Donasi

Buat yang punya rejeki berlebih dan merasa terhibur dengan Situs Cerita Silat Cersil Terbaik ini bisa mendonasikan bantuannya ke
No. Rekening BPD Jateng No. 2004084554
demi keberlangsungan dan keberadaan Blog Cersil Cerita Silat yang sama-sama kita cintai ini. Kritik dan Saran hub No HP.083837358519. Atas Bantuannya disampaikan Terimakasih.

Minggu, 27 Mei 2018

Komik Pedang Naga Hitam 1 (Lanjutan Sepasang Naga Lembah Iblis)

=======

( Lanjutan dari Sepasang Naga Lembah Iblis )
Karya : Asmaraman S Kho Ping hoo
Converter & Editor By Muk San
Ebook by Dewi KZ
http://kangzusi.com/ http://ebook-dewikz.com/
http://cerita-silat.co.cc/ http://kang-zusi.info/
Jilid 1
Pulau Naga adalah sebuah pulau di Lautan Timur , sebuah
pulau kecil yang memanjang sehingga di lihat dari jauh
bentuknya seperti seekor Naga , yaitu bentuk bukit-bukit kecil
dan lembahnya . Sejak puluhan tahun yang lalu , pulau itu
menjadi semacam pulau keramat yang di takuti orang . Para
Nelayan tidak ada yang berani mendekat ke pulau ini karena
pulau itu terkenal sebagai tempat tinggal seorang datuk besar
bernama Poa Yok Su yang berjuluk Hek Liong Ong ( Raja
Naga Hitam ) .
Hek Liong Ong Poa Yok Su ini mempunyai sebuah rumah
besar dipulau itu dan mempunyai sedikitnya tigapuluh orang
anak buah yang juga tinggal dipulau itu .
Akan tetapi pada pagi hari itu , pulau itu berkabung .
Sebuah peti mati besar berada di ruangan depan bangunan
besar itu dan tiga puluh orang anak buah itu berkabung dan
nampak lesu berduka. Hek Liong Ong Poa Yok Su yang sudah
berusia lanjut , kurang lebih sembilan puluh tahun itu telah
meninggal dunia .
Di ruangan berkabung itu nampak menyeramkan , seperti
biasa terdapat di ruangan dimana terdapat peti mati dan
sembahyangan . Asap dupa dan hio memenuhi ruangan ,
baunya menyengat hidung . Para anak buah siap untuk
menerima tamu yang datang melayat . Mereka telah
menyebarkan berita di daratan akan kematian majikan
mereka. Akan tertapi sejak pagi tidak ada seorangpun datang
melayati. Siapa yang akan datang melayat seorang datuk yang
terkenal sebagai tokoh sesat itu .? .
Murid tunggal Hek Liong Ong yang bernama Cia Bi Kiok ,
yang kini tentu sudah berusia limapuluhan tahun . Sejak
tigapuluh tahun lebih yang lalu , telah meninggalkan gurunya
karena Hek Liong Ong hendak memaksa murid yang cantik itu
menjadi istrinya , pengganti istrinya yang meninggal dunia .
Sejak itu Cia Bi Kiok itu melarikan diri dari Pulau Naga ,
kemudian membentuk anak buah sendiri dan tinggal di pulau
Hiu sebagai bajak laut . Sekarang ia tidak lagi tinggal di pulau
hiu dan orang tidak tahu lagi kemana perginya .
Setelah ditinggal pergi murid tunggalnya , Hek Liong Ong
hidup tanpa sanak keluarga . Istrinya meninggal tanpa
meninggalkan anak dan dia hanya hidup bersama anak
buahnya yang hidupnya juga dari hasil pembajakan di laut .
Setelah matahari naik tinggi , mendadak muncul seorang
pria tinggi besar yang bermuka hitam dan pria yang usianya
lebih lima puluh tahun ini membawa sebatang golok besar
yang berkilauan saking tajamnya .
Si tinggi besar muka hitam ini memandang dengan
sepasang matanya yang lebar dan membaca tulisan dimeja
sembahyang depan peti mati .
“ Hek Liong Ong Poa Yok Su , engkau telah benar-benar
mampus ? Hidup atau pun mati , aku harus memenggal
batang lehermu ! Ini sudah menjadi sumpah Toat Beng Kwi
To ( Golok Setan Pencabut Nyawa ) dan aku harus memenuhi
sumpahku ini ! “
Setelah berkata demikian , dengan goloknya dia
menghampiri peti mati dan siap mencokel tutup peti mati .
Akan tetapi , sepuluh anak buah Hek Liong Ong segera
berlompatan maju dengan pedang ditangan menghalangi
orang bermuka hitam itu .
“ Siapa-pun tidak boleh mengganggu peti jenazah majikan
kami ! “ bentak seorang di antara mereka dan sepuluh orang
itu sudah siap melawan dengan pedang mereka .
Si Muka hitam itu tertegun , lalu berdongak dan tertawa
bergelak “ Ha -ha-ha-ha , Hek Liong Ong , agaknya anak buah
mu ini setia juga kepadamu dan biarlah merekan mengikutimu
ke neraka jahanam ! “
Setelah berkata demikian goloknya berkelebat . Cepat dan
kuat bukan main golok besar itu menyambar-nyambar .
Sepuluh orang anak buah Hek Liong Ong bukanlah orangorang
lemah . Mereka adalah para bajak laut yang biasa
berkelahi dan menggunakan kekerasan . Mereka menggerakan
perang melawan , akan tetapi sia-sia saja. Biarpun mereka
sudah menangkis , tetap saja mereka itu roboh satu demi satu
dengan bermandikan darah sendiri , tewas seketika terbabat
golok ditangan simuka hitam yang mengaku berjuluk Toat
Beng Kwi To itu ! .
Dua puluh lebih anak buah Hek Liong Ong yang lain ,
melihat betapa sepuluh orang rekan mereka roboh dengan
leher hampir putus dan tewas seketika , menjadi gentar dan
mereka mundur menjauh dari peti mati . Mereka tidak berani
menghalangi lagi ketika Toat Beng Kwi To maju dan hendak
mencokel tutup peti mati agar terbuka karena dia ingin
memenggal leher jenazah Hek Liong Ong ! .
Akan tetapi pada saat itu , tiba-tiba saja terdengar suara
keras dan tutup peti itu terbuka .
“ Braaak .. ! “ dan dari dalam peti mati itu berkelebat sosok
bayangan ke atas ! Ternyata itu adalah “mayat” Hek Liong
Ong yang setelah tiba diatas , berjungkir balik dan dengan
gerengan mengerikan menukik dan kedua tangannya
membentuk cakar mencengkram ke arah kepala Toat beng kwi
to .
Toat Beng kwi to adalah seorang datuk yang lihai dan
berani . Akan tetapi saat itu mukanya berubah pucat sekali
karena dia tidak mengira akan terjadi hal seperti itu .
Benerkan Hek Liong Ong yang sudah mati hidup kembali dan
kini mayat hidup itu menyerangnya ? . Dengan hati
berguncang dia menggerakkan goloknya memapaki sosok
tubuh mengerikan itu . Dia membacok ke atas sambil
memandang dengan mata terbelalak ngeri .
Karena terkejut dan ngeri , maka Toat Beng kwi to
kehilangan kewaspadaan nya . Bacokan goloknya ditangkis
begitu saja oleh tangan kiri “ mayat hidup” itu dan tangan
kanannya masih terus mencengkram ke arah kepala .
Toat Beng kwi to menangkis dengan tangan kirinya , akan
tetapi tangkisannya kalah kuat , tangan kirinya terpental dan
tahu-tahu jari-jari tangan itu telah menancap dan
mencengkram kepalanya . Toat Beng kwi to mengeluarkan
teriakan mengerikan dan darah keluar dari kepalanya yang
ditembusi jari-jari tangah mayat hidup itu . Dia masih
berusaha untuk meronta , akan tetapi kedua kakinya seperti
kehilangan tenaga dan terkulai roboh dengan kepala
berlubang-lubang dan berdarah . Hanya sejenak dia
berkelonjotan lalu tewas ! .
Kini “ Mayat hidup “ itu duduk diatas sebuah kursi .
Ternyata dia bukanlah mayat , melainkan Hek Liong Ong Poa
Yok su dengan pakaian lengkap . Dia memandang kepada
sepuluh orang anak buahnya yang tewas , lalu memandang
kepada mayak Toat Beng kwi to , lalu meludah kearah mayat
itu .
“Heran benar , sampai sesudah matipun orang masih
mencariku untuk membalas dendam “ . Dia lalu menggapai
duapuluh lebih anak buahnya yang tadiketakutan dan mundur
.
Mereka datang menghadap dan Hek Liong Ong Poa Yok Su
berkata kepada mereka “ Siasatku berpura-pura mati untuk
menghindari balas dendam pada usiaku yang sudah tua ini
harus dilanjutkan , Akan tetapi aku tidak lagi bersembunyi
didalam peti mati . Terlalu berbahaya ! Aku akan mengganti
tubuhku dalam peti dengan bata . Kemudian , sediakan
sebelas peti mati untuk para anak buahku dan untuk Golok
Setan ini , bariskan semua peti mati berjajar dengan peti
matiku . Kalian jaga baik-baik dan setelah semua peti mati
dikubur , kalian boleh meninggalkan pulau ini dan membagi
semua barang yang berada disini di antara kalian . Aku mau
pergi sekarang juga . Awas , jangan ada yang melanggar
pesanku ini ! “ .
Hek Liong Ong Poa Yok Su yang dalam usia nya yang sudah
lanjut itu masih nampak gagah dan tinggi besar itu lalu pergi
dengan langkah lebar . Dua puluh tiga orang anak buah Hek
Liong Ong lalu sibuk melaksanakan pesan majikan mereka .
Mereka lalu mengeluarkan peti-peti mati yang memang
banyak tersedia dipulau itu , memasukan semua jenazah lalu
mengatur pet-peti mati itu sejajr dengan peti mati majikan
mereka yang mereka isi dengan bata dan mereka tutup
kembali . Di Depan setiap peti mati si Golok Setan mereka
juga menuliskan nama julukan itu .
Kemudian mereka membakar lagi dupa dan sudah bersiapsiap
untuk mengubur semua peti mati . Mereka cepat
menggali dua belas lubang kuburan dan kini beramai-ramai
mengangkuti peti-peti mati itu ke kuburan yang berada di
tenga-tengah pulau . Baru saja mereka menurunkan peti-peti
mati itu dari pikulan dan meletakkan diatas tanah dekat
lubang-lubang yang mereka gali , tiba-tiba terdengar seruan
halus , “ haiiii , berhenti dulu , jangan di kubur ! “
Semua orang memandang ke sekeliling akan tetapi tidak
nampak ada orang di situ . Dan mereka melihat seseorang
tubuh datang berlari-lari dari pantai . Sungguh mengherankan
kalau orang itu yang bicara tadi . Orangnya masih begitu jauh
akan tetapi suaranya seperti dia berada di dekat mereka ! Dan
larinya demikian cepat seperti terbang saja dan tak lama
kemudian , seorang berpakaian tosu telah berdiri di situ .
Tosu ini berusia kurang lebih enampuluh tahun , tinggi kurus
dan mukanya demikian kurus sehingga tinggal tulang
terbungkus kulit seperti tengkorak hidup . Matanya yang sipit
kecil itu mencorong bagaikan dua titik bunga api . Tangan
kirinya memegang sebuah hud tim , semacam kebutan yang
biasa dipegang para pendeta dan tangan kanannya
memegang sebatang tongkat putih .
“ Peti-peti jenazah siapa saja ini ? “ dia bertanya kepada
mereka yang memandang kepadanya penuh kecurigaan .
Seorang yang menjadi pimpinan anak buah Pulau Naga itu lalu
menjawab “ Yang ini adalah peti jenazah majikan kami Hek
Liong Ong Poa Yok Su , yang itu adalah peti jenazah Toat
Beng kwi to dang yang sepuluh ini peti jenazah rekan-rekan
kami . “
“ Hek Liong Ong mati ? Mana mungkin ? Dan Toat Beng kwi
to mati pula di sini ? Aneh sekali , apa yang telah terjadi ? “ .
Anak buah Pulau Naga yang mewakili teman-temannya itu
menceritakan dengan singkat , “ Toat Beng kwi to datang
membikin kacau , sepuluh orang anak buah pulau naga
dibunuhnya . Majikan kami yang sudah tua dan sakit terpaksa
maju melawannya . Dan keduanya tewas oleh perkelahian itu
“ . Cerita yang masuk di akal, akan tetapi tosu tinggi kurus itu
menggunakan gagang kebutannya untuk menggaruk-garuk
belakang kepalanya dengan penuh kebimbangan.
“ Toat Beng kwi to dapat membuhuh sepuluh orang anak
buah pulau naga , hal itu tidak aneh. Akan tetapi dia dapat
menandingi Hek Liong Ong sampai mati bareng ? Ah , mana
mungkin ini? Ingin aku memberi hormat kepada sahabatku
Hek Liong Ong ! “ . Dia menghampiri peti jenazah Hek Liong
Ong dan para anak buah pulau naga tidak curiga karena tosu
itu menyebut majikan mereka sebagai sahabat .
Dan tosu itupun menepuk-nepuk peti jenazah itu dari ujung
ke ujung dengan perlahan sambil berkata , suaranya lirih akan
tetapi terdengar mengerikan .
“ Hek liong ong , kenapa engkau mati menginggalkan pinto
? Ini tidak adil , dan tidak jujur ! Hemm , benarkah engkau
yang berada didalam peti mati ini ?” . Dan sekali tangan nya
bergerak terdengar suara keras dan peti mati itu bergoyang ,
tutupnya terbuka .
Semua anak buah pulau naga menjadi terkejut sekali ,
apalagi melihat betapa semua tumpukan bata didalam peti
mati telah remuk ! Tentu ketika menepuk-nepuk peti mati itu
tosu tadi mengerahkan tenaga saktinya , menyerang ke arah “
mayat” di dalam peti sehingga bata itu remuk semua . Kini
mereka dengan pedang di tangan sudah mengepung dan
menyerang tosu itu karena kebohongan mereka sudah
diketahui . Lebih baik mendahului turun tangan membunuh
tosu itu daripada membiarkan mereka diserang .
Akan tetapi , ternyata kepandaian tosu itu jauh lebih tinggi
dibandingkan tingkat kepandaian Toat Beng kwi to yang
dahsyat tadi . Tongkat dan kebutan itu menyambar-nyambar
dan duapuluh tiga orang itupun roboh satu demi satu dan
tewas seketika . Tidak ada yang sempat melarikan diri sama
sekali saking cepatnya gerakan tosu itu yang seperti
melayang-layang diantara mereka . Setelah semua orang
roboh dan tewas , tosu itu menghampiri peti jenazah yang
terisi bata itu dan menggeleng-geleng kepalanya lalu
menghela napas panjang .
“ tsk -tsk-tsk ... Hek Liong Ong , engkau sungguh cerdik
dan lic ik ! “ Mata yang kecil itu memandang acuh kepada
kepada duabelas buah peti mati dan duapuluh tiga buah
mayat yang berserakan itu , lalu menghela napas lage , lalu
berlari seperti terbang menuju ke rumah besar bekas tempat
tinggal Hek Liong Ong . Setelah memeriksa dan tidak
menemukan seorangpun di sana , tosu itu lalu membakar
rumah itu .
“ Hem , Hek Liong Ong “, gumannya sambil memandang
api yang berkobar melalap bangunan itu . “ biarpun pinto
belum berhasil membunuhmu , setidaknya pinto telah
membasmi sarangmu dan semua anak buahmu ! ' . Setelah
berkata demikian , diapun cepat lari ke pantai , melepas tali
perahunya dan tak lama kemudian diapun sudah melayarkan
perahunya menuju daratan .
****
Hek Liong Ong Poa Yok Su telah berhasil meninggalkan
pulau naga tanpa ada yang mengetahui kemana dia pergi .
Begitu tiba di daratan dia langsung memotong rambutnya
sampai gundul dan dengan pakaian compang camping
seperti seorang pengemis dia melanjutkan perjalanan .
Mengapa seseorang yang sedemikian lihainya seperti Hek
Liong Ong Poa Yok Su , majikan pulau naga yang mempunyai
banyak anak buah menjadi ketakutan dan berpura-pura mati
untuk menyembunyikan dirinya ? Siapa yang di takutinya ?
Sebetulnya , dia tidak takut kepada siapa pun . Tidak ada
orang didunia ini yang ditakutinya . Dia adalah datuk besar di
timur yang terkenal dan sukar dicari tandingannya . Akan
tetapi setelah usianya semakin tua , setelah dia menyadari
benar-benar bahwa kematian pasti akan tiba , dia menjadi
ketakutan ! Hek Liong Ong Poa Yok Su takut akan kematian !
Dia merasa tidak berdaya menghadapi maut , tidak kuasa
melawan maut ! Oleh karena itu dia membayangkan bahwa
musuh-musuhnya tentu akan datang membalas dendam dan
akhirnya dia akan mati . Dia takut , dia ngeri menghadapi
kematiannya sendiri , walaupun sudah tidak terhitung
banyaknya die menghadapi kematian kematian orang lain
melalui tangan atau senjatanya . Kalau dia menbayangkan apa
yang akan terjadi dengan dirinya setelah mati , bagaimana
dengan tubuhnya yang akan membusuk dan hancur , apa
yang akan dijadapinya . Lebih-lebih teringat akan cerita bahwa
dosa-dosa yang bertumpuk banyak nya tentu akan mengalami
hukuman sesudah mati , dia merasa takut bukan main !
Perjalanannya membawa dia ke dekat kota raja . Tadinya
dia bermaksud hendak ke kota raja menghadap Kaisar Yang
Chien yang pernah dibantunya ketika kaisar itu masih muda
dan masih berjuang menumbangkan kekuasaan Raja Toba
sehingga akhirnya berhasil menggulingkan pemerintah asing
dan mendirikan Kerajaan Sui ( baca kisah Sepasang Naga
Lembah Iblis ) . Akan tetapi setelah tiba di luar kota raja dia
meragu . Dia tahu bahwa di kota raja terdapat banyak
pendekar yang kini menduduki jabatan penting dan die
mempunyai permusuhan dengan banyak pendekar . Di kota
raja juga terdapat banyak musuhnya . Lebih mengerikan lagi
karena para pendekar itu tentu tidak akan melupakan dia
sebagai musuh dan diantara pendekar itu terdapat banyak
orang sakti . Hal ini membuat dia takut memasuki kota raja
dan membalikkan tubuhnya lagi untuk meninggalkannya .
Tiba-tiba dia melihat sebuah bangunan kuil dibukit , tak
jauh diluar kota raja . Kuil ! Hidup dikuil sebagai seorang
hwesio itulah jalan terbaik . Selain dia dapat bersembunyi dari
musuhn-musuhnya , diapun dapat menebus dosa-dosanya
dengan tekun beribadat . Untuk dapat mengusir perasaan
takutnya . Dengan langkah lebar dan hati mantap dia menuju
ke kuil itu , mendaki bukit .
Kuil itu merupakan sebuah kuil besar di huni oleh duapuluh
orang hwesio . Kepala kuil itu bernama Tiong Gi Hwesio ,
seorang tokoh dari kuil siauw lim si . Karena itu , kuil itupun
merupakan cabang siauw lim si dan di situ terdapat pula
belasan orang pemuda remaja yang belajar ilmu silat dari
Tiong Gi Hwesio .
Ketika Hek Liong Ong tiba di kuil itu , dia diterima oleh
seorang hwesio yang bertugas jaga .
“ Paman tua , apakah keperluanmu datang berkunjung ke
kuil ini kalau tidak ingin bersembahyang ? “ , tanya hwesio
penjaga .
“ Tolong , pertemukan saya dengan ketua kuil , saya
mempunyai permohonan kepadanya ,” kata hek liong ong
merendah .
Kebetulan sekali Tiong Gi Hwesio keluar dari kuil itu dan
melihat seorang kakek ingin bertemu dengannya , diapun
segera menghampiri ,” Sobat , pinceng adalah Tiong Gi
Hwesio , kepala kuil ini . Ada keperluan apakah , engjau
hendak bertemu dengan pinceng ? “ , tanya nya dengan nada
ramah sekali .
Kakek itu memandang kepada Tiong Gi Hwesio dan dia
segera menjatuhkan diri berlutut di depan kaki hwesio itu .
“ Losuhu , tolonglah saya , saya ingin menebus dosa
dengan masuk menjadi hwesio dan mempelajari Kitab-Kitab
agama , hidup beribadat . Tolonglah saya , saya mau bekerja
sebagai apa saja di dalam kuil ini “ , dalam suara Hek Liong
Ong terkandung kesungguhan hatinya dan suaranya seperti
orang yang ketakutan dan hampir menangis .
“Omitohud ... ! Biarpun engkau sudah tua , engkau masih
belum terlambat untuk bertaubat dan mengubah jalan hidup
mu . Sang Budha akan memberkati-mu !” Tiong Gi Hwesio
merasa iba kepada Hek Liong Ong “ Siapakah namau , sobat
?” .
“ Saya bermarga Liong , nama saya Beng “ , kata Hek Liong
ong berbohong .
Karena kalau dia berterus terang siapa dirinya , tentu
hwesio itu tidak akan mau menerimanya. Nama Hek liong ong
Poa Yok Su sudah terlalu tersohor dan pasti akan membikin
takut para hwesio ini .
“ Baiklah , pinceng suka menerima-mu menjadi murid di kuil
ini dan tentang pekerjaan nanti saja kita lihat apa yang dapat
kau bantu untuk kami “.
Hek liong ong merasa gembira sekali . Dia mencium ujung
kaki Tiong Gi Hwesio dan mengeluarkan sepuluh potong emas
yang selama ini dia simpan dikantungnya . “ banyak terima
kasih atas kemurahan hati lo suhu , dan ini seluruh milik yang
ada pada saya , saya serahkan untuk keperluan kuil “ .
Tiong Gi Hwesio terbelalak , sepuluh potong emas itu besar
sekali harganya , akan tetapi karena orang tua itu
menyerahkannya dengan rela , maka harta itu diterimanya
untuk kepentingan kuil .
Mulai hari itu jadilah jek liong ong seorang hwesio dan dia
diberi julukan Ho Beng Hwesio . Setelah beberapa hari berada
di kuil itu dan tiong gi hwesio mendapat kenyataan bahwa
hwesio itu pandai memasak , maka ho beng hwesio diberi
tugas sebagai tukang masak .
Hek liong ong yang sudah menjadi ho beng hwesio merasa
senang sekali tinggal di kuil itu . Dia mendapatkan dua
keuntungan . Pertama , setelah menjadi hwesio tidak akan ada
lagi musuhnya yang dapat mengenalnya sehingga dia dapat
bersembunyi dikuil itu dengan hati tenang dan tentram dan
kedua , dia dapat menentramkan hatinya dengan mempelajari
agama sehingga dia dapat mengusir rasa takutnya
menghadapi kematian .
Diapun dapat menyembunyikan kepandaiannya . Biarpun
disitu terdapat banyak murid yang mempelajari ilmu silat ,
namun dia tidak pernah memperdulikan dan acuh saja seolah
dia seorang tua yang lemah dan sama sekali tidak mengerti
tentang ilmu silat .
Sudah lajim bagi kita untuk beranggapan bahwa memupuk
kebajikan dan penebusan dosa hanya dilakukan orang – orang
tua yang menghadapi kematiannya . Anggapan seperti ini
sebenarnya sama sekali salah . Kematian bukan hanya datang
kepada orang-orang yang telah lanjut usianya , akan tetapi
dapat menghampiri siapa saja , baik yang tua maupun yang
muda. Oleh karena itu , hidup bersih dari dosa dan usaha
penebusan dosa dengan amal yang baik merupakan kewajiban
setiap orang manusia , tua maupun muda mendekatkan diri
setiap saat Kepada Tuhan Yang Maha Pencipta , sehingga kita
selalu siap menghadapi maut yang datang menjemput .
Mendekatkan diri kepada Tuhan Yang Maha Pengasih akan
membuat kita selalu waspada dan sadar sehingga nafsu daya
rendah tidak akan mudah menguasai hati akal pikiran kita
dan menyeret kita kedalam perbuatan yang rendah dan jahat
. Sayang bagi Hek liong ong , dia masuk menjadi hwesio
bukan terdorong oleh rasa bersalah , bukan karena
penyesalan bahwa dia selama ini hidup bergelimang dosa ,
melainkan terdorong oleh rasa takutnya akan kematian dan
dia masuk menjadi hwesio untuk menghindarkan diri dari rasa
takut itu .
Bagaimana pun juga , setelah lewat beberapa bulan , hek
liong ong merasakan kedamian dalam hatinya dan dia sudah
merasa benar-benar aman dari ancaman musuh-musuhnya .
****
Cerita ini dimulai pada tahun 594 , baru tiga belas tahun
kerajaan Sui berdiri . Setelah perjuangan selama belasan
tahun dengan gigih , Pendekar Yang Chien , akhirnya dalam
tahun 581 dapat mengalahkan pemerintah penjajah Toba dan
mendirikan Kerajaan Sui . Dalam Kisah Sepasang naga lembah
iblis diceritakan tentang perjuangan Yang Chien . Kaisar Yang
Chien berhasil mempersatukan kembali semua daerah
sehingga Kerajaan Sui menjadi besar dan Jaya . Kaisar Yang
Chien pandai memerintah dan Kerajaan Sui menjadi terkenal ,
keamanan dapat dikembalikan dan keadaan dalam negeri
diperkuat .
Pemerintah diselenggarakan dengan bijaksana , pajak-pajak
diperingan , hukum-hukum negara ditegakkan dan
dilaksanakan dengan baik . Bahkan untuk kepentingan
pertanian dan perdagangan , Kaisar Yang Chien
memerintahkan penggalian terusan-terusan yang
menghubungkan kedua Sungai Huang Ho dan Yang Ce . Untuk
melaksanakan pekerjaan besar ini dibutuhkan tenaga ratusan
ribu orang dan Kaisar Yang Chien tidak mau mempergunakan
kekerasan system kerja paksa seperti kaisar-kaisar yang
terdahulu , akan tetapi dia mengharuskan para petugas untuk
memberi upah kepada para pekerja sehingga pekerjaan dapat
berjalan lancar tanpa protes dari pihak rakyat jelata .
Sikapnya untuk urusan keluar daerah juga tegas . Daerahdaerah
yang tidak mau tunduk di serbu dan ditaklukan
kembali . Daerah Tong Kin dan Annam ditundukkan dan
dimasukkan ke dalam wilayah Kerajaan Sui .
Kaisar yang bijaksana dan adil selalu mendapat dukungan
rakyat jelata dan menarik hati para cendikiawan untuk
berdatangan dan membantu . Dan Kaisar Yang Chien
menerima para cerdik pandai dengan tangan terbuka , setelah
menguji mereka memberi kedudukan yang sepadan dengan
kepandaian mereka sehingga roda pemerintahan dapat
berputar sedemikian lancar . Para pejabat tinggi yang dekat
dengan kaisar memperlihatkan kesetiaan mereka . Kalau
pohonnya sehat maka cabang-cabang , ranting-ranting dan
daun-daunnya pun sehat dan pohon yang sehat ini tentu
menghasilkan buah yang baik . Demikian pula kalau kaisar
sebagai orang tertinggi kedudukannya bijaksana dan adil ,
maka para pembantu atau bawahannya tentu juga bijaksana
dan atasan yang adil bijaksana dapat menegur bawahan yang
tidak benar sehingga kebijaksanaan ini dapat terus mengalir
sampai kepada pejabat yang tingkatnya paling rendah .
Kebijaksanan harus dimulai dari tingkat paling atas sebagai
tauladan pertama . Bagaimana mungkin mencegah anak buah
bertindak jahat kalau pemimpin mereka sendiri juga jahat ? .
Diantara para pejabat tinggi yang paling dekat dengan
kaisar Yang Chien adalah seorang Panglima besar bernama
Cian Kauw Cu . Sejak mudanya Cian Kauw Cu menjadi sahabat
, bahkan seperti saudara sendiri dari Kaisar Yang Chien .
Mereka berdua berjuang bersama , bahkan mereka berdualah
yang di kenal sebagai Sepasang Naga Lembah Iblis . Mereka
berdua menemukan sepasang pedang yang kemudian menjadi
milik mereka berdua , , yang putih disebut Pek Liong Kiam (
Pedang Naga Putih ) menjadi milik Kaisar Yang Chien dan
yang hitam di sebut Hek Liong Kiam ( Pedang Naga Hitam )
menjadi milik Cian Kauw Cu .
Selain mendapatkan sepasang pedang itu , mereka berdua
juga menemukan kitab pelajaran ilmu silat Bu Tek Cin Keng di
dalam sebuah gua . Hanya bedanya , kalau Yang Chien
mempelajari ilmu dari kitab itu yang kemudian membuat dia
menjadi seorang pendekar yang memiliki ilmu kepandaian
tinggi , maka Cian Kauw Cu hanya mempelajarinya dari
gambar-gambar di dinding sehingga mutu ilmu yang dikuasai
Cian Kauw Cu masih kalah dibandingkan yang dikuasai Yang
Chien . Hal ini disebabkan cian kauw cu memiliki latar
belakang pendidikan yang rendah sekali . Sejak kecilnya dia
hidup liar seperti binatang dan dipelihara oleh seekor kera
betina ! Semua itu diceritakan dengan lengkap dalam kisah
sepasang naga lembah iblis .
Sekarang Cian Kauw Cu atau Cian Ciangkun telah berusia
lima puluh tahun .Selama belasan tahun dia ikut pula berjuang
di samping Yang Chien . Setelah mereka berhasil , Yang Chien
menjadi kaisar dan Cian Kauw Cu di angkat menjadi panglima
besar . Dia menikah dengan seorang wanita pilihannya yang
bernama Ji Goat , puteri mendiang perdana menteri Kerajaan
Toba . Ji Goat juga bukan wanita biasa . Wanita yang sudah
berusia empatpuluh tujuh tahun ini adalah seorang pendekar
wanita yang memiliki ilmu kepandaian tinggi pula . Mereka
memiliki seorang anak tunggal , seorang putera berusia
sepuluh tahun yang diberi nama Cian Han Sin .
Demikian lah sedikit riwayat sepasang pendekar yang
dikenal sebagai sepasang naga lembah iblis dan yang kini
telah menjadi kaisar dan panglima besarnya .
Pada hari itu , Kaisar Yang Chien sengaja memanggil
Panglima Cian untuk menghadap dan kedua orang sahabat
yang kini telah menjadi orang-orang besar dengan usia yang
mulai tua itu , duduk berhadapan disebuah ruangan dalam
istana . Mereka tidak kelihatan seperti seorang kaisar dengan
panglimanya , nampak seperti dua orang sahabat saja .
Demikianlah kalau kaisar sedang bercakap-cakap berdua saja
dengan Cian-Ciangkun . Keakraban yang dahulu masih
nampak dalam sikap mereka walau pun Cian–Ciangkun lebih
bersikap hormat .
“ Cian-Ciangkun , “ kata Kaisar setelah dia mempersilahkan
Panglimanya minum arak dari cawan yang disuguhkan . “
Bagaimana pendapatmu tentang gerakan bangsa-bangsa
biadab di Utara itu ? Bangsa Toba tiada hentinya berusaha
untuk menegakkan kembali kekuasaan mereka dan mereka
selalu menggangu daerah perbatasan utara yang demikian
luasnya . Dan agaknya mereka itu hendak mengajak Bangsa
Turki dan Mongol untuk bersekutu , Kalau mereka sampai
bersekutu , mereka akan merupakan kekuatan yang tidak
boleh dipandang ringan “ .
“ Apa yang paduka katakan itu benar sekali , Yang Mulia ,”
Kata Cian Ciangkun yang walaupun mereka namapak duduk
berhadapan dengan akrabnya , tetap saja menunjukkan sikap
seorang bawahan kepada atasannya . “ dan satu-satunya jalan
untuk menghilangkan ancaman dari Utara itu hanyalah dengan
mengirim pasukan dan menundukkan mereka . Setelah kini
kekacauan di selatan sudah dapat ditundukkan dan semua
balatentara berada dalam keadaan menganggur , maka sudah
tiba saatnya untuk mengerahkan pasukan ke utara . “
“ Tepat , kamipun berpendapat demikian , Cian Ciangkun ,
akan tetapi karena usaha pembersihan di utara ini merupakan
pekerjaan besar yang penting sekali , sama sekali tidak boleh
gagal , maka kami bermaksud untuk memimpin sendiri
pasukan besar menyerbu ke utara . Bagaimana pendapatmu ,
Cian Ciangkun ? “ .
“ Yang Mulia , hamba kira hal itu tidak perlu dilakukan .
Untuk membunuh anjing tidak perlu mempergunakan pedang
pusaka I untuk menundukkan para perusuh di utara itu hamba
kira tidak perlu sampai paduka sendiri turun tangan .
Keberadaan paduka di istana masih sangat diperlukan untuk
memperlancar jalannya pemerintahan yang berwibawa , Kalau
paduka pergi sendiri sampai waktu yang lama , hamba
khawatir , akan terjadi hal-hal yang tidak menguntungkan di
kota raja “ .
“ Hemm , habis bagaimana Ciangkun ? Pekerjaan ini amat
berat dan penting , juga berbahaya. Kami tidak ingin melihat
operasi pembersihan ini gagal . “ .
“ Yang Mulia , apa gunanya hamba berada disini kalau
untuk urusan begitu saja paduka harus turun tangan sendiri ?
Yang mulia , biarlah hamba yang akan mewakili paduka ,
memimpin pasukan dan menundukkan bangsa – bangsa yang
mengancam di perbatasan utara itu “ .
Kaisar Yang Chien memandang sahabatnya itu dan
mengangguk-angguk senang . Diapun percaya , kalau Cian
Kauw Cu yang mewakilinya dan memimpin pasukan , tentu
operasi pembersihan itu akan berhasil baik .
“ Bagus , kalau engkau sendiri yang memimpin pasukan itu
, kami yakin pembersihan itu akan berhasil baik . Pergilah
umumkan keputusan ku . Cian Ciangkun . Persiapkan pasukan
sebanyak yang kau kehendaki dan berangkatlah dalam minggu
ini juga . “
“ Baik , hamba siap melaksanakan perintah Yang Mulia , “
Kata Cian Ciangkun yang segera memberi hormat dan
mengundurkan diri .
Cian ciangkun lalu mengumumkan kepada semua menteri
dan pejabat tinggi tentang perintah kaisar dan dia sendiri lalu
menghubungi para panglima mempersiapkan pasukan yang
akan dibawanya ke utara untuk menundukkan Bangsa Nomad
di uatara itu . Karena perjalanan ke utara melalui daerah
pegunungan dan gurun yang serba keras dan sukar , maka
Cian Ciangkun memberi waktu sekitar satu minggu kepada
pasukan untuk mempersiapkan perbengkalan .
Dirumah grdungnya , Cian Kauw Cu bercerita kepada
istrinya tentang tugasnya mewakili Kaisar untuk melakukan
pembersihan ke utara . Istrinya maklum akan tugas suaminya
sebagai panglima besar . Bukan baru kali ini suaminya pergi
meninggalkannya untuk memim\npin pasukan berperang ,
sudah berulang kali . Karena itu , iapun tidak merasa khawatir
. Ia percaya akan kemampuan suaminya . Apalagi sekarang
yang akan dibersihkan hanyalah pengacau-pengacau
perbatasan .
“ Berapa lamanya gerakan pembersihan itu , suamiku ?”
tanyanya .
Ciang Ciangkun menggeleng kepalanya “ Belum dapat
kuperkirakan sekarang . Biarpun mereka itu hanya pengacaupengacau
yang kukira tidak berapa besar kekuatannya ,
namun medannya amat sukar . Dan mereka adalah
penunggang kuda yang mahir , mudah melarikan diri di
daerah yang liar itu . Mereka itu berkelompok dan berpindahpindah
. Itulah sukarnya . Kalau mereka bersarang , mudah
saja membasmi sarang mereka . Akan tetapi , dengan
serbuan-serbuan pasukan kita , ku kira mereka akan cerai
berai dan tidak dapat bersatu lagi dan mudah – mudahan saja
tidak terlalu lama aku akan dapat pulang . “
Pada saat itu , seorang anak laki-laki berusia sepuluh tahun
berlari-lari masuk ke ruangan itu . Dia adalah Cian Han Sin .
Anak ini memiliki tubuh seperti ayahnya , tinggi besar dan
tegap . Akan tetapi kulitnya tidak hitam seperti ayahnya ,
melainkan putih bersih seperti ibunya . Juga wajah anak ini
seperti ibunya , maka dia kelihatan tampan . Tampan dan
gagah karena tubuh nya tegap .
“ Han Sin , kenapa engkau berlari-lari ? “ tegur ibunya .
Akan tetapi anak itu berlari menghampiri ayahnya .
“ Ayah , aku melihat pasukan bersiap-siap dan katanya ayah
hendak memimpin pasukan menuju ke utara , ke mongol .
Benarkan , ayah ? “ .
Cian Ciangkun tersenyum dan mengelus kepala puteranya .
“ Memang benar , Han Sin . Kaisar memerintahkan ayahmu
untuk memimpin pasukan dan mengadakan pembersihan
kepada para pengacau diperbatasan . “
“ aihh , aku ingin sekali ikut , ayah ! Aku ingin melihat
daerah utara ! Kabarnya banyak pegunungan liar dan daerah
gurun pasir . Ingin aku melihatnya !” .
Ayahnya tertawa , mengangkat anak itu dan dipangkunya .
Sebagai anak tunggal , tentu saja Han Sin agak dimanja oleh
ayahnya .
“ Han Sin , kau kira ayahmu pergi pesiar maka engkau
hendak ikut ? Ayahmu pergi memerangi orang-orang yang
mengacau diperbatasan , bangsa biadab yang liar dan kejam.

“ Jadi aku tidak boleh ikut , ayah ? “ Han Sin merajuk dan
turun dari pangkuan ayahnya .
“ Tentu saja tidak boleh , bagaimana kalau aku bertempur ,
apakah engkau akan bertempur pula ? “ .
“ Aku selama ini sudah berlatih silat bertahun-tahun berlatih
silat , aku tidak takut bertempur!”
“ Cian Ciangkun tertawa “ ha-ha-ha , sudahlah kau tinggal
dirumah saja menemani ibumu .” Di dalam hatinya dia merasa
bangga melihat keberanian puteranya .
“ Han Sin , jangan ganggu ayahmu ! Ayah melaksanakan
tugas penting yang berat , bukan main-main . Engkau tidak
boleh ikut . Rngkau harus tinggal dirumah bersama ibu ,
melatih silat dan menghafal pelajaran mu membaca dan
menulis . Engkau harus rajin belajar agar kalau ayahmu
pulang engkau sudah memperoleh banyak kemajuan , “ kata Ji
Goat .
“ Benar kata-kata ibumu , Han Sin . “
“ Kalau begitu , aku minta oleh-oleh ! Kalau ayah pulang ,
agar aku dibawakan pedang mongol yang bentuknya
melengkung itu “ , kata Han Sin .
“ Baiklah , akan kubawakan untukmu , “ kata ayahnya .
Barulah Han Sin tidak rewel lagi dan dia segera keluar untuk
bermain-main .
*****
Seminggu kemudian , berangkatlah Cian Kauw Cu ,
memimpin pasukan yang cukup besar jumlahnya . Tidak
kurang dari selaksa orang prajurit dalam pasukannya , dengan
belasan orang perwira tinggi menjadi pembantunya . Kelak
diperbatasan , jumlah ini akan ditambah pula dengan pasukan
yang berjaga diperbatasan .
Pagi itu Cian Kauw Cu meninggalkan gedung nya di antar
oleh istrinya dan puteranya sampai di pintu pekarangan .
Panglima berusia setengah abad lebih ini masih nampak gagah
perkasa dalam pakaian panglima yang mentereng .
Dipinggangnya tergantung pedang pusakanya yaitu Hek
Liong Kian ( Pedang Naga Hitam ) yang dahulu dikenal di
dunia kang ouw sebagai pusaka yang ampuh . Setelah
berpamit sekali lagi kepada istri dan puteranya , dia lalu
menunggang kudanya yang berbulu hitam menuju ke benteng
dimana pasukannya telah siap .
Pasukan besar itu meninggalkan kota raja menuju ke utara
. Berhari-hari pasukan itu menempuh perjalanan yang
melelahkan , naik turun gunung sampai akhirnya mereka tiba
di perbatasan dan berhenti di benteng pasukan penjaga dalam
tembok besar . Disini Cian Ciangkun berunding dengan para
perwira pembantunya dan panglima yang memimpin pasukan
perbatasan , membicarakan keadaan didaerah perbatasan itu .
Dia mendapat laporan bahwa memang orang-orang Toba ,
Turki dan Mongol seringkali menggangu daerah itu bahkan
beberapa kali menyerang perbentengan untuk menyerbu ke
dalam tembok besar . Adakalanya penyerangan mereka
demikian kuatnya sehingga beberapa kali hampir saja pasukan
penjaga itu kebobolan .
Setelah memperoleh petunjuk darimana gerombolah
pengacau itu muncul , mulailah Cian Ciangkun memimpin
pasukannya untuk melakukan gerakan pembersihan . Dia
memecah pasukannya menjadi beberapa bagian , menyerang
dari barat , timur dan selatan untuk menggiring para
gerombolan musuh ke tengah untuk dihancurkan .
Terjadilah pertempuran-pertempuran kecil karena
gerombolan pengacau yang terdiri dari bermacam suku
bangsa telah digempur dan hanya melakukan perlawanan
kecil-kecilan saja . Akan tetapi diwaktu malam , selagi pasukan
kerajaan berkemah dan beristirahat , gerombolan pengacau
itu melakukan serangan dengan panah api , menunggang
kuda mengitari perkemahan pasukan itu dan menyerang
sambil melarikan kuda . Pasukan dibawah pimpinan Cian
Ciangkun segera melakukan perlawanan dan gerombolan
pengacau itu melarikan diri . Akan tetapi telah mendatangkan
korban yang tidak sedikit pada pasukan Kerajaan Sui .
Dihadapi perang gerilya seperti ini , Cian Ciangkun menjadi
marah sekali dan akhirnya dia membawa pasukannya ke
daerah Shansi karena pusat gerombolan pengacau itu berada
di Shansi utara , dipimpin Bangsa Toba yang bersekutu
dengan Bangsa Turki dan Mongol .
Gubernur atau kepala daerah Shansi pada waktu itu adalah
sorang bernama Li Goan yang berusia kurang lebih empat
puluh tahun . Li Goan diangkat menjadi kepala daerah Shansi
oleh Kaisar Yang Chien karena ketika Yang Chien berjuang
membangun Kerajaan Sui , Li Goan juga berjasa dalam
perjuangan . Terutama dalam menundukkan daerah di utara .
Li Goan berjasa besar sekali . Dalam tugas ini pula Li Goan
mempersunting puteri seorang kepala daerah berketurunan
Turki menjdai istrinya sampai saat itu .
Ketika mendengar bahwa pasukan kerajaan yang sedang
melakukan pembersihan di utara itu datang ke Shansi , Li
Goan cepat menyambut dan mempersilahkan Cian Kauw Cu
dan para perwira tinggi memasuki gedungnya . Didalam
gedung itu mereka mengadakan perundingan dan Li Goan
menceritakan keadaan para suku -suku bangsa yang berada di
utara .
“ Bangsa Turki hanya terbawa saja oleh Bangsa Toba dan
Mongol . “ Kata li Goan .
“ Sebetulnya , mudah membujuk bangsa Turki agar jangan
mengganggu perbatasan dan menjadi tetangga yang baik .
Akan tetapi Bangsa Toba masih penasaran dan ingin
membangun kembali kerajaan mereka yang telah hancur .
Mereka bersekutu dengan Bangsa Mongol dan kedua suku
bangsa itu kalau dapat ditundukkan dengan sendirinya bangsa
Turki tentu juga akan mundur .
“ Dimana pusat dari orang-orang Toba itu ? “ , tanya Cian
Ciangkun .
“ Menurut penyelidikan para mata-mata kami , mereka itu
berpusat disekitar lembah Huang Ho , di sebelah utara
perbatasan Shansi . Mereka membuat sebuah benteng yang
kokoh kuat di sana dan seluruh kekuatan sisa pasukan Toba
yang terusir dari selatan kini berhimpun di sana .
“ Hmmm , kalau begitu kami akan menyerang benteng
mereka itu ! “ kata Cian Ciangkun .
“Harap Ciangkun berhati-hati . Jumlah mereka cukup besar
, tidak kurang dari selaksa orang banyaknya dan daerah itu
cukup sulit untuk di serang . Selain itu juga banyak orang
mongol membantu bangsa toba .
' Harap tai-jin jangan khawatir , aku pasti akan dapat
menghancurkan mereka . Harap Tai-jin suka memerintahkan
panglima disini untuk berjaga-jaga sajan dengan pasukannnya
, tidak perlu ikut menyerbu . Dengan pasukan kami itu rasanya
sudah cukup untuk membasmi sisa pasukan Toba . “
Demikianlah , setelah beristirahat sehari semalam di situ ,
pada keesokkaan harinya , pagi-pagi sekali pasukan yang
dipimpin Cain Ciangkun berangkat menuju ke Lembah Huang
Ho . Mereka menemukan benteng itu yang dibangun di tepi
sungai , sebuah benteng yang besar dan kokoh kuat . Karena
hari sudah senja , Cian Ciangkun memerintahkan pasukannya
mendirikan perkemahan dan melakukan penjagaan ketat agar
jangan sampai disergap musuh pada malam hari . Akan tetapi
malam hari itu gelap sekali . Udara penuh dengan awan hitam
sehingga pihak musuh juga tidak berani melakukan serangan
diwaktu gelap gulita . Untung bagi pasukan Cian Ciangkun
bahwa tidak turun hujan dimalam hari itu .
Pada keesokan harinya Cian Ciangkun sudah mengatur
pasukkannya untuk mengepung perbentengan itu dan mulai
menyerang dengan anak panah . Pihak musuh membuka pintu
gerbang untuk mengeluarkan sepasukan besar prajurit mereka
dan terjadilah perang hebat didepan benteng . Cian Ciangkun
memimpin sendiri pasukannya , dengan Pedang Naga Hitam
dia mengamuk dan entah berapa banyaknya prajurit musuh
yang roboh oelh pedangnya .
Dari barisan musuh muncul seorang perwira yang tinggi
besar seperti raksasa , bersenjatakan tombak , seperti juga
Cian Ciangkun , perwira toba dengan tombaknya itu
mengamuk dan telah merobohkan banyak prajurit Sui .
Akhirnya perwira itu berhadapan dengan Cian Kauw Cu. Tanpa
banyak cakap lagi , kedua orang panglima itu segera saling
serang dengan dahsyatnya . Para prajurit di sekeliling mereka
bertempur sendiri , tidak ada yang berani mencampuri
pertandingan antara dua orang perwira tinggi yang dahsyat itu
.
Berdentang-denting bunyi pedang dan tombak ketika
bertemu dan ternyata tombak perwira Toba itu juga terbuat
dari baja yang baik sehingga tidak mudah patah bertemu
Pedang Naga Hitam .
Cian Kauw Cu menjadi penasaran bahwa sampai lebih dari
tigapuluh jurus dia belum juga mampu merobohkan perwira
itu . Dia lalu mengeluarkan teriakan seperti seekor binatang
buas , tubuhnya meloncat tinggi ke atas dan tubuh itu
menukik dan dengan dahsyat nya dia menyerang dari udara .
Bukan main hebatnya serangan ini . Perwira Toba itu terkejut
dan berusaha menangkis dengan tombaknya .
“ Traaangggg ... ! “ Sekali ini tombaknya tidak kuat
bertahan terhadap serangan pedang yang berubah menjadi
sinar hitam yang ganas itu . Ujung tombak yang runcing itu
patah dan sebelum perwira itu mengelak , Pedang Naga Hitam
telah menembus lehernya ! Perwira tinggi besar itu
terjengkang ketika kaki Cian Ciangkun menendangnya sambil
mencabut pedangnya , lalu meloncat turun . Akan tetapi ketika
tubuhnya masih di udara , sebatang anak panah melesat cepat
sekali dari belakang dan tanpa dapat dihindari lagi , anak
panah itu menancap dan menembus punggung Cian Kauw Cu
sampai tembus di dadanya ! .
Cian Kauw Cu mengeluarkan gerangan aneh . Tubuhnya
cepat turun ke atas tanah lalu dia memutar tubuh membalik
untuk melihat siapa yang menyerangnya dari belakang . Dia
melihat seorang perwira pembantunya membuang busurnya
dan perwira itu menghampirinya . Cian Kauw Cu
menundingkan telunjuknya dan tubuhnya terhuyung .
“ kau ... Kau ... ! “ dan diapun terpelanting roboh . Perwira
itu berlutut dan memeriksa dan ternyata Cian Kauw Cu telah
tewas . Anak panah itu menembus jantungnya . Perwira itu
lalu mengambil Pedang Naga Hitamdari genggaman tangan
jenazah Cian Ciangkun lalu menyembunyikan pedang itu
dibalik bajunya . Kemudian dia memondong jenazah itu
dibawa ke bagian belakang pasukan yang sedang bertempur .
Walaupun Cian Ciangkun telah gugur , namun para perwira
pembantu terus memimpin pasukan sampai musuh dapat
dipukul mundur dan benteng itu dapat diduduki . Baru setelah
benteng dapat diduduki dan musuh dapat di usir , semua
prajurit mendengar berita mengejutkan bahwa Cian Ciangkun
telah gugur dalam pertempuran itu , terkena anak panah yang
menembus punggungnya .
Biarpun pulang membawa kemenangan , namun pasukan
itu diliputi kedukaan karena kehilangan pemimpin mereka .
Karena untuk membawa jenazah Cian Ciangkun ke kota raja
jaraknya terlalu jauh , maka terpaksa jenazah itu dibawa ke
Shansi dan dengan upacara kebesaran yang diatur oleh kepala
daerah Shansi , Li Goan , jenazah itu di makamkan di tanah
kuburan terhormat ditempat itu . Setelah itu , pasukan
bergerak pulang ke kota raja dan para perwira segera
memberi laporan kepada Kaisar .
Kaisar Yang Chien merasa terkejut sekali mendengar berita
gugurnya Cian Ciangkun . Dia benar-benar merasa terpukul
dan tidak mengira bahwa sahabatnya itu akan tewas dalam
pertempuran itu . Kaisar lalu memanggil Ji Goat dan Han Sin
ke Istana .
Istri iang Ciangkun itu cepat menghadap kaisar , disertai
putranya dan ketika mendengar akan gugurnya suaminya
tercinta , Ji Goat menjadi pucat wajahnya . Akan tetapi tidak
ada setetes pun air mata tumpah .Wanita itu menyadari benar
bahwa suaminya adalah seorang panglima perang yang
sewaktu-waktu dapat saja jatuh dan gugur . Betapa pun juga ,
suaminya gugur sebagai seorang pahlawan dan ia merasa
bangga .
“ Suami hamba gugur sebagai seorang pahlawan . Di atas
kesedihan karena kehilangan suami dan ayah kami ibu dan
anak merasa bangga sekali , ' kata Ji Goat yang berlutut
bersama putera nya . Sian Han Sin juga tidak menangis
walaupun matanya agak kemerahan . Hatinya seperti diperasperas
rasanya kalau dia membayangkan ayahnya ketika
hendak berangkat dan berjanji akan membawakan sebatang
pedang bengkok untuknya . Tidak , ia tidak boleh menangis ,
begitu pesan ibunya tadi . Di depan Kaisar mereka patut
menjadi keluarga seorang Pahlawan Besar .
Kaisar Yang Chien yang mengenal istri Cian Kauw Cu ini
semenjak ia masih gadis , lalu berkata lembut , hatinya diliputi
keharuan . “ Ji Goat , bangkit dan duduklah di kursi itu .
Demikian pula anakmu , eh siapa namanya ? Kami lupa lagi ...

“ Hamba Cian Han Sin , Yang Mulia , “ Kata anak itu dengan
sikap gagah dan hormat .
“ Oya , kaupun duduklah , Han Sin . Kami ingin bercakapcakap
dengan kalian . Ada urusan penting yang akan kami
sampaikan . “
“ Terima kasih Yang Mulia , “ kata Ji Goat dan ia pun
bangkit berdiri lalu duduk di atas kursi . Han Sin juga duduk di
sebelah ibunya . Keduanya menundukkan kepala , menanti
ucapan sang kaisar .
“ Ketahuilah , Ji Goat , bahwa suami mu telah berjasa besar
sekali kepada Kerajaan . Bukan hanya berjasa dengan
kedudukannya sebagai seorang panglima , bahkan jauh
sebelum itu dia telah membantu perjuangan dan menjadi
tokoh penting dalam mendirikan Kerajaan Sui . Lebih lagi dari
itu , dia yang menunjukkan kepada kami adanya sebuah
rahasia yang kemudian kami miliki berdua . Akan tetapi , kami
merasa kecewa sekali mendengar laporan tentang
kematiannya . Kematiannya memang wajar sebagai seorang
panglima perang , akan tetapi caranya dia gugur sungguh
mengandung rahasia yang aneh . “
“ Bagaimanakah rahasia itu , Yang Mulia ?” tanya Ji Goat
sambil mengangkat muka memandang wajah Kaisar itu .
“ Suamimu tewas karena terkena anak panah yang
menembus punggungnya . Menembus punggung , masuk dari
punggung , bukan dari dada . Ini berarti bahwa anak panah
itu datangnya dari belakang . Hal ini sungguh aneh dan
mencurigakan . Selain itu , juga Pedang Naga Hitam tidak
dapat ditemukan , padahal semua prajurit tahu bahwa dia
menggunakan pedang itu untuk bertempur . Kematiannya
yang aneh , diserang dari belakang dan leyapnya Pedang
Naga Hitam sungguh merupakan rahasia yang merisaukan
hati. Akan tertapi bagaimana hal ini dapat diseleidiki kalau
terjadi dalam sebuah pertempuran besar seperti itu ? Setiap
orang sibuk dalam pertempuran , tentu setiap perhatian
ditujukan untuk bertempur dan menjaga diri , tidak sempat
ada yang memperhatikan keadaan suamimu . Perwira yang
menemukan jenazah suamimu juga tidakmelihat apa-apa ,
hanya melihat suamimu sudah menggeletak dan tewas , maka
lalu diangkat nya jenazah itu . “
Ji Goat mengerutkan alisnya “ hamba akan memikirkan hal
itu , Yang Mulia . Mudah-mudahan hamba akan menemukan
jalan untuk menyelidikinya . “
“ Kamipun akan memerintahkan para panglima melakukan
penyelidikan , Ji Goat . Dan masih ada satu hal lagi ingin
kusampaikan kepadamu . “ Suamimu dan kami ketika muda
dahulu telah menemukan sepasang pedang dan sebuah kitab
ilmu silat . Pedang itu kami bagi dua , Pedang Naga Putih
menjadi milik kami dan Pedang Naga Hitam menjadi milik
suami mu . Akan tetapi kalau kami mempelajari ilmu itu dari
kitab , suamimu tidak sabar dan mempelajarinya dari gambargambar
didinding . Kami merasa bahwa diapun berhak
menguasai ilmu itu , akan tetapi dia tidak pernah mau belajar
seperti petunjuk dalam kitab . Karena itu , kami telah
menuliskan semua ilmu itu dalam sebuah kitab dan sekarang
kami hendak menyerahkan kitab itu kepadamu , agar
puteramu kelak dapat mempelajari Bu Tek Cin Keng sebagai
warisan ayahnya . Kami sendiri tidak mengajarkan kepada
keturunan kami karena dengan kedudukan kami sebagai kaisar
, maka tidak perlu mempelajari ilmu silat sampai mendalam .
Berbeda dengan puteramu yang kelak tentu membutuhkannya
.“ Kaisar Yang Chien mengeluarkan sebuah kitab yang
ditulisnya sendiri , terisi pelajaran tigapuluh enam jurus ilmu
bu tek cin keng , lalu menyerahkannya kepada Ji Goat .
Karena Kaisar mengatakan bahwa ilmu dalam kitab itu
sebagai warisan suaminya kepada putera mereka , Ji Goat
menerimanya dan menghaturkan terima kasih . Selain itu ,
Kaisar juga memberikan gedung beserta semua isinya kepada
janda itu . Bahkan Ji Goat masih berhak menerima tunjangan
setiap bulan dari kerajaan .
Baru setelah pulang kerumah Ji Goat merasa hidupnya
kosong dan sepi , dan ia memasuki kamarnya lalu menangis
diatas tempat tidur , memeluk bantal yang biasa dipakai tidur
suaminya ! . Semua kebanggan dan kekerasan hatinya hancur
luluh dilanda duka karena kehilangan orang yang dicintainya .
Duka akan melanda hati setiap orang yang membiarkan
batinnya terikat erat kepada sesuatu atau seseorang . Kalau
sesuatu atau seseorang yang telah melekat erat dihatinya itu
pada suatu saat hilang , hati itu akan terluka dan
menimbulkan duka . Menutupi duka dengan kekerasan atau
segala macam hiburan tidak akan ada gunanya , karena duka
itu akan tetap ada , mungkin mengendap didalam hati akan
tetapi setiap saat akan muncul kembali . Satu-satunya
kenyataan yang dapat meleyapkan duka adalah kekuasaan
Tuhan yang memperkuat batin kita . Kalau kita sadar bahwa
segala sesuatu mutlak berada dalam kekuasaan Tuhan , sadar
dan yakin sepenuhnya , maka kita serahkan segala kepada
Nya .
Kalau sudah begitu kekuasaan Tuhan akan memperkuat
hati kita , akan membuka mata kita bahwa segala sesuatu itu
terjadi dengan wajar , sesuai dengan kehendak Nya .
Kita akan yakin bahwa kematian seseorang yang kita cintai
adalah kehendak Tuhan , karena itu tidak perlu ditangisi ,
tidak perlu menimbulkan duka karena kita sendiri sewaktuwaktu
juga akan mati sesuai dengan kehendakNya . Biarpun
nafsu yang kehilangan apa yang dimilikinya mendatangkan
duka , akan tetapi tidaklah sampai berlarut-larut .
“ Ibu , ibu menangis ?”
Ji Goat terkejut . Bangkit dan melihat Han Sin sudah berada
didalam kamarnya dan memandang kepadanya dengan
pandang mata dan sikap khawatir dan penuh iba . Ji Goat
tidak dapat menahan kesedihannya . Dirangkulnya Han Sin
dan ia pun menangis tersedu-sedu.
“ han Sin ayahmu ..... “ janda itu sesenggukan di dada
puteranya sehingga baju di bagian dada itu menjadi basah air
mata .
Han Sin merangkul leher ibunya . “ Ibu , bukankan ibu
sendiri yang mengatakan bahwa ayah tewas sebagai seorang
pahlawan besar dan kematiannya tidak perlu disedihkan akan
tetapi malah membanggakan ? Ibu , Ibu tadi begitu tabah
didepan Kaisar , kenapa sekarang ? “ .
Ji Goat menyusut air matanya dan sekuat tenaga menahan
tangisnya . ' Benar , Han Sin ... akan tetapi .... aku ... aku
merasa kehilangan sekali .... bayangan ayahmu akan selalu
nampak .... dan aku merasa kehilangan sekali ........ “
“ Ibu , disini masih ada aku yang menemani ibu , ' kata
anak itu dan melihat anak itu berdiri tegak didepannya dengan
gagahnya . Ji Goat merasa terhibur dan merangkul lagi ,
mencium kedua pipi puteranya .
*****
Sejak dia berusia lima tahun , Han Sin telah digembleng
ilmu silat oleh ayah dan ibunya dan kini dalam usia sepuluh
tahun , dia telah menjadi seorang anak yang bertubuh kokoh
kuat dan sudah memiliki ilmu silat yang lumayan . Kalau hanya
orang dewasa biasa saja jangan harap akan mampu
mengalahkan Han Sin .
Cerita Kaisar tentang kematian suaminya membuat hati Ji
Goat merasa penasaran sekali . Telah berhari-hari ia
memikirkan dan membayangkan tentang kematian itu . Di
panah dari belakang ! Tidak mungkin panah itu datangnya dari
pihak musuh . Kalau dari pihak musuh tentu panah itu
mengenai dada , bukan punggung . Dan Pedang Hek Liong
Kiam juga di curi dari tangan suami nya . Agaknya ada suatu
rahasia besar dibalik kematian suaminya . Ada pengkhianat ?
Akan tetapi siapa ? Akhirnya ia berpendapat bahwa untuk
menemukan pembunuh suaminya , haruslah ditemukan dulu
pedang pusaka itu . Pemilik pedang pusaka itu agaknya
pembunuh gelap suaminya atau setidaknya pencuri pedang
pusaka itu nebgetahui siapa sebenarnya yang mebunuh
suaminya . Kalau suaminya tewas dalam pertempuran
melawan musuh , hal itu adalah wajar dan urusan habis
sampai di situ saja . Akan tetapi kalau pembunuhnya
pengkhianat yang membokong dari belakang , hal ini lain lagi
dan menimbulkan penasaran , menimbulkan dendam .
Akan tetapi kemana harus mencari pedang itu ? Ia tidak
mungkin dapat meninggalkan puteranya untuk mencari
pencuri pedang . Tidak , ia tidak akan mencarinya dan biarlah
ini menjadi tugas pertama Han Sin kelak . Ia harus
menggembleng Han Sin menjadi seorang yang pandai dan
tangguh sekali agar dia kelak dapat mencari pencuri pedang
dan pembunuh ayahnya .
Akan tetapi Han Sin masih terlalu kecil untuk disuruh
mempelajari kitab bu tek cin keng . Kaisar berpesan
kepadanya bahwa ilmu itu baru boleh dipelajari kalau Han Sin
sudah remaja . Biar dia mempelajari ilmu-ilmu silat sebagai
dasarnya dan tiba-tiba Ji Goat teringat kepada Tiong Gi
Hwesio , Ketua kuil diluar kota raja itu . Tiong Gi Hwesio
adalah seorang tosu Siuwlimpai , ilmu silatnya tinggi . Biarlah
Han Sin belajar di sana , mempelajari ilmu silat dan juga
sastra dan agama agar kelak Han Sin menjadi seorang
pendekar yang berwatak budiman . Suaminya pernah
menyatakan pendapatnya untuk mengirim Han Sin belajar di
kuil itu , dan sekarang ia yang akan melaksanakan pendapat
suaminya itu .
Ketika Ji Goat membicarakan niat hatinya itu kepada Han
Sin , anak yang patuh kepada ibunya ini tidak membantah . “
Engkau belajarlah dengan tekun di kuil itu , Han Sin . Setelah
engkau remaja dan memperoleh dasar ilmu yang mendalam ,
baru engkau akan kuberi kitab ilmu peninggalan ayahmu
untuk kau latih . Engkau harus menjadi seorang yang tangguh
untuk kelak mencari pembunuh ayahmu . “
Han Sin memandang wajah ibunya penuh selidik . “ Ibu ,
kalau ibu menghendaki aku belajar di kuil , akan ku lakukan .
Akan tetapi , mengapa ibu menyebut tentang pembunuh ayah
? Bukan kah ayah tewas dalam peperangan dan menurut ayah
yang sudah sering berkata kepadaku , tewas dalam perang
adalah kematian yang terhormat bagi seseorang perajurit dan
kematian dalam pertempuran tidak ada hubungannya dengan
permusuhan pribadi “ .
“ Memang benar kalau kematian itu terjadi secara wajar ,
yaitu tewas karena berperang dengan musuh . Akan tetapi
kematian ayahmu penuh rahasia dan mencurigakan . Ayahmu
tewas karena terkena anak panah yang datangnya bukan dari
musuh , bukan dari depan melainkan dari belakang . Ini hanya
berarti bahwa ayah mu tewas karena dibokong oleh seseorang
pengkhianat , dan juga Pedang Naga Hitam , pusaka ayahmu
lenyap dari tangan ayahmu . Nah , sudah menjadi tugasmu
kelak untuk mencari pedang yang lenyap itu , han Sin. Dan
pemilik pedang itu tentu pencuri pedang . Dia mungkin
pembunuh gelap itu , atau setidaknya dia tentu mengetahui
tentang pembunuhan curang itu . Dan untuk dapat menyelidiki
dan mengungkap rahasia itu, engkau harus memiliki ilmu
kepandaian yang tinggi . maka belajarlah baik-baik dari Tiong
Gi Hwesio , anakku .”
Han Sin mengerutkan alisnya dan mengepal tinju tangannya
. “ Ah , kalau begitu ayah tewas secara tidak wajar ! Baik , Ibu
aku akan belajar dengan tekun dan kelak akan ku cari
pembunuh ayah ! “ Han Sin yang biasanya lincah jenaka itu
kini nampak bersungguh-sungguh karena dia penasaran dan
marah mendengar akan kematian ayahnya .
Demikianlah , beberapa hari kemudian , Han Sin membawa
sebuah buntalan pakaian besar , diatar oleh ibunya naik kereta
menuju ke kuil Siauw lim si di luar kota yang diketuai oleh
Tiong Gi Hwesio itu . Sebelumnya , janda panglima ini sudah
mengirim surat kepada Tiong Gi Hwesio tentang maksudnya
mengirim puteranya untuk belajar silat , sastra dan agama .
Karena keluarga Panglima Cian merupakan penyumbang besar
dari kuil itu dan dikenal baikoleh Tiong Gi Hwesio , maka
permintaan janda itu diterima dengan senang hati .
Kedatangan Ji Goat dan puteranya disambut sendiri oleh
Tiong Gi Hwesio di ruangan tamu . “ nah , lo-suhu , inilah
puteraku Cian Han Sin seperti yang sudah kuberitahukan
dalam surat itu, ' kata janda itu dengan sikap ramah . “
“ Seorang anak yang baik , Toa-nio , pinceng merasa
terhormat sekali “ dan dengan adanya Cian-Kongcu menjadi
murid disini “ .
“ Losuhu , karena aku akan menjadi muridmu , maka
janganlah kalau losuhu menyebutku kong-cu ( tuan muda ) .
Namaku Cian Han Sin dan sebut saja namaku tanpa embelembel
tuan muda ,” kata Han Sin sambil tersenyum .
“ Omitohud ... ! masih begini muda sudah pandai bersikap
rendah hati . Baguss ... bagus ! ' puji Hwesio itu sambil
mengangguk-angguk .
“ Apa yang dikatakan Han Sin benar , losuhu , hubungan
antara guru dan murid akan menjadi janggal kalau losuhu
menyebutnya kong-cu . Sebut saja namanya dan bersikaplah
kepadanya seperti kepada seorang murid biasa , “ kata Ji Goat
.
“ Omitohud , baiklah Toa-nio “ .
“ nah , Han Sin , engkau harus memberi hormat kepada
suhumu , “ kata janda itu . Han Sin yang sudah mempelajari
tentang tata cari itu , segera menjatuhkan dirinya berlutut di
depan hwesio itu .
“ Suhu , terimalah hormat teecu ( murid ) ! “ katanya
sambil memberi hormat delapan kali .
“ Omitohud .... engkau anak dan murid yang baik sekali ,
Han Sin , ' kata hwesio itu sambil mengangkat bangun Han Sin
. Ibunya memandang dengan gembira .
Jilid 2
“ Nah , Han Sin , mulai hari ini engkau tinggal disini dan
belajarlah dengan tekun . Engkau tidak boleh meninggalkan
kuil dan kalau engkau rindu kepada ibu , aku yang akan
datang menjengukmu ke sini . Tidak perlu engkau pulang . “
Han Sin sudah maklum bahwa dia harus belajar dengan
tekun , maka dia mengangguk .
“ Baiklah , ibu harap jangan khawatir . Aku akan belajar
dengan tekun sesuai dengan pesanmu . “
Setelah akhirnya ibunya naik kembali ke dalam kereta dan
meninggalkan kuil , mau tidak mau Han Sin merasa seolah
semangatnya ikut pergi bersama ibunya . Kini , ayahnya telah
meninggal dunia dan ketika ibunya meninggalkannya , ia
merasa kehilangan dan kesepian sekali . Akan tetapi dia
mengeraskan hatinya , bahkan segera memutar tubuhnya
menghadapi Tiong Gi Hwesio .
“ Suhu , harap perintahkan apa yang sekarang harus teccu
lakukan . “
Hwesio itu tersenyum . Dia kagus melihat sikap anak ini .
Akan tetapi , diapun maklum bahwa anak ini sebagai putera
seorang panglima yang kabarnya berilmu tinggi , tentu sudah
mendapat gemblengan dari ayah ibunya . Hwesio ini pun
pernah mendengar bahwa ibu anak ini pun seorang yang
pandai ilmu silat . Karena itu , dia sudah mengambil
keputusan untuk tidak tergesa-gesa mengajarkan ilmu silat
kepada anak ini , melainkan menggemblengnya agar dia
memiliki dasar tenaga yang kuat dan terutama sekali melatih
kesabaran dan menanamkan pelajaran agama kedalam
batinnya sehingga kelak akan menjadi seorang yang budiman
, tidak hanya mengandalkan kekerasan ilmu silat .
“Hari ini pinceng antarkan ke kamar mu lebih dulu , setelah
itu baru pinceng akan memberitahukan apa tugasmu setiap
hari didalam kuil ini .”
Han Sin mendapatkan sebuah kamar tersendiri di dalam kuil
itu , tidak seperti belasan murid lain yang tinggal didalam
kamar bertiga atau berempat . Bagaimanapun juga , Tiong Gi
Hwesio masih merasa sungkan kepada ibu anak itu , seorang
penyumbang besar dan janda seorang panglima besar pula .
Setelah mendapatkan kamar , Han Sin lalu di beri tugas
oleh Tiong Gi Hwesio . Tugas pekerjaan yang berat . Setiap
hari dia harus mengisi bak-bak air , mencari kayu bakar ,
membelah kayu-kayu besar itu menjadi kayu bakar . Di waktu
malamnya , dia diharuskan membaca kitab-kitab agama dan
menghafalnya .
Han Sin tidak menyangka sama sekali bahwa dia harus
bekerja berat dikuil itu . Dan pekerjaan itu pun dilakukan
dengan cara-cara yang seolah menyiksanya . Dia diharuskan
memikul air dengan kedua kaki mengenakan bakiak ( alsa kaki
dari kayu ) yang amat berat . Baru memakai bakiak itu saja
dia sudah hampir tidak dapat berjalan dengan baik . Apalagi
harus memikul air yang berat dan bergoyang-goyang ! Dan
pikulannya pun terbuat dari lidi bambu yang banyak diikat
menjadi satu .
Setelah dia mampu berjalan dengan bakiak memikul dua
tong air yang penuh dengan baik , dengan langkah ringan dan
cepat yang baru dapat dilakukan setelah dia bekerja lebih dari
tiga bulan , batang-batang lidi itu dikurangi satu demi satu .
Sudah setahun lamanya Han Sin berada di kuil dan belum
juga dia dilatih ilmu silat oleh Tiong Gi Hwesio ! Bahkan
pekerjaannya pun semakin berat saja . Pada pikulannya di ikat
dua potong besi yang beratnya tidak kurang dari sepuluh kilo
dan dia diharuskan memikul air dengan tong air yang bocor !
Setiap kali dia sampai di bak air , pikulannya sudah kosong
karena airnya habis membocor dalam perjalanan dari sumber
air ke bak air dibelakang kuil !
Dia tidak boleh mengganti tong air . Terpaksa dia harus
berjalan atau bahkan berlari secepat mungkin agar setibanya
di bak air , tong itu belum habis sama sekali .
Dalam waktu setahun , seringkali dia menjadi bahan
tertawaan murid-murid yang lain yang tidak diharuskan
bekerja berat seperti halnya Han Sin . Namun , biar mendapat
perlakuan seperti itu , Han Sin tidak pernah mengeluh .
Bahkan kepada ibunya yang hampir setiap bulan sekali datang
menjenguknya , tidak ada sepatahpun kata keluhan atau
aduan kepada ibunya . Han Sin sudah dapat mengendalikan
perasaanya dan belajar untuk bersabar diri .
Di waktu malam , seringkali Tiong Gi Hwesio datang
kemarnya dan hwesio ini memberi petuah-petuah mengenai
soal-soal kebatinan kepada anak itu . Ditekankan oleh hwesio
itu agar Han Sin dapat menerima kenyataan , menerima
keadaan dengan penuh kewaspadaan , menerima keadaan
bukan berarti putus asa atau mengalah , melainkan penuh
kepasrahan kepada kekuasaan Tuhan .
“ Setiap saat engkau waspadalah terhadap segala
perbuatanmu , gerak gerik semua anggota tubuhmu kalau
sedang melakukan sesuatu . Juga jangan lengah untuk
mengamati apa yang terjadi dengan hati dan pikiranmu .
Kewaspadaan ini akan membuat engkau mengenal benar
siapa dirimu dan mengikuti semua ulah nafsu yang menguasai
dirimu lahir batin . Hanya kewaspadaan yang menyeluruh ini
yang akan membawamu ke dalam jalan kehidupan yang benar
, Han Sin “ .
Setiap kali menerima wejangan hwesio itu , tentu saja Han
Sin merasa agak pusing . Ucapan hwesio itu terlalu dalam
untuk pikiran seorang anak berusia sepuluh tahun . Akan
tetapi setelah hwesio itu pergi meninggalkan kamarnya , Han
Sin suka merenungkan semua itu sampai dia samar-samar
dapat menangkap intinya . Makin dia mengerti , makin
sabarlah dia dan kehidupan dikuil itu makin terasa ringan .
Kejenakaannya yang menjadi watak dasarnya timbul kembali
sehingga dia dapat bersenda gurau dengan murid-murid yang
lain di dalam kuil itu .
Karena pekerjaannya , Han Sin jadi dekat dengan Ho Beng
Hwesio , tukang masak dikuil itu . Dalam pekerjaan membelah
kayu bakar , mula-mula dia diberi sebuah kapak . Akan tetapi
dia dilarang keras mengasah kapak itu .Tentu saja dalam
setahun , kapak itu menjadi tumpul , tidak terasa oleh Han Sin
dan dia tetap dapat sekali pukul membelah kayu yang besar .
Ternyata ini pun merupakan latihan yang amat besar
manfaatnya untuk menghimpun tenaga
Ho Beng hwesio seringkali melihat anak itu bekerja dan
diluar tahunya Han Sin , seringkali dia mengangguk dan
tersenyum . Kakek tua renta ini sudah tahu bahwa Han Sin
adalah putera mendiang panglima Cian Kauw Cu .
Terbayanglah dia akan masa lalunya , tiga puluh tahun yang
lalu , ketika dia masih berjuluk Hek Liong Ong , dia menjadi
guru Cian Kauw Cu (baca Sepasang Naga Lembah Iblis) !. Dan
Cian Kauw Cu merupakan seorang murid yang baik sekali .
Sama sekali tidak terpengaruh oleh wataknya yang ketika itu
masih menjadi seorang datuk sesat yang kejam ! Kemudian
bahkan muridnya yang membujuknya membantu para pejuang
, membantu Yang Chien menaklukkan Kerajaan Toba sehingga
membangun Kerajaan Sui yang sekarang . Diapun mendengar
bahwa muridnya itu telah gugur dalam perang , dan kini
putera muridnya itu menjadi murid dalam kuil itu ! .
Sudah dua tahun Han Sin berada di kuil itu . Pekerjaan
berat yang sebetulnya merupakan latihan menghimpun tenaga
itu membuat tubuhnya nampak semakin tegap . Dalam
usianya yang dua belas tahun , Han Sin telah memiliki tenaga
yang melebihi orang dewasa . Pada suatu hari ibunya datang
menjenguknya . Seperti biasa , ibunya datang membawakan
makanan yang enak-enak untuk puteranya . Setelah mereka
bercakap-cakap melepaskan rindu , ibunya lalu bertanya “ Han
Sin , sampai dimana pelajaran ilmu silatmu ? “ .
“ Ditanya begini , Han Sin menjadi bingng bagaimana untuk
menjawab , “ Ah , biasa-biasa saja ibu “ .
“ Hari ini ibu ingin melihatnya . Berlatihlah dengan ilmu silat
yang kaupelajari dari Tiong Gi Hwesio “.
Sekarang Han Sin tidak dapat menjawab lagi . Dia tidak
tahu mau berbohong kepada ibunya , walaupun dia tidak ingin
mengadu dan mengeluh .
“ Hayo , Han Sin , kenapa diam saja ? Engkau tidak malu
kepada ibumu sendiri bukan ? Ibu ingin me lihat hasil latihan
mu disini ! “ .
Han Sin menghampiri ibunya dan memegang tangan ibunya
. Dia amat sayang kepada ibunya dan tidak ingin
mengecewakan hati ibunya .
“ Ibu , sebetulnya aku belum pernah berlatih silat disini ,
akan tetapi aku tidak kecewa , banyak mendapat pelajaran
memperdalam sastra danpengetahuan agama , juga banyak
mendapat petuah dari suhu . Dan pekerjaan disini juga
menyenangkan . “
Akan tetapi Ji Goat sudah marah sekali . Ia bangkit berdiri ,
memanggil seorang hwesio lalu berkata dengan suara dingin .
“ Tolong undang Tiong Gi Hwesio agar datang ke sini ! “
Hwesio itu melihat sikap seorang yang tidak senang makan
cepat ia pergi kedalam dan tak lama kemudian Tiong Gi
Hwesio masuk ke dalam ruangan tamu itu .
“ Ah , Cian-toanio ! Selamat pagi , toa-nio , “ kata Tiong Gi
Hwesio dengan ramah dan hormat
“ Losuhu , apa yang terjadi disini ? Aku minta kepada
anakku untuk berlatih ilmu silat yang dia pelajari disini dan dia
mengatakan bahwa dia belum pernah berlatih silat . Apa
artinya ini , losuhu ?” .
“ Omitohud ..... Han Sin tidak pernah mengeluh ...... “
“ Suhu , teecu sama sekali bukan bermaksud mengeluh
atau mengadu kepada ibu . Akan tetapi karena ibu minta
teecu berlatih ilmu silat yang teecu pelajari disini , terpaksa
teecu mengatakan terus terang . “
“ Omitohud .... ! pinceng tidak menyalahkanmu , Han Sin ,
juga sama sekali tidak menyalahkan toa-nio “ . Dia lalu
menghadapi nyonya itu dan mengangkat kedua tangan
didepan dadanya .
“ Toa-nio , lupakan toanio ketika pertama kali membawa
Han Sin ke sini , minta kepada pinceng untuk mengajarkan
dasar-dasar ilmu silat yang dalam ? Han Sin adalah putera
mendiang Cian Ciangkun dan Cian-toanio yang pinceng tahu
memiliki ilmu silat yang tinggi . Oleh karena itu , pinceng
tekankan kepada latihan gerakan dasar yang membuat kaki
tangannya ringan dan membangkitkan tenaga tubuh yang
benar-benar kuat . Silahkan Toanio mengajaknya berlatih ilmu
silat yang pernah dia pelajari dirumah dan toanio akan
mengetahui kemajuannya “ .
Jo Goat memandang kepada puteranya penuh perhatian .
Ia masih belum melihat kemajuan itu , hanya harus mengakui
bahwa tubuh puteranya menjadi semakin tegap .
“ Han Sin , mari kita berlatih Lo-hai-kun ( Silat Pengacau
Lautan ) yang pernah kuajarkan kepadamu sebentar , “
katanya dengan nada memerintah .
“ Baik , ibu , “ kata Han Sin yang melihat bahwa ibunya
marah dan dia menaati untuk menghibur hati ibunya .
Ibu dan anak itu memasang kuda-kuda , lalu ibunya berseru
, “ jaga seranganku ! “ dan iapun menyerang dengan ilmu
silat itu . Han Sin bergerak dan keduanya , ibu dan anak itu
terkejut . Ji goat melihat gerakan puteranya demikian ringan
dan cepat . Juga Han Sin kaget sendiri melihat gerakannya
dan sadarlah dia bahwa ini berkat latihan memikul air dengan
tong bocor sehingga dia terpaksa berlari cepat .
Ibunya mulai gembira dan menyerang dengan cepat . Han
Sin menangkis “ Dukkk ..... ! “ kembali keduanya terkejut .
Tenaga tangkisan itu membuat Ji Goat merasa lengannya
terguncang hebat , dan Han Sin juga merasakan betapa
tenaganya mampu menolak tenaga ibunya yang biasanya
dirasakan amat berat . Mereka berlatih semakin cepat dan
ternyata Han Sin dapat mengimbangi permainan silat ibunya !
Ji Goat lalu melompat ke belakang .
“ Cukup , Han Sin “ katanya dan nyonya itu lalu memberi
hormat kepada Tiong Gi Hwesio
“ Lo-suhu , maafkan saya . Baru sekarang saya mengerti
apa yang lo-suhu maksudkan dan banyak terima kasih atas
semua bantuan lo-suhu . Saya serahkan sepenuhnya kepada
lo-suhu “ Ji Goat memang merasa gembira bukan main ,
anaknya yang baru berusia dua belas tahun itu telah
memperoleh kemajuan yang demikian pesatnya sehingga
hampir dapat mengimbanginya dalam hal tenaga dan
kecepatan ! .
Nyonya janda itu pulang dengan hati gembira dan puas .
Sebaliknya Han Sin juga menyadari bahwa semua pekerjaan
berat yang diberikan Tiong Gi hwesio kepadanya , yang
nampaknya seperti menyiksanya , sebenarnya merupakan
latihan yang amat bermanfaat . Dia teringat betapa murid
dikuil itu sering kali menertawakannya . Dan kini dia yang
menertawakan mereka . Mereka itu hanya memperoleh ilmu
sebagai kulitnya saja , tanpa mendapatkan inti dan isinya .
Akan tetapi kalau begini terus , kapan dia akan memperoleh
latihan ilmu silat ?
Malam itu terang bulan , setelah menghafalkan isi kitab
agama , Han Sin duduk dalam kamarnya . Jendela kamarnya
dia buka sehingga dia dapat menikmati keindahan malam
terang bulan . Malam itu sunyi . Di luar nampak hijau
kekuningan dan angin malam yang lembut bersilir ,
menggerakkan daun-daun pohon yang tumbuh diluar kamar
jendelanya .
Memandangi keindahan malam itu , Han Sin melamun .
Nampak awan putih berarak diangkasa dan dibalik awan itu
sinar bulan menciptakan keindahan di angkasa seolah angkasa
menjadi sorga yang diceritakan dalam dongeng , Han Sin
teringat kepada ayahnya . Apakah ayahnya berada dibalik
awan-awan itu ? Dia terkenang kepada ayahnya dan makin
dalam tenggelam ke dalam lamunannya . Dia selalu
membayangkan ayahnya sebagai orang yang paling gagah
didunia . Dan diapun ingin kelak menjadi seperti ayahnya !
Orang gagah yang menentang kejahatan , dan yang selalu
ditakut musuh-musuhnya .
Tiba-tiba dia melihat daun-daun pohon itu bergoyang
agakkeras , padahal angin tetap lembut seperti tadi . Dia
seperti melihat bayangan dipohon. Han Sin bangkit berdiri dan
menghampiri jendela agar dapat melihat lebih jelas . Setelah
tiba ditepi jendela dia memandang dan benar saja , bayangan
dipohon itu adalah seorang manusia yang tahu-tahu telah
duduk di atas cabang pohon itu dan dia segera mengenal
orang itu . Ho Beng Hwesio , tukang masak yang tua renta itu
duduk di sana sambil tersenyum kepadanya ! Hampir dia tidak
dapat percaya . Bagaimana tahu-tahu hwesio tua itu telah
berada di atas pohon ? .
“ Ho Beng suhu .... ! “
“ Ssssttttt ....... ! mari kau ikut denganku , nanti kita bicara
. Maukah kau ? “ tanya hwesio tua itu dengan suara lirih .
“ Keluarlah dari jendela dan tutupkan daun jendela dari luar
“ .
Seperti dalam mimpi , Han Sin memenuhi permintaan
hwesio tua itu meloncat keluar dari jendela dan menutupkan
daun jendela . Hwesio tua itu meloncat turun dari atas cabang
pohon , gerakannya demikian ringan seperti sehelai daun
kering , kemudian memberi isyarat dengan gapaian tangan
kepadanya untuk mengikuti .
Han Sin meloncat kedepan , akan tetapi kakek itu juga
bergerak cepat ke depan . Han Sin menjadi penasaran dan dia
berlari secepatnya untuk mengejar . Namun dia tidak pernah
dapat menyusul kakek itu . Jarak antara mereka masih tetap .
Padahal kakek itu nampaknya seperti berjalan seenaknya saja
. Ho Beng hwesio terus membawanya menuju ke sumber air
dilereng bukit di belakang kuil . Han Sin tetap membanyangi
dan akhirnya kakek itu berhenti diatas sumber air dimana ada
lapangan rumput . Tempat itu terang karena agak jauh dari
pohon-pohon besar . Han Sin segera menghampirinya dengan
perasaan kagum dan heran .
“ Ho Beng suhu , apa maksudmu mengajak aku ke sini ? “
tanya Han Sin
Dia sudah mengenal baik hwesio tukang masak ini karena
beberapa hari sekali dia mendapat tugas membelah kayu
bakar di dapur .
“ Han Sin , maukah engkau belajar silat dariku ? Aku pernah
mempelajari beberapa macam ilmu silat . Kini aku sudah tua
dan sebelum mati aku ingin meninggalkan semua ilmuku
kepadamu “
“ Kenapa kepadaku , Ho Beng suhu ?”
“ Karena engkau seorang anak yang tekun , rajin dan tahan
uji . Aku sudah melihat engkau bekerja giat dan sabar selama
dua tahun ini . Akan tetapi ada satu syaratnya kalau engkau
hendak belajar silat dariku “
“ Apa syaratnya , Ho Beng suhu ? “
“ Syaratnya engkau tidak boleh mengatakan kepada
siapapun juga bahwa engkau belajar silat dariku sehingga aku
akan mengajarmu seperti sekarang ini , secara sembunyi di
waktu malam . Sanggupkah engkau memenuhi syarat itu ? “
“ Aku sanggup . Akan tetapi kalau engkau akan
mengajarkan ilmu silat kepadaku , aku juga mempunyai syarat
, yaitu , engkau harus lebih dulu membuktikan bahwa engkau
lihai dan dapat mengalahkan aku . Bagaimana Ho Beng suhu ?

“ Bagus , memang engkau tidak boleh percaya apapun
sebelum membuktikan sendiri . Nah , sekarang seranglah aku
dengan segala kepandaian dan kerahkan semua tenagamu “ .
Dalam hatinya , Han Sin merasa tidak tega menyerang
hwesio yang sudah tua renta ini . Bagaimana kalau
pukulannya mengenai tubuh yang sudah nampak rapuh itu .
Membuat tubuh itu terluka . Maka , tentu saja dia tidak ingin
menyerang dengan sepenuh tenaganya .
“ Ho Beng suhu , jaga seranganku “ katanya dan diapun
menyerang mempergunakan sebagian saja dari tenaganya
namun gerakannya cepat bukan main .
Kakek itu melangkah dan memutar tubuh ke kira sehingga
pukulan itu luput dan dari kiri tangan nya mendorong tubuh
Han Sin , dan dia tidak dapat mempertahankan diri lagi dan
roboh terpelanting ! .
“ Omitohud , kenapa engkau membatasi tenagamu ? Hayo
serang lagi , kerahkan semua tenagamu dan pergunakan jurus
silatmu yang paling hebat ! “ . tantang hwesio itu .
Han Sin bangkit dan diam-diam terkejut dan penasaran .
Begitu mudahnya dia dirobohkan . Kini dia menyerang lagi ,
menggunakan jurus Lo-hai-kun dan mengerahkan tenaga
sepenuhnya.
Hebat serangannya ini , akan tetapi sebelum tangannya
yang memukul itu mengenai sasaran , kakek itu
mengelebatkan tangannya dan seketika tangan Han Sin , yang
memukul menjadi lumpuh . Dia menyusulkan tamparan
dengan tangan kiri , akan tetapi dengan mudahnya kakek itu
mengelak dan begitu tangan kiri Han Sin lewat , dia memutar
tubuh mendorong pundak anak itu dan untuk kedua kalinya
Han Sin terpelanting roboh ! .
Kini yakinlah Han Sin bahwa kakek itu memang memiliki
ilmu silat yang lihai sekali maka tanpa ragu lagi diapun
menjatuhkan diri berlutut didepan tukang masak itu !
“ Teecu siap menerima petunjuk suhu ! “
“ Husshhh , lupakah engkau akan syaratku tadi ? Engkau
sama sekali tidak boleh bersikap begini kepadaku , tentu orang
lain akan mengetahui . Bersikaplah biasa saja , jangan seperti
seorang murid terhadap gurunya , mengerti ?” .
“ Han Sin bangkit lalu mengangguk . “ Aku ...... aku
mengerti , Ho Beng suhu “ katanya dengan sikap dan nada
suara biasa .
“ Bagus , nah , mari kita mulai . Perhatikan baik-baik dan
tirulah gerakan jurusku ini ! “ .
Mulailah Ho Beng hwesio atau Hek Liong Ong Poa Yok Su
mengajarkan ilmu silat tinggi kepada anak itu . Dia
mengajarkan dengan sungguh-sungguh hati dan Han Sin yang
maklum bahwa dia telah menemukan seorang guru yang
pandai sekali juga belajar dengan tekun .
Mulai malam itu , boleh dibilang setiap malam karena
jarang sekali berhenti , Han Sin dilatih ilmu-ilmu silat oleh
kakek itu .
Mereka selalu bertemu dimalam hari , di atas sumber air itu
. Di waktu siangnya , Ho Beng hwesio bekerja di dapur seperti
biasa , dan kadang Han Sin membelah kayu bakar di dapur
dan sikap kedua orang itu sama lain nampak biasa saja .
Selain ilmu silat , juga Ho Beng hwesio mengajarkan cara
bersemadi menghimpun tenaga sakti .
Dan pada siang harinya , Tiong Gi Hwesio yang pernah di
tegur Ji Goat juga mulai mengajarkan dasar-dasar ilmu silat
siuw-lim-pai yang amat tangguh itu . Han Sin juga
mempelajarinya dengan tekun karena dia telah diberitahu
ibunya bahwa ilmu silat siauw-lim-pai adalah ilmu silat yang
hebat , yang menjadi sumber dari aliran lain , karena ilmu silat
siau-lim -pai mengandung pokok-pokok dasar gerakan ilmu
silat pada umumnya .
****
Sang waktu terbang dengan cepatnya . Kalau tidak
diperhatikan , tahun-tahun lewat bagaikan berhari-hari saja .
Sebaliknya , kalau kita memperhatikan waktu , sehari rasanya
setahun . Tanpa disadari , sejak Han Sin di latih ilmu silat oleh
Ho Beng hwesio lima tahun telah lewat ! Selama tujuh tahun
Han Sin berada di kuil itu dan kini dia telah menjadi seorang
pemuda berusia tujuh belas tahun . Tubuhnya tinggi tegap ,
wajahnya tampan dan gagah . Wajahnya selalu cerah dengan
senyum tak pernah meninggalkan bibirnya . Matanya bersinar
lembut , akan tetapi seperti mata Naga . Sikapnya tenang
akan tetapi dia lincah jenaka , suka bergurau dan memandang
dunia ini dari segi yang indah dan menggembirakan .
Pelajaran agama dan sastra sudah ditekuni selama tujuh tahun
dan pemuda ini memiliki pandangan yang luas akan kehidupan
.
Dia pun seorang yang patuh memegang janjinya . Dia
merahasiakan tentang keadaan Ho Beng hwesio , bahkan
kepada ibunya sendiri rahasia itu tidak pernah diceritakan .
Juga Tiong Gi hwesio sama sekali tidak pernah menduga
bahwa muridnya yang paling pandai itu di samping ilmu-ilmu
silat siaw-lim-pai yang di ajarkannya , juga mempelajari ilmu
silat lain yang luar biasa dari seorang datuk persilatan yang
namanya pernah tersohor di dunia kang – ouw .
Setelah dia menjadi dewasa , barulah dia yakin benar akan
manfaat pekerjaan kasar dan berat yang ditugaskan oleh
Tiong Gi Hwesio kepadanya ketika dia masih kecil . Hasilnya
terpetik plehnya setelah dia menjadi dewasa dan untuk itu dia
merasa bersukur dan berterima kasih kepada ketua kuil itu .
Pada suatu hari , pagi-pagi sekali , kuil siauw-lim-pai itu
didatangi seorang tosu tinggi kurus berusia enam puluh tujuh
tahun . Matanya sipit mencorong , tangan kiri memegang
sebatang hud-tim dan tangan kanannya memegang sebatang
tongkat putih . Sikapnya tenang sekali dan karena pada
hwesio penjaga dia menyatakan ingin bertemu dengan Tiong
Gi hwesio , maka hwesio penjaga melapor ke dalam dan tak
lama kemudian Tiong Gi Hwesio keluar menjumpai tosu itu .
Mereka saling memberi hormat .
“ Siancai ! Kalau pinto tidak salah duga , tentu losuhu ini
yang bernama Tiong Gi hwesio dan menjadi ketua kuil siauwlim-
pai ini , bukan ? “ kata tosu itu dengan suaranya yang
terdengar dingin namun sikapnya lembut .
“ Omitohud , dugaan to-yu memang tepat. Pinceng adalah
Tiong Gi Hwesio yang bertugas memimpin dikuil ini . Tidak
tahu siapakah to-tiang dan apakah keperluan to-tiang
memberi kehormatan berkunjung ke kuil kami ? “ .
“ Pinto disebut orang Ngo Heng Thian Cu . Kalau tidak salah
, di kuil ini terdapat seorang hwesio yang baru menjadi hwesio
sekitar tujuh tahun lebih , mukanya hitam seperti arang .
Benarkah ada hwesio itu , Tiong Gi hwesio ?” Sepasang mata
sipit itu memandang tajam penuh selidik .
“ Omitohud , mungkin to-yu maksudkan adalah Ho Beng
hwesio yang menjadi tukang masak kami . Benarkah dia yang
to-yu maksudkan ?” .
“ Pinto tidak tahu nama barunya sebagai hwesio , akan
tetapi pinto mengenalnya dengan baik sebelum dia menjadi
hwesio . Bolehkah pinto bertemu dengan dia untuk melihat
apakah dia orang yang pinto cari ? “ .
Kebetulan Han Sin berada pula di depan dan melihat
pemuda itu , Tiong Gi hwesio lalu berkata kepadanya
“ Han Sin , coba panggil Ho Beng hwesio untuk keluar
sebentar . Katakan bahwa pinceng yang memanggilnya ke sini
“ .
“ Baik , suhu “ Han Sin segera masuk kedalam kuil ,
langsung menuju ke dapur . Di situ dia melihat Ho Beng
hwesio sedang menyalakan api dapur , agaknya hendak mulai
dengan tugasnya sehari-hari , yaitu memasak .
“ Ho Beng suhu ...... ! “
“ Eh Han Sin , ada keperluan apakah engkau sepagi ini
masuk ke dapur ? “ tegur Ho Beng hwesio sambil tersenyum .
Semua ilmu pilihannya telah di ajarkan kepada murid ini dan
dia merasa puas karena Han Sin membuktikan bahwa dia
seorang murid yang berbakat sekali . Semua ilmu itu telah
dapat dikuasai dengan baik .
“ Suhu , ada seorang tamu yang ingin bertemu dengan
suhu dan Tiong Gi suhu sekarang memanggil suhu untuk
keluar menemuinya . “
Tiba-tiba sikap Ho Beng hwesio berubah . Matanya yang
sudah lebar itu terbelalak makin lebar . Mukanya yang hitam
menjadi agak pucat dan dia nampak terkejut dan gelisah .
“ Tamu itu ........... dia seperti apakah ? Bagaimana
macamnya dan berapa usianya “ tanyanya kepada Han Sin
yang menjadi heran sekali melihat hwesio tua yang sakti itu
nampak seperti orang yang ketakutan !
“ Dia seorang tosu , usianya tentu sudah hampir tujuh
puluh tahun . Orangnya tinggi kurus , matanya sipit
mencorong ,,,,,,, “
“ Apakah dia memegang sebatang hud-tim dan sebatang
tongkat putih ?”
“ Benar sekali , suhu . Dan dia mengaku bernama Ngo heng
thian cu .”
“ Aduh celaka ! Aku ... aku tidak mau membunuh dan di
bunuh . Han Sin tolonglah aku. Katakan pada Tiong Gi hwesio
bahwa aku sedang pergi berbelanja . Sudah , aku mau pergi
dan jangan katakan kepada siapapun juga “ kakek tua renta
itu bergegas keluar dari dapur .
Han Sin tertegun . Tidak mau membunuh dan dibunuh ?
Ada apakah di antara gurunya ini dan tosu itu ? Dan mengapa
orang sesakti Ho Beng Hwesio dapat bersikap ketakutan
seperti itu ? Dia mengejar keluar ke dapur , akan tetapi hwesio
tua renta itu sudah lenyap dari situ , agaknya sudah melarikan
diri entah kemana !
Dengan perasaan heran sekali terpaksa Han Sin kembali ke
ruangan depan dimana Tiong Gi hwesio sedang bercakapcakap
dengan tosu yang menjadi tamu . Mereka berdua
memandang ketika Han Sin kembali ke ruangan itu , dan tosu
itu mengerutkan alisnya melihat Han Sin datang seorang diri
saja .
“ Han Sin , mana Ho Beng hwesio ? Kenapa tidak ikut
denganmu ? “ tanya Tiong i hwesio .
“ Ho Beng suhu sedang pergi berbelanja , suhu , dia tidak
berada di dapur , “ Han Sin terpaksa berbohong untuk
memenuhi permintaan Ho Beng hwesio .
“ Pergi berbelanja ? Aneh sekali , biasanya bukan dia yang
pergi berbelanja ,” Kata Tiong Gi hwesio .
Mendengar ini , tosu yang berjuluk Ngo heng thian cu itu
nampak marah sekali . “ Keparat , Hek Liong Ong ! Kembali
engkau dapat meloloskan diri dari tangan pinto ! “ setelah
berkata demikian , sekali meloncat tosu itu sudah pergi dari
situ .
Tiong Gi hwesio tertegun dan terbelalak “ Hek liong ong ....
“ apa maksudnya ........? '
“ Suhu , siapakah Hek liong ong itu ? Han Sin bertanya
,akan tetapi di dalam hatinya dia sudah dapat menduga .
Tukang masak yang bernama Ho Beng hwesio itu memiliki
ilmu kepandaian yang tinggi sekali , dan mungkin saja dia
seorang tokoh persilatan yang menyamar dan
menyembunyikan diri di dalam kuil sebagai tukang masak .
“ Hek liong ong adalah nama julukan seorang datuk sesat
yang terkenal sekali puluhan tahun yang lalu dan yang
kemudian lenyap dari dunia kang-ouw . Mungkinkah dia ...... “
“ Suhu , kalau begitu biarlah teecu menyusul Ho Beng suhu
ke pasar kita , tentu dia berbelanja di sana . Akan teecu
kabarkan kepadanya bahwa dia di cari oleh tosu tadi . “
“ Sebaiknya begitu dan suruh dia cepat pulang , Han Sin “
Kata Tiong Gi hwesio dengan khawatir .
Han Sin segera pergi meninggalkan kuil . Akan tetapi dia
tidak pergi ke kota raja , karena tidak mungkin Ho Beng
hwesio pergi ke sana . Kalau suhunya itu pergi untuk
menyembunyikan diri , kiranya hanya satu tempat yang akan
di datangi suhunya itu dan dia dapat menduga mana tempat
itu . Tentu tempat itu tak jauh dari sumber air dimana mereka
berdua biasanya berlatih silat di waktu malam . Maka dia lalu
mengambil jalan memutar menuju ke bukit di belakang kuil .
Dugaan Han Sin memang tidak keliru . Ketika mendengar
bahwa ada seorang tosu berusia hampir tujuh puluh tahun ,
kurus tinggi dan memegang sebuah hud-tim dan sebatang
tongkat putih , Ho Beng hwesio segera pergi dengan segera .
Kambuh pula rasa takutnya akan kematian karena dia maklum
betapa lihai musuh yang kini mencarinya itu . Dia atau tosu itu
yang akan mati kalau mereka bertemu dan perkelahian takkan
dapat dielakkan lagi .
Karena tidak ada tempat yang baik baginya untuk
bersembunyi , maka dia lalu berlari menuju bukit di mana
terdapat sumber air dan dimana biasanya dia melatih ilmu silat
kepada Han Sin .
Tempat ini cukup sunyi dan tersembunyi . Untuk sementara
dia dapat bersembunyi di situ sampai keadaan aman dan dia
dapat pergi mencari tempat lain yang jauh dari situ . Setelah
ada musuh yang tahu bahwa dia bersembunyi di kuil itu
sebagai seorang hwesio , tidak ada gunanya lagi menlanjutkan
persembunyiannya di situ . Setelah tiba di lapangan rumput
yang dikelilingi hutan kecil itu , dia duduk termenung .
Ngo heng thian cu ? Dia ingat betul orang ini . Kurang lebih
tiga puluh tahun yang lalu , sebagai seorang di antara para
datuk besar , dia bermusuhan dengan Thian Te iu Kwi (Setan
Arak Langit Bumi) yang terkenal sebagai seorang datuk dari
timur . Dia juga disebut sebagai Dewa Mabok , namun ilmu
silatnya lihai sekali dan setingkat dengan kepandaian Hek liong
Ong . Beberapa kali terjadi bentrokan antara dia dan thian te
ciu kwi , terutama sekali ketika dia membantu perjuangan
Yang Chien , sedangkan Ciu kwi membantu Raja Julan Khan ,
Raja bangsa Toba yang berkuasa di Tiang-an . Dalam
pertempurannya terakhir dengan thian te ciu kwi mereka
berkelahi lagi dan dia berhasil melukai ciu kwi yang menjadi
semakin benci dan dendam kepadanya . Dan Ngo heng thian
cu adalah murid yang paling lihai dari thain te ciu kwi !
Bahkan kabarnya tingkat kepandaian Ngo heng thian cu
lebih tinggi dari tingkat kepandaian gurunya itu . Maka , kalau
Ngo heng thian cu kini mencarinya , tentu akan membalas
kekalahan gurunya dan mengingat akan kelihaian orang itu ,
dia harus melawan mati-matian . Padahal kini dia telah tua
dantenaganya sudah berkurang banyak sekali . Sebetulnya
dia tidak takut menghadapi siapa pun juga , akan tetapi
membayangkan kematian membuat dia kembali merasa ngeri.
Sia-sia saja usahanya selama bertahun-tahun ini untuk
menghilangkan rasa takut . Bukan lenyap , melainkan hanya
mengendap saja . Dan sekarang begitu maut mengancamnya ,
kembali rasa takut itu timbul dan mencekam hatinya .
Perasaan takut akan maut itu hanya dapat lenyap jika kita
menyerahkan diri kepada Tuhan dengan penuh kepasrahan ,
penuh kepercayaan bahwa kematian hanya merupakan
panggilan Tuhan pada umatNya . Bagaimana kelanjutan dari
pada hidup kita sesudah mati , kita serahkan saja dengan
penuh ketaatan kepada Tuhan Yang Maha Pengasih , Yang
Maha Bijaksana . Memang sudah menjadi kewajiban kita untuk
menjada tubuh ini agar tidak cidera , agar tidak sakit dan
selamat etrbebas dari gangguan . Akan tetapi kita tidak
mungkin mencegah datangnya maut , kalau Tuhan sudah
menghendaki nya . Didalam semua ikhtiar kita , didasari
kepasrahan kita . Pasrahlah kehendak Tuhan terjadi
“ Hek Liong ong ...... ! tiba-tiba terdengar seruan yang
mengejutkan hati Hek liong ong . Dia meloncat bangun dan
memutar tubuhnya , menghadapi tosu itu dengan muka
berubah pucat, akan tetapi segera dia tertawa dan
keberaniannya timbul kembali karena dia memang tidak
pernah takut menghadapi musuh .
“ Ha.. ha .. ha .. , Ngo heng thian cu ! Mau apa engkau
mencariku ?”
“ Hemmmm , Hek liong ong , tujuh tahun yang lalu ,
engkau mampu meloloskan diri dari Pulau Naga . Sekarang
jangan harap akan dapat meloloskan diri lagi dari tangan pinto
.
Demi suhu thian te ciu kwi ! Engkau harus mati di tangan
pinto “
“ Thian te ciu kwi pengecut ! Suruh dia datang sendiri
menghadapi aku . Kenapa menyuruh engkau mewakilinya ? “
“ Suhu sudah meninggal dunia sepuluh tahun yang lalu dan
pesannya kepada pinto yang terakhir adalah mencari dan
membunuhmu , hek liong ong . Sarangmu di Pulau Naga
sudah ku bakar , Semua anak buahmu sudah kubunuh .
Sekarang tinggal engkau yang harus mati di tangan pinto .
“Haaaiiiiiiiiiiiiiiiiiiitttt ,...... !” tiba-tiba tosu tinggi kurus itu
sudah menerjang dengan dahsyatnya . Tongkatnya berubah
menjadi sinar putih yang menyambar-nyambar .
Hek liong ong meloncat kebelakang dan tangan nya
menyusup ke balik jubahnya dan dilain saat dia sudah
memegang sebatang pedang terhunus , kiranya kakek ini
ketika melarikan diri tadi sudah membawa pedang yang
disembunyikan dibalik jubahnya .
“ Ngo heng thian cu , akan kuantar engkau menyusul arwah
gurumu ! “ bentaknya dan diapun maju menyambut serangan
tosu itu dengan gerakan dahsyat pula .
Terjadi perkelahian yang hebat dan seru . Biarpun dia
sudah tua renta namun Hek liong Ong masih mampu
memainkan pedangnya dengan dahsyat . Kakek raksasa
bermuka hitam ini memang tangguh sekali . Dan dalam usia
mendekati seratus tahun itu tenaga nya masih kuat sehingga
pedang yang dimainkan ditangannya itu berubah menjadi
sinar bergulung-gulung .
Akan tetapi lawannya juga tidak kalah hebatnya , biarpun
dia murid Thian te ciu kwi , namun tingkat kepandaiannya
sudah melampaui tingkat gurunya sendiri . Hal ini dapat terjadi
karena diapun mempelajari ilmu-ilmu silat dari aliran lain . Dan
menghadapi Hek Liong Ong yang tangguh , Ngo heng thian cu
ini mengeluarkan seluruh kepandaian nya dan mengerahkan
seluruh tenaganya . Ketika Han Sin tiba di tempat itu , kedua
orang sakti itu telah bertanding . Han Sin terkejut melihat tosu
yang tadi mengunjungi kuil itu menemukan gurunya dan
mereka telah berkelahi dengan serunya . Dia tidak berani
mencampuri dan hanya menonton sambil mengintai dari balik
batang pohon . Dia melihat bahwa gurunya tidak kalah
tangguh dan kedua orang itu saling serang dengan hebatnya .
Suara berdentingan ketika pedang bertemu tongkat ,
diseling bentakan-bentakan mereka membuat suasana
menjadi menegangkan sekali. Han Sin mengenal jurus-jurus
maut dan sekali saja seorang diantara mereka kurang cepat
mengelak dan menangkis , tentu akan roboh dan tewas .
Hudtim ditangan tosu itu lihai sekali , kadang dapat digunakan
sebagai cambuk melecut , kadang menjadi kaku dan dapat
dipergunakan untuk menotok jalan darah , dipadu dengan
tongkat itu menjadi sepasang senjata yang ampuh sekali .
Akan tetapi , dia melihat gurunya juga menggerakkan pedang
dengan cepatnya dan seringkali pedang itu merupakan
ancaman maut bagi si tosu .
Bagaimanapun juga , dalam adu kekuatan badan , usia juga
ikut memegang peran penting sekali . Setelah lewat seratus
jurus , nampaklah bahwa usianya merupakan kelemahan bagi
Hek liong ong. Kekuatannya memang masih ada , akan tetapi
daya tahannya yang merosot , napasnya mulai memburu dan
keringatnya membasahi seluruh tubuhnya, dengan sendirinya,
setelah napasnya terengah-engah , tenaganya pun berkurang
banyak dan dia hanya main mundur sambil menangkis saja .
Hek liong ong adalah seorang yang keras hati dan tidak
pernah mau mengaku kalah . Melihat keadaannya yang sudah
payah , dia menggunakan tenaga terakhir untuk menyerang .
Dia mengayun pedangnya ke atas danmembacok kearah
kepala tosu itu. Ngo heng thian cu yang melihat bahwa
lawannya sudah mulai kehabisan napas, menggerakkan
kebutannya dan bulu kebutan yang panjang itu menahan
datangnya pedang . Melihat pedang itu sehingga tidak dapat
digerakkan lagi . Hek Liong ong terkejut dan penasaran . Dia
menggunakan tangan kirinya membantu tangan kanan untuk
merengut pedangnya dan membikin putus bulu kebutan yang
melibat pedangnya. Dengan pengerahan tenaga , dia berhasil
. Bulu kebutan itu putus , akan tetapi pada saat itu , tongkat
putih di tangan kanan Ngo heng thian cu bergerak meluncur
menusuk ke arah dada Hek liong ong !
Hek liong Ong sedang mengerahkan tenaganya kepada
kedua tangannya untuk merengut lepas pedangnya , maka dia
tidak dapat lagi melindungi dadanya , tetap saja dia tidak akan
mampu menahan tusukan cepat dan amat kuat itu .
“ Craaapp .... ! “ tongkat putih yang terbuat dari pada baja
yang amat kuat itu telah menembus dadanya . Mata Hek liong
ong terbelalak dan pada saat itu , Ngo heng thian cu
menendang perutnya sehingga dia terjengkang roboh dan
darah mengucur keluar dari luka di dadanya .
“ Kau .... tosu yang jahat dan kejam ! “ terdengar bentakan
nyaring dan Han Sin sudah menerjang tosu itu dengan
serangannya . Karena pemuda ini tidak membawa senjata ,
maka dia menyerang dengan tangan kosong . Tosu itu
mengelak dengan loncatan ke samping .
Han Sin menghadapinya dan menundingkan telunjuknya ke
arah muka tosu itu .
“ Engkau tosu jahat ! Engkau telah membunuh Ho Beng
hwesio yang tidak berdosa ! “ .
“ Ha-ha-ha “ Ngo heng thian cu tertawa ketika dia melihat
bahwa yang menyerangnya adalah pemuda murid Tiong Gi
hwesio tadi .
“ Dia Ho beng hwesio yang tidak berdosa ? Ha-ha-ha!
Orang muda , agaknya engkaupun kena ditipu olehnya .
Ketahuilah , dia adalah Hek liong ong , seorang datuk sesat
yang amat keji dan kejam . Entah sudah berapa ratus orang
tewas ditangannya . Sudah bertahun-tahun pinto mencarinya
dan dia dapat selalu menghindar . Tidak tahunya dia
menyembunyikan diri dikuil dan menjadi hwesio .
“ Akan tetapi selama bertahun-tahun dia menjadi seorang
hwesio yang tekun dan tak pernah berbuat dosa ! Sekarang
engkau membunuhnya . Engkau harus mempertanggung
jawabkan perbuatanmu ini ! “ kembali Han Sin menerjang
dengan pukulan-pukulannya .
Menghadapi rangkaian serangan Han Sin , tosu itu dengan
mudahnya mengelak ke sana sini, lalu melompat jauh
kebelakang sambil berseru “ pinto tidak mau bermusuhan
dengan siauw-lim-pai ! Pinto tidak dapat melayani mu lagi ! “
dan diapun segera melarikan diri dengan amat cepatnya .
Han Sin maklum bahwa tosu itu memiliki ilmu kepandaian
yang tinggi sekali . Gurunya saja kalah dan tewas oleh tosu itu
, apalagi dia . Kalau tosu itu tidak mau melayani , bukan
karena takut kepadanya , melainkan takut menanam bibit
permusuhan dengan siauw lim pai karena bagaimanapun dia
murid Tiong Gi hwesio seorang tokoh Siauw lim pai .
Dia lalu menghampiri jenazah Ho Beng hwesio dan berlutut
didekat jenazah . Ho beng hwesio memang sudah tewas ,
dadanya berlubang oleh tusukan tongkat putih . Kini Ho Beng
hwesio tidak perlu takut lagi menghadapi maut .
Perasaan takut timbul karena permainan pikiran
membayangkan hal-hal yang belum diketahuinya . Kalau hal
yang tadinya ditakuti itu sudah tiba , maka rasa takutnya akan
hal itupun lenyap , dan rasa takut itu muncul dalam
membayangkan hal-hal lain lagi yang belum diketahuinya .
Orang yang melekatkan bathinnya kepada kehidupan di
dunia ini tentu timbul rasa takut membayangi kematian ,
terutama sekali karena dia akan kehilangan segala yang telah
melekat dengan dirinya , segala yang telah mendatangkan
kesenangan dan kenikmatan hidup , kehilangan orang-orang
yang dikasihi , kehilangan harta benda yang disenangi ,
kehilangan kedudukan yang dibanggakan . Kalau orang
menyadari bahwa segala sesuatu ini adalah milik Tuhan ,
segala yang dimiliki itu hanyalah orang atau barang titipan
belaka , bahwa sebetulnya dia tidak meiliki apa-apa , bahkan
dirinya pun tidak , maka orang itu tentu akan bebas dari pada
lekatan dan karenanya tidak akan merasa gentar menghadapi
kematiannya yang pasti akan datang menjemput itu .
Han Sin memondong jenazah itu, menuruni bukit dan
kembali ke kuil. Tiong Gi hwesio dan para hwesio lain
menyambutnya dengan kaget sekali melihat jenazah Ho beng
hwesio, tukang masak yang sudah tujuh tahun berada di kuil
itu dianggap sebagai seorang hwesio yang baik , tidak pernah
melakukan hal-hal yang tidak baik , bahkan taat sekali kepada
ketua kuil. Ketika Han Sin menceritakan apa yang dikatakan
Ngo heng thian cu kepadanya tentang Ho beng hwesio, Tiong
Gi hwesio menghela napas panjang dan menggeleng kepala .
“ Omitohud ..... siapa mengira bahwa dia adalah hek liong
ong yang tersohor itu ? Bagaimanapun juga , pada masa
tuanya , dia sudah berusaha untuk bertaubat . Akan tetapi ,
biarpun demikian , masih saja dia dicari musuh-musuhnya .
Demikianlah kehidupan di dunia kang ouw , adanya hanya
dendam mendendam , balas membalas , bunuh membunuh .
Setiap orang manusia tidak akan lolos dari jaring karmanya
sendiri . Akan tetapi , disini dia telah membuktikan dirinya
seorang yang baik dan tidak pernah melanggar , maka sudah
sepatutnya kalau jenazahnya mendapat perawatan
sebagaimana mestinya .
Semua hwesio merasa setuju sekali, karena tidak ada
seorangpun di antara mereka yang tidak menganggap Ho
beng hwesio seorang yang baik hati. Akan tetapi hanya Han
Sin seoranglah yang merasa amat berduka karena tanpa
diketahui orang. Ho beng hwesio adalah gurunya selama lima
tahun mengajarkan banyak ilmu silat yang tinggi kepadanya .
Diapun tidak mempunyai gairah lagi untuk melanjutkan tinggal
dikuil itu dan ketika ibunya datang menjenguknya , dia
mengatakan hendak keluar dari kuil itu. Juga sekali ini, setelah
Ho beng hwesio meninggal , kepada ibunya dengan terus
terang dia membuka rahasia tentang dia belajar ilmu kepada
Ho beng hwesio .
“ Ho bwng hwesio itu siapakah ? “ tanya ibunya yang belum
pernah bertemu dengan hwesio tukang masak itu .
“ Dia hwesio tukang masak disini , ibu , dan ternyata dia
memiliki ilmu silat yang tinggi dan telah mengajarkan ilmuilmunya
kepadaku dengan diam-diam karena dia tidak ingin
diketahui orang lain bahwa dia memiliki kepandaian “ .
“ Aneh sekali orang itu . Aku ingin bertemu dan melihat
orang yang telah mengajarkan ilmu silat kepadamu “
“ Tidak mungkin , ibu . Dia telah tewas belum lama ini “
“ Tewas ? Mengapa ? “
“ Tewas terbunuh oleh musuhnya yang amat lihai “ .
Nyonya itu terbelalak “ Ah , bagaimana terjadinya ? Siapa
dia sebenarnya dan apa yang telah terjadi di kuil itu , Han Sin
?” .
“ Ibu , selama lima tahun aku di ajar ilmu silat olehnya ,
akan tetapi selama itu aku tidak tahu sebenarnya siapa hwesio
itu . Baru setalah kedatangan musuhnya itulah aku tahu
bahwa suhu Ho beng hwesio itu sebetulnya dahulu berjuluk
Hek Liong Ong ...... “
“ Hek liong ong .... ? “ kini Ji Goat bangkit dari duduknya
dan memandang kepada puteranya dengan mata terbelalak .
“ Hek liong ong Poa Yok Su menjadi Ho beng hwesio di kuil
Siauw lim si ?”
“ Ibu mengenalnya ? “
“ Mengenal Hek liong ong ? Tentu saja aku mengenalnya
karena dia dahulu juga membantu perjuangan dan membantu
berdirinya Kerajaan Sui . Bahkan lebih dari itu , dia adalah
seorang diantara guru-guru dari mendiang ayahmu ! “ .
Kini Han Sin tertegun “ Ah , kiranya guru mendiang ayah ?
Pantas dia mengajarkan ilmu kepadaku , walaupun secara
sembunyi-sembunyi dan tidak mengajarkannya kepada orang
lain ! “ .
“ Akan tetapi bagaimana dia sampai tewas ditangan
musuhnya ? Siapakah musuhnya itu dan bagaimana terjadinya
?”
Han Sin lalu menceritakan tentang kedatangan tosu tinggi
kurus yang bernama Ngo heng thian cu itu dan betapa Ho
beng hwesio segera melarikan diri ketika mendengar bahwa
dia dicari tosu itu .
“ aku menduga bahwa suhu tentu sembunyi di tempat
dimana biasanya dia mengajarkan silat kepadaku dan ternyata
dia memang berada di sana, akan tetapi Ngo heng thian cu
juga menemukan tempat persembunyiannya itu . Aku melihat
mereka berkelahi dengan hebatnya dan akhirnya suhu roboh
setelah pertandingan yang amat lama dan seru .
Aku mencoba untuk menyerang tosu itu akan tetapi dia
menghindar dan mengatakan bahwa dia tidak mau
bermusuhan dengan siauw lim pai . Tentu saja dia tidak tahu
bahwa aku adalah murid Ho beng hwesio dan menganggap
aku murid siauw lim pai . Ibu , apakah ibu juga mengenal Ngo
heng thian cu ? “
Ji Goat menghela napas panjang , mengenang semua
kejadian masa lalu , ketika dia bersama mendiang suaminya ,
Cian Kuaw Cu , membantu Yang Chien berjuang
menumbangkan kekuasaan Kerajaan Toba .
“ Ngo heng thian cu ? Hemmm , kalau aku tidak salah ingat
, dia itu adalah murid Thain te ciu kwi . Dahulu Thian te ciu
kwi membantu Kerajaan Toba sehingga tentu saja
bermusuhan dengan Hek Liong ong yang membantu
perjuangan rakyat yang memberontak terhadap Kerajaan
Toba . Akan tetapi aku tidak mengira bahwa Thian te ciu kwi
menyuruh muridnya untuk menyerang dan membunuh Hek
liong ong “ .
“ Ibu , apakah Hek liong ong itu dahulunya seorang datuk
sesat yang banyak melakukan kejahatan ? “
“ Semua datuk dan tokoh sesat di dunia kang ouw tidak
segan melakukan kejahatan, anakku. Mereka tidak mengenal
apa yang dinamakan kejahatan. Bagi mereka itu, mereka
hanya melakukan segala kehendak hati mereka kalau perlu
melalui kekerasan untuk memaksakan kehendak mereka.
Karena itu , tentu saja Hek liong ong sudah banyak melakukan
perbuatan yang menyimpang dari kebenaran”
Han Sin menghela napas panjang “ Hemmmm benar saja
dia seorang jahat yang kemudian hendak bertaubat menebus
dosa dengan menjadi seorang hwesio “ .
“ Atau boleh jadi dia menjadi hwesio untuk
menyembunyikan dirinya agar lolos dari ancaman musuhmusuhnya.
Setelah menjadi tua dan merasa lemah, mungkin
Hek liong ong lalu menjadi ketakutan. Dia dahulu memang
seorang yang berhati keras dan kejam, dan karena itulah
maka mendiang ayahmu tidak lama menjadi muridnya “ .
' Ibu , apakah sebagai murid suhu Ho beng hwesio aku
tidak berkewajiban untuk menuntut balas atas kematiannya ?

“ Han Sin , Hek liong ong itu tidak mati penasaran.
Permusuhannya dengan Ngo heng thian cu adalah
permusuhan antara orang-orang kang ouw dan kedua pihak
memang terkenal sebagai golongan sesat . Engkau tidak perlu
melibatkan dirimu. Yang terpenting bagimu adalah
membalaskan kematian ayahmu . Ayahmu tewas secara
penasaran , bukan gugur dalam perang akan tetapi terbunuh
oleh pembunuh gelap secara curang dari belakang . “
“ Akan tetapi kita tidak tahu siapa yang membunuhnya ,
bagaimana aku dapat mencarinya , ibu ? .
“ Memang tidak mungkin mencari pembunuhnya karena
pembunuhan itu terjadi dalam pertempuran dan tidak ada
yang melihatnya . Akan tetapi ada satu hal yang akan
membawamu kepada pembunuh ayahmu. Han Sin , yaitu
Pedang Naga Hitam milik ayahmu . Pedang itu telah lenyap
ketika ayahmu terbunuh. Maka pencuri pedang itu tentu
pembunuh ayahmu . Jadi yang kau cari bukan bukan
pembunuhnya melainkan pedangnya . Kalau pedang itu dapat
kau temukan , tentu pembunuh ayahmu dapat kau temukan
pula .
Pedang Naga Hitam tidak ada keduanya di dunia ini , tentu
akan dapat kau kenal !
Ibu itu lalu menceritakan dengan jelas ciri-ciri pedang
pusaka milik mendiang suaminya itu .
“ Kalau begitu aku akan segera pergi menyelidikinya dan
mencari pedang itu , ibu “
“ Tidak , sebelum engkau mempelajari ilmu silat yang
diwariskan ayahmu kepadamu , Han Sin “, Ji Goat
mengeluarkan kitab tulisan Kaisar Yang Chien yang
menuliskannya dan menggambarkan ilmu silat Bu tek cin keng
.
“ Ilmu ini di sebut Bu tek cin keng . Ilmu ini, ditemukan
ayahmu dan Kaisar Yang Chien . Karena Kaisar Yang Chien
berpendapat bahwa ayahmu yang lebih berhak , maka beliau
menuliskan ilmu itu dalam kitab ini agar dapat diwariskan
kepadamu . Kaisar tidak mengajarkan ilmu ini kepada orang
lain , bahkan kepada para putera puterinya juga tidak .
Karena itu , sebelum engkau pergi mencari pedang dan
pembunuh ayahmu , engkau harus mempelajari dulu ilmu ini
sampai dapat kau kuasai dengan sempurna .
Han Sin adalah seorang anak yang patuh kepada orang
tuanya. Apalagi ayahnya telah tiada, hanya tinggal ibunya .
Maka dia selalu berusaha untuk membikin senang hati ibunya .
Di samping itu , dia memang suka sekali mempelajari ilmu
silat , maka ketika menerima kitab Bu tek cin keng itu dia
segera mempelajarinya dengan tekun . Ketika dia mendapat
kenyataan bahwa kitab itu amat sulit dipelajari , hal ini bahkan
menambah semangatnya untuk mempelajarinya . Kesulitan itu
merupakan tantangan baginya .
Ternyata kemudian bahwa semakin dia mendalami
pelajaran ilmu Bu tek cin keng, semakin sukar . Han Sin harus
berlatih dengan pencurahan perhatian sepenuhnya. Kaisar
Yang Chien memang telah berusaha dengan sungguh-sungguh
agar ilmu itu dapat diwariskan kepada putera Cian Kauw cu ,
maka dia menggambarkan ilmu itu dengan jelas. Juga cara
melatih diri menghimpun tenaga sakti dalam ilmu itu ditulisnya
dengan jelas dan teratur. Sedikit demi sedikit Han Sin mulai
dapat menguasai ilmu itu. Dia tidak mengenal lelah, siang
malam mempelajari ilmu itu dan dipraktekkannya dalam
latihan. Ibunya senang sekali melihat ketekunan puteranya
dan selalu memberi dorongan .
Setelah tiga tahun lamanya Han Sin mempelajari ilmu Bu
tek cin keng dengan penuh semangat, barulah dia berhasil
menguasai ilmu yang sukar itu. Dengan dikuasai ilmu yang
hebat itu , Han Sin memperoleh kemajuan pesat sekali,
terutama dalam hal kecepatan gerakan dan tenaga sakti. Dan
kini telah menjadi seorang pemuda berusia dua puluh tahunan
yang amat lihai .
Pada suatu hari, Ji Goat menonton puteranya latihan.
Melihat pemuda itu bersilat dengan tangan kosong dengan
gerakan yang amat ringan dan tenaga kedua tangannya itu
men-datangkan angin yang membuat rambutnya tertiup angin
dan pakaiannya berkibar , nyonya ini merasa gembira bukan
main . Kini tingkat kepandaian puteranya sudah lebih tinggi
dari tingkat kepandaian mendiang ayah pemuda itu. Kemudian
ia minta kepada puteranya untuk bersilat dengan
menggunakan senjata pedang dan ia semakin kagum. Pedang
biasa yang dimainkan Han Sin itu berubah menjadi sinar
bergulung-gulung yang menyilaukan mata , mengeluarkan
suara berdesing-desing .
Selagi ibu itu mengagumi ilmu silat puteranya, tiba-tiba
seorang pembantu rumah tangga pria berlari-lari menghampiri
mereka . ' Nyonya ... Nyonya ........ ada berita buruk ... ! “
katanya dengan gugup .
Han Sin menghentikan permainan pedangnya dan bersama
ibunya dia memandang kepada pelayan it . Ji Goat juga
merasa tidak senang dengan adanya gangguan ini “A-seng“
tegurnya “ Ada apakah engkau berlari-lari dan nampak
bingung seperti itu ?” .
“ Berita buruk Nyonya ! Sri baginada Kaisar ........... telah
meninggal dunia ... !
Mendengar berita ini tentu saja Ji Goat dan Han Sin
menjadi terkejut sekali. Mereka memang telah mendengar
bahwa Sr ibaginda Kaisar Yang Chien menderita sakit. Akan
tetapi tidak mereka sangka akan meninggal secepat itu .
“ Ahhhh .... ! “ Nyonya itu menjatuhkan diri duduk di atas
bangku dalam ruangan berlatih silat itu . Ia ingat akan semua
pengalamannya diwaktu muda, ketika Kaisar Yang Chien
belum menjadi Kaisar , melainkan menjadi sahabat baik dari
suaminya . Tak terasa lagi air matanya mengalir ke atas kedua
pipinya .
“ aihhhh , Ssepasang Naga Lembah Iblis kini telah tiada ....
! “ katanya kemudian .
“ Ibu , Sri baginda Kaisar adalah seorang kaisar yang
bijaksana dan dicintai rakyat jelata , dan lalu meninggal dunia
dengan wajar , karena sakit . Kurasa tidak ada yang perlu di
buat duka dan sesal . “
“ Engkau benar , Sri baginda kaisar meninggal dunia
dengan wajar walaupun usianya belum tua benar . Berbeda
dengan ayahmu yang meninggal dunia dengan penasaran , “
Kata Ji Goat .
Ibu dan anak ini segera berganti pakaian berkabung dan
siap untuk pergi melayat ke istana , sebagai istri panglima
tinggi dan sahabat kaisar , memang selayaknya kalau nyonya
ini pergi melayat .
Kaisar Yang Chien , Kaisar yang dahulunya merupakan
seorang jagoan , pemimpin rakyat yang berhasil
menumbangkan kekuasaan Kerajaan Toba dan pendiri
Kerajaan Sui , telah meninggal dunia dalam usia yang belum
tua benar , baru sekitar enampuluh dua tahun . Menurut berita
desas desus , Kaisar Yang Chien sakit-sakitan karena merasa
kecewa dan berduka melihat bahwa diantara putera-puteranya
tidak ada yang menuruni semangat dan kebijaksanaanya .
Pangerang Yang Ti , puteranya yang diangkat menjadi putera
mahkota , memang cukup bersemangat , akan tetapi kurang
meiliki kebijaksanaan dan bahkan menunjukkan gejala suka
menggunakan kekerasan dan suka pula kemewahan .
Sebelum dia meninggal, dia sempat berpesan kepada
Pangeran Yang Ti agar memperhati-kan nasib rakyat dan
berusaha keras mensejahterakan kehidupan rakyat seperti
yang telah dilakukan nya . Sambil menangis , pangeran
mahkota yang usianya sudah tigapuluh delapan tahun itu
menyanggupi untuk melaksanakan pesan ayahnya .
Setelah Kaisar Yang Chien wafat , maka Pangerang Yang Ti
diangkat menjadi penggantinya . Setelah YangTi menjadi
Kaisar , nampaklah dia bahwa meneruskan usaha yang dirintis
ayahnya . Terusan – terusan yang menghubungkan Huang-ho
dan Yang-ce diperluas , sampai ke Hang-couw. Nampaknya
dia bekerja keras untuk melanjutkan cita-cita ayahnya
sehingga rakyat jelata merasa senang .
Pada permulaan pemerintahannya , tidak ada tanda-tanda
bahwa Kaisar Yang Ti kelak akan menjadi seorang yang gila
perang dan memboroskan uang negara untuk membangun
istana-istana yang megah. Juga dia mengangkat banyak
panglima dan pejabat tinggi , memilh diantara orang-orang
yang sudah berhubungan akrab dengannya ketika dia masih
menjadi seorang pangeran .
Pejabat-pejabat tua yang setia kepada ayahnya dihentikan
dan dipensiun . Perubahan ini menimpa diri Ji Goat. Kalau dulu
diwaktu kaisar Yang Chien masih hidup , Kaisar itu itu
membiarkan janda sahabatnya ini mendiami gedung yang
ditempati Panglima besar itu . Setelah Kaisar Yang Ti yang
berkuasa, gedung itu diminta kembali untuk ditempati
panglima yang baru diangkat dan terpaksa janda bersama
puteranya untuk pindah. Sejak kecilnya Ji Goat yang
dahulunya puteri Perdana Menteri Kerajaan Toba tinggal
dalam istana indah. Kini ia harus meninggalkan gedung yang
ditempatinya semenjak suaminya menjadi panglima besar .
Ji Goat sudah tidak betah lagi tinggal di kota raja, dimana
terdapat banyak kenangan tentang suaminya, hal yang sering
kali membuat ia termenung dan tenggelam dalam kesedihan .
Maka ia lalu mengajak puteranya meninggalkan kota raja.
Semua barang milik mereka pribadi mereka jual , semua
pembantu rumah tangga mereka suruh pulang dan akhirnya
mereka mencari tempat tinggal di sebuah dusun diluar kota
raja , dekat kuil siauw lim si.
Ji Goat kembali membeli sebidang tanah, mendirikan
sebuah rumah sederhana dan bekerja di kebun yang ditanami
dengan sayur-sayuran dan buah-buahan. Ia merasa lebih
tenang dan tentram tinggal ditempat sunyi ini .
Dan sebulan setelah mereka pindah ke dusun itu, Ji Goat
lalu minta kepada puteranya untuk mulai dengan tugasnya,
yaitu mencari Pedang Naga Hitam untuk mengetahui siapa
pembunuh suaminya .
“ Akan tetapi ibu tinggal di sini seorang diri ! “ kata Han Sin
yang merasa kasihan kepada ibunya . “ Mengapa ibu tidakk
memakai tenaga bantuan orang lain sebagai pelayan dan juga
teman ? Siapa yang akan menjaga ibu kalau aku harus pergi
sekarang ? “
“ Han Sin , jangan bersikap cengeng ! “ kata ibunya dengan
tegas .
“ Ibu mu bukanlah seorang wanita lemah. Aku dapat
menjaga dan melindungi diriku sendiri . Aku masih kuat ! Dan
tentang pembantu, kalau aku memerlukan kelak, tentu bisa
kudapatkan tenaga dari penduduk dusin ini. Berangkatlah dan
jangan mengkhawatirkan keadaan ibumu ! '
“ Akan tetapi , karena aku akan mencari pencuri pedang
yang tidak ada jejaknya , mungkin tugas ini akan memakan
waktu lama sekali sebelum aku menemukannya , ibu “ .
“ Jangan gentar menghadapi kesukaran , anakku . Engkau
sudah dewasa dan baru saja selesai mempelajari banyak ilmu
silat . Bekal untuk menjaga dirimu sudah cukup kuat daripada
ibu atau ayahmu sendiri diwaktu muda. Engkau perlu
meluaskan pengalaman hidupmu. Hanya pesanku, berhatihatilah
menjaga dirimu sendiri, bukan hanya terhadap
gangguan dari luar, melainkan terutama sekali menghadapi
gangguan dari dalam. Jangan membiarkan dirimu dikuasai
nafsu-nafsu sendiri yang akan menyeretmu ke dalam tindakan
yang menyimpang dari kebenaran. Ibu yakin semua ini sudah
kau pelajari dari Tiong Gi hwesio selama engkau berada dikuil
siauw-lim-si “ .
Jilid 3
Han Sin menangguk “ Semua pesan ibu akan ku taati .
Jangan khawatir , ibu . Aku dapat menjaga diri baik – baik .
Paling lama tiga tahun , berhasil ataukah tidak mencari
Pedang Naga Hitam , aku pasti akan pulang , ibu “
Demikianlah , setelah menerima banyak nasehat dengan
membawa bekal emas secukupnya yang diberikan Ji Goat ,
Han Sin berangkat meninggalkan dusun itu .
****
Sudah lajim bahwa orang yang ditinggalkan seseorang yang
dikasihinya akan merasa kesepian dan kehilangan .
Demikian pula Ji Goat , nyonya janda itu , begitu Han Sin
pergi , ia tidak dapat menahan dirinya lagi dan menangis
seorang diri di dalam rumahnya . Ia merasa semangatnya
terbang pergi mengikuti puteranya . Akan tetapi , nyonya yang
gagah ini akhirnya dapat menekan kesedihan hatinya dan
melawannya dengan harapan bahwa puteranya akan berhasil
menemukan pedang suaminya dan berhasil pula membalasa
dendam kematian suaminya .
Harapan ini dapat menghibur hatinya . Duka memang
datang atau lahir dari pikiran yang merasa iba kepada diri
sendiri , karena di tinggalkan. Pikiran ini menguyah-nguyah
keadaan dirinya itu , seperti meremas – remas perasaan
hatinya sendiri penuh iba diri dan timbulah duka . Kemudian
pikiran yang itu juga menciptakan harapan-harapan yang
menjadi pegangannya dan harapan ini menjadi penolongnya
sehingga ia dapat melupakan kedukaannya . Ia tidak tahu
bahwa justru harapan ini yang kelak akan mendatangkan
kekecewaan dan duka baru kalau tidak terlaksana seperti yang
diharapkannya . Manusia selalu di ombang – ambingkan dan
dipermainkan oleh pikirannya sendiri .
Berbeda dengan orang yang di tinggalkan , orang yang
meninggalkan tidak terlalu di cekam rasa kesepian atau
kehilangan . Hal ini adalah karena yang meninggalkan
menghadapi hal-hal baru , pengalaman – pengalaman baru
sehingga perhatiannya selalu tertuju ke depan .
Han Sin juga tidak mengalami rasa duka seperti ibunya
yang di tinggalkannya , bahkan dia merasa gembira , merasa
bebas lepas seperti seekor burung di udara .
Dia boleh pergi kemana saja dia suka , boleh berbuat apa
saja yang dikehendakinya . Boleh memutuskan segala hal
menurut kehendaknya sendiri . Dia baru sekali ini merasakan
sebagai seorang manusia yang utuh , majikan dari dirinya
sendiri , tanpa kekangan .
Ibunya benar , pikirnya . Dia harus meluaskan pengalaman
dalam hidup ini agar tidak menjadi seperti seekor katak dalam
tempurung .
Pemuda itu tersenyum seorang diri . Seorang pemuda
berusia duapuluh tahun yang tubuhnya tinggi tegap dan
rambutnya yang hitam lebat itu diikatkan dengan kain sutera
kuning . Dahinya lebar , sepasang alis hitam tebal berbentuk
golok . Hidungnya mancung dan mulutnya selalu tersenyum
manis . Sepasang matanya bersinar lembut , selalu berseri
karena dia memang pada dasarnya seorang pemuda yang
berwatak riang gembira . Dagunya yang berlekuk itu
membayangkan kejantanan walaupun pandang mata yang
lembut , mulut yang tersenyum dan sikap yang sederhana itu
membayangkan kerendahan dan kelembutan hati . Memang
Han Sin bersikap sederhana , sama sekali tidak ada bekasbekasnya
sebagai putera seorang panglima besar ! Dia lebih
mirip seorang pemuda dusun yang terpelajar , seorang
pemuda sastrawan misikin dari dusun . Pakainnya juga
sederhana dan ringkas . Buntalan di punggungnya dari sutera
kuning juga tidak terlalu besar karena dia hanya menyimpan
beberapa stel pakaian dalam bungkusan itu . Sama sekali dia
tidak membawa senjata . Bagi Han Sin yang sudah memiliki
ilmu silat yang tinggi , kaki tangannya sudah merupakan
senjata yang ampuh dan segala macam benda dapat saja dia
pergunakan sebagai senjata tambahan , maka dia tidak
memerlukan senjata sebagai bekal . Hal ini pun di nasehatkan
oleh ibunya . Kalau dia tidak membawa senjata , maka tidak
ada yang akan tahu bahwa dia seorang ahli silat yang tangguh
dan hal ini menjauhkan gangguan . Sudah lajim di dunia kang
ouw bahwa orang yang membawa-bawa senjata akan mudah
bertemu lawan yang ingin mengujinya . Beberapa potong
emas yang dia terima dari ibunya , di taruh di dalam buntalan
.
Han Sin ingin tertawa kalau teringat akan nasihat ibunya .
Ibunya berpesan kepadanya bahwa kalau sampai dia
kehabisan bekal di dalam perjalanan , dia boleh saja
mengambil uang itu dari rumah seorang hartawan atau
bangsawan ! .
“ Akan tetapi ingat , engkau mencuri uang bukan untuk
bersenang-senang , melainkan hanya untuk mencukupi
kebutuhan sehari-hari . Dan janganlah sekali-kali membikin
susah orang yang uangnya kau curi . Seorang hartawan besar
tidak akan merasa kehilangan kalau kau ambil uangnya sedikit
. Jangan ganggu orang yang hanya memiliki sedikit harta atau
engkau boleh merampas harta para perampok . “
Ibunya mengajarkan dia untuk mencuri ! Dia tidak akan
melakukan itu , kalau tidak amat sangat terpaksa . Dia sendiri
sedang mencari seorang pencuri pedang . Bagaimana
sekarang dapat menjadi pencuri uang ? Akan tetapi dia
maklum apa yang dipesankan oleh ibunya itu .
Han Sin melakukan perjalanan kejurusan timur dan dia
sudah mendengar bahwa kalau dia terus ke timur , sampai di
sungai kuning dia akan tiba di kota Lok-yang . Dia bermaksud
pergi ke Lok-yang dan dari sana dia baru akan mebelok ke
utara dan barat menyusuri Sungai Kuning . Tujuannya adalah
ke Shansi . Karena di daerah Shansi itulah ayahnya tewas
ketika pasukan yang dipimpin ayahnya bertempur melawan
pasukan musuh dari utara .
Ketika malam tiba , Han Sin bermalam di sebuah dusun .
Seorang petani menawarkan rumahnya untuk dia tinggal
semalam itu , Pertemuan itu terjadi di ladang pada sore hari
itu ketika Han Sin menuruni bukit dan menghampiri dusun
yang tadi nampak dari atas bukit . Dia melihat seorang petani
masih mencangkul ladangnya pada senja yang telah mulai
gelap itu . Timbul perasaan iba dihatinya . Petani itu rajin
sekali , pikirnya dan tentu seorang petani miskin yang
terpaksa bekerja keras untuk mencukupi penghasilannya .
“ Selamat sore , Paman . Wah , paman rajin sekali , hari
sudah hampir gelap masih bekerja diladang ! “ tegur Han Sin
ramah sambil duduk di tepi ladang itu di atas akar-akar pohon
yang menonjol .
“ Selamat sore , kongcu ( tuan muda ) . Ah , rajin sih tidak ,
melainkan terpaksa karena saya hanyalah buruh tani . Ladang
ini bukan milik saya sendiri , melainkan milik tuan tanah dan
kalau saya tidak bekerja keras , upah saya tentu tidak cukup
untuk biaya hidup “ .
Han Sin menghela napas panjang , lagu lama yang di
dengarnya ini . Sayang ladang yang luas dimiliki oleh para
tuan tanah dan petani seperti orang ini hanya hidup sebagai
buruh tani dengan upah yang sedikit . Tak sepadan dengan
keringat mereka yang menetes – netes ketika bekerja keras .
“ Ah , tidak . Saya hidup sebatangkara , tidak berani
berkeluarga karena penghasilanku kecil . Untuk diri saya
sendiri saja hampir tidak cukup , hanya untuk sekedar makan
dan pakaian yang sederhana “ . Petani itu sudah merasa le lah
dan mendengar ada orang begitu menaruh perhatian kepada
dirinya , dia lalu duduk di atas pematang swah di dekat Han
Sin .
“ Sungguh sayang sekali tuan-tuan tanah itu tidak dapat
menghargai jasamu yang besar , paman “ .
“ Ah , kongcu . Saya hanya pekerja tani , mencangkul dan
menanam lalu menuai , yang memiliki tanah adalah mereka ,
mana dapat dikatakan jasaku besar ? '.
“ Paman , kalau tidak ada orang-orang tani seperti paman
ini , bagaimana orang-orang seperti saya dan semua orang
yang tinggal di kota dapat makan ?. Setiap tetes keringat
paman yang membasahi tanah dan menjadi pupuk bagi
tanaman , amatlah berharga . Pekerjaan paman adalah
pekerjaan yang paling mulia , namun sayangnya semua orang
melupakannya bahkan memandang rendah kaum petani .
Bahkan para tuan tanah memeras tenaga kalian . Sungguh
menyedihkan ! “
“ Akan tetapi kami sudah biasa hidup begini , kongcu . “
“ Bahagiakah hidupmu , paman ? “
Petani itu memandang dengan mata penuh mengandung
pertanyaan, kemudian dia bertanya,
“ Kongcu , kebahagiaan itu apakah yang dinamakan
bahagia itu bagaimanakah ? “
Di tanya begini , Han Sin tertegun . Apa sih kebahagiaan itu
? Apakah dia sendiri juga bahagia ? Pernahkah dia merasa
bagagia ? Dia sendiri tidak tahu maka diapun menjawab asal
saja , keluar dari pendapat pikirannya . “ Bahagia itu .... kalau
paman merasa senang dan puas dengan keadaan hidup
paman , tidak pernah merasa susah “
“ Ah , begitukah ? Kalau begitu aku tidak butuh bahagia itu
. Asalkan aku menerima upah , dapat membeli makanan dan
pakaian , sudah senanglah hatiku. Aku tidak menginginkan
apa-apa juga tidak membutuhkan kebahagiaan itu “ .
Han Sin kembali tertegun . Tidak butuh bahagia ? Dan
bagaimana mencari kebahagiaan itu ? Kemana mencarinya
dan bagaimana akan dapat mengenalnya kalau dia belum
pernah merasakan ? Teringatlah dia akan wejangan Tiong Gi
hwesio tentang kebahagiaan .
Kebahagiaan adalah keadaan jiwa yang tidak terganggu
oleh nafsu-nafsu melalui hati akal pikiran . Jiwa yang tenang ,
tentram dan diam . Kebahagiaan adalah keadaan tidak apaapa
, seprti keadaan air telaga yang diam tanpa keriput
sedikitpun juga karena terganggu angin . Kalau begitu ,
kebahagiaan itu sudah ada pada setiap manusia , bilamana
hatinya dalam keadaan hening tenang , seperti orang sedang
tidur nyenyak tanpa gangguan mimpi . Kalau nafsu akal
pikiran datang mengusik maka orang akan merasa tidak
bahagia . Akan tetapi bila pengganggunya itu menghilang ,
kebahagiaan akan selalu ada . Maka , tidak mungkin bahagia
itu dicari karena memang selalu sudah ada ! Hanya tertutup
oleh ulah nafsu akal pikiran , akan makin nampaklah
kebahagiaan itu . Petani itu tidak butuh bahagia karena dia
sudah berbahagia ! Dengan upah kecil dan keadaan miskin
sekalipun , bahagia tidak pernah meninggalkan bathin
manusia selama manusia dapat menerimanya tanpa
menimbulkan gelombang yang akan mengganggu
kebahagiaannya . Dengan sepotong tembaga orang dapat saja
berbahagia . Sebaliknya dengan memiliki segunung emas
belum tentu orang itu berbahagia ! .
Han Sin bangkit dan wajahnya berseri . “ Kalau begitu
engkau seorang yang berbahagia , paman ! Kau berbahagia ! “
.
Petani itu memandang heran kepada pemuda yang
bergembira itu dan agaknya dia menyangsikan apakah
pemuda didepannya itu waras ataukah tidak .
“ Aku ? Berbahagia ? Entahlah , aku tidak butuh bahagia .
Akan tetapi kongcu ini orang dari manakah ? Dan apa yang
kongcu cari di sini ? '.
“ Aku seorang perantau yang kebetulan lewat disini dan
kemalaman , paman . Aku mencari rumah penginapan untuk
dapat melewatkan malam ini “ .
“ Wah , di dusun kami tidak ada rumah penginapan ,
kongcu ! “
“ Kalau begitu aku akan mencari kuil atau rumah kosong
untuk melewatkan malam ini “ .
“ Kuil juga tidak ada , apa pula rumah kosong . Akan tetapi
kalau kongcu mau , boleh kongcu menginap di rumah saya
yang buruk . Saya hanya tinggal seorang diri di rumah itu “ .
Han Sin tersenyum girang . “ Ah , engkau baik sekali paman
. Tentu saja aku suka tinggal dirumah paman ! “ .
“ Kalau begitu , mari kita pulang “ . Petani itu mencuci kaki
tangannya dengan air saluran yang terdapat didekat
ladangnya , kemudian memanggul cangkulnya dan mengajak
Han Sin pulang ke rumahnya yang berada di tepi dusun itu .
Rumah itu memang sederhana sekali , akan tetapi lumayan
lah untuk melewatkan malam , dari pada berada di tempat
terbuka . Ada pula sebuah meja dan dua buah kursinya
terbuat dari kayu secara kasar . Tidak mempunyai perabot lain
, akan tetapi ada sebuah tempat tidur yang kecil dan isinya
hanya sebuah dipan kayu sederhana .
“ Silahkan duduk , kongcu . Beginilah tempat tinggalku ,
akan tetapi bagiku amat menyenangkan “ Petani itu lalu
menyalakan penerangan .
Han Sin menghela napas . Betapa pun misikinnya keadaan
seseorang , kalau orang itu tidak mengeluh dan dapat
menerima dengan hati jauh dari pada iri , keadaan itu tetap
akan mendatangkan perasaan senang ! Jadi jelaslah dia akan
satu hal , yaitu bahwa kebahagiaan bukan terdapat di dalam
kekayaan harta benda ! Dan diapun mengerti mengapa ibunya
sama sekali tidak berduka , bahkan nampak gembira setelah
pindah ke rumah sederhana di susun , padahal tadinya mereka
tinggal disebuah gedung besar menyerupai sebuah istana kecil
di kota raja . Dia mengerti kini akan makna wejangan gurunya
bahwa setiap orang manusia haruslah dapat bebas dari ikatan
apapun juga di dunia ini karena ikatan itulah yang
mendatangkan duka . Kalau ibunya terikat oleh keadaan yang
megah dan mewah di kota raja , tentu ibunya akan berduka
kehilangan semua itu . Diam-diam dia merasa bangga akan
sikap ibunya .
“ Paman , perutku terasa lapar dan aku yakin paman juga
tentu lapar sekali setelah bekerja berat . Karena itu , harap
paman suka membelikan masakan dan nasi di dusun ini . Dan
juga arak untuk kita makan dan minum berdua . “
Han Sin membuka buntalannya dan mengeluarkan kantung
uangnya . Dia mengambil beberapa keping uang dan
menyerahkan kepada petani itu . Petani itu nampak tertegun
melihat banyak potongan emas dalam kantung itu dan dengan
tangan gemetar dia menerima uang itu .
“ Di sini tidak ada yang menjual makanan , kong cu . Akan
tetapi saya dapat menyuruh tetangga sebelah untuk membeli
ayam dan bahan makanan untuk dimasak . Harap kong-cu
menunggu sebentar “ .
Tak lama kemudian petani itu sudah kembali membawa dua
ekor ayam , beras dan beberapa macam sayuran berikut
bumbu-bumbunya dan segera dia sibuk di bagian belakang
rumahnya . Dia memasak ayam dan sayur itu dibantu oleh
seorang wanita setengah tua yang pandai memasak dan
ramailah mereka bekerja sambil bercakap-cakap .
Han Sin tersenyum . Mungkin bagi petani itu , peristiwa
menyembelih ayam dan memasaknya dengan bermacam
sayuran ini merupakan sebuah peristiwa yang istimewa .
Terharu rasa hatinya membayangkan bahwa mungkin petani
itu tidak pernah mampu membeli ayam , mungkin belum tentu
sebulan atau dua bulan sekali merasakan daging .
Menyembelih bagi mereka tentu merupakan sebuah pesta
besar .
Setelah masakan itu selesai dan dihidangkan di atas meja ,
Han Sin lalu mengajak petani itu makan bersama-sama . Mulamula
petani itu dengan sungkan menolak, akan tetapi Han Sin
memaksanya dan akhirnya petani itu mau juga makan
bersama . Mereka makan dan minum sampai kenyang .
Setelah selesai , makanan itu masih bersisa banyak dan
oleh si petani lalu diberikan kepada tetangga yang tadi
membantunya masak . Kemudian dia duduk bercakap-cakap
dengan Han Sin . “ Paman , apakah sejak muda paman
bekerja sebagai petani ! “ tanya Han Sin .
Dia melihat tadi gerak- gerik petani itu cukup gesit dan
mengandung tenaga , bukan seperti orang biasa . Juga
perawakannya tegap dan menyembunyikan kegagahan .
Petani itu mengangguk “ sejak muda saya memang petani ,
kong-cu , tinggal disini sejak bertahun-tahun “ , jawab petani
itu dengan pendek .
Karena merasa lelah melakukan perjalanan jauh sehari itu .
Han Sin lalu mengatakan bahwa dia hendak mengaso .
“ Kongcu tidurlah dikamar itu “ , kata sang petani .
“ Akan tetapi tempat tidur itu hanya kecil , hanya cukup
untuk seorang saja . Dan paman akan tidur dimana ? “ .
“ Ah , saya akan dapat mencari tempat tidur , itu urusan
mudah , kong-cu . Saya bisa tidur dilantai bertilamkan tikar ,
atau dapat mengungsi ke rumah tetangga . Tidurlah kongcu “
.
Han Sin tidak sungkan lagi , lalu memasuki kamar itu dan
merebahkan diri nya di atas dipan . Dia membawa
buntalannya dan meletakkan buntalan itu di dekat kepalanya
di atas dipan .
Malam itu sunyi sekali . Dalam kamar itu tidak terdapat
penerangan , akan tetapi karena rumah itu terbuat dari pada
bilik bambu , maka penerangan dari lampu di luar masuk dan
mendatangkan penerangan yang remang-remang . Saking
lelahnya , sebentar saja Han Sin sudah tidur pulas .
Menjelang tengah malam , biarpun sedang tidur nyenyak ,
Han Sin terbangun juga oleh suara berkerietnya daun pintu
kamar itu dibuka orang . Begitu terbangun , seluruh urat
syarafnya ditubuhnya telah siap dan dia menjadi waspada .
Memang seluruh tubuhnya telah terlatih sehingga dia dapat
siap dalam keadaan bagaimanapun juga . Dia tidak bergerak
dan pura-pura masih pulas , akan tetapi matanya terbuka dan
dia melihat bayangan orang di depan pintu kamarnya !
Kemudian pintu itu terbuka dari luar dan nampaklah bayangan
petani tuan rumah itu melangkah maju setapak demi setapak
dengan kedua tangannya mengangkat cangkul tinggi-tinggi
diatas kepalanya ! Bermacam perasaan mengaduk hati Han
Sin . Heran , kecewa , penasaran dan juga geli . Petani yang
siang tadi nampak demikian akrab dan manis budi , jujur dan
lugu , bahkan yang dianggapnya seorang yang berbahagia
hidupnya kini tiba-tiba saja berubah menjadi iblis yang siap
membunuhnya ! . Membunuh seorang yang sedang tidur
dengan darah dingin . Dia diam saja dan ketika orang itu
sudah dekat dan mengayunkan cangkulnya ke arah kepalanya
, secepat kilat Han Sin menggulingkan tubuhnya dari atas
dipan .
“ Croookkkk .... !!! “
Dipan yang dihantam cangkul itu patah menjadi dua potong
menunjukkan betapa kuatnya ayunan cangkul tadi . Dan
petani itu mengeluarkan seruan kaget melihat cangkulnya
mengenai diapn dan orang yang diserangnya sudah tidak
berada disitu lagi . Bahkan buntalannya pun sudah lenyap !
Petani itu cepat meloncat keluar dari dalam kamar dan
matanya terbelalak me lihat Han Sin sudah duduk diatas kursi
menghadapi meja dan buntalannya sudah berada pula di atas
meja . Pemuda itu nampaknya tenang saja . Seolah tidak
pernah terjadi sesuatu .
Sejenak petani itu berdiri seperti patung , pandang matanya
bingung dan ragu seolah dia tidak tahu apa yang harus
dilakukan . Akan tetapi melihat pemuda itu duduk
membelakanginya , tiba-tiba dia menerjang maju sambil
mengayun cangkulnya ke arah kepala Han Sin dengan
pengerahan tenaga sekuatnya .
“ Wuuuutttt ....... Plakkk ! “ Han Sin menjulurkan tangannya
ke belakang dan dapat menangkap gagang cangkul itu sambil
memutar tubuhnya . Dia menarik cangkul itu lalu tangan yang
sebelah lagi mendorong dengan telapak tangannya kearah
dada petani itu .
“ Buuukkkk .... ! “ Tubuh petani itu terjengkang dan
terlempar sampai menabrak dinding sedangkan cangkulnya
terampas oleh Han Sin . Pemuda itu meletakkan cangkul di
atas tanah dan memandang kepada petani dengan mata
mencorong .
Petani itu merasakan dadanya sesak dan kini maklumlah dia
bahwa dia berhadapan dengan seorang pemuda yang lihai.
Barulah dia teringat akan keadaan dirinya , kesalahan yang
dilakukannya dan setelah bangkit berdiri dia menundukkan
mukanya , tidak tahan menentang pandangan mata yang
siang tadi begitu lembut akan tetapi kini nampak mencorong
itu dan berkata lirih .
“ Saya ... saya .... telah bersalah , boleh kong-cu
membunuh saya ... “
Han Sin tersenyum “ Paman , duduklah ' .
Orang itu menurut dan duduk di depan Han Sin terhalang
meja , seperti sore tadi ketika mereka makan minum berdua .
“ Sekarang ceritakan mengapa paman melakukan perbuatan
tadi dan siapa sebenarnya paman ini “ .
Orang itu menghela napas panjang beberapa kali , menelan
ludah seperti mengumpulkan keberaniannya , kemudian dia
berkata “ Kong-cu saya pernah menjadi seorang perampok di
waktu muda , mengumpulkan harta benda dengan cara
merampok . Akan tetapi lima belas tahun yang lalu ,
gerombolan perampok yang saya pimpin dibasmi habis oleh
pasukan pemerintah . Istri dan anak-anak saya ikut tewas
dalam pembasmian itu , harta benda saya habis . Saya
menjadi orang buruan pemerintah . Setelah tertimpa bencana
itu , yang merampas habis harta benda saya bahkan
membasmi keluarga saya , saya menjadi sadar bahwa saya
telah memetik buah daripada pohon tanaman saya sendiri .
Maka saya mencuci tangan , mengubah jalan hidup saya .
Saya menjadi petani , bahkan saya menyembunyikan keadaan
saya dengan menyamar sebagai petani lemah yang hidup
sebatang kara. Akan tetapi sore tadi muncul kong-cu .
Sungguh mati , saya menyambut kong-cu dengan hati
setulusnya dan saya merasa girang dapat menyambut kong-cu
. Akan tetapi .... ah , mengapa kong-cu membuka buntalan
memperlihatkan emas yang demikian banyaknya ? Saya tidak
tahan melihatnya . Nafsu iblis telah mencengkram diri saya
dan saya tidak menentangnya , maka saya mengambil
keputusan untuk membunuh kong-cu dan merampas emas itu
“ .
Orang itu kembali menghela napas dan kini bahkan kedua
matanya basah .
Han Sin mengangguk-angguk kembali dia teringat akan
wejangan gurunya “ Godaan datang dari dalam hati akal
pikiran sendiri melalui panca indera . Dan diantara semua
penggoda , yang paling berbahaya adalah godaan harta benda
.
Harta benda dapat menutupi pertimbangan dan
kebijaksanaan . Kita kehilangan kewaspadaan dan mau
melakukan perbuatan apa saja demi harta benda .”
Demikianlah wejangan dan sekarang dia melihat buktinya .
Seorang yang sudah mengubah jalan hidupnya, begitu melihat
emas di depan mata , menjadi lupa segalanya dan siap untuk
membunuh dengan cara pengecut untuk menguasai emas itu .
Melihat emas merupakan kesempatan baginya . Andaikata dia
tidak melihat emas itu , tidak mungkin akan timbul keinginan
untuk menguasai dan membunuh pemiliknya .
“ Sudahlah , paman , aku memaafkanmu . Dahulu , engkau
sudah mendapat pelajaran bahwa perbuatan merampok itu
mendatangkan akibat buruk kepadamu ,keluarga mu terbasmi
habis, harta bendamu juga musnah . Dan kembali malam ini
engkau melihat bahwa perbuatan merampok itu sesungguhnya
mencelakakan dirimu sendiri . Sudahlah , lupakan urusan tadi .
Aku masih mengantuk dan mau tidur lagi “ .
Han Sin lalu meninggalkan meja , meninggalkan
buntalannya dan memasuki kamar , lalu merebahkan dirinya
diatas dipan yang kini terpaksa diletakkan diatas lantai tanpa
kaki karena sudah patah dua .
Petani itu tertegun . Sampai lama dia duduk di atas kursi itu
, memandang buntalan diatas meja . Pemuda lihai itu bukan
saja memaafkannya , bahkan meninggalkan buntalan diatas
meja ! Akan tetapi , kini sudah tidak ada lagi gairah di hatinya
untuk merampok emas itu . Dia sudah yakin benar bahwa
akibatnya tentu akan buruk bagi dirinya kalau dia
menggunakan kesempatan itu untuk melarikan buntalan itu .
Dia pun merebahkan diri lagi di atas lantai akan tetapi sekali
ini dia tidak dapat tidur lagi .
Bukan gelisah karena ada dorongan untuk mencuri emas ,
melainkan takut kalau-kalau ada orang luar datang dan
mencuri buntalan itu . Maka , dia tidak tidur untuk menjaga
buntalan itu agar tidak diambil orang ! .
Pada keesokan harinya , pagi-pagi sekali Han Sin terbangun
dan ketika dia keluar dari kamar itu , dia melihat petani itu
sudah duduk di atas kursi menghadapi buntalan yang masih
terletak diatas meja . Dia tersenyum kepada diri sendiri .
“ Selamat pagi , paman . Engkau sudah bangun ? “
tegurnya ramah .
Petani itu cepat bangkit berdiri , merasa malu bukan main
melihat pemuda yang hampir dibunuhnya itu masih bersikap
ramah dan lembut kepadanya .
“ Selamat pagi , kong-cu dan ........... maafkan perbuatanku
semalam ..... “
“ Ah , aku sudah melupakan hal itu , paman “ , kata Han Sin
. Dan dia membuka buntalannya, mengambil sepotong emas
dari dalam kantung dan menyerahkannya kepada petani itu .
“ Ambillah ini , paman dan terima kasih atas kebaikanmu “ .
Petani itu terbelalak dan melompat kebelakang seperti
hendak diserang . Dia menggeleng-gelengkan kepalanya
memandang sepotong emas itu , seperti melihat benda yang
menakutkan .
“ Tidak ........... tidak kong-cu ...... saya tidak menghendaki
emas lagi ..............”
“ Terimalah , paman . Ini lain lagi . Ini adalah pemberianku
yang rela . Dengan emas ini kiranya engkau dapat menggarap
ladangmu sendiri . Terimalah , aku akan tersingung kalau
engkau tidak mau menerimanya “ .
Karena kalimat terakhir inilah sang petani tidak berani
menolak lagi dan di terimanya sepotong emas itu dengan
kedua tangannya dan dia hanya berkata lirih “ Terima kasih ,
kong-cu ..... “ dan kedua matanya menjadi basah .
Han Sin sudah mengikatkan lagi buntalan dibelakang
punggungnya dan dia berkata “ nah , selamat tinggal , paman
. Mudah-mudahan kalau aku kebetulan lewat disini lagi , aku
dapat singgah di rumahmu “ .
“ Selamat jalan kongcu dan terima kasih ..... “ Dia
mengantar tamunya sampai meninggalkan rumah itu dan
setelah pemuda itu pergi jauh , masih saja dia berdiri disitu
sambil memandangi emas di telapak tangannya .
“ Ahhh ........... ,aku lupa menanyakan namanya .... ! “
Katanya sambil berlari mengejar . Akan tetapi pemuda itu
sudah tidak tampak bayangannya lagi .
Petani itu hanya dapat menggeleng-geleng kepalanya
saking heran dan kagum , kemudian dia berjalan pulang
dengan hati merasa gembira sekali telah bertemu dengan
seorang pemuda pendekar , karena dia tentu seorang
pendekar perkasa , yang bijaksana dan budiman .
****
Han Sin berjalan menuruni bukit . Dari atas tadi dia sudah
melihat sebuah telaga kecil dan ingin sekali dia dapat mandi di
sana . Sejak pagi dia meninggalkan dusun itu menuju ke timur
dan dia belum membersihkan badan sejak pagi-pagi sekali tadi
. Perutnya belum lapar karena semalam dia sudah makan
sampai kenyang di rumah petani itu .
Hatinya terasa ringan dan senang . Dia tidak tahu mengapa
hatinya terasa demikian ringan dan senang . Tidak tahu bahwa
hal ini adalah akibat perbuatannya terhadap petani yang bekas
perampok itu . Setiap perbuatan yang baik selalu
mendatangkan perasaan ringan dan senang bagi pelakuknya ,
asalkan perbuatan itu dilakukan tanpa pamrih dan dengan rela
hati.
Han Sin menuruni bukit dengan cepat sekali karena dia
menggunakan ilmu berlari cepat . Gin Kang ( ilmu
meringankan tubuh ) pemuda ini memang mencapai tingkat
tinggi setelah dia menguasai ilmu Bu-tek-cin-keng dan dia
dapat berlari seperti terbang cepatnya . Tak lama kemudian
dia telah tiba di tepi danau dan ternyata di situ terdapat
sumber air yang keluar dari pecahan batu besar . Air itu terjun
dan membentuk danau yang kecil terus mengalir menjadi
sebuah anak sungai yang mungkin saja mengalir terus
memasuki Sungai Kuning di timur .
Danau dari sumber itu dikelilingi sebuah hutan lebat dan
keadaan di situ sunyi dan indah bukanmain . Matahari pagi
bermain-main di danau dengan bayangannya yang
membentuk garis kemerahan dari bayangnya , dikelilingi
warna hijau pantulan pohon-pohon ditepi danau ,
Sinar matahari yang menerobos masuk lewat celah-celah
daun pohon membentuk berkas-berkas cahaya keputihan yang
amat indah , membuat tempat itu seperti surga dalam
dongeng . Seekor kelinci putih berlari keluar dari semak-semak
, dikejar kelinci lain yang berbulu kelabu . Han Sin
memandang ambil tersenyum geli melihat tingkah dua ekor
kelinci itu yang segera lenyap lagi dibalik semak-semak .
Bunga-bunga liar mekar bebas , digoyang-goyang perlahan
oleh hinggapnya kupu-kupu yang mencari madu . Burungburung
berlompatan dari ranting ke ranting sambil berkicau .
Semua ini menjadi selingan suara air kecil terjun ke danau
yang mengeluarkan dendang yang tak kunjung henti . Titik –
titik air embun berjatuhan di kala burung-burung hinggap di
sebuah ranting .
Han Sin berdiri bengong di tepi telaga seperti dalam mimpi .
Tak disangkanya bahwa danau yang terlihat dari atas bukit
tadi merupakan tempat yang demikian indahnya . Melihat
disitu sunyi tidak ada seorangpun manusia kecuali dirinya ,
tanpa ragu lagi lalu Han Sin menanggalkan seluruh pakaiannya
menumpuk pakaian itu diatas buntalannya yang diletakkan di
atas batu . Kemudian diapun terjun memasuki air danau itu .
Sejuk dan menyegarkan sekali . Airnya jernih , dasarnya dari
batu dan pasir dalam dalamnya sebatas dada . Sejuk nyaman
bukan main mandi di pagi hari itu . Han Sin beberapa kali
menyelam dan berenang dengan hati gembira .
Tiba-tiba dia mendengar suara yang emncurigakan ,
datangnya dari tepi telaga . Cepat dia menengok dan masih
melihat berkelebatnya bayangan orang . Cepat bukan main
gerakan itu, hanya bayangan nya saja dapat ditangkap
pandang matanya . Akan tetapi yang lebih mengejutkan hati
Han Sin adalah ketika dia melihat ke atas batu dimana
buntalannya dan pakaian nya tadi dia tinggalkan . Buntalan
berikut pakaiannya tadi telah lenyap !
“ Celaka .......... ! “ Dia mengeluh . Andai kata kantung
emasnya yang hilang , dia tidak akan segelisah ini , akan
tetapi , semuanya telah lenyap dan kini dia dalam keadaan
telanjang bulat ! Bagaimana dia dapat keluar dari dalam air
menemui orang dalam keadaan seperti itu? .
“ Hei ........ ! Kembalikan pakaianku ..... ! “ Dia berteriak
sambil melangkah ke tepi , akan tetapi tubuhnya masih
terendam dalam air .
Suaranya dikeluarkan dengan nyaring sehingga
menimbulkan gema . Akan tetapi , tidak ada jawaban .
Suasana sunyi dan burung-burung terbang ketakutan ,
terkejut oleh teriakannya yang nyaring tadi . Han Sin menjadi
gelisah . Jangan-jangan pencuri itu telah melarikan diri dan
tidak akan kembali lagi ! Bagaimana dia dapat melakukan dan
melajutkan perjalanan tanpa sehelaipun pakaian untuk
menutupi ketelanjangannya ? Apakah petani itu telah kumat
kembali dan dia yang mencurinya ? Tidak mungkin , gerakan
petani itu tidaklah secepat orang yang tadi dilihat
bayangannya .
Han Sin merasa gelisah sekali dan tidak berdaya . Dia
seorang yang memiliki ilmu silat tinggi, yang tidak gentar
menghadapi lawan bagaimana pun juga , kini menjadi gelisah
menghadapi ketelanjangannya dan dia merasa tidak berdaya
sama sekali .
“ Haaiiiiii ....... ! saudara yang mengambil buntalanku !
Engkau boleh memiliki buntalan dan semua isinya , akan tetapi
kembalikan pakaianku ! Tolong kembalikan pakaianku ! “
Dalam suaranya terkandung permohonan yang sungguhsungguh
. Sialan , pikirnya . Dia yang kecurian malah dia yang
memohon dan minta tolong .
Tiba-tiba dia melihat sebuah kepala keluar dari balik semaksemak
. Bukan kepala binatang , melainkan kepala manusia ,
dan melihat rambutnya yang hitam panjang itu tentulah
kepala seorang wanita muda . Wajah itu cantik pula , dengan
hidung yang mancung dan mulut tersenyum menggairahkan .
Kepala itu nongol sebentar , sepasang mata berkedip-kedip
memandangnya , lalu menyusup lagi dibelakang semak-semak
.
“ Haiiii ...... nona atau nyonya ......... keluarlah dan
kembalikan pakaian ku ... ! “ katanya , dan pandangan
matanya mencoba untuk menembus semak belukar itu .
Hening sejenak , kemudian kepala itu nongol lagi . Kini muka
yang cantik itu tertawa .
“ Hi-hi-hi-hik , lucunya ..... ! “ kini muka itu lebih jelas
kelihatan dan ternyata wajah seorang gadis yang cantik , akan
tetapi suara tawanya aneh , dan matanya yang indah itu
berkedip-kedipaneh .
Han Sin menggapai , “ Nona ..... harap mengasihani aku .
Tolong kembalikan pakaianku ....! “
Dia memohon . Kini nona itu keluar dari balik semak-semak
. Tubuhnya ramping , rambutnya hitam panjang hanya diikat
dengan sutera kuning . Kulitnya putih dan wajah itu cantik
dengan mata yang berbinar-binar , hidungnya yang mancung
dan mulut yang selalu tersenyum lebar , memperlihatkan
kilatan gigi yang putih berderet rapi . Akan tetapi pakaiannya
sungguh aneh . Berkembang-kembang dan potongannya
longgar kedodoran . Kakinya memakai sepatu hitam dari kulit
kayu . Gadis itu berdiri dan memandang kepada Han Sin
seperti orang yang terheran-heran , akan tetapi Han Sin
melihat bahwa gadis itu tidak membawa apa-apa . Dan diapun
bersangsi apakah gadis itu yang mencuri buntalannya , karena
tidak mungkin gadis itu dapat bergerak secepat bayangan tadi
.
“ Nona , kesinilah .... ! “ Dia menggapai karena biarpun
gadis itu bukan pencurinya , dia dapat minta tolong kepadanya
untuk mencarikan pakaian sebagai penutup ketelanjangannya
.
Gadis itu mendekat , dengan langkah yang aneh , berlarilari
kecil seperti tingkah seorang kanak-kanak . Kini dia berdiri
di tepi telaga memadang Han Sinm dengan terbelalak dan
penuh perhatian .
“ Hik-hi-hi-hi , lucunya .... ! “ kembali ia berkata dan
sikapnya itu membuat Han Sin merasa bulu tengkuknya
meremang .
Ada sesuatu yang tidak wajar dalam sikap gadis cantik itu .
Masa seorang gadis dewasa seperti itu bersikap kekanakkanakkan
dan tertawa lucu melihat dia berendam dalam air .
“ Nona apa engkau melihat orang yang mengambil pakaian
dan buntalanku ? “ tanya Han Sin akan tetapi yang ditanya
hanya terkekeh seperti orang yang merasa melihat hal yang
lucu
Han Sin merasa jengkel juga . Pertanyaannya hanya di
jawab dengan kekeh yang aneh .
“ Nona , “ Katanya , “ Tolonglah aku , carikan pakaian agar
aku tidak telanjang “ .
Kembali nona itu terkekeh , kemudian terdengar suaranya ,
suaranya sebetulnya merdu seperti suara seorang gadis , akan
tetapi nadanya aneh seperti orang yang asing . “ Kau .... kau
ini binatang apakah ? “ .
Sialan , pikir Han Sin . Akan tetapi karena diapun pada
dasarnya berwatak lincah dan gembira . Dia tidak menjadi
marah , bahkan tertawa “ Ha-ha-ha-ha , engkau lucu sekali ,
nona ! ' .
“ Hik-hi-hi-hik , engkau juga lucu ! “ gadis itu kini tertawatawa
sambil bertepuk-tepuk tangan dan meloncat-loncat
seperti seorang anak kecil kegirangan . Tentu saja Han Sin
memandang dengan mata terbelalak dan mulut ternganga .
Tidak salah lagi , Gadis cantik itu berotak miring ! .
“ Hik-hi-hik , apakah engkau ini sebangsa monyet ? Monyet
putih tidak berbulu ? “ tanya gadis itu sambil mendekat dan
tubuhnya mendoyong kedepan sehingga Han Sin khawatir
merasa kalau-kalau gadis itu akan terjatuh ke dalam danau .
“ Hussshhh ! “ katanya gemas “ aku bukan monyet , aku
juga manusia seperti engkau ! “ .
“ Ahhh , manusia ? Dan engkau laki-laki ya ? Engkau
tampan loh ! “ Gadis itu memuji dan mengancungkan jempol .
Tanpa disadarinya , muka Han in menjadi merah .
“ Nona , aku ingin minta tolong kepadamu . Ketahuilah ,
semua barangku termasuk pakaian ku di curi orang . Aku kini
telanjang sama sekali . Karena itu , tolonglah aku , carikan
pakaian untukku , sedikitnya sebuah celana ... '
“ Hik-hi-hik , minta tolong boleh akan tetapi katakan dulu
siapa namamu “ .
Wahh gadis ini gila tapi pintar menggoda orang , pikirnya .
Mau menolong akan tetapi menjual mahal .Pakai syarat segala
macam . Akan tetapi mau tidak mau dia harus menjawab
karena dia butuh pakaian .
“ Namaku Cian Han Sin “ .
“ Cian Han Sin , nama mu aneh , Han Sin . Dan aku
bernama Kui Ji “ .
“ Namamu indah , nona “ .
“ Heiii , sudah tahu namaku mengapa menyebut aku nona .
Sebut saja adik Kui Ji yang baik “.
“ Oya , adik Kui Ji yang baik , tolonglah carikan pakaian
untuk aku agar aku dapat naik ke darat “ .
“ Kalau mau ke darat , naik saja sekarang ! “
“ Tidak mungkin , adik Kui ji yang baik , aku bertelanjang
bulat ! “ .
“ Oh ya , ibu bilang hanya binatang yang telanjang bulat .
Kalau manusia harus berpakaian . Kau memerlukan celanaku !
“ Dan gadis itu pun lalu melepaskan tali kain ikat
pingganganya dan hendak menurunkan celananya . Tentu saja
Han Sin terkejut sekali dan dia memejamkan matanya .
“ Tidak , jangan lakukan itu ! Jangan berikan celanamu
kepadaku , nanti engkau telanjang ! “ .
“ Hik-hi-hik , sudah kubilang engkau lucu dan juga bodoh .
Siapa yang mau telanjang ? “ katanya dan tetap saja gadis itu
menurunkan celananya yang berkembang-kembang . Han Sin
nekat membuka matanya dan sudah bersiap-siap untuk
menutupnya kembali kalau gadis itu bertelanjang . Akan tetapi
ternyata dia memakai celana rangkap berapa , entah rangkap
berapa karena pakaiannya kedodoran seperti itu .
“ Nih , pakai celana ini ! “ kata gadis itu sambil menggulung
celana itu dan melemparkannya kepada Han Sin .
Han Sin menerima celana itu , akan tetapi bagaimana dia
dapat memakainya kalau nona itu berada di situ ? Untuk
mengenakan celana itu dia harus lebih dulu keluar dari dalam
air .
“ Nona , pergilah dulu .... “
“ Siapa nona !? “
“ Oh ya , adik Kui ji yang baik , harap pergi dulu agar aku
dapat naik dan mengenakan celana ini “ .
“ Aku tidak akan pergi dan aku mau menonton engkau
memakai celana . Tentu lucu sekali “ Gadis itu terkekeh-kekeh
dan kembali wajah Han Sin menjadi merah . Gadis ini benarbenar
gila tidak ketulungan lagi , sudah lupa akan rasa malu
dan sopan santun . Dia lalu mengerahkan tenaganya dari
dalam air itu dia meloncat jauh ke depan , kearah sebuah batu
besar . Tubuhnya melayang seperti burung terbang dan cepat
dia berdiri di balik batu besar agar gadis itu tidak melihatnya .
Tergesa-gesa dia mengenakan celana itu . Celaka , celana itu
ujungnya kecil sekali sehingga ketika dia memaksa dan
menariknya ke atas , terdengarlah suara kain robek . Terpaksa
dia memotong bagian bawahnya dan kini dia memakai sebauh
celana sebatas lutut yang berkembang-kembang ! .
Biarpun pakaian itu minim sekali , akan tetapi setidaknya
membuat dia berani menghadapi orang , tidak bertelanjang
bulat . Sementara itu gadis yang pakaiannya berkembangkembang
itu terbelalak melihat Han Sin meloncat dari dalam
air ke atas batu , agak jauh darinya . Ia masih tertegun
memandang Han Sin yang muncul dari balik batu dengan
mengenakan celana kembang sebatas lutut , kemudian , sekali
ia mengayun tubuhnya , tubuh itu berkelebat dan telah berada
di depan Han Sin , membuat pemuda itu terkejut sekali.
Kiranya gadis gila ini pandai ilmu silat dan dapat meloncat
dengan gerakan demikian cepatnya . Kembali timbul
kecurigaannya bahwa yang mencuri buntalannya tentulah
gadis ini pula .
“ Aih , kiranya engkau memiliki ilmu kepandaian pula , Han
Sin ? Bagus , mari kita bermain-main sebentar ! “ katanya
sambil tertawa terkekeh dan tahu-tahu tangan kanannya telah
menyerang Han Sin dengan gerakan melengkung aneh . Akan
tetapi tangan yang semula tidak kelihatan seperti hendak
memukulnya itu , tahu-tahu telah membelok dan menampak
ke arah mukanya dengan gerakan demikian cepatnya . Juga
amat kuat karena tamparan itu di dahului angin pukulan yang
terasa panas oleh pipi Han Sin .
Han Sin cepat mengelak dengan menarik ke belakang tubuh
atasnya , akan tetapi Kui Ji menyerang lagi dengan tamparan
susulan . Ia pun menyerang bertubi-tubi dengan tamparan
dan totokan dan gerakannya makin lama makin aneh namun
lihai bukan main . Han Sin terus mengelak , setelah mengelak
atau menangkis selama belasan jurus , ketika tangan gadis itu
mencengkram ke arah lehernya , dia sengaja mengerahkan
tenaganya dan menangkis keras
“ Duukkk .... !! “ kedua lengan bertemu dengan kuatnya
dan gadis itu terdorong mundur . Lalu memegangi lengan
yang tertangkis itu dan menangis ! .
“ Hu-hu-hu-hu-hu ... kau nakal .......... hu- hu -hu ... kau
menyakiti lenganku .... ! “ akan tetapi sambil menangis ia
menyerang terus dan kini ia sudah memungut sebatang
tongkat berbentuk ular yang tadi ditinggalkan diatas batu .
Hebat sekali serangan dengan tongkat ini , dan gerakannya
tetap aneh sekali , berbeda dengan ilmu-ilmu silat biasa .
Kalau ujungtongkat itu menggetar menyerang dengan tusukan
ke arah dada , ternyata penyerangan yang sesungguhnya
adalah pukulan ke arah kepala . Kalau nampaknya pada
permulaan menyerang ke kanan , ternyata menyerang ke kiri .
Seperti serangan orang yang kebingungan dan nampaknya
ilmu silat gadis itu kacau balau seperti kacau balaunya jalan
pikirannya . Akan tetapi justru kekacauan itu lah yang
membuat ilmu silat itu lihai dan berbahaya sekali , tidak dapat
diduga perkembangannya .
Han Sin yang hanya bertahan saja , terpaksa beberapa kali
menjadi korban tamparan dan totokan , akan tetapi karena dia
sudah melindungi tubuhnya dengan sin-kang yang kuat , maka
dia tidak sampai robih . Akhirnya dia tahu bahwa kalau dia
tidak membalas , mungkin saja dia dapat terluka oleh tongkat
yang gerakannya terkadang seperti seekor ular itu . Maka,
mulailah dia mengerahkan tenaga dan memainkan Bu-tek -cinkeng
.
Ketika tongkat meluncur menusuk matanya , han Sin
menangkis sehingga tongkat terpental dan dengan tangan
kirinya diapun mendorong dengan telapak tangannya kedepan
sambil mengerahkan tenaga yang dia kendalikan agar jangan
sampai dia melukai gadis itu .
“ Wuuutttt .... aighhh ... ! “ Kui ji terdorong kebelakang dan
ia menjerit , kemudian jatuh terduduk . Napasnya agak
terengah . Dorongan itu ternyata mengeluarkan hawa pukulan
yang menghimpit dadanya dan menyesakkan napasnya . Gadis
itu memandang bengong sesaat , kemudian dia meloncat dan
menundingkan telunjuk kirinya ke arah muka Han Sin .
“ Han Sin , engkau menggunakan ilmu iblis apakah ? “ Ia
lalu memutar tongkatnya ke atas kepala dan melanjutkan “
Akan tetapi , aku tidak takut , hayo kita lanjutkan ! “ Dan
diapun sudah menyerang lagi kalang kabut dan agaknya gadis
itu merasa penasaran dan mengerahkan seluruh tenaga dan
kepandaiannya. Dan kini ia menyerang sambil mengeluarkan
suara melengking tinggi dan panjang . Han Sin kembali
terkejut . Teriakan melengking itu bukan sembarangan
teriakan melainkan teriakan yang mengandung khikang dan
bagi lawan yang kurang kuat sin-kangnya tentu akan
terguncang hatinya dan mengacaukan pikirannya sehingga
mudah dirobohkan dan serangannya itupun hebat bukan main
. Sekali tongkat bergerak , ujung tongkat tergetar dan
menotok secara bertubi-tubi ke arah jalan darah di tubuhnya
bagian depan .
“ Hemmm .... ! “ Han Sin mengelak dan ketika ia mendapat
kesempatan , tangannya meraih , menangkap tongkat itu dan
tangan yang sebelah lagi menotok lengan yang memegang
tongkat dekat siku sehingga lengan itu menjadi lumpuh
seketika dan dengan mudah dia telah merampas tongkat itu ! .
Gadis itu terkejut dan melompat kebelakang , matanya
yang indah itu memandang kepada Han Sin dengan terbelalak
. Han Sin merasa tidak enak hati . Gadis itu telah
menolongnya memberi celana dan kini dia mengalahkannya .
“ Maafkan aku dan terimalah kembali tongkatmu “ , katanya
sambil menyerahkan tongkat yang bentuknya seperti ular itu .
Kui Ji menerima tongkatnya dan sungguh aneh sekali . Kini
ia tersenyum dan menunjukkan mukanya yang menjadi
kemerahan dan sikapnya menjadi seperti seorang gadis yang
malu-malu ! .
“ Kau telah mengalahkan aku ... Kau telah mengalahkan
aku .... “ demikian katanya berulang-ulang seolah tidak
percaya bahwa ada orang yang dapat mengalahkannya .
“ Maaf , adik Kui Ji yang baik , kepandaian mu hebat sekali
dan aku merasa kagum “ , kata Han Sin dengan sungguh hati
karena memang dia kagum melihat ilmu silat gadis itu yang
aneh dan lihai sehingga dia sendiri beberapa kali terkena
tamparan dan totokan gadis itu .
“ Hik-hi-hi-hik ! Akhirnya engkau datang juga , koko !
Engkaulah pemuda yang mampu mengalahkan aku . Jadi
engkau yang pantas menjadi suamiku ! Dan Aku senang
menjadi istrimu , koko Han Sin “ Gadis itu lalu menghampiri
Han Sin dan kedua tangannya siap untuk memeluk . Han Sin
terkejut sekali dan dia melangkah mundur .
“ Ah , tidak , Kui Ji ... adik yang baik , jangan begitu . Aku
tidak mempunyai pikiran sama sekali untuk berjodoh , ku
bukan jodohmu ! “ .
Kui Ji seperti terheran dan terkejut mendengar ini dan
kedua tangan yang sudah terangkat untuk memeluk itu , jatuh
kembali . “ Apa ? Kau ......... kau menolak menjadi
suamiku ............. ? “ .
“ Aku belum mempunyai niat untuk menjadi suami siapa
saja “ , jawab Han Sin singkat . Dia mau mengalah terhadap
seorang yang otaknya tidak waras , akan tetapi kalau harus
mengawininya , tentu saja dia tidak mau .
Tiba-tiba gadis itu menangis dan teriakannya melengking
nyaring . Han Sin menjadi serba salah . Tadinya dia hendak
mencari buntalannya , akan tetapi dalam keadaan seperti itu
tentu Kui Ji tidak mau bicara tentang buntalan itu . Kalu gadis
itu di tinggalkan , lalu bagaimana dengan buntalannya yang
terisi pakaian dan uang bekal ? Kalau tidak ditinggalkan dan
dihadapi terus , bagaimana dia harus bersikap melihat
kegilaan ini . Selagi dia hendak pergi saja meninggalkan gadis
itu , tiba-tiba nampak bayangan berkelebat dan terdengar
suara yang tinggi melengking .
“ Heiiiii .... siapa berani mengganggu anakku sampai ia
menangis sedih ? Siapa .......... ? “
Dan tiba-tiba didepan Han Sin berdiri seorang wanita .
Sekali pandang saja tahulah Han Sin bahwa wanita ini pun
keadaanya sama dengan Kui Ji . Usianya sekitar empat puluh
delapan tahun . Wajahnya masih membayangkan bekas
kecantikan , tubuhnya juga masih ramping padat . Rambutnya
terurai panjang seperti rambut Kui Ji . Akan tetapi kalau
rambut Kui Ji diikat sutera kuning , rambut wanita ini riapriapan
, sebagian ada yang menutupi wajahnya sehingga
kelihatan menyeramkan . Rambut itu panjang sampai ke
pinggul dan masih hitam lebat . Pakaian wanita ini pun
berkembang-kembang dan tangan kanannya memegang
sebatang pecut seperti yang biasa dipergunakan para
penggembala kerbau dan lembu mereka .
' Ibu ....... oh , ibu ......... ! “ Kui Ji makin meledak-ledak
tangisnya . “ Dia ....dia ini menolak untuk menjadi suamiku ,
padahal aku telah menjatuhkan pilihan ku kepadanya , ibu
....... hajarlah dia agar dia mau menjadi suamiku “ .
Wajah yang masih cantik itu nampak menyeramkan ,
sepasang matanya seperti bersinar-sinar penuh kemarahan ,
mulutnya cemberut ' Apa .... ? Berani cacing pita ini menolak
anakku ? Anakku cukup pantas menjadi isteri seorang
pangeran , apalagi hanya cacing macam ini ! Orang muda ,
siapa engkau ? “ .
“ Ibu , namanya Cian Han Sin dan ilmu silatnya cukup tinggi
, dia telah mengalahkan aku ! “ kata Kui Ji dan mendengar ini
, wanita itu kelihatan semakin penasaran .
“ Cian Han Sin , anakku telah memilih engkau menjadi
suami ! Hayo katankan , apakah engkau tetap tidak mau ! “
tanya wanita itu dengan suaranya yang galak .
Han Sin merasa serba salah . Dia tidak marah melihat sikap
mereka yang hendak memaksanya menjadi suami Jui Ji karena
dia maklum bahwa ibu dan anak ini tidak waras pikirannya .
Dia pun tidak ingin bermusuhan dengan mereka , akan tetapi
bagaimana mungkin dia dapat menjadi suami Kui Ji ? selain
gadis itu seorang yang miring otaknya , juga dia sama sekali
belum berniat untuk menjadi suami orang .
“ Maafkan saya , bibi yang baik . Akan tetapi saya belum
mempunyai keinginan untuk menikah , karena itu terpaksa
saya menolak keinginan adik Kui Ji yang baik “ .
“Hik-hi-hik , kau sudah menyebut Kui Ji sebagai adik yang
baik , tentu engkau suka kepadanya . Engkau harus menjadi
suaminya , harus dan tidak boleh menolak lagi . Engkau
mantuku yang baik , tidak usah malu-malu kucing , katakanlah
engkau mau ! “ .
“ Ibu , koko Han Sin bahkan sudah memberi emas kawin
berupa beberapa stel pakaiannya dan sekantung emas “ , kata
Kui Ji .
“ Nah , apalagi sudah memberi emas kawin . Dan Itu ..... “
Wanita itu menunjuk ke arah celana yang dipakai Han Sin “
Bukankah itu celana mu , Kui Ji ?” .
“ Benar , ibu . Celanaku itu sengaja kuberikan kepadanya
untuk kenang-kenangan ' .
“Wah , sudah begitu jauh hubungan kalian ya ? Hayo , Han
Sin kau ikut kami untuk merayakan pernikahan kalian ! “ .
“ Tidak bibi aku tidak mau ! “ kata Han Sin yang merasa
terdesak dan menjadi mendongkol juga . Agaknya biarpun gila
, gadis itu cukup licik untuk menyudutkannya .
“ Kau harus mau , harus mau ! “ Wanita itu melengkinglengking
, akan tetapi Han Sin tetap menggeleng kepala . Kini
mulai timbul kemarahannya setelah mendengar ucapan Kui Ji
bahwa buntalannya benar dicuri oleh gadis itu dan dikatakan
sebagai emas kawin .
“ Kalau begitu , aku akan memaksamu ! “ Kata wanita itu
dan ketika ia menggerakkan cambuknya di udara , terdengar
suara meledak-ledak nyaring . Akan tetapi Han Sin yang sudah
marah tidak merasa takut . Dia malah ingin menundukkan
wanita ini dan puterinya agar dapat dipaksanya
mengembalikan buntalannya .
“ Wuuuutttt .... tarrrr ! “ cambuk itu menyambar ke arah
kepala Han Sin dan meledak ketika Han Sin cepat mengelak .
Wah , ilmu kepandaian wanita ini lebih lihai daripada puterinya
, pikirnya dan diapun cepat menggunakan ilmu Bu-tek-cinkeng
untuk menghadapinya .
Memang hebat ilmu cambuk wanita itu . Cambuk itu
menyambar-nyambar dan meledak-ledak seolah-olah cambuk
itu menjadi banyak , menyerang keseluruh pusat jalan darah
di tubuh Han Sin . Pemuda itu mengelak dan kadang
menangkis , kulitnya telah dilindungi sinkang sehingga kebal
terhadap lecutan cambuk dan diapun balas menyerang untuk
merobohkan wanita itu . Terjadilah pertandingan yang seru
sekali . Gerakan cambuk itu aneh dan sukar di duga , seperti
juga gerakan tongkat di tangan Kui Ji tadi sehingga beberapa
kali usaha Han Sin untuk menangkap ujung cambuk selalu
gagal . Setiap kali tangannya meraih ujung cambuk itu tibatiba
melejit dan menghindar .
Suatu ketika , dengan tangan kiri nya Han Sin berhasil
menangkap ujung cambuk , akan tetapi tiba-tiba saja wanita
itu menggerakkan kepalanya dan rambutnya yang hitam
panjang itu menyambar dan ujung gumpalan rambut itu
menotok pergelangan tangan Han Sin yang menangkap ujung
cambuknya .
Han Sin merasa betapa lengannya tergetar hampir lumpuh
dan cambuk itu sudah ditarik lepas dari tangannya . Dia
terkejut sekali , tidak menyangka bahwa selain lihai dengan
cambuknya wanita itupun lihai memainkan rambut kepalanya
sebagai cambuk . Dia menjadi penasaran dan tidak mau
mengalah lagi .
Dengan cepat kaki tangannya membalas serangan wanita
itu dengan pukulan dan tendangan yang amat kuat . Wanita
itu mengeluarkan teriakan aneh karena terkejut dan iapun
terdesak mundur . Akan tetapi pada saat itu terdengar
teriakan Kui Ji dan gadis ini sudah memasuki pertandingan itu
dan mengeroyok Han Sin dengan tongkat ularnya .
Han Sin tersenyum “ Bagus ! Majulah kalian berdua , aku
memang ingin menundukkan kalian berdua ibu dan anak yang
sintng ! “ katanya dan dia pun melayani pengeroyokan itu .
Akan tetapi mudah saja berkata demikian , namun pada
kenyataannya amatlahsukar mengalahkan ibu dan anak itu
setelah mereka maju berdua . Ternyata ibu dan anak yang
sama-sama gilanya ini dapat bekerjasama dengan baik sekali .
Tiga macam senjata yaitu cambuk , rambut dan tongkat yang
kacau balau gerakannya dan tak dapat dui duga
perkembangannya itu mengeroyok Han Sin . Pemuda ini
mengerahkan tenaga dan kelincahannya untuk berkelebat
menhindar , kadang menangkis dan membalas dengan
serangan pukulan dan tendangannya . Biarpun di keroyok dua
oleh ibu dan anak yang lihai itu , perlahan-lahan Han Sin
dapat mempelajari gereka mereka setelah dia mengetahui
cara perkembangan serangan lawan yang serba terbalik itu .
Dia yakin bahwa akhirnya dia akan mampu mengalahkan
mereka .
Akan tetapi mendadak terdengar suara parau membentak “
Orang gila dari mana berani mengganggu istri dan anakku ? “
Dan ada hembusan angin pukulan yang kuat sekali
menghantam kepala Han Sin mengelak , sebatang tongkat
menyambar dengan dahsyat ! Dia membalik dan melihat
seseorang laki-laki berusia limapuluh tahun . Bertubuh sedang
, pakaian berkembang-kembang , rambutnya juga riap-riapan
dan mulutnya menyerengai seperti orang tertawa , Tentu saja
Han Sin terkejut sekali dari sambaran tongkatnya tadi saja dia
dapat menilai bahwa tingkat kepandaian laki-laki ini lebih
tinggi dari pada tingkat wanita itu dan Kui Ji , akan tetapi dia
tetapi sempat banyak berpikir karena mereka bertiga , ayah ,
ibu dan anak itu , sudah mengeroyoknya seperti tiga ekor
serigala kelaparan .
“ Ayah , ayah ! Jangan bunuh dia . Dia adalah suamiku ! “
sambil memainkan tongkatnya Kui Ji berteriak kepada ayahnya
.
“ Heh ? Suamimu ? Kenapa kalian keroyok ? “ Tanya si ayah
sambil terus mendesak Han Sin dengan tongkatnya .
“ Dia menolak menjadi suami anak kita ! “ jawab si isterinya
.
“ Hah ? Dia menolak menjadi suami Kui Ji ? Ha-ha-ha-ha ,
tentu dia gila , gila sekali ! “ si ayah lalu tertawa bergelak akan
tetapi tongkatnya terus mendesak .
Sekali ini Han Sin benar-benar terdesak . Biarpun dia
mendapat kenyataan bahwa tiga orang itu tidak pernah
melakukan serangan untuk membunuhnya , akan tetapi
mereka itu menggunakan senjata mereka untuk menotok jalan
darahnya dan ternyata totokan mereka itu lihai sekali dan
tidak mungkin untuk melindungi semua jalan darah
ditubuhnya dengan sin-kangnya . Dia menjadi bingung . Kalau
dia mau menggunakan pukulan-pukulan yang hebat dari Butek-
cin-keng , mungkin saja dia akan mampu merobohkan
mereka .
Akan tetapi kalau hal itu dia lakukan , boleh jadi dia akan
memukul mati kepada mereka dan hal ini sama sekali tidak dia
kehendaki. Tiga orang itu adalah orang-orang sinting , bukan
orang jahat . Dan agaknya biarpun gila , tiga orang itu cerdik
sekali . Mereka membentuk kepungan segitiga yang menutup
semua jalan keluar , sehingga diapun tidak dapat meloloskan
diri dari kepungan itu .
Biarlah , pikirnya kemudian , biarkan mereka menawanku .
Kalau ada kesempatan , dia masih dapat melarikan diri .
Hanya itu jalan satu-satunya karena dia tidak tega
menurunkan tangan maut membunuh mereka . Khirnya
serangan hebat dari tiga orang itu secara berbarengan ,
membuat dia roboh tertotok dalam keadaan lemas .
Melihat dia roboh , tiga orang itu tertawa-tawa sambil
menari-nari mengelilinginya . Han Sin merasa ngeri .
“ Horeee , suamiku tertangkap ! Dia akan menjadi suamiku
, tidak dapat menolak lagi ! “ Kui Ji menarik-nari kegirangan .
“ Biar dia kubawa pulang ! “ Gadis itu sudah membungkuk
hendak memondong tubuh Han Sin yang tak berdaya itu .
Kui Ji , jangan bodoh ! “ seru ayahnya . “ Mantu ini lihai
sekali dan kalau dia sudah mampu bergerak , engkau bukan
tandingannya . Karena itu dia harus diikat dulu agar tidak
dapat memberontak kalau sudah mampu bergerak !” .
“ Hik-hi-hi-hik , susah-susah amat sih ! “ , Cela istrinya . “
Beri saja racunku kepadanya dan dia akan menjadi penurut
seperti seekor domba , hi-hi-hik ! “ .
Ayah dan anak itu memandang girang , “ Haiiii , kenapa aku
begini pelupa ?” teriak ayah itu .
“ Cepat keluarkan racun itu dan berikan kepadanya , Liu Si
! “ .
Wanita yang dipanggil Liu Si itu segera mengeluarkan
sebuah bungkusan dari saku bajunya yang berkembang . Ia
memang seorang ahli tentang racun dan ia memiliki racun
yang disebut “ Racun pelemas otot “ . Ia mengambil sebatang
jarum , mengoleskan racun bubuk hitam itu kepada batang
jarum , kemudian ia menusukkan jarum itu pada pangkal
lengan Han Sin . Han Sin tidak mampu bergerak dan terpaksa
dia hanya memandang ketika pangkal lengan kirinya ditusuk
jarum .
Jilid 4
“ Jangan bergerak , suamiku . Tahankan saja . Hanya sakit
sedikit !” Kui Ji menghibur sambil mengusap-ngusap dagu Han
Sin seperti seorang ibu membujuk anaknya . Begitu jarum di
tusukkan , Han Sin merasa sesuatu yang amat dingin
memasuki tubuhnya melalui pangkal lengan itu .
Dia menggigil dan rasa dingin itu menyusup tulang . Kui Ji
masih terus membelainya . Jarum di cabut kembali dan wanita
itu terkekeh .
“ Hik-hik-hik-hik , ia akan kehilangan tenaganya dan ia akan
menjadi penurut , tidak akan dapat memberontak lagi “ ,
“ Engkau sudah yakin benar , Liu Si ?” suaminya bertanya .
Wanita itu tiba-tiba melotot “ Kau , tidak percaya akan
kemampuan racunku ? “ apakah engkau ingin merasakannya
sendiri? “ Ia mengancam dengan jarumnya .
“Ah, tidak, jangan “ Aku hanya khawatir pemuda ini
memberontak dan sukar bagi kita untuk menundukkannya
kembali ! “.
“ Hemmm , sekarang juga dapat dibuktikan ! “ Liu Si
menepuk punggung Han Sin dua kali dan pemuda ini merasa
betapa darahnya mengalir normal dan dia dapat bergerak
kembali . Akan tetapi ketika dia hendak mengerahkan
tenaganya , dia terkejut . Otot-otot ditubuhnya tidak dapat
terisi tenaga sin-kang dan dia hanya dapat bergerak dengan
tenaga biasa saja ! Otot-otot itu seperti dalam keadaan lesu
dan tidak dapat menerima hawa sin-kang yang disalurkannya .
“ Hik-hik-hik , percuma saja . Engkau mencoba untuk
menyalurkan sin-kangmu , Han Sin “ .
“ Ha-ha-ha-ha , engkau sudah berjodoh dengan puteri kami
, orang muda” .
“ Ayah , namanya Cian Han Sin , kelak anak kami akan
bermarga Cian , “ kata Kui Ji tanpa malu-malu lagi .
“ Ha-ha-ha-ha , tentu saja ! Sudah menjadi peraturan
nenek moyang kita yang tidak boleh di langgar bahwa
seseorang anak menggunakan marga ayahnya .
“Han Sin , Karena engkau sudah menjadi mantu ku , maka
menurut peraturan sejak jaman dahulu , engkau harus
memberi hormat kepada aku dan istriku dengan berlutut. Hayo
lakukan , engkau tidak akan menyesal menjadi mantu Kui Mo ,
ha-ha-ha-ha ! “
Han Sin merasa tertarik sekali . Dua kali sudah orang gila ini
menekankan soal peraturan nenek moyang yang harus di taati
! Agaknya ini merupakan titik kelemahannya , pikirnya maka
hal itu akan di cobanya .
“ Benar sekali ,paman akan tetapi menurut peraturan nenek
moyang kita sejak jaman dahulu yang tidak boleh dilanggar ,
pemberian hormat itu hanya dilakukan di waktu sepasang
pengantin dipertemukan , jadi bukan sekarang . Kalau
sekarang dilakukan , ini berarti melanggar peraturan nenek
moyang “ .
Kui Mo tertegun , melongo , lalu tertawa “ Ha-ha-ha-ha ,
engkau benar ! Aku sampai lupa , ha-ha-ha ! Baik , dilakukan
nanti setelah kedua pengantin dipertemukan .”
Han Sin merasa girang , ternyata akalnya berhasil baik ,
maka dia lalu berkata lagi “ Menurut adat istiadat , sungguh
tidak pantas kalau seorang mantu dibiarkan setengah
telanjang seperti ini . Hal itu akan mencemarkan nama baik
mertuanya . Maka saya harap agar buntalan pakaianku yang
disimpan calon istriku diberikan kepadaku agar saya dapat
memakai pakaian yang pantas “ .
Kui Mo memandang kepada puterinya . “ Kui Ji , apakah
pakaian suami mu kau simpan ?” .
“ Buntalan itu adalah emas kawinnya , ayah “ .
“ Emas kawinku hanya sekantung emas itu , dan pakaian itu
adalah pakaian untukku sendiri , adik Kui Ji yang baik ! “ Kata
Han Sin dengan suara merayu . Senang hati Kui Ji di sebut
adik yang baik , maka ia lalu tertawa dan berloncatan pergi .
Tak lama kemudian ia sudah kembali membawa buntalan itu
dan membukanya didepan semua orang .
Ketika mengambil kantung emas , Kui Ji bersorak ' Horeeee
, ini emas kawinku . Banyak yach , ibu ?”
“ Hemmmm , dahulu emas kawin yang diberikan ayahmu
kepadaku , tidak sebanyak itu “ .
Sementara itu Han Sin mengambil pakaiannya dan
mengenakan pakaiannya sendiri . Agar tidak bertelanjang lagi
, dia memakai pakaiannya di luar celana berkembang itu .
“Bagus , kau gagah memakai pakaian itu . Pantas menjadi
mantuku ! “ Kata Kui Mo .
“Dan sekarang , mari kita semua pulang . Pesta pernikahan
harus dirayakan dengan meriah “
Biarpun hatinya mendongkol dan juga khawatir , Han Sin
terpaksa ikut rombongan keluarga gila itu mendaki sebuah
bukit yang penuh hutan . Melihat keadaan dirinya , untuk
sementara ini terpaksa dia harus menurut segala kemauan
mereka , akan tetapi dia masih memiliki “ senjata “ yang
ampuh , yaitu kepatuhan Kui Mo akan adat istiadat nenek
moyang .
Dan senjata itu akan dapat dipakainya untuk
mengendalikan mereka , setidaknya untuk sementara waktu .
Dia tidak tahu berapa lamanya racun dingin itu akan
mempengaruhi tubuhnya .
****
Rumah itu besar akan tetapi sederhana sekali , Terbuat
daripada bambu dan kayu . Ketika Han Sin diajak oleh
keluarga gila itu memasuki rumah , dia sudah menyusun
rencana siasatnya .
Didalam rumah terdapat pula meja kursi yang kasar ,
agaknya buatan mereka sendiri . Akan tetapi pada dinding
bambu itu tergantung lukisan-lukisan indah dan sajak-sajak
pasangan yang di tulis oleh penyair-penyair terkenal . Han Sin
merasa heran sekali . Dilihat dari sajak dan lukisan itu ,
pantasnya keluarga itu adalah keluarga bangsawan yang
berdiam disebuah gedung . Sajak dan lukisan seperti itu
memang sepatutnya tergantung di dinding rumah gedung .
“ Nah , Inilah rumah kami , juga kini menjadi rumahmu ,
mantuku! “ kata Kui Mo sambil tertawa-tawa senang . “ Kita
akan segera melangsungkan pernikahan mu dengan Kui Ji “ .
Han Sin bangkit berdiri dari duduknya dan memberi hormat
, sikapnya seperti seorang sastrawan yang patuh terhadap
adat istiadat . “ Calon mertuaku , harap diketahui bahwa baru
beberapa bulan saya kematian ayah kandung saya , menurut
adat istiadat nenek moyang kita , seorang anak yang kematian
ayahnya , tidak boleh melangsungkan pernikahan sebelem
berkabung sedikitnya satu tahun . Apakah paman calon
mertua berani melanggar pantangan adat istiadat itu ? “ .
Mendengar ini, Kui Mo terbelalak . “ Ah, tentu saja tidak
boleh ! Berapa lama lagi perkabungan selesai ?” tanyanya
sambil memandang pakaian Han Sin yang serba putih . Han
Sin memang sengaja memilih pakaian putih ketika berpakaian
tadi , karena siasat ini sudah mulai disusunnya .
“ Kurang tiga bulan lagi . Dan pula menurut adat istiadat
nenek moyang kita , sebuah pesta pernikahan merupakan
ukuran dari derajat dan martabat orang tua pengantin . Kalau
pernikahan di langsungkan ditempat sunyi ini , tanpa ada
tamunya , tanpa ada keramaian yang mewah , apakah hal itu
tidak akan merendahkan martabat paman calon mertua ? Saya
kira sambil menunggu tiga bulan lewat , paman dapat mencari
tempat yang lebih sesuai untuk mengangkat derajat paman
calon mertua “ .
Kembali Kui Mo terbelalak dan bengong . Akhirnya dia
mengangguk-angguk bodoh. “ Kita akan cari tempat itu , kita
akan cari .......... “ katanya , agak bingung .
“ Kenapa bingung , suamiku ? Tak jauh dari sini , lereng
hwa-san, bukankah terdapat tempat yang indah dan cukup
mewah ? Partai Bunga Hwa-ki-san memiliki gedung yang besar
dan megah . Kita datangi Hwa-li-san , kita duduki gedungnya
untuk perayaan pernikahan dan kita suruh mereka
mengundang tokoh-tokoh dunia persilatan untuk hadir
merayakan pesta pernikahan . Tentu akan meriah dan
mengangkat martabat kita !” .
“ Bagus , bagus , ha-ha-ha-ha ! “ Kui Mo melompat ,
merangkul istrinya dan menciuminya . “ Mantuku , bukankah
ibu mertuamu ini pintar sekali ?” katanya .
Han Sin tersenyum melihat prilaku yang tidak mengenal
rasa malu itu “ Memang pendapat yang baik sekali , “ katanya
.
“ Kalau gitu , kita bersiap-siap , besok kita pergi ke Hwa-san
dan menguasai Hwa-li-san ,ha-ha-ha ! “ Kui Mo tertawa-tawa
seperti anak kecil yang merasa gembira sekali .
Malam itu , Kui Ji hendak menggandeng Han Sin
kekamarnya , akan tetapi pemuda itu berkata “ Calon isteriku
yang baik , jangan kita melanggar pantangan nenek moyang
kita “ .
“ Suamiku , kita akan menjadi suami istri , apa salahnya
kalau engkau tidur di kamarku bersamaku ?” .
“ Aihhh , adik Kui Ji yang baik , apakah engkau tidak tahu ?
Tanyakan saja pada ayahmu ini . Nenek moyang kita
mengatakan bahwa sebelum dipertemukan sebagai pengantin
, calon pengantin tidak boleh saling berdekatan , apalagi tidur
sekamar . Aku tidak berani melanggar pantangan itu , takut
kalau kena kutuk ! “ .
Mendengar ucapan itu , Kui Mo mengangguk-angguk . “ Dia
benar , Kui Ji . Biar dia tidur sekamar denganku dan engkau
tidur sekamar dengan ibumu ! “ .
“ Akan tetapi , ayah ..... “
“ Tidak ada tapi ! Kita adalah orang-orang terpelajar dan
mantuku adalah orang yang mengenal adat , kita harus
menaati adat istiadat kalau tidak mau terkutuk “ .
“ Aku takut kalau-kalau dia melarikan diri , ayah “ , kata Kui
Ji .
“ Ha-ha-ha , dia tidur bersamaku sekamar , bagaimana dia
bisa melarikan diri ? “ Kui Mo tertawa bergelak .
“ Hik-hik-hik , dia sudah terkena racunku , mana mungkin
dapat meloloskan diri ?” kata pula Liu Si , ibu Kui Ji .
Demikianlah , malam itu Han Sin tidak tidur sedipan dengan
Kui Mo , setelah mereka makan malam . Dan ternyata biarpun
gila , Kui Ji dan ibunya pandai memasak . Makanan yang
dihidangkan cukup lezat sehingga Han in merasa heran sendiri
. Dalam banyak hal keluarga ini seperti bukan orang-orang gila
, bahkan ada kalanya mereka bersikap wajar dan waras . Akan
tetapi segera sikap itu tertutup oleh kelakuan yang gila-gilaan
.
Begitu tubuhnya menyentuh tempat tidur , Kui Mo segera
mendengkur . Han Sin sebaliknya tidak dapat tidur . Bukan
hanya karena di sebelahnya ada orang mendengkur ,
melainkan karena dia memang sedang berusaha untuk
melarikan diri .
Sebetulnya kalau saja tenaga sin-kangnya dapat disalurkan
, mudah saja baginya untuk menotok Kui Mo yang rebah
miring membelakanginya itu . Akan tetapi tenaga sin-kangnya
dari tan-tian (bawah pusar) itu tidak dapat menggerakkan
otot-ototnya . Menotok dengan tenaga biasa saja amat
berbahaya . Kui Mo biarpun gila memiliki ilmu kepandaian
tinggi , mana bisa dilumpuhkan dengan totokan tenaga biasa .
Dengan hati-hati dia bangkit duduk . Untung dia tidur di
tepi dipan sehingga dia dapat turun dari dipan tanpa
melangkahi tubuh Kui Mo . Dia bergerak perlahan sekali sambil
memperhatikan dengkur orang gila yang lihai itu .
Dengkurnya masih tetap , bahkan terdengar semakin keras
. Kini dia berindap-indap ke pintu dan keluar dari pintu . Agar
tidak melewati kamar kedua orang wanita yang berada di
bagian depan , dia pergi ke belakang , membuka pintu
belakang yang menembus ke kebun . Jantungnya berdebar
tegang dan juga girang . Tidak ada perubahan dalam kamar
itu dan dengkur Kui Mo itu bahkan terdengar dari belakang
rumah . Juga tidak ada suara keluar dari kamar Kui Ji yang
tidur bersama ibunya . Dia dapat bebas ! .
Malam itu terang bulan , menguntungkan bagi Han Sin . Dia
dapat melarikan diri dibawah sinar bulan . Akan tetapi baru
belasan langkah dia memasuki kebun , tiba-tiba nampak tiga
bayangan berkelebat dan keluarga itu , lengkap ayah isteri dan
anak , telah berada disitu mengepungnya ! Mereka tertawatawa
dan Kui Mo menegur “ Ha-ha-ha , mantuku , engkau
hendak pergi kemana ?” .
Han Sin merasa hatinya mendongkol bukan main , namun
diam-diam dia juga kaget . Keluarga gila ini memang benarbenar
lihai sekali . Dia bersungut-sungut .
“ Kalian ini sungguh merupakan orang-orang yang tidak
tahu aturan dan kepantasan . Orang ingin kencing , kenapa
diikuti ?” berkata demikian , dia lalu menghampiri sebatang
pohon , membuka celananya dan kencing di situ ! .
“ Ha-ha-ha , kami memang salah ! Aku juga ingin kencing !
“ kata Kui Mo dan diapun kencing di bawah pohon yang sama
.
Ibu dan anak itu terkekeh-kekeh dan pergi dari situ ,
kembali kedalam rumah . Terpaksa Han Sin juga kembali
kedalam rumah bersama Kui Mo dan karena dia maklum
bahwa melarikan diri tidak mungkin sama sekali , diapun dapat
menerima keadaan dan tidur pulas . Besok pagi kalau mereka
menyerang Hwa-li-pang seperti yang mereka rencanakan , dia
dapat mencari kesempatan untuk melarikan diri .
'****
Hwa-li-pang adalah sebuah perkumpulan persilatan yang
dipimpin oleh seorang pendeta To wanita . Murid-muridnya
atau para anggota Hwa-li-pang semua wanita . Jumlah para
murid Hwa-li-pang ada kurang lebih limapuluh orang , dari
gadis-gadis berusia delapan belas sampai duapuluh lima tahun
.
Hwa-li-pang baru berdiri duapuluh tiga tahun yang lalu ,
yaitu sejak Kerajaan Sui berdiri . Perkumpulan ini merupakan
pecahan dari perkumpulan Thian-li-pang yang terkenal didunia
persilatan . Pada duapuluh tiga tahun yang lalu , ketua Thian li
pang yang bernama Im-Yang To-Kouw sudah berusia lanjut ,
sudah kurang lebih sembilan puluh tahun .
Karena merasa sudah terlalu tua untuk memimpin Thian-lipang
, merasa tubuhnya sudah lemah dan ia ingin tekun
bersemedhi , menjauhi urusan duniawi , ia lalu mengambil
keputusan untuk menyerahkan pimpinan Thian-li-pang kepada
muridnya . Akan tetapi ternyata ia mengalami kesulitan dalam
menentukkan siapa yang akan dipilihnya menjadi ketua baru
menggantikannya . Murid utama yang paling di sayangnya
adalah Kwee Sun Nio akan tetapi murid ini telah meninggal
dunia limabelas tahun yang lalu . Dan diantara muridmuridnya
yang lain terdapat dua orang gadis yang
dianggapnya paling pandai dan pantas menjadi ketua Thian-lipang
. Ia menjadi ragu dan bimbang siapa diantara kedua
murid ini yang akan diberi warisan kedudukan ketua .
Dalam peraturan Thian-li-pang , seorang ketua tidak boleh
menikah selama ia menjadi ketua , Akan tetapi seorang murid
boleh saja menikah karena murid ini masih wanita biasa ,
belum menjadi to-kouw . Murid pertama yang dianggapnya
cocok menjadi ketua Thian Li Pang bernama Yap Ci Hwa ,
berusia duapuluh tujuh tahun dan murid kedua bernama Ciang
Hwi , berusia duapuluh dua tahun .
Kalau di nilai dari ilmu kepandaian silat , murid kedua itu
lebih pandai dan berbakat . Akan tetapi ia tahu bahwa Ciang
Hwi seorang gadis cantik yang mempunyai hubungan akrab
dengan seorang pemuda murid Kun Lun Pai bernama Ang Cun
Sek . Murid pertama itu , Yap Ci Hwa , memiliki wajah yang
tak dapat disebut cantik . Melihat kenyataan ini , agaknya Ci
Hwa yang dapat menjadi ketua Thian li pang dan tidak
menikah selamanya .
Pada suatu pagi , Im-yang To-kouw memanggil kedua
orang muridnya ini ke dalam ruangan tertutup dan mengajak
mereka berdua untuk bercakap-cakap .
“ Aku memanggil kalian berdua untuk memberi tahu bahwa
aku sudah mengambil keputusan untuk mengundurkan diri
sebagai ketua . Dan sebagai penggantinya , kupandang hanya
kalian berdua yang pantas menjadi ketua baru . Kalau diukur
dari ilmu kepandaian , Ciang Hwi memang lebih unggul dan
lebih pantas menjadi ketua “ .
“ Subo , kalau begitu berikan saja kedudukan ketua kepada
Ciang-sumoi “ .Kata Ci Hwa dengan suara rela . Sikapnya ini
saja sudah mendatangkan rasa suka di hati Im-yang To-kouw
.
Im-yang To-kouw mengangguk-angguk dan melambaikan
sebuah kebutan putih di depannya . “ Akan tetapi ada
pantangan yang amat keras untuk menjadi ketua , yaitu
seorang ketua tidak diperbolehkan menikah selama hidupnya .
Aku ragu apakah Ciang hwi dapat mempertahankan
pantangan ini “ .
Ciang Hwi mengerutkan alisnya . Ia adalah seorang gadis
yang berwatak jujur dan keras hati . “ Subo , maafkan
pertanyaan teecu , akan tetapi , semua murid Thian-li-pang
diperbolehkan menikah , mengapa ketuanya tidak ? Bukankah
itu tidak adil namanya ?” .
Im-yang To-kouw tersenyum “ ini sudah menjadi peraturan
Thian-li-pang yang digariskan oleh pendirinya dan kita harus
menaatinya . Menurut pendapatku , pantangan ini diadakan
agar para ketua Thian-li-pang tidak terikat oleh keluarga dan
dapat mencurahkan perhatian , khusus untuk kepentingan
Thian-li-pang dan perkembangan agama To “ .
“ Akan tetapi , peraturan itu diadakan oleh seorang ketua ,
apakah tidak dapat peraturan itu diubah oleh ketua yang lain ?
Jaman telah berubah , subo seorang wanita tidak akan
menjadi seorang manusia yang lengkap dan sempurna
hidupnya kalau ia tidak diperbolehkan menikah dan
mempunyai keluarga “ .
“ Ciang Hwi ! Tidak boleh kau mengucapkan kata-kata
seperti itu . Peraturan adalah untuk ditaati, bukan untuk
diperbantahkan. Karena itulah , biar kepandaian mu lebih
tinggi daripada Yap Ci Hwa , akan tetapi terpaksa aku tidak
dapat memilihmu menjadi ketua baru menggantikan aku . Aku
akan mengangkat Ci Hwa untuk menjadi ketua baru ! “ ucapan
Im-yang To-kouw ini bernada marah .
“ Subo , harap subo memaafkan sumoi yang masih muda .
Teecu rela mengalah kalau subo memberikan kedudukan
ketua kepada Ciang-sumoi “ , kata pula Ci Hwa dengan suara
merendah .
“ Hemmm , keputusanku tidak dapat di ubah lagi , Ciang
Hwi , engkau sepatutnya mencontoh sucimu ini yang pandai
membawa diri dan taat kepada peraturan ! “ .
Ciang Hwi yang di tegur gurunya hanya menundukkan
kepalanya , akan tetapi didalam hatinya ia membantah .
Pandai membawa diri ? Ia mengenal benar siapa sucinya itu .
Seorang yang keras hati dan licik . Pernah dulu sucinya ini
berkata kepadanya bahwa kalau sucinya menjadi ketua ,
sucinya akan mengharuskan agar semua murid tidak menikah
!
Hal ini dikatakannya sucinya karena iri hati kepadanya yang
menjalin hubungan akrab dengan Gan Seng, murid Kun-lunpai
itu .
Pada keesokan harinya , Im-yang To-kouw mengumpulkan
semua muridnya dan memngumumkan pengangkatan Yap Ci
Hwa sebagai ketua baru . Upacara sembahyang untuk
mengesahkan pengangkatan ketua itu diadakan dan setelah
itu , Im-yang To-Kouw yang sudah tua lalu mengundurkan diri
ke dalam sebuah guha di puncak gunung untuk bertapa , tidak
lagi berurusan dengan dunia luar .
Selama Im-yang To-kouw masih hidup , Yap Ci Hwa
bersikap biasa dan melanjutkan yang telah diambil oleh
subonya . Akan tetapi , setahun kemudian Im-yang To-Kouw
meninggal dunia karena usia tua .
Setelah penguburan jenazah To-Kouw itu selesai , Yap Ci
Hwa segera mengumumkan perintahnya yang pertama yaitu ia
mengubah peraturan Thain-li-pang dan semua murid Thian-lipang
tidak diperbolehkan menikah . Siapa yang tidak mau
menaati peraturan ini dikeluarkan dari perkumpulan ! .
Ciang Hwi mendahului murid-murid lain , dan ia
menyatakan keluar dari Thian-li-pang . Tindakannya ini
mendorong keberanian para murid lain yang segera mengikuti
langkahnya , ramai-ramai keluar dari Thian-li-pang . Tidak
kurang dari tigapuluh orang murid menyatakan keluar
sehingga yang tinggal hanya kurang lebih tujuhpuluh orang
murid lagi . Yap Ci Hwa marah sekali akan tetapi ia tidak
melarang mereka pergi .
Ia lalu mengumumkan nama julukannya sebagai nama
yang baru , yaitu Kang Sim To-Kouw ( Pendeta Wanita
Berhati baja ) .
Sementara itu , Ciang Hwi yang sudah keluar dari Thian-lipang
, segera melangsungkan pernikahannya dengan Ang Cun
Sek , pemuda murid Kun-lun-pai yang tinggal di dusun tidak
jauh dari Thian-li-pang dan dengan siapa sudah lama ia
menjalin hubungan . Dalam pesta pernikahan ini ia
mengundang semua saudara seperguruan yang telah keluar
dari Thian-li-pang sehingga pesta pernikahan itu merupakan
pertemuan yang menggembirakan . Dan dalam pertemuan itu
, disepakati oleh semua murid yang keluar dari Yhian-li-pang
agar Ciang Hwi suka memimpin mereka dalam sebuah wadah
baru , yaitu perkumpulan baru .
Ciang Hwi yang masih merasa penasaran kepada gurunya
dan sucinya , menyetujui dan demikianlah , mereka
mendirikan Hwa-li-pang yang berpusat di pegunungan Hwasan
, dengan Ciang-hwi menjadi ketuanya . Setahun setelah
para murid Thian-li-pang itu keluar dari perkumpulan itu ,
mereka kini mendirikan Jwa-li-pang .
Baru setelah empat tahun menikah , Ciang Hwi
mengandung . Berbeda dengan keadaan Thian-li-pang , ketua
yang mengandung itu menerima ucapan selamat dari para
murid dan pembantunya yang merasa gembira sekali , Ang un
Sek , suami Ciang Hwi , tidak mau menganggur saja . Dia pun
enggan membantu istrinya memimpin kurang lebih limapuluh
orang anggota Hwa-li-pang karena semua anggota Hwa-lipang
adalah wanita .
Ang Cun Sek bekerja sebagai seorang piauw-su ( pengawal
barang kiriman ) dan karena kegagahannya, dia memperoleh
banyak langganan yang mempercayakan barang mereka
dikawal oleh Ang Cun Sek . Untuk perusahaan pengawalan
barang ini , Ang Cun Sek mempunyai sepuluh orang pembantu
.
Pada suatu hari , ketika Ciang Hwi yang hamil tua itu
sedang duduk bercakap-cakap dengan para pembantunya
tentang pekerjaan mereka , yaitu menjual sayur , buah dan
rempah-rempah hasil ladang mereka , datanglah dua orang
pembantu Ang Cun Sek berlari-lari dalam keadaan luka-luka .
Ciang Hwi bangkit dari duduknya , memandang kepada
mereka dengan khawatir dan bertanya “ Apa yang terjadi ?” .
“ Celaka , pangcu , celaka besar .... !” .
“ Ada apakah ? Hayo lapor yang baik ! “ Bentak Ciang Hwi .
“ Barang kiriman yang kami kawal diserbu gerombolan
perampok bertopeng yang lihai sekali . Delapan orang rekan
kami tewas semua dan kami beruntung dapat meloloskan diri
dengan pura-pura mati ...........”.
“ Dan pimpinanmu ? Bagaimana dengan Ang-piau-su ?” .
“ Ang-piauw-su ..... dia .... dia .. juga menjadi korban ,
roboh dan tewas “ .
Dengan muka pucat Ciang Hwi melompat bangkit dari
kursinya , matanya terbelalak , wajahnya pucat dan bibirnya
gemetar , tubuhnya menjadi lemas dan iapun terjatuh kembali
diatas kursinya .
Para pembantunya segera menghampirinya . “ Pangcu , kita
harus cepat pergi ke sana , mencari dan membasmi
gerombolan perampok itu untuk membalaskan kematian suami
pang-cu !” .
Ucapan ini seperti membakar semangat Ciang Hwi . Ia
bangkit lagi mengepal kedua tangannya dan berkata ' Benar ,
mari bersiap-siap mengikuti aku membalas dendam . Hei ,
kalian berdua , cepat obati luka-lukamu dan tunjukkan kepada
kami dimana tempat terjadinya perampokan itu ! “ .
Tak lama kemudian Ciang Hwi sudah berlari turun dari bukit
Hwa-san , bersama dua orang piauw-su yang menjadi
penunjuk jalan dan diikuti oleh limapuluh orang anak buahnya
. Ketika mereka tiba di tengah hutan , mereka mendapatkan
para korban masih malang melintang disitu. Termasuk jenazah
suami Ciang-hwi . Yang aneh lagi , kereta berisi barang
kiriman masih ada disitu , tidak diganggu perampok , tidak ada
yang hilang !
Ciang Hwi berlutut memeriksa suaminya , akan tetapi Ang
Cun Sek sudah tewas dan ada luka tusukan pedang yang
menembus dadanya ! .
Ciang Hwi menangis tanpa suara . Dengan kedua mata
basah mengeluarkan air mata yang menetes-netes turun
keatas pipinya . Ia bangkit lagi dan memimpin anak buahnya
untuk mencari para perampok itu . Akan tetapi para penyerbu
itu sudah tidak nampak bayangannya dan tidak meninggalkan
jejak . Setelah mengejar ke sana ke sini tanpa hasil dan tidak
menemukan jejak gerombolan itu , dengan penuh duka dan
penasaran mereka kembali ke tempat tadi dan kini Ciang Hwi
tidak dapat lagi menahan tangisnya . Ditangisinya jenazah
suaminya itu , penuh penyesalan karena ia tidak mampu
menemukan gerombolan yang telah membunuh suaminya.
Akhirnya setelah di bujuk-bujuk oleh para pembantunya ,
Ciang Hwi berhenti menangis dan mengatur pengangkutan
para jenazah itu ke Hwa-san . Dua orang piau-su dibantu
belasan orang murid Hwa-li-pang melanjutkan pengiriman
barang itu .
Demikianlah , dalam usia duapuluh enam tahun , dalam
keaadan mengandung , Ciang Hwi telah menjadi janda . Yang
membuat ia penasaran adalah karena ia tidak tahu siapa yang
telah membunuh suaminya .
Dua orang piauw-su yang masih hidup itu tidak dapat
mengenal belasan orang menyerbu yang semua mengenakan
muka dari kain , akan tetapi rata-rata mereka memiliki ilmu
kepandaian yang tinggi . Ciang Hwi yakin bahwa mereka itu
bukan gerombolan perampok karena barang berharga di
kereta itu tidak mereka usik .
Karena itu , jelas bahwa gerombolan itu memang sengaja
muncul untuk membunuh suaminya . Berarti gerombolan itu
adalah musuh yang mendendam kepada suaminya .
Akan tetapi siapakah musuh itu ? Memang tentu saja
suaminya mempunyai banyak musuh . Sebelum menikah
dengannya , sebagai seorang pendekar Kun-lun-pai , tentu
suaminya dimusuhi banyak orang karena dia selalu menentang
kejahatan . Setelah menjadi piauw-su , lebih lagi . Ketika
mengawal barang dia sering bentrok dengan gerombolan
perampok yang mencoba untuk merampok barang kawalannya
. Akan tetapi siapakah mereka dan bagaimana ia dapat
mengusut agar menemukan orang-orang yang membunuh
suaminya ? .
Kandungannya semakin tua dan perutnya semakin
membesar sehingga terpaksa Ciang Hwi berdiam di rumah
dengan hati ditekan rasa penasaran dan sakit hati .
Setelah genap bulan dan harinya , Ciang Hwi melahirkan
seorang anak perempuan yang mungil dan sehat . Ia memberi
nama Ang Swi Lan kepada anak itu .
Agaknya nasib janda muda ini memang sedang gelap .
Kesusahan karena malapetaka menimpanya susul menyusul .
Setelah kehilangan suaminya yang dibunuh orang dan ia
belum mengetahui siapa pembunuh suaminya , ia memang
terhibur dengan kelahiran Ang Swi Lan . Akan tetapi baru saja
Swi Lan berusia dua tahun , pada suatu hari orang
mendapatkan wanita pengasuh anak itu tewas di taman
belakang sedangkan Swi Lan telah lenyap tanpa meninggalkan
bekas .
Tentu saja Ciang Hwi menjadi terkejut dan sedih sekali . Ia
hendak mencari anaknya , akan tetapi kemana ? Ia tidak tahu
siapa yang menculik anaknya , bahkan satu-satunya saksi ,
yaitu si pangasuh telah tewas tertusuk pedang .
Ia dan semua anak buah Hwa-li-pang mencoba untuk
mencari jejak , namun sia-sia belaka , semua usaha mereka
tidak berhasil , Swi Lan lenyap dengan penuh rahasia , seperti
kematian suaminya yang juga belum diketahui sebab dan
siapa pembunuhnya .
Akhirnya Ciang Hwi menerima nasib . Ia menjadi seorang
pemurung dan kelihatan lebih tua dari usia sebenarnya . Akan
tetapi , ia mencurahkan segenap tenaga dan perhatiannya
untuk mengatur Hwa-li-pang sehingga memperoleh kemajuan
. Para anak buah Hwa-li-pang tidak hanya bertani dan mencari
rempah-rempah , akan tetapi juga ia meneruskan perusahaan
suaminya , yaitu membuka perusahaan pengawalan barang
kiriman dengan demikian , selain Hwa-li-pang mendapat
banyak penghasilan , juga dalam mengawal barang ke segala
jurusanini anak buahnya dapat membuka mata dan telinga
untuk mencari keterangan tentang hilangnya Swi Lan .
Dengan bekerja tekun , Hwa-li-pang memperoleh penghasilan
lumayan dan Ciang Hwi dapat membangun rumah yang besar
, bahkan ia juga membangun sebuah kuil di depan untuk
menerima rakyat yang datang bersembahyang . Mulailah ia
menekuni agama dan mengikuti jejak gurunya , menjadi
seorang To-kouw dengan julukan Pek Mau To-Kouw ( Pendeta
Wanita Rambut Putih ) karena sejak kehilangan puterinya ,
dalam usianya yang baru duapuluh sembilan , rambutnya
sudah mulai memutih . Selain berusaha keras untuk
membangun Hwa-li-pang sehingga perkumpulan itu terkenal
didunia Kang-ouw .
Pek Mau To-Kouw ini menghabiskan waktu untuk
mempelajari kitab-kitab agama dan bersamadhi dalam
kamarnya . Ia berubah menjadi seorang wanita yang pendiam
, bijaksana dalam mengatur anak buahnya , mengajarkan silat
dengan penuh kesabaran . Perkumpulan ini menjadi terkenal
dan makin banyak anak-anak perempuan dan gadis-gadis
remaja masuk menjadi anggota perkumpulan . Namun watak
dasarnya masih belum meninggalkannya , yaitu keras hati dan
berkemauan teguh .
Apakah yang telah terjadi dengan Ang Swi Lan ? Peristiwa
itu terjadi cepat sekali sehingga tidak sempat dilihat orang lain
. Ketika pengasuh Swi Lan sedang mengajak anak itu bermainmain
di taman bunga , tiba-tiba sesosok bayangan hitam
berkelebat dan sekali tangannya mengayuh pedang ,
pengasuh itu roboh dan tewas tanpa dapat menjerit lagi . Swi
Lan sedang duduk di bawah pohon bermain-main dengan
bunga-bunga yang dipetikkan pengasuhnya . Setelah
pengasuh itu roboh , sibayangan hitam itu cepat sekali
menyambar anak itu , menotoknya sehingga tidak mampu
berteriak dan membawanya melompat pergi dari situ . Tidak
ada seorangpun menyaksikan peristiwa itu .
Bayangan hitam itu berlari cepat menuruni Hwa-san sambil
memondong anak kecil itu . Ia mengambil jalan melalui hutanhutan
sehingga tidak pernah bertemu orang . Ketika ia tiba
didalam sebuah hutan besar di kaki Hwa-san , tiba-tiba ia
mendengar suara orang sedang berkata-kata seorang diri .
Suaranya lembut namun lantang . Bayangan itu cepat
menyelinap ke balik semak belukar dan mengintai . Ia melihat
seorang kakek berusia sekitar limapuluh tahun, membawa
sebatang tongkat yang dipakai memikul sebuah keranjang
berisi daun-daun dan akar-akaran dan kini orang berkepala
gundul itu sedang meneliti daun-daun tak jauh dari situ . Jelas
bahwa orang itu adalah seorang hwesio yang pakaiannya
longgar .
“ Apakah , sahabat sahabatku , yang dinamakan jahat itu ?
Membunuh adalah jahat , mencuri adalah jahat ,
menghambakan diri kepada nafsu birahi adalah jahat ,
berbohong adalah jahat , fitnah adalah jahat , mencela
mencaci adalah jahat , membenci adalah jahat , memeluk
pelajaran palsu adalah jahat , namun itulah , sahabat
sahabatku , adalah jahat. Dan Apakah sahabat sahabatku ,
akar dari kejahatan ? Nafsu keinginan adalah , akar kejahatan
, kebencian adalah akar kejahatan , khayalan adalah akar
kejahatan , semua ini adalah akar kejahatan “ .
Bayangan hitam itu terkejut dan menjadi gelisah , apalagi
ketika ia mengintai dari balik semak-semak , ternyata hwesio
itu telah lenyap dari tempat dimana tadi dia berdiri . Karena
mengira bahwa hwesio itu telah pergi jauh , ia lalu
melemparkan Swi Lan ke atas tanah . Dan tiba-tiba anak itu
menangis , agak nya lemparan itu membuat sebagian
tubuhnya menimpa batu dan inilah yang membebaskannya
dari totokan , atau memang sudah waktunya pengaruh
totokan itu habis . Si bayangan hitam itu lalu menyingkap
penutup mukanya , memandang kepada anak itu penuh
kebencian dan berkata lirih , suaranya mendesis , “
Kutinggalkan engkau disini biar dimakan binatang buas ! “
setelah berkata demikian , orang itu lalu berkelebat pergi dari
tempat itu .
Tanpa diketahuinya , perbuatannya itu ada yang
menyaksikannya ! Hwesio yang mengucapkan pelajaran Sang
Budha itu ternyata tidak pergi jauh . Dia dapat menangkap
gerakan orang dibalik semak belukar , maka diapun
menyelinap ke balik pohon dan mengitarinya sehingga dia
dapat melihat si bayangan hitam itu ketika membuang Swi Lan
, membuka penutup kepalanya lalu mengucapkan kata-kata
yang kejam itu . Biarpun melihat wajah si bayangan hitam itu
hanya sebentar saja , akan tetapi wajah itu takkan pernah
dilupakan oleh hwesio itu . Dia lalu menghampiri Swi Lan yang
sudah bangkit duduk sambil menangis itu . Dipondongnnya
anak itu . Melihat dirinya dipondong oleh seorang yang tidak
dikenalnya , tangis Swi Lan semakin menjadi-jadi karena takut
.
“ Ssssttttt , anak manis , anak baik , jangan menangis . Pinceng
tidak akan menggangumu , pin-ceng hendak
menolongmu , anak manis ! “ kata-kata yang bernada ramah
penuh kelembutan itu akhirnya membuat Swi Lan diam .
Agaknya anak kecil ini yang belum dapat berpikir dengan baik
, namun dapat merasakan bahwa yang memondongnya bukan
orang yang hendak menyusahkannya .
Hwe-sio itu bertubuh gendut dan mukanya selalu
tersenyum ramah , pandang matanya lembut dan suaranya
halus . “ Anak manis , siapakah namamu ? ' .
Swi Lan yang baru dapat bicara sepatah dua patah kata itu
agaknya mengerti pertanyaan itu dan ia menjawab “ Lan Lan
...... ! “
Ketika hwe-sio itu bertanya lagi minta jawaban yang tepat
siapa nama lengkap dari anak itu , Swi Lan yang belum
mengerti hanya menjawab “ Lan Lan “ .
Hwe-sio itu menanyakan lagi orang tuanya dan tinggal
dimana rumahnya , akan tetapi kepandaian bicara Swi Lan
belum dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan itu .
Hwe-sio itu tertawa “Omitohud .... ! Agaknya sudah
ditakdirkan bahwa pin-ceng harus merawat anak ini“ .
Dia mengambil sebutir buah jeruk dari keranjang yang
dipikulnya , mengupas jeruk itu dan memberikannya kepada
Lan Lan . Anak itupun mau menerimanya dan memakannya .
“ Lan Lan , anak baik . Karena pin-ceng tidak tahu dimana
rumah orang tuamu dan siapa nama mereka , maka mulai hari
ini jadilah engkau murid pin-ceng . Ha-ha-ha , Thian Ho
Hwesio , jalan hidupmu sungguh ganjil . Selamanya belum
pernah menerima murid dan sekali menerima murid , terpaksa
menerima seorang bocah yang masih kecil Ha-ha-ha “ .
Dia tertawa-tawa memindahkan semua daun dan akar obat
ke sebuah keranjang yang lain lalu memikul dua keranjang itu
. Lan Lan kelihatan girang sekali dan ia mulai tertawa-tawa .
Hwe-sio itupun semakin lebar senyumnya dan dia berjalan
keluar dari hutan itu dengan langkah cepat .
****
Demikianlah keadaan Hwa-li-pang yang merupakan
pecahan kecil dari Thian li pang . Sejak kematian suaminya
lalu kehilangan puterinya . Ciang Hwi yang kini berjuluk Pek
Mau To-kouw menyibukkan dirinya dengan mengurus Hwa-lipang
menjadi sebuah perkumpulan yang cukup besar di Hwasan
.
Sang waktu berjalan dengan amat cepatnya dan enambelas
tahun telah lewat sejak Ang Swi Lan lenyap di culik orang .
Pek Mau To-kouw sudah tidak mengharapkan lagi puterinya
akan dapat ia temukan . Mungkin puterinya telah tewas , dan
andaikata masih hidup juga kalau bertemu dengan nya pasti
tidak saling mengenal . Memang puterinya itu mempunyai
sebuah tanda yang mungkin tidak akan lenyap sampai ia
dewasa , yaitu semacam bercak hitam di tengah telapak kaki
kanannya . Akan tetapi bagian tubuh itu selalu tertutup
sehingga tidaklah mungkin baginya untuk minta kepada setiap
orang gadis yang disangka puterinya untuk membuka sepatu
kanannya . Pek Mau To-kouw sudah melepaskan harapannya
untuk bertemu dengan puterinya . Dan di dalam hatinya sudah
terdapat ketenangan kembali . Ia sudah merasa berbahagia
dalam kedudukannya sebagai pimpinan Hwa-li-pang . Juga
mereka melayani orang-orang dusun yang datang hendak
bersembahyang ke kuil hwa-li-pang .
Pagi itu merupakan pagi yang amat indah . Matahari yang
baru muncul di ufuk timur begitu cerahnya sehingga seluruh
permukaan bukit hwa-san bermandikan cahaya yang putih
keemasan itu .
Awan-awan putih tipis bergerakk diangkasa , dapat di
tembus cahaya matahari seperti tirai sutera tipis , angkasa
jauh di atas nampak biru muda bagaikan samudera yang
tenang tanpa gelombang . Angin pagi bersilir sejuk dan kicau
burung dan kokok ayam jantan menambah semaraknya
suasana dipagi yang indah itu . Sebernarnya , setiap saat dan
detik terdapat keindahan dari suasana yang wajar ini . Hanya
karena kita terlalu di ombang ambingkan pikiran kita sendiri
yang mengadakan banyak persoalan maka keindahan yang
ada itu tidak nampak lagi . Pikiran kita selalu sibuk dengan
berbagai macam persoalan kehidupan sehari-hari, dari urusan
pekerjaan , mencari uang , persoalan rumah tangga , konflikkonflik
dalam keluarga atau antar teman , pengangguran ,
kejahatan , dan bahkan perang . Pikiran kita sudah menjadi
gudang dari segala macam permasalahan yang memusingkan
sehingga kita sudah lupa betapa indahnya alam di sekeliling
kita , betapa Maha Murahnya Tuhan terhadap kita semua .
Segala keperluan hidup manusia telah terbentang luas di
depan kita , Kita tinggal mengolah dan memetik saja . Akan
tetapi semua keindahan itu tidak akan terasa lagi kalau kita
menjadi hamba nafsu yang menyeret kita ke dalam konflikk
dan pertentangan , saling membenci , saling bermusuhan dan
bahkan saling membunuh ! .
Alangkah akan bahagianya hidup ini apabila kita manusia
tidak saling bermusuhan , melainkan bersatu padu untuk
membangun dengan sarana yang tersedia lengkap .
Membangun demi kesejahteraan kita bersama . Hidup
tenteram penuh kedamaian , saling tolong dan salin bantu
dalam mengahdapi kesukaran yang bagaimanapun macamnya
dan dari manapun datangnya . Kesukaran yang dibagi akan
menjadi ringan dan bukan merupakan kesukaran lagi .
Sedangkan kelebihan dan kesenangan yang dibagi tidak akan
menjadi berkurang . Hdiup dalam suasana seperti itu akan
melenyapkan segala macam kesusahan dan yang terdengar
dari mulut kita hanyalah Puji Syukur dan terima kasih kepada
Tuhan Maha Pencipta , tidak lagi terdengar keluh kesah
seperti yang kita dengar setiap saat pada masa kini .
Pagi-pagi sekali sebelum matahari terbit , Pek Mau To-Kouw
sudah bangun dari tidurnya , bermeditasi dan berdoa . Lalu ia
membersihkan tubuhnya dengan air sejuk , kemudian berjalan
keluar untuk memeriksa pekerjaan para murid atau anggota
hwa-li-pang . Para anggota Hwa-li-pang sudah nampak sibuk
sepagi itu . Ada yang siap bekerja di swah , ladang , ada yang
berangkat untuk mencari rempah-rempah di hutan , ada yang
mengangkut hasil ladang untuk di jual di dusun-dusun dan
kota di kaki bukit , dan ada pula yang bertugas sebagai
pengawal barang kiriman , siap dengan keretanya . Diantara
mereka para anggota yang tua-tua , sibuk mengurus kuil dan
melayani orang-orang yang datang bersembahyang . Sudah
ada belasan orang tamu kuil itu di pagi hari itu .kesemuanya
wanita hendak bersembahyang . Diantara belasan orang tamu
wanita ini , terdapat wanita muda yang berpakaian serba putih
, cantik sekali seperti bidadari , dengan gerak gerik yang halus
. Para tamu wanita itu cepat meberi hormat ketika Pak Mau
To-Kouw memasuki kuil . Penampilan Pek Mau To-kouw
memang anggun berwibawa . Rambutnya yang sudah hampir
semua putih itu di gelung di ikat di atas dengan sutera putih .
Jubahnya berwarna kuning , jubah panjang sederhana dan
tangan kanannya memagang sebatang kebutan dengan bulu
berwarna merah . Pek Mau To-Kouw membalas penghormatan
para tamu itu dengan anggukan kepala dan senyum ramah .
Tiba-tiba pandang mata Pek Mau To-Kouw tertarik oleh
seorang yang melangkah datang ke kuil itu . Ia berhenti dan
memutar tubuhnya menghadapi orang yang baru datang ini .
Yang baru datang itu adalah seorang remaja berpakaian
pengemis dan kepalanya di tutup sebuah topi butut . Tangan
kanannya memegang sebatang tongkat . Pakaian nya yang
serba hitam itupun butut walau bersih , dan sepatunya yang
sudah butut sehingga nampak jari kelingking kaki kirinya
menonjol keluar . Mukanya kotor pula bercoreng lumpur
namun dapat dilihat bahwa pengemis muda ini memiliki wajah
yang tampan dan sepasang matanya bersinar-sinar
“ Sobat muda , engkau datang hendak bersembahyang
ataukah hendak mengemis ? “ tanya Pek Mau To-kouw
dengan sikap dan suara lembut dan ramah .
Pengemis muda itu mengamati ketua Hwa-li-pang itu penuh
perhatian , lalu berbalik mengajukan pertanyaan , “ To-Kouw ,
kalau aku hendak bersembahyang mengapa dan kalau hendak
mengemis bagaimana ? “ .
Pek Mau To-Kouw tersenyum dan diam-diam ia
menganggumi ketegasan pengemis muda , walaupun
pakaiannya menunjukkan bahwa dia seorang pengemis ,
namun sama sekali tidak rendah diri , bahkan nampaknya
seperti orang yang dapat menjaga harga diri .
“ Kalau hendak bersembahyang harap menunggu lebih dulu
karena para tamu yang berada di dalam kuil semuanya adalah
wanita sehingga tidak pantaslah kalau engkau seorang pria
masuk bersama mereka . Dan kalau engkau hendak mengemis
, sebaiknya engkau berdiri di luar kuil menanti pemberian
sumbangan dari mereka yang datang dan pergi “ .
“ Dari jauh aku datang ke sini karena mendengar bahwa
ketua Hwa-li-pang adalah seorang yang murah hati , aku tidak
hendak bersembahyang , tidak pula mengemis , hanya ingin
membuktikan sampai dimana kedermawanan hati ketua Hwali-
pang . Dapatkah aku bertemu dengan ketua Hwa-li-pang ? “
.
“ Siancai .... ! Aku sendirilah ketua itu “ kata Pek Mau Tokouw
sambil tersenyum .
“ Bagus ! Aku tidak ingin mengemis hanya ingin memancing
kebaikan hati pang-cu “ '
“ Orang muda , pertolongan apakah yang dapat kuberikan
kepadamu ? Apakah engkau lapar dan butuh makanan ? “ .
“ Aku sudah kenyang , pagi tadi sudah sarapan , hampir
menghabiskan seekor ayam panggang “ .
“ Hemmm , kalau begitu , apakah engkau membutuhkan
pakaian pengganti pakaianmu yang sudah butut itu ? “ .
“ Tidak , aku lebih senang dengan pakaian ini , biar butut
akan tetapi bersih . Hanya sepatuku ..... “ .
“ Kenapa dengan sepatumu ?” .
“ Yang kiri sudah jebol sehingga jari kakiku kelihatan . Aku
membutuhkan sepasang sepatu “ .
Percakapan itu menarik perhatian para tamu wanita yang
hendak bersembahyang dan merekapun tidak melanjutkan
langkah mereka dan ikut menonton .
Pek Mau Tok-kouw memandang ke arah kaki pengemis
muda itu , lalu memadang kepada kakinya sendiri . Sekali
pandang saja tahulah ia bahwa ukuran kakinya sama dengan
ukuran kaki pengemis remaja itu , maka lalu ia melepaskan
sepatunya yang terbuat dari kulit dan menyerahkannya
kepada pengemis itu .
“ Kalau begitu , pakailah sepatu ini “ katanya . Pengemis itu
memandang tertegun dan menerima sepatu itu dan Pak Mau
To-kouw lalu melangkah ke dalam kuil dengan kaki hanya
terbungkus kaus kaki saja .
Peristiwa kecil ini menunjukkan betapa baik budi to-kouw
itu dan gadis berpakaian putih tadi yang melihat peristiwa itu
memandang dengan mata sayu , agaknya ia terharu sekali
akan kebaikan hati Pek Mau To-kouw . Pengemis itupun
segera duduk di atas tanah dan mengganti sepatu bututnya
dengan sepatu pemberian Pek Mau To-kouw . Wajahnya
berseri dan dia tersenyum-senyum , lalu duduk bersandar
pada pohon yang tumbuh di depan kuil . Agaknya angin
semilir membuat dia mengantuk karena dia sudah melenggut
tidur ayam dibawah pohon .
Pek Mau To-kouw sendiri sudah memasuki kamar samadhi
di kuil itu dan seorang murid datang mengantarkan sepasang
sepatu untuk gurunya itu .
Dari bawah lereng itu nampak ada empat orang naik ke
lereng dan menuju ke kuil itu . Dilihat dari pakaian mereka ,
tiga diantaranya dengan pakaian kembang-kembang dan
seorang diantara nya berpakaian serba putih . Para penjaga
kuil menduga bahwa yang datang tentu segerombolan wanita
lain . Akan tetapi setelah mereka itu dekat , tiba di halaman
kuil , para pelayan itu memandang heran . Tiga orang
berpakaian kembang-kembang itu adalah seorang laki-laki
berusia limapuluh tahun , seorang wanita yang sebaya dan
seorang gadis yang cantik . Adapun yang berpakaian serba
putih itu adalah seorang pemuda tampan yang wajahnya
dihias senyum tenang .
Pemuda berpakaian serba putih itu adalah Han Sin ,
sedangkan yang berpakaian kembang-kembang adalah
keluarga gila itu , Kui Mo , istrinya Liu Si dan anak mereka Kui
Ji . Seperti telah di ceritakan dibagian depan , keluarga gila itu
memaksa Han Sin untuk menikah dengan Kui Ji dan untuk
merayakan pesta pernikahan , mereka hendak meminjam
tempat dari Hwa-li-pang . Han Sin dalam keadaan tidak
berdaya karena dia telah keracunan tidak mampu
mengerahkan lwe-kangnya . Hawa sakti dari pusarnya tidak
mampu menjalar ke kaki tangannya . Racun pelemas otot
telah membuat otot-ototnya tidak mampu menampung hawa
sakti atau tenaga dalam itu .
Tentu saja dengan kehilangan hawa sakti , ilmu silatnya
tidak berisi lagi dan dia tidak mampu menandingi keluarga gila
itu . Biarpun pemuda itu sudah menjadi seorang yang lemah ,
namun keluarga itu , terutama Kui Ji , tidak pernah
melepaskan penjagaannya terhadap pemuda itu . Bahkan Kui
Ji se lalu berjalan di dekat Han Sin untuk menjaga jangan
sampai pemuda yang membuatnya tergila-gila itu melarikan
diri .
Kui Mo dan Liu Si memasuki kuil itu , diikuti oleh Han Sin
yang digandeng oleh Kui Ji . Melihat tiga orang berpakaian
kembang-kembang itu memasuki kuil sambil tertawa-tawa
seperti orang mabok , para anggota Hwa-li-pang yang
bertugas di kuil segera maju menyambut . Kepala rombongan
penjaga kuil , seorang wanita berusia kurang lebih empatpuluh
tahun , sudah menjadi pendeta wanita pula , memberi hormat
kepada mereka dan bertanya dengan suara lantang , “ Cu-wi ,
siapakah dan apa keperluan datang ke kuil kami ? Apakah cuwi
( anda sekalian ) hendak bersembahyang ? “ .
Kui Mo tertawa bergelak “ ha-ha-ha , kami bukan hendak
sembahyang , melainkan hendak meminjam tempat Hwi-lipang
ini untuk merayakan pesta pernikahan anak kami , haha-
ha “
Kepala penjaga kuil itu tentu saja terkejut mendengar ini
dan mengerutkan alisnya . “ Siancai ... kami tidak mengerti
apa yang kau maksudkan . Tempat kami tidak untuk
dipinjamkan kepada siapapun juga “ .
Liu Si melangkah maju . Rambutnya yang riap-riapan itu
menyeramkan sekali , sebagian wajahnya yang tidak tertutup
rambut memperlihatkan kecantikan seorang wanita setengah
tua , akan tetapi mulut yang menyerengai dan mata yang
mencorong itu benar-benar membuat ia kelihatan seperti
siluman .
“ Jangan banyak cerewet ... panggil ketuamu dan suruh
menghadap kami . Pendeknya , boleh atau tidak boleh tempat
ini baru kami pinjam untuk keperluan perayaan pesta
pernikahan anak kami ' .
Ucapan galak itu di susul tawa yang terdengar mengerikan ,
melengking tinggi , pada saat itu Kui Mo tertawa-tawa ,
demikian pula Kui Ji terkekeh-kekeh . Sedangkan Han Sin
hanya berdiri dan tersenyum bodoh .
Para pengujung kuil mulai merasa takut melihat lagak tiga
orang berpakaian kembang-kembang itu dan mereka
berkumpul di pinggir dekat dinding dan bersiap-siap untuk
melarikan diri kalau tiga orang gila itu mengamuk . To-kouw
kepala jaga itupun mengerutkan alisnya . Tentu saja ia tidak
mau merepotkan ketuanya untuk menghadapi tiga orang gila
ini . Ia sendiri sudah memiliki kepandaian silat yang lebih
tinggi dari pada semua penjaga kuil itu . Maka dengan berani
to-kouw itu lalu membentak , “ kalian ini orang-orang gila
berani datang membikin kacau Hwa-li-pang ? Pergilah atau
aku akan menggunakan kekerasan mengusir kalian ! “ .
Liu Si terkekeh , “ he-he-he , engkau ini orang gila berani
memaki kami ? Kalau kami katakan hendak meminjam tempat
ini , siapa yang berhak melarang ? Kamu hendak mengusir
kami dengan kekerasan ? Hemmm , apa yang dapat kau
lakukan ?” Liu Si melangkah maju sampai dekat sekali dengan
to-kouw itu yang tentu saja menjadi ngeri di dekati wanita gila
yang rambutnya riap-riapan itu . Ia lalu mengerahkan
tenaganya mendorong Liu Si pada dadanya . Akan tetapi
alangkah terkejutnya ketika ia mendorong rasanya seperti
mendorong sebongkah batu besar yang amat berat . Wanita
gila itu sama sekali tidak bergoyang walaupun ia sudah
mengerahkan tenaga sepenuhnya ! .
“ Hik-hik-hik “ Liu Si terkekeh dan tangan nya di dorongkan
ke pundak kepala penjaga kuil itu . Seperti sehelai daun kering
di tiup angin to-kouw itu terlempar ke belakang dan roboh
menimpa meja ! .
Para anggota Hwa-li-pang yang menyaksikan peristiwa ini
tentu saja menjadi marah . Mereka segera menghampiri dan
menyerang Liu Si dengan pukulan – pukulan dan tamparan .
Empat orang anggota Hwa-li-pang mengeroyoknya , akan
tetapi dengan mudah sekali , begitu Liu Si menggerakkan kaki
tangannya , empat orang inipun berpelantingan roboh .
Gegerlah keadaan dalam kuil . Para murid Hwa-li-pang lari
berdatangan dan melihat ini , Kui Mo tertawa .
“ Ha-ha-ha , mari kita ke halaman dapan agar lebih leluasa
kita menghajar mereka ! “ .
Kui Mo dan Liu Si berlompatan ke pekarangan kuil dan Kui
Ji lalu menarik tangan Han Sin untuk ikut pula. “Jangan takut,
suamiku, Aku akan menjagamu , agar tidak ada yang berani
mengganggumu !“ kata Kui Ji sambil terkekeh , lalu berdiri di
pekarangan itu . Di bawah pohon sambil menggandeng tangan
Han Sin . Pengemis muda yang tadi menerima sepatu dari Pek
Mau To-kouw memandang dengan mata terbelalak heran .
Akan tetapi berbeda dengan para tamu kuil yang kelihatan
ketakutan , pemuda pengemis ini tidak nampak ketakutan ,
melainkan tertarik sekali . Terutama sekali dia merasa tertarik
melihat keadaan Han Sin yang digandeng gadis gila itu . Dia
tahu bahwa tiga orang yang mengenakan baju berkembang
itu tentulah orang-orang gila , hal ini mudah diketahui dari
sikap mereka yang tertawa-tawa menyeramkam itu . Dan
agaknya dia gembira sekali melihat tontonan ini , yang
dianggapnya aneh dan dia menanti para anggota Hwa-li-pang
yang sudah mengejar keluar dari kuil . Bukan hanya para
penjaga kuil yang kini berlari menuju ke halaman kuil itu ,
akan tetapi juga para anggota lain yang belum berangkat
untuk bekerja .
Tidak kurang dari empatpuluh orang wanita anggota Hwali-
pang kini berdatangan ke tempat itu dan banyak diantara
mereka yang memegang senjata pedang atau toya ! .
Kui Mo dan Liu Si sudah berdiri saling membelakangi dan
tertawa-tawa melihat para anggota Hwa-li-pang berdatangan
dengan sikap mengancam itu .
Mereka Sama sekali tidak merasa gentar , sedangkan Kui Ji
tetap berdiri di bawah pohon bersama Han Sin . Dua orang
suami istri gila itu nampaknya gembira sekali melihat mereka
dikepung oleh banyak pengeroyok dan begitu para
pengeroyok itu menggerakkan senjata menyerang mereka ,
keduanya bergerak dengan cepatnya . Terdengar suara
meledak-ledak ketika Liu i memainkan cambuk nya dan
tongkat di tangan Kui Mo juga berubah menjadi segulungan
sinar kuning . Para pengeroyok terkejut sekali . Mereka
menjadi bingung karena kedua orang gila itu seperti berubah
mmenjadi bayangan yang banyak dan tahu-tahu enam orang
diantara mereka telah roboh ! .
Akan tetapi , seperti kepala jaga di kuil tadi , yang roboh itu
tidak terluka berat , maka mereka terus mnegeroyok dengan
marah . Kui Mo dan Liu Si tertawa-tawa dan makin banyak
pula pengeroyok yang berpelantingan , dengan kepala benjol ,
muka lebam , gigi rontok , atau salah urat ! .
Pengemis muda yang duduk di bawah pohon dan yang
sejak tadi nonton dengan penuh perhatian nampak terkejut
melihat kelihaian suami istri gila itu . Sementara itu , Kui Ji
bertepuk tangan dan menari-nari kegirangan melihat ayah dan
ibunya menghajar para pengeroyok itu .
Han Sin merasa tidak enak sekali . Para anggota Hwa-lipang
itu adalah wanita-wanita yang tidak berdosa , kini
mereka di hajar dan semua itu adalah gara-gara dia !
Kalau dia tidak diambil mantu keluarga gila ini tentu tidak
akan terjadi kekacauan di Hwa-li-pang . An dia merasa tidak
berdaya , tidak mampu mencegah pengamukan kedua orang
gila itu . Hanya ada satu hal yang membuat hatinya lega ,
yaitu melihat kenyataan bahwa Kui Mo dan Liu Si selalu
merobohkan pengeroyoknya tanpa membunuh , atau melukai
berat . Mereka itu hanya dirobohkan dengan luka ringan saja
dan hal ini membuktikan bahwa keluarga gila ini ternyata
tidaklah jahat dan tidak suka membunuh . Padahal kalau
mereka menghendaki , tenaga pukulan mereka dapat
diperkuat dan yang roboh tentu akan tewas .
Tiba-tiba terdengar bentakan halus akan tetapi berwibawa '
Hentikan perkelahian ini ! “ .
Mendengar suara ini , para anggota Hwa-li-pang
berloncatan mundur . Di antara mereka banyak yang
menderita luka-luka ringan . Pek Mau To-Kouw melangkah
keluar dari pintu kuil dengan anggun dan tegap , menghampiri
suami istri gila itu yang kini berdiri di samping Kui Ji dan Han
Sin .
Pek Mau To-kouw mengamati empat orang itu dengan
pandangan mata penuh selidik , akan tetapi ia tidak merasa
kenal dengan mereka . Ia lalu mengangkat kedua tangan
depan dada untuk memberi hormat dan sambil memandang
kepada Kui Mo dan Liu Si , ia berkata “ Siancai ..... ! Siapakah
sebetulnya ji-wi (anda berdua) dan mengapa pula berkelahi
dengan anak buah kami dari Hwa-li-pang ? Apa kesalahan
Hwa-li-pang terhadap ji-wi ? .
Suami istri itu saling pandang dan mereka tertawa girang
sekali ' suamiku “ . kata Liu Si dengan sikap manja , “ To-kouw
ini cukup anggun , bukan ? Alangkah baiknya kalau ia yang
mengatur upacara sembahyang untuk pernikahan anak kita “ .
“ Ha-ha-ha , memang tepat sekali kata-katamu , istriku .
Dengan upacara nya di atur oleh to-kouw ini dan disaksikan
oleh semua tokoh kang-ouw , pernikahan itu tentu akan
mendapat berkah “ .
Pek Mau To-kouw yang biasanya sabar sekali itu , kini
timbul rasa penasaran di dalam hatinya . “ Apa yang ji-wi
maksudkan ? Ji-wi belum menjawab pertanyaanku ! “ .
“ Ha-ha-ha , engkau menanyakan apa tadi ? Ah , siapakah
kami ? Aku bernama Kui Mo dan ini istriku Liu si , yang cantik
ini puteri kami bernama Kui Ji danpemuda ini adalah calon
mantuku bernama Cian Han Sin . Nah , mengapa kami
berkelahi dengan anak buahmu ? Kalau saja sejak tadi engkau
keluar , tentu tidak akan ada perkelahian ? Engkau ketua Hwali-
pang , bukan ? “ .
“Kami hendak meminjam tempatmu ini untuk perayaan
pernikahan anak kami ! Kata Liu Si”.
“ Tempat ini kami pinjam , engkau menjadi pendeta yang
mengatur upacara pernikahan dan engkau pula yang
mengundang tokoh-tokoh kang-ouw agar hadir dan
menyaksikan pernikahan itu , anak buahmu menyediakan
hidangannya dan menjadi pelayan-pelayan untuk
memeriahkan pesta pernikahan itu . Nah , usul kami ini baik
sekali , bukan ? “ wanita gila itu tertawa melengking tinggi
dan suami serta puterinya juga tertawa-tawa . Han Sin tidak
ikut tertawa hanya tersenyum tak berdaya dan memandang
kepada to-kouw itu dengan hati iba . Sejak dia dibawa ke
tempat itu , dia selalu mencari kesempatan untuk meloloskan
dan melarikan diri . Akan tetapi “ calon istrinya “ selalu
menjaganya .
Pek Mau To-kow menjadi merah mukanya saking marahnya
mendengar ucapan itu . Tidak heran kalau para muridnya
menjadi marah dan mengeroyok dua orang gila ini karena
memang permintaan mereka itu sama sekali tidak pantas !
Sampai lama ia tidak mampu mengeluarkan kata-kata saking
marah dan bingungnya bagaimana harus bersikap untuk
menghadapi orang-orang gila ini .
“ Ha-ha-ha , Pek Mau to-kouw , tidak usah ragu ! “ kata Kui
Mo “ Lakukan saja apa yang kami minta dan kami tidak akan
mengganggumu . Pesta itu akan kami langsungkan setelah
lewat tiga bulan , dan untuk sementara ini kami berempat
akan tinggal disini . Beri saja kami dua buah kamar . Itu sudah
cukup ...... “
“ Tiga buah kamar ! “ tiba-tiba Han Sin memotong ucapan
Kui Mo “ Jangan paman calon mertua lupa , kita adalah orangorang
yang selalu menaati adat istiadat , tidak boleh calon
pengantin berkumpul dalam satu kamar sebelum
dilangsungkan pernikahannya ! “
“ Ah , ya benar ! Tiga buah kamar . Dan makan setiap
harinya untuk kami , permintaan kami ringan saja dan tentu
engkau tidak keberatan , bukan ? “ Kui Mo memandang
kepada Pek Mau To-kouw . Mendengar ucapan Han Sin tadi ,
tahulah Pek Mau to-kouw bahwa pemuda “ calon pengantin “
itu bukanlah seorang yang gila seperti suami istri dan
puterinya itu . Tentu pemuda itu di paksa oleh suami istri gila
yang lihai itu , pikirnya .
“ Siancai ...... ! “ Permintaan kalian itu tentu saja sama
sekali tidak mungkin kami penuhi . Pertama , perkumpulan
Hwa-li-pang kami adalah sebuah perkumpulan wanita , maka
tentu saja tidak dapat menerima tamu pria untuk bermalam di
sini , kedua , semua anggota Hwa-li-pang tidak ada yang
merayakan pernikahannya , kalau ada yang menikah di tempat
ini . Oleh karena itu bagaimana mungkin orang luar
merayakan pernikahan disini ? Sobat , terpaksa kami tidak
dapat memenuhi permintaanmu dan harap segera
meninggalkan tempat ini karena kami tidak ingin bermusuhan
dengan siapapun juga “ .
“ Ha-ha-ha , kami tidak ingin mendengar alasan .
Pendeknya , boleh atau tidak boleh , tempat ini kami pinjam .
Engkau ini seorang to-kouw , kenapa tidak mengerti aturan ? “
Kata Liu Si sambil menudingkan telunjuknya kepada Pek Mau
To-kouw .
Ketua Hwa-li-pang itu memandang marah , “ Hemmmm ,
apa maksudmu menuduh kami tidak mengerti aturan ?” .
“ Seorang pendeta wanita harus memberi contoh yang baik
kepada masyarakat , harus berbuat baik . Sekarang hanya
dipinjam tempatnya saja tidak boleh . Aturan mana itu ? “ .
Pek Mau to-kouw menjadi geram . Dasar orang gila , maka
pendapatnyapun gila dan seenak perutnya sendiri , pikirnya .
“ Sudahlah , tidak perlu banyak cakap lagi , Pendeknya
permintaan kalian tidak dapat kami penuhi “ .
Kui Mo melangkah maju . “ Pek Mau to-kouw , sekarang
begini saja . Mari kita mengadu kepandaian . Kalau aku kalah ,
kami tidak akan banyak cakap lagi dan akan mencari tempat
untuk pesta pernikahan anak kami . Akan tetapi kalau engkau
yang kalah , engkau harus mengijinkan kami tinggal di sini
sampai datangnya pesta pernikahan itu yang akan
dilangsungkan di sini bagaimana ? “ .
Pek Mau to-kouw menganggap bahwa keputusan itu ,
biarpun di usulkan seorang gila , cukup baik . Tentu saja ia
menganggap pula bahwa ia pasti akan dapat mengalahkan si
gila ini , karena betapa pun lihainya seorang gila tentu tidak
dapat bersilat dengan sempurna. Pula , di situ berkumpul
sebagian besar muridnya yang belum berangkat kerja dan
terdapat pula orang-orang luar yang datang bersembahyang .
Kalau ia tidak berani melayani tantangan seorang gila , apa
kata orang ? Pula , ia harus membalaskan para muridnya yang
tadi di hajar oleh suami istri gila ini .
Jilid 5
“ Baiklah , engkau memang seorang gila yang pantas
menerima hajaran ! “ katanya singkat sambil menggerakkan
kebutan di tangan kiri sedangkan tangan kanan sudah melolos
sebatang pedang dari punggungnya .
Para murid Hwa-li-pang segera mundur dan membentuk
lingkaran yang luas agar guru mereka dapat leluasa
bertanding menghadapi orang gila yang lihai itu . Kui Ji dan
Han Sin tetap berdiri di bawah pohon dimana duduk si
pengemis muda . Di antara para penonton juga berdiri di
lingkaran itu , nampak pula gadis berpakaian serba putih yang
tadi datang bersama para wanita yang bersembahyang di kuil
.
Melihat Pek Mau To-kouw sudah siap dengan senjata hudtim
( kebutan pendeta ) dan pedang , Kui Mo tertawa bergelak
“ Ha-ha-ha , To-kouw , engkau tidak akan mampu menandingi
tongkatku , lihat senjataku ! “ Berkata demikian , dia
menggerakkan tongkatnya dengan dahsyat sekali , menyerang
ke arah kepala to-kouw itu . Melihat serangan ini , diam-diam
Pak Mau To-kouw terkejut sekali . Sebagai seorang ahli silat
tinggi , segera ia dapat mengenal lawan yang tangguh . Begitu
cepat tongkat itu bergerak dan mendatangkan angin pukulan
yang kuat sekali . Ia pun mengelak dan kebutannya yang
berbulu merah menyambar ke depan menotok ke arah leher
sedangkan pedangnya menyusulkan tusukan ke arah dada .
Serangan balasan dari to-kouw ini pun hebat sekali sehingga
Kui Mo mengeluarkan seruan yang di susul tawa terkekeh .
Dia sudah menangkis pedang dan menggunakan tangan kiri
mencengkram ke arah kebutan untuk menangkap kebutan itu
. Akan tetapi lawannya tidak membiarkan bula kebutannya
tertangkap , segera menarik kembali kebutannya dan kini
pedang yang tertangkis itu membabat ke arah kaki lawannya .
Kui Mo meloncat ke atas dan ketika pedang lewat di bawah
kakinya , pedang itu diinjaknya dan tongkatnya sudah
menyerang dengan pukulan ke arah pundak kanan to-kouw itu
. Tentu dia bermaksud agar to-kouw itu melepaskan
pedangnya . Akan tetapi tidak semudah itu dia mengalahkan
Pek Mau To-kouw itu . Hud-tim itu sudah menyambar lagi ,
kini bulu kebutan menjadi lemas dan hendak melibatkan kedua
kakinya ! Terpaksa Kui Mo meloncat turun dan serangan
tongkatnyapun gagal karena to-kouw itu sudah miringkan
pundaknya mengelak .
Perkelahian itu seru bukan main dan dalam pandangan para
murid Hwa-li-pang , tubuh orang yang bertanding hanya
nampak bayangannya saja berkelebatan di antara gulungan
sinar merah kebutan , sinar kuning tongkat dan sinar putih
pedang . Kalau di tonton merupakan pemandangan yang
indah dan menarik , akan tetapi semua murid menyadari
bahwa yang indah itu mengandung bahaya maut untuk guru
mereka ! .
Han Sin tentu saja dapat mengikuti gerakan kedua orang itu
dan kembali dia merasa kagum dan juga senang . Dalam
pertandingan inipun , menghadapi seorang lawan yang
tangguh , kakek gila itu sama sekali tidak pernah menyerang
dengan niat membunuh . Sebaliknya , setiap serangan tokouw
itu mengancam keselamatan nyawa lawan . Dia merasa
girang dan yakin bahwa keluarga itu memang gila , akan
tetapi bukanlah jahat . Dan biarpun kakek gila itu selalu
mengalah dan membatasi tenaga serangannya , namun tetap
saja Pek Mau To-kouw mulai terdesak . To-kouw ini dibuat
bingung oleh jurus-jurus gila itu yang sulit sekali diikuti
perkembangannya yang selalu berlawanan dan tidak di sangka
sama sekali .
Tiba-tiba dalam ketegangan yang sunyi itu , yang hanya
terisi bunyi nyaring ketika pedang bertemu tongkat di seling
suara tawa keluarga gila itu , terdengar orang berkata-kata
seperti sedang membaca sajak ! Semua orang menegok
karena ternyata yang mengeluarkan suara itu adalah si
pengemis muda yang kini berjongkok di bawah pohon dan
mengikuti gerak-gerik dua orang yang sedang bertempur itu
dengan penuh perhatian .
“ Awal dan akhir bertentangan , ujung dan pangkal
berlawanan , kanan menjadi kiri , atas menjadi bawah , depan
menjadi belakang , itulah gerakan si pemabok atau si gila ! “ .
Bagi orang lain kata-kata ini seperti kacau dan tidak ada
artinya . Akan tetapi tidak demikian bagi Pek Mau To-kouw .
Ucapan itu menyadarkannya dan mulailah dia menghadapi
lawannya berlandaskan ucapan itu . Kalau lawan menyerang
dari bawah , ia menjaga sebelah atas dan benar saja ! Semua
serangan lawannya merupakan serangan yang pangkalnya
berlawanan dengan ujungnya sehingga ia dapat menjaga diri
lebih baik dan dapat lebih banyak . Dan ia kini terlepas dari
desakan lawan , bahkan dapat menyerang balik dengan
dahsyat ! Pertandingan menjadi seru dan ramai sekali .
Liu Si mengerutkan alisnya ,menoleh kepada pengemis
muda itu dan tiba-tiba ia sudah meloncat ke depan pengemis
itu .
“ kau gila , kau ikut membantu lawan ! “ katanya dan sekali
menggerakkan kepalanya , rambutnya yang riap-riapan itu
telah menyambar ke arah pengemis muda itu .
Akan tetapi pengemis muda itu ternyata memiliki
keringanan tubuh yang menakjubkan . Sekali dia bergerak ,
tubuh yang berjongkok itu sudah meloncat ke belakang
sehingga sambaran rambut itu luput . Liu Si menjadi
penasaran dan marah . Ia mengejar dengan senjata pecutnya
, akan tetapi pengemis muda itu sudah melintangkan
tongkatnya mengoyang-goyangkan tongkatnya dengan lagak
yang lucu dan menggoda .
“ Aku tidak ingib bermusuhan dengan siapapun , apalagi
dengan seorang nenek gila . Aku takut ketularan gila , he-hehe
! “ .
Liu Si semakin marah , “ Siapa gila ? Engkau yang gila , aku
tidak gila ! “ .
' Ha-ha, yang gila menganggap yang waras gila , itu sudah
wajar di dunia ini . Entah mana yang benar , yang gila atau
yang waras , mungkin saja yang waras itu benar-benar gila ,
aku tidak tahu ! Nenek yang baik , kalau engkau tidak gila ,
siapa yang gila ? “
“ Kau yang gila , hik-hik-hik , ya engkau memang gila .
Masih muda sudah menjadi pengemis , tentu saja kau gila ,
hik-hik-hik ! “ Liu Si tertawa-tawa dan menunda
penyerangannya .
“ Aku tidak gila , engkaulah yang gila . Engkau berotak
miring , engkau sinting ! “ Pemuda iru berteriak-teriak dengan
lantang dan marah .
Diam-diam Han Sin memperhatikan pemuda gila itu dan ia
menjadi kagum . Dari gerakannya saja ketika tubuh yang
berjongkok itu tiba-tiba meloncat ke belakang untuk
menghindar serangan maut itu, tahulah dia bahwa pemuda itu
ternyata bukanlah pemuda sembarangan , akan tetapi
memiliki ilmu kepandaian yang cukup tinggi .
Liu Si nampak tercengang seperti bingung mendengar
pemuda itu memaki-makinya gila dengan suara lantang . “ Aku
gila ? Ya , benar , aku gila dan sinting dan engkaupun edan .
“ Hik-hik-hik , kita sama ! Gila dan sinting , he-he-he-he ! “
Han Sin memandang heran . Sikap pemuda pengemis itu
benar-benar seperti sikap keluarga gila itu . Apakah pemuda
itupun gila ? Akan tetapi , jelas bahwa dia tadi memberi
petunjuk kepada Pek Mau To-kouw bagaimana untuk melawan
Kui Mo . Hal ini berarti bahwa pemuda itu selain cerdik , juga
berilmu tinggi , dapat mengenal rahasia gerakan silat dari
orang gila itu
Akan tetapi tiba-tiba Liu Si berhenti tertawa dan
menghampiri pengemis muda itu , lalu menudingkan
telunjuknya ke arah muka pemuda itu . “ Tidak , engkau tidak
sama dengan aku ! Aku tidak sudi disamakan seorang
pengemis , engkau malas tak tahu malu , pengemis busuk ! “ .
Pemuda itu menjadi marah “ Nenek gila , mulutmu kotor .
Pergilah kalau engkau tidak mau kuhajar dengan tongkatku ! '
Para anak buah Hwa-li-pang yang tadinya menujukkan
seluruh perhatian mereka kepada ketua mereka yang sedang
bertanding melawan kakek sinting , kini perhatian mereka
terpecah menjadi dua. Sebagian malah mendekati pemuda
pengemis itu untuk melihat bagaimana pemuda itu akan
menandingi nenek gila .
“ Tar-tar-tar .... ! “ Cambuk di tangan nenek gila itu sudah
meledak-ledak ketika menyambar-nyambar ke atas kepala
pemuda pengemis itu . Akan tetapi pemuda itu tiba-tiba
menggerakkan tongkatnya dan kembali Han Sin yang
memperhatikan pemuda itu merasa kagum . Ilmu tongkat
pemuda pengemis itu hebat . Ujung tongkat yang digerakkan
itu menggetar seolah menjadi banyak dan ujung cambuk yang
menyerang kepala itu dapat dihalaunya dengan mudah .
Bahkan tongkatnya menyodok ke arah perut Liu Si membuat
nenek gila ini terkejut dan berloncatan ke belakang
menghindarkan serangan berbahaya itu .
Liu Si menjadi penasaran dan semakin marah . Dengan
suara tawa terkekeh menyeramkan ia sudah menerjang lagi
dengan cambuknya , akan tetapi tiba-tiba pengemis muda itu
mengangkat tangan kirinya dan mengacungkan empat buah
jarinya .
“ Eh , nenek gila . Kau tahu hitungan tidak ? Berapa ini ? “
Nenek itu kelihatan bingung , akan tetapi ia memandang ke
arah tangan kiri yang di acungkan ke atas “ Bodoh , sudah
jelas itu empat ! “ Akan tetapi baru saja ia berkata demikian ,
tongkat itu sudah menyambar dan menghantam pahanya .
“ Bukkk ! “ untung Liu Si sudah melindungi pahanya dengan
kekuatan sin-kang sehingga pukulan itu hanya membuat ia
terpelanting dan hampir roboh . Nenek itu meloncat sambil
mengeluarkan teriakan melengking saking marahnya , siap
menyerang lagi , bahkan sudah menundukkan kepala hendak
menyerang pula dengan rambutnya yang panjang . Akan
tetapi kembai pengemis muda itu berseru nyaring “ Heiiii ,
nenek gila ! Kalau ini berapa ? “ kembali dia mengacungkan
tiga buah jari. “ Kalau engkau bisa menebak , aku mengaku
kalah ! “ .
Nenek itu memandang dengan mata mendelik marah . “
Bocah gila , itu adalah tiga ! Nah , kau kalah dan berlututlah !
“ .
Akan tetapi oemuda itu sudah menekuk sebuah jarinya
sehingga yang nampak hanya dau buah jarinya dan dia
tertawa “ ha-ha-ha , nenek sinting bodoh lagi , siapa tidak
tahu bahwa jumlah jari ini hanya dua ? Mengapa mengatakan
tiga ? Nah , engkau yang kalah , berlututlah ! “
“ Tidak sudi ! Engkau yang kalah ! “ dan Liu Si sudah
menerjang dengan dahsyatnya saking marahnya . Pemuda itu
menjadi sibuk memutar tongkatnya untuk melindungi dirinya .
Terjadi satu pertandingan yang seru di samping pertandingan
pertama anatar Kui Mo dan Pek Mau To-kouw .
Dan ternyata pemuda pengemis itu benar-benar lihai ,
dapat mengimbangi serangan Liu Si yang dahsyat . Akan
tetapi setelah saling serang sebanyak belasan jurus , tiba-tiba
pemuda itu tertawa dan berkata lantang , meloncat keluar dari
gelanggang pertandingan .
“ Ha-ha-ha , aku tidak mau berkelahi lebih lama . Aku takut
ketularan menjadi gila kalau terlalu lama ! “
Liu Si marah dan hendak menyerang lagi , akan tetapi
dengan beberapa lompatan jauh pemuda itu telah pergi .
Sementara itu pertandingan antara Kui Mo dan Pek Mau Tokouw
telah berubah lagi . Kini Pek Mau To-kouw kembali
terdesak hebat oleh Kui Mo . Setelah tadi rahasia gerakan ilmu
tongkatnya diketahui oleh pengemis muda dan Pek Mau Tokouw
dapat memecahkan rahasia itu sehingga mampu
menandinginya .
Kui Mo yang berbalik terdesak kini mengubah ilmu silatnya .
Ilmu tongkatnya itu sama sekali berbeda dengan yang tadi
dan Pek Mau To-kouw menjadi terdesak dan terus mundur .
Pada suatu saat ujung tongkat Kui Mo terlibat kebutan
merah . Kui Mo tidak berusaha menarik tongkatnya karena
selain hal itu tidak ada gunanya juga dia dapat di serang oleh
pedang di tangan kanan to-kouw itu . Dia malah
menggerakkan tongkat , dan dengan ujung tongkat yang lain
dia menghantam ke arah lengan kiri To-kouw itu .
Pek Mau To-kouw terkejut bukan main . Bulu kebutannya
masih melibat tongkat dan kini lengannya terancam . Terpaksa
ia melepaskan kebutannya yang masih menempel pada
tongkat dan menggerakkan pedang di tangan kanannya untuk
mengirimkan tusukan kilat .
“ Traangg .... ! “ Pedang itu terpental karena kuatnya
tongkat itu menangkisnya . Kini Kui Mo telah berhasil
merampas kebutan berbulu merah dan dia melemparkan
kebutan itu kepada Kui Ji . Gadis gila itu menerimanya dan
dengan girang ia menari-nari dengan kebutan merah itu di
sekeliling Han Sin .
Setelah kehilangan kebutannya , Pek Mau To-kouw menjadi
semakin sibuk dan terdesak hebat . Melihat ketua mereka kini
terus mundur , para anak buah Hwa-li-pang maklum ketua
mereka terdesak. Mereka menjadi khawatir sekali akan tetapi
tidak berani turun tangan mencampuri tanpa perintah ketua
itu .
Tiba-tiba terdengar lagi suara nyaring bertemunya kedua
senjata dan sekali ini pedang Pek Mau To-kouw terlepas dari
tangannya dan terlempar jauh . Ia telah kehilangan kedua
senjatanya dan mau tidak mau to-kouw itu harus mengakui
keunggulan lawannya , Biarpun mukanya menjadi merah
karena marah dan penasaran , akan tetapi terpaksa ia
memberi hormat dengankedua tangan dapan dada .
“ Siancai ........ ! ' Ilmu kepandaian Kui-sicu amat hebat ,
saya mengaku kalah “ .
Kui Mo tertawa bergelak dan berkata dengan girangnya . “
Ha-ha-ha , bagus sekali . Jadi kami boleh tinggal di sini dan
merayakan pesta pernikahan anak kami disini ? “
“ Kami telah berjanji dan tidak akan mengingkari janji . Mari
kalian berempat ikut saya ke dalam dan akan saya berikan tiga
buah kamar untuk kalian . Akan tetapi ingat , janji ini hanya
untuk kalian berempat tinggal di sini sampai hari pesta
pernikahan . Kalau kalian membikin kacau disini , kami akan
mengeroyok kalian dengan semua anggota perkumpulan kami
“ .
“ Hik-hik-hik-hik , siapa hendak mengacau ? Kami adalah
keluarga terhormat , keluarga baik-baik !“ tiba-tiba Liu i
berkata dengan galak .
“ Ayah , ibu ! Aku ingin sekamar dengan suamiku ! “ Kui Ji
merengek .
“ Hushhhh , apa kau hendak melanggar adat istiadat !
Mantuku begitu mengenal adat kesopanan . Dia seorang
terpelajar tinggi , apa engkau tidak malu kepada suami mu ?
Sebelum menikah kalian tidak boleh sekamar , mengerti ? “
Bentak Kui Mo dengan lagak seolah dia seorang bangsawan
tinggi.
“ Tapi .... hemmm ... bagaimana kalau dia lari ? Aku akan
kehilangan dia .... ! Kui Ji membantah .
“ Siapa mampu melarikan diri kalau ada aku dan ibumu ?
Tiga kamar itu harus berjajar , kamar kami dipinggir , juga
kamarmu . Bagaimana mungkin dia dapat melarikan diri ? “ .
Kui Ji tidak merengek lagi . Percakapan itu di dengarkan
oleh semua orang dan mereka tidak peduli. Gadis berbaju
putih yang berada di antara tamu kuil , melihat dan
mendengar percakapan ini dan seperti yang lain , tahulah ia
bahwa pemuda pakaian putih itu seolah menjadi tawanan
keluarga gila itu . Agaknya mereka tawan dan mereka paksa
untuk menikah dengan gadis gila itu . Akan tetapi melihat
sikap pemuda itu yang tenang , mulutnya yang selalu
tersenyum , semua orang mengira bahwa pemuda itu tentu
seorang yang bodoh dan mungkin agak sinting juga ! .
“ Marilah kalian ikut saya “ , kata Pek Mau T-kouw tidak
sabar lagi melihat perbantahan antara keluarga gila itu .
Ia melangkah memasuki halaman di samping kuil menuju
ke bangunan besar yang menjadi tempat tinggalnya dan
menjadi pusat dari Hwa-li-pang . Empat orang itu
mengikutinya dan Han Sin di gandeng oleh Kui Ji . Semua
mata murid Hwa-li-pang mengikuti mereka dan setelah
mereka menghilang di balik pintu besar , ramailah mereka
membicarakan peristiwa itu .
“ Heran sekali mengapa pang-cu membiarkan mereka
tinggal di sini dan kelak merayakan pesta pernikahan orang
gila di sini ?” seorang di antara mereka mengomel .
“ Hemmm , Pang-cu adalah seorang yang berjiwa gagah ,
sekali berjanji tentu akan dipenuhinya , “ kata yang lain .
“ Akan tetapi keluarga gila itu telah merobohkan banyak di
antara kita ! Mestinya pang-cu membiarkan kita maju semua
dan mengeroyok keluarga gila itu . Banyak diantara kita sudah
dirobohkan dan sekarang mereka malah di biarkan tinggal di
sini ! Ini namanya penghinaan bagi Hwa-li-pang ! “ kata yang
lain lagi .
Gadis berpakaian putih yang sejak tadi mendengarkan
percakapan itu tiba-tiba berkata “ Kalian semua tidak mengerti
. Justeru karena keluarga gila itu telah merobohkan banyak di
antara kalian maka pang-cu kalian membiarkan mereka tinggal
di sini untuk sementara waktu “ .
Mendengar ucapan itu , semua anak buah Hwa-li-pang
menengok dan memandang kepada gadis itu penuh perhatian
. Ia adalah seorang gadis cantik jelita sekali , jarang mereka
bertemu dengan gadis secantik itu . Usianya sekitar
delapanbelas tahun . Gerak geriknya halus penuh kelembutan
, pakaiannya yang putih itu sederhana sekali namun bersih .
Wajahnya berbentuk bulat telur dengan dagu runcing dan
rambutnya hitam dan lebat sekali , di gelung ke atas dan di
tusuk dengan perhiasaan dari perak berbentuk burung merak .
Telinganya sedang besarnya , bentuknya indah dan tidak
memakai perhiasaan apapun . Sepasang alis yang kecil
hitammelengkung seperti di lukis itu melindungi sepasang
mata yang bersinar lembut namun berwibawa . Mata yang
amat indah bentuknya , dengan bulu mata yang lentik panjang
, hidungnya mancung , serasi dengan mulutnya yang juga
indah sekali , dengan sepasang bibir yang selalu merah
membasag , dengan lesung pipit di kanan kiri mulutnya .
Entah mana yang lebih indah , matanya ataukah mulutnya .
Keduanya merupakan daya tarik yang luar biasa dari pribadi
gadis ini . Bentuk tubuhnya sedang , pinggangnya ramping
dan jari-jari tangan yang tampak itu panjang dan mungil .
“ Hemmmm , apa alasannya engkau berkata begitu , nona ?
“ tanya seorang anak buah Hwa-li-pang , penasaran dan yang
lain juga memperhatikan untuk mendengar jawaban gadis itu .
“ Banyak di antara kalian telah di robohkan oleh keluarga
gila itu , akan tetapi siapakah diantara kalian yang tewas atau
terluka berat ? Tidak seorangpun ! Juga , ketua kalian
dikalahkan tanpa menderita luka .Apakah kalian tidak tahu
akan hal ini ? Ketua kalian mengetahuinya dan ia tentu
mengambil kesimpulan bahwa keluarga itu , walaupun gila ,
bukanlah orang-orang kejam atau jahat . Mereka bukan
datang untuk menghina atau mengacau , akan tetapi memang
ingin merayakan pesta pernikahan anak mereka . Karena
itulah ketua kalian itu dan sebagai seorang gagah yang
terhormat , ketua kalian memenuhi janjinya sikapnya itu
membuat semua orang merasa kagum kepadanya “ .
Para anggota Hwa-li-pang itu saling pandang dan mereka
tidak dapat membantah pendapat gadis itu yang dapat biacara
dengan lancar namun lembut .
“ Akan tetapi , nona kalau pesta pernikahan itu diadakan di
sini dan diketahui oleh dunia kang-ouw, bukankah
perkumpulan kami akan menjadi buah tertawaan mereka ? “
seseorang membantah .
Gadis itu mengangguk-angguk , “ kalau kalian
membolehkan aku bermalam disini , mungkin aku dapat
menemukan suatu jalan untuk menggagalkan pernikahan itu ,
agar mereka segera meninggalkan tempat ini “ .
Tentu saja semua anggota Hwa-li-pang menyetujui
permintaan itu . Gadis berpakaian serba putih ini seorang
wanita , maka tidak merupakan pantangan untuk bermalam di
kuil . Mereka lalu mengajak gadis itu yang datang ke kuil
seorang diri untuk memasuki kuil dan membicarakan urusan
itu di dalam. Sementara itu , para tamu segera pergi
meninggalkan kuil karena mereka merasa takut dengan
adanya keluarga gila di situ .
****
Gadis itu di jamu oleh para anggota Hwa-li-pang di
belakang kuil sambil bercakap-cakap membicarakan urusan
yang sedang terjadi di Hwa-li-pang .
“ Nona , kami semua mengharapkan bantuan nona untuk
memecahkan persoalan yang mengancam perkumpulan kami
ini . Akan tetapi sebelumnya kami ingin mengetahui siapakah
nona dan dimana tempat tinggal nona “ , kata kepala penjaga
kuil dengan sikap ramah .
Gadis itu meletakkan sepasang sumpitnya di atas meja . Ia
telah makan kenyang dan ia memberi isyarat agar
perlengkapan makan itu dibersihkan dari atas meja . Setelah
meja bersih , ia lalu memandang kepada orang-orang yang
merubungnya di ruangan belakang kuil itu .
“ Aku bermarga Kim dan namaku Lan . Aku seorang gadis
perantau yang tidak mempunyai tempat tinggal tetap dan aku
berasal dari barat , daerah pegunungan Kun-Lun “ .
“ Kim-siocia ( Nona Kim ) nampaknya lemah lembut sekali ,
akan tetapi kami yakin nona tentu memiliki ilmu kepandaian
tinggi ! “ kata seorang anggota Hwa-li-pang .
Kim Lan tersenyum manis , “ Semua orang tentu memiliki
sesuatu kepandaian tertentu , akan tetapi hanya orang bodoh
yang menyombongkan kepandaiannya itu . Aku hanya seorang
gadis biasa saja , tiada bedanya dengan para gadis lainnya .
“ Nona Kim , bagaimanakah caranya untuk mencegah
pernikahan gila gila itu ? “ tanya kepala penjaga kuil .
“ Kita melihat tadi . Pemuda yang hendak dinikahkan
dengan gadis gila itu agaknya berada dibawah tekanan
mereka . Dia tentu di tangkapdan dipaksa danmungkin sekali
dia di racuni . Aku pernah mempelajari tentang pengobatan
dan aku melihat tanda-tanda bahwa dia itu keracunan . Hal ini
perlu di selidiki lebih dulu untuk menentukan apa yang
selanjutnya akan kita lakukan .”
“ Akan tetapi bagaimana caranya untuk menyelidiki hal itu ?
Kalau kita langsung bertanya kepadanya , tentu keluarga gila
itu akan marah dan kita akan di pukul, juga belum tentu
pemuda itu berani bicara sebenarnya “ .
“ Jangan khawatir . Serahkan tugas itu kepadaku . Aku akan
menyamar sebagai seorang anggota Hwa-li-pang dan biarkan
aku membawakan makanan dan minuman untuk mereka ,
terutama untuk membawakan makanan ke kamar pemuda itu
. Aku yang akan menyelidiki “ .
Para anggota Hwa-li-pang bernapas lega . Mereka merasa
gentar untuk melayani keluarga gila itu . Baru membayangkan
melayani mereka , terutama kakek gila itu saja , mereka sudah
merasa ngeri . Apalagi kalau melayani sambil mencari
kesempatan bicara dengan pemuda tawanan mereka . Kalau
ketahuan , ah , mengerikan ! .
Baiklah , Kim-Sio-cia itu merupakan gagasan yang baik
sekali ! Akan tetapi selanjutnya bagaimana? “ tanya kepala
penjaga kuil .
“ Kalau dugaanku benar bahwa pemuda itu keracunan , aku
akan memberinya obat agar dia disembuhkan . Setelah itu aku
akan mencari akal untuk membebaskannya dari kurungan
keluarga itu. Kalau pemuda itu sudah bebas dan pergi dari sini
, maka tanpa kita usir lagi , keluarga gila itu pasti akan pergi
sendiri mencari pemuda itu “ .
Semua anggota Hwa-li-pang yang mendengar ini menjadi
gembira sekali . “ Nona Kim merupakan seorang penolong
besar dari perkumpulan kami ! “ kata mereka .
“ Sekarang harap kalian melapor kepada pang-cu kalian
tentang usahaku , karena sebelum mendapatkan ijin darinya ,
bagaimana aku berani melaksanakannya ? “ .
Kepala penjaga kuil bergegas pergi melapor dan mendengar
akan usaha gadis berpakaian putih untuk menolong Hwa-lipang
, Pek Mau To-kouw menjadi senang sekali . Ia pun
segera pergi ke kuil untuk menemui Kim Lan .
Kim Lan segera bangkit dari tempat duduknya ketika
melihat Pek Mau To-kouw memasuki ruangan itu dan memberi
hormat . Pek Mau To-kouw membalas dengan mengangkat
kedua tangan depan dada dan sejenak ia mengagumi
kecantikan gadis berpakaian serba putih itu .
“ Pang-cu , maafkan kelancanganku , “ kata Kim Lan .
“ Siancai ..... apakah nona yang bernama Kim Lan seperti
dilaporkan muridku tadi ? “ .
“ Benar , pang-cu “ kata Kim Lan .
“ Silahkan duduk , nona “ .
Mereka duduk kembali dan sejenak mereka saling pandang
. Kim Lan merasa kagum dan suka kepada To-kouw itu ,
seorang pendeta wanita yang rambutnya sudah putih semua
seperti benang perak , namun wajahnya masih sehat segar
kemerahan . Tentu dahulu To-kouw ini cantik sekali , pikirnya .
Gerak geriknya halus , namun ilmu silatnya tinggi .
“ Nona Kim Lan , sekarang ceritakan lebih dulu mengapa
nona bersusah payah hendak menolong Hwa-li-pang , padahal
pertolongan itu mungkin saja membahayakan keselamatan
nona sendiri ? “ To-kouw itu memandang penuh perhatian
seperti hendak menyelami hati gadis cantik itu .
“ Pang-cu , sudah menjadi kewajiban dalam hidupku untuk
berusaha sedapat mungkin membantu mereka yang sedang
berada dalam kesukaran maka melihat peristiwa tadi tentu
saja aku tidak dapat berpangku tangan tanpa mengulurkan
bantuan . Ada dua pihak yang terancam dan membutuhkan
bantuan , yaitu pemuda itu dan Hwa-li-pang . Karena itulah ,
aku hendak membantu sebisaku , tanpa pamrih dan untuk itu
aku berani menghadapi bahaya “ .
“ Siancai .... ! Nona masih begini mudah sudah memiliki
jiwa pendekar yang besar . Kami merasa kagum sekali , Nah ,
sekarang jelaskan bantuan sapa yang dapat kauberikan untuk
mengatasi gangguan ini . Kami sudah memberikan janji
kepada keluarga gila itu untuk tinggal di sini sampai pesta
pernikahan dilangsungkan dan kami tidak akan mengingkari
janji “ .
“ Tidak perlu mengingkari janji , pang-cu . Kita harus
berusaha agar mereka itu pergi sendiri tanpa kita minta . Dan
kuncinya ada pada pemuda yang akan mereka nikahkan
dengan puteri mereka itu . Kalau pemuda itu dapat kita
loloskan dari sini , aku yakin keluarga gila itupun akan pergi
sendiri mencarinya dan meninggalkan Hwa-li-pang ini “ .
Pek Mau To-kouw mengangguk-angguk “ memang bisa
terjadi . Akan tetapi aku melihat pemuda itu seperti seorang
totol . Bagaimana mungkin dia dapat melepaskan diri dari
pengejaran mereka. Biarpun andaikata kita dapat meloloskan
dia akan tetapi kalau dia tertawan kembali , tentu mereka
akan kembali ke sini “ .
“ Pemuda itu tidak tolol , pang-cu . Akan tetapi dia
keracunan “ .
“ Keracunan ? Bagaimana engkau bisa tahu bahwa dia
keracunan , nona ? “ .
“ Pang-cu , sejak kecil aku sudah mempelajari ilmu
pengobatan maka dari gejala-gejala yang dapat kulihat dari
wajah dan sikap pemuda itu , aku tahu di di racuni oleh
keluarga itu .
Untuk menekannya agar dia mau dinikahkan dengan gadis
itu . Tanpa paksaan , bagaimana mungkin ada pemuda mau di
jodohkan dengan seorang gadis gila ?” .
Kembali Pek Mau To-kouw mengangguk-angguk “ Engkau
benar sekali , nona . Akan tetapi yang kukhawatirkan ,
andaikata engkau dapat menyembuhkannya dia dapat
meloloskan diri , tentu keluarga gila itu akan mengejar dan
mencarinya . Pemuda itu kelihatan tolol dan mana mampu
menolak keinginan mereka ? “ .
“ Itu soal nanti , pang-cu . Yang terpenting , aku akan
memeriksa pemuda itu dan mengobatinya sampai sembuh .
Kemudian , soal pelariannya dapat kita rundingkan kembali .
Bisa saja kita menggunakan akal misalnya kalau pemuda itu
melarikan diri ke timur , kita ramai-ramai mengatakan bahwa
pemuda itu lari ke lain jurusan . Dan siapa tahu , pemuda itu
dapat menyembunyikan dirinya dan dapat mengharapkan
bantuan orang lain “ .
“ Baiklah , nona . Agaknya engkau telah mempunyai
rencana yang demikian matangnya . Sungguh
menganggumkan sekali dan aku menyetujui semua apa yang
hendak nona kerjakan “ . To-kouw itu lalu mengundurkan diri
kembali ke rumahnya karena ia tidak ingin keluarga gila yang
lihai itu mengetahui tentang pertemuannya dengan Kim Lan .
Ketika berjalan perlahan kembali ke rumahnya , to-kouw itu
masih mengangumi gadis yang cantik luar biasa dan pandai
membawa diri , bicaranya teratur dan sopan , dan
kecerdikannya luar biasa . Tiba-tiba teringatlah ia kepada Ang
Swi Lan , puterinya sendiri yang di culik orang sejak kecil dan
sampai sekarang tidak ada kabarnya itu .
Ia melamun , kalau Swi Lan masih berada padanya , tentu
kini usianya sebaya dengan gadis berpakaian putih itu . Ia
merasa isi kepada orang tua Kim Lan . Betapa bahagianya hati
orang tua Kim Lan mempunyai seorang anak sepertinya .
Di dalam sebuah kamar di kuil itu , Kim Lan berdandan . Ia
mengenakan pakaian yang biasa di pakai anggota Hwa-li-pang
, yang biasa menjadi pelayan, mengubah gelung rambutnya
dikuncir ke belakang dan diikat pita hijau seperti semua
anggota Hwa-li-pang , kemudian ia membawa baki berisi
mangkok makanan dan poci minuman , keluar dari kamar itu .
Kepala penjaga menjaga kuil menghampirinya dan memeriksa
keadaan pakaian dan rambutnya , dan mengangguk-angguk ,
tanda bahwa penyamaran Kim Lan cukup baik . Kemudian Kim
Lan membawa baki itu melalui jalan tembusan menuju ke
rumah induk dimana empat orang tamu itu berada . Tentu
saja ia sudah mempelajari dengan seksama letak dan keadaan
rumah induk itu , dimana kamar-kamar yang di tempati
keluarga gila itu , dan dimana pula kamar untuk Han Sin .
Tibalah ia di sebuah lorong dimana kamar-kamar itu
berjajar . Ia sudah di beritahukan bahwa kamar pertama
merupakan kamar suami istri gila itu , kamar ke dua adalah
kamar pemuda itu dan kamar ketiga kamar si gadis gila . Ia
harus pergi ke kamar nomor dua .
Kim Lan memperingan langkahnya , dengan hati-hati ia
melewati kamar pertama . Akan tetapi tiba-tiba berkelebat dua
bayangan orang dan tahu-tahu di depannya telah berdiri
suami istri gila itu . Wajah Kim Lan berubah pucat dan
matanya terbelalak ketakutan .
“ Hik-hik-hik , siapa kau dan mau apa datang ke sini “ “
Bentak nenek gila itu sambil menyerengai .
Saking kaget dan takutnya , Kim Lan hanya terbelalak dan
tidak mampu menjawab . Kui Mo memegang pundak gadis itu
dan mengguncangnya .
“ Hayo jawab ! Siapa engkau dan mau apa berkeliaran di
sini ! “ .
“ A......ku ... pelayan dan di ..... di suruh mengantar
makanan ini ke kamar nomor dua .........” jawabnya dengan
suara gemetar .
“ Eihhhhh ! Kenapa tidak ke kamar nomor satu lebih dulu ?
Seharusnya kami yang lebih dulu dikirim makanan !” bentak
Liu Si .
“ Menurut pang-cu , makanan untuk pengantin pria harus
didahulukan , barulah pengantin wanita dan orang tuanya ,
yang akan di antar oleh pelayan lain “ jawab Kim Lan dengan
hati-hati sekali .
“ Oh , ha-ha-ha , pang-cu itu benar , isteriku ! Harus
menaati adat istiadat ! Nah , biarlah mantuku mendapatkan
kiriman lebih dulu , hayo kit masuk ke kamar ! “ dua orang itu
berkelebat dan sudah kembali ke kamar mereka . Setelah
mereka pergi , barulah sikap ketakutan yang dibuat-buat tadi
hilang dari wajah Kim Lan . Ia melangkah maju lagi
menghampiri pintu kamar nomor dua . Ia mengetuk perlahan .
Tidak ada jawaban , akan tetapi pendengarannya yang terlatih
baik itu dapat mendengar gerakan orang di sebelah dalam
kamar itu . Ia mengetuk lagi , tiga kali .
“ Tuk-tuk-tuk ! “
“ Siapa diluar ?” terdengar pertanyaan suara wanita , dekat
sekali ! Dengan daun pintu .
“ Pelayan , mengantar makanan untuk kong-cu ( tuan muda
) ! “ kata Kim Lan .
Daun pintu terbuka dari dalam dan Kui Ji yang menyambut
Kim Lan di depan pintu , dengan tongkat ularnya siap di
tangan untuk menyerang . Kim Lam memperlihatkan wajah
ketakutan.
“ Nona , saya hanya pelayan yang di haruskan mengantar
makanan untuk tuan pengantin “ Katanya . Kim Lan melihat
pemuda berpakaian putih itu duduk di depan dan sepasang
mata pemuda itu memandang kepadanya penuh selidik ,
kemudian mata itu terbelalak tanda bahwa pemuda itu telah
mengenalnya dan mengetahui bahwa ia bukan seorang
pelayan .
“ Hik-hik-hik , bagus , bagus ! Bawa makanan masuk untuk
suamiku “ Lalu ia membalik dan berkata kepada Han Sin “
Suamiku , engkau telah dikirimi makanan dan minuman ,
nikmatilah hidanganmu ! Hai , kau ! Letakkan saja baki itu di
atas meja . Aku sendiri yang akan melayani suamiku . Engkau
pelayan cantik pergilah saja . Cepat ! “ .
Akan tetapi Kim Lan menghadapi Kui Ji dengan berani . Dua
pasang mata itu bertemu pandang . Mata Kim Lan penuh
wibawa dan mulutnya berkemak-kemik ,lalu tangan kiri gadis
itu di angkat keatas , jari-jari tangannya bergerak di depan
muka Kui Ji . Aneh sekali , Kui Ji lalu terhuyung ke tempat
tidur , menguap dan mengeluh . “ Ahhhhh , ngantuk sekali
........ ingin tidur ......... “ Dan ia menjatuhkan diri rebah di
pembaringan , terus pulas ! .
Sejak gadis itu masuk , Han Sin sudah memandangnya
dengan heran sekali . Begitu melihat wajah itu dan bertemu
pandang , dia merasa sudah pernah melihatnya dan kemudian
dia teringat . Gadis berpakaian serba putih itu ! Menyamar
sebagai pelayan ! Apa maunya ? Dia mengamati terus dan
melihat betapa dua orang gadis itu saling berhadapan , betapa
pelayan itu mengangkat tangan menggerak-gerakkan jarinya
dan pandang matanya terhadap Kui Ji demikian mencorong
penuh wibawa , ketika melihat Kui Ji terhuyung , kemudian
menjatuhkan diri dipembaringan terus pulas , dia terkejut
bukan main . Pernah dia mendengar dari gurunya TiongGi
Hwesio , tentang adanya semacam ilmu yang di sebut i-hunto-
hoat ( hypnotism ) , yaitu ilmu mempengaruhi pikiran orang
lain .
Dengan ilmu itu orang dapat menguasai pikiran orang lain
dan menyuruh orang itu berbuat apa saja sekehendak hati
orang yang menguasai ilmu itu . Apakah gadis ini tadi
menggunakan i-hun-to-hoat itu ? Gurunya mengatakan bahwa
ilmu itu termasuk ilmu sesat karena biasanya di gunakan
orang untuk perbuatan jahat , makanya gurunya melarang dia
mempelajari ilmu semacam itu .
“ Nona .... “ katanya akan tetapi pelayan itu menaruh
telunjuk di depan bibirnya yang merah membasah sambil
menuding ke arah kamar sebelah yang ditempati suami istri
gila . Dia mengerti bahwa berbicara keras dapat terdengar
oleh kedua orang yang lihai itu dan dia mengangguk .
Kim Lan melangkah ringan sekali menghampiri Han Sin
yang sudah bangkit berdiri dan gadis itu berbisik lirih “ Engkau
keracunan “ .
Han Sin terbelalak memandang gadis itu dengan kagum , “
Benar , bagaimana engkau bisa tahu ?“ katanya berbisik .
“ aku akan mengobatimu akan tetapi aku harus tahu lebih
dulu racun apa yang memasuki tubuhmu“ .
“ Aku terkena racun pelemas otot “ kata Han Sin . “ nenek
gila itu yang melukaiku “ .
Gadis itu mengangguk-angguk “ Duduklah , aku akan
memeriksamu sebentar dan buka baju atasmu “ .
Han Sin masih merasa heran sekali dan kagum , akan tetapi
dia menurut . Dia duduk di atas bangku dan menanggalkan
bajunya . Tanpa ragu lagi ia lalu memeriksa kedua pundak ,
dada dan pergelangan tangan pemuda itu .
“ Aku tahu mereka bukan orang-orang kejam . Racun ini
tidak membahayakan nyawamu , hanya membuat otot-ototmu
lemas , aku dapat mengobatimu “ .
Gadis itu lalu mengeluarkan beberapa batang jarum emas
dan perak yang di bungkus rapi dari balik bajunya . Kemudian
ia mulai menusukkan jarum-jarum itu pada jalan-jalan darah di
tubuh Han Sin . Kemudian ia mengeluarkan sebungkus obat
bubuk merah dan mencampurnya dengan air the yang tadi
dibawanya . “ Minumlah ini “ .
Han Sin menaati permintaannya . Setelah kurang lebih
seperempat jam , mereka dikejutkan oleh ketukan pada pintu
dua kamar di sebelah .
“ Jangan takut , itu tentu pelayan yang mengantar makanan
kepada suami istri itu dan kepada kamar gadis ini “ .
Dari kamar itu mereka dapat mendengar suara tawa
bergelak dan cekikikan dari suami isteri yang menerima
kiriman makanan dan minuman . Kim Lan membuka daun
pintu perlahan dan melihat pelayan masih mengetuk pintu
kamar Kui Ji , ia lalu menggapai dan pelayan itu
menghampirinya dan berkata “ Nona , ini makanan dan
minuman untuk nona “ .
Kim Lan mengangguk dan mengedipkan matanya , lalu
menyuruh pelayan itu pergi setelah ia menerima baki terisi
makanan dan minuman itu dan meletakkan nya di atas meja .
Pintu kamar di tutup nya kembali dan ia melanjutkan
pengobatannya . Setelah jarum-jarum itu di getar-getarkan
beberapa kali , ia mencabuti kembali jarum-jarum itu . Lalu
diperiksanya badan Han Sin .
Han Sin merasa betapa kini dia mampu menggerakkan sinkangnya
. Pada saat di menggerakkan sin-kangnya , Kim Lan
sedang memeriksa nadinya dan gadis itu terkejut bukan main ,
cepat melepaskan lengan Han Sin “ Aih , engkau memiliki sinkang
yang kuat sekali “ katanya lirih sambil memandang
dengan heran kepada pemuda itu .
Akan tetapi Han Sin seperti tidak mendengar ucapan itu.
Dia terlalu girang dan cepat-cepat dia menjura sampai dalam
di depan gadis itu .
“ Nona , Banyak terima kasih ku haturkan kepadamu .
Engkau telah menyembuhkan ku . Aku sudah terbebas dari
pengaruh racun itu ! “ .
“ Bagus , akan tetapi harap jangan tergesa-gesa mencoba
untuk membebaskan diri . Mereka itu terlalu lihai dan kalau
engkau melarikan diri sekarang , tentu mereka akan
mencurigai pelayan dan orang-orang Hwa-li-pang , Mungkin
mereka menjadi marah dan mengamuk di sini . Karena itu ,
kalau hendak melarikan diri , tunggu sampai malam nanti “ .
“ Aku mengerti , nona . Akan ku taati petunjuk mu . Akan
tetapi , siapakah engkau nona ? Aku harus mengetahui nama
penolongku ........... “
Kim Lan tersenyum dan memandangnya . Pertemuan dua
pasang sinar mata itu membuat Han Sin terpesona . Dia
merasa seolah-olah sepasang mata itu mengeluarkan sinar
yang langsung menembus menghujam ulu hatinya ! .
“ Tidak perlu kau ingat lagi sedikit bantuan ini , hati-hati ,
bersikaplah biasa seperti tadi , dan katakan bahwa pelayan
datang mengirim makanan untuknya . Ajaklah dia makan
minum agar ia bergembira dan tidak menaruh curiga “ . Kim
Lan cepat keluar dari kamar itu dan ketika di ambang pintu , ia
membalik , memandang ke arah tubuh Kui Ji , lalu ia
mengangkat tangan kirinya , jari-jari tangannya bergerak ke
arah Kui Ji .
Aneh sekali , Kui Ji menguap dan mengeluh , kemudian
bergerak . Akan tetapi daun pintu telah tertutup kembali dan
Kim Lan sudah pergi dari situ .
“ Aihhhhh ........ aku mengantuk . Ehhhhhhhh ? Apa aku
tertidur ? “ Kui Ji memandang pada Han Sin .
“ Hemmm , engkau tertidur pulas sampai tidak tahu ada
pelayan mengantar makanan ke kamar mu . Aku suruh ia
menaruhnya di atas meja ini . Marilah kita makan , perutku
sudah lapar “ .
“ Hik-hik-hik , engkau mengajak aku makan ? He-he , nah
begitulah suamiku , bersikaplah manis dan mencintaiku , habis
siapa lagi ? “ Dalam ucapan yang janggal ini terkandung
penyesalan dan diam-diam Han Sin merasa kasihan kepada
gadis yang seolah haus akan kasih sayang ini .
Mereka lalu makan minum dan Han Sin benar-benar
bersikap ramah kepada Kui Ji ehingga gadis ini menjadi
semakin kegirangan . Akan tetapi setelah selesai makan , Han
Sin minta agar Kui Ji kembali ke kamarnya .
“ Sekarang kembalilah ke kamarmu , adik Kui Ji yang baik .
Aku ingin beristirahat “ .
Kui Ji dengan manja menggandeng lengan Han Sin , “
Aihhh , suamiku kenapa aku tidak boleh beristirahat
bersamamu di kamar ini ? “
“ Jangan Kui Ji , kalau saja mertua melihatnya tentu dia
akan menjadi marah “ sekali ini Han Sin bicara dengan keras
dengan harapan agar terdengar oleh suami isteri yang berada
di sebelah .
“ Aaih , suamiku .... “ Kui Ji masih membantah dan
merengek . Tiba-tiba daun pintu terbuka dan muncullah Kui
Mo dan Liu Si .
“ Kui Ji , apa yang kau lakukan di sini ? Tidak tahu aturan
kau ! Hayo kembali ke kamarmu . Mana ada pengantin wanita
berkeliaran ke kamar pengantin pria , padahal mereka belum
menikah dengan sah ? “ .
Liu Si menghampiri anaknya dan menjewer telinganya , lalu
dituntunnya keluar dari kamar itu sambil mengomel .
Kui Mo memandang Han Sin sambil tersenyum menyerengai
dan mengangguk .
“ Bagus , mantuku . Engkau harus mengajar kesopanan
kepada anakku itu ! “ . Lalu dia membalikkan diri dan keluar
dari kamar itu dengan langkah lebar .
Han Sin menutupkan daun pintu kamarnya lagi dan
memasang palang pintunya . Dia tidak mau di ganggu lagi .
Lalu dia duduk bersila di atas pembaringan dan menggerakkan
kedua tangan , menyembah ke atas lalu kedua tangan di tarik
ke bawah , melewati dada sampai ke ta-tian . Semua ini dia
lakukan sambil mengerahkan tenaga sin-kangnya dan ia
merasa betapa seluruh tubuhnya di jaliri hawa hangat itu .
Tidak ada otot yang buntu . Kesehatannya pulih sama sekali !
Tentu saja dia merasa girang bukan main dan sepasang mata
yang indah itu tiba-tiba terbayang olehnya . Pemilik sepasang
mata itulah yang telah menyelamatkannya . Tidak mungkin dia
dapat melupakan mata itu . Dia lalu memejamkan mata dan
duduk bersemedhi untuk menghimpun kekuatannya .
*****
Sesosok bayangan hitam dengan gesitnya berjalan di atas
kuil Hwa-li-pang . Langkah-langkahnya bagaikan langkah
seekor kucing saja , tidak mengeluarkan bunyi . Para anggota
Hwa-li-pang yang tinggal di kuil itu sama sekali tidak
mendengar apa-apa . Akan tetapi tidak demikian dengan Kim
Lan . Gadis cantik yang malam itu tinggal di kuil , dari dalam
kamarnya ia dapat mengetahui bahwa di atas genteng kuil ada
seorang yang sedang berjalan dengan gerakan ringan .
Pendengarannya yang terlatih dapat menangkah langkahlangkah
itu , walaupun hampir tidak mengeluarkan bunyi . Ia
tersenyum dan meniup lilin di atas mejanya , membuka daun
jendela kemudian melompat keluar dari jendela . Ketika ia tiba
diluar dan memandang ke atas , dilihatnya sesosok bayangan
hitam berkelebat cepat sekali . Ia pun cepat melompat naik ke
atas atap kuil , melakukan pengejaran .
Bayangan hitam itu kelihatan terkejut ketika tiba-tiba ada
bayangan putih berkelebat dan tahu-tahu di depannya berdiri
seorang gadis cantik berpakaian erba putih . Akan tetapi
bayangan hitam itu tidak sempat lari melarikan diri dan dia
menghadapi Kim Lan dengan tongkat di tangan .
“ Hemmm , bukankah engkau pengemis yang tadi pagi
minta sepatu dari ketua Hwa-li-pang ?” Tegur Kim Lan sambil
memandang tajam .
Cuaca hanya mendapat penerangan dari bintang-bintang
sehingga keadaannya hanya remang-remang saja , akan tetapi
Kim Lan dapat mengenali pengemis muda yang pagi tadi
bertanding melawan nenek gila .
“ he-he ,dan bukankah engkau gadis berpakaian putih yang
pagi tadi bersembahyang di kuil ? “ pengemis muda itu balas
menegurnya .
“ Mau apa engkau datang ke kuil malam-malam begini dan
mengambil jalan seperti seorang penjahat ? Apakah engkau
hendak mencuri atau merampok sesuatu di kuil ini ?” Kim Lan
menegur pula .
“ Dan engkau sendiri , bukan penghuni kuil mengapa
tinggal di sini ?” Pengemis muda itu balas menegurnya .
Kim Lan berpikir sejenak . Agaknya pengemis muda itu
bukan penjahat dan ia sendiri baru saja kembali dari rumah
induk setelah berhasil mengobati pemuda yang di tawan
keluarga gila itu . Kalau terlalu lama mereka berdua bicara di
atas kuil , mungkin saja akan terlihat oleh keluarga gila itu
yang berada di rumah induk . Ia harus berhati-hati .
“ Sobat , marilah kita bicara di bawah ! “ katanya dan Kim
Lan mendahului pengemis itu melayang ke bawah .
“ Baik ! Aku memang membutuhkan penjelasanmu ! ' kata
di pengemis yang juga melayang turun . Hampir berbareng
mereka tiba dibawah dan dan kaki mereka tidak menimbulkan
suara ketika mereka hinggap di atas lantai . Dari gerakan ini
saja keduanya mengerti bahwa mereka berhadapan dengan
seorang yang memeliki gin-kang ( ilmu meringankan tubuh )
yang baik sekali .
Kini mereka dapat saling pandang dengan jelas , dibawah
sinar lampu gantung . Pada saat itu , anggota Hwa-li-pang
yang menjadi kepala penjaga kuil , terbangun dan mendengar
percakapan itu iapun keluar dari kamarnya dan memandang
heran kepada pengemis muda itu .
“ Heiii ! Laki-laki dilarang memasuki kuil ! Dan bagaimana
engkau dapat masuk ke sini ? “ Bentaknya .
“ Ssstttt , aku bukan penjahat “ , pengemis muda itu
menaruh jari telunjuknya di depan mulut . “Mari kita bicara di
dalam “ .
Mereka lalu memasuki ruangan belakang dan Kim Lan
memandang tajam lalu bertanya “ Sobat , engkau harus
menjelaskan kepada kami apa maksudmu melam-malam
begini memasuki kuil lewat atap ? “ .
“ Aku hendak menyelidiki dimana keluarga gila dan pemuda
berpakaian putih itu berada “ , jawab si pengemis muda .
“ Mau apa engkau menyelidiki itu ?”
“ Nona baju putih , apakah engkau tidak melihat ? Keluarga
gila itu jahat dan meraka telah menawan pemuda pakaian
putih itu yang hendak di nikahkan dengan puteri keluarga gila
. Aku yakin bahwa pemuda itu di tekan dan terpaksa menuruti
kehendak mereka . Karena itu aku ingin membebaskannya dari
cengkraman keluarga gila it ! “ .
Mendengar ini dan menatap sepasang mata yang tajam itu ,
Kim Lan merasa lega . “ bagus sekali kalau begitu karena
akupun mempunyai niat yang sama . Kalau begitu kita dapat
bekerja sama , sobat ! “ .
Pengemis muda itu memandang gembira , “ Ah , begitukah
? Aku pergi tadi melihat nona di antara mereka yang
sembahyang , tidak ku sangka sama sekali bahwa nona adalah
seorang gadis yang berilmu tinggi dan aku senang sekali
bekerjasama dengan nona untuk menolong pemuda tolol yang
menjadi tawanan itu ! “ .
“ Akupun senang dapat bekerjasama denganmu , adik yang
baik . Akan tetapi bolehkah kami mengetahui namamu dan
siapa pula gurumu ? “ .
Pemuda pengemis itu tersenyum dan wajahnya yang
berlepotan itu nampak tampan sekali ketika ia tersenyum .
“ Enci yang baik , namaku Cu Sian dan tentang guruku , dia
adalah mendiang ayahku sendiri . Aku berasal dari Tiangan “ .
“ Kuharap aku salah menyangka ketika menanyakan tadi
apakah engkau hendak mencuri atau merampok , ' kata Kim
Lan .
“ Ternyata engkau hendak menolong pemuda itu ,
maafkanlah aku dan namaku adalah Kim Lan “ .
Pengemis itu mengerutkan alisnya dan cemberut . “ Ensi
Lan , jangan memandang remeh kepadaku . Biarpun aku
seperti kere begini , akan tetapi aku tidak pernah mencuri atau
merampok . Bekalku cukup banyak , lihatlah “ Dia
mengeluarkan sebuah kantung kain dari sakunya dan
membuka kantung itu . Ternyata isinya penuh dengan
potongan-potongan emas .
Kim Lan tersenyum “ Aku tadi sudah minta maaf , adik Cu
Sian . Sekarang aku ingin bertanya
bagaimana caramu hendak menolong pemuda itu ? “ .
“ Bagaimana lagi ? Tentu dengan mencari kamarnya , kalau
sudah kudapatkan , aku memasuki kamarnya , menotoknya
dan membawanya lari keluar dari sini ! “ .
“ Aihhh , engkau terlalu memandang ringan keluarga gila itu
. Mereka itu sungguh lihai dan kalau engkau menggunakan
cara itu , sebelum memasuki kamar pemuda itupun engkau
sudah akan ketahuan dan di keroyok . Pagi tadi engkau sudah
merasakan betapa hebatnya kepandaian nenek gila itu .
Puterinya juga lihai , apalagi suaminya “ .
“ Aku tidak takut !” Pengemis muda itu berkata dengan
nada menantang .
“ Bukan soal takut atau berani , “ kata Kim Lan yang
wataknya sabar dan tenang . “ Akan tetapi kalau terjadi begitu
, berarti engkau telah gagal membebaskan pemuda itu .
Sebaliknya kalau engkau bekerjasama dengan kami , tentu
akan berhasil “ .
Cu Sian segera memperhatikan gadis itu dengan mata
mengandung penuh pertanyaan . “ Bagaimana caranya , enci
? Katakanlah , tentu saja aku suka bekerjasama denganmu
agar usaha kita berhasil menyelamatkan pemuda tolol itu “ .
Kim Lan tersenyum mendengar pemuda itu di tolol-tololkan
oleh pengemis muda itu . “ Kalau dia itu pemuda tolol ,lalu
kenapa engkau berkeras menolongnya ? “ .
“ Enci Lan , justeru karena dia tolol maka aku ingin
menolongnya ! Kalau dia tidak tolol, tidak mungkin akan dapat
di tawan keluarga gila itu ! Nah, bagaimana cara kita untuk
membebaskannya ?“.
Begini , malam ini sebaiknya engkau jangan bertindak .
Kalau engkau bertindak , bukan saja engkau akan gagal , akan
tetapi juga keluarga gila itu akan mencurigai Hwa-li-pang dan
tentu akan membalas dendam kepada Hwa-li-pang .
Sebaiknya besok malam saja engkau datang lalu kita
mengatur siasat agar pemuda itu dapat lolos akan tetapi
keluarga gila itu tidak menuduh Hwa-li-pang ikut bersekutu
untuk membebaskan tawanan mereka “ , Kim Lan lalu dengan
singkat menceritakan betapa ia telah mengobati pemuda
tawanan itu yang ternyata keracunan . Kemudian mereka
bercakap-cakap bertiga , membicarakan rencana mereka
untuk membebaskan pemuda itu besok malam . Setelah itu ,
Cu Sian lalu meninggalkan kuil itu karena bagaimanapun juga ,
Kepala penjaga kuil merasa keberatan kalau seorang pria
bermalam di kuil itu .
Pada keesokan harinya , keluarga gila itu masih belum
menaruh curiga . Han Sin bersikap biasa saja , tetap kelihatan
lemas tak berdaya dan hanya senyum-senyum ketololan ,
Mereka kelihatan senang tinggal di Hwa-li-pang , namun
ternyata bahwa keluarga ini tidak membuat ulah yang macammacam
.
Malamnya , semua telah direncanakan oleh Kim Lan dan Cu
Sian . Bahkan Han Sin telah diberitahu oleh Kim Lan dengan
cara menyeludupkan tulisan ketika ia menyamar sebagai
pelayan dan mengirim makanan ke kamar Han Sin . Dari surat
yang di selundupkan itu Han Sin mengetahui bahwa gadis
berpakaian putih bermata bintang itu telah menyusun rencana
untuk menyelamatkannya dan meloloskannya tanpa membuat
keluarga gila itu mencurigai Hwa-li-pang . Maka , malam itu
diapun sudah siap siaga , menanti gerakan pengemis muda
yang di ceritakan dalam surat Kim Lan . Pengemis muda itu
akan memancing agar suami isteri gila itu meninggalkan
kamar mereka di sebelah kamarnya .
Pek Mau To-kouw juga sudah tahu akan rencana itu , dan ia
bersikap biasa pura-pura tidak tahu saja . Demikian pula ,
semua anak buah Hwa-li-pang di pesan agar malam itu tidak
mencampuri keributan yang terjadi situ , kecuali belasan orang
yang berjaga yang diberi tugas untuk mengeroyok Cu Sian
kalau pengemis muda itu muncul . Tentu saja pengeroyokan
inipun hanya siasat Kim Lan saja .
Malam itu sunyi karena hawa udara di luar amat dinginnya .
Juga cuaca hanya remang-remang oleh cahaya jutaan bintang
. Tiba-tiba keheningan malam itu dipecahkan oleh suara yang
lantang , yang datangnya dari halaman rumah induk Hwa-lipang
.
“ Haiiii .... ! Nenek gila , keluarlah kalau memang engkau
berani dan gagah ! Kita lanjutkan pertandingan kita kemarin
dulu ! Hayo keluar ! Apakah engkau pengecut gila yang tidak
berani menyambut tantangku ! “ .
Mendengar teriakan lantang ini , belasan orang anggota
Hwa-li-pang yang pada malam hari itu bertugas jaga , segera
berlari-lari mendatangi halaman itu . Di situ telah berdiri
seorang pengemis muda berbaju hitam yang memegang
tongkat .
“ Pengemis kurang ajar ! Hayo minggir dari sini ! “ Bentak
para penjaga dan mereka segera mengepung dan mengeroyok
pengemis muda . Cu Sian , pengemis itu melayani
pengeroyokan mereka dengan tongkatnya dan dalam
beberapa gebrakansaja sudah ada empat orang anggota Hwali-
pang yang terpelanting ke kanan kiri ! .
“ Heeiii , Nenek gila ! Pengecut kau , berlindung di belakang
orang-orang Hwa-li-pang ! Hayo keluar , nenek pengecut gila !
“ Cu Sian memaki-maki dengan suara lantang sambil
berlompatan ke sana kemari melayani pengeroyokan para
penjaga itu . Kembali dua orang terpelanting roboh oleh
sapuan tongkatnya .
Teriakannya yang lantang itu tentu saja terdengar oleh
suami istri gila yang berada di kamar mereka . Liu Si menjadi
marah sekali karena dia di tantang dan dimaki pengecut .
“ Jahanam busuk , itu tentu pengemis kelaparan itu !”
bentaknya dan ia pun melompat keluar dari kamarnya . Kui Mo
yang tidak ingin melihat isterinya celaka , segera melompat
pula mengejar isterinya menuju ke halaman depan . Mereka
berdua segera melihat betapa pengemis muda yang kemarin
dulu berkelahi dengan Liu Si mengamuk dan merobohkan
banyak anggota Hwa-li-pang sehingga kepungan itu menjadi
kocar kacir .
Liu Si marah sekali . “ Setan cilik , kiranya engkau yang
mengantar kematian ! Mundur kalian semua ! “ teriaknya .
Mendengar teriakan ini , sisa anggota Hwa-li-pang yang
mengepung Cu Sian segera mundur dan membiarkan nenek
itu menghadapi Cu Sian .
Melihat nenek itu , Cu Sian tertawa bergelak , “ ha-ha-ha ,
ku kira engkau hanya seorang nenek pengecut yang
berlindung pada Hwa-li-pang . Kalau memang berani dan
gagah , mari kita berkelahi sampai mati diluar agar orangorang
Hwa-li-pang tidak mengeroyok ku ! “ etelah berkata
demikian , dia tidak memberi kesempatan kepada nenek itu
untuk menjawab karena tubuhnya sudah melompat jauh dan
berlari keluar dari pintu halaman .
“ Setan , siapa takut padamu ! “ Liu Si membentak dan ia
pun lari keluar mengejar . Suaminya juga mengejar , akan
tetapi anak buah Hwa-li-pang tidak ada yang ikut mengejar ,
seolah tidak mau terlibat urusan keluarga gila itu .
Teriakan Cu Sian yang memecahkan kesunyian malam itu
terdengar pula oleh Han Sin dan Kui Ji . Gadis gila yang tak
pernah melepaskan perhatiannya terhadap Han Sin , segera
keluar dari kamarnya dan menerjang daun pintu kamar Han
Sin sehingga terbuka . Ia meloncat ke dalam memegang
tongkat ularnya . Ia melihat Han Sin juga sudah bangun dari
tidurnya dan pemuda itu duduk bersila di atas pembaringan ,
Kui Ji tertawa girang .
“ Suamiku yang baik , engkau terbangun oleh ribut-ribut itu
? Jangan takut , aku datang melindungimu “ Kui Ki
menghampitri pembaringan .
Han Sin tersenyum , kesehatannya telah pulih dan kalau dia
menghendaki tentu saja sejak pagi tadi dia dapat melarikan
diri atau kalau perlu melawan keluarga gila itu . Akan tetapi
dia menaati pesan dalam surat nona baju putih itu . Dia harus
melarikan diri sehingga tidak melibatkan Hwa-li-pang .
“ Kui Ji , sekarang tiba saatnya aku membebaskan diri
darimu ! “ berkata demikian , Han Sin melompat turun dari
pembaringan . Melihat gerakan Han Sin yang gesit . Kui Ji
terkejut dan heran , akan tetapi tentu saja ia tidak ingin Han
Sin melarikan diri maka ia lalu menyerang dengan tongkat
ularnya untuk menotok roboh pemuda itu . Makin terkejutlah
Kui Ji ketika tongkat itu dengan mudah di tangkap oleh Han
Sin dan sekali pemuda itu mendorong Kui Ji terjengkang dan
terguling-guling di lantai kamar . Gadis itu melihat Han Sin
meloncat keluar jendela . Ia juga meloncat bangun , dan
melakukan pengejaran keluar dari jendela kamar itu .
Setibanya diluar jendela , ia menengok ke kanan kiri karena
tidak melihat bayangan Han Sin , mendadak ada bayangan
putih berkelebat di depan kiri dan bayangan putih itu berlari
memasuki kebun samping bangunan . Kui Ji girang dan
meloncat mengejar sambil berteriak “ suamiku ... tunggu
........ jangan tinggalkan aku ........ “ .
Bayangan putih itu berlari terus dan setibanya di pagar
tembok belakang . Ia melompat ke atas pagar tembok dan
dari situ melayang keluar . Kui Ji tidak mau kehilangan yang di
kejarnya , maka ia pun meloncat naik ke atas pagar tembok .
Dari atas pagar ini dilihatnya bayangan putih itu berlari
menuju ke selatan , maka iapun melayang keluar pagar
tembok dan terus mengejar ke selatan .
Akan tetapi setelah tiba di luar sebuah hutan , tiba-tiba
bayangan putih di depan itu lenyap .Kui Ji menjadi bingung
dan menghentikan larinya , hanya berjalan sambil memandang
ke kanan kiri . Ketika melihat seorang yang berpakaian putih
sedang duduk di bawah pohon , iapun cepat menghampiri .
Akan tetapi setelah tiba di depan orang itu , ia merasa kecewa
karena orang itu adalah seorang wanita berpakaian putih ,
bukan Han Sin ! .
“ Hei , kau .......... ! “ tegurnya . “ Apakah engkau melihat
suamiku yang juga berpakaian putih – putih lewat sini tadi ?” .
Orang itu bukan lain adalah Kim Lan . Seperti yang telah di
rencanakan , malam itu ia menanti di dekat jendela kamar Han
Sin , siap membantu kalau-kalau pemuda itu mengalami
kesulitan melepaskan diri dari pengejaran Kui Ji . Akan tetapi
ia me lihat Han Sin keluar dari jendela dan berlari menuju ke
belakang bangunan seperti direncanakan pemuda itu telah
lenyap ketika Kui Ji nampak keluar dari jendela itu . Maka , ia
melakukan tugasnya yang kedua , yaitu memancing Kui Ji
untuk mengejarnya ke jurusan yang berlawanan dengan
larinya Han Sin . Ia berhasil , karena cuaca yang gelap
membuat ia hanya kelihatan seperti bayangan putih , seperti
juga Han Sin yang berpakaian serba putih . Ia menggunakan
gin-kang untuk berlari keluar dari kebun dan menuju ke hutan
itu .
Padahal , seperti rencana Han Sin berlari ke jurusan yang
berlawanan , yaitu ke utara . Setelah yakin bahwa pemuda itu
sudah dapat berlari juah dan Kui Ji kehilangan jejaknya . Ia
lalu berhenti di bawah pohon sampai di tegur oleh Kui Ji .
Jilid 6
“ Suamiku ? Aku tidak melihat seorangpun di sini ? “
“ Jangan bohong ! Engkau menyembunyikan suamiku , ya ?
Engkau , harus di hajar dulu untuk mengaku ! “ Dan gadis gila
itu lalu menyerang Kim Lan dengan tongkatnya . Serangannya
itu berbahaya sekali mengancam jalan darah . Akan tetapi
dengan gerakan yang ringan dan indah . Kim Lan dapat
menghindarkan diri dari serangan tongkat .Ia berkelebat ke
sana sini untuk mengelak dan ketika kedua tangannya
bergerak , lengan bajunya yang panjang itupun menyambar
dari kanan kiri dan menyerang dengan tak kalah dahsyatnya !
Kui Ji terkejut dan menjadi penasaran . Dalam cuaca yang
remang-remang itu kedua orang gadis bertanding ,
mengandalkan ketajaman mata yang menembus cuaca
remang-remang dan ketajaman telinga untuk mengikuti
gerakan lawan . Setelah menandingi Kui Ji selama belasan
jurus , Kim Lan melompat ke belakang .
“ Sobat , kalau engkau menyerangku , berarti engkau
membuang waktu dan suamimu itu tentu sudah pergi jauh
sekali . Kau akan kehilangan dia ! “ .
Mendengar ini , Kui Ji merasa Khawatir sekali dan ia pun
cepat meloncat , lari pulang ke Hwa-li-pang sambil menangis .
Setibanya di halaman rumah induk , ia melihat ibunya sedang
bertanding melawan pengemis muda . Pertandingan itu amat
seru dan keduanya berimbang , saling serang dan saling desak
. Ayahnya hanya menonton saja dan Kui Ji sudah mengenal
watak ayahnya . Kalau tidak terpaksa sekali ayahnya pantang
mengeroyok lawan .
“ Ayah ,.... Ibu .... ! Tolonglah aku ......... aku kehilangan
suamiku ......... “ teriak Kui Ji sambil menangis . Mendengar ini
, ibunya yang sedang bertanding itu meloncat ke belakang dan
pengemis muda itu berkata sambil tertawa .
“ Ha-ha-ha , engkau nenek gila lihai juga . Biar lain kali saja
kita lanjutkan pertandingan ini ! Setelah berkata demikian
diapun melompat jauh ke belakang lalu melarikan diri keluar
dari halaman itu .
Pada saat itu muncullah Pek Mau To-kouw dengan kebutan
bulu merah di tangannya . Ia pun muncul sesuai rencana .
Dengan wajah tegang ia menghampiri keluarga gila itu dan
bertanya “ Sian-cai .... apa yang telah terjadi di sini ? Mengapa
ribut-ribut ini ? “ .
' Pengemis setan itu datang mengganggu menantang aku !
“ kata Liu Si .
“ Suamiku melarikan diri ! Ayah ...... ibu .... suamiku
melarikan diri ...... dia meninggalkan aku ........... hu-hu-huuu
... “
“ Sumimu lari ? Kemana larinya ? “ Pek Mau To-kouw
bertanya .
“ Biar kutanyakan kepada anak buah ku . Heeiii , muridmurid
Hwa-li-pang , apakah ada yang melihat kemana larinya
calon pengantin pria itu ? “ To-kouw itu bertanya dengan
suara lantang .
“ Kami melihat dia lari ke arah barat ! “ terdengar jawaban .
“ Tidak , kami melihat pemuda baju putih itu lari ke timur !
“ seru yang lain .
“ Celaka , celaka ....... aku kehilangan mantu ! “ Kui Mo
mencak-mencak dengan marah . “ Hayo kita kejar dia ! “ Tiga
orang ayah ibu dan anak itu lalu berlari dengan cepat
meninggalkan tempat itu untuk melakukan pengejaran .
Akan tetapi biar semalam mereka mengejar dan mencaricari
, mereka tidak menemukan jejak Han Sin . Pemuda ini
berlari ke utara ,akan tetapi keluarga gila itu mencarinya ke
selatan , barat dan timur ! Akhirnya mereka putus asa dan
kembali ke tempat tinggal mereka sendiri . Setelah Kui Mo
berpesan kepada Pek Mau To-kouw bahwa kalau mantu nya
kembali ke kuil itu harus cepat memberi kabar kepada mereka
di bukit siluman , tempat tinggal mereka . Tentu saja Pek Mau
To-kouw dan seluruh anggota Hwa-li-pang merasa gembira
sekali . Mereka bersukur dan berterima kasih kepada Kim Lan
yang telah mengatur siasat dengan baiknya sehingga keluarga
gila itu meninggalkan Hwa-li-pang dengan tenang . Juga
mereka berterima kasih kepada pengemis muda bernama Cu
Sian itu yang telah membantu sehingga siasat itu dijalankan
dengan hasil baik . Akan tetapi mereka agak kecewa karena
kedua orang penolong itu telah pergi tanpa pamit lagi
sehingga mereka tidak sempat menghaturkan terima kasih
mereka .
****
Han Sin berlari terus ke utara sampai dia tiba di sebuah
hutan bambu . Tempat inilah yang dimaksudkan oleh gadis
baju putih itu dalam suratnya dan agar pelarian dari keluarga
gila benar-benar aman , dia diminta untuk bersembunyi di
dalam hutan itu . Han Sin tersenyum sendiri , kenapa dia
harus bersembunyi ? Dia tidak takut lagi kepada keluarga gila
itu setelah kini tenaganya pulih . Tadinya dia melarikan diri
hanya untuk memenuhi pesan gadis baju putih agar
pelariannya dari keluarga gila itu tidak melibatkan Hwa-li-pang
.
“ Kenapa mesti bersembunyi di sini ? “ bisiknya kepada diri
sendiri . Sebetulnya , ingin dia me lanjutkan perjalanan ke
utara dimana mendiang ayahnya gugur dalam dalam perang
melawan Bangsa Turki dan Mongol .
Akan tetapi biarlah , dia membantah dirinya sendiri . Gadis
baju putih itu telah memesan demikian dan tidak enaklah dia ,
sebagai orang yang ditolong mengabaikan permintaannya itu .
Pesan dalam surat itu agar dia bersembunyi di hutan bambu
itu melewatkan malam .
Han Sin memasuki hutan kecil itu . Dia memilih sebuah
tempat yang bersih dibawah rumpun bambu . Tanah ditilami
daun-daun bambu kering sehingga enak untuk dipakai duduk ,
bahkan berbaring sekalipun . Ujung bulan yang kecil
melengkung muncul di angkasa timur , emdatangkan sinar
yang lumayan , sehingga cuaca tidaklah segelap tadi . Han Sin
tidak berani tidur karena berada di tempat asing . Dia hanya
duduk bersila di atas tilam daun bambu itu dan menghimpun
tenaganya .Buntalan pakaiannya dia letakkan di depannya .
Ternyata ketika dia tiba dihutan bambu itu , malam telah
larut sekali dan sebentar saja langit di timur mulai terbakar
cahaya kemerahan . Pagi telah mendatang tanpa terasa lagi .
Pendengaran Han Sin demikian tajamnya sehingga dia telah
mengetahui bahwa ada orang sedang berjalan di dalam hutan
itu menuju ke tempat ia duduk . Kaki yang menginjak daundaun
bambu itu tetap saja menimbulkan suara walaupun
orang itu menggunakan ilmu meringankan tubuhnya . Ia
menanti dengan jantung berdebar , kalau yang muncul itu
keluarga gila , ketiganya sekalipun , dia tidak akan merasa
tegang dan gentar . Akan tetapi yang membuat jantungnya
berdebar adalah dugaan bahwa yang muncul itu si nona
bermata indah ! .
Setelah langkah kaki itu tiba dekat , barulah dia membuka
matanya memandang dan degup jantungnya semakin kuat
ketika pandang matanya bertemu lagi dengan sepasang mata
indah lembut itu !
Nona baju putih itu telah berada di depannya dan sepagi itu
telah kelihatan demikian segar bagaikan setangkai bunga
tersiram embun pagi . Han Sin terpesona dan sampai lama dia
hanya memandang saja tanpa dapat mengeluarkan suara .
Kim Lan dapat melihat sikap Han Sin yang bengong seperti
orang bingung itu dan ia menduga bahwa sikap Han Sin itu
karena rasa takut dan tegangnya , mengira yang datang
tentulah keluarga gila yang di takutinya . Kim Lan memegang
tangannya ke atas dan menghampiri pemuda itu .
“ Sobat , jangan takut , tenangkan hatimu . Keluarga gila
itu telah pergi dan tidak dapat menangkapmu “ . Ia tersenyum
menghibur sedemikian manis nya sehingga Han Sin makin
terpesona . Akhirnya dia dapat juga membuka mulut dan
bersuara “ Ah , nona penolong . Banyak terima kasih atas
semua usahamu untuk membebaskan diriku dari cengkraman
keluarga gila itu “ .
Kim Lan tersenyum “ sudahlah , tidak perlu berterima kasih
. Semua ini berkat kerjasama yang baik , mendapat bantuan
pengemis muda itu dan para anggota Hwa-li-pang . Aku
datang ke sini untuk melihat apakah engkau sudah dengan
selamat tiba di sini dan kedua kalinya , aku ingin bertanya
kepadamu “ .
Han Sin bangkit berdiri dan kini dia sudah dapat menguasai
jantungnya yang berdebar . Dia memandang nona itu dengan
sinar mata berseri , hatinya terasa senang bukan main dan
senyumnya melebar .
“ Nona hendak bertanya padaku ? Tanya lah , apa saja
boleh kau tanyakan ! “ jawabnya penuh gairah .
Kim Lan memandang dengan tajam dan gadis ini mendapat
kenyataan bahwa Han Sin tidak lagi kelihatan seperti seorang
pemuda tolol seperti ketika masih menjadi tawanan keluarga
gila . Ia segera dapat menarik kesimpulan bahwa pemuda ini
telah bermain sandiwara dan pada hakekatnya tidaklah bodoh
atau tolol . Kini dia kelihatan sebagai seorang pemuda yang
cerdik dan lincah gembira .
“ Aku ingin bertanya dimana tempat tinggal keluarga gila itu
? “ .
“ Hemmm , kenapa engkau ingin mengetahui tempat
tinggal mereka , nona ?” .
“ Aku ingin berkunjung ke sana “ .
Han Sin terkejut dan memandang gadis itu dengan mata
terbelalak .
“ Nona , jangan main-main ! “ .
“ Siapa yang main-main ? Aku memang benar akan
berkunjung ke tempat tinggal mereka “ .
“ Wah , itu berbahaya sekali ! Kenapa nona hendak
mengunjungi mereka ? “ .
“ Hemmm , aku hendak berusaha untuk menyembuhkan
mereka dari sakit gila mereka itu “ .
Mata Han Sin makin terbelalak lebar , “ Eehhh ? Tapi ......
kenapa nona hendak bersusah payah mengobati orang-orang
gila itu ? “ .
Kim Lan tersenyum , tidak jengkel dengan pertanyaan –
pertanyaan yang di berondongkan Han Sin Kepadanya . “ Heii
, aku mengajukan pertanyaan satu kali belum kau jawab ,
malah engkau menghujani aku dengan pertanyaan “ .
“ Karena pernyataan mu itu amat aneh , nona . Nah ,
jawablah dulu , kenapa nona hendak mengobati mereka ?” .
“ Aku melihat bahwa mereka itu bukanlah orang-orang
jahat . Biarpun lihai dan gila , mereka tidak pernah
merobohkan orang dengan luka berat , apalagi tewas . Dan
aku melihat ketidak wajaran dan kegilaan mereka , bukan gila
karena otaknya rusak , melainkan gila karena keracunanan .
Karena itulah maka aku ingin mengobatinya . Nah , sudah
jelaskah jawabanku dan memuaskan hatimu ?” .
Han Sin mengangguk-angguk dan pandang matanya
memancarkan kekaguman “ sungguh belum pernah aku
bertemu seorang yang memiliki pribadi sedemikian tingginya
sepertimu nona . Akan tetapi sebelum aku menjawab , ingin
kuperingatkan kepadamu bahwa mereka benar-benar gila dan
mereka lihai bukan main . Aku khawatir , engkau tidak akan
dapat mengobatinya , malah engkau yang akan menjadi
tawanan mereka “ .
“ Untuk apa mereka menawanku ? Yang mereka butuhkan
adalah seorang pemuda untuk dijodohkan dengan puteri
mereka “ , kata Kim Lan . “ Sudahlah sobat , beritahukan
padaku dimana tempat tinggal mereka itu “ .
“ Akan kuberitahukan kalau nona sudah memperkenalkan
nama nona . Nona telah bersusah payah menolongku , aku
telah berhutang budi , sungguh tidak layak kalau aku tidak
mengetahui namamu . Namaku sendiri adalah Cian Han Sin .
Nah , maukah nona memperkenalkan nama nona ? “ .
Dengan senyum penuh kesabaran Kim Lan menjawab ,”
Aku bermarga Kim dan namaku Lan “ . “ Nona Kim Lan ? Aih
sebuah nama yang indah bukan main , sedap di dengar , Nah
, kalau ingin mengetahui tempat tinggal mereka , di sebelah
selatan bukit yang di sebut Bukit Siluman . Di Sanalah mereka
tinggal menempati sebuah rumah dari kayu dan bambu yang
terpencil sendiri . Akan tetapi kuperingatkan padamu , nona
Kim Lan , bahwa mendatangi mereka adalah berbahaya sekali
“ .
“ Terima kasih dan tentang bahaya , seorang yang
bermaksud baik tidak takut menghadapi bahaya apapun . Aku
ingin mnyembuhkan mereka dari sakit gila itu , apa yang perlu
kutakuti ?” . Kim Lan lalu memutar tubuhnya dan berkelebat
cepat lenyap dari hutan bambu itu .
Han Sin tertegun . Seorang gadis yang hebat , pikirnya .
Kecantikannya luar biasa , cerdik , pandai ilmu silat dan ilmu
pengobatan , bahkan kalau dia tidak salah menduga , gadis itu
pun pandai ilmu sihir yang diperlihatkan ketika gadis itu
menyamar sebagai pelayan datang ke kamarnya dan membuat
Kui Ji tertidur sejenak . Dan di samping semua kehebatan itu ,
masih di tambah lagi dengan hati yang murni seperti emas !
Akan tetapi ia berada dalam bahaya , pikir Han Sin , teringat
akan aneh dan gilanya watak keluarga gila itu . Kim Lan
terancam bahaya ! Pikiran ini membuat Han Sin cepat
menyambar buntalan pakaiannya , menggendongnya di
punggung dan cepat diapun berlari keluar hutan itu dan
membayangi perjalanan gadis berpakaian putih .
*****
Pagi itu cerah sekali . Matahari telah naik dan sinar
matahari pagi yang hangat menghidupkan itu menyinari
permukaan bumi . Seekor burung yang bulunya berwarna
kuning dan ekornya hitam berloncatan dari ranting ke ranting ,
gerakannya menggugurkan mutiara-mutiara embun yang
bergantung di ujung daun-daun pohon . Gerakannya lincah
sekali dan matanya penuh kewaspadaan mengamati
sekelilingnya . Sejak dapat terbang sendiri burung ini telah
terlatih oleh lingkungan dan matanya hanya memperhatikan
dua hal mencari makanan dan melihat apakah ada bahaya
mengancam dirinya . Ia berhenti bergerak dan dengan
kecepatan luar biasa paruhnya yang agak panjang berwarna
hitam itu meluncur ke depan . Seekor ulat telah di jepit
paruhnya . Ulat itu meronta-ronta namun tidak dapat terlepas
dan setelah beberapa kali burung itu memukul-mukulkan ulat
itu pada ranting pohon , ia lalu membuka paruhnya dan
menelan ulat itu . Hukum alam pun terjadilah . Yang mati
memberi kekuatan kepada yang hidup .
Tiba-tiba terdengar suara tawa terkekeh-kekeh dari bawah
pohon dan burung itu secepat kilat terbang dan pergi . Gadis
itu masih terkekeh-kekeh , sejak tadi dia mengamati gerak
gerik burung itu dan entah mengapa ia terkekeh . Mungkin dia
melihat sesuatu yang lucu , yang tidak akan terlihat oleh orang
lain yang keadaannya tidak sepertinya . Ia adalah Kui Ji , gadis
gila itu . Suara tawanya mengerikan bagi orang lain , apalagi
tawa itu terdengar di dalam hutan yang jarang di datangi
manusia . Tentu akan di sangka tawa siluman .
Akan tetapi , suara tawa itu terhenti mendadak dan kini ia
menangisi entah apa yang di tangisinya tidak ada orang
mengetahui , karena ia menangis begitu tiba-tiba tanpa sebab
. Tak lama kemudian tangis itupun berubah menjadi tawa lagi
. Gadis gila itu seperti terombang-ambing di antara tawa dan
tangis . Kita manusia pada umumnya juga di ombangambingkan
dalam kehidupan ini oleh tawa dan tangis . Hanya
jaraknya saja yang agak lama , hari ini tertawa , hari lain
menangis , atau setidaknya pagi tertawa sore menangis ,
sedangkan gadis gila itu menangis dan tertawa bergantian .
Kim Lan sudah mendengar tawa dan tangis itu ketika ia
memasuki hutan di lereng bukit siluman . Gadis yang baru
berusia delapan belas tahun ini memang bukan gadis biasa ,
sikap nya begitu tenang dan tabah . Mendengar suara yang
bagi orang lain akan menimbulkan rasa ngeri dan takut itu , ia
malah tersenyum . Ada kegirangan terbayang di wajahnya
yang jelita . Ia telah menemukan yang di carinya , maka tanpa
ragu lagi ia cepat berkelebat ke arah suara tawa dan tangis itu
.
Kim Lan me lihat Kui Ji sedang memetik bunga dan
mengumpulkan bunga-bunga itu di keranjang . Ia merasa
terharu , kegilaan agaknya tidak dapat melenyapkan naluri
kewanitaannya yang menyukai bunga . Ketika memperoleh
setangkai bunga mawar hutan merah , Kui Ji tertawa girang
,lalu memasang bunga itu di atas rambutnya , kemudian ia
menari-nari .
“ Sekarang aku seperti puteri kaisar .............hik-hik-hik ,
aku menjadi puteri kaisar .... “ ia menari-nari akan tetapi
hanya sebentar dan kini ia sibuk lagi mengumpulkan bunga
yang di petiknya . Pada saat itu Kim Lan keluar dari balik
pohon dan dengan lembut dan hati-hati ia menegur “ Enci
yang cantik seperti puteri kaisar ! “ .
Kui Ji membalikkan tubuhnya , cepat sekali dan matanya
memandang kepada Kim Lan .
Sukar di duga apa yang berada dalam hatinya ketika ia
melihat Kim Lan . Ada heran , kaget , curiga akan tetapi juga
gembira .
“ apa yang kaukatakan tadi ?” tanyanya .
“ Engkau enci yang cantik seperti puteri kaisar ! “ kata pula
Kim Lan sambil melangkah maju mendekat .
Sepasang mata itu berbinar-binar “ aku memang puteri
kaisar , ayahku menjadi kaisar dan ibuku menjadi permaisuri ,
hik-hik-hik !” .
' Engkau memang cantik dan hebat , puteri . Akan tetapi
engkau sedang menderita sakit dan aku datang
menghadapmu untuk menolongmu dan mengobatimu “ .
Kui Ji berhenti tertawa dan memandang kepada Kim Lan
dengan mata bingung “ Apa katamu ? Aku sakit ? Tidak , aku
tidak sakit “ .
Kim Lan menatap wajah itu dengan sepasang mata yang
bersinar-sinar . Ia menggerak-gerakkan jari tangannya dan
berkata penuh wibawa , “ Enci yang baik , engkau sedang
sakit , sakit berat sekali ! “ .
Kui Ji memandang sepasang mata yang bersinar itu dan
diapun kelihatan seperti tertegun dan termenung , lalu berkata
perlahan seperti orang berbisik “ Ya , aku sakit , sakit berat
sekali ........ “ .
“ Dan aku akan mengobati dan menyembuhkan mu , enci “
.
' Ya ... ya .... kau akan mengobati dan menyembuhkan aku
“ .
Kim Lan lalu mengeluarkan segulung tali sutera hitam dari
saku bajunya dan ia mengikat kaki tangan Kui Ji dengan tali
itu . Kui Ji hanya nampak bingung sejenak , akan tetapi sama
sekali tidak melawan ketika kaki tangannya diikat .
“ Untuk mengobatimu , aku harus mengikat kaki tanganmu
“ , katanya .
“ Ya , kau harus mengikat kaki tanganku .... “ Kui Ji berkata
seperti orang bermimpi .
“ Tiba-tiba terdengar teriakan melengking dan sesosok
bayangan berkelebat . Kim Lan dengan tenang bangkit berdiri
sedangkan Kui Ji tetap rebah telentang dengan tangan kaki
terikat . Ternyata Liu Si , nenek gila itu telah berada di situ .
“ Kau .... mata-mata musuh ! Kau apakan anakku ?
Kubunuh kau ! “ teriaknya marah dan ia sudah menerjang
kepada Kim Lan dengan senjata cambuknya yang meledakledak
.
Dengan tenang namun gesit sekali Kim Lan mengelak
dengan lompatan ke samping , lalu mengangkat tangannya '
sabar dulu , bibi . Aku bukan mata-mata musuh , aku datang
untuk mengobati anakmu ! “ .
“ Bohong kau ! Mata-mata musuh dan hendak membunuh
kami semua . Akan tetapi engkau tidak dapat membunuh kami
. Aku akan membunuhmu lebih dulu , hik-hik-hik !” dan nenek
itu menyerang lagi , kini lebih dahsyat . Terpaksa Kim Lan
melompat jauh ke belakang untuk menghindarkan diri dari
pecutan cambuk dan cengkraman tangan kiri itu . Gadis ini
lalu mengerahkan kekuatan sihirnya mengangkat kedua
tangan dan matanya mencorong lalu membentak dengan
suara lantang berwibawa .
“ Bibi , pandanglah aku . Aku harus kautaati ! Nah , cepat
berlutut dan tunduklah kepalamu . Hayo , taati perintahku ! ' .
Pengaruh yang amat kuat seolah menekan Liu Si . Ia
berusaha melawan akan tetapi akhirnya ia menjatuhkan diri
berlutut dan menundukkan mukanya . Rambutnya yang
panjang riap-riapan itu tergantung sampai menyentuh tanah .
“ Bagus , sekarang aku juga akan mengobatimu karena
engkau sakit , bibi . Dan untuk pengobatan itu aku harus
mengikat kaki tanganmu ,' kata Kim Lan dan ia menghampiri
nenek yang sudah berlutut itu .
Tiba-tiba sekali , nenek itu terkekeh dan tubuhnya yang
berlutut itu dan tubuhnya yang berlutut itu bergerak bangkit
dengan cepat , cambuk dan rambutnya menyambar ke depan
! .
Kim Lan terkejut bukan main . Tidak di sangkanya sama
sekali nenek itu dapat membebaskan diri dari pengaruh
sihirnya . Agaknya nenek ini memiliki sin-kang yang sudahkuat
sekali sehingga sihirnya hanya sebentar saja dapat
mempengaruhinya . Ujung cambuk dan ujung rambut itu
menyambar dengan cepat dan kuat . Kim Lan tidak sempat
lagi mengelak atau menangkis , maka ia menggerakkan kedua
tangannya dan dengan jurus Burung Bangau Mematuk Ular
kedua tangan itu mencuat ke depan dan ia sudah berhasil
menangkap ujung cambuk dengan tangan kirinya dan ujung
rambut dengan tangan kanannya . Liu Si menarik-narik
cambuk dan rambutnya akan tetapi Kim Lan mempertahankan
. Selagi mereka tarik itu tiba-tiba Liu Si menggerakkan kedua
tangan ke depan , membentuk cakar setan hendak
mencengkram dada Kim Lan . Pada saat yang amat berbahaya
bagi Kim Lan itu mendadak muncul han Sin di belakang Liu Si
dan sekali Han Sin menggerakkan jari tangannya menotok ,
nenek gila itu mengeluh dan roboh terkulai .
“ Sudah kukatakan bahwa mereka itu berbahaya sekali ,
nona Kim Lan , “ kata Han Sin .
“ Ah , engkau ? Terima kasih atas bantuanmu “ , kata Kim
Lan lalu mengeluarkan tali sutera hitam dan mengikat pula
kedua kaki tangan Liu Si .
“ Mengapa kau lakukan itu , nona ?” .
“ Kulakukan apa ?” balas tanya Kim Lan .
“ Mengikat kaki tangan mereka “ .
“ Hemmm , dengan menotok mereka sudah cukup
membuat mereka tidak akan memberontak , mengapa harus
mengikat mereka ?” Han Sin bertanya pula sambil memandang
dengan alis berkerut karena dia tidak setuju dengan cara
mengikat mereka itu .
Kim Lan melanjutkan mengikat kaki tangan Liu Si tanpa
menjawab . Setelah selesai , barulah ia bangkit berdiri ,
memandang Han Sin dengan matanya yang indah lalu berkata
dengan tenang “ Aku sendiri juga tidak suka harus mengikat
kaki tangan mereka , akan tetapi apa boleh buat , terpaksa ku
lakukan . Kalau menotok mereka hal itu akan mengganggu
pengobatanku “ .
Kini kedua orang wanita , ibu dan anak itu sudah menyadari
akan keadaan diri mereka yang terikat , maka mereka mulai
meraung-raung dengan marahnya . Kui Ji berteriak-teriak
sambil menangis sedangkan Liu Si berteriak-teriak sambil
memaki dan mengancam .
“ Kasihan mereka ... “ kata Han Sin .
“ Sengaja ku biarkan mereka berteriak-teriak untuk
mengundang datangnya kakek gila itu . Diapun harus di
tangkap dan di ikat seperti ini . Setelah itu barulah aku dapat
melaksanakan pengobatan tanpa gangguan , “kata Kim Lan .
“ Sebaiknya kalau kita bersembunyi dulu , menanti
kedatangannya “ .
Gadis itu menyelinap ke balik pohon dan terpaksa Han Sin
mengikutinya walaupun hatinya masih ragu apakah perbuatan
gadis itu benar . Dia pun bersembunyi di balik pohon , tak
jauh dari tempat Kim Lan bersembunyi . Dia memandang
kepada gadis itu . Ketika Kim Lan menoleh , dua pasang mata
bertemu pandang dan agak nya gadis itu dapat melihat
keraguan terbayang dalam pandang mata pemuda itu . Kim
Lan tersenyum dan berkata “ bersabarlah nanti engkau akan
melihat sendiri caraku ini yang terbaik untuk mengobati
mereka “ .
“ Sssshhhh ..... ! “ desis Han Sin karena dia sudah
mendengar teriakan-teriakan dari jauh . Teriakan ini makin
dekat dan tak lama kemudian muncullah Kui Mo dengan
tongkat di tangannya . Biarpun hatinya merasa tidak puas
dengan cara yang dipakai Kim Lan untuk mengobati keluarga
gila itu , akan tetapi melihat munculnya Kui Mo , Han Sin
menjadi khawatir kalau gadis baju putih itu akan celaka di
tangan orang gila yang amat lihai ini . Karena itu dia
mendahului keluar dari persembunyiannya menghadapi Kui Mo
.
Kui Mo menggereng marah melihat isterinya dan anaknya
dibelenggu , tak berdaya rebah di atas rumput . Ketika tibatiba
Han Sin muncul , kemarahannya lalu di timpakan kepada
pemuda ini .
“ kau .... ? Engkau telah melarikan diri dan sekarang
engkau menangkap isteri dan anakku ? “ Kau memang pantas
di hantam dengan tongkatku ! “ . Dia menerjang dengan
gerakan dahsyat sekali kepada Han Sin .
Kim Lan yang bersembunyi dan mengintai itu mengenal
serangan yang amat dahsyat dan ia terkejut bukan main . Tak
disangkanya bahwa orang gila itu demikian hebat ilmu silatnya
. Ia mengkhawatirkan keselamatan Han Sin dan siap-siap
untuk membantunya .
Akan tetapi dengan cekatan Han Sin sudah mengelak dari
serangan dahsyat itu dengan memainkan ilmu silat Lo-hai-kun
( Silat Pengacau Lautan ) .
Dia tidak hanya mengelak , akan tetapi juga membalas
dengan serangan untuk merobohkan lawan . Perkelahian itu
berlangsung seru dan nampaknya ilmu silat Lo-hai-kun itu
masih belum mampu menandingi ilmu tongkat Kui Mo .
Pemuda itu mulai terdesak oleh hujan serangan tongkat yang
dilakukan oleh kakek gila itu . Selagi Kim Lan merasa khawatir
dan hendak turun tangan membantu , tiba-tiba Han Sin
mengubah gerakan silatnya . Ketika tongkat menyambar dan
menusuk ke arah ulu hatinya . Han Sin menangkis dengan
dengan gerakan lengan memutar sambil mengeluarkan suara
melengking .
“ Krraaakk !” Tongkat itu patah-patah dan sebelum kakek
itu hilang kagetnya , Han Sin telah berhasil menotok
pundaknya , membuat kakek itu terpelanting dan lemas tak
mampu bergerak lagi . Han Sin telah mengeluarkan jurus ilmu
silat Bu-tek-cin-keng yang hebat . Bukan main kagumnya hati
Kim Lan me lihat betapa Han Sin dapat merobohkan kakek gila
itu tanpa melukainya . Ia sendiri setelah melihat ilmu tongkat
kakek itu , merasa tidak sanggup menandinginya . Segera ia
meloncat dan sudah siap dengan tali sutera nya yang amat
kuat itu dan dibantu oleh Han Sin , ia segera mengikat kaki
dan tangan Kui Mo .
Tanpa berkata apapun Kim Lan segera mulai melakukan
pemeriksaan kepada tiga orang itu , denyut nadi mereka ,
pernapasan mereka dan ketika ia menekan tengkuk mereka ,
tiga orang gila itu mengeluh kesakitan .
“ Hemmm , sudah kuduga . Mereka keracunanan . Sobat
Cian Han Sin , apakah tempat tinggal mereka masih jauh dari
sini ?” .
Han Sin sejak tadi memandang gadis itu yang melakukan
pemeriksaan dan dia merasa kagum sekali . Begitu tenang dan
percaya penuh kepada diri sendiri ! .
Gadis yang hebat , tentang kepandaiannya mengobati , dia
tidak sangsi lagi karena dia sendiri yang mengalami
kesembuhan dari pengaruh racun ketika di obati oleh gadis
bernama Kim Lan ini .
“ Tidak , rumah mereka di lereng sana “ , jawabnya .
“ Kalau begitu , bantulah aku mengangkut mereka ke sana .
Tidak enak mengobati mereka di tempat terbuka seperti ini “ .
“ Baik , akan ku bawa suami isteri ini dan engkau membawa
gadis itu ,” kata Han Sin sambil mengangkat tubuh Kui Mo dan
Liu Si lalu di panggul di kedua pundaknya . Kim Lan
memandang dengan senang dan sikap Han Sin ini menambah
rasa sukanya kepada pemuda yang pandai membawa diri itu .
Kalau Han Sin memilih untuk memanggul Kui Ji , maka
kesannya tentu lain . Ia pun cepat mengangkat tubuh Kui Ji
yang lemas dan memanggulnya . Tiga orang yang tidak waras
otaknya itu memaki-maki di sepanjang perjalanan , akan tetapi
karena mereka tidak mampu menggerakkan kaki tangan
mereka , mereka pun tidak dapat berbuat sesuatu .
Setelah tiba di rumah besar sederhana itu , mereka lalu
merebahkan tiga orang gila itu di atas pembaringan . Han Sin
mengeluarkan tiga pembaringan dari dalam kamar dan
menjajarkan tiga tempat tidur di ruangan tengah dan di situlah
tiga orang itu direbahkan .
Dengan demikian , Kim Lan akan lebih mudah mengobati
mereka dalam waktu yang bersamaan .
' Tolong jaga mereka , aku akan mencari air , “ kata Kim
Lan . Han Sin mengangguk dan gadis itu lalu pergi ke bagian
belakang rumah itu , mencari dapur karena disana tentu ada
persediaan air minum keluarga itu .
Ketika ia memasuki dapur rumah itu , ia mengerutkan
alisnya dan hidungnya yang macung itu berkembang kempis
karena ia mencium sesuatu yang baunya aneh dan keras .
Kemudian setelah mencari-cari , ia menemukan sumber bau
itu , di atas tanah , tumbuh banyak sekali jamur yang
warnanya merah darah . Kim Lan tertarik sekali , lalu
berjongkok memeriksa jamur-jamur itu dan ia lalu
mengangguk-angguk . Kini mengertilah ia mengapa keluarga
itu menjadi gila . Gurunya pernah bercerita kepadanya tentang
“ jamur darah “ ini , semacam jamur langkah yang
mengandung racun .
Racun jamur merah ini dapat membikin orang yang
memakannya menjadi mabok dan lama kelamaan menjadi
kacau pikirannya . Akan tetapi menurut gurunya , jamur darah
ini rasanya memang lezat sekali .
Kim Lan mencabut sebatang jamur , lalu setelah
menemukan tempat air dan membawa air sepanca dan
membawa pula sebuah mangkok kosong , ia kembali
keruangan tengah . “ Aku telah menemukan sebab dari
kegilaan mereka “ katanya lembut kepada Han Sin sambil
menyerahkan sebatang jamur merah itu .
Han Sin menerima jamur itu dan memeriksanya dengan
heran . Belum pernah dia melihat jamur dengan warna seperti
itu . Merah darah .
“ jamur apakah ini ?” tanyannya sambil memandang kepada
gadis itu .
“ Namanya jamur darah yang rasanya lezat . Kalau orang
mebiasakan diri makan jamur ini , lambat laun pikirannya akan
menjadi kacau . Akan tetapi mudah-mudahan saja aku akan
dapat menyembuhkan mereka “ .
Kim Lan mengeluarkan sebungkus obat bubuk berwarna
kuning , menuang sedikit obat itu ke dalam mangkok lalu
mencampurnya dengan air seperampat mangkok .
“ Saudara Cian , tolong kau minumkan ini kepada kakek itu
. Tentu dia akan menolak , akan tetapi buka mulutnya dan
tuangkan semua isinya sampai memasuki perutnya “ .
Han Sin menerima mangkok itu dan menghampiri Kui Mo .
Kakek gila ini memandang kepadanya dengan mata melotot , “
Kau bocah gila , mau apa kau ?” .
“ Paman yang baik , Nona Kim Lan yang budiman ini akan
mengobati engkau sekeluarga , maka silahkan minum obat ini
“ .
“ Tidak , aku tidak sudi . Minum obat ! Ha-ha-ha , aku tidak
sakit , minumlah sendiri ! “ Akan tetapi dengan tangan kirinya
Han Sin memegang rahang Kui Mo dan memaksanya
membuka mulut , lalu dituangkan isi mangkok kedalam
mulutnya . Kui Mo tersedak-sedak dan terbatuk-batuk , akan
tetapi semua obat itu tertelan olehnya .
“ Ugh-ugh , bocah gila . Kubunuh engkau ............... ! “ Dia
memaki-maki .
Kim Lan lalu memaksa pula Liu Si dan Kui Ji minum obat
dari mangkok , Tak lam kemudia , ketiga orang ini sudah
terkulai lemas dalam keadaan pingsan atau tertidur . Kiranya
obat yang ia berikan kepada keluarga gila itu adalah semacam
obat bius yang kuat sekali .
“ Kenapa mereka harus dibikin tidak sadar ?” Han Sin
bertanya heran .
“ Mereka adalah orang-orang yang pikirannya kacau . Kalau
tidak di bius dulu , mereka tentu akan melawan pengobatan
itu sendiri . Nah , sekarang tolong kau buka baju kakek itu .
Cukup asal kelihatan pundak dan tengkuknya saja “ . kata Kim
Lan sambil mempersiapkan jarum-jarum emas dan peraknya .
Han Sin membuka baju atas Kui Mo , menurunkannya
sedikit agar pundak dan tengkuknya terbuka , sedangkan Kim
Lan menurunkan baju atas Kui Ji dan ibunya , Liu Si . Setelah
itu , dengan hati-hati namun cekatan sekali , Kim Lan mulai
menancapkan jarum-jarumnya pada pelipis , atas kepala ,
tengkuk dan dada mereka . Sampai habis semua jarumnya di
tancapkan di tubuh atas mereka . Lalu secara bergiliran ia
menjepit jarum dengan ibu jari dan telunjuknya ,
menggetarkan sejenak . Setelah itu , ia duduk menanti dan
hanya memandang kepada tiga orang yang rebah seperti
orang tidur itu .
Suasana menjadi hening dan sejak tadi Han Sin mengamati
dengan hati kagum . Gadis itu melakukan penusukan jarumjarum
dengan gerakan yang demikian mantap tanpa ragu
sedikitpun dan ini hanya menunjukkan bahwa gadis itu telah
mahir sekali dengan cara pengobatan itu . Setelah melihat
gadis itu duduk , tidak bicara apapun dan sama sekali tidak
menoleh kepadanya , Han Sin tidak dapat menahan hatinya
untuk tenggelam ke dalam keheningan itu .
“ Nona Kim Lan , berapa lamakah mereka akan pulas dan
apakah pengobatan ini akan dapat menyembuhkan mereka ?”
.
Kim Lan menoleh dan dua pasang mata bertemu pandang .
Pandang mata gadis itu demikian lembut dan bibirnya yang
merah basah itu tersenyum penuh kesabaran . Wajah itu
demikian cantik dan agung sehingga untuk kesekian kalinya
Han Sin terpesona . Akan tetapi wajah seperti itu tidak
menimbulkan gairah rangsangan birahi , melainkan membuat
orang tunduk dan menaruh hormat .
“ Obat bius yang mereka minum tadi kuat sekali dan
sebelum tiga jam , mereka tidak akan sadar . Sementara itu ,
penusukan jarum-jarum ini akan membuka jalan darah mereka
. Dalam obat bius tadi juga terdapat obat penawar racun yang
kuat . Melihat bahwa mereka telah memiliki sin-kang yang
kuat , maka sekali mereka dapat sadar kembali , dengan sinkang
mereka itu mereka akan dapat mengusir pengaruh racun
itu dari tubuh mereka .
“ Dan mereka akan sembuh ?” .
“ Kalau Tuhan menghendaki “ , jawaban ini membuat Han
Sin tertegun . Gadis ini pandai sekali akan tetapi ia rendah hati
dan bersandar kepada Tuhan ! .
“ Apa maksudmu mengatakan kalau Tuhan menghendaki ?”
Han Sin sengaja memancing .
“ Kalau Tuhan menghendaki , tidak ada penyakit yang tidak
dapat disembuhkan , akan tetapi kalau Tuhan menghendaki
pula , tidak ada obat yang dapat menyembuhkan suatu
penyakit . Semua bergantung kepada Nya “ .
Mendengar pendapat yang sama dengan yang selama ini
dia pelajari dari gurunya , Han Sin menjadi semakin tertarik . “
Nona Kim Lan , bukankah obat-obat untuk menyembuhkan
penyakit itu ditemukan oleh manusia dan penyembuhan juga
dilakukan oleh manusia menggunakan obat-obat tertentu ? “.
“ Benar , memang manusia berkewajiban untuk berusaha
menjaga kesehatannya dan menyembuhkan penyakit . Akan
tetapi keputusan terakhir berada di tangan Tuhan dan
manusia tidak mungkin dapat mengubah keputusan itu .
Semua usaha dan sepak terjang manusia , baru akan
menghasilkan suatu kebaikan kalau di dukung dan di bimbing
kekuasaan Tuhan “ .
“ Aih , Nona Kim Lan . Engkau bicara seperti seorang
pendeta saja ! “ kata Han Sin kagum .
Kum Lan tersenyum “ kehidupan adalah pengalaman setiap
orang manusia , apakah untuk mengenalnya kita harus lebih
dulu menjadi pendeta ? Saudara Cian Han Sin , setiap orang
sepatutnya menyadari akan kekuasaan Tuhan yang berada di
dalam dan diluar dirinya , yang menguasai dan mengatur
segala yang nampak “ .
Kalau wajah dan sikap gadis itu sudah mendatangkan
kekagumannya , kini ucapan gadis itu membuat Han Sin
menghormatinya . Dia bangkit dari kursinya dan memberi
hormat .
Pandangan hidup yang diucapkan nona sungguh tepat dan
menganggumkan , aku menaruh hormat yang mendalam “ .
Kim Lan masih tersenyum “ Sudahlah , saudara Cian ,
engkau sendiri seorang pendekar yang gagah perkasa dan
budiman , tentu sudah mengetahui akan semua itu . Engkau
pandai dan lihai akan tetapi rendah hati . Akupun kagum
padamu . Nah , sekarang kita harus bersiap-siap untuk
meninggalkan mereka “ .
“ Meninggalkan mereka ? “ tanya Han Sin heran .
“ Tentu saja . Apakah engkau ingin melihat mereka
terbangun dalam keadaan sadar bahwa mereka berpakaian
aneh-aneh dan bersikap tidak wajar ? Mereka tenatu akan
merasa malu sekali . Aku akan meninggalkan surat untuk
menjelaskan semua keadaan mereka agar mereka tidak
menjadi bingung . Sementara itu , harap engkau suka pergi ke
dapur dan mencabuti dan membuang jauh-jauh semua jamur
darah itu “ .
Han Sin mengerti apa yang dimaksudkan gadis itu dan
diapun mengangguk . “ Baik , akan ku basmi semua jamur
berbahaya itu “ .
Han Sin pergi ke belakang dan mudah saja baginya untuk
menemukan jamur yang tumbuh di sudut belakang dapur itu .
Dicabutinya semua jamur merah itu , dimasukkan dalam
sebuah keranjang besar yang terdapat di situ . Setelah semua
jamur habis dia cabuti , dia lalu membawa keranjang itu keluar
melalui pintu dapur dan membuangnya ke dalam jurang yang
dalam , kemudian dia kembali ke ruangan tengah dimana Kim
Lan baru saja selesai menulis sehelai surat . Surat itu ia
letakkan di atas meja dan dari tempat dia berdiri Han Sin
dapat melihat betapa indahnya coretan tulisan tangan gadis
itu . Mereka lalu melepaskan semua ikatan tiga orang itu .
“ Nah , sekarang kita harus pergi . Kalau kita berada di sini
sewaktu mereka terbangun dalam keadaan sadar , hal ini
tentu akan membuat mereka malu sekali dan mungkin akan
membuat mereka menjadi bingung , bahkan marah . Dari sini ,
kita harus berpisah , saudara Han Sin “ .
“ Berpisah ? “ Han Sin tertegun , “ Mengapa harus berpisah
, nona ?” .
“ Tentu saja , kita harus melanjutkan perjalanan kita
masing-masing ' .
Han Sin tersenyum “ Aih , nona mengapa kita harus
berpisah . Kita dapat melakukan perjalanan bersama . Aku
masih ingin bersamamu lebih lama lagi , ingin lebih
mengenalmu “ .
Rasa kagumnya itu jelas nampak dalam pandang matanya .
Kim Lan menundukkan mukanya , “ Tidak baik bagi kita
untuk melakukan perjalanan bersama , saudara Han Sin dan
engkau tentu mengetahui itu . Seorang gadis melakukan
perjalanan bersama seorang pemuda , bagaimanakah akan
anggapan orang terhadap kita ? Pula kita memiliki tugas kita
masing-masing . Engkau seorang pendekar , tentu akan selalu
berusaha membela kebenaran dan keadilan , membela yang
tertindas dan menentang yang jahat . Sedangkan aku sebagai
seorang yang mengerti akan ilmu pengobatan , aku akan
berusaha menolong dan mengobati orang-orang yang
menderita sakit ' .
Tiba-tiba Han Sin teringat akan tugas nya mencari Pedang
Naga Hitam dan mencari pembunuh ayahnya di utara . Dia
menghela napas panjang dan berkata “ baiklah , kalau begitu
nona . Akan tetapi tugasku mengharuskan aku pergi ke daerah
Shansi di utara , kalau kebetulan engkau juga menuju ke sana
, apa salahnya kita melakukan perjalanan berdua ? Dengan
demikian , maka kita dapat saling membantu dan tentu akan
lebih aman . Adapun mengenai pendapat orang , hal ini
tidaklah penting . Yang penting kita menyadari sepenuhnya
bahwa kita tidak melakukan sesuatu yang tidak pantas “ .
“ Aku tidak sedang menuju ke utara , melainkan ke timur .
Jalan kita bersimpang , saudara Han Sin . Karena itu selamat
berpisah , kita harus cepat pergi sebelum mereka sadar “ ,
gadis itu sudah mengambil buntalan pakaiannya , lalu
melangkah ke pintu .
“ Nanti dulu nona . Ada satu hal lagi , sebuah permintaan
dan kuharap engkau suka memenuhi permintaanku ini “ .
“Permintaan apakah ? Kalau hal itu pantas dan dapat
kulakukan , tentu aku tidak keberatan untuk memenuhinya “ .
“ Aku minta agar kita berdua menjadi sahabat . Maukah
engkau menerimaku sebagai seorang sahabat ?” .
Kim Lan tersenyum manis , “ Kita sudah bekerjsama dan
sudah menjadi sahabat , bukan ?” .
“ Jadi engkau menganggap aku seorang sahabatmu ?” .
“ Tentu saja “ .
“ Kalau begitu , mengapa kita masih bersungkan-sungkan
satu sama lain ? Bagaimana kalau kita saling menyebut kakak
dan adik ? Setujukah engkau ? “ .
“ Tentu saja aku setuju ' .
“ Bagus ! Nah , mulai sekarang aku akan menyebutmu Lanmoi
“ .
“ Dan aku menyebutmu , Sin-ko “ .
Han Sin tertawa gembira . “ selamat berpisah , Lan-moi ,
selamat jalan dan sampai bertemu kembali “ . Dia mengangkat
kedua tangan depan dada .
“ Selamat jalan dan selamat berpisah , Sin-ko “ , kata gadis
itu dan cepat sekali ia berkelebat keluar dari rumah itu .
Han Sin juga mengambil buntalan pakaiannya , akan tetapi
sebelum keluar dari rumah itu , die tertarik melihat tulisan
yang indah dari Kim Lan , maka diapun membawa surat yang
ditinggalkan Kim Lan untuk keluarga itu .
“ Salam bahagia ,
Kami mendapatkan kenyataan bahwa kalian bertiga
keracunan hebat oleh jamur darah yang mebuat kalian
kehilangan akal dan bersikap tidak wajar . Kami telah
membasmi jamur darah itu dari dapur dan mengobati kalian ,
mudah-mudahan pengobatan kami dapat menyembuhkan
kalian . Kalau kalian sembuh , tidak usah mencari kami dan
berterima kasihlah kepada Tuhan Yang Maha Pengasih .
Demikian bunyi tulisan itu , tanpa disebutkan nama
penulisnya . Han Sin tersenyum . Kalau keluarga itu nanti
sadar dan sudah waras kembali , tentu mereka bingung dan
heran sekali keadaan pakaian dan tempat tinggal mereka .
Dan dengan membaca surat itu mereka akan menyadari apa
yang telah terjadi dengan mereka . Kim Lan memang cerdik ,
dan rendah hati . Kiranya sukar menemukan seorang gadis
seperti Kim Lan . Sayang , gadis itu telah meninggalkannya .
Dia ingin sekali mengetahui asal usul gadis itu , mendengar
tentang riwayat hidupnya , dan siapa pula gurunya .
Han Sin melihat Kui Mo mulai menggerakkan tubuhnya dan
cepat dia melompat keluar ruangan dan rumah itu dan
menggunakan ilmu berlari cepat untuk menuruni bukit itu
menuju ke utara .
Sementara itu , Kui Mo yang lebih dulu sadar dari
pembiusan itu . Karena memang dia memiliki sin-kang paling
kuat di antara mereka bertiga . Dia mengeluh lirih , menguap
dan bangkit duduk , menggosok kedua matanya seperti orang
baru bangun dari tidurnya . Pertama-tama yang terlihat
olehnya adalah pakaiannya . Dia meloncat turun dari
pembaringan sambil memeriksa seluruh pakaiannya . Dia
terheran-heran .
“ Kenapa aku memakai pakaian seperti ini ?” gerutunya dan
dia kini memandang sekeliling . Dilihatnya Liu Si dan Kui Ji
terlentang diatas pembaringan masih-masing . Dia terkejut
dan sekali bergerak dia sudah mendekati pembaringan mereka
. Dia menotok beberapa jalan darah di tengkuk isterinya dan
totokan itu membantu Liu Si memperoleh kesadarannya
kembali . Wanita itupun bangkir duduk , memandang kepada
Kui Mo dengan mata terbelalak .
“ Kau .... ? “ Kemudian ia menundingkan telunjuknya ke
arah tubuh suami nya . “ Kenapa engaku memakai pakaian
seperti itu ?” .
Kui Mo menjawab , “ Lihat pakaianmu sendiri itu ! “ .
Ketika Liu Si melihat pakaiannya ,ia pun meloncat turun dari
atas pembaringan . “ Apa yang telah terjadi ? Bagaimana ini ?
Dan dimana anak kita ? “ .
“ Ia rebah di sana “ , kata suaminya dan mereka berdua
menghampiri gadis yang masih tidur itu . Mereka lalu menotok
jalan darah Kui Ji dan menyadarkannya . Seperti ayah ibunya ,
Kui Ji juga terheran-heran melihat pakaian mereka .
“ Ayah , Ibu ! Apa yang terjadi ? Kita ini berada dimana dan
rumah siapa ini ? Pakaian kita ini .... ahhh .......... ! “
“ Tenanglah , Kui Ji , sesuatu yang hebat telah terjadi pada
kami “ , kata Kui Mo .
Kui Ji menghampiri meja dan hendak duduk , akan tetapi ia
melihat sehelai surat itu dan bersru , “ Ayah , Ibu , ini ada
sehelai surat ! “ .
Mereka bertiga lalu membacanya , dan setelah membaca ,
ketiganya duduk di kursi menghadapi meja itu dengan
bengong .
Kita keracunan jamur darah ? Kehilangan akan dan bersikap
tidak wajar ? Apa yang dimaksudkan penulis surat ini ? Apakah
kita telah menjadi gila ?” Kui Mo berkata penasaran .
“ Hemmm , melihat pakaian kita ini , memang pantas kalau
kita di anggap gila . Akan tetapi , apa yang terjadi
sesungguhnya ? Eingatku , ketika kita melarikan diri dari
selatan , setelah Kerajaan Sung di tahlukan Kerajaan Sui , kita
menyamar sebagai pengungsi dan berpindah-pindah tempat
agar jangan di kenal orang . Dan yang terakhir sekali ......
rasanya kita tinggal dalam sebuah guha , di sebuah diantara
puncak-puncak Hoa-San , bahkan tidak jauh dari perkumpulan
Hwa-li-san yang terdiri dari wanita-wanita gagah “ , kata Liu Si
mengingat-ingat .
“ Ah , samar-samar aku ingat sekarang ! “ kata Kui Ji sambil
memejamkan matanya , mengingat-ingat . “ Disekitar puncak
bukit itu pemandangannya amat indah , banyak sekali
kembang beraneka warna . Kita semua merasa senang tinggal
di situ .... “
“ Benar , akupun ingat sekarang . Kita memilih tempat itu
untuk menjadi tempat tinggal dan kita menebangi pohon dan
bambu untuk membuat rumah ini .
Ya , aku ingat. Dan ketika kita membangun rumah , kita
menemukan jamur kemerahan yang sedap baunya . Kita
mencoba untuk memasaknya dan ternyata rasanya gurih dan
lezat seperti daging ayam ! Ya , kita setiap hari memasak
jamur merah itu ............. “ kata Kui Mo .
“ Agaknya itulah jamur merah yang dimaksudkan penulis
surat ini “ sambung isterinya .
“ Dan akibatnya kita kehilangan akal , kehilangan kesadaran
dan hidup seperti orang-orang yang tidak waras pikirannya .
Kita menjadi seperti orang -orang gila ! “ kata Kui Mo . “ Ya ,
Tuhan ! Apa saja yang kita lakukan ketika kita dalam keadaan
seperti itu ?” .
“ Aku tidak ingat lagi , sama sekali tidak ingat “ , kata
isterinya .
“ Aku juga tidak ingat ayah “ , kata Kui Ji .
Kui Mo menghela napas panjang dan melihat rambutnya
yang riap-riapan .
“ Aihhh , sungguh mengerikan . Juga rambutmu itu , dan
rambut Kui Ji .... ah , kita hidup seperti binatang buas . Entah
, sudah berapa bulan atau berapa tahun kita hidup seperti itu
“ .
“ Ayah , seingatku kita menyimpan banyak pakaian ketika
kita tiba di guha itu “ .
“ Kau benar ! Mari kita cari guha itu , agaknya tidak jauh
dari sini “ .
Mereka bertiga keluar dari rumah itu dan segera mengenal
tempat itu yang di tumbuhi banyak pohon dan kembang .
Setelah mereka ingat , mudah saja mereka dapat menemukan
guha itu dan ternyata di dalam guha itu mereka dapat
menemukan pakaian mereka dalam keadaan masih utuh .
Juga sekantung emas dan perak yang dahulu menjadi bekal
mereka ketika mengungsi ke utara .
Kui Mo ini sebetulnya bernama Ouw Yung Mo , seorang
bangsawan Kerajaan Sun di selatan yang telah di tundukkan
oleh Kaisar Yang Chien . Dia adalah putera dari Kok-su (
Penasehat Negara ) Ouw Yang Kok-su dari Kerajaan Sun . Dia
telah mewarisi semua ilmu silat yang tinggi dari ayahnya .
Ketika Kerajaan Sun di serbu pasukan Sui dan dikalahkan ,
Ouyang Mo mengajak isterinya dan puterinya untuk melarikan
diri . Karena dia khawatir kalau-kalau dia dia di kenal sebagai
putera Ouwyang Kok-su , maka dia mengubah nama
marganya menjadi Kui . Etelah meninggalkan daerah Sun , dia
berpindah-pindah dan akhirnya tiba di Hwa-san . Sungguh sial
nasib keluarganya , di sini mereka menemukan jamur darah
dan memasaknya , memakannya setiap hari sehingga
ketiganya menjadi seperti orang gila dan hidup seperti itu
selama hampir dua tahun . Setelah di obati oleh Kim Lan
mereka sembuh kembali , akan tetapi mereka tidak ingat lagi
apa yang mereka lakukan selama mereka berada dalam
keadaan sinting itu . Hal ini menguntungkan bagi mereka ,
karena kalau mereka ingat akan semua sepak terjang mereka
selama mereka sinting , tentu mereka akan merasa malu .
Terutama Kui Ji yang memaksa Han Sin menjadi suaminya .
Padahal , ia adalah seorang gadis yang terpelajar , seperti
gadis-gadis bangsawan pada umumnya .
Setelah bertukar pakaian , dengan pakaian mereka yang
biasa , yaitu pakaian rakyat biasa , bukan pakaian bangsawan
, mereka membawa semua barang itu ke dalam rumah besar
sederhana itu dan mereka bertiga duduk di kursi menghadapi
meja untuk membicarakan keadaan mereka .
“ sekarang jelaslah sudah “ , kata Kui Mo atau Ouwyang Mo
. “ Kita kehilangan akal setelah makan jamur darah , agaknya
dalam keadaan sinting itu kita melanjutkan bangunan ini . Kita
sudah lupa akan guha tempat tinggal kita dimana kita
meninggalkan barang-barang itu “ .
“ Akan tetapi , bagaimana kita tahu – tahu memakai baju
berkembang-kembang yang potongannya aneh itu ? “ tanya
Kui Ji . Setelah kini membersihkan diri dan menggelung
rambutnya gadis ini nampak cantik sekali .
“ Agaknya begini “ , kata ibunya . “ Diluar terdapat banyak
sekali bunga yang indah-indah dan agaknya pemandangan itu
amat mempengaruhi batin kita yang kacau . Dengan ilmu
kepandaian kita , tidak sukar bagi kita untuk mendapatkan
kain berkembang-kebamg yang kita ambil dari toko kain di
dusun atau kota kaki pegunungan ini dan dalam keadaan
sinting itu tentu saja kita membuat pakaian asal jadi saja “ .
“ Jadi kita telah melakukan pencurian , ibu ?” tanya Kui Ji
sambil memandang kepada ibunya dengan mata terbelalak .
Sukar ia membayangkan pergi bersama ayah ibunya untuk
mencuri kain bahan pakaian ! .
“ Kalaupun kita melakukannya , hal ini kita lakukan diluar
kesadaran kita selagi kita dalam keadaan sinting karena
pengaruh jamur darah “ , ayah menghibur . “ akan tetapi yang
membuat hatiku penasaran , siapakah penulis surat ini yang
telah mengobati kita sampai sembuh ? Aku ingin sekali dapat
bertemu untuk menghaturkan terima kasih .
Liu Si mengambil surat itu dari meja dan mengamati tulisan
itu . Hemmm , tidak salah lagi , penulisnya tentulah seorang
wanita , begini lembut dan rapi “ .
“ Ayah , orang yang mampu mengobati kita tentulah
seorang yang memiliki ilmu pengobatan yang tinggi . Apakah
ayah tidak dapat menduga siapa orang yang memiliki
kepandaian seperti itu ? “ .
Kui Mo menghela napas panjang “ Memang , yang mampu
mengobati kita tentu orang yang bukan saja memiliki ilmu
pengobatan tinggi , akan tetapi juga ilmu silat yang tinggi .
Lihat saja , dipembaringan kita masih terdapat tali – tali sutera
agaknya ketika di obati , orang itu menangkap kita lebih dulu
dengan kepandaian silatnya . Kalau tidak , mana mungkin kita
yang sedang sinitng mau dia obati ? Dan seingatku orang yang
memiliki ilmu pengobatan dan ilmu silat tinggi tidaklah banyak
. Pernah di utara dunia kang-ouw mengenal seorang hwe-sio
yang aneh dan dia memiliki ilmu pengobatan dan ilmu silat
yang tinggi , nama julukannya Siauw-bin Yok-sian ( Dewa
Obat Muka Tertawa ) .
“ Akan tetapi tidak mungkin surat ini di tulis oleh tangan
seorang pria “ , Liu si membantah .
“ Itulah yang membingungkan . Mungkin yang menolong
kita tidak hanya satu orang karena betapapun lihainya Siauwbin
Yok-sian , bagaimana mungkin dia mampu menangkap kita
bertiga sekaligus ?” .
Tiga orang itu termenung dan tiba-tiba Kui Ji berseru “ Ah ,
ayah dan ibu . Kenapa kita tidak menanyakan kepada Hwa-lipang
? Yang paling dekat dengan tempat ini dan merupakan
pusat perkumpulan orang gagah hanyalah Hwa-li-pang .
Sangat boleh jadi mereka mengetahui siapa penolong kita “ .
Kui Mo bangkit berdiri dan bertepuk tangan . “ Ah , benar
juga . Kenapa aku melupakan hal itu ? Andaikata mereka tidak
mengetahuipun , mungkin orang yang menolong kita itu
singgah di sana . Mari kita pergi berkunjung ke Hwa-li-pang “ .
Demikian lah , keluarga itu berlari cepat meninggalkan
tempat itu dan menuju ke Hwa-li-pang yang berada di lereng
bukit depan . Kini mereka sama sekali berubah . Tidak lagi
mengenakan pakaian menyolok berkembang-kembang , tidak
lagi bersikap liar , bahwa Kui Mo dan Liu Si masih belum dapat
meninggalkan sama sekali sikap mereka yang berwibawa
sebagai orang bangsawan .
****
Pek Mau To Kouw merasa lega dan girang sekali ketika
keluarga gila itu meninggalkan Hwa-li-pang . Akan tetapi ada
sesuatu yang menjadi ganjalan di hatinya , yang membuat nya
kecewa , yaitu perginya Kim Lan gadis berpakaian putih itu
dari Hwa-li-pang dengan tiba-tiba . Gadis itulah yang telah
menolong Hwa-li-pang terbebas dari kekuasaan keluarga gila
yang pergi dengan kemauan mereka sendiri sehingga tidak
marah kepada Hwa-li-pang . Siasat yang dilakukan gadis itu
berhasil dengan baik dan Pek Mau To Kouw merasa kagum
sekali kepada gadis itu . Ia ingin mengenalnya lebih dekat ,
bertanya siapa guru gadis yang lemah lembut dan cerdik itu .
Akan tetapi sayang sekali , setelah keluarga gila itu pergi
tanpa pamit , gadis itupun lolos tidak diketahui kemana
perginya . Akan tetapi hal ini bahkan menambah
kekagumannya . Lolosnya gadis itu secara diam-diam setelah
usaha pertolongannya terhadap Hwa-li-pang berhasil
menunjukkan bahwa gadis itu tidak ingin di puji-puji .
Perbuatannya yang menolong itu sama sekali tanpa pamrih ! .
Beberpa hari kemudian , selagi Pak Mau To Kouw duduk di
ruangan dalam , dua orang anggota Hwa-li-pang tergopohgopoh
datang menghadapnya .
“ Hemmm , tenangkan hati kalian , apa yang terjadi maka
kalian bingung dan takut ?” .
“ Celaka pang-cu , mereka datang lagi ! “ kata seorang
diantara mereka .
Pek Mau To Kouw memandang kepada mereka penuh
selidik . “ Mereka siapa ?” tanyanya , sikapnya masih tenang .
“ Mereka .... keluarga gila itu , pang-cu . Mereka datang lagi
dan mencari pang-cu “ .
Wajah Pek Mau To Kouw berubah dan alisnya berkerut . “
Hemmmm , mereka datang lagi ? Jangan gugup , cepat
beritahu semua anggota Hwa-li-pang agar bersiap-siap . Kita
tidak dapat mengalah terus . Sekali ini aku terpaksa melawan
dengan mengerahkan seluruh anggota Hwa-li-pang . Cepat
laksanakan perintahku ! “ .
“ Baik , pang-cu “ , dua orang anggota itu cepat pergi dan
Pek Mau To Kouw sendiri membawa kebutannya yang berbulu
merah , segera keluar untuk menyambut keluarga gila itu . Ia
melihat para anggota dalam keadaan panik dan ketakutan .
Ketika tiba di depan rumah induk , ia melihat mereka bertiga
sudah berdiri di sana . Pek Mau o Kouw tertegun , keheranan .
Akan tetapi ia terus menghampiri mereka dan kini ia sudah
berhadapan dengan mereka .
Tiga orang itu segera mengangkat kedua tangan ke depan
dada memberi hormat dan Kui Mo bertanya dengan suara dan
sikap menghormat .
“ Apakah toa-nio yang menjadi pang-cu dari Hwa-li-pang ?”
.
Pek Mau To Kouw tentu saja merasa terkejut dan heran
bukan main . Cepat-cepat ia membalas penghormatan mereka
dan mendengar pertanyaan itu ia berkata , “ Siancai .... saya
memang pang-cu dari dari Hwa-li-pang . Dan sam-wi ( anda
bertiga ) ini ... siapakah ?” ia sengaja melayani , sikap mereka
yang seolah tidak mengenalnya . Padahal ia tentu saja segera
mengenal tiga orang itu sebagai keluarga gila walaupun kini
pakaian mereka tidak aneh-aneh dan rambut mereka juga
disisir rapi .
Kui Mo menjawab , “ saya bernama Kui Mo , isteri saya ini
bernama Liu Si dan ini puteri kami Kui Ji “ .
Pek Mau To Kouw benar-benar tertegun keheranan .
Bagaimana mungkin dalam waktu beberapa hari saja tiga
orang keluarga gila ini tiba-tiba menjadi sembuh dan pulih
seperti orang-orang biasa ? .
“ Keperluan apakah yang membawa Kui-sicu bertiga
berkunjung ke tempat kami ? “ tanya to-kouw itu .
“ Kami sengaja berkunjung untuk minta tolong kepada
pang-cu agar dapat memberitahu kepada kami tenatang orang
yang telah menolong keluarga kami ' .
Kini yakinlah hati Pek Mau To Kouw bahwa tiga orang ini
memang benar keluarga gila yang agaknya telah sembuh dari
kegilaan mereka dan tidak ingat lagi apa yang telah mereka
lakukan selama mereka gila . Ia melihat para anggota Hwa-lipang
sudah berkerumun di situ , siap dengan senjata mereka
untuk mengeroyok keluarga gila itu .
Ia merasa tidak enak dan memberi isyarat dengan tangan
agar mereka itu mengundurkan diri , kemudian ia berkata
dengan sikap ramah kepada Kui Mo .
“ Kui-sicu bertiga , sebaiknya kalau hendak membicarakan
sesuatu , kita bicara di dalam saja . Silahkan , harap sam-wi
suka masuk dan bicara di dalam ruangan tamu “ .
“ Terima kasih “ , kata tiga orang tamu itu yang melangkah
mengikuti to-kouw itu memasuki sebuah ruangan dan di sana
mereka dipersilahkan duduk . Seorang anggota Hwa-li-pang
segera datang membawa hidangan minuman the .
“ Nah , sekarang dapat sicu ceritakan , bantuan apa yang
kiranya dapat kami berikan “ , kata Pek Mau To Kouw ramah .
“ Kami mencari seorang pendekar kang-ouw yang pandai
dalam ilmu pengobatan . Barangkali dia singgah ke sini atau
pang-cu mengenalnya . Terus terang saja kami sekeluarga
tadinya berada dalam keadaan sakit parah sekali . Kami telah
di tolong oleh pendekar itu , diobati sampai sembuh kemudian
dia pergi dan kami bertiga sudah tidak ingat lagi siapa dia .
Maklumlah bahwa tadinya kami sakit yang mebuat kami tidak
ingat apa-apa lagi .
Pek Mau To Kouw mengangguk-angguk , mengerti dan
dapat menduga apa yang telah terjadi . “ Siancai ..... ! apakah
sam-wi sama sekali lupa apa yang terjadi sebelumnya ? Lupa
apa yang telah sam-wi lakukan selama ini ? “
Jilid 7
Liu Si yang menjawab , “ Kalau kami ingat , tentu tidak
akan bertanya kepada pang-cu . Kami tidak ingat apa-apa lagi
, seolah baru sadar dari tidur “ .
“ Kalau begitu , saya hendak menceritakan apa yang telah
terjadi di sini , akan tetapi saya harap sam-wi tidak akan
menjadi tersinggung “ .
Tiga orang itu memandang kepada Pak Mau To Kouw
dengan mata bersinar penuh harapan . Justru mereka hendak
mengetahui apa yang terjadi sewaktu mereka seperti orangorang
gila itu .
“ Ceritakanlah , pang-cu . Kami berjanji tidak akan
tersinggung , bahkan berterima kasih sekali ! “ kata Kui Mo .
Melihat sikap mereka , Pek Mau To Kouw tidak ragu-ragu
lagi untuk bercerita . Beberapa hari yang lalu , sam-wi sudah
datang ke tempat kami ini , akan tetapi keadaan sam-wi tidak
seperti sekarang , Sam-wi mengenakan pakaian kembangkembang
, rambut sam-wi awut-awutan dan sikap sam-wi
menakutkan “ , Pekl Mau To kouw berhenti dan mengamati
wajah mereka bertiga .
“ Penampilan kami menunjukkan bahwa kami bertiga
berada dalam keadaan gila , bukan ? Hal itu telah kami
ketahui , pang-cu . Harap lanjutkan cerita pang-cu karena
kami sama sekali tidak ingat lagi bahwa kami pernah datang
ke tempat ini “ , kata Kui Mo .
Pek Mau To kouw mengangguk . “ Sam-wi bertiga datang
ke sini tidak hanya bertiga , akan tetapi bersama seorang
pemuda yang menjadi tawanan sam-wi “ .
“ Eehhh ??? kami menawan seorang pemuda ?” seru Liu Si
terheran-heran .
“ Dan apa maksud kami datang ke sini ? “ tanya Kui Mo .
“ sebelumnya harap sam-wi maafkan kalau saya berkata
terus terang menceritakan keadaan yang sebenarnya terjadi .
Sam-wi memaksa kami untuk meminjamkan tempat kami di
sini untuk merayakan pernikahan dan mengundang orangorang
kang-ouw untuk menghadiri pesta pernikahan itu “ .
“ Pernikahan ? Pernikahan siapa , pang-cu ? ' kini Kui Ji
yang sejak tadi hanya mendengarkan , bertanya heran .
Pek Mau Tokouw tersenyum memandang gadis cantik itu . “
ayah ibumu akan menikahkan engkau dengan pemuda
tawanan itu nona “ .
“ Ahhh ...... ! “ Tiga orang itu berseru dan muka si gadis
menjadi merah sekali . “ Lalu bagaimana , pang-cu , cepat
ceritakan ! “ seru Liu Si tidak sabar .
“ Permintaan yang aneh itu tentu saja kami tolak , akan
tetapi sam-wi memaksa sehingga terjadi perkelahian dan kami
tidak mampu menandingi kelihaian sam-wi . Terpaksa kami ,
menyerah dan sam-wi lalu tinggal di sini , mengunakan tiga
buah kamar . Satu untuk Kui-sicu dan isterinya , kedua untuk
nona , dan ketiga , yang berada di tengah untuk pemuda
tawanan itu . Kami terpaksa menuruti semua permintaan samwi
' .
Ayah ibu dan anak itu saling pandang dengan terkejut dan
heran . Mereka sama sekali tidak ingat lagi akan semua itu . “
Tapi .... apakah kami dalam keadaan gila itu melakukan
pembunuhan atau lain kejahatan lagi , pang-cu ? Tanya Kui
Mo dan suaranya mengandung kekhawatiran .
Pek Mau To Kouw menggeleng kepalanya . “ Sama sekali
tidak . Justeru karena sam-wi merobohkan kami tanpa melukai
kami yakin bahwa sam-wi bukan orang-orang jahat , hanya
sedang terganggu pikirannya . Peristiwa perkelahian itu di
saksikan oleh para tamu yang sedang berkunjung ke kuil kami
dan di antara mereka terdapat seorang gadis berpakaian serba
putih . Gadis ini lah yang mengatur siasat untuk
membebaskan pemuda itu dari tawanan sam-wi dan ketika
melaksanakan usaha itu ia dibantu oleh seorang pengemis
muda . Mereka berdua berhasil membebaskan pemuda itu dari
pengawasan sam-wi dan agaknya karena melihat pemuda
yang akan dinikahkan itu tidak ada lagi , sam-wi lalu pergi dari
sini tanpa pamit lagi . Nah , demikianlah peristiwa itu dan
sekarang , tiga hari kemudian , sam-wi muncul dalam keadaan
yang berbeda sama sekali . Sungguh membuat kami merasa
heran bukan main akan tetapi juga bersyukur bahwa samwitelah
dapat sembuh dari penyakit itu . “
“ Gadis baju putih ?” Tiga orang itu berseru dan kembali
saling pandang .
“ Tentu ia yang menulis surat itu ! “ kata Kui Mo . “ Pang-cu
, apakah gadis berpakaian putih itu seorang ahli pengobatan ?
' .
“ Kami rasa begitu karena ia mengatakan bahwa pemuda
tawanan itu keracunan dan ia hendak mengobatinya “ .
“ Menurut nona itu , pemuda yang sam-wi tawan itu
keracunan yang membuat pemuda itu menjadi lemah dan
tidak dapat meloloskan diri “ .
“ Dan pengemis muda ? “ tanya Kui Ji . “ Apakah yang dia
lakukan untuk membantu pemuda itu lolos ?”
' Dia agaknya pandai ilmu silat . Dialah yang memancing
agar sam-wi keluar menandinginya sehingga gadis baju putih
itu mendapatkan kesempatan untuk membawa pemuda itu
melarikan diri .
Tiga orang itu saling pandang dan tentu saja merasa
terpukul sekali . Sama sekali tidak mereka ingat lagi betapa
dalam keadaan gila itu mereka hendak memaksa seorang
pemuda untuk menjadi suami Kui Ji .
“ Pang-cu , siapakah nama gadis berpakaian putih itu dan
dimana tempat tinggalnya ? Kami harus bertemu dengan nya
dan menghaturkan terima kasih kami “ , kata Kui Mo .
“ Ia hanya memberitahu bahwa namanya Kim Lan , akan
tetapi kami tidak tahu dimana tempat tinggalnya . Ia bukan
orang daerah sini , dan hanya kebetulan lewat . Setelah
berhasil meloloskan pemuda itu diapun segera pergi dengan
tiba-tiba sehingga saya sendiripun merasa menyesal tidak
mengenalnya lebih baik .
“ Dan pemuda yang menjadi ..... tawanan kami itu ...... ,
siapa pula namanya dan dimana tinggalnya ? “ tanya Liu Si .
Pek Mau To Kouw menggeleng kepala “ Maaf , kami tidak
tahu dan tidak sempat bicara dengan dia “ .
“ Siapa pula pengemis muda itu , pang-cu ? Siapa namanya
dan dimana dia ? “ Kui Ji bertanya . “ Kalau kami dapat
menemukan dia , mungkin dia dapat menjelaskan dimana
adanya gadis berpakaian putih itu “ .
Pek Mau To-kouw juga menggeleng kepalanya . “ Kami
tidak pernah dapat berkenalan dengan dia . Tadinya kami juga
mengira bahwa dia seorang pengemis biasa yang masih amat
muda . Baru kami tahu bahwa dia lihai ketika dia membantu
usaha membebaskan pemuda tawanan itu “ .
Tentu saja tiga orang itu menjadi kecewa sekali . Mereka
hanya dapat mengetahui bahwa nama penolong mereka
adalah Kim Lan , akan tetapi kemana mereka harus
mencarinya ? .
Kui Mo menghela napas panjang . Ketua Hwa-li-pang itu
telah memberikan keterangan yang sudah cukup jelas yang
membuka tabir yang menyelimuti ingatan mereka . Dia merasa
menyesal sekali bahwa dia sekeluarga telah melakukan hal-hal
yang tidak pantas selama mereka keracunan jamur darah .
“ Pang-cu , kami sekeluarga mohon maaf sebesarnya
bahwa kami telah membikin kacau di Hwa-li-pang “ , katanya
sambil bangkit berdiri dan memberi hormat , di ikuti isteri dan
anaknya . Ketua Hwa-li-pang itu cepat bangkit dan membalas
penghormatan mereka .
“ Aih , sam-wi sama sekali tidak bersalah . Semua itu samwi
lakukan di luar penghormatan mereka .
Kui Mo bertiga lalu berpamit . Mereka di antar oleh Pek Mau
To Kouw sendiri sampai diluar pagar daerah Hwa-li-pang .
Setelah para tamu itu pergi , baru Pek Mau To Kouw
memanggil para pembantunya dan menceritakan perihal
keluarga Kui yang tadinya gila akan tetapi kini telah sehat
kembali itu . Ia memberitahukan bahwa keluarga Kui adalah
keluarga yang baik dan agar kalau para anak buahnya
bertemu mereka , bersikap hormat . Kini Pek Mau To Kouw
merasa lebih menyesal lagi mengapa ia tidak sempat
berkenalan lebih lanjut dengan Kim Lan dan menanyakan
tempat tinggalnya .
****
Han Sin melakukan perjalanan menuju ke utara . Setelah
berpisah dari Kim Lan , entah mengapa dia merasa kehilangan
semangat dan ketika melanjutkan perjalanan meninggalkan
rumah keluarga gila itu dia melangkah perlahan . Tidak
menggunakan ilmu berlari cepat . Dia merasa kehilangan dan
merasa betapa sepinya hidup ini . Merasa sebatang kara di
dunia ini dan timbullah rasa rindu kepada ibunya . Akan tetapi
dia menekan perasaan hatinya yang ingin pulang . Tidak , ia
belum menunaikan tugasnya . Bagaimana dia dapat pulang
tanpa membawa pedang pusaka milik ayahnya dan tanpa
berhasil membalas kematian ayahnya ? .
Akan tetapi , pemandangan indah yang nampak ketika dia
menuruni pegunungan Hwa-san menghibur hatinya . Nampak
pemandangan di bawah gunung amatlah indahnya . Sawah
ladang terhampar luas di bawah dan genteng rumah-rumah
dusun berkelompok di sana sini kelihatan kemerahan .
Wataknya yang memang periang itu segera timbul kembali
dan dia sudah melupakan kerisauan hatinya . Dunia
terbentang luas di depan kakinya . Langkahnya masih akan
melintasi perjalanan jauh , banyak pengalaman hidup yang
akan dihadapinya , mengapa dia harus bermurung-murung ?
Ho Beng Hwesio seringkali memberi nasihat agar dia
menghadapi kenyataan hidup ini dengan wajar dan bebas dari
kekhawatiran .
“ Manusia sejak dilahirkan sudah menghadapi berbagai
tantangan . Kita tidak mungkin dapat melarikan diri dari
tantangan-tantangan itu . Contohnya diriku ini , makin
melarikan diri dari tantangan , semakin banyak rasa khawatir
timbul . Tantangan tidak harus di hadapi dengan rasa khawatir
, melainkan harus di hadapi dengan berani . Tantangan harus
di anggap sebagai suatu kewajaran dalam hidup dan kita
harus menghadapinya dengan gembira dan mengatasi setiap
tantangan yang datang “ .
Benar apa yang di ucapkan gurunya itu . Biarpun dia tidak
mengerti mengapa Ho Beng Hwesio yang dahulunya berjuluk
Hek Liong Ong itu menyembunyikan diri menjadi Hwesio ,
namun jelas bahwa gurunya itu tidak berani menghadapi
kenyataan . Dia dapat membayangkan betapa dalam
persembunyiannya itu Hek Liong Ong tentu merasa menderita
sekali hatinya selalu ketakutan dan akhirnya benar saja ,
seorang diantara musuh-musuhnya dapat menemukan dirinya
dan membunuhnya ! .
Akan tetapi menurut keterangan ibunya , Ho Beng Hwesio
ketika masih berjuluk Hek Liong Ong adalah seorang datuk
sesat yang berhati keras dan kejam , yang mudah membunuh
manusia tanpa berkedip mata . Akibatnya dia banyak dimusihi
orang-orang yang mendendam kepadanya . Dan diapun
menaati pesan ibunya agar dia tidak mendendam kepada
pembunuh ayahnya . Ngo-heng-thian-cu hanya membalas
dendam kepada Hek liong ong . Kalau kini dia memusuhi Ngo
heng thian cu , maka dendam mendendam itu tidak akan ada
habisnya . Kematian Hek liong ong merupakan akibat daripada
perbuatannya yang lalu . Berbeda dengan kematian ayahnya .
Ayahnya mati secara penasaran , agaknya di khianati seorang
karena di bunuh dari belakang selagi bertempur melawan
musuh . Dan terutama pedang itu , Hek-liong-kiam , harus dia
temukan .
Dengan hati yang kembali gembira Han Sin melanjutkan
perjalanannya , kini dia menggunakan ilmu lari cepat dan
sebentar saja sudah tiba di bawah gunung .
Ketika Yang Chien berhasil mendirikan Kerajaan Sui dan
memerintah dengan bijaksana , keadaan dalam negeri dapat
menjadi aman dan tentram . Kejahatan ditentang keras oleh
pemerintah dan pasukan dikerahkan untuk membasmi
gerombolan-gerombolan penjahat . Karen ini , keadaan
menjadi tenteram dan penjahat-penjahat tidak berani terlalu
menonjolkan diri melakukan kejahatan . Akan tetapi , ketika
Yang Chien meninggal dunia dan kekuasaan di pegang oleh
puteranya Kaisar Yang Ti , pengaruh yang tadinya ditimbulkan
oleh kebijaksanaan Kaisar Yang Chien itu mulai menipis ,
gerombolan penjahat mulai berani bermunculan melakukan
kekerasan untuk memaksakan kehendak mereka .
Perampokan-perampokan mulai terjadi lagi di tempat-tempat
sunyi dimana tidak ada pasukan pemerintah .
Perjalanan Han Sin tidak menemui rintangan . Pada suatu
hari tibalah dia Kota Pei-yang , sebuah kota dekat Sungai
Kuning yang mengalir dari utara menuju ke selatan . Karena
letaknya dekat sungai itulah yang membuat Pei-yang menjadi
kota yang penting . Kota ini menjadi pelabuhan perahu-perahu
yang memuat barang-barang dari utara . Para pedagang dari
utara membawa barang dagangan mereka dengan perahu .
Dan pulangnya para pedagang itu membawa barang-barang
dari selatan ke utara melalui darat . Maka ramailah Pei-yang
dengan adanya banyak pedagang yang lewat di kota itu dan
bermalam di situ . Dengan sendirinya , kebutuhan para
pedagang itu mendorong orang untuk membuka rumah makan
dan rumah penginapan . Bahkan banyak rumah penginapan
yang merangkap menjadi rumah makan pula . Selain itu ,
banyak pula toko-toko di buka orang , menjual bermacammacam
dagangan dari utara dan selatan .
Han Sin berputar-putar di kota itu dan karena hari telah
mulai senja , dia mengambil keputusan untuk bermalam di
kota Pei-yang . Dia memilih sebuah rumah makan merangkap
rumah penginapan yang kelihatan bersih dan memasukinya .
Seorang pelayan menyambutnya dengan ramah .
“ Selamat sore , kong-cu . Kong-cu hendak makan ataukah
hendak bermalam ? “
Han Sin tersenyum mendengar dirinya di sebut kong-cu .
Padahal pakaiannya hanya sederhana saja . Apa yang
menyebabkan pelayan ini memanggilnya kong-cu ( tuan muda
) ? Mungkin hanya basa basi saja .
“ Selamat sore . Aku membutuhkan keduanya . Ya makan
ya bermalam. Masih ada kamar yang bersih ? “
“ Ada , kong-cu . Kamar kami semua bersih . Mari silahkan
kong-cu . Saya antarkan ke kamar kong-cu “ .
“ Nanti saja , aku ingin makan lebih dulu “ , Han Sin dan
pelayan itu segera mempersilahkan duduk di tempat yang
kosong . Han Sin duduk di atas bangku menghadapi meja
kosong dan dia mulai memandang ke sekeliling . Rumah
makan itu cukup besar . Tidak kurang dari tigapuluh meja
berada di situ dan pada waktu , separuh dari jumlah meja di
duduki para tamu
Tiba-tiba perhatian Han Sin tertarik kepada seorang yang
baru memasuki rumah makan itu dari luar . Segera ia
mengenal orang ini , pengemis muda yang pernah di lihatnya
di kuil Hwa-li-pang . Ketika Pek Mau To-kouw bertanding
melawan Kui Mo dan terdesak , pengemis muda itu seperti
bersajak namun isi kata-katanya adalah petunjuk bagi Pek
Mau To-kouw untuk memecahkan rahasia ilmu silat Kui Mo
yang aneh . Kemudian Liu Si menyerang pengemis muda itu
yang ternyata seorang yang memiliki ilmu kepandaian tinggi
Dan kini tiba-tiba pengemis muda itu memasuki rumah
makan dengan muka cengar-cengir , jelas sekali terbayang
kenakalan pada wajah yang bercoreng hitam itu , wajah itu
kelihatan kumal dan buruk . Akan tetapi sepasang matanya
mencorong seperti mata naga ! Diam-diam Han Sin
memperhatikan pemuda itu . Seperti dulu ketika dilihatnya di
kuil , pengemis muda itu mengenakan pakaian tambaltambalan
berwarna hitam dan dia membawa sebatang tongkat
bambu sebesar ibu jari kaki .
Melihat seorang pengemis muda memasuki rumah makan
itu , seorang pelayan segera menghampirinya dan menegur . “
Hei , bung ! Kalau mengemis di luar saja , jangan memasuki
rumah makan ! “
Pengemis muda itu mengerutkan alisnya . “ Huh , siapa
yang mengemis ? Aku datang bukan untuk mengemis ,
melainkan untuk membeli makanan dan menginap . Beri aku
sebuah kamar yang paling baik “ .
“ Jangan main-main kau ! Hayo cepat keluar ! “ Pelayan itu
kembali membentak .
“ Engkau yang main-main ! Aku hendak makan , kenapa di
suruh keluar ?”
“ Engkau seorang jembel begini bagaimana bisa membayar
harga makanan ? Masakan di sini mahal harganya ! '
“ Eh , menghina ya ? Jangankan membeli makanan di sini ,
untuk membeli kepalamu aku sanggup membayarnya ! “
pengemis itu mengambil sebuah kantung dari saku bajunya
dabn membuka kantung itu di depan pelayan . Isinya penuh
potongan emas dan perak ! .
Pelayan itu terbelalak . “ Engkau tentu seorang pencuri atau
perampok ! Pendeknya engkau tidak boleh masuk restoran ini
, engkau akan membikin para langganan kami menjadi jijik
melihatmu ! “ .
“ Kenapa jijik ? Karena pakaianku buruk ? Ketahuilah ,
mereka yang berpakaian bersih dan bagus itu banyak sekali
yang benar-benar menjijikan karena kelakuan mereka “ .
“ sudahlah , jangan banyak cerewet . Pergi dari sini atau ku
seret kau ! “ pelayan yang bertubuh tinggi besar itu
mengancam . Akan tetapi pengemis yang masih muda dan
tubuhnya kecil itu tidak kelihatan takut mendengar ancaman
itu .
“ Hemmmm ingin sekali aku melihat bagaimana engkau
akan menyeret aku “ , tantangnya .
“ Keparat , ku lempar kau keluar ! “ pelayan itu berseru dan
tangannya mencengkram punggung baju pengemis itu dan
hendak melemparkannya keluar . Akan tetapi terjadilah
keanehan bagi para tamu yang tertarik mendengar
pertengkaran itu . Ketika pelayan itu hendak menyeret dan
melemparkan pengemis itu keluar , tiba-tiba pelayan itu
mengeluh di susul dengan tubuhnya yang tinggi besar itu
terlempar sampai keluar dari rumah makan ! .
Pengemis itu tersenyum mengejek . “ Ingin kulihat siapa
yang tidak membolehkan aku makan di sini ! “ .
Han Sin tadi dapat melihat betapa pengemis itu menotok
tubuh si pelayan lalu mendorongnya sampai terlempar keluar .
Gerakannya tadi sedemikian cepatnya sehingga para tamu
yang berada di situ tidak dapat melihatnya . Han Sin kagum ,
akan tetapi juga tidak senang melihat sikap pengemis itu ugalugalan
. Sikap seperti itu dapat mengundang banyak kesulitan
bagi dirinya sendiri .
“ Aku yang tidak boleh ! “ tiba-tiba terdengar bentakan
nyaring dari arah kiri . Semua orang menengok dan
memandang . Ternyata yang membentak ini adalah seorang
pemuda yang bertubuh tinggi besar , usianya sekitar duapuluh
tiga tahun .Pakaian pemuda ini mentereng dan lagaknya
seperti seorang pemuda bangsawan atau hartawan dengan
potongan pakaian seperti seorang ahli silat serba ringkas dan
gagah . Wajahnya memang gagah , rambutnya hitam tebal ,
alisnya hitam dan sepasang matanya lebar bersinar garang ,
hidung mancung besar dan mulutnya juga lebar . Wajahnya
jantan dan gagah .
Pengemis muda itu juga menengok dan ketika melihat siapa
yang tadi membentaknya , dia bertolak pinggang dan
membusungkan dada ! .
“ Hemmm , ada sangkut paut apa kau dengan aku yang
hendak makan di rumah makan ini ? Apa pedulimu kalau aku
makan di sini ? “ katanya dengan suara ketus .
“ Kalian para pengemis tidak layak makan di sini .
Menghilangkan selera makanku . Hemmm , pengemis adalah
orang-orang malas , sudah sepatutnya dibasmi habis dari
permukaan bumi ! “ kata pemuda tinggi besar itu garang .
“ Wah , kau menghina orang ya ? Kami para pengemis
minta belas kasihan orang dengan suka rela , tidak memaksa .
Bahkan kami menggerakkan hati nurani manusia untuk
beramal , ingat akan kekurangan orang lain . Tidak seperti
engkau . Mungkin engkau putera hartawan dan hartawan
biasanya memeras keringat orang yang tidak mampu atau
mungkin engkau putera bangsawan dan para bangsawan
biasanya melakukan korupsi . Pengemis lebih baik daripada
hartawan atau bangsawan ! “ Ternyata pengemis muda itu
pandai sekali bicara , bicaranya cepat dan lancar , nerocos
seperti burung kakaktua .
“ Engkau memang jembel cilik yang perlu dihajar ! “
Pemuda tinggi besar itu sudah mengepal tinju .
“ Engkau yang perlu di hajar ! Aku seujung rambutpun tidak
takut kepadamu ! Karena tinggi besar engkau berlagak jagoan
ya ? “ Pengemis itu berteriak marah dan mengamangkan tinju
tangan kirinya yang kecil .
Melihat sikap pemuda tinggi besar yang agaknya bukan
orang sembarangan itu , Han Sin khawatir akan nasib
pengemis muda itu . Pengemis itu masih muda remaja ,
biarpun meiliki sedikit kepandaian , kalau bertemu lawan
tangguh tentu akan celaka . Maka dia cepat bengkit dari
tempat duduknya dan menghampiri pemuda tinggi besar itu
lalu memberi hormat .
“ Sobat , harap maafkan dia yang masih amat muda .
Biarlah dia makan bersamaku dan aku yang tanggung bahwa
dia akan membayar harga makanannya ! “ .
Pemilik rumah makan yang di ikuti oleh beberapa orang
pelayan juga mohon kepada pemuda tinggi besar itu agar
jangan berkelahi di rumah makan mereka . Sementara itu Han
Sin mendekati si pengemis dan berkata , “ Sobat , bukankah
kita sudahpernah saling jumpa ? Aku mengundangmu untuk
makan semeja denganku , harap engkau tidak menolak dan
menghindarkan keributan dalam rumah makan ini “ .
Pengemis itu memandang kepada Han Sin ,
memperhatikannya dari kepala sampai kaki seperti orang
menilai , lalu mengangguk , “ Hemmm , baiklah .Setelah
kejadian yang menjengkelkan ini , aku memang perlu seorang
teman yang baik ! “ .
Dengan langkah dan lagak gagah pengemis itu lalu
mengikuti Han Sin menuju ke meja , melempar pandang ke
kanan kiri seolah hendak menantang siapa yang akan berani
mencegahnya ! .
Han Sin dan pengemis itu duduk berhadapan dan Han Sin
segera meneriaki pelayan agar menambah minuman dan
makanan . Dia menuangkan arak ke dalam cawan pengemis
itu .
“ Silahkan minum untuk mengucapkan selamat atas
perjumpaan ini “ , kata Han Sin . Pengemis itu tersenyum dan
mereka minum secawan arak .
Pengemis itu tanpa malu-malu lagi lalu makan minum dan
nampaknya ia lahap sekali . Akan tetapi Han Sin yang
memperhatikan melihat kenyataan bahwa pengemis itu hanya
makan sedikit . Belum menghabiskan nasi semangkok dia
sudahberhenti .
“ kenapa makanmu sedikit sekali ? Makanlah lagi dan
tambah nasinya “ .
“ Ah , tidak . Aku takut menjadi gemuk kalau makan terlalu
banyak “ , jawabnya . Tentu saja Han Sin tertegun heran .
Mana ada pengemis tidak mau makan banyak karena takut
gemuk ?
“ Sekarang aku ingat ! “ pengemis itu berseru . “ Bukankah
engaku pengantin pria itu ?” .
Wajah Han Sin berubah merah , akan tetapi diapun
tersenyum dan menjawab “ Maksudmu pengantin paksaan ?
Benar , kita pernah bertemu di kuil Hwa-li-pang “ .
“ Wah , kebetulan sekali aku bertemu denganmu di sini .
Aku memang ingin bertanya mengapa pesta pernikahan itu
tidak jadi di langsungkan ? Aku sudah menanti-nanti untuk
mendapatkan bagian arak dan kue pengantin , ternyata tidak
jadi ada pesta pernikahan ! Apa yang terjadi ? “ Pengemis itu
berpura-pura , karena di luar pengetahuan Han Sin . Dirinya
memegang peran penting dalam penggagalan pernikahan itu .
Dengan suara bisik-bisik agar tidak terdengar orang lain ,
Han Sin menjawab , “ aku dapat melarikan diri dari mereka “ .
“ Ih , kenapa lari ? Bukankah senang akan di nikahkan
dengan nona yang cantik itu ? ' .
“ Kau maksudkan yang gila itu ? Mereka semua itu gila ,
akan tetapi aku tidak berdaya . Mereka lihai sekali . Akan
tetapi untung aku dapat meloloskan diri dari tangan mereka
berkat bantuan seorang gadis yang bernama Kim Lan . Hebat
bukan main nona Kim Lan itu ! “ han Sin memuji dengan
penuh kagum .
“ Maksudmu nona yang berpakaian serba putih itu ? Ya , ia
memang cantik sekali ' .
“ Bukan hanya cantik jelita seperti bidadari , akan tetapi
ilmunya juga hebat . Ketika aku di tawan keluarga gila , aku di
beri racun dalam keadaan keracunan itu aku tidak dapat
melarikan diri . Akan tetapi nona Kim itu dapat menyeludup
masuk kamarku dan aku di obatinya sampai sembuh .
Kemudian ia merencanakan agar aku dapat melarikan diri .
Bukankah ia hebat sekali ? “ .
Pengemis itu mengangguk-angguk dan mengacungkan ibu
jarinya .
“ Namanya Kim Lan ? Hemmm , kalau aku bertemu
dengannya akan kuceritakan padanya betapa engkau memujimuji
setengah mati “ .
Karena sudah lama mereka selesai makan , seorang
pelayan menghampiri untuk menmbersihkan meja mereka dan
membawa pergi perabot makan . Akan tetapi kedua orang itu
masih bercakap-cakap terus .
Mereka merasa akrab sekali dan diam-diam Han Sin merasa
heran mengapa dia begitu suka dengan pemuda pengemis ini
. Rasanya seolah-olah mereka sudah bersahabat lama sekali .
“ Dan engkau sendiri , siapakah namamu ? “ tanya Han Sin
Pengemis itu mengangkat muka memandang dan sepasang
mata itu mengeluarkan sinar yang amat tajam . Han Sin dapat
menduga bahwa pengemis muda yang memiliki sepasang
mata setajam itu pastilah bukan orang biasa .
“ Engkau belum memperkenalkan namamu sendiri ,
bagaimana menanyakan nama orang lain ? “ jawabnya .
“ Ahh , aku lupa “ , kata Han Sin sambil tersenyum . “
Baiklah namaku Cian Han Sin , dan engkau ........? “
“ Aku bermarga Cu dan namaku Sian ian “ .
Pada saat itu , seorang pelayan datang menghampiri meja
mereka dan pelayan itu bertanya kepada Han Sin , “ Kalau
kong-cu ingin memilih kamar , silahkan ikut saya “ .
“ Ah , ya baiklah ' . Han Sin bangkit berdiri dan membayar
harga makanan .
“ Aku juga minta sebuah kamar “ , kata pengemis muda
bernama Cu Sian itu kepada si pelayan .
“ Adik Cu Sian , marilah kau menginap dikamarku saja . Kita
pakai kamar itu untuk kita berdua “ .
“ Tidak , terima kasih . Aku ingin menyewa kamar sendiri ! “
kemudia berkata mengancam kepada pelayan itu . “ Jangan
menolakku ! Aku akan membayar , berapaun sewanya ! “ .
Han Sin dapat menduga bahwa watak pengemis ini
memang liar dan ugal-ugalan , maka diapun mengangguk
kepada pelayan itu dan berkata , “ penuhi saja permintaan
sahabatku ini
“ Baik , baik , mari silahkan mengikuti saya “ .
Mereka terus masuk ke bangunan di belakang rumah
makan itu . Ternyata bangunan itu merupakan bangunan
susun dan mempunyai banyak kamar . Mereka mendapatkan
dua buah kamar yang berdampingan dan setelah pelayan itu
pergi meninggalkan mereka , barulah Han Sin bertanya
kepada pengemis itu .
“ Sian-te ( adik Sian ) , engkau ini aneh sekali “ .
“ Apanya yang aneh , Sin-ko ( Kakak Sin ) ? “ Sepasang
mata Cu Sian mengamati wajah Han Sin dengan tajam penuh
selidik .
Han Sin menyimpan buntalan pakaiannya ke dalam
kamarnya dan Cu Sian juga melakukan hal yang sama .
Kemudian mereka ke luar kembali dan duduk di ruangan
depan kamar mereka , dimana disediakan beberapa buah
bangku dan meja .
“ Kau tadi bilang aku aneh , nah , apanya yang aneh , Sinko
? “ tanya Cu Sian . Mereka dapat bercakap-cakap dengan
leluasa karena ruangan itu terpisah dari para tamu lainnya .
“ Engkau berkeras minta sebuah kamar sendiri dan tidak
mau menginap dalam kamarku . Bukankah itu terlalu royal dan
aneh ? “
Cu Sian tertawa dan wajahnya nampak tampan sekali ketika
dia tertawa . “ Heh-heh , apa anehnya itu ? Sejak kecil aku
terbiasa tidur sendiri . Kalau ada temannya , aku pasti tidak
akan dapat tidur pulas sepanjang malam “ .
“ Masih ada hal yang lebih aneh lagi yang membuat aku
dapat menduga siapa engkau sebenarnya , Sian-te “ .
“ Ehh ? Benarkah ? Apa saja keanehan itu ? “
Kini Han Sin yang mengamati wajah Cu Sian penuh selidik
dan dia berkata “ Aku berani menduga engkau tentulah
seorang pemuda remaja yang kaya raya dan pandai ilmu silat .
Engkau tentu sedang merantau dan menyamar sebagai
seorang pengemis untuk mencari pengalaman . Nah ,
benarkah dugaanku ini ? “ .
Cu Sian yang tadinya mendengarkan dengan serius itu kini
tertawa lagi . “ heh-he-he , apa alasannya engkau menduga
seperti itu , Sin -ko ? “
“ Mudah saja ! Cara bicara menunjukkan bahwa engkau
seorang yang berpendidikan tinggi . Engkau mengenakan
pakaian pengemis akan tetapi tidak mengemis , bahkan
membawa banyak uang dan sikapmu juga royal sekali , tanda
bahwa engkau seorang hartawan . Dan ketika di kuil Hwa-lipang
terjadi perkelahian , engkau muncul dan berkelahi
melawan nenek gila yang sakti , ini membuktikan bahwa
engkau pandai silat , juga ketika engkau melempar pelayan
tadi keluar rumah makan . Nah , benarkah dugaanku itu ?” .
Cu Sian menghela napas panjang , “ Aihhh , begitu
menonjol dan canggungkah penyamaranku ini ? “ .
Han Sin menggeleng kepala . “ Tidak Sian-te . Melihat
sepintas lalu saja , penyamaranmu memang sudah baik sekali
dan tak seorangpun menyangsikan bahwa engkau seorang
pengemis . Akan tetapi kalau sudah bergaul dengan mu ,
maka akan nampaklah kejanggalan-kejanggalan itu . Sikapmu
sungguh bukan seperti pengemis , melainkan sebagai seorang
pendekar muda yang kaya raya ! “
“ Aduh mak , celaka aku ! Bertemu dengammu sama saja
dengan kena batunya . Selama beberapa bulan menyamar ini ,
baru sekarang rahasiaku terbuka . Maka sesungguhnyalah ,
aku bukan seorang pengemis akan tetapi aku bersahabat
dengan seorang pengemis , bahkan aku keturunan pemimpin
perkumpulan pengemis “ .
“ Akan tetapi kenapa engkau menyamar sebagai pengemis
?” .
“ Sudah tentu agar aku tentu leluasa dan aman melakukan
perjalanan . Kalau aku melakukan perjalanan sebagai seorang
kong-cu , tentu akan mengalami banyak gangguan dari para
perampok dan pencuri . Engkau benar , aku memang sedang
merantau mencari pengalaman dan penyamaran ini kulakukan
agar perjalananku aman “ .
“ Sian-te , engkau seorang pemuda yang memiliki
kepandaian silat tinggi , kenapa takut akan gangguan orang ?
Sedangkan aku yang tidak mempunyai kepandaian apa-apa
saja berani melakukan perjalanan tanpa penyamaran , apalagi
engkau “ .
Cu Sian tersenyum dan menundingkan telunjuknya ke arah
muka Han Sin .
“ Jangan mengira bahwa engkau seorang yang pandai
menebak keadaan orang lain , akan tetapi akupun dapat
menggambarkan siapa adanya engkau “ .
“ Benarkah ?”.
“ Hemmm , aku tahu bahwa engkau seorang yang
berpendidikan , dapat di duga dari caramu bicara dan
pandanganmu yang cerdik dan luas kalau bicara . Engkau
seorang yang baik budi , akan tetapi agaknya engkau tidak
pandai ilmu silat , atau andaikata dapat tentu tidak beberapa
tinggi . Buktinya engkau dapat dikuasai oleh keluarga gila itu .
Tentu kecerdikanmu , dapat kulihat bahwa beradanya engkau
dan keluarga gila itu di Hwa-li-pang . Tentu engkau yang
membujuk mereka agar pernikahan dilakukan di Hwa-li-pang
maka keluarga gila itu mati-matian meminjam tempat di Hwali-
pang . Tentu kaumaksudkan agar orang-orang Hwa-li-pang
dapat menolongmu . Benarkah ? “ .
Han Sin mengangguk-angguk dan memang dia kagum
sekali . Pemuda remaja ini selain lincah jenaka juga amat
cerdik seperti kancil .
“ Lalu apa lagi ? Dugaanmu yang sudah itu tepat sekali “ .
“ Hemmm , engkau pasti bukan seorang pemuda yang kaya
. Engkau memesan makanan yang murah di rumahmakan tadi
dan buntalan pakaianmu yang ringan tentu tidak mengandung
banyak uang . Dan seorang diri engkau melakukan perjalanan
ke utara padahal di utara bukan tempat untuk berpesiar .
Tentu engkau mempunyai tujuan tertentu dalam perjalanan ini
“ .
“ Engkau hebat , Sian-te “ .
“ Ada satu lagi . Aku berani menduga bahwa engkau adalah
seorang putera bangsawan walaupun tidak kaya “ .
“ Ehhh ? “ Han Sin benar-benar terkejut sekali . Bagaimana
engkau menduga begitu ?” .
“ Sikapmu ketika mencegah si tinggi besar di rumah makan
tadi agar tidak menyerangku . Sikap itu demikian penuh
wibawa dan ini biasanya hanya di miliki oleh keluarga
bangsawan tinggi . Jangan-jangan engkau ini seorang
pangeran yang menyamar ? “ .
“ Ngacau .... ! Han Sin tertawa , akan tetapi diam-diam dia
harus berhati-hati terhadap seorang yang demikian cerdiknya .
“ Aku bukan pangeran bukan putera bangsawan , melainkan
anak seorang ibu yang telah janda sejak aku berusia sepuluh
tahun “ .
“ heeiii ... nanti dulu ! Engkau bermarga Cian , bukan ?
Hemmm , engkau kematian ayahmu sejak berusia sepuluh
tahun dan usiamu sekarang ku taksir duapuluh tahun .
Sepuluh tahun yang lalu engkau kematian ayahmu dan engkau
she Cian ! Padahal , sepuluh tahun yang lalu , kematian Cian-
Tai-Ciangkun , Sin-ko , engkau putera mendiang Panglima
Besar Cian Kauw , bukan ? “ .
Wajah Han Sin berubah dan dia bangkit dari tempat
duduknya . Tebakan yang tepat itu sama sekali tidak pernah
disangkanya dan dia memandang kepada Cu Sian dengan
tajam , sepasang matanya mencorong dan sikapnya penuh
kewaspadaan .
Cu Sian juga bangkit dan menggerakkan tangan menghibur
Han Sin .
“ Jangan takut , Sin-ko . Aku tanggung bahwa tidak akan
ada orang lain dapat menduga bahwa engkau putera Panglima
Besar Cian Kauw , Walaupun andaikata ada yang tanya
sekalipun tidak apa-apa . Kalau aku dapat menduga siapa
engkau , hal itu adalah karena kakekku adalah sahabat baik
dari Cian-ciangkun . Kakek ku pernah menjadi temen
seperjuangan ayahmu , maka aku sudah mendengar akan
semua riwayat dan keadaan Cian-c iangkun dari mendiang
ayahku . Kalau aku tidak mengetahui keadaannya , tentu aku
tidak akan dapat menduga bahwa engkau puteranya “ .
Han Sin sudah dapat menenangkan hatinya dan dia duduk
kembali . Sejenak dia memandang kepada Cu Sian lalu
mengangkat telunjuknya ke arah muka Cu Sian . “ Hemmm
anak nakal . Jangan engkau terlalu bangga dan
menyombongkan dirimu . Akupun dapat menduga siapa
engkau ini “ .
“ Eh ? Benarkah ? Nah , katakan siapa aku ini ? “ Cu Sian
menantang .
“ Engkau tentu cucu dari Ketua Hek-I-Kaipang di Tiang-an “
.
Kini Cu Sian yang meloncat dari tempat duduknya dan
memandang kepada Han Sin dengam mata terbelalak . “
Lohhh , bagaimana engkau bisa menduga begitu ?”
“ Apa sukarnya ? Engkau tadi pernah mengatakan bahwa
engkau keturunan pemimpin pengemis . Dalam
penyamaranmu , engkau mengenakan pakaian pengemis
warna hitam . Mengapa warna hitam dan bukan warna lain ?
Dan engkau bermarga Cu . Maka mudah saja di duga , aku
sudah mendengar dari ayah ibuku siapa-siapa tokoh kang-ouw
yang menjadi temen seperjuangan ayah . Diantaranya adalah
Cu Lo-kai , ketua dari Hek-I-Kaipang ( Perkumpulan Pengemis
Baju Hitam ) . Nah , coba menyangkal kalau bisa ! “ Han Sin
tersenyum penuh kemenangan melihat pengemis muda itu
nampak gugup .
“ Dan ..... engkau mendengar tentang ayah ibuku ? “
Han Sin menggeleng kepalanya . “ Tidak Ayah dan ibu
tidak tahu apa yang terjadi selanjutnya dengan Hek I Kaipang
dan para pengurusnya setelah Kerajaan Sui berdiri . Jadi ,
tentu saja aku tidak apapun tentang orang tuamu “ .
Wajah itu berseri kembali . “ Dugaanmu memang tepat . “
Hemmm , alangkah pintarnya engkau , sin-ko “
“ Tidak lebih pintar darimu , Sian-te “ .
“ Nah , sekarang kita telah mengenal dengan baik keadaan
diri masing-masing . Agaknya persahabatan antara ayahmu
dan kakek ku menjadi jembatan persahabatan kita “ .
“ Akan tetapi , aku hanya seorang pemuda biasa , tidak
sepandai engkau dalam ilmu membela diri , “ kata Han Sin ,
memancing apakah pemuda remaja itupun dapat menduga
bahwa dia memiliki ilmu silat tinggi . Ternyata Cu Sian tidak
dapat menduganya .
“ Jangan khawatir , Sin-ko . Bukankah kita sudah menjadi
sahabat baik ? Akulah yang akan membela dan melindungimu
dan jangan engkau takut , aku tidak menyombongkan diriku
apabila kukatakan bahwa tongkatku ini cukup kuat untuk
melindungi kita berdua “ kata Cu Sian sambil mengangkat
tongkatnya yang tadi diletakkan di atas meja .
Han Sin tersenyum , “ wahh , lega hatiku sekarang ,
mempunyai seorang sahabat seperti engkau , Sian-te . Setelah
kita menjadi sahabat , tentu engkau tidak berkeberatan untuk
memberitahu kepadaku kemana engkau hendak pergi dan apa
yang kau cari sampai engkau tiba di sini , jauh dari Tiang-an ,
tempat tinggalmu “ .
Mendadak wajah yang berseri itu menjadi muram .
Beberapa kali Cu Sian menghela napas panjang , kemudian
berkata , “ sebetulnya kalau bukan kepadamu , aku tidak
pernah menceritakan keadaan ku , sin-ko . Entah mengapa ,
kepadamu aku seketika percaya sepenuhnya . Mungkin karena
mengetahui bahwa engkau putera mendiang Cian-ciangkun .
Akan tetapi setelah engkau mendengar cerita tentang diriku ,
ku harap engkaupun akan menceritakan keadaanmu dan
kemana engkau hendak pergi “ .
“ Baik , aku tidak akan menyimpan rahasia , Sian-te “ .
Cu Sian memandang ke kanan kiri , ke arah pintu-pintu
depan belakang rumah itu yang terbuka . Tidak nampak
seorangpun manusia dan dia segera mulai dengan ceritanya .
“ Kakekku hanya mempunyai seorang putera , yaitu ayahku
. Akan tetapi sejak mudanya , ayahku yang bernama Cu Kak
tidak mau mengikuti jejak kakek , tidak mau menjadi
pengemis bahkan tidak mau melanjutkan pimpinan Hek I
Kaipang . Ayah telah mewarisi seluruh ilmu kepandaian kakek
dan kepandaian itu menjadi modal bagi ayah untuk membuka
piauw-kok ( perusahaan pengiriman barang ) . Ayah menjadi
piauw-su ( pengawal kiriman barang ) yang disegani dan
dapat membuat perusahaannya menjadi terkenal dan besar .
Setelah kakek meninggal dunia , Hek I Kaipang diserahkan
kepada para murid lain untuk memimpinnya .
“ Aku tidak dapat menyalahkan ayahmu . Karena
bagaimanapun juga , menjadi pengemis menimbulkan kesan
kurang baik bagi seseorang , apalagi kalau dia masih muda
dan kuat “ .
“ Akan tetapi kakek sendiri tak pernah mengemis , kakek
hanya mengumpulkan para pengemis , dalam satu wadah agar
mereka tidak melakukan perbuatan jahat “ .
“ Aku mengerti , Sian-te . Lanjutkanlah “ .
“ Kakekku meninggal dunia ketika aku baru berusia sepuluh
tahun , terjadilah malapetaka itu . Mula-mula sebuah kiriman
barang berharga yang di lindungi perusahaan ayah menuju
jauh ke utara di rampok di tengah perjalanan . Para piauw-su
pembantu ayah berusaha melawan , akan tetapi banyak
diantara mereka tewas dan sisanya melarikan diri pulang dan
melapor kepada ayah . Ayah menjadi marah . Barang kiriman
yang hilang itu amat berharga dan tidak mungkin ayah dapat
menggantinya . Maka ayah sendiri lalu pergi ke utara dimana
terjadi perampokan itu . Perampokan itu terjadi di lembah
Huang-ho dan barang kiriman itu seharusnya di bawa ke Potouw
“ .
“ Dengan siapa ayahmu pergi ?” .
“ Ayah pergi bersama para pembantunya , yaitu para
piauw-su yang dapat melarikan diri dari para perampok itu .
Setelah tiba di tempat itu , ayah dan para pembantunya di
serang oleh gerombolan perampok itu dan dalam pertempuran
ini ayah tewas . Para piauw-su dapat melarikan jenazah ayah
pulang . Ibu terkejut dan sedih sekali sehingga setelah semua
barang milik kita di jual untuk mengganti barang yang di
rampok , ibu jatuh sakit dan akhirnya setahun setelah ayah
tewas , ibu juga meninggal dunia , meninggalkan aku seorang
diri di dunia ini “ .
“ Aduh kasihan sekali engkau , Sian-te . Masih muda sekali
telah di tinggal kedua orang tuamu “ , kata Han Sin terharu .
“ Ketika itu aku baru berusia sebelas tahun , aku tetapi aku
sudah mengerti keadaan . Aku bertanya kepada para piauw-su
siapa yang membunuh ayah . Mereka mengatakan bahwa
perampokitu memakai nama Kwi-to-pang ( Perkumpulan Golok
Setan ) dan yang membunuh ayahku adalah ketua
perkumpulan itu , seorang laki-laki tinggi besar yang brewok
dan memegang sebatang golok besar . Aku lalu belajar silat
dari para paman guruku , yaitu para murid kakek di Hek I
Kaipang . Setelah semua ilmu dapat ku kuasai , aku lalu pergi
merantau untuk menambah pengalamanku dan mencari
musuh besar yang membunuh ayah ibuku “ .
“ Ibumu ? Bukankah ibumu meninggal dunia karena sakit ?”
.
“ Betul , akan tetapi kalau tidak gara-gara orang yang
membunuh ayahku , tentu ibutidak meninggal karena
kesedihannya . Dalam perjalananku mencari musuhku itulah
aku bertemu dengan engkau , Sin-ko “ .
“ Ah , hidupmu seolah bertujuan untuk membalas dendam “
.
“ Apa lagi yang dapat kulakukan ? Aku harus membalas
dendam kematian orang tuaku , hanya itu yang dapat
kulakukan untuk membalas budi mereka kepadaku “ .
“ Kalau engkau menjadi seorang pendekar pembasmi
kejahatan yang membela kebenaran dan keadilan , berarti
engkau sudah mengangkat dan mengharumkan nama ayah
ibumu “ .
“ Sudahlah , tidak perlu kita perdebatkan hal itu . Sekarang
aku menagih janji . Engkau berjanji akan menceritakan
riwayatmu sampai kesini “ .
Han Sin menghela napas panjang . Riwayatku tidak lebih
baik daripada riwayatmu , Sian-te . Engkau sudah mendengar
bahwa ayah tewas dalam suatu pertempuran yang terjadi di
sebelah utrara Sjan-si , ketika memimpin pasukan untuk
menumpas pemberontakan di sana . Kalau ayah meninggal
dunia karena bertempur , hal itu adalah wajar saja . Seorang
Panglima gugur dalam pertempuran merupakan hal wajar dan
kami tidak akan merasa penasaran . Akan tetapi , ayah tewas
karena pengkhianatan “ .
“ Ehhh ? Siapa yang mengkhianatinya ? “ .
“ Itulah yang menjadi rahasia . Tidak ada yang tahu siapa
yang membunuh ayah ketika terjadi
pertempuran itu “ .
“ Kalau begitu , bagaimana engkau tahu bahwa dia di
khianati dan bukan tewas oleh pihak musuh ?” .
“ Ayah tewas karena terkena anak panah yang datangnya
dari belakang . Anak panah itu mengenai punggungnya . Dan
lebih daripada itu , Pedang pusaka ayah , Hek liong Kiam juga
lenyap . Setelah ayah meninggal , ibu mengajakku pindah ke
dusun “ .
“ Dan sekarang engkau sampai di sini , hendak kemanakah
?” .
“ Ibu menyuruh aku untuk mencari pedang pusaka milik
ayah yang hilang itu “ .
“ Aih , dengan sedikit kepandaian silat yang kau miliki ,
bagaimana engkau akan dapat menemukan atau
merampasnya kembali ? Mungkin pedang pusaka itu diambil
oleh pembunuh ayahmu ! “ .
“ Kalau begitu , bagaimanapun akan ku hadapi “ .
“ Engkau bisa celaka .... akan tetapi jangan takut , Sin-ko .
Aku akan membantumu menghadapi pembunuh ayahmu dan
pencuri pedang pusaka itu !” .
“ Akan tetapi engkau sendiri mempunyai tugas yang penting
, dan aku tidak berani mengganggumu dengan urusanku ,
Sian-te “ .
“ Begitukah sikap seorang sahabat ! “ kata Cu Sian dengan
alis berkerut .
Han Sin merasa tidak enak sekali . Dalam mencari pedang
dan pembunuh ayahnya , mungkin dia akan menghadapi
musuh-musuh yang lihai . Kalau Cu Sian bersama dengannya ,
maka pemuda remaja ini dapat terancam bahaya . Dia tidak
menghendaki hal hal itu terjadi . Pula , tidak pantas kalau
pemuda itu sampai membahayakan diri sendiri hanya untuk
membantunya dalam urusan pribadi .
'Sungguh , aku menyesal sekali terpaksa harus menolak
bantuanmu , Sian-te . Aku tidak ingin mengganggumu . Lebih
baik engkau selesaikan urusanmu sendiri dan aku akan
mencoba untuk mencari pedang pusaka ayahku itu seorang
diri pula “ .
Cu Sian bangkit berdiri , wajahnya berubah merah . “ Apa ?
Engkau menolak uluran tanganku ? Sin-ko , engkau terlalu
memandang rendah padaku ! Apa kaku kira aku tidak akan
mampu mendapatkan Hek liong kiam itu untukmu ?” .
“ Bukan begitu , Sian-te , akan tetapi ............... “ .
“ Akan tetapi apa .......... ? “ .
“ Aku tidak mau merepotkanmu , pula kalau sampai terjadi
apa-apa denganmu karena engkau membantuku , aku akan
merasa menyesal selama hidupku . Terima kasih banyak atas
kebaikanmu dan pembelaanmu , akan tetapi sungguh
menyesal sekali , aku harus menolaknya “ .
“ Bagus ! Cu Sian bangkit berdiri dan menggebrak meja . “
Engkau sungguh seorang sahabat yang tidak mengenal arti
kesetian ! “ .
“ Maafkan aku , Sian-te . Akan tetapi aku sungguh tidak
ingin melihat engkau celaka . Engkau masih begini muda .... “
.
“ Cukup ! Kau anggap aku anak kecil , ya ? Kalau tidak ada
anak kecil ini , belum tentu engkau dapat meloloskan diri dari
keluarga gila itu , tahukah engkau ? Akulah orangnya yang
memancing agar engkau dapat meloloskan diri ! “ .
“ Ahhh , terima kasih banyak , Sian-te . Engkau memang
hebat ..... “
“ Tidak perlu memuji , pendeknya mau atau tidakkah kau
kalau kubantu engkau mencari pedang pusaka itu ? “ .
“ Terpaksa aku menolaknya , Sian-te . Ini dapat berbahaya
sekali untukmu dan .............. “
“ Sudahlah , engkau memang keras kepala ! Kalau engkau
kelak menghadapi ancaman musuh yang tangguh , baru
engkau menyesal mengapa tidak menerima tawaranku . Sudah
, aku mau tidur ! “ dan pemuda remaja itu membantingbanting
kaki lalu memasuki kamarnya , menutupkan daun
pintu kamar keras-keras .
Han Sin masih duduk termangu . Dia suka sekali kepada Cu
Sian . Akan tetapi pemuda itu masih seperti kanak-kanak .
Bagaimana dia boleh mengajak kanak-kanak menghadapi
bahaya dalam mencari pedang Hek liong kiam ? Kalau dia
sendiri gagal bahkan sampai tewas dalam usahanya ini , dia
tidak akan menyesal . Akan tetapi kalau sampai Cu Sian tewas
dalam membantunya , dia tentu akan merasa menyesal bukan
main .
Akhirnya dia menghela napas dan memasuki kamarnya
sendiri . Dia merasa kecewa dan menyesal bahwa
persahabatannya dengan pemuda remaja itu akan berakhir
begini . Akhirnya Han Sin dapat juga tidur pulas .
****
Pada keesokan harinya , suara ayam jantan berkokok
nyaring di luar jendela kamarnya . Han Sin turun dari
pembaringannya dan membuka daun jendela itu . Pekarangan
samping itu di tumbuhi pohon-pohon dan kembang . Suasana
pagi itu indah sekali dan hawanya sejuk segar memasuki
kamarnya . Tiba-tiba dia teringat kepada Cu Sian yang berada
di kamar sebelah . Dia menjulurkan kepala keluar jendela
untuk memandang ke arah jendela kamar sebelah .
Daun jendela itu masih tertutup . Agaknya sahabat barunya
itu masih tidur . Dia berharap mudah-mudahan Cu Sian tidak
marah lagi dan mereka akan dapat saling berpisah sebagai
dua orang sahabat ! .
Han Sin termenung sambil memandang keluar dimana
burung-burung beterbangan dan berloncatan dari dahan ke
dahan . Dimana kupu-kupu beterbangan di sekitar bungabunga
. Pagi yang cerah , hari yang indah . Alangkah akan
gembiranya kalau pada pagi seindah itu dia melakukan
perjalanan dengan Cu Sian , sahabatnya yang riang gembira
dan lincah jenaka itu . Akan tetapi dia segera menggeleng
kepalanya . Tidak ! Dia mempunyai tugas yang berat dan
berbahaya . Siapa tahu apa yang akan dihadapinya di utara
nanti . Tidak boleh dia membawa Cu Sian , pemuda remaja itu
memasuki bahaya pula .
Han Sin yang sadar dari lamunannya lalu pergi
membersihkan diri di kamar mandi yang letaknya di belakang
rumah penginapan itu , kemudian setelah bertukar dengan
pakaian bersih dia menghampiri kamar Cu Sian . Diketuknya
pintu kamar itu beberapa kali , lalu dia menanti . Akan tetapi
tidak ada jawaban , tidak ada suara dari dalam kamar itu .
Daun pintu kamar itu tetap tertutup , tidak dibuka dari dalam .
Dia mengetuk lagi dan memanggil , “ Tok ... tok..tok ! Siante
, bangunlah , hari telah siang ! “
Akan tetapi tetap saja tidak ada jawaban . Ketika dia
mengetuk-ngetuk kembali , muncul seorang pelayan yang
kemarin melayaninya .
“ Percuma diketuk karena kamar itu kosong kong-cu “ ,
katanya .
“ Eh ? Kosong ? Bukankah kamar ini yang ditempati
sahabatku itu ?” .
“ Kong-cu maksudkan pemuda pengemis itu ?” .
Han Sin mengangguk , “ Ya , bukankah dia bermalam di
kamar ini ?” .
“ Ya , benar . Akan tetapi tadi pagi-pagi sekali , sebelum
ayam berkokok , dia telah pergi meninggalkan kamar ini dan
dia telah membayar sewa kedua kamar . Bahkan dia telah
membayar harga makan pagi yang akan dihidangkan kepada
kong-cu pagi ini . Apakah kong-cu tidak tahu bahwa dia telah
pergi ? “ pelayan itu memandang heran dan sadarlah Han Sin
bahwa sebagai seorang sahabat baik mestinya dia tahu akan
keberangkatan temannya itu .
“ Oh ya ......... aku lupa “ . Katanya dan ketika dia
menghadapi hidangan sarapan pagi yang royal . Dia
termenung dan hatinya terharu . Cu Sian telah membuktikan
ucapannya , meninggalkan dia yang tidak mau menerima
sahabat itu melakukan perjalanan bersama , menolak bantuan
yang di tawarkan Cu Sian . Dia tahu bahwa pemuda remaja itu
marah kepadanya sehingga pagi-pagi telah berangkat lebih
dulu . Akan tetapi bagaimanapun marahnya , Cu Sian telah
membelikan sarapan pagi yang royal untuknya ! .
Setelah makan pagi , Han Sin juga meninggalkan rumah
penginapan itu . Sewa kamarnya juga sudah dibayar oleh Cu
Sian ! Ketika melangkah kaki keluar dari pekarangan rumah
penginapan itu , hatinya terasa kosong dan sepi . Dia benarbenar
merasa kehilangan sahabatnya yang biasanya
menggembirakan suasananya itu . Hari yang cerah itu serasa
mendung .
Ketika tiba di pintu pagar halaman depan , seorang laki-laki
setengah tua bangkit berdiri sambil sambil menuntun seekor
kuda dan menyapa Han Sin . “ Apakah kong-cu yang bernama
Cian-kongcu ?” .
Han Sin memandang penuh perhatian dan tidak merasa
kenal dengan orang ini . ' Benar , paman . Ada apakah ? “ .
“ Saya adalah seorang penjual kuda , kong-cu . Dan Saya
ingin menyerahkan kuda ini kepada kong-cu “ .
“ Apa ? Mengapa ? “ Han Sin bertanya bingung .
“ Inilah kuda yang di beli oleh seorang sahabat kong-cu
untuk diserahkan kepada kong-cu pagi ini . Terimalah , kongcu
“ . Orang itu menyerahkan kendali kuda yang dipegangnya
kepada Han Sin .
Han Sin mengerti bahwa kekmbali ini tentu perbuatan Cu
Sian , maka terpaksa dia menerima kuda itu . Sahabatnya itu
memang seorang yang royal sekali ! Kalau dia di tawari kuda ,
tentu akan di tolaknya . Akan tetapi karena kuda itu sudah di
beli dan sudah di berikan kepadanya dan dia tidak dapat
mengembalikannya kepada Cu Sian , terpaksa dia melompat
ke atas punggung kuda dan melarikan kuda itu menuju pintu
gerbang sebelah utara dari kota Pey-yang .
Begitu keluar dari kota kegembiraan hati Han Sin muncul
kembali . Ia melupakan dua wajah yang selalu
membayanginya , yaitu wajah Kim Lan dan wajah Cu Sian .
Pemandangan di depan amat indahnya . Bukit-bukit yang tak
terhitung banyaknya menghadang di depannya . Orang-orang
telah membuat jalan raya menuju utara dan melalui jalan
inilah para rombongan pedangan melakukan perjalanan .
Barang yang dikirimkan ke daerah utara juga melalui jalan ini .
Jalan ini berada di lembah sungai Kuning , naik turun bukit
dan mengitari jurang dan puncak . Jalan mulai sepi dan Han
Sin membedal kudanya . Kuda itu ternyata seekor kuda yang
kuat dan baik . Pandai juga Cu Sian memilih kuda , pikirnya .
Perjalanan Han Sin mulai melalui daerah yang berbahaya
bagi para pejalan yang lewat . Keadaan sekeliling sejauh
puluhan mil sunyi dan jarang ada perumahan penduduk .
Ketika jalan menanjak ke sebuah bukit , pemandangan
amatlah indahnya . Han Sin memperlambat jalannya kuda ,
membiarkannya jalan , tidak berlari lagi . Selain untuk
mencegah kudanya terlalu kelelahan , juga dia ingin
menikmati pemadangan yang amat indah itu . Kebesaran alam
terbentang luas di depannya dan menghadapi pemandangan
alam yang luas dan megah dan indah ini , Han Sin merasa
betapa kecil dirinya . Kecil tidak berarti ! Di depan kakinya , di
bawah , nampak Sungai Huang-ho mengalir , lebar dan
panjang . Beberapa buah perahu nampak berada di sungai itu
. Sebagian latar belakangnya , jauh di seberang sungai
terdapat jajaran bukti yang tiada putusnya ,lenyap di
ujungnya dalam warna biru keabuan .
Tiba-tiba dia mendengar derap kaki kuda mendatangi dari
belakang . Dia lalu minggirkan kudanya agar tidak
menghadang mereka yang akan lewat . Tak lama kemudian ,
serombongan orang berkuda lewat situ . Tadinya Han Sin
mengira bahwa mereka tentulah para saudagar atau piau-su
yang mengawal barang kiriman . Akan tetapi tidak ada kereta
di antara mereka . Semua orang laki-laki berjumlah
tigapuluhan orang menunggang kuda danmelihat sikap
danpakaian mereka yang serba ringkas , mudah di duga
bahwa mereka itu adalah orang-orang yang kuat dan pandai
ilmu silat . Wajah mereka pun kelihatan bengis . Terutama
yang berada di depan dan agaknya menjadi pemimpin mereka
. Ada tiga orang laki-laki berusia antara empatpuluh sampai
enampuluh tahun berada di depan dan mereka bertiga ini
kelihatan menyeramkan . Ketika mereka lewat , Han Sin sudah
melompat turun dari atas punggung kudanya dan memegang
kendali kuda dekat mulut kuda agar kudanya tidak kaget dan
ketakutan melihat rombongan banyak orang itu . Dan dia
mendengar teriakan orang yang berada di depan .
“ Mari kawan-kawan , cepatan sedikit . Gerombolan Golok
Setan tentu sudah berada di balik bukit ini !” .
Mereka melarikan kuda lebih cepat lagi memasuki sebuah
hutan di depan . Mendengar di sebutnya Golok Setan , Han Sin
tertarik sekali . Teringatlah dia akan cerita Cu Sian . Bukannya
ayah Cu Sian juga terbunuh oleh gerombolan perampok yang
di sebut Kwi-to-pang ( Perkumpulan Golok Setan ) ? Karena
ingin sekali tahu apa yang akan di lakukan orang-orang itu
dengan gerombolan Golok Setan , Han Sin segera meloncat ke
atas punggung kudanya dan membayangi mereka dari jauh .
Setelah tiba di tengah hutan yang berada di lereng bukit ,
Han Sin melihat mereka itu sudah berhenti di situ .
Di situ terdapat sebuah lapangan rumput yang luas dan
orang-orang itu sudah turun dari kuda dan bergerombol di
lapangan rumput . Han Sin menghentikan kudanya .
Menambatkan kudanya pada sebatang pohon dan berindapindap
di amendekati tempat itu untuk mengintai . Dia melihat
tiga orang pemimpin yang menyeramkan itu duduk di atas
rumput dan anak buahnya duduk menghadap mereka . Akan
tetapi Han Sin melihat bahwa jumlah mereka banyak
berkurang . Sedikitnya tentu berkurang sepuluh orang . Dia
menyusup semakin dekat untuk mendengarkan percakapan
mereka .
“ Kalian bertiga , A-cun , A-tek , dan A-ban , selidiki mereka
dari puncak pohon dan seorang kabarkan kepada kami , yang
dua orang tetap berjaga di atas secara bergantian “ , ucapan
dengan suara yang parau ini keluar dari seorang pemimpin
yang bertubuh tinggi besar dan bermuka hitam .
Tiga orang anak buah bangkit dan meninggalkan lapangan
rumput itu , kemudian mereka berloncatan ke pohon-pohon
terbesar untuk melakukan pengintaian . Tak lama kemudian
seorang di antara mereka melompat turun . Gerakan tiga
orang anak buah ini cukup ringan dan cepat sehingga Han Sin
maklum bahwa rombongan orang ini merupakan rombongan
yang kuat sekali .
“ Lapor , Twa-pang-cu ( Ketua Pertama ) , mereka sudah di
depan , kurang lebih dua mil dari sini . Jumlah mereka sekitar
duapuluh ! “ .
' Hemmm , sekali ini kita akan menghancurkan dan
membasmi mereka ! Sam-sute , cepat kau pasang dan
sebarkan bubuk racun hitam itu seperti seperti yangtelah kita
rencanakan semula ! “ .
Yang di sebut sam-sute ( adik seperguruan ke tiga ) itu
adalah seorang diantara tiga pemimpin itu . Orang ini
bertubuh tinggi , namun tidak sebesar orang pertama , hanya
mukanya menyeramkan karena penuh dengan brewok yang
menutupi sebagian besar mukanya . Dia mengambil sebuah
bungkusan dari saku bajunya dan terlihat dia menaburkan
bubuk hitam pada garis setengah lingkaran yang menghadap
ke arah utara . Hanya bagian selatan yang tidak disebari racun
dan bagian selatan ini agaknya yang menjadi pintu bagi
mereka . Jarak garis yang di sebari racun itu kurang lebih
seratus meter dari tempat mereka duduk ,yaitu di tepi
lapangan rumput . Dan yang disebari racun bukanlah tanah
nya , melainkan dedaunan dan tumbuh-tumbuhan yang
terdapat di ditu . Setiap orang yang akan masuk kelapangan
rumput itu dari semua arah , kecuali dari arah selatan , tentu
akan semak dan rumput yang sudah mengandung racun itu
dan setiap orang tentu akan menguak semak itu dengan
tangannya agar dapat lewat sehingga tangan itu tentu akan
terkena racun . Han Sin yang melihat ini mengerutkan alis .
Cara yang di ambil orang-orang itu memang keji sekali . Akan
tetapi karena diapun ingin sekali mengetahui mengetahui apa
yang dilihat oleh pengintai tadi , diam-diam dia mundur ,
mencari pohon yang tinggi lalu melompat naik ke atas pohon .
Ketika dia mengintai ke arah utara , dia pun dapat melihat
serombongan orang berada sekitar dua puluh orang lebih dan
kadang-kadang nampak berkilatnya golok yang tertimpa sinar
matahari . Agaknya itulah yang dimaksudkan orang-orang ini
sebagai Gerombolan Golok Setan .
Jilid 8
Akan tetapi ada sesuatu yang menarik perhatian Han Sin .
Ada dua bayangan orang yang menyusup-nyusup di antara
semak belukar dan batang-batang pohon . Kalau dia tidak
melihat dengan penuh perhatian , tentu bayangan itu akan
lolos dari penglihatannya . Demikian cepat gerakan mereka .
Kalaupengintai yang masih di atas pohon itu melihat , tentu
akan di kiranya gerakan seekor dua ekor binatang saja . Akan
tetapi Han Sin merasa yakin bahwa itu adalah gerakan dua
orang yang datang dari tempat berkumpulnya kelompok Golok
Setan itu menuju ke sini .
Han Sin merasa betapa jantungnya berdebar tegang . Tidak
salah lagi , agaknya golok setan mengirim dua orang
penyelidik dan dua orang itu pasti akan melanggar garis yang
sudah di sebarin racun . Ingin dia memberitahu mereka ,
memperingatkan mereka agar jangan sampai melanggar garis
beracun itu , akan tetapi bagaimana caranya ? Pula , dia
belum tahu benar siapa yang jahat di antara kedua kelompok
orang yang agak nya bermusuhan itu , maka tidak adil lah
kalau dia memihak salah satu kelompok . Maka , diapun diam
saja dan mengikuti dua bayangan itu dengan perasaan ngeri .
Setelah dekat dengan tempat itu , dua bayangan itu tidak
nampak lagi dan gerakannya tidak dapat diikuti lagi . Agaknya
mereka maju dengan hati-hati sekali .
Tak lama kemudian Han Sin yang sudah siap melihat orang
keracunan , tetap saja melihat orang keracunan , tetap saja
terkejut ketika tiba-tiba terdengar jeritan dua orang yang
mengerikan . Di sebelah lapangan utara lapangan rumput itu .
Orang-orang yang berada dilapangan rumput itupun
mendengarnya dan mereka kelihatan girang sekali .
“ Ha-ha-ha , tentu dua ekor anjing pengintai mereka yang
terkena racun . Seret mereka ke sini ! “ Dua orang anggota
kelompok itu bangkit dan mereka menuju ke utara dari mana
suara tadi terdengar . Dua orang itu mengenakan sarung
tangan hitam untuk melindungi tangan mereka dari racun .
Tak lama kemudian mereka sudah menyeret tubuh dua orang
yang sudah menjadi mayat ! Sungguh luar biasa sekali racun
hitam itu . Mula-mula yang terkena hanya tangan dua orang
penyelidik itu , akan tetapi warna hitam itu lalu menjalar ke
seluruh tubuh sampai ke mukanya yang menjadi hitam seperti
hangus ! Diam-diam Han Sin bergidik . Dia sudah mendengar
banyak dari gurunya . Hek liong ong , tentang kekejaman
yang banyak terjadi di dunia persilatan , terutama di antara
golongan sesat dan baru sekarang dia menyaksikan sendiri .
“ Ha-ha-ha , Gerombolan Golok Setan akan tahu rasa
sekarang ! Kalian berempat , bawa dua mayat itu dan
lemparkan ke dekat tempat mereka ! “ perintah si tinggi besar
muka hitam .
“ Baik , twa-pangcu ! “ Empat orang yang di tunjuk bangkit
berdiri dan mereka inipun menggunakan sarung tangan hitam
. Mereka lalu menggotong dua mayat itu , dua orang
menggotong satu mayat dan membawa mereka keluar dari
lapangan rumput , menuju ke utara untuk “ mengirim “ dua
buah mayat itu kepada pihak musuh .
Han Sin mengikuti perjalanan empat orang yang
menggotong dua buah mayat itu , akan tetapi , baru sampai
pada pertengahan jalan , mendadak muncul orang bersenjata
golok besar dan mereka itu segera menyerang empat orang
yang menggotong dua mayat tadi . Empat orang itu
melepaskan mayat dan mencabut pedang mereka , dan
terjadilah perkelahian empat lawan lima orang bergolok . Akan
tetapi karena empat orang tadi menggotong dua mayat ,
mereka kalah cepat dan ketika golok-golok itu berkelebatan
membentuk gulungan sinar menyilaukan mata , dalam waktu
belasan jurus saja empat orang itu berturut-turut telah
terpelanting roboh , kemudian lima orang itu menghujamkan
goloknya ke tubuh mereka sampai tubuh empat orang itu
terbelah-belah !
Han Sin menyeringai seperti orang menahan sakit . Dia
bergidik . Kiranya orang-orang Golok Setan itu tidak kalah
kejamnya dibandingkan orang-orang yang berada dibawah
pohon ini .
Agaknya orang yang mengintai dari atas pohon melihat pula
kejadian itu . Maka dia cepat turun memberi laporan kepada
para pimpinan .
“ Twa-pangcu , celaka besar ! Empat orang kita yang
mengantar dua mayat itu di hadang di tengah perjalaan oleh
lima orang musuh dan mereka semua terbunuh ! “ .
“ Ahhhh ........... ! “ Ketua yang tinggi besar itu mukanya
menjadi semakin hitam dan die mengepal tinjunya . “ Keparat
! Kita kehilangan empat orang sedangkan mereka hanya
kehilangan dua orang ! Kita harus membuat pembalasan !” .
Ketua pertama dari kelompok itu bernama Coa Gu dan
berjuluk Hek-mo-ko . Untuk daerah lembah Huang-ho ini
sudah terkenal sebagai seorang datuk diantara para perampok
dan bajak sungai . Gerombolan yang dipimpinnya itu di beri
nama Huang-ho-kwi-pang ( Perkumpulan Iblis Sungai Kuning )
! Orang tinggi besar bermuka hitam ini bersenjatakan
sebatang tongkat baja yang hitam pula . Karena muka dan
tongkatnya yang hitam itulah maka dia dijuluki Hek-mo-ko (
Iblis Hitam ) .
Orang kedua , yang tinggi besar bermuka brewok bernama
Gu Ma It dan dia menjadi ji-pangcu ( Ketua kedua ) . Usianya
lima puluh tahun , lima tahun lebih muda dari Hek-mo-ko dan
Gu Ma It ini terkenal karena tenaganya besar seperti tenaga
gajah dan diapun pandai bermain pedang . Adapun orang
ketiga yang menjadi sam-pangcu ( ketua ketiga ) bernama Su
Ciong Kun , berusia empat puluh lima tahun . Orang ketiga ini
tinggi namun kurus dan mukanya menyeramkan sekali karena
muka itu seperti tengkorak terbungkus kulit . Orang ketiga dari
Huang-ho Kwi-pang ini ditakuti karena dia seorang ahli
menggunakan racun dan senjatanya berupa rantai baja juga
lihai sekali . Pusat Huang ho Kwi-pang berada di lembah
Huang-ho , sedangkan anggota mereka berjumlah kurang
lebih limapuluh orang . Akan tetapi yang kini di ajak untuk
menyerbu musuh hanya tigapuluh orang .
Mendengar twa-pangcu yang sudah marah itu bermaksud
hendak menyerbu musuh , sam-pangcu segera berkata “ Twasuheng
, kurasa tidak menguntungkan kalau kita langsung
menyerbu mereka . Mereka lebih menguasai medan karena ini
merupakan daerah mereka . Kalau kita menyerang mereka ,
kita dapat terjebak . Biarkan mereka yang menyerang kita
sehingga kita yang menjebak mereka dengan racun .
Gu Ma It yang tadi hanya mendengarkan saja kini berkata “
Apa yang diucapkan sam-sute memang benar . Mereka yang
menguasai daerah ini tentu lebih paham akan keadaan disini
dan kalau tidak berhati-hati kita dapat terjebak . Tempat kita
ini terbuka dan tidak dapat mereka menjebak kita , dan
andaikata mereka menyerang kita , kita dapat
mempertahankan diri dengan baik dan menghancurkan
mereka “ .
“ Hemmm ...... ! “ Hek-mo-ko menggeram .
“ Kita telah kehilangan empat orang . Di bandingkan
dengan mereka yang kehilangan dua orang , kita masih rugi
besar . Ternyata mereka telah memasang barisan pendam
diantara kita dan mereka “ .
“ Karena itulah harus berhati-hati dan menanti gerakan
mereka , “ kata Su Ciong Kun si muka tengkorak yang
agaknya cerdik .
“ Ahhh , akan tetapi hal seperti itu menunjukkan bahwa kita
takut kepada mereka “ , Hek-mo-ko tetap penasaran .
Han Sin merasa sudah cukup lama mengintai dari atas
pohon . Dia turun dari pohon itu , mengambil keputusan untuk
tidak mencampuri urusan mereka . Gurunya pernah
menasehatinya agar dia tidak mencampuri urusan orang-orang
kang-auw karena diantara mereka kalau terjadi permusuhan ,
biasanya saling memperebutkan kekuasaan atau harta benda ,
juga mungkin karena dendam mendendam . Akan tetapi baru
saja dia turun dari atas pohon , tiba-tiba muncul sepuluh
orang yang mengepungnya dan menodongkan senjata-senjata
tajam kepadanyya .
Han Sin bersikap tenang saja , walaupun dia agak terkejut
karena tidak menyangka bahwa dia telah diketahui . Karena
sejak tadi berada di atas pohon dan perhatiannya di tunjukkan
kepada semua kejadian yang jauh dari pohon , dia tidak
mendengar atau melihat apa yang terjadi di bawah pohon itu .
Kiranya mereka itu adalah sepuluh orang dari Huang-ho Kwipang
yang tadi tidak dilihatnya dilapangan rumput dan mereka
itu memang disebar untuk menyelidiki keadaan sekitar tempat
itu ! Ketika seorang dari mereka melihat Han Sin di atas pohon
, dia lalu memberi isyarat kepada kawan-kawannya dan pohon
itu pun sudah di kepung .
“ Ah , kalian ini mau apa ? “ tanya Han Sin dengan sikap
tenang .
“ Engkau mata-mata Kwi-to-pang ! “ bentak seorang
diantara para pengepung itu .
Han Sin tertawa “ ha-ha-ha , apa yang kalian maksudkan ?
Aku tidak mengerti segala macam Kwi-to-pang atau
Perkumpulan setan manapun .
“ Engkau hendak melawan ?” seorang menodongkan
pedangnya .
Han Sin memang tidak ingin bermusuhan dengan mereka .
Dia mengangkat kedua tangan ke atas dan menggeleng
kepala . “ Ah , tidak ! Siapa mau melawan ? “ .
“ Kalau begitu menyerahlah . Engkau harus kubawa
menghadap pimpinan kami ! “ .
“ Boleh ! Aku memang tidak mempunyai kesalahan apapun
“ . Han Sin lalu di todong dan di giring memasuki lapangan .
Tentu saja semua orang memandang penuh perhatian ketika
seorang pemuda di giring masuk lapangan rumput oleh
sepuluh orang anggota Huang Ho Kwi pang itu .
Han Sin dipaksa duduk di atas rumput menghadap tiga
orang ketua itu dan seorang di antara penawannya berkata “
Lapor , pangcu . Kami mendapatkan orang ini melakukan
pengintaian di atas pohon ! “ .
Hek mo ko memandang kepada Han Sin penuh selidik , dari
kepala sampai ke kaki , dan dia membentak , “ Engkau matamata
Kwi-to-pang yang mengintai kami ?” .
Han Sin menggeleng kepalanya . “ Sama sekali bukan ! “ .
“ Haiii ! Dia ini penunggang kuda yang kita susul di
perjalanan tadi ! “ seru Su Ciong Kun .
“ Benar ! “ jawab Han Sin . “ Memang tadi kalian menyusul
dan melewati aku ! '
“ apa maksudnya engkau berada di sini dan mengintai dari
atas pohon ? Jawab yang betul atau kami akan membunuhmu
! “ bentak Hek-mo-ko .
“ Aku sedang melakukan perjalanan menuju ke Tai-goan .
Karena daerah ini amat sepi dan aku merasa kesepian , ketika
kalian melewati aku tadi , aku bermaksud untuk menyusul
agar dapat melakukan perjalanan ini bersama kalian dan tidak
kesepian . Akan tetapi kalian berhenti di hutan ini dan akupun
berhenti agak jauh dari sini menanti kalian berangkat lagi .
Karena lama kalian tidak berangkat , aku lalu naik ke pohon
untuk melihat apa yang terjadi “ .
“ Dan apa yang kau lihat ?” bentak Hek-mo-ko , mulai
percaya kepada keterangan Han Sin karena dia agaknya dapat
membedakan antara orang yang menjadi anggota gerombolan
penjahat atau rakyat biasa .
“ aku melihat bahwa kalian bersiap – siap untuk bertempur
dengan gerombolan yang di sana itu . “ Han Sin menuding ke
utara . “ Aku melihat pula dua orang dari mereka mati
keracunan dan empat orang dari kalian terbunuh “ .
Gu Ma It yang berewokan berkata “ Twa-suheng , untuk
apa banyak bicara dengan orang ini ? Mata-mata atau bukan ,
bunuh saja agar tidak merepotkan “ .
“ Jangan , jangan bunuh aku . Apa untungnya kalian
membunuhku ? Dan aku bersumpah tidak ada sangkut
pautnya dengan gerombolan yang di sana itu . Aku tidak ingin
bermusuhan dengan siapapun “ . kata Han Sin sungguhsungguh
, bukan karena takut melainkan karena dia tidak
ingin bermusuhan dengan gerombolan ini .
“ hemmm , bocah ini bukan anggota gerombolan biasa “ ,
Hek-mo-ko . “ Mungkin dia berguna bagi kita . Sebaiknya kita
tahan saja dia . Jaga dia baik-baik jangan sampai meloloskan
diri . Dan kau , orang muda , awas kau . Sekali engkau
berusaha melarikan diri engkau akan kami bunuh ! “ .
Akan tetapi Han Sin sudah tidak begitu memperhatikan lagi
soal lain karena saat itu perhatiannya tertarik ke sebelah kiri ,
ke arah sebatang pohon besar . Di atas cabang pohon itu dia
melihat seorang berjongkok nongkrong di atas cabang sambil
cengar-cengir , dan orang ini bukan lain adalah Cu Sian , si
pengemis remaja ! Tentu saja Han Sin merasa khawatir bukan
main . Orang-orang ini adalah orang-orang kasar yang biasa
melakukan kekerasan dan agaknya mereka ini lihai , terutama
sekali tiga orang pimpinan itu . Dan sekarang Cu Sian muncul !
Dan apa lagi yang akan diperbuat oleh pemuda remaja yang
nakal itu kalau tidak membuat ulah dan kekacauan ? .
“ Ha-ha-ha ! Huang-ho Kwi-pang yang memiliki tiga orang
pemimpin dan kelihatan kuat ini , ternyata hanya kulitnya saja
yang nampak kokoh , padahal disebelah dalam keropos dan
rapuh , jerih menghadapi Kwi-to-pang ! “ .
Semua orang terkejut dan menengok ke arah suara itu dan
baru sekarang mereka melihat pengemis muda itu duduk
nongkrong di atas cabang pohon . Diam-diam tiga orang
pimpinan Huang-ho Kwi-pang terkejut . Bagaimana bocah
jembel itu dapat tiba-tiba berada di pohon yang begitu dekat
dengan mereka tanpa mereka ketahui sama sekali ? Mereka
bertiga adalah orang-orang yang memiliki kepandaian tingkat
tinggi , di tambah tiga puluh orang anggota yang bersikap
waspada , namun tidak ada seorangpun yang dapat
mengetahui adanya pengemis muda itu . Padahal dia berada
di pohon yang paling dekat dengan lapangan rumput itu .
Sedangkan Han Sin yang berada di pohon yang lebih jauh saja
dapat diketahui dan di tangkap .
Kan tetapi mendengar ucapan pemuda remaja itu yang
mengejek , Kwi-to-pang yang dikatakannya rapuh , tiga orang
pimpinan itu menjadi marah dan merasa di hina . Su Ciong
Kun , pemimpin nomor tiga yang tubuhnya tinggi kurus
mukanya seperti tengkorak itu membentak nyaring . “ Heii ,
bocah gila ! Berani engkau menghina kami ? “ .
Dengan kaki yang tadinya berjongkok itu kini di turunkan
dan di goyang-goyang , Cu Sian tersenyum dan berkata , Eh ,
muka tengkorak , siapa menghina ? Aku tadi bilang apa ?” .
' Bahwa kami keropos dan rapuh di sebelah dalam ! “ kata
Su Ciong Kun dengan marah .
“ Ha-ha-ha , bukankah sekarang engkau sendiri yang
mengatakan bahwa kalian keropos dan rapuh ? Bukan aku
yang berkata , melainkan engkau sendiri ! “ .
Su Ciong Kun merasa dipermainkan . Dia menjadi semakin
marah dan mengamangkan tinju ke arah pengemis muda itu .
“ Bocah setan , turunlah engkau , kalau tidak , akan ku seret
kau ! “ .
“ Wah , tidak usah repot-repot ! Tidak perlu engkau
membantuku turun , aku dapat turun sendiri , “ Berkata
demikian , Cu Sian lalu me lompat turun dari atas cabang
pohon ke atas tanah .
“ Ke sinilah engkau untuk mempertanggung jawabkan
ucapanmu tadi atau kami akan menggunakan kekerasan ! “
kata pula Su Ciong Kun yang melihat pengemis muda itu
masih berada di luar lingkaran yang telah di sebari racun itu .
“ Baik , aku akan ke situ . Kau kira aku takut menghadapi
kalian semua ?” . Dan dengan sikap gagah diapun melangkah
maju .
“ Sian-te ..... ! Berhenti jangan maju lagi ! Tempat itu telah
di sebari racun berbahaya ! “ Han Sin berteriak
memperingatkan .
Akan tetapi pemuda remaja itu tidak mundur , bahkan terus
sambil tersenyum , “ Orang-orang Kwi-to-pang boleh jadi takut
racun yang disebar di sini , akan tetapi aku tidak ! “ Dan
dengan kedua tangannya , dia menguak semak-semak belukar
yang menghalangi jalannya . Han Sin terbelalak penuh
kekhawatiran dan orang-orang Huang-jo Kwi-pang sudah
tersenyum-senyum karena mereka yakin bahwa pemuda yang
kurang ajar itu tentu akan roboh tewas . Mereka itu kecelik
karena ternyata Cu Sian dapat lewat dengan selamat .
Walaupun kedua tangannya tersentuh daun-daun yang di
sebari racun , akan tetapi agaknya dia tidak merasakan apaapa
! Dengan langkah lebar setelah memasuki lapangan
rumput , ia menghampiri para pimpinan Huang-ho Kwi-pang !
.
Tentu saja kini bukan hanya Han Sin yang terheran-heran .
Tiga orang ketua Huang-ho Kwi-pang juga terheran-heran .
Akan tetapi kalau Han Sin merasa heran bercampur girang .
Sebaliknya tiga orang pemimpin Huang-ho Kwi-pang itu
merasa heran dan terkejut bukan main . Bagaimana mungkin
ada orang yang menyentuh daun-daun yang disebari racun itu
tanpa keracunan ? Pengemis itu masih masih begitu muda ,
mungkinkah dapat memiliki kesaktian sehingga dapat menolak
daya racun itu ? Akan tetapi setelah Cu Sian tiba dihadapan
mereka , barulah semua orang tahu mengapa pemuda remaja
itu tidak keracunan . Ternyata kedua tangannya itu memakai
sepasang sarung tangan yang tipis dan warna nya sama
dengan kulitnya sehingga sepintas lalu dia seperti tidak
memakai sarung tangan .
Su Ciong Kun , orang ketiga dari tiga orang ketua Huang-ho
Kwi-pang itu semakin heran ketika tiba-tiba Cu Sian
membungkuk , mengambil tanah dan menggosok-gosok kedua
tangan yang bersarung itu dengan tanah . Bagaimana bocah
itu tahu bahwa penawar racun itu adalah tanah ? Setelah di
gosok-gosok dengan tanah , maka racun yang menempel pada
sarung tangan itu akan punah kekuatannya . Dengan gerakan
yang tenang seperti orang memandang rendah , Cu Sian
berkata “ Huh , segala macam racun tikus dipergunakan untuk
menjebak orang ! “ Ia lalu melepaskan sepasang sarung
tangan itu dan memasukkannya ke dalam saku baju hitamnya
yang longgar . Juga dia hanya melirik satu kali ke arah Han Sin
dan selanjutnya tidak mengacuhkannya .
Hek-mo-ko melangkah maju menghadapi pemuda pengemis
itu . Melihat pemuda itu berani melewati garis yang disebari
racun tanpa keracunan , dan pemuda itu bahkan berani
menghadapi mereka dengan sikap yang demikian tenang , dia
bersikap hati-hati karena dapat menduga bahwa pemuda itu
tentu bukan orang sembarang saja .
“ Hei , orang muda ! Siapakah engkau dan apa maksudmu
datang ke sini memandang rendah kepada kami ! “ .
“ Aku she Cu bernama Sian . Aku sama sekali tidak
memandang rendah kepada kalian . Akan tetapi aku memiliki
kebiasaan untuk mengatakan apa adanya . Kalian merasa jerih
kepada orang-orang Kwi-to-pang di sana itu , siapa yang tidak
tahu ? Kalau kalian hanya bersembunyi di sini berlindung
kepada pagar racun , lalu kapan kalian dapat menghancurkan
Kwi-to-pang ?” .
“ Hemmm , kalau menurut pendapatmu bagaimana yang
seharusnya kami lakukan ?” Hek-mo-ko bertanya .
“Ha-ha-ha , aku siap membantu Huang-ho Kwi-pang ,
dengan satu syarat , yaitu kalian harus menaati semua
perintah dan petunjukku . Bagaimana ? Aku tanggung kalian
akan dapat membasmi Kwi-to-pang dan menguasai daerah
lembah Huang-ho “ .
Tiga orang pimpinan gerombolan itu saling pandang dan
mengerutkan alisnya . Menaati perintah seorang pengemis
muda ? Tentu saja mereka tidak dapat menyetujinya, apalagi
mereka belum melihat sampai dimana kelihaian pemuda itu.
“Bocah sombong !” teriak Cu siong Kun sambil meloloskan
rantai bajanya. Rantai dari baja itu sepanjang satu setengah
meter, besar dan berat.
“ Kau anggap engkau ini siapakah berani berlagak
sombong untuk memerintah kami ? Coba ingin ku lihat
apakah engkau mampu menandingi rantai bajaku ini ! “ .
Setelah berkata demikian Su Ciong Kun mengayun dan
emutar-mutar rantai bajanya .
“ Wirrr .... wirrrrr ! “ Rantai baja itu mengeluarkan bunyi
mendesir ketika menyambar ke arah kepala Cu Sian . Han Sin
terkejut dan khawatir melihat serangan yang hebat itu dan
diam-diam dia sudah siap siaga untuk menolong sekiranya
pemuda remaja itu terancam bahaya . Akan tetapi dengan
gerakan ringan saja , Cu Sian telah dapat mengelak dan
menghindarkan diri dari sambaran rantai baja itu . Akan tetapi
Su Ciong kun memang lihai . Rantai baja yang luput
menyambar kepala itu sudah membalik dan sekali ini
menyambar ke arah pinggang Cu Sian . Pemuda remaja ini
menggerakkan tongkat bambunya menangkis . Tangkisan dari
samping itu hanya membuat sambaran rantai itu menyimpang
dan secepat kilat tongkat itu sudah di gerakkan menusuk
kearah siku kanan Su Ciong Kun .
“ Tuk-tuk ! “ Dua kali ujung tongkat menotok dan terdengar
Su Ciong Kun mengeluh dan rantai di tangannya terlepas . Dia
melompat ke belakang dengan mata terbelalak . Me lihat ini ,
Gu Ma It menerjang maju dan pedangnya sudah menyambar
ke arah leher Cu Sian . Cepat bukan main sambaran pedang
itu dan terdengar bunyi berdesing saking kuatnya tenaga yang
menggerakkan pedang .
“ Siinggg .... Takkkk ! “ Pedang itu terpukul dari samping
oleh tongkat bambu sehingga menyeleweng dan tidak
mengenai sasaran . Sebaliknya , Cu Sian sudah membalas
dengan tusukan tongkatnya ke arah jalan darah di tubuh
lawan . Akan tetapi Gu Ma It dapat mengelak dan menangkis
dengan pedangnya . Sebetulnya , tingkat kepandaian Gu Ma It
tidak berselisih jauh dengan tingkat kepandaian Su Ciong Kun
. Kalau tadi dalam beberapa gebrakan saja Su Ciong Kun
dapat dikalahkan oleh Cu Sian , hal ini adalah karena Su Ciong
Kun memandang rendah kepada pemuda remaja itu . Berbeda
dengan Gu Ma It yang sudah melihat adiknya kalah dan sudah
maklum bahwa pemuda pengemis itu lihai sekali maka dia
berhati-hati dan tidakmemandang rendah . Kini Gu Ma It
memutar pedangnya . Dan melakukan serangan bertubi .
Namun gerakan Cu Sian amat lincahnya . Tubuhnya
berkelebat seperti seekor burung walet saja . Jug apemuda
remaja itu memainkan tongkatnya dengan ilmu tongkat yang
di warisinya dari kakek nya .
Selagi dua orang ini saling serang dengan hebatnya , tibatiba
Hek-mo-ko berseru keras . “ Tahan senjata ! Hentikan
perkelahian ! “ Dan dia sudah melompat ke depan dan tongkat
bajanya menghadang di antara kedua orang yang sedang
bertanding itu sehingga keduanya melompat ke belakang .
“ Twa-suheng , aku belum kalah ......... “ Gu Ma It
membantah suhengnya .
' Ji-sute , biar aku sendiri yang menghadapi sobat muda ini
! “ kata Hek-mo-ko yang kemudian menghadapi Cu Sian
sambil berkata dengan suara mengandung keherannan “ sobat
, aku ingin sekali merasakan hebatnya ilmu tongkatmu ! “ .
“ Majulah ! “ tantang Cu Sian . “ Aku tidak mencari
permusuhan dengan kalian . Akan tetapi bukan berarti aku
takut . Setiap tantangan akan kulayani !” .
Para anggota Huang-ho Kwi-pang memandang dengan
penuh perhatian . Tidak mereka sangka sama sekali bahwa
pengemis muda itu sedemikian lihainya . Bukan saja
mengalahkan Su Ciong Kun dengan mudah dan dapat
menandingi Gu Ma It , bahkan kini berani menyambut
tantangan Hek-mo-ko ! Han Sin juga menonton dengan hati
tegang . Akan tetapii kini dia tidak begitu khawatir lagi karena
ternyata Cu Sian bukan hanya berlagak , melainkan benarbenar
memiliki kelihaian . Apa lagi dia dapat mengetahui dari
sikap dan kata-kata Hek-mo-ko bahwa orang pertama dari
pimpinan Huang-ho Kwi-pang ini tidak marah , melainkan
heran terhadap Cu Sian .
“ Sobat muda , sambut serangan tongkatku ! “ dia
membentak dan mulai membuka serangannya dengan
gerakan tongkat ke depan , ujung tongkat tergetar menjadi
banyak dan meluncur ke arah dada pemuda remaja itu . Akan
tetapi Cu Sian dengan sigap menyambut serangan itu dengan
lompatan ke kiri dan memutar tongkatnya menangkis ,
kemudia diapun membalas dengan totokan tongkatnya ke
arah lutut lawan . Hek-mo-ko melompat ke kanan untuk
menghindar serangan balasan itu . Kemudian tongkat bajanya
yang berat dan panjang sudah membuat gerakan melingkar
untuk menyapu kedua kaki Cu Sian ! .
“ Bagus ! “ Cu Sian berseru dan meloncat tinggi sehingga
sapuan tongkat baja itu tidak mengenai kakinya . Dari atas dia
menggerakkan tongkat bambunya menotok ke arah ubunubun
kepala Hek-mo-ko . Serangan ini amat berbahaya bagi
lawan dan Hek-mo-ko agaknya mengerti akan hebatnya
serangan ini . Dia berseru nyaring dan menggerser kakinya
sehingga tubuhnya mengelak ke belakang dan serangan Cu
Sian itu luput . Mereka saling serang dengan serunya dan yang
terheran-heran kini adalah Han Sin yang mengikuti setiap
gerakan mereka . Penglihatan Han Sin yang tajam dan terlatih
itu dapat menangkap persamaan jurus-jurus kedua orang itu !
Biarpun gerakan jurus-jurus kakek tinggi besar bermuka hitam
itu mempunyai perkembangan yang berbeda , namun pada
dasarnya kedua orang itu memainkan ilmu tongkat yang sama
! Akan tetapi jelas kelihatan olehnya bahwa kalau Hek-mo-ko
memiliki tenaga yang lebih kuat , Cu Sian memiliki ginkang
yang lebih sempurna sehingga pemuda pengemis itu selalu
dapat menghindarkan diri dengan cekatan , dan seranganserangan
balasannya membuat kakek itu kewalahan .
Agaknya Hek-mo-ko juga maklum akan persamaan ilmu
tongkat itu , maka dia menangkis tongkat bambu yang
menusuk ke arah matanya lalu melompat ke belakang sambil
berseru nyaring “ Tahan senjata ! “ .
Cu Sian menghentikan serangannya dan pemuda inipun
memandang lawannya dengan heran dan alis berkerut .
“ Sobat muda , darimana engkau mempelajari Ta-houwtung
( Tongkat pemukul harimau ) ? “ Hek-mo-ko bertanya
sambil melintangkan tongkatnya ke depan dada .
“ Hemmm , engkau seorang perampok dari mana engkau
mencuru Ta-houw-tung ilmu tongkat keluarga kami ?” Cu Sian
juga menegur dan melintangkan tongkat bambunya di depan
dada , gerakannya persis sama dengan gerakan tongkat Hekmo-
ko .
Mendengar pemuda ini menyebut ilmu tongkat Ta-houwtung
sebagai ilmu tongkat keluarganya , Hek-mo-ko makin
terherandan mengamati wajah Cu Sian penuh perhatian .
Kemudian dia berkata dengan penuh penasaran . “ Aku
Hek-mo-ko tidak mencuri ilmu tongkat . Ilmu ini sudah
kupelajari sejak aku muda , menjadi murid dan tokoh Hek I
Kaipang di cabang uata “ .
“Aha , aku tahu sekarang siapa engkau ! “ kata Cu Sian
sambil tersenyum . “ Engkau tenteulah paman Coa Gu yang
dahulu menjadi wakil ketua Hek I Kaipang cabang utara lalu
dikeluarkan karena karena melanggar peraturan ! “ .
Hek-mo-ko tertegun mendengar ini karena dia memang
bernama Coa Gu . Kurang lebih duapuluh tahun yang lalu dia
masih menduduki jabatan wakil ketua dari Hek I Kaipanmg .
Karena dia melakukan pelanggaran , maka oleh Ketua Hek I
Kaipang pusat di Tiang-an dia dikeluarkan dari Perkumpulan
pengemis .
Setelah mengingat-ingat , diapun menghela napas dan
berkata “ Orang muda , aku sekarangpun dapat menduga
siapa engkau . Engkau bernama Cu Sian . Nama margamu
sama dengan guruku yang dahulu terkenal dengan sebutan Cu
Lokai , ketua pusat Hek I Kaipang di Tiang-an . Aku teringat
bahwa guruku itu mempunyai seorang putera bernama Cu Kak
yang tidak setuju dengan penghidupan sebagai pengemis . Cu
Kak bahkan keluar , menjauhkan diri dari Hek I Kaipang .
Tentu engkau in putera dari Cu Kak , bukan ? “ .
“ Tepat sekali , Paman Coa Gu ! “ kata Cu Sian .
“ Bagus ! “ Hek-mo-ko Coa Gu menoleh dan berkata kepada
dua orang saudaranya . “ Ternyata orang muda ini adalah
keluarga sendiri . Dan dia telah datang , tentu untuk
membantu kami membinasakan Kwi-to-pang ! “ .
“ Tidak , Paman Coa Gu . Aku tidak membantu kalian dalam
permusuhan kalian dengan Kwi-to-pang . Aku memang
mempunyai permusuhan pribadi dengan Kwi-to-pang . Kwi-topang
dan ketuanya telah membunuh ayahku dan
menyebabkan kematian Ibuku . Aku harus membasmi mereka
dan kebetulan kalian juga memusuhi mereka . Kita dapat
bekerjasama “ .
“ Bagus , kita dapat bekerjasama kalau begitu “ .
“ Akan tetapi kalau paman dan anak buah paman hanya
bersembunyi saja di sini , bagaimana kita dapat
menghancurkan Kwi-to-pang ?” .
“ Lalu apa yang harus kita lakukan ? Mereka telah mengatur
persiapan di sana dan kita tidak tahu perangkap apa yang
mereka pasang untuk menghadapi kita “ .
“ Harus ada seseorang yang pergi ke sana , menemui
mereka dan mempelajari keadaan dan kedudukan mereka “ ,
kata Cu Sian .
“ Akan tetapi hal itu berbahaya sekali ! “ seru Hek-mo-ko . “
Mereka telah memasang baris pendam di mana-mana .
Bahkan empat orang anggota kami yang mengirim dua mayat
anak buah mereka terhadang di dalam perjalanan dan semua
tewas “ .
“ aku tahu dan aku sendiri melihat nya tadi . Akan tetapi
kalau aku yang pergi ke sana , jangan harap mereka akan
dapat menangkap aku ! “ ucapan yang sombong ini membuat
Han Sin mengerutkan alisnya . Akan tetapi dia tidak mau
mencampuri urusan mereka , maka diapun diam saja dan
hanya mendengarkan .
“ Hek-mo-ko nampak girang bukan main . “ Bagus ! Kalau
engkau sendiri yang mau pergi menyelidiki , kita pasti berhasil
dan menang “ .
“ Akan tetapi aku baru mau membantu kalian kalau dua
syaratku di penuhi . Pertama kalian baru boleh menyerbu
kalau sudah ku beri isyarat . Dan kedua , sebelum aku pergi
menyelidik keadaan musuh , pemuda yang kalian tawan itu
harus di bebaskan lebih dulu . Dia adalah seorang sahabatku “
. Cu Sian menuding ke arah Han Sin yang masih duduk di jaga
oleh beberapa orang anak buah itu .
“ Ah , tentu saja kami setuju . Pemuda itu kami tangkap
karena kami mencurigai dia sebagai mata-mata Kwi-to-pang .
Akan tetapi kalau dia itu sahabatmu berarti diapun orang
sendiri dan sekarangpun dia boleh bebas ! “ .
Mendengar ini , Cu Sian lalu menghampiri Han Sin dan
dengan sikap menertawakan dia berkata , “ Nah , Sin-ko ,
sekarang engkau bebas dan boleh pergi kemana kau suka .
Akan tetapi kenapa engkau berada di sini sehingga di curigai
dan di tangkap ? “ .
Han Sin tersenyum . Dari sikapnya , tahulah dia bahwa
sahabatnya itu hendak mengatakan bahwa tanpa sahabatnya
itu , tentu dia akan celaka ! .
“ Terima kasih , Sian-te . Aku hanya kebetulan saja berada
di sini , tidak bermaksud apa-apa . Akan tetapi aku di curigai
dan di tangkap ! “ .
“ Hemmm , memang begitulah keadaannya . Dimana-mana
terdapat bahaya mengancam . Kalau tidak pandai-pandai
menjaga diri , bisa bertemu bahaya dan celaka “ .
“ Aku akanmenjaga diri baik-baik , Sian-te . Nah , aku pergi
saja sekarang “ , Han Sin bangkit berdiri .
“ Apakah engkau tidak mau menanti saja sampai aku
membereskan urusanku ini kemudian kita melakukan
perjalanan bersama ? “ Cu Sian mendesak lagi .
“ Tidak , terima kasih , Sian-te . Aku tidak mau
merepotkanmu “ , jawab Han Sin dan segera dia
meninggalkan tempat itu .
Cu Sian kelihatan kecewa sekali , akan tetapi diapun tidak
memaksa dan hanya memandang sahabatnya itu pergi sampai
lenyap di balik pohon-pohon .
Hek-mo-ko dan kawan-kawannya memandang heran .
Bagaimana seorang pemuda yang lihai seperti Cu Sian dapat
bersahabat dengan pemuda tolol seperti Cian Han Sin ? Hekmo-
ko yang melihat Cu Sian masih termenung memandang ke
arah lenyapnya pemuda tawanan tadi , segera berkata , “ Cusicu
, apakah yang akan kita lakukan sekarang ? “ .
Cu Sian seperti baru sadar dari lamunannya . “ Kita menanti
sampai matahari condong ke barat . Aku akan menjadi pelopor
dan jalan di depan . Kalian menikuti aku sambil bersembunyi ,
jangan terlalu dekat . Semua rintangan dalam perjalanan itu
akan ku hadapi sendiri . Baru kalau perlu aku akan memberi
isyarat dan kalian boleh maju membantu . Kalau tidak ada
isyarat , kalian diam saja dan biarkan aku sendiri mangatasi
rintangan .
Setelah tiba di perkemahan orang-orang Kwi-to-pang , aku
akan masuk dan menemui para pimpinannya . Kalian
mengepung sambil bersembunyi dan kalau aku sudah
memberi isyarat dengan terbakarnya sesuatu di sana , kalian
boleh menyerbu masuk . Aku akan membikin kacau di sana
sehingga orang-orang kwi-to-pang yang sedang panik oleh
pengacauanku tidak mempunyai banyak kesempatan untuk
membela diri ketika kalian menyerbu .
Tiga orang pimpinan itu mengangguk-angguk . Suatu
rencana yang amat berani dan amat membahayakan
keselamatan pemuda itu , akan tetapi karena yang
merencanakan Cu Sian , merekapun hanya mengangguk
setuju .
****
Kwi-to-pang ( Perkumpulan Golok Setan ) adalah
perkumpulan perampok dan bajak sungai yang merajalela di
sepanjang lembah Huang-ho sejak puluhan tahun yang lalu .
Yang menjadi ketuanya adalah seorang laki-laki berusia lima
puluh tahun yang bertubuh tinggi besar . Mukanya penuh
brewok dan bernama Ban Koan , seperti juga para ketua
dahulu yang menurunkan kedudukan itu dari guru ke murid ,
Ban Koan juga seorang yang ahli dalam ilmu silat golok besar
dan diapun memakain julukan Sin-to-kwi ( Setan Golok Sakti )
. Dia mewarisi kedudukan ketua dari gurunya yang ketika
hidupnya juga merupakan seorang datuk yang lihai ilmu
silatnya . Gurunya itu berjuluk Sin-to-kwi-ong ( Raja Setan
Golok Sakti ) .
Munculnya perkumpulan Huang-ho Kwi-pang di lembah
Huang-ho bagian utara itu tentu saja di anggap sebagai pihak
yang hendak merebut wilayah kekuasaan kwi-to-pang .
Beberapa kali terjadi bentrokan antara anak-anak buah
mereka . Maka para pimpinan masing-masing lalu mengajukan
tantangan untuk memperebutkan wilayah yang subur bagi
mereka itu . Banyak rombongan pedagang berlalu lalang , baik
melalui darat maupun melalui sungai sehingga keadaan
mereka yang berkuasa di daerah itu menjadi makmur dengan
adanya pembayaran “ pajak “ yang mereka kenakan pada para
saudagar yang lewat .
Demikianlah , pada hari itu Ban Koan muncul sendiri
memimpin anak buahnya . Berbeda dengan dahulu , di waktu
gurunya menjadi ketua , anak buah Kwi-to-pang sampai
berjumlah duaratus orang , kini anak buahnya hanya sekitar
lima puluh orang saja . Hal ini adalah keadaan pemerintahan
yang kuat setelah berdirinya Kerajaan Sui yang di pimpin oleh
Kaisar Yang Cien . Kaisar pertama Kerajaan Sui ini berusaha
benar-benar untuk membasmi gerombolan penjahat , dan
ketika pasukan pemerintah datang menyerbu , banyak anak
buah Kwi-to-pang yang tewas dan banyak pula yang
ketakutan dan mengundurkan diri . Yang masih bertahan
hanyalah Ban Koan dan para pengikutnya berjumlah lima
puluh orang .
Pada hari yang di tentukan , kedua pihak sudah saling
mendekati dan Kwi-to-pang membuat perkemahan di tepi
sungai , sedangkan pihak Huang-ho kwi-pang membuat
pertahanan di dalam hutan .
Sin-to-kwi Ban Koan menjadi marah sekali ketika dua orang
penyelidiknya tewas keracunan . Biarpun anak buahnya yang
dia sembunyikan sebagai barisan pendam telah berhasil
membunuh empat orang anak buah musuh , akan tetapi tetap
saja dia merasa jerih untuk menyerbu setelah diketahuinya
bahwa tempat pertahanan musuh itu disebari racun yang amat
berbahaya .
Dalam memimpin Kwi-to-pang , Ban Koan dibantu oleh
adiknya sendiri yang bernama Ban Ki dan berjuluk Siang-tokwi
( Sepasang Golok setan ) . Ban Ki juga seperguruan
dengan kakaknya , hanya bedanya kalau Ban Koan
bersenjatakan sebatang golok yang besar dan berat , Ban Ki
terkenal dengan senjatanya sepasang golok yang tipis dan
ringan .
Pada hari itu , setelah kematian dua orang anggotanya ,
Ban Koan dan Ban Ki hanya menunggu saja gerakan musuh .
Mereka sudah memasang perangkap berupa anak panah yang
menghadang di perjalanan mereka ke perkemahan mereka
secara sembunyi .
Setelah matahari naik tinggi dan mulai condong ke barat ,
muncullah Cu Sian mendekati tempat pertahanan Kwi-to-pang
. Dia berjalan seenaknya dengan lenggang dan langkah
panjang seolah dia sedang berjalan-jalan di dalam hutan itu .
Tiba-tiba dari balik semak belukar berlompatan empat orang
yang memegang sebatang golok besar . Empat orang itu
bergerak cepat dan sudah mengepung Cu Sian .
“ Berhenti ! “ bentak seorang di antara mereka . “ Siapa
engkau dan mau apa berkeliaran di sini ! “ .
Cu Sian bersikap tenang saja “ Apakah kalian anggota Kwito-
pang ? Aku ingin bertemu dengan ketua kalian ! “ .
“ Dia tentu mata-mata Huang-ho Kwi-pang !” teriak orang
kedua . “ Tangkap saja dia ! “ .
Empat orang itu sudah menodongkan golok mereka . “
Hayo engkau menyerah , atau kami menggunakan kekerasan !
' .
Cu Sian tersenyum mengejek . “ Aku ingin bertemu dengan
ketua Kwi-to-pang ! Aku tidak sudi menyerah kepada kalian
dan kalau hendak menggunakan kekerasan , ingin aku melihat
apa yang dapat kaulakukan kepadaku ! “ .
“ Keparat ! Serang ! “ teriak orang pertama dan empat
batang golok sudah menyambar ke arah tubuh Cu Sian dan
empat penjuru . Akan tetapi empat orang itu hanya melihat
bayangan berkelebat dan serangan mereka luput . Cu Sian
yang mempergunakan gin-kangnya melompat dan menghindar
, kini tertawa dan empat orang itu cepat memutar tubuh
mereka . Ternyata pemuda berpakaian seperti pengemis itu
telah berada diluar kepungan dan melintangkan tongkat
bambunya di depan dada sambil tertawa-tawa .
Empat orang itu menjadi marah dan penasaran . Kembali
mereka maju menyerang dengan golok besar mereka .
Nampak sinar berkelebat ketika empat batang golok itu
menyambar-nyambar . Akan tetapi dengan tenang Cu Sian
menggerakkkan tongkat bambunya , mengelak dan menangkis
, kemudian dengan gerakannya yang cepat tongkat bambunya
menotok empat kali dan empat orang itupun berseru kaget
ketika golok mereka terlepas dari tangan mereka yang
mendadak menjadi lumpuh ! Maklum bahwa pemuda itu
terlalu lihai bagi mereka berempat , mereka lalu berlompatan
dan berlari menuju kelompok mereka .
Cu Sian tertawa dan melanjutkan langkahnya menuju ke
perkemahan Kwi-to-pang . Akan tetapi tiba-tiba saja dari
depan kanan kiri menyambar beberapa batang anak panah
yang agaknya dilepas secara sembunyi oleh orang-orang yang
berada dibalik batang pohon dan semak-semak . Empat
batang anak panah itu dapat di elakkan dengan mudah oleh
Cu Sian . Akan tetapi kembali anak panah menyambar . Cu
Sian menjadi marah dan dengan tongkatnya yang di putar di
bagian tubuhnya dia menangkis dan empat batang anak
panah itu dapat di runtuhkan . Kemudian dia melompat cepat
ke arah belakang semak-semak dan melihat empat orang
melarikan diri . Kiranya empat orang itu bertugas menyerang
pelanggar tempat itu dengan anak panah dan melihat betapa
serangan mereka sia-sia , mereka menjadi jerih dan cepat
pergi dari tempat persembunyian itu .
Gerombolan yang di pimpin Hek-mo-ko dan kawankawannya
, yang berindap-indap mengikuti Cu Sian , tentu
saja melihat semua peristiwa itu dan mereka merasa gembira
sekali menyaksikan betapa dengan amat mudahnya Cu Sian
mengatasi itu . Diam-diam mereka terus mnegikuti Cu Sian
dari jauh .
Cu Sian terus melangkah maju menghampiri tempat
pertahanan Kwi-to-pang . Tempat itu di kelilingi pohon bambu
dan begitu dia mendekati pohon bambu , dari balik bambu itu
berloncatan banyak orang dan tahu-tahu dia sudah di kepung
oleh puluhan orang ! .
Cu Sian berdiri dengan tenang dan memandang ke
sekeliling . Akhirnya dia melihat munculnya seorang laki-laki
berusia limapuluh tahun lebih . Laki-laki ini tinggi besar
bermuka penuh brewok dan tangannya memegang sebatang
golok besar . Jantung Cu Sian berdebar tegang melihat orang
ini . Agaknya inilah orangnya yang dimaksudkan oleh para
piau-su itu . Orang yang menjadi kepala perampok Kwi-topang
, orang yang telah membunuh ayahnya . Di sebelah lakilaki
yang bukan lain adalah Sin-to-kwi Ban Koan itu , berdiri
adiknya , Ban Ki adalah seorang laki-laki berusia empat puluh
lima tahun yang bertubuh jangkung kurus , mukanya yang
kurus itu berbentuk meruncung seperti muka tikus , dan
sepasang matanya bersinar kejam .
“ Orang muda , siapakah engkau dan mau apa engkau
mencari ketua Kwi-to-pang ?” bentak Ban Koan dengan suara
mengguntur .
“ Namaku Cu Sian dan aku memang sengaja datang untuk
bertemu dengan ketua Kwi-to-pang . Apakah engkau yang
menjadi ketua Kwi-to-pang ?” .
Ban Koan memandang penuh perhatian . Tadi dia
mendapat laporan bahwa seorang pemuda remaja hendak
bertemu dengannya dan pemuda itu lihai bukan main , telah
mengalahkan empat orang penjaga dan bahkan mampu
menghindarkan diri dari serangan anak panah . Dia merasa
heran . Pemuda ini masih remaja dan ternyata hanya seorang
pengemis . Tentu bukan pengemis sembarangan , pikir Ban
Koan . Dia menahan kemarahannya .
“ Hemmm , benar akulah Sin-to-kwi Ban Koan , ketua Kwito-
pang dan ini adalah wakilku , juga adikku bernama Ban Ki
dan berjuluk Siang-to-kwi “ .
Mendengar ini , Cu Sian hampir tidak dapat menahan
kemarahannya lagi . Akan tetapi dia ingin mendapatkan
kepastian . “ Ban-pangcu aku mendengar bahwa Kwi-to-pang
berkuasa di daerah ini , di sepanjang Lembah Huang-ho
selama puluhan tahun . Benarkah itu ?” .
“ Tidak salah . Kwi-to-pang menguasai wilayah ini sejak
puluhan tahun yang lalu sampai sekarang “ , jawab Ban Koan
dengan bangga . Karena dia menduga bahwa pengemis muda
ini mungkin ada hubungan dengan Huang-ho Kwi-pang , maka
dia menjawab untuk menjelaskan bahwa Kwi-to-pang lah yang
berkuasa di situ sejak lama dan Huang-ho Kwi-pang
merupakan pihak yang melanggar batas kekuasaanya .
“ Dan benarkah bahwa Kwi-to-pang merupakan
perkumpulan perampok yang ganas dan jahat , bukan hanya
suka merampok , akan tetapi juga tidak segan untuk
membunuhi korbannya ?” .
“ ha-ha-ha-ha ! “ Sin-to-kwi Ban Koan tertawa bergelak
sehingga perutnya yang besar terguncang . Melihat ketua
mereka menertawakan pertanyaan itu , para anak buahnya
juga tertawa sehingga ramailah keadaan di tempat itu . “ Kami
yang berkuasa di wilayah ini , maka siapa saja yang lewat
disini , harus tunduk akan peraturan kami . Mereka harus
menyerahkan sebagian dari milik mereka kepada kami dan
kalau mereka menolak dan melawan , tentu saja kami bunuh !
“ .
Sepasang mata Cu Sian berkilat . Tidak salah lagi , tentu
orang ini yang telah menewaskan ayahnya . “ Ban-pangcu ,
karena mendengar itulah aku datang mencarimu . Engkau
kejam dan jahat , sudah merampok , membunuh pula . Aku
datang untuk menantangmu bertanding , hendak ku lihat
sampai dimana kehebatan golok setanmu ! “ .
Sin-to-kwi Ban Koan membelalakan sepasang matanya yang
sudah lebar itu , kemudian dia tertawa lagi , terbahak-bahak .
“ Ha-ha-ha-ha ! Engkau ....... ? Anak kecil jembel kelaparan
ini menantangku ? Ha-ha-ha-ha ! “ .
“Twa-ko , untuk membunuh bocah gila ini , tidak perlu
engkau turun tangan sendiri . Cukup sepasang golokku saja
yang akan mencincang tubuhnya sampai hancur ! “ kata Ban
Ki sambil mencabut sepasang golok tipis itu dan
mengamangkannya .
“ Aha , engkau tikus kurus tidak perlu ikut campur ! “ kata
Cu Sian . “ Aku menantang Sin-to-kwi Ban Koan , kalau dia
berani menandingiku barulah dia pantas menjadi kepala
rampok . Akan tetapi kalau dia pengecut dan tidak berani ,
mengakulah saja dan aku akan menghadapi engkau tikus
kurus ini ! “ .
Bukan main marahnya Ban Ki dimaki tikus kurus oleh
seorang pengemis muda ! Dia sudah memutar dua goloknya ,
akan tetapi kakaknya membentak . “ Mundurlah ! Bocah
bermulut lancang ini memang yang sudah bosan hidup . Biar
aku sendiri yang membunuhnya ! “ . Setelah berkata demikian
, ban Koan meloncat ke depan . Agaknya dia memandang
rendah kepada lawannya , maka dia tidak mencabut goloknya
melainkan menyerang dengan pukulan tangannya yang besar
ke arah muka Cu Sian .
Akan tetapi dengan mudah saja Cu Sian mengelak dengan
menundukkan kepalanya sehingga pukulan itu lewat di atas
kepalanya . Pemuda itu melangkah ke depan dan tangannya
menghantam perut lawan . Ban Koan terkejut melihat
kelincahan lawan . Cepat tangan kirinya menangkis dan
terpaksa dia melangkah ke belakang dan ketika melihat
pemuda itu menusukkan dua jari tangannya ke arah matanya ,
dia mengerahkan tenaga untuk menangkis . Dia
mengharapkan tangkisan yang kuat itu akanmematahkan
tulang lengan lawan , atau sedikitnya mendatangkan rasa
nyeri .
“ Duukkk .... ! “ Keduanya terdorong ke belakang dan
kembali Ban Koan terkejut . Pemuda jembel itu ternyata
memiliki tenaga yang kuat , dapat menandingi tenaganya !
Dengan kemarahan yang mulai mendidih , dia menendang
dengan kaki kirinya yang panjang dan kokoh . Namun Cu Sian
dengan mudah mengelak dan tiba-tiba dia sudah menusukkan
tongkat bambunya menotok ke arah pinggang lawan .
“ Aahhh ..... ! “ ban Koan terpaksa melempar tubuh ke
belakang sehingga dia terjengkang , akan tetapi tubuh yang
tinggi besar itu ternyata dapat bergerak gesit juga dan dia
sudah berjungkir balik sekali ke belakang . Kini Ban Koan tidak
berani memandang ringan dan dia tahu bahwa lawannya
memang lihai sekali . Baru beberapa gebrakan saja tahulah dia
bahwa dalam hal kecepatan gerakan , dan hal ini
membahayakn dirinya . Juga dia tidak dapat mengharapkan
tenaganya karena pemuda itupun memiliki tenaga yang kuat .
Maka cepat dia menggerakkan tangan dan dia sudah
memegang sebatang golok besar yang berkilauan saking
tajamnya ! .
Cu Sian yang merasa yakin dia berhadapan dengan
pembunuh ayahnya . Sejak tadi sudah merasa seolah hatinya
terbakar oleh dendam dan kebencian . Akan tetapi dia tidak
mau membiarkan kemarahannya menguasainya . Dia tetap
tenang dan maklum bahwa lawannya adalah seorang yang
berbahaya , apalagi kalau sudah memegang goloknya .
Kiranya tidak percuma orang itu berjuluk Sin-to-kwi ( Setan
Golok Sakti ) . Dia tetap tenang dan waspada . Dia yakin akan
mampu menandingi musuh besar ini . Walaupun musuh besar
ini telahmengalahkan dan membunuh ayahnya , akan tetapi
dia merasa yakin bahwa sekarang tingkat kepandaiannya
sudah jauh melampaui tingkat ayahnya dahulu .
“ Siinggg ..... ! “ Golok besar itu mengeluarkan bunyi
mendesing ketika Ban Koan mengayunnya dalam bacokan
dahsyat ke arah leher Cu Sian . Cu Sian menekuk kedua
kakinya merendahkan tubuh sehingga golok itu menyambar di
atas kepalanya dan kesempatan itu dia pergunakan untuk
menyerang dada lawan dengan totokan . Ban Koan terkejut
dan cepat tangan kirinya bergerakmenangkis tongkat lalu
melompat mundur .
Setelah terhindar dari totokan berbahaya itu , Ban Koan
kembali menyerang . Goloknya bergerak cepat , golok
yangbesar dan berat itu seolah benda ringan sekali di
tangannya . Golok itu lenyap bentuknya dan menjadi gulungan
sinar putih yang menyilaukan membuat tubuhnya
berkelebatan bagaikan seekor burung walet sehingga sukar
sekali di serang . Juga serangan balasan Cu Sian tidak kalah
hebatnya karena pemuda itu menyerang dengan totokantotokan
ke arah jalan darah yang mematikan .
Pertandingan itu sungguh menegangkan . Golok di tangan
Ban Koan itu berbahaya sekali , akan tetapi Cu Sian ternyata
mampu menandinginya dengan kecepatan gerakannya .
Mereka saling serang dan tubuh mereka berkelebatan ke sana
sini . Sampai lima puluh jurus lebih belum juga ada yang
roboh walaupun perlahan-lahan Cu Sian mulai dapat
mendesak lawannya .
Melihat kakaknya tidak mampu mengalahkan pemuda itu
bahkan terdesak , Ban Ki menjadi penasaran dan marah . Bagi
dia dan kakak nya , mereka tidak mengenal sifat kegagahan
yang pantang melakukan pengeroyokan . Ban Ki berseru keras
dan meloncat memasuki gelanggang perkelahian itu dengan
sepasang goloknya . Tanpa peringatan lagi dia sudah
menyerang Cu Sian dengan ganas nya . Cu Sian mengelak
dengan cepat ketika sepasang golok itu menyambar ke arah
tubuhnya .
“ Pengecut ! “ bentaknya , namun kakak beradik itu tidak
peduli dan segera mengeroyoknya . Bahkan anak buah Kwi-topang
mulai mengepung dan mengancam dengan golok
mereka untuk mengeroyok Cu Sian .
Cu Sian terkejut sekali . Dia telah masuk perangkap , telah
di kepung dan tidak mungkin meloloskan diri dari
pengepungan puluhan orang itu . Mulailah dia merasa
menyesal , karena dorongan dendam kebencian , dia lupa
bahwa di berada di tengah-tengah gerombolan yang
berbahaya . Saking marahnya berhadapan dengan pembunuh
ayahnya dia langsung menantang . Padahal , seharusnya dia
mencari kesempatan dulu untuk memberi isyarat kepada
Huang-ho Kwi-pang yang saat itu tentu menanti-nanti
isyaratnya . Kini dia telah terkepung , tidak sempat lagi
memberi isyarat dan dia lalu nekat mengamuk , tubuhnya
berkelebatan ke sana sini menghadapi pengeroyokan kakak
beradik itu . Akan tetapi dia terdesak hebat karena dua orang
lawannya adalah orang-orang yang ahli bermain golok .
Beberapa kali nyaris tubuhnya terbacok golok . Cu Sian
memaklumi keadaan bahaya ini , akan tetapi karena tidak
melihat jalan keluar untuk meloloskan diri , dia lalu mengamuk
dan membela diri sekuat mungkin .
Pada saat yang amat gawat bagi keselamatan Cu Sian itu ,
tiba-tiba nampak sinar dan asap di susul teriakan banyak
orang , “ Kebakaran ! Kebakaran ! “ . Dan sebagian dari anak
buah Kwi-to-pang berlarian untuk memadamkan sebuah tenda
yang terbakar . Cu Sian merasa terheran-heran . Mestinya dia
yang membuat api sebagai isyarat kepada orang-orang
Huang-ho Kwi-pang ! Akan tetapi siapapun penyebab
kebakaran , hal itu menguntungkan bagi Cu Sian dan diapun
mengamuk sehingga kedua orang lawan yang mengeroyoknya
mundur . Apa lagi Ban Koan dan Ban Ki juga terheran-heran
melihat adanya kebakaran .
Selagi mereka meragu , terdengar sorak sorai dan puluhan
orang Huang-ho Kwi-pang datang menyerbu . Terjadilah
pertempuran yang hebat .
Hek-mo-ko Coa Gu ketua Huang-ho Kwi-pang segera
membantu Cu Sian yang di keroyok dua . Kini Cu Sian hanya
melawan Ban Koan seorang , sedangkan Hek-mo-ko
bertanding melawan Ban Ki Gu Ma It dan Su Ciong Kun , dua
orang ketua yang lain dari Huang-ho Kwi-pang memimpin
anak buah mereka menyerang orang-orang Kwi-to-pang .
Terjadilah pertempuran mati-matian .
Karena orang-orang Huang-ho Kwi-pang lebih banyak ,
mereka di pimpin oleh dua orang ketua itu , maka pihak Kwito-
pang menjadi terdesak hebat . Sementara itu Cu Sian
mendesak lawannya dengan sengit dan akhirnya , tongkat
bambunya berhasil menotok dada Ban Koan . Sin-to-kwi Ban
Koan berseru keras dan roboh terjengkang dan sebelum dia
sempat membela diri , Cu Sian sudah mengirim dua kali
totokan pada leher dan dadanya dan tewaslah Ban Koan tanpa
dapat mengeluarkan suara lagi .
Pertandingan antara Ban Ki dan Hek-mo-ko juga
berlangsung sengit dan berimbang . Akan tetapi , ketika Ban
Ki melihat kakaknya roboh dan tewas , permainan sepasang
goloknya menjadi kacau dan kesempatan ini dipergunakan
oleh Hek-mo-ko untuk menusuukan tongkat bajanya ke arah
ulu hati Ban Ki . Siang-to-kwi Ban Ki terjengkang dan tewas
karena tongkat baja itu telah menembus baju dan kulit
dadanya .
Melihat robohnya dua orang pimpinan mereka , sisa anak
buah kwi-to-pang menjadi panik dan mereka lalu melarikan
diri cerai berai . Hanya belasan orang saja di antara mereka
yang dapat lolos . Selebihnya tewas dalam pertempuran itu .
Hek-mo-ko Coa Gu , Gu Ma It dan Su Ciong kun bergembira
bukan main karena kemenangan itu berarti bahwa kini
merekalah yang menjadi penguasa tunggal di daerah lembah
Huang-ho ! Para anak buah Huang-ho Kwi-pang juga bersorak
gembiara atas kemenangan itu . Cu Sian masih berdiri
termenung memandangi mayat Ban Koan ketua Kwi-to-pang .
Hatinya merasa terharu bahwa akhirnya dia mampu membalas
kematian ayah ibunya , bahkan berhasil pula membantu
Huang-ho Kwi-pang untuk membasmi gerombolan Kwi-topang
yang dahulu merampok ayahnya .
Dia masih termenung ketika Hek-mo-ko dan dua orang
adiknya menghampiri dan mereka bertiga memberi hormat
kepadanya . Hek-mo-ko berkata dengan gembira “ Bantuan
Cu-sicu sungguh tak ternilai harganya bagi kami “ .
Seperti orang dalam mimpi karena masih termenung , Cu
Sian berkata . “ Aku tidak membantu siapa-siapa , aku hanya
ingin membalas kematian ayah ibuku “ .
“ Biarpun demikian , tanpa bantuan Cu-sicu , akan sukarlah
bagi kami untuk memperoleh kemenangan . Kini kami telah
menang dan mulai saat ini , yang menguasai Lembah Huangho
di daerah ini adalah kami Huang-ho Kwi-pang ! “ kata Hekmo-
ko lantang sehingga terdengar oleh semua anak buahnya .
Mendadak terdengar suara yang lebih lantang lagi , suara
yang bergema sampai jauh dan yang menggetarkan hutan itu
. “ Siapa bilang Huang-ho Kwi-pang yang berkuasa ! Masih
ada aku di sini ! “ .
Semua orang terkejut dan menoleh , Entah dari mana
datangnya tiba-tiba saja di situ telah berdiri seorang kakek
yang menyeramkan . Kakek itu usianya paling sedikit enam
puluh tahun . Ubuhnya masih tegak dan tinggi besar ,
kepalanya botak dan ukuran kepala itu besar sekali . Rambut
kepalanya hanya tumbuh di bagian bawah dari belakang
telinga sampai ke tengkuk dan rambut ini tebal dan hitam
sekali . Tubuhnya yang tinggi besar itu mengenakan pakaian
dari bulu beruang di bagian luarnya . Sedangkan celana dan
bajunya dari kain sutera . Tangannya memegang sebatang
tongkat berkepala naga dan berwarna hitam mulus .
Sepatunya dari kulit binatang . Penampilan kakek ini nampak
lucu akan tetapi juga menyeramkan . Mendengar ucapan
kakek itu , tentu saja tiga orang pimpinan Huang-ho Kwi-pang
menjadi marah sekali .
“ Haiiii ! Apa maksudmu dengan kata-kata tadi ? “ bentak
Hek-mo-ko .
“ Siapa engkau , manusia lancang mulut ! “ bentak pula Su
Ciong Kun dengan marah .
“ He-he-he-he , kalian seperti tikus-tikus selokan hendak
berlagak harimau ! Kata-kataku sudah jelas . Tidak ada yang
berkuasa di lembah Huang-ho kecuali aku . Mulai hari ini , aku
lah yang berkuasa dan siapa pun baru berhak hidup di sini
setelah memperoleh ijin dariku “ .
“ Manusia sombong ! Mengakulah siapa engkau sebelum
kami membinasakan kamu !” kini Gu Ma It yang berteriak
marah .
“ He-he-he ! Namaku Ma Giok , akan tetapi mulai sekarang
akulah datuk utara dan julukanku Pak-te-ong ( Raja Bumi
Utara ) ! “
Tiga orang pimpinan Huang-ho Kwi-pang itu saling pandang
dan mereka tidak mengenal nama ini di antara tokoh-tokoh
kang-ouw . Maka mereka memandang rendah .
“ Ma Giok , bersiaplah untuk mampus ! “ bentak Su Ciong
Kun dan dia sudah menyabitkan sebatang pisau yang sudah di
rendam racun . Jangankan terkena dengan tepat , baru
tergores sedikit saja oleh senjata rahasia ini sudah cukup
untuk merenggut nyawa orang ! .
Akan tetapi kakek botak itu hanya mengibaskan lengan
bajunya dan pisau itu mencelat ke samping dan lenyap ke
dalam semak-semak .
“ Ha-ha-ha , tikus-tikus tidak tahu diri . Apakah kalian
masih mempunyai permainan lain lagi ?” .
Hek-mo-ko tentu saja tidak rela melihat ada orang hendak
merebut kekuasaan mereka begitu saja . Dia sudah
menggerakkan tongkat bajanya dan berseru kepada dua orang
adiknya . “ Serang ! “ ini merupakan aba-aba bagi kedua
orang itu untuk menyerbu dan tanpa banyak cakap lagi Gu Ma
It menggerakkan pedangnya dan Su Ciong Kun menggerakkan
rantai bajanya .
Cu Sian menyingkir dan menjauh sambil tersenyum
mengejek . Dia muak melihat sikap tiga orang pimpinan
Huang-ho Kwi-pang itu yang tanpa malu-malu lagi melakukan
pengeroyokan kepada seseorang yang belum mereka kenal
dan ketahui bagaimana tingkat kepandaiannya .
Dia tidak ingin mencampuri urusan itu , akan tetapi diapun
tertarik dan ingin menonton pertandingan itu . Dia melihat di
sebelah kirinya terdapat sebatang pohon dan diapun meloncat
ke atas cabang pohon itu dan duduk seenaknya .
Hek-mo-ko Coa Gu , Su Ciong Kun dan Gu Ma It sudah
maju menerjang kakek botak itu . Tongkat baja ek-mo-ko
menyambar ke arah kepala botak itu , pedang di tangan Gu
Ma It menusuk ke arah dada , sedangkan rantai baja Su Ciong
Kun menyambar ke arah pinggang ! Hebat sekali serangan
tiga orang secara berbarengan itu dan agaknya kakek gundul
itu tidak akan mampu menghindarkan diri lagi . Akan tetapi Cu
Sian yang menonton dari atas , terbelalak melihat kakek botak
yang bernama Pak-te-ong Ma Giok itu sama sekali tidak
bergerak dari tempat dia berdiri .
“ Duukkk ! “ kapala botak lic in itu terpukul tongkat baja
Hek-mo-ko , akan tetapi kepala itu tidak apa-apa bahkan
tongkat itu telah di sambar tangan kiri Pak-te-ong dan di
rampasnya . Ketika pedang menusuk ke arah dadanya , dia
menancapkan tongkatnya sendiri ke atas tanah dan tangan
kanannya mengangkap pedang itu begitu saja dan sekali tarik
, pedang itupun dirampasnya . Rantai baja itu mengenai
pinggang dan melibatnya , akan tetapi sekali kakinya
menendang , Su Ciong Kun terlempar dan rantai baja itu tetap
melibat pinggang Pak-te-ong . Kembali kedua kakinya itu
menyambar bergantian dan Hek-mo-ko terlempar kebelakang
sedangkan Gu Ma It juga terpelanting !
Jilid 9
“ He-he-he ! Tikus-tikus kecil bertingkah ! Terimalah
kembali senjata kalian ! “ Tubuhnya bergerak , tongkat dan
pedang rampasan meluncur dari kedua tangannya sedangkan
begitu pinggangnya di gerakkan , rantai baja itupun meluncur
bagaikan seekor ular terbang menyambar mangsanya . Tiga
macam senjata itu meluncur ke arah pemilik masing-masing
dan terdengar teriakan-teriakan mengerikan ketika tiga orang
pimpinan Huang-ho Kwi-pang itu baru saja bangkit terkena
senjata mereka sendiri . Demikian kuatnya tenaga yang
mendorong senjata-senjata itu sehingga tongkat baja itu
menembus dada Hek-mo-ko , pedang menancap di leher Gu
Ma It dan rantai baja mengenai kepala Su Ciong Kun sehingga
kepala itu menjadi remuk . Ketiganya tewas di saat itu juga ! .
Semua anak buah Huang-ho Kwi-pang yang melihat betapa
tiga orang pimpinan mereka tewas sedemikian mudahnya oleh
kakek botak itu , menjadi terkejut dan ketakutan . Mereka
serta merta menjatuhkan diri berlutut di depan kaki kakek itu
sambil minta ampun .
“ He-he-he-he ! “ Pak-te-ong tertawa mengelak sambil
mencabut tongkatnya dan mengelus perutnya yang gendut .
Boleh aku mengampuni kalian , akan tetapi mulai saat ini ,
kalian hanya taat kepada Pak-te-ong ! Akulah satu-satunya
pemimpin di seluruh wilayah Lembah Huang-ho ini . Kalian
mengerti ?” .
Puluhan orang yang ketakutan itu mengangguk-angguk
seperti sekumpulan ayam memasuki beras dan menyatakan
kesanggupan mereka .
Pak-te-ong kembali tertawa bergelak sehingga mukanya di
tengadahkan . Akan tetapi tiba-tiba tawanya terhenti karena
matanya dapat melihat Cu Sian yang masih duduk
menggoyang kaki di atas cabang pohon . “ Heeiiii , engkau !
Turun lah engkau ! Apakah engkau ingin membalas kematian
tiga orang sahabatmu ini ?” .
Cu Sian tahu benar bahwa kakek botak itu memiliki
kesaktian yang luar biasa . Dari cara dia menewaskan tiga
orang pimpinan Huang-ho Kwi-pang saja tahulah dia bahwa
kakek itu sama sekali bukan lawannya . Akan tetapi , dia tidak
memperlihatkan sikap takut , dia meloncat turun dari atas
cabang pohon dan berkata sambil lalu saja . Aku bukan
sahabat mereka dan urusanmu dengan mereka tidak ada
sangkut pautnya dengan aku ! “ Setelah berkata demikian Cu
Sian menyeret tongkat bambunya dan melangkah pergi dari
situ .
Melihat pengemis muda itu pergi seenaknya saja , Pak-teong
berseru kepadanya “ Heiii , jembel muda . Sebelum pergi
engkau harus berlutut dan menyatakan takluk kepadaku , baru
engkau boleh pergi ! “ .
Cu Sian memiliki watak yang lincah jenaka dan gembira ,
akan tetapi di samping itu juga tabah sekali dan tidak
mengenal rasa takut . Mendengar ucapan kakek itu , dia
berhenti melangkah dan memutar tubuhnya memandang
kakek itu dengan sepasang mata yang bersinar . “ Pak-te-ong
, aku bukan perampok dan aku tidak akan menakluk
kepadamu atau kepada siapa pun juga ! “ . Setelah berkata
demikian , dia melanjutkan langkahnya .
“ Heh ! Kalian ! Perintahku pertama kepada kalian .
Tangkap dan seret jembel itu ke depan kakiku ! “ .
Kurang lebih lima puluh orang anggota Huang-ho Kwi-pang
itu tidak berani membantah . Dengan senjata di tangan
mereka lalu bangkit dan lari menyerbu ke arah Cu Sian .
Melihat ini Cu Sian menjadi marah . Dia menyambut dan
dengan gerakan cepat tongkatnya , dia telah merobohkan
empat orang pengeroyok yang datang paling depan . Akan
tetapi para pengeroyok itu mengepung dan menyerangnya
dari semua penjuru . Cu Sian menjadi marah dan dia
memainkan tongkatnya sedemikian rupa sehingga tongkat
bambu itu berubah menjadi gulungan sinar kuning yang
menyelimuti tubuhnya sehingga semua serangan itu terpental
kembali . Bahkan dia mampu merobohkan lagi delapan orang .
Melihat betapa lihainya pengemis muda itu , Pak-te-ong
terkejut dan marah sekali . Baru saja mengumumkan diri
menjadi pemimpin tunggal di Lembah Huang-ho , sudah ada
seorang yang berani menentangnya dan orang itu hanya
seorang pengemis muda ! Mata Pak-te-ong terbelalak dan
mukanya berubah kemerahan karena marah nya .
“ Kalian semua mundur ! “ bentaknya sengan suara
mengeledek . Biar aku sendiri yang akan menghajar jembel
busuk ini ! “ .
Para anggota Huang-ho Kwi-pang memang sudah merasa
jerih kepada Cu Sian yang amat lihai ilmu tongkatnya itu ,
maka ketika kakek botak itu menyuruh mereka mundur ,
mereka pun dengan cepat mengundurkan diri .
Pak-te-ong maju beberapa langkah dan setelah jarak antara
dia dan Cu Sian tinggal sepuluh meteran , dia mendorongkan
tangan kirinya dengan telapak tangan terbuka ke arah pemuda
jembel itu . Angin yang kuat menyambar ke arah Cu Sian .
Pemuda itu mengenal pukulan jarak jauh yang amat
berbahaya . Dia segera mengelak ke samping akan tetapi
tetap saja dia terhuyung ke belakang .Maklum bahwa dia
bukan lawan kakek sakti itu , Cu Sian lalu meloncat jauh dan
melarikan diri .
“ Jembel busuk ..... ! “ teriak Pak-te-ong sambil melakukan
pengejaran . Akan tetapi Cu Sian berlari semakin cepat dan
menghilang di balik pohon-pohon besar . Pak-te-ong juga
mengerahkan ginkangnya dengan penasaran .
“ Pengemis muda , engkau tidak akan dapat melepaskan
diri dari tanganku ! “ cepat sekali tubuh kakek ini berkelebat di
depan .
Akan tetapi , setelah dia memperpendek jarak antara dia
dan yang dikejarnya , tiba-tiba berkelebat bayangan orang dan
di depannya berdiri seorang pemuda yang pakaiannya
sederhana , sinar matanya lembut dan mulutnya tersenyumsenyum
.
“ Sungguh memalukan seorang datuk besar mendesak
seorang pemuda remaja ! “ kata pemuda itu yang bukan lain
adalah Han Sin .
Pak-te-ong terpaksa berhenti dan dia memandang kepada
Han Sin dengan marah . “ Minggir atau engkau akan ku bunuh
lebih dulu ! “ bentaknya .
“ He-he, bukan main galaknya . Pak-te-ong , hentikan
pengejaranmu . Lawan yang sudah lari tidak baik di kejar “ ,
Han Sin berkata dengan lagak menasehati .
“ Keparat , mampuslah ! “ bentak Pak-te-ong sambil
mendorongkan tangan kirinya ke arah Han Sin dengan ilmu
pukulan jarak jauh . Han Sin juga mendorong tangan kanan
nya .
“ Deeesss ..... ! “ keduanya terdorong ke belakang dan Pakte-
ong terkejut bukan main . Pemuda ini mampu menolak
pukulan jarak jauhnya dan membuat dia terdorong ke
belakang ! Dari bukti ini saja dapat di ketahui bahwa dia
berhadapan dengan seorang pemuda yang memiliki
kepandaian tinggi . Maka , dengan hati penasaran dan marah ,
dia mengegerakkan tongkat kepala naga nya menyerang
bagaikan badai mengamuk dan setiap pukulannya dahsyat
sekali .
Akan tetapi untuk kedua kalinya kakek itu merasa terkejut
bukan main . Semua pukulannya mengenai tempat kosong
dan dua kali pemuda itu bahkan berani menangkis tongkatnya
dengan tangan kosong ! Jarang ada lawan yang akan mampu
bertahan lebih dari lima jurus kalau dengan tangan kosong
menghadapi tongkatnya . Apalagi lawan itu seorang pemuda
seperti ini . Setelah belasan jurus dia menyerang tanpa hasil ,
Tiba-tiba Han Sin melompat ke kiri dan melarikan diri .
“ Heeiii , jangan lari ! “ Pak-te-ong membentak dan
mengejar , akan tetapi pemuda itu telah lenyap tanpa
meninggalkan bekas . Han Sin memang tidak ingin berkelahi .
Kalau tadi dia menghalangi Pak-te-ong , hal itu dia lakukan
untuk memberi kesempatan Cu Sian melarikan diri , setelah
dia merasa bahwa Cu Sian telah berlari jauh dan kakek itu
tidak akan dapat mengejarnya lagi , diapun meninggalkan
lawan yang amat lihai itu .
Setelah gagal mencari kedua orang pemuda itu , dia
melampiaskan kekecewaannya dan kemarahannya dengan
mengobrak-abrik hutan , menumbangkan banyak pohonpohon
dengan tongkatnya , akhirnya Pak-te-ong kembali ke
tempat dimana anggota Huang-ho Kwi-pang masih berkumpul
. Dan sejak hari itu , gegerlah daerah Lembah Huang-ho
dengan munculnya seorang tokoh baru yang menundukkan
semua golongan sesat dengan kepandaiannya yang tinggi .
Mereka yang mau tunduk dan menakluk , menjadi anak
buahnya dan mereka yang berani menentang di bunuhnya .
Terkenallah nama Pak-te-ong di dunia kang-ouw sebagai
seorang datuk utara yang sakti .
****
Harus di akui bahwa Kaisar Yang Ti meneruskan politik lebih
tegas dari mendiang Yang Chien , ayahnya . Terusan-terusan
yang menghungkan kedua sungai Huang-ho dan Yang-ce di
lanjutkan dan diperluas , bahkan diteruskan sampai ke Hangcouw
. Pekerjaan besar yang di mulai oleh Kaisar Yang Chien
ini di lanjutkan oleh Kaisar Yang Ti . Juga politik luar negerinya
melanjutkan apa yang telah di lakukan oleh kaisar Yang Chien
, yaitu menundukkan kembali daerah-daerah yang dahulu
memberontak dan memisahkan diri . Bahkan lebih luas lagi dia
bertindak , bukan saja Tong-kin dan n-nam di tundukkan ,
juga dia melakukan gerakan di utara dan barat .
Kaisar Yang Ti mengirim pasukannya ke daerah yang kini di
namakan Mongolia Dalam , Mongolia Luar , Kokonor , Sinkiang
, bahkan ke Asia Tengah yang pada waktu itu di diami
bangsa-bangsa Toba , Turki dan Mongol dengan banyak sukusukunya
. Di antara suku-suku bangsa itu terdapat banyak
pertikaian dan permusuhan karena memperebutkan wilayah
dan kekuasaan . Kaisar Yang Ti mengirim banyak mata-mata
memasuki daerah itu yang bertugas untuk meniup-niupkan
permusuhan dan pertentangan itu . Maka bertambah panaslah
suasana di antara suku-suku bangsa itu dan karena adanya
perpecahan ini , maka pasukan Sui dapat menguasai daerahdaerah
itu yang kemudian di beri nama Sin-kiang atau daerah
baru .
Usaha perluasan wilayah ini juga di tujukkan ke Timur Laut
, yaitu daerah Mancuria Selatan dan Korea . Namun di sini
Kaisar Yang Ti mengalami pukulan berturut-turut yang
menyuramkan sinar kemenangannya di daerah lain .
Sayang sekali , Kaisar Yang Ti tidak menuruni watak
ayahnya yang menunjukkan seorang pendekar sejati , dahulu
Kaisar Yang Chien selalu mengesampingkan kepentingan
sendiri , tidak gila kedudukan dan gila kekuasaan , biarpun
kaisar hidupnya sederhana dan selalu mengambil tindakan
tegas terhadap siapa saja yang melakukan penyelewengan
dan kesalahan . Sebaliknya , Kaisar ang Ti mengumbar nafsu
kesenangannya secara berlebihan . Dia gemar sekali
mengumpulkan wanita-wanita cantik untuk menjadi selir dan
dayang , dan membangun istana-istana yang luar biasa
indahnya . Kegemaran ini menghamburkan banyak sekali uang
negara dan dia banyak menerima protes dari pejabat-pejabat
tinggi yang setia . Namun , kedua telinganya seperti tuli
terhadap semua protes dan kritik itu .
Untuk memuaskan nafsunya , dia mempunyai seorang
permaisuri , dua orang wakil permaisuri , enam kepala selir
dan tujuh puluh dua selir . Semua itu masih belum
memuaskan hatinya dan dia mengumpulkan gadis-gadis dari
segalal penjuru dan suku , untuk dijadikan dayang yang
jumlahnya mencapai tiga ribu orang ! Kalau semua ini hanya
di sembunyikan di istana saja masih belum terlalu mencolok ,
akan tetapi Kaisar Yang Ti memiliki cara yang mencolok untuk
menyenangkan hatinya dan memuaskan nafsunya .
Ketika pembangunan Terusan Besar yang menghubungkan
utara dan selatan selesai dan dapat dipergunakan , maka
untuk pembukaan pertama dia memerintahkan membuat
sebuah perahu naga yang besar , kemudian , beberapa ratus
gadis dayang di suruh menarik tambang yang mengikat
perahu itu untuk menggerakkan perahu melawan arus . Sambil
menarik tambang , para dayang itu bernyanyi . Di atas perahu
naga , dayang-dayang cantik memainkan seruling dan
Yangkim ( siter ) mengiringkan nyanyian merdu . Dalam kamar
perahu itu , kaisar Yang Ti dilayani oleh selir dan dayang yang
di pilihnya untuk menemaninya dalam perahu itu . Tentu saja
rakyat menonton peristiwa itu dengan takjub . Dan para
menteri setia hanya menarik napas panjang dan menggeleng
kepala .
Keroyalan Kaisar Yang Ti mencapai puncaknya ketika dia
memerintahkan Hsiang Sheng , pembuat bangunan terbesar di
waktu itu , untuk membangun sebuah istana yang amat indah
di Lok-Yang . Untuk membuat bangunan raksasa yang indah
dan megah mewah ini dipergunakan tenaga pekerja lebih dari
lima puluh ribu orang dan pekerjaan di selesaikan dalam
waktu delapan belas bulan . Tentu saja bangunan ini
memakan biaya yang luar biasa besarnya . Di bangun di tanah
yang luas , istana atau bangunan utama di kelilingi oleh tiga
puluh enam istana yang lebih kecil , semua tersembunyi di
dalam hutan-hutan bunga beraneka macam dan warna .
Pemandangan di sekitar istana mengingatkan orang akan
dongeng tentang taman sorga ! Akan tetapi karena istana itu
mempunyai banyak bangunan dan lorong bunga yang berlikuliku
dan simpang siur , maka Kaisar Yang Ti memberi nama
aneh kepada istana itu , yaitu Istana Lorong Menyesatkan .
Memang bagi orang yang belum mengenal betul daerah
kumpulan istana ini , dia tentu akan tersesat di dalamnya dan
sukar mencari jalan keluar lagi .
Bangunan utama merupakan sebuah istana yang bertingkat
tiga , berkilauan dalam sinar matahari bagaikan sebuah
Pagoda emas yang luar biasa besarnya . Di dalam bangunan
ini terdapat banyak kamar berbagai ukuran yang amat indah ,
di pisahkan oleh pintu-pintu yang berukiran halus . Yang
terbesar adalah kamar utama yang menjadi tempat tidur
kaisar Yang Ti . Kamar ini luar biasa besarnya , bisa muat
seratus meja untuk berpesta . Dinding-dindingnya di hias
dengan cermin dari sudut ke sudut . Asap dupa harum yang
tipis selalu mengepul sehingga kamar besar itu berbau harum
. Tirai-tirai sutera bermacam warna bergantungan dan lenteralentera
berbagai warna yang bergantungan dengan hiasan
yang mengandung daya seni tinggi .
Sungguh sayang sekali , ketika kaisar pertama Kerajaan Sui
, yaitu Kaisar Yang Chien , memegang kendali pemerintahan ,
persatuan dapat di bina karena para pembesar di daerah
tunduk dan taat kepada kaisar Yang Chien yang bijaksana ,
akan tetapi setelah Kaisar Yang Ti hidup bergelimang dengan
kesenangan dan kemewahan , maka mulailah orang merasa
tidak senang kepadanya . Rasa tidak senang ini , terutama
sekali dari pembesar-pembesar daerah , merupakan bibit-bibit
pemberontakan .
Sudah berulang kali tercatat dalam sejarah , apa bila
kaisarnya mulai terpengaruh kesenangan duniawi dan
mementingkan kesenangan sendiri saja , maka tentu akan
bermunculan pembesar-pembesar “ durna “ alias penjilatpenjilat
yang berhati palsu . Demikian pula dengan waktu itu .
Ketika Kaisar Yang Chien berkuasa , tidak ada seorangpun
penjilat berani mendekatinya , atau lebih tepat , tidak muncul
pembesar yang berwatak penjilat karena kaisarnya bijaksana
dan adil lagi tegas . Akan tetapi ketika Kaisar Yang Ti berkuasa
, mulailah berdatangan pembesar-pembesar penjilat yang
maklum akan kelemahan Kaisar Yang Ti . Pembesar-pembesar
penjilat inilah yang bersikap penuh perhatian terhadap
kebutuhan kaisar untuk memenuhi kesenangannya . Mereka
ini yang menawar-nawarkan gadis baru yang cantik dan
mendorong semua keinginan kaisar untuk beroyal-royal
menghamburkan uang negara .
Banyak pembesar tua yang dahulu membantu Yang Chien
dengan setianya , dipensiun oleh Yang Ti , dan di gantikan
dengan orang-orang muda yang lebih cocok dengan dia . Di
antara mereka ini seorang pejabat tinggi bernama Lui Couw .
Dia telah benyak berjasa dalam perang menundukkan daerahdaerah
utara barat , maka diapun kini di angkat menjadi
panglima besar . Bukan hanya karena dia berjasa , akan tetapi
diapun pandai menyenangkan hati Kaisar Yang Ti . Dalam
perang menundukkan daerah-daerah , Lui Couw ini tidak
pernah lupa untuk menawan gadis-gadis cantik dan
menyerahkan kesempatan pertama kepada Kaisar Yang Ti
untuk meilih di antara gadis-gadis itu yang di senanginya .
Karena “ jasa “ inilah maka kedudukan Lui Couw cepat naik
dan kini setelah menjadi panglima besar maka
kekuasaanyapun bertambah kuat .
Lui Couw ini mempunyai seorang putera bernama Lui Sun
Ek , yang telah berusia dua puluh satu tahun . Lui Couw
sendiri sudah berusia empat puluh lima tahun . Dari para
selirnya yang banyak Lui Couw hanya mendapatkan seorang
putera itulah , sedangkan istrinya juga tidak mempunyai
keturunan . Maka biarpun hanya putera selir , Lui Sun Ek di
manja dan di hormat sebagai keturunan tunggal . Bahkan
ibunya juga naik “pangkat” tidak lagi menjadi selir , melainkan
menjadi isteri kedua yang dalam kehidupan sehari-hari
mendorong kedudukan isteri pertama dan meiliki kekuasaan
lebih besar dalam keluarga Lui Couw .
Lui Couw adalah seorang yang selain pandai dalam ilmu
perang , juga ahli silat yang tangguh . Demikian pula
puteranya , Lui Sun Ek , telah di gemblengnya sendiri sejak
anak itu masih kecil sehingga kini Sun Ek menjadi seorang
pemuda dewasa yang lihai sekali . Sebagai seorang panglima
tinggi yang kedudukannya sudah sama dengan seorang
menteri , Lui Couw memiliki sebuah rumah gedung yang
megah .
Pada suatu pagi , para menteri dan panglima menghadap
Kaisar Yang Ti karena Kaisar mengundang mereka dalam
sebuah sidang pertemuan . Para pembesar itu sudah lama
menghadap ketika Kaisar masih bersenang-senang dengan
para wanitanya dalam taman istana . Setelah para pembesar
itu merasa kesal menanti , barulah kaisar keluar diiringkan
para thaikam ( sida-sida ) dan pengawal pribadi .
“ idup Yang Mulia Kaisar ! “ terdengar seruan mereka yang
segera menjatuhkan diri berlutut menghadap kaisar .
Kaisar Yang Ti memandang kepada semua pejabat itu ,
mengangguk senang karena mereka semua hadir
selengkapnya , lalu duduk dan menggerakkan tangannya .
“ Kalian semua boleh duduk ! “ .
“ Terima kasih , Yang Mulia , “ serentak mereka menjawab
lalu bangkit dan duduk di bangku-bangku yang sudah di
sediakan untuk mereka .
Kemudian Kaisar memberi kesempatan kepada mereka
untuk satu demi satu menyampaikan pelaporan tentang
jalannya pemerintahan , dan juga tentang gerakan pasukan
Sui yang berusaha menundukkan daerah-daerah di Timur Laut
.
Dengan kecewa dia menerima laporan bahwa gerakan
pasukan di Timur Laut mendapat perlawanan yang amat kuat
dari mereka , terutama sekali dari bangsa Korea .
“ Hemmm , kalau demikian , lebih baik tarik mundur dulu
pasukan dari sana karena kami mendengar bahwa daerah
utara Shan-si juga para suku bangsa biadab mulai melakukan
gerakan . Kami sendiri yang akan memimpin pasukan besar
mengadakan pembersihan di Shan-si utara !”
“ Ampun Yang Mulia . Akan tetapi hamba kira sebaiknya
kalau paduka menyerahkan saja tugas itu kepada hamba atau
kepada para panglima lainnya . Tidak perlu paduka berangkat
sendiri memimpin pasukan . Daerah sana itu berbahaya sekali
bagi paduka dan sebaiknya paduka tidak menempuh bahaya
itu “ , kata Lui Couw .
Kaisar Yang Ti mengerutkan alisnya dan wajahnya nampak
marah ketika dia memandang kepada panglimanya itu . “ Liu-
Ciang-kun ! Lupakah engkau siapa kami ini ? Mendiang ayah
kami adalah seorang pejuang yang gagah perkasa , dan sejak
muda kami juga sudah bergelimang dengan pertempuran .
Apa artinya bahaya bagi seorang kaisar yang memimpin
pasukannya sendiri melakukan pembersihan ? Kami akan
berangkat sendiri ! “ .
“ Ampun , Yang Mulia . Hamba hanya mengkhawatirkan
keselamatan paduka saja maka mengusulkan agar kami para
panglima yang diperintahkan pergi . Akan tetapi kalau
demikian kehendak paduka , hamba tentu saja tidak berani
membantah “ , kata Liu Couw .
“ Pendeknya laksanakan perintah kami , yaitu , tarik
mundur pasukan yang berperang di timur laut , dan kerahkan
pasukan besar yang akan kami bawa asendiri ke utara Shan-si
. Berapa lamakah pasukan itu dapat berkumpul ?” .
Lui Couw saling pandang dengan para panglima yang hadir
, kemudian setelah menghitung-hitung , dia menjawab , “
kalau pasukan yang berada di timur laut itu di haruskan
kembali ke kota raja lebih dahulu , maka hal itu akan makan
waktu lama , Yang Mulia . Akan tetapi kalau di kirim perintah
agar pasukan itu langsung saja pergi ke Tai-goan di Shan-si
dan bertemu dengan pasukan dari sini , maka dalam waktu
yang tidak terlalu lama pasukan dapat terkumpul di Tai-goan .
“ Baik , laksanakan perintah itu agar mereka segera di tarik
ke Tai-goan “ .
“ Hamba siap melaksanakan perintah paduka ! “ jawab Lui
Couw .
Setelah menerima laporan hal-hal lain dari berbagai
menterinya , kaisar lalu berkata ,” Nah , sekarang kami
hendak membicarakan sebuah persoalan penting “ . Dia
memberi isyarat kepada seorang Thaikam yang maju berlutut
dan menyerahkan sebatang pedang bersarung kepada Kaisar
Yang Ti .
Setelah menerima pedang itu dari seorang thai-kam , Kaisar
Yang Ti lalu mengangkat pedang itu ke atas ,
memperlihatkannya kepada semua yang hadir lalu bertanya , “
tahukah kalian pedang apa ini ?” .
Semua orang memandang penuh perhatian . Pedang itu
memiliki sarung yang indah terukir sebuah naga , juga gagang
pedangnya di ukir kepada naga dan warnanya putih seperti
perak . Para menteri yang sudah menghambakan diri sejak
dahulu tentu saja mengenal pedang itu .
“ Pek-liong-kiam ( Pedang Naga Putih ) ! “ terdengar seruan
beberapa orang .
Kaisar Yang Ti mengangguk . “ Benar ini adalah Pek-liongkiam
, Pedang pusaka milik mendiang ayah yang telah berjasa
besar . Lihatlah baik-baik !” Kaisar menghunus pedang itu dan
nampak sinar berkilauan yang menyeramkan . “ Sekarang
pedang ini menjadi milik kami , maka kami juga harus berani
bertindak tegas , membasmi semua pemberontakan dan
kerusuhan dengan pedang ini . Akan tetapi ada satu hal yang
merisaukan hati kami . Pedang ini mempunyai saudara yang di
sebut Hek-liong-kiam ( Pedang Naga Hitam ) .
Hek-liong-kiam itu dahulu menjadi milik mendiang panglima
besar Cian Kauw Cu . Kami menghendaki agar pedang itu
dapat menjadi pusaka negara . Karena itu, kami
memerintahkan engkau , panglima muda Coa Hong Bu , untuk
mencari Hek-liong-kiam dan membawanya ke sini ,
menyerahkan kepada kami .
Coa Hong Bu adalah seorang panglima muda yang bertugas
di istana . Dia seorang laki-laki berusia tiga puluh lima tahun
yang bertubuh jangkung kurus . Sebagai seorang murid yang
pandai dari Hoa-san-pai , dia memiliki ilmu silat yang tinggi .
Ketika mendengar perintah ini , Coa Hong Bu memberi hormat
dan berkata dengan suara tegas seorang panglima . “ Hamba
akan melaksanakan perintah paduka , hamba hanya mohon
petunjuk , siapa yang kini memiliki pedang pusaka itu “ .
Kaisar memandang kepadanya dengan marah . “ Hek-liongkiam
adalah milik mendiang Panglima Cian Kauw Cu . Setelah
meninggal dunia , tentu saja pusaka itu berada di tangan
keluarganya ! Dan ada satu hal lagi . Ingat baik-baik , di dunia
ini hanya dua orang yang mengenal ilmu yang ditemukan
bersama sepasang pedang Pek-liong-kiam dan Hek-liong-kiam
. Ilmu itu hanya dikenal oleh mendiang ayah dan mendiang
Panglima Cian Kauw Cu . Karena ayah tidak meninggalkan
kitab ilmu itu kepada kami , maka sangat boleh jadi bahwa
kitab itu pun tadinya berada di tangan Panglima Cian . Maka ,
engkau , Panglima Coa Hong Bu , kalau sudah menemukan
Hek-liong-kiam , tanyakan pula adanya sebuah kitab yang di
tinggalkan oleh Cian-Ciangkun dan serahkan padaku . Kalau
pemegangnya menuntut penebusan uang , berikan kepadanya
berapa saja yang dia minta “ .
“ Akan hamba laksanakan , Yang Mulia . Dapatkah Paduka
memberitahu kepada hamba nama ilmu itu ?” .
“ Kitab itu berisi ilmu yang di sebut Bu-tek-cin-keng .
Usahakan sampai pedang dan kitab dapat kauserahkan
kepada kami , Coa-ciangkun . Engkau akan mendapat hadiah
besar dari kami “ .
Setelah berkata demikian , Kaisar Yang Ti membubarkan
pertemuan itu . Para pembesar , menteri dan panglima
mengundurkan diri dan bersiap melaksanakan semua perintah
yang dikeluarkan pada pertemuan itu oleh kaisar .
Semua perintah yang diberikan kaisar dapat dilakukan
dengan mudah oleh para pembesar , kecuali tugas yang
diberikan oleh Panglima Coa Hong Bu . Panglima yang biarpun
sudah berusia tiga puluh lima tahun akan tetapi masih hidup
membujang ini setelah meninggalkan istana tidak langsung
pulang ke rumahnya , akan tetapi segera melakukan
penyelidikan untuk mengetahui dimana adanya Nyonya Cian
Kauw Cu yang sudah pindah meninggalkan kita raja itu
bersama puteranya . Setelah mengetahui kemana pindahnya
keluarga Cian yang di carinya itu , Panglima Coa Hong Bu lalu
membuat persiapan untuk pergi berkunjung ke rumah janda
itu yang menurut keterangan yang dia peroleh telah pindah
keluar kota dekat kuil Siuw-lim-si .
****
Ji Goat , yaitu Nyonya Cian Kauw Cu yang hidup menyendiri
di bukit dekat kuil , merasa prihatin dan kesepian sejak
puteranya ia suruh pergi ke utara untuk mencari pedang
pusaka Naga Hitam dan pembunuh suaminya . Kini ia hidup
kesepian , hidup sederhana dari sisa bekal peninggalan
suaminya , bercocok tanam seperti seorang petani . Namun ,
wanita yang kini sudah berusia lima puluh lima tahun itu tidak
pernah merasa berduka . Ia hanya berdoa setiap hari agar
puteranya selamat dan berhasil melaksanakan kewajibannya
membalaskan kematian ayahnya . Satu-satunya orang yang
menemani dan membantunya , adalah seorang wanita dusun
sebelah yang sudah berusia lima puluh tahun . Wanita
pembantu itu datang di waktu pagi sekali dan pulang ke
rumahnya sendiri setelah hari menjadi gelap . Cio Si ,
demikian nama pembantu itu , adalah seorang dusun
sederhana yang dapat menghibur hati Ji Goat di kala ia
merasa kesepian teringat kepada puteranya .
Biarpun kini hidup menyendiri , Ji Goat tidak pernah
melupakan ilmu silatnya . Hampir setiap hari sekali ia berlatih
silat sehingga tubuhnya tetap sehat dan kuat dan gerakannya
tetap lincah . Biasanya ia berlatih di waktu pagi sekali , di
belakang rumahnya yang merupakan kebun dan ladang yang
cukup luas dan udaranya segar sejuk karena terpencil , jauh
dari tetangga .
Pada suatu pagi yang sejuk , ketika ayam jantan mulai
berkokok dan matari sendiri belum keluar walaupun sinarnya
sudah mulai mengusir kegelapan malam , seperti biasa Ji Goat
berlatih silat di belakang rumahnya . Dan pada saat yang
sama , Cio Si , wanita pembantu itupun meninggalkan rumah
keluarganya menuju ke rumah Ji Goat yang tidak terlalu jauh
letaknya dari rumah keluarganya .
Karena pintu depan masih tertutup , seperti biasa Cio Si
menuju ke kebun belakang karena ia tahu bahwa pada saat
seperti itu nyonya majikannya tentu sedang berlatih silat di
kebun belakang dan pintu belakang sudah dibuka . Akan tetapi
ketika pembantu rumah tangga itu tiba di kebun belakang ia
terkejut bukan main melihat nyonya majikannya sedang
berkelahi melawan seorang laki-laki yang tidak dikenalnya . Ia
menjadi ketakutan , kedua kakinya terasa lemas dan iapun
berjongkok di belakang semak-semak .
Apa yang telah terjadi dengan nyonya janda itu ? Ketika Ji
Goat sedang berlatih silat , seperti biasa ia memainkan ilmu
silat Lo-hai-kun . Ilmu silat ini merupakan ilmu silatnya yang
dahsyat dan yang dipelajarinya ketika ia masih muda dahulu
dari gurunya , Toat beng Giam Ong yang menjadi Kok-su (
Guru Negara ) dari Kerajaan Toba . Ketika Ji Goat berlatih ,
daun-daun pohon yang berdekatan bergoyang-goyang karena
sambaran angin yang timbul dari gerakan kedua tangan Ji
Goat . Tiba-tiba saja terdengar seruan orang .
“ Bagus ! Lo-hai-kun yang kau kuasai semakin lihai saja ,
suci !” .
Ji Goat terkejut dan menghentikan gerakannya . Ketika ia
menengok , ia melihat seorang pria berusia empatpuluh lima
tahun , bertubuh sedang dan tegap , telah berdiri di situ . Ia
tidak mengenal pria ini dan tentu saja ia merasa heran di
sebut suci ( kakak seperguruan ) oleh orang itu .
“ Siapa engkau ? “ tanyanya curiga .
Pria itu tertawa pendek . “ Ha-ha suci , lupakah engkau
kepadaku ? Aku Lui Couw “ .
“ Lui Couw .... ? “ Ji Goat mengulang nama itu sambil
mengerutkan alisnya mengingat-ingat . Kemudian teringatlah
ia . Ketika ia masih menjadi murid Toat beng Giam Ong Lui
Tat , gurunya yang berpangkat tinggi itu mempunyai seorang
putra dari seorang selirnya bernama Lui Couw . Ketika itu Lui
Couw baru berusia enam tujuh tahun ! .
“ Kau ..... putera suhu Toat Beng Giam Ong ?” .
“ Hemmm , apa maksud kedatanganmu ini , Lui-sute ?” .
“ Suci , sudah lama aku menjadi seorang panglima dari
Kerajaan Sui “ .
Ji Goat mengerutkan alisnya . Ia sama sekali tidak tahu dan
tidak mengira bahwa putera gurunya itu kini menjadi panglima
. “ Lalu “ apa maksud kedatangamu ke sini ? “ .
“ Suci , Kaisar bermaksud untuk merampas kitab Bu-tek
Cin-keng dari tanganmu , karena itu aku mendahului mereka
datang ke sini menemui suci . Ku harap suci suka
menyerahkan kitab itu kepadaku “ .
Mereka saling berpandangan dengan sinar mata penuh
selidik . “ Sute , kitab itu tidak ada padaku “ , jawab Ji Goat
dengan tegas .
“ Suci , ingatlah Kaisar dan Kerajaan Sui adalah musuh kita
! Mendiang ayahmu adalah Perdana Menteri Kerajaan Toba
dan ayahku adalah Kok-su-nya . Maka Kerajaan Sui adalah
musuh kita . Maka harap jangan ragu , serahkan kitab itu
kepadaku agar jangan sampai terjatuh ke tangan Kaisar Yang
Ti ! “ suara Lui Couw terdengar keras dan mendesak .
“ Sudah ku katakan , kitab itu tidak ada padaku ! “ .
“ Kalau begitu , katakan dimana kitab itu ? Ah , ya ! Engkau
mempunyai seorang putera , bukan ? Dimana dia ? Apakah
kitab itu kauberikan kepadanya ? “
Kerut di antara alis Ji Goat makin mendalam dan ia
menggeleng kepalanya keras -keras . “ Tidak , aku tidak
akanmemberitahukan kepadamu atau kepada siapapun juga !
“ .
“ Suci ! Sekali lagi kuminta engkau memberitahu dimana
adanya kitab Bu-tek Cin-keng !” kini Lui Couw membentak
marah .
Akan tetapi Ji Goat memandang dengan mata berapi dan
menjawab tegas , Tidak akan kuberitahu ! “
“ Kalau begitu apakah aku harus mempergunakan
kekerasan ?” .
“ Terserah . Jangan di kira aku takut atau kepada siapapun
juga ! “ , Ji Goat marah bagaikan seekor singa betina .
Wataknya yang dahulu di waktu ia masih gadis muncul
kembali dan ia sudah mengepal kedua tinjunya .
“ Engkau perempuan bandel ! “ Lui Couw sudah menyerang
dengan pukulan dahsyat kea rah muka Ji Goat . Wanita ini
mengelak dan membalas dengan tidak kalah dahsyatnya . Lui
Couw menangkis pukulan itu dan keduanya segera bertanding
dengan seru . Karena kedua orang ini menggunakan ilmu yang
sama , yaitu Lo-hai-kun , tentu saja keduanya sudah saling
mengenal gerakan masing-masing dan perkelahian yang
sesungguhnya itu nampak seperti dua orang sedang berlatih
saja .
Ketika mereka bertanding inilah Cio Si , pembantu rumah
tangga itu , memasuki kebun dan segera bersembunyi dengan
tubuh gemetar . Akan tetapi ia dapat menonton perkelahian
itu lewat calah-celah daun semak-semak .
Setelah lewat tigapuluh jurus , mulailah Lui Couw terdesak .
Bagaimanapun juga , dia masih kalah pengalaman oleh Ji Goat
dan terutama sekali karena Ji Goat rajin berlatih setiap hari .
Dalam hal kegesitan gerakan , Lui Couw kalah maka mulailah
dia terdesak mundur .
Tiba-tiba Lui Couw meloncat ke belakang dan ketika dia
maju lagi tangannya sudah memegang sebatang pedang yang
mengeluarkan sinar hitam yang menyeramkan . Ji Goat
terbelalak dan menudingkan telunjuknya kea rah muka Lui
Couw .
“ Lui-sute ! Jadi engkaukah pengkhianat itu ? Engkau
pembunuh suamiku dan pencuri Hek-liong-kiam ?” teriak I
Goat penuh perasaan terkejut , heran dan marah sekali .
“ Karena engkau tidak mau menyerahkan kitab itu ,
engkaupun akan ku kirim ke akhirat menyusul suamimu ! “
bentak Lui Couw yang segera menerjang dengan pedangnya .
Ji Goat memang sedang berlatih silat tangan kosong , maka ia
tidak bersenjata . Pedangnya tertinggal di dalam kamarnya .
Menghadapi serangan itu , iapun mengelak cepat dan
terjadilah perkelahian lagi . Akan tetapi sekarang Ji Goat yang
terdesak hebat . Pedang suaminya itu terlalu ampuh baginya
dan setelah lewat belasan jurus , akhirnya ia kewalahan juga .
“ Mampuslah kau ! “ bentak Lui Couw dan pedangnya
menyambar seperti kilat kea rah kedua kaki Ji Goat . Wanita
itu melompat ke atas , akan tetapi Lui Couw juga melompat
mengejar dan sekali pedang Hek-liong-pang menyambar ,
tanpa dapat di hindarkan lagi pedang itu telah menusuk
lambung Ji Goat .
“ Cappp ….. ! “ I Goat terkulai dan roboh mandi darah . Lui
Couw menyerengai , menyimpan kembali pedangnya ,
memandang kepada wanita yang sudah roboh tak berkutik lagi
itu dan memasuki rumah melalui pintu belakang . Dia hendak
mencari Kitab Bu-tek Cin-keng , juga putera sucinya itu . Akan
tetapi dia tidak dapat menemukan keduanya , maka segera
pergi meninggalkan rumah yang sunyi itu .
Setelah Lui Couw pergi , barulah Cio Si berani keluar dari
balik semak-semak . Ia menghampiri nyonya majikannya ,
memandang dengan muka pucat dan mata terbelalak . Melihat
nyonya majikan nya menggeletak mandi darah dan sudah
tidak bergerak lagi , tahulah ia bahwa Ji Goat telah tewas .
Maka dengan kedua kaki gemetaran ia lalu lari ke rumah
tetangga yang agak jauh dari situ sambil menangis . Sebentar
saja semua penduduk di lereng bukit itu berlari-lari menuju ke
rumah Ji Goat . Dari mulut ke mulut mereka bercerita tentang
kematian Ji Goat seperti yang di ceritakan oleh Cio Si tadi ,
bahwa nyonya janda itu di bunuh orang . Hanya itu yang
dapat di ceritakan Cio Si . Wanita dusun ini takut untuk
mengatakan apa yang ia dengar dalam percakapan dua orang
tadi . Ia takut kalau-kalau pembunuh itu akan mencarinya dan
membunuhnya pula . Maka ia hanya bercerita bahwa
majikannya terbunuh oleh seorang laki-laki yang tidak di
kenalnya .
Tiong Gi Hwesio , ketua kuil Siauw-lim-si yang berada di
puncak bukit itu segera dating ketika mendengar bertita itu .
Dia merasa ikut bersedih atas kematian ibu dari muridnya itu
mati di bunuh orang selagi puteranya , Han Sin tidak berada di
rumah . Karena dia mengenal baik wanita yang tewas itu
sebagai ibu dari muridnya , maka Tiong Gi Hwesio mengatur
pemakamannya . Kemudian rumah dan swah lading itu oleh
Tiong Gi Hwesio di serahkan kepada Cio Si untuk di urus dan
di rawat sampai kembalinya Han Sin .
Pada keesokan harinya , muncullah Coa Hong Bu , Panglima
yang di tugaskan oleh Kaisar untuk mencari Hek-liong-kiam
dan kitab Bu-tek Cin-keng , di rumah nyonya Cian Kauw Cu .
Dapat di bayangkan betapa kagetnya ketika dia melihat peti
mati di rumah itu , dan sejumlah orang yang melayat .
Sebagai orang yang berpendidikan , dia memberi hormat
kepada peti jenazah dan mengangkat hio . Setelah selesai
upacara penghormatan itu , dia di sambut oleh Tiong Gi
Hwesio yang yang mengenalnya sebagai seorang panglima
istana .
“ Lo-suhu , apa yang telah terjadi dengan Nyonya Cian ? “
Tanya panglima itu kepada Tiong Gi Hwesio .
“ Omitohud ! Hanya seorang saja yang mengetahui dan
orang itu adalah Cio Si , Cian-hujin berkelahi dengan seorang
laki-laki yang tidak dikenalnya dan Cian-hujin roboh terbunuh
oleh laki-laki itu “ .
Tentu saja Coa Hong Bu menjadi penasaran sekali . “ Losuhu
, terus terang saja , aku di utus oleh Sri baginda Kaisar
untuk menemui Nyonya Cian dan minta beberapa benda
darinya . Karena itu , maka tentu saja peristiwa pembunuhan
in penting sekali bagiku . Dapatkah aku bicara dengan wanita
pembantu itu ? “ .
“ Omitohud ! Ternyata Ciang-kun membawa tugas yang
demikian pentingnya . Tentu saja Cian-kun dapat berbicara
sendiri dengan Cio Si . Mari , Ciang-kun , silahkan masuk ke
dalam dan pin-ceng akan memanggil Cio Si “ .
Coa Hong Bu melangkah masuk dan duduk di ruangan
dalam rumah itu . Tak lama kemudian seorang wanita tua
memasuki ruangan itu dan memberi hormat kepadanya .
“ Apakah …. Apakah ciangkun memanggil saya …… ? “
Tanya Cio Si dengan suara gemetar.
“ Benar , akan tetapi jangan takut , bibi . Duduklah , aku
hanya ingin mendengar cerita bibi tentang peristiwa
pembunuhan itu . Apa bibi mengenal orang yang berkelahi
dengan majikanmu ? “
Cio Si duduk dan mengusap air matanya . “ Saya tidak
mengenalnya , Ciang-kun . Saya belum pernah melihat orang
itu “ .
“ Bagaimana air mukanya dan bentuk tubuhnya ?” .
“ Wajahnya gagah dan tubuhnya tegap “ .
“ Usianya ?” .
“ Tentu lebih dari empatpuluh tahun , ciangkun “ .
“ Bagaimana pakaiannya ?” .
“ Dia berpakaian biasa , warna …….. kalau tidak salah ingat
, biru “ .
“ Coba ceritakan dari awal ketika engkau melihat peristiwa
pembunuhan itu bibi . “ kata Coa Hong Bu dengan lembut
sehingga wanita itu tidak lagi ketakutan .
“ Seperti biasa setiap pagi , kemarin pagi-pagi sekali saya
berangkat dari rumah menuju ke rumah Coan-toako dimana
saya sudah bertahun-tahun bekerja sebagai seorang
pembantu . Dan seperti biasa pula , karena pintu depan belum
di buka , saya menuju ke kebun belakang untuk memasuki
rumah lewat pintu belakang . Biasanya setiap pagi toanio
tentu berada di kebun berlatih silat . Akan tetapi kemarin pagi
saya melihat toanio berkelahi dengan seorang laki-laki yang
memegang pedang . Saya ketakutan dan hanya bersembunyi
di balik semak-semak sambil mengintai dan saya melihat
toanio roboh mandi darah terkena tusukan pedang lawannya
itu “ .
Coa Hong Bu mengerutkan silatnya . Dia tahu bahwa janda
Cian itu adalah seorang wanita yang memiliki ilmu silat tinggi
dan tidak sembarangan orang dapat mengalahkannya . Akan
tetapi diapun maklum bahwa wanita itu di waktu mudanya
membantu perjuangan Kaisar Yang Chien , maka tentu saja
mempunyai banyak musuh .
“ Setelah membunuh Cian-toanio , lalu apa yang dilakukan
laki-laki itu ?” .
“ Dia memasuki rumah ini lewat pintu belakang . Setelah
dia keluar kembali dan melarikan diri barulah saya berani
keluar dari tempat persembunyian saya dan lari minta tolong
kepada para tetangga “ .
“Lamakah dia memasuki rumah ini ?”
“ Lama juga , ciangkun “ .
“ Ketika dia keluar , dia membawa apa ?” .
“ Tidak membawa apa-apa , dan pedangnya juga sudah di
sarungkan di punggung “ .
Tiba-tiba Coa Hong Bu teringat akan sesuatu “ ketika
mereka berkelahi , orang itu memegang pedang , bagaimana
dengan Cian-toanio ? a memegang senjata apa ?” .
“ Cian-toanio tidak memegang senjata , ciangkun “ .
“ Hemmm , dan pedang orang itu , adakah sesuatu yang
aneh pada pedang itu ? Bagaimana bentuknya ?” .
Cio Si ragu-ragu sejenak . “ Seperti pedang biasa ………
akan tetapi , saya pernah melihat pedang-pedang itu putih
mengkilat , akan tetapi pedang orang itu , warna hitam dan
mengerikan ! “ .
Hampir Coa Hong Bu terlonjak dari tempat duduknya . Dia
menenangkan hatinya dan bertanya pula . “ Apakah ketika
berkelahi mereka tidak mengeluarkan kata-kata ?” .
Kembali Cio Si ragu-ragu sampai lama . Ia masih merasa
takut . Kalau ia membuka rahasia pembunuh itu dengan
menceritakan apa yang di dengarnya , ia takut kalau
pembunuh itu marah kepadanya dan membunuhnya . “ Tidak ,
ciangkun , “ akhirnya ia berkata .
Coa Hong Bu merasa heran sekali . Pedang itu agaknya
Hek-liong-kiam yang di carinya . Akan tetapi kenapa pedang
itu tidak berada pada Nyonya Cian , melainkan berada di
tangan pembunuh itu ? Dan pembunuh itu setelah melakukan
pembunuhan lalu memasuki rumah , tentu hendak mencari
sesuatu . Kitab Bu-tek Cin-keng ! Apalagi yang di cari
pembunuh itu selain kitab ini ? .
“ Bibi . mari tunjukkan padaku kamar-kamar di rumah ini ,
akan ku periksa “ .
Di temani Cio Si sebagai penunjuk jalan , Coa Hong Bu lalu
mengadakan penggeledahan dalam usahanya mencari kitab
Bu-tek Cin-keng . Akan tetapi dia tidak menemukan kitab itu
dan akhirnya dia bertanya lagi kepada Cio Si .
“ Bibi , setahuku Cian-toanio mempunyai seorang putera ? “
.
“ Benar , ciangkun . Namanya Cian Han Sin “ .
“ Dimanakah dia ?” .
“ Sudah setengah tahun ini Cian-Kongcu pergi . Menurut
keterangan dari mendiang Cian-toanio , kong-cu pergi
merantau ke utara “ .
Coa Hong Bu mengangguk-angguk . “ Berapa usia Ciankongcu
?” .
“ Kurang lebih dua puluh tahun , Ciangkun “ .
“ Coa Hong Bu termenung . Pemuda itu sudah dewasa ,
tentu ilmu silatnya juga tinggi karena suami isteri Cian terkenal
sebagai orang-orang yang memiliki ilmu kepandaian tinggi .
Sangat boleh jadi kalau pedang dan kitab oleh Cian-toanio
diberikan kepada puteranya yang telah dewasa itu . Akan
tetapi bagaimana pedang itu dapat berada di tangan si
pembunuh ? .
Setelah selesai dengan pemeriksaannya , Coa Hong Bu
keluar dan menemui Tiong Gi Hwesio yang masih berada di
luar . Dia dipersilahkan duduk dan mereka bercakap-cakap .
“ Lo-suhu tentu mengenal Cian Han Sin , putera keluarga
Cian ini , bukan ?” .
“ Omitohud ! Tentu saja mengenalnya , seorang pemuda
yang baik seorang murid yang baik “
“ Ah , jadi dia itu murid lo-suhu ?” .
“ Dulu ibunya menitipkan Han Sin di kuil kami untuk diberi
pelajaran silat , sastra dan agama “ .
“ Lo-suhu , saya di utus oleh Sribaginda Kaisar untuk
mencari tahu tentang pedang Hek-liong-kiam milik mendiang
Cian-c iangkun dan tentang sebuah kitab yang bernama Bu-tek
Cinkeng , pernahkah lo-suhu melihat pedang dan kitab ini ?” .
“ Omitohud ! Apa lagi melihat , mendengarpun belum
pernah ?” .
“ Lo-suhu , saya mendengar dari Cio Si bahwa Han Sin
pergi merantau . Tentu lo-suhu mengetahui kemana dia pergi
“ .
‘ Han Sin memang berpamit kepada pin-ceng ketika
setengah tahun yang lalu dia hendak berangkat merantau .
Katanya dia hendak merantau untuk meluaskan
pengalamannya dan selain itu dia hendak menyelidiki tentang
kematian ayahnya “ .
Coa Hung Bu termenung . Dia masih ingat akan kematian
Panglima Cian Kauw Cu . Dia tewas ketika memimpin
pasukannya ke utara , gugur dalam pertempuran . Hanya itu
yang di ketahuinya .
“ Bukankah Cian-ciangkun tewas dalam pertempuran ?”
“ Benar , akan tetapi menurut Cian-toanio , kematian
suaminya itu mencurigakan terkena anak panah yang dating
dari belakang . Berarti pembunuhnya bukan pihak musuh ,
dan itulah yang akan di selidiki oleh Han Sin “ .
Coa Hong Bu mengangguk-angguk . Dengan kematian
Nyonya Cian , maka tinggal Cian Han Sin orang satu-satunya
yang mungkin dapat menerangkan tentang kitab dan pedang .
Akan tetapi pemuda itu kini sedang merantau ke utara untuk
mencari pembunuh ayahnya ! .
Karena tidak ada hal lain lagi yang perlu di selidiki , Hong
Bu segera kembali ke istana dan menghadap Kaisar untuk
melaporkan semua hasil penyelidikannya itu .
“ Kalau begitu , rahasia kitab dan pedang itu tentu di
ketahui oleh putera mereka . Coa-ciangkun , carilah pemuda
itu dan Tanya dimana adanya kitab dan pedang ! “ perintah
Kaisar
“ Hamba siap melaksanakannya perintah paduka . Akan
tetapi karena Cian Han Sin itu pergi ke utara , maka hamba
juga harus menyusul ke sana dan akan memakan waktu agak
lama “ .
“ Tidak mengapa , cari dia sampai dapat dan kembalilah ke
sini setelah membawa kitab dan pedang ! “ .
Coa Hong Bu mengundurkan diri , karena dia hidup
membujang , maka pada keesokan harinya dia berangkat
melaksanakan tugasnya yang tidak mudah . Mencari
seseorang di daerah utara merupakan pekerjaan yang sukar
sekali . Dan agar memudahkan perjalanannya , dia
mengenakan pakaian rakyat biasa , membawa buntalan
pakaian dan pedangnya , lalu berangkat meninggalkan kota
raja .
****

Tag:cersil cersil indo cersil mandarin full cerita silat mandarin online cersil langka cersil mandarin lepas cerita silat pendekar matahari kumpulan cerita silat jawa cersil mandarin beruang salju. cerita silat pendekar mataharicerita silat indonesia cerita silat kho ping hoo cerita silat mandarin online cerita silat mandarin full cerita silat jawa kumpulan cerita silat cerita silat jawa pdf cerita silat indonesia gratis cerita silat jadul indonesia cerita silat indonesia pendekar rajawali sakti cersil indonesia pendekar mabuk cersil langka cersil dewa arak cerita silat jaman dulu cersil jawa download cerita silat mandarin full cerita silat mandarin online cersil mandarin lepas cerita silat mandarin pendekar matahari cerita silat jawa pdf cersil indonesia pdf cersil mandarin beruang salju kumpulan cerita silat pdf
kumpulan cerita silat cersil online
Share:
cersil...
Comments
0 Comments

Arsip Cersil

Best Cersil

Pecinta Cersil