Donasi

Buat yang punya rejeki berlebih dan merasa terhibur dengan Situs Cerita Silat Cersil Terbaik ini bisa mendonasikan bantuannya ke
No. Rekening BPD Jateng No. 2004084554
demi keberlangsungan dan keberadaan Blog Cersil Cerita Silat yang sama-sama kita cintai ini. Kritik dan Saran hub No HP.083837358519. Atas Bantuannya disampaikan Terimakasih.

Kamis, 31 Mei 2018

Cerita Silat Mandarin Pedang Cheng Hoa Kiam 4 Tamat

=======
baca juga

Kui-bo Thai-houw mengeluarkan suara ketawa merdu tanpa menggerakkan bibir atau membuka mulut. Sungguh mengerikan wanita ini, tertawa seperti itu. Inilah tandanya bahwa dia marah sekali, tanda bahwa maut sedang mengintai korban melalui keganasan wanita ini.
"Kau mengambil pedang dan batu-batu kemala masih bisa diampuni, akan tetapi penipuan dan penghianatanmu kepadaku hanya dapat ditebus dengan nyawa. Kun Hong, keluarkan benda-benda itu dari saku bajumu!"
"Menyesal tak dapat kukembalikan, Thai-houw, karena aku membutuhkannya sekali."
"Aku bicara sebagai ibu angkatmu!"
"Kau yang mengangkatku sebagai anak angkat, akan tetapi aku taik pernah mengangkatmu sebagai ibu."
"Keparat! Apa kau tidak ingat akan hubungan kita? Kau tak kenal budi!"
"Kau yang menjadikan aku kekasihmu, aku terpaksa dan hanya melayani kehendakmu."
"Bedebah! Kau tidak mau menurut? Aku gurumu!"
"Seorang guru tentu akan membela muridnya, apalagi melihat murid terancam maut. Kau malah mengulur-ulur waktu tidak mau mengobatiku. Kau bukan guruku dan aku tak pernah mengangkatmu sebagai guru"
"Bocah kurang ajar! Kau mengandalkan apa? Mampuslah!" Kui-bo Thai-houw yang sudah kehabisan kesabarannya mencelat maju, tangan kanannya bergerak memukul dan tangan kirinya menggerakkan tali ikat pinggangnya yang sudah terkenal amat lihai itu. Inilah serangan luar biasa yang sudah merampas jiwa entah berapa banyak musuh. Pukulan tangan kanannya itu halus dan tidak terasa ada angin pukulannya, akan tetapi dari jarak jauh sudah cukup kuat untuk mencabut nyawa lawan! Jangan lupa lagi serangan tali ikat pinggang itu. Tali itu kecil panjang dan mengeluarkan suara bercuit, melengking tinggi ketika menyambar ke arah jalan darah kematian di leher Kun Hong, melebihi bahayanya serangan seekor ular terbang yang berbisa. Sekali ujung tali ini mengenai sasaran, betapapun pandai lawan, jangan harap bisa hidup lagi. jalan darah akan putus, urat terpenting akan hancur sehingga darah akan merembes ke dalam kepala secara liar dan sekaligus mematikan lawan!
Baiknya Kun Hong sudah siap sedia dan bersikap waspada serta hati-hati sekati. Ia sudah lama hidup perdekatan dengan wanita ini, sudah banyak ia menyaksikan wanita ini membunuh lawannya dengan
447
serangan-serangan serentak dan tiba-tiba. Sudah banyak pula ia mempelajari ilmu silat tinggi dari Kui-bo Thai-houw. maka gerak-gerik wanita ini sudah dikenalnya baik-baik. Melihat Kui-bo Thai-houw bergerak tadi, ia sudah menduga bahwa wanita itu tentu menyerangnya dengan pukulan tangan kanan yang disebut Thian-li-toat-beng (Bidadari Mencabut Nyawa) sedangkan ia yang sudah mempelajari ilmu silat dengan tali ikat pinggang secara mendalam, tahu bahwa serangan ikat pinggang yang talinya panjang itu tentu mengarah jalan darah di lehernya. Oleh karena sudah dapat menduga lebih dulu. maka cepat-cepat Kun Hong melompat ke kiri, cukup jauh untuk menghindarkan hawa pukulan Thian-li-toat-beng sambil menggerakkan pedang di tangannya untuk menangkis ujung tali yang mengejarnya dengan titik serangan tidak berobah.
Betapapun juga, ketika pedang bertemu dengan ujung tali. Kun Hong merasa seluruh lengan tangannya tergetar hebat dan ujung tali itu secara lihai sekali tahu-tahu sudah melibat pedangnya dan terjadilah perebutan pedang antara Kui-bo Thai-houw dan Kun Hong. Tarik-menarik sambil mengerahkaan lweekang. Kun Hong makin lama makin menggigil kedua kakinya dan tangan yang memegang gagang pedang sudah gemetar, sedangkan Kui-bo Thai-houw masih berdiri tegak dengan bibir tersenyum mengejek.
Tahulah Kun Hong bahwa kalau sampai pedang itu terlepas dari pegangannya, celakalah dia, berarti nyawanya akan putus oleh serangan berikutnya dengan tali ikat pinggang itu! Maka ia mengerahkan seluruh tenaga dan menahan napas, menyatukan semangatnya. Dengan perlawanan yang gigih ini tidak mudah juga bagi Kui-bo Thai-houw untuk merampas pedang.
Kui-bo Thai-houw makin marah karena penasaran. Ia mengeluarkan suara menjerit nyaring dan tinggi, tangan kirinya digunakau untuk mendorong ke arah dada Kun Hong dengan pukulan lweekang jarak jauh yang amat kuat! Kun Hong terkejut sekali. Tak disangkanya bahwa wanita itu ternyata belum menghabiskan seluruh tenaganya untuk merampas pedang sehingga masih sanggup melakukan pukulan hebat it u dengan tangan kiri.
Terpaksa iapun mengangkat tangan kirinya untuk menangkis. Tentu saja gerakan mi mengurangi tenaganya sehingga kuda-kuda kakinya tergempur membuat tubuhnya doyong ke depan. Kui-bo Thai-houw tertawa mengejek dan menarik tali ikat pinggangnya lebih kuat. Makin doyong saja tubuh Kun Hong dan kini dapat dipastikan bahwa tak lama lagi pemuda ini tentu akan menyerah kalah.
Pada saat itu muncullah Wi Liong yang berlari-lari membawa Cheng-hoa-kiam. Melihat keadaan Kun Hong yang nyawanya terancam Kui-bo Thai-houw, tahulah Wi Liong bahwa sangkaannya tadi ternyata betul. Kun Hong hanya bersandiwara di depan wanita itu, pura-pura tunduk dan membalas cinta kasihnya, akan tetapi sebetulnya pemuda itu menanti saat baik untuk memberontak, untuk mencari obat dan membebaskan kawan-kawannya. Biarpun ia tidak setuju sama sekali akan taktik Kun Hong yang tidak gagah dan memalukan itu, namun karena melihat Kun Hong terancam, ia menjadi tidak tega. Bagaikan kilat menyambar tubuhnya melesat dan pedang Cheng-hoa-kiam membabat tali ikat pinggang yang masih menarik pedang Kun Hong.
"Tinggg.........!" Kui-bo Thai houw menjerit kecil, tubuhnya terhuyung ke belakang dan tali ikat pinggangnya ia tarik kembali. Pada saat itu Kun Hong yang tiba-tiba terlepas, hampir jatuh tersungkur ke depan kalau ia tidak cepat-cepat memutar tubuh dan berjumpalitan. Akan tetapi Kui-bo Thai-houw menggunakan kesempatan ini untuk mengirim serangan dengan tali ikat pinggangnya, menyambarlah
448
senjata maut itu ke arah kepala Kun Hong yang sedang berjungkir balik dan tidak berdaya menangkis itu.
Lagi-lagi Wi Liong yang menggerakkan Cheng-hoa-kiam menangkis. Baru sekarang Kui-bo Thai-houw terkejut bukan main. Tadi memang Cheng-hoa-kiam di tangan pemuda itu dapat melepaskan ikatan tali pinggangnya, akan tetapi ia mengira bahwa hal itu dapat terjadi karena tenaga pemuda ini tergabung dengan tenaga Kun Hong maka begitu kuat. Sekarang, senjatanya bertemu dengan senjata Wi Liong itu tanpa bantuan dan ia merasa telapak tangannya tergetar dan tali ikat pinggangnya membalik cepat. Tentu saja hal ini tidak disangkanya sama sekali. Kiranya pemuda ini memiliki kepandaian yang tidak kalah oleh Kun Hong, bahkan tenaga dalamnya agaknya lebih unggul.
"Bagus, ternyata ikan yang kutangkap memiliki kepandaian juga. Biar kubunuh kau lebih dulu sebelum kumampuskan Kun Hong!" Dengan penasaran sekali Kui-bo Thai-houw menyerang Wi Liong dengan senjatanya yang istimewa.
Wi Liong menangkis tenang sambil berkata, "Kui bo Thai-houw, sekarang kita berhadapan seorang lawan seorang di daratan. Keluarkanlah semua kepandaianmu, aku mana takut padamu!"
"Wi Liong, jangan takut. Aku membantumu. Mari kita basmi siluman betina jahat ini!" kata Kun Hong gembira. "Sulingmu juga sudah kurampas kembali, terimalah!" Memang tadi ketika memasuki kamar Kui-bo Thai houw, Kun Hong melihat suling yang menjadi senjata Wi Liong terletak di atas meja. Ia menyambar suling itu dan menyelipkannya di pinggang karena memang ia bermaksud mengajak Wi Liong menggempur Kui-bo Thai-houw yang lihai.
Melihat sulingnya dilemparkan kepadanya, Wi Liong cepat menyambarnya. Biarpun ia sudah memegang Cheng-hoa-kiam, namun baginya lebih enak bersenjatakan sulingnya itu.
"Kun Hong. tak usah kau membantuku. Lebih baik kau pergi menolong kawan-kawan yang kini sedang ditolong oleh Eng Lan," kata Wi Liong yang mengkhawatirkan keselamatan Eng Lan.
Mendengar ini, kembali terasa tak enak di hati Kun Hong, tak enak karena cemburu. Kini ia dapat menduga bahwa pedangnya tentu dicuri oleh Eng Lan dan gadis itulah kiranya yang membebaskan Wi Liong. Kalau tidak demikian, bagaimana Cheng-hoa-kiam bisa berada di tangan Wi Liong dan pemuda itu tahu pula bahwa Eng Lan pergi menolong orang-orang yang tertawan? Wi Liong gagah perkasa dan tampan, tidak kalah olehnya, bukan hal tak mungkin kalau Eng Lan tertarik hatinya. Biarpun hatinya tidak enak sekali, akan tetapi mendengar bahwa Eng Lan pergi seorang diri menolong mereka yang tertawan, ia merasa khawatir juga dan cepat ia pergi tinggalkan tempat itu menyusul Eng Lan.
Kui bo Thai-houw gemas sekali melihat Kun Hong pergi membawa dua buah batu kemalanya berikut pedangnya, akan tetapi ia tidak berdaya mencegah Pemuda yang menghadapinya ini benar benar tangguh. Apa lagi sekarang dengan suling di tangan kiri, pemuda ini benar-benar merupakan lawan yang tak boleh dipandang ringan sama sekali. Kui-bo Thai-houw mengerahkan tenaga dan mengeluarkan kepandaiannya. Tali ikat pinggangnya masih melayang-layang mencari sasaran maut, tangan kakinya juga menyerang dengan serangan-serangan luar biasa. Jarang ada lawan dapat menahan hujan serangan yang kesemuanya merupakan tangan tangan maut yang menjangkau mencari korban itu.
449
Akan tetapi serangan-serangan yang datangnya seperti hujan ini dan sekaligus secara bertubi-tubi tidak kurang dan tigapuluh enam jurus serangan yang tidak pernah putus dengan amat indah dan cepatnya dapat dilayani dan dipunahkan oleh Wi Liong! Bukan main kagetnya hati Kui-bo Thai-houw. Belum pernah selama hidupnya ia berhadapan dengan pemuda segagah ini. Hampir tidak percaya kalau bukan dia sendiri yang mengalaminya. Pukulan-pukulan dengan hawa lweekang yang sangat dahsyat ternyata dapat dilawan oleh dorongan pemuda itu dengan hawa lweekang yang sama kuatnya! Ia memperhatikan gerak-gerik pemuda itu, dari pergeseran kaki sampai pergerakan lengan dan pundak. Tiba-tiba Kui-bo Thai-houw melompat mundur dan menarik kembali tali pinggangnya. Mukanya menjadi merah sekali, membuat ia kelihatan makin muda dan cantik.
"Kau......... murid Thian Te Cu kenapa datang menggangguku? Thian Te Cu sendiri tak pernah memusuhiku! Apakah............ Thian Te Cu menyuruh kau datang untuk menghinaku?" Dan aneh sekali, Wi Liong melihat dua butir air mata melompat keluar dari sepasang mata itu, membasahi pipi! Kui-bo Thai-houw mengeluarkan air mata.
Wi Liong menjadi tidak enak sekali. Tak disangkanya bahwa agaknya wanita ini kenal baik dengan suhunya, malah melihat gelagatnya, agaknya dahulu ada terjadi sesuatu antara suhunya dan Kui-bo Thai-houw. Celaka kalau sampai nama gurunya terbawa-bawa dalam urusan ini, padahal gurunya tidak tahu- menahu tentang penyerbuannya ke Ban-mo-to ini.
"Aku memang murid beliau, akan tetapi suhu tidak turut campur dengan kedatanganku di pulau ini. Seperti sudah kukatakan kepadamu, Kui-bo Thai-houw, kedatanganku adalah untuk minta kau bebaskan nona Pui Eng Lan. Apa lagi sekarang kulihat kawan-kawanku, Pak-thian Koai-jin, See-thian Hoat-ong dan puteranya. juga kabarnya Thai It Cinjin dan kedua orang satenya, semua kau tahan. Harap kau suka melepaskan mereka.''
Kui bo Thai-houw menarik napas panjang, agaknya lega mendengar bahwa pemuda ini datang bukan atas perintah Thian Te Cu.
"Akupun dapat menduga, tak mungkin dia mau menyerangku. Kau ini bocah memang kurang ajar sekali. Eng Lan dan yang lain-lain tidak diganggu, malah sekarang tentu sudah bebas dibantu oleh anjing penghianat Kun Hong itu. Mengapa kau masih ribut-ribut di sini? Apakah kau begitu sombong hendak mencoba kepandaianku? Awas, bocah muda, jangan membikin aku marah dan lupa bahwa kau murid Thian Te Cu!"
Wi Liong sadar. Tadinya ia melawan Kui bo Tha« houw hanya dengan maksud membantu dan menolong Kun Hong, kemudian memberi kesempatan kepada Kun Hong untuk menolong yang lain-lain maka ia menahan Kui-bo Thai-houw agar tidak mengejarnya. Sekarang wanita ini agaknya sudah rela membiarkan semua orang terlepas, maka perlu apa dia mendesak terus? Harus diakui bahwa kepandaian wanita ini lihai dan berbahaya sekali dan ia sama sekali tidak berani memastikan apakah kalau pertandingan dilanjutkan ia akan bisa menang. Wi Liong lalu menjura dan berkata halus,
"Terima kasih kalau kau sudah rela membebaskan semua tawananmu. Akupun orang muda mana berani berlaku kurang ajar di tempat orang? Kui-bo Thai-houw, harap kau maafkan aku dan selamat tinggal." Setelah berkata demikian. Wi Liong melesat pergi.
"Tunggu saja sampai pertemuan puncak di Pek-go-to pada musim chun mendatang!" Kui-bo Thai-houw berkata lirih, penuh kegemasan dan penasaran.
450
Masa dia tidak dapat menangkan murid Thian Te Cu? Kalau ia kalah terhadap Thian Te Cu. hal itu tidak memalukan benar. Akan tetapi terhadap muridnya yang masih begitu muda? Ia penasaran sekali.
"Aku perlu memperkuat diri, perlu memperdalam kepandaian. Usiaku belum terlalu tua. Aku bisa lebih maju untuk menghadapi pertemuan puncak," Demikian katanya kepada diri sendiri dan pikiran serta semangat ini membuat ia agak terhibur dari kehilangan senjata pedang dan dua buah batu kemalanya.
Wi Liong berlari cepat sekali menuju ke pantai. Ia hendak melihat dulu apakah betul Eng Lan dan yang lain-lain sudah bebas. Ia masih khawatir kalau- kalau ia ditipu oleh Kui-bo Thai-houw. Selagi ia berlari lari, tanpa disengaja ia melalui sebuah tanah pekuburan. Inilah tanah kuburan di pulau itu, dan di sinilah dikuburnya orang-orang yang mati di Pulau Ban-mo-to, baik karena sakit karena tua maupun karena terbunuh oleh Kui-bo Thai-houw. Akan tetapi sebagian besar di antara mereka adalah korban-korban keganasan Kui-bo Thai-houw!
"Wi Liong, berhentilah kau!" tiba-tiba terdengar bentakan keras dan seorang pemuda yang membawa pedang muncul menghadang. Dia ini bukan lain adalah Kun Hong!
Melihat Kun Hong, dagu Wi Liong mengeras dan ia memandang tajam, berdiri tegak akan tetapi sikapnya tenang.
"Kun Hong, kau masih di sini? Di mana yang lain-lain? Apakah mereka sudah dibebaskan semua?"
"Mereka sudah pergi meninggalkan pulau ini!" jawab Kun Hong singkat dan mata pemuda ini mengincar ke arah Cheng hoa kiam di tangan kiri Wi Liong, mulutnya cemberut dan ia nampak marah dan mendongkol.
"Kau mau apakah? Mengapa kau tidak ikut pergi dan apa maksudmu menghadangku di sini?" tanya Wi Liong penuh selidik.
Untuk beberapa lama Kun Hong tidak menjawab. Tiba-tiba ia membentak, "Kembalikan Cheng-hoa-kiam kepadaku!"
Wi Liong tersenyum dingin. "Kaulah yang harus mengembalikannya kepadaku. Ingat, kau mencuri pedang ini dari Wuyi-san."
"Kau harus merampasnya kembali dari tanganku, bukan mendapatkan kembali begitu mudah!" kembali Kun Hong membentak marah.
Wi Liong tetap tenang. "Kau mau menang sendiri saja, Kun Hong. Pendeknya. Cheng-hoa-kiam tidak akan terlepas lagi dari tanganku. Kau mau apa!"
"Aku harus mendapatkannya kembali!" Setelah berkata begini Kun Hong lalu menubruk maju, menyerang dengan pedangnya, pedang rampasan atau pedang curian dari kamar Kui-bo Thai-houw. Pedang inipun bukan pedang sembarangan melainkan sebatang pedang pusaka yang ampuh. Maka
451
ketika Wi Liong menangkiskan Cheng-hoa-kiam untuk merusak pedang Kun Hong itu, hanya terdengar suara nyaring disusul muncratnya bunga api, akan tetapi kedua pedang itu tidak ada yang rusak.
"Kau sendiri sudah mempunyai pedang baik, mengapa masih menginginkan milik lain orang?" Wi Liong mencela Kun Hong, diam-diam kagum juga melihat keampuhan pedang di tangan Kun Hong itu.
Akan tetapi Kun Hong tidak perduli lagi. Cepat dan antep dia menyerang lagi, mengerahkan tenaga dan mengeluarkan kepandaiannya, ia tidak hanya ingin merampas pedang, akan tetapi ia ingin mencoba kepandaiannya yang sudah digembleng lagi oleh Kui-bo Thai-houw itu untuk melawan musuh lamanya ini.
Pertandingan berlangsung seru dan ramai sekali. Wi Liong selalu mengalah dan untuk menjaga agar jangan sebuah di antara dua pedang pusaka itu rusak, ia menghadapi pedang Kun Hong dengan suling di tangan kanannya. Ia kaget menyaksikan keganasan ilmu pedang Kun Hong dan maklumlah ia bahwa pemuda murid Thai Khek Sian ini benar-benar telah mendapatkan banyak kemajuan dan ilmu pedang yang sudah ganas itu menjadi lebih keji lagi kini. Tentu telah menerima latihan-latihan dari Kui bo Thai-houw, pikirnya. Menghadapi Kun Hong, Wi Liong tidak bisa enak-enakan saja. Iapun terpaksa harus mengerahkan seluruh kepandaiannya agar jangan sampai celaka dalam tangan pemuda aneh ini.
Setelah seratus jurus lewat, ketika pedang Kun Hong menusuk dadanya, Wi Liong menggunakan tenaga lweekang tinggi untuk menempel pedang itu dengan suling, menindihnya ke bawah, lalu membentak dengan suara keren,
"Kun Hong, apa kau hendak mengadu nyawa karena Cheng-hoa kiam?"
Lengan tangan kanan Kun Hong yang memegang gagang pedangnya menggigil. Harus ia akui bahwa ia kalah tenaga oleh Wi Liong dan hal ini karena dia tidak pandai menjaga diri, tidak kuat mengekang nafsu seperti Wi Liong. Akan tetapi dia tidak mau kalah, malah dengan cemberut ia membentak kembali,
"Kau menggoda Eng Lan!!" Seruan ini membuat Wi Liong demikian kaget dan heran sehingga tenaganya agak mengendur. Kun Hong cepat merenggut pedangnya terlepas dan dengan marah membacok kepala Wi Liong. Wi Liong sigap miringkan tubuh. Pedang Kun Hong menyabet bongpai (batu nisan) sebuah kuburan dan sebelum ia sempat menarik kembali pedangnya, lagi-lagi suling Wi Liong sudah menindih pedang itu.
"Kun Hong. jangan kau gila. Apa maksudmu dengan menggoda Eng Lan?"
"Kau memutuskan hubungan dengan Siok Lan karena kau mencinta Eng Lan!"
Lagi-lagi ucapan ini membuat Wi Liong kaget dan tenaganya berkurang sehingga Kun Hong dapat menarik pedangnya lalu langsung menusuk perut Wi Liong. Wi Liong menjadi marah sekali mendengar fitnah keji itu. Ia menyampok pedang lawan sekuatnya sehingga pedang itu hampir saja terlepas dari tangan Kun Hong.
452
"Gila kau! Jadi kau......... kau cemburu.......? Apa buktinya? Apa buktinya aku menggodanya? Hayo bicara dulu jangan mengamuk seperti kerbau gila!"
"Buktinya? Dia sudah mengambil pedangku dan selain digunakan untuk mengeluarkan kau dari jaring juga ia memberikan pedang Cheng-hoa-kiam kepadamu. Dahulupun dia bersama kau menjadi tawanan Ngo-tok-kauw, kemudian sikapnya terhadapku menjadi tawar, malah tadi ia marah-marah karena aku meninggalkanmu seorang diri menghadapi Kui-bo Thai houw dan sekarang ia pergi meninggalkan aku dengan marah dan benci. Mana bisa Eng Lan-ku yang dulu amat menyintaku sekarang berobah begitu kalau tidak kau ganggu?"
Wi Liong tertawa, suara ketawa kering untuk memperlihatkan kegemasan hatinya, tertawa mengejek dan merendahkan Kun Hong. "Kau pemuda gila, kau manusia picik dan rendah budi. Ah, alangkah rendahnya budimu, alangkah bodoh dan buta matamu. Kun Hong, lebih baik kau cokel ke luar dua biji matamu itu, karena percuma saja kau bermata akan tetapi lebih buta dari pada orang tak bermata. Kau keji sekali, menuduh yang bukan-bukan kepada Eng Lan. Apa kau tahu bagaimana gadis itu mati-matian menyeret gurunya menyerbu Ngo-tok-kauw, semata mata untuk mencari Im-yang-giok cu, semata-mata untuk mengobatimu karena ia mencintamu? Setan hina, apa kau tidak melihat betapa setelah melihat kelakuanmu yang menjemukan dan yang kotor di pulau ini, setelah ia melihat kau menjadi kekasih dan anjing Kui-bo Thai-houw. setelah kau menyakitkan hatinya seperti itu, ia toh masih tidak tega meninggalkanmu di sini, seorang diri? Ia masih setia, rela menjadi tawanan di sini, semata-mata karena ia ingin selalu dekat denganmu? Semua itu ia lakukan, ia gadis suci murni itu, yang cinta kasihnya suci murni pula, semua ia lakukan untukmu yang ternyata malah membalasnya dengan fitnah keji, kau tuduh yang bukan-bukan dengan aku. Ooo. alangkah rendahnya kau ini!"
Kun Hong terduduk tanpa merasa. Terduduk dengan muka pucat seperti mayat. Pedang di tangannya gemetar, matanya membelalak memandang Wi Liong, bibirnya menggigil pucat tanpa kuasa mengeluarkan suara, hidungnya kembang kempis dan air matanya mengalir turun membasahi kedua pipinya yang pucat. Akhirnya setelah beberapa kali membuka mulut tanpa bisa mengeluarkan suara, ia dapat juga berkata dengan suara parau dan lirih,
"Wi Liong.......... demi lblis neraka.......... Wi Liong............. betulkah semua omonganmu itu......?”
"Selama hidupku belum pernah aku memaki dan menyumpah seperti sekarang ini, belum pernah aku marah dan gemas kepada orang lain seperti kepadamu sekarang ini, Ahhhh, alangkah inginnya aku memancungkan pedang ini pada lehermu, alangkah inginnya aku meremukkan kepalamu dengan sulingku ini."
Kun Hong tak kuat lagi menahan keharuan dan kesedihan hatinya. Ia menjatuhkan diri berlutut menciumi tanah merenggut rumput-rumput.
"Lakukanlah Wi Liong....... lakukanlah....... bunuh saja orang keji ini........ supaya iblis jahat pergi dari hatiku........." Kun Hong menangis seperti anak kecil! Hatinya penuh penyesalan, teringat akan apa yang baru saja terjadi antara dia dan Eng Lan.
Tadi setelah ia mendengar dari Wi Liong bahwa Eng Lan pergi hendak membebaskan para tawanan, ia cepat mengejar dan menyusul. Benar saja, ia melihat Eng Lan tengah dikeroyok oleh para pelayan dan
453
berada dalam bahaya. Ia segera membentak para pelayan yang segera mundur karena mereka ini sebagian besar sudah mengenalnya.
"Mengapa kau menyusul ke sini? Mana saudara Wi Liong?" tanya Eng Lan wajar karena dalam keadaan tegang itu ia untuk sementara melupakan kemarahan kepada Kun Hong.
Dada Kun. Hong makin panas karena begitu bertemu, gadis ini terus saja menanyakan Wi Liong.
"Dia bertempur melayani Kui-bo Thai-houw," jawabnya singkat sambil berlari memasuki ruangan di bawah tanah, tempat para tawanan.
"Dan kau biarkan dia menghadapi Kui bo Thai-houw seorang diri? Tidak kau bantu? Benar-benar kau keterlaluan!" Mendengar ucapan marah dari gadis ini, rasa cemburu di hati Kun Hong menjadi berkobar dan pemuda ini tak dapat mengendalikan diri lagi. Ia tidak jadi memasuki tempat tahanan, malah melompat kembali menghadapi Eng Lan yang berdiri dengan penuh kekhawatiran untuk keselamatan Wi Liong.
"Mengapa aku harus membantunya?" tanyanya ketus sambil menatap wajah Eng Lan dengan hati panas.
"Mengapa katamu?" Eng Lan juga membentak marah. "Tentu saja kau harus membantunya, ataukah kau memang sengaja meninggalkannya supaya ia celaka di tangan Kui-bo Thai-houw ke-Cintaanmu itu?"
"Biar dia mampus! Kau perduli apa sih? Hemmm, tahulah aku, Eng Lan. Tahulah aku sudah akan isi hatimu. Tak perlu kau bicara lagi." Muka Kun Hong menjadi kejam dan biarpun pemuda ini menahan-nahannya. namun iblis di dalam hatinya mendesak terus, membuatnya tak berdaya menahan mulut yang bicara terus, mengeluarkan kata-kata keji sekali. "Aku mati-matian mencari obat, berjuang untuk memperpanjang hidup, semua kulakukan dengan harapan kelak bisa hidup bahagia denganmu......... dengan kau yang kukira gadis tunggal yang benar-benar mencintaku dengan suci, yang kukira gadis yang patut dijunjung tinggi, patut kucinta dan kupuja melebihi jiwaku sendiri.........Eng Lan. tidak tahunya sepeninggalku kau ternyata sama busuknya dengan wanita-wanita yang pernah kukenal. Sama busuknya dengan pelayan-pelayan Kui-bo Thai-houw, malah lebih busuk dari pada mereka karena mereka itu sedikitnya tidak pura-pura suci seperti kau! Kau berdua dengan Wi Liong, tertawan berdua di Ngo-tok kauw. kau membelanya di pulau ini, lebih mementingkan dia dari pada aku. Sekarang pula.......!"
"Plakk.........!!" Eng Lan menampar pipi Kun Hong sambil memekik dengan muka pucat sekali, "Tutup mulutmu, jahanam!"
Akan tetapi Kun Hong seperti sudah kemasukan iblis Ban-mo-to. Ia ditampar tidak menangkis, malah tertawa terbahak lalu sekali renggut ia telah dapat memeluk pinggang gadis itu.
"Kau manis, memang.........! Sampai sekarangpun aku masih suka padamu, suka pada wajahmu yang manis, pada matamu yang berapi-api. pada bibirmu yang merah dan lembut. Akan tetapi aku suka padamu seperti aku suka wanita -wanita lain. Ha-ha, Pui Eng Lan, kau dan. aku sama. Aku suka padamu seperti aku suka pelayan-petayan Kui bo Thai-houw, dan kau suka padaku seperti kau suka
454
kepada Wi Liong dan mungkin laki-laki lain lagi.........!" Ia memeluk dan menciumi gadis itu dengan kasar.
Eng Lan hampir pingsan. Untuk sejenak ia terlampau kaget untuk dapat bergerak dan ia meramkan mata hampir pingsan ketika Kun Hong menciuminya. Kemudian ia teringat akan harga dirinya. Ia sekuat tenaga memberontak terlepas dari pelukan Kun Hong, tak kuasa membuka mulut, tak kuasa menyerang. Begitu marah dia. Lalu dengan isak tertahan gadis itu lari meninggalkan Kun Hong!
Kun Hong tidak perduli lagi, tertawa-tawa dan memasuki ruangan bawah tanah. Ia merusak pintu-pintu kamar tahanan dengan pedangnya dan membebaskan Pak-thian Koai-jin. Thai It Cinjin. Im-yang Thian cu, See-thian Hoat-ong, dan Kong Bu tanpa bicara apa-apa. Mereka semua memandang pemuda yang pucat dan membisu itu dengan terheran-heran.
"Kau malah yang membebaskan kami!" Pak thian Koai-jin berkata, agak terkejut juga. "Dan di mana muridku, Eng Lan?"
Tanpa menoleh Kun Hong menjawab, "Sudah pergi lebih dulu dari pulau ini."
Ketika semua orang menyerbu keluar. Kun Hong mengikuti mereka dari jauh. Ia masih belum tahu hendak bagaimana, pikirannya kosong dan hatinya sedih sekali. Betapapun juga, biarpun ia menghibur hatinya dengan kata-kata sendiri bahwa di dunia ini masih banyak wanita lain, bahwa gadis seperti Eng Lan yang tidak setia itu tak perlu dipikirkan lagi, namun seperti tak disengaja kedua kakinya bergerak sendiri mengikuti orang-orang itu yang melarikan diri ke pantai.
Kong Bu yang larinya paling belakang karena pemuda ini masih bingung hendak bertanya tentang obat baginya, ketika melihat Kun Hong berjalan di belakangnya lalu berhenti dan berkata ramah,
"Saudaraku, ternyata kau seorang sahabat baik yang menolong kami juga. Aku sangat bersyukur kepadamu. Apakah sekarang kaupun hendak pergi bersama kami?"
Kun Hong menggeleng kepala, matanya mencari-cari karena ia tidak melihat bayangan Eng Lan. Lalu ia teringat dan merogoh sakunya, mengeluarkan Ngo-heng-giok-cu yang menghias kepala tongkat yang sudah potong, yaitu tongkat Ngo tok-kauw, memberikannya kepada Kong Bu.
"Lukamu karena Hek-tok sin-ciang tidak berat. Akan tetapi kalau diobati dengan ini akan lebih cepat sembuhnya. Kau pergilah."
Melihat air muka Kun Hong yang pucat dan aneh, Kong Bu tidak berani banyak cakap lagi. Ia menerima tongkat potong itu dan menghaturkan terima kasih lalu berlari menyusul ayahnya dan yang lain-lain.
Sampai di pantai, Kun Hong terus mengikut mereka. Ia melihat Pak-thian Koai jin menangkap seorang penjaga pantai dan mengancam, "Apa kau tadi melihat nona Eng Lan? Hayo bilang terus terang agar aku tak usah menggunakan kekerasan."
"Dia sudah pergi, naik sebuah perahu......”. jawab penjaga itu.
455
Jawaban ini diterima dengan hati lega oleh Pak-thian Koai-jin dan kawan-kawannya, akan tetapi dengan hati kosong dan semangat layu oleh Kun Hong. Benar-benar Eng Lan sudah pergi dan ia tidak akan melihat bayangannya lagi. Dari sedih ia menjadi benci dan marah, bukan kepada Eng Lan melainkan kepada Wi Liong! Inilah yang menyebabkan ia menanti Wi Liong dan sengaja mengajak Wi Liong berkelahi mati-matian, sebetulnya sama sekali bukan Cheng-hoa-kiam yang menjadi sebab utama, melainkan Eng Lan!
Demikianlah dengan hati remuk dan perasaan menyesal kepada diri sendiri, Kun Hong menangis setelah mendengar ucapan Wi Liong yang membuka matanya. Wi Liong yang masih berdiri, terharu juga biarpun ia masih marah kepada Kun Hong. Terkenanglah ia akan pengalamannya sendiri, akan cinta kasihnya yang gagal bersama Siok Lan. la melihat bayangan asmara yang gagal dan remuk pula di depan mata, asmara antara Eng Lan dan Kun Hong.
Hatinya menjadi terharu dan tidak tega. Ia sendiri sudah merasai betapa pahitnya, betapa sengsaranya menderita patah hati dan ia tidak mau melihat lain orang menderita seperti dia. Perhubungan.Kun Hong dan Eng Lan masih dapat diperbaiki, kalau Kun Hong memang dapat memperbaiki kelakuannya. Ia dapat menduga betapa besarnya cinta kasih Eng Lan kepada Kun Hong, sebesar cinta kasih Siok Lan kepadanya. Dan sekarang ia dapat melihat pula bahwa Kun Hong sebetulnya amat mencinta Eng Lan, kalau tidak demikian, tidak nanti pemuda ini sekarang menderita penyesalan hebat seperti ini, sampai menangis tersedu-sedan seperti anak kecil!
"Apa artinya kau menangis seperti anak kecil di depanku? Semua salahmu sendiri, karena kau tidak bisa menjaga diri, tidak bisa menahan nafsu, karena kau pemuda lemah, pemuda mata keranjang dan cabul. Kau minta ampun kepadaku, apa artinya? Bodoh, kenapa tidak minta ampun kepada Eng Lan, menyusulnya cepat-cepat sebelum ia pergi terlalu jauh dan sukar disusul lagi? Benar bodoh!"
Mendengar ini, Kun Hong seperti baru sadar dari tidurnya. Ia melompat bangun dan dengan mata merah dan muka pucat ia memandang Wi Liong.
"Apa.........apa kau kira......... dia akan sudi mengampuniku........?"
"Cintanya suci. tidak seperti cinta kasihmu yang kotor dan palsu."
"Terima kasih!" Kun Hong berlari cepat sekali, menuju ke tempat perahu. Bagaikan dikejar setan ia melompat ke sebuah perahu dan mendayungnya cepat- cepat menuju ke pantai daratan Tiongkok untuk mengejar kekasihnya yang telah ia sakiti hatinya. Kalau ia teringat betapa tadi ia memperlakukan Eng Lan, tidak saja mengeluarkan kata-kata menghina sekali akan tetapi juga memeluk dan menciumi gadis itu seperti laku orang edan, mau ia memukul rusak mukanya sendiri.
"Eng Lan......... Eng Lan......... tunggu.........!" keluhnya dalam hati.
Sementara itu, dengan mata basah karena terharu sekali melihat keadaan orang yang menderita karena cinta kasih seperti pernah ia derita. Wi Liong berdiri tegak memandang ke arah perginya perahu. Kemudian iapun menyusul dan mendayung sebuah perahu kecil yang diambilnya dari banyak perahu di tepi pulau itu.
"Semoga mereka itu dapat bertemu dan berbahagia kembali," bisiknya dan terbayanglah wa jah Siok Lan di depan matanya, membuat hati Wi Liong menjadi berduka sekali.
456
Kota An-king di Propinsi An-hui adalah sebuah kota yang ramai dan cukup besar. Sungai Yang-ce-kiang mengalir di pinggir kota sebelah selatan dan sungai ini merupakan jalan hubungan yang amat penting bagi An-king. Barang-barang dagangan yang keluar masuk kota itu banyak melalui sungai sehingga setiap hari permukaan air sungai di kota itu penuh dengan perahu-perahu hilir-mudik.
Di kotanya sendiri juga amat ramai. Banyak pedagang dan pelancong memenuhi hotel-hotel dan restoran-restoran. Karena letaknya kota ini di tengah- tengah, maka orang-orang yang nampak di kota inipun campur-aduk. Banyak juga orang-orang utara berada di situ, yang dapat dikenal dari langgam bicara mereka. Pada masa itu, di mana setiap saat dirasakan hawa ancaman dari bala tentara Mongol yang masih sibuk dengan penyerbuan ke dunia barat, banyak orang pergi keluar rumah membawa senjata. Banyak pula orang-orang kang ouw di kota ini, sehingga tidak menjadi aneh lagi kalau orang melihat orang-orang berpakaian ahli silat membawa-bawa pedang di punggung atau pinggangnya, malah banyak juga wanita-wanita, gadis-gadis cantik, berpakaian ringkas dan di pinggang mereka tergantung pedang atau golok.
Hari itu restoran Hok lo yang merupakan restoran besar dan selalu penuh tamu di An king, tidak begitu ramai. Meja-meja banyak yang kosong dan hanya ada empat lima meja yang dihadapi tamu-tamu. Sebabnya adalah karena pagi hari itu hujan turun rintik-rintik membuat orang orang segan keluar rumah. Pelancong-pelancong dan pedagang-pedagang juga segan meninggalkan kamar hotel, hawa begitu dingin dan jalan agak becek.
Di meja yang letaknya paling depan duduk dua orang menghadapi meja dan. hidangan. Mereka ini makan minum sambil mengobrol dan melihat-lihat keluar, ke jalan raya di depan restoran Hok lo. mentertawakan orang-orang yang tergesa-gesa berjalan menempuh hujan. Mereka adalah seorang gadis cantik sekali, masih muda remaja dengan sikapnya yang lincah kenes menarik hati, dan seorang pria gemuk bertopi sutera berkumis kecil. Gadis itu paling banyak baru delapanbelas tahun usianya, cantik dan manis akan tetapi sepasang mata yang indah itu kadang-kadang kelihatan berapi dan alis yang lentik itu kadang-kadang dikerutkan, membayangkan watak yang keras.
Pakaiannya ringkas sederhana, akan tetapi tidak menyembunyikan keayuannya, malah membuat ia makin jelita. Sebatang pedang panjang tergantung di pinggangnya dan ini membuat ia kelihatan gagah sehingga mata laki-laki tidak begitu berani berterang memandang dan mengagumi kecantikannya. Adapun laki-laki itu. biarpun tubuhnya gemuk dan perutnya gendut, akan tetapi gemuk-gemuk kencang, tanda seorang kuat. Topinya dari sutera itu lain modelnya dari pada orang lain membuat ia kelihatan aneh dan asing. Di atas topi itu, di tengah-tengah, dihias sebuah mainan bundar dari benang bulu domba. Juga dia membawa pedang yang dipasang di belakang punggungnya, dari depan hanya gagang pedang yang tampak.
“Suheng. kau benar benar gembul sekali. Sering kali aku heran, siapa yang akan menang kalau bertanding minum arak dan makan mi. kau atau ayah." terdengar gadis itu berkata sambil tersenyum geli melihat laki-laki berusia tigapuluhan itu sudah menghabiskan belasan cawan arak dan dua kati mi goreng.
Laki-laki yang ternyata suhengnya (kakak seperguruan) itu hanya tertawa dan matanya menatap wajah sumoi (adik seperguruan) itu dengan lucu. Bagi orang yang sudah berpengalaman, melihat
457
sinar mata laki-laki itu menatap wajah adik seperguruannya, mudah dilihat bahwa laki-laki ini menaruh hati kasih sayang yang besar kepada gadis itu.
"Entah mengapa, Lan-moi (adik Lan), kalau hari hujan, perutku ini rasanya tak pernah mengenal kenyang. Lapar terus!" Ia tertawa terbahak-bahak sambil menepuk nepuk perutnya yang gendut membusung seperti perut wanita mengandung lima bulan.
Gadis itu tertawa geli, menutupi mulutnya dengan telapak tangan. Biarpun dari suara ketawanya yang lembut nyaring ini ia termasuk gadis kang-ouw yang tidak malu-malu seperti gadis pingitan, namun caranya menutupi mulut ketika ketawa menunjukkan bahwa ia bukanlah gadis liar dan kasar yang tidak mengenal kesopanan seorang wanita.
”Sumoy. sebaliknya kenapa makanmu sedikit amat? Aku takut kau akan menjadi makin lama makin kurus kalau kau tidak mau menambah makanmu."
Anehnya, kalau dari setiap gerak-geriknya si gendut ini jelas seorang badut yang suka melawak, ucapan kali ini diucapkan penuh kesungguhan dan di dalam suaranya terkandung perhatian dan kasih sayang.
"Gadis mana yang kepingin gendut seperti kau?" Gadis itu tersenyum. "Aku mana suka mempunyai potongan badan seperti bibi-bibi di Ban-mo-to? Biar aku makan setengah kenyang saja dari pada tubuhku menjadi gendut-gendut seperti tubuh mereka berempat!"
"Hush, sumoi, kau keterlaluan sekali. Masa bibi sendiri kau cela? Biarpun seperti itu, mereka itu lihai sekali kepandaiannya. Kalau tidak masa mereka itu menjadi pelayan-pelayan kesayangan Thai-houw?"
Gadis itu nampak tak senang membicarakan urusan yang menyangkut Ban-mo-to. "Sudahlah, kalau bicara tentang Ban-mo-to, suka mengkirik (meremang bulu tengkuk) aku. Menyeramkan! Eh, suheng, kenapa ayah belum juga muncul?" Gadis ilu melangak-longok ke jalan raya, melihat-lihat.
"Hi-hik, kaya belum kenal saja watak suhu. Tadi begitu hujan turun, suhu berlari keluar untuk hujan-hujan (bermain di bawah hujan). Katanya sudah setengah tahun tidak bertemu hujan, sekarang hendak bermain sepuasnya. Memang suhu lucu sekali. Ha-hak!"
Gadis itu ikut tertawa geli. Dua orang ini bercakap-cakap sambil bersendau-gurau. Memang hubungan kedua orang ini akrab sekali Hal ini tidak mengherankan kalau diketahui bahwa mereka adalah kakak beradik seperguruan semenjak gadis itu masih kecil, semenjak gadis itu masih kanak kanak dan baru bisa berjalan. Ketika masih kanak-kanak. laki-laki itu sudah seorang pemuda tanggung dan sering kali sumoinya itu digendong dan diasuhnya. Dengan demikian hubungan keduanya sudah seperti kakak dan adik sekandung, setidaknya demikian perasaan hati gadis itu. Bagi pemuda itu lain lagi karena diam-diam di dalam hatinya tumbuh cinta kasih yang besar, cinta kasih seorang laki laki terhadap seorang wanita! Cuma saja hal ini tidak diketahui dan tidak terasa oleh gadis remaja yang masih hijau ini.
Siapakah mereka ini? Gadis yang dipanggil Lan moi (adik Lan) itu bernama Lan Lan, puteri Phang Ek Kok, orang aneh lucu gemuk pendek berkepala plontos yang menjadi kakak nenek kembar empat pelayan Kui-bo Thai houw di Ban-mo-to. Adapun pemuda yang usianya sudah tigapuluh tahun lebih
458
itu bernama Sek she nya Kui. Kui Sek ini sebelum menjadi murid Phang Ek Kok belasan tahun yang lalu, telah ditinggal mati ayah bundanya. Ayahnya seorang guru silat, ilmu pedang, maka selain menerima pelajaran ilmu silat tinggi dari gurunya, Phang Ek Kok, lebih dulu Kui Sek juga sudah mewarisi ilmu pedang ayahnya. Wataknya juga jujur dan kasar lucu akan tetapi sayang agak menyombongkan kepandaiannya sendiri. Ia malah memakai julukan Sin hui kiam (Pedang Terbang Sakti) dan julukan ini saja sudah membayangkan kesombongannya!
Mereka sedang melakukan perjalanan bersama guru mereka, Phang Ek Kok yang begitu kegirangan melihait hujan turun sehingga seperti anak kecil saja, orang aneh itu meninggalkan orang orang muda itu di restoran untuk main-main di bawah siraman air hujan!
Setelah meninggalkan Kim Ie-san di mana ia tadinya ditugaskan menjaga oleh Kui-bo Thai-houw, Ek Kok mengajak puterinya. Lan Lan pergi ke Propinsi An hui di mana ia hendak mencoba mencari puterinya ke dua yang lenyap ketika masih kecil. Lan Lan sebetulnya adalah anak kembar, yang ke dua adiknya bernama Lin Lin. Lin Lin inilah yang lenyap dan sedang dicari-cari oleh Ek Kok, yang tidak melenyapkan harapan biarpun sudah mencari sampai sepuluh tahun lebih tanpa hasil.
Baik Lan Lan sendiri maupun Kui Sek murid nya, tidak tahu akan rahasia Ek Kok dengan Lan Lan. Sebetulnya Lan Lan ini bukanlah anak Ek Kok. Bagaimana Ek Kok bisa mempunyai anak kalau selama hidupnya dia tidak pernah mempunyai isteri? Akan tetapi kepada Lan Lan dan orang-orang lain ia menceritakan bahwa Lan Lan dan Lin Lin adalah anak kembarnya, dan bahwa isterinya, ibu anak kembar itu telah meninggal dunia ketika melahirkan anak kembarnya.
Phang Ek Kok sendiripun tidak tahu anak siapakah Lan Lan dan Lin Lin. Kira-kira enam belas tahun yang lalu, dia dan adik kembarnya yang empat orang, dikalahkan oleh Kui-bo Thai-houw dan selanjutnya adik kembarnya yang empat orang itu dijadikan pelayan oleh Kui-bo Thai-houw dan dibawa ke Ban-mo-to. Dia hidup seorang diri dan pada suatu hari, beberapa bulan kemudian, tiba-tiba muncul Kui-bo Thai-houw mendapatkannya dan wanita sakti dari Ban-moto ini datang membawa dua orang anak perempuan kembar yang baru berusia dua tahun.
"Ambil dua bocah ini sebagai puteri-puterimu dan didik baik-baik. Awas, jangan bocorkan rahasia. Sampai mampuspun kau tidak boleh menyatakan bahwa mereka bukan anak-anakmu. Mengerti!"
Kaget bukan main hati Phang Ek Kok. Bagaimana pula ia bisa membangkang, ia sudah dikalahkan dan ia tahu pula akan kekejaman Kui-bo Thai-houw. Membantah berarti menyerahkan nyawa ke dalam tangan iblis wanita itu. Pula ia sayang melihat dua bocah yang mungil-mungil itu, dua orang anak perempuan yang serupa benar.
Terpaksa ia menerima juga dan semenjak saat itu. Phang Ek Kok yang selama hidupnya belum pernah menikah, tahu tahu telah menjadi "bapak" dari dua orang anak perempuan. Baiknya Ek Kok selama ini hidup merantau, tidak pernah tinggal lama di tempat tertentu, maka mudah saja ia membohongi orang-orang bahwa anak-anak itu memang anaknya dan isterinya mati ketika melahirkan.
Akan tetapi setahun kemudian, ketika dua orang anak itu baru bisa belajar bicara dan sedang lucu-lucunya, pada suatu malam Ek Kok kehilangan Lin Lin! Anak itu lenyap begitu saja tanpa meninggalkan bekas, seperti diculik setan. Bukan main marahnya Ek Kok. Sebagai seorang kang-ouw yang ulung
459
tahulah dia bahwa Lin Ljn diculik orang yang berkepandaian tinggi. Semenjak saat itu. ia mengajak Lan Lan merantau dan di mana-mana ia mencari jejak Lin Lin tanpa hasil.
Kui-bo Thai houw juga marah sekali mendengar ini. Akan tetapi wanita itu hanya menekan kepada Ek Kok supaya terus mencari Lin Lin sampai dapat ditemukan kembali. Malah akhir-akhir ini Kui-bo Thai-houw menyatakan bahwa Ek Kok tidak boleh muncul lagi di Ban-mo-to sebelum menemukan kembali Lin Lin.
Demikianlah riwayat singkat keadaan Ek Kok dan "puterinya", Lan Lan yang sekarang duduk di restoran bersama suhengnya, Kui Sek. Dalam perjalanan di An-hui, Ek Kok dan Lan Lan bertemu dengan Kui Sek yang sekarang sudah tamat belajar dan hidup menyendiri di An king. Pemuda ini girang sekali bertemu dengan suhu dan sumoi-nya. Dipilihnya kamar terbagus dalam hotel terbaik di kota itu. malah ia lalu "mentraktir" suhu dan sumoinya di restoran Hok lo itu.
Ketika Kui Sek dan Lan Lan menanti datangnya Phang Ek Kok di restoran Hok-lo sambil memandang keluar, tiba tiba dari luar masuk seorang gadis cantik yang gagah sekali sikapnya. Seperti Lan Lan, gadis ini juga menggantungkan pedang di pinggang kirinya, langkahnya tegap dan gesit sekali, rambutnya agak basah oleh hujan rintik-rintik tadi. Sayang sekali wajah yang jelita dan manis itu nampak muram dam sinar matanya sayu.
Begitu memasuki restoran dengan tergesa-gesa karena kehujanan, gadis ini mengebut-ngebutkan pakaiannya yang agak basah, lalu mengusap rambut kepalanya. Pada saat itu seorang pelayan menyambutnya, akan tetapi gadis ini berdiri kaku dengan tangan di atas kepala. Pada saat ia mengusap rambutnya tadi, pandang matanya bertemu dengan wajah Lan Lan yang memandang kepadanya sambil tersenyum. Gadis itu kaget sekali kelihatannya, kaget dan heran sampai ia berdiri tegak dengan tangan masih di atas kepala dan tidak melihat bahwa seorang pelayan menyambutnya dengan manis budi dan ramah. Sampai lama dua orang gadis itu saling berpandangan.
"Luar biasa............ kalau tidak jauh lebih muda, gadis itu seperti enci Siok Lan benar! Bagaimana di dunia ada dua orang yang begitu sama wajahnya?" gadis yang baru masuk ini dalam hatinya berkata dan memaksa diri untuk mengalihkan pandang dan mengikuti pelayan itu yang mengajaknya menghampiri sebuah meja. Kebetulan sekali, pelayan itu membawanya ke sebuah meja yang berdekatan dengan meja Lan Lan, malah duduknyapun menghadap ke dalam sehingga dari tempat duduknya ia dapat melihat Lan Lan dan suhengnya dengan jelas.
Begitu melihat, hati Lan Lan tertarik dan suka kepada gadis gagah yang baru masuk itu. Melihat gadis itu membawa pedang dan sikapnya gagah, timbul keinginan dalam hati Lan Lan untuk berkenalan dan terutama sekali, memenuhi dorongan darah mudanya, ingin ia mencoba ilmu silat terutama ilmu pedang nona itu. Ia memandang dengan sepasang matanya yang bening ke arah gadis itu dan tersenyum-senyum memancing-mancing perkenalan.
Akan tetapi gadis yang berwajah muram ini tidak melayaninya. Ia memang sebentar-sebentar melirik ke arah Lan Lan dan tiap kali memandang wajah Lan Lan ia kelihatan terheran, akan tetapi senyum Lan Lan tidak dibalasnya dan tidak dilayaninya. Dengan suara perlahan ia memesan makanan dan minuman kepada pelayan, kemudian duduk diam merenung sendirian sambil menanti datangnya masakan yang dipesannya.
460
Dasar harus terjadi keributan. Lan Lan di depan suhengnya memuji-muji Eng Lan dengan suara perlahan dan selalu dibantah oleh Kui Sek yang ingin menunjukkan kepada sumoinya itu bahwa ia tidak tertarik oleh lain wanita yang bagaimanapun juga!
"Enci itu cantik dan bukan main manisnya!" demikian Lan Lan mulai.
"Ah, biarpun cantik akan tetapi mukanya muram menakutkan orang. Tidak seperti kau yang selalu senyum dan bermuka terang. Aku paling benci melihat gadis bermuka masam." jawab Kui Sek perlahan sekali selengah berbisik dan suaranya ini memang takkan dapat terdengar oleh orang yang duduknya sejauh gadis tadi duduk.
"Suheng, mana kau tahu orang cantik? Enci itu manis sekali! Dan melihat gerak-geriknya. aku berani bertaruh bahwa dia tentu memiliki ilmu silat dan ilmu pedang yang tinggi," kata pula Lan Lan sambil memandang ke arah Eng Lan yang sedang menerima hidangan yang dipesannya.
"Aaaahhh, tak mungkin! Gadis-gadis macam dia itu sekarang seperti jamur di musim hujan banyaknya, berkeliaran di sana sini. Semua itu hanya untuk menakut-nakuiti orang saja supaya tidak berani mengganggunya, atau kebanyakan malah digunakan sebagai, modal berlagak. Membawa-bawa pedang, berpakaian ringkas seperli pendekar pedang, berjalan ditegak-tegakkan. Ah, sumoi pada waktu ini mana ada gadis segagah engkau! Sukar dicari keduanya. Jangan kau memuji-muji gadis kota seperti dia itu."
Ucapan ini dikeluarkan lebih perlahan lagi karena si gendut ini hanya bicara untuk menyindirkan kepada sumoinya bahwa dalam pandangannya, di dunia ini tidak ada gadis yang lebih cantik atau lebih pandai dari pada Lan Lan! Ia setengah berbisik karena sebenarnya ia tidak menghendaki kalau ucapan-ucapan ini terdengar oleh gadis yang baru mau makan mi-nya itu.
Dasar celaka! Gadis yang sejak tadi diam saja dan sekarang sudah mulai mengangkat sumpitnya, tiba-tiba berhenti dan tidak jadi makan, meletakkan sumpitnya di atas meja. Muka yang muram itu menjadi makin keruh dan sinar matanya berkilat-kilat ke arah Kui Sek! Ia melompat dekat dan tangan kanannya meraba-raba gagang pedang,
"Babi gemuk, mulutmu kotor dan lancang sekali! Kau keedanan gadis cilik ini bukan urusanku, akan tetapi kenapa kau membawa-bawa aku? Apa kau sudah bosan hidup? Hayo lekas berlutut minta ampun, kalau tidak benar-benar aku akan membikin kau menjadi babi gemuk tanpa kepala!" Gadis itu ternyata galak sekali dan setelah bicara amat lancar dan lincah, tanda bahwa sebelum ia diliputi awan kedukaan yang membuat ia pendiam dan muram, dahulunya ia seorang gadis yang lincah dan pandai bicara.
Kui Sek kaget setengah mati. Tak disangka sangkanya bahwa gadis itu dapat mendengar omongannya. Ataukah hanya ngawur saja? Lebih baik ia membodoh untuk menutupi malunya.
"Eh, eh, kau ini perempuan galak dari mana? Kenapa tiada hujan tiada angin ngamuk ngamuk dan memaki-maki orang?" katanya dengan muka bodoh.
461
"Babi keparat! Masih hendak pura-pura lagi? Kau ini laki-laki pengecut, percuma saja membawa-bawa pedang! Bisa kau bilang orang membawa pedang untuk berlagak, tidak tahunya kau sendiri yang membawa pedang untuk menjual aksi yang tidak laku!"
Kui Sek boleh jadi dogol dan sombong, akan tetapi iapun mempunyai sifat baiknya, yaitu selain jujur juga bisa melihat kesalahan sendiri. Sekarang karena ia merasa salah. maka menghadapi gadis yang marah marah itu ia hanya tertawa ha-hah-he-heh sambil menundukkan mukanya yang menjadi merah.
Lan Lan semenjak kecil suka sekali kepada Kui Sek dan menganggap suheng ini sebagai kakaknya sendiri. Juga ia tidak sesabar Kui Sek, maka melihat suhengnya dimaki-maki orang, melihat suhengnya dihina begitu rupa, gadis muda ini menjadi naik darah. Ia melompat bangun dan menghadapi gadis yang marah-marah itu.
"Enci, sabar dulu. Kenapa marah marah dan memaki maki orang di tempat umum? Ini bukan sikap seorang gagah. Kau bersikap seakan-akan kau sendiri yang punya kepandaian. Ketahuilah, suhengku diam saja bukan sekali-kali karena takut padamu, melainkan karena dia merasa salah omong, salah kira karena kau tadi disangkanya gadis biasa. Kalau dia tidak merasa sudah salah, apa kami mau kauhina begini macam? Sudahlah, suhengku sudah salah, kau sudah memaki, jangan kau lanjutkan. Sayang seorang gadis cantik dan gagah seperti kau ini memaki-maki di tempat umum. Memalukan."
Ucapan Lan Lan ini biarpun mengakui kesalahan fihak suhengnya, namun mengandung teguran pedas sekali bagi gadis itu yang agaknya memang sedang risau pikirannya dan karenanya tidak bisa menahan sabar. Ia memandang kepada Lan Lan dan berkata ketus,
"Kau ini bocah cilik tidak tahu dijuali omongan manis membujuk merayu dari babi gemuk itu. Hati-hati, kalau kau tidak bisa menjaga diri kau akan terjatuh ke dalam perangkapnya! Minggir, aku tidak berurusan dengan kau bocah cilik!"
Naik darah Lan Lan, Dia memang keras hati, sungguhpun watak keras hati ini jarang muncul karena tertutup oleh sifatnya yang periang dan lincah. Sekarang dia marah benar. Seperti juga gadis itu, tangan kanannya meraba gagang pedang dan ia menantang.
"Habis kau mau apa? Kau punya pedang, akupun punya, enci yang manis!"
"Bagus, bocah genit, keluarkan pedangmu. Setelah membikin kapok kau. baru nanti kuhajar babi gemuk!" bentak gadis itu.
Keduanya sudah siap dan sudah menggerakkan tangan hendak menghunus pedang ketika pada saat itu dari luar restoran terdengar seruan kaget, "Bu beng Siocia (Nona Tak Bernama).........!"
Baru saja suara ini terdengar, orangnya sudah tiba di ruangan restoran itu dan berkelebat menengahi antara Lan Lan dan gadis tadi. Baru sekarang pemuda yang baru datang ini melihat wajah gadis itu dan berserulah ia heran dan kaget.
"Nona Pui Eng Lan.........!"
462
Gadis yang marah-marah tadi memang Eng Lan adanya. Eng Lan melihat pemuda itu menjadi kaget juga karena pemuda itu bukan lain adalah Wi Liong! Dapat dibayangkan betapa kaget dan herannya Wi Liong tadi ketika lewat di depan restoran itu, ia melihat dua orang gadis tengah bersitegang hendak bertanding, dan melihat Lan Lan, ia menjadi pucat karena gadis ini memang tidak ada bedanya dengan Kwa Siok Lan yang dikabarkan telah tewas! Tanpa dapat dicegah lagi ia tadi berseru "Bubeng Siocia" karena teringat akan Siok Lan ketika pada pertama kali ia jumpa, dan cepat ia melompat untuk mencegah pertempuran itu. Makin besar keheranannya ketika melihat bahwa gadis yang seorang lagi adalah Eng Lan!
Lan Lan memandang kepada Wi Liong dengan mata terbelalak dan mulut tersenyum geli. Siapakah pemuda ini dan mengapa tadi menyebut Bu-beng Siocia? Tentu dia yang disebutnya itu, karena di situ hanya ada dua orang siocia (nona) dan nona yang menjadi lawannya itu sudah disebut namanya, yaitu Pui Eng Lan.
"Nona Pui, kenapa kau di sini? Mana......... mana Kun Hong.........?" tanya Wi Liong. Melihat Eng Lan menjadi pucat mendengar disebutnya nama Kun Hong.
Wi Liong segera berkata lagi, "Kau duduklah dulu, harap jangan dilanjutkan pertempuran ini. Ada urusan apakah Nona Pui, kau duduklah di sana, nanti aku akan banyak bicara denganmu."
Karena Eng Lan terguncang sekali hatinya melihat munculnya Wi Liong yang menyebut-nyebut nama Kun Hong, ia mengangguk dan kembali ke tempat duduknya. Sementara itu, Wi Liong menghadapi Lan Lan yang masih tersenyum mengejek.
Untuk kedua kalinya, jantung Wi Liong berdenyut keras melihat wajah yang begitu cantik jelifa seperti wajah Siok Lan. Bahkan senyuman mengejek pada bibir merah itupun senyuman Siok Lan! Ia mengejap-ngejapkan kedua matanya untuk memandang lebih nyata karena khawatir kalau matanya yang menipunya. Sudah terlalu sering ia membayangkan wajah Siok Lan sslungga kerap kali ia seperti melihat Siok Lan dan mendengar suaranya. Akan tetapi, betapapun ia mengejapkan mata, gadis di depannya itu tetap saja seperti Siok Lan, baik wajahnya yang jelita maupun bentuk tubuhnya yang ramping.
"Kau......... kau siapakah.........!" tanyanya gagap dan matanya memandang membelalak.
Lan Lan menggerak gerakkan alisnya menahan geli hatinya, tetap saja ia tidak tahan dan tertawa sambil menutupi mulutnya yang kecil lalu berkejap-kejap meniru perbuatan Wi Liong tadi dengan lucunya. Kemudian ia menjawab sambil tersenyum, "Kau sudah mengenalku, masih berpura-pura tak kenal lagi?"
Meremang bulu tengkuk Wi Liong. Apakah yang di depannya ini roh Siok Lan yang mengganggunya? Mukanya sebentar merah sebentar pucat, dan suaranya gemetar ketika ia bertanya, "Kau......... kau siapakah? Siapa namamu? Apa betul kita pernah saling berkenalan?"
Lan Lan memandang heran. Apakah pemuda ini miring otaknya? Sayang kalau miring otaknya, pemuda begini tampan dan suaranya sedap amat didengar. Kalau tidak miring otaknya, mengapa begini aneh? Dan suling itu............ orang lain membawa pedang kenapa dia membawa suling?
463
"Tadi datang-datang kau menyebut namaku, masa lupa lagi!" Lan Lan mempermainkan.
"Betulkah? Aku lupa lagi. Siapa sih namamu?" tanya Wi Liong, agak tenang hatinya karena sikap lincah dan kenes dari gadis itu membuat ia berbeda dari Siok Lan yang pendiam dan sungguh-sungguh. Juga sekarang baru terlihat jelas olehnya bahwa gadis ini jauh lebih muda dari Siok Lan. pantas menjadi adiknya.
"Namaku Bu-beng Siocia!" Lan Lan berkaca sambil tersenyum geli.
Wi Liong tertawa, tertawa gembira. Baru kali ini semenjak ia kehilangan Siok Lan. ia bisa tertawa segembira itu. Wajahnya menjadi menarik dan makin tampan, kelihatan muda sekali ketika tertawa ini sehingga Lan Lan tertarik hatinya.
"Dan kau siapa? Kenapa datang-datang mencegah orang hendak mengadu pedang! Enci itu galak sekali, kalau kau kenal dengannya tolong kauberi tahu lain kali jangan galak-galak seperti ayam bertelur. Eh, kau siapakah? Kau membawa suling, tentu kau tukang tiup suling yang pandai ya?"
Aneh sekali. Wi Liong biasanya bersikap pendiam dan serius, akan tetapi kali ini ia mau melayani gadis remaja yang mempermainkannya. Dengan gembira ia mengangguk. "Memang aku tukang suling."
"Twako yang baik, kalau begitu coba kau meniup sebuah lagu untukku. Mau?"
Aneh benar. Seperti lupa diri, lupa bahwa ia berada di dalam restoran dan bahwa sekarang para tamu dan para pelaiyan menonton pertunjukan itu, lupa bahwa ia diperlakukan seperti seorang pemuda berotak miring, Wi Liong mengangguk menyanggupi permintaan Lan Lan, membawa suling pada bibirnya dan tak lama kemudian iapun menyuling sebuah lagu!
Suara suling melengking, mengalun, menyelinap di antara suara rincik hujan, menimbulkan suasana yang ganjil. Semua orang bengong karena pemuda ini benar-benar pandai menyuling. Lan Lan berdiri dengan mata bersinar-sinar, wajahnya berseri, akan tetapi lambat-laun pandang matanya menjadi sayu. Suara suling itu berubah, dari garang menjadi lembut, makin lama makin menyedihkan hati.
"Jangan begitu sedih........." tak terasa lagi Lan Lan melangkah maju setindak dan berbisik, memandang Wi Liong dengan kasihan sekali.
Kui Sek yang melihat, ini semua, timbul kemarahannya karena cemburu, ia melompat ke depan Wi Liong dan membentak, ”Berhenti!"
Akan tetapi Wi Liong seperti tidak mendengarnya dan menyuling terus.
Kui Sek makin marah. 'Tadi aku mengalah terhadap seorang nona. Akan tetap, kau pemuda gila ini jangan main-main di depanku, berhenti dengan suling gila itu!"
Wi Liong hanya melirik sedikit, keningnya berkerut tanda ia tak senang diganggu, namun ia menyuling terus, "Kau berani berlagak di depan Sin-hui kiam Kui Sek? Apa kau ingin digampar! Untuk ketiga kalinya, berhenti! Kalau tidak, terpaksa ku gampar dan jangan bilang aku terlalu!" Berkata demikian ia mengangkat tangan mengancam sambil melirik ke arah Eng Lan seperti menyatakan bahwa sebagai
464
orang gagah ia tidak sudi datang datang menampar orang, akan tetapi lebih dulu mengancam sampai tiga kali. Akan tetapi Eng Lan diam saja dan di dalam hatinya memandang semua itu sebagai lelucon. Tentu saja ia tidak mengkhawatirkan Wi Liong, ia tidak begitu gila untuk mengkhawatirkan keselamatan pemuda sakti ini.
"Benar-benar kau mencari celaka!" bentak Kui Sek dan tangannya sudah bergerak untuk menampar.
"Suheng, jangan.........!" Lan Lan mencegah.
Akan tetap, terlambat. Tangan dengan telapakannya yang lebar dan kuat itu sudah melayang dan.........terhenti di tengah udara. Aneh sekali kalau dibicarakan. Tahu-tahu tubuh tinggi besar itu berdiri diam tak bergerak dengan tangan kanan masih diangkat di atas kepala Wi Liong, akan tetapi tidak jadi diturunkan dan tidak bergerak. Seluruh tubuh Kui Sek seperti beku dan kaku, hanya matanya yang sipit itu saja berputaran kaget dan bingung, Wi Liong masih menyuling terus!
Lan Lan yang melihat keadaan Kui Sek demikian itu, kaget sekali. Ia mengguncang-guncang tubuh Kui Sek dan memanggil. "Suheng.........! Suheng.........!" Setelah memegang pundak suhengnya, baru ia tahu bahwa suhengnya telah ditotok jalan darahnya secara ajaib sekali!
Sementara itu, Wi Liong sudah menyelesaikan permainan sulingnya. Melihat Lan Lan mengguncang-guncang tubuh Kui Sek, ia lalu menggerakkan sulingnya ke arah iga pemuda dogol itu yang seketika terbuka kembali jalan darahnya, mengeluh dan memandang kepada Wi Liong dengan mata melotot.
"Bagaimana pendapatmu tentang permainan sulingku. Bu-beng Siocia?" tanya Wi Liong yang tidak perduli ada orang melotot padanya dan mengajukan pertanyaan itu sambil memandang Lan Lan.
Gadis ini masih belum hilang kagetnya. Setelah Wi Liong tadi menotok iga suhengnya. barulah ia mengerti bahwa suhengnya tertotok oleh pemuda peniup suling ini, maka dapat dibayangkan betapa heran dan kagetnya, juga disertai rasa kagum.
"Bagus, hanya sedih sekali. Tadi kau apakan suhengku?" tanya Lan Lan, lagaknya seperti anak kecil.
Wi Liong makin terharu melihat wajah dan gerak bibir serta suara yang membuat ia merasa berhadapan dengan Siok Lan. Ia tak dapat menjawab pertanyaan tadi, hanya memandang kepada Kui Sek dengan senyum. Kui Sek marah bukan main. Dicabutnya pedang dari punggungnya dan sambil berseru keras ia menerjang Wi Liong.
Para tamu dan pelayan restoran itu menjadi bingung dan ketakutan, lari berserabutan melalui pintu samping dan pintu belakang, melarikan diri karena takut terseret dalam perkelahian.
"Suheng, jangan.........!" kembali Lan Lan mencegah suhengnya. Akan tetapi melihat Kui Sek nekat terus, terpaksa gadis ini melompat mundur dan menonton dengan hati berdebar, la melihat betapa pemuda tampan itu hanya menggunakan sulingnya tadi untuk menangkis serangan pedang suhengnya.
"Celaka, dengan suling saja mana dia bisa menjaga diri dari serangan pedang suheng yang lihai.........?" Gadis itu diam-diam amat mengkhawatirkan keselamatan Wi Liong.
465
Akan tetapi kekhawatirannya berubah keheranan luar biasa ketika ia melihat betapa tangkisan suling itu membuat tubuh Kui Sek terhuyung-huyung ke belakang dan pedang di tangan suhengnya itu hampir saja terlepas dari pegangan.
Wajah si gemuk menjadi pucat dan matanya terbelalak kaget. Akan tetapi sudah menjadi watak Kui Sek tidak mau kalah dalam pertempuran dan terlalu memandang tinggi kepandaian sendiri tanpa memandang kepandaian orang lain. Ia tadi merasa betapa tangkisan suling itu membuat seluruh lengan kanan yang memegang pedang seakan-akan lumpuh dan pasangan kuda-kuda kakinya tergempur hebat, akan tetapi sebaliknya dari pada kapok ia malah menyerang lagi lebih hebat.
"Aku tidak ada waktu untuk melayanimu!" Wi Liong berkata pelahan, sulingnya digerakkan secara aneh. Terdengar suara keras ketika suling itu menangkis pedang, akan tetapi kali ini suling itu terus bergerak ke arah lengan tangan Kui Sek. Pemuda gemuk itu berteriak kesakitan, pedangnya terlepas jatuh mengeluarkan suara nyaring di atas lantai dan ia melangkah mundur sambil memegangi lengannya yang sakit sekali.
"Luar biasa.........!" Lan Lan berseru, lupa untuk membantu suhengnya. Kekagumannya terhadap Wi Liong meningkat dan gadis ini hanya dapat berdiri bengong memandang.
Tiba-tiba pada saat itu terdengar suara ketawa-tawa tidak karuan dan dari luar restoran kelihatan "menggelinding" masuk seorang laki-laki gemuk pendek berkepala gundul pelontos.
"Hah-heh-hah-heh, Lan Lan........ Kenapa kau diamkan saja suhengmu dipermainkan orang?"
Wi Liong memandang dan kagetlah ia karena ia sudah mengenal si gundul ini yang bukan lain adalah orang gundul yang dulu bertempur melawan kelua Pek-eng-pai di Kim Ie-san, kakak dari empat orang nenek kembar pelayan Kui-bo Thai houw.
"Maaf." katanya sambil menjura, "sekali-kali siauwte tidak mempermainkan orang, malah tanpa sebab diserang. Bukankah begitu, Bu beng Sio cia?" tanyanya kepada Lan Lan.
Lan Lan mengangguk! Matanya yang bening tidak pernah lepas dari wajah Wi Liong.
"Lan Lan, kau bagaimana sih? Malah membenarkan musuh!" tegur Phang Ek Kok kepada puterinya.
Wi Liong tercengang. Gadis inipun bernama Lan Lan, hampir sama dengan Siok Lan. Dan gadis ini puteri badut gundul yang lucu itu? Luar biasa sekali! Saking herannya pemuda ini sampai tidak bisa berkata apa-apa dan hampir saja ia tidak bergerak pula ketika Ek Kok menyerangnya dengan pakulan ke arah dadanya. Baru setelah Lan Lan berteriak kaget melihat ayahnya memukul pemuda itu, ia cepat mengangkat lengan tangan menangkis. Dan tubuh gemuk pendek itu terlempar ke belakang!
"Berani kau menjatuhkan ayah?" Lan Lan berseru marah dan tangannya bergerak memukul.
"Plakk.........!!" Lan Lan merasa kepalan tangannya panas ketika mengenai dada permuda itu. Ia cepat-cepat melompat mundur karena jengah dan malu. Pemuda itu sama sekali tidak mengelak atau menangkis ketika ia pukul tadi, malah kelihatan menerima pukulan itu sambil tersenyum kepadanya! Namun pemuda itu tidak kelihatan sakit sedikit juga, malah kepalan tangannya yang terasa panas!
466
Phang Ek Kok adalah seorang kangouw yang sudah berpengalaman cukup. Dia tidak dogol seperti Kui Sek, akan tetapi sekali gebrakan saja ketika tadi pukulannya tertangkis Wi Liong, tahulah ia dengan kaget dan heran bahwa tenaga dan kepandaian pemuda ini jauh lebih tinggi dari padanya.
"Apakah loenghiong (orang tua gagah) hendak mengamuk seperti ketika berhadapan dengan Pek-eng-pai lagi!" tanya Wi Liong sambil menatap wajah kakek pendek gemuk itu dengan tajam.
Makin kagetlah Phang Ek Kok. Kejadian di Kim-le san itu hebat sampai banyak orang Pek-eng-pai tewas. Sungguhpun bukan dia yang menewaskan, namun tewasnya karena bertempur dengan dia.
Kekejaman Kui-bo Thai houw yang membunuhi semua orang amat tidak menyenangkan hatinya. Ia tidak setuju dengan pembunuhan besar besaran itu dan peristiwa di Kim Ie-san Ini akan selalu dikenang dengan penyesalan. Sekarang pemuda ini menyebut-nyebut tentang Kim-Ie-san, jangan-jangan pemuda ini seorang dari Pek-eng pai yang akan membalas dendam. Tanpa banyak cakap lagi ia menyambar lengan Lan Lan dan berseru kepada Kui Sek, "Hayo lekas pergi dari sini. Jangan mencari gara-gara meributkan tempat orang!" Setelah berkata demikian, ia berlari cepat menyeret puterinya. pergi dari situ diikuti oleh Kui Sek yang lari gedebag-gedebug di belakang suhunya.
Pelayan-pelayan rumah makan itu berteriak-teriak menagih uang makanan sambil mencoba untuk mengejar. Akan tetapi mana bisa mengejar tiga orang yang memiliki kepandaian lari cepat itu? Sebentar saja Ek Kok dan puteri serta muridnya sudah lenyap dari satu
Wi Liong menyesal sekali. Ia tak sempat berkenalan dengan Lan Lan. Lagi-lagi ia hanya mengenal gadis itu sebagai Bu-beng Siocia, seperti ketika ia mengenal Siok Lan untuk pertama kalinya. Ia berkata kepada pengurus rumah makan,
"Tak usah ribut. Biar aku yang akan membayar rekening mereka, berikut penggantian meja kursi yang rusak." Setelah berkata demikian. Wi Liong lalu duduk menghadapi Eng Lan yang sejak tadi hanya memandang saja, penuh keheranan akara sikap Wi Liong terhadap gadis muda galak yang tadi hampir berkelahi dengan dia. Setelah duduk berhadapan dengan Eng Lan, sampai lama Wi Liong masih diam saja seperti orang termenung, agaknya peristiwa yang baru saja dialaminya masih berkesan dalam-dalam di hatinya.
"Thio-taihiap, gadis tadi sama benar dengan enci Siok Lan," kata Eng Lan uniuk mengingatkan pemuda itu bahwa ia masih berada di situ
"Hemmm? Apa............? O ya nona Pui, kau masih di sini? Betul katamu, gadis tadi serupa benar dengan.......... dengan......... nona Kwa Siok Lan," jawab Wi Liong gagap.
"Apakah kau sudah berjumpa dengan enci Siok Lan, Thio-taihiap? Dan bagaimanakah urusanmu dengan dia? Kuharap saja sudah beres kembali," kata pula gadis itu yang teringat akan peristiwa yang terjadi antara pemuda ini dengan Siok Lan, yaitu tentang terputusnya pertunangan, sehingga ia sendiri dahulu berusaha untuk mengusahakan penyambungannya kembali bersama Kun Hong.
Wajah Wi Liong tiba-tiba menyuram seperti api dian kehabisan minyak ketika mendengar pertanyaan ini. Ia maklum bahwa Eng Lan belum tahu akan urusannya dengan Siok Lan yang ruwet dan belum mendengar pula akan berita meninggal nya Siok Lan.
467
Melihat muramnya wajah Wi Liong yang menjadi sedih nampaknya sehingga garis-garis kesedihan muncul di dahinya, membuat pemuda itu nampak tua, cepat-cepat Eng Lan berkata. "Maafkan aku kalau aku mendatangkan perasaan tidak enak padamu, taihiap. "
Wi Liong menggeleng kepala dengan sedih.
"Kau tidak tahu. nona. Siok Lan sudah.......... sudah tidak ada lagi........."
Eng Lan terkejut. "Masudmu.........?"
Wi Liong mengangguk lemah. "Dia sudah meninggal dunia. Berita ini kudengar dari See-thian Hoat ong dan...... ah. nona Pui, harap kau jangan membicarakan tentang Siok Lan, tak kuat hatiku.........”
Eng Lan menundukkan kepalanya, maklum bahwa tentu telah terjadi hal hebat yang membuat pemuda ini patah hati dan berduka. Ia tidak berani lagi bicara tentang Siok Lan sungguhpun hatinya ingin sekali tahu apa gerangan yang telah terjadi. Setelah beberapa kali bertemu dengan pemuda ini dan menyaksikan sepak terjangnya, Eng Lan menjadi kagum dan normal sekali kepada Wi Liong yang ia anggap sebagai seorang pendekar sakti yang patut dihormati.
"Nona Pui, aku tadi sengaja menahanmu di sini untuk bicara denganmu tentang......... Kun Hong."
Eng Lan mengangkat mukanya yang menjadi pucat, sambil menatap wajah Wi Liong dengan pandang mata tajam. Ia benar terkejut dan tidak menduga bahwa pemuda ini akan bicara kepadanya mengenai Kun Hong.
"Aku tidak ada urusan dengan dia!" bantahnya ketus dan muka yang pucat itu segera berubah merah karena marah.
"Hemmm, kulihat kau marah kepadanya. Bagus, memang dia patut sekali menerima kemarahanmu, menerima hukumanmu."
Mendengar ini, Eng Lan seperti mendapat "hati", merasa mendapat kawan yang membenarkannya dalam perselisihannya dengan Kun Hong. Serta-merta air matanya mengalir turun dan ia berkata lirih, "Dia kurang ajar, dia menghinaku! Manusia tak kenal budi itu!"
"Memang........ memang Kun Hong amat menyakitkan hatimu, aku tahu sudah, nona Pui. Akan tetapi........."
"Akan tetapi apa lagi? Aku tak dapat mengampunkan dia!" Eng Lan memotong, dapat menduga apa yang hendak dikatakan Wi Liong karena nada suara pemuda itu sudah menyatakan bahwa pemuda ini hendak membantu Kun Hong.
"Aku hanya ingin memberi tahu bahwa belum lama ini aku bertemu Kun Hong, malah kami saling bertempur. Dia......... menaruh hati cemburu kepadaku terhadapmu, nona. Itulah kiranya yang membuat dia bersikap tidak layak. Harap kau ingat bahwa semenjak kecil Kun Hong berada dalam asuhan orang orang tidak benar. Akan tetapi dia tidak jahat, hanya tersesat untuk sementara dan kiranya hanya cinta kasihnya yang besar kepadamu yang akan menolongnya. Dia......... dia amat cinta
468
kepadamu, nona dan sekarang dia seperti orang gila mencari-carimu. Demi cinta kasih murni, apakah kau tidak mau menemuinya?"
Air mata makin deras mengucur turun dan kedua mata Eng Lan. Ia melompat berdiri dan berkata terisak-isak. "Tidak.........! Ti......... dak sudi lagi aku......! Dia boleh mampus.........!" Setelah berkata demikian ia berlari pergi.
Wi Liong hanya meneriakkan kata-kata. "Nona Pui. jangan ulangi lagi hal celaka yang terjadi antara aku dan Siok Lan! Kun Hong dapat diinsyafkan oleh cinta kasihmu. Kasihanilah dia.......!"
Akan tetapi Eng Lan sudah pergi jauh, lupa membayar makanannya.
Terpaksa Wi Liong merogoh kantong dan membayar semua harga makanan, baik yang tadi dimakan oleh Kui Sek dan Lan Lan, maupun hidangan yang baru dimakan sedikit oleh Eng Lan. Dia sendiri tidak membeli apa-apa. tidak ada selera lagi padanya, tidak ada nafsu makan setelah ia mengalami hal-hal yang menegangkan hatinya. Apa lagi pertemuan dengan gadis yang serupa benar dengan Siok Lan tadi. Tak terasa dalam hatinya muncul harapan untuk bertemu kembali dengan Bu-beng Siocia tadi, yang ia hanya ketahui namanya memakai "Lan" juga.
Mari kita ikuti perjalanan Kun Hong yang hancur hatinya mengingat kelakuannya sendiri terhadap Eng Lan. Ia merasa berdosa kepada kekasihnya itu. Apa lagi' kalau ia teringat betapa ia telah memperlakukan Eng Lan sebagai seorang wanita rendah, malah ia maki lebih rendah dari pada para pelayan Kui-bo Thai-houw! Alangkah jahat mulut dan hatinya. Eng Lan, gadis yang ternyata amat setia padanya, yang sampai hampir mengorbankan nyawa di Ngo-tok-kauw karena hendak mencarikan obat untuknya! Gadis yang suci dan murni cintanya ini ia caci-maki ia perlakukan kasar dan rendah, ia tuduh yang bukan-bukan. Ia samakan dengan dirinya sendiri, dengan dia yang sudah rusak moralnya.
Makin diingat makin sakit dan menyesal hati Kun Hong kepada diri sendiri. Teringatlah ia akan semua pengalamannya, akan semua jalan hidup sesat dan hina yang pernah ia lalui. Teringat ia akan Tok-sim Sianli akan selir-selir gurunya, teringat pula ia kepada Ciok Kim Li yang kakinya sampai buntung karena dia. Teringat juga kepada wanita-wanita yang telah memasuki jalan hidupnya, kepada Kui-bo Thai-houw dan para pelayannya. Dia yang sudah begitu rusak dan bejat moralnya, masih berani mencaci-maki dan memfitnah yang bukan-bukan kepada Eng Lan. gadis suci murni itu!
"Aku sudah layak mampus!" katanya berkali-kali ketika seperti orang gila ia mendayung perahu pergi meninggalkan Ban-mo-to untuk mencari Eng Lan. "Aku harus temukan dia, aku harus minta ampun kepadanya atau mati di depan kakinya!" demikian ia mengambil keputusan. Karena sedih dan menyesalnya kepada diri sendiri, batu kemala Im-yang-giok-cu yang sudah ia dapatkan itu tidak ia pergunakan. Ia tidak perduli lagi berapa lama ia masih akan hidup.
Ia mencari keterangan bertanya sana-sini, namun Eng Lan seperti lenyap ditelan bumi, tidak meninggalkan bekas. Biarpun demikian, Kun Hong tidak menghentikan usahanya, terus mencari dengan hati mengandung kedukaan besar.
Pada suatu hari, kedua kakinya yang sudah penat itu membawanya ke lereng Gunung Thian-mu-san yang letaknya di perbatasan Propinsi Kiang-si dan An-hwi. Tanpa ia sengaja ia telah tiba di bagian yang penuh dengan tebing curam dan daerah yang berbatu amat berbahaya. Sukar sekali tempat ini
469
dilalui orang kalau orang tadi tidak memiliki kepandaian tinggi. Kun Hong sendiri yang sudah tinggi ilmunya, karena tempat itu masih asing baginya, terpaksa melompat-lompat mencari jalan yang enak. Akhirnya ia tiba di dataran yang sebelah kirinya merupakan tebing yang amat curam, ratusan meter dalamnya jurang yang amat terjal di sebelah kiri itu. Akan tetapi kalau orang berdiri di atas tebing memandang ke bawah, tamasya alam yang luar biasa indahnya terbentang luas dt bawah kakinya, membuat orang terpesona oleh keindahan yang jarang terdapat ini.
Sampai lama Kun Hong berdiri di situ, menikmati pemandangan indah dan tiupan hawa gunung yang sedap nyaman. Terhibur juga hatinya oleh pemandangan dan suasana yang indah tenteram dan sunyi itu. Memang, di kala manusia menyadari akan kebesaran alam, di kala ia merasa bahwa dirinya sebagai satu titik bagian alam yang amat kecil, amat tidak berarti, saat itu ia akan kehilangan watak egoisnya, merasa bersatu dengan alam dan karenanya perasaan-perasaan pribadi seperti marah susah dan lain-lain lenyap sekaligus, terganti perasaan yang ayem tenteram.
Saking tertariknya Kun Hong oleh semua keindahan itu, yang membuat jiwanya yang selama ini kelelahan menjadi nikmat seperti mengalami istirahat yang nyaman, ia berdiri seperti patung, seperti dalam keadaan samadhi yang hening sehingga ia tidak tahu bahwa dari kaki gunung terdapat bayangan orang berkelebat ke sana ke mari, melompat dari batu ke batu dengan amat lincah tanpa mencari-cari jalan seperti Kun Hong tadi. Ini menandakan bahwa orang itu sudah biasa dengan jalan di daerah ini sehingga tanpa melihat ia dapat melompat ke sana ke mari mendaki ke tebing atas. Setelah dekat, ia mengeluarkan seruan tertahan melihat pemuda itu berdiri di pinggir jurang seperti patung batu.
Yang baru datang ini seorang gadis yang pendek sekali. Kalau dilihat dari jauh, tentu orang akan menyangka dia seorang anak perempuan yang masih kecil karena ketika meloncat-loncat tadi rambutnya yang diikat ke belakang melambai-lambai. Akan tetapi kalau dilihat dari dekat, wajahnya bukanlah wajah bocah, melainkan wajah gadis dewasa yang sudah masak, sedikitnya dua-puluh tahun usianya. Dari pinggang ke atas ia normal seperti gadis-gadis biasa, akan tetapi kakinya amatlah pendek. Ia memandang Kun Hong dengan wajah menjadi pucat setelah mengenal pemuda ini, dan tak terasa lagi bibirnya berseru keras.
"Kun Hong...............!!"
Pemuda itu sadar dari lamunannya dan cepat memutar tubuh memandang, dengan mata penuh harap karena telinganya tadi menangkap suara memanggil namanya, suara....... Eng Lan. Akan tetapi keningnya berkerut tanda kecewa ketika ia melihat bahwa gadis itu bukanlah Eng Lan, melainkan......... Ciok Kim Li. gadis puteri Ciok Sam yang terbunuh olehnya, gadis yang pernah menjadi kekasihnya dan yang terpaksa ia buntungi kedua kakinya karena kaki gadis itu terluka parah oleh Tok-sim Sian-li.
"Kim Li, kau di sini.........?" katanya perlahan, baru sekarang merasa heran bagaimana gadis buntung ini bisa berada di tempat yang sesunyi ini.
Akani tetapi, sama sekali tak disangka-sangka, gadis buntung itu mencabut sebatang pedang dari punggungnya dan dengan pedang itu ia menuding muka Kun Hong sambil berkata marah, "Bagus! Agaknya Thian yang membawa kau ke sini agar aku bisa mengadu nyawa denganmu, manusia jahat!"
470
"Eh......... eh.......... Kim Li, kau kenapakah?" Kemudian Kun Hong teringat bahwa mungkin gadis ini marah dan sakit hati kepadanya karena ia telah membuntungi kedua kaki gadis itu. Ia menarik napas panjang, lalu menundukkan muka dan berkata, "Yaaaah, memang aku seorang jahat yang layak dibunuh, Kim Li. Akan tetapi kalau kau marah kepadaku karena aku membuntungi kedua kakimu kau keliru. Kalau tidak kubuntungi kakimu, nyawamu tentu telah melayang oleh racun Tok-sim Sian-li."
Pedang di tangan Kim Li gemetar. "Aku tidak bicara tentang diriku sendiri. Aku sama jahat dan busuknya dengan kau! Ayahku kau bunuh aku malah menyerahkan diri padamu, tidak tahu dan buta mataku bahwa kau seorang manusia busuk. Biarlah, buntungnya kedua kakiku adalah hukumanku karena aku tidak berbakti kepada ayahku. Akan tetapi sekarang tiba saatnya bagiku untuk menebus semua kedurhakaanku. Tidak hanya untuk membalaskan mendiang ayah, melainkan terutama sekali membalaskan sakit hati mendiang enci Siok Lan dan membalaskan kesengsaraan suhu yang diderita karena kau!" Setelah berkata demikian, gadis buntung itu menyerang hebat dengan pedangnya, menusuk dada Kun Hong. Akan tetapi pemuda itu kaget dan heran sekali mendengar ucapan gadis tadi sehingga ia cepat mengibaskan tangannya ke arah punggung pedang. Pedang itu terpental ke samping dan hampir terlepas dari pegangan Kim Li.
"Nanti dulu, Kim Li. Apa artinya semua ucapanmu tentang nona Siok Lan dan suhumu tadi? Aku tidak mengerti kenapa aku kau persalahkan terhadap mereka”
"Huh, kau masih pura-pura tidak tahu!" bentak Kim Li yang menjadi makin marah karena ternyata ia tidak berdaya menghadapi pemuda yang lihai ini. Padahal selama ini ia telah mendapat kemajuan pesat di bawah pimpinan suhunya. "Enci Siok Lan sampai terputus perjodohannya dengan Thio Wi Liong, malah sampai meninggal dunia karena perbuatanmu yang merenggangkan perhubungan mereka! Karena perbuatanmu yang tak tahu malu, mengaku-aku di depan Kwee lo-enghiong bahwa kau kekasih enci Siok Lan, kau telah mendatangkan malapetaka sehingga enci Siok Lan membunuh diri dan suhuku, Kwa suhu ayah enci Siok Lan menjadi berubah ingatan!"
Tentu saja Kun Hong kaget bukan main mendengar ini. Ia makin merasa nelangsa, makin tertindih batinnya karena bertumpuknya dosa, karena akibat perbuatannya mendatangkan banyak malapetaka. Makin terbukalah mata hatinya betapa hidupnya dahulu penuh kejahatan, betapa selama ini ia telah tersesat ke jalan hitam.
"Aduh, sampai begitu hebat? Di mana Kwa-lo-enghiong biar aku mencoba mengobatinya........." katanya, teringat akan Im-yang-giok-cu yang disimpannya. Ia akan rela memberikan bata kumala mujijat ini kepada Kwa Cun Ek, asal dapat menyembuhkannya dan dengan demikian ia dapat menebus sebagian dari pada dosanya.
Mana Kim Li mau percaya? Dengan marah ia menerjang lagi. "Keparat jahanam, omonganmu yang beracun siapa sudi percaya? Lebih baik kau mampus!" Pedangnya kembali menusuk dan kali ini dengan seluruh kekuatan yang ada padanya sehingga tubuhnya ikut melayang bersama pedang itu bagaikan seekor burung garuda menyambar.
Hebat serangan ini. Kun Hong mengerti bahwa kalau ia menangkis, tentu gadis ini akan terbanting dan terluka, maka cepat sekali ia menyelinap ke kiri sehingga tubrukan gadis itu mengenai tempat kosong.
471
Terdengar pekik mengerikan dan Kun Hong berdiri pucat sekali, tak bergerak seperti patung melihat betapa gadis itu yang tadinya menyerangnya sepenuh tenaga, sekarang karena menubruk tempat kosong, tak dapat dicegah lagi terlempar ke bawah, ke dalam jurang atau tebing yang ratusan meter dalamnya itu!
Sampai lama Kun Hong berdiri pucat, menutup telinga dengan tangan sambil meramkan mata agar jangan melihat arau mendengar kejadian yang hebat mengerikan ini. Kembali ia mengakibatkan malapetaka yang mengerikan. Akibat dari perbuatannya pula, biarpun kali ini tidak ia sengaja.
Mengapa dosa mengejar ngejarnya terus? Dua titik air mata turun membasahi pipinya. Ia berhasil menenteramkan guncangan hatinya, lalu menjenguk ke bawah. Tidak kelihatan apa-apa saking dalamnya jurang itu.
Tiba-tiba ia melihat gulungan tambang di tempat itu, tak jauh dari tempat ia berdiri. Tentu Kim Li yang membawa tambang ini tadi, entah untuk apa. Memang sebetulnya Kim Li yang tadi membawanya karena dalam perjalanannya terakhir ia harus menggunakan tambang untuk mencapai tempat tinggalnya, tempat tinggalnya bersama gurunya.
Tanpa berpikir panjang lagi. Kun Hong mengambil tambang itu dan mengikatkan ujungnya pada sebuah pohon. Kemudian ia merosot turun melalui tambang itu ke dalam jurang, dengan maksud mencari mayat Kim Li dan menguburnya baik baik. Untuk menjaga segala kemungkinan di tempat berbahaya ini, ia menghunus pedangnya dan terus merosot turun perlahan-lahan sambil memandang ke sana ke mari mencari-cari mayat gadis buntung itu.
Tiba-tiba terdengar bentakan nyaring, "Bangsat keji! Setelah membunuh Kim Li cici, kau hendak melarikan diri ke mana?”
Kun Hong kaget memandang dan ternyata bahwa di tengah-tengah tembok karang dari tebing yang curam itu terdapat sebuah gua yang besar sekali dan di mulut gua ini sekarang muncul seorang gadis. Siok Lanlah gadis itu? Karuan saja Kun Hong merasa bulu tengkuknya berdiri. Bukankah tadi Kim Li menyatakan bahwa Siok Lan sudah mati? Kenapa sekarang tahu-tahu muncul di tempat yang luar biasa itu? Apakah ini roh Siok Lan yang datang mengganggunya?
Ia tidak sempat berpikir lebih jauh karena tiba-tiba gadis itu mengayun kedua tangannya. Tampak sinar berkilauan dan belasan batang senjata rahasia Kim thouw-ting (Paku Berkepala Emas) menyambar ke arahnya dengan kecepatan luar biasa dan hebatnya, yang diarah adalah jalan-jalan darah di tubuhnya. Inilah kepandaian hebat! Kun Hong cepat memutar pedangnya menangkis. Paku-paku itu dapat ditangkisnya, akan tetapi ia merasa betapa pedangnya tergetar ketika menyampok paku-paku itu, tanda bahwa gadis itu betul-betul lihai sekali, tidak saja dapat menyambit dengan gerakan sulit yang disebut Boan-thian-hwai (Hujan Bunga dari Langit), yaitu cara melepas senjata rahasia yang hanya dapat dilakukan oleh seorang ahli am gi (senjata gelap) yang berilmu tinggi, juga ternyata memiliki tenaga lweekang yang hebat sekali.
Di lain fihak, gadis itu kelihatan tercengang ketika berondongan pertama dari tigabelas buah Kim-thouw-ting yang dilepasnya tadi sebuahpun tidak mengenai sasaran. Padahal, kalau ada sekelompok burung terbang di udara, tigabelas pakunya tadi sudah dapat dipastikan akan menghasilkan tigabelas ekor burung! Kembali dua buah lengannya terayun dan kini sekaligus tujuhbelas buah paku melayang
472
ke arah Kun Hong, sebagian menyambar tubuhnya bagian atas sampai kepala, sebagian pula menyambar tubuh bagian bawah sampai ke kaki!
Kun Hong kaget sekali. Benar-benar berbahaya serangan ini dan hanya dapat dihalau dengan pemutaran pedang mengelilingi seluruh tubuhnya. Ia menarik kedua kaki ke atas. berpegang erat-erat pada tambang dengan tangan kiri sedangkan pedangnya diputar cepat sekati di sekeliling tubuhnya.
Celaka baginya, ia lupa bahwa ia sedang tergantung pada sebuah tambang, maka tanpa dapat dicegah lagi, pedangnya sendiri membabat putus tambang di atas kepalanya dan tubuhnya melayang ke bawah!
"Eng Lan......... 1" Kun Hong berseru atau lebih tepat bersambat kepada kekasihnya. Dalam menghadapi maut. yang teringat olehnya hanya Eng Lan. Ia maklum bahwa kali ini tak ada harapan baginya, maka ia memegang pedang erat- erat untuk menghadapi kematian dengan pedang di tangan, biarpun mati terbanting hancur.
Pada detik yang gawat itu. dua buah paku menyambar dengan kepala di depan, tepat menotok jalan darah tai twi-hiat dan yan-goat-hiat di tubuh Kun Hong. Seketika itu juga tubuh Kun Hong menjadi-kaku seperti kayu! Dia tidak mampu menahan karena memang keadaannya sudah tak berdaya dan ia sendiri tidak pertiuli lagi akan serangan orang maka mendiamkan saja jalan darahnya tertotok oleh paku paku yang sengaja disambitkan dengan terbalik itu!
Kemudian terdengar suara bersiut. Sebatang tambang lain menyambar dari arah gua itu. dengan cepat dan tepat sekali tambang itu melibat tubuh Kun Hong dan di lain saat tubuh pemuda itu sudah dibetot melayang ke arah gua, jatuh berdebuk di lantai gua depan kaki gadis gagah perkasa itu!
"Siapa yang kau tawan itu. anakku?" terdengar suara laki-laki yang nyaring dan besar. Dari dalam gua muncullah dua orang laki laki, yang seorang tinggi tegap dengan jenggot panjang gemuk menutupi leher, matanya lebar dan nampaknya gagah sekali. Yang ke dua adalah seorang laki laki tinggi besar pula, akan tetapi kedua matanya buta. Mereka keluar dan melihat Kun Hong, tiba-tiba laki-laki tua tinggi besar itu tertawa bergelak.
"Ha-ha ha-ha, kalau kita bicara tentang iblis, dia muncul! Saudara Kwee Sun Tek. tahukah kau siapa iblis yang ditangkap oleh anakku?"
"Siapakah dia, saudara Kwa Cun Ek?" balas tanya si buta.
"Ha-ha ha. siapa lagi kalau bukan jahanam keparat Kun Hong, biang keladi keributan antara kita. Ha-ha-ha!"
Orang buta itu nampak terkejut. Juga gadis gagah perkasa yang menawan Kun Hong tadi kelihatan kaget sekali. Siapakah dia? Apakah betul Siok Lan yang sudah mati di sungai? Dan kenapa Kwee Sun Tek dan Kwa Cun Ek bisa berada di tempat itu? Tentu pembaca bingung karenanya. Maka baiklah kita mundur sedikit mengikuti perjalanan Kwa Cun Ek, ayah Kwa Siok Lan yang dalam hidupnya banyak mengalami pahit getir ini.
473
Telah dituturkan di bagian depan betapa Kwa Cun Ek dengan hati sedih sekali pergi meninggalkan rumahnya setelah melihat Kwa Siok Lan anak tunggalnya minggat dari rumah lalu disusul oleh Tung-hai Sianli, isterinya. Kebahagiaan berkumpul dengan anak isterinya hanya dikecap sebentar saja, malah kini terganti oleh perceraian tidak karuan yang amat menyedihkan hatinya.
Belum jauh ia meninggalkan rumah, terdengar orang memanggil-manggil di belakangnya. Ketika ia menoleh, ia melihat Kim Li, gadis buntung yang menjadi muridnya itu, berdiri di depannya sambil menundukkan muka dan menangis.
"Kim Li, mau apa kau mengejarku?" tanya Kwa Cun Ek keren.
Kim Li menjatuhkan diri berlutut dan sambil menahan tangis ia berkata.
"Suhu apakah hendak pergi pula? Enci Siok Lan pergi, subo pergi, kalau suhu pergi pula meninggalkan teecu, habis teecu bagaimana? Teecu mohon suhu sudi membawa teecu pergi, teecu akan membantu mencari subo dan enci Siok Lan."
Kwa Cun Ek mengerutkan kening, kemudian teringat bahwa Kim Li adalah seorang gadis yatim piatu dan sudah menganggap dia sebagai ayah sendiri. Memang kasihan sekali kalau ditinggal sendirian di rumah. Akhirnya ia mengajak muridnya ini pergi merantau, mencari isterinya dan puterinya. Sudah banyak tempat mereka jelajah, hasilnya sia-sia belaka, malah karena menderita pukulan batin dan kesedihan hebat. Kwa Cun Ek mulai menjadi linglung, malah sekarang lebih gila dari pada dahulu. Hanya berkat perawatan yang teliti dari Kim Li yang berbakti dan setia, orang gagah itu tidak sampai mati telantar di perjalanan.
Memang sudah nasib Kwa Cun Ek untuk mengalami kesengsaraan. Penderitaannya menjadi makin berat dan hebat ketika pada suatu hari kebetulan sekali ia bertemu dengan sutenya, See-thian Hoat-ong. Seethian Hoat-ong ini orangnya jujur dan kasar. Mendengar bahwa suhengnya ini mencari-cari Kwa Siok Lan, dengan terus terang ia ceritakan bahwa Siok Lan sudah mati, membunuh diri di sungai bersama suaminya, Chi-loya.
Mendengar ini Kwa Cun Ek roboh pingsan. Kim Li minta kepada See thian Hoat-ong supaya membantu cari Tung-hai Sian-li agar wanita itu mau merawat Kwa Cun Ek. See-thian Hoat ong pergi dan Kim Li merawat Kwa Cun Ek dengan penuh kebaktian. Pukulan batin ini hebat sekali dan sekaligus membuat Kwa Cun Ek betul betul berubah ingatannya. Ia kadang-kadang tertawa kadang-kadang menangis, kadang-kadang mengamuk. Hanya pada Kim Li yang merawatnya ia menurut.
Guru dan murid ini merantau dalam keadaan sengsara sekali. Kim Li tidak mampu mencegah suhunya pergi ke mana saja suhunya suka. la hanya mengikuti dengan setia dan jaranglah ditemui seorang seperti Kim Li setianya. Ia sudah menganggap gurunya sebagai ayah sendiri dan agaknya kepada ayah ke dua inilah ia hendak menebus dosanya terhadap ayah pertama yang terbunuh oleh Kun Hong akan tetapi ia malah menyerahkan diri kepada pembunuh ayahnya itu!
Perantauan mereka yang tidak karuan tujuannya itu membawa mereka ke Telaga Po-yang di kaki Gunung Thian mu-san. Pemandangan di telaga yang indah ini amat menggembirakan hati Kwa Cun Ek dan merupakan hiburan yang amat baik. Kim Li yang menjaga setengah mengasuh gurunya seperti mengasuh anak kecil, sengaja menyewa sebuah perahu dan memenuhi permintaan gurunya membeli
474
arak baik. Kwa Cun Ek duduk di kepala perahu sambil minum-minum arak dan bernyanyi-nyanyi dengan suaranya yang nyaring.
Tentu saja para pelancong yang banyak berpesiar di telaga itu, menjadikan hal ini sebagai tontonan baru dan perahu Kwa Cun Ek menjadi perhatian orang. Tidak hanya para pelancong yang memperhatikan, juga lima orang laki-laki yang bertubuh tegap dan bersikap sebagai ahli ahli silat. Sejak Kim Li dan gurunya tiba di Telaga Po-yang. lima orang laki-laki ini sudah mengawasi dan menaruh perhatian besar.
Kwa Cun Ek sudah mabok. Tiga guci arak sudah memasuki perutnya semua. Ia masih merasa kurang.
"Kim Li............. araknya tambah lagi!!" teriaknya dari kepala perahu.
"Cukup, suhu. Sudah habis tiga guci arak. Kalau terlalu banyak tidak baik untuk kesehatan suhu." jawab murid yang setia itu dari dalam perahu sambil menambali pakaian suhunya yang sudah mulai robek-robek.
Kwa Cun Ek mengomel akan tetapi tidak membantah. "Kalau kau tidak mau membelikan tambahan arak. biar aku beli sendiri..........."
Orang tua ini mengomel perlahan, tidak terdengar oleh Kim Li.
Kwa Cun Ek bangun berdiri, tubuhnya terayun-ayun. Pada saat itu, perahu mereka berada di dekat pantai, kira-kira lima meter jauhnya Kwa Cun Ek membawa guci di kedua tangan, sebuah di kanan sebuah di kiri, lalu ia meloncat ke darat! Kalau ia sedang waras dan tidak mabok, jangankan baru jarak lima meter, biar dua kali itu akan dapat ia loncati dengan mudah. Akan tetapi karena ia mabok. ketika ia tiba di darat, tubuhnya terhuyung-huyung. Biarpun demikian, loncatannya ini cukup membuat para penonton di situ bertepuk tangan memuji.
Lebih-lebih kagum dan heran semua orang ketika tiba-tiba dari dalam perahu berkelebat bayangan dan tahu-tahu Kim Li sudah melompat di dekat suhunya dan memegang lengan orang tua yang terhuyung mau jatuh itu.
"Hati hatilah, suhu. Hendak ke manakah?" Tegur gadis itu. Semua orang kembali bertepuk tangan, kali ini mereka heran dan kagum betul-betul karena Kim Li kelihatan hanya seorang gadis kecil pendek saja. Orang-orang sudah menduga bahwa gadis ini tentu buntung kedua kakinya, kalau tidak masa begitu pendek sedangkan tubuh bagian atas normal.
Kwa Cun Ek menjawab, suaranya keras. "Punya uang untuk apa kalau tidak untuk beli arak? Kalau uang habis, itu perhiasan-perhiasan emas perak jual saja!"
Kim Li khawatir sekali. Memang mereka membawa perhiasan, emas dan perak dari rumah sebagai bekal perjalanan. Kalau suhunya begini berterang di muka umum. apakah hal itu bukan berarti menarik perhatian orang-orang jahat dan perampok?
"Hishhh, suhu. Baiklah teecu membeli seguci lagi. Suhu tunggu saja di sini. ya!"
475
Kwa Cun Ek mengangguk-angguk. Akan tetapi sebelum Kim Li pergi, tiba-tiba muncul lima orang laki-laki yang sejak tadi mengawasi guru dan murid ini. Sikap mereka mengancam dan mereka berdiri mengurung Kim Li dan gurunya.
"Tak salah lagi, tentu inilah maling kecil yang membunuh Giam sute! Maling cilik menyerahlah kau sebelum kami menggunakan kekerasan!" Orang yang bicara ini, seorang laki-laki berusia empatpuluh tahunan, menjangkau dengan jari tangan terbuka ke arah pundak Kim Li.
Akan tetapi, dengan mudah dan gesit Kim Li. miringkan tubuh mengelak sambil berseru marah. "Bajingan tengik jangan pegang pegang orang! Aku bukan maling, juga bukan pembunuh sute mu!"
Akan tetapi mana lima orang itu mau percaya? Sudah sebulan lebih, daerah Telaga Po-yang ini diganggu oleh seorang pencuri luar biasa yang tidak pernah meninggalkan jejak. Lima orang itu adalah rombongan ahli silat yang didatangkan oleh para hartawan di Nan-tiang yang menjadi korban pencurian, untuk menyelidiki dan menangkap pencuri itu. Lima orang ini tadinya berjumlah enam dengan Giam-kauwsu (guru silat Giam) Akan tetapi pada suatu malam beberapa minggu yang lalu, ketika mereka berenam mencari ke sana ke mari, Giam-kauwsu telah tewas dalam pertempuran melawan seorang pencuri wanita! Lima orang iitu di antaranya adalah suheng-suheng dari Giam-kauwsu. Tentu saja mereka menjadi makin marah dan teliti. Dan pada hari itu mereka sengaja melakukan penyelidikan di Telaga Po-yang dan menjadi curiga melihat Kim Li, apa lagi ketika gadis ini terpaksa memperlihatkan kepandaiannya melompat ke darat dari perahunya.
"Kau mau melawan?" bentak guru silat yang hendak menangkap tadi dan cepat mencabut goloknya.
Kim Li maklum bahwa tidak ada gunanya bertengkar mulut dengan orang-orang ini. Iapun mencabut pedang dipunggungnya dan membentak. "Anjing-anjing rendah, kalian jangan sewenang-wenang. Aku Ciok Kim Li tidak takut kepadamu!" Dengan gagah sekali gadis buntung kakinya ini melintangkan pedang di depan dada.
Lima orang itu mengeluarkan seruan marah dan orang yang sudah mencabut goloknya segera menyerang. Akan tetapi dengan gerakan lincah Kim Li mengelak dan sekali pedangnya menyambar, orang itu berteriak kaget, cepat mengguling kan tubuh ke belakang karena hampir saja perutnya dicium ujung pedang. Empat orang kawannya juga kaget, tidak menyangka bahwa gadis buntung ini demikian lihai. Serentak mereka mencabut senjata masing-masing dan di lain saat Kim Li sudah dikeroyok lima!
Para pelancong lari simpang-siur melihat perkelahian dengan senjata tajam ini. Yang berhati penakut cepat-cepat melarikan diri sipat kuping, yang tabah menonton dari tempat jauh karena tidak mau terbawa-bawa dalam pertempuran mati-matian itu.
Biarpun kedua kakinya buntung, namun sebagai murid Kwa Cun Ek, tentu saja ilmu pedang Kim Li lihai. Akan tetapi, kali ini ia menghadapi keroyokan lima orang guru silat yang rata-rata memiliki kepandaian tinggi sehingga dalam dua-puluh jurus lebih, gadis buntung ini sudah menjadi terdesak hebat dan hanya dapat melindungi diri, tak kuasa membalas serangan lawan yang bertubi-tubi datangnya.
476
Tiba-tiba terdengar seruan nyaring sekali dan Kwa Cun Ek dengan, geramnya menyerbu ke dalam pertempuran. Dua buah gucinya digerakkan dan pecahlah kepala seorang pengeroyok sedangkan guci yang satu lagi membikin pedang seorang pengeroyok terpental jauh! Akan tetapi karena dalam keadaan mabok, tubuh Kwa Cun Ek terhuyung-huyung hampir jatuh.
Bukan main kagetnya empat orang lain yang melihat seorang di antara mereka roboh dan tewas sekali pukul oleh kakek mabok itu. Cepat mereka berteriak "Suhu, bantulah!"
Dari bawah pohon melompat seorang gundul tinggi besar bersenjata toya. Hwesio ini sejak tadi hanya menonton saja sambil melenggut seperti orang ngantuk. Sekarang ia melompat dan menerjang Kwa Cun Ek. Dia ini adalah seorang hwesio ketua kelenteng Thian-hwa-tang di kota Nan-kiang yang dimintai tolong oleh para guru silat ini. Bi Lam Hosiang adalah seorang hwesio Siauw-lim pai yang tinggi ilmu silatnya.
Pertempuran terpecah menjadi dua. Kim Li dikeroyok lagi oleh empat orang guru silat sedangkan Kwa Cun Ek digempur oleh hwesio itu. Kalau saja Kwa Cun Ek tidak begitu mabok, biarpun ditambah lagi dengan tiga orang hwesio seperti Bi Lam Hosiang, agaknya akan mudah baginya untuk mengalahkan lawan. Akan tetapi ia mabok keras, kepalanya ringan matanya kabur, gerakannya masih amat kuat akan tetapi kakinya limbung. Suara guci terbentur toya nyaring sekali dan Kwa Cun Ek beberapa kali terhuyung ke kanan kiri.
Sementara itu. keadaan Kim Li juga buruk seperti gurunya. Empat orang pengeroyoknya itu masih terlampau berat baginya. Ia sudah mulai berpeluh dan napasnya memburu.
Pada saat yang amat berbahaya bagi Kwa Cun Ek dan, muridnya itu, tiba-tiba berkelebat bayangan kuning dan terdengar suara, trang-tring-trang-tring dan......tahu-tahu semua golok dan pedang para pengeroyok Kim Li, juga toya di tangan Bi Lam Hosiang, patah-patah semua beterbangan ke sana sini! Bukan main kagetnya mereka, dengan muka pucat hwesio dan empat orang guru silat itu melompat mundur.
Entah dari mana datangnya, di situ sudah berdiri seorang gadis cantik jelita dan gagah, berdiri dengan pedang berkilau di tangan kanan dan tangan kirinya bertolak pinggang.
Dengan mata bersinar-sinar ia memandang kepada Bi Lam Hosiang dan empat orang guru silat itu, lalu terdengar suaranya nyaring berkata.
"Manusia-manusia tak bermalu! Mengeroyok seorang gadis cacad dan seorang tua sakit dan mabok! Di mana kegagahan kalian?"
Tahu bahwa gadis ini adalah seorang yang memiliki kepandaian tinggi. Bi Lam Hosiang menjura dan berkata. "Pinceng yang bodoh mohon maaf. Lihiap tidak tahu bahwa mereka berdua ini adalah maling-maling yang selama ini membikin kacau daerah sini, karenanya pinceng dan kawan-kawan ini berusaha-menangkapnya."
Gadis itu mengeluarkan suara jengekan. "Huh, ngawur saja! Hartawan-hartawan di sini pelit dan menindas kaum tani yang miskin sekali, kalau sebagian hartanya ada yang ambil untuk digunakan menolong para petani miskin, sudah sepatutnya!"
477
"Lihiap, seorang sute kami dibunuh oleh maling itu!" kata seorang guru silat yang mengharapkan gadis perkasa ini berbalik membantu mereka menangkap maling.
"Sute kalian she Giam itu selain menjadi kaki tangan pembesar jahat, juga lancang mulut berani menghinaku, aku membunuhnya untuk menyingkirkan bahaya bagi rakyat jelata. Kalian mau apa? Kalau kalian mau tahu siapa yang selama ini mengganggu para hartawan dan pembesar keparat di daerah ini, akulah orangnya. Jangan ngawur menuduh orang-orang lain yang tidak tahu apa apa. Hayo, siapa mau menangkap aku?" Ia menantang.
Bi Lam Hosiang dan empat orang kawannya kaget sekali, akan tetapi tidak berani bergerak karena tahu bahwa gadis ini lihai bukan main.
"Lekas kalian pergi, dan bawa mayat ini!" gadis itu membentak pula. Tanpa berani membantah empat orang guru silat itu mengangkat mayat kawan meieka dan bersama Bi Lam Hosiang meninggalkan tempat itu.
Gadis itu tersenyum, memutar tubuh menghadapi Kim Li dan gurunya. Kim Li berdiri bengong memandang kepadanya dengan mulut ternganga dan mata terbelalak. Kwa Cun Ek segera berteriak girang, "Siok Lan.........!" lalu kakek ini menubruk dan memeluk gadis itu, mengelus-elus. rambutnya.
"Suhu, bukan.........! Bukan enci Siok Lan, biarpun serupa benar. Nona ini jauh lebih muda.........!" kata Kim Li yang masih belum hilang kagetnya.
"Bodoh, apa matamu sudah buta? Ini Siok Lan anakku.........!" Suara Kwa Cun Ek yang gemetar itu mengharukan hati gadis itu yang memberi kedipan mata kepada Kim Li supaya jangan mengganggu kakek itu. Kim Li membalas kedipan itu dengan pandang mata terima kasih sekali.
"Kalian ini hendak ke mana dan dari manakah? Di mana tempat tinggal kalian?" tanya gadis itu setelah melepaskan diri dari pelukan "ayahnya" dan Kwa Cun Ek berdiri kegirangan, matanya yang lebar bersinar-sinar dan mulutnya tertawa-tawa tidak karuan. Gadis itu memandang terharu sekali. Entah bagaimana, wajah kakek ini mendatangkan kasihan dalam hatinya.
"Lihiap. kami orang-orang sengsara......." dan tiba-tiba Kim Li menangis teringat akan nasibnya dan gurunya. "Kami tidak punya tempat tinggal dan kami mencari........... puteri suhu ini, enci Siok Lan......... yang serupa benar dengan kau. seperti pinang dibelah dua, hanya usia saja yang berbeda."
Gadis itu makin tertarik dan menjadi terharu. Ia memegang pundak Kim Li untuk menghibur dan berkata. "Kemana sih perginya Siok Lan itu?"
Kim Li melirik kepada Kwa Cun Ek, lalu mendekati gadis itu sambil berbisik, "Enci Siok Lan sudah......... meninggal dunia. Itulah yang membikin suhu seperti berubah ingatan........."
Gadis itu menjadi pucat dan ia memandang kepada Kwa Cun Ek dengan terharu sekali. Pada saat itu, Kwa Cun Ek juga memandang kepadanya, lalu berkata penuh kasih sayang.
478
"Lan-ji (anak Lan), marilah kita pulang. Aku sudah kepingin sekali merasai masakanmu, anakku yang manis.........."
Gadis itu memegang tangan Kwa Cun Ek, lalu menjawab, "Baiklah, ayah. Mari kau ikut aku ke tempat tinggalku." Ia menoleh kepada Kim Li sambil berkata. "Mulai sekarang kau dan suhumu tinggal bersamaku."
Gadis itu membawa Kwa Cun Ek dan Kim Li ke lereng Gunung Thian-mut-san. Di tebing yang curam itu ia lalu mengerek turun Kwa Cun Ek dan Kim Li melalui seutas tambang dan ternyata "tempat tinggal" gadis ini adalah di dalam sebuah gua yang besar dan bersih, di tengah-tengah tebing atau jurang itu. Orang takkan merasa heran lagi kalau sudah berada di dalam gua, karena di situ benar-benar indah dan nyaman. Pemandangan di luar gua membikin orang merasa, berada di taman sorga dan hawanya nyaman bukan main.
Kwa Cun Ek senang tinggal di situ, apa lagi karena ia menemukan kembali anaknya. Gadis itu dengan sukarela mengaku diri sebagai Kwa Siok Lan, malah ia menurut nasihat Kim Li untuk berdandan persis seperti Siok Lan, baik pakaiannya maupun rambutnya yang digelung ke atas sampai tinggi.
Dari Kim Li ia mendengar riwayat Kwa Cun Ek dan Kwa Siok Lan, mendengar pula tentang perjodohan yang terputus antara Siok Lan dan Thio Wi Liong, mendengar juga tentang perbuatan Kam Kun Hong yang menjadi biang keladi semua itu.
Tentu saja Kim Li tidak mau bercerita tentang diri sendiri dengan Kun Hong, hanya menceritakan bahwa kedua kakinya buntung karena kekejian Tok-sim Sian-li dan bahwa semenjak ia yatim-piatu, ia dipungut murid oleh Kwa Cun Ek. Semua penuturan ini didengarkan oleh gadis itu penuh perhatian dan ia menjadi terharu sekali. Apa lagi ketika mendengar tentang kematian Kwa Siok Lan yang membuat ibu gadis itu, Tung-hai San-li pergi entah ke mana dan membuat ayahnya, Kwa Cun Ek menjadi seperti gila.
"Kalau begitu, aku akan berusaha mencari Tung-hai Sian-li, agar suami isteri itu bisa berkumpul kembali. Kasihan suhumu kalau tidak ada yang merawat."
Kim Li menjatuhkan diri berlutut sambil berkata, "Lihiap tentu dikirim oleh Thian untuk menolong kami yang sengsara ini. Selanjutnya aku menyerahkan diri kepada lihiap, menurut segala perintah lihiap."
Gadis dtu mengangkat bangun Kim Li dan menghibur, "Kau gadis berhati emas, aku amat kagum melihat kesetiaan dan kebaktianmu. Kim Li, mulai sekarang kau boleh kuanggap sebagai saudaraku dan akupun tidak keberatan menjadi anak angkat suhumu."
Kim Li girang bukan main. lalu bertanya tentang riwayat gadis itu. Dengan singkat gadis itu bercerita.
"Riwayatku juga tidak menggembirakan hati. Aku tidak punya ayah ibu. atau kalau punya juga, aku tidak mengenal mereka, tidak tahu mereka siapa. Hidupku sebatangkara di dunia ini........."
Gadis itu menarik napas panjang dan Kim Li mendengarkan dengan terharu sekali. Dianggapnya nasib gadis cantik yang berwajah seperti Siok Lan ini malah lebah buruk lagi. Pantas saja begitu melihat
479
suhu yang kehilangan anak perempuan, ia menjadi kasihan dan begitu diaku anak oleh suhu, serta-merta menerima. Demikian pikir Kim Li dan memang betul apa yang ia pikirkan itu. Gadis yang semenjak kecilnya tidak mengenal ayah bunda ini, merasa terharu dan tertarik sekali mendengar Kwa Cun Ek kehilangan anak perempuan sampai menjadi gila dan dia yang selama hidupnya belum pernah merasai kasih sayang seorang ayah, ketika dipeluk oleh Kwa Cun Ek sebagai seorang ayah. ia merasa terharu dan bahagia.
"Aku hanya, tahu bahwa namaku Lin Lin, semua orang memanggilku demikian semenjak aku kecil. Bahkan suhuku sendiri, Liong-tosu seorang tokoh paling tinggi ilmu silatnya namun tidak mau mencampuri urusan partainya Kun-lun pai, tidak dapat menerangkan siapa ayah bundaku. Suhu hanya bilang bahwa aku dibawa oleh murid tunggalnya yang bernama Pek Hui Houw. Muridnya itu datang-datang sakit parah sampai meninggal dunia dan aku sejak berusia tiga empat tahun itu dipelihara oleh suhu Liong-tosu. Setelah berusia enambelas tahun aku tamat belajar dan oleh suhu diperintahkan merantau. Dua tahun aku merantau, ketika kembali ke Kunlun-pai, aku terlambat.........” Gadis itu, Lin Lin kembali menarik napas panjang.
Kim Li mendengarkan penuh perhatian, la pernah mendengar nama Kun lun-pai, partai persilatan yang terkenal sekali di dunia persilatan sebagai partai besar yang dipimpin orang-orang sakti. Kalau Liong-tosu itu seorang tokoh yang paling pandai di Kun-lun-pai. tidak mengherankan apa bila kepandaian gadis ini hebat luar biasa, pikirnya.
"Aku terlambat karena suhu telah meninggal dunia. Orang satu-satunya di dunia ini yang mencintaku, yang kuanggap pengganti orang tuaku, meninggal dunia tanpa kuketahui. Kemudian aku merantau meninggalkan Kun-lun-pai karena aku tidak disuka oleh orang-orang Kun-lun yang menganggap aku seorang luar, bukan anggauta Kun-lun yang memiliki ilmu silat Kun-lun-pai. bahkan lebih tinggi dari pada sebagian besar dari mereka. Karena sudah biasa tinggal di bukit dan mencinta tamasya alam di gunung, aku memilih tempat ini di sini sampai aku bertemu secara kebetulan dengan kau dan suhumu."
"Hebat sekali pengalaman hidupmu, lihiap. Ternyata kau malah lebih banyak penderitaanmu, dan kau nampak gembira saja. Benar-benar kau seorang kuat lahir batin, aku takluk dan kagum sekali. Kuharap kau sudi memberi petunjuk ilmu silat kepadaku."
Lin Lin tersenyum dan memegang tangan Kim Li. "Jangan kau merendah. Setelah sekarang aku mendengar darimu bahwa suhumu itu adalah Siang-jiu Lo-thian Kwa Cun Ek, tentu kepandaianmu juga tinggi. Aku girang sekali bahwa aku dianggap puteri oleh suhumu yang terkenal sebagai eorang tokoh besar yang gagah perwira. Anehnya, keluarga suhumu rusak karena perbuatan orang yang bernama Kam Kun Hong, sedangkan suhuku juga meninggal karena dia."
"Apa.........? Bagaimana.........?" Kim Li bertanya kaget.
"Ketika aku pulang ke Kun-lun-pai, suhu sudah tidak ada. Menurut penuturan para pemimpin Kun-lun-pai, suhu tewas karena menghabiskan tenaga lweekang dalam usahanya mengobati seorang bernama Kam Kun Hong, anak pungut dari suheng Kam Ceng Swi yang katanya tersesat masuk ke dalam kalangan Mo-kauw menjadi murid Thai-khek-sian. Apakah yang kaumaksudkan Kun Hong pengrusak rumah tangga suhumu itu juga Kun Hong yang ini?"
480
"Dia. itulah penjahatnya!" jawab Kim Li gemas.
Lin Lin termenung. "Sering kali aku heran bagaimana semua suhu di Kun-lun-pai membenci dan memburukkan nama Kun Hong itu, malah sekarang kau sendiripun membencinya dan menganggapnya penjahat."
"Memang dia manusia jahat!" seru Kim Li penuh kemarahan, akan tetapi mata Lin Lin yang tajam dapat melihat sinar aneh dalam mata gadis buntung itu.
"Aku takkan menyangkal." kata Lin Lin kemudian, "akan tetapi yang kuherankan, kalau memang dia itu orang jahat, bagaimana suhuku mau menolongnya sampai suhu mengorbankan nyawa sendiri.! Suhu seorang yang arif bijaksana, seorang waspada yang tentu dapat membedakan orang jahat dan orang baik."
Kim Li tidak menjawab, hanya termenung, teringat akan masa pertemuannya dengan Kun Hong dahulu, yang mesra, akan tetapi juga menyedihkan karena dalam pertemuan itulah ia kehilangan ayahnya.
Setelah tinggal di dalam gua besar itu bersama Lin Lin, kesehatan Kwa Cun Ek pulih kembali. Ia nampak segar dan gembira sungguhpun kesehatan jiwanya masih belum pulih benar. Pada suatu hari ia menulis surat dan menyuruh Kim Li pergi mengantar surat itu ke Wuyi-san, kepada Kwee Sun Tek!
"Aku telah mendapatkan kembali anakku, kuharap saudara Kwee sudi datang menengok agar kita bisa membicarakan urusan perjodohan antara anakku dan keponakanmu." demikian antara lain bunyi surat itu! Kim Li tidak berani membantah, juga Lin Lin diam saja karena ia merasa seakan akan Kwa Cun Ek telah menjadi ayahnya sendiri. Bahkan andaikata ayahnya ini hendak memaksanya berjodoh dengan orang yang namanya Thio Wi Liong, kiranya iapun takkan banyak membantah untuk membahagiakan hati orang tua yang dikasihinya itu.
Kwee Sun Tek datang bersama Kim Li. Tentu saja orang tua yang buta ini tidak dapat melihat Lin Lin dan karena suara Lin Lin memang sama benar dengan suara Siok Lan, iapun mengira bahwa gadis itu benar-benar Siok Lan. Dua orang tokoh ini bergembira ria, mengobrol tiada berkeputusan. Kwee Sun Tek dalam kesempatan ini mengakui kesalahannya dan mengharapkan maaf dari tuan rumah.
Melihat keadaan dua orang itu. Lin Lin diam-diam terharu sekali dan yakinlah bahwa orang yang mengakuinya sebagai anak ini benar-benar seorang gagah yang berbudi, juga bahwa tamu yang buta ini bukan orang sembarangan, melainkan seorang gagah perkasa juga.
Dan pada saat itu ia mendengar jerit Kim Li yang tubuhnya terlempar ke dalam jurang! Lin Lin cepat melompat keluar, ia melihat seorang pemuda menjenguk dari atas tebing dan masih sempat melihat tubuh Kim Li meluncur turun. Lin Lin kaget dan merasa ngeri sekali. Dari kaget dan duka melihat Kim Li jatuh ke dalam jurang yang tidak kelihatan dasarnya itu, ia menjadi marah sekali. Cepat ia mengambil senjata rahasinya yaitu Kim-thouw-ting dan menyerang pemuda itu yang bukan lain adalah Kun Hong.
Bukan karena kasihan maka Lin Lin melontarkan tambang menyelamatkan Kun Hong dari bahaya maut di dasar jurang, melainkan karena penasaran. Ia hendak tahu lebih dulu mengapa pemuda ini
481
membunuh Kim Li. Seperti telah diceritakan di bagian depan, Kun Hong tertawan oleh Lin Lin, ditotok dua jalan darahnya dengan paku Kim-thouw-ting, kemudian tubuh pemuda yang menjadi kaku ini terbanting di lantai gua dan begitu melihat pemuda ini, Kwa Cun Ek tertawa girang karena mengenal pemuda ini sebagai Kun Hong!
Kita kembali lagi ke dalam gua di mana Kwa Cun Ek tertawa tawa melihat tubuh Kun Hong menggeletak di depan kakinya,
"Ha-ha-ha! Saudara Kwee Sun Tek, dasar Thian itu adil! Entah apa sebabnya, iblis muda ini datang ke sini dan dapat ditawan oleh anakku! Inilah dia biang keladi segala kejahatan biang keladi keributan yang timbul antara kita."
"Dan baru saja dia membunuh cici Kim Li!" kata Lin Lin dengan marah.
"Apa kau kata.........??" Kwa Cun Ek marah sekali dan kepalan tangannya bergerak hendak memukul kepala pemuda yang menggeletak tak berdaya itu.
"'Tahan dulu, saudara Kwa!" kana Kwee Sun Tek. "Pertemuan menggembirakan antara kita ini jangan kita kotori dengan pembunuhan. Nona Kwa Siok Lan, betulkah dia membunuh orang? Apa kau melihat sendiri?"
"Aku tidak melihat sendiri, akan tetapi tubuh Kim Li cici terjerumus ke dalam jurang sedangkan dia ini menjenguk dari atas lalu menggunakan tambang turun ke sini," jawab Lin Lin.
"Kalau begitu biarlah aku membawanya pergi dari sini. Tentang perbuatannya yang membuat hubungan antara kita hampir terputus, adalah perbuatan menipu kepadaku. Sudah sepatutnya kalau aku yang memberi hukuman kepadanya. Saudara Kwa, tentu kau tidak keberatan, bukan? Selain urusan antara dia dan aku, juga ia telah mencuri pedang Cheng-hoa-kiam dari tanganku, dan juga aku mempunyai dugaan bahwa dia ini bukanlah putera Kam Ceng Swi, melainkan putera musuh besarku."
Kwa Cun Ek mengangguk-angguk. "Ah, begitukah? Kalau ada hal-hal yang demikian pelik, memang lebih tepat kalau kau yang menghukumnya. Biarlah kami berikan iblis ini kepadamu, hitung hitung emas kawin dari kami." Kwa Cun Ek menengok kepada Lin Lin dan melihat wajah anaknya merah, ia tertawa bergelak.
Kwee Sun Tek lalu memanggul tubuh Kun Hong yang masih pingsan, lalu pergilah dia dari gua itu, melalui sebuah anak tangga terbuat dari pada tambang yang dipasang oleh Lin Lin. Dapat dibayangkan betapa hebat kepandaian kakek buta ini, sudah tua dan buta memanggul tubuh seorang pemuda, hendak melakukan perjalanan dari Bukit Thian mu-san ke Bukit Wuyi-san di sebelah selatan! Setelah tiba di atas tebing, ia bernapas lega lalu melanjutkan perjalanan dengan langkah tetap, tangan kanan memegang sebatang ranting panjang untuk menjadi alat pemilih jalan.
Mengapa Kwee Sun Tek mau bersusah payah memanggul tubuh Kun Hong? Betulkah ia mempunyai niat menghukum Kun Hong?
Sama sekali tidak. Biarpun dahulunya Kwee Sun Tek ini adalah seorang yang terkenal berwatak keras sekali, akan tetapi semenjak ia menjadi murid Thian Te Cu, tidak saja menerima ilmu tinggi, juga menerima ilmu kebatinan, ia menjadi seorang yang berwatak halus dan pemurah. Banyak hal yang
482
menjadi sebab mengapa ia minta kepada Kwa Cun Ek untuk membawa pergi Kun Hong. Pertama karena ia tidak tega kalau pemuda itu dibunuh Kwa Cun Ek, padahal belum tentu kalau pemuda ini membunuh Kim Li. Ke dua. ia merasa kasihan kepada pemuda ini yang semenjak kecil terjatuh ke tangan orang-orang jahat, apa lagi kalau mengingat bahwa pemuda itu besar kemungkinan adalah putera Beng Kun Cinjin. Ke tiga, ia hendak minta kembali Cheng hoa-kiam dan ke empat dan ini penting sekali, ia hendak bertanya kepada pemuda ini apakah betul gadis yang berada di gua itu Kwa Siok Lan.
Ia tentu saja tadinya tidak menyangka yang bukan-bukan, akan tetapi setelah mendengar bahwa Kun Hong dapat dilawan oleh Siok Lan, ia merasa heran sekali. Sepanjang ingatannya, kepandaian Kun Hong sebagai murid Thai Khek Sian adalah luar biasa sekali, dia sendiri yang sudah menerima gemblengan Thian Te Cu merasa tak sanggup mengalahkan Kun Hong. Bagaimana Siok Lan yang hanya menerima pelajaran dari Kwa Cun Ek bisa menawan Kun Hong? Jangankan gadis itu, biarpun ayahnya sendiri turun tangan, kiranya sukar untuk mengalahkan Kun Hong, apa lagi menawan! Timbul kecurigaannya dan ia ingin sekali mendapat keterangan ini dari Kun Hong.
Setelah melakukan perjalanan cepat selama setengah hari. Kwee Sun Tek mengaso di bawah sebatang pohon besar karena saat itu tengah hari yang amat terik. Ia menurunkan tubuh Kun Hong dan dari gerakan pemuda itu ia mendapat kenyataan bahwa Kun Hong tidak pingsan lagi. Ia lalu meraba-raba jalan darah di tubuh pemuda itu dan akhirnya berhasil membuka jalan darah, membebaskan Kun Hong dari pengaruh totokan.
Pemuda itu mengeluh, kemudian diam saja karena sedang mengumpulkan tenaga mengatur nafas untuk melancarkan jalan darahnya yang tadi terganggu sampai setengah hari lamanya. Tubuhnya terasa kaku dan sakit-sakit. Setelah kesehatannya pulih kembali, ia mengeluh lagi dan berkata, "Aaahhh...... aku telah melihat setan...!
Kwee lo-enghiong. kenapa kau menolong aku orang berdosa ini? Kenapa kau tidak membiarkan aku mereka bunuh saja? Aku hendak kauajak ke manakah?"
"Kun Hong, di mana-mana kau mendatangkan onar dan ribut saja. Perbuatan apa lagi yang kaulakukan tadi? Kenapa kau membunuh gadis buntung itu?" Kwee Sun Tek sudah mengenal Kim Li yang membawa surat ke Wuyi-san dan merasa kasihan kepada gadis buntung itu.
Kun Hong menarik napas panjang. "Dasar aku yang sialan, lo-enghiong. Aku sama sekali tidak bermaksud membunuhnya. Begitu aku tiba di tebing, ia datang menyerangku kalang-kabut seperti orang gila, mengatakan bahwa aku yang menjadi gara-gara nona Siok Lan membunuh diri, dan Kwa-enghiong menjadi gila. Aku mengelak dan saking bernafsunya ia menyerang, tubuhnya terjerumus ke dalam jurang. Bagaimana aku bisa mencegahnya? Aku hendak menuruni jurang itu dengan tambang yang ia tinggalkan dengan maksud mencari mayatnya dan menguburnya baik-baik. Tidak tahunya di tengah-tengah........." pemuda itu nampak bingung, "aku melihat......setan! Ataukah Kim Li itu yang membohongiku ketika mengatakan bahwa Siok Lan sudah membunuh diri? Tetapi tak mungkin aku melihat arwah gadis itu yang menggodaku. Dia betul-betul Siok Lan, akan tetapi aneh......... entahlah, lo-enghiong. aku bingung sekali. Akan tetapi aku berani mengatakan dengan sumpah bahwa aku tidak melakukan sesuatu yang jahat di tempat tadi."
483
"Aku percaya kepadamu, orang muda. Akan tetapi gadis itu.......... kau tentu pernah melihat Siok Lan dahulu, bukan?"
"Pernah, ia seorang gadis cantik yang keras hati dan gagah," jawab Kun Hong.
"Dan gadis yang menawanmu itu. benar-benar dia Siok Lan yang pernah kau lihat?"
"Inilah yang membingungkan hatiku, lo eng-hiong. Nona Kwa Siok Lan yang kulihat dua tahun yang lalu itu kepandaiannya biasa saja, akan tetapi nona tadi bukan main lihainya. Sambitan Kim-thouw-ting yang dihujankan kepadaku tidak saja dilepas secara luar biasa, akan tetapi juga mengandung tenaga lweekang yang belum tentu kalah olehku. Lagi totokannya dengan kepala paku, benar-benar hanya dapat dilakukan oleh orang pandai."
"Cocok! Begitupun jalan pikiranku. Kun Hong, hal itu benar-benar aneh. Maukah........ maukah kau menolongku, menolong seorang buta yang tak dapat melakukan pekerjaan ini sendiri?"
Sampai beberapa lama Kun Hong tidak menjawab. Kwee Sun Tek tidak tahu bahwa tiba-tiba pemuda itu menjadi pucat sekali, matanya terbelalak memandang ke depan, dari mana datang berlari-lari tiga orang, yang dua laki-laki dan yang seorang wanita.
Matanya terbelalak memandang yang perempuan karena wanita ini bukan lain adalah.........Siok Lan! Atau seorang wanita yang tiada bedanya seujung rambut dengan wanita di bawah yang merobohkan dia tadi, baik wajahnya, maupun bentuk tubuhnya! Hanya pakaiannya dan sanggul rambutnya yang berbeda.
"Kun Hong, maukah kau menolongku?"
Anehnya, dari pucat wajah Kun Hong menjadi biru dan pemuda itu menggigil seluruh tubuhnya, lalu roboh tak ingat diri di dekat Kwee Sun Tek. Kakek buta ini tadi hanya mendengar napas terengah-engah, maka cepat ia meraba dan alangkah kagetnya ketika ia mendapat kenyataan bahwa tubuh pemuda itu diam tak bergerak dalam keadaan yang amat panas seperti terbakar! Ia tahu bahwa pemuda ini menderita sesuatu yang amat berbahaya seperti orang terkena racun yang amat jahat. Cepat Kwee Sun Tek mengangkat tubuh itu, dipanggulnya lagi dan dibawanya pergi setengah berlari. Ia tidak melihat betapa tiga orang, Phang Ek Kok, Kui Sek, dan Lan Lan yang tentu akan membuat ia kaget setengah mati kalau melihatnya, berlari-lari tanpa memperhatikannya menuju ke Bukit Thian-mu san di belakangnya.
Tanpa memperdulikan kelelahannya, Kwee Sun Tek membawa tubuh Kun Hong yang masih panas tak bergerak itu naik Gunung Wuyi-san. Terengah-engah kakek buta ini menurunkan tubuh Kun Hong di depan Thian Te Cu yang sedang bersamadhi.
"Siansu......... tolonglah pemuda ini......." katanya dengan napas masih memburu.
Thian Te Cu menarik napas panjang dan membuka matanya. Kakek ini sudah makin tua. akan tetapi anehnya, makin tua dia makin kurus tubuhnya makin banyak keriputnya, sebaliknya rambutnya menjadi makin menghitam! Karena rambutnya yang makin hitam dan panjang ini, lebih cocok lagi
484
nama poyokan Mayat Hidup yang diberikan padanya karena dikelilingi rambut hitam itu mukanya yang kurus menjadi makin kurus dan makin pucat seperti muka mayat.
Kipas daun di tangan kiri dipindahkannya ke tangan kanan dan dengan tangan kirinya Thian Te Cu meraba dada Kun Hong. Ia mengerutkan kening karena tidak tahu apa yang menyebabkan pemuda itu menjadi demikian. Dibukanya baju pemuda itu untuk melihat dada dan pusarnya, dirabanya lagi dan terdengar kakek sakti ini berkata.
"Siancai....... siancai....... damai....... damai........ bocah ini menjadi korban pukulan Im-yang-lian-hoan dari Kun-lun-pai. pukulan jahat....... pukulan jahat......... aku yang bodoh mana bisa mengobatinya? Di dunia ini hanya ada satu orang yang bisa menyembuhkannya, yaitu Kui-bo Thai-houw di Ban mo-to. Kalau tidak, dia hanya akan tahan sampai tiga hari lagi. Pukulan ini dideritanya hampir dua tahun yang lalu. Eh,. Sun Tek, siapakah bocah yang kuat ini? Dia sampai bisa tahan dua tahun!"
"Siansu. dia ini seorang bernama Kam Kun Hong, murid Thai Khek Siansu di Pek-go to."
Thian Te Cu menggangguk angguk, keningnya makin dalam berkerut.
"Hemmm...... sayang menjadi muridnya, tulangnya baik sekali. Aneh juga muridnya bisa menahan Im-yang lian-hoan sampai hampir dua tahun." Sambil berkata demikian. Thian Te Cu menutupkan kembali baju yang tadi dibukanya. Pada saat itu, seuntai kalung perak dengan mata batu kemaia yang aneh sekali warnanya, hitam putih, merah kuning berubah ubah tak menentu, jatuh dari dalam saku baju itu.
Thian Te Cu mengambil kalung itu, mengamat-amati batu kemalanya dan mukanya berubah, "Thian Yang Maha Adil! Im-yang giok-cu sendiri yang hadir! Dengan obat tunggal ini di dalam sakunya, kenapa bocah ini sampai menjadi begini? Sun Tek, bocah ini telah membawa obatnya sendiri. Lekas kau ambil mangkuk dan nyalakan api dalam tungku."
Sampai tiga bulan lebih Kun Hong berada di Wuyi-san, mendapat perawatan dan pengobatan Thian Te Cu yang menggunakan sari hawa Im-yang-giok cu untuk menyambung nyawa pemuda itu. Tidak hanya menerima pengobatan lahir, malah pemuda itu menerima pengobatan batin, yaitu menerima wejangan dan gemblengan batin dari mulut Thian Te Cu sendiri.
Terbukalah mata hatinya dan makin yakinlah hati pemuda itu bahwa selagi hidup ia harus memupuk kebaikan sebanyaknya dan membasmi kejahatan. Makin jelaslah baginya bahwa jika hidup sebagai manusia tidak memupuk kebajikan dan menjadi hamba nafsu kejahatan ia hanya akan mengotorkan dunia, mengotorkan nama leluhur dan tidak pantas dilahirkan sebagai manusia. Kalau dulu semenjak ia mengenal Eng Lan, Kun Hong sudah mendapat banyak kemajuan, sekarang ia lebih sadar lagi dan lebih kuat iman dan batinnya. Malulah ia kalau teringat betapa mudahnya ia jatuh terpikat oleh Kui-bo Thai-houw.
Pada suatu hari, Thian Te Cu memanggilnya dan setelah pemuda ini menghadap sambil berlutut, kakek itu berkata. "Kau sudah sembuh sama sekali boleh turun gunung. Harapanku, tidak sia-sia selama ini kau berada di sini dan kau turun gunung sebagai orang yang sudah sadar betul dan tahu ke mana harus kemudikan langkah hidupmu."
485
Sambil berlutut Kun Hong memberi hormat. "Teecu sudah menerima budi pertolongan Siansu, sudah mendapat pertolongan sehingga teecu masih hidup sampai sekarang. Yang lebih penting lagi. teecu sudah menerima petunjuk-petunjuk dan wejangan yang takkan teecu lupakan selama hidup. Mohon doa restu Siansu saja supaya teecu kuat menjalani semua petuah yang berharga itu."
Thian Te Cu nampak puas. la mengeluarkan sebuah kotak kecil dan memberikan kotak itu kepada Kun Hong. "Di dalam kotak ini terisi batu kemala Im-yang-giok-cu yang sudah menyembuhkanmu. Kau harus antarkan batu ini kembali kepada Kui-bo Thai houw dan menyatakan terima kasihmu."
"Ke Ban-mo-to.........?" Kun Hong berkata perlahan, kaget.
"Apa yang kau khawatirkan? Kau ke sana untuk mengembalikan Im yang-giok-cu, dan bukankah kau masih ingat akan semua petuahku?"
Wajah Kun Hong menjadi merah sekali. Kenapa ia takut kepada diri sendiri? Dahulu ia sampai tersesat dan mudah dipermainkan oleh Kui bo Thai-houw oleh karena ia masih lemah dan pula karena ia mempunyai keinginan mendapatkan obat. Sekarang ia hanya mengembalikan batu kemala itu, apa salahnya?
"Baiklah, Siansu. Teecu mentaati perintah." Demikianlah, daiam keadaan sehat jasmani dan rohani, Kun Hong turun gunung, meninggalkan Wuyi-san untuk pergi pertama-tama ke Ban mo-to mengembalikan Im-yang-giok-cu kepada Kui-bo Thai-houw. Tidak hanya Im-yang-giok-cu, juga pedang yang masih tergantung di pinggangnya, akan ia kembalikan kepada Ratu Ban-mo to itu.
Sementara itu, di Gunung Thian-mu-san terjadi pula hal yang amat ganjil. Pada saat Kwee Sun Tek memanggul tubuh Kun Hong yang pingsan karena pengaruh pukulan Im-yang lian-hoan yang dideritanya, sudah diceritakan bahwa Phang Ek Kok dan puteranya, Lan Lan serta muridnya, Kui Sek berlari menuju ke gunung itu.
Dari manakah mereka ini? Ek Kok tak pernah menghentikan usahanya mencari Lin Lin dan kalau memang Lin Lin masih hidup, hal itu mudah saja ia lakukan bersama Lan Lan. Bukankah wajah dan potongan tubuh Lin Lin sama benar dengan Lan Lan? Dengan membawa Lan Lan, ia bertanya ke sana ke mari kalau-kalau ada orang melihat seorang gadis yang serupa dengan Lan Lan.
Akhirnya perantauannya membawa ia bertemu dengan Kui Sek. Muridnya ini memang sudah lama jatuh hati kepada Lan Lan, maka Kui Sek lalu menyatakan hendak ikut gurunya, bantu mencari. Kemudian mereka bertiga sampai di Telaga Po-yang.
Mulailah terjadi hal-hal yang aneh terhadap diri Lan Lan. Begitu ia muncul, para pelancong' dan para tukang yang menyewakan perahu kelihatan ketakutan, malah dari jauh ada yang menuding-nuding ke arah Lan Lan dengan sikap ketakutan. Seorang penjual makanan yang tergesa-gesa hendak melarikan diri sambil membawa dagangannya, tersandung dan jatuh tertelungkup di depan Lan Lan!
Gadis itu merasa geli dan juga kasihan, maka ia hendak turun tangan membantu orang itu mengumpulkan dagangannya yang menggelinding ke mana-mana. Akan tetapi tiba-tiba orang itu dengan tubuh menggigil menjatuhkan diri berlutut di depan Lan Lan sambil berkata.
486
"Mohon diampuni jiwa hamba........ hamba orang miskin........."
Lan Lan menarik kembali tangannya, jidatnya berkerut. "Ngaco-belo, kau bicara apakah?" bentaknya.
Orang itu berdiri ketakutan dan Lan Lan dengan jengkel membentaknya menyuruhnya pergi. Juga Ek Kok dan Kui Sek terheran-heran melihat sikap orang- orang yang berada di situ. Setiap orang penjual makanan yang mereka dekati, tiba-tiba melarikan diri, malah ada yang meninggalkan dagangan mereka.
"Mereka ini ada apakah?" Lan Lan paling merasa karena semua mata ditujukan kepadanya dengan ketakutan.
"Perut lapar, kalau mereka bersikap begitu semua, apakah kita akan kelaparan? Hayo kita makan saja, habis perkara!" kata Kui Sek yang duduk di atas sebuah bangku persediaan pedagang mi.
"Hush. pedagangnya tidak ada, suheng." kata Lan Lan. Pedagang mi itupun melarikan diri ketika tadi melihat Lan Lan.
"Kita ambil dan masak sendiri, masa tidak bisa?"
"Jangan begitu, aku tidak sudi mencuri makanan orang."
Ek Kok menengahi mereka. "Lan Lan. tidak ada yang mencuri. Kita makan saja dan nanti kita tinggalkan uang di mejanya. Suhengmu benar, orang-orang ini bersikap aneh dan kalau kita tidak berani melayani perut sendiri, kita akan kelaparan."
Karena ayahnya membenarkan suhengnya, terpaksa Lan Lan menurut dan demikianlah, tiga orang ini lalu makan mi yang dimasak sendiri oleh Kui Sek! Biarpun tempat itu menjadi sunyi karena semua orang melarikan diri, namun mereka merasa bahwa banyak pasang mata diam-diam mengawasi gerak-gerik mereka
"Sungguh aneh sekali. Apa sih yang terjadi di sini?" Lan Lan kembali berkata, hatinya tidak puas melihat sikap orang-orang itu. Iapun tidak dapat makan banyak lenyap nafsu makannya melihat keadaan yang amat ganjil itu.
"Mengapa pusing-pusing? Kita nanti tangkap saja seorang dan paksa dia mengaku!" kata Kui Sek yang bersama suhunya makan dengan lahapnya.
"Heh-heh-heh, A Sek (si Sek) benar sekali. Makanlah, Lan Lan," kembali Ek Kok membenarkan muridnya. Kui Sek bangga sekali, akan tetapi Lan Lan jengkel. Ayahnya ini sering kali memperlihatkan sikap memanjakan muridnya, malah ada tanda-tanda ayahnya ini hendak menjodohkan dia dengan suhengnya!
Pada saat itu, seorang kakek datang terbongkok-bongkok ke tempat, mereka. Dari pakaiannya, jelas bahwa kakek ini seorang miskin, agaknya tukang perahu. Melihat kedatangan orang, Kui Sek berdiri dan membentak, "Ini agaknya biang keladinya!" Dan ia menjangkau hendak menangkap.
487
"Suheng, jangan!" bentak Lan Lan.
Kakek itu nampak terkejut dan ketakutan, lalu serta-merta menjatuhkan diri di depan Lan Lan.
"Lihiap yang mulia, harap suka mengampuni kami orang-orang miskin. Bukankah lihiap kaita nya hanya akan mengganggu hartawan jahat dan pembesar korup? Bukankah kaitanya lihiap melindungi orang-orang miskin? Kami semua, pedagang-pedagang makanan dan tukang-tukang perahu yang mencari nafkah di tepi telaga, adalah orang-orang miskin. harap lihiap jangan mengganggu."
Lan Lan tertarik. Tentu ada terjadi apa-apa yang aneh di sini, pikirnya. Ia membangunkan kakek itu dan bertanya dengan suara ramah dan halus, "Lopek, siapakah yang bilang begitu? Kau mendengar dari siapa tentang aku?"
Kakek itu memandang wajah Lan Lan, tidak begitu takut lagi setelah Lan Lan bersikap ramah. Ia malah tersenyum. "Siapa yang tidak mendengar? Lihiap, kau memang hebat. Semenjak lihiap mengalahkan guru-guru silat itu kemarin dulu, kami semua sudah mendengar belaka tentang perbuatan-perbuatan lihiap yang mulia, yang memberi hukuman kepada para hartawan dan bangsawan jahat untuk melindungi orang-orang miskin. Lihiap, kami semua berterima kasih kepadamu. akan tetapi tak dapat dicegah lagi semua orang takut kepada lihiap. Harap lihiap jangan mengganggu kami orang-orang miskin........."
Berubah wajah Lan Lan. Akan tetapi Kui Sek yang dogol itu sudah membentak, "Kunyuk tua, apa yang kau obrolkan itu? Sumoiku ini......"
"Suheng, diamlah kau. Di sini ada sesuatu yang menarik."
"A Sek, biarkan Lan-ji berurusan dengan dia," kata pula Ek Kok yang juga tertarik sekali.
Lan Lan membawa kakek itu duduk di atas bangku. "Lopek, ceritakanlah, apa kau melihat sendiri ketika........ aku........ mengalahkan guru-guru silat itu?"
"Tentu saja. Malah hwesio itupun takut kepada lihiap, sekali serang mereka telah tunduk ketakutan. Benar hebat!"
"Bila terjadinya itu?"
Kakek itu memandang heran. "Bagaimana lihiap bisa lupa? Kan baru kemarin dulu dan............"
Tiba-tiba ia menoleh dan cepat berkata, "Itu hwesio yang kau kalahkan datang......."
Benar saja, yang datang adalah Bi Lam Ho-siang. Seperti diketahui, hwesio ini kemarin dulu membantu guru-guru silat untuk mencoba menangkap maling, akan tetapi bertemu dengan Lin Lin dan dikalahkan dengan mudah. Sekarang kebetulan ia berada di tempat itu dan melihat Lan Lan, ia kaget bukan main dan cepat-cepat hendak memutar tubuh dan melarikan diri. Akan tetapi gadis itu, Lan Lan, cepat memanggilnya.
"Suhu yang di depan harap tunggu, aku mau bicara!"
488
Bi Lam Hosiang tidak berani melanjutkan niatnya melarikan diri. Malah ia cepat menghampiri Lan Lan dengan sikap merendah, jauh-jauh sudah merangkap tangan di depan dada. Kaget juga ia ketika melihat maling wanita itu kini datang bersama seorang laki laki tinggi besar bertopi aneh dan seorang kakek gemuk pendek gundul yang pakaiannya tidak karuan, mukanya aneh dan tangannya memegang sebuah senjata roda golok yang mengerikan. Ia memaksa senyum dan menegur hormat, "Ah, kiranya lihiap di sini? Pinceng kebetulan jalan-jalan dan........."
Lan Lan tak sabar lagi melihat sikap takut takut itu. "Lo-suhu, apakah kemarin dulu bersama jago-jago silat, suhu juga bertempur dengan aku?” tanyanya cepat.
Bi Lam Hosiang menjadi merah mukanya dan menjura makin dalam. "Mohon maaf mata pinceng buta, tidak melihat Gunung Thiansan. Setelah mengenal lihiap, mana berani pinceng memperlihatkan kebodohan?"
Lan Lan berdebar hatinya dan cepat-cepat ia membentak, "Kau bertempur melawan aku, jawab ya atau tidak?"
Hwesio itu kaget dan heran sampai melongo memandang Lan Lan, kemudian mengangguk dan bibirnya gemetar berkata, "......... ya.........!"
Terdengar suara keras disusul suara ketawa cekakakan ketika Ek Kok tahu tahu melompat dan memegang pundak hwesio itu.
"Heh hak-heh hak, hwesio gundul jangan kau membohong kalau masih sayang gundulmu. Lekas katakan, apakah kau juga tahu di mana tempat tinggal nona yang seperti puteriku ini mukanya? Hayo jawab...!"
"Pinceng......... pinceng........." Bi Lamosiang kaget setengah mati ketika pundaknya tiba-tiba ditekan sampai hampir remuk tulangnya. Ia memandang kepada Lan Lan dan gadis ini menyentuh lengan ayahnya. "Lepaskan dia ayah. karena tiada guna menakutkannya." Setelah Ek Kok melepaskan pegangannya, gadis itu bertanya halus,
"Maafkan ayahku yang tidak sabar lagi. Dengar, lo-suhu. Gadis yang kemarin dulu bertempur dengan kau bukanlah aku dan agaknya mempunyai wajah yang mirip aku. Aku perlu sekali bertemu dengan dia. Tolong kau beritahukan di manakah ia tinggal?"
Hwesio itu mengangguk dan baru mengerti. Memang kemarin dulu setelah ia dan kawan-kawannya dikalahkan, diam-diam ia mengikuti Lin Lin yang pergi bersama gadis buntung dan suhunya. Ia mendapat kenyataan bahwa mereka bertiga mendaki Thian-mu san dan lenyap di tebing jurang.
“Pinceng memang kemarin dulu mengikutinya karena ingin tahu. Dia pergi mendaki Thian-mu-san dan anehnya, setelah tiba di tebing jurang curam di lereng Thian mu-san, dia lenyap."
Mendengar ini, Ek Kok meloncat dan berlari sambil berteriak. "Tentu dia Lin Lin....... hah-hah- hah, hayo kita cari dia.........!"
489
Lan Lan gembira sekali sampai ia melupakan hwesio itu dan lari mengejar ayahnya. Ia memang semenjak kecil merindukan adik kembarnya yang bernama Lin Lin, yang lenyap diculik orang. Biarpun ia sudah tidak ingat lagi, akan tetapi sering kali ia diceritai oleh ayahnya maka ia merasa rindu bukan main. Kini mendengar tentang gadis yang serupa dengan dia, tentu saja dengan penuh harapan ia lalu berlari menyusul ayahnya menuju ke Thian-mu-san.
Kui Sek melongo, lalu menggeleng-geleng kepala dan mengomel, "Suhu seperti orang gila, dan jangan jangan sumoi juga ketularan! Ribut-ribut semua ini untuk apakah?" Akan tetapi biarpun mulut mengomel, tidak urung kedua kakinya bergerak lari mengejar juga.
Karena ketiganya memiliki kepandaian yang lumayan, biarpun tidak mudah mendaki Thian-mu-san, menjelang senja sampai juga mereka di lereng yang dimaksudkan, yaitu di atas tebing yang amat curam. Sampai di situ mereka bingung dan mulailah mereka berteriak-teriak.
"Lin-ji.........! Lin ji (anak Lin).........!!" teriak Ek Kok, suaranya yang parau besar itu seperti suara burung gagak.
"Adik Lin Lin.........! Adik Lin Lin......! Ke sinilah.........!!' teriak Lan Lan, suaranya tinggi melengking nyaring, bergema di seluruh lereng.
Pada saat itu, Lin Lin di dalam guanya sedang duduk melamun. Baru saja ayahnya memberi seuntai kalung mutiara, kalung anak kecil yang bermata batu putih berukir huruf "LIONG". Inilah kalung Wi Liong ketika masih kecil, kalung yang diterima oleh "ayahnya". Kwa Cun Ek dari Kwee Sun Tek sebagai tanda ikatan jodoh antara dia dengan Thio Wi Liong! Hati Lin Lin tidak karuan rasanya menerima kalung ini, terharu akan tetapi juga bingung. Terharu akan kasih sayang "ayahnya", bingung karena bagaimana kelak kalau semua orang, terutama calon suaminya itu tahu bahwa dia itu bukan Kwa Siok Lan seperti yang mereka kira? Bahwa dia itu Kwa Siok Lan palsu?
Sambil memegang anak kecil dan mempermainkannya di antara jari-jari tangannya yang halus, Lin Lin melamun jauh. Selama hidupnya ia belum pernah mengenal kasih sayang ayah. Memang betul bahwa Liong Tosu suhunya dahulu amat sayang kepadanya. Akan tetapi Liong Tosu adalah seorang kakek di Kun-lun-pai yang berwatak aneh sekali. Tak pernah kakek ini memperlihatkan kasih sayangnya, apa lagi kasih sayang seorang ayah terhadap puterinya seperti yang dirasakan oleh Lin Lin setelah kini Kwa Cun Ek menganggapnya sebagai anak. Ia merasa terharu dan bahagia dapat melayani' "ayahnya" ini, dapat berbakti kepada ayahnya sebagai pengganti orang tuanya yang tak pernah dikenalnya. Akan tetapi terutang perjodohan ini, bagaimana ia menerima dan menurut begitu saja? Bagaimana kalau kelak calon suaminya yang bernama Thio Wi Liong itu ternyata tidak disukainya? Betul ia melihat bahwa paman atau wali pemuda itu, Kwee Sun Tek, adalah seorang kakek gagah dan patut dihargai, akan tetapi siapa bisa bilang bagaimana macamnya keponakannya?
Berkali-kali Lin Lin menarik napas panjang. Ia tidak tega untuk membantah kehendak "ayahnya" dan sekarang setelah kalung sebagai tanda ikatan jodoh itu berada di tangannya, ia merasa gelisah dan menyesal. Tak terasa lagi air matanya berlinang. Kemudian lamunan gadis ini membawanya teringat kepada Kim Li dan ia merasa menyesal dan berduka sekali. Kim Li seorang gadis baik, seorang kawan baik yang dikasihinya. Sekarang gadis buntung itu menemui ajalnya secara demikian mengerikan.
490
Tiba-tiba gadis ini tersentak kaget dan cepat kalung yang tadi dipegangnya ia masukkan ke balik baju dalamnya, la mendengar suara orang memanggil namanya!
"Lin-ji.........!" suara laki-laki yang parau kasar.
"Adik Lin Lin.........!" suara wanita yang nyaring, seperti suara Kim Li!
Lin Lin melompat berdiri, mukanya berubah. Namanya jarang dikenal orang. Hanya suhunya dan orang-orang Kun lun-pai saja yang mengenal nama ini. Bagaimana ada orang memanggilnya dengan nama itu dan bisa tahu pula bahwa ia berada di situ? Apakah orang-orang Kunlun-pai yang datang dan mengetahui tempat tinggalnya? Akan tetapi siapakah orangnya yang menyebutnya "anak Lin" dan siapa pula yang menyebutnya "adik Lin Lin"? Lin Lin merasa curiga. Cepat ia mengambil pedangnya, menggantungkan pedang di punggungnya, tak lupa membawa paku-pakunya dan dengan gesit ia lalu mendaki tebing itu melalui sebuah tambang yang dipasang secara rahasia, tambang yang biasa ia pergunakan naik turun tebing itu. Yang mengetahui jalan tambang ini hanya dia. Kim Li dan Kwa Cun Ek.
Jalan atau tangga tambang itu membawanya ke dalam sebuah rumpun alang- alang di belakang batu besar. Alangkah herannya ketika ia melihat tiga orang yang tak dikenalnya berteriak-teriak memanggil namanya di tepi tebing. Saking herannya Lin Lin tak sabar lagi, melompat keluar dari balik batu besar dan membentak, ''Siapakah kalian yang membikin ribut di sini?”
Tiga orang itu menengok dan memandang kepada Lin Lin. Seketika Lin Lin menjadi pucat, kedua kakinya gemetar ketika ia memandang kepada gadis di depannya itu, memandang wajah dan bentuk badan yang membuat ia merasa memandang......... bayangannya sendiri di depan cermin! Tiga orang itu, Ek Kok, Kui Sek, dan Lan Lan juga berdiri seperti patung, menatap Lin Lin dengan pandang mata seperti orang terkena hikmat dan terpesona. Apa lagi Kui Sek. Pemuda ini membuka mata selebar-lebarnya seperti orang melihat setan di tengah hari, tingkahnya tidak karuan, topinya dibuka dan kepalanya digaruk-garuk sambil sebentar memandang Lin Lin sebentar Lan Lan, mulutnya mengeluarkan kata-kata gagap.
"Mati aku.........! Suhu.......yang mana Lan moi........? Waah, kalau pakaian dan rambutnya tidak berbeda, sungguh mati aku bisa gila dibuatnya!"
Phang Ek Kok juga melongo melihat persamaan yang luar biasa itu. Tidak ada sedikitpun perbedaannya kecuali pakaian dan cara menyanggul rambut. Selebihnya sama, betul-betul sama yang membuat orang merasa ngeri dan bingung.
Sebaliknya, Lan Lan yang tadinya berdiri bengong, perlahan-lahan terisak-isak. air matanya mengucur deras, kedua lengannya dibuka ke depan dan kakinya bertindak perlahan.
"Lin Lin.........tak salah lagi......... kau Lin Lin adikku yang manis........." kemudian ia menjerit dan menubruk, memeluk dan mencium Lin Lin sambil menangis.
Lin Lin juga menangis, akan tetapi masih bingung. "Aku kenal kau......... aku tentu kenal kau......... sering kali kujumpai dalam mimpi........ ah, aku harus kenal kau......... siapakah kau, cici?”
491
Lan Lan menciumi muka adiknya, lalu tertawa terkekeh-kekeh di antara tangisnya, "Anak nakal! Mana bisa kau tidak mengenal cicimu sendiri? Masa kau tidak mengenal saudara kembarmu sendiri? Aah. Lin Lin, sejak berusia tiga tahun kita dipisahkan orang secara keji. Hampir aku mati karena rinduku kepadamu. Lin Lin......, Lin Lin, sampai mati aku tak mau berpisah darimu lagi....... aku Lan Lan....... kau Lin Lin......... di mana ada aku, di sana ada kau."
"Betul, Lan Lan. Sekarang aku ingat, nama Lan Lan tidak asing bagiku........ betul dulu sekali pernah kau di sampingku," Lin Lin gembira sekali, tiba-tiba ia teringat dan membetot tangan Lan Lan berdiri, "Mari, Lan Lan, mari saudaraku, mari temui ayah angkatku. Kau tahu, aku sudah mendapatkan seorang ayah angkat yang baik sekali!"
Lan Lan menahan betotan tangan adiknya. "Lin Lin, kenapa menemui ayah angkatmu? Lebih dulu kau temui ayahmu, ayah kandung kita!" kata Lan Lan sambil menuding ke arah Phang Ek Kok yang sudah melangkah dekat.
Lin Lin melepaskan tangan Lan Lan dan memandang kepada Ek Kok dengan muka menyata kan kagetnya. Inikah ayahnya? Orang lucu seperti badut potongannya ini? Lin Lin kecewa bukan main. Betulkah ini ayahnya? Ia melihat laki-laki pendek gendut berkepala gundul pletat-pletot ini datang sambil tertawa tawa cekakakan.
"Lin Lin, adikku, kau ini bagaimana sih? Jelek-jelek dia itu ayahmu, ayah kita! Dan pemuda itu adalah Kui Sek suheng. murid ayah. Lekas beri hormat kepada ayah. manisku."
"Kalau......... kalau dia ayah, mana ibu.......?" Lin Lin yang masih ragu- ragu bertanya, Phang Ek Kok tertawa bergelak. "Kak-kak-hah-hah, Lin Lin, bocah manis. Aku Phang Ek Kok adalah ayahmu, ibumu........ ibumu......... eh. ibumu sudah meninggal dunia. Ya......... sudah mati ketika kau dan Lan Lan masih kecil. Kau lenyap diculik orang ketika baru berusia tiga tahun, anakku. Aku ayahmu, Lin Lin......... hah-hah-hah-hah!"
Lin Lin kecewa bukan main melihat orang ini yang mengaku sebagai ayahnya. Jauh lebih baik dia menjadi anak Kwa Cun Ek, pikirnya. Masa mempunyai ayah kok begini macam? Akan tetapi, adanya Lan Lan di situ menjadi bukti paling kuat bahwa orang ini memang ayahnya.
Kui Sek sudah dapat menetapkan hatinya. Ia melangkah maju dan dengan muka ramah ia berkata, "Aduh, Lin-moi. Benar-benar aku girang sekali dan juga bingung setengah mati melihat kau sudah dapat ditemukan. Sudah bertahun tahun suhu dan sumoi Lan Lan mencari-carimu. Benar-benar hari ini adalah hari yang amat baik, ha-ha-ha!"
"Lin Lin, jangan bengong saja. Apa kau tidak memberi hormat kepada ayah dan Kui-su-heng?” Lan Lan memperingatkan adiknya.
Terpaksa Lin Lin menjura kepada Ek Kok dan Kui Sek, akan tetapi mulutnya tak dapat mengeluarkan kata-kata, karena sebetulnya hatinya masih merasa ragu-ragu dan berat untuk menyebut ayah kepada orang gemuk pendek gundul seperti badut ini. Setelah memberi hormat, dengan terharu kembali ia memeluk pinggang Lan Lan, Kalau di situ tidak ada Lan Lan yang ia akui betul-betul saudara kembarnya, tentu ia tidak suka melayani Ek Kok dan Kui Sek. Pada Lan Lan ia tidak ragu-ragu lagi,
492
darahnya berdebar aneh ketika ia dekat dengan Lan Lan, hatinya memastikan bahwa ini memang saudara kembarnya.
"Lin Lin. anakku yang manis. Coba kau ceritakan, ke mana saja selama belasan tahun ini kau pergi?" tanya Ek Kok dengan mulut menyeringai lebar.
"Aku......... aku tidak ingat lagi apa yang terjadi ketika kecil. Tahu-tahu aku berada bersama Liong Tosu yang menjadi guruku, di puncak Kun-lun-san di tempat yang tersembunyi. Kata mendiang suhu, aku dibawa datang oleh murid suhu yang bernama Pek Hui Houw........."
Ek Kok mengeluarkan seruan marah. "Kiranya bangsat dari Kun-lun-pai yang menculiknya!"
"Pek Hui Houw meninggal dunia karena sakit parah begitu ia datang membawaku, kemudian semenjak itu aku menjadi murid Liong Tosu dan baru dua tahun ini aku merantau seorang diri setelah suhu meninggal." demikianlah dengan singkat Lin Lin menceritakan riwayatnya.
"Bangsat-bangsat Kun-lun-pai. awas kau. Kuberitahukan kepada Thai houw kalian!" kata Ek Kok sambil mencak-mencak marah. "Anak-anakku, mari kita ke Ban-mo-to, menghadap Thai-houw membuat laporan. Biar Thai-houw yang membasmi Kun-lun-pai untuk membalas kekurang-ajaran orang-orang Kun-lun!''
Lin Lin mengerutkan keningnya. "Apakah yang dimaksudkan Kui-bo Thai-houw, siluman tua di Ban-mo-to? Aku mendengar dia itu jahat sekali!"
"Hush.......... Lin Lin, Thaihouw di Ban-mo-to seorang sakti," kata Lan Lan. Dia sendiri tidak suka kepada wanita tua genit itu, alkan tetapi karena tahu akan kelihaiannya, ia khawatir juga mendengar Lin Lin memakinya berterang.
"Empat orang bibimu juga berada di sana menjadi pelayannya, Lin Lin. Ah. kau tidak mengerti apa-apa, kasihan sekali. Mari ikut, nanti Lan-ji akan menceritakan segalanya kepadamu."
"Betul, Lin Lin, mari kita pergi dari tempat ini........." Lan Lan juga membujuk adiknya.
Pada saat itu terdengar suara nyaring, "Lan-ji, kau sedang apa di situ?" Dan muncullah Kwa Cun Ek yang memandang dengan matanya yang lebar, kelihatan terheran-heran.
"Ayah.........! Kenapa kau ikut naik? Kesehatanmu belum pulih.........!" kata Lin Lin penuh kasih sayang sambil melompat mendekati Kwa Cun Ek.
Akan tetapi Kwa Cun Ek tidak menjawab karena kakek ini sudah melihat Lan Lan dan seperti juga yang lain-lain. persamaan yang luar biasa antara dua orang gadis itu membuat ia bengong karena bingung.
"Siok Lan......... anakku......... kenapa kau ada dua.........?" bisiknya perlahan sekali dan kakek ini agaknya sedang memeras otaknya untuk mengingat-ingat.
Terdengar suara ketawa berkakakan ketika Ek Kok melompat maju di depan Kwa Cun Ek. "Hak-hak hak, kiranya orang ini linglung dan tidak waras otaknya. Dia itu bukan anakmu, bukan pula bernama
493
Siok Lan, akan tetapi dia anakku bernama Phang Lin Lin dan ini saudara kembarnya bernama Phang Lan Lan. Orang gila, jangan kau bermimpi terus, pergilah!"
Kwa Cun Ek menjadi makin bingung, sebentar memandang Lin Lin, sebentar memandang Lan Lan, lalu mengerling Ek Kok. Ia merasa kepalanya puyeng, matanya kabur dan wajahnya sebentar pucat sebentar merah. Kejadian kejadian yang lampau berputaran di depan matanya dan ia teringat kembali akan penuturan sutenya, See thian Hoat ong bahwa Siok Lan sudah mati! Ia memandang Lin Lin, memang semuanya sama, sampai pakaian dan rambut- rambutnya, akan tetapi gadis ini jauh lebih muda dari pada Siok Lan. Ia makin bingung dan dengan seruan keras ia menerjang Ek Kok.
"Penipu! Pembohong!!" teriaknya marah sekali.
"Ayah.........! Jangan berkelahi.........!"
Lin Lin mencegah sambil memegang lengan tangan Kwa Cun Ek. Gadis ini memang lihai dan kepandaiannya malah lebih tinggi dari Kwa Cun Ek. maka cegahannya berhasil.
Kwa Cun Ek menoleh kepada anaknya. "Siok Lan, hayo lekas bilang, siapa monyet itu? Siapa pula gadis yang serupa benar denganmu itu?" Ia menuding Ek Kok dan Lan Lan.
Kini giliran Lin Lin yang kebingungan. Bagaimana ia harus menjawab? Ia terpaksa menjawab, maka ia berkata perlahan, "Ayah. dia ini adalah saudara kembarku, namanya Lan Lan.........."
Seketika pucat pandang mata Kwa Cun Ek. Ia meramkan mata karena tanah yang diinjaknya terputar putar dan cuaca menjadi gelap sekali. Akan tetapi sambil berpegang pada lengan Lin Lin yang halus dan kuat sekali, ia menguatkan diri dan masih dapat bertanya lagi, "Dan kau......... kau tentu bukan Siok Lan...... kau siapakah........."
Dengan suara terisak saking kasihan melihat ayah angkatnya ini Lin Lin menjawab juga, "Aku......... aku sebenarnya bernama Lin Lin........."
Kwa Cun Ek mengeluarkan teriakan ngeri dan ia roboh pingsan. Baiknya Lin Lin berada di situ maka gadis ini cepat dapat memeluk tubuhnya. Dunia serasa remuk bagi Kwa Cun Ek. Terbuka sekarang matanya bahwa Siok Lan betul-betul telah tewas dan bahwa selama ini gadis yang disangkanya Siok Lan adalah seorang gadis asing yang bernama Lin Lin.
Lin Lin memanggil-manggil. "Ayah........ ayah.........!" dan menangis tersedu-sedu. Lan Lan memeluk adiknya dan ikut menangis, ikut pula memanggil "Ayah......... ayah.........!" kepada Kwa Cun Ek, Apa yang dirasakan dan diderita oleh adiknya ini otomatis terasa pula olehnya.
Ek Kok membanting-banting kakinya. "Kalian ini apa sudah gila semua? Aku ayahmu. Hayo pergi dari sini tinggalkan orang gila itu!"
Akan tetapi tiba-tiba Lin Lin berdiri setelah membiarkan kepala Kwa Cun Ek ditahan oleh kedua lengan Lan Lan. "Siapapun adanya kau, ayahku betul atau bukan, kau tidak bisa melarang aku merawat orang ini. Biarpun dia ini hanya ayah angkat, akan tetapi aku sudah suka kepadanya dan menganggapnya sebagai ayah sendiri!"
494
Lan Lan melihat kenekatan adiknya, lalu berkata kepada ayahnya, "Ayah, harap kau suka memaklumi perasaan Lin Lin. Orang ini memang perlu dirawat. Kalau ayah hendak ke Ban-mo-to, pergilah dulu bersama suheng. Biar kelak aku dan Lin Lin menyusul kalau sudah selesai merawat orang ini."
Kui Sek merasa kecewa sekali. "Biar aku mengawani dua sumoiku di sini, akupun bisa merawat orang........."
Ek Kok tampar kepalanya sampai topi di kepala Kui Sek jatuh. "Kau mau ikut-ikut gila?”
"Tidak.......... tidak......... suhu........." kata Kui Sek ketakutan dan buru-buru mengambil topinya, dipakai lagi lalu berkata, "Mau pergi sekarang, suhu? Teecu siap mengantar suhu!" Benar lucu sikap murid yang ketakutan ini.
"Tidak bisa!" Ek Kok berkeras. "Kalian anak-anakku harus menurut kehendak orang yang menjadi ayahmu!"
"Tidak!" Suara Lin Lin mengandung isak. ”Aku akan merawat dia ini lebih dulu, urusan lain boleh diurus belakangan!"
Lan Lan yang melihat suasana mengeras, lalu menaruh tubuh Kwa Cun Ek di atas tanah, kemudian ia berdiri di samping Lin Lin, mengangkat dada mengepal kedua tangan seperti adiknya itu, pipinya kemerahan matanya bersinar- sinar, persis sikap Lin Lin pula! Katanya nyaring, "Ayah. kalau kau memaksa, kau akan berhadapan dengan kami yang marah- marah!"
Ek Kok mengeluarkan suara ketawa aneh, menyeringai lalu berkata, "Masa bodoh, bocah-bocah kepala batu. Biar aku pergi ke Ban-mo-to, melaporkan semua ini. Agaknya Thai-houw sendiri yang harus turun tangan." Setelah berkata demikian, ia menggelundung pergi, diikuti oleh Kui Sek.
Pemuda ini agaknya tidak rela hatinya meninggalkan dua orang gadis yang sama cantiknya, sama manisnya dan sama-sama menarik hatinya itu. Ia berlari sambil menoleh beberapa kali sampai kakinya tersandung dan ia jatuh tertelungkup dan perutnya yang gendut itu berdebuk menubruk batu! Akhirnya ia merangkak bangun, menoleh sekali lagi dan berlari hilang di sebuah tikungan.
Lin Lin memondong tubuh Kwa Cun Ek. “Lan Lan, hayo bantu aku menurunkan dia. Kita harus merawatnya baik-baik, kasihan sekali dia”
Dibantu oleh Lan Lan, Lin Lin lalu membawa ayah angkatnya itu kembali ke dalam gua. Dua orang gadis ini dengan telaten dan teliti merawat Kwa Cun Ek, akan tetapi orang gagah itu masih tetap pingsan dan kadang-kadang tubuhnya panas sekali, terserang demam hebat. Lin Lin dan Lan Lan gelisah sekali. Pada saat menjaga orang tua itu kalau Kwa Cun Ek sudah dapat tidur dengan kepala dikompres air dingin, Lin Lin lalu menceritakan pertemuannya dengan Kwa Cun Ek yang menganggap dia itu puterinya bernama Kwa Siok Lan yang telah meninggal dunia.
"Kasihan dia........." kata Lan Lan. "Memang patut ditolong........."
495
Akan tetapi keadaan Kwa Cun Ek tidak menjadi lebih baik. Setelah kakek ini siuman kembali, ternyata pikirannya sudah jernih dan ia sudah teringat akan segala hal. Dengan air mata berlinang-linang ia memegang tangan Lin Lin dan Lan Lan.
"Kiranya Thian masih menaruh kasihan kepada aku orang malang sehingga di dunia ini ada kalian dua orang gadis kembar yang begini baik kepadaku. Anak-anak, kalian benar-benar serupa dengan mendiang Siok Lan, anakku. Dan kalian begini baik, merawatku seperti ayah sendiri........." tak terasa Kwa Cun Ek terisak menangis saking terharunya.
Lin Lin dan Lan Lan ikut menumpahkan air mata. Lin Lin mengeringkan air mata di pipi Kwa Cun Ek sambil berkata, "Ayah. biarpun kau sekarang tahu bahwa aku bukan Siok Lan, akan Leiapi aku tetap menganggapmu sebagai ayah. Kau jangan berduka, di sini ada aku dan Lan Lan yang akan merawatmu sampai sembuh”.
Kwa Cun Ek tersenyum pahit. "Anak-anak baik, aku berhutang budi kepada kalian, terutama kepada Lin Lin. Kalau dalam hidup sekarang aku tidak mampu membalas, biarlah di dalam penjelmaan lain aku menjelma menjadi kuda atau anjing untuk melayanimu.........".
"Ayah, jangan kau bilang begitu........." kata Lin Lin pilu.
"Ayah, janganlah berduka........." kata Lan Lan.
Mendengar Lan Lan juga menyebut ayah kepadanya, Kwa Cun Ek memegang tangan kedua gadis itu, dibawa ke depan mukanya dan dipakai menutupi matanya. Namun dari celah-celah jari tangan, kedua orang gadis itu, mengalir air mata yang panas.
Akan tetapi, betapapun pandai manusia berusaha, tetap saja keputusan terakhir berada dalam tangan Tuhan. Hantaman batin yang amat hebat telah membuat Kwa Cun Ek yang kuat itu menyerah. Jantungnya terguncang hebat dan keadaannya makin hari makin payah. Akan tetapi, biarpun keadaan tubuhnya menderita makin payah, keadaan hatinya selalu penuh kegembiraan, penuh terima kasih kepada Lin Lin dan Lan Lan, dua orang yang tiada bedanya seperti dua orang anak kandungnya sendiri!
Malah sering kali orang tua ini berpikir bahwa andaikata anaknya sendiri, Siok Lan, masih hidup, belum tentu akan begitu setia dan berbakti kepadanya seperti yang diperlihatkan dua orang gadis kembar ini. Hal ini sebetulnya tidak aneh kalau diingat bahwa Lin Lin memang tadinya menganggap dia sebagai pengganti orang tua.
Dengan singkat Kwa Cun Ek menuturkan pengalaman dan riwayatnya kepada dua orang gadis itu, tentang Siok Lan dan tentang Tung-hai Sian-li. Akhirnya ia berkata sambil menarik napas panjang. "Matipun aku tidak menyesal, aku sudah mendapat anak baru, kalian ini. Hanya satu hal yang membuat hatiku gelisah sekali, membuat aku masih berat meninggalkan dunia ini........."
"Apakah hal yang mengganggu pikiranmu itu, ayah.......?" tanya Lin Lin terharu.
496
"Kalau ada, kami yang akan berusaha membereskannya, ayah," sambung Lan Lan sepenuh hati, karena ia merasa sependeritaan dengan adik kembarnya. Apa yang diderita oleh adik kembarnya, akan dipikulnya setengahnya, demikianpun kebahagiaan harus dikecap oleh mereka berdua.
"Tidak lain soal perjodohanmu......... dalam keadaan tidak sadarku karena mengira Lin Lin sebagai anakku Siok Lan, aku memperbarui ikatan perjodohan dengan keponakan Kwee-Sun-Tek”
"Aah,..........bagaimanapun juga, selama hidupku aku selalu menjaga nama baikku, selalu menjaga janjiku yang lebih kuberatkan dari pada nyawa. Akan tetapi, siapa kira......... menjelang kematianku aku terpaksa menjilat ludah sendiri, terpaksa melanggar janjiku kepada Kwee Sun Tek karena......... tentu saja kau tidak bisa memenuhi janjiku itu, Lin Lin."
"Jangan kau bilang begitu, ayah. Kalau kau biasa memegang teguh janji, apakah aku juga tidak demikian? Tidak nanti aku akan membikin rendah namamu, ayah. Kalau aku menolak, apa kalung itu akan kuterima kemarin dulu?"
Kwa Cun Ek menjadi berseri mukanya.
”Lin Lin.........!"
"Aku tetap Siok Lan bagimu, ayah," jawab gadis itu.
"Tidak, kau Lin Lin, kau anakku yang baru. Ah, terima kasih, Thian Yang Maha Adil. Bagaimana manusia macam aku ini mendapat kurnia begitu besar? Lin Lin, anakku, kau takkan menyesal......... keponakan Kwee Sun Tek adalah seorang pemuda baik, murid Thian Te Cu."
"Ayah, aku yang sudah mengakui kau sebagai ayah sendiri, bagaimana bisa menolak kehendakmu? Aku percaya bahwa ayah tentu menghendaki kebahagiaanku maka mau menerima ikatan perjodohan itu."
Akan tetapi, kegirangan hati Kwa Cun Ek itu malah amat buruk bagi kesehatannya. Karena terlampau girang, hatinya berguncang dan ia hanya dapat hidup setengah hari saja lagi. Menjelang senja ia menarik napas terakhir dalam pelukan Lin Lin dan Lan Lan, meninggal dunia sebagai seorang ayah yang beruntung mendapat kasih sayang dua orang anaknya! Inilah agaknya anugerah bagi Kwa Cun Ek yang selama hidupnya menjadi seorang gagah yang berbudi, setelah nasib buruk menimpanya sepanjang masa.
Setelah menangisi kematian Kwa Cun Ek semalam suntuk, pada keesokan harinya gadis kembar itu lalu mengurus jenazah orang tua itu, kemudian dengan penuh khidmat mengubur jenazah Kwa Cun Ek di atas tebing, di bawah sebatang pohon besar. Sambil berkabung mereka membuatkan batu nisan yang cukup besar, diukirnya huruf-huruf berbunyi,
"AYAH TERKASIH KWA CUN EK."
Kemudian mereka meninggalkan Thian-mu-san untuk menyusul Phang Ek Kok ke Ban-mo-to atas desakan Lan Lan. Betapapun juga, Lin Lin terpaksa menurut karena kalau di pikir-pikir, betapapun
497
jeleknya, kalau Phang Ek Kok sudah ditakdirkan menjadi ayahnya, ia harus membaktikan diri kepada ayah itu.
Berdebar juga hati Kun Hong dan merah sekali mukanya ketika ia diterima oleh Kui-bo Thai houw dan sekalian pengikutnya di Pulau Ban mo to. Teringat pemuda ini akan perbuatannya yang gila-gilaan di pulau itu, perbuatan tak tahu malu yang membuat Eng Lan menjadi marah kepadanya. Ia hampir tidak berani mengangkat mukanya, hampir tak berani bertemu pandang dengan semua gadis yang berada di situ, apa lagi dengan Kui-bo Thai-houw yang menerimanya dengan sikap halus dan ramah.
"Aku sudah hampir lupa bahwa di dunia ini ada seorang laki-laki seperti kau, tahu-tahu sekarang kau muncul lagi. Apakah kau tidak takut kalau kemarahanku timbul lagi, Kun Hong?" tanya Kui-bo Thai-houw, suaranya halus sekali akan tetapi Kun Hong yang sudah cukup baik mengenalnya maklum bahwa sedikit saja ia salah omong atau salah bersikap, wanita yang halus dan ramah ini bisa berubah keji seperti iblis dan tidak segan-segan menurunkan tangan maut merenggut nyawanya.
"Tidak, Thai-houw, karena aku datang membawa maksud baik dan hendak memenuhi perintah Thian Te Cu Siansu."
Kui-bo Thai-houw mengangkat alisnya.
"Bagaimana kau bisa diperintah Thian Te Cu?”
"Thian Te Cu Siansu yang menolongku, mengobatiku dengan Im-yang-giok-cu, Setelah aku sembuh, Siansu memerintah padaku untuk mengembalikan batu kemala Im-yang-giok-cu kepadamu. Thai-houw. Juga aku ingin mengembalikan pedang ini disertai pernyataan maafku sebesarnya atas semua ksealahanku yang sudah-sudah." Setelah berkata demikian, Kun Hong menyerahkan pedang dan kotak kecil dari Thian Te Cu itu.
Kui-bo Thai-houw tersenyum dan membuka tutup kotak. Betul saja di dalamnya terdapat kalung Im-yang-giok-cu, akan tetapi juga di sebelah dalam kotak juga terdapat tulisan huruf kecil-kecil berbunyi :
UNDANGAN THAI KHEK SIAN MENGANDUNG MAKSUD TERSEMBUNYI. DIA BERSEKONGKOL DENGAN BANGSA MONGOL.
Membaca tulisan Thian Te Cu ini, Kui-bo Thai-houw tertawa. "Mengapa takut? Lebih baik mati dari pada dianggap takut oleh seorang manusia macam Thai Khek Sian!"
Melihat Kun Hong memandang kepadanya dengan heran, Kui-bo Thai-houw dapat menduga bahwa pemuda ini tentu belum tahu akan tulisan di dalam kotak, maka ia bertanya, "Kun Hong, gurumu hendak mengadakan pesta pada musim chun, kau tentu membantunya, bukan?"
Semenjak menginsyafi kesesatan dirinya dan menyadari pula betapa gurunya adalah seorang tokoh Mo-kauw yang jahat, Kun Hong agak segan membicarakan gurunya. Maka jawabnya malas. "Kiranya sudah menjadi kewajiban seorang murid untuk menghormat gurunya."
Kembali Kui-bo Thai houw tertawa-tawa dan pada saat itu dari pintu dalam muncul dua orang gadis. Kun Hong kaget setengah mati melihat dua orang gadis ini, dua orang gadis seperti Siok Lan yang
498
pernah membuat ia mengira bertemu dengan arwah Kwa Siok Lan. Ternyata dua orang gadis kembar yang serupa benar dengan Siok Lan itu telah berada di sini! Ia menekan perasaannya dan diam saja.
"Eh, kalian masih belum berangkat?" Kui-bo Thai houw menegur mereka.
Seorang di antara dua gadis kembar itu, Lin Lin, menjawab dingin, "Kami hendak berpamit dari bibi lebih dulu."
"Hemmm.........!"' Kui-bo Thai-houw menarik napas panjang, mendongkol akan tetapi ia selanjutnya diam saja melihat empat orang pelayannya, yaitu empat orang nenek kembar yang lucu itu bangkit menghampiri Lan Lan dan Lin Lin yang menjura memberi hormat.
"Bibi, kami berdua akan berangkat. Mungkin kami takkan kembali ke pulau ini, harap bibi menjaga diri baik-baik." kata Lan Lan.
"Anak-anak yang baik........."
"Baik-baiklah menjaga diri......”
"Turut saja kehendak ayahmu.........”
"Kelak kalau kawin undang kami........."
Demikian empat orang nenek kembar itu memesan saling sambung.
"Keluarlah! Keluarlah!" Kui-bo Thai-houw membentak marah.
Pada saat itu, Lin Lin melihat Kun Hong. Kaget sekali dia dan di lain saat ia telah mencabut pedangnya dan melompat ke depan Kun Hong.
"Kau......... di sini.........? Bagus, masih ada kesempatan bagiku membunuhmu!" Pedangnya diangkat hendak menyerang.
"Tahan.........!!" Kui-bo Thai-houw berseru marah sekali. "Lin Lin, apa artinya kekurangajaranmu ini?"
"Thai-houw, dia membunuh cici Kim Li, sahabat baikku!" Lin Lin berkata nyaring.
"Kun Hong, betulkah kau membunuh sahabatnya bernama Kim Li?”
"Tidak. Thai-houw, aku tidak membunuhnya."
"Masih hendak menyangkal?" Lin Lin membentaknya.
Kun Hong mendongkol. Ia teringat betapa gadis ini hampir saja membuat ia mati terjerumus ke dalam tebing itu, akan tetapi ingat pula bahwa gadis ini yang menolongnya sehingga ia tidak terus terjerumus. "Kalau seandainya aku membunuhnya, untuk apa aku menyangkal? Laginya, antara dia
499
dan aku tidak ada permusuhan." Kun Hong tiba-tiba menahan mulutnya, teringat betapa ia telah membunuh ayah Kim Li.
Tiba-tiba Kui-bo Thai-houw tersenyum. "Tidak usah ribut ribut. Orang orang gagah tidak perlu bertengkar mulut, untuk apa membawa pedang dan belajar silat? Dari pada bertengkar mulut, lebih baik kalian memutuskan kebenaran masing-masing di ujung pedang. Kun Hong, kau boleh pakai pedangku itu. Hayo keluar dan siapa takut dianggap bersalah!"
Bukan main kagetnya Kun Hong mendengar omongan beracun ini. Ia hendak membantah, akan tetapi gadis itu, Lin Lin yang matanya seperti......... tiba-tiba Kun Hong teringat sesuatu yang membuatnya berdebar. Mata gadis ini seperti mata Tung-hai Sian li! Tak salah lagi. Pernah Tunghai Sian-li memandang kepadanya seperti itu, penuh kebencian, kemudian pernah pula memandang penuh kekaguman ketika ia melepaskan Tung-hai Sian-li dari tahanan. ’Siok Lan puteri Tung-hai Sian-li’, kata Eng Lan. Gadis ini rupanya persis Siok Lan dan matanya seperti Tung-hai Sian-li. Apakah ini bukan berarti bahwa bocah kembar ini puteri Tung-hai Sian-li?
Terpaksa Kun Hong mengikuti keluar pula dan anehnya, dengan wajah berseri Kui-bo Thai-houw juga bertindak keluar di belakangnya, kemudian wanita ini berbisik, "Dia lihai akan tetapi aku percaya kau akan menang. Lebih baik kau bunuh mati gadis berbahaya itu........."
Bisikan ini membuka mata Kun Hong dan tahulah ia bahwa kehadiran dua orang gadis kembar itu di Ban-mo-to, bahkan di dunia ini, tidak dikehendaki oleh Kui-bo Thai-houw. Tentu ada apa-apanya ini. Kenapa Kui-bo Thai-houw. kalau memang tidak suka kepada mereka, tidak turun tangan membunuh mereka sendiri? Kenapa seakan-akan hendak meminjam tangannya melenyapkan dua gadis kembar itu? Diam-diam Kun Hong mengertak gigi. ’Tidak, pikirnya. Dulu aku pernah menjadi kaki tanganmu, menurut saja kausuruh menyerang orang. Sekarang tidak lagi!’
Ia sudah berhadapan dengan Lin Lin yang memegang pedangnya. Sikap gadis ini gagah sekali dan pasangan kuda-kudanya juga membayangkan kemahiran ilmu silatnya.
"Kau sudah mendengar kata-kata Thai-houw tadi? Nah, majulah biar aku membalaskan dendam enci Kim Li!" kata Lin Lin tersenyum mengejek.
Akan tetapi Kun Hong belum mencabut pedang yang tadi dikembalikan oleh Kui-bo Thai-houw kepadanya. "Nona, aku tidak ingin bertempur denganmu. Di antara kita tidak ada permusuhan sesuatu, adapun tentang Kim Li............sungguh mati aku tidak membunuhnya. Dia menyerangku memang, aku hanya mengelak dan dia terjerumus ke dalam tebing itu karena penyerangannya sendiri, mungkin karena terlalu bernafsu. Aku tidak membunuhnya!"
"Bohong! Siapa percaya omongan seorang yang dengan kebohongannya telah merusak keluarga serumah!"
Kun Hong mengerti bahwa yang dimaksud oleh gadis ini tentulah kebohongannya terhadap Kwee Sun Tek sehingga menimbulkan geger dalam rumah tangga Kwa Cun Ek. Eng Lan kekasihnya juga marah marah bukan main karena perbuatannya yang tak bertanggung jawab itu.
500
Ia menarik napas panjang. "Memang dulu aku banyak melakukan kebodohan. Akan tetapi apakah orang yang sesat, jalan tidak boleh mencari jalan benar lagi?" Kata-katanya ini diucapkan agak keras karena ia merasa terdesak terus kalau orang menggali lagi perbuatan-perbuatannya yang dulu.
"He, Kun Hong, kenapa kau banyak alasan? Apakah kau takut kepada Lin Lin?" tiba-tiba Kui-bo Thai-houw berseru mengejeknya.
"Thai houw, kenapa kau hendak memaksaku bertempur dengan nona ini? Siapakah dia ini?" tanya Kun Hong penasaran. Ketika untuk pertama kali bertemu dengan gadis itu, ia hanya tahu gadis yang seperti Siok Lan ini berada di dalam gua di lereng Thian-mu-san dan setahunya gadis ini bersama Kwa Cun Ek, Apakah Kwa Cun Ek punya lain puteri, anak kembar ini yang menjadi adik Siok Lan.?
Kui-bo Thai-houw.tersenyum, lalu menuding ke samping di mana Phang Ek Kok berdiri dekat empat orang nenek kembar, adik-adiknya. "Lan Lan dan Lin Lin adalah anak kembar Phang Ek Kok ini, keponakan dari pelayan-pelayan si empat kembar."
Kun Hong makin terheran. "Akan tetapi....... aku melihat dia bersama Kwa Cun Ek lo-enghiong......... di Thian-mu-san.........."
Lin Lin menghampirinya dan membentak. "Sudahlah jangan banyak bicara. Kau berani kepadaku atau tidak?"
Betapapun juga, Kun Hong adalah seorang laki-laki. Ia bisa mengalah karena memang ia mengambil keputusan untuk merobah wataknya yang dahulu, ia bisa bersabar, akan tetapi tentu saja ia tidak mau disebut takut kepada gadis ini..
"Kenapa aku mesti takut? Aku tidak bersalah apa-apa kepadamu," jawabnya.
"Bagus, kalau begiltu cabut pedangmu!"
Terpaksa Kun Hong mencabut pedangnya, pedang Kui-bo Thaihouw. Baru saja ia menghunus pedang. Lin Lin sudah maju menerjangnya dengan hebat sambil berseru, "Lihat pedang!"
Apa boleh buat, tidak ada lain jalan bagi Kun Hong untuk menghadapi gadis ini selain melawan. Kalau ia tidak mau melawan berarti ia akan kehilangan muka, berarti ia dianggap takut dan pengecut. Kalau ia melawan, ia teringat akan bisikan Kui-bo Thai houw dan bergidik. Siluman itu hendak meminjam tangannya membunuh Lin Lin, ada apakah? Ia harus menyelidiki hal ini. Tentu ada apa apa yang tidak beres. Pula ia masih heran dan tidak mengerti bagaimana Lin Lin dan saudara kembarnya Lan Lan itu kini menjadi anak dari laki-laki aneh buruk Phang Ek Kok yang menjadi kakak si kembar empat? Alangkah ganjilnya! Pula tidak pantas kalau mereka ini menjadi anak Ek Kok. Lebih tepat menjadi anak Kwa Cun Ek. apa lagi kalau dilihat mereka berdua ini serupa benar dengan Siok Lan dan mata Lin Lin persis mata Tung-hai Sian-li.
Akan tetapi Kun Hong tidak dapat melamun lebih jauh. Pedang di tangan Lin Lin benar luar biasa hebatnya, menyerangnya dengan kecepatan kilat dan dengan tenaga lweekang yang hebat pula. Sebelum bertanding tadipun ia sudah maklum akan kelihaian Lin Lin, gadis yang melepas paku dan kemudian menolongnya dari bahaya terjerumus. Kini melihat ilmu pedangnya, ia terkejut dan heran.
501
Ternyata gadis ini malah melampaui dugaannya, kiam-hoat (ilmu pedang) yang dimainkan itu benar-benar ilmu pedang kelas tinggi.
Setelah bertempur limapuluh jurus ia mengeluarkan seruan tertahan. Ilmu pedang gadis ini gerakan-gerakannya serupa benar dengan ilmu silat ayah angkatnya, Kam Ceng Swi! Inilah ilmu silat Kun lun-pai, tak salah lagi. Akan tetapi jauh lebih tinggi dan lihai dari pada yang pernah ia hadapi!
Kun Hong mendapat kenyataan bahwa gadis ini benar-benar lihai sekali, baik dalam ilmu silat pedang maupun tenaga lweekang dan ilmu gin-kang, agaknya tidak kalah jauh olehnya! Hal ini menggembirakan hatinya dan menimbulkan hasratnya untuk mencoba dan mengukur sampai di mana kelihaian Lin Lin. Ia lalu bersilat dengan hati-hati, mengeluarkan kepandaiannya mainkan ilmu pedang luar biasa yang ia warisi dari Thai Khek Sian dan yang sudah diperlengkap lagi dengan ilmu yang ia pelajari dari Kui-bo Thai houw. Tubuhnya lenyap ketika ia berkelebat. Ujung pedangnya menjadi ratusan dan sinarnya panjang dan kuat melayang-layang ke sana ke mari bargaikan kilat menyambar-nyambar.
Lin Lin adalah murid Liong Tosu yaitu kakek aneh di Kun-lun-pai yang mengasingkan diri di Bukit Kun-lun, tidak mencampuri urusan Kun-lun-pai akan tetapi ia sebetulnya memiliki ilmu silat Kun-lun-pai yang aseli dan yang paling tinggi di antara semua tokoh Kun-lun. Gadis ini sudah menuruni kepandaian Liong Tosu dan selama ini ia belum pernah menemui tandingan yang selihai Kun Hong. Ia terkejut sekali menghadapi ilmu pedang yang hebat dari Kun Hong. Bukan main memang ilmu pedang ini, selain cepat dan kuat, juga di dalamnya mengandung tipu-tipu yang amat curang berbahaya, mengandung hawa pukulan beracun yang sukar dilawan.
Namun Lin Lin tidak mau mengalah begitu saja. Ia mengerahkan tenaga dan memusatkan seluruh perhatiannya dalam ilmu pedangnya sehingga biarpun ia merasa desakan-desakan hebat yang sukar dilawan, namun bagi Kun Hong juga tidak mudah untuk mencapai kemenangan dalam waktu singkat.
Pertandingan berlangsung amat serunya sampai seratus jurus lebih. Amat seru dan ramai sehingga Ek Kok dan empat orang adiknya berkali-kali mengeluarkan seruan memuji dan kaget. Apa lagi mereka ini dan para pelayan, bahkan Kui-bo Thai-houw sendiri diam-diam merasa kagum dan harus ia akui di dalam hatinya bahwa dia sendiripun kiranya tidak akan mudah saja mengalahkan Lin Lin, apa lagi mengalahkan Kun Hong!
Lan Lan yang sejak kecilnya hanya mendapat pendidikan ilmu silat dari Ek Kok, biarpun bagi para ahli silat kebanyakan saja ia sudah merupakan seorang gadis lihai sekali, kini berdiri bengong. Tak disangkanya sama sekali bahwa pemuda itu demikian hebat ilmu silatnya. Lebih kagum lagi ia melihat adiknya, Lin Lin. Benar dia sudah tahu bahwa adiknya ini memiliki kepandaian silat yang jauh lebih tinggi dari pada kepandaiannya sendiri, akan tetapi belum pernah ia menyaksikannya dan baru sekarang ia mendapat bukti bahwa ilmu kepandaian adiknya benar-benar hebat, tidak saja jauh lebih tinggi tingkatnya dari pada kepandaiannya sendiri, malah juga lebih lihai dari pada ayahnya atau keempat orang bibinya!
Akan tetapi bagi Lin Lin sendiri setelah pertempuran berlangsung seratus jurus lebih, tahulah gadis ilni bahwa betapapun juga, pemuda yang dilawannya ini luar biasa lihainya. Ia tahu bahwa Kun Hong banyak mengalah dan pertempuran itu dilakukan Kun Hong hanya untuk menguji kepandaiannya.
502
Terasa olehnya betapa sering kali pemuda itu mengurangi lagi desakannya pada saat sudah dapat menindihnya dan ia tahu bahwa kalau pemuda itu menghendaki, ia sudah dapat dirobohkan.
"Nona, kau seorang ahli Kun-lun-pai, kenapa tidak mau melepaskan aku? Ayah angkatku Seng-goat-pian Kam Ceng Swi juga seorang tokoh Kun-Iun, bahkan Liong Tosu pernah menolong nyawaku. Apakah kau sebaliknya kepingin sekali menjadi pencabut nyawaku?" Setelah mengeluarkan kata-kata ini, Kun Hong melompat mundur dan melemparkan pedang kepada Kui-bo Thai-houw sambil berkata.
"Thai-houw, aku tidak bisa menangkan nona ini dan terpaksa aku tidak bisa lama-lama tinggal di Ban-mo-to. Selamat tinggal........ atau sampai berjumpa di Pek-go-to kelak!" Kun Hong melempar senyum mengejek lalu melarikan diri ke pantai. Lin Lin berdiri dengan napas agak memburu. Ia tadi telah mengerahkan seluruh tenaga dan kepandaian untuk menghadapi pemuda itu.
"Dia lihai........." katanya perlahan sambil menatap wajah Kui-bo Thai-houw dengan tajam. Dari empat bibinya ia sudah mendengar bahwa pemuda itu pernah menjadi anak angkat Thai-houw, malah menjadi kekasihnya. Mengapa Thai-houw yang tentu sudah maklum akan kelihaian pemuda itu tadi seperti sengaja hendak mengadukan pemuda itu padanya? ’Hemm, agaknya wanita ini hendak melihat sampai di mana kepandaianku’, pikir Lin Lin. Makin benci dan tak suka ia kepada Kui-bo Thai-houw.
''Lan Lan, mari kita pergi," katanya singkat lupa mengajak ayahnya. Memang, biarpun sudah percaya bahwa Ek Kok adalah ayah kandungnya, akan tetapi di dalam hatinya Lin Lin tidak mempunyai rasa suka kepada ayahnya ini. Kalau di dekat ayahnya ini tidak ada Lan Lan, kiranya ia akan meninggalkan Ek Kok.
Lan Lan dan Phang Ek Kok cepat-cepat mengikuti Lin Lin yang berjalan cepat sekali ke pantai. Lan Lan tidak mengerti mengapa adiknya berlari begini cepat seperti orang marah. Ia mengejar dan Ek Kok juga "menggelundung" ke depan sambil berteriak teriak, "Lin-ji..........anakku......... tunggu.........!"
Mereka mendapatkan Lin Lin sudah berdiri di tepi pantai, termenung dengan wajah pucat. Lan Lan segera merangkulnya. "Adikku, kau kenapa?"
Beberapa lama Lin Lin tidak menjawab. Lan Lan mencium pipi adiknya penuh kasih sayang. Adikku manis, kau marah. Kenapakah? Katakan kepadaku agar hatiku tidak gelisah."
Melihat sikap saudaranya ini, luluh hati Lin Lin. "Aku......... aku benci kepada Kui-bo Thai-houw, aku benci kepada......... empat orang bibi dan aku amat benci kepada Ban-mo-to!"
Lan Lan mengerling kepada ayahnya, lalu mengangguk-angguk, "Akupun tidak suka ke pada mereka, Lin Lin." Mendengar kata-kata ini, Lin Lin kelihatan senang sekali dan merangkul cicinya.
Ek Kok mengeluarkan suara ketawa aneh. "Heh-heh-heh. anak-anakku yang lucu, anak-anakku yang aneh. Kalian tidak suka kepada Kui-bo Thai-houw? Betul sekali! Apa kalian kira akupun suka kepada........." Ia celingukan ke sana ke mari seperti orang ketakutan, kemudian melanjutkan "......... kepada siluman itu? Tidak, akupun benci kepadanya! Akan tetapi empat orang bibimu itu.........ah, kasihan mereka. Adik-adikku yang bernasib malang.........!"
503
"Bibi membantu Kui-bo Thai-houw. Inilah yang membikin aku tidak suka kepada mereka." kata Lan Lan.
"Juga sikap bibi menjemukan!" kata Lin Lin terus terang. "Ayah, terus terang saja, aku tidak senang dengan tugas yang telah ayah terima dan sanggupi dari Kui-bo Thai-houw!"
Ek Kok menarik napas panjang dan baru kali ini Lan Lan melihat ayahnya bersedih. Lan Lan semenjak kecil sudah selalu dekat dengan ayahnya, tidak seperti Lin Lin, maka ada perasaan kasih sayang dan bakti dalam hati gadis ini terhadap Phang Ek Kok. Melihat ayahnya berduka, ia segera memegang lengan ayahnya. "Adik Lin. betapapun juga, empat orang bibi itu adalah adik-adik ayah sendiri." tegurnya kepada Lin Lin untuk membela ayahnya.
"Anak-anakku yang baik. bocah-bocah yang manis. Mari......... mari kita duduk dan kalian dengarkan ceritaku. Jangan kalian kira akupun suka melihat bibi-bibimu menjadi pelayan dan kaki tangan Kui-bo Thai-houw. Dengarlah."
Lin Lin dan Lan Lan tertarik. Lebih-lebih Lin Lin yang selalu merasa tidak puas ketika mendapat kenyataan bahwa ayahnya adalah Phang Ek Kok. Ia merasa amat rindu kepada ibunya yang katanya sudah meninggal dunia semenjak dia dan Lan Lan lahir.
"Kami berlima, aku dan empat orang bibimu, dahulu hidup bahagia di Pegunungan Hek-li-san, menjadi tuan dari daerah sendiri, disegani dan di-hormat oleh semua penduduk, hidup tidak kekurangan. Pada suatu hari muncullah Thai-houw dan melihat empat orang adikku, dia tertarik dan memaksa mereka menjadi pelayan-pelayannya. Adik-adikku itu adalah anak-anak yang baik dan jujur sekali. Mereka memandang rendah kepada Thai-houw, demikianpun aku. Kami berjanji bahwa jika Thai-houw mampu mengalahkan kami berlima, empat orang adikku dan aku akan menurut segala perintahnya. Siapa kira........." Sampai di sini Ek Kok menarik napas panjang lagi. "siapa tahu wanita itu lihai bukan main. Jangankan baru aku dan empat orang bibimu, biar ditambah lima orang lagi belum tentu bisa menangkan dia! Kami dikalahkan dan demikianlah, empat orang bibimu itu ia bawa, menjadi pelayan-pelayan terkasih sampai sekarang. Aku hanya bisa menengok saja setiap satu dua tahun sekali. Semenjak itu hidupku menjadi sunyi tiada kawan”.
"Ayah mengapa bicara begitu aneh? Bukankah ada enci Lan Lan dan ibu kami selama itu sebelum ibu meninggal?" tiba-tiba Lin Lin bertanya sambil memandang tajam.
Ek Kok kelihatan terkejut dan gugup. "Betul katamu, akan tetapi hanya untuk beberapa lama saja. Ibu kalian meninggal dunia, meninggalkan kalian yang masih kecil-kecil dan......... kemudian Lin Lin ada yang menculik. Ah, memang aku Phang Ek Kok selalu dirundung malang”
"Ayah, kau selalu menolak untuk memberitahukan nama ibu. Sekarang ada adik Lin Lin. ayah beritahulah nama ibu dan bagaimana riwayat pertemuan antara ibu dan ayah. Ibu orang mana dan siapakah keluarga ibu?" tanya Lan Lan. Dahulu ia tidak berani bertanya begini karena selalu mendapat marah, akan tetapi dengan adanya Lin Lin di sebelahnya, ia berani juga.
Ek Kok mengerutkan kening, akan tetapi Lin Lin cepat menyambung permintaan encinya sebelum ayahnya menolak. "Bagaimana ayah bisa menolak pertanyaan yang sudah semestinya ini? Akupun ingin sekali mendengar. Coba ayah ceritakan."
504
Di dalam suara Lin Lin terkandung pengaruh yang tak dapat ditolak lagi, maka setelah menelan ludah beberapa kali, Ek Kok berkata, "Ibumu adalah seorang wanita kang-ouw yang yatim piatu hidup seorang diri tiada sanak tiada kadang, juga tiada tempat tinggal. Namanya Souw Bwee, bertemu dengan aku ketika ia dirampok di sebuah hutan dan aku membantunya mengusir para perampok. Kami berkenalan lalu menikah. Begitulah........."
Lan Lan dan Lin Lin diam saja, agaknya terharu, sungguhpun di dalam dada Lin Lin timbul ketidakpuasan mendengar riwayat yang dianggapnya kering tidak menarik itu. "Souw Bwee........." ulangnya perlahan menyebut nama ibunya, penuh keraguan.
"Sepeninggal ibu kalian." Ek Kok melanjutkan, "aku menjadi makin kesunyian. Hanya empat orang adikku yang masih ada, akan tetapi mereka menjadi pelayan pelayan Thai-houw. Celakanya, mereka sudah kerasan tinggal di Ban-mo-to, sudah senang menjadi pelayan-pelayan Thai-houw. Karena itulah, biarpun dalam hatiku aku tak senang kepada Thai-houw, mengingat keadaan adik-adikku, terpaksa aku harus memenuhi semua kehendak dan perintah Thai-houw."
Lin Lin mengerutkan alisnya yang hitam. "Tugas yang sekarang harus kita lakukan ini, ayah, sebenarnya amat berat bagiku untuk membantu. Biarpun aku belum pernah bertemu dengan Tung-hai Sian-li, akan tetapi aku pernah mendengar tentang dia."
"Betul, ayah. Kwa Cun Ek lo-enghiong dengan singkat pernah bercerita kepada aku dan adik Lin tentang isterinya yang bernama Tung-hai Sian-li. Isterinya itu marah-marah kepadanya dan meninggalkannya ketika anaknya masih kecil, membuat hidup lo enghiong itu selalu merana," kata Lan Lan.
"Benar, ayah. Perasaanku terhadap orang tua itu adalah seperti terhadap ayahku sendiri, karenanya, bagaimana aku bisa membantu tugasmu untuk membunuh Tung-hai Sian-li yang menjadi isterinya?" kata pula Lin Lin.
Phang Ek Kok menarik napas panjang. "Kau keliru, Lin Lin. Justeru karena perasaanmu yang demikian berbakti terhadap Kwa Cun Ek seharusnya malah menjadi pendorong padamu untuk memusuhi Tung-hai Sian-li. Wanita itu kejam dan wataknya jahat. Dia meninggalkan anaknya yang masih kecil, meninggalkan suaminya sampai Kwa Cun Ek menjadi seperti orang gila. Memang itu semua bukan urusanku, akan tetapi kalau aku teringat betapa dia pernah menghina empat orang adik-adikku, aku tidak keberatan melakukan tugas ini. Tentu saja aku mengharapkan bantuanmu, Lin Lin, karena Tung-hai Sian-Ii bukanlah orang lemah."
"Penghinaan apakah yang dilakukan oleh Tung-hai Sian-li kepada bibi?" tanya Lin Lin. Juga Lan Lan ingin sekali tahu karena belum pernah ayahnya menceritakan hal ini kepadanya.
"Perempuan tak tahu malu itu telah menghalangi perkawinan empat orang bibimu dan merampas pengantin laki-laki." kata Ek Kok.
"Empat orang laki-laki diculiknya?" Lin Lin bertanya kaget, sama sekali tidak menyangka bahwa Kwa Cun Ek yang ia anggap sebagai ayahnya itu mempunyai isteri demikian jahat dan tak tahu malu.
505
Ek Kok hanya mengangguk-angguk. Terpaksa aku harus membohonginya, pikirnya. Ia tidak ingin anaknya ini mengetahui hal sebenarnya. Dia sendiri tidak menyetujui perbuatan empat orang adiknya, apa lagi Lin Lin dan Lan Lan. Sebetulnya, memang Tung-hai Sian-li telah menggagalkan pernikahan empat orang adiknya, akan tetapi sama sekali bukan, karena Tung-hai Sian-li hendak merampas pengantin-pengantin laki-laki itu, melainkan untuk membebaskan mereka karena mereka itu dipaksa oleh empat orang adik kembarnya. Empat orang pemuda ganteng itu dipaksa supaya menjadi suami mereka. Tung-hai Sian-li mengetahui hal ini lalu turun tangan membebaskan mereka.
"Karena itulah, maka aku menerima tugas dari Thai-houw. Thai-houw amat mencinta empat orang bibimu, maka Thai-houw yang memerintah kita untuk membalaskan dendam dan membunuh Tung-hai Sian-li. Suhengmu Kui Sek orangnya kasar, berani menyatakan keberatan sehingga aku terpaksa menyuruhnya pulang agar tidak menimbulkan onar. Menurut Thai-houw. Tung-hai Sian-li berada di Lembah Yang ce sebelah timur, kita mencari ke sana. Lin Lin, aku mengandalkan bantuanmu untuk menangkan wanita ganas yang lihai itu."
Lin Lin menundukkan mukanya, penuh keraguan. Kalau memang Tung-hai Sian-li demikian jahat tak tahu malu, biarpun dia isteri Kwa Cun Ek. terpaksa dia harus menentangnya.
Maka berangkatlah tiga orang ini menuju ke Yang ce-kiang. Diam-diam Ek Kok khawatir sekali. Orang ini mempunya tabiat aneh, tidak perdulian dan tidak mau pusingkan apakah perbuatan-perbuatannya benar atau salah. Hanya satu hal yang bagi dia penting, yaitu kasih sayangnya kepada empat orang adik kembarnya. Demi keselamatan dan kesenangan empat orang adiknya, ia mau melakukan apa saja, mau berkorban apa saja. Ek Kok maklum bahwa tugas mencari dan membunuh Tung hai Sian-li yang diberikan oleh Kui-bo Thai-houw itu sama sekali bukan hanya karena empat orang adiknya menaruh dendam kepada Tung-hai Sian-li, melainkan terutama sekali karena hal lain yang menyangkut diri Kui-bo Thai-houw sendiri.
Dia sendiri tidak begitu jelas mengapa Kui-bo Thai-houw kelihatan amal membenci Tung-hai Sian-li. Empat orang adik kembarnya juga tidak tahu jelas, hanya menduga bahwa di antara Kui-bo Thai-houw dan Tung-hai Sian-li agaknya pernah terjadi persaingan dalam menghadapi seorang pria! Ek Kok tunduk akan perintah Kui-bo Thai-houw dan mengajak dua orang puterinya untuk mencari dan membunuh Tung-hai Sian li hanya karena ingin menjaga keselamatan empat orang adiknya yang berada di tangan ratu Pulau Ban-mo-to itu.
Kita tinggalkan dulu Phang Ek Kok dan dua orang puteri kembarnya untuk menengok ke lembah Sungai Yang-ce-kiang, tempat di mana Tung-hai Sian li berada ketika dahulu ia bertemu dengan Wi Liong dan Lam-san Sian ong, tempat peristirahatan wanita itu yang merasa berduka karena hilangnya puterinya, Kwa Siok Lan.
Orang akan merasa kaget melihat Tung-hai Sian-li akhir-akhir ini. Mukanya yang biasanya nampak berseri segar, sekarang menjadi layu dan selalu muram dibayangi kesedihan hebat. Sering kali terdengar ia batuk-batuk dan muntahkan darah. Tung hai Sian-li, wanita perkasa yang di waktu mudanya membikin geger dunia persilatan karena sepak terjangnya yang gagah, kini karena kedukaan dan tekanan batin yang menderita, mulai digeragoti penyakit jantung.
506
Makin lama ia menjadi makin lemah dan setiap hari ia hanya duduk di dalam gua di pinggir sungai, setengah bersamadhi atau duduk merenung menatap permukaan air Sungai Yangce-kiang seperti orang kehilangan ingatan.
Pada suatu pagi seorang pemuda berjalan cepat sekali menuju ke tempat itu, pandang matanya mencari-cari dan akhirnya ia dapat menemukan Tung-hai Sianli yang bersila di dalam gua. Untuk sejenak pemuda ini nampak tercengang, kemudian wajahnya membayangkan keharuan besar dan serta-merta ia menjatuhkan diri berlutut di depan Tung-hai Sianli.
"Sian-li yang mulia, teecu Thio Wi Liong datang menghadap." kata pemuda itu yang bukan lain adalah Wi Liong. Pemuda ini setelah mengalami pahit getir dalam mencari kekasihnya, Siok Lan, akhirnya teringat kembali kepada Tung-hai Sianli dan datang untuk mengabarkan tentang kematian Siok Lan. Akan tetapi, alangkah kagetnya ketika ia melihat keadaan Tung-hai Sianli. Sekali pandang saja tahulah Wi Liong bahwa wanita ini menderita hebat sekali, mukanya yang pucat kehijauan membayangkan luka dalam dada yang berbahaya.
Mendengar suara Wi Liong, Tung-hai Sian-li membuka kedua matanya, untuk sedetik mata itu bercahaya penuh harapan ketika mulutnya mengajukan pertanyaan lemah.
"Wi Liong, apa kau sudah menemukan Lan ji?"
Wi Liong merasa seperti tertikam ulu hatinya mendengar pertanyaan ini. Wajahnya pucat dan dengan lemah ia berkata, "Siok Lan sudah....... sudah meninggal dunia........."
Tung-hai Sian-li adalah seorang wanita kuat lahir batin. Akan tetapi pada saat itu ia sedang menderita sakit dan berita ini benar-benar mendatangkan pukulan yang tak dapat ia tahan lagi. Ia menggigit bibir meramkan mata, terengah-engah. "Sudah kuduga...... sudah kuduga...... anak keras hati....... kau....... kau......."
Ia mengangkat tangan hendak memukul Wi Liong yang masih berlutut tanpa bergerak, sama sekali tidak mempunyai niat menghindarkan pukulan ini. Akan tetapi sebelum menjatuhkan pukulan, tubuh Tung-hai Sian li yang duduk bersila itu roboh terguling, pingsan!
Ketika wanita itu siuman kembali, ia mendapatkan dirinya dirawat dengan amat telaten dan perhatian oleh Wi Liong. Ia menjadi terharu. Betapapun juga, ia harus akui bahwa pilihan hati anaknya ini memang seorang pemuda yang baik. hati. Kalau tidak, masa sudi merawatnya?
"Wi Liong, berapa lama aku pingsan?'' tanyanya, suaranya sekarang terdengar halus, tidak, terengah lagi seakan-akan semua penderitaan sudah lenyap dari dada wanita ini.
''Kau pingsan sampai dua hari dua malam. Sian-li.” jawab Wi Liong tenang. "Harap kau suka beristirahat yang tenang, biar teecu menjagamu di sini."
Tung-hai Sian-li menarik napas panjang, "Dan selama itu kau menjaga dan merawatku? Aah, ternyata Siok Lan benar. Kau seorang yang patut menjadi mantuku.......... sayang sekali Siok Lan berusia pendek. Coba ceritakan, bagaimana kau bisa tahu dia telah mati?''
507
Dengan singkat dan hati-hati Wi Liong menceritakan pengalamannya, tentang pertemuannya dengan Siok Lan, kemudian tentang berita yang ia dengar dari See thian Hoat-ong tentang kematian Siok Lan yang membunuh diri di sungai sepeninggalnya dari tempat bekas tunangannya itu.
"Aku seorang berdosa besar, Sian-li. berdosa kepada adik Lan. Maka kalau kau hendak membunuhku, aku menerimanya dengan hati terbuka." Pemuda Itu menutup ceritanya.
Tung-hai Sian-li menggeleng kepala. "Kau anak baik, kau temanilah aku sampai datang maut merenggut nyawaku. Takkan lama lagi, Wi Liong”
"Jangan kau berkata begitu, Sianli," jawab pemuda itu penuh keharuan, akan tetapi ia tidak bisa membantah karena ia sendiripun tahu bahwa wanita ini memang sudah tak dapat diharapkan hidup lebih lama lagi.
Tung-hai Sian-li bangkit dan duduk bersila, memberi isyarat supaya Wi Liong mendekat, kemudian ia meletakkan tangan kanannya di atas kepala pemuda itu. "Aku menyesal.........aku menyesal kalau teringat akan hidupku yang lalu. Kau anak baik. aku ingin sekali melihat anakku menjadi kawan hidupmu, melihat anakku hidup bahagia di samping suami baik seperti kau......"
Wi Liong makin terharu, menyangka bahwa tentu saking sedihnya wanita ini menjadi rusak ingatannya, ia memperingatkan, "Sian-li, harap ingat. Adik Sok Lan sudah meninggal dunia sudah bebas dari derita dunia........."
Tung-hai Siant-li tersenyum! Kemudian menarik napas. "Jangan anggap aku berubah ingatan, anakku. Sebetulnya, aku......... aku masih mempunyai anak lain....... dan......."
Tiba-tiba ia menghentikan kata-katanya dan memandang keluar gua. Juga Wi Liong tahu bahwa di luar ada orang-orang datang, maka ia bersiap sedia. Terdengar suara ketawa aneh di luar gua.
"Hah-hah kak-kak-kak......... kalian lihat! Wanita tak tahu malu itu benar- benar menjemukan. Sudah tua bangka masih saja berteman seorang laki-laki muda di dalam guanya! Sungguh tak tahu malu. Lin ji, apa kau masih ragu-ragu?''
Dijawab oleh suara wanita yang dingin dan nyaring, "Ah, benar-benar keparat! Ayah. biar kulenyapkan nyawanya dari sini saja, bersama anjing jantan itu!" Pada saat itu, menyambarlah enam buah Kim thouw-ting (Paku Kepala Emas) ke arah Tung-hai Sianli dan Wi Liong.
Senjata-senjata rahasia ini menyambar dengan hebat, cepat bertenaga dan yang diserang adalah jalan-jalan darah maut yang penting!
"Keji.........!" Wi Liong berseru, tangannya bergerak dan sekali sampok saja angin pukulannya telah meruntuhkan enam buah paku itu. "Setan-setan kejam dari manakah datang-datang menyerang orang?” Tubuhnya berkelebat keluar gua.
Ketika Phang Ek Kok yang datang bersama Lin Lin dan Lan Lan melihat bahwa pemuda ini adalah pemuda yang pernah ribut dengan dia dan Lan Lan di rumah makan tempo hari. tanpa banyak bicara lagi ia lalu menggerakkan senjatanya menyerang dengan hebat.
508
Wi Liong belum sempat memperhatikan tiga orang itu, apa lagi dua orang gadis kembar. Tahu-tahu ia telah disambar oleh senjata yang aneh, yaitu roda golok yang dahsyat. Tentu saja ia tidak membiarkan dirinya kena digergaji oleh senjata ini. Cepat ia mengelak dan mencabut sulingnya karena maklum bahwa penyerangan yang demikian hebat hanya dapat dilakukan oleh lawan tangguh.
Ek Kok menyerang lagi dengan penasaran, akan tetapi gerakan Wi Liong terlampau aneh baginya. Dalam beberapa gebrakan saja, ujung suling pemuda itu telah menotok jalan darah thian-hu hiat. Ek Kok adalah seorang ahli lweekang. ia mencoba sekuat tenaga melawan totokan ini. Namun sia-sia, biarpun ia tidak segera roboh, ia merasakan tubuhnya lemas semua dan makin ia menahan, makin lemas dan mengantuklah matanya. Dengan terhuyung-huyung ia menghampiri sebuah pohon, lalu menjatuhkan diri bersandar di batang pohon dan......... mengorok pulas dengan janggut di dada dan senjatanya masih di tangan!
"Keparat, berani merobohkan ayah! '' Inilah teriakan Lin Lin yang sudah mencabut pedang dan melakukan tusukan kilat.
Hampir saja tusukan ini menembus dada Wi Liong karena pemuda ini berlaku lambat sekali saking herannya melihat, Lin Lin. Baiknya ia masih keburu miringkan tubuh dan pedang itu hanya merobek bajunya saja.
"Kau.........kau.........Bu-beng Siocia..........?” tanya Wi Liong dan kini baru ia teringat bahwa kakek bersenjata roda golok itu adalah kakek yang tempo hari ia lihat di dalam restoran bersama Bu beng Siocia dan seorang pemuda tinggi besar.
Tiba-tiba terdengar tertawa mengejek. "Adik Lin, pemuda ceriwis tak tahu malu ini habiskan saja!"
Wi Liong melirik dan tiba-tiba wajahnya menjadi pucat. Ia melompat mundur, agak limbung dan menggunakan tangan kiri untuk menggosok-gosok kedua matanya agar sadar dari mimpi. Ia merasa sepert orang mengimpi menghadapi dua orang gadis yang seujung rambutpun tiada bedanya dengan Siok Lan! Celaka, pikirnya, bukan Tung-hai Sian li yang berubah pilkiran, melainkan aku yang sudah gila. Setiap orang gadis kelihatan seperti Siok Lan oleh mataku!
"Nanti......... nanti dulu.....Bu-beng Siocia,.aku......... aku........." katanya gagap.
Akan tetapi Wi Liong tidak dapat melanjutkan kata-katanya karena dua orang gadis yang sudah marah melihat ayah mereka dirobohkan itu, sudah menyerangnya dengan pedang di tangan. Serangan yang dilakukan oleh Lan Lan sih tidak begitu hebat, akan tetapi yang dilakukan oleh Lin Lin benar-benar luar biasa dahsyatnya, membuat Wi Liong kaget dan cepat-cepat pemuda ini menggunakan sulingnya untuk melindungi diri.
"Ji-wi siocia.........nanti dulu.........kenapa ji-wi (kalian) menyerangku........?" Wi liong bertanya gagap. Ia masih pening melihat dua orang "Siok Lan" mengeroyoknya.
Akan tetapi Lan Lan dan Lin Lin tidak mau banyak bicara lagi. terus menyerang dengan penasaran sekali. Lebih lebih Lin Lin. Untuk pertama kalinya selama ia hidup ia menghadapi lawan pandai, yaitu Kun Hong ketika bertanding dengan pemuda itu di Ban-mo-to. Ia mengira bahwa Kun Hong sebagai murid Thai Khek Sian merupakan kekecualian maka ia tidak begitu penasaran tak dapat
509
mengalahkannya. Akan tetapi kenapa sekarang muncul lagi seorang pemuda lain, pemuda yang tampan dan kelihatan lemah, akan tetapi yang hanya dengan suling di tangan dapat menahan serangannya? Benar-benar ia merasa penasaran bukan main. Dengan gemas Lin Lin terus menyerang, pedangnya berubah menjadi sinar terang yang menyambar-nyambar, tubuhnya bergerak cepat sekali, kadang- kadang seperti burung terbang saja. Demikian sempurna ginkangnya sehingga beberapa kali Wi Liong mengeluarkan seruan kagum. Sekarang ia dapat membedakan dua orang gadis kembar ini, bukan dari wajah atau bentuk tubuh yang sedikitpun tiada bedanya, melainkan dari kepandaiannya. Kepandaian dua orang gadis ini seperti bumi-langit bedanya. Dan ia tahu pula bahwa Bubeng Siocia, gadis yang ia temui dalam restoran itu, adalah gadis yang kini mengeroyoknya dan yang kepandaiannya masih rendah. Sebaliknya yang amat pandai adalah Siok Lan ke tiga, atau Bu-beng Siocia (Nona Tak Bernama) yang baru muncul.
Tiba-tiba dari balik batu karang muncul seorang pemuda tampan. Untuk sejenak pemuda ini berdiri tercengang melihat Wi Liong dikeroyok oleh dua orang gadis kembar itu, kemudian ia berlari menghampiri sambil berseru,
"Ji-wi siocia (nona berdua), tahan senjata! Kalian salah menyerang orang. Dia ini adalah kawan baikku!" Cepat sekali gerakan pemuda ini karena tahu-tahu ia telah melompat dekat dan melerai yang sedang bertempur.
Lin Lin yang melompat mundur melihat bahwa yang datang adalah Kun Hong. Ia merengut dan makin marah biarpun hatinya agak berdebar juga karena kalau pemuda ini datang membantu lawan, tak mungkin dia akan menang.
Wi Liong tersenyum ketika melihat bahwa yang datang ini adalah Kun Hong. Akan tetapi ia tidak perdulikan Kun Hong. malah sekarang menghadapi Lin Lin dan Lan Lan, menjura sambil berkata halus. "Ji-wi siocia harap tidak terburu nafsu. Apakah sebabnya jiwi menyerang Tung-hai Sianli yang sedang sakit payah? Aku juga tidak mengenal dan tidak ada urusan dengan ji-wi. mengapa datang- datang ji-wi menyerangku"
"Manusia tak bermalu! Kau masih bertanya lagi? Urusanmu dengan Tung-hai Sianli, mana kami sudi mencampuri? Akan tetapi kalau kau belum tahu atau berpura-pura tidak tahu, dengarlah. Dahulu Tung hai Sian-li telah melakukan penghinaan terhadap empat orang bibi kami. tidak saja menghalangi bibi kami melangsungkan pernikahan, malah menculik empat orang pengantin prianya!" Lin Lin membentak. "Kami datang hendak membalas dendam dan membunuh Tung-hai Sian-li, tidak nyana ada kau begundalnya!"
Mendengar ini, Kun Hong tertawa bergelak dengan nada mengejek. "Ngaco tidak karuan! Tidak aneh kalau orang sudah terkena racun Ban mo-to," katanya
Wi Liong mendongkol dan penasaran sekali. Bagaimanapun juga ibu Siok Lan tak boleh menerima hinaan begitu saja, apa lagi sepanjang pengertiannya, Tung hai Sian-li bukanlah macam wanita yang boleh disamakan dengan Kui-bo Thai-houw. Tung-hai Sian-li adalah seorang wanita gagah perkasa, seorang tokoh kang-ouw yang disegani, bukan seperti misalnya Tok sim Sian-li. Akan tetapi sebelum ia sempat membantah, tiba-tiba terdengar suara lemah,
510
"Siapa yang menuduhku begitu keji?" dan dengan langkah sukar dan lemah sekali Tung-hai Sian-li sudah keluar dari gua dan dengan susah payah menghampiri mereka. Agaknya ia tadi mendengar tuduhan-tuduhan yang memburukkan namanya. Ketika tiba dekat dan melihat dua orang gadis itu yang juga memandang kepadanya dengan bengong, tiba-tiba sikap Tung-hai Sian-Ii berubah seakan-akan ia melihat setan. Tubuhnya menggigil dan tangannya digerakkan, menuding ke arah Lan Lan dan Lin Lin, lalu terdengar suaranya gemetar, "Kau......... kau......... anakku............ ah, kau anakku........." Dan tubuhnya tentu telah terguling kalau saja Kun Hong tidak cepat-cepat melompat dan dengan sigapnya memeluk tubuh wanita tua yang sakit itu lalu memondongnya. Wi Liong yang masih bingung menghadapi Lan Lan dan Lin Lin, kalah cepat oleh Kun Hong.
"Dia......... dia sakit keras......... harus segera dirawat. Kun Hong, bawa dia ke dalam gua,” kata Wi Liong yang mengikuti Kun Hong memasuki gua, tanpa memperdulikan lagi kepada Lan Lan dan Lin Lin yang masih berdiri bengong. Entah mengapa, melihat Tung-hai Sianli, bertemu pandang dengan wanita tua itu. mendatangkan arus ajaib yang membuat jantung mereka berdebar tidak karuan, membuat kedua kaki mereka serasa lumpuh tak dapat digerakkan lagi. Wanita tua itu cantik sekali dalam pandangan mereka, apalagi bagi Lin Lin yang tahu bahwa wanita ini adalah isteri Kwa Cun Ek. orang yang ia kasihi sebagai ayahnya sendiri. Tanpa terasa keduanya saling pandang dan seakan-akan lupa akan keadaan Ek Kok yang masih "tidur" bersandar di pohon, mereka juga ikut berjalan ke dalam gua.
Pada saat itu. Tungi-hai Sian-li sudah siuman kembali. Aneh, ia nampak lebih sehat dan segar. Cepat-cepat ia bangkit dan bertanya. "Mana mereka? Mana dua orang gadis tadi?" Kebetulan sekali Lan Lan dan Lin Lin memasuki gua.
"Itu mereka! Anak-anakku, ke sinilah............ kalian adalah anak-anakku, tak salah lagi. Begitu sama dengan Siok Lan. Dahulu ketika masih bayipun sudah serupa Ah.......... anak anakku, siapa sangka bisa melihat kalian lagi?"
"Kau keliru," kata Lin Lin akan tetapi suaranya tidak seganas tadi, malah terdengar lemah agak gemetar, "kami berdua anak ayah Phang Ek Kok."
Tung-hai Sian-li bangkit, nampak marah. Mukanya yang pucat kebiruan tiba-tiba menjadi merah.
"Siapa dia Phang Ek Kok? Bohong besar! Kalian bocah kembar anakku! Tuhan menjadi saksi!"
"Apa buktinya?” tanya Lan Lan, juga gadis ini agak gemetar dan pucat.
"Buktinya? Aduh, anak-anakku, bagaimana seorang ibu takkan mengenal anak-anaknya walaupun orang jahat memisahkan kita belasan tahun lamanya? Dengar, dengar ceritaku, dengar pengakuanku, pengakuan dosa di tepi jurang kematianku yang selama ini kurahasiakan, sekalipun di depan bayanganku sendiri!" Tung-hai Sian li hampir jatuh terhuyung dan kembali Kun Hong yang merasa kasihan memegang lengannya dan membantunya duduk di atas pembaringan bambu Tung-hai Sian li melirik kepadanya dan mengangguk- angguk berterima kasih. "Kalian dua orang muda juga boleh mendengar sebagai saksi. Apa artinya malu bagiku, bagi seorang yang sudah mau mampus? Dengarlah, dahulu karena menurutkan nafsu hati yang bodoh, menurutkan watak yang keras mau menang sendiri, karena cemburu aku tinggalkan suamiku, Kwa Cun Ek dan anakku Kwa Siok Lan ketika anak itu masih kecil. Aku merantau, menjago kalangan kang-ouw dan membuat nama besar, tak pernah kembali kepada Kwa Cun Ek. Kemudian aku bertemu dengan seorang pendekar muda
511
bernama Pek Hui Houw, anak murid Kun-lun-pai yang amat gagah perkasa dan tampan. Aku......... hatiku tergoda.......... dan dia......... dia mencintaku penuh ketulusan hati. Aku tak dapat menahan godaan hati sendiri, apa lagi bersama dia aku dikejar-kejar oleh Kuibo Thaihouw. Kami berdua tidak kuat melawan dan karena kejaran yang menakutkan ini membuat kami makin dekat........."
Tung hai Sian-li makin terengah-engah, tak dapat melanjutkan ceritanya. Wi Liong sudah mengambilkan air dan memberinya minum. Setelah minum tiga teguk air, wanita itu dapat melanjutkan ceritanya, tidak tahu betapa mendengar nama Pek Hui Huow tadi, Lin Lin makin pucat mukanya.
"Suatu saat yang celaka bagiku, iblis menggoda kami dan setelah aku insyaf setelah terlambat, aku melarikan, diri dari Pek Hui Houw, merasa menyesal bukan main bahwa sebagai seorang isteri dan seorang ibu aku telah tersesat dan menyeleweng. Pek Hui Houw patah hatinya kutinggalkan karena aku tahu betul bahwa ia mencinta kepadaku dengan sepenuh jiwa. Betapapun besar penyesalanku, Thian tidak membebaskan orang hanya karena penyesalan. Thian menghukumku dan terlahirlah kalian anak-anakku yang kembar........."
Kembali Tung-hai Sianli terengah-engah, kini air matanya mengucur membasahi pipinya ketika ia memandang dua orang gadis yang duduk diam seperti patung itu.
"Kalian kuberi nama Kiok Cu dan Kiok Hwa dan kupelihara dengan cara bersembunyi karena aku takut kalau-kalau rahasia yang besar ini sampai terdengar lain orang. Ketika kalian baru berusia dua tahun, datanglah malapetaka itu. Kalian diculik orang.........! Dan aku hidup makin sengsara lagi. Hendak kembali kepada suami dan anakku, aku malu karena merasa diri berdosa. Aku hidup menyendiri, sunyi dan menjadi makanan duka nestapa............" Tak tertahan lagi Tung-hai Sian-li, wanita yang gagah Itu menangis terisak-isak
Wi Liong dan Kun Hong saling pandang. Hebat cerita itu. Hebat karena merupakan pengakuan dosa. yang belum pernah dibuka sebelum nya. Lan Lan dan Lin Lin saling peluk, mata mereka sudah merah akan tetapi mereka masih ragu-ragu.
"Anak-anakku....... akulah ibumu........." Tung-hai Sian-li mengembangkan lengan hendak memeluk, penuh kerinduan dan sikapnya memelas sekali.
Lan Lan dan Lin Lin bersangsi. "Aku tidak mengerti.........." kata Lin Lin"Kami anak-anak Phang Ek Kok, ibu kami sudah mati."
"Kalian anak-anakku! Yang lain itu palsu belaka!" Tung-hai Sian-li membentak, kekerasannya yang dahulu timbul. "Kubunuh semua yang mengaku- aku."
"Apa buktinya............? Bagaimana kami bisa tahu.........?" kata pula Lin Lin.
"Buka sepatu kalian! Ya, aku ingat betul, sering kali kalian kutimang-timang dan aku sendiri kadang-kadang bingung yang mana Kiok Cu dan yang mana pula Kiok Hwa. Kiok Cu, anak yang lahir lebih dulu, mempunyai tahi lalat merah di telapak kaki kanan sedangkan Kiok Hwa, anak ke dua mempunyai tahi lalat merah di telapak kaki kiri. Nah, itulah ciri-cirinya sehingga aku bisa membedakan anak kembarku. Buka sepatumu dan lihatlah!"
512
Dengan tangan gemetar dua orang gadis itu membuka sepatu mereka. Saking tegang perasaan mereka sampai-sampai mereka lupa bahwa di situ hadir dua orang pemuda! Wi Liong melihat, dua orang gadis itu membuka sepatu dan kaos kaki, cepat-cepat membuang muka mengalihkan, pandang mata dengan muka menjadi merah. Sebaliknya, Kun Hong tersenyum-senyum memandang sampai Wi Liong menyikutnya baru ia kaget dan buru-buru membalikkan mukanya! Dua orang pemuda ini tidak melihat apakah benar di telapak kaki kanan Lan Lan dan di telapak kaki Lin Lin ada andeng-andeng merahnya. Akan tetapi segera mereka mengetahuinya karena terdengar jerit tertahan dan dua orang gadis itu cepat memakai kembali sepatu mereka dan berlari-lari keluar. Tak lama kemudian mereka sudah masuk lagi. kini menyeret tubuh Phang Ek Kok. Ternyata Lin Lin sudah membebaskan totokan pada tubuh Ek Kok karena orang gemuk ini berteriak- teriak.
"Eh. eh.........bagaimana ini? Lan ji, Lin-ji, apa-apaan kalian menyeretku ini.........?”
Dua orang gadis itu melepaskan tubuh Ek Kok di depan Tung-hai Sian-li dan Lin Lin mengancam dengan ujung pedang di depan dada Ek Kok sambil membentak.
"Hayo mengaku sebenarnya! Bagaimana aku dan enci Lan bisa terpisah dan kemudian kau katakan bahwa kami berdua anakmu? Awas. kami sudah mengetahui sebagian dari pada rahasia itu, kalau kau membohong, pedang ini akan mengambil jantungmu!"
Phang Ek Kok kaget setengah mati seperti disambar geledek. Tidak dinyananya bahwa rahasia besar itu telah diketahui oleh Lin Lin dan Lan Lan. la menoleh ke sana ke mari akan tetapi semua mata memandangnya penuh tuntutan, maka sambil menghela napas panjang ia berkata.
"Semua gara-gara Kui bo Thai-houw, siluman Ban-mo-to. Baiklah, anak anak. Kalian memang sesungguhnya bukan anakku biarpun aku sudah menganggap kalian seperti anakku sendiri." Sampai di sini, suara orang yang biasanya melucu ini agak gemetar terharu.
"Akan tetapi biarpun kalian bukan anakku, aku sendiripun tidak tahu kalian, ini anak siapa. Belasan tahun yang lalu, beberapa bulan setelah aku dan empat bibimu dikalahkan oleh Kui bo Thai-houw, aku didatangi oleh Thai-houw yang menyerahkan kalian berdua yang baru berusia dua tahun kepadaku. Thai-houw memaksaku untuk menerima kalian dan merawat kalian serta mengakui sebagai anak-anakku sendiri. Entah dari mana dia mendapatkan kalian, aku tidak tahu dan dia tidak mau memberi tahu. Kemudian, setelah aku makin suka kepada kalian yang kurawat sampai berusia empat tahun, pada suatu malam Lin Lin diculik orang dan baru kita dapat saling bertemu lagi di Bukit Thian-mu-san......!. Inilah ceritaku yang sesungguhnya, aku berani bersumpah."
Lin Lin menjerit. "Kalau begitu. Pek Hui Houw suheng....... ayahku sendiri, dia menculik aku dan memberikan aku kepada suhu Liong To-su. Dan......... ayah meninggal karena berduka terpisah dari ibu......... ah. ibu...... ibu......!"
Lin Lin menubruk dan memeluk Tung-hai Sian-li, diikuti oleh Lan Lan, keduanya menangis di dada ibu mereka, ibu kandung mereka.
Tung-hai Sian-li tertawa dan menangis seperti orang gila. menciumi kedua anaknya "Aku.......... aku berdosa besar......... akan tetapi Thian cukup adil. Setelah melihat kalian......... aku puas......... aku rela mati........."
513
"Ibu.........!" jerit Lan Lan.
"Ibu.........!" jerit Lin Lin
"Anak-anakku, ibumu sakit keras. Kalau tidak ada kalian datang kiranya sudah tadi-tadi tak kuat aku menahan. Dengar baik baik, Phang Ek Kok tidak berdosa dalam hal ini. Semua kesalahan Kui bo Thai-houw yang kejam. Kini tahulah aku. Dia orangnya yang menculik kalian, dia melakukan ini karena iri hati, karena cemburu kepadaku. Dia tergila-gila kepada Pek Hui Houw, akan tetapi pemuda itu tidak melayaninya dan berpaling kepadaku. Dia melakukan hal itu untuk menghancurkan hidupku........."
"Si keparat!" Lin Lin berkata penuh kemarahan.
"Phang Ek Kok tidak berdosa, malah kalian harus berterima kasih atas rawatannya." Tung-hai Sian-li berpaling kepada orang gemuk pendek itu. "Phang Ek Kok, harap kau rahasiakan semua yang kau dengar di sini dan sekarang kau boleh, pergi. Tinggalkan aku bersama anak-anakku.!”
Phang Ek Kok tak dapat berkata apa-apa lagi. Ia menjura lalu pergi dari tempat itu, hatinya sedih sekali karena ia merasa seperti kehilangan dua orang anak yang ia sayang.
"Anak-anakku, kalian harus mendengar pesanku terakhir. Kiok Cu. kau anakku yang besar, kau harus memenuhi permintaan ibumu."
"Semua perinlah ibu akan anak taati," kata Lan Lan.
Tung-hai Sian-li sudah payah benar, terlampau lama ia menahan dan kini ia hanya dapat memberi isyarat kepada Wi Liong supaya maju. Pemuda itu maju dan membiarkan tangannya dipegang oleh Tung-hai Sian-li- Wanita tua ini mempertemukan tangan Wi Liong dan tangan Lan Lan sambil berkata lirih, "Kalian harus menjadi suami isteri......... Kiok Cu, kau pengganti......... Siok Lan........."
Kemudian Tung-hai Sian-li yang sudah hampir tidak kuat itu, memegang tangan Lin Lin, "Dan, kau......... kau Kiok Hwa......... kau lihat, pemuda itu......... Kun Hong, biar kelihatan busuk lahirnya, dalamnya baik. Kau......... kalau kau dan dia suka......... akan baik sekali kalian berjodoh........."
"Tidak bisa!" Kun Hong berseru dengan mata terbelalak "Sianli, aku sudah bersumpah hidup bersama dengan Pui Eng Lan! Aku bukan laki-laki tidak setia!"
"Dan akupun sudah ditunangkan, ibu....... tak mungkin melanggar janji dan kesetiaan!" kata Lin Lin.
Tung-hai Siam li mengangguk-angguk, tersenyum.
"Anak-anak muda yang baik.........memang hidup harus mempunyai kesetiaan, baru terbebas dari duka nestapa dan sengsara. Aku........... aku tidak setia, maka selalu dirundung malang. Anak anak, baik-baiklah menjaga diri........ aku......... aku........."
"Ibu.........!!” Lan Lan dan Lin Lin menjerit dan tak lama kemudian terdengar tangis dan raung mereka, menangisi Tung-hai Sian-li, ibu mereka yang baru saja mereka jumpakan, kini telah meninggalkan mereka lagi, meninggalkan untuk selama-lamanya.
514
Wi Liong dan Kun Hong termangu-mangu bingung, tak tahu harus berbuat apa. Akan tetapi yang lebih bingung lagi adalah Wi Liong. Ia tidak diberi kesempatan oleh Tung-hai Sian-li, tidak sempat menolak ikatan jodoh yang diucapkan oleh Tung-hai Sian-li dalam pesan terakhirnya. Bukan karena ia tidak suka dijodohkan dengan Lan Lan, gadis yang ia temui di restoran di An king itu. Bukan! Amboi, mana bisa ia tidak suka? Lan Lan terlampau serupa dengan Siok Lan sehingga ia takkan dapat mengampunkan diri sendiri kalau ia tidak suka akan tetapi...... belum lama ini ia bertemu dengan pamannya, Kwee Sun Tek dan apa kata pamannya.
"Wi Liong, jangan sampai terulang lagi keributan dalam perjodohanmu. Ketahuilah, aku telah bertemu dengan Kwa Cun Ek dan anak gadisnya, dan kami telah memperbarui ikatan jodoh antara kau dan anaknya! Awas, jangan sampai ribut-ribut dan geger lagi, Wi Liong. Sepatumu ketika kau masih kecil telah kuberikan sebagai tanda pengikat"
"Lho, bagaimana ini, paman? Siok Lan. anak gadis Kwa Cun Ek lo enghiong itu, dia telah......... telah mati.........!" jawabnya kaget, bingung dan heran.
Kwee Sun Tek mengerutkan alisnya. ”Apa kau gila? Ataukah aku yang gila? Aku mendengar sendiri suara anak gadisnya. Tak jnungkin. Jangan kau main- main lagi, mengulangi kehebohan yang akan merusak nama baik kita berdua. Hati-hati kau, sekali lagi kau memutuskan tali perjodohan itu, aku takkan bisa mati meram. Baik dia Siok Lan atau siapa saja, yang menyimpan sepatu kecilmu itu dialah calon isterimu. Mengerti?" Dan dengan marah pamannya meninggalkannya.
Demikianlah, sekarang Tung hai Sian-li mengikat dia dengan perjodohan lain, dengan Lan Lan dan terhadap usul ini serta merta dia cocok sekali. Memang semenjak kehilangan Siok Lan, di dalam hatinya Wi Liong bersumpah takkan mencari jodoh lain. Akan tetapi Lan Lan......... sama saja dengan mendapatkan Siok Lan kembali. Wajahnya yang cantik manis, bentuk tubuhnya, kerling matanya, senyumnya, pendeknya sampai suaranya tidak ada bedanya antara Siok Lan dengan Lan Lan, atau dengan Lin Lin juga! Bagaimana dia tidak akan girang dengan usul perjodohan ini? Dan bagaimana dia tidak menjadi puyeng kalau mengingat pesan pamannya yang sama sekali tak boleh dilanggarnya? Wi Liong bingung sekali.
Kun Hong ketika mendengar dari Wi Liong bahwa belum lama ini Eng Lan berada di Anking, segera meninggalkan tempat itu untuk menyusul dan mencari kekasihnya yang marah itu. Wi Liong sendiri membantu dua orang gadis kembar mengurus penguburan jenazah Tung-hai Sian-li. Pemuda ini selalu menghindarkan pertemuan pandang dengan dua orang gadis itu, apa lagi dengan Lan Lan yang oleh Tung hai Sianli dijodohkan kepadanya.
Setelah penguburan jenazah itu beres, barulah dua orang gadis itu sempat bicara dengan Wi Liong dan sempat pula bertanya nama! Tentu saja Lan Lan merasa amat malu untuk bertanya, maka Lin Lin yang mengajukan pertanyaan itu.
"Saudara telah melepas banyak budi terhadap ibu kami. Maaf bahwa sampai kini karena tidak ada kesempatan kami tidak dapat memperkenalkan diri. Biarpun nama aseli kami adalah Kiok Cu dan Kiok Hwa, akan tetapi oleh karena semenjak kecil enciku ini disebut Lan Lan dan aku sendiri Lin Lin, maka sekarangpun kami tetap mempergunakan nama lama dengan she Pek. Enciku menjadi Pek Lan Lan
515
dan aku sendiri Pek Lin Lin. Tidak tahu. siapakah sebetulnya nama besar saudara dan sudah lamakah kenal dengan ibu kami?"
Selama Lin Lin mengajukan pertanyaan ini, Lan Lan hanya menunduk saja, tidak berani memaudang wajah "tunangannya" itu. dan ujung sepatunya menggurat-gurat tanah tak menentu.
Adapun Wi Liong yang menerima tatapan pandang mata Lin Lin. beberapa kali menelan ludah karena ia menjadi bingung benar-benar. Entah Lan Lan entah Lin Lin yang lebih mirip Siok Lan. Kalau Lin Lin memandang kepadanya seperti ini, benar-benar mata Siok Lanlah itu!
"Aku she Thio bernama Wi Liong dari Wuyi-san dan sudah lama juga aku kenal dengan........" Akan tetapi Wi Liong tidak melanjutkan kata-katanya karena serentak dua orang gadis kembar itu melompat ke belakang dan memandang kepadanya dengan mata terbelalak seperti orang melihat iblis di tengah hari.
"Kau......... kau...... Thio Wi Liong...... keponakan Kwee Sun Tek.........?" tanya Lin Lin gagap sedangkan Lan Lan memandang pucat.
"Betul, nona. Kenapakah.........?”
"Aduh, celaka..........!" seruan ini hampir berbareng keluar dari bibir dua orang gadis kembar itu dan keduanya meramkan mata, tubuh mereka seperti lemas.
Wi Liong khawatir mereka roboh pingsan, lalu lompat mendekat
"Jangan dekat-dekat kami!" bentak Lan Lan dan Lin Lin lalu menyeret tangan encinya.
"Enci Lan, mari kita pergi saja," Keduanya lalu melarikan diri cepat-cepat meninggalkan Wi Liong yang menjadi bengong saking herannya. Ia meraba-raba mukanya sendiri untuk melihat apakah mukanya masih seperti biasa ataukah sudah menjadi bopeng karena penyakit menular. Akan tetapi jari-jari tangannya meraba kulit muka yang masih halus tidak apa-apa. Kenapa dua orang gadis itu lari ketakutan seperti orang takut akan penyakit menular? la menggaruk-garuk kepalanya, kemudian ia berlutut menghadap makam Tung-hai Sian-li dan berkata,
"Dua orang puterimu itu aneh sekali, Sian-li. Akan tetapi agaknya lebih baik begitu. Aku cinta kepada mereka seperti aku mencinta anakmu Siok Lan. Bukan karena aku mata keranjang, habis salah siapa. Mengapa keduanya begitu serupa dengan Siok Lan? Aku anggap mereka itu keduanya penjelmaan Siok Lan! Akan tetapi lebih baik, mereka pergi dariku karena paman dengan aneh sudah menjodohkan aku dengan anaknya Kwa Cun Ek lo-enghiong, katanya Siok Lan gadis itu, padahal Siok Lan sudah mati. Entahlah, siapa dia jodohku terserah. Aku tidak hendak mengulang peristiwa pahit yang dahulu lagi. Selamat tinggal. Sian-li"
Iapun lalu pergi dengan langkah gontai meninggalkan tempat itu. Waktu itu musim chun sudah dekat. Maka ia hendak menuju ke Pulau Pek-go-to, tempat tinggal Thai Khek Sian. Karena ia sudah mendapat perintah pamannya supaya mewakili gurunya ke sana untuk menghadiri pesta ulang tahun Thai Khek Sian. Juga ia dapat menduga bahwa dua orang gadis itupun tentu akan pergi ke sana pula. Mudah diduga bahwa mereka itu menaruh dendam kepada Kui-bo Thai houw yang menculik mereka dari
516
tangan ibu mereka dan pada saat itu, untuk mencari Kuibo Thai-houw, paling baik pergi ke Pek-go-to di mana semua tokoh akan berkumpul dan di mana dua orang gadis itu dapat membuka rahasia keburukan hati Kui bo Thai-houw.
Dugaan Wi Liong memang tepat sekali. Tadinya dua orang gadis kembar itu setelah lari meninggalkan Wi Liong dan tiba di sebuah rimba, keduanya saling pandang lalu tanpa mengucapkan kata-kata karena sudah sama maklum, mereka berpelukan dan menangis.
"Ah, adikku yang manis, kau ampunkanlah encimu ini. Siapa kira bahwa ibu tanpa disengaja telah menjodohkan aku dengan......... tunanganmu sendiri!" kata Lan Lan sambil terisak sedih.
Lin Lin tak dapat menjawab, hanya menangis di atas dada encinya. Kemudian tiba-tiba ia tersenyum dan menghapus air matanya. "Ah, enci yang baik, kenapa kita menangis seperti anak kecil? Urusan ini mudah saja. Kau yang lebih tua, sudah sepatutnya kau menikah lebih dulu. Sepatu kecil ini kuberikan kepadamu dan...... dengan begitu pertunanganmu dengan dia sudah sah. Baik ayah Kwa Cun Ek maupun ibu telah menjodohkan kau dengan dia, apa lagi susahnya?"
Lan Lan mengerutkan keningnya, lalu menggelengkan kepala. "Tidak boleh, Lin moi. Pesan orang yang sudah meninggal tak boleh diingkari begitu saja. Itu akan menjadi dosa besar. Kau yang lebih dulu bertunangan, kau yang berhak menikah dengan dia. Dia orang baik dan tepat menjadi suamimu, adikku. Aku ikut bahagia."
"Habis, kau sendiri bagaimana? Kaupun harus menikah kalau aku kawin." kata adiknya.
Lan Lan menggeleng kepala. "Mana bisa aku menikah dengan orang lain? Ibu sudah menjodohkan........." ia teringat lalu cepat berkata, "Aku takkan kawin, aku cukup senang melihat kau bahagia."
"Mana bisa, enci Lan? Aku baru senang kalau kaupun bahagia. Kita tak boleh berpisah lagi sampai tua. Susahmu susahku pula dan kebahagiaanku juga harus menjadi kebahagiaanmu. Aku baru mau menjadi isterinya kalau kaupun menjadi isterinya."
"Eh, eh, kalau begitu.........?" Lan Lan merenung.
"Kalau begitu.........?" adiknya mengulang dengan muka kemerahan.
Keduanya diam, tanpa kata katapun sudah dapat saling mengetahui isi hati masing-masing, kemudian mereka saling rangkul pula, akan tetapi kali ini tidak menangis malah tertawa geli!
Tepat seperti yang diduga oleh Wi Liong, keduanya lalu bersepakat untuk pergi ke Pek-go-to mencari Kui-bo Thai houw. Mereka tidak saja hendak membalas sakit hati atas perbuatan Kui-bo Thai-houw yang menculik mereka, juga hendak membalaskan sakit hati atas perbuatannya terhadap Phang Ek Kok. Akan dibeber rahasia-rahasia busuk dan perbuatan-perbuatan jahat Kui-bo Thai-houw di tempat pertemuan itu.
Dua orang gadis kembar itu melakukan perjalanan cepat menuju ke pantai untuk menyeberang ke Pek-go to, pulau yang terletak di antara Kepulauan Cou-san-to. Mereka berdua sama sekali tidak tahu
517
bahwa selama ini mereka secara sembunyi dikawal oleh seorang pemuda yang berjaga di waktu mereka tidur nyenyak, yang memperhatikan setiap perjalanan mereka dengan waspada, yang sering kali termenung dan menarik napas panjang kalau melihat dua orang gadis yang segala gerak-geriknya seperti Siok Lan itu.
Ketika mereka tiba di pantai, dua orang gadis kembar ini menjadi bingung karena tidak ada sebuahpun perahu nampak. Bagaimana mereka bisa menyeberang ke Pek-goto? Selagi mereka berdiri: kebingungan, memandang ke sana ke mari untuk melihat kalau-kalau ada perahu nelayan,tiba-tiba meluncurlah sebuah perahu kecil. Perahu ini meluncur dari pantai sebelah selatan.
''Heeii.......... tukang perahu, ke sinilah!" teriak Lin Lin dengan nyaring.
Perahu meluncur dekat dan anehnya, tidak kelihatan nelayannya. Akan tetapi dari dalam bilik perahu kecil itu terdengar suara menjawab.
"Nona berdua apakah membutuhkan perahu?"
"Ya, kami hendak menyewa perahumu. Antarkan kami menyeberang ke pulau-pulau di sana itu," kata Lan Lan.
"Berapa biayanya? Katakan saja, kami akan membayar penuh."
"Mengantar sih mudah, aku selalu siap sedia. Akan tetapi, biayanya tidak mau dibayar dengan uang, emas ataupun perak," terdengar lagi suara di dalam bilik perahu.
Lini Lin mendongkol. "Habis, kau mau minta apa? Tukang perahu aneh dan manja, keluarlah kau, jangan bikin marah kami!"
"Biayanya tidak mahal, juga tidak murah.”
Lan Lan menduga jelek. Pipinya merah padam saking marahnya. "Tukang perahu, jangan main-main, lekas katakan apa kehendakmu!" katanya sambil meraba gagang pedang. Tekadnya kalau tukang perahu itu mengeluarkan kata-kata kotor, tentu akan dibunuhnya.
Suara itu tertawa "Harap jangan marah, karena itulah biaya yang saya minta."
"Apa............?" tanya Lan Lan dan Lin Lin berbareng.
"Biayanya hanyalah, jangan ji-wi siocia marah-marah lagi kepadaku." Dan muncullah tubuh Wi Liong dari dalam bilik perahu. Pemuda ini memegang dayung dan duduk di kepala perahu sambil tersenyum. "Silahkan ji-wi naik dan maafkan aku tadi bermain-main."
Lan Lan dan Lin Lin saling pandang. Pipi mereka menjadi merah jambu dan bibir mereka tersenyum. Lin Lin menjadi malu sekali, akan tetapi Lan Lan merangkul pundaknya dan berkata, "Adik Lin, setelah ada tukang perahu baik hati yang mau menyeberangkan, mengapa malu-malu? Mari kita naik perahu!"
518
Dengan senyum dikulum dan kerling mata malu-malu, kedua orang gadis itu melompat ke dalam perahu dan duduk di dalam bilik perahu itu. Wi Liong merasa seperti kejatuhan dua bintang, begitu gembira hatinya. Segera kedua lengannya mendayung dan perahu itu meluncur tehang ke tengah.
"Ji-wi tentu akan mengunjungi Pek-go-to, bukan?" tanya Wi Liong, sikapnya menghormat akan tetapi jelas tampak wajahnya berseri-seri saking gembira hatinya dapat duduk seperahu dan bercakap cakap dengan dua orang gadis kembar itu. Sekaligus ada dua orang Siok Lan di depannya. Bagaimana hatinya tidak akan menjadi girang?
"Bagaimana kau bisa tahu?" Lin Lin balas menanya, sikapnya masih agak dingin.
Wi Liong tersenyum dan senyum ini sekaligus membuat jantung dua orang nona itu berdenyut lebih cepat dari biasanya.
"Semua orang gagah berdatangan ke Pulau Pek-go-to untuk memberi selamat atas ulang tahun kokoh besar Thai Khek Sian. Sayangnya jiwi datang terlampau pagi hingga harus menanti di Pek-go-to sedikitnya setengah bulan."
"Betulkah?" tanya Lan Lan khawatir.
"Waktu yang dijanjikan atau yang dimaksud oleh Thai Khek Sian, dalam undangannya masih setengah bulan lagi." kata Wi Liong. "Dan aku yang sudah pernah datang ke Pek-go-to harus mengaku bahwa amat tidak menyenangkan berada di pulau itu bersama Thai Khek Sian dan kaki tangannya sampai demikian lamanya."
Dua orang gadis itu pernah mendengar nama buruk Thai Khek Sian dan diam-diam mereka bergidik ngeri. "Habis, bagaimana baiknya?" tanya Lin Lin, kini tidak begitu dingin lagi karena keramahan yang wajar dari Wi Liong.
"Hanya ada dua jalan. Pertama, menunda penyeberangan ini sampai setengah bulan, atau.......kalau ji-wi tidak menaruh curiga kepadaku, jalan ke dua adalah menanti sampai setengah bulan di Kepulauan Sorga. Ji-wi pasti akan senang sekali di sana."
"Kepulaun Sorga?" tanya Lin Lin tak percaya.
"Hanya nama. Sebetulnya merupakan tiga pulau kecil berjajar yang amat indah, pulau kosong yang subur," jawab Wi Liong.
Kembali dua orang gadis kembar itu saling pandang. Diam-diam mereka menjadi geli dan bersinarlah cahaya yang nakal dalam mata mereka. Lalu keduanya mengangguk seperti bersepakat. "Baiklah, ke Pulau Sorga." kata mereka berbareng.
Dengan hati amat gembira karena dua orang gadis kembar yang baginya menjadi pengganti Siok Lan itu, Wi Liong mendayung perahunya ke tengah lautan, menuju ke sekelompok pulau di depan. Di antara sekumpulan kepulauan ini memang banyak terdapat pulau-pulau kecil kosong yang tidak ditinggali orang.
519
Pernah Wi Liong menjelajah tempat ini dan mendapatkan tiga buah pulau kosong berjajar setengah mengelilingi Pek-go-to yang jauh di depan. Karena pulau ini kosong dan indah sekali, ia menyebutnya Pulau Sorga. Sekarang ia hendak mengajak dua orang gadis kembar itu ke sana untuk menanti datangnya hari yang besar itu, di mana orang-orang kangouw tingkat tinggi akan mengadakan pertemuan di Pek-go-to atas undangan Thai Khek Sian.
Di bawah terik panas matahari, Wi Liong mendayung perahunya, matanya bersinar-sinar wajahnya berseri gembira. Suasana sunyi, hanya bunyi air berkecipak mendampar tubuh perahu dan air di depan terbelah kepala perahu menyibak ke kanan kiri seperti agar-agar warna biru terbelah pisau tajam.
Kesunyian yang kosong itu tak menyedapkan hati Lan Lan dan Lin Lin. Terutama sekali Lin Lin yang berwatak lincah jenaka. Dianggapnya Wi Liong terlampau pendiam. Katanya dengan senyum mengejek kepada Lan Lan, "Enci Lan, rasanya seperti kita berlayar bersama sebuah patung!"
Lan Lan kaget akan tetapi terpaksa bersenyum juga, lalu mencegah adiknya, "Hush.........Lin-moi............"
Muka Wi Liong menjadi merah, akan tetapi pemuda ini mendayung terus, malah mengerahkan tenaga sehingga perahu meluncur makin laju.
Melihat wajah yang tampan itu kemerahan Lin Lin makin senang menggoda, "Lan-cici, jangan-jangan tunanganmu menjadi gagu........."
"Hish, Lin-moi!, jangan nakal.........!" Lan Lan menegur gugup dan muka gadis ini menjadi merah juga.
Mendengar disinggung-singgungnya urusan pertunangan ini, Wi Liong makin kaget dan bingung. Pemuda ini memang tertarik sekali kepada sepasang gadis kembar yang seperti Siok Lan segala-galanya ini, akan tetapi biarpun tidak ada kebahagiaan lebih besar dari pada berdekatan dengan mereka, namun tentang perjodohan yang dipesankan oleh Tung-hai Sian-li. sungguh tidak dapat atau lebih tepat tidak berani ia menerimanya. Ia mengangkat muka dan berhenti mendayung, pandang matanya menatap dua orang gadis itu ganti-berganti, bingung karena biarpun warna pakaian dua orang gadis itu berbeda, ia sudah lupa lagi mana Lan Lan mana Lin Lin!
Dua orang gadis itu melihat Wi Liong bengong terlongong memandangi mereka berganti-ganti, dapat menduga bahwa lagi-lagi pemuda ini bingung dalam membedakan mereka. Keduanya menjadi geli hati dan tertawa. Lan Lan tertawa dengan tangan kanan menutup mulut dan tangan kini memegangi ujung rambutnya yang panjang tergantung ke depan dada kiri. Sedangkan Lini Lin tertawa kecil memperlihatkan deretan, gigi yang putih berkilau di antara sepasang bibir kecil merah, manis sekali.
Melihat dua orang gadis itu tertawa, makin bingunglah Wi Liong. Kenapa di dunia ada hal yang begini aneh? Bahkan kalau tertawa, biarpun sikapnya berbeda-beda, toh mereka itu keduanya sama betul dengan Siok Lan! Pernah Wi Liong melihat Siok Lan tertawa menutupi mulut memegang rambut seperti gadis pertama dan pernah pula ia melihat Siok Lan tertawa dengan bibir dan gigi persis gadis ke dua!
520
Karena tidak tahu yang mana Lan Lan yang mana Lin Lin, dengan gagap Wi Liong berkata, "Nona nona.......... yang manakah nona Lan Lan.........?”
"Kau terka sendiri!" kata Lin Lin menggoda.
Wi Liong makin bingung, kemudian setelah menarik napas panjang ia berkata, "Karena aku tidak tahu yang manakah Pek Lan Lan siocia, biarlah aku bicara kepada ji-wi siocia (nona berdua)."
"Tidak kepada Bu-beng Siocia?" Lan Lan yang melihat kegembiraan adiknya, timbul sifatnya yang periang dan ikut menggoda.
"Tidak......... aku............ harap maafkan kebodohanku. Ji-wi-siocia, aku ada sedikit omongan yang amat penting."
"Tuan Thio Wi Liong yang terhormat, perintah apakah gerangan yang hendak tuan berikan kepada hamba berdua?" kembali Lin Lin mengejek.
"Nona jangan begitu, aku hanya......... hanya........."
"Tuan Thio Wi Liong yang gagah perkasa dan sopan santun........." sambung Lan Lan.
Gadis-gadis ini memang merasa mendongkol melihat sikap yang begitu dingin dan pendiam dari pemuda ini, pemuda yang menjadi tunangan resmi keduanya!
"Aku hanya tukang perahu yang menyeberangkan kalian," Wi Liong akhirnya terseret juga oleh kejenakaan mereka dan mulai lenyaplah kerut-kerut pada keningnya yang menandakan bahwa tadi ia sedang berpikir keras, pikiran yang tidak menyedapkan hati dan menimbulkan kerut pada muka.
"Tukang perahu apa? Kau sengaja mengikuti kami.'' kata Lin Lin
Wi Liong terkejut lalu memuji. "Entah pandang matamu yang awas sekali atau hanya dugaanmu yang kebetulan saja. Akan tetapi terus terang kukatakan memang aku sengaja mengikuti kalian." Wi Liong mengangguk-angguk. "Aku dapat menduga bahwa kalian tentu akan mencari Kui-bo Thai-houw untuk membuat perhitungan, maka kutaksir kalian tentu akan mendatangi Pek-go-to pula. Karena akan ada pertemuan puncak dan keadaan di sini amat berbahaya, maka aku sengaja mengikuti kalian."
"Untuk melindungi kami?" Lan Lan bertanya penuh gairah.
"Hemm.........bukan begitu, atau.........ya, kalau perlu........."
"Ah. tentu karena kau hendak melindungi tunanganmu, bukan?" menggoda Lin Lin dengan sikapnya yang jenaka.
Muka Wi Liong berubah, kerut di keningnya timbul lagi. Ia menarik napas panjang "Itulah yang hendak kukatakan tadi. Yang mana nona Pek Lan Lan?"
"Yang mana juga sama saja. Kau boleh bicara," kata Lan Lan dengan dada berdebar.
521
"Aku mau bicara tentang pesan terakhir dari Tung-hai Sian-li itu. tentang.........tentang ikatan jodoh........."
"Kenapa?" desak Lin Lin penuh gairah.
Sukar Wi Liong membuka mulutnya. Keadaannya sekarang benar-benar sebaliknya dari pada dahulu ketika ia dijodohkan dengan Siok Lan. Dahulu dengan penuh gairah ia hendak memutuskan perjodohannya dengan Siok Lan karena ia cinta kepada Bu-beng Siocia. Sekarang ia harus memutuskan tali perjodohannya dengan Lan Lan, karena ia sudah ditunangkan oleh pamannya. Dan ia harus memutuskannya dengan hati luka dan penuh penyesalan karena ia harus akui bahwa di dalam hatinya hidup lagi cinta kasih terhadap Siok Lan dahulu, kini berpindah kepada gadis kembar ini yang baginya seolah olah Siok Lan sendiri menjelma kembali menjadi dua.
"Aku......... aku terpaksa tak dapat menerimanya........." ia berkata dengan kepala tunduk agar tidak tampak sinar matanya yang suram dan bibirnya yang gemetar. Karena ia menunduk ini ia tidak melihat betapa wajah Lan Lan menjadi pucat seketika.
"Sombong, jadi kau merasa dirimu terlalu tinggi untuk menjadi jodoh enci Lan Lan, tuan Thio Wi Liong?" Lin Lin membentak marah.
Wi Liong mengangkat mukanya dan muka yang tampan itu menjadi pucat sekali sampai dua orang gadis itu kaget. Wi Liong tadi tidak memperhatikan siapa di antara dua orang gadis itu yang bicara sehingga sampai saat itu ia belum dapat tahu yang mana Lan Lan dan yang mana Lin Lin
"Tidak begitu! Aku bersumpah, demi Thian dan demi kehormatanku! Aku sama sekali tidak beranggapan begitu. Bahkan aku...... aku akan merasa menjadi sebahagia-bahagianya orang di dunia ini apa bila aku bisa memenuhi pesan keramat Tung-hai Sian-li. Aku......... aku akan berbahagia sekai........." Kembali ia menunduk penuh penyesalan.
Lan Lan dan Lin Lin saling pandang. Lin Lin yang cerdik cepat memegang tangan encinya, ia mendapat pikiran yang membuatnya berdebar. "Apa sebabnya? Katakan, apa sebabnya kau tidak bisa memenuhi pesan itu?" desaknya.
Tanpa mengangkat mukanya Wi Liong menjawab lirih. ”Karena......... karena aku telah bertunangan dengan gadis lain........."
Ia tidak tahu betapa Lan Lan hampir berteriak kesakitan karena tangannya diremas oleh adiknya.
"Tuan Thio Wi Liong bertunangan dengan gadis manakah.?" tanya Lan Lan.
'"Jangan – jangan ini hanya untuk alasan penolakan belaka," sambung Lin Lin.
Kembali Wi Liong mengangkat mukanya, la nampaknya lega karena tidak ada tanda-tanda marah pada wajah dua orang gadis kembar itu malah kini dua pasang mata itu memandang tajam kepadanya penuh selidik.
"Bukan alasan, kosong. Aku benar-benar telah ditunangkan oleh pamanku, ji-wi siocia. Karena itu, bagaimana aku bisa menerima ikatan jodoh lain?"
522
"Hemmm, kami dapat mengerti alasanmu, tuan Thio. Tentu gadis tunanganmu itu cantik jelita seperti bidadari dan tentu jauh lebih pandai dari pada kami anak-anak bodoh." kata Lan Lan
"Tentu kau amat mencintanya, tuan Thio," sambung Lin Lin.
Diam diam Wi Liong makin menyesal. Ada sifat-sifat dua orang gadis ini yang lebih baik malah dari pada watak Siok Lan. Siok Lan orangnya pendiam dan amat keras hati, mudah marah. Dua orang gadis ini biarpun ada tanda tanda keras hati sepenti Siok Lan, akan tetapi jujur sekali dan peramah pula juga lebih panjang pikiran buktinya pengakuannya ini tidak membikin mereka marah.
"Bagaimana aku bisa mencintanya dan bagaimana aku bisa tahu dia cantik atau tidak. Melihatpun belum!" jawab Wi Liong.
"Aneh! Kalau belum melihatnya, kenapa kau begini....... begini setia? Bagaimana kalau kelak ternyata ia amat buruk seperti monyet?" tanya Lin Lin dan mulailah ia tersenyum, diikuti oleh Lan Lan yang kini mulai mengerti hingga ia diam-diam makin kagum dan memuji kesetiaan "tunangannya".
"Jangankan hanya seperti monyet, biar seperti kadal sekalipun, aku akan mengawininya kelak”, jawab Wi Liong tersenyum karena ia menjadi gembira juga melihat gadis gadis itu tidak marah, malah mulai berkelakar.
Lin Lin cemberut. Siapa orangnya tidak cemberut kalau ia dikatakan seperti kadal? Memang yang dikatakan seperti kadal itu adalah dia sendiri orangnya, tunangan Wi Liong melalui pamannya. Hampir saja gadis ini yang kadang-kadang mempunyai watak keras merenggut sepatu kecil yang disimpan di balik bajunya dan membantingnya di depan pemuda itu. Baiknya Lan Lan yang melihat wajah adiknya, cepat meremas jari-jari tangan Lin Lin.
"Kau hebat, tuan Thio. Kau setia sekali!" memuji Lan Lan.
"Bagaimana aku takkan setia? Pamanku adalah pengganti ayah bundaku, mana aku berani membikin marah dan membantahnya? Pula........." Suaranya berubah dan pemuda ini nampak berduka, "aku......... aku selain mentaati paman juga hendak menghukum diri sendiri. Aku tak ingin mengulangi pengalaman pahit yang pernah kualami."
"Pengalaman pahit dalam asmara?" tanya Lin Lin kenes. Wi Liong mengangguk.
"Ceritakanlah, tuan Thio," kata Lan Lan.
Wi Liong menggeleng kepalanya. "Kelak saja kuceritakan Sekarang yang paling penting, aku sudah mengaku terus terang. Karena itulah maka aku sungguh menyesal terpaksa menolak pesan terakhir dari Tung-hai Sian-li tentang perjodohan itu. Kuharap saja nona Pek Lan Lan suka memberi maaf sebesarnya kepadaku. Sudikah nona mengampuniku?" tanyanya tanpa memandang langsung kepada seseorang. Ia memancing agar nona Lan Lan suka menjawab pertanyaannya ini hingga ia dapat mengetahui yang manakah enci dan mana adiknya.
523
Hampir saja Lan Lan terpancing. Akan tetapi Lin Lin cepat berkedip kepadanya dan mendahului cicinya, "Soal ampun itu bukan urusan kami berdua. Perjodohan tak dapat dipaksakan, kalau kau lebih suka berjodoh dengan monyet atau kadal dari pada dengan........ dengan kami, silahkan"
Wi Liong kaget menangkap suara keras dalam kata-kata ini, dan iapun masih ragu-ragu apakah gadis ini yang bernama Lan Lan?”Aku........ aku menyesal sekali, nona Lan Lan......"
"Hush. jangan ngawur!" bentak Lin Lin, pura-pura marah akan tetapi akhirnya tak dapat menahan ketawanya melihat kebingungan Wi Liong. Juga Lan Lan menjadi geli dan tersenyum sungguhpun di dalam hati ia amat kasihan kepada pemuda yang mereka permainkan ini.
"Kalau begitu kaukah nona Lan Lan?" tanya Wi Liong, berpaling kepada Lan Lan.
"Tentu saja seorang di antara kami bernama Lan Lan, akan tetapi yang mana kau terka sendiri. Bagi kami, Lan Lan maupun Lin Lin sama saja."
Pada saat kedua orang gadis kembar itu mempermainkan dan mentertawakan Wi Liong, tiba-tiba pemuda ini menggerakkan dayungnya, mendayung dengan kecepatan luar biasa ke arah kiri sehingga dua orang gadis itu menjadi kaget dan heran.
"Eh, ada apa?" tanya Lin Lin.
"Di sana banyak perahu menuju ke pulau itu." jawab Wi Liong sambil menggerakkan mukanya ke depan. Dua orang gadis itu memandang dan betul saja, jauh di kaki langit tampak enam perahu hitam dengan layar terkembang menuju ke sebuah pulau.
Wi Liong terus mendayung perahunya ke sebuah pulau kecil yang besarnya paling banyak satu li persegi, penuh pohon dan karang. Ia mendaratkan perahunya dan melompat ke darat.
"Kita mengintai dari sini. Enam buah perahu itu mencurigakan," katanya. "Anehnya, mereka tidak menuju ke Pek-go-to, melainkan ke tiga Pulau Sorga! Hemm mana bisa ada tamu sampai sekian banyaknya datang sekaligus di tempat ini?"
"Jangan-jangan bajak laut," kata Lin Lin, "Lebih baik kita menghampiri mereka dan kalau benar bajak laut, kita basmi habis!"
Lan Lan menyatakan setujunya dengan usul adiknya yang gagah ini. Akan tetapi Wi Liong menggeleng kepala. "Tak mungkin bajak laut. Mana ada bajak laut begitu tak tahu mati beroperasi di daerah ini? Nama Thai Khek Sian sudah terlampau terkenal. Memasuki daerah ini berarti mati. Tentu ada hal-hal aneh yang perlu diselidiki. Pamanku sudah pesan bahwa suhu menaruh curiga dengan undangan Thai Khek Sian, maka menyuruh aku menyelidiki."
Tiba-tiba Lin Lin berseru, "Awas.........!!" dan gadis ini dengan sigapnya melompat untuk melindungi encinya. Tangan kirinya dikibaskan, dan runtuhlah dua batang anak panah yang menyambar ke arah dia dan Lan Lan. Sedangkan Wi Liong dengan mudah menangkap anak panah itu.
524
Baru saja mereka berhasil menggagalkan serangan anak-anak panah, kembali datang serangan berupa senjata rahasia yang datangnya cepat sekali dan biarpun hari telah senja, senjata rahasia kecil itu masih mengeluarkan cahaya kuning.
Kembali Lin Lin bergerak cepat. Pedangnya sudah di tangan dan sekali putar beberapa Kim ji piauw runtuh. Wi Liong melompat jauh dan diam-diam ia girang karena sekarang tahulah ia mana Lan Lan mana Lin Lin. Tentu saja yang begitu lihai menangkis Kim-ji-piauw adalah Lin Lin, gadis perkasa murid Liong Tosu itu. Akan tetapi pada saat itu ia tidak sempat mengurus hal ini karena Lin Lin dengan beraninya telah melompat dan lari ke arah penyerang gelap sambil membentak.
"Anjing-anjing pengecut jangan lari!"
Lan Lan juga mencabut pedangnya dan sudah mengejar adiknya menyerbu musuh yang melakukan penyerangan gelap. Dengan suling di tangannya Wi Liong juga menyusul.
Ketika Lin Lin dan Lan Lan keluar dari hutan kecil, mereka melihat dua orang gadis cantik berpakaian mewah berdiri memandang mereka dengan sinar mata kagum dan di belakang dua orang gadis cantik ini masih berdiri belasan orang gadis lain yang pakaiannya juga indah-indah. Semua gadis ini memegang sebatang pedang.
"Siluman-siluman jahat, tentu kalian yang melakukan penyerangan gelap!" Lin Lin membentak marah.
Seorang di antara dua gadis itu setelah hilang kaget dan herannya melihat dua orang gadis kembar, menudingkan pedangnya dan berkata, "Kalian ini tentulah mata-mata yang dikirim orang jahat. Siansu menyuruh kami menangkap semua orang yang mencurigakan. Kawan-kawan, tangkap dua orang ini!"
Akan tetapi sambil mengeluarkan suara mengejek Lin Lin sudah memutar pedangnya diikuti oleh Lan Lan. Mereka disambut dengan pedang pula dan terjadilah pertempuran hebat. Akan tetapi Lin Lin memang lihai. Beberapa gebrakan saja sudah cukup baginya untuk merobohkan beberapa orang pengeroyok. Dua orang gadis kepala rombongan itu marah dan cepat maju mengeroyok Lin Lin, sedangkan Lan Lan dikeroyok oleh anak buahnya.
Namun, segera mereka itu mendapat kenyataan betapa lihainya Lin Lin. Pedang gadis ini berkelebatan dan membuat dua orang pengeroyoknya menjadi silau dan pening. Biarpun mereka berdua juga memiliki ilmu pedang yang ampuh dan aneh. namun menghadapi Lin Lin mereka kalah tingkat.
Pada saat itu Wi Liong muncul dan pemuda ini mengeluarkan seruan kaget ketika mengenal dua orang gadis kepala rombongan itu.
"Cheng In dan Ang Hwa cici, harap hentikan pengeroyokan!" Sambil berseru demikian Wi Liong menyerbu. Kemana saja ia bergerak, ia sudah dapat menangkis semua senjata dan membuat pemegangnya terpaksa melompat mundur sehingga dalam sekejap mata saja semua pertempuran terhenti.
525
Dua orang gadis cantik berpakaian mewah itu memang Cheng In dan Ang Hwa dua orang selir Thai Khek Sian atau murid-muridnya yang paling disayang. Mereka juga segera mengenal Wi Liong dan kedua gadis itu tersenyum manis.
"Ah, kaukah kiranya ini, Thio-kongcu? Kenapa kau dan.........dua orang gadis ini di sini?" tanya Cheng In si baju hijau.
Pertanyaan yang disertai pandang mata penuh selidik dan arti ini membuat muka Wi Liong menjadi merah. Ia tahu orang-orang macam apa adanya selir-selir Thai Khek Sian ini, maka setiap kali melihat pria bersama wanita tentu menimbulkan pikiran yang tidak-tidak dalam benak mereka.
"Aku mengantar dua nona Pek ini yang hendak ikut menghadiri pertemuan di Pek-go-to," jawabnya singkat.
"Kenapa tidak langsung ke sana melainkan datang ke pulau sunyi ini?" tanya Ang Hwa yang mainkan matanya secara genit.
"Waktunya masih belum tiba. karenanya kami hendak menunggu beberapa hari di sini"
"'Ooohhh, hi-hi-hi, kami mengerti, kongcu.. Dua nona Pek ini cantik-cantik sekali dan kepandaiannya tinggi........." kata Cheng In dengan suara dibuat-buat, lagaknya genit sekali.
"Tutup mulutmu yang kotor! Kalau hendak mengobrol, jangan bawa-bawa nama kami!" Lin Lin membentak marah dan mengancam dengan pedangnya. Gadis ini marah bukan main. demikian juga Lan Lan, melihat dua orang perempuan baju hijau dan merah itu bicara dengan Wi Liong serta bersikap demikian genit. Cemburu yang besar menerkam hati kedua orang gadis kembar ini. Betapapun juga, mereka menganggap Wi Liong sebagai tunangan mereka yang sah!
Wi Liong sendiri tak senang bertemu dengan para selir Thai Khek Sian ini, akan tetapi ia mengerti bahwa daerah ini memang dapat disebut daerah kekuasaan Thai Khek Sian dan kedatangannya di situ hanya sebagai tamu. Maka untuk meredakan ketegangan, ia segera memperkenalkan dua orang selir itu kepada Lin lin dan Lan Lan,
"Inilah nona Cheng In dan nona Ang Hwa beserta semua kawannya, mereka itu adalah....... adalah......" Wi Liong bingung hendak mempergunakan sebutan apa, selir ataukah murid? Baiknya Ang Hwa yang dapat menduga kesulitannya segera membantu dan menyambung dengan ketawa,
"Kami adalah selir-selir yang tercinta, juga murid-murid yang setia dari Thai Khek Siansu di Pek goto, Kami girang sekali bahwa kedua adik yang cantik manis dan perkasa adalah sahabat-sahabat baik Thio-kongcu (tuan Thio). Biarlah kawan kawan kami yang terluka merupakan penebus kelancangan kami atau pembuka jalan perkenalan kita. Kami girang sekali dapat berkenalan dengan adik-adik yang lucu."
Lin Lin dan Lan Lan jemu mendengar kata-kata dan melihat sikap genit dari Ang Hwa. Apa lagi Lin Lin. Ia makin mendongkol dan bentaknya nyaring, "Kami tidak butuh berkenalan dengan segala macam selir!" Kemudian sambil melirik ke arah Wi Liong, ia menyambung, "Entah kalau dia itu mungkin suka. Kalau mau mengobrol, mengobrollah dengan dia, kami tak sudi!"
526
Melihat sikap ini, Cheng In tertawa genit dan berkata. "Ah. remburu amat!"
Akan tetapi Wi Liong yang tidak menghendaki terulangnya keributan, segera berkata. "Jiwi Pek siocia harap maafkan, enci Cheng In dan Ang Hwa ini adalah penolong-penolongku. Kalau tidak karena pertolongan mereka, mungkin hari ini aku sudah tidak ada di dunia lagi.''
Mendengar ini, diam-diam Lan Lan dan Lin Lin tercengang dan rasa tak enak serta cemburu di dalam dada menghebat. Akan tetapi mereka diam saja. Wi Liong segera menjura kepada Cheng In dan Ang Hwa,
"Kalian kenapa berada di pulau ini dan kenapa pula datang-datang menyerang?"
"Kami memang ditugaskan di sini oleh Siansu. Menjelang datangnya hari besar itu, kami disuruh menjaga daerah ini karena menurut Siansu, di antara para sahabat yang datang mungkin sekali akan datang musuh-musuh jahat yang hendak membikin kacau pertemuan. Melihat kau bertiga tadi, kami menyangka buruk, maafkan kelancangan kami," kata Cheng In.
"Tidak apalah dan sekarang harap cici berdua tinggalkan saja pulau ini. Bukankah kalian percaya bahwa aku bukan orang jahat yang hendak mengacau?"
Dua orang perempuan itu tertawa genit "Kalau kau menjadi pengacau, paling-paling pengacau hati yang membikin orang tak dapat tidur! Kongcu, kau orang baik dan kami selalu terkenang kepadamu. Apakah kau tidak mau ikut dengan kami ke Pek goto sekarang saja? Siansu tentu menerimamu dengan baik karena memang sekarang waktunya menerima tamu." Di dalam ajakan ini terkandung suara memikat yang hanya dapat terasa oleh Wi Liong. Akan tetapi, sebagai wanita, Lan Lan dan Lin Lin juga dapat menangkapnya dan hal ini membuat hati mereka makin panas.
"Tuan Thio, kau pergilah dengan perempuan-perempuan ini, biar kami berdua di sini juga tidak akan mampus!" kata Lin Lin gemas.
Wi Liong menjadi makin bingung. "Ji-wi cici, terima kasih atas kebaikan kalian. Tidak, aku akan datang pada waktunya. Kalian pergilah dulu."
Cheng In dan Ang Hwa menarik napas panjang, lalu memberi isyarat kepada kawan-kawannya untuk pergi dari pulau kecil itu sambil membawa mereka yang tadi terluka oleh pedang Lin Lin. Ketika sudah melangkah beberapa langkah. tiba- tiba Cheng In memutar tubuh dan bertanya.
"Apakah Thio kongcu tadi ketika berlayar ke sini bertemu dengan perahu lain?" Pertanyaan ini nampaknya sepintas lalu saja, akan tetapi Wi Liong melihat sikap yang penuh selidik. Ia teringat akan enam buah perahu besar tadi, maka ia menggeleng kepala tanpa membuka mulut. Cheng In nampak puas, akan tetapi sebelum pergi berkata lirih.
"Thio-kongcu, kalau kau tidak mempunyai kepentingan, sesungguhnya aku lebih suka melihat kau tidak mendatangi pertemuan ini."
527
Sebelum Wi Liong sempat bertanya. Cheng In dan Ang Hwa sudah pergi bersama kawan-kawan mereka, menuju ke perahu mereka yang tersembunyi di antara batu karang, lalu berlayar pergi. Sebentar saja kegelapan senja menelan bayangan perahu itu dan meninggalkan Wi Liong dan dua orang gadis kembar dalam kesunyian pulau itu. Sunyi sekali di situ, hanya terdengar riak ombak menghantam karang disaingi suara hewan-hewan di dalam hutan.
Setelah para selir Thai Khek Sian itu pergi, barulah Wi Liong merasa betapa canggung dan malunya berhadapan dengan dua orang gadis kembar itu. Ia dapat menduga betapa dua orang gadis ini memandang rendah kepada selir-selir yang genit itu dan karena melihat dia bersahabat dengan mereka, otomatis iapun akan terpandang rendah.
Oleh karena merasa canggung, Wi Liong hanya berdiri.diam sambil menundukkan kepalanya. Ia menarik napas berulang-ulang, ingin sekali mengajak bicara dua orang gadis itu, akan tetapi tidak tahu harus berkata apa. Akhirnya lega hatinya mendengar suara seorang dari mereka, yang berkata penuh nada ejekan,
"Cantik-cantik dan genit-genit para selir Pek go-to itu." Kemudian suara yang dibuat-buat meniru suara Ang Hwa yang genit. "Thio-kongcu, kenapa tidak ikut mereka bersenang-senang di Pek goto?"
Wi Liong mengangkat muka, lalu berkata lirih, "Ji-wi Pek siocia. memang harus kuakui bahwa tidak selayaknya orang berkenalan dengan mereka itu yang tak boleh digolongkan orang baik-baik. Akan tetapi, aku pernah mereka tolong. Dan mereka itu sebetulnya hanyalah menjadi korban pengaruh dari kekuasaan Thai Khek Sian. Marilah kita duduk dan bicara yang baik, nona-nona. Tadi kukatakan bahwa hidupku penuh derita dan pengalaman pahit. Mari kalian dengarkan, baru sekarang aku hendak membuka semua rahasia yang menyuramkan hidupku."
Lan Lan dan Lin Lin tertarik. Tanpa berkata kata mereka mengikuti Wi Liong memilih tempat yang bersih di bawah pohon dan terlindung dari angin oleh batu batu karang. Wi Liong mengumpulkan daun dan ranting kering, lalu membuat api unggun. Tidak saja untuk membikin penerangan di tempat yang mulai gelap itu, juga untuk mengusir nyamuk yang ternyata banyak terdapat di situ. Kemudian ia duduk di dekat api unggun bersandarkan batu karang. Dua orang nona kembar itu duduk pula di dekat api menghadapinya, siap mendengarkan ceritanya.
"Semenjak aku masih kecil dan tidak tahu apa-apa, ayah bundaku telah terbunuh orang secara keji, terbunuh oleh guru mereka sendiri yang tersesat. Aku dibawa lari dan dipelihara oleh pamanku yang juga menjadi buta oleh guru jahanam itu. Semenjak kecil aku sudah berhadapan dengan derita hidup dan agaknya memang aku dilahirkan untuk menderita......." Demikian Wi Liong memulai ceritanya. Kemudian ia menceritakan semua pengalaman hidupnya sejak kecil sampai dewasa.
Dua orang gadis kembar itu mendengarkan dengan amat terharu. Mereka sendiri mempunyai riwayat hidup yang tidak menyenangkan, akan tetapi sedikitnya mereka masih sempat bertemu dengan ibu mereka, Tung hai Sian-li pada saat terakhir. Pemuda ini lebih-lebih lagi, semenjak kecil sampai sekarang jangankan melihat orang tuanya, ingatpun tidak bagaimana wajah ayah dan bundanya!
Pemuda ini masih segan untuk bercerita tentang Siok Lan, maka bagian ini ia lewatkan saja. Ia hanya menceritakan tentang usahanya membalas dendam kepada Beng Kun Cinjin yang sampai kini belum terlaksana, tentang urusannya dengan Kun Hong dalam memperebutkan Cheng-hoa-kiam "Nah,
528
begitulah riwayat hidupku yang tidak menarik, membikin kalian jemu saja mendengarnya." ia menutup ceritanya."Harap kalian mengaso dan tidur, biar aku menjaga di sini."
Lan Lan yang masih termenung karena terharu mendengar riwayat pemuda sebatangkara yang menjadi tunangannya itu, berkata, "Aku tidak mengantuk. Ceritamu mengharukan sekali, tuan Thio. Akan tetapi kau sama sekali belum bercerita tentang pengalaman pahit dalam asmara seperti yang kau janjikan."
"Betul," sambung Lin Lin cepat-cepat, "dan kenapa kau agaknya amat memperhatikan kami? Setelah kau sendiri menyatakan bahwa kau tidak bisa menerima pertunangan dengan seorang dari kami seperti yang diusulkan oleh ibu kami, kenapa kau masih selalu mendekati dan menjaga kami?"
Wi Liong memandang dua orang gadis itu. Di bawah sinar api unggun yang kemerahan, wajah dua orang gadis itu lebih-lebih lagi menyerupai wajah Siok Lan yang di kala itu bayangannya memenuhi hati dan pikiran Wi Liong, membuat pemuda itu merasa rindu.
"Karena......... karena kalian tiada bedanya dengan Siok Lan........ karena kalian bagiku adalah penjelmaan Siok Lan sendiri..........”
Ucapannya ini menggetar penuh perasaan dan pandang matanya yang menatap wajah dua orang gadis kembar itu penuh cinta kasih yang mesra. Lan Lan dan Lin Lin berdebar sampai tak dapat mengeluarkan kata-kata.
"Ya, Lan Lan dan Lin Lin, bagiku kalian adalah Kwa Siok Lan. Karena inilah agaknya berat bagiku untuk berpisah, tak kuat aku menjauhkan diri......... maafkan aku.........barangkali sudah gila, akan tetapi segala gerak-gerik, segala yang ada pada kalian, menghidupkan kembali Kwa Siok Lan”
Lin Lin sudah tahu bahwa Kwa Siok Lan adalah puteri Kwa Cun Ek, malah beberapa lama ia dianggap Siok Lan oleh Kwa Cun Ek, malah oleh Kwee Sun Tek pula sehingga ikatan jodohnya dengan Thio Wi Liong disambung lagi. Akan tetapi ia tidak tahu apakah yang terjadi antara Kwa Siok Lan dengan Wi Liong. Adapun Lan Lan. mendengar nama Kwa Siok Lan hanya dari mulut Tung-hai Sian-li dan iapun hanya menduga bahwa ibunya dahulu mempunyai anak seorang puteri bernama Kwa Siok Lan yang sudah meninggal dunia.
"Tuan Thio, siapakah itu Kwa Siok Lan?" Lin Lin bertanya, mencoba untuk menyembunyikan suaranya yang gemetar. Usahanya ini sebetulnya tidak perlu karena pada saat itu Wi Liong sedang penuh kedukaan dan tak dapat memperhatikan keadaan orang lain.
"Mendiang Kwa Siok Lan adalah puteri tunggal Kwa Cun Ek lo-enghiong dan Tung hai Sian li, dan......... tunanganku yang kucinta sepenuh jiwaku........."
Lan Lan memotong "Tuan Thio, pernah kami mendengar kau menyebut nama Bu beng Siocia, apakah itupun kekasihmu yang lain lagi?"
Wi Liong tersenyum pahit, senyum membayangkan perihnya hati. "Itulah awal malapetaka yang menimpa hidupku. Mataku melek akan tetapi aku lebih buta dari pada orang tak bermata. Bu-beng Siocia adalah Kwa Siok Lan. Kwa Siok Lan adalah Bubeng siocia, akan tetapi aku tidak tahu, tidak
529
mengerti betapa besar cinta kasih Siok Lan kepadaku, sampai pada saat terakhir masih setia kepadaku........."
"Bagaimanakah itu? Aku tidak mengerti.........." kata Lin Lin yang tentu saja ingin mengetahui segala-galanya tentang Kwa Siok Lan, karena selain Siok Lan itu masih encinya se ibu, juga ia dijadikan pengganti Siok Lan oleh Kwa Cun Ek.
Setelah menambah api unggun dengan kayu-kayu kering sehingga warna merah dari cahaya api itu menerangi kegelapan, Wi Liong mulai bercerita. Ia menceritakan perjodohannya dengan Siok Lan, ikatan jodoh yang dilakukan oleh pamannya dan Kwa Cun Ek. Kemudian tentang pertemuannya dengan Bu beng Siocia, tentang ketetapan hatinya memutuskan ikatan jodoh dengan Kwa Siok Lan karena cinta kasihnya kepada Bu beng Siocia, kemudian sampai larinya Kwa Siok Lan yang hendak membunuh diri. Akhirnya ia ceritakan pertemuannya dengan Siok Lan yang menjadi pengantin Chi-loya, sampai berita tentang kematian Kwa Siok Lan di sungai. Semua, ini ia ceritakan dengan suara menggetar, kadang-kadang naik sedu-sedan dari dadanya.
Lan Lan dan Lin Lin duduk mendengarkan dengan penuh perhatian. Mereka terbawa hanyut oleh cerita itu, sampai duduk terdiam seperti patung, ikut merasakan penderitaan Wi Liong, bahkan ketika mendengar tentang pertemuan terakhir dan tentang pembunuhan diri Kwa Siok Lan. Lin Lin dan Lan Lan menangis terisak-isak. Tak kuat mereka menahan keharuan hatinya dan sekaligus mereka makin tertarik, makin kasihan dan makin........... cinta kepada pemuda ini, pemuda yang secara sah telah menjadi tunangan mereka berdua!
Melihat dua orang gadis itu mencucurkan air mata mendengar ceritanya, Wi Liong juga tidak kuat dan dua butir air mata menitik turun di atas pipinya. Akhirnya ia berhenti bercerita, menarik napas panjang lalu berkata dengan suara berat,
"Demikianlah, nona. Kalian sudah mendengar riwayatku yang tak menyenangkan, riwayat seorang tolol yang bermata buta. Dapat kalian bayangkan betapa kaget dan bahagia hatiku melihat kalian berdua yang dalam segala hal merupakan Siok Lan ke dua. Dapat kalian bayangkan betapa bahagia hatiku akan pesan ibu kalian tentang ikatan jodoh itu........ seakan-akan ikatan jodoh antara aku dan Siok Lan disambung kembali......... seakan-akan Siok Lan yang sudah mati hidup kembali dan akan berada di sampingku untuk selamanya.........."
Dua orang gadis itu hanya terisak, tak kuasa menjawab atau memberi komentar.
“Akan tetapi..........aku tidak begitu picik, aku tidak akan mengulang kebodohanku. Aku tidak dapat menurutkan nafsu hati, menurutkan cinta kasih yang menggeragoti hatiku. Paman lelah memesan kepadaku bahwa aku telah ditunangkan kembali dengan puteri Kwa Cun Ek lo enghiong, dan paman memesan supaya kali ini aku tidak mengulangi kemurtadanku. Tidak! Kukatakan sudah, siapapun juga tunanganku itu, kali ini aku akan patuh, akan taat karena hanya kebaktian terhadap pamankulah perbuatan baik satu-satunya yang dapat kulakukan........."
"......... kau seorang yang berbakti" hanya demikian Lin Lin dapat berkata.
"......... kasihan sekali kau........." sambung Lan Lan sambil menghapus air matanya.
530
Tiba tiba Wi Liong menggerakkan tangan, menggunakan ujung lengan baju mengusir dua titik air matamya, lalu ia memaksa diri tersenyum. "Ah, aku benar gila. Kenapa aku membikin kalian menjadi sedih dan terharu oleh ceritaku yang tak berharga? Tidak boleh! Kalian merupakan dua orang yang paling kuhormati, paling kusayang dan yang takkan kubiarkan berduka. Kalian benar-benar seperti Siok Lan. Biarlah selamanya aku akan menjadi pelindung kalian. Mengapa sekarang aku membikin kalian berduka? Jiwi siocia. hilangkanlah keharuan dan kesedihan, biar kalian gembira dengarlah aku berlagu."
Wi Liong lalu mengangkat suling, menempelkan bibir pada sulingnya dan tak lama kemudian terdengarlah tiupan suling yang amat merdu, mengalun turun naik dengan nada yang halus menggetarkan kalbu. Memang Wi Liong pandai sekali bersuling. Kali ini ia mencurahkan seluruh isi hatinya ke dalam tiupannya karena ia berusaha mengalihkan semua perasaannya yang timbul karena ceritanya tadi ke dalam permainan suling ini. Ia yang meniup suling sama sekali tidak sadar bahwa justeru karena inilah maka tiupannya sama sekali bukan merupakan hiburan, malah terdengar menyayat hati kedua orang gadis itu. Semua penderitaan, duka nestapa, kekecewaan dan kemenyesalan, rindu yang amat mendalam, kasih sayang yang semesra-mesranya, semua perasaan ini timbul dari dada Wi Liong, memasuki suling melalui tiupannya dan menciptakan lagu yang membuat Lan Lan dan Lin Lin merasa hatinya diremas-remas. Lin Lin tanpa disadarinya meraba- raba sepatu kecil yang tersimpan di balik baju, di dadanya, sedangkan Lan Lan membelai-belai rambut sendiri yang terjuntai di depan. Tak terasa air mata hangat yang baru mengucur turun membasahi pipi kedua orang gadis kembar itu. mata mereka menatap Wi Liong yang tunduk menyuling, lupa segala seperti orang berada di dunia lain.
Wi Liong yang sedang tenggelam dalam ayunan perasaannya sendiri, tiba tiba merasa sulingnya direnggut orang dibarengi pekik, "Berhenti........! Laki-laki bodoh, laki-laki gagah perkasa yang berbatin lemah.......! Kau....... kau.........!!"
Wi Liong melongo melihat betapa Lin Lin dengan marah marah merenggut sulingnya terlepas dan membanting suling itu ke dalam api unggun! Akan tetapi suling itu terbuat dari pada logam yang kuat tahan api, maka tidak terbakar. Wi Liong juga tidak perdulikan sulingnya lagi. Ia menatap ke depan, ganti-berganti memandangi dua orang gadis itu. Lin Lin marah-marah dan sinar mata dan sikapnya persis Siok Lan ketika dulu marah-marah kepadanya, ketika dikejarnya dan memaki-makinya. Kini Lin Lin memandangnya dengan mata terbelalak lebar, air mata memenuhi pipi dan wajahnya agak pucat. Sebaliknya. Lan Lan duduk bersimpuh dengan muka tunduk dan menangis terisak-isak. Tak disangkanya sama sekali dua orang gadis itu berada dalam keadaan seperti itu.
"Ada......... ada apakah.........? Kenapa marah.........?'" Dengan muka bodoh Wi Liong mengambil sulingnya dari api unggun, sampai tidak merasa betapa tangannya sakit karena terjilat api.
"Laki laki bodoh!" Lin Lin marah-marah terus. "Kau meracuni jiwa dengan kesedihan, merusak pikiran dengan kenangan lampau. Alangkah bodohnya, seperti hidup di dunia lain. Bukankah kau sudah......... sudah ditunangkan dengan puteri Kwa Cun Ek? Bukankah kau malah sudah menjadi tunangan puteri Tunghai Sian-li? Kenapa menyesali nasib dan berduka cita seperti itu? Iih, alangkah lemahnya!" Anehnya, habis marah-marah Lin Lin menangis.
531
"Itulah........." Wi Liong menarik napas panjang. "Riwayat lama terulang kembali. Hatiku terhibur karena kalian, kebahagiaan membayang karena aku mendapat pengganti Siok Lan, akan tetapi kenyataan amat keji. Paman telah mengikatku dengan perjodohan lain. Persis seperti dulu lagi........."
"Dan persis kau setolol dulu!" Lin Lin memaki, kemudian ia teringat bahwa ia bersikap keterlaluan terhadap seorang yang baru tadi masih ia sebut "tuan", apa lagi sekarang Wi Liong memandangnya dengan mata kagum.
"Alangkah sama......." katanya.
"Apanya yang sama?" Lin Lin bertanya.
"Kalau marah............. begitulah dulu Siok Lan marah-marah kepadaku....." Kemudian ia melirik Lan Lan, "dan begini ketika berduka."
"Lagi-lagi Siok Lan............!" Lan Lan mencela.
"Tidak, dengan adanya ji-wi siocia (nona berdua)........."
"Apa itu nona-nona? Setelah kita menjadi......... sahabat, apa lagi menjadi tunangan kami......... eh, seorang di antara kami. tak perlu lagi bersungkan- sungkan dalam sebutan, tuan Thio yang terhormat," cela Lin Lin.
Wi Liong tersenyum, lalu mengangguk-angguk. ”Baiklah, aku akan menyebut kalian moi-moi (adik). Tentang ikatan perjodohan......... harap jangan sebut- sebut agar luka di hatiku tidak parah lagi. Seperti kalian tahu, aku sudah bertunangan dan............"
"Apa salahnya?" Lin Lin memotong "Kau bisa mengawini tunanganmu si monyet atau si kadal itu, juga dapat melanjutkan perjodohanmu dengan......... seorang di antara kami........."
Wi Liong melirik. Ia tahu bahwa ynng bicara ini tentu Lin Lin karena ia masih ingat bahwa inilah gadis yang tadi lebih lihai kepandaiannya, mengenalnya dari baju yang berbeda warnanya.
"Mana ada aturan begitu.........?" ia berkata sungkan.
"Bukan hal aneh mempunya dua orang isteri” jawab Lin Lin dengan suara tetap. Memang pada jaman itu, seorang pria memiliki dua orang isteri bukan hal yang mengherankan. Malah, kaum bangsawan dan kaum berada mempunyai banyak isteri muda sebelum menikah, atau setelah beristeri masih mempunyai isteri muda sampai empat lima orang.
"Hal ini............ hal ini......... eh. apakah adik Lan Lan membolehkan? Kumaksud......... adik Lan Lan, eh, yang mana sih adik Lan Lan" tanyanya pura- pura masih belum tahu
"Yang manapun sama saja." jawab Lan Lan yang sudah timbul kembali kegembiraannya.
"Sudahlah jangan memusingkan hal ini, tuan Thio............"
532
"Hush, kau ini bagaimana? Aku menyebut adik, masa kalian masih mau menggunakan sebutan tuan-tuanan segala!"
"Habis bagaimana?" tanya Lin Lin.
"Sebaiknya menyebut kakak atau saudara jangan tuan-tuanan........." tiba-tiba Wi Liong berhenti bicara dan cepat memadamkan api unggun. "Ada orang datang...........” bisiknya. Tubuhnya berkelebat dan ia lenyap menyelinap di antara pohon. Kini keadaan menjadi gelap remang-remang, hanya diterangi oleh ribuan bintang di langit.
Lan Lan hendak menyusul, akan tetapi lengannya dipegang adiknya. "Jangan bergerak. Kita menunggu di sini saja," katanya penuh kepercayaan kepada Wi Liong. Juga dia sekarang telah mendengar suara orang dari arah pantai, akan tetapi karena keadaan, gelap laginya mereka berdua sama sekali masih asing dengan keadaan pulau kecil ini. Lin Lin berpendapat bahwa menanti di situ lebih baik, selain aman juga tidak mengganggu penyelidikan Wi Liong.
Sementara itu, Wi Liong menyusup-nyusup dan dengan hati hati namun cepat ia menuju ke arah suara orang-orang itu. Dari tempat persembunyiannya ia melihat tiga buah perahu diseret ke pinggir dan belasan orang melompat ke pantai lalu berjalan dalam barisan rapi, dipimpin oleh seorang bertubuh tinggi besar dan gagah. Wi Liong merasa kenal orang ini, akan tetapi karena keadaan remang-remang, ia tidak dapat melihat mukanya. Hanya ia dapat menduga bahwa melihat gerak-gerik orang-orang itu, tentu mereka merupakan.sebuah pasukan terlatih dan orang tinggi besar itu komandannya. Tidak hanya dari gerak-gerik yang teratur dan terlatih, akan tetapi juga mereka itu semua membawa senjata yang sama, di pinggang sebatang golok besar dan di punggung tergantung busur dan anak panah.
"Benar benar kosongkah pulau ini?" terdengar orang tinggi besar itu bertanya kepada seorang anggauta barisan terdepan.
"Betul. Hanya pulau kecil inilah yang kosong, yang lain sudah mereka duduki," jawab yang ditanya.
"Hemmm, baik juga tempat ini. Biarlah aku menyelidik sendiri!. Kalian kembali ke darat dan beri peta tentang pulau ini kepada Coa ciangkun (Perwira Coa) agar dipelajari dan pada waktunya nanti tempat ini menjadi markas kita. Tinggalkan perahu kecil untukku di pantai."
Belasan orang itu menyatakan baik, lalu mereka kembali ke perahu-perahu mereka, meninggalkan sebuah perahu yang paling kecil, lalu mendayung pergi dua perahu yang lain di dalam gelap.
Sementara itu. mendengar pembicaraan tadi. Wi Liong segera teringat siapa adanya perwira tinggi besar ini. Bukan lain adalah Kong Bu, putera See-thian Hoat ong yang bertugas menjaga pantai timur! Agaknya perwira muda inipun datang hendak menyelidiki sesuatu dan bukan tak mungkin menyelidiki Pek-go-to karena mencium sesuatu yang mencurigakan. Ia segera melompat dan memanggil, "Kong-ciangkun!"
Kong Bu, komandan muda itu, secepat kilat mencabut goloknya dan memutar tubuh. Kagetnya bukan main mendengar di tempat sunyi yang disangkanya kosong itu ternyata ada orangnya, malah sudah mengenalnya.
533
Wi Liong muncul sambil tertawa. "Kong-ciangkun. simpan golokmu. Aku bukan orang jahat."
Seelah Wi Liong berada di depannya, barulah Kong Bu mengenalnya. Hatinya menjadi lega bukan main dan cepat ia menyimpan goloknya.
”Ah, kiranya Thio-taihiap. Berkeliaran di tempat seperti ini benar benar membuat hatiku mudah kaget dan takut! Ah, anak-anak itu ternyata kurang teliti memeriksa. Benar-benar harus dihukum!"
"Jangan salahkan mereka, Kong-ciangkun. Memang pulau ini kosong, yaitu sebelum aku datang senja tadi. Kong-ciangkun, ada terjadi apakah maka kau dan anak buahmu berada di sini?"
"Ssttt, mari kita pergi ke dalam pulau dan nanti kuceritakan. Kebetulan sekali, Thio-taihiap, kita bertemu di sini karena aku amat membutuhkan pertolonganmu dalam hal ini."
Wi Liong mengerti akan maksud Kong Bu. Kalau berdiri di pantai, akan mudah terlihat oleh orang-orang dari perahu, dan di dalam pulau yang banyak pohon-pohonnya itu mereka dapat bersembunyi. Ketika mereka berdua mulai memasuki hutan, berkelebat dua bayangan orang dan lagi lagi Kong Bu mencabut golok, memasang kuda-kuda dan sikapnya gelisah sekali!
"Ha ha, Kong ciangkun. yang datang adalah dua orang kawan baik, tak usah kau mencabut senjatamu," kata Wi Liong geli.
Kong Bu kini melihat bahwa yang muncul adalah dua orang gadis remaja yang cantik jelita dan kembar. Mukanya menjadi merah mendengar ucapan Wi Liong, maka ia menyimpan kembali goloknya dan berkata perlahan, "Daerah yang dikuasai That Khek Sian benar menimbulkan keseraman dihatiku, membuat aku seperti seorang penakut. Jiwi lihiap, maafkan aku Kong Bu yang bersikap kasar."
Lan Lan dan Lin Lin balas memberi hormat. Wi Liong memperkenalkan mereka. "Ini adalah nona Pek Lan Lan dan Pek Lin Lin. sahabat-sahabat baik yang tidak perlu kaucurigai. Kong ciangkun." Dan kepada dua orang gadis kembar itu Wi Liong berkata, "Ini adalah Kong Bu ciangkun. putera tunggal locianpwe See-thian Hoat-ong, seorang perwira muda yang menjaga keamanan di pantai timur."
Setelah tiga orang itu saling menjura dengan hormat, Wi Liong menyalakan lagi api unggun dan berkata, "Nah, Kong-ciangkun, sekarang kau boleh bicara dengan aman. Apa sih yang telah terjadi di daerah ini!"
Kong Bu menarik napas panjang dan balas bertanya. "Sam-wi tentunya datang ke sini hendak menghadiri pesta ulang tahun dari Thai Khek Siansu, bukan?" Ketika Wi Liong mengangguk membenarkan, perwira muda itu melanjutkan penuturannya, "Undangan antara orang-orang kang-ouw bukan hal yang aneh, bahkan kalau berekor pertempuran-pertempuran sekalipun, aku yang muda dan bodoh mana berani mencampuri urusan para locianpwe dan orang-orang gagah? Akan tetapi kali ini, kebetulan sekali terjadi hal yang amat penting bagi keselamatan negara. Aku mendapat kabar dari para penyelidik bahwa pada waktu ini di daerah Kepulauan Cousanto kedatangan pasukan-pasukan rahasia dari pemerintah musuh di utara! Pentolan-pentolan barisan Mongol kabarnya telah berkumpul di daerah ini!"
534
Wi Liong terkejut. Tak disangkanya sama sekali berita ini. Ia teringat akan perahu-perahu yang dilihatnya sore tadi. "Apa.........? Mereka mau apa?"
Kong Bu menggerakkan pundaknya. "Itulah yang harus kuselidiki dan aku harus mengerahkan orang untuk menangkap mereka. Mereka itu tentulah serombongan mata-mata musuh yang hendak melakukan kekacauan di sini."
"Akan tetapi mengapa di daerah ini?”
"Ini yang mencurigakan. Thio-taihiap. Sudah bukan rahasia lagi bahwa orang-orang Mo-kauw dan Shia-pai membantu pergerakan musuh secara sembunyi. Siapa tahu kalau ada apa-apanya dalam pesta yang diadakan oleh Thai Khek Siansu sekarang ini."
Wi Liong mengangguk-angguk, teringat akan pesan pamannya tentang kecurigaan Thian Te Cu terhadap pesta yang diadakan di Pekgo-to ini.
"Sekarang kau hendak menyelidiki, Kong-ciangkun?”
"Betul. Dengan perahu kecil itu malam ini juga aku hendak menyelidiki pulau-pulau lain."
"Mari aku menyertaimu," kata Wi Liong dan Kong Bu menjadi girang sekali, ia sudah tahu akan kelihaian pemuda ini maka ia tidak bisa mengharapkan pembantu yang lebih cakap dari pada Wi Liong.
"Ji-wi siauwmoi harap menanti di sini saja," kata Wi Liong kepada dua orang gadis kembar itu. "Selain tidak baik terlalu banyak orang menyelidiki, juga kuharap kalian menjaga di sini. siapa tahu ada orang lain lagi mendarat di pulau ini yang sudah dijadikan markas oleh Kong ciangkun. Andaikata ada orang asing mendarat harap kalian diamkan saja, kalau tidak perlu tak usah turun tangan, hanya mengintai apa yang mereka lakukan di sini."
Lan Lan dan Lin Lin menyanggupi dan berangkatlah dua orang pemuda itu meninggalkan pulau dengan perahu kecil Kong Bu. Mereka hendak menyelidiki pulau pulau di sekitar Pek go-to, terutama sekali tiga pulau sorga yang berada dekat Pek-go-to dan di mana tadi Wi Liong lihat ada perahu-perahu hitam mendarat.
Lan Lan dan Lin Lin yang ditinggal sendirian menyalakan api unggun lagi dan mengambil keputusan untuk berjaga semalam itu, tidak berani tidur di tempat asing ini. Tentu saja setelah Wi Liong pergi mereka merasai kesunyian yang amat tak enak dan untuk menghilangkan kesunyian mereka bercakap-cakap tentang pemuda itu.
"Kasihan sekali dia" terdengar Lan Lan akhirnya berkata.
''Betul, cici, dia benar-benar telah dirundung malang." sambung Lin Lin.
Lan Lan mengangkat muka dan memandang wajah adiknya dengan sinar mata tajam menyelidik.
535
"Lin Lin. kau cinta padanya........."
Lin Lin juga membalas pandangan kakak perempuannya dan berkata perlahan, "Betul, dan kaupun juga, cici."
Keduanya terdiam, tenggelam dalam lamunan masing-masing. Kemudian terdengar Lan Lan berkata lirih, seperti menghibur dan membela perasaan mereka itu. "Apa salahnya? Dia itu tunangan kita berdua, pilihan orang-orang tua kita. Bagaimana orang takkan mencinta tunangan sendiri?"
Tiba-tiba, seperti yang dilakukan Wi Liong tadi. Lin Lin melompat dan memadamkan api unggun. Dia yang memiliki kepandaian lebih tinggi dari pada cicinya, telah lebih dulu mendengar suara.
"Ada orang datang........” bisiknya. Api unggun padam dan dua orang gadis itu menyelinap di antara pohon pohon untuk melakukan penyelidikan dan pengintaian.
Makin larut malam keadaan cuaca menjadi agak terang, tidak segelap tadi karena angkasa bersih sekali dan bintang-bintang merupakan lampu-lampu kecil yang mendatangkan cahaya redup dingin. Dua orang gadis itu dengan hati-hati menyusup di antara pohon dan batu karang menuju ke pantai. Lin Lin di depan.
Setelah tiba dekat pantai, Lin Lin memberi tanda kepada Lan Lan sambil menyusup ke belakang batu karang besar, bersembunyi sambil mengintai. Jelas terlihat lima orang berjalan menuju ke tengah pulau. Yang paling depan berjalan seorang laki-laki gundul tinggi besar yang memondong tubuh seorang gadis cantik yang pingsan atau tertotok. Di belakang atau agak berdampingan berjalan seorang wanita cantik setengah tua. kemudian di belakangnya berjalan seorang pemuda dan di belakang pemuda ini seorang laki-laki hitam gundul mengerikan berkuku panjang. Melihat pemuda itu. Lin Lin dan Lan Lan terkejut karena dia itu bukan lain adalah Kun Hong.
Rombongan ini berhenti di tempat terbuka tidak jauh dari tempat sembunyi dua gadis itu. Lin Lin dan Lan Lan mengintai terus, siap menghadapi segala kemungkinan dan mereka dalam hati bertanya-tanya siapa gerangan orang-orang itu dan bagaimana Kun Hong bisa bersama mereka. Siapa pula gadis itu yang kini diturunkan dari pondongan, dibuka jalan darahnya lalu diikat pada sebatang pohhon! Gadis itu berdiri tegak dengan mata dibuka lebar, sedikitpun tidak takut malah sikapnya menantang!
Siapakah mereka? Laki laki gundul tinggi besar yang tadi memondong gadis itu adalah Beng Kun Cinjin Gan Tui dan yang ditawannya itu bukan lain adalah Pui Eng Lan! Wanita cantik di sebelahnya adalah Tok sim Sian-li dan laki-laki mengerikan yang berjalan di belakang Kun Hong adalah datuk orang Mo kauw. Thai Khek Sian. Bagaimana Kun Hong bisa berada dengan mereka dan bagaimana pula Eng Lan sampai terjatuh di tangan Beng Kun Cinjin? Untuk mengetahui akan hal ini mari kita ikuti perjalanan Kun Hong semenjak berpisah dari Wi Liong dan dua gadis kembar Lin Lin dan Lan Lan.
Setelah mendengar dari Wi Liong bahwa Eng Lan berada di An king, Kun Hong cepat melakukan pengejaran ke kota itu. la ingin sekali bertemu dengan kekasihnya, ingin ia minta ampun dan memohon agar Eng Lan jangan marah-marah kepadanya.
536
"Tanpa Eng Lan, hidup tidak ada artinya," pikirnya sepanjang jalan. Alangkah kecewanya ketika di kota Anking ia tidak mendapatkan bayangan Eng Lan lagi. Tiga hari ia mencari gadis itu dan akhirnya ia mendapat keterangan dari orang yang melihat gadis cantik itu bahwa Eng Lan meninggalkan kota An king melalui pintu gerbang sebelah timur. Segera ia mengejar ke timur. Akan tetapi, mengejar sampai ke perbatasan antara Propinsi An hui dan Ce-kiang. ia belum juga dapat menyusul gadis itu.
Beberapa hari kemudian ia tiba di kaki Bukit Thian mu san sebelah timur setelah melewati bukit ini dari selatan. Jejak Eng Lan menghilang. Tak seorangpun yang dijumpai melihat gadis itu. Sebaiknya ia mendengar akan lewatnya rombongan rombongan orang yang menuju ke timur. Orang-orang kang-ouw. Teringatlah ia akan hari besar suhunya, Thai Khek Sian. Karena tempat tinggal suhunya tak jauh lagi, Kun Hong lalu mengambil keputusan untuk mengunjungi Pulau Pek go-to dan di sana kalau ia tidak mendapatkan Eng Lan sedikitnya ia akan bertemu orang orang kang ouw dan siapa tahu dari mereka ini ia bisa mendapat dengar tentang kekasihnya itu atau lebih baik lagi. siapa tahu kalau Eng Lan datang pula bersama gurunya Pak-thian Koai-jin.
Ketika Kun Hong sedang berjalan di pagi hari itu, mulai mendaki lagi bukit kecil di sebelah timur Thian-mu-san, ia melihat sebuah rumah tua menyendiri dan dari rumah ini tercium bau masakan yang enak dan gurih sekali. Bau ini membuat perut Kun Hong terasa amat lapar dan otomatis kedua kakinya bergerak menuju ke rumah itu.
Akan tetapi baru sampai di depan pintu rumah yang sudah rusak dan butut itu, ia berhenti karena di samping bau sedap masakan, hidungnya mencium bau yang amat memuakkan, bau bangkai! Heran dia mengapa tadi ia hanya mencium bau masakan saja. Ketika ia melihat asap keluar dari celah-celah pintu dan bilik, baru ia tahu bahwa tentu saja bau tidak enak itu tidak bisa tercium dari tempat jauh, tidak seperti bau masakan panas yang masih mengepulkan asap. Ia merasa heran sekali dan tidak segera masuk karena merasa jijik. Tiba-tiba ia mendengar suara orang tertawa berkakakan dan disusul kata-kata yang parau.
"Hah-hah hah. dulu kau begitu cantik, begitu menarik sampai-sampai aku menjadi tergila gila padamu. Tapi kau menolak dan melayani pria-pria lain. Sekarang? Hah hah hah. setiap orang pria akan takut dan jijik melihatmu, akan tetapi aku orang sial masih menjagamu dan makan minum di samping mayatmu. Hah hah-hah!" Suara ketawa terakhir ini terdengar seperti orang menangis. Kun Hong terkejut sekali ketika mengenal suara ini, suara Buceng Tok-ong! Ia cepat menolak pintu dan masuk cepat-cepat Benar saja. ia melihat bekas gurunya itu duduk di atas bangku, menghadapi meja yang penuh masakan masih mengebul panas dan arak, makan minum seorang diri. Entah dari mana orang aneh ini bisa mendapatkan makanan panas di tempat seperu itu. Akan tetapi bukan itu yang menarik perhatian Kun Hong, melainkan apa yang terdapat di atas dipan dekat dengan tempat duduk Bu-ceng Tok-ong. Di atas pembaringan itu membujur sebuah mayat yang dikerubungi kain lapuk. Mayat inilah yang mengeluarkan bau busuk. Benar-benar di dunia ini banya Buceng Tok ong saja kiranya yang dapat makan minum di samping sebuah mayat yang sudah membusuk dan berbau!
"Tok-ong.........!" Kun Hong berseru heran. Sudah lama ia tidak mau menyebut kakek ini sebagai gurunya biarpun sebenarnya Bu-ceng Tok-ong adalah gurunya yang pertama kali.
"Heh heh heh, Kun Hong. Bagus kau datang. Mari temani aku makan minum untuk menghormati pembebasan Tok sim Sian li dari siksa dunia. Hah-hah!' kata Bu ceng Tok ong tanpa menoleh.
537
Kun Hong makin kaget. Jadi mayat itu adalah mayat Tok sim Sian li! Biarpun ia tidak suka kepada Tok sim Sian li yang cabul dan jahat, seorang yang terutama di antara sekian banyak orang yang menyeretnya ke jalan sesat dahnlu, namun harus ia akui bahwa cinta kasih Tok sim Sian li kepadanya amat mendalam dan juga setulusnya, ia menghampiri dipan itu dan ingin melihat wajah wanita itu yang kini sudah membujur sebagai mayat. Ia paksakan diri dan menahan napas untuk melawan bau busuk. Tangannya menjangkau dan kain penutup bagian muka ia tarik.
"Ayaaaa.........!!” Kun Hong melepaskan kembali kain penutup muka mayat itu sambil melompat mundur ke belakang dengan penuh kengerian dan keseraman. Ia masih mengenal muka Tok sim Sian li hanya karena ia dahulu dekat sekali hubungannya dengan wanita ini. Muka itu kini berwarna hitam agak biru, kulit muka yang dahulu putih kemerahan itu kini benjal benjol membengkak , matanya terbelalak besar, hidung dan mulutnya tertarik ke samping. Benar-benar menjijikkan dan menakutkan sekali.
"Hah-hah hah, apa kataku, Sian-li? Bahkan Kun Hong, pemuda tampan yang dulu paling kau cinta, sekarang ketakutan dan jijik melihat mukamu! Hah hah hah baru sekarang kau melihat bedanya cinta kasih murni dan cinta kasih nafsu bukan? Sayang terlambat...... terlambat......"
Dan kakek aneh ini kembali tertawa seperti orang menangis.
Kun Hong maklum bahwa di balik tawa dan kegembiraan ini. sebenarnya Buceng Tok-ong amat berduka. Ia sudah mengenal baik watak bekas suhunya ini.
"Tok-ong, apa yang terjadi dengannya? Bagaimana ia sampai begitu?" Pemuda ini melompat dan mengguncang-guncang pundak bekas gurunya.
Bu ceng Tok-ong menunda minumnya dan memandang bekas murid ini dengan mata terbelalak. "Kau ingin membalaskan dendamnya? Ingin menemui pembunuhnya?"
"Mana dia? Ingin kulihat orangnya!" kata Kun Hong yang merasa benci melihat orang membunuh Tok-sim Sian-Ii secara demikian mengerikan.
"Hah-hah-hah, dia bukan orang."
"Bukan orang?"
Bu-ceng Tok ong bangkit dari tempat duduknya, memandang kepada pemuda itu dengan mulut tersenyum mengejek akan tetapi wajahnya berseri lalu berkata. "Mari ikut dengan aku." Ia lalu melompat keluar dan berlari, diikuti oleh Kun Hong.
Kakek itu membawanya ke daerah berbatu, di mana batu-batu gunung menonjol dengan bentuk bermacam-macam, daerah tandus yang hanya ditumbuhi pohon-pohon tua kering dan tetumbuhan yang kurus.
"Bantu aku mencari seekor katak yang gemuk." kata Bu-ceng Tok-ong yang segera mencari-cari di bawah tetumbuhan. Biarpun tidak tahu akan maksud bekas gurunya, namun karena bernafsu hendak melihat apa yang telah membunuh Tok sim Sian-Ii demikian kejinya, Kun Hong tanpa banyak cakap
538
lagi lalu ikut mencari. Akhirnya mereka mendapatkan seekor katak betina yang gemuk. Bu ceng Tok-ong menangkapnya lalu mengikat katak itu pada perutnya dengan sehelai tali yang sudah ia siapkan. Kemudian ia mengikatkan ujung tali pada sebuah ranting yang dua depa panjangnya. Dengan langkah hati-hati ia lalu menuju ke sebelah lubang di atas gundukan tanah, kemudian menancapkan ranting itu di atas tanah. Katak yang diikatnya tergantung dan bergerak-gerak hendak melepaskan diri dengan sia-sia.
”Kita tunggu di sana." kata Bu-ceng Tok ong yang mengajak Kun Hong bersembunyi di balik batang pohon. Kun Hong menurut saja dan ia mulai timbul dugaan yang membuat hatinya ngeri. "Ular berbisa?" tanyanya lirih. Bu-ceng Tok ong tidak menjawab, hanya nengangguk.
Kun Hong mendongkol. "Jangan kau main-main, Tok-ong. Kau yang dijaluki Raja Racun, masa untuk menangkap ular saja harus minta bantuanku!" omelnya.
Memang hal ini amat mencurigakan. Jangankan baru menangkap seekor ular berbisa, biar sekaligus ada sepuluh ekor, orang macam Bu-ceng Tok-ong biasanya akan dapat menangkap dengan mudah. Memang itulah pekerjaannya untuk mengumpulkan bisa ular. Kalau memang betul Tok sim Sian-li tewas digigit ular, selain hal ini tak masuk di akal mengingat kelihaian Tok-sim Sianli, juga mengapa Bu-ceng Tok-ong tidak terus membunuh ular itu dan malah minta bantuannya?
Agaknya Bu-ceng Tok-ong dapat membaca isi pikirannya. Orang tua itu mengeluarkan suara ketawa perlahan mengejek. "Kau tahu apa? Ular seperti yang akan kau lihat ini sedunia belum tentu ada keduanya. Ketika aku dan Sian-li hendak menangkapnya, baru terkena semburannya saja Sianli sudah menemui ajalnya. Akupun hampir saja celaka kalau tidak lekas lari. Terus terang saja aku tidak berani menghadapinya, maka kau yang lebih gesit kumintai tolong untuk menangkapnya agar kita bisa membalas dendam Sianli."
Kun Hong kaget bukan main. Pada orang lain, boleh jadi Bu-ceng Tok-ong membohong dan main-main. akan tetapi ucapannya kepadanya tadi ia percaya. Tentu seekor ular berbisa yang hebat sekali.
''Ular apakah itu.........?" tanyanya.
"Ssssttt........." Bu-ceng Tok-ong mencegah pemuda itu bicara sambil menunjuk ke depan.
Kun Hong memandang ke arah katak yang dijadikan umpan. Katak itu masih meronta-ronta hendak melepaskan diri dari ikatan. Tiba-tiba katak itu mengeluarkan suara keras dan meronta makin keras lagi. Dan dari dalam lubang di bawah katak yang menjadi umpan pancing itu, keluar sinar merah ke atas seakan akan di dalam lubang terdapat api bernyala. Setelah itu, perlahan-lahan keluar uap kemerahan, makin lama makin tebal dan katak itupun meronta makin hebat seakan akan kepanasan. Kemudian tubuh katak itu meneteskan air. entah peluh entah apa, akan tetapi terus menerus meneteskan air yang memasuki lubang. Makin tebal uap merah, makin deras tubuh katak itu meneteskan air sampai akhirnya gerakan katak menjadi lemah sekali dan airpun hanya menetes sedikit Agaknya tubuh katak itu sudah disedot hampir kering.
Kun Hong hendak mengajukan pertanyaan akan tetapi kembali Bu-ceng Tok-ong mencegahnya dengan suara "sstttt.........!"
539
Terpaksa Kun Hong menahan diri dan memandang lagi. Dari dalam lubang itu keluar sebuah benda merah kecil yang bergerak cepat sekali, tersembul keluar lalu masuk lagi, demikian cepatnya sehingga sukar Kun Hong mengikuti dengan pandangan matanya. Makin lama makin panjang benda itu dan tersembullah kepala seekor ular yang bermata merah, berkulit merah kuning dan ternyata bahwa benda kecil yang bergerak cepat itu adalah lidahnya yang panjang bercabang. Ular itu mulai merayap keluar dari lubang dan sekarang baru kelihatan oleh Kun Hong bahwa ular ini memang berbeda dengan ular-ular lain. Besarnya tidak seberapa, paling-paling sebesar lengan dan panjangnya juga tiga kaki paling banyak, akan tetapi bentuknya aneh sekali. Di bagian punggung ular itu. dari kepala sampai ke ekor, terdapat duri-duri seperti duri landak!
Bu teng Tok-ong menanti sampai ular itu keluar dari lubang dan mulailah ular itu merayap mengelilingi katak sambil menjilat-jilat. Kemudian ia berkata perlahan. "Kau serang ular itu, harus ditangkap hidup jangan dibunuh, awas, jangan kata lagi gigitannya, baru semburannya bisa mematikan. Aku akan menutupi lubangnya sementara kau memancingnya meninggalkan lubang,
"Baik!" kata Kun Hong yang di dalam hatinya merasa heran bagaimana Tok-ong tidak berani menangkap seekor ular sekecil itu. Apakah Bu-ceng Tok-ong sudah menjadi seorang pengecut?
Akan tetapi ia segera mendapat bukti akan kebenaran Tok-ong mengenai ular aneh itu. Begitu melihat manusia, ular itu mengeluarkan desis yang tajam sampai menggetarkan jantung, dan tiba-tiba ular itu berdiri di atas ekornya! Pernah Kun Hong melihat ular ular yang bisa berdiri, akan tetapi hanya setengah badannya saja yang berdiri. Ular ini, lain dari pada yang lain, berdiri seluruh tubuhnya, lurus-lurus seperti tonggak, berdiri di atas ekornya dan mukanya menjadi makin merah. Kemudian ular itu menyemburkan uap berair berwarna merah. Semburan ini hebat, cepat sekali dan dapat mencapai jarak tiga meter!
Kun Hong terkejut dan cepat melompat ke kiri untuk menghindarkan diri dari semburan maut itu. Kembali ular menyembur sambil meloncat. Memaug aneh kalau disebut ular meloncat, berkakipun tidak bagaimana bisa meloncat? Caranya meloncat, ketika ular itu berdiri ia melengkungkan tubuh lalu meregang kembali dan tenaga iniah yang membuat ia bisa meloncat sampai hampir dua meter jauhnya!
Untuk kedua kalinya Kun Hong terkejut, akan tetapi ia masih dapai mengelak dengan mudah. Ia kini sengaja menanti serangan ke tiga, siap untuk menangkap leher ular itu apa bila menyerangnya. Benar saja, ular itu menyerang lagi dengan loncatan tinggi dan semburan melebar. Kun Hong mengelak ke kanan dan tangan kirinya menyambar hendak menangkap leher ular itu akan tetapi tiba-tiba duri duri yang berada di belakang leher itu berdiri dan merupakan jarum-jarum menyambut tangannya. Kun Hong memiliki kegesitan dan ketajaman mata yang sudah tinggi, maka ia dapat melihat gerakan ini. Cepat ia menarik kembali tangannya sehingga tidak menjadi korban. Pemuda ini mulai mengerti mengapa ular ini begini lihai. Kalau hendak membunuhnya dengan senjata, tentu saja mudah. Akan te!api Tok-ong menghendaki dia menangkapnya hidup-hidup dan tentu Tok sim Sian-li juga tadinya berusaha menangkapnya hidup hidup maka sampai menjadi korban. Dia sendiri yang memiliki ilmu lebih tinggi dari pada Tok sim Sian-li, sekarang merasa bingung, tak tahu bagaimana ia bisa menangkap ular aneh ini dengan tangan kosong.
Sementara itu, setelah tiga kali gagal menyerang orang, ular itu menjadi gelisah. Agaknya iapun maklum bahwa kali ini ia menghadapi lawan tangguh. Agaknya tiga kali sudah cukup baginya dan ia
540
merayap kembali ke lubangnya. Akan tetapi, pada saat binatang itu tadi menyerang Kun Hong, Bu-ceng Tok ong sudah bekerja cepat, menghampiri lubang dan menutupnya dengan sebuah batu besar. Melihat ular itu datang. Tok-ong segera menjauhi. Ular itu bingung melihat lubangnya tertutup batu. kemudian ia mendesis-desis marah dan berdiri lagi menghadapi Kun Hong.
"Eh, Kun Hong. Apakah kau juga tidak berani dan tidak bisa menangkapnya hidup-hidup?" kata Tok ong memanaskan hati.
"Binatang macam ini mengapa tidak dibunuh saja?" kata Kun Hong hendak mencabut pedangnya.
"Jangan bunuh! Kalau hanya membunuh, untuk apa aku minta bantuanmu? Aku sendiripun bisa kalau hanya membunuh, apa sukarnya?"
Panas hati Kun Hong mendengar ini. Ia tidak jadi mencabut pedangnya.
"Apa sih sukarnya menangkap ular?" katanya dan otaknya bekerja. Terang baginya bahwa kalau menangkap dengan tangan kosong, andaikata bisapun amat besar resikonya. salah sedikit saja bisa tewas oleh semburan yang mengandung bisa maut.
Dengan tabah ia menghampiri ular yang berdiri itu. Binatang itu kini menjadi marah setelah tak dapat lari ke dalam lubangnya. Ia mendesis dan tubuhnya mencelat ke arah leher Kun Hong. Pcmuda ini kembali mengelak, akan tetapi ular itu sambil melompat memutar leher dan menyembur! Inilah serangan hebat dan berbahaya sekali. Kun Hong terpaksa membuang diri karena serangan ini tiba-tiba datangnya. Akan tetapi ujung bajunya yang melambai oleh gerakannya masih terkena semburan dan baju itu menjadi hangus!
Kun Hong terkejut bukan main. cepat ujung baju itu ia sobek dan buang, maklum bahwa racun yang menempel di situ amat berbahaya. Ia mengeluarkan keringat dingin dan hatinya menjadi makin panas ketika mendengar suara ketawa Bu ceng Tok-ong yang mengejeknya. Ia melihat "pancing" tadi dan timbullah akal. Cepat disambarnya ranting yang di sambung tali pengikat katak itu, kemudian ia menghampiri lawannya. Ular menyerang lagi, Kun Hong melompat ke kiri dan menggerakkan pancingnya. Usahanya berhasil baik. Tali pancing berikut katak di ujungnya itu menyambar ke arah leher dan tepat sekali mengitari dan mengikat leher ular yang tentu saja menjadi tak berdaya lagi. Binatang itu meronta-ronta, membelit belit, akan tetapi tak mungkin ia bisa melepaskan diri.
"Bagus, kau dapat menangkapnya, anak baik!" terdengar Bu-ceng Tok-ong memuji. Orang ini berlari menghampiri dan dengan sehelai tali lain mengikat ekor ular itu, terus ia gantung ke atas sehingga ular itu tergantung dengan kepala di bawah. Karena leher dan ekornya terikat ia tidak dapat menyerang lagi. malah tidak dapat menyembur karena lehernya tercekik erat-erat.
"Tahan dulu dia biar jangan lepas, aku membuat api," kata Bu-ceng Tok-ong yang kegirangan. Raja Racun ini sambil tertawa-tawa membuat api unggun, kemudian menyediakan sebuah panci dan sambil tertawa bergelak ia memanggang ular itu di atas api.
Tentu saja, ular itu menggeliat geliat kepanasan. "Hah-hah-hah. rasakan kau pembalasanku, ular siluman. Rasakan kau panasnya api neraka, hah-hah-hah!"
541
Bu-ceng Tok-ong tidak membakar tubuh ular di dalam api, melainkan memanggangnya di atas api sehingga ular yang kepanasan itu tersiksa bukan main. Binatang itu menggeliat geliat dan mulutnya terengah-engah, tubuhnya mulai mengeluarkan peluh berminyak. Warna merah menjadi makin tua dan dari dalam mulutnya keluarlah minyak merah. Bu ceng Tok-ong cepat-cepat menadahi minyak merah yang bukan lain adalah racun ular itu dengan panci yang sudah ia sediakan. Kun Hong hanya mengawasi saja dan sekarang tahulah dia mengapa Bu-ceng Tok ong menghendaki ular itu ditangkap hidup-hidup. Tak lain untuk mengambil racunnya. Memang cara terbaik mengambil seluruh racun ular adalah dengan jalan memanggangnya sampai kepanasan dan keluar semua racun dari lehernya. Ia tidak perduli akan hal ini, bukan urusannya. Akan tetapi ia merasa heran melihat ular aneh ini dan mengapa pula Tok sim Sian li sampai mati oleh binatang ini?
"Ular apakah ini. Tok-ong? Dan kenapa tadi kau tutupi lubangnya?"
Ular ini adalah rajanya ular kelabang dan belum tentu keluar dari dalam bumi selama puluhan tahun. Aku pernah mendengar namanya akan tetapi baru kali ini melihatnya. Namanya tak diketahui orang, akan tetapi dahulu ia disebut Naga Kecil Merah. Kalau tadi ia bisa lari memasuki lubang, jangan harap bisa menangkapnya lagi karena lubangnya itu merupakan terowongan yang tidak ada dasarnya." Tok ong sekarang menyimpan racun ular minyak merah itu karena ular tadi sudah mati. kering tidak mengeluarkan minyak lagi. Bangkai ular yang sudah kering seperti ikan asin ini ia simpan pula.
"Kenapa Tok-sim Sian li sampai bisa terkena semburannya?"
Bu ceng Tok-ong menarik napas panjang. "Sudah kuperingatkan dia. Dia tahu akan kehebatan racun ular ini. maka ia begitu bernafsu untuk menangkapnya sehingga ia menjadi korban tanpa dapat kutolong lagi."
"Untuk apa kau mengambil racunnya?" ia bertanya sambil memandang tajam. Tentu ada maksud tertentu Raja Racun ini, kalau tidak, masa sampai mau minta bantuannya?
"Hah-hah hah. aku dan Sianli tadinya hendak pergi ke pesta Thai Khek Siansu. Tanpa barang antara, mana aku ada muka datang ke sana? Racun Ang-siauw-Kong (Naga Kecil Merah) ini merupakan hadiah yang tak ternilai harganya."
"Dan bangkai itu? Untuk apa?”
"Ah. ini hanya untuk peringatan. Ular ini telah membunuh Sian li........."
Kemudian Kun Hong teringat akan maksud perjalanannya. Tok-ong adalah seorang perantau, pikirnya, bukan tak mungkin ia mengetahui tentang Eng Lan.
"Tok-ong. apakah kau melihat nona Pui Eng Lan?" tiba-tiba ia bertanya.
Buceng Tok-ong menengok heran, lalu tertawa. Tidak aneh kalau pemuda ini menanyakan seorang wanita. Ia sudah kenal baik watak bekas muridnya ini, seorang pemuda yang mempunyai banyak kekasih.
"Heh-heh heh, di mana kau kehilangan kekasihmu ini?" ia menggoda.
542
"Tok-ong. jangan main main. Kau melihat dia atau tidak?" bentak Kun Hong. Bu ceng Tok-ong heran. Belum pernah ia melihat Kun Hong marah-marah digoda tentang diri seorang wanita.
"Bagaimana aku bisa menjawab pertanyaanmu kalau aku tidak tahu siapa itu Pui Eng Lan?"
Kun Hong insyaf akan kekeliruan pertanyaannya. Orang macam Bu-ceng Tok-ong ini mana bisa mengenal Eng Lan? Dia itu murid tunggal Pak-thian Koaijin. "Aku mencarinya."
Bu-ceng Tok-ong masih tersenyum lebar, akan tetapi keningnya dikernyitkan dan matanya bersinar-sinar ganjil. Kun Hong berlaku waspada. Dari pengalamannya ketika hidup dekat bekas gurunya itu ia tahu bahwa kalau Raja Racun ini mengerutkan kening dan matanya bersinar-sinar seperti itu, menandakan bahwa ia sedang menggunakan pikirannya yang selalu penuh akal-akal licin.
"Ah, dia.........? Bukankah dia itu gadis cantik jelita, agak kehitaman tapi manis sekali, membawa pedang, lincah dan tabah?"
Kegembiraan dan harapan besar memenuhi hati Kun Hong, membuat ia lupa akan tanda-tanda pada muka bekas gurunya tadi. "Betul, Tok-ong, betul dia. Apa kau tahu di mana dia?"
"Hah-hah-hah-hah, agaknya kali ini kau betul-betul jatuh cinta. Bukan begitu?"
Maklum akan ketajaman mata bekas gurunya. Kun Hong tak perlu membohong lagi. Ia mengangguk, wajahnya demikian sungguh sungguh sehingga Bu ceng Tok-ong tidak berani main-main lagi.
"Aku tahu di mana dia. Baru kemarin aku melihat dia menuju ke Pek go-to juga,"
"Seorang diri?" tanya Kun Hong. agak heran bagaimana gadis itu berani pergi ke Pek-go-to seorang diri.
"Tadinya seorang diri. Kemudian....... sayang sekali........."
Kun Hong melangkah maju dan menerkam lengan kakek itu. "Kemudian bagaimana? Kenapa sayang? Hayo bilang!"
Bu-ceng Tok-ong meringis. Terkaman tangan itu benar-benar amat kuat dan menyakitkan lengannya. "Kemudian......... kemudian ia pergi bersama-sama dengan Beng Kun Cinjin Gan Tui."
Pucat seketika wajah Kun Hong mendengar ini, kedua kakinya menggetar saking hebatnya ketegangan hatinya. Memang ia sedang mencari-cari Beng Kun Cinjin. "ayahnya" dan musuh besarnya ini. Tentu saja mendengar adanya Beng Kun Cinjin, ia menjadi girang dan ingin segera melakukan pembalasan dendamnya. Akan tetapi mendengar kekasihnya terjatuh ke dalam tangan musuh besar itu, ia benar-benar kaget.
"Bagaimana ia bisa bersama dengan........,Beng Kun Cinjin?" tanyanya.
543
"Heh-heh-heh, mana aku mengerti? Aku hanya mendengar Beng Kun Cinjin berkata kepada nona itu begini. Kau calon mantuku, hayo ikut dengan pinceng sambil menanti datangnya Kun Hong anakku! Nah. demikianlah, lalu mereka pergi bersama."
Pucat lagi wajah Kun Hong. "Jadi kau......kaupun sudah tahu tentang dia dan aku.........?"
"Hah hah, siapa orangnya yang tidak tahu? Tentang kau anak Beng Kun Cinjin, semua orang sudah tahu. Kau hendak menyusul ke sana, Kun Hong? Mari pergi bersamaku."
Kun Hong menyembunyikan getaran hatinya. Ia khawatir sekali akan nasib Eng Lan, akan tetapi juga gembira karena akan berhadapan dengan musuh besarnya. Maka tanpa banyak cakap lagi ia lalu ikut Bu ceng Tok-ong menuju ke Pek-go-to.
Setelah tiba di pantai. Bu ceng Tok-ong lalu mendatangi sebuah tempat tersembunyi di pantai laut di mana ternyata sudah disediakan perahu-perahu kecil yang dijaga oleh beberapa orang selir Thai Khek Siansu. Mereka ini menyambut kedatangan Bu ceng Tok-ong dan terutama Kun Hong dengan gembira. Akan-tetapi Kun Hong tidak memperdulikan mereka, biarpun di antaranya ada beberapa orang yang dahulu pernah menjadi sobat baiknya. Bersama Bu ceng Tok ong ia lalu mendayung perahu yang dikemudikan oleh si Raja Racun.
"Eh, kenapa tidak ke Pek-go-to?" tanya Kun Hong ketika melihat bahwa perahu menuju ke pulau lain.
"Nanti dulu. aku hendak singgah di pulau gudang makanan. Kau tahu. untuk keperluan para tamunya. Siansu menyediakan makanan dan minuman di pulau kecil itu dan aku mempunyai tugas di sana. Laginya, sekarang sudah hampir gelap, tidak patut datang malam malam di Pek-go-to."
Biarpun hatinya tidak puas, akan tetapi pada saat itu Kun Hong tidak mau banyak ribut. Pula. diam-diam ia masih menaruh hati curiga terhadap Raja Racun ini dan hendak mengawasi gerak-geriknya.
Perahu kecil itu mendarat di pulau kosong, sebuah di antara tiga pulau kosong yang kecil dan indah. Kedatangan mereka disambut lagi oleh sepasukan gadis penjaga yang sudah mendirikan banyak kemah kemah darurat di tempat itu.
"Kalian pergilah menghadap Siansu dan katakan, bahwa tugasku sudah berhasil baik." kata Bu-ceng Tok-ong kepada duabelas orang penjaga itu. ”Sekarang ada aku dan Kun Hong di sini, kami yang akan menjaga. Pergilah!"
Duabelas orang wanita itu segera meninggalkan pulau dengan perahu-perahu kecil mereka yang mewah, meninggalkan Kun Hong berdua. Jelas sekali kelihatan mereka itu kecewa harus pergi meninggalkan Kun Hong, karena tadinya mereka sudah bergembira melihat datangnya pemuda ini.
Malam ilu Bu-ceng Tok-ong bekerja keras. Sambil tertawa-tawa kakek ini menggodok minyak racun ular kelabang sampai menjadi kental, kemudian ia membawa godokan racun ini ke dalam sebuah tenda tempat menyimpan minuman. Tigapuluh buah guci arak besar berada di tempat ini dan Bu ceng Tok ong menuangkan racun ke dalam guci-guci itu. lalu menggunakan sebatang sumpit panjang untuk mengocek agar racun itu, bercampur betul.
"He... apa yang kaulakukan ini, Tok-ong?” Kun Hong tak sadar lagi menegur, kaget melihat perbuatan ini.
544
"Hah-hah-hah, kau lihat sendiri. Mencampuri arak dengan racun Ang-siauw liong. Ha-ha-ha!"
Kun Hong melangkah maju, sikapnya mengancam. "Apa maksudmu? Katakan Tok ong, apa maksudmu melakukan ini?" Hampir ia menyebut melakukan perbuatan keji akan tetapi ia menahannya karena maklum bahwa ucapan ini tidak sesuai dengan keadaan Tok ong dan karenanya tentu akan menimbulkan kecurigaan bekas purunya itu.
"Hah-hah, apa kau tidak mengenal watak suhumu sendiri, Thai-Khek Siansu? Gurumu itu selain lihai juga amat cerdik. Sekali ini ia hendak menggunakan kepandaianku untuk melenyapkan semua lawan. Ha ha ha."
"Apa maksudnya?"
"Apa lagi? Semua tokoh tingkat tinggi dunia kang ouw diundang. Akan datang para bengcu dan ciangbunjin, para ketua partai persilatan dan terutama sekati akan datang juga Thian Te Cu dan Kui bo Thai-houw. Kalau tidak menggunakan kepandaianku, mana bisa menyuguhkan minuman maut tanpa diketahuli! mereka yang lihai itu? Hah-hah-hah-hah!"
Kun Hong menekan perasaannya dan dengan suaira biasa ia bertanya lagi. "Jadi suhu Thai Khek Sian hendak membunuh para undangan dengan minuman ini? Kedengarannya begitu mudah. Hemmm, kiraku takkan semudah itu mengingat bahwa mereka itu rata-rata memiliki kepandaian tinggi. Laginya, mereka tentu menaruh curiga."
"Ha ha, kau kira gurumu begitu bodoh? Arak campuran ini dikeluarkan sebagai hidangan umum, tidak hanya para undangan yang dianggap musuh, juga kawan sendiri sampai Thai Khek Siansu ikut pula minum."
Kun Hong mendongkol. Dia tidak percaya dan mengira Bu-ceng Tok-ong main-main. "Siapa percaya kebohongan ini? Kau sendiri bilang bahwa racun Ang-siauw-Iiong tidak ada obat penolaknya."
"Tidak ada obat penolaknya, memang. Kecuali tubuh ular itu sendiri." But-ceng Tok-ong mengeluarkan bangkai ular yang sudah kering dari saku bajunya.
Bukan main marah dan kagetnya hati Kun Hong. Dia. bukan Kun Hong dahulu yang tentu tidak akan perduli dengan rencana pembunuhan keji besar besaran ini, malah akan ikut gembira. Akan tetapi sekarang dia lain lagi. Ia tidak rela membiarkan perbuatan keji ini terjadi, apa lagi kalau mengingat bahwa di antara mereka yang hendak dibunuh terdapat Thian Te Cu, Kui-bo Thai-houw, dan lain-lain. Akan tetapi Kun Hong juga cerdik, tidak kalah oleh Bu ceng Tok-ong. Ia sudah mempelajari segala tipu muslihat licik dari orang-orang semacam Bu-ceng Tok-ong. Rasa benci dan jijik tidak tampak pada mukanya, malah ia segera tersenyum.
"Hebat sekali. Kau benar-benar lihai, Tok-ong, tidak malu aku mengaku kau sebagai bekas pendidikku. Memang itulah jalan terbaik untuk melenyapkan orang-orang yang berbahaya bagi kita Selanjutnya, apakah Thai Khek Sian guruku itu hanya mengandalkan racun ini saja? Bagaimana kalau gagal? Ingat, fihak sana tak boleh dipandang ringan. Selain Thian Te Cu dan Kui-bo Thai houw yang luar biasa
545
lihainya, juga masih banyak orang lihai lainnya seperti Thio Wi Liong, Thai It Cinjin. Imyang Sian-cu dan para ciangbunjin dari partai-partai persilatan besar.
"Mana bisa gagal? Arak kehormatan dikeluarkan, semua minum baik tamu maupun tuan rumah. Curiga apa? Mereka akan roboh setengah jam kemudian, tidak kentara. Hahaha! Takut apa? Kalau gagal sekalipun sudah ada perangkap lain. Gurumu sudah........." Tiba-tiba Bu-ceng Tok ong menghentikan kata-katanya, berhenti tertawa dan menatap wajah Kun Hong dengan tajam. "Eh, Kun Hong. Kau ini murid terkasih dari Thai Khek Siansu mengapa sampai tidak tahu akan rencana gurumu?"
Kun Hong menarik napas panjang, memperlihatkan muka menyesal. "Salahku sendiri, Tok-ong. Terlalu lama aku merantau meninggalkan Pek-go-to mengejar-ngejar Wi Liong tanpa hasil. Pesta ulang tahun suhupun aku mendengar dari luaran dan sekaranglah saatnya yang baik aku akan dapat membalas kekalahan-kekalahanku dari Wi Liong. Rencana apakah yang diatur oleh suhu selain racun ini? Aku akan membantu sekuat tenaga, karenanya aku harus tahu segalanya."
"Kau tahu, kawan-kawan dari utara juga sudah datang berkumpul di dua pulau itu. Jumlah mereka ada limapuluh orang lebih, orang-orang pilihan. Mereka ini akan datang menyerbu kalau racun ini gagal. Dengan bantuan limapuluh orang tenaga pilihan dari utara, kita takut apa?"
Diam-diam Kun Hong terkejut sekali. Sekarang jelaslah baginya bahwa Thai Khek Sian, dengan perantaraan Bu-ceng Tok-ong. telah mengadakan kontak dengan bala tentara Mongol untuk mengadakan pukulan besar-besaran terhadap para tokoh selatan. Tentu saja fihak Mongol bersedia membantu oleh karena para orang gagah di selatan ini kalau sekarang bisa dibasmi, kelak tidak ada yang menyulitkan penyerbuan mereka ke selatan. Inilah berbahaya, pikir Kun Hong.
Sudah lama jalan pikiran Kun Hong berubah, sudah lama ia berbalik hati dan membenci segala macam kejahatan yang sudah banyak ia lihat, malah ia lakukan. Sekarang, mendengar rencana keji dan pengecut ini makin bencilah hatinya. Andaikata Thai Khek Sian hendak mengadakan gelanggang mengadu kepandaian secara jujur dan gagah, tentu ia takkan memihak mana-mana. Akan tetapi kalau diadakan rencana-rencana keji, tak boleh tidak ia harus menghalangi. Sikapnya sama sekali berubah sekarang. Ia melangkah maju dan berkata tegas, "Bu-ceng Tok-ong, berikan bangkai siauw-liong itu kepadaku!"
Berubah wajah yang biasanya menyeramkan dari Bu-ceng Tok ong. Sepasang mata yang tertutup alis tebal itu mengeluarkan cahaya liar. Ia terkejut dan gelisah, akan tetapi mencoba menutupi kegelisahannya dengan sikap gagah, "Kun Hong. jangan main gila! Apa maumu?"
"Manusia keji, kau dan orang-orang macam kau sudah menyeretku dahulu ke lembah kehinaan. Sekarang aku harus menebus dosa. Aku harus menghalangi niat kalian yang jahat itu, biarpun aku harus berkorban nyawa untuk itu. Berikan padaku bangkai Ang-siauwliong itu. Cepat "
"Bocah gila!" Bu-ceng Tok-ong masih memertahankan kegalakannya. "Kau bisa melawanku, akan tetapi apa kau tidak takut kepada gurumu Thai Khek Siansu? Siansu akan membunuhmu!"
"Siapa takut? Hayo berikan, jangan membikin aku habis sabar!"
546
Melihat pemuda itu melangkah maju, Bu-ceng Tok-ong mundur sambil berkata, "Tidak.......... tidak kuberikan."
"Manusia keji!" Kun Hong bergerak maju, tangannya menampar berbareng hendak merampas bangkai ular yang disimpan di saku baju Bu-ceng Tok-ong.
Bu-ceng Tok ong mengelak dan mencoba menangkis, akan tetapi gerakan susulan dari Kun Hong tepat mengenai pundaknya, membuat ia sempoyongan dan hampir roboh ke belakang. Marahlah Bu-ceng Tok-ong. Kalau ia memberikan bangkai ular dan usahanya gagal, tentu ia akan mendapat kemarahan dari Thai Khek Sian, kemarahan yang akan berakibat mengerikan baginya. Dari pada menentang Thai Khek Sian, lebih baik menentang Kun Hong.
Sambil mengeluarkan geraman seperti singa. Raja Racun ini meloloskan senjatanya, sepasang penggada yang berbentuk gembolan berduri, mengerikan dan berat sekali. Ia mainkan sepasang senjata ini dan menyerang Kun Hong kalang kabut.
Kun Hong menghadapinya dengan tenang. Dulu, ketika ia masih menjadi murid Bu-ceng Tok- ong dan Tok-sim Sian-li, kepandaian yang ia terima dari dua orang ini digabungkan menjadi satu, cukup baginya untuk menandingi Bu-ceng Tok-ong. Apa lagi sekarang. Sekarang setelah menjadi murid Thai Khek Sian dan menerima pelajaran dari Kui-bo Thai-houw, kepandaian pemuda ini sudah meningkat jauh lebih tinggi dari pada Bu-ceng Tok ong. Tenang-tenang saja ia menghindarkan semua serangan Bu-ceng Tok ong. Betapapun juga, Kun Hong berlaku sangat hati hati karena ia maklum betapa bahayanya orang macam Raja Racun ini. Gembolan itu bukan sembarang senjata begitu saja, akan tetapi setiap durinya yang runcing itu mengandung semacam bisa tertentu yang cukup kuat untuk membunuh orang apa bila terluka.
"Bocah durhaka, bocah setan, mampuslah!" Bu ceng Tok-ong yang bernafsu sekali menyerang makin hebat pada bekas muridnya yang bertangan kosong.
"Sebetulnya kaulah yang harus mampus, sayangnya aku masih menaruh kasihan kepadamu." ejek Kun Hong sambil mengelak dan dengan gerakan memutar secepat kilat ia mengirim tendangan bertubi-tubi. Dua kali ujung sepatunya mengenai sasaran, tepat di bagian siku mengenai otot besar. Bu-ceng Tok-ong menggereng kesakitan dan sepasang penggadanya terlempar jauh.
Mukanya menjadi merah dan matanya terbelalak mengeluarkan sinar berapi saking marahnya.
"Kalau tak dapat membunuhmu, aku bukan Tok-ong!" teriaknya dan kini ia menubruk maju, Dari sepasang lengan bajunya menyambar keluar uap hitam sedangkan dari kedua tangannya meluncur benda-benda halus yang hitam kemerahan. Inilah senjata senjata rahasia yang amat berbahaya, belum pernah dipelajari oleh Kun Hong karena merupakan senjata pribadi Raja Racun itu. Uap hitam itu adalah semacam bubuk beracun yang halus dan ringan sekali, mudah terbawa angin dan sekali saja memasuki hidung lawan, orang itu pasti akan terjungkal pingsan. Benda-benda halus hitam kemerahan itu disebut Hek see-kong (Sinar Pasir Hitam), adalah pasir-pasir hitam yang sudah direndam bisa ular. Jangan kata sampai pasir ini memasuki kulit, baru menyerempet sedikit saja membuat kulit melepuh dan racun menyerap ke dalam daging dan tulang, sakitnya bukan kepalang.
547
Kun Hong biarpun belum mempelajari penggunaan senjata-senjata rahasia ini, namun ia sudah tahu akan kelihaiannya. Cepat ia mengebut-ngebutkan tangannya dengan penyaluran tenaga lweekang sepenuhnya sambil melompat ke sana ke mari menghindarkan diri dari pasir-pasir itu. Selain mengelak, juga tenaga kebutan tangannya cukup kuat untuk mendatangkan angin meniup pergi pasir-pasir itu, maka dengan mudah ia terbebas dari ancaman pasir hitam. Adapun uap hitam yang menyerangnya, ia hindarkan dengan tiupan mulutnya yang disertai khikang.
Beberapa kali Bu-ceng Tok ong menyerang sampai habis persediaan pasir dan bubuk hitamnya, namun semua penyerangannya sia-sia belaka. Kun Hong tidak membuang kesempatan ini. Dia tidak mau membunuh bekas gurunya, akan tetapi karena ia diserang secara keji. ia harus membalas dan memberi hajaran. Sambil berseru keras ia mengeluarkan tipu silat yang baru ia terima dari Kui-bo Thai-houw. Gerakannya lemah gemulai seperti wanita menari, akan tetapi sukar sekali dijaga sehingga tahu-tahu tubuh Bu-ceng Tok-ong terguling karena betis kakinya kena dikait oleh kaki Kun Hong. Kalau pemuda itu bermaksud membunuh, tentu mudah saja tadi ia menggunakan kesempatan merobohkan lawannya itu.
Merasa diri. dipermainkan, Bu-ceng Tok-ong menjadi makin kalap. Ia melompat berdiri lagi. tidak memperdulikan sakit pada betisnya. Setelah menelan Kun Hong dengan pandang matanya, ia berseru keras, "Setan, biar aku mengadu nyawa denganmu!"
Seruan ini disusul dengan gerakan tangan ke dalam baju dan ia telah mengeluarkan senjata yang amat mengerikan, yaitu lima ekor ular yang ia ikat menjadi satu di bagian ekornya, merupakan cambuk bercabang lima ekor ular berbisa yang masih hidup!
Karena ikatan lima ekor ular ku ada talinya yang dipegang ujungnya, maka ular-ular itu tidak bisa menggigit pemegangnya sendiri, yairu Bu-ceng Tok-ong. Sebaliknya, Kun Hong ketika diserang dengan senjata istimewa ini menjadi terkejut sekali dan juga marah. Ia anggap bekas gurunya ini terlalu keji sehingga sampai hati menggunakan senjata maut seperti itu. Ia maklum sudah bahwa lima ekor ular ini adalah ular-ular berbisa yang amat berbahaya. Sekali saja terkena gigitan seekor di antaranya, jangan harap bisa melawan lagi.
"Mampus kau. bocah setan!" berkali-kali Bu-ceng Tok-ong membentak sambil mendesak hebat. Senjatanya diputar-putar dan bertubi tubi ia melancarkan serangan secara membabi buta kepada Kun Hong. Pemuda ini terpaksa mempergunakan ginkangnya dan melompat ke sana ke mari dengan lincah untuk menghindarkan gigitan ular-ular itu.
"Tok-ong, kau benar-benar hendak mengadu nyawa?" Akhirnya Kun Hong menjadi marah sekali.
Akan tetapi Tok-ong yang kemarahannya sudah naik ke ubun ubun tidak mau menjawab lagi melainkan terus menyerang, bahkan kini ular-ular itu mendesis desis mengeluarkan hawa beracun yang membuat serangan-serangan Bu-ceng Tok-ong menjadi makin berbahaya lagi. Kun Hong terpaksa mencabut pedangnya dan kini ia-pun membalas serangan lawannya dengan ilmu pedangnya yang lihai.
Bu-ceng Tok ong saking marahnya sampai tidak kenal gelagat lagi. Menghadapi ilmu pedang Kun Hong, sebetulnya ia tidak berdaya dan sinar pedang itu sudah mendesaknya secara hebat, namun ia masih memberung (membabi buta) terus, bahkan melakukan penyerangan dengan mencambukkan ular-ularnya ke arah muka Kun Hong tanpa memperdulikan lagi kekosongan dalam kedudukannya.
548
Kalau Kun Hong menusuknya, tentu akan tembus dadanya akan tetapi berbareng pemuda itupun akan terancam oleh serangan ular-ular itu. Kun Hong tentu saja tidak sudi mengadu nyawa mati bersama dengan Bu ceng Tok-ong. Pemuda ini mengelak sambil merobah kedudukan kaki. lalu dengan cepat seperti kilat menyambar dari samping pedangnya membacok ke arah senjata lawan.
"Crak!" Tiga di antara lima ekor ular itu putus menjadi dua dan tiba tiba ular yang dua lagi dengan marah dan kaget membalik lalu menyerang Bu ceng Tok-ong sendiri.
"Ayaaaaaa!" Teriakan Bu-ceng Tok ong ini keras sekali, merupakan pekik maut karena dua ekor ular yang masih hidup itu tahu-tahu sudah menggigit pundak dan lehernya"
Bu-ceng Tok-ong terjengkang dan roboh dengan tubuh kaku, tak bergerak lagi karena nyawanya sudah putus. Dua ekor ular itu masih saja mencantelkan gigi- gigi mereka pada tubuhnya.
Kun Hong cepat menggerakkan pedangnya dan putuslah tubuh ular-ular itu. mati seketika. Ia lalu mengangkat mayat Bu-ceng Tok-ong. dibawa masuk ke dalam kemah dan mendudukkan tubuh yang sudah kaku itu di alas pembaringan.
"Biar orang lain anggap dia bersamadhi pikir pemuda ini yang merasa perlu melakukan akal ini agar tidak mudah diketahui orang lain akan kematian Tok-ong sehingga tidak menimbulkan keributan sebelum ia selesai dengan rencananya.
Kemudian, setelah mengatur duduknya mayat kaku itu bersila dan bersikap seperti orang bersama dan Kun Hong lalu membuang semua bangkai ular dan melenyapkan tanda-tanda adanya pertempuran di tempat itu. Ia menyimpan bangkai Ang-siauw liong ke dalam saku bajunya, lalu berlari ke pantai. Seperti yang ia duga, di pantai tidak ditinggal kosong. Para gadis penjaga tadi setelah pergi meninggalkan kemah ternyata masih ada empat orang berjaga di pantai.
"Kenapa kalian masih di sini?” tegur Kun Hong. "Bukankah Tok-ong sudah bilang kalian harus pergi semua dan tempat ini Tok-ong dan aku yang menjaga?"
"Kami menjaga perahumu," jawab seorang di antara para penjaga cantik itu sambil tersenyum manis.
Kun Hong menghampiri gadis ini dan mencubit pipinya penuh sikap mencumbu. "Manis sekali kau!" Tentu saja gadis itu menjadi girang dan aksinya makin menjadi.
"Manis, kelak aku akan menyediakan waktu untukmu. Sekarang aku perlu bantuanmu. Kau dan kawan-kawanmu ini pergilah mencari nona Cheng In dan Ang Hwa, suruh mereka ke sini, penting sekali. Akan tetapi jangan sampai terlihat oleh orang lain, juga jangan diketahui Siansu. takut Siansu marah melihat dalam keadaan berjaga aku mau bersenang-senang."
Gadis penjaga itu cemberut. "Aku di depanmu tapi pikiranmu melayang kepada enci Cheng In dan Ang Hwa!"
Kun Hong tersenyum. "Eh. manis. Apa kau sudah mulai cemburu?"
549
"Iih, siapa yang cemburu?" tukas gadis itu genit.
"Sudahlah, lekas kau lakukan permintaanku itu. Penting sekali, sekarang juga mereka suruh datang berdua. Kutunggu di sini."
Dengan muka kecewa gadis gadis itu lalu pergi mendayung perahu dan lenyap ditelan gelap malam. Kun Hong menanti dengan hati berdebar, mengatur siasat. Apa Cheng In dan Ang Hwa mau membantunya? Apakah dua orang gadis itu dapat disadarkan dari pada jalan sesat dan kejahatan yang selama ini menyelubungi kehidupan mereka? Ia maklum bahwa pada hakekatnya dua orang gadis muda itu, seperti juga yang lain lain, tidaklah jahat dan keji Hanya karena lingkungan mereka yang kotor maka mau tidak mau mereka terbawa juga, terpercik kekotoran yang melingkungi mereka. Karena pengaruh Thai Khek Sian. Seperti halnya dia sendiri. Dahulu ketika dekat dengan Bu-ceng Tok-ong. Tok-sim Sian-li kemudian dekat dengan Thai Khek Sian, ia mempunyai sifat tak perdulian. Dahulupun mata hatinya terbuka dan ia mengakui bahwa perbuatan-perbuatan mereka itu rendah, kotor, dan busuk. Akan tetapi entah mengapa, ia tidak perduli, malah ia ikut-ikut pula, merasa ketinggalan dan bodoh kalau tidak meniru mereka!
Lama ia duduk melamun dalam gelap setelah mengatur siasat. Dosaku terlalu banyak. Aku harus menebusnya di saat ini. Orang-orang kang ouw yang gagah perkasa terancam bahaya, terancam bencana di tempat ini. Hanya dia yang tahu akan datangnya bencana itu, bagaimana ia bisa diam saja tidak turun tangan mencegah? Baru lamunannya buyar ketika ia melihat sebuah perahu kecil meluncur datang dan terdengar seruan girang Ang Hwa.
"Kun Hong.........!"
Dua orang gadis cantik itu, Cheng In dan Ang Hwa, melompat ke darat dan Kun Hong menyambut mereka dengan senyum, mencekal lengan mereka dengan sikap mencinta. Ia harus bisa mengambil hati mereka kalau ia menghendaki mereka mendengarkannya. Ia membawa mereka ke tempat gelap dan di situ mereka bicara kasak kusuk lama sekali. Kun Hong membujuk mereka dengan kata- kata halus dan akhirnya ia menang. Terdengar kata-katanya terakhir, "Cheng In, Ang Hwa, renungkan baik-baik. Apa harapan hidupmu kalau kau selamanya seperti sekarang ini, menjadi barang permainan Thai Khek Sian, menjadi hambanya dan membantu segala perbuatannya yang busuk? Sekarang kalian masih terlindung oleh kekuasaan Thai Khek Sian, akan tetapi ingat, dia sudah tua sekali dan tak lama kemudian kalau dia sudah mati. apa yang akan kau hadapi? Tak lain kutuk dan permusuhan para orang gagah. Nama kalian akan rusak dan hina untuk selamanya!"
"Kun Hong.........!" Cheng In terisak. Gadis yang biasanya berhati keras ini mulai lumer dan mulai menangis. Juga Ang Hwa terisak mengingat nasib demikian buruk kelak menimpanya.
"Aku tidak menakut-nakutimu. Kalian ini gadis gadis baik terjerumus ke dalam lumpur kehinaan. Cheng In, Ang Hwa. kalau kalian masih ingin keluar dari kehinaan, masih belum terlambat Sekaranglah waktunya."
"Apa......... apa maksudmu? Kenapa kau bicara seganjil ini? Apa kau tidak membantu gurumu.........?" tanya dua orang gadis itu saling sambung.
550
"Dengar baik-baik. Keadaankupun tiada bedanya dengan kalian. Aku terseret ke jurang kesesatan oleh mereka, maka sekaranglah saatnya aku menebus dosa-dosaku. Cheng In dan Ang Hwa, tahukah kau bahwa Thai Khek Sian bersama kaki tangannya sedang merencanakan kekejian luar biasa, yaitu dalam pesta ulang tahunnya ia hendak membinasakan semua tokoh kang ouw? Ia telah bersekongkol dengan orang-orang Mongol untuk membasmi semua orang gagah agar kelak kalau tentara Mongol bergerak ke selatan, mereka tidak akan menemui banyak perlawanan."
Baik Cheng In maupun Ang Hwa tidak perduli dengan berita ini, mereka sudah biasa mendengar kekejian-kekejian yang dilakukan oleh golongan mereka. Malah mereka memandang heran kepada Kun Hong.
"Habis kau mau apa?" tanya Ang Hwa penuh kesangsian
"Kita harus halangi ini! Mari kita perlihatkan kepada dunia bahwa kita masih dapat memperbaiki diri. Bantulah aku, adik-adikku yang manis. Bu-ceng Tok-ong sedang merencanakan untuk membunuh semua undangan dengan arak beracun. Aku hendak menghalanginya, dia melawan dan akhirnya dia tewas oleh senjatanya sendiri."
Kedua orang gadis itu nampak terkejut, Bu-ceng Tok-ong adalah orang kepercayaan Thai Khek Sian, apa lagi karena Bu-ceng Tok-ong yang datang membawa orang-orang Mongol untuk menjalankan siasat keji itu.
"Kun Hong, apa yang kaulakukan? Apa kau tidak takut akan kemarahan Siansu?" tanya Cheng In, wajahnya yang cantik mulai berubah.
Kun Hong memegang lengannya. "Cheng In. tidak ada pilihan lain. Juga bagimu. Biarpun kita pernah sesat jalan, kiranya jauh lebih baik mati membawa nama harum dari pada meninggalkan nama busuk. Kalau kali ini kita melakukan perbuatan baik menentang kekejian, kiranya mati-pun takkan penasaran, setidaknya mencuci sedikit semua kekotoran yang menempel kita. Maukah kalian membantuku? Lekas ambil keputusan. malam sudah hampir lewat, waktu tidak banyak lagi"
"Apa......... apa yang harus kami lakukan?”
Cheng In mulai gagap, terpengaruh oleh semua ucapan Kun Hong. Memang, dahulu kedua orang gadis ini membenci Thai Khek Sian karena orang tua mereka dibunuh oleh kaki tangan iblis itu. Akan tetapi karena berada di bawah pengaruh Thai Khek Sian, mereka sampai melupakan, sakit hati ini, malah bersama yang lain berlumba merebut kasih sayang iblis itu untuk mewarisi kepandaiannya yang tinggi. Akhir-akhir ini karena tidak ada sedikitpun jalan bagi mereka untuk mendapatkan penghidupan lain, mereka merasa puas dan menjadi selir dan murid tersayang dari pentolan Mo-kauw itu. Sekarang ini, kata-kata dan bujukan Kun Hong mendatangkan kesan hebat dan hati mereka terguncang.
"Kau tentu tahu bahwa perwira-perwira Mo ngol sudah datang ke sini dan di mana adanya mereka?"
"Di pulau-pulau sana itu." kata Cheng In sedangkan Ang Hwa tidak berani membuka suara, menyerahkan urusan menegangkan ini kepada Cheng In.
551
"Nah. Kau bawalah guci-guci arak itu dan usahakan supaya mereka mau meminumnya Dengan demikian, selain menolong nyawa para tamu yang terdiri dari tokoh-tokoh besar yang gagah perkasa di dunia kang-ouw. juga kalian dapat mengabdi kepada negara, melenyapkan musuh-musuh negara."
"Arak............beracun?" tanya Ang Hwa kini, suaranya gemetar.
''Buatan Bui-ceng Tok-ong," sambung Kun Hong. "Tak usah khawatir. Yang kau beri arak bukanlah Thai Khek Sian dan kawan-kawan lain, melainkan orang- orang Mongol. Pula, arak itu bukan buatanmu. Kalau sampai ketahuan, bilang saja kau disuruh Bu-ceng Tok-ong dan aku, habis perkara."
Cheng In dan Ang Hwa ragu-ragu, akan tetapi mereka tak dapat menolak bujukan bujukan halus Kun Hong dan akhirnya Cheng In berkala, "Kun Hong, ada satu hal yang kami ingin kau berjanji kepada kami."
"Katakan."
"Andaikata berhasil dan kelak kami dapat kembali ke jalan benar, maukah kau........ menerima kami?"
"Tentu sekali! Kalian adik-adikku yang manis, tentu akan aku terima dengan kedua tangan terbuka," jawab Kun Hong gembira sambil merangkul mereka.
Di dalam hatinya ia mengartikan ucapannya itu lain dari pada yang dikehendaki dua gadis ini. Maksud Cheng In, mereka mengharapkan kelak diterima menjadi isteri Kun Hong. sebaliknya Kun Hong memaksudkan menerima gadis-gadis itu sebagai saudara saudara atau setidaknya sebagai sahabat-sahabat baik. Pemuda ini cerdik sekali. Karena Cheng In tidak menjelaskan kehendaknya, maka tanpa ragu-ragu ia berani berjanji. Andaikata Cheng In menjelaskan agar kelak diterima sebagai isteri, tentu tak berani ia berjanji. Di dunia ini hanya Eng Lan yang memenuhi hatinya, tidak ada tempat lagi untuk lain wanita. Dengan bantuan Kun Hong, dua orang gadis itu lalu mengangkuti guci-guci arak ke dalam perahu.
''Usahakan sekuat kalian supaya mereka minum arak ini," pesan Kun Hong setelah pekerjaan itu beres dilakukan.
Cheng In dan Ang Hwa dengan mata merah karena menangis berdiri memegang tangan Kun Hong.''Andaikata kami gagal............ maukah kau mengabarkan kepada orang-orang gagah tentang bantuan kami yang sedikit ini?"
"Kau takkan gagal. Cheng In. Gagal atau tidak, nama kalian tetap akan dikenal orang-orang gagah sebagai gadis-gadis perkasa yang telah berusaha menebus semua kesesatan yang lampau."
"Kun Hong. kalau kami sudah berhasil, kami akan melarikan diri ke darat dan menanti kau di sana." kata Ang Hwa.
Kun Hong menepuk-nepuk pundaknya. "Pasti kita akan saling berjumpa kembali. Berangkatlah, adik-adikku, dan lakukan tugas mulia ini baik-baik dan hati-hati."
552
Maka berangkatlah dua orang gadis itu. Perahu mereka meluncur di dalam kabut karena malam sudah mulai menarik diri meninggalkan kabut tebal di permukaan air.
Untuk beberapa lama Kun Hong berdiri di pinggir pantai, memandang ke arah perginya dua gadis itu sampai bayangan perahu mereka lenyap ditelan kabut. Aku harus ke pantai daratan, pikirnya, mencegat di sana dan memberi peringatan kepada orang-orang gagah yang hendak menyeberang ke Pek-go-to agar mereka berhati-hati dan bekerja sama.
Akan tetapi baru saja ia melompat ke perahunya dan mutai mendayung; tiba-tiba ia mendengar jerit seorang wanita. Ia merasa darahnya membeku saking kagetnya karena mengira bahwa tentulah itu suara Ang Hwa atau Cheng In. Apakah mereka telah ketahuan dan rahasia mereka terbuka sehingga mereka menjadi korban hukuman Thai Khek Sian? Tak bisa ia tinggal diam membiarkan dua orang gadis itu menjadi korban rencananya. Cepat ia mendayung perahunya ke tengah, ke arah suara jeritan tadi. Kabut telah menipis dan sinar matahari memerah menjadi pertanda bahwa sang raja siang sebentar lagi akan mulai dengan tugasnya. Sinar kemerahan memenuhi permukaan air, mendatangkan silau dan mengusir kabut. Kun Hong mendayung terus.
Akhirnya ia melihat sebuah perahu dan di situ terlihat beberapa orang tengah bertempur hebat. Ia menarik napas lega. Bukan perahu Cheng In dan Ang Hwa. Perahu ini lebih besar dan melihat bayangan yang bertempur, mereka adalah dua orang laki-laki dan seorang gadis. Kun Hong menjadi tertarik hatinya dan mempercepat dayungnya.
Pada saat ia telah dekat dengan perahu besar itu, gadis yang ikut bertempur mengeroyok seorang laki-laki gundul telah roboh tertotok, meringkuk di dalam perahu tak berdaya. Adapun laki-laki tua pendek yang dibantu gadis itu juga amat terdesak oleh laki-laki tinggi besar gundul yang ternyata amat lihainya.
Setelah melihat penuh perhatian dengan amat kaget Kun Hong mengenal mereka yang sedang bertempur itu. Bukan lain adalah Beng Kun Cinjin yang tadi dikeroyok oleh Pak-thian Koai-jin dan...... Eng Lan! Eng Lan yang tadi tertotok roboh dan sekarang Pak-thian Koai-jin juga terancam bahaya. Kun Hong marah sekali melihat Beng Kun Cinjin, juga girang melihat Eng Lan. Ia membentak,
"Beng Kun Cinjin manusia keparat! Akhirnya aku dapat bertemu dengan kau!"
Akan tetapi tiba-tiba terdengar seruan keras dan tubuh Pak thian Koai jin terjungkal dan terlempar keluar dari perahu dalam keadaan tak bernyawa lagi! Kun Hong terkejut sekali, hendak menolong namun terlambat karena tubuh itu telah tenggelam ke dalam air yang masih merah gelap. Kemarahannya meluap. Betapapun juga, Pak-thian Koai-jin. adalah guru dari Eng Lan dan karena ini saja ia harus membela mati-matian. Apa lagi Eng Lan berada di perahu dalam keadaan tertotok.
"Keparat, bersiaplah untuk mampus!" Kun Hong sudah mencabut pedang dan melompat ke atas perahu. Akan tetapi, begitu kakinya menginjak papan perahu, ia berdiri tegak seperti patung dalam keadaan tidak berdaya. Tidak saja ia tidak berdaya karena melihat Beng Kun Cinjin sudah menangkap Eng Lan dan menggunakan gadis itu sebagai perisai, akan tetapi juga ia ragu-ragu karena ternyata Thai Khek Sian sendiri berada di perahu itu, bersila dan memandangnya sambil menyeringai!
553
"Heh-heh-heh, murid nakal. Kau baru muncul?" Hanya demikian Thai Khek Sian berkata, selanjutnya meramkan matanya kembali bersamadhi.
"Beng Kun Cinjin. kaulepaskan Eng Lan!" bentak Kun Hong.
Beng Kun Cinjin memandangnya tajam. "Aku takkan mengganggunya. siapa orangnya mau mengganggu calon mantunya.? Ha.. anak baik. Tak usah kau herankan. Anakku yang baik, pinceng telah tahu bahwa kau mencinta nona ini. Aku sengaja menangkapnya untuk memaksanya menerimamu sebagai suaminya. Kun Hong, berlututlah kau dan akui pinceng sebagai ayah, nona ini akan kuberikan kepadamu dan nanti akan kuminta Siansu mengumumkan pernikahanmu."
Kun Hong berdiri seperti terpaku pada papan perahu. Bahwa Beng Kun Cinjin tahu akan cinta kasihnya kepada Pui Eng Lan, ini bukanlah hal mengherankan. Juga bahwa Thai Khek Sian dapat bersekutu dengan Beng Kun Cinjin, tidak terlalu mengherankan. Burung gagak tentu selalu mencari bangsa atau golongannya. Akan tetapi ditawannya Eng Lan itulah yang membuat ia tidak berdaya, membuat ia sekaligus bingung tak tahu harus berbuat apa. Ia maklum bahwa selain mengandalkan bantuan. Thai Khek Sian, Beng Kun Cinjin hendak mempergunakan Eng Lan untuk menaklukkannya, untuk membuat ia mengakuinya sebagai ayah dan tidak memusuhinya lagi.
"Beng Kun Cinjin, permusuhan antara kita berdua tidak ada sangkut pautnya dengan nona Pui Eng Lan. Jangan ganggu dia, lepaskan!" kembali Kun Hong berkata keras.
"Kalau kau tidak mengakui aku sebagai ayahmu, berarti dia inipun bukan anak mantuku, melainkan seorang mata-mata musuh yang harus dibunuh." Kata-kata Beng Kun Cinjin ini merupakan ancaman biarpun diucapkan dengan halus
"Keji.........!!" Kun Hong kini tidak ragu-ragu lagi. Beng Kun Cinjin hendak menggunakan Eng Lan untuk memaksa dia menakluk. Kemarahannya meluap dan sudah gatal-gatal kedua tangannya hendak menubruk dan mencekik leher orang yang dibencinya itu.
"Kun Hong, jangan kurang ajar. Kau membikin aku malu saja, masa begitu sikapmu terhadap ayahmu? Hayo kita ke pulau kosong dan selesaikan urusan ini sebelum urusan besar kita hadapi, tiba-tiba Thai Khek Sian berkata lantang. Setelah berkata demikian, kakek aneh ini menggerak-gerakkan kedua tangan ke kanan kiri perahu dan......... hebatnya, perahu itu meluncur laju seperti didayung orang dengan kuat. Dari sini saja sudah dapat dibayangkan betapa besar tenaga dalam tokoh nomor wahid dari golongan Mo kauw ini!
Karena tidak ingin keributan antara ayah dan anak ini diketahui orang lain, Thai Khek Sian lalu membawa mereka ke pulau kosong dan seperti telah dituturkan di bagian depan, kebetulan sekali di pulau itu bersembunyi Lan Lan dan Lin Lin yang ditinggalkan oleh Wi Liong dan Kong Bu yang melakukan penyelidikan.
Lin Lin mengenal Kun Hong, pemuda yang pernah ia tolong ketika ia masih tinggal di dalam gua di Thian-mu-san bersama Kwa Cun Ek. Dan ia sudah mendengar pula siapa adanya pemuda itu dan sedikit riwayatnya sudah pula ia mendengar dari Wi Liong. Akan tetapi dia, apa lagi Lan Lan, tidak mengenai siapa adanya gadis yang diikat pada batang pohon itu, juga tidak mengenal Beng Kun Cinjin dan Thai Khek Sian. Akan tetapi setelah melihat lebih lama lagi, teringatlah Lin Lin bahwa ia pernah
554
melihat hwesio gundul itu, Beng Kun Cinjin, karena pernah hwesio ini berkunjung kepada suhunya dahulu di Kun-lun san.
"Hwesio muka hitam itu apakah bukan Beng Kun Cinjin?" pikirnya di dalam hati.
Dengan hati tertarik Lan Lan dan Lin Lin menyelinap di antara pohon dan melakukan pengintaian. Diam-diam keduanya mengambil keputusan untuk menolong gadis yang diikat pada batang pohon itu, gadis yang biarpun berada dalam keadaan tak berdaya namun masih bersikap gagah dan sepasang matanya penuh keberanian dan memandang dengan sinar berapi-api itu. Bukan main gagah dan cantik manisnya, membuat Lin Lin dan Lan Lan kagum dan menaruh simpati.
Kun Hong yang sudah tidak sabar lagi melihat Eng Lan diikat pada pohon, dengan suara keras bertanya, "Setelah kalian membawa aku ke sini, apa kehendak kalian?" Ia tidak menaruh hormat lagi kepada Thai Khek Sian dan sedikitpun ia tidak takut.
Beng Kun Cinjin menoleh kepada Thai Khek Sian. "Mohon keputusan Siansu karena teecu tidak berani lancang bertindak tanpa seijin Siansu." Sikap ini jelas sekali memperlihatkan sifat menjilat dan tahulah Kun Hong bahwa musuh besarnya itu selain telah menjadi murid Thai Khek Sian dan menjadi pembantunya, juga berhasil membujuk guru besar itu dengan jalan menjilat. Hatinya makin mendongkol.
Thai Khek Sian berdiri menghadapi Kun Hong dan suaranya mengandung kemarahan ketika berkata, "Kun Hong, melihat sikapmu sekarang makin jelaslah bahwa kau telah murtad. Dosamu bertumpuk dan sekarang kau harus dapat memutuskan sendiri karena nasibmu tergantung kepada sikapmu sekarang. Pertama-tama, kau telah menghinaku dengan jalan menerima pelajaran dari Kui-bo Thai-houw. Ke dua, kau telah bersikap murtad dan berani melawan ayahmu sendiri, malah mengejar-ngejar hendak membunuhnya. Perbuatan-perbuatan ini merupakan penghinaan kepada aku yang menjadi gurumu. Sekarang, ayahmu dengan rendah hati melupakan semua perbuatanmu, minta-minta kepadaku untuk mengampunimu asal kau suka mengakunya sebagai ayah dan menghentikan permusuhanmu. Malah-malah dia mintakan ampun bagi nyawa nona ini karena mengingat bahwa kau mencintanya. Lekas kau berlutut mengakui ayahmu dan minta ampun padaku. Hanya dengan jalan begitu kau akan diampuni dan akan kami kawinkan dengan gadis pilihanmu ini!"
Sampai menggigil tubuh Kun Hong menahan gelora hatinya. Ia terdesak di sudut, tak dapat lari lagi. Sebetulnya keputusan itu memang amat enak baginya. Dia tidak dimusuhi Thai Khek Sian dan dapat mengawini Eng Lan yang memang menjadi buah impiannya setiap malam. Mau apa lagi? Akan tetapi, hatinya tidak mengijinkan ia menerima keputusan ini. Bagaimana ia dapat mengawini Eng Lan dengan cara paksa? Cinta kasihnya terhadap Eng Lan adalah cinta kasih yang suci, tidak seperti ketika ia mencinta semua wanita cantik Selain keberatan ini, juga terutama sekali, bagaimana dia bisa bersekutu dengan Thai Khek Sian setelah kini ia sadar? Lebih-lebih lagi, bagaimana bisa berbaik lagi dengan Beng Kun Cinjin, orang yang telah membunuh ibunya? Tak mungkin. Apakah ia akan kembali ke jalan sesat, hanya karena ia ingin mendapatkan diri Eng Lan, hanya untuk menyelamatkan Eng Lan? Menyeret diri ke dalam lembah kehinaan, mungkin ikut menyeret Eng Lan pula?
"Tak mungkin!" suara hati ini terbawa keluar merupakan bentakan yang keras, la sendiri terkejut, akan tetapi karena sudah terlanjur, ia melanjutkan dengan suara gagah, "Tak mungkin aku dapat
555
melupakan bahwa Beng Kun Cinjin adalah pembunuh ibuku. Aku harus membunuhnya untuk membalas sakit hati!"
Beng Kun Cinjin berkata dengan nada mengejek. "Kun Hong, hanya sebegitu saja cintamu kepada nona ini? Apa kau tidak mau menukar nyawaku dengan nyawa nona ini? Pendeknya, sekarang kau tinggal pilih. Menurut perintah Sian-Su dan hidup bahagia sebagai puteraku dan suami gadis ini, atau kubunuh dia ini di depan matamu dan kaupun takkan dapat berbuat apa-apa kepadaku di depan Siansu."
Hati Kun Hong berdebar keras. Kalau dia sendiri terancam bahaya maut, kiranya ia tidak akan segelisah itu. Ia tahu, bahwa ancaman yang keluar dari mulut Beng Kun Cinjin bukan gertak semata dan ancaman itu akan dilaksanakan. Melihat Eng Lan terbunuh di depan matanya, benar-benar akan menghancurkan hatinya. Ia ragu-ragu. Kalau dahulu, kiranya ia takkan ragu-ragu untuk melakukan tipu muslihat, berpura-pura menakluk untuk menolong nyawa Eng Lan dan kemudian apa bila mendapat kesempatan, melanjutkan niatnya membunuh Beng Kun Cinjin. Demikianlah ajaran-ajaran dari Bu-ceng Tok-ong, mencari kemenangan dengan jalan apapun juga, baik dengan kekerasan, kekejian, maupun tipu muslihat licik. Akan tetapi sekarang hatinya tidak mengijinkan ia melakukan tipu muslihat, apa lagi di depan Eng Lan yang dalam hal ini ia anggap menjadi gurunya.
Melihat keraguan Kun Hong, Beng Kun Cinjin menoleh kepada Eng Lan dan berkata, suaranya halus dan sopan, "Nona Pui, kau telah mendengar sendiri akan semua yang kami bicarakan. Kau dan gurumu telah menyelundup dan melakukan penyelidikan seperti mata-mata musuh yang keji sehingga gurumu tewas dan kau tertawan. Menurut patut, kaupun sudah harus dibunuh, akan tetapi mengingat bahwa kau adalah kekasih anakku Kun Hong, kami mengampunimu. Nona, dari pandang matamu pinceng maklum bahwa kaupun mencinta Kun Hong, maka demi kebahagiaan kalian berdua, demi kebaikan kita bersama, mintalah kepada bocah kepala batu ini supaya mentaati perintah Siansu yang cukup adil."
Gadis lain yang menghadapi kematian dan melihat jalan keluar itu mungkin akan menjadi lemah hatinya. Memang tak dapat disangkal pula oleh Eng Lan sendiri bahwa apapun yang telah terjadi, betapapun panas dan cemburu hatinya melihat Kun Hong di Pulau Ban-moto dahulu, tetap saja di lubuk hatinya terisi oleh Kun Hong, tetap ia mencinta pemuda itu sepenuh hati dan jiwa. Kini jalan keluar dari bahaya maut itu adalah menurut dan menikah dengan pemuda pujaan hatinya itu. Gadis mana yang takkan menurut? Akan tetapi Eng Lan lain wataknya. Ia gagah dan setia, menjunjung kegagahan jauh lebih tinggi dari pada kepentingan dan perasaan hati sendiri. Ia mengangkat muka dan dada, memandang Beng Kun Cinjin dengan mata berapi-api melalui air matanya, dadanya berombak turun naik lalu berkata nyaring.
"Siluman-siluman jahat, kalian sudah membunuh suhu. Kalau mau membunuh aku, lakukanlah siapa takut mampus? Aku tidak mengemis ampun! Aku tidak mengharapkan pertolongan, dari siapapun juga!" Kemudian gadis ini memandang kepada Kun Hong dan berkata keras, "Kun Hong. kalau kau benar-benar mencintaku, perlihatkan kegagahanmu. Lebih baik mati dari pada tunduk kepada mamusia-manusia iblis!”
Berubah seketika wajah Kun Hong yang tadinya kusut dan muram. Kini menjadi berseri dan matanya bersinar-sinar agak basah. Ia terharu dan gembira sekali. Mulutnya tersenyum lebar ketika ia memandang ke arah Eng Lan.
556
"Eng Lan, terima kasih.........!" Kemudian ia tertawa bergelak sambil menerjang maju, menyerang Beng Kun Cinjin!
Beng Kun Cinjin yang tahu akan kelihaian Kun Hong, memaki, "Anak puthauw (durhaka)!" sambil melompat ke belakang Thai Khek Sian untuk berlindung.
Thai Khek Sian mengeluarkan suara aneh dan membentak, "Kun Hong, tahan dan jangan kurang ajar!"
"Suhu, minggirlah dan jangan mencampuri urusan antara dia dan teecu!" Kun Hong menahan diri.
"Bocah gila, mundur kau, jangan bikin aku marah." kata pula Thai Khek Sian.
''Siansu, sekali lagi. minggirlah!" Kun Hong sekarang membentak.
Thai Khek Sian membanting kakinya, marah sekali. "Jahanam, apa kau hendak melawan aku pula. aku gurumu!" Ia meludah ke atas tanah lalu berkata lagi, "Apa kau begitu jahat untuk melawan ayah dam guru sendiri?"
Kun Hong menggerak-gerakkan pedangnya. "Thai Khek Sian, kau dan Beng Kun Cinjin sama-sama jahat bukan main dan aku sudah bersumpah untuk melawan kejahatan. Biarpun ayah sendiri atau guru sendiri, kalau jahat, akan kulawan dengan taruhan nyawa!" Ucapan yang dikeluarkan oleh Kun Hong ini pada masa itu memang merupakan ucapan yang amat aneh dan janggal didengarnya, juga amat jahat. Pada jaman itu, kebaktian merupakan pribadi atau watak yang paling penting di antara semua kewajiban hidup. Bakti terhadap orang tua dan bakti terhadap guru.
Pada masa itu, orang tua dan guru merupakan orang-orang dengan kekuasaan tertinggi dan mutlak yang harus ditaati oleh anak atau murid. Jahat atau baiknya orang tua maupun guru. bukan soal. Pokoknya anak atau murid harus taat dan inilah yang disebut "kebaktian" pada masa itu. Tentu saja sikap Kun Hong yang revolusioner dalam arti kata menentang atau merobah aturan lama yang sudah mendarah daging ini, terdengar bagaikan halilintar di musim kemarau. Kun Hong sendiri maklum akan kenekatannya ini, kenekatan yang sebagian besar terdorong oleh cinta kasihnya terhadap Eng Lan dan sebagian pula terdorong oleh warisan dari Bu-ceng Tok-ong yang selalu tak mau mempergunakan cengli (aturan) dan suka menyeleweng dari pada pendapat umum.
"Setan!" Thai Khek Sian memaki dan tiba-tiba kakek ini menerjang maju mengirim pukulan maut kepada Kun Hong. Pemuda inipun cepat mengelak dan balas menyerang gurunya!
Sejak tadi Lan Lan dan Lin Lin mengintai dan mendengarkan semua percakapan. Mereka merasa kagum kepada Eng Lan yang gagah berani, yang menentang maut dengan mata bersinar-sinar penuh ketabahan, malah yang menganjurkan laki-laki yang dicintanya untuk bersikap gagah. dan jangan takut mati membela kebenaran. Pula mereka kagum juga melihat sikap Kun Hong yang lebih menjunjung tinggi kebenaran dam kegagahan berdasarkan keadilan dari pada peraturan bakti yang hanya diperalat dan disalahgunakan oleh para orang tua dan guru-guru. Lin Lin yang melihat Kun Hong sudah bergebrak dengan kakek mengerikan itu yang ternyata adalah Thai Khek Sian, berbisik kepada cicinya,
557
"Cici, kau tolong nona Eng Lan itu, biar aku hadapi hwesio gundul tak tahu malu itu!" Setelah berkata demikian, Lin Lin mencabut pedangnya dan melompat sambil membentak, "Kakek-kakek mau mampus menghina yang muda, sungguh tak tahu malu" Begitu tiba di tempat pertempuran, serta merta Lin Lin menerjang dengan pedangnya, menyerang Beng Kun Cinjin yang terkejut sekali dan cepat menangkis dengan tasbehnya. Segera keduanya bertempur hebat.
"Eh, bukankah kau ini........ murid Liong Tosu?" Beng Kun Cinjin membentak ketika mengenal ilmu pedang nona itu.
"Aku murid siapa bukan soal, yang terang aku pembasmi manusia-manusia jahat macam kau!" bentak Lin Lin sambil menyerang terus dengan ilmu pedangnya yang lihai. Beng Kun Cinjin tak banyak cakap lagi. terus menyerang kembali dengan sama hebatnya sehingga Lin Lin terpaksa mundur dam diam-diam mengakui kelihaian hwesio ini.
Sementara itu, Lan Lan berlari menghampiri Eng Lan yang terikat pada batang pohon. Melihat gadis ini datang sambil tersenyum-senyum, Eng Lan bengong, sebentar memandang kepada Lan Lan, sebentar kepada Lin Lin yang demikian gagahnya menghadapi Beng Kun Cinjin. Persamaan rupa kedua orang gadis ini, seperti juga terhadap orang-orang lain, membuat Eng Lan terkejut dan bingung. Apa lagi karena kedua-duanya serupa benar dengan Siok Lan. Eng Lan tahu bahwa seorang di antaranya tentulah gadis serupa Siok Lan yang pernah ia jumpai di rumah makan, malah hampir bertempur dengan dia kalau tidak keburu datang Wi Liong yang melerai (memisah).
"Selamat bertemu kembali, enci yang baik,” kata Lan Lan tersenyum manis sambil cepat-cepat menggunakan pedangnya memutus tali yang mengikat gadis itu pada, pohon.
"Eh. kau......... kau yang di rumah makan dulu.........?" Eng Lan bertanya sambil membantu menggerakkan tangan agar tali-tali pengikatnya lekas terlepas.
"Betul dan namaku Lan Lan, Pek Lan Lan dan itu adik kembarku Pek Lin Lin. Aku tadi mendengar namamu Pui Eng Lan. Bagus, jangan kau khawatir, kami membantumu dan membantu......... tunanganmu itu."
Merah wajah Eng Lan digoda begini dan sekalipus membuat ia teringat bahwa sekarang bukan waktunya berkelakar. Ia mencari sebatang ranting, lalu lari membantu Lin Lin menyerang Beng Kun Cinjin, didahului oeh Lan Lan yang juga sudah membantu Lin Lin mengeroyok hwesio itu. Untuk membantu Kun Hong, kedua orang gadis ini merasa belum cukup kepandaiannya menghadapi Thai Khek Sian yang benar-benar luar biasa lihainya itu.
Pertempuran dua golongan ini berlangsung makin ramai dan seru saja. Akan tetapi mudah dilihat bahwa keadaan mereka kurang seimbang. Kun Hong repot sekali menghadapi desakan-desakan Thai Khek Sian yang masih menang segalanya dibandingkan dengan pemuda bekas muridnya ini. Hanya berkat ketangkasan dan kecepatan Kun Hong saja yang membuat pemuda ini sebegitu lama masih belum roboh. Di lain fihak Beng Kun Cinjin terlampau kosen bagi tiga orang pengeroyoknya yang terdiri dari gadis-gadlis muda. Hanya Lin Lin seorang yang mampu mengimbangi kepandaiannya dan masih dapat membalas dengan serangan-serangan dahsyat, akan tetapi Lan Lan dan Eng Lan benar-benar tidak berdaya.
558
Keadaan Kun Hong dan tiga orang gadis itu sekarang malah terancam hebat dan dapat dibayangkan bahwa sebentar lagi mereka tentu akan roboh.
Pada saat yang amat berbahaya bagi keselamatan orang-orang muda itu, tiba tiba terdengar bentakan dari jauh. "Beng Kun Cinjin, akhirnya aku dapat menemukan kau. jahanam!" Belum hilang gema suara ini, tahu-tahu Wi Liong sudah muncul di situ.
"Ji-wi moi-moi dan nona Eng Lan harap mundur, serahkan siluman ini kepadaku!"
Wi Liong sudah mencabut sulingnya dan menyerang ganas. Lin Lin girang sekali melihat munculnya pemuda ini. Ketika ia menengok dan melihat Kun Hong terdesak hebat, ia lalu melompat dan membantu pemuda ini menghadapi Thai Khek Sian.
Sekarang barulah ramai dan Kun Hong dapat mengatur napas. Tak lama kemudian muncul pula Kong Bu dengan serombongan orang yang bukan lain adalah anak buahnya. pasukan pilihan dari markas penjagaannya, terdiri dari tigapuluh orang lebih.
Bagaimana Wi Liong bisa tiba pada saat yang amat tepat? Mari kita tengok sebentar pengalamannya ketika ia melakukan penyelidikan bersama Kong Bu. Sudah diceritakan lebih dahulu bahwa dua orang pemuda ini meninggalkan Lan Lan dan Lin Lin untuk melakukan penyelidikan di pulau-pulau lain, melihat gerak-gerik orang-orang Mongol yang sengaja didatangkan oleh Beng Kun Cinjin dan Bu-ceng Tok-ong guna membantu tipu muslihat yang hendak dijalankan oleh Thai Khek Sian. Beng Kun Cinjin sudah siang-siang memperbaiki hubungannya dengan orang-orang Mongol dan ia mendapat pengampunan karena orang-orang Mongol melihat bahwa mereka dapat mempergunakan tenaga hwesio ini.
Kebetulan sekali Wi Liong dan Kong Bu menyelidik ke pulau kosong yang dijadikan gudang perlengkapan makanan dan minuman. Mereka mendarat dan menyelinap memasuki pulau itu. Melihat adanya tenda-tenda di situ. mereka maju mengintai dan merasa heran mengapa tempat ini begini sunyi seperti tidak ada penghuninya. Mereka ingin sekali tahu apa yang terdapat di dalam tenda-tenda itu. Wi Liong mengajak Kong Bu mendekati tenda-tenda itu dan mengintai. Ternyata bahwa isi tenda adalah makanan dan minuman dan pada tenda terakhir mereka melihat Bu-ceng Tok-ong duduk di atas pembaringan bersamadhi!
"Aneh sekali........." kata Wi Liong. Bagaimana. Bu-ceng Tok-ong duduk enak enak saja membiarkan kedatangan mereka menyelidik?
Tak mungkin orang sepandai Bu-ceng Tok ong tidak mendengar kedatangan mereka, terutama jejak kaki Kong Bu cukup jelas terdengar. Dengan penuh kecurigaan Wi Liong memasuki tenda itu dan mendekat. Setelah berdiri di depan pembaringan, ia mengeluarkan seruan tertahan.
"Dia sudah mati.........." cepat-cepat ia mengajak Kong Bu keluar dari tenda itu "Tempat ini menjadi gudang persediaan barang hidangan, dijaga oleh Bu-ceng Tok-ong. Akan tetapi, agaknya ada orang sudah bergerak terlebih dulu dan Bu-ceng Tok-ong terbunuh." kata pula, Wi Liong yang cepat menuju ke perahu mereka. "Hebat..........siapa yang bisa membunuh Raja Racun itu dengan racun?"
"Orang-orang Mongol itu tentu berada di pulau lain," kata Kong Bu. "Masih ada beberapa pulau kecil kosong di sekitar sini."
559
Mereka lalu mendayung perahu lagi hendak menyelidiki pulau-pulau lain akan tetapi tiba-tiba lapat-lapat telinga Wi Liong menangkap jerit wanita. Kong Bu tidak mendengar ini maka ia heran ketika mendengar Wi Liong berkata, "Putar perahu. Kita kembali!"
Kong Bu tidak berani membantah, akan tetapi melihat Wi Liong mendayung perahu secepatnya dan nampak gelisah, ia bertanya, "Ada apa, Thio-taihiap? Kenapa kita tidak melanjutkan penyelidikan?"
"Aku khawatir dua orang gadis yang kita tinggalkan itu menghadapi bahaya. Aku mendengar jerit wanita dari jauh."
Kong Bu tidak bertanya-tanya lagi dan membantu Wi Liong mendayung perahu itu yang meluncur cepat sekali, kembali ke pulau kecil di mana mereka meninggalkan Lan Lan dan Lin Lin. Di tengah perjalanan ini mereka bertemu dengan dua perahu besar yang ditunggangi oleh tigapuluh orang pasukan Kong Bu yang datang menyusul pemimpin mereka. Kong Bu lalu meloncat ke dalam perahu mereka, membiarkan Wi Liong membalapkan perahu kecilnya terlebih dulu. Ternyata bahwa kedatangan Wi Liong tepat sekali pada waktunya, yaitu kelika Kun Hong dan tiga orang gadis terdesak hebat. Jerit yang ia dengar tadi adalah jerit Eng Lan yang juga terdengar oleh Kun Hong ketika Eng Lain melihat gurunya datam bahaya maut
Demikianlah, ketika melihat bahwa Kun Hong bertanding menghadapi Thai Khek Sian sedangkan Beng Kun Cinjin dikeroyok oleh Eng Lan, Lan Lan dan Lin Lin, Wi Liong tidak membuang waktu lagi, terus saja ia menerjang Beng Kun Cinjin dengan sulingnya.
"Celaka........." seru Beng Kun Cinjin dalam hatinya ketika mengenal Wi Liong. Pemuda putera Thio Houw dan Kwee Goat ini sudah terang takkan mau mengampuninya. Sakit hati besar harus dilunaskan pada waktu itu juga. Beng Kun Cinjin menjadi nekat, ia mengerahkan seluruh tenaga dan mengeluarkan seluruh kepandaiannya untuk melawan Wi Liong yang juga menyerang dengan hebat saking marahnya melihat musuh besar ini.
Adapun Thai Khek Sian tidak gentar melihat kedatangan Wi Liong, pemuda murid Thian Te Cu yang pernah ia robohkan itu, akan tetapi ketika ia melihat Kong Bu dan pasukan pasukan pemerintah, ia mengeluarkan seruan kaget. Ia telah mengundang orang-orang Mongol ke tempatnya untuk membantunya menyergap orang-orang kang ouw. Kalau hal ini sudah diketahui oleh pasukan pemerintah, kedudukannya berbahaya sekali. Ia bisa didakwa sebagai pemberontak yang terang-terangan dan pemerintah tentu akan mengirim pasukan-pasukan kuat untuk menghancurkan Pek-go-to. Ini berbahaya bagi keamanan tempat tinggalnya. Teringat akan ini, ia berseru keras, "Aku tidak ada waktu untuk bermain-main lebih lama lagi!" Dan tubuhnya melesat sambil menghujankan jarum-jarum beracun ke arah Kun Hong. Pemuda ini kaget sekali, maklum akan kekejian senjata-senjata rahasia ini maka ia cepat-cepat memutar pedang untuk melindungi tubuhnya, tak sempat lagi mengejar. Demikianpun Lin Lin memutar pedang melindungi dirinya.
Beberapa orang anggauta pasukan yang dipimpin Kong Bu, yang belum mengenal Thai Khek Sian, mencoba untuk menghadang dan menyerang kakek mengerikan itu.
"Jangan.........!" Kun Hong memperingatkan, akan tetapi terlambat. Thai Khek Sian mengibaskan tangan kanannya, uap hitam menyambar dan lima orang anggauta pasukan roboh dan tewas di saat itu juga terkena uap beracun yang amat dahsyat. Di lain saat, Thai Khek Sian telah lenyap dari situ.
560
Kakek tokoh Mo-kauw ini memperlihatkan kekejaman dan ketidak setia-kawanannya, membiarkan Beng Kun Cinjin seorang diri terancam kematian!
Teringat akan Beng Kun Cinjin, Kun Hong cepat memutar tubuh hendak ganti menyerang musuh besarnya. Akan tetapi ia terlambat karena pada saat itu, suling di tangan Wi Liong dengan tepat telah dapat meuotok ulu hati Beng Kun Cinjin dan pukulan ini sudah tidak ada obatnya lagi. Beng Kun Cinjin melepaskan tasbehnya, terhuyung-huyung memegangi dadanya, terengah-engah bersambat, "Aku....... aku menebus dosa......... Kun Hong......:. anakku.........baik-baiklah kau........" Ia roboh dan napasnya putus!
Wi Liong mengangkat sulingnya ke atas, memandang ke angkasa raya, mulutnya bergerak-gerak seperti berdoa kepada arwah ayah bundanya bahwa pada saat itu ia berhasil membalas dendam. Akan tetapi tiba-tiba ia melompat dan "traanggg.........!" sulingnya menangkis pedang di tangan Kun Hong yang dengan beringas hendak menggunakan pedangnya mencacah-cacah tubuh Beng Kun Cinjin.
"Kun Hong. apa kau gila?" bentak Wi Liong.
Dengan muka beringas, mata merah dan wajah pucat, Kun Hong berkata dengan suara terputus-putus. "Biarkan aku menghancurkan tubuhnya, si keparat! Sampai dalam matinya ia menyebut anak kepadaku. Dia telah merusak hidupku, dia yang membuat aku begini, terperosok ke dalam kejahatan. Dia......... dia membuat aku makin tidak berhak hidup, membuat aku seorang anak penjahat yang menjadi jahat! Aku tidak berharga............ dan dia terutama biang keladinya. Biarkan aku hancurkan mayatnya!"
"Kun Hong, ingat! Betapapun juga, dia ayah kandungmu, darah dagingmu sendiri. Yang jahat perbuatannya, bukan orangnya. Dia sudah mati, tidak perlu diganggu lagi. Manusia baik atau jahat ditentukan oleh perbuatannya sendiri, bukan oleh keturunan. Keturunan penjahat bisa menjadi seorang berguna dan gagah, keturunan orang baik-baik bisa menjadi penjahat."
Kun Hong sadar oleh kata-kata bersemangat ini. Ia menjatuhkan diri, berlutut karena kedua kakinya terasa lemas. "Sam......... sampai mati ia melempar najis kepadaku......... mengakui aku sebagai anaknya......... ah, aku orang hina...... keturunan rendah........."
"Tidak, Kun Hong. Sikapmu ini saja meyakinkan aku bahwa kau seorang gagah," kata Wi Liong menghibur, akan tetapi Kun Hong tak dapat terhibur oleh kata-kata ini.
Eng Lan melangkah maju, ikut berlutut di samping Kun Hong, meraba pundaknya. Gadis ini juga pucat wajahnya dan air mata membasahi pipinya. "Kun Hong, aku tidak menganggap kau rendah........."
Dalam dukanya Kun Hong tidak melihat datangnya Eng Lan. Kini mendengar suaranya dan merasai sentuhan tangannya, ia menengok, kaget dan sangsi. Memang adanya Eng Lan di situ yang'membuat ia tadi merasa sengsara, karena ia dapat menduga bahwa gadis kekasihnya itu tentu akan memandangnya rendah. Tak disangkanya sama sekali gadis ini sekarang berlutut di sampingnya, menyentuh pundaknya dan mengeluarkan ucapan seperti itu. Tidak mimpikah ia?
561
"Kau......... Eng Lan......... benar-benarkah ucapanmu tadi? Aku seorang rendah, tidak saja keturunan orang jahat, malah......... malah aku sudah melukai hatimu......... aku melakukan perbuatan-perbuatan tidak patut......... sudah selayaknya kau membenciku dan memandang rendah........."
Melalui air matanya, gadis itu menatap wajah Kun Hong. Bagaimana dia bisa membenci pemuda ini yang setiap saat bayangannya tak pernah meninggalkan ruang hatinya? Bagaimana ia bisa memandang rendah pemuda ini yang selalu meninggalkan kenang-kenangan dan kesan indah di dalam hatinya, yang ia kagumi, ia kasihani, dan ia cinta? Eng Lan tersenyum, dua butir air mata menitik sampai ke ujung bibirnya, membuat senyumnya manis mengharukan.
"Aku......... aku ampunkan semua itu. Kun Hong. Thio-taihiap berkata benar. Kakek yang sudah mati itu betapapun juga adalah ayahmu, tak perlu kau menurutkan nafsu hati."
Hampir Kun Hong berteriak saking girang dan terharunya. Ia hanya dapat merangkul pundak gadis itu dan air matanya mengalir turun, penuh keharuan.
"Eng Lan......... Eng Lan........." hanya demikian terdengar bisikannya.
Wi Liong, Kong Bu, Lan Lan dan Lin Lin memandang penuh keharuan. Kong Bu lalu memberi aba-aba kepada anak buahnya untuk mengurus lima orang kawan yang tewas, sedangkan Wi Liong, Lan Lan dan Lin Lin juga menjauhi tempat itu untuk memberi kesempatan kepada Kun Hong dan Eng Lan dalam pertemuan yang mesra mengharukan itu.
Akan tetapi tidak lama Kun Hong dapat menguasai hatinya. Ia menarik lengan Eng Lan berdiri, untuk sesaat menatap wajah kekasihnya tanpa mengeluarkan kata-kata. Namun di dalam sinar matanya terbawa sumpah bahwa semenjak saat itu ia akan merobah diri, menjadi orang baik-haik sesuai dengan harapan Eng Lan. Dan Eng Lan dapat menangkap sinar mata ini, balas memandang dengan sinar mata penuh harapan, penuh terima kasih, penuh kabahagiaan karena dalam diri Kun Hong ia mendapatkan seorang yang akan menjadi pengganti orang tua, menjadi pengganti guru. menjadi satu-satunya orang yang ia miliki di dunia ini.
Kun Hong teringat akan keadaan di sekitarnya, dengan muka merah ia lalu berbisik. "Aku masih harus menyelesaikan banyak tugas." Eng Lan mengangguk dan Kun Hong cepat menghampiri Wi Liong.
"Wi Liong, kau tahu, Thai Khek Sian mempunyai rencana yang amal keji terhadap semula tokoh kang-ouw yang ia undang."
Wi Liong mengangguk. "Mengundang orang-orang Mongol?" jawabnya menduga.
"Bukan itu saja, lebih keji dan hebat lagi."
Dengan singkat ia lalu menuturkan tentang rencana meracuni semua tokoh kang-ouw dengan racun ular Ang-siauw liong dan sebagai bukti penuturannya ia memperlihatkan bangkai ular itu yang menjadi obat penawarnya.
562
"Aku dapat membujuk nona Cheng In dan Ang Hwa untuk memperbaiki jalan hidup mereka dan mencoba untuk memberikan arak itu kepada para undangan orang-orang Mongol itu." Ia menceritakan rencananya yang telah dilakukan oleh dua orang oona itu.
Wi Liong berubah air mukanya. Ia telah mengenal baik Cheng In dan Ang Hwa. Kalau tidak ada dua orang nona itu, dahulu ia bisa tewas di tangan Thai Khek Sian. Ia harus berusaha menolong mereka dari ancaman berbahaya. Pekerjaan yang mereka lakukan itu tarlalu berbahaya.
"Kalau begitu, mari kita susul mereka. Pekerjaan mereka itu terlalu berbahaya. Orang-orang Mongol itu bukanlah musuh-musuh yang mudah dikalahkan," kata Wi Liong.
Kun Hong menyatakan setuju. Wi Liong lalu minta kepada Kong Bu untuk mengajak Eng Lan, Lan Lan, dan Lin Lin mengatur semua pasukannya melakukan penjagaan kalau-kalau terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Juga ia memesan supaya kalau bertemu dengan orang-orang kang-ouw yang hendak mengunjungi Pek-go-to, diberi paringatan tentang bahaya yang mengancam mereka.
Lin Lin cemberut dan tadinya hendak turut.
Akan tetapi sambil memandang dengan wajah sungguh-sungguh, Wi Liong berkata. "Pekerjaan ini cukup dilakukan oleh Kun Hong dan aku. Kau amat dibutuhkan di samping kawan-kawan lain, adik Lin. Di antara semua kawan, kaulah yang paling tinggi kepandaianmu. Kalau kau ikut pergi, siapa yang dapat diandalkan di sini? Kita bagi-bagi tugas, baikkah itu?"
Lin Lin terpaksa tak dapat membantah lagi dan dengan cepat pergilah Wi Liong dan Kun Hong berperahu, menuju ke pulau-pulau yang dijadikan markas orang-orang Mongol, menyusul Cheng In dan Ang Hwa. Wi Liong yang dahulunya menjadi lawan Kun Hong, sekarang amat percaya kepada pemuda ini. Untuk memperlihatkan kepercayaannya, ia melolos Cheng-hoa-kiam dan memberikan pedang itu kepada pemuda ini. Kun Hong tadinya segan dan sungkan menerima, akan tetapi Wi Liong memaksa sambil berkata. "Kau lebih ahli menggunakan pedang dari pada aku yang sudah biasa menggunakan sulingku ini. Kita harus hati-hati karena yang kita hadapi adalah orang-orang pandai, apa lagi Thai Khek Sian”.
Matahari telah naik tinggi ketika dua orang pemuda perkasa ini tiba di pulau yang mereka tuju. Di pinggir pantai telah kelihatan, perahu orang Mongol dan tiba- tiba Kun Hong berseru heran, "Bukankah itu perahu Kuibo Thai-houw?”
Seruannya ini dijawab oleh suara hiruk-pikuk orang-orang berkelahi ketika dengan lincah keduanya melompat ke darat. Cepat mereka berlari ke tengah dan benar saja, di depan tenda-tenda darurat terjadi pertempuran hebat. Akan tetapi penglihatan pertama yang membuai mereka cepat memburu ke tempat itu adalah menggeletaknya Cheng In dan Ang Hwa! Wi Liong menghampiri Cheng In dan Kun Hong menghampiri Ang Hwa. Dua orang gadis ini terluka parah dan napas mereka tinggal satu-satu. Akan tetapi Ang Hwa tersenyum ketika Kun Hong memangku kepalanya.
"Aku puas......... dapat melaksanakan tugas......... mati sebagai orang sudah menebus dosa......... perbuatan terakhir......... satu-satunya yang baik......... dan mati di pangkuanmu......... koko........." Tubuhnya mengejang dan nyawanya melayang.
563
Cheng In juga diangkat kepalanya oleh Wi Liong yang melihat bahwa gadis inipun tak dapat ditolong pula. Cheng In memandang Wi Liong lalu berkata terengah-engah, "Hanya setengahnya dapat kami bujuk......... mereka minum dan mati......... kami ketahuan...... dikeroyok....... Kun......... Kun Hong....... selamat tinggal........." Dan gadis inipun mati dalam pelukan Wi Liong yang ia sangka Kun Hong.
Setelah merebahkan mayat dua orang gadis itu, Wi Liong dan Kun Hong bangkit berdiri. Mereka melihat sedikitnya dua puluh orang Mongol menggeletak berserakan di dalam tenda, tentu mereka yang telah minum arak beracun. Ada tigapuluh orang lagi yang bertempur kacau balau mengeroyok empat orang nenek kembar dan empat orang gadis pakaian merah, pengikut pengikut Kui bo Thai-houw yang sudah payah sekali. Biarpun mereka delapan orang ini sudah merobohkan sepuluh orang lebih, namun dikeroyok seperti itu mereka kewalahan juga dan sudah terluka di sana-sini. Thai Khek Sian sendiri sedang bertempur dengan hebatnya melawan Kui bo Thai-houw. Keduanya sama sakti, sama kuat dan sama sama mengeluarkan serangan-serangan maut yang keji dan dahsyat sekali.
Kedatangan Kuibo Thai houw ke tempat itu memang ia sengaja setelah ia mendengar dari para penyelidiknya bahwa Pek go to mendatangkan orang-orang Mongol. Biarpun jahat, Kui-bo Thai houw bukanlah penghianat dan perbuatan Thai Khek Sian ini mendatangkan kemarahannya. Sebagai bekas selir kaisar, ia benci orang-orang Mongol dan dengan dikawani oleh empat orang nenek kembar serta empat orang gadis pakaian merah yang menjadi murid-murid kesayangannya, ia lalu berperahu mendatangi pulau itu dan menyerang orang-orang Mongol.. Akan tetapi tiba-tiba Thai Khek Sian yang mengkhawatirkan rahasianya bocor datang pula ke pulau itu sehingga terjadi pertempuran seru dan hebat itu.
Tanpa dikomando lagi. Wi Liong dan Kun Hong menyerbu, menyerang orang-orang Mongol. Menghadapi musuh rakyat, tidak ada perbedaan lagi antara mereka dan orang orang Ban-moto. Empat orang nenek kembar tertawa terkekeh-kekeh girang mendapatkan dua bantuan pemuda-pemuda perkasa ini. Mereka mengamuk lebih garang lagi, menjatuhkan beberapa orang dengan sabuk-sabuk mereka. Pedang Cheng-hoa-kiam di tangan Kun Hong mengamuk seperti naga yang haus darah sedangkan suling di tangan Wi Liong tidak kalah hebatnya. Sekali towel dan sekali ketok saja cukup sudah merobohkan seorang lawan.
Orang-orang Mongol itu panik. Mayat-mayat mereka bergelimpangan. Sisanya hendak lari kehabisan jalan, lalu nekat. Tanpa ia sadari, dalam pertempuran ini Wi Liong telah dapat membalas dendam sakit hati orang tuanya, karena di dalam rombongan orang Mongol ini terdapat Hek-mo Sai-ong dan yang lain panglima-panglima Mongol yang dulu ikut mengeroyok dan membunuh ayah bundanya, Thio Houw dan Kwee Goat.
Dalam waktu kurang dari dua jam semua orang Mongol terbasmi habis, tak seorangpun terluput dari kematian. Tempat itu menjadi mengerikan dengan mayat bertumpuk-tumpuk. Empat orang gadis pakaian merah pengikut Kuibo Thai-houw juga tewas, sedangkan empat orang nenek kembar luka-luka. Akan tetapi mereka masih bisa tertawa-tawa puas dan memuji muji Wi Liong dan Kun Hong yang merawat luka-luka mereka sehingga dua orang pemuda ini menjadi jengah dan juga sebal.
Pertempuran antara Thai Khek Sian dan Kuibo Thai-houw masih berlangsung seru. Baik Wi Liong maupun Kun Hong tidak mau mencampuri, hanya menonlton saja sambil diam-diam mencatat dalam hati gerakan-gerakan yang luar biasa lihainya. Bagi orang-orang setinggi mereka tingkat ilmu silatnya, menonton pertempuran yang dilakukan oleh dua orang tokoh puncak ini merupakan penambahan pengalaman dan pelajaran yang tak ternilai harganya. Semua ilmu silat yang tak pernah dikeluarkan,
564
yang merupakan simpanan kedua orang tua sakti itu, kini terpaksa dikeluarkan, untuk mengalahkan lawan.
Betapapun tinggi ilmu kepandaian mereka, namun mereka harus menyerah kepada usda tua. Semangat masih besar, akan tetapi keuletan mereka banyak berkurang karena usia tua membuat jasmani mereka tidak sekuat dulu. Makin lambat gerakan-gerakan mereka dan pada suatu saat ujung tali ikat pinggang Kui-bo Thai houw melibat jari-jari tangan Thai Khek Sian yang berkuku runcing-runcing itu. Baru sekarang sepuluh buah kuku yang terlalu panjang itu mungkin dapat terbelit dan tak dapat dilepaskan lagi. Mereka saling betot dan kedua tangan Thai Khek Sian seperti dibelenggu saja karena ia tidak dapat melepaskan belitan ujung tali yang. lihai itu. Terdengar Kui-bo Thai houw mengeluarkan suara ketawa mengejek dan tangan kirinya yang tidak memegang sabuk bergerak menampar. Inilah pukulan maut yang menghantam dada Thai Khek Sian. pukulan yang tak dapat dielakkan lagi. Tepat mengarah dada di mana tergantung tengkorak manusia.
"Prakkk.........!"
"Celaka............!" seru Kui bo Thai houw.
Pada saat ia memukul pecah tengkorak itu berikut dada Thai Khek Sian, tengkorak yang pecah itu muncrat melontarkan jarum-jarum hitam yang bagaikan hujan menyerang tubuhnya tanpa dapat dielakkan lagi. Juga. ternyata Thai Khek Sian telah mengumpulkan tenaga pada dadanya, menerima pukulan itu mengadu kekuatan lweekang sehingga keduanya mendapat luka hebat di dalam tubuh.
"Ha-ha-ha-ha-ha.........!" Thai Khek Sian tertawa bergelak melihat Kui-bo Thaihouw bergulingan di atas tanah, akan tetapi suara ketawanya tiba-tiba terhenti, tubuhnya berkelojotan dan nyawanya melayang. Lukanya di dalam tubuh akibat pukulan tadi terlampau hebat, ditambah lagi oleh jarum-jarumnya sendiri yang keluar berhamburan dari dalam tengkorak, memasuki dadanya.
Kui-bo Thai houw merintih-rintih. Kun Hong yang melihat hal ini menjadi tidak tega, lalu lari menghampiri untuk menolong. Kui bo Thai-houw tersenyum getir, maklum akan maksud Kun Hong bahwa luka-luka akibat racun dapat ditolong oleh Ngo-heng giok cu. Ia menggeleng kepala.
"Tiada guna......... iblis itu hebat........ lukaku di dada........ ah........ dua kemala di lain saku bajuku......... kutinggalkan untukmu, Kun Hong......... aduuuhhhh............" Wanita itu menjadi lemas dan meninggal dunia dalam keadaan tenang, tidak berkelojotan seperti Thai Khek Sian.
Empat orang nenek kembar menubruk mayat Kui bo Thai houw sambil menangis menggerung-gerung. Kemudian mereka mengambil dua buah batu kemala mujijat dan memberikannya kepada Kun Hong. Tadinya pemuda ini segan menerima.
"Kongcu....... terimalah........."
"......... Im-yang giok cu........."
"......... Ngo heng giok cu........."
565
"......... menurut pesan Thai houw........." kata mereka di antara tangis. Memang aneh dan lucu empat orang nenek kembar ini, dalam keadaan susah masih bicara sambung-menyambung sambil menangis. Akhirnya Kun Hong menerima dan menyimpan dua batu kemala mustika itu.
"Siancai......... siancai........." tiba-tiba entah dari mana datangnya, seorang kakek tinggi kurus berpakaian putih bermuka pucat kehijauan seperti mayat hidup, telah berdiri di situ dan mengebut-ngebutkan kebutannya ke kanan kiri, menggeleng-geleng kepala melihat sekian banyaknya mayat bertumpuk memenuhi tempat itu. "Thian Khek Sian menimbulkan bencana hebat......".
Kun Hong dan yang lain-lain kaget sekali dan menengok. Wi Liong menjatuhkan diri berlutut.
"Suhu...........”
Kun Hong juga memberi hormat sambil berlutut. "Siansu........."
Thian Te Cu, kakek itu, tidak berkata apa-apa hanya menggeleng-geleng kepala, kelihatan sedih sekali melihat sekian banyaknya manusia mati di tempat itu. Tak lama kemudian, datanglah Kwee Sun Tek. Wi Liong memburu dan memeluk pamannya.
"Paman, Beng Kun Cinjin sudah tewas di tanganku."
Kwee Sun Tek tidak kelihatan gembira, hanya menarik napas panjang. "Dia mencari celaka sendiri." hanya demikian ucapannya, membuat Wi Liong agak heran mengapa sekarang pamannya itu sudah hampir menyerupai sikap gurunya.
Kemudian barturut-turut muncul Thai It Cinjin bersama Im yang Sian-cu. juga ikut pula murid-muridnya Hui Nio dan Hui Sian diiringkan oleh Kong Bu dan pasukannya. Muncul pula menyusul ke situ Lin Lin, Lan Lan dan Eng Lan yang tak dapat menahan hatinya untuk menyusul Wi Liong dan Kun Hong. Ternyata mereka telah bertemu dengan orang orang kang-ouw yang berdatangan ke situ dan kini orang orang kang-ouw itu juga ikut pula menyusul ke pulau itu karena penasaran mendengar bahwa Thai Khek Sian hendak menyambut kedatangan mereka dengan......... keroyokan orang-orang Mongol!
Banyak yang bermunculan di situ. Berturut-turut datang Bhok Lo Cinjin yang mewakili Siauw limpai, Kun-lun Lojin atau Pek Mau Sian-jin ketua Kun lun-pai, Hu Lek Siansu ketua Go-bi-pai. Lam san Sian ong si tangan buntung. See-thian Hoat-ong, dan tokuh-tokoh lain. Bahkan muncul pula sambil tertawa-tawa Phang Ek Kok dan muridnya. Sim hui-kiam Kui Sek pemuda gemuk tampan yang dogol dan jujur!
Semua orang menyatakan bersyukur bahwa tipu muslihat keji yang direncanakan oleh Thai Khek Sian dan kawan kawannya telah digagalkan oleh Kun Hong dan Wi Liong, malah-malah pentolan Mo kauw Thai Khek Sian sendiri tewas dalam pertempurannya melawan iblis wanita Kui-bo Thai houw yang juga terkenal keji.
Agak tidak enak hati Cin Cin Cu tokoh Go-bi-pai yang dulu menjebak dan menangkap Kun Hong, juga ketua Kun-lun, Pek Mau Cinjin melihat Kun Hong dengan muka merah. Ketika mendengar semua
566
orang memuji Kun Hong, tak tertahan lagi Pek Mau Sianjin melangkah maju menghadapi Kun Hong sambil berkata.
"Siancai...........! Siapa sangka sekarang kau yang telah berjasa besar membasmi rencana jahat yang membahayakan kami semua. Dulu pinto telah berlaku salah kepadamu, malah nyaris membunuhmu. Orang muda, kalau untuk perbuatan yang dulu itu kau menaruh sakit hati, pinto bersedia menebus di hari ini." Tosu tua ini meraba gagang pedangnya sambil menjura.
"Ah, pinto keduluan oleh Pek Mau Sianjin. Orang muda, pinto juga masih berhutang padamu dahulu di Kun-lun-san. Kalau sekarang harus membayar, pinto bersedia." Cin Cin Cu melompat maju dan menjura pula.
Muka Kun Hong menjadi merah sekali. Sikap dua orang tosu ini sekaligus mengingatkan ia akan semua penyelewengannya sehingga ia dimusuhi orang- orang gagah dari Kun-lun. Ia cepat-cepat balas menjura penuh hormat kepada dua orang kakek itu sambil berkata, "Ji-wi toliang harap maafkan dan memberi muka terang kepadaku. Memang kuakui bahwa dahulu aku telah terperosok ke jalan sesat oleh karena pergaulanku dengan orang-orang yang mendidikku. Peristiwa di Kun-lun dahulu adalah karena kesalahanku sendiri. Masih untung aku tidak binasa oleh pukulan totiang Im-yang lian-hoan karena mendapat pertolongan mendiang Liong Thai suhu. Akan tetapi, ji-wi totiang, apakah seorang yang pernah tersesat seperti aku ini tidak boleh mencari jalan benar kembali? Harap ji-wi tidak mendesakku."
Dua orang tosu ini melangkah mundur dan menjura lagi. "Tua-tua pinto menjadi lamur dan tak tahu diri. Maaf, maaf............" kata Pek Mau Sianjin terpukul oleh pengakuan Kun Hong yang terus terang itu.
Tiba-tiba terdengar suara yang halus namun berpengaruh sekali sehingga orang-orang yang berada di situ menengok. Kiranya Thian Te Cu si Mayat Hidup yang bicara, "Cu-wi sekalian. Thai Khek Sian telah terjerumus ke dalam lobang jebakan yang ia pasang sendiri. Sudah terang bahwa srigala-srigala dari utara (orang-orang Mongol) selalu mempergunakan setiap kesempatan dan perpecahan antara kita untuk menghancurkan kita agar pertahanan di selatan menjadi makin lemah dan mudah bagi mereka untuk memperluas jajahannya. Oleh karena itu. aku yang tua mengharapkan mulai sekarang, lenyapkanlah atau sedikitnya kurangilah pertikaian antara kita sendiri agar pada masanya kita akan kuat membantu negara menahan serbuan musuh dari utara. Sekarang harap cu-wi kembali ke tempat masing-masing. Urusan mayat-mayat ini, biar aku yang mengurusnya karena Thai Khek Sian masih terhitung suteku sendiri."
Semua tokoh di situ makfum siapa Thian Te Cu, biarpun sebagian besar baru kali ini melihat orangnya. Setelah semua memberi hormat mereka berbondong-bondong lalu meninggalkan pulau ini. Tak lama kemudian, di pulau itu hanya tinggal Thian Te Cu dan yang belum pergi adalah Wi Liong, Kun Hong, Eng Lan. Lin Lin dan Lan Lan. Kong Bu dan ayahnya See-thian Hoat-ong, Kwee Sun Tek. Hui Nio dan Hui Sian yang ditahan oleh Kong Bu. Juga Phang Ek Kok dan muridnya, Kui Sek, berkeras menyatakan mau membantu Thian Te Cu mengurus mayat mayat yang banyak itu. Dalam kesempatan kunjungan ini, Kui Sek diam-diam jatuh hati kepada Hui Sian yang kenes dan ayu, dan pemuda yang jujur sekali ini secara terang-terangan menyatakan perasaan hatinya dalam pandang mata dan kata-katanya, membuat Hui Sian tersipu-sipu dan jengah.
567
Beramai-ramai dan secara gotong royong mereka semua ini mengurus penguburan sekian banyak mayat itu dan pekerjaan ini baru selesai setelah matahari tenggelam di ujung barat. Thian Te Cu mengucapkan terima kasih kepada orang-orang muda yang bekerja keras itu, kemudian tanpa banyak cakap lagi ia berpamit dan berkelebat pergi, lenyap dari pandangan semua orang. Kwee Sun Tek hendak menyusul gurunya, akan tetapi ditahan oleh Wi Liong yang berseru, "Nanti dulu, paman Kwee.........!"
Kwee Sun Tek yang buta itu menahan kakinya dan menghadapi keponakannya. Dalam kesibukan tadi, memang tidak ada kesempatan bagi paman dan keponakan ini untuk bicara. Wi Liong membawa pamannya ke samping, lalu ia bicara terus terang tentang perjodohannya.
"Paman, dahulu paman telah memesan supaya aku melanjutkan perjodohan dengan seorang puteri dari Kwa Cun Ek lo-enghiong, malah untuk ikatan jodoh ini paman sudah memberikan sebuah kalungku, bukan?"
"Betul, habis mengapa?" tanya orang buta itu sabar.
"Ada persoalan rumit, paman. Aku bertemu dengan Tung hai Sian-li dan dalam saat ia menghembuskan napas terakhir, ia memesan dan menjodohkan aku kepada seorang di antara anak-anak kembarnya sebagai pengganti nona Kwa Siok Lan. Aku tidak kuasa menolak. Bagaimana baiknya, paman?" Ia lalu menceritakan pengalamannya ketika hal itu terjadi.
Kalau menurutkan wataknya, Kwee Sun Tek tentu sudah marah-marah mendengar akan hal ini. Akan tetapi sekarang la telah dapat menguasai perasaan hatinya dan dengan tenang ia berkata, "'Karena Tung-hai Sian li juga berhak dalam perjodohan itu. baik kau pergi ke Thian mu-san dan tanyakan pendapat Kwa Cun Ek dan puterinya sendiri. Keputusannya terserah mereka. Wi Liong, kau sudah cukup dewasa, aku percaya akan kebijaksanaanmu, aturlah sendiri sebaiknya agar semua fihak senang. Kelak saja kalau hendak dilangsungkan pernikahan, beri tahu padaku ke Wuyi-san. Selamat tinggal." Kwee Sun Tek lalu pergi meninggalkan pulau itu menyusul gurunya yang sudah menanti di perahu.
Sementara itu, orang-orang muda yang lain bergembira setelah pekerjaan berat tadi selesai. Mereka saling berkenalan dan segera mendapat kecocokan satu sama lain. Malah Phang Ek Kok yang gembira bertemu dengan Lan Lan, anak angkatnya yang memang ia sayang, berkelakar sampai semua orang sakit perutnya tertawa-tawa. Terjalin rasa persahabatan yang erat di antara mereka
Ketika Wi Liong menghampiri mereka dan mendengar bahwa pemuda ini hendak mengunjungi Kwa Cun Ek di dalam gua di lereng Thian-mu-san, segera para muda itu menyatakan ikut serta. Semua orang ingin melihat tunangan Wi Liong dan diam-diam Lan Lan membuat semacam "propaganda" sehingga berbondong-bondong mereka semua ingin menjadi saksi, Kun Hong, Eng Lan, Lan Lan sendiri, Hui Nio, Hui Sian, Lin Lin, malah Kui Sek yang tergila-gila kepada Hui Sian ikut pula, tidak ketinggalan Kong Bu yang minta pertolongan ayahnya supaya pulang lebih dulu bersama pasukannya. See-thian Hoat-ong yang melihat kegembiraan orang-orang muda ini hanya tersenyum sambil menggeleng kepala, diam-diam merasa iri juga bahwa dia sudah terlalu tua untuk menikmati kegembiraan orang-orang muda.
568
Berangkatlah mereka beramai meninggalkan pulau kosong itu menuju ke daratan Tiongkok. Dan di darat ini See-thian Hoat-ong memimpin pasukan rombongan orang-orang muda itu. Phang Ek Kok yang cukup awas melihat gerak- gerik muridnya, segera menuju ke tempat tinggal Thai It Cinjin di Kim-Ie-san untuk membicarakan tentang perjodohan, yaitu Kui Sek dengan Hui Sian.
Akan tetapi selagi rombongan orang muda fon hendak berangkat, Kong Bu yang lebih dulu menyiapkan kuda dari pasukannya, mengeluarkan beberapa ekor kuda tunggangan yang bagus-bagus untuk semua anggauta rombongan, membuat mereka menjadi makin gembira. Tiba-tiba Lin Lin berkata dengan muka sungguh-sungguh, "Harap cu-wi berangkat dulu ke Thian mu-san. Aku mempunyai urusan pribadi yang amat penting yang harus kukerjakan lebih dulu. Aku akan segera menyusul ke sana."
Semua orang kecewa, akan tetapi melihat bahwa Lan Lan juga memperkuat kepentingan adiknya, Kong Bu lalu memberikan kudanya sendiri kepada Lin Lin, katanya.
"Nona Lin Lin, kudaku ini paling baik dan paling cepat di antara semua kuda. Selain kuat dan cepat larinya, juga dia mempunyai keistimewaan, yaitu bisa tertawa. Kau naiklah kuda ini supaya kau nanti dapat cepat membereskan urusanmu dan dapat mengejar kami."
Semua orang tidak percaya dan terpaksa Kong Bu memberi bukti. Ia mencemplak kudanya dan berkata. "Koai-ma, beratkah bebanmu?" Aneh sekali sebagai jawaban kuda itu meringkik seperti orang tertawa terbahak, seakan-akan mengejek dan menyatakan bahwa muatan itu sama sekali tidak berat!
"Betul tidak kataku? Ia mentertawakan aku!" Semua orang ikut tertawa dan suasana menjadi makin gembira.
Setelah berpamit, Lin Lin lalu menunggang kuda yang bisa tertawa itu dan di lain saat ia sudah membalap pergi meninggalkan rombongan yang melakukan perjalanan ke Thian-mu san perlahan-lahan sambil bercakap-cakap gembira. Hanya Wi Liong yang tampak agak pendiam. Perginya Lin Lin membuat ia merasa kehilangan dan baiknya ada Lan Lan di situ.. Diam-diam ia terkejut dan memaki diri sendiri. Aku telah mencintai mereka berdua, pikirnya. Orang gila, mana mungkin? Urusan dengan puteri Kwa Cun Ek saja belum beres, masa sekarang ditambah seorang gadis seperti Lin Lin pula? Gila!
Lan Lan dan Suhengnya, Kui Sek, yang pernah mendatangi lereng itu, menjadi penunjuk jalan, juga Kun Hong yang sudah pernah pergi ke tempat itu, menjelaskan kepada Wi Liong di mana tempat tinggal Kwa Cun Ek.
Karena Wi Liong tak pernah menyebut-nyebut tentang keperluannya mengunjungi Kwa Cun Ek, semua orang kecuali Lan Lan tidak tahu apa yang sebetulnya terjadi dan akan terjadi. Hanya Wi Liong sendiri yang makin berdebar cemas setelah mereka nuuliai mendaki Gunung Thian mu-san, juga wajah Kun Hong agak muram karena ia teringat akan nasib Ciok Kim Li yang tewas di lereng itu. Maka legalah hatinya ketika Wi Liong minta supaya mereka semua menanti di sebuah lereng yang teduh sedangkan dia sendiri bersama Lan Lan melanjutkan perjalanan dengan jatan kaki ke lereng yang dituju. Ini adalah kehendak Lan Lan dan Wi Liong maklum bahwa tunangannya inipun tentu hendak melihat gadis yang sudah lebih dulu ditunangkan kepada Wi Liong. Diam-diam ia makin gelisah,
569
mengkhawatirkan adegan yang amat tak enak antara dua orang gadis yang di luar kehendaknya sudah dijodohkan kepadanya.
"Turunnya dari tempat ini," kata Lan Lan seteteh mereka tiba di tepi jurang yang curam itu.
"Pernah aku bersama suhu dan suheng sampai di tempat ini."
Keduanya lalu menuruni tebing dan ternyata jalan itu sudah dipersiapkan Lebih dulu, kini tidak sesukar dahulu karena sudah dibuatkan jalan menurun merupakan anak tangga. Jalan ini dahulu yang dibuat oleh Lin Lin dan Lan Lan ketika mereka mengangkat jenazah Kwa Cun Ek untuk dimakamkan. Ketika mereka menuruni lereng itu, terdengar Lan Lan terisak, membuat Wi Liong terkejut sekali.
"Ada apakah, adik Lan?"
Lan Lan menyusut air matanya, menggeleng perlahan. "Tidak apa-apa."
Wi Liong berdebar hatinya. Celaka, pikirnya. Belum apa-apa Lan Lan sudah menangis, tentu cemburu dan pasti akan terjadi adegan yang menghebohkan nanti antara Lan Lan dan "tunangannya" yang lain! Akan tetapi ia tidak berdaya dan harus berani menghadapi kenyataan, harus dapat menyelesaikan dan membereskan urusan ini bersama Kwa Cun Ek dan puterinya yang entah siapa itu.
Akhirnya dua orang muda itu sampai juga di dalam gua. Sunyi saja di situ dan Wi Liong berteriak, "Kwa Cun Ek. lo-enghiong, aku Thio Wi Liong datang menghadap!"
Suara itu bergema di dalam gua. Tak lema kemudian terdengar suara wanita menjawab dari datem, "Ayah Kwa Cun Ek telah lama meninggal dunia, siapa yang mencari ayah?" Dan dari dalam gua yang agak gelap muncul seorang gadis bertubuh ramping, berwajah ayu agak pucat dengan rambut hitam gemuk digelung tinggi-tinggi ke atas. Ia berjalan dengan tenang menghadapi Wi Liong dan Lan Lan.
"Siok Lan..........!!" Wi Liong berseru dengan suara gemetar.
Gadis itu tersenyum, sikapnya masih tenang. "Siapa menyebut-nyebut nama enci Siok Lan yang sudah meninggal pula? Orang muda aneh, apa kau mimpi? Siapa kau?"
Tubuh Wi Liong masih menggigil, darahnya selengah beku membuat sampai lama ia tak dapat membuka mulut. Akhirnya ia melihat bahwa gadis yang persis Siok Lan ini jauh lebih muda. Ia cepat menjura dengan hormat dan berkata. "Siauwte Thio Wi Liong dan datang ke sini hendak......... hendak......... bertemu dengan Kwa-lo enghiong."
Gadis itu nampak terkejut. "Ahhh.......... ayah sebelum meninggal dunia pernah menyebut nama itu. Katanya Thio Wi Liong adalah......... adalah calon mantunya. Jadi kaukah orangnya? Sudah nasibku........ diserahkan kepada orang yang belum pernah kulihat sebagai pengganti enci Siok Lan. Tuan Thio. yang ditinggalkan oleh ayah hanyalah aku dan........ dan.........mereka ini. Kau boleh pilih.........." Cepat gadis itu mengeluarkan sebuah karung besar dan membukanya. Seekor monyet kecil meloncat keluar, diikuti oleh seekor kadal besar.
Wi Liong membelalak. Siapa pernah menyebut-nyebut tentang monyet dan kadal? Yang berkata bahwa siapa tahu kalau puteri Kwa Cun Ek seperti monyet atau kadal?
570
''Lin Lin.........!" teriaknya dan sekarang terbukalah matanya. Tak salah lagi, Lin Lin-lah gadis ini! Ia menjadi begitu girang sampai lupa keadaan, menubruk maju dan memeluk gadis itu. Lin Lin tak kuasa mengelak, hanya meramkan mata dalam pelukan Wi Liong sambil berbisik lirih, "Apa kau cocok dengan pilihan pamanmu!?"
"Lin Lin. siapa kira......... kau orangnya!" kata Wi Liong mesra.
Lan Lan melangkah maju, wajahnya cemberut, ia pura-pura marah "Apa apaan ini? Adikku sendiri merampas tunanganku! Kalau betul kau yang dijodohkan, mana buktinya?"
Wi Liong baru teringat akan Lan Lan dan cepat melepaskan pelukannya, kini berdiri bingung dan bengong, tak tahu harus berbuat apa. Lin Lin tertawa kecil dan mengeluarkan kalung kecil berhuruf LIONG yang selalu ia pakai. "Inilah buktinya, tanda mata pengikat jodoh."
Kini wajah Lan Lan berseri dan sambil memandang Wi Liong ia berkata, "Kalau begitu, baik sekali. Adikku Lin Lin inilah tunanganmu yang sah. adapun aku.......... baik kau lupakan saja pesan terakhir dari ibu."
"Tidak bisa! Eh.......... kumaksud......... tak mungkin mengingkari pesan Tung-hai Sian-li begitu saja........." kata Wi Liong gagap.
"Habis, maumu bagaimana?" Lin Lin pura-pura marah membentak. "Kau mau putuskan lagi ikatan jodohmu dengan puteri ayah seperti yang kaulakukan terhadap enci Siok Lan dulu?"
"Tidak.........! Itupun tidak bisa jadi! Aku......... aku......... aduh. bagaimana ini?" Wi Liong makin bingung, wajahnya sampai pucat, peluh membasahi mukanya.
"Bilang saja terus terang, apakah kau setuju dengan pesan ibu, apakah kau......... mencintaku?" tanya Lan Lan menantang.
Wi Liong mengangguk. "Aku setuju sekali dan aku cinta padamu, adik Lan....... tapi......"
"Nanti dulu!" Lin Lin memotong dengan bentakan pula. Apakah kau tidak kecewa akan pilihan pamanmu dan apakah kau mencinta padaku?"
"Aku girang sekali akan pilihan paman dan aku......... akupun cinta padamu, adik Lin."
"Uhh, gila.........!" seru Lan Lan.
"Mata keranjang!" sambung Lin Lin.
Wi Liong mengambil keputusan nekat. Ia menyambar lengan Lan Lan dengan tangan kiri dan lengan Lin Lin dengan tangan kanan. Kepandaiannya yang lebih tinggi memungkinkan ia memeluk dua orang gadis itu sekaligus di kanan kiri tanpa dua orang gadis itu mampu berkutik.
571
"Lan Lan, Lin Lin, dengarlah baik-baik. Aku cinta kepada kalian berdua dan tak mungkin aku berpisah dari seorang di antara kalian. Bagiku, kalian tiada bedanya, keduanya merupakan penjelmaan Siok Lan. Aku tidak akan bisa mencinta Lan Lan tanpa adanya Lin Lin dan demikian sebaliknya. Aku harus mendapatkan kalian berdua sebagai kawan hidup atau......... tidak sama sekali dan aku akan menyusul Siok Lan di alam baka. Aku cinta kalian seluruh cinta kasihku dahulu terhndap Siok Lan sekarang berpindah kepada kalian yang kuanggap sebagai penjelmaan Siok Lan. Lan Lan, Lin Lin, kalian menjadi tunanganku secara sah. Kalian harus menaruh kasihan kepadaku... kekasihku...."
Lan Lan dan Lin Lin saling pandang dan tersenyum. "Orang bodoh, apakah selama ini kau tidak melihat bahwa kami berdua juga mencintamu?" bisik Lan Lan.
"Enci Lan Lan dan akupun tak mau saling berpisah, karenanya tidak mungkin kami mempersuamikan dua orang pria. Kaulah orangnya pilihan hati kami"
Tidak ada kegirangan di dunia ini yang melebihi kegirangan pada saat itu bagi Wi Liong. Ia memeluk makin mesra dan berkata. "Terima kasih... kalian berdua isteri-isteriku yang kucinta...."
Lin Lin dan Lan Lan sekaligus memberontak dan melepaskan diri.
"Cih, tak tahu malu!" Lan Lan menggoda.
"Menikah juga belum sudah menyebut-nyebut isteri. Benar tak patut!" Lin Lin menyambung.
Wi Liong tertawa, tertawa bergelak sehingga suara ketawanya berkumandang di dalam gua, keluar dan bergema di lereng bukit Thian-mu-san. Dalam kebahagiaannya, pemuda ini ketawa sambil mengerahkan tenaganya, membuat sekeliling tempat itu seperti tergetar!
Mereka bertiga sambi bergandengan tangan, Wi Liong di tengah, mendaki jurang itu dan bersembahyang di depan makam Kwa Cun Ek. Kemudian mereka meninju ke empat kawan-kawan yang menanti tak sabar. Melihat Wi Liong datang menggandeng dua orang gadis kembar, sekarang Lin Lin sudah merobah sanggul dan pakaiannya seperti semula, kawan-kawan itu menjadi terheran. Akan tetapi Kun Hong dapat mengerti. Bersama Eng Lan ia menyambut sambil tertawa-tawa. Saking girangnya, tanpa malu-malu lagi Wi Liong memperkenalkan dua gadis kembar itu. "Saudara-saudara ketahuilah, nona nona Lan Lan dan Lin Lin ini adalah calon isiteri-isteriku, dijodohkan oleh Kwa Cun Ek lo enghiong dan Tung-hai Sian-li."
Semua orang bersorak girang dan bergantian memberi selamat sambil tertawa-tawa. Lin Lin lalu mengajak mereka ke sebuah rumah seorang petani di mana ia menitipkan kudanya. Kuda itu meringkik gembira melihat rombongan orang-orang muda itu.
"Wi Liong, aku merasa girang melihat nasibmu yang baik. Terimalah ini sebagai tanda mata, dan terimalah kembali Cheng-hoa-kiam," kata Kun Hong yang mengeluarkan dua buah batu kemala keramat Im-yang giok-cu dan Ngo-heng-giok cu, juga mengembalikan pedang.
Wi Liong menerima dua buah batu kemala itu, akan tetapi ia memberikan pedang kepada Kun Hong, "Kun Hong, pedang Cheng-hoa-kiam adalah pedang seorang pendekar budiman dan patut sekali
572
berada di tanganmu. Aku percaya bahwa selanjutnya kau akan menggunakan pedang itu sebagaimana layaknya."
Kun Hong hendak menolak, akan tetapi Wi Liong mendesak. "Kau memberi tanda mata sebagai ucapan selamat atas pertunanganku, apakah akupun tidak boleh memberikan pedang Cheng-hoa-kiam sebagai tanda mata dan ucapan selamat atas pertunanganmu dengan....... dengan......”
Wi Liong memandang kepada Eng Lan penuh arti. Biarpun tidak menyebut nama, semua orang tahu dan bersorak girang, memberi selamat kepada Kun Hong dan Eng Lan yang menjadi merah sekali mukanya. Kun Hong berlinang air mata, hanya bisa mengucap lirih,
"Aku bahagia......, ibu......., aku bahagia....."
Wi Liong berjanji akan minta bantuan suhunya untuk membicarakan perjodohan antara dua orang muda itu.
"Akupun tidak ketinggalan, memberi selamat dan biarlah kuberi tanda mata kudaku yang bisa ketawa itu," kata Kong Bu kepada Wi Liong..
Wi Liong menyatakan terima kasihnya. "Kami bertiga hendak pergi ke Wuyi-san menjumpai suhu. Kawan-kawan, selamat berpisah sampai berjumpa pula di........."
"Pesta pernikahan!" sambung Kun Hong dan semua orang bersorak menyatakan setuju.
Kuda koai-ma dikeluarkan, juga kuda Wi Liong dan kuda Lan Lan. Akan tetapi Kong Bu yang timbul kegembiraannya berkata, "Aku hanya memberi tanda mata seekor kuda itu saja, maka harus kalian pakai bertiga!"
Semua orang tertawa menggoda dan Wi Liong menjadi merah mukanya.
"Masa seekor kuda untuk bertiga? Apa dia kuat?"
"Eh, eh, Thio-taihiap jangan memandang rendah. Coba saja dulu!” kata Kong Bu. "Kalau tidak kuat baru aku mau memberi dua ekor lagi."
Lin Lin melompat ke atas kuda koai-ma itu, Wi Liong terpaksa melompat pula di belakangnya dan Lan Lan juga melompat di belakang Wi Liong.
"Koai-ma. apakah bebanmu terlampau berat?" tanya Kong Bu.
Kuda itu menggerakkan empat kakinya ke depan, mulutnya menyengir dan mengeluarkan ringkikan tertawa berkakakan. Sebentar kemudian kuda itu membalap maju dikemudikan oleh Lin Lin. Mereka sekali lagi menengok ke belakang dan semua orang mengangkat tangan memberi salam terakhir. Eng Lan dan Hui Sian tak dapat menahan bertitiknya air mata menyaksikan kebahagiaan yang mengharukan itu.
573
Beberapa bulan kemudian. Wuyi-san ramai bukan main, para tamu dari pelbagai kalangan, terutama sekali orang-orang kang-ouw, mendaki Bukit Wuyi-san untuk menghadiri pesta besar-besaran yang diadakan di bukit itu untuk merayakan pernikahan masal antara Wi Liong dengan Lan Lan dan Lin Lin, Kun Hong dengan Eng Lan, Kong Bu dengan Hui Nio. dan akhirnya Hui Sian dengan......... Kui Sek! Setelah berusaha susah-payah, akhirnya pemuda dogol jujur gemuk tampan ini berhasil juga mencuri hati Hui Sian dan mendapat banyak bantuan dalam hal ini dari su-moinya, Lan Lan.
Demikianlah, cerita CHENG-HOA KIAM ini ditutup dalam suasana penuh kebahagiaan dan sedikit catatan dari pengarang bahwa orang yang pernah menyeleweng dalam hidupnya, tersesat ke dalam kejahatan, belum tentu akan menjadi hina seterusnya asalkan dia cepat sadar dan insyaf akan kesesatannya, secara radikal dan berani membanting setir hidupnya, kembali ke jalan benar dan memulai lembaran baru yang bersih dan berguna dalam hidup yang tak berapa lama ini, seperti yang telah dialami oleh Kun Hong.
TAMAT
Solo Mei 1965
Penerbit : CV. GEMA - Solo 1976
Di Upload Oleh : Radenmas Dul Betoq pada :
https://www.facebook.com/groups/Tiraikasih/635540856563821
DJVU Oleh : BBSC
Ebook Oleh : Dewi KZ & Budi S
http://kangzusi.com dan http://dewi-kz.com
Tag:cersil cersil indo cersil mandarin full cerita silat mandarin online cersil langka cersil mandarin lepas cerita silat pendekar matahari kumpulan cerita silat jawa cersil mandarin beruang salju. cerita silat pendekar mataharicerita silat indonesia cerita silat kho ping hoo cerita silat mandarin online cerita silat mandarin full cerita silat jawa kumpulan cerita silat cerita silat jawa pdf cerita silat indonesia gratis cerita silat jadul indonesia cerita silat indonesia pendekar rajawali sakti cersil indonesia pendekar mabuk cersil langka cersil dewa arak cerita silat jaman dulu cersil jawa download cerita silat mandarin full cerita silat mandarin online cersil mandarin lepas cerita silat mandarin pendekar matahari cerita silat jawa pdf cersil indonesia pdf cersil mandarin beruang salju kumpulan cerita silat pdf
kumpulan cerita silat cersil online
Share:
cersil...
Comments
0 Comments

Arsip Cersil

Best Cersil