Donasi

Buat yang punya rejeki berlebih dan merasa terhibur dengan Situs Cerita Silat Cersil Terbaik ini bisa mendonasikan bantuannya ke
No. Rekening BPD Jateng No. 2004084554
demi keberlangsungan dan keberadaan Blog Cersil Cerita Silat yang sama-sama kita cintai ini. Kritik dan Saran hub No HP.083837358519. Atas Bantuannya disampaikan Terimakasih.

Rabu, 30 Mei 2018

Pendekar Tanpa Bayangan 2

======
baca juga
Bab 2 Korban Balas Dendam Keluarga!
Sementara itu, di gedung Pangeran Lu Kok Kong terjadi hal
yang hebat. Telah lama sebelum pangeran itu pulang dari
istana, di dekat gedung Pangeran Lu berkelebat dua sosok
bayangan orang yang luar biasa cepatnya sehingga seorang ahli
sekalipun akan sukar melihat mereka. Hanya kadang-kadang
saja bayangan itu berkelebat, tanpa dapat dilihat di mana
sebenarnya orang yang memiliki bayangan itu.
“Suhu, dia lama amat pulangnya. Apakah kita tidak lebih
baik menyusulnya ke istana?” terdengar suara seorang di antara
mereka yang ternyata adalah seorang pemuda tampan gagah
Koleksi Tiraikasih http://kangzusi.com
DewiKZ- 115
dengan suara lembut.
Kakek yang merupakan bayangan kedua menggelengkan
kepala dan berkata, “Sabarlah, dia pasti akan pulang. Istana
sekarang jauh bedanya dengan dahulu. Terlampau besar
resikonya untuk menyerbu ke sana. Tentu saja kita tidak perlu
takut menghadapi para perajurit pengawal, akan tetapi kalau
sampai kita ketahuan dan dikeroyok puluhan orang pengawal
sebelum urusan kita beres, bukankah hal itu akan menghambat
pekerjaan kita bahkan mungkin akan menggagalkan usaha
kita?”
Pemuda itu mengangguk-angguk, membenarkan pendapat
gurunya.
“Maafkan teecu (murid), Suhu. Tadi teecu terburu nafsu
dan kurang sabar,” katanya dan kakek itu tersenyum.
Tak lama kemudian terdengar suara roda kendaraan kereta
yang ditarik dua ekor kuda besar memasuki halaman yang luas
dan pintu kereta terbuka. Pangeran Lu Kok Kong dengan
pakaian kebesaran yang indah turun dari kendaraannya dan
berjalan masuk diiringkan para pelayan yang menyambutnya.
Langkahnya tegap dan wajahnya yang masih tampan itu berseri
ketika dia melihat sembilan orang selir dan isterinya
menyambutnya di ruangan dalam.
Setelah membagi senyum kepada semua isterinya, Pangeran
Lu mencari-cari dengan pandang matanya dan bertanya.
“Di mana Siang Ni?” Pangeran ini memang selalu
menanyakan puterinya kalau dia pulang dan puteri kesayangan
itu tidak tampak. Apalagi dia tahu bahwa Siang Ni tadi telah
meninggalkan rumah sebelum dia pergi ke istana kaisar. Dan
dia juga melihat betapa wajah selirnya yang termuda dan
tersayang, muram seperti orang yang gelisah dan bersedih.
Pertanyaan itu pun dia tujukan kepada Sui Hong sambil
melangkah ke arah kamar isterinya yang paling muda itu. Sui
Koleksi Tiraikasih http://kangzusi.com
DewiKZ- 116
Hong mengikuti suaminya dari belakang dan isteri-isterinya
.yang lain mengundurkan diri ke kamar masing-masing.
“Di mana Siang Ni?” Pangeran Lu kembali bertanya setelah
mereka berada di dalam kamar.
“Apakah Paduka belum bertemu dengannya?” Sui Hong
balas bertanya dengan wajah khawatir.
Pangeran Lu Kok Kong menggelengkan kepalanya.
“Apakah yang telah terjadi? Engkau kelihatan gelisah.”
“Ia tadi....... bertanya tentang riwayatku, tentang ayah
bunda dan saudara-saudaraku.......”
“Hemm...... lalu bagaimana?” suaminya mendesak sambil
mengerutkan alisnya.
Mendengar pertanyaan ini, Sui Hong menangis. “Ia
mendesak terus...... agaknya sudah curiga sejak lama dan
saya...... saya akhirnya tidak dapat menolak lagi, terpaksa saya
bercerita tentang semua hal yang telah terjadi dahulu.......”
Pangeran Lu menjadi pucat seketika. “Apa? Kau ceritakan
juga tentang Panglima Kong.......?”
Sui Hong menggelengkan kepala sambil menggigit bibirnya
menahan tangis. “Aihh….. kalau saja permintaan saya sejak
dahulu Paduka penuhi....... kalau saja Paduka sudah
membalaskan sakit hati keluarga saya kepada Panglima Kong
dan Siang Ni tidak menjadi muridnya, mungkin tidak akan
terjadi hal ini.......”
Pangeran Lu maklum apa yang dimaksudkan isterinya. Dia
menghela napas panjang lalu berkata lembut. “Hong-moi
(Dinda Hong), sejak dahulu engkau pun tahu bahwa kedudukan
Panglima Besar Kong Tek Kok amat kuat. Tentu saja aku dapat
menjatuhkannya melalui tangan Kaisar. Akan tetapi
pengikutnya amat banyak, di belakangnya berdiri pasukan yang
ratusan ribu jumlahnya. Selain kepandaian silatnya sendiri
Koleksi Tiraikasih http://kangzusi.com
DewiKZ- 117
amat tinggi, juga dia memiliki banyak perwira pembantu yang
lihai. Menghadapi kekuatan seperti itu, mengingat akan
kedudukanku, tidak selayaknya kalau aku memusuhinya.
Kekuatan seperti itu amat dibutuhkan untuk mempertahankan
berdirinya Kerajaan Goan, amat penting bagi negara dan
bangsa Mongol, maka permintaanmu dahulu itu terpaksa tidak
dapat kulaksanakan. Apalagi kalau diingat bahwa dialah orang
yang telah menjodohkan kita, bukan? Karena itu pula, diamdiam
aku membiarkan anak kita Siang Ni menjadi muridnya.”
Sui Hong menarik napas panjang dan wajahnya
membayangkan kecemasan dan kebingungan. “Saya dapat
menerima alasan Paduka itu, maka sampai sekian lamanya saya
membungkam dan tidak pernah mengganggu Paduka dengan
urusan itu. Akan tetapi sekarang Siang Ni sudah dewasa, sudah
pandai berpikir dan pandai sekali berusaha membuka rahasia
keluarga saya. Kalau nanti ia datang dan mendesak Paduka,
lalu bagaimana baiknya?”
“Hemm, jangan khawatir, serahkan saja hal itu
kepadaku.......”
Tiba-tiba Pangeran Lu dan Pouw Sui Hong terkejut bukan
main ketika dari atas berkelebat bayangan orang dan tahu-tahu
di dalam kamar itu telah berdiri seorang pemuda. Begitu
pemuda itu bergerak maju, tangan kirinya sudah
mencengkeram leher baju Pangeran Lu Kok Kong, lalu
ditariknya mendekat.
“Engkau yang bernama Lu Kok Kong?” bentak pemuda itu
dengan suara mengandung penuh kebencian.
Pangeran Lu mencoba untuk meronta, akan tetapi tangan
yang mencengkeram leher bajunya itu kuat bukan main
sehingga dia tidak mampu bergerak.
“Siapakah engkau orang muda yang kurang ajar?” Pangeran
Lu balas membentak. “Lepaskan atau aku akan menyuruh para
Koleksi Tiraikasih http://kangzusi.com
DewiKZ- 118
pengawal menangkapmu!”
Akan tetapi pemuda itu tersenyum mengejek. “Panggillah
semua anjingmu! Mereka yang pingsan tidak akan mampu
mendengarmu. Hayo jawab, benarkah engkau yang bernama
Lu Kok Kong?”
“Benar, dan engkau ini siapa? Apa kehendakmu? Lepaskan
aku!”
Wajah yang tampan itu tiba-tiba berubah menjadi beringas
dan suaranya mendesis di telinga Pangeran Lu.
“Dengarlah, hai anjing busuk! Mengapa keluarga Pouw dari
So-couw dibasmi Kaisar? Hayo jawab!”
Sui Hong mengeluarkan seruan kaget. Nyonya ini sejak tadi
telah berdiri menggigil dengan sepasang mata terbelalak
memandang pemuda itu. Ia hampir saja mengeluarkan jeritan
ngeri ketika melihat betapa wajah pemuda itu seperti pinang
dibelah dua dengan wajah kakaknya yang sudah tewas. Benarbenar
tidak ada bedanya dengan wajah Pouw Keng In,
kakaknya. Hal ini membuatnya terkesima sehingga ia hanya
terbelalak memandang bengong dan tidak dapat mengeluarkan
suara.
Pemuda itu mengerling kepadanya, akan tetapi hanya
sekejap mata saja, kemudian kembali mendesak Pangeran Lu.
“Hayo katakan, mengapa keluarga Pouw dibasmi? Apa
kesalahan keluarga Pouw di So-couw itu?”
Pangeran Lu Kok Kong bukan seorang penakut. Biarpun
dalam cengkeraman pemuda itu dia sama sekali tidak berdaya,
suaranya masih tenang ketika ia menjawab.
“Keluarga itu bermaksud memberontak, maka pemerintah
menjatuhkan hukuman mati kepada mereka.”
“Dasar anjing penjajah! Panglima yang memimpin pasukan
Koleksi Tiraikasih http://kangzusi.com
DewiKZ- 119
pembasmi keluarga Pouw itu, siapa namanya? Cepat kau
sebutkan namanya!”
Dalam keadaan lain, kiranya Pangeran Lu Kok Kong tidak
akan mau mengaku karena dia bukan seorang yang berjiwa
pengecut dan pengkhianat. Akan tetapi sekarang keadaannya
lain. Dia pikir lebih baik kalau dia berterus terang sehingga
dapat memancing pemuda ini agar mendatangi Panglima Kong
Tek Kok. Kalau pemuda ini berani mendatangi gedung
Panglima Kong, pasti dia akan dapat ditangkap atau dibunuh!
“Panglima itu adalah Kong Tek Kok. Dialah yang
membasmi keluarga Pouw. Akan tetapi aku tidak melakukan
sesuatu dalam pelaksanaan hukuman itu. Mengapa engkau
datang menghinaku? Siapakah engkau?”
Pemuda itu tertawa, wajahnya yang tampan kelihatan
menyeramkan. “Engkau, bandot tua masih menanyakan lagi
dosamu? Seorang gadis keluarga Pouw ditawan dan diberikan
padamu, menjadi permainanmu, engkau hina sehingga tewas di
tanganmu! Masih juga engkau bertanya lagi?” Sambil berkata
demikian, pemuda itu mencabut pedangnya. “Orang macam
engkau ini harus mampus!”
“Jangan......! Dia tidak bersalah......!” Sui Hong menjerit
dan menubruk maju. Akan tetapi terlambat karena pedang itu
sudah berkelebat dan tahu-tahu leher Pangeran Lu telah
terpenggal!
Sui Hong hanya menubruk jenazah yang bagian lehernya
masih menyemburkan darah! Melihat ini Sui Hong menjerit
keras dan roboh pingsan. Darah suaminya mengenai muka dan
pakaiannya sehingga menimbulkan pemandangan yang amat
mengerikan.
Pemuda itu melompat keluar kamar melalui jendela, lalu
dengan gerakan ringan sekali dia melompat ke atas genteng.
Koleksi Tiraikasih http://kangzusi.com
DewiKZ- 120
“Bangsat jangan lari!” Tiba-tiba terdengar bentakan nyaring
dan Siang Ni cepat melakukan pengejaran.
Gadis itu baru saja tiba di rumahnya dari istana kaisar dan
alangkah heran dan kagetnya ketika melihat beberapa orang
perajurit penjaga menggeletak kaku tertotok di pinggir pintu
depan. Cepat ia lari dan kebetulan sekali ia melihat bayangan
seorang pemuda melayang ke atas genteng. Maka ia pun cepat
membentak dan mengejar dengan lompatan kilat ke atas
genteng. Akan tetapi ternyata gerakan pemuda yang dikejarnya
itu amat cepat. Siang Ni mengeluarkan panah tangan yang
selalu dibawa di samping pedangnya. Menyambitkan panah
tangan merupakan keahlian gurunya dan ia pun sudah
mempelajarinya dengan baik.
“Penjahat, berhenti kau atau rasakan panah tanganku!”
Namun pemuda itu tidak mempedulikan gertakan ini dan
terus berloncatan di atas wuwungan rumah. Siang Ni
menyambitkan panahnya. Tiga batang panah menyambar ke
arah tubuh belakang pemuda itu, mengarah tengkuk, punggung,
dan pinggang!
Pemuda itu mengeluarkan seruan kaget dan dengan cepat
dia memutar pedangnya, sambil berpok-sai (bersalto) di udara.
Dengan gerakan yang amat hebat ini dia pun dapat terhindar
dari serangan panah. Dia mengeluarkan seruan kagum dan
menghentikan larinya, berdiri menghadapi Siang Ni.
Sinar lampu dari bawah dan cahaya bintang di langit hanya
memberi penerangan remang-remang saja, namun Siang Ni
dapat melihat jelas bahwa ia berhadapan dengan seorang
pemuda yang tampan dan gagah.
“Siapa engkau yang begini kurang ajar berani memasuki
rumah orang dengan pedang di tangan dan menotok para
perajurit jaga?” bentak Siang Ni yang juga tadi terkejut sekali
melihat orang yang dikejarnya mampu menghindarkan diri dari
Koleksi Tiraikasih http://kangzusi.com
DewiKZ- 121
serangan tiga batang anak panahnya. Tidak sembarang orang
mampu menghindarkan diri dari serangan anak panahnya itu.
Pemuda itu tersenyum, agaknya tertarik kepada gadis
remaja yang lincah galak dan juga lihai itu. Gerakannya ketika
mengejarnya, juga serangan anak panahnya yang amat
berbahaya tadi, sudah nnenunjukkan bahwa gadis remaja ini
lihai bukan main.
“Engkau menanyakan namaku ada urusan apakah? Kalau
engkau ingin berkenalan denganku, perkenalkanlah, namaku
Suma Cun Giok.”
Siang Ni membanting kaki kirinya, terdengar suara keras
dan genteng yang diinjaknya itu hancur berkeping-keping!
“Bangsat tak tahu malu! Siapa sudi berkenalan denganmu?
Aku melihat engkau keluar dari gedung membawa pedang,
apakah engkau seorang maling yang hendak mencuri?”
“Huh, siapa mau mencuri? Aku datang mencari musuh
besarku, si keparat hidung belang Lu Kok Kong dan.......”
Akan tetapi Siang Ni sudah membentak marah sekali dan
pedangnya berkelebat cepat menusuk tenggorokan Suma Cun
Giok. Mendengar ayahnya dimaki keparat hidung belang, tanpa
ingin tahu lebih jauh urusannya, ia tidak dapat menahan diri
lagi dan langsung menyerang dengan jurus mematikan!
Melihat gerakan gadis itu luar biasa cepatnya, Suma Cun
Giok cepat melangkah mundur sambil menangkis dengan
pedangnya.
“Tranggg......!!” Bunga api berpijar menyilaukan mata dan
keduanya melompat ke belakang dengan kaget. Pertemuan
kedua pedang tadi membuat tangan mereka yang memegang
gagang pedang tergetar hebat!
Suma Cun Giok maklum bahwa dia menghadapi seorang
lawan yang amat tangguh. Akan tetapi dia tidak ingin
Koleksi Tiraikasih http://kangzusi.com
DewiKZ- 122
bertempur melawan gadis remaja yang cantik lincah menarik
ini. Pula karena tugasnya belum selesai, dia lalu membalikkan
tubuhnya dan lari meninggalkan wuwungan gedung itu.
“Jahanam, jangan lari!”
Siang Ni mengejar sambil melepas panah tangan yang
dapat dihindarkan oleh Cun Giok. Pada saat itu, terdengar jerit
tangis dari dalam gedung. Siang Ni terkejut dan terpaksa
menghentikan pengejarannya, lalu melompat kembali ke
bawah dan berlari cepat memasuki gedung. Di ruangan depan
ia melihat dua orang penjaga juga menggeletak pingsan
tertotok.
“Keparat......!” Gadis itu memaki marah dan merasa
mendongkol bahwa tadi ia tidak sempat merobohkan pemuda
itu. Ia lalu berlari masuk dengan hati gelisah, karena ratap
tangis yang didengarnya kini semakin riuh dan datangnya dari
kamar ayah ibunya. Hati gadis yang sebelumnya tak pernah
mengenal rasa takut itu mulai cemas dan jantungnya berdebar
penuh ketegangan. Ngeri ia membayangkan apa yang terjadi di
dalam kamar ayah ibunya darimana terdengar ratap tangis yang
memilukan itu.
Ketika Siang Ni tiba di depan pintu kamar ayah ibunya dan
melihat bahwa yang menangis itu adalah para ibu tirinya dan
beberapa orang pelayan wanita yang memenuhi kamar itu, ia
segera menerobos masuk dan mendorong beberapa orang
pelayan ke kanan kiri. Akhirnya ia dapat melihat apa yang
ditangisi mereka itu.
Wajah Siang Ni seketika pucat, matanya terbelalak melihat
tubuh ayahnya menggeletak di atas lantai dalam keadaan
mengerikan sekali. Kepala ayahnya terpisah dari leher dan
ibunya juga menggeletak berlepotan darah di dekat ayahnya!
Siang Ni tidak percaya kepada penglihatannya sendiri.
Digosok-gosoknya kedua matanya dan dipandangnya sekali
Koleksi Tiraikasih http://kangzusi.com
DewiKZ- 123
lagi ayah ibunya yang menggeletak mandi darah di lantai itu.
Kedua kakinya mulai menggigil, matanya berkunang-kunang
dan ia menubruk maju.
“Ayah.......! Ibu.......!!” Siang Ni memeluk tubuh mereka,
tidak peduli pakaian dan kedua tangannya penuh darah yang
belum membeku. Didekapnya tubuh ayah ibunya, digoyanggoyangkan
dan dipanggil-panggilnya. Kemudian ia terasa agak
lega melihat ibunya siuman dan ternyata ibunya tidak terluka,
hanya berlepotan darah ayahnya, seperti juga ia. Akan tetapi
ibunya seperti orang kehilangan kesadaran, matanya
memandang kosong, mulutnya tak mampu bersuara.
“Ibu......! Apa yang telah terjadi.......?” Kemudian ia
memeluk ayahnya. “Ayah, siapakah yang melakukan ini......?”
Tiba-tiba ia teringat akan pemuda yang tadi diserangnya, maka
ia menjadi beringas.
“Keparat jahanam keji! Aku harus mengadu nyawa
denganmu!” bentaknya nyaring sekali, mengejutkan semua
orang yang berada di situ. Kemudian ia mencabut pedangnya
dan melompat keluar seperti orang gila, menerjang mereka
yang menghalang sehingga beberapa orang pelayan
terpelanting jatuh. Ia mengerahkan seluruh tenaganya dan
tubuhnya berkelebat keluar dari gedung itu.
@_Alysa^DewiKZ_@
Bab 3 Panglima Pembasmi Keluarga Pouw
Bagaikan seekor burung garuda marah, Siang Ni melayang
ke atas genteng dan ia berlari ke arah di mana ia bertemu
dengan pemuda yang mengaku bernama Suma Cun Giok itu.
Setelah tiba di sana, ia tidak melihat bayangan seorang pun. Ia
tercengang dan bingung. Ke mana ia harus mengejar? Ke mana
perginya pemuda yang telah membunuh ayahnya itu? Ia
Koleksi Tiraikasih http://kangzusi.com
DewiKZ- 124
termangu, kemudian terbayang di depan matanya keadaan ayah
dan ibunya. Ia memejamkan kedua matanya dan air mata
menitik deras seperti air hujan.
“Ayaaaah...... Ibu.......!” Tersedulah Siang Ni dan hampir
saja ia terguling dari atas genteng. Kedua kakinya menggigil
dan seluruh tubuh gemetar. Dengan jerit memilukan ia
melompat turun dan menerobos masuk lagi ke dalam kamar
maut itu, menangis tersedu-sedu sambil memeluk tubuh ayah
dan ibunya bergantian. Pemandangan yang amat mengharukan
ini membuat para ibu tirinya makin riuh meratap dan menangis,
bahkan beberapa orang di antaranya ada yang jatuh pingsan
sehingga suasananya semakin memilukan.
“Teecu (murid) sudah berhasil menewaskan Pangeran Lu
Kok Kong yang jahat dan mata keranjang itu, Suhu. Sudah
terbalas kiranya sakit hati Bibi Pouw Sui Hong yang menjadi
korbannya,” kata Suma Cun Giok kepada suhunya setelah
mereka bertemu di atas genteng. “Hampir saja teecu terlibat
dalam perkelahian dengan seorang gadis remaja yang lihai
sekali. Entah siapa gadis itu, teecu tidak mau melayaninya
berkelahi, khawatir kalau Suhu terlalu lama menunggu teecu di
sini,” demikian Suma Cun Giok menceritakan pelaksanaan
tugasnya untuk membalas dendam keluarga Pouw.
Pemuda yang membunuh Pangeran Lu Kok Kong itu
adalah Suma Cun Giok, putera mendiang Pouw Keng In. Dia
melakukan perjalanan bersama suhunya, yaitu Suma Tiang
Bun, pendekar patriotik yang tinggi ilmunya. Seperti telah kita
ketahui, guru dan murid ini telah menolong keluarga Siok di
kota Ci-bun, bahkan kemudian mereka mengantar Nona Siok
Eng menuju ke Propinsi Shan-tung dan atas persetujuan
gurunya, dia ditunangkan dengan gadis itu.
Setelah meninggalkan keluarga Siok yang kini tinggal
bersama mantu sulungnya di Shan-tung, Suma Tiang Bun dan
Suma Cun Giok, murid atau anak angkatnya itu, melakukan
Koleksi Tiraikasih http://kangzusi.com
DewiKZ- 125
perjalanan ke kota raja. Terlebih dahulu Suma Tiang Bun
mengajak muridnya ke So-couw untuk melakukan
penyelidikan tentang keluarga Pouw. Tanpa banyak kesulitan
mereka dapat mengumpulkan dari para penduduk yang sudah
puluhan tahun tinggal di situ. Mereka dapat mendengar cerita
para penduduk tua tentang terbasminya keluarga Pouw oleh
pasukan Kerajaan Mongol.
Akan tetapi karena peristiwa itu terjadi sekitar duapuluh
tahun yang lalu, dan seperti pada umumnya orang suka sekali
membumbui setiap cerita tentang sebuah peristiwa yang tersiar
melewati mulutnya menurut komentar, pendapat dan
pandangan yang sesuai dengan seleranya sendiri, maka apa
yang didengar oleh Suma Tiang Bun dan Suma Cun Giok
sudah simpang siur dan kacau, yang terkadang menyimpang
dari keadaan yang sebenarnya. Akan tetapi pada pokoknya,
guru dan murid itu mendengar betapa seluruh keluarga Pouw
telah dibunuh, dan hanya seorang gadis bernama Pouw Sui
Hong yang tidak dibunuh, melainkan ditawan.
Akan tetapi, demikian menurut berita yang mereka
dapatkan, keadaan Pouw Sui Hong yang dahulu menjadi bunga
tercantik kota So-couw itu lebih menyedihkan lagi, karena
gadis itu dibawa ke kota raja dan menjadi permainan para
bangsawan di kota raja. Kemudian Pouw Sui Hong terjatuh ke
tangan Pangeran Lu Kok Kong yang terkenal mata keranjang
dan akhirnya gadis yang bernasib malang itu mati penuh
kesengsaraan di gedung Pangeran Lu itu. Demikianlah berita
yang didengar oleh Suma Tiang Bun dan Suma Cun Giok!
Dapat dibayangkan betapa marahnya Cun Giok mendengar
cerita mereka itu. Dendam sakit hati berkobar dalam kepalanya
lalu membara dalam dadanya. Dendam kebenciannya pertamatama
ditujukan kepada Pangeran Lu Kok Kong yang sudah
merusak kehidupan bibinya, dan dendamnya yang kedua
ditujukan kepada panglima pasukan yang belum diketahui
Koleksi Tiraikasih http://kangzusi.com
DewiKZ- 126
siapa orangnya karena di antara para penduduk So-couw yang
memberi keterangan padanya, tak seorang pun mengenal siapa
adanya panglima pasukan pembasmi itu.
Demikianlah, bersama gurunya Cun Giok pergi ke kota
raja. Karena belum tahu siapa adanya panglima pasukan
pembasmi keluarganya, Suma Cun Giok lebih dulu mendatangi
gedung Pangeran Lu Kok Kong yang tentu saja amat mudah
dicari. Gurunya hanya menanti di atas genteng kalau-kalau
muridnya terancam bahaya. Setelah dia melihat muridnya
berhasil memasuki gedung tanpa banyak kesukaran dan
membantu merobohkan beberapa orang perajurit yang menjaga
di luar, Suma Tiang Bun meninggalkan gedung dan menanti
muridnya agak jauh sehingga dia tidak melihat ketika Siang Ni
menyerang Cun Giok.
Seperti telah diceritakan, setelah menewaskan Pangeran Lu
Kok Kong dan menghindarkan perkelahian dengan gadis
remaja cantik yang menyerangnya, Cun Giok menemui
suhunya dan menceritakan hasil pembalasan dendamnya.
“Dan tahukah engkau siapa yang memimpin pasukan
pembasmi keluarga orang tuamu?” tanya Suma Tiang Bun.
“Sudah, Suhu. Menurut orang she Lu itu, panglima keparat
itu adalah seorang panglima besar bernama Kong Tek Kok.”
Mendengar nama ini, Suma Tiang Bun tampak terkejut.
“Dia.......??”
“Kenalkah Suhu kepadanya?”
Suma Tiang Bun menggelengkan kepalanya. “Bagaimana
aku bisa mengenal orang macam itu? Akan tetapi aku sudah
mendengar namanya. Dia adalah seorang panglima besar yang
kabarnya memiliki ilmu silat yang tinggi dan tangguh sekali.
Bagaimana keluargamu sampai terbasmi oleh dia?”
“Siapa tahu kalau dahulu pangkatnya tidak setinggi
Koleksi Tiraikasih http://kangzusi.com
DewiKZ- 127
sekarang, Suhu.”
“Mungkin juga. Kabarnya dia lihai sekali. Kita harus
berhati-hati.”
Mereka lalu pergi untuk mencari keterangan di mana
adanya gedung tempat tinggal Panglima Besar Kong Tek Kok.
Seperti juga Pangeran Lu, Panglima Kong Tek Kok adalah
seorang tokoh besar yang terkenal sekali di kota raja. Maka
mudah saja bagi guru dan murid itu untuk mendapatkan
keterangan di mana gedungnya.
@_Alysa^DewiKZ_@
Malam itu telah larut, menjelang tengah malam. Biarpun
penduduk kota raja sudah banyak yang menutup pintu rumah
dan juga semua toko sudah tutup serta keadaan di jalan umum
sudah sepi karena jarang ada penduduk yang keluyuran di
waktu tengah malam begitu, namun tampak banyak sekali
pasukan dan para perwira pengawal istana hilir mudik di jalanjalan
raya. Dari sikap dan wajah mereka dapat diduga bahwa
tentu terjadi sesuatu yang hebat. Melihat ini, tanpa bertanya
para penduduk cepat-cepat menutup pintu rumah dan
bersembunyi dalam kamar.
Memang para pengawal istana itu sedang menghadapi tugas
berat. Berita tentang terbunuhnya Pangeran Lu Kok Kong
cepat tersiar dan seluruh tenaga pasukan pengawal dikerahkan
untuk menangkap pembunuh itu yang diduga masih berkeliaran
di dalam kota raja.
Juga Kong Tek Kok, panglima besar yang sedang enakenak
mencari angin di ruangan belakang, mengalami peristiwa
hebat. Panglima ini tentu saja sudah mendengar tentang
pembunuhan atas diri Pangeran Lu. Akan tetapi dia tidak
begitu memusingkan, dan tidak mau bersusah-payah mencari
sendiri pembunuh itu, melainkan memerintahkan bawahannya
untuk bekerja keras mengerahkan pasukan mencari, mengejar
Koleksi Tiraikasih http://kangzusi.com
DewiKZ- 128
dan menangkap pembunuh itu. Dia sendiri enak-enak mencari
angin di ruangan belakang, duduk bersandar di kursi dan
seorang selirnya memegang kipas bulu, mengipasinya.
Memang pada waktu itu musim panas membuat hawa di dalam
rumah tak tertahankan panasnya.
Kong Tek Kok sudah kelihatan tua, akan tetapi masih
gagah dan tubuhnya yang tinggi besar itu tampak kokoh kuat.
Dia memakai baju tipis sutera, dan kepalanya tidak bertopi dan
rambutnya digelung ke atas agar lehernya tidak tertutup. Akan
tetapi sebagai seorang panglima besar yang tahu bahwa banyak
sekali musuh negara yang ingin membunuhnya dan maklum
akan bahaya yang selalu mengintainya, di mana pun dia
berada, dalam keadaan beristirahat sekalipun, di atas meja
dekatnya selain terdapat secawan arak yang masih penuh
karena baru diisi, juga terdapat panah tangannya dan sepasang
pedangnya!
Seorang selir muda memijit-mijit kakinya dan seorang lagi
mengipasinya. Panglima itu tampak mengantuk, kedua
matanya dipejamkan untuk lebih menikmati tiupan angin dan
pijatan kakinya. Kalau sekiranya yang terancam bahaya atau
yang diserbu penjahat itu istana kaisar, tentu Kong Tek Kok
tidak akan enak-enak seperti itu. Pasti dia akan turun tangan
sendiri menjaga keselamatan kaisar sekeluarganya dan
menangkap penjahat. Akan tetapi sekarang yang terbunuh
hanya Pangeran Lu. Dia tidak mempunyai hubungan sesuatu
dengan Pangeran Lu Kok Kong, kecuali bahwa puteri pangeran
itu menjadi muridnya.
Teringat kepada Siang Ni, panglima itu tersenyum aneh.
Akhir-akhir ini dia amat tertarik kepada muridnya. Kalau dulu
dia tertarik dan suka karena muridnya itu berbakat dan cerdik,
dapat memahami tiap ilmu silat baru yang dipelajarinya dengan
cepat, sekarang dia amat tertarik dan suka sekali kepada
muridnya itu karena kini muridnya yang mulai dewasa tampak
Koleksi Tiraikasih http://kangzusi.com
DewiKZ- 129
begitu cantik jelita menggairahkan. Para selirnya sama sekali
tidak ada daya tariknya kalau dibandingkan dengan kecantikan
muridnya itu. Tentu saja perasaan tergila-gila ini ditahannya
saja karena betapapun juga, Kong Tek Kok belum begitu gila
untuk berani bermain gila terhadap puteri tunggal Pangeran Lu
Kok Kong yang berpengaruh di istana Kaisar.
Kini, begitu terbunuhnya Pangeran Lu oleh penjahat
membuat Panglima Kong Tek Kok termenung. Setelah
pangeran itu tidak ada di dunia, dan Siang Ni adalah muridnya,
hemmm, kiranya hasrat hatinya itu tidak akan demikian sukar
lagi, tidak sesukar mencapai bintang di langit! Inilah pula
sebabnya mengapa panglima ini seakan-akan tidak peduli
menghadapi peristiwa pembunuhan yang menggemparkan kota
raja itu dan dia enak-enak saja duduk makan angin di ruangan
belakang gedungnya.
Akan tetapi, tiba-tiba Panglima Kong Tek Kok mendorong
selirnya yang mengipasinya sehingga wanita itu jatuh
terpelanting dan kaki panglima itu menendang selir yang
memijati kakinya sehingga selir itu pun roboh. Dengan cepat
sekali Panglima Kong Tek Kok menggulingkan tubuhnya dari
tempat duduknya. Gerakan ini memang tepat sekali karena
terdengar suara keras ketika tempat duduknya itu pecah
berantakan terkena sambaran sebuah pelor besi yang besar dan
berat!
“Keparat jangan curang!” serunya sambil menyambar
senjatanya, yaitu sepasang pedang dan anak panah tangan yang
terletak di atas meja.
Sebagai jawaban atas teriakannya itu, dari atas genteng
melayang turun dua bayangan orang yang gerakannya cepat
dan ringan sekali bagaikan dua ekor burung saja. Bayangan dua
orang itu melayang turun ke arah belakang rumah.
Dengan berani Kong Tek Kok melompat melalui pintu
Koleksi Tiraikasih http://kangzusi.com
DewiKZ- 130
belakang dan di lain saat dia telah berhadapan dengan dua
orang yang sudah berdiri menanti di kebun belakang
rumahnya. Lampu yang tergantung di situ cukup terang
sehingga Panglima Kong dapat melihat wajah dua orang itu
dengan jelas.
Mereka adalah seorang kakek yang sikapnya gagah dan
seorang pemuda yang tampan. Mereka berdiri dengan sikap
tenang dan memandang kepada Panglima Kong Tek Kok
dengan sinar mata tajam. Kong Tek Kok memandang penuh
perhatian akan tetapi dia tidak mengenal mereka. Hatinya agak
gentar juga melihat kakek yang sikapnya tenang dan penuh
wibawa itu. Akan tetapi sebagai seorang ahli silat yang sudah
banyak mengalami pertempuran besar, dia terlalu percaya akan
kepandaian sendiri dan dia bersikap tenang. Dia dapat
menduga bahwa kedua orang ini tentulah orang-orang dari
dunia kang-ouw, maka Panglima Kong menahan
kemarahannya dan bersikap agak sopan. Dia menjura dan
menegur.
“Siapakah kalian, dari golongan mana dan ada keperluan
apa malam-malam begini datang berkunjung dengan cara yang
tidak bersahabat?”
Pemuda itu, Suma Cun Giok, melangkah maju dan
melintangkan pedang di depan dada, telunjuk tangan kirinya
menuding ke arah muka Panglima Kong dan dengan suara
yang mengandung kebencian dia bertanya.
“Apakah engkau Panglima Kong Tek Kok?”
Panglima Kong tersenyum mengejek. Tentu saja dia
memandang rendah pemuda di depannya itu.
“Benar, akulah orangnya yang disebut Siang-mo-kiam
(Sepasang Pedang Iblis) Kong Tek Kok, juga ada yang
menyebutkan julukan Si Panah Sakti!” Dia menganggukangguk
sombong, lalu balas bertanya. “Dan engkau ini orang
Koleksi Tiraikasih http://kangzusi.com
DewiKZ- 131
muda !ancang kurang ajar, siapakah engkau dan ada keperluan
apa masuk ke sini seperti maling?”
“Jahanam keji, ingatkah engkau kepada keluarga Pouw di
So-couw?” Cun Giok bertanya marah.
“Keluarga Pouw? Yang mana?” Tentu saja Panglima Kong
tidak dapat mengingat begitu saja karena hal itu sudah lewat
selama duapuluh tahun.
Akan tetapi Suma Cun Giok menganggap panglima itu
berpura-pura, maka dengan mengejek dia menyambung.
“Benar-benarkah engkau lupa atau pura-pura lupa? Engkau
membasmi keluarga Pouw di So-couw, membunuh Ayah Ibuku
dengan anak panah di sungai dan menawan Bibiku yang
kemudian engkau jual kepada Pangeran Lu......!” Suma Cun
Giok tidak dapat melanjutkan kata-katanya saking marahnya.
Wajah Panglima Kong Tek Kok berubah dan pandang
matanya menaruh curiga, agaknya dia tidak percaya.
“Mereka sudah habis semua, tidak ada anak...... bagaimana
engkau mengaku anak mereka?”
“Keparat jahanam! Thian tidak mengijinkan engkau
membasmi seluruh keluarga dan Ibuku tidak tewas oleh anak
panahmu. Aku ditakdirkan lahir untuk membalas dendam
setinggi gunung sedalam lautan ini kepadamu! Terimalah
pembalasanku!”
Setelah berkata demikian, Suma Cun Giok langsung
menyerang, menusukkan pedangnya ke arah tenggorokan
musuh besarnya. Karena amat benci dan marah kepada
panglima itu, dalam gebrakan pertama saja Cun Giok sudah
mengeluarkan serangan maut yang amat berbahaya. Pedang di
tangannya bukan menusuk sembarangan saja. Gerakan
pedangnya didorong tenaga sakti yang menimbulkan getaran
yang membuat ujung pedangnya tampak menjadi beberapa
Koleksi Tiraikasih http://kangzusi.com
DewiKZ- 132
buah, sukar diduga ke arah mana pedang itu hendak
menyerang. Inilah jurus Sian-jin Sia-ciok (Dewa Memanah
batu), sebuah jurus pilihan dari ilmu pedang warisan leluhur
Suma yang amat hebat.
Akan tetapi Panglima Kong Tek Kok adalah seorang ahli
silat yang selain tinggi tingkat ilmunya, juga sudah memiliki
banyak pengalaman bertempur. Tenaga saktinya amat kuat,
gerakannya cepat dan pandang matanya tajam sehingga dia
dapat menghadapi serangan Cun Giok itu dengan tenang.
Sambil tersenyum mengejek dia mengangkat pedang di tangan
kirinya menangkis sambil mengerahkan tenaga dalamnya untuk
menyedot.
“Hemm, engkau yang membunuh Pangeran Lu Kok Kong?
Bagus, engkau datang menyerahkan diri!” katanya mengejek.
Dua pedang bertemu dan alangkah terkejut hati Cun Giok
ketika pedangnya menempel pada pedang kiri lawan dan
betapa pun dia mengerahkan tenaga menarik, pedangnya tidak
dapat terlepas! Pada saat itu pedang di tangan kanan Panglima
Kong meluncur, menusuk ke arah dada Cun Giok dan panglima
itu tertawa bergelak. Dalam pengerahan lweekang (tenaga
dalam) masih dapat tertawa bergelak membuktikan betapa
hebatnya tingkat kepandaian panglima itu. Suma Tiang Bun
yang menonton dari samping juga kaget melihat kelihaian
Panglima Kong Tek Kok.
Cun Giok terancam namun dia tidak gentar. Bahkan dia lalu
menyerang dengan tangan kirinya, dipukulkan ke arah lambung
lawan dengan mengerahkan tenaga saktinya sedangkan kaki
kanannya menendang ke arah bawah perut! Tanpa
mempedulikan tusukan pedang kanan lawan sebaliknya malah
membalas dengan dua serangan maut berarti bahwa pemuda itu
sudah nekat dan siap untuk mengadu nyawa dan mati bersama
dengan musuh besarnya!
Koleksi Tiraikasih http://kangzusi.com
DewiKZ- 133
Melihat kenekatan ini, Panglima Kong terkejut dan
mengeluarkan seruan kaget. Kalau dia melanjutkan
serangannya, biarpun mungkin dia dapat menggagalkan
pukulan pemuda itu ke arah lambungnya, namun belum tentu
dia dapat menghindarkan diri dari tendangan maut itu.
Memang belum tentu hal itu akan dapat membunuhnya, namun
setidaknya dia akan terluka. Tentu saja dia tidak mau terluka
walaupun pedangnya pasti akan menewaskan lawan. Sambil
berseru keras dia menarik kembali kedua pedangnya dan
memutar sepasang pedang itu di depan tubuhnya untuk
membabat lengan yang memukul dan kaki yang
menendangnya.
Cun Giok yang memiliki gerakan lincah itu cepat melompat
ke belakang menghindarkan diri. Kedua serangan mautnya itu
sebaliknya malah terancam karena kalau dia lanjutkan, lengan
kiri dan kaki kanannya tentu akan menjadi buntung.
“Orang she Kong! Kejahatanmu sudah bertumpuk-tumpuk,
jangan menghina orang muda. Akulah lawanmu!” seru Suma
Tiang Bun yang dengan gerakan kilat tahu-tahu sudah
melompat dan menghadapi panglima itu.
Kong Tek Kok bersikap waspada karena dia dapat menduga
bahwa kini dia berhadapan dengan seorang lawan berat. Dia
menatap wajah Suma Tiang Bun, lalu pandang matanya
bergerak dari atas ke bawah dan dia berkata.
“Melihat kepandaianmu, engkau tentu seorang tokoh besar
di dunia kang-ouw. Siapakah engkau dan mengapa engkau
memusuhiku? Sepanjang ingatanku, di antara kita tidak pernah
terjadi permusuhan.”
“Kong Tek Kok, memang di antara engkau dan aku pribadi
tidak pernah terjadi permusuhan. Akan tetapi sudah terlalu
banyak kejahatan engkau lakukan terhadap orang-orang tidak
berdosa. Terutama sekali apa yang telah kaulakukan
Koleksi Tiraikasih http://kangzusi.com
DewiKZ- 134
>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>
M a a f H a l a m a n 59 ~ 62 R o b e kz !!
>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>
.........namun setiap sambaran kilat merupakan tangan maut
yang siap mencabut nyawa. Sinar kuning emas dari Kim-kongkiam
dikeroyok dua gulungan sinar putih dari Bhok Siangkiam.
Dari gerakan mereka timbul angin dingin bersiutan dan
lampu teng yang tergantung di atas sampai bergoyang-goyang!
Untuk beberapa lamanya Suma Cun Giok terkesima dan
kagum menonton pertandingan ini. Kemudian, melihat betapa
gurunya belum dapat mendesak lawan, dia berseru keras dan
menyerbu ke dalam pertempuran dengan penuh kebencian
terhadap panglima itu.
Kini pertandingan menjadi semakin hebat. Suara pedang
bertemu pedang menimbulkan suara nyaring berdencing
memecah kesunyian malam, disusul bunga api yang berpijar
dan pecah berhambutan. Tingkat kepandaian Cun Giok,
walaupun belum dapat mengimbangi tingkat gurunya, sudah
cukup tinggi. Agaknya hanya dalam hal sin-kang saja dia
masih kalah kuat, namun kecepatan gerakannya sudah dapat
menyamai kecepatan gurunya. Kalau saja tadi dia tidak terburu
nafsu karena dendamnya, kiranya tidak mungkin dalam
segebrakan saja dia terdesak oleh Panglima Kong.
Setelah Suma Cun Giok maju membantu dan sinar
pedangnya bergulung-gulung menjadi satu dengan gulungan
sinar pedang gurunya, maka gulungan dua sinar putih dari
pedang Kong Tek Kok mulai terdesak mundur. Kalau tadinya
dua gulungan sinar pedang putih itu panjang dan lebar tanda
bahwa kedua pedangnya lebih banyak melakukan serangan
bertubi-tubi dan mengurung tubuh Suma Tiang Bun, kini
gulungan dua sinar pedangnya mulai menyempit dan mengecil,
tanda bahwa dia hanya dapat mempertahankan diri, lebih
Koleksi Tiraikasih http://kangzusi.com
DewiKZ- 135
banyak menangkis daripada menyerang.
@_Alysa^DewiKZ_@
Jilid 5
Bab 1. Pengorbanan Seorang Ayah Angkat
Kepandaian tiga orang ahli silat ini sudah mencapai tingkat
tinggi sehingga kalau orang biasa yang menonton pertempuran
itu dari jauh, yang kelihatan tentu hanya gulungan sinar pedang
yang menyambar-nyambar dan orangnya tidak tampak saking
cepatnya gerakan pedang-pedang itu seakan-akan menyelimuti
tubuh mereka.
Kepandaian Panglima Kong Tek Kok benar-benar hebat.
Biarpun dikeroyok dua, sebegitu jauh dia masih dapat
membuat pertahanan yang amat kuat. Diam-diam Suma Tiang
Bun harus mengakui bahwa kalau dia maju seorang diri
melawan panglima ini, dia tidak akan mampu
mengalahkannya. Akan tetapi dengan bantuan muridnya, dia
mulai mendesak Panglima Mongol itu dengan itu dengan
serangan-serangan kilat yang amat dahsyat.
Kembali Panglima Kong Tek Kok mengeluarkan bentakan
yang terdengar seperti pekik burung garuda. Tiba-tiba
terdengar bunyi pekik yang sama dari jauh, disusul lagi
pekikan serupa dari pelbagai jurusan. Suara itu susul-menyusul
dan akhirnya terdengar dekat sekali, riuh rendah bagaikan
puluhan ekor burung garuda datang menyerbu.
Suma Tiang Bun tahu apa artinya semua itu. Dia
mempercepat gerakan pedangnya dengan maksud untuk cepat
merobohkan Panglima Kong. Demikian pula Suma Cun Giok
melakukan hal yang sama. Akan tetapi usaha mereka sia-sia.
Koleksi Tiraikasih http://kangzusi.com
DewiKZ- 136
Biarpun mereka berdua dapat mendesak lawan dan sudah pasti
akhirnya akan dapat merobohkan Panglima Kong, namun
agaknya kemenangan itu tidak akan dapat dicapai dalam waktu
singkat. Sementara itu, gemuruh suara pekikan tadi sudah
semakin dekat dan di lain saat bermunculan beberapa orang
yang berpakaian seperti pengawal istana dengan topi terhias
bulu burung garuda. Gerakan mereka gesit dan lincah tanda
bahwa mereka ini rata-rata memiliki kepandaian silat yang
tinggi.
“Cun Giok, kita pergi!” Suma Tiang Bun membentak.
Kakek yang sudah berpengalaman luas ini segera dapat
memaklumi bahwa dia dan muridnya berada dalam ancaman
bahaya. Menghadapi Panglima Kong Tek Kok seorang saja
mereka masih belum juga dapat merobohkannya. Apalagi kalau
ditambah banyak pengawal yang memiliki kepandaian tinggi.
Dia pun dapat menduga bahwa sebentar lagi tentu akan datang
pengawal yang lebih banyak jumlahnya dan kalau sudah
demikian, dia dan muridnya tidak akan dapat lolos dari maut.
Sekarang masih ada harapan bagi Cun Giok untuk meloloskan
diri dan dia yang akan melindungi dan mencegah musuh
melakukan pengejaran terhadap muridnya.
“Tidak, Suhu!”
“Lari! Ini perintahku! Pergi dan kau cari Susiok-couwmu
(Paman Kakek Gurumu), ceritakan semua!” Suma Tiang Bun
membentak.
Mendengar ini, Cun Giok tidak berani membantah lagi.
Hatinya tidak karuan rasanya karena kalau dia lari, dia dapat
menduga bahwa gurunya pasti akan mengalami bencana! Air
matanya menetes turun dan pedangnya bergerak cepat sekali
menerjang para pengawal yang sudah mulai mengeroyok.
Terdengar teriakan mengaduh dan seorang pengawal
melompat mundur dengan wajah pucat. Pangkal lengannya
Koleksi Tiraikasih http://kangzusi.com
DewiKZ- 137
tergores pedang Cun Giok. Ini saja sudah menunjukkan bahwa
kepandaian pengawal itu cukup tinggi sehingga serangan nekat
dan dahsyat dari Cun Giok tadi hanya dapat menggores kulit
pangkal lengannya saja.
“Cun Giok, pergi......!” Suma Tiang Bun membentak lagi
dan kakek ini memutar pedangnya sedemikian dahsyatnya
sehingga Panglima Kong Tek Kok terkejut dan melompat
mundur. Pedang Sinar Emas berkelebat dan seorang pengawal
yang mencoba untuk menghadang Cun Giok roboh mandi
darah. Selanjutnya Suma Tiang Bun meninggalkan Panglima
Kong dan mengamuk, pedangnya menyambar-nyambar para
pengawal yang mengeroyok Cun Giok.
Para pengawal terkejut dan terbukalah jalan keluar bagi
pemuda itu. Cun Giok maklum akan maksud gurunya. Kakek
itu hendak berkorban agar dia dapat selamat dan kelak dapat
membalaskan sakit hatinya kepada musuh besar yang amat
tangguh itu. Kalau dia teringat betapa gurunya yang juga
menjadi ayah angkatnya itu selalu mencintanya, menjadi
pengganti ayah bundanya, hampir Cun Giok tidak tega untuk
meninggalkannya. Akan tetapi pemuda ini pun maklum bahwa
kalau dia berkeras tidak mau lari, dia dan suhunya pasti akan
tewas di situ sehingga dendam yang mendalam terhadap
Panglima Kong Tek Kok tidak akan pernah dapat dibalas!
“Selamat tinggal, Suhu! Kelak teecu akan membalaskan
sakit hati Suhu!” teriaknya dengan suara mengandung isak,
kemudian dia melompat ke atas genteng.
Beberapa sinar meluncur cepat dan terdengar bersiut ketika
tiga batang anak panah menyambar dari tangan Panglima Kong
Tek Kok ke arah tubuh Cun Giok yang sedang melompat ke
atas genteng.
“Cun Giok, awas am-gi (senjata gelap)......!” teriak Suma
Tiang Bun sambil menyerang Panglima Kong dengan hebatnya
Koleksi Tiraikasih http://kangzusi.com
DewiKZ- 138
sehingga panglima yang lihai sekali anak panahnya ini tidak
sempat menyusulkan anak panah lagi ke arah Cun Giok.
Pada saat itu Cun Giok sedang melompat ke atas genteng.
Tubuhnya masih berada di tengah udara ketika tiga batang
anak panah itu meluncur cepat ke arahnya. Cun Giok tidak
patut menjadi murid Suma Tiang Bun kalau dia tidak tahu akan
datangnya bahaya maut dari belakang ini. Dia mengerahkan
gin-kang (ilmu meringankan tubuh), mengeluarkan seruan
keras dan tubuhnya yang masih berada di tengah udara itu
melakukan gerakan pok-sai (salto) sehingga dia dapat
membalikkan kaki ke atas dan kepala di bawah, mukanya kini
menghadap ke arah anak panah yang datang menyambar
berupa tiga sinar.
Dia berhasil menyampok sebatang anak panah dan
mengelak dari anak panah kedua. Akan tetapi dia tidak mengira
bahwa Kong Tek Kok luar biasa sekali dalam menyerang
dengan anak panahnya. Dia tidak percuma mendapat julukan Si
Panah Sakti karena ketika dia meluncurkan tiga batang anak
panah tadi, perhitungannya sudah masak betul dan sudah dia
perhitungkan bahwa pemuda itu kalau tidak melakukan
gerakan mengelak begini tentu begitu dan begitu! Maka, ketika
melepaskan anak panah arahnya sudah dibagi-bagi untuk
menghadang semua kemungkinan gerakan pemuda itu dalam
usaha menghindarkan diri dari serangan anak panahnya.
Anak panah yang ketika dengan amat cepatnya meluncur ke
arah dada pemuda itu! Tadinya anak panah ini sama sekali
tidak akan mengenai sasaran kalau saja Cun Giok tidak
berjungkir balik. Akan tetapi setelah bersalto, anak panah itu
tepat menyambar dadanya. Inilah kehebatan ilmu panah dari
Panglima Kong Tek Kok.
Bukan main kagetnya Cun Giok. Pemuda ini baiknya
memiliki gin-kang yang hampir sempurna. Cepat dia miringkan
tubuh dan anak panah yang tadinya akan menancap di dadanya
Koleksi Tiraikasih http://kangzusi.com
DewiKZ- 139
itu kini menancap di pundak kirinya. Biarpun sudah terluka,
Cun Giok tetap berhasil sampai di atas genteng dan
menghilang dalam kegelapan malam. Para pengawal hendak
mengejar, akan tetapi Panglima Kong Tek Kok berseru
nyaring.
“Jangan kejar, biarkan anjing kecil itu lari. Yang penting
kita basmi anjing besar ini!”
Kong Tek Kok berpikir bahwa Suma Tiang Bun merupakan
musuh yang jauh lebih berbahaya dibandingkan pemuda itu.
Maka dia mencegah para pengawal melakukan pengejaran
terhadap Cun Giok agar mereka dapat membantunya
membunuh Suma Tiang Bun yang lihai. Tentu saja hal ini
menguntungkan dan menyelamatkan Cun Giok. Andaikata para
pengawal terus mengejarnya, dia yang sudah terluka tentu akan
sukar untuk meloloskan diri.
Sebaliknya, Suma Tiang Bun kini dikeroyok dan dikepung
rapat. Namun, melihat muridnya sudah dapat melarikan diri,
kakek ini merasa lega sekali. Dia tertawa bergelak dan
memaki-maki Panglima Kong Tek Kok. Pedangnya bergerak
laksana halilintar menyambar-nyambar dan dia baru dapat
dirobohkan setelah sepuluh orang pengawal roboh dan tewas
oleh bacokan dan tusukan Kim-kong-kiam!
Suma Tiang Bun roboh dan tewas sebagai seorang gagah,
sebagai seorang pendekar dan pejuang yang mempertahankan
kebenaran dan keadilan, juga seorang patriot yang membela
tanah air dan bangsa memusuhi penjajah Mongol. Dia tewas di
bawah serangan belasan batang pedang dan golok sehingga
tubuhnya hancur menjadi onggokan daging berdarah!
@_Alysa^DewiKZ_@
Kita kembali menengok keadaan Siang Ni. Sambil
menangis tersedu-sedu ia memeluk tubuh ibunya yang sudah
dibaringkan di atas tempat tidur dan jenazah ayahnya sudah
Koleksi Tiraikasih http://kangzusi.com
DewiKZ- 140
diangkut ke ruangan lain di mana jenazah itu diurus sebaiknya.
Sayup-sayup terdengar suara tangis yang memilukan
menerobos celah-celah pintu. Mendengar suara tangis para ibu
tirinya dan para pelayan, Siang Ni menutup pintu kamar ibunya
rapat-rapat, kemudian ia kembali menangis dan memeluk tubuh
ibunya yang rebah telentang di atas pembaringan dengan mata
menatap langit-langit kelambu seperti orang kehilangan akal.
“Ibu...... Ibu....... ingatlah, Ibu. Siang Ni di sini......” tangis
gadis itu sambil merangkul dan menciumi ibunya, membasahi
wajah ibunya dengan air matanya. Akan tetapi Pouw Sui Hong
hanya bengong saja dan napasnya berat, tubuhnya panas sekali.
Sampai tiga hari tiga malam nyonya itu berada dalam
keadaan mengkhawatirkan sekali, tidak sadar akan keadaan di
sekelilingnya. Siang Ni menjaga ibunya siang malam, lupa
makan dan kalau sudah tak tertahankan lagi kantuknya, ia
tertidur di samping ibunya.
Pada hari keempat, pagi-pagi sekali Siang Ni terbangun dari
tidurnya yang tak menentu. Ia terbangun karena mendengar
suara tangis ibunya. Cepat ia membuka mata dan segera
bangkit duduk ketika melihat bahwa yang menangis adalah
ibunya yang agaknya telah sadar.
“Ibu......!” Ia merangkul.
“Siang Ni…. Anakku.......!” Sui Hong berbisik dan kedua
orang ibu dan anak itu bertangisan dan berpelukan.
Siang Ni menangis terisak-isak saking terharu dan juga
girang mendengar ibunya dapat bicara dan menangis, tanda
bahwa ibunya sudah sadar dari keadaan setengah pingsan
selama tiga hari tiga malam itu.
“Ibu, ada Siang Ni di sini, di sampingmu. Harap Ibu jangan
terlalu berduka.” Gadis itu mencoba untuk menghibur
bundanya. “Tentang Ayah......” Ia menggigit bibirnya agar
Koleksi Tiraikasih http://kangzusi.com
DewiKZ- 141
jangan menangis lagi, “harap Ibu tenangkan pikiran. Tidak
percuma aku mempelajari ilmu silat semenjak kecil. Aku sudah
melihat muka iblis keparat pembunuh Ayah itu, dan hidupku
aku takkan melupakan muka itu! Kelak aku pasti akan dapat
memenggal lehernya!”
Mendengar ini, isak tangis Sui Hong semakin keras dan
tersedu-sedu sehingga Siang Ni menghentikan kata-katanya,
dan memeluk ibunya.
Pada saat itu, masuklah para ibu tiri Siang Ni dan mereka
semua kelihatan berduka, muka pucat dan rambut serta pakaian
kusut. Kembali terdengar tangis riuh rendah ketika Sui Hong
bertangis-tangisan dengan mereka. Tangis riuh rendah itu baru
berhenti ketika seorang tabib diantar oleh pelayan memasuki
kamar. Dengan merasakan denyut nadi tangan, tabib itu
memeriksa keadaan Pouw Sui Hong. Dia mengerutkan alis dan
menghela napas panjang. Kemudian dia menuliskan resep obat,
lalu meninggalkan kamar itu tanpa sepatah kata pun keluar dari
mulutnya.
Siang Ni mengejar dan menghentikannya di luar kamar.
“Bagaimana keadaan Ibuku?” tanya gadis itu dengan gelisah.
Tabib itu adalah tabib istana yang kepandaiannya tinggi dan
dia sudah mengenal Siang Ni.
“Ibumu mendapat tekanan batin yang hebat. Jantungnya
terguncang, membuat keseimbangan hawa dalam tubuhnya
tidak cocok. Sesuatu yang amat mengagetkan telah
menyerangnya dan melukai isi dada. Usahakan agar supaya
Ibumu dapat bergembira selalu dan tidak teringat akan hal-hal
yang menyedihkan.” Setelah berkata demikian, tabib itu
berjalan keluar.
Siang Ni berdiri terkesima dengan muka pucat. Bagaimana
mungkin ibunya dapat bergembira, bagaimana tidak akan
bersedih setelah melihat suaminya dibunuh orang?
Koleksi Tiraikasih http://kangzusi.com
DewiKZ- 142
Pada sore harinya, biarpun sudah diberi minum obat,
keadaan Sui Hong tidak menjadi makin baik. Mukanya pucat,
pandang matanya sayu dan napasnya berat. Ia tidak mau
berpisah dari Siang Ni, bahkan ia minta agar semua orang
meninggalkan kamarnya agar ia dapat berdua saja dengan
anaknya.
“Ibu, lekas sembuh, Ibu......” kata Siang Ni sambil
membereskan rambut ibunya yang kusut menutupi dahi.
Mendengar kata-kata anaknya, air mata membanjir lagi
keluar dan membasahi pipi Pouw Sui Hong. Kedua tangannya
memegang lengan anaknya erat-erat, kemudian bibirnya
berbisik lirih.
“Siang Ni, Ayahmu....... Ayahmu.......”
Siang Ni memeluk ibunya dan mengeraskan hati agar
jangan sampai menangis. “Tenangkan hatimu, Ibu. Mati hidup
berada di tangan Tuhan Yang Maha Kuasa. Adapun tentang
keparat jahanam yang melakukan pembunuhan itu, biar nanti
aku yang membalaskan!” Siang Ni mengepal tinjunya yang
kecil dan berkulit lembut itu.
“Jangaaann.......!”
Siang Ni terkejut sekali. Ibunya mengeluarkan kata-kata itu
setengah menjerit dan tubuh ibunya menggigil. Cepat-cepat ia
memberi ibunya minum, kemudian setelah tenang kembali,
ibunya berkata.
“Siang Ni, jangan engkau memusuhi dia.......”
“Dia siapa, Ibu?” tanya Siang Ni halus. Ia tidak berani
menduga bahwa yang dimaksudkan oleh ibunya adalah
pembunuh ayahnya itu. Hal ini tidak mungkin! Akan tetapi
alangkah kagetnya ketika ia mendengar kata-kata ibunya.
“Dia pemuda yang membunuh Ayahmu itu....... dia itu tidak
bersalah.......”
Koleksi Tiraikasih http://kangzusi.com
DewiKZ- 143
“Apa......?! Apa artinya ini, Ibu?” saking kaget dan
herannya, Siang Ni sampai lupa bahwa ibunya sedang sakit dan
tidak boleh didesak.
“Dia melakukan pembunuhan dengan maksud untuk
membalaskan sakit hati Ibumu......! Dia mengira bahwa
Ayahmu telah merusak hidupku, dan mengira bahwa aku telah
tewas setelah terjatuh dalam tangan Ayahmu, maka dia sengaja
datang untuk membalas dendam.......”
@_Alysa^DewiKZ_@
Siang Ni membelalakkan kedua matanya, memandang
ibunya dengan bingung dan tidak percaya, “Siapakah dia itu,
Ibu?” tanyanya, suaranya gemetar.
“Dia adalah saudara misanmu sendiri, dia itu keponakanku.
Tidak salah lagi dia tentu putera Paman besarmu Pouw Keng
In.......”
“Mana mungkin? Menurut cerita Ibu dulu, Paman besarku
dan isterinya sudah tewas ketika dikejar pasukan, tewas karena
anak panah dan hanyut dalam sungai......” Siang Ni membantah
ragu.
“Memang demikianlah. Akan tetapi menurut pengakuan
pemuda itu, ibunya selamat dan tertolong, akhirnya melahirkan
dia. Dia datang untuk membalas dendam. Dia mendengar
bahwa aku, bibinya, terjatuh ke dalam tangan Ayahmu dan dia
mengira bahwa aku tewas dianiaya, maka dia datang
membunuh Ayahmu untuk membalaskan sakit hatiku.......”
Kalau saat itu ada halilintar menyambar kepalanya, kiranya
Siang Ni tidak akan begitu kaget seperti ketika mendengar
ucapan ibunya itu. Hal ini sungguh tak pernah disangkanya.
“Akan tetapi, Ibu. Siapa tahu kalau dia berbohong?”
Ibunya menggelengkan kepala. “Tidak mungkin dia
berbohong. Wajahnya seperti pinang dibelah dua dengan
Koleksi Tiraikasih http://kangzusi.com
DewiKZ- 144
kakakku Pouw Keng In. Dia pasti putera Paman besarmu, tak
salah lagi.”
“Akan tetapi...... dia mengaku bernama Suma Cun Giok.
Kalau dia anak Paman Pouw Keng In, mengapa dia
mempunyai marga Suma?”
Sui Hong menggeleng-gelengkan kepalanya, napasnya
semakin berat, wajahnya pucat sekali. Agaknya ia tadi
mempergunakan seluruh kekuatannya untuk bicara.
“Entahlah...... akan tetapi...... dia putera Pamanmu, tak salah
lagi...... jangan engkau memusuhi dia...... dia membunuh
Ayahmu...... untuk membelaku.......”
“Akan tetapi Ayah tidak menganiaya Ibu? Ayah seorang
yang baik dan menolong Ibu, menyelamatkan Ibu dari tangan
seorang panglima yang kejam. Ayah mencinta Ibu! Kalau dia
hendak mencari Ibu sebagai Bibinya, mengapa dia tidak
menyelidiki secara teliti?”
Kembali Sui Hong menggeleng-gelengkan kepalanya, kini
ia memejamkan mata dan tampak gelisah sekali, alisnya
berkerut. “Dia...... tidak bersalah....... Ayahmu tak pernah
menolongku...... perwira itu....... dia menawanmu sengaja
untuk...... diberikan kepada Ayahmu...... sebagai....... hadiah......
Uaagghh......!!” Sui Hong muntahkan darah segar dari
mulutnya.
“Ibuuu......!” Siang Ni terkejut bukan main. Darah yang
keluar dari mulut ibunya amat banyak, membasahi alas tempat
tidur dan baju ibunya, bahkan menodai bajunya sendiri. Akan
tetapi gadis itu tidak mempedulikan pakaiannya yang terkena
darah. Ia cepat menolong ibunya sambil menangis.
Akan tetapi keadaan Sui Hong payah benar. Ia hampir tidak
dapat bicara lagi, napasnya terengah-engah seperti ikan di
daratan. Siang Ni menangis terus menjaga ibunya.
Koleksi Tiraikasih http://kangzusi.com
DewiKZ- 145
Pada senja hari itu ibunya membuka mata dan berkata
lemah.
“Siang Ni...... jangan kau sakit hati kepada...... putera
Pamanmu itu....... dia ..… dia tidak tahu....... akan tetapi
bermaksud baik...... yang salah adalah....... panglima itulah. Dia
membasmi keluargaku...... dia pula yang...... menculikku......”
Suara terakhir terdengar amat lemah dan lirih dan agaknya Sui
Hong telah menggunakan sisa tenaganya untuk bicara terputusputus
tadi.
“Siapa dia, Ibu? Siapa panglima itu?” Siang Ni bertanya
sambil mengepal tinju. “Dia...... dia itu......”
Pada saat itu pintu kamar terbuka dan seorang ibu tiri Siang
Ni berkata.
“Siang Ni, Panglima Kong Tek Kok datang bersembahyang
depan peti mati Ayahmu, engkau wajib mewakili kami
membalas penghormatannya. Apalagi dia gurumu!”
Siang Ni menoleh kepada ibu tirinya dengan alis berkerut,
kecewa karena kedatangan ibu tirinya itu mengganggu dan
memotong keterangan ibunya yang sudah berada di ujung
lidah. Kemudian ia memandang ibunya dengan ragu-ragu.
“Tinggalkan sebentar Ibumu, biar aku yang menjaganya,”
kata Ibu tirinya.
Memang pada masa itu, amat keras pembatasan hubungan
antara pria dan wanita sehingga para isteri Panglima Lu Kok
Kong tentu saja tidak boleh menjumpai seorang laki-laki yang
datang memberi penghormatan kepada peti jenazah. Hal ini
akan dianggap melanggar batas kesopanan. Oleh karena itu,
memandang muka Panglima Kong Tek Kok yang dianggap
sebagai tamu terhormat, isteri-isteri Pangeran Lu merasa perlu
untuk menyuruh seorang anggauta keluarga menyambut dan
untuk menyambut Panglima Kong, paling tepat dilakukan oleh
Koleksi Tiraikasih http://kangzusi.com
DewiKZ- 146
Siang Ni, karena gadis ini adalah murid dari panglima itu
sendiri.
Siang Ni mencoba sekali lagi untuk mengetahui nama
musuh besarnya dari ibunya. Didekatkannya mulutnya di
telinga ibunya dan ia bertanya. “Ibu, siapakah dia.......?”
@_Alysa^DewiKZ_@
Bab 2. Dasar Suhu Bajingan . . . . . !
Akan tetapi ibunya seakan-akan tidak mendengar
pertanyaannya dan tampaknya telah tertidur pulas.
“Siang Ni, Ibumu perlu istirahat, mengapa engkau malah
mengganggunya? Pergilah menyambut penghormatan
Panglima Kong. Aku yang menjaga Ibumu!” kata Ibu tirinya.
Siang Ni tidak berani membantah, lalu pergi meninggalkan
kamar ibunya untuk menjumpai gurunya yang ternyata
memang sedang bersembahyang mengangkat hio-swa (dupa
biting) membara di depan peti jenazah ayahnya. Para
pengiringnya yang terdiri dari para perwira pengawal yang
berpakaian indah dan tampak gagah perkasa memberi hormat
ke arah peti mati dari jarak jauh, agak di luar.
Siang Ni berlutut di dekat peti mati ayahnya menghadapi
gurunya dan membalas penghormatan gurunya sambil berlutut.
Ketika Panglima Kong Tek Kok sudah selesai bersembahyang,
dia memandang muridnya. Melihat gadis itu berambut kusut,
matanya kemerahan dan basah air mata, pakaiannya serba putih
amat sederhana, yaitu pakaian berkabung, panglima itu
menghela napas panjang.
Tentu saja timbul perasaan iba dalam hatinya terhadap
Siang Ni, akan tetapi perasaan kagumnya lebih besar daripada
perasaan iba. Ia kagum melihat muridnya sekarang di dalam
Koleksi Tiraikasih http://kangzusi.com
DewiKZ- 147
kesederhanaannya tanpa bedak dan gincu itu bahkan tampak
keaslian wajahnya yang jelita dan manis menggairahkan
hatinya.
“Siang Ni, apakah engkau sudah mengetahui siapa
orangnya yang melakukan pembunuhan keji terhadap
mendiang Ayahmu?” tanya Panglima Kong, suaranya tenang
tanpa ragu-ragu karena sebagai guru gadis itu dia memang
berhak dan sama sekali tidak melanggar kesopanan untuk
bicara dengan Siang Ni di mana dan kapan saja.
“Teecu sudah tahu, Suhu. Dia bernama Suma Cun Giok.”
Panglima Kong tercengang. “Bagus kalau engkau sudah
tahu. Bagaimana engkau bisa tahu?”
“Teecu baru pulang dari istana ketika bertemu dengan dia
di atas rumah. Sayang teecu datang terlambat.......”
“Biarlah, lain kali kita tentu akan dapat membekuknya.
Ketahuilah bahwa gurunya yang bernama Suma Tiang Bun
telah dapat kutewaskan malam itu. Sayang muridnya yang
bernama Suma Cun Giok itu sempat melarikan diri.”
Sunyi sejenak dan Siang Ni menundukkan mukanya.
Panglima Kong Tek Kok memandang gadis itu dengan sinar
mata mencinta.
“Hemm, jadi Ayahmu terbunuh oleh Suma Cun Giok?
Engkau tentu akan membalas sakit hati ini. Sudah menjadi
kewajibanmu sebagai puteri Pangeran Lu untuk membalas
kematian Ayahmu. Jangan takut, Siang Ni, aku pasti akan
membantu membasmi musuh besarmu itu.”
Tak lama kemudian Panglima Kong Tek Kok berpamit dan
meninggalkan ruangan itu di mana terdapat banyak tamu yang
datang untuk memberi penghormatan terakhir kepada jenazah
Pangeran Lu Kok Kong.
Siang Ni segera berjalan masuk untuk kembali ke kamar
Koleksi Tiraikasih http://kangzusi.com
DewiKZ- 148
ibunya. Akan tetapi sebelum tiba di kamar itu, tiba-tiba ia
mendengar jerit yang disusul oleh tangis.
Seketika muka Siang Ni menjadi pucat sekali dan bagaikan
terbang ia melompat dan lari memasuki kamar ibunya. Ia
berdiri terpukau di ambang pintu dengan sepasang mata
terbelalak lebar-lebar melihat tiga orang ibu tirinya memeluk
tubuh ibunya sambil memanggil-manggil dan menangis.
“Ibuuuuu.......!!” Siang Ni menjerit dan menubruk karena ia
belum tahu betul apa sebabnya ibu-ibu tirinya menangis.
Ketika ia memeluk ibunya, tahulah ia akan kenyataan yang
amat mengerikan hatinya. Ibunya telah berpulang ke alam
baka. Ibunya telah wafat!
Tiba-tiba tubuh Siang Ni menjadi lemas, seakan-akan
semangatnya meninggalkan raganya. Pelukannya terlepas dan
ia terkulai, tubuhnya roboh di atas lantai. Pingsan!
@_Alysa^DewiKZ_@
Dua tahun kemudian, seorang gadis yang berpakaian serba
putih, menunggang seekor kuda, membalapkan kudanya di
sepanjang lembah Sungai Huai. Gadis itu berusia sekitar
tujuhbelas atau delapanbelas tahun, wajahnya cantik jelita
walaupun tidak berbau bedak dan gincu, namun sayang wajah
itu tampak muram dan alisnya berkerut seolah dara muda jelita
itu menderita tekanan batin yang membuat ia sedih dan
murung.
Sejak pagi tadi ia membalapkan kudanya tanpa mengaso
sehingga tubuh kuda itu penuh keringat dan napas kuda itu
mulai terengah-engah. Akhirnya, ketika tiba di lereng sebuah
bukit, dalam sebuah hutan, kuda itu tidak kuat lagi dan mulai
mogok, tidak mau melanjutkan larinya.
“Hayo lari cepat!” Gadis itu membentak sambil
menggencet perut kuda dengan kedua kakinya. Wajah yang
Koleksi Tiraikasih http://kangzusi.com
DewiKZ- 149
murung itu kini membayangkan kekerasan hati.
Kuda itu meringkik kesakitan karena gencetan kedua kaki
gadis itu amat kuatnya sehingga menimbulkan rasa nyeri. Akan
tetapi kuda yang sudah kehabisan tenaga dan napas itu tetap
tidak mau bergerak maju.
“Binatang keparat! Kau tetap tidak mau membantuku?”
Kembali ia membentak dan sekarang gadis itu melompat turun
dan membetot-betot kendali yang mengikat hidung kuda.
Namun kuda itu meringkik-ringkik dan merasa hidungnya
sakit, binatang itu mengangkat kedua kaki depan hendak
menubruk gadis baju putih itu. Gadis itu berseru marah sekali
dan begitu tangannya bergerak dengan cepat, sebatang pedang
bersinar keemasan telah berkelebat dan kuda itu roboh
berkelojotan sekarat dengan leher hampir putus!
Gadis itu mengerutkan alisnya, membersihkan pedang yang
terkena sedikit darah, memasukkannya kembali ke dalam
sarung pedang, mengambil buntalan pakaian dari atas sela
mayat kuda lalu digendongnya buntalan itu.
Untuk beberapa saat ia memandang bangkai kuda, meludah
dan berkata, “Suma Cun Giok, kau tunggu saja! Kalau kita
saling bertemu, engkau pasti akan menjadi seperti kuda ini!”
Setelah berkata demikian ia lalu melanjutkan perjalanannya
dengan berjalan cepat sekali. Wajahnya murung, matanya sayu
dan ia sering menggigit bibirnya sendiri. Terkadang wajah
yang membayangkan kekerasan itu berubah tampak berduka
sekali, bahkan sepasang mata yang indah bentuknya itu
menjadi basah dan kembali ia menggigit bibirnya menahan isak
tangis.
Gadis itu bukan lain adalah Lu Siang Ni, puteri mendiang
Pangeran Lu Kok Kong. Biarpun oleh ibunya ia telah dipesan
agar jangan memusuhi Suma Cun Giok, akan tetapi karena ia
tidak tahu siapa adanya panglima yang membasmi keluarga
Koleksi Tiraikasih http://kangzusi.com
DewiKZ- 150
Pouw dan yang menjadi biang keladi sehingga ibunya menikah
secara paksa dengan Pangeran Lu, maka ia mencari Suma Cun
Giok.
Bagaimanapun juga, Suma Cun Giok yang menyebabkan
ibunya mati. Karena pemuda itu membunuh Pangeran Lu Kok
Kong, maka ibunya terserang jantungnya sehingga meninggal
dunia. Apalagi di sampingnya ada gurunya, Panglima Kong
Tek Kok yang setiap hari membakar hatinya dengan kata-kata
yang dianggapnya benar.
“Musuh besarmu itu memiliki ilmu silat yang tinggi,”
antara lain demikian kata Panglima Kong Tek Kok kepadanya.
“Dia adalah murid Suma Tiang Bun yang berhasil kutewaskan
dengan bantuan para pengawal. Akan tetapi menurut pesan
Suma Tiang Bun yang aku mendengar sendiri sebelum dia
tewas, musuhmu itu harus belajar dan memperdalam ilmu
silatnya kepada Susiok-couwnya. Kalau aku tidak salah duga,
paman guru dari Suma Tiang Bun itu tentu seorang sakti yang
bertapa di Pegunungan Ta-pie-san di sebelah selatan Lembah
Sungai Huai. Maka, menurut pendapatku, kalau engkau hendak
melakukan balas dendam, engkau harus belajar ilmu silat yang
lebih tinggi lagi. Kalau engkau dapat mewarisi seluruh
kepandaianku, barulah engkau ada harapan untuk dapat
berhasil membalas dendam dan membunuh musuh besarmu
itu.”
Ucapan Panglima Kong Tek Kok yang bernada membujuk
dan membantunya itu tentu saja berpengaruh terhadap akal
pikiran Siang Ni. Dahulu, sikap Panglima Kong wajar
sebagaimana sikap seorang guru terhadap muridnya, akan
tetapi sekarang sikapnya berbeda jauh.
Dalam memberi pelajaran, sikapnya amat mesra, bahkan
kalau memberi petunjuk dan memegang lengan gadis itu, Siang
Ni merasakan sesuatu yang tidak semestinya. Akan tetapi gadis
itu mencurahkan seluruh perhatiannya untuk dapat menyerap
Koleksi Tiraikasih http://kangzusi.com
DewiKZ- 151
semua ilmu dan kesaktian Panglima Kong agar kelak dapat
membalas dendamnya yang mendalam, maka ia tidak peduli
akan sikap gurunya itu.
Hal ini membuat Panglima Kong menjadi semakin berani
dan dia sering mencari kesempatan untuk memperlihatkan
berahinya pada muridnya itu. Bukan hanya dengan cara latihan
silat berdua sehingga mereka seringkali saling bersentuhan.
Bahkan dia juga mengajarkan latihan menghimpun tenaga sakti
dengan cara-cara yang tidak wajar, misalnya mereka berdua
berendam di dalam air waktu tengah malam, tentu saja hanya
dengan pakaian dalam yang tipis dan tembus pandang! Atau
mengajarkan ilmu menotok yang lebih dalam sehingga
seringkali jari-jari tangannya menotok bagian-bagian tubuh
Siang Ni yang seharusnya tidak boleh disentuh tangan lakilaki:
Namun semua itu diterima oleh Siang Ni tanpa pernah
membantah.
Bagi Siang Ni yang sudah piatu, sebatang kara di dunia ini,
sisa hidupnya hanya ditujukan untuk membalas dendam.
Membalas dendam kepada Suma Cun Giok dan mencari musuh
besar yang dulu membasmi keluarga Pouw! Untuk dapat
melakukan balas dendam ini dengan berhasil, ia harus memiliki
kepandaian tinggi dan satu-satunya orang yang dapat menolong
dan memberi kepandaian itu hanyalah Panglima Kong Tek
Kok. Inilah sebabnya mengapa Siang Ni tidak mempedulikan
sikap aneh dari gurunya. Ia seolah terbuai oleh bujukan
gurunya yang pandai membujuk dan menasihatinya.
“Siang Ni, muridku yang manis. Mungkin kalau engkau
sudah belajar selama dua tahun, menyerap ilmu-ilmu dariku,
engkau sudah akan dapat menandingi dan mengalahkan Suma
Cun Giok. Akan tetapi kalau pemuda musuh besarmu itu juga
memperdalam ilmu silatnya, aku menjadi ragu-ragu.
Bagaimanapun juga, jangan engkau khawatir, muridku
tersayang. Akulah orangnya yang rela membuang nyawa untuk
Koleksi Tiraikasih http://kangzusi.com
DewiKZ- 152
membela dan membantumu. Kalau aku melihat engkau sudah
sanggup menerimanya, lweekangmu (tenaga dalammu) sudah
cukup kuat, aku akan mewariskan ilmuku yang paling hebat
kepadamu, yaitu Siang-mo Kiam-hoat. Akan tetapi tidak boleh
terburu-buru, harus menanti saatnya yang baik agar tidak
sampai gagal.”
Siang Ni terlalu banyak mencurahkan perasaan dan
perhatiannya kepada niatnya membalas dendam sehingga ia
kurang waspada akan hal-hal lain. Sikap dan kata-kata gurunya
itu ditelan mentah-mentah dengan kepercayaan sepenuhnya.
Baginya, di dunia ini hanya tinggal Panglima Kong Tek Kok
seorang yang boleh dipercaya dan boleh dijadikan sandaran.
Oleh karena itu, ia merasa berterima kasih sekali.
“Teecu hanya mengandalkan bantuan yang berharga dari
Suhu yang berhati mulia. Kecuali Suhu, siapa lagi yang boleh
teecu harapkan? Sakit hati teecu setinggi langit, apa pun yang
terjadi atas diri teecu, teecu bersumpah untuk melaksanakan
balas dendam ini, pertama-tama kepada jahanam Suma Cun
Giok, kedua kepada si keparat yang telah membasmi keluarga
Pouw.”
“Lagi-lagi engkau menyebut-nyebut tentang orang yang
membasmi keluarga Pouw. Engkau harus tahu bahwa pada
waktu itu sedang kacau balau, pemerintah memang banyak
membasmi para pengkhianat dan pemberontak. Para petugas
yang membasmi pemberontak-pemberontak itu hanya
menjalankan tugas melaksanakan perintah atasan. Jumlah para
petugas amat banyak, bagaimana kita bisa mencarinya?”
“Bagaimanapun juga, teecu akan mencari sampai dapat dan
membunuhnya!” kata Siang Ni.
Panglima Kong Tek Kok menghela napas panjang,
kemudian dia memegang kedua tangan muridnya yang berkulit
halus dan berkata dengan nada suara menghibur dan
Koleksi Tiraikasih http://kangzusi.com
DewiKZ- 153
menyayang.
“Tenangkan hatimu, sayang. Akulah yang akan
membantumu, Siang Ni. Sudah kukatakan berkali-kali, biarpun
aku harus mempertaruhkan nyawaku, aku rela membelamu.
Engkau amat baik terhadap aku, amat manis, dan aku sungguh
sangat menyayangi dan mengasihimu, maka aku harus
membalas sikapmu yang penurut, taat, dan menyayang kepada
gurumu ini.......”
Manusia seringkali terperosok ke dalam lembah dosa
karena pengaruh nafsu yang selalu hendak mengejar sesuatu
yang terkadang diberi nama indah seperti cita-cita dan tujuan.
Pengejaran inilah yang menjerumuskan kita. Kalau nafsu
keinginan memperoleh apa yang kita kejar itu telah
mencengkeram kita, maka kita akan lupa diri, terbujuk iblis
sehingga pengejaran demi mencapai tujuan itu menghalalkan
segala cara! Kita lupa bahwa yang terpenting justeru caranya,
bukan tujuannya.
Demikian pula dengan Siang Ni. Nafsu dendamnya untuk
dapat membalas kepada musuhnya sedemikian besarnya
sehingga ia tidak peduli lagi akan segala apa. Ditambah bujuk
rayu Panglima Kong Tek Kok yang berpengalaman, akhirnya
gadis itu tergelincir! Bahkan akhirnya untuk dapat mewarisi
ilmu pedang yang paling diandalkan oleh gurunya, yang seolah
menjual mahal ilmu itu, yaitu Siang-mo Kiam-hoat, Siang Ni
rela menyerahkan dirinya dijadikan permainan dan pemuas
nafsu berahi gurunya sendiri!
Setelah ilmu pedang Siang-mo Kiam-hoat itu ia dapatkan
dan ia kuasai, barulah Siang Ni sadar akan besarnya
pengorbanan yang telah ia berikan. Namun segalanya telah
terjadi, yang tinggal hanya penyesalan. Maka, pada suatu
malam, Siang Ni minggat meninggalkan Panglima Kong. Ia
pergi tanpa memberitahu, membawa segala macam ilmu yang
ia pelajari dari Panglima Kong Tek Kok selama dua tahun,
Koleksi Tiraikasih http://kangzusi.com
DewiKZ- 154
membawa pula pedang Kim-kong-kiam yang dulu dirampas
Panglima Kong dari tangan Suma Tiang Bun, juga membawa
pula aib yang menimpa dirinya!
Noda yang kini terasa amat melukai hatinya, yang ia terima
dengan hati berdarah namun dengan ketabahan yang luar biasa,
yang ia anggap sebagai pengorbanan ke arah tercapainya citacita
tunggalnya, yaitu membalas dendam! Gadis ini telah
dirusak oleh iblis yang berupa nafsu dendam kebencian karena
sakit hatinya sehingga matanya tertutup tidak dapat melihat dan
mempertimbangkan hal-hal lain lagi. Bagi Siang Ni, biarpun
sebelah lengannya dipotong ia akan rela asalkan mendapat janji
bahwa pengorbanan itu akan membuat balas dendamnya
berhasil.
Demikianlah, pada siang hari itu, dengan menunggang
seekor kuda Siang Ni tiba di Lembah Sungai Huai. Seperti
telah diceritakan di bagian depan, ia membunuh kudanya yang
mogok karena kelelahan. Ia ingin cepat-cepat tiba di
Pegunungan Ta-pie-san. Ingin cepat dapat bertemu muka
dengan Suma Cun Giok agar dapat membalas dendam atas
kematian ayah ibunya. Maka ia marah dan menganggap kuda
itu menghalangi niatnya membalas dendam ketika kuda itu
mogok lalu membunuhnya!
Seorang pengejar cita-cita yang sudah dipengaruhi
nafsunya tentu akan menendang dan menyingkirkan siapa saja
yang dianggap menghalangi pengejaran cita-citanya! Setelah
membunuh kudanya yang merupakan bukti bahwa gadis itu
telah dikuasai nafsu kebencian yang membuatnya dapat
bertindak kejam, Siang Ni melanjutkan perjalanannya dengan
jalan kaki.
Dari wajahnya yang tidak dirias namun tetap tampak cantik
jelita itu dapat dilihat bayangan bermacam-macam perasaan.
Terkadang ia seperti orang marah dan wajahnya menjadi keras
dan kejam kalau ia teringat akan musuh besar dan terbayang
Koleksi Tiraikasih http://kangzusi.com
DewiKZ- 155
akan keadaan ayah ibunya yang telah mati. Agaknya ia akan
tega menyembelih leher musuh besarnya dan ia akan suka
minum darahnya, makan dagingnya untuk melampiaskan nafsu
dendam sakit hatinya!
Di saat lain, wajahnya membayangkan kedukaan yang
mendalam kalau ia teringat akan keadaan dirinya, sebatang
kara, yatim piatu, apalagi kalau ia teringat akan pengorbanan
yang telah ia berikan untuk dapat mewarisi ilmu-ilmu silat
yang tinggi dari Panglima Kong Tek Kok. Ia sama sekali tidak
mau membayangkan peristiwa itu, bahkan ia selalu mengusir
cepat-cepat setiap kali bayangan wajah gurunya itu muncul di
dalam ingatannya.
Bayangan wajah Panglima Kong Tek Kok selalu
menimbulkan rasa muak dan sebal, dan biarpun ia tidak
mengakui dengan kata-kata, bahkan selalu menolak pikirannya
sendiri, namun di dasar hatinya terdapat perasaan benci yang
hebat terhadap Panglima Kong Tek Kok, gurunya yang telah
menodai dan mempermainkan dirinya itu. Akan tetapi Siang Ni
tidak mau mengenang hal itu lebih jauh.
Setiap kali kenangan itu datang, diusirnya seperti orang
mencampakkan atau membuang sesuatu yang menjijikkan. Ia
menganggap peristiwa itu seperti sebuah mimpi buruk yang
sudah lewat, yang tidak perlu ia pikirkan lagi karena seluruh
pikirannya kini ditujukan hanya kepada satu niat, yaitu
mencari, menemukan dan membunuh Suma Cun Giok!
Siang Ni melanjutkan perjalanannya menuju Ta-pie-san.
Dahulu gurunya mengatakan bahwa Suma Cun Giok akan
belajar silat lagi kepada paman-kakek gurunya yang bertapa di
pegunungan itu. Maka dengan nekat dan untung-untungan ia
tidak mempedulikan jarak jauh, melakukan perjalanan ke Tapie-
san mencari Suma Cun Giok.
Dengan ilmunya yang kini meningkat tinggi setelah selama
Koleksi Tiraikasih http://kangzusi.com
DewiKZ- 156
dua tahun ia memperdalam di bawah bimbingan Panglima
Kong Tek Kok, ia berlari cepat sekali. Dalam usaha mencari
musuh besarnya, Siang Ni melupakan segala, lupa dan tidak
mengenal lelah, sedikit sekali memperhatikan kepentingan diri
sendiri. Ia baru tidur kalau matanya sudah tidak kuat menahan
kantuk, tidur asal menggeletak di mana saja. Ia baru makan
kalau tubuhnya sudah gemetar dan perutnya sudah menggeliatgeliat
kelaparan, juga makan apa saja yang dapat dimakan asal
mengenyangkan perutnya.
Patut dikasihani nasib Siang Ni, seorang puteri bangsawan,
anak tunggal seorang pangeran yang tadinya selalu hidup
dalam kemewahan dan kemuliaan, dimanja dan selalu penuh
kesenangan. Akan tetapi sekarang hidup sengsara, yatim-piatu,
bahkan ia telah terhina dan ternoda oleh gurunya sendiri. Ia
merasa dirinya kotor, hina dina, tertimpa aib yang membuat ia
kehilangan harga dirinya. Di samping semua kegetiran itu,
hatinya panas membara dengan dendam. Ia harus membalas
kematian ayahnya yang terbunuh oleh Pouw Cun Giok!
Setibanya di Puncak Ta-pie-san, Siang Ni bertemu dengan
seorang kakek tua yang sedang mengumpulkan ranting dan
kayu kering di bawah pohon-pohon. Kakek ini berpakaian
sederhana sekali, seperti seorang kakek dusun yang miskin.
Siang Ni menghampiri dan bertanya dengan lembut.
“Maaf, Lopek. Aku mohon pertolonganmu.”
Kakek itu yang tadinya membungkuk untuk memunguti
kayu bakar, berdiri dan tubuhnya kurus kering, punggungnya
agak bongkok. Ditatapnya wajah Siang Ni dan sinar keheranan
membayang di wajahnya yang penuh keriput.
“Bagaimana seorang tua bangka macam aku dapat
menolong seorang muda seperti engkau, Nona?”
Siang Ni tersenyum kecil. Kelakar kakek itu menyenangkan
hatinya.
Koleksi Tiraikasih http://kangzusi.com
DewiKZ- 157
“Aku hanya mohon keteranganmu, Lopek. Apakah di pucak
Bukit Ta-pie-san sini terdapat seorang pertapa yang sakti?”
“Pertapa sakti? Siapa namanya?”
“Aku tidak tahu namanya, Lopek. Hanya aku mencari
seorang pertapa sakti yang tinggal di puncak Ta-pie-san.
Adakah pertapa sakti di sekitar tempat ini?”
“Di sini tidak ada pertapa sakti,” kakek itu menjawab
sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. “Ada juga kutahu
seorang tua bangka, boleh kau sebut dia pertapa, akan tetapi
sama sekali tidak sakti. Bahkan dia itu seorang pertapa tolol,
bodoh dan tidak mempunyai kepandaian apa-apa.”
Siang Ni mengerutkan alisnya. Apakah sia-sia saja ia
datang dari jauh ke tempat ini?
“Di mana rumah pertapa itu, Lopek?” Ia harus menyelidiki
dulu sebelum turun gunung dengan tangan hampa.
Kakek itu mengumpulkan lagi kayu bakar sambil
bersungut-sungut.
“Pertapa tolol dicari, mau apa sih? Mau tahu rumah pertapa
bodoh itu? Nah, itu di sana, di bawah kelompok pohon cemara
itu!” Setelah berkata demikian, kakek itu kembali
membungkuk dan memunguti ranting dan daun kering, tidak
memperhatikan lagi kepada gadis yang masih berdiri di situ.
Siang Ni maklum bahwa kakek itu tidak mau diganggu lagi.
Ia mengerti pula bahwa orang-orang yang tinggal di tempat
sunyi terpencil seperti ini memang aneh-aneh wataknya.
@_Alysa^DewiKZ_@
Koleksi Tiraikasih http://kangzusi.com
DewiKZ- 158
Bab 3. Pengejaran Terhadap Pembunuh Ayah
“Terima kasih, Lopek,” katanya sambil memberi hormat
kepada kakek itu. Kemudian dengan langkah lebar dan
pengerahan ilmu berlari cepat, ia mendaki puncak menuju ke
tempat yang ditunjuk oleh kakek dusun tadi. Ketika ia
menoleh, ia melihat kakek itu masih memunguti bahan bakar
sambil bersungut-sungut.
Setelah tiba di puncak sebelah barat, benar saja ia melihat
sebuah pondok bambu reyot (lapuk) berdiri miring di bawah
sekelompok pohon cemara. Bukan main indahnya
pemandangan alam di tempat itu. Daerah pegunungan
terbentang luas di sekelilingnya, merupakan pemandangan
alam yang beraneka ragam dan warna, dilatar belakangi warna
hijau yang menyejukkan pandang mata. Terdengar suara
gemerisik ketika angin membelai daun-daun cemara yang
menimbulkan suara gemerisik lirih dan halus sekali seperti
bidadari-bidadari berbisik lembut di dekat telinganya.
Hawanya sejuk dan segar dan udara yang dihisapnya amat
bersih dan menyegarkan.
Siang Ni berdiri di depan pondok bambu lapuk itu, tidak
berani lancang melongok ke dalam. Dari luar ia berseru.
“Teecu (murid) Lu Siang Ni yang muda dan bodoh mohon
diberi ijin menghadap Lo-cianpwe yang mulia di dalam
pondok!”
Gadis ini sudah memiliki pengalaman cara bergaul dengan
orang-orang gagah dunia persilatan, maka ia tahu akan
peraturan di dunia kang-ouw dan tahu pula akan bagaimana
sikap yang baik menghadap seorang pertapa yang dihormati.
Biarpun kakek dusun tadi mengatakan bahwa penghuni pondok
itu hanya seorang pertapa tolol, namun ia tidak mau bersikap
lancang dan kurang hormat. Orang-orang di dunia kang-ouw
(dunia persilatan) banyak yang aneh sikapnya, aneh dan
Koleksi Tiraikasih http://kangzusi.com
DewiKZ- 159
terkadang di luar dugaan sama sekali.
Sampai lama ucapannya tadi tidak terjawab. Kemudian,
setelah hampir habis kesabaran gadis itu, terdengar suara dari
dalam pondok.
“Pondokku tidak berpintu, masuklah!”
Siang Ni memasuki pondok lewat lubang yang tidak
berdaun pintu. Ternyata pondok itu hanya mempunyai satu
ruangan kecil tanpa kamar, tanpa pintu dan tanpa jendela
sehingga cuaca di dalamnya remang-remang. Di dalam pondok
tidak terdapat perabotan kecuali sebuah dipan bambu yang
diduduki seorang kakek yang bersila dan tak bergerak seperti
sebuah patung.
Setelah pandang matanya terbiasa dalam keadaan remangremang
itu dan Siang Ni dapat melihat kakek itu dengan lebih
jelas, ia terkejut bukan main. Kakek itu ternyata adalah kakek
dusun yang tadi mengumpulkan kayu ranting kering dan yang
ia tanyai!
Siang Ni terkejut karena bagaimana mungkin kakek itu
sudah duduk di dalam pondok? Bilakah kakek itu tiba di situ.
Padahal tadi ia melakukan pendakian dengan ilmu berlari
cepat. Andaikata kakek ini berlari cepat melampauinya,
mengapa ia tidak melihatnya? Saking kagetnya Siang Ni hanya
berdiri termangu-mangu tanpa dapat mengeluarkan suara.
“Mengapa engkau bengong saja? Apa keperluanmu
mencari pertapa tolol di puncak Ta-pie-san?” terdengar kakek
itu bertanya, suaranya terdengar tidak senang karena hidupnya
yang biasanya selalu tenang dan damai itu kini terganggu.
Dia maklum bahwa setiap kali ada orang dunia ramai
datang ke situ, berarti akan datang pula gangguan dalam
hidupnya. Apalagi yang datang sekarang adalah seorang gadis
muda dan cantik yang tampaknya penuh dengan nafsu amarah
Koleksi Tiraikasih http://kangzusi.com
DewiKZ- 160
di samping ada tanda bahwa gadis itu menderita batin yang
hebat.
Mendengar pertanyaan itu barulah Siang Ni sadar dari
lamunannya karena terkejut dan heran tadi. Dengan hormat ia
menjura dan berkata.
“Harap Lo-cianpwe memberi maaf sebanyaknya kalau aku
yang muda datang mengganggu. Sebenarnya kedatanganku ini
untuk mencari seorang pemuda yang bernama Suma Cun
Giok.”
Kakek yang tadinya menundukkan muka itu kini
mengangkat alisnya dan sepasang matanya bagaikan kilat
menyambar ke arah wajah Siang Ni.
“Engkau mencari Suma Cun Giok untuk apakah?”
“Mau kubunuh mampus!” kata Siang Ni dengan tabah dan
terus terang.
Kakek itu mengangkat muka, menatap wajah gadis itu
sepenuhnya lalu dia tertawa bergelak. “Ha-ha-ha-ha! Engkau
jujur! Akan tetapi, mengapa engkau mencarinya di sini? Dan
mengapa pula engkau hendak membunuh orang?”
“Karena aku mendengar bahwa Suma Cun Giok belajar
silat pada Susiok-couwnya (Paman kakek-gurunya) yang tidak
kuketahui namanya. Aku hanya mendengar bahwa susiokcouwnya
itu mungkin tinggal di puncak ini. Adapun tentang
mengapa aku hendak membunuhnya, karena dia juga telah
membunuh ayah ibuku!”
“Aku tidak percaya Cun Giok melakukan hal itu!” kata
kakek itu tegas.
“Mengapa tidak percaya? Kenalkan Lo-cianpwe padanya?”
“Tentu saja! Akulah Susiok-couwnya yang kau sebut-sebut
tadi. Aku yang mengajar dia sampai hampir dua tahun di
Koleksi Tiraikasih http://kangzusi.com
DewiKZ- 161
tempat ini. Aku tahu bagaimana wataknya, maka aku tidak
percaya bahwa dia telah membunuh ayah bundamu.”
Berdebar rasa hati Siang Ni. Tak disangkanya bahwa kakek
inilah guru besar dari pemuda yang menjadi musuh besarnya
itu. Tidak mengherankan kalau kakek ini demikian lihainya.
Akan tetapi ia sama sekali tidak merasa takut.
“Tidak ada guru di dunia ini yang tidak membela muridnya.
Betapapun bodohnya aku, belum begitu gila untuk menuduh
orang membunuh ayah bundaku kalau tidak terbukti. Suma
Cun Giok telah membunuh ayahku, Pangeran Lu Kok Kong,
dan ibuku meninggal dunia saking kaget dan sedihnya.
Bukankah itu berarti bahwa Suma Cun Giok telah membunuh
ayah ibuku?”
Kakek itu tampak terkejut. “Ah, jadi engkau puteri seorang
pangeran?” Dia memandang penuh perhatian dan kelihatan
kagum sekali. “Sebagai puteri seorang pangeran engkau sampai
bersengsara mencari musuh besar hendak membalas dendam,
benar-benar engkau seorang yang u-hauw (berbakti)!”
“Lo-cianpwe, di mana adanya musuh besarku itu? Kalau
Lo-cianpwe sudah tahu bahwa ayah bundaku terbunuh olehnya,
tentu Lo-cianpwe tidak keberatan memberitahu padaku di
mana dia berada.”
Kakek itu menarik napas panjang. “Aahhh, dendammendendam,
balas-membalas, pembalasan dibalas dengan lain
pembalasan! Ikatan karma makin membelenggu erat dan
selamanya tidak akan terbebas. Ah, manusia memang buta,
tidak sadar apa yang dilakukannya, menurutkan hawa nafsu
belaka. Nona, Suma Cun Giok membunuh ayahmu untuk
membalas dendam, sekarang engkau mencarinya untuk
membalas dendam dan membunuhnya pula. Seyogianya aku
tidak memberitahu kepadamu di mana adanya pemuda itu.
Akan tetapi karena engkau begini jujur dan juga berbakti, aku
Koleksi Tiraikasih http://kangzusi.com
DewiKZ- 162
tidak tega. Cun Giok sudah tiga bulan yang lalu turun gunung,
pergi ke So-couw mengunjungi makam orang tuanya, dan
menurut pengakuannya, dari So-couw dia akan ke kota raja.
Kalau sekarang engkau pergi ke So-couw, lalu kalau dia tidak
dapat kautemukan di sana, engkau langsung pergi ke kota raja,
kiranya engkau akan dapat bertemu dengan dia.”
Siang Ni menjura penuh hormat. “Lo-cianpwe, engkau
seorang pertapa sakti yang berhati mulia. Terima kasih!”
Siang Ni hendak pergi, akan tetapi kakek itu berkata.
“Nona, engkau seorang gadis yang baik, sayang kalau engkau
lanjutkan keinginanmu menuruti nafsumu membalas dendam.
Aku akan merasa berbahagia sekiranya engkau dapat
mengubah kehendakmu itu. Pula, perlu kuberitahukan padamu
bahwa kepandaianmu masih jauh untuk dapat mengalahkan
Cun Giok.”
Akan tetapi mana mau Siang Ni mendengarkan omongan
itu? Tanpa berkata sesuatu ia sudah berlari cepat meninggalkan
Ta-pie-san. Ia percaya penuh keterangan kakek tadi maka ia
segera mengarahkan perjalanannya ke So-couw.
Memang sejak ia mendengar bahwa keluarga ibunya
berasal dari So-couw, hatinya ingin sekali berkunjung ke sana
untuk melihat kota kelahiran atau kampung halaman ibunya.
Akan tetapi sayang, belum juga keinginannya itu dilaksanakan,
ibu dan ayahnya telah tewas dengan cara yang amat
menyedihkan. Sekarang ia pergi ke So-couw bukan untuk
melihat-lihat tempat kelahiran ibunya, melainkan untuk
mencari musuh besarnya, membalas dendam kematian ayah
bundanya.
Dalam perjalanan itu ia seringkali termenung. Ia teringat
akan penjelasan mendiang ibunya bahwa Suma Cun Giok
adalah kakak misannya! Ah, kalau saja dia benar kakak
misannya, kalau saja tidak ada urusan dendam sakit hati
Koleksi Tiraikasih http://kangzusi.com
DewiKZ- 163
terhadap pemuda itu, alangkah akan terhibur hatinya untuk
mengunjungi kakak misannya dan bersama-sama mencari
sanak keluarga ibunya! Adapun sanak keluarga dari pihak
ayahnya memang banyak sekali, semuanya bangsawan di kota
raja. Akan tetapi ia adalah anak dari selir yang paling muda,
maka ketika ayahnya masih hidup saja ia merasa dipandang
rendah. Apalagi sekarang ayahnya telah meninggal dunia, ia
tentu tidak akan diakui oleh keluarga pihak ayahnya. Ia pun
akan merasa senang dan bangga sekali mempunyai seorang
kakak misan yang tampan dan gagah perkasa!
Akan tetapi kalau ia teringat betapa pemuda yang bernama
Suma Cun Giok itu telah membunuh ayahnya sehingga ibunya
juga meninggal dunia saking duka, bahkan yang
mengakibatkan ia menjadi yatim piatu, sebatang kara,
menderita tekanan batin, sengsara dan bahkan telah
mengorbankan kehormatan dirinya dinodai gurunya agar dapat
melaksanakan cita-citanya membalas dendam, semua ini
membuat ia merasa amat benci kepada pemuda itu!
“Aku akan membunuhnya! Aku akan memenggal batang
lehernya seperti yang dia lakukan terhadap ayahku!” bisik
suara hatinya dengan marah. “Kemudian aku akan mencari si
keparat pembunuh keluarga ibuku. Setelah itu...... setelah
itu...... tiada gunanya lagi aku hidup, lebih baik aku menyusul
Ayah dan Ibu.......”
@_Alysa^DewiKZ_@
Kota So-couw yang terletak di sebelah barat Terusan yang
menghubungkan Sungai Huang-ho dan Yang-ce, kota yang
berada di perbatasan antara Propinsi Kiang-si dan An-hui,
makin ramai saja. Perdagangan di tempat itu berkembang
karena kota ini merupakan kota hidup yang menghubungkan
daerah antara dua propinsi itu dan menjadi pusat perdagangan.
Koleksi Tiraikasih http://kangzusi.com
DewiKZ- 164
Tidak mengherankan kalau kota ini menjadi makmur
karena perdagangan hidup subur. Toko-toko besar dibuka siang
malam. Rumah-rumah penginapan dan restoran-restoran yang
besar dan mewah selalu penuh tamu. Perdagangan yang subur
menawarkan penampungan tenaga kerja yang luas sehingga
rakyat kecil pun dapat memperoleh penghasilan yang memadai.
Kemakmuran yang merata dalam arti kata tidak ada rakyat
yang hidup di bawah garis kemiskinan, kurang sandang pangan
dan papan, dapat menjadi kenyataan apabila ada kerja sama
yang baik antara pemerintah dan rakyat yang terbagi dua
menjadi si pemilik modal kerja dan si pemilik tenaga kerja.
Pemerintah berkewajiban memperhatikan nasib si pemilik
tenaga kerja, melindungi dan membelanya agar hasil perolehan
dari tenaga mereka dihargai dan dapat mencukupi kebutuhan
keluarganya, akan tetapi tanpa menekan dan menindas si
pemilik modal kerja! Diatur kebijaksanaan sedemikian rupa
sehingga pemilik modal bergantung kepada pemilik tenaga,
demikian pula sebaliknya. Si pemilik modal mengeluarkan
uangnya untuk membuka perusahaan sehingga dapat
menampung tenaga kerja dan si tenaga kerja mengeluarkan
tenaga dan keahliannya untuk memutar jalannya roda
perusahaan.
Perlu bantuan pengaruh pemerintah agar si pemilik modal
tidak mementingkan keuntungan pribadi belaka, melainkan
harus membagi keuntungan perusahaannya dalam bentuk upah
yang mencukupi kebutuhan umum si tenaga kerja. Sebaliknya
si tenaga kerja tidak hanya menuntut dipenuhinya upah yang
cukup, akan tetapi juga harus mengerahkan tenaga dan
kemampuannya untuk bekerja dengan setia dan jujur. Dengan
cara “memberi dan menerima” semua pihak ini, bukan
lamunan kosong lagi kata “makmur” bagi seluruh rakyat.
Setelah melakukan perjalanan sebulan lebih, barulah Siang
Ni tiba di kota So-couw. Di sepanjang perjalanan, gadis itu
Koleksi Tiraikasih http://kangzusi.com
DewiKZ- 165
banyak mendengar tentang seorang pendekar muda di dunia
kang-ouw yang melakukan banyak hal yang menggemparkan.
Orang-orang tidak mengetahui nama pendekar ini, hanya nama
julukan pendekar itu yang dikenal orang, yaitu Bu-eng-cu
(Pendekar Tanpa Bayangan). Julukan ini diberikan orang
kepadanya untuk menyatakan kekaguman orang terhadap
pendekar ini yang amat luar biasa sehingga seolah dia tidak
memiliki bayangan saking cepat gerakannya.
Pendekar muda ini, dengan beraninya, seorang diri,
mengobrak-abrik sarang penyamun, mendatangi hartawanhartawan
pelit dan pembesar-pembesar lalim, mengambil
sebagian harta mereka dan memberi ancaman yang
mengerikan. Pada malam itu juga, ketika hartawan atau
bangsawan kehilangan sebagian harta mereka, di dusun-dusun
dan tempat-tempat kumuh tempat tinggal mereka yang
menderita sengsara, para penduduk miskin itu menemukan
emas dan perak yang secara aneh jatuh dari atap sehingga
mereka yang sengsara itu mendapat hiburan besar. Yang sakit
dapat membeli obat, yang kelaparan dapat membeli makanan,
yang tercekik hutang berbunga berat dapat membayar
hutangnya!
Seorang hartawan atau bangsawan marah-marah karena
sebagian kecil hartanya lenyap, akan tetapi pada saat yang
sama, puluhan keluarga miskin merasa tertolong dan
bergembira. Seorang hartawan atau bangsawan memaki dan
menyumpahi Bu-eng-cu, akan tetapi puluhan keluarga memuji
dan mendoakan panjang umur bagi Si Tanpa Bayangan! Baik
hartawan atau bangsawan itu, maupun puluhan keluarga si
miskin, sama sekali tidak melihat orangnya, hanya tampak
bayangan berkelebat lalu lenyap! Karena kecepatan gerakan
yang menandakan bahwa pendekar itu memiliki gin-kang (ilmu
meringankan tubuh) yang amat tinggi tingkatnya, maka dia
diberi julukan Bu-eng-cu atau Si Tanpa Bayangan.
Koleksi Tiraikasih http://kangzusi.com
DewiKZ- 166
Diam-diam Siang Ni merasa kagum mendengar akan nama
besar Bu-eng-cu yang baru muncu1 di dunia kang-ouw namun
sudah amat terkenal itu.
“Kalau saja aku tidak mempunyai tugas penting yang harus
kulakukan, aku akan suka sekali mencari dan berkenalan
dengan Bu-eng-cu dan kalau mungkin bekerja sama dengan dia
melakukan tugas sebagai pendekar sejati!” pikirnya. Akan
tetapi pikirannya itu hanya mendatangkan kesedihan belaka
karena kembali ia diingatkan akan keadaannya yang tidak
memungkinkan ia hidup bahagia lagi. Sebatang kara, ternoda,
aib melumuri dirinya! Tidak ada harapan untuk dapat hidup
berbahagia lebih lama lagi!
Setelah berada di So-couw, Siang Ni teringat kembali akan
cerita mendiang ibunya. Ia harus mencari manusia berwatak
binatang bernama Can Sui itu, yang dahulu menjadi
pengkhianat dan yang menyebabkan kehancuran keluarga
ibunya.
“Aku harus mencari si jahanam Can Sui!” katanya dalam
hati, penuh dendam.
Siang Ni menyewa sebuah kamar dalam rumah penginapan
yang besar. Dipilihnya sebuah kamar di ujung paling belakang.
Kemudian ia mulai dengan penyelidikannya, mencari
keterangan tentang seorang bernama Can Sui. Akan tetapi, kota
So-couw adalah sebuah kota besar dan amat sukar mencari
seseorang tanpa mengetahui di mana dia tinggal.
Sampai sehari penuh mencari keterangan, belum juga ia
menemukan jawaban di mana adanya orang yang dicarinya itu.
Dengan hati mengkal ia hendak kembali ke rumah penginapan.
Akan tetapi tiba-tiba timbul keinginan di dalam hatinya untuk
mengetahui di mana gerangan dahulu ibunya tinggal. Maka ia
lalu mencari keterangan tentang bekas rumah tinggal keluarga
Pouw yang duapuluh tahun lalu terbasmi habis oleh pasukan
Koleksi Tiraikasih http://kangzusi.com
DewiKZ- 167
kerajaan.
Setelah bertanya sana-sini tanpa mendapat jawaban pasti,
Siang Ni duduk di rumah makan depan rumah penginapannya
untuk makan. Sejak pagi ia belum makan dan perutnya terasa
lapar. Seorang pelayan restoran melayaninya. Pelayan itu
berusia sekitar limapuluh tahun dan begitu berhadapan dengan
Siang Ni, dia menatap wajah gadis itu dengan penuh keheranan
karena bagi dia, wajah gadis yang cantik itu terasa tidak asing!
Akan tetapi dia merasa belum pernah berkenalan dengan gadis
ini, maka dia segera menundukkan muka dan melayaninya
dengan hormat.
Setelah selesai makan dan membayar harga makanan,
secara sambil lalu ia bertanya kepada pelayan. “Lopek, apakah
engkau mengetahui di mana rumah bekas tempat tinggal
keluarga Pouw yang sekitar duapuluh tahun lalu terbasmi oleh
pasukan pemerintah?”
Kakek itu memandang dengan mata terbelalak. “Nona, di
So-couw terdapat banyak pemandangan indah. Nona tentu
seorang dari luar kota, mengapa Nona mencari tempat bekas
gedung keluarga yang gagah berani akan tetapi yang bernasib
buruk itu?” Di dalam suara kakek itu terkandung keharuan
besar, membuat Siang Ni tertarik sekali.
“Lopek, karena sudah lama mendengar akan kegagahan
keluarga Pouw itu yang membuat aku merasa kagum sekali,
maka aku ingin melihat rumah bekas tempat tinggal mereka,
sungguhpun hanya merupakan bekas-bekasnya saja,” jawab
Siang Ni dengan menekan perasaan harunya.
Kakek itu membersihkan meja di depan Siang Ni dengan
kain yang selalu dibawanya dan dia berkata dengan suara
serius.
“Kebetulan sekali Nona bertanya kepadaku. Akulah
orangnya yang akan dapat memberi keterangan lengkap
Koleksi Tiraikasih http://kangzusi.com
DewiKZ- 168
tentang keluarga Pouw, karena aku dahulu menjadi pelayan di
gedung mereka.” Kemudian disambungnya lirih, “Dan hanya
aku seorang yang berhasil melarikan diri dan lolos dari
bencana yang menimpa keluarga itu.”
Hati Siang Ni berdebar tegang. Setelah mencari ke manamana
tanpa mendapat jawaban tepat, kini secara iseng-iseng ia
bertanya kepada orang yang ternyata bekas pelayan keluarga
ibunya! Cepat ia mengeluarkan sepotong uang emas dan
diberikannya kepada kakek itu.
“Lopek, tolong kautunjukkan kepadaku bekas tempat itu.
Ini uang untukmu.”
Melihat hadiah sebesar itu, Si Kakek Pelayan
membungkuk-bungkuk berterima kasih dengan perasaan girang
dan heran, lalu dia menyimpan uang itu dalam saku bajunya
dan cepat memberitahu kawan-kawan sekerjanya bahwa dia
akan keluar sebentar mengantar tamu wanita itu. Maka
keluarlah Siang Ni mengikuti kakek itu dari rumah makan.
@_Alysa^DewiKZ_@
Jilid 6
Bab 1. Pertemuan Di Reruntuhan Gedung
Leluhur
“Lopek, ceritakanlah kepadaku peristiwa keluarga Pouw
itu,” kata Siang Ni dalam perjalanan.
Sekali lagi Siang Ni mendengar cerita yang pernah
didengar dari mulut ibunya dahulu.
“Mereka semua tewas,” kata kakek itu mengakhiri
ceritanya dengan muka berduka. “Tak seorang pun selamat,
Koleksi Tiraikasih http://kangzusi.com
DewiKZ- 169
seluruh anggauta keluarga itu dibantai. Bahkan Nona Sui
Hong....... ah, kasihan sekali ia, telah tertawan dan kabarnya
tewas karena sengsara di kota raja. Siapakah yang akan tahan
hidup menjadi tawanan? Ah, kasihan sekali Nona Sui Hong
yang cantik jelita, yang dulu terkenal sebagai Kembang Socouw.
Ah, tentu anjing-anjing biadab itu telah
merusaknya.......”
“Engkau tadi menceritakan bahwa dalam peristiwa
pembasmian keluarga Pouw itu ada pengkhianatnya. Siapakah
dia, Lopek?” tanya Siang Ni dengan suara biasa, padahal di
dalam hatinya ia menjerit mendengar kakek itu menyebut nama
ibunya.
“Bajingan itu bernama Can Sui. Dikutuk Thian setan
keparat itu! Dia tergila-gila kepada Nona Pouw Sui Hong!
Memang Nona Pouw...... eh......” kakek itu memandang Siang
Ni. “Ketika itu, Nona Pouw Sui Hong seperti engkau ini, Nona.
Sama tinggi langsingnya, sama usianya dan eh...... hampir
serupa juga wajah Nona dengan wajahnya.......”
Siang Ni merasa jantungnya seperti ditusuk-tusuk. Ia segera
bertanya.
“Lopek, di manakah adanya pengkhianat itu sekarang?
Masih hidupkah dia?”
Tiba-tiba pelayan itu tertawa geli dan tampak puas. “Dia
masih hidup, biarpun hanya setengah hidup! Ha, rasakan
sekarang bedebah itu!”
“Eh, apa maksudmu, Lopek?”
“Engkau lihat saja sendiri, Nona. Kita sudah dekat dengan
reruntuhan gedung yang sudah dibakar itu. Engkau lihat sendiri
saja.......”
“Melihat Can Sui.......?” Hati Siang Ni berdebar tegang.
Kakek itu hanya mengangguk sambil tersenyum. Mereka
Koleksi Tiraikasih http://kangzusi.com
DewiKZ- 170
mempercepat perjalanan mereka menuju ke sebuah gedung
yang tinggal tembok-temboknya saja, yang keadaannya kotor
tidak terawat dan menjadi sarang laba-laba dan mungkin
menjadi sarang hantu dan roh-roh penasaran. Keadaannya
demikian menyeramkan dan letaknya di jalan yang sepi lagi.
Mungkin di waktu malam, jarang ada orang yang berani lewat
di depan bekas rumah yang tinggal reruntuhan itu.
Kakek itu mengajak Siang Ni memasuki halaman bekas
gedung dan terdengar napas kakek itu terisak ketika mereka
tiba di situ. Ternyata kakek pelayan itu tidak dapat menahan
keharuan hatinya dan air mata menitik turun ke atas pipinya
yang kurus.
“Inilah gedung bekas keluarga Pouw Nona. Semenjak
berusia sepuluh tahun aku menjadi pelayan mereka, dan aku
tinggal di sini sampai berusia tigapuluh tahun lebih. Aku sudah
merasa menjadi anggauta keluarga sendiri...... kasihan sekali
mereka itu.......”
Siang Ni menahan keharuan hatinya dan diam-diam ia
menghapus air mata yang sudah membasahi pelupuk matanya
dengan tangan. “Dan mana itu pengkhianat she Can yang
kaukatakan, Lopek?”
Mendengar pertanyaan ini, wajah kakek itu tiba-tiba berseri
kembali, seakan-akan nama itu merupakan hiburan baginya.
Tiba-tiba terdengar orang batuk-batuk dari sebelah dalam dan
kakek itu berkata.
“Nah, itu dia! Kalau sudah mulai gelap begini dia datang
dan bermalam di bekas gedung ini, menangis seorang diri.
Kalau siang dia keluar untuk mengemis makanan.”
“Kau maksudkan, si pengkhianat Can Sui itu kini menjadi
pengemis?”
“He-heh, bukan mengemis saja, juga otaknya sudah miring.
Koleksi Tiraikasih http://kangzusi.com
DewiKZ- 171
Memang Thian Maha Adil dan tidak menghendaki manusia
berbuat jahat tanpa hukuman yang setimpal.”
Dengan tidak sabar Siang Ni melangkah masuk, diikuti
kakek pelayan itu yang mulai merasa heran mengapa nona ini
begitu tabah dan berani memasuki bekas gedung yang
kelihatan begitu menyeramkan. Banyak laki-laki kota So-couw
tidak berani mendekati gedung itu di waktu matahari sudah
terbenam karena orang percaya bahwa bekas gedung ini telah
menjadi rumah hantu!
Mereka berjalan masuk sampai ke ruangan dalam dan cuaca
di situ masih belum begitu gelap karena tidak ada atapnya
sehingga sinar matahari sore masih dapat menerangi ruangan
itu. Setelah memasuki ruangan, Siang Ni dan kakek pelayan itu
berhenti melangkah. Siang Ni memandang ke sudut ruangan di
mana seorang laki-laki sedang berlutut dan menangis!
“Itulah dia manusia keparat bernama Can Sui!” kakek itu
berkata dengan nada membenci.
“Jahanam!!” Siang Ni membentak sedemikian kerasnya
sehingga tidak saja kakek pelayan itu yang menjadi kaget
sekali, juga orang yang sedang menangis itu terkejut dan dia
melompat berdiri sambil membalikkan tubuhnya menghadapi
Siang Ni dan kakek pelayan itu. Akibat pertemuan ini benarbenar
mendatangkan rasa kaget dan heran bagi mereka bertiga
sungguhpun kekagetan dan keheranan mereka itu masingmasing
berbeda sebabnya.
“Kau......?!?” seru orang yang menangis tadi ketika dia
melihat Siang Ni, menunjukkan bahwa dia mengenal gadis itu.
“Suma Cun Giok jahanam keparat! Kebetulan sekali kita
bertemu di sini. Bersiaplah untuk mampus!” bentak Siang Ni
kepada orang itu yang bukan lain adalah Suma Cun Giok.
Memang, pemuda ini datang mengunjungi gedung bekas
Koleksi Tiraikasih http://kangzusi.com
DewiKZ- 172
tempat tinggal keluarga ayahnya yang telah terbasmi habis dan
ketika dia tiba di situ, dia tidak dapat menahan kesedihannya
dan menangis tersedu-sedu seorang diri.
Reaksi yang diperlihatkan kakek pelayan itu lebih hebat
lagi. Dia memandang kepada Cun Giok dengan mata melotot,
lalu menoleh kepada Siang Ni, dan tiba-tiba dia menangis
sambil menjatuhkan diri berlutut.
“Aku melihat....... aku melihat....... mohon arwah Tuan
Muda Pouw Keng In dan Nona Pouw Sui Hong sudi
mengampuni hamba.......”
Dia berulang-ulang memberi hormat dengan kedua tangan
diangkat terkepal sambil membungkuk dalam kepada Siang Ni
yang dia sebut Nona Pouw Sui Hong dan kepada Cun Giok
yang dia sebut Tuan Muda Pouw Keng In. Kemudian dia
menangis perlahan sambil terus berlutut. Dalam anggapan
kakek yang tenggelam dalam kesedihan itu, dia bertemu
dengan arwah kedua orang majikannya yang sudah tewas.
Ucapan kakek itu membuat Siang Ni dan Cun Giok saling
pandang. Siang Ni sudah maklum apa yang dimaksud kakek
itu, akan tetapi Cun Giok tidak mengerti dan terheran-heran
mendengar kakek itu menyebut-nyebut nama ayah dan bibinya.
“Kau...... mengapa engkau datang ke tempat ini? Engkau
siapakah, Nona? Dan kakek ini siapa pula?” tanya Cun Giok.
Tentu saja dia masih ingat kepada Siang Ni sebagai gadis lihai
yang pernah menyerangnya ketika dia dahulu menyerbu ke
rumah gedung Pangeran Lu Kok Kong di kota raja.
“Di sini bekas rumah Ibuku, mengapa aku tidak boleh
datang? Engkau ini keparat jahanam, mengapa pula berani
mengotori tempat yang suci ini?” bentak Siang Ni.
Suma Cun Giok terbelalak. “Apa......? Engkau...... anak
Bibi Pouw Sui Hong? Tidak mungkin! Ah, bagaimana ini......?
Koleksi Tiraikasih http://kangzusi.com
DewiKZ- 173
Tidak mungkin......!” Dia menjadi bingung sekali.
“Manusia jahat, engkaulah yang mengaku-aku! Siapa itu
Bibimu? Ibuku bukan Bibimu dan engkau bukan anggauta
keluarga Pouw!”
“Aku putera tunggal ayahku Pouw Keng In!” jawab Suma
Cun Giok marah.
“Bohong! Margamu bukan Pouw melainkan Suma, dan
kalau engkau benar putera mendiang Paman Pouw Keng In,
tidak mungkin engkau datang membunuh Ayah Ibuku!”
“Siapa Ayahmu? Bagaimana engkau berani bilang aku
membunuh Ibumu?” Cun Giok berteriak, penasaran.
“Ayahku adalah Pangeran Lu Kok Kong. Tanpa sebab
engkau telah membunuhnya secara keji dan Ibuku menyusul ke
alam baka karena berduka. Bukankah berarti engkau telah
membunuh Ibuku pula? Dan engkau mau mengaku bahwa
Ibuku itu Bibimu? Anjing jahanam, terimalah pembalasanku!”
Siang Ni tidak dapat menahan sabar lagi dan cepat ia
menyerang dengan pedangnya.
Mendengar ucapan ini, Cun Giok kaget setengah mati.
Benarkah apa yang dikatakan gadis itu? Sebelum membunuh
Pangeran Lu, dia mendengar keterangan bahwa bibinya sudah
tewas dalam keadaan sengsara. Apakah benar bibinya menjadi
isteri Pangeran Lu dan bahkan telah mempunyai seorang
puteri, yaitu gadis ini?
Akan tetapi dia tidak sempat memikirkan lebih lanjut
karena sinar emas telah menyambar ke arah dadanya dengan
gerakan yang amat dahsyat. Namun tingkat kepandaian Cun
Giok sudah jauh Iebih maju daripada dahulu. Dia telah
digembleng selama setahun lebih oleh Pak Kong Lojin, yaitu
Susiok-couwnya yang bertapa di puncak Ta-pie-san. Selain
ilmu pukulan, terutama sekali dia mewarisi gin-kang (ilmu
Koleksi Tiraikasih http://kangzusi.com
DewiKZ- 174
meringankan tubuh) yang luar biasa dari kakek gurunya
sehingga kini Cun Giok memiliki gerakan yang luar biasa
ringan dan cepatnya. Saking hebatnya kecepatan gerak pemuda
itu, dia mendapat julukan Bu-eng-cu.
Kini menghadapi serangan Siang Ni, hampir saja dia
menjadi korban. Gerakannya yang amat cepat untuk mengelak
itu ternyata masih belum dapat membebaskan sepenuhnya dari
serangan pedang yang seperti kilat menyambar itu. Sinar
kuning emas itu masih menyerempet dan mengenai pundaknya,
mendatangkan luka walau hanya sedikit kulit pundak berikut
bajunya yang terobek. Kelambatan Cun Giok dikarenakan dua
hal. Pertama karena kaget dan heran mendengar pengakuan
Siang Ni sebagai anak bibinya, dan kedua karena dia kaget
pula melihat sinar pedang kuning emas yang dikenalnya
sebagai pedang mendiang gurunya!
Pada saat itu, terdengar suara orang tertawa aneh disusul
isak tangis. Dari luar tersaruk-saruk masuklah seorang laki-laki
yang berpakaian compang-camping, tangan kirinya memegang
sebuah mangkok retak, tangan kanannya memegang sebatang
tongkat.
“Sui Hong...... aku berdosa padamu, Sui Hong......”
demikian ratap tangis laki-laki itu, “ampunkan aku, Sui
Hong.......”
Mendengar ini, Siang Ni terkejut dan menghentikan
serangannya kepada Cun Giok. Ia dan Cun Giok menatap
wajah laki-laki jembel yang baru masuk, laki-laki ini berusia
kurang lebih empatpuluh tahun, rambutnya riap-riapan,
pakaiannya compang-camping, mukanya kotor dan matanya
merah berputar-putar mengerikan.
“Can Sui......!” Kakek pelayan itu membentak. “Lihat, siapa
yang datang ini!”
Mendengar bentakan ini, orang jembel itu cepat
Koleksi Tiraikasih http://kangzusi.com
DewiKZ- 175
mengangkat muka memandang kepada Siang Ni dan Cun Giok
berganti-ganti. Matanya terbelalak lebar dan tiba-tiba tubuhnya
menggigil lalu dia menangis dan menjatuhkan diri berlutut di
samping kakek pelayan yang masih berlutut dan meratap-ratap.
“...... aduh...... Tuan Muda Pouw Keng In....... dan Nona
Pouw Sui Hong....... ampunkan aku...... ampunkan aku yang
berdosa .......!” Seperti juga kakek pelayan itu, orang gila ini
agaknya mengira bahwa pemuda dan gadis itu adalah arwah
dari bekas kedua orang majikannya dan mereka datang untuk
menghukumnya!
“Keparat, engkau harus mampus!” bentak Cun Giok
melihat orang yang mengkhianati dan yang menyebabkan
terbasminya seluruh keluarga Pouw itu.
“Jahanam, rasakan pembalasanku!” Siang Ni juga
membentak.
Orang gila itu adalah Can Sui yang dahulu menjadi pelayan
keluarga Pouw dan agaknya setelah keluarga Pouw terbasmi,
dan dia sudah menghabiskan upah yang dia dapatkan sebagai
hasil pengkhianatannya untuk berfoya-foya, merasa tersiksa
batinnya sehingga menjadi gila. Mendengar bentakan dua
orang muda itu dia menjerit-jerit sambil berlari keluar dari
bekas gedung itu.
Siang Ni dan Cun Giok seperti terkesima karena hati
mereka terguncang sehingga setelah orang gila itu keluar dari
bekas gedung, barulah mereka bergerak mengejar keluar.
Gerakan mereka berbareng dan Siang Ni terkejut sekali
mendapat kenyataan betapa gerakan pemuda itu luar biasa
cepatnya dan ia tertinggal jauh! Ia merasa penasaran sekali dan
ia sudah mempersiapkan sebatang panah tangan.
Pada saat Cun Giok mengangkat pedang hendak
dibacokkan ke arah leher orang gila itu, tiba-tiba terdengar
angin berdesir dan tubuh Can Sui terjungkal. Sebatang anak
Koleksi Tiraikasih http://kangzusi.com
DewiKZ- 176
panah menancap di lambungnya dan menewaskannya di saat
itu juga!
Cun Giok tertegun dan menengok. Dia tahu bahwa gadis
itulah yang melepaskan anak panah secara istimewa sekali dan
melihat cara gadis itu melepaskan panah tangan, dia menjadi
terkejut dan terheran-heran. Mereka kini sudah tiba di luar
gedung, di halaman gedung di mana dahulu orang tua mereka
seringkali bermain-main. Kini mereka berhadapan sebagai
musuh dan saling memandang dengan sinar mata tajam.
Kembali Cun Giok melihat sesuatu yang membuatnya
semakin heran, yaitu pedang Kim-kong-kiam di tangan gadis
itu. Bagaimana ia dapat memegang pedang yang dulu adalah
milik Suma Tiang Bun, gurunya?
“Ibu, lihatlah! Pengkhianat Can Sui sudah kubunuh.
Pembalasan pertama sudah terlaksana, Ibu. Sekarang lihat
bagaimana aku membalaskan sakit hatimu dan Ayah terhadap
bangsat rendah ini!” kata Siang Ni seperti berdoa dan matanya
kini ditujukan kepada Cun Giok penuh ancaman.
Kemudian, tanpa memberi kesempatan kepada Cun Giok
yang masih bengong memandangnya, Siang Ni menyerang.
Kini ia mengeluarkan pedang kedua lalu bersama Kim-kongkiam,
ia mainkan ilmu pedang yang paling diandalkan, yaitu
Siang-mo Kiam-hoat (Ilmu Pedang Sepasang Iblis)! Sinar
kuning emas dan putih bergulung-gulung menerjang ke arah
Cun Giok.
Pemuda ini cepat memutar pedangnya menangkis. Dia
hanya melakukan pertahanan dengan mengerahkan seluruh
tenaga dan mengeluarkan jurus-jurus yang paling kokoh kuat
sehingga gulungan sinar pedangnya membentuk perisai yang
amat kuat. Akan tetapi dia tidak membalas serangan gadis itu.
Berkali-kali dia membentak agar Siang Ni menghentikan
serangannya untuk bicara, akan tetapi Siang Ni tidak peduli
Koleksi Tiraikasih http://kangzusi.com
DewiKZ- 177
dan terus menyerang dengan ganas.
Tiba-tiba Siang Ni terkejut karena begitu tubuh lawannya
berkelebat, ia kehilangan lawannya itu! Ini merupakan ginkang
(ilmu meringankan tubuh) yang sudah hampir mencapai
puncaknya! Ia teringat kepada kakek pertapa di Ta-pie-san dan
diam-diam ia pun kagum sekali, walaupun kekaguman itu tidak
dapat mengusir dendam kebenciannya.
“Tahan!” Tiba-tiba terdengar Cun Giok berseru di
belakangnya.
Siang Ni membalikkan tubuhnya dan memandang pemuda
itu dengan mata seolah berapi. “Mau bicara apalagi?”
bentaknya.
“Engkau mengaku keturunan keluarga Pouw, mengaku
anak Bibiku Pouw Sui Hong, akan tetapi aku tidak percaya!
Mari kita bicara lebih dulu sebelum pedang kita merobohkan
seorang di antara kita!”
“Pembunuh keji! Jangan banyak cakap!” Siang Ni
membentak dan ia pun sudah menyerang lagi dengan dahsyat.
Terpaksa Cun Giok mengeluarkan kepandaiannya dan
untuk beberapa jurus dia terpaksa mencurahkan tenaga
saktinya untuk bertahan dan tidak sempat bicara. Akhirnya dia
dapat membuat Siang Ni bingung lagi karena dia telah
menggunakan gin-kang yang amat tinggi tingkatnya untuk
berkelebatan dan terkadang lenyap dari penglihatan gadis itu.
Setelah mendapat kesempatan, Cun Giok berkata lagi dengan
lantang.
“Engkau mencurigakan sekali! Kalau engkau memang anak
Bibiku, bagaimana mungkin pedang Kim-kong-kiam milik
Guruku bisa berada di tanganmu? Engkau penipu!”
Mendengar makian ini, Siang Ni marah bukan main. Ia
melompat mundur, menahan sepasang pedangnya. Mukanya
Koleksi Tiraikasih http://kangzusi.com
DewiKZ- 178
menjadi merah, matanya berapi dan dadanya turun naik.
Kemarahan menggelora dahsyat di dalam hatinya.
“Anjing keparat! Engkau masih berani memaki aku penipu!
Kaulah penipu besar, mengaku anak Pek-hu (Liwa) Pouw
Keng In akan tetapi marganya Suma! Cih, tak tahu malu!
Engkau mau tahu bagaimana pedang ini berada di tanganku?
Setelah gurumu mampus di tangan guruku, pedang ini
diberikan kepadaku oleh Suhu.”
Cun Giok begitu kaget sampai dia mundur dua langkah dan
matanya terbelalak.
“Apa? Engkau murid Kong Tek Kok?”
“Betul! Engkau takut mendengar nama Suhu?” jawab Siang
Ni dan entah mengapa, mukanya berubah merah sekali. Kong
Tek Kok memang gurunya, akan tetapi, bukan sebagai guru
saja. Lebih dari itu! Jauh lebih dari sekadar guru! Hanya
sebentar Siang Ni merasa malu, karena ia menjadi terheran
melihat keadaan Cun Giok. Pemuda itu menjadi pucat dan
matanya memandang kepadanya dengan bengis.
“Nona, kalau engkau memang murid Kong Tek Kok dan
hendak mengadu nyawa dengan aku, silakan! Akan tetapi
jangan engkau mempermainkan aku. Jangan engkau berani
mengaku sebagai anak Bibiku Pouw Sui Hong!”
“Orang gila! Memang Pouw Sui Hong itu Ibuku, Ibu
kandungku! Ibuku hidup berbahagia dengan Ayah sampai
engkau datang membunuh Ayah sehingga Ibu juga meninggal
menyusul Ayah saking dukanya. Engkau keparat masih hendak
memutar lidah lagi?”
“Nanti dulu!” Cun Giok mengangkat tangan kiri ke atas
melihat gadis itu hendak menyerang lagi. “Engkau bilang
bahwa engkau anak Pangeran Lu Kok Kong dan Ibumu adalah
Pouw Sui Hong?”
Koleksi Tiraikasih http://kangzusi.com
DewiKZ- 179
“Apa kaukira aku memalsukan nama Ayah dan Ibu
kandungku sendiri? Kakek bekas pelayan keluarga Pouw tadi
berkata sendiri bahwa aku serupa benar dengan ibuku, Pouw
Sui Hong!”
@_Alysa^DewiKZ_@
Bab 2. Panglima Kong Tek Kok Duluan . . . . . !
“Tidak mungkin! Kalau engkau benar anak Bibi Pouw Sui
Hong, bagaimana mungkin engkau bisa menjadi murid
Panglima Kong Tek Kok si jahanam besar itu? Tidak mungkin
Bibi Pouw Sui Hong memperbolehkan puterinya menjadi
murid panglima biadab itu!”
“Mengapa??” Siang Ni bertanya penasaran, akan tetapi ia
mulai mendapatkan perasaan yang tidak enak dan jantungnya
berdebar.
“Mengapa? Keluarga Pouw terbasmi habis oleh pasukan
yang dipimpin oleh jahanam Kong Tek Kok. Ayah Ibuku,
Kakek dan seisi rumah keluarga Pouw dibasmi dan dibunuhnya
secara kejam. Bibi Pouw Sui Hong juga tertawan oleh Kong
Tek Kok dan dibawa ke kota raja. Aku mendengar kabar dari
orang banyak bahwa Bibi Pouw Sui Hong menjadi sengsara
dan meninggal dunia di kota raja setelah oleh Kong Tek Kok
diserahkan kepada Pangeran Lu sebagai selir. Bagaimana
sekarang muncul engkau yang mengaku sebagai puteri Bibi
Pouw Sui Hong akan tetapi juga mengaku menjadi murid
jahanam Kong Tek Kok?”
Mendengar kata-kata itu, makin lama wajah Siang Ni
menjadi semakin pucat. Kedua kakinya menggigil dan
suaranya mendesis ketika ia berkata.
“Jahanam Suma Cun Giok, pembunuh Ayahku! Jangan
Koleksi Tiraikasih http://kangzusi.com
DewiKZ- 180
engkau membohong......” akan tetapi suaranya tidak terdengar
marah, melainkan penuh keraguan dan kekhawatiran.
“Kau kira aku berbohong? Mana Kakek pelayan tadi, mari
kita tanya kepadanya, tentu dia masih ingat kalau memang
betul dia itu bekas pelayan keluarga Pouw!”
Bagaikan diingatkan, Siang Ni berlari memasuki gedung
yang sudah hampir gelap. Di situ kakek pelayan tadi masih
berlutut ketakutan. Melihat masuknya Siang Ni dan pemuda
yang keduanya dia anggap arwah Pouw Keng In dan Pouw Sui
Hong, dia kembali menyembunyikan mukanya di balik kedua
tangannya.
“Lopek, jangan takut,” kata Siang Ni. “Coba kau ceritakan
yang sebenarnya kepadaku. Ketika terjadi penyerbuan dan
pembasmian keluarga Pouw, apakah engkau tahu siapa
komandan pasukan yang dengan kejam sekali membunuh
semua anggauta keluarga Pouw?”
“Semua orang mengetahui, Nona. Dia itu......” Suaranya
lirih, tampak ketakutan, “...... dia itu sekarang menjadi
panglima besar, namanya Panglima Kong Tek Kok......”
Siang Ni menjerit aneh, sepasang pedangnya terlepas dan
jatuh di atas lantai. Tubuhnya lemas terkulai dan di lain saat ia
jatuh pingsan dalam pelukan Cun Giok yang cepat menolong
sebelum gadis itu roboh.
Kenyataan bahwa Kong Tek Kok sendiri orangnya yang
telah menjadi musuh besarnya selama ini, merupakan pukulan
batin yang amat hebat bagi Siang Ni sehingga ia tidak kuasa
menahannya dan roboh pingsan. Dan ia telah menjadi murid
musuh besar itu, bahkan ia telah rela mengorbankan
menyerahkan kehormatannya menjadi permainan Kong Tek
Kok untuk dapat mewarisi ilmu tertinggi agar dapat membalas
dendam kepada musuh besar keluarga Pouw!
Koleksi Tiraikasih http://kangzusi.com
DewiKZ- 181
@_Alysa^DewiKZ_@
Pada keesokan harinya, pagi-pagi sekali, Lu Siang Ni baru
siuman. Cun Giok yang mengetahui bahwa gadis itu menderita
tekanan batin yang amat hebat, membiarkannya tidur pulas
semalam, agar terlepas dari cengkeraman dan himpitan kaget,
sesal dan duka. Ketika Siang Ni pingsan, dia memondongnya
dan merebahkannya di atas sehelai tikar rombeng.
Kakek pelayan itu menjaga di dekatnya dan kakek inilah
yang memasak air dan membuat api unggun. Setelah
mendengar keterangan Cun Giok, kakek ini baru menyadari
bahwa dia berhadapan dengan keturunan majikan-majikannya.
Dia merasa gembira sekali, seolah-olah semua itu terjadi dalam
mimpi.
Begitu siuman Siang Ni mengumpulkan hawa di dalam
tubuhnya sehingga darahnya mengalir normal kembali dan
hawa hangat memenuhi dadanya, mengembalikan tenaganya.
Cepat ia melompat berdiri. Melihat dua batang pedangnya
berada di sudut ruangan, ia melompat dan menyambarnya dan
di lain saat kedua tangannya sudah memegang pedang dan siap
hendak menyerang. Ia memandang kepada Cun Giok yang
duduk bersila di atas lantai dengan mata merah.
“Suma Cun Giok, aku mengakui bahwa selama ini aku
seperti buta, tidak tahu bahwa selama ini musuh besarku berada
di dekatku. Akan tetapi engkau tetap musuh besarku pula
karena engkau telah membunuh Ayahku. Bersiaplah engkau,
kita tidak dapat hidup bersama di dunia ini. Seorang dari kita
harus mati di ujung pedang!”
Cun Giok bangkit berdiri dan memandang gadis itu dengan
hati penuh haru dan iba. Pemuda ini tampak susah sekali,
apalagi kalau dia teringat bahwa satu-satunya keluarganya
adalah gadis ini, akan tetapi mereka berjumpa bukan sebagai
Koleksi Tiraikasih http://kangzusi.com
DewiKZ- 182
saudara misan, melainkan sebagai musuh yang harus saling
bunuh!
“Betapapun juga, engkau adalah Adik misanku dan aku…..
aku sudah merasa bersalah, Piauw-moi (Adik Misan). Agaknya
Ayahmu dahulu merasa malu mengambil Bibi Pouw Sui Hong
sebagai isterinya sehingga dia membuat berita di luar bahwa
Bibi Sui Hong sudah meninggal dunia. Andaikata aku tahu
bahwa Bibi Sui Hong masih hidup, bahkan sudah mempunyai
anak, kiranya aku tidak begitu gila untuk membunuh Ayahmu.
Aku melakukan itu semata-mata untuk membalaskan sakit hati
Bibi Pouw Sui Hong, yakni Ibumu! Siapa tahu kalau Bibi Sui
Hong ternyata masih hidup....... bahkan sekarang meninggal
dunia karena duka melihat suaminya terbunuh...... ahhh......
sekarang aku ingat akan seorang wanita cantik yang menjerit,
mengatakan bahwa Pangeran Lu tidak berdosa! Dan aku seperti
orang gila. Adikku, aku sudah berdosa terhadap Bibi Sui Hong
dan suaminya, terhadap Ayah Ibumu. Kalau engkau hendak
membalas dendam, engkau boleh bunuh aku. Aku tidak akan
melawan lagi.......” Setelah berkata demikian, Cun Giok
mengembangkan kedua lengannya, membuka dada
menghadapi Siang Ni.
Melihat ini, hati Siang Ni yang keras menjadi lemas. Ia
teringat akan kata-kata terakhir ibunya bahwa ia tidak boleh
memusuhi kakak misannya ini dan bahwa sebetulnya ayahnya
bukan tidak bersalah sama sekali. Melihat banyaknya isteri
ayahnya, Siang Ni dapat menduga bahwa ayahnya tentu
seorang laki-laki mata keranjang dan dahulu tentu telah tertarik
kepada ibunya sehingga Panglima Kong Tek Kok memberikan
ibunya sebagai hadiah! Sakit sekali rasa hatinya memikirkan
ini dan kebenciannya tertumpuk kepada Kong Tek Kok.
“Cabut pedangmu!” ia membentak. “Tak mungkin
keturunan Pouw lahir sebagai seorang pengecut! Kalau engkau
benar laki-laki, pertahankan kehormatanmu. Kalau engkau
Koleksi Tiraikasih http://kangzusi.com
DewiKZ- 183
tidak mau melawan, aku pun tidak akan membunuhmu begitu
saja, akan tetapi selamanya engkau akan terkutuk sebagai
seorang laki-laki pengecut yang mencemarkan nama dan
kehormatan keluarga Pouw yang gagah perkasa!”
Mendengar ini, wajah Cun Giok menjadi merah sekali. Dia
melangkah mundur dan berkata dengan suara tegas.
“Dengarlah, bocah lancang mulut dan sombong! Siapa
takut padamu? Aku tidak melawan karena aku memang
menyesal sekali bahwa aku yang menjadi sebab kematian Bibi
Pouw Sui Hong. Engkau mau aku melawanmu sehingga
seorang di antara kita mati di ujung pedang? Hemm, aku sama
sekali tidak takut padamu, akan tetapi aku tidak bermaksud
mempergunakan senjata terhadap puteri Bibi Sui Hong. Senjata
dan kepandaianku kusiapkan untuk membalas dendam kepada
keparat jahanam Kong Tek Kok! Apakah engkau bertekad
untuk melindungi gurumu itu dan menghalangi maksudku
untuk membalas dendam kepadanya? Kalau engkau bertindak
sebagai murid Kong Tek Kok dan membelanya, aku bersedia
untuk mengadu kepandaian denganmu, karena kalau engkau
membela Kong Tek Kok, berarti engkau pun menjadi musuh
besar keluarga Pouw!”
“Jangan menghina!” Siang Ni menjerit. “Siapa sudi
menjadi pelindung keparat jahanam itu? Aku tidak rela orang
lain yang membunuhnya! Tanganku sendiri yang akan
merenggut nyawanya dari tubuhnya yang hina dina. Akan
tetapi, engkau adalah pembunuh Ayahku, karena itu sudah
sepatutnya aku membalas dendam atas kematian Ayah!”
Sikap Cun Giok menjadi lemah kembali. Dia menarik napas
panjang dan berkata lembut. “Kalau begitu soalnya, kalau
engkau hendak membunuhku karena membalas dendam atas
kematian Ayah Ibumu, aku rela menerima kematian di ujung
pedangmu. Hanya sayang...... aku belum sempat mencari si
keparat Kong Tek Kok. Kalau saja aku sudah berhasil
Koleksi Tiraikasih http://kangzusi.com
DewiKZ- 184
membunuhnya sebagai pembalasan terhadap keluargaku, aku
rela kauapakan juga.......”
Untuk beberapa lama Siang Ni ragu-ragu. Tiba-tiba ia
melompat keluar dari ruangan itu dan terdengar suaranya dari
luar.
“Baik! Aku akan membunuh keparat Kong Tek Kok lebih
dulu, baru kelak kita akan membuat perhitungan!”
Cun Giok mengejar keluar. “Piauw-moi......! Mari kita
bersama membalas dendam keluarga kita….!”
Akan tetapi Siang Ni sudah pergi jauh dan tidak mau
menjawab lagi. Cun Giok memberi beberapa potong emas
kepada kakek bekas pelayan keluarganya itu dan berpesan agar
segala yang dilihat dan didengarnya di dalam bekas gedung itu
tidak diceritakan kepada orang lain. Juga bekas pelayan itu
diminta untuk mengurus mayat Can Sui sebagaimana mestinya.
Kakek bekas pelayan keluarga Pouw itu berterima kasih sekali
dan menaati pesan Cun Giok. Setelah mengucapkan terima
kasih, Cun Giok meninggalkan So-couw dan menyusul ke kota
raja.
@_Alysa^DewiKZ_@
Dalam perjalanan menuju kota raja, kadang-kadang Siang
Ni menangis dengan air mata bercucuran.
“Thian Yang Maha Kuasa, mengapa begini sengsara
nasibku......?” Ia mengeluh berulang kali. Kebencian terhadap
Panglima Kong Tek Kok meluap-luap.
Tadinya ia memang sudah mempunyai rasa muak yang luar
biasa terhadap gurunya yang telah melakukan perbuatan keji
terhadap dirinya. Kalau tadinya ia masih menahan-nahan
perasaan benci itu karena tidak ada alasan, kini kebenciannya
meluap. Sudah ia bayangkan bagaimana pertemuannya dengan
gurunya itu nanti. Ia tidak akan bersabar lagi dan akan
Koleksi Tiraikasih http://kangzusi.com
DewiKZ- 185
langsung menyerangnya sambil mencaci-maki. Ia merasa kuat
melawan gurunya, biarpun gurunya memiliki kepandaian
karena ia merasa bahwa kepandaian tinggi gurunya itu sudah
diwarisinya. Tingkat kepandaiannya sekarang tidak akan
berselisih banyak dengan tingkat gurunya. Mungkin tenaga
dalamnya masih kalah kuat, namun ia merasa yakin bahwa ia
menang dalam kecepatan gerakan. Pula, ia memegang Kimkong-
kiam, maka hatinya besar dan ia tidak perlu takut. Setiap
hari dalam perjalanannya itu Siang Ni merencanakan
bagaimana ia akan menyerang gurunya sehingga dalam
perkelahian nanti gurunya itu takkan terhindar dari maut!
Kalau ia teringat akan Cun Giok, ia menjadi bingung.
Setelah ia mengetahui duduknya persoalan, ia tidak merasa
benci lagi kepada pemuda itu. Biarpun pemuda itu telah
membunuh ayah kandungnya, akan tetapi kalau ia renungkan,
Pangeran Lu, ayah kandungnya itu, seakan-akan menjadi
sekutu Kong Tek Kok.
Kini mengertilah ia mengapa ibunya suka termenung dan
ibunya menangis sedih mendengar ia bercerita tentang
pertolongannya kepada para calon Siu-li. Mengapa ibunya
sengaja menyembunyikan nama Kong Tek Kok darinya?
Ibunya tentu maklum bahwa ia menjadi murid musuh besarnya
sendiri, dan ibunya tentu tidak berdaya karena semua itu adalah
kehendak ayahnya. Dan ayahnya dibunuh Cun Giok karena
pemuda itu hendak membalaskan dendam ibunya yang
disangka tersiksa dan tewas oleh ayahnya! Ah, semakin ia
pikir, makin tipis pula niatnya untuk kelak membuat
perhitungan dengan kakak misannya itu.
Siang Ni tiba di kota raja pada senja hari. Ia tidak langsung
menuju ke rumah gurunya, akan tetapi ia menuju ke gedung
ayahnya. Ia disambut oleh semua ibu tirinya. Siang Ni
menceritakan dengan singkat bahwa dalam mencari pembunuh
ayahnya, ia belum berhasil. Kemudian dengan cerdik ia minta
Koleksi Tiraikasih http://kangzusi.com
DewiKZ- 186
ibu tiri tertua bercerita tentang ibunya.
“Ibumu memang anggauta keluarga Pouw di So-couw.
Tadinya ketika mula-mula memasuki gedung ini, ia tampak
berduka sekali sehingga kami harus menjaga keras agar jangan
sampai membunuh diri. Akan tetapi, setelah ia mengandung
dan akhirnya melahirkan engkau, sikapnya berubah dan ia
tampak bahagia. Ia orang yang baik dan halus budinya
sehingga kami semua merasa sayang padanya, Siang Ni,” kata
ibu tiri tertua.
“Ibu dahulu diberikan oleh Panglima Kong Tek Kok
kepada Ayah, bukan?”
Semua ibu tirinya saling pandang. Hal ini sejak dahulu
dirahasiakan sekali. Pangeran Lu Kok Kong dengan bengis
mengancam akan menghukum siapa yang membuka rahasia ini
kepada Siang Ni. Sekarang gadis itu sendiri mengatakan hal
ini, mereka terheran-heran.
“Bagaimana engkau bisa mengetahuinya, Siang Ni?” ibu
tiri tertua bertanya. Pertanyaan ini saja sudah melenyapkan
keraguan di hati Siang Ni. Jelaslah bahwa Kong Tek Kok
memang orang yang harus dibunuhnya!
Kini sudah tetap hati Siang Ni. Malam ini harus membunuh
Kong Tek Kok. Biarpun untuk ini ia harus berkorban nyawa.
Untuk membalas dendam orang tuanya, nyawa baginya tidak
masuk hitungan. Bahkan ia sudah berani mengorbankan
kehormatan dan kebahagiaan hidupnya untuk dapat mewarisi
ilmu silat tinggi agar dapat membalas dendam. Maka tentang
resiko dalam menghadapi gurunya, ia tidak peduli lagi. Kalau
perlu, mati bersama akan ia hadapi dengan tabah!
Ia lalu meninggalkan semua ibu tirinya dan mengatakan
ingin beristirahat. Ia memasuki kamarnya, membersihkan diri
dan berganti pakaian lalu makan malam. Semua persiapan
sudah ia lakukan, pedang dan anak panah tangan sudah tersedia
Koleksi Tiraikasih http://kangzusi.com
DewiKZ- 187
lengkap. Setelah mengadakan persiapan, baru ia mengaso di
pembaringan agar tidak terlalu letih dan tenaganya terkumpul
untuk menghadapi usaha balas dendamnya nanti.
Setelah keadaan menjadi sunyi dan semua ibu tirinya sudah
memasuki kamar masing-masing, Siang Ni keluar dari gedung
itu melalui jendela dan melakukan perjalanan melalui gentenggenteng
rumah dengan cepat sekali.
Ketika ia sudah berada dekat gedung Panglima Kong Tek
Kok, dari jauh ia melihat pertempuran di atas genteng gedung
itu. Ia mempercepat larinya dan dilihatnya seorang yang gesit
sekali gerakannya melarikan diri, dikejar oleh belasan orang, di
antaranya yang paling depan adalah Panglima Kong Tek Kok.
Dengan sembunyi-sembunyi Siang Ni mendekat dan
melihat ada lima orang perwira yang dikenalnya berkepandaian
tinggi dan menjadi pembantu-pembantu gurunya telah
menggeletak di atas genteng, tewas. Ia lalu ikut mengejar, akan
tetapi bukan mengejar bayangan yang ia duga tentu Cun Giok
adanya, melainkan mengejar Kong Tek Kok.
Akan tetapi tiba-tiba Siang Ni mendapat pikiran lain yang
lebih baik. Sudah pasti bahwa Cun Giok memiliki kepandaian
yang lebih tinggi daripada tingkatnya. Kalau tidak bagaimana
mungkin pemuda itu sekarang tahu-tahu sudah melakukan
penyerbuan pada gedung Panglima Kong Tek Kok padahal
pemuda itu tadinya ia tinggalkan? Dan sekarang, kalau Cun
Giok yang lebih lihai saja tidak mampu membunuh Kong Tek
Kok yang mempunyai banyak pembantu, apalagi ia!
“Aku tidak boleh gagal seperti Cun Giok. Aku harus
menggunakan akal,” pikir Siang Ni yang mengikuti mereka
secara sembunyi. Dilihatnya beberapa kali gurunya melepaskan
anak panah ke arah bayangan di depan, akan tetapi semua anak
panah dapat dielakkan secara mengagumkan oleh bayangan itu.
Sebentar saja bayangan yang dikejar itu pun Ienyap dan
Koleksi Tiraikasih http://kangzusi.com
DewiKZ- 188
terdengar Kong Tek Kok menyumpah-nyumpah.
“Bedebah! Kalau terjatuh ke tanganku, akan kucincang
sampai lumat tubuh si laknat Suma Cun Giok! Mulai sekarang
penjagaan harus diperkuat. Sungguh memalukan! Menghadapi
seorang musuh saja sampai lima orang kawan kita tewas dan
penjahatnya tidak tertangkap!”
Setelah Kong Tek Kok dan kawan-kawannya pergi dan
Siang Ni mendengar gurunya akan mengatur penjagaan agar
penjahat itu jangan sampai keluar dari kota raja, Siang Ni
diam-diam lalu mengejar ke arah perginya Cun Giok.
Akan tetapi sia-sia belaka. Sampai tengah malam ia
berputar-putar di kota raja, menghindari pertemuan dengan
para penjaga. Akhirnya setelah mencari sampai ke ujung kota
raja sebelah selatan dan tidak menemukan Cun Giok, Siang Ni
menuju ke tanah kuburan di mana terdapat makam ayah
bundanya. Besok pagi-pagi ia hendak menemui gurunya dan
dengan siasat ia hendak melakukan pembalasan. Sebelum ia
melaksanakan balas dendam yang juga amat berbahaya bagi
dirinya sendiri itu, gadis itu ingin mengunjungi makam ayah
ibunya lebih dulu.
@_Alysa^DewiKZ_@
Malam itu terang bulan. Bulan hampir purnama karena
sudah tanggal tiga belas. Keadaan di tanah kuburan itu sunyi
senyap. Bayang-bayang yang ditimbulkan sinar bulan dan
pohon-pohon amat menyeramkan. Seorang laki-laki sekalipun
akan termangu dan ragu kalau disuruh memasuki tanah
kuburan itu seorang diri pada saat seperti itu. Malam terang
bulan di tanah kuburan! Orang yang tabah sekalipun akan kecil
hati, bukan hanya takut bertemu penjahat, akan tetapi lebih lagi
takut bertemu hantu!
Akan tetapi Siang Ni adalah seorang gadis yang sudah
hancur hatinya, seorang yang sudah tidak punya harapan untuk
Koleksi Tiraikasih http://kangzusi.com
DewiKZ- 189
hidup lebih lama lagi setelah mengalami kesengsaraan hebat.
Bahkan ia seolah mengharapkan datangnya kematian agar
terbebas dari perasaan hati yang hancur. Baginya tidak ada lagi
rasa takut. Maut ditantangnya, apa lagi segala macam hantu
dan siluman, ia tidak takut sama sekali. Dengan langkah tetap
ia memasuki gapura kuburan dan langsung menuju ke makam
ayah ibunya. Dua tahun telah lewat, akan tetapi batu-batu
bong-pai (nisan) kedua kuburan itu terawat baik dan kelihatan
putih bersih di bawah sinar bulan.
Ada bayangan bergerak-gerak di depan bong-pai. Dari jauh
Siang Ni sudah melihatnya, akan tetapi ia mengira bahwa itu
tentu bayangan pohon yang digerakkan angin. Ia mendekati
dan melihat bahwa bayangan itu bergerak seperti manusia.
Orang lain tentu akan lari lintang pukang dan jatuh bangun
melihat bayangan ini dan yakin bahwa ia adalah hantu yang
berkeliaran di tanah kuburan. Akan tetapi sebaliknya Siang Ni
malah lari menghampiri dengan pedang terhunus.
“Siapa engkau!” bentaknya sambil melompat.
Orang membalikkan tubuh menghadapinya, sikapnya
tenang. Siang Ni menahan pedangnya ketika melihat bahwa
orang itu bukan lain adalah Cun Giok!
“Mau apa engkau di sini?” Siang Ni bertanya dengan suara
ketus.
“Aku di sini dengan tiga kepentingan. Pertama untuk
bersembunyi dari kejaran kaki tangan Kong Tek Kok yang
ternyata memiliki banyak pembantu sehingga masih sukar
bagiku untuk membunuhnya. Kedua untuk mengunjungi
makam Bibi Pouw Sui Hong dan minta ampun atas dosaku
telah salah sangka sehingga membunuh suaminya. Ketiga aku
sengaja menanti engkau di sini karena aku mempunyai harapan
besar bahwa engkau pasti akan datang ke sini, cepat atau
lambat. Tak kusangka bahwa malam ini juga engkau datang.
Koleksi Tiraikasih http://kangzusi.com
DewiKZ- 190
Benar-benar Thian mengabulkan pengharapanku.” Wajah Cun
Giok tampak penuh harapan dan pandang matanya penuh
permohonan kepada Siang Ni.
“Ada keperluan apakah engkau ingin bertemu dengan aku?”
suara Siang Ni masih kaku.
Cun Giok menarik napas panjang. “Nona, bagaimanapun
juga, kita adalah saudara misan dan kita mempunyai tugas yang
sama, yaitu membalas dendam sakit hati keluarga kita kepada
Panglima Kong Tek Kok. Tadi telah kurasakan betapa lihainya
musuh besar kita itu yang dibantu banyak pengawalnya. Kalau
melawan dia seorang, kiraku aku tidak akan kalah, akan tetapi,
dia mengandalkan bantuan kaki tangannya yang memiliki
tingkat kepandaian tinggi juga sehingga ketika dikeroyok aku
merasa kewalahan.”
“Engkau hanya berhasil membunuh lima orang pengawal
lalu melarikan diri,” kata Siang Ni.
“Eh, kau sudah tahu? Memang, aku tidak berguna. Terus
terang saja, aku amat mengharapkan bantuanmu dalam hal ini.
Kalau kita berdua yang maju, kiraku si jahanam Kong Tek Kok
itu akan dapat kita binasakan agar arwah para leluhur kita dapat
tenang.”
Siang Ni mengerutkan alisnya. Ingin ia mengatakan bahwa
tanpa kerjasama dengan pemuda itu pun ia sendiri sanggup
menewaskan musuh besarnya. Akan tetapi ia tidak mau bicara
demikian karena ucapan itu akan kelihatan sombong. Kalau
Cun Giok sendiri tidak sanggup, bagaimana pula ia akan dapat
melakukan pembalasan itu? Ia tahu bahwa tingkat kepandaian
pemuda itu masih berada di atas tingkatnya.
@_Alysa^DewiKZ_@
Koleksi Tiraikasih http://kangzusi.com
DewiKZ- 191
Bab 3. Pembalasan bagi Manusia Bejat!
“Engkau pembunuh Ayahku, berarti engkau musuh besarku
pula. Tidak mungkin aku bekerja sama dengan engkau!”
katanya ketus.
Cun Giok menghadapi makam bibinya dan berkata. “Arwah
Bibi Pouw Sui Hong menjadi saksi bahwa aku melakukan
pembunuhan itu dengan maksud untuk membalas dendam Bibi.
Akan tetapi aku telah salah sangka dan salah bunuh, untuk itu
aku siap sedia menerima hukuman. Kalau engkau mau
membantuku sampai kita berdua dapat menewaskan Kong Tek
Kok, aku bersumpah akan datang di makam ini dan di sini
engkau boleh membalas dendam kematian Ayahmu terhadap
aku. Aku akan menyerahkan nyawaku kalau kau
menghendaki!” Kata-kata pemuda itu diucapkan sungguhsungguh
sehingga mengharukan hati Siang Ni.
Sampai lama keduanya tidak mengeluarkan kata-kata,
akhirnya Siang Ni berkata, “Bagaimana rencanamu untuk dapat
membunuh dia?”
Cun Giok tampak girang sekali.
“Piauw-moi, terima kasih! Kita pasti berhasil!” Pemuda itu
melompat dengan kecepatan yang amat mengagumkan dan
tahu-tahu telah berada di depan Siang Ni.
Mereka lalu mengadakan perundingan dan mengatur siasat
agar dapat berhasil membunuh Panglima Kong Tek Kok,
musuh besar mereka itu. Setelah mengadakan perundingan dan
mengatur siasat, sampai beberapa lama, akhirnya mereka
memperoleh kesepakatan. Siang Ni lalu berlutut di depan
makam ayahnya dan berkata perlahan.
“Ayah, ampunkan Anakmu. Bukan sekali-kali Anak lupa
akan sakit hati Ayah, akan tetapi Anak hendak mendahulukan
pembalasan sakit hati Ibu. Kalau Anak berhasil, barulah Anak
Koleksi Tiraikasih http://kangzusi.com
DewiKZ- 192
akan menghilangkan penasaran Ayah.......”
Mendengar ucapan Siang Ni, Cun Giok mendengarkan
dengan hati menyesal bukan main mengapa tanpa menyelidiki
lebih dulu dia telah membunuh ayah gadis ini. Ketika Siang Ni
bangkit dan tanpa menoleh hendak pergi, Cun Giok berkata.
“Bolehkah aku mengetahui namamu?”
Siang Ni menjawab tanpa menoleh. “Namaku tidak ada
harganya untuk dikenal. Aku sendiri sudah tidak sudi mengenal
nama itu!” Gadis itu berkelebat dan lenyap di antara pohonpohon
yang tumbuh di tanah kuburan itu.
Cun Giok hanya menggeleng-gelengkan kepalanya dan dia
merasa amat iba kepada adik misannya itu.
@_Alysa^DewiKZ_@
Dengan wajah gembira Panglima Kong Tek Kok berjalan
seorang diri menuju ke tanah kuburan yang sunyi. Semalam
ketika dia berada di kamarnya, dari atas genteng melayang
sehelai surat. Dia tahu bahwa yang melemparkan surat itu
adalah muridnya, maka dia merasa amat heran mengapa Siang
Ni tidak masuk saja melainkan melemparkan sepucuk surat.
Akan tetapi setelah surat itu dibacanya, dia tersenyum dan
wajahnya yang sudah mulai keriputan itu berseri.
Di dalam suratnya, Siang Ni menyatakan bahwa tidak
leluasa kalau ia datang berkunjung seperti biasanya, khawatir
kalau hubungan mereka akan diketahui orang luar. Gadis itu
dalam suratnya menyatakan, rindu dan juga ingin
merundingkan sesuatu dengan gurunya, mengundang gurunya
agar suka datang besok pada menjelang malam hari ke tanah
kuburan bangsawan yang berada di pinggir kota. Di tempat itu
sunyi dan tak seorang pun akan melihat kita, demikian bunyi
penutup surat Siang Ni yang bernada mesra kepada Panglima
Kong Tek Kok.
Koleksi Tiraikasih http://kangzusi.com
DewiKZ- 193
Panglima ini memang sedang tergila-gila kepada muridnya
sendiri yang sekarang boleh dia anggap sebagai kekasihnya
yang paling baru. Maka tentu saja undangan itu diterimanya
dengan girang hati dan tanpa syak wasangka apa pun karena
dia pun merasa rindu kepada gadis jelita yang masih muda itu.
Betapapun juga, Panglima Kong Tek Kok adalah seorang
yang berpengalaman, maka tentu saja dia tidak pernah lengah
dan selalu berhati-hati. Biarpun terhadap Siang Ni, muridnya
dan juga kekasihnya itu, dia tidak menaruh curiga sedikit pun,
namun dia maklum bahwa pemuda she Suma yang pernah
malam-malam menyerbu gedungnya, sampai sekarang belum
tertangkap dan tidak tampak tanda-tanda bahwa dia sudah
meninggalkan kota raja. Pemuda lihai itu tetap merupakan
ancaman baginya. Karena itu, diam-diam dia memesan kepada
kaki tangannya agar supaya menyusul dan menjaga di luar
tanah kuburan sehingga mudah membantunya apabila terjadi
serangan tiba-tiba dari musuh.
Setelah mengatur persiapan itu tanpa memberitahu kepada
kaki tangannya apa keperluannya malam-malam datang ke
tanah kuburan. Kong Tek Kok lalu mengenakan pakaian yang
paling bagus, menyisiri rambut dan jenggotnya yang sudah
beruban sampai rapi, memakai minyak wangi, lalu berjalan
melenggang penuh gaya menuju ke tanah kuburan pada malam
hari berikutnya, sesuai dengan permintaan Siang Ni dalam
suratnya.
Bulan sedang purnama. Cahayanya menerangi bumi
mengusir kegelapan malam sehingga suasananya tampak
romantis dan menyenangkan sekali. Akan tetapi setelah tiba di
luar tanah kuburan, Panglima Kong Tek Kok merasa bulu
tengkuknya meremang. Dia seorang panglima gagah perkasa
yang berilmu tinggi, akan tetapi melihat suasana yang
menyeramkan di tanah kuburan itu, mau tidak mau dia merasa
ngeri juga. Menghadapi lawan manusia, biarpun dikeroyok
Koleksi Tiraikasih http://kangzusi.com
DewiKZ- 194
belasan orang pun dia tidak akan merasa jerih. Akan tetapi
melihat pemandangan menyeramkan di tanah kuburan yang
menimbulkan bayangan-bayangan hantu, iblis dan siluman,
hatinya merasa seram juga.
“Bocah setan, mengapa mengadakan pertemuan saja minta
di tanah kuburan?” Dia bersungut-sungut akan tetapi biarpun
dia memaki, mulutnya tersenyum dan matanya membayangkan
kecantikan wajah yang menggairahkan dari muridnya yang
masih amat muda itu. Bayangan ini mengusir rasa ngerinya dan
dengan langkah lebar dia memasuki tanah kuburan dan berjalan
cepat di antara bongpai-bongpai yang berada di tempat itu.
“Siang Niii......!” Dia memanggil karena keadaan di situ
amat sunyi dan tidak tampak bayangan muridnya yang tercinta
itu.
“Di sini......!” Tiba-tiba terdengar jawaban.
Panglima Kong Tek Kok menengok dan bukan main girang
hatinya ketika dia melihat muridnya berdiri di bawah sebatang
pohon kembang di ujung kiri tanah kuburan itu. Kegirangan
hatinya melihat muridnya yang dirindukannya itu membuat
Panglima Kong Tek Kok lupa dan tidak menyadari bahwa
Siang Ni yang memanggilnya itu berada di depan makam ayah
ibunya. Dia tidak melihat pula bahwa keadaan gadis itu tidak
sewajarnya. Pakaiannya kusut, rambutnya tidak teratur dan
mukanya pucat. Dalam penglihatan panglima yang sudah
dibakar berahinya itu, Siang Ni tampak cantik bagaikan
bidadari.
“Ah, engkau ini ada-ada saja, mengajak bertemu di tanah
kuburan!” Datang-datang Kong Tek Kok memegang kedua
tangan muridnya sambil menegur, akan tetapi mulutnya
tersenyum dan matanya memandang penuh kasih sayang.
Ketika dia hendak merangkul, Siang Ni merenggut lepas kedua
tangannya dengan lembut sambil bertanya.
Koleksi Tiraikasih http://kangzusi.com
DewiKZ- 195
“Nanti dulu. Tahukah engkau di mana kita berada?”
Panglima Kong Tek Kok terheran dan melepaskan kedua
tangan yang halus dan hangat itu.
“Di mana? Tentu di tanah kuburan. Bukankah engkau yang
minta......?”
“Dan kenalkah engkau makam siapa ini?” Siang Ni
menunjuk ke arah makam ibunya.
Panglima Kong Tek Kok menoleh dan kebetulan sekali
bulan bersinar tanpa halangan awan dan menerangi permukaan
bong-pai sehingga terbaca nama Pouw Sui Hong, isteri
kesembilan dari Pangeran Lu Kok Kong.
“Eh, Siang Ni! Kenapa engkau mengajak aku datang ke
depan makam ibumu.......?”
“Hemm, engkau tahu ia Ibuku? Engkau tahu ini makam
Ibuku yang bernama Pouw Sui Hong, anggauta keluarga Pouw
yang kau basmi habis kemudian Ibuku kau culik dan kau jual
kepada Pangeran Lu Kok Kong? Dan engkau tahu mengapa
aku mengundangmu ke sini? Engkau harus menyusul Ibuku
mempertanggung-jawabkan dosa-dosamu! Engkau akan
terpanggang di neraka jahanam! Juga engkau harus menebus
dengan darah dan nyawa atas kekejianmu, engkau telah
menipuku, engkau......” Siang Ni tidak dapat menahan
kemarahannya lagi dan secepat kilat ia mencabut Kim-kongkiam
lalu menyerang bekas gurunya dengan dahsyat.
Panglima Kong Tek Kok tentu saja kaget setengah mati.
Dia maklum bahwa percuma saja kalau dia menyangkal setelah
rahasianya terbuka. Dia maklum pula bahwa gadis yang telah
dinodai dan digaulinya itu tentu tidak akan mau berhenti
sebelum mengadu nyawa, maka timbullah kesombongannya
dan kebenciannya. Sambil mengelak dia tertawa bergelak.
“Ha-ha-ha, bocah sombong! Engkau menerima ilmu silat
Koleksi Tiraikasih http://kangzusi.com
DewiKZ- 196
dari aku, sekarang hendak kaupergunakan untuk
membunuhku? Ha-ha-ha! Sungguh lucu sekali!” Sambil
berkata demikian, dia pun mencabut sepasang pedangnya dan
di lain saat bekas guru dan murid itu sudah saling serang
dengan dahsyat dan mati-matian.
Bagaimanapun juga, tentu saja gerakan Siang Ni kalah
mahir dibandingkan gurunya. Apalagi Panglima Kong Tek Kok
menggunakan sepasang pedang dan gerakannya amat dahsyat
sehingga sebentar saja Siang Ni terdesak hebat.
“Kong Tek Kok, jahanam busuk, bersiaplah untuk
mampus!” Tiba-tiba terdengar bentakan nyaring dan sesosok
bayangan yang luar biasa cepat gerakannya berkelebat datang
dan sebatang pedang dengan gerakan kuat sekali menggempur
sepasang pedang di tangan Kong Tek Kok.
“Trang-tranggg......!” Panglima Kong Tek Kok terhuyung
ke belakang dan dia terkejut bukan main setelah mengenal
penyerangnya itu bukan lain adalah Cun Giok! Dia
menudingkan pedang di tangan kirinya ke arah muka Siang Ni.
Lalu dengan muka merah karena marah dia memaki.
“Perempuan hina! Jadi engkau sengaja memancingku ke
sini dan engkau bersekongkol dengan dia? Perempuan tak tahu
diri! Aku ini gurumu, dan apa engkau lupa bahwa dia itu
pembunuh Ayahmu?”
“Tutup mulutmu!” bentak Siang Ni dan ia sudah
menyerang lagi menggunakan jurus terampuh dan
mengerahkan seluruh tenaganya.
Cun Giok juga menyerang dengan pedangnya dan tentu saja
Panglima Kong Tek Kok segera menjadi kewalahan dan
terdesak hebat. Sekarang panglima itu baru merasa menyesal.
Karena terlalu sayang kepada Siang Ni, apalagi setelah gadis
itu menyerahkan diri kepadanya dan menjadi kekasihnya, dia
telah menurunkan seluruh kepandaiannya kepada muridnya itu
Koleksi Tiraikasih http://kangzusi.com
DewiKZ- 197
sehingga biarpun dia masih dapat mengalahkan Siang Ni
karena dia lebih berpengalaman, namun tetap saja gadis itu
merupakan seorang lawan tangguh yang tidak mungkin dapat
dia robohkan dalam waktu singkat.
Apalagi sekarang di situ muncul Suma Cun Giok, pemuda
yang tingkat kepandaiannya sudah Iebih tinggi daripada
tingkatnya sendiri. Menghadapi pemuda ini seorang diri saja
amat sukar baginya untuk dapat mengalahkannya. Sekarang
dua orang muda itu bergabung dan mengeroyoknya dan mereka
menyerang seperti kesetanan, penuh kebencian sehingga
Panglima Kong Tek Kok menjadi sibuk sekali. Dia merasa
cemas dan segera dia bersuit nyaring, memberi tanda kepada
para pengawalnya yang tentu kini sudah berkumpul di luar
tanah kuburan.
Akan tetapi perhitungannya kali ini meleset. Tadi dia terlalu
tergesa-gesa sehingga para pengawal yang menyusulnya
ketinggalan jauh. Mereka pun tidak tahu mengapa harus
berkumpul di tempat yang menyeramkan itu, maka mereka
bersikap ayal-ayalan dan ogah-ogahan sehingga kurang cepat.
Oleh karena itu, ketika Panglima Kong Tek Kok bersult
memberi tanda bahaya, para pengawal itu belum tiba di tempat
itu.
Siang Ni dan Cun Giok maklum apa artinya suitan itu,
maka mereka menyerang lebih hebat dan mengerahkan seluruh
kepandaian untuk merobohkan musuh besar yang tangguh itu.
Siang Ni melompat ke belakang lalu menyerang bekas gurunya
dengan panah tangan bertubi-tubi.
Kong Tek Kok menjadi sibuk sekali. Sebagai seorang ahli
panah, tentu saja dia dapat menghindarkan diri dari panahpanah
yang menyerangnya, akan tetapi karena di situ terdapat
Cun Giok yang mendesak dengan ilmu pedangnya yang lihai,
maka Kong Tek Kok harus memecah perhatiannya. Hal ini
tentu saja membuat pertahanannya menjadi lemah dan akhirnya
Koleksi Tiraikasih http://kangzusi.com
DewiKZ- 198
sebatang anak panah mengenai pundaknya!
“Aduhh......!” Kong Tek Kok berteriak kesakitan, lalu dia
bersuit lagi berkali-kali. Akhirnya dari jauh terdengar suitan
balasan.
“Para pengawal datang!” Cun Giok memperingatkan Siang
Ni dan pedangnya bergerak lebih cepat.
Kong Tek Kok melempar tubuh ke belakang untuk
mengelak, akan tetapi kesempatan ini dipergunakan oleh Siang
Ni yang meluncurkan tiga batang anak panah. Panglima Kong
Tek Kok maklum akan datangnya tiga batang anak panah ini.
Akan tetapi pada saat itu Cun Giok sudah menusukkan
pedangnya dengan kecepatan kilat. Panglima Kong Tek Kok
tidak sempat menghindarkan diri lagi.
“Capp!” Pedang itu menusuk lambungnya.
“Auhhh......!” Panglima Kong Tek Kok menekan
lambungnya yang mengucurkan darah dan dia terhuyunghuyung
ke belakang. Pada saat dia sempoyongan itu, tiga
batang anak panah menyambar dan menancap di dadanya.
Panglima itu terpelanting roboh, sepasang pedangnya terlepas
dari pegangannya.
Terdengar isak tangis Siang Ni dan gadis itu sudah
berkelebat mendekati Panglima Kong Tek Kok yang sudah
terluka dan tidak berdaya itu. Ia meludahi kepala panglima itu
dan memaki-maki penuh kebencian, makian bercampur isak.
“Anjing rendah, jahanam keparat busuk! Manusia terkutuk!
Ini rasakan pembalasan untuk Kakek dan Nenek Pouw!”
Pedang sinar emas membabat dan Panglima Kong Tek Kok
menjerit dua kali. Kedua kakinya buntung terbabat pedang,
buntung sebatas lutut!
“Jahanam, rasakan ini pembalasanku untuk Paman Pouw
Keng In dan isterinya!” Kembali sinar emas berkelebat dua kali
Koleksi Tiraikasih http://kangzusi.com
DewiKZ- 199
disusul jeritan yang masih nyaring dari Panglima Kong Tek
Kok. Kini kedua lengannya yang buntung sebatas siku!
Panglima itu mandi darah dan hanya dapat menggerakkan
kepala ke kanan kiri dan merintih-rintih minta ampun!
“Dan ini pembalasan untuk Ibuku!” Kembali sinar emas
berkelebat dan kini sinar pedang itu membabat buntung
sepasang daun telinga dan hidung panglima itu! Panglima
Kong Tek Kok hanya dapat mengeluarkan suara seperti babi
disembelih dan mukanya penuh darah segar.
“Ini untuk pembalasan sakit hatiku!” Siang Ni membacok
ke arah bawah perut dan sekali ini Panglima Kong Tek Kok tak
dapat mengeluarkan suara lagi, sisa tubuhnya berkelejotan.
Akan tetapi sambil menangis, Siang Ni masih terus
menggerakkan pedangnya, menusuk, membacok sekuat tenaga.
Cun Giok memejamkan matanya. Ngeri hatinya melihat
pemandangan itu. Siang Ni seperti gila! Sepasang matanya
merah dan bercucuran air mata. Pedangnya terus digerakkan
mencincang tubuh panglima itu sehingga darahnya muncrat ke
mana-mana. Pakaian gadis itu penuh darah yang terpercik ke
kanan kiri, namun ia tidak peduli. Seperti orang mencincang
daging ia terus membacokkan pedangnya sambil menangis dan
memaki.
“Mampus kau anjing busuk! Mampus kau keparat!” Tubuh
panglima itu kini hanya sebagai seonggok daging yang
tercincang. Bahkan tulang-tulangnya juga ikut terpotongpotong.
Mengerikan sekali!
“Piauw-moi, larilah! Para pengawal sudah datang!” Cun
Giok berteriak.
Akan tetapi Siang Ni seperti tidak mendengar suaranya dan
masih terus membacoki tubuh bekas gurunya yang sudah
menjadi onggokan daging dan darah.
Koleksi Tiraikasih http://kangzusi.com
DewiKZ- 200
Dua orang pengawal muncul. Melihat Cun Giok, mereka
segera menggunakan golok menyerang. Akan tetapi, dengan
lincahnya Cun Giok mengelak. Dua orang pengawal itu
mengeroyok dan hanya dalam beberapa jurus saja dia sudah
merobohkan dua orang pengawal itu.
“Piauw-moi, larilah......!” Cun Giok berteriak lagi ketika
berkelebatnya banyak bayangan para pengawal. Akan tetapi
Siang Ni sudah kesetanan. Bahkan kini tangan kirinya
mengambil sebatang pedang yang tadi dipergunakan Panglima
Kong Tek Kok dan menghancur-lumatkan bekas tubuh
panglima itu dengan sepasang pedang!
Para pengawal berdatangan dan melihat bahwa onggokan
daging itu adalah bekas tubuh Panglima Kong Tek Kok,
mereka menjadi marah sekali lalu menyerang gadis itu. Melihat
bahwa gadis itu adalah Lu Siang Ni, murid panglima itu
sendiri, para pengawal memandang dengan terheran-heran.
Akan tetapi mereka tidak sempat bertanya, karena sudah
terbukti bahwa gadis itu membunuh komandan mereka, para
pengawal langsung saja mengeroyok. Sebagian lagi
mengeroyok Cun Giok.
“He-he-he-hi-hik, ha-ha-ha!” Siang Ni tertawa. Suara
tawanya terdengar mengerikan, bergema di tanah kuburan itu,
bukan seperti suara manusia lagi. Setelah mengeluarkan suara
tawa mengerikan itu, Siang Ni mengamuk dengan sepasang
pedangnya.
Bukan main hebatnya pertempuran itu yang terbagi menjadi
dua rombongan. Terdengar suara senjata beradu mengeluarkan
suara berdentang, diselingi teriakan dan pekik kesakitan. Darah
mengucur deras setiap kali pedang Siang Ni atau pedang Cun
Giok merobohkan seorang pengeroyok.
Akan tetapi pasukan pengawal itu berdatangan lagi dan kini
jumlah mereka menjadi banyak, sampai puluhan orang.
Koleksi Tiraikasih http://kangzusi.com
DewiKZ- 201
Sebentar saja tempat itu sudah penuh dengan pengawalpengawal
istana yang mendengar kabar bahwa pembunuh
Pangeran Lu bersembunyi di tanah kuburan.
“Piauw-moi, mari kita lari!” berulang kali Cun Giok
mengajak Siang Ni untuk melarikan diri. Akan tetapi gadis itu
sama sekali tidak peduli. Tubuh Siang Ni yang langsing itu
sudah penuh luka yang agaknya tidak dirasakan atau
dipedulikannya. Perajurit dan perwira pengeroyok yang roboh
oleh sepasang pedangnya bukan main banyaknya. Mayat
mereka berserakan malang melintang dan darah mengalir dan
tergenang, mengerikan.
Cun Giok juga sudah menderita beberapa luka ringan akan
tetapi yang mengeluarkan banyak darah. Tubuhnya mulai
terasa lemas. Dia melihat betapa keadaan Siang Ni jauh lebih
parah daripada dirinya, akan tetapi gadis itu masih terus
mengamuk dan gerakannya tidak pernah mengendur. Ia
bagaikan seekor harimau terluka dikeroyok banyak anjing dan
biarpun harimau sudah menderita banyak luka gigitan anjinganjing
itu, setiap kali ia bergerak pasti ada seekor anjing lagi
yang roboh dan mati! Cun Giok merasa khawatir sekali, akan
tetapi dia tidak sempat membantu karena dia sendiri juga sibuk
membela diri terhadap pengeroyokan banyak perajurit. Namun
kini dia membagi perhatiannya, mengerling arah gadis yang
masih mengamuk itu.
@_Alysa^DewiKZ_@
Tag:cersil cersil indo cersil mandarin full cerita silat mandarin online cersil langka cersil mandarin lepas cerita silat pendekar matahari kumpulan cerita silat jawa cersil mandarin beruang salju. cerita silat pendekar mataharicerita silat indonesia cerita silat kho ping hoo cerita silat mandarin online cerita silat mandarin full cerita silat jawa kumpulan cerita silat cerita silat jawa pdf cerita silat indonesia gratis cerita silat jadul indonesia cerita silat indonesia pendekar rajawali sakti cersil indonesia pendekar mabuk cersil langka cersil dewa arak cerita silat jaman dulu cersil jawa download cerita silat mandarin full cerita silat mandarin online cersil mandarin lepas cerita silat mandarin pendekar matahari cerita silat jawa pdf cersil indonesia pdf cersil mandarin beruang salju kumpulan cerita silat pdf
kumpulan cerita silat cersil online
Share:
cersil...
Comments
0 Comments

Arsip Cersil

Best Cersil