan menelan darah ular seperti orang minum! Sampai tenggorokannya terdengar
berceglukan!
Ular putih itu kesakitan, belitan dan gigitannya makin keras dan akhirnya Han Sin roboh terguling
sambil terus menggigit. Ular itu bergulingan di dalam guha, membawa Han Sin dan Siauw-ong
sehingga tiga macam makhluk itu bergulingan menjadi satu dalam keadaan kacau balau. Seperti
Han Sin, Siauw-ong juga masih menggigit ekor dan kera inipun menghisap dan menelan darah ular
yang memasuki mulutnya. Benar-benar perkelahian ini merupakan perkelahian liar dan keadaan
Han Sin pada saat itu sudah bukan seperti manusia lagi, melainkan seperti seekor binatang yang
marah dan sedang berkelahi.
Gigitan ular mengeluarkan bisa, membuat separuh tubuh Han Sin dan tubuh Siauw-ong juga kakukaku
rasanya. Akan tetapi sebaliknya, gigitan Siauw-ong dan Han Sin malah mengisap darah. Tentu
saja darah ular itu makin lama makin berkurang, apalagi bagi Han Sin yang menghisap dengan
kekuatan luar biasa, sehingga setengah jam kemudian ular itu kehabisan darah, lemas dan tidak
berkutik lagi. Sembilan puluh persen lebih darah ular itu berikut semua racun dan benda cair di
dalam tubuhnya telah pindah ke dalam perut Han Sin, yang sepuluh persen kurang pindah ke dalam
perut Siauw-ong! Ular mati dan Han Sin bersama Siauw-ong masih terus menggigit, juga tidak
bergerak seperti mati karena sesungguhnya mereka berdua sudah pingsan!
Sejam kemudian Han Sin siuman dari pingsannya. Ia merasa tubuhnya panas membara dan ringan
seakan-akan hendak melayang. Ketika ia melirik ke arah Siauw-ong, ia melihat monyet itu sudah
duduk bersandar di dinding guha sambil cengar-cengir dan .... makan ekor ular mentah!
“Eh, Siauw-ong, kenapa kau makan daging ular yang mentah?” teriak Han Sin dan telinganya
menjadi sakit sendiri mendengar suaranya yang tinggi nyaring seperti orang berteriak-teriak. Siauwong
tidak menjawab, melainkan meloncat dan menginjak-injak tubuh ular sambil menepuk-nepuk
pundaknya yang mana tampak bekas gigitan ular yang sudah kering. Ia merasa heran dan cepat
melihat ke arah lambungnya sendiri yang tadipun digigit ular. Juga di situ terdapat bekas gigitan,
akan tetapi sudah kering sama sekali!
Han Sin mencoba untuk memikirkan perbuatan Siauw-ong. Akhirnya ia mengerti maksudnya. Kera
itu lapar, dan karena ular itu sudah menggigitnya, maka untuk melampiaskan marahnya, kera itu
Koleksi Kang Zusi
lalu makan dagingnya! Han Sin juga merasa perutnya lapar sekali. Karena di situ tidak ada makanan
lain dan Siauw-ong kelihatan enak sekali makan daging ular, iapun lalu meraih bangkai ular dan
menggigit dagingnya.
Luar biasa! Daging itu biar mentah, akan tetapi tak dapat dibantah lagi rasanya enak! Gurih dan
manis, biarpun agak amis-amis sedikit. Ia makan dengan bernafsu, malah anehnya, makin
mendekati kepalanya makin enak. Akhirnya Han Sin makan kepala ular itu!
Tanpa mereka sadari, Han Sin dan Siauw-ong telah makan obat pemusnah racun ular itu. Ular itu
bukanlah sembarang ular, melainkan sejenis binatang beracun yang hanya keluar seribu tahun
sekali. Binatang ular ini oleh ahli-ahli pengobatan disebut Pek-hiat-sin-coa (Ular ajaib darah putih).
Biasanya tidak seberapa besar, maka ular yang telah mencapai panjang satu setengah meter ini
entah sudah berapa ratus tahun usianya. Ular ini beracun sekali, gigitannya tidak ada obatnya, juga
darahnya amat berbisa. Akan tetapi penolak racun itu terletak dalam daging-dagingnya sendiri!
Maka setelah Han Sin dan Siauw-ong digigit, mereka tanpa disadari telah minum darah ular yang
berbisa luar biasa itu, kemudian makan dagingnya. Otomatis racun yang berbahaya lenyap
pengaruhnya dan sebaliknya, mereka telah mendapatkan obat kuat yang tiada bandingnya di dunia
ini. Apalagi bagi Han Sin yang sudah minum darah ular sebanyak sembilan puluh persen lebih,
ditambah lagi baru saja ia kehilangan banyak darah sehingga sebagian dari pada darah dalam
tubuhnya terganti oleh zat darah ular itu, akibatnya bukan main.
Memang di dalam tubuh pemuda ini sudah terdapat sinkang (hawa sakti) yang mujizat, sekarang
ditambah kemujizatan darah dan daging ular. Benar-benar hal yang amat jarang terjadi. Oleh karena
pengaruh darah inilah ia merasa tubuhnya menjadi ringan seperti mau melayang. Adapun rasa panas
yang membakar tubuhnya, setelah ia makan daging ular perlahan-lahan lenyap dan di dalam
pusarnya malah terasa amat nyaman dan adem.
Keadaan Siauw-ong juga mendapat banyak sekali keuntungan. Tanpa diketahui, tubuh monyet ini
sekarangpun menjadi sepuluh kali lebih kuat dari pada tadinya. Dia bertubuh kecil, darahnya juga
tidak sebanyak darah manusia, maka sepuluh persen darah ular itu sudah lebih dari cukup untuk
membuat ia menjadi seekor monyet yang jarang keduanya di dunia ini. Kegesitannya bertambah
lipat ganda, kekuatannya juga menjadi hebat dan kecerdikannya meningkat.
“Siauw-ong, sekarang kita harus mencari jalan keluar dari tempat ini! kata Han Sin setelah
menghabiskan daging ular dan merasa tubuhnya sehat dan segar kembali.
Siauw-ong memang sedang menyelidiki lubang yang tadi tertutup dan dari mana ular tadi keluar. Ia
merayap masuk dan terdengar suaranya memanggil-manggil. Han Sin menghampiri dan ikut
merayap ke dalam lubang itu. Ternyata lubang itu makin lama makin besar, merupakan terowongan
di dalam batu karang atau gunung karang.
Mereka terus mengikuti terowongan ini dan seperempat jam kemudian mereka tiba di ruangan
dalam tanah yang amat besar. Dinding-dinding di ruangan ini terang sekali buatan manusia, bekas
pahatan. Han Sin melangkah maju dengan heran, sedangkan Siauw-ong sudah melompat ke atas
pundaknya. Agaknya binatang ini mencium bau manusia, maka mengingat pengalaman yang sudahsudah,
ia menjadi jerih dan pergi ke tempatnya yang paling aman, yakni pundak Han Sin.
Pada saat itu telinga Han Sin mendengar suara bersiutan yang amat aneh dari sebelah kiri, diseling
suara orang mengeluh panjang pendek. Ia segera berindap-indap menuju ke kiri di mana terdapat
sebuah pintu yang tidak berdaun. Karena tidak ingin mengganggu orang, atau sebetulnya karena
Koleksi Kang Zusi
sudah agak kapok bertemu dengan orang jahat, Han Sin sengaja bertindak perlahan sekali agar
jangan menimbulkan suara.
Padahal ia tidak usah bersusah payah begini. Kalau saja ia memusatkan pikiran untuk berjalan
perlahan, tentu tubuhnya yang sudah ringan itu takkan menerbitkan suara apa-apa. Setibanya di situ,
ia lalu berlutut dan mengintai dari balik pintu, melihat ke dalam. Tempat ini agak terang karena dari
atas terdapat lubang-lubang di mana sinar matahari dapat menerangi kamar itu.
Kamar yang diintainya itu cukup lebar, berbentuk segi empat dengan ukuran lima meter persegi. Di
sudut kamar terdapat sebuah patung sebesar manusia. Patung yang telanjang bulat dan pada tiap
anggauta tertentu ada titik-titiknya, ada yang hitam, ada yang merah, ada pula yang putih. Di tengah
ruangan kamar ini terdapat sehelai tikar bundar dan di atas tikar duduk seorang kakek yang sudah
amat tua.
Kakek ini kurus sekali, tinggal kulit membungkus tulang. Kepalanya hampir botak karena
rambutnya yang putih tipis itu tinggal beberapa helai lagi saja. Pakaiannya putih, seperti pakaian
tosu. Ternyata kakek inilah yang mengeluarkan suara keluhan panjang pendek dan kini dengan jelas
Han Sin mendengar kakek itu mengeluh penuh kesedihan. “Maut ….. maut …. Tunggulah dulu,
bersabarlah ……”
Han Sin merasa mengkirik (meremang) gitoknya (bulu tengkuknya) Masa ada orang bicara dengan
maut? Gilakah kakek ini atau benar-benarkah di tempat itu ada setan atau malaikat pencabut
nyawa?
Tiba-tiba terdengar suara bersiutan seperti tadi dan dengan penuh perhatian Han Sin memandang ke
dalam. Ternyata kakek itu dengan duduk bersila, sedang menggerak-gerakkan kedua tangannya
seperti orang bersilat. Ia menggerakkan kedua tangannya perlahan saja, akan tetapi hebatnya, tiap
kali tangannya bergerak terdengar angin bersiut dan patung di pojok kamar bergoyang-goyang.
Ternyata kakek itu sedang menyerang patung itu dari jarak jauh dan tiap kali tangannya memukul,
angin tajam bersiut ke arah titik tertentu dari tubuh patung itu. Han Sin melihat betapa pada titik
yang terpukul itu, tubuh patung itu melesak ke dalam, akan tetapi lalu membal kembali. Ternyata
patung itu terbuat dari pada karet yang keras.
Sambil bersilat dengan kedua tangan, kakek itu menyebut-nyebut jurus yang dimainkan itu satu
demi satu. Pertama-tama ia menyebut “Hui-kiam-thian-sia” (Pedang Terbang Turun Dari Langit)
dan tangannya bergerak menyerang patung dari atas. Angin bersiut keras dan batok kepala patung
karet itu melesak sebentar. Disusul seruan, “Hui-kiam-ci-tiam (Pedang Terbang Keluarkan Kilat)!”
lalu kedua tangannya berturut bergerak. Makin nyaring angin bersiutan dan dua titik di kedua
pundak patung itu melesak!
Terus saja kakek itu bersilat dan menyebut jurus-jurus yang serba pakai “Hui-kiam” atau Pedang
Terbang! Semua ada tiga puluh enam jurus dan setelah habis dimainkan, kakek itu terengah-engah,
terbatuk-batuk dan nampaknya kehabisan tenaga. Lalu ia mengeluh panjang pendek lagi.
“Tiga puluh enam jurus Lo-hai-hui-kiam (Pedang Terbang Pengacau Laut) sudah lengkap! Sudah
sempurna … uh ….uhhh … apa artinya? Apa gunanya? Kitab yang ditutup takkan ada gunanya!
Ilmu dipelajari tanpa digunakan juga apa artinya? Lo-hai-hui-kiam akan lenyap bersama
penciptanya, tak dikenal dunia ……uh …….uhhh …..!” Makin terengah napas si kakek itu dan
tubuhnya bergoyang-goyang. Akan tetapi, tiba-tiba ia menggerakkan kedua tangannya lagi dan
mulai bersilat seperti tadi!
Koleksi Kang Zusi
Sementara itu, Han Sin yang mengintai merasa berdebar hatinya. Kata-kata kakek tadi seakan-akan
menyindirnya. Ilmu dipelajari tanpa digunakan, bukankah itu menyindir dia? Dia sudah
mempelajari banyak ilmu silat dari Ciu-ong Mo-kai, akan tetapi tak pernah mempergunakannya,
malah melatih diripun tak pernah, padahal ia hafal di luar kepala segala gerakan dan rahasia ilmu
silat Liap-hong Sin-hoat yang hebat dari gurunya.
Sekarang ia tanpa sengaja menyaksikan ilmu silat yang lebih hebat lagi. Ilmu silat Lo-hai-hui-kiam!
Dasar otaknya memang cerdas luar biasa, satu kali melihat saja ketika kakek tadi berlatih, ia sudah
dapat hafal semuanya, tiga puluh enam jurus sudah ia hafal di luar kepala, malah nama-nama
jurusnya pun ia sudah ingat betul. Sekarang melihat kakek itu mengulang latihannya, diam-diam ia
menggeleng kepala.
“Gila benar kakek ini, napas sudah empas-empis masih terus berlatih, apa dia sudah bosan hidup?
Akan tetapi kenapa ia selalu minta maut bersabar?”
Diam-diam ia memandang lagi dengan penuh perhatian, malah ia lalu mencocokkan ingatannya
dengan latihan kedua ini. Ia melihat tenaga pukulan kakek itu sudah banyak kurang kuat,
gerakannya lambat, akan tetapi amat sempurna sehingga tiap serangan selalu mengenai sasaran
titik-titik pada tubuh patung itu dengan tepat. Akan tetapi segera kakek itu nampak kehabisan
tenaga sekali, napasnya terengah-engah, dari ubun-ubun kepalanya mengebul uap putih, tubuhnya
menggigil dan mukanya pucat sekali. Padahal ia baru menjalankan jurus ke duapuluh, masih enam
belas jurus lagi! Tapi toh kakek itu dengan keras kepala melanjutkan latihannya dan napasnya kini
benar-benar seperti seekor kerbau disembeli.
Han Sin merasa kasihan sekali. Tak dapat ia tinggal diam saja melihat orang tua itu mau mati
kehabisan napas. Sebetulnya, mengingat prikesopanan, ia segan untuk memasuki kamar orang tanpa
izin. Akan tetapi, hatinya yang penuh welas asih lebih kuat dan melangkahlah ia memasuki pintu
sambil berkata,
“Kakek yang baik, kenapa memeras tenaga secara begitu? Harap kau mengaso dan tidak menyiksa
diri ….”
Kakek itu mengeluarkan seruan kaget, tubuhnya membalik dan tahu-tahu tangan kanannya menusuk
ke depan dengan dua jari sedangkan tangan kirinya diputar setengah lingkaran ke depan dada. Han
Sin sudah hafal di luar kepala akan semua jurus yang dilihatnya tadi, maka dengan kaget ia
mengenal itu sebagai jurus ke tujuh belas yang bernama Hui-kiam-kan-goat (Pedang Terbang
Mengejar Bulan) dan maklum bahwa dadanya ditengah-tengah akan mendapat serangan.
Otomatis ia mengangkat tangannya ke depan dada untuk menyambut serangan itu. Benar saja, angin
yang dingin dan kuat sekali bersiut ke arah dadanya dan ia merasa telapak tangannya yang
ditutupkan di depan dada itu disambar hawa pukulan yang tajam. Akan tetapi, pukulan atau tusukan
yang tidak kelihatan ini segera buyar dan kakek itu hampir terjengkang!
“Uuhh …… uhhh ……. Celaka. Ilmuku dicuri orang ……..!” Kakek itu berseru, napasnya
memburu. Baiknya karena kehabisan tenaga, serangannya tadi hanya tinggal sepersepuluh kuatnya,
maka Han Sin yang memiliki sinkang luar biasa itu tentu saja tidak merasa apa-apa, malah si kakek
yang hampir terpukul terjengkang oleh tenaganya sendiri yang membalik.
Han Sin cepat menjura dengan hormat sekali. ”Tidak, kakek yang baik. Aku bukan pencuri.”
“Kau ……. Kau setan …..”
Koleksi Kang Zusi
“Bukan, kakek. Aku bukan setan, hanya manusia biasa, namaku Cia Han Sin. Aku mohon maaf
sebesarnya kalau sudah lancang memasuki tempat kakek karena aku sesat jalan, tidak kusengaja
…..”
Melihat sikap sungguh-sungguh dan lemah lembut ini, kakek itu nampak lebih tenang dan sabar.
“Kau ….. kau yang bisa menahan jurus Hui-kiam-ci-tiam ….. kau mau apa datang ke sini ......?”
“Bukan Hui-kiam-ci-tiam, lo-enghiong. Melainkan jurus Hui-kiam-kan-goat yang kau gunakan
untuk menyerangku tadi. Kau agaknya sudah terlampau tua sampai lupa lagi .......”
Tiba-tiba kakek itu mengeluarkan jeritan mengerikan dan muntahkan darah segar! Mendengar
ucapan pemuda tadi ia menerima pukulan batin yang amat hebat karena kagetnya. ”Kau ...... kau
......” dan ia roboh pingsan.
Han Sin kaget bukan main. Cepat ia melompat dan menolong kakek itu. Ia mengangkat kepala
orang dan memangkunya, lalu mengurut-urut dada yang panas dan turun naik itu. ”Siauw-ong, kau
cari air .....” katanya.
Monyet yang tadi bersembunyi ketakutan, kini muncul lalu bingung mencari air. Tak lama ia datang
lagi, kedua tangannya membawa sedikit air yang tentu saja tumpah ke sana sini. Akan tetapi sedikit
air itu dipergunakan oleh Han Sin untuk membasahi muka si kakek yang segera membuka matanya
yang memandang sayu, nampaknya lemah sekali sampai menggerakkan tubuh juga tidak sanggup
lagi. Setelah memangku kakek itu, tahulah Han Sin bahwa kakek ini memang sudah tua sekali.
“Kau bilang tidak mencuri ilmu, tapi dapat mengenal jurus-jurusku …..” kata kakek itu dengan
suara perlahan sekali. “Jangan kau bohong ……”
“Sesungguhnya, lo-enghiong, aku berani bersumpah bahwa aku tidak mencuri apa-apa. Aku terjatuh
ke dalam jurang lalu mendapatkan jalan terowongan menuju ke sini. Kebetulan kau berlatih ilmu
Lo-hai-hui-kiam tadi. Tanpa kusengaja aku telah melihat dan mendengar semua dan telah hafal di
luar kepala. Akan tetapi aku bukanlah ahli silat, harap kau tidak khawatir, kalau kau menghendaki,
aku bisa lupakan lagi.”
Tiba-tiba mata kakek itu bersinar dan dengan payah ia bangun duduk. “Hebat ….. hebat ….. orang
dengan bakat Kwee-bak-put-bong (sekali melihat tak bisa lupa lagi) seperti kau ini sukar dicari
keduanya di dunia ….. eh, bocah, siapa namamu dan siapa gurumu?”
“Sudah kukatakan tadi, namaku Cia Han Sin …..”
”She Cia .....?” kakek itu memotong cepat. “She Cia ……. Kenalkah kau dengan Cia Hui Gan dan
Cia Sun?”
“Yang pertama adalah kongkongku, yang kedua ayahku,” jawab Han Sin sederhana.
Kakek itu bersorak. ”Kau anak Cia Sun ...? Thian Yang Maha Mulia, agaknya Engkau sendiri yang
menuntun bocah ini ke sini! Eh, siapa nama gurumu?”
Han Sin tidak berani menyebut nama Ciu-ong Mo-kai sebagai gurunya. Pertama karena memang ia
tidak pernah mempelajari ilmu silat dari pengemis sakti itu secara praktek, kedua kalinya karena
melihat betapa orang-orang kang-ouw saling bermusuhan seperti yang terjadi di puncak Cin-lingsan,
ia tidak mau menyebut-nyebut nama orang kang-ouw, takut menimbulkan hal yang bukanbukan
lagi.
Koleksi Kang Zusi
”Guruku Thio-sianseng, siucai miskin akan tetapi kaya akan pengetahuan tentang sastera kuno dan
dialah yang semenjak aku kecil mengajar segala macam ilmu sejarah, filsafat dan lain-lain.”
Kakek itu menggeleng-geleng kepala. ”Segala ilmu tiada guna! Apa kau tidak pernah belajar silat?”
”Tidak, lo-enghiong, tidak pernah. Malah sebetulnya saja, aku tidak suka akan ilmu silat yang
kuanggap sebagai ilmu menyiksa, melukai atau membunuh orang.”
“Tutup mulutmu! Kau bicara begitu tentang ilmu silat? Kau yang sudah kekenyangan filsafat dan
dongeng, tidak tahukah kau betapa para dewa, para nabi, juga Tat Mo Couwsu sendiri, disamping
kebijaksanaan dan kesucian mereka, juga mereka itu memiliki ilmu-ilmu yang tinggi? Tentang
menyiksa atau membunuh yang kaukatakan tadi, apa kau kira orang yang tidak bisa silat tak mampu
menyiksa dan membunuh? Huk huk, anak hijau! Dengan pena dan tulisan orang malah dapat
membunuh secara besar-besaran dan lebih kejam lagi dari pada dengan pedang! Manusia macam
Cheng Kui itu, tanpa pedang ia dapat membunuh pahlawan besar Gak Hui dan ribuan orang gagah!
Lihat tuan-tuan tanah, tanpa ilmu silat, hanya dengan goyang kaki di kursi dengan emas penuh di
kantong, berapa banyak manusia baik-baik ia dapat membunuhnya?”
Setelah bicara dengan bernafsu sampai terengah-engah napasnya, tiba-tiba kakek itu teringat akan
sesuatu dan memandang kepada Han Sin. Pemuda itu balas memandang dan kakek itu melihat sinar
mata yang luar biasa dari pemuda ini.
“Eh, betul-betul kau tidak bisa ilmu silat?” tanyanya dan tahu-tahu tangan kanannya dengan cepat
luar biasa sudah menepuk pundak Han Sin. Pemuda itu sama sekali tidak mengira akan ditepuk
pundaknya, akan tetapi hawa sinkang di tubuhnya secara otomatis tersalur ke tempat yang ditepuk
tadi.
“Ayaaa …..!” Kakek itu ketika menepuk bagian tubuh yang segera melesak ke dalam dan menjadi
lunak sekali akan tetapi di dasarnya mengeluarkan hawa yang kuat dan amat panas sehingga
tangannya terasa sakit lalu berteriak dan memeriksa tangannya. Ternyata tangannya itu telah
menjadi bengkak dan biru, terkena racun!
“Jangan main gila! Kau ahli lweekeh, malah telah mempelajari ilmu menggunakan hawa beracun.
Sungguh ganas!”
Han Sin menjadi bingung dan cepat berlutut.
“Ah, lo-enghiong yang mulia, kau tolonglah diriku. Sesungguhnya aku tidak pernah belajar silat,
akan tetapi entah bagaimana, tiap kali ada orang memukulku, tentu dia terluka, malah ada yang mati
ketika memukulku. Harap kau orang tua yang berkepandaian tinggi suka menolongku.”
Kakek itu duduk melenggong dengan heran. Lalu ia menggeleng-gelengkan kepalanya dan berkata,
“Cia Han Sin, bersumpahlah bahwa kau benar-benar putera Cia Sun!” Suaranya biarpun lemah amat
berpengaruh.
“Boanseng bersumpah bahwa memang Cia Sun adalah ayahku.”
“Di mana ayahmu sekarang?” tanya pula kakek itu, suaranya bengis. Han Sin terkejut akan tetapi ia
menjawab juga. “Semenjak aku masih kecil sekali ayah telah dibunuh orang, juga ibuku. Akan
tetapi siapa pembunuhnya sampai sekarang akupun belum tahu.”
Koleksi Kang Zusi
Kakek itu menarik napas lega, agaknya puas mendengar jawaban ini. “Kalau begitu kau betul
puteranya, memang mukamu hampir sama dengan muka ayahmu. Cia Han Sin, sekarang kau
ceritakanlah sebenarnya. Apakah kau benar-benar tidak pernah belajar ilmu silat?”
“Hanya mempelajari teori-teorinya dan menghafal semua gerakan dari ilmu silat yang diturunkan
oleh suhu Ciu-ong Mo-kai kepada adikku, akan tetapi aku sendiri tidak pernah melatihnya.”
Mendengar ini, Siauw-ong yang sejak tadi diam saja kini tiba-tiba cecowetan lalu mencak-mencak,
memperlihatkan ilmu silatnya kepada kakek itu. Kakek itu mengangguk-angguk memuji. ”Ciu-ong
Mo-kai makin tua makin lihai, adikmu beruntung sekali menjadi muridnya.” Kemudian ia menatap
wajah Han Sin dengan tajam lalu bertanya lagi. ”Dan kau tidak pernah melatih diri dengan ilmu
lweekang?”
”Apa itu ilmu lweekang, aku sendiripun tidak tahu,” jawab Han Sin sejujurnya.
”Pernah kau berlatih samadhi dan mengatur pernapasan?”
Wajah Han Sin berseri. ”Tentu saja, semenjak berusia lima enam tahun aku sudah melatih diri
bersamadhi dan mengatur napas menurut petunjuk kitab-kitab kuno. Malah sampai sekarangpun
setiap saat aku berada dalam keadaan samadhi kalau diam dan setengah samadhi kalau bicara
dengan orang.”
Wajah kakek itu nampak tegang. “Hebat, coba kau perlihatkan bagaimana kedudukan tubuhmu
kalau kau bersamadhi.”
”Harap lo-enghiong jangan mentertawai aku yang bodoh,” kata Han Sin lalu ia berjungkir balik,
dengan kepala di bawah kaki di atas ia ”berdiri” di depan kakek itu, kedua lengannya bersedekap.
Namun biarpun tubuhnya berada dalam keadaan seperti itu, ia dapat ”berdiri” tegak seperti sebatang
tonggak, sedikitpun tidak goyang dan kelihatan ”enak” sekali. Melihat kongcunya melakukan
perbuatan yang belum pernah dilihat sebelumnya itu, Siauw-ong lalu meniru-niru dan berjungkir
balik. Akan tetapi setiap kali tubuhnya menggelundung lagi dan mengusap-usap kepalanya yang
menjadi sakit.
”Coba kau bernapas seperti kalau melakukan latihan samadhi,” kata kakek itu makin tegang sambil
menghampiri. Han Sin tak usah diperintah lagi karena memang selalu pernapasannya wajar seperti
kalau bersamadhi. Kakek itu lalu meraba-raba tubuhnya, dada, pundak, punggung, lambung dan
tiap kali ia mengeluarkan suara ”ck .... ck ..... ck .....” seperti orang bingung, heran dan kagum
bukan main.
“Cukup, duduklah anakku yang baik!”
Suaranya ramah dan gembira sekali sehingga Han Sin ikut menjadi girang ketika ia membalikkan
tubuhnya dan duduk di depan kakek itu. “Apa kau pernah makan buah aneh atau barang luar biasa
selama ini?”
Muka Han Sin menjadi merah. “Ketika hendak memasuki terowongan ini, Siauw-ong diserang ular
kulit putih, aku membantunya dan dalam pertarungan itu, aku telah minum darah ular banyak
sekali, lalu karena penasaran padanya dan lapar perutku, kumakan dagingnya.
Kakek itu kini bengong, matanya terbelalak mulutnya terbuka seperti guha. “Kau bilang ular ….
Ular kulit putih …. Matanya seperti bola api….?”
”Memang mata ular itu mencorong seperti bernyala-nyala ...........”
Koleksi Kang Zusi
”Pek-hiat-sin-coa ....... Pek-hiat-sin-coa ..... (ular ajaib darah putih) .....!” kakek itu berseru berkalikali
sambil menggoyang-goyang kepala, kemudian ia mendongak dan berkata, ”Cia Sun tai-hiap,
kau benar-benar mempunyai putera yang selalu diberkati Thian, agaknya Thian hendak membalas
jasa-jasamu dengan memberimu seorang putera yang besar untungnya .... ha ha ha ...!”
Kakek ini girang sekali dan diam-diam ia kagum bukan main. Bocah ini benar-benar tak pernah
belajar ilmu silat, pikirnya, karena terlampau dalam mempelajari filsafat kebatinan sehingga tidak
suka akan ilmu silat yang dianggapnya kejam dan kasar. Akan tetapi latihan-latihan samadhinya itu
membawa dia tersesat ke dalam puncak kesempurnaan ilmu lweekang yang menjadi inti ilmu silat
malah!
Dan darah ular Pek-hiat-sin-coa itu, menambah lagi kekuatannya. Bukan main! Agaknya bocah ini
dituntun oleh arwah ayahnya datang ke sini untuk mewarisi ilmu yang baru kulatih selesai. Bukan
main girangnya kakek itu sampai napasnya menjadi makin memburu dan tiba-tiba ia merasa seluruh
tubuhnya lemas seperti ditinggalkan oleh tenaganya. Ia kaget dan tahu apa artinya ini. Maut benarbenar
sudah tidak sabar dan agaknya tidak mau mernunggu lebih lama lagi.
13. Prahara di Cin-ling-pai
“HAN SIN, ketahuilah. Aku sudah tua dan setiap saat aku akan mati. Maukah kau memenuhi
permintaan seorang tua yang hampir mati?”
Han Sin kaget sekali. Dia terharu dan karena memang hatinya amat welas asih, mana dia bisa
menolak permintaan orang?
“Orang tua yang baik, mati hidup di tangan Thian, bagaimana kau bicara tentang mati? Kalau saja
permintaanmu itu dapat kulakukan, tentu aku akan memenuhinya.”
Jangan bicara plintat-plintut, pendeknya maukah kau memenuhi permintaan seorang yang mau
mati, seperti aku ini atau tidak?”
“Asal saja ........”
“Sebutkan syarat-syaratnya.”
“Asal jangan disuruh membunuh orang, asal jangan disuruh melakukan segala macam kejahatan,
aku Cia Han Sin berjanji akan memenuhi permintaan kau orang tua.”
Kakek itu nampak girang sekali.
“Bagus, bicaranya seorang laki-laki ......”
“Sekali keluar takkan dijilat kembali.” Han Sin menyambung, agak penasaran karena orang tidak
percaya kepada janjinya.
“Benar! Kau kira aku orang apa hendak menyuruh kau melakukan kejahatan dan membunuh orang?
Han Sin, ketahuilah, aku adalah ketua Cin-ling-pai dan namaku Giok Thian Cin Cu. Ahhh, segala
nama kosong, memalukan saja. Permintaanku kepadamu hanya satu yakni kau kuminta menjadi
muridku, murid yang hendak kuwarisi ilmuku Lo-hai-hui-kiam.”
Koleksi Kang Zusi
Karena sudah berjanji, biarpun di dalam hatinya ia tidak begitu suka kalau hanya mewarisi ilmu
silat yang memang tidak disenanginya, maka Han Sin lalu berlutut dan berkata. “Teecu Han Sin
memberi hormat kepada suhu Giok Thian Cin Cu.”
Bukan main girangnya kakek itu. “Bagus, kau benar-benar laki-laki sejati yang patut menjadi
muridku. Sekarang, sebagai muridku kau harus segera menurut petunjukku mempelajari ilmu yang
hendak kuturunkan kepadamu.”
“Ilmu Lo-hai-hui-kiam itu, suhu?”
“Benar.”
“Maaf, suhu. Sebetulnya teecu ........ teecu sudah hafal, kiranya tidak perlu melelahkan suhu untuk
mempelajarinya pula.”
“Benar-benar sudah hafal? Coba kau sebutkan satu-satunya jurus dan katakan bagaimana
pergerakkannya.”
Han Sin duduk bersila dan mengerahkan tenaga ingatannya. Sambil menyipitkan mata melakukan
pemusatan pikiran, ia lalu mulai menyebut jurus-jurus itu disertai penjelasannya. “Jurus pertama
Hui-kiam Thian-sia, dengan kedua tangan miring yang kanan menjaga leher yang kiri dibacokkan
ke bawah mengarah titik merah di ubun-ubun. Jurus kedua Hui-kiam-ci-tiam, dengan jari-jari
terbuka menusuk ke arah kedua titik biru di pundak.” Demikianlah, satu persatu ia menyebutkan
dan melukiskan tiga puluh enam jurus dari Lo-hai-hui-kiam, demikian cocok dan tepat sehingga
kakek itu mendengar sambil melongo!
Setelah pemuda itu selesai membaca semua jurus Lo-hai-hui-kiam, kakek itu lalu berkata.
“Sekarang kau duduklah bersilah di sebelahku, kumpulkan semua pikiran seperti kalau bersamadhi
dan turut segala perintahku sambil melihat titik-titik pada patung itu. Lekas aku hampir tidak kuat
lagi. Lekas, kau harus mempelajari semua jalan darah dan titik-titik hawa dalam tubuh.”
Karena tadi sudah berjanji menjadi murid kakek ini, tentu saja Han Sin tidak berani membantah
lagi. Mana ada aturannya seorang murid membantah petunjuk gurunya? Ia lalu duduk bersila dan
memenuhi perintah kakek itu. Matanya memandang ke arah patung dan telinganya dibuka untuk
mendengarkan petunjuk suhunya.
Setelah melihat muridnya siap, dengan suara perlahan, lambat dan jelas kakek itu lalu mulai
memberi pelajaran tentang jalan darah di tubuh manusia. “Kau lihat, pada tubuh patung itu, terdapat
dua belas jalan darah yang disebut Ki-keng-meh, Keng-siang-meh ditandai garis merah dengan
pusat di bagian masing-masing dengan tanda titik merah dan Ki-keng-meh bertanda hitam. Semua
jalan darah itu mengalir dari atas ke bawah yang di lambung itu, dengan titik di kanan kiri dan
jalannya memutari pinggang, disebut Tai-meh .....”
Demikianlah, kakek itu memberi petunjuk kepada Han Sin yang didengarkan dengan penuh
perhatian oleh pemuda ini. Han Sin merasa girang sekali karena pelajaran itu baginya tidak ada
hubungannya dengan “ilmu membunuh”, maka sebentar saja ia telah dapat menghafalnya baik-baik.
“Kau sudah mengerti dan hafal semuanya?” tanya gurunya.
Han Sin mengangguk dan Giok Thian Cin Cu berkata lagi, “Sekarang kau rasakan, bukankah di
pusarmu terdapat hawa yang terasa hangat dan bergerak-gerak?”
Koleksi Kang Zusi
Han Sin merasa heran bukan main. Bagaimana kakek ini bisa tahu apa yang terasa olehnya di dalam
pusar? Memang semenjak kecil ia mempunyai perasaan seperti ini dan makin dewasa perasaan itu
makin hebat seakan-akan hawa di pusar yang bergerak-gerak itu makin menjadi kuat dan tidak
terkendalikan lagi. Kembali ia mengangguk.
“Nah, kau ingatlah pada jalan Tai-meh di lambung yang mengitari pinggang dan kau pergunakan
kemauanmu untuk memaksa hawa hangat itu untuk melalui jalan darah itu.”
Secara membuta Han Sin menurut. Mula-mula hawa yang hangat di pusarnya itu karena tidak biasa
dikendalikan, amat sukar untuk dipaksa bergerak. Akan tetapi setelah ia mengerahkan semangat, ia
mulai dapat mendesak hawa itu dan benar saja, setelah pikirannya dan kemauannya bulat, hawa
yang panas itu perlahan-lahan mulai bergerak mengitari pinggangnya menurut jalan darah Tai-meh!
“Berhasilkah? Kalau sudah berhasil, kau mengangguk!” kata kakek itu, suaranya perlahan tapi jelas.
Han Sin mengangguk dan pemuda ini tidak melihat betapa gurunya memandang kepadanya dengan
penuh kekaguman dan keheranan. “Sekarang, kau desak lagi hawa panas itu dari jalan darah Taimeh
melalui Keng-siang-meh menuju ke titik di dada kanan. Awas, jangan main paksa dengan
kekerasan, pergunakanlah kekuatan pikiran dan sewajarnya saja.”
Demikianlah, Han Sin yang memang sudah memiliki sinkang tanpa ia ketahui sendiri sehingga ia
tidak dapat mengendalikan dan mempergunakan hawa murni yang masih “liar” ini, perlahan-lahan
dituntun oleh guru besar Cin-ling-pai yang sakti ini untuk dapat menguasainya. Inilah tingkat
pelajaran yang tertinggi bagi seorang ahli lweekeh. Karena Han Sin memang memiliki darah dan
tulang yang bersih, sebentar saja ia sudah dapat menguasai sinkangnya dan sudah dapat
menjalankan hawa murni di tubuhnya berputar-putar di seluruh anggauta tubuhnya.
Bahkan tiga jam kemudian, ke mana saja ia menghendaki, hawa panas itu secepat kilat telah berada
di tempat yang ia kehendakinya! Memang tadinya iapun sudah bisa mencapai tingkat ini dan ke
mana pikirannya menuju, hawa itu otomatis “terbang” ke tempat yang ditujunya. Akan tetapi hal ini
terjadi secara liar dan tidak teratur, bahkan sukar baginya untuk menyimpan kembali tenaga mujizat
itu. Sekarang, berkat petunjuk Giok Thian Cin Cu, ia malah dapat menyimpan hawa ini di dalam
pusarnya dan tidak sembarangan hawa murni itu bergerak tanpa tujuan.
“Bagus .... bagus .....” kakek itu terengah-engah, payah dan lelah sekali akan tetapi puas. “Sekarang
kau sudah menjadi ahli Lo-hai-hui-kiam yang sukar dicari tandingannya di dunia ini! Dengar baikbaik,
nama ilmu pedang yang diturunkan oleh susiok Hui-kiam Koai-sian kepadaku ini disebut Lohai-
hui-kiam (Ilmu pedang pengacau lautan). Jalan darah di tubuh manusia diumpamakan lautan
luas, maka serangan-serangan ilmu ini adalah untuk mengacau lautan atau jalan darah di tubuh
lawan.
Misalnya jurus pertama Hui-kiam-thian-sia dipergunakan untuk menotok jalan darah di ubun-ubun
kepala membuat lawan menjadi tewas atau sedikitnya menjadi rusak otaknya dan gila. Jurus kedua
Hui-kiam-ci-tiam itu dipergunakan untuk menotok jalan darah kedua pundak lawan, membuat
musuh jadi lumpuh kedua tangannya atau terlepas sambungan tulang-tulang pundaknya dan jurus
ketiga .......”
“Celaka ......!” tiba-tiba Han Sin mengeluh dengan suara kaget sekali.
Giok Thian Cin Cu memandang dan melihat muridnya menatap wajahnya dengan muka pucat dan
mata terbelalak. Ia tahu apa yang membuat pemuda itu terkejut. Biarpun keadaan kakek ini sudah
payah, melihat muridnya ia tertawa geli. “Bocah bodoh, jangan mengira bahwa Lo-hai-hui-kiam
adalah ilmu kejam. Kejam tidaknya bukan menjadi sifat kepandaian, melainkan sifat kepribadian
Koleksi Kang Zusi
seseorang. Yang kuceritakan itu hanyalah untuk menunjukkan kelihaian Lo-hai-hui-kiam dalam
menghadapi musuh yang jahat dan lihai.”
Namun diam-diam Han Sin tetap menyesal sekali telah mempelajari ilmu yang demikian ganas.
“Sekarang kau telah menguasai sinkangmu dan dapat menjalankan tenaga murni di tubuhmu
menurut suara hati atau jalan pikiran. Maka dalam menghadapi lawan tangguh, kau tak usah
khawatir lagi. Sekarang masih ada sebuah permintaan dariku yang kuharap kau tidak akan
menolaknya.”
“Permintaan apalagi, suhu? Teecu tentu akan mentaati perintah suhu?”
“Aku mempunyai banyak murid, akan tetapi tidak ada yang berhasil menuruni Lo-hai-hui-kiam dan
tidak ada yang cukup kuat untuk melindungi Cin-ling-pai yang sudah kubangun dengan susah
payah. Maka setelah kau menjadi muridku, kau kuberi tugas menjaga nama baik Cin-ling-pai dan
mengawas-awasi tingkah laku para anak murid Cin-ling-pai. Sekarang ini dunia luar banyak terjadi
pengkhianatan dan aku kuatir sekali kalau pada suatu hari Cin-ling-pai akan terjerumus ke dalam
jaring kaum penjajah setelah aku mati .......”
“Suhu ........”
“Berjanjilah kau akan menuruti permintaanku terakhir ini,” suara kakek itu makin lemah.
“Teecu berjanji.”
“Aaahhh, puas hatiku. Cia Sun, kau sungguh baik ......, kau mengirim puteramu ke sini. Terima
kasih ..... terima kasih, tunggulah, kita akan saling berkumpul ...... Han Sin muridku, kau ambil
pedangku ini .....”
Han Sin menerima pedang yang diberikan, pedang yang amat tipis dan lemas sekali sehingga dapat
dibelitkan di pinggang seperti sabuk. Itulah pedang Im-yang-kiam yang sudah puluhan tahun berada
di tangan Giok Thian Cin Cu dan telah membuat nama besar bagi tosu itu.
Pada saat itu, terdengar suara orang ramai-ramai dari luar dan mendadak dua orang tosu menerobos
masuk. Mereka adalah It Cin Cu dan Ji Cin Cu yang mukanya pucat dan keringatnya membasahi
jidat. Begitu masuk mereka berlutut di depan Giok Thian Cin Cu. “Hemmm, ada perlu apa kalian
masuk tanpa kupanggil?” bentak Giok Thian Cin Cu. Dua orang tosu itu melihat adanya Han Sin
dan monyetnya dan mereka memandang kepada pemuda ini dengan mata mendelik.
“Suhu, Cin-ling-san diserbu oleh kaki tangan pemerintah Ceng. Teecu sekalian sudah melakukan
perlawanan, banyak sute yang gugur, akan tetapi musuh terlampau kuat, dibantu orang-orang
pandai. Suhu, kita menghadapi kehancuran dan semua ini adalah gara-gara ..... bocah ini! Mohon
keputusan.”
Tiba-tiba kakek yang sudah amat payah itu serentak berdiri. Suaranya keras. “It Cin Cu, Ji Cin Cu,
ketahuilah. Bocah ini adalah putera Cia Sun Taihiap, dia sudah menjadi muridku. Dia inilah sutemu
yang kelak akan mewakili aku menjaga nama baik Cin-ling-pai. Eh, Cia Han Sin, pemerintah
penjajah Ceng mengirim kaki tangannya menyerang kita, menurut pikiranmu, bagaimana baiknya?”
Semenjak kecil Han Sin tidak pernah belajar silat, juga tidak suka akan kekerasan. Akan tetapi ia
lebih tidak suka lagi kepada penjajah yang amat dibencinya. Maka ia menjawab tenang. “Setiap
usaha penjajah harus dilawan, suhu. Penjajah harus dihancurkan. Akan tetapi dalam hal ini kita
Koleksi Kang Zusi
mengingat kekuatan sendiri. Kalau tidak kuat melawan, lebih baik menyelamatkan diri untuk
menghimpun kekuatan baru dan kelak baru membalas.”
“Bagus, bagus ..... dasar turunan pahlawan, masih menempel juga siasat perang leluhurmu
kepadamu.” Tiba-tiba kakek ini teringat bahwa biarpun Han Sin memiliki tenaga sinkang dan
pengertian yang mendalam tentang ilmu silat Lo-hai-hui-kiam, namun belum pernah dilatihnya dan
akan celakalah kalau menghadapi musuh berat. Cepat-cepat ia berkata, “Muridku, kau tidak boleh
mencampuri urusan pertempuran ini. Lekas kau pergi melalui terowongan ini setibanya di
persimpangan, kau belok ke kiri. Kau akan tiba di balik gunung dan selanjutnya kau harus
melarikan diri. Cepat!”
Han Sin berlutut, menghaturkan terima kasih lalu dengan Siauw-ong di pundaknya, ia memasuki
terowongan yang tadi dan terus melarikan diri. Adapun Giok Thian Cin Cu lalu bersama dua orang
muridnya keluar dari guha dalam tanah itu dan kakek yang sudah berada di ambang pintu kuburan
karena sudah amat tua ini bersama murid-muridnya lalu mengamuk, melawan para penyerbu yang
terdiri dari serdadu-serdadu Ceng yang dipimpin oleh perwira-perwira yang kosen dibantu oleh
orang-orang gagah yang sudah menjadi kaki tangan pemerintah Ceng. Terutama sekali banyak
pimpinan dari partai Coa-tung Kai-pang.
Akan tetapi perlawanan ini sia-sia saja, selain Giok Thian Cin Cu sudah amat tua dan lemah, juga
pihak musuh lebih banyak dan kuat sehingga akhirnya kakek yang gagah ini tewas dalam medan
pertempuran, tewas bukan oleh senjata musuh melainkan karena kehabisan tenaga. Mentaati
perintah gurunya sebelum tewas, It Cin Cu dan Ji Cin Cu bersama Cin-ling Sam-eng membawa
sute-sute mereka melarikan diri meninggalkan gunung Cin-ling-san dan banyak di antara mereka
yang tewas dalam pertempuran itu.
Bagaimanakah tentara Ceng bisa menyerbu ke Cin-ling-san? Bukan lain adalah karena Tok-gan
Sin-kai dan dua orang sutenya bersama Thio Li Hoa setelah dikalahkan dan dipukul mundur oleh
Cin-ling Sam-eng dibantu It Cin Cu dan Ji Cin Cu dalam memperebutkan Han Sin, lalu mereka lari
turun gunung. Akan tetapi pada keesokan harinya mereka kembali membawa tentara dan pembantu
sehingga terjadi pertempuran itu.
Han Sin mendengar teriakan-teriakan ramai dari orang-orang yang bertempur. Akan tetapi ia
mentaati perintah gurunya dan terus melarikan diri melalui terowongan. Sampai di simpang empat
ia membelok ke kiri dan tak lama kemudian betul saja, terowongan itu membawanya keluar ke
sebuah guha yang berada di belakang gunung. Suara orang bertempur tidak kedengaran lagi dan
pemuda ini berjalan perlahan-lahan sambil mengenangkan semua pengalamannya.
“Ilmu silat ...... lagi-lagi ilmu silat diajarkan orang kepadaku. Ciu-ong Mo-kai menjadi guruku yang
pertama, mengajarkan Liap-hong Sin-hoat, kemudian Giok Thian Cin Cu menjadi guruku kedua.
Mengajarkan Lo-hai-hui-kiam. Hemmm, ilmu silat .....! Bagiku untuk apakah? Han Sin, Han Sin,
kau tidak suka ilmu silat tapi orang memaksa-maksamu mempelajarinya. Ilmu silat itu mana bisa
kau mainkan?”
Berpikir demikian, pemuda ini lalu menggerakkan kaki tangannya mencoba untuk memainkan
beberapa jurus ilmu silat Liap-hong Sin-hoat. Akan tetapi begitu memukulkan tangan ke depan, ia
teringat bahwa dengan kepalan tangan itu ia harus memukul dada orang, maka cepat-cepat ia
menarik kembali tangannya, berhenti bersilat dan menghela napas panjang. Ia menggelenggelengkan
kepalanya dan berkata seorang diri. “Tidak bisa aku pukul orang ....”
Siauw-ong yang berjalan di sampingnya, melihat pemuda itu bersilat menjadi girang sekali. Ia
cecowetan karena selama hidupnya belum pernah ia melihat Han Sin bersilat. Dianggapnya lucu
Koleksi Kang Zusi
sekali maka ia ikut mencak-mencak. Melihat pemuda itu tiba-tiba berhenti, ia menjadi kecewa dan
monyet ini melanjutkan gerakan-gerakan Han Sin tadi, bersilat ilmu silat Liap-hong Sin-hoat dan
menyerang sebatang pohon. Hebat monyet ini. Tiap kali tangannya memukul pohon, daun-daun
pohon itu rontok dan cabang-cabang pohon bergoyang-goyang! Inilah akibat dari racun darah ular
yang membuat tenaga monyet itu menjadi sepuluh kali lebih kuat!
Melihat ini, Han Sin berpikir. “Bersilat memukul pohon saja sih tidak ada jahatnya, asal jangan
memukul orang. Kenapa aku tidak akan coba-coba? Barangkali akupun bisa membikin rontok
beberapa helai daun seperti perbuatan Siauw-ong itu.”
Setelah berpikir demikian, ia meloncat ke dekat sebatang pohon besar dan menjalankan jurus Huikiam-
kan-goat, dua jari tangannya menusuk ke depan. “Cuss!” Dua jari tangannya itu amblas ke
dalam batang pohon yang dirasakannya empuk seperti bubur saja! Ia kaget dan menarik kembali
jari-jari tangannya, lalu menyusul dengan pukulan Hui-kiam-ci-tiam, kedua tangannya memukul ke
arah pohon dari kiri kanan.
“Blukk!” Ia tadi menggunakan daya pikirannya mengerahkan hawa sinkang ke arah kedua
lengannya untuk melakukan pukulan itu, akan tetapi begitu mengenai pohon, ia hanya merasa kedua
telapak tangannya enak dan hawa dari kedua tangan itu seakan-akan menembusi pohon. Akan tetapi
akibatnya tidak ada apa-apa! Jangankan daunnya berguguran, malah bergoyang sedikitpun tidak.
Terdengar suara ketawa dari Siauw-ong yang mentertawakan tuannya. Han Sin menjadi panas
hatinya. Dua jari tangannya tadi dapat melubangi pohon, kenapa pukulan kedua tangannya malah
tidak mengakibatkan sesuatu? Ia mendongkol juga karena ditertawai monyetnya, maka karena
gemas ia menyalahkan pohonnya yang dianggap terlalu kuat.
Sambil lalu ia mendorong pohon itu dan .... batang pohon itu mengeluarkan suara keras lalu patah
dan tumbang, tepat di bagian yang tadi terpukul oleh kedua tangannya. Kagetnya Han Sin bukan
alang kepalang. Ia tahu bahwa pukulannya Hui-kiam-ci-tiam tadi adalah pukulan disertai tenaga
lweekang yang ampuh sehingga biarpun pohon itu sendiri tidak bergoyang, akan tetapi sebelah
dalam batangnya sudah hancur oleh tenaga pukulan Han Sin, maka ketika didorong lalu tumbang!
Han Sin menjadi pucat malah, sebaliknya dari pada girang. “Celaka,” pikirnya. “Menjadi manusia
apa aku? Seperti iblis. Pohon saja kupukul tumbang. Kalau aku memukul orang bukankah berarti
aku membunuhnya? Celaka, iblis sudah menguasai diriku ......”
Pada saat itu berkesiur angin dan tahu-tahu di depannya berdiri seorang wanita yang amat
menyeramkan. Wanita itu pakaiannya aneh dan asing. Rambutnya riap-riapan, matanya liar dan
tajam sedangkan pada tangan kanannya kelihatan sebuah senjata yang aneh, yaitu tulang seekor
ular!
“Benar-benar aku melihat iblis .....” Han Sin berdiri melengak dan tak dapat bergerak saking
kagetnya. Siauw-ong cecowetan takut lalu melompat dari pundak Han Sin dan memanjat pohon.
Agaknya tulang ular di tangan wanita itulah yang membuat ia menjadi ngeri, mengingatkan dia
akan pengalamannya ketika dibelit dan diserang ular.
“Kau putera Cia Sun ....?” tiba-tiba wanita itu berkata, suaranya nyaring dan sinar matanya
mengeluarkan cahaya.
Melihat keadaan orang aneh ini, tahulah Han Sin bahwa ia berhadapan dengan seorang yang
berkepandaian tinggi. Maka ia tidak berani membohong, dan sambil menjura ia menjawab, “Betul
Koleksi Kang Zusi
dugaan cianpwe, aku adalah putera ayah Cia Sun dan namaku Cia Han Sin. Tidak tahu siapakah
cianpwe dan apakah kenal dengan mendiang ayah?”
“Kenal? Kenal kanda Cia Sun?” Wanita aneh itu tertawa. Suara tawanya merdu dan nyaring
menyeramkan, akan tetapi diam-diam Han Sin harus mengakui bahwa dibalik keliaran dan
keanehan wanita ini, masih dapat dilihat dengan jelas bahwa dahulunya wanita ini tentu cantik
bukan main. Bahkan sekarang pun kulit tangan dan mukanya, masih putih dan halus sekali tidak
kalah oleh gadis-gadis muda. “He, orang muda, ayoh kau lekas ikut pergi dengan aku jangan
membantah lagi!”
“Aku tidak kenal siapa cianpwe ini dan aku mempunyai keperluan lain yang amat penting. Tak
dapat aku ikut pergi sekarang. Kalau cianpwe sudi memberi tahu nama dan alamat, tentu lain kali
aku akan mengunjungi cianpwe.”
Kembali wanita itu tertawa. “Muka sama, bicara sama, benar-benar kanda Cia Sun hidup kembali.
Sayang ketolol-tololan, tidak segagah ayahnya! Eh, bocah, apa kau ingin aku mengambil jalan
kekerasan?”
“Aku ..... aku tidak mengerti maksud cianpwe ....” Baru bicara sampai di sini tiba-tiba tulang ular di
tangan wanita itu menyambar dan jalan darah di pundak Han Sin telah ditotok. Tadinya Han Sin
hendak menyalurkan hawa sinkang ke pundaknya. Akan tetapi ia segera teringat bahwa ia
menghadapi seorang wanita, lagi sudah agak tua, benar tidak pantas kalau ia melawan. Apalagi ia
masih ngeri kalau mengingat betapa tadi tenaganya telah menumbangkan sebatang pohon.
Bagaimana kalau ia salah tangan lagi membunuh wanita ini seperti ketika merobohkan Ban Kim
Cinjin?
Karena pikiran inilah maka ia tidak jadi menyalurkan tenaganya. Kalau dahulu sebelum ia
menerima petunjuk Giok Thian Cin Cu, di serang begini tentu otomatis sinkangnya yang masih liar
akan bergerak sendiri ke pundak melindungi jalan darahnya. Akan tetapi sekarang, ia telah dapat
menguasai sinkangnya sehingga kalau tidak ia salurkan, hawa itu tetap berkumpul di pusarnya.
Tentu saja Han Sin yang belum punya pengalaman itu tidak tahu hebatnya wanita itu. Begitu ujung
tulang ular itu menyentuh pundaknya, ia merasa tubuh bagian atas lemah sekali. Bukan main
kagetnya, namun sudah terlambat. Kembali tulang ular menyambar, kini ke arah kedua kakinya dan
robohlah Han Sin, terguling ke atas tanpa dapat bergerak lagi, seluruh tubuhnya lemas dan tidak
dapat digerakkan! Siauw-ong yang tadinya takut-takut melihat wanita yang memegang tulang ular
itu, kini melihat Han Sin diserang, timbul keberanian dan kemarahannya. Ia mengeluarkan pekik
marah dan dari atas pohon ia meloncat dan menyambar ke arah kepala wanita itu.
Wanita itu mengeluarkan suara ketawa dingin, tubuhnya mengelak dan tulang ular menyambar ke
arah kepala Siauw-ong. Hebat sekali sambaran ini dan kalau mengenai sasaran, tentu kepala monyet
itu akan remuk. Akan tetapi Siauw-ong bukanlah sembarang monyet. Merasai datangnya hawa
sambaran senjata lawan, biarpun tubuhnya masih di udara, ia dapat membuat salto dua kali ke
belakang dan terlepas dari ancaman.
Wanita itu diam-diam merasa kaget sekali. Seorang ahli silat yang tangguh jarang bisa
menghindarkan diri dari satu kali serangannya seperti tadi, kenapa monyet kecil ini sanggup? Malah
sekarang Siauw-ong sudah menyerang lagi dengan gerakan-gerakan aneh seperti pandai bersilat!
Wanita itu timbul kegembiraannya.
“Monyet yang dibawa Cia Sun dulu tidak seperti ini. Aneh ..... aneh ......!” Ia lalu memutar
senjatanya dan sinar kelabu bergulung-gulung mengurung diri Siauw-ong yg tentu saja segera
Koleksi Kang Zusi
terdesak hebat. Monyet ini mengeluarkan suara cecowetan dan menjadi jerih namun ia terus
melawan dan kegesitannya yang luar biasa membuat senjata lawan belum juga berhasil menggores
kulitnya.
Pada saat itu berkelebat bayangan putih dan seorang pemuda yang memegang golok sudah tiba di
situ. “Menggunakan kepandaian tinggi menghina yang lemah, benar-benar memalukan!” seru
pemuda itu yang segera menggerakkan goloknya menerjang maju. Sekali goloknya berkelebat,
terdengar suara “cring! cring!” keras sekali dan gulungan kelabu dari senjata tulang ular itu dapat
dibuyarkan. Siauw-ong yang melihat jalan keluar segera meloncat dan menubruk tubuh Han Sin,
mengguncang-guncangnya sambil mengeluarkan bunyi seperti menangis.
Sementara itu, wanita setengah tua yang rambutnya riap-riapan menjadi marah sekali melihat
datangnya pemuda tampan yang memegang golok. “Bocah sombong, kau berhadapan dengan Jin
Cam Khoa (Algojo Manusia), berani menjual lagak? Ayoh, menggelinding pergi!”
Pemuda itu bukan lain adalah Phang Yan Bu, pemuda yang memenuhi permintaan Bi Eng untuk
membebaskan Han Sin, menjadi kaget bukan main mendengar disebutnya nama Jin Cam Khoa.
Sudah sering kali ia mendengar nama hebat ini, malah ibunya sendiri pernah memberi tahu bahwa
di antara orang-orang berbahaya yang lebih baik dihindarinya, termasuk Jin Cam Khoa inilah. Siapa
kira sekarang ia malah berhadapan dengan iblis wanita ini sendiri dengan senjata di tangan.
Kalau saja ia tidak melihat Han Sin roboh dan monyetnya tadi terancam, ia tentu akan mengalah
dan pergi meninggalkan wanita itu. Akan tetapi ia telah melihat Han Sin, melihat monyet. Ia yakin
bahwa inilah tentu kakak dari Bi Eng. Ia ingin berjasa terhadap Bi Eng, juga ingin mengikat
persahabatan dengan kakak beradik ini, menghapuskan permusuhan dan dendam lama. Sekarang
melihat Han Sin agaknya terluka dan keselamatannya terancam oleh Jin Cam Khoa, bagaimana dia
bisa tinggal diam saja? Apa yang akan ia katakan terhadap Bi Eng?
Segera ia menjura dan berkata. “Ah, kiranya aku berhadapan dengan Jin Cam Khoa cianpwe yang
terkenal. Harap maafkan Phang Yan Bu kalau mengganggu cianpwe. Ibuku, Ang-jiu Toanio sering
kali menyebut-nyebut nama cianpwe dan memesan agar supaya aku memberi hormat kalau bertemu
dengan cianpwe.”
Jin Cam Khoa mengeluarkan suara mengejek. Dia tadi sudah menduga bahwa pemuda ini tentulah
bukan pemuda sembarangan, melihat dari ilmu goloknya yang hebat. Kiranya putera Ang-jiu
Toanio! Mana dia takut menghadapi orang seperti Ang-jiu Toanio? Dia, puteri Hui yang biasanya
dihormat setiap orang! Memang, Jin Cam Khoa ini bukan lain adalah Balita puteri Hui cantik jelita
yang dulu pernah menggoda Cia Sun.
Kini dia telah menjadi tua, namun ilmu kepandaiannya sudah beberapa kali lebih hebat dari pada
dahulu. Kalau dahulu di waktu mudanya saja Balita sudah lihai sekali, apalagi sekarang!
Kepandaiannya tinggi juga keganasannya memuncak sehingga ia mendapat julukan Jin Cam Khoa
atau Algojo Manusia karena entah sudah berapa ratus orang ia bunuh dengan kejam!
“Aku pernah melihat Ang-jiu Toanio. Mengingat mukanya, baik kau pergi dan aku ampunkan
kelancanganmu,” katanya sambil lalu dan matanya kembali memandang ke arah Han Sin. Pemuda
ini hanya roboh tertotok, tidak pingsan maka ia dapat mendengar semua percakapan itu. Ia merasa
heran melihat seorang pemuda gagah datang menolongnya, akan tetapi ia lebih heran dan kaget
sekali ketika mendengar bahwa wanita itu adalah Jin Cam Khoa Balita, seorang di antara mereka
yang mungkin membunuh ayah bundanya. Seorang yang dianggap berbahaya oleh Ciu-ong Mo-kai
dan terhadap siapa ia harus berhati-hati.
Koleksi Kang Zusi
Sementara itu, Yan Bu dengan masih hormat dan tenang berkata, “Harap cianpwe suka memaafkan
aku. Aku datang untuk menjemput saudara Cia ini bersama monyetnya karena ditunggu oleh
seorang di tepi sungai. Aku sudah berjanji untuk menjemputnya.”
“Gila! Aku yang akan membawa dia pergi!”
“Maaf, terpaksa aku melindunginya.”
Merah wajah Jin Cam Khoa, matanya seperti bernyala. “Bocah, ibumu boleh menakuti anak kecil
dengan tangan merahnya. Akan tetapi jangan kira aku takut! Kau tidak tahu aku sudah mengalah,
kalau begitu kau sudah bosan hidup. Mampuslah!”
Tiba-tiba sekali tulang ular itu menyambar ke arah muka Yan Bu. Baiknya pemuda ini memang
sudah bersiap sedia, dan memiliki ketenangan luar biasa, maka melihat sinar kelabu menyambar ia
segera berkelit sambil melompat mundur dan menggoyang goloknya. Tahu bahwa ia berhadapan
dengan lawan yang amat kuat, ia tidak mau mengalah dan cepat menggerak-gerakan goloknya
membalas dengan serangan-serangan yang hebat pula. Jin Cam Khoa Balita mengeluarkan teriakan
mengerikan, setengah tertawa setengah menangis dan tubuhnya berkelebatan seperti burung.
“Celaka,” pikir pemuda ini. “Namanya Jin Cam Khoa, ia tak pernah meninggalkan lawan tanpa
lebih dulu membunuhnya. Kalau aku sampai tewas, siapa yang akan memberitahukan kepada nona
Cia tentang keadaan kakaknya? Dan melihat gelagatnya, ia hanya hendak menawan Cia Han Sin,
bukan hendak membunuhnya.”
Pemuda ini tidak takut menghadapi ancaman maut, hanya kuatir tidak akan dapat memenuhi
janjinya terhadap Bi Eng! Benar-benar cinta itu lebih kuat dari pada maut, orang berani menentang
maut akan tetapi takut menghadapi kegagalan cinta. “Ah, lebih baik kupancing dia dari sini,” pikir
lagi Yan Bu yang amat cerdik. “Melawan sampai menang aku tak sanggup, akan tetapi
mempertahankan diri kiranya masih kuat beberapa jurus lagi.” Setelah berpikir demikian, pemuda
ini lalu menyerang hebat sekali. Selagi lawan melompat mundur, ia lalu melarikan diri sambil
berkata.
“Biarpun namamu Jin Cam Khoa, tak mungkin kau bisa membunuhku karena selain ilmu lari
cepatku lebih tinggi, kaupun takut kepada ibu!” Yan Bu sengaja memanaskan hati iblis wanita itu.
Jin Cam Khoa memekik marah.
“Kubunuh kau .....! Kubunuh kau sampai di manapun juga ......!” Dan betul saja, pancingan Yan Bu
berhasil baik dan iblis wanita itu dengan rambut berkibar-kibar mengerikan terus saja mengejar.
Celakanya bagi Yan Bu, ilmu lari cepat iblis wanita itu ternyata hebat sekali dan sebentar saja sudah
hampir dapat disusul!
Akan tetapi Yan Bu memiliki ketabahan luar biasa dan semangat besar, juga ilmu goloknya yang ia
warisi dari Yok-ong bukanlah sembarangan ilmu golok. Dengan hebat ia menyerang lagi sehingga
biar Balita jauh lebih unggul dari padanya, terpaksa wanita ini mengelak lagi dari sambaran golok
yang mengaung dan berubah menjadi segulung sinar putih yang berbahaya. Saat wanita itu
mengelak dipergunakan lagi oleh Yan Bu untuk meloncat jauh dan lari terus. Demikianlah, makin
lama kejar mengejar itu makin jauh meninggalkan tempat di mana Han Sin masih menggeletak tak
berdaya, ditangisi oleh monyetnya.
Akan tetapi hanya sebentar Han Sin tidak berdaya. Ketika ia tadi mendengar bahwa wanita itu
adalah Jin Cam Khoa Balita, timbul semangatnya. Itulah orang yang mungkin menjadi pembunuh
ayah bundanya. Timbullah semangat ini menggerakkan hawa sinkang di pusarnya, makin lama
Koleksi Kang Zusi
makin panas dan akhirnya ia berhasil juga menyalurkan hawa ini ke arah jalan darah yang tertotok
sehingga dalam sekejap mata saja ia sudah berhasil membuyarkan totokan! Pada saat ia hendak
bangun, tiba-tiba ia mendengar suara kaki berlari-larian dan muncullah It Cin Cu dan Ji Cin Cu,
berlari tak jauh dari tempat itu, dikejar oleh beberapa orang panglima Ceng.
Baiknya mereka itu semua tidak melihat Han Sin dan sekarang pemuda ini dapat mendengar
percakapan yang membuat ia terheran-heran.
“Tak perlu kalian mengejar terus,” terdengar suara It Cin Cu. “Lekas kalian pergi mengejar tiga
orang sute kami Cin-ling Sam-eng. Kepada Thio-ciangkun katakan bahwa tiga hari lagi kami diamdiam
akan mengunjunginya dan kami menerima semua syaratnya.”
“Terima kasih,” terdengar suara seorang di antara para panglima pemerintah Ceng itu. “Ji-wi
totiang ternyata dapat melihat jauh dan suka bersekutu dengan pemerintah kami. Selamat berpisah.”
Dua rombongan itu berpencar dan sebentar pula mereka sudah pergi dari situ.
Jantung Han Sin berdebar, kemarahannya timbul. Ia teringat akan pesan Giok Thian Cin Cu supaya
ia mengawasi gerak-gerik para tosu Cin-ling-pai dan menjaga nama baik Cin-ling-pai. Apakah
maksud dua orang tosu tertua dari Cin-ling-pai itu? Betul-betulkah mereka mau bersekutu dengan
pemerintah penjajah? Kemudian ia teringat lagi akan Balita, teringat akan adiknya.
“Paling perlu aku harus menemui Bi Eng, jangan-jangan diapun terancam bahaya,” pikirnya. Ia lalu
bangun berdiri dan mengajak Siauw-ong pergi secepatnya dari tempat berbahaya itu. Diam-diam ia
makin kecewa karena lagi-lagi ia bertemu dengan orang-orang jahat. Balita yang datang-datang
menyerangnya, ditambah lagi dengan penghianatan It Cin Cu dan Ji Cin Cu terhadap partainya
sedemikian rupa. Ia menarik napas panjang. Baru satu orang saja yang melakukan perbuatan baik
terhadapnya, yaitu pemuda bergolok yang gagah perkasa. Akan tetapi ia tidak kenal pemuda itu.
Lapat-lapat ia tadi mendengar pemuda itu menyebut-nyebut Ang-jiu Toanio.
Tiba-tiba ia berhenti berlari dan terbelalak. Teringatlah ia sekarang setelah nama Ang-jiu Toanio
memasuki benaknya. Bukankah pemuda itu pemuda yang dulu mendorong kereta di mana duduk
seorang wanita sakit? Ah, tak salah lagi! Dan Ang-jiu Toanio, nama yang disebut oleh Ciu-ong Mokai
sebagai seorang yang ikut menyerbu orang tuanya, apakah wanita yang sakit itu?
“Banyak orang jahat di dunia ini, benar-benar tidak kusangka sebelumnya! Ah, kalau begitu apakah
suhu Ciu-ong Mo-kai lebih benar tentang mempelajari ilmu silat?” Demikian pemuda ini mulai
ragu-ragu dan di dalam perjalanannya menyusul adiknya, ia makin bersemangat menghafal dan
mempelajari gerakan-gerakan dalam ilmu silat yang ia peroleh dari Ciu-ong Mo-kai dan Giok Thian
Cin Cu.
Bahkan ia mencoba kecepatan larinya dan dengan heran dan girang sekali ia mendapat kenyataan
bahwa kalau ia mau sebetulnya ia dapat berlari cepat sekali, malah ketika ia mencoba untuk
mengejar Siauw-ong dalam berlompat-lompatan, ia dapat melompat lebih cepat lebih ringan dan
gesit dari pada binatang peliharaannya itu. Makin terbuka mata pemuda ini akan kepandaiankepandaian
yang tersembunyi di dalam tubuhnya. Ia girang bukan karena mendapat kenyataan
bahwa ia pandai, hanya girang karena ia dapat melakukan perjalanan lebih cepat.
Karena melihat kemajuan-kemajuan yang diperolehnya, ia mencoba-coba untuk melakukan ilmu
silat Lo-hai-hui-kiam yang dipelajari dari Giok Thian Cin Cu dengan pedang Im-yang-kiam yang
selama ini ia belitkan di pinggang tertutup bajunya. Ia merasakan pedang itu ringan sekali, namun
ketika ia gerakkan, terdengar suara angin bersiutan dan pedang lenyap berubah gulungan sinar yang
menyilaukan mata! Siauw-ong sampai lari ketakutan menyaksikan kehebatan pedang ini.
Koleksi Kang Zusi
“Ah, aku takkan menggunakan pedang. Tubuh manusia mana kuat menahan bacokan pedang?
Tentu akan putus dan darahnya menyembur keluar.” Pemuda itu bergidik dan menyimpan kembali
pedangnya. Betapapun juga, ia telah melakukan tiga puluh enam jurus Lo-hai-hui-kiam dengan
pedangnya dan mendapat kenyataan bahwa amat enak terasa olehnya mainkan ilmu silat itu dengan
menggunakan pedang.
Tiap kali teringat kepada adiknya, Han Sin mempercepat perjalanannya. Ia sudah merasa rindu
sekali kepada Bi Eng, juga merasa kuatir tentang keselamatan gadis itu. Maka dapat dibayangkan
betapa girang rasa hatinya ketika ia tiba di tepi sungai Wei-ho. Dari jauh ia melihat seorang gadis
baju merah duduk di pinggir sungai membelakanginya. Adiknyalah itu, tak salah lagi. Bi Eng juga
mempunyai baju warna merah seperti itu, pikirnya. Untuk menggoda adiknya, Han Sin
meringankan langkah kakinya dan memberi tanda kepada Siauw-ong supaya jangan mengeluarkan
suara. Siauw-ong hanya memandang aneh kepada majikannya dan tidak mengeluarkan suara.
Berindap-indap Han Sin menghampiri gadis itu dari belakang, lalu cepat ia menggunakan kedua
tangannya mendekap dari belakang menutupi kedua mata gadis itu dengan telapak tangannya.
“Coba terka aku siapa ........??” katanya sambil merobah suaranya agar jangan dikenal.
GADIS itu mengeluarkan seruan tertahan dan tiba-tiba dengan gerakan cepat kedua sikunya
dikerjakan ke belakang menghantam dada Han Sin. Pemuda ini terjengkang karena tidak menjaga
diri, akan tetapi dia tidak merasa sakit dan hanya tertawa bergelak sedangkan Siauw-ong sudah
melompat ke atas tanah.
“Ha ha ha, Eng-moi, kau lihai sekali. Apa kau tidak mengenalku?” tegurnya.
Gadis itu memutar tubuh dan tangan kirinya menutupi sebagian mukanya. Sepasang mata jeli yang
kemerahan seperti habis menangis memandang Han Sin dan pemuda ini melongo. Ternyata gadis
ini sama sekali bukan Bi Eng! Celaka, pikirnya. Pantas saja Siauw-ong memandangnya dengan
aneh. Kurang ajar, kenapa binatang itu diam saja tidak memberi tahu kepadanya? Pikiran ini
dibantahnya sendiri. Mana ada monyet bisa memberi tahu? Adalah dia sendiri yang lebih bodoh
dari monyet!
“Kau ... kau bukan Bi Eng? Maafkan, nona, aku ..... aku tadi salah lihat .....”
Mendengar disebutnya nama ini, muka nona yang masih ditutupi tangan bagian hidungnya itu
menjadi merah sekali. “Kau .... Cia Han Sin ....? Suaranya perlahan dan karena tangannya menutupi
hidung, maka suaranya menjadi agak bindeng dan sumbang.
Han Sin merasa heran mengapa banyak sekali orang mengenalnya. Hal ini sudah amat
mengherankan hatinya ketika ia melakukan perjalanan dan ia sudah memikirkan keadaan yang
menyolok ini. Dasar ia cerdik, ketika ia melihat betapa Balita juga mencarinya, ia dapat menarik
kesimpulan bahwa orang-orang kang-ouw itu mencari karena ada hubungannya dengan surat wasiat
peninggalan Lie Cu Seng. Sekarang melihat gadis yang selalu menutupi hidungnya ini juga
mengenalnya, ia tersenyum.
“Betul, nona. Dan siapakah nona? Apakah nona melihat adikku yang bernama Cia Bi Eng? Dia
menanti kedatanganku di sini.”
Tiba-tiba suara gadis itu berubah geram. “Karena aku mengenal dia dan kau kakaknya, maka kau
harus mati!” Setelah berkata demikian, dengan tangan kiri masih menutupi mukanya, tangan
kanannya mencabut sebatang pedang.
Koleksi Kang Zusi
Han Sin memandang dengan mata terbelalak dan kembali hatinya tertusuk oleh perasaan kecewa.
Benar-benar manusia mahluk paling jahat di dunia, pikirnya. Sudah banyak aku bertemu orang yang
tanpa sebab mau saling bunuh dengan kejam, sekarang gadis ini yang sama sekali tidak kukenal,
begitu berjumpa juga mau membunuhku! Memikir sampai di sini, ia menjadi geli dan tertawa.
“Nona, tidak kusangka sama sekali bahwa Giam-lo-ong (Raja Akhirat) ternyata adalah seorang
gadis cantik dan muda seperti kau!”
14. Tipu Muslihat Dara Pendekar
BIARPUN nona itu sudah marah sekali dan pedang di tangannya sudah menggetar hendak
menyerang, mendengar ucapan ini ia toh menjadi tertarik dan ingin tahu maksudnya. “Kau bilang
apa?” Mata yang jeli memandang tajam dan diam-diam Han Sin merasa sayang sekali mengapa
tangan kiri itu selalu menutupi bagian tengah muka yang berkulit putih itu. Ia ingin gadis itu
melepas tangannya, ingin melihat kecantikan orang. Han Sin memang seorang pemuda yang suka
akan apa yang indah, tentu saja ia suka melihat kecantikan seorang gadis, bukan karena nafsu-nafsu
yang tidak sehat, melainkan suka seperti orang menyukai dan menikmati kecantikan sekuntum
bunga.
Mendengar pertanyaan orang, Han Sin tersenyum. “Kau tadi bilang mau membunuhku, kurasa
hanya Giam-lo-ong saja yang suka mencabut nyawa. Apakah kau bukan Giam-lo-ong?”
“Siapa bercanda denganmu? Lihat pedang!” Gadis itu lalu menusukkan pedangnya ke arah dada
Han Sin. Pemuda ini secara otomatis lalu mengelak dengan langkah kaki dalam jurus ilmu silat
Liap-hong Sin-hoat sambil berseru, “Eh, eh, tiada hujan tiada angin kenapa mau membunuh
orang?”
Gadis itu tidak perduli dan hendak menyerang lagi. Tiba-tiba ada bayangan berkelebat dan tahutahu
Siauw-ong dengan cecowetan dan menepuk-nepuk dada menantang berkelahi telah berdiri di
depan gadis itu! Binatang ini memang amat setia, setiap kali melihat Han Sin terancam bahaya atau
diserang orang, tentu ia akan turun tangan membelanya.
Melihat sikap monyet ini, gadis itu makin marah dan kini pedangnya menyambar ke arah Siauwong.
Namun dengan amat lincahnya monyet itu mengelak sambil meringis, bibirnya yang tebal
dijebi-jebikan dan mulutnya mengeluarkan suara cecowetan seperti orang memaki-maki. Makin
gencar serangan gadis itu, makin cepat pula ia mengelak sambil berusaha membalas dengan
pukulan, cakaran, dan hendak merampas pedang. Han Sin yang sudah menyaksikan gerakangerakan
gadis itu dan kelincahan Siauw-ong, hanya berdiri memandang sambil tersenyum. Ia tahu
bahwa gadis itu takkan dapat melukai Siauw-ong.
Makin penasaran dan marah gadis itu. Gerakannya memang agak kaku karena tangan kirinya tak
pernah terlepas dari mukanya. Akhirnya, dengan jurus yang mirip dengan jurus Po-in-gan-jit, jurus
ketiga belas dari Liap-hong Sin-hoat. Siauw-ong memekik dan tangan kirinya berhasil mencakar
pundak gadis itu dan lain saat tangan kanannya sudah berhasil merampas pedang!
“Siauw-ong, bodoh kau!” Han Sin mengomel. “Gerakanmu tadi kurang tepat. Kalau dia tadi
memutar pedang ke kiri, bukankah tangan kananmu akan menjadi buntung?”
Siauw-ong hanya menyeringai dan membawa pedang itu menjauhi si gadis, lalu membacokkan
pedang itu pada sebatang pohon yang sebesar paha orang. Hebatnya, sekali bacok saja pohon itu
tumbang. Dari sini saja dapat dibuktikan bahwa tenaga monyet kecil ini sudah melebihi tenaga
seorang manusia kuat!”
Koleksi Kang Zusi
Melihat dirinya kalah oleh seekor monyet kecil, gadis itu menjadi putus harapan lalu menjatuhkan
diri di atas tanah sambil menangis sedih. Kini bukan hanya tangan kiri yang menutupi muka, juga
tangan kanannya menyusuti air mata.
Watak Han Sin memang penuh kesabaran dan welas asih. Melihat keadaan gadis itu, ia melangkah
maju dan berkata halus. “Nona, kau dan aku tidak kenal satu kepada yang lain, kenapa kau datangdatang
hendak membunuhku? Siauw-ong monyetku telah berlaku kurang ajar. Harap nona suka
memaafkan. Eh, Siauw-ong, kembalikan pedang nona ini!”
Sebetulnya Siauw-ong tidak suka mentaati perintah ini, akan tetapi karena ia tidak berani
membantah, maka dengan suara cecowetan seperti mengancam, ia membawa pedang itu dan
menggeletakkannya di depan nona baju merah itu. Nona itu lalu menyambar pedangnya dan Han
Sin sudah bersiap-siap, mengira nona itu akan menyerangnya lagi. Akan tetapi alangkah kagetnya
ketika tiba-tiba nona itu membacokkan pedangnya ke arah leher sendiri.
Baiknya Han Sin berlaku cepat. Melihat gerakan orang, ia sudah dapat menduga dan ketika tangan
kirinya disabetkan ke bawah, telapak tangannya dengan tenaga lweekang sudah membabat pedang
itu dan ..... “krak!” pedang itu terlempar dan patah menjadi dua potong! Sekarang nona itu tidak
menutupi mukanya lagi, memandang kepada Han Sin dengan air mata bercucuran dan berkata
lemah, “Kau bunuhlah aku .... bunuh aku ........”
Han Sin berdebar jantungnya. Gadis itu mempunyai wajah yang manis sekali, matanya jeli,
mulutnya mungil, akan tetapi .... gadis itu tidak punya hidung. Hidungnya telah buntung!
“Nona .....” katanya dengan perasaan terharu. “Kau .... kenapa kau menderita sampai begini hebat
.....?”
Makin deras air mata nona itu mengucur. “Adikmu ...... siluman betina Bi Eng itulah yang membuat
aku menjadi begini .....!
Han Sin menjadi pucat dan secepat kilat ia memegang kedua pundak nona itu dan mengguncangguncangnya
keras. “Kau bohong! Tak mungkin Bi Eng adikku berbuat begini. Tak mungkin dia
sekejam ini, memotong .... hidungmu. Tak mungkin!”
Gadis itu tak berdaya biarpun mencoba meronta melepaskan pegangan pemuda ini sehingga
tubuhnya terguncang-guncang. Ia mengangkat tangan kanan dan “plak! Plak!” pipi Han Sin
ditamparnya. “Lepaskan tanganmu dari pundakku!” teriak gadis itu.
Han Sin sadar. Cepat ia melepaskan kedua tangannya dengan muka merah lalu berkata perlahan,
“Kau sih yang membohong. Adikku Bi Eng seorang baik, mana dia berlaku kejam kepadamu?”
Gadis itu yang bukan lain orang adalah Ang-hwa bekas kekasih Bhok-kongcu, menundukkan
kepalanya. “Memang dia tidak melakukan dengan tangan sendiri. Akan tetapi dia yang menjadi
gara-gara, apa bedanya?”
Girang mendengar tentang adiknya, Han Sin lupa akan penderitaan orang dan mendesak. “Nona,
bagaimana kau bertemu dengan Bi Eng? Dan di mana dia sekarang?” Kekhawatirannya terdengar
jelas dalam suaranya.
Tiba-tiba nona itu tertawa mengejek. Ketawanya manis sekali dan Han Sin mengakui bahwa nona
ini tentu cantik sekali kalau saja hidungnya tidak buntung. Wajah yang cantik manis sekarang
Koleksi Kang Zusi
menjadi menjijikan. Benar-benar keterlaluan orang yang telah membuntungi hidung nona ini. Dan
ia yakin yang melakukannya pasti bukan Bi Eng.
“Kau mencari adikmu, Bi Eng itu? Hi hi, dia telah menjadi korban Bhok-kongcu dan hendak kulihat
apakah dia dapat mempertahankan kedudukannya, hendak kulihat apakah kelak diapun tidak
mengalami nasib dibuntungi hidungnya oleh Bhok-kongcu?”
Terkejut dan gelisah hati Han Sin mendengar ini. “Menjadi korban bagaimana? Siapa itu Bhokkongcu?”
Ang-hwa kecewa juga mendengar pemuda ini belum mengenal nama Bhok-kongcu. Tadinya ia
mengharap pemuda ini gelisah setengah mati mendengar adiknya menjadi korban Bhok-kongcu,
karena siapakah orangnya belum pernah mendengar nama Bhok-kongcu? Ternyata pemuda ini
begini hijau!
“Bhok-kongcu adalah Bhok Kian Teng, putera raja muda Bhok Hong yang berjuluk Pak-thian-tok,
kau tidak tahu?” Ia menegaskan. Kaget juga Han Sin mendengar julukan Pak-thian-tok (Racun dari
Utara) itu.
“Aku tidak kenal segala orang she Bhok atau racun yang manapun juga. Bagaimana dengan adikku,
dan di mana dia?”
Ang Hwa putus asa. Tidak ada gunannya menakut-nakuti pemuda yang tidak tahu apa-apa ini.
Sambil menarik napas panjang ia lalu bercerita.
“Setelah bertemu dengan Bi Eng, Bhok-kongcu membenciku. Dapat yang baru lupa yang lama, ah,
itulah watak laki-laki. Malah dia menyiksaku begini macam .... aku, yang dulu dia cinta, dia siksa
sampai begini ......” Wanita itu menangis lagi. Han Sin tidak sabar. Ia tidak ingin mendengar tentang
wanita ini, tentang hidung yang dipotong, ia ingin mengetahui di mana adanya Bi Eng.
“Apakah Bi Eng dia bawa? Dia tawan? Ke mana dibawanya pergi?” tanyanya bernafsu.
“Ke mana lagi? Tentu ke kota raja. Hik hik hik,” ia tertawa lagi. “Mula-mula dijadikan kekasih
baru, lama-lama menjadi bujang, dan akan dilupakan kalau mendapat yang baru.”
Setelah berkata demikian, Ang-hwa meloncat dan lari pergi. Dari jauh terdengar suaranya memekik
nyaring, setengah tertawa setengah menangis.
Han Sin menggeleng-geleng kepalanya, merasa seram. Lagi-lagi ia bertemu orang-orang jahat.
Perempuan ini biarpun patut dikasihani, ternyata bukan orang baik, pikirnya. Apalagi orang yang
disebut Bhok-kongcu. Teringat kepada Bhok-kongcu yang menawan adiknya, tiba-tiba timbul
kemarahan hati Han Sin.
Dia tidak pernah marah dan selalu dapat bersabar dan memaafkan orang kalau dia sendiri yang
diganggu. Akan tetapi sekarang orang mengganggu adiknya dan hal ini tak dapat ia biarkan begitu
saja. Tak dapat ia maafkan. Apalagi kalau ia ingat betapa orang she Bhok itu dengan amat kejinya
telah membuntungi hidung seorang gadis cantik, bekas kekasihnya pula. Ia bergidik kalau teringat
akan hal ini. “Awas kau Bhok-kongcu, kalau sampai adikku kau ganggu .... hemmm, awas kau,
akan .... akan ku ....”
Dia akan berbuat apa? Tak dapat ia memikirkan ini, akan tetapi ia marah sekali. Han Sin saking
marahnya mengeluarkan seruan keras, meloncat ke depan dan sekali pukul ia merobohkan sebatang
Koleksi Kang Zusi
pohon, lalu melompat lagi, memukul lagi dan setelah merobohkan belasan batang pohon barulah
panas pada dadanya mereda. Ia berdiri bengong, malu kepada diri sendiri mengapa seperti gila ia
menghajar pohon-pohon sampai roboh malang-melintang.
Bahkan Siauw-ong sampai ketakutan dan bersembunyi di belakang sebatang pohon agak jauh. Han
Sin menarik napas panjang, lalu memanggil Siauw-ong dan berlarilah ia dengan monyet itu di
pundaknya, mengubah tujuan perjalanannya, tidak menuju ke Lu-liang-san, melainkan ke kota raja
untuk menyusul Bi Eng. Di dunia ini hanya Bi Eng seoranglah yang ia cinta, adiknya yang ia
sayang lebih dari pada jiwanya sendiri.
“Bi Eng ........ semoga kau selamat ........”
Ia tidak dapat membayangkan apa yang akan ia lakukan kalau adiknya itu sampai tertimpa
malapetaka. Terlalu ngeri ia memikirkan hal ini.
****
Beberapa pekan kemudian ketika Han Sin sedang berjalan dengan cepat di atas jalan besar menuju
ke Tai-goan, dari depan ia melihat seorang gadis cantik menunggang kuda dengan cepat. Gadis itu
berpakaian mewah dan kudanya pun kuda besar yang dapat berlari cepat. Di punggung gadis ini
terdapat sepasang pedang dan dari gerak-geriknya mudah diduga bahwa gadis cantik ini pandai
ilmu silat. Usianya mendekati tiga puluh tahun akan tetapi harus diakui bahwa dia cantik manis,
seperti gadis remaja. Ketika bersimpang jalan, gadis itu mengerling tajam dan tiba-tiba mukanya
berubah. Adapun Han Sin yang sedang sibuk memikirkan keselamatan adiknya, mana ada waktu
untuk melihat-lihat gadis cantik?
Baru ketika ia mendengar suara kaki kuda besar itu datang lagi dari jurusan belakang dan
melewatinya, ia mengangkat mukanya memandang dan lebih heran hatinya ketika ia melihat gadis
itu menghentikan kudanya, memutar kuda dan menghadang di depannya. Karena ia tidak merasa
kenal gadis ini, ia tidak memperdulikan dan tidak berani memandang lama-lama, malah hendak
menyimpang.
“Tunggu dulu, bukankah kau she Cia bernama Han Sin?” tiba-tiba gadis itu menegur dengan
suaranya yang merdu.
Berdebar hati Han Sin. Benar-benar dunia ini aneh, pikirnya. Sudah terlalu sering ia bertemu orang
yang sama sekali tidak dikenalnya akan tetapi yang sudah mengenal namanya! Ingin ia membohong
dan tidak mengaku agar tidak menimbulkan banyak kesukaran dan halangan dalam perjalanannya
menyusul adiknya. Akan tetapi justeru pemuda ini tidak biasa membohong sehingga ia “tidak
sampai hati” untuk membohong. Maka dengan mendongkol ditahan-tahan, ia menjawab juga.
“Benar, aku Cia Han Sin. Tidak tahu siapakah cici (kakak) ini dan ada apa menahan perjalananku?”
Dari sinar matanya, gadis itu kelihatan girang dan lega, akan tetapi wajahnya yang keren dan
nampak galak itu tidak berubah. “Bukankah kau mencari adikmu yang bernama Cia Bi Eng?”
Kini lenyap sama sekali kemendongkolan hati Han Sin. “Betul!” jawabnya setengah bersorak. “Cici
yang baik, apakah kau tahu di mana adanya adikku itu?”
“Tak baik bicara di tengah jalan. Kalau kau ingin tahu tentang adikmu, mari ikut aku!”
Girang sekali hati Han Sin. “Terima kasih, cici. Baik, aku akan ikut kau.”
Koleksi Kang Zusi
“Naiklah!”
Han Sin bingung. Naik kemana? Kuda hanya seekor. Karena betul-betul tidak mengerti, ia bertanya,
“Kau maksudkan .... naik ke mana, cici?”
Gadis itu kelihatan geli, akan tetapi tidak memperlihatkan senyumnya. “Tentu saja ke sini, di
belakangku. Naiklah!”
“Ah, mana aku berani ....? Aku ...... lebih baik aku jalan kaki saja, cici naikilah sendiri kuda itu.”
“Hemm, rumahku tidak dekat, sedikitnya ada dua puluh li dari sini. Kudaku pun larinya cepat. Apa
kau kira kau mampu lari sejauh itu membarengi larinya kuda?” gadis itu bertanya, nada suaranya
tak sabar dan ketus.
Tentu saja aku bisa, jawab pikiran Han Sin. Selama ini dia sudah dapat menguasai tenaga dalamnya,
malah ia sudah tahu bagaimana caranya berlari cepat, cepat sekali melebihi larinya kuda. Dan dia
selama berpekan-pekan ini sudah berlari cepat, kadang-kadang dalam satu hari sampai ratusan li
tanpa merasa lelah. Apa artinya tiga puluh atau bahkan dua puluh li? Akan tetapi ia harus
menyembunyikan kepandaiannya.
“Tentu saja aku tidak bisa, cici.”
“Kalau begitu jangan banyak rewel. Naiklah di belakangku!”
“Akan tetapi, cici .....” Han Sin masih ragu-ragu. Masa ia harus duduk di belakang orang ,
bersentuhan tubuh di atas kuda? Benar-benar hal itu kurang ajar sekali dan ia mana berani
melakukannya?
“Rewel, pendeknya kau mau mendengar tentang adikmu atau tidak?” Gadis itu menjadi tak sabar
dan bertanya marah. Orang lain, apa lagi laki-laki muda, bahkan akan mengharapkan dapat duduk
berdua di atas kuda dengan dia. Eh, bocah ini begini ... begini .... hijau!
Diingatkan tentang adiknya, Han Sin menjadi nekat dan ia lalu naik ke atas kuda. Bukan melompat,
hanya naik sambil berpegang pada lengan gadis itu yang membantunya, naik kuda seperti seorang
yang lemah agar tidak menimbulkan kecurigaan yang bukan-bukan. Siauw-ong melompat ke atas
pundaknya dan baru saja ia duduk. Kuda itu sudah melompat ke depan dengan cepatnya. Dengan
lweekangnya, tentu saja Han Sin dapat duduk dengan tegak, akan tetapi ia sedang bersandiwara,
maka ia cepat-cepat memegang pundak orang di depannya sambil berseru ketakutan, “Cici yang
baik, jangan cepat-cepat ........!”
Gadis itu mengeluarkan suara ketawa kecil mengejek, akan tetapi benar saja, ia menahan kudanya
agar berlari biasa. Di sepanjang jalan gadis itu tidak bicara apa-apa dan yang paling merasa tidak
enak adalah Han Sin. Ia tidak enak duduk dan berusaha sedapat mungkin menggeser ke belakang
agar jangan terlalu mepet dengan tubuh gadis itu.
Celakanya, dia duduk di bagian belakang maka kalau ia terlalu menggeser ke belakang, ia
menduduki punggung belakang yang menonjol ke atas sehingga sukar baginya untuk duduk dengan
enak. Sebaliknya, gadis itu tidak perduli sama sekali dan Siauw-ong bertepuk-tepuk tangan saking
gembiranya. Naik kuda merupakan pengalaman baru bagi monyet ini.
Seperti telah kita ketahui, Bhok-kongcu ketika bertemu Bi Eng di sungai Wei-ho, menyuruh
seorang selir atau pembantunya yang lihai, Yo Leng Nio, untuk menyusul Han Sin di Cin-ling-san
Koleksi Kang Zusi
dan mengajak pemuda itu datang ke Wei-ho. Akan tetapi ketika sampai di bukit itu, yang dilihat
oleh Yo Leng Nio hanyalah kehancuran di Cin-ling-san dan banyak mayat para tosu Cin-ling-pai
dan beberapa mayat pengemis-pengemis anggauta Coa-tung Kai-pang. Dia tidak melihat Han Sin.
Maka cepat-cepat ia kembali ke perahu dan melaporkan hal ini kepada Bhok-kongcu.
Tentu saja Bi Eng gelisah sekali mendengar ini, akan tetapi Bhok Kian Teng dengan pandai
menghiburnya dan mengatakan bahwa tentu pemuda dengan monyetnya itu telah dapat melarikan
diri dan melanjutkan perjalanannya. Dengan pancingannya ia berhasil membuat Bi Eng mengaku
bahwa kakaknya hendak ke Lu-liang-san, maka Bhok-kongcu lalu mengusulkan untuk menyusul ke
Lu-liang-san. Bi Eng yang masih hijau pengalamannya itu menurut saja dan berangkatlah dia
bersama Bhok-kongcu ke Lu-liang-san, sedangkan Yo Leng Nio oleh Bhok-kongcu diberi perintah
untuk terus mencari Han Sin, kalau-kalau pemuda itu pergi ke jurusan lain.
Demikianlah, sekarang gadis yang bertemu di dekat kota Tai-goan dengan Han Sin, bukan lain
adalah Yo Leng Nio, tangan kanan Bhok-kongcu. Dapat dibayangkan betapa girangnya hati Leng
Nio. Ia ingin berjasa kepada kongcunya, maka cepat ia mengajak pemuda itu pergi ke Tai-goan di
mana terdapat sebuah rumah bagus kepunyaan Bhok-kongcu.
Tahu akan maksud Bhok-kongcu, yaitu hendak merampas surat wasiat Lie Cu Seng yang dibawa
pemuda ini, Leng Nio hendak menggunakan siasat, merampas surat dan membunuh pemuda ini
agar tidak menimbulkan banyak urusan. Dengan surat wasiat itu ia dapat menyenangkan hati Bhokkongcu
yang dicintainya sepenuh hati. Kalau tidak hendak menjalankan siasat, mana ia sudi
memboncengkan pemuda itu di atas kudanya?
Ketika kuda yang mereka tunggangi itu akan memasuki kota Tai-goan, tiba-tiba dari pintu kota
keluar sebuah kereta yang ditarik oleh seekor kuda putih. Kereta itu bergerak cepat dan ketika
bersimpangan dengan kuda Leng Nio, tirai jendela kereta itu tersingkap dari dalam dan kelihatanlah
wajah seorang gadis cantik yang gelung rambutnya amat indah. Yo Leng Nio segera menahan
kudanya dan menjura dengan hormat ke arah kereta. Han Sin juga memandang. Segera ia mengenal
wajah ini dan tak terasa ia berseru,
“Nona Thio Li Hoa .....!”
Memang nona itu bukan lain adalah Thio Li Hoa yang pernah dijumpainya di Cin-ling-san ketika ia
di “hukum” dalam jurang Can-tee-gak. Nona dalam kereta itu melirik sebentar, sepasang matanya
bersinar marah sekali, lalu ia melengos dan menutup kembali tirai jendela keretanya.
“Kau kenal dia?” tanya Leng Nio sambil menjalankan kembali kudanya, perlahan-lahan.
“Kenal? Tidak, hanya pernah bertemu dengan dia di Cin-ling-san.”
“Hemm, tentu datang bersama para pengemis, bukan?”
“Bagaimana kau bisa tahu?” Han Sin bertanya heran.
Leng Nio tidak menjawab, malah berkata ketus, “Turunlah, kita sudah sampai di kota. Masa kau
masih mau nongkrong terus membikin kita menjadi buah tertawaan orang?”
Merah muka Han Sin dan ia merosot turun dari atas punggung kuda. Mereka memasuki kota Taigoan
yang besar dan ramai. Akan tetapi waktu itu agak sepi karena hari telah menjadi senja. Leng
Nio membawanya ke sebuah gedung kecil mungil dan indah sekali yang letaknya agak di pinggir
Koleksi Kang Zusi
kota. Benar-benar sebuah bangunan yang menyenangkan dan enak sekali kalau dipergunakan untuk
mengaso.
Letaknya di tempat yang tidak begitu ramai, juga gedungnya kecil saja akan tetapi taman bunganya
besar penuh tetanaman yang indah-indah. Tentu rumah orang kaya, pikir Han Sin yang memandang
kagum ketika ia memasuki halaman rumah itu. Akan tetapi segera semua ini tidak diperhatikan lagi
karena hatinya berdebar memikirkan adiknya. Apakah ia akan bertemu dengan Bi Eng di sini?
“Apakah adikku berada di rumah ini?” tanyanya.
Leng Nio menggeleng kepala. “Nanti sambil makan kita bicara tentang dia.” Pada saat itu dua orang
pelayan laki-laki datang. Leng Nio memberikan kudanya kepada seorang di antara mereka lalu
berkata kepada orang kedua.
“Saudara ini tamu Bhok-kongcu, kau antarkan dia ke sebuah kamar tamu.” Pelayan itu mengangguk
lalu memberi isyarat dengan tangannya kepada Han Sin untuk mengikutinya. Han Sin terpaksa
menurut saja karena ia membutuhkan keterangan tentang adiknya. Baiklah aku bersabar sampai
mendengar keterangannya, kalau tidak memuaskan aku bisa pergi dari sini, pikirnya.
Ketika pelayan itu mengantarnya ke sebuah kamar yang mewah dan indah, ia mencoba untuk
menyelidiki dari mulut pelayan itu. “Eh, sobat, sebetulnya rumah ini milik siapakah? Apakah milik
Bhok-kongcu? Dan di mana tuan rumahnya?”
Akan tetapi pelayan yang sedang menyapu lantai kamar itu sama sekali tidak menjawab,
menengokpun tidak seakan-akan tidak mendengar pertanyaannya. Han Sin mendongkol sekali.
Masa pelayan saja sampai berani menghadapinya dengan sikap memandang rendah? “Eh, sobat!”
katanya tak sabar sambil menowel lengan pelayan itu. Pelayan itu menengok dan memandang
kepadanya dengan sinar mata penuh pertanyaan.
“Di mana Bhok-kongcu? Apakah ada seorang nona she Cia di sini?” tanya Han Sin pula.
Pelayan itu mengangkat pundak, lalu menyapu lagi. “Eh, kurang ajar kau, apa kau gagu?” pelayan
itu kembali memandang kepadanya, lalu menuding ke arah kedua telinganya dan membuka mulut.
Ternyata pelayan ini tidak berlidah dan kedua telinganya tuli. Lidahnya dipotong dan telinganya
dilubangi orang!
Han Sin melengak, namun diam-diam ia bercuriga. Aneh sekali orang-orang di sini. Kalau dia benar
tak dapat mendengar, bagaimana tadi dia bisa mengerti perintah nona itu? Ia tentu saja tidak tahu
bahwa pelayan ini memang tuli dan bisu seperti semua pelayan dari Bhok-kongcu, dan tadi dapat
dimengerti ucapan Leng Nio karena memandang gerak bibir gadis itu.
Karena merasa lelah dan tubuh serta pakaiannya memang kotor terkena debu, Han Sin segera mandi
ketika pelayan itu menyiapkan air, dan dengan gembira dan penuh harapan ia lalu pergi ke ruang
makan ketika pelayan mengajaknya. Di situ sudah menunggu nona galak tadi yang kini sudah
mengenakan pakaian baru, mukanya dibedak dan digincu sehingga kelihatan makin cantik. Namun
sayang, demikian pikir Han Sin, nona ini wajahnya membayangkan sifak galak, pendiam dan
sungguh-sungguh, sama sekali tidak ada sinar terangnya. Alangkah banyak bedanya dengan wajah
Bi Eng, pikirnya. Malah lebih galak dari pada wajah nona Thio Li Hoa.
Di atas meja sudah tersedia masakan-masakan yang masih panas dan arak wangi. Melihat
kedatangan Han Sin bersama Siauw-ong, ia mengerutkan kening dan berkata, “Harap monyet kotor
itu jangan dibawa ke sini. Suruh dia bermain-main di luar.”
Koleksi Kang Zusi
Han Sin tersenyum, tanpa menjawab ia lalu mengambil beberapa butir buah dari atas meja,
memberikannya kepada Siauw-ong sambil berkata, “Siauw-ong, kau bermain-main di luar sana,
jangan ganggu kami. Jangan datang sebelum kupanggil!” Monyet itu mengerti, menerima buah dan
melompat ke luar setelah berjebi kepada Leng Nio.
Han Sin tertawa lalu duduk menghadapi meja. “Cia-kongcu silahkan makan dulu, baru nanti kita
bicara,” kata nona itu tanpa sungkan-sungkan lagi karena perutnya memang sudah lapar, Han Sin
makan dengan lahapnya. Leng Nio yang juga menemaninya makan, memandang cara pemuda
makan ini dengan senyum mengejek, lalu ia berkata.
“Kongcu agaknya jarang melakukan perjalanan jauh dan tidak pernah bertemu dengan orang-orang
jahat.”
“Kenapa kau berkata begitu?”
“Kalau aku berniat jahat dan memberi racun dalam makanan ini, bukankah kau akan celaka? Kau
sama sekali tidak berhati-hati, terus saja makan tanpa memeriksa lagi.”
Merah wajah Han Sin. Bukan karena ia ceroboh, dan bukan karena ia tidak tahu akan bahayabahaya
seperti ini. Dahulu sering kali Ciu-ong Mo-kai memberi nasehat kepadanya, atau lebih tepat
kepada Bi Eng, agar hati-hati menghadapi orang-orang kang-ouw yang seringkali menggunakan
racun untuk menjatuhkan musuhnya. Akan tetapi soalnya bukan ia ceroboh, melainkan karena ia
terlalu percaya kepada orang. Ia juga percaya sekali kepada nona ini, mana bisa hatinya menaruh
curiga dan takut diracuni? Masa ada seorang gadis cantik seperti ini mau main racun?
“Nona, aku percaya kepadamu, percaya dengan membuta karena kau sudah begitu baik hendak
bicara tentang adikku. Masa aku takut diracun?” jawabnya sambil tersenyum.
Setelah selesai makan dan meja itu sudah dibersihkan, Leng Nio berkata, “Nah, sekarang marilah
kita bicara.” Memang saat ini yang dinanti-nanti oleh Han Sin, maka ia lalu berkata.
“Nona sudah begini baik terhadap aku, mengajak aku ke sini, malah sudah menjamu dengan
hidangan enak. Kalau nona sekarang bicara tentang adikku, itulah menunjukkan bahwa kau
memang seorang yang mulia dan aku Cia Han Sin akan berterima kasih sekali.”
“Huh, siapa yang mulia? Aku hanya melakukan kewajibanku. Ketahuilah, aku adalah pelayan
Bhok-kongcu bernama Yo Leng Nio.” Hati Han Sin berdebar. Lagi-lagi seorang pelayan Bhokkongcu
setelah pertemuannya dengan nona baju merah yang hidungnya buntung. Akan tetapi ia
tidak berkata apa-apa dan mendengarkan terus.
“Aku tidak mau bicara panjang lebar. Pendeknya, adikmu itu kini telah ditawan oleh Bhok-kongcu
dan disembunyikan di suatu tempat. Hanya dengan satu syarat yang kau penuhi, adikmu itu akan
dibebaskan dan kau akan dapat bertemu kembali dengan dia.”
Bukan main kaget dan herannya hati Han Sin. Orang sudah berlaku begini baik, akan tetapi
mengapa di belakang kebaikan ini terkandung sesuatu yang demikian jahat?
“Kenapa adikku di tawan? Apa salahnya? Ayoh, kaulepaskan, kalau tidak akan kulaporkan kepada
pembesar setempat!” katanya marah.
Koleksi Kang Zusi
Leng Nio tertawa mengejek. “Jangan kau ngaco belo! Bhok-kongcu adalah putera raja muda, mana
segala macam pembesar bisa mengganggunya? Pendeknya, kau penuhi syarat itu atau ...... kau
takkan dapat berjumpa kembali dengan adikmu, malah jiwamu juga akan terancam.”
“Tidak perduli dengan jiwaku! Asal adikku selamat. Di mana dia?”
“Kau terima syaratnya atau tidak?”
“Apa syaratnya, lekas kau beritahukan. Asalkan patut dan dapat kulakukan, tentu saja aku suka
bertukar dengan keselamatan adikku.”
Yo Leng Nio berdiri dan dengan suara agak gemetar saking tegangnya, ia berkata. “Kau serahkan
surat wasiat Lie Cu Seng, dan kau akan segera kuantar ke tempat adikmu.” Sambil berkata
demikian, sepasang matanya menatap tajam.
Han Sin melengak. Eh, kiranya ke situlah tujuannya? Heran dia, kenapa semua orang kang-ouw ini
tergila-gila kepada surat wasiat Lie Cu Seng dan agaknya berlumba-lumba untuk mendapatkannya?
Mau tak mau ia tertawa getir mendengar permintaan ini.
“Kenapa kau tertawa? Apakah kau lebih sayang surat itu dari pada keselamatan adikmu?” bentak
Yo Leng Nio penuh ancaman.
“Bukan begitu, aku hanya merasa geli kenapa semua orang begitu gila hendak mendapatkan surat
itu.”
“Berikan padaku demi keselamatan Bi Eng,” kata Leng Nio penuh gairah karena ia mengharapkan
siasatnya ini berhasil.
Han Sin menggeleng kepalanya. “Tak mungkin, surat itu memang tadinya berada di tanganku, akan
tetapi sekarang telah hancur, sudah hilang.”
“Bohong!”
“Kau tidak percaya, ya sudah. Memang tidak ada lagi padaku, sudah rusak dan hancur di dalam
jurang Can-tee-gak di Cin-ling-san.”
Akan tetapi mana Leng Nio mau percaya? Surat wasiat yang dirindukan oleh semua tokoh kangouw,
mana bisa dirusak begitu saja? Ia mengerutkan keningnya yang berkulit halus, lalu berkata.
“Sudahlah, kau boleh istirahat. Kuberi waktu semalam ini. Besok kau harus dapat memberi
keputusan, lebih sayang surat atau lebih sayang adik.”
Setelah berkata demikian ia tinggalkan pemuda itu seorang diri. Han Sin bingung sekali dan
akhirnya karena memang lelah, iapun pergi ke kamarnya dan memanggil Siauw-ong. Akan tetapi
monyet itu tidak muncul, agaknya pergi main-main terlalu jauh. Ia tahu bahwa Siauw-ong tentu
akan kembali sendiri, maka ia lalu membaringkan tubuh di atas tempat tidur yang empuk dalam
kamar itu. Ia putar-putar otak mencari jalan keluar terbaik menghadapi persoalan ini, namun sia-sia.
Memang surat wasiat itu sudah dia hancurkan sebagian dan yang sebagian pula dirobek-robek oleh
Thio Li Hoa, bagaimana dia bisa menyerahkan surat itu? Apakah ia harus membuat gambar baru
dari peta itu dan menyerahkannya kepada Leng Nio? Kalau hal ini ia lakukan, kemudian ternyata Bi
Eng tak dapat ia jumpai, siapa tahu orang-orang kang-ouw ini banyak sekali akal curangnya,
bukankah itu merupakan kerugian besar? Pula, ia seperti mendurhaka kepada mendiang ayahnya.
Koleksi Kang Zusi
Surat wasiat itu memang haknya dan hak Bi Eng, bagaimana bisa diserahkan begitu saja kepada
orang lain?
Lewat sedikit tengah malam, ketika keadaan di seluruh gedung itu sunyi, sesosok bayangan yang
amat gesit membuka jendela kamar Han Sin dan memasuki kamar itu. Keadaan di dalam kamar
amat gelap akan tetapi agaknya bayangan itu sudah mengenal baik kamar itu, buktinya ia dapat
menyimpangi meja yang terpasang di dekat jendela. Orang lain tentu akan menabrak meja dalam
kegelapan itu. Bayangan itu mengeluarkan sebuah lilin kecil dan menyalakannya setelah
mendengarkan sebentar dan dari pernapasan yang lambat panjang tahu bahwa pemuda yang berada
di pembaringan sudah pulas betul.
Ia melihat baju luar Han Sin yang ditaruh di atas bangku. Cepat tangannya menggerayangi baju itu
dan memeriksa. Ketika mendapat kenyataan, ia lalu menaruh kembali baju itu dan menyingkap
kelambu melihat ke atas pembaringan. Tiba-tiba ia nampak terkejut sekali dan sekali tiup lilinnya
padam. Bayangan ini dengan tergesa-gesa dan kelihatan ketakutan melompat lagi ke jendela untuk
lari.
Ternyata dia melihat cara tidur Han Sin yang amat aneh, yaitu dengan kepala di bawa kaki di atas,
berjungkir balik! Tentu saja melihat orang dalam keadaan seperti itu, ia terkejut bukan main dan
siapakah orangnya yang mau percaya bahwa pemuda itu berada dalam keadaan tidur pulas?
Memang sesungguhnya Han Sin tidur pulas. Tadi karena pikirannya agak bingung dan khawatir
memikirkan keadaan adiknya, pemuda ini lalu berlatih samadhi seperti biasa dengan berjungkir
balik sampai ia tertidur dalam keadaan demikian. Dalam keadaan seperti itu, pendengaran pemuda
ini tajam sekali, maka ia segera terbangun ketika mendengar suara perlahan di jendela, suara kaki
bayangan itu menyentuh daun jendela.
Tiba-tiba terdengar suara Siauw-ong cecowetan dan disusul suara bentakan perlahan. “Monyet sial,
minggat kau!” Itulah suara Leng Nio!
Han Sin turun dari pembaringan dan menyalakan lilin dan pada saat itu Siauw-ong melompat ke
dalam kamar itu, di kedua tangannya membawa sebuah sisir, sebuah cermin kecil, dan sebuah saput
atau alat penyapu muka kalau sedang dibedaki. Entah dari mana dia mendapatkan alat berhias
wanita ini. Melihat itu Han Sin menjadi geli dan membentak.
“Siauw-ong, dari mana kau dapatkan barang-barang ini? Ayoh, kembalikan kepada pemiliknya!”
Siauw-ong menjebikan bibirnya yang tebal, membuat gerakan seperti orang menyisir rambut
kepalanya lalu berbedak sambil bercermin. Benar-benar seperti seorang wanita sedang berhias! Mau
tak mau Han Sin tertawa geli dan menggebah monyet itu keluar dari kamarnya. Lalu tidur kembali,
diam-diam mendongkol kepada Leng Nio yang sudah terang tadi mencoba untuk menggeledahnya,
agaknya mencari surat wasiat Lie Cu Seng!
Pada keesokkan harinya, pagi-pagi sekali Han Sin sudah mendengar suara ribut-ribut. Suara ini
adalah suara cecowetan Siauw-ong dan makian Yo Leng Nio. Ketika mendengar suara Siauw-ong,
seperti kalau sedang menantang berkelahi, Han Sin cepat memakai bajunya dan keluar dari
kamarnya terus menuju ke taman bunga dari mana suara ribut-ribut itu terdengar.
Betul saja, Siauw-ong sedang “cekcok” dengan Yo Leng Nio. Nona ini memaki-maki,”Monyet
sialan, kembalikan barang-barangku!”
Koleksi Kang Zusi
Akan tetapi dengan suara “ngak-nguk, ngak-nguk!” Siauw-ong agaknya malah menantang dan
mempermainkan gadis itu.
“Setan, kau minta mampus!” Dan gadis itu dengan amat cepatnya lalu menyerang, memukul kepala
monyet itu. Namun mana bisa Siauw-ong dipukul begitu saja. Sambil menjebikan bibirnya yang
tebal, ia meloncat dengan elakan yang indah, lebih cepat dari pada serangan Leng Nio. Gadis itu
penasaran, lalu menyerang lagi, tapi luput lagi. Akhirnya saking marah dan penasaran, Leng Nio
menyerang sungguh-sungguh dengan gerakan ilmu silat, malah menggunakan jari tangannya untuk
menotok dan menusuk mata monyet itu.
Siauw-ong benar-benar hebat, sambil menyengir ia terus mengelak ke sana ke mari sehingga
tubuhnya berkelebatan di antara ke dua tangan Leng Nio yang melakukan pukulan bertubi-tubi. Dan
kini monyet itu bukan hanya sembarangan mengelak mendasarkan kegesitan yang wajar seekor
monyet. Kalau dia hanya mengandalkan kegesitan monyet biasa, tentu dia akan kena pukul oleh
gadis yang lihai itu. Akan tetapi Siauw-ong mengelak dengan jurus-jurus ilmu silat pula, ilmu silat
Liap-hong Sin-hoat yang tinggi. Langkah-langkah dan gerak tubuhnya teratur sehingga selalu Leng
Nio menghantam tempat kosong.
Han Sin merasa puas melihat Siauw-ong mempermainkan nona itu. Agaknya monyet ini tahu pula
akan usaha nona itu menggeledah kamarnya, pikir Han Sin. Maka sebagai pembalasan, Siauw-ong
juga memasuki kamar nona itu dan mencuri alat-alat berhias. Akan tetapi melihat Leng Nio makin
lama makin marah, ia merasa tidak enak juga. Betapapun juga, ia masih mengharapkan penjelasan
nona ini tentang adiknya.
“Siauw-ong, jangan kurang ajar. Kembalikan barang-barang nona Yo!” Akhirnya ia membentak.
Mendengar seruan ini, Siauw-ong melemparkan tiga buah benda itu sekali gus ke arah Leng Nio
sambil melompat ke pundak Han Sin. Leng Nio menggerakkan tangan menangkap benda-benda itu,
akan tetapi hanya berhasil menangkap cermin dan alat berbedak, sedangkan sisir itu telah melayang
ke arah rambutnya dan menancap di situ! Mukanya menjadi merah dan dengan mata melotot ia
memandang monyet yang kini cengar-cengir di atas pundak Han Sin.
“Orang she Cia! Monyetmu sungguh kurang ajar. Suruh dia turun, biar kuhancurkan kepalanya!”
Nona itu membentak marah sekali.
Han Sin tersenyum. “Maafkanlah dia, nona Yo. Agaknya semalam ia melihat gerak-gerik orang
memasuki kamar orang lain. Agaknya dia telah melihat seorang pencuri maka dia meniru-niru
memasuki kamarmu dan mengambil barang-barangmu itu. Monyet memang suka sekali meniruniru
manusia.”
Berubah wajah Yo Leng Nio mendengar ini. Ia merasa disindir dan ia tak dapat menjawab.
Tiba-tiba terdengar suara ketawa merdu disusul ucapan halus. “Betul sekali ucapan itu. Memang
memalukan kalau seorang perempuan memasuki kamar seorang pemuda di waktu tengah malam
buta!” Dan dari balik tembok meloncat masuk seorang gadis cantik yang berpakaian indah dan
mewah. Gelungnya yang tinggi amat indah dan mengeluarkan bau harum. Han Sin segera mengenal
nona ini, Yo Leng Nio berubah pucat mukanya dan ia cepat-cepat membungkukkan tubuh memberi
hormat. “Kiranya Thio-siocia (nona Thio) datang berkunjung. Tidak kebetulan sekali Bhok-kongcu
tidak ada di sini, nona.”
Thio Li Hoa tersenyum mengejek dan suaranya ketus ketika menjawab, “Aku tahu ke mana
perginya kongcumu itu bersama seorang gadis she Cia. Aku datang bukan untuk bertemu dengan
Koleksi Kang Zusi
kongcumu, melainkan untuk membawa pergi bocah she Cia.” Ia menudingkan telunjuknya ke arah
Han Sin.
“Thio-siocia, akan tetapi ..... dia .... dia ini hendak mencari adiknya ....” kata Yo Leng Nio gagap.
Mata Li Hoa yang tajam sekali itu tiba-tiba memancarkan sinar berapi. “Dia mencari adiknya,
kenapa kau bawa ke sini? Pula, malam-malam waktunya orang tidur kau menggerayangi tempat
tidur orang ..... hemmmm, hendak kudengar apa yang akan dikatakan Bhok-kongcu kalau
kuceritakan kepadanya tentang hal itu!”
Wajah Yo Leng Nio makin pucat. Ia tahu bahwa ia takkan tertolong lagi kalau sampai di dalam hati
Bhok-kongcu di bangkitkan perasan cemburu. Bergidik ia kalau mengingat akan hal ini, dan ia tahu
pula bahwa terhadap nona Thio ini, tentu saja Bhok-kongcu percaya penuh.
“Tidak. Thio-siocia ...... jangan ...... harap kau tidak bercerita yang bukan-bukan terhadap Bhokkongcu
.......”
“Plakk!” Cepat sekali bagaikan ular menyambar, tahu-tahu tangan kanan Li Hoa sudah menampar
pipi Leng Nio. Han Sin yang melihat itu, tersenyum dan teringat akan pipinya sendiri yang juga
pernah ditampar oleh nona Thio yang galak ini.
“Apa kau bilang? Aku bicara bukan-bukan? Kau berhadapan dengan siapakah?” bentak puteri
perwira tinggi itu.
15. Wanita Pelindung Buronan
YO LENG NIO mendapat akal. Ia menjura dan berkata lemah. “Aku berhadapan dengan nona Thio
Li Hoa yang cantik dan gagah perkasa dan yang boleh dipercaya serta tidak pernah memburukkan
nama orang lain. Tentu saja aku tidak berani membantah perintah nona, hanya mengingat bahwa
kongcu mencari orang ini dan untuk mempertanggung jawabkan ………”
Li Hoa mengeluarkan sehelai surat. “Lihat ini! Surat kuasa untuk menangkap bocah she Cia ini. Dia
telah membunuh utusan pemerintah dan harus ditangkap. Apa kau berani menentang surat perintah
penangkapan?”
Yo Leng Nio melirik dan mendapat kenyataan bahwa memang betul nona Thio ini datang
membawa surat perintah menangkap Cia Han Sin. Ia menjura lagi dan berkata, “Aku tidak berani
membantah. Silahkan nona tangkap bocah ini, hanya kuharap tidak lupa bahwa pelayan Bhokkongcu
juga berjasa dalam bantuannya menemukan bocah yang dicari ini.”
“Hemmmm,” Li Hoa melirik ke arah Han Sin dan berkata, “Ayoh, ikut aku!”
Han Sin pernah mengenal kepalsuan gadis she Thio ini yang dulupun hendak menolong dia keluar
dari jurang, akan tetapi yang sesungguhnya hendak mencari surat wasiat Lie Cu Seng, kemudian
malah bersama para pengemis tua hendak menangkapnya. Sekarang melihat gadis ini datang lagi, ia
bersikap waspada. Akan tetapi tadi dia mendengar percakapan dua orang gadis itu dan mengingat
gadis ini agaknya tahu pula ke mana Bi Eng dibawa pergi oleh Bhok-kongcu, ia tidak hendak
membantah, malah lalu menjura di depan Yo Leng Nio dan berkata.
“Nona Yo Leng Nio, aku dan Siauw-ong merasa berterima kasih sekali telah mendapatkan tempat
menginap dan makan minum dengan gratis darimu.” Leng Nio hanya memandang dengan mata
melotot ketika Han Sin pergi mengikuti Li Hoa. Sinar mata pemuda ini berseri, mulutnya tersenyum
Koleksi Kang Zusi
ketika ia memandang kepada Li Hoa dan sikapnya seolah-olah menantang dengan kata-kata tak
terucapkan. “Kau mau apa? Peta sudah hancur!”
Setelah pergi jauh meninggalkan kota Tai-goan, tanpa berkata-kata, akhirnya gadis itu memecah
kesunyian, “Hemm, berbahaya sekali …..! Untung aku segera datang membawa kau pergi!”
Han Sin hanya melirik, tanpa menjawab.
“Eh, bocah! Kenapa diam saja? Kau seharusnya berterima kasih kepadaku telah melepaskan kau
dari perempuan rendah itu!”
“Kau dan dia apa bedanya? Selalu menyebut aku bocah. Eh nona, kaukira kau ini sudah neneknenek
dan lebih tua dari padaku?” jawab Han Sin mendongkol.
Gadis itu tertawa, manis sekali kalau dia tertawa. Sayangnya jarang tertawa dan mukanya selalu
keras. “Hemm, kau tidak tahu bahwa kau baru saja terlepas dari bahaya maut. Kalau ada Bhok Kian
Teng di sana, kiraku kau takkan mampu pringas-pringis (menyeringai) seperti sekarang ini. Kau dan
monyetmu tentu telah mampus. Berbahaya sekali!” gadis itu benar-benar nampak gentar.
Akan tetapi Han Sin tidak perduli. “Apa bedanya di tangan mereka atau di tanganmu? Entah mana
yang lebih berbahaya. Luka di pundakku karena paku berkarat yang dihadiahkan oleh kawanmu
pengemis tua itu masih terasa sampai sekarang.” Han Sin sengaja meringis kesakitan dan meraba
pundaknya.
Merah muka Li Hoa. “Apakah masih terasa sakit? Aku membawa obat pemunah racun ……”
Dengan sikap sungguh-sungguh ia mendekati Han Sin dan pemuda ini merasa heran mengapa gadis
ini bisa bersikap begini lembut dan ramah.
“Tak usah, biarkan saja. Aku tidak menyalahkan kau, karena bukan kau yang melukai pundakku.”
Setelah berkata demikian Han Sin lalu duduk mengaso di bawah sebatang pohon yang tumbuh di
pinggir jalan. Matahari mulai muncul dan enak sekali duduk di bawah pohon itu. “Nona Thio,
sudahlah kau tinggalkan aku sendiri, aku tidak mau mengganggu kau lebih lama lagi.”
Li Hoa menghampiri pemuda ini. “Orang she Cia, aku baik-baik membebaskan kau dari tangan
kuntilanak itu dan betul-betul hendak membantumu mencari kembali adikmu, kau malah
mengusirku. Benar tak kenal budi.”
Han Sin tersenyum pahit. “Mau mencarikan adikku ataukah mau mencari rahasia surat wasiat?”
Wajah nona ini menjadi merah lagi. “Soal itu …… kita bicarakan belakangan saja kalau aku sudah
berhasil mendapatkan kembali adikmu yang dibawa pergi Bhok Kian Teng.”
“Terima kasih, aku bisa cari sendiri,” kata Han Sin dingin.
Li Hoa melompat. “Eh, sombong! Ke mana mau mencarinya?”
“Ke mana lagi? Tentu ke rumah orang she Bhok itu, di kota raja, bukan? Putera raja muda Bhok
Hong yang berjuluk Pak-thian-tok, tidak betulkah dugaanku?” Han Sin tersenyum bangga.
Gadis itu tertawa geli. “Ah, tololnya! Kalau diajak ke kota raja, selain adikmu tidak sudi, juga tentu
aku sudah mengetahuinya siang-siang karena akupun tinggal di kota raja. Di kota raja kau takkan
dapat mencari adikmu, malah bayangannya pun tidak ada.”
Koleksi Kang Zusi
Han Sin terdiam, bingung. Kemudian ia terpaksa bertanya juga, biarpun dengan lidah berat. “Apa
kau tahu ke mana adikku dibawah oleh orang itu?”
“Tentu saja aku tahu, kalau tidak mana aku berani bilang hendak mencarikan adikmu?” Kini giliran
Li Hoa yang “jual mahal”.
“Ke mana? Di mana?”
Bibir yang merah tipis itu tersenyum mengejek, tapi malah manis.
“Kalau aku beritahu, mau kau berjanji?”
“Berjanji apa?”
“Berjanji bahwa kau akan ikut dengan aku tanpa banyak cerewet, ikut dan menurut kehendakku,
tidak meninggalkan aku dan kita berdua mencari adikmu.”
Han Sin tertegun. Dan pemuda yang jujur ini tak dapat menahan lagi menyatakan keheranan hatinya
melalui mulut. “Nona Thio Li Hoa, begitu sukakah kau melakukan perjalanan bersama aku?
Kenapa begitu?”
Wajah nona itu menjadi merah sekali dan tiba-tiba sinar matanya berapi-api. Ia melompat maju dan
tangannya sudah siap hendak menampar pipi pemuda itu, akan tetapi melihat pemuda itu
memandangnya dengan wajah jujur dan mata yang mengeluarkan cahaya menakjubkan, ia menahan
tangannya, diturunkannya kembali dan katanya terengah-engah, “Kau …. kau bocah she Cia benarbenar
kurang ajar! Kau kira aku orang apa maka tergila-gila hendak berdekatan dengan engkau?”
“Hush, bukan begitu maksudku, nona. Aku ….. hemmm, sekarang aku malah tahu mengapa kau
ingin aku selalu berada di dekatmu, hemmmm, benar sekarang ingatlah aku.”
Mata yang indah itu mengerling tajam, penuh ancaman. “Apa maksudmu? Kau tahu apa?”
“Tentu saja aku tahu. Kau tidak ingin berpisah dari aku karena …..karena surat wasiat itu. Ha ha!
Semua orang menghendaki surat wasiat, dan semua orang hendak menangkap aku, tentu karena
surat itu. Dan kau sendiri, ha ha ha, kau takut kalau-kalau surat itu terjatuh ke tangan orang lain!”
Tepat sekali kata-kata ini dan Li Hoa menundukkan mukanya. “Memang sebagian benar, tapi hanya
sebagian saja ……” katanya perlahan.
“Yang sebagian lagi, apakah?” Han Sin mendesak.
Muka Li Hoa makin merah. “Sudahlah. Mau tidak kau berjanji? Kalau kau mau, aku segera
memberitahukan di mana adanya adikmu dan kita bersama pergi mencarinya.”
“Ya, ya, aku mau. Siapa tidak suka melakukan perjalanan bersama seorang nona yang …. yang
…….”
“Yang apa? Jangan main-main kau!”
Tadinya Han Sin hendak menggoda dengan mengatakan “yang galak” akan tetapi takut benar-benar
ditampar, ia lalu menyambung. ”Yang cantik dan gagah. Kau gagah, apa yang kutakuti kalau
berjalan di sampingmu? Orang jahat tidak berani mengganggu aku dan Siauw-ong. Dan kau cantik
Koleksi Kang Zusi
jelita, aku memang paling suka melihat apa-apa yang indah, suka membaca syair-syair yang bagus,
melihat tamasya alam yang indah permai. Melihat dan mencium kembang yang cantik dan wangi
………”
“Mata keranjang! Jangan main gila kau ….. kutampar nanti mulutmu …”
“Lho, aku bilang kembang yang cantik dan wangi, masa aku berani …. berani …. anu …. kau!”
”Cukup, mari kita berangkat,” Li Hoa yang tadinya juga duduk di atas akar pohon, sekarang berdiri.
”Eh, nanti dulu. Aku sudah mau berjanji, tapi kau belum katakan di mana adikku.”
”Tentu saja di Lu-liang-san. Ayoh, kita menyusul ke sana.”
”Di .... Lu-liang-san?”
”Bodoh, banyak mendongeng di sini sedangkan adikmu terancam bahaya. Lekas berangkat, nanti di
jalan kuceritakan.”
Mendengar ucapan ini, Han Sin segera berdiri dan memegang tangan Siauw-ong. “Siauw-ong,
ayoh, kita susul nonamu.”
Sambil berjalan, Li Hoa berkata, “Bhok-kongcu orangnya licik sekali. Setelah menawan adikmu,
tentu dia bisa memaksa adikmu itu mengaku arah tujuan perjalananmu dan tahu bahwa kalian
hendak ke Lu-liang-san. Karena usaha selirnya yang goblok, Yo Leng Nio itu .....”
“Bukan selir, dia bilang pelayannya,” Han Sin memotong.
“Apa bedanya? Selirnya yang goblok itu berhasil mengambilmu di Cin-ling-san, maka Bhokkongcu
tentu pikir lebih baik menanti di Lu-liang-san sedangkan ia menyuruh Leng Nio pergi
mencarimu. Tentu saja tanpa petunjukmu dia takkan berhasil menemukan tempat rahasia, dan
selama dia belum mendapatkan tempat itu, keselamatan adikmu terjamin.”
Han Sin mengangguk-angguk. “Betul .... betul sekali. Semua orang menghendaki harta warisan
orang lain, semua orang ingin kaya. Benar-benar tolol seperti kerbau. Memperebutkan harta benda
mempertaruhkan nyawa. Aahhh ......”
Setelah berkata demikian, untuk menghibur hati dan untuk mencela orang-orang yang hanya
memikirkan duit belaka, pemuda ini lalu bernyanyi, mengambil sajak dalam Tok-tik-khing:
“Warna-warna indah dapat membutakan mata (hati)
Suara-suara merdu dapat menulikan telinga (hati)
Rasa-rasa nikmat dapat merusak perasaan (hati)
Memburu (nafsu) dapat membuat orang menjadi buas.
Barang yang sukar diperoleh (harta benda) dapat membuat orang menjadi curang
Karena itu, seorang kuncu (budiman) mengutamakan kebutuhan Sang Perut,
tak pernah memperdulikan penglihatan Sang Mata.
Dan dia memilih yang benar membuang yang sesat.”
Thio Li Hoa adalah seorang puteri pembesar, seorang bangsawan bangsa Han yang semenjak dulu
mengutamakan pelajaran sastra dan silat. Biarpun ayah Thio Li Hoa, yaitu Thio-ciangkun, telah
terpikat dan terbujuk oleh penjajah Mancu sehingga sudi menghamba kepada pemerintah penjajah
ini, namun dia tidak melupakan pendidikan untuk dua orang puterinya. Karena ini, Li Hoa juga
Koleksi Kang Zusi
termasuk seorang gadis yang pandai dalam hal sastra. Tentu saja ia pernah membaca sajak yang
dinyanyikan oleh Han Sin tadi. Diam-diam ia merasa dirinya tersindir dan tidak bijaksana maka ia
mendongkol sekali. Betapapun juga ia harus memuji pandainya pemuda ini bernyanyi, dengan suara
yang nyaring dan empuk serta dapat menjadikan sajak keramat dari agama To itu menjadi nyanyian
yang enak didengar.
”Orang she Cia, kau tahu apa? Menyindir-nyindir orang dengan Tok-tik-khing ayat kedua belas.
Kau kira aku tergila-gila oleh harta peninggalan dalam surat wasiat Lie Cu Seng? Huh, bodoh.
Orang tuaku sendiri kaya raya, apakah orang yang sudah berenang di air masih kehausan dan minta
hujan?”
Han Sin mendongkol. ”Kau ini benar tidak memandang mata padaku, nona. Selalu menyebutku
orang she Cia, bocah she Cia, benar-benar tidak enak didengarnya. Melakukan perjalanan bersama
apa sih enaknya?”
Mau tidak mau Li Hoa tersenyum juga mendengar omelan ini, akan tetapi ia tetap ketus ketika
berkata, ”Habis, apakah aku harus menyebut kau tuan muda? Ataukah kakanda? Atau tuan besar?”
Sambil tunduk melihat jalan yang dilalui kakinya dan meraba-raba dagunya dengan tangan kiri, Han
Sin berkata, ”Hemmm, sebutan tuan muda atau tuan besar, terlalu menghormat. Sebutan kakanda ....
terlalu mesra.” Ia berpikir sebentar, lalu berkata, ”Nona Thio, setelah kita melakukan perjalanan
bersama, sudah sepatutnya kalau kita ini mengaku sebagai saudara. Kalau bukan saudara,
bagaimana bisa melakukan perjalanan bersama? Kalau orang lain mendengar bahwa kau
menyebutku kakak dan aku menyebutmu adik, tentu tidak akan ada yang mencelanya.”
”Perduli apa dengan orang lain? Aku tidak suka menjadi adikmu. Bukankah kau sudah mempunyai
adik, yaitu Bi Eng?”
Wajah Han Sin berseri. ”Kalau begitu, biarlah kau jadi enci (kakak) dan aku menjadi adik.”
”Cih, tak tahu malu. Kau kira kau ini masih kanak-kanak? Kau lebih tua dari aku, mana bisa jadi
adikku?”
Han Sin merasa bohwat (habis daya). Dia seorang pemuda terpelajar dan menurut kitab-kitabnya,
amat tidak sopan seorang pemuda dan seorang gadis yang tidak ada hubungan apa-apa melakukan
perjalanan bersama.
”Habis bagaimana?” akhirnya ia bertanya.
“Kau tidak mau disebut orang atau bocah she Cia, biarlah sekarang kusebut namamu saja kalau
memanggil, dan kau pun boleh menyebut namaku. Dengan demikian orang akan menganggap kita
sahabat-sahabat baik.”
“Sahabat-sahabat baik? Kok begitu? Masa sahabat baik seorang laki-laki dan seorang wanita .....”
“Rewel kau! Apa kau tidak mau dianggap sebagai sahabat baikku?”
“Ehm, tentu saja ....... tentu saja.”
”Nah sudah, jangan banyak rewel. Kalau kau mau, aku menyebut kau Han Sin begitu saja dan kau
menyebut aku Li Hoa. Kalau tidak mau, aku boleh menyebutmu bocah she Cia, monyet she Cia
atau apa yang kusuka, kau mau apa?”
Koleksi Kang Zusi
Han Sin tidak dapat membantah lagi dan terpaksa menerima keputusan ini. Ia mendongkol melihat
sikap yang galak, ketus dan mau menang sendiri dari gadis ini. Sebetulnya ia suka kepada Li Hoa
dan kalau gadis ini mau bersikap lunak dan manis sedikit saja tentu ia akan merasa senang
melakukan perjalanan ini. Maka ia tidak mau perdulikan lagi kepada gadis itu dan di sepanjang
jalan ia bernyanyi-nyanyi sajak atau bercakap-cakap dengan Siauw-ong.
Karena didiamkan saja, kadang-kadang disindir dalam nyanyian, Li Hoa mendongkol juga.
”Kulihat Siauw-ong monyetmu itu lebih pintar dari pada tuannya. Benar-benar aneh, benar-benar
mengherankan.”
Tentu saja Han Sin mendengar ini, namun dia diam saja, pura-pura tidak mendengar.
”Seekor monyet sudah dapat menghadapi serangan-serangan perempuan hina dari Bhok Kian Teng,
benar tidak mengecewakan menjadi binatang peliharaan keluarga Cia di Min-san yang terkenal
sebagai keturunan gagah perkasa. Akan tetapi tuan mudanya ..... hemmm, seorang kutu buku yang
bisa bernyanyi membaca sajak, lemah dan tidak becus apa-apa!”
Kembali Han Sin diam-diam, malah membaca sajak untuk menjawab cela-celaan ini. Kembali ayatayat
Tok-tik-khing:
”Langit dan bumi itu abadi
Karena hidup bukan untuk diri sendiri
Seorang kuncu menaruh diri paling belakang
karenanya menjadi paling depan
Karena ia menyampingkan diri sendiri
maka ia selamat terpelihara
Karena tidak mementingkan diri pribadi
maka ia dapat menyempurnakan pribadinya.”
Tiba-tiba Li Hoa tertawa. Ia anggap pemuda ini lucu, juga menjengkelkan. ”Hi hi, kau anggap
dirimu sendiri sebagai kuncu (budiman)?”
Terpaksa Han Sin menjawab, ”Tidak ada yang mengaku diri sebagai kuncu, hanya setuju akan sikap
seorang kuncu dan karenanya berusaha meniru jejak langkahnya.”
”Ha, kau memang seorang kuncu. Ah, hebatnya! Biar sekarang kau memakai nama julukan Bu-lim
Kun-cu ( Sang Budiman dari Rimba Persilatan). Bagus, bagus!”
Han Sin diam saja, keduanya melanjutkan perjalanan dengan membisu. Keadaan yang sunyi ini
tidak menyenangkan hati Han Sin, akan tetapi pemuda ini sudah mahir menguasai perasaannya
maka pada wajahnya yang tampan tidak nampak tanda sesuatu. Sebaliknya, Li Hoa tidak kuat
menahan. Memang melakukan perjalanan berkawan akan tetapi berdiam-diam saja amat
melelahkan dan menjemukan. Akhirnya setelah beberapa lama diam saja, gadis ini mulai bicara
pula.
”Tadinya melihat kau duduk sekuda dengan Leng Nio, kemudian menginap di rumah Bhok-kongcu,
ku anggap kau ......”
”Ya?” Han Sin mendesak karena ucapan yang tidak diselesaikan itu menggatalkan hatinya.
Koleksi Kang Zusi
”Kuanggap kau mata keranjang, kusangka seorang pemuda hidung belang yang menjemukan.
Hatiku panas bukan main.”
”Lho kenapa panas? Apa sangkut-pautnya dengan kau mengenai perbuatanku?” Han Sin memotong
cepat.
Merah wajah Li Hoa. ”Karena ..... aku benci melihat laki-laki mata keranjang.”
”Hemmmm ........”
”Apa kau tidak anggap Leng Nio itu cantik, genit dan menarik?”
”Memang dia cantik. Tapi apa hubungannya dengan aku? Cantiknya sendiri, tidak sangkut-pautnya
dengan aku.”
”Biasanya laki-laki tergila-gila oleh kecantikan wanita ......”
”Hemmm ....”
”Tapi aku salah duga. Kau bukan laki-laki model Bhok-kongcu.”
”Terima kasih .......”
”Ya, kau bukan pemuda sembarangan. Kau ..... kau Bu-lim Kun-cu!” Li Hoa tertawa mengejek.
Kini mau tidak mau Han Sin merengut, namun tetap tidak berkata apa-apa. Makin geli hati Li Hoa.
Entah mengapa dia sendiri tidak mengerti, setelah dekat dengan pemuda ini, timbul kejenakaannya
dan ia ingin selalu menggoda pemuda yang tak pernah marah ini.
Jalan mulai ramai orang karena mereka mendekati sebuah kota. Ketika itu dari arah depan
mendatangi tiga orang berpakaian pengemis, ketiganya membawa sebuah mangkok butut dan
memegang sebatang tongkat. Melihat tiga orang pengemis itu, tiba-tiba Li Hoa berjalan dekat sekali
dengan Han Sin dan pemuda itu merasa betapa tangannya dipegang oleh sebuah tangan yang hangat
dan halus. Ketika ia melirik, bukan main herannya melihat bahwa yang memegang tangannya itu
adalah Li Hoa. Hatinya berdebar, ingin ia menarik tangannya akan tetapi takut menyinggung
perasaan gadis itu, maka dibiarkan saja. Lebih heran lagi dia ketika mereka bersimpangan dengan
tiga orang pengemis itu, Li Hoa berkata dengan suara keras, manis dan manja.
”Koko, nanti di kota kau harus belikan sepasang sepatu baru untukku!”
Tentu saja Han Sin heran bukan main. Tak mungkin gadis itu bicara kepada orang lain, tentu
kepadanya. Akan tetapi mengapa bicaranya begitu? Ia hendak bertanya, akan tetapi tiba-tiba tangan
yang memegangi tangannya itu menggencet keras-keras. Baiknya ia kuat sekali sehingga tidak
berteriak kesakitan. Kau main gila atau membadut, pikirnya. Baiklah, aku layani.
”Tentu saja, adikku yang manis. Sedikitnya dua pasang kubelikan nanti!” jawabnya dan ia
menggandeng nona itu makin dekat!
Tiga orang pengemis itu sudah jauh tak kelihatan lagi dan tiba-tiba Li Hoa merenggut tangannya
terlepas. Mukanya merah sekali dan mulutnya merengut. ”Gila, kenapa kau gandeng-gandeng aku
dan siapa minta dibelikan sepatu?” omelnya dengan suara marah.
Koleksi Kang Zusi
Han Sin mendongkol. Ia mendorong Siauw-ong turun dari pundaknya dan membentak. ”Jalan
sendiri kau! Aku lelah!” Jarang pemuda itu marah dan sekarang dia benar-benar kesal hatinya,
merasa dipermainkan oleh Li Hoa. Siauw-ong sampai kaget. Tadinya monyet ini melengut ngantuk
di pundak tuannya.
”Sebetulnya yang gila kau ataukah aku? Yang mulai menggandeng tangan dan bicara tentang sepatu
itu kau atau aku?” bantahnya dengan suara marah pula.
Eh, gadis itu tersenyum! Makin mendongkol hati Han Sin.
”Li Hoa, kalau kau selalu mempermainkan aku, lebih baik kita berjalan saling berjauhan atau
mengambil jalan masing-masing.”
”Han Sin, kau tidak bisa membedakan orang bersandiwara atau bersungguh-sungguh. Kau tidak
melihat tiga orang pengemis tadi? Aku tadi sengaja berbuat begitu supaya mereka tidak mengenal
kau dan aku.”
Baru sekarang Han Sin mengerti. ”Hemm, begitukah? Siapa sih mereka itu? Kenapa kau kelihatan
takut-takut? Kau begini lihai ......”
”Sssttt, sudahlah. Belum waktunya kau ketahui hal itu. Mari kita lekas memasuki kota dan mencari
warung nasi. Perutku lapar sekali.”
Kota yang mereka masuki itu berada di tepi sungai Fen-ho, sungai yang menjadi anak sungai
Huang-ho. Kota itu sudah termasuk kaki pegunungan Lu-liang-san.
Li Hoa segera memilih sebuah rumah makan yang teratur dan bersih tempatnya. Agaknya pelayanpelayan
rumah makan sudah mengenal nona ini, buktinya sikap mereka amat hormat dan ramah
tamah. Diam-diam Han Sin mengagumi nona ini yang menghadapi pelayanan penuh hormat itu
bersikap tenang dan agung sebagai mana layaknya seorang puteri bangsawan. Dengan suara halus
tapi berpengaruh nona ini memesan masakan-masakan yang aneh-aneh bagi pendengaran Han Sin.
Cepat pula pelayanan mereka. Sebentar saja hampir sepuluh macam masakan yang masih panas dan
berbau harum lezat tersedia di depan dua orang muda itu, membuat Han Sin timbul seleranya dan
perutnya yang sudah lapar menjadi makin lapar. Segera keduanya makan tanpa banyak cakap lagi.
”Hemm, kalau Eng-moi berada di sini dan makan bersamaku, alangkah akan senangnya.” Begitu
memikirkan adiknya, tiba-tiba leher Han Sin terasa seret dan nafsu makannya berkurang banyak. Li
Hoa yang bermata tajam tentu saja dapat melihat ini.
”Eh, ayoh makan. Sudah dipesan, untuk apa kalau tidak dimakan? Ayoh sikat saja, mana
kegembiraanmu?”
Han Sin menggunakan sumpitnya mengambil sepotong daging ikan yang gemuk, makan daging itu
dan menarik napas panjang. ”Enak sekali makanan ini, sayang adikku tidak turut menikmatinya.”
”Hemm, kembali kau teringat kepada adikmu? Agaknya bukan main besarnya cinta kasihmu
terhadap adikmu Bi Eng itu.”
”Dialah satu-satunya orang yang paling kucinta di dunia ini,” kata Han Sin sambil menyodorkan
sepotong bakso kepada Siauw-ong yang ikut pula makan sambil duduk di atas bangku di sebelah
kiri pemuda itu.
Koleksi Kang Zusi
”Senang betul menjadi dia .......” kata Li Hoa perlahan.
”Eh, kenapa ........”
”Ada yang menyayangnya .........”
”Li Hoa, apakah ...... apakah tidak ada orang yang menyayangmu?”
Ketika gadis itu menggeleng kepala, Han Sin membantah. ”Aku tidak percaya. Masa seorang
seperti engkau ini tidak ada yang menyayang? Tak mungkin .... tak mungkin .......”
Li Hoa memandang tajam. ”Kenapa tidak mungkin? Aku seorang yang kasar, galak dan tidak mau
mengalah. Orang-orang benci kepadaku, bahkan ayah selalu cekcok dengan aku dan ibu .......” Tibatiba
gadis itu menghentikan kata-katanya, agaknya teringat bahwa tidak semestinya ia bicara
tentang keluarganya kepada pemuda yang baru saja dikenalnya ini.
Pada saat itu terdengar suara nyaring dari pintu luar. ”Kami manusia-manusia kurang makan pakai
mohon dikasihani .....”
Wajah Li Hoa berubah, tapi ia tidak menengok, melanjutkan makan. Han Sin menengok dan
melihat tiga orang pengemis yang bertemu di jalan tadi ternyata telah berdiri di depan pintu! Mata
tiga orang pengemis itu semua ditujukan ke arah dia dan Li Hoa.
Seorang pelayan cepat datang menghampiri dan membentak, ”Ada tamu sedang makan, jangan
ganggu. Kalian tunggu di luar saja kalau hendak minta sedekah!”
Akan tetapi tiga orang pengemis itu tidak memperdulikannya, malah kini ketiganya melangkah
maju tiga tindak mendekati meja Han Sin.
”Tuan dan nona muda harap menaruh kasihan kepada kami bertiga, mohon derma untuk
menyembayangi roh lima orang kawan kami yang mati kelaparan di Cin-an .....” kata pula seorang
di antara mereka, seorang kakek yang berjenggot seperti kambing bandot.
Kembali wajah Li Hoa menegang, akan tetapi nona ini masih siam saja dan Han Sin melihat dengan
jelas betapa nona itu kelihatan gelisah dan takut-takut. Timbul rasa jengkelnya terhadap para
pengemis. Memang sudah selayaknya mereka minta bantuan dari orang-orang mampu, akan tetapi
cara mereka benar-benar melanggar aturan. Mana ada orang minta bantuan begini mendesak dan
tidak menanti sampai orang habis makan?
Lebih-lebih jengkelnya ketika pengemis kedua, yang hidungnya pesek, tiba-tiba meludah ke lantai
dengan suara keras. Ia juga kaget sekali melihat betapa air ludah itu ketika mengenai lantai,
membuat lantai itu berlubang! Ah, kiranya mereka ini orang-orang berilmu yang menyamar sebagai
pengemis-pengemis, pikirnya. Ia teringat akan suhunya, Ciu-ong Mo-kai yang juga selalu
berpakaian pengemis dan juga memiliki kepandaian menyemburkan arak sebagai senjata ampuh.
”Nona, kami tiga orang kakek jembel sudah sabar menanti,” kata pula si jenggot kambing.
Li Hoa minum araknya, lalu ia memutar tubuhnya di atas bangku.
”Aku ada urusan penting, tidak ada waktu melayani kalian. Kalau ada urusan, datang saja di rumah.
Urusan di Cin-an ada ayah yang membereskan, kalian kesanalah.” Heran sekali, suara nona ini
terdengar sabar dan mengalah, Han Sin senang dan menganggap alasan ini tepat biarpun ia tidak
Koleksi Kang Zusi
tahu akan urusannya. Akan tetapi kakek jembel yang meludah tadi berkata, suaranya parau seperti
suara burung gagak.
”Sudah berjumpa dengan nona di sini, itu berarti rejeki kami. Kalau kami lewatkan, bukankah itu
berarti kami tidak menerima datangnya rejeki? Nona yang baik, marilah kau bawa kami ke
rumahmu agar ayahmu mau berbaik hati memberi sumbangan.”
Han Sin makin mendongkol. Biarpun dia belum luas pengetahuannya tentang keadaan di dunia
kang-ouw, ia merasa tiga orang kakek ini sengaja hendak memaksa, mungkin hendak menawan Li
Hoa. Ia lalu bangkit berdiri dan berkata.
“Kalian bertiga ini apa-apaan? Minta sedekah kok memaksa? Nonamu tidak ada waktu, perlu
mencari sepatu. Pergilah kalian dari sini dan jangan ganggu kami.” Ia merogoh sakunya dan
mengeluarkan sepotong uang perak, ”Nih, sedekahku!”
Kakek berjenggot kambing menerima uang itu lalu ..... melemparkan uang perak itu keluar! Han Sin
terkejut dan mulai marah. Benar-benar cara pengemis yang aneh dan terlalu sekali, pikirnya.
”Aha, kalian tidak mau uang? Agaknya sudah lapar sekali? Nah, terimalah sisa masakan-masakan
ini.” Ia memberikan beberapa mangkok makanan dari atas meja. Tiga orang pengemis menerima
masing-masing semangkok lalu ...... melempar lagi isi mangkok keluar. Tanpa menoleh mereka
melempar isi mangkok yang terbang keluar pintu sampai mangkok-mangkoknya menjadi kosong,
lalu berbareng mereka melemparkan mangkok kosong ke atas meja. Aneh mangkok-mangkok itu
berputaran di udara dan turun ke atas meja tanpa mengeluarkan suara!
”Terima kasih atas kemurahan hati tuan muda.” Biarpun perbuatan mereka itu menunjukkan
kepandaian yang lihai, namun Han Sin menjadi semakin gemas.
”Hemm, kalian tidak suka daging, mungkin yang kalian cari adalah tulang-tulang dan sisa kuah.
Terimalah!” Secara sembarangan ia menyapu tulang-tulang di atas meja dengan tangan, kemudian
dengan kaku dan seperti orang marah-marah ia menuang kuah-kuah panas dari mangkok ke arah
tiga orang pengemis itu.
Li Hoa kaget sekali menyaksikan kesembronoan Han Sin. ”Jangan .....!” cegahnya. Akan tetapi
kuah-kuah panas telah disiramkan dan tiga orang kakek itu tentu saja hendak mengelak. Celaka bagi
mereka, secara aneh sekali tulang-tulang dan duri-duri ikan menyambar dan dengan tepat mengenai
jalan darah di kedua pundak mereka, membuat mereka tak mampu bergerak dan mandah saja kepala
mereka disiram kuah panas sampai kuah itu membasahi muka! Hal ini benar-benar mengejutkan
hati Li Hoa yang tidak menyangka sama sekali bahwa tadi diam-diam Han Sin mengerahkan tenaga
dan menggunakan tulang dan duri ikan untuk menyerang dengan gerak tipu dari ilmu sakti Lo-haihui-
kiam!
Tiga orang kakek itupun terkejut bukan main. Mereka tadi mencoba untuk mengerahkan lweekang,
namun serangan tulang-tulang kecil itu terlampau kuat sehingga sebelum mereka sempat mencegah,
jalan darah mereka sudah tertotok, membuat mereka tak mampu bergerak dan terpaksa menerima
siraman kuah-kuah panas!
Han Sin pura-pura kaget dan menyesal, ”Ah, tadi kalian memperlihatkan kepandaian, kenapa
sekarang benar-benar menerima siraman kuah? Celaka, aku membuat pakaian kalian kotor saja.
Harap kalian maafkan dan suka pergi jangan mengganggu kami.” Sambil berkata demikian, dengan
muka sungguh-sungguh ia menghampiri mereka dan menepuk-nepuk pakaian mereka di punggung
dan pundak yang basah oleh kuah. Kelihatannya saja ia membersihkan pakaian para pengemis,
sebetulnya ia mengerahkan tenaga dan membebaskan totokannya.
Koleksi Kang Zusi
Tiga orang kakek itu memandang tajam kepada Li Hoa, lalu mendelik ke arah Han Sin dan tanpa
berkata apa-apa lagi mereka mengeloyor pergi, keluar dari rumah makan itu.
Li Hoa bengong. ”Aneh sekali .....” katanya dengan muka pucat. ”Han Sin, kau tidak tahu betapa
berbahayanya mereka itu. Entah mengapa mereka tiba-tiba mengundurkan diri. Benar-benar Thian
masih melindungi kita.”
”Li Hoa, mereka itu siapakah dan mengapa agaknya memusuhimu?”
Akan tetapi, Li Hoa cepat membayar uang makanan dan mengajaknya keluar dari rumah makan itu.
”Nanti kuceritakan,” katanya pendek. Han Sin menggandeng tangan Siauw-ong dan ia mengikuti
nona itu keluar dari rumah makan, diam-diam bersyukur bahwa mudah saja dia tadi mengusir
pengemis-pengemis yang hendak membikin kacau. Bersyukur bahwa tidak terjadi peristiwa
pertempuran hebat.
”Berbahaya sekali .....” kata Li Hoa setelah mereka melanjutkan perjalanan menuju ke sungai Fenho.
”Mereka itu adalah para pengemis tingkat empat dari Sin-yang Kai-pang (Perkumpulan
Pengemis dari Sin-yang). Mereka selalu menimbulkan kerusuhan dan baru-baru ini ayahku telah
menghukum mati lima orang pengemis-pengemis dari perkumpulan itu di Cin-an. Entah bagaimana
agaknya mereka hendak membalas dendam kepadaku, takut kalau menghadapi ayah.” Agaknya
nona ini bicara terbatas dan singkat sekali.
”Curang,” kata Han Sin. ”Ayahmu yang menghukum mereka, kenapa kau yang diganggu.”
Nona itu menarik napas panjang, ”Han Sin, kau berkelana seorang diri atau berdua dengan adikmu,
kau tidak mengerti ilmu silat dan kau sama sekali tidak tahu menahu tentang keadaan kang-ouw.
Benar-benar berbahaya sekali.”
Mereka menyeberangi sungai dengan perahu sewaan dan setiba mereka di seberang, Li Hoa
mengajak kawannya buru-buru melanjutkan perjalanan. ”Lu-liang-san sudah kelihatan dari sini, kita
harus melakukan perjalanan cepat-cepat. Siapa tahu adikmu sudah menanti di sana bersama Bhok
Kian Teng.”
Mendengar ini Han Sin kelihatan girang sekali akan tetapi sebaliknya Li Hoa selalu mengerutkan
keningnya. Nona ini maklum betul bahwa biarpun perjalanan sudah dekat, bahayanya makin besar
dan ia diam-diam khawatir sekali. Dia sendiri memiliki kepandaian dan kiranya tak usah takut
tertimpa malapetaka. Kepandaiannya cukup dan biarpun tadi diganggu tiga orang pengemis,
andaikata terjadi pertempuran kiranya ia masih akan menang.
Akan tetapi bagaimana kalau orang-orang kang-ouw mengenal Cia Han Sin dan menangkapnya
untuk mendapatkan surat wasiat? Inilah yang menggelisahkan hatinya. Dia tadi memang sengaja
berlaku lemah dan mengalah terhadap orang-orang Sin-yang Kai-pang, bukan karena takut,
melainkan semata-mata karena khawatir kalau-kalau Han Sin dikenal orang!
Kekuatiran hati Li Hoa ternyata terbukti. Baru beberapa li mereka meninggalkan pantai sungai Fenho,
tiba-tiba mereka mendengar seruan dari belakang. ”Orang-orang muda di depan, berhentilah!”
Seruan itu terdengar perlahan seperti diteriakan orang dari jauh, akan tetapi terdengar jelas sekali.
Li Hoa mengerti bahwa orang yang berseru mempergunakan ilmu mengirim suara dari jarak jauh.
Ketika ia menoleh, betul saja ia melihat empat orang kakek yang datang dengan cepat sekali
mengejar mereka. Tak perlu lagi melarikan diri, pikirnya. Ia bersikap tenang padahal hatinya
gelisah, memikirkan bagaimana ia harus melindungi Han Sin. Menyuruh pemuda itu pergi
Koleksi Kang Zusi
bersembunyi, tak mungkin lagi karena mereka tiba di tempat terbuka, di kaki gunung yang gundul
dan hanya terdapat sawah-sawah kering di kanan kiri jalan.
Tiga orang pengemis menjemukan itu, mengejar dan yang di depan itu bukan orang sembarangan,”
katanya kepada Han Sin.
Pemuda ini mendongkol. ”Mereka benar-benar tak kenal aturan,” katanya. Mendengar nada suara
Han Sin, Siauw-ong melompat turun dan mengeluarkan suara menantang sambil memandang ke
arah empat orang yang datang seperti terbang cepatnya.
Betul dugaan Li Hoa. Yang datang adalah tiga orang pengemis yang mereka jumpai di rumah
makan tadi, bersama seorang kakek pengemis yang yang memegang tongkat pendek sekali, hanya
satu kaki pendeknya dan di tangan kirinya memegang sebuah mangkok dari emas! Benar-benar
amat aneh, seorang pengemis berpakaian butut memegang mangkok emas yang mahal.
Hati Li Hoa terkejut melihat tongkat yang pendek itu dan mangkok emas. Celaka, pikirnya. Kiranya
yang datang adalah ketua dari Sin-yang Kai-pang sendiri! Heran dia mengapa ketua yang biasanya
berada di Sin-yang ini tahu-tahu muncul di sini. Ia tanpa banyak cakap lagi ia mencabut pedangnya
dan menanti dengan waspada.
Tiga orang pengemis itu ketika berhadapan dengan Li Hoa dan Han Sin memandang dengan mata
mendelik, terutama kepada Han Sin. Sebaliknya pengemis tua yang memegang tongkat pendek dan
bertubuh tinggi kurus itu menjura sambil tertawa. ”Hebat, murid-muridku yang bodoh telah
mendapat pengajaran ji-wi yang muda. Benar-benar mengagumkan sekali bagaimana jaman
sekarang yang muda-muda mengalahkan yang tua. Sayang seribu sayang, bakat-bakat yang baik
tersesat dan menerima menjadi kaki tangan penjajah!” Kakek itu menarik napas panjang dan
kelihatan benar-benar menyesal. Diam-diam Han Sin merasa suka kepada kakek ini dan dari
ucapannya dapat diduga memiliki jiwa patriotik.
Dengan pedang melintang di depan dada dan sikapnya gagah, Li Hoa berkata kepada kakek ini.
”Kalau aku tidak salah, lo-enghiong adalah ketua dari Sin-yang Kai-pang. Aku yang muda tidak ada
urusan dengan lo-enghiong maupun dengan Sin-yang Kai-pang. Kalau lo-enghiong mau bicara
tentang negara, bukan urusanku, kalau mau bicara tentang lima orang anggautamu di Cin-an
bicaralah dengan ayahku. Kenapa orang-orangmu mendesak aku yang muda?”
Kakek pengemis itu tertawa bergelak. ”Ha ha ha, Thio-siocia benar-benar pandai bicara dan
bermata awas. Memang benar aku Kui Kong yang memimpin Sin-yang Kai-pang! Ayahmu seorang
perwira yang pandai, sayang menghambakan diri kepada pemerintah penjajah. Kau sebagai
puterinya, setelah bertemu dengan para pembantuku seharusnya dengan baik-baik ikut untuk
mengemukakan pembelaan dirimu di depanku, akan tetapi kau malah menghina mereka. Hemm,
sebagai murid Coa-tung Sin-kai kau tentu memiliki ilmu silat yang baik. Dan pemuda ini siapakah?
Aku belum mendengar Thio-ciangkun mempunyai seorang mantu.”
Merah wajah Li Hoa, apalagi kalau ia teringat akan ucapannya sendiri kepada Han Sin untuk
membelikan sepatu dan ucapan ini didengar oleh tiga orang pengemis itu. Ia menjadi marah dan
menjadi ketus, ”Dia ini sahabatku dan lebih-lebih tidak ada urusan dengan kaum Sin-yang Kaipang.
Harap lo-enghiong jangan mengganggu kami dan biarkan kami pergi.”
”Ha ha, nona merendahkan diri. Setelah berani menghina kawan-kawanku, tentu berani menghadapi
lohu. Gerakan pedangmu, hendak kulihat sampai di mana lihainya ilmu silat murid Coa-tung Sinkai!”
Kakek itu lalu menggerakkan tongkatnya yang pendek dan terdengar suara angin menderu,
tanda bahwa tenaganya amat besar.
Koleksi Kang Zusi
16. Dedengkot Iblis Hoa Hoa Cinjin
“KECUALI kalau nona mau mengaku salah dan minta maaf, tentu lohu tidak ada hati mengganggu
orang muda.”
Li Hoa adalah seorang gadis yang keras hati dan berani. Biarpun ia maklum akan lihainya orang ini,
mana dia mau minta maaf? Iapun memasang kuda-kuda dan menjawab, ”Orang she Kui jangan kira
aku Thio Li Hoa takut akan gertakanmu!”
”Bagus! Kausambutlah seranganku!” Kakek ini tanpa sungkan-sungkan lagi lalu menggerakkan
tongkat di tangan kanan dan mangkok di tangan kiri, melakukan serangan yang amat hebat,
didahului sambaran angin yang keras.
Li Hoa kaget sekali. Benar-benar ia menghadapi serangan yang luar biasa sehingga ia hanya melihat
bayangan mangkok yang berkilauan saling susul dengan bayangan tongkat pendek yang amat cepat
gerakannya. Gadis ini cepat memutar pedangnya menangkis mangkok sehingga menimbulkan suara
nyaring, akan tetapi tongkat telah menyusul ke arah mukanya sehingga tidak ada lain jalan bagi Li
Hoa kecuali melempar tubuh ke belakang sampai ia terhuyung-huyung dengan muka pucat. Selama
hidupnya belum pernah ia menyaksikan jurus yang demikian hebatnya.
Terdengar seruan kaget dan Han Sin sudah melompat maju. Pemuda ini kaget sekali karena
mengenal jurus tadi. Itulah jurus Pak-hong-hui-lam (Angin Utara Terbang ke Selatan) sebuah jurus
pertama dari ilmu silat Liap-hong Sin-hoat dari gurunya, Ciu-ong Mo-kai!
”Seorang tua menggunakan Pak-hong-hui-lam menyerang yang muda, benar-benar keterlaluan!”
serunya marah. Kalau pengemis ini sudah bisa mainkan jurus pertama dari Liap-hong Sin-hoat,
tidak boleh tidak tentu ada hubungannya dengan Ciu-ong Mo-kai, tapi kenapa begini tidak tahu
malu menyerang seorang nona yang sudah mengalah?
Di lain pihak, ketua Sin-yang Kai-pang itu terkejut setengah mati mendengar seruan Han Sin. Jurus
ini baru sekarang ia keluarkan karena menganggap bahwa nona Thio tidak boleh dipandang ringan.
Padahal jurus itu adalah kepandaian simpanannya dan ilmu silat Liap-hong Sin-hoat, baru beberapa
jurus saja ia pelajari karena memang Ciu-ong Mo-kai hanya mewariskan seluruhnya kepada Bi Eng
dan Han Sin.
Akan tetapi Kui Kong masih ragu-ragu. Ia telah mendengar dari tiga orang kawannya bahwa
pemuda ini memang seperti tolol akan tetapi sebetulnya lihai. Biarpun begitu, dari mana bisa
mengenal jurusnya tadi? Ia mencoba lagi, kini mainkan jurus kedua, tidak menyerang Li Hoa,
melainkan ia maju menyerang Han Sin, lebih hebat serangannya ini sampai dua senjatanya itu
terputar dan mendatangkan hawa pukulan seperti angin lesus!
Sekali lihat saja Han Sin sudah tahu bahwa orang ini kembali menggunakan Liap-hong Sin-hoat
jurus kedua. Tentu saja ia yang sudah hafal akan ilmu ini, tahu betul bagaimana harus
menghindarkan diri. Dalam hal ilmu sakti Liap-hong Sin-hoat, kakek itu masih boleh berguru
kepadanya. Tahu bahwa tangan kiri lawan tentu akan menyerang pundak kirinya dan tangan kanan
lawan akan menghantam kaki kanan, ia melangkahkan kaki kanannya ke belakang dan miringkan
tubuh menyembunyikan pundak kiri. Gerakannya ini otomatis dan kelihatannya seenaknya bukan
seperti orang bersilat, lebih menyerupai orang takut dan mundur-mundur. Akan tetapi serangan
hebat itu benar-benar mengenai angin!
”Kui lo-enghiong, Hong-cui-pai-hio (Angin Meniup Daun) tadi kurang sempurna, kalau orang tua
she Tang melihatnya, kau pasti disemprot!” kata Han Sin.
Koleksi Kang Zusi
Tiba-tiba Kui Kong berdiri tegak, matanya memandang penuh arti. Mulutnya berkemak-kemik dan
matanya berkedip-kedip seperti lagi ”main mata” dengan Han Sin. Pemuda ini membelalakkan
matanya, mengangkat pundak karena heran dan tidak mengerti. Sebetulnya kakek itu yang kaget
mendengar ucapan Han Sin tadi. Segera menganggap pemuda ini segolongan, apa lagi sudah
menyebut-nyebut orang tua she Tang. Maka ia memberi tanda rahasia dengan bibir dan matanya.
Akan tetapi tentu saja Han Sin tidak mengerti.
”Laote, kau ber she apakah?” kakek itu lalu bertanya, suaranya kini penuh hormat.
”Siauwte she Cia. Harap lo-enghiong sudi mengalah dan jangan terlalu mendesak nona Thio. Kalau
dilihat orang lain apakah tidak memalukan kalau seorang tua berkedudukan tinggi seperti kau
mendesak seorang gadis muda?”
”Lohu salah ..... terima salah ....” kata kakek itu merendah sambil membungkuk-bungkuk.
Kemudian kembali ia memandang dengan mata berkedip-kedip dan melihat tidak ada ”reaksi” apaapa
dari pemuda itu, ia lalu berkata.
”Bagaimana mungkin seekor domba berkawan seekor srigala?”
Tentu saja Han Sin makin heran dan makin tidak mengerti. Ia anggap orang telah bicara kacaubalau
tidak karuan. Akan tetapi agar jangan memperlihatkan bahwa ia tidak mengerti, ia menjawab
saja seenaknya.
”Tentu saja mungkin karena ada kakek-kakek tua menghina orang-orang muda.”
Jawaban ini kembali membuat ketua Sin-yang Kai-pang itu melengak. Ia mencoba untuk menatap
wajah pemuda aneh itu dengan tajam, akan tetapi segera ia menundukkan mukanya ketika matanya
terbentur sinar mata yang luar biasa kuat dan tajam berpengaruh dari mata pemuda itu. Akhirnya ia
berkata, ”Lohu bersalah ... terima salah ....” Lalu ia mengeloyor pergi mengajak tiga orang
kawannya yang saling pandang dengan penuh keheranan. Sebentar saja empat orang itu sudah
lenyap dari tempat itu.
Semenjak tadi Li Hoa memandang semua ini dengan heran dan penuh kekuatiran. Ia takut kalaukalau
pemuda itu celaka di tangan ketua Sin-yang Kai-pang yang lihai itu, maka biarpun ia tahu
bahwa tidak mudah melawan Kui Kong, namun gadis ini menggenggam pedangnya erat-erat di
tangan kanan dan menyiapkan tiga batang piauw di tangan kiri untuk melindungi Han Sin.
”Eh, apa-apaan kau tadi? Kenapa mereka mengeloyor pergi?” tanya gadis ini sambil menghampiri
Han Sin yang masih berdiri mematung.
Han Sin angkat pundaknya. ”Aku sendiripun tidak tahu. Kakek itupun seperti yang lain-lain hanya
seorang badut yang tidak lucu,” jawabnya. Sebetulnya Han Sin sudah dapat menduga bahwa karena
melihat dia paham Liap-hong Sin-hoat, tentu pengemis tua itu menganggap dia seorang tokoh kaipang
pula di selatan atau setidaknya mempunyai hubungan baik dengan Ciu-ong Mo-kai, maka
kakek itu mengalah dan pergi. Hanya ia masih tidak mengerti apa artinya ”domba berkawan
srigala” tadi?”
Pada saat itu terdengar suara melengking tinggi, suara lengkingan ketawa yang aneh dan
menggetarkan kalbu. Han Sin terkejut bukan main karena ia merasa jantungnya berguncang. Cepat
ia menenangkan pikiran dan mengirim hawa panas dari pusarnya ke dada untuk melindungi isi
dadanya. Ia melihat Li Hoa pucat dan menggigil, lalu gadis ini meramkan mata menahan napas,
terang sekali sedang mengerahkan lweekang untuk menahan pengaruh pekik yang dahsyat itu.
Koleksi Kang Zusi
Setelah pekik melengking itu lenyap dan tinggal gemanya yang panjang, gadis itu membuka
matanya dan dengan muka pucat ia menyambar lengan Han Sin diajak lari. Siauw-ong sejak tadi
sudah ketakutan dan meloncat ke pundak pemuda itu.
”Eh eh, ada apa lari-lari seperti dikejar setan?” tanya Han Sin.
”Memang dikejar setan!” jawab Li Hoa, heran sekali suara gadis ini gemetar ketakutan. ”Kalau dia
bisa menyusul kita, celaka ....!” dan ia lari makin keras menyeret tangan Han Sin. Saking takutnya,
gadis itu tidak menghiraukan lagi ke mana mereka lari dan karenanya ia memilih jalan yang paling
enak, membelok ke kiri memasuki sebuah dusun kecil.
Han Sin tak sempat bertanya lagi, dan memang dia tidak tahu keadaan dunia kang-ouw maka ia
menurut secara membuta saja. Kalau gadis ini begitu ketakutan, tentu ada bahaya yang luar biasa
besarnya. Diam-diam ia mengeluh. Lebih enak berdiam di Min-san tidak memasuki dunia ramai,
pikirnya. Ternyata dunia begini penuh manusia-manusia buas yang jahat sehingga dari tiap sudut
dan pada setiap detik ada bahaya mengancam!
Tiba-tiba dari belakang terdengar suara yang amat nyaring, suara yang serak seperti suara burung
gagak atau ular besar. ”Mana orang she Cia? Kalau ada lekas berhenti!”
”Aduh, siapa setan itu .....?” Han Sin bertanya sambil lari tersaruk-saruk karena tadi kakinya
tersandung batu ketika Li Hoa menyeretnya makin kencang.
”Dia Hoa Hoa Cinjin dan .... aduh ....!” Gadis itu menjerit dan terhuyung, tapi masih terus lari
sambil menyeret tangan Han Sin. Pemuda ini melihat pundak gadis itu mengeluarkan darah,
membasahi bajunya. Ternyata entah dari mana datangnya, sebuah jarum berwarna hijau telah
menancap pada pundak gadis itu. Orang dapat menyerang dari jarak jauh sebelum kelihatan
bayangannya, benar-benar menandakan betapa hebat dan tingginya kepandaian orang itu.
”Lekas, kita cari tempat sembunyi .....” Suara gadis itu lemah dan mukanya pucat, sama sekali tidak
perdulikan luka dipundaknya.
Li Hoa memasuki sebuah rumah gubuk seorang petani. Penghuni rumah itu, seorang laki-laki dan
seorang wanita yang sedang menggendong seorang anak laki-laki berusia tiga tahunan, kaget
setengah mati ketika pintu rumah mereka tiba-tiba terbuka dan masuk dua orang muda yang
membawa seekor monyet. Secepat kilat Li Hoa merampas bocah cilik itu, menotok jalan darah di
leher yaitu urat gagu sehingga bocah itu tidak bisa menangis, lalu berkata penuh ancaman sambil
mencabut pedang.
”Kalau ada orang datang mencari kami, bilang tidak ada. Kalau kalian mengaku, anak kalian akan
kubunuh lebih dulu!” Setelah berkata demikian, Li Hoa menyeret tangan Han Sin memasuki kamar
tidur suami isteri itu. Karuan saja sepasang suami isteri tani itu melongo dengan muka pucat sekali,
akan tetapi melihat anak mereka sudah berada dalam gendongan nona yang cantik itu, terpaksa
mereka mengangguk-angguk dengan tubuh gemetar.
Han Sin tidak setuju sekali melihat sepak terjang Li Hoa yang dianggapnya keterlaluan dan kejam.
Masa minta tolong orang untuk bersembunyi menggunakan ancaman malah merampas anak orang?
Akan tetapi ia telah diseret masuk dan ”bluss”! Gadis itu menariknya masuk ke kolong
pembaringan dan mereka meringkuk di bawah pembaringan seperti tikus-tikus bersembunyi!
”Li Hoa, kenapa .....”
Koleksi Kang Zusi
”Sssttt ....” Gadis itu menggunakan tangan menutupi mulutnya dan Han Sin terpaksa diam diri.
Siauw-ong sudah turun dan hendak keluar dari pembaringan, akan tetapi melihat sikap Li Hoa, Han
Sin lalu menariknya kembali. Akhirnya monyet itu dengan mulut dimonyongkan karena tak senang
terpaksa duduk meringkuk di tempat yang tidak enak itu. Bocah yang dirampas tidak dapat
menangis dan kini didekap oleh Li Hoa yang memepetkan tubuhnya pada Han Sin.
Han Sin mendengarkan. Keadaan sunyi senyap, sunyi yang menegangkan dan meremas jantung.
Seakan-akan terdengar jantung mereka berdebar-debar dan napas mereka terengah-engah.
Tiba-tiba terdengar suara keras di luar. ”Braakkk!” Terang sekali suara daun pintu dipukul pecah,
disusul jerit ketakutan suami isteri petani. Lalu terdengar suara yang parau kasar menusuk telinga.
”Ayoh kalian bilang, apakah tadi melihat seorang pemuda membawa seekor monyet lalu di sini?”
Han Sin merasa betapa tubuhnya didekap tubuh lain yang hangat dan halus, tubuh itu gemetar
seperti seekor kelinci tertangkap. Hidungnya mencium bau yang amat harum dan lehernya agak keri
(geli) karena sesuatu yang halus tebal menyentuh-nyentuh lehernya. Keadaan di kolong itu gelap
sehingga ia tidak dapat melihat nyata. Akan tetapi ia tahu bahwa Li Hoa dan yang menyentuh
lehernya adalah rambut gadis itu. Dalam takut dan gelisahnya agaknya gadis itu lupa segala.
Berdebar jantung Han Sin. Dia merasai ketakutan dan kegelisahan seperti gadis itu, pikirannya
masih terang maka keadaan begini tentu saja menimbulkan perasaan yang tidak karuan dalam
hatinya. Memang pada dasarnya Han Sin adalah seorang pemuda romantis, mungkin darah ayahnya
menurun kepadanya, maka ketika merasa betapa gadis itu mendekapnya, ia jadi ”melek meram” dan
berusaha menahan guncangan-guncangan jantungnya yang menjadi gedebak-gedebuk tidak puguh
(tidak karuan).
”Tidak ..... tidak ada pemuda yang loya cari itu .....” terdengar pak tani menjawab takut.
”Jangan bohong kau!”
”Loya, mohon ampun ........ kami benar-benar tidak tahu, tidak melihatnya .....” isterinya membantu.
”Awas kalau kugeledah dan ada ..... kalian akan kuhancurkan kepalamu!”
Mendengar begini, timbul jiwa kesatria di hati Han Sin. Tidak boleh setan itu membunuh orang
karena dia. Ia lalu merayap keluar dari kolong dan berdiri dalam kamar, siap berlari keluar. Akan
tetapi Li Hoa juga melompat dan tahu-tahu gadis ini sudah berdiri di depannya dengan pedang di
tangan, sikapnya melindunginya! Gadis itu berdiri menghadapi pintu kamar yang tertutup dan Han
Sin berdiri di belakangnya. Melihat sikap gadis ini, Han Sin terharu. Terang bahwa gadis ini hendak
melindunginya.
“Loya, mana kami berani membohongimu? Kami bersumpah .....”
“Sudah tidak perlu cerewet. Kalau pemuda itu hilang di dusun ini, semua orang dusun ini akan ku
basmi!” Keadaan menjadi sunyi kembali dan dapat diduga bahwa setan itu sudah pergi
meninggalkan rumah gubuk dan mencari ke lain tempat.
Li Hoa mengeluarkan napas panjang, lalu tubuhnya lemas dan tahu-tahu ia sudah pingsan dan tentu
terguling kalau Han Sin tidak cepat-cepat memeluknya. Pemuda itu melihat muka gadis itu pucat
sekali, akan tetapi dalam pingsannya masih memondong bocah itu. Han Sin lalu mengangkat Li
Hoa, dibaringkan di atas tempat tidur, lalu ia melepaskan bocah dari pelukan Li Hoa. Ketika melihat
Koleksi Kang Zusi
pundak gadis itu, ia menjadi gelisah sekali. Jarum itu masih menancap dan di sekitar luka terdapat
bengkak yang hitam menghijau, tanda keracunan!
Han Sin teringat ketika ia terluka oleh paku yang dilepas oleh pengemis kawan gadis ini. Maka
tanpa ragu-ragu ia lalu mencabut jarum dari pundak gadis itu dan keluarlah darah hitam semu hijau.
Ia bingung sekali, tidak tahu bagaimana harus mengobati luka itu. Pada saat itu suami isteri petani
memasuki kamar dengan muka pucat. Melihat anaknya menggeletak di tempat tidur di samping
nona yang pingsan, ibu itu lalu menyambar anaknya.
”Nanti dulu, biar kupulihkan dia,” kata Han Sin sambil membebaskan totokan di leher bocah itu.
Bocah itu lalu menangis, akan tetapi ibunya cepat mendekap mulutnya, lalu bersama suaminya
mereka lari dari pintu belakang.
Han Sin tidak perdulikan mereka, sibuk mengurus Li Hoa yang masih pingsan. ”Siauw-ong, kau
jaga di pintu kamar, kalau ada orang jahat, kau serang dia,” kata Han Sin. Kemudian ia merobek
pakaian gadis itu di bagian pundak yang terluka. Dalam keadaan seperti itu ia tidak memperhatikan
betapa kulit pundak gadis itu putih halus dan di lain saat pasti akan membuat dia merasa malu dan
jengah.
Karena ia dapat menduga bahwa luka itu beracun, ia lalu membungkuk dan menggunakan mulutnya
menyedot keluar darah dari luka itu. Ia merasa mulutnya getir dan pedas, akan tetapi ia tidak perduli
dan menyedot terus. Aneh sekali, begitu ia menyedot, darah dari luka itu menyembur keluar
memenuhi mulutnya. Cepat ia meludahkan darah yang agak kehijauan, lalu menyedot lagi. Baru
menyedot dua kali saja, ia merasai darah yang asin-asin manis dan ketika ia mengangkat mulutnya
yang penuh darah, luka itu sudah menjadi merah dan darah yang keluar dari luka itu juga sudah
merah.
Hatinya lega sekali ketika ia meludahkan darah untuk kedua kalinya. Biarpun ia tidak mengerti
pengobatan, tapi melihat luka itu sudah merah darahnya, ia dapat menduga bahwa racun itu tentu
sudah terhisap keluar. Namun ia masih penasaran dan membungkuk untuk menyedot sekali lagi.
Selagi ia menyedot, tubuh gadis itu bergerak, merintih perlahan dan tiba-tiba berontak dan .....
”plak! plak! plak!” tiga kali pipi Han Sin digaplok keras sekali oleh Li Hoa.
”Kau .... kau mau apa? Kurang ajar .....!” Muka yang tadinya pucat itu kini menjadi merah sekali,
mata yang indah itu berapi-api.
Han Sin melongo dan memandang bodoh. ”Aku hanya menghisap keluar racun di lukamu. Kalau
kau menganggap itu kurang ajar, terserah. Niatku hanya menolong, lain tidak .....”
”Kau .... kau telah merobek pakaianku ..... kau telah me .... melihat pundakku .... malah
menciumnya ... kau .... kau ... aku bisa membunuhmu!” Gadis itu meloncat turun dan menyambar
pedangnya.
Han Sin tersenyum pahit. ”Lukamu memang di pundak, kalau tidak merobek baju di pundak,
bagaimana bisa memeriksanya? Menghisap darah memang dengan mulut, kalau tidak ....
menempelkan bibir pada pundak, bagaimana bisa menghisapnya?”
”Kau ..... kau .....” Li Hoa lalu menangis.
”Aneh bin ajaib .....” Han Sin mengomel panjang pendek. Pada saat itu terdengar jerit-jerit
mengerikan di luar rumah.
Koleksi Kang Zusi
Mendengar ini, Han Sin teringat akan ”setan” yang oleh Li Hoa disebut bernama Hoa Hoa Cinjin.
Nama ini sudah dikenalnya karena pernah Ciu-ong Mo-kai menyebutnya sebagai nama yang harus
dihadapi dengan hati-hati karena mungkin orang inilah yang dulu membunuh orang tuanya. Kini
mendengar jerit-jerit mengerikan itu ia menduga tentu setan itu menganiaya orang-orang dusun,
maka ia segera melompat keluar disusul oleh Siauw-ong.
Akan tetapi sebelum ia keluar dari pintu depan, tangannya ditarik orang dan Li Hoa sudah berada
disampingnya dengan pedang di tangan. ”Jangan keluar, bahaya maut mengancam di luar .....”
Han Sin mengangkat pundak. ”Apa salahnya? Matipun sudah patut bagi seorang laki-laki kurang
ajar.”
Mata Li Hoa yang tadinya terbelalak takut itu menjadi basah. ”Han Sin .... kau maafkan aku tadi ...
aku ... aku ... jangan kau keluar. Biar aku menjagamu di sini.”
Han Sin tidak tega memaksa. Mereka lalu mengintai dari balik dinding bilik rumah gubuk itu dan
melihat kejadian yang hebat di dalam dusun. Ternyata ”setan” itu yang sebetulnya seorang kakek
yang menakutkan, kakek berpakaian tosu yang wajahnya menyeramkan dan galak, tinggi besar
dengan pedang di punggung, mengamuk di dusun dan membunuhi keluarga dusun yang tidak
berapa banyak itu. Dusun kecil itu hanya mempunyai enam buah rumah gubuk dan semuanya kini
dibasmi oleh Hoa Hoa Cinjin yang marah-marah karena tidak menemukan Han Sin! Benar-benar
seorang yang berhati buas dan kejam sekali di samping kepandaiannya yang luar biasa.
Ketika itu, dari luar dusun terdengar suara roda dan tahu-tahu sebuah kereta dorong telah memasuki
dusun dengan kecepatan luar biasa. Seorang nenek duduk di dalam kereta dorong itu dan seorang
pemuda tampan mendorongnya dari belakang. Pada saat itu, Hoa Hoa Cinjin yang sedang
mengamuk sedang menghampiri rumah gubuk di mana Han Sin dan Li Hoa bersembunyi,
bermaksud hendak membasmi seisi rumah. Akan tetapi melihat datangnya nenek dalam kereta
dorong, ia tidak jadi masuk rumah, malah segera menghadang di jalan.
Nenek dan pemuda itupun terkejut sekali melihat tosu itu.
”Hoa Hoa Cinjin si keparat! Kebetulan sekali kau berada di sini, tidak susah-susah lagi aku
mencarimu!” terdengar nenek itu berteriak dengan suara melengking tinggi.
Hoa Hoa Cinjin melengak, bibirnya menyeringai di balik kumisnya.
”Kau siapa?” tanyanya ragu-ragu karena memang tidak mengenal wanita setengah tua yang duduk
di kereta.
”Bangsat tua, lupakah kau kepada guruku Koai-sianjin Bhok Kim?”
Tiba-tiba tosu tua itu tertawa bergelak, suara ketawanya melengking nyaring dan kembali Li Hoa
dan Han Sin harus mengerahkan lweekang untuk menolak pengaruh suara menyeramkan ini. ”Ha ha
ha, kiranya murid Koai-sianjin? Jadi kau yang dijuluki orang Ang-jiu Toanio? Ha ha, sudah lama
pinto mendengar kau hendak mencariku untuk membalas dendam? Nah, sekarang pinto sudah di
sini, kau boleh menyusul nyawa gurumu!” Setelah berkata demikian, kakek itu menerjang maju dan
secepat kilat memukulkan tangan kanannya dengan jari-jari terbuka ke arah kereta dorong.
”Krakkkk ......!!” Suara keras ini disusul dengan hancurnya kereta dorong seolah-olah kereta dorong
itu diledakkan dan menjadi hancur berkeping-keping. Adapun Ang-jiu Toanio dan pemuda itu yang
bukan lain adalah Yan Bu puteranya, cepat mempergunakan ginkang mereka, melayang ke atas
Koleksi Kang Zusi
menghindarkan diri dari pukulan maut ini. Indah gerakan mereka, apalagi Ang-jiu Toanio yang
tadinya duduk ternyata sekarang sudah melompat ke atas dengan kedudukan telentang, tapi sekali ia
membalik, tubuhnya menukik ke bawah dan mencengkeram kepala tosu itu dengan kedua tangan
yang sudah berubah merah.
Kenapa Yan Bu bersama ibunya bisa muncul di tempat itu? Untuk mengetahui ini, baik kita mundur
sebentar untuk mengikuti pengalaman Yan Bu, pemuda yang simpatik ini.
Seperti telah kita ketahui, ketika Han Sin diserang oleh Balita di gunung Cin-ling-san, Yan Bu
muncul dan menolongnya. Yan Bu memenuhi permintaan Bi Eng, gadis lincah jenaka yang
membetot semangatnya, untuk mencari dan menolong Han Sin dari Cin-ling-pai. Akan tetapi
ternyata ia mendapatkan Cin-ling-pai sedang geger dan kacau karena diserang oleh kaki tangan
pemerintah. Yan Bu tidak mau mencampuri urusan ini dan mencari Han Sin yang akhirnya ia
jumpai sedang diancam oleh Balita.
Biarpun Yan Bu telah mewarisi ilmu kepandaian yang tinggi, terutama ginkang dan ilmu golok dari
suhunya, Yok-ong Phoa Kok Tee, namun menghadapi Balita ia masih kalah segala-galanya. Puteri
Hui yang lihai ini bukan lawannya dan terpaksa ia memancing Balita meninggalkan Han Sin untuk
menolong nyawa kakak dari gadis yang dikasihinya itu. Ia melawan sambil berlari, melawan lagi
kalau tersusul, dan lari lagi kalau ada kesempatan. Dengan cara demikian, ia dapat membikin Balita
menjadi marah, penasaran dan terus mengejarnya. Mereka berkejaran sampai turun gunung dan
akhirnya saking lelah, Yan Bu tak dapat lari lagi dan terpaksa ia melakukan perlawanan matimatian.
Dalam keadaan terdesak itu, tiba-tiba muncul Ang-jiu Toanio! Ternyata nyonya ini ketika ditinggal
oleh puteranya, dalam hati merasa tidak tega dan diam-diam lalu menyusul. Baiknya ia datang pada
saat yang amat tepat. Melihat puteranya terdesak hebat dan hampir tidak kuat lagi menghadapi
tongkat tulang ular di tangan Balita, ia lalu menyerbu sambil memaki-maki.
Melihat munculnya Ang-jiu Toanio, Balita tahu bahwa menghadapi keroyokan ibu dan anak itu
terlalu berbahaya baginya. Kalau hanya menghadapi Ang-jiu Toanio seorang saja, ia tidak gentar
dan sanggup mengalahkannya. Akan tetapi putera Ang-jiu Toanio ini memiliki ilmu golok luar
biasa dan kalau dia dikeroyok, dia bisa celaka. Apalagi dia memang tidak mempunyai permusuhan
dengan ibu dan anak ini, maka sambil tertawa mengejek ia lalu melarikan diri, kembali ke tempat di
mana tadi ia meninggalkan Han Sin. Akan tetapi ternyata pemuda itu telah lenyap.
Yan Bu dengan singkat menuturkan kepada ibunya tentang pengalamannya dan tentu saja dia tidak
bicara terus terang bahwa dia jatuh hati kepada Bi Eng. Hanya ia ceritakan bahwa ia telah berhasil
mencari Han Sin putera Cia Sun, akan tetapi di sana ada Balita sehingga ia tidak sempat
menanyakan tentang surat wasiat, juga tidak sempat bicara dengan pemuda she Cia itu.
Ang-jiu Toanio membanting-banting kakinya. ”Sayang sekali! Ayoh kita kembali ke sana dan cari
dia!”
Seperti juga Balita, Ang-jiu Toanio dan puteranya itu tidak bisa mencari Han Sin. Akhirnya Yan Bu
mengajak ibunya kembali ke sungai Wei-ho untuk menemui Bi Eng. Pemuda ini sudah mengambil
keputusan untuk melindungi gadis itu apabila ibunya hendak berlaku keras. Akan tetapi, juga di tepi
sungai Wei-ho dia tidak melihat Bi Eng. Lalu bersama ibunya ia mencari terus sehingga ia sudah
sampai di pegunungan Lu-liang-san dan kebetulan bertemu dengan Hoa Hoa Cinjin yang sedang
mengamuk dan membasmi semua penduduk sebuah dusun kecil. Seperti dulu, Yan Bu yang
berbakti tidak tega melihat ibunya berjalan lalu membuatkan sebuah kereta dorong yang kini
dengan sekali pukul dihancurkan oleh tosu sakti musuh besar ibunya itu.
Koleksi Kang Zusi
Kembali ke dusun itu. Biarpun kelihatan lemah, Ang-jiu Toanio masih merupakan orang yang
berilmu tinggi. Pukulan-pukulannya yang disertai tenaga Ang-see-jiu merupakan pukulan beracun
yang dapat merenggut nyawa lawan. Juga ginkangnya amat hebat sehingga tidak mudah bagi Hoa
Hoa Cinjin untuk mengalahkan nyonya ini dalam waktu singkat. Apalagi di situ ada Yan Bu yang
tentu saja tidak membiarkan ibunya menghadapi musuh besar ini seorang diri. Pemuda ini sudah
mencabut goloknya dan menyerbu dengan tikaman dan bacokan maut.
Pertempuran hebat terjadi dan sepak terjang Hoa Hoa Cinjin benar-benar dahsyat sekali. Tosu sakti
ini tidak mencabut pedangnya, akan tetapi pukulan-pukulan tangan dan lengan bajunya
mendatangkan angin bersiutan dan debu mengebul tinggi, tanda bahwa kakek ini sudah memiliki
tenaga lweekang yang sukar diukur tingginya. Matanya yang bersinar-sinar seperti mata iblis itu
makin mengerikan dan mulutnya tiada hentinya mengeluarkan suara ketawa mengejek.
”Ha ha ha, murid Koai-sianjin Bhok Kim ternyata hanya seorang wanita berpenyakitan dan lemah,”
katanya sambil mendesak hebat. Memang benar, Ang-jiu Toanio tidak dapat berbuat banyak
menghadapi tosu ini. Pukulan Ang-see-jiu, yang biasanya amat ampuh dan dengan sekali pukul dari
jarak jauh saja sudah dapat merobohkan seorang lawan, kini menghadapi Hoa Hoa Cinjin seperti
tidak ada artinya lagi. Hawa pukulan Ang-see-jiu mental kembali begitu terbentur oleh hawa
pukulan yang menyambar dari kedua tangan tosu sakti itu. Sebaliknya, desakan-desakan Hoa Hoa
Cinjin membuat Ang-jiu Toanio repot sekali dan beberapa kali sambaran hawa pukulan tosu ini
membuat dia terhuyung-huyung.
Melihat betapa ibunya didesak, dengan nekat Yan Bu mainkan goloknya dan Hoa Hoa Cinjin
sampai berseru kagum. ”Hebat ilmu golok dari Yok-ong. Tapi, bocah, jangan kaukira pinto jerih
menghadapinya. Ha ha ha!” Secepat kilat, dengan ilmu silat Kong-jiu-coan-to (Tangan Kosong
Terjang Golok) ia memapaki serangan pemuda itu. Akan tetapi tosu ini berseru kaget ketika golok
pemuda itu tiba-tiba menyambar dan hampir saja lengan kanannya terbabat kalau ia tidak lekaslekas
menarik kembali. Keringat dingin membasahi jidatnya dan diam-diam ia harus akui bahwa
ilmu golok dari Yok-ong ini benar-benar lihai dan tidak terduga gerakannya.
Ia berseru keras sekali, ujung lengan bajunya menyambar dengan tangan tersembunyi di dalamnya.
Ujung lengan bajunya yang lemas ini begitu membentur golok terus melibat dan tangan yang
tersembunyi di dalamnya secara tiba-tiba menangkap keluar dan di lain saat golok pemuda itu telah
dapat ia rampas!
Pada saat itu Ang-jiu Toanio menyergap dari samping dengan pukulan Ang-see-jiu. Sambil tertawa
Hoa Hoa Cinjin menggunakan golok rampasannya untuk menangkis pukulan sambil membabat
tangan.
”Krakk!” Golok itu terlempar dan gagangnya yang terbuat dari pada kayu telah remuk di tangan
Hoa Hoa Cinjin. Kalau bukan golok mustika, tentu akan patah-patah terpukul Ang-see-jiu. Biarpun
golok terlempar oleh pukulan, namun saking kuatnya pegangan Hoa Hoa Cinjin, gagangnya tidak
ikut terlepas malah hancur di tangannya, sedangkan tangan Ang-jiu Toanio yang tertekan golok
luka berdarah. Hoa Hoa Cinjin mendesak maju dan totokan dengan ujung lengan bajunya membuat
tubuh Ang-jiu Toanio terguling.
”Jangan ganggu ibu!” bentak Yan Bu sambil menubruk maju, namun sekali dupak pemuda itu
terpental.
Sambil tertawa-tawa Hoa Hoa Cinjin melangkah maju, mengangkat tangan hendak memukul kepala
nyonya yang sudah tak berdaya itu. Tangan diangkat, pukulan akan dijatuhkan, akan tetapi tiba-tiba
ia membatalkan maksudnya. ”Hemmm, melihat muka dia, aku ampunkan nyawamu,” katanya
Koleksi Kang Zusi
perlahan. Tak seorangpun tahu siapakah yang dimaksud oleh tosu ini dengan sebutan ”dia” tadi.
Pukulan ke arah kepala dibatalkan, sebaliknya ia lalu menghantam ke arah pundak kiri nyonya itu.
”Plakk!” Ang-jiu Toanio menjerit dan pingsan.
”Kau berani celakai ibu?” Yan Bu yang sudah bangun, menerjang lagi dengan marah, penuh
kekuatiran melihat ibunya dipukul oleh tosu kejam itu.
Sambil mengelak, Hoa Hoa Cinjin membentak.
”Kalau kau tidak memiliki ilmu golok Yok-ong Phoa Kok Tee, apakah pinto sudi mengampunimu?
Ayoh, kau lekas bawa ibumu mencari Yok-ong biar Raja Obat itu mencoba kepandaiannya. Dalam
sepuluh hari kalau kau tidak bertemu dengan Yok-ong, ibumu akan mampus.”
Mendengar ini, Yan Bu tidak jadi menyerang lalu menubruk ibunya. Ia melihat wajah ibunya pucat
sekali. Sebagai seorang murid Raja Obat, tentu saja Yan Bu mengerti ilmu pengobatan, maka ia
cepat memeriksa pundak kiri ibunya. Alangkah kagetnya ketika ia melihat ada tapak jari hitam
menghijau di pundak itu, tanda bahwa ibunya telah terkena pukulan beracun yang lebih berat dari
pada Ang-see-jiu! Dan ia maklum pukulan apakah ini.
”Manusia keji! Kau menggunakan Ceng-tok-ciang memukul ibu!” seru Yan Bu marah, gelisah dan
sakit hati.
Hoa Hoa Cinjin membelalakkan matanya lalu tertawa. ”Ha ha, kau tidak percuma menjadi murid
Yok-ong. Dalam sepuluh hari kau boleh mencarinya, akan tetapi kalau sudah bertemu, belum tentu
gurumu itu becus mengobatinya. Ha ha ha!”
Yan Bu memondong tubuh ibunya. ”Hoa Hoa Cinjin, kau dulu membunuh guru ibuku, bagiku hal
itu takkan kutarik panjang. Akan tetapi perbuatanmu terhadap ibu hari ini, kelak aku Phang Yan Bu
pasti akan mencarimu untuk mengadu nyawa!” Lalu pemuda itu berlari cepat sambil memondong
tubuh ibunya.
Semenjak tadi hati Han Sin sudah panas dan marah sekali menyaksikan sepak-terjang Hoa Hoa
Cinjin yang ganas. Apalagi ketika mendapat kenyataan bahwa kakek itu adalah seorang pemeluk
agama To-kauw, ia makin pemasaran. Hanya karena ditahan oleh Li Hoa maka dia menyabarkan
diri. Akan tetapi ketika ia melihat betapa kakek itu melukai Ang-jiu Toanio yang biarpun oleh Ciuong
Mo-kai dianggap musuh ayahnya akan tetapi dalam pandangannya tidak lain hanya seorang
wanita setengah tua yang berpenyakitan, dan melihat pula betapa kakek itu menghina Yan Bu,
pemuda yang dianggapnya amat baik kepadanya dan pernah pula menolongnya ketika ia diserang
Jin Cam Khoa Balita, Han Sin tak dapat menahan kesabarannya pula. Sebelum Li Hoa tahu dan
sempat mencegah, Han Sin sudah melompat keluar, diikuti oleh Siauw-ong. Bukan main gelisahnya
hati Li Hoa melihat ini dan terpaksa iapun melangkah keluar.
Hoa Hoa Cinjin yang sama sekali tidak menyangka, ketika melihat seorang pemuda tampan dengan
tenangnya bersama seekor monyet keluar dari rumah gubuk itu, berdiri tercengang. Bukankah yang
dia cari adalah seorang pemuda yang membawa-bawa seekor monyet? Dia belum pernah melihat
Han Sin, hanya mendengar saja tentang pemuda ini. Dicari setengah mati, malah karena mencarinya
ia tadi telah membunuh banyak penduduk dusun tanpa hasil. Eh, tahu-tahu orang yang dicarinya
muncul dan menghampirinya. Keherannya ini ditambah lagi ketika ia melihat sikap dan mendengar
kata-kata pemuda itu yang datang-datang menudingkan telunjuk kepadanya dan berkata marah.
Koleksi Kang Zusi
”Eh, orang tua yang bernama Hoa Hoa Cinjin, kau benar-benar telah menyeleweng secara luar biasa
sekali! Dandananmu adalah seorang tosu, kenapa sebagai seorang pendeta To-kauw begitu keji dan
tidak mengenal prikemanusiaan? Apa kau sudah lupa bunyi permulaan ayat ke tiga puluh satu dari
kitab Tok-tik-khing bahwa senjata merupakan alat kejahatan yang dijauhi oleh penganut To?
Apakah lupa bahwa guru besar Khong Hu Cu mengutamakan Jin-gi-lee-ti-sin yang menuntun jalan
hidup manusia ke arah prikemanusiaan? Bagaimana pula ajaran guru besar Mo Ti yang menyuruh
manusia cinta kepada sesama manusia tanpa perbedaan? Juga semua aliran, seperti aliran Im-yang,
Hoat, malah Beng-kauw sendiripun tidak ada satu yang akan membenarkan perbuatan tadi. Untuk
mencari aku seorang, kau membunuh-bunuhi rakyat tidak berdosa, kau malah melukai seorang
perempuan setengah tua yang lemah dan berpenyakitan, hemm, coba jawab Hoa Hoa Cinjin,
sebagai seorang tosu apakah perbuatanmu itu tidak menyeleweng?”
Han Sin bicara penuh nafsu, sepasang matanya bersinar-sinar sedemikian tajamnya sehingga diamdiam
Hoa Hoa Cinjin kaget sekali karena dia sendiri yang memiliki sepasang mata yang tajam dan
kuat, terpaksa harus tunduk menghadapi pengaruh dari sepasang mata bocah ini. Dan ia sampai
melongo saking terheran-heran melihat pemuda yang dicarinya itu kini datang-datang memberi
kuliah tentang filsafat-filsafat kuno dari pelbagai aliran demikian lancarnya! Keadaan ini biarpun
membuat dia terheran-heran, namun begitu lucu baginya sehingga lupa ia akan marahnya, lupa
bahwa dia telah dikuliahi seperti seorang murid oleh seorang bocah!
”Ha ha ha, kau lucu .....! Lucu ......!”
”Apanya yang lucu? Kau ini tosu tua jangan anggap perbuatan-perbuatanmu tadi sebagai hal remeh
saja. Dosamu besar sekali. Akan tetapi tidak ada dosa yang tak dapat diampuni oleh Thian, asal saja
yang berdosa itu memenuhi satu syarat, yaitu merasa bertobat dan menebus dosa-dosanya dengan
pemupukan perbuatan baik dan menyenangkan serta menolong orang lain. Kalau kau bisa sadar dan
berubah menjadi tosu yang baik, Hoa Hoa Cinjin, kelak aku Cia Han Sin akan menganggapmu
betul-betul sebagai seorang yang bijaksana.”
Sementara itu, Hoa Hoa Cinjin sudah menjadi marah kembali. Apa lagi ketika pemuda ini sudah
memperkenalkan diri. Tadinya ia ragu-ragu apakah betul pemuda ini putera Cia Sun yang kabarnya
sudah membunuh sutenya, Ban Kim Cinjin karena melihat pemuda ini seperti orang muda yang
otaknya miring dalam pandangannya.
”Bocah, kau membunuh suteku saja sudah patut mampus. Sekarang kau berani membuka mulut
besar menegur dan memberi nasehat kepadaku, benar-benar kau pantas mampus sepuluh kali!”
Tosu ini dengan marah melangkah maju dan siap memukul.
”Hidup atau mati adalah urusan Thian, bagaimana kau tosu berdosa besar masih berani bicara
tentang mati sepuluh kali?” Han Sin membentak, marah melihat orang yang dianggapnya terlalu
jahat.
”Keparat, tutup mulutmu untuk selamanya!” Hoa Hoa Cinjin mengangkat tangannya.
”Totiang, tahan!” dan Li Hoa meloncat ke depan menghadapi tosu itu.
Hoa Hoa Cinjin memandang. ”Eh, kiranya Thio-siocia ....” katanya terheran-heran dan mukanya
berubah. Memang ia tahu bahwa pemuda ini tidak hanya bersama seekor kera, juga kabarnya
mempunyai seorang adik perempuan dan tadinya ia mengira pemuda ini bersama adiknya itu. Tidak
tahunya sekarang muncul puteri Thio-ciangkun!
Koleksi Kang Zusi
”Totiang, orang she Cia ini adalah tawananku, harap totiang jangan mengganggunya,” kata gadis itu
dengan pandangan mata tajam.
Hoa Hoa Cinjin kelihatan bingung. ”Jadi ..... selama ini kaukah yang bersama dia, siocia? Dan
ketika aku memukul seorang gadis disampingnya dari jauh ......”
”Akulah orang itu. Kau telah melukai pundakku.”
Muka tosu itu menjadi merah. ”Ehh ....... celaka. Pinto salah lihat ..... siapa sangka nona yang
bersama dia? Maaf, bocah ini yang menimbulkan malapetaka ini. Harap nona jangan salahkan
pinto.”
Li Hoa tersenyum pahit. ”Tidak apalah. Sekarang harap totiang tinggalkan kami dan urusan orang
ini berada di tanganku.”
”Tapi, nona ..... dia ini, dia anak Cia .......”
”Aku sudah tahu. Totiang laporkan saja sudah berada di tanganku.”
”Dia ..... dia sudah membunuh Ban Kim Cinjin .....”
“Itupun aku sudah tahu. Sudahlah, tinggalkan kami.”
“Tapi, Thio-siocia ......”
“Hoa Hoa Cinjin! Apakah setelah melukai pundakku, kaupun ada keberanian untuk memberontak?”
“Bukan ....... tapi dia yang menyuruhku ...... Thio-siocia. Bocah ini berbahaya. Kalau sampai
terlepas lagi, tentu kita mendapat marah.”
“Siapa berani marah kepadaku? Tidak, totiang. Serahkan urusan ini kepadaku.”
Hoa Hoa Cinjin ragu-ragu. Han Sin terheran-heran melihat sikap Li Hoa. Ternyata gadis ini
mempunyai pengaruh yang besar dan kelihatan sama sekali tidak takut menghadapi Hoa Hoa
Cinjin. Akan tetapi kenapa tadi nona itu kelihatan ketakutan setengah mati ketika dikejar Hoa Hoa
Cinjin? Rahasia apakah berada di balik semua kejadian ini?
Akhirnya Hoa Hoa Cinjin berkata, “Bagaimanapun juga, resikonya terlalu besar membiarkan bocah
setan ini berkeliaran dan kau berada di dekatnya, nona Thio. Dia harus dibuat tak berdaya.” Setelah
berkata demikian, secepat kilat tangannya bergerak ke arah Han Sin. Pemuda itu sama sekali tidak
menyangka dirinya bakal diserang. Ia mengeluh dan roboh terguling.
17. Gadis Berkedok Putih.
“HOA HOA CINJIN ..... kalau kau bunuh dia .....!” Li Hoa melompat. Nona ini lalu menekuk lutut
dan memeriksa Han Sin yang sudah setengah pingsan, dadanya terasa sakit sekali. Akan tetapi ia
masih dapat melihat dan mendengar dua orang itu bicara.
“Dia tidak mati. Akan tetapi dalam sepuluh hari dia akan mampus dalam keadaan menderita sekali.
Pinto memberi waktu sepuluh hari, karena bukankah sebelum waktu itu kau bisa membawanya ke
puncak? Di sana pinto akan menanti bersama dia yang akan memberi keputusan. Pinto lakukan ini
demi keselamatanmu sendiri, nona. Nah, sampai ketemu!”
Koleksi Kang Zusi
Tosu itu hendak pergi tapi tiba-tiba terdengar lengking ketawa yang tinggi kecil. Lengking ini
menyerupai lengking yang suka dikeluarkan oleh Hoa Hoa Cinjin, akan tetapi lebih tinggi dan
menusuk telinga. Biarpun Han Sin sudah roboh hampir pingsan, jantungnya masih berdebar dan
berguncang mendengar bunyi ini dan Li Hoa kelihatan terkejut sekali. Akan tetapi Hoa Hoa Cinjin
tertawa dan membalas dengan suara lengkingnya yang keras.
Tak lama kemudian berkelebat bayangan putih dan tahu-tahu di situ berdiri seorang gadis yang
bertubuh ramping sekali berkulit putih halus, di punggungnya kelihatan gagang pedang. Akan tetapi
kepala gadis ini ditutup kedok sutera putih yang tidak hanya menyembunyikan mukanya, malah
seluruh kepalanya tersembunyi di dalam kedok yang bentuknya seperti sebuah kantong itu. Hanya
di bagian mata diberi lubang sedikit dan dari balik kedok sutera itu bersinar sepasang mata yang
bercahaya bening, mata seorang wanita cantik.
“Gi-hu, berhasilkah kau menangkap bocah she Cia?” terdengar suara gadis berkedok itu, suaranya
juga merdu halus, tidak kalah oleh suara Li Hoa. Diam-diam Han Sin terheran-heran dan meremang
bulu tengkuknya. Tidak nyana seorang gadis yang memiliki suara demikian empuk, memiliki
potongan tubuh demikian ramping dan kulit demikian putih halus, kiranya adalah anak angkat
seorang kejam dan jahat seperti Hoa Hoa Cinjin. Kalau ayah angkatnya sudah demikian keji, tentu
perempuan inipun bukan orang baik-baik. Kedoknya saja sudah begitu menyeramkan, pikirnya.
“Ha ha, Hoa-ji, kau menyusulku? Bagus, memang aku mengharapkan kau dapat menyaksikan
keramaian di puncak, hitung-hitung menambah pengalaman. Kau tanya tentang bocah she Cia? Itu
dia, sudah kuhadiahi Tong-sim-ciang. Ha ha ha!”
Nona berkedok yang dipanggil Hoa-ji (anak Hoa) itu juga tertawa, suara ketawanya merdu sekali
seperti orang bernyanyi. “Gi-hu (ayah angkat), kenapa tidak dimampuskan saja dan dirampas surat
wasiatnya?”
Sambil berkata demikian, nona berkedok itu sekali menggerakkan tubuhnya yang langsing, tubuh
itu melayang amat ringannya ke tempat Han Sin menggeletak. Mata di balik kedok itu
mengeluarkan sinar menatap ke wajah pemuda itu. Melihat ini Li Hoa serentak berdiri dan di lain
saat pedangnya sudah berada di tangan kanan. Gadis ini dengan wajah keren tanpa kenal takut
membentak.
“Siapa kau? Jangan sembarangan bergerak!” Sikapnya mengancam sekali. Tadi Li Hoa mendengar
gadis berkedok ini menyebut “gi-hu” kepada Hoa Hoa Cinjin. Ia tidak pernah mendengar bahwa
tosu kosen itu mempunyai anak angkat ataupun murid, akan tetapi ia dapat menduga bahwa gadis
berkedok ini setelah menjadi anak angkat tosu itu, tentu juga kejam dan lihai sekali. Ia hanya dapat
melihat sepasang mata yang berkilat-kilat ditujukan kepada Han Sin, tidak tahu bagaimanakah
wajah gadis ini dan tidak dapat menduga pula pikiran apa yang terkandung di balik sepasang mata
indah itu.
“Hoa-ji, jangan bunuh dia. Dia menjadi tawanan nona Thio yang tentu akan membawanya ke
puncak Lu-liang-san. Nona Thio puteri Thio-ciangkun itu orang sendiri, bukan lawan,” terdengar
Hoa Hoa Cinjin berkata.
Nona berkedok itu mengeluarkan suara mendengus, agaknya memandang rendah. Matanya
mengerling sekilat ke arah Li Hoa, akan tetapi segera dialihkan kembali menatap wajah Han Sin.
Pada saat itu, Han Sin sudah sadar betul dan pemuda ini kebetulan juga memandang kepadanya
sehingga dua pasang mata itu bertemu. Nona berkedok meramkan matanya yang terasa pedas ketika
bertemu dengan sinar mata pemuda itu yang luar biasa tajam berpengaruh.
Koleksi Kang Zusi
“Iiihh, Dia bermata iblis .....” terdengar nona ini berseru, lalu mundur tiga tindak. Baru sekarang ia
menoleh dan menghadapi Li Hoa, kini pandang matanya menyelidik. Dipandangnya gadis she Thio
itu dari kaki sampai ke rambutnya yang disanggul secara istimewa. Ia mengeluarkan suara ketawa
kecil, akan tetapi suaranya penuh pujian ketika ia berkata, “Inikah nona puteri Thio-ciangkun yang
membantu orang-orang Mancu, gi-hu? Cantik manis .....!”
Hoa Hoa Cinjin tertawa bergelak. “Ha ha ha, Hoa-ji. Di dunia ini mana ada yang bisa menandingi
engkau ....?” Tosu itu lalu berkelebat pergi dan nona berkedok itupun melesat cepat mengikuti gihunya,
dan dari jauh masih terdengar lengking ketawa mereka, satu keras parau dan yang satu lagi
tinggi kecil dan nyaring.
“Hebat ........” terdengar Li Hoa berkata seorang diri. “Agaknya tidak lebih tua dariku, akan tetapi
sudah memiliki khikang demikian tinggi. Sungguh hebat dan berbahaya ....”
“Aduuhhh ...... hemm .... dingin ..........!”
Li Hoa cepat membalikkan tubuh dan berlutut lagi di dekat Han Sin. Pemuda itu kelihatan
menggigil kedinginan dan menekan-nekan perutnya.
“Bagaimana ....? Sakitkah?” Li Hoa bertanya gelisah.
“Dingin sekali ....... seperti beku isi dada dan perutku ......” kata Han Sin meringis menahan sakit.
Pemuda ini tadi terpukul oleh Hoa Hoa Cinjin yang menggunakan pukulan Tong-sim-ciang yang
mengandung lweekang tinggi. Kalau kakek itu mengerahkan seluruh tenaganya, tentu jantungnya
sudah tergetar dan rusak mendatangkan maut. Akan tetapi Hoa Hoa Cinjin sengaja menahan
tenaganya, memberi kesempatan kepada pemuda itu untuk hidup sepuluh hari lagi. Hanya Hoa Hoa
Cinjin yang akan dapat mengobati pemuda ini, itupun akan memakan waktu lama sekali.
Pukulan Tong-sim-ciang ini mengandung tenaga “Yang” yaitu tenaga yang amat panas sehingga
orang yang terkena pukulan ini akan merasa dirinya terbakar hidup-hidup dan jantung akan menjadi
rusak karena darah berjalan terlalu cepat akibat hawa panas yang merasuk ke dalam jalan darah.
Akan tetapi, mengapa pemuda ini malah merasa dingin dan menggigil? Tentu saja kalau Hoa Hoa
Cinjin masih berada di situ dan melihat keadaan Han Sin, tosu itu akan menjadi terheran-heran dan
tidak mengerti.
Memang keadaan Han Sin tidak sama dengan orang-orang biasa. Dia telah minum darah ular Pekhiat-
sin-coa dan di dalam jalan darah di tubuhnya sudah mengalir sebagian dari pada darah ular itu.
Maka begitu ia terkena pukulan yang tak disangka-sangkanya itu, racun pukulan yang bertemu
dengan racun Pek-hiat-sin-coa, bertanding di dalam jalan darahnya dan racun Tong-sim-ciang itu
segera berubah sifatnya, sebaliknya malah mendatangkan hawa dingin karena berubah menjadi
hawa “Im” yang amat dingin. Akan tetapi hal ini tidak membahayakan Han Sin, malah
melenyapkan bahaya yang mengancamnya, jantungnya tidak terganggu dan ia hanya menderita
perasaan dingin yang luar biasa saja di dalam perut dan dadanya.
Li Hoa yang tidak tahu akan keadaan sebenarnya dalam tubuh Han Sin, melihat pemuda itu
menggigil dengan muka pucat, makin gelisah sampai-sampai ia tidak merasa betapa dua butir air
mata membasahi di pipinya!
“Han Sin ...... jahat sekali tosu itu ..... awas dia, kalau sampai kau tidak tertolong, aku akan
mengadu nyawa dengannya .....! Ah, bagaimana baiknya ini?” Ia merangkul belakang leher Han
Sin, mencoba untuk mendudukkan pemuda itu. Akan tetapi Han Sin yang baru saja terserang hawa
Koleksi Kang Zusi
dingin, hanya menggigil keras dan tidak bisa bangun, malah ia tidak sadar betapa gadis itu
memeluknya dan menangis.
“Dingin ...... dingin .....!” Gigi pemuda itu sampai bersuara karena menggetar. “Minta ...... minum
panas-panas ......!”
Li Hoa menurunkannya lagi telentang di atas tanah. “Aku akan mencarikan minum panas
untukmu.” Cepat ia memasuki rumah-rumah gubuk di dusun itu. Akan tetapi rumah-rumah itu
sudah kosong, penghuninya sudah pada mati bergeletakan di depan atau di dalam rumah sampai
hati nona yang biasanya tabah ini menjadi ngeri melihatnya.
“Ganas sekali Hoa Hoa Cinjin,” pikirnya dengan mengkirik. Banyak sudah ia melihat orang
dibunuh akan tetapi pembunuhan itu adalah hukuman bagi orang-orang yang dianggap jahat oleh
ayahnya. Sekarang ia melihat orang-orang dusun yang tidak berdosa dibunuh begitu saja oleh Hoa
Hoa Cinjin, hatinya memberontak. “Kenapa ayah bekerja sama dengan manusia macam Hoa Hoa
Cinjin? Kenapa orang-orang jahat belaka yang bekerja dengan ayah ....?” Pikiran ini menimbulkan
keraguan dan kesangsian di dalam hatinya akan tepatnya pekerjaan yang dipegang oleh ayahnya.
Karena memikirkan keadaan Han Sin, ia lalu memasuki sebuah dapur di rumah gubuk terdekat,
yaitu rumah petani yang sudah menyembunyikan mereka. Cepat-cepat ia membuat api dan
memasak air. Lalu ia kembali kepada Han Sin sambil membawa secawan air panas.
“Ini air panas, Han Sin. Kau minumlah ....” Ia lalu membantu pemuda itu bangun duduk. Han Sin
agaknya sudah sadar lagi karena ia dapat duduk biarpun masih payah. Baru sekarang ia menyadari
keadaannya, betapa gadis itu menahan belakang lehernya dan memberinya minum. Diam-diam ia
terharu dan teringatlah ia adegan tadi betapa gadis ini melindungi dan membelanya. Diam-diam ia
merasa heran sekali. Ke dalam golongan orang bagaimana ia harus masukkan gadis ini? Golongan
jahat atau golongan baikkah? Akan tetapi ia tidak sempat berpikir lagi dan segera minum air panas
dari cawan yang disodorkan ke bibirnya oleh Li Hoa.
Aneh sekali, begitu perutnya kemasukan air panas, rasa dingin melenyap dan tenaganya pulih
kembali. Memang rasa dingin di perutnya itu bukan gejala penyerangan atau keracunan, melainkan
akibat dari pada kemenangan racun Pek-hiat-sin-coa yang mengalahkan racun pukulan Tong-simciang
sehingga hawa panas pukulan ini berubah menjadi dingin.
Melihat wajah pemuda itu menjadi segar kembali dan kelihatan sembuh, bukan main girangnya hati
Li Hoa, sungguhpun masih ada kekhawatirannya karena mendengar dari Hoa Hoa Cinjin bahwa
pemuda ini hanya akan dapat hidup sepuluh hari saja. Mana ia tahu bahwa racun pukulan tadi itu
sudah musnah dan tidak ada bahayanya lagi?
“Han Sin, jangan khawatir. Betapun kejinya, Hoa Hoa Cinjin takkan berani membantah permintaan
ayah. Aku akan minta kepada ayah supaya Hoa Hoa Cinjin memberi obat pemunah racun
pukulannya. Mari kita pergi ke puncak Lu-liang-san ini.
Han Sin kelihatan bengong. Kemudian ia menggeleng kepala. “Tosu itu tersesat. Aku tidak apa-apa
Li Hoa, tidak merasa dingin atau sakit lagi. Kau tidak usah kuatir. Li Hoa, kau baik sekali. Kenapa
kau sebaik ini padaku? Eh, kenapa kau selalu melindungiku? Apakah hanya karena kau ingin aku
membawamu ke tempat penyimpanan warisan rahasia dari Lie Cu Seng?”
Muka gadis itu menjadi merah sekali ketika mendengar pertanyaan ini. Tadinya ia hendak
menentang pandangan mata Han Sin, akan tetapi ketika matanya bertemu dengan sinar mata
pemuda itu yang memandangnya penuh selidik, ia lalu tundukkan mukanya.
Koleksi Kang Zusi
“Bagaimana Li Hoa. Jawablah agar aku tidak menyangka yang bukan-bukan.”
Li Hoa tidak menjawab, hanya mengangguk. Han Sin menghela napas, kecewa bukan main. Ia
tadinya mengharap bahwa gadis ini melindungi dan membelanya karena keluar dari hati yang baik
sehingga ia tanpa ragu akan memasukkan gadis ini ke dalam golongan orang-orang baik.
Mendengar bahwa “kebaikan” gadis ini hanya untuk tujuan mendapatkan harta simpanan, ia sudah
bukan menganggap hal-hal itu semacam kebaikan lagi. Kembali ia menarik napas panjang,
nampaknya kecewa dan berduka sekali. Benar-benar sedih hatinya kalau ia harus memasukkan
gadis ini ke dalam golongan orang jahat.
“Salah ...... salah, Li Hoa. Kau telah tersesat dan menyeleweng dari pada kebenaran.”
“Apa maksudmu ....?”
“Kalau tidak hendak menolong, janganlah menolong. Melakukan kebaikan disertai pamrih, disertai
harapan untuk menerima balasan, bukanlah kebaikan lagi namanya, melainkan penipuan, malah
pemerasan! Melakukan perbuatan yang bersifat kebajikan haruslah berdasarkan perasaan hati yang
bersih, berdasarkan prikemanusiaan yang mewajibkan setiap manusia berlaku baik. Haruslah
digerakkan oleh perasaan kasihan yang sewajarnya, kasih sayang antara manusia. Dengan demikian
barulah perbuatan baik itu benar-benar baik dan bersih. Janganlah mengharapkan balasan
keuntungan duniawi, bahkan dengan mengharapkan syukur dan terima kasih saja dari yang
ditolong, sudah lenyaplah sifat murni dari kebaikan itu, sudah minta DIBELI dengan terima kasih!
Kau keliru Li Hoa, kau tersesat dan aku menyesal sekali .....”
Terpukul hati Li Hoa mendengar filsafat pemuda yang aneh ini. Tadi ia tidak berterus terang,
sekarang melihat pemuda ini dan mengingat bahwa mungkin sekali dalam sepuluh hari ini tidak
akan melihat pemuda ini masih hidup, ia mengesampingkan rasa jengah dan malu, lalu berkata,
“Han Sin, memang sejak sebelum berjumpa dengan kau, di dalam hatiku sudah ada keinginan
mendapatkan surat wasiat Lie Cu Seng. Maka bukan semata karena surat itulah aku membelamu,
biarpun tanpa adanya surat wasiat, aku ... aku tetap akan membelamu.”
“Hemm, hanya terhadap aku seorangkah perasaanmu itu?”
“Habis, masa terhadap setiap orang aku harus begitu?”
“Seharusnya demikian, harusnya. Bukan hanya terhadap aku.”
“Tak mungkin aku harus mempertaruhkan nyawa untuk membela setiap orang.”
Sunyi sebentar. “Eh, Li Hoa, kenapa justru terhadap aku kau mempunyai perasaan begitu yakin ......
hendak membela mati-matian?”
Li Hoa menundukkan mukanya. Bodoh amat pemuda ini, pikirnya. Mana bisa seorang gadis seperti
dia harus mengaku terang-terangan bahwa dia menyinta pemuda itu? ”Entahlah, Han Sin. Hanya
aku harus, sekali lagi aku harus membelamu, karena ... mungkin sekali karena aku tidak suka
melihat kau kena celaka.”
Han Sin menghela nafas, tidak puas. “Sudahlah, kau memang baik. Sayang kau tidak mempelajari
filsafat-filsafat para bijaksawan jaman dahulu. Mari kita lanjutkan perjalanan. Puncak Lu-liang-san
sudah nampak, aku ingin bertemu secepatnya dengan Bi Eng. Entah ada apa di sana itu, agaknya
Koleksi Kang Zusi
orang-orang ... tersesat, seperti Hoa Hoa Cinjin berkumpul di sana. Aku kuatir sekali akan diri
adikku .....”
Maka berangkatlah dua orang muda itu. Han Sin dengan penuh kepercayaan bahwa dia tentu akan
dapat bertemu dengan Bi Eng dan menolong adiknya itu. Sebaliknya, Li Hoa penuh kegelisahan,
takut kalau-kalau pemuda ini takkan dapat tertolong dari lukanya di sebelah dalam akibat pukulan
Hoa Hoa Cinjin.
****
Mari kita tengok keadaan Bi Eng, gadis lincah jenaka yang memiliki keberanian luar biasa itu.
Tanpa menduga sedikitpun juga bahwa ia telah terjatuh ke dalam tangan seorang luar biasa, seorang
yang pada nona ini mengikuti Bhok-kongcu menuju ke Lu-liang-san. Memang sukarlah menyangka
pemuda ini sebagai seorang jahat. Sikap lemah lembut, bicaranya manis budi, gerak-geriknya
seperti seorang sastrawan muda, seorang kongcu (tuan muda) yang betul-betul memiliki kepandaian
sastra dan silat (bun-bu-coa-jai).
Lebih percaya lagi Bi Eng kepada pemuda itu ketika mendapat kenyataan betapa di sepanjang
perjalanan mereka berdua menuju ke Lu-liang-san, pemuda itu memperlihatkan sikap yang
menghormat sekali, sama sekali tak pernah memperlihatkan kekurangajaran. Bermalam di rumah
penginapan, selalu Bhok-kongcu memilihkan kamar terbaik bagi Bi Eng dan dia sendiri memilih
kamar sederhana. Malah pernah terjadi ketika hanya mendapatkan sebuah kamar karena semua
kamar penuh, pemuda ini tidur di depan pintu kamar, di atas bangku sebagai seorang jaga malam!
Selain itu, setelah melakukan perjalanan berdua, Bi Eng mendapat kenyataan bahwa pemuda itu
benar-benar pandai sekali dalam ilmu kesusasteraan, pandai melukis, pandai menabuh Khim dan
meniup suling, jago dalam main catur dan mengubah sajak!
Sebentar saja gadis yang masih hijau ini menjadi tertarik dan menganggap bahwa pemuda itu malah
lebih hebat dari pada kakaknya, Cia Han Sin! Makin tebal keyakinannya bahwa pemuda yang
tampan dan aneh ini memiliki kekuasaan dan pengaruh yang amat besar ketika di manapun juga
orang-orang selalu menerimanya dengan penuh penghormatan dan takut-takut. Hanya setelah
mereka berada dekat Lu-liang-san dan melalui dusun-dusun, penduduk dusun tidak ada yang
mengenalnya dan hal ini agaknya menyenangkan hati Bhok-kongcu.
“Menyenangkan sekali ....” Ia memuji ketika melihat penyambutan sederhana dari pemilik warung
di sebuah dusun. “Sewajarnya dan sederhana mereka, orang-orang dusun itu. Tidak dibuat-buat
dalam sikap, tidak menjilat-jilat, sewajarnya sesuai dengan alam. Alangkah bedanya dengan sikap
orang-orang kota, jemu aku dibuai penghormatan mereka.”
“Memang kehidupan yang tenteram di dusun membuat sikap orang menjadi sederhana dan wajar,”
sambung Bi Eng yang teringat akan kata-kata kakaknya. “Biasanya, bodoh mendatangkan jujur dan
sederhana, sebaliknya pintar mendatangkan curang dan mewah. Betulkan ini, Bhok-kongcu?”
Ucapan ini tanpa disengaja menyindir keadaan kongcu itu yang mewah dan pesolek, dan baru
setelah mengucapkan kata-kata yang dikutipnya dari omongan-omongan yang pernah ia dengar dari
Han Sin, gadis ini tersadar bahwa tanpa disengaja ia menyindir. Dasar ia jenaka dan lincah, ia
malah menambahkan, “Ah, tidak tahunya kata-kata itu seperti menyindir kau yang suka akan
berpakaian indah dan mewah. Jangan kau marah, Bhok-kongcu!”
Bhok-kongcu tertawa terbahak, pada wajahnya yang tampan dan putih itu tidak nampak perubahan
apa-apa. Ia lalu menggeleng-gelengkan kepalanya dan berkata. “Tidak bisa begitu. Kebodohan dan
Koleksi Kang Zusi
kepintaran tidak bisa disatu padukan dengan kejujuran dan kecurangan. Tidak kurang banyaknya
orang pintar yang jujur dan orang bodoh yang curang.”
Bi Eng semenjak kecil hidup di samping kakaknya yang sudah menjadi seorang ahli pikir dan ahli
filsafat. Biarpun dia sendiri tidak mempelajari atau tidak suka membaca kitab-kitab kuno, namun
dari “dongeng-dongeng” kakaknya, sedikit banyak ia tahu akan filsafat hidup. Setelah merenung
sebentar, ia membantah.
“Aku kurang setuju, Bhok-kongcu. Orang pintar yang jujur memang mungkin ada, tapi bagaimana
orang bodoh bisa curang? Untuk bisa berlaku curang, kurasa membutuhkan kecerdasan yang
dimiliki orang pintar. Bukan begitu?”
“Ha ha ha, kau pintar, nona. Memang masuk diakal omonganmu ini. Mudah-mudahan saja kau
tidak menganggap aku orang pintar yang curang, juga tidak menganggap aku orang jujur tapi
bodoh. Kedua-duanya aku tidak suka. Ha ha ha!” Gadis itupun ikut tertawa.
Memang, pandai sekali Bhok-kongcu bergaul sehingga Bi Eng merasa suka bercakap-cakap dengan
kongcu ini. Perjalanan ke Lu-liang-san dirasakan tidak terlalu melelahkan dengan adanya pemuda
yang pandai bicara, pandai berkelakar dan halus sikapnya ini. Karena ini iapun dapat agak terhibur
biarpun selalu ia masih merasa gelisah kalau memikirkan kakaknya. Setiap kali ia teringat kepada
Han Sin, ia minta kepada Bhok-kongcu untuk mempercepat perjalanan.
“Nona, tak usah kau kuatir. Percayalah, di manapun adanya kakakmu, asal dia masih hidup, aku
Bhok Kian Teng menanggung padamu bahwa aku pasti akan dapat mencarinya.”
“Kalau dia masih .... masih hidup ....?” Bi Eng memandang dengan mata terbelalak. Mata itu amat
jeli dan bagus dalam penglihatan Bhok-kongcu sehingga untuk sejenak ia tak dapat
menyembunyikan rasa kagum dalam pandangannya. Kemudian ia tertawa.
“Nona Cia, tentu saja kakakmu masih hidup. Akan tetapi, hidup atau mati bukanlah kekuasaan
manusia, bukan? Andaikata ada apa-apa yang tidak kita hendaki terjadi atas diri kakakmu, hemmm,
percayalah, aku pasti takkan membiarkan orang yang menganiaya kakakmu hidup lebih lama lagi!”
Bi Eng memandang dengan penuh terima kasih. “Bhok-kongcu, kau baik sekali. Nanti akan
kuceritakan kepada kakakku bagaimana baiknya kau terhadapku.”
Bhok-kongcu mermbungkuk. “Terhadap seorang seperti kau, nona Bi Eng, mengorbankan
nyawapun masih belum ada artinya ....”
Bi Eng yang masih hijau, tidak mengerti apa maksud pemuda itu, namun perasaan kewanitaannya
membuat mukanya menjadi merah mendengar ucapan ini dan iapun terharu, merasa berterima kasih
sekali.
Ketika mereka tiba di puncak Lu-liang-san yang amat indah pemandangan alamnya, Bhok-kongcu
membawa Bi Eng ke sebuah bangunan kecil mungil di bawah puncak. Tempat itu sunyi sekali,
maka benar-benar aneh adanya bangunan di situ, dan ternyata ketika pemuda ini datang, ia disambut
oleh lima orang pelayan yang bertubuh tegap dan nampaknya bukan pelayan-pelayan biasa.
Memang mereka ini sebenarnya adalah perwira-perwira bangsa Mongol yang menyamar dan
menjadi pelayan di situ, dan sebenarnya mereka ini bertugas melindungi Bhok-kongcu, putera
pangeran Mongol itu.
Koleksi Kang Zusi
Bi Eng tidak heran mendengar bahwa gedung mungil ini juga milik pemuda ini. Sudah terlalu
sering ia melihat kenyataan bahwa kawannya ini mempunyai pengaruh dan kekuasaan besar, juga di
mana-mana ia melihat pemuda ini mempunyai rumah dan orang-orang yang amat menghormatinya.
Ia tahu bahwa selain berpengaruh, pemuda inipun kaya raya. Ia dapat menduga pula bahwa di
dalam pemerintahan yang baru, pemuda ini agaknya memiliki kedudukan yang bukan kecil. Yang
belum diketahui gadis ini hanyalah bahwa sebetulnya Bhok Kian Teng adalah seorang pemuda
keturunan Mongol.
Memang sebetulnya Bhok Kian Teng mempunyai kedudukan yang tinggi sebagai putera pangeran
Bhok Hong yang sudah berjasa besar pada pemerintah Mancu yang kini berkuasa di Tiongkok.
Oleh Kaisar Mancu, yaitu Kaisar Kang Shi, memberi kedudukan raja muda kepada pangeran Bhok
Hong dan karena raja muda Bhok Hong ini lebih suka berkelana sebagai seorang tokoh kang-ouw
dengan julukan Pak-thian-tok (Racun dari Utara), maka kekuasaannya banyak dipegang oleh
puteranya, Bhok Kian Teng yang ternyata amat pandai melakukan tugas-tugas ayahnya.
Malah boleh dibilang dalam ilmu ketata negaraan, pemuda ini jauh lebih pandai dari pada ayahnya
yang berwatak aneh. Maka tugas penting yang diserahkan oleh Kaisar kepada pangeran Bhok Hong,
yaitu tugas menumpas perkumpulan-perkumpulan rahasia dari bangsa Han yang masih mempunyai
maksud melawan pemerintah baru, oleh Pak-thian-tok Bhok Hong diserahkan kepada puteranya itu!
Secara diam-diam, tanpa diketahui umum, pemuda ganteng yang kelihatan lemah lembut ini
mengatur jaring-jaringnya, mengerahkan pembantu-pembantu yang pandai untuk mulai dengan
tugasnya, yaitu menumpas perkumpulan-perkumpulan rahasia ataupun perkumpulan-perkumpulan
besar yang tidak mau tunduk kepada pemerintah Mancu! Karena kekuasaannya yang besar akibat
kedudukan ayahnya sebagai raja muda, maka pembesar-pembesar semua mengenalnya, bahkan
Thio-ciangkun yang juga mempunyai kedudukan tinggi, boleh dibilang termasuk seorang di antara
bawahan-bawahannya, atau boleh dikatakan juga sebagai pembantunya.
Sudah dituturkan di bagian depan, juga dapat dilihat dari catatan dalam kitab sejarah, bahwa bangsa
Mancu dapat menyesuaikan diri dengan keadaan dan kebudayaan Tiongkok. Mereka ini yang
datang menjajah negara Tiongkok, ternyata malah meleburkan diri dalam kebudayaan bangsa
Tiongkok sendiri dan cara hidup orang-orang Mancu ini, dari Kaisar sampai pegawai-pegawai
rendahan, meniru-niru cara hidup orang orang Han, berpakaian sebagai orang Han, bicara dalam
bahasa Han pula. Karena ini pula maka banyak orang-orang gagah bangsa Han mudah terpikat dan
membantu pemerintah baru ini karena melihat sikap para penjajah ini, mereka tidak melihat adanya
bangsa asing, seperti bangsa sendiri saja.
Memang dalam hal ini harus dipuji pandangan jauh dari Kaisar Kang Shi yang harus disebut
seorang kaisar yang besar. Dia maklum bahwa rakyat sendiri, yaitu bangsa Mancu, berjumlah jauh
lebih kecil dan memiliki wilayah yang selain sempit juga tidak subur. Kalau mereka sekarang sudah
berhasil menduduki Tiongkok yang luas dan banyak jumlah rakyatnya, dan kalau mereka hendak
mempertahankan kedudukannya dan menjadi bangsa yang besar, jalan satu-satunya ialah
menyatukan diri dengan rakyat, hidup sebagai rakyat Tiongkok pula sehingga bangsa Tiongkok
yang terjajah itu tidak akan merasa terjajah oleh bangsa asing.
Akan tetapi tidaklah demikian pikiran orang-orang Mongol yang membantu bangsa Mancu dalam
penyerbuannya ke Tiongkok. Bangsa Mongol masih merasa dirinya lebih tinggi dari pada suku
bangsa lain dan hal inipun bukan aneh. Bangsa Mongol dalam jamannya Jenghis Khan memang
pernah menjadi bangsa kelas tertinggi, menaklukkan seluruh daratan Tiongkok, bahkan sampai
meluas jauh ke barat. Tentu saja, biarpun sekarang kekuasaan mereka sudah musnah, mereka ini
masih merasa lebih tinggi dari pada suku bangsa lain.
Koleksi Kang Zusi
Perasaan ini masih mengeram dalam hati Bhok Kian Teng. Biarpun, untuk dapat melakukan tugas
rahasianya menindas kaum kang-ouw yang melawan pemerintah, ia terpaksa berpakaian seperti
seorang pemuda terpelajar bangsa Han dan segala gerak-geriknya disesuaikan dengan orang Han,
namun di dalam hatinya ia masih seratus persen orang Mongol.
Ini pula yang membuat ayahnya, si Racun dari Utara itu merasa enggan untuk memegang
jabatannya sebagai raja muda. Pangeran Bhok Hong tidak suka, biarpun secara diam-diam, akan
cara hidup pembesar-pembesar Mancu yang meniru-niru orang Han. Ia merasa jemu dan rendah,
maka ia lalu meninggalkan kursi jabatannya dan menyerahkan pekerjaan-pekerjaannya kepada
putera tunggalnya, sedangkan dia sendiri lalu menghilang, berkelana di dunia kang-ouw sebagai
seorang yang bebas.
Bhok Kian Teng ternyata memang seorang ahli siasat yang amat pandai. Orang muda ini tahu
bahwa apabila orang-orang kang-ouw dan perkumpulan-perkumpulan rahasia yang tidak senang
terhadap pemerintah baru ini sampai dapat bersatu, maka kekuatan mereka itu dapat menimbulkan
bahaya besar. Oleh karena itulah, secara diam-diam, Bhok-kongcu menyebar kaki tangannya,
menyeludup ke dalam perkumpulan-perkumpulan itu, menyebar racun untuk menjalankan siasat
pecah belah.
Usahanya ini berhasil baik karena dalam beberapa tahun saja timbullah rasa saling tidak percaya di
antara para partai dan perkumpulan rahasia. Adalah siasat Bhok-kongcu pula untuk membasmi Cinling-
pai yang dianggapnya berbahaya dengan sikap mereka yang tidak menentu itu. Untuk tugas ini
ia serahkan kepada pembantunya dan seperti telah diketahui, usaha mereka itu berhasil baik.
Cin-ling-pai dapat dibasmi, markasnya dihancurkan dan para tosu Cin-ling-pai banyak yang tewas
dan sebagian besar melarikan diri. Malah ketuanya, Giok Thian Cin Cu, telah meninggal dunia pula.
Bukan itu saja, malah orang-orang Thio-ciangkun yang dipimpin oleh para pengemis Coa-tung Kaipang
dan puterinya sendiri, yaitu Li Hoa, berhasil pula memikat hati dan membujuk sehingga dua
orang tosu tokoh terpenting dari Cin-ling-pai, It Cin Cu dan Ji Cin Cu, menyatakan hendak
memenuhi panggilan Thio-ciangkun!
Kepergian Bhok Kian Teng kali ini ke puncak Lu-liang-san, bukan semata-mata untuk mencari Cia
Han Sin seperti yang dikatakan kepada Bi Eng. Dia mempunyai rencana yang lebih besar lagi.
Selain hendak menyenangkan dan mengambil hati Bi Eng, gadis yang secara aneh sekali telah
memikat hatinya itu, dan ingin menangkap Han Sin untuk merampas surat wasiat Lie Cu Seng yang
dirindukan oleh seluruh orang kang-ouw, juga kali ini Bhok-kongcu menyuruh kaki tangannya
mengundang orang-orang gagah di seluruh pelosok yang pro-Mancu untuk berkumpul di Lu-liangsan
dan menerima tugas dalam perlawanan terhadap orang-orang yang anti Mancu.
Demikianlah sedikit catatan untuk mengetahui latar belakang yang penuh rahasia dan yang meliputi
diri Bhok Kian Teng yang lebih terkenal di dunia kang-ouw dengan sebutan Bhok-kongcu. Memang
dia seorang pemuda yang hebat, pandai, disegani semua orang kang-ouw. Sayang sekali dia ini
terlalu gila nafsu, dan hatinya lemah menghadapi wajah cantik. Kiranya tidak ada seorang laki-laki
mata keranjang melebihi Bhok-kongcu pada waktu itu!
Setelah disambut oleh lima orang pelayannya dan disuguhi minuman sambil duduk di ruangan
depan. Bi Eng berkata. “Bhok-kongcu, kita sudah sampai di puncak Lu-liang-san. Ke mana kita
harus mencari kakakku? Harap kau memberi petunjuk, hatiku tidak enak sekali kalau belum bisa
melihat dia.”
“Orang yang begini menyinta kakaknya seperti kau benar sukar dicari keduanya, nona Cia. Kita
sudah lelah mendaki puncak, kau mengasolah dalam kamar yang sudah kusediakan. Biar aku akan
Koleksi Kang Zusi
menyuruh orang-orangku untuk mencari di sekitar puncak, kalau-kalau terlihat kakakmu itu. Jangan
kau terlalu kuatir. Sudah dicari di Cin-ling-san, kakakmu tidak berada di sana. Kalau memang dia
hendak menuju ke puncak Lu-liang-san, kalau sekarang belum ada, tentu esok atau lusa dia akan
muncul juga. Tenangkanlah hatimu.”
Karena ucapan ini beralasan, Bi Eng menahan kesabarannya dan ia lalu pergi ke kamarnya untuk
beristirahat. Kamar itu kecil saja akan tetapi sekali lagi ia mendapatkan kemewahan yang hebat.
Tidak kalah oleh kamar seorang puteri kaisar mewahnya! Bi Eng sampai merasa sungkan untuk
berbaring di atas pembaringan yang ditilami sutera putih berkembang itu dan mengganti dulu
pakaiannya dengan pakaian yang bersih, baru ia berani duduk di situ. Saking lelahnya, begitu ia
mencoba untuk merebahkan diri, sebentar saja ia sudah pulas.
Senja telah lewat ketika Bi Eng membuka matanya dengan kaget. Ia hampir berteriak karena telah
mimpi yang bukan-bukan. Dalam mimpinya ia melihat kakaknya dikeroyok ular yang amat banyak.
Pemandangan mengerikan dalam mimpinya itu membuat ia terbangun dengan keringat membasahi
leher biarpun hawa udara amat dingin. Bi Eng lalu turun dari pembaringannya, membuka jendela
kamar memandang keluar. Biarpun malam telah tiba, keadaan di luar tidak gelap karena bulan telah
muncul. Timbul keinginan hatinya untuk keluar sendiri, pergi mencari Han Sin. Mimpi tadi
mendatangkan kegelisahan dalam hatinya, seakan-akan ia mendapatkan bisikan bahwa kakaknya itu
terancam bahaya. Ia hendak minta diri kepada Bhok-kongcu.
Setelah membetulkan pakaian dan menggantungkan pedang, gadis ini lalu membuka pintu. Keadaan
di ruangan tengah dan belakang gedung itu sunyi saja, akan tetapi di ruang depan nampak sinar
terang dan terdengar suara banyak orang bercakap-cakap.
“Heran, Bhok-kongcu kedatangan begitu banyak tamu,” pikir Bi Eng. “Tak perlu aku memberi
tahu, lebih baik aku menggunakan kesempatan ini untuk pergi mencari Sin-ko,” Ia lalu ke belakang,
membuka pintu belakang. Karena belum mengenal jalan, ia lalu mengayun tubuh ke atas genteng
dan dari tempat tinggi itu ia melihat ke sekeliling.
Sunyi senyap di sekeliling gedung, hanya di ruang depan itu nampak sinar penerangan dan
terdengar ramai orang bicara. Samar-samar di bawah sinar bulan ia melihat puncak Lu-liang-san
menjulang tinggi. “Aku harus ke sana,” pikirnya lagi. “Bukankah dulu Sin-ko bilang bahwa surat
wasiat itu mengharuskan dia pergi ke puncak? Siapa tahu dia sudah berada di sana dan diam-diam
aku dan dia bisa melanjutkan perjalanan tanpa terganggu orang lain.”
Dengan hati penuh harapan ia lalu berlari di atas genteng sampai tiba di bagian paling belakang dari
gedung itu. Dengan ringan sekali ia melompat turun ke dalam taman. Tiba-tiba berkelebat bayangan
orang dan terdengar bentakan lirih.
“Siapa berani mati mencuri masuk di sini?”
Bi Eng terkejut dan segera mengenal orang itu yang bukan lain adalah Yo Leng Nio, gadis galak
yang menjadi tangan kanan Bhok-kongcu. Terpaksa ia tersenyum dan menjawab.
“Enci Yo Leng Nio, kiranya kau yang muncul. Sampai kaget aku, kusangka tadinya siluman yang
mencegatku di tempat ini.”
“Kaulah silumannya! Kau siluman betina tak kenal malu, kau gadis sombong. Kau merasa telah
dapat merampas hati Bhok-kongcu? Hemmm, jangan harap! Paling-paling kau menjadi kekasih dan
permainannya untuk beberapa bulan. Hemmm, kelak kalau dia sudah bosan, akan kulihat kau
dijadikan apa. Sebaliknya aku, biarpun tidak menjadi kekasih istimewa seperti kau yang menjual
Koleksi Kang Zusi
kecantikanmu, sudah delapan tahun aku tetap menjadi pembantunya yang dipercaya, Huh, manusia
macam kau ini bisa apa sih?”
Bukan main marah dan mendongkolnya hati Bi Eng mendengar makian dan ucapan yang kasar ini.
Mukanya menjadi merah sekali, malu dan jengah mendengar omongan yang rendah, omongan
wanita yang tak dapat digolongkan wanita sopan dan baik-baik. Saking marahnya Bi Eng mencabut
pedangnya dan menudingkan ujung pedang ke muka Leng Nio.
“Eh, eh, tahan tuh mulutmu yang kotor!” Bi Eng membentak. “Kau menjadi kaki tangan atau
kekasih Bhok-kongcu, apa sih hubungannya dengan aku? Jangan kau samakan aku dengan orang
macam kau. Kau dan orang seperti Ang-hwa dan kawan-kawanmu memang bukan perempuan baikbaik,
siapa sih yang hendak merebut .... laki-laki dari kalian? Cih, tak tahu malu!” Panas hati Bi Eng
karena berkali-kali ia dituduh hendak merebut hati Bhok-kongcu. Jangankan dia tidak mempunyai
hati sedemikian, andaikata adapun yakni andaikata dia suka kepada Bhok-kongcu, juga ia tentu
tidak sudi menerima penghinaan dan makian dari Yo Leng Nio.
“Perempuan sial, sudah terang-terangan berhari-hari melakukan perjalanan dengan Bhok-kongcu,
masih pura-pura menyangkal. Tak tahu malu!” Yo Leng Nio memaki lagi. Memang siapa bisa
percaya bahwa gadis ini tidak menjadi kekasih Bhok-kongcu setelah melakukan perjalanan berdua?
Gadis mana yang takkan senang hatinya diberi kesempatan seperti itu?
Bi Eng tak dapat menahan marahnya lagi mendengar ini. Pedangnya bergerak dan ia menyerang
Leng Nio dengan penuh amarah. Leng Nio mengeluarkan dengus mengejek, lalu iapun mencabut
siang-kiam (sepasang pedang) yang selalu terpasang di punggung.
Segera dua orang gadis itu bertempur dengan hebat seperti dua ekor singa betina. Akan tetapi,
biarpun Bi Eng sudah menerima warisan ilmu yang tinggi dari Ciu-ong Mo-kai, ia bukanlah
tandingan Yo Leng Nio. Ia kalah latihan dan kalah pengalaman. Memang harus diakui bahwa ilmu
silat yang ia warisi itu adalah ilmu yang tinggi, yang pada jurus-jurus pertama membuat Leng Nio
terkesiap dan terdesak hebat. Namun gadis ini kurang latihan, kurang matang ia mainkan pedangnya
dan tenaganya pun kalah kuat.
Yo Leng Nio sudah mendapat petunjuk-petunjuk dari Bhok-kongcu, maka kepandaiannya cukup
tinggi. Kalau tidak demikian mana dia bisa menjadi orang kepercayaan Bhok-kongcu? Setelah
lewat tiga puluh jurus, ia dapat mengubah gerakan-gerakannya dan kini ia membingungkan Bi Eng
dengan ilmu pedang pasangan yang lebih banyak menggertak dan memancing. Bi Eng merasa
seperti dikeroyok dua orang dan kalutlah permainannya, membuat ia terdesak.
“Huh, kalau tidak ingat kau kekasih baru Bhok-kongcu, ingin aku menggurat-guratkan pedang pada
mukamu, ingin aku memotong hidungmu!”
Yo Leng Nio mengejek dan memperhebat desakannya. Pedang kanannya melakukan serangan kilat
ke arah hidung Bi Eng. Gadis ini tentu saja terkejut sekali. Kata-kata Leng Nio tadi mengingatkan ia
akan nasib Ang-hwa yang dibuntungi hidungnya, membuat ia merasa ngeri bukan main. Maka
begitu melihat pedang kanan lawannya menyambar hidung, ia mengeluarkan seruan tertahan dan
cepat-cepat ia menangkis dengan pedangnya.
Kekagetannya ini mengurangi kewaspadaannya sehingga ia tidak tahu bahwa pedang kanan itu
hanyalah gertak sambal belaka atau pancingan sehingga ketika menangkis, tahu-tahu pedang kiri
Leng Nio berkelebat dari kiri menghantam pedangnya dekat gagang. Pedang ini menyambar dekat
jari tangannya yang memegang pedang. Bi Eng terkejut sekali dan terpaksa melepaskan gagang
Koleksi Kang Zusi
pedangnya kalau ia tidak mau jari-jari tangannya terbabat putus. Dengan suara keras pedangnya
terpukul dan terlempar ke udara!
“Bunuhlah kalau kau mau bunuh!” Bi Eng menantang sambil melindungi mukanya. Ngeri dia, takut
kalau mukanya dirusak. Gadis berani mati ini tidak gentar menghadapi maut, akan tetapi kalau
mukanya dirusak, takut ia bukan main.
Leng Nio melihat ketakutan ini, ia tersenyum mengejek. “Biar kugurat sedikit pipimu, hendak
kulihat dia masih menyintamu atau tidak!” Pedangnya ditodongkan ke muka orang penuh ancaman.
Bi Eng mundur-mundur dengan pucat.
“Jangan .... bunuh saja aku .....” katanya.
Leng Nio mengeluarkan suara ketawa menyeramkan, pedangnya digerak-gerakkan seperti hendak
menggurat muka Bi Eng yang berusaha melindungi mukanya dengan kedua tangan. Sebetulnya,
memang tidak akan ada kesenangan lebih besar bagi Leng Nio di saat itu dari pada merusak muka
gadis ini, gadis yang amat dibencinya karena dianggap merebut hati Bhok-kongcu.
18. Para Pembantu Pangeran Mongol
KEBENCIAN yang timbul dari cemburu. Memang paling berbahayalah kalau wanita sudah dibakar
oleh cemburu, ia bisa menjadi nekad dan melakukan segala macam perbuatan mengerikan. Akan
tetapi, rasa takutnya terhadap Bhok-kongcu lebih besar lagi sehingga Leng Nio masih ingat bahwa
kalau ia mengganggu Bi Eng, tentu Bhok-kongcu takkan mengampuninya. Maka ia hanya
mempermainkan Bi Eng dan hanya mengancamnya. Melihat Bi Eng makin ketakutan, ia lalu
mendesak.
“Aku takkan merusak mukamu asal kau suka memberitahukan di mana adanya surat wasiat Lie Cu
Seng.”
Tak dapat disangkal pula, memang Bi Eng merasa ngeri kalau memikirkan mukanya akan dirusak.
Akan tetapi dia bukan seorang pengecut. Kalau untuk melindungi mukanya ia harus membuka
rahasia tentang surat wasiat yang dibawa kakaknya, nanti dulu!
“Aku tidak tahu,” jawabnya.
“Kalau begitu, betul-betul hidungmu akan kupotong!”
Pedang di tangan Leng Nio berkelebat, akan tetapi tiba-tiba pedang itu terlepas dari pegangan, juga
pedang di tangan kiri dan di lain saat Leng Nio sudah roboh tergelimpang. Bi Eng kaget sekali, juga
heran. Akan tetapi tahu-tahu ada bayangan berkelebat dan gadis ini telah disambar orang, dibawa
melompat tinggi ke atas genteng, terus dibawa berlari cepat sekali.
Leng Nio yang sudah dapat bangun lagi, tidak mengenal siapa penyerang gelap tadi karena
bayangan itu sudah lenyap bersama Bi Eng. Bukan main kagetnya. Ia tahu bahwa mengejar takkan
ada artinya karena sudah terang penyerang gelap tadi memiliki kepandaian yang luar biasa sekali,
jauh lebih tinggi dari pada kepandaiannya sendiri. Ia hanya melihat tubuh yang ramping dari
belakang ketika bayangan itu berkelebat pergi memondong tubuh Bi Eng.
“Apa dia Thio-siocia .....?” pikir Leng Nio.
Koleksi Kang Zusi
Thio Li Hoa juga amat tinggi ilmu silatnya, akan tetapi kenapa Thio-siocia menculik Bi Eng? Pula,
ia mengenal gerakan-gerakan Li Hoa yang menjadi murid utama dari Coa-tung Sin-kai. Sedangkan
bayangan tadi yang jelas adalah bayangan seorang wanita, memiliki gerakan yang cepat dan aneh.
Apalagi serangan pukulan jarak jauh yang membuat pedangnya terlepas dan tubuhnya terguling
tanpa menderita luka, benar-benar merupakan serangan yang luar biasa dan aneh. Agaknya Thiosiocia
belum tentu mampu melakukan serangan macam itu. Siapa dia?
Harus kulaporkan kepada Bhok-kongcu, pikir Leng Nio dan gadis ini menjadi takut. Ia memutar
otak mencari akal bagaimana harus melaporkannya tanpa menimpakan kesalahan kepada diri
sendiri. Perlahan-lahan ia lalu memasuki gedung itu dari pintu belakang.
Bi Eng merasa dirinya tak berdaya dalam pondongan orang itu. Atau lebih tepat ia “dikempit”
karena orang itu membawanya seperti orang membawa sepotong balok saja. Tentu ia akan meronta
sekuatnya kalau saja yang merampasnya itu seorang pria.
Akan tetapi setelah ia tahu bahwa yang membawanya pergi adalah seorang wanita, ia menjadi
tertarik sekali dan ingin tahu apa yang hendak dilakukan wanita itu terhadap dirinya. Tentu tidak
bermaksud jahat, pikirnya. Buktinya, wanita ini sudah menolongku dari ancaman Leng Nio yang
galak.
Ia kagum sekali melihat betapa wanita itu dengan ringan meloncat-loncat lalu turun dari atas
genteng dan membawanya lari memasuki sebuah hutan besar di lereng bukit. Tidak mudah berlarilari
secepat itu sambil memondongnya. Ketika ia melirik ke atas, hatinya berdebar. Wanita itu
memakai kedok yang menutupi seluruh muka dan kepalanya. Hanya sepasang mata yang bersinarsinar
aneh tampak dari dua lubang kecil di kedok itu.
Dia langsing sekali dan tubuhnya menunjukkan bahwa dia masih muda, tapi kepandaiannya sudah
hebat dan sikapnya aneh. Mengapa pakai kedok menutupi muka? pikir Bi Eng.
Setelah tiba di tengah hutan yang besar, si kedok itu melepaskan kempitannya, kemudian sekali ia
melayang, tubuhnya telah naik dan tahu-tahu ia telah duduk di atas cabang pohon. Bi Eng berdiri
dan memandang kagum.
“Siapa kau?” tanyanya. “Dan kenapa kau membawaku ke sini?”
“Kalau tidak membawamu ke sini, sekarang tentu hidungmu sudah putus dan pipimu sudah coratcoret
oleh luka,” jawab si kedok itu dan ternyata suaranya merdu sekali.
Bi Eng tertawa. “Oh, betul juga. Aku belum mengucapkan terima kasih. Eh, enci berkedok yang
aneh. Agaknya mukamu sendiri bercacad hebat maka kau tidak tega melihat orang mau melukai
mukaku.”
“Kenapa kau bilang begitu?”
“Kalau mukamu tidak bercacad, mengapa kau tutupi mukamu itu? Melihat bentuk tubuh dan
mendengar suaramu, pantasnya kau seorang yang memiliki muka cantik sekali. Sayang bercacad,
maka kau tutupi.”
Sampai lama gadis berkedok yang duduk di cabang pohon itu tidak menjawab. Akhirnya ia
menghela napas dan berkata, suaranya sedih.
“Aku berkedok atau tidak, apa hubungannya dengan kau? Apakah kau adik dari Cia Han Sin?”
Koleksi Kang Zusi
Bi Eng seorang gadis periang, maka segera ia merasa senang melihat si kedok ini. “Betul, namaku
Cia Bi Eng, enci berkedok, apakah kau juga sudah mengenal kakakku? Agaknya orang-orang paling
aneh di dunia ini semua mengenal kakakku,” katanya bangga. “Apa kau tahu di mana adanya
kakakku?”
Akan tetapi gadis berkedok itu tidak perdulikan omongannya. “Perempuan tadi bilang kau
bersahabat dengan Bhok-kongcu. Betulkah kau melakukan perjalanan dengan pemuda itu? Apakah
kau sahabatnya?”
Bi Eng teringat akan ucapan-ucapan kotor yang dikeluarkan Leng Nio tadi. Wajahnya merah dan ia
menjawab, “Kalau betul, mengapa? Aku bukan orang macam Leng Nio. Aku memang sahabatnya
dan aku betul melakukan perjalanan dengan dia. Akan tetapi apa salahnya? Bhok-kongcu orangnya
baik sekali, sopan dan terpelajar. Dia malah membantuku mencari Sin-ko.”
“Hemmmm ...... kau anak kecil tahu apa? Tidak tahu bahwa kau sudah terjerumus di tengah-tengah
bahaya maut, begitu pula kakakmu yang tolol dan terlalu baik itu. Hemmm ......”
“Bahaya maut .......? Apa maksudmu? Di mana kakakku?” Bi Eng tidak berani main-main lagi
karena ia mulai mengkhawatirkan keselamatan Han Sin.
Pada saat itu terdengar suara ketawa aneh, menyeramkan sekali seperti bukan suara manusia.
Datangnya dari jauh, makin lama makin dekat, lalu disusul suara seperti kuda meringkik, namun
bukan kuda. Suara kedua inipun amat tajam melengking menusuk telinga sehingga Bi Eng yang
berhati tabah tetap saja merasa bulu tengkuknya berdiri.
“Apa itu .....?” tanyanya.
Gadis berkedok itu tertawa kecil. Tangan kirinya menuding dan ia berkata. “Nah, kau dengar itu?
Mereka juga sudah datang, Tung-hai Siang-mo (Sepasang Iblis dari Laut Timur). Pasti makin ramai
dan semua itu datang untuk kakakmu dan kau. Marilah kau ikut aku dan lihat sendiri, akan tetapi
awas, jangan sekali-kali kau mengeluarkan suara kalau melihat apa-apa. Ini demi keselamatanmu
sendiri, mungkin demi keselamatan kakakmu, Cia Han Sin. Mau kau berjanji?”
Bi Eng menelan ludah, merasa seram. Ia mengangguk. “Aku berjanji.”
Nona berkedok itu melompat turun, begitu ringan seperti sehelai daun kering tertiup angin,
membuat Bi Eng menjadi makin kagum. “Kau ikuti aku, kerahkan ginkangmu supaya jangan
menimbulkan suara berisik,” kata nona berkedok itu yang lalu ke puncak, diikuti oleh Bi Eng.
“Eh, enci berkedok. Sebetulnya siapa namamu?” Di tengah perjalanan Bi Eng tak dapat menahan
hatinya lagi, bertanya.
Tanpa menoleh gadis berkedok itu berkata. “Namaku Hoa-ji.”
“Bagus, kalau begitu mulai sekarang aku menyebutmu enci Hoa-ji, eh, tidak mungkin. Hoa-ji
berarti anak Hoa, mana bisa aku menyebut anak padamu. Enci Hoa, nah, baiknya Enci Hoa saja.
Enci Hoa yang baik, setelah kau suka menolongku, mengapa kau tidak mau memperlihatkan
mukamu yang cantik kepadaku?”
Kini gadis berkedok itu menoleh. “Kau berwatak gembira sekali, tidak seperti kakakmu. Bi Eng
apakah selama hidupmu kau belum pernah merasai duka?” Biarpun sambil bicara, nona berkedok
itu tidak menghentikan langkahnya.
Koleksi Kang Zusi
“Duka? Kenapa, enci Hoa? Kata kakak Sin, hidup di dunia ini tidak abadi, tidak lama, mengapa
mesti membuang waktu untuk berduka? Nah, karena menuruti ucapan Sin-ko, aku selalu gembira.
Dan lagi, apa sebabnya kita mesti susah-susah?”
“Hemm, misalnya ..... mengenang orang tua. Bukankah orang tuamu sudah tidak ada lagi?”
Bi Eng menarik napas panjang. “Ayah ibuku sudah meninggal dunia, kenapa mesti susah-susah
lagi? Hanya penasaran yang ada karena mati mereka itu terbunuh orang. Akan datang saatnya aku
membalas dendam ini. Akan tetapi susah? Tidak, aku tidak susah. Disusahkan juga apa artinya?
Yang mati takkan kembali, paling-paling aku menjadi kurus kering.” Gadis lincah jenaka ini
tertawa lagi, senyumnya manis menghias bibirnya.
“Bi Eng, kau baik .... Sekarang harap kau jangan bersenda gurau lagi, kita sudah mendekati puncak.
Kau diam saja, buka mata buka telinga tapi tutup mulut.”
Dua orang gadis ini berindap-indap menuju ke puncak di mana terdapat bangunan mungil milik
Bhok-kongcu itu. Bi Eng masih mendengar suara orang banyak bercakap-cakap di ruangan depan.
Ke sinilah gadis berkedok membawanya. Berkali-kali gadis berkedok, Hoa-ji, memberi tanda
dengan telunjuk ke depan mulut supaya Bi Eng tidak mengeluarkan suara.
Setelah tiba di depan rumah, Bi Eng melihat bahwa Bhok-kongcu sedang menghadapi beberapa
orang tamu dan keadaan di situ ramai dan gembira. Cepat ia bersembunyi di belakang sebatang
pohon di tempat gelap seperti yang ditunjuk oleh Hoa-ji. Gadis berkedok itu sendiri setelah melihat
Bi Eng mendapatkan tempat sembunyi yang baik, lalu berkelebat menghilang di dalam gelap. Dari
tempat sembunyinya Bi Eng dapat melihat jelas dan dapat mendengar tegas.
Bhok Kian Teng duduk dengan wajah berseri menghadapi banyak orang yang aneh-aneh bentuk
wajahnya, ada belasan orang banyaknya duduk di kursi terdepan dan mereka ini rata-rata sudah
berusia lanjut. Masih ada dua puluh orang lebih yang dari tingkat muda duduk di bangku belakang.
Mereka semua menghadapi meja yang penuh hidangan dan arak.
Ketika Bi Eng menggerakkan pandang matanya menyapu orang-orang yang duduk di ruang itu,
dengan amat heran ia melihat dua orang tosu yang dikenalnya baik, yaitu It Cin Cu dan Ji Cin Cu
dari Cin-ling-pai! Pada saat itu Bhok-kongcu berkata sambil tersenyum ramah seperti biasanya dan
suaranya halus seperti biasa pula.
“Kutegaskan sekali lagi bahwa orang-orang gagah yang membantu pemerintah kita yang mulia
adalah jago-jago pilihan di dunia. Cuwi enghiong (tuan-tuan sekalian yang gagah) tidak usah raguragu
lagi bahwa ji-wi tosu It Cin Cu dan Ji Cin Cu dapat digolongkan sebagai orang-orang
segolongan dan orang-orang gagah pula.” Sambil berkata demikian, Bhok-kongcu menganggukkan
kepalanya ke arah tempat duduk dua orang tosu Cin-ling-pai yang duduk dengan muka muram di
pojok.
Semua orang yang duduk di situ memandang ke arah dua orang tosu itu, akan tetapi hanya seorang
saja yang membuka suara setelah mengeluarkan suara mendengus penuh ejekan. Orang ini adalah
seorang kakek kurus kecil yang pakaiannya membuat Bi Eng hampir tertawa karena geli hatinya.
Orangnya sudah tua, lagi buruk mukanya, akan tetapi pakaiannya dari sutera berkembang emas.
Benar-benar seperti seorang anak wayang yang ke sasar ke tempat itu!
Gadis ini tidak tahu bahwa kakek yang dianggapnya seperti badut wayang itu adalah seorang tokoh
kang-ouw yang terkenal, seorang di antara tiga “raja” sungai Huang-ho, yaitu yang terkenal dengan
julukannya Kim-i Tok-ong (Raja Racun Berbaju Emas)! Di lembah sungai Huang-ho banyak
Koleksi Kang Zusi
didiami orang-orang jahat, dijadikan sarang perampok dan bajak sungai, akan tetapi yang terkenal
sebagai Huang-ho Sam-ong (Tiga Raja sungai Huang-ho) adalah Kim-i Tok-ong, Ban-jiu Touw-ong
(Raja Copet Tangan Selaksa), dan ketiga Hui-thian Mo-ong (Raja Iblis Terbang ke Langit).
Biarpun kecil kurus tubuhnya, paling kecil di antara tiga orang raja sungai itu, namun kepandaian
Kim-i Tok-ong bukanlah yang paling kecil. Ketika mendengar ucapan Bhok-kongcu yang memuji
dua orang tosu Cin-ling-pai sebagai orang-orang segolongan atau sejajar dengan kawan-kawannya
yang duduk di situ, Kim-i Tok-ong menjadi tak senang dan mengeluarkan dengus mengejek tadi. Ia
lalu berdiri dan berkata, matanya memandang ke arah It Cin Cu yang muram dan muka Ji Cin Cu
yang biarpun keningnya berkerut namun mulutnya tetap tersenyum lebar itu
“Hemm, sungguh aneh sekali, Bhok-kongcu. Sudah lama sekali saya mengenal Cin-ling-pai sebagai
sebuah partai yang angkuh dan menganggap diri sendiri tinggi dan bersih! Aha, masih teringat tiang
yang bersangkutan untuk memberi penerangan.” Sambil berkata demikian, ia menoleh kepada It
Cin Cu dan Ji Cin Cu.
Ji Cin Cu mengeluarkan suara ketawa dan wajahnya yang bundar gemuk itu menjadi makin lucu
dan ramah. Memang tosu gemuk pendek ini lucu dan ramah. Memang tosu gemuk pendek ini
berjuluk Siauw-bin-hud (Buddha Tertawa), dan dalam keadaan bagaimana, wajahnya selalu ramah
dan bibirnya selalu tersenyum.
“Siancai .... siancai .... memang pinto dan twa-suheng selalu menyembunyikan diri selama ini
sehingga seperti kodok-kodok di dalam sumur, tidak tahu bahwa di luar sumur masih terdapat dunia
luas. Mana pinto tahu bahwa di dunia ini terdapat raja-raja berpakaian emas dan selalu melumur diri
dengan racun? Ha ha ha, memang benar ucapan Kim-i Tok-ong tadi, kami hanya dua orang tosu
dari Cin-ling-pai, akan tetapi biarpun tua, para sute kami kiranya masih akan mentaati perintah
kami. Terima kasih atas kepercayaan Bhok-kongcu, karena kepercayaan itu menebalkan kesetiaan
kami.”
Bhok-kongcu juga tertawa. Tentu saja siauwte percaya penuh akan kesetiaan dan kepandaian
Siauw-bin-hud Ji Cin Cu totiang.”
Panas perut Kim-i Tok-ong mendengar ucapan tosu gendut itu dan mendengar dia tadi disindir
sebagai raja berpakaian emas yang selalu melumur diri dengan racun. Apalagi mendengar jawaban
Bhok-kongcu yang amat ramah terhadap tosu gendut itu. Ia bangkit berdiri dengan muka merah dan
kedua tangannya yang digerak-gerakkan itu berubah menjadi hitam!
Hui-thian Mo-ong yang melihat saudaranya sudah naik darah. Kuatir kalau terjadi apa-apa yang
akan membikin hati Bhok-kongcu tidak senang maka melihat kedua tangan saudaranya sudah hitam
tanda bahwa Raja Racun itu hendak menggunakan tangan maut, ia cepat berbangkit dan berkata.
“Kim-i Tok-ong loheng harap bersabar. Kasihanilah tosu-tosu tua ini yang sudah mendapat
kepercayaan Bhok-kongcu. Kongcu yang waspada takkan salah pilih orang. Malah kita harus
menghormati kedatangan dua orang pilihan baru dengan arak seperti biasa.”
Sambil tersenyum Hui-thian Mo-ong yang bertubuh kurus tinggi dan berpakaian serba hitam itu
menghampiri meja di mana ditaruh sebuah guci arak yang amat besar. Guci ini tadi dipikul oleh
empat orang pelayan dan sekarang masih penuh arak. Beratnya tidak kurang dari dua ratus kati.
Sambil berjalan menghampiri guci arak, Hui-thian Mo-ong mengerling ke arah Bhok-kongcu.
Pemuda ini maklum bahwa Raja Iblis ini hendak mencoba kepandaian dua orang tosu Cin-ling-pai
tanpa bertempur, maka ia menjadi gembira dan menganggukkan kepalanya sambil mengipasi diri
dengan kipasnya.
Koleksi Kang Zusi
Bi Eng yang bersembunyi di balik pohon, melihat semua ini dengan bengong dan alangkah
kagetnya ketika melihat Hui-thian Mo-ong menggunakan tangan kiri untuk mengangkat guci arak
besar itu, begitu ringan seperti orang-orang mengangkat tempat air teh yang kecil saja! Kemudian
Hui-thian Mo-ong berseru keras, “Harap ji-wi totiang dari Cin-ling-pai sudi menerima suguhan arak
dari Hui-thian Mo-ong!”
Dan tiba-tiba guci arak yang berat dan besar itu ia lontarkan ke atas. Guci arak itu melayang ke atas
kepala para tamu dan meluncur ke arah Ji Cin Cu si gendut yang masih enak-enak duduk sambil
tersenyum-senyum. Hampir saja Bi Eng mengeluarkan seruan kaget melihat hal ini.
Kalau guci itu turun menimpa kepala orang, bukankah kepala yang besar dan bulat itu akan remukremuk?
Guci itu, tanpa tumpah sedikitpun arak di dalamnya, kini dari atas meluncur ke bawah, tepat
ke arah kepala Ji Cin Cu dan terdengar suara angin meniup.
“Ho ho, biarpun golongan iblis, kalau sudah menjadi raja masih punya aturan. Kamsia .... kamsia ....
(terima kasih) ...!” Sambil berkata begini, Ji Cin Cu menggerakkan kedua lengannya ke atas sambil
menggerakkan tenaga dalamnya dan ..... sebelum guci arak itu tersentuh ujung tangannya, guci itu
terpental oleh hawa pukulannya, kembali ke atas dan di atas menjadi goyang sedikit sehingga ada
arak yang tertumpah ke bawah. Sambil membuka mulutnya untuk menerima arak yang sengaja ia
tuangkan itu, kembali kedua tangan Ji Cin Cu bergerak mendorong dan kini guci arak itu terbang ke
arah It Cin Cu.
”Twa-suheng, penghormatan orang harus diterima,” kata Ji Cin Cu setelah menelan arak tadi. Ia
sengaja berkata begini untuk meredakan hati suhengnya yang ia tahu mudah tersinggung.
It Cin Cu mengangguk berkata singkat, “Kau yang disuguh, bukan aku!” Tangan kirinya diangkat
untuk menerima guci itu lalu didorongnya sekali gus ke arah Kim-i Tok-ong! Hebat tenaga
dorongan ini, lebih hebat dari pada dorongan Hui-thian Mo-ong tadi sehingga dengan mengeluarkan
suara mengaung guci itu terbang ke arah Kim-i Tok-ong dalam keadaan terputar seperti gasingan.
Kim-i Tok-ong maklum akan hebatnya serangan ini. Guci yang dilontarkan begitu saja masih
mudah disambut dan ditangkis. Akan tetapi dengan tenaga lweekang yang luar biasa It Cin Cu tidak
saja melontarkan, malah membikin guci terputar-putar dan inilah yang sukar bagi si penerima.
Namun Kim-i Tok-ong tidak percuma menjadi seorang di antara ketiga Huang-ho Sam-ong. Ia
bangkit berdiri dan begitu tangannya menyambut guci, kedua tangan itu ia putar-putar menurutkan
gerakan guci. Makin lama putaran tangannya makin perlahan, kemudian setelah habis tenaga
putaran guci, ia melontarkan guci itu tinggi sekali sampai hampir menyentuh langit-langit sambil
berkata.
“It Cin Cu totiang, biar sekarang aku yang menyulangi arak kepadamu!”
Tiba-tiba guci yang melayang ke atas itu kini terbalik. Tentu saja arak di dalamnya tumpah keluar
dan menimpa turun dikejar gucinya. Arak dan guci melayang ke bawah menimpa ke arah kepala It
Cin Cu. Semua orang terkejut. Inilah serangan hebat dan sukar dihadapi. Biarpun guci itu sendiri
tentu saja dapat disambut atau dielakkan, namun bagaimana bisa menyambut datangnya arak yang
tumpah itu? Sungguhpun tersiram arak tidak berbahaya namun hal ini tentu saja akan memalukan
sekali.
Namun It Cin Cu tenang-tenang saja. Dalam ketenangannya, ia dapat bergerak cepat sekali. Tibatiba
tubuhnya mencelat ke atas dan kedua tangannya menyambar guci lalu dibaliknya guci itu dan
digunakan untuk menadahi arak yang tumpah ke bawah. Gerakannya demikian cepat, melebihi
Koleksi Kang Zusi
cepatnya arak yang turun sehingga semua arak dapat diterima ke dalam mulut guci, kecuali sedikit
yang diterimanya dengan mulut!
Terdengar tepuk tangan memuji dan Bhok-kongcu berseru saking girang dan kagumnya. Akan
tetapi suara pujiannya terhenti karena kagetnya melihat It Cin Cu melontarkan guci itu ke arah Banjiu
Touw-ong. Orang kedua dari Huang-ho Sam-ong. Agaknya It Cin Cu juga ingin sekali
mengukur kepandaian tiga orang ini dan setelah Kim-i Tok-ong dan Hui-thian Mo-ong tadi
memperlihatkan kepandaiannya, ia ingin melihat kepandaian si Raja Copet.
Hebatnya, kalau tadi guci arak berkali-kali dilontarkan ke atas dan hanya menyerang kepala orang
dari atas ketika jatuh ke bawah, sekarang It Cin Cu melontarkan dari samping dan guci itu langsung
melayang ke arah kepala Ban-jiu Touw-ong. Sambitan ini kuat sekali dan amat berbahaya kalau
orang berani menyambutnya, karena sambitan itu sudah menjadi berlipat ganda dengan beratnya
guci itu sendiri.
Semua orang terkejut, tak terkecuali Bhok-kongcu yang maklum akan kehebatan serangan ini.
Hanya dua orang di antara Huang-ho Sam-ong yang nampak tenang-tenang saja, agaknya mereka
ini percaya penuh akan kemampuan Ban-jiu Touw-ong.
Orangnya sendiri yang menghadapi serangan ini mengeluarkan suara seperti orang ketakutan.
Memang Ban-jiu Touw-ong orangnya suka berjenaka, tubuhnya juga serba panjang, pantas saja
menjadi raja tangan panjang, pakaiannya belang-belang dan terlalu besar untuknya seperti pakaian
badut tukang sulap. Menghadapi serangan ini ia menjatuhkan diri dari atas bangkunya sehingga
guci arak itu lewat di atas kepalanya, terus melayang keluar dari jendela yang kebetulan berada di
belakangnya!
“Wah, Touw-ong tak berani menerima .....!” kata Bhok-kongcu, menyesal dan kecewa karena hal
ini berarti merendahkan nama Huang-ho Sam-ong yang sudah menjadi pembantu-pembantunya.
Akan tetapi tiba-tiba Ban-jiu Touw-ong tertawa dan tubuhnya berkelebat melayang keluar.
Semua orang menahan napas dan tak lama kemudian, nampak si tangan panjang itu sudah meloncat
kembali ke dalam ruangan sambil memanggul guci arak itu yang sama sekali tidak pecah, bahkan
araknya tidak ada yang tumpah. Dengan senyum ia menaruh guci itu ke tempat yang tadi, kemudian
ia memandang ke arah It Cin Cu lalu menjura, “Lihai sekali .... tangan tosu dari Cin-ling-pai benarbenar
berbahaya dan sekali turun tangan tidak kepalang tanggung!”
Ji Cin Cu hanya tertawa ha ha hi hi, lalu berkata, “Memang untuk menjadi tukang copet harus
memiliki gerakan cepat. Kagum ...... kagum ......”
Akan tetapi It Cin Cu masih merengut dan berkata singkat. “Tidak percaya sama dengan menghina,
menghina sama dengan menantang. Orang gagah tidak pantang mundur menghadapi tantangannya.”
Di antara tiga orang raja ini, Kim-i Tok-ong terkenal berwatak berangasan. Mendengar ucapan It
Cin Cu, ia segera berdiri dan memandang tosu itu sambil berkata, “Ilmu silat Cin-ling-kun dan Imyang-
kun yang dibuat andalan Cin-ling-pai semua aku sudah melihatnya dan ternyata tidak sebesar
nama Cin-ling Sam-eng. Akan tetapi aku mendengar bahwa mendiang Giok Thian Cin Cu
mempunyai ilmu pedang simpanan yang disebut Lo-hai Hui-kiam. Entah berita angin ini ada
benarnya atau hanya omong kosong untuk menakut-nakuti orang saja. Kulihat ji-wi totiang dari
Cin-ling-pai ini mempunyai kedudukan tertinggi di samping Giok Thian Cin Cu, juga selalu
membawa pedang tentu ilmu pedang Lo-hai Hui-kiam itu dapat dipertontonkan di sini. Ingin kami
bertiga mencoba-coba sebentar kalau ji-wi totiang memang memiliki kepandaian dan tentu saja
kalau Bhok-kongcu memberikan izin.”
Koleksi Kang Zusi
It Cin Cu dan Ji Cin Cu saling pandang dengan heran. Memang pendengaran orang-orang kang-ouw
sangat tajam. Bagaimana Raja Racun ini bisa tahu bahwa mendiang ketua Cin-ling-pai memiliki
ilmu pedang yang amat rahasia itu? It Cin Cu memberi tanda dengan matanya kepada sutenya lalu
........”Sratt!” Ia sudah mencabut pedangnya, diturut oleh Ji Cin Cu.
“Dengan seizin Bhok-kongcu, pinto berdua siap melayani siapa saja yang memandang rendah Cinling-
pai,” kata It Cin Cu tenang.
Bhok-kongcu memang ingin sekali menyaksikan kepandaian dua orang tosu Cin-ling-pai ini, maka
sambil tersenyum ia berkata, “Kalau sahabat-sahabat yang gagah suka mengingat bahwa kita adalah
orang-orang sendiri dan hendak menambah pengetahuan siauwte dengan mainan ilmu-ilmu silat
tinggi, tentu saja siauwte tidak keberatan.”
Huang-ho Sam-ong mendengar ini, maklum bahwa tuan muda mereka itu ingin menggunakan
tenaga mereka untuk menguji dua orang tosu ini. Maka bertiga mereka lalu meloncat ke tengah di
mana tersedia ruangan cukup luas untuk bermain silat. Gerakan mereka bertiga cepat dan ringan
sekali dan begitu meloncat mereka sudah berdiri dalam keadaan teratur dengan bentuk segi tiga,
siap menghadapi lawan.
Kim-i Tok-ong tidak bersenjata hanya mengandalkan kedua tangannya yang sudah berubah
menghitam ketika ia menyalurkan tenaga beracun ke dalam tangannya itu. Ban-jiu Touw-ong, orang
kedua dari Huang-ho Sam-ong, mengeluarkan sepasang senjata yang aneh. Di tangan kirinya
terdapat sebatang pisau belati kecil yang amat runcing dan tajam, sedangkan di tangan kanannya ia
memegang senjata kaitan seperti sebuah pancing bentuknya, melengkung bentuknya dan di ujung
lengkungan ada kaitannya, persis pancing besar bergagang.
Adapun Hui-thian Mo-ong memegang sebatang golok tipis yang berkilauan. Tiga orang tua ini
sudah siap memasang kuda-kuda dan mata mereka memandang ke arah It Cin Cu dan Ji Cin Cu
dengan menantang.
Dua orang tosu ini bangkit berdiri dan menghampiri ruangan itu dengan tenang dan dengan pedang
di tangan. Mereka maju dan berdiri berendeng di depan tiga orang lawan itu, sikapnya tenang
sekali.
“Ji-wi totiang lekas kalian bergerak, hendak kulihat bagaimana hebatnya Lo-hai Hui-kiam!” kata
Kim-i Tok-ong.
Senyum Ji Cin Cu melebar. Dia tahu bahwa suhengnya tidak mau menyerang lebih dulu. “Suheng
berjuluk Thio-te-kong dan pinto dijuluki Siauw-bin-hud. Malaikat dan nabi tak pernah menyerang
orang, kecuali kalau mempertahankan diri. Sebaliknya kalian ini raja-raja racun, copet dan iblis
sudah biasa turun tangan, mengapa ragu-ragu?”
Kim-i Tok-ong marah mendengar sindiran ini. Sambil mengeluarkan bentakan keras ia mulai
menyerang dengan pukulan tangannya yang hitam ke arah perut Ji Cin Cu yang gendut. Hayaaa,
tanganmu hitam kotor, bisa bikin mulas perut,” kata pendeta gendut ini dan dengan mudah saja ia
mengelak. Ban-jiu Touw-ong dan Hui-thian Mo-ong juga menggerakkan senjata masing-masing,
maju menyerang dua orang tosu Cin-ling-pai itu. Pertempuran hebat segera terjadi dan semua orang
yang hadir, yang terdiri dari ahli-ahli silat kenamaan, menjadi gembira dan kagum.
Memang amat menarik menonton pertempuran itu. Huang-ho Sam-ong memiliki kepandaian tinggi
dan karena mereka memang sering kali menghadapi lawan-lawan tangguh secara bersama, maka
mereka dapat bekerja sama dengan baik dalam setiap pertempuran. Dilain pihak, It Cin Cu dan Ji
Koleksi Kang Zusi
Cin Cu adalah murid-murid paling tua dari Giok Thian Cin Cu. Selain mereka ini ahli-ahli ilmu silat
Cin-ling-kun, juga mereka sudah mempelajari dengan matang ilmu pedang Im-yang Kiam-hoat.
Dalam menghadapi tiga orang lawannya yang tangguh, mereka lalu menggunakan ilmu pedang ini
untuk mempertahankan diri dan balas menyerang.
Siauw-bin-hud Ji Cin Cu yang amat tinggi tenaga lweekangnya, mengambil kedudukan Im dan
menjadi penahan atau pelindung menghadapi setiap serangan lawan, sebaliknya It Cin Cu yang
gerak-geriknya cepat dan ganas, menduduki tempat Yang dan menjadi penyerang yang berbahaya.
Kadang-kadang dua orang kakak beradik seperguruan ini saling bantu dan saling menukar
kedudukan dalam saat-saat yang tak terduga oleh lawan sehingga makin repot. Akan tetapi tiga
orang tokoh sungai Huang-ho ini tentu saja pantang menyerah dan mereka mengerahkan tenaga
sehingga pertempuran makin lama makin ramai dan bukan merupakan menguji kepandaian lagi,
melainkan pertempuran mati-matian.
Bhok-kongcu adalah seorang pemuda yang amat luas pengetahuannya, juga amat tinggi ilmu
silatnya. Ia memang suka sekali menguji kepandaian orang-orang pandai dan diam-diam ia
mencatat semua gerakan-gerakan Im-yang Kiam-hoat sehingga setelah pertempuran berjalan seratus
jurus, sudah banyak jurus-jurus ilmu pedang Cin-ling-pai ini ia catat dan hafalkan! Akan tetapi,
melihat betapa pertempuran ini makin hebat, ia kuatir kalau ada kawan terluka, maka ia berkata,
“Cukuplah, di antara kawan sendiri tidak boleh mati-matian. Siauwte harap cuwi suka berhenti.”
Akan tetapi, lima orang yang sudah mulai panas perutnya itu mana mau berhenti begitu saja?
Mereka bersikap seolah-olah tidak mendengar ucapan pemuda itu dan melanjutkan pertempuran
makin hebat lagi.
Tiba-tiba dari dalam gelap di luar gedung terdengar dua macam suara yang membikin semua orang
terkejut. Suara-suara itu adalah suara tertawa yang menyeramkan dan suara ringkik kuda yang lebih
seram lagi. Mendengar suara ini, Bhok-kongcu berseri mukanya dan bangkit berdiri.
“Ji-wi locianpwe dari Tung-hai telah tiba, bagus sekali ....!” katanya.
Suara-suara itu berhenti dan sebagai gantinya dua bayangan orang tua berkelebat masuk, langsung
tiba di tengah-tengah gelanggang pertempuran.
“Hai, apakah perebutan nama Thian-he-tee-it Kauwsu sudah dimulai? Jangan borong sendiri, beri
kesempatan kepada kami!” kata seorang di antara dua bayangan itu sambil tertawa.
Pada saat itu, di satu pihak pedang di tangan It Cin Cu dan Ji Cin Cu menusuk ke depan dan di lain
pihak Huang-ho Sam-ong juga sedang menyerang. Serangan dua tosu Cin-ling-pai mengancam
bayangan yang bertubuh tinggi besar sedangkan serangan ketiga Huang-ho Sam-ong menghantam
bayangan yang bertubuh pendek. Dua orang itu tertawa dan yang tinggi besar mengangkat kedua
tangannya. Juga yang pendek menggerakkan kedua tangannya. Sekaligus senjata-senjata kedua
pihak terkena gempuran tangan dua orang aneh ini terpental keras dan lima orang itu kaget sekali,
cepat mencelat mundur sambil mengeluarkan seruan kaget. Tangan mereka terasa sakit seakan-akan
mereka telah menyerang dinding baja yang kuat!
“Cuwi yang bertempur silahkan mundur. Sudah cukup memperlihatkan kepandaian masing-masing.
Jiwi locianpwe dari Tung-hai, harap jangan salah sangka. Perebutan gelar Thian-he-tee-it Kauwsu
(Jago Silat Nomor Wahid di Dunia) belum dimulai. Silahkan ji-wi mengambil tempat duduk.”
Koleksi Kang Zusi
Dengan ramah Bhok-kongcu turun tangan sendiri menyediakan dua kursi kehormatan di sebelah
kanannya dan dua orang itu sambil tertawa-tawa lalu duduk, tanpa mengacuhkan semua orang yang
berada di situ kecuali Bhok-kongcu, kepada siapa mereka menjura dan menghaturkan terima kasih.
Lalu Bhok-kongcu memperkenalkan dua orang tua yang baru datang ini kepada semua tamu.
Kiranya mereka ini adalah Tung-hai Siang-mo (Sepasang Iblis dari Laut Timur). Yang tinggi besar
bermuka hitam adalah Ji Kong Sek yang suka tertawa seram, sedangkan yang pendek tubuhnya tapi
panjang sekali lehernya adalah adik kandungnya bernama Ji Kak Touw, suka mengeluarkan suara
seperti ringkik kuda. Memang lehernya panjang dan bentuknya seperti leher kuda.
It Cin Cu dan Ji Cin Cu, juga ketiga Huang-ho Sam-ong, telah merasai kelihaian dua orang ini,
maka mereka lalu kembali ke tempat duduk masing-masing tidak berani lagi memperlihatkan
kepandaian. Akan tetapi, di antara para tamu, Tok-gan Sin-kai merasa marah dan kecewa sekali.
Seperti telah diketahui, Tok-gan Sin-kai si pengemis mata satu ini pernah menyerbu ke Cin-ling-pai
dan masih merasa penasaran dan benci kepada It Cin Cu dan Ji Cin Cu. Ketika tadi dua orang tosu
ini bertempur melawan Huang-ho Sam-ong, diam-diam ia mengharapkan dua orang tosu ini
mendapat hajaran. Maka kedatangan dua orang yang disebut Tung-hai Siang-mo membuat
harapannya itu gagal dan karenanya ia menjadi kecewa. Apalagi melihat betapa Bhok-kongcu amat
menghormati dua orang tamu baru ini, ia makin mendongkol.
Memang nama Tung-hai Siang-mo tidak begitu terkenal, maka Tok-gan Sin-kai memandang rendah
kepada mereka. Apalagi melihat mereka itu seperti orang biasa saja. Ia pikir bahwa belum tentu ia
kalah oleh dua orang itu, kenapa datang-datang diberi penghormatan demikian besar? Aku harus
unjuk gigi dan bikin malu mereka, pikirnya. Cepat ia lalu menuangkan dua cawan kosong dengan
arak sampai penuh sekali, kemudian sambil tertawa lebar ia bangkit dan menghampiri Tung-hai
Siang-mo.
Tok-gan Sin-kai adalah sute (adik seperguruan) dari Coa-tung Sin-kai, tokoh besar di utara, maka
kepandaiannya tentu saja sudah amat tinggi. Ia sengaja membawa cawan-cawan arak dengan
terbalik, akan tetapi diam-diam mengerahkan lweekang yang “menyedot” sehingga tenaga sedotan
ini membuat arak di dalam cawan yang dibalikkan itu tak tumpah keluar!
“Sudah lama mendengar nama besar Tung-hai Siang-mo, aku Tok-gan Sin-kai menghormat dengan
secawan arak,” katanya sambil tertawa dan memberikan cawan-cawan arak itu kepada Ji Kong Sek
dan Ji Kak Touw.
Dua orang iblis Laut Timur itu saling pandang, lalu keduanya tertawa terbahak-bahak. Dengan
gerakan sembarangan mereka menerima cawan-cawan arak yang terbalik itu. Arak di dalam cawan
yang dibalikkan itu tiba-tiba jatuh ke bawah ketika Tok-gan Sin-kai melepaskan cawan dan
sekaligus menarik kembali tenaga lweekang yang menyedot. Ia sudah girang sekali karena
menganggap usahanya berhasil, yaitu membikin malu dua orang tamu yang diagungkan itu. Akan
tetapi, tiba-tiba dua orang kakek itu berseru dengan suara perlahan, “Naik!” dan aneh sekali.
Arak yang sudah mulai tumpah itu, tiba-tiba tertahan seperti kena sedot dari atas sehingga ketika
cawan diturunkan, arak itu kembali ke dalam cawan yang sekarang sudah mereka pegang berdiri
sebagaimana mestinya. Pada saat itu juga, Tok-gan Sin-kai merasa kedua lututnya lemas.
“Celaka .....” serunya akan tetapi terlambat. Tidak terlihat olehnya bagaimana kedua lututnya tahutahu
sudah terkena totokan, juga ia tidak tahu siapa di antara dua orang kakek itu yang
melakukannya. Ia mencoba untuk menahan diri, akan tetapi tetap saja lututnya tidak bertenaga dan
di luar kehendaknya ia berlutut!
Koleksi Kang Zusi
“Eh, eh .... Tok-gan Sin-kai sudah memberi arak, tak perlu melakukan penghormatan berlebihlebihan,”
kata Ji Kong Sek sambil tertawa seram dengan nada mengejek. Tahulah kini Tok-gan Sinkai
bahwa si tinggi besar itu yang menotok kedua lututnya.
Sementara itu, Ji Kak Touw si leher kuda itupun tertawa lalu menggunakan tangan kirinya menarik
pundak Tok-gan Sin-kai seperti orang mencegah si mata satu ini memberi hormat sambil berlutut
dan berkata. “Tak usah berlutut ..... tak usah berlutut, lebih baik kembali ke tempat dudukmu.”
Hebat sekali, entah bagaimana, biarpun tangannya hanya kelihatan memegang pundak, tahu-tahu
tubuh Tok-gan Sin-kai mencelat, terlempar dan jatuh di atas tempat duduknya yang tadi seperti
barang ringan saja dilontarkan. Jatuhnya persis di tempat duduknya dan otomatis kedua lututnya
yang tertotok sudah bebas lagi. Karuan saja si mata satu menjadi tertegun, seluruh mukanya merah
dan dia tidak berani berkutik lagi! Kini tahulah dia dan orang-orang lain bahwa dua orang kakek
yang disebut Sepasang Iblis Laut Timur ini benar-benar memiliki kepandaian yang luar biasa
tingginya. Adapun Tung-hai Siang-mo lalu minum arak suguhan tadi sambil tertawa-tawa.
“Ha ha, Bhok-kongcu memang berbintang terang. Sampai ada pengemis luar biasa yang bermata
satu dan begitu tahu hormat mau membantunya,” kata Ji Kong Sek.
“Bhok-kongcu telah memanggil datang kami yang tinggal jauh dari sini, entah di sini akan diadakan
perayaan apakah?” tanya Ji Kak Touw.
“Ji-wi loenghiong sudi datang dari tempat yang jauhnya ribuan li, benar-benar membuat siauwte
girang dan bangga,” jawab Bhok Kian Teng, “Ada beberapa urusan maka cuwi sekalian siauwte
undang ke puncak Lu-liang-san ini. Pertama-tama untuk bersama menikmati keindahan
pemandangan puncak ini, sambil saling berkenalan di antara kawan segolongan sendiri. Tanpa
saling mengenal, bukankah mudah timbul salah paham yang akan memecah persatuan? Pada
dewasa ini, amat penting untuk mengenal siapa kawan untuk membedakan mana lawan. Kedua
kalinya, siauwte dalam pertemuan ini juga mengundang orang-orang gagah dari seluruh wilayah
untuk dapat insyaf dan sadar bahwa pemerintah kita akan mendatangkan kebahagiaan bagi rakyat
sehingga sudah selayaknya dibantu. Ketiga kalinya, untuk memenuhi perintah kaisar, dalam
pertemuan ini siauwte hendak mengadakan pemilihan jago silat nomor satu untuk menerima
kedudukan sebagai calon koksu di istana. Keempat kalinya, siauwte hendak mengajak cuwi sekalian
berunding dalam menghadapi gangguan-gangguan para pemberontak.”
Pada saat itu terdengar suara lengking yang aneh dan menggetarkan kalbu para tamu. Semua orang
terkejut sekali, malah sebagian dari pada tamu muda yang duduk di barisan belakang, ada yang
roboh terguling, tidak kuat menahan lagi mendengar suara yang hebat ini. Bhok-kongcu cepat
bangun berdiri dan dengan muka berseri girang ia berseru.
“Hoa Hoa Cinjin locianpwe sudah datang! Silahkan .... silahkan masuk .....”
Ji Kak Tow berkata kepada suhengnya setelah saling pandang dengan suhengnya ini. “Diapun
pembantu Bhok-kongcu? Hebat. Dengan adanya dia di sini tak perlu lagi bicara tentang jago silat
nomor satu!” Ji Kong Sek mengangguk-angguk sambil memandang keluar.
Dari luar bertiup angin dan tahu-tahu seorang tosu bertubuh tegap dan gagah menyeramkan masuk
ke ruangan itu. Di punggungnya nampak gagang pedang dan yang amat menarik adalah sepasang
matanya yang tajam dan liar, bukan seperti mata manusia lagi. Atas sambutan Bhok-kongcu yang
amat menghormat, ia hanya membalas dengan menjura, sikapnya dingin dan tenang. “Bhok-kongcu
sudah berhasil mengumpulkan banyak pembantu, itu bagus,” kata Hoa Hoa Cinjin dengan suaranya
Koleksi Kang Zusi
yang serak seperti suara burung gagak. “Akan tetapi harus dipilih betul-betul jangan hanya
mengumpulkan segala kantong nasi yang tiada gunanya.”
Dengan matanya yang luar biasa tosu ini menyapu semua tamu di situ. Tak seorangpun berani
menentang pandang mata yang hebat ini. Pandang mata Hoa Hoa Cinjin terhenti pada dua orang
tosu Cin-ling-pai. It Cin Cu dan Ji Cin Cu yang berani menentang pandang matanya dengan tabah.
“Kalian ini tosu-tosu tertua dari Cin-ling-pai, apa buktinya bahwa kalian benar-benar hendak
membantu pemerintah baru? Kalau kalian tidak bisa menyeret sute-sute kalian Cin-ling Sam-eng
dan dihadapkan kepada Bhok-kongcu, siapa percaya bahwa kalian benar-benar hendak mengabdi
dengan hati bersih?”
Dua orang tosu itu berubah air mukanya, dan Bhok-kongcu segera berkata. “Ji-wi tosu, siauwte
percaya penuh bahwa ji-wi tentu akan dapat memenuhi permintaan Hoa Hoa Cinjin yang memang
sepantasnya ini. Siauwte menanti di sini selama satu bulan.”
Ucapan ini merupakan perintah, juga merupakan ujian bagi kesetiaan dua orang tosu Cin-ling-pai
itu. It Cin Cu dan Ji Cin Cu bangkit berdiri, menjura dan berkatalah It Cin Cu. “Dalam waktu
sebulan pasti pinto berdua akan membawa para sute datang menghadap Bhok-kongcu.” Setelah
berkata demikian, keduanya berkelebat pergi dan turun dari puncak Lu-liang-san.
“Kongcu, bocah she Cia itu sedang menuju ke sini. Dia agaknya dilindungi oleh Thio-siocia.
Hemmm, sikap Thio-siocia amat aneh, harap kongcu berhati-hati terhadapnya. Dua orang puteri
Thio-ciangkun itu makin lama makin mencurigakan.”
Bhok-kongcu mengangguk-angguk, senyumnya berubah pahit. “Memang banyak terjadi hal aneh,
locianpwe. Seperti baru-baru tadi, seorang kawan baruku, nona Cia telah diculik oleh nona
berkedok. Siauwte pernah mendengar bahwa locianpwe mempunyai seorang murid perempuan
yang selalu berkedok. Entah dia ......”
Tag:cersil cersil indo cersil mandarin full cerita silat mandarin online cersil langka cersil mandarin lepas cerita silat pendekar matahari kumpulan cerita silat jawa cersil mandarin beruang salju. cerita silat pendekar mataharicerita silat indonesia cerita silat kho ping hoo cerita silat mandarin online cerita silat mandarin full cerita silat jawa kumpulan cerita silat cerita silat jawa pdf cerita silat indonesia gratis cerita silat jadul indonesia cerita silat indonesia pendekar rajawali sakti cersil indonesia pendekar mabuk cersil langka cersil dewa arak cerita silat jaman dulu cersil jawa download cerita silat mandarin full cerita silat mandarin online cersil mandarin lepas cerita silat mandarin pendekar matahari cerita silat jawa pdf cersil indonesia pdf cersil mandarin beruang salju kumpulan cerita silat pdf
kumpulan cerita silat cersil online
Share:
cersil...
Comments
0 Comments

Arsip Cersil

Best Cersil

Pecinta Cersil