Donasi

Buat yang punya rejeki berlebih dan merasa terhibur dengan Situs Cerita Silat Cersil Terbaik ini bisa mendonasikan bantuannya ke
No. Rekening BPD Jateng No. 2004084554
demi keberlangsungan dan keberadaan Blog Cersil Cerita Silat yang sama-sama kita cintai ini. Kritik dan Saran hub No HP.083837358519. Atas Bantuannya disampaikan Terimakasih.

Rabu, 30 Mei 2018

Si Bayangan Iblis 3 Tamat Lanjutan Sepasang Naga Penakluk Iblis

======
baca juga

◄Y►
“Aih, kasihan sekali engkau, enci Cu.....!” kata Pangeran Souw Han ketika dia memapah Liong-li memasuki kamarnya, disambut oleh lima orang dayang yang memandang dengan mata terbelalak dan hati tegang. Pangeran Souw Han memapah Liong-li ke pembaringan. Akan tetapi, ketika pendekar wanita itu duduk, ia mengeluh karena pinggulnya yang terkena lecutan tadi perih.
“Sakitkah, enci Cu?Engkau rebah dulu, aku akan memanggil tabib......” Dia membantu Liong-li merebahkan diri, akan tetapi begitu telentang, Liong-li merintih, lalu terpaksa miringkan tubuhnya agar bagian yang luka-luka tidak terhimpit.
“Auhhhh......”
“Kasihan engkau, kalau tidak bisa untuk telentang, engkau miring atau telungkup, enci Cu. Aku akan memanggil tabib sekarang.”
“Jangan, Pangeran. Tidak usah. Lebih baik keadaan saya ini tidak diketahui orang luar, dan harap pesan kepada para dayang agar merahasiakan peristiwa ini. Saya dapat mengobatinya sendiri, saya mempunyai obat luka yang manjur......”
“Engkau benar, enci Cu. Akan kupanggil mereka semua.” Pangeran Souw Han bertepuk tangan lima kali dan bermunculanlah lima orang dayang itu memasuki kamar.
339
“Kalian berlima harus melupakan semua yang terjadi tadi, dan tidak menceritakan kepada siapapun juga. Peristiwa yang menimpa nyonya muda tadi tidak pernah terjadi. Mengerti?”
“Hamba mengerti, Pangeran,” kata mereka.
“Tolong disediakan air hangat-hangat kuku dalam sebuah panci dan bawa ke sini......” kata Liong-li kepada mereka. Mereka izin pergi dan menutup kembali daun pintu kamar.
“Terima kasih, Pangeran. Untung paduka cepat datang.”
“Enci Cu, kenapa engkau membiarkan dirimu disiksa seperti itu? Engkau seorang yang berilmu tinggi, kenapa tidak kau hajar saja mereka itu?”
Liog-li tersenyum. “Harap paduka ingat bahwa tugas saya adalah melakukan penyelidikan, bukan mengamuk dan membuat kacau di istana. Mereka agaknya mencurigai saya, kalau saya saya memperlihatkan kepandaian, berarti rahasia saya akan terbuka. Kini mereka akan menganggap saya seorang wanita biasa yang lemah, dan tidak akan mengganggu saya lagi sehingga saya dapat bekerja dengan baik tanpa dicurigai dan diawasi.”
“Hemmm, tapi engkau membiarkan kulit punggung dan pinggulmu pecah-pecah berdarah. Di mana obat luka itu?”
“Di dalam buntalan pakaian saya di almari, Pangeran. Biar saya ambil sendiri dan akan saya obati setelah nanti air panas itu tersedia......” Liong-li hendak bangkit, akan tetapi ia menyeringai ketika bangkit duduk. Pangeran Souw Han cepat memegang
340
pundaknya dan dengan halus membantunya rebah miring kembali.
“Aih, enci Cu. Engkau terluka dan menderita nyeri. Biarlah aku yang mengambilkan obat dalam buntalan itu.”
“Terima kasih, Pangeran.”
Pangeran Souw Han, mencari buntalan dalam almari, membukanya dan atas petunjuk Liong-li dia mengeluarkan sebuah bungkusan kertas di mana terdapat obat bubuk putih.
“Saya dapat mengobati sendiri luka-luka ini, Pangeran.”
“Enci Cu, bagaimana mungkin engkau akan dapat mengobati luka di punggung dan pinggulmu sendiri? Melihatnyapun tidak dapat. Biar aku yang mengobati, enci Cu.”
“Ah, Pangeran. Saya hanya membikin repot paduka saja......,” kata Liong-li, akan tetapi di dalam hatinya ia memaki diri sendiri.
Engkau munafik! Sejak tadi ia sudah bersandiwara. Kalau di depan Pangeran Souw Cun ia bersandiwara, hal itu ia lakukan demi tugasnya, demi rahasia dirinya agar jangan terbongkar. Akan tetapi setelah bersama Pangeran Souw Han, ia masih saja sejak tadi bersandiwara.
Luka-luka lecutan seperti itu saja bagi seorang pendekar wanita seperti Liong-li, sedikitpun tidak ada artinya! Rasa nyeri seperti itu saja tidak akan terasa olehnya. Jangankan sampai membuat ia mengeluh dan merintih, berkedip pun tidak!
341
Ia sudah mengalami bahaya dan luka-luka yang lebih hebat lagi. Akan tetapi bukan saja ia mengeluh dan merintih, juga ia pura-pura tidak dapat duduk dan tidak dapat rebah telentang!
Makin sering Pangeran Souw Han memandangnya dengan sinar mata mengandung iba besar dan mulut mengacapkan kata-kata “kasihan”, rintihan yang keluar dari mulut Liong-li semakin mengenaskan! Ia sendiri tidak mengerti mengapa ia berubah demikian! Ingin rasanya ia menampar kepala sendiri, memaki diri sendiri.
“Jangan sungkan enci Cu. Nah, itu air hangatnya datang.”
Seorang dayang, setelah mengetuk pintu dan diperbolehkan masuk, membawa panci besar terisi air yang masih mengepulkan uap.
“Taruh di atas bangku ini, kemudian keluarlah dan jangan biarkan siapapun masuk,” kata Pangeran Souw Han yang sudah mempersiapkan sebuah bangku dekat pembaringan. Dayang itu menaruh panci di situ, kemudian memberi hormat dan pergi.
“Pangeran, air panas itu untuk mencuci luka-luka, menggunakan sebuah kain bersih. Sesudah dicuci dan dikeringkan, baru ditaburi obat luka yang ditekan-tekan dengan jari tangan agar obat itu melekat dan memasuki bagian yang kulitnya pecah.”
Pangeran itu mengangguk-angguk. “Engkau menelungkuplah, agar lebih mudah mencuci dan mengobatinya,” katanya sambil mengambil sehelai kain putih bersih dari almari.
342
Liong-li menelungkup, menggigit bibir menahan debaran jantungnya yang mengeras. Ia merasa betapa pangeran itu duduk di tepi pembaringan, dan terdengar suaranya yang lembut dan sopan.
“Enci Cu, maafkan aku kalau terpaksa aku melihat tubuhmu bagian belakang bertelanjang dan maafkan kalau jari-jari tanganku menyentuhnya.”
Liong-li merasa geli. Belum pernah ia bertemu seorang pria yang sudah dewasa begini canggung dan kikuk, begini pemalu. Sikap ini saja sudah membuktikan bahwa pangeran ini belum pernah bergaul dekat, belum pernah bermesraan dengan wanita. Dugaan ini saja sudah membuat jantungnya berdebar semakin kencang.
Hati-hati engkau, Liong-li, katanya kepada diri sendiri. Engkau berada di tepi jurang yang akan menenggelamkanmu. Tugasmu belum selesai, baru dimulai dan engkau hendak membiarkan dirimu terbius keindahan dan kenikmatan nafsu?
“Pangeran, maafkan saya. Sebaiknya kalau..... kalau saya mengobati sendiri luka-luka ini, atau...... menyuruh seorang dayang saja yang melakukannya. Tidak baik merepotkan paduka, dan pula...... akan membuat paduka menjadi rikuh dan membuat saya menjadi malu saja......”
Hemm, munafik, ia memaki diri sendiri. Ia malu? Ia malah bangga dan girang!
“Enci Cu, dalam hal yang gawat ini kita harus menyingkirkan segala perasaan sungkan yang tidak ada gunanya. Engkau tidak
343
mungkin mengobati luka-luka di tubuh bagian belakang, kedua tanganmu takkan dapat mencapainya.
“Kalau menyuruh dayang, tentu ia akan merasa heran sekali dan siapa tahu keheranannya melihat tubuh belakangmu penuh luka itu akan membuat, ia kelepasan bicara. Dan aku...... aku sama sekali tidak merasa direpotkan atau rikuh karena memang engkau membutuhkan pertolongan. Nah, maafkan, aku akan membuka jubahku yang kuselimutkan padamu ini.”
Liong-li menahan senyumnya, menyembunyikan mukanya ke dalam bantal sambil menelungkup ketika merasa betapa tangan pangeran itu menyingkap penutup tubuh belakangnya.
“Aduh, betapa mengerikan......!” seru pangeran itu sambil mengamati punggung dan pinggul yang penuh jalur-jalur merah dan di sana-sini kulitnya pecah dan luka berdarah itu.
“Amat burukkah tubuh belakangku?”
Pangeran itu mengamati punggung dan pinggul itu. “Sama sekali tidak buruk, enci Cu. Punggung dan pinggulmu indah sekali, kulitnya putih halus. Ah, betapa kejamnya mencambuk kulit yang putih mulus ini sampai pecah-pecah......!”
Pangeran itu mulai mencuci darah dari punggung dan pinggul itu, menggunakan kain putih yang dicelupkan di air panas. Lembut sekali tangan itu menggerakkan kain basah hangat di permukaan kulit yang terluka, dan Liong-li merasakan kelembutan ini, dan kalau kebetulan jari tangan itu menyentuh kulitnya, ia merasa pula betapa tangan pangeran itu gemetar! Ia merintih lirih.
344
“Sakitkah, enci Cu?” tanya Pangeran Souw Han dengan hati iba.
Tentu saja hampir tidak terasa oleh Liong-li kalau hanya nyeri seperti itu, akan tetapi ia merintih dan mengeluh seolah-olah menderita nyeri hebat.
“Perih, Pangeran......” katanya lirih.
“Kasihan engkau, enci Cu.......”
Entah berapa kali pangeran itu mengatakan hal ini dan makin sering rintihan keluar dari mulut Liong-li! Gila kau, ia memaki diri sendiri. Bahaya semakin dekat! Ia sudah berusaha untuk tidak membiarkan pangeran ini merawatnya, ia membela diri sendiri.
“Sekarang akan kutaburkan obat bubuk ini, enci Cu,” kata pangeran itu setelah mengeringkan punggung dan pinggul dengan kain kering.
Kedua tangannya semakin keras gemetar karena selama hidupnya, belum pernah Pangeran Souw Han melihat punggung dan pinggul seperti ini, apa lagi tubuh wanita, dan yang demikian indahnya.
Obat bubuk itu buatan Liong-li sendiri dan amat manjur. Selain luka akan segera mengering kalau diobati dengan obat ini, juga begitu ditaburkan di atas luka, rasanya dingin dan sejuk, menghilangkan rasa nyeri!
Akan tetapi Liong-li malah merintih-rintih, bukan karena nyeri melainkan karena terbakar gairah yang makin berkobar karena
345
sentuhan-sentuhan tangan Pangeran Souw Han ketika pangeran itu membalurkan obat bubuk itu. Akan tetapi pangeran itu mengira bahwa Liong-li menderita nyeri yang hebat, maka dia merasa terharu dan kasihan sekali.
“Enci Cu kenapa engkau lakukan ini? Kenapa engkau membiarkan dirimu dihina dan disiksa? Kalau engkau mau, tentu dengan mudah engkau dapat menghajar mereka lalu melarikan diri.”
“Aih, pangeran. Bagaimana paduka dapat mengatakan demikian? Kalau saya melarikan diri, tentu paduka akan menghadapi tuntutan dan dakwaan hebat! Bagaimana mungkin saya dapat melakukan itu, mencelakakan paduka? Dari pada mencelakakan paduka, biarlah tubuh saya ini menderita, juga untuk menyembunyikan rahasia saya.”
“Hemm, enci Cu. Engkau begini baik, engkau gagah perkasa, cantik jelita, dan engkau pandai menari, bernyanyi, bermain musik, Belum pernah selama hidupku aku bertemu dengan wanita seperti engkau. Enci Cu, sekarang aku tahu bahwa ketika tadi aku mengaku kepada kanda Souw Cun bahwa engkau satu-satunya wanita yang kucinta, maka pengakuan itu bukan sekedar membelamu. Aku memang cinta padamu, enci Cu!”
“Pangeran...... ah, pangeran......!” Entah siapa yang bergerak lebih dulu, akan tetapi seperti terdorong oleh kekuatan yang hebat mereka saling rangkul. Mereka berangkulan dan ketika pangeran itu menciumnya, Liong-li tahu bahwa ia sudah kalah.
346
Sebaliknya, dalam rangkulan wanita yang berpengalaman ini, Pangeran Souw Han yang masih hijau itupun seperti mabok. Dia lupa bahwa kini Liong-li dapat bergerak, leluasa dan kuat, dapat menelentang tanpa keluhan. Akan tetapi pada detik terakhir tiba-tiba Liong-li bangkit duduk dan menarik pangeran itu untuk duduk pula.
Mereka duduk di atas pembaringan dan ketika pangeran itu hendak merangkulnya, Liong-li menahannya dengan lembut.
“Nanti dulu, Pangeran. Sebelum terlanjur, saya mohon paduka suka mendengarkan dulu kata-kata saya.”
Pangeran Souw Han memandang dengan sinar mata penuh kasih sayang dan kemesraan, “Katakanlah, enci Cu!”
“Pangeran, paduka adalah Pangeran Souw Han yang selamanya belum pernah bergaul dengan wanita. Sekarang paduka hendak menumpahkan cinta kasih kepada saya, sepatutnya paduka ketahui siapa saya ini.
“Pangeran, saya adalah seorang wanita yang mempunyai riwayat tidak bersih, Pangeran. Ketika gadis, oleh mendiang ayah saya dijual kepada seorang bangsawan. Saya diperkosa, kemudian saya dijual ke rumah pelacuran di mana saya dipaksa menjadi pelacur! Menjadi pelacur, Pangeran! Kemudian setelah saya mendapatkan kepandaian, saya balas semua orang keji dan jahat itu. Nah, saya bukan seorang wanita yang bersih. Benar seperti dikatakan Pangeran Souw Cun, saya tidak pantas menjadi wanita yang menerima kasih sayang paduka untuk pertama kalinya.......”
347
“Enci Cu, aku cinta padamu, tidak perduli siapa engkau ini dan bagaimana masa lalumu. Aku tidak mencinta riwayatmu, aku mencintai dirimu!” Pangeran itu hendak merangkul lagi, akan tetapi dengan halus Liong-li memegang kedua lengannya.
“Masih belum habis apa yang hendak saya katakan, Pangeran. Terus terang saja, begitu berjumpa dengan paduka, hati saya terpikat. Saya suka sekali dan kagum kepada paduka dan tidak ada kesenangan yang lebih saya inginkan sekarang ini kecuali melayani paduka, saling menumpahkan kasih sayang dengan paduka. Akan tetapi, saya dapat dan senang melakukan hal itu, hanya dengan satu syarat, Pangeran.”
“Syarat? Orang bercinta dengan syarat?” Pangeran itu mengerutkan alisnya.
“Syaratnya, saya tidak dapat menjadi isteri paduka, tidak dapat menjadi selir paduka. Apa yang akan kita lakukan ini adalah suka rela, tidak ada ikatan. Setelah selesai tugas saya di istana ini, saya akan pergi meninggalkan paduka, dan paduka jangan mengharapkan saya kembali apa lagi memaksa saya untuk tinggal di sini. Nah, itulah syaratnya!”
“Terserah...... apa saja kehendakmu........ aku.... aku cinta padamu, enci Cu......!” Pangeran itu merangkul dan Liong-li menyambutnya dengan senyum manis.
Nafsu berahi, seperti semua nafsu memabokkan. Orang lupa akan segala yang lain kalau sudah dicengkeram nafsu. Satu-satunya yang diinginkan hanyalah terpuaskannya nafsu yang sedang menggelora. Dan di antara segala macam nafsu, nafsu
348
berahi merupakan nafsu yang amat kuat dan sukar diatasi. Bahkan banyak sudah tercatat dalam sejarah betapa orang-orang besar bertekuk lutut kepada nafsu berahi.
Hek-liong-li Lie Kim Cu adalah seorang pendekar wanita yang mampu melawan apa saja dan biasanya keluar sebagai pemenang. Iapun bukan seorang budak nafsu. Akan tetapi, pada saat nafsu berahi mencengkeramnya, iapun hanya seorang manusia dari darah daging yang lupa diri dan lupa segala.
Biasanya, walaupun hatinya tertarik kepada seorang pria, ia tidak akan begitu mudah menyerahkan diri, apa lagi ia sedang berada di tengah-tengah tugas yang berat dan berbahaya. Kalau tugas itu sudah selesai dan ia berada dalam keadaan santai, tentu ia tidak akan menolak gairah berahinya yang hanya ditujukan kepada orang yang benar-benar dikaguminya saja.
Pangeran Souw Han juga bukan seorang hamba nafsu. Buktinya, biarpun dia seorang pangeran dan sudah dewasa, dia selalu menahan diri dan tidak pernah mau menyerah, tidak pernah mau bergaul dengan wanita walaupun akan mudah sekali baginya untuk mendapatkan wanita yang cantik dan muda sekalipun. Akan tetapi kini dia benar-benar kagum sekali kepada Liong-li sehingga dia menyerah terlena dalam pelukan wanita itu.
Mereka tenggelam dam berenang dalam lautan madu asmara, meneguk madu yang memabokkan itu sepuas-puasnya sehingga sehari itu mereka tidak pernah keluar kamar, bahkan lupa makan. Dalam diri Liong-li, pangeran itu menemukan seorang guru yang pandai dan seorang kekasih yang penuh gairah.
349
◄Y►
Pria dan wanita itu merupakan pasangan yang serasi sekali. Yang pria berusia duapuluh tujuh tahun, berwajah tampan dan gagah. Tubuhnya sedang dan pakaiannya yang serba putih itu bersih, terbuat dari sutera yang halus. Dagunya yang berlekuk membayangkan keberanian dan matanya mencorong tajam, akan tetapi lebih banyak menunduk. Yang wanita berusia sebaya, hanya satu-dua tahun lebih muda, pakaiannya serba hijau, cantik dengan mata dan mulut yang menggairahkan, tubuhnya ramping dan gerakannya ketika melangkahkan kaki ringan dan tangkas.
Mereka itu Pek-liong dan Cu Sui In. Mereka melakukan perjalanan cepat dan berjalan kaki ketika memasuki pintu gerbang kota raja, agar jangan menarik perhatian. Para penjaga pintu gerbang memandang penuh perhatian. Siapapun akan tertarik kepada mereka, karena memang mereka itu nampak elok dan gagah. Akan tetapi tidak ada penjaga pintu gerbang yang menghadang atau mengganggu.
“Kita langsung saja menghadap paman Ciok,” kata Sui In. “Sekarang sudah lewat tengah hari, tentu dia sudah pulang.”
Yang diajak bicara hanya mengangguk. Sui In merasa semakin kagum kepada pendekar itu. Semenjak pendekar itu menolongnya, kemudian mereka melakukan perjalanan bersama ke kota raja. Setelah ia bermalam di rumah pendekar itu satu malam, sampai melakukan perjalanan bersama, Pek-liong bersikap sebagai seorang pendekar sejati yang mengagumkan!
350
Ia adalah seorang janda, dan Pek-liong seorang duda. Ia kagum kepada duda itu dan mereka melakukan perjalanan bersama. Akan tetapi, Pek-liong selalu bersikap sopan! Tak pernah pria muda itu memperlihatkan perasaannya, baik melalui pandang mata atau kata-kata. Selalu sopan, juga dia pendiam, tidak banyak bicara bahkan tidak bicara kalau tidak ditanya.
Sikap seorang jantan sejati dan sejak pertemuan pertama kali, hati janda muda itu sudah terusik dan ia merasa kagum bukan main. Ia tentu tidak akan berani menyangkal kalau ada orang mengatakan bahwa ia jatuh cinta kepada Si Naga Putih.
Mendengar bahwa keponakannya pulang bersama seorang pemuda berpakaian putih, Ciok Tai-jin, pembantu Menteri Pajak yang sudah berusia limapuluh lima tahun itu, segera memerintahkan penjaga untuk mempersilakan mereka memasuki ruangan dalam di mana dia menanti seorang diri.
Sui In masuk diikuti Pek-liong. Setelah mereka masuk, penjaga yang sudah dipesan oleh tuan rumah segera menutupkan daun pintu dan menjaga di luar agar pertemuan dan percakapan majikannya dengan dua orang muda itu tidak terganggu. Sui In memberi hormat kepada pamannya, lalu memperkenalkan Pek-liong.
“Paman, ini adalah Pek-liong-eng Tan Cin Hay, pendekar sakti yang terkenal sekali dan yang telah menolongku ketika aku dikeroyok oleh orang-orang jahat.”
“Tan tai-hiap......!” kata pembesar itu ketika Pek-liong memberi hormat kepadanya. “Silakan duduk, silakan duduk!” Kemudian dia
351
memandang kepada keponakannya. “Sui In, mana susiokmu yang katanya hendak kaupanggil dan mintai bantuan itu?”
Sui In mengerutkan alisnya. “Susiok Giam Sun telah tewas terbunuh orang pula, paman.”
“Ahhh? Terbunuh? Bagaimana....... oleh siapa......?”
Dengan singkat namun jelas Sui In lalu menceritakan semua pengalamannya, betapa ia dikeroyok oleh Huang-ho Siang-houw dan Pek-mau-kwi, dan diselamatkan oleh Pek-liong. Kemudian betapa ia dan Pek-liong menemukan susioknya itu telah tewas dan ada coret-coretan pesan terakhir susioknya yang menuliskan dua buah nama yaitu Pek-mau-kwi dan Kwi-eng-cu.
“Kwi-eng-cu........? Ah, bagaimana mendiang susiokmu itu tahu tentang Si Bayangan Iblis?” Ciok Tai-jin berseru heran.
“Menurut dugaan kami, paman, susiok terbunuh oleh Pek-mau-kwi dan teman-temannya, dan mungkin sebelum membunuhnya, Pek-mau-kwi menyebut Kwi-eng-cu. Bagaimanapun juga, tentu ada hubungannya antara Pek-mau-kwi dan Kwi-eng-cu, mungkin saja Pek-mau-kwi itu termasuk anak buahnya.”
Pembesar itu mengangguk-angguk, lalu dia memandang kepada Pek-liong.
“Dan Tan tai-hiap ikut ke kota raja untuk membantu agar Si Bayangan Iblis dapat ditangkap? Memang para pendekar harus bangkit untuk menangkap pengacau yang amat berbahaya itu. Aku sendiri hampir saja terbunuh oleh iblis.”
352
“Aihh...... paman. Kapan terjadinya dan bagaimana?” Sui In terkejut bukan main.
“Tidak lama setelah engkau pergi. Ada pembunuh yang datang untuk membunuhku tentu saja, akan tetapi ada bayangan lain yang menyerangnya, sehingga Kwi-eng-cu gagal memasuki rumah ini. Akan tetapi, para pengawal sudah siap dan andaikata dia berani masuk, tentu kami akan mengepungnya.”
Pada saat itu, daun pintu ruangan itu diketuk orang dari luar. Ciok Tai-jin mengerutkan alisnya, “Masuk!” katanya dengan suara mengandung kemarahan.
“Hemm, berani engkau mengganggu kami? Sudah kukatakan bahwa aku tidak ingin diganggu siapa pun juga dan engkau berani mengetuk pintu?” katanya dengan nada suara marah kepada pengawal itu. Pengawal itu memberi hormat.
“Harap Tai-jin suka memaafkan saya. Saya dipaksa untuk memberitahu kepada Tai-jin bahwa Cian Hui Ciang-kun minta menghadap Tai-jin. Katanya harus sekarang juga karena amat penting. Saya tidak dapat dan tidak berani menolaknya lagi......!”
“Cian Ciang-kun? Persilakan dia masuk!” Ciok Taijin berkata dan sikapnya berubah mendengar nama Cian Hui. “Orang inilah yang diharapkan semua pihak akan dapat membongkar rahasia Kwi-eng-cu, bahkan dia menerima tugas itu dari Sribaginda Kaisar sendiri,” bisiknya kepada Pek-liong dan Sui In.
Mendengar nama ini, Sui In juga menaruh perhatian, karena ia pernah pula mendengar nama besar Cian Ciang-kun sebagai
353
seorang perwira yang amat pandai dalam membongkar perkara kejahatan. Hanya Pek-liong yang belum pernah mendengar nama itu dan dia bersikap tenang saja.
Ketika pria itu masuk, diam-diam Pek-liong memperhatikan. Seorang laki-laki yang usianya kurang lebih empatpuluh tahun dan yang memiliki wajah dan pembawaan yang amat gagah. Wajahnya yang bentuk persegi itu jantan, dengan dagu berlekuk keras, alis yang tebal sekali dan hitam berbentuk golok, hidungnya besar mancung, mulutnya membayangkan keramahan!
Sepasang matanya jelas membayangkan kecerdasan dan memiliki sinar yang hidup dan lincah. Tubuhnya tegap dan kokoh, agak tinggi. Jenggot dan kumisnya terpelihara rapi menambah kejantanan.
Dengan sikap gagah dan ramah dia mengangkat kedua tangannya, memberi hormat kepada Ciok Tai-jin dan berkata. “Ciok Tai-jin, harap maafkan saya yang datang mengganggu dan memaksa para penjaga untuk melaporkan kedatangan saya menghadap Tai-jin.”
Ciok Tai-jin cepat membalas penghormatan itu. “Ah, tidak mengapa, Ciang-kun. Bahkan kami merasa senang sekali akan kunjungan Ciang-kun ini karena kami yakin bahwa ciang-kun tentu membawa berita penting.”
Cian Hui kini memandang kepada Sui In dan dia tidak menyembunyikan rasa kagumnya. Berita yang didengarnya bahwa keponakan pejabat tinggi ini cantik dan gagah perkasa,
354
ternyata tidak berlebihan. Wanita ini memang cantik jelita dan nampak gagah, dan sudah janda pula.
Diapun mengangkat tangan memberi hormat kepada wanita itu dan juga kepada Pek-liong yang sudah diamatinya dengan penuh perhatian. Juga pandang matanya kepada Pek-liong tidak menyembunyikan kekagumnnya.
“Nona Cu Sui In dan tai-hiap Pek-liong-eng, selamat bertemu dan maafkan kalau aku mengganggu.”
Sui In terbelalak, dan Pek-liong diam-diam juga memandang kaget.
“Bagaimana Ciang-kun dapat mengenalku? Pada hal kita belum pernah saling bertemu, atau berkenalan,” tanya Sui In.
“Hemm, juga kita baru saja saling bertemu di sini, Ciang-kun. Bagaimana Ciang-kun dapat mengenalku?”
Cian Hui tersenyum. “Ah, itu hanya permainan kanak-kanak. Ketika ji-wi lewat di pintu gerbang, seorang penyelidikku yang berpengalaman telah melihat ji-wi, (kalian berdua) dan setelah menyuruh seorang kawannya melapor kepadaku, dia membayangi kalian. Karena itulah, aku tahu bahwa kalian berada di sini dan datang menyusul.”
“Silakan duduk, Cian Ciang-kun,” kata Ciok Tai-jin. “Kami yakin hanya kedatangan Ciang-kun ini tentu membawa suatu kepentingan besar.”
355
“Memang benar, Tai-jin. Terutama sekali saya mempunyai kepentingan dengan tai-hiap Pek-liong-eng Tan Cin Hay.”
Cin Hay merasa kagum. Orang ini memang cerdik dan cekatan sekali. Cara kerjanya mengagumkan dan kalau hal itu ditambah dengan ilmu silat yang tinggi, maka aneh kalau kekacauan di kota raja tidak dapat diatasi olehnya.
“Kita baru saja saling jumpa, Ciang-kun. Bagaimana Ciang-kun dapat mempunyai kepentingan dengan aku?” tanya Pek-liong sambil memandang tajam penuh selidik.
“Sebelum kita bicara lebih lanjut, sebaiknya kalau kusampaikan saja surat ini kepadamu, tai-hiap. Tadinya aku memang hendak mencarimu di dusun Pat-kwa-bun, akan tetapi kebetulan penyelidikku melapor akan kemunculanmu di kota raja, maka langsung saja aku menyusul ke sini untuk menyerahkan surat ini kepadamu! Dari saku bajunya, Cian Ciang-kun mengeluarkan surat dari Hek-liong-li yang dititipkan kepadanya.
Pek-liong menerima surat itu dan membuka sampulnya. Begitu mengenal tulisan yang indah dan kuat itu, diapun tersenyum. Kiranya pria yang gagah ini sudah lebih dulu mengadakan hubungan dengan Liong-li! Dia segera membaca surat itu, dipandang oleh tiga orang yang duduk di situ. Pek-liong tercinta,
Kalau engkau membaca surat ini, berarti aku berada dalam bahaya dan membutuhkan bantuanmu karena kupesan kepada Cian Ciang-kun untuk menyerahkan surat ini
356
kepadamu kalau aku berada dalam bahaya. Selanjutnya engkau dapat berunding dengan dia.
Hek-liong-li.
Begitu membaca surat ini, Pek-liong bagaikan seekor singa yang mencium adanya musuh berbahaya. Wajahnya menjadi agak kemerahan, sepasang matanya kini mencorong dan bergerak-gerak dengan lincah, penuh semangat bertempur dan lenyaplah semua sifat lain, yang tinggal hanyalah kekerasan, ketenangan, dan kewaspadaan yang didukung semangat tempur yang luar biasa kuatnya.
“Cian Ciang-kun, harap engkau cepat menceritakan di mana adanya Liong-li dan bagaimana dapat bekerja sama denganmu. Singkat saja namun jangan melewatkan sesuatu yang mungkin penting!”
Dalam suara itu terdapat perubahan. Kini suara itu mengandung wibawa yang kuat, seperti seorang panglima yang memberi perintah rahasia penting kepada seorang pembantunya. Cian Hui dapat merasakan benar wibawa ini dan diapun menjadi serius.
Dengan singkat namun padat, dia menceritakan tentang pembunuhan-pembunuhan rahasia yang terjadi di kota raja dan tentang tugas yang diberikan kepadanya oleh Sribaginda Kaisar untuk membongkar rahasia itu dan menangkap pengacaunya yang hanya dikenal dengan sebutan Si Bayangan Iblis. Betapa kemudian dia minta bantuan Hek-liong-li untuk melakukan penyelidikan di dalam istana.
357
“Atas prakarsanya, kami berhasil menyelundupkaan Lie li-hiap ke dalam istana sebagai seorang dayang dari Permaisuri, setelah li-hiap menduga bahwa tentu rahasia itu berpusat dalam istana. Akan tetapi, kami mendengar berita mengejutkan dari istana, Hong-houw (Permaisuri) demikian cerdiknya sehingga mengetahui rahasia penyamaran Lie li-hiap.”
Dia berhenti sebentar dan tiga orang pendengarnya menahan napas saking tegangnya. Mereka semua sudah mendengar bahwa Hong-houw adalah seorang wanita luar biasa yang amat cerdik, bahkan kini menjadi orang yang paling berkuasa di kerajaan karena Sribaginda Kaisar sendiri seperti boneka lilin di tangannya.
“Bagaimana selanjutnya?” tanya Pek-liong, sikapnya masih tenang biarpun hatinya dicekam kekhawatiran.
Dia percaya sepenuhnya kepada Liong-li dan yakin akan kemampuan wanita yang paling dipujanya di seluruh dunia itu. Akan tetapi sekarang Liong-li berada di dalam istana! Betapapun lihainya seseorang, kalau berada di dalam istana bagaikan berada di dalam benteng baja yang kokoh dan kuat dan di dalam istana terdapat banyak sekali orang-orang yang cerdik pandai dan orang-orang yang berilmu tinggi, jagoan-jagoan yang amat lihai.
“Entah bagaimana, dan entah akal apa yang dipergunakan oleh li-hiap, akan tetapi menurut keterangan penyelidik yang kutugaskan di sana, li-hiap tidak dihukum oleh Permaisuri, bahkan oleh
358
Permaisuri ia diberikan kepada Pangeran Souw Han sebagai seorang selir.”
“Hemm, dan apa artinya peristiwa itu?” tanya Pek-liong yang sama sekali tidak mengenal keadaan di dalam istana kaisar.
“Peristiwa itu menarik sekali untuk diselidiki,” kata Cian Hui, “Banyak kejanggalan terjadi di sini. Pertama, semua orang tahu bahwa tidak ada orang yang akan dapat lolos dari hukuman mati apabila Hong-houw memusuhinya atau menganggapnya berdosa. Kenyataannya bahwa li-hiap tidak dihukum membuktikan bahwa Permaisuri tentu tidak memusuhinya walaupun penyelundupannya diketahui.
“Dan kedua, li-hiap diserahkan kepada Pangeran Souw Han sebagai selir, pada hal pangeran muda itu terkenal sebagai seorang yang alim, yang sama sekali tidak pernah bergaul dengan wanita seperti para pangeran lain. Kini tiba-tiba saja dia mau menerima seorang selir!”
Kembali Cian Ciang-kun berhenti dan pandang matanya mengamati wajah Pek-liong. Akan tetapi pendekar ini tidak menunjukkan sesuatu pada wajahnya.
“Dan menurut Ciang-kun, apa artinya kejanggalan-kejanggalan itu?”
“Kalau Hong-houw tidak menghukumnya, hal itu berarti bahwa ada kerja sama antara li-hiap dan Hong-houw, atau lebih tepat lagi Hong-houw, memanfaatkan kehadiran li-hiap di istana untuk mengerjakan sesuatu. Agaknya, Hong-houw yang sengaja
359
menyelundupkan li-hiap ke dalam istana bagian pria dengan cara menghadiahkannya kepada Pangeran Souw Han.”
“Kenapa kepada Pangeran Sauw Han?”
“Karena pangeran itu merupakan seorang yang paling disuka dan paling dapat dipercaya, yang bersih dari pada persaingan yang terjadi di istana. Selain itu, juga dia terkenal tidak suka bergaul dengan wanita, dan hal ini yang membuat li-hiap suka dihadiahkan sebagai selir. Tentu hanya luarnya saja demikian, Pangeran Souw Han tidak akan mau mengganggunya, sehingga li-hiap dapat leluasa mengadakan penyelidikan dengan sembunyi di kamar pangeran itu sebagai selir, tidak menimbulkan kecurigaan.”
Pek-liong mengangguk-angguk dan merasa kagum. Benar dugaannya, orang she Cian ini memang cerdik sekali.
“Kalau begitu, kita boleh menghapus nama Permaisuri sebagai orang yang boleh dicurigai memimpin komplotan Si Bayangan Iblis?” tanyanya.
“Tentu saja! Sejak dulu akupun yakin bahwa Si Bayangan Iblis itu bukan dikendalikan oleh Hong-houw. Beliau memegang tampuk kekuasaan. Untuk melenyapkan orang yang tidak disukainya, beliau tinggal menuding saja dan orang itu akan ditangkap dan dibunuh. Tidak perlu beliau mempergunakan pembunuh gelap seperti Si Bayangan Iblis, karena hal itu hanya akan merugikan beliau sendiri.”
360
“Sekarang katakan mengapa engkau menyerahkan surat Liong-li kepadaku, Ciang-kun? Bahaya apakah yang mengancam diri Liong-li?”
“Inilah yang mencemaskan hatiku, tai-hiap. Dari penyelidik yang kutugaskan di sana, aku mendapat kabar mengejutkan kemarin. Menurut penyelidik itu, Liong li-hiap ditangkap oleh Pangeran Souw Cun dan diberi hukuman cambuk. Pangeran Souw Han datang menyelamatkannya dan agaknya terjadi ketegangan antara kedua orang pangeran itu. Kabar yang disampaikan penyelidik itu hanya mengatakan bahwa li-hiap mengalami luka-luka di punggung karena lima kali cambukan, akan tetapi kini telah diajak kembali oleh Pangeran Souw Han.”
“Ahhh......!” Sui In berseru khawatir.
AKAN tetapi Pek-liong menerima berita ini dengan tenang-tenang saja. Kalau hanya hukuman cambuk lima kali, tidak ada artinya bagi Liong-li, dan kalau sampai punggungnya berdarah, hal itu tentu disengaja oleh Liong-li yang hendak menyembunyikan kepandaiannya. Dia tahu benar kecerdikan rekannya itu.
“Siapakah Pangeran Souw Cun itu?”
Cian Ciang-kun mengerutkan alisnya. “Hemm, bukan seorang pemuda yang baik, tai-hiap. Bahkan tidak akan heran aku kalau kemudian ternyata bahwa dia yang menjadi majikan dari para pembunuh itu. Dia memang bisa berbahaya sekali.”
361
“Hemmm..... tahukah engkau kenapa dia menangkap dan mencambuki Liong-li yang sudah menjadi selir Pangeran Souw Han?”
Perwira itu menggeleng kepala. “Tidak ada, yang mengetahui apa yang sebenarnya telah terjadi. Tahu-tahu li-hiap ditangkap Pangeran Souw Cun sendiri yang datang bersama pengawalnya selagi Pangeran Souw Han tidur dan li-hiap berada di ruangan para dayang, lalu li-hiap dibawa ke kamar Pangeran Souw Cun. Yang berada di sana hanya pangeran itu bersama pengawalnya dan Bouw Sian-seng sehingga penyelidikku tidak dapat tahu apa yang terjadi. Lalu Pangeran Souw Han datang dan membawa li-hiap kembali ke tempat tinggalnya dalam keadaan luka-luka dari pencambukan itu.”
“Kalau begitu, berarti bahaya sudah lewat. Liong-li tidak terancam bahaya lagi.”
“Kurasa tidak demikian, tai-hiap. Hek-liong-lihiap memang memesan kepadaku untuk menyerahkan surat itu kepada tai-hiap kalau ia terancam bahaya dan aku melihat bahaya besar mengancamnya, bukan hanya karena pencambukan itu, melainkan akibatnya.
“Akibat dari peristiwa itu dapat hebat dan amat berbahaya, tai-hiap. Jelas bahwa Pangeran Souw Cun mencurigai li-hiap dan karena li-hiap secara resmi telah menjadi selir Pangeran Souw Han, maka perbuatan Pangeran Souw Cun itu berarti penghinaan terhadap Pangeran Souw Han. Hal ini dapat memancing permusuhan secara terbuka.
362
“Mengingat bahwa Pangeran Souw Han adalah seorang pangeran yang bersih dari persaingan di istana dan beliau tidak mempunyai pengawal atau jagoan, sebaliknya Pangeran Souw Cun amat kuat kedudukannya, maka tentu saja amat berbahaya bagi li-hiap.”
Pek-liong mengerutkan alisnya. Dia sudah membuat perhitungan, lalu tiba-tiba bertanya, “Cian Ciang-kun, dapatkah engkau menyelundupkan aku ke istana, hari ini juga? Memang mungkin sekali Liong-li membutuhkan bantuanku.”
“Hemm!”Cian Ciang-kun meraba-raba jenggotnya yang rapi, alisnya berkerut. “Kurasa dapat, tai-hiap. Akan tetapi agar tidak terlalu menyolok, tai-hiap dapat kuselundupkan sebagai seorang tukang kuda yang bekerja di istal kuda istana yang letaknya di bagian belakang kompleks istana bagian pria.”
“Bagus! Tolong buatkan gambar atau peta mengenai keadaan di istana, di mana adanya istal itu dan di mana pula tempat tinggal para pangeran, agar mudah bagiku untuk melakukan penyelidikan.”
Sui In lalu cepat mengambilkan alat tulis dan tak lama kemudian, Cian Hui sudah membuatkan peta untuk Pek-liong. Peta itu tidak dibawa Pek-liong, melainkan dipelajari dan dihafalkan.
“Akupun ingin membantu,” kata Sui In. “Sungguh tidak enak menunggu di rumah, sedangkan Hek-liong-lihiap dan Tan Tai-hiap bekerja berat dan menghadapi bahaya di istana. Cian Ciang-kun, dapatkah ciang-kun memberi saran bagaimana aku dapat
363
memasuki istana dan mengunjungi Lie li-hiap? Aku dapat mengaku sebagai saudara sepupu!”
Cian Hui memandang dan dia melihat betapa wanita itu bersungguh-sungguh. Mata yang bening itu memandang kepadanya dengan penuh harapan. Ia dapat menjenguk isi hati wanita ini.
Sebagai isteri seorang korban pembunuhan misterius itu, tentu saja ia ingin membalas kematian suaminya dan sedapat mungkin membantu agar pembunuh itu dapat tertangkap. Dan dia mendengar bahwa Cu Sui In adalah seorang murid Kun-lun-pai yang lihai sehingga tenaganya memang boleh diandalkan untuk membantu Hek-liong-li.
“Sui In, apakah tidak akan terlalu berbahaya untukmu?” Ciok Tai-jin yang sejak tadi hanya menjadi pendengar saja, kini bertanya dengan nada suara khawatir.
Dia tidak hanya mengkhawatirkan keselamatan keponakan isterinya itu, akan tetapi juga keselamatan keluarganya sendiri. Kalau sampai Sui In terlibat dalam keributan di istana, kemudian ketahuan bahwa ia masih keponakannya, bukan tidak mungkin seluruh keluarganya akan terlibat.
Agaknya Sui In dapat menjenguk isi hati pamannya. “Harap paman tidak khawatir. Saya tidak akan menyebut nama paman, juga tidak akan mengaku sebagai anggauta keluarga paman. Saya akan mengaku sebagai seorang saudara sepupu dari Lie li-hiap...... ah, siapa tadi nama samarannya Cian Ciang-kun?”
364
“Ketika kuselundupkan sebagai dayang, namanya Akim, akan tetapi setelah menjadi selir Pangeran Souw Han, ia diberi nama Siauw Cu oleh Permaisuri.”
“Siauw Cu....... hemm, siapakah lebih tua antara kami, Ciang-kun? Berapa usianya?”
Cian Hui tersenyum. “Aku sendiri tidak tahu berapa usianya. Sungguh tidak mudah menaksir usia wanita, apa lagi Lie li-hiap.”
“Usianya duapuluh lima tahun,” kata Pek-liong.
“Dan aku duapuluh enam tahun. Biarlah aku akan mencari adik Siauw Cu saudara sepupuku. Tentu saja harus ada surat pengantarnya dan kuharap Cian Ciang-kun suka membantuku.”
Cian Ciang-kun memandang kepada Pek-liong seolah minta pertimbangan pendekar itu.
Pek-liong mengerti dan diapun berkata, “Tingkat kepandaian adik Cu Sui In cukup tinggi sehingga diharapkan ia akan mampu menjaga diri sendiri, juga mungkin saja dapat membantu Liong-li.”
“Bagus kalau begitu! Baiklah, nona Cu, akan kuusahakan agar engkau dapat memasuki istana sabagai tamu dari Lie li-hiap. Sebetulnya hal ini bahkan baik sekali karena Lie li-hiap dan Tan tai-hiap dapat berhubungan dengan aku yang di luar istana melaluimu.
365
“Tan tai-hiap, jangan lupa untuk segera memberi kabar kepadaku tentang keadaan di sana. Kalau ada bahaya, cepat kabarkan sehingga aku dapat mengusahakan bantuan.”
“Hemm, kalau kami terancam bahaya, siapa yang akan dapat membantu kami, Ciang-kun?” Pek-liong ingin tahu.
“Hanya ada satu orang yang akan dapat membantumu, yaitu Sribaginda Kaisar sendiri! Kalau memang kalian dapat mengumpulkan bukti-bukti dan keterangan bahwa Si Bayangan Iblis berada di istana, maka aku dapat menghadap Sribaginda Kaisar yang tentu akan mengerahkan pasukan untuk mengadakan pembersihan di istana!”
“Baik sekali. Memang itu satu-satunya jalan. Baiklah, Ciang-kun, mari kita membuat persiapan karena aku harus berada di istana hari atau malam ini juga agar jangan sampai terlambat.”
“Aku juga ingin cepat-cepat mengunjungi adik Siauw Cu,” kata Cu Sui In sambil memandang ke arah Pek-liong.
Pendekar yang amat dikaguminya itu siap menempuh bahaya. Mengapa ia tidak berani? Bukan saja untuk membalas kematian suaminya, akan tetapi juga dan ini terutama sekali, agar dia dapat bekerja sama dengan Pek-liong!
◄Y►
Pek-liong berhasil dimasukkan ke istana oleh Cian Hui dan diterima oleh kepala bagian pemeliharaan kuda istana, seorang pejabat istana yang menjadi sahabat Cian Ciang-kun, sebagai
366
seorang tukang memelihara kuda. Pek-liong menggunakan nama A-cin dan dengan penyamarannya yang sempurna, dia membuat mukanya yang tampan berubah menjadi penuh bopeng yaitu totol-totol hitam seperti bekas penyakit cacar. Dan A-cin segera diterima dengan baik oleh para pekerja di situ karena dia begitu datang pada siang hari itu terus bekerja dengan rajinnya, tenaganya kuat dan diapun cepat akrab dengan kuda-kuda yang dipelihara di situ, tanda bahwa dia memang sudah biasa merawat kuda.
Ketika makan sore, diapun makan hanya sedikit. Orang yang sederhana, tidak banyak bicara, tidak banyak makan, akan tetapi banyak bekerja seperti inilah yang disukai kawan-kawan sekerjanya.
Diapun pendiam sekali, tidak bicara kalau tidak ditanya. Karena itu, dia tidak menimbulkan kecurigaan sama sekali. Siapa yang akan curigai seorang laki-laki bermuka bopeng, sederhana dan rajin bekerja seperti itu?
Ketika malam tiba, diapun lebih suka tidur di kandang kuda, di atas rumput-rumput kering, dengan alasan bahwa dia tidak biasa tidur di pembaringan yang lunak, apa lagi bersama orang lain. Tentu saja kesederhanaannya itu ditertawakan orang, akan tetapi mereka sama sekali tidak menaruh keberatan, bahkan girang karena kuda-kuda itu ada yang menjaganya sehingga para pekerja yang lain boleh enak tidur tanpa terganggu.
Biasanya, kalau ada kuda meringkik tidak wajar, mereka terpaksa bangun untuk memerikaa kandang kuda. Sekarang, ada A-cin
367
tidur di istal, mereka tidak perlu bangun lagi kalau ada keperluan di kandang itu.
Setelah malam sunyi dan semua pekerja pulas, A-cin berubah menjadi sesosok bayangan yang berkelebat cepat. Pek-liong selalu berpakaian serba putih, akan tetapi karena sekarang dia sedang menyamar dan melakukan penyelidikan, dia menutupi pakaian putih itu dengan jubah dan celana hitam, bahkan menutupi hidung dan mulutnya dengan saputangan hitam pula. Dengan beberapa loncatan saja diapun berkelebat lenyap dari situ, ia mengambil jalan yang sudah dihafalnya dari peta yang dibuat Cian Hui sebelum mereka memasuki istana tadi.
Dia sudah mempelajari semua keadaan keluarga Kaisar dari Cian Hui. Dia tahu bahwa Sribaginda Kaisar Tang Kao Cung yang usianya kurang lebih limapuluh tahun itu adalah seorang kaisar yang lemah karena seolah-olah menjadi boneka di tangan isterinya, Permaisuri Bu Cek Thian!
Biarpun kaisarnya masih Kaisar Tang Kao Cung, namun sudah menjadi rahasia umum bagi para pejabat bahwa segala keputusan keluar dari mulut Permaisuri melalui Kaisar. Juga Putera Mahkota, Tiong Cung, putera kandung Bu Cek Thian, tidak berbeda dari ayahnya, merupakan boneka yang dimainkan oleh ibunya sehingga dia terkenal sebagai seorang pangeran yang manja, malas dan tidak mempunyai semangat, tidak memiliki prakarsa.
Segala keputusan penting yang diambil Kaisar tentu lebih dulu melalui penyaringan Permaisuri. Karena itu, kekuasaan Bu Cek
368
Thian amat besarnya dan semua orang takut kepadanya. Dan permaisuri ini terkenal keras dan kejam terhadap lawan-lawannya, yaitu mereka yang menentang kekuasaannya, juga ia memelihara banyak jagoan yang lihai.
Namun, di samping itu semua, Bu Cek Thian terkenal amat cerdik. Satu di antara kecerdikannya yang membuat ia berhasil dalam ambisinya adalah cara ia mendekati para panglima perang. Ia teramat royal bahkan memanjakan para panglima sehingga dapat dibilang semua panglima merasa berhutang budi dan suka kepadanya, hal yang menimbulkan kesetiaan, dan sekali para panglima mendukungnya, maka kekuasaan mutlak berada di tangannya tanpa ada yang berani mengganggu gugat.
Di samping Pangeran Tiong Cung yang menjadi Putera Mahkota dan yang menjadi seperti boneka di tangan ibunya, ada lagi Pangeran Li Tan.Pangeran ini juga putera kandung Bu Cek Thian, baru berusia tigabelas tahun. Pangeran ini lebih bersemangat dari pada kakaknya, namun karena ia kehilangan perhatian dari ibu kandungnya, ia menjadi nakal walaupun cerdik.
Pangeran Souw Cun adalah pangeran yang paling berbahaya di antara semua pangeran, demikian Pek-liong mendengar dari Cian Hui. Pangeran Souw Cun ini terkenal petualang dan mata keranjang, bukan saja suka berkeliaran di luar istana dan mendatangi tempat-tempat pelacuran, akan tetapi juga suka berburu, berjudi dan mabok-mabokan. Akan tetapi diapun suka belajar ilmu silat dan bergaul di antara orang-orang dari dunia persilatan. Maka, pangeran itu patut diawasi dan diamati gerak
369
geriknya karena orang seperti dia besar sekali kemungkinannya bersekongkol dengan tokoh-tokoh sesat.
Sebaliknya, Pangeran Souw Han terkenal sebagai pangeran yang lembut dan baik, jujur dan disuka karena tidak memusuhi siapa pun, tidak berambisi dan tidak ikut bersaing memperebutkan kekuasaan. Tokoh ini amat penting dan menarik bagi Pek-liong, terutama sekali karena kepada pangeran inilah Liong-li diberikan sebagai selir! Dia dapat menduga bahwa tidak mungkin Liong-li menjadi selir benar-benar. Tentu hal itu hanya merupakan siasat saja dari Permaisuri untuk menyelundupkan Liong-li ke dalam istana bagian pria dan hendak dijadikan mata-mata atau penyelidik demi kepentingan Permaisuri sendiri tentunya.
Di antara banyak pangeran lain yang tidak begitu penting, ada lagi seorang pangeran yang patut diperhatikan menurut keterangan Cian Hui, yaitu Pangeran Kim Ngo Him, mantu dari Sribaginda Kaisar. Menurut Cian Ciang-kun, pangeran yang menjadi mantu kaisar inipun berambisi dan dia juga mempunyai jagoan-jagoan. Hanya mereka itulah yang perlu mendapatkan perhatian utama dari Pek-liong.
Malam itu, Pek-liong berlompatan sambil menyelinap di antara wuwungan bangunan istana yang luas, menuju ke tempat tinggal Pangeran Kim Ngo Him yang berada di pinggir. Sebagai seorang mantu kaisar, tentu saja kedudukannya agak lebih rendah dibandingkan dengan pangeran putera kaisar.
Tiba-tiba dengan cepat sekali dia mendekam di balik wuwungan karena dia melihat berkelebatnya bayangan hitam dari arah kiri.
370
Bayangan itu ringan sekali gerakannya dan kakinya tidak mengeluarkan suara sedikitpun ketika menginjak genteng. Hal ini saja membuktikan bahwa bayangan itu memiliki gin-kang (ilmu meringankan tubuh) yang hebat. Dan bayangan itupun tiba-tiba berhenti, membalik dan begitu tangannya bergerak, nampak benda-benda hitam kecil meluncur ke arah tubuh Pek-liong!
Pendekar ini cepat mengelak dengan loncatan ke kanan, dan terdengar suara berkelentingan ketika paku-paku itu jatuh ke atas genteng. Dan sebelum Pek-liong sempat melarikan diri, bayangan itu seperti terbang saja sudah meloncat dan menyerangnya bagaikan seekor burung rajawali menyambar mangsanya! Kedua tangannnya dijulurkan ke depan, menyerang ke arah kepala Pek-liong.
Ketika ada angin menyambar membawa hawa panas, Pek-liong maklum bahwa lawannya tidak boleh dipandang ringan. Diapun mengerahkan tenaga sin-kang menyambut dengan kedua tangan terbuka.
“Dessss......!!” Dua pasang telapak tangan bertemu di udara dan akibatnya, bayangan hitam itu terdorong dan terlempar ke atas sedangkan Pek-liong sendiri harus mempertahankan diri untuk tidak terhuyung jatuh.
Dia merasa betapa tenaga lawan itu amat kuatnya, dan andaikata mereka berdua sama-sama berpijak di atas tanah, belum tentu dia akan menang tenaga. Orang itu terpental karena tubuhnya masih berada di udara. Dan hebatnya orang yang terpental ke
371
atas itu berjungkir balik beberapa kali dan tubuhnya melayang ke bawah.
Ketika Pek-liong mengejar ke bawah, bayangan itu sudah lenyap. Melihat keadaan sekelilingnya, Pek-liong merasa yakin bahwa orang itu tentu menyelinap masuk ke dalam bangunan itu, tempat tinggal Pangeran Kim Ngo Him, mantu kaisar!
Tentu saja Pek-liong menjadi heran dan curiga. Tentu ada hubungan antara si bayangan tadi, entah dia itu Si Bayangan Iblis atau bukan, dengan Pangeran Kim Ngo Him. Kalau tidak begitu, bagaimana mungkin orang tadi dapat bersembunyi di rumah itu. Diapun menyelinap masuk pekarangan lalu memasuki taman di sebelah rumah, dengan cepat namun hati-hati dia mendekati jendela rumah yang berada di samping.
“Tolong......! Ada penjahat..........!!”
Tadinya Pek-liong terkejut dan mengira bahwa dia yang diteriaki, maka dia sudah siap siaga kalau-kalau ada yang akan menyerang atau mengeroyoknya. Akan tetapi tidak ada bayangan orang, dan di dalam rumah itu terjadi keributan. Diapun meloncat ke atas genteng dan melakukan pengintaian.
Di ruangan belakang dia melihat seorang nenek yang usianya sudah enampuluh lima tahun lebih, kurus kering, sedang berdiri gemetaran dan seorang pemuda tampan yang berpakaian bangsawan bersama enam orang pengawal berdiri di depan nenek itu. Pangeran itu agaknya marah kepada si nenek yang nampak ketakutan.
372
“Lo-ma, engkau membikin kaget saja! Mana ada penjahat? Kenapa engkau berteriak-teriak membangunkan seisi rumah dengan teriakan penjahat?” tanya bangsawan muda yang bukan lain adalah Pangeran Kim Ngo Him seperti yang sudah diduga oleh Pek-liong itu.
Nenek kurus kering itu lalu menjatuhkan diri berlutut di depan kaki pangeran. “Aduh, ampunkan hamba yang sudah tua ini, pangeran. Bagaimana hamba berani mengacau dan membikin ribut? Hamba berani bersumpah bahwa baru saja memang ada penjahat masukke sini. Hamba terkejut melihat bayangan hitam itu meloncat ke sini. Agaknya diapun tidak menduga bahwa hamba belum tidur dan berada di sini, maka dia meloncat lagi dan lenyap. Hamba lalu menjerit saking kaget dan takut. Ampunkan hamba......”
“Sudahlah, Kui Lo-ma, jangan ribut lagi. Hayo kalian cepat melakukan perondaan dan pemeriksaan!” kata pangeran itu kepada para pengawalnya.
Mendengar ini, Pek-liong sudah mendahului meloncat pergi meninggalkan tempat itu. Dia kini merasa yakin bahwa memang ada penjahat yang lihai sekali berkeliaran di istana, dan agaknya penjahat itu tidak mempunyai hubungan apapun dengan Kim Ngo Him.
Namun hal ini bukan berarti bahwa nama Kim Ngo Him sudah semestinya dihapus dari daftar orang-orang yang dia dicurigai. Tidak, dia akan tetap mengamati pangeran mantu kaisar ini. Dia lalu melakukan penyelidikan ke bagian lain, kini hendak
373
menyelidiki keadaan tempat tinggal Pangeran Souw Cun. Karena Cian Ciang-kun sudah memperingatkan bahwa di antara para pangeran, Pangeran Souw Cun ini yang paling berbahaya, dan dia memiliki banyak jagoan lihai, maka Pek-liong bersikap hati-hati sekali.
Sementara itu, sejak sore tadi, Liong-li sudah sadar dari keadaan mabok madu asmara sehari penuh ia dan Pangeran Souw Han berenang dalam lautan madu asmara yang penuh kemesraan. Biarpun ia sudah banyak bergaul dengan pria, harus diakuinya bahwa baru pertama kali itu selama hidupnya ia merasakan kemesraan yang penuh kelembutan sehingga amat mengharukan hati. Mendekap pangeran itu dalam pelukan rasanya seperti mendekap seorang bayi yang mulus dan murni.
Hal ini tidak mengherankan karena Pangeran Souw Han juga selamanya baru sekali itu berdekatan penuh mesra dengan seorang wanita. Dia mencurahkan semua perasaan cintanya kepada Liong-li sehingga keduanya terbuai dan lupa diri, tak pernah meninggalkan pembaringan, bahkan lupa makan!
Baru setelah keadaan cuaca di kamar itu gelap karena matahari tidak lagi meneroboskan cahayanya ke situ, dan Pangeran Souw Han menyalakan lampu penerangan, mereka seakan terseret kembali ke dunia sadar. Keduanya baru mendengar keruyuk perut mereka yang lapar.
“Aih, laparnya perutku!” Liong-li tertawa dan Pangeran Souw Han merangkul perut yang kempes itu.
“Kasihan perutmu, enci Cu,” katanya sambil membelai.
374
Liong-li menggelinjang dan melompat turun dari pembaringan, menyambar pakaiannya.
“Cukup, Pangeran. Jangan kaujamah lagi aku, tak kuat lagi aku......”
Pangeran Souw Han juga tertawa. “Sehari kita tidak makan, enci Cu. Mari kita makan!”
Setelah mereka berpakaian rapi, baru Pangeran Souw Han membuka daun pintu dan bertepuk tangan memanggil para dayangnya. Lima orang dayang itu datang menghadap dan mereka saling pandang dengan sinar mata penuh pengertian ketika mereka melihat betapa kusutnya kedua orang majikan mereka itu, dan betapa wajah pangeran yang tampan itu agak pucat, sedangkan wajah Liong-li kemerahan.
“Kami lapar, hidangkan makanan yang paling lezat!” perintah Pangeran Souw Han.
Memang para dayang itu sudah sejak tadi mempersiapkan makanan. Mereka menanti dengan hati gembira bercampur tegang, karena pangeran dengan selirnya itu tidak pernah keluar dari dalam kamar selama sehari penuh!
“Bagaimana dengan punggungmu, sayang?” tanya Pangeran Souw Han sambil memegang kedua tangan Liong-li.
Liong-li tersenyum. “Sudah sembuh, pangeran. Ternyata belaian tanganmu yang penuh kasih lebih manjur dari pada obatku.”
375
Kembali keduanya tersenyum dan Pangeran Souw Han merangkul dan mencium wanita yang merupakan wanita pertama dalam hidupnya itu. Akan tetapi, ciumannya tidak dapat dipertahankan lama karena terdengar langkah kaki para dayang yang memasuki kamar membawa hidangan yang mereka atur di atas meja.
Tak lama kemudian, Liong-li dan Pangeran Souw Han sudah makan minum dengan gembiranya. Sehari berenang di lautan madu asmara membuat mereka merasa letih, lemas dan lapar sekali. Lauk pauk yang paling lezat adalah hati senang, badan sehat dan perut lapar! Apa lagi hidangan yang dibawa para dayang itu merupakan hidangan yang serba lezat. Tidak aneh kalau kedua orang itu makan dengan gembulnya.
Setelah malam tiba, Liong-li berkemas, berganti pakaian hitam, siap untuk melaksanakan tugasnya. Melihat wanita yang dikasihinya itu, yang kini seolah sudah melekat di hatinya dan di dagingnya, Pangeran Souw Han merangkulnya.
“Tidak, enci Cu! Tidak! Engkau tidak boleh pergi. Engkau baru saja menderita cambukan, dan sekarang hendak menghadapi bahaya? Engkau sudah dicurigai, tentu mereka itu lebih waspada dan selalu akan mengintai semua gerak gerikmu!”
Liong-li merasa betapa lembutnya rangkulan itu, betapa penuh perasaan kasih sayang, betapa mesranya dan hatinya terharu. Akan tetapi ia bukan seorang wanita lemah. Ia mengusir keharuannya dengan senyum, senyum bahagia. Ia merasa berbahagia sekali bahwa dirinya, seorang wanita kang-ouw yang
376
bahkan pernah dipaksa menjadi pelacur, seorang wanita dengan tubuh yang sudah ternoda, kini bisa mendapatkan kasih sayang yang demikian besarnya dari Pangeran Souw Han yang budiman dan bijaksana ini.
Kenyataan itu saja adalah merupakan karunia yang amat besar baginya, yang membuatnya bangga menjadi manusia! Akan tetapi ia tidak mau membiarkan .dirinya tenggelam ke dalam kebahagiaan dan kenikmatan hidup itu. Ia tidak ingin menyeret pangeran yang demikian berbudi ke dalam jalan hidupnya yang penuh kekerasan, penuh bahaya dan petualangan.
Dengan lembut iapun melepaskan diri dari rangkulan pangeran itu dan melangkah mundur. Ia membereskan ikat pinggangnya, menyelipkan pedang Hek-liong-kiam di balik jubahnya, memperkuat ikatan rambutnya dan tersenyum memandang kepada pangeran itu.
“Pangeran, ingatlah akan semua peringatan saya pagi tadi. Kita memang telah minum anggur asmara bersama dan harus kuakui bahwa saya sendiri hampir mabok, pangeran. Belum pernah saya merasakan kebahagiaan yang demikian besar seperti tadi.”
“Itulah sebabnya mengapa kita tidak boleh berpisah lagi, enci Cu. Engkau harus menjadi isteriku, hidup bersamaku selamanya......” kata pangeran itu penuh semangat.
Senyum Liong-li melebar, akan tetapi ia menggeleng kepala. “Ingat ucapan saya tadi, Pangeran. Saya, tidak mungkin dapat menjadi isterimu, bahkan selirmu pun tidak, walaupun saya akan
377
berbohong kalau mengatakan bahwa hati saya tidak menginginkan hal itu.
“Hidup selamanya di sampingmu, betapa akan indahnya! Akan tetapi tidak mungkin. Saya seorang tokoh kang-ouw, seorang petualang yang terbiasa hidup bebas, hidup tanpa kekangan, terbiasa menghadapi bahaya-bahaya maut, bermusuhan dengan tokoh-tokoh sesat yang lihai dan berbahaya.
“Nah, saya harap paduka dapat menginsafi hal ini. Nanti apa bila pengaruh anggur asmara tadi sudah agak mereda, tentu paduka akan dapat melihat kebenaran pendapat saya, Betapapun juga, Bumi dan Langit menjadi saksi bahwa selama hidup saya, saya tidak akan dapat melupakan keindahan yang kita nikmati sehari tadi, Pangeran. Nah, saya pergi, pangeran.”
Sekali berkelebat, Liong-li sudah lenyap dari depan pangeran itu yang seketika merasa lemas dan dia pun menjatuhkan diri di atas pembaringan yang masih kusut itu. Dipeluknya bantal yang masih mencium bau badan yang khas dari Liong-li dan sejenak pangeran itu seperti tertidur. Akan tetapi, akhirnya dia menarik napas panjang dan bangkit duduk, termenung.
Semua ucapan wanita itu terngiang di telinganya dan beberapa kali diapun mengangguk-angguk. Dia dapat menyelami perasaaan wanita kang-ouw itu. Bagaikan seekor burung hutan, yang akan mati lemas dan penuh duka kalau dikurung, walaupun dalam kurungan emas, demikian pula Liong-li akan merana kalau harus hidup sebagai seorang puteri di istana. Bunga mawar rimba
378
yang liar, mungkin bahkan akan menjadi kurus kalau dipindahkan ke dalam taman yang indah terpelihara baik-baik.
Dia mengeluh. Dia merasa ragu apakah dia akan pernah dapat jatuh cinta kepada wanita lain. Agaknya tidak mungkin di dunia ini dia akan dapat menemukan Liong-li kedua yang bersedia menjadi isterinya atau selirnya. Dan sejak saat itu, Pangeran Souw Han merasa kehilangan sekali, bahkan merasa betapa hidup ini akan menjadi sunyi dan tak berarti tanpa adanya Liong-li di sampingnya.
Sementara itu, Liong-li keluar dari rumah Pangeran Souw Han dengan hati-hati sekali. Sebelum ia memperlihatkan diri di tempat terbuka di luar rumah, lebih dulu ia mengintai dan setelah merasa yakin bahwa tidak ada orang yang mengetahuinya, baru ia melompat keluar melalui taman bunga di belakang rumah. Ia menyusup-nyusup di antara pohon dalam taman itu, kemudian melompati pagar tembok di belakang dan baru ia berani melompat ke atas genteng bangunan di luar kompleks perumahan Pangeran Souw Han.
Sisa-sisa kemesraan yang masih melekat di perasaannya ditanggalkannya setelah ia berada di udara terbuka, setelah tubuhnya diterpa hawa dingin malam itu dan iapun sudah mampu sama sekali melupakan bayangan Pangeran Souw Han, dan sepenuhnya seluruh perhatiannya dicurahkan untuk pelaksanaan tugasnya. Malam ini ia harus berhasil meringkus Kwi-eng-cu, Si Bayangan Iblis!
379
Malam ini ia akan menyelidiki tempat tinggal Pangeran Kim Ngo Him, mantu kaisar itu. Ada pula bayangan menghilang di rumah ini ketika ia melakukan penyelidikan yang lalu.
Untuk sementara ini agaknya Pangeran Souw Cun tidak akan berani melakukan tindakan, setelah apa yang terjadi pagi tadi. Kemarahan Pangeran Souw Han kepadanya, ancaman Pangeran Souw Han untuk melapor kepada Kaisar dan Permaisuri, tentu akan membuat Pangeran Souw Cun tidak berani banyak membuat ulah untuk sementara ini. Maka, yang paling tepat untuk diselidiki adalah Pangeran Kim Ngo Him.
Ketika ia tiba di dekat tembok pekarangan rumah tinggal Pangeran Kim Ngo Him, ia melihat sesosok bayangan hitam muncul dari dalam. Dengan gerakan lincah, bayangan itu meloncat dari dalam ke atas wuwungan rumah itu, berdiri tegak memandang ke sekeliling.
Bayangan itu mengenakan pakaian serba hitam dan kepalanya dibungkus kain hitam pula. Ada dua ujung kain itu mencuat ke atas sehingga nampaknya seperti tanduk. Bayangan itu memiliki bentuk tubuh yang kurus agak jangkung.
Dengan jantung berdebar tegang Liong-li menahan diri untuk tidak segera muncul turun tangan. Ia tidak ingin gagal kali ini, tidak akan tergesa-gesa. Kalau ia muncul menyerang dan bayangan itu lari lagi ke dalam gedung tempat tinggal Pangeran Kim Ngo Him, tentu ia tidak akan melakukan pengejaran. Terlalu berbahaya, karena selain sukar mencarinya di di dalam gedung yang tidak dikenalnya, juga mungkin malah rahasianya akan
380
terbuka. Ia harus menanti saat yang baik dan akan membayangi dulu.
Bayangan itu memandang ke sekeliling beberapa saat lamanya, kemudian tubuhnya melayang turun dari atas genteng dengan cepat bagaikan seekor burung saja. Liong-li kagum dan iapun cepat melayang turun dari samping rumah yang berlawanan, kemudian ia menyusup-nyusup dan menyelinap di antara pohon- pohon dan bangunan ketika melihat bayangan itu keluar dari pagar gedung Pangeran Kim Ngo Him lalu lari menuju ke bagian belakang kompleks istana.
Bayangan itu terus berlari cepat menuju ke bagian paling belakang dari kompleks istana di mana terdapat sebuah bukit kecil. Di atas bukit ini terdapat sebuah hutan buatan di mana dipelihara binatang-binatang hutan yang jinak seperti kijang, kelinci dan sebagainya. Juga di puncaknya terdapat kuil istana. Keluarga kaisar suka berpesiar di dalam hutan yang indah dan tidak berbahaya ini dan kuil itu merupakan tempat sembahyang dan pemujaan dari para anggauta keluarga kaisar.
Ketika tiba di tepi hutan, Liong-li yang tidak ingin kehilangan orang yang dikejarnya itu, mempercepat larinya agar jaraknya tidak terlampau jauh. Sejak tadi ia sudah kagum karena orang itu harus diakuinya memiliki ilmu berlari cepat yang hebat. Ia harus mengerahkan tenaganya untuk dapat membayangi terus orang itu dan hal ini saja sudah memberi peringatan kepadanya bahwa ia menghadapi lawan yang lihai.
381
Tiba-tiba bayangan itu membalikkan tubuhnya dan kedua tangannya bergerak. Terdengar bunyi berdesingan dan Liong-li cepat mengelak dengan loncatan-loncatan ke kanan kiri karena ada paku-paku yang menyambar-nyambar ke arahnya secara berturut-turut.
Sungguh berbahaya sekali penyerangan itu. Paku pertama menyambar dan ketika ia mengelak ke kiri, paku kedua menyambar ke tempat ia mengelak. Ketika ia mengelak dari sambaran paku kedua, paku ketiga mengejarnya! Sampai berturut-turut ada tujuh buah paku menyambar dan tentu saja, penyerangan ini amat berbahaya bagi orang yang tidak memiliki kelincahan gerakan seperti Liong-li.
Orang itu telah melihatnya. Inilah saatnya untuk turun tangan menangkapnya, pikir Liong-li, maka elakan yang terakhir dari paku ketujuh dilakukan dengan melayang ke depan dan langsung tubuhnya meluncur bagaikan seekor naga melayang di angkasa dan menubruk ke arah penyerangnya!
“Ehhh......!” Orang itu mengeluarkan seruan kaget dan agaknya bayangan itu tidak mengira bahwa orang yang membayanginya demikian lihainya, bukan saja mampu menghindarkan diri dari tujuh batang pakunya, akan tetapi bahkan berbalik menyerang sedahsyat itu!
Akan tetapi, tepat seperti yang diduga oleh Liong-li, bayangan itu lihai sekali. Biarpun penyerangan Liong-li yang dilakukan dengan tubuh melayang seperti itu amat berbahaya, namun orang itu dengan lincahnya telah dapat menyingkir dengan loncatan ke
382
kanan dan begitu tubuh Liong-li turun ke atas tanah, dia malah menyerang dengan dahsyat, kedua tangannya bergerak mencengkeram, yang kiri mencengkeram kepala, yang kanan mencengkeram ke arah dada!
Liong-li menggerakkan kedua tangannya menangkis dari samping dengan kedua lengan diputar melingkar ke atas dan bawah sambil mengerahkan tenaga karena ia hendak mengukur kekuatan lawan. Jelas bahwa lawan memiliki gin-kang yang hebat dan hanya sedikit di bawah tingkatnya sendiri. Kini ia ingin mengukur tenaga lawan.
“Dukkkk!” Dua pasang lengan ini bertemu dan akibatnya sungguh mengejutkan kedua pihak.
Liong-li terdorong mundur dua langkah, akan tetapi orang itupun terjengkang dan terhuyung. Kiranya dalam hal tenaga sinkang merekapun seimbang dan hal ini tentu saja membuat Liong-li amat berhati-hati. Tentu Kwi-eng-cu (Si Bayangan Iblis) itu, melihat akan kelihaiannya. Iapun mendesak dengan serangan-serangan kilat yang nampaknya lemah lembut namun amat berbahaya karena ia telah memainkan ilmu silat Bi-jin-kun (Silat Wanita Cantik) yang nampaknya seperti orang menari-nari indah saja namun setiap tamparan tangan atau tendangan kaki merupakan serangan maut yang amat berbahaya bagi lawan.
Namun lawan itu lihai dan selain dapat menghindarkan semua serangan Liong-li, juga mampu membalas dengan serangan balasan yang takkalah ampuhnya, bahkan ketika tangannya
383
menyambar, Liong-li dapat mencium bau amis, tanda bahwa tangan orang itu mengandung hawa beracun!
“Plakk! Plakk!” Kembali tangan mereka bertemu dan orang itu mengeluarkan seruan kaget dan melangkah mundur.
Liong-li tersenyum di balik kedoknya. Tentu orang itu terkejut karena merasa betapa telapak tangannya menjadi panas bertemu dengan tangannya. Ia tadi telah mengerahkan tenaga Hiat-tok-ciang (Tangan Darah Beracun)! Akan tetapi agaknya orang itu mampu menolak pengaruh hawa beracun dari tangannya. Buktinya orang itu tidak mundur, bahwa kini mencabut sebatang pedang yang berkilauan dan mengamuk, menyerangnya bertubi-tubi.
Liong-li belum mau mencabut Hek-liong-kiam. Ia tahu bahwa sekali mencabutnya, tidak mungkin lagi ia menyembunyikan keadaan dirinya. Wajahnya dapat ditutupi kedok, akan tetapi Hek-liong-kiam pasti akan dikenal orang dan di dunia ini tidak ada dua Hek-liong-kiam. Satu-satunya yang berada di tangan Hek-liong-li! Maka, iapun hanya melindungi diri dengan ilmu Liu-seng-pouw (langkah Ajaib Bintang Cemara). Dengan ilmu ini, sambaran pedang lawan selalu dapat ia elakkan dengan geseran-geseran kaki yang melangkah secara aneh.
Sudah ada tigapuluh jurus lebih mereka berkelahi dan tiba-tiba bayangan yang lihai itu meloncat ke dalam hutan setelah terdengar suitan lirih dari dalam hutan. Liong-li tidak berani mengejar. Bukan saja karena hutan itu gelap dan mengejar orang berbahaya dan lihai di dalam hutan yang gelap amatlah
384
berbahaya. Ia dapat dibokong dan dijebak, juga suara suitan tadi membuktikan bahwa orang yang lihai itu masih mempunyai kawan di dalam hutan!
Tiba-tiba wajah Liong-li berubah pucat. Orang tadi jangan-jangan hanya memancing agar ia pergi lama meninggalkan Pangeran Souw Han! Teringat ia akan peristiwa di pagi hari tadi. Pangeran Souw Han telah mengeluarkan ancaman kepada Pangeran Souw Cun, berarti bahwa pangeran yang disayangnya itu terancam bahaya.
Ia tidak akan ingat tentang hal ini kalau saja ia tidak melihat sikap bayangan yang mencurigakan tadi. Bayangan itu tidak melanjutkan perkelahian dengannya, pada hal bayangan itu belum kalah, bahkan di dalam hutan masih ada kawannya. Dan suitan tadi, bukankah itu merupakan isyarat agar bayangan yang melawannya itu pergi meninggalkannya? Agaknya ia sengaja dipancing dengan akal “memancing harimau meninggalkan sarang”, tentu untuk mengambil atau mengganggu anak harimau.
Pangeran Souw Han! Teringat ini, Liong-li meloncat, meninggalkan tepi hutan itu dan kembali ke gedung tempat tinggal Pangeran Souw Han. Jantungnya berdebar penuh ketegangan ketika ia tiba di atas genteng rumah Pangeran Souw Han. Dengan ringan tubuhnya lalu meluncur turun dan ia memasuki rumah melalui pintu samping.
Ketika ia tiba di depan pintu kamar sang pangeran, hatinya lega karena nampaknya tidak ada terjadi sesuatu dan sunyi saja di situ. Tentu pangeran telah pulas, juga lima orang pelayan di
385
belakang. Kasihan sang pangeran, pikirnya sambil tersenyum. Terlalu lelah dia sehari tadi sehingga kini tentu sedang pulas dan bermimpi indah tentang pengalamannya siang tadi.
Ia tidak tega untuk mengetuk pintu menggugahnya, maka ia lalu mengambil jalan memutar ke samping, dan mencoba untuk membuka jendela dengan dorongan. Akan tetapi, daun jendela itu terbuka dengan mudah. Tidak dikunci! Betapa sembrononya sang pangeran, dan juga para pelayan dayang itu. Jendela dibiarkan tidak dikunci dari dalam! Ia membuka jendela dan melompat ke dalam.
Gelap di dalam. Ia lalu menyalakan lilin dan ketika memandang ke arah pembaringan, tubuh pangeran nampak tidur miring menghadap ke dinding. Kelambunya tertutup dan sepasang sepatu pangeran itu berjajar rapi di bawah pembaringan.
Melihat tubuh pangeran itu rebah miring, bergolak pula darah di tubuh Liong-li. Tidak, ia tidak akan menuruti nafsu berahinya. Akan tetapi ia harus menjenguk sang pangeran, melihat bahwa dia selamat dan setelah yakin, baru ia akan pergi lagi.
Dihampirinya pembaringan. Disingkapnya kelambu dan...... ia terbelalak, mukanya berubah pucat sekali.
“Pangeran.......!” Ia menjerit lirih sambil menubruk. Akan tetapi, ia terkulai lemas dan di lain saat ia telah merebahkan mukanya di dada yang sudah tidak lagi berdetak atau bernapas itu. Pangeran Souw Han telah tewas!
“Ya Tuhan.......! Pangeran Souw Han......!”
386
Liong-li menggigit bibirnya sendiri, menahan sekuatnya untuk tidak menjerit dan menangis. Beberapa menit kemudian, setelah ia merebahkan kepalanya di dada yang tak bernapas lagi itu, ia bangkit, mengusap kedua mata yang sempat basah, lalu memeriksa. Sebentar saja ia menemukan sebab kematian pria itu. Pelipis kirinya retak oleh pukulan yang amat kuat dan dia tentu tewas seketika tanpa mampu berteriak lagi. Dia telah dibunuh secara kejam!
Ia bangkit berdiri, menatap wajah yang tampan itu, wajah yang kini nampak lebih tenang dari pada biasanya, dan bibir itupun mengembangkan senyum mati. “Pangeran, maafkan saya...... engkau mati karena terlibat penyelidikan saya. Tenangkan dirimu, pangeran. Aku bersumpah untuk membalas kematianmu, akan kubunuh orang yang telah menewaskanmu!” Setelah berkata demikian, ia menyelimuti tubuh pangeran itu sampai ke lehernya, kemudian ia mulai menyelidik.
Kamar itu jelas dimasuki orang dan nampak barang berserakan. Terutama sekali lemari pakaian. Pakaian yang biasa ia pakai terutama berserakan di luar lemari. Kemudian ia lari ke bagian belakang dan makin gemaslah ia ketika melihat betapa lima orang dayang pelayan itupun telah mati semua! Juga mati karena pukulan pada kepala mereka!
“Jahanam Pangeran Souw Cun!” Liong-li mengepal tinju. Ia merasa pasti bahwa tentu pangeran jahanam itu yang telah membunuh Pangeran Souw Han dan enam orang dayang pelayannya. Siapa lagi kalau bukan Pangeran Souw Cun itu?
387
Pagi tadi mereka bertengkar. Pangeran Souw Han telah mengeluarkan kata-kata ancaman. Dan untuk menjaga agar tidak ada saksi bahwa dia pernah menculik selir Pangeran Souw Han, maka lima orang dayang pelayan itupun dibunuh! Kalau ia berada di kamar itu, tentu akan dibunuh pula. Dan kini, melihat bahwa ia tidak berada di kamar, tentu Pangeran Souw Cun semakin curiga dan tahu bahwa ia adalah seorang penyelundup dan penyelidik yang menyamar selir Pangeran Souw Han.
“Keparat engkau Pangeran Souw Cun! Akan kubasmi engkau dan semua antek-antekmu!” katanya dengan suara mendesis.
Biasanya Liong-li merupakan seorang yang dapat menguasai perasaannya dan tidak mudah terseret oleh nafsu amarah. Akan tetapi sekali ini, ia merasa demikian sedih dan marah sehingga ia seperti lupa diri. Kedua matanya yang mencorong itu mengeluarkan sinar berapi-api dan mata itu masih selalu basah air mata yang ditahan-tahannya sehingga tidak sempat mengalir. Cuping hidungnya kembang kempis dan bibirnya bergerak-gerak, dagunya mengeras. Ia saat itu berubah menjadi Dewi Maut sendiri!
Tengah malam telah lama lewat ketika bayangan Liong-li yang dibakar kemarahan itu berkelebat di atas wuwungan rumah pangeran Souw Cun. Seorang ahli silat yang mempunyai banyak musuh, yang hidupnya selalu dibayangi bahaya, haruslah selalu waspada. Dan perasaan duka dan marah mengurangi kewaspadaan itu.
388
Demikianlah pula dengan Liong-li. Karena hatinya dibakar dendam kemarahan, ia lupa akan keadaan dirinya, lupa bahwa ia sedang dalam penyamaran, sedang melakukan tugas penyelidikan. Yang memenuhi ingatannya hanyalah bahwa pangeran yang disayangnya telah dibunuh secara kejam dan ia harus membalas dendam terhadap pembunuhnya!
Hal ini mengurangi kewaspadaannya sehingga ia tidak tahu sama sekali bahwa ia seperti masuk dalam perangkap yang dipasang orang-orang yang amat cerdik dan lihai. Tidak ada lagi kecurigaan penuh kewaspadaan yang selalu menyertai dirinya, dan ia menjadi semberono. Begitu saja ia melompat ke atas wuwungan rumah, kemudian dengan penuh keberanian karena marah ia melayang turun ke pekarangan samping gedung tempat tinggal Pangeran Souw Cun.
Begitu kedua kakinya turun menginjak tanah, tiba-tiba terdengar bentakan-bentakan nyaring dari sekelilingnya dan bermunculan banyak sekali orang, ada belasan orang jumlahnya.
“Tangkap Kwi-eng-cu (Si Bayangan Iblis)!”
“Dia telah membunuh Pangeran Souw Han!”
“Tangkap penjahat!”
“Bunuh Si Bayangan Iblis!”
Liong-li yang tadinya marah sekali, kini terkejut bukan main mendengar teriakan-terikan ini. Ia disangka Si Bayangan Iblis! Bukan itu saja, ia malah dituduh pembunuh Pangeran Souw Han!
389
Ini merupakan perangkap yang berbahaya sekali! Jelas bahwa mereka sudah tahu akan kematian Pangeran Souw Han dan ini membuktikan bahwa pembunuhnya adalah Pangeran Souw Cun dan antek-anteknya.
Akan tetapi ia tidak sempat banyak berpikir tentang ini karena pada saat itu dirinya sudah dikepung. Ketika ia hendak meloncat kembali naik ke atas wuwungan, ia melihat di atas genteng telah berdiri beberapa bayangan orang pula. Ia telah terkepung di sekelilingnya, bahkan di atasnya! Dan pada saat itu, beberapa orang sudah mulai menyerangnya dengan senjata tajam dan melihat gerakan mereka, ia tahu bahwa mereka adalah orang-orang yang lihai.
Pakaian mereka menunjukkan bahwa mereka adalah pengawal-pengawal dan jagoan- jagoan peliharaan Pangeran Souw Cun, Di antara mereka terdapat pula dua orang yang pagi tadi menangkapnya, bahkan kemudian mencambuknya. Masih nampak jalur-jalur merah di muka mereka ketika Pangeran Souw Han membalas dengan mencambuki mereka itu. Ingatan ini saja mendatangkan kembali kenangan manis betapa Pangeran Souw Han membelanya dan menyayangnya. Timbullah kemarahannya lagi.
“Jahanam-jahanam busuk!” bentaknya dan sekali tangannya bergerak, nampak sinar hitam berkelebat, disusul sinar itu bergulung-gulung dan dua orang yang pagi tadi mencambukinya itu mengeluarkan teriakan kesakitan dan mereka pun jatuh bergulingan, sengaja menggulingkan tubuh menjauh sambil mengaduh-aduh karena lengan kanan yang memegang pedang
390
telah terbabat sinar hitam dan putus! Tentu saja hal ini mengejutkan semua orang yang mengeroyoknya.
“Aha! Kiranya Hek-liong-li......!”
Liong-li membalik dan melihat siapa yang berseru itu. Sesosok bayangan tinggi kurus agak bongkok melayang turun dari atas genteng dan ketika bayangan itu tiba di depannya, ia mengenalnya sebagai Bouw Sian-seng, guru sastra yang nampak lemah dan tolol itu, yang pagi tadi juga telah menyiksanya!
Karena agaknya para pengawal terkejut dan gentar mendengar disebutnya Hek-liong-li, apa lagi melihat betapa dua orang kawan mereka kehilangan lengan kanan dalam segebrakan saja begitu Hek-liong-li menggerakkan pedangnya, kini mereka menahan serangan dan hanya memandang dengan penuh perhatian kepada wanita yang mengenakan pakaian serba hitam, bertopeng saputangan sutera hitam dan memegang sebatang pedang hitam yang memiliki sinar mengiriskan itu.
“Dan kiranya engkau yang menyamar sebagai guru tolol yang menjadi pemimpin para penjahat di istana!” Liong-li berseru.
“Ha-ha! Yang menjadi Si Bayangan Iblis ternyata Hek-liong-li. Kepung! Tangkap atau bunuh!” Bouw Sian-seng dengan suaranya yang parau berteriak dan dia sendiri sudah melolos sebatang rantai baja yang tadinya dijadikan sabuk, lalu memutar rantai baja itu, menyerang dengan gerakan yang cepat dan kuat sekali.
391
Liong-li sudah menjadi marah bukan main. Ia datang untuk membalas kematian Pangeran Souw Han kepada Pangeran Souw Cun dan kaki tangannya, akan tetapi kini ia malah dituduh sebagai pembunuh Pangeran Souw Han, dan juga dituduh sebagai Kwi-eng-cu!
“Keparat!” bentak Liong-li dan iapun menggerakkan pedang Hek-liong-kiam untuk menangkis, mengerahkan tenaga agar rantai baja terbabat putus.
“Tranggg......!!” Bunga api berpijar dan Liong-li terkejut sekali. Rantai baja itu tidak putus, membuktikan bahwa rantai itu terbuat dari baja pilihan yang dapat menahan Hek-liong-kiam, juga ia merasa betapa lengan kanannya tergetar.
Kiranya si kurus agak bongkok yang kelihatan sebagai seorang sasterawan lemah ini memiliki sin-kang yang hebat, mengingatkan ia akan bayangan hitam yang pernah dilawannya dan yang menyerangnya dengan paku! Jelas bahwa bayangan hitam yang tadi bertubuh kurus pendek, tidak jangkung seperti ini. Akan tetapi, Bouw Sian-seng ini ternyata lihai sekali dan kini rantai baja itu sudah menyambar-nyambar dengan ganas dan dahsyatnya. Iapun memutar pedangnya menangkis dan balas menyerang.
Anak buah Bouw Sian-seng yang datang mengeroyok rata-rata memiliki kepandaian yang tinggi dan karena tingkat kepandaian Bouw Sian-seng seimbang dengannya, maka dikeroyok belasan orang lihai itu, Liong-li mulai terdesak. Akan tetapi begitu ia menggerakkan pedangnya dan memainkan Sin-liong Kiam-sut
392
(Ilmu Pedang Naga Sakti), belasan orang pengeroyok itu terkejut karena kembali ada dua orang pengeroyok yang terluka oleh sambaran sinar pedang.
Ilmu pedang ini memang hebat sekali, apa lagi kalau dimainkan bersama Pek-liong karena ilmu ini adalah hasil rekaan Liong-li dan Pek-liong yang mengambil inti sari dari ilmu pedang masing-masing, mengambil yang kuat membuang atau menutupi yang lemah dan menggabungkannya menjadi ilmu pedang itu.
“Kepung ketat, jangan sampai lolos!” Bouw Sian-seng berseru dengan marah sekali dan diapun mempercepat putaran rantai bajanya, menyerang dengan marah. Para pembantunya mendesak pula dan kepungan mereka semakin rapat sehingga kembali Liong-li sibuk sekali karena datangnya serangan seperti hujan membuat ia hampir tidak ada kesempatan sama sekali untuk membalas.
“Trang-trang-tranggg.......!” Pedang pusaka Naga Hitam menangkisi banyak senjata para pengeroyok dan dua batang golok patah-patah ketika bertemu dengan Hek-liong-kiam. Akan tetapi karena terpaksa menangkis banyak senjata, Liong-li tidak sempat lagi mengelak dengan baik ketika rantai yang bergulung-gulung itu menghantam dengan totokan maut ke arah dadanya. Ia hanya mampu merendahkan tubuh dan miring sedikit, namun ini tidak cukup dan ujung rantai masih mengenai pangkal lengan kirinya bagian luar sehingga bajunya terobek dan kulitnya terluka mengucurkan darah.
393
Liong-li terkejut dan mengelebatkan pedangnya ke arah leher Bouw Sian-seng yang ternyata lihai sekali itu. Bouw Sian-seng terpaksa harus mundur karena sambaran pedang itu dapat memenggal lehernya dan dari belakang sebuah tendangan menyambar keras dan biarpun sudah dielakkan tetap saja mengenai paha kanan Liong-li bagian belakang.
Pendekar wanita itu terhuyung dan untung ia masih sempat memutar pedangnya menghalau rantai yang kembali sudah menyambar dahsyat. Akan tetapi, luka di pangkal lengannya terasa nyeri dan juga bekas tendangan tadi cukup keras membuat ia tidak leluasa lagi memainkan Liu-seng-pouw sehingga gerakannya tidaklah selincah tadi. Ia dalam bahaya!
Melihat ini, Bouw Sian-seng tertawa, “Ha-ha-ha, Hek-liong-li, sekali ini engkau tidak akan dapat lolos dari tanganku! Engkau telah berani menjadi Kwi-eng-cu yang mengacaukan istana, bahkan berani membunuh Pangeran Souw Han!”
Teriakan ini cukup lantang dan terdengarlah para pengawal itu berteriak-teriak.
“Basmi Kwi-eng-cu!”
“Tangkap pembunuh Pangeran Souw Han!”
“Bunuh saja siluman ini!”
Gawat keadaannya, pikir Liong-li. Ia berada di situ untuk menyelidiki Kwi-eng-cu, dan iapun hendak membalas dendam atas kematian Pangeran Souw Han. Akan tetapi sebaliknya ia
394
malah dituduh membunuh Pangeran Souw Han dan disangka Kwi-eng-cu. Sikap Bouw Sian-seng dan para anak buahnya itu, pembantu-pembantu Pangeran Souw Cun, sungguh membuat ia menjadi bingung. Sikap mereka itu menunjukkan bahwa mereka tidak membunuh Pangeran Souw Han, juga Bouw Sian-seng bukan Kwi-eng-cu. Ataukah semua itu hanya sandiwara belaka!
Pikirannya tidak dapat bekerja banyak, karena seluruh perhatiannya harus ia curahkan kepada gerakan tubuhnya untuk menyelamatkan diri dari pengepungan yang demikian ketatnya.
Tiba-tiba nampak sesosok bayangan hitam lain menyambar turun dari atas genteng dan begitu bayangan ini meluncur turun ketengah-tengah medan perkelahian, bagaikan seekor naga menyambar turun dari angkasa, dua orang pengeroyok berseru kaget dan merekapun roboh terpelanting ke kanan kiri oleh tamparan tangan orang itu. Kemudian, orang itu sudah mencabut sebatang pedang, memutarnya dan nampaklah gulungan sinar putih membantu sinar hitam pedang Hek-liong-kiam. Melihat ini, Bouw Sian-seng terkejut bukan main.
“Pek-liong-eng (Pendekar Naga Putih)......!”
Mendengar ucapan ini, semua pengeroyok kembali terkejut. Tentu saja mereka pernah mendengar nama besar Pek-liong-eng yang merupakan pasangan dari Hek-liong-li!
Akan tetapi hanya sebentar saja Bouw Sian-seng terkejut. Kini terdengar lagi suaranya, dan suara itu terdengar gembira bercampur tegang, seperti pemburu yang melihat masuknya dua ekor harimau ke dalam perangkap.
395
“Kurung mereka, jangan sampai lolos! Cepat pukul tanda bahaya umum. Cepat......!” Dan Bouw Sian-seng sendiri menyerang Pek-liong dengan rantai bajanya. Gerakannya memang dahsyat sekali dan melihat ini, Pek-liong menangkis dengan pedangnya.
“Tranggg......!” Bunga api berpijar menyilaukan mata dan Bouw Sian-seng meloncat ke belakang, kaget karena lengannya yang memegang rantai tergetar hebat. Juga Pek-liong maklum akan kekuatan lawan, maka menggunakan kesempatan selagi lawan mundur, dia mendekati Liong-li yang sudah mengamuk dan merobohkan dua orang pengeroyok lagi itu.
“Mari kita pergi dari sini!”
Liong-li tadi tentu saja gembira bukan main melihat munculnya orang yang paling dipercaya di dunia ini. Biarpun Pek-liong mengenakan pakaian serba hitam dan, menutupi muka dengan sapu tangan, pada hal biasanya dia selalu berpakaian putih, namun belum juga pedang Pek-liong-kiam dicabut, baru melihat gerakannya meluncur turun saja ia sudah menduga siapa orangnya.
Tentu saja hatinya menjadi besar. Dengan Pek-liong di sampingnya, ia berani menantang dan menentang siapapun juga! Hatinya menjadi besar dan dengan bantuan Pek-liong, ia merasa yakin akan mampu membasmi Pangeran Souw Cun dengan semua kaki tangannya untuk membalaskan kematian Pangeran Souw Han.
“Tidak! Bantu aku membasmi Pangeran Souw Cun dan semua anteknya! Aku harus membalaskan kematian Pangeran Souw
396
Han!” serunya dan Pek-liong terkejut dan heran sekali mendengar suara dan melihat sikap rekannya itu. Baru sekarang ini dia melihat rekannya itu kehilangan ketenangannya, kehilangan keseimbangannya dan dipengaruhi perasaan dendam dan marah yang hebat!
“Heiiiii! Apa yang membuat engkau menjadi lemah? Jangan tenggelam ke dalam perasaan, bangunlah dari mimpi dan lihat bahwa kalau sampai tanda bahaya umum dipukul, kita berdua takkan mampu menyelesaikan tugas dengan baik!”
Ucapan Pek-liong ini langsung menembus jantung Liong-li. Kalau ia diingatkan akan ancaman bahaya, belum tentu ia akan menjadi sadar. Akan tetapi, diingatkan bahwa ia menjadi lemah oleh perasaannya, dan bahwa tugasnya belum selesai, Liong-li merasa seperti kepalanya disiram air es! Ia segera menyadari kebodohannya yang timbul karena emosi karena dendam dan amarah.
“Engkau benar, mari kita pergi!” katanya pendek dan mereka berdua menggabungkan sinar pedang hitam dan putih.
Begitu dua gulungan sinar pedang ini menyambar-nyambar, Bouw Sian-seng dan para pembantunya terkejut dan mundur. Ada kekuatan dahsyat dari dua gulungan sinar pedang yang bergabung itu sehingga empat orang yang mencoba untuk menerjangnya terlempar dan terbanting pingsan. Liong-li dan Pek-liong melompat dan menghilang ke dalam kegelapan yang masih bersisa.
397
“Kejar! Jangan sampai lolos!” Bouw Sian-seng berseru dan memimpin anak buahnya untuk mengejar. Akan tetapi ia tidak berani mendahului anak buahnya, karena kalau dia hanya seorang diri saja menghadapi Liong-li dan Pek-liong, dia merasa gentar.
Dan pada saat itu, tanda bahaya umum berupa canang yang dipukul terdengar gencar, menggegerkan seluruh kompleks istana di pagi buta itu.
Para jagoan dari semua pangeran keluar, juga pengawal dan jagoan dari kaisar sehingga ramailah kompleks istana pada saat itu. Akan tetapi mereka tidak melihat bayangan penjahat, tidak melihat Si Bayangan Iblis walaupun semua orang menjadi geger ketika mendengar bahwa yang menjadi Kwi-eng-cu atau Si Bayangan Iblis adalah pasangan pendekar yang amat terkenal di dunia persilatan, yaitu Hek-liong-li (Dewi Naga Hitam) dan Pek-liong-eng (Pendekar Naga Putih)!
Dan lebih gager lagi keadaan di dalam istana ketika terdengar berita bahwa Pangeran Souw Han dan lima orang dayang-dayangnya telah dibunuh orang, juga bahwa wanita cantik yang baru saja dijadikan selir pangeran itu telah lenyap.
Berita bersimpang siur dan kacau balau, akan tetapi mereka mendengar bahwa selir itu bukan lain adalah Hek-liong-li atau juga seorang dari Bayangas Iblis! Tentu saja keadaan menjadi gempar.
◄Y►
398
Karena tidak mungkin kembali ke rumah Pangeran Souw Han setelah kini diketahui rahasianya bahwa ia adalah Hek-liong-li, bahkan ia dituduh membunuh pangeran itu di samping tuduhan bahwa ia adalah Si Bayangan Iblis, juga tidak mungkin melarikan diri ke luar dari kompleks istana karena tanda bahaya umum, sudah dicanangkan dan semua jagoan istana sudah keluar, maka terpaksa Liong-li menurut saja ketika Pek-liong mengajaknya bersembunyi di bagian pemeliharaan kuda yang luas itu.
Di tempat itu dipelihara puluhan ekor kuda, tempatnya luas sekali dan agak jauh dari istana karena baunya yang tentu akan mengganggu para bangsawan.
Untung bahwa di tempat itu, para pekerja masih belum bangun. Hari masih terlampau pagi. Liong-li diajak bersembunyi ke dalam gudang ransum kuda di mana terdapat tumpukan jerami kering dan banyak bahan makanan kuda. Setelah menutupkan daun pintu gudang itu, Pek-liong baru mengajak Liong-li bercakap-cakap dengan berbisik, sambil duduk di atas jerami.
Sejenak mereka duduk berhadapan dan saling berpandangan di bawah sinar lampu yang masuk dari luar melalui lubang-lubang di atas pintu. Kemudian Pek-liong, mengeluarkan seguci arak, menuangkan dalam dua cawan dan mereka minum sedikit arak untuk menghangatkan badan.
“Engkau luka?” dengan singkat Pek-liong bertanya.
“Luka kecil, tidak berarti. Pangkal lengan kiriku lecet dan paha belakang yang kanan kena tendang.”
399
“Biar kuperiksa sebentar,” kata Pek-liong dan dua orang yang sudah demikian akrab hubungan mereka secara batiniah itu memang tidak pernah banyak bicara. Dari pandang mata dan gerak gerik saja mereka seperti dapat mengetahui kehendak masing-masing.
Liong-li menghabiskan arak dalam cawannya, lalu rebah menelungkup, Pek-liong memeriksa luka di pangkal lengan kiri melalui baju yang robek. Kulit pangkal lengan yang putih mulus itu tersobek sepanjang satu jari, akan tetapi untung tidak begitu dalam lukanya.
Pek-liong menggunakan obat bubuk untuk luka, ditaburkan luka-luka itu sampai tertutup semua dan menekannya sedikit, lalu membalut lengan itu dengan kain putih bersih setelah merobek baju yang memang sudah robek bagian lengan itu. Ia mengeluarkan sebuah baju hitam lain dan Liong-li segera bertukar baju, lalu menelungkup kembali setelah melepaskan ikat pinggangnya.
Tanpa raga-ragu sedikitpun nampak di antara keduanya, Pek-liong menurunkan celana panjang dari pinggang yang ramping itu. Biarpun kini pinggul dan paha nampak, sedikitpun Pek-liong tidak memperhatikan, penglihatan yang pada umumnya amat menarik hati pria itu. Dia bahkan seperti tidak melihat pinggul itu dan yang kelihatan hanyalah luka di belakang paha kanan.
Memang telah terjalin hubungan yang amat aneh dan luar biasa antara kedua orang muda ini. Mereka ita saling mencinta, saling menyayang, saling mengagumi dan menghormati. Bagi Pek-liong
400
tidak ada wanita di dunia ini yang lebih disayangnya dari pada Liong-li, dan demikian sebaliknya. Akan tetapi, di dalam kasih sayang ini, sedikitpun tidak pernah mereka membiarkan gairah nafsu berahi memasukinya!
Bahkan mereka seperti telah merasa yakin bahwa sekali mereka membiarkan gairah itu masuk dalam kasih sayang mereka, sekali mereka saling mencinta seperti dua orang kekasih dan menumpahkan perasaan mereka dalam hubungan asmara, maka ikatan batin yang kokoh kuat itu akan putus atau goyah! Karena itu, keduanya tidak pernah terjerumus. Lebih baik mereka mencari pasangan lain untuk memenuhi kebutuhan gairah mereka, dari pada mencemari hubungan mereka yang lebih dekat dari pada suami isteri, lebih dekat dari pada saudara, lebih dekat dari pada sahabat itu.
Aneh memang! Karena itulah, maka kini biarpun nampak pinggul telanjang Liong-li, sedikitpun Pek-liong tidak tergerak gairahnya, tidak terangsang, bahkan hebatnya, tidak melihatnya!
Diapun memeriksa luka memar itu. Kulit yang putih mulus di paha belakang itu nampak dihiasi tanda membiru bekas tendangan. Dia cepat menggunakan jari-jari tangannya yang ahli untuk memijat sana-sini, mengurut sana-sini di sekitar tempat yang tertendang, memperlancar jalan darah sehingga darah segar dapat membanjiri daerah yang tertendang dan dalam waktu singkat saja paha itupun pulih kembali, rasa nyeripun hilang.
“Terima kasih,” kata Liong-li singkat sambil membetulkan kembali pakaiannya. “Sekarang ceritakan bagaimana engkau dapat
401
muncul di sini. Apakah Cian Ciang-kun yang menyampaikan suratku?”
Pek-liong mengangguk. “Baru pagi kemarin aku diselundupkan masuk oleh Cian Ciang-kun sebagai pekerja di bagian pemeliharaan kuda. Malam tadi aku melakukan penyelidikan dan bertemu dengan bayangan hitam yang kemudian lari menyelinap ke dalam bangunan Pangeran Kim Ngo Him.” Dengan singkat Pek-liong menceritakan pengalaman malam tadi.
“Ketika aku hendak kembali ke istal, tadi aku melihat engkau dikeroyok. Keadaan tadi berbahaya sekali dan terpaksa sehari ini engkau harus bersembunyi di sini.”
Liong-li mengangguk dan menundukkan mukanya, menghela napas panjang untuk menekan perasaan duka yang timbul ketika ia teringat akan Pangeran Souw Han.
Pek-liong kembali mengerutkan alisnya. Belum pernah dia melihat wanita yang dikaguminya ini, wanita yang diakuinya bahkan lebih cerdik dari padanya, mungkin lebih berani dan tabah, menghela napas seperti itu.
“Liong-li, engkau tadi bicara tentang kematian Pangeran Souw Han......?”
Liong-li mengangkat mukanya dan benar saja. Melalui sinar yang masuk ke gudang itu, Pek-liong melihat betapa sepasang mata yang biasanya penuh semangat itu, kini nampak sayu!
402
Ini hanya berarti bahwa kematian pangeran itu amat mendukakan hati Liong-li, berarti pula bahwa wanita luar biasa ini telah jatuh cinta kepada Pangeran Souw Han! Sungguh hebat tentunya pangeran itu, yang telah dapat menjatuhkan hati seorang wanita seperti Liong-li!
“Dia terbunuh, Pek-liong. Pangeran itu...... ah, dia sama sekali bersih, tidak berdosa seperti anak bayi, tidak ikut memperebutkan kekuasaan, bahkan tidak perduli dan tidak berat sebelah, tidak memihak, dia begitu baik budi, bijaksana dan lembut. Dan orang tega membunuhnya, bersama lima orang pelayannya!” Liong-li mengepal tinju tanda bahwa hatinya masih merasa nyeri sekali.
“Pangeran Souw Cun yang melakukannya?”
“Tadinya kusangka demikian. Kini aku ragu-ragu. Mereka itu tadi mengenalku melalui pedang dan menuduh akulah Kwi-eng-cu dan aku pula pembunuh Pangeran Souw Han.” Wanita itu menggeleng kepala.
“Memang ada dua kemungkinan! Mereka sama sekali tidak ada sangkut pautnya dengan kematian Pangeran Souw Han atau mereka itu pura-pura tidak tahu?”
Liong-li mengangguk. Begitu menyenangkan kalau ada Pek-liong di dekatnya. Tidak perlu bicara berbelit-belit. Pria ini mampu menangkap semua isi hatinya tanpa kata sekalipun!
“Akan tetapi aku condong dugaan kedua. Kematian Pangeran Souw Han baru kuketahui sendiri. Semua penghuni rumah itu tewas dan tidak ada orang lain yang tahu. Dan begitu mereka
403
mengeroyokku, ada yang meneriakkan bahwa aku telah membunuh Pangeran Souw Han. Mereka telah tahu!”
Pek-liong meraba-raba dagunya dan Liong-li tahu bahwa gerakan itu menunjukkan bahwa rekannya ini sedang berpikir keras. Iapun membiarkan dia berpikir mengasah otak dan ia terus saja mengalirkan keterangan-keterangan yang diperolehnya selama ia melakukan penyelidikan. Tentang Permaisuri Bu Cek Thian, tentang Pangeran Souw Han, tentang Pangeran Souw Cun, dan tentang Pangeran Kim Ngo Him.
“Jadi kalau menurut pendapatmu, yang patut dicurigai menjadi dalang semua kekacauan yang ditimbulkan Kwi-eng-cu, semua pembunuhan, juga pembunuhan terhadap Pangeran Souw Han, adalah dua orang, yaitu Pangeran Souw Cun atau Pangeran Kim Ngo Him?”
“Tepat. Tadinya juga aku mencurigai Permaisuri, akan tetapi setelah melihat dari dekat, aku tidak yakin bahwa ia terlibat. Jelas bahwa ia menentang Kwi-eng-cu yang menggelisahkan hatinya pula. Itulah sebabnya ia mempergunakan aku untuk menyelidik dan menyerahkan aku kepada Pangeran Souw Han.”
“Atau ada kemungkinan ke tiga!”
Liong-li menatap wajah yang tampan gagah itu dengan penuh selidik. Sinar matahari mulai muncul dan cuaca dalam gudang itu semakin cerah. Melihat wajah pria ini saja sudah menimbulkan ketenangan di hatinya dan mengingatkannya bahwa ia sedang berada di tengah kancah pelaksanaan tugas yang berbahaya
404
sehingga tidak ada waktu untuk membiarkan diri terseret arus perasaan.
“Pihak dari luar istana yang menyusup ke dalam?” tanyanya.
Pek-liong mengangguk. “Keadaan di istana, menurut cerita Cian Ciang-kun sedang keruh. Menguntungkan sekali bagi mereka yang suka mengail di air keruh.”
Liong-li mengangguk-angguk. “Engkau mempunyai alasan untuk mencurigai sesuatu?”
“Nanti dulu. Coba jelaskan siapa orang tinggi kurus yang memimpin pengeroyokkan terhadap dirimu tadi?”
“Yang bersenjata rantai baja?”
“Benar, dia lihai sekali.”
“Di hari-hari biasa, dia menyamar sebagai guru sastera dari Pangeran Souw Cun. Namanya atau nama panggilannya Bouw Sian-seng.”
“Jelas dia bukan orang biasa, bukan pula tokoh biasa dalam dunia persilatan. Ilmu silatnya tinggi, tenaga sin-kangnya juga amat kuat. Dia tentu seorang tokoh besar, seorang datuk! Coba, kuingat-ingat. Siapa orang tua tinggi kurus yang agak bongkok, bersenjata rantai baja dan..... pandai sastera......? Hemm, aku ingat sekarang!”
405
Pendekar itu menatap wajah Liong-li penuh selidik sehingga Liong-li merasa seolah-olah sinar mata itu menjenguk ke dalam dadanya dan mengaduk-aduk di sana mencari sesuatu.
“Liong-li, katakan, apakah engkau mengenal suaranya? Katakan dari mana kiranya dia berasal, kalau didengar dari logat bicaranya?”
“Nanti dulu........” Liong-li mengerutkan alisnya dan tangan kirinya menggosok, mengelus dan menggosok batang hidungnya yang mancung, tanda bahwa ia sedang tenggelam ke dalam pemikiran mendalam.
“Kalimatnya yang terpanjang hanya ketika tadi memerintahkan anak buahnya mengepung ketat, tidak membiarkan aku lolos, dan untuk memukul tanda bahaya umum. Dalam keadaan tegang itu tentu dia tidak dapat menyembunyikan logat bicaranya yang aseli. Ya, aku ingat! Dia tentu datang dari selatan, jelas ketika tadi ia menyebut kata “kepung” dengan kata “kurung”. Itu kebiasaan bahasa orang dari selatan!”
“Tepat dugaanku! Wah, Liong-li, kalau tidak keliru perhitunganku, kita berhadapan dengan musuh besar. Pantas dia berusaha mati-matian untuk membunuhmu. Keadaannya, senjatanya, kelihaiannya, dan logat bicaranya mengingatkan aku akan Lam-hai Mo-ong (Raja Iblis Laut Selatan)!”
Liong-li tertegun. “Aihhh! Seorang di antara Kiu Lo-mo (Sembilan Iblis Tua)?”
406
Tentu saja wanita perkasa ini terkejut bukan main mendengar dugaan Pek-liong bahwa Bouw Sian-seng itu mungkin sekali Lam-hai Mo-ong Pada waktu itu, sejak beberapa tahun yang lalu di dunia kang-ouw muncul Kiu Lo-mo yang menggemparkan dunia persilatan.
Mereka adalah sembilan orang datuk sesat yang selama duapuluh tahun lebih menghilang dari dunia persilatan. Akan tetapi, selama beberapa tahun ini mereka turun gunung dan menjadi datuk-datuk sesat. Selama ini, Pek-liong dan Liong-li pernah bertentangan dengan dua orang di antara mereka, yaitu pertama dengan Hek Sim Lo-mo (Baca Sepasang Naga Penakluk Iblis) dan Siauw-bin Ciu-kwi (Baca Rahasia Patung Emas).
Masih ada tujuh orang lagi yang sewaktu-waktu dapat saja muncul untuk memusuhi mereka karena tentu mereka itu tidak akan tinggal diam saja mendengar bahwa Hek Sim Lo-mo dan Siauw-bin Ciu-kwi, dua orang di antara mereka tewas di tangan Pek-liong dan Liong-li. Dan kini, tiba-tiba saja dalam menyelidiki Kwi-eng-cu, mereka dihadapkan kepada seorang di antara Kiu Lo-mo. Walaupun ini baru dugaan saja dari Pek-liong, namun kalau pendekar ini menduga, maka dugaan itu bukan hanya ngawur belaka dan biasanya tentu tidak keliru.
Tiba-tiba pendengaran mereka yang tajam menangkap langkah kaki di depan gudang. Pek-liong hendak memberi isyarat kepada Liong-ji, namun wanita itu sudah tahu pula apa yang harus ia lakukan dan tubuhnya bergerak cepat menyusup ke dalam tumpukan jerami kering. Juga ia sudah menyambar dua batang pedang Pek-liong-kiam dan Hek-liong-kiam yang tadi diletakkan
407
di atas lantai, juga pakaian hitam yang tadi dipakai Pek-liong, dibawa masuk ke dalam tumpukan jerami.
“A-cin! Haii, A-cin, di mana kamu?” terdengar teriakan orang di luar gudang itu.
Pek-liong tadi sudah menyambar sebatang garpu bergagang panjang yang biasa dipergunakan untuk mengumpulkan dan mengatur jerami kering.
“Aku di sini......!” jawabnya sambil menuju ke arah pintu gudang, lalu membukanya dengan tangan kanan masih memegang gagang garpu.
Kiranya orang itu adalah seorang mandor di bagian pemeliharaan kuda itu, tubuhnya gendut dan matanya sipit, seperti mata babi. Dengan mata sipitnya dia memeriksa keadaan dalam gudang itu, lalu mengangguk-angguk. Mulutnya yang tadinya cemberut kini menyeringai senang. Kini sikapnya seperti orang yang penuh ketegangan akan tetapi juga kegembiraan bahwa dia datang membawa berita yang mengejutkan.
“Kukira engkau masih tidur di gudang ini, A-cin. Kiranya sepagi ini engkau telah menggarpu jerami!”
“Toako, kalau ingin maju orang harus kerja keras,” kata Pek-liong dengan muka yang bodoh dan lugu. Untung dia tidak pernah melepaskan penyamarannya sebagai seorang dusun yang bodoh, dengan kulit badan yang kini berubah kecoklatan tanda sering terbakar sinar matahari.
408
“Engkau benar dan aku girang memperoleh seorang pembantu seperti engkau. Nah, hari ini kita menghadapi pekerjaan yang banyak! Kita harus kerja keras, pagi-pagi ini harus mempersiapkan kuda, memberi makan dan membersihkan bulu mereka, mempersiapkan pelananya karena setiap waktu kuda-kuda itu akan dipakai.”
“Eh? Apakah yang terjadi, toako? Apakah istana hendak mengadakan pesta? Atau perburuan? Aku sering mendengar bahwa kalau para bangsawan hendak pergi berburu, maka hampir semua kuda di sini dipergunakan.”
“Pesta? Berburu? Ha-ha, memang ada benarnya. Apa bedanya upacara kematian dengan upacara kelahiran atau pernikahan dan yang lain? Ramai-ramai, makan-makan, perayaan dan upacara. Dan memang ada perburuan besar, A-cin, bukan binatang buas yang diburu, melainkan mahluk yang lebih menyeramkan lagi, mahluk pembunuh yang......“ Si gendut itu menghentikan kata-katanya dan menengok keluar seperti orang yang tiba-tiba teringat dan menjadi ketakutan.
“Eh, kenapa toako? Siapa yang mati? Siapa pula yang diburu?”
“Sudahlah, A-cin. Aku tidak berani banyak bercerita. Jangan-jangan kepalaku ini yang akan dipenggal kalau banyak mengobrol. Akan tetapi, engkau orang baru dan tidak banyak tahu, maka perlu kauketahui bahwa semalam, Pangeran Souw Han dibunuh orang, dan sekarang seluruh jagoan dan pengawal istana akan mencari pembunuh itu yang diduga masih
409
bersembunyi di dalam kompleks istana. Nanti dilakukan upacara penguburan, maka banyak kuda akan dipakai.”
“Toako, siapakah itu Pangeran Souw Han; dan mengapa dia dibunuh orang? Siapa pembunuhnya?” Dengan lagak yang bodoh dan jujur, Pek-liong memancing.
“Pangeran Souw Han adalah pangeran yang paling baik di seluruh istana. Dia tampan sekali, halus budi pekertinya, dermawan. Bahkan terhadap pekerja-pekerja kasar seperti kitapun dia bersikap ramah dan halus, sering memberi hadiah. Entah kenapa ada orang yang tega membunuhnya. Kabarnya yang membunuhnya adalah...... eh, Kwi- eng-cu yang diketahui adalah seorang wanita cantik.”
“Ehhh.......?”
“Wanita itu kabarnya berjuluk Hek-liong-li, dan ia telah menyusup ke dalam istana, bahkan menjadi seorang selir Pangeran Souw Han yang selamanya belum pernah berdekatan dengan wanita. Heran, sungguh heran, bagaimana seorang wanita tega membunuhnya....... eh, sudahlah, A-cin, engkau banyak bertanya saja. Nah bekerjalah dengan baik. Setelah selesai membersihkan gudang, cepat engkau bantu aku mempersiapkan kuda-kuda itu bersama para pembantuku yang lain. Kita akan kekurangan tenaga!” Setelah berkata demikian, si gendut meninggalkan Pek-liong.
Pek-liong menutupkan lagi pintu gudang, lalu menghampiri Liong-li yang sudah keluar dari tumpukan jerami. “Engkau sudah mendengar semua tadi?”
410
Liong-li mengangguk sambil membersihkan pakaiannya dari jerami yang menempel. “Tentu berita tentang aku menjadi Kwi-eng-cu dan membunuh Pangeran Souw Han sudah mereka sebar-sebarkan secara luas. Anehnya namamu tidak disebut, pada hal mereka sudah mengenalmu pula dari pedangmu, Pek-liong.”
“Mungkin juga si gendut itu tidak mendengarnya. Bagaimanapun juga, untuk sementara ini engkau tidak boleh memperlihatkan diri, Liong-li. Semua jagoan istana mencarimu. Di sini engkau aman dan malam nanti kita lanjutkan penyelidikan kita. Kita menyelidiki Bouw Sian-seng. Kalau benar dugaanku bahwa dia itu Lam-hai Mo-ong, kita harus memperingatkan Pangeran Souw Cun, karena mungkin saja dia sengaja diperalat oleh iblis tua itu.”
Liong-li mengangguk-angguk. “Dia diperalat atau memperalat. Itu saja pilihannya. Betapapun juga, aku yakin bahwa yang membunub pangeran Souw Han tentulah tidak ada bedanya dengan pelaku pembunuhan yang terjadi selama ini.”
“Kwi-eng-cu?”
“Mungkin itu hanya nama palsu belaka. Bayangan Iblis tidak pernah mengaku dengan nama itu. Nama itu hanya pemberian mereka di kota raja saja. Siapa tahu dugaanmu benar? Lam-hai Mo-ong menyamar sebagai Bouw Sian-seng di waktu siang, sedangkan malamnya dia menjadi Si bayangan Iblis. Mungkin diperalat Pangeran Souw Cun, mungkin juga dia memperalat pangeran itu untuk menimbulkan kekacauan di istana.”
411
“Hemmm, memang bisa saja Pangeran Souw Cun ingin menjatuhkan para saingannya. Akan tetapi juga amat mungkin Lam-hai Mo-ong menimbulkan kekacauan dan kekeruhan untuk mendapatkan keuntungan pribadi.”
“Bagaimanapun juga, kita harus membongkar rahasia Si Bayangan Iblis ini!” kata Liong-li mengepal tinju karena ia teringat lagi kepada Pangeran Souw Han yang menjadi korban.
“Engkau sehari ini bersembunyi saja di gudang ini. Kalau ada orang masuk, engkau menyusup ke dalam tumpukan jerami. Bawa pula pedangku, dan nanti kukirimkan makanan. Aku masih menanti berita dari Cian Ciang-kun, dan juga dari Cu Sui In.”
“Siapa ia? Engkau belum menceritakan.”
Dengan singkat Pek-liong menceritakan tentang keponakan isteri Ciok Tai-jin itu, yang suaminya juga menjadi korban pembunuhan Si Bayangan Iblis.
“Ia akan menyelundup ke dalam istana pula, menyamar sebagai adik misanmu dan mencarimu, tadinya ia yang akan bertugas menjadi perantara dari kita dan Cian Ciang-kun. Ia murid Kun-lun-pai. Ilmu kepandaiannya lumayan, boleh diandalkan.”
“Bagus! Kalau begitu, kita menanti berita dari mereka sebelum kita turun tangan. Malam nanti kita hanya melakukan penyelidikan saja.”
“Aku juga ingin mencari, apakah di antara para jagoan di istana ada Pek-mau-kwi Ciong Hu yang membunuh Giam Sun, paman
412
Cu Sui In itu. Dialah yang dapat menunjukkan siapa adanya Si Bayangan Iblis karena sebelum mati, Giam Sun menuliskan dua nama, yaitu Pek-mau-kwi dan Kwi-eng-cu. Nah, sekarang aku mau bekerja di luar membantu si gendut agar jangan menimbulkan kecurigaan.”
Liong-li mengangguk, akan tetapi ketika Pek-liong hendak pergi, ia memanggil lirih. Pek-liong menoleh.
“Pek-liong, kalau nanti kebetulan engkau dapat melihat peti jenazah...... Pangeran Souw Han, tolong engkau bersembahyang dalam hati untukku, katakan bahwa aku merasa menyesal dan mohon maaf bahwa dia telah menjadi korban karena aku.”
Pek-liong memandang serius dan mengangguk, di dalam hatinya merasa kasihan sekali kepada wanita yang paling disayang dan dihormatinya itu. Diapun pergi dan Liong-li menyelinap di balik tumpukan jerami, siap untuk sewaktu-waktu menyusup masuk ke dalam tumpukan jerami itu kalau ada orang lain masuk gudang.
◄Y►
Cian Hui dan Cu Sui In diterima oleh Kaisar sendiri yang didampingi Permaisuri Bu Cek Thian di dalam sebuah ruangan khusus. Kaisar Tang Kao Cung dan Permaisuri Bu Cek Thian duduk berdampingan di atas kursi gading berselaput emas dan tidak ada seorang pun ponggawa diperkenankan hadir.
Hanya ada selosin pengawal pribadi Kaisar yang merupakan orang-orang kepercayaan kaisar, lihai namun tuli dan gagu dan yang tugasnya hanyalah menjaga keselamatan kaisar dan
413
menerima perintah melalui gerakan tangan, dan dua orang pengawal pribadi Bu Cek Thian, yaitu gadis kembar Bi Cu dan Bi Hwa. Hanya mereka ini yang hadir, berdiri di belakang kaisar dan permaisuri.
Kaisar nampak marah. Alisnya berkerut dan mukanya merah, sedangkan Cian Hui dan Cu Sui In berlutut sambil menundukkan mukanya.
“Sekali lagi kami tekankan, Cian Hui!” kata Kaisar. “Kalau sekali ini engkau tidak mampu menangkap iblis yang disebut Kwi-eng-cu itu, tidak dapat menangkap pembunuh Pangeran Souw Han, kami akan memberi hukuman berat kepadamu! Kami beri waktu sampai tiga hari dan selama tiga hari kami beri wewenang kepadamu untuk melakukan penggeledahan dan penangkapan di komplek istana.
“CIAN CIANG-KUN,” kata pula permaisuri itu yang sejak tadi mendengarkan saja. “Tindakan Kwi-eng-cu memang sudah keterlaluan. Bahkan, usahamu menyelundupkan Hek-liong-li nampaknya sia-sia belaka. Karena Hek-liong-li menyusup sebagai selir Pangeran Souw Han, malah hal ini membuat Souw Han menjadi korhan dan kini Hek- liong-li entah berada di mana. Engkau harus membongkar semua rahasia ini!”
“Mohon yang mulia Hong-siang (Kaisar) dan Hong-houw (Permaisuri) sudi melimpahkan pengampunan kepada hamba. Hamba akan mengerahkan seluruh tenaga dan kemampuan hamba untuk membikin terang perkara ini. Hamba telah menyelundupkan Hek-liong-li, bahkan Pek-liong-eng, dan hamba
414
mengandalkan kemampuan mereka untuk membantu hamba menangkap Kwi-eng-cu.
“Di sini hamba menyertakan nona Cu Sui In untuk membantu hamba. Biar ia yang akan mencari Hek-liong-li dan mengaku sebagai saudara misan Liong-li yang menyamar sebagai Siauw Cu. Sedangkan hamba sendiri bersama Pek-liong-eng akan melakukan penyelidikan dengan seksama. Dan terima kasih atas kepercayaan yang diberikan oleh paduka, mohon hamba diberi wewenang untuk semua pasukan pengawal kalau saatnya tiba.”
“Permintaanmu kami kabulkan. Kamu akan kami beri tek-pai (bambu bertulis tanda kekuasaan) dan dengan tanda wewenang itu engkau boleh menghubungi para komandan pasukan pengawal yang tentu akan melakukan semua perintahmu. Nah, laksanakanlah!”
“Biarkan Sui In bersamaku. Ia dapat menyelundup ke bagian putera bersama para dayang yang kuperintahkan untuk membantu pengurusan upacara pemakaman jenazah Pangeran Souw Han agar tidak kentara. Ia dapat menyamar sebagai seorang di antara para dayangku,” kata sang permaisuri.
Setelah diperkenankan keluar, Cian Hui segera menghubungi para komandan pasukan pengawal, memperlihatkan tek-pai itu dan semua komandan menyambutnya dengan hormat sebagai wakil kaisar sendiri. Bersama mereka, Cian Hui mengatur siasat. Dia memerintahkan mereka membuat barisan tersembunyi, tidak bergerak sebelum ada perintah khusus dan selanjutnya bersiap siaga agar setiap saat dia dapat mengharapkan bantuan mereka.
415
Sementara itu, Cu Sui In diajak oleh permaisuri ke bagian puteri dan setelah serombongan dayang ia perintahkan pergi ke tempat tinggal Pangeran Souw Han untuk membantu segala pekerjaan dalam upacara pemakaman jenazah pangeran itu, Sui In diikut sertakan dengan nama baru Siauw In.
Biarpun tigabelas orang ini hanya merupakan dayang, yaitu gadis-gadis pelayan, namun semua orang yang sedang sibuk bekerja di rumah mendiang Pangeran Souw Han bersikap hormat. Biarpun dayang-dayang, mereka adalah dayang yang dikirim oleh permaisuri, maka tak seorangpun berani memandang rendah apa lagi menghina kepada mereka. Demikian besar kekuasaan dan pengaruh Permaisuri Bu Cek Thian sehingga para pangeranpun tidak berani bermain gila terhadap para dayang ini, takut kalau sampai terdengar oleh sang permaisuri dan mendapat marah.
Mula-mula memang Sui In membantu para dayang itu, ada yang membuatkan rangkaian bunga, melipati kertas perak dan kertas emas untuk korban sembahyang dan sebagainya. Akan tetapi setelah mendapatkan kesempatan, dengan dalih membersihkan rumah bekas tempat tinggal Pangeran Souw Han, ia memasuki kamar pangeran itu dan sambil menyapu dan membersihkan semua perabotan. Ia melakukan pemeriksaan dengan teliti, mencari kalau-kalau ada petunjuk tentang pembunuhan itu atau tentang hilangnya Hek-liong-li yang menyamar sebagai Siauw Cu, selir mendiang Pangeran Souw Han.
Ketika ia membersihkan tempat tidur, tanpa disengaja ia menemukan sebuah kipas di bawah bantal dan di permukaan
416
kipas ini terdapat tulisan yang masih baru. Huruf-hurufnya amat indah dan rapi. “Enci Cu kekasihku tercinta aku akan selalu berdoa biar dalam kehidupan ini kita tak dapat hidup bersama dalam kehidupan mendatang aku menjadi anjingmu setia.”
Sui In cepat menyimpan kipas itu ke dalam balik bajunya dan hatinya merasa terharu sekali. Ia dapat menduga bahwa tentu kipas ini milik mendiang Pangeran Souw Han dan tulisan inipun tulisannya karena pangeran itu terkenal seorang sastrawan yang pandai. Dan iapun mendengar bahwa Hek-liong-li menyamar sebagai selirnya dengan nama Siauw Cu.
Kepada siapa lagi sajak itu ditujukan kalau tidak kepadanya? Agaknya pangeran itu menyebut Liong-li sebagai “enci Cu” dan kalau benar demikian ia menduga bahwa tentu sang pangeran amat mencinta wanita itu!
Ketika ia membersihkan dalam almari pakaian, ia menemukan sebuah gulungan kain dan ketika ia membuka gulungan itu, ternyata itu merupakan sebuah peta yang lengkap dari kompleks istana! Cepat ia mempelajarinya dan yang amat menarik perhatiannya adalah gambaran sebuah bukit kecil penuh hutan di bagian belakang kompleks itu di mana terdapat sebuah kuil. Kuil istana! Tempatnya di puncak bukit kecil yang penuh hutan.
417
Menarik sekali. Tentu kalau ia menjadi Hek-liong-li, ia akan tertarik untuk menyelidiki tempat itu. Sebuah tempat yang amat baik untuk menjadi persembunyian orang-orang yang tidak ingin kehadirannya diketahui orang lain. Seperti misalnya Si Bayangan Iblis dan anak buahnya! Atau, seperti halnya Hek-liong-li sendiri yang sekarang dituduh menjadi Si Bayangan Iblis dan membunuh Pangeran Souw Han.
Ia tidak percaya bahwa Hek-liong-li yang membunuh Pangeran Souw Han. Dan tentang Si Bayangan Iblis, penjahat itu sudah lama mengacau di kota raja sebelum Hek-liong-li dan Pek-liong-eng mencampuri urusan itu!
Matahari telah condong ke barat ketika Sui In berhasil menyelinap ke luar dari rumah Pangeran Souw Han. Sebagai seorang dayang yang dikirim permaisuri, ia tidak pernah dicurigai orang dan dengan leluasa ia dapat menyelinap keluar. Ia harus cepat mencari Hek-liong-li seperti yang telah menjadi tugasnya.
Dan ia tidak takut karena ia merasa bahwa yang menyuruhnya adalah Cian Ciang-kun, dan bahwa di belakangnya selain terdapat Pek-liong-eng yang lebih dahulu menyelundup ke istana, juga ia telah mendapat restu atau ijin dari Sribaginda Kaisar dan Permaisuri sendiri!
Siapa yang akan berani mengganggunya? Apa lagi Permaisuri yang cerdik itu sudah membekalinya sebuah tanda kebesaran berupa cincin yang menurut permaisuri itu akan dikenal oleh semua petugas keamanan di istana dan semua orang akan tidak
418
berani mengganggunya, bahkan akan membantu dan mentaati perintahnya!
Setelah tadi mempelajari peta yang didapatkannya di lemari pakaian di kamar Pangeran Souw Han, kini dengan mudah Sui In dapat menemukan bukit yang dimaksudkan. Ketika ia tiba di luar hutan di bukit itu, tiba-tiba saja dari kanan kiri bermunculan lima orang perajurit pengawal yang agaknya melakukan perondaan sampai di situ.
“Berhenti!” bentak mereka dan lima orang itu telah berdiri tegak di depan Sui In. Mereka saling pandang ketika mengenal gadis ini berpakaian dayang, bahkan kemudian mengenal bentuk sanggul dan hiasan rambutnya sebagai dayang dari Permaisuri. Sikap mereka berubah. Kalau tadinya mereka senyum-senyum nakal, kini mereka bersikap hormat, lalu seorang di antara mereka yang berkumis tipis berkata dengan hormat.
“Bukankah nona seorang dayang dari Yang Mulia Permaisuri yang diperbantukan di rumah mendiang Pangeran Souw Han?”
“Benar sekali,” jawab Sui In, sikapnya angkuh, sesuai dengan sikap dayang Sang Permaisuri yang merasa mempunyai kedudukan dan kehormatan.
“Kalau begitu, maafkan kami. Kenapa nona berada di sini bukan di rumah mendiang Pangeran Souw Han? Hendaknya nona ketahui bahwa di mana-mana pasukan pengawal sedang sibuk mencari penjahat. Tempat seperti ini amat berbahaya bagi nona, karena sepi dan terdapat banyak hutan.”
419
Sui In maklum bahwa ia menghadapi kesulitan, maka iapun mengeluarkan cincin itu dari saku bajunya, memperlihatkannya kepada mereka sambil berkata, “Aku membawa tugas dari Yang Mulia Permaisuri!”
Melihat cincin itu, lima orang perajurit Pengawal itu cepat memberi hormat dan melangkah mundur dengan sikap segan. “Kami menanti perintah paduka!”
Cu Sui In adalah keponakan seorang bangsawan tinggi, Ciok Tai-jin. Pamannya adalah Pembantu Menteri Pajak, dan mendiang suaminya juga seorang pejabat, maka ia tidak asing dengan kebiasaan ini, ketaatan orang-orang bawahan kepada atasan. Akan tetapi biarpun demikian, melihat sikap lima orang ini, diam-diam ia merasa girang sekali. Cincin itu sungguh merupakan pelindung yang ampuh sekali!
“Aku tidak memerlukan bantuan. Minggirlah, biarkan aku lewat dan jangan kalian ceritakan kepada siapa pun tentang kehadiranku di sini!”
Lima orang itu lalu bergerak minggir dan memberi jalan. Sui In melewati mereka, lalu teringat akan sesuatu dan berkata lagi kepada mereka sambil menahan langkahnya. “Oya, kalian tentu mengenal Cian Ciang-kun, bukan?”
“Nona maksudkan perwira Cian Hui? Tentu kami mengenalnya. Bahkan dia yang kini menjadi atasan kami.”
420
“Bagus. Kalau bertemu dengan dia, katakan bahwa nona Siauw In, dayang Yang Mulia Permaisuri, sore hari ini hendak menyelidiki ke kuil di puncak bukit. Mengerti?”
Mereka memberi hormat, “Baik, nona!”
Dengan hati lapang dan bangga Sui In melanjutkan perjalanannya, memasuki hutan itu dan mendaki bukit. Ada sebuah jalan menuju ke puncak, jalan yang memang dibuat untuk para keluarga Kaisar yang pesiar. Jalan itu indah dan di kanan kiri jalan terdapat tanaman berbagai bunga, indah sekali. Juga pohon-pohon di hutan itu terpelihara.
Di sepanjang perjalanan, Sui In melihat beberapa ekor kijang berkelompok dan beberapa ekor kelinci berlarian menyelinap ke balik semak-semak ketika melihatnya. Tempat ini begini indah, begini tenang dan penuh damai, mendatangkan perasaan tenteram.
Ia sudah mulai merasa kecewa dan menyesal. Betapa bodohnya mencurigai tempat senyaman ini! Tempat termasuk hutan buatan, penuh taman dan pohon yang terpelihara indah, juga di sana sini tentu terdapat perajurit pengawal yang melakukan perondaan.
Tidak mungkin menjadi tempat persembunyian penjahat. Paling-paling hanya menjadi tempat persembunyian muda-mudi istana yang mengadakan pertemuan rahasia yang penuh kemesraan! Akan tetapi ia sudah tiba di situ, harus dilanjutkan sampai ke puncak. Ia ingin melihat bagaimana macamnya kuil istana yang sudah banyak didengarnya itu, sebagai kuil yang indah dan dihuni oleh pendeta-pendeta yang alim dan pandai.
421
Kabarnya di luar istana, kuil ini manjur sekali, dapat memberi obat yang mujarab bagi yang sakit, dan dapat meramalkan nasib dengan tepat dan baik sekali. Orang luar istana tidak diperkenankan masuk. Sekarang, setelah ia berada di situ, merupakan kesempatan baik untuk mengunjungi kuil itu, di samping tugas penyelidikannya. Ia sudah pernah mendengar bahwa kepala pendeta di kuil itu yang bernama Gwat Kong Hosiang adalah seorang hwesio yang selain alim dan pandai, juga lihai ilmu silatnya karena dia datang dari kuil Siauw-lim-si.
Ketika ia tiba di kuil itu, ia disambut oleh beberapa orang hwesio yang memandang heran walaupun mereka itu segera menyambut dengan sikap hormat karena tahu bahwa mereka berhadapan dengan seorang dayang dari Permaisuri. Kekuasaan dan pengaruh Permaisuri Bu Cek Thian bahkan sudah sampai ke kuil itu. Kuil itu sunyi, tidak ada pengunjung datang bersembahyang, dan banyak di antara para hwesio kini sibuk pula di rumah Pangeran Souw Han untuk melakukan sembahyang.
“Selamat datang, nona. Bantuan apakah yang dapat kami berikan kepada nona?” tanya seorang di antara mereka dengan sikap hormat.
“Aku ingin berjumpa dengan Gwat Kong Hosiang, ketua kuil ini,” jawab Cu Sui In.
Empat orang hwesio itu saling pandang, kemudian pembicara tadi menjawab, “Omituhud, toa-suhu Gwat Kong Hosiang tidak dapat ditemui nona karena dia sedang sakit. Dan wakilnya, yaitu suhu
422
Kwan Seng Hwesio kini sedang bersiap-siap untuk pergi ke tempat kematian.”
“Kalau begitu biarkan aku berjumpa dengan Kwan Seng Hwesio,” kata pula Sui In.
“Tapi, nona. Kwan-suhu sedang sibuk dan pula..... dengan adanya peristiwa kematian itu, semua orang akan berada di sana. Kenapa nona bahkan datang berkunjung dan......”
Hwesio itu berhenti bicara ketika melihat Sui In mengeluarkan cincin wasiatnya, pemberian Permaisuri. Melihat cincin itu, para hwesio itu membungkuk dalam-dalam dan penuh hormat.
“Antarkan aku kepada Kwan Seng Hwesio sekarang juga,” kata Sui In dan sekali ini, para hwesio tidak ada yang berani membantah. Mereka memberi jalan dan mempersilakan wanita cantik itu masuk. Dengan sikap hormat seorang hwesio lalu mengantarkan Sui In memasuki ruangan dalam dan mengetuk pintu ruangan itu.
Hwesio wakil kepala kuil itu Kwan Seng Hwesio yang berusia limapuluhan tahun, bertubuh tinggi kurus dan bermuka gelap kehitaman, namun sepasang matanya lembut, sedang berkemas karena dia akan segera pergi ke rumah kematian untuk memimpin sembahyangan pada waktunya nanti.
Tentu saja dia terbelalak heran ketika membuka pintu dan melihat hwesio penjaga pintu depan mengantar seorang wanita muda yang cantik. Akan tetapi, diapun mengenal dayang Permaisuri,
423
maka biarpun alisnya berkerut, dia bangkit dan merangkap kedua tangan di depan dada.
“Omitohud...... semoga nona selalu berada dalam lindungan Yang Maha Kuasa. Ada keperluan apakah nona berkunjung dan mengapa kepada pinceng? Bukankah di luar sudah banyak para murid yang dapat melayani keperluan nona?”
Sui In segera mengeluarkan cincinnya dan melihat benda itu, Kwan Seng Hwesio cepat memberi hormat dengan membungkuk sampai dalam. Kini mengertilah dia mengapa para hwesio membiarkan wanita ini masuk menemuinya. Kiranya dayang ini membawa tanda kekuasaan dari Sang Permaisuri!
“Omitohud! Apakah yang dapat pinceng lakukan untuk nona?”
“Kwan Seng Hwesio, aku ingin bertemu dan bicara dengan Gwat Kong Hosiang.”
Hwesio tinggi kurus itu nampak terkejut, lalu menoleh kepada hwesio penerima tamu dan berkata, “Cepat keluar dan beri kabar bahwa pinceng sedang menerima tamu dari istana, katakan bahwa sebentar lagi pinceng harus pergi ke rumah kematian!”
Hwesio itu memberi hormat dan keluar, menutupkan kembali pintu ruangan itu yang tadi terbuka. Kwan Seng Hwesio mempersilakan Sui In duduk, kemudian diapun bertanya, “Ada keperluan apakah nona ingin bertemu dan bicara dengan suheng Gwat Kong Hosiang?”
424
“Aku membawa tugas dari Yang Mulia Permaisuri untuk bicara dengan ketua kuil ini,” kata Sui In dengan singkat.
Kwan Seng Hwesio mengembangkan kedua lengannya. “Akan tetapi, Yang Mulia Permaisuri sendiri juga tahu bahwa suheng sedang menderita sakit sejak lama dan tidak dapat menerima tamu! Nona, kalau ada urusan mengenai kuil, semua merupakan tanggung jawab pinceng yang mewakili, suheng! Bahkan Yang Mulia Sribaginda Kaisar sendiri sudah mengetahui akan hal itu.”
“Begini, losuhu. Aku mendapat tugas dari Yang Mulia Permaisuri untuk melakukan pelacakan dan penyelidikan, untuk membongkar rahasia pembunuhan yang dilakukan si Bayangan Iblis. Dan aku ingin memeriksa semua tempat, termasuk kuil ini, maka, aku minta persetujuan losuhu untuk membiarkan aku melakukan pemeriksaan di seluruh pelosok di bukit ini.”
Kwan Seng Hwesio terbelalak memandang kepada gadis itu. “Akan tetapi, nona. Tempat ini adalah tempat suci! Tidak ada yang perlu diperiksa. Kuil ini diurus oleh suheng, pinceng dan para hwesio. Sama sekali tidak mungkin ada penjahat bersembunyi di tempat seperti ini!
“Bagaimanapun juga, aku harus melakukan penggeledahan dulu, baru aku dapat percaya dan dapat melapor kepada Yang Mulia Permaisuri dengan penuh keyakinan.”
“Tapi, apakah nona tidak percaya kepada kami? Sedangkan Yang Mulia Sribaginda Kaisar sendiri percaya kepada kami!”
425
“Maaf, losuhu. Tugas adalah tugas, tidak ada sangkut pautnya dengan percaya atau tidak.”
Hwesio itu bangkit berdiri, wajahnya yang biasanya tenang itu kini nampak gelisah. “Omitohud......, nona sungguh memaksa pinceng, sungguh memaksa. Baiklah, mari pinceng antar nona mengunjungi suheng Gwat Kong Hosiang yang sedang menderita sakit.”
Hwesio itu lalu membuka daun pintu ruangan itu dan melangkah keluar, diikuti oleh Sui In. Wanita ini memang merasa caaggung dan sungkan juga telah memaksakan kehendaknya kepada seorang pendeta yang suci! Akan tetapi apa boleh buat. Ia harus mencari Hek-liong-li, harus mencari jejak yang dapat membantu Cian Ciang-kun, atau lebih tepat lagi membantu Pek-liong, pendekar yang dikaguminya itu.
Juga ia terdorong oleh perasaan dendamnya kepada Si Bayangan Iblis yang bukan saja telah membunuh suaminya, akan tetapi juga nyaris membunuh pamannya. Ia juga didorong perasaannya sebagai seorang murid Kun-lun-pai, seorang pendekar yang harus menentang perbuatan jahat dan kejam seperti telah dilakukan oleh Si Bayangan Iblis. Maka iapun membuang semua perasaan sungkannya telah mengganggu wakil kepala kuil ini.
Ia mengikuti hwesio tinggi kurus itu menuju ke bagian belakang kuil itu yang ternyata luas sekali. Dan di ruangan belakang yang terdapat banyak kamar yang daun pintunya tertutup, Kwan Seng Hwesio berhenti di depan sebuah pintu kamar.
426
“Di sinilah suheng Gwat Kong Hosiang beristirahat, akan tetapi sungguh amat tidak enak mengganggu dia yang sedang menderita sakit. Dia amat lemah dan sungguh tidak baik bagi kesehatannya kalau diajak bicara.”
“Biarkan aku melihatnya saja sebentar, losuhu.”
Kwan Seng Hwesio membuka daun pintu dan Sui In melihat seorang hwesio tua yang bertubuh gemuk rebah telentang di atas sebuah pembaringan dan hwesio tua itu nampak tertidur. Setelah melihatnya sebentar, ia membiarkan Kwan Seng Hwesio menutupkan kembali daun pintu itu dan Sui In sudah menghampiri sebuah pintu lain yang menuju ke belakang dan hendak membukanya.
“Nona, harap jangan buka pinta itu!” tiba-tiba Kwan Seng Hwesio berkata, nada suaranya tegas sehingga Sui In menjadi terkejut.
“Eh? Kenapa? Rahasia apa yang tersembunyi di balik pintu ini, losuhu?”
“Tidak ada rahasia! Hanya itu merupakan tempat pribadi yang tidak boleh dibuka sembarangan orang!”
“Akan tetapi aku bukan sembarangan orang, losuhu. Ingat, aku ini utusan Yang Mulia Permaisuri yang telah diberi kekuasaan, dan aku berhak untuk memeriksa apa dan siapapun juga.”
Sui In sudah memegang daun pintu itu, akan tetapi tiba-tiba daun pintu terbuka dan nampak seorang laki-laki meloncat keluar dari dalam kamar itu. Dan Sui In terbelalak kaget.
427
Laki-laki itu berusia limapuluh tahun, rambutnya putih semua dan wajahnya masih nampak muda, tubuhnya jangkung dan tangan kanannya memegang sebatang pedang. Dia menyeringai lebar.
“Heh-heh, kiranya engkau lagi, nona. Sekali ini engkau tidak akan mampu lolos!”
“Pek-mau-kwi.......! Engkau......! Di sini? Bagaimana ini? Ahhh, tahu sekarang aku! Engkau pembantu Si Bayangan Iblis dan kuil ini menjadi tempat persembunyian kalian! Bagus, Kwan Seng Hwesio. Kiranya engkau seorang pengkhianat!”
“Omitohud......!” Kwan Seng Hwesio berseru bingung dan Pek-mau-kwi Ciong Hu sudah menyerang Sui In dengan pedangnya. Sui In cepat meloncat ke belakang dan iapun mencabut pedang yang ia sembunyikan di balik bajunya dan balas menyerang. Terjadilah perkelahian yang seru di tempat itu.
Sui In menyerang dengan gemas karena ia teringat akan susioknya, Giam Sun yang ketika tewas meninggalkan dua buah nama, yaitu Pek-mau-kwi ini dan Kwi-eng-cu Si Bayangan Iblis. Ia tahu bahwa tentu Pek-mau-kwi ini dan pembantu-pembantunya, yaitu Huang-ho Siang-houw yang telah membunuh susioknya, atas perintah seorang tokoh rahasia yang dijuluki Si Bayangan Iblis. Maka, dengan hati penuh dendam ia memainkan ilmu pedang Kun-lun Kiam-sut dan menyerang dengan dahsyat.
Akan tetapi pria berambut putih itu memang lihai. Kalau dulu Sui In terlepas dari tangannya adalah karena muncul Pek-liong. Akan tetapi kini ia harus melawan sendiri dan biarpun ia mampu menandingi ilmu pedang Pek-mau-kwi, akan tetapi iapun tidak
428
mampu mendesaknya dan pertandingan dengan pedang itu semakin seru dan mati-matian.
Tiba-tiba terdengar suara wanita terkekeh dan muncullah seorang wanita tua yang usianya tidak kurang dari enampuluh lima tahun, bertubuh kurus kering dan matanya mencorong seperti mata kucing!
“Heh-heh-heh, Pek-mau-kwi. Tidak malukah engkau, sejak tadi tidak mampu merobohkan seorang wanita muda? Dan engkau, Kwan Seng Hwesio, kenapa diam menonton saja seperti patung dan tidak membantu Pek-mau-kwi?”
“Omituhud......, maafkan pinceng...... kita sudah berjanji bahwa pinceng tidak akan melibatkan diri dalam perkelahian......, Omituhud!”
Nenek itu kembali terkekeh dan ia meloncat ke dalam medan perkelahian dan sekali tangannya menyambar, ada angin pukulan dahsyat sekali menyambar ke arah muka Sui In! Wanita ini terkejut. Tamparan tangan ke arah mukanya itu kuat dan cepat bukan main. Ia lalu mengelebatkan pedangnya untuk menyambut tangan yang menampar, menangkis dan sekaligus menyerang untuk membikin buntung tangan yang menyerangnya itu.
“Dukkk!” Pedang itu terpental lepas dari pegangan Sui In dan sebelum wanita ini tahu apa yang terjadi, tangan nenek itu sudah menampar ke arah dada kanannya, di bawah pundak.
“Plakk!” Sui In terpelanting roboh dan pingsan.
429
Wanita itu kembali terkekeh. “Huh, segala macam budak ingusan berani mengacau ke sini? Keram ia dalam ruangan bawah tanah!”
Sambil menyeringai, Pek-mau-kwi Ciong Hu memondong tubuh Sui In yang pingsan dan melihat wajah anak buahnya itu, nenek yang amat lihai itu menghardik, “Awas kau, Pek-mau-kwi. Kalau engkau ganggu wanita itu, engkau akan kubunuh! Semua anak buahku harus tertib dan taat, tidak boleh melakukan sesuatu tanpa diperintah, sehingga menggagalkan semua rencana. Mengerti?”
Muka yang.tadinya menyeringai senang itu tiba-tiba berubah masam, akan tetapi Pek-mau-kwi mengangguk. “Baik, saya mentaati perintah, Kui-bo.”
Nenek itu kini menghadapi hwesio yang bernama Kwan Seng Hwesio, wakil kepala kuil itu dan berkata dengan nada mengancam.
“Kwan Seng Hwesio, ingat, tak seorangpun hwesio di kuil ini pernah melihat wanita tadi. Mengerti! Kalau ada yang lancang mulut, aku akan membawa kepala Gwat Kong Hwesio kepadamu, sebelum membunuh kalian semua!”
Dengan wajah pucat, hwesio itu merangkap kedua tangan di depan dada sambil membungkuk. “Omitohud, kami tidak berani lancang mulut.”
Nenek itu tersenyum mengejek, lalu ia menghilang di balik daun pintu menyusul perginya Pek-mau-kwi yang tadi memondong tubuh Sui In. Daun pintu tertutup lagi dari dalam.
430
Setelah berada seorang diri, Kwan Seng Hwesio berulang-ulang menyebut “Omitohud......” sambil memandang ke arah tubuh suhengnya, Gwat Kong Hwesio, yang rebah tak sadarkan diri itu. Suhengnya kini bukan disandera lagi melainkan diracuni dan obat penawar racun itu ada pada nenek itu. Tanpa pertolongan nenek itu, suhengnya akan tewas.
Itulah sebabnya mengapa belasan orang hwesio di kuil itu tidak berdaya sama sekali dan terpaksa mentaati perintah gerombolan orang asing yang jahat, yang telah menawan Gwat Kong Hwesio dan bersembunyi di kuil itu.
Rombongan penjahat itu terdiri dari belasan orang, dipimpin oleh dua orang. Yang pertama adalah Bouw Sian-seng yang sebetulnya adalah Lam-hai Mo-ong (Raja Iblis Laut Selatan) seperti yang diduga oleh Pek-liong dan Hek-liong-li. Adapun orang kedua bukan lain adalah Kui Lo-ma yang sebetulnya adalah Thian-thouw Kui-bo (Biang Setan Kepala Besi), Kedua orang kakek dan nenek ini adalah dua orang di antara Kiu Lo-mo (Sembilan Iblis Tua).
Mula-mula Lam-hai Mo-ong yang melihat persaingan di antara para pangeran. Hal ini membuat datuk sesat ini girang sekali karena dia melihat kesempatan yang teramat baik untuk mengangkat dirinya dengan membonceng kemelut yang timbul karena persaingan dan pertentangan di antara para pangeran. Dengan cerdik dia menyelidiki keadaan para pangeran.
Pada suatu hari ketika Pangeran Souw Cun, yang sudah lama diincernya untuk dapat diperalat, sedang berburu. Lam-hai Mo-
431
ong menyuruh anak buahya untuk menghadang dan menyerang pangeran itu sebagai perampok. Para pengawal pangeran itu sudah roboh semua oleh para “perampok” sehingga nyawa Pangeran Souw Cun terancam bahaya maut. Muncullah Lam-hai Mo-ong sebagai bintang penyelamat dengan mengusir para “perampok” itu.
Tentu saja Souw Cun berterima kasih, juga kagum akan kelihaian kakek itu. Dan diapun mengakui kakek itu sebagai gurunya, bahkan memboyongnya ke istananya. Atas nasehat Lam-hai Mo-ong, pangeran itu memperkenalkan Lam-hai Mo-ong kepada orang-orang istana sebagai Bouw Sian-seng yang menjadi gurunya dalam hal sastera!
Melihat betapa dia membutuhkan bantuan untuk menyukseskan rencananya yang besar, dia lalu memberi kabar kepada rekannya, yaitu Tiat-thouw Kui-bo dan menarik nenek iblis itu ke dalam istana pula. Nenek itu menyamar sebagai seorang wanita ahli masak dan ahli pijat, dan Bouw Sian-seng berhasil memasukkan rekannya yang memakai nama Kui Lo-ma bekerja kepada Pangeran Kim Ngo Him, yaitu mantu kaisar yang juga berambisi untuk memperebutkan kedudukan.
Demikianlah, Bouw Sian-seng dan Kui Lo-ma, diam-diam mengadakan hubungan dan mereka berhasil pula menyelundupkan anak buah mereka yang terdiri dari tokoh-tokoh dunia kang-ouw yang pandai ilmu silat dan kuat, sampai belasan orang ke dalam istana. Selain itu, di kota raja mereka juga mempunyai puluhan orang anak buah yang mereka sebar di luar istana sebagai mata-mata.
432
Dengan teratur, makin lama kedua orang datuk sesat itu makin kuat menancapkan kuku mereka untuk menanam pengaruh mereka di istana melalui dua orang pangeran itu. Bahkan Bouw Sian-seng dan Kui Lo-ma telah menguasai kuil istana dengan menangkap kepala kuil dan melihat betapa Gwan Kong Hwesio, kepala kuil itu, keras kepala dan tidak sudi menyerah, Kui Lo-ma lalu membuat dia pingsan dengan racun.
Karena tidak ingin melihat kepala kuil itu dibunuh, terpaksa Kwan Seng Hwesio dan teman-temannya menyerah kepada dua orang datuk itu. Mereka merahasiakan kehadiran para penjahat itu di istana, dengan janji bahwa mereka tidak akan membantu mereka dalam perkelahian, juga bahwa setelah urusan mereka di istana selesai, mereka akan membebaskan dan memberi obat penyembuh kepada Gwat Kong Hwesio.
Mulailah Lam-hai Mo-ong dan Tiat-thouw Kui-bo menyebar maut. Merekalah yang menyamar sebagai Bayangan Iblis, melakukan pembunuhan kepada mereka yang dianggap dapat menjadi penghalang suksesnya cita-cita mereka. Ketika mereka tidak berhasil membunuh Ciok Tai-jin yang dijaga ketat oleh Cu Sui In dan para pengawal, mereka memasang mata-mata di situ. Maka, mereka tahu bahwa Sui In, janda yang murid Kun-lun-pai itu, akan minta bantuan seorang susioknya bernama Giam Sun.
Mendengar ini Lam-hai Mo-ong menyuruh para pembantunya, yaitu Pek-mau-kwi dan Huang-ho Siang-houw, untuk mendahului wanita muda itu dan mereka berhasil membunuh Giam Sun! Bahkan hampir mereka membunuh Sui In pula kalau tidak muncul Pek-liong-eng Tan Cin Hay yang berhasil menyelamatkannya.
433
Apakah yang dikehendaki dua orang datuk sesat itu? Mereka bercita-cita muluk dan melaksanakan permainan besar tingkat tinggi. Mereka melihat persaingan dan perebutan kedudukan di istana, memperebutkan kursi putera mahkota untuk kelak menggantikan kaisar. Maka, mereka berdua melihat kesempatan yang amat baik.
Kalau mereka dapat membantu seorang pangeran sehingga pangeran itu kelak menjadi kaisar, sudah pasti mereka akan menerima kedudukan tinggi sebagai balas jasa. Mereka akan diangkat menjadi kok-su (penasihat negara) atau setidaknya tentu kedudukan menteri akan menjadi bagian mereka! Kemuliaan, kehormatan dan kekuasaan akan menjadi bagian mereka!
Mereka menjatuhkan pilihan mereka kepada Pangeran Souw Kian. Pangeran dari selir yang usianya delapanbelas tahun ini adalah seorang pemuda yang agak terbelakang, bodoh dan bebal, hanya menyeringai saja dan tidak mempunyai semangat apa-apa.
Kalau sampai pangeran ini dapat menjadi calon tunggal dan kelak menjadi kaisar, tentu dapat mereka kuasai. Maka, diam-diam Bouw Sian-seng yang dikenal sebagai seorang sasterawan, guru Pangeran Souw Cun, mulai mendekati ibu Pangeran Souw Kian, menjanjikan bahwa dia sanggup membimbing dan mengajar pangeran itu agar kelak menjadi seorang pandai. Karena janji yang muluk-muluk ini, ibu pangeran itu menaruh kepercayaan dan harapan besar kepada Bouw Sian-seng.
434
Mulailah pembunuhan-pembunuhan itu dilakukan dua orang datuk bersama kaki tangannya. Pembunuhan-pembunuhan itu dilakukan untuk menyingkirkan orang-orang yang dapat menjadi halangan, juga untuk menimbulkan pertentangan di antara para pangeran. Di dalam kemelut di istana itu, nampaklah bahwa semua pangeran terlibat, bahkan Pangeran Souw Han yang tadinya dianggap alim dan baik, terlibat pula dan bahkan terbunuh! Hanya Pangeran Souw Kian seoranglah yang sama sekali tidak perduli, tidak mencampuri dan nampak “bersih”, sama sekali tidak ikut bersaing.
Karena markas besar para pengacau itu justeru berada di kuil istana, dan mereka menyamar sebagai orang-orang yang sama sekali tidak mencurigakan, maka semua upaya untuk menangkap Si Bayangan Iblis gagal selalu.
Cu Sui In merupakan orang pertama yang menyelidiki ke dalam kuil itu, maka ia segera dirobohkan dan ditawan oheh Kui Lo-ma. Wanita muda itu kalau sampai lolos, berbahaya sekali. Ialah satu-satunya orang yang telah menemukan rahasia mereka.
Kalau nenek itu tidak segera membunuh Sui In, hal itu hanya membuktikan kecerdikannya. Ia tahu bahwa bahaya mulai membayangi komplotannya. Oleh karena itu, kalau ada orang penting tertangkap, sebaiknya dijadikan sandera, tidak segera dibunuh. Kalau dibunuh, sudah tidak ada harganya lagi, akan tetapi kalau masih dibiarkan hidup, sekali waktu mungkin amat berharga! Ini sebabnya maka ia mengancam Pek-mau-kwi yang ia tahu mata keranjang itu agar jangan mengganggu Sui In.
435
◄Y►
Cian Hui mengerutkan alisnya yang tebal ketika dua orang perajuritnya datang menghadap dan melaporkan bahwa mereka bertemu dengan Siauw In yang membawa cincin Hong-houw dan memesan kepada mereka agar melapor kepada Cian Ciang-kun bahwa gadis itu melakukan penyelidikan ke kuil istana di puncak bukit.
Mengapa Sui In melakukan penyelidikan ke sana? Di sana hanya ada kuil dengan belasan orang hwesio yang dapat dipercaya sepenuhnya. Para hwesio itu tidak mungkin terlibat dalam pembunuhan. Mereka adalah orang-orang yang bersih, juga setia. Oleh karena itu, dia tidak begitu tertarik ketika mendengar laporan anak buahnya tentang penyelidikan yang dilakukan janda muda yang cantik itu.
Akan tetapi, hatinya mulai merasa khawatir juga ketika malam tiba dan dia mendapat laporan dari anak buahnya bahwa janda itu belum juga kembali ke rumah mendiang Pangeran Souw Han, di mana ia ditugaskan bersama para dayang lainnya. Dia mengerahkan seregu pasukan untuk mencari ke bukit itu. Namun, Sui In lenyap tanpa meninggalkan jejak.
Para hwesio di kuil itu sudah ditanya, akan tetapi tidak ada seorangpun yang mengaku pernah melihat wanita muda itu. Cian Hui lalu keluar sendiri untuk ikut mencari, namun sia-sia. Karena khawatir, diapun lalu pergi mengunjungi bagian istal kuda untuk menjumpai Pek-liong. Karena Cian Hui memiliki kekuasaan dan dia dikenal oleh semua pekerja, mereka itu mentaatinya ketika
436
mereka disuruh pergi sehingga Cian Hui dengan leluasa dapat mengadakan pertemuan dan perundingan dengan Pek Liong dan juga Hek-liong-li. Mereka bertiga bercakap-cakap di dalam gudang jerami, duduk di lantai yang penuh jerami kering.
Cian Hui menceritakan tentang lenyapnya Sui In setelah wanita itu melakukan penyelidikan ke kuil istana di puncak bukit.
Mendengar ini, Liong-li menepuk dahinya sendiri. “Aiihh, kenapa aku begini bodoh? Tentu saja! Tempat yang paling tidak mungkin, yang sedikitpun tidak akan mendatangkan kecurigaan, tempat seperti itulah merupakan tempat persembunyian yang paling baik! Di seluruh istana ini, bukit itu dan kuil itu merupakan tempat yang amat aman kalau dipakai melindungi diri. Siapa akan menyangka ke sana? Dan orang tentu akan sungkan untuk menggeledah dan mengganggu para hwesio di kuil itu!
“Benar sekali, li-hiap,” kata Cian Hui. “Aku sendiripun selama melakukan penyelidikan, belum pernah mencurigai mereka. Memang meragukan sekali tempat seperti itu menjadi sarang pembunuh. Para hwesio itu pasti tidak akan membiarkan begitu saja. Akan tetapi, tempat itu tidak boleh dilewatkan, harus digeledah. Sekarang aku teringat bahwa sejak terjadinya peristiwa kemelut di istana, ketua kuil itu jatuh sakit dan sampai sekarang tidak dapat menemui tamu karena sakitnya.”
“Hemm, mencurigakan sekali. Sebaiknya kita lebih dahulu menengok keadaan kepala kuil itu,” kata Pek-liong-eng.
“Sebaiknya malam ini juga kita berangkat ke sana. Mari, tai-hiap dan li-hiap, kita berangkat sekarang juga!” ajak Cian Ciang-kun.
437
“Nanti dulu,” kata Liong-li. “Kita menghadapi pembunuh-pembunuh jahat dan lihai. Kita tidak tahu bagaimana keadaan mereka dan berapa banyak anak buah mereka. Oleh karena itu, membasmi rumput harus dengan akar-akarnya, dan kalau kita menyerbu ke sana, mereka semua harus dapat ditangkap. Sebaiknya kalau engkau kerahkan pasukan untuk mengepung bukit itu agar jangan sampai ada penjahat yang mampu melarikan diri dan lolos. Setelah itu baru kita menggeledah kuil itu.”
Cian Hui setuju dan Pek-liong juga membenarkan. Malam itu juga Cian Ciang-kun mengerahkan pasukan dan mengepung bukit itu dengan ketat.
Setelah itu barulah mereka berangkat dan di lereng bukit kecil itu mereka berpencar. Pek-liong dan Liong-li terus mendaki ke puncak di mana terdapat kuil itu, dan Cian Hui tinggal di lereng untuk mengatur pengepungan pasukan-pasukannya.
◄Y►
Malam itu bulan masih terang seperti siang. Hal ini memudahkan Pek-liong dan Liong-li yang mendaki ke puncak. Bukit itu tidak besar, dan sebentar saja mereka telah tiba di puncak, berdiri di luar pekarangan kuil yang dipagari tembok.
Kuil itu nampak sunyi dan mati, seolah tidak ada penghuninya. Memang kalau malam kuil itu ditutup dan tidak menerima tamu, akan tetapi biasanya dalam keadaan menganggur itu, para hwesio membaca kitab atau berdoa sehingga terdengar suara mereka dari luar. Setidaknya akan terdengar suara ketukan berirama yang menuntun doa mereka. Akan tetapi malam itu
438
sama sekali tidak terdengar suara apapun, seolah kuil itu telah berubah menjadi kuburan.
Dengan mudah mereka melompati pagar tembok dan berada di kebun samping kuil itu. Mereka menyelinap di antara pohon-pohon dan semak, mendekati kuil yang besar sekali itu. Maklum, kuil itu adalah kuil istana yang sudah ratusan tahun umurnya, dibuat kokoh kuat seperti benteng karena tempat itu dianggap tempat suci yang tidak boleh dikunjungi orang luar, kecuali bagian luarnya di mana disediakan meja-meja sembahyang dan orang hanya boleh datang berkunjung di waktu pagi sampai sore saja. Di bagian dalam kuil itu yang menjadi tempat tinggal atau asrama para hwesio, merupakan tempat suci yang tidak boleh dikunjungi orang lain.
Biarpun tembok kuil itu tinggi dan sama sekali tidak berjendela, bukan merupakan hal sukar bagi Pek-liong dan Liong-li untuk memanjat dan berloncatan sehingga mereka dapat tiba di wuwungan kuil yang bergenteng tebal sekali. Bagaikan dua ekor burung walet mereka melayang dan berlompatan di atas wuwungan tanpa menimbulkan suara.
Mereka merasa aneh dan heran. Setelah menyelidik ke sana-sini, mereka mendapat kenyataan bahwa di bawah gelap, tidak ada penerangan sama sekali, seolah-olah orang-orang yang tinggal di kuil itu dengan sengaja memadamkan semua penerangan. Pada hal, malam belum larut benar. Tidak mungkin pada waktu itu semua hwesio sudah tidur dan membiarkan kuil itu ditelan kegelapan seperti itu! Pantasnya ada unsur kesengajaan dalam keadaan itu.
439
Setelah saling pandang dan memberi isyarat dengan pandang mata mereka, Pek-liong dan Liong-li melayang ke atap yang lebih rendah dan tiba-tiba di bagian samping kiri bangunan kuil besar itu, mereka melihat sinar dari sebuah ruangan di bawah! Mereka cepat meloncat ke atas ruangan yang merupakan satu-satunya ruangan yang ada penerangannya. Begitu kaki mereka menginjak genteng, terdengar suara dari bawah.
“Omitohud......, penjahat dari manakah begitu berani mengotori tempat suci ini?”
Pek-liong dan Liong-li terkejut dan cepat mereka mengintai ke bawah. Mereka melihat seorang hwesio duduk bersila di sudut ruangan kepalanya yang gundul licin itu menunduk sehingga wajahnya tidak dapat menerima cahaya redup lilin yang dipasang di atas meja di ruangan itu.
Sepasang pendekar ini terkejut karena mereka tidak mengira bahwa gerakan mereka yang amat ringan dan yang mereka lakukan dengan hati-hati itu dapat didengar orang. Tentu hwesio di bawah itu lihai sekali. Dan Cian Hui dengan tegas mengatakan bahwa para hwesio di kuil itu tidak ada yang memiliki ilmu kepandaian silat tinggi!
Kembali sepasang pendekar itu saling pandang dan keduanya sudah setuju akan tindakan selanjutnya yang akan mereka ambil. “Lo-suhu, maafkan kami berdua. Kami bukan penjahat dan kami ingin menghadap lo-suhu!” kata Pek-liong.
“Omitohud......, masuklah saja!” kata pula hwesio itu dengan suara yang dalam dan lembut.
440
Pek-liong dan Liong-li membuka genteng. Keduanya memandang penuh perhatian, sebelum meloncat masuk, dan mendapat kenyataan bahwa tidak ada hal yang perlu diragukan atau dicurigai. Ruangan itu cukup luas, tidak mempunyai jendela, hanya ada sebuah pintu ke dalam yang daunnya tertutup. Ruangan itu kosong, hanya ada sebuah dipan di sudut di mana hwesio itu duduk bersila, dan sebuah meja kecil di mana terdapat lilin menyala dan beberapa buah kitab. Selanjutnya, kosong.
Dinding yang menghadap ke bagian luar tidak berjendela, sehingga jalan satu-satunya, masuk ke kamar itu hanya melalui pintu yang menembus ke dalam tadi, dan melalui lubang di atap yang mereka buat tentu saja. Tentu hwesio di bawah itu dapat memberi banyak keterangan kepada mereka.
“Kita turun,” bisik Liong-li.
Pek-liong mengangguk dan pendekar ini mendahului Liong-li, melompat turun. Liong-li maklum bahwa Pek-liong, seperti biasa, tentu ingin menjadi orang pertama kalau memasuki ruangan yang belum dikenal dan mungkin mengandung bahaya, agar kalau sampai terjebak, dialah yang akan terjebak lebih dahulu. Dan Liong-li juga membiarkan ini. Lebih baik seorang saja di antara mereka yang terjebak, dari pada keduanya karena kalau yang seorang terjebak, yang lain dapat menolongnya.
Setelah ia melihat Pek-liong tiba di lantai kamar itu dan tidak terjadi sesuatu, iapun melompat turun pada saat Pek-liong memberi isyarat bahwa keadaan aman. Akan tetapi, begitu Liong-li melayang turun ke dalam ruangan itu, tiba-tiba lilin di atas meja
441
itu padam dan keadaan menjadi gelap sama sekali. Liong-li mengerahkan gin-kangnya dan kedua kakinya dapat hinggap di atas lantai dengan ringan. Pada saat itu, mereka mendengar suara senjata rahasia menyambar-nyambar ke arah mereka!
Dua orang pendekar itu setiap saat memang sudah siap siaga. Tidak pernah mereka itu lengah, apa lagi dalam keadaan sedang melakukan penyelidikan seperti itu. Sejak tadi, seluruh syaraf di tubuh mereka sudah dalam keadaan siap dan waspada, maka begitu mereka menduga datangnya bahaya, keduanya sudah menggerakkan tangan kanan dan Liong-li sudah mencabut Hek-liong-kiam, sedangkan Pek-liong sudah mencabut Pek-liong-kiam. Ketika senjata-senjata rahasia itu menyambar ke arah mereka, keduanya memutar pedang dan semua senjata rahasia kecil berbentuk paku-paku beracun itu runtuh.
Liong-li meloncat ke arah di mana tadi hwesio itu duduk. Akan tetapi, ternyata bukan hanya hwesio itu yang lenyap, bahkan dipannya pun lenyap! Tahulah ia bahwa hwesio di atas dipan tadi memang merupakan alat perangkap.
Ia melihat Pek-liong masih terus menangkisi senjata rahasia yang terus menyambar ke arah pendekar itu. Tahulah Hek-liong-li bahwa pakaian Pek-liong yang putih itulah yang merupakan sasaran lunak di dalam kegelapan itu. Ia mengeluarkan segulung sutera hitam dan melemparkannya ke arah Pek-liong.
“Kau pakailah ini!” sutera hitam itu mengembang ketika meluncur ke arah Pek-liong. Pek-liong menyambar sutera hitam itu dan di lain saat diapun lenyap ditelan kehitaman. Mereka berdua sudah
442
berdiri mepet dinding dan menahan napas agar tidak terlalu keras bersuara.
“Kita pukul runtuh dinding di kanan itu yang menembus keluar,” bisik Liong-li.
Wanita perkasa ini tidak perlu membuat penjelasan lagi karena ia dan Pek-liong seolah telah memiliki satu hati dan satu kecerdasan. Begitu ia berbisik, keduanya sudah menerjang, ke dua tangan mendorong ke depan sambil mengerahkan tenaga sin-kang mereka.
“Brakkkkk......!” Dinding kamar itupun jebol dan cahaya bulan menerjang masuk.
Dua sosok tubuh itu meluncur keluar dan mereka tiba di tempat terbuka, di taman samping kuil itu. Akan tetapi, baru saja mereka yang tadi meloncat keluar itu turun ke atas tanah, nampak banyak orang yang mengenakan pakaian serba hitam dan menutupi muka mereka dengan topeng hitam, telah mengepung mereka.
Jumlah mereka tidak kurang dari limabelas orang, semua mengenakan pakaian dan topeng yang sama dan bermacam senjata berada di tangan mereka. Ada yang memegang pedang, atau sepasang pedang, golok, tombak, rantai dan sebagainya. Gerakan mereka ketika mengepung tadi ringan, tanda bahwa mereka itu rata-rata memiliki ilmu silat yang tangguh.
Pek-liong dan Liong-li otomatis berdiri saling membelakang, hampir beradu punggung dengan pedang pusaka di tangan masing-masing, tidak bergerak, akan tetapi mata mereka
443
mengikuti gerakan semua orang yang mengepung itu. Bulan bersinar terang sehingga mereka dapat melihat semua pengepung dengan baik.
“Hemm, segerombolan Kwi-eng-cu (Bayangan Iblis) lengkap di sini!” kata Liong-li.
“Hek-liong-li, engkaulah yang menyamar sebagai Bayangan Iblis dan membuat kekacauan di istana. Kami akan membunuhmu! Dan engkau juga, Pek-liong-eng!” kata seorang diantara mereka dengan suara yang parau. Orang ini juga berpakaian hitam dan bertopeng hitam seperti yang lain, akan tetapi Liong-li maklum siapa dia.
Siapa lagi kalau bukan Bouw Sian-seng? Ia mengenal tubuh yang tinggi kurus itu. Kini tidak lagi bongkok, tentu bongkok itu hanya pura-pura saja. Dan ditangannya nampak sebatang rantai baja! Ini tentu Bouw Sian-seng alias Lam-hai Mo-ong, akan tetapi Liong-li tidak sempat banyak cakap karena pada saat itu belasan orang bertopeng hitam sudah menyerang mereka dari segala jurusan.
Liong-li dan Pek-liong memutar pedang mereka melakukan perlawanan. Dan keduanya terkejut. Sudah jelas bahwa Bouw Sian-seng alias Lam-hai Mo-ong itu lihai sekali karena dia adalah seorang datuk di antara Kiu Lo-mo (Sembilan Iblis Tua), akan tetapi yang lainnya juga rata-rata amat lihai. Terutama sekali seorang di antara mereka yang kurus kering, dengan sepasang mata kehijauan mencorong seperti mata kucing yang mengintai dari balik topengnya.
444
Si kurus kering ini agaknya sengaja menghadapi Liong-li dan ternyata pedangnya lihai bukan main. Adapun Bouw Sian-seng menghadapi Pek-liong, dibantu beberapa orang temannya yang juga lihai. Diam-diam Liong-li mengingat-ingat sambil memutar pedang melindungi dirinya, siapa lawannya ini. Ia menduga bahwa tentu ia seorang wanita karena di antara hujan senjata itu Liong-li masih sempat mencium keharuman yang menyambar dari pakaian si kurus kering itu.
Seorang wanita? Begini lihai? Siapa gerangan wanita ini? Dan iapun teringat akan pengalamannya ketika ia melakukan penyelidikan di atas gedung tempat tinggal Pangeran Kim Ngo Him.
Ia pernah diserang seorang bertopeng hitam yang kurus kering seperti ini, dan yang juga amat lihai, dan bayangan itu lenyap ke dalam gedung Pangeran Kim Ngo Him. Lalu ia melihat munculnya seorang nenek yang dipanggil Kui Lo-ma. Jangan-jangan, seperti halnya Bouw Sian-seng, nenek Kui Lo-ma itupun seorang penjahat besar yang menyelundup dan menyamar sebagai seorang pelayan di gedung Pangeran Kim Ngo Him.
Akan tetapi, Liong-li tidak dapat terus mengingat-ingat karena hampir saja ia celaka karena perhatiannya tidak terpusat. Pedang si kurus kering itu hampir saja membabat pundaknya. Untung ia masih cukup cekatan untuk melempar tubuh ke samping dan bergulingan menyelamatkan diri.
“Kita pergi!” tiba-tiba Pek-liong berseru. `
445
Liong-li maklum bahwa Pek-liong juga menghadapi pengeroyokan ketat yang amat membahayakan keselamatannya. Lawan terlalu banyak dan rata-rata lihai, walaupun tidak selihai Bouw Sian-seng dan si kurus kering itu. Dua orang ini saja memiliki tingkat yang sebanding dengan mereka, maka kalau dilanjutkan, mereka tentu akan terancam bahaya. Maka, sambil bergulingan, pedang di tangannya menyambar menjadi gulungan sinar hitam.
Ketika pengeroyoknya mundur, iapun meloncat keluar dari kalangan pertempuran, dan bersama Pek-liong iapun mengerahkan gin-kang dan mereka berdua berlari cepat menuruni tempat itu, melompati pagar tembok kuil dan terus melarikan diri.
Cian Hui menyambut dua orang pendekar yang berlarian itu dan sebelum dia sempat bertanya, Liong-li sudah cepat berkata,
“Ciang-kun, atur penjagaan yang ketat, kalau perlu tambah lagi pasukan dan mengepungnya agak naik mendekati kuil. Jangan sampai ada seorangpun di antara mereka lolos. Kami bertemu dengan mereka, belasan orang banyaknya, mungkin masih ada lagi yang bersembunyi. Kami kira tempat persembunyian mereka memang di dalam kuil itu!”
Cian Hui tidak banyak bertanya, cepat dia mengumpulkan para jagoan istana, para perwira dan mereka menggerakkan pasukan naik, lebih dekat ke puncak di mana kuil itu berada. Pengepungan tentu saja menjadi lebih ketat dan takkan ada seorangpun manusia yang meninggalkan tempat itu dapat lolos dari
446
pengamatan mereka. Cian Hui juga mengirim utusan untuk minta bala bantuan sehingga kini pengepungan itu berlapis-lapis!
Setelah mengatur pengepungan, barulah Cian Hui dapat mengadakan perundingan dengan Pek-liong dan Liong-li. Dia mendengarkan laporan dua orang pendekar itu tentang apa yang mereka alami di kuil. Perwira ini mengerutkan alisnya dan merasa khawatir sekali.
“Tentu Cu Sui In terjatuh ke tangan mereka!” katanya. “Kita harus cepat menyerbu kuil itu!”
“Tenanglah, Ciang-kun. Mereka adalah orang-orang pandai, tidak akan membunuh tawanan begitu saja. Tawanan orang penting bagi mereka amat berharga, untuk dijadikan sandera. Dan keadaan para hwesio itupun amat mencurigakan. Tidak mungkin mereka itu bekerja sama dengan gerombolan penjahat. Tentu ada sesuatu yang memaksa mereka mentaati perintah para penjahat,” kata Liong-li.
“Kukira rahasianya terletak pada sakitnya kepala kuil. Aku mempunyai dugaan bahwa mereka telah menyandera pula kepala kuil itu, dan dengan disanderanya kepala kuil, maka semua hwesio menjadi tidak berdaya dan terpaksa mentaati mereka untuk menyelamatkan kepala kuil,” kata Pek-liong.
“Kita tidak boleh tergesa-gesa. Bulan sudah hampir condong ke barat. Sebaiknya tunggu terang matahari pagi baru kita menyerbu. Sekarang, kuharap Ciang-kun mengirim orang untuk menyelidiki, apakah Bouw Sian-seng berada di gedung Pangeran
447
Souw Cun dan juga apakah nenek yang bernama Kui Lo-ma berada di gedung Pangeran Kim Ngo Him.”
Biarpun dia merasa heran, Cian Hui tidak banyak bertanya atau membantah, bahkan dia segera mengutus orang kepercayaannya untuk melakukan penyelidikan. Tak lama kemudian utusan itupun kembali, dengan berita bahwa kedua orang yang dicari Liong-li itu tidak berada di gedung tempat mereka bekerja, dan tak seorang pun tahu ke mana mereka pergi malam itu! Mendengar ini, Liong-li tersenyum.
“Sudah kuduga, dua orang itulah pemimpin gerombolan yang disebut Bayangan Iblis!”
“Ehhh?” Kini Cian Ciang-kun memandang heran.
“Hemm, Bouw Sian-seng itu pasti Lam-hai Mo-ong, aku mengenal gerakan silatnya ketika bertanding denganku tadi. Sedangkan yang kau namakan Kui Lo-ma itu kurasa tentu Tiat-thouw Kui-bo. Bukankah begitu, Liong-li?”
“Engkau benar, Pek-liong. Siapa lagi kalau bukan dua orang di antara Kiu Lo-mo itu?”
Cian Hui menjadi semakin kaget dan heran, dan diapun kagum bukan main kepada sepasang pendekar itu setelah menerima penjelasan. Mereka lalu membuat rencana penyerbuan sebentar lagi setelah kegelapan disapu sinar matahari pagi.
◄Y►
448
Pagi-pagi sekali, Cian Hui yang ditemani belasan orang jagoan istana dan seregu perajurit pengawal, sudah mengetuk pintu depan kuil yang masih tertutup. Berulang-ulang pintu itu diketuk dengan keras dan daun pintu itupun dibuka oleh para hwesio yang nampak pucat ketakutan ketika melihat siapa yang mengetuk pintu kuil mereka. Apa lagi ketika Cian Hui memperlihatkan tek-pai tanda kekuasaan yang diperolehnya dari kaisar, para hwesio itu menjatuhkan diri berlutut karena tek-pai merupakan kekuasaan tertinggi dan pemegangnya seolah menggantikan kaisar sendiri pada saat itu.
“Para hwesio keluar semua, tak seorangpun boleh tinggal di kuil!” teriak Cian Hui.
Para hwesio tidak ada yang berani membantah. Tak lama kemudian keluarlah semua hwesio yang tinggal di kuil, kecuali seorang saja, yaitu Gwat Kong Hosiang, ketua kuil.
“Di mana Gwat Kong Hosiang? Hayo katakan, di mana dia?” Cian Hui menghardik karena dia marah sekali mendapat kenyataan bahwa kuil itu menjadi tempat persembunyian para penjahat, atau setidaknya, para hwesio ini tentu tahu akan rahasia para penjahat dan pembunuh itu.
“Omitohud......!” Kwan Seng Hwesio melangkah maju dan memberi hormat. “Harap Ciang-kun suka memaafkan para hwesio ini, karena kami terpaksa sekali bersikap seperti ini......”
“Kwan Seng Hwesio, kita berdua telah bersama-sama mengabdi di istana dengan setia selama bertahun-tahun! Sekarang aku tidak membutuhkan pembelaan diri kalian, melainkan
449
membutuhkan keterangan. Jawablah saja. Di mana adanya Gwat Kong Hosiang!“
“Dia sedang sakit......”
“Antarkan aku kepadanya!” hardik pula Cian Hui dengan tak sabar.
”Omitohud...... baiklah, Ciang-kun, Mari pinceng (saya) antarkan ke kamarnya......”
“Lo-suhu......!” Para hwesio yang lain berseru dengan muka pucat dan khawatir. Perbuatan Kwan Seng Hwesio itu pasti berakibat dibunuhnya ketua mereka seperti yang selalu diancamkan oleh para penjahat.
“Omitohud, itulah kesalahan kita,” kata Kwan Seng Hwesio. “Kita tidak cukup menyerah kepada kekuasaan Yang Maha Kuasa sehingga kita takut menghadapi ancaman manusia. Kalau Yang Maha Kuasa menghendaki seseorang mati, apapun juga di dunia ini tidak akan mampu menghindarkannya, sebaliknya kalau Yang Maha Kuasa menghendaki seseorang tidak mati, tidak ada kekuasaan apapun di dunia ini yang akan mampu membunuhnya.”
“Sudahlah, lo-suhu. Tidak perlu berkhotbah di saat ini. Antarkan aku!” kata Cian Hui, kemudian dia berkata kepada para pembantunya. “Geledah seluruh kuil!”
Kwan Seng Hwesio melangkah ke dalam, diikuti oleh Cian Hui. Hwesio itu menuju ke kamar belakang setelah melalui lorong
450
yang berliku panjang. Kuil itu memang besar dan luas sekali. Setelah tiba di depan pintu sebuah kamar, Kwan Seng Hwesio berhenti dan berkata dengan suara gelisah.
“Di kamar inilah Gwat Kong Hwesio rebah dalam keadaan sakit parah dan pingsan, Ciang-kun.”
Biarpun dia kini percaya kepada hwesio itu, namun Cian Hui tetap bersikap hati-hati. “Tolong kau buka pintu kamarnya, lo-suhu.”
Dengan sikap yang tegang dan wajah yang pucat, Kwan Seng Hwesio membuka daun pintu kamar itu. Kamar itu agak gelap, maka Cian Hui melangkah maju mendekati Kwan Seng Hwesio, menjenguk ke dalam kamar. Tiba-tiba terdengar suara bercuitan dan sinar-sinar hitam kecil menyambar ke arah mereka.
Cian Hui berusaha untuk mengelak dengan loncatan, namun gerakannya kalah cepat. Sebuah di antara paku-paku itu masih mengenai pangkal pahanya dan diapun roboh pingsan. Dia tidak tahu betapa Kwan Seng Hwesio juga roboh dengan banyak paku mengenai tubuhnya, dan wakil kepala kuil itupun roboh pingsan.
Beberapa orang muncul dari samping, dari sebuah pintu rahasia dan mereka menyeret tubuh Cian Hui dan Kwan Seng Hwesio memasuki pintu rahasia yang menembus ke ruangan-ruangan bawah tanah. Dua orang itu lenyap tanpa meninggalkan bekas.
Ketika dia membuka kedua matanya, wanita itu membungkuk dan mengguncang pundaknya. “Cian Ciang-kun, syukur engkau sudah sadar......”
451
Cian Hui memandang. Alangkah cantiknya wajah itu, walaupun rambut itu kusut dan muka itu agak pucat, pandang matanya penuh kegelisahan. Diapun bangkit duduk dan menyeringai kesakitan ketika pahanya yang sebelah atas terasa amat nyeri. Akan tetapi hatinya merasa kelegaan yang besar ketika dia mengenal wajah itu, wajah Cu Sui In! Wanita muda itu masih hidup dan dalam keadaan selamat, walaupun nampaknya menderita.
“Nona Sui In......” akan tetapi dia tidak melanjutkan kata-katanya karena rasa nyeri yang menusuk di pangkal pahanya.
“Bagaimana rasanya. Ciang-kun? Sakit benarkah? Engkau terkena paku beracun dari nenek iblis itu. Tadi aku telah mencabutnya...... maafkan aku, Ciang-kun. Engkau masih pingsan dan aku terpaksa mencabut paku itu karena kalau dibiarkan, tentu racunnya akan makin banyak memasuki tubuhmu.”
Sekilas terlintas dalam benaknya, bagaimana wanita muda itu dapat melakukannya. Lukanya berada, di pangkal paha! Tempat yang...... agaknya tidak pantas dan tidak sopan dilihat seorang wanita yang bukan apa-apanya, apa lagi wanita muda dan cantik seperti Cu Sui In. Akan tetapi, keadaan menghapus bayangan itu dengan cepat dan diapun memandang ke kanan kiri. Dia melihat Gwat Kong Hosiang rebah telentang di atas dipan seperti mayat, dan Kwan Seng Hwesio juga rebah di atas lantai dalam keadaan pingsan.
“Bagaimana dengan mereka?” tanyanya.
452
Sui In memandang gelisah. “Keadaan mereka sungguh mengkhawatirkan sekali. Gwat Kong Hosiang sudah pingsan sejak aku ditawan, dan Kwan Seng Hwesio ada tiga batang paku menancap di tubuhnya. Aku...... aku merasa ngeri dan tidak berani mencabut paku-paku itu.”
Cian Hui mencoba untuk merangkak mendekati Kwan Seng Hwesio, dan melihat ini, Sui In cepat membantunya walaupun wanita ini juga telah terluka cukup berat. Ia telah terkena tamparan beracun dari Tiat-thouw Kui-bo dan sampai kini, dada sebelah kanan terasa nyeri bukan main. Melihat wanita itu menyeringai menahan sakit, Cian Hui bertanya.
“Engkau...... terluka......?”
Sui In mengangguk. “Nenek iblis itu memukul dadaku dan terasa nyeri bukan main.....”
Kwan Seng Hwesio menderita luka terkena paku beracun, sebatang di pangkal lengan kanan, sebatang di pundak dan sebatang di dada. Cian Hui mengumpulkan tenaganya dan mencabuti tiga batang paku itu, dibantu oleh Sui In.
Pada saat itu terdengar langkah kaki orang dan muncullah di situ seorang kakek dan seorang nenek. Seorang kakek berusia enampuluh tahun yang bertubuh tinggi kurus bermuka lembut seperti seorang pelajar tua, dan seorang nenek yang tubuhnya kurus kering, wajahnya juga lembut akan tetapi matanya mencorong hijau.
453
“Cian Ciangkun,” kata kakek itu dan suaranya juga lembut. “Kalau engkau menghendaki kalian berempat hidup, engkau perintahkan semua pasukanmu untuk mundur dan lindungi kami keluar dari istana.”
Cian Hui tidak dapat bangkit berdiri. Dia duduk dan memandang kepada kakek itu dengan sinar mata penuh kemarahan. Ini kiranya dua orang yang memimpin gerombolan Bayangan Iblis yang melakukan pembunuhan- pembunuhan keji itu! Sui In juga duduk di dekatnya, nampak penuh ketabahan dan juga wanita ini memandang kepada mereka dengan berani dan penuh kemarahan.
Cian Hui tertawa. “Ha-ha-ha, kalian seperti tikus-tikus yang sudah tersudut! Bagaimana mungkin aku dapat memerintahkan pasukan untuk mundur? Tidak mungkin kulakukan itu, selain tidak bisa, juga aku tidak sudi!”
“Cian Ciang-kun, engkau pemegang tek-pai, dapat melakukan perintah apa saja dan pasti akan ditaati siapa saja di istana ini!”
Sui In khawatir kalau Cian Hui menyerahkan tek-pai, maka ia berkata lirih. “Tadi mereka mencari tek-pai dan menggeledah semua pakaianmu tanpa hasil.”
Cian Hui tertawa lagi. Untung bahwa dia tadi bersikap hati-hati sekali. Sebelum dia masuk bersama Kwan Seng Hwesio, dia menitipkan tek-pai itu kepada seorang panglima kepercayaannya, minta agar tek-pai itu diserahkan kepada Pek-liong kalau terjadi apa-apa dengan dia.
454
“Tek-pai tidak ada padaku. Andaikata adapun, sampai mati aku tidak akan sudi memenuhi permintaanmu, Lam-hai Mo-ong.”
Kakek itu terbelalak. “Kau sudah mengetahui siapa aku?”
“Ha-ha-hah tentu saja. Engkau Lam-hai Mo-ong dan nenek ini tentu Tiat-thouw Kui-bo yang menyamar menjadi Kui Lo-ma! Sudah habis riwayat kalian, dua orang datuk sesat dari Kiu Lo-mo!”
Kakek dan nenek itu saling pandang dan kini si nenek yang berwajah lembut melangkah maju. Sekali tangannya menyambar, ia telah menjambak rambut kepala Sui In dan menariknya lepas dari dekat Cian Hui. Dengan nekat Sui In memukul, akan tetapi sekali jari tangan nenek itu menotok, Sui In menjadi lemas tidak mampu bergerak lagi.
“Cian Hui, engkau sudah tahu siapa kami, tentu tahu pula bahwa kami dapat menyiksa dan membunuh kalian berempat tanpa berkedip!”
“Hemm, siapa takut mati, nenek iblis? Lebih baik kami mati dari pada harus membebaskan kalian. Tempat ini sudah dikepung pasukan, biar kalian mempunyai tiga kepala dan enam tangan ditambah sayap sekalipun, kalian takkan dapat lolos dari sini. Kalianpun akan mampus!”
“Keparat!” Lam-hai Mo-ong menangkap dan mencengkeram pundak Cian Hui dan menariknya bangkit berdiri. “Aku dapat mematahkan semua tulangmu, menyiksamu dengan hebat sebelum engkau mati!”
455
“Nanti dulu, Mo-ong!” kata Tiat-thouw Kui-bo. “Jangan bunuh dia dulu. Biar dia melihat dengan matanya sendiri bagaimana wanita ini mengalami siksaan yang lebih hebat dari pada maut. Panggil ke sini empat-lima orang anak buah yang paling buas dan suruh mereka memperkosa wanita ini di depan matanya. Hendak kulihat apakah Cian Ciang-kun masih akan berkeras kepala!”
Mendengar ini, baik Sui In sendiri maupun Cian Hui menjadi pucat. Kalau siksaan seperti itu dilaksanakan, dan mereka percaya bahwa dua orang manusia iblis ini sanggup melakukan kekejian bagaimanapun juga, tentu mereka berdua takkan dapat menahannya. Bagi mereka, lebih baik mati dari pada harus mengalami ancaman itu. Akan tetapi mereka tidak berdaya.
Pada saat itu, terdengarlah suara melengking nyaring dari luar. Tentu suara itu didorong, tenaga khikang yang amat kuat. Kalau tidak begitu, bagaimana dapat menerobos memasuki ruangan bawah tanah itu?
“Lam-hai Mo-ong dan Tiat-thouw Kui-bo! Dengarlah baik-baik, ini kami Pek-liong-eng dan Hek-liong-li yang bicara!”
Kakek dan nenek itu terkejut, saling pandang dan nenek itu melemparkan tubuh Sui In ke sudut ruangan dan kakek itupun mendorong tubuh Cian Hui sampai terlempar beberapa meter. Cian Hui merangkak mendekati Sui In dan dengan susah payah berhasil membebaskan totokan pada tubuh wanita itu.
Sui In yang merasa gelisah, menggigil karena ngeri sehingga Cian Hui merangkulnya. Akan tetapi Sui In tidak menangis, merasa aman dalam rangkulan perwira itu.
456
“Engkau gagah, Ciang-kun. Aku senang dapat mati bersama engkau......”
“Engkaupun hebat, Sui In. Jangan putus asa, kita belum mati......”
Kakek dan nenek itu tidak memperdulikan mereka. Keduanya mendekati pintu terowongan untuk dapat mendengarkan lebih baik, akan tetapi mereka tidak menjawab. Di luar ruangan tahanan itu nampak belasan orang anak buah mereka bergerombol karena mereka itupun kini menjadi gelisah setelah mengetahui bahwa kuil itu telah terkepung pasukan.
“Tiat-thouw Kui-bo, dengarlah. Aku Hek-long-li menantangmu. Kita bertanding satu lawan satu untuk menentukan siapa yang lebih kuat. Engkau mendapat kesempatan untuk membalaskan anggauta Kiu Lo-mo yang lain, yang telah kubunuh!” terdengar suara nyaring dan mendengar suara yang amat dikenalnya itu, Cian Hui menjadi girang sekali. Itu adalah suara Hek-liong-li!
Suara itu disusul suara lain yang juga nyaring sekali karena dapat menembus ke ruangan bawah tanah dengan jelas, “Lam-hai Mo-ong, aku Pek-liong-eng menantangmu untuk bertanding satu lawan satu! Jangan menjadi pengecut dan menawan orang-orang yang tidak bersalah.”
Lam-hai Mo-ong tertawa. Hanya suaranya saja yang tertawa, akan tetapi wajahnya sama sekali tidak ikut tertawa. Wajahnya membayangkan kegelisahan.
“Ha-ha-ha, Pek-liong-eng! Engkau mengatakan kami pengecut, akan tetapi engkau dan Liong-li lebih pengecut lagi. Kalian hanya
457
berani menantang kami karena kalian membawa pasukan yang besar jumlahnya! Kalian yang mengaku pendekar-pendekar yang gagah perkasa sepatutnya merasa malu! Kalau kami keluar, tentu pasukan akan mengeroyok kami!”
“Dengar, kalian kakek dan nenek busuk!” terdengar lagi suara Liong-li. “Kami bukan pengecut. Kami berdua tantang kalian berdua, dan kami berjanji tidak akan melakukan pengeroyokan. Kalau kalian berdua mampu mengalahkan kami berdua, kalian boleh pergi tanpa kami ganggu. Akan tetapi kalianpun harus berjanji untuk tidak mengganggu Gwat Kong Hosiang, dan Kwan Seng Hwesio, Cian Hui Ciang-kun, dan Cu Sui In!”
“Baik, kami berjanji. Pek-liong dan Liong-li, ucapanmu didengar banyak orang. Nama kalian akan hancur dan menjadi bahan ejekan dunia kang-ouw kalau kalian melanggar janji!” kata Lam-hai Mo-ong dan diapun memberi isyarat kepada Tiat-thouw Kui-bo untuk keluar.
Semua pengikut mereka juga mengikuti dua orang pimpinan ini keluar, karena tentu saja, mereka tidak mau ditinggalkan di ruangan bawah tanah itu dan setiap orang menginginkan mendapatkan kebebasan. Kalau dua orang pimpinan mereka menang tentu mereka semua akan diperbolehkan lolos dari lingkungan istana.
Cian Hui dan Sui In yang ditinggalkan oleh gerombolan itu, hanya mampu menanti karena mereka menderita luka keracunan yang cukup hebat, membuat mereka merasa nyeri dan lemah. Mereka mencoba untuk bergerak keluar dari ruangan bawah tanah itu,
458
akan tetapi baru saja mereka tiba di pintu ruangan tahanan yang kini sudah terbuka, keduanya tidak kuat menahan lagi dan mereka terguling roboh tak sadarkan diri.
◄Y►
Pek-liong-li, dan para perwira dan jagoan istana yang jumlahnya belasan orang, memandang penuh perhatian ketika kakek dan nenek itu keluar dari pintu rahasia dan diikuti oleh belasan orang anak buah mereka. Kini, baik kakek dan nenek itu maupun para pengikutnya, tidak lagi mengenakan topeng sehingga wajah mereka dapat dikenali.
Seperti yang telah diduga oleh Pek-liong, di antara para pengikut itu terdapat Pek-mau-kwi Ciong Hu, si Iblis Rambut Putih dan dua orang kakak beradik Huang-ho Siang-houw (sepasang Harimau Sungai Huang-ho). Akan tetapi mudah diduga bahwa anak buah mereka itu adalah orang-orang dunia hitam yang sesat dan rata-rata, memiliki ilmu kepandaian tinggi.
Bukan hanya Pek-liong-liong-li dan para perwira saja yang memandang gerombolan yang selama ini mengacau istana sebagai Si Bayangan Iblis akan tetapi juga ratusan pasang mata dari para perajurit pasukan pengawal yang telah mengepung kuil itu memandang dan mengikuti gerak gerik gerombolan itu ketika mereka keluar dari kuil dan berada di pekarangan depan kuil di mana Pek-liong dan Liong-li bersama para perwira sedang menanti.
Pagi itu amat cerah. Sinar matahari pagi telah menerangi seluruh pekarangan. Namun tidak ada wajah seorangpun di situ yang
459
cerah. Wajah sepasang pendekar dan semua jagoan istana, juga para perajurit pengawal, membayangkan kemarahan. Adapun wajah gerombolan pengacau itu dibayangi kegelisahan dan ketegangan.
Melihat mereka keluar tanpa membawa empat orang yang mereka tawan, Liong-li membentak dengan suara tegas. '“Mo-ong dan Kui-bo! Belum apa-apa kalian sudah hendak melanggar janji! Di mana empat orang tawanan itu?”
“Mereka berada di dalam, terluka. Kami tidak melanggar janji dan kami siap melawan kalian orang-orang muda sombong!” kata Lam-hai Mo-ong.
Liong-li menoleh kepada seorang perwira dan berkata, “Ciang-kun, tolong periksa dulu apakah benar empat orang itu dalam keadaan selamat di dalam sana.”
“Baik,” jawab perwira itu yang segera memasuki pintu rahasia yang kini sudah terbuka itu.
Liong-li tidak mau ditipu. Kalau empat orang itu telah dibunuh oleh gerombolan Bayangan Iblis, iapun tidak mau memegang janji, tidak mau bersusah payah mengadu ilmu melawan kakek dan nenek datuk sesat itu! Ia akan mengerahkan semua jagoan istana untuk mengeroyok dan menangkap gerombolan itu.
Tak lama kemudian, perwira itu muncul kembali dan diapun melapor kepada Liong-li. “Li-hiap, mereka masih hidup walaupun dalam keadaan terluka.”
460
“Hi-hi-hih, Hek-liong-li, kami adalah datuk-datuk persilatan yang ternama. Kami tidak akan melanggar janji!” kata Tiat-thouw Kui-bo.
“Kui-bo, seperti aku tidak tahu saja akan watak curang Kiu Lo-mo! Kalian memenuhi janji hanya karena sudah tersudut!”
“Hek-liong-li, tidak perlu banyak cakap lagi. Apakah engkau ingin menjilat ludahmu sendiri yang sudah kaukeluarkan? Masih berlakukah tantanganmu kepadaku tadi?”
“Tentu saja. Majulah, Kui-bo!” kata Liong-li yang sudah siap siaga menandingi nenek yang ia tahu amat lihai dan berbahaya itu.
Akan tetapi pada saat itu, terdengar seruan-seruan nyaring dan nampaklah rombongan kaisar datang ke tempat itu! Melihat kaisar muncul diiringi para pengawal, semua orang, kecuali gerombolan penjahat, memberi hormat.
“Tangkap gerombolan Bayangan Iblis dan penggal leher mereka semua!” bentak Kaisar dengan nada suara marah.
Kaisar memang marah sekali karena baru saja dia mendengar laporan bahwa seorang puteranya, yaitu Pangeran Souw Kian, bersama ibunya, telah tewas di dalam kamar pangeran itu karena mereka membunuh diri dengan minum racun! Selir itu meninggalkan surat pengakuan bahwa gerombolan Si Bayangan Iblis melakukan semua pembunuhan itu dengan maksud agar kelak yang menjadi putera mahkota adalah Pangeran Souw Kian, dengan janji bahwa kelak apabila Pangeran Souw Kian menjadi
461
kaisar, pimpinan gerombolan itu akan mendapatkan kedudukan tinggi.
Kiranya selir itu ketika mendengar bahwa gerombolan itu gagal dan dikepung, ia meracuni puteranya dan diri sendiri. Lebih baik mati dari pada menderita malu dan juga ngeri menghadapi hukuman yang akan dijatuhkan kepada mereka.
Kaisar menjadi marah sekali dan mendengar laporan bahwa kini gerombolan itu telah dikepung di sarang mereka, yaitu kuil istana di puncak bukit. Kaisar lalu memerintahkan pasukan pengawalnya untuk mengiringkannya naik ke bukit itu.
Ketika kaisar mengeluarkan perintah, Hek-liong-li dan Pek-liong-eng terkejut sekali. Perintah itu pasti akan dilaksanakan dan ini berarti mereka melanggar janji kepada dua orang datuk. Maka, dua orang pendekar itu cepat maju dan menjatuhkan diri berlutut di depan kaisar.
“Ampunkan hamba berdua, Sribaginda!” kata Hek-liong-li, “Hamba berdua sudah menantang dua orang pimpinan Si Bayangan Iblis untuk bertanding dan sudah berjanji. Mohon paduka memberi kesempatan kepada hamba berdua untuk bertanding dengan dua orang pimpinan gerombolan Si Bayangan Iblis.”
Kaisar mengerutkan alisnya, “Siapakah kalian?”
“Hamba bernama Lie Kim Cu, Sribaginda.”
“Hamba bernama Tan Cin Hay,” kata pula Pek-liong.
462
“Mereka adalah Pek-liong-eng dan Hek-liong-li, Sribaginda,” seorang perwira melapor.
Kaisar mengangguk-angguk dan menghelus jenggotnya. Diam-diam dia kagum. Tentu saja dia telah mendengar laporan, bahkan dari Cian Hui sendiri bahwa dua orang pendekar inilah yang diharapkan akan mampu menangkap Si Bayangan Iblis. Tak disangkanya bahwa sepasang pendekar yang dikabarkan amat lihai itu ternyata hanyalah sepasang orang yang masih muda.
“Mereka benar, Sribaginda. Mohon diberi kesempatan kepada mereka untuk menandingi orang-orang jahat itu!” tiba-tiba terdengar suara lembut dan muncullah Permaisuri Bu Cek Thian yang dilindungi pasukan pengawal pribadinya, dipimpin oleh gadis kembar yang tak pernah terpisah dari samping permaisuri itu, ialah Bi Cu dan Bi Hwa.
“Hamba sendiri yang mengutus Hek-liong-li untuk menyelidiki dan menangkap Bayangan Iblis,” kata pula permaisuri itu setelah memberi hormat kepada kaisar dan mereka berdua segera menduduki kursi yang sudah dibawa datang oleh para pengawal. Kaisar dan permaisuri itu sudah duduk seperti hendak menonton pertunjukan yang menarik.
“Baik, kami setuju diadakan pertandingan itu. Akan tetapi, sekali para penjahat itu berbuat curang, segera kepung dan robohkan mereka semua!” kata kaisar penuh wibawa.
“Terima kasih, Sribaginda,” kata Liong-li dan Pek-liong berbareng dan merekapun kini menghadapi lagi kakek dan nenek yang berdiri dengan wajah pucat dan gelisah, sedangkan belasan
463
orang anak buah mereka berdiri dengan muka membayangkan ketakutan.
“Nah, engkau beruntung sekali, Kui-bo. Dalam kesempatan terakhir engkau masih diberi kesempatan untuk memamerkan kepandaian, bahkan disaksikan oleh penonton agung!” kata Liong-li sambil mencabut pedangnya dam nampaklah sinar hitam berkilauan. “Cabut senjatamu dan mulailah!”
Tiat-thouw Kui-bo maklum bahwa ia tidak dapat mengelak lagi, tidak dapat menghindarkan diri dari pertandingan melawan Hek-liong-li yang sudah lama dianggapnya sebagai musuh besar. Kesempatan baik untuk membalas dendam walaupun kedudukannya sungguh tidak menguntungkan, seolah ia berada di dalam guha naga yang tidak memungkinkan ia lolos lagi.
Andaikata ia dapat menang melawan Liong-li, belum tentu kaisar akan mau membebaskannya begitu saja. Akan tetapi kalau ia dan Mo-ong dapat mengalahkan Pek-liong dari Liong-li, masih ada harapan bagi mereka untuk mengamuk dan melarikan diri. Musuh atau lawan terberat bagi mereka hanyalah dua orang pendekar muda itu.
“Baik, Hek-liong-li, engkau atau aku yang akan menjadi pemenang, Asal engkau tidak mengeroyokku saja!” kata Tiat-thouw Kui-bo sambil mencabut senjatanya, yaitu sebatang pedang yang berkilau saking tajamnya.
Pada saat itu, para pangeran berdatangan untuk menyaksikan sendiri gerombolan Bayangan Iblis yang selama ini mengacau
464
dan melakukan banyak pembunuhan di dalam istana dan juga di luar istana.
“Kui Lo-ma......! Apa yang kaulakukan ini? Benar engkaukah ini?”
Pangeran Kim Ngo Him yang baru tiba berseru dengan penuh keheranan sambil menghampiri nenek yang biasanya dikenalnya sebagai tukang masak dan ahli pijat itu. Sikapnya ini membuktikan bahwa pangeran mantu kaisar ini memang benar tidak tahu menahu tentang gerakan gerombolan pembunuh Si Bayangan Iblis yang dipimpin oleh pelayannya itu.
“Mundurlah, pangeran. Pangeran telah memelihara seekor srigala dalam gedung pangeran. Ia bukan Kui Lo-ma, melainkan Tiat-thouw Kui-bo yang menyamar. Ia seorang datuk sesat, seorang di antara Kiu Lo-mo yang jahat dan kejam,” kata Hek-liong-li.
Mendengar ini wajah pangeran itu menjadi pucat dan segerti orang ketakutan diapun melangkah ke belakang menjauhi nenek itu yang hanya menyeringai.
Ketika melihat munculnya Pangeran Souw Cun, Liong-li segera teringat akan kematian Pangeran Souw Han, dan teringat pula betapa ia pernah dihina bahkan dicambuki pangeran itu, maka ia mempergunakan kesempatan itu untuk menudingkan telunjuknya ke arah Pangeran Souw Cun dan berkata,
”Inilah dia pangeran yang bersekongkol dengan gerombolan Bayangan Iblis! Dialah yang telah menyuruh bunuh Pangeran Souw Han!”
465
Tentu saja ucapan Liong-li ini membuat semua mata memandang kepada Pangeran Souw Cun, termasuk mata kaisar dan permaisuri Bu Cek Thian.
“Bohong! Itu fitnah belaka. Seperti juga pangeran Kim Ngo Him, aku tidak tahu menahu tentang gerombolan......”
“Ha-ha-ha-ha!” Lam-hai Mo-ong tertawa memotong ucapan Pangeran Souw Cun. “Kalau sudah begini, perlu apa berpura-pura lagi, pangeran? Semua usaha dan cita-cita kita telah gagal, digagalkan oleh Hek-liong-li dan Pek-liong-eng. Kalau saja pangeran tidak menyuruh bunuh Pangeran Souw Han, belum tentu secepat ini kita mengalami kegagalan!”
Mendengar ucapan ini, Pangeran Souw Cun menjadi pucat sekali.
“Tangkap pengkhianat itu!” Kaisar membentak marah dan Pangeran Souw Cun terkulai lemas menjatuhkan diri berlutut minta-minta ampun kepada ayahnya. Namun, kaisar tetap memberi isyarat kepada para pengawal yang segera menangkap dan menyeret pangeran itu untuk ditawan. Bukan Pangeran Souw Cun saja yang dttangkap, bahkan seluruh keluarganya termasuk ibunya juga ditangkap.
“Nah, sekarang majulah, Kui-bo,” kata Liong-li.
Nenek itu memandang dengan mata mencorong, mata kehijauan yang seperti mata kucing, kemudian, tiba-tiba saja tangan kirinya bergerak dan beberapa batang paku beracun menyambar ke arah tubuh Liong-li. Namun, wanita perkasa ini sudah tahu bahwa, Kui-
466
bo mempunyai senjata rahasia paku beracun yang amat berbahaya, maka ia sudah siap siaga dan sekali Hek-liong-kiam di tangan kanan diputar, nampak gulungan sinar hitam dan semua paku itupun runtuh.
SERANGAN paku ke arah tubuh bagian atas lawan itu merupakan gertakan untuk mengalihkan perhatian saja, karena begitu Liong-li memutar pedang menangkis, Kui-bo sudah meloncat ke depan, tubuhnya merendah dan pedangnya meluncur, menyapu ke arah kedua kaki Liong-li. Serangan tiba-tiba ini amat berbahaya karena pada saat itu, Liong-li sedang memutar pedang menangkis paku-paku itu.
Namun, Liong-li tidak pernah lengah dan begitu nampak sinar pedang menyapu ke arah kakinya, dengan gerakan ringan sekali tubuhnya sudah meloncat ke atas, berjungkir balik di udara dan tubuh itu meluncur turun bagaikan seekor naga, kepala di depan dan didahului putaran pedangnya menyerang ke arah kepala Kui-bo. Nenek iblis terpaksa menggerakkan pedangnya menangkis sambil mengerahkan tenaga sin-kangnya.
“Tranggg......!” Tubuh Liong-li terpental dam wanita ini berjungkir balik beberapa kali baru tubuhnya meluncur turun kembali ke atas lantai di depan Tiat-thouw Kui-bo.
Nenek itu sendiri terhuyung ke belakang dan dari akibat benturan pedang itu saja dapat diketahui bahwa dalam hal kekuatan sin-kang, mereka berimbang! Hanya Liong-li lebih pandai mengatur keseimbangan dirinya sehingga akibat benturan tenaga itu dapat
467
diatasinya dengan baik, membuat gerakannya nampak indah sedangkan nenek itu terhuyung seperti hendak jatuh.
Tiat-thouw Kui-bo menjadi semakin marah. Ia memang amat membenci Liong-li. Pendekar wanita itu bersama Pek-liong telah membunuh dua orang rekannya, yaitu Hek-sim Lo-mo (Iblis Tua Berhati Hitam) di daerah Lok-yang, dan Siauw-bin Ciu-kwi (Iblis Arak Muka Tertawa) di Bukit Merak daerah Po-yang. Seperti juga ia dan Lam-hai Mo-ong, dua orang rekannya itu adalah anggauta Kiu Lo-mo, maka tentu saja, Kui-bo mendendam kepada Liong-li.
Kalau selama ini ia dan Lam-hai Mo-ong belum bertindak melakukan pembalasan, hal itu adalah karena ia sedikit banyak merasa jerih terhadap pendekar wanita itu. Melakukan penyerangan ke rumah pendekar wanita itu amat berbahaya karena rumah itu diperlengkapi alat-alat rahasia dan perangkap yang sukar diatasi. Ia dan Mo-ong hanya menanti kesempatan baik saja.
Ketika melihat Liong-li di istana, kesempatan itu muncul, akan tetapi ia dan Mo-ong sibuk dengan urusan yang lebih besar, yaitu mencari kekuasaan di istana. Kini, kesempatan itu tiba, akan tetapi keadaannya terjepit dan terkepung, bahkan disaksikan oleh Kaisar dan Permaisuri. Tiada jalan lain baginya kecuali melawan dengan nekat dan mati-matian.
“Hyaaattt......!” Nenek itu mengeluarkan suara melengking nyaring dan pedangnya diputar cepat, berubah menjadi gulungan sinar yang menyambar-nyambar ke arah Liong-li. Namun, wanita cantik berpakaian serba hitam itu menyambut dengan gerakan tenang
468
dan mantap. Berkali-kali kedua pedang itu bertemu dan menimbulkan pijar bunga api.
Keduanya sudah saling serang dengan hebatnya. Hanya ahli-ahli silat yang sudah tinggi tingkatnya dapat mengikuti gerakan mereka yang amat cepat. Bagi mereka yang tidak mengenal ilmu silat, dua orang .yang sedang bertanding itu seolah-olah merupakan dua bayangan yang berkelebatan dan menjadi satu digulung dua sinar pedang, sukar dibedakan mana Liong-li mana Kui-bo.
Pada suatu saat, ketika Liong-li menyerang dengan bacokan pedangnya dari atas menyambar ke arah kepala lawan. Kui-bo menyambutnya dengan tangkisan ke atas. Kedua pedang bertemu dan melekat karena pengerahan sin-kang kedua pihak.
Saat kedua pedang melekat di udara itu, Kui-bo menggerakkan tangan kirinya, memukul dengan telapak tangan terbuka ke arah dada Liong-li. Pukulan maut ini berbahaya sekali karena mengandung hawa beracun.
Namun, Liong-li sudah siap dan ia sudah mengerahkan tenaga istimewa yang membuat tangan kirinya menjadi merah. Itulah Hiat-tok-ciang (Tangan Racun Darah), satu diantara ilmu-ilmu yang dikuasai Liong-li.
“Desss......!” Dua buah telapak tangan bertemu, keduanya mengandung pukulan beracun dan akibatnya, Kui-bo terhuyung ke belakang sambil menyeringai karena telapak tangan kirinya terasa panas. Sebaliknya, Liong-li juga tergetar hebat dan
469
keduanya kini sudah siap untuk melanjutkan pertandingan mati-matian itu.
Melihat keadaan rekannya agaknya tidak akan dapat menang dengan mudah, tentu saja Lam-hai Mo-ong merasa khawatir sekali. Satu-satunya kawan yang dapat diandalkannya menghadapi Pek-liong dan Liong-li hanyalah Kui-bo. Anak buahnya, walaupun memiliki kepandaian cukup tinggi, bukanlah tandingan sepasang pendekar itu. Maka, diapun sudah meloncat ke depan Pek-liong.
“Pek-liong-eng, mari kita mengadu nyawa, bukan hanya menjadi penonton saja!” teriaknya dan diapun sudah melolos rantai bajanya.
“Hemm, majulah, Mo-ong,” kata Pek-liong dan sekali tangan kanannya bergerak, nampak sinar putih berkelebat dan Pedang Naga Putih telah berada di tangannya.
Lam-hai Mo-ong tidak banyak cakap lagi, segera mengeluarkan suara gerengan seperti seekor biruang dan diapun sudah memutar rantai bajanya dan menyerang dengan dahsyat. Namun, Pek-liong sudah siap siaga dan dengan lincah sekali pendekar ini sudah mengelak dari sambaran rantai dan membalas dengan tusukan pedangnya.
Namun, lawannya adalah seorang datuk yang lihai, dan dapat pula menghindarkan tusukan pedang dengan mudah sambil menggerakkan rantainya menyapu ke arah kaki Pek-liong yang meloncat ke atas. Perkelahian mati-matian segera terjadi antara Lam-hai Mo-ong dan Pek-liong-eng.
470
Kini para penonton mengagumi dua perkelahian yang amat hebat. Kaisar sendiri walaupun pernah mempelajari ilmu silat di waktu mudanya, menjadi pening juga menyaksikan gerakan empat orang itu yang terlalu cepat baginya. Namun, para jagoan istana dan para perwira memandang penuh kagum. Belum pernah mereka menyaksikan pertandingan silat yang demikian hebatnya.
“Kui-bo, kita bertukar lawan!” tiba-tiba Mo-ong berteriak, rantainya kini menyeleweng dan menyambar ke arah Liong-li ketika dua orang wanita yang sedang bertanding itu tiba di dekatnya.
Tiat-thouw Kui-bo agaknya sudah mengenal benar siasat rekannya itu, maka tubuhnya sudah mencelat ke kanan dan pedangnya menyerang Pek-liong. Diserang secara mendadak oleh musuh yang berganti tempat itu, baik Liong-li maupun Pek-liong menjadi agak bingung dan hampir saja Liong-li terkena sambaran rantai baja.
Biarpun ia sudah mengelak dengan cepat membanting tubuh ke belakang lalu bergulingan, tetap saja ia terhuyung dan kini dikurung oleh gulungan sinar rantai yang panjang. Akan tetapi, wanita perkasa itu segera dapat menguasai dirinya, memutar Hek-liong-kiam dan dapat mengimbangi rangkaian serangan lawan. Demikian pula Pek-liong sempat terkejut dan terdesak oleh pedang Kui-bo, namun diapun segera dapat mengembalikan keseimbangannya.
Akan tetapi, beberapa kali kakek dan nenek iblis itu bertukar tempat dan setiap mereka berganti tempat, Pek-liong dan Liong-li
471
dibuat bingung dari terdesak. Agaknya memang pertukaran tempat yang berganti-ganti itu merupakan siasat kakek dan nenek itu.
“Pek-liong, sudah tiba saatnya kita mainkan Sin-liong-kiam (Pedang Naga Sakti)!” tiba-tiba Liong-li berseru dan iapun meloncat ke dekat Pek-liong dan mereka saling membelakangi.
Kini baru kakek dan nenek itu tahu bahwa siasat mereka tadi hanya memancing dua orang itu mengeluarkan ilmu pedang yang mereka ciptakan bersama, yang merupakan inti dari kehebatan sepasang naga putih dan naga hitam itu! Kalau saja Mo-ong menantang Pek-liong untuk bertanding pula, belum tentu mereka akan mengeluarkan ilmu ini.
Dan begitu Pek-liong dan Liong-li memainkan Sin-liong-kiam yang mereka ciptakan bersama, dua orang kakek dam nenek itupun menjadi terkejut dan terdesak hebat. Ilmu pedang itu memang merupakan ilmu pedang gabungan dari semua kepandaian mereka, dan dengan bekerja sama mereka itu seolah-olah hanya mempunyai satu hati, satu pikiran dan satu perasaan!
Gulungan sinar pedang putih dan hitam itu saling membantu, saling memperkuat dan mengisi kekosongan masing-masing dan biarpun lawan mereka merupakan dua orang datuk yang lihai sekali. Kini dua orang itu terdesak dan terkepung gulungan sinar pedang hitam putih dan mereka hanya dapat menangkis saja tanpa sempat membalas karena mereka masih bingung oleh gerakan dua batang pedang yang saling bantu dengan gerakan aneh dan hebat itu.
472
Agaknya, kalau saja dua orang pendekar ini tidak bekerja sama dengan ilmu pedang ciptaan mereka, kiranya tidak akan mudah bagi mereka mengalahkan lawan masing-masing, karena kekuatan mereka sesungguhnya seimbang. Mereka memang menang cepat karena memang masih muda, akan tetapi kemenangan ini diimbangi oleh kemenangan pihak lawan dalam hal pengalaman.
Setelah mereka bekerja sama, kekuatan mereka menjadi berlipat ganda. Hal ini bukan hanya karena ilmu pedang Sin-liong-kiam-sut, memang ciptaan mereka, namun antara Pek-liong dan Liong-li memang terdapat hubungan yang amat aneh.
Mereka itu sekali saling pandang saja seperti telah dapat membaca isi hati masing-masing, dan begitu mereka berdekatan, mereka seperti sudah saling bantu dan jalan pikiran mereka searah, juga perasaan mereka sama peka terhadap rekannya. Inilah kelebihan Pek-liong dan Liong-li yang tidak ada pada kedua orang lawan mereka sehingga mereka mampu membuat Kui-bo dan Mo-ong menjadi repot sekali.
Ketika Kui-bo terhuyung oleh sambaran pedang Pek-liong, kesempatan itu dipergunakan oleh Liong-li untuk menerjang ke depan. Pedangnya diputar cepat ketika ia melihat Kui-bo yang sudah kewalahan itu menangkis sehingga tanpa dapat dicegah lagi, pedang di tangan Kui-bo terlepas.
Kui-bo menjadi terkejut dan marah, tangan kirinya bergerak dan tiga batang paku beracun terakhir yang masih dimilikinya meluncur dan menyambar ke arah Liong-li. Liong-li sudah
473
menduga akan hal ini, pedangnya berkelebat menangkis dengan pukulan sehingga tiga batang paku itu membalik dan menyambar ke arah Tiat-thouw Kui-bo sendiri.
“Aughhh......!” Nenek itu kena disambar pakunya sendiri yang tepat mengenai lehernya. Ia terjengkang dan berkelonjotan sekarat.
Sementara itu, melihat rekannya roboh, Lam-hai Mo-ong menjadi gentar. Dia mencoba untuk meloncat ke kiri, untuk melarikan diri, akan tetapi dia berhadapan dengan tombak para perajurit pengawal. Dia memutar rantai mengamuk dan robohlah dua orang perajurit. Akan, tetapi Pek-liong sudah menghadapinya lagi.
“Iblis tua, jangan pengecut! Engkau hendak lari ke mana?” Pek-liong sudah mendesak dengan pedangnya.
Lam-hai Mo-ong menjadi semakin panik. Dia telah membunuh dua orang perajurit, maka dia tahu bahwa tentu tidak ada ampun baginya. Melihat Pek-liong menyerangnya, diapun meloncat ke belakang, kemudian sambil mengambil ancang-ancang, dia bahkan melompat tinggi ke arah Pek-liong dengan rantai baja diputar.
Melihat ini, Pek-liong juga meloncat menyambutnya. Nampaknya ke dua orang itu hendak berbenturan di udara. Akan tetapi, akhirnya tubuh kakek itu terpelanting dan ketika tiba di atas tanah, dia terbanting keras. Rantainya terlempar dan kedua tangannya mendekap perut, matanya terbelalak dan ternyata perutnya robek oleh pedang Pek-liong. Hanya sebentar kakek itu sekarat, lalu tewas seperti rekannya, Tiat-thouw Kui-bo yang telah
474
tewas lebih dahulu karena paku beracun menancap di tenggorokannya.
Melihat betapa dua orang pimpinan mereka itu tewas, gerombolan penjahat itu menjadi ketakutan. Agaknya tadi Pek-mau-kwi Ciong Hu dan dua orang bersaudara Huang-ho Siang-houw sudah saling berbisik mengatur siasat untuk menyelamatkan diri.
Begitu melihat Lam-hai Mo-ong roboh, mereka bertiga sudah mencabut pedang dan serentak mereka meloncat ke arah tempat duduk permaisuri Bu Cek Thian! Mereka tadi sudah mengatur siasat bahwa untuk dapat meloloskan diri, mereka harus dapat menyandera seorang penting.
Kaisar sendiri terjaga kuat, akan tetapi mereka melihat betapa permaisuri hanya dilindungi oleh dua orang pengawal wanita, dua orang gadis kembar. Mereka mengira bahwa tentu mereka akan dapat dengan mudah menyandera permaisuri dan mereka akan memaksa kaisar untuk membebaskan mereka, menukar nyawa mereka dengan keselamatan sang permaisuri.
Akan tetapi, betapa kaget hati mereka ketika mereka meloncat dekat Permaisuri Bu Cek Thian, dua orang gadis kembar yang menjadi pengawal pribadi permaisuri itu, menyambut Huang-ho Siang-houw dengan pedang mereka dan gerakan dua orang gadis kembar ini amat cepat dan kuat! Segera Huang-ho Siang-houw terlibat dalam perkelahian pedang melawan dua orang gadis kembar ini, sedangkan Pek-mau-kwi sendiri ternyata tahu-tahu dihadang oleh Liong-li!
475
Pek-mau-kwi menyerang mati-matian karena maklum bahwa dia menghadapi lawan yang amat tangguh, yang baru saja merobohkan Tiat-thouw Kui-bo. Akan tetapi, memang tingkatnya kalah jauh dibandingkan Liong-li, maka dalam beberapa gebrakan saja Pek-mau-kwi roboh dengan dada tertembus pedang Naga Hitam. Dua orang Huang-ho Siang-houw juga repot menghadapi sepasang gadis kembar murid-murid Bu-tong-pai yang lihai itu. Merekapun roboh dan tewas oleh pedang Bi Cu dan Bi Hwa.
Sementara itu, melihat robohnya tiga orang pembantu utama pimpinan mereka, belasan orang anak buah gerombolan Si Bayangan Iblis sudah menjatuhkan diri berlutut dan menyerah. Mereka semua ditangkap dan diseret ke dalam penjara untuk diadili kelak.
Pek-liong dan Liong-li segera memasuki pintu rahasia, diikuti oleh para jagoan istana. Dan di dalam ruangan di bawah tanah itu mereka melihat Cian Hui dan Sui In yang roboh pingsan, juga dua orang hwesio Gwat Kong Hosiang dan Kwan Seng Hwesio yang terluka parah.
Seperti dengan sendirinya, Liong-li menghampiri Cian Hui dan Pek-liong menghampiri Sui In. Setelah memeriksa dan mendapatkan kenyataan bahwa Cian Hui dan Sui In menderita luka dalam karena pukulan beracun, Liong-li dan Pek-liong menotok beberapa jalan darah di tubuh mereka sehingga mereka siuman, lalu kedua orang pendekar itu memapah mereka yang terluka keluar dari ruangan bawah tanah.
476
Melihat Kaisar dan Permaisuri sendiri berada di kuil yang menjadi medan perkelahian itu, Cian Hui yang terluka parah lalu menjatuhkan diri berlutut, diikuti Sui In dan juga Pek-liong dan Liong-li. Kaisar tersenyum, gembira dan memuji-muji mereka berempat.
Ketika mendengar betapa Cian Hui dan Sui In. terluka pukulan beracun dan bahwa Liong-li dan Pek-liong hendak mengobati mereka, Kaisar memerintahkan untuk memberi kamar-kamar untuk tamu agung bagi mereka. Juga dia memerintahkan permaisuri untuk membagi-bagi hadiah yang layak bagi mereka berempat yang sudah berjasa membongkar rahasia gerombolan Si Bayangan Iblis, bahkan telah membasmi gerombolan itu. Kemudian Kaisar dan Permaisuri kembali ke istana.
◄Y►
Semalam suntuk, baik Pek-liong maupun Liong-li, di kamar masing-masing dalam istana, kamar yang besar dan indah, mengerahkan sin-kang mereka dan mengobati Cian Hui dan Sui In. Mereka melakukan cara pengobatan yang sama. Cian Hui duduk bersila di atas pembaringan, Liong-li duduk di belakangnya dan menempelkan telapak kedua tangannya di punggung perwira itu dan menyalurkan sin-kang untuk mengusir hawa beracun dan memulihkan tubuh yang terluka.
Demikian pula cara Pek-liong mengobati Sui In di kamarnya. Bagi orang lain, tentu terasa janggal dan aneh melihat betapa Pek-liong yang mengobati Sui In dan bukan Liong-li, dan demikian sebaliknya Liong-li yang mengobati Cian Hui. Akan tetapi bagi
477
sepasang pendekar itu, hal ini tidak ada halangannya. Liong-li memang lebih dekat dengan Cian Hui, sedangkan Pek-liong datang ke kota raja bersama Sui In.
Pada keesokan harinya, dua orang yang terluka itu sudah hampir sembuh. Hawa beracun sudah dibersihkan dan mereka tinggal beristirahat beberapa hari saja, maka mereka akan sembuh sama sekali.
Di kamar Liong-li, Cian Hui memegang kedua tangan Liong-li dengan pandang mata terharu. “Li-hiap, tanpa bantuanmu bukan saja gerombolan Si Bayangan Iblis tidak mungkin dapat dibasmi, bahkan akupun tentu sudah tewas. Bagaimana aku dapat membalas budimu selain mengabdi kepadamu selama hidupku. Li-hiap, sekali lagi kuulangi permohonanku kepadamu. Sudilah kiranya engkau menjadi teman hidupku selamanya, menjadi isteriku, dan aku akan menumpahkan seluruh perasaan kasih sayang dan baktiku kepadamu.”
Liong-li tersenyum dan dengan lembut melepaskan kedua tangannya yang digenggam oleh perwira yang gagah perkasa itu. Akan tetapi ia masih duduk di atas pembaringan berhadapan dengan perwira itu. Senyumnya lembut dan manis sekali.
“Ciang-kun, sudah berkali-kali sejak malam tadi engkau mengajukan lamaran dan sudah berkali-kali pula terpaksa aku menolaknya. Aku tahu, setiap orang wanita yang bijaksana, akan merasa bangga dan berbahagia sekali dapat menjadi isterimu. Engkau seorang pria yang gagah perkasa dan setia, dan engkau seorang pria yang hebat. Akan tetapi maafkan, aku tidak dapat
478
mengikatkan diriku dalam suatu pernikahan. Aku ingin bebas. Terus terang saja Ciang-kun, akupun kagum kepadamu, dan aku suka kepadamu. Kalau engkau menghendaki diriku, Ciang-kun, akupun akan menyambutnya dengan gembira. Akan tetapi pernikahan? Tidak! Aku tidak ingin terikat.”
Cian Hui mengerutkan alisnya dan menatap wajah yang cantik jelita itu dan dalam pandang matanya terbayang keheranan dan keraguan.
“Akan tetapi, mengapa, li-hiap? Kalau engkau tidak menolakku, berarti engkau cinta pula kepadaku. Kenapa tidak dengan pernikahan?”
Liong-li tersenyum lagi dan menggeleng kepalanya. “Panjang ceritanya, akan tetapi cukup kalau kauketahui bahwa aku tidak berharga menjadi isterimu, Cian Ciang-kun. Aku seorang petualang, hidupku penuh musuh penuh ancaman bahaya......”
“Kalau aku menjadi suamimu, aku akan melindungimu, li-hiap. Aku akan mengubah hidupmu, menjadi seorang ibu rumah tangga yang hidup tenang dan tenteram, penuh kasih sayang dari suami dan anak-anakmu......”
Liong-li tertawa, tertawa lepas tanpa menutup mulutnya seperti biasanya para wanita bersopan-sopan. Akan tetapi karena kewajarannya itu, dalam pandangan Cian Hui yang sudah tergila-gila, Liong-li nampak semakin menarik dan menggairahkan.
“Ha-ha, Ciang-kun. Membayangkan aku menjadi seperti itu sungguh membuat aku merasa ngeri! Rasanya aku menjadi
479
seperti boneka hidup. Hidup penuh damai dan tenteram, tanpa tantangan tanpa ancaman. Aih, betapa menjemukan kehidupan seperti itu bagiku, Ciang-kun!
“Tidak, terus terang saja, aku suka padamu, aku suka bercintaan denganmu, akan tetapi hanya itu, tidak ada ikatan cinta kasih yang membuat kita menjadi suami isteri. Tidak, aku tidak dapat menikah dan menjadi isterimu, Ciang-kun. Aku tidak cinta padamu seperti itu, aku hanya suka kepadamu sebagai seorang pria yang jantan dan mengairahkan.”
Cian Hui terbelalak. “Kalau begitu, engkau telah mencinta pria lain, Li-hiap!”
Sepasang alis Liong-li yang indah itu berkerut. “Tidak tahulah.”
“Ah, sekarang aku mengerti! Li-hiap, engkau tentu mencinta Pek-liong-eng! Dapat kurasakan itu, dapat kulihat dari sikap kalian. Dan hal itu tidak aneh. Li-hiap kalian saling mencinta!”
Kerut merut di antara sepasang alis itu makin mendalam. “Pek-liong? Ah, tentu saja aku sayang padanya, aku dan dia adalah satu hati satu pikiran, Ciang-kun. Aku mau mengorbankan nyawa untuknya dan diapun demikian. Hal itu kami anggap wajar.”
“Kalau begitu kenapa li-hiap tidak menikah dengan dia? Pasangan yang amat serasi! Benar, kalian saling mencinta dan kalian harus menjadi suami isteri......”
“Cukup! Tidak ada yang mengharuskan kami!! Dan hubungan kami bahkan lebih akrab dari pada hanya sepasang kekasih.
480
Sudahlah, engkau tidak perlu mencampuri urusan kami. Aku masih bersedia menyambutmu kalau engkau hendak membuktikan kasih sayangmu kepadaku, Ciang-kun.”
Wanita itu memandang dan tersenyum dengan sikap menantang dan penuh daya pikat. Sejenak jantung dalam dada Cian Hui terguncang dan ingin sekali dia menubruk dan mendekap wanita yang amat menggairahkan hatinya itu. Namun, dia menahan diri, bahkan dia meloncat turun dari atas pembaringan.
“Li-hiap, kauanggap aku ini laki-laki yang tidak dapat menghargai wanita? Li-hiap, aku cinta kepadamu. Cinta yang tumbuh dari sanubariku, bukan sekedar hendak melampiaskan nafsu berahi saja. Aku cinta padamu, ingin membahagiakanmu, ingin berdampingan selamanya denganmu, ingin menjadi ayah anak-anakmu. Aku menghormatimu, kagum kepadamu dan lebih baik aku mati dari pada harus menghinamu dengan perbuatan yang tidak sopan. Li-hiap, curahan cinta kasih hanya dapat kulakukan jika li-hiap telah menjadi isteriku.”
Wajah Liong-li berubah merah. Baru sekarang ia bertemu seorang pria yang menolak begitu saja, pada hal ia melakukannya dengan suka rela, dengan senang hati. Sungguh perwira ini seorang pria yang hebat dan ucapannya yang lembut itu seperti pedang menikam perasaannya, membuat ia merasa malu, merasa rendah dan kotor. Akan tetapi, ia menyimpan perasaan itu dan iapun tersenyum cerah.
“Lengkaplah sudah segala sifat baik pada dirimu, Ciang-kun. Sungguh aku merasa kagum sekali dan ini juga membuktikan
481
betapa jauh bedanya antara kita, dan betapa aku sungguh tidak patut menjadi isterimu. Nah, kalau begitu, selamat berpisah dan selamat tinggal, Cian Ciang-kun. Hadiah dari Sribaginda untukku kuberikan kepadamu. Kauterimalah sebagai tanda peringatan dariku. Aku pergi, Ciang-kun!”
“Li-hiap........!” Cian Hui berseru, akan tetapi wanita itu hanya menoleh sambil tersenyum dan mengedipkan matanya, tanda bahwa ia sama sekali tidak menyesal atau marah. Cian Hui terhenyak di kursi dan termenung, berulang kali menghela napas panjang dan dia merasa jantungnya kosong dan sunyi.
Sementara itu, di kamar lain yang tidak begitu jauh dari situ, kamar yang sama indahnya, Pek-liong juga duduk berhadapan di atas pembaringan dengan Cu Sui In. Janda muda ini sudah sembuh dan kini ia memandang pendekar itu dengan sinar mata penuh kagum dan terima kasih.
“Tai-hiap, sungguh besar budi yang telah tai-hiap limpahkan kepadaku. Karena bantuan tai-hiap maka dendamku dapat terbalas, dan kalau tidak ada tai-hiap yang menolongku berulang kali, tentu aku sudah tewas di tangan orang jahat. Tai-hiap, bagaimana aku dapat membalas budimu yang besar itu?”
Pek-liong menjulurkan lengan dan tangannya menyentuh dagu yang halus meruncing manis itu. “Tidak ada budi tidak ada balas, adik yang manis. Aku senang sekali dapat membantumu. Engkau seorang wanita muda yang bernasib malang, masih muda sudah menjadi janda. Engkau cantik jelita dan manis, bahkan memiliki
482
ilmu kepandaian yang cukup tinggi, cerdik dan berani. Aku suka sekali kepadamu, adik Sui In.”
Wajah wanita itu menjadi kemerahan. Memang sejak pertama kali bertemu dengan pendekar ini, ia sudah jatuh hati. Pria ini terlalu hebat dan ia kagum sekali.
“Tai-hiap terlalu memuji. Sebaliknya, tai-hiap adalah seorang pendekar besar yang amat mengagumkan. Tai-hiap, aku ingin sekali membalas semua budimu. Kalau tai-hiap sudi menerimaku, aku ingin melayanimu selama hidupku.”
“Aih, apa maksudmu, adik Sui In?” Pek-liong menyentuh kedua pundak Sui In dan wanita itupun merebahkan diri dalam dekapannya, menyandarkan muka di dada yang bidang itu.
“Tai-hiap, aku akan berbahagia sekali untuk menjadi sisihanmu, menjadi isterimu, atau selirmu, atau pelayanmu......”
Pek-liong mengangkat muka yang bersandar di dadanya itu dan mengecup bibirnya. Menerima ciuman ini, Sui In memejamkan matanya dan langit bagaikan runtuh baginya. Ia sudah siap menyerahkan segala-galanya untuk pria yang dikaguminya dan dicintanya itu.
“Adik Sui In, apa yang kaukatakan itu, akupun kagum dan suka padamu, engkau seorang wanita yang hebat. Akan tetapi ketahuilah bahwa aku tidak mau terikat oleh siapapun. Kalau kita berdua saling menyukai dan dengan suka rela menyerahkan diri untuk saling mencinta, aku akan senang sekali. Akan tetapi aku tidak mau diikat dengan pernikahan, atau dengan ikatan apapun.
483
Setelah ini, kita harus berpisah dan mengambil jalan masing-masing, dan semua ini hanya merupakan kenangan indah saja bagi kita.”
Mendengar ini, Sui In merasa seperti dilempar kembali ke bumi dari langit ke tujuh. Ia membelalakkan matanya, memisahkan diri dari dada Pek-liong, menghadapi pemuda itu dan memandang seperti orang yang tidak percaya akan pendengarannya sendiri.
“Tai-hiap, engkau tidak...... tidak cinta padaku........?”
Pek-liong tersenyum. “Aku suka padamu, aku cinta padamu, akan tetapi bukan cinta yang harus dilanjutkan dengan ikatan.”
“Ahhh...... ahhh......!” Wanita muda itu terisak dan menutupi mukanya dengan kedua tangan, menangis lirih.
Pek-liong mengerutkan alisnya dan diapun turun dari atas pembaringan.
“Adik Sui In, kenapa engkau menangis?”
Dari balik kedua tangannya, Sui In menahan isaknya. “Tai-hiap, maafkan aku....... Kusangka tai-hiap mencintaku seperti aku mencintamu. Aku mengharapkan untuk dapat menghabiskan sisa hidupku di sampingmu. Aku dengan bahagia akan menyerahkan diri, menyerahkan segalanya untukmu, bukan sekedar membalas budi, melainkan karena aku...... aku cinta padamu. Akan tetapi tai-hiap tidak suka menerimaku.......”
484
Pek-liong mengangguk-angguk. “Aku tahu sekarang, Sui In. Engkau memang seorang wanita yang amat baik, juga terhormat. Dan aku akan mengutuk diri sendiri kalau menyeretmu melakukan hal yang tidak kausukai, yang akan kauanggap sebagai suatu perbuatan aib. Aku seorang petualang, adik In, aku tidak ingin terikat dengan pernikahan, aku ingin hidup sendiri.
“Nah, selamat tinggal, adik Sui In, dan jangan menangis. Aku semakin kagum dan hormat padamu. Sampaikan hormatku kepada Sribaginda dan kalau aku diberi hadiah, biarlah hadiah itu untuk engkau dan Cian Ciang-kun. Kalian lebih berhak menerimanya!”
“Tai-hiap......!” Akan tetapi Pek-liong sudah meloncat keluar dan lenyap.
Sui In menangis sedih. Ia merasa kehilangan. Ia tidak mengharapkan hadiah. Ia hanya ingin dapat hidup di samping pendekar yang dikagumi dan dicintanya itu, untuk selamanya. Akan tetapi pendekar itu menolaknya!
Pek-liong mau bermesraan dengannya, akan tetapi tidak mau menikahinya. Dan pendekar itu demikian jujur, berterus terang, dan sama sekali tidak mau menjamahnya lagi setelah ia mengharapkan ikatan. Pada hal, sekali saja pendekar itu merangkulnya, ia akan jatuh bertekuk lutut, dengan atau tanpa janji ikatan.
“Tai-hiap...... ah, tai-hiap......” Ia terhuyung keluar dari dalam kamar itu, untuk mencarinya, untuk mobon kepada Pek-liong agar
485
mengasihani dirinya. Akan tetapi, ia tidak melihat pendekar itu di luar.
Hatinya terasa perih dan kosong, dan ia tentu akan terhuyung roboh kalau saja tidak ada lengan yang kuat merangkul pinggangnya. Ia menoleh dan melihat bahwa yang merangkulnya sehingga tidak sampai roboh itu adalah Cian Hui!
“Tenangkan hatimu, In-moi...... kulihat Tan tai-hiap sudah pergi......”
Karena kepalanya terasa pening, Sui In terpaksa bersandar kepada perwira itu dan membiarkan dirinya dituntun masuk ke dalam kamarnya kembali.
“Duduklah dan tenangkan dirimu, agaknya lukamu belum sembuh, In-moi,” kata perwira itu dan membantu Sui In duduk di atas pembaringan. Dia sendiri duduk di atas kursi yang berdekatan.
“Dia...... dia menolakku..... dia tidak mau menerima pengabdianku...... dia tidak cinta padaku........” seperti mengigau Sui In berbisik.
Cian Hui tersenyum pahit. Betapa sama nasib wanita ini dengan dia. Wanita ini seorang janda, diapun seorang duda. Wanita ini agaknya tidak diterima ketika menyatakan ingin menjadi isteri Pek-liong dan dia sendiri ditolak Liong-li yang tidak mau terikat dengannya!
486
“In-moi, tenangkan hatimu. Mereka itu bukanlah orang-orang biasa seperti kita. Mereka adalah petualang-petualang, pendekar-pendekar yang tidak mau terikat dengan pernikahan, tidak mau terkurung dalam rumah tangga.”
Sui In mengangkat muka menoleh ke arah perwira itu sambil menyusut air matanya. “.......mereka......?” tanyanya.
Sambil tersenyum pahit perwira itu mengangguk. “Benar, mereka, In-moi. Li-hiap Hek-liong-li juga menolak lamaranku untuk menjadi isteriku! Mereka orang-orang aneh, In-moi, berbeda dengan kita......”
Sui In terbelalak, tidak tahu harus tertawa atau menangis. “Ahhh......, betapa sama nasib kita. Kalau begitu.... mereka itu, mereka saling mencinta!”
Cian Hui mengangguk. “Aku yakin begitu. Akan tetapi mereka orang-orang aneh, cinta merekapun aneh.”
Dua orang yang bernasib sama ini saling pandang, kemudian keduanya tersenyum. Mereka sama maklum dan mereka merasa terhibur mendengar nasib yang lain, seolah-olah dalam penderitaan dan kekecewaan mereka, ada teman yang senasib, ada kawan dan ini merupakan hiburan besar.
Mereka saling menghibur dan melihat betapa masa depan mereka cerah, karena mereka saling merasa kasihan dan timbul suatu niat ingin saling mengisi kekosongan hati masing-masing. Yang seorang duda, seorang lagi janda, keduanya tidak mempunyai anak. Apa lagi yang menghalang?
487
Dua orang pengawal datang mengetuk pintu dan menyampaikan perintah kaisar yang memanggil mereka berdua, juga memanggil Pek-liong dan Liong-li. Mereka segera menghadap, melaporkan tentang kepergian dua orang pendekar itu dan betapa mereka itu meninggalkan pesan bahwa mereka tidak mengharapkan imbalan jasa.
Kaisar merasa kagum sekali dan melimpahkan semua anugerahnya kepada Cian Hui dan Sui In. Duda dan janda ini meninggalkan istana dengan hadiah mereka, dengan hati yang gembira dan penuh harapan yang gemilang.
Mereka tidak tahu bahwa hancurnya gerombolan Si Bayangan Iblis itu mendatangkan keuntungan yang besar sekali kepada satu orang, yaitu Permaisuri Bu Cek Thian! Peristiwa itu membuat para pangeran menjadi jera dan tidak ada lagi yang berani memperebutkan pengaruh di istana. Dengan demikian maka kekuataan Bu Cek Thian menjadi semakin besar.
Sementara itu, jauh di luar kota raja, Pek-liong dan Liong-li menunggang kuda berdampingan. Mereka menjalankan kuda dengan perlahan dan sejak mereka bertemu di pintu gerbang istana, Liong-li melihat betapa wajah Pek-liong agak muram, tidak berseri seperti biasanya. Akan tetapi mereka tidak banyak bicara dan mereka keluar istana, membeli dua ekor kuda dan melanjutkan perjalanan naik kuda keluar dari kota raja.
“Bagaimana dengan Cu Sui In?” tiba-tiba Liong-li bertanya, untuk memancing omongan.
Tanpa menoleh Pek-liong balas bertanya, “Ada apa dengannya?”
488
“Apakah ia merupakan seorang kekasih yang menyenangkan?”
Pek-liong menoleh dan pandang mata mereka bertemu sejenak, lalu Pek-liong menunduk kembali. “Ia seorang wanita yang hebat, wanita yang terhormat, aku kagum padanya.”
Wajah Liong-li herseri dan mulutnya membayangkan senyum ditahan, ia sudah mengenal isi hati rekannya itu seperti mengenal telapak tangannya sendiri. Pek-liong menyebut Sui In wanita terhormat, dan wajahnya muram, dan ia teringat akan pengalamannya sendiri dengan Cian Hui.
“Ahh? Ia...... ia menolak cintamu?”
“Tidak, ia hanya seorang wanita terhormat. Ia ingin menjadi isteriku, terpaksa menolak dan kami berpisah sebagai sahabat, bukan sebagai kekasih. Engkau tentu lebih berhasil.”
Liong-li tertawa sampai terkekeh-kekeh dan mula-mula Pek-liong memandang heran dengan alis berkerut, akan tetapi tidak lama kemudian diapun tertawa bergelak karena dari sikap wanita itu diapun dapat menjenguk isi hatinya dan dapat menduga apa yang telah terjadi,
“Ha-ha-ha, diapun menolak karena ingin melamarmu menjadi isterinya?”
Liong-li mengangguk. “Nasib kita sama. Baru sekali ini aku ditolak seorang pria.”
489
“Akupun demikian. Akan tetapi sungguh mengagumkan. Dia pria dan dia sungguh cinta padamu. Akan tetapi dia mampu menolakmu. Hebat!”
Liong-li menggeleng kepalanya, “Tidak ada yang hebat. Dia pria yang terikat oleh hukum dan peraturan, tidak bebas seperti kita. Hanya ada sedikit ucapannya yang sampai sekarang menjadi pemikiran.”
“Ucapan apakah itu?”
“Dia bilang bahwa kita saling mencinta......”
“Memang kita saling mencinta!” kata Pek-liong cepat dan tegas tanpa keraguan.
“Tapi dia bilang semestinya kita menikah!”
“Menikah?” Pek-liong menunduk dan mengerutkan alisnya seperti orang yang sedang berpikir keras. Akan tetapi dia melarikan kudanya sehingga Liong-li terpaksa juga harus melarikan kudanya. Mereka berdiam diri, hanya melarikan kuda.
Dalam keadaan seperti itu, keduanya tidak dapat mengetahui apa isi hati masing-masing. Tidak tahu akan persamaan perasaan yang membuat mereka masing-masing menjadi bingung dan melamun.
Setiap kali berada dalam pelukan seorang pria, Liong-li selalu menganggap pria itu Pek-liong, atau setidaknya, ada sedikit bagian dari Pek-liong berada pada pria itu! Sebaliknya, setiap kali
490
merangkul seorang wanita, Pek-liong juga selalu teringat kepada Liong-li dan merasa bahwa seolah Liong-li yang dirangkulnya, bukan wanita lain!
Mereka membalapkan kuda dengan lamunan masing-masing, untuk kemudian berpencar kembali ke tempat tinggal masing-masing, namun lamunan itu masih akan berkepanjangan dan akan menimbulkan lain kisah sepasang pendekar itu.
T A M A T
Lereng Lawu, akhir Juni 198
Tag:cersil cersil indo cersil mandarin full cerita silat mandarin online cersil langka cersil mandarin lepas cerita silat pendekar matahari kumpulan cerita silat jawa cersil mandarin beruang salju. cerita silat pendekar mataharicerita silat indonesia cerita silat kho ping hoo cerita silat mandarin online cerita silat mandarin full cerita silat jawa kumpulan cerita silat cerita silat jawa pdf cerita silat indonesia gratis cerita silat jadul indonesia cerita silat indonesia pendekar rajawali sakti cersil indonesia pendekar mabuk cersil langka cersil dewa arak cerita silat jaman dulu cersil jawa download cerita silat mandarin full cerita silat mandarin online cersil mandarin lepas cerita silat mandarin pendekar matahari cerita silat jawa pdf cersil indonesia pdf cersil mandarin beruang salju kumpulan cerita silat pdf
kumpulan cerita silat cersil online
Share:
cersil...
Comments
0 Comments

Arsip Cersil

Best Cersil