Donasi

Buat yang punya rejeki berlebih dan merasa terhibur dengan Situs Cerita Silat Cersil Terbaik ini bisa mendonasikan bantuannya ke
No. Rekening BPD Jateng No. 2004084554
demi keberlangsungan dan keberadaan Blog Cersil Cerita Silat yang sama-sama kita cintai ini. Kritik dan Saran hub No HP.083837358519. Atas Bantuannya disampaikan Terimakasih.

Selasa, 29 Mei 2018

Cerita Iblis dan Bidadari 1

=====
baca juga
Jilid 1
01. Gadis Penari Misterius
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
SIAPAKAH orangnya yang tidak mengenal nama Liok Kong,
hartawan besar di kota Kan-cou di propinsi Kiangsi? Seluruh
penduduk kota Kan-cou tentu telah mengenal hartawan yang
kaya raya, pemilik dari berbagai toko dan rumah gadai yang
kenamaan ini. Sesungguhnya bukan karena kekayaannya
maka ia amat dikenal, karena di kota Kan-cou memang
banyak sekali terdapat orang-orang hartawan. Liok Kong
dikenal banyak orang bukan hanya sebagai seorang hartawan,
akan tetapi lebih lagi sebagai seorang jago tua yang
mempunyai julukan Toat-beng Sin-to (Golok Sakti Pencabut
Nyawa).
Toat-beng Sin-to Liok Kong adalah seorang yang telah
banyak merantau dan diwaktu mudanya, ia malang melintang
di dunia kang-ouw sebagai seorang ahli golok yang jarang
menemukan tandingannya. Setelah usianya menjadi tua, ia
pindah ke dalam kota Kan-cou dalam keadaan sudah kaya
raya. Sungguh amat mengherankan orang betapa cepatnya ia
mendirikan rumah-rumah gedung, membuka toko-toko dan
membeli rumah-rumah gadai yang terbesar. Bahkan dalam
usia lima puluh tahun, ia lalu mengawini seorang gadis cantik
berusia delapan belas tahun, hidup mewah, memelihara
banyak pelayan dan penjaga-penjaga yang banyak jumlahnya
dan memiliki kepandaian silat tinggi.
Agaknya para penjaga atau lebih tepat disebut “tukang
pukul” ini amat mengandalkan pengaruh kekayaan dan nama
besar Toat-beng Sin-to Liok Kong, karena kadangkala mereka
melakukan hal-hal yang menunjukkan kesombongan mereka.
Tangan mereka amat ringan menjatuhkan pukulan kepada
siapa saja yang tidak mau tunduk, dan bahkan di antara
mereka tidak segan-segan untuk mengganggu si lemah.
Akan tetapi, siapakah orangnya yang berani menentang
mereka? Tidak saja mereka ini rata-rata memiliki kepandaian
tinggi, akan tetapi lebih-lebih lagi orang-orang merasa segan
terhadap Liok Kong yang kaya raya, terutama sekali karena
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Liok Kong telah mengadakan hubungan amat baiknya dengan
para pembesar setempat.
Pada hari itu keadaan kota Kan-cou berbeda dari biasanya,
lebih ramai dan yang amat menarik hati penduduk adalah
banyaknya orang-orang asing, pendatang-pendatang dari
tempat-tempat jauh. Para penduduk maklum bahwa orangorang
ini adalah para tamu yang hendak mengunjungi pesta
yang diadakan oleh Liok-wangwe (hartawan Liok), yakni
sebutan baru bagi Toat-beng Sin-to Liok Kong setelah ia
menjadi hartawan.
Hotel-hotel di kota itu penuh dengan para tamu ini, dan
keadaan mereka memang amat menarik hati. Ada orang yang
berpakaian sebagai ahli-ahli silat, sebagai piauwsu (pengawal
kiriman barang berharga), ada pula wanita-wanita yang
membawa pedang, banyak pula yang berpakaian sebagai
hwesio (pendeta Buddah) dan tosu (pendeta agama To). Hal
ini sesungguhnya tak perlu diherankan, oleh karena di masa
mudanya, Liok Kong telah merantau di seluruh propinsi.
Biarpun propinsi Kiangsi berada di selatan, namun pendatangpendatang
itu datang dari propinsi amat jauh di utara, seperti
propinsi-propinsi Santung, Honan, Ho-pak, Sansi, dan lain-lain.
Rumah gedung Liok-wangwe sendiri menjadi pusat
keramaian dan kemewahan. Gedung yang besar dan tinggi
bertingkat dua itu dihias dengan kertas-kertas berwarna,
bunga-bunga kertas dan bunga-bunga asli. Semenjak pagi
hari, para tamu sudah datang berduyun-duyun, ratusan orang
jumlahnya.
Sebagaimana biasanya dalam setiap pesta yang diadakan
orang di masa itu, ruang bagi tamu terbagi dalam beberapa
bagian. Ada tempat atau ruang bagi tamu-tamu “biasa”, yakni
penduduk kota Kan-cou yang dianggap tak berapa penting.
Mereka ini dipersilakan menduduki ruang di sebelah kiri dan
hanya dilayani oleh pelayan-pelayan hartawan itu.
Para pembesar tinggi mendapat tempat yang lebih mewah,
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
bersama dengan para hartawan, yakni di ruang sebelah
kanan. Yang paling istimewa adalah tamu-tamu yang terkenal
sebagai tokoh-tokoh persilatan tinggi dan pembesar-pembesar
yang berpengaruh, karena mereka ini diistimewakan dan
mendapat ruangan yang amat luas yakni di sebelah dalam.
Mereka ini disambut sendiri oleh Liok-wangwe.
Bertumpuk-tumpuk barang antaran atau sumbangan
memenuhi belasan meja yang dipasang berderet di ruang
tengah, di jaga oleh belasan orang penjaga yang memegang
golok, nampaknya gagah dan keren sekali. Hampir semua
tamu tidak lupa untuk membawa sumbangan sebagai
pernyataan selamat atas perayaan ulang tahun atau hari lahir
yang ke lima puluh lima dari Toat-beng Sin-to Liok Kong.
Hartawan she Liok ini merasa gembira sekali melihat
banyaknya tamu yang datang memberi selamat kepadanya,
terutama sekali karena ia melihat kawan-kawan lama dari
dunia kang-ouw yang memerlukan datang. Hampir setiap
cabang persilatan mengirim wakil-wakilnya sehingga di situ
terdapat wakil-wakil dari cabang persilatan Siauw-lim, Go-bipai,
Kun-lun-pai, Bu-tong-pai dan lain-lain.
Akan tetapi yang amat menggembirakan hatinya adalah
hadirnya lima orang gagah yang amat terkenal yakni yang
disebut Ngo-lian Hengte (Kakak Beradik Lima Teratai). Ngolian
Heng-te ini terdiri dari lima orang laiki-laki yang usianya
telah empat puluh tahun lebih. Yang tertua bernama Kui Jin,
kedua Kui Gi, ketiga Kui Le, keempat Kui Ti. Dan kelima Kui
Sin. Ke lima kakak beradik ini juga disebut Ngo ciangbun
(Lima Ketua) dari perkumpulan Agama Ngo-lian-kauw (Agama
Lima Teratai) yang berkedudukan di kota Po-teng di propinsi
Hopak.
Pesta berlangsung dengan amat meriah dan ramai.
Hidangan-hidangan mahal dan lezat dikeluarkan. Arak yang
wangi dituang berkali-kali sehingga makin lama makin riuhlah
gelak tawa para tamu yang sudah mulai terpengaruh oleh arak
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
wangi. Makin banyak arak keras ini memasuki perut, makin
terlepaslah lidah makin bebaslah pikiran, lenyap segala
keraguan dan kesusahan, yang terasa hanyalah kegembiraan
hidup.
Berulang-ulang para tamu mengangkat cawan arak untuk
keselamatan tuan rumah sehingga muka Liok Kong telah
menjadi merah seperti udang direbus. Toat-beng Sin-to ini
telah berusia lima puluh lima tahun, akan tetapi wajahnya
masih nampak kemerahan dan sehat. Rambutnya masih hitam
dan pakaiannya yang mewah dan indah membuat ia nampak
masih muda. Pada pinggang kirinya tergantung gagang
goloknya yang terbuat dari pada emas terhias mutiara, dan
sarung goloknya juga terukir indah sekali.
Pada saat pesta sedang berjalan ramai-ramainya, tiba-tiba
seorang penjaga dengan sikap hormat menghadap Liok Kong
dan melaporkan,
“Lo-ya (tuan besar), di luar terdapat serombongan penari
yang datang untuk menghibur lo-ya.”
Liok Kong menjadi heran akan tetapi juga gembira.
“Penari? Dari manakah dan siapa yang menyuruh dia
datang?”
“Maaf, lo-ya. Hamba juga tidak berani langsung memberi
perkenan masuk karena hamba juga merasa heran. Akan
tetapi menurut penarinya, ia diperintah oleh seorang piauwsu
di kota Buncu di Propinsi Cekiang sebagai sumbangan, karena
piauwsu itu tidak dapat datang sendiri.”
Liok Kong mengingat-ingat dan tidak merasa mempunyai
seorang kenalan piauwsu di Cekiang, akan tetapi karena ia
ingin sekali melihat penari itu, ia lalu memberi perintah,
“Suruh dia masuk, biar aku sendiri yang bertanya
kepadanya.”
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Penjaga itu tersenyum penuh arti. “Lo-ya takkan kecewa.
Penarinya benar-benar cantik seperti bidadari!”
Biarpun hatinya merasa amat girang mendengar kata-kata
ini, akan tetapi dihadapan sekian banyaknya tamu-tamu orang
kang-ouw yang memandang sambil tertawa-tawa, ia purapura
marah,
“Jangan banyak cakap! Lekas suruh dia masuk!”
Penjaga itu memberi hormat lalu keluar lagi dan tak lama
kemudian ia datang mengiringkan serombongan orang terdiri
dari seorang penari wanita dan tiga orang laki-laki tua yang
memegang alat musik. Melihat penari itu, seketika itu juga
lenyaplah niat Liok Kong untuk mencari keterangan tentang
piauwsu itu.
Ia hanya berdiri bengong dengan mata terbelalak dan
ternyata bukan hanya dia seorang yang memandang dengan
kagum sekali. Bahkan hampir semua mata para tamu laki-laki
memandang dengan kagum dan terdengar pujian-pujian di
sana-sini dari mulut tamu-tamu muda.
Penari itu adalah seorang dara berusia paling banyak
delapan belas tahun dan cantik jelita bagaikan bidadari, tepat
seperti yang dikatakan oleh penjaga tadi. Wajahnya yang
berkulit kuning putih bersih bagaikan susu, membayangkan
kemerahan pada sepasang pipinya, bagaikan bunga botan
sedang mekar. Sepasang matanya jeli dan indah sekali,
bersinar halus dan sayu akan tetapi amat tajam dan bening
seperti mata burung Hong.
Entah mana yang lebih indah, sepasang matanya atau
sepasang bibirnya. Bibir ini berbentuk indah, kecil penuh
berkulit halus tipis, berwarna segar kemerahan bagaikan buah
yang sudah masak. Hidungnya yang kecil mancung dan
sepasang lesung pipit di kanan-kiri pipinya menyempurnakan
kecantikannya. Rambutnya agak awut-awutan kurang teratur
rapi, akan tetapi hal ini, sekali-kali tidak mengurangi
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
kecantikannya, bahkan mendatangkan kewajaran kepada
wajahnya, menambah kemanisan yang benar-benar
menggairahkan kalbu tiap laki-laki.
Bentuk tubuhnya menggiurkan, ramping dan penuh,
terbungkus oleh pakaian dari sutera indah dan ringkas
potongannya. Bajunya berwarna merah muda dan baju yang
terbuat dari pada sutera di waktu tertiup angin mencetak
tubuhnya dan mendatangkan pemandangan yang benar-benar
luar biasa. Celananya ringkas, dari sutera biru dan pakaian ini
masih tertutup oleh sehelai mantel kuning yang lebar.
Sepatunya hitam dan penuh debu, tanda bahwa gadis cantik
ini telah datang dari tempat jauh.
Tiga orang laki-laki tua yang mengikutinya dan membawa
alat musik nampak seperti penabuh musik biasa saja, dan
mereka nampak agak takut-takut memasuki ruangan gedung
yang indah mewah dan penuh dengan tamu-tamu yang
berwajah menyeramkan itu. Akan tetapi, gadis penari itu cepat
maju dan berlutut di depan Liok Kong setelah penjaga
memberitahukannya bahwa orang tua berbaju mewah itulah
adanya Liok-wangwe.
“Hamba datang membawa pesan dari Tan-piauwsu di
Buncu untuk menyampaikan ucapan selamat panjang umur
dan hormat yang setinggi-tingginya kepada Liok-loya.” Suara
yang keluar dari bibir indah ini amat merdu bagaikan nyanyian
burung.
Liok Kong masih berdiri terpaku di atas lantai, tak dapat
bergerak dan agaknya hanya jantungnya saja yang bergerak
lebih cepat dari pada biasanya. Ia tidak perdulikan lagi siapa
adanya Tan-piauwsu itu, akan tetapi ia cepat membungkuk
dan memegang kedua pundak penari itu, mengangkatnya
bangun dan berkata,
“Nona yang baik, sungguh merupakan kehormatan besar
sekali mendapat sumbangan sedemikian hebatnya dari TanTiraikasih
Website http://kangzusi.com/
piauwsu. Kebetulan sekali kau datang hendak menghibur para
tamu, maka cepatlah kau perlihatkan kepandaianmu menari!”
Orang tua mata keranjang ini merasa betapa pundak penari
itu biarpun tertutup pakaian, namun terasa halus, lunak, dan
hangat. Juga dari rambut penari itu tercium olehnya
keharuman yang membuat semangatnya melayang jauh ke
sorga ketujuh. Cepat ia lalu memberi perintah kepada para
pelayannya untuk mempersiapkan tempat kosong di tengah
ruangan itu untuk penari ini agar pertunjukkannya dapat
dinikmati oleh semua pengunjung.
“Maaf, lo-ya,” kata pula penari itu dengan sikapnya yang
lemah lembut dan lirikan matanya yang tajam mengiris
jantung. “Ketiga lopek (paman tua) ini adalah penabuhpenabuh
musik biasa saja yang hamba sewa, karena dari
Buncu, hamba tidak membawa tukang penabuh musik
sendiri.”
“Tidak apa, tidak apa!” jawab tuan rumah yang kaya raya
itu gembira. “Yang penting bukan gamelannya, melainkan
tarianmu. Eh, siapakah namamu, nona?”
“Apakah artinya nama seorang penari seperti hamba, loya?”
Liok Kong tersenyum dan berusaha membuat bibirnya yang
tebal itu tersenyum manis, tidak merasa bahwa usahanya ini
gagal sama sekali dan senyumnya membuat wajahnya
nampak menyeringai tidak menarik.
“Seorang nona yang demikian cantiknya tentu mempunyai
nama yang indah pula!” kata seorang tamu muda yang
bermata liar. Melihat betapa seorang yang masih muda dapat
menduduki ruangan ini, dapat diduga bahwa ia adalah orang
yang cukup penting. Memang demikian adanya.
Pemuda ini adalah seorang yang telah menjunjung tinggi
nama sendiri karena kepandaian silatnya dan ia adalah
seorang perampok tunggal yang telah terkenal sekali di
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
daerah barat, yakni di Propinsi Kansu. Namanya Thio Kun,
akan tetapi di daerah barat, ia terkenal sebagai si Pedang
Maut.
Mendengar ucapan Thio Kun ini, para tamu yang duduk
terdekat di tempat itu tertawa dan semua bibir tersenyum
dengan mata mengerling penuh arti ke arah penari itu.
“Ha, ha, ha! Ucapan Thio taihiap tepat sekali!” kata Liok
Kong lalu berkata pada penari itu. “Nona manis, sebelum kau
mempertunjukkan tarianmu yang indah, lebih dulu
beritahukanlah namamu.”
Dengan gaya yang amat menarik hati sambil menundukkan
muka kemalu-maluan, nona penari yang cantik sekali itu lalu
memperdengarkan suaranya yang merdu. Melihat keadaan
yang sunyi senyap padahal ruangan itu penuh dengan para
tamu, dapat ditarik kesimpulan bahwa semua orang
memperhatikan jawaban ini dan semua orang ingin
mendengar siapakah nama penari yang luar biasa ini.
“Lo-ya, hamba she Ong bernama Lian Hong, seorang gadis
yatim piatu miskin yang mengandalkan hidup dari sedikit
kepandaian menari.”
“Bagus, bagus! Benar-benar indah sekali namanya!” Thio
Kun berseru gembira sambil menepuk-nepuk tangannya. “Lian
Hong .... sungguh nama yang merdu terdengar. Liok loenghiong,
suruhlah nona Lian Hong lekas menari. Aku tak
sabar lagi untuk segera menikmati tariannya yang indah!”
Ucapan ini mendapat sambutan sebagai pernyataan setuju
dari sebagian besar para tamu yang hadir di situ. Tiba-tiba
orang tua penabuh gamelan segera memulai
memperdengarkan lagu yang merdu. Mereka bertiga mainkan
tiga macam alat musik, sebuah suling, sebuah pipa (seperti
gitar), dan yang seorang lagi memegang tambur kecil untuk
mengatur irama.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Merndengar bunyi-bunyian ini, semua orang menjadi
kecewa karena ternyata bahwa musik terdiri dari tiga orang ini
tidak merupakan sesuatu keistimewaan. Banyak rombongan
musik yang dapat main jauh lebih bagus dari pada yang tiga
orang ini.
Akan tetapi, setelah nona Ong Lian Hong menjura keempat
penjuru dan mulai berdiri tegak, lalu mendengarkan irama
musik, kemudian mulailah dengan tariannya, buyarlah semua
kekecewaan para pendengar tadi. Bukan main indahnya tarian
nona ini, atau mungkin juga bukan tariannya yang indah,
melainkan gerakan tubuhnya yang menggiurkan itu.
Tubuhnya bergerak dengan lemah gemulai bagaikan
sebatang pohon yang-liu tertiup angin lalu. Sepuluh jari
tangannya yang kecil dan halus itu seakan-akan sepuluh ekor
ular yang hidup dan bergerak amat indahnya. Pinggang yang
sudah amat ramping itu bagaikan makin mengecil lagi tatkala
tubuhnya bergerak melenggang-lenggok. Kerling matanya
mengalahkan sambaran halilintar, senyumnya menyaingi bulan
purnama.
Ternganga semua tamu, termasuk tuan rumah. Selama
hidup mereka belum pernah menyaksikan tarian yang indah
seperti ini, atau lebih tepat, seorang penari muda secantik dan
sebagus bentuk tubuhnya.
Setelah menari beberapa lama, Ong Lian Hong lalu
mengeluarkan sehelai selendang merah yang tadi diselipkan di
ikat pinggangnya dan kini ia menari dengan selendang itu.
Makin terpesonalah semua tamu menyaksikan tari selendang
ini, karena benar-benar amat indahnya.
Dengan cekatan sekali sepuluh jari tangan itu
menggerakkan selendang sehingga selendang itu menari-nari
di udara bagaikan seekor ular naga. Akan tetapi ketika ia
merobah gerakan tangannya, selendang itu menjadi seperti
bunga mawar merah yang tercipta di udara dan sebentar
kemudian melambai lagi lalu terlepas pula, merupakan
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
selendang sutera yang halus membelai kepala, leher, dan
pinggang penari itu.
Ketika nona penari itu menghentikan tariannya, barulah
terdengar suara pujian yang seakan-akan menumbangkan
tiang-tiang rumah gedung itu dan menggetarkan gentenggenteng.
Sorak sorai menggegap gempita, diselingi teriakanteriakan
kagum.
Suara pujian ini demikian kerasnya sehingga para
penduduk yang tadinya tinggal di rumah menjadi tertarik dan
berbondong-bondonglah mereka datang mengunjungi gedung
yang sedang dipergunakan untuk tempat pesta itu. Di
pekarangan depan berjejal-jejal penduduk yang ingin
menjenguk ke dalam. Para tamu yang tadinya berada di ruang
kanan dan kiri tanpa dapat dicegah lagi telah masuk ke ruang
dalam. Hal ini dapat terjadi karena di situ tidak terdapat
penjaga lagi, karena semua penjaga juga telah masuk ke
dalam dan menonton.
“Bagus, bagus! Bukan main, Ong-siocia (nona Ong)!” Liok
Kong memuji sambil menghampiri gadis penari itu. “Berikanlah
selendangmu itu kepadaku, biarlah kutukar dengan ini!” Ia
meloloskan sebuah hiasan topi terbuat dari pada emas ditabur
batu permata.
“Nanti dulu, Liok lo-enghiong!” Thio Kun melompat dan
mengulurkan tangan. “Berikanlah selendang itu kepadaku
saja, nona! Akan kutukar dengan benda yang jauh lebih
berharga lagi. Lihatlah ini!”
Ia mengeluarkan sebuah benda dari saku dalamnya dan
semua orang memandang kagum. Di tangan Thio Kun terlihat
sebuah patung terbuat dari batu pualam yang merupakan
seekor kilin (binatang keramat seperti singa). Benda ini amat
indah, sepasang matanya terbuat dari pada permata merah
yang mengeluarkan cahaya gemilang. Tak dapat ditaksir
berapa besarnya harga benda serupa ini.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Sepasang mata penari itu seakan-akan mengeluarkan sinar
kilat ketika ia melihat benda ini, akan tetapi sambil tersenyum
ia lalu berkata,
“Terima kasih banyak, siauw-ya (tuan muda), akan tetapi
hamba hanyalah seorang utusan yang harus menghormat
kepada tuan rumah. Oleh karena itu, selendang ini terpaksa
hamba serahkan kepada Liok-loya!” Sambil berkata demikian,
dengan gaya manis dan dengan kedua tangannya ia
memberikan selendang merah itu kepada Liok Kong yang
menerima sambil tertawa besar.
Kakek mata keranjang ini ketika menerima selendang
sengaja hendak memegang lengan yang halus itu, akan tetapi
ia merasa heran sekali ternyata ia menangkap angin. Entah
bagaimana, yang tertangkap olehnya hanya selendang merah
itu saja. Liok Kong menganggap hal ini hanya kebetulan saja
dan tertawalah ia bergelak sambil berkata kepada Thio Kun
yang menyimpan kembali patungnya.
“Kau mendengar sendiri kata-katanya, Thio-taihiap, maka
kau harus mengalah kepadaku!”
Thio Kun tersenyum masam dan berkata sambil menghela
napas.
“Kau yang beruntung, lo-enghiong. Akan tetapi, siapa tahu
kalau-kalau lain kali aku akan dapat kesempatan menarik
tangan nona ini menjadi kawan selama hidupku!”
Semua tamu yang sudah terpengaruh arak keras, tertawa
terbahak-bahak mendengar ucapan ini. Beberapa orang tamu
yang sopan, seperti para hwesio dan tosu, hanya menggeleng
kepala saja, namun mereka sudah maklum akan adat orang
kang-ouw yang aneh dan kadang-kadang kasar, maka mereka
juga mendiamkan saja.
“Mari ... marilah nona, kau mendapat kehormatan untuk
duduk menemani kami dimeja besar. Untuk tarian sehebat itu
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
kau harus diberi penghormatan dengan tiga cawan arak
wangi!” kata Liok Kong.
Nona penari itu tidak menolak, lalu duduk dengan s ikapnya
yang sopan santun dan halus, sedikitpun tidak nampak kikuk
atau canggung, akan tetapi sama sekali tidak memperlihatkan
sikap kegenit-genitan seperti sebagian besar para penari
bayaran. Justru sikap yang sewajarnya, dandanan yang
sederhana, bedaknya yang tipis itulah yang membuat hati
para lelaki di s itu tergila-gila.
Pada saat semua orang bergembira karena melihat betapa
nona Ong Lian Hong menenggak tiga cawan arak tanpa
berkedip mata, tiba-tiba terdengar bentakan nyaring sekali
dan entah dari mana datangnya, tahu-tahu di tengah ruangan
itu telah berdiri seorang gadis dengan sikap gagah sekali.
“Manusia she Liok, bersiaplah untuk menghadapi
kematianmu!” demikian gadis ini membentak.
Tentu saja semua orang terkejut sekali mendengar
bentakan ini dan semua mata memandang ke arah gadis yang
baru datang ini. Dia adalah seorang gadis yang berusia kurang
lebih dua puluh tahun, cantik jelita dan luar biasa sekali.
Pakaiannya sederhana berwarna biru seluruhnya, rambutnya
diikat dengan saputangan merah dan di pinggangnya
tergantung sarung pedang yang buruk dan sudah luntur
catnya.
Memang aneh melihat gadis ini, karena sesungguhnya
kalau dipandang dengan teliti, kecantikannya sempurna sekali.
Dari rambutnya yang hitam mengkilap dan panjang, sampai
kepada wajahnya yang bentuknya indah dan sempurna
sehingga turun kepada tubuhnya yang padat dan ramping,
sukarlah untuk mencari cacat celanya. Akan tetapi, begitu
berhadapan dengan dia, orang mau tak mau harus merasa
keder dan jerih, karena di balik kecantikan ini tersembunyi
tenaga dan keganasan yang menakutkan.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Mungkin sinar matanya yang bagaikan sepasang mata
harimau marah itulah, atau tekukan bibirnya yang manis,
entahlah. Pendeknya, melihat ia berdiri dengan tubuh tegak
dan dadanya membusung ke depan seperti orang yang
menantang, kedua kakinya dipentang sedikit ke kanan kiri,
tangan kanan bertolak pinggang dan tangan kiri meraba
gagang pedang, orang yang kurang tabah hatinya merasa
bulu tengkuknya berdiri.
Liok Kong cepat menengok dan terheranlah ia karena
selama hidupnya ia merasa belum pernah bertemu dengan
nona cantik ini. Sambil memutar tubuh di atas tempat
duduknya, ia menghadapi gadis itu dan membentak garang,
“Siapakah kau dan mengapa datang-datang berkata kasar?
Apakah kau seorang gila?”
Mulut gadis itu tersenyum, akan tetapi alangkah jauh
bedanya dengan senyuman gadis penari tadi. Senyuman gadis
ini biarpun amat manis akan tetapi merupakan penghinaan
bagi orang dihadapannya.
“Liok Kong, manusia rendah! Aku tidak mau berbuat seperti
orang lain, merendahkan diri memperkenalkan nama kepada
binatang macam kau. Cukup kau ketahui bahwa aku adalah
Hwe-thian Mo-li (Iblis Wanita Terbang)!”
Tidak hanya Liok Kong yang terkejut dan pucat mendengar
nama ini, bahkan semua tokoh kang-ouw yang berada di situ
menjadi tercengang. Nama Hwe-thian Mo-li ini di dalam dua
tahun akhir-akhir ini telah terkenal sekali, terutama di
kalangan hek-to (jalan hitam), yakni kalangan penjahat.
Jarang ada orang dapat melihat Hwe-thian Mo-li, karena
iblis wanita itu bekerja dengan cepat, ganas, dan tidak pernah
memperlihatkan diri. Oleh karena ini, jarang ada orang kangouw
yang pernah melihat wajahnya, sungguhpun namanya
telah didengar oleh semua orang.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Kini mendengar nama ini disebut, semua orang menjadi
bengong dan terheran-heran. Memang pernah mereka dengar
dari orang-orang yang telah bertemu muka dengan iblis
wanita itu, bahwa Hwe-thian Mo-li adalah seorang dara yang
cantik sekali, akan tetapi tidak pernah mereka sangka bahwa
iblis wanita itu semuda dan secantik ini. Bagaimanakah
seorang dara yang usianya kurang dua puluh tahun, yang
demikian cantik jelita, disebut seorang iblis?
Adapun Toat-beng Sin-to Liok Kong, ketika mendengar
nama ini, berdebarlah hatinya. Ia pernah mendengar bahwa
iblis wanita ini memang berusaha mencarinya, dan bahkan
seorang kawan baiknya telah tewas pula di dalam tangan
Hwe-thian Mo-li. Ia masih belum mengerti mengapa wanita
muda ini mencarinya dan hendak membunuhnya, dan
mengapa pula iblis wanita ini telah membunuh kawan baiknya
di Santung itu.
Dengan mengangkat dada, Liok Kong lalu turun dari tempat
duduknya, berdiri dihadapan Hwe-thian Mo-li dan berkata,
“Hwe-thian Mo-li! Kau adalah seorang kang-ouw yang baru
saja muncul dan boleh dibilang masih seorang kanak-kanak.
Akan tetapi ternyata mulutmu besar sekali. Kau berani
menghina Toat-beng Sin-to Liok Kong, apakah kau telah
bosan hidup? Sayang kemudaan dan kecantikanmu! Dan
sebagai seorang kang-ouw, kaupun telah bertindak secara
serampangan dan membabi buta. Kau datang memaki dan
memusuhi aku tanpa alasan sama sekali. Bilakah kita pernah
bertemu? Pernahkah aku, Toat-beng Sin-to mengganggumu
atau memusuhimu? Ingat, gadis kecil, di sini berkumpul
puluhan tokoh kang-ouw, dan kau tidak boleh berlaku
sombong dan sewenang-wenang!”
Pada saat itu terdengar suara ketawa nyaring dan tahutahu
Thio Kun Si Pedang Maut telah melompat dan berdiri di
dekat Liok Kong menghadapi Hwe-thian Mo-li. Jago pedang
dari Kansu yang baru berusia tiga puluh tahun dan masih
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
membujang ini, ketika tadi melihat Hwe-thian Mo-li, ia menjadi
demikian kagum sehingga sampai beberapa lama tak dapat
mengeluarkan sepata katapun. Dalam pandangan matanya,
bahkan Hwe-thian Mo-li ini lebih cantik dan menarik dari pada
gadis penari itu. Mungkin karena sikap Hwe-thian Mo-li yang
gagah itulah yang menarik hatinya.
“Liok-lo-enghiong, serahkanlah yang galak ini kepadaku.
Kau telah mempunyai kawan minum arak, sekarang datang
giliranku. Ha, ha, ha!”
Biarpun hatinya agak merasa gelisah, mendengar ucapan
Thio Kun ini, Liok Kong tersenyum senang. Ia maklum bahwa
orang she Thio ini boleh diandalkan.
“Nanti dulu, Thio-taihiap, biar aku bertanya dulu kepada
nona ini mengapa dia demikian rindu untuk memiliki kepalaku
yang tidak muda lagi!”
Hwe-thian Mo-li sama sekali tidak menaruh perhatian
terhadap Thio Kun, bahkan ia lalu berkata kepada Liok Kong,
“Toat-beng-sin-to, mungkin kau belum pernah mendengar
namaku, akan tetapi tentu kau takkan lupa akan Pat-jiu Kiamong
(Raja Pedang Bertangan Delapan), bukan?”
Tiba-tiba wajah orang she Liok itu menjadi pucat sekali.
Teringatlah ia akan pengalamannya belasan tahun yang lalu
dan ketika ia teringat akan sahabat baiknya di Santung yang
terbunuh oleh Hwe-thian Mo-li, diam-diam ia bergidik. Liok
Kong adalah seorang yang cerdik dan ia maklum bahwa gadis
ini lihai sekali. Kebetulan sekali Thio Kun yang sombong
datang mencampuri urusan ini, maka ia pikir lebih baik
mengoperkan gadis ganas ini kepada Si Pedang Maut.
“Thio-taihiap, kau minta aku menyerahkan nona ini
kepadamu? Akan tetapi tidak dengarkah kau akan nama
besarnya Hwe-thian Mo-li?”
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Thio Kun tertawa bergelak, “Ha, ha, ha, biarpun ia disebut
Iblis Wanita, kalau cantiknya seperti ini, siapakah yang akan
takut menghadapinya?”
Liok Kong melompat mundur dan semua orang
memandang ke arah Thio Kun dan Hwe-thian Mo-li dengan
hati tegang dan tertarik. Pasti akan ada pertunjukan yang
amat menarik, pikir mereka. Apalagi orang-orang kang-ouw
yang sudah mendengar nama Hwe-thian Mo-li, mereka ingin
sekali menyaksikan nona itu bersilat. Nama Thio Kun tidak
asing lagi dan sebagian besar orang kang-ouw yang hadir di
ruangan itu maklumlah sudah akan kelihaian ilmu pedang dari
Thio Kun.
“Nona,” kata Thio Kun dengan lagak sombong, “sudah lama
aku mendengar nama Hwe-thian Mo-li dan oleh karena kita
berdua adlah orang segolongan, mengapakah kau tidak ikut
ke mejaku dan menikmati hidangan sambil minum arak
wangi?”
Hwe-thian Mo-li tersenyum manis, akan tetapi dibalik
senyumnya mengintai kemarahan besar. “Cih, orang she Thio!
Siapakah yang tidak tahu bahwa kau adalah seorang
perampok keji? Bagaimana orang macam kau berani
menganggap aku orang segolongan? Aku datang untuk
merenggut nyawa orang she Liok karena urusan dendam
pribadi, tidak ada sangkut pautnya dengan kau atau dengan
orang lain yang berada di sini! Akan tetapi ......”
Ia berhenti sebentar lalu melemparkan pandang mata
menantang ke empat penjuru, “jangan anggap bahwa katakataku
ini menunjukkan bahwa aku takut! Siapa pun juga
yang menghalangi aku mengambil kepala orang she Liok,
boleh maju dan berkenalan dengan pedangku!”
“Aduh lagaknya! Pedang tumpul macam apakah yang kau
bawa-bawa ke sini?” Thio Kun mentertawakan, akan tetapi
segera ia berseru kaget dan cepat membuang diri ke kiri untuk
mengelak dari sambaran sinar kuning yang menyerang ulu
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
hatinya. Entah bagaimana, tanpa kelihatan pandangan mata,
tahu-tahu Hwe-thian Mo-li telah mencabut pedangnya dan
telah mengirim serangan kilat menusuk ulu hatinya.
Pucatlah wajah Thio Kun, bukan hanya karena kaget, akan
tetapi juga karena marah. Ia melihat betapa buruknya sarung
pedang yang tergantung di pinggang gadis itu, akan tetapi
setelah pedangnya dicabut, ternyata pedang itu berkilau
mengeluarkan cahaya kekuningan.
“Masih adakah pikiranmu untuk membela jahanam she Liok
dan menghadapi pedangku Thio Kun?” Hwe-thian Mo-li
mengejek.
“Iblis wanita, kau kira kau akan dapat menyombongkan
sedikit kepandaianmu di sini dan berani mengacau? Jangan
kau membikin aku sampai menjadi marah. Kalau sekali pedang
maut telah kucabut, sebelum ia mencium bau darah, ia takkan
masuk kembali ke sarangnya!”
“Perampok hina dina, siapa takuti pedangmu ?” kata pula
Hwe-thian Mo-li dan ia memandang dengan cara menghina
sekali.
Thio Kun tak dapat menahan kesabaran hatinya lagi. Ia
berseru keras dan mencabut pedangnya yang berkilau dan
mengeluarkan sinar putih kehijauan.
“Kau perlu dihajar!” bentaknya dan cepat sekali pedang di
tangannya bergerak menyerang dengan hebat sekali. Hwethian
Mo-li menangkis dan terdengar suara keras dibarengi
bunga api yang berpijar. Thio Kun menjadi gentar sekali ketika
pedangnya hampir saja terlepas dari pegangan karena
benturan ini. Baiknya ia memiliki pedang mustika, kalau tidak,
tentu pedangnya telah terbabat putus oleh pedang di tangan
Hwe-thian Mo-li.
Nama besar Thio Kun sebagai si Pedang Maut bukan timbul
karena ilmu pedangnya terlalu lihai, melainkan sebagian besar
ditimbulkan oleh kekejaman pedangnya. Memang benar
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
seperti yang dikatakannya tadi, tiap kali pedangnya
meninggalkan sarung pedang, pedang itu belum dikembalikan
ke dalam sarung sebelum berlepotan darah. Oleh karena
kekejamannya inilah maka perampok tunggal yang masih
muda ini mendapat julukan Si Pedang Maut, walaupun maut
yang tersebar dari pedangnya itu selalu mengambil kurban
nyawa orang baik-baik.
Kini menghadapi pedang pusaka di tangan Hwe-thian Mo-li,
mana dia dapat berdaya banyak? Hwe-thian Mo-li adalah
murid terkasih dari seorang gagah perkasa di bukit Liong-cu
san yang bernama Ong Han Cu dan berjuluk Pat-jiu Kiam-ong
(Raja Pedang Bertangan Delapan) dan yang memiliki ilmu
pedang luar biasa lihainya. Dengan serangan-serangan dari
ilmu pedang Liong-cu Kiam-hwat, baru beberapa belas jurus
saja,
Thio Kun menjadi sibuk sekali. Ia masih berusaha
mempertahankan dengan ilmu pedang dari Bu-tong-pai,
namun karena tingkat ilmu pedangnya memang kalah jauh,
dalam jurus kedua puluh terdengar ia menjerit keras dan
robohlah ia dengan pundak terbabat pedang.
“Liok Kong, kau majulah untuk membuat perhitungan
secara gagah. Kalau tidak mau maju, terpaksa aku turun
tangan!” berkata Hwe-thian Mo-li dengan suaranya yang
masih merdu akan tetapi mengandung ancaman maut.
Tadi ketika Liok Kong menyaksikan kelihaian Hwe-thian Moli,
hatinya telah menjadi jerih. Ia sendiri adalah seorang ahli
golok dan belum tentu ia akan kalah terhadap permainan
pedang Hwe-thian Mo-li, akan tetapi oleh karena hatinya telah
tidak karuan rasanya ketika ia mendengar nama Pat-jiu Kiamong
tadi, ia lalu mencari jalan paling aman. Ia telah mendekati
Ngo-lian Hengte, sahabat-sahabat baiknya, ketua dari Ngolian-
kauw di Hopak itu.
Ngo-ciangbun atau lima ketua dari Ngo-lian-kauw ini
memang telah lama merasa gemas dan penasaran melihat
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
sepak terjang Hwe-thian Mo-li yang dianggapnya tidak tahu
aturan. Mereka berlima takkan memperdulikan andaikata Hwethian
Mo-li melakukan perhitungan dengan Liok Kong secara
pribadi, akan tetapi jangan di dalam pesta seperti ini.
Menantang tuan rumah dalam sebuah pesta tanpa mengingat
akan kehadiran sekian banyak orang-orang gagah yang
menjadi tamu, berarti menghina para tamu itu pula. Oleh
sebab itu, ketika Liok Kong minta bantuan mereka, dengan
segera mereka menyanggupi.
Maka ketika mereka melihat Hwe-thian Mo-li melompat
maju hendak menyerang Liok Kong, kelima orang itu segera
berdiri dari tempat duduk mereka dan menghadang di depan
tuan rumah.
“Hwe-thian Mo-li, kau benar-benar terlalu menghina
orang!” bentak Kui Jin, saudara tertua dari kelima jago Hopak
itu. “Urusan pribadi dan sakit hati memang sewajarnya diurus,
akan tetapi sikapmu yang mendesak tuan rumah di depan
para tamu dari dunia kang-ouw yang sekian banyaknya ini
benar-benar keterlaluan sekali. Kami harap kau suka
memandang kepada kami dan pergi dari sini, jangan
mengacaukan pesta ini. Kalau kau melanjutkan sikapmu yang
kurang ajar, terpaksa kami Ngo-lian Hengte takkan tinggal
diam saja!”
Hwe-thian Mo-li tetap tersenyum mengejek seakan-akan
nama Ngo-lian Hengte yang amat tersohor itu bukan apa-apa
baginya.
“Sudah kukatakan tadi bahwa siapa saja yang membela
jahanam Liok Kong, ia akan berhadapan dengan pedangku!”
“Wanita buas!” bentak Kui Sin anggauta termuda dari
kelima ketua itu sambil mencabut pedangnya lalu menyerang
hebat.
“Bagus, makin banyak lawan makin gembira!” seru Hwethian
Mo-li dan ia segera memutar pedangnya untuk
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
menangkis. Sebentar saja ia dikurung oleh kelima orang kakak
beradik she Kui yang mainkan ilmu pedang Ngo-lian-kauw dan
mengurungnya rapat-rapat. Akan tetapi, Hwe-thian Mo-li tidak
menjadi gentar, bahkan nampak gembira sekali, mulutnya
tersenyum-senyum dan pedangnya bergerak makin lama
makin kuat.
Sementara itu, Liok Kong masih merasa gelisah lalu minta
tolong kepada beberapa orang tamu lain yang sepaham
dengan dia, maka kini telah ada belasan orang yang siap sedia
dengan senjata di tangan. Mereka bersiap untuk mengeroyok
Hwe-thian Mo-li andaikata kelima jago dari Hopak itu sampai
kalah. Kesempatan ini tidak disia-siakan oleh Liok Kong dan
diam-diam ia lalu melarikan diri melalui pintu belakang. Akan
tetapi, baru saja kakinya melangkah ke ambang pintu, tibatiba
ia mendengar suara halus merdu dibelakangnya.
“Liok lo-ya, kau hendak pergi kemanakah?”
(Oo-dwkz-oO)
02. Perlombaan Mencari Musuh Besar
LIOK KONG cepat menengok dan alangkah herannya ketika
ia melihat Ong Lian Hong, nona penari cantik jelita tadi telah
berdiri dengan s ikap menarik dihadapannya. Ketegangan yang
ditimbulkan oleh Hwe-thian Mo-li membuat semua orang lupa
kepada nona penari ini yang hanya berdiri memandang Hwethian
Mo-li dengan mata tajam dan sebentar-sebentar
menenggak arak wangi sehingga habis beberapa belas cawan
tanpa menjadi mabok sedikitpun.
Kalau saja ia tidak sedang ketakutan sangat, dan keadaan
tidak sedang berbahaya bagi keselamatannya, tentu Liok Kong
akan menjadi girang sekali dan akan menubruk tubuh yang
amat menggiurkan itu untuk dibawa ke dalam kamarnya. Akan
tetapi pada saat seperti itu, siapakah yang ingat akan
kesenangan?”
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
“Siocia, kau bersembunyilah! Nanti kalau sudah aman aku
akan kembali ke sini!” katanya lalu hendak berlari melalui
pintu itu.
“Eh, perlahan dulu, loya!” tiba-tiba terdengar nona manis
itu mencegah dengan halus dan bagaikan seekor naga merah,
selendang merah yang serupa benar dengan yang tadi dibeli
oleh Liok Kong, melayang melalui atas kepala s i kakek itu dan
ujungnya lalu membalik menyambar ke arah kedua matanya.
Liok Kong terkejut sekali karena sambaran ini bukan main
kerasnya sehingga anginnya telah mendahului ujung
selendang itu. Ia cepat mengelak dan membalikkan tubuhnya.
Ia melihat nona penari itu masih tersenyum, bahkan lebih
manis dari pada tadi, akan tetapi sepasang matanya
memancarkan cahaya yang aneh dan yang mengingatkan Liok
Kong akan pandang mata seorang yang dulu amat dibenci dan
ditakuti.
“Nah, nah, kau mulai teringat, bukan? Pandanglah,
pandanglah baik-baik, Liok Kong. Adakah persamaan antara
wajahku dengan wajah mendiang ayahku Ong Han Cu yang
telah kau binasakan dengan curang?”
Menggigil seluruh tubuh Liok Kong mendengar ucapan ini.
Ia merasa betapa lehernya seperti dicekik. Dengan muka
pucat ia menudingkan telunjuk ke arah nona itu sambil
berkata gemetar.
“Kau..... kau ..... puteri Pat-jiu Kiam-ong ....??”
Lian Hong tersenyum dan begitu tangan kanannya
bergerak, ia telah mengeluarkan sebuah pedang yang amat
indah dan aneh. Pedang ini demikian tipisnya sehingga tadi
telah ia pakai sebagai sabuk tanpa diketahui oleh orang lain
karena gagangnya juga kecil dan sebagian dari pada gagang
tipis ini tertutup oleh mantelnya yang lebar.
“Bangsat she Liok, bersiaplah untuk mampus!” Suara Lian
Hong masih terdengar halus, akan tetapi tiba-tiba pedang dan
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
selendangnya meluncur ke depan melakukan dua serangan
maut yang amat berbahaya.
Sementara itu, Liok Kong telah mencabut goloknya dan ia
segera melakukan perlawanan. Rasa sayang dan cintanya
terhadap gadis itu lenyap seketika itu juga, terganti oleh rasa
takut dan nafsu membunuh. Ia pikir bahwa belum tentu gadis
ini selihai Hwe-thian Mo-li dan dengan ilmu goloknya tentu ia
akan dapat merobohkan puteri musuh besarnya ini, maka
begitu bergerak, ia lalu mengeluarkan ilmu goloknya yang
ganas dan dahsyat.
Tidak percuma Liok Kong mendpat julukan Toat-beng Sinto
atau Golok sakti pencabut nyawa, karena memang ilmu
goloknya lihai sekali. Kalau saja ia tidak sedang gugup dan
ketakutan, belum tentu nona jelita itu akan dapat
mengalahkannya dalam waktu singkat. Akan tetapi, segera ia
mengeluh karena ternyata olehnya bahwa Ong Lian Hong,
nona yang menjadi puteri dari Pat-jiu Kiam-ong dan yang
telah menyamar seperti seorang penari ini memiliki
kepandaian yang amat mengagumkan dan sama sekali tidak
terduga-duga!
Tidak saja ilmu pedangnya luar biasa sekali, merupakan
campuran dari ilmu pedang Liong-cu-kiam hwat dan ilmu
pedang lain cabang, juga selendang merahnya amat lihai dan
berbahaya. Selendang merah itu menyambar-nyambar
mendatangkan kekacauan terhadap pandangan mata Liok
Kong dan ujungnya merupakan senjata penotok jalan darah
yang amat berbahaya!
Oleh karena mereka bertempur di ruang sebelah dalam
lagi, maka tak seorangpun tamu yang melihat pertempuran
mereka, kecuali beberapa orang pelayan yang hanya berlari ke
sana ke mari tidak berani membantu. Di luar masih terdengar
senjata beradu, tanda bahwa Hwe-thian Mo-li masih dikeroyok
oleh orang banyak.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Memang inilah yang dikehendaki oleh Lian Hong, yakni
berhadapan satu lawan satu dengan musuh besarnya ini!
Dengan mengerahkan kepandaiannya, akhirnya ia dapat
mendesak lawannya yang menjadi makin bingung dan gugup.
“Lebih baik lari saja,” pikir Liok Kong yang mencari
kesempatan dan jalan keluar.
Lian Hong ketika melihat permainan golok lawannya diamdiam
mengakui akan kelihaian lawan dan apabila lawannya
bertempur dengan tenang, agaknya takkan mudah baginya
untuk mengalahkan orang tua ini. Nona yang cerdik dan
gagah ini ketika melihat gerakan Liok Kong dan pandangan
matanya yang selalu mencari kesempatan, maklum akan
maksud lawannya. Ia lalu menggunakan akal dan sengaja
mengendurkan serangannya dan menjahui pintu yang menuju
ke belakang.
Melihat kesempatan yang dinanti-nantikan ini, cepat Liok
Kong menyerang hebat sehingga Lian Hong terpaksa
mengelak mundur dan kakek itu lalu melompat melalui pintu
yang terbuka. Akan tetapi, sebelum ia keluar dari pintu itu, ia
mendengar suara angin dan melihat selendang merah dari
lawannya meluncur cepat mengarah kakinya.
Ia cepat melompat ke atas akan tetapi tiba-tiba pedang
ditangan Lian Hong telah digerakkan dengan tipu gerakan
Naga Sakti Menyemburkan Mustika. Gadis pendekar ini telah
melontarkan pedangnya yang meluncur cepat bagaikan anak
panah dan tanpa dapat ditangkis atau dielakkan oleh Liok
Kong yang sedang melompat menghindarkan diri dari
serangan selendang merah, pedang itu nancap pada
punggungnya dan berhenti di antara tulang-tulang iganya.
Inilah kepandaian istimewa dari Ong Lian Hong. Tidak
mudah untuk mempelajari ilmu serangan istimewa ini, karena
selain bentuk pedang tidak seperti bentuk senjata rahasia
yang mudah dilemparkan, juga pedangnya itu amat tipis,
namun berkat kemahirannya menyambitkan dan berkat
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
tenaganya yang sudah cukup terlatih, pedang itu dapat
menancap ke arah sasaran dengan tepat dan juga kuat sekali.
Liok Kong hanya dapat mengeluarkan teriakan satu kali,
karena Lian Hong segera mencabut pedangnya dan sekali
sabet, leher Liok Kong telah putus.
Sementara itu, Hwe-thian Mo-li masih dikeroyok rapat-rapat
oleh para tamu yang membela tuan rumah. Tadi ketika Ngolian
Hengte maju mengurungnya, ia telah menjadi amat
marah. Pedangnya bergerak ganas sekali dan baru beberapa
jurus saja, Kui Ti dan Kui Sin terpaksa telah mengundurkan
diri karena terluka oleh ujung pedang pada lengan dan paha.
Tiga orang kakak mereka yang masih mengurung juga
agaknya tidak akan dapat menang, melihat betapa sinar
pedang Hwe-thian Mo-li bergulung-gulung makin membesar
dan mengganas.
Melihat keganasan Hwe-thian Mo-li, belasan orang yang
sudah menerima permintaan Liok Kong untuk membantu,
segera mengepung maju dan sebentar saja kepungan orang
terhadap Hwe-thian Mo-li makin rapat saja. Namun nona ini
benar-benar luar biasa sekali.
Biarpun senjata para pengeroyoknya datang bagaikan air
hujan menimpa ke arah tubuhnya, ia dapat mainkan
pedangnya sedemikian rupa untuk menangkis dan melindungi
tubuhnya, bahkan ia masih dapat merobohkan beberapa
orang lagi. Akan tetapi, lambat laun ia mulai merasa lelah juga
dan hatinya amat mendongkol. Ia sengaja datang hendak
membalas dendamnya kepada Liok Kong, kini orang yang
dicari dapat melarikan diri sedangkan ia terpaksa harus
menghadapi beberapa orang kang-ouw yang mengeroyoknya.
Selagi ia mencari jalan untuk meninggalkan semua
lawannya dan mengejar Liok Kong, tiba-tiba terdengar seruan
halus, “Hwe-thian Mo-li, inilah hadiah untukmu!” dan sebuah
benda besar bulat menyambar ke arah nona yang sedang
mengamuk ini. Tidak hanya Hwe-thian Mo-li yang merasa
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
kaget dan heran, akan tetapi juga para pengeroyoknya
memandang benda yang menyambar itu dan ketika melihat
benda itu jatuh di atas lantai, mereka berseru terkejut dengan
muka pucat karena benda itu adalah kepala dari Liok Kong.
Sebaliknya, ketika Hwe-thian Mo-li memandang dan melihat
kepala musuh besarnya ini, ia menjadi heran sekali.
Pedangnya berkelebat ke arah kepala itu dan “Crack!” kepala
itu terbelah menjadi dua.
Keadaan menjadi kacau balau. Melihat tuan rumah telah
tewas dalam keadaan amat mengerikan ini, semua tamu yang
tadinya mengurung Hwe-thian Mo-li, menjadi kehilangan
semangat dan mulai mengundurkan diri.
Dan di dalam kekacauan ini, Hwe-thian Mo-li yang masih
mainkan pedangnya, melihat bayangan penari cantik itu
bergerak lincah sekali, melompat dari ruang dalam dan
dengan sebuah tendangan ia merobohkan Thio Kun yang
berdiri menonton pertempuran sambil memegangi pundaknya
yang tadi terluka oleh ujung pedang Hwe-thian Mo-li. Tanpa
dapat berteriak lagi, Thio Kun roboh terguling dan cepat sekali
tangan penari yang cantik itu menyambar ke bawah,
terdengar pakaian robek dan patung Kilin tadi kini telah
berada ditangan penari itu yang cepat melompat pergi dari
ruangan itu.
Hwe-thian Mo-li merasa tak perlu lagi melanjutkan
pertempuran karena kini musuhnya telah tewas. Ia memutar
pedangnya sedemikian rupa sehingga para pengeroyok
bergerak mundur, lalu tiba-tiba tubuhnya dienjotkan ke atas
dan melompatlah ia ke ruang depan sambil berseru.
“Sahabat lancang, tunggu dulu!” Ia masih dapat melihat
bayangan nona penari itu berlari di sebelah kanan rumah
gedung maka iapun lalu mempercepat gerakan kakinya
mengejar.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Nona penari itu menengok dan mulutnya tersenyum geli
ketika ia melihat Hwe-thian Mo-li mengejar. Iapun lalu
mengerahkan kepandaiannya berlari cepat dengan ilmu lari
Teng-peng-touw-sui. Melihat betapa bayangan yang ramping
di depan itu kini berlari makin cepat keluar dari kota, Hwethian
Mo-li menggigit bibir dan mempercepat pengejarannya
dengan ilmu lari Hwe-hong-sut.
Kejar mengejar terjadi dan Hwe-thian Mo-li menjadi makin
mendongkol, gemas, marah dan penasaran oleh karena
betapapun ia mengerahkan kepandaiannya berlari cepat, ia
tidak dapat mengejar gadis penari itu. Sebaliknya, yang
dikejar juga tak dapat memperjauh jarak di antara mereka
ternyata bahwa ilmu kepandaian mereka dalam hal ilmu
berlari cepat ternyata setingkat. Setelah kejar mengejar
sejauh tiga puluh li dan mereka telah tiba di tepi sungai Yangce,
nona penari itu sambil tertawa-tawa lalu berhenti menanti
kedatangan Hwe-thian Mo-li.
Dengan muka merah, Hwe-thian Mo-li menudingkan
telunjuknya ke arah hidung nona penari itu sambil berkata
ketus, “Siapakah kau yang sombong dan lancang ini? Mengapa
kau berani mati sekali mendahului aku yang hendak
memenggal leher binatang Liok Kong? Lekas katakan apa
alasanmu. Kalau tidak jangan harap aku Hwe-thian Mo-li dapat
mengampuni kelancanganmu?”
Dara penari yang lihai itu tersenyum manis sekali dan
menahan gelinya. “Kau mau mengetahui namaku?”
“Ya, sebutkan namamu. Cepat!”
“Aku bernama Hwe-thian Sian-li (Bidadari Terbang)!”
Makin merahlah muka Hwe-thian Mo-li mendengar ini.
Terang bahwa gadis penari ini main-main terhadapnya.
Secepat kilat ia mencabut pedangnya dari pinggang dan
memandang dengan mata melotot.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
“Kau hendak mengembari julukanku? Mengapa tidak
memakai julukan Hwe-thian Mo-li sekali agar sama?”
bentaknya.
Ong Lian Hong, dara penari itu tersenyum. “Untuk apa
memakai nama seperti itu? Siapa suka menyebut diri sebagai
Mo-li atau Iblis Wanita? Sungguh nama yang buruk dan
menakutkan. Bagiku, lebih baik aku memakai nama Hwe-thian
Sian-li!”
Hwe-thian Mo-li merasa terpukul oleh alasan ini. “Hm, tidak
saja kau cantik, akan tetapi juga lidahmu amat lihai bicara.
Lekas kau katakan mengapa kau berlancang tangan
mendahului aku membunuh Liok Kong!”
“Cici, bukankah aku telah membantumu? Mengapa kau
marah-marah?” gadis penari itu bertanya sambil memandang
heran. Ia belum kenal adat yang keras dari Hwe-thian Mo-li
dan karena adatnya inilah maka gadis ini disebut Hwe-thian
Mo-li atau Iblis Wanita.
“Membantu? Siapa sudi kau bantu? Kau boca sombong,
dengan sedikit kepandaianmu itu, kau sudah berani
membantu tanpa kuminta? Kau benar-benar lancang sekali!”
“Enci Siang Lang, kau benar-benar galak sekali!” tiba-tiba
penari ini berkata sambil tersenyum manis. “Kau hendak
membalas dendam kepada jahanam Liok Kong, apakah orang
lain juga tidak hendak membalas dendam? Apakah dendam
hanya boleh kau miliki sendiri?”
Hwe-thian Mo-li tidak memperhatikan ucapan ini karena ia
masih berdiri bengong mendengar betapa gadis cantik ini
menyebut namanya yang jarang sekali diketahui orang lain.
“Bagaimana kau bisa mengetahui namaku? Siapakah kau?”
tanyanya.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
“Tentu saja aku mengenal namamu. Kau bernama Nyo
Siang Lan, murid dari Pat-jiu Kiam-ong Ong Han Cu di Liongcu
san! Bukankah ini cocok sekali?”
“Bocah! Kau makin memperolok-olokku. Hayo katakan kau
siapa dan bagaimana sampai dapat mengetahui keadaanku!”
“Kalau aku tidak mau memberi tahu padamu?”
“Terpaksa ku paksa dengan pedangku!”
“Hm, Hwe-thian Mo-li, memang aku ingin sekali mencoba
kepandaianmu. Marilah kita main-main sebentar! Sambil
berkata demikian, Lian Hong meloloskan pedangnya yang tipis
dan bersiap memasang kuda-kuda yang disebut Bunga Teratai
Mengambang di Air. Sikapnya menarik sekali, matanya yang
indah berseri, mulutnya tersenyum manis dan lagaknya nakal
sekali.
Hwe-thian Mo-li diam-diam merasa kagum melihat
kecantikan lawannya ini, akan tetapi ia juga merasa amat
penasaran. Belum pernah ada orang, apalagi seorang gadis
muda seperti ini, berani mengganggunya sampai sedemikian
rupa.
“Bagus, kau memang perlu diberi sedikit hajaran!”
bentaknya dan secepat kilat ia menyerang gadis itu.
Serangannya, seperti biasa, cepat dan ganas sekali sehingga
Lian Hong menjadi terkejut dan tidak berani main-main lagi.
Gadis ini lalu memutar pedangnya yang tipis dan bersilat sama
cepatnya mengimbangi permainan silat Hwe-thian Mo-li.
Kalau saja Lian Hong bersilat mempergunakan ilmu pedang
lain dan sanggup menghadapinya, Hwe-thian Mo-li tidak akan
demikian terheran, karena memang di dunia ini banyak sekali
terdapat orang-orang pandai. Akan tetapi yang membuatnya
merasa terheran-heran adalah bahwa ilmu pedang gadis
cantik ini mirip sekali dengan ilmu pedangnya sendiri, yakni
Liong-cu-kiam-hwat. Pada dasarnya sama, hanya terdapat
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
kembangan-kembangan lain yang agaknya terjadi dari
percampuran dua ilmu pedang.
“Bocah sombong, dari mana kau mencuri ilmu pedang
Liong-cu-kiam-hwat?” Hwe-thian Mo-li mmbentak sambil
mengirim tusukan dengan gerak tipu Kim-so-tui-tee (Kunci
Emas Jatuh di Tanah) yang dilakukan cepat sekali.
Lian Hong dengan tenang sekali karena sudah mengenal
gerakan ini dengan baik, lalu mengelak ke kiri sambil
menyabetkan pedangnya menangkis dengan gerakan Sayap
Walet Mengipas Air.
“Siapa mencuri ilmu pedang? Hayo keluarkanlah seluruh
kepandaianmu kalau kau bisa!” Lian Hong menantang sambil
tersenyum-senyum.
Senyum yang manis sekali dan dapat melumpuhkan kalbu
setiap laki-laki, ternyata bagi Hwe-thian Mo-li merupakan api
yang panas membakar hatinya. Ia menggertak giginya dan
berseru keras.
“Kau tidak tahu diberi hati! Kau minta dirobohkan dengan
kekerasan? Baik, kau lihatlah!” Sambil berkata demikian, Hwethian
Mo-li lalu mendesak maju dan mainkan pedangnya
dengan luar biasa cepatnya. Ia benar-benar telah
mengeluarkan seluruh kepandaiannya dan mengerahkan
seluruh tenaganya untuk mencari kemenangan. Tadipun
ketika menghadapi banyak orang di rumah gedung Liok Kong,
ia tidak mengeluarkan seluruh kepandaiannya seperti
sekarang ini.
“Hebat!” Lian Hong tak tertahan lagi berseru kagum dan
iapun harus mengerahkan ginkang dan ilmu pedangnya untuk
menjaga diri dan balas menyerang. Pertempuran antara kedua
nona jelita ini benar-benar hebat dan ramai sekali. Kian lama
kian terheran-heranlah hati Hwe-thian Mo-li, karena jarang
sekali ada orang yang dapat mempertahankan diri lebih dari
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
tiga puluh jurus apabila ia telah mengerahkan seluruh
kepandaiannya seperti ini.
Akan tetapi gadis muda ini dapat melayaninya sampai lima
puluh jurus, bahkan dapat membalas dengan seranganserangan
dahsyat, mempergunakan pedang tipis dan
selendang merah. Memang, melihat kehebatan sepak terjang
Hwe-thian Mo-li, terpaksa Lian Hong mengeluarkan selendang
merahnya untuk membantu gerakan pedang di tangan kanan.
(Oo-dwkz-oO)
Jilid 2
Setelah memegang dua macam senjata yang lihai ini,
barulah ia dapat mengimbangi permainan Hwe-thian Mo-li.
Akan tetapi, Lian Hong makin lama makin kagum saja karena
ia maklum bahwa biarpun kepandaian mereka seimbang,
namun ia kalah tenaga dan kalah ulet. Juga gerakan-gerakan
Hwe-thian Mo-li amat ganas dan benar-benar merupakan
penyebar maut sehingga sekali saja terkena serangannya,
sukarlah untuk menyelamatkan diri.
Perlahan akan tetapi pasti, Lian Hong mulai terdesak
mundur setelah dapat mengadakan perlawanan sengit selama
tujuh puluh jurus lebih. Tiba-tiba Lian Hong menangkis
pedang Hwe-thian Mo-li sambil mengenjot kedua kakinya,
melompat ke belakang empat tombak jauhnya dan ketika ia
turun ke atas tanah, ia berkata,
“Sudah, sudah, enci Siang Lan! Aku terima kalah! Biarlah
kuceritakan kepadamu siapa sebenarnya aku ini!”
Hwe-thian Mo-li menyimpan pedangnya, menghampiri
gadis itu sambil menghela napas berulang-ulang dan
memandang kagum. “Hebat sekali ilmu pedangmu adik yang
baik. Baru menyaksikan kepandaianmu saja aku tak dapat
marah lagi kepadamu. Sekarang, jadilah seorang adik yang
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
baik budi dan jangan kau mengganggu aku lebih jauh dan
ceritakanlah sebenarnya siapakah kau ini?”
Wajah yang cantik jelita dari gadis penari itu menjadi
bersungguh-sungguh dan ia memandang dengan mata sayu
mengharukan ketika ia berkata,
“Enci Siang Lan, aku mendengar namamu dari ayahku
sendiri.”
“Siapakah ayahmu?”
“Tentu ayah tak pernah menceritakan halnya kepadamu.
Aku bernama Ong Lian Hong dan orang yang selama ini
menjadi gurumu, yakni Pat-jiu Kiam-ong Ong Han Cu, adalah
ayahku!”
Terbelalaklah mata Hwe-thian Mo-li memandang Lian Hong,
penuh ketidak percayaan.
“Betapa mungkin? Mendiang suhu tak pernah mempunyai
anak!” serunya sambil memandang tajam dengan mata
menyelidik.
Wajah yang manis itu kembali berseri dan bagaikan disulap,
senyum yang menggiurkan itu timbul kembali pada bibirnya.
Lian Hong memang berwatak gembira dan jenaka sekali, sukar
baginya untuk bertahan lama-lama dalam keharuan atau
kesedihan.
“Tentu saja, cici!” jawabnya menahan ketawa. “Bagaimana
ayah bisa beranak? Yang melahirkan aku adalah ibuku, bukan
ayah!”
Hwe-thian Mo-li tertegun mendengar ini. Ia merasa betapa
aneh gadis muda ini, bahkan ia menganggap otak gadis ini
sudah miring. Memang, watak Lian Hong adalah kebalikan dari
pada wataknya yang selalu bersungguh-sungguh dan keras
bagaikan batu karang.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
“Adik Lian Hong, jangan kau main-main! Aku telah ikut
suhu selama sembilan tahun dan belum pernah aku
mendengar suhu menyebut tentang isteri atau puterinya.
Belum pernah pula aku melihat suhu menjumpai isteri dan
anaknya. Benar-benarkah ceritamu tadi?”
“Terserah kepadamu, enci Siang Lan, terserah kau percaya
atau tidak, bagiku tiada bedanya.” Gadis ini lalu bangkit
berdiri.
“Eh........adikku yang baik, Andaikata benar kau puteri
mendiang suhu, siapakah gerangan ibumu dan di mana kau
dan ibumu tinggal?”
Lian Hong menghela napas panjang. “Enci, harap kau
maafkan. Untuk pertanyaan ini aku belum dapat menjawab,
belum tiba waktunya. Mendiang ayah sendiri merahasiakan
kepadamu, dan aku mempunyai alasan yang amat kuat untuk
merahasiakannya pula. Yang terpenting sekarang adalah
usaha pembalasan dendam dari sakit hati ayah. Tahukah kau
bahwa masih ada dua orang lagi yang harus kita balas ?”
“Tiga, bukan dua. Seorang she Yap yang menjadi kauwsu
(guru silat), seorang hwesio, dan seorang hartawan she Cin!”
“Salah.” Jawab Lian Hong sambil tersenyum, “Hanya ada
dua, yakni hwesio itu dan hartawan she Cin. Adapun orang
she Yap itu hanya dapat kau cari di dasar neraka!”
Hwe-thian Mo-li memandang tajam. “Hm, tentu kau telah
berhasil membunuh orang she Yap itu, bukan?”
“Dan kau sudah berhasil membunuh seorang lagi di
Santung!”
Hwe-thian Mo-li memandang tak puas. “Masih kalah
olehmu, karena Liok Kong pun tewas dalam tanganmu. Kau
telah membalas dua orang musuh dan aku hanya baru
seorang saja.”
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Lian Hong tersenyum gembira. “Mari kita berlumba, cici.
Musuh kita tinggal dua orang dan marilah kita berlumba. Kau
sudah kalah satu olehku, maka kalau yang dua ini kau tak
dapat tewaskan semua, kau takkan dapat menang dari ku!
Nah, sampai bertemu kembali, cici yang baik!”
Setelah berkata demikian, Lian Hong melompat jauh dan
berlari cepat.
“Nanti dulu, adik Liang Hong ....! Mengapa kita tidak
melakukan perjalanan bersama dan bersama pula mencari
musuh-musuh kita ?”
Tanpa menoleh Lian Hong menjawab, “Tidak bisa cici! Tak
Mungkin ! Selamat berpisah!”
Hwe-thian Mo-li hendak mengejar, akan tetapi ia menghela
napas dan mengurungkan niatnya. Ia maklum bahwa
usahanya mengejar gadis itu akan sia-sia belaka, karena
kepandaian mereka dalam ilmu berlari cepat seimbang. Dan
lagi, kalau orang tidak mau didekati, untuk apa ia harus
mendesak dan memaksanya?
Ia lalu duduk di bawah pohon, menyandarkan
punggungnya pada batang pohon itu dan mengenangkan
suhunya. Sungguh amat mengherankan, kalau betul-betul
suhunya itu mempunyai isteri dan puteri seperti Lian Hong,
mengapa suhunya tak pernah menceritakan hal itu
kepadanya?
(Oo-dwkz-oO)
Agar jelas bagi pembaca tentang timbulnya permusuhan
dan dendam yang terkandung di dalam hati Hwe-thian Mo-li
dan Lian Hong, baiklah kita biarkan dulu Hwe-thian Mo-li
duduk termenung di bawah pohon itu dan marilah kita
menengok kembali kurang lebih satu setengah tahun yang
lalu, yakni sebelum pendekar besar Pat-jiu Kiam-ong Ong Han
Cu tewas secara amat menyedihkan.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Ong Han Cu yang berjuluk Pat-jiu Kiam-ong (Raja Pedang
Tangan Delapan) adalah seorang tokoh persilatan yang tinggal
di Gunung Liong-cu-san. Dari julukannya saja, yakni raja
pedang, dapat diduga bahwa ia adalah seorang ahli silat
pedang yang luar biasa.
Memang, di antara semua ilmu pedang pada waktu itu,
boleh disebut ilmu pedang dari Ong Han Cu menduduki
tempat yang amat tinggi. Ilmu pedang ini, ia peroleh dari
seorang pertapa yang mengasingkan diri di sebuah gua di
Gunung Liong-cu-san dan secara tak sengaja tempat ini
didapatkan olehnya. Ketika ia mendapatkan gua itu, yang ia
lihat hanyalah rangka manusia yang masih utuh sedang duduk
bersila di dalam gua, tanda bahwa manusia ini dulu telah
meninggal dunia dalam keadaan bersila.
Memang luar biasa sekali mengapa rangka itu masih dapat
berduduk dan telah membatu. Agaknya hal ini terjadi karena
dari langit-langit gua itu menetes-netes turun air kapur yang
membuat tulang-tulang itu menjadi kuat dan tidak terlepas
sambungannya. Selain rangka ini, Ong Han cu juga
menemukan sebuah kitab pelajaran ilmu pedang yang
diciptakan oleh orang sakti yang telah menjadi rangka itu.
Demikianlah, dengan amat tekunnya Ong Han Cu
mempelajari ilmu pedang ini yang kemudian ia beri nama
Liong-cu Kiam-hwat, sesuai dengan nama gunung di mana ia
mendapatkan ilmu pedang ini. Semenjak saat itu, ia menjadi
jago pedang yang luar biasa dan pernah ia sengaja naik ke
Kun-lun-san dan Go-bi-san untuk menguji ilmu pedang dengan
tokoh-tokoh ilmu pedang di kedua cabang persilatan besar itu.
Ternyata ia telah berhasil baik dan jarang sekali ada ahli
pedang yang dapat mengalahkan Liong-cu Kiam-hwat.
Kemudian, ia bertemu dengan Nyo Siang Lan, seorang anak
perempuan yatim piatu yang berusia sepuluh tahun dan
hampir mati kelaparan di sebuah kampung yang dilanda
banjir. Tergeraklah hati Ong Han Cu melihat anak perempuan
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
yang ia lihat berbakat baik sekali itu, maka ia lalu mengambil
Siang Lan menjadi muridnya. Mungkin karena terlalu
menderita di waktu kecilnya, Nyo Siang Lan menjadi seorang
gadis yang amat keras hati dan selalu bersungguh-sungguh
jarang sekali bergembira. Hal itu sesuai pula dengan watak
Ong Han Cu yang juga pendiam.
Sebagai seorang pendekar gagah yang budiman, Ong Han
Cu telah banyak mengulurkan tangan mempergunakan
pedangnya yang tajam untuk menolong orang-orang yang
lemah tertindas dan membasmi kejahatan. Hal ini membuat
nama Pat-jiu Kiam-ong terkenal sekali dan nama ini dipujapuja
oleh banyak orang yang telah ditolongnya. Akan tetapi
sebaliknya juga menimbulkan sakit hati kepada banyak orangorang
kang-ouw yang mengambil jalan hitam.
Dengan amat tekunnya, Nyo Siang Lan mempelajari ilmu
silat dari suhunya. Ong Han Cu amat sayang kepada murid
tunggalnya ini karena selain amat rajin, juga muridnya ini
benar-benar berbakat baik dan amat berbakti kepadanya. Hal
ini tidak mengherankan oleh karena Nyo Siang Lan tidak
hanya menganggap dia sebagai gurunya, bahkan
menganggapnya sebagai pengganti orang tuanya.
Sering kali Pat-jiu Kiam-ong Ong Han Cu turun gunung
meninggalkan Siang Lan seorang diri dan memesan agar
supaya murid itu berlatih dengan rajin. Tiap kali guru ini
kembali ke puncak Liong-cu-san dengan hati bangga dan
girang ia melihat kemajuan-kemajuan luar biasa pada
muridnya. Diam-diam ia merasa girang sekali karena tidak
keliru memilih murid.
Kurang lebih satu setengah tahun yang lalu, ketika Siang
Lan telah berusia sembilan belas tahun, gurunya berkata,
“Siang Lan, muridku yang baik. Mungkin tidak kau sadari
bahwa kau telah mewarisi seluruh kepandaianku. Kau benarbenar
memuaskan hatiku, Siang Lan, dan aku tidak dapat
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
mengajarkan apa-apa lagi kepadamu, Liong-cu Kiam-Hwat
telah kau pelajari sampai habis.”
“Bagaimana teecu dapat percaya ucapan ini, suhu,” bantah
Siang Lan. “Tiap kali berlatih dengan suhu, teecu masih
merasa amat berat dan takkan dapat menahan diri lebih dari
empat puluh jurus.”
Gurunya tersenyum tenang. “Tentu saja, anak bodoh. Hal
ini bukan karena aku masih memiliki gerak tipu yang belum
kau pelajari, akan tetapi hanya karena selain kalah tenaga dan
kegesitan, kaupun kalah pengalaman. Ketahuilah bahwa ilmu
silat hanya akan bertambah maju dengan pesat apabila kau
pergunakan dalam pertempuran yang sungguh-sungguh dan
apabila kau seringkali menghadapi lawan-lawan tangguh,
dengan sendirinya ilmu pedangmu akan menjadi makin
sempurna. Aku telah menghadapi banyak sekali ahli silat,
maka dengan sendirinya gerakanku lebih matang dari
padamu. Oleh karena itu muridku, sudah menjadi hak mu
untuk turun gunung dan meluaskan pengalamanmu. Kau
turunlah dari gunung ini, pergunakanlah kepandaianmu yang
kau pelajari selama sembilan tahun dariku itu untuk menolong
sesama hidup. Dengan demikian, takkan sia-sialah kau
membuang sekian banyak tenaga, pikiran, dan waktu untuk
mempelajari ilmu silat dan tidak sia-sia pula aku mengambil
kau sebagai murid.”
Maka turunlah Siang Lan dari puncak Liong-cu-san dan
mulailah ia merantau di dunia kang-ouw. Sebentar saja
pedangnya telah berbuat banyak dan karena ia selalu berlaku
keras terhadap golongan penjahat, tanpa mengenal ampun,
maka ia lalu mendapat julukan Hwe-thian Mo-li.
Akan tetapi, setelah merantau selama satu setengah tahun
dan kembali ke Gunung Liong-cu-san, ia mendapatkan
suhunya dalam keadaan yang amat menyedihkan. Sebulan
yang lalu, suhunya itu telah didatangi oleh lima orang dan kini
suhunya telah dibuntungi kedua kaki tangannya dan berada
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
dalam perawatan seorang penduduk kampung di lereng
gunung itu.
Tentu saja Siang Lan merasa terkejut dan sedih sekali. Ia
menubruk suhunya dan menangis tersedu-sedu.
“Suhu, kau kenapakah, suhu? Siapakah yang melakukan
perbuatan keji ini? Katakanlah, suhu, siapa yang berani
mencelakakan suhu seperti ini? Biar teecu pergi mencarinya,
membunuh dan menghancur-leburkan kepalanya!”
Biarpun keadaannya amat lemah dan payah, Ong Han Cu
masih dapat tersenyum melihat muridnya yang terkasih.
“Syukurlah Siang Lan, syukurlah bahwa kita masih sempat
bertemu muka.”
Kemudian Pat-jiu Kiam-ong Ong Han Cu lalu menceritakan
pengalamannya kurang lebih sebulan yang lalu. Di atas
puncak bukit Liong-cu-san, ia kedatangan lima orang kangouw
yang telah dikenalnya baik. Mereka ini adalah Toat-beng
Sin-to Liok Kong Si Golok Sakti Pencabut Nyawa, kedua adalah
Si Lutung Sakti Yap Cin, ketiga Santung Taihiap Siong Tat
Pendekar gagah dari Santung, keempat adalah seorang
hwesio bernama Leng Kok Hosiang, dan kelima seorang gagah
lain, yakni Kim-gan-liong Cin Lu Ek Si Naga Mata Emas.
Sebagai seorang kang-ouw yang menghormat kawankawannya
dari satu golongan, Ong Han Cu lalu menyambut
mereka dengan gembira sekali. Akan tetapi ternyata bahwa
kedatangan mereka itu tidak mengandung maksud baik.
Dengan secara licin sekali, diam-diam Leng Kok Hosiang,
hwesio berkepandaian tinggi dari Sin-tok-san, telah
memasukkan racun pada arak yang dihadapi oleh Ong Han
Cu.
“Demikianlah,” Pat-jiu Kiam-ong melanjutkan penuturannya
kepada muridnya yang mendengarkan semua itu sambil
bercucuran air mata, setelah minum racun dalam arak yang
luar biasa kerasnya, aku rebah pingsan tidak merasa apa-apa
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
lagi. Ketika aku tersadar, ternyata bahwa mereka telah pergi,
meninggalkan aku dalam keadaan begini. Baiknya ada sahabat
ini yang kebetulan melihatku dan menolong merawatku, kalau
tidak, tentu aku telah tewas karena kecurangan mereka yang
biadab itu!”
“Akan tetapi mengapakah, suhu? Mengapa mereka
melakukan perbuatan sekeji ini ?”
Ong Han Cu tersenyum. “Ada dua hal yang mendorong
mereka melakukan hal ini muridku. Bagi Leng Kok Hosiang
dan Yap Cin, mereka itu memang mengandung dendam sakit
hati terhadap aku karena aku pernah merobohkan mereka itu
dan menghalangi perbuatan mereka yang jahat. Adapun Liok
Kong, Siong Tat, dan Cin Lu Ek ikut datang melakukan
perbuatan pengecut dan hina dina ini karena mereka silau
harta terpendam yang berada di dalam guaku. Mereka pergi
membawa harta terpendam yang dulu kudapatkan di dalam
gua bersama kitab ilmu pedang. Sungguh aku tidak mengerti
mengapa manusia dapat menjadi mata gelap dan kejam
karena pengaruh harta dunia. Sepanjang pengetahuanku, Cin
Lu Ek si Naga Bermata Emas itu bukanlah seorang yang
memiliki watak jahat!” Ong Han Cu menghela napas bukan
menyesali nasibnya, akan tetapi menyesali kejahatan orangorang
itu.
Memang sesungguhnya, ketika mendapatkan rangka
manusia dan kitab pelajaran ilmu pedang di gua itu, Ong Han
Cu juga menemukan sebuah peti besar terisi penuh harta
berupa emas dan permata yang tak ternilai harganya. Akan
tetapi, hal ini dirahasiakan oleh Ong Han Cu dan barang itu
masih disimpannya di dalam guanya. Hanya kadang-kadang
saja ia mengeluarkan sepotong emas atau permata untuk
dijualnya dan dipergunakan sebagai biaya hidupnya.
Dan betapapun rapatnya ia menutup rahasia ini, ternyata
mata para penjahat amat tajam dan telinga mereka amat kuat
pendengarannya. Entah bagaimana, rahasia ini terdengar oleh
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
ke lima orang berkepandaian tinggi itu yang lalu berkumpul,
berunding dan mempergunakan siasat yang curang untuk
merobohkan pendekar tua ini, membuntungi tangan kaki nya
serta merampas harta bendanya itu.
(Oo-dwkz-oO)
Tentu saja Hwe-thian Mo-li Nyo Siang Lan menjadi marah
sekali dan dengan bercucuran air mata ia bersumpah di depan
suhunya untuk membalas dendam besar ini. Kemudian ia
membawa pedang suhunya dan turun gunung, mencari
musuh-musuh gurunya itu.
Pertama-tama ia pergi ke Santung untuk mencari Santung
Thaihiap Siong Tat dan dalam pertempuran yang amat hebat
sehingga ia berhasil membunuh Siong Tat dan membawa
kepala musuh besarnya ini naik ke atas gunung Liong-cu-san.
Akan tetapi ketika ia tiba di situ, ternyata bahwa suhunya
yang telah menjadi orang tak berguna lagi dan buntung kaki
tangannya, sudah meninggal dunia.
Siang Lan bersembahyang di depan kuburan suhunya
sambil menaruh kepala Santung Thaihiap Siong Tat di depan
makam itu, kemudian ia lalu mulai merantau dan mencari
empat orang musuh besar yang telah mencelakai gurunya itu.
Mereka ini adalah Liok Kong Si Golok Sakti Pencabut Nyawa,
Yap Cin Si Luntung Sakti, Lengkok Hosiang yang meracuni
suhunya dan Cin Su Lek Si Naga Bermata Emas.
Dan sebagaimana telah dituturkan di bagian depan dari
cerita ini, secara kebetulan sekali Siang Lan yang telah
mendapat keterangan tentang musuh besarnya yang bernama
Liok Kong, bertemu dengan Ong Lian Hong, gadis manis yang
mengaku menjadi puteri suhunya.
Tentu saja ia tidak dapat mempercaya keterangan ini
karena bagaimanakah suhunya tahu-tahu telah mempunyai
seorang puteri demikian cantik jelita dan berkepandaian tinggi
pula? Menurut pengakuan gadis itu, Yap Cin Si Luntung Sakti
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
telah terbunuh dan karena Liok Kong telah mampus pula,
maka kini musuh besar mereka tinggal Leng Kok Hosiang dan
Cin Lu Ek.
Sampai lama Hwe-thian Mo-li duduk termenung di bawah
pohon itu, tiada hentinya memikirkan keadaan Lian Hong nona
yang aneh dan yang mengaku sebagai puteri suhunya.
Akhirnya ia merasa khawatir juga kalau-kalau ia sampai kalah
oleh gadis cantik itu, kalau-kalau dua orang musuh yang lain
itupun akan tewas dalam tangan gadis itu pula.
“Tidak, bagaimanapun juga, aku harus mendahuluinya!”
pikirnya dan ia lalu bangun berdiri dan melanjutkan
perjalanannya dengan cepat. Dia telah mendengar bahwa
Leng Kok Hosiang sekarang berada di Sin-tok-san, yakni
pegunungan yang berada di selatan, adapun Cin Lu Ek si Naga
Bermata Emas amat sukar dicari. Agaknya orang ini telah
melarikan diri karena takut akan pembalasannya, dan mungkin
juga si Naga Bermata Emas ini telah mengganti namanya.
“Tidak perlu mencari dia yang bersembunyi.” Pikir Hwethian
Mo-li sambil berlari cepat. “Lebih baik menuju ke
pegunungan Sin-tok-san untuk mencari Leng Kok Hosiang.
Demikianlah, ia lalu membelok ke selatan dan langsung
menuju ke pegunungan itu tanpa mengenal lelah. Ia
melakukan perjalanan secepatnya agar jangan sampai
didahului oleh nona yang mengaku puteri dari Mendiang
suhunya itu!
(Oo-dwkz-oO)
03. Penderitaan Anak Mantu Ciok-taijin
SEBELUM kita mengikuti perjalanan Hwe-thian Mo-li yang
menuju ke selatan untuk mencari musuh besarnya di
pegunungan Sin-tok-san, marilah kita melihat dulu keadaan
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Ong Lian Hong, gadis penari yang cantik jelita dan penuh
rahasia itu agar kita dapat mengenalnya lebih baik.
Memang benar gadis yang menyamar sebagai penari dan
yang berhasil menewaskan Liok Kong ini adalah seorang puteri
dari Ong Han Cu. Dahulu, sebelum Ong Han Cu menemukan
ilmu pedang di Liong-cu-san dan sewaktu ia masih muda,
pada suatu hari melihat serombongan keluarga bangsawan
yang sedang melakukan perjalanan, dicegat dan dikeroyok
oleh belasan orang perampok yang ganas.
Para pengawal keluarga bangsawan itu kewalahan
menghadapi perampok-perampok yang dipimpin oleh seorang
perampok yang berkepandaian tinggi. Tidak saja banyak
pengawal yang tewas dan harta benda keluarga itu mulai
diangkut oleh para anak buah perampok, bahkan seorang
gadis cantik puteri bangsawan itupun telah dipondong oleh
kepala rampok dan hendak dibawa pergi ke dalam hutan.
Gadis itu meronta-ronta dan menjerit-jerit dan jeritan inilah
yang menarik perhatian Ong Han Cu dan membuatnya berlari
menolong.
Pertempuran hebat terjadi antara Ong Han Cu dan kepala
perampok, akan tetapi akhirnya kepala rampok itu bersama
beberapa orang anak buahnya tewas dalam tangan pemuda
gagah perkasa ini. Melihat betapa pemuda gagah perkasa dan
tampan itu telah menyelamatkan jiwa sekeluarganya, dan
bahkan mendapatkan kembali harta benda yang tadi telah
dirampok, maka bangsawan she Ciok ini menjadi amat kagum,
terharu dan berterima kasih.
Tanpa disadarinya pula, di depan para pengawal dan
pelayan, ia lalu menyatakan ingin mengambil mantu kepada
Ong Han Cu, dijodohkan dengan puteri tunggalnya, yakni
gadis cantik yang tadi hampir terculik oleh kepala rampok,
yang bernama Ciok Bwe Kim. Ong Han Cu merasa bahagia
sekali oleh karena memang semenjak bertemu muka dengan
Ciok Bwe Kim, ia telah jatuh hati kepada gadis cantik ini. Serta
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
merta ia menjatuhkan diri berlutut di depan calon mertuanya
dan menghaturkan terima kasihnya.
Baru setelah kembali ke tempat tinggalnya yang aman,
yakni di dalam sebuah gedung besar di kota raja, Ciok-taijin
(pembesar she Ciok) yang berpangkat teetok, merasa
menyesal akan janjinya terhadap Ong Han Cu tadi. Ia adalah
seorang pembesar berpangkat tinggi dan berdarah
bangsawan, adapun pemuda itu sungguh pun tampan dan
gagah perkasa, akan tetapi bukan keturunan bangsawan, tidak
kaya raya, dan juga bukan ahli kesusasteraan sehingga takkan
dapat memegang pangkat tinggi.
Namun janji telah diucapkan dan banyak saksi
mendengarkan janji ini. Lagi pula, puterinya agaknya sudah
suka kepada pendekar muda itu dan iapun merasa jerih untuk
mengingkari janjinya terhadap Ong Han Cu.
Maka pernikahan lalu dilangsungkan dengan amat
sederhana. Masih besar harapan hati pembesar itu untuk
memberi bimbingan kepada mantunya agar mantu ini suka
mempelajari ilmu tulis menulis dan kelak bisa diberi
kedudukan yang akan mengangkat derajatnya. Akan tetapi
bagaimanakah hasilnya?
Ong Han Cu adalah seorang pemuda yang semenjak
kecilnya dididik dalam kegagahan dan kedua orang tuanyapun
adalah pendekar-pendekar ilmu silat yang ternama di kalangan
kang-ouw, maka tentu saja ia tidak tahan untuk duduk di
belakang meja dan mengerahkan otak untuk menghafal hurufhuruf
yang amat sukar baginya itu. Ia lebih suka keluar rumah
dan berpesiar dari pada harus mengeram diri di dalam
kamarnya. Karena inilah maka usaha mertuanya sia-sia belaka
dan seringkali ia mendapat teguran dan marah dari
mertuanya.
Isterinya, yakni Ciok Bwe Kim, yang melihat betapa ayah
ibunya seringkali marah-marah, bersedih dan amat kecewa
melihat suaminya, terpaksa memberi nasehat kepada
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
suaminya agar suka merobah cara hidupnya dan dapat
menyesuaikan diri sebagai mantu bangsawan. Akan tetapi
inipun sia-sia belaka. Sifat yang gagah dalam batin Ong Han
Cu tidak membolehkan dia berlaku pura-pura dan melakukan
sesuatu yang tak sesuai dengan jiwanya.
Demikianlah, disamping isterinya yang cantik jelita, di
dalam gedung yang besar dan mewah, dan berjalan di atas
tumpukan harta, Ong Han Cu tidak menemui kebahagiaan
rumah tangga. Ia amat mencinta isterinya, akan tetapi
pertentangan-pertentangan watak atau kebiasaan hidup
membuat ia merasa seakan-akan hidup di dalam neraka.
Apalagi setelah setahun kemudian isterinya melahirkan
seorang anak perempuan. Mertuanya makin kecewa dan
seringkali secara berterang menyatakan kekecewaannya ini di
depan mantunya. Ong Han Cu menahan sabar seberapa bisa,
akan tetapi kian lama kian beratlah perasaan itu menekan
hatinya. Setelah puterinya berusia setengah tahun, ia
menyatakan kepada isterinya untuk pergi merantau menghibur
diri dan melakukan tugas sebagai seorang pendekar dan
berdarma bakti kepada rakyat yang sengsara.
Mertuanya yang mendengar niatnya ini menjadi marah
sekali dan melarang dia pergi. Akan tetapi Ong Han Cu
memaksa sehingga terjadilah percekcokan mulut yang
pertama kalinya.
“Hiansai (mantu laki-laki)!” Bangsawan she Ciok itu
menegur marah. “Ingatlah baik-baik. Kau bukanlah seorang
pemuda liar lagi yang bebas merdeka dan boleh berbuat apa
saja di luar rumah, boleh hidup secara liar dan kasar
mengandalkan ketajaman pedang dan kekerasan tangan. Kau
adalah mantu dari seorang teetok, dan ingatlah bahwa nama
mertuamu berada di atas pundakmu pula. Kalau kau main
berandalan-berandalan di luar, dan ada orang yang
mengenalmu sebagai mantuku, bukankah itu berarti bahwa
kau akan mengotori dan mencemarkan namaku?”
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
“Gakhu!” jawab Ong Han Cu yang sudah marah, “Ingatlah
bahwa dulu gakhu (ayah mertua) memungut mantu kepadaku
karena aku pandai bermain pedang. Kalau dulu tidak ada aku
yang gakhu anggap liar dan berandalan, apakah keluarga Ciok
masih dapat diharapkan hidup lagi?”
“Hiansai, kau selalu menggali hal-hal yang sudah lalu.
Pertolonganmu dulu adalah hal kebetulan saja dan sudah
menjadi kehendak Thian pula kau berjodoh dengan puteri
tunggalku. Akan tetapi, kau harus menurut kehendakku.
Apakah kau buta dan tidak dapat melihat bahwa segala
usahaku ini untuk kebaikanmu? Untuk kebaikan isterimu dan
anakmu? Kalau kau sampai menjadi pandai, dan menduduki
pangkat tinggi, siapakah yang akan bahagia? Kau dan anak
isterimu, kami orang-orang tua hanya ikut merasa senang
saja!”
“Aku tidak suka memegang jabatan! Aku tidak suka duduk
dibelakang meja sampai punggungku bongkok! Aku tidak suka
hidup mewah berlebih-lebihan di rumah gedung sedangkan
rakyat jelata banyak yang kelaparan kedinginan!”
“Bagus, jadi apa kehendakmu?” membentak Ciok-taijin
yang sudah menjadi marah sekali.
“Aku hendak merantau untuk beberapa bulan lamanya,
atau bahkan sampai satu dua tahun!”
“Baik, kalau begitu, pergilah dan jangan kau kembali ke sini
lagi! Aku tidak mau mengaku kau sebagai anak mantu lagi!”
bentak bangsawan itu.
Terkejutlah Ong Han Cu mendengar ini dan terdengar isak
tangis isterinya. Dengan tenang Ong Han Cu lalu menghampiri
isterinya dan sambil memegang pundak isterinya dengan
mesra, ia berkata,
“Bwee Kim, isteriku. Marilah kau dan anak kita ikut
kepadaku. Kita keluar dari rumah gedung ini dan akan
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
kuperlihatkan kepadamu bahwa kehidupan di luar gedung
besar ini lebih menyenangkan!”
Akan tetapi isterinya memandangnya dengan air mata
bercucuran. Bwee Kim adalah seorang puteri bangsawan yang
semenjak kecilnya hidup di gedung besar itu. Bagaimana ia
dapat mengikuti suaminya keluar dari situ tanpa tujuan?
Bagaimana ia tidak merasa ngeri dan takut diajak merantau di
dunia yang penuh kejahatan ini? Kalau teringat akan
pengalamannya ketika dirampok dulu, ia masih menggigil
ketakutan. Apalagi kini ia sudah mempunyai seorang anak.
Bagaimanakah nasib anaknya kelak?
“Bwe Kim!” kata Ciok-taijin dengan suara keras. “Kau boleh
memilih. Kalau kau mau pergi dengan suamimu, jangan kau
kembali lagi ke rumah ini. Sebaliknya kalau kau memilih
tinggal di sini, berarti kau bercerai dengan suamimu!”
“Ayah .....!” Bwe Kim hanya dapat mengeluh dengan wajah
pucat dan pikiran bimbang sekali.
“Isteriku, apakah susahnya memilih hal yang demikian
mudah? Kau adalah isteriku, isteriku yang tercinta, dan ibu
dari pada Lian Hong anak kita yang mungil. Tentu saja kau
akan ikut padaku! Apakah artinya gedung besar kedudukan
tinggi kalau bercerai dari suami? Dan akupun akan menderita
kalau harus berpisah darimu!”
Sampai lama Bwe Kim dalam keadaan bimbang ragu dan
hanya dapat menangis sehingga Ong Han Cu yang beradat
keras menjadi hilang kesabarannya.
“Bwe Kim, berlakulah sedikit gagah dan ambilah
keputusan!” tegurnya. “Pilihlah mana yang lebih berat,
menjadi anak berbakti atau menjadi isteri setia!”
Akhirnya Bwe Kim dapat juga menjawab. “Suamiku ......
mengapa kau tidak mau menurut omongan ayahku? Mengapa
kau membiarkan aku berada dalam keadaan bingung?
Bagaimana aku harus memilih, suamiku? Tentu saja aku ingin
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
sekali menjadi seorang anak yang berbakti, sama besarnya
dengan keinginanku untuk menjadi seorang isteri yang setia
dan menyinta. Akan tetapi, kedua hal ini bagiku sekarang
masih belum menyamai besarnya keinginanku untuk melihat
anak kita hidup dengan pantas dan berbahagia. Aku tidak
perdulikan lagi keadaanku, akan tetapi bagaimanakah dengan
Lian Hong anak kita? Aku tidak bisa melihat dia hidup
terlantar, tidak berumah, tidak berpendidikan, jauh
kesenangan dan jauh dari kedudukan serta nama baik. Ah,
bagaimanakah aku harus memilih .....?”
“Nah, Han Cu, kau dengarlah baik-baik ucapan isterimu
ini!” kata Ciok-taijin yang kini tidak menyebut “anak mantu”
lagi. “Kalau kau memiliki pribudi, tidak mengingat kepentingan
diri sendiri saja, kau tentu suka pula berkorban untuk anakmu.
Bapak macam apakah kau ini yang hendak menyeret anak
isterimu ke dalam jurang kemiskinan dan kesengsaraan?”
Ong Han Cu menggigit bibirnya. Ia maklum bahwa percuma
saja ia membantah. Orang-orang kaya ini, bangsawanbangsawan
ini takkan dapat mengerti bagaimana orang-orang
yang miskin dapat hidup berbahagia. Bagi orang-orang seperti
ini ukuran bahagia hanya diukur dengan ukuran harta dan
dipertimbangkan dengan timbangan pangkat. Ia maklum
bahwa kalau ia memaksa tinggal terus di s itu akhirnya mereka
akan bentrok juga sehingga rumah tangganya akan makin
hancur. Maka ia lalu mengambil keputusan tetap dan berkata.
“Baiklah, Bwe Kim. Kalau begitu, biarlah aku pergi dan kau
bersama Lian Hong tinggallah bersama orang tuamu yang
kaya raya. Harap kau suka merawat dan mendidik Lian Hong
baik-baik!”
“Hm, kau keras kepala sekali, Han Cu!” kata Ciok-taijin.
“Kalau kau memaksa, akupun berkeras pula dan kau tidak
boleh kembali menjadi mantuku! Ingatlah ini baik-baik!”
“Tidak apa, kalau memang demikian yang dikendaki.
Menjadi mantu berbeda dengan menjadi budak belian. Aku
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
tidak sudi menjadi mantu dengan ikatan yang sedemikian rupa
sehingga aku tidak boleh bergerak sedikitpun juga!”
Isterinya hanya dapat menangis dan memeluk Lian Hong
yang masih kecil. Setelah Ong Han Cu pergi, Ciok-taijin lalu
mengumumkan perceraian anaknya dengan mantu itu untuk
menjaga agar sepak terjang Ong Han Cu di luaran tidak akan
mencemarkan dan mempengaruhi nama dan kedudukannya.
Ciok Bwe Kim hanya dapat menangis di dalam kamarnya.
Apakah daya seorang wanita muda seperti dia?
Lima tahun lewat dengan cepat sekali akan tetapi
banyaklah terjadi perobahan dalam waktu lima tahun itu.
Kalau dulu para bangsawan menganggap ilmu silat hanya
sebagai permainan orang-orang kasar dan liar belaka, kini ilmu
silat merupakan mode yang mulai meresap di kalangan
bangsawan.
Hal ini terjadi oleh karena banyaknya perampokan yang
terjadi di waktu itu dan setelah beberapa kali terjadi
perampokan pada orang-orang bangsawan, maka mereka
barulah merasa sadar akan pentingnya ilmu kepandaian silat.
Mulailah mereka memanggil guru-guru silat untuk memberi
latihan kepada putera-putera mereka, bahkan diam-diam ada
pula yang memberi didikan kepada puteri-puteri mereka
setelah dikalangan kang-ouw muncul beberapa orang
pendekar wanita yang gagah perkasa.
Ternyata bahwa Liang Hong mewarisi sifat seperti ayahnya
yakni suka akan ilmu s ilat. Mendengar bahwa beberapa orang
kawan-kawannya juga belajar ilmu silat, ia merengek-rengek
kepada ibunya minta agar supaya ia diberi pelajaran ilmu s ilat
pula.
Pada waktu itu, Ciok-taijin telah menerima lamaran seorang
hartawan untuk Bwe Kim, nyonya janda yang masih muda dan
yang kecantikannya tidak kalah oleh gadis-gadis cantik
lainnya. Bwe Kim menolak keras, akan tetapi terpaksa ia
tunduk terhadap ayahnya pula. Nyonya ini merasa berduka
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
sekali, terutama sekali ia merasa kasihan kepada Lian Hong.
Akan tetapi calon suaminya menyatakan suka menerima Lian
Hong sebagai anak sendiri, sehingga hati nyonya janda ini
menjadi lega juga.
Akan tetapi, setelah perkawinan dilangsungkan dan Bwe
Kim menjadi nyonya hartawan itu, ternyata bahwa suaminya
ini adalah seorang bandot tua yang mata keranjang sekali.
Baru menikah beberapa bulan saja, sikap suaminya ini
menjadi dingin, bahkan suaminya berani menunjukkan sikap
kurang ajar dan kurang sopan kepada Lian Hong yang baru
berusia hampir tujuh tahun itu.
Tentu saja Bwe Kim menjadi marah sekali dan baiknya ia
adalah puteri dari seorang pembesar tinggi sehingga ia dapat
mengancam suaminya. Kalau saja suaminya tidak takut
kepada Ciok-taijin, tentu hidup Bwe Kim akan menjadi makin
sengsara saja.
Akan tetapi Bwe Kim dapat menekan penderitaan hatinya,
bahkan ia merasa terhibur melihat sikap dingin dari suaminya
yang dibencinya itu. Ia malahan menganjurkan agar supaya
suaminya ini memelihara isteri muda sebanyak mungkin
sehingga ia terhindar dari pada gangguan suami hartawan ini.
Memang, pada waktu itu, lebih baik menjadi isteri seseorang
yang kurang bijaksana dari pada menjadi janda muda karena
hal ini akan merendahkan namanya. Menjadi isteri orang
berarti mendapat tempat perlindungan yang aman sentausa,
sungguhpun suaminya itu merupakan seorang suami yang
tidak baik.
Kini Bwe Kim mengundang seorang guru silat yang pandai
untuk mendidik Lian Hong dalam ilmu silat. Ternyata gadis
kecil ini berbakat sekali sehingga gurunya merasa kagum dan
juga bangga. Sayangnya, guru silat ini hanya memiliki ilmu
silat biasa saja.
Ketika Lian Hong berusia sembilan tahun, pada suatu hari
di dalam kebun bunga di mana ia berlatih silat di bawah
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
bimbingan guru silat itu, ia sedang berlatih ilmu silat pedang
dengan sebatang pedang kayu. Ilmu pedang yang dimainkan
adalah ilmu pedang asal dari cabang Bu-tong-pai yang indah
gerakannya, akan tetapi bagi mata seorang ahli, yang
dimainkan oleh guru silat yang mengajar gadis cilik itu
hanyalah ilmu pedang kembangannya saja yang indah dilihat
akan tetapi kurang berguna dalam pertempuran.
“Nah, sekarang cobalah kau meniru gerakan-gerakanku
tadi!” kata guru silat itu kepada Lian Hong yang semenjak tadi
memandang dengan kagum.
Pada saat gadis cilik ini hendak berlatih, tiba-tiba dari atas
pagar tembok kebun bunga itu melayang turun seorang lakilaki
yang pakaiannya tidak karuan akan tetapi wajahnya
tampan dan gagah sekali. Dengan ringan kedua kakinya turun
menginjak tanah di depan guru s ilat she Liong itu.
“Eh, siapakah kau dan apa maksudmu datang ke sini?”
bentak guru silat she Liong itu kepada orang ini.
Orang ini tersenyum mengejek dan berkata, “Orang macam
kau ini hendak mengajar silat kepadanya? Gila! Dengarlah,
mulai sekarang, setiap kali waktu latihan, kau berdiri saja di
sini dan akulah yang akan mengajarnya! Mengerti?”
“Eh .... kurang ajar ... siapakah kau ....?”
“Kau boleh menyebutku seperti orang lain, yakni Pat-jiu
Kiam-ong!”
Guru silat she Liong ini memandang dengan mata
terbelalak dan mulut celangap dan mukanya pucat sekali
seakan-akan ia melihat setan di siang hari.
“Pat ... pat jiu ... kiam-ong ..? Be.. benarkah?” tanyanya
gagap dan masih tidak percaya.
“Sudah diamlah dan jangan banyak bergerak!” kata Pat-jiu
Kiam-ong sambil menepuk pundak guru silat she Liong itu.
Seketika itu juga orang she Liong ini berdiri kaku bagaikan
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
patung batu karena ia telah terkena tiam-hwat (ilmu totok)
yang lihai dari Pat-jiu Kiam-ong ini.
Orang ini, yakni Pat-jiu Kiam-ong (Raja Pedang Bertangan
Delapan) sebenarnya bukan lain adalah Ong Han Cu sendiri.
Di dalam perantauannya, ia telah berhasil menemukan kitab
ilmu pedang di puncak Gunung Liong-cu-san dan telah
mempelajari ilmu pedang itu sampai sempurna betul. Bahkan
ia telah mendapatkan seorang murid wanita, yakni Nyo Siang
Lan yang dibawa ke atas Gunung Liong-cu-san dan dididik
ilmu silat tinggi.
Pada hari itu, ia meninggalkan muridnya berlatih seorang
diri di gunung itu dan turunlah ia ke kota raja mencari rumah
mertuanya. Ia tidak mempunyai niatan untuk mengganggu,
hanya karena ia merasa rindu sekali kepada isterinya,
terutama sekali kepada puterinya, maka ia ingin melihat
mereka.
Ia tidak menjadi marah ketika mendengar bahwa isterinya
itu telah menikah lagi dengan seorang hartawan, karena ia
maklum bahwa hal ini tentulah kehendak mertuanya. Ia
maklum pula bahwa memang kedudukan seorang janda muda
amat tidak baik, maka pernikahan itu hanya membuat ia
menarik napas panjang beberapa kali saja.
Namun, rindunya terhadap puterinya makin membesar dan
akhirnya ia lalu mencari rumah hartawan yang menjadi suami
Bwe Kim itu. Dari hasil penyelidikannya ia memperoleh
keterangan bahwa puteri keluarga kaya ini yang bernama Lian
Hong setiap senja berlatih silat di kebun bunga yang berada di
belakang rumah. Oleh karena memang niatnya hanya hendak
bertemu dengan puterinya, maka pada hari itu ia sengaja
melompati pagar tembok di belakang rumah dan kebetulan
sekali pada waktu itu ia melihat seorang gadis cilik yang amat
cantik jelita tengah dilatih silat oleh seorang guru silat yang
kepandaiannya biasa saja.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Lian Hong yang menyaksikan perbuatan pendekar ini,
menjadi terheran-heran, akan tetapi sedikitpun ia tidak
memperlihatkan rasa takut, bahkan memandang dengan
sepasang matanya yang bening seperti burung hong itu. Ingin
sekali Ong Han Cu memeluk puterinya, akan tetapi ia
menahan hasratnya ini dan tersenyum manis dan ramah
kepada gadis cilik itu.
“Kau bernama Lian Hong, bukan?” akhirnya setelah dapat
menekan keharuan hatinya ia bertanya lembut.
Lian Hong mengangguk heran dan bertanya, “Orang tua,
kau apakan Liong-suhu ini? Mengapa ia menjadi kaku seperti
patung?”
Pat-jiu Kiam-ong tertawa geli, “Tidak apa, jangan kau
khawatir, anak baik. Orang she Liong ini hanya kutotok jalan
darahnya agar tidak membikin ribut.”
“Sebetulnya, apakah maksudmu datang kesini dan
membikin Liong-suhu tidak berdaya?” tanya pula Lian Hong.
“Anak yang manis, tiada gunanya kau belajar kepada orang
macam ini. Apakah kau ingin mempelajari ilmu silat yang
tinggi?”
Lian Hong adalah seorang anak yang cerdik sekali. Melihat
perbuatan orang itu terhadap suhunya, ia dapat menduga
bahwa orang ini tentulah seorang yang berkepandaian tinggi,
maka ia mengangguk.
“Bagus,” kata Ong Han Cu. “Kalau begitu, mulai sekarang
biarlah aku menggantikan orang ini mengajar ilmu silat
kepadamu!” Ia berhenti sebentar, memandang tajam kepada
gadis cilik itu lalu bertanya, “Sukakah kau menjadi muridku?”
Lian Hong ragu-ragu, “Aku ..... aku ingin sekali mempelajari
ilmu silat tinggi, akan tetapi ... aku tidak tahu siapa lopek ini,
dan baiknya aku bertanya dulu kepada ibuku!” Sambil berkata
demikian, gadis itu hendak lari masuk, akan tetapi sekali
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
melompat saja Pat-jiu Kiam-ong telah berada di depannya
menghadang di tengah jalan. Gadis cilik itu terkejut sekali
karena tidak tahu bagaimana orang tua ini tahu-tahu telah
berada didepannya.
Pat-jiu Kiam-ong mengangkat kedua tangannya dan
menggerak-gerakkan tangan itu ke kanan kiri. “Jangan .....
jangan kau memanggil ibumu. Aku tidak apa-apa, hanya akan
menurunkan ilmu pedang yang bagus dan tinggi kepadamu.
Jangan kau menceritakan kepada siapa juga bahwa aku
mengajar ilmu silat kepadamu. Nah, kau lihat pohon itu,
bukankah cabang-cabang dan daun-daunnya tidak rata.
Perhatikan pedangku dan kemudian katakanlah apakah kau
tidak ingin memiliki kepandaian seperti ini!” Orang tua ini lalu
melepaskan ikat pinggangnya yang ternyata adalah sebuah
pedang tipis sekali, lalu ia berseru keras dan tahu-tahu
tubuhnya telah melayang cepat ke atas ke arah pohon itu.
Lian Hong tidak melihat bagaimana orang itu bergerak, hanya
melihat sinar pedang bergulung–gulung disektar pohon itu dan
tahu-tahu cabang dan daun-daun pohon jatuh berhamburan di
bawah pohon.
Ketika sinar pedang itu lenyap, orang itu telah turun dan
berdiri pula di depannya sambil tersenyum. Apabila ia
menengok ke arah pohon itu, ternyata kini cabang-cabang dan
daun-daun itu telah dibabat menjadi rata sehingga pohon itu
berubah menjadi berbentuk payung yang bagus sekali. Hampir
saja Lian Hong bersorak girang melihat kehebatan ini.
“Nah, sukakah kau mempelajari ilmu pedang ini?”
“Hebat, hebat ......!” gadis cilik itu memuji. “Bagaimanakah
aku dapat mempelajari ilmu semacam itu? Seperti sulap saja!”
Pat-jiu Kiam-ong tertawa geli, “Bukan sulap, juga bukan
sihir, anak baik. Perbuatan itu dapat kau lakukan apabila kau
telah memiliki ilmu ginkang yang tinggi dan pergerakan
pedang yang cepat dan tepat. Nah, apakah kau suka menjadi
muridku?”
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Dengan hati yang amat girang, serta merta Lian Hong lalu
menjatuhkan diri berlutut di depan orang itu dan Ong Han Cu
lalu memegang pundak gadis itu, diangkatnya bangun. Ingin
sekali ia memeluk anaknya ini, akan tetapi karena ia tidak mau
membikin kaget anak itu, dan tidak mau membuka rahasianya,
maka ia hanya memegang kedua pundak gadis itu dan
memandang mukanya dengan mesra sekali. Keharuan besar
membuat kedua matanya tiba-tiba mengeluarkan air mata
tanpa dapat dicegah lagi.
“Eh ..... suhu, mengapa kau mengalirkan air mata?” tanya
Lian Hong dan entah mengapa, di dalam hatinya gadis cilik ini
merasa kasihan sekali kepada orang yang kini menjadi
gurunya ini.
Mendengar pertanyaan ini, sadarlah Ong Han Cu dari
lamunannya dan ia segera melepaskan tangannya dan
memaksa bibirnya tersenyum. “Ah, tidak apa-apa, nak, ...tidak
apa-apa. Kau mulai sekarang perhatikanlah segala petunjukku
dan belajarlah baik-baik.” Ia lalu mulai memberi pelajaran
kauwkoat (teori ilmu silat) kepada anaknya itu, disertai
contoh-contoh menjalankan ilmu pukulan. Sampai beberapa
lama mereka tekun sekali, yang seorang memberi petunjuk,
yang lain meniru gerakan dan mengingat semua petunjuk
yang diberikan.
Setelah senja berganti malam, Ong Han Cu lalu
menghampiri guru silat she Liong yang masih berdiri di situ
bagaikan patung, menepuk pundaknya sekali sehingga guru
silat ini mengeluh dan jatuh duduk di atas tanah.
“Sahabat, kau kini tahu bahwa kau berhadapan dengan
Pat-jiu Kiam-ong, maka janganlah kau main-main!” kata Ong
Han Cu. “Mulai sekarang, anak ini menjadi muridku dan tiap
sore aku datang kemari untuk melatihnya. Kau datanglah
seperti biasa dan jangan kau ceritakan tentang kedatanganku
ini kepada siapapun juga. Mengerti!!?”
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
“Baiklah, taihiap!” kata guru silat itu dengan takut. Telah
lama ia mendengar nama Raja Pedang Bertangan Delapan dan
baru sekarang ia menyaksikan sendiri kehebatan pendekar ini
karena biarpun ia berada dalam keadaan tertotok, tadi ia
masih dapat menyaksikan ilmu pedang pendekar itu ketika
berdemonstrasi membabat pohon.
Demikianlah hampir dua tahun lamanya Pat-jiu Kiam-ong
melatih ilmu silat dan ilmu pedang kepada puterinya sendiri
tanpa diketahui oleh seorangpun kecuali guru silat she Liong
yang takut membocorkan rahasianya. Bahkan Lian Hong
sendiri sama sekali tak pernah mimpi bahwa orang yang
menjadi suhunya ini adalah ayahnya sendiri.
Pada senja hari itu, tidak seperti biasanya, Liong-kauwsu
tidak datang di kebun bunga itu. “Mana Liong-kauwsu?” tanya
Ong Han Cu kepada Lian Hong ketika ia melompat masuk ke
dalam kebun itu.
“Entahlah, suhu. Liong-suhu sejak tadi tidak ada, mungkin
ada halangan.”
Pat-jiu Kiam-ong Ong Han Cu mengerutkan alis dan merasa
tidak enak hati.
“Lian Hong, aku suka sekali memberi pelajaran silat
kepadamu karena kau adalah seorang anak yang cerdik dan
pandai. Aku merasa seakan-akan kau anakku sendiri dan
karenannya, aku hendak menurunkan seluruh kepandaianku
kepadamu. Akan tetapi, hal ini baru bisa terlaksana kalau kau
ikut dengan aku pergi ke Liong-cu-san dan berlatih bersamasama
dengan sucimu yakni Siang Lan.”
Memang sudah seringkali Ong Han Cu menceritakan Lian
Hong tentang muridnya itu, dan selama dua tahun ini, ia
selalu mondar-mandir dari Liong-cu-san ke kota raja. Sebentar
melatih Siang Lan, sebentar melatih Lian Hong.”
“Apakah teecu (murid) harus ..... tinggalkan ibu, suhu?”
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Ong Han Cu menghela napas. “Kalau terpaksa, apa boleh
buat. Belajar silat dengan cara sembunyi-sembunyi seperti ini,
kemajuannya akan lambat sekali. Disini aku membawa kitab
pelajaran ilmu pedang Liong-cu Kiam-hwat untuk kau pelajari
sendiri dengan baik, karena aku tidak mungkin harus datang
setiap sore di tempat ini. Setelah lewat satu dua bulan,
barulah aku akan datang dan melihat kemajuanmu.”
“Lebih baik demikianlah diaturnya, suhu. Karena
sesungguhnya, untuk meninggalkan ibu seorang diri di sini,
teecu merasa tidak tega.”
“Seorang diri ?? Bukankah .... bukankah ... ada ayahmu?”
Lian Hong menarik napas panjang. Ia tidak suka
membicarakan hal ayahnya karena entah mengapa ia tidak
suka kepada ayahnya yang mempunyai banyak bini muda dan
yang sama sekali tidak memperdulikan ibunya itu. Akan tetapi,
tentu saja hal ini tak dapat ia katakan kepada orang lain.
Pada saat itu, tiba-tiba terdengar seruan seorang wanita
yang muncul dari pintu belakang.
“Lian Hong! Kau bercakap-cakap dengan siapakah?” Dan
dari balik pintu muncullah Ciok Bwe Kim, Ibu Lian Hong.
Ong Han Cu hendak melarikan diri, namun sudah terlambat
dan tidak dapat berbuat lain berdiri memandang bekas
isterinya itu dengan hati berdebar. Bwe Kim ketika mengenal
bekas suaminya ini, tiba-tiba menjadi pucat dan memandang
dengan mata terbelalak.
“Kau ....kau...?” katanya gagap. “Setelah meninggalkan
kami ... kau ... kau kini datang untuk melumuri muka kami
dengan kecemaran ... ? Pergi! Pergilah kau orang yang hanya
ingat akan kesenangan diri sendiri saja. Pergi!”
“Bwe Kim ... aku ... aku hanya datang untuk melatih ilmu
silat kepada ... Lian Hong ...” Ong Han Cu mencoba untuk
membela diri.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
“Aku tahu! Bagus benar, kau melatih ilmu silat dengan
diam-diam seperti seorang maling. Apakah kau sedikit juga
tidak mempunyai pikiran betapa akan ributnya kalau sampai
kehadiranmu di sini diketahui orang lain? Apakah namaku
tidak akan rusak dan tercemar apabila orang lain mengetahui
siapa adanya kau dan bahwa kau hampir setiap hari datang ke
tempat ini? Ah, Han Cu .... kau sungguh tidak memperdulikan
keadaan orang lain ...” Nyonya muda ini lalu menangis.
Lian Hong yang semenjak tadi berdiri melengong, terheranheran
karena tidak mengerti apakah artinya percakapan
antara ibunya dan suhunya ini, lalu memeluk ibunya dan
bertanya.
“Ibu, apakah artinya semua ini?” Ibunya tidak menjawab
dan ketika Lian Hong memandang ke arah suhunya dengan
mata bertanya, Ong Han Cu berkata.
“Lian Hong, bawalah ibumu masuk ke dalam. Aku hendak
pergi dari sini. Ibumu memang benar, aku seorang yang
hanya mengingat akan diri sendiri saja. Jagalah baik-baik kitab
itu, kemudian belajarlah dengan giat. Selamat tinggal!”
Dengan sekali menggerakkan tubuhnya, Ong Han Cu
melompat keluar dari pagar tembok itu.
“Ibu, kau sudah kenal kepada suhu?” tanya Lian Hong yang
masih memeluk ibunya.
Makin keraslah tangis ibunya ketika mendengar pertanyaan
ini, dan sambil merangkul leher anaknya ia berkata. “Anakku
... dia ...dia adalah ..... ayahmu sendiri!”
Kalau ada halilintar menyambar kepalanya di waktu itu,
belum tentu Lian Hong sekaget ketika mendengar ucapan ini.
Ia melepaskan pelukannya dan memegang kedua pundak
ibunya, menatap wajah ibunya yang basah dengan air mata
itu dan berkata gagap.
“Apa ....? Apakah artinya ucapan ini, ibu?”
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Di antara isak tangisnya, Bwe Kim berkata, “Dia adalah
ayahmu .... yang telah meninggalkan kita ketika kau baru
berusia enam bulan!” Kemudian ia menceritakan segala
peristiwa yang terjadi pada waktu dulu, semenjak Ong Han Cu
menolong keluarga Ciok-taijin sampai ia dikawinkan dengan
pendekar itu dan bagaimana pendekar yang menjadi suaminya
itu akhirnya meninggalkan mereka.
Pucatlah wajah Lian Hong mendengar cerita ini dan
berulang kali ia menghela napas, menyesali nasib ibunya.
“Ah, ibu ... kau ... kau dulu telah berlaku keliru ...”
Ibunya mengangguk sedih. “Aku melakukan pengorbanan
perasaan demi kebahagiaanmu, anakku. Aku tidak ingin
melihat kau terbawa dalam pengembaraan yang penuh
kesengsaraan ....”
“Salah ibu,” gadis yang baru berusia dua belas tahun itu
berkata sambil mengerutkan kening, “kalau dulu ibu ikut
dengan ayah, keadaan ibu takkan menjadi begini. Pantas saja
aku selalu tidak suka kepada ayah yang sekarang, tidak
tahunya ia bukan ayahku sendiri.”
“Sudahlah, Lian Hong nasi telah menjadi bubur, hal ini tak
dapat disesalkan lagi. Jangan kau menceritakan hal kita ini
kepada siapapun juga. Kau harus menjaga nama baik kongkongmu.
Kau tahu bagaimana baiknya ayah ibuku terhadap
kau.”
“Akan tetapi mereka berlaku kejam karena memaksa ibu
menikah lagi!” kata Lian Hong cemberut.
“Hush, jangan berkata demikian, nak. Kau masih terlampau
kecil untuk mengetahui urusan orang dewasa. Kau tidak
mengerti nasib seorang janda muda.”
Semenjak terbukanya rahasia itu sikap Lian Hong terhadap
ayah tirinya makin dingin. Diam-diam ia merasa girang sekali
dengan kenyataan, bahwa dia bukanlah puteri hartawan
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
bandot tua yang mata keranjang dan tiada guna itu,
melainkan puteri dari Pat-jiu Kiam-ong Ong Han Cu, pendekar
besar yang juga menjadi suhunya yang dikagumi itu. Sebagai
puteri seorang pendekar besar, iapun bercita-cita untuk
menjadi seorang pendekar, maka makin giatlah ia melatih diri,
mempelajari ilmu pedang Liong-cu Kiam-hwat dari kitab
pelajaran yang ditinggalkan oleh guru atau ayahnya itu.
Sementara itu, Ciok-taijin suami isteri juga amat sayang
terhadap Lian Hong. Pembesar ini hanya mempunyai seorang
anak saja, yakni Ciok Bwe Kim dan kini ternyata bahwa Bwe
Kim juga hanya mempunyai seorang puteri. Maka tentu saja
bangsawan ini amat sayang kepada cucu tunggal mereka.
Karena mereka tinggal se kota, yakni di kota raja, maka
seringkali bangsawan Ciok menitah pelayan-pelayan untuk
menjemput Lian Hong dan gadis cilik itu dengan gembira
bermain-main di rumah kakeknya.
Setelah Lian Hong berusia empat belas tahun, ia telah
menjadi seorang gadis remaja puteri yang cantik jelita dan
makin mengilerlah bandot tua yang menjadi ayah tirinya itu.
Setiap hari mata yang sipit dan keriputan itu menatap wajah
dan tubuh gadis ini dengan penuh gairah.
Pada suatu hari, ketika Lian Hong sedang berlatih ilmu silat
di kebun belakang, tiba-tiba ayah tirinya datang sambil
tersenyum-senyum. Seperti biasa, apabila ia sedang berlatih
silat, Lian Hong mengenakan pakaian yang ringkas sehingga
tubuhnya yang mulai berkembang itu tercetak oleh
pakaiannya yang ringkas. Pemandangan ini cukup merangsang
hati bandot tua itu, maka sambil tersenyum ia menghampiri
Lian Hong dan hendak menaruh kedua tangannya pada
pinggang itu sambil berkata.
“Lian Hong, anakku. Kau cantik sekali dalam pakaian
seperti ini. Bagaimana dengan latihanmu, anakku yang
manis?”
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Akan tetapi sekali menggerakkan kakinya, Lian Hong telah
dapat mengelak dari pelukan “ayahnya” dan menjauhkan diri
sambil memandang dengan mulut merengut.
“Jangan ayah pegang-pegang aku! Aku bukan gundik
ayah!” katanya.
“Eh, eh ... ibumu sendiri tidak cemburu melihat aku
mempunyai banyak bini muda, akan tetapi kau agaknya
cemburu .... ha, ha, ha!”
“Siapa yang cemburu? Biarpun ayah akan memelihara
seribu orang gundik, aku tidak perduli! Akan tetapi jangan
ayah hendak menyamakan aku dengan gundik-gundik itu!”
Lian Hong membentak.
(Oo-dwkz-oO)
Jilid 3
“Eh, Lian Hong, kau kenapakah? Aku ayahmu, tidak
bolehkah seorang ayah mendekati anaknya?”
“Siapa bilang tidak boleh, akan tetapi ayah jangan
menyentuhku, jangan memelukku, aku bukan gundikmu!” kata
Lian Hong makin marah. Ia masih menahan keinginannya dan
tidak hendak membuka rahasia bahwa ia sudah tahu akan
kedudukan orang tua ini terhadap dia.
(Oo-dwkz-oO)
04. Guru Silat Kiriman
KAKEK itu melangkah maju lagi penasaran. “Apakah
salahnya kalau aku menyentuhmu, memelukmu? Apakah dulu
ketika kau masih kecil tidak kugendong-gendong, kuciumi dan
kupeluk? Lian Hong, janganlah kau bersikap seaneh ini.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Ibumukah yang mengajarmu bersikap sekurang ajar ini
terhadap ayahmu sendiri?”
Sambil berkata demikian, ia melompat maju dan
memegang lengan tangan Lian Hong lalu hendak
memeluknya. Sikap gadis yang luar biasa cantiknya ini telah
merangsang hatinya dan membuatnya mata gelap saking
besarnya nafsu jahat bergelora di dalam dadanya. Hartawan
ini pernah belajar ilmu silat maka ia berhasil menangkap
tangan Lian Hong, akan tetapi sekali gadis itu menggetakkan
lengannya, ia dapat melepaskan tangan itu dan kini ia tak
dapat menahan sabarnya lagi. Ia berdiri dengan mata
bersinar-sinar dan muka merah karena marah.
“Tua bangka! Kau masih tidak malu menyebut aku sebagai
anakmu? Aku bukan anakmu! Kau kira aku tidak tahu akan hal
ini? Aku adalah anak dari Pat-jiu Kiam-ong Ong Han Cu,
seorang pendekar gagah perkasa, bukan seorang bandot tua
gila perempuan macam kau!”
Bukan main kagetnya hartawan itu mendengar ucapan ini.
Ia merasa kaget dan juga marah sekali karena ia amat
terhina. Sambil menudingkan telunjuknya ke arah muka gadis
itu, ia berkata, “Bagus, tentu ibumu yang telah berlancang
mulut dan membuka rahasia kebusukkan ini! Sungguh tidak
tahu malu! Bagus sekali kalau kau sudah tahu bahwa kau
adalah anak dari seorang perampok, seorang liar hina dina,
seorang petualang miskin. Kau tentu tidak mengira bahwa kau
adalah hasil perjinaan dari bangsat perampok itu dengan
ibumu yang tak tahu malu .....”
“Plak!!” tiba-tiba tubuh hartawan itu terhuyung ke belakang
dan dari mulutnya mengalir darah. Secepat kilat tangan Lian
Hong tadi telah menampar mulutnya, membuat bibirnya pecah
dan mengeluarkan darah.
“Bangsat tua bangka!” Lian Hong memaki dengan marah
sekali. “Kalau kau tidak lekas menarik kembali ucapanmu yang
busuk dan minta ampun, aku akan membunuhmu!”
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Kembali kedua tangannya bertubi-tubi menyerang,
membuat tubuh ayah tirinya itu terguling-guling dan kakek
bandot tua itu berkuik-kuik menjerit kesakitan.
“Hayo lekas minta ampun!” seru Lian Hong sambil memukul
lagi. Biarpun gadis ini baru berusia empat belas tahun namun
ia telah mempelajari ilmu silat tinggi sehingga tenaganya
sudah besar dan lihai sekali. Kalau ia mau, dengan sekali
pukul ia dapat mengirim nyawa bandot tua itu ke neraka, akan
tetapi Lian Hong masih teringat bahwa hal ini akan
menimbulkan kegemparan.
Pada saat itu, muncullah Bwe Kim yang mendengar suara
suaminya menjerit-jerit, seperti anjing dipukul. Alangkah
terkejutnya ketika ia melihat bahwa yang menghajar suaminya
adalah Lian Hong.
“Lian Hong .... jangan ...!” teriaknya sambil menubruk dan
merangkul anaknya.
Dengan napas terengah-engah saking marahnya, Lian Hong
berkata.
“Biarlah ibu ...... bangsat tua bangka ini telah menghina ibu
dan ayah .... biar kuhajar dia sampai mampus!”
“Jangan, Lian Hong, sabarlah .... amat memalukan kalau
terdengar oleh orang lain ....”
Sementara itu, hartawan yang tadinya bergulingan di atas
lantai, ketika mendapat kesempatan, lalu bangun berdiri.
“Baik sekali!” katanya dengan marah sambil menuding ke
arah isterinya. “Orang-orang tidak tahu diri, tidak kenal budi
dan tidak tahu malu! Aku sudah menolongmu dari seorang
janda hina dina yang mempunyai anak, aku telah
mengangkatmu menjadi isteriku yang terhormat. Sekarang
kau lakukan hal ini terhadapku, bagus! Aku akan ceraikan kau,
dan kalian boleh mengikuti perampok hina dina itu ....”
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Akan tetapi tiba-tiba Lian Hong memberontak dari pelukan
ibunya dan sekali gadis ini mengirim pukulan ke arah iga ayah
tirinya, robohlah bandot tua itu dengan mata mendelik dan
pingsan. Bwe Kim menjerit, akan tetapi Lian Hong lalu menarik
tangan ibunya.
“Ibu, mari kita pulang ke rumah kong-kong (kakek),” kata
Lian Hong.
“Ayah tidak akan mau menerima kita ...!”
“Biarlah,” kata Lian Hong gemas, “Kalau tidak mau
menerima, kita pergi berdua mencari ayah!”
Demikianlah dengan setengah memaksa, Lian Hong
membawa ibunya keluar dari rumah ayah tirinya dan pergi ke
rumah Ciok-taijin.
Pembesar ini bersama isterinya menerima kedatangan
mereka dengan terheran-heran. Bwe Kim tak dapat berkata
sesuatu hanya menjatuhkan diri berlutut di depan ayah
bundanya sambil menangis sedih.
Sebaliknya, dengan sikap gagah dan menantang seperti
ayahnya dulu, Lian Hong berkata kepada Ciok-taijin suami
isteri yang amat sayang kepadanya.
“Kong-kong telah menjerumuskan ibu ke dalam jurang
kehinaan dan penderitaan!” Dengan lancar ia lalu
menceritakan betapa ayah tirinya telah memelihara banyak
sekali gundik tanpa memperdulikan ibunya, dan juga terus
terang ia ceritakan betapa ayah tirinya selalu berlaku kurang
ajar dan tidak sopan terhadap dia sehingga ia menceritakan
pula tentang peristiwa yang baru saja terjadi.
“Sekarang terserah kepada kong-kong. Kalau kong-kong
mau menerima ibu dan aku untuk kembali tinggal di sini,
baiklah, ibu dan aku akan tinggal di sini, merawat kong-kong
berdua dan akan menurut segala kata-kata kong-kong. Akan
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
tetapi kalau tidak mau menerima kita, juga tidak apa. Kami
berdua akan pergi mencari ayah!”
Ciok-taijin dan isterinya saling pandang. Nyonya Ciok tak
terasa lagi mencucurkan airmata sambil merangkul cucunya,
sedangkan Ciok-taijin lalu menggeleng-geleng kepalanya dan
berkata,
“Bwe Kim, sungguh tidak kunyana sekali bahwa kau puteri
kami satu-satunya selalu mendatangkan kepusingan dan
kekecewaan kepada orang tuamu ....”
Bwe Kim memeluk kaki ayahnya dan berkata lirih
memilukan.
“Ampun, ayah .... ampunkan anak yang puthauw (tidak
berbakti atau durhaka).”
Akan tetapi Lian Hong lalu melepaskan diri dari pelukan
neneknya dan sambil menghadapi kakeknya dengan mata
bernyala ia berkata membela ibunya. “Kong-kong! Mengapa
kong-kong menyalahkan ibu? Dalam hal ini ibulah yang
menderita, padahal ibu selalu hanya menurut perintah kongkong!
Ibu menikah dengan ayah atas perintah kong-kong,
kemudian ibu menikah dengan jahanam itupun atas perintah
kong-kong. Kalau pernikahan itu gagal dan ibu menderita
karenannya, apakah itupun harus disalahkan kepada ibu?
Sungguh tidak adil!”
Tertegun kedua suami isteri bangsawan itu mendengar
ucapan dan melihat sikap cucu mereka ini. Mereka saling
pandang dan Ciok-taijin lalu memeluk cucunya sambil berkata,
“Kau keras kepala dan berani seperti ayahmu, dan kau jauh
lebih uhauw (berbakti) daripada ibumu. Baiklah, kami
menerima kalian, akan tetapi semenjak saat ini, kalian harus
mentaati segala kata-kataku.”
Dengan girang sekali Bwe Kim menubruk ibunya dan
menangis tersedu-sedan. Ia merasa amat girang bahwa
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
akhirnya ia dapat kembali ke rumah orang tuanya di mana ia
dilahirkan dan dibesarkan. Kembali ke rumah orang tuanya
berarti bahwa ia terlepas dari pada kesengsaraan batin dan
penderitaan.
Demikianlah, semenjak hari itu, Lian Hong bersama ibunya
tinggal di rumah gedung Ciok-taijin. Bwe Kim memesan
kepada puterinya agar supaya mentaati segala nasehat kongkongnya.
Tentu saja Lian Hong menurut akan pesan ibunya ini
dan ia mulai belajar ilmu surat sebagaimana yang dikehendaki
oleh Ciok-taijin. Bahkan, ketika Ciok-taijin memuji-muji
kepandaian menari dari seorang selir kaisar, gadis remaja
inipun lalu belajar menari. Ternyata ia berbakat baik sekali
dalam tari-tarian dan gerakannya amat indah sehingga guru
tarinya, seorang guru tari kerajaan, amat memujinya.
Setahun kemudian, pada suatu hari, di luar gedung Cioktaijin
datang seorang hwesio tua yang bertubuh gemuk sekali.
Hwesio ini adalah seorang jai-hwa-cat (penjahat pemetik
bunga) yang pernah dirobohkan oleh Pat-jiu kiam-ong Ong
Han Cu lima tahun yang lalu. Dengan amat sakit hati penjahat
yang berpura-pura menjadi pendeta ini lalu melatih diri di
puncak gunung dan mempelajari ilmu silat yang disebut Hekcoa
Tok-jiu (Pukulan Tangan Racun Ular Hitam), semacam
ilmu pukulan yang luar biasa jahat dan lihainya. Jangankan
sampai terkena pukulan tangan yang telah diisi bisa ular hitam
ini, baru terkena sambaran anginnya saja sudah merupakan
bahaya maut yang sukar sekali dihindarkan. Selama lima
tahun hwesio ini melatih diri dengan amat giatnya dan setelah
mempelajari dengan sempurna, ia lalu turun gunung untuk
membalas dendam kepada Ong Han Cu.
Ia mendengar bahwa Ong Han Cu adalah mantu dari Cioktaijin,
maka langsung ia mendatangi rumah gedung
bangsawan itu. Kepada penjaga pintu ia berkata kasar.
“Katakan kepada Ong Han Cu bahwa aku Jai-hwa-sian Leng
Kok Hosiang hendak bertemu.”
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Penjaga itu menjadi mendongkol melihat sikap kasar ini
dan menjawab dengan kasar pula. “Di sini tidak ada orang
bernama Ong Han Cu dan kalau kau mau minta derma,
pergilah ke rumah orang lain. Jangan kau mengganggu,
karena ini adalah rumah Ciok-taijin yang tentu takkan
mengampuni kalau kau berani berlaku kurang ajar!”
Hwesio itu tertawa bergelak. “Hm, kau bohong! Kalau dia
tidak ada, suruhlah pembesar she Ciok itu keluar untuk
membayar hutang mantunya!”
“Eh, hwesio kurang ajar dari manakah kau berani
mengacau di s ini? Hayo pergi sebelum kupukul!” kata penjaga
itu. Akan tetapi baru saja ia menutup mulutnya, tubuhnya
telah terlempar jauh padahal hwesio itu hanya mengebutkan
ujung lengan bajunya saja.
Penjaga itu berteriak-teriak kesakitan dan minta tolong,
maka dari dalam pekarangan gedung itu berserabutan keluar
sepuluh orang penjaga yang setiap hari secara bergiliran
menjaga keselamatan bangsawan she Ciok itu. Dengan marah
para penjaga itu lalu mencabut golok dan mengurung hwesio
gemuk itu yang tertawa bergelak sambil memandang dengan
mata mengejek.
“Ha, ha, anjing-anjing penjaga yang menjemukan! Kalau
kalian tidak ingin digebuk, lekas beritahukan kepada Ong Han
Cu atau mertuanya she Ciok itu agar keluar bertemu dengan
pinceng!”
Akan tetapi tentu saja para penjaga tidak meladeni
omongan hwesio yang dianggap kurang ajar ini dan mereka
segera menyerang dengan golok mereka. Hwesio itu kembali
tertawa bergelak dan bagaikan kitiran angin, kedua tangannya
diputar dan ujung lengan bajunya yang panjang menyambarnyambar
ke arah sepuluh orang penjaga itu. Kalau dilihat
sungguh mengherankan sekali oleh karena begitu senjatasenjata
tajam para penjaga bertemu dengan ujung lengan
baju, para penjaga itu berteriak kaget dan senjata mereka
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
terlepas dari pegangan. Hiruk pikuk suara senjata-senjata itu
terlempar dan jatuh di atas tanah, berbareng dengan
robohnya tubuh para penjaga dan teriakan-teriakan kesakitan
dari mereka.
Peristiwa ini telah dilihat oleh seorang pelayan yang segera
memberi laporan ke dalam. Kebetulan sekali Ciok-taijin sedang
duduk bersama isterinya, Bwe Kim, dan Lian Hong. Mendengar
laporan pelayan bahwa di luar ada seorang hwesio hendak
bertemu dengan Ong Han Cu atau bangsawan Ciok, dan
betapa hwesio itu mengamuk, Lian Hong menjadi marah sekali
dan gadis cilik ini segera berlari keluar membawa sebatang
pedang.
“Eh, Lian Hong, hati-hatilah ........” kata pembesar itu yang
amat sayang kepada cucunya ini. Serta merta iapun lalu
berlari keluar untuk melihat sendiri siapa adanya hwesio yang
berani berlaku kurang ajar itu.
Ketika Lian Hong dan kakeknya tiba di luar, para penjaga
telah roboh semua merintih-rintih dengan kepala benjol atau
tulang patah.
“Hwesio kurang ajar dari manakah berani main gila di s ini?”
teriak Ciok-taijin.
Leng Kok Hosiang menyipitkan matanya ketika ia
menyaksikan seorang gadis muda yang amat cantik berdiri di
depannya bersama seorang tua yang berpakaian seperti
pembesar tinggi. Ia lalu tersenyum-senyum dan berkata.
“Apakah kau yang bernama Ciok-taijin? Kalau kau ingin
keluargamu selamat, lekaslah kau suruh keluar jahanam Ong
Han Cu yang menjadi mantumu itu!”
“Bangsat gundul bermulut lancang!” tiba-tiba Lian Hong tak
dapat menahan marahnya dan cepat ia menerjang dengan
pedangnya, melompat maju sambil menusuk dengan gerak
tipu Hui-eng-bok-tho (Elang Terbang Menyambar Kelinci).
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Jai-hwa-sian Leng Kok Hosiang tertawa gembira. “Aduh,
masih mudah remaja telah mempunyai gerakan yang demikian
indah! Bagus, kau siapakah nona?” tanyanya sambil mengelak
cepat dari tusukan Lian Hong.
“Bukalah matamu, setan gundul dan lihatlah baik-baik. Aku
adalah puteri dari Ong Han Cu yang hendak mewakili ayah
mematahkan lehermu!”
“Lian Hong .....!” Ciok-taijin berseru keras. Ia telah
melarang kepada gadis itu untuk memberitahukan kepada
siapapun juga bahwa gadis itu adalah puteri dari Ong Han Cu.
Dalam kemarahannya mendengar ayahnya dihina orang ia
baru sadar akan kesalahannya, maka dengan gemas ia lalu
maju menyerang lagi dengan gerak tipu Merak Sakti
Mengangkat Ekornya, yakni gerak tipu yang amat lihai dari
ilmu pedang Liong-cu Kiam-hwat. Terkejut jugalah hwesio
gendut itu ketika melihat gerakan yang amat cepat dan lihai
ini, karena pedang di tangan gadis ini bergerak berputar-putar
dan menyerangnya dari berbagai jurusan secara bertubi-tubi.
Lian Hong telah mempelajari ilmu pedang Liong-cu kiamhwat,
akan tetapi oleh karena ia hanya mempelajarinya dari
kitab pelajaran ilmu pedang tanpa mendapat bimbingan
langsung dari ayahnya, dan pula karena ia memang belum
berpengalaman, maka sungguhpun ia dapat melakukan
gerakan yang indah dan cepat, namun gerakkannya ini masih
kurang isi dan kurang tenaga.
Kalau hanya menghadapi ahli silat tingkat pertengahan
saja, belum tentu ia akan kalah, akan tetapi sekarang ia
menghadapi Jai-hwa-sian (Dewa Pemetik Bunga) Leng Kok
Hosiang yang selain berilmu tinggi, juga sudah banyak
pengalaman dalam pertempuran. Apalagi selama lima tahun
hwesio ini telah melatih diri dengan tekun, maka ilmu silatnya
masih jauh berada di atas tingkat kepandaian gadis itu.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Masih baik nasib Lian Hong bahwa hwesio mata keranjang
ini tertarik akan kecantikkannya maka hwesio ini tidak
menurunkan tangan kejam. Kalau saja Leng Kok Hosiang
mempergunakan ilmu pukulan Hek-coa-tok-jiu, tentu gadis ini
akan tewas dengan sekali pukul saja. Karena berniat hendak
menangkap gadis cantik jelita ini, maka Leng Kok Hosiang
hanya mainkan kedua ujung lengan bajunya untuk menangkis
serangan-serangan Lian Hong.
Akan tetapi, Liong-cu kiam-hwat benar-benar hebat dan
sukar sekali diketahui perobahan gerakannya. Ketika pedang
di tangan Lian Hong menusuk ke arah tenggorokan hwesio itu
dan ditangkis dengan kebutan ujung lengan baju kanan, tibatiba
pedang itu dirobah gerakannya dan membabat ke bawah
memapaki lengan hwesio itu. Gerakan ini demikian cepatnya
dan tidak terduga-duga sama sekali sehingga hampir saja
tangan hwesio itu kena terbabat. Ia berseru keras dan
menarik lengannya, akan tetapi ujung lengan bajunya masih
kena babatan pedang sehingga putus.
Bukan main marahnya Leng Kok Hosiang melihat hal ini.
Dengan berseru keras ia lalu menubruk maju, mainkan kedua
tangannya dan menyerang dengan ilmu pukulan Eng-jiau-kang
(Pukulan Kuku Garuda). Serangan ini hebat sekali, Lian Hong
masih berusaha mengelak, akan tetapi gerakan tangan hwesio
itu lebih cepat lagi sehingga lengan kanannya kena
dicengkeram. Sambil berteriak kesakitan, Lian Hong terpaksa
melepaskan pedangnya dan sesaat kemudian, ia telah terkena
tiam-hwat (ilmu menotok) dari hwesio yang lihai itu sehingga
tubuhnya menjadi lemas dan dipondong oleh lawannya.”
“Lepaskan cucuku!” Ciok-taijin berseru sambil
memerintahkan para penjaga untuk menyerbu.
Leng Kok Hosiang tertawa terbahak-bahak. “Ha, ha, ha,
biarpun aku tidak berhasil membinasakan Ong Han Cu,
sebagai gantinya aku telah mendapatkan puterinya yang
cantik molek!” Setelah berkata demikian, ia menggerakkan
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
tangan kirinya ke arah Ciok-taijin. Biarpun tangannya tidak
mengenai tubuh pembesar itu, namun Ciok-taijin segera
menjerit ngeri dan roboh pingsan. Ternyata bahwa ia terkena
pukulan Hek-coa Tok-jiu yang ganas dari Leng Kok Hosiang.
Hwesio itu dengan sengaja melakukan pukulan itu karena
selain hal ini dapat mencegah para penjaga yang sibuk
menolong pembesar itu menghalangi perginya, juga ia dapat
membuat hati musuh besarnya menjadi lebih sakit lagi.
Kemudian ia lalu melompat keluar dari pekarangan itu sambil
memondong tubuh Lian Hong.
Akan tetapi baru saja ia tiba di pintu pekarangan itu, tibatiba
di pintu itu muncul seorang tosu (pendeta To) yang
memegang kebutan di tangan kanan dan sebuah kipas di
tangan kiri. Tosu ini berdiri menghadang di tengah jalan,
menggerakkan kipasnya sambil berkata.
“Siancai ..... Leng Kok Hosiang sudah tua bangka masih
tetap mengambil jalan hitam!” Baru saja ia menutup
mulutnya, tubuh tosu yang tinggi kurus ini bergerak bagaikan
seekor burung melayang dan kebutannya menyambar ke arah
kepala hwesio gendut itu.
Sejak melihat tosu itu, wajah Leng Kok Hosiang berobah
dan ketika kebutan itu menyambar ke arah kepalanya, cepat
ia mengelak jauh dan melepaskan tubuh Lian Hong yang
terguling di atas tanah. Kemudian ia melompat ke depan tosu
itu dengan mata merah dan wajahnya menakutkan sekali.
“Ouwyang Sianjin, kalau kau hendak mencampuri
urusanku, terpaksa aku mengadu jiwa denganmu!” bentak
hwesio itu dengan marah.
Tosu itu tersenyum tenang, “Penjahat gundul, kau
mengenal namaku akan tetapi tidak tahu bahwa aku adalah
sute (adik seperguruan) dari Pat-jiu kiam-ong Ong Han Cu!”
“Begitukah?” teriak hwesio itu dengan kaget dan juga
cemas, “Bagus, kalau begitu kau harus mampus!” Ia lalu
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
melangkah maju dan menyerang dengan ilmu pukulan Hekcoa
Tok-jiu yang lihai dan ganas. Tosu tua ini maklum akan
kelihaian ilmu pukulan ini, maka ia berlaku amat hati-hati.
Dengan kipasnya yang mengandung tenaga lweekang tinggi ia
selalu mengelak dan menangkis tenaga Racun Ular Hitam
yang jahat itu, sedangkan kebutannya tiada hentinya
menyambar-nyambar ke arah jalan darah lawan untuk
melakukan totokan-totokan berbahaya.
Sementara itu, Bwe Kim yang juga sudah berlari keluar dan
kini memeluk puterinya menangis sedih karena ia tidak tahu
bagaimana harus mengobati puterinya yang tubuhnya lemas
tak dapat bergerak lagi itu. Sedangkan keadaan Ciok-taijin
lebih mengkhawatirkan lagi. Orang tua ini napasnya tinggal
satu-satu, mukanya berobah hitam, tanda bahwa ia telah
terkena racun pukulan Hek-coa Tok-jiu yang lihai.
Menghadapi sepasang senjata Ouwyang Sianjin yang lihai,
Leng Kok Hosiang menjadi sibuk juga. Pukulan-pukulan Hekcoa
Tok-jiu yang telah dilatihnya selama lima tahun itu
ternyata tidak berhasil merobohkan lawan ini, selalu kena
dielakkan atau ditangkis oleh gerakan kipas itu.
Ia menjadi marah sekali dan juga penasaran dan hal inilah
yang membuat ia akhirnya menderita kekalahan. Ia tidak tahu
bahwa sebenarnya Ouwyang Sianjin juga sangat terkejut dan
gelisah menghadapi pukulan yang luar biasa lihainya ini.
Sungguhpun kipasnya dapat melindungi dirinya, namun hawa
pukulan itu telah menyerang pernapasannya dan membuatnya
pening kepala.
Akan tetapi kemarahan dan kegemasan hwesio itu
membuat permainannya menjadi agak kacau. Hal ini tidak
terlepas dari pandangan mata Ouwyang Sianjin yang tajam,
maka ia tidak mau mensia-siakan kesempatan baik ini dan
cepat menyerang dengan kebutannya. Setelah bertubi-tubi
melakukan serangan-serangan, akhirnya ia berhasil menotok
jalan darah koan-goan-hiat di pundak kanan hwesio itu. Leng
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Kok Hosiang berteriak keras dan sebelah tangannya menjadi
lumpuh.
“Ouwyang Sianjin! Biarlah kali ini aku mengaku kalah, akan
tetapi hati-hatilah kau dan muridmu kalau kelak bertemu
dengan aku!” Ia lalu melompat pergi dengan cepat.
Ouwyang Sianjin tidak mau mengejar karena ia sendiripun
perlu mengatur pernapasannya dan mengusir hawa busuk
yang menyerangnya tadi sehingga untuk beberapa lama ia
berdiri diam bagaikan patung sambil meramkan matanya.
Akhirnya pernapasannya menjadi bersih kembali dan ia lalu
membuka matanya.
Di depannya telah berlutut Bwe Kim sambil menangis.
Agaknya sudah semenjak tadi perempuan ini menangis dan
minta tolong kepadanya, akan tetapi tadi ia tidak
mendengarnya sama sekali karena seluruh pancainderanya
dipusatkan untuk pembersihan napasnya.
“Totiang, tolonglah .....tolonglah ayah dan anakku ...”
berkali-kali Bwe Kim berkata, sedangkan para penjaga yang
tidak terluka hanya berdiri dengan mata terbelalak, kagum
menyaksikan pertempuran yang terjadi tadi.
“Tenanglah ... tenanglah, toanio,” kata tosu itu, “biarlah
kuperiksa keadaan mereka.” Ia lalu diantar masuk ke dalam
gedung itu karena Ciok-taijin dan Lian Hong telah dibawa
masuk dan direbahkan ke dalam kamar masing-masing.
Ketika memeriksa keadaan Lian Hong, tosu itu tersenyum.
“Nona ini tidak apa-apa, hanya terkena totokan. Ia cukup
kuat dan terlatih untuk menghadapi derita kecil ini.” Ia lalu
menepuk pundak Lian Hong dan mengurut punggungnya
beberapa kali dan gadis itu sehat kembali, Lian Hong segera
menghaturkan terima kasih dan berlutut.
“Anak baik,” kata tosu itu, “ketahuilah bahwa kedatanganku
ini atas kehendak ayahmu untuk melatih ilmu silat kepadamu.”
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Lian Hong menjadi girang sekali dan serta merta ia berlutut
kembali sambil menyebut, “suhu!”
Ketika tosu itu memeriksa Ciok-taijin, ia menggeleng
kepala. “Si gundul jahat itu benar-benar ganas sekali
tangannya,” katanya.
Nyonya bangsawan Ciok menjadi pucat dan sambil
menangis ia bertanya tentang keadaan suaminya.
“Tak perlu khawatir,” jawab tosu itu tenang, “biarpun
tubuhnya telah terkena pengaruh hawa racun, akan tetapi
pinto (aku) mempunyai obat penolaknya. Hanya harus diakui
bahwa pembersihan darah di dalam tubuhnya akan makan
waktu lama, sedikitnya satu bulan baru akan sembuh betul.”
Demikianlah, semenjak hari itu, Ouwyang Sianjin tinggal di
dalam gedung Ciok-taijin, merawat bangsawan yang dilukai
oleh Leng Kok Hosiang itu. Ketika Ciok-taijin sadar dari
pingsannya dan mendengar bahwa Ouwyang Sianjin datang
atas permintaan Ong Han Cu untuk melatih ilmu silat kepada
Lian Hong, orang tua ini tidak menyatakan keberatannya. Ia
bahkan merasa girang bahwa kebetulan sekali datang tosu
yang lihai ini, dan merasa pula betapa pentingnya mempelajari
ilmu silat tinggi. Ia tidak mempunyai keturunan lain lagi dan
cucunya hanya Lian Hong seorang, maka kalau gadis itu tidak
mempunyai kepandaian tinggi, bagaimana untuk menjaga diri
dan keluarganya dari serangan orang-orang jahat?
Selain membawa pesanan Ong Han Cu untuk mendidik
gadis itu, juga Ouwyang Sianjin membawa sebatang pedang
dari pendekar Liong-cu-san itu untuk diberikan kepada Lian
Hong. Pedang ini adalah pedang mustika yang tipis dan lemas
sekali sehingga dapat dijadikan ikat pinggang.
Liong-cu-kiam-hwat adalah kepandaian tunggal dari Ong
Han Cu, maka biarpun Ouwyang Sianjin masih terhitung
sutenya, akan tetapi tosu ini tidak paham akan ilmu pedang
ini, sebaliknya ia memiliki dua macam kepandaian yang amat
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
tinggi, yakni permainan silat dengan kipas dan hudtim
(kebutan pendeta).
Ketika Ouwyang Sianjin mendengar bahwa muridnya yang
baru ini pandai menari, ia tertarik sekali lalu minta kepada
muridnya untuk menari. Lian Hong memenuhi permintaan
suhunya dan menarilah ia dengan sehelai selendang merah.
Melihat pergerakan yang lemas dan indah ini, tiba-tiba
Ouwyang Sianjin berseru.
“Bagus! Selendangmu inilah yang akan merupakan senjata
istimewa!”
Lian Hong menghentikan tariannya dan memandang
kepada suhunya dengan heran. Akan tetapi tanpa banyak
cakap lagi, tosu itu lalu minta selendang muridnya dan
bersilatlah ia dengan selendang itu. Ujung selendang itu sama
lemasnya dengan kebutan, maka dapat dipergunakan sebagai
pengganti kebutannya.
Selain memberi pelajaran ilmu silat dengan selendang
merah yang disebut Ang-kin-ciang-hwat (Ilmu Silat Selendang
Merah) juga Ouwyang Sianjin melatih ilmu pedang kepada
muridnya ini. Akan tetapi, ia tidak melarang muridnya berlatih
Liong-cu-kiam-hwat, bahkan ia lalu memberi petunjuk untuk
menggabungkan ilmu pedang yang diajarkannya dengan ilmu
pedang Liong-cu-kiam-hwat yang lihai itu.
Tiga tahun lebih tosu itu menggembleng muridnya dengan
ilmu silat tinggi sehingga setelah berusia delapan belas tahun,
Lian Hong telah memiliki kepandaian yang amat lihai.
Keistimewaan dara jelita ini adalah permainan selendang
merah dan pedangnya yang dapat dimainkan berbareng
dengan kedua tangannya secara indah dan juga kuat sekali. Ia
telah menjadi seorang gadis yang luar biasa cantiknya dan
selain ilmu silatnya yang tinggi, iapun terkenal akan
kepandaiannya menari. Pernah ia dipanggil oleh permaisuri
kaisar untuk menari di depan wanita agung ini dan ia
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
mendapat pujian hebat dan menerima hadiah-hadiah yang
amat berharga.
Setelah melihat bahwa muridnya telah memiliki ilmu
kepandaian yang cukup tinggi, Ouwyang Sianjin lalu
meninggalkan kota raja diiringi oleh penghormatan dan
ucapan terima kasih dari keluarga bangsawan Ciok. Diam-diam
Lian Hong berpesan kepada suhunya agar suka memberi
kabar tentang ayahnya, Pat-jiu kiam-ong Ong Han Cu dan
permintaan ini telah disanggupi oleh Ouwyang Sianjin.
Nama Lian Hong sebagai seorang gadis yang amat cantik
jelita dan pandai menari amat terkenal di kota raja. Banyak
sekali pemuda, sungguhpun belum menyaksikan kecantikan
gadis ini dengan mata kepala sendiri dan hanya mendengar
kabar saja, telah jatuh hati dan merindukan siang malam.
Bahkan ada beberapa orang pemuda bangsawan dan
hartawan telah memberanikan diri mengajukan pinangan,
akan tetapi Ciok-taijin yang amat sayang dan bangga akan
cucunya, telah menolak semua pinangan itu.
Lian Hong merasa girang melihat sikap kakeknya, karena
gadis ini sendiripun tidak suka memikirkan tentang
pernikahan. Adapun ibunya hanya menyerahkan persoalan ini
kepada Ciok-taijin saja.
Di kota raja terdapat seorang pemuda yang amat terkenal.
Nama pemuda ini terukir di dalam lubuk hati banyak gadis
bangsawan dan hartawan, dan banyak pula orang-orang tua
para gadis memikirkan pemuda ini dengan hati penuh
keinginan memungutnya sebagai mantu.
Pemuda ini adalah putera tunggal dari Pangeran Sim Liok
Ong yang berpangkat tinggi, berpengaruh, dekat dengan
kaisar. Selain itu, juga pangeran Sim terkenal kaya raya dan
budiman. Tidak saja keadaan orang tua pemuda ini yang amat
menarik hati orang untuk mengajak berbesan, juga kegagahan
pemuda itu sendiri menjadikan dia bayangan dalam mimpi
setiap dara yang telah mendengar namanya.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Ia bernama Sim Tek Kun, terkenal tampan. Telah lulus
dalam ujian siucai dan bentuk tulisan maupun gubahan
syairnya amat indah. Kebaikan ini ditambah pula dengan
kegagahannya karena ia adalah seorang murid terlatih dari
Kun-lun-pai dan telah tamat mempelajari ilmu silat di
pegunungan itu sehingga ia memiliki kepandaian ilmu silat
tinggi.
Ketika terjadi pemberontakan dan kerusuhan yang
ditimbulkan oleh segerombolan perampok di daerah utara,
putera pangeran ini telah menunjukkan kegagahannya dan
ikut membasmi perampok-perampok itu. Hal ini telah
mengangkat namanya tinggi-tinggi dan ia mendapat jasa dan
pujian dari kaisar sendiri.
Dengan keadaan seperti itu, gadis manakah yang tidak
tergila-gila dan orang tua manakah yang tidak ingin sekali
mempunyai seorang mantu seperti Sim Tek Kun? Akan tetapi,
pemuda ini sendiri berkali-kali menolak bujukan ayah
bundanya untuk menikah.
Sebaliknya, ia amat senang merantau, menjelajah di
kalangan kang-ouw dan menuntut penghidupan sebagai
seorang pendekar budiman. Ia keluar masuk di dusun-dusun
dan kota-kota, mengulurkan tangan kepada siapa saja yang
membutuhkan pertolongannya. Tangannya amat terlepas dan
terbuka, baik untuk memberi uang maupun untuk
menyumbangkan tenaga dan kegagahan demi kepentingan
orang-orang yang lemah tertindas. Maka, sebentar saja
namanya terkenal di kalangan kang-ouw dan ia dijuluki Bunbu-
taihiap (Pendekar Besar Ahli Sastra dan Silat).
Ketika Pangerang Sim Liok Ong dan isterinya melihat Lian
Hong mereka menjadi amat tertarik. Di dalam kota raja jarang
ada yang mengetahui bahwa nona ini pandai ilmu silat dan
yang menjadikannya amat terkenal hanya kecantikan dan
kepandaiannya menari. Melihat nona ini, Pangeran Sim dan
isterinya merasa suka sekali dan mereka lalu mengajukan
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
pinangan tanpa bertanya kepada putera mereka yang pada
waktu itu entah sedang berada di mana.
Ciok-taijin ketika menerima pinangan ini, hampir menari
kegirangan. Ia memeluk cucunya dengan air mata bercucuran
sambil berkata, “Lian Hong ...... Lian Hong ..... akhirnya Thian
menunjukkan kemurahannya kepada kita! Kau telah dipinang
oleh Pangeran Sim! Ah, Alangka besar kehormatan ini.
Ketahuilah, banyak puteri pangeran lain dari istana kaisar
belum tentu akan dapat menerima kehormatan sebesar ini.
Bwe Kim, anak baik, akhirnya kau mendatangkan kebahagiaan
dan kehormatan kepada orang tuamu karena puterimu ini.....”
Melihat kegirangan besar yang diperlihatkan oleh ibunya
dan kakek serta neneknya ini, Lian Hong tidak tega untuk
menolak. Sebetulnya ia tidak girang sama sekali mendengar
berita perjodohannya ini karena ia memang tidak mempunyai
keinginan sama sekali untuk mengikat diri dengan perjodohan.
Ia pernah mendengar nama Sim Tek Kun dan diam-diam
iapun ingin sekali mengetahui sampai di mana kebenaran
berita itu. Ia menganggap berita tentang pemuda itu amat
berlebih-lebihan dan sering kali bibirnya yang manis itu ditarik
mengejek.
“Hm, Bun-bu-taihiap ....? Pemuda sombong! Mana ada
pemuda hartawan dan bangsawan yang patut disebut taihiap?
Barangkali hanya seorang tukang pelesir dan tukang
menghambur-hambur uang ayahnya belaka. Julukan itu tentu
diberikan oleh orang-orang untuk menjilat pemuda bangsawan
dan hartawan itu.
Dan kini ternyata pemuda itu telah meminangnya, yakni
orang tua pemuda itu. Melihat kegembiraan orang-orang
tuanya, ia tak dapat menyatakan sesuatu, hanya
menundukkan mukanya yang menjadi merah, bukan hanya
karena malu, akan tetapi sebagian besar karena marah. Ia
marah kepada pemuda itu yang dianggapnya lancang dan
kurang ajar telah berani meminangnya! Orang macam apakah
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
pemuda itu maka berani mencoba hendak mengikatnya
sebagai isterinya?
Demikianlah, diam-diam ia berpikir dengan hati penasaran.
Memang Lian Hong adalah seorang gadis yang aneh, sikapnya
lemah lembut, cantik jelita, dan amat jenaka. Akan tetapi
dibalik semua itu ia memiliki kekerasan hati yang diwarisinya
dari ayahnya.
Pertunangan diresmikan dan berita pertunangan ini telah
tersiar di seluruh kota raja. Banyak sekali orang-orang tua dan
puteri mereka merasa iri hati kepada keluarga Ciok atas
keberuntungan mereka. Akan tetapi Lian Hong sendiri hanya
menerima semua ini dengan hati dingin.
“Kong-kong,” katanya dengan lemah lembut dan sikap
manja, “aku selalu menurut dan taat kepadamu dan dalam hal
perjodohan inipun aku menyerahkan diri kepada kong-kong
saja. Akan tetapi ada satu hal yang ku minta kong-kong suka
mengabulkannya, yakni aku tidak mau dinikahkan dengan
terburu-buru. Biarlah pertunangan ini ditunda sedikitnya
setahun!”
Kakeknya, dan juga ibu dan neneknya hanya memandang
dengan melongo dan Ciok-taijin hanya menggeleng-geleng
kepalanya saja. Baiknya pihak Pangeran Sim juga tidak
terburu-buru dan menerima penundaan waktu ini oleh karena
pada waktu itu, putera mereka juga belum pulang ke kota
raja.
(Oo-dwkz-oO)
Kurang lebih sebulan kemudian, datanglah berita yang
membuat Lian Hong dan Bwe Kim menangis tersedu-sedu,
hingga Lian Hong jatuh pingsan ketika mendengarnya.
Berita ini merupakan sepucuk surat dari Ouwyang Sianjin
yang diantarkan oleh seorang pesuruh, yang mengabarkan
tentang kematian Ong Han Cu. Di dalam surat itu, Ouwyang
Sianjin menjelaskan nama-nama dari lima orang yang telah
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
membunuh Ong Han Cu dan sebagaimana telah dituturkan di
bagian depan, seorang di antara lima musuh ini adalah Leng
Kok Hosiang yang dulu pernah datang mengganggu mereka
dan kemudian dikalahkan oleh Ouwyang Sianjin.
Ciok-taijin hanya menghela napas berkali-kali dan
menggeleng-gelengkan kepalanya. “Hm, demikianlah kalau
orang hidup sebagai perantau yang berhubungan dengan para
orang-orang kasar di dunia kang-ouw. Bertempur, melukai
atau dilukai, menanam bibit permusuhan, menimbulkan sakit
hati dan dendam dalam hati orang lain, kemudian bertempur
lagi, membunuh atau dibunuh.”
Lian Hong yang sudah siuman kembali ketika mendengar
ucapan kakeknya ini, lalu cepat berdiri dan dengan dada
terangkat ia berkata.
“Kong-kong, ucapanmu memang benar. Akan tetapi, jiwa
seorang gagah menjunjung tinggi kebenaran dan keadilan, ia
tidak takut dan segan-segan untuk mengorbankan nyawanya.
Kalau tidak ada orang-orang gagah yang membasmi orangorang
jahat dan membela orang-orang lemah tertindas,
bagaimanakah keadaan dunia ini? Kejahatan akan merajalela.
Karena itu, aku harus pergi mencari musuh-musuh yang
membunuh ayah. Aku harus membalasnya!”
“Jangan, Lian Hong, jangan!” seru Ciok-taijin, “Kau seorang
gadis muda, bagaimana kau bisa merantau dan mencari
penjahat-penjahat yang berbahaya itu?”
“Jangan kuatir, kong-kong,” jawab gadis itu dengan sikap
gagah. “Menurut surat suhu, sekarang juga suhu telah
mencari jahanam Yap Cin yang berjuluk Si Luntung Sakti.
Biarlah aku menyusul suhu dan membantunya untuk
membasmi penjahat itu!”
“Jangan, Lian Hong, kau akan membuat kami merasa
gelisah dan berkhawatir selalu,” kata Ciok-taijin pula yang kini
juga dibantu oleh nyonya Ciok. Bahkan Bwe Kim juga
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
melarang anaknya jangan pergi menempuh bahaya itu. Lian
Hong menjadi kewalahan dan tak dapat berkeras.
Akan tetapi pada malam harinya, gadis itu telah melarikan
diri dan meninggalkan kamarnya dengan diam-diam. Hanya
sepucuk surat surat yang ditinggalkan di meja kamarnya
memberitahukan bahwa ia hendak menyusul suhunya di kota
Kam-ciu untuk mencari Sin-wan (Lutung Sakti) Yap Cin. Cioktaijin,
isterinya, dan Bwe Kim merasa gelisah sekali dan Bwe
Kim hanya dapat menangis.
Akan tetapi Ciok-taijin lalu memesan kepada isteri dan
anaknya itu agar supaya hal ini jangan sempat terdengar oleh
Pangeran Sim, akan berbahaya sekali. Tentu saja Pangeran
Sim akan menjadi marah mendengar betapa calon mantunya
lari minggat untuk merantau seperti gadis kang-ouw yang liar.
(Oo-dwkz-oO)
Semenjak berhasil membunuh Pat-jiu Kiam-ong Ong Han
Cu dengan cara yang amat curang bersama empat orang
kawannya dan mendapat pembagian harta pusaka yang besar
jumlahnya, Yap Cin menjadi seorang kaya raya. Ia tinggal di
kota Kam-ciu sebagai seorang hartawan besar memiliki banyak
rumah dan sawah, bahkan ia membeli sebuah kereta berkuda
yang bagus sekali. Bekas penjahat ini lalu hidup dengan
mewah dan kerjanya tiap hari hanya berpelesir, naik kereta
bersama kawan-kawannya yang menjadi tukang pukulnya,
pergi ke kota-kota terdekat dan menghamburkan uang
bagaikan pasir saja.
Pada suatu hari, ia sedang berkereta dengan lima orang
kawannya yang naik kuda, baru pulang dari kota lain di mana
ia tinggal setengah bulan lamanya dan di mana ia mempunyai
seorang sahabat baik yang mengajaknya berpelesir. Ketika
rombongannya tiba di luar kota Kam-ciu, tiba-tiba mereka
melihat seorang gadis cantik jelita berpakaian ringkas sedang
berjalan seorang diri. Gadis ini bukan lain adalah Lian Hong
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
yang sedang menuju ke Kam-ciu untuk menyusul suhunya dan
mencari musuh besar ayahnya, yakni Yap Cin.
Melihat seorang dara muda jelita berjalan seorang diri di
tempat yang sunyi, timbullah kegembiraan dan
kekurangajaran Yap Cin dan kawan-kawannya. Mereka
menghentikan kendaraan dan kuda di dekat gadis itu dan
ketika Lian Hong menengok, enam orang laki-laki jahat itu
menjadi bengong saking terpesona oleh kecantikan Lian Hong.
Mereka merasa seakan-akan sedang mimpi bertemu dengan
seorang bidadari dari kahyangan yang tersasar di dalam
hutan.
(Oo-dwkz-oO)
05 Keteledoran si Hidung Bangor
YAP CIN segera melompat turun dari dalam keretanya dan
untuk memamerkan kepandaiannya, ia melompat sambil
mempergunakan gerakan Burung Walet Menyambar Air dan
kedua kakinya turun dengan amat ringannya di depan nona
itu. Diam-diam Lian Hong menjadi terkejut juga melihat lakilaki
setengah tua yang berpakaian mewah ini memiliki ginkang
yang sedemikian hebatnya. Ia menjadi curiga dan berlaku
hati-hati sekali.
“Nona, bolehkan aku bertanya, nona hendak pergi ke
mana?” tanya Yap Cin sambil memberi hormat dan
memainkan senyum dimulutnya.
Lian Hong adalah seorang gadis yang tabah dan banyak
bergaul maka ia tidak berlaku malu-malu. Sungguhpun ia
merasa tak senang melihat kelancangan laki-laki ini, namun ia
menjawab juga dengan singkat.
“Hendak ke Kam-ciu,”
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Semua orang yang merubungnya tersenyum mendengar
jawaban ini dan laki-laki berpakaian mewah itu bahkan
tertawa senang.
“Kebetulan sekali, kebetulan sekali!” serunya berkali-kali
dengan muka girang. “Kami pun sedang menuju ke Kam-ciu.
Silakan naik ke dalam keretaku saja, nona. Tidak enak
berjalan seorang diri di tempat sunyi ini, lagi pula tentu lelah
kalau berjalan kaki.”
Lian Hong merasa mendongkol sekali. Ia maklum sedang
berhadapan dengan orang-orang kurang ajar, akan tetapi agar
jangan menimbulkan keributan, ia tersenyum dan menjawab,
“Terima kasih, tidak bisa aku menerima ajakan seorang
yang tidak kukenal. Lebih baik aku berjalan kaki saja dan
harap kalian jangan menggangguku lebih lama lagi.”
Akan tetapi Yap Cin dan kawan-kawanya merasa seakanakan
kejatuhan bulan ketika menyaksikan senyum di bibir
gadis itu. Memang Lian Hong amat cantik jelita, apalagi kalau
ia sudah tersenyum. Sukarlah kiranya mencari laki-laki yang
takkan jatuh hati apabila melihat ia tersenyum.
“Jangan berkata begitu, nona. Kau tentu hendak artikan
belum mengenal, bukan tidak mengenal. Apa salahnya kalau
sekarang kita berkenalan? Kau takkan merasa kecewa
berkenalan dengan orang-orang seperti kami yang sudah
terkenal di Kam-ciu,” jawab Yap Cin sambil tertawa-tawa.
“Kau benar-benar takkan kecewa, nona manis!” kata
seorang dari pada kawan-kawan Yap Cin. “Ketahuilah bahwa
kau sedang berhadapan dengan Yap-wangwe (hartawan Yap),
tokoh terkenal di kota Kam-ciu.”
Bagaikan sinar terang she Yap ini terlintas diotak Lian
Hong. Ia mainkan senyumnya lagi dan bertanya, “Ah, jadi
kaukah yang terkenal sebagai Yap-wangwe di Kam-ciu?
Bolehkah aku mengetahui siapakah nama wangwe yang
selengkapnya?”
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Yap Cin menyeringai dengan girang sekali. Disangkanya
bahwa gadis ini mulai silau dan tertarik karena namanya
sebagai seorang hartawan besar, maka cepat-cepat ia berkata,
“nona yang baik, namaku Yap Cin, dan ketahuilah bahwa
selain terkenal sebagai seorang hartawan yang berbudi baik,
akupun terkenal di kalangan dunia persilatan sebagai Sin-wan
(Si Lutung Sakti)!”
Saking terkejut dan girangnya dapat bertemu dengan
musuh besarnya yang memang sedang dicari-cari, wajah yang
cantik itu sampai menjadi pucat dan sepasang matanya
memancarkan cahaya berapi-api.
“Jadi kaukah jahanam busuk yang bernama Sin-wan Yap
Cin? Kau bersiap siagalah untuk mampus ditanganku!” Sambil
berkata demikian, Lian Hong lalu mencabut keluar pedang
tipisnya dan selendang merahnya. Tentu saja Yap Cin dan
kawan-kawannya menjadi heran melihat sikap nona ini.
“Eh, nona manis, kau siapakah dan mengapa kau bersikap
seperti ini? Apakah salahku kepadamu?” tanya Yap Cin yang
masih memandang rendah kepada dara muda ini.
Lian Hong tersenyum dengan bibir mengejek. “kau hendak
mengenal aku? Baiklah, buka telingamu lebar-lebar, binatang
rendah! Aku adalah Ong Lian Hong dan Pat-jiu kiam-ong Ong
Han Cu adalah ayahku!”
Pucatlah muka Yap Cin mendengar ini. Sama sekali tak
pernah disangkanya bahwa Ong Han Cu mempunyai seorang
puteri dan bahwa puterinya itu kini telah berdiri dihadapannya.
Akan tetapi ia adalah seorang kang-ouw yang berkepandaian
tinggi dan sudah banyak pengalamannya, maka tentu saja ia
tidak takut menghadapi seorang gadis muda seperti Lian
Hong.
“Nona manis, biarpun kau puteri dari Pat-jiu kiam-ong,
akan tetapi dengarlah nasehatku . Kau takkan dapat berbuat
sesuatu terhadapku dan sayanglah kalau kau menyia-nyiakan
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
usia muda dan kecantikanmu. Dari pada kau memusuhiku,
marilah kita bersahabat. Ayahmu sendiri tidak dapat
mengalahkan aku, apalagi kau!”
“Mulut busuk! Kalau kau dan kawan-kawanmu tidak
mempergunakan kecurangan dan kekejian, mana kau dapat
menangkan ayah? Bersiaplah untuk mampus!” Gadis ini
dengan sengit lalu maju menyerang dengan pedang dan
selendangnya.
Tadinya Yap Cin masih memandang rendah, akan tetapi
ketika pedang itu menyambar bagaikan kilat ke arah lehernya
sedangkan selendang itu bagaikan seekor ular menotok ke
arah ulu hatinya, ia menjadi terkejut juga. Cepat ia melempar
tubuhnya ke belakang dengan gerak lompat Naga Hitam
Memutar Tubuh sambil mencabut keluar senjatanya yang lihai,
yakni sebatang ruyung lemas yang berduri. Tanpa banyak
cakap iapun lalu membalas dengan serangan hebat, akan
tetapi dengan amat lincahnya gadis itu mengelak.
Serang menyerang terjadi dan dalam beberapa gebrakan
saja diam-diam Yap Cin mengeluh. Gadis ini gerakannya amat
cepat, ginkangnya sudah amat tinggi dan ilmu silat yang
dimainkan oleh kedua tangannya benar-benar aneh dan lihai
sekali.
Pedang tipis itu menyambar dengan kecepatan yang tak
dapat diikuti dengan mata, sedangkan selendang merah
itupun tak boleh dipandang ringan, oleh karena angin
sambarannya saja sudah terasa pada kulitnya. Maka ia tidak
berani untuk mencoba-coba dan menyambut totokan
selendang itu. Terpaksa Yap Cin mengerahkan seluruh tenaga
dan mengeluarkan semua kepandaiannya untuk melakukan
perlawanan, akan tetapi setelah bertempur dua puluh jurus
saja, ia terdesak hebat dan hanya dapat menangkis saja.
“Bangsat terkutuk mampuslah kau!” berkali-kali Lian Hong
berseru dengan gemas tiap kali senjatanya menyerang. Gadis
ini merasa gemas dan benci sekali sehingga setiap
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
serangannya merupakan pukulan maut yang amat berbahaya.
Hanya berkat tenaganya yang besar serta pengalamannya
bertempur yang banyak sajalah maka Yap Cin masih kuasa
mempertahankan diri.
Akan tetapi pada suatu saat, selendang di tangan kiri Lian
Hong bergerak sedemikian rupa menotok ke arah jalan darah
di pundaknya. Ketika Yap Cin mengelak ke kiri, bagaikan
bermata dan hidup selendang merah itu mengejar ke kiri dan
tahu-tahu telah melibat lehernya.
“Mampuslah jahanam!” kembali Lian Hong berseru keras
dan ia menarik selendangnya kuat-kuat untuk mencekik leher
musuh besarnya itu. Yap Cin merasa seakan-akan lehernya
dicekik oleh tangan manusia yang amat kuat sehingga
lidahnya menjulur keluar dan matanya mendelik.
Untung baginya bahwa pada saat itu, kelima orang
kawannya lalu menyerbu dan mengeroyok Lian Hong.
Terpaksa gadis ini melepaskan selendang merahnya dari
libatan pada leher musuhnya sehingga Yap Cin dapat
bernapas lagi sambil meraba-raba lehernya. Kemudian enam
laki-kai itu lalu mengeroyok Lian Hong.
Lima orang kawan Yap Cin itu bukanlah ahli-ahli silat biasa
saja dan rata-rata mereka telah memiliki ilmu silat tinggi.
Karena mereka semua mempergunakan pedang dan
mengurung dengan secara teratur pula, dikepalai oleh Yap Cin
yang merasa sakit hati dan marah, agak sibuk jugalah Lian
Hong menghadapi mereka.
Namun dara perkasa ini sedikitpun tidak menjadi gentar. Ia
tidak mau mundur setapakpun dan melakukan perlawanan
dengan sengit, bahkan membalas dengan serangan-serangan
ke berbagai jurusan.
Yang paling berbahaya dan terhebat serangannya di antara
enam orang pengeroyoknya itu adalah Yap Cin sendiri. Si
Lutung Sakti ini selain maklum bahwa ia harus membinasakan
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
puteri Ong Han Cu yang telah ditewaskannya bersama-sama
kawan-kawannya itu, juga ia merasa amat penasaran dan
marah sekali.
Ia adalah seorang kang-ouw yang tenar dan telah terkenal
memiliki ilmu silat yang tidak rendah apakah sekarang ia
benar-benar harus jatuh dan kalah oleh seorang dara remaja?
Apa lagi kalau sampai terdengar orang lain bahwa ia, Si
Lutung Sakti, bersama lima orang ahli silat lain mengeroyok
seorang nona berusia belasan tahun.
Ah, alangkah akan malunya! Karena ini Si Lutung Sakti Yap
Cin lalu mengerahkan tenaganya dan menyerang dengan
mati-matian. Ruyungnya menyambar-nyambar mendatangkan
angin sehingga Lian Hong harus berlaku waspada dan hatihati
sekali. Sekali saja terkena hantaman ruyung di tangan
Yap Cin, akan celakalah dia.
Pertempuran telah dilakukan lima puluh jurus, namun
belum juga enam orang laki-laki itu dapat merobohkan Lian
Hong. Mereka merasa amat penasaran dan mengurung makin
rapat, menyerang dengan bertubi-tubi sehingga keadaan Lian
Hong amat terdesak.
Gadis inipun tidak mempunyai kesempatan sedikitpun
untuk membalas serangan enam orang lawannya karena
senjata enam orang lawannya menyerang bagaikan hujan
datangnya. Kalau ia mau, dengan menggunakan ginkangnya,
ia akan dapat melarikan diri dari kepungan enam orang ini,
akan tetapi gadis ini memiliki ketabahan dan kenekatan besar.
Biarpun ia mengerti bahwa kalau dilanjutkan pertempuran
yang berat sebelah ini, ia takkan dapat menang, namun untuk
meninggalkan musuh besarnya begitu saja, iapun merasa
berat. Maka sambil mengerahkan tenaga dan mengumpulkan
semangat, Lian Hong terus melakukan perlawanan.
Pada saat keadaan Lian Hong sudah terdesak sekali, tibatiba
terdengar seruan keras, “Yap Cin bangsat tak tahu malu!
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Kau mengandalkan keroyokan enam orang untuk mengepung
seorang gadis muda! Hah, orang macam kau ini tak patut
hidup lagi!” Dan berbareng dengan kata-kata itu, muncullah
seorang tosu tua dengan tangan kanan memegang kebutan
dan tangan kiri memegang kipas.
“Suhu ....!” seru Lian Hong dengan girang sekali, akan
tetapi ia segera berkata kepada suhunya. “Suhu, biarkan teecu
membalas dendam ayah kepada jahanam she Yap ini dan
tolong suhu usir saja lima orang anjing yang tak tahu malu
ini!”
Ouwyang Sianjin tertawa bergelak dan begitu kebutannya
bergerak, buyarlah kepungan itu. Seorang pembantu Yap Cin
roboh terguling-guling terkena sambaran ujung kebutan dan
empat orang yang lain segera mengeroyoknya, meninggalkan
Yap Cin menghadapi gadis itu sendiri.
Pertempuran terbagi dua bagian dan kini keadaan menjadi
terbalik. Empat orang kawan Yap Cin itu mana dapat
menandingi Ouwyang Sianjin? Dengan enak dan mudahnya
Ouwyang Sianjin mainkan kebutannya tanpa mempergunakan
kipasnya untuk menyerang karena kipas itu bahkan digunakan
untuk mengipasi tubuhnya sendiri seakan-akan pertempuran
itu membuat ia merasa gerah.
Sementara itu, ketika mendengar dari Lian Hong bahwa
tosu tua itu adalah suhu dari gadis perkasa ini, Yap Cin
terkejut sekali. Iapun pernah mendengar dari sahabatnya,
yakni Leng Kok Hosiang bahwa Ong Han Cu mempunyai
seorang saudara seperguruan yang bernama Ouwyang Sianjin,
seorang tosu yang lihai dan bersenjata kebutan dan kipas,
maka melihat tosu ini, tahulah dia bahwa yang datang ini
tentulah Ouwyang Sianjin. Untuk melarikan diri, tak mungkin
lagi karena Lian Hong mengurungnya dengan pedang dan
selendangnya yang lihai, maka ia lalu melakukan perlawanan
mati-matian.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Namun, karena ia memang kalah gesit dan kalah lihai ilmu
silatnya, ditambah pula hatinya telah gentar dan ketakutan
sehingga permainan senjatanya agak kacau. Baru saja
bertempur belasan jurus, selendang ditangan kiri Lian Hong
berhasil melibat lengan kanannya yang memegang ruyung.
Yap Cin mencoba untuk melepaskan tangannya akan tetapi
sia-sia saja dan sebelum ia dapat mengelak, pedang di tangan
kanan Lian Hong telah menusuk dadanya dengan gerak tipu
Benang Mas Masuk Lubang jarum, sebuah gerak tipu serangan
yang amat cepat dan tepat sekali datangnya. Yap Cin menjerit
ngeri dan tubuhnya terjengkang ke belakang dengan dada
menyemburkan darah dan ruyungnya terlepas dari pegangan.
Setelah berhasil menewaskan musuh besarnya, Lian Hong
menengok ke arah suhunya yang tadi dikeroyok oleh empat
orang kaki tangan Yap Cin, akan tetapi ternyata suhunya telah
berdiri menganggur karena semua lawannya telah roboh
sambil merintih-rintih tak dapat bangun lagi.
Lian Hong lalu maju dan berlutut di depan suhunya sambil
menangis sedih karena ia teringat akan ayahnya.
Ouwyang Sianjin mengelus-elus kepala muridnya dan
berkata.
“Anak baik, sudahlah jangan kau bersedih. Ayahmu telah
tewas dan karena kematiannya tidak sewajarnya, maka sudah
menjadi tugas kewajibanmu untuk membalas dendam agar
roh ayahmu tidak menjadi penasaran. Kau telah berhasil
menewaskan Yap Cin, dan kini masih ada empat orang lagi
yang harus dibalas. Akan tetapi, kau tidak boleh bertindak
terburu nafsu, muridku, karena ketahuilah bahwa musuhmusuhmu
bukanlah orang yang mudah dikalahkan. Apalagi
Leng Kok Hosiang yang memiliki ilmu pukulan Hek-coa-tok-jiu
dan Cin Lu Ek yang berjuluk Naga bermata Emas. Kau harus
menggunakan kecerdikan dan jangan sampai gagal
menghadapi mereka. Ketahuilah bahwa murid ayahmu, yakni
sucimu yang bernama Nyo Siang Lan dan yang telah dijuluki
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Hwe-thian Moli, juga telah mencari musuh-musuhmu ini. Kalau
kau bertemu dengan dia, boleh kau bersama-sama dia
melakukan tugas berbahaya ini.”
“Teecu hanya mengharapkan petunjuk-petunjuk dari suhu,”
jawab Lian Hong, setelah ia disuruh berdiri oleh suhunya itu.
“Hanya seorang saja yang sudah kuketahui tempat tinggalnya,
yakni Liok Kong yang berjuluk Toat-beng Sin-to. Ia tinggal di
Kan-cou Propinsi Kiangsi dan kebetulan sekali pada bulan
depan ia akan mengadakan pesta ulang tahunnya. Kau
datanglah ke sana, akan tetapi sungguhpun permainan golok
dari orang she Liok ini tak perlu kau takuti, namun di sana
tentu terdapat kawan-kawannya yang menjadi tamu. Maka
kau harus berlaku cerdik dan mengingat bahwa kau pandai
menari, ada baiknya kalau kau menyamar sebagai seorang
penari, pura-pura menjadi utusan seorang hartawan besar dan
menari di depannya. Kemudian pada saat yang baik setelah
kau dapat berhadapan dengan dia, kau turun tangan!”
Demikianlah, setelah mendapat pesan dan banyak nasihat
dari gurunya, Lian Hong lalu di suruh pulang ke kota raja
sedangkan tosu tua itu lalu melanjutkan perjalanannya.
Memang sungguh kebetulan sekali bahwa orang tua itu
datang pada saat Lian Hong berada di dalam bahaya.
Sesungguhnya ketika orang tua itu mencari Yap Cin di
Kam-ciu, sebagaimana sudah dituturkan di bagian depan, Yap
Cin tidak berada di kota dan sedang berpesta dan berpelesir di
kota lain selama setengah bulan. Tosu itu menanti di Kam-ciu
sampai setengah bulan sehingga akhirnya ia menjadi kesal
dan hendak menyusul orang she Yap itu. Kebetulan sekali
pada hari itu, Yap Cin juga pulang dari tempat pelesir dan
bertemu dengan Lian Hong.
Kedatangan Lian Hong di rumah Ciok-taijin, disambut oleh
kegembiraan dan juga teguran keras, terutama sekali dari
Ciok-taijin. Akan tetapi dengan muka girang Lian Hong
menuturkan betapa ia telah berhasil membalas dendam
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
ayahnya kepada seorang di antara ke lima orang musuh besar
itu.
“Lian Hong, dengarkan kata-kataku dengan baik, cucuku,”
kata Ciok-taijin sambil memandang tajam.
“Sungguhpun sudah menjadi kewajibanmu untuk membalas
sakit hati ayahmu, akan tetapi tidak selayaknya kalau kau
sebagai seorang gadis bangsawan, tunangan putera Pangeran
Sim, sampai melakukan perjalanan seorang diri mencari
musuh-musuhmu dan membiarkan dirimu berada di dalam
bahaya maut. Bagaimana kalau sampai kau dirobohkan oleh
orang-orang jahat itu? Dan bagaimana pula kalau sampai ada
yang mengetahui bahwa tunangan putera Pangeran Sim
melakukan perjalanan seorang diri di dunia? Kau hanya
membikin kami orang-orang tua merasa susah dan gelisah,
cucuku. Pembalasan sakit hati ini bukankah sedang
diusahakan oleh suhumu? Kalau perlu, aku dapat
mengerahkan perwira-perwira untuk mencari penjahatpenjahat
itu dan menghukumnya. Tidak perlu kau pergi sendiri
seperti yang telah kau lakukan itu.”
Akan tetapi, kembali watak ayahnya nampak jelas
kepadanya ketika gadis itu menyahut,
“Kong-kong, gadis bangsawan maupun gadis biasa, tidak
ada salahnya melakukan perjalanan seorang diri asalkan ia
dapat menjaga dirinya. Dengan kepandaian yang telah
kupelajari, apakah yang kutakuti? Membalas dendam ayah,
harus dilakukan oleh aku sendiri. Kong-kong sendiri
menyatakan bahwa itu sudah menjadi tugas dan kewajibanku,
maka bagaimana aku dapat membiarkan suhu sendiri yang
pergi membalas dendam? Tidak, kong-kong. Harus aku sendiri
yang melakukan pembalasan ini sebagai darma baktiku
kepada mendiang ayah yang semenjak kecil belum pernah
kubalas kebaikannya. Adapun tentang pertunanganku dengan
pemuda putera pangeran itu, aku tidak perduli apakah ia atau
orang tuanya akan suka atau tidak melihat aku pergi
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
melakukan pembalasan terhadap para penjahat itu. Kalau
mereka suka, syukurlah. Kalau tidak, juga tidak apa karena
aku sudah mengambil keputusan tidak akan menikah sebelum
dapat membereskan tugas pembalasan sakit hati ini!”
“Lian Hong ....!” jerit ibunya.
“Ibu, apakah ibu juga akan suka melihat ayah terbunuh
tanpa dapat membalas dendam? Dan pula, orang-orang kangouw
tentu sudah maklum bahwa ayah adalah mantu dari Cioktaijin,
dan seandainya para pembunuh ayah itu tidak
terhukum, bukankah itu berarti merendahkan nama kong-kong
pula?”
Kemudian ketika melihat betapa kong-kongnya
mendengarkan dengan penuh perhatian, ia lalu maju dan
memegang tangan kong-kongnya yang amat menyayanginya
itu sambil berkata,
“Kong-kong, janganlah kau khawatir. Aku dapat menjaga
diri, dan apabila kong-kong tidak menghalangi, tak lama lagi
ke empat orang jahat itu akan dapat kutewaskan semua.
Selain itu, harap kong-kong jangan gelisah. Selain suhu yang
ikut mengusahakan pembalasan dendam ini, juga seorang
murid dari ayah, yang bernama Hwe-thian Moli Nyo Siang Lan,
telah pula turun gunung dan mencari para penjahat itu!”
Dengan alasan-alasan ini, akhirnya Lian Hong mendapat
kemenangan dan kong-kongnya sambil menarik napas
panjang berkata,
“Sudahlah, lakukan apa yang kau kehendaki. Akan tetapi
kau berlakulah hati-hati sekali dan jaga dirimu baik-baik. Pula,
ada satu hal yang kuminta kau memperhatikan baik-baik,
yakni jangan sekali-kali ada orang luar mengetahui bahwa kau
adalah tunangan dari pada putera Pangeran Sim. Lakukanlah
hal ini untuk menjhaga nama baikku, maukah kau, Lian
Hong?”
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Gadis ini dengan manja lalu memeluk kakek ini dan
menyatakan kesanggupannya.
Dan sebagaimana telah dituturkan di bagian depan,
sebulan kemudian, dengan menyamar sebagai seorang penari,
Lian Hong berhasil membunuh Liok Kong di rumahnya
sendiridi waktu Toat-beng-sin-to Liok Kong sedang
mengadakan pesta. Kemudian setelah mengajak Hwe-thian
Moli Nyo Siang Lan berlumba untuk sebanyak-banyaknya
menewaskan musuh besar mereka, Lian Hong lalu kembali ke
kota raja, pulang ke rumah kong-kongnya untuk menceritakan
hasil usaha pembalasan dendam itu dengan girang.
Ketika Ciok-taijin mendengar bahwa kini jumlah musuh
yang harus dibalas tinggal dua orang lagi dan bahwa Hwethian
Moli juga ikut mencari musuh-musuh itu, hatinya
menjadi agak lega. Ia bahkan membantu usaha cucunya
dengan jalan menyuruh beberapa orang perwira sebagai
penyelidik untuk mencari jejak dua orang musuh besar
cucunya itu, yakni Leng Kok Hosiang dan Kim-gan-liong Cin Lu
Ek.
Tentu saja Lian Hong merasa girang sekali mendapat
bantuan kakeknya ini dan ia sama sekali tidak tahu bahwa
diam-diam kakeknya juga memerintahkan kepada para
penyelidik itu apabila telah bertemu dengan orang-orang yang
dicari, supaya ditangkap atau dibunuh, dan kalau perlu boleh
minta bantuan pembesar setempat. Untuk ini ia telah memberi
sebuah surat perintah kepada mereka.
(Oo-dwkz-oO)
Kita ikuti lagi perjalanan Hwe-thian Moli Nyo Siang Lan,
gadis gagah perkasa yang secara berani sekali telah
mengacau di dalam pesta Liok Kong dan ilmu pedangnya
bahkan berhasil menundukkan Lian Hong.
Semenjak berpisah dari Lian Hong, gadis ini masih saja
merasa kagum dan heran kalau ia teringat akan gadis penari
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
yang cantik jelita itu. Bagaimanakah suhunya dapat
mempunyai seorang puteri yang sebaya dengan dia tanpa
pernah menceritakannya kepadanya? Siapakah isteri suhunya
dan di mana tinggalnya?
Ia merasa kecewa karena Lian Hong tidak mau
menceritakan keadaannya dan sebetulnya ingin sekali
berkenalan dengan sumoinya itu. Ia merasa amat kagum akan
kepandaian Lian Hong dan melihat gerakan ilmu pedangnya,
ia tidak ragu-ragu lagi bahwa Lian Hong pernah mempelajari
ilmu pedang Liong-cu kiam-hwat secara baik, hanya masih
kurang matang dan tercampur dengan ilmu pedang lain. Akan
tetapi ilmu silat selendang yang dimainkan oleh gadis penari
itu sungguh-sungguh hebat.
Ia tersenyum sendiri kalau teringat akan kelincahan dan
kejenakaan Lian Hong, dan ia dapat menduga bahwa gadis
penari itu membohong dan sengaja mempermainkannya
ketika mengaku bahwa iapun mempunyai julukan Hwe-thian
Sianli.
Semenjak turun gunung untuk mencari musuh yang
membunuh suhunya, ia telah mengalami banyak peristiwa
hebat. Setelah ia turun gunung, pertama-tama yang ia dapat
ketemukan jejaknya adalah Santung taihiap Siong Tat,
Pendekar Besar dari Santung.
Ia mendengar berita bahwa Siong Tat telah pergi pindah ke
kota Kang-leng sebelah selatan Ibukota Cin-an. Dengan cepat
ia lalu menyusul ke Kang-leng dan mudah saja ia
mendapatkan alamat Santung taihiap Siong Tat karena orang
she Siong inipun telah menjadi seorang hartawan besar yang
membuka rumah gadai terbesar di kota Kang-leng.
Ketika ia hendak memasuki kota itu dan berada di jalan
yang sunyi tiba-tiba ia melihat seorang laki-laki tua memanjat
pohon sambil menangis. Tangan orang itu membawa sehelai
tali. Gerakan orang ini amat mencurigakan hati Hwe-thian
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Moli, maka diam-diam sambil bersembunyi, gadis ini lalu
mengintai.
Ternyata bahwa orang tua itu lalu menalikan tali yang
dibawanya pada cabang pohon dan hendak menggantung diri.
Melihat ini, tentu saja Siang Lan menjadi terkejut sekali. Ia
merasa heran mengapa ada orang yang demikan putus asa
sehingga mengambil keputusan pendek.
Kakek tua itu telah membuat ujung tali menjadi penjerat
leher, mengalungkannya kepada lehernya dan hendak
melompat turun. Akan tetapi alangkah herannya ketika tibatiba
tali yang tergantung pada cabang itu menjadi putus dan
tanpa diketahui sebabnya.
Ia memandang ke sekeliling dan melihat keadaan di situ
sunyi saja. Ia berkata keras-keras. “setan penjaga tempat ini
mengapa masih mau mengganggu seorang yang sengsara
seperti aku? Awas, jangan mengganggu dan menghalangi
maksudku, kalau aku sudah mampus dan menjadi setan
penasaran pula, akan kucari kau dan kubalas perbuatanmu
ini!”
Setelah berkata demikian, ia lalu menalikan talinya itu
kembali pada cabang lain. Akan tetapi pada saat itu muncullah
seorang gadis cantik yang tahu-tahu telah berada di bawah
pohon. Orang tua ini memandang dengan mata terbelalak. Ia
merasa pasti bahwa gadis cantik ini tentulah setan yang
menjaga di situ, maka katanya.
“Mungkin kau adalah setan dari seorang gadis yang juga
mati dalam penasaran. Maka biarlah aku mengakhiri
penderitaanku di dunia ini!”
Akan tetapi gadis yang bukan lain adalah Hwe-thian Moli
Nyo Siang Lan, tanpa menjawab segera melompat ke atas,
menggunakan kedua tangannya menangkap tubuh kakek itu
dan membawanya lompat turun kembali ke bawah pohon.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
“Lopek (uwak), mengapa kau begitu lemah dan bersikap
seperti seorang pengecut?”
Marahlah kakek itu. “Siapa bilang aku pengecut? Aku tidak
takut mati dan hendak menghabiskan nyawaku dengan tak
gentar sedikitpun, dan kau masih menyebutku pengecut?
Siapakah kau nona yang cantik jelita dan kasar ini?”
“Hm, menghabiskan nyawa sendiri dengan cara demikian
adalah perbuatan rendah yang hanya dapat dilakukan oleh
seorang pengecut! Kau bilang berani mati, bukankah itu
berarti bahwa kau takut untuk hidup? Lopek, bukan
demikianlah cara untuk memecahkan kesulitan hidup! Kalau
ada sesuatu hal yang menyulitkan keadaanmu, kau harus
berusaha memecahkannya, bukan dengan cara menghabiskan
nyawa dan lari dari pada kesulitan yang kau hadapi!”
Kakek yang tadinya menundukkan mukanya yang sedih itu
kini memandang dengan penuh keheranan.
“Siapakah kau, nona? Siapakah kau yang semuda ini telah
dapat mengeluarkan ucapan seperti itu?”
“Orang menyebutku Hwe-thian Moli, namaku Nyo Siang
Lan. Sekarang lekaslah kau ceritakan kepadaku mengapa kau
berlaku nekad seperti ini. Kalau kau sendiri tidak dapat
memecahkan kesulitan yang kau hadapi, mungkin aku dapat
menolongmu.”
Kakek itu menggeleng-geleng kepalanya. “Sulit, sulit
....”Kemudian atas desakan Hwe-thian Moli ia lalu menuturkan
keadaannya.
Kakek itu bernama Lim Bun dan hidup berdua dengan anak
perempuannya di kota Kang-leng dalam keadaan miskin
sebagai seorang petani yang memiliki sebidang kecil sawah.
Anak perempuannya telah menjadi janda yang ditinggal mati
suaminya dengan peninggalam lima orang anak yang
kesemuanya lalu tinggal bersama kakek mereka, yakni Lim
Bun itu.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Semenjak anak perempuan dan cucu-cucunya tinggal
bersamanya dan hidup mereka menjadi tanggungannya, mulai
sukarlah keadaan kakek ini. Biasanya ia hanya mencari nafkah
untuk dirinya sendiri oleh karena anaknya telah mendapat
perlidungan dari suaminya, akan tetapi sekarang ia harus
dapat mencari makan untuk tujuh mulut. Tentu saja
tenaganya yang sudah tua itu tidak kuat untuk mencari nafkah
sebesar ini.
Cucu-cucunya masih kecil dan yang sulung adalah seorang
perempuan pula sehingga tenaga bantuannya tak banyak
dapat diharapkan. Cucunya yang sulung itu telah berusia lima
belas tahun dan dapat dibilang cantik juga.
Makin lama makin sukarlah keadaan Lim Bun beserta cucucucunya
Barang-barang yang kiranya laku dijual telah lama
habis dan kini hanya tinggal sawah yang kecil itu saja yang
masih ada. Namun agaknya Thian masih hendak menguji
keuletan manusia di dunia, dan percobaan-percobaan berat
diturunkan kepada manusia untuk diderita oleh makhlukmakhluk
yang diturunkan di dunia tanpa mereka kehendaki
sendiri itu.
Musim kering berlangsung amat lamanya sehingga dari
sebidang kecil sawah itupun tidak dapat diharapkan hasilnya.
Tanahnya mengering, pecah dan retak-retak, sedikitpun tidak
dapat ditumbuhi apa-apa melainkan rumput-rumput kering
menguning.
Di ambang pintu kelaparan, akhirnya Lim Bun dan anak
perempuannya terpaksa lari ke sebuah rumah gadai yang
istimewa. Rumah gadai ini amat besar dan pemiliknya adalah
Santung-taihiap Siong Tat yang amat berpengaruh dan
disohorkan sebagai seorang hartawan besar yang royal. Ketika
Lim Bun dengan terbongkok-bongkok memasuki rumah gadai
ini, penjaga rumah gadai menanyakan apakah maksud
kedatangannya.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
“Hamba hendak meminjam uang,” jawab Lim Bun yang
merendahkan diri sedemikian rupa terhadap pegawai itu
karena mengharapkan pertolongan darinya.
Pegawai rumah gadai mengerutkan dahinya.
“Minta tolong pinjam uang? Di sini tidak mminjamkan uang
tanpa ada barang tanggungan. Di sini adalah rumah gadai.
Apakah kau mempunyai barang tanggungan?”
“Hamba mempunyai sebidang sawah, siauwya (tuan
muda).”
Disebut “siauwya” yakni sebutan yang amat menghormat
dan biasanya hanya ditujukan kepada orang-orang muda yang
kaya atau berpangkat, pegawai rumah gadai yang masih
muda itu berseri mukanya dan tersenyum, akan tetapi dahinya
tetap dikerutkan.
“Sawah? Siapakah yang menghargai sawah pada musim
kering seperti ini? Lagi pula, di sini hanya menerima sesuatu
yang dapat dibawa ke sini untuk disimpan sebagai
tanggungan.”
“Siauwya, kasihanilah .... hamba sudah tidak mempunyai
apa-apa lagi kecuali sawah itulah, semua barang sudah kami
jual untuk dimakan.”
“Hm, sukar juga, pak tua!” Kemudian pegawai rumah gadai
itu menggigit-gigit tangkai pitnya seperti orang sedang
berpikir keras. Tiba-tiba ia memandang dan bertanya dengan
suara perlahan. “Apakah kau mempunyai anak atau cucu yang
masih gadis?”
Pertanyaan yang aneh ini membuat Lim Bun melenggong,
akan tetapi ia menjawab juga. “Memang hamba mempunyai
seorang cucu perempuan yang masih gadis bernama Siauw
Kim, akan tetapi apakah hubungannya dengan urusan ini?”
Orang muda di dalam kantor rumah gadai itu menganggukangguk
dan tersenyum. “Kalau cucumu itu cantik, ia akan
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
dapat dijadikan tanggungan untuk peminjaman uang. “Makin
cantik, makin banyaklah kau dapat meminjam.”
“Apa ...?” Untuk beberapa lama orang tua itu memandang
dengan mata terbelalak. “Kau maksudkan ... seorang gadis
dapat di ....digadaikan di sini ....? Alangkah ....alangkah ....”
“Sst, jangan mengeluarkan kata-kata yang tidak-tidak,
lopek.”
Pegawai itu menempelkan pit pada bibirnya untuk
mencegah orang tua itu berkata lancang. “Yang mengeluarkan
peraturan ini adalah Siong-wangwe sendiri dan apakah
buruknya itu? Orang miskin yang tidak mempunyai barang
tanggungan tentu saja tak dapat meminjam uang, maka
Siong-wangwe lalu mendapatkan pikiran yang amat baik ini.
Dengan menggadaikan anak perempuannya, orang dapat
meminjam uang dan setelah ia mempunyai uang penebus, ia
dapat menebus kembali anak perempuannya. Apakah
salahnya itu? Anak perempuannya akan diurus baik-baik,
disuruh bekerja membersihkan halaman dan pekerjaan wanita
lainnya, diberi makan cukup!”
“Akan tetapi .... mengapa diukur dari kecantikannya ...?”
Orang muda pegawai rumah gadai itu tersenyum dan
menahan gelak ketawanya. “Lopek, kau seperti anak kecil
saja! Bukankah semua benda di dunia ini, baik itu berjiwa atau
tidak, selalu dinilai orang karena kebagusannya? Nah, kau
pulanglah dan pikirlah baik-baik, kau membiarkan
sekeluargamu mati kelaparan atau datang menyerahkan
cucumu untuk menjadi tanggungan di sini dan dapat
meminjam uang. Kami menanggung bahwa cucumu itu takkan
diganggu oleh siapapun juga dan akan dapat ditebus dalam
keadaan baik dan sama sekali tidak terganggu. Akan tetapi,
kalau sampai kau tidak dapat menebus pada waktunya dan
waktu pembayaran itu telah habis, maka cucumu akan
menjadi hak milik Siong-wangwe dan dalam hal ini tentu saja
dia dapat berlaku sekehendak hatinya terhadap hak miliknya!”
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Lim Bun menjadi pucat dan tanpa dapat bicara lagi ia lalu
pergi dari rumah gadai itu dengan langkah terhuyung-huyung.
Sepanjang jalan pikirannya bekerja keras. Haruskah ia
menggadaikan cucu perempuannya, Siauw Kim yang manis?
Haruskah ia mengorbankan perasaan dan kehormatan gadis
cucunya itu untuk menolong keluarganya? Ah, tidak, tidak!
Sekali lagi tidak! Biarpun ia miskin, ia masih mempunyai
keangkuhan untuk melakukan hal itu. Sungguhpun ia harus
mati kelaparan, ia tidak suka melihat cucunya itu dijadikan
barang tanggungan yang tentu akan merendahkan nama
baiknya, sebagai seorang anak gadis.
Akan tetapi, keangkuhan hatinya itu buyar sama sekali
ketika sampai di rumah gubuknya disambut oleh tangisantangisan
yang menyayat kalbu. Ternyata bahwa cucunya yang
bungsu, yang menderita sakit panas ketika ditinggalkannya
tadi, kini telah meninggal dunia.
Di dalam kehancuran hati mereka, ibu Siauw Kim dan gadis
itu sendiri masih teringat kan kebutuhan uang guna
pengurusan jenazah anak kecil itu dan juga untuk membeli
makanan bagi anak-anak yang lain yang sudah menderita
lapar semenjak kemarin.
“Bagaimana, ayah? Berhasilkah usahamu mencari pinjaman
ke rumah gadai?” tanya anak perempuannya dengan suara
terisak.
Lim Bun menjatuhkan diri di atas tanah karena mereka
tidak mempunyai tempat duduk dari bangku lagi dan tak
tertahan lagi kakek ini lalu menangis. Kemudian di antara sedu
sedan dan elahan napasnya ia menceritakan tentang usul
pegawai rumah gadai itu.
Mendengar betapa rumah gadai itu minta anak
perempuannya untuk dijadikan barang tanggungan, nyonya
itu menangis sedih.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
“Alangkah kejamnya!” katanya sambil memeluk anaknya
yang juga menangis sedih.
“Ibu, biarlah .....biarlah aku pergi ke sana, biar aku
dijadikan barang tanggungan, asal kong-kong bisa
mendapatkan uang guna membeli makan untuk adik-adikku
.....” kata Siauw Kim dengan gagahnya.
“Tidak, tidak ..... bagaimana kalau kita tidak dapat
menebusmu kembali?” kata ibunya sedangkan Lim Bun tak
dapat berkata sesuatu seperti orang kehilangan akal.
“Tentu bisa, ibu, Bukankah uang pinjaman itu sebagian
besar dapat dipergunakan untuk membeli bibit padi? Musim
hujan mulai tiba dan sawah kita tentu akan menghasilkan
padi!”
Mendengar ucapan cucunya ini, dengan terharu Lim Bun
lalu berdiri dan memegang kedua pundak Siauw Kim. “Cucuku
yang baik, memang hanya kaulah pada saat ini yang dapat
menolong nyawa kita sekeluarga. Percayalah, Thian masih
cukup adil untuk memberi berkah kepada sawah kita sehingga
penghasilannya cukup untuk dipergunakan menebusmu
kelak.”
(Oo-dwkz-oO)
Tag:cersil cersil indo cersil mandarin full cerita silat mandarin online cersil langka cersil mandarin lepas cerita silat pendekar matahari kumpulan cerita silat jawa cersil mandarin beruang salju. cerita silat pendekar mataharicerita silat indonesia cerita silat kho ping hoo cerita silat mandarin online cerita silat mandarin full cerita silat jawa kumpulan cerita silat cerita silat jawa pdf cerita silat indonesia gratis cerita silat jadul indonesia cerita silat indonesia pendekar rajawali sakti cersil indonesia pendekar mabuk cersil langka cersil dewa arak cerita silat jaman dulu cersil jawa download cerita silat mandarin full cerita silat mandarin online cersil mandarin lepas cerita silat mandarin pendekar matahari cerita silat jawa pdf cersil indonesia pdf cersil mandarin beruang salju kumpulan cerita silat pdf
kumpulan cerita silat cersil online
Share:
cersil...
Comments
0 Comments

Arsip Cersil

Best Cersil

Pecinta Cersil