Donasi

Buat yang punya rejeki berlebih dan merasa terhibur dengan Situs Cerita Silat Cersil Terbaik ini bisa mendonasikan bantuannya ke
No. Rekening BPD Jateng No. 2004084554
demi keberlangsungan dan keberadaan Blog Cersil Cerita Silat yang sama-sama kita cintai ini. Kritik dan Saran hub No HP.083837358519. Atas Bantuannya disampaikan Terimakasih.

Kamis, 31 Mei 2018

Maling Budiman Berpedang Perak 1

=====
baca juga

Jilid 01
“Tangkap, tangkap! Maling, maling!!!” Di malam yang gelap gulita itu terpecahlah kesunyian oleh suara teriakan-teriakan di atas dan di bawah rumah gedung Thio Wan-gwe (hartawan Thio). Sesosok bayangan hitam melayang ke atas genteng dengan gerakan yang luar biasa gesitnya. Bayangan
ini bertubuh sedang dan agak tinggi kurus, pakaiannya serba hitam dan pada mukanya terdapat kedok terbuat daripada saputangan sutera hitam yang menutup bagian muka dari bawah mata ke bawah. Matanya yang tidak tertutup mengeluarkan sinar tajam, melirik ke sana ke mari. Di punggungnya nampak gagang sebuah pedang. Dan pada saat itu ia menggendong dua buah kantong kain yang besar dan berat.
“Tangkap! Tangkap maling!!” Terdengar lagi teriakan dan beberapa orang penjaga gedung Thio Wan-gwe yang memiliki kepandaian silat tinggi mengejar ke atas genteng dengan pedang atau golok di tangan.
Akan tetapi, baru saja mereka menginjak genteng, maling itu telah mendahului menyerang dengan tangan kanan, sedangkan tangan kirinya digunakan untuk memegang dua kantong besar yang digendongnya di pundak. Gerakannya cepat dan tak terduga hingga seorang penjaga kena hantam dadanya hingga roboh di atas genteng, menyebabkan beberapa buah genteng pecah dan menerbitkan suara hiruk-pikuk. Kawan-kawannya yang berjumlah lima orang segera mengepung, akan tetapi sebelum mereka dapat menggunakan senjata untuk menyerang, maling yang berkepandaian tinggi itu telah melompat ke atas wuwungan.
Dua orang penjaga cepat mengeluarkan senjata piauw, lalu menggerakkan tangan mereka. Empat batang piauw menyambar ke arah punggung maling yang melarikan diri itu. Akan tetapi sungguh mengagumkan, tanpa menoleh lagi, bagaikan di punggungnya terdapat mata yang melihat datangnya senjata-senjata rahasia itu, si maling mengelak ke samping dan ketika sebatang piauw menyambar dekat, ia gerakkan tangan kanannya menangkap piauw itu tanpa
melihat! Betapa tinggi ilmu silatnya, serta ketajaman pendengarannya!
Sebatang piauw menyambar lagi dan kini maling itu memperlihatkan kepandaiannya yang benar-benar hebat. Ia ayunkan piauw dari tangannya, yakni piauw yang ditangkapnya tadi ke arah piauw yang melayang ke arah dirinya hingga kedua batang senjata rahasia itu saling berbenturan dan jatuh di atas genteng!
Sebelum para penjaga itu dapat menyerang lagi, si maling yang hebat ini telah dapat melompat jauh dan menghilang dalam gelap! Para penjaga masih mencoba untuk mengejar dan mencari-cari, tetapi malam sangat gelap hingga tak mungkin mereka dapat mengejar seorang maling yang memiliki kepandaian demikian tinggi itu. Terpaksa mereka kembali ke gedung Thio Wan-gwe dan mendapatkan hartawan itu masih berdiri gemetar di dalam kamarnya sambil memandang ke arah sebuah lukisan di atas dinding.
Lukisan itu adalah lukisan sebuah pedang tajam dan dibuat dengan tinta hitam dan dilukis mempergunakan jari telunjuk saja. Biarpun demikian, namun pedang itu nampak indah hingga mudah difahami bahwa pelukisnya mencoba untuk melukis sebuah pedang putih, baik gagang maupun pedangnya. Inilah tanda dari Gim-kiam Gi-to, si Maling Budiman Berpedang Perak! Tanda ini sudah banyak dikenal orang terutama golongan orang-orang hartawan yang banyak menumpuk harta benda.
Yang paling mengherankan adalah tempat di mana maling itu menggambar, yakni di dinding sebelah atas yang tingginya tidak kurang daripada dua tombak! Orang-orang biasa takkan dapat menduga bagaimana orang dapat melukis di tempat setinggi itu tanpa mempergunakan tangga atau alat pemanjat lain, akan tetapi seorang ahli silat tinggi
akan dapat mengerti dan mengagumi bahwa orang yang melukisnya tentu memiliki kepandaian Pek-houw-yu-chong (Cecak Bermain di Tembok). Dengan ilmu kepandaian ini, si pelukis dapat merayap di tembok seperti seekor cecak! Dan ilmu kepandaian ini hanya dapat dilakukan oleh seorang ahli lweekeh yang memiliki lweekang dan khikang tinggi!
Melihat tanda gambar ini, para penjaga gedung Thio Wan-gwe diam-diam bersyukur karena pencuri yang sangat terkenal itu tidak melakukan kekejaman kepada mereka dan yang kena dirobohkannya hanya seorang saja, itupun tak sampai mendapat luka parah. Baru mereka percaya bahwa pencuri itu terkenal sebagai Maling Budiman yang jarang sekali mau melukai orang, kecuali kalau terpaksa sekali.
Tidak saja di rumah keluarga Thio Wan-gwe yang ribut dan gempar, akan tetapi semenjak saat itu sampai pagi, banyak orang-orang merasa heran dan bingung disertai kegirangan besar, tidak seperti kebingungan dalam gedung Thio Wan-gwe, mereka ini adalah penghuni gubuk-gubuk dan pondok-pondok di dusun-dusun dekat kota tempat tinggal Thio Wan-gwe itu merasa girang oleh karena pada malam hari itu, entah dari mana datangnya, tiba-tiba saja mereka mendapatkan beberapa potong perak yang beratnya sampai empat lima tail menggeletak begitu saja di atas pembaringan mereka yang bobrok! Tentu saja mereka menjadi girang sekali karena perak itu dapat dijadikan uang untuk penyambung nyawa keluarga mereka untuk beberapa bulan lamanya! Segera mereka ini menjatuhkan diri berlutut dan memuji nama Tuhan Yang Maha Murah yang telah mengirim utusan untuk menolong mereka. Dan orang-orang yang mengalami hal ini adalah beberapa puluh keluarga di malam hari itu! Mereka sama sekali tak pernah mendengar atau menduga bahwa di atas genteng mereka
yang telah bocor itu melayang bayangan orang yang gesit bagaikan burung dan yang memasuki tiap gubuk tua untuk dengan diam-diam meletakkan uang-uang perak dan potongan-potongan perak itu di atas pembaringan penghuninya!
Inilah maling budiman yang tadi mencuri dua kantong uang perak dari dalam gedung Thio Wan-gwe. Maling budiman ini datang di gedung Thio Wan-gwe tanpa permisi dan pergi tanpa pamit, demikian juga ia memasuki rumah-rumah rakyat miskin tanpa mengetuk pintu dan pergi tanpa memberitahukan pula!
Setelah dua kantong perak itu habis, Maling Budiman lalu melipat dua kantongnya yang telah kosong dan memasukkan kedua kantong kain itu ke dalam saku bajunya, lalu ia berlari dengan cepatnya menuju ke sebuah kuil tua yang telah rusak dan kosong di luar kampung, tak jauh dari kota tempat tinggal Thio Wan-gwe.
Ia melompat masuk ke dalam kuil dan duduk di atas lantai yang kotor. Lalu dilepaskannya kedok sutera hitam dari mukanya. Pada saat itu fajar telah mulai menyingsing hingga nampak wajahnya yang kurus, tetapi yang memiliki potongan cukup tampan. Ia menghela napas lega laksana seorang pekerja yang telah menunaikan tugasnya dengan baik, lalu merebahkan tubuhnya di atas lantai begitu saja. Tak lama kemudian iapun tertidur pulas!
Siapakah orang aneh yang menuntut pekerjaan lebih aneh lagi ini? Mengapa ia melakukan pekerjaan yang dari satu sudut dianggap buruk dan jahat, akan tetapi dipandang dari sudut lain dapat juga disebut baik hingga iapun mendapat julukan bertentangan? Sebutan Maling Budiman memang terdengar janggal dan lucu. Maling tetap maling dan termasuk penjahat berdosa, akan tetapi Budiman
adalah satu sifat yang hanya dimiliki oleh seorang yang menjunjung tinggi kebaikan!
***
Pada beberapa belas tahun yang lalu, di daerah selatan Tiongkok mengalami serangan bencana alam yang maha dahsyat. Musim kering tahun itu benar-benar hebat, untuk berbulan-bulan tak setitik airpun jatuh membasahi bumi sedangkan panasnya tak terperikan lagi. Tanah sampai pecah-pecah dan retak-retak karena panas yang membakarnya dan semua sumur menjadi kering. Bahkan sungai-sungai pada kering sehingga penderitaan rakyat bukan main hebatnya. Semua tanaman-tanaman mengering dan mati sebelum menghasilkan buah. Kalau saja ini terjadi pada tahun-tahun yang lalu masih tidak seberapa hebat, oleh karena penduduk masih mempunyai simpanan sedikit makanan yang mereka sengaja sediakan seperti yang biasa mereka lakukan tiap tahun dalam menghadapi musim kering. Akan tetapi celakanya, panen yang lalu hampir habis oleh serangan belalang yang datang dari utara hingga memenuhi udara.
Rakyat di daerah selatan menjerit-jerit dan mereka hidup amat sengsara. Bibir-bibir manusia mengering dan kulit bibir mereka pecah-pecah. Mata menjadi merah karena hawa terlampau panas. Hewan ternak banyak yang mati kepanasan dan kehausan.
Penduduk telah melakukan berbagai macam usaha, bahkan mereka telah melakukan sembahyang di mana-mana untuk meminta hujan. Setelah keadaan mereka betul-betul genting yang mencapai puncaknya, datanglah hujan bagaikan dicurahkan dari langit! Jutaan manusia menyambut hujan pertama dengan sangat bersyukur kepada Illahi. Semua orang keluar dari rumahnya menengadah ke langit dengan kedua tangannya menampung dan mulut
ternganga lebar untuk merasai kenikmatan air yang turun dari sorga dan yang menjadi pelindung mereka itu!
Kaum tani sambil bersiul-siul dan bernyanyi-nyanyi mengerjakan sawah ladang mereka. Semua beriang gembira, walaupun mereka rata-rata hanya dapat makan sehari sekali. Hati mereka penuh pengharapan baik untuk panen yang akan datang. Tanah yang tadinya merekah dan retak-retak menjadi tertutup kembali dan nampak kerbau-kerbau yang sudah kurus karena kehabisan rumput itu kini menarik bajak di sawah sambil menggoyang-goyang ekor. Agaknya binatang-binatang ini dapat juga merasakan pengharapan yang memancar keluar dari setiap mata manusia.
Akan tetapi, semua itu ternyata hanya merupakan mimpi belaka. Hujan turun terus, makin hari makin besar dan akhirnya, ketika semua benih sudah ditanam dan orang-orang menanti tumbuh dan suburnya benih itu menjadi bahan makanan mereka, hujan turun bagaikan samudera telah berpindah ke langit! Air mengalir terus tiada hentinya hingga semua tanah digenangi air! Sungai meluap-luap dan air mengalir cepat mengamuk, menerjang, menyeret segala apa yang berada di depan yang menghalangi alirannya. Rumah-rumah, tanaman-tanaman, manusia, hewan dan apa saja dibawa hanyut!
Mayat manusia mengapung di mana-mana. Manusia-manusia kecapaian menggeletak di dalam gubuk-gubuk tinggi dan di atas gunung-gunung telah menjadi mayat. Hebat dan ngeri bukan kepalang!
Amukan alam yang memperlihatkan kekuasaannya ini terasa sekali oleh penduduk dusun Giam-hok-ceng. Biarpun dusun itu agak tinggi letaknya hingga rumah-rumah mereka tidak sampai terbawa hanyut, namun semua sawah lading telah habis digenangi merupakan danau yang lebar dan luas
mengerikan. Persediaan makanan telah habis dan tiap hari pasti ada orang mati kelaparan. Jerit tangis terdengar dimana-mana dan keluh kesah menjulang setinggi langit, membawa rasa kecewa, manusia-manusia yang mulai menuduh bahwa Tuhan tidak adil!
Di dalam sebuah rumah yang tak patut disebut rumah lagi, lebih pantas disebut kandang manusia miskin, dua tubuh manusia laki-laki dan wanita yang hanya merupakan kerangka-kerangka terbungkus kulit belaka, rebah bersanding di atas tikar buruk. Keduanya adalah suami isteri she Tan yang sudah menjadi mayat, korban kelaparan! Di dekat dua mayat itu, seorang anak laki-laki berusia lima tahun menangis terisak-isak, karena suara tangisnya sudah hampir habis, tenggorokkannya kering dan sakit karena semenjak pagi ia menangis tiada hentinya. Berkali-kali anak itu memanggil-manggil ayah dan ibunya, akan tetapi ayah-bundanya diam tak bergerak seakan-akan sama sekali tidak mau memperdulikan nasib putera tunggal mereka yang bernama Tan Hong.
“Ayah ... ibu ... bangunlah ... aku lapar, minta makan. Ibuuu ... !” suara Tan Hong parau dan hanya keluar sebagai bisikan belaka, sedangkan matanya tak dapat mengeluarkan air mata lagi. Ia masih terlampau kecil hingga kematian baginya masih merupakan teka-teki.
Telah berhari-hari ia hanya mengisi perutnya dengan sedikit gandum kering, dan ayah ibunya bahkan sama sekali tidak makan karena makanan yang sedikit mereka dapatkan, selalu diberikan kepadanya. Akhirnya kedua orang tuanya tertidur dan tidak mau bangun lagi, sedangkan di dalam gubuk itu tak terdapat sedikitpun makanan lagi dan semenjak kemarin perutnya belum diisi apa-apa!
Oleh karena rasa lapar yang membuat perutnya terasa perih dan tubuhnya lemas itu tak tertahankan lagi, Tan Hong lalu bangun berdiri dan mencari-cari di dalam gubuk, kalau-kalau masih ada sisa-sisa makanan yang dapat dimakannya. Segala kaleng dan kertas dibuka dan dibolak-balikkan, akan tetapi usahanya sia-sia. Tan Hong menjadi bingung, ia mulai mengeluh dan menangis lagi sambil memeluki tubuh ibunya.
Kemudian timbul pikirannya untuk minta makanan kepada tetangga, seperti yang telah dilakukan beberapa kali oleh ibunya. Ia bangun dan berdiri lagi, dan tiba-tiba kepalanya terasa pening, tanah yang dipijaknya seolah-olah berputar-putar dan bergoyang-goyang.
“Aduh ... ibu ... aduh ... !” Ia terhuyung-huyung, rasa perih di perutnya ditahan dengan tangan kiri yang ditekankannya ke perutnya yang kempis itu, tangan kanan meraba-raba ke depan agar ia jangan menabrak sesuatu, kedua kakinya terhuyung-huyung maju dan dengan mata kabur ia mencari pintu untuk keluar.
Ketika ia tiba di pintu gubuk tetangganya yang terdekat, ia disambut dengan suara tangis riuh rendah yang keluar dari pintu itu. Ia membelalakkan kedua matanya dan menjenguk ke dalam. Ternyata seluruh keluarga tetangga itu sedang menangisi mayat-mayat yang membujur di atas balai-balai. Mati karena kelaparan pula!
Tan Hong mundur ketakutan. Tubuhnya yang hanya tulang terbungkus kulit dan dibalut oleh sisa-sisa kain lapuk yang menutupi sebagian badannya, terseok-seok bergerak maju lagi dengan segala daya upayanya. Kini ia menuju ke sebuah rumah besar. Ia tahu bahwa rumah itu adalah milik Thio-chungcu (Pak Lurah Thio) yang mempunyai banyak beras dan gandum. Sebetulnya semenjak kecil ia sangat takutnya kepada kepala kampung ini, bahkan baru
mendengar namanya saja ia sudah menggigil. Dulu tiap kali ia menangis, asal ibunya menyebut nama Thio-chungcu, ia menjadi ketakutan dan tak berani menangis lagi!
Akan tetapi, rasa lapar melenyapkan takutnya. Ia pernah mendengarkan ibunya bercerita bahwa Thio-chungcu adalah seorang yang mempunyai gandum terbanyak di dalam dusun itu. Maka, selain minta kepada Thio-chungcu, kepada siapa lagi ia dapat minta makanan? Tubuh kecil kurus itu terhuyung-huyung di atas jalan yang sunyi mati itu dan di sepanjang perjalanan menuju ke rumah Thio-chungcu, ia mendengar suara tangis di kanan kiri jalan, tangis anak-anak yang sebayanya keluar dari dalam rumah-rumah gubuk. Jelas terdengar olehnya suara mereka itu mengeluh dan merengek-rengek, “Ayah ... perutku lapar ... “ “Ibu ... makan, perutku perih sekali ... “
Suara-suara ini menusuk-nusuk hati dan telinga Tan Hong, menikam ulu hatinya dan terukir dalam-dalam di sanubarinya. Suara-suara itu merupakan suara maut yang mengejar-ngejarnya, maka tiba-tiba Tan Hong memaksa kedua kakinya yang lemas untuk berlari. Berlari pergi dari suara-suara itu, menuju ke rumah gedung Thio-chungcu!
Rumah gedung Thio-chungcu itu dikelilingi dinding tebal dan tinggi, dan di depannya terdapat pintu gerbang dari jeruji besi. Tan Hong mendorong-dorong pintu yang berat itu dan akhirnya ia berhasil juga membukanya setelah menggeser dan melepaskan palangnya dari luar dengan jalan memasukkan lengannya yang kecil kurus di sela-sela jari-jari besi itu.
Akan tetapi, baru saja ia melangkahkan kaki memasuki ambang pintu, tiba-tiba dari dalam terdengar salak anjing yang menyeramkan dan tak lama kemudian, dua ekor anjing yang gemuk-gemuk dan tinggi besar berlari keluar sambil menggonggong keras. Tan Hong menjadi pucat
sekali dan tubuhnya menggigil. Cepat-cepat ia mundur dan berlari keluar kembali dari pintu gerbang itu. Kedua anjing yang galak itu masih tetap menggonggong dan memperlihatkan gigi, akan tetapi setelah mereka melihat bahwa Tan Hong telah keluar dari pintu gerbang, mereka tak menggonggong lagi dan lari kembali sambil menggoyang-goyangkan ekornya.
Thio-chungcu yang bertubuh gemuk seperti anjing-anjingnya itu keluar dari dalam gedungnya, mendengar suara gong-gongan anjing dan sambil tertawa senang ia berkata, “Bagus, bagus! Kalau ada maling masuk, serbu dan gigitlah sampai mampus! Hah, menyebalkan benar! Begitu kecil sudah belajar menjadi pencuri!” Kepala kampung itu lalu masuk kembali ke dalam rumahnya, diikuti oleh dua anjingnya yang menggerak-gerakkan ekornya.
Tan Hong memperhatikan kepala kampung itu dengan mata terbelalak dan dada berdebar. Entah bagaimana, ketika mendengar kata-kata kepala kampung itu, timbullah hawa panas yang membuat seluruh tubuhnya serasa terbakar! Kepalanya berdenyut-denyut dan kedua tangannya dikepalkan.
Baru setelah kepala kampung dan kedua ekor anjingnya masuk kembali ke dalam rumah, Tan Hong merasakan kembali keletihan dan keperihan perutnya. Ia berjalan terhuyung-huyung pergi dari tempat itu dan kepalanya mulai terasa pening lagi. Pandangan matanya kabur hingga terpaksa ia memejamkan matanya sambil berjalan terus sedapat mungkin. Akhirnya, tubuh yang kecil itu tidak kuat lagi berjalan dan ia terguling roboh di pinggir jalan. Ia menahan keperihan perutnya dengan mengangkat kedua lutut ke dada hingga perutnya seperti dilipat dan ditekan oleh lutut. Ia meringkuk dalam keadaan demikian di pinggir jalan, dan merasa betapa enaknya rebah di situ seperti ini!
Lenyap rasa pusing di kepalanya, bahkan rasa lapar yang tadinya mendatangkan rasa sakit dan perih di perutnya, kini lenyap dan yang terasa hanyalah kekosongan belaka. Kosong dan lemah ...
Dan ketika nyawa anak kecil itu telah mulai menjadi bosan tinggal di tubuh yang tidak mendapat perawatan sebagaimana mestinya ini, nyawa yang telah siap untuk meninggalkan tubuh kurus kering yang menggeletak melingkar di pinggir jalan, tiba-tiba nampak seorang kakek yang memegang tongkat berdiri di dekatnya sambil menggeleng-gelengkan kepala, “Ya Tuhan, kesenangan apakah yang pernah kauberikan kepada anak ini hingga sekarang dia harus menderita sehebat ini?”
Kemudian, kakek tua yang berambut panjang dan yang diikat ke atas kepala dengan sehelai pita putih, membungkuk dan mengangkat tubuh Tan Hong ke pundaknya. Setelah itu, ia lalu berjalan cepat meninggalkan dusun Giam-hok-ceng.
Kemudian ternyata bahwa kakek ini adalah Cin Cin Tojin, seorang tosu pengembara yang tidak tertentu tempat tinggalnya. Seorang tosu yang amat terkenal karena ketinggian ilmu silatnya, hingga di dunia kang-ouw ia mendapat julukan Sin-kiam atau Pedang Sakti.
Cin Cin Tojin belum pernah mempunyai murid, akan tetapi ketika melihat keadaan Tan Hong yang amat menyedihkan ini, ia menjadi kasihan dan menolongnya. Kemudian ia melihat bahwa sebenarnya anak itu mempunyai bakat yang baik sekali, maka ia lalu mengambil anak itu sebagai murid tunggalnya.
Bertahun-tahun lamanya Tan Hong ikut suhunya berkelana. Ia mempelajari ilmu silat dari suhunya itu hingga setelah dewasa, delapan bagian kepandaian Cin Cin Tojin
telah dapat diwarisinya. Di sepanjang perantauannya, Tan Hong melihat kesengsaraan rakyat jelata, hingga timbul perasaan kasihan di dalam hatinya. Pengalaman dan penderitaannya ketika masih kecil menggores dalam-dalam di kalbunya, terutama peristiwa ketika ia berdiri di depan pintu gerbang rumah Thio-chungcu, tak dapat ia lupakan. Kini setelah ia dewasa dan merantau bersama suhunya, dimana-mana ia banyak melihat hartawan-hartawan dan pembesar-pembesar model Thio-chungcu ini. Orang yang menumpuk harta benda sampai berlebih-lebihan di dalam gudang mereka, tanpa memperdulikan sedikitpun kepada rakyat kecil yang mati kelaparan. Ia merasa marah dan gemas sekali kepada mereka ini. Memang benar bahwa banyak pula terdapat hartawan-hartawan yang berhati dermawan dan mengenal perikemanusiaan hingga seringkali mengulurkan tangan menolong dan memberi sumbangan kepada orang-orang yang menderita kesengsaraan, akan tetapi dibandingkan dengan jumlah mereka yang kikir dan kedekut, maka hanya beberapa orang dermawan saja yang tidak ada artinya.
Setelah ikut merantau dan belajar silat selama tiga belas tahun, Cin Cin Tojin lalu menetap di puncak Bukit Kwihong-san, karena merasa tua dan bosan merantau. Ia lalu memberi izin kepada muridnya untuk merantau seorang diri dan kepada muridnya ini ia memberi banyak nasehat dan petuah, serta memberinya pula sebatang pedang bergagang perak dan berwarna putih berkilauan.
Semenjak itu, dalam usia delapan belas tahun, Tan Hong mulai dengan perantauannya seorang diri dan ia mulai mengerjakan maksud dan cita-cita yang selalu terkandung di dalam hatinya, yakni mencuri uang hartawan-hartawan untuk kemudian pada waktu itu juga dibagi-bagikan kepada para penduduk miskin di dusun-dusun! Tiap kali ia
melakukan pencurian dalam sebuah gedung hartawan, ia selalu meninggalkan tanda gambar pedangnya hingga dalam waktu yang pendek ia sudah terkenal oleh karena tak pernah ia dapat ditangkap, berkat kepandaiannya yang amat tinggi. Ia lalu mendapat julukan Gin-kiam Gi-to, si Maling Budiman Berpedang Perak!
Demikianlah, dua tahun telah berlalu dengan cepatnya dan selama dua tahun itu, selain mendapatkan nama besar, ia dibenci oleh golongan yang dirugikan, dipuja-puja oleh golongan yang ditolongnya.
Dan sebagaimana telah dituturkan pada permulaan cerita ini, sebagaimana biasanya, setelah berhasil mencuri kantong besar uang perak dari gedung Thio Wan-gwe, seorang hartawan yang kaya raya, akan tetapi teramat kikirnya, Tan Hong lalu membagi-bagikan uang itu sampai habis kepada para penduduk dusun yang miskin. Kemudian, setelah “pekerjaannya” itu beres, baru ia mencari tempat peristirahatan di dalam sebuah kuil rusak yang tiada penghuninya lagi.
***
Kota Wi-ciu di mana Thio Wan-gwe yang dijadikan korban oleh Tan Hong itu tinggal, adalah sebuah kota besar yang cukup ramai, dan di kota itu banyak terdapat hartawan-hartawan besar.
Ketika Thio Wan-gwe mendapat giliran didatangi oleh si Maling Budiman, sebetulnya hartawan ini bukanlah merupakan korban pertama di kota itu. Sebelum Thio Wan-gwe, sudah ada dua orang hartawan lain yang disikat hartanya oleh Tan Hong, akan tetapi oleh karena kedua orang hartawan ini memang mempunyai hati dermawan dan dari tanda gambar di dinding itu mereka tahu bahwa sedikit uang mereka yang dicuri oleh Maling Budiman itu
yang akan dibagikan kepada orang-orang miskin, maka mereka tidak mau membuat banyak ribut hingga orang-orang lain tidak mengetahuinya.
Akan tetapi, Thio Wan-gwe seorang hartawan yang sangat kikir. Maka, setelah orang mencuri dua kantong uang peraknya yang amat disayangi melebihi dari jiwanya sendiri, ia lalu melaporkan hal pencurian ini kepada pembesar setempat, bahkan lalu mengumpulkan kaki tangan dan jago-jagonya untuk menyelidiki dan mencari maling yang telah mencuri hartanya itu.
Pembesar setempat yang juga telah mendengar tentang sepak terjang Gin-kiam Gi-to, segera mengerahkan tenaga untuk berusaha menangkap maling terkenal ini, agar ia dapat berbuat jasa besar dan dipuji oleh atasannya. Dan pada keesokan harinya setelah terjadi pencurian itu, ia mengumpulkan seluruh kepala penjaga dan jagoan-jagoan yang ada di kota Wi-ciu untuk berunding. Pembesar itu tidak hanya mendatangkan para petugas, tapi juga mengundang para kauw-su (guru-guru silat), para piauwsu (pengantar-pengantar barang) yang memiliki kepandaian tinggi, bahkan To Tek Hosiang, ketua kuil Kim-ci-tang dipanggil juga, oleh karena semua orang tahu bahwa hwesio (pendeta Agama Buddha) ini memiliki kepandaian tinggi.
“Cu-wi (tuan-tuan sekalian),” kata pembesar itu setelah semua orang berkumpul dan arak telah dihidangkan. “Kami mengumpulkan cu-wi di sini untuk bersama-sama merundingkan soal pencurian-pencurian yang mulai merajalela di kota kita. Cu-wipun tentu maklum pula bahwa yang melakukan pencurian ini adalah Gin-kiam Gi-to yang terkenal itu. Oleh karena dia sekarang telah berani mengacau dan menganggu ketenteraman kota kita, maka
sudah sewajarnya dan sudah menjadi kewajiban kita untuk menangkapnya!”
Beberapa saat semua yang hadir diam saja. Bermacam-macam pikiran timbul di hati masing-masing. Ada yang merasa sangsi dan takut menghadapi Maling Budiman yang terkenal itu. Ada yang setuju dan ada pula yang kurang setuju. Akhirnya To Tek Hosiang berkata sambil mengangguk-anggukkan kepalanya yang botak itu.
“Memang pendapat tai-jin ini benar. Dia harus dapat ditangkap untuk membersihkan Wi-ciu daripada kekacauan dan kejahatan.”
“Maafkan, tai-jin,” kata seorang tinggi kurus, yakni ketua piauw-kiok (perusahaan pengawal barang antaran) di kota itu yang cukup terkenal dan bernama Kwee Seng. “Menurut pendapatku, agaknya kurang sempurna kalau kita mengganggu maling luar biasa ini. Siauwte (hamba) telah kenyang merantau dan bertemu dengan orang-orang di dunia kangouw dan liok-lim (para perampok dan penjahat), dan karenanya siauwte mengerti bahwa di dunia liok-lim terdapat tiga macam atau tiga tingkat cara melakukan perampokan dan pencurian. Pertama, mencuri dan merampok bukan untuk diri pribadi dan hasilnya diberikan kepada fakir miskin yang membutuhkan pertolongan. Kedua, mencuri dan merampok semata-mata berdasarkan pekerjaannya oleh karena perbuatan itu mereka anggap sebagai tugas pekerjaan. Ke tiga, mencuri untuk mengumpulkan kekayaan dan mempersenang diri sendiri. Di antara ketiga tingkat ini, tingkat pertama dianggap sebagai sempurna dan bahkan dianggap sebagai perbuatan terpuji dan yang sudah selayaknya dilakukan oleh seorang pendekar! Demikianlah anggapan kalangan liok-lim. Maka oleh karena Gin-kiam Gi-to ini sepanjang yang siauwte dengar, selalu membagi-bagikan hasil pencuriannya kepada
fakir miskin, dia termasuk golongan pertama yang dianggap oleh dunia kang-ouw sebagai seorang pendekar yang bijaksana! Inilah sebabnya maka ia disebut Maling Budiman. Kalau sekarang kita bertindak memusuhinya, apakah hal ini tidak akan mendatangkan musuh dari pihak liok-lim?”
Semua orang terdiam mendengar ucapan ini, akan tetapi To Tek Hosiang lalu berdiri dan berkata dengan suara nada tinggi, “Ucapan Lim-piauwsu memang ada betulnya, akan tetapi pandangan ini tidak adil. Mungkin oleh karena pekerjaan Lim-piauwsu, maka ia mengajukan alasan seperti itu. Menurut pendapat pinceng (aku) bahkan sebaliknya. Biarpun Gin-kiam Gi-to seorang pendekar, akan tetapi ia harus memakai aturan juga. Kalau memang ia membutuhkan uang untuk menolong orang-orang lain, mengapa ia harus mencuri di kota kita? Kalau dia memang mengerti aturan kang-ouw, mengapa ia memandang rendah kepada kita dan berbuat sesuka hatinya, seakan-akan di kota ini tidak ada orang yang berani menentangnya? Dia mempunyai kewajiban sebagai seorang Maling Budiman, akan tetapi kitapun mempunyai tugas sebagai penduduk Wi-ciu dan sebagai orang-orang yang diharapkan oleh penduduk untuk menolak datangnya bahaya kekacauan!”
Semua orang setuju dengan pendapat ini dan setelah mengadakan perdebatanperdebatan dan perundingan yang cukup hangat, akhirnya diputuskan untuk mengadakan penjagaan secara gotong-royong pada malam hari. Oleh karena di antara semua orang di situ yang memiliki kepandaian tertinggi adalah To Tek Hosiang dan Lim-piauwsu, maka kedua orang ini diangkat menjadi kepala penjaga.
Pada siang hari itu juga banyak penyelidik disebar di sekeliling kota Wi-ciu untuk mencari jejak Maling Budiman
itu. Dan pada malam harinya, penjagaan diatur dengan diamdiam hingga tidak kentara bahwa di atas wuwungan rumah para hartawan telah diadakan penjagaan keras.
Menjelang tengah malam, Tan Hong kembali melakukan pekerjaannya. Tubuhnya bergerak ringan dan gesit melalui genteng-genteng rumah dan ia berhenti di atas genteng rumah Lie Wan-gwe yang tinggi. Setelah memandang ke sekeliling dan tak melihat sesuatu yang mencurigakan, si Maling Budiman ini lalu melompat turun dengan gerakan melayang yang indah dan cepat.
Para penjaga yang berada di atas genteng Lie Wan-gwe kebetulan sekali adalah To Tek Hosiang sendiri dan beberapa orang pembantunya. Mereka telah melihat kedatangan Maling Budiman, akan tetapi dari tempat persembunyiannya To Tek Hosiang memberi tanda agar kawan-kawannya jangan bergerak dulu. Ia hendak menanti sampai maling itu telah menyelesaikan pekerjaannya dan hendak dihadang ketika keluarnya dari rumah yang menjadi sasarannya, agar mereka dapat menangkap basah maling itu!
Tak lama kemudian, Tan Hong telah berhasil mengambil uang perak sebanyak dua kantong penuh dan dengan cepat ia melompat ke atas genteng kembali. Akan tetapi, alangkah kagetnya ketika melihat betapa di atas genteng berdiri seorang hwesio gundul dan lima orang lain yang kesemuanya memegang sebatang pedang. Hwesio itu berdiri memegang sebatang toya yang panjang dan berat.
“Ha, maling sombong! Kau menyerahlah agar pinceng tak usah mengotorkan tangan. Dosamu telah bertumpuk-tumpuk dan sekarang sudah tiba waktunya bagimu untuk menebus dosa itu. “
Tan Hong tersenyum dan menjawab, “Hwesio, mengurus dosamu sendiripun kau tak sanggup, apapula mengurus dosa orang lain? Kalau kau memang hendak menangkapku, lakukanlah jika kau berani.”
Setelah berkata demikian, Tan Hong lalu melompat tinggi melewati kepala dua orang pembantu To Tek Hosiang dan langsung melompat ke wuwungan lain! Alangkah terkejut dan kagumnya To Tek Hosiang melihat kepandaian loncat yang hebat ini, maka iapun segera mengejar sambil membentak, “Maling rendah, kau hendak lari ke mana?”
To Tek Hosiang adalah seorang tokoh dari Houw-san dan memiliki ilmu silat yang tinggi, maka ginkang (ilmu meringankan tubuh) yang dimilikinya sudah cukup sempurna. Sekali tubuhnya melayang, ia cepat dapat mengejar Tan Hong dan mengirim serangan dari belakang dengan toyanya!
Tan Hong mendengar desiran angin pukulan toya menyambar, akan tetapi ia tidak menjadi gugup. Dengan memiringkan tubuh, ia dapat mengelak serangan ini dan sebelum To Tek Hosiang dapat menyerang lagi, tubuh pemuda ini telah melayang lagi jauh sekali dan menghilang di dalam gelap.
To Tek Hosiang menghela napas dan memuji, “Sungguh hebat! Sayang orang sehebat dia menjadi maling!”
Demikianlah, malam itu kembali Tan Hong berhasil mendapatkan dua kantong penuh berisi uang perak dan langsung dibagi-bagikan secara diam-diam kepada orang-orang miskin yang tinggal di dalam gubuk tua, hingga untuk kesekian kalinya, pada malam hari itu terdapat satu orang yang merasa marah dan menyesal karena kehilangan banyak uang, tapi terdapat puluhan orang lain yang
mengucap syukur kepada Tuhan oleh karena mereka mendapatkan uang perak secara tiba-tiba!
Setelah menyelesaikan pekerjaannya untuk malam itu, Tan Hong kembali ke kuil tempat persembunyiannya untuk beristirahat. Sama sekali ia tidak menduga bahwa tempat persembunyian ini telah diketahui oleh para penyelidik. Seperti biasa, setelah membuka kedoknya, ia lalu tidur dengan enak di atas lantai.
Matahari telah naik tinggi dan sinarnya memasiki ruang di mana Tan Hong tidur. Sinar matahari itu masuk dari jendela dan lambat laun bergerak naik hingga akhirnya sinar penuh itu menimpa muka Tan Hong. Panas matahari menyengat kulit muka Tan Hong hingga pemuda itu terjaga dari tidurnya. Ia membuka matanya perlahan-lahan dan alangkah kagetnya ketika melihat bahwa di dalam ruang itu terdapat orang-orang lain yang berdiri mengurungnya sambil menatap wajahnya dengan pandangan tajam. Mereka itu tidak lain ialah To Tek Hosiang, Lim-piauwsu dan pembesar-pembesar lain kota Wi-ciu!
Semenjak tadi mereka mengurung kuil rusak itu, akan tetapi, oleh karena tidak terlihat Tan Hong muncul, mereka diam-diam lalu menghampiri dan mendapatkan pemuda yang sedang tidur nyenyak itu diatas lantai!
Kawanan penjaga keamanan kota itu hendak maju menangkap, akan tetapi To Tek Hosiang dan Lim-piauwsu mencegah mereka. Baik To Tek Hosiang maupun Lim-piauwsu merasa heran dan juga terharu melihat keadaan pemuda yang menjadi maling itu. Sungguh di luar dugaan bahwa maling besar yang tiap malamnya menggondol pergi dua kantong uang perak yang beratnya lebih dari lima ratus tail itu kini menggeletak tidur di atas lantai begitu saja dalam keadaan sangat sederhana, bahkan menyedihkan. Sebuah bantalpun ia tidak punya! Pakaiannya yang
berwarna hitam itu telah usang, bahkan telah banyak tambalan di sana-sini. Maling Budiman ini sama sekali tidak mempunyai bungkusan pakaian atau barang-barang lain kecuali pedangnya yang terselip di pinggangnya. Keadaannya tiada ubahnya dengan seorang pengemis atau orang terlantar. Tubuhnya kurus dan pada mukanya yang kurus dan tampan itu terdapat garis-garis yang hanya terdapat pada muka orang yang telah banyak menderita kesengsaraan hidup!
Keadaan ini meragukan hati To Tek Hosiang. Sebenarnya, mudah saja baginya dan bagi kawan-kawannya untuk menangkap dan mengikat maling yang sedang tidur itu, akan tetapi tiba-tiba timbul rasa kasihan di dalam hatinya dan ia merasa malu untuk menyerang seorang yang sedang tidur nyenyak!
Sebaliknya, ketika melihat betapa dirinya telah terkurung, Tan Hong tidak menjadi gugup atau bingung. Ia menggeliat dan menguap, lalu menatap wajah To Tek Hosiang dengan tajam dan bibirnya tersenyum, akan tetapi sebagaimana biasa, senyumnya tidak membayangkan kegembiraan hati.
“Hwesio, mengapa kau tidak lekas-lekas menangkapku selagi aku masih tidur tadi? Sekarang setelah aku bangun kalian belum tentu dapat menawanku, bukankah itu sayang sekali?” Tiba-tiba ia menyambar pedangnya dan melompat berdiri menghadapi mereka dengan muka tenang dan tabah.
“Anak muda, kau masih begini muda dan memiliki kepandaian lumayan, mengapa kau telah tersesat dan menjadi seorang siauw-jin (orang rendah)? Dan mengapa kau malam tadi begitu pengecut, hingga tidak sesuai dengan sikapmu sekarang yang pemberani?”
“Hwesio, dengarlah. Aku tidak tahu apakah artinya siauw-jin dan apa artinya kuncu (orang budiman) pada jaman seburuk ini! Kalau kau dan semua orang mau menyebutku siauw-jin, biarlah, aku tidak merasa dirugikan. Dan kau anggap aku pengecut karena malam tadi aku tidak berani menghadapimu dan tidak melakukan perlawanan, bahkan terus melarikan diri? Inilah sebabnya ; pertama-tama aku memegang teguh dan memenuhi peraturan yang telah ada semenjak dunia berkembang, bahwa seorang maling atau pencuri adalah seorang pengambil barang orang lain tanpa diketahui oleh orang itu dan seorang pencuri bukanlah seorang perampok yang mempergunakan kekerasan. Pencuri hanya akan membela diri dan selalu mencari kesempatan pertama untuk melarikan diri, oleh karena keperluanku hanya untuk mengambil barang dan bukan untuk bertempur. Inilah sebab pertama, dan sebab ke dua ialah oleh karena kalian ini bukan musuh-musuhku dan tidak pernah bermusuhan dengan aku, maka aku tidak hendak bertempur dengan kalian!”
To Tek Hosiang menggeleng-gelengkan kepala. “Kau bicara seenakmu saja. Bukankah kau yang disebut Gin-kiam Gi-to?”
Tan Hong mengangguk. “Itulah hadlah yang diberikan orang kepadaku.”
“Nah, sekarang kaudengarlah nasehat dan turutlah demi kebaikanmu sendiri. Kami takkan mengganggumu dan akan melupakan segala perbuatanmu yang telah mengacau kota kami, asal saja kau suka berjanji bahwa mulai hari ini kau takkan melakukan pekerjaan mencuri lagi. “
Tiba-tiba sepasang mata Tan Hong yang biasanya mengeluarkan pandangan acuh tak acuh itu terkilatlah pandangan marah.
“Hwesio! Kau ini siapakah, maka berani melarang dan menentukan jalan hidupku? Kau mempunyai hak apakah maka berani melarangku mencuri?”
“Pinceng bukan orang luar biasa, hanya seorang hwesio sederhana yang bernama To Tek Hosiang dan mengepalai kuil di Wi-ciu. Akan tetapi pinceng berhak memberi nasehat kepada setiap orang yang berjalan sesat, sesuai dengan kedudukan pinceng sebagai seorang pemeluk agama. Kau berjanjilah, dan kami semua akan mengampunimu. Kalau tidak, terpaksa kami akan menangkapmu dan menyerahkan kepada yang berwajib.”
“To Tek Hosiang berkata benar, dan sudah sepatutnya kalau kau mendengar nasehatnya,” kata Lim-piauwsu dengan suara halus. “Aku adalah seorang piauwsu yang telah banyak bertemu dan berkenalan dengan tokoh-tokoh liok-lim, maka aku merasa sayang sekali apabila seorang muda seperti kau ini menjadi seorang maling.”
Tan Hong mengeluarkan suara ejekan dari hidungnya, “Hm, hm, kata-kata usang membosankan! Kalian semua menaruh kasihan kepadaku, tanpa sebab tertentu menaruh perhatian besar akan nasibku, akan tetapi tengoklah!” Jari telunjuknya menuding ke arah jauh, “Lihatlah mereka itu, rakyat miskin yang mati kelaparan, yang telanjang kedinginan! Mengapa kalian tidak mempergunakan rasa kasihan yang kalian tujukan kepadaku itu kepada mereka? Kalian pura-pura menjadi baik dengan memberi nasehat-nasehat indah kepadaku, tapi pernahkah kalian memikirkan nasib mereka yang terlantar, nasib para jembel yang berkeliaran ke sana ke mari tanpa makan dan tanpa pakaian di luar kulit? Siapa sudi menerima nasehat-nasehatmu? Aku tetap hendak menjadi pencuri, kalian mau apa?”
Mendengar ucapan sombong ini semua penjaga keamanan itu menjadi marah. Tiga orang muda dengan
pedang di tangan maju menubruk, akan tetapi sekali menggerakkan kedua tangan dan kaki kirinya saja, sudah cukup membuat ketiganya terjungkal!
“Mundur semua, biar aku menangkap Gin-kiam Gi-to!” teriak To Tek Hosiang.
“Nanti dulu, losuhu, biarlah aku mencoba kepandaiannya dulu,” kata Lim-piauwsu yang merasa kagum melihat gerakan Tan Hong dan timbul keinginan hatinya untuk menguji.
“Boleh, boleh, majulah!” Tan Hong menantang. “Siapa saja yang hendak menangkapku, majulah! Tapi ingat dan camkanlah bahwa bukan aku yang menghendaki permusuhan. Aku Tan Hong hanya bertempur melawan kalian! Ayoh, siapa hendak menonjolkan kepandaian, majulah!”
Melihat sikap dan ucapan anak muda yang gagah dan berani itu, semua orang merasa tertegun dan sangsi. Hanya Lim-piauwsu dan To Tek Hosiang saja yang mempunyai keinginan untuk mencoba kepandaian Maling Budiman ini dan kalau mungkin menangkapnya.
Lim-piauwsu lalu melangkah maju. Oleh karena ia mengingat akan pekerjaannya sebagai pengantar dan pengawal barang berharga yang dikirim dan dipercayakan di bawah penjagaannya, maka ia selalu berhati-hati dalam menghadapi seorang tokoh dari golongan perampok maupun pencuri dan tak ingin mananam bibit permusuhan yang hanya akan menimbulkan kesukaran dan rintangan bagi perusahaannya. Oleh karena itulah, dalam menghadapi Tan Hong, ia sengaja tidak mengeluarkan senjatanya.
Melihat piauwsu itu maju tanpa membawa senjata, Tan Hong juga tidak mau mengeluarkan senjatanya dan bersiap sedia sambil memasang kuda-kuda.
“Awas kepalanku, anak muda!” Lim-piauwsu mulai menyerang dengan gerak tipu Cio-po-thian-keng atau Batu Meledak Langit Gempur, sebuah tipu pukulan yang dilakukan dengan tenaga sepenuhnya hingga merupakan serangan berbahaya. Tan Hong melihat gerakan ini maklum bahwa lawannya bukanlah orang sembarangan, maka ia tidak berani menangkis, hanya mengelak ke samping mempergunakan kelincahan tubuhnya, lalu membarengi dengan serangan balasan yang dilakukan dengan tangan miring, yakni dengan gerak tipu Puja Kwan Im Dengan Tangan Miring (Heng-pai Kwan-im). Serangannya ini tidak kalah hebatnya, akan tetapi oleh karena maksud dari Lim-piauwsu memang hendak menguji kekuatan dan kepandaian Tan Hong, piauwsu itu tidak mengelak, bahkan menggunakan tangannya menangkis. Dua buah tangan beradu dan bukan main terkejutnya Lim-piauwsu ketika pukulan yang tertangkis itu demikian berat dan kuatnya hingga pasangan kuda-kuda kakinya menjadi teranjak mundur sampai tiga langkah!
Lim-piauwsu yang telah banyak mengalami pertempuran-pertempuran dengan tokohtokoh berilmu tinggi, maklum bahwa tenaga lwekang anak muda ini lebih tinggi daripada tenaganya sendiri maka ia lalu mengeluarkan ilmu silat Ho-kun (Ilmu Silat Burung Ho) yang menjadi ilmu kebanggaannya. Gerakannya menjadi lincah, kedua tangannya berkembang merupakan umpan, akan tetapi kalau umpan ini dimasuki lawan, kedua kepalan tangan yang dipentang itu akan melancarkan serangan dari kanan kiri yang sukar ditangkis atau dihindari. Tan Hong telah mengalami gemblengan hebat dari Cin Cin Tojin, dan ilmu silatnya telah mencapai tingkat yang tinggi, maka pertunjukan ilmu silat Ho-kun yang dikeluarkan oleh Lim-piauwsu ini sama sekali tak membingungkannya. Dengan tiba-tiba pemuda ini merobah gerakannya dan kini ia
memainkan ilmu Silat Rajawali Sakti yang mempunyai gerakan lebih cepat lagi, menyambar-nyambar dari atas sambil mempergunakan gerakan ginkang yang tinggi hingga dalam waktu yang singkat Lim-piauwsu telah terdesak sekali.
Belum ada empat puluh jurus, mereka bertempur Lim-piauwsu telah terdesak tanpa dapat membalas hingga diam-diam piauwsu ini heran dan kagum sekali karena belum pernah ia menghadapi lawan yang dapat membuatnya tidak berdaya dalam pertempuran sedemikian pendek! Ia lalu melompat ke belakang sambil berseru, “Hebat sekali!”
Tan Hong tidak mengejar, hanya berdiri menghadapi semua orang dengan sikap waspada. Ia tak hendak mendesak lawan, dan hanya akan melawan mati-matian apabila dia sendiri yang terdesak.
To Tek Hosiang maju sambil melintangkan toyanya. “Maling muda, benar-benar kau tidak mau menyerah dan menurut nasehatku?”
“Hwesio, kaumajulah. Aku Tan Hong sekali mengeluarkan ucapan, hanya akan dapat dirobah setelah aku menggeletak tak berdaya!”
“Anak sombong! Keluarkan senjatamu!”
Tan Hong maklum bahwa hwesio itu tentu memiliki kepandaian tinggi, maka tanpa ragu-ragu lagi, iapun lalu menghunus pedangnya dan semua orang terpesona melihat pedang yang putih berkilauan karena tajamnya. Inilah Gin-kiam atau Pedang Perak yang telah amat terkenal. Gagang pedang itu terbuat seluruhnya daripada perak putih berkilat dan di ujung gagangnya digantungi rambu-rambu merah.
Setelah melihat pemuda itu mengeluarkan pedangnya, To Tek Hosiang lalu menyerang dengan toyanya sambil berseru keras, “Lihat toya!”
Tan Hong berlaku waspada dan tenang. Dari sambaran angin senjata toya itu, ia dapat menduga bahwa To Tek Hosiang memiliki tenaga lwekang yang tak boleh dipandang ringan, maka cepat ia mengelak sambil melompat ke kiri. Akan tetapi gerakan To Tek Hosiang benar-benar cepat. Biarpun serangannya yang ditujukan ke arah dada lawannya itu dapat dielakkan, namun toyanya diteruskan dari samping dan merupakan sapuan ke arah kaki Tan Hong dengan cepat dan kuat! Tan Hong juga memperlihatkan ketangkasan dan kecepatannya. Dengan satu gerakan ia berhasil melompat ke atas dan menghindarkan diri dari sambaran toya. Sebelum tubuhnya turun kembali, Tan Hong membarengi dengan tusukan pedangnya ke arah tenggorokan lawan dalam gerak tipu Elang Merah Meyambar Kelinci.
To Tek Hosiang juga cepat menangkis lalu menyerang kembali. Hwesio ini memiliki ilmu toya yang luar biasa sekali dan belum pernah ia dikalahkan orang selama ia menjagoi di daerah timur waktu mudanya. Maka bukan kepalang herannya ketika ia melihat betapa pemuda ini dapat menghadapinya dengan baik, bahkan dapat mengimbangi serangan-serangannya.
Orang-orang yang menonton pertempuran ini menahan napas. Tubuh Tan Hong yang berpakaian warna hitam telah lenyap dan hanya nampak bayangan hitam saja berpusing-pusing diliputi sinar pedang yang putih gemilang. Sebaliknya, sinar toya To Tek Hosiang memanjang dan menderu mengeluarkan angin bagaikan gelombang dahsyat menyambar-nyambar.
Kalau hendak diukur kepandaian mereka, memang sukar dipastikan mana yang lebih unggul, karena cabang persilatan mereka memang berlainan. Masing-masing mempunyai gerak dan tipu tersendiri dan memiliki keistimewaan masing-masing pula. Tentu saja, Tan Hong kalah pengalaman dan kalah latihan. Sebaliknya, jelas nampak dari gerakan tubuh mereka bahwa Tan Hong masih menang dalam hal ginkang, sedangkan tenaga mereka agaknya berimbang.
Sudah diakui oleh seluruh kaum persilatan bahwa pedang yang baik adalah raja sekalian senjata, oleh karena pedang ini tidak berat dan cukup panjang sedangkan bagi seorang ahli apabila pedang telah berada di tangan, maka pedang itu seakan-akan telah berubah menjadi anggauta tubuh yang bergerak sekehendak hatinya.
Kini kedua orang ini bertempur mati-matian dan oleh karena kepandaian mereka berimbang, maka Tan Hong yang memegang pedang mendapat keuntungan dari perbedaan senjata ini. To Tek Hosiang memainkan sebuah toya yang besar dan berat, oleh karena itu ia memerlukan tenaga yang lebih besar. Ditambah pula usianya yang sudah lanjut, maka setelah bertempur seratus jurus lebih, hwesio itu mulai merasa lelah dan peluh mulai keluar dari keningnya. Sebaliknya Tan Hong masih segar bugar dan serangan-serangannya makin gencar dan rapat.
Karena merasa bahwa makin lama makin lemah, To Tek Hosiang lalu mengeluarkan kepandaiannya yang paling hebat. Ia menerjang sambil menggeram keras dan tiba-tiba diputarnya toyanya dari kanan ke kiri menerjang leher Tan Hong. Akan tetapi, sambaran toyanya ini diikuti oleh gerakan membalikkan toya dan kini dengan gagang toya, hwesio itu menotok ke arah ulu hati Tan Hong dengan kecepatan luar biasa! Inilah gerakan Bintang Api Jatuh dari
Langit yang berbahaya sekali oleh karena sodokan ini sesungguhnya dilakukan di luar dugaan lawan yang hanya menjaga datangnya serangan pertama yang nampaknya lebih berbahaya.
Akan tetapi Tan Hong yang selalu berlaku hati-hati dan tidak mau memandang rendah setiap gerakan lawan, cepat menjaga dadanya dengan gerakan Seng-siok-hut-si atau Musim Panas Kebut Kipas. Pedangnya berputar-putar menjadi sinar bundar di depan dada dan ujung toya To Tek Hosiang terpukul ke samping. Saat itu digunakan oleh Tan Hong untuk mengirim pukulan kilat dengan tangan kiri ke arah dada lawannya! To Tek Hosiang masih sempat memiringkan tubuhnya, akan tetapi pukulan itu masih saja mengenai pundaknya. Tubuh hwesio itu mundur ke belakang untuk mempertahankan dirinya agar tidak sampai roboh dan melangkah cepat ke belakang lima langkah lebih!
Dengan wajah merah karena malu, To Tek Hosiang lalu berkata, “Gin-kiam Gi-to! Memang kau gagah perkasa dan hebat. Baiklah, kali ini pinceng mengaku telah berlaku kurang hati-hati, hingga dapat kaukalahkan. Akan tetapi, apabila benar-benar kau seorang pendekar sejati, pinceng undang kau datang pada tanggal lima belas bulan depan untuk minta pengajaran sekali lagi!”
“To Tek Hosiang, biarpun kau ini sudah tua, akan tetapi hatimu masih muda dan bersemangat!” jawab Tan Hong. “Baiklah, kalau kau masih ada keinginan untuk main-main lagi dengan aku, pada hari itu aku akan datang mengunjungi kelentengmu.”
Biarpun di luarnya tampak berseri, akan tetapi di dalam hatinya To Tek Hosiang merasa marah serta malu yang tiada terperikan. Dia adalah seorang tokoh Houw-san, yang sudah ulung dan sangat dikenal orang sebagai seorang ahli silat kalangan tinggi yang jarang mendapat tandingan, akan
tetapi sekarang ternyata dia tidak berhasil menangkap seorang maling yang masih demikian muda, bahkan ia dapat dikalahkan! Kalau hal ini terjadi di luar setahu orang lain, masih belum apa-apa, akan tetapi di situ terdapat banyak saksi di antaranya Lim-piauwsu sendiri. Ini adalah suatu hal yang sungguh-sungguh memalukan.
Maka setelah mendengar jawaban Tan Hong, hwesio ini lalu melangkah lebar meninggalkan tempat itu. Juga Tan Hong lalu menjura kepada semua orang dan kemudian tubuhnya melayang ke atas genteng dan lenyap dari pandangan! Lim-piauwsu menggeleng-gelengkan kepalanya.
“Sungguh istimewa dan luar biasa! Jarang bisa menemukan seorang pemuda yang memiliki kepandaian sehebat itu. Mudah-mudahan saja dia pergi meninggalkan kota kita dan jangan mengganggu lagi di sini.”
Dan kata-katanya ini memang benar, oleh karena Tan Hong yang menganggap bahwa setelah dirinya dimusuhi oleh para pendekar di kota Wi-ciu, merasa bahwa sudah tiba waktunya untuk pindah ke kota lain. Ia tidak ingin menanam bibit permusuhan yang makin mendalam di hati para pendekar itu.
***
Ketika dalam perantauannya Tan Hong tiba di kota Biauw-men, ia mendengar betapa dalam sebuah dusun berjangkit penyakit menular yang berbahaya. Banyak penduduk mati karena penyakit ini dan masih banyak pula yang rebah tak berdaya, menanti datangnya maut.
Tan Hong yang biasanya hanya menolong orang dengan membagi-bagikan uang hasil curiannya, kini melihat malapetaka yang menimpa dusun itu, menjadi bingung. Apakah yang bisa ia lakukan untuk menolong mereka selain
memberi uang seperti biasa? Orang kena penyakit tidak hanya membutuhkan uang, tapi juga membutuhkan pengobatan!
Oleh karena inilah, maka pada suatu malam, ketika ia sedang mencari-cari gedung mana yang hendak dijadikan korban, ia berdiri termangu di atas genteng sebuah rumah yang cukup tinggi dan besar. Di depan rumah ini terdapat merk yang ditulis dengan huruf besar dan menyatakan bahwa itu adalah sebuah toko obat. Melihat besarnya rumah itu, dapat diduga bahwa pemilik toko itu tentulah seorang yang kaya raya pula. Maka Tan Hong lalu mengambil keputusan untuk menjadikan rumah ini korbannya. Kali ini ia tidak hanya hendak mencuri uang, akan tetapi juga hendak mengambil obat-obatan sebanyak mungkin untuk dibagi-bagikan kepada orang-orang dusun yang sedang ditimpa bencana itu!
Dengan mudah ia melompat turun ke dalam rumah itu. Ketika ia sedang menghampiri sebuah jendela kamar yang masih terang, tiba-tiba ia merasa pundaknya seperti ditepuk orang! Tan Hong cepat membalikkan tubuh dan bersiap sedia, akan tetapi aneh, ia tidak melihat apaapa! Boleh jadi hanya angina yang meniup dari belakang, pikirnya. Ia lalu menghampiri jendela itu dan pada saat itu ia mendengar suara orang berpantun dari dalam kamar. Hatinya merasa heran karena siapakah orangnya yang masih berpantun seorang diri pada tengah malam ini?
Ketika ia mengintai ke dalam kamar, terlihat olehnya seorang laki-laki tua berpakaian seperti seorang sasterawan atau yang juga biasa dipakai oleh ahli-ahli obat sedang duduk pada sebuah kursi yang dapat digoyang-goyangkan ke depan dan ke belakang. Orang itu duduk dengan enaknya, tangan kanannya memegang sebuah buku yang sedang dibacanya, dan tangan kirinya mengetuk-ngetuk
meja untuk memberi irama pada ucapan pantunnya. Kemudian orang itu berhenti membaca kitab kuno itu dan menguap, lalu berkata seorang diri, cukup keras hingga terdengar juga oleh Tan Hong.
“Segala macam penyakit timbul, obat-obat yang dibutuhkan hingga membikin kaya orang dagang obat saja! Sesudah sakit mencari obat, sebelum sakit tak mau menjaga diri, diobati juga apa artinya? Lebih baik menjaga diri sebelum sakit, ini sama sempurnanya dengan berpikir masak dulu sebelum berbuat!”
Setelah berkata demikian, orang tua itu meniup api lilin di atas meja hingga kamarnya menjadi gelap dan terdengarlah suara di pembaringan dijatuhi tubuh orang.
Diam-diam Tan Hong mengakui kebenaran ucapan tukang obat itu dan iapun pernah mendengar pernyataan suhunya, Cin Cin Tojin, bahwa segala macam penyakit datangnya tidak lain ialah dari mulut. Kalau orang dapat menjaga baik-baik dan memilih dengan teliti barang apa yang hendak dimasukkan ke dalam mulut, dan menjaga dengan teliti pula, suara apa yang hendak dikeluarkan oleh mulut, orang demikian itu akan selamat dan bahagia selama hidupnya!
Kemudian Tan Hong teringat akan maksud kedatangannya. Ia tersenyum geli, karena tukang obat itu benar-benar telah membuat ia termenung dan hampir lupa akan maksud kedatangannya. Ia lalu mencari-cari dan memasuki toko dari atas genteng. Ternyata di situ tidak terdapat banyak uang hingga ia hanya mendapatkan paling banyak lima puluh tail perak yang berada di laci meja toko. Uang ini ia keduk semua dan dimasukkan ke dalam sebuah kantong yang memang selalu ia bawa. Ia lalu mulai mencari-cari obat apa yang harus diambilnya? Di situ terdapat beratus-ratus macam obat yang berupa akar, daun-
daunan, buahbuahan, kembang-kembang kering, malah banyak pula terlihat binatang-binatang kecil yang sudah kering seperti cecak, kodok dan binatangbinatang lain lagi yang sudah dikeringkan. Tan Hong benar-benar menjadi bingung karena ia tidak tahu harus mengambil yang mana. Ia lalu teringat akan obat jin-som, semacam akar yang amat mahal karena sukar di dapat dan yang terkenal sebagai raja obat dan kabarnya dapat menyembuhkan segala macam penyakit. Maka ia mulai mencari-cari dan menggeledah semua lemari dan meja dagangan. Akhirnya dapat juga ia menemukan seperti kecil akar yang bentuknya seperti jin-som yang pernah dilihatnya. Tanpa banyak pikir lagi ia memindahkan semua benda ini dari dalam peti ke dalam kantongnya.
Setelah itu, ia lalu keluar dari toko itu dan melompat naik ke atas genteng. Akan tetapi, betapa kagetnya ketika melihat bahwa di atas genteng telah menanti seorang berpakaian serba hitam pula, berdiri dengan tegap, tangan kirinya bertolak pinggang dan tangan kanannya memegang sebatang pedang yang tajam!
“Maling hina dina! Sudah puaskah kau dengan hasil-hasil curianmu?” Orang itu membentak dan Tan Hong merasa makin heran dan kaget karena setelah bersuara orang itu dapat dikenal bahwa ia adalah seorang gadis muda!
Tan Hong merasa maludan tak perlu melayani gadis itu lebih lama, maka ia lalu melompat ke wuwungan lain dengan cepat. Akan tetapi, alangkah terkejutnya ketika ia mendengar sambaran angina dan tahu-tahu gadis itu sudah mengejar dan menghadang pula di depannya! Mungkinkah gadis ini memiliki kepandaian ginkang sedemikian tingginya? Tan Hong lalu memandang dengan penuh perhatian dan pada saat ia menatap wajah gadis itu, terjadi
sesuatu dalam dada kirinya. Jantungnya seakan-akan berhenti berdetak dan kedua matanya memandang kagum. Dalam pandangannya, gadis itu sangat cantik jelita, dan gagah pula!
“Maling hina! Kaukira akan dapat melarikan diri dariku? Kembalikan dulu uang dan obat yang kaucuri dari tokoku, baru aku akan pikir-pikir apakah kau dapat diampuni atau tidak!”
Tan Hong merasa mendongkol juga mendengar kesombongan ini, pula ia memang sangat tertarik dan ingin menguji sampai di mana ketinggian ilmu pedang nona cantik ini. Maka ia lalu menggerakkan tangan kanannya ke pundak untuk mencabut keluar gin-kiam atau Pedang Peraknya. Akan tetapi, tiba-tiba ia menjadi pucat oleh karena pedangnya itu telah lenyap dari sarungnya! Ia teringat akan tepukan yang terasa pada pundaknya tadi, maka cepat ia memandang kepada gadis itu dengan tajam. Gadis inikah yang mempermainkannya dan yang telah mencuri pedangnya? Sampai demikian tinggikah ilmu ginkangnya hingga dapat mencuri pedang dari pundaknya tanpa diketahuinya?
Sementara itu, gadis berbaju hitam itu membentak, “Kau hendak melawanku? Cabutlah senjatamu dan rasailah gempuranku!” Ketika melihat bahwa Tan Hong tak mengeluarkan senjata, gadis itu segera memasukkan pedangnya di sarung pedang yang tergantung di pinggangnya, lalu berkata, “Kau tidak memiliki senjata? Baiklah, kau lihat! Untuk menghadapi seorang maling semacam kau saja aku tak perlu mempergunakan senjata!”
Mendengar ucapan ini tahulah Tan Hong bahwa yang mencuri pedangnya bukanlah nona ini, maka ia makin terkejut oleh karena tak pernah dalam sangkaannya bahwa di rumah obat itu terdapat demikian banyak orang pandai.
Baru nona ini saja sudah memiliki kegesitan yang mengagumkan, apalagi pencuri pedangnya tadi! Ia makin tertarik dan hendak mengenal nona ini lebih dekat lagi.
“Maaf, nona. Aku tidak menyangka bahwa kau adalah pemilik obat itu. Akan tetapi dengarlah, biarpun andaikata aku tahu, tetap aku hendak mengambil obat dan uang ini untuk keperluan penduduk di dusun sebelah barat yang sedang menderita sakit itu. Kalau kau rela memberikan, terima kasih. Sebaliknya kalau kau hendak memaksa aku mengembalikan obat dan uang yang sudah kucuri ini, jangan kauharapkan?”
“Maling, kalau begitu aku harus mengambilnya sendiri!” Setelah berkata demikian, nona itu maju menyerang dengan sengitnya.
Kembali Tan Hong dibuat kagum dan heran melihat gerakan gadis ini, karena pukulannya benar-benar mempunyai isi tenaga lwekang yang hebat dan kegesitannya mengagumkan pula. Ia cepat berkelit dan oleh karena tangan kirinya memanggul kantong maka gerakannya menjadi kurang leluasa. Ia lalu menurunkan kantong itu di atas genteng, lalu maju lagi dan kini ia dapat mengimbangi kegesitan gadis itu. Setelah bertempur agak lama, maka kekaguman Tan Hong meningkat karena ternyata bahwa gadis itu benar-benar lincah sekali. Gerakannya gesit dan tenaganya cukup mengagetkan, bahkan gerakangerakannya tidak banyak bedanya dengan ilmu silatnya sendiri! Berkali-kali ia terdesak karena ia berkelahi dengan setengah hati sebab ia kuatir kalau-kalau melukai kulit yang halus itu, sebaliknya gadis itu berkelahi dengan mengerahkan seluruh tenaga dan kepandaiannya.
Tan Hong makin tertarik dan kagum. Ia menahan sebuah serangan dengan kebutan tangannya, lalu berkata, “Nona, tahan dulu!”
Gadis itu berdiri sambil bertolak-pinggang. “Eh, maling kecil, mengapa kau menahan gerakanku?”
“Nanti dulu nona. Ilmu silatmu sangat tinggi. Sebenarnya siapakah kau ini?”
-oo0dw0oo-
Jilid 02 ...
“Kurang ajar! Apakah kaukira kau cukup berharga untuk berkenalan dengan aku? Aku tidak sudi berkenalan dengan segala maling! Sekarang rasakanlah kehebatan pedangku!” Sambil berkata begitu, nona itu lalu mencabut pedangnya dan mengirim serangan hebat, lupa akan ucapannya tadi yang memandang rendah Tan Hong karena sekarang iapun maklum bahwa maling kecil ini mempunyai kepandaian tinggi dan amat tangguh!
Kini Tan Hong yang sibuk mengelak ke sana ke mari karena ilmu pedang nona itu benar-benar luar biasa dan jauh lebih hebat daripada sekalian lawan yang pernah dijumpainya! Ia tahu bahwa kalau ia bertahan terus, ia tentu akan roboh, maka apa boleh buat, ia mengambil keputusan hendak lari!
Pada saat itu, terdengar suara orang, “Lan-ji, jangan kau menyerang orang yang bertangan kosong dengan mempergunakan senjata!”
Gadis itu melompat mundur dengan muka malu, sementara itu Tan Hong diam-diam memuji kehebatan orang yang baru datang itu, karena ia sama sekali tidak mendengar langkah kakinya!
“He, anak muda, bukankah kau Gin-kiam Gi-to?” tiba-tiba orang yang baru datang itu bertanya.
Tan Hong membalikkan tubuh dan memandang. Ternyata orang itu adalah seorang tua dan ketika ia melihat lebih teliti, alangkah heran dan terkejutnya karena orang ini tidak lain adalah orang tua yang berpantun di dalam kamar tadi! Bajunya masih baju sasterawan yang lebar dan besar itu dan lagaknya masih lemah lembut seperti seorang sasterawan tulen. Dan yang membuatnya makin terkejut lagi adalah ketika ia melihat bahwa tangan orang itu memegang sebatang pedang yang tidak lain adalah pedangnya sendiri yang dicuri orang tadi!
Tan Hong tidak berani berlaku sembrono karena maklum bahwa ia menghadapi seorang tokoh yang berilmu tinggi, maka ia lalu memberi hormat dan berkata, “Siauwte yang rendah dan bodoh dengan tak sengaja telah mengganggu cianpwee, kini tak lain hanya menanti jatuhnya hukuman!”
“Ha, ha, ha, anak muda. Kau terlalu merendah. Setelah dapat menghadapi anakku sampai sekian lamanya, boleh diukur ketinggian ilmu silatmu. Nah, ini terimalah pedangmu kembali dan coba kauhadapi ilmu pedang anakku, hendak kulihat sampai di mana kehebatan Gin-kiam Gi-to!” Setelah berkata demikian, orang tua itu menggerakkan jari-jari tangannya dan tahu-tahu pedang Tang Hong sudah melayang terus meluncur ke arah dada pemuda itu! Tan Hong tahu bahwa orang sedang menguji kepandaiannya, maka ia lalu mengulurkan tangan kanan sambil merendahkan diri dan berhasil menyambut gagang pedangnya sendiri yang hendak makan tuan! Ia merasa betapa besar tenaga sentilan jari itu dan makin kagumlah dia!
“Lan-ji, sekarang seranglah lawanmu ini. Tapi berhati-hatilah, kalau tidak kau akan kalah!”
Panas hati gadis itu mendengar kata-kata pujian ayahnya terhadap maling itu, maka ia lalu maju menerjang dengan
pedangnya. Sinar pedangnya berkelip-kelip bagaikan bintang berpindah di angkasa hingga Tan Hong terpaksa menggunakan pedangnya menangkis. Bunga api memancar keluar dari perbenturan kedua senjata tajam itu.
Tak lama kemudian kedua orang muda-mudi itu telah bertempur dengan hebat sekali. Keduanya sama kuat dan sama gesit, bahkan ilmu pedang mereka mempunyai gerakan-gerakan yang banyak persamaannya. Tan Hong makin kagum dan gadis itupun kini tahu akan kehebatan Tan Hong hingga ia tidak berani memandang rendah lagi. Setelah bertempur sampai seratus jurus lebih, tanpa ada yang terdesak, tiba-tiba tukang obat itu berseru, “Sudah cukup, tahan!”
Kedua anak muda itupun menaati perintah ini.
Tan Hong terkejut sekali karena tadipun ia melihat betapa gerakan pedang gadis itu mempunyai dasar-dasar yang sama dengan ilmu pedangnya sendiri, yakni Bok-san Kiamhwat.
Ia lalu menundukkan kepalanya lagi dengan penuh hormat dan berkata, “Benar, siauwte yang bodoh adalah murid Cin Cin Tojin. Mohon maaf bahwa siauwte tidak mengenal locianpwe. “
“Ha, ha, ha, anak muda. Memang, kalau belum bertempur, takkan mengenal orangnya sendiri. Cin Cin Tojin adalah suhengku.”
Bukan main terperanjatnya Tan Hong mendengar bahwa gurunya masih kakak seperguruan orang tua ini. Ia teringat akan penuturan suhunya bahwa suhunya mempunyai seorang sute, adik seperguruan yang berilmu tinggi, bahkan yang menurut pengakuan suhunya memiliki kepandaian di atas suhunya sendiri.
Segera Tan Hong menjatuhkan diri berlutut, “Ampunkan teecu, bukankah susiok ini yang bernama Lo Cin Ki dan terkenal dengan nama Jian-jiauw-sin-eng (Garuda Sakti Berkuku Seribu)?”
Kakek itu tertawa lagi terbahak-bahak, “Benar, akulah orang she Lo itu, bagaimana dengan suhumu? Dan siapakah namamu, anak muda?”
“Teecu bernama Tan Hong.“ Kemudian ia menuturkan keadaan suhunya ketika ia turun gunung, menceritakan bahwa suhunya kini telah menghentikan kebiasaannya merantau dan menetap di puncak Bukit Kwi-hong-san untuk bertapa.
Si Garuda Sakti menghela napas. “Pekerjaanmu ini baik juga, akan tetapi berbahaya. Baiklah aku tak usah ikut campur dengan pekerjaan yang telah kau pilih dan kauanggap baik itu. Bagiku segala perbuatan itu baik saja, asal ditujukan untuk kebaikan. Kau telah mengambil obat yang keliru dan kalau kau menghendaki obat untuk menolong penduduk di Cin-tong, pergunakanlah obat ini!”
Lo Cin Ki lalu mengeluarkan sebungkus obat bubuk dari saku bajunya yang lebar dan memberikannya kepada Tan Hong. Dengan muka merah karena malu, Tan Hong menerima obat itu dan ia tidak berani membawa kantong-kantongnya. Akan tetapi, susioknya hanya mengambil kembali jin-som yang tidak perlu dibawa itu dan menambahkan obat dan uang seratus tail lagi sambil berkata, “Terus terang saja, kami bukanlah orang kaya yang dapat menyumbangkan uang. Akan tetapi, biarlah dengan sedikit uang ini aku dapat membantu melancarkan pekerjaanmu itu!”
Bukan main rasa malunya Tan Hong, karena susioknya itu berkata dengan setulus ikhlas hati. Ia menerima
pemberian itu dan setelah menghaturkan terima kasih, ia lalu berdiri dan memberi hormat kepada gadis tadi, “Mohon dimaafkan kekasaranku.”
Gadis itu memandang dengan masih marah, akan tetapi ayahnya berkata, “Siok Lan, kau harus memberi hormat kepada suhengmu ini!” Terpaksa Siok Lan menjura pula, tapi tak berkata sesuatu. Hatinya masih mendongkol dan panas, dan ia merasa malu mempunyai seorang suheng pemaling!
Tan Hong dapat menyelami perasaan gadis itu, maka dengan hati berat dan menyesal ia lalu melompat pergi untuk menjalankan kebiasaannya membagi-bagi uang dan juga obat yang didapatnya dari susioknya itu.
Seperti biasa, setelah membagi-bagikan hasil curiannya Tan Hong lalu pergi ke sebuah tempat yang sunyi untuk beristirahat. Akan tetapi kalau biasanya ia terus merebahkan diri di mana saja untuk tidur setelah bekerja semalam suntuk, kali ini ia tidak dapat tidur. Ia duduk di bawah sebatang pohon besar karena tak bisa mendapatkan kuil atau gubuk kosong, maka ia duduk saja sambil melamun! Bayangan nona Lo Siok Lan yang cantik jelita dan gagah itu tak pernah meninggalkan ruang matanya. Ia amat tertarik kepada gadis itu tiada habisnya ia mengaguminya. Akan tetapi, ia masih merasa sakit hati, apabila teringat olehnya ucapanucapan dan pandangan mata gadis itu yang ditujukan kepadanya dengan secara sangat menghina. Siok Lan yang menarik hati dan yang dikaguminya itu memandang amat rendah kepadanya!
Tan Hong lalu teringat akan keadaan dirinya sendiri. Siapa orangnya yang takkan memandang rendah dan menghinanya? Lihat saja keadaan tubuhnya yang kurus kering tak terawat dan pakaiannya yang kotor lagi usang serta penuh tambalan itu! Pemuda apakah dia ini? Dan ia
adalah seorang maling pula. Takkan ada orang yang tidak akan menghina dan memandang rendah padanya karena ia seorang pencuri atau pemaling, biar maling budiman sekalipun! Tan Hong teringat kepada orang tuanya yang meninggal dalam keadaan sangat menyedihkan. Hatinya terharu. Ah, betapapun juga ia tak dapat melepaskan diri dari ikatan pekerjaan yang sudah menjadi idaman hatinya, yakni menolong mereka yang kelaparan. Ia tak dapat melupakan keadaan keluarganya, tak dapat melupakan kesengsaraan dan penderitaannya ketika ia kelaparan dulu! Tak dapat ia melupakan kekejaman dan kekikiran kepala kampung she Thio dulu! Orang-orang hartawan yang menumpuk makanan dan uang itu tak mau mengulurkan tangan kepada fakir miskin. Baik, ia akan mengambil makanan dan uang itu dengan jalan mencuri dan setelah itu membagikannya kepada mereka yang kelaparan! Biarlah, ia tidak memperdulikan keadaan sendiri asal ia dapat menolong orangorang yang kini menderita sebagaimana yang telah dideritanya dulu, mereka yang terancam bahaya maut kelaparan, maut yang mengambil jiwa kedua orang tuanya dulu!
Akan tetapi, kembali bayangan Siok Lan yang manis dengan pandangan mata menghina itu terbayang di depan matanya dan tiba-tiba Tan Hong merasa lemah dan bersedih hati. Ia lalu menundukkan muka dan menyembunyikan kepalanya di dalam pelukan kedua tangannya yang memeluk lutut. Disandarkannya punggungnya pada batang pohon besar itu dan akhirnya dapat juga ia tertidur dalam keadaan duduk!
Tiongkok selatan masih terus dilanda banjir hingga persediaan bahan makanan rakyat makin menipis dan kesensaraan makin memuncak. Di mana-mana bahaya
kelaparan mengamuk dan merajalela hingga jumlah korban yang tewas akibat kelaparan makin banyak.
Tentu saja, bahaya kelaparan itu tidak dapat mempengaruhi atau mengganggu kesenangan hidup para hartawan dan pembesar yang telah mempunyai persediaan bahan makanan bertumpul-tumpuk di dalam gedung-gedung mereka yang besar. Bahkan, keadaan ini menguntungkan bagi mereka, mendatangkan keuntungan yang bukan sedikit! Kalau dulu mereka membeli bahan makanan yang kini ditumpuk itu dengan harga murah, kini mereka dapat menjualnya dengan harga puluhan kali lipat daripada harga pembelian. Tidak ada perdagangan yang lebih menguntungkan daripada menumpuk dan menyimpan bahan makanan ini! Mudah dan mendatangkan untung besar. Syaratnya hanya modal uang besar dan gudang yang luas! Datangnya setan kelaparan yang merupakan bahaya maut bagi ratusan ribu rakyat miskin ini, bagi para hartawan yang kikir dan licin itu merupakan datangnya dewa-dewa rejeki yang sekali pukul dapat memperlipat-gandakan kekayaan mereka! Dan untuk menutupi kejahatan yang bagi mereka bukan merupakan kejahatan, akan tetapi yang mereka dengungkan sebagai hasil kecerdikan dan kepandaian dagang mereka itu, mereka sengaja memberi sekedar hadlah kepada para handai-taulan yang sebetulnya tak memerlukan sumbangan oleh karena keadaan mereka tak begitu mengkhawatirkan. Sumbangan ini hanya untuk mempropagandakan bahwa mereka adalah orang-orang dermawan besar!
Bahkan, banyak kota-kota besar mendirikan sebuah panitia penolong korban banjir yang terdiri daripada orang-orang kaya dan pembesar-pembesar. Mereka mencari sumbangansumbangan daripada hartawan yang ingin “mendapatkan nama” ini, menuliskan nama para hartawan
pada papan di depan gedung panitia agar diketahui oleh umum. Kepalsuan yang menjemukan ini masih belum seberapa hebat, yang lebih celaka lagi ialah bahwa pendapatan hasil sumbangan yang berupa uang dan bahan makanan ini sebagian besar “tersesat” dan “salah jalan” masuk ke dalam kantong-kantong para pengurusnya! Dan bagian yang sangat kecil itu barulah diberikan kepada korban-korban banjir menurut pilihan para pengurus panitia sendiri yang tentu saja mengadakan pilihan sesuka hatinya, berdasarkan sesuatu yang mereka anggap menguntungkan mereka pula! Maka, bukan hal yang dilebih-lebihkan atau isapan jempol belaka apabila diceritakan di sini bahwa dalam masa sukar itu, banyak anak-anak perempuan “ditukarkan” dengan beberapa kati bahan makanan!
Di dalam kota Seng-koan yang besar dan ramai juga terdapat sebuah panitia macam ini. Pengurus panitia adalah orang-orang yang dianggap paling berpengaruh di dalam kota itu dan penasehatnya tentu saja pembesar setempat yang berpengaruh. Oleh karena itu di daerah Seng-koan ini seringkali terjadi kekacauan dan perampokan yang dilakukan dengan nekad oleh orang-orang yang hampir mati kelaparan, maka sebagai penjaga dan pelindung panitia ini, diangkatlah tiga orang pembesar yang menjadi cabang atas atau jagoan kota Seng-koan. Tiga orang pendekar ini dijuluki Seng-koan Sam-eng atau Tiga Orang Pendekar dari Sengkoan. Akan tetapi, oleh karena sepak terjang mereka yang tidak sesuai dengan sikap pendekar-pendekar, terlampau membanggakan kepandaian mereka dan tidak segan-segan memukul dan menindas orang-orang yang lemah, maka julukan mereka itu diam-diam dirobah oleh orang-orang menjadi Seng-koan Sam-kwi atau Tiga Setan dari Seng-koan!
Setelah diangkat menjadi pengurus dan pelindung Panitia Penolong Korban Banjir, ketiga jagoan ini lalu mempergunakan kesempatan itu untuk melakukan pemerasan dan perampasan berkedok “minta sumbangan”.
Pada suatu hari, terlihat banyak orang berkerumun di depan sebuah toko yang menjual hasil bumi. Ternyata bahwa telah terjadi percekcokan antara pemilik toko yang bernama Gui San dan seorang di antara Seng-koan Sam-kwi. Gui San adalah seorang pedagang muda yang berdarah panas dan juga mempunyai hati berani dan tabah, oleh karena biarpun tidak sempurna benar, akan tetapi ia pernah belajar silat di bawah pimpinan orang pandai. Ia baru beberapa bulan tinggal di Seng-koan, maka ia belum kenal betul akan kehebatan Seng-koan Sam-kwi dan berani melawan ketika seorang di antara tiga jagoan ini datang minta sumbangan dengan paksa.
“Orang menyumbang harus berdasarkan hati rela dan suka, sama sekali tidak mungkin diharuskan dan ditentukan besar jumlah sumbangannya! Biarpun menyumbang sedikit, asal memberinya dengan senang dan rela hati, seharusnya diterima dengan baik. Mana ada aturan minta sumbangan dengan secara paksa?” Gui San berkata dengan suara keras sambil bertolak pinggang menghadapi Ban Hui, saudara termuda daripada Seng-koan Sam-kwi.
Ban Hui bertubuh tinggi besar dan bermuka hitam dan adatnya keras sekali. Mendengar ucapan orang yang disertai muka merengut dan marah, iapun menjadi marah sekali. Sambil menuding dengan jari telunjuknya ke arah hidung Gui San, Ban Hui memaki, “Orang She Gui, jangan kau membuka mulutmu yang lebar dan busuk itu! Kau harus tahu bahwa sekarang ini musim apa? Kau adalah seorang pedagang, maka apa artinya bagimu menderma seratus kantong gandum untuk mereka yang sengsara
karena banjir? Kau hidup terlalu kikir hingga kelak kau akan mati seperti seekor anjing! Kau tak mau menderma dan menolong mereka yang menderita, apakah kau hendak makan semua gandummu itu? Betapapun kaya dan kikirmu, yang kau makan tiap hari tak lebih hanya semangkok saja! Apa kau mau mati ditimbuni kekayaanmu?”
Bukan main marahnya Gui San mendengar orang memaki-makinya. “Ban Hui! Orang lain boleh takut kepadamu, akan tetapi aku tidak perduli akan segala gertak sambalmu! Jangan kau pura-pura menjadi orang budiman dan berhati pengasih! Ketahuilah, aku hendak menyumbang sepuluh kantong gandum adalah terbit dari hati kasihanku kepada mereka yang menderita, Biarpun hanya sepuluh kantong gandum, akan tetapi hendak kuberikan dengan tulus ikhlas. Sedangkan kau ini apa? Kau mengeluarkan kata-kata seakan-akan kau seorang dewata yang berhati suci murni, akan tetapi semua orang tahu bahwa ke kantong siapa semua sumbangan itu lari? Ban hui, jangan kau menjual lagak di sini, aku bukan anak kecil. Sepak terjangmu sudah kuketahui betul-betul. Pendeknya, aku hanya mau menyumbang sepuluh kantong gandum kepada panitia, kau sebagai pesuruh panitia tinggal mau terima atau tidak. Kalau mau terima, baik. Kalau tidak mau, tidak apa!”
Ban Hui membelalakkan kedua matanya dan mukanya yang hitam itu menjadi hitam lagi! “Bangsat rendah, kau harus dihajar tahu adat!” Setelah berkata begitu, Ban Hui melompat dan menyerang dengan pukulan Thai-san-ap-teng (Bukit Thai-san Menimpa). Gui San yang berhati tabah itu cepat mengelak dan tiba-tiba ia mengangkat sebuah bangku dan hendak memukul kepala si muka hitam dengan bangku itu. Wajahnya merah, matanya berapi-api!
Melihat hal ini, orang-orang yang berkerumun di situ dan yang mengkhawatirkan keselamatan Gui San, segera datang mencegah dan memisahkan. Kedua orang itu masih bersitegang tidak mau mengalah dan menyudahi perkara itu sampai di situ saja. Pada waktu mereka masih meronta-ronta dalam pegangan orang banyak, tiba-tiba terdengar bentakan orang.
“Eh, eh, ada apa ini?”
Semua orang mundur karena yang membentak ini adalah seorang pendek kecil, akan tetapi yang mempunyai sikap dan gaya yang sangat gagah. Inilah Ban Siauw, saudara kedua daripada Seng-koan Sam-kwi, seorang yang memiliki kepandaian silat tinggi dan yang sikapnya lebih halus daripada kedua saudaranya, akan tetapi semua orang tahu bahwa dibalik sikap yang halus itu, bersembunyi sifat seekor serigala yang jahat dan kejam.
Ketika mendengar duduknya persoalan, Ban Siauw memandang kepada Gui San dengan tetap tersenyum, akan tetapi sepasang matanya mengeluarkan pandangan yang menakutkan.
“Gui-congsu, kau benar-benar gagah berani. Tak kusangka bahwa di kota kita ini telah datang seorang jagoan berilmu tinggi! Sekarang baiklah diatur begini saja, congsu. Soal sumbangan ini adalah soalnya orang banyak, dan bukanlah menjadi kehendak kami sendiri. Kita telah bertemu dan belum saling berkenalan, maka aku persilahkan kepadamu untuk datang ke gedung panitia pada besok pagi. Di sana kami akan mengadakan sambutan selayaknya dan hendak minta pengajaran darimu. Mari kita berkenalan sambil mengukur kepandaian masing-masing. Dan sebagai iseng-iseng saja, kalau congsu tak dapat mengalahkan kami, congsu harus menyerahkan dua ratus kantong gandum. Sebaliknya kalau kami tak dapat
mengalahkan congsu, maka biarlah congsu tak usah mengeluarkan sesuatu untuk menyumbang, sebaliknya kami akan datang ke sini memohon maaf dan mengirimkan bingkisan. Bagaimana, congsu! Setuju atau tidak?”
Memang sifat si pendek ini sangat lihai. Ia dapat melihat bahwa orang she Gui ini berhati keras dan mudah marah, maka sengaja pada akhir kata-katanya ia menggunakan kalimat pertanyaan “setuju atau tidak” ia terang-terangan ditantang orang dan kalau ia menolaknya, maka ia akan dianggap penakut dan pengecut hingga akan menjadi bahan tertawaan penduduk Seng-koan. Apalagi pada saat itu terdapat banyak orang menyaksikan pertengkaran ini, maka ia lalu berkata, “Kalian Seng-koan Sam-kwi sudah kudengar tentang kehebatan namamu. Hari ini aku Gui San tanpa sebab telah digangu, bahkan ditantang, maka terpaksa aku melupakan kebodohanku sendiri dan biarlah besok pagi aku datang.”
Ban Siauw tertawa girang dan bertepuk-tepuk tangan. “Bagus, bagus!! Beginilah sikap seorang pendekar yang sekali bicara tentu takkan menarik kata-katanya kembali. Bagaikan ludah yang telah dijatuhkan ke atas tanah takkan dijilat lagi!” Kemudian si pendek ini menggunakan kefasihan lidahnya untuk menyindir dan mencegah agar orang she Gui itu tidak bermuka tebal untuk membatalkan kesanggupannya.
Setelah kedua orang she Ban itu meninggalkan tempat itu, maka banyak orang menyesalkan peristiwa ini dan memberi nasehat kepada Gui San agar supaya pedagang muda itu berlaku hati-hati, karena Seng-koan Sam-kwi terkenal jahat dan kejam. Akan tetapi Gui San yang berhati tabah itu tidak memperlihatkan sikap takut, maka diam-diam semua orang menjadi ingin tahu sampai dimana kepandaian orang ini. Tentu saja mereka ini sebagian besar
memihak Gui San dan mengharapkan mudah-mudahan orang she Gui ini dapat mengalahkan dan memberi hajaran kepada Seng-koan Sam-kwi.
Berita tentang akan diadakannya pibu (adu kepandaian) itu tersiar cepat di seantero negeri, hingga terdengar juga oleh Tan Hong yang kebetulan lewat di kota itu. Pemuda ini tertarik juga dan ingin sekali menyaksikan pibu yang disertai taruhan dua ratus kantong gandum itu! Maka pada keesokan harinya, pagi-pagi sekali ia telah berada dalam arus orang yang berbondong-bondong menuju ke gedung panitia penolong korban banjir.
Di depan gedung itu telah didirikan sebuah panggung luitai yang cukup tinggi hingga terlihat oleh semua orang yang berdiri di sekelilingnya. Para pengurus (panitia) yang telah terdiri dari hartawan-hartawan dan pembesar-pembesar setempat telah pula mendengar tentang pibu ini. Mereka menganggapnya lucu dan merekapun merasa marah kepada orang she Gui yang menolak untuk menyumbang, yakni menurut laporan Seng-koan Sam-kwi, maka mereka lalu datang menonton juga.
Tak lama kemudian, dari jurusan selatan, datanglah Gui San yang bertindak dengan langkah lebar dan dada terangkat. Melihat kedatangan orang muda yang tabah dan berani ini semua penonton menoleh dan memandangnya. Suara mereka terdengar seperti suara sarang lebah di obrak-abrik.
Ban Siauw lalu berdiri di atas panggung dan menyambut kedatangan Gui San dengan tertawa lebar dan berseru keras. “Gui-congsu yang gagah, silahkan naik ke panggung!”
“Baik!” jawab Gui San dengan gagah perkasa, lalu ia melompat ke atas panggung dengan gerakan Burung Walet
Menyambar Hujan. Gerakan ini kelihatan indah benar dan tubuhnya seperti melayang ke atas panggung. Para penonton yang tidak mengerti ilmu silat lalu bertepuk tangan riuh rendah menyambut demonstrasi ini.
Akan tetapi, melihat cara melompat Gui San ini, diam-diam Tan Hong merasa khawatir, karena ia maklum bahwa Gui San lebih banyak memiliki ketabahan daripada kepandaian. Juga Ban Siauw yang berkepandaian tinggi dapat mengukur kepandaian lawan dari caranya melompat itu, maka ia tersenyum sinis dan berkata sambil menjura memberi hormat, “Bagaimana, Gui-congsu. Apakah kau tetap bersedia menyumbangkan dua ratus gandum apabila kau kalah?”
Wajah Gui San memerah, karena merasa betapa ia dipandang rendah oleh lawan, seolah-olah ia telah memastikan bahwa ia pasti akan kalah!
“Aku telah datang dan kata-kata yang telah kuucapkan sebagai seorang laki-laki takkan kutarik lagi.”
“Ha, ha, ha! Sungguh kita beruntung sekali mendapat warga kota yang begini gagah!” kata Ban Siauw sambil memandang ke sekitar tempat pertandingan itu, seakan-akan kata-katanya ini merupakan suatu lelucon. Kemudian ia menghadapi Gui San kembali dan sikapnya tiba-tiba menjadi angkuh, lalu ia berkata lagi, “Orang she Gui! Kaudengarlah baik-baik! Kami Seng-koan Sam-eng tidak biasa dihina orang, juga kami tidak suka berlaku curang! Oleh karena itu, maka akan janggal dan tidak adil apabila aku sendiri atau twako (kakak ketua) maju menghadapimu, maka biarlah adikku Ban Hui yang termuda dan terbodoh di antara kami bertiga, maju melayanimu. Kalau ia kalah, berarti kami sendiri yang kalah, dan kalau dia menang, kau harus menepati janji, membayar kekalahanmu dengan dua ratus kantong gandum!”
“Seng-koan Sam-kwi! Sudahlah jangan banyak bicara seperti perempuan. Siapa yang hendak maju, aku tidak perduli, karena aku adalah seorang tamu yang diundang! Apa saja yang hendak dihidangkan oleh tuan rumah, akan kulayani dengan baik!”
Secara diam-diam Tan Hong merasa simpati kepada Gui San, sekalipun ia mudah marah, akan tetapi benar-benar pemberani yang jujur.
“Jiko, kau mundurlah! Tanganku sudah gatal-gatal!” kata Ban Hui tiba-tiba dengan angkuhnya dan segera naik ke atas panggung. Ban Siauw tertawa bangga, lalu mengundurkan diri.
“Nah, orang she Gui. Kemarin kita tidak mendapat kesempatan banyak. Sekarang kauperlihatkanlah kesombonganmu!” Sembari berkata demikian, Ban Hui melemparkan baju luarnya ke bawah panggung dan langsung menghadapi lawannya dengan dadanya yang bidang dan kuat dan lengannya yang besar bertolak pinggang.
“Baik, kau hati-hatilah!” kata Gui San yang lalu menyerang dengan kepalan kanannya. Ban Hui menangkis sambil mengerahkan tenaganya akan tetapi ketika lengan tangannya beradu dengan lengan tangan Gui San, ia mengetahui bahwa orang she Gui itupun memiliki tenaga besar. Mereka lalu bertempur dengan serunya, akan tetapi sebagaimana telah dapat diduga oleh Tan Hong, dan juga dapat diduga oleh Ban Siauw ketika melihat gerak lompatan Gui San tadi ke atas panggung ternyata bahwa pedagang muda itu masih kalah dalam hal kegesitan dan kepandaian ginkang. Sedangkan Ban Hui sebagai saudara termuda dari Seng-koan Sam-kwi yang terkenal, tentu saja memiliki kepandaian cukup tinggi hingga dalam saat yang pendek sekali ia dapat mendesak lawannya dengan pukulan bertubi-
tubi dengan gerakannya yang cepat. Gui San kini hanya dapat bersilat sambil mundur dan menangkis atau mengelak, hingga tidak sempat membalas!
Melihat kelemahan lawannya, sambil menyerang dan mendesak, Ban Hui mengeluarkan lagaknya yang memuakkan. Ia tertawa terbahak-bahak sambil mengejek lawannya. “Hai, orang she Gui! Mana kepandaianmu yang amat kau sombongkan itu? Sudahlah, kau menyerah saja dan cepat serahkan dua ratus karung gandum itu daripada kepalamu nanti kena kupukul sampai picak!”
Gui San menjadi marah sekali hingga gerakannya makin kalut. Ia terus terdesak mundur sehingga akhirnya ketika ia mengelak dari sebuah pukulan ke arah dadanya, kakinya menginjak tempat kosong di pinggir panggung! Pukulan Ban Hui masih tetap mengenai pundaknya dan akhirnya tubuhnya terbanting ke bawah panggung!
Para pengurus pertandingan itu bersorak-sorak dan tertawa geli melihat hal ini yang mereka anggap lucu juga, sebaliknya para penonton yang terdiri dari penduduk kota Sengkoan merasa kecewa sekali. Kendatipun demikian mereka tentu tidak berani memperlihatkan sikap menentang kepada Seng-koan Sam-kwi, maka merekapun lalu bertepuk tangan memuji.
Dengan lagak sombong Ban Hui lalu menjura memberi hormat kepada orang sekelilingnya dengan lagak sebagai seorang jagoan besar yang baru saja menang berkelahi. Kemudian ia mendapat sebuah pikiran yang terbit dari adat sombongnya.
“Cu-wi (tuan-tuan sekalian) yang terhormat! Dengan jatuhnya orang she Gui itu, bukan berarti satu keuntungan bagiku, akan tetapi panitialah yang untung karena mendapat tambahan sumbangan sebanyak dua ratus karung
gandum! Kami bertiga Seng-koan Sameng selalu berusaha untuk mengumpulkan barang sumbangan sebanyak mungkin, demi kepentingan para korban banjir yang menderita sengsara! Maka, pertunjukkan kali ini anggaplah sebagai hiburan dan apabila di antara saudara-saudara sekalian ada yang berminat hendak naik di atas panggung ini, kami silahkan! Akan tetapi syaratnya harus bertaruh, demi kepentingan panitia yang berusaha membantu para korban berdasarkan perikemanisiaan yang luhur!”
Mendengar kata-kata ini, panitia pertandingan bertepuk tangan menyatakan kegembiraannya. Penonton saling pandang dan saling berbisik. Tapi siapakah orangnya yang berani naik ke panggung untuk main-main dengan Tiga Setan dari Seng-koan itu?
Karena Ban Siauw mendapat firasat yang kurang baik, maka ia lalu naik ke panggung menggantikan adiknya. “Saudara-saudara sekalian, mungkin kata-kata adikku tadi kurang tepat dan juga kurang adil. Karena siapakah yang berani melawan dia yang tinggi besar itu? Bahkan Gui-congsu sendiripun tidak bisa melawannya! Aku mempunyai usul lain yang lebih bagus dan menarik. Lihat tubuhku yang kecil pendek ini. Nah, sekarang siapa saja yang berani naik ke panggung ini, diperbolehkan memukul aku dengan tangan kosong. Sekali pukul harus membayar sepuluh karung gandum! Ayoh, siapa mau ikut serta?”
Di antara penonton banyak yang mendongkol melihat kesombongan ini, akan tetapi biarpun ada yang ingin memukul juga, siapa orangnya yang berani mencoba-coba? Kalau yang dipukul tidak apa-apa, pemukulnya akan mendapat malu dan mengeluarkan sepuluh karung gandum tiap pukulan. Sedangkan andaikata pemukulnya dapat melukai dan membinasakan Ban Siauw, apakah hal ini
tidak akan menimbulkan permusuhan hebat? Dan siapakah gerangan yang berani bermusuhan dengan mereka?
Semua orang dapat menduga bahwa tak seorangpun yang akan berani menantangnya. Tetapi tanpa dinyana tiba-tiba seorang dari penonton yang berdiri didepan, terdengar berteriak, “Aku hendak mencoba!”
Semua orang memandang dan mereka melihat seorang pemuda berpakaian serba hitam menaiki panggung. Ia tidak melompat sebagaimana biasanya seorang ahli silat menaiki panggung, akan tetapi mengambil jalan memutar dan menaiki panggung melalui anak tangga yang dipasang untuk para hartawan. Dengan demikian, pemuda itu menuju ke panggung sambil melewati tempat duduk para hartawan dan pembesar. Sikapnya sopan sekali, tampak ketika ia lewat di dekat para hartawan itu, ia menundukkan kepala memberi hormat ke kanan dan ke kiri dengan tubuh setengah membungkuk.
Pemuda itu adalah Tan Hong dan munculnya secara mendadak itu menimbulkan bermacam-macam tafsiran. Tak seorangpun yang berada di situ yang pernah melihat pemuda ini. Wajah Tan Hong yang kurus dan pakaiannya yang usang penuh tambalan itu tidak mendatangkan kesan yang mengagumkan, maka semua penonton hanya tertawa geli dan menganggap bahwa pemuda itu tentullah seorang pemuda terlantar yang telah berubah ingatannya karena menderita kelaparan!
Juga Ban Siauw merasa kurang senang melihat bahwa yang naik itu adalah seorang yang lebih tepat disebut jembel. “He, anak muda! Kau naik ke sini mau mengapa?” tanyanya dengan sombong sambil menahan amarahnya.
“Apalagi kalau bukan hendak memenuhi usulmu tadi!”
Ban Siauw tertawa keras dan mengejek, “Jembel muda! Kau sendiri agaknya telah tiga hari tiga malam belum makan. Apakah orang seperti kau ini pula kelak dapat memberikan sumbangan sepuluh karung gandum sebagai taruhan, andaikata kau kalah?”
Semua orang tertawa mendengar kata-kata ini, lebih-lebih lagi di antara para hartawan yang bertubuh gemuk tertawa terbahak-bahak sambil memegangi perutnya yang gendut menahan tertawanya. Akan tetapi serta merta wajahnya menjadi pucat dan tertawanya lenyap berganti dengan kebingungan ketika ia merasa bahwa kantong uang emas yang tadi digantung di bawah bajunya telah lenyap! Ia meraba-raba di sekeliling tubuhnya, akan tetapi benar-benar kantong uangnya telah tak ada! Tak seorangpun melihat kebingungannya ini dan iapun tidak berani membuat ribut, karena merasa malu dan ragu-ragu karena kalau-kalau kantong uangnya itu ketinggalan di rumah. Maka ia lalu menonton lagi, akan tetapi kini tak sanggup tertawa seperti tadi, karena kegembiraannya telah ikut lenyap bersama dengan lenyapnya kantong berharga itu!
Sekalipun ia telah dihina dengan perkataan yang tak wajar oleh Ban Siauw di muka penonton banyak itu, namun Tan Hong tetap tersenyum dan dengan tenang ia mengeluarkan kantongnya yang berwarna kuning dari balik bajunya. Kantongnya itu kini telah berisi barangbarang yang berat dan ketika ia membuka tutupnya dan menumpahkan isinya ke atas panggung, Ban Siauw melongo. Ternyata isi kantong itu adalah uang emas dan perak yang banyak sekali jumlahnya!
“Kawan pendek! Aku tidak punya beras, akan tetapi agaknya uangku ini sudah cukup untuk membeli gandum sebanyak ribuan karung!”
“Boleh, boleh, dibayar uang juga boleh!” kata Ban Siauw. Sementara itu, tidak hartawan gemuk itu saja yang kelihatan bingung, akan tetapi empat orang hartawan lainnya lebih bingung lagi, karena kehilangan uang bekalnya yang banyak jumlahnya itu yang telah dicuri orang dari kantong baju mereka! Kini melihat betapa pemuda jembel itu membawa uang demikian banyaknya, mereka sangat curiga, akan tetapi apakah buktinya untuk memperkuat kecurigaan mereka?
Tan Hong tersenyum. “Sabar, kawan! Segala taruhan harus jangan berat sebelah! Dengarlah, kalau kau dan dua orang saudaramu yang terkenal dengan sebutan Tiga Setan dari Seng-koan itu dapat merobohkanku di atas panggung ini, seperti yang telah dilakukan oleh adikmu terhadap orang gagah she Gui tadi, kau boleh ambil semua uangku ini!”
“Akan tetapi, bagaimana kalau kalian setan bertiga ini dapat kurobohkan? Apakah taruhanmu?”
Suara para penonton terdengar riuh rendah bagaikan lebah dibubarkan, mendengar tantangan pemuda aneh ini.
Ban Siauw tercengang, karena tak menyangka akan mendapat pertanyaan macam ini. Tapi ia sudah yakin pasti akan menang menghadapi pemuda jembel yang kurus ini, maka ia lalu tertawa terkekeh-kekeh. “Ha, ha, ha, memang kau ini orang aneh. Siapa menyangka kau mempunyai harta sebanyak ini? Tentu kau seorang begal! Akan tetap, tidak apalah! Uang ini dapat kami gunakan nanti untuk menolong korban banjir! Sekarang kau sebutkan sendiri, anak muda! Jika kau dapat mengalahkan kami, apakah yang kau hendaki?”
“Berapa banyak gandum yang dimiliki oleh panitia ini?” tanya Tan Hong.
Ban Siauw memikir-mikir sebentar, lalu berkata, “Ada dua ribu karung lebih.”
“Nah, demikian saja, kawan pendek. Kalau kau dengan kedua orang saudaramu dapat kurobohkan, kalian harus memberikan gandum itu semuanya kepadaku.”
“Apa?” Ban Siauw terkejut dan heran. “Untuk apa dua ribu karung gandum itu bagimu?”
“Tak perlu kauketahui! Pokoknya begini, uang ini jumlahnya menurut perkiraanku cukup untuk membeli semua gandum itu, maka sudah adil apabila aku minta kau pertaruhkan semua gandum itu. Dan apabila aku menang, tidak saja gandum itu harus diberikan kepadaku, akan tetapi kau harus menyediakan kereta dan tenaga untuk mengangkut gandumgandum itu ke dusun-dusun yang menderita akibat banjir itu dan di bawah pengawasanku membagi-bagikan semua bahan makanan itu kepada penduduk dengan adil!”
Mendengar ini tidak saja Ban Siauw dengan kedua orang saudaranya yang masih berada di atas panggung itu saja yang memandang dengan mata terbelalak, tetapi semua penonton demikian pula.
“Orang ajaib! Apakah kau tidak main-main? Apakah kau gila? Memang semua gandum itu akan disumbangkan kepada para korban banjir!” kata Ban Kok, saudara tertua dari Seng-koan Sam-eng.
Tan Hong mengeluarkan ejekan dari hidungnya. “Hah! Apakah kaukira aku tidak tahu kwalitet orang-orang yang kau sebut panitia penolong ini? Sudahlah, tak perlu aku membongkar rahasia busuk yang kalian jalankan, pendeknya, kau sanggup atau tidak menerima tantangan dan syarat-syaratku?”
“Bolehlah! Sebagai manusia sombong kau memang harus diberi pelajaran!” kata Ban Hui dari tadi menahan rasa gemasnya. Kemudian ia berkata kepada kedua saudaranya. “Biarlah aku menghajar jembel muda yang kurang ajar ini. Twako, simpanlah dulu uangnya itu agar nanti ia tidak lari pergi!”
Akan tetapi Tang Hong cepat mengambil semua uangnya dan dimasukkannya ke dalam kantongnya kembali dan berkata, “Sabar dulu kawan. Aku belum kalah! Dan uang ini belum menjadi hakmu!” Ia lalu membawa kantong kuning itu ke pinggir panggung dan menggantungkan kantongnya pada sebuah tiang. Kemudian ia berkata kepada semua penonton, “Saudara-saudara sekalian menjadi saksi. Kalau aku kalah, aku takkan banyak bicara lagi. Uang ini akan kuberikan kepada pengurus-pengurus curang ini. Akan tetapi, kalau aku menang, uang inipun akan kubagi-bagikan kepada para korban banjir!”
Para penonton bersorak-sorai dengan riuhnya. Mereka memuji dan kagum kepada pemuda yang aneh ini.
Tiba-tiba Gui San lalu menghampiri panggung, lalu berkata dengan kerasnya, “Bagus, kalau kau menang, akupun akan menyumbangkan lima ratus karung gandum yang terbaik!”
“Akupun menyumbang dua ratus karung!” kata salah seorang penonton yakni seorang hartawan yang telah tahu akan kecurangan panitia tersebut, tetapi tidak berani berkata apa-apa karena takut menghadapi Seng-koan Sam-eng yang selalu mendapat perlindungan para pembesar dari segala macam kecurangan yang pernah mereka perbuat.
“Akupun dua ratus karung!”
“Dan aku seratus!”
Masih banyak terdengar suara orang berkumandang meyambut yang diikuti suara riuh dari penonton lainnya yang tak ikut menyumban, tapi ikut merasa gembira.
“Ha, ha, ha! Jangan ribut dulu. Apakah kaukira jembel kurus ini akan dapat mengalahkan Seng-koan Sam-eng?” tiba-tiba terdengar salah seorang dari rombongan para pembesar dan hartawan itu berkata keras.
Kata-katanya ini terdengar oleh semua penonton dan mereka menjadi terdiam, karena mereka baru ingat bahwa pemuda itu akan berhadapan dengan tiga jago terkuat dari Sengkoan! Kini mereka merasa khawatir dan memandang ke arah Tan Hong dengan ragu-ragu.
Tan Hong berlaku tenang, lalu ia menghampiri Ban Hui yang berdiri bertolak pinggang dengan gagahnya. Kedua kakaknya sudah turun dari panggung untuk memberi kesempatan kepadanya untuk menghadapi pemuda jembel itu.
“Kaukah yang hendak melawanku?” tanya Tan Hong.
“Ya, bersiaplah untuk menerima pukulanlu yang akan membuat kau berguling-guling ke bawah panggung!” kata Ban Hui sambil memasang kuda-kuda.
“Majulah, dan lebih baik kauajak kedua kakakmu maju bersama, karena kalau kau maju sendiri, dalam lima jurus kau pasti akan terlempar ke luar panggung!”
Semua penonton menjadi heran dan menganggap pemuda itu berlaku berani dan sombong. Mendengar ini Ban Hui menjadi marah tiada terhingga.
“Bangsat sombong! Untuk kesombonganmu ini, aku takkan membuat kau menggelinding ke bawah panggung, tetapi aku akan membuat kauroboh untuk selamanya!” serunya dan ia lalu menyerang dengan hebat.
Tan Hong cepat mengelak dengan gerakan lemas sambil menghitung, “Jurus ke satu!” Penonton mulai bersorak dan Ban Hui segera mengirim serangan kedua.
“Jurus ke dua!” kata Tan Hong sambil melompat ke pinggir, hingga kembali serangan Ban Hui mengenai tempat kosong.
Melihat gerakan Tan Hong yang sangat cepat itu, hingga tak terlihat olehnya, Ban Hui mulai terkejut dan ia tak berani memandang ringan lagi. Ia lalu menyerang lagi dan kini sekali
serang kedua tangannya bergerak maju, karena ia telah menggunakan gerak tipu Siluman Membawa Mustika Biru. Akan tetapi, Tan Hong menganggap serangan ini sebagai permainan anak-anak saja. Dengan kedua tangannya ia menangkis serangan kedua kepalan lawannya itu sambil menghitung “jurus ke tiga!”
Ban Hui terkejut bukan main karena ketika tangannya beradu dengan tangan pemuda itu, ia merasa terdorong sangat kerasnya hingga hampir saja jatuh ke bawah panggung. Untung di dalam terhuyung-huyung ia dapat menangkap tiang, menyebabkan ia tidak sampai jatuh ke bawah!
“Eh, hati-hati! Baru tiga jurus! Jangan tergesa-gesa turun ke bawah!” kata Tan Hong. Dengan perasaan kagum, semua penonton bertepuk tangan dan bersorak-sorak.
Tak terkatakan marahnya Ban Hui mendengar ejekan ini. Mukanya menjadi merah, matanya menyinarkan pandangan mengandung ancaman maut dan giginya digertakkannya sedangkan hidungnya kembang-kempis. Ia lalu berseru keras dan menubruk maju dalam serangan maut. Dengan sepenuh tenaga ia menggunakan tangan kanannya memukul kepala Tan Hong dari atas dan tangan
kirinya menyodok ke arah lambung pemuda itu! Baik serangan tangan kanan, maupun sodokan tangan kiri ini kalau mengenai sasaran, pasti akan mendatangkan maut! Sambil menghitung “jurus ke empat!” Tan Hong memiringkan kepala mengelak dari pukulan tangan kanan lawan, sedangkan sodokan tangan kiri Ban Hui tidak ditangkis atau dielakkannya, tapi secepat kilat ditangkapnya tangan itu lalu ditariknya ke belakang! Tanpa ampun lagi, tubuh Ban Hui terdorong ke belakang dan roboh telungkup mencium lantai panggung!
“Nah, nah ... dalam jurus ini kau mencium lantai panggung, tapi dalam jurus ke lima kau akan mencium tanah di bawah panggung!” Tan Hong mengejek lagi sedangkan para penonton karena girangnya tertawa geli dan bertepuk tangan dengan riuhnya!
Pada saat itu, Ban Kok dan Ban Siauw yang melihat betapa adik mereka dipermainkan lawannya, lalu melompat ke atas panggung dengan sikap mengancam.
“Aah, dua iblis tua ini sungguh cerdik! Rupanya kau tahu bahwa adikmu akan benar-benar terlempar ke luar panggung!” kata Tan Hong sambil bergurau, tapi ia tetap waspada.
“Bangsat hina dina! Bersedialah untuk mampus!” teriak Ban Siauw dengan geramnya dan ia segera maju menyerang bersama dengan kakaknya. Sedangkan Ban Hui juga melompat bangun dan ikut menyerang.
“Ah, ha, bagus! Tiga iblis sekarang kemasukan setan dan mengamuk. Bagus!” Tan Hong mempergunakan kegesitannya yang luar biasa dan tubuhnya seakan-akan dapat menyusup di antara sekian banyak kepalan dan tendangan yang dilancarkan dengan hebat dan bertubi-tubi ke arahnya.
Semua penonton kini tidak berani bersorak lagi karena mereka merasa sangat khawatir sekali melihat keadaan Tan Hong. Siapa orangnya yang dapat bertahan menghadapi keroyokan ketiga iblis itu? Mereka menonton pertempuran itu sambil menahan napas.
Tan Hong yang sedari tadi merasa sangat benci dan gemas kepada Seng-koan Samkwi ini lalu memperlihatkan kepandaiannya. Ketika tubuhnya melayang berputar-putar melakukan serangan pembalasan dengan gerak tipu terhebat dari ilmu silat Ngo-heng Lianhwat, maka terdengar pekik kesakitan. Ternyata Ban Hui serta Ban Siauw kena terdorong roboh! Masih untung bagi kedua orang itu, karena Tan Hong tak bermaksud mencelakakan mereka, maka serangan yang seharusnya dilakukan dengan kepalan kedua tangannya itu dirobah menjadi dorongan dengan tangan terbuka, hingga kedua orang itu walaupun berguling-guling di atas panggung, namun tidak menderita luka-luka, hanya kepala mereka saja bengkak-bengkak karena beradu dengan papan yang keras!
Kini riuh rendahlah sambutan penonton! Ketiga saudara Ban itu bertambah marah dan bersamaan dengan itu mereka mencabut pedang mereka.
“Bangsat rendah! Kalau hari ini kami tidak dapat membunuh kau, jangan panggil kami Seng-koan Sam-eng lagi!” teriak Ban Kok.
“Baik! Mulai hari ini kalian akan kusebut Seng-koan Sam-ti (Tiga Babi dari Sengkoan).” Tentu saja hinaan ini menimbulkan suara tertawaan dari penonton. Mendengar hinaan ini ketiga saudara Ban itu makin bertambah marah. Pedang mereka bergerak seperti kilat menyambar ke arah tubuh Tan Hong. Dalam kemarahannya itu, ketiga orang ini lupa akan kesopanan berpibu. Seharusnya mereka tidak boleh menyerang lawan yang belum mengeluarkan senjata,
akan tetapi oleh karena mereka sedang marah dan juga oleh karena mereka maklum bahwa Tan Hong adalah seorang lawan yang tangguh, maka mereka sengaja mendahuluinya tanpa mengenal malu!
Melihat kenekatan mereka ini, timbul marah dalam hati Tan Hong. “Baik, kalian mencari celaka sendiri!”
Tiba-tiba terlihat sinar berkilauan ketika pemuda itu tahu-tahu telah memegang sebatang pedang berwarna putih seluruhnya dan sekali putar saja pedangnya, maka ketiga senjata musuhnya dapat ditangkis semua.
“Kau ... kau Gin-kiam Gi-to?” ujar Ban Kok setelah ia melihat pedang ini.
“Matamu awas juga, orang she Ban!” jawab Tan Hong sambil memutar pedangnya balas menyerang. Mendengar nama ini ketiga Seng-koan Sam-eng tiba-tiba menjadi sangat gentar, maka permainan pedang mereka menjadi kacau-balau. Apalagi ketika Tan Hong mengubah gerakan pedangnya yang semula hanya mempertahankan diri saja, kini menjadi ganas menyerang dengan tipu-tipu berbahaya, ketiga pengeroyok itu menjadi terdesak dan terkurung oleh sinar pedang Tan Hong.
Pada saat yang tepat, Tan Hong berseru keras, “Lepaskan pedangmu!” Dan terdengar jerit kesakitan dari ketiga orang pengeroyok ini, disusul dengan terlepasnya pedang mereka dari tangan masing-masing. Lengan kanan mereka telah terluka oleh guratan pedang yang memanjang dari siku sampai ke tangan. Luka ini biarpun tidak berbahaya, namun karena telah mengiris kulit, darah keluar banyak juga.
“Seng-koan Sam-eng, biarlah ini menjadi pelajaran bagi kalian bertiga! Lain kali kalau kau bertiga masih menggunakan kepandaian untuk melakukan pemerasan dan
korupsi berkedok sebagai panitia, akan kutujukan pedangku ini ke arah lehermu!” Setelah memberi peringatan ini kepada ketiga jagoan yang kini telah mati kutunya itu, Tan Hong lalu menghadapi para hartawan yang duduk dengan mata terbelalak heran dan tercengang itu, ia lalu menujukan kata-katanya kepada semua penonton, “Cu-wi sekalian! Daerahmu ini sedang terserang bahaya banjir hingga timbul bahaya kelaparan di kalangan penduduk miskin. Sudah sepatutnyalah apabila saudarasaudara sekalian mengulurkan tangan membantu meringankan beban penderitaan mereka. Saudara sekalian harus sadar dan ingat sekalian gandum dan beras yang tiap hari memasuki perut kita dan membuat tetap tinggal hidup, adalah hasil jerih payah dan tetesan peluh para kaum tani yang justeru pada waktu ini menjadi korban banjir! Bayangkan saja, kita di sini makan enak sekenyang-kenyangnya dan gandum serta beras kita bertumpuk-tumpuk di gudang sampai membusuk, sedangkan mereka yang dulu menanam dan menghasilkan semua gandum dan beras itu, kini menderita kelaparan! Apakah ini adil? Memang kalian berhak atas segala bahan makanan itu yang telah kalian beli, akan tetapi ingatlah lagi, andaikata kaum tani itu semua mati kelaparan karena tak makan, hingga tak ada seorang jua yang akan mengerjakan sawah ladang, apakah yang harus kita lakukan kelak? Apakah saudara sekalian terutama para hartawan, bisa mengerjakan sawah ladang itu? Maka, pergunakanlah kesempatan ini untuk membalas jasa para petani. Ayoh, siapa yang hendak menyumbang lagi?”
Orang-orang menyambut ucapan ini dengan riuh gembira dan banyak lagi lainnya yang menyumbang dengan suka rela. Maka Tan Hong lalu mengumpulkan semua sumbangan itu, dan setelah semua dikumpulkan, maka jumlah gandum yang sudah terkumpul menjadi tiga ribu karung lebih! Semua bahan makanan dan uang yang ada
lalu diangkut dengan gerobak yang ada di kota itu dan yang sengaja dikerahkan untuk pengangkutan istimewa ini.
Maka berangkatlah gerobak-gerobak itu menuju ke daerah banjir, diikuti oleh Tan Hong dan orang-orang yang menaruh minat, yang kebanyakan terdiri dari mereka yang telah menyumbang. Juga Seng-koan Sam-eng dengan lengan terbalut ikut pula mengantar.
Para korban banjir yang tinggal berkelompok-kelompok dalam gubuk-gubuk kecil di pinggir sawah, menerima kedatangan para penolong ini dengan sangat girangnya. Gandum lalu dibagi rata dan semua penderita banjir menerima sumbangan gandum dan uang. Orangorang menjadi terharu ketika melihat betapa wajah para korban banjir itu menerima sumbangan ini dengan air mata berlinang, karena bahan makanan yang mereka terima hari ini benar-benar merupakan penyambung nyawa keluarga mereka, dan mereka menjadi sangat heran, karena sumbangan yang diberikan pada mereka yang menderita dengan suka rela, tanpa minta syarat seperti yang biasa berlaku dari si kaya pada mereka! Akhirnya para korban banjir mengetahui ketika mendengar bahwa semua ini adalah berkat sepak terjang Gin-kiam Gi-to. Kemudian bersama-sama mereka lalu maju berlutut di depan Tan Hong!
Akan tetapi Tan Hong tidak mau menerima kehormatan ini, bahkan ia lalu berkata, “Saudara-saudara sekalian! Jangan berterima kasih kepadaku, karena aku tidak memberi apa-apa kepada kalian. Berterima kasihlah kepada para dermawan dari Seng-koan, dan juga kepada Seng-koan Sam-eng, karena semenjak hari ini ketiga orang ini akan benar-benar menolong saudara sekalian dengan jujur dan adil!”
Mendengar ucapan pemuda yang tahu membawa diri ini, semua orang dari Seng-koan menjadi terharu, bahkan Seng-koan Sam-eng sendiri merasa seakan-akan muka mereka mendapat tamparan hebat dan mereka lalu insyaf akan kekeliruan mereka yang sudah-sudah. Mereka telah menyombongkan diri sebagai jagoan-jagoan yang tak terkalahkan, sama sekali tidak ingat bahwa di dunia ini tidak ada orang yang terpandai dan segala kepandaian pasti ada yang melebihi. Maka diam-diam mereka berjanji dalam hati hendak merobah tabiat mereka.
Pembagian gandum dan uang itu berlangsung sehari penuh, karena daerah yang dilanda banjir itu banyak jumlahnya. Setelah semua tempat dikelilingi dan gandum serta uang telah habis dibagikan sama sekali, Tan Hong lalu berkata kepada semua orang, “Saudara sekalian. Sekarang, setelah kalian melihat sendiri cara pembagian yang adil, jujur dan tanpa syarat, saya percaya bahwa lain kali Panitia Penolong Korban Banjir akan dapat bekerja lebih aktif dan jujur. Apabila terdapat kecurangan-kecurangan, aku akan kembali dan akan memberi pelajaran kepada mereka yang bersalah itu! Akan tetapi aku percaya penuh kepada Seng-koan Sam-eng yang tentu akan menjaga jangan sampai terjadi kembali hal demikian, bukan?”
“Kami akan menjaga, taihiap!” kata Ban Kok dengan terharu.
Setelah itu, Tan Hong lalu meninggalkan Seng-koan, diikuti oleh pandangan mata kagum dari seluruh penduduk.
***
Ketika Tan Hong yang melanjutkan perjalanannya memasuki sebuah rimba belantara, ia berjalan perlahan sambil termenung. Bayangan nona Lo Siok Lan yang selama ini tak pernah meninggalkan bayangan matanya,
kini sangat mempengaruhi otaknya, setelah ia merasa kesunyian seorang diri di dalam hutan yang luas itu. Bahkan kini perasaannya seolah-olah ia melihat wajah Siok Lan yang sebenarnya muncul di mana-mana, di tempat-tempat mana yang dilaluinya. Tiba-tiba saja wajah yang jelita dan gagah itu terbayang di sela-sela daun-daun hijau dan di antara kembang-kembang merah.
“Ah, aku sudah menjadi gila!” Tan Hong mengoceh pada dirinya di bawah sebatang pohon untuk beristirahat. Akan tetapi, makin celaka, setelah ia berhenti dan duduk, bayangan Siok Lan makin jelas kelihatan dan makin bertambah hebat menggoda pikirannya! Ia lalu melompat bangun dari duduknya dan melanjutkan perjalanannya.
Tiba-tiba kedua matanya terbelalak, hatinya berdebar kegirangan dan penuh harapan ketika ia menujukan pandangan matanya ke arah gerombolan pohon. Di situ muncul tubuh seorang wanita dengan pedang di tangan. Sesaat lamanya, wajah wanita itu dalam pandangan Tan Hong kelihatan seperti wajah Siok Lan itu berubah menjadi wajah seorang wanita berusia tiga puluh tahun lebih yang sedang berduka, pada wajahnya yang muram itu dapat diterka bahwa ia dalam kesusahan.
Akan tetapi, ketika wanita itu melihat Tan Hong, wajahnya berubah menjadi bengis dan sekali melompat saja ia telah berada di depan Tan Hong terus membentak, “Sobat, berhenti dulu!”
Tan Hong jadi terperanjat dan melihat gerakan wanita ini, menunjukkan bahwa ia memiliki kepandaian yang cukup baik. Ia memandang wanita itu dengan rasa kagum dan lalu bertanya, “Apakah perlunya Toanio menahan perjalananku?”
Wanita itu memandang ke arah pakaian Tan Hong dan ketika melihat bahwa Tan Hong tidak berbekal bungkusan pakaian atau barang lain, jelas nampak perubahan pada mukanya yang menjadikan ia kecewa. Kemudian setelah ia melihat gagang pedang dari perak yang tersembul keluar di belakang punggung Tan Hong, maka ia lalu berkata, “Anak muda, kalau kau ingin melanjutkan perjalananmu denga selamat, serahkanlah pedangmu itu kepadaku!”
“Eh, mengapa begitu? Pedang ini adalah senjata untuk melindungi diriku apabila aku diserang oleh binatang buas di dalam hutan. Kalau pedang ini kau minta, dengan apakah aku dapat melindungi diri lagi?”
Mendengar jawaban ini, wanita itu memandang Tan Hong dengan tajam. “Kalau kau perlu memakai senjata juga, pakailah pedangku ini, dan sebagai gantinya pedangmu itu harus kauberikan kepadaku, mengerti!”
Tan Hong memandang pedang wanita itu, ternyata pedang itu adalah pedang yang telah berkarat dan buruk sekali, agaknya seringkali digunakan untuk membelah kayu! Tanpa disadarinya Tan Hong tertawa geli.
“Eh, eh, Toanio kau ini sedang main-main atau benar-benar hendak merampok?”
“Jangan banyak bicara!” hardiknya. “Kauserahkan pedang itu atau tidak!” Sambil berkata demikian, wanita itu mengancam dengan ujung pedangnya yang telah tumpul itu!
“Bagaimanakah kiranya, jika aku tak mau memberikannya?”
“Akan kupaksa!” kata wanita, lalu maju menyerang dengan pedang tumpulnya. Akan tetapi serangan ini membuat Tan Hong hampir berseru terkejut karena pedang
yang telah tumpul ini dengan tepat sekali menyerang ke arah jalan darahnya! Ah, tak disangkanya bahwa wanita ini adalah ahli tiam-hwat (ilmu menotok jalan darah) maka, ia segera mengelak dengan cepat. Serangan kedua dan ketiga menyusul cepat dan semua serangan tertuju ke arah jalan darah yang berbahaya.
“Hebat benar!” Tan Hong memuji dan iapun segera mencabut pedangnya untuk mempertahankan diri karena ternyata wanita ini betul-betul tangguh. Segera mereka bertempur dengan seru. Tan Hong bersilat dengan hati-hati dan penuh cermat. Ia kagum juga melihat ilmu pedang wanita ini benar-benar hebat, lebih tinggi daripada ilmu kepandaian Seng-koan Sam-eng! Maka ia melawan dengan hati-hati dan waspada. Ia masih belum dapat menduga mengapa wanita ini ingin sekali memiliki pedangnya. Sebaliknya, ketika ia melihat bahwa pemuda ini bukan makanan empuk, wanita ini kelihatannya sangat kesal dan menyerang kembali dengan nekad. Seakan-akan ia seorang yang telah terlanjur berbuat suatu kesalahan yang tak mungkin dapat dimaafkan lagi!
Melihat kenekatan wanita ini, Tan Hong lalu memperlihatkan kepandaiannya, berkelahi dengan menggunakan ilmu pedang Ngo-heng Lian-hoan Kiam-hwat yang memiliki gerakan luar biasa. Sebentar saja wanita ini sudah sangat terdesak oleh serangan Tan Hong yang bertubi-tubi itu, hingga akhirnya pedang tumpulnya itu terlempar jauh lepas dari genggamannya. Baiknya tubuh wanita ini tidak cedera atau luka oleh pedang Tan Hong.
Anehnya, setelah menderita kekalahan, wanita itu tiba-tiba menjatuhkan diri duduk di atas tanah sambil menangis tersedu-sedu.
Tan Hong mengerutkan alisnya dan menyimpan pedangnya. “Toanio, kau sangat aneh. Kepandaian dan
kiam-hoat (ilmu pedang) mu cukup tinggi, akan tetapi mengapa kau ingin merampas pedangku? Apakah kau suka kepada pedangku ini?”
Mendengar suara Tan Hong yang sopan dan lemah lembut, wanita ini mengangkat mukanya lalu memandang, “Eng-hiong, aku ... aku tadi memang sengaja hendak merampas pedangmu. “
“Mengapa demikian?”
Wanita itu menggelengkan kepalanya. “Bukan karena aku suka pedang orang lain, tetapi aku tertarik karena yang kau miliki pedang yang berharga yang mana gagangnya terbuat daripada perak!”
Tan Hong tercengang dan ia memandang penuh perhatian. Ternyata pakaian wanita itu compang-camping dan penuh tambalan, menandakan bahwa ia seorang miskin, sedangkan wajahnya yang kurus pucat menandakan pula bahwa wanita ini tentu terkena penyakit kelaparan! Tiba-tiba, Tan Hong merasa terharu.
“Toanio ... kau hanya ingin mendapat sedikit perak ini? Sampai demikian besar minat kau untuk memiliki perak?” pertanyaan ini dikeluarkan dengan perlahan dan ragu-ragu.
Wajah wanita itu memerah karena malu. “Bukan untukku sendiri taihiap, sungguh mati, bukan untukku sendiri, tapi untuk anak-anakku!”
Tan Hong makin tertarik dan kasihan. Melihat pandangan pemuda itu, wanita tadi lalu menuturkan keadaannya dengan suara pilu, “Aku adalah seorang janda she Yo dan ditinggal mati suamiku dengan tiga orang anak masih kecil-kecil. Rumah dan sawah kami habis dilanda air bah. Tidak ada orang yang suka menolong kami, karena mereka yang merasa kasihan kepada kami itu adalah para
pengungsi yang senasib dengan kami, sedangkan untuk mengisi perut mereka sendiripun mereka tak mampu. Sebaliknya para kaum mampu, hanya mau menolong kami dengan syarat-syarat kejinya!”
Tan Hong mengangguk-angguk mengerti.
“Apakah yang bisa dilakukan oleh seorang janda seperti aku? Justeru karena anakanakku menderita kelaparan dan aku tidak bisa mencarikan makannya dengan cara yang wajar, maka terpaksalah aku mencoba merampok. Akan tetapi dasar nasibku malang dan nasib anak-anakku yang harus mati kelaparan, karena pertama-tama aku mencoba merampok, aku langsung berhadapan dengan kau, dengan orang yang jauh lebih tinggi ilmu silatnya dariku dan yang memiliki pedang perak ajaib, dengan gampang mengalahkanku! Taihiap, bunuh sajalah aku agar tamat riwayatku yang penuh derita ini. Aku tidak sanggup pulang ke rumah dengan tangan kosong dan melihat anak-anakku mati kelaparan!” Nyonya janda Yo itu lalu menangis terisak-isak.
Tan Hong menghela napas dalam-dalam. Lagi-lagi seorang korban bencana banjir! Tiba-tiba ia mendapat sebuah pikiran baik. Nyonya ini memiliki kepandaian yang cukup tinggi, apa sukarnya mencarikan pekerjaan untuknya?
“Toanio, jangan kau bersedih. Selama nyawa masih dikandung badan, tak boleh sekali-kali kita berputus asa. Aku mempunyai kenalan baik di kota Seng-koan, marilah kau dan anak-anakmu kuantarkan ke sana agar kau dapat tertolong.”
-oo0dw0oo-
Jilid 03
Nyonya Yo hendak berlutut menghaturkan terima kasih, akan tetapi Tan Hong segera mencegahnya. Kemudian ia lalu ikut nyonya Yo mengambil ketiga orang anaknya yang kecilkecil dan kurus kering itu, lalu diantarkannya nyonya itu ke Seng-koan. Di kota ini Tan Hong menyerahkan nyonya Yo bersama ketiga orang anaknya kepada Panitia yang dipimpin oleh Seng-koan Sam-eng, dan setelah menuturkan keadaan nyonya janda itu serta menyatakan bahwa kepandaian silat nyonya ini cukup tinggi, akhirnya nyonya Yo diperbantukan kepada Panitia itu dan mendapat jaminan hidup yang lumayan.
Seselesainya pemuda yang menolong jiwanya dan ketiga orang anaknya menyerahkan kepada panitia korban banjir itu di Seng-koan ia segera berlalu meninggalkan kota itu untuk melanjutkan perjalanannya.
***
Tan Hong teringat akan janjinya kepada To Tek Hosiang, tokoh persilatan Houw-sanpai yang pernah dikalahkannya dulu dan yang menantangnya agar ia suka datang berpibu di kelentengnya, yakni kuil Kim-ci-tang di kota Wi-ciu. Kebetulan sekali hari itu adalah tepat pada hari perjanjiannya, maka ia lalu cepat-cepat menuju ke kota Wi-ciu.
Di dalam hati Tan Hong tidak suka sekali-kali mencari permusuhan dengan orangorang dari dunia kang-ouw, akan tetapi sebagai seorang ksatria, ia harus memegang teguh jamjinya. Ia maklum bahwa To Tek Hosiang masih belum mau mengalah, maka sebagai seorang pemuda yang menghargai orang tua, apalagi orang tua itu adalah seorang hwesio dan tokoh ternama di dunia persilatan, ia harus datang memenuhi janjinya. Ia dapat menduga pula bahwa
kali ini hwesio itu tentu berusaha hendak menebus kekalahannya yang dulu, akan tetapi Tan Hong tidak perduli. Pemuda yatim piatu yang hidup seorang diri di dunia ini memang tidak khawatir akan dirinya terhadap segala macam bahaya yang bakal menimpa dirinya.
Kelenteng Kim-ci-tang adalah sebuah kelenteng yang besar dan mempunyai ruangan yang amat luas. Kebetulan sekali ketika Tan Hong tiba di kuil tersebut, hari itu banyak sekali tamu-tamu memenuhi ruang depan kelenteng dan para hwesio penyambut para tamu sibuk menyediakan segala macam keperluan sembahyang. Kepenuhan kelenteng ini ada hubungannya dengan bencana banjir yang mengamuk di mana-mana hingga orang-orang pada datang minta berkah dan bersembahyang di kelenteng itu. Orang-orang hartawan bersembahyang untuk minta perlindungan bagi keselamatan sekeluarganya. Ada pula yang minta supaya sanak keluarganya yang tinggal di daerah banjir mendapat perlindungan, dan banyak pula yang lainnya hanya datang umtuk minta jodoh, minta peruntungan baik dan sebagainya. Memang, di manapun juga, selalu dunia ini penuh dengan kebutuhan dan permintaan manusia yang tak ada batasnya dan tak pula puas-puasnya!
Melihat banyaknya para tamu yang datang, Tan Hong menjadi ragu-ragu. Ia merasa kurang baik kalau mengganggu ketenteraman mereka itu dengan maksudnya mengadu kepandaian, karena hal ini akan mendatangkan sangkaan, bahwa ia sengaja datang hendak mangacaukan suasana yang aman tenteram itu. Apakah To Tek Hosiang sudah lupa akan janjinya? Diam-diam ia merasa girang juga, karena iapun tidak ada nafsu untuk bertempur memperbesar rasa permusuhan.
Tan Hong lalu mengikuti orang-orang yang bersembahyang dan agar jangan menimbulkan curiga pada
para hwesio penyambut tamu, iapun membeli hiosoa (dupa) dan bersembahyang pula, sungguhpun ia menyalakan hiosoa dan mengangkat-angkatnya itu hanya sekedar memberi hormat belaka.
Akan tetapi, setelah ia selesai bersembahyang dan keluar dari ruang sembahyang, tiba-tiba saja To Tek Hosiang telah berdiri di depannya dan berkata, “Ha, Gin-kiam Gi-to, ternyata kau benar-benar menepati janji!”
Tan Hong segera mengangkat tangannya sambil tersenyum, “Losuhu, apakah selama ini kau baik-baik saja? Kukira kau telah lupa akan janji kita.”
Berubah air muka To Tek Hosiang mendengar hal ini. “Tan-sicu (tuan she Tan yang gagah), seorang laki-laki, sekali mengeluarkan janji, selamanya takkan lupa. Sayang sekali hari ini tak kusangka-sangka tamu datang begini banyak, maka terpaksa pinceng tak dapat melayanimu. Kalau kau tidak berkeberatan, harap kau datang nanti malam dan pinceng tentu telah bersedia untuk menyambut dan melayanimu.”
Tan Hong tertawa. “Losuhu, benar-benarkah kau masih berhati muda dan masih suka berkelahi? Baiklah, aku hanya memenuhi keinginanmu saja.” Tiba-tiba pemuda ini tak mau berbicara lagi, karena ia melihat bahwa di situ ada beberapa orang yang memandang ke arah mereka dengan tajam. To Tek Hosiang lalu menjura memberi hormat kepada Tan Hong dan berkata, “Sahabatku yang baik. Pinceng menanti kedatanganmu nanti malam.” Setelah berkata demikian, To Tek Hosiang lalu mengundurkan diri ke ruang dalam, sedangkan Tan Hong-pun lalu menuju keluar. Tiba-tiba pemuda itu menyelinap di antara para pengunjung dan menyembunyikan dirinya di belakang tubuh orang-orang lain, karena pada saat itu ia melihat dua orang pengunjung yang membuat hatinya berdebar-debar.
Mereka ini tidak lain ialah Siok Lan dan ayahnya! Tan Hong merasa heran kepada dirinya sendiri, mengapa ketika ia melihat nona itu beserta ayahnya, hatinya secara mendadak menjadi berdebar-debar dan ia menjadi malu, hingga tak berani memperlihatkan mukanya! Ia berbuat begitu, karena ia sadar bahwa pakaiannya sangat buruk dan memalukan, maka secara diam-diam ia mengintai dan memandang ke arah Siok Lan dengan mata berseri dari jauh. Alangkah cantiknya gadis itu, hingga ia serasa melihat seorang bidadari yang baru saja turun dari kahyangan. Ketika ia mengetahui betapa banyak mata laki-laki lain, pengunjung kuil itu, juga tertuju kepada Siok Lan dengan kagumnya, timbullah rasa kurang senang di hatinya!
“Haaa, apakah aku sudah gila?” bisiknya dalam hati dan ketika ia melihat Siok Lan dan ayahnya masuk ke ruang sembahyang, ia lalu melangkah keluar. Akan tetapi, ketika ia hendak meninggalkan kelenteng itu, kakinya terasa amat berat. Sebetulnya hatinyalah yang terasa berat, berat untuk meninggalkan gadis itu. Kemudian diam-diam Tan Hong lalu bersembunyi di belakang sebatang pohon yang tumbuh di kelenteng itu, pura-pura beristirahat dan duduk menyandar pada sebatang pohon. Tetapi sebenarnya ia memperhatikan pintu kelenteng dengan penuh perhatian, melihat kalau-kalau Siok Lan dan ayahnya keluar dari situ.
Sejurus lamanya ia menanti dengan sabar, dan akhirnya ia melihat nona itu keluar dari pintu kelenteng sambil berbisik-bisik dengan ayahnya, entah apa yang sedang dibicarakannya. Mereka berdua keluar dari kelenteng dan terus berjalan menuju ke utara, Tan Hong diamdiam mengikuti mereka dari belakang untuk mengetahui ke mana kedua orang itu hendak pergi. Ternyata bahwa Siok Lan dan ayahnya tinggal di sebuah rumah penginapan yang tak jauh dari kelenteng itu. Tan Hong benar-benar seperti orang
yang tidak waras otaknya. Sehari itu, ia berdiri saja di satu tempat yang tak jauh dari rumah penginapan itu dan memandang ke arah hotel dengan penuh harap melihat gadis itu kalau-kalau keluar. Akan tetapi ia kecewa, karena Siok Lan dan ayahnya Lo Cin Ki si Garuda Sakti, sampai sore tidak muncul-muncul keluar dari hotel itu.
Tan Hong terpaksa meninggalkan tempat itu, karena ia harus pergi ke kelenteng Kimci-teng untuk memenuhi janjinya dengan To Tek Hosiang. Ia mengambil keputusan, apabila malam nanti urusannya dengan To Tek Hosiang telah beres, ia akan mengunjungi susioknya itu.
Hari telah mulai gelap dan ketika Tan Hong meninggalkan tempat itu hendak menuju ke kelenteng, tiba-tiba dari atas pohon di mana ia tadi berdiri terdengar suara laki-laki yang parau menegur, “Sahabat, berhenti dulu!”
Tan Hong terkejut dan bersiap sedia. Ia tidak menyangka sama sekali bahwa di atas pohon itu ada orang. Orang itu melompat turun dan ternyata yang melompat turun dari atas pohon itu adalah seorang laki-laki tinggi besar yang bermuka hitam. Biarpun tubuhnya tinggi besar dan gerakannya lamban, akan tetapi sepasang matanya membayangkan kecerdikan dan ketika ia melompat turun tadi, Tan Hong dapat menduga bahwa orang itu memiliki kepandaian tinggi.
Tan Hong berhenti dan menghadapi orang tinggi besar itu. “Sahabat, bukankah kau Gin-kiam Gi-to?” tegur si muka hitam itu.
Tan Hong tercengang mendengar pertanyaan ini, akan tetapi ia tidak mau menyangkal. “Bagaimana kau bisa tahu?” tanya Tan Hong.
Si muka hitam tertawa dan ketika ia tertawa, maka mukanya yang hitam itu nampak menarik dan gagah.
“Mudah saja. Kau mempunyai gerakan yang menyatakan bahwa kau pandai ilmu silat, sedangkan pedang yang berada di punggungmu itu bergagang perak. Pakaianmu juga serba hitam seperti biasanya pakaian seorang ya-heng-jin (orang pejalan malam). Siapa lagi selain seorang pencuri berilmu tinggi yang memiliki pedang perak yang bernama Gin-kiam Gi-to?”
Tan Hong merasa kagum juga akan kejituan orang ini, maka ia lalu berseru, “Ah, kau benar-benar orang luar biasa, kawan. Apakah kau ini seorang penyelidik atau penjaga keamanan?” pertanyaan ini diucapkannya dengan tenang, menandakan bahwa ia sama sekali tidak takut.
“Bukan! Aku hanya merasa heran sekali, mengapa Gin-kiam Gi-to yang namanya tersohor sebagai seorang gagah, ternyata kini diam-diam mengintai seorang gadis cantik seperti lakunya seorang bangsat rendah! Ayoh kau ikut aku pergi kepada gadis itu untuk minta maaf!”
Merahlah muka Tan Hong mendengar celaan ini. Ia harus datang kepada Siok Lan untuk minta maaf?
“Kau ngigau! Siapa sudi menuruti permintaanmu yang bukan-bukan itu?”
Si muka hitam tertawa lagi dan tiba-tiba ia mencabut pedangnya. “Jangan kau banyak tingkah! Orang lain boleh takut kepadamu, akan tetapi aku Hek-bin-mo (Setan Muka Hitam) Ong Kai tidak nanti takut kepadamu! Apakah kau harus ikut aku pergi menemui gadis itu atau pedangku akan bicara?”
“Sudahlah, aku tidak mempunyai banyak waktu untuk bertengkar dengan segala iblis muka hitam!” kata Tan Hong, lalu ia membalikkan tubuhnya dan lari cepat. Akan tetapi Ong Kai juga melompat dan berseru, “Baik, pedangku akan bicara. Awas serangan!” teriaknya dan ia
mengirim tusukan dengan pedangnya. Tan Hong berlaku waspada, dan iapun sudah mencabut gin-kiamnya dan segera menangkis. Terkejut juga ia ketika merasa betapa tenaga si muka hitam itu benar-benar kuat dan mengejutkan. Si muka hitam tertawa lagi dan terus menyerang dengan sengit. Ilmu pedangnya sungguh hebat, segalanya ini di luar dugaan Tan Hong. Diam-diam Tan Hong mengeluh, karena sebelum ia menghadapi To Tek Hosiang, ternyata sekarang bertemu dengan seorang lawan yang tangguh, kukwai (aneh), lihai dan mempunyai maksud yang bukanbukan! Terpaksa ia melayani dan mengerahkan tenaganya dengan maksud menjatuhkan pedang lawan. Akan tetapi, gerakan Ong Kai benar-benar di luar terkaannya dan untuk beberapa lama keduanya bertempur seru dalam keadaan seimbang.
Tiba-tiba dari jauh terdengar suara suitan nyaring yang terdengar jelas sampai ke tempat itu. Mendengar suara suitan yang tidak mempunyai arti apa-apa bagi Tan Hong ini, si muka hitam menghela napas dan berkata, “Sayang sekali! Baru saja enak-enak bertempur denga lawan yang menyenangkan, suhu telah memanggilku! Sudahlah, maling! Kali ini aku mengampunimu, akan tetapi lain kali kalau aku melihat kau mengintai gadis-gadis lain nanti, awas, aku takkan berhenti berusaha untuk dapat merobohkanmu!”
“Iblis Muka Hitam yang bodoh!” Tan Hong memaki gemas, akan tetapi si muka hitam sudah melompat jauh meninggalkannya. Tan Hong tidak mau mengejar, karena ia harus pergi ke tempat To Tek Hosiang. Diam-diam ia kagum juga melihat ketangkasan dan kehebatan si muka hitam itu, dan ingin sekali mengetahui siapakah suhunya yang tadi bersuit memberi tanda panggilan. Alangkah anehnya orang-orang di kalangan kang-ouw, dan alangkah
banyaknya orang-orang pandai di dunia ini! Peristiwa tadi memberi pelajaran lagi bagi Tan Hong, bahwa orang-orang yang berkepandaian tinggi sungguh banyak jumlahnya di dunia ini.
Ketika Tan Hong tiba di kuil Kim-ci-tang, hari telah mulai gelap, akan tetapi di ruang depan kuil itu nampak terang karena dipasangi lampu beberapa buah. Agaknya di situ ada tamu, karena di meja besar duduk empat orang hwesio bercakap-cakap. Ternyata bahwa To Tek Hosiang sedang menghadapi tiga orang hwesio lain yang gemuk-gemuk dan berpakaian mewah, ternyata jubah yang dipakai hwesio terbuat daripada sutera halus! Dari luar Tan Hong dapat melihat betapa sikap To Tek Hosiang hormat sekali terhadap ketiga orang tamunya yang nampaknyapun lemah-lembut dan sikapnya seperrti hwesio-hwesio yang berilmu tinggi dan sopan-santun.
Oleh karena ini, tan Hong tidak mau mengganggu dan berdiri di tempat gelap. Akan tetapi, To Tek Hosiang yang mempunyai pandangan dan pendengaran tajam, telah dapat melihatnya, maka hwesio ini lalu menghadap ke arah Tan Hong dan berkata, “Selamat datang, Tan-sicu. Silahkan masuk!”
Tan Hong lalu masuk dan menjura kepada To Tek Hosiang sambil berkata, “Maafkan apabila aku mengganggu, agaknya losuhu masih sibuk melayani tamu.”
“Tidak apa, tidak apa! Tamu-tamu ini adalah orang-orang segolongan dengan pinceng.” Kemudian To Tek Hosiang berkata kepada ketiga tamunya, “Mohon dimaafkan, karena pinceng terpaksa meninggalkan sam-wi sebentar untuk melayani pemuda ini menyelesaikan perhitungannya dengan pinceng, dan malam ini juga kami hendak main-main sedikit guna menambah pengertian dalam ilmu silat.”
Ketiga hwesio yang menjadi tamu itu sangat senang mendengar ini. “Kebetulan sekali, sudah lama pinceng tidak melihat pertunjukan silat. Silahkan, To Tek suhu, kami bertiga bahkan lebih senang melihat pertunjukan silat daripada pertunjukan lain.”
Setelah mendapat persetujuan ketiga orang tamunya To Tek Hosiang lalu menghadapi Tan Hong dan berkata, “Tan-sicu, marilah kita sekarang main-main sebentar untuk menentukan siapa yang lebih unggul. Harap kau berlaku murah kepada seorang hwesio tua!” katanya sambil tersenyum.
“Losuhu, aku yang muda minta pengajaran.”
To Tek Hosiang lalu mengambil toyanya yang telah disediakan di satu sudut, Tan Hong lalu mencabut pedangnya dan bersiap dengan waspada.
Sebelum mereka bertanding, seorang di antara ketiga tamu itu bertanya kepada To Tek Hosiang, “Siapakah sebenarnya anak muda yang gagah ini?”
To Tek Hosiang tertawa lalu memperkenalkan, “Inilah Gin-kiam Gi-to yang terkenal di mana-mana dan mempunyai ilmu pedang yang tinggi.”
Hwesio itu mengangguk-angguk dan dari mata ketiga orang tamu ini memancarlah cahaya berkilat yang ganjil dan bersinar-sinar akan tetapi Tan Hong tidak sempat memperhatikan karena pada saat itu To Tek Hosiang yang sudah siap dengan toyamya lalu berseru, “Tan-sicu, awaslah terhadap toyaku!” Hwesio itu lalu maju menggerakkan toyanya dalam sebuah serangan yang hebat. Mula-mula To Tek Hosiang menggunakan gerakan Ouwliong-cut-tong atau Naga Hitam Keluar Gua, yakni sebuah gerakan ilmu toya dari cabang Siauwlim, akan tetapi ketika Tan Hong dapat mengelak dengan cepat, ia lalu
memutar toyanya dan menyerang dengan menyapu ke arah paha pemuda itu dalam tipu Hing-sau chian-kun atau Menyerampang Bersih Ribuan Prajurit. Tan Hong memperlihatkan kelincahannya dan untuk menghindarkan diri dari serampangan yang hebat ini ia melompat ke atas dengan cepat dan ringannya. Ketika tubuhnya melayang turun, ia balas menyerang dengan tipu Chong-eng-kim-touw atau Garuda Menyambar Kelinci. To Tek Hosiang menangkis cepat, akan tetapi Tan Hong lalu merobah serangannya, menarik kembali pedangnya dan maju menyerang lagi dengan gerak tipu Pek-hong-koan-jit atau Bianglala Putih Menutup Matahari. Akan tetapi To Tek Hosiang juga dapat menangkis dengan tepatnya.
Demikianlah, kedua lawan ini mengeluarkan ilmu silat masing-masing dan berusaha mengalahkan lawan secepat mungkin. To Tek Hosiang yang maklum akan kehebatan Tan Hong, hendak mendahuluinya dan segera memutar toyanya dan memainkan ilmu silat toya asli dari partai silatnya yakni Houw-san-pai. Tan Hong tidak kurang waspada, maka iapun lalu mengeluarkan ilmu pedang warisan suhunya, yakni ilmu pedang dari Bok-san-pai. Makin lama mereka bertempur, makin hebatlah gerakan senjata mereka hingga yang kelihatan hanya sinar pedang yang berkilauan bagaikan seekor burung garuda menyambar, sedangkan toya To Tek Hosiang-pun mengamuk bagaikan seekor naga yang ganas.
Berkali-kali ketiga orang hwesio gemuk yang menjadi tamu itu memuji, “Bagus, bagus!”
Namun betapapun hebat To Tek Hosiang yang telah bersiap sedia dan setiap hari melatih ilmu toyanya khusus untuk digunakan menghadapi Tan Hong, namun pemuda itu masih menang setingkat. Perlahan-lahan ia mulai mendesak dan sinar toya To Tek Hosiang makin lemah dan
makin mengecil, sedangkan pedang peraknya makin menyambar dengan ganas dan garang.
Pada saat itu, tiba-tiba menyambar angin yang dahsyat diiringi suara keras, To Tek Suhu mundurlah dan biarkan pinceng menghadapi pemuda maling ini!”
Ternyata yang datang melompat ke tengah lapangan pertandingan adalah seorang hwesio gemuk, yakni seorang di antara tiga tamu tadi. To Tek Hosiang terkejut sekali, karena sama sekali ia tak pernah menyangka bahwa ketiga tamunya yang datang dari barat ini memiliki ilmu silat yang tinggi. Ia hanya berdiri di pinggir dan memandang dengan heran. Ia bersyukur karena ia telah tertolong. Ia maklum bahwa kalau pertandingan tadi diteruskan, akhirnya dia pasti akan kalah dan roboh untuk kedua kalinya oleh pemuda itu.
Tangan kiri hwesio gemuk itu memegang sebatang hudtim (kebutan pertapa) dan ia berdiri menghadapi Tan Hong dengan mulut menyeringai. Lagak hwesio ini sungguh menyebalkan, karena mirip dengan lagak seorang pemuda tengik yang menganggap dirinya sendiri yang gagah dan tampan!
“Losuhu, kau siapa dan apa sebabnya maka kau datang-datang hendak mengajak aku bertempur?” tanya Tan Hong.
“Ha, ha, ha, Gin-kiam Gi-to! Sudah lama pinceng mendengar namamu yang besar, hingga suara itu bergema di empat penjuru membuat telingaku menjadi bising dan sakit. Pinceng adalah Beng Kong Hwesio, dan kedua suhengku yang duduk itu adalah Bhok Kong Hwesio dan Kim Kong Hwesio. Barangkali nama ini belum pernah kau dengar, maka akan lebih muda dikenal kiranya apabila pinceng sebutkan bahwa kami bertiga disebut orang Pekhoa Sam-sian atau Tiga Dewa dari Pek-hoa-san!”
Kini bukan saja Tan Hong yang terkejut, bahkan To Tek Hosiang sendiripun sangat terkejut karena nama Tiga Dewa dari Pek-hoa-san ini amat terkenal sebagai tokoh-tokoh dan pendiri-pendiri cabang persilatan Pek-hoa-san-pai yang termasyur itu! Tadi ketika datang, ketiga tamu To Tek Hosiang itu hanya memperkenalkan nama-nama mereka, sama sekali tidak disangkanya bahwa ia mendapat kehormatan menerima tamu-tamu yang terdiri dari tokoh-tokoh persilatan yang telah masuk golongan tertinggi itu!
Biarpun Tan Hong maklum bahwa tokoh-tokoh Pek-hoa-san ini menurut suhunya dulu adalah orang-orang yang berilmu silat tinggi, akan tetapi suhunya pernah menyatakan bahwa mereka bertiga itu bukanlah orang baik-baik, maka pemuda ini sedikitpun tidak memperlihatkan rasa gentar. Ia bahkan tersenyum dan berkata dengan tenang.
“Ah, kiranya Pek-hoa Sam-sian yang kuhadapi! Lalu apakah kehendakmu?”
kembali Beng Kong Hwesio tertawa gelak-gelak. “Sudah pinceng katakan tadi bahwa telah lama pinceng mendengar nama Maling Budiman Berpedang Perak yang kesohor. Dan kebetulan sekali, kami bertiga paling benci dengan segala macam maling, baik yang besar maupun yang kecil. Maka sekarang, setelah pinceng berhadapan dengan seorang maling, biarlah pinceng mewakili To Tek Hosiang untuk menangkapnya dan menyerahkannya kepada yang berwajib!”
“Hwesio gundul jangan kau sombong!” Tan Hong berseru marah sambil menggerakkan pedangnya.
“Bagus, bagus! Mainkanlah pedangmu, hendak kulihat sampai di mana kehebatan ilmu pedang dari Bok-san-pai!”
Tan Hong tercengang juga mendengar bahwa hwesio ini telah mengenal ilmu pedangnya, akan tetapi dengan hati-hati ia terus menyerang sambil mengerahkan tenaga serta kepandaiannya. Benar saja, ilmu silat Beng Kong Hwesio benar-benar luar biasa, kebutannya digerakkan dengan cepat dan bulu-bulu yang halus dari kebutan itu menyambar-nyambar dan tak boleh dipandang ringan karena bulu-bulu yang halus ini berkat tenaga lwekangnya yang tinggi, merupakan senjata yang sangat berbahaya. Sedangkan tangan kanan hwesio itu memainkan ujung lengan bajunya yang panjang, lebar dan berujung kecil pula. Ujung lengan baju ini tak kurang berbahayanya, karena digerakkan untuk menotok jalan darah lawan dengan gerakan tetap dan kuat sekali! Ketika serangannya yang bertubi-tubi itu dapat dihindarkan oleh lawannya yang masih muda, Beng Kong Hwesio merasa sangat kesal. Ia berseru keras dan kedua tangannya memainkan kebutan dengan ujung lengan baju dengan lebih hebat! Kedua senjata istimewa itu mengurung dan menyerang Tan Hong dari kiri kanan dan dari atas dan bawah dengan gencar, dan setiap sambarannya membawa hawa maut!
Akan tetapi, selain memiliki dasar ilmu silat tinggi, Tan Hong adalah seorang pemuda yang berhati tabah dan bersikap tenang serta waspada. Ia maklum bahwa ilmu silatnya masih kalah jika dibandingkan dengan kepandaian lawannya dan ia mungkin tidak mempunyai kesempatan untuk balas menyerang. Akan tetapi dengan keuletan yang mengagumkan, ia mempertahankan diri dengan seluruh tenaga dan kepandaiannya hingga setelah bertempur seratus jurus lebih, belum juga hwesio itu dapat merobohkannya! Hal ini tentu saja membuat Beng Kong Hwesio merasa gemas dan marah, tapi kagum juga. Belum pernah ia mendapat lawan semuda ini yang memiliki daya tahan selama itu!
Pada saat itu, tiba-tiba dari atas genteng melayang turun tiga bayangan orang dan orang terdepan membentak dengan nyaring, “Pek-hoa Sam-sian! Bagus sekali, akhirnya kami dapat juga menemukan kalian!”
Tiga bayangan orang itu melayang turun dengan gerakan yang gesit dan ringan seperti tiga ekor burung. Serentak Bhok Kong Hwesio dan Kim Hong Hwesio bangun dari duduknya dan mencabut senjata mereka, masing-masing bersenjatakan sebatang kebutan yang berbulu merah!
Biarpun sedang bertanding dan didesak oleh lawannya, akan tetapi Beng Kong Hwesio dapat memperhatikan ketiga orang yang datang itu, Tan Hong dapat juga melirik sekejap dan alangkah terkejutnya ketika ia melihat dengan jelas, bahwa yang datang itu tidak lain ialah Lo Cin Ki atau yang dijuluki Jian-jiauw-sin-eng si Garuda Sakti Berkuku Seribu, yakni susioknya (paman gurunya) sendiri, nona Lo Siok Lan, dan si muka hitam Ong Kai yang sore tadi pernah bertempur dengannya!
Melihat bahwa yang bertempur melawan seorang di antara Pek-hoa Sam-sian adalah pemuda yang sore tadi bertempur dengannya, Ong Kai lalu maju menerjang dengan pedang di tangan dan berkata, “Eh, Maling Budiman, kau juga bertempur melawan mereka? Jangan takut, kini kita bersatu menghadapi mereka dan aku akan membantumu!”
Akan tetapi, serbuan si muka hitam ini lalu disambut oleh To Tek Hosiang, karena hwesio ini berpikir bahwa sudah selayaknya ia membela para tamunya, apalagi karena tamutamunya itu adalah tokoh-tokoh besar dari Pek-hoa-san! Ia berpikir bahwa orang-orang yang datang membantu Maling Budiman ini tentulah golongan maling atau perampok juga. Apalagi melihat Ong Kai yang tinggi besar, kasar dan bermuka hitam, tak salah lagi, orang ini tentulah
kepala perampok yang buas dan ganas. Ia lalu memutar toyanya dan membentak, Bangsat pemaling dan perampok hina dina! Jangan kau kotorkan kelentengku yang suci ini!”
Ong Kai tercengang dan mengurungkan niatnya membantu Tan Hong. Ia pandang To Tek Hosiang dengan sepasang matanya yang bundar lebar, lalu bertanya, “Eh, eh, ini ada lagi kepala gundul yang berkedok agama! Baik, baik kau mampuslah di tanganku agar segera masuk ke neraka!” Maka ia lalu menyerang To Tek Hosiang kembali dengan sengit dan keduanya lalu bertempur seru!
Sementara itu, Lo Cin Ki melompat maju dan berhadapan dengan Bhok Kong Hwesio dan Kim Kong Hwesio, lalu menuding dengan pedangnya, “Hwesio gadungan! Serahkan nyawa kalian untuk menebus dosa yang telah kaulakukan terhadap keponakan Lie-sio-cia!”
“Ha, ha, ha! Jadi inikah si Garuda Sakti Berkuku Seribu? Kau mengantarkan jiwa tuamu! Apakah kau sudah bosan hidup?” Sambil berkata demikian, Kim Hong Hwesio lalu maju menyerbu, disambut dengan sengit oleh Lo Cin Ki.
Lo Cin Ki adalah seorang tokoh Bok-san-pai yang memiliki ilmu silat yang tinggi sekali serta bertenaga besar, maka begitu kebutan Kim Kong Hwesio bertemu dengan pedang si Garuda Sakti, hwesio itu terhuyung ke belakang! Bukan kepalang kagetnya, karena tak pernah diduganya bahwa tenaga orang tua itu melebihi tenaganya sendiri! Semetara itu, ketika Bhok Kong Hwesio melihat betapa suhengnya tak dapat merobohkan Lo Cin Ki, malah jelas sekali nampak olehnya bahwa suhengnya kalah tenaga. Ia lalu ikut maju menyerbu dan mengeroyok jago tua dari Bok-san itu!
Sebetulnya, kalau saja Bok-san-pai tidak lebih mengutamakan ilmu pengobatan dan khusus memajukan ilmu silatnya, cabang persilatan ini akan memperoleh kemajuan besar, karena memang dasar-dasar persilatan Bok-san-pai kuat dan sempurna sekali. Akan tetapi Lo Cin Ki lebih suka mempelajari secara mendalam ilmu pengobatan, maka dalam hal silat, boleh dibilang ia hanya mencapai tingkat delapan bagian saja. Namun kepandaian ini agaknya cukup untuk mengimbangi kedua pengeroyoknya itu!
Ketika Lo Siok Lan melihat betapa ayahnya dikeroyok, walaupun ia maklum bahwa kepandaian kedua hwesio gemuk itu jauh lebih tinggi daripada kepandaiannya sendiri, ia lalu membentak, “Bangsat gundul curang! Jangan maju mengeroyok ayahku!” Gadis yang tabah inipun lalu menggerakkan pedangnya hendak membantu ayahnya, akan tetapi si Garuda Sakti berseru, “Jangan Lan-ji! Kaubantu saja suhengmu Tan Hong yang terdesak oleh iblis gundul itu!” Ternyata, biarpun ia sendiri terdesak, jago tua ini masih ingat kepada orang lain dan minta puterinya membantu Tan Hong!
Biarpun dengan hati ragu-ragu, namun gadis itu tidak berani membantah perintah ayahnya. Ketika ia memandang, benar saja bahwa keadaan Tan Hong amat terdesak, sungguhpun pemuda itu telah memainkan pedangnya sedemikian rupa merupakan sebuah benteng baja yang kuat sekali, hingga andaikata disiram airpun takkan membasahi tubuhnya yang terlindung sedemikian rapatnya oleh gerakan pedang! Tanpa mengeluarkan suara apaapa. Siok Lan lalu memutar pedangnya menyerbu dan menahan serangan Beng Kong Hwesio. Hwesio ini terkejut juga, melihat gerakan nona ini tidak kalah hebatnya daripada gerakan Tan Hong yang baginya sukar sekali
untuk dirobohkan. Sebaliknya, ketika Tan Hong melihat betapa nona impiannya itu datang membantunya, timbullah semangatnya. Ia serasa dalam mimpi karena saat itu ia dapat bertempur melawan musuh bersama nona yang menjadi idamannya itu!
Dalam kegirangannya, Tan Hong beberapa kali mengerling dan memandang nona itu hingga Siok Lan menjadi tertekan oleh serbuan Beng Kong Hwesio yang mengamuk padanya, karena gerakan Tan Hong menjadi terlambat.
“Ayoh, kauseranglah dia! Mengapa ... lelah?” tegur gadis itu tanpa melihat Tan Hong, namun ia merasa betapa pemuda itu gerakannya agak mengendur.
Tan Hong terkejut dan bagaikan baru sadar dari mimpi ketika mendengar teguran ini. Wajahnya berubah merah karena malu kepada diri sendiri. Ia lalu menggertakkan giginya dan maju dengan semangat berapi-api! Kini keadaan menjadi berbalik. Beng Kong Hwesio yang menghadapi Tan Hong seorang diri saja hanya menang sedikit, tetapi tidak sanggup merobohkannya, kini menghadapi keroyokan Tan Hong dan Siok Lan yang memiliki kepandaian setingkat dengan Tan Hong, tentu saja sangat terdesak dan tak lama kemudian tubuhnya sudah mandi keringat dan napasnya terengah-engah!
Sementara itu, To Tek Hosiang yang menghadapi Ong Kai bertempur dengan seru pula, karena kepandaian si muka hitam inipun hebat pula dan setingkat dengan To Tek Hosiang! Mereka saling serang dengan mati-matian, akan tetapi sebegitu jauh belum terlihat siapa yang akan menang di antara mereka. Melihat pertempuran hebat ini di ruang kelentengnya itu, diam-diam To Tek Hosiang menjadi ragu-ragu dan bingung. Apalagi ketika tadi ia mendengar nama orang tua itu yang disebut si Garuda Sakti, ia menjadi
tambah ragu-ragu karena sepanjang pendengarannya, nama ini adalah nama seorang tokoh persilatan yang termasyur sebagai seorang pendekar tua pembela keadilan! Tadinya ia bermaksud mengukur kepandaian Tan Hong si Maling Budiman, tapi sekarang ia telah terlibat dalam pertempuran antara mati dan hidup yang belum diketahui sebab-sebabnya. Oleh karena inilah maka ia berkelahi sambil mundur dan mendekati Tan Hong untuk mengajukan pertanyaan!
Pada saat itu, Beng Kong Hwesio sudah sangat terdesak, akhirnya dengan sebuah tendangan kilat dari Tan Hong yang berhasil mengenai tepat pada tulang kakinya menyebabkan hwesio ini serta-merta roboh terguling. Siok Lan dengan gemas sekali lalu menubruk maju dan menusuk dengan pedangnya! Tan Hong terkejut melihat niat Siok Lan ini, maka cepat-cepat ia memegang tangan nona itu dan berkata, “Nona ... sumoi ... ! jangan sembarangan membunuh!”
Siok Lan merenggutkan tangannya dengan gemas. “Kau tahu apa? Ketiga hwesio cabul ini telah menculik dan membunuh piauwmoi-ku (adik perempuan misan)!” Sambil berkata demikian, gadis ini dengan marah sekali melanjutkan serangannya dan pedangnya menancap ke dada Beng Kong Hwesio. Dan sejurus kemudian terdengar pekik nyaring Beng Kong Hwesio dan ia tewas pada saat itu juga!
Mendengar keterangan gadis ini, Tan Hong terkejut sekali hingga ia berdiri diam tak kuasa mencegah gadis itu membunuh Beng Kong Hwesio, sedangkan To Tek Hosiang ketika mendengar keterangan inipun lalu melompat ke belakang dan berseru, “Tahan dulu! Pinceng tidak tahu bahwa mereka ini hwesio-hwesio jahat!”
Si muka hitam yang dalam keadaan masih marah hendak menyerbu terus, akan tetapi Siok Lan berseru, “Tahan ... ! Suheng!” Sungguh heran, si muka hitam yang tinggi besar ini segera menghentikan serangannya, demikian taat dan tunduk ia rupanya terhadap dara itu.
Akan tetapi, pada saat itu terdengar keluhan Lo Cin Ki dan ketika mereka semua memandang, ternyata dalam satu benturan nekad, Lo Cin Ki telah berhasil memukul pundak Bhok Kong Hwesio membuat ia terhuyung ke belakang, akan tetapi sebaliknya, ujung kebutan Kim Kong Hwesio-pun telah menghantam ke belakang dan mengeluarkan darah dari mulutnya!
“Ayah ... !” Siok lan memburu dan memeluk ayahnya, sedangkan Kim Kong Hwesio yang melihat Beng Kong Hwesio sudah tewas dan Bhok Kong Hwesio juga terluka pada pundaknya, secepatnya ia mengangkat tubuh Beng Kong Hwesio yang sudah menjadi mayat itu, lalu mengajak Bhok Kong Hwesio pergi dari tempat itu. Ia berpikir sia-sia saja untuk terus melawan, karena biarpun Lo Cin Ki telah menderita luka berat, akan tetapi di situ masih ada tiga orang muda yang hebat itu, bahkan ada pula To Tek Hosiang yang agaknya hendak membalik dan membantu mereka!
Tan Hong dan Ong Kai hendak mengejar, tetapi karena Siok Lan sedang sibuk menangisi ayahnya, maka mereka berdua tidak berdaya dan merasa tidak sanggup menghadapi Kim Kong dan Bhok Kong hwesio sekalipun ia telah luka, tetapi masih kelihatan gesit dan kuat jua.
Ong Kai yang bertubuh tinggi besar lalu mengangkat tubuh suhunya dan atas petunjuk To Tek Hosiang yang tadi bertempur mati-matian dengannya, jago tua yang terluka itu dibawa masuk ke dalam sebuah kamar di kuil itu.
Ternyata bahwa Lo Cin Ki telah mendapat luka yang berbahaya di dalam tubuhnya. Pukulan ujung hudtim itu buruk sekali akibatnya, karena pukulan ini telah mematahkan dua buah tulang iga di dada Lo Cin Ki dan menggoncangkan paru-parunya! Untung Siok Lan juga telah mempelajari ilmu pengobatan, maka setelah memeriksa luka di dada ayahnya yang masih pingsan itu, gadis ini dengan jari-jari tangannya yang halus, tapi cekatan itu lalu menyambung tulang-tulang yang patah dan menggunakan obat gosok dan obat minum yang dimasukkannya ke dalam mulut ayahnya.
Pada keesokan harinya, setelah berkali-kali diminumkan obat, jago tua itu siuman dari pingsannya. Selama ia masih pingsan, semua orang, termasuk juga To Tek Hosiang, diam saja dan tak berani berkata apa-apa, sedangkan Tan Hong dan Ong Kai hanya saling pandang dan menghela napas. Mengapa Tan Hong tidak pergi dari tempat itu? Ia merasa tak sampai hati meninggalkan Siok Lan, sekalipun gadis itu tak sepatah katapun mau berbicara dengannya.
Akan tetapi setelah ayahnya siuman kembali, wajah gadis itu tampak berseri, lalu ia berkata kepada Tan Hong, “Tan-suheng, kiam-hoatmu sungguh hebat!”
Merahlah muka Tan Hong mendengar pujian ini. “Ah ... ! Sumoi, kepandaianku masih belum dapat dibandingkan dengan kepandaianmu yang tinggi itu!”
Sementara itu, setelah Lo Cin Ki siuman, ia lalu menggunakan jari-jari tangannya meraba dadanya. Ia menarik napas panjang ketika ia mengetahui bahwa dua tulang iganya patah, akan tetapi ia memuji kecekatan puterinya yang telah melakukan penyambungan tulang iganya dengan sempurna.
Ketika semua orang datang ke kamar, untuk menjenguknya, ia menghela napas dan berkata kepada Tan Hong, “Tan hong! Untung kau telah lebih dulu turun tangan, kalau tidak, mungkin kerugian besar yang akan kita derita.”
Tan Hong mengeluarkan ucapan merendah diri untuk sebagai jawaban atas pujian susioknya ini padanya, sedangkan To Tek Hosiang buru-buru tunduk memberi hormat kepada Lo Cin Ki sambil berkata, “Lo-enghiong, maafkan pinceng yang telah sesat dan telah pula membantu orang-orang jahat. Percayalah, hal ini pinceng lakukan tanpa pinceng sadari, bahkan sampai sekarangpun pinceng masih bingung dan tidak tahu duduk perkara sebenarnya.”
Oleh karena ia tahu bahwa apabila ia banyak berkata-kata, maka hal ini akan mengganggu kesehatannya, Lo Cin Ki lalu mendesak muridnya untuk menceritakan hal yang telah terjadi sehingga mereka datang mencari Pek-hoa Sam-sian untuk membalas dendam.
Ong Kai lalu bercerita yang didengarkan oleh Tan Hong dan To Tek Hosiang dengan penuh perhatian.
***
Ong Kai adalah murid tunggal dari Lo Cin Ki si Garuda Sakti Berkuku Seribu yang telah menamatkan pelajarannya dan bekerja sebagai seorang piauwsu di kota Lui-koan-bun. Ia adalah seorang pemuda yang biarpun beradat kasar, akan tetapi ia mempunyai kecerdikan luar biasa. Sayang sekali, bakatnya dalam hal ilmu silat kurang baik, maka biarpun telah lama ia belajar silat, paling banyak ia hanya dapat mewarisi setengah bagian saja dari kepandaian suhunya, bahkan ia masih kalah oleh Siok Lan.
Lo Cin Ki mempunyai seorang adik perempuan yang telah menjadi janda dan adiknya ini mempunyai seorang
anak gadis yang cukup cantik dan halus budi bahasanya. Gadis ini bernama Kiu Hwa dan semenjak kecil menjadi sahabat baik Siok Lan yang lebih tua setahun daripadanya. Siok Lan berbakat baik dalam ilmu silat, sebaliknya Kiu Hwa tidak suka belajar silat, ia lebih suka menjadi seorang gadis yang lemah-lembut. Dan dalam hal kepandaian tangan, ia jauh lebih pandai daripada Siok Lan.
Lo Cin Ki tahu, sekalipun mukanya hitam, akan tetapi hatinya tetap suci bersih. Ia mengusulkan kepada adiknya untuk mengambil Ong Kai si muka hitam itu jadi iparnya. Demikianlah, tak lama kemudian pemuda ini dipertunangkan dengan Kui Hwa.
Beberapa hari yang lalu datanglah malapetaka menimpa diri Kiu Hwa. Pada suatu malam, kota Lui-koan-bun didatangi oleh tiga orang penjahat besar, yang tidak lain ialah Pekhoa Sam-sian, tiga hwesio gemuk berbatin kotor itu. Di sepanjang jalan mereka ini melakukan perbuatan-perbuatan yang keji yaitu, mengganggu anak bini orang.
Walaupun Kiu Hwa adalah seorang gadis lemah-lembut, akan tetapi memiliki kenekatan besar. Melihat ketiga orang hwesio biadab itu berniat jahat terhadap dirinya, ketika ia diculik dan dibawa ke sebuah kelenteng rusak di luar kota. Gadis ini mendapat kesempatan untuk mencabut tusuk kondenya yang terbuat daripada perak yang tajam seperti pisau belati itu dari rambutnya. Dengan nekad Kiu Hwa lalu memasukkan benda tajam itu ke tenggorokannya hingga ia tewas pada saat itu juga!
Saat itu Ong Kai sedang berada di luar kota karena sedang menjalankan tugasnya mengawal barang-barang. Ketika pada keesokan harinya ia kembali ke rumah dan mendengar tunangannya diculik orang, bukan main marah dan geramnya. Pemuda ini lalu melakukan penyelidikan di rumah tunangannya di mana calon ibu mertuanya didapati
sedang menangis sedih dan berkali-kali ia jatuh pingsan memikirkan nasib gadisnya. Oleh karena tidak melihat tanda-tanda yang mendatangkan curiga dalam kamar tunangannya itu, Ong Kai dapat menduga bahwa yang melakukan penculikan tentu seorang penjahat berilmu tinggi, maka ia terus melakukan penyelidikan. Kebetulan sekali ketika tiga orang hwesio biadab itu sedang membawa lari Kiu Hwa yang dalam keadaan meronta-ronta, terlihat oleh seorang petani di luar kota, akan tetapi karena takutnya, petani itu menyembunyikan diri di balik pohon. Dari petani inilah Ong Kai tahu bahwa orang yang melarikan tunangannya itu adalah tiga orang hwesio gemuk. Ia segera melakukan pengejaran sampai ke kuil tua itu. Dan alangkah hancur rasa hatinya ketika mendapatkan tunangannya rebah di lantai kuil dalam keadaan telah tak bernyawa lagi.
Sebaliknya, di dalam kesedihannya, Ong Kai merasa bangga dan lega juga melihat kematian tunangan yang dicintainya itu adalah karena membunuh diri dengan tusuk konde! Dalam menangisi jenazah Kiu Hwa, dalam hatinya Ong kai memuji kesucian gadis ini dan bersumpah hendak membalas dendam dan mencari ketiga orang hwesio gemuk itu.
Ong Kai yang cerdik itu lalu melakukan pengejaran dan penyelidikan. Untung baginya bahwa Pek-hoa sam-sian adalah tokoh-tokoh persilatan yang mempunyai adat sombong dan menganggap bahwa di dunia ini tidak ada orang yang berani melawan mereka. Karena kesombongannya inilah, ketiga orang hwesio gemuk ini sama sekali tidak ada niat untuk menyembunyikan diri atau berusaha agar jejak mereka nanti tidak diikuti dan dicari orang. Secara terang-terangan mereka berjalan di jalan
umum melanjutkan perjalanan mereka hingga akhirnya mereka sampai di Wi-ciu.
Ong Kai tentu dengan mudah saja dapat mengikuti jejak ketiga orang hwesio gemuk itu, dan ketika melihat mereka masuk di kota Wi-ciu, dengan cepat Ong Kai lalu menuju ke rumah suhunya yang berada tak jauh dari kota Wi-ciu itu.
Tak terkira marah hatinya Lo Cin Ki dan Lo Siok Lan mendengarkan bencana yang menimpa diri Kiu Hwa, maka tidak ayal lagi ayah dan anak ini melakukan penyelidikan ke Wi-ciu untuk membalas dendam. Oleh karena inilah maka Tan Hong sampai melihat Siok Lan dan ayahnya berkunjung ke kelenteng Kim-ci-tang, di mana gadis dan ayahnya itu sedang menyelidiki keadaan kelenteng. Dan ini pulalah sebabnya mengapa Tan Hong dapat bertemu dengan ong Kai yang tadinya mencurigainya.
Setelah mendengar penuturan Ong kai sambil mengalirkan air mata karena teringat akan tunangannya itu, Tan Hong menjadi terharu sekali.
“Saudara Ong kai, jangan kau khawatir. Biarpun aku bodoh, akan tetapi aku bersumpah hendak membantumu mencari dan membinasakan dua orang iblis yang masih hidup itu!”
Juga To tek Hosiang menyatakan penyesalannya mengapa matanya seakan-akan telah buta, tidak melihat dan membedakan mana orang jahat dan mana yang baik. Berkali-kali hwesio ini menyebut nama dewata, karena heran dan terkejut mendengarkan kejahatan dan kekejian yang dilakukan oleh tiga orang hwesio yang berkepandaian tinggi dan yang terkenal sebagai tokoh-tokoh dunia persilatan itu!
Ketika mereka menengok keadaan Lo Cin Ki lagi, orang tua ini berkata dengan suara menyesal kepada Ong Kai, “Ong Kai ... ! Sungguh menyesal aku, sebab kurang hati-hati hingga aku dapat dilukai oleh Kim Kong Hwesio! Dan menurut pemeriksaanku, lukaku ini sedikitnya dalam waktu satu bulan baru bisa sembuh dan pulih kembali seperti sediakala. Aku menyesalkan juga, Ong Kai, karena luka ini menghalangiku untuk membantumu menangkap dan menewaskan musuh-musuh besar kita itu,” Lo Cin Ki menarik napas dalam-dalam.
“Tidak apa, suhu. Biarlah teecu sendiri yang akan pergi berhadapan dengan mereka!” kata Ong kai dengan kesal dengan menggertakkan giginya.
“Ong-suheng, mengapa kau berkata begitu? Jangan khawatir, aku akan mewakili ayah membantumu!” kata Siok Lan dengan perkasanya.
“Dan akupun bersedia setiap detik menjadi pembantumu, saudara Ong!” kata Tan Hong dengan muka berseri.
“Baik sekali, kalian anak-anak muda memiliki semangat demikian besar,” kata Lo Cin Ki dengan girangnya. “Memang, sudah seharusnya demikianlah watak dan sikap orangorang ksatria, pantang mundur menghadapi bahaya besar dalam membela kebenaran. Dan dengan adanya kalian bertiga, apabila maju bersama, kurasa takkan sangat berat menghadapi dua orang hwesio iblis itu. “
Ong Kai tidak berani membantah, lalu kemudian ia memandang wajah Tan Hong dengan ragu-ragu. Mengapa pemuda maling ini dibawa-bawa? Bukankah pemuda inipun menuntut penghidupan yang tidak layak? Lo Cin Ki agaknya dapat menduga apa yang dipikirkan oleh muridnya, maka ia lalu berkata, “Ong Kai, ketahuilah. Tan
Hong ini adalah Gin-kiam Gi-to yang biarpun menjadi maling, akan tetapi bukan untuk diri sendiri. Untuk melakukan kebajikan dengan jalan apa yang akan diambil seseorang, dapat dipilihnya menurut pertimbangannya sendiri. Pokoknya asalkan berdasarkan kebenaran dan kebaikan, maka jalan itu adalah jalan satu-satunya yang dianggap baik. Lagi pula, agaknya kau belum tahu bahwa Tan Hong ini sebenarnya masih suhengmu sendiri!”
Terbelalak kedua mata Ong Kai memandang gurunya yang segera tersenyum, “Bukankah kau pernah mendengar ceritaku tentang suhengku yang bernama Cin Cin Tojin? Nah, pemuda ini adalah murid tunggal Cin Cin Tojin!”
Ong Kai yang berwatak jujur itu menjadi bertambah girang mendengar hal ini, “Ah! Pantas saja ilmu kepandaianmu lebih tinggi dari kepandaianku! Rupanya kau murid Cin Cin Supek. Pantas, pantas! Tan-suheng, kalau demikian, kita adalah masih sekeluarga dan tentu saja kau harus ikut membantuku!”
Tan Hong tersenyum dan merasa girang melihat kejujuran pemuda muka hitam yang mengalami kesedihan ditinggalkan mati oleh tunangannya dalam keadaan menyedihkan itu. Diam-diam ia lalu bertekad untuk membalas sakit hatinya itu.
Demikianlah setelah mendapat doa restu dari Lo Cin Ki, ketiga anak muda itu, Ong Kai, Tan Hong dan Siok Lan berangkat untuk mengejar Bhok Kong Hwesio dan kim Kong Hwesio ke mana saja.
***
Kali ini, karena maklum bahwa musuh-musuh mereka yang hebat itu tentu takkan membiarkan mereka melarikan diri begitu saja. Bhok Kong dan Kim Kong Hwesio melarikan diri dengan cara bersembunyi dan diam-diam.
Mereka berdua juga merasa sakit hati sekali. Setelah mengubur jenazah Beng Kong Hwesio di sebuah hutan mereka berjanji dalam hati akan membalaskan sakit hati sute mereka ini. Akan tetapi, kedua hwesio ini maklum bahwa mereka takkan dapat melawan Lo Cin Ki dan pembantu-pembantunya yang gesit dan cekatan itu. Maka keduanya lalu mengambil keputusan untuk kembali ke Pek-hoa-san dan mencari daya upaya untuk menjaga kedatangan musuh dan sekalian membasmi mereka.
Mereka lalu mengambil jalan memutar dan mencari seorang kawan mereka yang bernama Ti Bong Hosiang, seorang hwesio perantau yang memiliki kepandaian tinggi dan jauh lebih lihai daripada mereka sendiri. Mereka bermaksud untuk mengajak kawan ini naik ke Pek-hoa-san bersama beberapa orang kawan lain untuk memperkuat kedudukan mereka sambil menjaga kedatangan Lo Cin Ki dan pembantu-pembantunya.
Sementara itu Tan Hong, Ong Kai dan Siok Lan mencari jejak mereka sambil bertanya-tanya sepanjang jalan. Tiap kali mendengar cerita orang tentang dua orang hwesio gemuk, mereka lalu pergi menyelidik dan mengejar. Akan tetapi hasilnya nihil belaka, karena kedua musuh besar yang dicari-carinya itu telah pergi lagi tanpa meninggalkan jejak. Memang tidak mudah untuk mengejar dua orang musuh yang berkepandaian tinggi dan yang telah berlaku hati-hati dan melarikan diri secara sembunyi-sembunyi. Maka tak lama kemudian, ketiga orang anak muda itu telah kehilangan jejak kedua musuhnya hingga Ong Kai menjadi tambah sakit hati. Pemuda muka hitam ini merasa tidak sabar dan kalau mungkin, menurut hatinya, ingin sekali ia segera bertemu dan menyabung jiwa dengan pembunuh-pembunuh tunangannya yang tercinta itu!
Melihat kemurungan Ong Kai, Siok Lan menghibur, “Ong-suheng! Sudahlah, jangan kau bersedih terus, ingat, kesedihan yang berlarut-larut dapat merusak kesehatan, justeru pada waktu ini kau harus dapat menjaga kesehatanmu untuk dapat menunaikan tugasmu membalas dendam!” Kata-kata Siok Lan ini membangkitkan semangat Ong Kai.
“Aku telah bersumpah untuk membunuh kedua iblis itu!” katanya dengan geram.
“Ucapan sumoi tadi benar, Ong-sute. Memang tak perlu kau terlalu berduka cita, sebaliknya yang terpenting ialah kita bersama mencari daya upaya dan jalan bagaimana kita bisa menyusul dan mendapatkan tempat persembunyian mereka itu,” kata Tan Hong.
“Tak dinyana bahwa selain kejam dan jahat, mereka itupun pengecut sekali. Tidak tahu malu, namanya saja besar sebagai tokoh-tokoh Pek-hoa-san, tetapi menghadapi musuh, mereka lari dan bersembunyi!” Ong Kai berkata dengan gemas yang meluap-luap.
Mendengar nama bukit ini, tiba-tiba wajah Tan Hong berseri. “Ah ... ! Benar juga! Tentu mereka itu telah lari kembali ke Pek-hoa-san! Mari kita mengejar ke sana! Tahukah kalian di mana Pek-hoa-san itu?”
Kedua kawannya menyatakan tidak tahu, maka mereka lalu mulai mencari keterangan di mana adanya Bukit Pek-hoa-san. Dari para penduduk yang sering mengadakan perantauan mereka mendapat keterangan bahwa Pek-hoa-san adalah sebuah bukit di barat yang letaknya jauh juga dari tempat itu. Sesudah mereka mendapat keterangan, hari ini juga mereka lalu memulai perjalanan, mereka ke barat untuk mencari musuh-musuh mereka di sarang kedua hwesio itu.
Malam hari itu mereka bermalam di sebuah rumah penginapan. Tan Hong sekamar dengan Ong Kai, sedangkan Siok Lan mengambil kamar terpisah seorang diri.
Pada waktu itu, bekas-bekas kerusakan yang diakibatkan oleh bencana banjir masih terasa sekali, maka Tan Hong tidak melupakan pekerjaannya yang telah biasa ia lakukan. Ia lalu berpamitan dengan Siok Lan dan Ong Kai untuk pergi sebentar mencuri uang dari rumah para hartawan, lalu kemudian membagi-bagikannya kepada penderita korban banjir.
Ong Kai berkata, “Aah, aku tidak perduli akan segala pekerjaan mencuri ini! Kalau ini memang sudah menjadi tugasmu untuk menolong sesama manusia yang menderita sengsara, silahkan kaupergi, Tan-suheng. Akan tetapi berhati-hatilah.”
Tan Hong tersenyum. “Biarlah kau tinggal di kamar saja, sute. Memang pekerjaan ini adalah pekerjaanku sendiri yang tak dapat kutinggalkan. Semalam saja aku tidak melakukan pekerjaan ini, aku merasa seakan-akan berhutang kepada rakyat dusun yang menderita dan sengsara yang perlu ditolong. Nah! Sute, dan kau juga sumoi, tinggallah baik-baik di sini, aku akan pergi malam ini dan besok pagi-pagi aku tentu telah kembali ke sini untuk melanjutkan perjalanan kita.”
Ketika Tan Hong telah melayang naik ke atas genteng untuk melakukan pekerjannya sebagai Maling Budiman, tiba-tiba dari bawah melompat pula bayangan orang yang gerakannya tidak kalah gesitnya. Tan Hong menengok dan ternyata bahwa yang mengejarnya adalah Siok Lan sendiri!
“Sumoi, mengapa kau menyusul?” tanyanya.
“Tan-suheng, perkenalkanlah aku ikut denganmu. Aku menjadi tertarik dan ingin sekali menyaksikan hasil pekerjaanmu. Aku ingin menambah pengalamanku.”
“Eh ... eh ... ! Kau ingin belajar menjadi ... maling?” Tan Hong menggoda, akan tetapi hatinya girang bukan alang kepalang karena ditemani oleh sumoinya yang telah merebut hati sanubarinya itu.
Wajah Siok Lan memerah. “Suheng! Jangan kau memperolok-olokkanku! Dulu aku masih belum mengerti betul tentang sifat pekerjaanmu ini, bahkan sekarangpun aku masih belum tahu jelas. Oleh karena itu sekarang aku hendak menyaksikan sendiri dan kemudian barulah aku dapat memutuskan apakah pekerjaanmu ini baik atau tidak. “
Di dalam hatinya Tan Hong berkata seorang diri, “Hmm! Jadi kau hendak ... mengujiku? Baik ... nona manis! Akan kaulihat nanti bahwa aku Tan Hong bukanlah seorang jahat.” Akan tetapi kepada Siok Lan ia hanya tersenyum dan berkata, “Baiklah sumoi, akan tetapi apakah kau sudah memberi tahu kepada Ong-sute? Jangan-jangan nanti ia mencarimu dan merasa khawatir bila ia tidak mendapatkan kau berada di dalam kamarmu.”
“Perlu apa memberi tahu orang lain? Segala sesuatu yang kulakukan tak perlu harus mendapat izin dulu dari siapapun juga!”
Diam-diam Tan Hong merasa heran juga melihat kekerasan hati gadis ini, akan tetapi ia tidak berkata apa-apa, hanya mengajaknya. “Marilah kita berangkat, sumoi. Dan jangan lupa, kalau berada di rumah yang kita jadikan sasaran, harap kau suka menutupi mukamu dengan saputangan agar tak mudah dikenal orang.”
Siok Lan hendak membantah dan menyatakan bahwa perbuatan ini bersifat penakut, akan tetapi Tan Hong mendahuluinya dan berkata, “Ingat, sumoi! Pada saat ini kita adalah maling, dan tahukah kau apa kewajiban maling? Yakni, seorang maling harus mengambil barang atau uang orang dengan diam-diam dan menjaga sedapat mungkin agar jangan sampai dikenal mukanya!”
Siok Lan tak dapat membantah lagi, lalu mangangguk sambil tersenyum pula. Mereka lalu melompat pergi dan penduduk kota itu tentu akan geger dan ribut apabila mereka mengetahui bahwa di saat itu diatas genteng-genteng rumah mereka terdapat dua sosok bayangan hitam yang gerakannya gesit sekali, yakni sepasang Maling Budiman sedang menjalankan tugasnya!
Dengan matanya yang tajam Tan Hong mencari-cari rumah-rumah gedung yang besar dan yang tak salah lagi menjadi tempat kediaman seorang hartawan, baik ia seorang pedagang maupun seorang pembesar. Akhirnya ia melihat sebuah gedung yang mempunyai wuwungan tinggi. Gedung ini besar sekali, temboknya tebal dan disekeliling tembok tebal dan tinggi berwarna hijau. Tan Hong memberi tanda kepada Siok Lan dan keduanya lalu menggunakan ilmu loncat mereka dan bagaikan dua ekor burung kepinis mereka melayang masuk ke dalam taman itu.
“Sumoi, ikuti saja aku,” Bisik Tan Hong yang segera maju menghampiri gedung itu dengan jalan menyusup di antara tumbuh-tumbuhan di dalam taman. Hati Siok Lan berdebardebar juga karena selama hidupnya baru kali ini ia bertindak dengan jalan sembunyi dan menyusup-nyusup sebagai lakunya seorang maling tulen! Ia merasa heran sekali karena dadanya berdebar gembira dan ia teringat akan masa kanak-kanak dulu ketika dengan Kiu Hwa ia bermain kejar-kejaran dan sembunyi-sembunyian. Pada saat
itu iapun merasa girang dan dadanya berdebar gembira seperti sekarang ini, rasa gembira dan berdebar yang ditimbulkan oleh rasa takut kalau-kalau dilihat orang! Ia ikut menyusup-nyusup di belakang Tan Hong dan kagum melihat betapa Tan Hong bergerak demikian gesit dan cepat, tetapi amat hati-hati hingga daun-daun kering yang terpijak oleh pemuda itu seakan-akan tak mengeluarkan suara! Iapun lalu berjalan dengan ujung kakinya agar tidak menimbulkan suara berisik.
Dari balik batang pohon, Tan Hong mengintai ke sekeliling gedung itu. Setelah merasa pasti bahwa di situ aman dan tidak ada orang, ia lalu memberi isyarat kepada sumoinya dan dengan cepat sekali tubuhnya melayang ke atas genteng gedung itu. Siok Lan lalu ikut melompat. Kembali ia mendapatkan Tan Hong mendekam di atas wuwungan bagaikan seorang sedang bersembunyi. Iapun ikut mendekam pula dan keduanya lalu memandang ke sekeliling dengan mata tajam. Ketika tak disengaja mereka saling pandang, hampir Siok Lan tak dapat menahan ketawanya, demikian pula Tan Hong. Entah mengapa, mereka merasa gembira dan geli, merasa bahwa mereka kembali ke masa kanak-kanak dan sedang bermainmain sembunyi untuk dicari oleh kawan lain.
Setelah mencari letak kamar besar di dalam gedung itu, Tan Hong lalu membuka genteng dengan cepat kemudian mereka lalu mengintai ke dalam. Dengan hati ingin tahu sekali, Siok Lan-pun mengincar ke dalam kamar.
Tan Hong dan Siok Lan yang mengintai di atas genteng melihat sebuah kamar besar yang mewah dan indah. Di dalam kamar itu duduk seorang setengah tua bersama isterinya. Mereka ini adalah pemilik rumah dan mereka sedang sibuk bekerja. Yang kali-laki menulis dalam sebuah buku, mencatat-catat dan yang perempuan sedang
menghitung uang emas yang bertumpuk-tumpuk di atas meja!
Melihat betapa Tan Hong diam saja tak bergerak, gadis itu menjadi heran dan memberi isyarat dengan tangannya sambil menuding ke bawah. Akan tetapi Tan Hong menggelengkan kepala, bahkan lalu berdiri menjauhi tempat itu sambil memberi tanda kepada Siok Lan supaya ikut. Setelah mereka berada agak jauh dari kamar itu, Tan Hong berkata, “Kita tak dapat bertindak sekarang, mereka masih sibuk dan belum pergi tidur, “ katanya perlahan.
Siok Lan merasa heran sekali. “Mengapa kau takuti mereka suheng? Bukankah mereka itu orang-orang lemah yang mudah saja disingkirkan?”
Sekali lagi Tan Hong menggeleng-gelengkan kepalanya. “Kau masih belum memahami sifat pekerjaanku ini, sumoi. Ingatlah bahwa aku adalah seorang maling, bukan seorang perampok yang mengambil barang orang dengan kekerasan dan menggunakan senjata. Aku hanya mengambil uang orang tanpa diketahui oleh pemiliknya.”
Siok Lan tidak puas mendengar keterangan ini. “Kalau kau tidak mau terlihat oleh mereka, bukankah ada jalan lain yang lebih mudah? Mengapa harus menanti sampai mereka tidur?” Bagaimana kalau mereka semalam ini tidak tidur?”
“Kita harus menanti di atas genteng.”
“Apa ... ? Menanti di sini sampai mereka tidur dan membiarkan diri kedinginan di atas genteng menjadi korban tiupan angin malam yang dingin ini? Alangkah bodohnya!”
Tan Hong tersenyum. “Memang pekerjaan ini memerlukan kesabaran besar, sumoi. Atau, barangkali kau mempunyai cara lain yang lebih sempurna?”
Siok Lan merasa bahwa sekarang iapun telah menjadi kawanan maling yang merundingkan cara bagaimana untuk mencuri barang orang lain! Ia merasa mendapat kegembiraan luar biasa dalam pekerjaan baru yang tadinya dianggap hina ini.
“Mengapa kita tidak membuat mereka tidak berdaya tanpa terlihat? Dengan menggunakan tiam-hwat (ilmu menotok urat) yang dilakukan dengan sambitan benda keras, kita mudah saja membuat mereka tak berdaya!”
Tan Hong mengangguk-angguk dan menganggap bahwa usul ini baik juga. Memang kalau ia mau, mudah saja ia membikin kedua orang di dalam kamar itu tidak berdaya tanpa mereka sempat melihat dirinya. Ia lalu bermufakat dan keduanya lalu turun mencari beberapa buah kerikil yang halus, kemudian keduanya melompat pula ke atas dan mengintai dari atas genteng.
Kedua suami isteri hartawan yang tidak mendengar sesuatu dan tak pernah menyangka akan datangnya bahaya itu masih sibuk bekerja, yang perempuan menghitung-hitung uang, yang laki-laki mencatatkan besarnya hasil yang mereka dapat dalam perdagangan mereka. Tiba-tiba dari atas genteng, melalui lubang yang dibuat oleh Tan Hong, dua butir batu kecil melayang cepat dan dengan tepat dua butir batu kecil itu menotok jalan darah di leher suami isteri hartawan itu. Tanpa dapat mengeluarkan suara apa-apa, keduanya menjadi lemas dan pingsan di tempat masing-masing!
-oo0dw0oo-
Tag:cersil cersil indo cersil mandarin full cerita silat mandarin online cersil langka cersil mandarin lepas cerita silat pendekar matahari kumpulan cerita silat jawa cersil mandarin beruang salju. cerita silat pendekar mataharicerita silat indonesia cerita silat kho ping hoo cerita silat mandarin online cerita silat mandarin full cerita silat jawa kumpulan cerita silat cerita silat jawa pdf cerita silat indonesia gratis cerita silat jadul indonesia cerita silat indonesia pendekar rajawali sakti cersil indonesia pendekar mabuk cersil langka cersil dewa arak cerita silat jaman dulu cersil jawa download cerita silat mandarin full cerita silat mandarin online cersil mandarin lepas cerita silat mandarin pendekar matahari cerita silat jawa pdf cersil indonesia pdf cersil mandarin beruang salju kumpulan cerita silat pdf
kumpulan cerita silat cersil online
Share:
cersil...
Comments
0 Comments

Arsip Cersil

Best Cersil

Pecinta Cersil