Donasi

Buat yang punya rejeki berlebih dan merasa terhibur dengan Situs Cerita Silat Cersil Terbaik ini bisa mendonasikan bantuannya ke
No. Rekening BPD Jateng No. 2004084554
demi keberlangsungan dan keberadaan Blog Cersil Cerita Silat yang sama-sama kita cintai ini. Kritik dan Saran hub No HP.083837358519. Atas Bantuannya disampaikan Terimakasih.

Minggu, 27 Mei 2018

Cerita Silat Unggulan : Pedang Naga Kemala 2 Tamat

======

Demikianlah, dengan dalih melakukan kegiatan merampas madat yang berada di luar kota
Kanton, Ma Cek Lung membawa pasukannya pergi ke Tung-kang dan pasukan yang sudah
menerima perintahnya itu, langsung saja menyerbu gedung keluarga Ciu Lok Tai ! Tentu saja
keluarga itu terkejut sekali dan keadaan menjadi geger ketika para penyerbu itu bertindak kejam,
membunuhi pelayan-pelayan yang sama sekali tidak mampu melakukan perlawanan. Melihat ini,
Ciu Lok Tai lalu mengerahkan pasukan pengawalnya dan terpaksa mereka itu melawan karena
tidak melawanpun akan dibunuh. Ciu Lok Tai sendiri melawan dengan menggunakan pistolnya,
dan tigapuluh orang lebih pasukan pengawalnya ikut melawan mati-matian. Tentu saja yang
mengamuk paling hebat adalah Kui Eng. Gadis ini marah bukan main melihat pasukan
keamanan yang bertindak seperti perampok itu. Mula-mula Ma Cek Lung menyatakan bahwa
kedatangan pasukannya itu adalah untuk melakukan penggeledahan dan untuk menyita semua
madat yang berada dalam gedung keluarga Ciu. Ciu Wan-gwe sudah mendengar akan gerakan
pasukan dari kota raja, maka diapun tidak akan menentang dan tadinya dia menyerah, bahkan
mempersilahkan perwira yang pernah menjadi sahabat baiknya itu untuk melakukan
penggeledahan. Akan tetapi penggeledahan itu ternyata berobah menjadi pembantaian dan
jelaslah bahwa pasukan itu memang datang untuk menghancurkan keluarga Ciu. Dan terjadilah
perlawanan itu sehingga terjadi pertempuran mati-matian. Jumlah pasukan yang dibawa Ma Cek
Lung ada seratus limapuluh orang, oleh karena itu tentu saja pasukan keamanan yang hanya
tigapuluh orang itu tidak dapat berbuat banyak dan dalam waktu yang tidak lama mereka sudah
roboh semua ! Juga Ciu Wan-gwe, isterinya dan semua pelayannya dibantai oleh pasukan yang
sudah keranjingan itu. Tinggal Kui Eng seorang yang masih mengamuk. Melihat betapa orang
tuanya tewas dan seluruh isi rumah binasa, hati Kui Eng seperti disayat-sayat rasanya. Ia tahu
bahwa perwira Ma itu memang datang untuk membalas dendam karena pernah dikalahkannya
dalam pesta tempo hari. Maka dengan kemarahan meluap-luap, gadis ini mengamuk dan
bermaksud untuk membunuh perwira yang memimpin penyerbuan itu. Akan tetapi, sekali ini
Ma-ciangkun telah bersiap siaga. Dia maklum akan kelihaian gadis puteri Ciu Wan-gwe itu,
maka diapun kini mengajak belasan orang anak buahnya yang memiliki ilmu silat lumayan untuk
mengeroyok Kui Eng. Karena itu, usaha Kui Eng untuk dapat berhadapan dengan Ma Cek Lung
sia-sia belaka. Ia dikurung dengan ketat oleh puluhan orang prajurit penjaga keamanan dari
Kanton itu, di antaranya terdapat belasan orang yang memiliki ilmu silat yang cukup kuat. Maka
gadis inipun mengamuk dan sudah banyak anggauta pasukan musuh yang roboh dan tewas oleh
tamparan atau tendangan kakinya. Akan tetapi, pengepungan dan pengeroyokan tetap ketat
saking banyaknya pihak musuh sehingga setelah merobohkan tidak kurang dari tigapuluh orang,
akhirnya gadis itu kehabisan tenaga. Apa lagi karena hatinya sedang gelisah dan berduka oleh
kematian keluarganya. Maka, iapun mulai terkena senjata lawan yang datang bagaikan hujan itu.
Namun, ia tidak menjadi gentar. Beberapa kali terdengar suara Ma-ciangkun yang menyerukan
agar gadis itu menyerah saja. Memang dia mempunyai niat kotor terhadap gadis cantik itu dan
mengharapkan akan dapat menangkap gadis itu dalam keadaan hidup. Akan tetapi, Kui Eng
pantang menyerah dan mengambil keputusan untuk melawan sampai napas terakhir.
Pedang Naga Kemala > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com 197
Memang hebat sekali sepak terjang gadis itu. Ia hanya bertangan kosong karena tadi
penyerbuan itu terjadi dengan tiba-tiba. Tadinya ia sama sekali tidak mengira bahwa
penggeledahan itu akan berakhir dengan pembantaian maka iapun tidak sempat mengambil
sebatang tongkat yang menjadi senjata andalannya. Terpaksa ia melawan dengan tangan kosong,
akan tetapi tanpa senjatapun gadis ini sudah merupakan lawan yang amat menggiriskan bagi para
perajurit itu. Gerakannya seperti seekor burung walet saja, cepat dan setiap kali tamparan
tangannya atau tendangan kakinya mengenai sasaran, tentu seorang pengeroyok roboh untuk
tidak dapat bangkit kembali ! Tubuhnya seperti seekor burung beterbangan, menyelinap di antara
bayangan puluhan batang golok dan pedang. Di antara limabelas orang ahli silat yang
diperbantukan pada pasukannya oleh Ma Cek Lung, sudah ada sembilan orang roboh ! Hal ini
membuat para pengeroyok menjadi gentar, akan tetapi juga penasaran. Apa lagi karena dari
belakang, Ma-ciangkun melancarkan aba-aba dan mendorong anak buahnya untuk merobohkan
gadis itu, menangkapnya hidup atau mati.
Sebagian dari pasukan itu melakukan perampokan dengan dalih menggeledah dan
mencari madat. Memang ada belasan peti madat murni yang disita, akan tetapi di samping madat
ini, juga ikut pula disita benda-benda berharga yang terdapat di gedung itu dalam jumlah banyak!
Sehabis merampok mereka lalu membakar gedung itu !
Melihat ini Kui Eng menjadi semakin marah dan sakit hati. Ia mengamuk semakin hebat,
akan tetapi betapapun lihainya, ia dikeroyok oleh seratus lebih orang yang kesemuanya adalah
perajurit-perajurit yang biasa berkelahi, yang semua memakai pakaian perang yang dilindungi
baju besi dan semua memegang senjata tajam pula. Kui Eng memang seorang gadis yang telah
menerima gemblengan seorang sakti dan ia telah memiliki kepandaian tinggi sekali, akan tetapi ia
masih kurang terlatih. Kalau saja ia mau melarikan diri, kiranya tidak akan ada yang mampu
menahannya. Akan tetapi, kesedihan karena kematian orang tuanya dan melihat keluarganya
binasa dan rumahnya terbakar dan habis dirampok, kemarahan karena semua itu membuat ia
sama sekali tidak mempunyai niat untuk menyelamatkan diri sendiri. Satu-satunya keinginannya
hanyalah membasmi semua perajurit ini dan juga membunuh Ma Cek Lung. Akan tetapi,
tenaganya terbatas dan akhirnya karena selama berjam-jam mengerahkan sinkang untuk
menghadapi puluhan orang bersenjata lengkap itu, tenaga Kui Eng mulai berkurang. Hal ini
terutama sekali terdorong oleh kesedihan hatinya dan karena kurang cepat lagi gerakannya,
mulailah dara ini terkena sambaran ujung golok dan pedang. Pangkal lengan kanan dan kedua
pahanya telah tercium ujung senjata tajam yang membuat kulit dan sedikit dagingnya tergores
dan berdarah. Melihat ini Ma Cek Lung menjadi girang.
“Kepung terus, bikin habis tenaganya. Kalau mungkin tangkap hidup-hidup, jangan
bunuh !” Perwira tinggi besar ini memang telah tergila-gila oleh kecantikan gadis ini dan
sekarang dia mempunyai kesempatan sepenuhnya untuk dapat menguasai gadis itu, kalau perlu
dengan kekerasan, bukan hanya untuk melampiaskan nafsu binatangnya, melainkan juga untuk
memuaskan hatinya yang pernah sakit karena dibikin malu oleh gadis itu di depan orang banyak.
Jilid IX *****
Kui Eng yang lelah sekali itu, gerakannya mulai lambat dan kacau, pandang matanya
berkunang-kunang dan ia sudah terhuyung-huyung. Sebuah tendangan dari Ma Cek Lung yang
Pedang Naga Kemala > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com 198
kini ikut mengeroyok, tepat mengenai lutut Kui Eng. Gadis ini mengeluh akan tetapi begitu
tubuhnya roboh, ia menggulingkan tubuhnya dan seorang perajurit yang menubruk untuk
memeluknya, disambut dengan tamparan yang amat dahsyat.
“Prokkk ………. !” Perajurit itu terpelanting dengan kepala retak dan tewas seketika.
Akan tetapi, pengerahan tenaga terakhir ini membuat Kui Eng kehabisan tenaga dan iapun
terkulai dalam keadaan setengah pingsan !
Pada saat itu, berkelebat sesosok bayangan orang dan para perajurit itu terkejut sekali
karena tiba-tiba muncul seorang pemuda yang menyambar tubuh gadis yang sudah terkulai itu
dan memanggul tubuh itu lalu melarikan diri.
“Tangkap dia !” teriak Ma Cek Lung dengan marah. Gadis itu sudah tidak berdaya,
tinggal menangkap dan membelenggu saja dan seperti sepotong daging sudah tinggal menyumpit
dan memasukkan mulut, akan tetapi tiba-tiba terlepas dan tentu saja dia tidak mau membiarkan
pemuda itu melarikan Kui Eng.
Akan tetapi, gerakan pemuda ini luar biasa cepatnya, dan setiap perajurit yang mencoba
untuk menghadangnya, dirobohkan dengan pukulan-pukulan tangan kiri atau tendangan kaki,
sedangkan lengan kanannya memanggul tubuh Kui Eng di atas pundak kanan.
“Keparat !” bentak Ma Cek Lung dan bersama seorang pembantunya, dia menubruk maju
dengan golok terhunus. “Lepaskan gadis itu !”
Akan tetapi, dengan sebuah tendangan kilat, pemuda itu merobohkan pembantunya dan
Ma-ciangkun sendiri terkena pukulan tangan kiri yang cepat dan kuat. Dadanya terpukul dan
biarpun dada perwira itu dilindungi baju besi, tetap saja dia terpental dan roboh pingsan dengan
napas sesak ! Pemuda itu lalu berloncatan dan dengan cepat sekali menerobos kepungan para
perajurit, merobohkan beberapa orang lagi tanpa membunuh mereka, dan akhirnya lolos dari
kepungan. Beberapa orang perajurit mencoba untuk mengejar, akan tetapi pemuda itu dapat
berlari cepat bukan main walaupun sambil memondong tubuh Kui Eng dan akhirnya para
perajurit tidak mengejar lagi. Mereka sibuk dengan mengumpulkan barang rampokan, mengurus
teman-teman yang terluka atau tewas, dan mencoba untuk menyadarkan Ma Cek Lung yang
pingsan.
Kui Eng sudah kehabisan tenaga dan tubuhnya lemas. Ia setengah pingsan, akan tetapi ia
masih dapat mengetahui bahwa ia telah ditolong oleh seorang laki-laki yang memondongnya dan
membawanya lari. Pandang matanya sudah kabur dan ia tidak dapat melihat jelas wajah laki-laki
ini, apa lagi ketika ia dipanggul, kepalanya berada di belakang tubuh orang itu akan tetapi ia tahu
bahwa orang ini telah menyelamatkannya dan diam-diam ia bersyukur karena ia tahu bahwa
tenaganya sudah habis dan nyawanya takkan tertolong lagi. Ia tidak takut mati, akan tetapi kalau
ia mati, siapa yang akan membalaskan kematian ayah ibunya ? Ia berterima kasih kepada lakilaki
ini yang sudah menyelamatkannya sehingga masih ada harapan dan kesempatan baginya
untuk kelak membalas dendam kepada Ma Cek Lung dan anak buahnya. Ia merasa aman dan
ketika pemuda itu berlari cepat memanggul tubuhnya ke luar kota Tung-kang, diam-diam ia
beristirahat dan menghimpun hawa murni untuk mengumpulkan kembali kekuatannya.
Pedang Naga Kemala > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com 199
Setelah tiba di luar kota, jauh dari tempat ramai, di sebuah bukit yang berada di sebelah
barat kota Tung-kang, pemuda itu berhenti, lalu dengan hati-hati dia menurunkan tubuh Kui Eng
ke atas tanah. Akan tetapi, Kui Eng yang kini sudah kuat kembali, lalu bangkit berdiri dan
menghadapi pemuda itu, baru pertama kalinya ia ingin dan dapat melihat wajah penolongnya
karena tadi ia mencurahkan semua perhatiannya untuk menghimpun hawa murni. Dua pasang
mata yang sama tajamnya saling tatap dan tiba-tiba Kui Eng undur dua langkah dan berseru
kaget.
“Kau .......... ! !” Kemudian, tanpa banyak cakap lagi, gadis ini lalu menerjang pemuda itu
kalang kabut, mengerahkan lagi seluruh tenaga yang ada dan oleh karena itu serangannya dahsyat
sekali.
Pemuda itu bukan lain adalah Tan Ci Kong ! Seperti juga semua orang yang berada di
sekitar daerah Kanton, Ci Kong juga mendengar tentang pengepungan pasukan besar kerajaan
terhadap kota Kanton dan diapun merasa heran dan ingin tahu apa yang terjadi. Ketika mendapat
keterangan bahwa pasukan yang dipimpin oleh Panglima Lin Ce Shu itu adalah utusan kaisar
untuk menyita semua madat, diam-diam dia merasa bersyukur sekali dan memuji tindakan itu
yang dianggap akan menyelamatkan rakyat dari racun yang amat berbahaya itu.
Akan tetapi Ci Kong melihat pasukan yang dipimpin oleh Ma Cek Lung keluar dari
Kanton. Pasukan yang besarnya seratus limapuluh orang, membalapkan kuda keluar dari kota
itu. Hatinya tertarik karena dia mengenal Ma Cek Lung sebagai perwira tinggi besar gendut yang
pernah menyiksa dan hampir membunuh dia dan ayahnya pada duabelas tahun yang lalu di dalam
rumah Ciu Wan-gwe. Karena hatinya tertarik, maka diapun mengikuti jejak pasukan ini yang
ternyata menuju ke kota Tung-kang.
Pasukan ini mendatangi rumah gedung hartawan Ciu dan ketika Ci Kong mendengar
bahwa mereka akan menyita madat, diapun tidak mau mencampuri, bahkan diam-diam merasa
girang. Memang hal itu sudah semestinya sejak dahulu dilakukan pemerintah, pikirnya sambil
meninggalkan Tung-kang karena dia tidak ingin mencampuri. Akan tetapi, dia melihat asap
mengepul dari dalam kota itu. Dia terkejut. Kebakaran ? Apakah yang terjadi ? Sudah berjamjam
dia meninggalkan kota itu dan tidak menduga akan terjadi kekerasan karena siapakah yang
akan melawan dan menentang keputusan kaisar ? Kebakaran itu menarik hatinya dan diapun
cepat menggunakan ilmu berlari cepat memasuki kota Tung-kang kembali. Makin terkejut dia
ketika mendengar berita di dalam kota itu bahwa rumah gedung keluarga Ciu Wan-gwe diserbu,
dirampok dan dibakar oleh pasukan yang datang dari Kanton. Dia merasa heran dan ketika dia
cepat datang ke tempat itu, dia melihat betapa gadis puteri Ciu Wan-gwe yang cantik dan lihai itu
dikeroyok puluhan orang perajurit dan melihat pula banyaknya perajurit yang tewas dan juga
betapa rumah itu terbakar dan banyak pengawal dan pelayan keluarga itu sudah berserakan
menjadi mayat. Maka diapun cepat turun tangan menyambar tubuh Kui Eng yang setengah
pingsan itu dan melarikannya ke luar kota.
Kini, melihat kemarahan gadis itu yang tiba-tiba menyerangnya begitu mengenalnya, Ci
Kong tidak merasa heran atau kaget. Cepat dia mengelak dan menjauhkan diri.
“Harap kau tenanglah, nona, karena sekali ini aku tidak memusuhi siapapun juga. Aku
bahkan ikut bersedih melihat hancurnya keluargamu ..........”
Pedang Naga Kemala > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com 200
Akan tetapi, Kui Eng tidak pernah merasa kenal kepada pemuda ini yang hanya
diketahuinya pada pagi hari itu mengacau di gedung keluarganya, dikeroyok oleh para pengawal
sampai ia datang dari jalan-jalan pagi dan menyerang pemuda itu, hanya tahu bahwa pemuda itu,
dengan seorang kawan lain, telah mengacau, bahkan mendatangkan banyak kematian di antara
para pengawal dan anak buah pasukan keamanan kota Tung-kang yang datang membantu. Tentu
saja, melihat pemuda ini, biarpun kenyataannya tadi menyelamatkannya, ia menduga bahwa tentu
ada hubungan antara penyerangan pemuda ini beberapa hari yang lalu dengan penyerbuan
pasukan sekarang ini.
“Manusia busuk, sekaranglah saatnya kita membuat perhitungan !” bentaknya dan
dengan cepat Kui Eng sudah menyambar sepotong kayu dari dahan pohon yang berdekatan.
Dengan kayu sebagai tongkat di tangannya, dara inipun menyerang kembali dengan dahsyat.
Melihat betapa sepotong kayu itu kini berobah menjadi sinar kehijauan dan ujungnya
bergetar menjadi banyak sekali menyerang ke arah jalan darah di bagian depan tubuhnya, Ci
Kong kaget bukan main. Inilah serangan maut yang amat berbahaya, pikirnya dan cepat dia
berloncatan mengelak. Akan tetapi, gadis itu terus mendesaknya dengan tongkat istimewa itu
dan memang gadis itu telah mengeluarkan ilmunya yang paling hebat yang dipelajarinya dari
Tee-tok, yaitu Cui-beng Hek-pang (Tongkat Hitam Pengejar Nyawa) !
Ci Kong mengenal ilmu tongkat sakti, maka diapun harus mengerahkan seluruh tenaga
dan kepandaiannya untuk menghadapi lawan yang amat tangguh ini. Kedua lengannya seperti
berobah menjadi baja sehingga setiap kali lengannya menangkis tongkat, Kui Eng merasa betapa
lengannya yang memegang tongkat tergetar. Keduanya mempergunakan ilmu meringankan
tubuh yang sama mahirnya sehingga tubuh mereka lenyap berobah menjadi bayangan yang
berkelebatan di antara sinar tongkat hitam kehijauan yang mengeluarkan suara mendengungdengung.
Diam-diam Ci Kong merasa kagum sekali. Ilmu tongkat ini hebat bukan main dan
untung baginya bahwa gadis itu sudah kehilangan banyak tenaga, andaikata tidak, ia akan
terancam bahaya maut karena ilmu tongkat itu aneh dan sukar dilawan. Andaikata tadi gadis itu
menggunakan tongkat, kiranya akan lebih banyak korban yang roboh di pihak para pengeroyok
dan mungkin tidak perlu dibantunya. Akan tetapi, pemuda ini adalah murid Siauw-bin-hud dan
telah mempelajari banyak ilmu yang tinggi-tinggi sehingga dia masih mampu menghindarkan diri
dan terpaksa untuk mengimbangi kedahsyatan serangan gadis itu, diapun kadang-kadang
membalas dengan totokan-totokan untuk menghentikan serangan gadis itu.
“Nona, sabarlah. Sungguh aku tidak ingin bermusuhan denganmu. Marilah kita bicara
dulu sebelum melanjutkan perkelahian ini.” Berkali-kali Ci Kong berkata, suaranya tetap sabar
dan tenang. Kui Eng sudah merasa semakin penasaran sekali. Ia telah mempergunakan tongkat
dan telah memainkan Cui-beng Hek-pang, akan tetapi tetap saja ia tidak mampu mengalahkan
pemuda ini, bahkan tenaganya sendiri mulai berkurang lagi dan napasnya mulai memburu. Ingin
ia menangis saking jengkelnya. Ketika untuk kesekian kalinya pemuda itu mengajak bicara, ia
mendapatkan kesempatan baik untuk beristirahat, untuk menghimpun tenaga baru dan
menenangkan kembali pernapasannya. Maka iapun meloncat ke belakang, memandang tajam
dan berusaha menguasai pernapasannya yang terengah-engah.
“Kau .......... kau mau bicara apa lagi ?” katanya ketus.
Pedang Naga Kemala > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com 201
“Nona, marilah kita bicara dengan baik. Aku mengerti bahwa nona memusuhi aku karena
salah kira saja.”
“Huh, aku masih belum buta untuk mengenal engkau sebagai pengacau yang pernah
membikin ribut di rumah keluargaku beberapa hari yang lalu.”
Ci Kong mengangguk. “Tidak kusangkal, nona. Akan tetapi, kedatanganku pada waktu
itu hanya untuk mengingatkan Ciu Wan-gwe tentang buruknya pengaruh madat terhadap rakyat,
dan ingin minta kepadanya agar dia menghentikan usaha pengedaran madat itu. Akan tertapi aku
tidak diperkenankan bertemu dengan Ciu Wan-gwe, bahkan aku dikeroyok.”
“Siapa sudi percaya omonganmu ? Engkau mengatakan tidak bermaksud buruk dan
hanya mau mengingatkan, akan tetapi engkau membunuh belasan orang pengawal !”
“Menyesal sekali, nona. Akan tetapi bukan aku yang membunuh mereka, melainkan
orang yang datang membantuku ..........”
“Kawanmu, sekutumu, sama saja !”
“Tidak, aku sama sekali tidak pernah mengenal dia, nona. Dan aku tidak setuju dengan
perbuatannya itu. Nona, kalau memang aku memusuhimu, perlu apa aku menyelamatkanmu dan
membawamu ke luar Tung-kang ?”
Sejenak Kui Eng meragu. Benar juga apa yang dikatakan pemuda ini, akan tetapi ia
masih merasa penasaran. Dalam sekejap mata saja ia telah kehilangan keluarga, harta benda,
kehilangan segala-galanya dan kepada siapa ia akan menumpahkan kemarahannya ? Betapapun
juga, pemuda ini pernah berkelahi melawannya, pernah menjadi musuh keluarganya.
“Maaf, nona. Sungguh aku merasa ikut bersedih melihat nasib keluargamu ..........”
Mendengar ucapan ini, seperti didorong keluar saja air mata dari sepasang mata yang
indah tajam itu. Akan tetapi, Kui Eng mengusap air matanya dengan ujung lengan baju.
“Dulupun engkau tidak kasihan, kini tidak perlu kasihan, engkau pernah memusuhi kami,
sekarangpun tetap musuh !” Dan iapun menerjang kembali, kini tenaganya sudah agak pulih dan
napasnya tidak lagi memburu seperti tadi.
“Nona ………. !” Akan tetapi karena serangan itu memang hebat, Ci Kong terpaksa
meloncat cepat mengelak dan balas menyerang agar gadis itu tidak terus mendesaknya karena
kalau dia harus mengelak terus terhadap tongkat yang lihai itu, amat berbahaya. Terjadilah lagi
perkelahian yang amat hebat antara dua orang muda yang lihai itu. Kui Eng menyerang matimatian
dan mengerahkan segala-galanya, di lain pihak Ci Kong melayaninya tanpa maksud
mencelakai gadis yang sedang marah-marah itu. Dia lebih banyak melindungi dirinya dan
kadang-kadang saja dia membalas serangan hanya untuk menahan gelombang serangan lawan.
Dan serangannya hanya berupa totokan-totokan ke arah jalan darah untuk menghentikan gerakan
gadis itu tanpa membahayakan keselamatan gadis itu. Kui Eng sebagai murid seorang guru yang
sakti tentu saja tahu bahwa pemuda ini banyak mengalah kepadanya, dan hal ini membuatnya
Pedang Naga Kemala > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com 202
semakin penasaran, walaupun ia juga merasa kagum karena kini ia tahu benar betapa lihainya
pemuda itu dan bahwa kalau pemuda itu juga berniat merobohkannya, kiranya ia tidak akan dapat
bertahan terlalu lama.
Tiba-tiba bermunculan belasan orang yang sikapnya gagah dan seorang di antara mereka
meloncat di antara dua orang yang sedang berkelahi itu sambil berseru, “Tahan !”
Dari gerakan orang itu melerai, baik Kui Eng maupun Ci Kong maklum bahwa orang
inipun lihai sekali, karena goloknya yang menangkis dapat menahan tongkat Kui Eng sedangkan
tangan kirinya menahan lengan Ci Kong dan mereka berdua ini merasa betapa orang ini memiliki
tenaga yang amat kuat. Mereka berdua menjadi kaget dan heran, lalu meloncat ke belakang.
Ketika keduanya memandang, ternyata yang melerai itu adalah seorang pemuda yang gagah
perkasa, bertubuh tegap dan kokoh membayangkan tenaga yang besar. Pemuda ini memegang
sebatang golok yang tajam, dan pakaiannya kasar sederhana, sesuai dengan wajahnya yang
membayangkan kejujuran dan kegagahan. Sebatang topi rumput bundar tergantung di
punggungnya.
Biarpun pemuda itu membayangkan kegagahan yang menimbulkan perasaan segan,
namun Kui Eng yang galak itu sama sekali tidak merasa gentar, bahkan ia memandang pemuda
itu dengan mata melotot, tidak peduli bahwa pemuda itu datang bersama belasan orang yang
kesemuanya membayangkan kegagahan para pendekar.
“Mau apa kau mencampuri urusanku ? Apakah kau datang mau membantunya ? Kalau
begitu majulah, aku tidak takut menghadapi pengeroyokan kalian semua !” Dan Kui Eng sudah
siap memalangkan tongkatnya di depan dada, siap menghadapi pengeroyokan, bukan sekedar
gertakan saja.
Pemuda yang gagah perkasa itu bukan lain adalah Gan Seng Bu ! Seperti kita ketahui,
murid Thian-tok ini berpisah dari suhengnya, Ong Siu Coan. Akan tetapi dalam mengikuti jejak
Koan Jit yang melarikan Giok-liong-kiam, diapun akhirnya tiba di daerah Kanton. Ketika terjadi
pengepungan kota Kanton oleh pasukan kerajaan yang mulai bertindak hendak menumpas
perdagangan madat, Gan Seng Bu menyambutnya dengan gembira sekali. Di daerah Kanton ini
dia bertemu dengan para anggauta Thian-te-hwe atau Thian-te-pang, sebuah perkumpulan para
pendekar yang berjiwa patriot dan anti pemerintah penjajah Mancu. Bahkan di sini dia bertemu
pula dengan suhengnya, Ong Siu Coan yang telah mendahuluinya dan terkenal di perkumpulan
itu sebagai seorang tokoh yang gagah perkasa ! Biarpun dia tidak berambisi seperti suhengnya,
namun Gan Seng Bu berjiwa gagah dan dia merasa cocok dengan para anggauta Thian-te-pang,
maka diapun ikut dengan mereka menuju ke kota Kanton untuk melihat suasana dan kalau perlu
membantu pasukan pemerintah untuk menghadapi orang-orang kulit putih. Memang mereka
tidak suka kepada pemerintah Mancu yang dianggap sebagai penjajah yang harus diusir dari
tanah air, akan tetapi sementara ini, kalau menghadapi orang-orang kulit putih yang lebih asing
lagi dan yang jelas merusak dengan perdagangan candu mereka, mereka akan membantu pihak
pemerintah untuk menentang orang kulit putih lebih dahulu.
“Kami melihat kalian berdua adalah orang-orang yang memiliki kepandaian tinggi.
Dalam keadaan kacau seperti sekarang ini, alangkah sayangnya kalau kalian yang lihai ini saling
serang dan bermusuhan. Tidakkah lebih baik kalau kalian ikut bersama kami ke Kanton,
Pedang Naga Kemala > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com 203
menyumbangkan tenaga untuk memihak rakyat, dan menghalau musuh rakyat ? Kami adalah
orang-orang Thian-te-pang yang selalu berjuang demi rakyat, kaum patriot yang pantang saling
bermusuhan antara bangsa sendiri.”
Kui Eng sudah mendengar akan nama Thian-te-pang ini, maka ia cepat berkata, “Apakah
kalian ini pemberontak-pemberontak yang menentang kekuasaan Ceng ?”
“Kami adalah pejuang, dan penjajah memang menyebut kami pemberontak !” bentak
seorang di antara para pendekar itu yang merasa tidak senang mendengar gadis itu menamakan
mereka pemberontak.
“Bagus ! Kalau begitu, aku akan membantu kalian menghadapi pemerintah Ceng yang
biadab ! Baru saja ayah ibuku tewas oleh pasukan pemerintah !” kata Kui Eng penuh semangat
sambil mengepal tinju.
“Akan tetapi, sementara ini yang penting adalah menghalau orang-orang kulit putih !”
kata Gan Seng Bu. “Merekalah yang merupakan penyakit utama pada saat ini. Nona yang
gagah, kami akan gembira sekali kalau nona suka bergabung dengan kami karena kami melihat
nona memiliki kepandaian tinggi. Dan bagaimana dengan engkau sobat ?” Gan Seng Bu
memutar tubuhnya menghadapi Ci Kong. Baru sekarang dia melihat Ci Kong karena sejak tadi
dia berhadapan dengan Kui Eng, dan begitu bertemu pandang dengan Ci Kong, diapun terkejut.
“Eh .........., bukankah engkau ini .......... murid Siauw-bin-hud .......... ?”
Semua orang, termasuk Kui Eng, terkejut bukan main mendengar ini. Nama Siauw-binhud
adalah nama yang amat dikenal di dunia kang-ouw, apa lagi dengan adanya peristiwa Giokliong-
kiam itu. Ci Kong sendiri juga sejak tadi sudah teringat siapa pemuda gagah perkasa ini
dan diam-diam dia merasa terheran-heran. Dia tahu bahwa Thian-tok adalah seorang datuk sesat
yang terkenal, seorang di antara Empat Racun Dunia yang amat jahat. Akan tetapi mengapa dua
orang muridnya seperti orang-orang gagah ? Murid yang pertama itu pernah membantunya
ketika dia dikeroyok oleh para pengawal Ciu Wan-gwe dan para pasukan keamanan, dan biarpun
murid yang bernama Ong Siu Coan itu teramat kejam dan menyebar maut, namun jelas telah
membantunya walaupun tahu bahwa dia cucu murid Siauw-bin-hud. Dan murid ke dua dari
Thian-tok ini malah bergaul dengan orang-orang Thian-te-pang yang terkenal sebagai para
pendekar patriot ! Maka diapun tidak mau menyebut nama Thian-tok di depan mereka dan dia
hanya menjawab dengan singkat.
“Aku adalah cucu murid beliau.”
Seng Bu juga merasa tidak enak bertemu dengan pemuda ini. Bagaimanapun juga, dia
tahu bahwa gurunya adalah seorang datuk sesat dan hal ini sengaja dia sembunyikan dari para
pendekar di Thian-te-pang. Kalau para pendekar ini tahu bahwa dia adalah murid Thian-tok,
agaknya dia tidak akan diterima sebagai kawan seperjuangan !
“Nah, bagaimana ? Kalian berdua adalah orang-orang gagah, apakah mau
menggabungkan diri dengan kami dan pergi ke Kanton ?” tanyanya.
Pedang Naga Kemala > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com 204
Kui Eng sendiri masih termangu memandang kepada Ci Kong yang baru diketahui bahwa
pemuda itu adalah murid atau cucu murid Siauw-bin-hud. Pantas lihainya bukan main, pikirnya.
Mendengar pertanyaan Seng Bu, ia berkata, “Akan kuingat kalian di Kanton. Akan tetapi
sekarang aku masih mempunyai urusan. Harap kalian berangkat lebih dulu.”
“Aku lebih suka menyendiri,” kata Ci Kong.
Seng Bu mengangkat pundaknya dan menoleh kepada kawan-kawannya. “Baiklah, asal
kalian berdua jangan saling gebuk sendiri !” Lalu dia bersama belasan orang kawannya
melanjutkan perjalanan mereka menuju ke Kanton. Ci Kong dan Kui Eng mengikuti bayangan
orang-orang gagah itu dengan hati kagum. Betapapun juga, nama Thian-te-pang atau Thian-tehwe
sebagai kumpulan para patriot sudah amat terkenal. Di waktu itu, perkumpulan pendekarpendekar
yang menentang pemerintah penjajah dengan gigih, yang paling terkenal adalah Thiante-
pang atau perkumpulan Bumi Langit, lalu perkumpulan Tombak Merah, Pintu Sorga,
Perkumpulan Toa-kiam (Pedang Besar). Mereka semua mengaku sebagai keturunan
perkumpulan Sorban Kuning, yaitu sebuah perkumpulan pendekar patriot berbangsa Han di
jaman Dinasti Han.
“Jadi engkau seorang murid Siauw-bin-hud ?” Kui Eng bertanya sambil menatap wajah
Ci Kong. Pemuda itu mengangguk.
“Benar, nona, dan namaku Tan Ci Kong.”
“Aku adalah puteri tunggal keluarga Ciu, maka tentu engkau dapat membayangkan betapa
sakit hatiku ketika engkau mengacau di rumah kami dan kini .......... ayah ibuku telah tewas
..........” Suaranya mengandung isak. Akan tetapi dengan gagah gadis ini menahannya.
Ci Kong menarik napas panjang. “Kematian akan datang kepada keluarga manapun juga,
nona, dan kematian bukan urusan kita manusia. Memang menyedihkan, akan tetapi kita tidak
dapat berbuat sesuatu,” katanya sederhana, bukan untuk menghibur, melainkan keluar dari lubuk
hatinya karena pada saat itu diapun teringat bahwa ayah ibunya juga telah tiada.
“Aku .......... aku harus mengambil jenazah mereka dan menguburnya baik-baik.”
“Mari kubantu engkau, nona. Akan tetapi, kita harus masuk secara menyelundup, karena
kalau secara berterang tentu akan menghadapi kesulitan.”
Gadis itu sejenak memandang tajam, agaknya merasa heran mendengar penawaran
pemuda itu. Mengambil jenazah dua orang di tempat yang penuh dengan musuh tidaklah mudah
kalau ia lakukan sendirian saja, maka mendengar penawaran itu ia mengangguk dan keduanya
lalu berlari kembali ke Tung-kang.
Untunglah bagi mereka bahwa pasukan yang dipimpin Ma Cek Lung itu ternyata telah
kembali ke markas pasukan keamanan Tung-kang untuk mengurus anggauta pasukan yang tewas
dan luka-luka sehingga di tempat tinggal keluarga Ciu itu tidak nampak lagi pasukan. Gedung itu
masih terbakar sebagian dan para tetangga yang melihat munculnya Kui Eng, segera datang
membantu. Kui Eng berhasil menemukan mayat ayah ibunya. Air matanya bercucuran akan
tetapi ia tidak terisak. Bahkan dengan cepat ia lalu mengumpulkan tetangga dan minta
Pedang Naga Kemala > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com 205
pertolongan mereka untuk mengurus mayat para pelayan dan pengawal yang tewas. Kepada para
tetangga itu ia berkata dengan suara sedih, “Harap kalian suka menolongku, mengubur semua
jenazah ini, dan semua barang yang masih ada di rumah ini boleh kalian pakai untuk biaya.”
Setelah berkata demikian, gadis ini dibantu oleh Ci Kong lalu membawa dua jenazah keluar kota.
Tentu saja mereka harus cepat-cepat pergi membawa dua jenazah itu karena kehadiran mereka
tentu akan segera diketahui dan mereka tidak ingin menghadapi kesulitan dalam usaha mereka
mengubur jenazah Ciu Lok Tai dan isterinya.
Jauh di luar kota Tung-kang, di kaki sebuah bukit yang sunyi, Kui Eng memilih sebuah
tempat untuk mengubur jenazah ayah ibunya, dibantu oleh Ci Kong yang melakukan semua itu
tanpa banyak kata. Diapun hanya memandang saja ketika gadis itu berlutut di depan kuburan
sederhana itu.
Akhirnya kui Eng bangkit berdiri dan menghadapi Ci Kong, lalu menjura. “Saudara Tan
Ci Kong, engkau sungguh telah menolongku dan aku tidak akan melupakan budi kebaikanmu ini.
Terima kasih banyak.”
“Tidak perlu berterima kasih, sudah sepatutnya kalau hidup di dunia ini tolong-menolong
antara manusia,” jawab Ci Kong dengan sikap sederhana.
“Akan tetapi, engkau seorang pendekar Siauw-lim-pai, engkau pernah hendak menegur
mendiang ayahku yang menjadi pedagang madat. Akan tetapi, kenapa kemudian engkau yang
pernah kuserang dan kukeroyok, malah sebaliknya menyelamatkan aku dari pengeroyokan
pasukan itu dan bahkan menolongku mengubur jenazah ayah ibuku ? Mengapa ?”
Ci Kong tersenyum. “Nona ..........” Dia meragu karena belum mengenal nama gadis itu.
“Namaku Kui Eng, Ciu Kui Eng.”
“Nona Kui Eng, apa yang kulakukan itu tidak ada artinya karena kalau dulu engkau tidak
menolongku, agaknya aku tidak akan dapat hidup sampai sekarang ini.”
Kui Eng membelalakkan matanya yang indah dan memandang penuh selidik, lalu
mengerutkan alisnya karena ia tidak ingat pernah menolong pemuda yang baru pertama kali
dijumpainya itu. “Menolongmu ? Aku tidak merasa pernah menolongmu ..........”
“Tentu kau sudah lupa, nona. Terjadi kurang lebih duabelas tahun yang lalu ketika kita
masih kecil. Kalau tidak engkau turun tangan mencegah, tentu aku dan ayahku waktu itu telah
tewas di tangan Ma-ciangkun.”
Kui Eng mengerutkan alisnya, masih juga belum ingat. “Siapakah ayahmu ?”
“Mendiang ayahku adalah Tan Siucai ..........”
“Ahhh ………. ! !” Mata yang indah itu terbelalak dan sejenak gadis itu menatap wajah
Ci Kong penuh perhatian, lalu sinar matanya membayangkan kekaguman ketika ia teringat akan
Tan Siucai yang namanya kemudian dikenal sebagai seorang patriot yang gagah perkasa,
Pedang Naga Kemala > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com 206
walaupun dia seorang sasterawan yang lemah tubuhnya. “Kiranya engkaukah anak laki-laki itu
……….? Teringat aku sekarang. Engkau minta-minta ampun .......... dan aku mencelamu ..........”
“Benar, aku mintakan ampun untuk ayahku, bukan untuk diriku.”
“Aku mengerti. Ah, ayahmu seorang gagah perkasa, aku kagum sekali, sedangkan
ayahku .......... ayahku ..........” Kui Eng pernah ribut-ribut dengan ayahnya ketika dulu ia
mendengar akan nasib Tan Siucai yang dikaguminya. Nampaklah olehnya sekarang betapa
ayahnya adalah orang yang hanya mementingkan harta saja, hanya pandai mencari harta dan juga
tidak segan-segan melakukan hal-hal yang buruk.
“Sudahlah, nona. Orang tua kita sudah tiada, tak perlu dibicarakan lagi. Sekarang,
setelah engkau kehilangan keluargamu, apa yang akan kaulakukan selanjutnya ?” Ci Kong
bertanya dengan suara penuh iba, lupa bahwa dia sendiripun hidup sebatangkara. “Engkau sudah
tidak mempunyai tempat tinggal, hidup seorang diri ……….”
“Keluarga ayah berada di Kanton. Aku adalah anak tunggal, ibuku isteri ke tiga. Aku
masih mempunyai ibu-ibu tiri di Kanton .......... akan tetapi .......... aku tidak akan tinggal diam
sebelum dapat kubunuh jahanam Ma Cek Lung itu. Setelah itu mungkin aku akan
mengabungkan diri dengan orang-orang Thian-te-pang. Dan engkau sendiri, saudara Ci Kong ?
Apakah engkau juga akan bergabung dengan mereka ?”
Ci Kong menggeleng kepala. “Aku tidak akan melibatkan diri dalam pemberontakan,
nona, walaupun aku mengerti betapa mulia cita-cita mereka yang hendak membebaskan tanah air
dari cengkeraman penjajah. Aku lebih suka menyendiri.”
“Baiklah, kalau begitu kita berpisah di sini. Aku akan menyelundup ke Kanton. Sekali
lagi terima kasih dan mudah-mudahan kita akan dapat bertemu kembali !” Kui Eng berkata dan
gadis ini lalu membalikkan tubuhnya dan berlari cepat menuju ke Kanton.
“Mudah-mudahan ..........” Ci Kong mengguman sambil mengikuti bayangan gadis itu
dengan pandang matanya. Ada keharuan aneh menyelinap di dalam hatinya. Gadis itu manis
sekali, amat menarik dan juga amat gagah perkasa. Kasihan sekali gadis itu bernasib demikian
malang. Biarpun ayah gadis itu bukan seorang yang baik, akan tetapi agaknya gadis itu tidak
memiliki sifat ayahnya, bahkan memiliki kegagahan. Ah, kenapa dia tidak menanyakan siapa
guru gadis itu ? Ilmu silatnya demikian tinggi, apa lagi ilmu tongkatnya. Hebat ! Tentu gurunya
seorang yang sakti.
Setelah bayangan Kui Eng tidak nampak lagi, Ci Kong menarik napas panjang dan
melanjutkan perjalanannya. Tanpa disengaja kakinya juga bergerak menuju ke Kanton di mana
dia mendengar terjadi hal-hal penting, yaitu pengepungan kota oleh pasukan pemerintah yang
hendak menentang dan menghentikan perdagangan madat yang bersumber di Kanton.
***
Memang terjadi hal-hal penting di Kanton. Panglima Lin Ce Shu mengepung dan
menahan kota Kanton selama enam minggu dan setiap hari dilakukan penggeledahan dan
Pedang Naga Kemala > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com 207
penyitaan madat di seluruh kota. Kapten Charles Elliot yang memimpin perkumpulan English
East India Company dan mengepalai semua pedagang, bahkan menjadi wakil pemerintahnya,
menghadapi pukulan besar sekali. Segala usaha telah dilakukannya, dengan jalan melakukan
bujukan dan penyogokan. Namun, Panglima Lin Ce Shu tidak bergeming dalam tugasnya, tidak
dapat dibujuk sama sekali ! Dan akhirnya, secara terpaksa sekali kapten itu menyerahkan semua
madat yang dimiliki para pedagang kulit putih. Lebih dari duapuluh ribu peti madat murni disita
dari orang-orang kulit putih ini, dan seluruh madat yang disita oleh pasukan Lin Ce Shu
berjumlah mendekati satu juta kilogram ! Tumpukan-tumpukan peti madat yang amat besar
jumlahnya ini oleh Panglima Lin Ce Shu lalu dibakar di depan umum, sehingga menimbulkan api
besar bernyala-nyala dan bau yang menyengat hidung seluruh penduduk Kanton ! Bahkan dalam
kesempatan ini, Lin Ce Shu mengundang para pemuka orang kulit putih seperti Kapten Charles
Elliot, Opsir Hellway dan lain-lain untuk datang menyaksikan “kembang api” luar biasa itu.
Mula-mula para pemuka orang kulit putih itu tidak tahu mengapa Panglima Lin yang
mengadakan penyitaan madat itu mengundang mereka untuk makan malam dan berpesta.
Mereka mengira bahwa tentu panglima itu merasa tidak enak hati dan kini menebus peristiwa itu
dengan sikap lunak dan penghormatan dalam pesta. Walaupun hati mereka merasa mendongkol
sekali karena peristiwa penyitaan madat itu mendatangkan kerugian yang tak terhitung besarnya,
namun mereka datang pula dengan pakaian indah gemerlapan. Opsir Hellway datang bersama
isterinya, dan Sheila juga ikut. Gadis ini nampak cantik jelita dengan gaun berwarna kuning
emas itu berkilauan tertimpa sinar lampu warna-warni yang menerangi ruangan di atas benteng
itu.
Ternyata para pembesar sipil dan militer berkumpul di situ. Wajah-wajah tegang meliputi
tempat itu karena bagaimanapun juga, peristiwa penyitaan madat itu mendatangkan kerugian
yang bukan sedikit pula bagi beberapa orang pembesar yang tadinya menjadi pelindung para
pedagang asing itu. Kini, para pembesar yang tadinya menjadi sahabat-sahabat baik kapten
Charles Elliot dan anak buahnya, kini hanya dapat saling bertukar pandang dengan orang-orang
kulit putih itu dengan muka yang suram dan pandang mata layu dicekam ketegangan.
Akan tetapi, Panglima Lin Ce Shu melalui wakil dan juru bahasanya menyambut para
tamu asing itu dengan ramah, dan mereka semua dipersilahkan duduk dan dijamu dengan meriah.
Setelah mereka kenyang makan minum, Lin Ce Shu bangkit dari kursinya dan melalui seorang
penterjemah dia berkata, “Malam yang baik ini akan kami isi dengan pertunjukan indah bagi
para tamu, terutama sekali para tamu bangsa asing yang malam ini berkumpul di sini memenuhi
undangan kami. Kami persilahkan untuk menikmati keindahan kembang api istimewa !”
Panglima itu memberi isyarat dan tirai-tirai kain yang tadinya tertutup di depan jendela-jendela
itupun dibuka. Nampak oleh orang-orang berkulit putih itu jauh di luar terdapat tumpukan petipeti
candu dan perajurit-perajurit yang sudah siap dengan obor di tangan. Panglima Lin Ci Shu
memberi isyarat dengan tangan dan mulailah para perajurit membakar tumpukan candu yang
puluhan ribu peti jumlahnya itu !
Wajah orang-orang berkulit putih itu menjadi pucat ketika sinar api yang amat terang
menimpa mereka. Mereka terbelalak. Sheila menahan pekik karena merasa ngeri ketika
mencium bau candu dibakar, napasnya menjadi sesak dan cepat ia berlindung di belakang
ayahnya yang merangkulnya. Opsir Hellway mengepal tinju. “Terkutuk .......... !” Dia
menyumpah perlahan. Tak disangkanya bahwa mereka semua akan disuguhi tontonan yang
menusuk perasaan itu.
Pedang Naga Kemala > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com 208
Panglima Lin Ce Shu mempunyai alasan kuat untuk melakukan hal ini. Pertama, dia
ingin membuktikan bahwa tidak ada permainan kotor dalam penyitaan candu itu, bahwa
pemerintah bersungguh-sungguh untuk memberantas candu. Ke dua, dia ingin agar orang-orang
kulit putih itu menjadi jera, dan ke tiga, dia ingin memperingatkan rakyatnya bahwa kebiasaan
menghisap candu itu dilarang.
Setelah para tamu dipersilahkan duduk kembali, dengan resmi Lin Ce Shu mengumumkan
bahwa mulai hari itu, dilarang keras memasukkan candu ke Kanton. Semua kapal akan diperiksa
dan siapa yang melanggar akan dijatuhi hukuman. Orang-orang asing, kalau kedapatan
menyelundupkan candu, akan diusir dan semua harta bendanya disita, juga kapal yang membawa
candu akan disita.
Setelah mendengar peringatan keras ini, orang-orang kulit putih itu tentu saja merasa
tidak enak untuk duduk di situ lebih lama lagi. Kapten Charles Elliot lalu pamit dan para tamu
asing itu meninggalkan tempat itu dengan wajah muram. Mereka semua merasa seperti
menerima tamparan keras, selain dirugikan, juga mendapatkan malu dan ancaman. Masa depan
mereka menjadi suram. Kalau tidak boleh memasukkan madat, berarti mereka kehilangan mata
pencarian yang amat menguntungkan !
Sepulang mereka dari pesta itu, para pedagang lalu berkumpul di rumah Kapten Elliot dan
mereka berunding. Dengan nada kesal dan marah sekali para pedagang itu menyatakan protes
mereka dan menuntut agar Kapten Elliot tidak mendiamkan saja penghinaan dari pemerintah
Ceng itu. Akhirnya Kapten Elliot, setelah melalui perdebatan dan perundingan yang panas,
menyanggupi. “Demi kehormatan bangsa dan pemerintah kita, demi kelangsungan kehidupan
dan perdagangan kita, demi keamanan kita di negeri ini, aku akan membuat pelaporan kepada
pemerintah kita dan minta bantuan pasukan agar kita dapat membuat pembalasan,” demikian
katanya.
Kemudian Kapten Charles Elliot menganjurkan agar mereka semua bersiap-siap untuk
meninggalkan Kanton dengan kapal-kapal yang disediakan. Sebelum datang bala bantuan,
mereka dianjurkan tenang-tenang dan diam-diam saja dulu. Kalau pasukan bala bantuan sudah
datang, sebelum pasukan itu bertindak, mereka akan diberitahu untuk meninggalkan Kanton dan
mengungsi ke kapal yang akan menyelamatkan mereka.
Akan tetapi, di antara orang-orang kulit putih ada yang pemabokan dan beberapa hari
kemudian, dalam keadaan mabok diapun mengoceh dan membual di luaran bahwa pasukan
Inggeris akan datang dan menyerbu kota Kanton untuk memberi hukuman atas perlakuan yang
diberikan pemerintah terhadap orang-orang Inggeris pada malam hari itu. Ada yang mendengar
obrolan ini dan tentu saja berita itu didesas-desuskan orang.
Pada waktu itu, terdapat banyak perkumpulan pendekar yang anti orang kulit putih yang
menyebarkan madat itu. Ada pula perkumpulan pendekar yang hanya anti pemerintah Ceng
sebagai pemerintah penjajah Mancu. Di antara golongan ke dua ini adalah perkumpulan Thiante-
pang. Perkumpulan ini hanya anti pemerintah Mancu. Walaupun mereka juga tidak suka
melihat orang kulit putih menyebar madat, namun mendengar desas-desus bahwa pasukan
Inggeris akan menyerbu Kanton dan memusuhi pemerintah Ceng, diam-diam mereka merasa
Pedang Naga Kemala > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com 209
senang. Penyerbuan pasukan asing itu akan mereka terima dengan baik, karena membuka
kesempatan bagi mereka untuk melemahkan kekuatan pemerintah penjajah Mancu.
Akan tetapi, para pendekar yang tergolong anti kulit putih, mendengar desas-desus itu,
menjadi marah sekali kepada orang-orang asing. Dan beberapa hari sebelum pasukan Inggeris
tiba, meledaklah ketegangan yang terasa makin panas di Kanton. Dimulai dari pertengkaran
antara seorang kulit putih setengah mabok dengan seorang pecandu yang ketagihan dan dalam
keadaan setengah sadar pecandu ini mendatangi orang kulit putih itu dan nekat minta diberi
madat. Orang kulit putih setengah mabok itu marah-marah dan memaki-maki, lalu terjadi
perkelahian yang menjalar menjadi kerusuhan ketika golongan anti kulit putih menyerbu dan
mengeroyok si pemabok dan beberapa orang kawannya.
Pasukan penjaga keamanan cepat bertindak karena para pembesar tidak menghendaki
terjadinya kerusuhan itu. Orang-orang kulit putih menjadi panik, apa lagi ketika mendengar
bahwa pemerintah mereka telah mengirim armada yang kuat untuk menyelamatkan mereka dan
menggempur Kanton ! Mulailah terjadi pengungsian besar-besaran menuju ke pelabuhan di
mana terdapat kapal-kapal mereka.
Karena gerakan pengungsian ini, maka golongan anti kulit putih mulai bergerak
menyerang mereka yang berusaha melarikan diri. Tentu saja orang-orang kulit putih ini
melakukan perlawanan dan mereka itu rata-rata memiliki senjata api sehingga terjatuh pula
korban di antara para pendekar yang membenci mereka. Hal ini membuat perkelahian menjadijadi.
Pasukan keamanan yang repot ! Karena orang-orang kulit putih itu tidak melawan
pemerintah, maka kewajiban pemerintah untuk melindungi mereka selama mereka masih berada
di daratan. Lebih menggegerkan lagi ketika golongan pendekar yang menentang pemerintah
Mancu, mempergunakan kesempatan selagi terjadi keributan itu untuk mengacau dan menyerang
pasukan keamanan pemerintah sendiri ! Golongan ini bahkan ada yang melindungi orang-orang
kulit putih karena mereka ini sengaja hendak mengadu domba antara pemerintah penjajah dan
orang-orang kulit putih dalam usaha mereka menumbangkan kekuasaan penjajah dari tanah air.
Pertempuran kecil-kecilan yang kacau balau terjadi dan penduduk yang tidak mau ikutikut
dalam perkelahian-perkelahian itulah yang menjadi panik dan banyak pula yang lari
mengungsi meninggalkan Kanton. Hal ini membuat suasana menjadi semakin gaduh dan kacau
balau. Dan sudah biasa bahwa setiap kali sebuah kota mengalami kekacauan dan penjaga
keamanan tidak mampu mengatasi keadaan, maka para penjahatpun keluar semua, merajalela
mempergunakan kesempatan ini untuk mencari keuntungan seenaknya dan semudahnya.
Perampokan terjadi di mana-mana terhadap para pengungsi atau pencurian terhadap rumahrumah
yang ditinggalkan.
Opsir Hellway tentu saja tidak mau tinggal diam melihat keadaan yang gawat itu. Pagipagi
sekali dia bersama isteri dan puterinya, berkendaraan kereta meninggalkan rumah mereka
untuk melarikan diri ke kapal, dikawal oleh belasan orang pengawal kulit putih dan Bangsa India
yang membawa senapan. Sheila dan ibunya duduk di dalam kereta itu, sedangkan opsir Hellway
dan para pengawal berjaga di luar kereta. Barang-barang berharga beberapa buah peti penuh
berada dalam kereta itu pula.
Pedang Naga Kemala > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com 210
Dari dalam kereta, Sheila mengintai melalui jendela kereta dan wajah gadis ini agak
pucat. Peristiwa berdarah yang terjadi di kota Kanton itu sungguh mengguncang batinnya dan
menusuk perasaannya yang lembut. Ia tidak suka akan kekerasan dan kini terjadi kekerasan di
mana-mana. Ia mendengar tentang perkelahian-perkelahian, di mana banyak orang kulit putih
menjadi korban pembantaian akan tetapi lebih banyak lagi penyerbu-penyerbu yang tewas
disambar peluru senjata-senjata api orang kulit putih. Permusuhan yang terjadi tiba-tiba ini,
kebencian yang memancar dari pandang mata para penduduk, membuat ia terkejut dan ketakutan.
Tak disangkanya akan menjadi begini buruk hubungan antara bangsanya dan pribumi. Dan di
lubuk hatinya ia menyalahkan semua ini kepada bangsanya sendiri. Pembakaran madat yang
amat banyak itu, yang menjadi awal kekacauan ini, keributan dan perkelahian, semua ini menjadi
akibat dari pada sebab, dan sebabnya terletak pada bangsanya sendiri. Kalau bangsanya tidak
memperdagangkan madat, kalau bangsanya tidak hanya memikirkan keuntungan, dan
berhubungan dengan bangsa pribumi sebagai sahabat-sahabat sejati yang bekerja sama atas dasar
saling menguntungkan, pasti tidak akan terjadi kekacauan dan pembunuhan-pembunuhan itu.
Dari balik tirai jendela kereta, Sheila melihat asap di mana-mana, tanda bahwa ada
rumah-rumah yang terbakar. Dan banyak orang lalu lalang, pengungsi-pengungsi yang
membawa buntalan, menggendong atau menggandeng anak, wajah-wajah yang ketakutan,
kebingungan.
Tiba-tiba terdengar letusan-letusan senjata api dan Sheila melihat banyak pria membawa
senjata tombak, pedang atau golok, bergerak cepat berkelebatan di luar kereta !
“Cepp .......... !” Sebatang anak panah menancap di dekat jendela kereta. Sheila cepat
menarik dirinya ke dalam kereta.
“Sheila, cepat tutup jendela itu dan berlindung. Jaga ibumu ! Kereta kita diserang
penjahat !” Terdengar bentakan ayahnya.
“Ohhh ………. Tuhan, lindungi kami ………. !” Ibunya menjerit lirih dan menangis.
“Ibu, tenanglah ………. !” Sheila merangkul ibunya.
Akan tetapi ia sendiri kehilangan ketenangannya ketika suara tembakan semakin gencar
dan teriakan-teriakan para pengepung, mereka yang kena tembak atau terkena anak panah.
Karena ingin sekali mengetahui keadaan mereka, Sheila mengintai lagi. Kereta mereka
masih berjalan, akan tetapi tiba-tiba kereta terguncang-guncang dan akhirnya berhenti dan miring
karena roda sebelah kiri terperosok ke dalam selokan ! Alangkah kagetnya melihat bahwa kini
yang mengawal mereka tinggal lima orang lagi yang masih sibuk menembakkan senapan ke
kanan kiri, dan ia menahan jeritnya ketika melihat ayahnya terhuyung dan menhampiri kereta
dengan dada tertancap anak panah. Ayahnya hampir roboh, bersandar kereta.
“Sheila maklum akan bahaya yang mengancam mereka. Ibunya sudah hampir pingsan
melihat suaminya berlumuran darah, maka Sheila lalu setengah menyeretnya keluar dari kereta.
Pedang Naga Kemala > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com 211
“Larilah .......... ke pantai .......... cepat !” kata ayahnya dan Opsir Hellway ini sambil
menahan rasa nyeri menembakkan lagi pistol-pistolnya ke kanan kiri ketika melihat bayangan
orang-orang berkelebat.
Anak panah masih menyambar-nyambar ganas. Kiranya terjadi pertempuran antara pistol
senapan melawan anak panah dari para penyerbu yang kini menyerang dengan anak panah sambil
bersembunyi di balik pintu-pintu gerbang, pohon-pohon dan semak-semak. Lima orang
pengawal itu melawan mati-matian setelah beberapa orang kawan mereka tadi roboh oleh anak
panah. Dan kini karena kereta terperosok, mereka melawan sambil berlindung pada kereta.
“Dor-dor-dorrr .......... !” Kembali Opsir Hellway menembak secara beruntun dan dua
orang penyerbu terpekik dan terjungkal.
“Sheila, cepat .......... !” Teriaknya. Ibu Sheila menjerit dan tidak mau meninggalkan
suaminya, akan tetapi Sheila memaksa ibunya dan menarik tangan ibunya.
“Sheila .......... aughhh .......... !” Opsir Hellway tidak dapat melanjutkan kata-katanya
karena dia sudah terpelanting roboh karena kehabisan banyak darah.
Nyonya Hellway menjerit dan berlari kembali menghampiri suaminya setelah berhasil
melepaskan rangkulan puterinya. Ia menubruk suaminya dan pada saat itu, sebatang anak panah
menyambar dan menembus leher nyonya itu. Ia mengeluarkan suara aneh dan terkulai di atas
mayat suaminya.
“Mama .......... ! Papa .......... !” Sheila menjerit.
“Nona Sheila, larilah ke pantai .......... !” Seorang pengawal berseru ketika melihat gadis
itu hendak kembali ke kereta melihat ayah bundanya roboh. Mendengar ini, Sheila maklum
bahwa kembali ke kereta berarti bunuh diri. Biarpun hatinya merasa berat sekali untuk
meninggalkan orang tuanya yang tewas, namun ia tahu bahwa saat itu yang terpenting adalah
melarikan diri sampai ke kapal dengan selamat, maka sambil menahan tangisnya yang
mengguguk ia lari meninggalkan tempat itu. Pantai tidak jauh lagi, dan banyak orang
berbondong lari ke jurusan itu.
Akan tetapi, belum jauh ia lari meninggalkan kereta keluarganya yang rebah miring di
tepi jalan, tiba-tiba saja muncul tiga orang laki-laki yang tinggi besar, tiga orang yang memegang
golok dan yang memandangnya dengan menyeringai. Seorang di antara mereka, yang mukanya
bopeng segera tertawa bergelak.
“Ha-ha-ha-ha, sungguh kita untung sekali, kawan-kawan ! Kuda betina putih ini
menyerahkan diri kepada kita !” kata si bopeng sambil tersenyum cengar-cengir dan mereka
bertiga itu mendekati Sheila .
Dengan tubuh gemetar gadis itu berkata, “Ahh .......... harap jangan ganggu aku. Biarkan
aku pergi ..........”
Pedang Naga Kemala > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com 212
Seorang di antara mereka yang matanya kemerahan mengelebatkan goloknya yang
berkilauan saking tajamnya itu ke depan Sheila sehingga gadis itu terbelalak dan mukanya pucat,
melangkah mundur.
“kita bunuh saja noni ini, biar kusayat-sayat kulitnya, kupotong sedikit demi sedikit !”
“Aih, sayang kalau dibunuh begitu saja. Lihat begitu montok kelinci ini !” kata orang ke
tiga.
“Benar, tidak boleh dibunuh begitu saja. Terlalu enak baginya. Kita permainkan dulu
sepuasnya. Heh-heh, sejak kemarin kita kelelahan berkelahi, biar hari ini kita bersenang-senang
dan mengaso,” kata si muka bopeng yang agaknya menjadi pemimpin mereka dan tiba-tiba saja
si muka bopeng menerjang ke depan dan tangan kirinya tahu-tahu sudah mencengkeram lengan
tangan kanan Sheila. Gadis ini terkejut dan meronta, berusaha melepaskan tangannya, akan
tetapi cengkeraman itu kuat sekali sehingga rontaannya hanya membikin pergelangan tangannya
terasa nyeri.
“Lepaskan aku, ahh, lepaskan aku .......... !”
Gadis itu menjerit-jerit, akan tetapi sambil tertawa-tawa, tiga orang itu kini menangkap
kedua tangannya dan si muka buruk menyeretnya ke dalam sebuah bekas rumah orang kulit putih
yang sudah hancur dan sebagian sudah terbakar habis.
Setelah tiba di ruangan dalam yang penuh dengan bekas-bekas porak poranda, Sheila
yang maklum bahwa dirinya terancam malapetaka hebat, meronta-ronta sekuat tenaga. Karena
tidak menyangka-nyangka, Sheila dapat melepaskan diri dan lari. Akan tetapi, baru saja dara itu
lari sampai di samping bekas gedung itu, si muka bopeng sudah berhasil menubruknya dari
belakang sehingga gadis itupun terguling di atas rumput. Akan tetapi ia menyepak-nyepak dan
meronta-ronta. Dalam pergulatan ini, gaunnya terobek sehingga nampak pahanya yang berkulit
putih. Melihat ini, si muka bopeng menjadi semakin liar.
“Pegang tangan dan kakinya, biar aku dulu baru kalian nanti !” katanya terengah-engah
karena Sheila memang bertenaga besar dan gadis ini melawan sekuat tenaga dan mati-matian.
Akan tetapi kini, dua orang pria memegangi kaki dan tangannya sehingga ia tidak mampu lagi
meronta, hanya menggerak-gerakkan pinggul dan kepalanya saja sambil menjerit-jerit. Si muka
bopeng terkekeh dan menubruk.
“Dessss .......... !” Sebuah tendangan yang amat keras dari samping mengenai pangkal
paha si muka bopeng dan tubuhnya terlempar dan terguling-guling. Dua orang kawannya
terkejut dan marahlah mereka ketika melihat bahwa yang menendang kawan mereka itu adalah
seorang laki-laki yang berpakaian sederhana dan memakai topi bambu sederhana dan lebar.
Laki-laki ini tubuhnya sedang saja, akan tetapi nampak kokoh kuat. Bajunya terbuka di bagian
dada, memperlihatkan dada bidang yang ditumbuhi bulu halus. Dari pakaian yang ketat dan
ringkas itu, membayang otot-otot lengan dan kakinya. Seorang pria yang nampak kuat sekali,
berwajah sederhana namun gagah dan sinar matanya tajam dan jernih penuh kejujuran dan
keterbukaan, juga keberanian. Si muka bopeng juga sudah bangkit berdiri, mukanya merah
Pedang Naga Kemala > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com 213
matanya melotot dan dia menyambar goloknya yang tadi diletakkan di atas tanah ketika dia
hendak memperkosa Sheila.
“Jahanam keparat !” bentaknya marah sambil mengelebatkan goloknya. “Siapakah
anjing yang tak tahu diri, berani sekali menentang kami Tung-hai Sam-liong (Tiga Naga Laut
Timur) ?”
Pemuda itu adalah Gan Seng Bu. Mendengar julukan yang amat muluk dan besar itu, dia
menahan senyum. Sebagai seorang yang selama ini aktip dalam pergerakan menentang
pemerintah penjajah, tentu saja dia mengenal tokoh-tokoh di sekitar Kanton. Dan tidak ada
golongan pendekar atau tokoh sesat sekalipun di daerah ini yang memiliki julukan seperti itu.
Hal ini hanya menunjukkan bahwa tiga orang ini hanyalah bajingan-bajingan kecil yang suka
memakai nama-nama besar, akan tetapi tetap saja nama itu tidak terkenal karena tindakantindakan
mereka hanyalah kejahatan-kejahatan kecil dan rendah saja sehingga nama julukan
itupun tidak dihiraukan orang. Banyak sekali terdapat penjahat-penjahat kecil seperti ini, segala
tukang copet, maling dan rampok kecil saja menggunakan nama-nama julukan yang setinggi
langit. Akan tetapi kegelian hatinya melihat lagak mereka dan mendengar julukan mereka tidak
mengusir rasa muak dan marah dari dalam lubuk hati Seng Bu. Dia memang murid seorang
datuk sesat yang teramat jahat seperti Thia-tok itu, akan tetapi di dalam dadanya terkandung api
kegagahan yang membuat dia muak melihat tiga orang pria yang kuat hendak memperkosa
seorang gadis, walaupun gadis kulit putih sekalipun. Bagi orang-orang yang berjiwa gagah, tidak
ada kejahatan yang lebih hina dan rendah dari pada kejahatan pria memperkosa atau menghina
wanita dengan kekerasan.
“Kalian berjuluk naga akan tetapi perbuatan kalian lebih hina dari pada tiga ekor cacing
busuk !” Seng Bu memaki. Belum habis kata-katanya, si bopeng sudah menyerang dengan
goloknya, menggerakkan golok itu yang menyambar dahsyat ke arah leher Seng Bu, disusul oleh
dua orang kawannya yang juga sudah menggerakkan golok menyerang pemuda itu. Melihat ini,
Sheila terkejut dan merasa ngeri. Gadis ini tadi cepat bangkit duduk setelah tiga orang yang
hendak memperkosanya itu melepaskannya dan ia kini berdiri di sudut dengan wajah pucat.
Melihat betapa tiga orang laki-laki jahat itu kini menggerakkan golok yang tajam menyerang
pemuda gagah yang menolongnya, Sheila tak dapat menahan dirinya berseru nyaring.
“Jangan bunuh dia .......... ! Ah, jangan .......... !” Akan tetapi teriakannya segera terhenti
dan memandang terbelalak. Ia hampir tidak dapat percaya akan pandangannya sendiri. Pemuda
yang menolongnya itu diserang oleh tiga orang lawannya, dengan golok tajam dan tiga batang
golok itu menyambar-nyambar ganas. Agaknya sudah tidak mungkin lagi pemuda itu akan dapat
menyelamatkan diri dari serangan tiga orang pengeroyoknya. Akan tetapi, secara aneh sekali ia
melihat betapa pemuda itu, kini topi bambunya terlepas dari kepala dan tergantung dengan tali
kepunggungnya, berloncatan seperti seekor burung saja, menyelinap di antara sinar golok dan
begitu pemuda itu menggerakkan kaki tangannya, terdengar teriakan-teriakan keras dan tiga
orang penjahat itu tahu-tahu sudah terlempar ke kanan kiri dan terbanting roboh tak mampu
bangkit kembali ! Entah mati entah hidup, akan tetapi jelas bahwa mereka bertiga itu diam tak
bergerak-gerak walaupun tidak nampak ada luka di tubuh mereka. Pemuda gagah perkasa itu
menyambar sebatang golok yang terlepas dari tangan pemiliknya.
Pedang Naga Kemala > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com 214
Sheila tidak mengenal pemuda itu dan tidak tahu orang macam apa adanya pemuda itu.
Melihat betapa pemuda itu merobohkan tiga orang pengeroyoknya dan kini memegang golok,
hatinya menjadi ngeri dan tanpa banyak cakap lagi ia lalu menggerakkan kakinya dan lari
pontang-panting. Robeknya gaun bagian depan sebatas paha itu malah menguntungkan baginya
karena ia dapat berlari kencang dengan langkah lebar. Karena kebingungan dan ketakutan, Sheila
malah lari kembali ke arah kereta. Melihat tubuh ayah ibunya yang masih menggeletak di dekat
kereta, Sheila menjerit dan lupalah ia akan rasa takutnya. Ia lalu lari menghampiri mayat-mayat
itu dan menubruk mayat ibunya, menangis mengguguk.
“Ibu .........., bawalah aku .......... bawalah aku .......... !” Tangisnya.
Tiba-tiba sebuah tangan yang amat kuat menangkap pergelangan lengan kanannya dan
Sheila seketika menghentikan tangisnya. Tubuhnya tiba-tiba ditarik ke atas dan ia terpaksa
bangkit berdiri. Dengan air mata berlinang dan muka pucat sekali ia menatap wajah orang yang
menariknya. Tasa takutnya berkurang ketika ia melihat bahwa yang menariknya bangun dan kini
memegang lengan kirinya itu bukan lain adalah pemuda yang tadi merobohkan tiga orang jahat
itu. Sheila terbelalak menatap wajah pria itu, wajah yang gagah sekali akan tetapi yang pada saat
itu diliputi kekerasan, kejantanan yang mengagumkan akan tetapi juga mengerikan. Apa lagi
melihat tangan pria ini memegang sebatang golok yang demikian tajam dan runcing.
“Le .......... lepaskan aku ..........” kata Sheila lirih dan memelas.
Pria itu mengendurkan pegangannya, agaknya rasa halus dan lunak dan hangat dari lengan
yang dipegangnya itu mengejutkan dan membuatnya risi. Akan tetapi dia tidak melepaskan
pegangannya.
“Kau harus pergi dari sini, nona.” Akhirnya dia berkata.
“Tidak .......... ! Tidak .........., aku ingin bersama ayah ibuku .......... !” Ia menengok
kembali ke arah dua buah mayat di dekat kereta.
“Nona, jangan bodoh. Mereka itu sudah tewas dan engkau masih hidup. Mari kita pergi
dari sini, cepat .......... !”
Seng Bu lalu menarik lengan gadis itu. Sheila meronta dan mempertahankan, akan tetapi
ia merasa betapa tenaga pemuda itu luar biasa kuatnya. Ia tetap mogok sehingga tubuhnya
terseret sampai berada di sisi lain dari kereta yang miring itu dan kini mayat ayah ibunya yang
berada di balik kereta tidak nampak lagi.
Seng Bu berhenti menyeret dan membalik sambil menghardik gadis itu. “Apakah engkau
ingin mati tinggal di sini ?”
Dibentak secara kasar begitu, Sheila menjadi tersinggung dan timbul kemarahannya. Ia
menentang pandang mata pemuda itu dengan sepasang matanya yang jeli akan tetapi yang pada
saat itu basah dengan air mata. Sejenak mereka saling tatap dan terpaksa Seng Bu menundukkan
pandang matanya, tidak tahan melawan lebih lama. Jantungnya berdebar tegang. Sudah sering
dia melihat wanita kulit putih, walaupun dari jarak jauh. Baru sekarang dia berdekatan, bahkan
memegang lengannya yang halus lunak dan hangat. Dari dekat, nampak jelas sekali rambut itu.
Pedang Naga Kemala > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com 215
Rambut yang seperti benang emas, yang pernah membuat dia bergidik ketika melihat untuk
pertama kalinya. Tak pernah dia dapat membayangkan bagaimana rambut kepala tidak hitam
atau putih beruban, melainkan kuning emas ! Dan mata itu. Begitu lebar dan indah, dengan
manik mata bukan hitam putih, melainkan biru dan kelihatan dalam seperti lautan biru ! Dan
kulit yang putih sekali itu, tiada cacat sedikitpun, tidak seperti kulit orang-orang kulit putih yang
pernah dia lihat penuh totol-totol merah. Gadis ini cantik bukan main. Buah dada yang hanya
separuh tertutup gaun tipis itu nampak begitu padat, membusung dan nampak keras dan penuh.
Dia tidak berani memandang lebih lama lagi dan menunduk.
“Nona, engkau akan mati kalau tinggal lebih lama di sini ..........” akhirnya dia berkata.
“Aku tidak takut mati. Lepaskan dan biarkan aku mati di sini !” jawab Sheila dengan
tegas walaupun ia tidak meronta lagi.
Seng Bu menjadi marah dan jengkel. Keadaan amat gawat dan berbahaya. Dia termasuk
kelompok seperti Thian-te-pang yang tidak memusuhi orang kulit putih karena pada waktu itu,
orang kulit putih dianggap malah berjasa dengan menentang pemerintah Mancu. Yang dimusuhi
oleh kelompoknya hanyalah pemerintah penjajah dan dalam hal ini, dia sendiri hanya terbawabawa
dan ikut-ikutan dengan suhengnya saja yang menjadi tokoh penting dalam Thian-te-pang
sekarang. Akan tetapi, pada waktu itu pergolakan terjadi di Kanton dan golongan anti orang kulit
putih amat banyak dan amat kuat. Mereka adalah pendekar-pendekar yang timbul kemarahannya
karena orang kulit putih menyebar madat, lalu ada pula golongan-golongan penjahat yang
menyelundup atau menyusup ke dalam perjuangan para pendekar ini, mereka ini menyusup untuk
dapat merampok rumah-rumah orang kulit putih yang kaya, dengan dalih memusuhi mereka
seperti para pendekar. Tiga orang yang tadi dirobohkannya adalah penjahat-penjahat pula. Dia
dan golongannya sama sekali bukan pembela orang kulit putih, hanya tidak memusuhi mereka
pada saat itu. Kalau tadi dia menyelamatkan gadis kulit putih ini hanya terdorong oleh
perasaannya, oleh sifat kegagahannya yang tidak mau membiarkan tiga orang laki-laki
memperkosa seorang gadis yang tidak berdaya. Dan kini, setelah bersusah payah menolong, dan
hendak menyelamatkan gadis itu dari tempat berbahaya itu, si gadis menolak dan memilih mati !
“Nona, kalau mereka datang dan membunuhmu, hal itu tidak perlu kita pusingkan lagi.
Akan tetapi bagaimana kalau mereka membawamu dan memperlakukan seperti tiga orang
penjahat tadi ? Apakah engkau menghendaki hal itu terjadi atas dirimu ?”
Ucapan itu seperti sengatan yang menyakitkan. Wajah gadis itu berobah pucat dan ia
sudah menengok ke kanan kiri dengan sikap ketakutan. “Jangan .......... ! Tolonglah aku ..........”
“Kalau begitu, mari kita pergi. Kita harus cepat pergi dari sini, lebih cepat lebih baik.”
Baru sekarang Sheila teringat akan pesan ayahnya. Ia harus cepat pergi ke kapal !
Peristiwa yang amat mengguncangkan batinnya tadi sempat membuat ia lupa lagi akan niatnya
melarikan diri.
“Ouhhh .......... tolonglah saya, tolong antarkan saya ke kapal. Saya harus segera pergi ke
sana, menyelamatkan diri ………. !” katanya dan menuding ke arah pantai yang masih agak jauh
dari tempat itu.
Pedang Naga Kemala > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com 216
Seng Bu menengok ke timur. Tentu saja, menggunakan kepandaiannya, dia akan dapat
menerobos dan membawa nona ini sampai ke pantai, ke kapal. Akan tetapi ada dua hal yang
membuat dia mengambil keputusan untuk tidak melakukan hal ini. Pertama, andaikata dia
berhasil melarikan nona ini sampai ke kapal, dia sendiri tentu akan dicurigai dan tidak merupakan
hal yang mustahil kalau dia langsung saja ditembak dan dibunuh oleh orang kulit putih. Dan ke
dua, entah bagaimana, dia tidak ingin melihat gadis itu pergi meninggalkan dia !
Seng Bu menggelengkan kepala. “Tidak mungkin, nona. Lihat, ada kebakaran-kebakaran
di sana. Mereka telah menghadang di jalan dan mereka bahkan akan menyerang kapal-kapal itu.
Kalau nona ke sana, sebelum sampai di kapal tentu akan tertawan.” Dia tidak berbohong karena
kalau Sheila pergi sendirian ke pantai, tentu dara itu akan terhadang dan tertangkap. Tentu saja
kalau dia yang membawanya, dengan mengandalkan kepandaiannya, banyak kemungkinan gadis
itu akan selamat sampai di pantai !
Sheila menjadi bingung. Dengan matanya yang lebar dan basah ia lalu memandang wajah
pemuda itu. “Habis .......... lalu aku harus pergi ke mana .......... ?”
“Mari ikut bersamaku, nona. Aku akan menyelamatkanmu. Percayalah, aku akan
melindungimu dengan taruhan nyawaku, nona.”
Sepasang mata yang basah itu terbelalak, penuh keheranan, penuh terima kasih dan
keharuan. Kata-kata pemuda itu, apa lagi yang terakhir, menimbulkan kesan mendalam di hati
Sheila dan wajah itu nampak demikian simpatik, demikian mengagumkan sehingga terasa ada
kedamaian dan keamanan yang menenangkan di hatinya.
“Baiklah, aku tidak tahu harus ke mana .......... aku tidak punya siapa-siapa lagi ..........”
“Mari, nona,” kata Seng Bu yang melihat bayangan banyak orang datang dari sebelah
selatan. Dia menggandeng tangan Sheila, tidak lagi memegang pergelangan lengannya dan
menarik gadis itu, diajaknya lari ke barat.
Akan tetapi, baru kurang lebih satu mil mereka berjalan, tiba-tiba Sheila terpekik dan
memandang ke depan dengan mata terbelalak. Di depan mereka nampak serombongan orang
laki-laki yang jumlahnya duapuluh orang lebih, semua memegang senjata dan nampak mereka itu
menyeramkan sekali, dengan senjata di tangan, dengan pakaian kusut, mata beringas dan sikap
membayangkan kekerasan. Dan bukan hanya Sheila yang terkejut, akan tetapi Seng Bu juga
kaget sekali. Dia mengenal mereka itu sebagai golongan anti kulit putih ! Celaka, pikirnya, tak
mungkin menyembunyikan kenyataan bahwa gadis yang berjalan di sampingnya adalah seorang
gadis kulit putih dan tentu mereka takkan tinggal diam ! Dan yang membuat hatinya merasa
tidak enak adalah ketika dia mengenal mereka itu sebagai pendekar-pendekar pejuang, bukan
orang-orang jahat.
“Maaf, terpaksa aku memperlakukanmu sebagai tawananku !” Seng Bu berbisik dan kini
dia sudah menyambak rambut kuning emas yang panjang itu dan menyeretnya.
“Auuwww .......... !” Sheila menjerit kaget dan ketakutan, tidak mengerti mengapa kini
penolongnya bersikap demikian terhadap dirinya.
Pedang Naga Kemala > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com 217
Kini rombongan orang dari depan itu telah berada di situ. Mereka nampak gagah perkasa
dan kuat, akan tetapi karena pada saat itu mereka berada dalam suasana perang, di mana semua
kebencian ditumpahkan melalui darah, mereka kelihatan beringas dan liar.
“Iblis putih betina !” Terdengar seruan-seruan mereka. Mereka adalah orang-orang yang
membenci orang kulit putih dan menyebut orang kulit putih itu “iblis putih”. Ramailah duapuluh
lima orang itu kini mengurung Seng Bu yang menyeret rambut Sheila. Melihat pemuda ini
menyeret rambut Sheila, mereka berteriak-teriak dan tertawa-tawa.
“Hei, kawan !” teriak pemimpin mereka, seorang laki-laki yang berusia limapuluh tahun
lebih, berperut gendut dan memegang sebatang ruyung besar. “Dari mana kau memperoleh iblis
putih betina ini dan kenapa tidak langsung saja dibunuh ?”
Seng Bu tersenyum. “Aku telah membunuh seluruh keluarganya dan dia kubawa untuk
kusiksa di depan makam ayahku yang tewas karena madat. Baru akan kubunuh dia di depan
makam ayah agar disiram dengan darahnya !”
Hampir pingsan Sheila mendengar kata-kata penolongnya yang kini menyeret rambutnya
itu. Ia menjadi bimbang. Bagaimana kalau benar seperti yang dikatakan pemuda itu bahwa ia
sedang dibawa untuk disembelih di atas makam ayah pemuda ini ? Ia bergidik dan hanya
merintih di dalam hati, hanya dapat memejamkan mata dan berdoa kepada Tuhan agar
melindungi dirinya.
Mendengar ucapan Seng Bu, terdengar suara ketawa dan orang-orang itu memuji Seng
Bu. “Bagus, memang iblis-iblis putih patut disembelih semua diatas makam korban madat.
Selamat, kawan, semoga kebaktianmu itu diterima oleh arwah orang tuamu,” kata si gendut yang
lalu memberi isyarat kepada kawan-kawannya untuk melanjutkan perjalanan.
“Hayo cepat !” Seng Bu menghardik Sheila dan mendorongnya sehingga gadis itu
terhuyung dan jatuh bangun, ditertawai oleh rombongan orang itu. Akan tetapi tiba-tiba seorang
di antara rombongan itu berseru, “Haiii ! Ia adalah puteri Opsir Hellway !”
Seng Bu tidak memperdulikan seruan itu karena dia sendiripun tidak tahu siapa adanya
gadis ini, akan tetapi tiba-tiba si gendut berteriak keras, “Hai, kawan. Berhenti dulu !”
Dengan sikap tenang, sambil memegang lengan Sheila, Seng Bu berhenti dan
membalikkan tubuhnya. Si gendut itu dengan langkah lebar menghampirinya, diikuti seorang
laki-laki bermata juling.
“Benarkah katamu, A-kong ?” tanya si gendut kepada si mata juling. Si mata juling
mendekat dan sepasang matanya yang juling meneliti Sheila. Gadis inipun merasa seperti pernah
melihat laki-laki bermata juling ini.
“Tidak salah lagi ! Ketika aku mengunjungi keponakanku yang bekerja sebagai pelayan
di rumahnya aku pernah melihat gadis ini !” kata si juling dan sekarang Sheila teringat bahwa
Pedang Naga Kemala > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com 218
memang si juling ini pernah mengunjungi seorang di antara para pelayannya yang oleh pelayan
itu diperkenalkan sebagai seorang pamannya dari dusun.
Si gendut kini menghadapi Seng Bu. “Kawan, gadis ini adalah puteri Opsir Hellway.”
“Kalau begitu, mengapa ? Aku tidak tahu siapa, akan tetapi siapapun gadis ini, ia harus
menjadi korban di makam ayahku !” kata Seng Bu dengan sikap tenang.
“Tidak, kawan. Ia puteri opsir, merupakan tangkapan penting. Ia harus kami bawa
sebagai tawanan penting. Pemimpin kami akan girang sekali mendapatkan tawanan opsir itu.
Opsir itu di samping Kapten Elliot merupakan musuh-musuh besar, dan puterinya tentu
merupakan tawanan penting sekali !”
“Tidak bisa. Akulah yang menangkapnya dan ia adalah tawananku !” kata Seng Bu.
Si gendut mengerutkan alisnya. “Kawan, kami adalah para pejuang, dan dalam
perjuangan, urusan pribadi harus dikesampingkan. Berikan gadis ini kepada kami dan jasamu
akan kami catat, kami laporkan kepada atasan kami !”
“Aku tidak perduli. Gadis ini menjadi tawananku dan siapapun tidak boleh
merampasnya!”
“Kau mau menjadi pengkhianat ?” Bentak si gendut.
“Aku bukan anak buahmu, aku tidak mengkhianati siapa-siapa.”
“Tidak perlu banyak cakap, rampas saja gadis itu !” terdengar teriakan-teriakan. Seng Bu
maklum akan gawatnya keadaan, maka cepat ia menotok jalan darah di pundak Sheila yang
membuat gadis itu seketika menjadi lemas dan tidak mampu bergerak, kemudian dengan tangan
kirinya Seng Bu memondong tubuh yang lemas itu di atas pundak kirinya. Sejenak jari-jarinya
menyentuh kulit daging yang lunak dan halus, akan tetapi semua perasaan aneh ini ditekannya
dan diapun meloncat ke depan.
Orang-orang itu berteriak-teriak dan beberapa orang sudah menghadang. Akan tetapi
Seng Bu menerjang mereka dan empat orang terpelanting ke kanan kiri ketika kaki tangannya
bergerak. Seng Bu hanya menggerakkan golok untuk menangkis senjata-senjata yang diarahkan
kepadanya, terutama sekali untuk menjaga agar tubuh yang dipondongnya tidak sampai terkena
bacokan atau tusukan. Begitu goloknya menangkis sambil mengerahkan tenaganya, dia membuat
beberapa buah senjata lawan beterbangan. Tentu saja orang-orang itu merasa terkejut bukan
main. Tak mereka sangka bahwa pemuda itu demikian lihainya. Hal ini menimbulkan
kecurigaan mereka dan mereka lalu mengepung. Si gendut yang memegang ruyung besar itu lalu
menubruk, menggerakkan ruyungnya menghantam ke arah tubuh Sheila yang dipanggul di atas
pundak kiri Seng Bu.
“Wuuuutttt .......... tranggg !!” Golok Seng Bu menangkis dan si gendut hampir
terpelanting. Dia mengeluarkan seruan kaget. Si gendut yang memimpin kelompok orang itu
terkenal dengan julukan Gajah Sakti. Dari julukannya ini saja dapat diduga bahwa dia tentu
Pedang Naga Kemala > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com 219
memiliki tenaga yang kuat seperti gajah. Oleh karena itu, dapat dibayangkan betapa kagetnya
ketika ruyungnya yang besar dan berat itu tadi ditangkis oleh Seng Bu, tubuhnya terpelanting dan
hampir saja terlempar !
Seng Bu tidak ingin melayani orang-orang itu lebih lama lagi. Setelah dengan tamparan
gagang golok dan tendangan kaki dia merobohkan beberapa orang penghalang di depan,
tubuhnya meloncat jauh ke depan. Melihat betapa pemuda itu, sambil memondong tubuh gadis
itu, dapat melayang jauh ke depan seperti terbang, semua orang melongo dan menjadi jerih.
Kiranya yang mereka keroyok adalah seorang yang memiliki kepandaian sehebat itu ! Karena
mengejarpun tidak akan ada gunanya, si gendut dan teman-temannya hanya memandang sampai
bayangan Seng Bu yang memondong tubuh Sheila lenyap di dalam gerombolan pohon-pohon
lebat dalam sebuah hutan.
Sampai beberapa lamanya Seng Bu berlari kencang. Bari setelah dia merasa yakin bahwa
tidak ada orang yang mengejarnya lagi, dia berhenti dan dengan hati-hati dia menurunkan tubuh
Sheila sambil membebaskan totokannya. Kembali jari-jari tangannya menyentuh kulit daging
yang lunak halus dan hamgat ketika dia menurunkan tubuh itu dan hidungnya mencium bau
keringat wanita bercampur dengan minyak harum yang keluar dari tubuh dan rambut Sheila.
Jantungnya berdebar kencang, akan tetapi Seng Bu dapat menekan batinnya sehingga jantungnya
berdenyut normal kembali.
Kini Sheila berdiri memandang dengan bengong dan sepasang matanya menatap wajah
Seng Bu penuh selidik. Ia sedang menimbang-nimbang, sedang menduga-duga, dengan siapa ia
berhadapan, orang macam apa adanya pemuda ini dan baik ataukah buruk niat yang terkandung
di hati dalam dada yang bidang itu. Dan diapun kagum bukan main karena kini ia merasa yakin
bahwa pemuda ini adalah seorang pendekar ahli silat seperti yang pernah dibacanya dan
didengarnya dari dongeng para pelayannya.
“Kau .......... kembali telah menolong dan menyelamatkan aku dari tangan gerombolan
itu.”
“Karena itulah kukatakan tadi bahwa engkau harus cepat pergi. Terlalu berbahaya di
daerah ini dan banyak sekali rombongan seperti mereka itu.”
“Siapakah gerombolan itu ?”
“mereka bukan gerombolan jahat, sama sekali bukan seperti tiga orang bajingan yang
menangkapmu pertama kali itu. Tidak, mereka tadi adalah sepasukan patriot, orang-orang gagah
yang memusuhi orang kulit putih.” Baru dia teringat bahwa yang diajak bicara adalah seorang
gadis kulit putih. “Maaf, aku tidak dapat menyalakan mereka ..........” Dan dengan berani Seng
Bu menentang pandang mata itu.
Sheila menarik napas panjang, lalu berkata lirih. “Tidak, akupun tidak dapat menyalakan
mereka !”
Ucapan ini mengejutkan dan mengherankan hati Seng Bu dan dialah yang kini
memandang wajah gadis itu penuh selidik. “Apa ? Benarkah itu ? Mereka memusuhi
Pedang Naga Kemala > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com 220
bangsamu, bahkan membunuh bangsamu, juga orang tuamu terbunuh oleh mereka dan kau tidak
menyalakan mereka ? Apa maksudmu ?”
Kembali Sheila menarik napas panjang. “Bangsaku bersalah, aku sudah sejak lama tidak
setuju dengan perdagangan candu mereka. Benda itu berbahaya, meracuni rakyat. Aku melihat
akibat-akibat mengerikan dari madat itu. Jadi kalau sekarang bangsamu marah dan memusuhi
bangsaku, bagaimana aku dapat menyalakan mereka ? Andaikata aku menjadi mereka, akupun
akan berbuat demikian !”
Seng Bu terbelalak, matanya memandang kagum.
“Aihh, engkau .......... engkau seorang gadis yang bijaksana sekali !”
“Dan engkau .......... engkau tentu seorang pendekar yang pandai ilmu silat.”
Seng Bu semakin heran. “Eh, bagaimana engkau bisa tahu tentang pendekar silat ?”
“Aku banyak membaca tentang pendekar dan banyak mendengar dari para pelayanku ….”
Seng Bu mengangguk-angguk. “Kiranya nona seorang terpelajar. Ah, baru teringat aku
bahwa nona, biarpun seorang asing kulit putih, akan tetapi pandai sekali berbahasa daerah dan
kata-katamu sopan halus seperti orang terpelajar.”
“Sejak berusia empat tahun aku tinggal di sini, tentu saja aku pandai bahasa sini.
Benarkah engkau menolongku dengan maksud baik, ingin menyelamatkan aku ? Tidak akan
kaubawa untuk ..........” wajah gadis itu memandang jijik.
“Untuk apa. Nona ?”
“Untuk kaubunuh di makam ayahmu agar darah ku membasahi makam ayahmu .......... ?”
Ia bergidik ngeri.
Seng Bu menggeleng kepala. “Tidak, tadi hanya kupakai agar mereka mau membiarkan
aku membawamu pergi. Siapa kira ada yang mengenalmu. Jadi kau anak opsir ?”
Sheila mengangguk. “Ayah dan ibu telah tewas ..........” dan tiba-tiba ia menangis lagi,
menangis terisak-isak karena teringat akan mayat ayah ibunya yang menggeletak di dekat kereta.
Seng Bu memandang gadis yang kini tak dapat menahan kesedihannya itu. Sheila merasa
betapa tubuhnya lemas tak bertenaga lagi setelah kini terlepas dari bahaya dan teringat akan ayah
bundanya. Ia menjatuhkan diri duduk di atas rumput, tak memperdulikan betapa pakaiannya
menjadi kotor. Ia menutupi muka dengan kedua tangan, akan tetapi isaknya makin keras dan air
mata mengalir keluar dari celah-celah jari tangannya. Seng Bu merasa kasihan sekali dan diapun
menghiburnya dengan suara lirih.
“Sudahlah, nona. Mereka sudah tewas, ditangisi sampai bagaimanapun tidak ada
gunanya. Yang sudah mati tidak perlu dipikirkan lagi, yang penting memikirkan yang masih
Pedang Naga Kemala > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com 221
hidup dan engkau masih hidup, nona.” Seng Bu bukan orang yang pandai mengatur kata-kata,
maka ucapan yang keluar dari lubuk hatinya ini walaupun mempunyai maksud yang amat baik,
namun tidak dimengerti oleh Sheila dan gadis itu menjadi makin mengguguk karena seolah-olah
diingatkan oleh pemuda itu bahwa hanya ialah seorang yang masih hidup seorang diri saja di
dunia yang penuh bahaya ini, di sebuah negeri asing yang kejam terhadap dirinya.
Melihat seorang gadis menangis demikian sedihnya, hal yang baru pertama kali ini
dialami oleh Seng Bu, hati pemuda ini diliputi keharuan dan rasa kasihan yang mendalam dan
suara tangis itu demikian memilukan hatinya sehingga tanpa disadarinya lagi kedua matanya
menjadi basah !
“Aku ………. aku memang masih hidup ………. akan tetapi apa artinya ? Aku ……….
aku tidak punya siapa-siapa lagi, aku hidup sebatangkara di sini ………. !” kata Sheila di antara
tangisnya.
“Nona, engkau tidak sendirian dalam hal ini. Akupun hidup sebatangkara, tidak punya
siapa-siapa lagi, ayah ibuku juga ………. sudah mati semua, terbunuh ……….”
Sheila yang tadinya sesenggukan itu tiba-tiba saja menghentikan tangisnya, mengangkat
muka dari lindungan kedua tangannya dan dengan mata merah basah memandang wajah Seng
Bu, sinar matanya penuh selidik dan kedua alisnya berkerut. “Orang tuamu ………. Mereka mati
karena ………. madat ………. ?” Suaranya mengandung penuh kekhawatiran, dan teringatlah ia
akan kata-kata ancaman yang dipergunakan oleh pemuda itu kepada gerombolan yang tadi
hendak menawannya.
Seng Bu menggeleng kepala. “Sama sekali tidak. Mereka tewas .......... karena kekacauan
yang timbul oleh pemberontakan. Aku melihat .......... mereka terbunuh tanpa dapat berbuat apaapa
..........” Seng Bu menghentikan kata-katanya dan kesedihan memenuhi hatinya karena
percakapan itu mengingatkan dia akan keadaan dirinya sendiri, akan kematian ayah bundanya
dan akan semua kesengsaraan yang pernah dialaminya dan baru sekali ini dia bicarakan dengan
orang lain. Tanpa terasa olehnya, kedua matanya menjadi basah, bahkan ada dua butir air mata
mengalir turun di atas pipinya.
Melihat betapa pemuda yang demikian gagah perkasa itu menitikan air mata, Sheila
menjadi terharu sekali. Gadis ini kini tidak merasa begitu berduka lagi, melainkan terharu dan
kasihan kepada Seng Bu. Kini air mata yang jatuh menitik dari kedua matanya berbeda lagi
dengan air matanya yang tadi, seperti juga air mata yang jatuh dari mata Seng Bu berbeda dengan
air mata yang membasahi kedua matanya sebelum dia terkenang akan keadaan dirinya sendiri.
Tangis merupakan suatu peristiwa amat penting dari kehidupan, bahkan air mata tidak
terpisahkan dari kehidupan seorang manusia. Kebohongan besarlah kalau seorang mengatakan
bahwa dia tidak pernah menangis ! Setidaknya, tentu dia pernah menangis dalam hatinya. Dan
tentu dia banyak menangis pula di waktu masih kecil, setiap hari menangis entah berapa kali.
Bahkan menurut penyelidikan para cendekiawan, tangis merupakan suatu keharusan bagi
manusia karena tangis merupakan obat yang amat mujarab, merupakan suatu pelepasan segala
ganjalan, pelampiasan segala kekecewaan dan kemarahan. Tanpa tangis, mungkin usia manusia
menjadi lebih pendek dari pada kepanjangan usia pada umumnya seperti sekarang ini.
Pedang Naga Kemala > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com 222
Tangis bukan hanya menjadi tanda kedukaan hatinya, bahkan kegembiraan yang besar,
manusia menitikkan air mata seperti orang menangis. Kegembiraan besar mendatangkan
keharuan yang membuat orang menangis pula. Agaknya hanya dalam suara tangis sajalah
terdapat suatu kesungguhan, suatu kewajaran, walaupun tentu saja ada tangis yang dibuat-buat.
Betapapun juga, tangis tidaklah sepalsu tawa.
Suara pertama dari manusia adalah tangis. Begitu terlahir, manusia dari bangsa apapun
juga, mengeluarkan suara pertama itu, ialah menangis. Dan suara ini adalah suara kemanusiaan,
suara suci karena dikeluarkan dari mulut manusia sebagai gerakan pertama kali, keluar tanpa
dikehendaki, suara yang sama sekali tidak mengandung emosi, atau pamrih. Karena itu, suara
yang wajar ini dikenal oleh seluruh manusia di dunia tanpa membedakan bangsa dan bahasa,
menjadi satu-satunya suara yang amat dekat dengan manusia berbangsa apapun juga. Dari suara
tangis, kita tidak akan mampu membedakan apakah tangis itu keluar dari mulut seorang
berbangsa ini atau itu. Kelahiran manusia diiringi tangis, tangisnya sendiri. Kematiannyapun
diiringi tangis, tangis mereka yang ditinggalkan. Kehidupan itu sendiri, antara lahir dan mati,
penuh dengan selingan tangis !
Sesungguhnya, tangis merupakan sesuatu yang tak terpisahkan dari hidup, dan tangis
merupakan pertanda dari keadaan batin yang macam-macam pula. Tangis duka didasari oleh rasa
iba diri, seperti yang dilakukan oleh Sheila dan Seng Bu ketika keduanya teringat akan keadaan
diri mereka masing-masing. Ada pula tangis haru yang didasari oleh rasa iba terhadap orang lain.
Ada tangis karena kegembiraan yang besar. Tangis karena kemarahan. Tangis merupakan
pencerminan keadaan batin yang diusik emosi.
Demikian dekatnya tangis dengan kehidupan kita sehingga tangis inipun mudah sekali
menular. Berada di antara banyak orang yang sedang menangis, sukarlah bagi kita menahan diri
agar tidak ikut menitikkan air mata.
Gan Seng Bu adalah seorang pemuda yang gagah perkasa, yang sejak kecil sudah
digembleng oleh keadaan yang pahit, oleh kesukaran, kemudian digembleng ilmu oleh seorang
datuk sesat yang sakti. Semenjak menjadi murid Thian-tok, dia tidak lagi pernah menangis,
seolah-olah hatinya telah membeku. Hanya karena memang pada dasarnya dia tidak suka akan
kejahatan, dan memiliki watak gagah perkasa, maka dia tidak terseret oleh watak gurunya yang
aneh, jahat dan amat kejam itu.
Akan tetapi, begitu bertemu dengan Sheila, terjadilah perobahan yang besar dan luar
biasa, yang membuat Seng Bu sendiri menjadi bingung dan terkejut. Dalam waktu sehari,
bahkan baru beberapa jam saja, setelah bertemu dengan Sheila, dia beberapa kali mengalami
guncangan batin, jantungnya berdebar penuh ketegangan, penuh kekhawatiran, dan lebih hebat
lagi, kini dia sampai dua kali menitikan air mata dalam keadaan yang berbeda ! Pertama,
keharuan dan iba terhadap diri gadis itu membuat dia tidak dapat menahan air matanya, dan kini,
setelah teringat akan keadaan diri sendiri, dia menitikkan air mata karena iba diri dan duka.
Kedukaan, saling iba, dan persamaan nasib itu mendekatkan dua hati yang bertemu dalam
keadaan yang demikian mengharukan dan menyedihkan. Mereka duduk di atas rumput, kini
tidak bicara, hanya sinar mata mereka saling pandang dengan penuh getaran perasaan.
Pedang Naga Kemala > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com 223
“Engkau sungguh patut dikasihani, nona.” Akhirnya Seng Bu berkata untuk menghibur
hati sendiri. Memang tidak ada cara yang paling mujarab untuk mengobati kesedihan diri sendiri
dari pada mengalihkan perhatian kepada nasib lain orang, sehingga iba diri berobah menjadi iba
kepada orang lain.
Jilid X *****
“Engkaulah yang patut dikasihani,” jawab Sheila. Mereka saling merasa kasihan, dan
mereka sama sekali tidak sadar bahwa rasa iba ini merupakan jembatan yang dekat sekali untuk
menyeberang kepada cinta asmara.
“Tidak, nona. Aku adalah orang dari negeri ini, dan aku langsung terlibat, bahkan aku
juga ikut aktip dalam pergolakan sehingga sudah sepantasnya kalau aku menjadi korban
gelombang ini. Akan tetapi engkau, engkau seorang asing dan engkau sama sekali tidak tahumenahu
tentang semua ini .......... dan engkau menjadi korban ..........”
“Tidak ! Pandanganmu itu keliru, sahabat yang gagah. Setiap orang tentu menjadi sebab
dari pada akibat yang menimpa dirinya sendiri. Ayah bertugas di sini, dan ayah ikut pula
mendorong kereta kejahatan yang berupa penyelundupan madat ke negeri ini. Itulah sebab
terjadinya musibah hari ini. Dan apa bila ada angin ribut melanda, angin tidak memilih pohon
apa saja tentu akan dilandanya, daun apa saja, bunga apa saja mungkin rontok oleh amukan angin
dan badai. Biar aku tinggal di negeriku sendiri, kalau di sana terjadi badai seperti di sini, kalau
terjadi pergolakan, mungkin saja aku tertimpa dan menjadi korban. Dalam hal ini, aku tidak
menyalahkan siapa-siapa, melainkan kesalahan pihakku sendiri, orang tuaku dan bangsaku.”
Seng Bu tertegun. Demikian mendalam arti kata-kata gadis itu, demikian bijaksana
sehingga sukar ditangkapnya secara jelas, namun samar-samar dia dapat mengerti. Memang
gadis itu seorang yang bijaksana, luas pengetahuannya biarpun usianya masih muda, karena ia
banyak membaca. Bacaan, kalau dilakukan dengan tekun, kalau dilakukan dengan pencurahan
perhatian, merupakan sumber pengetahuan dan pengertian dan memupuk kebijaksanaan.
Seorang bijaksana akan melihat bahwa segala akibat itu tentu bersebab, dan kalau diteliti, maka
segala akibat yang menimpa diri sendiri sudah pasti sebabnya bersumber pada diri sendiri pula.
Kita sudah terbiasa sejak kecil untuk mencari kesalahan di luar diri sendiri, untuk mencari
kambing hitam atau keranjang sampah. Hal ini sama sekali tidak ada manfaatnya, bahkan
mengeruhkan pikiran, menimbulkan dendam dan permusuhan, kebencian kepada yang berada di
luar diri. Mengapa kita tidak pernah mau menjenguk ke dalam diri sendiri untuk mencari sebab
dari pada setiap akibat yang timbul dan yang menimpa diri kita sendiri ? Bukankah hal ini timbul
karena kita sudah membuat dan menciptakan sebuah gambaran tentang diri kita sendiri, sebuah
gambaran yang menjadi raja “aku” ? Aku yang paling baik, paling benar, dan paling patut
dikasihani, menjadikan kita menjadi rendah diri atau tinggi hati, satu di antara dua. Keakuan
yang membuat kita enggan untuk mencari kesalahan pada diri sendiri.
Kalau kita tertipu seseorang, kita condong untuk mencurahkan semua perhatian kepada si
penipu, menyalahkannya, menuntutnya, membencinya, mendendam dan mencari jalan untuk
membalasnya berikut bunganya. Mengapa kita tidak menghentikan pencurahan keluar itu dan
Pedang Naga Kemala > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com 224
mencari sebabnya dalam diri sendiri ? Kalau kita melakukan hal itu, maka akan nampaklah oleh
kita sebabnya yang terutama adalah pada diri kita, yaitu karena kita lengah, karena kita bodoh,
karena kita lemah, maka kita sampai tertipu. Pengamatan terhadap diiri sendiri ini jauh lebih
besar manfaatnya, dapat membuat kita sadar dan menganggap peristiwa itu sebagai suatu
pengalaman berharga, sebagai pelajaran sehingga selanjutnya kita akan berhati-hati, akan
waspada sehingga tidak sampai tertipu lagi. Pandangan keluar, sebaliknya, mendatangkan emosi,
dendam dan kebencian dan tidak akan menambah kewaspadaan kita sehingga kelak mungkin saja
hal yang sama terulang lagi karena kelengahan kita sendiri.
Dalam menghadapi setiap peristiwa yang menimpa kita, demikian kata orang bijaksana,
kita tidak menyalahkan Tuhan tidak mengutuk Setan, melainkan mencari sebab-musababnya
dalam diri kita sendiri !
“Nona, engkau tabah menghadapi semua penderitaan, membuat aku kagum sekali,”
akhirnya Seng Bu menyatakan kekaguman hatinya.
“Aku bukan apa-apa kalau dibandingkan denganmu, sobat. Engkau gagah perkasa,
engkau berbudi mulia, biarpun aku seorang asing sama sekali bagimu, bahkan dari bangsa asing
yang telah banyak menimbulkan kesengsaraan kepada bangsamu, engkau masih mau
menolongku, bahkan melindungiku dengan taruhan nyawa. Bolehkah aku mengenal namamu ?”
“Namaku Gan Seng Bu, hidup sebatangkara saja di dunia ini.”
“Gan Seng Bu ? Nama yang gagah.”
“Dan engkau siapakah, nona ?”
“Namaku Sheila.”
“Sheila ………. ? Sheila ………. ?” Seng Bu tidak memberi komentar, akan tetapi
beberapa kali bibirnya bergerak menyebut nama Sheila dengan lembut dan tidak kaku. Diamdiam
Sheila merasa girang bahwa namanya Sheila, sebuah nama yang tidak akan sukar
terucapkan oleh mulut pribumi yang sukar menyebut huruf “r”. Coba namanya Margaret atau
lain nama yang menggunakan huruf itu tentu akan sukar bagi Seng Bu untuk menyebutnya.
Tidak, nama Sheila tidak sukar bagi lidah Seng Bu.
“Biarlah aku menyebutmu Seng Bu saja dan engkau menyebutku Sheila tanpa nona,
bagaimana ?”
Ketika Seng Bu mengangguk tersenyum, Sheila juga tersenyum dan pada saat itu
keduanya sudah lupa sama sekali akan keharuan dan kesedihan mereka tadi. Memang, suka atau
duka hanyalah permainan pikiran belaka yang menimbulkan emosi, kalau pikiran tidak lagi
tertuju kepada hal itu, tentu tidak ada pula duka atau suka !
“Seng Bu, setelah engkau mengajakku sampai ke tempat ini, lalu selanjutnya
bagaimanakah ? Aku seharusnya pergi ke kapal dan menyelamatkan diri dengan orang-orang
Pedang Naga Kemala > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com 225
kulit putih lainnya. Akan tetapi jalan ke sana sudah terputus dan aku berada di sini. Bagaimana
selanjutnya ? Engkau tidak akan meninggalkan aku begini saja di sini, bukan ?”
“Aih, tentu saja tidak, Sheila. Aku tidak akan berbuat kepalang tanggung. Aku sudah
berani mengajakmu ke sini, aku harus dapat mempertanggungjawabkan dan selanjutnya aku akan
melindungimu sampai .......... sampai engkau selamat benar.”
Makin yakinlah hati Sheila akan kegagahan Seng Bu, akan kesungguhan hatinya
melindunginya dan hatinya mulai pasrah. Ia akan merasa aman kalau selalu berada di dekat
pemuda ini, dalam keadaan bagaimanapun juga.
“Terima kasih, Seng Bu. Akan tetapi, ke mana selanjutnya kita akan pergi ?” Ia menatap
wajah yang gagah itu. “Apakah engkau mempunyai rumah ?”
Seng Bu tersenyum dan semua bayangan kekerasan meninggalkan garis-garis wajahnya
ketika dia tersenyum. Dia menggeleng kepalanya dan Sheila melihat kuncir rambut yang hitam
gemuk dan panjang itu bergoyang di depan dada pemuda itu. Rambut yang hitam mengkilap,
gemuk panjang, bagus sekali.
“Aku adalah seorang yang hidup sebatangkara, tidak memiliki apa-apa, Sheila. Juga tidak
mempunyai rumah. Akan tetapi untuk sementara ini, aku tinggal bersama kawan-kawan lain di
dalam sebuah hutan di mana dibangun pondok darurat besar di mana kami tinggal bersama.”
“Kawan-kawan ?”
“Ya, kawan-kawan seperjuangan, orang-orang gagah yang mempunyai cita-cita yang
serupa, yaitu mengenyahkan penjajah asing dari tanah air.”
“Ah, sekarang aku tahu !” Sheila berkata dengan sikap gembira. “Aku sudah pernah baca
dan mendengar tentang pendekar-pendekar patriot yang bercita-cita membebaskan tanah air dari
cengkeraman pemerintah Mancu. Ada perkumpulan Tombak Merah, Pintu Besar, Thian-te-pang.
Yang manakah perkumpulanmu ?”
Seng Bu menggeleng kepalanya. “Aku bebas, tidak terikat perkumpulan yang manapun,
Sheila. Akan tetapi ada kukenal mereka itu karena kami setujuan, dan yang kini berkumpul dan
bersembunyi di dalam hutan itu, sebagian besar memang anggauta-anggauta Thian-te-pang,
sebagian pula adalah pejuang-pejuang sukarela seperti aku, termasuk suhengku yang menjadi
tokoh Thian-te-pai yang terkenal pula.”
Sheila lalu diajak melanjutkan perjalanan oleh Seng Bu, memasuki sebuah hutan besar
dan di tengah-tengah hutan itu Sheila dan Seng Bu disambut oleh puluhan orang. Mereka semua
terheran-heran melihat munculnya Seng Bu bersama seorang gadis kulit putih yang cantik jelita.
Mereka itu semua semua adalah orang-orang yang sejak kecil dididik memusuhi penjajah Mancu,
dan merupakan pejuang-pejuang yang ingin meruntuhkan kekuasaan Mancu, tidak mempunyai
rasa permusuhan terhadap bangsa kulit putih walaupun hal ini bukan berarti bahwa mereka
menyukai orang kulit putih. Tidak, kebanyakan dari mereka tidak suka kepada orang kulit putih,
terutama sekali dengan adanya penyebaran madat. Namun, mereka tidak memusuhi bangsa asing
Pedang Naga Kemala > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com 226
ini secara terbuka. Oleh karena itu, biarpun Sheila disambut dengan penuh keheranan, namun
tidak ada yang memusuhi atau ingin mengganggunya. Seng Bu lalu memperkenalkan Sheila
sebagai seorang gadis yang kehilangan semua keluarganya yang tewas oleh mereka yang anti
bangsa kulit putih dan bahwa dia telah menyelamatkan gadis itu dari gangguan penjahat-penjahat
yang hendak memperkosanya. Mendengar ini, orang-orang yang kebanyakan berjiwa pendekar
itu ikut merasa simpati dan mereka menyambut kedatangan Sheila dengan sikap ramah, apa lagi
setelah mendengar dari mulut Sheila sendiri betapa gadis asing yang pandai bicara daerah ini
mengagumi perjuangan mereka. Sheila pandai bicara daerah, dan sikapnya juga ramah, wajahnya
manis menarik, maka sebentar saja semua orang merasa suka dan kasihan kepadanya. Di dalam
rombongan besar ini terdapat pula wanita-wanita, ada wanita yang menjadi anggauta keluarga
para pejuang itu, ada pula wanita gagah yang memang menjadi anggauta pasukan. Mereka yang
tidak suka akan kekerasan bekerja sebagai pelayan dapur umum. Karena adanya para wanita
yang menerima Sheila sebagai seorang sahabat, maka gadis inipun merasa senang dan tidak
terasing hidup di antara para pejuang itu. Dan lucunya, para wanita di dalam rombongan itu, dan
juga sebagian besar di antara mereka, diam-diam menganggap bahwa Sheila adalah pacar atau
calon isteri Gan Seng Bu ! Semua orang menganggap hal ini sebagai suatu yang lumrah, bahkan
ketika mendengar desas-desus ini, baik Seng Bu maupun Sheila hanya senyum-senyum saja.
Hanya ada satu orang yang menerima berita ini dengan alis berkerut, dengan hati yang tidak suka
dan orang ini bukan lain adalah Ong Siu Coan !
Mula-mula Ong Siu Coan juga bukan merupakan anggauta Thian-te-pang. Akan tetapi
sejak kecil dia memang bercita-cita untuk menentang pemerintah Mancu dan berjuang untuk
mengusir penjajah dari tanah air. Maka, begitu bertemu dengan perkumpulan seperti Thian-tepang
yang terdiri dari orang-orang yang memiliki cita-cita demikian pula, hatinya segera tertarik
dan diapun menggabungkan diri. Dan Siu Coan merupakan seorang pejuang yang gagah perkasa,
berilmu tinggi sehingga sebentar saja namanya terkenal sekali di antara orang-orang Thian-tepang,
bahkan dia dianggap sebagai seorang tokoh Thian-te-pang walaupun dia tidak menjadi
anggauta secara syah. Dalam perkelahian dan penyerbuan terhadap pasukan pemerintah, Siu
Coan selalu berada di depan dan dicontoh oleh lain-lainnya, bahkan menjadi pemimpin mereka.
Ketika berjumpa dengan sutenya dalam keributan di sekitar Kanton, Siu Coan membujuk sutenya
untuk bergabung. Seng Bu tidak memiliki cita-cita seperti suhengnya, namun dia berjiwa
pendekar dan melihat bahwa Thian-te-pang terdiri dari orang-orang gagah yang juga membela
kaum lemah, diapun tidak berkeberatan untuk menggabungkan diri.
Ketika melihat sutenya pulang ke hutan bersama seorang gadis kulit putih yang cantik,
mula-mula Siu Coan hanya tersenyum saja dan menyambut dengan sikap biasa saja. Akan tetapi,
aneh sekali, begitu mendengar bahwa gadis itu adalah pacar dan calon isteri Seng Bu, mulailah
timbul perasaan tidak enak di dalam hatinya. Dia sendiri tidak tahu bahwa itu adalah permulaan
perasaan iri ! Mulailah dia memperhatikan Sheila dan makin diperhatikan, makin kagum dia
karena baru sekarang dia melihat bahwa Sheila adalah seorang gadis yang cantik sekali, dan
memiliki bentuk tubuh yang amat menggairahkan !
Perlu diketahui bahwa Thian-tok yang menjadi guru dua orang pemuda itu adalah seorang
datuk sesat yang berhati kejam sekali. Juga Thian-tok, seperti kebanyakan datuk sesat lalinnya,
mempunyai watak mata keranjang dan suka menggoda wanita. Memang, setelah usianya tua
sekali, yaitu setelah menjadi guru kedua orang muda itu, kegilaannya akan wanita tidaklah seperti
dahulu di waktu muda. Dahulu Thian-tok terkenal sebagai pengganggu wanita, tidak perduli
Pedang Naga Kemala > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com 227
wanita itu isteri orang yang sudah mempunyai anak, ataukah gadis yang masih remaja, asal dia
tertarik tentu akan diculiknya begitu saja. Ketika dia menjadi guru Siu Coan dan Seng Bu, hanya
beberapa kali saja dia menculik wanita dan hal inipun diketahui oleh dua orang muridnya. Diamdiam
Seng Bu hanya merasa tidak senang, akan tetapi tidak berani menentang gurunya.
Sebaliknya, Siu Coan diam-diam merasa senang dan bahkan mencoba untuk mengintai apa yang
diperbuat oleh suhunya. Dan secara diam-diam pula, di luar tahu sutenya, beberapa kali Siu
Coan juga mengikuti jejak gurunya, mengganggu wanita dengan paksa atau dengan halus.
Demikianlah, terdapat suatu watak buruk tersembunyi di balik lubuk hati Siu Coan yang
kelihatannya bersikap sebagai seorang pejuang, seorang patriot dan pendekar yang gagah perkasa
itu. Dan melihat Sheila, timbul pula gairahnya yang didorong oleh perasaan iri dan cemburu
terhadap sutenya, apa lagi melihat betapa Sheila selalu bersikap manis dan mesra terhadap Seng
Bu. Mulailah dia mendekati gadis kulit putih itu, mula-mula hal ini dilakukan ketika Seng Bu
sedang tidak ada, dan secara wajar seperti seorang sahabat.
Dibandingkan dengan Seng Bu, Siu Coan lebih pandai bicara, pandai membawa diri dan
menyesuaikan diri dengan keadaan sekelilingnya. Juga dia lebih pandai dalam hal kesusasteraan,
lebih luas pengetahuan umumnya, dan tentu saja jauh lebih pandai dibandingkan dengan Seng Bu
mengenai tulisan dan bacaan karena di waktu kecilnya Siu Coan pernah bersekolah, tidak seperti
Seng Bu yang hanya anak keluarga pemburu yang kasar. Oleh karena itu setelah Siu Coan
melakukan pendekatan, tidak mengherankan kalau Sheila cepat tertarik sekali dan nampak
bergaul akrab dengan Siu Coan.
Sheila kini menjadi semakin kagum saja setelah hidup di tengah-tengah para pendekar
dan pejuang itu. Ia mengagumi kejujuran mereka, kegagahan mereka, dan betapa orang-orang ini
hanya untuk menunjang sebuah cita-cita membebaskan tanah air dari cengkeraman penjajah, rela
hidup demikian bersahaja, kehilangan keluarga, bahkan mempertaruhkan nyawa demi cita-cita
mereka. Ia merasa kagum sekali.
Ketika Siu Coan mendekati, tentu saja ia sambut dengan ramah. Siu Coan adalah suheng
dari Seng Bu dan ternyata bahwa suheng dari sahabat baiknya ini adalah seorang yang demikian
pandainya, tidak saja pandai ilmu silatnya, akan tetapi juga luas pengetahuannya dan enak diajak
bicara. Bahkan tidak seperti Seng Bu yang agak pendiam dibandingkan dengan sang suheng ini.
Lambat laun Seng Bu maklum juga bahwa di antara Sheila dan suhengnya terdapat jalinan
persahabatan yang akrab. Akan tetapi diapun tidak menentang, karena dia merasa tidak berhak
melarang Sheila bergaul dengan siapapun juga, apa lagi dengan suhengnya sendiri. Memang ada
perasaan cemburu di dalam hatinya, akan tetapi perasaan ini segera dibantahnya sendiri dan
diusirnya. Dia tidak berhak untuk cemburu ! Apanyakah Sheila itu ? Hanya seorang sahabat !
Biarpun selama berbulan-bulan ini hidup bersama di dalam suatu kelompok, biarpun antara dia
dan Sheila terdapat hubungan yang manis dan nampak mesra, namun belum pernah mereka
menyinggung soal asmara. Dan dia selalu menghormati Sheila, tidak pernah menggodanya
dengan kurang ajar, bahkan tidak pernah berani memperlihatkan gejolak hatinya yang sebetulnya
sudah jatuh cinta sejak pertemuan pertama dahulu !
Bukan hanya jasmani Sheila yang menarik perhatian Siu Coan. Ada suatu hal lain lagi
yang amat menarik hatinya ketika dia mulai mendekati Sheila seringkali bercakap-cakap dengan
Pedang Naga Kemala > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com 228
gadis itu. Hal yang amat menarik hatinya ini adalah tentang Agama Kristen ! Di dalam
percakapan itu, mereka berdua menyinggung soal agama dan Sheila lalu bercerita tentang
agamanya. Dan sungguh aneh sekali, Siu Coan tertarik bukan main. Mula-mula memang
menjadi taktiknya saja untuk mendekati gadis itu, membicarakan soal agama gadis itu. Akan
tetapi, makin lama dia semakin tertarik dan banyak bertanya tentang pelajaran dalam agama itu.
Dengan senang hati Sheila menceritakan segalanya, bahkan gadis itu lalu memberi tahu kepada
Siu Coan tentang Alkitab yang sudah diterjemahkan ke dalam bahasa daerah ! Dan karena Siu
Coan mendesak untuk dapat membaca kitab itu, Sheila memberi tahu bahwa ada beberapa orang
di Kanton yang memiliki kitab terjemahan itu, yaitu mereka yang sudah masuk Agama Kristen.
Semenjak waktu itu, mulailah Siu Coan tertarik kepada Agama Kristen dan diam-diam dia
melakukan banyak hubungan dengan pemuka-pemuka Kristen di Kanton, yaitu bangsa sendiri
yang sudah memeluk agama itu dan dari merekalah dia memperoleh kitab terjemahan. Pada
waktu itu, terjemahan Alkitab dalam Bahasa Tiongkok amatlah buruknya. Tanpa bimbingan
seorang pendeta atau seorang ahli, tidak mudah menangkap arti terjemahan itu. Akan tetapi Siu
Coan yang memiliki watak tinggi hati dan menganggap diri sendiri paling pintar, tidak
membutuhkan bimbingan dan dia mempelajari sendiri kitab terjemahan itu. Dia sendiri yang
membuat penafsirannya dan mulailah dia menganut agama baru yang dicampuradukkan dengan
agama-agama lain yang pernah dipelajarinya. Mulailah orang muda yang memang berwatak
aneh, cerdik dan luar biasa ini membentuk sebuah agama baru yang aneh, pencampuran dari
Agama Kristen dan agama-agama yang lebih dulu. Atau semacam Agama kristen yang berbahu
pengaruh pelajaran Agama-agama Buddha, Tao, dan Khong-hu-cu ! Masih dicampuri lagi
dengan segala macam tradisi turun-temurun. Di dalam dada pemuda ini mulai dipengaruhi dua
unsur yang amat kuat. Pertama adalah cita-cita menentang penjajah Mancu, kebencian yang
mendalam terhadap penjajah Mancu, dan ke dua adalah pembentukan Agama Kristen yang tanpa
disadarinya telah menyimpang dari pada prlajaran yang sebenarnya itu.
Kebanyakan dari kita, terutama di dunia modern akhir-akhir ini, condong untuk menilai
seseorang melalui agamanya, atau kebangsaannya, kesukuannya, kelompoknya, kedudukannya,
pendidikannya, atau bahkan dari kekayaannya ! Karena penilaian seperti itu, tentu saja lalu
bermunculan konflik-konflik antar agama, antar suku, antar kelompok dan sebagainya. Masingmasing
pihak tentu saja menilai pihak sendiri paling baik dan paling benar, sedangkan pihak lain
yang paling salah dan paling buruk ! Padahal, seperti dapat kita lihat dari kenyataan, bukan dari
teori, baik buruknya seseorang sama sekali tidak tergantung dari agamanya, kebudayaannya, dan
sebagainya itu. Baik buruknya seseorang tergantung dari perbuatannya dan batinnya, karena
perbuatan itu mencerminkan keadaan batin. Agama, kebangsaan, kedudukan dan sebagainya
adalah pakaian yang dikenakan pada seseorang manusia. Betapapun indah dan bersihnya pakaian
itu, kalau manusia yang memakainya kotor dan buruk, tentu saja akan tetap kotor dan buruk, dan
bukan tidak mungkin bahwa pakaian yang bersih itu akan terbawa menjadi kotor. Agama
hanyalah suatu pelajaran bagi manusia agar hidup menurut jalur yang benar dan baik, akan tetapi
tentu saja bukan agamanya yang menentukan, melainkan manusianya sendiri karena dapat saja
dia menyeleweng dari pada jalur itu.
Sayang bahwa banyak yang tidak melihat kenyataan ini. Kita terlalu mementingkan
pakaian-pakaiannya sehingga melupakan manusia itu sendiri. Banyak pertikaian timbul di antara
manusia karena pakaian itu, karena agama, karena suku, karena bangsa, karena kedudukan dan
kekayaan, dan semua ini bersumber kepada keakuan yang ingin senang, ingin benar sendiri.
Pedang Naga Kemala > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com 229
Demikian pula yang terjadi dengan Ong Siu Coan, dia bukan orang sembarangan. Sejarah
membuktikan bahwa Ong Siu Coan (1814 – 1864) kelak menjadi seorang pemimpin besar dari
kelompok pejuang yang pernah menggegerkan Tiongkok dengan gerakan yang terkenal dengan
nama Tai-peng ! Akan tetapi sungguh patut disesalkan bahwa manusia Ong Siu Coan yang
terbuai oleh cita-cita, terbuai oleh segala macam pelajaran yang diciptakannya sendiri sehingga
dia menjadi tersesat.
Dia demikian tertarik kepada Sheila dan mulai bermimpi untuk menjadi seorang
pemimpin rakyat seperti yang dicita-citakan, memimpin rakyat bangkit menentang penjajah
dengan Sheila sebagai isteri di sampingnya, dan dia bersama Sheila akan menyebarkan agama
barunya ! Terdorong oleh perasaan ini, pada suatu pagi dia mencari Sheila. Gadis itu sedang
mencuci pakaian bersama para wanita lain di anak sungai yang jernih airnya, di lereng bukit.
Dengan amat ramah Siu Coan lalu membantu gadis itu mencuci pakaian. Tentu saja Sheila tidak
mau menolak bantuan ini, akan tetapi sambil tertawa Siu Coan berkata,
“Sheila, apakah pakaianmu terlalu kotor maka engkau malu kalau aku membantumu
mencucinya ?” Ucapan ini tentu saja membuat Sheila tidak dapat menolak lagi dan terpaksa
memberikan beberapa baju luar yang sedang dicucinya, sedangkan ia mencuci pakaian dalamnya.
Tentu saja perbuatan Siu Coan ini memimpin suara ketawa tertahan dan senyum simpul
para wanita yang sedang mencuci pakaian. Bagi mereka, mencuci pakaian adalah pekerjaan
wanita dan kalau ada laki-laki yang ikut mencuci pakaian, apa lagi pakaian wanita yang
dicucinya, maka hal itu sungguh lucu dan juga tidak pantas ! Hal ini agaknya disadari oleh Siu
Coan, dan pemuda yang cerdik ini lalu mendapatkan kesempatan untuk mempropagandakan
kepercayaan barunya.
“Kenapa kalian mentertawakan aku ? Karena aku membantu cucian Sheila ? Ah, tentu
kalian berpikir bahwa mencuci pakaian tidak pantas bagi pria ? Itu adalah pikiran yang kuno dan
kotor yang harus dibuang. Di dalam pandangan Tuhan, derajat pria dan wanita sama saja. Kalau
wanita boleh mencuci pakaian pria, kenapa pria tidak boleh mencuci pakaian wanita ? Pria
bukanlah manusia istimewa yang harus dibedakan dan lebih tinggi derajatnya dari pada wanita.
Kalian harus mempelajari agama baruku, maka kalian akan dapat berpikiran maju seperti aku dan
derajat kalian akan sama dengan pria.”
Ucapan Siu Coan tentang derajat, tentang persamaan hak antara pria dan wanita itu pada
waktu itu terdengar amat janggal dan lucu, maka ramailah orang-orang perempuan itu terkekeh
mentertawakan. Akan tetapi Siu Coan hanya tersenyum saja dan memang pemuda ini pandai
sekali membawa diri sehingga banyak wanita yang suka dan kagum kepadanya.
Setelah selesai mencuci pakaian, Siu Coan mengantarkan Sheila pulang membawa
cuciannya. Kesempatan inilah dipergunakan Siu Coan untuk mengajaknya bicara berdua saja.
Di tengah perjalanan, dia mengajak gadis itu berhenti.
“Ada apakah, Siu Coan ? Engkau kelihatan ada sesuatu yang amat penting untuk
dibicarakan denganku ?” tanya Sheila.
Pedang Naga Kemala > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com 230
“Memang tepat dugaanmu, Sheila. Aku ingin menyampaikan sesuatu yang amat penting,
sesuatu yang amat suci dan untuk itu, semalam aku telah menerima petunjuk sendiri dari Tuhan.”
“Ahhh, benarkah ?” Sheila sendiri kadang-kadang terkejut dengan pernyataan Siu Coan.
Pernah pemuda itu menceritakan betapa semalam dia digoda setan dan setan itu diusirnya dengan
kekuatan doa. Pernah pula suatu kali dia mengatakan bahwa semalam dalam keadaan antara
sadar dan tidak sadar dia bertemu dengan Jesus !
“Aku tidak membohong, Sheila. Dan petunjuk itu mengatakan bahwa kelak aku akan
menjadi raja ..........”
“Ehh .......... ?”
“Bukan raja seperti kaisar penjajah sekarang, melainkan raja di antara rakyat untuk
membebaskan rakyat dari penjajah, untuk menuntun rakyat ke jalan terang, untuk mengajak dan
membawa rakyat ke kaki Tuhan ..........”
“Hemm, itu bagus sekali, Siu Coan.”
“Dan di sampingku ada engkau, Sheila. Engkaulah yang membantuku, bahkan engkau
yang memperkuat imanku, mempertebal keberanianku dan memperteguh tekadku, menambah
semangatku.”
“Aku, Ah, itupun baik sekali,” kata Sheila yang mengira bahwa Siu Coan tentu hanya
menceritakan mimpinya saja dan apa salahnya kalau ia juga dimasukkan ke dalam mimpi itu ?
“Baik sekali, Sheila ? Benarkah itu ?” Dan tiba-tiba Siu Coan memegang tangan Sheila
dengan lembut. “Benarkah engkau menganggapnya baik sekali ?”
Barulah Sheila gelagapan. Pegangan Siu Coan demikian kuatnya sehingga menakutkan
hatinya. Juga naluri kewanitaannya merasakan hal tidak wajar. Apa lagi ketika ia menyambut
pandang mata pemuda itu, melihat betapa sepasang mata itu mengeluarkan sinar yang aneh, sinar
mata seorang laki-laki yang penuh berahi ! Sheila gemetar dan dengan hati-hati ia menarik
tangannya terlepas dari genggaman tangan Siu Coan dan hatinya merasa lega karena pemuda itu
tidak menahannya.
“Tentu saja aku menganggapnya baik. Bukankah hal itu baik sekali ? Dan pula,
bukankah hal itu hanya mimpi saja, Siu Coan ?”
“Bukan, bukan mimpi, Sheila ! Melainkan petunjuk yang kulihat nyata sekali. Peristiwa
yang akan terjadi kelak, akan tetapi yang sudah dapat kulihat dengan jelas sekarang ini. Sheila,
karena itulah pagi-pagi ini aku menemuimu, dan aku ingin bertanya kepadamu. Maukah engkau
berada di sampingku selalu ? Maukah engkau membantuku, Sheila ?”
Pertanyaan itu diajukan dengan suara menggigil dan mengandung getaran aneh sehingga
Sheila memandang dengan mata terbelalak. Sepasang mata yang biru laut itu memandang penuh
Pedang Naga Kemala > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com 231
selidik, lalu ia bertanya, “Apa yang kaumaksudkan, Siu Coan ? Bicaralah yang jelas dan terus
terang !”
Siu Coan menghela napas panjang. Dia tidak merasa heran kalau ada orang tidak
mengerti maksud hatinya, karena kadang-kadang suara hatinya “terlampau tinggi” untuk orang
lain dan harus dijelaskan.
“Baiklah, Sheila, dengan kata-kata biasa, aku hendak mengatakan bahwa aku cinta
padamu dan bahwa aku ingin sekali engkau dapat menjadi isteriku.”
Kini Sheila benar-benar terkejut. Hal itu sama sekali tak pernah disangkanya. Memang
ia suka bergaul dengan pemuda ini, suka bercakap-cakap karena selain Siu Coan mempunyai
sikap yang menarik dan menyenangkan, juga pemuda ini pandai sekali. Lebih-lebih karena Siu
Coan menaruh perhatian demikian mendalamnya tentang Agama Kristen. Akan tetapi sama
sekali tidak pernah disangkanya bahwa Siu Coan menaruh hati kepadanya. Bukankah sudah jelas
bagi Siu Coan dan bagi semua orang bahwa ia dan Seng Bu mempunyai pertalian hati yang
mendalam ? Bukankah merupakan hal yang jelas bahwa ia dan Seng Bu saling mencinta ? Dan
tiba-tiba saja gadis itu teringat betapa ia dan Seng Bu belum pernah mengatakan cinta itu satu
sama lain, walaupun tentu saja mereka dapat saling merasakan tentang hal itu melalui sinar mata,
melalui senyum dan getaran kata-kata.
“Ah, tidak, Siu Coan ! Hal itu tidak mungkin !”
Siu Coan menerima tamparan pada jantungnya ini dengan tenang, hanya matanya saja
yang mengeluarkan sinar mata aneh dan wajahnya tetap biasa, mulutnya tetap tersenyum.
“Sheila, mengapa engkau menolak ? Aku cinta padamu dan mengharapkan engkau menjadi
isteriku, kenapa engkau menolak ?” Siu Coan baru saja terjun ke dalam pemikiran yang
dianggapnya bebas seperti pikiran barat, seperti pikiran pembawa Agama Kristen itu, yaitu
orang-orang dari barat yang berkulit putih. Maka diapun penasaran kalau ada wanita menolak
cintanya, karena dia masih memandang wanita seperti keadaan nenek moyangnya, lupa bahwa
Sheila adalah seorang wanita barat yang sudah benar-benar bebas dalam hal memilih jodoh !
Betapapun juga, tidak enak bagi Sheila untuk mengatakan terus terang bahwa ia tidak
mencinta Siu Coan, maka iapun hanya menggeleng kepalanya saja, lalu menundukkan muka
karena ngeri melihat sinar mata pemuda itu berobah sedemikian aneh dan liar, seolah-olah dari
situ terpancar ancaman yang amat hebat walaupun sikap pemuda itu masih tenang dan halus
seperti biasa.
“Sheila, engkau menolakku karena engkau mencinta Seng Bu sute, bukan ? Karena
engkau dan dia sudah ada ikatan batin untuk kelak menjadi suami isteri ?” Pertanyaan yang tibatiba
ini seperti todongan pistol pada dadanya dan amat mengejutkan karena hal itu sesungguhnya
merupakan rahasia hatinya dan belum pernah diutarakan, bahkan kepada Seng Bu sekalipun
belum pernah ia menyatakan isi hatinya, walaupun ia tahu bahwa Seng Bu mencintanya dan ia
yakin pula bahwa pemuda gagah perkasa itupun dapat menduga akan isi hatinya.
Kini ditanya seperti itu, Sheila tidak membantah dan untuk menghindarkan desakan
selanjutnya dari pemuda itu, iapun mengangguk. “Benar, aku mencinta Seng Bu, jawabnya lirih
Pedang Naga Kemala > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com 232
karena diam-diam iapun merasa kasihan kepada Siu Coan karena terpaksa cintanya hanya
bertepuk sebelah tangan.
Siu Coan menarik napas panjang, nampak kecewa sekali akan tetapi sinar matanya masih
berkilauan aneh. “Sheila, sudah kaupikir masak-masakkah hal itu ? Apakah engkau tidak keliru
pilih ? Ingat, sute adalah seorang kafir, tidak seagama denganmu, pengikut setan !”
Sheila mengerutkan alisnya. Memang, di antara bangsanya yang beragama Kristen,
banyak yang menganggap bahwa orang-orang pribumi yang tidak beragama kristen sebagai
orang-orang yang ingkar, orang-orang yang tidak beriman, bahkan dianggap orang-orang biadab.
Akan tetapi ia sudah banyak bergaul dengan mereka ini, dengan pelayan-pelayan rumah
keluarganya, dan sudah banyak menyelami dan mempelajari kebudayaan mereka sehingga ia
memperoleh kenyataan bahwa dalam hal kebudayaan, dalam hal ketata-susilaan dan peradaban,
penduduk pribumi yang sederhana itu tidak kalah oleh orang-orang kulit putih. Bahkan filsafat
hidup yang mereka anut amat tinggi.
“Siu Coan, harap engkau tidak berkata demikian. Biarpun Seng Bu bukan seorang yang
beragama Kristen, namun dia adalah seorang pendekar yang gagah perkasa, seorang pria yang
budiman, sopan dan terhormat. Engkau tentu mengenal watak dari sutemu sendiri. Dan aku
cinta padanya, mencinta orangnya, bukan agamanya. Kelak, perlahan-lahan aku akan dapat
menuntunnya agar dia dapat masuk agamaku.”
“Hemm, kaupikirkan dulu baik-baik, Sheila, agar kelak engkau tidak akan menyesal
namun sudah terlambat. Terus terang saja, biarpun sute juga seorang pria yang gagah perkasa,
namun dia sama sekali tidak sepadan menjadi jodohmu. Dia bodoh, pengetahuannya sempit,
jalan pikirannya sederhana, tanpa cita-cita, dan engkau akan hidup melarat dengan dia. Nah,
biarlah lain kali kalau engkau sudah memikirkan hal ini masak-masak, kita bicara lagi.”
Wajah gadis itu berobah merah dan matanya memancarkan sinar kemarahan mendengar
pemuda kekasih hatinya dijelek-jelekkan oleh Siu Coan. “Siu Coan, tidak perlu kau memburukburukkan
sutemu sendiri di depanku. Aku mencintanya, dan cinta tidak memandang kemelaratan
dan kebodohan. Tak perlu kupikirkan lagi, dan mengenai hubungan antara kita tidak perlu
dibicarakan lagi !”
Siu Coan menggoyangkan kedua pundaknya lalu meninggalkan gadis itu dengan cepat
karena pada saat itu dia melihat berkelebatnya bayangan Seng Bu yang datang dari jauh. Ketika
dia pergi dengan berlari cepat, agaknya baru saja meninggalkan Sheila, Seng Bu menegur ramah,
“Suheng .......... !” Akan tetapi yang ditegur terus lari, menolehpun tidak sehingga Seng Bu
merasa heran, akan tetapi dia mengira bahwa tentu suhengnya itu tidak mendengar seruannya dan
diapun melanjutkan larinya menghampiri Sheila. Dia mengerutkan alisnya dengan hati khawatir
ketika melihat Sheila masih berdiri di situ dan wajah gadis itu nampak masih merah dan wajah
itupun membayangkan ketegangan hati.
“Sheila, apakah yang telah terjadi ? Bukankah suheng tadi dari sini ?”
Sheila memandang wajah Seng Bu, lalu menarik napas panjang dan mengangguk.
“Benar, dia baru saja meninggalkan aku dengan marah agaknya.”
Pedang Naga Kemala > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com 233
“Eh ? Kenapakah ? Apa yang telah terjadi antara kalian sehingga suheng menjadi marah
kepadamu ?”
Sheila mengaku terus terang. “Dia kecewa karena cintanya kutolak.”
Seng Bu terbelalak dan menatap wajah Sheila penuh selidik. Wajah gadis itu segar dan
manis sekali karena tadi sambil mencuci pakaian gadis itu mandi dan menggosok kulit mukanya
dengan batu halus seperti yang dilakukan oleh wanita-wanita lain. Apa lagi kini gadis itu merasa
tegang, kedua pipinya menjadi merah sekali dan sepasang mata yang indah lebar itu bersinarsinar
seperti sepasang bintang pagi.
“Apa .......... apa maksudmu ?” sama sekali dia tidak mengira bahwa suhengnya juga
mencinta gadis kulit putih ini, maka tentu saja pengakuan Sheila tadi mengejutkan hatinya.
Sheila tersenyum untuk menenangkan hatinya sendiri, juga hati Seng Bu, lalu berkata
dengan halus, “Seng Bu, tadi suhengmu itu mengatakan bahwa dia cinta padaku dan bahwa dia
ingin aku menjadi calon isterinya.”
Biarpun pemberitahuan pertama tadi sudah dimengertinya, namun penjelasan ini tetap
saja amat mengherankan dan mengejutkan hati Seng Bu. Suhengnya ? Kelihatan sama sekali
tidak memperlihatkan perasaan itu terhadap Sheila, dan suhengnya tahu benar bahwa dia
mencinta Sheila.
“Dan .......... dan kau .......... ?”
“Tentu saja aku menolaknya dan dia kelihatan kecewa, lalu pergi meninggalkan aku.”
“Akan tetapi .......... kenapa, Sheila ? Kenapa kau .......... kau menolaknya ? Suheng
adalah seorang pendekar yang gagah perkasa dan dia mempunyai cita-cita yang besar untuk
menjadi seorang pemimpin besar.” Tentu saja Seng Bu sudah tahu benar akan cita-cita
suhengnya yang selalu didengung-dengungkan itu.
“Kenapa ? Karena aku tidak cinta padanya.”
“Mengapa engkau tidak cinta padanya, Sheila ?” Seng Bu bertanya, di dalam suaranya
terkandung nada mendesak yang aneh dan kini pemuda itu menatap wajah Sheila dengan tajam,
penuh selidik.
“Ouhhh ………. Seng Bu, alangkah kejam hatimu mengajukan pertanyaan seperti itu.
Seng Bu, perlukah kita berpura-pura lagi ? Perlukah selama ini kita saling menyembunyikan
perasaan ? Engkau tentu tahu mengapa aku tidak bisa mencinta orang lain. Engkau tentu tahu
bahwa aku hanya mencinta seorang pria saja di dunia ini dan aku tahu pula bahwa dia
mencintaku sepenuh hatinya. Akan tetapi ………. pria itu masih berpura-pura lagi, bertanya
mengapa aku tidak mencinta pria lain ! Betapa kejamnya engkau …..” Dan Sheila lalu terisak
menangis.
Pedang Naga Kemala > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com 234
Hati Seng Bu diliputi keharuan dan melihat Sheila menangis, suatu dorongan kuat
membuat dia melangkah maju dan di lain saat, entah siapa yang memulai gerakan itu, tahu-tahu
Sheila telah berada dalam dekapannya. Gadis itu merebahkan mukanya di dada yang bidang itu
dan merasa aman sentausa penuh kedamaian. Kedua matanya menitikkan air mata dan kedua
lengannya memeluk leher, sedangkan kedua lengan Seng Bu melingkari tubuhnya dalam
rangkulan ketat, seolah-olah pemuda itu khawatir kalau-kalau tubuh yang dirangkulnya itu akan
terlepas.
“Maafkan aku, Sheila. Aku tahu bahwa engkau cinta padaku dan bahwa akupun cinta
padamu, bahwa tanpa kata sekalipun kita sudah yakin akan cinta kita masing-masing. Akan
tetapi aku .......... aku selalu khawatir akan kehilangan engkau, Sheila. Aku .....aku merasa betapa
aku ini kesasar, bodoh dan miskin, merasa tidak layak berada di sampingmu .......... karena itu
.......... tadi aku meragu ..........”
Ah, sudahlah Seng Bu. Aku hanya mencinta engkau seorang, sejak pertema kita saling
jumpa dan aku takkan mau berpisah lagi dari sisimu ..........”
“Dan aku .......... aku hanya memiliki engkau seorang ..........”
Mereka saling dekap dan Sheila yang memulai lebih dahulu ketika mereka saling
mencium, karena Seng Bu takkan berani mendahuluinya, apa lagi dia seorang pemuda yang sama
sekali belum pernah berdekatan dan berhubungan dengan seorang wanita. Pada saat itu, mereka
merasa merasa semakin yakin akan cinta kasih masing-masing, perasaan cinta yang terasa sampai
jauh sekali di dasar hati masing-masing, kemesraan yang membuat semua bulu di tubuh mereka
meremang.
Suara cekikikan para wanita yang tadi mencuci pakaian bersama Sheila, menyadarkan dua
orang muda itu dari keadaan yang asyik masyuk itu. Mereka cepat saling melepaskan rangkulan
dan keduanya menjadi jengah kemalu-maluan, wajah mereka kemerahan dan mereka
membiarkan para wanita itu lewat tanpa dapat mengeluarkan kata-kata.
“Ada orang melihat kita, Sheila, ini berarti bahwa kita harus cepat-cepat menikah agar
tidak menjadi pergunjingan orang. Maukah engkau menikah denganku ?”
Sheila mencium pipi dan dagu pemuda itu dengan hidungnya, kelembutan yangmembuat
Seng Bu hampir menitikkan air mata saling saking bangga, haru dan bahagianya. “Engkau masih
bertanya lagi ? Setiap saat aku bersedia, Seng Bu, setiap saat. Sudah sejak lama aku merasa
bahwa aku adalah milikmu, seluruhnya, aku telah menyandarkan seluruh kehidupanku
kepadamu.”
Sambil menggandeng tangan Sheila, Seng Bu lalu menemui kawan-kawan
seperjuangannya dan mengumumkan bahwa dia hendak melangsungkan pernikahannya dengan
Sheila di dalam hutan itu juga. Semua kawan seperjuangannya yang merasa kagum kepada Seng
Bu akan kegagahannya, bersorak gembira dan mereka lalu bergotong royong membuat persiapan
untuk pesta sekedarnya menyambut pernikahan itu. Diam-diam Ong Siu Coan tentu saja merasa
iri hati dan marah sekali, akan tetapi pada lahirnya, dia juga menyambut dengan gembira ketika
Seng Bu minta pendapatnya dan doa restunya.
Pedang Naga Kemala > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com 235
Demikianlah, pernikahan antara Seng Bu dan Sheila terjadi di dalam hutan itu, dirayakan
oleh para pejuang. Suasana cukup meriah dan gembira malam itu walaupun tidak ada pesta besar
seperti kalau pernikahan dirayakan di kota dalam suasana damai dan tenteram. Malam itu dengan
penerangan api unggun dan beberapa belas lampu minyak, para pejuang merayakan pesta
pernikahan itu. Seng Bu mengenakan pakaian bersih, dan Sheila mengenakan pakaian pengantin
yang dipinjamkan dari seorang wanita. Ia nampak cantik jelita dalam pakaian mempelai yang
baginya lucu itu, dan sepasang mempelai dipertemukan oleh para wanita dan diberi selamat oleh
para pejuang.
Malam itu pesta sederhana dirayakan para pejuang sampai menjelang tengah malam.
Tiba-tiba terdengar suara tambur dan terompet dan semua pejuang terkejut setengah mati ketika
tiba-tiba nampak banyak sekali pasukan pemerintah menyerbu. Kiranya hutan itu sudah
dikepung oleh pasukan pemerintah yang jumlahnya ratusan orang ! Tentu saja suasana menjadi
panik. Para pejuang cepat memadamkan api unggun, juga lampu-lampu dan dalam keadaan
remang-remang, hanya diterangi cahaya bulan sepotong, para pejuang melakukan perlawanan
mati-matian.
Dalam keadaan kacau itu, tentu saja Seng Bu juga terkejut dan cepat dia siap siaga
membantu teman-teman. “Sheila, engkau bersembunyi di pondok kita, aku akan membantu
kawan-kawan mengusir pasukan pemerintah,” kata Seng Bu setelah tadi menggandeng tangan
isterinya dan membawanya ke pondok yang disediakan untuk mereka oleh kawan-kawan mereka.
Sheila yang bermuka pucat dan ketakutan itu mengangguk, akan tetapi masih memegangi tangan
suaminya, “Jangan lama-lama .......... cepat ambil aku kembali ..... aku tidak mau berpisah lama
darimu .....”
Seng Bu mencium isterinya lalu melompat ke luar, siap dengan penuh semangat
membantu teman-temannya menghadapi pasukan pemerintah yang datang menyerbu. Dia tidak
tahu bagaimana pasukan pemerintah dapat mengetahui tempat persembunyian para pejuang itu
dan menyerbu di malam itu, kebetulan ketika pernikahannya sedang dirayakan.
Akan tetapi belum jauh dia berlari, tiba-tiba tubuhnya menjadi kaku saking kagetnya. Dia
mendengar jeritan Sheila ! Bagaikan dikejar setan, Seng Bu lalu membalikkan tubuh dan berlari
cepat kembali ke pondok. Dapat dibayangkan betapa rasa kaget, heran dan juga marahnya ketika
dia melihat suhengnya meloncat keluar dari pondok sambil memondong tubuh Sheila.
“Suheng !!” bentaknya marah sekali dan segera dia melompat menghadang.
“Eh, sute. Aku datang untuk menyelamatkan Sheila !” kata Siu Coan gugup dan diapun
melepaskan tubuh Sheila yang dipondongnya secara paksa tadi.
Sheila lalu lari merangkul suaminya, menahan tangisnya. “Aku ….. aku tidak mau dia
larikan, dan dia memaksaku ………. !”
“Aku hanya ingin menolong dan menyelamatkannya, keadaan gawat sekali.” Kembali
Siu Coan berkata.
Pedang Naga Kemala > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com 236
Seng Bu mengerutkan alisnya. Marah dia melihat betapa tadi dengan paksa tubuh
isterinya dipondong oleh suhengnya. Biarpun dengan alasan menolong dan ingin
menyelamatkan, akan tetapi tidak pantas kalau suhengnya memaksa orang yang mau ditolong.
Tentu ada sesuatu yang tidak pantas.
“Suheng !” bentaknya. “Tidak pantas kau maksa isteriku !”
Siu Coan yang tertangkap basah itu menjadi malu dan kini dia menjadi marah. “Eh, sute,
apa maksudmu ? Aku datang untuk menyelamatkan isterimu dan engkau marah-marah ? Engkau
sungguh kurang ajar !”
“Suheng, bukan aku yang kurang ajar, melainkan engkau yang tidak tahu sopan !” Seng
Bu juga membentak marah.
“Keparat, sudah berani engkau melawanku ?” Siu Coan berseru dan diapun menerjang
maju dan mengirim pukulan hebat ke arah kepala sutenya. Seng Bu yang juga sudah menjadi
marah cepat menangkis dan membalas. Berkelahilah suheng dan sute ini dan Seng Bu mendapat
kenyataan yang mengejutkan dan juga membuatnya marah bahwa suhengnya menyerangnya
dengan penuh kesungguhan dan kebencian, melancarkan pukulan-pukulan maut ! Agaknya,
semua perasaan iri yang terpendam di dalam batin Siu Coan, saat itu hendak diluapkan maka dia
menyerang bertubi-tubi penuh kemarahan. Seng Bu yang sama sekali tidak menyangka bahwa
suhengnya akan menyerang seperti itu, terkejut dan sebuah tendangan menyerempet pahanya,
membuatnya terhuyung ke belakang. Dan melihat sutenya terhuyung, Siu Coan agaknya semakin
nekat dan melanjutkan serangannya dengan pukulan bertubi-tubi. Tentu saja Seng Bu yang
sedang terhuyung itu menjadi terdesak terus dan hanya main mundur, menangkis sambil
mengelak.
Siu Coan menyeringai girang. Ada alasan dan kesempatan baginya untuk membunuh
sutenya dan merampas Sheila yang membuatnya tergila-gila ! Sesungguhnya, dia tidak begitu
tergila-gila kepada Sheila karena pada hakekatnya, Siu Coan lebih gila kedudukan dan cita-cita
dari pada wanita. Akan tetapi, melihat Sheila menolaknya dan memilih Seng Bu, dia merasa iri
dan iri inilah yang mendorongnya menjadi nekat untuk membunuh sutenya dan merampas Sheila.
Seng Bu tentu saja sudah mengerahkan seluruh tenaga dan mengeluarkan semua ilmunya
untuk membela diri. Untung baginya bahwa tentu saja dia mengenal semua gerakan serangan
suhengnya, sehingga betapapun hebat dan dahsyat datangnya serangannya, dan biarpun dia
sedang terhuyung, akan tetapi dalam keadaan terdesak itu dia masih mampu menghindarkan diri
dari serangkaian pukulan dan tendangan maut.
Tiba-tiba terdengar suara ledakan keras. “Darrr ..... !” Tubuh Siu Coan terhuyung dan
tangan kirinya menekan pundak kanan yang berdarah. Seng Bu terkejut dan menengok. Kiranya
Sheila telah menembakkan pistol kecil. Pistol ini memang tak pernah terpisah dari badan gadis
itu, selalu disembunyikan dalam lipatan bajunya dan kini, melihat suaminya terdesak, iapun
dengan nekat lalu mengeluarkan pistolnya dan menembak ke arah Siu Coan. Gadis ini memang
pernah dilatih menggunakan pistol oleh ayahnya, dan pistol itupun pemberian ayahnya, maka ia
dapat menembak dengan cepat. Gerakan Siu Coan yang berusaha mengelak secara refleks ketika
letusan terdengar membuat peluru yang ditujukan ke arah dada itu hanya mengenai ujung pangkal
Pedang Naga Kemala > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com 237
lengan. Akan tetapi cukup membuat kulit terkupas dan daging menonjol di ujung pundak juga
tertembus peluru, nyerinya bukan kepalang karena luka itu seperti terbakar oleh besi panas.
“Sheila jangan tembak lagi !” Seng Bu berseru kaget melihat suhengnya terluka. Dia
mengira bahwa suhengnya terluka dadanya, karena darah mengalir dan membasahi baju
suhengnya itu.
Dan pada saat itu, belasan orang anggauta pasukan pemerintah datang menyerbu ! Seng
Bu yang melihat suhengnya masih lemah terhuyung, terancam tusukan tombak seorang perajurit,
melompat ke depan dan sekali tendang, perajurit itu roboh dan suhengnya terbebas dari ancaman
maut. Melihat ini, Siu Coan tersenyum.
“Orang berhati lemah ..........” katanya dan karena pada saat itu, lebih banyak lagi datang
pasukan yang menyerbu, terpaksa diapun membela diri dengan sebelah tangannya saja, yaitu
tangan kiri karena tangan kanannya tidak dapat digerakkan karena nyeri. Seng Bu lalu
menyambar sebatang pedang lawan setelah dia kembali merobohkan lawan berpedang itu, dan
memutar pedangnya sambil berseru, “Sheila, ke dinilah kau ! Suheng, larilah, aku
melindungimu !”
“Dar-darr .......... !!” Kembali Sheila meletuskan pistolnya dua kali. Seorang pengeroyok
roboh dan yang lain mundur karena jerih terhadap senjata api.
Seng Bu melompat mendekati Sheila, bangga dan kagum melihat ketabahan isterinya.
Kembali dia berkata kepada Siu Coan, “Suheng, mari kita lari. Kau lebih dulu. Aku dan Sheila
melindungimu dari belakang !”
Siu Coan tersenyum pahit. Melihat kenyataan betapa kini malah dilindungi oleh dua
orang calon korbannya, benar-benar merupakan pel pahit baginya. Akan tetapi diapun maklum
akan ancaman bahaya. Pihak pasukan itu terlalu besar dan kini kawan-kawan seperjuangan
mereka juga sudah terdesak dan cerai berai. Maka tanpa mengeluarkan sepatah katapun, dia
meloncat dan lari ke barat, diikuti oleh Seng Bu dan Sheila. Mereka dihadang lagi dan setelah
tiga kali meletuskan pistolnya sehingga pelurunya dalam pistol habis, Seng Bu lalu memondong
isterinya dengan lengan kiri, tangan kanannya memegang pedang dan sambil melindungi
isterinya dalam pondongan dan suhengnya yang terluka, akhirnya dia berhasil membawa mereka
berdua lolos dari kepungan dan tiba di luar hutan itu dalam cuaca yang gelap.
“Suheng, kita berpisah di sini dan maafkan kami, maafkanlah segala yang telah terjadi.”
Setelah berkata demikian, Seng Bu yang memondong isterinya lalu meloncat dan berlari cepat
menuju ke barat. Siu Coan berdiri bengong, lalu menarik napas panjang. Bagaimanapun juga,
biar Sheila telah melukainya dengan pistol, hal yang sama sekali tak pernah disangkanya, namun
Sheila dan Seng Bu tadi telah melindunginya mati-matian pula ! Sudahlah, pikirnya, ia bukan
jodohku. Menurut pelajaran agama barunya, memaafkan orang lain adalah perbuatan mulia,
bahkan terdapat pelajaran yang menganjurkan agar kalau kita dipukul pipi kiri kita, kita harus
menyerahkan pipi kanan kita ! Siu Coan tersenyum seorang diri. Biarlah dia memaafkan Seng
Bu dan Sheila, bahkan menurut pelajaran agamanya, dia harus mencinta musuh-musuhnya, maka
biarlah dia melepaskan mereka dengan hati mencinta. Dan Siu Coan tersenyum, merasa betapa
hatinya mekar, penuh dengan kebanggaan, penuh dengan harapan untuk menerima pahala karena
dia telah berbuat jasa.
Pedang Naga Kemala > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com 238
Betapa banyaknya di antara kita memiliki kebanggaan dan harapan seperti yang dimiliki
Siu Coan itu. Semua agama mengajarkan agar kita hidup sebagai manusia yang baik, karena
hanya hidup baik ini yang menjadikan kita bermanfaat bagi dunia, bagi manusia. Akan tetapi kita
mau hidup baik karena di balik itu terdapat harapan dan pamrih agar kita memperoleh pahala,
memperoleh hadiah, baik hadiah itu dinamakan Sorga atau Nirwana ataukah kesempurnaan atau
segala macam kata kata yang muluk lagi. Karena adanya ancaman hukum bagi yang berbuat
jahat, dan janji pahala bagi yang berbuat baik, maka kita condong untuk berbuat baik. Memang
inilah tujuannya, akan tetapi, hal ini pula yang membuat kita menjadi manusia-manusia palsu,
menjadi munafik, menjadi srigala-srigala berkedok domba, yang berbuat baik dan menjauhi
perbuatan jahat HANYA karena kita ingin memperoleh pahala dan ingin dijauhkan dari pada
hukuman. Kebaikan yang dilakukan dengan sengaja ini tentu berpamrih, dan pamrih membuat
kita menjadi munafik, membuat perbuatan kita adalah palsu, karena perbuatan itu bukan
perbuatan baik, melainkan suatu cara bagi kita untuk memperoleh pahala, cara untuk
menghindarkan hukuman !
“Cintailah musuh-musuh” adalah serangkaian kata-kata yang amat indah dan suci kalau
kita dapat menangkap maknanya. Kalau tidak, tentu akan menimbulkan keraguan karena di situ
terdapat dua kata yang berlawanan, yaitu “cinta” dan “musuh”. Biasanya, cinta berkaitan dengan
sahabat, dan yang berkaitan dengan musuh adalah benci. Maka, cintailah musuhmu seakan-akan
mengandung makna yang berlawanan atau saling bertolak belakang. Akan tetapi sesungguhnya
pelajaran ini mengandung makna yang sekaligus menghapuskan benci dari dalam hati
berdasarkan kasih. Bukan berarti suatu waktu kita mencintai musuh kita dan di lain waktu kita
siling berbunuhan dengan musuh itu ! Ini sama sekali tak masuk akal dan omong kosong. Akan
tetapi, kita dapat mencintai orang yang memusuhi kita ! Mungkin banyak orang memusuhi kita,
membenci kita, tidak senang kepada kita, karena mungkin iri hati, dengki, salah paham dan
sebagainya lagi. Biarlah mereka itu membenci kita, akan tetapi orang yang memiliki sinar kasih
dalam batinnya, tidak akan membalas kebencian itu, tidak membalas permusuhan itu, melainkan
menghadapi mereka yang memusuhi kita dengan cinta kasih antara manusia ! Tidaklah ini indah,
besar dan mulia sekali ? Kita dapat melihat cinta kasih seperti itu, cinta kasih Tuhan melalui
sinar matahari, melalui harumnya bunga, melalui tanah, air, hawa, udara. Biar ada manusia yang
mengutuk dan membenci alam dan semua kekuasaan Tuhan, namun tetap saja semua itu
memberikan dengan rela, kepada siapa saja tanpa pilih kasih, kepada mereka yang membenci
sekalipun. Orang yang sejahat-jahatnya sekalipun, yang segala tindakannya berlawanan dengan
kebaikan, akan tetap memperoleh hawa udara, memperoleh sinar matahari, dapat menikmati
keharuman bunga, sama seperti orang yang paling baik, paling saleh sekalipun.
Akan tetapi, seperti Ong Siu Coan kita selalu ingin untung, lahir maupun batin, oleh
karena itu berbondong-bondong orang lari ke agama dengan dasar ingin untung itulah. Ingin
memperoleh hiburan batin karena pahitnya kehidupan, ingin memperoleh jaminan keadaan yang
enak menyenangkan setelah mati kelak, ingin memperoleh berkah sebanyaknya. Lenyapkanlah
janji-janji pahala dan hadiah ini dari agama, dan para munafik itu tentu akan mundur
meninggalkannya dan yang tinggal hanyalah mereka yang benar-benar sadar dan waspada akan
segala kekotoran yang memenuhi batin sendiri, karena hanya mereka inilah yang akan dapat
berobah. Orang yang sadar akan kekotoran diri sendiri sajalah yang akan dapat berobah menjadi
bersih, tanpa ada usaha membersihkan karena usaha membersihkan ini akan menumpuk pamrih
dan menciptakan kemunafikan.
Pedang Naga Kemala > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com 239
Semua agama tentu mengajarkan kebaikan, akan tetapi bagi kehidupan manusia, yang
penting adalah manusianya, bukan agamanya. Semua manusia di dunia ini mengaku beragama
atau mempunyai pegangan sesuatu yang menggariskan jalan hidup yang harus ditempuhnya.
Semenjak ribuan tahun semua pelajaran kerohanian ini tersebar di antara seluruh manusia di
dunia. Akan tetapi, bagaimana hasilnya ? Manusia tetap saja hidup dalam lembah kesengsaraan,
hidup dalam neraka dunia yang penuh dengan kebencian, iri hati, dengki, kemurkaan,
permusuhan sehingga cinta kasih makin muram kehilangan sinarnya karena tertutup oleh segala
macam hawa nafsu angkara yang merupakan debu-debu kotor hitam tebal itu. Permusuhan
terjadi bukan hanya antara perorangan, bukan hanya antara suku dan antara kelompok, bahkan
meluas menjadi antara bangsa, antara negara sehingga timbullah perang yang amat kejam,
pembunuhan dan pembantaian semena-mena yang lebih biadab dari pada perbuatan golongan
yang dianggap masih liar dan buas sekalipun ! Jelaslah di sini bahwa manusianya yang
menentukan, bukan agamanya. Dan jelaslah bahwa yang dapat merobah manusia adalah diri
sendirimasing-masing, dengan pengenalan diri sendiri sehingga nampak segala kekotoran yang
membutakan mata hati, yang menulikan telinga hati.
Demikianlah halnya dengan Ong Siu Coan. Pemuda ini memiliki cita-cita yang muluk,
dan makin besar cita-cita seseorang, makin besar pulalah “aku”nya dan makin besar pamrihnya
sehingga semua perbuatannya ditujukan dengan pamrih untuk memperoleh keuntungan bagi diri
sendiri sebesar-besarnya. Perbuatan itu mungkin di mata umum bisa disebut perbuatan buruk
atau perbuatan baik, akan tetapi apapun macam perbuatan itu, selalu di belakangnya terkandung
pamrih untuk kepentingan diri pribadi. Tidak ada seorangpun mengetahui bahwa penyerbuan
pasukan pemerintah di malam hari itupun adalah hasil perbuatan Ong Siu Coan ! Dialah yang
diam-diam mengirim berita tempat persembunyian para pejuang itu kepada pihak pasukan
pemerintah ! Dia rela berkhianat untuk kepentingan diri sendiri, untuk melampiaskan iri hatinya
terhadap Seng Bu, kemarahannya terhadap Sheila, dan untuk membuka kesempatan agar dia
dapat merampas Sheila dengan dalih menyelamatkanya, dan kalau mungkin membunuh sutenya
sendiri. Tentu saja pihak pasukan pemerintah tidak tahu bahwa yang mengirim berita itu adalah
Ong Siu Coan. Dan memang bukan maksud Siu Coan untuk membantu pasukan pemerintah.
Sama sekali tidak ! Dia membenci pemerintah Mancu, dan dia bercita-cita untuk membasmi
pemerintah penjajah itu. Kalau dia dapat berbuat khianat pada malam hari itu adalah karena ada
pamrih terhadap Seng Bu dan Sheila.
Karena serbuan itu, beberapa orang pejuang tewas dan selebihnya cerai berai dan kacau
balau, kocar kacir. Dan Siu Coan melarikan diri ke selatan, dan beberapa hari kemudian dia
sudah bergabung kembali dengan orang-orang Thian-te-pang dan dia memperoleh perawatan
dengan baik. Untung tidak ada yang tahu tentang peristiwa antara dia dan Seng Bu, dan mereka
mengira bahwa tembakan yang mengenai ujung pundak Siu Coan itu dilakukan oleh seorang
opsir pasukan pemerintah.
***
Peristiwa pembakaran madat di Kanton itu tidak berhenti sampai di situ saja. Pembakaran
madat yang lebih dari satu juta kilogram banyaknya itu juga mulai menyalakan api perang yang
kemudian terkenal dengan sebutan Perang Madat selama tiga tahun ( tahun 1839-1842).
Pedang Naga Kemala > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com 240
Peristiwa pembakaran madat disusul pembunuhan terhadap orang kulit putih yang
sesungguhnya dilakukan oleh golongan-golongan yang anti kulit putih, bukan oleh pemerintah
Mancu, dianggap oleh pemerintah Inggris sebagai suatu penghinaan terhadap bangsanya. Apa
lagi ada laporan dari Kapten Charles Elliot yang didesak oleh para pedagang untuk minta bantuan
pasukan, maka pemerintah Inggris lalu mengirim armada ke timur. Kapal-kapal perang dengan
pasukan-pasukan yang cukup kuat dikirim dan Kanton diserang dari lautan, dihujani peluru
meriam.
Pasukan-pasukan Inggris berusaha untuk mendarat akan tetapi usaha mereka itu selalu
menemui perlawanan yang amat kuat. Dalam hal ini, tanpa persekutuan yang syah, pemerintah
penjajah Mancu menerima bantuan yang amat besar dari rakyat, dari perkumpulan-perkumpulan
para patriot yang tidak suka melihat bangsa kulit putih hendak menguasai tanah air. Para
pendekar segera bangkit dan untuk sementara menghentikan kegiatan mereka memusuhi
pemerintah Mancu karena mereka kini menganggap bahwa ancaman pasukan asing itu lebih
berbahaya. Terjadilah perang di mana-mana, perang antara senjata api melawan anak panah dan
senjata-senjata tajam. Pasukan Inggris tidak pernah berhasil mendarat karena perlawanan yang
amat kuat. Panglima Lim Ce Shu memimpin pasukannya dan melakukan perlawanan matimatian,
dan penyerbuan pasukan Inggris itu akhirnya hanyalah kandas di pantai-pantai saja, di
mana akibat-akibat perang terjadi. Perampokan-perampokan, pembunuhan-pembunuhan dan
perkosaan-perkosaan terjadilah di pantai-pantai terhadap penduduk yang berada di sekitar pantai.
Namun, pasukan-pasukan kulit putih itu akhirnya harus mengakui bahwa kekuatan kekuatan
pihak musuh di daratan terlalu sukar untuk dapat ditembus. Setelah peperangan yang kacau ini
berlangsung hampir tiga tahun lamanya, Ingggris hanya berhasil menduduki Pulau Hongkong
yang letaknya di depan kota Kanton. Pulau ini dijadikan pangkalan oleh armada Inggris, namun
semua penyerangan mereka di daerah pantai timur daratan Tiongkok selalu mengalami
kegagalan.
Kalau pasukan Inggris yang dipukul mundur melarikan diri ke kapal-kapal perang
mereka, maka perang masih juga terjadi di darat, yaitu pasukan-pasukan para patriot yang anti
pemerintah penjajah lalu berbalik dan menyerang pasukan pemerintah sendiri ! Memang mereka
ini sejak dahulu ingin menjatuhkan kekuasaan Mancu, dan mereka ikut menghalau orang kulit
putih bukan untuk membantu pemerintah, melainkan khawatir kalau-kalau bangsa kulit putih
akan menguasai tanah air mereka. Tentu saja pukulan-pukulan bertubi dari orang kulit putih
yang datang dari luar, dan pukulan-pukulan para pemberontak dalam negeri membuat pasukan
pemerintah Mancu menjadi lemah. Hal ini diketahui dengan baik oleh para mata-mata yang
disebar oleh Inggris. Akhirnya dalam tahun 1842, Inggris dengan cerdik lalu menyelundupkan
kapal-kapalnya melalui Sungai Yang-ce-kiang, berlayar mudik.
Pemerintah Mancu di Peking terkejut bukan main. Dengan dikuasainya sungai besar itu
oleh orang kulit putih, maka hubungan antara Lembah Yang-ce-kiang dan Peking tertutup dan
terancam. Keselamatan keluarga kaisar di Peking dapat terancam kalau begitu. Istana menjadi
gentar dan panik, dan melalui menteri-menteri yang memang condong untuk berbaik dengan
orang-orang kulit putih yang mendatangkan banyak keuntungan kepada mereka melalui madat,
akhirnya pemerintah Mancu membujuk Inggris menghentikan perang ! Tentu saja hal ini sama
dengan pernyataan tunduk dan kalah !
Pedang Naga Kemala > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com 241
Sebagai pihak pemenang yang ditakuti, Inggris mempergunakan kesempatan itu sebaikbaiknya
! Kemenangan dalam tahun 1842 ini membuat mereka dapat memaksa kaisar untuk
melakukan hal-hal yang membikin panas hati dan perut para patriot. Pertama-tama, untuk
menyenangkan hati orang-orang kulit putih itu, kaisar memecat Panglima Lim Ce Shu dan
membuangnya ! Kemudian, Hongkong di serahkan kepada Inggris begitu saja ! Pelabuhanpelabuhan
di Tiongkok Selatan, termasuk Kanton, dibuka lebar-lebar dan diperbolehkan
menerima pedagang-pedagang kulit putih untuk masuk dan berdagang di situ dengan bebas, juga
diperbolehkan untuk bertempat tinggal di situ sebagai pedagang-pedagang yang dihormati.
Bahkan orang-orang kulit putih lainnya, seperti orang-orang Portugal dan orang-orang Perancis,
ikut-ikutan membonceng kemenangan Inggris ini dan ikut-ikutan menuntut agar merekapun
diperbolehkan membuka perdagangan di pelabuhan-pelabuhan itu. Sebagai negara yang kalah
perang, pemerintah Mancu yang sudah tidak berdaya itu terpaksa menuruti tuntutan-tuntutan itu.
Makin banyaklah perjanjian-perjanjian “perdamaian” dibuat, yang sesungguhnya merupakan
perjanjian yang menguntungkan orang-orang kulit putih dan terpaksa disetujui oleh pemerintah
Mancu. Yang merasa tidak puas dan marah adalah para pendekar yang mewakili rakyat untuk
mempertahankan tanah air dari kekuasaan asing. Pemerintah Mancu adalah pemerintah asing
yang menjajah. Pemerintah itu belum juga dapat dihalau, dan sekarang sudah bertambah lagi
dengan bercokolnya orang-orang asing kulit putih yang menjajah melalui perdagangan !
Tentu saja hal ini menambah adanya pemberontakan-pemberontakan dan kekacauankekacauan.
Dan orang-orang kulit putih, untuk melindungi diri sendiri di tempat yang tidak
aman itu, membentuk pasukan-pasukan keamanan sendiri, memperlengkapi diri dengan senjata
api dan melalui para pedagang itu, mulailah orang kulit putih mendirikan pangkalan-pangkalan
militer dengan dalih menjaga keamanan para warganya yang berdagang di negeri itu.
Perang madat memang berakibat luas sekali. Perang madat ini menunjukkan bahwa
kekuatan pemerintah Mancu yang sudah hampir duaratus tahun menjajah Tiongkok itu mulai
kehilangan sinarnya, mulai lemah dan nampak awal-awal keruntuhannya. Dan perang itupun
membuka pintu bagi orang asing kulit putih untuk memperluas cengkeraman mereka terhadap
negara itu melalui perdagangan yang dipaksakan oleh senjata api. Dan hal ini lambat laun akan
menjadi penjajahan-penjajahan. Kekuasaan Kerajaan Mancu digerogoti, daerah-daerah
kekuasaannya mulai dikuasai oleh orang-orang asing itu. Seperti dapat tercatat dalam catatan
sejarah, Bangsa Perancis saja kelak dalam tahun 1862 akan menguasai Kamboja, kemudian
duapuluh tahun kemudian menguasai An-nam (Viet-nam) setelah lebih dulu menguasai Cochin
China pada tahun 1863. Juga Portugal kemudian menguasai Macao. Inggrispun bukan hanya
puas dengan memiliki Hongkong, melainkan meluaskan kekuasaannya sampai akhirnya
menduduki Birma yang tadinya mengakui kekuasaan pemerintah Ceng di jaman Kaisar Kian
Liong.
Sejarah yang membuktikan bahwa pemerintah yang tidak disukai oleh rakyatnya, akan
kehilangan kekuatannya. Betapapun kuatnya bala tentara yang dimiliki sebuah pemerintahan,
namun tanpa dukungan rakyat, kekuatan itu akan rapuh. Sebaliknya, kalau pemerintah didukung
rakyat, tidak akan mudah bagi kekuatan luar untuk merobohkannya. Hal ini adalah karena ajang
yang dijadikan arena pertempuran adalah tempat dan milik rakyat, dan bantuan-bantuan rakyat
inilah yang paling menentukan. Pihak lawan akan selalu dirongrong dan akan menjadi lemah
kalau rakyat setempat setia kepada pemerintah yang disukainya, dan tidak akan dapat menguasai
tempat yang telah direbutnya itu sepenuhnya. Sebaliknya pasukan-pasukan pemerintah yang
Pedang Naga Kemala > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com 242
didukung oleh rakyat, dimanapun akan memperoleh bantuan-bantuan sehingga kedudukan
mereka menjadi kuat.
Dalam perang yang terjadi sebagai akibat dibakarnya madat yang amat banyak itupun
nampak jelas sekali betapa manusia pada umumnya menjadi hamba daripada angkara murka yang
dipupuk oleh nafsu ingin senang sendiri. Pamrih untuk menyenangkan diri sendiri inilah yang
menghalau semua kesadaran dan kebijaksanaan, menimbulkan kekejaman, haus kemenangan
dengan cara apapun juga. Dan melalui tindakan sewenang-wenang, sedangkan yang kalah hanya
akan menurut, tentu saja dengan terpaksa dan dengan dendam kebencian mulai tumbuh di dalam
hati, dan dendam ini akan terus tumbuh di dalam hati, dan dendam ini akan terus tumbuh
membesar dan kelak tentu akan pecah menjadi lawanan dan pembalasan !
Kita tinggalkan dulu keadaan pemerintah Ceng yang mulai lemah itu, dan marilah kita
menengok peristiwa lain yang terjadi di sebuah puncak di Pegunungan Tapie-san. Seorang gadis
dan seorang kakek berjalan bersama-sama mendaki puncak itu. Mereka itu kelihatannya seperti
seorang kakek pengemis bersama seorang gadis yang pakaiannya juga penuh tambalan, seperti
orang biasa saja yang banyak berkeliaran pada waktu itu, orang-orang yang miskin dan setengah
terlantar sebagai akibat perang dan pemberontakan yang terjadi di mana-mana. Banyak rakyat
yang pada waktu itu terpaksa pergi mengungsi, meninggalkan kampung halaman, rumah dan
semua harta miliknya. Kalau sudah merasa aman dan kembali, banyak yang sudah tidak dapat
menemukan rumah mereka kembali, apa lagi harta milik mereka. Sudah habis dirampok dan
dibongkar orang. Karena itu, banyaklah orang-orang yang jatuh miskin dan terlantar, berkeliaran
tanpa tempat tinggal seperti halnya kakek dan gadis itu.
Akan tetapi sesungguhnya kakek dan gadis ini bukan orang-orang terlantar, bukan
gelandangan yang miskin dan tidak mempunyai tempat tinggal. Kakek itu usianya sudah
tujuhpuluh tahun lebih, rambutnya yang awut-awutan itu cukup bersih. Kakek itu pakaiannya
penuh tambalan, tangan kirinya memegang sebuah tongkat kayu butut dan sebuah kipas butut
terselip di pinggangnya. Biarpun pakaiannya penuh tambalan, namun pakaian itu cukup bersih
dan biarpun dia kelihatan miskin dan papa, namun dia selalu senyum-senyum sendiri, matanya
yang sipit itu kadang-kadang berkedip-kedip lucu. Gadis itupun tidak kalah menariknya.
Seorang gadis berusia kurang lebih delapanbelas tahun, dengan wajah yang manis, sepasang
matanya lebar dan jeli. Memang pakaiannya butut penuh tambalan biarpun bersih, dan sepasang
rambut yang gemuk hitam dan panjang itu dikuncir dua secara sederhana, tidak mengenakan
perhiasan secuilpun, akan tetapi gadis ini memiliki wajah manis dan kulit yang nampak pada
muka, leher dan tangannya amat putih bersih dan halus mulus, tubuhnya juga memiliki bentuk
yang padat dan ramping menggairahkan, bagaikan setangkai bunga yang sedang mekar
mengharum. Seperti juga kakek itu, gadis ini mempunyai sebuah kipas yang tersembul di
kantong bajunya.
Siapakah mereka ? Mereka adalah penghuni-penghuni puncak Naga Putih di Pegunungan
Wuyi-san dan kakek itu bukan lain adalah Bu-beng San-kai (Jembel Gunung Tanpa Nama) atau
lebih terkenal lagi dengan julukan San-tok (Racun Gunung), seorang di antara Empat Racun yang
pernah menjadi datuk-datuk paling sakti di antara para datuk kaum sesat ! Dan gadis itu adalah
muridnya, murid tunggalnya yang bernama Siauw Lian Hong !
Pedang Naga Kemala > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com 243
Kita telah mengenal Lian Hong, puteri tunggal mendiang guru silat Siauw Teng di dusun
Tung-kang dekat Kanton itu. Seperti telah diceritakan di bagian depan, dua tahun yang lalu Lian
Hong ikut bersama gurunya mengunjungi Siauw-lim-si di mana Siauw-bin-hud menceritakan
kepada para tamunya bahwa pusaka Giok-liong-kiam kini berada di tangan Hek-eng-mo Koan Jit,
murid Thian-tok yang merampas pusaka itu dari tangan gurunya. Ketika meninggalkan Siauwlim-
pai, San-tok lalu memberi kesempatan kepada muridnya untuk pergi merantau selama dua
tahun, selain untuk mencari jejak orang bernama Koan Jit itu, juga untuk meluaskan pengalaman
dan memperdalam ilmu kepandaian yang selama ini dilatihnya. Kakek ini sudah percaya
sepenuhnya kepada muridnya.
Akan tetapi, belum juga lewat dua tahun, gadis itu telah kembali ke puncak Naga Putih di
Pegunungan Wu-yi-san, menemui suhunya yang sedang tekun bersamadhi. Kakek itu tentu saja
girang melihat muridnya yang amat disayangnya, dan lebih girang lagi hatinya melihat kenyataan
bahwa muridnya itu juga mengenakan pakaian yang dihias tambalan ! Hal ini saja menunjukkan
bahwa murid itu berbakti dan setia kepadanya, melanjutkan “tradisi” keturunan perguruan yang
suka memakai pakaian tambalan !
Lian Hong memberi hormat sambil berlutut di depan kaki gurunya yang juga menjadi
kakek angkatnya itu dan kakek itu lalu bangkit dari pertapaannya. Dia mendengar laporan
muridnya bahwa murid itu terpaksa menghentikan usahanya mencari jejak Hek-eng-mo Koan Jit
yang menguasai pusaka Giok-liong-kiam, karena keadaan keruh oleh adanya perang madat.
Kemudian gadis itu mengatakan bahwa karena sukar mencari jejak orang di waktu keadaan
sekacau itu, di mana terjadi pertempuran-pertempuran kacau balau antara pasukan kulit putih
yang menyerang dengan kapal-kapal besar, dan golongan yang anti pemerintah, juga golongan
yang anti kulit putih, maka ia mengambil keputusan untuk menghentikan penyelidikannya dan
pulang ke Puncak Naga Putih.
“Ah, Hong Hong, kenapa urusan perang saja membuat engkau mundur ?” San-tok
mencela muridnya. “Kalau kita tidak mencari pusaka itu, tentu yang lain akan dapat menemukan
lebih dulu. Mungkin dalam keadaan kacau karena perang, pusaka itu tidak ada artinya, akan
tetapi kelak kalau sudah tidak ada perang, orang-orang akan kembali memperhatikan pusaka itu.
Pemilik pusaka itu sama dengan bukti bahwa dia adalah orang yang paling lihai di dunia
persilatan dan kalau engkau mampu merampasnya, maka namamu akan terangkat paling tinggi
dan aku sebagai gurumu akan ikut merasa bangga.”
“Suhu sebetulnya pusaka itu tidak terlalu menarik bagiku. Aku lebih tertarik untuk
mencari musuh-musuh besarku, pembunuh ayah ibuku. Akan tetapi ketika aku pergi ke Tungkang,
ternyata si jahanam Ciu Lok Tai telah tewas bersama keluarganya ketika diserbu oleh
pasukan pemerintah. Dan akupun belum berhasil mencari dua orang musuh lain, yaitu Gan Ki
Bin dan Lok Hun yang sudah lama pindah dari Tung-kang dan tidak lagi menjadi pengawalpengawal
Ciu Wan-gwe.”
“Wah, jadi keluarga Ciu Wan-gwe telah terbasmi dan tewas semua oleh pasukan
pemerintah ? Sungguh aneh,” kata kakek itu. “Bukankah dia mempunyai pengaruh besar di
kalangan pejabat pemerintah ?”
Pedang Naga Kemala > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com 244
“Gara-gara pembasmian madat itu, suhu. Akan tetapi menurut keterangan, ada seorang
puterinya yang dapat meloloskan diri, namanya Ciu Kui Eng dan kabarnya ia itu lihai sekali.
Kelak aku akan mencarinya dan minta dia mempertanggungjawabkan dosa-dosa ayahnya
kepadaku.”
“Jadi selama ini engkau sama sekali tidak peroleh jejak Koan Jit murid Thian-tok itu ?
San-tok mendesak karena kakek ini tertarik sekali untuk bisa mendapatkan pusaka Giok-liongkiam.
“Beberapa kali aku menemukan jejaknya, akan tetapi selalu hanya memperoleh jalan
buntu. Akan tetapi jejaknya yang kedapati di daerah Tapie-san membawaku ke sebuah tempat
yang luar biasa, suhu. Aku tidak menemukan dia di sana, jejaknya hilang lagi akan tetapi aku
menemukan sesuatu yang amat aneh dan mengerikan.”
“Apa itu ?”
“Aku menemukan sebuah guha yang dalamnya terdapat sebuah sumber air yang
mengeluarkan asap berbau aneh. Dan di situ nampak sesosok mayat terendam, akan tetapi mayat
itu sama sekali tidak membusuk. Banyak pula tengkorak manusia kulihat di dalam guha itu. Ihh,
mengerikan dan aku segera pergi meninggalkan tempat itu.”
“Ehhh ? Menarik sekali ! Mari kita ke sana.”
“Untuk apa, suhu ?”
“Menarik sekali ceritamu. Tentu ada hal-hal yang penting di situ. Bawa aku ke sana,
Hong Hong.”
Demikianlah, kedua orang guru dan murid itu lalu melakukan perjalanan dan pada pagi
hari itu mereka sudah tiba di lereng puncak di Pegunungan Tapie-san seperti yang diceritakan
oleh Lian Hong kepada gurunya. Setelah tiba di puncak, Lian Hong membawa suhunya ke guha
itu.
Guha itu aneh sekali. Mulut guha lebar akan tetapi tidak berapa tinggi sehingga ketika
memasuki guha San-tok yang agak jangkung harus menunduk. Dan di sebelah dalam guha itu
tumbuh sebatang pohon yang daunnya sudah rontok semua, tinggal cabang dan ranting yang
sudah mengering. Melihat keadaan ini, mudah diduga bahwa guha ini dahulunya bukan guha dan
terbentuk dengan runtuhnya batu-batu besar dari puncak menimbun tempat itu sehingga pohon
itupun tertimbun batu dan kini berada di dalam sebuah guha. Begitu memasuki guha itu, yang
nampak adalah sebatang pohon yang tinggal batang, cabang dan rantingnya, dan terciumlah bau
yang aneh dan keras. Juga nampak asap mengepul, terasa hawa yang agak panas.
“Di sinilah tempatnya, suhu,” kata Lian Hong dan gadis ini sudah berlutut di tepi sebuah
kolam kecil di mana terdapat air yang bergolak dan mengeluarkan asap yang berbau belerang. Di
tepi kolam itu terdapat batu-batu besar dan nampak ada beberapa buah tengkorak manusia di situ.
Akan tetapi yang amat mengerikan, di tengah-tengah kolam itu nampak seorang kakek tua renta
yang rambut dan jenggotnya sudah putih semua. Kakek itu nampak terendam di dalam air
Pedang Naga Kemala > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com 245
sebatas dada, kelihatan seperti orang tidur saja, tubuhnya tak bergerak-gerak dan kedua matanya
terpejam.
“Ah-ah-ah, sungguh menarik .......... !” kata San-tok yang berdiri di tepi kolam sambil
meneliti keadaan kolam itu.
“Aneh akan tetapi tidak ada apa-apanya, suhu. Aku pernah datang ke sini dan melihat
keadaan ini, aku lalu cepat pergi lagi. Ketika menyelidiki jejak Koan Jit, jejak itu membawaku
ke sini, akan tetapi di sini aku kehilangan jejaknya. Tidak nampak seorangpun manusia di
puncak ini sehingga aku tidak dapat mencari keterangan lagi tentang dia.”
“Hemm, kalau Koan Jit sampai mendatangi tempat ini, berarti amat penting. Mungkin
ada rahasia tersembunyi di tempat ini. Mari kita selidiki,” kata kakek itu dan mulailah dia
melakukan penyelidikan, meneliti dinding batu di sekitar tempat itu. Akan tetapi tidak ada
sesuatu yang aneh. Semua dinding adalah batu-batu yang wajar saja dan makin jelaslah kini
bahwa tempat itu, mata air panas dan pohon itu, tadinya merupakan tempat terbuka dan kemudian
tertimbun oleh batu-batu dari puncak yang agaknya longsor ke bawah. Akan tetapi peristiwa itu
tentu telah terjadi lama sekali sehingga membentuk sebuah guha aneh ini. Lian Hong juga
membantu suhunya melakukan penyelidikan. Sampai beberapa jam lamanya mereka mencaricari
tanpa hasil.
“Suhu, kalau ada rahasianya, agaknya terdapat dalam kolam air ini,” tiba-tiba Lian Hong
berkata. “Lihat, mayat kakek itu tidak membusuk, ini saja menunjukkan bahwa air sumber ini,
yang bergolak seperti mendidih dan mengeluarkan asap berbau aneh, mengandung sesuatu yang
luar biasa, yang membuat mayat itu tidak rusak.”
“Ha, engkau benar, Hong Hong. Tentu rahasianya terdapat di dalam sumber atau mata air
itu. Orang itu agaknya sejak dahulu duduk di situ sampai mati dan air panas yang mengandung
belerang itu membuat mayatnya tidak rusak. Sudah beberapa kali aku melihat sumber air seperti
ini yang keluar dari dalam perut bumi. Tidak ada yang aneh mengenai air seperti itu. Akan
tetapi kolam ini seperti dibuat merendam tubuhnya. Lihat batu-batuan itu, bukankah batu-batu
besar itu seperti sengaja diletakkan di situ untuk membentuk kolam ? Dan air yang luber
mengalir keluar melalui samping guha. Kalau batu-batu itu digempur dan dibongkar, tentu
dasarnya akan nampak dan siapa tahu di situ letak rahasianya.”
Dibantu oleh muridnya, San-tok lalu membongkar batu-batu besar itu. Kepandaian dan
tenaga sakti guru dan murid itu memungkinkan mereka membongkar batu-batu besar dan
akhirnya air yang berbau belerang itupun mengalir turun karena batu-batu yang menjadi
bendungan itu bobol. Air mengalir dengan cepatnya dan kini rendaman pada tubuh mayat itu
semakin dangkal saja. Setelah air itu hanya tinggal sejengkal saja dalamnya dan hanya menutupi
kaki yang bersila itu sampai sebatas perut, nampaklah coretan-coretan itu merupakan huruf-huruf
yang agaknya ditulis dengan memperhunakan jari tangan saja !
“Aih, benar, tulisan-tulisan itulah yang amat penting dan agaknya tidak ditemukan oleh
Koan Jit !” kata San-tok dengan girang. Biarpun dia seorang datuk kaum sesat, namun San-tok
di waktu mudanya pernah mempelajari ilmu kesusasteraan dengan tekun sehingga dia mampu
membaca dan mengerti huruf-huruf yang agak kuno itu. Lian Hong sendiri yang sejak kecil ikut
Pedang Naga Kemala > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com 246
San-tok, hanya sempat mempelajari ilmu membaca sekedarnya saja maka tentu ia tidak mampu
kalau harus membaca tulisan huruf-huruf kuno itu. Dengan suara bisik-bisik yang hanya dapat
didengar oleh Lian Hong, San-tok lalu membaca huruf-huruf itu satu demi satu sehingga dapat
dirangkai menjadi kalimat-kalimat yang jelas.
“Srigala-srigala hina pencari pusaka
satu demi satu mampus di tangan Kwi Ong-ya !
Tetapi karena Thian-te-pai gerombolan hina
memaksa aku bersembunyi di sini dan bertapa !
Giok-liong-kiam pusaka pembuka rahasia
penyimpan benda-benda pusaka berharga
tak mungkin ditemukan siapapun juga
tanpa bantuan Giok-liong-kiam ke dua !
Akulah pembuat Giok-liong-kiam ke dua
dari batu sumber menggantikan kemala !
Di dalam gagangnya tersimpan rahasia
tempat simpanan Giok-liong-kiam pertama !”
Setelah membaca semua kalimat itu, San-tok tiba-tiba tertawa bergelak. Lian Hong yang
belum begitu mengerti akan arti tulisan itu, memandang heran dan bertanya, “Suhu, mengapa
suhu tertawa setelah membaca tulisan itu ?”
“Ha – ha – ha, betapa lucunya ! Agaknya si Kwi-ong (Raja Setan) ini selain lihai, juga
amat cerdik dan licin, pandai berkelakar pula. Hong Hong, dari tulisannya ini jelaslah bahwa si
Koan Jit itu, murid pertama si gendut Thian-tok, hanya menguasai Giok-liong-kiam palsu. Ha –
ha, yang dijadikan rebutan selama ini oleh semua tokoh kang-ouw, yang menimbulkan kekacauan
dan keributan itu bukan Giok-liong-kiam aseli, melainkan tiruan yang dibuat oleh Kwi-ong ini.
Ha – ha – ha !”
“Apakah yang suhu maksudkan dengan semua itu ? Aku tidak mengerti ..........”
Kakek itu masih tertawa bergelak, kemudian setelah ketawanya mereda, baru dia
menerangkan kepada muridnya. “Dari tulisannya itu dapat kita ketahui semuanya, Hong Hong.
Kakek luar biasa ini berjuluk Kwi-ong, julukan yang jumawa sekali. Agaknya dialah yang
dahulu berhasil menguasai Giok-liong-kiam yang aseli. Tentu banyak tokoh persilatan yang
berusaha merebut pusaka itu, akan tetapi dia berhasil membunuh mereka satu demi satu. Lihat
saja tengkorak-tengkorak yang berserakan di sini, agaknya itulah musuh-musuhnya yang
dibunuhnya karena hendak merampas Giok-liong-kiam. Akan tetapi dari tulisannya dapat diduga
bahwa dia merasa gentar menghadapi desakan Thian-te-pai yang agaknya pada waktu itu
memiliki banyak orang pandai. Thian-te-pai memaksa dia bersembunyi dan bertapa, dan dia lalu
memperoleh akal, menyembunyikan pusaka Giok-liong-kiam di suatu tempat rahasia lalu dia
membuat sebuah Giok-liong-kiam palsu. Ha – ha, dia membuatnya dari batu kali atau batu di
sumber ini sebagai pengganti kemala. Dan agaknya pusaka palsu inilah yang akhirnya terjatuh
juga ke tangan Thian-te-pang atau Thian-te-pai dan menjadi pusaka simpanan perkumpulan itu
sampai akhirnya dicuri orang dan menjadi perebutan, dan akhirnya dicuri dari tangan Thian-tok
oleh muridnya sendiri. Ha – ha, kalau diingat betapa kita semua ribut-ribut memperebutkan
benda palsu ! Akan tetapi, hanya Kwi-ong inilah yang tahu bahwa rahasia tempat penyimpanan
Pedang Naga Kemala > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com 247
Giok-liong-kiam yang aseli berada di dalam gagang Giok-liong-kiam yang palsu. Dan kini
agaknya hanya kita yang mengetahuinya. Biarpun pusaka di tangan Koan Jit itu palsu, akan
tetapi bagi kita masih tetap berharga karena di dalam gagangnya terkandung rahasia
penyimpanan yang aseli. Dan agaknya, pusaka Giok-liong-kiam itu diperebutkan orang bukan
hanya karena pusaka itu berharga dan amat langka, melainkan pusaka itupun menyembunyikan
rahasia penyimpanan benda-benda pusaka yang amat berharga. Mengertikah engkau kini, Hong
Hong ?”
Lian Hong mengangguk dan memandang kagum kepada mayat telanjang yang terendam
air sampai ke perut itu. “Bukan main. Kakek ini dahulunya tentu pandai sekali, suhu.”
Gurunya mengangguk, akan tetapi kakek ini masih terus menyelidiki batu-batu di sekitar
tempat mayat itu duduk bersila dan akhirnya dia menemukan apa yang dicari. Yaitu coretan
huruf-huruf kecil di sebuah batu yang merupakan catatan tentang Giok-liong-kiam ! Agaknya di
tempat inilah Kwi-ong membuat pusaka yang palsu dan dia membuat catatan-catatan Giok-liongkiam
aseli agar pelmasuan itu dapat dibuat sebaik mungkin. Catatan itu menggambarkan macam
Giok-liong-kiam, ukurannya san sebagainya. San-tok lalu mengeluarkan sebuah kipas dan
dengan teliti dia mencatat semua itu di atas kipasnya. Setelah selesai, dibantu oleh Lian Hong,
kakek ini lalu kembali memasang batu-batu besar sebagai bendungan dan tak lama kemudian, air
sumber yang terbendung itu membuat kolam yang merendam tubuh Kwi-ong berikut batu-batu di
sekelilingnya. Akan tetapi terlebih dahulu San-tok yang cerdik itu melenyapkan tulisan-tulisan di
permukaan batu dengan gempuran-gempuran, menggunakan batu lain sehingga permukaan batu
itu hancur dan tulisannyapun lenyap.
“Hong Hong, engkau sudah melihat semua ini dan kini makin jelas pula betapa
pentingnya kita dapat menguasai Giok-liong-kiam. Aku akan kembali ke Wuyi-san di mana aku
akan mencoba akal yang pernah dipergunakan Kwi-ong, dan engkau pergilah menyelidiki di
mana adanya Koan Jit. Akan tetapi jangan engkau turun tangan karena hal itu tentu amat
berbahaya.”
“Suhu menyuruh aku menyelidiki, akan tetapi kalau sudah kuketahui tempatnya, aku tidak
boleh turun tangan. Apa maksud suhu ?”
“Aku akan membuat Giok-liong-kiam palsu seperti yang pernah dilakukan Kwi-ong. Aku
sudah mencatat segala bentuk dan ukurannya. Sementara aku mencoba membuat yang palsu itu,
engkau pergi mencarinya. Setelah engkau berhasil, cepat mengabarkan padaku. Kita harus dapat
menukar pusaka di tangan Koan Jit itu dengan yang palsu.”
Lian Hong semakin tidak mengerti. Ia mengerutkan alisnya dan memandang wajah
suhunya dengan heran. “Suhu ini aneh sekali. Sudah mengerti bahwa pusaka di tangan Koan Jit
itu palsu, mengapa kini suhu hendak menukarnya lagi dengan yang palsu buatan suhu ? Kalau
memang sudah kita ketahui tempatnya, kita rampas saja pusaka itu, kenapa susah-susah hendak
menukarnya seolah-olah suhu takut kepada Koan Jit itu ?”
Kakek kurus itu tertawa lebar. “Ha-ha-ha, engkau belum mengerti, muridku yang baik.
Aku tidak takut kepada Koan Jit, bahkan terhadap gurunya sekalipun aku tidak takut. Akan tetapi
ketahuilah, semua orang di dunia persilatan berlumba untuk memperebutkan pusaka itu. Kini
Pedang Naga Kemala > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com 248
mereka semua tahu bahwa pusaka itu berada di tangan Koan Jit sehingga mereka semua tentu
akan mencari Koan Jit. Kalau kita merampas pusaka itu begitu saja dari tangan Koan Jit, tentu
perhatian semua tokoh persilatan berbalik kepada kita dan kehidupan kita tentu tidak akan
tenteram lagi. Ingat saja halnya Kwi-ong yang akhirnya mati di tempat ini tanpa dapat
menikmati pusaka yang dikuasainya. Maka, kita menukar pusaka itu dan biarkan semua orang
mencari dan memusuhi Koan Jit sedangkan kita diam-diam memiliki pusaka itu dan mencari
rahasianya. Bagaimana kaupikir ?”
Lian Hong memandang kagum kepada suhunya. “Wah, ternyata suhu tidak kalah lihai
dan cerdiknya dibandingkan dengan Kwi-ong !” Ia memuji dari dalam hatinya.
“Ha-ha-ha, baru engkau mengenal suhumu, ya ? Nah, kita sekarang berpisah di sini. Aku
kembali ke Wuyi-san dan engkau pergilah dan mencari Koan Jit. Orang macam dia tentu suka
akan daerah yang bergolak. Dan perang madat mendatangkan pergolakan di selatan. Maka,
sebaiknya ke sanalah engkau mencari. Semua orang kang-ouw berkumpul di sana dan lebih
mudah bagimu untuk mencari keterangan.”
Guru dan murid inipun saling berpisah. Untuk kedua kalinya Lian Hong melakukan
perjalanan seorang diri dalam usahanya mencari jejak Koan Jit yang amat licin bagai belut itu.
Jilid XI *****
THIAN-TE-PAI atau Thian-te pang amat terkenal di jaman itu karena perkumpulan ini
merupakan satu di antara perkumpulan-perkumpulan yang gigih menentang pemerintah penjajah
Mancu. Mereka terdiri dari orang-orang gagah segala aliran yang bergabung dalam satu wadah,
sejak bertahun-tahun mengadakan penentangan, pengacauan dan perlawanan terhadap pasukan
pemerintah Mancu, mengobarkan pemberontakan di mana-mana. Banyak sudah anggauta
mereka yang tewas dalam pertempuran-pertempuran melawan pasukan pemerintah, namun
mereka tidak pernah jera. Bahkan anggauta mereka semakin banyak saja, terdiri dari orang-orang
gagah segala aliran dan suku. Selain ini, juga mereka mengadakan hubungan baik dengan
perkumpulan-perkumpulan lain yang mempunyai tujuan sama, yaitu menentang pemerintah Ceng
dan kalau mungkin menghalau penjajah Mancu dari tanah air.
Ketika terjadi perang madat yang berlangsung selama tiga tahun itu, orang-orang Thiante-
pang juga bergerak. Akan tetapi karena mereka menjadikan pemerintah Mancu sebagai
sasaran utama, maka perang antara pemerintah melawan orang-orang kulit putih itu membuat
mereka seolah-olah memperoleh bantuan dari orang-orang kulit putih. Karena itu, mereka
sengaja tidak menyerang orang kulit putih, melainkan menghantam pemerintah yang sedang
sibuk melawan musuh asing itu. Biarpun demikian, bukan berarti bahwa Thian-te-pang suka
bersekongkol dengan orang-orang kulit putih. Maka, setelah perang dihentikan dan pemerintah
Ceng yang dipimpin kaisar yang lemah itu tunduk kepada orang kulit putih, menyerahkan banyak
kota dan perlakuan istimewa terhadap orang-orang kulit putih, diam-diam para pendekar,
termasuk orang-orang Thian-te-pang, menjadi marah bukan main.
Pada waktu itu, Thian-te-pang diketuai oleh seorang kakek berusia enampuluh tahun lebih
yang bernama Ma Ki Sun, seorang ahli silat yang pandai, seorang gagah sejati yang sejak muda
Pedang Naga Kemala > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com 249
sudah bangkit menentang pemerintah penjajah. Dia diwakili oleh Coa Bhok, sutenya sendiri
yang juga lihai ilmu silatnya. Mereka berdualah yang memimpin Thian-te-pang. Akan tetapi,
selama beberapa tahun ini, Thian-te-pang seolah-olah kehilangan pamornya, seperti menyuram
akibat lenyapnya pusaka Giok-liong-kiam dari tangan mereka. Pusaka ini tadinya dianggap
semacam simbol kekuatan dan semangat Thian-te-pang, dan membuat mereka dihargai dan
dikagumi di dunia kang-ouw. Akan tetapi setelah Giok-liong-kiam lenyap dicuri orang,
pandangan dunia persilatan terhadap Thian-te-pang agak menurun. Mereka menganggap bahwa
lenyapnya pusaka itu menunjukkan kelemahan Thian-te-pang yang tidak mampu menjaga pusaka
sendiri sampai dapat dicuri orang. Tentu saja pihak Thian-te-pang sudah berusaha mati-matian
untuk mencari pencurinya dan merampas kembali pusaka mereka sehingga ketika terjadi
perebutan, murid pertama Thian-te-pang yang bernama Lui Siok Ek ikut pula memperebutkan.
Bahkan ketika para tokoh mendatangi Siauw-bin-hud, wakil ketua Thian-te-pang yang bernama
Coa Bhok juga hadir. Namun, semua usaha mereka sia-sia belaka. Giok-liong-kiam tetap tak
dapat mereka temukan.
Seperti telah kita ketahui, ketika terjadi perang madat, orang-orang Thian-te-pang banyak
yang berjuang di Kanton dan daerahnya, dan banyak pula menarik orang-orang gagah untuk
bekerja sama dengan mereka. Di antara orang-orang gagah ini terdapat Ong Siu Coan yang telah
berpisah dari sutenya, yaitu Gan Seng Bu yang pergi bersama isterinya, Sheila. Melihat adanya
kesempatan baik untuk memenuhi cita-citanya melalui Thian-te-pang yang besar dan kuat, ketika
pasukan itu kembali ke Bukit Kijang Putih di Propinsi Hunan, Siu Coan ikut pula bersama
rombongan orang-orang Thian-te-pang. Para murid dan anggauta Thian-te-pang tentu saja
menerimanya dengan tangan terbuka karena mereka semua sudah mengenal kelihaian pemuda
ini.
Thian-te-pang mengadakan rapat, dipimpin oleh Ma Ki Sun dan sute atau wakilnya, Coa
Bhok. Siu Coan yang diterima sebagai seorang sahabat dan tamu, juga diperkenalkan hadir.
Yang hadir di dalam ruangan luas itu adalah para tokoh Thian-te-pang, murid-murid kepala dan
komandan-komandan regu, tidak kurang dari limapuluh orang banyaknya, memenuhi ruangan
yang biasanya menjadi tempat berlatih silat para anggauta dan murid Thian-te-pang. Ma Ki Sun
dan Coa Bhok mempunyai murid-murid yang jumlahnya duapuluh orang lebih, dan para murid
ini lalu melatih silat kepada para anggauta Thian-te-pang.
Siu Coan yang hadir sebagai tamu, mengamati keadaan di situ. Dilihatnya bahwa tempat
yang menjadi markas besar Thian-te-pang ini merupakan sebuah perkampungan yang dilengkapi
dengan tembok tinggi seperti benteng di lereng Bukit Kijang Putih itu. Tempat yang baik sekali
dan kuat untuk pertahanan. Dan di dalamnya terdapat segala macam senjata, juga mempunyai
anggauta yang tidak kurang dari tigaratus orang banyaknya, tersebar di mana-mana. Pendeknya,
sebuah perkumpulan yang cukup kuat. Dia memperhatikan Ma Ki Sun, ketua perkumpulan itu,
dan wakilnya. Ma Ki Sun sudah berusia sedikitnya enampuluh tiga tahun, bertubuh tinggi kurus
dengan mata yang sebelah kiri buta dan tidak berbiji lagi. Dengan mata sebelah ini dia pernah
malang melintang sebagai seorang pendekar di selatan sehingga di dikenal dengan julukan It-gan
Lam-eng (Pendekar Selatan Mata Satu). Seperti juga para anggauta Thian-te-pang, di baju ketua
ini, di bagian dada, terdapat lukisan bulatan yang mengambarkan Im-yang, akan tetapi berbeda
dengan para anggauta yang lukisannya disulam benang biasa, lukisan di baju sang ketua ini
disulam dengan benang emas. Sikapnya penuh wibawa dan matanya yang tunggal itu melirik ke
kanan kiri dengan tajam dan sinarnya mencorong. Orang ke dua, yang menjadi wakil ketua dan
Pedang Naga Kemala > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com 250
juga sutenya, bernama Coa Bhok, nampak tinggi kurus pula, akan tetapi sikapnya angkuh,
nampak dari tarikan mulutnya yang agak sinis dan dagu serta pandang matanya yang
membayangkan kekerasan hati.
Di tempat itu sudah diatur meja sembahyang, lengkap dengan hidangan dan lilin-lilin
yang dinyalakan. Kemudian, Coa Bhok sebagai wakil suhengnya, bangkit berdiri dari tempat
duduknya dan terdengar suaranya yang lantang dan tegas.
“Para murid dan anggauta Thian-te-pang. Sebelum rapat dimulai, lebih dulu akan
diadakan upacara sembahyang untuk menghormat arwah para pahlawan yang telah gugur dalam
perang yang lalu.” Setelah berkata demikian, diapun duduk kembali, memberi kesempatan
kepada suhengnya sebagai ketua untuk mengucapkan “amanat”nya.
Ma Ki Sun bangkit berdiri, tubuhnya lebih jangkung dari pada sutenya. Justeru matanya
yang tinggal satu itulah yang mendatangkan wibawa besar, pikir Siu Coan sambil melihat dan
mendengarkan penuh perhatian.
“Anak-anak sekalian !” terdengar kakek mata satu itu berkata. “Kita adalah pendekarpendekar
tanah air, patriot-patriot bangsa yang berjuang tanpa pamrih, hanya dengan satu tujuan,
yaitu membebaskan tanah air dan bangsa dari cengkeraman penjajah ! Akan tetapi, perjuangan
kita tidak akan sia-sia. Bangsa kita akan terbebas dari belenggu penjajahan, dan kalau kita gugur,
nama kita akan dipuja selamanya sebagai pahlawan. Karena itu, kita tidak boleh melupakan
kawan-kawan seperjuangan yang gugur baru-baru ini dan marilah kita sembahyangi mereka agar
roh mereka mendapat tempat yang baik, dan nama mereka akan dipuja selamanya.”
Siu Coan tersenyum di dalam hatinya, senyum mengejek. Mungkin nama beberapa orang
pentolan saja yang akan diingat selamanya, akan tetapi nama para perajurit biasa, siapa yang akan
mengingatnya ? Nama itupun akan terlupa. Perjuangan tanpa pamrih ? Mana mungkin itu,
cemooh hatinya. Menumbangkan penjajah hanya merupakan jalan saja, tidak hanya habis sampai
di situ. Aku jelas tidak mau berjuang tanpa pamrih, dengan sia-sia.
Akan tetapi ketika sang ketua dan wakilnya bersembahyang dan memberi kesempatan
kepada para tamu untuk bersembahyang, Siu Coan juga bersembahyang, akan tetapi tidak seperti
mereka yang mengangkat hio membara, melainkan dengan cara membungkuk sedikit di depan
meja sembahyang. Tentu saja semua orang memandang dengan heran, akan tetapi mereka yang
tahu bahwa pemuda ini tertarik akan Agama Kristen yang dibawa oleh orang kulit putih, hanya
tersenyum mengejek. Betapapun juga, tidak ada yang berani menegurnya karena mereka semua
maklum akan kelihaian pemuda ini. Ma Ki Sun mengerutkan alisnya, akan tetapi juga tidak
menegur, mengingat bahwa pemuda ini hanya seorang tamu dan kabarnya telah banyak berjasa
dalam perang membantu perjuangan Thian-te-pang.
Setelah semua orang selesai sembahyang dan meja sembahyang disingkirkan, dimulailah
rapat itu. Mula-mula sang ketua membicarakan soal pusaka Giok-liong-kiam.
“Mendapatkan kembali pusaka itu merupakan kewajiban kita, akan tetapi tidak begitu
mutlak perlu,” kata Ma Ki Sun. : Yang penting adalah soal perjuangan. Seperti kita semua
Pedang Naga Kemala > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com 251
ketahui, pemerintah penjajah Mancu yang mulai bobrok itu telah secara tak tahu malu menakluk
kepada orang-orang kulit putih dan menyerahkan kota-kota penting begitu saja kepada mereka.
Penjilat-penjilat tak tahu malu itu sungguh terkutuk ! Madat akan dimasukkan lagi dan bangsa
kita akan dijejali barang beracun itu sampai akhirnya kita menjadi bangsa yang lemah dan
pemadatan ! Ini harus kita tentang ! Kita harus mengerahkan tenaga untuk mengganggu dan
menyerang mereka, sekarang kita mulai mendekati kota raja dan mengadakan kekacauan di
daerah kota raja !”
Akan tetapi, para murid dan anggauta Thian-te-pang nampak saling pandang dan agaknya
tidak semangat menyambut anjuran sang ketua ini. Hal ini adalah hasil dari permainan kasakkusuk
yang dilakukan Siu Coan selama ini di antara mereka. Dengan cerdik dia, tanpa mencela
secara terang-terangan, mengatakan bahwa Thian-te-pang perlu memperoleh pimpinan baru yang
perkasa dan pandai. Dan dia sengaja menyinggung betapa pusaka Giok-liong-kiam merupakan
lambang kebesaran Thian-te-pang dan hilangnya pusaka itu menunjukkan kemerosotan Thian-tepang,
maka perlu segera didapatkan kembali. Dan sekarang, sang ketua bahkan meremehkan
Giok-liong-kiam, dan mengajak mereka untuk mengganggu daerah kota raja yang amat
berbahaya karena di daerah itu penjagaan pasukan kerajaan amatlah kuatnya. Melakukan
pengacauan di daerah kota raja sama saja dengan membunuh diri ! Karena itulah, mereka saling
pandang dan tidak menyambut ucapan sang ketua itu dengan semangat seperti biasanya. Apa lagi
mereka masih lelah, baru saja pulang dari pertempuran-pertempuran yang melelahkan di mana
mereka kehilangan banyak teman.
Melihat sikap para anak buah ini, Ma Ki Sun dan sutenya saling pandang. Kemudian
sutenya, Coa Bhok, berseru dengan suara lantang, “Apakah di antara kalian ada yang hendak
mengajukan usul ?”
Tentu saja para murid dan para anggauta itu tidak berani menentang kehendak ketua
mereka, maka merekapun kini hanya saling pandang dan akhirnya mereka memandang kepada
Siu Coan. Pemuda ini tersenyum dan bangkit dari tempat duduknya.
“Pangcu, aku ingin mengajukan usul-usul !”
“Ong-sicu !” jawab Coa Bhok dengan alis berkerut. Ini adalah rapat para anggauta
Thian-te-pang, sicu sebagai orang luar tidak berhak mencampuri. Maaf, kami tidak dapat
menerima usul dari luar.” Sedikit banyak Coa Bhok sudah mendengar tentang pemuda ini dari
para muridnya. Seorang pemuda yang lihai, akan tetapi aneh. Tak seorangpun mengetahui asalusulnya,
dari perguruan mana, dan juga bahwa sute dari pemuda ini telah menikah dengan
seorang wanita kulit putih. Orang seperti itu mana boleh dipercaya ? Apa lagi tadi pemuda itu
melakukan sembahyang secara aneh dan melanggar adat kebiasaan.
Siu Coan tidak mundur oleh teguran ini. “Maaf, aku terpaksa mencampuri karena melihat
hal-hal yang baik dalam Thian-te-pang. Aku menganggap Thian-te-pang sebagai saudara
seperjuangan, dan aku tahu bahwa para anggauta ingin sekali mengajukan usul-usul namun
mereka tidak berani. Kini aku akan maju sebagai wakil pembicara mereka. Saudara-saudara,
bagaimana kalau aku menjadi wakil pembicara kalian untuk menyampaikan segala ketidakpuasan
yang menekan batin kalian ? Setujukah ?”
Pedang Naga Kemala > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com 252
Sudah banyak Siu Coan mempengaruhi para anggauta Thian-te-pai, apa lagi mereka yang
kagum menyaksikan sepak terjangnya, maka mereka ini serentak menyatakan setuju dan suara ini
diikuti saja oleh para anggauta lain yang agaknya sudah kehilangan pegangan itu.
“Setujuuuuu .......... !” Terdengar suara serentak mereka. Ma Ki Sun dan Coa Bhok
saling pandang dan akhirnya Ma Ki Sun mengangguk.
“Baiklah,” kata Coa Bhok denga suara kering dan ketus. “Kalau memang para anggauta
menghendaki, engkau boleh menyatakan usul-usulmu, Ong-sicu.”
“Terima kasih, akan tetapi sebelumnya aku minta agar pangcu berjanji bahwa sebelum
aku selesai menyatakan usul-usulku, maka usul-usulku tidak boleh dipotong. Berjanjilah bahwa
aku akan diperbolehkan menyatakan usul-usulku sampai aku habis bicara.”
Ma Ki Sun melambaikan tangannya dengan tidak sabar. “Baik, bicaralah, orang muda !”
“Aku hanya menjadi juru pembicara para anggauta Thian-te-pang. Kami semua merasa
tidak puas terhadap kebijaksanaan yang diambil oleh pimpinan. Pertama, setelah Giok-liongkiam
dicuri orang dan terlepas dari tangan kita, maka pamor Thian-te-pang menjadi suram.
Karena itu, urusan mencari dan merampas kembali Giok-liong-kiam merupakan hal terpenting
dan menyangkut kehormatan dan nama besar Thian-te-pang sendiri. Maka kami tidak setuju
kalau dinomorduakan. Giok-liong-kiam harus didapatkan kembali lebih dulu !”
Siu Coan berhenti sebentar untuk memberi kesempatan para anggauta menyatakan
persetujuan mereka. Kemudian dia menyambung dengan cepat, “Ke dua, melakukan
pengacauan dan menyerang ke daerah kota raja pada saat ini adalah sama sekali tidak tepat.
Pemerintah penjajah baru saja berbaik dengan orang-orang kulit putih sehingga kedudukan
mereka kuat, sebaliknya kita baru saja bertempur dan kehilangan banyak tenaga. Kita harus
menghimpun kekuatan lebih dulu, bergabung dengan golongan lain kalau perlu, dan setelah kita
kuat benar barulah kita bergerak. Akan tetapi, jangan jadikan Thian-te-pang sebagai kelompok
pengacau-pengacau tak berarti saja. Kita bercita-cita, bukan hanya untuk menjadi sekedar
pengacau, melainkan kalau mungkin kita akan gulingkan pemerintah penjajah Mancu !”
Kembali terdengar tepuk tangan dan seruan-seruan pujian dari para anggauta. Mereka
telah dibangkitkan oleh ucapan Siu Coan.
“Ke tiga, kami sama sekali tidak setuju dengan ucapan ketua ketika diadakan upacara
sembahyang tadi. Buat apa kita berjuang mati-matian, mengorbankan nyawa kalau sekedar
mencari nama kosong belaka ? Kita berjuang harus dengan cita-cita, dengan pamrih luhur !
Thian-te-pang harus berjuang bukan hanya untuk dicap sebagai pahlawan kalau mati, melainkan
untuk merampas tahta kerajaan dan kalau berhasil kelak, setiap orang anggauta Thian-te-pang,
tidak terkecuali, harus mendapatkan kedudukan atau pangkat sesuai dengan jasa-jasa mereka !
Dengan demikian, tidak akan percuma kalau sekarang kita berjuang dengan taruhan nyawa juga,
sehingga kelak dapat memperoleh pahala untuk mengangkat nama dan derajat keluarga, juga
menjamin kemakmuran bagi kehidupan mereka !”
Sekali ini, tepuk tangan dan sorak-sorai menyambut ucapan Siu Coan sehingga tidak
dapat disangsikan lagi dukungan mereka terhadap Siu Coan. Ma Ki Sun dan Coa Bhok dengan
Pedang Naga Kemala > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com 253
muka pucat saling pandang dan keduanya merasa betapa ada bahaya besar mengancam mereka,
setidaknya kedudukan mereka.
Akan tetapi sebelum mereka sempat bicara, kembali Siu Coan sudah mengangkat kedua
tangan keatas, dan terdengar suaranya melengking mengatasi semua suara bising. Dua orang
pimpinan Thia-te-pang terkejut karena mereka maklum bahwa suara itu didukung oleh tenaga
khikang yang amat kuat !
“Saudara-saudara sekalian, harap tenang !” dan kini semua orang diam, memperhatikan
Siu Coan dengan wajah berseri dan mata bersinar-sinar penuh semangat.
“Masih ada satu hal lagi yang teramat penting, lebih penting dari pada yang terdahulu.
Kami berpendapat bahwa pimpinan Thian-te-pang sekarang ini sudah tidak becus, sudah terlalu
tua dan tidak mungkin dapat memajukan Thian-te-pang, maka kami usulkan agar diganti oleh
tenaga muda yang lebih bersemangat !”
Sekali ini, semua anggauta terdiam dan wajah mereka berobah, dengan penuh ketegangan
mereka memandang ke arah Ma Ki Sun dan Coa Bhok. Tentu saja sebagai murid-murid Thiante-
pang mereka tidak berani mendukung ucapan itu walaupun di dalam hati, mereka setuju sekali.
Ma Ki Sun dan Coa Bhok kini saling pandang dengan muka pucat dan Coa Bhok sudah
meloncat berdiri. “Orang she Ong ! Sikapmu sungguh keterlaluan dan tidak bersahabat !
Apakah engkau hendak mengajak murid-murid kami berkhianat ?”
“Coa-pangcu harap sabar dulu. Aku sama sekali tidak mengajak mereka berkhianat,
melainkan bicara sejujurnya saja. Pimpinan Thian-te-pang tidak becus mendapatkan kembali
pusaka Giok-liong-kiam dan telah memperlihatkan kepemimpinan yang tidak baik. Maka,
wajarlah kalau pimpinan sekarang yang sudah terlalu tua dan lemah mundur saja untuk diganti
oleh yang muda dan kuat !”
Coa Bhok tersenyum mengejek. “Orang she Ong. Mereka semua adalah murid-murid
kami, siapakah di antara mereka yang dapat melebihi kekuatan kami ?”
“Wah, banyak !” kata Ong Siu Coan. “Di antaranya aku sendiripun mampu melebihi
kekuatan kalian.”
“Keparat !” Kini Coa Bhok meloncat ke depan menghadapi Siu Coan yang juga sudah
meninggalkan kursinya dan berdiri di tengah-tengah ruangan itu. Keduanya kini saling
berhadapan seperti dua ekor jago yang siap untuk saling serang. “Jadi engkau menghendaki
kedudukan ketua Thian-te-pang ?”
“Kalau kalian yang sudah tua dan lemah tahu diri, aku akan sanggup memimpin Thian-tepang
jauh lebih baik dari pada kalian orang-orang tua yang sudah lemah !”
“Jahanam bermulut besar ! Ingin kulihat apakah kepandaianmu juga sebesar mulutmu !”
bentak Coa Bhok yang sudah tidak mampu menahan kemarahannya lagi. Berkata demikian,
wakil ketua Thia-te-pang ini sudah mencabut sebatang pedang. Dia marah sekali, akan tetapi
Pedang Naga Kemala > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com 254
sebagai seorang wakil ketua sebuah perkumpulan besar yang merasa dirinya telah menduduki
tingkat tinggi, dia merasa tidak enak kalau harus menyerang seorang lawan yang begitu muda
dengan senjata tanpa memberi kesempatan kepada lawan.
Ong Siu Coan, keluarkanlah senjatamu !” tantangnya sambil melintangkan pedangnya di
depan dada.
Akan tetapi Siu Coan tersenyum, suaranya lantang terdengar oleh semua orang ketika dia
bicara. Pada waktu itu, keributan itu sudah terdengar oleh orang-orang yang berada di luar
ruangan sehingga kini lubang pintu dan jendela penuh dengan kepala-kepala tersembul
memandang ke dalam, kepala para anggauta Thian-te-pang.
“Aku datang bukan untuk berkelahi, melainkan mengatakan hal-hal yang sebenarnya.
Akan tetapi kalau Coa-pangcu yang bernafsu untuk menyerang dan membunuhku, silahkan. Aku
sendiri sama sekali tidak takut menghadapi pedangmu dengan tangan kosong saja.”
Ucapan ini sekaligus merupakan teguran bahwa dia sebagai tamu akan diserang oleh tuan
rumah yang memulai perkelahian itu, akan tetapi juga suatu sikap memandang rendah dan
menentang yang membuat wajah wakil ketua Thian-te-pang itu sebentar menjadi pucat sebentar
menjadi merah.
“Orang she Ong ! Kalau tidak engkau yang menggeletak mati di ujung pedangku, akulah
yang harus mampus di tanganmu. Lihat senjata !” Dan kakek itu sudah menerjang maju dan
mengirim serangan dengan pedangnya secara kilat dan dahsyat sekali.
Betapapun cepatnya tusukan pedang yang menuju ke arah tenggorokan Siu Coan itu,
namun Siu Coan lebih cepat lagi. Tubuhnya sudah mencelat ke kiri dan tusukan itu mengenai
angin kosong. Sebagai seorang ahli pedang yang tangguh, begitu pedangnya luput mengenai
sasaran, pergelangan tangannya bergerak dan pedang itu membuat gerakan memutar terus
menyambar dengan bacokan yang lebih dahsyat lagi ke arah leher Siu Coan. Pemuda itu
merendahkan tubuh membiarkan pedang lewat dan cepat dia meloncat ke atas ketika pedang itu
sudah datang lagi dari lain jurusan membabat kedua kakinya ! Pedang itu terus bergerak cepat
menghujankan serangan dan sebentar kemudian pedang itu sudah lenyap bentuknya dan berobah
menjadi segulungan sinar putih yang menyambar-nyambar. Akan tetapi bentuk tubuh Siu Coan
juga sudah lenyap. Hanya bayangan tubuhnya saja yang berloncatan ke sana-sini sehingga
pedang yang bayangannya berobah banyak itu seolah-olah hanya menyerang bayangan kosong
saja !
Semua mata yang nonton perkelahian itu hampir tak pernah dikejapkan. Semua orang
memandang dengan hati tegang. Para murid dan anggauta Thian-te-pang maklum betapa lihainya
wakil ketua itu bermain pedang dan kini Siu Coan menghadapinya dengan tangan kosong saja !
Mereka sudah membayangkan bahwa tak lama lagi tentu tubuh pemuda itu akan roboh mandi
darah, tewas atau terluka berat. Akan tetapi, makin cepat pedang itu berkelebat, makin cepat pula
tubuh Siu Coan bergerak menghindar sehingga jangankan tubuh pemuda itu dilanggar pedang,
bahkan ujung baju pemuda itupun tidak pernah tergores pedang sama sekali ! Dan agaknya
pemuda itu dapat menghindarkan diri dengan amat mudahnya, hal ini terbukti dari suara
ketawanya yang kadang-kadang terdengar, bahkan terdengar pula suaranya penuh ejekan.
Pedang Naga Kemala > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com 255
“Nah, bukankah kau sudah terlalu tua dan gerakanmu terlalu lemah dan lamban, Coapangcu
?”
Mendengar suara ketawa dan ejekan ini, para penonton menjadi terheran-heran dan
kagum bukan main. Dianggap oleh mereka bahwa agaknya tidak masuk akal kalau ada orang
mampu menghadapi pedang Coa Bhok dengan tangan kosong, dan masih sempat tertawa-tawa
bahkan mengeluarkan suara mengejek. Mereka tahu bahwa Siu Coan lihai, akan tetapi tidak
pernah menduga bahwa pemuda itu memiliki kesaktian seperti itu ! Juga ketua Thian-te-pang,
Ma Ki Sun, terbelalak kaget. Kakek ini adalah suhengnya dari Coa Bhok dan lebih lihai dari
pada sutenya. Akan tetapi dia tidaklah seangkuh Coa Bhok yang terlalu percaya akan kepandaian
sendiri sehingga suka memandang ringan orang lain. Melihat betapa selama lebih dari duapuluh
jurus sutenya yang menggunakan pedang itu terus menerus menyerang pemuda itu tanpa berhasil
sedikitpun juga, bahkan melihat pemuda itu benar-benar memiliki kepandaian yang jauh lebih
tinggi tingkatnya dari pada sutenya. Dia merasa heran dan terkejut akan kenyataan ini, akan
tetapi dia masih cukup waspada untuk berseru kepada sutenya.
“Sute, sudahlah, jangan berkelahi lagi !” katanya dengan maksud agar sutenya tidak
menderita malu dan bahkan agar sutenya tidak menderita malu dan bahkan mungkin terancam
bahaya. Akan tetapi, Coa Bhok sudah memuncak kemarahannya. Kehebatan lawan dan ejekan
lawan tadi sudah meracuni batinnya dan dia merasa lebih baik mati dari pada harus menghentikan
serangannya dan mengaku kalah !
“Biarlah, suheng. Dia atau aku yang mati !” teriaknya dan dia memperhebat
serangannya.
Siu Coan bukan seorang bodoh. Tadinya sedikitpun tidak terlintas dalam benaknya untuk
merobohkan lawannya dengan luka berat, apa lagi membunuhnya. Dia tahu bahwa dua orang
kakek ini, bagaimanapun juga, merupakan guru-guru dari para anggauta Thian-te-pang sehinnga
mereka itu masih akan mampu mempengaruhi para anggauta. Dia bermaksud untuk
menanamkan kekuasaannya di Thian-te-pang tanpa mengganggu para pimpinannya, hanya
menundukkan saja dan dia dapat mempergunakan kekuatan Thian-te-pang untuk mencapai
tujuannya. Akan tetapi, melihat sikap Coa Bhok, tahulah dia bahwa orang ini kalau dibiarkan
hidup, akhirnya tentu akan menjadi orang yang selalu memusuhinya, baik berterang ataupun
dengan menggelap. Cegahan ketua Thian-te-pang tadi meyakinkan hatinya bahwa dengan ketua
itu dia masih boleh mengharapkan kerja sama, akan tetapi terhadap Coa Bhok yang keras hati ini
harus diambil tindakan tegas, akan tetapi harus diatur sedemikian rupa agar para anggauta Thiante-
pang tidak akan menjadi sakit hati kepadanya.
Siu Coan membiarkan lawannya mengamuk terus. Dengan ilmu silat Ngo-heng Lianhoan
Kun-hoat yang amat hebat dari Thian-tok, dia mampu menghindarkan semua serangan itu.
Dan kini kadang-kadang dia menangkis dengan tangannya, tangan yang sudah diisi dan dialiri
tenaga ilmu kebal Kim-ciong-ko. Ilmu Kim-ciong-ko ini dapat membuat tubuhnya seperti
dilindungi baju emas saja. Sebetulnya, melihat ilmu ini saja yang membuat kedua tangan
pemuda itu mampu menangkis pedangnya tanpa lecet sedikitpun juga, sudah cukup bagi Coa
Bhok untuk menyadari bahwa dia kalah jauh. Namun kakek ini keras hati dan dia menganggap
bahwa Siu Coan sudah melontarkan penghinaan terhadap dia dan suhengnya, maka dia tetap
tidak mau mundur dan menyerang terus walaupun kini napasnya mulai empas-empis. Bersilat
Pedang Naga Kemala > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com 256
pedang memang lebih cepat melelahkan, karena membutuhkan tenaga tambahan untuk
menggerakkan pedang. Walaupun pedangnya itu pedang tipis dan tidak sangat berat, akan tetapi
kalau harus menyerang terus sejak tadi, tenaganya mulai berkurang juga.
Siu Coan cukup waspada. Dia melihat lowongan baik. Kalau hanya untuk merobohkan
kakek itu saja, sejak tadipun dia akan mampu melakukannya. Akan tetapi merobohkan lawan
seperti yang dikehendakinya, membutuhkan waktu karena dia harus mencari kesempatan baik
dan gerak cepat yang luar biasa.
Tiba-tiba saja, tanpa dapat dilihat oleh semua orang kecuali ketua Thian-te-pang
bagaimana terjadinya, kakek Coa Bhok mengeluarkan teriakan mengaduh dan tubuh kakek itu
roboh miring dan tewas seketika dengan tubuh mandi darah, pedang yang gagangnya masih
dipegangnya itu telah menusuk dadanya sendiri sampai tembus ! Karena pedang itu tepat
menembus jantung, maka kakek itupun tewas seketika. Semua orang terkejut dan terbelalak.
Siu Coan berdiri dan memandang mayat itu, menarik napas panjang dan berkata, “Coapangcu
sungguh keras hati, memilih bunuh diri dari pada menderita kekalahan. Sayang, sayang
.......... !” Barulah para anggauta Thian-te-pang maklum bahwa wakil ketua itu telah membunuh
diri karena merasa akan menderita kekalahan. Mereka menjadi semakin kagum terhadap pemuda
itu dan mereka juga semakin tegang, ingin melihat apa yang akan dilakukan oleh ketua mereka
terhadap Siu Coan.
Ma Ki Sun bangkit dari kursinya, menanggalkan jubahnya yang lebar, lalu
memerintahkan murid-muridnya untuk menyingkirkan mayat sutenya. “Urus jenazahnya baikbaik,”
katanya dengan suara datar. Setelah mayat itu diangkut, dia lalu melangkah perlahan
menghampiri Siu Coan yang masih berdiri di tengah ruangan itu. Di lantai masih ada darah dan
melihat ini, sakit juga rasa hati Ma Ki Sun, teringat betapa sutenya sejak muda membantunya dan
sutenya adalah seorang pendekar yang gagah perkasa, seorang patriot yang gagah berani. Akan
tetapi tak disangkanya, sutenya tewas di tangan seorang pemuda yang sama sekali tidak ada
nama, walaupun harus diakuinya bahwa kepandaian pemuda itu benar-benar amat hebat.
Pedang Naga Kemala > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com 257
Sejenak mereka saling pandang, pandang mata ketua itu penuh selidik, pandang mata Siu
Coan menanti dengan sikap waspada.
“Orang muda, sebetulnya apakah yang kaucari di sini ?” tanyanya dengan suara lirih dan
tegas.
Siu Coan menjura dengan hormat. “Harap pangcu maafkan kalau peristiwa berekor
seperti ini. Adalah Coa-pangcu yang memaksaku ..........”
“Aku mengerti, orang muda. Akan tetapi, apakah sebenarnya kehendakmu ?”
Melihat mata yang hanya satu itu memandangnya penuh selidik, seolah-olah dapat
menembus dan menjenguk isi hatinya, diam-diam Siu Coan bergidik dan dia cepat-cepat
menjawab dengan suara lantang agar terdengar oleh semua orang.
“Pangcu, aku hanya ingin agar Thian-te-pang menjadi sebuah perkumpulan patriot yang
kuat dan kelak akan berhasil menggulingkan kerajaan penjajah Mancu. Aku ingin menghimpun
seluruh kekuatan para pejuang untuk bersatu dan menghalau penjajah dari tanah air.”
“Hemm, jadi engkau ingin menjadi ketua Thian-te-pang ?”
“Bukan hanya Thian-te-pang, melainkan aku ingin memimpin seluruh pasukan pejuang
yang menentang pemerintah penjajah, ingin mendirikan sebuah kekuatan baru yang meliputi
segenap rakyat jelata untuk bangkit melawan penjajah !” Ucapan ini keluar dari lubuk hati Siu
Coan, terdengar penuh semangat sehingga membakar semangat para anggauta Thian-te-pang
yang menyebabkan perasaan suka dan kagum mereka terhadap Siu Coan meningkat.
Pedang Naga Kemala > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com 258
Sikap Siu Coan ini agaknya mulai meyakinkan hati Ma Ki Sun pula. Dia bukan seorang
yang ambisius dan diapun mengerti bahwa karena usianya sudah makin menua, sudah wajarlah
kalau Thian-te-pang dipegang oleh tenaga muda dan mungkin saja akan menjadi semakin kuat
dan maju.
“Baiklah, Ong-sicu. Akan tetapi karena saat ini aku yang menjadi pangcu, kalau engkau
ingin mengambil alih kursi pimpinan, engkau harus dapat pula mengalahkan aku.”
Siu Coan merasa tidak enak dan khawatir kalau-kalau para anggauta Thian-te-pang yang
dia tahu sudah mulai suka kepadanya, akan berobah sikap kalau dia sampai mencelakai ketua
Thian-te-pang yang juga menjadi guru mereka ini. Kalau tadi para anggauta Thian-te-pang tidak
marah melihat tewasnya Coa Bhok adalah karena mereka melihat Coa Bhok seperti membunuh
diri, dan melihat adanya ketua Thian-te-pang di situ yang akan mengambil keputusan. Tentu saja
Coa Bhok tadi bukan membunuh diri, melainkan dibunuhnya sedemikian rupa sehingga
nampaknya seperti bunuh diri. Ketika dia memperoleh kesempatan, dengan kecepatan kilat dia
menotok tengkuk kakek itu sehingga tubuhnya kaku dan pada detik berikutnya, dia menusukkan
pedang yang masih dipegang tangan kanan kakek itu ke dalam dada kakek itu sendiri !
“Pangcu, aku tidak ingin berkelahi !”
“Akupun bukan menantangmu berkelahi seperti yang dilakukan sute tadi, melainkan
sebagai peraturan belaka. Siapa yang hendak menjadi ketua Thian-te-pang selagi ketuanya yang
lama masih ada dan belum mengundurkan diri, maka calon ketua baru itu harus mampu
mengalahkan ketua lama. Nah, aku sudah siap, majulah orang muda !”
Tidak seperti sutenya, kini Ma Ki Sun tidak mempergunakan senjata, walaupun dia juga
seorang ahli pedang. Kakek ini, melihat perkelahian tadi saja, sudah maklum bahwa diapun
bukan lawan pemuda ini ! Walaupun dia menggunakan pedang, akhirnya dia akan kalah juga.
Dengan maju tanpa pedang, dia akan dapat melihat apa sesungguhnya kehendak pemuda ini dan
bagaimana sikapnya. Apakah pemuda ini tetap akan membunuhnya ? Kalau demikian, dia masih
ada kesempatan untuk memperingatkan para muridnya dan membuka kedok Siu Coan yang tadi
membunuh Coa Bhok.
Tidak ada jalan lain bagi Siu Coan kecuali menerima tantangan ketua Thian-te-pang itu.
“Baik, pangcu, aku sudah siap,” katanya.
Karena maklum akan lihainya pemuda itu, Ma Ki Sun tidak bersikap sungkan-sungkan
lagi dan diapun membuka serangan, disambut dengan tenang oleh Siu Coan. Terjadilah
perkelahian tangan kosong yang seru, lebih seru dari pada tadi karena kini Ma Ki Sun bersilat
dengan hati-hati dan diam-diam dia mengeluarkan semua kepandaiannya dan mengerahkan
tenaga sinkangnya. Akan tetapi, Siu Coan yang ingin memberi muka kepada kakek ini, demi
berhasilnya apa yang dicita-citakan, menandinginya dengan seimbang. Kalau dia menghendaki,
pemuda ini tentu akan mampu merobohkannya, karena sesungguhnya, ilmu yang dikuasai
pemuda ini masih setingkat lebih tinggi dari pada ketua Thian-te-pang. Namun, Siu Coan tidak
mau merobohkan lawannya dan selalu menangkis, mengelak dan membalas serangan sekedarnya
saja.
Pedang Naga Kemala > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com 259
Ma Ki Sun bukan seorang bodoh. Dia adalah seorang ahli silat tinggi yang sudah banyak
pengalaman pula. Dia tahu bahwa memang lawannya banyak mengalah. Apa lagi ketika pada
suatu saat dia menyerang, tiba-tiba saja tubuhnya menjadi lemas karena ditotok, akan tetapi
sebelum dia roboh, pemuda itu sudah membebaskan kembali totokannya. Semua ini terjadi
sedemikian cepatnya sehingga hanya diketahui dan dirasakan oleh Ma Ki Sun sendiri saja.
Diam-diam dia merasa semakin kagum. Pemuda ini benar-benar hebat. Kalau memang benar
pemuda itu mempunyai watak baik, seorang pendekar sejati, maka diapun ikut bergembira bahwa
pihak pejuang memperoleh seorang tenaga muda yang demikian baiknya. Akan tetapi dia
bergidik membayangkan bahwa pemuda itu termasuk golongan sesat yang akan menyelewengkan
perjuangan.
“Dukk !” Dua lengan bertemu dan Siu Coan menambah sedikit tenaganya, sehingga
pertemuan tenaga melalui lengan itu membuat ketua Thian-te-pang terhuyung ke belakang
dengan napas terengah-engah dan muka pucat penuh keringat.
“Ong-sicu, engkau memang hebat dan pantas menjadi ketua Thian-te-pang !” kata kakek
itu.
Tentu saja Siu Coan gembira bukan main dan dia sudah cepat memberi hormat kepada
kakek itu, lalu berkata lantang, ditujukan kepada semua anggauta Thian-te-pang. “Aku bukan
datang untuk merampas kedudukan ketua ! Aku datang untuk membantu Thian-te-pang menjadi
sebuah perkumpulan yang besar, mengembalikan kehormatan Thian-te-pang, memperoleh
kembali Giok-liong-kiam dan memperbesar perkumpulan ini menjadi kekuatan yang kelak akan
menjadi pelopor bagi semua patriot untuk mengenyahkan penjajah dari tanah air !”
Para anggauta Thian-te-pang bersorak gembira. Juga Ma Ki Sun merasa gembira sekali.
Memang sutenya tewas di tangan pemuda ini. Akan tetapi sesungguhnya, dia melihat sendiri
tadi, bahwa pemuda ini sama sekali tidak berniat membunuh sutenya sebelum sutenya dengan
nekat menghendaki adu nyawa. Kiranya pemuda ini hanya ingin diterima menjadi seorang
anggauta kehormatan saja yang tentu akan membantu kemajuan Thian-te-pang, sedangkan
kedudukan ketua masih diberikan kepadanya !
Demikianlah, mulai hari itu, Thian-te-pang menerima Ong Siu Coan sebagai seorang
pemimpin tanpa kedudukan ! Karena maklum bahwa pemuda ini lihai bukan main, semua mata
para anggauta ditujukan kepadanya dan pemuda inipun dengan cerdiknya lalu merobah cara
berlatih silat, memberi petunjuk beberapa pukulan yang lihai sehingga mereka semua semakin
tunduk kepadanya. Akan tetapi, pertama-tama yang dilakukannya adalah mengerahkan mereka
itu untuk menyelidiki di mana adanya Koan Jit. Tentu saja dengan dalih bahwa Thian-te-pang
harus mendapatkan kembali pusakanya itu agar nama dan kehormatannya dapat terangkat lagi.
Padahal, jauh di sudut hatinya tersimpan keinginan untuk menguasai sendiri pusaka itu apa bila
sudah dapat dirampasnya dari Koan Jit.
Akan tetapi, dapat dibayangkan betapa kecewa rasa hati Siu Coan ketika para anggauta
thian-te-pang itu tidak pernah berhasil dalam mencari dan menemukan jejak Koan Jit. Orang
yang menjadi suhengnya itu ternyata benar-benar amat licin. Seolah-olah menghilang ditelan
bumi saja.
Pedang Naga Kemala > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com 260
Langkah kedua yang diambil oleh Siu Coan adalah mulai menyebarkan agama baru yang
dipeluknya, yaitu Agama Kristen yang mulai menarik hatinya. Akan tetapi, dasar wataknya
sombong, baru saja berkenalan dengan agama baru itu, dia sudah merasa menjadi ahli, bahkan
merasa bahwa pengertiannya yang baru secuwil tentang kitab suci agama itu, sudah menandingi
pengertian para pendeta agama itu sendiri. Dia merasa seolah-olah dia menjadi seorang petugas
suci, seorang pendeta yang menyebarkan ajaran agama itu demi kepentingan manusia. Padahal,
ayat-ayat suci yang harus dipelajari dan harus ditafsirkan secara benar dan tepat itu, dia tafsirkan
sendiri menurut kemauan sendiri, disesuaikan dengan keinginan hatinya.
Sikap Siu Coan yang tidak menentang bangsa kulit putih, bahkan kini dia secara terangterangan
hendak menyebarluaskan agama yang oleh para patriot dianggap sebagai agama bangsa
kulit putih yang jahat, yang telah menyebar racun madat, mendatangkan kecurigaan dan
kekecewaan. Agama baru Kristen itu oleh para patriot juga dianggap sebagai pelajaran yang
mengandung racun. Hal ini tidaklah aneh. Pertama adalah karena pada waktu itu, kenyataan
bahwa orang kulit putih menyelundupkan madat yang meracuni rakyat, membuat semua orang
terutama yang berjiwa patriot, membenci orang kulit putih dan tidak percaya kepada mereka. Hal
ini mengakibatkan kecurigaan sehingga apapun yang dimasukkan oleh orang kulit putih, juga
agama mereka, merupakan sesuatu yang beracun, enak memang, akan tetapi merusak badan dan
batin ! Ke dua adalah karena pada waktu itu, agama oleh para pedagang kulit putih itu memang
dijadikan senjata untuk menaklukkan orang-orang pribumi, melunakkan sikap mereka,
memperoleh kepercayaan mereka. Dapat dibuktikan menurut catatan sejarah betapa semua
negeri yang akhirnya menjadi jajahan kaum kulit putih, sebelum mengenal bedil orang kulit
putih, lebih dahulu mengenal agama mereka. Sudah menjadi kenyataan pula bahwa masuknya
kompeni atau serdadu orang-orang barat itu selalu dipelopori dengan masuknya para pendeta
sebagai pembuka jalan.
Di dunia ini terdapat banyak sekali agama atau pelajaran kebatinan yang tujuannya
sebenarnya hanya satu, yakni : menuntun manusia agar hidup dengan bersih, dalam arti kata tidak
saling mengganggu, bahkan saling menolong, memperbesar nyala api cinta kasih antara manusia
dan melenyapkan kebencian, iri hati, permusuhan dan sebagainya. Tidak ada satupun di antara
agama-agama itu yang mempunyai tujuan buruk ! Namun, baiknya agama tidak menjamin
baiknya manusia. Bahkan manusia sendirilah yang menentukan apakah agama yang dianutnya
itu benar-benar menjadi obor dan petunjuk kebersihan hidup ataukah sebaliknya. Manusia yang
menentukan karena manusia adalah kehidupan ini. Agama adalah agama, tidak baik tidak buruk,
suatu pelajaran hidup, makanan rohani juga obat batin. Baik buruknya tergantung si pemakai,
ialah manusia.
Penggunaan yang benar dari manusia dapat membuat agama sebagai penyedar batin yang
menyeleweng, sebagai obor penyuluh bagi batin yang menderita, penuntun bagi manusia yang
makin menjauhkan diri dari pada Alam dan pencipta-Nya. Akan tetapi sebaliknya, penggunaan
yang keliru dari manusia dapat saja membuat agama menjadi penimbul kemunafikan, menjadi
bahan bentrokan antara agama, menjadi pembangkit kesombongan dan ketinggian hati karena
merasa diri paling bersih, paling benar dan paling suci. Hal ini bukan sekedar dongeng,
melainkan kenyataan yang dapat kita lihat setiap hari di sekeliling kita, bahkan di dalam batin
kita sendiri.
Ketidaksenangan yang timbul di kalangan para anggauta Thian-te-pang yang masih setia
terhadap Ma Pangcu, membuat mereka curiga dan teliti mengikuti gerak-gerik Siu Coan. Dan
Pedang Naga Kemala > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com 261
akhirnya mereka melihat bahwa jalan hidup pemuda itu jauh dari pada bersih ! Pemuda itu
bahkan tidak segan-segan untuk melakukan kejahatan-kejahatan. Pernah mereka melihat
bayangan pemuda itu memasuki gedung seorang hartawan dan pada keesokan harinya, tersiar
berita bahwa hartawan itu kehilangan benda-benda berharga ! Dan pernah pula di sebuah kota
terjadi penculikan-penculikan wanita cantik dan pada keesokan harinya wanita-wanita itu
kedapatan tewas di dalam hutan. Dan di antara para anggauta pernah melihat Siu Coan pada pagi
hari keluar dari dalam hutan itu !
Memang tidak mungkin dapat menangkap pemuda itu pada saat dia melakukan kejahatan,
tidak mungkin menangkap basah karena pemuda itu amat lihai. Akan tetapi, mereka menjadi
semakin curiga. Terutama sekali Ma Ki Sun. Diam-diam kakek ini lalu mengadakan hubungan
dengan para pendekar dan dapat dibayangkan betapa kaget rasa hatinya ketika ada pendekar yang
mengenal Siu Coan sebagai murid dari datuk iblis Thian-tok !
Diam-diam Ma Pangcu mengumpulkan murid-murid utamanya dan mengundang tokohtokoh
persilatan, di antaranya dua orang hwesio Siauw-lim-si dan dua orang tosu Kun-lun-pai.
Mereka lalu mengadakan pertemuan di sebuah kuil Siauw-lim-si di belakang Bukit Kijang Putih,
tanpa setahu Siu Coan.
“Ong Siu Coan memang memiliki ilmu silat yang amat lihai dan lagaknya seolah-olah dia
benar-benar hendak menghimpun kekuatan untuk meruntuhkan kekuatan penjajah. Akan tetapi
sepak terjangnya sungguh berlawanan dengan lagaknya. Banyak hal pada dirinya yang amat
meragukan dan mengkhawatirkan, karena itu kami mengundang para suhu dan totiang untuk
membantu kami memecahkan persoalan ini.”
“Bicaralah, pangcu. Kamipun sudah banyak mendengar tentang orang she Ong itu,” kata
Giok Cin Cu, seorang tokoh Kun-lun-pai yang berpakaian tosu.
“Pertama sekali yang perlu diketahui adalah kenyataan bahwa Ong Siu Coan adalah
murid datuk sesat Thian-tok, seorang di antara Empat Racun Dunia, yang pernah menyamar
sebagai Siauw-bin-hud dan merampas pusaka kami Giok-liong-kiam. Bahkan sekarangpun yang
melarikan pusaka itu adalah murid pertamanya yang bernama Koan Jit, hal ini kita semua sudah
mendengarnya.”
“Omitohud ………. !” Seorang di antara tokoh Siauw-lim-pai berseru kaget. “Jadi anak
murid Thian-tok sekarang menkadi pemimpin Thian-te-pang ? Sungguh berbahaya !”
“Ke dua, dia tidak memusuhi orang kulit putih, bahkan condong untuk bersahabat dengan
orang kulit putih. Sutenya, murid ke tiga dari Thian-tok, kabarnya bahkan telah menikah dengan
seorang gadis kulit putih. Ini merupakan bukti bahwa dia sama sekali tidak memusuhi orang
kulit putih yang jelas merupakan ancaman bagi keselamatan bangsa.”
Mereka yang mendengar keterangan ini mengangguk-angguk maklum. Tidak ada
seorangpun di antara para patriot itu yang setuju dengan membanjirnya orang kulit putih di kotakota
yang telah dibuka oleh keputusan Kaisar Tao Kuang yang ketakutan terhadap penyerbuan
orang kulit putih itu.
Pedang Naga Kemala > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com 262
“Ada hal lain yang amat berbahaya,” kata pula Ma Ki Sun, sekali ini sengaja hendak
membakar hati para hwesio Siauw-lim-pai dan para tosu Kun-lun-pai. “Ong Siu Coan kini
melakukan kegiatan menyebarkan agama baru dari orang kulit putih, bahkan dia berani menghina
agama-agama kita, mengatakan bahwa Agama Buddha dan Agama To merupakan agama
tersesat.”
“Siancai .......... !” seru para tosu Kun-lun-pai.
“Omitohud .......... !” para hwesio Siauw-lim-pai juga berseru marah.
Demikianlah, para tokoh itu lalu mengambil keputusan untuk menentang Ong Siu Coan
dan mengenyahkan pemuda itu dari Thian-te-pang agar perkumpulan ini tidak dibawa
menyeleweng ke jalan sesat. Siasat diatur dan waktu telah ditentukan.
Dengan dalih merayakan ulang tahun perkumpulan mereka, Ma Ki Sun berhasil
membujuk Siu Coan untuk menyetujui diadakannya perayaan sederhana sambil mengundang
para tokoh persilatan yang menjadi sahabat Thian-te-pang. Siu Coan sama sekali tidak tahu
bahwa ketika perayaan itu tiba saatnya, Ma Ki Sun sudah membuat persiapan yang amat matang.
Para muridnya telah diberi tahu dan murid-murid itupun mempengaruhi para anggauta sehingga
sebagian besar para anggauta Thian-te-pang sudah maklum bahwa pemuda yang lihai itu sama
sekali tidak cocok untuk menjadi pemimpin perkumpulan mereka. Selain itu, juga para tokoh
persilatan yang hadir sebagai tamu, semua adalah sahabat-sahabat Ma Ki Sun yang sudah siap
turun tangan membantu kalau keadaan memaksa.
Di tengah-tengah perayaan itulah Ma Ki Sun bangkit berdiri dan mengumumkan kepada
semua anggauta bahwa mulai hari itu, Thian-te-pang harus kembali ke jalan benar. “Sudah
beberapa bulan lamanya perkumpulan kita melakukan penyelewengan-penyelewengan dan semua
hal ini harus dihentikan. Hal ini terjadi setelah Ong-sicu memimpin kita, oleh karena itu,
mengingat bahwa Ong-sicu bukan merupakan anggauta Thian-te-pang, mulai hari ini kami semua
minta kepada Ong-sicu untuk mengundurkan diri dan jangan mencampuri urusan Thian-te-pang
kami.”
Tentu saja hal ini sama sekali tidak pernah diduga oleh Siu Coan. Wajah pemuda ini
menjadi merah dan sepasang matanya mengeluarkan sinar berapi ketika dia memandang kepada
ketua Thian-te-pang itu. Diapun bangkit berdiri dan dengan sikap tenang dia berkata, “Apakah
ini berarti bahwa Ma-pangcu menantangku untuk mengadu kepandaian ?”
“Sama sekali bukan begitu,” jawab Ma Ki Sun. “Kami semua tahu bahwa sicu memiliki
kepandaian tinggi. Akan tetapi sicu bukan anggauta kami, dan kalau sicu hendak memaksakan
kehendak menjadi pimpinan kami, hal itu berarti bahwa sicu sebagai orang luar hendak memaksa
diri menguasai kami. Kalau benar demikian, terpaksa kami seluruh anggauta Thian-te-pang akan
bangkit dan menentang sicu sebagai orang luar yang hendak mengacau perkumpulan
kami !”
Siu Coan marah sekali dan dia melayangkan pandangannya kepada mereka yang hadir.
Kaget juga hatinya ketika melihat betapa semua anggauta Thian-te-pang berkumpul di situ dan
kebanyakan dari mereka telah bangkit dan siap menentangnya dengan pandang mata
Pedang Naga Kemala > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com 263
Bermusuhan ! Bahkan dia melihat pula para hwesio dan tosu yang hadir, dari perkumpulanperkumpulan
persilatan besar, sudah siap pula membela tuan rumah.
“Omitohud, kalau Thian-te-pang dikacau orang luar, pinceng sekalian sebagai sahabatsahabatnya
tidak akan tinggal diam !” kata seorang hwesio Siauw-lim-pai.
“Benar, pinto bersama saudara semua juga akan membela Thian-te-pang dari gangguan
orang luar !” kata seorang tosu tinggi kurus yang bermuka kuning.
Siu Coan bukan orang bodoh. Dia tidak gentar menghadapi semua orang Thian-te-pang.
Akan tetapi diapun tahu bahwa tak mungkin dia akan menang menghadapi pengeroyokan mereka
semua, apa lagi diingat bahwa di antara para tamu terdapat tokoh-tokoh Siauw-lim-pai dan Kunlun-
pai yang lihai. Juga, kalau dia menggunakan kekerasan, tentu dia akan kehilangan rasa suka
mereka, padahal dia masih mengharapkan bantuan orang-orang Thian-te-pang, setidaknya para
anggauta yang suka kepadanya dan yang bahkan sudah menerima agama baru yang disiarkannya.
Dalam waktu beberapa puluh detik saja, pemuda yang cerdik ini sudah dapat memutar otaknya
dan diapun tetap bersikap tenang, bahkan dia lalu menjura ke arah Ma KI Sun dan suaranya
terdengar lantang, lembut dan tenang.
“Ma-pangcu, sejak dahulupun aku tidak ingin mengganggu Thian-te-pang, melainkan
hendak memajukan perkumpulan ini. Akan tetapi kalau Ma-pangcu dan para anggauta Thian-tepang
tidak menghendaki bantuanku, tidak mengapalah. Aku akan mundur sekarang juga. Akan
tetapi, tentu Ma-pangcu dan semua anggauta tidak akan menganggap aku sebagai musuh,
melainkan sebagai seorang sahabat, bukan ?”
Ma Ki Sun sendiri tercengang. Tak disangkanya bahwa pemuda itu akan demikian
mudahnya mengalah ! Tadinya dia bahkan mengharapkan pemuda itu akan menjadi marah dan
akan memberontak dan melawan agar dia dapat mengeroyoknya bersama para anggauta dan para
tamu yang lihai agar dia dapat membasmi pemuda yang lihai dan berbahaya ini. Akan tetapi
siapa kira, pemuda itu bersikap demikian mengalah dan lunak sehingga tentu saja tidak ada
alasan baginya untuk mengeroyoknya ! Terpaksa dia balas menjura kepada pemuda itu.
“Tentu saja Ong-sicu tetap menjadi sahabat kami, karena bagaimanapun juga, maksud
sicu memimpin perkumpulan kami adalah baik walaupun sepak terjang sicu tidak cocok dengan
pendirian kami.” Dia masih mengharapkan agar pemuda itu membantah sehingga ada bahan
untuk saling bertentangan. Akan tetapi, pemuda itu tersenyum, menjura dan duduk lagi sambil
mengucapkan terima kasih ! Melihat sikap pemuda ini, tentu saja para tamupun tidak ada yang
dapat mencela, bahkan ada di antara mereka yang diam-diam memuji sikap pemuda itu yang
dianggap tahu diri dan tidak mencari keributan. Karena sikap pemuda ini, maka tidak terjadi
peristiwa sesuatu di dalam pesta dan semenjak hari itu, Siu Coan meninggalkan Thian-te-pang
dengan aman, sama sekali tidak mau memancing keributan. Memang pemuda ini pandai bukan
main. Dengan sikapnya ini, maka kelak akan banyak di antara para anggauta Thian-te-pang yang
mau masuk menjadi anggauta perkumpulan baru yang didirikannya, yaitu perkumpulan yang
diberinya nama Pai-sang-ti-hui (Perkumpulan Pemuja Tuhan), sebagai suatu perkumpulan yang
memeluk Agama Kristen, akan tetapi yang di dalamnya mengandung cita-cita untuk
meruntuhkan kekuasaan Mancu yang menguasai tanah air.
Pedang Naga Kemala > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com 264
Pulau yang tidak begitu jauh dari daratan besar itu disebut Pulau Layar karena dari jauh
bentuknya seperti layar sebuah perahu besar dan berwarna hitam. Letaknya di lautan kuning,
kurang lebih hanya tiga li dari daratan. Para nelayan mengenal pulau ini sebagai pulau kecil
milik seorang hartawan she Tang, akan tetapi tidak ada nelayan berani mencoba mendekati pulau
itu karena hartawan itu terkenal memiliki banyak anak buah yang galak dan kejam, juga mereka
itu terkenal sebagai orang-orang yang pandai ilmu silat, terutama sekali ilmu dalam air. Pernah
ada tiga orang nelayan muda yang terlalu berani, mencari ikan dekat pulau itu. Karena daerah ini
jarang didatangi para nelayan, maka perairan di dekat pulau mengandung banyak ikan.
Tiba-tiba sebuah perahu kecil hitam meluncur dekat dan dua orang muda yang tampan
menegur para nelayan itu. Melihat bahwa yang mengganggu mereka hanya dua orang pemuda
yang kelihatan tampan dan bertubuh kecil, tiga orang nelayan muda yang kuat-kuat itu tidak
takut, bahkan membantah sehingga terjadi percekcokan. Tiba-tiba dua orang pemuda tampan
dalam perahu hitam itu berloncatan ke dalam air, menyelam dan tak lama kemudian, perahu
nelayan itupun terbalik dan tentu saja tiga orang nelayannya ikut tercebur ! Mereka diseret ke
bawah permukaan air dan akhirnya dua orang di antara mereka tewas, yang seorang berhasil
menyelamatkan diri membawa cerita menyeramkan tentang pulau itu dan para penghuninya yang
galak dan kejam.
Pulau layar ini memang dihuni oleh seorang hartawan yang kaya raya bernama Tang Kok
Bu atau yang lebih terkenal lagi di dunia persilatan sebagai seorang datuk sesat berjuluk Hai-tok
(Racun Lautan), seorang di antara Empat Racun Dunia yang terkenal itu. Hai-tok Tang Kok Bu
di waktu dahulu adalah seorang datuk sesat yang menguasai lautan, menjadi raja di antara para
bajak laut. Pekerjaan ini mendatangkan hasil bajakan yang amat besar dan setelah usianya
semakin tua, Hai-tok menghentikan kegiatannya dan hidup di Pulau Layar sebagai seorang
hartawan yang kaya raya.
Hai-tok sudah kehilangan isterinya semenjak puterinya masih kecil, anak tunggal ini
bernama Tang Ki dan setelah kematian isterinya, Hai-tok hidup secara yang tidak wajar. Dia
menerima murid-murid yang terdiri dari pria-pria yang tampan, pemuda-pemuda remaja yang
ganteng dan mulailah kehidupannya sebagai seorang homo, seorang kakek yang suka bermesraan
dengan pemuda-pemuda tampan. Hanya seorang di antara muridnya yang tak pernah
diganggunya walaupun murid ini tampan juga, yaitu murid pertamanya yang sejak kecil bersama
puterinya telah dilatihnya. Karena sejak kecil menjadi muridnya, maka Lee Song Kim, demikian
nama murid itu, selain memiliki ilmu yang lihai, juga dianggap seperti anak sendiri sehingga Haitok
tidak pernah mengganggunya. Murid-murid lain diambil murid setelah menjadi pemuda
remaja dan mereka ini tidak memperoleh latihan ilmu silat yang terlalu tinggi, melainkan lebih
banyak bertugas sebagai pelayan-pelayan dan juga penghibur-penghibur. Tidak kurang dari
tigapuluh orang murid yang tampan-tampan yang menjadi pelayan dan anak buah ini dan selain
puteri tunggalnya, Tang Ki, tidak ada seorangpun wanita lain yang tinggal di pulau itu !
Pada pagi hari itu, Hai-tok Tang Kok Bu sudah berada di luar gedungnya yang indah, di
halaman luar gedungnya dan nampak dia marah-marah. Suaranya lantang ketika dia memarahi
belasan orang pemuda ganteng yang berlutut di atas tanah, di depan kakinya. “Kalian ini
memang manusia- manusia tolol yang tiada guna !” bentaknya berkali-kali dan belasan orang
anak buah atau juga muridnya itu berlutut dengan muka pucat dan tubuh gemetar. “Masa
Pedang Naga Kemala > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com 265
mencari satu orang saja, sampai berbulan-bulan pergi menghabiskan banyak biaya, belum juga
berhasil !”
Memang menakutkan kalau Hai-tok sedang marah-marah. Kakek yang usianya sudah
kurang lebih tujuhpuluh tahun ini bertubuh tinggi besar dengan muka merah, pakaiannya mewah
dan seperti pakaian hartawan kota saja. Sepasang matanya yang besar itu melotot dan mukanya
yang merah itu menambah kebuasannya. Dia marah-marah karena belasan orang murid pilihan
ini gagal setelah berbulan-bulan meninggalkan pulau dan berpencaran untuk mencari jejak
seorang yang bernama Koan Jit, murid pertama Thian-tok yang melarikan pusaka Giok-liongkiam.
Pagi hari itu mereka pulang ke Pulau Layar dan membawa laporan bahwa mereka gagal
menemukan orang yang mereka cari-cari.
“Percuma saja kalian kuberi makan enak, kuberi pakaian indah-indah, kuberi kehidupan
yang mewah dan mulia di sini, bahkan menjadi murid-muridku ! Kini diberi satu macam tugas
saja tidak becus melaksanakan dengan baik. Mau bicara apa kalian ?”
Seorang di antara mereka, yang tertua, berusia kurang lebih duapuluh empat tahun,
agaknya memberanikan diri mewakili saudara-saudaranya dan berkata, “Mohon suhu sudi
mengampuni teecu sekalian karena sesungguhnya teecu sekalian telah mati-matian mencari jejak
Koan Jit itu. Akan tetapi, suasana di selatan amat kacau dan teecu menduga dia berada di daerah
selatan yang tadinya kacau dilanda perang madat, suhu. Dalam keadaan kacau-balau dengan
banyaknya pejuang, teecu menemukan kesukaran, bahkan kalau bertanya-tanya, kadang-kadang
teecu dicurigai orang, disangka mata-mata orang kulit putih.”
“Huh, alasan kosong ! Sialan benar kalian !” Kakek tinggi besar itu tetap marah-marah
dan pada saat itu terdengar seruan nyaring.
“Ayah sendiri yang bersalah, mengapa menyalahkan mereka ?”
Hai-tok menoleh dan memandang marah kepada puterinya. Akan tetapi, kemarahan
terhadap puterinya selalu dikekangnya. Mana mungkin dia marah kepada anak tunggalnya yang
amat disayangnya itu ? Seorang gadis berusia kurang lebih delapanbelas tahun muncul. Gadis
ini memang puteri atau anak tunggal Hai-tok, akan tetapi dalam hal berpakaian, ia tidak seperti
ayahnya yang selalu berpakaian mewah. Tidak, gadis ini sama sekali tidak mengenakan pakaian
mewah, bahkan mukanya tidak dirias terlalu menyolok. Pakaiannya ringkas walaupun terbuat
dari bahan yang bagus. Sepasang matanya bersinar-sinar penuh kenakalan, wajahnya selalu
berseri dan mulut itu selalu tersenyum. Manis bukan main karena di tepi mulutnya terdapat
sebuah tahi lalat hitam kecil yang menjadi pemanis. Dengan sikap manja gadis yang bernama
Tang Ki itu mendekat dan menghampiri ayahnya, lalu menggandeng tangan kakek itu.
“Sudahlah, ayah. Kalau ayah sering marah-marah, ayah akan jatuh sakit lagi. Bukankah
sebulan yang lalu, karena sering marah-marah, ayah pernah jatuh sakit parah ?” Sikapnya manja
akan tetapi juga kelihatan sayangnya terhadap orang tua itu.
“Huh, Kiki, bagaimana engkau malah menyalahkan ayahmu ? Mereka ini yang tolol,
tidak becus ! Engkau tidak tahu betapa pentingnya Giok-liong-kiam itu bagiku !”
Pedang Naga Kemala > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com 266
“Tentu saja salah ayah sendiri. Mereka ini orang-orang macam apa maka ayah beri tugas
sedemikian beratnya ? Sejak dulupun aku sudah mengatakan bahwa biarlah aku saja yang
melakukan penyelidikan terhadap Koan Jit. Harap ayah ingat. Koan Jit adalah murid pertama
Thian-tok. Mereka ini akan mampu berbuat apakah terhadap dirinya ?”
“Benar apa yang dikatakan sumoi, suhu !” Tiba-tiba muncul pula seorang pemuda dari
dalam gedung megah itu. Pemuda ini usianya kurang lebih duapuluh tahun. Wajahnya tampan
dan pakaiannya mewah seperti gurunya, bahkan pesolek karena rambutnya disisir halus, mukanya
seperti ada bekas bedak lamat-lamat. Di punggungnya tergantung sebatang pedang yang
sarungnya indah terukir dan diberi ronce-ronce merah di gagangnya, di pinggang depan terselip
sepasang pisau belati. Kuncirnya yang tebal hitam itu jelas bekas diminyaki licin, dan berbau
harum. Pakaiannya seperti orang pelajar, akan tetapi karena dia membawa pedang dan pisau
belati, jelas bahwa dia seorang yang tidak lemah. Inilah dia Lee Song Kim, murid utama Hai-tok
yang sejak kecil digemblengnya dan mewarisi banyak ilmunya dan dianggap sebagai putera
sendiri. Karena itu, biarpun tidak semanja Tang Ki atau yang biasa disebut Kiki, pemuda ini
berani mencampuri percakapan antara ayah yang sedang marah dan puterinya itu. Kalau murid
lain, seorang di antara pemuda-pemuda tampan yang menjadi anak buah pula, sampai
bagaimanapun tidak akan berani selancang itu karena salah-salah mereka akan dipukul mampus !
“Si Koan Jit itu tentu lihai sekali. Kalau sumoi dan teecu yang berangkat, tentu kami
berdua akan mampu menemukannya dan sekalian merampas Giok-liong-kiam untuk suhu !” kata
pula pemuda itu setelah dengan gerakan cepat dia tiba di dekat Hai-tok dan Kiki.
“Kurasa tidak perlu kalian berdua pergi, salah seorang saja,” kata Hai-tok.
“Tapi, suhu, kalau kami pergi berdua, teecu dapat membantu sumoi dan sekalian
melindunginya. Harap suhu ingat bahwa murid pertama Thian-tok itu tentu lihai bukan main dan
berbahayalah kalau sumoi pergi seorang diri saja ……….”
“Suheng, jangan lancang kau ! Aku tidak minta bantuanmu, juga tidak butuh
perlindunganmu !” Kiki merajuk dan bersungut sambil melirik marah ke arah pemuda itu. Lee
Song Kim tersenyum senang. Sejak kecil mereka berangkat bersama, berada di satu tempat dan
berlatih silat bersama-sama sehingga di waktu kecil mereka berdua itu merasa saling suka seperti
kakak beradik saja. Akan tetapi setelah mereka dewasa, Lee Song Kim merasakan ada perobahan
dalam hatinya. Dia kagum dan terpikat oleh kecantikan dan kemanisan wajah sumoinya, dan
timbul gairahnya melihat betapa sumoinya itu kini berobah menjadi seorang gadis yang makin
hari makin nampak molek dan memikat hati. Apa lagi setelah dia mulai berkenalan dengan
wanita ketika dia meninggalkan pulau dan bermain-main dengan para nelayan dan para penghuni
di dusun-dusun dekat pantai. Dia membanding-bandingkan para wanita pelacur yang dikenalnya,
wanita dusun pantai yang dihubunginya, dengan sumoinya dan nampaklah oleh matanya bahwa
sumoinya itu jauh lebih menarik dan menang dalam segala hal ! Mulailah dia tergila-gila dan
diam-diam dia merindukan sang sumoi dan mengharapkan kelak sumoinya itu akan menjadi
isterinya. Dengan demikian, bukan saja dia akan mendapatkan seorang isteri yang cantik jelita,
juga gagah perkasa dan boleh diandalkan, melainkan juga dapat mewarisi harta peninggalan yang
amat banyak dari gurunya kalau guru yang menjadi ayah mertua itu meninggal kelak !
Pedang Naga Kemala > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com 267
“Aih, sumoi, aku bermaksud baik. Koan Jit adalah murid pertama Thian-tok, tentu lihai
dan berbahaya sekali. Baru kalau kita maju berdua, banyak harapan akan dapat membekuk dia
dan merampas pusakanya. Tidakkah benar demikian, suhu ? Apakah suhu akan merelakan dan
tega melihat sumoi pergi sendirian dan kelak berhadapan dengan Koan Jit lalu mengalami
celaka ? Kalau ada teecu di sampingnya, teecu akan membelanya dengan taruhan nyawa !”
“Phuahh ! Lagaknya !” Kiki kembali menegur. “Jangan kaupandang rendah aku,
suheng ! Kaukira aku ini anak kecil yang perlu kaujaga ? Hemm, lihat saja. Akulah yang
berhasil merampas Giok-liong-kiam !”
“Kiki, kukira pendapat suhengmu ada benarnya. Terlalu berbahaya kalau engkau pergi
seorang diri. Memang kepandaianmu sudah cukup untuk menjaga diri, akan tetapi menghadapi
murid utama Thian-tok, engkau harus hati-hati. Kalau kalian maju berdua, aku tanggung kalian
takkan kalah. Kepandaian Thian-tok dan aku seimbang. Hanya mungkin engkau kalah
pengalaman dan kalah latihan, mengingat bahwa murid Thian-tok yang pertama itu sudah jauh
lebih tua. Sebaiknya kalau engkau pergi berdua dengan suhengmu.”
“Ah, aku tidak suka pergi berdua !” kata Kiki merajuk.
“Kalau begitu, biarkan teecu yang pergi, suhu, dari pada membiarkan sumoi terancam
bahaya.”
Sang guru mengangguk-angguk dan melihat ini, Kiki cemberut lalu pergi ke dalam
kamarnya. Percakapan dengan puteri dan muridnya itu membuat hati Hai-tok terhibur sehingga
kemarahannya mereda dan hal ini menyelamatkan para murid yang baru pulang itu dari
kemarahan dan hukuman selanjutnya.
Setelah memperoleh ijin dari gurunya, Song Kim lalu membuat persiapan untuk
berangkat besok pagi-pagi meninggalkan Pulau Layar. Dia mengumpulkan belasan orang murid
yang baru pulang pagi tadi dan mendengar keterangan mereka tentang hasil penyelidikan mereka.
Menurut penuturan mereka, jejak Koan Jit menuju ke selatan dan lenyap di antara kekacauan
yang terjadi karena perang madat di selatan. Keterangan ini membuat Song Kim mengambil
keputusan untuk melakukan penyelidikan ke selatan pula.
Malam itu sunyi di pulau itu. Hai-tok telah tidur nyenyak ditemani dua orang murid atau
anak buah yang baru pulang pagi tadi. Sesosok bayangan berkelebat dengan cepat sekali keluar
dari gedung itu melalui sebuah jendela kamar. Itulah bayangan Kiki yang sudah berpakaian
ringkas, menggendong sebuah buntalan berisi pakaian. Dengan gerakan yang amat lincah, gadis
itu memandang ke kanan kiri yang sudah sunyi. Ia tahu bahwa di depan gedung, seperti biasa,
terdapat beberapa orang murid yang melakukan penjagaan secara bergilir. Maka iapun lalu
meloncat dan berlari cepat ke arah belakang gedung keluarganya, melompati pagar tembok di
belakang kemudian, di bawah sinar bulan, ia terus lari memutar menuju ke pantai di mana
perahu-perahu milik mereka berada.
Ia tahu bahwa di tempat ini juga terdapat beberapa orang murid berjaga, menjaga perahuperahu
mereka kalau-kalau ada orang luar yang mendarat di pulau mereka. Ia tahu dengan pasti
di mana mereka berjaga. Ia ingin pergi dengan diam-diam karena kalau sampai ketahuan
Pedang Naga Kemala > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com 268
ayahnya, tentu ayahnya akan menahannya. Ayahnya terlalu sayang kepadanya sehingga tidak
akan membiarkan ia pergi seorang diri saja. Kalau ia sudah dapat keluar dari pulau, maka
amanlah, ayahnyapun tidak akan dapat menyusulnya karena ia boleh mengambil jalan ke
manapun tanpa meningalkan jejak di atas air. Sekali ini, ia tidak ingin mencoba untuk pergi
dengan perahu tanpa setahu para penjaga. Hal ini akan sukar sekali dan sebelum ia berlayar jauh,
tentu para penjaga sudah melihatnya. Maka, iapun lalu dengan cepat menyembunyikan buntalan
pakaiannya, kemudian dengan santai ia menghampiri tempat jaga. Ada tiga orang murid berjaga
di situ.
Tiga orang murid ini tercengang melihat betapa malam-malam gadis itu datang ke tempat
penjagaan mereka. Hampir semua murid atau anak buah di pulau itu tentu saja diam-diam
merindukan gadis yang cantik jelita dan yang merupakan satu-satunya wanita di pulau itu, akan
tetapi tentu saja mereka tidak berani bersikap sembarangan, tahu akan kelihaian Kiki. Dan Kiki
yang amat manja itu, melihat bahwa para pemuda itu datang ke pulau sudah pemuda remaja dan
hanya menerima latihan silat sekedarnya saja dari ayahnya, tidak mau disamakan dengan mereka
dan tidak sudi disebut suci, melainkan mengharuskan mereka menyebutnya siocia (nona) !
Keangkuhan karena manja dari Kiki ini diikuti pula oleh Song Kim yang minta disebut kongcu
(tuan muda) oleh para anak buah. Tingkah dua orang muda ini diketahui oleh Hai-tok, akan
tetapi didiamkan saja karena kakek inipun melihat perbedaan tingkat dan derajat antara dua orang
muda itu dengan anak buahnya.
“Selamat malam, siocia !” tegur mereka ketika melihat munculnya Kiki. Dengan sikap
wajar Kiki mengangguk lalu berkata, “Malam ini aku ingin berjaga di pantai. Kalian berjagalah
di depan gedung, memperkuat penjagaan di sana atau kalau kalian lelah, kalian boleh tidur.”
“Tapi, siocia ..........” Mereka meragu karena peraturan guru mereka amat keras tentang
penjagaan ini. Siapa yang memperoleh giliran jaga, sama sekali tidak boleh meninggalkan
tempat penjagaan.
“Tidak ada tapi ! Aku yang memerintahkan, siapa yang akan melarang ? Aku ingin
bergadang dan berjaga di sini malam ini, apakah kalian akan menghalangi aku ?”
Dibentak seperti itu, tentu saja tiga orang itu menjadi pucat dan tergesa-gesa mereka lalu
meninggalkan tempat penjagaan di pantai dan berlari-larian ke tengah pulau. Setelah mereka
pergi, dan ia maklum bahwa mereka tidak akan berani mengganggu ayahnya malam ini dengan
laporan, Kiki cepat mengambil buntalannya dan segera meloncat ke dalam sebuah perahu kecil
hitam setelah melepaskan tali pengikat perahu itu. Tak lama kemudian perahunyapun meluncur
ke tengah lautan setelah didayungnya dan kemudian layar dikembangkan dan menangkap angin.
Sama sekali Kiki tidak tahu bahwa pada saat itu, sesosok tubuh manusia bergantung pada dasar
perahunya, dan wajah orang itu tersenyum menyeringai penuh kepuasan. Orang itu bukan lain
adalah Song Kim !
Kiranya pemuda yang cerdik ini telah dapat menduga akan rasa penasaran di hati
sumoinya dan pergaulannya sejak kecil dengan sumoinya membuat dia dapat mengenal watak
keras sumoinya. Dia dapat menduga bahwa sumoinya mungkin sekali akan mendahuluinya pergi
meninggalkan pulau untuk mencari Koan Jit. Karena itu, diam-diam dia bersembunyi di dekat
pantai tanpa setahu para penjaga. Setelah dia melihat berkelebatnya bayangan sumoinya dari
Pedang Naga Kemala > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com 269
jauh, dia makin yakin akan tepatnya persangkaannya. Maka diapun cepat masuk ke dalam air.
Sebagai murid Hai-tok, tentu saja pemuda ini memiliki kepandaian yang luar biasa di dalam air.
Dia dapat bersembunyi di dalam air sampai lama, menggunakan sebatang alang-alang untuk
pernapasan. Dia melihat sumoinya meloncat ke dalam sebuah perahu, diam-diam dia berenang di
bawah permukaan air dan mengikuti perahu itu sampai meluncur dibawa kekuatan angin yang
ditangkap layar dan dia memegangi dasar perahu itu, bergantung dan ikut terbawa oleh perahu.
Tiba-tiba udara yang tadinya terang oleh sinar bulan, kini menjadi gelap. Agaknya ada
awan mendung tebal menutupi sinar bulan. Cuaca di atas permukaan laut menjadi gelap sama
sekali.
“Sialan !” Kiki mengomel sambil memandang ke atas di mana awan yang tebal dan amat
lebar bergantung di angkasa menutupi sinar bulan. Akan tetapi ia adalah anak laut dan sudah
biasa berlayar, maka ia dapat mengarahkan perahunya tepat ke barat walaupun bulan tertutup
awan.
Cuaca menjadi semakin gelap. Karena Kiki mengenal daerah lautan di situ, iapun tahu
bahwa ia harus berhati-hati karena di daerah ini terdapat beberapa tonjolan batu karang yang
berbahaya. Karena itu, maka iapun duduk mengemudikan perahu dengan hati-hati dan
mencurahkan seluruh perhatiannya. Perahu mulai oleng dan ombak mulai datang. Air laut
memercik ke tubuh perahu mengeluarkan bunyi seperti dendang yang amat terkenal bagi telinga
Kiki.
Karena perhatiannya dipusatkan pada kemudi, dan karena suara gaduh air menutupi suara
lain, ia sama sekali tidak tahu bahwa di luar perahu, ada bayangan hitam bergerak merayap
perlahan-lahan memanjat perahunya dan kini bayangan itu tiba di belakangnya. Seperti ada
sesuatu yang memperingatkannya, ia menoleh akan tetapi terlambat karena pada saat itu, dua
buah lengan yang kuat sudah merangkulnya dari belakang dan jari tangan yang terlatih baik
sudah menotok jalan darahnya. Seketika tubuh Kiki menjadi lemas. Biarpun ia masih dapat
melihat dan mendengar dengan baik dalam keadaan sadar, namun ia tidak dapat melihat siapa
orang yang telah menotoknya. Bahkan bayangan orang itupun hampir tidak nampak, demikian
gelapnya cuaca.
Akan tetapi yang membuat gadis ini terkejut setengah mati, bahkan menjadi ngeri
ketakutan adalah ketika tiba-tiba orang itu menindihnya, mendekapnya dan menciuminya dengan
buas dan penuh nafsu berahi ! Hanya terdengar suara ah-ah-uh-uh dari mulut orang itu dan terus
menciumi seluruh tubuh dan mukanya, bahkan menggigit bibirnya dengan gemas. Kiki adalah
seorang gadis yang belum pernah berdekatan dengan pria seperti ini, dan biarpun ia sudah banyak
membaca tentang itu, juga naluri kewanitaannya yang memperingatkan, namun selamanya belum
pernah ia merasakan hal seperti itu. Ia ingin menjerit, ingin meronta, ingin membunuh orang itu.
Biarpun ia tidak tahu siapa, akan tetapi ia tahu bahwa orang ini tentu seorang laki-laki. Karena
tidak berdaya, Kiki menjadi ketakutan dan hampir pingsan karena ia sudah dapat setengah
menduga bahwa laki-laki ini tentu akan memperkosanya dengan buas !
Akan tetapi, tiba-tiba perahu itu oleng keras dan mereka berdua terguling-guling, hampir
terlempar keluar dari dalam perahu. Pria itu mengeluarkan suara menggerutu, akan tetapi
agaknya dia memang tidak ingin dikenal maka tidak mengeluarkan kata-kata, lalu meloncat
Pedang Naga Kemala > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com 270
berdiri, melepaskan tubuh Kiki yang tadi ditindih dan dipeluknya. Perahu tetap oleng ke kanan
kiri.
Kiki yang rebah miring itu terkejut juga. Badai telah tiba dengan mendadak dan
menyerang perahu ! Bisa berbahaya di daerah yang banyak batu karangnya ini ! Laki-laki itu
agaknya maklum pula. Dengan kuat dia mengemudikan perahu, melawan ombak yang semakin
membesar. Tiba-tiba tubuh Kiki bergulingan ketika perahu miring. Tentu saja Kiki merasa ngeri
sekali karena kalau tubuhnya terlempar keluar, tidak ada harapan lagi baginya untuk hidup.
Kalau saja tidak tertotok, dengan ilmunya bermain di air mungkin ia akan dapat menyelamatkan
diri. Akan tetapi totokan itu demikian lihainya sehingga ia tidak mampu bergerak sama sekali !
Biarpun tidak dapat melihat, laki-laki itu, yang tentu para pembaca dapat menduganya,
adalah Song Kim, dapat mendengar gerakan tubuh Kiki yang terguling-guling. Terpaksa dia
melepaskan kemudi dan cepat menyambar tubuh Kiki. Perahu menjadi semakin oleng,
berputaran malah. Laki-laki itu mengeluarkan suara mengguman seperti menyumpah, lalu
memanggul tubuh Kiki dengan lengan kiri dan tangan kanannya cepat menyambar kemudi lagi.
Perahu meluncur lurus, melawan ombak yang makin menghebat.
Denga cepat Song Kim lalu mengikat tubuh Kiki kepada tihang layar. Hal ini dilakukan
sedapat mungkin dengan sebelah tangan saja, kadang-kadang dengan dua tangan akan tetapi
harus cepat memegang kemudi lagi kalau perahunya berputar. Akhirnya dia berhasil juga
mengikat tubuh sumoinya itu pada tiang layar. Lengan, dada, paha dan kakinya dilibat-libat
denga tali yang amat kuat itu, juga dia tidak lupa mengikat tangan gadis itu karena maklum
bahwa kalau sumoinya terbebas dari totokan, tentu akan mampu melepaskan diri kalau kaki
tangannya tidak diikat erat-erat. Tali perahu itu kuat sekali. Bahkan air lautpun dapat ditahannya,
maka ikatan pada diri gadis itu luar biasa kuatnya.
Pedang Naga Kemala > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com 271
Pemuda itu berang dan kecewa bukan main. Nasibnya telah begitu baik sehingga dia
mendapatkan kesempatan yang akan memungkinkan dia memuaskan nafsunya terhadap
sumoinya itu tanpa kelihatan oleh siapapun juga, bahkan tanpa dapat diketahui oleh sumoinya.
Bagaikan makanan, tadi makanan itu telah berada di mulutnya, tinggal mengunyah dan menelan
saja ! Akan tetapi nasib pula yang demikian jahil sehingga makanan itu terpaksa
dimuntahkannya kembali. Tiba-tiba saja ada badai datang menyerang sehingga kalau dia tidak
mengikat tubuh sumoinya pada tiang layar, tentu tubuh itu akan terlempar keluar. Bukan saja
niatnya tadi gagal sama sekali, juga kini dia bahkan harus berusaha keras untuk melawan badai,
menyelamatkan perahu dan juga sumoinya, juga dirinya sendiri ! Sialan ! Kalau saja dia tidak
menotok sumoinya, kalau saja dia tidak melakukan usahanya memperkosa tadi, tentu kini dengan
mudah dia membebaskan totokannya atas diri Kiki dan mereka berdua akan dapat meloloskan
diri dengan lebih mudah. Tidak seperti sekarang, dia terpaksa mengikat tubuh Kiki agar jangan
ditelan air dan harus berjuang amat keras seorang diri agar perahu itu tidak karam. Betapapun
juga, dia masih mengandung harapan agar dia dapat segera menyelamatkan perahu dan sumoinya
dari badai, kemudian karena cuaca masih amat gelap, di tempat aman dia masih akan dapat
melanjutkan maksud hatinya yang tadi. Mengingat akan kemungkinan itu, dia menelan ludah dan
mengemudikan perahu dengan amat hati-hati.
Lee Song Kim adalah seorang anak yatim piatu, anak seorang bajak laut yang amat kejam
dan jahat. Ketika dia berumur empat tahun, ayahnya yang juga merupakan seorang pemberani,
bentrok dengan Hai-tok dan inilah kesalahan besar ayahnya dalam kehidupannya. Dia terbunuh
oleh Hai-tok, dan isterinya yang masih muda dan cukup cantik tidak terlepas pula dari
penghinaan Hai-tok terhadap orang yang berani menghinanya. Dia menangkap dan memperkosa
isteri bajak itu, bahkan setelah beberapa hari kemudian dia memberikan wanita itu kepada anak
buah bajak laut yang berpesta pora terhadap diri wanita itu sampai tewas. Akan tetapi anak
tunggalnya, yaitu Song Kim, menarik perhatian Hai-tok. Dengan matanya yang tajam datuk sesat
ini melihat adanya bakat yang amat baik pada diri anak itu. Maka dia mengampuni anak itu dan
mengambilnya sebagai murid. Song Kim yang sama sekali tidak mengetahui asal usulnya,
menjadi murid yang terkasih, bahkan diperlakukan sebagai putera sendiri oleh Hai-tok. Ketika
itu, ibu Kiki masih hidup dan Kiki sendiri baru berusia kurang lebih tiga tahun.
Karena hidup di dalam lingkungan orang-orang yang suka bertindak kasar dan kejam,
melakukan segala macam kemaksiatan, dan mungkin juga karena memang pembawaan dan
darahnya, maka semua itu mudah sekali menular pada batin Song Kim. Dia amat cerdik, amat
kejam dan jahat, akan tetapi semua itu disembunyikan di balik tampangnya yang menarik,
sikapnya yang amat ramah dan jenaka. Dan dia memang sungguh tergila-gila kepada Kiki, dia
mencinta Kiki karena sejak kecil bergaul dengan Kiki dan merasa cocok dengan watak gadis itu
yang jenaka periang dan gagah berani. Kalau sekarang dia begitu tega untuk memperkosa gadis
itu adalah justeru terdorong rasa cintanya, menurut batin dan kelicikannya sendiri. Dia
berpendapat bahwa sekali dia berhasil memperkosa gadis itu, tanpa diketahui oleh gadis itu
sendiri, berarti dia telah memiliki kekuasaan atas diri Kiki. Kalau kelak sampai gagal dia akan
dapat mempergunakan rahasia ini untuk memaksa Kiki ! Dengan adanya rahasia yang
diketahuinya sendiri itu, bahwa Kiki telah diperkosanya, kelak dia akan dapat memaksa gadis itu
untuk menjadi isterinya dan tidak mungkin menjadi isteri orang lain.
Tentu saja seorang pemuda seperti Song Kim tidak sadar sama sekali bahwa cinta kasih
adalah perasaan yang amat halus dan suci, yang sama sekali tidak dipengaruhi oleh nafsu
Pedang Naga Kemala > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com 272
keinginan apapun. Yang diciptakan oleh nafsu-nafsu keinginan hanyalah pengejaran kesenangan
belaka, baik melalui berahi, melalui cita-cita dan sebagainya.
Akan tetapi, nasib agaknya kurang membantu Song Kim pada malam hari itu. Badai amat
besar dan buas, mempermainkan dia dan perahunya sampai berjam-jam lamanya. Dia sendiri
kehilangan arah perahunya, dan hanya mengemudikan perahu dengan satu tujuan, yaitu agar
perahunya tidak sampai karam. Itu saja ! Dia tidak tahu bahwa perahu itu diombang-ambingkan
ombak ganas dan diseret jauh ke selatan ! Kegelapan cuaca membuat dia tidak tahu pula bahwa
kini perahunya sebetulnya sudah berada dekat dengan daratan.
“Braaakkkk .......... !!” Tiba-tiba perahunya membentur karang dan demikian kerasnya
benturan itu sehingga hampir saja tubuh Song Kim terlempar keluar perahu ! Dia dapat cepat
meloncat dan kedua tangannya memeluk tihang layar sehingga tubuhnya tidak terlempar. Akan
tetapi, perahunya pecah dan tihang layar itupun hampir roboh, kemudian perlahan-lahan perahu
itu tenggelam ! Tentu saja tidak akan tenggelam seluruhnya, hanya kemasukan air dan akhirnya
tentu akan terbalik dan mengambang. Dia berpikir cepat. Dia harus menyelamatkan sumoinya,
akan tetapi juga tidak boleh membuka mulut, tidak boleh membuka ikatan kaki tangan sumoinya.
Dia memang cerdik. Pelukan pada tihang itu diperkuat dan dengan sekuat tenaga, dia menjebol
tihang layar itu dan ketika tihang itu ambruk, dia sengaja merangkul tihang itu dan membawanya
meloncat keluar perahu yang mulai miring !
“Byuurrr .......... !” Air muncrat tinggi dan tubuhnya bersama tihang di mana tubuh Kiki
masih terikat disambut ombak. Air itu hangat ! Bukan main gembiranya hati Song Kim. Ini
berarti daratan sudah tidak jauh lagi ! Untung masih ada kelebihan tali untuk mengikat tubuh
Kiki tadi, dan kini dia menarik tali ini, lalu berenang ke arah daratan yang dapat dikirakirakannya
melihat arah ombak. Tihang yang kini menjadi balok meluncur dengan tenang
dibelakangnya, dan tubuh Kiki terlentang di atas balok.
Perhitungannya memang tepat. Tak lama kemudian, kakinya menyentuh pasir dan
dengan cepat dia menarik tihang itu ke tepi. Terus diseretnya tihang itu dan melihat kenyataan
bahwa dia telah selamat, juga Kiki telah selamat dan masih terikat pada tihang, hampir dia
bersorak kegirangan. Bagaimanapun juga, nasibnya masih baik ! Pada saat itu, malam sudah
hampir berganti pagi. Sudah ada sinar remang-remang dan Song Kim melihat tubuh yang indah
itu terlentang di atas tihang. Pakaian yang basah itu melekat pada tubuh Kiki dan kembali gelora
nafsu berahi melanda batin Song Kim. Dia harus bertindak cepat, pikirnya. Sebentar lagi kalau
sudah ada sinar menerangi wajahnya, sumoinya akan dapat mengenalnya dan celakalah kalau
begitu. Sumoinya tentu akan melapor kepada suhunya dan jangan harap dia akan dapat hidup
lagi !
Karena terdorong oleh gairah nafsu, juga kegirangan bahwa niatnya akan tercapai, dia lalu
menubruk tubuh di atas tihang itu dan kembali dia melanjutkan perbuatannya di atas perahu,
memeluk dan menciumi muka Kiki yang basah kuyup itu. Kiki sudah terbebas dari totokan,
namun tidak mampu melepaskan diri dari ikatan. Tali yang basah air laut itu demikian kuatnya,
seperti masuk ke dalam daging kaki dan tangannya yang terikat, dan makin ia meronta, seperti
semakin kuat saja. Iapun berusaha untuk mencoba melihat orang yang mendekap dan
menciuminya, akan tetapi cuaca masih terlalu gelap untuk dapat mengenal orang itu walaupun
kini dia dapat melihat bahwa bayangan ini tentu seorang laki-laki. Akan tetapi, perbuatan orang
itu yang menciuminya dan meraba-raba tubuhnya membuat Kiki yang biasanya gagah berani itu
Pedang Naga Kemala > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com 273
tak dapat menahan lagi untuk menjerit sekuat tenaga. Dan karena totokan itu sudah pulih, maka
jeritan minta tolong yang mengandung tenaga khikang amat kuat itu terdengar melengking tinggi
dan tentu terdengar sampai jauh !
Song Kim terkejut bukan main. Akan tetapi dia menenangkan hatinya. Tak mungkin
jeritan itu dapat terdengar orang lain. Mana ada orang di tepi laut yang demikian sunyinya ? Apa
lagi waktunya masih demikian pagi, bahkan masih malam dan gelap. Akan tetapi untuk
mencegah agar gadis itu tidak menjerit lagi, dia cepat menotok atau menekan jalan darah di leher
Kiki dan gadis inipun tidak mampu lagi mengeluarkan suara.
Akan tetapi sebelum Song Kim dapat melanjutkan niatnya yang keji dan cabul, tiba-tiba
terdengar bentakan suara seorang laki-laki, “Siapakah itu dan apa yang terjadi ? Mengapa ada
suara wanita menjerit ?”
Song Kim terkejut sekali dan mengangkat muka. Nampaklah seorang laki-laki datang
berlari menghampiri dengan sebuah obor di tangan. Kiranya laki-laki itu yang tadi bicara. Tidak
aneh kalau suaranya dapat ditangkapnya, karena tentu angin yang membawa suara itu sampai
dapat terdengar dari jauh.
Hampir dia mengeluarkan suara makian. Niatnya sudah demikian dekat tercapai, ada saja
datang gangguan. Apa lagi obor itu sungguh berbahaya. Kalau dibawa dekat tentu akan
menyinari mukanya dan Kiki akan dapat mengenalnya. Maka diapun cepat melompat dan lari
menyambut orang yang datang membawa obor itu. Kebetulan sekali orang itu datang dari arah
kaki Kiki sehingga gadis ini dapat melihat pria yang membawa obor itu. Seorang pria muda
karena sinar obor menimpa mukanya. Wajah yang gagah. Pakaiannya petani. Seorang petani
muda ! Hatinya penuh kekhawatiran. Apa yang akan dapat dilakukan seorang petani muda ?
Dan laki-laki yang menawannya itu agaknya bukan orang lemah, terbukti dari caranya
menotoknya dan juga kegagahannya diperlihatkan ketika melawan badai di tengah lautan.
Celaka, petani muda itu hanya datang mengantarkan nyawa, pikirnya.
Untung bahwa kedua kakinya berada di luar ikatan dan berada di kanan kiri tihang, tidak
di atasnya, dan dara ini dapat menggerak-gerakkan kedua kaki itu karena yang terikat hanya
sampai di lutut. Dengan pengerahan tenaga pada kedua kakinya, Kiki dapat menggerakkan kedua
kaki yang sudah hilang sepatunya itu pada pasir di bawah dan menekan. Ia berhasil ! Tihang itu
bergerak. Ia terus mempergunakan kedua kakinya sehingga akhirnya ia dapat membawa tihang
layar itu kembali ke air dan begitu menyentuh air, tihang itupun hanyut dan mengambang ! Lega
hati Kiki. Dengan kedua kakinya, ia akan dapat mengatur kesimbangan tihang itu sehingga
tubuhnya akan tetap terlentang di atas tihang dan ia dapat menggunakan kedua kakinya untuk
mendayung sedikit-sedikit pula untuk membuat tihang itu seperti perahu yang meluncur
perlahan-lahan ! Apa saja akan dilakukannya dan akan ditempuhnya asal ia dapat
menghindarkan diri dari laki-laki biadab itu ! Lebih baik diancam bahaya mati di lautan dari
pada bahaya di tangan laki-laki itu.
Jilid XII *****
Pedang Naga Kemala > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com 274
Akan tetapi, Kiki belum mau mati kelaparan di atas tihang. Kalau tihang itu sampai
hanyut ke tengah, sukarlah baginya untuk dapat mendayung ke pantai hanya dengan kedua kaki
sebatas lutut. Maka diarahkan perahu istimewa itu ke sekumpulan batu karang dan akhirnya
tihang layar itu dapat berhenti melintang di balik batu-batu karang, tidak nampak dari daratan.
Dan dari tempat ia rebah terlentang, kini ia dapat melihat bayangan hitam dua orang yang sedang
berkelahi di pantai !
Dapat dibayangkan kemarahan hati Song Kim melihat munculnya laki-laki yang
membawa obor. Dia menganggap bahwa orang itu menjadi penghalang besar, sengaja datang
untuk menganggunya ! Demikianlah ulah orang yang sedang dimabok nafsunya sendiri, yang
sedang mengejar suatu kesenangan. Siapa saja yang menjadi penghalang akan diterjangnya,
tidak perduli orang itu sengaja menghalang maupun tidak sengaja. Semua penghalang, baik
ataupun buruk, salah ataukah tiada, harus dihancurkan ! Dia berlari cepat menyambut dan begitu
berhadapan, tanpa banyak cakap lagi diapun menerjang, mengirim pukulan-pukulan maut dengan
dahsyat ! Pukulan-pukulannya itu dilakukan dengan jurus-jurus maut karena Song Kim tidak
mau gagal, tidak mau kepalang tanggung. Lebih cepat membunuh orang ini lebih baik agar dia
tidak sampai terlambat untuk melaksanakan hasrat hatinya terhadap Kiki.
“Heiii .......... !” orang itu berseru kaget bukan main dan membuat gerakan cepat.
“Bressss .......... !!” Kini Song Kim yang terkejut setengah mati. Orang itu dapat
menangkis pukulan-pukulannya dan hanya obornya saja yang terlepas dan padam, akan tetapi
jangankan membunuh orang itu, merobohkannyapun serangannya tadi tidak mampu. Sebaliknya,
tangkisan orang itu terasa amat kuat olehnya sehingga tangannya yang tertangkis sampai tergetar
hebat. Jelaslah bahwa orang pembawa obor ini bukan seorang petani biasa seperti nampak pada
pakaiannya tadi, melainkan seorang yang memiliki kepandaian silat inggi dan tenaga sinkang
yang cukup kuat !
Pemuda Pulau Layar ini sama sekali tidak tahu bahwa tidak menyangka bahwa dia
berhadapan dengan orang yang jauh lebih melampaui dugaan-dugaannya, karena dia berhadapan
dengan murid terkasih dari Siauw-bin-hud, tokoh sakti dari Siauw-lim-pai itu. Pemuda itu adalah
Tan Ci Kong.
Seperti telah diceritakan di bagian depan, Tan Ci Kong pemuda gemblengan Siauw-binhud
itu, menyelamatkan Ciu Kui Eng, puteri tunggal dari orang yang menyebabkan kehancuran
keluarga ayahnya, dari ancaman maut ketika Kui Eng dikeroyok oleh pasukan pemerintah dan
keluarga gadis ini terbasmi habis, rumahnya terbakar gara-gara madat yang menjadi penyebab
keruntuhan keluarga ayahnya. Madat pula yang tadinya mendatangkan kemewahan dan
kekayaan pada keluarga Ciu, dan madat juga yang akhirnya membinasakannya. Setelah
menolong Kui Eng dan berpisah dari gadis itu di luar kota Tung-kang setelah gadis itu yang
tadinya salah paham tahu bahwa pemuda ini adalah murid Siauw-bin-hud dan telah
menyelamatkannya, Ci Kong lalu berkelana. Dia menjumpai banyak peristiwa yang
menyedihkan sewaktu terjadi perang madat. Dan di dalam pergolakan dan kekacauan yang
terjadi selama tiga tahun itu, Ci Kong bersikap sebagai seorang pendekar sejati. Dia menentang
siapa saja yang melakukan kekejaman dan kejahatan, membela yang lemah tertindas. Sesuai
dengan ajaran kakek Siauw-bin-hud, pemuda ini tidak pernah mau melibatkan diri dalam perang
Pedang Naga Kemala > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com 275
melainkan bertindak tegas sebagai seorang pendekar pembela keadilan berdasarkan
perikemanusiaan, tidak mencampuri urusan politik dan negara.
Betapapun juga, dia tahu akan segala yang telah terjadi tentang penyerbuan pasukan kulit
putih dan lemahnya kaisar. Diapun tahu bahwa akibat sikap kaisar yang lemah, kaum kulit putih
menjadi semakin berani untuk memperlebar jaringan perdagangan mereka yang merusak rakyat,
yaitu perdagangan candu. Hal ini tentu saja berlawanan dengan hati nuraninya, maka beberapa
kali, seorang diri Ci Kong menggunakan kepandaian untuk mencuri sejumlah besar candu dan
membakarnya di dalam hutan.
Pada malam hari itu, semalam suntuk dia berjaga di pantai karena dia mendengar bahwa
ada usaha kaum penyelundup untuk menyelundupkan sejumlah candu dengan perahu dari kapal
orang kulit putih dan mendarat di pantai sunyi itu. Dia bermaksud untuk merampas candu itu dan
membakarnya atau membuangnya ke lautan. Akan tetapi, datang badai mengamuk sehingga
ngeri juga rasa hati Ci Kong melihat gelombang lautan mengganas seperti itu. Dia
membayangkan dengan hati ngeri betapa para nelayan yang pada malam hari itu kebetulan berada
di tengah lautan tentu sedang berjuang mati-matian melawan amukan badai, bahkan dengan hati
penuh iba dia membayangkan pula perahu yang dihadangnya itu, perahu yang kabarnya akan
menyelundupkan candu dari kapal orang kulit putih. Ketika mendapat kenyataan bahwa tidak
ada sebuahpun perahu yang mendarat malam itu, dia menduga bahwa tentu perahu penyelundup
itu karam oleh badai, atau mungkin juga membatalkan pelayaran. Dia menanti sampai hampir
pagi, berlindung di dalam sebuah guha di antara batu-batu besar dari hembusan angin badai yang
keras, dan menerangi guha itu dengan sebuah obor.
Kemudian, tiba-tiba dia mendengar jerit seorang wanita. Terkejutlah hatinya ketika
mendengar jerit yang datangnya dari pantai itu. Tentu ada perahu yang berhasil dihempaskan
badai ke pantai, pikirnya. Dan tentu orang-orang itu membutuhkan pertolongan. Dia lalu
membawa obor dan meloncat ke luar guha, berlari menuju pantai sambil berteriak menanya siapa
yang berada di pantai dan mengapa ada suara wanita menjerit.
Karena pandang matanya silau oleh sinar obor yang dipegangnya sendiri, dan cuaca masih
amat gelap, maka Ci Kong hanya remang-remang melihat seorang laki-laki meloncat bangun dan
di bawah seperti ada wajah seorang wanita. Akan tetapi dia tidak sempat memperhatikan karena
tiba-tiba saja laki-laki itu menyerangnya dengan dahsyat. Dia terkejut bukan main. Serangan itu
bukan serangan sembarangan saja, melainkan pukulan-pukulan yang amat dahsyat dan
berbahaya. Dari angin pukulannya saja tahulah dia bahwa dia diserang oleh seorang yang
berilmu tinggi. Maka diapun cepat bergerak melakukan elakan dan tangkisan. Demikian
hebatnya serangan orang itu sehingga obornya terpental, terlempar dan padam. Akan tetapi dia
berhasil menghindarkan serangan maut itu dengan tangkisan-tangkisan dan mendapat kenyataan
ketika lengannya bertemu dengan lengan penyerang itu bahwa penyerangnya memiliki dan
menggunakan tenaga sinkang yang kuat dalam penyerangannya tadi.
Selain terkejut dan heran mendapat seorang lawan yang demikian tangguhnya di tempat
sunyi ini, hal yang sama sekali tidak tersangka-sangka, Song Kim juga menjadi penasaran dan
marah sekali.
Pedang Naga Kemala > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com 276
“Keparat yang bosan hidup !” bentaknya dan diapun sudah menyerang lagi, kini
menggunakan sepasang belati yang selalu terselip di pinggangnya !
“Mampuslah .......... !” bentaknya.
“Hemmm .......... !” Ci Kong dapat merasakan sambaran senjata itu walaupun dia tidak
dapat melihat lawannya mempergunakan senjata. Pendengarannya sudah terlatih dengan baik
sekali sehingga dia mampu membedakan antara suara senjata-senjata dan tangan kosong. Segera
Ci Kong mengisi kedua tangannya dengan ilmu kekebalan yang diajarkan gurunya, yaitu Tiatciang
(Tangan Besi) sehingga dengan kedua tangannya itu dia mampu menangkis senjata tajam
tanpa khawatir tangannya terluka. Karena lawannya agaknya hendak membunuhnya, diam-diam
Ci Kong merasa heran bukan main. Sambil berloncatan ke sana-sini dan kadang-kadang kalau
terdesak menangkis dengan tangannya, beberapa kali Ci Kong menyabarkannya.
“Tahan serangan ! Mengapa engkau menyerangku, sobat ? Di antara kita tidak ada
permusuhan. Aku datang untuk menolong wanita yang menjerit tadi.”
Akan tetapi, ucapan-ucapannya ini agaknya mesih membuat penyerangnya menjadi
semakin marah. Lawannya hanya mendengus dan memaki-maki, serangannya menjadi semakin
berbahaya sehingga akhirnya Ci Kong dapat menduga bahwa tentu wanita tadi menjerit karena
ulah kejahatan orang ini. Dia teringat akan wanita yang menjerit tadi dan sambil mengelak, dia
meloncat ke arah pantai di mana tadi samar-samar dia melihat seorang wanita menggeletak di
situ. Akan tetapi, dapat dibayangkan betapa kaget rasa hatinya ketika wanita itu lenyap dari situ.
“Eh, di mana wanita tadi .......... ?” Akan tetapi terpaksa dia harus cepat melempar tubuh
ke belakang karena lawannya sudah menyerang lagi dengan hebatnya, menggunakan dua buah
belatinya untuk menusuknya dari atas dan bawah. Serangan itu sedemikian hebatnya sehingga Ci
Kong terpaksa harus melempar tubuh ke belakang lalu menggulingkan tubuhnya di atas pasir
pantai. Ketika dia bangkit berdiri lagi dengan loncatan yang cepat, ternyata lawannya sudah
lenyap dari situ.
Kiranya ketika melihat sumoinya lenyap, Song Kim tidak ada semangat lagi untuk
membunuh orang yang dianggapnya menghalangi niat hatinya itu. Dia harus cepat melarikan
diri, pikirnya. Ada beberapa hal yang memaksanya untuk segera melarikan diri dari situ, demi
keselamatannya. Pertama, kini cuaca tidak lagi segelap tadi karena sinar matahari mulai muncul
di balik permukaan air laut jauh di timur. Ke dua, sumoinya telah lenyap dan mungkin sekali
sumoinya berhasil melepaskan ikatan kaki tangannya. Ke tiga, orang yang menjadi penghalang
itu ternyata lihai bukan main sehingga kalau dia tidak mampu merobohkannya dalam waktu
singkat, besar bahayanya dia akan kedahuluan sinar matahari dan kalau sumoinya mengenalinya,
tentu akan celakalah dia. Maka, mempergunakan kesempatan selagi lawannya bergulingan
menghindarkan serangannya yang terakhir tadi, kembali membuktikan kelihaian lawan itu, dia
lalu meloncat dan melarikan diri. Biarpun niat hatinya gagal untuk menguasai dan memperkosa
sumoinya, namun setidaknya sumoinya tidak akan pernah menyangka bahwa dialah pelakunya.
Sementara itu, melihat orang yang menyerangnya mati-matian tadi telah pergi, Ci Kong
juga tidak berusaha untuk mencari atau mengejarnya. Dia menanti sampai sinar matahari
mengusir kegelapan malam dan dia lalu melakukan penyelidikan, mencari-cari pecahan perahu
Pedang Naga Kemala > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com 277
atau mungkin ada mayat orang terdampar. Juga dia mencari-cari ke mana perginya wanita tadi.
Dari tempat di mana dia melihat wanita tadi menggeletak, dia melakukan penyelidikan, akan
tetapi tidak menemui jejak kaki di situ. Wanita itu lenyap begitu saja dan tiba-tiba hatinya
terguncang. Jangan-jangan wanita itu terseret ombak dan dibawa ke tengah lautan ? Dia
memandang ke arah lautan. Ombak tidak begitu besar lagi, akan tetapi air masih belum tenang,
tanda bahwa badai semalam telah mulai mereda dan yang nampak kini hanya bekas-bekasnya
saja. Masih ada bekas ombak sampai ke tempat dia berdiri dan kini air sudah surut jauh sekali.
Dia menuruni pantai dan memandang ke tengah lautan, mencari-cari. Tiba-tiba dia terkejut
melihat sesuatu mengambang di permukaan air, bergoyang-goyang dipermainkan ombak kecilkecil
yang mulai berkilauan tertimpa cahaya keemasan matahari pagi. Karena dia menghadap ke
timur, maka cahaya matahari yang menimpa permukaan air itu nampak menyilaukan dan
langsung menyerang pandang matanya. Dia menggosok-gosok kedua matanya karena khawatir
salah lihat. Akan tetapi tidak ! Benar ada seorang wanita di atas sebuah balok kayu
mengambang di sana ! Dan kini dia dapat melihat bahwa wanita itu terikat kaki tangannya pada
balok itu ! Mungkin sudah mati ! Atau masih hidup ? Dan teringatlah dia akan wajah wanita
semalam, sekilas dilihatnya di bawah sinar obornya. Ah, jangan-jangan wanita itulah semalam,
dan agaknya balok di mana ia terikat telah diseret ombak ke tengah !
“Celaka, kalau dia tidak cepat ditolong, tentu binasa !” Ci Kong lalu berlari ke tengah
dan menempuh ombak. Dia bukan ahli dalam air, akan tetapi cukup dapat berenang sehingga dia
berani terus mendekati balok mengambang di mana terdapat seorang wanita yang terikat kaki
tangannya itu. Makin dekat, makin jelaslah. Benar seorang wanita, seorang gadis muda yang
pakaiannya basah kuyup dan kedua matanya terpejam. Mungkin sudah mati, atau mudahmudahan
hanya pingsan saja.
Kini dia tidak berjalan lagi di dasar lautan. Sudah mulai dalam dan terpaksa berenang
melawan ombak kecil-kecil yang berlarian ke pantai. Terasa ringan tubuhnya pada mula-mula,
akan tetapi makin lama makin berat. Sudah terlalu lama dia tidak pernah berenang, apa lagi di
lautan dan kegiatan ini ternyata memeras banyak tenaganya. Baju di pundak kanannya telah
robek lebar akibat perkelahian tadi, dan air laut terasa hangat. Celakanya, balok itu agaknya juga
bergerak terbawa ombak, makin ke tengah seperti menjauhinya, atau melarikan diri darinya.
Dan balok itu tidak terus ke tengah, melainkan bergerak ke utara. Dikejarnya terus sambil
berenang. Sungguh aneh, balok itu kini meluncur ke barat, lalu kembali ke selatan. Bagaimana
balok itu dapat bergerak seperti itu ? Sama sekali tidak seperti terbawa ombak, melainkan lebih
mirip didorong sesuatu dari bawah ! Jangan-jangan di bawah ada ikannya, ikan besar yang
mendorong-dorong balok itu karena ingin makan tubuh gadis itu yang mungkin sudah menjadi
mayat ? Tubuh itu tidak bergerak-gerak, dan muka yang tengadah itu nampak pucat sekali.
Muka yang amat cantik !
Pikiran ini menimbulkan kekhawatiran dan Ci Kong berenang semakin cepat. Napasnya
mulai terengah-engah karena sudah berjam-jam dia melakukan pengejaran tanpa hasil. Akhirnya
dia mogok, tengadah dan terengah-engah menghirup udara sebanyaknya. Dia maklum bahwa
kalau dia terus mengejar, amat berbahaya baginya. Tenaganya dapat habis dan dia tentu akan
tenggelam ! Akan tetapi, kini balok itu bergerak-gerak menghampirinya ! Besar lagi semangat
Ci Kong. Begitu dekat balokitu, tinggal meraih saja ujungnya, akan tetapi ketika dia meluncur
dan meraih, balok itupun menjauh lagi !
Pedang Naga Kemala > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com 278
Ci Kong merasa gemas. Mungkinkah ini ? Balok itu seperti mempermainkannya. Dia
melihat sehelai tali terseret di belakang balok dan tahulah dia bahwa tali itu adalah kelebihan tali
pengikat kaki tangan gadis itu, cukup panjang. Diam-diam dia lalu mendekati tali itu setelah dia
pura-pura berhenti kehabisan napas lagi dan balok itu kembali mendekati. Dan tiba-tiba, sebelum
balok itu sempat menghindar, dia sudah menyambar tali itu, dan menariknya !
“Ahhh ………. !” Terdengar gadis itu mengeluarkan seruan lirih. Giranglah hati Ci
Kong dan dia lupa akan keanehan balok yang pandai “berenang” dan menghindar itu. Gadis itu
masih hidup !
“Syukurlah engkau masih hidup, nona. Bertahanlah, biar aku akan menarikmu ke
pantai !” katanya sambil terengah-engah. Mulailah dia berenang menuju ke pantai sambil
menarik tali itu. Mula-mula balok meluncur di belakangnya, akan tetapi semakin lama, terasa
olehnya betapa balok itu menjadi semakin berat. Tentu tenaganya yang sudah mulai menjadi
lemah. Akan tetapi, pantai telah nampak tidak terlalu jauh.
Dia harus berhasil, biarpun harus menghabiskan tenaganya. Dan Ci Kong menguatkan
hati dan kemauannya, mengerahkan tenaganya dan terus berenang sambil menarik-narik balok
yang kadang-kadang seperti “mogok”itu.
Dia sama sekali tidak tahu betapa kalau dia sedang tidak memandang, gadis di atas balok
itu menoleh kepadanya dan tersenyum mengejek, kadang-kadang tersenyum geli. Gadis itu, Kiki
memang nakal sekali. Ia sengaja mempermainkan Ci Kong. Seperti kita ketahui, setelah melihat
betapa penawannya berkelahi dengan orang yang datang membawa obor, Kiki terus
menyembunyikan diri dengan baloknya di antara batu-batu karang. Hatinya masih diliputi
kepanikan. Penawannya itu lihai sekali dan pembawa obor yang kelihatannya hanya seorang
petani itu tentu akan segera roboh dan tewas. Dan kalau penawannya kembali mencarinya, dan
dapat menemukannya, tentu ia akan celaka.
Akan tetapi, ia melihat betapa seorang di antara mereka tiba-tiba meloncat dan melarikan
diri. Cuaca masih terlalu gelap dan ia berada di tempat yang cukup jauh sehingga ia tidak tahu
siapa di antara dua orang itu yang melarikan diri. Maka iapun tetap menanti, dengan jantung
berdebar tegang ketika ia mengintai dari tempat ia rebah terlentang, di balik batu-batu karang itu,
betapa orang ke dua yang masih berada di pantai itu kini mencari-cari dengan pandang matanya
ke permukaan air laut. Ia masih belum tahu siapakah orang itu. Penawannyakah ? Ataukah
petani pembawa obor ? Baru setelah sinar matahari menimpa orang itu dan ia melihat bahwa
orang itu mengenakan pakaian petani, ia tahu bahwa orang ini si pembawa obor, sedangkan yang
melarikan diri tadi tentu orang yang telah menawannya. Hatinya menjadi girang dan juga
terheran. Kalau pembawa obor, petani ini dapat membuat penawannya melarikan diri, tentu
berarti orang ini juga juga lihai lihai sekali ! Dan ia belum tahu siapa orang ini, entah orang baikbaik
ataukah orang yang bahkan lebih jahat dari pada penawannya tadi ? Pikiran ini membuat
Kiki menjadi gelisah lagi dan iapun takut kalau-kalau orang itu melihatnya dan berlompatan di
atas batu-batu karang menghampirinya. Maka iapun cepat menggunakan kedua kakinya untuk
mendorong batu karang dan meluncurkan tihang layar itu ke permukaan air laut bebas. Ia harus
melarikan diri dari tempat ini, pikirnya.
Pedang Naga Kemala > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com 279
Lalu ia melihat betapa petani itu mengejarnya sambil berenang. Dan melihat cara petani
itu berenang, Kiki hampir tertawa. Kalau ia menghendaki, orang itu sampai mati takkan pernah
dapat menangkapnya, walaupun ia hanya menggerakkan tihang layar itu dengan gerakan kedua
kaki sebatas lutut saja. Maka iapun mempermainkan orang yang mengejarnya itu sambil diamdiam
memperhatikan muka orang itu dari balik bulu matanya kalau mereka berada dalam jarak
tidak terlalu jauh. Hampir ia tertawa keras ketika melihat betapa petani muda itu, yang
kepandaiannya berenang hanya dangkal saja, terengah-engah kehabisan napas. Akan tetapi
ketika kini sinar matahari sudah terang dan ia dapat melihat wajah petani muda itu dengan jelas,
diam-diam ia tertarik. Petani muda itu ternyata memiliki wajah yang gagah, tubuh yang tegap.
Nampak jelas membayangkan kekuatan dalam tubuh itu.
Karena melihat orang itu sudah kepayahan, Kiki menjadi semakin berani. Ia sengaja
mendekatkan balok itu kalau si pemuda sudah tidak mengejar lagi karena kehabisan napas, akan
tetapi menjauh lagi kalau dikejar. Seperti jinak-jinak merpati, dijauhi mendekat kalau hendak
ditangkap terbang menghindar !
Maka, terkejutlah hati Kiki ketika tiba-tiba saja baloknya terhenti karena tali itu disambar
tangan Ci Kong. Ia sama sekali tidak tahu bahwa ada tali agak panjang terseret tihang layar itu.
Ketika Ci Kong menarik tali dan balok itu meluncur, tak dapat ditahannya lagi Kiki
mengeluarkan seruan kaget, hanya terdengar lirih karena ditekannya. Kemudian ia mendengar
suara pemuda itu yang bersyukur melihat ia masih hidup, menyuruh ia bertahan dan pemuda itu
hendak menariknya ke pantai. Suara ini demikian halus dan lembut, dan jelaslah bahwa pemuda
itu tidak mempunyai niat buruk, melainkan benar-benar hendak menolongnya. Berkurang
kekhawatirannya, namun ia tetap waspada dan pura-pura pingsan, tidak bergerak maupun
membuka mata ketika balok itu ditarik oleh Ci Kong melalui tali yang dipegangnya. Akan tetapi
dasar berwatak nakal, diam-diam kedua kakinya utak-utik, diputar-putar sehingga kedua kaki itu
menjadi penahan ketika balok ditarik, maka tidaklah mengherankan kalau Ci Kong merasa
adanya perlawanan yang membuat balok terasa semakin berat. Dia memaksa diri dan akhirnya
kedua kakinya menyentuh dasar laut, tak jauh dari pantai. Dengan tenaga yang hampir habis, Ci
Kong menyeret balok itu, berjalan terhuyung-huyung menuju pantai, seluruh tubuhnya terasa
letih sekali. Tenaganya terasa hampir habis. Penggunaan tenaga di darat dan di air sungguh amat
berbeda, terutama penggunaan pernapasan. Dan otot-otot di tubuh juga harus dibiasakan dengan
suatu gerakan. Otot-otot yang biasa dipergunakan untuk latihan silat, biarpun seluruh tubuh
bergerak, namun tidak ada gerakan silat yang seperti gerakan orang berenang yang harus
mengulang terus-menerus gerakan kaki dan lengan secara tertentu. Otot-ototnya yang tidak biasa
dengan gerakan ini tentu saja menjadi cepat lelah.
Akan tetapi Ci Kong seorang pemuda gemblengan yang sejak kecil telah dididik dengan
cara-cara Siauw-lim-pai yang keras dan tepat sekali. Biarpun dalam keadaan teramat letih, ketika
dia menarik balok itu ke pantai, diam-diam diapun mengatur pernapasan dan mulai menghimpun
tenaga agar kekuatannya pulih.
Pedang Naga Kemala > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com 280
Akhirnya tiang layar itu dapat diseret sampai ke pantai, jauh dari air. Ci Kong
menhentikan tarikannya, lalu berlutut di atas pasir dan memeriksa gadis itu. Dia menaruh telapak
tangan di depan hidung dan mulut yang tak terbuka itu dan hatinya terguncang. Gadis itu tak
bernapas lagi ! Cepat dia meraba nadi pergelangan tangan dan mendapat kenyataan bahwa detik
pergelangan itupun lemah sekali. Celaka, pikirnya. Kalau gadis ini tidak cepat bernapas
kembali, denyut jantungnya akan makin melemah dan akhirnya berhenti ! Dia teringat akan cara
pengobatan terhadap orang yang baru saja tenggelam, yang sudah berhenti pernapasannya. Paruparu
orang itu harus dibantu, itulah cara terbaik untuk memaksa orang itu bernapas kembali. Dan
untuk membantu bekerjanya paru-paru yang sudah berhenti, cara terbaik adalah meniupkan napas
ke dalam paru-paru itu melalui mulut, seperti orang meniup balon.
Tiba-tiba jantungnya berdebar dan mukanya menjadi merah. Mana mungkin dia
melakukan cara ini ? Cara ini mengharuskan dia menutup lubang hidung gadis itu kemudian
meniupkan pernapasan dari mulut ke mulut ! Akan tetapi, kalau dia ragu-ragu, terlambat sedikit
saja gadis ini akan mati ! Ci Kong menoleh ke kanan kiri. Tidak ada orang. Tidak mengapa dia
melakukan hal yang nampaknya tidak pantas itu kalau tidak terlihat oleh siapapun juga.
Maksudnya kan untuk menyelamatkan nyawa, sama sekali bukan untuk berbuat kurang sopan.
Betapapun juga, dia meragu dan diguncangnya pundak gadis itu.
“Nona .......... nona .......... ! Sadarlah, nona .......... !”
Akan tetapi ketika dia mengguncang pundak, hanya kepala nona itu yang terkulai ke
kanan kiri dengan lemasnya, dan napas itu masih juga belum nampak bekerja ! Tentu saja Ci
Kong tidak tahu bahwa gadis ini sejak kecil telah dilatih dengan ilmu bermain di dalam air dan
telah mempelajari ilmu yang khusus untuk itu, ialah penghentian dan penahanan napas ! Berkat
latihannya, gadis itu dapat menahan napas sampai lama sekali di dalam air, hal yang tidak dapat
Pedang Naga Kemala > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com 281
dilakukan oleh dia sendiri sekalipun. Karena itulah, sejak tadi Kiki tidak bernapas. Tentu saja
bukan karena ia pingsan, melainkan karena kenakalannya untuk menggoda orang, juga untuk
melihat apa yang akan dilakukan penolongnya itu.
Ci Kong lalu menggunakan jari-jari tangannya yang kuat membikin putus tali temali itu
dan diam-diam Kiki terkejut dan kagum. Jari-jari tangannya telah membikin putus tali-tali tanpa
banyak kesukaran. Ia sendiri belum tentu dapat melakukan hal ini karena tali itu telah menjadi
ulet dan kuat sekali setelah terendam air. Ia menjadi semakin berhati-hati dan biarpun kini kaki
tangannya sudah bebas dan pemuda itu mengangkat badannya dengan menyorongkan lengan ke
bawah punggungnya, kemudian menarik tihang layar itu sehingga tubuhnya terletak di atas pasir
yang lunak dan hangat, ia masih pura-pura pingsan. Ia membiarkan jalan darah mengalir lancar
kembali di kaki dan lengan yang tadi terikat kuat dan masih menahan napasnya. Karena pemuda
petani itu telah membebaskan kaki tangannya, maka kecurigaannya berkurang. Makin yakin
hatinya bahwa pemuda ini memang tidak mempunyai niat buruk seperti penawannya semalam,
melainkan benar-benar hendak menolongnya belaka. Akan tetapi kenakalannya membuat ia
ingin terus menggoda penolongnya ini, hendak dilihatnya apa yang akan dilakukan penolong
yang lihai ini kalau melihat ia pingsan dan tidak bernapas lagi.
“Maaf, aku terpaksa harus melakukan ini untuk menolongmu, nona,” tiba-tiba pemuda itu
berkata lirih dan kedua tangan yang kuat itu lalu memegang dagu dan memencet hidungnya dan
memaksa mulutnya terbuka, kemudian tiba-tiba Kiki merasa betapa mulutnya tertutup oleh
sebuah mulut lain.
“Ihhh .......... dessss .......... !” Tubuh Ci Kong terlempar ke atas dan terbanting jatuh ke
atas pasir ketika tiba-tiba Kiki menendang dan mendorong dadanya dengan kekuatan yang amat
dahsyat.
“Ehhh .......... ahhhh .......... ?” Ci Kong yang sama sekali tidak menduga hal itu dapat
terjadi, tidak dapat menghindarkan dirinya yang ditendang dan didorong sedemikian kerasnya.
Ketika tubuhnya terlempar ke atas kemudian terbanting, dia masih bengong dan kini matanya
terbelalak memandang kepada Kiki dan dia terbatuk-batuk keras karena tendangan pada dadanya
tadi sungguh amat keras. Kalau bukan dia yang memiliki tubuh kuat terlatih, tentu akan roboh
tewas atau setidaknya akan terluka parah.
Kiki sudah meloncat berdiri setelah tadi menendang dan mendorong tubuh Ci Kong. Ia
mengalami guncangan batin yang hebat ketika tiba-tiba merasa pemuda itu menempelkan mulut
ke mulutnya. Teringatlah ia akan semua pengalamannya ketika penawannya semalam
menggelutinya dan menciuminya, juga penawannya itu mencium mulutnya secara menjijikkan
sekali. Kini, otomatis ia menggunakan lengan bajunya untuk menggosok-gosok bibirnya, seolaholah
hendak menghapus bekas sentuhan bibir Ci Kong juga sekaligus menghapus semua ciuman
yang dilakukan oleh penawannya semalam. Mukanya menjadi merah, sepasang matanya
mengeluarkan sinar berapi ditujukan kepada Ci Kong dengan penuh kebencian.
“Apa .......... apa yang kaulakukan tadi, nona .......... ?” Ci Kong masih kebingungan,
karena terkejut dan juga karena kesakitan.
Pedang Naga Kemala > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com 282
“Membunuh manusia macam kamu .......... !” Kiki sudah menerjang dengan penuh
kemarahan dan kebencian. “Semua laki-laki sama ! Kurang ajar, hanya ingin mempermainkan
dan memperkosa wanita ! Semua laki-laki harus dibunuhnya !
Terjangan itu merupakan pukulan disusul tendangan yang dahsyat sekali. Karena Ci
Kong masih belum percaya bahwa gadis yang telah diselamatkan nyawanya itu benar-benar akan
menyerangnya, maka diapun masih lengah dan tidak membela diri dengan sungguh-sungguh.
Akibatnya, biarpun dia dapat menghindarkan pukulan, tendangan itu tetap saja singgah di
perutnya.
“Dukkk .......... !” Kembali dia terjengkang dan terbanting ke atas pasir. Untung pasir itu
lunak dan dia sudah bersiap dengan melindungi perutnya menggunakan tenaga dalam sehingga
dia hanya terjengkang dan terbanting saja, tidak menderita luka parah. Akan tetapi sebelum dia
sempat bangkit, gadis itu seperti harimau betina saja sudah menyerbu lagi dengan tendangantendangan
berikutnya yang ditujukan ke arah kepalanya. Barulah Ci Kong terkejut setengah mati
karena tendangan-tendangan ini adalah tendangan-tendangan maut yang dapat membunuh orang.
Cepat dia menggerakkan tubuhnya bergulingan lalu meloncat berdiri. Ketika gadis itu menyerbu
dengan pukulan kedua tangan secara cepat dan bergantian. Ci Kong mengangkat kedua
tangannya dan menangkis.
“Dukk ! Plakk !” Dua kali dia menangkis dan tahulah dia bahwa gadis inipun, seperti
orang yang menyerangnya semalam, memiliki tenaga sinkang yang kuat, gerakan-gerakan yang
cepat dan serangan-serangan yang amat ganas. Jelaslah bahwa gadis ini tidak main-main karena
semua serangannya merupakan serangan maut ! Dia merasa penasaran sekali dan tubuhnya
sudah mencelat ke belakang ketika Kiki kembali menerjangnya.
“Tahan dulu, nona. Kalau engkau memang ingin membunuhku, setidaknya katakanlah
padaku apa kesalahanku padamu. Jangan membuat aku mati penasaran.”
Mendengar suara yang lembut dan sopan ini, teringatlah Kiki bahwa pemuda ini mungkin
tidak bermaksud berbuat tidak sopan, karena bukankah tadi pemuda itu mengatakan bahwa dia
terpaksa melakukannya untuk menolongnya ? Menempelkan mulut mereka ! Ia bergidik.
“Engkau kurang ajar, engkau tiada bedanya dengan penjahat semalam. Engkau hendak
berbuat hina dengan ………. men ………. mencium mulutku ………. !” Akhirnya ia berkata,
mukanya berobah merah.
Muka Ci Kong juga berobah merah sekali dan diapun menunduk, menarik napas panjang.
Celaka, pikirnya, kiranya ketika dia melakukan usaha meniupkan napas ke paru-paru gadis itu
melalui mulutnya, gadis itu sudah siuman dan melihatnya !
“Maaf, nona. Memang aku melakukan itu, akan tetapi bukan untuk berbuat kurang ajar,
melainkan untuk menolongmu. Engkau pingsan, dan paru-parumu tidak bekerja, napasmu
berhenti. Aku ingin meniupkan napas ke paru-parumu agar bekerja kembali. Dan jalan satusatunya
hanyalah meniupkan melalui mulut dan ..........”
“Bohong ! Aku tidak pingsan ! Paru-paruku tidak macet !”
Pedang Naga Kemala > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com 283
“Ehh .......... ?” Kini Ci Kong memandang dengan mata terbelalak, kemudian mukanya
menjadi semakin merah. “Kiranya selama itu engkau tidak pingsan ? Ahhhh, kalau begitu
engkau sungguh jahat sekali, nona. Aku mati-matian berusaha menolongmu, menyelamatkanmu,
dan kau .......... kau malah mempermainkan aku ? Pura-pura pingsan, menahan napas .......... aihh,
betapa jahatnya engkau. Aku hampir mati melawan penjahat yang agaknya menawanmu ..........
kemudian aku hampir mati untuk kedua kalinya ketika aku mati-matian melawan ombak
menyeret balok itu ke pantai .......... heiiii ! Agaknya engkau pula yang punya ulah sehingga
balok itu mampu bergerak ke sana ke sini menjauhiku, dan begitu berat ketika kuseret ke tepi
sehingga aku kehabisan tenaga ?” Kini pemuda itu memandang penuh perhatian dan penuh
selidik.
Kiki yang berwatak nakal itu tersenyum mengejek. “Engkau memang tolol ! Tapi
agaknya engkau jujur. Benarkah kau ………. Kau tidak bermaksud kurang ajar ketika engkau
tadi menempelkan mulutmu ke mulutku ?”
Ci Kong menggeleng kepala dengan keras. “Aku bukan manusia macam itu, nona !
Kalau tidak melihat engkau pingsan, atau pura-pura pingsan, dan melihat betapa napasmu
berhenti, mana mungkin aku berani melakukan hal itu ?”
“Benar-benar kau tidak sengaja menciumku karena kurang ajar ?”
“Tidak !”
“Berani sumpah ?”
Ci Kong melongo. “Sumpah .......... ?”
“Ya, bersumpahlah bahwa engkau tadi tidak bermaksud mencium aku untuk kurang ajar.
Engkau harus bersumpah demi nama baik orang tuamu, menyebutkan namamu dan nama orang
tuamu, baru aku mau percaya !”
Akan tetapi Ci Kong menggeleng kepala dan wajahnya dibayangi kedukaan. “Tidak
mungkin, nona ..........”
Kiki mengerutkan alisnya, matanya menyinarkan api kemarahan lagi. “Kenapa tidak
mungkin ? Berarti kau benar-benar telah ..........”
“Tidak mungkin karena ayah ibuku telah lama meninggal dunia.”
“Ahh .......... !” Jawaban ini sama sekali tidak disangka-sangka Kiki dan sinar matanya
kehilangan api kemarahannya, bahkan ada sinar kasihan membayang di wajahnya yang manis.
“Baiklah, kalau begitu bersumpahlah demi nama baik gurumu dengan menyebut namamu dan
nama gurumu.” Gadis itu teringat bahwa pemuda ini lihai, tentu murid seorang sakti maka tak
mungkin berani mempermainkan nama gurunya dan tidak berani berbohong.
Pedang Naga Kemala > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com 284
“Nona, selama hidupku aku belum pernah bersumpah kecuali ketika menjadi murid suhu,
bagaimana untuk urusan begini saja aku harus bersumpah. Untuk apakah ? Bagaimana kalau
aku bersumpah tanpa menyebut nama suhu segala ?”
“Aku takkan percaya ! Kalau engkau berani bersumpah demi nama gurumu, barulah aku
mau percaya.”
“Kalau aku tidak mau ?”
“Aku tidak percaya dan berarti engkau bohong dan aku akan menyerangmu lagi, biar kita
putuskan urusan ini dengan taruhan nyawa. Satu di antara kita akan menggeletak mati di sini !”
Terpaksa Ci Kong tersenyum sedih. Dia sungguh tidak mengerti watak wanita. Pernah
dia menyelamatkan seorang gadis dari kematian, yaitu ketika dia menolong Ciu Kui Eng, akan
tetapi gadis itupun segera menyerangnya mati-matian. Dan sekarang, dia mati-matian menolong
gadis ini, hanya untuk menghadapi sikap yang aneh, bukan hanya memusuhinya, bahkan
memaksa dia bersumpah segala dengan ancaman kalau dia menolak, dia akan diajak berkelahi
sampai seorang di antara mereka mati. Adakah yang lebih aneh dan gila dari pada ini ? Sejenak
dia menatap wajah itu, mempelajarinya dan seperti ingin menjenguk isi hati gadis yang berwajah
manis ini. Akan tetapi segera pandang matanya melekat pada wajah itu, terutama kemanisan
pada mulut yang dihias tahi lalat di pipi itu membuat dia sukar mengalihkan pandang matanya,
membuat matanya terus memandang tanpa kedip.
“Heii ! Kenapa kau tidak cepat bersumpah malah bengong memandang aku ?” bentak
Kiki dan Ci Kong terkejut. Wajahnya kembali menjadi kemerahan.
“Baiklah, baiklah ..........” Dia mengalah agar cepat selesai berurusan dengan gadis luar
biasa ini. “Aku Tan Ci Kong ……….”
“Ah, jadi namamu Ci Kong dan kau she Tan ?”
Ci Kong mengangguk dan mengulang sumpahnya. “Aku Tan Ci Kong, bersumpah demi
nama suhu Nam San Losu ..........”
“Gurumu itu bernama Nam San Losu, apakah kedudukannya di tempat perguruanmu ?”
Ci Kong mengerutkan alisnya melihat kecerewetan gadis itu, akan tetapi dia menjawab
juga. “Suhu Nam San Losu seorang ketua kuil,” lalu dia melanjutkan dengan mengulang
kembali sumpahnya, “Aku, Tan Ci Kong, bersumpah demi nama suhu Nam San Losu dan para
suhu di Siauw-lim-pai ..........”
“Aih, jadi engkau murid Siauw-lim-pai ? Pantas engkau lihai ! Menurut kata ayah, tokoh
Siauw-lim-pai yang paling lihai pada saat ini adalah Siauw-bin-hud. Apamukah Siauw-bin-hud
itu ?”
Ci Kong menjadi jengkel, akan tetapi ditahannya pula. “Beliau adalah kakek guruku.”
Pedang Naga Kemala > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com 285
“Hanya kakek guru ? Jadi engkau hanya cucu muridnya ? Ah, kalau begitu, untung
engkau tadi tidak jadi berkelahi dengan aku.”
“kenapa ?”
“Kalau dilanjutkan, tentu engkau akan mati di tanganku. Menurut ayah, kepandaian
Siauw-bin-hud itu setingkat dengan ayahku. Aku puteri ayah, berarti muridnya, kepandaianku
setingkat lebih rendah dari ayah. Engkau hanya cucu murid Siauw-bin-hud, kepandaianmu tentu
dua tingkat lebih rendah, jadi aku setingkat lebih tinggi daripada engkau. Maka, kalau kita
berkelahi, engkau tentu akan mati. Eh, kenapa engkau belum juga bersumpah ? Apa ingin
berkelahi saja ?” Agaknya mendengar bahwa pemuda itu hanya cucu murid Siauw-bin-hud, hati
Kiki menjadi besar dan memandang rendah.
Ci Kong menjadi gemas bukan main. Ingin rasanya dia membanting topi kalau saja saat
itu ada topi di atas kepalanya.
“Nona, sampai setahun di sinipun aku tidak akan dapat bersumpah kalau engkau terus
memotong-motong omonganku ! Kalau memang engkau ingin aku bersumpah, tutup dulu
mulutmu !”
Ci Kong sudah merasa menyesal karena kemarahannya membuat dia mengeluarkan katakata
kasar, dan dia tidak akan heran kalau gadis itu menjadi marah-marah oleh kekerasannya.
Akan tetapi kembali dia melongo saking herannya. Gadis itu sama sekali tidak marah oleh
kekasarannya, bahkan tersenyum demikian manisnya. Dia tidak tahu bahwa sejak kecil Kiki
hidup di lingkungan yang kasar dan terbiasa oleh kekerasan, maka bahasa kasar yang dikeluarkan
Ci Kong bahkan merupakan bahasa yang amat dikenalnya, sebaliknya sikap halus sopan malah
membuat ia tak senang dan curiga.
“Baik, baik, bersumpahlah, Tan Ci Kong, aku yang salah tadi.” kata Kiki sambil
terkekeh.
Dengan hati masih mendongkol, Gi Kong terpaksa mengulang kembali sumpahnya.
“Aku, Tan Ci Kong, bersumpah demi nama baik suhu Nam San Losu dan para suhu di Siauwlim-
pai ……….”
“Termasuk Siauw-bin-hud ………. !” Kiki memotong lagi dan Ci Kong mengangkat
telunjuknya memperingatkan, tidak memperdulikan ucapan Kiki dan melanjutkan saja, “aku
bersumpah bahwa tadi aku sama sekali tidak mempunyai niat buruk terhadap nona .......... eh,
nona yang berdiri di depanku ini dan aku hanya bermaksud untuk meniupkan napas ke paruparunya
untuk menyelamatkan nyawanya !”
“Apa-apaan itu sumpah tanpa menyebut namaku ? Masa hanya nona yang berdiri di
depanku ?” Kiki mencela.
“Habis aku belum tahu namamu, disuruh menyebut apa ?”
“Namaku Kiki !”
Pedang Naga Kemala > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com 286
“Hemm, nama apa itu ?” Ci Kong mengerutkan alisnya, merasa dipermainkan lagi.
“Kau tidak percaya ? Namaku Tang Ki dan semua orang memanggilku Kiki.”
“Ah, kau she Tang ? Hemm, apakah ada hubunganmu barangkali dengan Tang Kok Bu
yang berjuluk Hai-tok ?”
Sepasang mata yang indah jeli itu terbelalak. “Ah, kau sudah mengenal nama ayahku ?”
“Ayahmu ..........?” Ci Kong benar-benar terkejut setengah mati. Dia berhadapan dengan
puteri Hai-tok, seorang datuk iblis, seorang di antara Empat Racun Dunia yang amat jahat !
“Ya, kenapa kau kaget ?”
“Pantas .......... !”
“Pantas apa ? Jangan bicara seperti teka-teki. Hayo katakan, pantas bagaimana ?” Kiki
berdiri dengan kedua tangan bertolak pinggang, sikapnya menantang sekali. Bajunya robek sanasini,
basah kuyup melekat pada kulit tubuhnya, dan karena ia berdiri menantang dan
membusungkan dada seperti itu, tubuhnya nampak indah menggairahkan, tubuh seorang gadis
dewasa yang bagaikan bunga sedang mulai mekar, penuh dengan lekuk lengkung yang indah,
tubuh yang penuh dan mulai masak. Ci Kong adalah seorang pemuda yang sejak kecil dididik
kesopanan. Biarpun dia terpesona dan sejenak matanya melekat pada tubuh itu, namun dia cepat
menundukkan pandang matanya. Namun, pandang mata yang sekilas itu cukup sudah untuk
memancing senyum kemenangan pada bibir Kiki. Sejak peristiwa yang amat mengerikan di
perahu semalam, ia telah menjadi dewasa benar dan telah sadar sepenuhnya akan daya tarik pada
tubuhnya, sadar bahwa kaum pria kagum kepada wajahnya, kepada tubuhnya.
Tadi dalam kagetnya, ingin sekali Ci Kong mengatakan “pantas engkau sejahat ini !”
akan tetapi setelah dia secara tak disengaja mengagumi keindahan tubuh Kiki, ingin dia berkata,
“Pantas engkau begini cantik !” dan kini dia menahan semua keinginan itu dan berkata, “Pantas
engkau demikian lihai.”
Menerima pujian ini, Kiki nampak senang. Ia seorang anak manja, maka pujian-pujian
amat menyenangkan hatinya, apa lagi pujian itu keluar dari mulut pemuda yang baru dikenalnya
dan yang ternyata amat menarik hatinya ini. Tanpa malu-malu kini Kiki memandangi tubuh Ci
Kong, tubuh yang nampak tegap dan kuat, sebagian dada yang nampak karena bajunya terbuka
dan robek di bagian pundak, juga karena pakaian itu basah kuyup, maka pakaian itu melekat pada
kulit tubuh Ci Kong, membuat tubuhnya nampak jelas lekuk lekungnya.
Melihat betapa gadis itu memandanginya, Ci Kong terpaksa memandang juga tubuh gadis
itu. Dia merasa tidak enak dipandangi seperti itu dan untuk mengalihkan perhatian, dia berkata,
“Pakaianmu basah kuyup, engkau tentu kedinginan, nona.”
“Hemm, sama saja. Engkau juga !”
Pedang Naga Kemala > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com 287
“Tapi aku tidak kehilangan sepatuku dan kau ..........” Ci Kong melihat ke arah sepasang
kaki yang tidak bersepatu itu, kaki yang mungil, kecil dan putih kemerahan. Jantungnya tergetar
dan kembali dia memaksa pandang matanya untuk lari dari kaki itu.
Kiki meloncorkan kakinya bergantian. “Sialan ! Dan aku tidak punya sepatu lain, juga
semua buntalan pakaianku lenyap. Gara-gara si keparat jahanam itu ! Hemm, siapa dia ?
Tahukah engkau ?”
Ci Kong menggeleng kepala. “Aku tidak tahu, nona.”
“Ci Kong, apa maksudmu dengan nona-nonaan ? Kau bukan anak buah ayahku. Kalau
anak buah ayahku harus menyebut siocia, akan tetapi kau bukan, maka kau tidak boleh menyebut
nona-nona segala membuat aku merasa canggung. Namaku Kiki, lupakah kau ?”
Ci Kong gelagapan. Belum pernah selamanya dia berdekatan dengan wanita, dan sekali
berdekatan, dia bertemu dengan seorang gadis yang begini aneh luar biasa ! “Baiklah, .......... Ki
.......... eh, Tang Ki .......... ehh ..........”
“Kiki !”
“Oya, Kiki.”
“Kau tidak mengenal orang itu ? Bagaimana rupanya ? Engkau tadi berkelahi dengan
dia, tentu engkau tahu bagaimana rupa orang itu. Aku hendak mencarinya dan kalau dapat
kutemukan, akan kurobek-robek mulutnya sampai hancur lebur, akan kucabut hidungnya dan
kuberikan kepada burung gagak, kulumatkan kepalanya .........., ku ..........”
“Aku tidak dapat melihat mukanya, non .......... eh, Kiki. Cuaca amat gelap,” potong Ci
Kong yang merasa ngeri mendengar ancaman-ancaman sadis itu.
“Sayang sekali ! Tapi tentu engkau dapat mengenal bagaimana bentuk tubuhnya, apa
pakaiannya dan bagaimana ciri-cirinya !”
Kembali Ci Kong menggeleng kepalanya. “Aku tidak tahu. Terlalu gelap dan
gerakannya terlalu cepat. Yang kuketahui hanya bahwa dia itu lihai sekali.”
Tiba-tiba gadis itu menghentakkan kakinya ke atas pasir. “Hayaaa, kiranya engkau ini
orang bodoh sekali, Ci Kong !”
Ci Kong terkejut lagi, tidak mengerti mengapa gadis itu tiba-tiba memakinya bodoh.
“Aku ………. bodoh ………. ?”
“Ya, bodoh sekali. Engkau hanya bilang tidak tahu, tidak tahu, kau bodoh sekali dan aku
paling benci sama orang bodoh !”
Ci Kong menghela napas panjang. “Apa boleh buat, memang aku bodoh. Akan tetapi
kalau engkau merasa dingin dan perlu mengganti pakaianmu untuk sementara agar engkau dapat
menjahit bagian yang robek dan dapat mencuci bersih lalu menjemurnya, aku masih mempunyai
Pedang Naga Kemala > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com 288
bekal pakaian untuk sementara kaupakai.” Berkata demikian, Ci Kong lalu mengambil buntalan
pakaiannya yang disimpan tak jauh dari situ.
Wajah Kiki nampak berseri gembira. “Ah, bagus sekali, Ci Kong. Memang pakaianku
ini perlu dicuci, dijemur dan dijahit. Wah, pakaianmu semua begini sederhana, seperti pakaian
petani gunung. Pantasnya engkau dahulu menjadi hwesio Siauw-lim-si saja,” kata Kiki sambil
memilih-milih satu stel pakaian.
Ci Kong tersenyum. Dalam keadaan biasa seperti itu, harus diakuinya bahwa Kiki
merupakan seorang gadis yang lincah jenaka dan gembira. “Memang aku nyaris menjadi hwesio,
Kiki. Nah, kauganti pakaianmu, biar aku bersembunyi dulu.” Pemuda itu hendak melangkah
pergi.
“Jangan pergi !” tiba-tiba Kiki membentak. “Kaukira aku dapat kautipu ? Nah, berdiri
saja di situ, akan tetapi engkau harus membelakangi aku. Awas, jangan berbalik sebelum aku
mengatakan selesai !”
Ci Kong tertegun, akan tetapi menahan senyum dan berdiri di tempatnya dan
membalikkan punggung membelakangi gadis aneh itu. Kiki lalu menanggalkan semua
pakaiannya yang basah kuyup, terus mengintai ke arah Ci Kong tanpa kedip, dan tergesa-gesa
mengenakan pakaian Ci Kong yang sederhana itu. Tentu saja terlalu besar dan kedodoran, akan
tetapi bagaimanapun juga pakaian itu menutupi seluruh tubuhnya dan ia merasa hangat oleh
pakaian kering itu.
“Sudah selesai, kau boleh berbalik.”
Ci Kong berbalik dan sudah menahan diri agar tidak ketawa. Akan tetapi dia memang
tidak perlu tertawa. Gadis itu dalam pakaian yang kebesaran tidak nampak menggelikan, bahkan
nampak makin manis saja !
“Kiki, kenapa tadi kau bilang bahwa aku hendak menipumu ?” Ci Kong yang merasa
penasaran menuntut keterangan.
“Semua laki-laki sama saja ! Genit dan ceriwis ! Pernah ada dua orang anak buah ayah
kuhajar sampai hampir mampus karena mereka itu mengintai ketika aku mandi. Laki-laki paling
suka mengintai wanita mandi atau tukar pakaian, dan kaupun seorang laki-laki. Kau bilang mau
pergi, siapa tahu engkau hanya sembunyi agar dapat mengintai aku selagi aku bertukar pakaian ?”
Hampir saja Ci Kong marah oleh tuduhan ini kalau dia tidak ingat bahwa gadis ini
memang berwatak aneh, kekanak-kanakan dan kolokan sekali. Maka dia hanya tersenyum.
“Aku bukan laki-laki semacam itu, Kiki. Nah, sekarang aku yang mau berganti pakaian.” Tanpa
berkata apa-apa lagi dia lalu pergi ke belakang batu-batu karang besar dan di sana dia berganti
pakaian kering.
Ketika dia kembali, Kiki nampak cemberut. “Eh, kau mengapa ?” Ci Kong bertanya.
Pedang Naga Kemala > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com 289
“Kau memang bodoh. Aku bisa mencuci dan menjemur pakaianku ini, akan tetapi
bagaimana dapat menjahit yang robek ?”
Ci Kong tersenyum. Disebut bodoh berkali-kali baginya kini tidak terasa seperti
penghinaan, bahkan seperti kelakar saja, seperti kelakar sayang antara sahabat ! “Mungkin aku
bodoh, akan tetapi kalau engkau butuh jarum dan benang, inilah !” Ci Kong mengeluarkan jarum
yang sudah ada benangnya cukup panjang dan menyerahkan benda itu kepada Kiki. Dia memang
selalu membawa bekal jarum dan benang dalam buntalan pakaiannya. Kiki menerima benda itu
dan agaknya lupa bahwa ia sudah mengatakan bodoh kepada Ci Kong, kini ia asyik mencoba
untuk menjahit bagian pakaiannya yang robek. Akan tetapi Kiki adalah puteri tunggal Hai-tok
Tang Kok Bu yang kaya raya. Sejak kecil ia dimanja dan dikelilingi pelayan-pelayan yang
mengerjakan segala pekerjaan, mana ia pernah berkenalan dan menjamah jarum dan benang ?
Baru beberapa tusukan saja, tiba-tiba ia menjerit dan ibu jari tangan kirinya berdarah karena
tertusuk jarum.
Diam-diam Ci Kong merasa geli, akan tetapi dia tidak berani mentertawakan, hanya
mendekati dan berkata, “Biarkan aku yang menjahitkan bajumu yang robek itu, Kiki. Aku sudah
biasa menjahit.” Tanpa berkata apa-apa Kiki menyerahkan bajunya dan Ci Kong lalu mulai
menjahit bagian yang terobek dengan rapinya. Kiki menghisap sedikit darah dari ibu jari yang
tertusuk jarum tadi, kemudian nonton pemuda itu menjahit dengan pandang mata kagum. Akan
tetapi ia hanya pandai mencela, tidak pandai memuji sama sekali.
Setelah bajunya selesai dijahit, gadis itu lalu diajak oleh Ci Kong menuju ke sebuah
sumber air yang berada di lereng bukit kecil dekat pantai untuk mencuci pakaiannya. Sambil
menanti pakaiannya kering, mereka duduk bercakap-cakap di bawah pohon sambil berteduh dari
serangan panas matahari yang sudah naik tinggi. Kiki tidak menolak ketika Ci Kong
menawarkan roti kering dan dendeng, dimakan sedikit-sedikit sambil didorong teh cair yang
dibuat Ci Kong pagi tadi.
“Engkau tidak mungkin melanjutkan perjalanan dengan kaki telanjang, Kiki.
Kaupakailah sepatuku. Lumayan untuk sementara dapat melindungi kakimu.”
“Sepatumu itu terlalu besar, mana bisa kupakai ?”
“Mudah saja, dapat diganjal rumput kering. Nih, cobalah, kucarikan pengganjalnya.”
Biarpun nampak lucu karena sepatu itu kebesaran, dapat juga dipakai oleh Kiki dan tak
lama kemudian pakaiannya juga sudah kering. Kini ia berganti pakaian di belakang batu-batu
karang seperti yang dilakukan Ci Kong tadi tanpa banyak rewel sehingga diam-diam hati Ci
Kong merasa girang. Setelah gadis itu muncul dari balik batu, memakai pakaiannya sendiri dan
mengembalikan pakaian Ci Kong, gadis itu tersenyum gembira. Hanya sepatunya yang lucu,
akan tetapi ia nampak cantik walaupun mukanya tidak dirias dan rambutnya masih awut-awutan.
“Sekarang aku akan pergi,” katanya.
Diam-diam Ci Kong terkejut dan dia merasa heran bukan main mengapa hatinya terasa
tiba-tiba kosong dan kesepian mendengar betapa gadis ini mau pergi meninggalkannya. Akan
tetapi dia menekan perasaan ini dan mengangguk.
Pedang Naga Kemala > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com 290
“Harap engkau berhati-hati di dalam perjalanan, Kiki. Banyak orang jahat berkeliaran.”
Akan tetapi dia merasa menyesal mengeluarkan ucapan ini tanpa ingat bahwa yang diberi nasihat
itu adalah puteri seorang datuk iblis, seorang tokoh kaum sesat !
Kiki terkekeh. “Aku sendiri puteri seorang datuk, masa takut terhadap orang jahat ?
Yang kutakuti adalah orang-orang yang pura-pura dan yang menyerangku dari dalam gelap.” Ia
bergidik teringat penjahat di dalam perahu semalam.
“Kau hendak pergi ke manakah ?” Ci Kong tak dapat menahan hatinya bertanya.
“Aku hendak merantau .......... eh, baru aku ingat. Engkau begini lihai, tentu engkau
banyak mengenal tokoh kang-ouw, bukan ? Ci Kong, apa engkau mengenal seorang bernama
Koan Jit, murid pertama dari Thian-tok ?”
Ci Kong terkejut, dan baru dia teringat bahwa gadis ini puteri Hai-tok, tentu saja
mengenal Thian-tok dan murid-muridnya. Akan tetapi dia menekan perasaannya yang menegang
dan menjawab, “Aku pernah mendengar namanya. Apakah engkau mengenal dia, Kiki ? Dan
mau apa engkau mencari dia ? Kabarnya dia itu lihai dan berbahaya sekali.”
Dan kini Ci Kong mendengar jawaban yang membuat dia kembali bengong. “Aku cari
dia karena dia telah melarikan pusaka Giok-liong-kiam. Ayah menyuruh aku mencarinya dan
minta pusaka itu dari tangannya.”
“Kalau dia tidak menyerahkan ?”
“Hemm, akan kujewer telinganya dan kuhajar dia sampai kapok dan kurampas pusaka
itu.”
Hampir saja Ci Kong tertawa. Dia tidak percaya kalau Hai-tok yang menyuruh gadis ini
pergi sendiri saja mencari Koan Jit. Seorang gadis yang masih begini mentah, yang seolah-olah
seekor burung yang baru belajar terbang, tidak tahu tingginya langit dalamnya lautan luasnya
bumi, disuruh mencari Koan Jit dan merampas Giok-liong-kiam ? Akan tetapi tentu saja dia
tidak mau mengejek.
“Kiki, hati-hatilah. Seluruh tokoh kang-ouw mencari-cari Koan Jit itu dan semua orang
pandai siap memperebutkan pusaka Giok-liong-kiam. Engkau baru berjumpa dengan aku saja
sudah berani membicarakan urusan pusaka itu. Kalau orang lain yang mendengarnya, engkau
bisa celaka.”
“Aihhh, kaukira aku anak kecil ? Kalau aku bicara terus terang denganmu, itu karena aku
percaya padamu, tahu bahwa engkau seorang baik, apa lagi engkau murid Siauw-lim-pai
walaupun murid tingkat rendahan saja. Sudahlah, katakan saja apakah kau tahu di mana dia
berada ?”
“Hek-eng-mo Koan Jit ? Aku tidak tahu, Kiki, sungguh aku sendiri tidak tahu ..........” Ci
Kong termenung karena dia sendiripun tidak pernah berhasil mencari tokoh itu. Dia sendiripun
Pedang Naga Kemala > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com 291
ingin dapat menemukan tokoh itu dan mencoba untuk merampas kembali pusaka Giok-liongkiam
untuk membersihkan nama Siauw-bin-hud.
“Sudahlah, mana kau tahu ? Biar aku cari sendiri. Nah, selamat berpisah, Ci Kong,
engkau baik sekali, lain waktu kita bertemu kembali,” kata Kiki dan gadis ini sudah
membalikkan tubuhnya lalu berjalan pergi. Akan tetapi baru beberapa langkah, ia seperti teringat
akan sesuatu dan berhenti, lalu berbalik.
“CI Kong, engkau sudah bersumpah. Jadi benar engkau tidak menciumku, melainkan
hendak meniupkan napas ke dalam paru-paruku yang kaukira macet ?”
Tentu saja Ci Kong terheran, akan tetapi dia mengangguk. “Benar.”
“Jadi engkau tidak ingin mencium aku, Ci Kong ?”
Sepasang mata pemuda itu terbelalak. “Ah, Kiki .........., itu .......... itu .......... tidak sopan
namanya. Kita baru saja bertemu, mana aku berani melakukan perbuatan yang melanggar tata
susila itu ?”
Kiki tersenyum, akan tetapi sepasang matanya memandang penuh selidik dan Ci Kong
merasa seolah-olah sinar mata gadis itu dapat menembus ke dalam ruang dadanya dan melongok,
mengintai isi hatinya.
“Andaikata kita sudah berkenalan lama, kita sudah menjadi sahabat, apakah engkau tidak
ingin mencium aku, Ci Kong ?”
Tentu saja pertanyaan ini seolah-olah sebatang pedang yang ditodongkan di depan hidung
pemuda itu. Dan dia tidak mau menjawab, bahkan masih bengong saking kaget dan herannya.
“Aku .......... aku .......... ah, aku tidak tahu ..........”
Gadis itu mengerutkan alisnya. Jawaban ini mengesalkan hatinya. Entah bagaimana, ia
merasa bahwa andaikata Ci Kong menciumnya, seperti yang dilakukan penjahat dalam perahu,
mencium dengan lembut bukan paksaan, agaknya .......... ia tidak akan menolak dan akan merasa
senang sekali. Akan tetapi tentu saja, Ci Kong tidak tahu !
“Tentu saja engkau tidak tahu, memang kau bodoh ! Sudah kuketahui itu sejak tadi.”
Dan gadis itu lalu membalikkan tubuhnya dan melangkah pergi, hatinya kecewa dan
mendongkol, kakinya agak terpincang-pincang karena sepatu yang diganjal itu sungguh tidak
enak rasanya, sama tidak enaknya dengan perasaan hatinya.
Sejenak Ci Kong bengong mengikuti tubuh Kiki dengan pandang matanya, lalu dia
menjatuhkan diri duduk di atas rumput, memegangi kepala dengan kedua tangan. “Memang aku
bodoh .......... !” Dan ini bukan pura-pura. Dia merasa benar-benar bodoh dan tidak mengerti
sama sekali akan sikap Kiki !
Setelah gadis itu tidak nampak bayangannya lagi, Ci Kong membayangkan wajah Kiki
dan juga wajah Kui Eng. Ketika dia berjumpa dengan Kui Eng, diapun dibikin bingung dan tidak
Pedang Naga Kemala > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com 292
mengerti akan sikap gadis itu. Kini, bertemu dengan Kiki, dia menjadi semakin bingung. Betapa
anehnya dan luar biasanya mahluk yang disebut wanita itu. Aneh, luar biasa, berbahaya, dan
amat menarik hati ! Dulu diapun tertarik sekali kepada Kui Eng, dan sekarang dia lebih tertarik
lagi kepada Kiki, dengan wataknya yang angin-anginan, kekanak-kanakan, keminter, dan ..........
mengguncangkan kalbu itu.
Ci Kong lalu menggeleng kepala dan menjambak rambut sendiri. “Ihh, mengapa engkau
menjadi begini mata keranjang, heh ?” Dan dengan kekuatan batinnya, diguncangnya dua
bayangan wajah gadis itu sehingga buyar dan tak lama kemudian diapun meninggalkan tempat itu
dengan kaki telanjang !
***
Sesuai dengan petunjuk yang diterima suhunya, Lian Hong menyelidiki jejak Koan Jit di
selatan, karena perjalanannya itu membawanya ke daerah Kanton, maka timbul keinginan hatinya
untuk menjenguk makam ayah ibunya di luar kota Tung-kang, di sebuah tanah kuburan umum
untuk orang-orang dusun yang sederhana. Kuburan ini memang berada di tempat sunyi di luar
kota, di mana terdapat daerah perbukitan batu yang tandus dan banyak terdapat guha-guha di situ,
disebut guha kelelawar karena di situ terdapat banyak kelelawar sehingga tempatnya menjadi
kotor menyeramkan. Jarang ada orang suka mendatangi tempat ini, kecuali mereka yang
mengunjungi kuburan nenek moyang pada waktu-waktu tertentu. Perbukitan tandus itupun
jarang didatangi orang karena tidak ada pohon, tidak ada kayu, yang ada hanya batu-batu besar.
Daerah yang amat tandus dan mati.
Dalam perjalanannya yang lalu ketika ia mencari jejak Koan Jit, ia pernah datang ke
makam orang tuanya dan telah ditemukannya makam itu menurut petunjuk penduduk Tung-kang.
Oleh karena itu, kini ia langsung saja pergi ke tanah kuburan itu walaupun hari telah menjelang
senja. Bahkan ia mengambil keputusan untuk bermalam di kuburan orang tuanya malam itu.
Akan tetapi, baru saja ia tiba di luar pagar tanah kuburan, ia berhenti melangkah, bahkan
cepat menyelinap di antara nisan-nisan yang di tembok tinggi itu, karena ia melihat ada seorang
gadis sendirian sedang berlutut di depan makam ayah ibunya ! Tentu saja ia merasa terkejut dan
heran sekali. Setahunya, ayah ibunya tidak mempunyai sanak keluarga kecuali dirinya. Siapakah
gadis itu ? Dan mengapa pula gadis itu memberi penghormatan kepada makam ayah bundanya ?
Karena merasa curiga, Lian Hong segera menyelinap dan menyusup-nyusup mendekat sambil
bersembunyi, lalu mengintai dan mendengarkan dengan penuh perhatian.
Gadis itu cantik sekali dan sebaya dengan ia sendiri. Wajahnya manis sekali dengan
sepasang mata yang tajam dan jeli seperti bintang kejora. Akan tetapi melihat sikapnya Lian
Hong dapat menduga bahwa agaknya gadis ini bukan seorang gadis yang lemah. Yang membuat
ia keheranan adalah ketika ia mendengar kata-kata bisikan yang keluar dari mulut gadis itu.
“Ji-wi tentu tidak mengenal aku,” demikian gadis cantik itu berbisik, seolah-olah sedang
bicara kepada ayah bunda Lian Hong yang terus mengintai, “akan tetapi aku tahu bahwa ji-wi
adalah guru silat Siauw Teng dan isterinya yang dulu tinggal di Tung-kang dan yang tewas
karena perbuatan jahat mendiang ayahku Ciu Lok Tai. Ayah dan seluruh keluarganya telah
binasa, oleh karena itu aku, Ciu Kui Eng, sebagai anak tunggalnya, sengaja mendatangi kuburan
Pedang Naga Kemala > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com 293
para korbannya untuk mintakan ampun bagi ayah agar arwahnya tidak terlalu tersiksa di alam
baka.”
Mendengar bisikan ini, hati Lian Hong merasa terharu. Ah, kiranya inilah puteri Ciu Lok
Tai hartawan yang dulu menjadi penyebab kematian ayah bundanya ! Puterinya yang kabarnya
memiliki kepandaian tinggi itu. Dan kini, puteri hartawan itu mintakan ampun untuk dosa-dosa
mendiang ayahnya kepada para korban ayahnya. Melihat ini saja sudah mendatangkan perasaan
suka dan kasihan dalam hati Lian Hong. Tidak, ia tidak akan memusuhi gadis ini, biarpun
tadinya memang ia mengandung maksud untuk menegur dan meminta pertanggungan jawab
puteri keluarga Ciu atas dosa yang dilakukan Ciu Lok Tai terhadap orang tuanya. Gadis ini tidak
tahu apa-apa dan ketika perbuatan keji ayahnya berlangsung, tentu gadis ini masih kecil, sama
dengan ia. Gadis ini tidak tahu apa-apa dan tidak adillah kalau gadis ini harus
mempertanggungjawabkan perbuatan jahat ayahnya. Melihat kini Kui Eng minta ampun untuk
ayahnya di depan kuburan itu, terhapuslah sudah semua ganjalan hati Lian Hong. Ia tidak lagi
menganggap keluarga yang tinggal satu-satunya ini sebagai musuh dan musuhnya hanya tinggal
dua nama lagi, yaitu Gan Ki Bin dan Lok Hun !
Sudah timbul keinginan hatinya untuk keluar dari tempat persembunyiannya, untuk
memperkenalkan diri dan mengikat persahabatan dengan gadis cantik itu ketika tiba-tiba ia
tertarik melihat berkelebatnya bayangan orang di seberang. Kemudian terdengar suara ketawa
dan tahu-tahu telah meloncat seorang laki-laki di dekat Ciu Kui Eng yang juga terkejut dan gadis
itu sudah meloncat bangun menghadapi laki-laki itu. Lian Hong tetap bersembunyi dan
menonton dengan hati tegang. Melihat kemunculan laki-laki itu, Lian Hong dapat menduga
bahwa laki-laki itu tentu seorang yang memiliki ilmu kepandaian tinggi sekali. Ia tadi hanya
melihat bayangan saja berkelebat dan tahu-tahu laki-laki itu telah berada di dekat Kui Eng.
Laki-laki itu bertubuh tinggi kurus, mukanya yang berkulit kehitaman itu jelas
membayangkan kekejaman, matanya yang mencorong hijau itu dan senyumnya yang sinis
membayangkan kelicikan. Kepalanya mengenakan sebuah topi batok dan rambutnya yang
gemuk hitam dikuncir, keluar dari belakang topinya dan melilit lehernya. Matanya yang
mencorong seperti mata kucing atau mata burung hantu di waktu malam itu memandang ke arah
Kui Eng dengan penuh kagum dan senyumnya makin menyeringai sadis.
Melihat munculnya orang yang tak dikenalnya ini, yang memandangnya seperti itu
dengan mulut menyeringai, Kui Eng menjadi marah. “Bangsat dari manakah berani
mengangguku !” bentaknya, siap untuk menyerang.
Akan tetapi laki-laki itu malah terkekeh, suara ketawanya seperti burung hantu dan hal ini
tentu saja membuat Kui Eng merasa ngeri dan memandang tajam dan penuh keheranan,
menduga-duga apakah yang dihadapinya ini bukan orang gila ! Akan tetapi, tiba-tiba pria itu
mengeluarkan suara gerengan yang menggetarkan tempat itu. Lian Hong yang berada dalam
tempat persembunyiannya, terkejut bukan main ketika merasa betapa jantungnya terguncang
keras. Tahulah ia bahwa pria itu telah mempergunakan tenaga khikang dalam suaranya dan suara
itu merupakan serangan yang ganas dan berbahaya sekali. Maka iapun cepat menahan napas
mengerahkan sinkang untuk melindungi jantung dan telinganya.
Pedang Naga Kemala > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com 294
Kui Eng juga terkejut bukan main karena ia merasa betapa jantungnya terguncang. Ia
yang berdiri dekat pria itu dan yang menjadi sasaran serangan lengkingan itu, hampir saja roboh.
Akan tetapi, sebagai murid Tee-tok yang sakti, tentu saja ia tahu apa yang harus dilakukannya
menghadapi serangan tiba-tiba itu. Serangan suara itu datangnya terlalu mendadak sehingga ia
kedahuluan atau kecurian, cepat ia mengerahkan sinkang dan memejamkan mata untuk beberapa
detik. Inilah yang mencelakakannya. Dan agaknya ini pula yang telah diperhitungkan dengan
masak oleh pria yang nampaknya amat cerdik itu. Begitu Kui Eng memejamkan mata, pria itu
sudah mengeluarkan sehelai saputangan merah yang sudah dipersiapkannya dan sekali
mengebutkan saputangan di depan muka Kui Eng, ada bubuk merah yang baunya harum keras
memasuki hidung gadis itu. Kui Eng terkejut, maklum apa artinya itu ketika hidungnya
menyedot bau harum keras. Ia mengeluarkan teriakan dan meloncat ke belakang, akan tetapi ia
terhuyung karena mulai dipengaruhi bubuk racun pembius. Ia seorang gadis yang lihai dan kuat,
maka racun bubuk itu tidak membuatnya roboh, hanya terhuyung dengan kepala pening. Dan
agaknya inipun sudah diperhitungkan oleh pria itu, karena dengan langkahnya yang lebar dia
telah mengejar dan menyerang dengan kedua tangannya yang besar. Dua lengan yang panjang
itu bagaikan ular-ular hitam meluncur. Andaikata ia tidak berada dalam keadaan pening, tentu
Kui Eng tidak akan mudah dirobohkan. Akan tetapi gadis ini telah kecurian, telah menyedot
bubuk racun pembius sehingga menghadapi serangan dua tangan itu, ia tidak mampu
mempertahankan diri. Sebuah totokan pada pundaknya membuat ia terkulai lemas.
“Heh-heh-heh !” Pria itu lalu menyambar tubuh Kui Eng, dipanggulnya dan dibawanya
lari pergi dari kuburan itu.
Lian Hong terkejut bukan main. Ia sendiripun tadi mengerahkan tenaga melindungi
dirinya dari serangan suara maut itu. Dan melihat betapa Kui Eng ditawan, tentu saja timbul niat
hatinya untuk membantu gadis itu. Akan tetapi ia teringat. Bagaimanapun juga, Kui Eng adalah
puteri seorang yang amat kejam. Ia tidak mengenal Kui Eng dan belum tahu bagaimana watak
gadis itu. Iapun tidak mengenal pria itu dan tidak tahu apa yang telah terjadi di antara mereka. Ia
tidak tahu siapa yang bersalah di antara keduanya maka kini timbul perbuatan itu. Siapa tahu
kalau-kalau Kui Eng yang telah melakukan kesalahan dan pria itu datang untuk menangkapnya
atau membalas dendam ? Ia harus berhati-hati dan tidak boleh sembrono dalam mencampuri
urusan dua orang yang belum dikenalnya. Maka iapun cepat membayangi tubuh pria yang
melarikan Kui Eng. Orang itu, biarpun memanggul tubuh seorang gadis, dapat bergerak cepat
bukan main, berloncatan di antara batu-batu yang besar seperti seekor kera saja. Akan tetapi Lian
Hong juga seorang gadis yang memiliki ginkang yang tinggi sehingga tidak terlalu sukar baginya
untuk membayangi terus.
Tiba-tiba saja ia kehilangan orang yang dibayanginya. Lian Hong terkejut. Cepat ia
menghampiri tempat di mana bayangan tinggi kurus itu melenyapkan diri. Ia hanya melihat
sekumpulan batu-batu yang besar. Sama sekali tidak ada tempat untuk menyembunyikan diri,
akan tetapi tiba-tiba saja orang itu telah lenyap. Lian Hong merasa penasaran dan ia mencaricari,
menjenguk ke belakang setiap batu besar. Namun orang itu bersama tubuh Kui Eng lenyap
seperti pandai menghilang saja ! Lian Hong yang merasa penasaran dan khawatir akan
keselamatan Kui Eng, tidak mau meninggalkan bukit itu, terus berkeliaran mencari-cari. Sampai
lama ia mencari, sampai senja mulai membawa kegelapan menyelimuti bukit, tetap saja ia tidak
berhasil menemukan pria yang melarikan Kui Eng. Ia mulai putus harapan dan mulai mengira
bahwa tentu laki-laki itu memiliki jalan rahasia dan kini tentu sudah jauh meninggalkan tempat
Pedang Naga Kemala > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com 295
itu. Ia mulai melihat-lihat ke sekeliling bawah bukit, berniat untuk meninggalkan tempat itu,
kembali ke kuburan orang tuanya ketika tiba-tiba ia mendengar jerit suara wanita yang keluar
dari dalam bukit, dari bawah tanah yang dipijaknya !
Lian Hong meloncat dengan kaget. Bayangan itu tadi lenyap seperti ditelan bumi dan kini
ada suara jeritan wanita dari bawah bumi. Ditelan bumi ! ah, tentu saja ! Kenapa ia begitu
bodoh ? Satu-satunya tempat di mana orang tadi melenyapkan diri, tentu di dalam bukit di bawah
bumi, di bawah batu-batu itu. Tentu ada jalan rahasia ke situ. Terdorong oleh jeritan tadi yang ia
duga tentu suara Kui Eng, Lian Hong mulai mencari-cari, mengguncang setiap potong batu,
meraba-raba di dalam cuaca yang mulai gelap. Ia hampir putus asa karena batu-batu itu tidak ada
yang menyembunyikan rahasia ketika tiba-tiba ada sinar mencorong dari celah-celah antara batu.
Ia merasa girang sekali dan cepat ia meloncat mendekati batu-batu itu. Tak salah lagi. Ada sinar
terang menyorot keluar melalui celah-celah batu, sinar yang datangnya dari bawah ! Dengan
hati-hati iapun mempergunakan tangannya yang dialiri tenaga sinkang untuk menggeser batu
besar dan ia berhasil ! Di balik batu besar itu terdapat sebuah lubang terowongan ke bawah
tanah ! Dengan hati-hati sekali Lian Hong lalu menuruni lubang itu dan ternyata terdapat tangga
batu menuju ke bawah dan ia dapat merayap ke bawah dituntun oleh sinar terang yang menyorot
dari bawah.
` Akhirnya, tangga batu itu membawanya ke sebuah ruangan yang garis tengahnya tidak
kurang dari enam meter dan ketika ia mengintai, hampir saja ia mengeluarkan seruan keras
karena kaget, ngeri dan marah. Lian Hong mengintai dari balik pintu batu, dengan alis berkerut
dan mata mencorong marah memandang ke dalam.
Di tengah ruangan itu nampak Kui Eng berdiri dengan kedua lengan tergantung. Kedua
pergelangan tangannya terikat ke atas dan tergantung, demikian pula kedua pergelangan kakinya.
Dan pakaian gadis itu sudah robek-robek membuatnya hampir telanjang. Bagian-bagian tubuh
gadis itu nampak jelas di antara robekan-robekan yang membuat pakaian itu cabik-cabik dan
hampir tanggal dari tubuhnya. Wajah gadis itu pucat sekali dan nampak titik-titik air mata
membasahi mata dan kedua pipinya. Dan kini gadis itu memandang dengan mata terbelalak dan
mulut menggigil ketika laki-laki tinggi kurus itu mengeluarkan seekor tikus yang dipegang pada
ekornya sehingga tikus itu menggeliat-geliat ingin lepas. Pria itu berdiri sambil bersandar
dinding batu. Sepasang matanya makin mencorong mengerikan, seperti mata setan ketika
tertimpa sinar obor yang bernyala di atasnya. Mulutnya tersenyum sinis penuh kekejaman.
Lebih mengerikan lagi, seekor ular besar melingkar di lehernya, dan kepala ular itupun terjulur ke
depan, lidahnya keluar masuk seolah-olah ular itupun menggoda Kui Eng, hendak menjilati atau
mematuk.
“Heh-heh-heh, Ciu Kui Eng, engkau masih berkeras kepala ? Menyerahlah dengan baikbaik,
dan aku akan menjadikan engkau isteri atau sekutu yang akan hidup penuh dengan
kesenangan dan kemuliaan. Mari kita bina bersama, kita kejar kedudukan yang tinggi di dunia
ini. Aku murid Thian-tok dan engkau murid Tee-tok, bukankah kalau kita berjodoh sudah tepat
sekali ? Untuk apa engkau ingin merebut Giok-liong-kiam dariku ? Engkau takkan menang.
Bukankah lebih baik kalau kita menjaganya bersama ? Marilah, sayang, marilah manis, aku cinta
padamu.”
Pedang Naga Kemala > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com 296
“Koan Jit, manusia iblis ! Aku tidak sudi ! Lebih baik bunuh saja aku. Aku tidak takut
mati. Aku tidak sudi menjadi isterimu, aku tidak sudi kausentuh !”
Pria itu ternyata adalah Koan Jit ! Mendengar ini, berdebar rasa jantung dalam dada Lian
Hong. Kenyataan-kenyataan yang amat mengejutkan hatinya. Kiranya pria ini adalah Koan Jit,
orang yang selama ini dicarinya ! Dan lebih mengejutkan lagi, kiranya Kui Eng adalah murid
Tee-tok, seorang di antara Empat Racun Dunia ! Akan tetapi iapun melihat sikap Kui Eng yang
menolak ajakan keji dari Koan Jit.
Heh-heh-heh, nona manis. Aku sudah menyentuhmu sejak tadi, heh – heh. Kalau aku
mau, sejak tadi aku sudah dapat memilikimu secara paksa. Akan tetapi aku tidak senang
memaksa. Aku tidak ingin membunuhmu. Engkau merupakan pembantu yang amat baik. Kalau
aku memperkosamu, tentu engkau akan kubunuh kemudian. Tiada gunanya. Sayang
memperkosa seorang lihai sepertimu. Kalau aku butuh wanita, dengan mudah sekarang juga aku
akan dapat memilih di antara mereka di mana saja. Akan tetapi aku butuh pembantu, butuh
sekutu dan isteri. Dan kaulah yang tepat menjadi orang itu.”
“Aku tidak sudi ! Lebih baik mati !”
“Lihat ini !” Koan Jit mendekatkan tikus ke leher Kui Eng sehingga gadis itu
mengeluarkan rintihan geli dan takut. “Kauboleh pilih. Kusiksa dengan tikus dan ular ini sampai
engkau hidup tidak matipun tidak dan pikiranmu akan berobah, membuatmu menjadi gila lalu
kau kubebaskan sebagai orang gila yang telanjang bulat ? Ataukah kuperkosa engkau dengan
cara yang paling keji sehingga akhirnya engkaupun akan menjadi gila ? Atau kupergunakan obat
racun perangsang sehingga akhirnya engkaupun akan menyerahkan dirimu dalam keadaan tidak
sadar dan terus setiap hari kujejali obat perangsang yang akhirnya akan meracuni dirimu dan
membuat engkau menjadi gila lelaki ? Atau kuserahkan engkau kepada anak buahku, orangorang
buas dan kasar, agar engkau dikeroyok oleh puluhan orang dari mereka dan akhirnya
Pedang Naga Kemala > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com 297
mampus dalam keadaan yang amat terhina ? Nah, kaupilih antara semua itu, ataukah engkau mau
menyerahkan diri dengan suka rela kepadaku, menjadi isteri, sekutu dan pembantuku yang
terhormat ? Nah, pilihlah sebelum terlambat.” Setelah berkata demikian, untuk menambah
pengaruh ucapannya tadi, Koan Jit menggeser-geserkan tikus hidup itu di leher, dada dan perut
Kui Eng. Tentu saja Kui Eng merasa jijik bukan main, jijik, geli dan ngeri sampai ia
menggelinjang-gelinjang kegelian. Melihat gadis ini menggelinjang dan menggeliat, sepasang
mata Koan Jit makin mencorong penuh nafsu yang mendidih. Tadi dia kurang berhasil ketika
menggunakan ular. Ternyata Kui Eng, yang sudah biasa dahulu dilatih oleh gurunya
mempergunakan banyak ular, tidak takut dan tidak ngeri melihat ular. Akan tetapi begitu dia
mempergunakan seekor tikus, gadis yang gagah perkasa dan tidak takut mati ini menggelinjanggelinjang
penuh kengerian.
“Heh-heh-heh, pilihlah, manis, heh-heh-heh !” Koan Jit girang sekali melihat usahanya
memaksa Kui Eng hampir berhasil dan makin giat dia menggeser-geserkan tikus hidup itu ke
bagian-bagian tubuh yang paling peka.
Sudah cukup bagi Lian Hong menonton semua itu. Ia kini yakin benar bahwa laki-laki
tinggi kurus itu adalah Koan Jit, pencuri Giok-liong-kiam dari tangan Thian-tok dan orang yang
selama ini dicari-carinya. Dan iapun sudah melihat betapa Kui Eng, walaupun puteri seorang
hartawan jahat, walaupun murid Tee-tok, ternyata merupakan seorang gadis yang cukup baik.
Gadis itu telah menyadari kesalahan-kesalahan yang dilakukan ayahnya dan telah
memperlihatkan kebaikan hatinya dengan mintakan ampun untuk arwah ayahnya di depan
kuburan korban-korban ayahnya. Dan kini, setelah tertawan oleh Koan Jit, gadis itu menolak
semua bujuk rayu Koan Jit untuk membantunya, bahkan memilih mati dari pada dijamah oleh
penjahat berwatak iblis itu. Dua syarat ini cukup untuk menganggap Kui Eng seorang gadis yang
baik dan patut diselamatkan dari ancaman yang lebih mengerikan dari pada maut bagi seorang
gadis terhormat.
Lian Hong bukan seorang gadis yang sembrono. Tidak, biarpun ia pendiam dan
sederhana, namun ia seorang yang amat cerdik. San-tok, gurunya yang pernah menjadi datuk
iblis itu, telah mendidiknya dengan tekun, bukan hanya dalam ilmu-ilmu silat tinggi, akan tetapi
juga telah memberi tahu tentang segala kecurangan dan akal busuk di dunia persilatan kaum
sesat.
Ia sudah memperhitungkan masak-masak lebih dahulu sebelum bergerak. Ia dapat
melihat tadi cara Koan Jit merobohkan Kui Eng dan tahulah ia bahwa Koan Jit adalah seorang
yang selain lihai ilmu silatnya, juga amat curang dan penuh muslihat. Oleh karena itu, kalau ia
maju begitu saja menyerang Koan Jit dengan kekerasan, banyak sekali bahayanya dan mungkin
saja ia tidak akan berhasil menolong Kui Eng, malah ia bisa tertawan pula. Dan ia harus berhasil
menolong Kui Eng. Kalau gadis murid Tee-tok itu dapat ia bebaskan dari belenggu, maka
mereka berdua tentu akan dapat mengalahkan Koan Jit. Maka iapun cepat menyelinap
meninggalkan tempat pengintaiannya.
Tak lama kemudian, selagi Koan Jit terkekeh gembira dan Kui Eng menggeliat-geliat
saking gelinya ketika tikus itu meronta-ronta di dadanya, tiba-tiba terdengar bentakan nyaring
sekali dari arah terowongan.
Pedang Naga Kemala > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com 298
“Heii, tikus Koan Jit ! Kalau memang gagah, jangan hanya mengganggu wanita, hayo
keluar dan terima binasa !”
Tentu saja Koam Jit kaget dan marah mendengar suara pria yang berat ini, yang
datangnya dari atas dan suaranya menerobos memasuki terowongan. Dimaki dan ditantang
begitu, dia kehilangan nafsu berahinya yang berubah menjadi nafsu amarah. Dengan geram dia
membanting binatang tikus yang tadi dipergunakannya untuk menggoda Kui Eng ke atas lantai
sehingga tubuh binatang itu hancur berantakan dan darahnya muncrat ke mana-mana, kemudian
dia meloncat keluar dari ruangan itu menerobos jalan terowongan untuk menghadapi musuh yang
berada di atas.
Tentu saja suara tadi keluar dari mulut Lian Hong yang merendahkan suaranya seperti
suara pria dan dengan kekuatan khikang ia memindahkan suaranya sehingga seperti terdengar
datang dari luar. Sebetulnya ia masih berada di terowongan itu, di luar ruangan di mana Koan Jit
menyiksa Kui Eng dan ia bersembunyi di balik batu. Pada saat Koan Jit berkelebat keluar, cepat
sekali Lian Hong keluar dari tempat persembunyiannya, dengan beberapa loncatan saja ia sudah
berada di dekat Kui Eng dan tanpa banyak cakap ia lalu menggunakan ujung gagang kipasnya
menotok tiga jalan darah di punggung dan kedua pundak Kui Eng untuk membebaskan totokan
yang membuat tubuh Kui Eng lemas. Kemudian, ia membantu Kui Eng melepaskan belenggu
kaki tangannya, hal yang mudah saja dilakukan Kui Eng setelah ia terbebas dari totokan.
Dapat dibayangkan betapa girang dan lega rasa hati Kui Eng ketika mendapatkan
pertolongan ini. Iapun memandang kagum kepada gadis cantik yang menolongnya, karena orang
yang berani menolongnya berani menentang Koan Jit dan tidak sembarang orang berani
menentang seorang penjahat lihai seperti Koan Jit.
“Terima kasih,” bisiknya. “Siapa engkau ?”
Lian Hong tersenyum. “Nanti saja kita bicara. Sekarang mari kita keluar dan kita hajar
tikus busuk tadi.”
Teringat akan Koan Jit, Kui Eng mengepal tinjunya. “Baik, mari kita bunuh jahanam
Itu !”
Dua orang gadis perkasa itu berloncatan keluar dari ruangan itu. Di lubang masuk
menuju terowongan, hampir mereka bertumbukan dengan Koan Jit yang hendak masuk lagi.
Tadi Koan Jit cepat keluar untuk mencari orang yang menantangnya, akan tetapi di luar sunyi
saja, bahkan cuaca yang agak gelap karena malam sudah mulai tiba dan tidak nampak ada
bayangan seorangpun manusia. Dia merasa heran, penasaran dan marah. Lalu dia teringat akan
tawanannya yang ditinggalkan di dalam ruangan bawah tanah. Timbul kekhawatirannya kalaukalau
tawanan itu akan ditolong orang yang tadi mengeluarkan suara, maka diapun cepat masuk
lagi. Akan tetapi tiba-tiba ada dua bayangan orang berkelebat dari dalam dan seorang di antara
mereka menyerangnya dengan tendangan berantai yang amat cepat dan dahsyat. Bukan serangan
itu yang mengejutkan karena Koan Jit mampu meloncat ke belakang dan keluar lagi dari lubang
itu untuk menghindarkan diri, akan tetapi yang membuatnya bengong dan marah sekali adalah
ketika mengenal orang yang menendangnya adalah gadis yang pakaiannya compang-camping
setengah telanjang, bukan lain adalah tawanannya tadi, Ciu Kui Eng ! Dan kini Kui Eng sudah
Pedang Naga Kemala > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com 299
meloncat keluar, diikuti seorang gadis lain yang memiliki sepasang mata yang lebar, indah dan
sinar matanya tajam sekali. Dengan hati penuh kegeraman dia dapat menduga bahwa tentu gadis
bermata lebar ini yang telah membebaskan Kui Eng.
“Keparat, siapa kau berani menantangku !” bentaknya.
Akan tetapi Kui Eng yang sudah tidak dapat menahan lagi kemarahan hatinya, tanpa
banyak cakap lagi tidak memberi kesempatan kepada Koan Jit untuk bicara dan ia sudah
menyambar sepotong kayu yang terletak di atas tanah dan dengan tongkat ini iapun lalu
menyerang dengan ilmu yang paling diandalkan oleh Tee-tok gurunya, yaitu Cui-beng Hek-pang
(Tongkat Hitam Pengejar Nyawa) ! Dan Lian Hong memang juga tidak ingin banyak bicara
dengan Koan Jit, maka iapun cepat membantu Kui Eng dengan serangan senjata kipasnya.
Dengan gerakan aneh gagang kipasnya menyambar-nyambar dahsyat menghujankan totokantotokan
maut ke arah jalan darah di tubuh bagian depan lawan.
Menghadapi serangan dua orang gadis itu, Koan Jit terkejut bukan main. Melihat betapa
tongkat di tangan Kui Eng itu hanya sebatang cabang pohon akan tetapi dapat berubah menjadi
senjata yang luar biasa ampuh dan berbahayanya, dia tidak merasa heran karena maklum betapa
lihainya guru gadis itu. Akan tetapi melihat betapa kipas di tangan gadis bermata lebar itu tidak
kalah hebatnya dari tongkat Kui Eng, dia benar-benar terkejut dan terpaksa dia mengerahkan
seluruh kecepatan gerakannya untuk menghindarkan diri dari cengkeraman maut. Dia mengelak
dan berloncatan ke sana-sini, sedikitpun tidak mempunyai kesempatan untuk balas menyerang.
Demikian hebatnya dua orang gadis itu menyerang !
Koan Jit mengenal lawan tangguh. Memang ada rasa penasaran di dalam hatinya bahwa
dia kehilangan Kui Eng yang sudah berada dalam cengkeramannya, dan merasa penasaran pula
dia bahwa dia tidak mampu mengalahkan dua orang gadis muda. Akan tetapi karena dia tahu
bahwa kalau dia terlalu lama menghadapi dua orang gadis ini, mungkin saja dia akan celaka di
tangan mereka, maka diapun mengeluarkan suara gerengan yang menggetarkan itu. Akan tetapi
sekali ini, Kui Eng dan Lian Hong sudah siap. Mereka tahu bahwa lawan ini memiliki ilmu
semacam gerengan harimau yang berbahaya, maka merekapun cepat mengerahkan sinkang untuk
melindungi diri masing-masing sehingga tidak sampai didahului daya serangan suara itu. Sambil
melindungi diri dengan pengerahan sinkang, tongkat dan kipas di tangan dua orang gadis itu
masih terus menyambar-nyambar dahsyat menghujankan totokan dan pukulan maut ke arah tubuh
Koan Jit.
Koan Jit mengeluarkan saputangan merahnya. Akan tetapi juga untuk menghadapi itu,
Lian Hong dan Kui Eng sudah siap siaga. Maka ketika Koan Jit mengebutkan saputangannya,
dua orang gadis itu sudah menahan napas dan kini tongkat di tangan Kui Eng menyambar ke arah
saputangan itu pada saat kipas Lian Hong menotok pinggang.
“Brettt .......... !” Saputangan merah itupun terobek oleh ujung tongkat !
Koan Jit mengeluarkan seruan kaget dan sekali meloncat dia telah pergi jauh dan tanpa
menoleh atau merasa malu-malu lagi, Koan Jit yang merasa betapa dua orang gadis itu
merupakan lawan yang terlalu berat, dan selain itu juga dia khawatir kalau-kalau Tee-tok, guru
Kui Eng muncul, segera melarikan diri.
Pedang Naga Kemala > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com 300
“Jahanam busuk, hendak lari ke mana kau ?” Kui Eng membentak dan mengejar, diikuti
Lian Hong.
Akan tetapi Koan Jit memang memiliki ginkang yang luar biasa. Tubuhnya berkelebat
cepat dan walaupun dua orang gadis itupun memiliki ginkang yang hebat pula, namun tidak
mampu menyusul Koan Jit yang menghilang di antara pohon-pohon yang gelap. Apa lagi Koan
Jit mengenakan pakaian serba hitam, maka sukarlah untuk mengejarnya setelah dia masuk hutan.
Dua orang gadis itupun maklum betapa berbahayanya mengejar seorang licik macam Koan Jit itu
di dalam gelap, apa lagi pakaian orang itu hitam. Terpaksa mereka menghentikan pengejaran
mereka di luar hutan.
Baru sekarang dua orang gadis itu memperoleh kesempatan untuk saling berkenalan dan
bicara. Mereka berdiri saling pandang. Keduanya sebaya dan memiliki bentuk tubuh yang
hampir sama. Keduanya memang cantik dan manis, akan tetapi memiliki daya tarik yang
berbeda. Lian Hong adalah seorang gadis yang amat sederhana, baik pakaiannya maupun gerakgeriknya,
dan daya tariknya yang paling kuat terletak pada sepasang matanya yang lebar.
Mukanya berbentuk bundar dan kulitnya halus putih dengan sepasang alisnya yang hitam nampak
menyolok di wajah yang putih itu. Sedangkan Kui Eng berwajah bulat telur, sepasang matanya
tajam dan mengandung keangkuhan, dan agaknya daya tarik yang paling kuat terletak pada
mulutnya yang amat manis itu, manis menggairahkan.
“Adik yang manis, engkau telah menyelamatkan aku dari cengkeraman bahaya yang lebih
mengerikan dari pada maut. Aku berterima kasih sekali,” kata Kui Eng.
“Sudahlah, enci. Wanita manapun melihat kekejian Koan Jit itu terhadap dirimu, tentu
akan berusaha untuk menolongmu. Jahanam itu memang pantas dilenyapkan dari permukaan
bumi.”
“Siapakah namamu ?”
“Aku bernama Lian Hong.”
“Adik Hong, namaku Ciu Kui Eng. Mudah-mudahan di lain kesempatan aku akan dapat
membalas budimu ..........”
“Sudahlah, enci Kui Eng. Sudah kukatakan tadi, hal itu tidak perlu dibicarakan lagi.
Maaf, sekarang aku harus pergi. Sampai jumpa lagi.”
“Eh, nanti dulu, adik Hong !” Kui Eng menahan dan memegang lengan Lian Hong yang
tentu saja tidak jadi meloncat pergi. “Engkau hendak kemana ?”
jilid XIII *****
“Aku .......... aku mau mengunjungi makam orang tuaku.”
Pedang Naga Kemala > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com 301
“Eh ? Malam-malam begini mengunjungi makam ?” Kui Eng bertanya heran.
Lian Hong mengangguk, lalu melanjutkan lirih, “Aku malah mau bermalam di sana. Nah,
selamat tinggal, enci Kui Eng.” Dan kini iapun meloncat pergi dengan cepat sebelum Kui Eng
sempat mencegahnya.
Sejenak Kui Eng termangu, kemudian iapun cepat berkelebat melakukan pengejaran.
Hatinya masih belum puas. Ia ingin mengenal gadis penolongnya itu lebih dekat lagi,
mengetahui segala hal tentang gadis itu, murid siapa dan bagaimana tadi dapat menolongnya dan
datang pada saat yang demikian tepatnya. Bahkan ia ingin sekali menguji kepandaiannya sendiri
dengan gadis itu, menguji secara persahabatan untuk menambah pengalaman dan pengetahuan.
Lian Hong tiba di depan makam ayah ibunya. Bulan sepotong sudah mulai memuntahkan
sinarnya yang lembut sehingga cuaca malam itu remang-remang kuning kehijauan dan romantis.
Gadis itu lalu berlutut di depan makam, memberi hormat di dalam batin. Sampai lama ia berlutut
tanpa bergerak sampai ia mendengar suara langkah kaki di belakangnya. Ia waspada dan cepat
menengok, tubuhnya siap menghadapi segala kemungkinan.
Kiranya Kui Eng yang berdiri di belakangnya. Sepasang mata Kui Eng terbelalak dan
mukanya yang tertimpa sinar bulan itu nampak pucat.
“Ini .......... ini bukan orang tuamu .......... ? Kau .......... kau puteri mendiang guru silat
Siauw Teng dari Tung-kang ?”
Lian Hong menarik napas panjang. Sebetulnya ia tidak menghendaki Kui Eng
mengenalnya, akan tetapi apa boleh buat. Ia tidak mengira bahwa gadis itu akan membayanginya
dan menyusul ke situ. “Benar, ini kuburan ayah ibuku.”
“Tapi .......... tapi .......... kau tahu mengapa mereka tewas ?”
“Aku tahu. Mendiang ayahmu yang menyebabkan mereka tewas, dan ayah tewas di
tangan Gan Ki Bin dan Lok Hun.”
“Ahhh .......... engkau tahu bahwa pembunuh orang tuamu adalah ayahku .......... dan
engkau telah menolongku, menyelamatkan aku. Aih, adik Hong .......... aku .......... aku sungguh
menyesak sekali atas perbuatan ayah terhadap orang tuamu ..........”
“Aku tahu, enci Kui Eng. Aku melihatmu tadi ketika engkau memintakan ampun kepada
orang tuaku atas perbuatan ayahmu, sampai kau ditawan Koan Jit.”
“Ahhh .......... dan engkau pergi membayangi kemudian menyelamatkan aku ? Padahal
ayahku dahulu menghancurkan dan membinasakan keluarga ayahmu ? Betapa mulia hatimu,
adik Lian Hong.”
“Sudahlah, enci Eng, hal itu tidak perlu dibicarakan lagi,” kembali Lian Hong mencegah.
Ia tidak senang kalau dipuji-puji.
Pedang Naga Kemala > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com 302
Akan tetapi, Kui Eng kini malah duduk di dekatnya, di depan makam. “Bagaimana tidak
akan dibicarakan ? Engkau begini baik. Orang tuamu dahulu juga orang gagah. Tidak seperti
aku. Biarpun kami hidup kaya raya, akan tetapi ayah telah melakukan banyak hal yang buruk.
Dan sekarang kami sekeluarga tertumpas habis. Aku kehilangan ayah ibuku, bahkan kehilangan
segala milik keluargaku. Aku juga menjadi seorang yang tidak mempunyai apa-apa lagi. Engkau
masih mempunyai nama baik, nama terhormat. Sebaliknya aku mempunyai apa lagi ? Nama
keluargaku busuk, dan aku bahkan menjadi murid seorang datuk sesat.”
“Aku tahu, engkau murid Tee-tok. Kudengar itu dari kata-kata Koan Jit tadi. Akan
tetapi, gurumu agaknya tidak lebih buruk dari pada guruku, karena guruku juga seorang di antara
Empat Racun Dunia.”
Hampir Kui Eng melompat. Dipegangnya pundak Lian Hong dan wajah yang tadinya
sedih itu kini berseri. “Aih, engkau murid San-tok ! Aku tahu. Ilmu silatmu dengan kipas tadi !
Siapa lagi gurumu kalau bukan Si Racun Gunung ? Pantas engkau begini gagah perkasa, adik
Hong. Wah, kalau begini kita ini segolongan !”
Akan tetapi Lian Hong tidak segembira Kui Eng walaupun ia tersenyum melihat
kegembiraan yang mengubah wajah Kui Eng yang tadinya berduka itu. “Golongan apakah
maksudmu, enci Kui Eng ?”
“Golongan .......... eh, maksudku, bukankah guru-guru kita segolongan ?”
“Golongan sesat ? Golongan hitam ? Golongan penjahat ?”
“Ehh ………. ohhh ………. Bukan begitu, tapi ………. Yaah, perlukah kita menutupi
kenyataan bahwa kita adalah murid-murid mereka lalu kita juga harus menjadi orang-orang
sesat ? Maukah engkau menjadi segolongan dengan orang-orang seperti Koan Jit tadi ?
“Tidak sudi !”
“Akan tetapi diapun murid seorang di antara Empat Racun Dunia. Dia murid pertama
dari Thian-tok.”
“Akan tetapi aku tidak sudi menjadi segolongan dengan jahanam itu. Lain kali, kalau
bertemu dengan dia, aku pasti akan mati-matian menyerangnya, dia atau aku yang akan mati !”
Lian Hong tersenyum dan dalam percakapan ini, ia merasa cocok dengan Kui Eng.
Bagaimanapun, ia sudah membuktikan bahwa murid Tee-tok ini ternyata tidak menyukai pula
kejahatan. Kebaikan pertama dari Kui Eng adalah ketika gadis itu memintakan ampun atas dosa
ayahnya kepada makam ayah ibunya, dan kedua kalinya ia melihat sendiri betapa Kui Eng matimatian
mempertahankan kehormatannya, rela mati dari pada harus tunduk atas bujuk rayu Koan
Jit. Dua hal ini saja sudah membuat ia merasa suka kepada Kui Eng.
“Enci Kui Eng, menurut pendengaranku ketika Koan Jit bicara kepadamu tadi, engkau
hendak merampas pusaka Giok-liong-kiam darinya. Benarkah itu ?”
Pedang Naga Kemala > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com 303
Kui Eng mengerutkan alisnya. “Aku sendiri tidak ingin memiliki pusaka itu. Sejak kecil
aku hidup dalam keluarga ayah yang kaya raya sehingga aku tidak ingin lagi memperebutkan
segala macam benda-benda berharga walaupun kini aku sudah tidak memiliki apa-apa lagi. Akan
tetapi, keluargaku sudah terbasmi, dan aku teringat akan pesan suhu tentang Giok-liong-kiam.
Suhu yang menghanjurkan agar aku ikut memperebutkan pusaka itu karena siapa yang memiliki
pusaka itu dapat dianggap sebagai orang yang paling lihai. Nah, karena itu akupun mulai
melakukan penyelidikan dan mencari jejak Koan Jit. Siapa tahu, kiranya dia malah yang
menawanku lebih dulu secara curang dan dia tahu bahwa akupun ingin merampas pusaka itu dari
tangannya. Dan bagaimana denganmu, adik Hong ? Sebagai murid San-tok, kiranya engkaupun
tentu ada kepentingan dengan pusaka itu.”
Lian Hong menarik napas panjang. “Semua orang di dunia persilatan agaknya
memperebutkan pusaka itu dan terus terang saja, guruku juga menghendakinya. Akupun sedang
mencari jejak Koan Jit, dan sungguh tak kusangka akan dapat bertemu dengannya. Ketika dia
menawan, aku ragu-ragu tidak tahu siapa dia dan apa urusan antara dia dan engkau maka dia
menawanmu. Karena ragu-ragu inilah maka aku tidak turun tangan di sini, melainkan
membayanginya. Baru setelah aku mendengar ucapannya bahwa dia adalah Koan Jit dan bahwa
dia hendak memaksamu, aku lalu turun tangan.”
“Caramu menolongku cerdik bukan main, adik Hong. Tentu engkau yang mengeluarkan
suara tantangan mirip suara pria itu, bukan ?”
“Benar, aku melihat cara dia merobohkanmu dengan saputangan merah itu dan tahu
bahwa dia berbahaya sekali. Maka aku lalu mempergunakan siasat memancing harimau keluar
dari sarangnya. Begitu dia tertarik oleh suara tantanganku dan saking marahnya dia langsung
keluar sehingga tidak melihat aku yang bersembunyi di luar ruangan bawah tanah itu, aku lalu
membebaskanmu. Aku yakin, kalau kau bebas, kita berdua pasti akan mampu mengalahkannya.”
“Pasti ! Sayang dia licik sekali, menggunakan pakaian hitamnya dan kegelapan malam
untuk menghilang ke dalam hutan. Kalau tidak, tentu aku berhasil meremukkan kepalanya, akan
kuinjak-injak kepalanya sampai hancur berantakan !” Kui Eng mengepal tinju dengan hati panas
sekali, teringat kembali akan penghinaan Koan Jit terhadap dirinya.
“Engkau harus berhati-hati terhadap lawan seperti itu, enci. Enci Kui Eng, bagaimana
engkau tahu bahwa aku lebih muda darimu ? Begitu bicara, engkau menyebut adik kepadaku.
Siapa tahu aku lebih tua.”
“Aku dapat menduga bahwa engkau tentu lebih muda dariku. Berapa usiamu sekarang ?”
“Aku sudah delapanbelas tahun.”
“Dan aku sudah sembilanbelas. Kaulihat, bukankah aku yang lebih tua ?”
“Enci Kui Eng, ada satu hal yang ingin kutanyakan kepadamu dan mudah-mudahan kau
dapat membantuku dalam hal ini.”
“Ah, aku akan senang sekali kalau dapat membantumu, adik Hong. Tanyakanlah, apa
yang ingin kauketahui itu ?”
Pedang Naga Kemala > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com 304
“Alamat dua orang bekas pembantu ayahmu. Gan Kin Bin dan Lok Hun.”
Wajah Kui Eng menyuram karena pertanyaan ini mengingatkan akan semua perbuatan
ayahnya yang jahat dan kotor. “Hemm, dua ekor anjing penjilat itu sudah lama tidak lagi
membantu ayah. Mereka kini tinggal di Kanton dan kabarnya menjadi pengawal pembesar di
sana.”
“Terima kasih, besok aku akan mencari mereka di Kanton.”
“Aku ikut, aku akan membantumu menghadapi dua ekor anjing penjilat itu, adik Hong.”
Akan tetapi Lian Hong menggeleng kepala. “Ini adalah urusan pribadi, enci, tidak usah
engkau mencampuri.”
Ketika Kui Eng hendak membantah, Lian Hong membuka buntalan pakaiannya.
“Sudahlah, kaupakai pakaian ini untuk mengganti pakaianmu yang sudah hancur itu.” Dan ia
menyerahkan satu stel pakaian luar dalam kepada Kui Eng dan ia sendiri pergi mencari kayu dan
daun untuk membuat api unggun karena selain malam agak dingin, juga ditempat itu terdapat
banyak nyamuk.
Mereka duduk menghadapi api unggun, saling pandang di bawah sinar api unggun yang
terang kemerahan. Melihat Kui Eng memakai pakaiannya, ada perasaan akrab dalam hati Lian
Hong terhadap gadis itu, sebaliknya Kui Eng juga merasa akrab terhadap Lian Hong setelah
mengenakan pakaian kawan baru itu. Mereka saling pandang sejenak, kemudian terdengar Lian
Hong menarik napas panjang.
“Betapa anehnya hidup ini. Lihat diri kita berdua ini. Kita datang dari dua keluarga yang
jauh berbeda ……….”
“Ya, aku dari keluarga kaya raya yang jahat, engkau dari keluarga miskin yang menjadi
korban kejahatan keluargaku,” sambung Kui Eng dengan suara penuh sesal.
“Sudahlah, enci Eng. Luka tidak perlu digosok dan digosok lagi sampai berdarah
kembali. Maksudku bukan demikian. Kita datang dari keluarga yang jauh berlainan, akan tetapi
lihat. Kita berdua kehilangan keluarga, kehilangan segala-galanya, dan kini duduk menghadapi
api unggun dalam keadaan yang sama. Tidak mempunyai apa-apa. Tidak mempunyai masa
depan yang cerah. Belum tahu harus kemana dan bagaimana macamnya jalan hidup kita yang
terbentang di depan.”
“Ya ………. ya, kita berdua ini adalah korban-korban. Siapakah yang bersalah ?”
“Siapa lagi kalau bukan candu ? Ini kesalahan orang-orang kulit putih yang celaka itu !
Merekalah yang memasukkan candu dan menyebar racun. Racun candu yang merusakkan rakyat
pecandu secara lahir batin, racun korupsi di antara pejabat.”
Pedang Naga Kemala > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com 305
“Kukira tidak demikian. Andaikata orang kulit putih tidak memasukkan candu, akhirnya
para pecandu akan mencari sendiri dengan segala caranya. Yang salah adalah pemerintah, yang
lemah dan para pembesarnya hanya mementingkan diri sendiri saja, sama sekali tidak
memperdulikan keadaan rakyat.”
Kui Eng mengangguk-angguk. “Akupun sudah mengambil keputusan untuk membantu
para pendekar yang hendak mengusir pemerintah penjajah Mancu !”
“Ssttt, ucapan itu kalau terdengar pemerintah sama saja dengan keputusan mati untuk kita.
Akan tetapi akupun diam-diam menaruh rasa kagum terhadap mereka dan kalau terdapat
kesempatan, akupun tentu akan membantu.”
Malam itu mereka bercakap-cakap secara akrab dan karena mereka khawatir kalau-kalau
Koan Jit datang lagi, mereka tidak berani tidur berdua. Mereka berjaga dengan bergilir, akan
tetapi malam itu tidak terjadi sesuatu. Agaknya Koan Jit merasa tidak ada harapan lagi untuk
mengalahkan dua orang gadis perkasa itu. Pada keesokan harinya pagi-pagi sekali, Lian Hong
dan Kui Eng saling berpisah sebagai dua orang sahabat yang baik sekali.
***
Derap kaki dua ekor kuda besar yang berlari congklang itu, diseling suara ketawa seorang
laki-laki dan wanita di atas kuda, memecah kesunyian lembah Sungai Mutiara itu. Mendengar
suara ketawa tanpa melihat rupanya, orang hanya akan dapat membedakan antara suara pria dan
wanita saja. Suara ketawa tidak memisahkan manusia di seluruh dunia ini, seperti bahasa.
Bangsa apapun juga memiliki suara ketawa yang sama. Seperti juga tangis. Tawa dan tangis
merupakan suara suci yang keluar dari hati, suara aseli bawaan manusia, tidak seperti bahasa
yang muncul sebagai hasil buatan manusia.
Setelah melihat orang-orang yang menunggang kuda itu, barulah kita tahu bahwa mereka
itu adalah dua orang kulit putih. Seorang pria dan seorang wanita. Dari pakaian mereka, dari
warna kulit dan rambut dan mata, kemudian dari suara percakapan mereka, mudah diketahui
bahwa mereka adalah dua orang Inggeris.
Memang suatu hal yang amat mengherankan melihat mereka berada di luar kota, begitu
jauh dari kota. Biasanya, orang-orang kulit putih hanya berani berkeliaran di dalam kota saja.
Kalau mereka terpaksa memiliki urusan dan keperluan ke luar kota, mereka tentu pergi dengan
pengawalan ketat. Akan tetapi dua orang ini menunggang kuda tanpa pengawal dan kelihatan
mereka itu demikian gembira dan sama sekali tidak takut. Padahal, di waktu itu, banyak terdapat
perkumpulan-perkumpulan ahli silat yang bersikap anti kulit putih.
Akan tetapi mereka berdua ini bukan orang-orang biasa. Perempuan kulit putih yang
usianya sembilanbelas tahun itu adalah Diana, seorang keponakan terkasih dari Kapten Charles
Elliot. Sebagai keponakan kapten yang mengepalai semua orang kulit putih di Kanton, yang
dianggap sebagai anak sendiri, tentu saja Diana dihormati semua orang kulit putih. Dara ini
pemberani, lincah jenaka, dan mengetahui banyak tentang pergolakan di tempat di mana ia
bekerja sebagai sekretaris pamannya sendiri. Diana sangat cantik jelita, dengan rambut kuning
keemasan, ikal mayang dan lebat sekali, seolah-olah kepalanya dihias benang-benang sutera
Pedang Naga Kemala > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com 306
kemerahan dan bentuk tubuhnya amatlah indah. Apa lagi karena pakaiannya ketat, bentuk tubuh
itu menonjol sekali. Gaunnya panjang sampai ke mata kaki, dengan lengan gaun sampai di
bawah siku. Wajahnya berbentuk bulat telur, dengan mata biru laut, bulu mata lentik panjang,
alis yang agak kehitaman melengkung panjang, hidungnya mancung dan mulutnya selalu
tersenyum dengan bibir yang selalu merah basah dan kadang-kadang nampak kilatan gigi putih
seperti mutiara berjajar. Perhiasan yang menempel di tubuhnya hanyalah gelang emas di kedua
tangan dan sepasang anting-anting. Kedua kakinya memakai sepatu panjang sampai ke bawah
lutut.
Adapun pria yang menunggang kuda di sampingnya, juga bukan orang sembarangan. Dia
adalah seorang berpangkat letnan, namanya Peter Dull dan di kalangan pasukan Inggeris yang
berada di Kanton, Peter Dull ini terkenal sebagai seorang jagoan dalam perang. Seorang laki-laki
berusia tigapuluh tahun, masih bujangan, dan seorang ahli tinju, ahli tembak dan terkenal tampan
dan dikagumi semua wanita, baik yang sudah bersuami ataupun belum, di kalangan orang kulit
putih di kota itu. Letnan Peter Dull ini berwajah jagoan, dengan sepasang mata tajam, alis tebal,
hidung mancung dan mulut yang seperti selalu tersenyum sinis. Dagunya terhias jenggot pendek
terpelihara rapi. Rambutnya berwarna coklat, demikian pula jenggotnya. Dia memakai pakaian
pasukan, dengan topi letnan, sepatunya juga tinggi sampai ke lutut, dan sehelai mantel merah
yang lebar berkibar di belakang tubuhnya. Di pinggangnya tergantung sebuah pistol yang
membuat dia nampak keren dan gagah sekali. Di pinggang kiri tergantung sebatang pedang.
Letnan Peter Dull ini selain mahir menggunakan pistol, juga merupakan seorang ahli pedang
yang kenamaan di dalam pasukannya.
“Heii, Diana ! Sudah, sampai di sini saja. Kita harus kembali !” Terdengar letnan itu
berteriak.
Diana menoleh dan tertawa. “Hi-hi, engkau takut berjumpa dengan gerombolan ?”
Seruan itu menyinggung harga diri letnan itu. “Aku ? Takut ? Aku mengkhawatirkan
kamu, Diana !” katanya dan diapun membalapkan kudanya. Mereka tertawa-tawa sambil
membalapkan kuda dan akhirnya, di sebuah tikungan, mereka berpisah karena secara tiba-tiba
Diana membelokkan kudanya ke kiri sedangkan kuda yang ditunggangi Peter Dull sudah
mendahuluinya dan terus membalap ke depan.
Letnan itu baru tahu kalau Diana membelokkan kudanya karena tidak lagi mendengar
derap kaki kuda kawannya itu. “Heiii ! Diana, kau ke mana .......... ?”
“Ha-ha, Peter. Sekarang engkau kalah. Kalau bisa, kejarlah aku !” terdengar teriakan
Diana jauh di depan ketika Peter memutar kembali kudanya.
“Diana .......... !” teriaknya, akan tetapi Diana dan kudanya sudah lenyap tertutup debu
dan ketika Peter mulai mengejar, gadis itu bahkan sudah jauh sekali dan tidak nampak lagi karena
memasuki hutan kebat. “Diana, tunggu ..........”
Hati perwira itu mulai khawatir. Mengapa Diana mengambil jalan liar, memasuki hutan ?
Itu berbahaya sekali, dan ia mulai merasa menyesal mengapa tadi membiarkan saja gadis itu
mengajaknya pergi sejauh ini. Dia tergila-gila kepada Diana, bukan hanya karena gadis itu
Pedang Naga Kemala > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com 307
memang cantik jelita dan menggairahkan, akan tetapi terutama sekali karena Diana jinak-jinak
merpati. Nampaknya mudah didekati dan mudah ditundukkan, akan tetapi setelah dekat tinggal
mengulur tangan, gadis itu selalu menghindar dan menjauh ! Padahal, wanita mana saja kalau dia
menghendaki, akan menyambutnya dengan hati dan kedua lengan terbuka, bahkan dengan
pakaian terbuka. Dia terkenal sebagai seorang penakluk wanita yang tidak bandingnya. Akan
tetapi, betapapun dia telah berusaha, dia tidak berhasil menaklukkan Diana. Apa lagi
menaklukkan, mencium satu kalipun dia tidak pernah berhasil ! Dan seorang keponakan Kapten
Charles Elliot, tentu saja tidak boleh dibuat main-main dan sama sekali tidak mungkin didapatkan
melalui kekerasan ! Pada pagi hari itu, seperti biasa Diana kelihatan begitu ramah dan baik,
begitu akrab seolah-olah sudah siap untuk menerima cintanya. Karena itulah dia tidak
membantah ketika Diana mengajaknya ke tempat sejauh itu, dengan harapan di tempat sunyi itu
akhirnya Diana akan menyerahkan diri, setidaknya untuk dibelai dan diciuminya. Sudah
terbayang dia tadi betapa akan nikmat dan senangnya kalau dia berhasil meraih gadis ini sebagai
pacar barunya. Seorang gadis tulen, seorang perawan, ini dia yakin benar karena belum pernah
Diana mempunyai seorang kawan pria yang akrab, seakrab dia.
Akan tetapi, kembali Diana memperlihatkan watak berandalnya. Secara tiba-tiba saja
kudanya dibelokkan ke dalam hutan lebat dan hal ini amat berbahaya sekali. Akan tetapi,
kegagahannya ditantang dan dia tentu saja bertanggung jawab atas keselamatan gadis itu.
Celakanya, Diana adalah seorang gadis yang mahir sekali menunggang kuda, dan tadi
ketika berangkat, dara itu sengaja meminjam kuda kesayangan pamannya sendiri. Kuda hitam
yang ditunggangi Diana dapat berlari cepat seperti setan, dan Diana juga seorang penunggang
yang mahir, maka kini, setelah gadis itu membalap, dan sudah jauh lebih dulu meninggalkannya,
Peter tidak dapat menyusul.
Dapat dibayangkan betapa besar kegelisahan hati letnan yang gagah ini ketika dia tidak
lagi melihat bayangan Diana dengan kudanya. Apa lagi ketika dia kehilangan jejak kaki kuda
yang ditunggangi Diana karena kini tanah tertutup batu-batu yang tidak meninggalkan bekas
jejak kaki yang dapat dilihat begitu saja. Terpaksa dia harus meloncat turun dari atas kudanya
dan meneliti dari dekat. Setelah bertemu jejak kaki kuda, baru dia melanjutkan pengejaran dan
pencariannya. Tentu saja hal ini memakan waktu.
Ketika ia tiba di tempat terbuka, di mana terdapat batu-batu besar dan pohon-pohon
raksasa, kembali dia bingung dan terpaksa meloncat turun dari kuda. Pada saat itu dia merasa
seperti dipandang orang dan cepat dia bangkit memutar tubuhnya. Benar saja, tidak jauh dari
tempat dia berdiri, di atas sebuah batu gunung, berdiri seorang laki-laki berpakaian serba hitam.
Laki-laki itu berusia empatpuluh tahun lebih, pakaiannya serba hitam, badannya tinggi kurus dan
mukanya juga agak kehitaman, dengan sepasang mata mencorong kehijauan seperti mata kucing.
Kepalanya ditutup topi batok, dengan kuncir rambut yang tebal panjang berjuntai ke depan
dadanya. Laki-laki ini memandang dengan senyum sinis penuh ejekan.
Melihat laki-laki ini, Letnan Peter Dull yang sudah pandai bicara dengan bahasa daerah,
segera bertanya, “Hei, apa kamu melihat seorang nona menunggang kuda lewat di sini ?”
Semenjak kunjungannya pertama kali di negara yang penduduknya bukan kulit putih,
orang kulit putih selalu memandang rendah kepada pribumi yang dianggap sebagai bangsa yang
Pedang Naga Kemala > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com 308
masih terbelakang, bodoh dan rendah derajatnya. Oleh karena itu, sikap seorang kulit putih
terhadap kulit berwarna memang selalu angkuh dan tinggi hati. Apa lagi seorang perwira seperti
Letnan Peter Dull ini, sikapnya terhadap pribumi memang congkak, terutama semenjak pecahnya
Perang Madat.
Laki-laki yang nampaknya hanya seorang petani atau seorang penghuni gunung biasa itu,
masih memandang dengan senyum sinis, dan mata yang mencorong hijau itu makin berkilat
ketika mendengar pertanyaan itu. Akan tetapi akhirnya dia menjawab juga, menjawab dengan
pertanyaan.
“Kalau aku melihatnya bagaimana, kalau tidak bagaimana ?”
Peter mengerutkan alisnya dengan marah. Jawaban seperti ini sungguh sama sekali tak
pernah disangkanya. Orang ini terlalu kurang ajar, pikirnya. Akan tetapi karena dia
membutuhkan keterangannya tentang diri Diana, dia menahan sabar dan maju menghampiri batu
gunung itu, meninggalkan kudanya yang asyik makan rumput.
“Kalau engkau melihatnya, katakan padaku ke arah mana ia pergi dan bagaimana
keadaannya tadi. Kalau engkau tidak melihatnya, pergilah ke neraka !”
Tiba-tiba orang itu tertawa dan tubuhnya melompat turun dari atas batu itu, berdiri di
depan Peter dalam jarak hanya dua meter saja. Sepasang matanya mencorong hijau dan dia
menjawab dengan suara lantang, “Kalau aku melihatnya, aku tidak akan memberi tahu
kepadamu, kalau aku tidak melihatnya, engkaulah yang pergi ke neraka !”
“Bangsat kurang ajar, kamu bosan hidup, ya ?” Dan saking kesal dan marahnya, Peter
lalu menerjang ke depan dengan kedua tangan terkepal. Sudah beberapa lama letnan ini
menghimpun pribumi yang dianggap kuat, untuk bersekutu dengan pasukannya dan terhadap para
pembantunya yang rata-rata ahli ilmu silat itupun dia bersikap tegas dan selalu dipatuhi. Maka
kini melihat sikap orang yang dipandang rendah begini angkuh terhadap dirinya, Peter kehilangan
kesabaran. Begitu dia menerjang maju, kedua kepalannya sudah diayun dengan tenaga
sepenuhnya, dari kiri kanan menyambar ke arah dagu dan dada orang berpakaian hitam itu.
Pukulan kombinasi ini amat cepat dan biasanya, jarang ada lawan yang mampu menghindarkan
diri. Kecepatan dan kekuatannya sudah terkenal sehingga di dalam pasukannya dia dijuluki “The
Iron Fist” (Si Kepalan Besi) !
“Wuuutt .......... wuuuuttt .......... !”
Peter terkejut. Pukulannya sama sekali tidak mengenai sasaran ! Padahal, orang di
depannya itu tidak meloncat terlalu jauh, hanya menggerakkan sedikit saja tubuhnya dan dua
pukulannya yang diayun dari belakang kanan kiri itu mengenai tempat kosong ! Akan tetapi dia
menerjang terus, kedua kepalan tangannya menyambar-nyambar dengan berbagai bentuk
serangan, dari samping, langsung dari depan, dari bawah menghantam dagu. Sampai belasan kali
pukulannya mengenai tempat kosong, dan ketika tangan kanannya mengirim sebuah pukulan
langsung, orang berpakaian hitam itu menggerakkan lengan kirinya menangkis. Tangkisan
pertama sejak Peter menghujankan pukulan tadi. Dengan tangan kiri yang dimiringkan, orang itu
menangkis dan tepat mengenai pergelangan tangan kanan Peter.
Pedang Naga Kemala > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com 309
“Dukkk .......... !” Peter terhoyong ke belakang dan dia harus menggigit bibirnya untuk
menahan teriakannya. Lengan kanannya yang tertangkis itu tergetar hebat dan tulang lengan
yang tertangkis tangan miring itu seperti ditangkis dengan linggis besi saja rasanya. Kiut-miut
rasanya, nyeri bukan main, sampai menyusup ke tulang sumsum. Dia merasa heran dan
penasaran sekali. Semua pembantunya, orang-orang pribumi yang katanya pandai silat, sudah
dicobanya. Memang di antara mereka ada yang cekatan, akan tetapi tidak begitu hebat dan belum
pernah ada yang mampu menangkis pukulannya seperti orang ini, sekali tangkis membuat ia
hampir menjerit kesakitan ! Dia tidak tahu bahwa orang-orang yang ditarik menjadi sekutunya
itu hanyalah ahli-ahli silat kampungan saja yang menjual kepandaian yang tidak seberapa itu
untuk mencari uang mudah. Dan dia tidak tahu sama sekali bahwa kini dia berhadapan dengan
seorang ahli dalam arti kata yang paling dalam. Seorang ahli silat kelas satu !
“Keparat kamu !” bentaknya dan diapun menerjang lagi dengan mata mendelik. Akan
tetapi orang itu agaknya memang hendak mempermainkannya. Tubrukan dengan pukulanpukulan
ganda itu dielakkan secara tiba-tiba setelah kepalan tangan Peter hampir menyentuh
dada. Hal ini membuat tubuh Peter terdorong ke depan dan tiba-tiba saja, belakang lutut Peter
didorong ujung sepatu orang itu dan tak dapat dipertahankan lagi, tubuh Peter terdorong dan dia
jatuh berlutut !
Baru sekarang Peter menduga bahwa orang ini tidak dapat dipersamakan dengan orangorang
yang telah menjadi sekutunya. Orang ini agaknya memiliki ilmu silat yang hebat. Pernah
dia mendengar akan pendekar-pendekar yang katanya sedemikian tinggi ilmu silatnya sehingga
seperti iblis saja, bahkan ada kabar desas-desus tentang adanya pendekar-pendekar yang mampu
mengelak dari sambaran peluru pistol atau bedil. Tentu saja dia tidak percaya dan menganggap
semua itu kabar bohong dan nonsens belaka. Kini, melihat betapa serangan-serangan tangan
kosongnya tidak mampu menandingi kegesitan lawan ini, tiba-tiba dia mencabut pedangnya !
Dia melihat reaksi orang itu. Akan tetapi sungguh luar biasa. Orang itu tidak nampak takut,
bahkan berdiri tegak dan bertolak pinggang, seolah-olah menanti datangnya serangan pedang dari
Peter !
Peter berhati-hati. Diapun bukan orang bodoh. Sama sekali bukan. Peter seorang yang
amat cerdik, dan kecerdikkannya itulah yang membuat dia mengumpulkan ahli-ahli silat untuk
membantunya. Kini dia mulai tertarik. Dia akan menguji orang ini. Siapa tahu orang ini benarbenar
pandai dan kalau ada orang yang dengan tangan kosong mampu mengalahkan dia dan
pedangnya, orang itu berharga dan berguna sekali !
“Kamu berani melawan pedangku ? Nah, terimalah ini !” bentaknya dan Peter mulai
menyerang dengan pedangnya. Gerakannya cepat sekali dan dia memegang pedang dengan
tangan kanannya yang di julurkan ke depan sehingga pedang itu disambung lengan menjadi
panjang. Tubuhnya membuat gerakan-gerakan cepat ke depan, tangan kiri diangkat tinggi di atas
kepala untuk keseimbangan, dan pedang di tangannya itu mengeluarkan bunyi berdesing saking
cepat dan kuatnya dia menggerakkan pedang itu. Pedang membuat gerakan menusuk ke arah
leher lawan berbaju hitam. Ketika orang itu mengelak sambil menggeser kaki sehingga tubuhnya
miring dan pedang itu meluncur lewat, tiba-tiba Peter menggerakkan pergelangan tangannya dan
pedang itu menyambar dari samping dengan amat cepat, kini menyambar ke arah leher juga.
Akan tetapi, gerak cepat Peter masih kalah oleh kecepatan orang itu karena kembali bacokan ke
Pedang Naga Kemala > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com 310
arah leher itu luput ! Demikian cepatnya orang itu bergerak sehingga Peter tidak tahu bagaimana
cara orang itu mengelak, tahu-tahu orang itu sudah tidak lagi berada di tempat sasaran dan
serangannya luput !
Tidak kurang dari duapuluh kali serangan dilakukan oleh Peter, namun semua serangan
itu dapat dielakkan secara mudah saja oleh orang berpakaian hitam itu. Kemudian, ketika Peter
melanjutkan serangannya, dengan kaget dan heran dia melihat betapa orang itu tidak mengelak
lagi melainkan menangkis pedangnya dengan kedua tangan yang bergerak cepat.
“Tak-tak-tinggg .......... !”
Bukan main kagetnya hati Peter, kedua tangan telanjang orang itu mampu menangkis
pedangnya seperti sepasang tangan baja saja ! Bukan saja tidak terluka sama sekali, bahkan
ketika kedua tangan menangkis pedang, dia merasa lengannya tergetar hebat dan hampir saja
pedangnya terpental lepas. Dia merasa semakin penasaran, akan tetapi juga kagum bukan main.
Jelas bahwa dalam hal pukulan tangan kosong, dia kalah jauh oleh orang ini dan sekarang,
mungkinkah pedangnya dikalahkan oleh dua tangan kosong saja ? Dia menyerang lagi dan tibatiba
saja, entah dengan gerakan bagaimana, tahu-tahu pergelangan tangannya disentuh jari orang
itu dan tanpa dapat dielakkannya lagi karena tiba-tiba tangan kanannya menjadi lumpuh, pedang
itu telah berpindah tangan ! Orang berpakaian hitam itu mengeluarkan suara ketawa aneh, lalu
kedua tangannya menekuk pedang itu !
“Krekkk !” Pedang itu patah menjadi tiga potong lalu dibuang dengan sikap mengejek ke
atas tanah.
Melihat ini, wajah Peter berobah. Bukan main orang ini, pikirnya. Selain kagum, dia
juga merasa marah dan terhina. Dengan cekatan, dia lalu lari ke arah kudanya dan sekali
meloncat, dia telah berada di punggung kuda dan tangan kanannya sudah mencabut pistolnya.
Dia adalah seorang ahli tembak dari atas kuda. Dia merasa lebih yakin dan tenang kalau
memainkan pistol dari atas kuda, dari pada di atas tanah. Kini dia mengambil keputusan untuk
memilih satu antara dua. Membunuh orang ini karena berbahaya, atau mengujinya dan kalau
mungkin menariknya menjadi pembantu. Akan tetapi, karena pedangnya dipatahkan, dia akan
menguji sampai akhir, yaitu kini hendak mengujinya dengan menggunakan pistol. Ingin dia
melihat apakah orang ini benar-benar mampu menghindarkan diri dari bidikan pistolnya, seperti
yang dikabarkan sebagai dongeng tentang para pendekar sakti.
Dia mengangkat pistol, membidik ke arah orang itu, siap menembakkan pistolnya. Akan
tetapi, begitu pistolnya meledak, orang itu lenyap. Yang nampak hanya bayangan hitam
berkelebat cepat sekali dan tahu-tahu orang itu telah berdiri di atas sebuah batu besar ! Peter
cepat memutar kudanya dan menembak ke arah orang di atas batu itu, akan tetapi kembali
tembakannya luput karena orang itu sudah meloncat ke atas, seperti seekor burung saja cepatnya,
dan telah turun kembali jauh di sebelah belakangnya ! Peter terbelalak. Benar saja orang ini
mampu mengelak dari serangan pistolnya. Sampai dua kali tembakannya, yang dibidikkan
dengan cermat tadi, sama sekali tidak mengenai sasarannya. Orang seperti ini amatlah berguna
baginya, dan sayang kalau dibunuh. Lebih baik ditarik menjadi kawan dari pada menjadi lawan,
dan kalau orang ini menolaknya, masih belum terlambat baginya untuk membunuhnya dengan
peluru-peluru pistolnya yang masih siap di dalam senjata api itu.
Pedang Naga Kemala > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com 311
“Tahan .......... !” Teriaknya dan dari atas kudanya dia menghadapi orang berpakaian
serba hitam itu, pistolnya tidak lagi dibidikkan, melainkan dipegang dengan laras menunduk.
Peter cepat memutar kudanya dan menembak ke arah orang di atas batu itu, akan
tetapi kembali tembakannya luput karena orang itu sudah meloncat ke atas, seperti
seekor burung saja cepatnya, dan telah turun kembali jauh di sebelah belakangnya !
Orang berpakaian hitam itu tersenyum sinis, “Hemm, hanya begitu saja lihainya senjata
apimu ?”
Ejekan ini tidak memarahkan Peter karena dia mempunyai tujuan lain dengan orang ini.
“Nanti dulu, aku ingin berdamai dan bicara denganmu. Aku adalah Letnan Peter Dull,
amat terkenal dalam pasukan kami. Siapakah namamu ?”
Dengan suara dingin orang itu menjawab, “Namaku Koan Jit, akan tetapi orang lebih
mengenalku dengan sebutan Hek-eng-mo !”
“Hek-eng-mo (Bayangan Iblis Hitam) ? Sungguh sebutan yang hebat dan cocok sekali.
Kami amat membutuhkan orang-orang seperti kamu ini, Koan Jit. Kalau kamu suka ikut dengan
kami, suka membantu kami untuk menghadapi para perusuh dan penjahat, kamu akan diberi
pangkat, memimpin para jagoan yang membantu kami, dan kamu akan diberi hadiah besar,
tempat tinggal yang mewah, dan kamu akan menjadi kaya raya dan terpandang. Ketahuilah
bahwa aku adalah seorang perwira dari pasukan yang telah mengalahkan pasukan-pasukan
pemerintah, kami adalah pasukan pemenang, maka tidak keliru kalau seorang dengan kepandaian
seperti kamu ini menjadi pembantu kami.”
Koan Jit mendengarkan ucapan ini dan menundukkan muka dengan alis berkerut.
Otaknya bekerja dengan cepat dan cermat. Seperti kita ketahui, Koan Jit gagal membujuk atau
memaksa Kui Eng menjadi sekutunya, bahkan dia hampir celaka karena dihadapi Kui Eng yang
dibantu Lian Hong, dua orang gadis yang kalau bergabung menjadi satu dapat merupakan lawan
yang amat berbahaya baginya.
Pedang Naga Kemala > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com 312
Koan Jit bukan termasuk orang yang suka dengan orang kulit putih. Walaupun dia tidak
berjiwa patriot, bahkan tidak perduli akan semua urusan pemerintah atau orang lain, yang
dipikirkan hanyalah kepentingan dia sendiri saja. Kini dia menghadapi penawaran yang
dianggapnya menarik dari seorang Letnan pasukan kulit putih. Dia mempertimbangkan untung
ruginya. Tentu saja dia tidak begitu tertarik tentang harta karena kalau dia mau apa sukarnya
mencari harta ? Tinggal memasuki rumah orang-orang kaya dan mengambil sesuka hatinya !
Tidak, dia tidak tertarik oleh harta. Akan tetapi, kini setelah dia menjadi pemilik Giok-liongkiam,
semua orang kang-ouw mencarinya dan dia seolah-olah menjadi buruan orang-orang sakti
di dunia kang-ouw. Hal ini amatlah berbahaya. Baru mengingat bahwa gurunya dan dua orang
sutenya yang memiliki ilmu kepandaian tinggi pula itu tentu mencarinya, sudah membuat dia
merasa jerih. Apa lagi diingat bahwa tiga orang dari Empat Racun Dunia, yaitu Tee-tok, San-tok
dan Hai-tok bersama murid-murid merekapun mencarinya, dan mereka amat lihai. Belum lagi
orang-orang Siauw-lim-pai yang ingin mencuci bersih nama baik Siauw-bin-hud yang
dicemarkan oleh perbuatan Thian-tok. Pendeknya, sebagai pemilik Giok-liong-kiam, hidupnya
tidak aman lagi.
Dan kini terbukalah kesempatan yang amat baik baginya untuk dapat hidup aman. Kalau
dia menjadi pembantu pasukan kulit putih, tentu saja dia hidup aman, hidup terhormat dan
menduduki pangkat dan yang terpenting baginya, untuk sementara selagi urusan Giok-liong-kiam
masih sedang hangat-hangatnya, dia dapat berlindung pada kekuatan pasukan kulit putih yang
menjadi sekutunya.
Koan Jit kini mengangkat mukanya memandang dan Peter merasa betapa tengkuknya
menjadi dingin. Orang ini memiliki sinar mata yang mencorong seperti iblis, pikirnya.
“Baik, aku suka menerima usulmu. Akan tetapi agar kauketahui sebelumnya bahwa aku
tidak suka menjadi anak buah yang hanya melakukan perintah, aku ingin menjadi pemimpin !”
Peter Dull tertawa. “Ha – ha – ha, aku mengerti maksudmu. Engkau ingin bebas dan
mengepalai pasukan, bukankah demikian ? Jangan khawatir. Engkau menjadi pembantuku yang
utama, Koan Jit. Hanya aku yang akan memberi perintah kepadamu. Akan tetapi engkau akan
kuangkat menjadi komandan pasukan yang terdiri dari jagoan-jagoan yang sudah berhasil kami
kumpulkan. Jumlah mereka hampir seratus orang. Nah, engkau menjadi pemimpin mereka,
menjadi komandan yang membantu tugas-tugasku menjaga keamanan. Bagaimana ?”
Koan Jit mengangguk dan diam-diam Peter Dull merasa girang bukan main. Tak
disangkanya dia menemukan seorang pembantu yang demikian lihai. Makin kuat sajalah
kedudukannya, dengan seorang pembantu seperti Hek-eng-mo Koan Jit ini ! Akan tetapi
kegirangannya segera lenyap ketika ia teringat kembali kepada Diana. Begitu teringat, dia
terkejut sekali dan wajahnya berobah agak pucat.
“Celaka ! Di mana Diana .......... ??” Dia memandang wajah Koan Jit. “Koan Jit, katakan
di mana gadis itu ?”
“Gadis yang mana ?”
Pedang Naga Kemala > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com 313
“Apakah engkau tidak melihat seorang gadis berambut pirang naik kuda membalap lewat
sini ?”
Koan Jit menggeleng kepalanya. “Aku baru saja datang dan melihatmu, tidak melihat
adanya gadis menunggang kuda. Siapakah gadis itu ?”
“Gadis itu adalah Diana, puteri komandanku, komandan kita ! Hayo kaubantu aku
mencarinya, Koan Jit !” Peter lalu membedal kudanya, dan kembali dia kagum bukan main
melihat bayangan hitam berkelebat dan ternyata Koan Jit bukan hanya dapat mengimbangi
kecepatan kudanya, bahkan dapat mendahuluinya ! Bahkan pembantu barunya itu memberi
isyarat agar dia mengikutinya. Agaknya sambil berlari, Koan Jit dapat menemukan dan
mengikuti jejak kaki kuda yang membawa Diana. Mereka memasuki sebuah hutan besar dan
makin lama hutan itu semakin lebat sehingga diam-diam Peter merasa khawatir dan juga jerih.
Bagaimanapun juga, dia belum yakin benar akan kesetiaan orang yang baru saja diangkat
menjadi pembantunya itu. Maka, diam-diam diapun selalu mempersiapkan pistolnya.
Tiba-tiba Koan Jit memberi isyarat agar Peter berhenti. Dari depan terdengar bunyi derap
kaki kuda. Hati Peter berdebar tegang dan girang, mengharapkan bahwa itulah kuda bersama
Diana yang datang kembali. Tak lama kemudian muncullah kuda hitam besar itu .......... tanpa
Diana !
“Itu kudanya ! Tapi di mana Diana ………. ?” teriaknya penuh kegelisahan. Koan Jit
sudah menangkap kembali kuda itu yang terseret dan kuda itupun berhenti, terengah-engah dan
mendengus-dengus seperti yang merasa ketakutan.
“Celaka ………., tentu terjadi sesuatu dengan Diana !”
Koan Jit mengerutkan alisnya dan mengamati kuda hitam itu. “Kuda ini ketakutan, dan
biasanya kuda sebesar ini hanya takut kepada sebangsa harimau yang berkeliaran di tempat ini.
Tentu ia ketakutan bertemu dengan seekor harimau kumbang.”
“Apa .......... ? Dan Diana .......... ? Celaka, ia tentu menjadi mangsa harimau kumbang !”
Koan Jit menggeleng kepalanya. “Apakah gadis itu pandai menunggang kuda ?”
“Ia seorang ahli. Aku sendiri belum tentu menang.”
“Kalau begitu, ia tidak akan jatuh dari atas pelana kuda kalau kuda ini hanya ketakutan
saja. Di atas punggung kuda tidak terdapat tanda-tanda bercak darah, jadi gadis itu tidak
diterkam harimau ketika ia menunggang kuda ini. Mungkin kuda ini meronta dan bisa jadi gadis
itu terjatuh dan ditinggalkan kuda yang ketakutan. Mari kita cari,” kata Koan Jit yang meloncat
ke atas kuda hitam yang kini sudah dapat dijinakkan kembali.
Peter Dull merasa kagum dan girang. Kiranya pembantu ini memang orang yang selain
lihai ilmu silatnya, juga cerdik sekali dan memang dapat berdikari, dapat bekerja sendiri tanpa
menanti perintah. Buktinya, dalam hal mencari jejak Diana, orang ini segera telah mengambil
alih pimpinan dan dia sendiri malah menjadi pengikut !
Pedang Naga Kemala > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com 314
Mereka terus menyusup ke dalam hutan dan kembali Koan Jit berhenti, bahkan meloncat
turun dari kudanya. Peter juga ikut meloncat turun dan menghampiri Koan Jit yang sudah
berlutut di dekat seekor harimau kumbang besar yang sudah mati. Bangkai itu menggeletak
dengan mulut, hidung dan telinga mengeluarkan darah dan agaknya belum lama sekali binatang
itu mati karena darah itu belum kering benar.
“Aduh celaka ! Agaknya benar ada harimau kumbang. Tentu Diana telah tewas
diterkamnya !” Peter berseru dengan muka berubah pucat.
Akan tetapi kembali Koan Jit menggeleng kepalanya. Dia sudah melakukan penyelidikan
dengan cermat, mengamati keadaan bangkai harimau dan keadaan sekeliling. “Ia tidak diterkam
harimau ini. Lihat, pada taring dan kuku harimau ini tidak terdapat darah atau robekan kulit
daging. Hal ini berarti bahwa harimau ini tidak sempat menerkam orang, dan darah ini hanya
darahnya sendiri yang keluar dari mulut, hidung, telinga dan matanya. Dan di sekitar tempat
inipun tidak nampak tanda darah. Nona Diana itu tidak diterkam harimau di tempat ini.”
“Kalau begitu, ke mana ia pergi ? Dan harimau ini .......... bagaimana bisa mati di tempat
ini ?” Peter sudah tidak malu-malu lagi untuk menyerahkan penyelidikan tentang Diana kepada
pembantunya yang baru ini karena dia benar-benar gelisah dan tidak dapat menduga apa yang
telah terjadi.
“Harimau ini tewas karena pukulan tangan kosong. Mati tanpa luka di luar tubuhnya,
berarti bahwa binatang ini tewas di tangan seorang yang memiliki ilmu kepandaian tinggi. Dan
besar kemungkinan nona Diana dibawa pergi oleh orang yang membunuh harimau itu.”
“Ke mana ?” tanya Peter terkejut.
“Harus kita selidiki lebih dulu. Jejak seorang berilmu tidak mudah diikuti, karena
langkah-langkahnya tidak menimbulkan bekas. Kita harus teliti dan sabar mencari dan mengikuti
sampai kita dapat menemukan mereka.”
Akan tetapi hati Peter sudah terlampau gelisah. Kalau orang yang membawa pergi Diana
itu dapat membunuh seekor harimau kumbang besar dengan pukulan tangan, betapa
berbahayanya orang itu ! Mencari orang itu hanya berdua dengan Koan Jit, selain amat
berbahaya, juga akan sedikit kemungkinannya berhasil.
“Tidak kita harus kembali ke Kanton. Aku akan mengerahkan pasukan untuk
mencarinya.”
Koan Jit tersenyum dingin. Tentu saja urusan hilangnya seorang gadis kulit putih tidak
ada hubungannya dengan dia dan dianggap urusan kecil saja. “Kalau begitu, mereka sudah akan
pergi jauh.”
“Dengan pasukan, aku akan dapat menyusul dan menemukan Diana, di manapun juga ia
berada dan aku akan menghukum orang itu !” bantah Peter, “Sekarang mari kita kembali ke
Pedang Naga Kemala > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com 315
Kanton agar dapat cepat mempersiapkan pasukan dan melapor kepada Kapten Charles Elliot
paman gadis itu.”
Koan Jit mengangkat kedua pundaknya dan diapun mengikuti letnan itu meloncat kembali
ke atas punggung kuda dan merekapun membalapkan kuda mereka keluar dari hutan itu, kembali
ke Kanton.
***
Ke manakah perginya Diana ? Apa yang telah terjadi dengan gadis kulit putih berambut
pirang yang cantik jelita itu ? Dugaan-dugaan yang dilakukan Koan Jit memang tepat sekali.
Ketika Diana diajak melancong oleh Peter Dull pada hari yang cerah itu, ia tidak dapat
menolak. Sudah terlampau sering ia menolak ajakan Peter. Ia tidak suka berkencan dengan Peter
yang terkenal sebagai penggoda dan perayu wanita itu. Ia tentu saja kenal baik dengan Peter
yang menjadi tangan kanan pamannya, yaitu Kapten Charles Elliot. Dan agaknya pamannya juga
condong menyetujui kalau sampai ia menerima uluran tangan Peter Dull yang masih bujangan,
dan ahliwaris keluarga yang kaya raya di India itu. Akan tetapi, Diana tidak suka melihat sikap
Peter yang demikian sombong, yang seolah-olah memandang rendah dan meremehkan kaum
wanita yang dianggap barang permainan belaka yang boleh dibuang dan diganti dengan yang
baru setiap waktu dia sudah merasa bosan. Ia sudah mendengar betapa banyaknya wanita yang
bertekuk lutut, kemudian disia-siakan oleh Peter, menderita patah hati dan aib.
Pagi yang cerah itu Diana merasa gembira sekali, maka ketika Peter menajaknya berkuda
dengan janji akan menunjukkan tempat-tempat yang amat indah di luar kota Kanton, iapun
setuju. Dengan berkuda, Diana merasa aman. Sejak kecil ia suka naik kuda dan apa yang akan
dapat dilakukan Peter terhadap dirinya kalau ia berada di atas kuda ? Bukan berarti bahwa ia
takut terhadap Peter. Peter tidak akan mampu mengganggunya, karena Peter tentu takut kepada
pamannya, Kapten Charles Elliot. Akan tetapi, ia melihat betapa Peter memang amat pandai
merayu, pandai membujuk sehingga kadang-kadang Diana merasa khawatir kalau-kalau ia sendiri
akan terpeleset. Ia merasa ngeri membayangkan hal ini terjadi pada dirinya.
Ketika mereka memasuki hutan, Diana sebenarnya sudah muak karena di sepanjang
perjalanan, seperti biasa Peter mulai lagi dengan rayuan-rayuan mautnya, memuji-mujinya
setinggi langit, menyatakan betapa ia menderita penyakit rindu terhadap dirinya yang amat hebat
dan yang mungkin akan mendatangkan maut kepadanya. Lalu membayangkan betapa akan
bahagianya kalau mereka dapat menjadi satu, menggambarkan keadaan yang indah-indah dan
muluk-muluk. Diana merasa muak mendengarkan ini semua, maka iapun mengajak berlumba
untuk menghentikan bujuk rayu itu. Bahkan, mengandalkan kepandaiannya menunggang kuda,
ia sengaja menyimpang dari perjalanan, membelok dengan tiba-tiba dan meninggalkan Peter.
Akan tetapi, ketika kudanya sudah jauh meninggalkan Peter dan memasuki hutan, tibatiba
kuda hitamnya itu meringkik keras, lalu kabur ! Ia terkejut dan berusaha untuk menguasai
kuda hitamnya, namun binatang yang nampak ketakutan itu membedal terus seperti gila !
Terpaksa Diana hanya mendekam di atas kudanya, menjepit perut kuda sehingga ia tidak sampai
terlempar dari atas pelana. Akan tetapi, kuda itu memasuki bagian yang penuh belukar, sehingga
tubuh Diana dicambuki ranting-ranting dan tumbuh-tumbuhan menjalar yang malang-melintang
Pedang Naga Kemala > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com 316
ketika kuda itu menerjang tempat itu. Diana menjerit-jerit kecil ketika gaunnya tersangkut dan
terobek, bahkan kulitnya mulai lecet-lecet terkait duri.
Kuda itu berlari terus, masih ketakutan seperti dikejar setan, keluar dari hutan lebat itu
dan memasuki daerah yang penuh batu-batu sebesar bukit kecil dan pohon-pohon raksasa. Dan
tiba-tiba saja berkelebat bayangan hitam dan kuda itu kembali meringkik, tubuhnya gemetar dan
Diana juga mengeluarkan pekik tertahan karena di depan mereka telah berdiri seekor harimau
hitam yang matanya mencorong hijau menyeramkan ! Harimau kumbang itu besar sekali dan
mengeluarkan gerengan-gerengan sambil memperlihatkan taring-taringnya yang runcing.
Diana hampir pingsan saking takut dan kagetnya dan pada saat itu, kuda hitam melakukan
gerakan mengangkat kedua kaki depannya ke atas, lalu meloncat ke samping dan melarikan diri,
meninggalkan Diana yang terbanting jatuh. Kalau saja Diana dalam keadaan biasa, gadis yang
ahli menunggang kuda ini tentu tidak akan terlempar dari pelana. Akan tetapi pada saat itu,
melihat seekor harimau besar menghadang, ia sudah terkejut ketakutan dan hampir pingsan, dan
dalam keadaan lemas itu, kuda hitam mengangkat kaki depan ke atas lalu meloncat ke samping.
Tentu saja Diana tidak lagi mampu mempertahankan dirinya dan ia terlempar jatuh.
Dapat dibayangkan betapa ngeri dan takut rasa hati gadis itu melihat kudanya melarikan
diri dan kini ia terbelalak memandang ke arah harimau kumbang yang masih berdiri memandang
dengan matanya yang hijau mencorong itu. Anehnya ketika Diana bangkit berlutut, harimau itu
lalu mendekam pula dan sama sekali tidak bergerak ketika Diana merangkak menjauhi harimau
itu sambil menengok. Kaki tangan yang dipakai merangkak itu menggigil dan beberapa kali
Diana terpeleset jatuh. Kemudian ia bangkit berdiri dan tiba-tiba harimau itu menggereng. Tadi,
ketika Diana merangkak, harimau itu hanya memandang, agaknya merasa lucu melihat mahluk
yang merangkak demikian lambannya, akan tetapi ketika Diana bangkit harimau itu agaknya
maklum bahwa calon mangsanya akan melarikan diri. Diapun bangkit dan mengambil sikap siap
menubruk.
Diana merasa seolah-olah kedua kakinya lumpuh. Ia tidak mampu lagi melangkah,
saking takutnya. Bibirnya gemetar tidak mampu mengeluarkan suara dan sepasang matanya
terbelalak, seperti terpesona oleh sihir yang keluar dari pandang mata harimau itu.
Harimau itu kembali menggereng, kini gerengannya kuat sekali dan tiba-tiba tubuhnya
meloncat tinggi dengan keempat kakinya membentuk cakar siap mencengkeram mangsanya.
Diana masih terbelalak dan ia hanya dapat pasrah menanti kematian yang mengerikan, maka ia
segera memejamkan matanya.
Akan tetapi, ia tidak merasakan tubuhnya diterkam, bahkan mendengar harimau itu
mengeluarkan gerengan lagi. Cepat ia membuka mata dan kembali matanya terbelalak. Hampir
ia tidak dapat percaya akan pandang matanya sendiri karena yang terjadi di depannya itu sungguh
sukar untuk dapat dipercaya.
Kiranya ketika harimau kumbang itu menubruk, tiba-tiba saja, entah dari mana datangnya,
tahu-tahu di situ sudah muncul seorang gadis manis berpakaian sederhana menghadang terkaman
harimau. Ketika tubuh harimau itu datang menerkam dengan dahsyatnya, gadis itu cepat
Pedang Naga Kemala > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com 317
menangkap kaki depan harimau, lalu menggeser kaki kanan ke belakang, tubuhnya direndahkan
dan dengan meminjam tenaga terkaman itu, ia membanting tubuh harimau itu ke kanan.
“Brukkk .......... !” Dengan kepala lebih dulu, tubuh harimau itu menghantam batang
pohon !
Harimau itu tentu saja memiliki tubuh yang kuat sekali. Biarpun agaknya pening, ia
sudah menggereng dan hendak membalik untuk menyerang orang yang menyakitinya. Akan
tetapi, gadis itu sekali loncat sudah berada di belakang, dan mengayun kedua tangannya.
“Hyaaaaattt !! Hyaaaattt !!” Dua kali sepasang tangan kecil itu menyambar, yang kanan
lebih dulu disusul yang kiri. Dua kali hamtaman dengan telapak tangan yang dilakukan dengan
pengerahan tenaga sinkang sambil mengeluarkan bentakan nyaring itu tepat mengenai kepala di
belakang telinga kiri kanan harimau itu.
Kiranya ketika harimau kumbang itu menubruk, tiba-tiba saja, entah dari
mana datangnya, tahu-tahu di situ sudah muncul seorang gadis manis
berpakaian sederhana menghadang terkaman harimau.
“Tukkk ! Tukkk !!” Menerima pukulan yang amat dahsyat ini, harimau itu terkulai,
keempat kakinya berkelojotan, dari mulut, hidung, telinga dan matanya mengalir darah, dan tak
lama kemudian binatang itupun mati.
Dengan sepasang mata masih terbelalak Diana memandang ke arah gadis itu, kemudian
ke arah harimau, lalu ia menggosok-gosok kedua matanya dengan punggung tangan, memandang
lagi. Sukar dipercaya ! Memang, ia sudah mendengar banyak dongeng dari mulut para pelayan
tentang para pendekar yang amat gagah perkasa, bahkan pernah nonton wayang dengan cerita Bu
Siong Phak Houw (Pendekar Bu Siong Membunuh Harimau) di mana diceritakan betapa
pendekar itu membunuh seekor harimau hanya dengan pukulan tangan saja. Akan tetapi seorang
wanita ? Seorang gadis yang kelihatannya begitu muda ?
“Ya Tuhan .......... !” Berkali-kali bibirnya bergerak dan akhirnya terdengar keluhan ini.
Gadis itupun memandang kepadanya dengan takjub. Agaknya gadis itu kagum melihat matanya
kebiruan, warna rambutnya yang kuning emas, tubuhnya yang tinggi semampai dengan tonjolantonjolan
yang demikian matang. Apa lagi kini gaun yang menutup tubuh Diana sudah tidak utuh
Pedang Naga Kemala > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com 318
lagi, sudah cabik-cabik tidak keruan sehingga sebagian paha kanan dan perutnya nampak,
kulitnya putih mulus kemerahan.
Gadis itu lalu melangkah maju menghampiri, agaknya bimbang dan tidak tahu harus
bicara apa karena ia tahu bahwa gadis berambut pirang ini tentu seorang wanita kulit putih,
seorang asing yang belum tentu dapat mengerti kalau diajaknya bicara.
Akan tetapi Diana sudah mempelajari bahasa daerah, walaupun hanya sedikit-sedikit
karena ia datang ke Kanton sesudah dewasa dan hanya beberapa bulan saja mempelajari bahasa
itu.
“Terima kasih .......... terima kasih ..........” kata Diana mendahului dan ia mengulurkan
tangan kepada gadis itu. Gadis itu menjura dan mengangkat tangannya ke depan dada, sama
sekali tidak menyambut uluran tangan Diana karena agaknya ia tidak mengerti bahwa uluran
tangan itu mengajak bersalaman. Sambil menjura gadis itu menjawab.
“Tidak perlu sungkan. Siapapun melihat engkau terancam bahaya, tentu akan turun
tangan menolongmu.”
Diana teringat bahwa orang-orang pribumi saling menyalam dengan caranya sendiri, yaitu
dengan mengangkat kedua tangan di depan dada, bukan berjabat tangan, maka iapun cepat
menjura. “Terima kasih, kau .......... kau baik sekali .......... kau kuat hemm .......... lihai !”
Gadis itu tersenyum manis. Seorang gadis yang manis, bermata lebar dan biarpun
pakaiannya sederhana seperti pakaian petani, nampak jelas bentuk tubuhnya yang ramping dan
berisi.
“Kita harus cepat pergi dari sini, jangan sampai teman-temannya datang, bisa berbahaya.
Kau datang dari mana ?”
Karena gadis itu bicara cepat, agak sukar Diana menangkapnya. Ia menggeleng
kepalanya. “Aku tidak tahu ………. Kudaku kabur.”
Gadis itu maklum bahwa gadis asing ini tak tahu jalan pulang. Paling penting
menyelamatkannya dan pergi dari tempat berbahaya ini, pikirnya. Kalau sampai ada rombongan
harimau kumbang datang, lebih dari dua ekor saja ia sudah akan payah menghadapi keroyokan
mereka.
“Mari, kita pergi. Di sana ada dusun,” ajaknya sambil menunjuk ke arah belakang.
Diana mengangguk, lalu ia mengikuti gadis itu. Melihat betapa Diana nampak
kepayahan, juga kulit tubuhnya lecet-lecet, gadis itu memandang dan merasa kasihan. “Mari,
ikut dengan aku !” Ia lalu menggandeng tangan Diana dan setengah menarik gadis berambut
pirang itu, diajaknya lari menyusup-nyusup dengan cepat.
“Siapa namamu ?” Diana bertanya sambil ikut berlari-lari kecil di samping penolongnya.
Pedang Naga Kemala > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com 319
Tanpa berhenti berlari, gadis itu menjawab, “Namaku Siauw Lian Hong, dan kau siapa ?”
Tentu saja nama itu tidak ada artinya bagi Diana. Ia tidak tahu bahwa nama ini adalah
nama seorang gadis perkasa, murid seorang sakti, datuk persilatan terkenal yang lebih
mengerikan dengan julukan San-tok, Racun Gunung, seorang di antara Empat Racun Dunia.
Seperti kita ketahui, Lian Hong telah berpisah dari Kui Eng dan kini ia dalam perjalanan
hendak melaporkan kepada gurunya tentang Koan Jit yang dijumpainya. Ketika ia melewati
hutan itu dan mendengar suara harimau kumbang menggereng, ia terkejut. Gadis ini sudah
banyak merantau dan mengenal keadaan binatang buas di hutan-hutan. Gerengan harimau
kumbang itu memberi tahu kepadanya bahwa ada orang yang terancam oleh harimau yang lapar
itu. Dan iapun berlari cepat dan pada waktu yang tepat berhasil menyelamatkan Diana !
“Namaku Diana .......... Diana Mitchell ..........”
Nama terakhir itu terlalu sukar bagi lidah Lian Hong. Baru diucapkan saja sudah tidak
mampu menirukan. Yang teringat hanya Diana saja, karena nama ini mudah diingat, mudah pula
diucapkan.
“Diana, kau cantik sekali. Mata dan rambutmu indah, seperti bintang dan emas !” Lian
Hong memuji.
Diana tersenyum gembira. Biarpun ia baru saja terbebas dari bahaya maut yang
mengerikan, namun bertemu dan berkenalan dengan seorang gadis seperti Lian Hong ini sungguh
menyenangkan hatinya. Ia lalu merangkul pundak Lian Hong yang tingginya hanya sampai di
bawah telinganya.
“Lian Hong, engkaulah yang cantik sekali. Cantik dan menarik, dan engkau sungguh
gagah perkasa.” Ucapannya itu dikeluarkan secara tersendat-sendat dan tidak lancar, karena ia
harus memilih kata-kata dulu. Akan tetapi Lian Hong dapat mengerti dan ia tersenyum,
keduanya tersenyum.
“Engkau yang gagah berani, Diana. Engkau seorang wanita berani sendirian saja di
dalam hutan seperti itu. Dan ketika haimau itu mengancammu, engkau tidak berteriak minta
tolong.”
“Aku tidak sendirian, tadinya aku bersama seorang teman pria. Dan aku tidak berteriak
karena .......... aku sudah kehilangan suara saking takutku. Hi-hik, aku nyaris terkencing di
tempat saking takutku.”
Mendengar ucapan yang begitu jujur dan tanpa disembunyikan, mau tak mau Lian Hong
tertawa dan Diana juga tertawa. Keduanya tertawa gembira dan diam-diam Lian Hong kagum.
Gadis asing ini ketawa begitu bebas, dan juga termasuk seorang gadis yang tabah, karena baru
saja terlepas dari bencana yang begitu mengerikan akan tetapi sekarang sudah dapat tertawatawa
!
Tiba-tiba ia teringat. “Teman priamu itu ? Suamimukah dia ?”
Pedang Naga Kemala > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com 320
Diana terbelalak. “Suamiku ? Ah, sama sekali bukan ! Hanya teman biasa. Dia seorang
Letnan pasukan keamanan, namanya Peter Dull. Kami berdua menunggang kuda, dan ketika tiba
di tempat itu, aku tantang dia berlumba. Aku membalap dulu dan akhirnya kudaku ketakutan,
agaknya mencium bau harimau dan diapun kabur. Ketika bertemu harimau, dia mengangkat
kedua kaki depan tiba-tiba dan aku terlempar ! Dan kau sendiri, apakah kau sudah bersuami ?”
Ditanya begini saja, Lian Hong sudah merasa malu. Wanita ini bicara tentang suami
seperti orang bicara tentang pakaian saja ! Lian Hong menggeleng kepala.
Diana tertawa. “Wah, menjadi suamimu harus seorang laki-laki yang kuatnya melebihi
harimau kumbang tadi. Kalau tidak, sekali tampar kalau sedang bergurau bisa membuat dia
mati !”
Kembali Lian Hong tertawa geli. Gadis kulit putih ini ternyata seorang yang berwatak
gembira, jenaka dan suka bergurau walaupun kata-katanya terbatas. Akan tetapi, kata-kata yang
sukar keluar dan kadang-kadang terdengar janggal dan tidak keruan susunannya itu malah
membuat ucapannya semakin lucu. Sepasang mata yang biru itu demikian hidup, penuh gairah
dan senyumnya demikian cerah, penuh kegembiraan. Seorang gadis yang luar biasa, pikir Lian
Hong kagum.
Di lain pihak, Diana merasa semakin kagum terhadap Lian Hong. Seorang gadis
sederhana dan melihat betapa gadis ini dengan tangan kosong mampu membunuh seekor harimau
kumbang, tadinya ia mengira bahwa tentu gadis ini seorang yang bertenaga besar, kasar dan
kejantanan. Akan tetapi setelah mereka bercakap-cakap, ia mendapat kenyataan bahwa Lian
Hong seorang gadis yang sederhana namun cerdik, halus budi pekertinya, dan halus pula gerakgeriknya.
Bahkan gadis itupun bersikap ramah dan sopan. Melihat kelembutan sikapnya,
melihat tubuh yang sempurna lekuk lengkungnya, halus polos kulitnya, yang membayangkan
kehalusan dan kehangatan, sungguh sukar dapat dipercaya bahwa di balik kelembutan itu terdapat
kekuatan yang demikian hebatnya ! Timbullah keinginannya untuk dapat menjadi seperti Lian
Hong, atau setidaknya mempelajari dan mengetahui bagaimana caranya gadis selembut itu dapat
memiliki kekuatan sehebat itu.
Setelah mereka tiba di tempat yang aman, keluar dari hutan itu, Lian Hong yang merasa
kasihan melihat betapa Diana nampak kelelahan, mengajaknya untuk beristirahat di bawah
sebatang pohon besar. Ia membuka buntalan pakaiannya, mengeluarkan bekal roti kering dan
daging dendeng, lalu mengisi tempat airnya yang kosong dengan air sumber yang jernih dari
puncak bukit.
“Kita beristirahat dan makan dulu. Makan seadanya saja, Diana.”
Akan tetapi, “makan seadanya” ini merupakan makanan paling lezat yang pernah
dirasakan oleh Diana. Roti kering dan daging dendeng itu, dibantu dengan air jernih. “Aku tidak
mempunyai rumah. Selama ini numpang di tempat pertapaan guruku, di Pegunungan Wuyi-san.”
“Keluargamu .......... ? Orang tuamu ?”
Pedang Naga Kemala > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com 321
Kembali Lian Hong menggeleng. “Orang tuaku sudah meninggal dunia, aku tidak
mempunyai seorangpun keluarga, kecuali guruku seorang.” Lian Hong berhenti sebentar, lalu
melanjutkan, “Aku sebatangkara.”
Diana merasa demikian terharu mendengar ini sehingga ia merangkul Lian Hong,
maksudnya untuk menghibur. Akan tetapi dengan halus Lian Hong melepaskan rangkulan itu,
dan berkata, “Dan engkau sendiri ? Di mana rumahmu, Diana ?”
“Orang tuaku di Inggris, mereka hidup sebagai petani. Aku ikut dan mondok di rumah
pamanku, Kapten Charles Elliot di Kanton.”
Lian Hong mengangguk-angguk. “Akan kuantar kau kembali ke Kanton.”
Akan tetapi Diana menggeleng kepala keras-keras. “Tidak, aku tidak mau pulang ke
sana !”
“Eh .........., kenapa, Diana ?”
Diana teringat akan kehidupannya di Kanton. Hidup di antara orang-orang besar, hidup
mewah dan serba kecukupan, enak-enakan akan tetapi ia merasa seperti menjadi burung dalam
kurungan. Memang selama ini ia tidak pernah merasa demikian, akan tetapi begitu bertemu dan
berkenalan dengan Lian Hong, ia melihat diri Lian Hong seperti seekor burung yang beterbangan
di antara pohon-pohon besar dengan bebasnya, sedangkan dirinya sendiri seperti seekor burung
yang berada dalam sebuah sangkar, walaupun sangkar itu cukup besar dan terbuat dari emas !
Dan kini timbul keinginan hatinya untuk merantau dan hidup bebas seperti Lian Hong ! Apa lagi
kalau ia teringat akan sikap Peter Dull, dan kecondongan paman dan bibinya untuk menjodohkan
ia dengan laki-laki itu, hatinya menjadi semakin tawar untuk kembali ke rumah pamannya di
Kanton. Membandingkan kehidupan yang penuh kemunafikan, penuh kepura-puraan dan sopan
santun yang tolol dan dibuat-buat, pakaian yang gedombrangan menurutkan mode dan yang
membatasi gerakan-gerakannya, dengan kehidupan sederhana tapi bebas seperti Lian Hong,
sungguh membuat ia melihat perbedaan-perbedaan yang amat menyolok.
“Aku .......... sementara ini tidak ingin pulang.”
“Habis kau mau ke mana, Diana ?”
“Aku mau merantau. Aku mau ikut denganmu.” Tiba-tiba ia merangkul leher Lian Hong
dan mencium pipi gadis itu. Perbuatan Diana ini demikian tiba-tiba dan terbuka, membuat Lian
Hong merasa terkejut dan mukanya berubah merah karena jengah. “Lian Hong, sahabatku yang
baik, tolonglah, perbolehkan aku pergi bersamamu. Aku ingin hidup seperti engkau, hidup bebas
seperti seekor burung di udara !”
“Tapi, mana mungkin itu, Diana ? Kehidupan seperti aku adalah kehidupan penuh
kesukaran dan kekerasan, penuh bahaya ?”
“Aku berani menghadapi segala kesukaran itu, Lian Hong !” jawab Diana tegas.
Pedang Naga Kemala > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com 322
“Tapi ………. Kau biasa hidup mewah. Lihat, pakaianmu yang indah sekali. Kau dari
keluarga mewah dan kaya raya. Mana mungkin hidup seperti aku, tidak tentu tempat tinggalnya,
kadang-kadang satu dua hari tidak makan, kadang-kadang harus melakukan perjalanan amat jauh
dan sukar, kepanasan, kehujanan, kadang-kadang harus tidur di bawah pohon, di dalam kuil-kuil
tua ……….”
“Aku tidak takut ! Aku ingin mengecap kebebasan dan untuk kebebasan itu, walaupun
hanya untuk beberapa waktu, aku mau menebusnya dengan semua kekurangan dan penderitaan
itu.”
Bagaimanapun ia merasa suka dan kasihan kepada gadis kulit putih itu dan ingin
menyenangkan hatinya, namun Lian Hong tetap mengerutkan alisnya dan hatinya melarang ia
menerima permintaan Diana. Membawa seorang seperti Diana ini pergi merantau merupakan
perbuatan gila. Merantau pada waktu itu sama sekali bukan perjalanan wanita, apa lagi wanita
lemah. Di mana-mana menghadang bahaya besar. Di mana-mana tidak aman. Hanya para
wanita kang-ouw saja, itupun yang benar-benar telah memiliki kepandaian tinggi sehingga
mampu membela diri dengan baik, yang akan berani melakukan perjalanan merantau seorang
diri. Dan Diana adalah seorang wanita lemah, sama sekali tidak mampu membela diri, walaupun
ia memiliki ketabahan besar. Apa lagi kalau diingat bahwa ia adalah seorang gadis asing kulit
putih. Tentu saja bahaya mengancamnya di mana-mana !
“Diana, dengarlah baik-baik,” katanya halus sambil memegang pundak gadis tinggi
semampai itu. “Sungguh, aku akan senang sekali melakukan perjalanan bersamamu. Akan tetapi
terpaksa aku menolak permintaanmu itu, Diana. Tidak mungkin aku mengajakmu menempuh
bahaya-bahaya besar yang menghadang di tengah perjalanan. Resikonya terlampau besar dan
kalau sampai aku tidak dapat melindungimu dan terjadi apa-apa pada dirimu, aku yang akan
merasa menyesal sekali. Maaf, Diana, aku sungguh terpaksa tidak dapat memenuhi
permintaanmu itu. Aku hanya akan mengantarmu pulang ke Kanton agar engkau dapat kembali
dan hidup aman dengan keluarga atau pamanmu di sana.”
Mendengar keterangan yang panjang lebar ini, wajah Diana nampak layu dan kosong.
Kekecewaan membuat ia lemas dan tertunduk kembali setelah tadi dengan penuh semangat ia
berdiri, dan kini ia memandang jauh dengan sinar mata kosong, mulut agak terbuka dan ada
butiran air mata tergenang di pelupuk matanya. Melihat keadaan gadis ini, Lian Hong merasa
terharu dan kasihan sekali.
Dengan suara terputus-putus karena ia harus mencari-cari kata-kata yang belum
dihafalnya benar itu, ia berkata lirih. “Hidup dengan aman ?”
“Ya, engkau tentu akan disambut dengan gembira oleh mereka dan engkau akan hidup
berbahagia lagi di sana, Diana.”
Diana menggeleng kepala dan dua butir air mata menetes turun. “Tidak, aku tidak pernah
merasakan apa dan bagaimana yang dinamakan bahagia itu. Lian Hong, tahukah engkau apakah
bahagia itu ? Apakah engkau berbahagia ?”
Pedang Naga Kemala > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com 323
Lian Hong tertegun dan iapun lalu duduk di dekat Diana, termenung sejenak sebelum
menjawab. Pertanyaan itu dirasakannya terlalu tiba-tiba datangnya sehingga membuat ia sendiri
menjadi bingung. “Bahagia .......... ?” Akhirnya ia berkata seperti bertanya kepada diri sendiri,
matanya merenung jauh. “Aku hanya pernah mendengar kata itu dibicarakan orang. Aku sendiri
tidak tahu apakah aku berbahagia, atau aku tidak ingat lagi apakah pernah merasakannya.”
“Tapi engkau hidup begini menyenangkan, begini bebas dan enak seperti burung
berterbangan di angkasa, sesuka hatinya, tanpa ada yang menghalangi, tanpa ada ikatan-ikatan
munafik, begini dekat dengan alam ! Kau pasti bahagia !”
Lian Hong menarik napas panjang. “Aku tidak tahu, Diana. Akan tetapi agaknya sudah
sepatutnya kalau kita berusaha untuk mencapai kebahagiaan, dengan cara dan jalan masingmasing
tentunya. Kebahagiaan orang tentu berbeda-beda, yang dapat mendatangkan kebahagiaan
kepadaku belum tentu demikian kepadamu dan sebaliknya. Aku memang hidup merantau dan
bebas, akan tetapi aku tidak merasakan bahagia. Kurasa, kita harus mencarinya untuk
menemukan kebahagiaan itu.”
Diana termenung, lalu berkata, “Kekayaan dan kedudukan tidak mendatangkan
kebahagiaan. Kalau kebebasan seperti engkau inipun tidak mendatangkan kebahagiaan, aku tidak
tahu lagi di mana letak kebahagiaan. Pendeta kami pernah berkata bahwa kebahagiaan hanya
dapat dicapai melalui Tuhan, melalui Agama. Dan sejak kecil aku sudah dididik dalam Agama,
namun belum juga aku pernah merasakan kebahagiaan itu. Ada pula yang bilang bahwa
kebahagiaan adalah Sorga, dan Sorga hanya baru dapat dicapai kalau kita sudah mati. Ah, aku
tidak mau bahagia sesudah mati, aku ingin kebahagiaan selagi masih hidup ini !”
Dua orang gadis itu kini berdiam diri, seperti berubah menjadi patung, tenggelam ke
dalam renungannya sendiri, terpesona oleh kata “bahagia” yang menjadi bahan percakapan
mereka tadi.
Dua orang gadis itu terlalu jauh terseret oleh segala macam teori yang pernah mereka
dengar atau baca mengenai kebahagiaan. Kebahagiaan bukanlah sesuatu yang dapat dibicarakan
dengan teori, melainkan suatu keadaan batin yang hanya dapat dirasakan oleh diri sendiri.
Kebahagiaan adalah suatu keadaan yang tidak mungkin dapat digambarkan, bahkan tidak
mungkin dapat dicari. Kalau dicari tidak mungkin akan dapat. Yang dapat dicari hanyalah
kesenangan, dan kesenangan hanyalah pengulangan dari suatu peristiwa yang dianggap
menyenangkan dan mengenakkan yang pernah dialami atau pernah didengar dari orang lain.
Akan tetapi kesenangan hanya merupakan suatu peristiwa singkat yang akan segera berlalu,
seperti juga kesusahan yang menjadi saudara kembarnya. Kita selalu terombang-ambing antara
mencari kesenangan dan menghindari kesusahan, sehingga dengan demikian, batin kita seperti
selalu bergelombang dan penuh dengan ombak-ombak kesenangan dan kesusahan. Padahal,
kebahagiaan adalah keheningan dan ketenangan batin yang tidak terlanda oleh sesuatu yang
merangsangnya, seperti samudera yang tenang dan sedikitpun tidak dikacau ombak, baik itu
ombak kesenangan maupun ombak kesusahan. Jadi, kebahagiaan, seperti juga kedamaian, seperti
juga keheningan, tidak mungkin bisa dicari atau dikejar. Karena, kebahagiaan itu baru ada kalau
segala kebisingan telah lenyap, seperti juga samudera kebahagiaan yang tenang itu baru ada kalau
semua ombak susah senang sudah tidak mengganggu lagi.
Pedang Naga Kemala > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com 324
Kebahagiaan adalah keadaan hati yang mampu menerima segala sesuatu seperti apa
adanya, tidak terpengaruh oleh sesuatu. Kebahagiaan sudah ada setiap saat, hanya untuk dapat
merasakannya, segala macam pengaruh harus meninggalkan batin kita, karena hanya batin yang
bebas sajalah, bebas dalam arti kata seluasnya, bebas tidak terikat oleh kesenangan atau
kesusahan, tidak terikat oleh apapun juga, yang akan mampu mengerti apa sesungguhnya yang
dinamakan kebahagiaan itu. Kebahagiaan adalah seperti sinar matahari yang selalu ada. Kalau
tidak nampak, maka sudah pasti bahwa ada yang menghalangi atau menutupi sinar itu. Kalau
penghalang atau penutupnya lenyap, sudah pasti cahaya itu akan bersinar dengan cerahnya.
Dalam keadaan gelap karena cahaya itu teraling, percuma sajalah mencari-cari cahaya itu, karena
tidak mungkin akan bertemu. Dan segala macam penghalang itu berada di dalam batin kita
sendiri !
Orang yang selalu ingin mengejar kesenangan, dan orang yang selalu ingin
menghindarkan kesusahan, takkan pernah dapat mengenal apa sebenarnya kebahagiaan. Bukan
berarti bahwa kita tidak boleh menikmati kesenangan atau meninggalkan keduniawian lalu
bertapa di puncak gunung. Menikmati kesenangan adalah hak kita sebagai manusia hidup,
karena kita telah diberi panca indera sebagai alat untuk menikmati kesenangan dalam hidup ini.
Namun, senang susah itu baru timbul apa bila ada perbandingan dalam hati. Kalau kita menerima
segala sesuatu sebagai apa adanya, sebagai suatu kewajaran, maka tidak ada lagi sebutan senang
susah itu, tidak tercipta ombak-ombak senang susah yang saling bertentangan.
“Aku tidak mau pulang !” Tiba-tiba Diana berkata, mengambil keputusan. “Kalau
engkau tidak mau mengajakku pergi merantau, aku akan pergi sendiri, Lian Hong. Aku tidak
mau kembali ke Kanton sekarang. Belum mau pulang maksudku. Aku ingin merantau dulu
sampai aku puas dapat merasakan bagaimana sesungguhnya kehidupan di dunia luar gedung itu,
di luar sangkar itu. Aku ingin terbang bebas dulu sebelum kembali ke sangkar.”
Lian Hong memandang wajah gadis itu penuh selidik. “Diana, kalau kau mau nekat pergi
merantau, apa yang akan kaulakukan ? Selain banyak bahaya menghadang, apa yang akan
kaumakan dan pakai ? Lihat, pakaianmu saja sudah hampir tak dapat dipakai lagi, sudah cabikcabik.
Dan engkau perlu makan setiap hari. Dan ke mana engkau akan pergi ? Engkau tidak
mengenal jalan, engkau tidak tahu akan pergi ke mana.”
“Aku tidak perduli, Lian Hong. Pendeknya, aku akan merantau dan tidak mau pulang
dulu ke Kanton. Sudah lama aku mempunyai keinginan seperti ini dan sekaranglah kesempatan
terbaik, karena tidak ada orang yang dapat melarangku,” kata Diana dengan nekat.
Lian Hong menarik napas panjang. Gadis ini memang tabah dan berkemauan kuat. Ia
tidak akan tega membiarkan Diana pergi jauh, tentu akan bertemu bahaya dan gadis kulit putih
itu tidak akan mampu membela diri kalau ada bahaya mengancam. Mulai ia memperhatikan diri
Diana karena ia tahu bahwa akhirnya ia yang akan menyerah dan akan memenuhi permintaan
Diana.
“Diana, apakah yang mendorongmu untuk pergi merantau, meninggalkan semua
kemewahan di gedung pamanmu itu ?”
Pedang Naga Kemala > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com 325
Diana mencabut sebatang rumput dan menggigit-gigit batang rumput itu, mengingatngingat.
“Aku kagum padamu, Lian Hong. Biarlah kuceritakan semuanya. Ayahku adalah
seorang petani di Inggeris, dan sejak kecil aku diberi pendidikan sekolah sampai tinggi. Di
sekolah tinggi aku belajar tentang penyelidikan barang-barang kuno. Aku berkenalan dengan
seorang pemuda petani di dusun, dan kami saling jatuh cinta. Akan tetapi, orang tuaku yang
menilai aku terlalu tinggi, menganggap bahwa pemuda itu tidak sepadan untuk menjadi calon
suamiku. Karena itu, dengan dalih untuk mempraktekkan pelajaranku, dan kebetulan ada
pasukan yang dikirim ke timur, aku oleh ayah dikirim ke sini dan ditiitipkan kepada pamanku,
Kapten Charles Elliot. Di Kanton aku hanya diberi tugas menilai barang-barang kuno dan
memperbanyak kumpulan benda kuno paman. Dan agaknya paman condong untuk menjodohkan
aku dengan pembantunya, yaitu Peter Dull yang menemaniku berkuda. Aku muak dengan itu
semua. Aku tidak mau dibelenggu oleh peraturan dan oleh sopan santun, dan oleh ambisi orangorang
tua itu.”
Biarpun Diana bercerita dengan kalimat terpotong-potong dan kadang-kadang sukar
mencari kata yang tepat, sehingga ceritanya itu menjadi panjang dan lama, Lian Hong dapat
mengertinya juga dan gadis ini merasa heran sekali. Kiranya kehidupan seorang gadis kulit putih
tidak banyak bedanya dengan gadis bangsanya. Dalam hal pernikahan, selalu orang-orang tua
ingin berkuasa, bukan sekedar mencampuri, melainkan hendak memilihkan calon suami yang
baik menurut penilaian mereka.
“Baiklah, Diana. Aku akan membantumu. Akan tetapi aku tidak berani mengajakmu
pergi ke tempat tinggal guruku. Ketahuilah bahwa guruku seorang yang sakti akan tetapi aneh
sekali tabiatnya. Mungkin saja tiba-tiba dia membunuhmu.”
“Ehhh .......... ?”
Melihat kekagetan Diana, Lian Hong tersenyum sedih. “Guruku seorang di antara empat
datuk sesat yang terkenal dengan sebutan Empat Racun Dunia, dan guruku berjuluk Racun
Gunung. Aku mempunyai urusan penting bersama guruku dan kini aku akan mengunjunginya,
dan tak lama kemudian kami akan datang ke daerah ini lagi. Oleh karena itu menurut
pendapatku, kalau engkau ingin menyelami kehidupan rakyat kami, kalau engkau ingin hidup
penuh kesulitan dan kemiskinan, biar kucarikan seorang keluarga petani yang baik dan yang mau
menampungmu. Bagaimana ?”
Bukan main girangnya rasa hati Diana. Ia melompat bangun lalu merangkul Lian Hong
dengan lengannya yang panjang, kemudian menciumi kedua pipi Lian Hong sampai
mengeluarkan bunyi ngak-ngok dan cap-cup. Tentu saja Lian Hong gelagapan. Belum pernah ia
melihat, apa lagi merasakan, ciuman-ciuman sepanas itu.
“Terima kasih, Lian Hong. Tadipun aku hampir yakin bahwa engkau tentu akan
menolongku. Engkau seorang yang luar biasa. Aku senang sekali tinggal di dusun bersama
keluarga petani.”
“Untuk sementara saja, Diana. Kalau aku sudah selesai dengan tugasku yang dibebankan
oleh suhu, aku akan datang menjengukmu dan kita bicarakan lagi kelak tentang dirimu.”
Pedang Naga Kemala > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com 326
“Baik, dan terima kasih.”
“Kalau begitu, mari kita pergi. Sebentar lagi datang malam gelap dan sebelum hari gelap,
aku ingin tiba di dalam dusun terpencil itu di mana aku mengenal keluarga petani yang amat
baik.”
Pergilah dua orang gadis itu sambil saling bergandeng tangan menuruni lereng bukit itu,
menuju ke sebuah dusun yang berada di lembah sungai dan jauh terpencil dari keramaian kota.
Di dusun terpencil itu tinggal seorang petani merangkap pandai besi yang sudah berusia hampir
enampuluh tahun. Suami isteri ini dahulu mempunyai dua orang anak, yang pertama seorang
gadis berusia tujuhbelas tahun, yang ke dua seorang laki-laki berusia tujuh tahun. Akan tetapi
pada suatu hari, dusun itu diganggu perampok. Lauw Sek, petani itu pernah belajar silat selama
beberapa tahun dan dia bertenaga kuat, maka dia melakukan perlawanan. Hal ini menimbulkan
kemarahan para perampok. Kalau rumah-rumah lainnya hanya dirampok saja, akan tetapi
keluarga Lauw ini diserang, dan Lauw Sek membela keluarganya mati-matian. Akan tetapi,
jumlah perampok yang belasan orang itu terlalu kuat baginya. Ketika melihat anak gadisnya
yang cukup manis, kepala perampok berusaha menggagahi gadis itu. Dalam saat yang kritis itu,
muncullah Lian Hong. Dengan kepandaiannya, ia berhasil membasmi para perampok,
membunuh mereka semua. Akan tetapi malang bagi gadis puteri Lauw Sek. Ketika tadi hendak
diperkosa, ia melawan dan menerima pukulan-pukulan dari kepala perampok. Gadis itu dapat
diselamatkan dari perkosaan, akan tetapi pukulan pada kepalanya membuat ia menderita luka
parah di dalam kepala yang tak dapat ditolong lagi. Beberapa hari kemudian gadis itu meninggal
dunia.
Bagaimanapun juga, petani Lauw Sek merasa berhutang budi kepada Lian Hong. Kalau
tidak ada pendekar wanita ini, tentu puterinya bukan hanya terbunuh, melainkan juga diperkosa
dan dia sendiri tentu akan tewas pula, mungkin juga isteri dan puteranya. Maka dia sekeluarga
berterima kasih sekali kepada Lian Hong dan sejak hari itu, Lian Hong tentu menjadi sahabat dan
juga nona penolong mereka. Setiap kali lewat di dusun ini, Lian Hong tentu singgah karena gadis
ini maklum betapa sedihnya hati mereka kehilangan puteri mereka dan ia dianggap oleh mereka
sebagai pengganti puteri mereka !
Sebelum senja tiba, cuaca masih terang walaupun matahari sudah condong jauh ke barat,
Lian Hong tiba di dusun itu bersama Diana. Dusun yang hanya ditinggali paling banyak
duapuluh keluarga itu mempunyai belasan orang anak-anak yang segera menyambut kedatangan
Lian Hong sambil bersorak-sorak. Mereka semua mengenal “Enci Hong”. Semua memanggil
enci karena biarpun ia dianggap penyelamat dusun itu, Lian Hong menolak ketika disebut lihiap
(pendekar wanita) dan minta kepada orang-orang yang lebih tua untuk menyebut namanya saja
dan anak-anak menyebutnya enci Hong.
“Enci Hong datang ! Enci Hong datang !” teriak anak-anak itu akan tetapi ketika mereka
datang dekat, mereka terbelalak memandang kepada Diana. Mereka belum pernah melihat
seorang wanita kulit putih, maka kemunculan Diana benar-benar mengherankan dan amat
mengejutkan, bahkan beberapa orang di antara mereka sudah lari terbirit-birit melihat “setan”
berambut kuning itu !
Pedang Naga Kemala > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com 327
Tentu saja teriakan anak-anak itu menarik perhatian semua orang yang berada di dusun
itu. Mereka semua, kecuali yang kebetulan bekerja di sawah ladang dan tidak melihat datangnya
Lian Hong, keluar menyambut gadis yang mereka kagumi dan hormati, juga sayangi itu.
Melihat sikap para penduduk ini, rasa kagum dalam hati Diana terhadap Lian Hong
semakin besar. Kini ia dapat menduga bahwa kawannya ini memang seorang pendekar wanita
yang budiman. Tanpa diberitahu sekalipun ia yakin bahwa tentu penduduk itu sudah berhutang
budi kepada Lian Hong. Hal ini jelas nampak dalam sikap penyambutan mereka, dan melihat
betapa anak-anak berlari menyambut, iapun dapat mengetahui bahwa memang Lian Hong
seorang gadis yang baik budi. Hanya orang yang baik budi sajalah yang disukai anak-anak.
Para penghuni dusun itupun terbelalak dan ternganga ketika melihat Diana. Di antara
mereka banyak yang masih percaya akan tahyul, maka melihat seorang gadis yang berkulit putih
seperti tidak berdarah, berambut seperti benang sutera emas, bermata biru, dengan pakaian yang
tidak keruan, compang-camping memperlihatkan kulit bagian tubuh secara tak tahu malu sama
sekali, mereka menjadi ngeri dan ada yang mundur-mundur ketakutan. Mahluk seperti ini
tentulah iblis, pikir mereka.
Melihat sikap mereka yang ketakutan itu, Lian Hong tersenyum dan cepat berkata,
“Harap kalian jangan takut dan sungkan. Ini adalah seorang sahabat baikku, namanya Diana, ia
baik sekali.”
Mendengar nama yang aneh itu, semua orang yang sebagian sudah ketakutan, menjadi
semakin ngeri. Nama Diana oleh lidah mereka hanya disebut Thiana dan ini berarti sebutan
“Tuhan” (Thian), maka mendengar nama ini tentu saja rasa ngeri dan takut mereka bertambah.
Melihat ini, tiba-tiba seorang kakek yang bercaping melangkah maju.
“Kalian jangan takut. Nona ini adalah seorang gadis kulit putih. Aku banyak melihatnya
ketika aku pergi menjual daganganku ke Kanton.”
Yang bicara ini adalah Lauw Sek yang juga sudah datang bersama isterinya yang
bertubuh gemuk berwajah manis bersama putera mereka yang berusia delapan tahun. Mendengar
ucapan Lauw Sek, barulah semua orang percaya karena Lauw Sek sering pergi ke kota untuk
menjual barang dagangannya, hasil bengkel pandai besinya. Nyonya Lauw Sek lalu merangkul
Lian Hong dengan penuh kasih sayang.
“Lian Hong, engkau baru datang ?”
Semua wanita dan pria yang berada di situ menyalami Lian Hong dengan ramah dan
hormat, kemudian mereka mendengarkan dengan penuh perhatian ketika Lian Hong
memperkenalkan Diana.
“Sahabat Diana ini sudah merasa bosan tinggal di kota dan kini ia mengambil keputusan
untuk tinggal di dusun ini. Kuharap paman Lauw Sek sekeluarga mau menerimanya agar ia
hidup bersama paman dan biarlah ia menjadi anak angkat paman. Biarkan ia bekerja di sawah
ladang seperti yang lain, makan dan pakaian seperti kalian semua karena ia ingin merasakan
kehidupan di sini.”
Pedang Naga Kemala > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com 328
Jilid XIV *****
Diana senang sekali mendengar ini. “Lian Hong, yang manakah paman Lauw Sek ?”
Lian Hong menuding ke arah Lauw Sek sedangkan semua orang tersenyum lebar
mendengar suara Diana. Kiranya gadis aneh ini dapat pula bicara dalam bahasa mereka dan hal
ini sungguh menggembirakan hati mereka, apa lagi mendengar betapa logat bicara gadis kulit
putih itu aneh dan lucu walaupun mudah dimengerti.
Kini Diana menghampiri Lauw Sek. Tadinya ia hendak menyodorkan tangan untuk
mengajak orang itu berjabat tangan, akan tetapi ia teringat akan kebiasaan bangsa ini, maka iapun
mengangkat kedua tangan depan dada sambil menjura dan berkata, “Paman Lauw Sek, saya akan
girang sekali kalau paman mau menerima saya.”
Melihat sikap ini dan mendengar ucapan itu, semua orang makin gembira dan merasa
suka kepada gadis ini. Lauw Sek merasa agak rikuh melihat tubuh yang hampir telanjang itu, dan
dia memperkenalkan isteri dan anaknya.
“Nona, pakaianmu robek-robek, apakah memang begitu pakaianmu ataukah memang
robek ? Kalau robek harus cepat ganti agar tidak jatuh sakit.” kata isteri Lauw Sek dan
mendengar ini Diana sudah merasa suka sekali kepada nyonya yang bersikap keibuan itu.
“Sahabatku ini melakukan perjalanan yang berbahaya hampir dimakan harimau dan
pakaiannya compang-camping ketika ia dilarikan kudanya. Nah, siapa yang mau berbaik hati
untuk memberinya pengganti pakaian ?”
Para wanita di situ, terutama yang muda-muda, segera berebut lari pulang untuk
mengambil satu stel pakaian mereka. Akan tetapi, sebagian besar dari mereka bertubuh kecil,
terlalu kecil dibandingkan dengan bentuk tubuh Diana dan akhirnya, Diana menerima satu stel
pakaian dari seorang gadis yang paling tinggi besar di antara mereka. Ketika ia berganti pakaian
dalam sebuah pondok dan keluar lagi, semua orang tertawa gembira karena merasa lucu.
Memang Diana nampak lucu sekali dalam pakaian itu. Baju itu melekat di tubuhnya dengan
ketat sehingga tidak mampu menyembunyikan tonjolan dadanya dan kerampingan pinggangnya,
sedangkan celana itu hanya sampai di betisnya saja, di bawah lutut ! Untung ia memakai sepatu
yang panjang sampai ke lutut sehingga semua bagian kakinya tertutup.
Lian Hong menemani Diana sampai satu minggu di rumah keluarga Lauw Sek itu,
membimbing Diana agar mengenal semua orang dan keadaan di situ. Dan terjadilah perubahan
hidup yang selamanya tak pernah diimpikan oleh Diana. Baru pakaiannya saja sudah amat
berbeda dan yang dipakainya kini membuat ia merasa santai dan juga leluasa bergerak, walaupun
amat sederhana dan tidak dapat dibilang indah, apa lagi mewah. Baru dua hari setelah ia berada
di situ, ia sudah dapat menyesuaikan diri dan dalam hal ini, Lian Hong sungguh kagum kepada
gadis ini. Seorang gadis kaya raya yang tadinya hidup mewah, kini tidak segan-segan untuk
turun ke sawah dan bekerja apa saja, bahkan mencangkulpun ia pelajari.
Pedang Naga Kemala > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com 329
Siminggu kemudian, pagi-pagi sekali Lian Hong sudah melihat Diana berada di luar
rumah keluarga Lauw Sek yang cukup lebar akan tetapi amat sederhana itu. Diana memakai
pakaiannya yang ketat dan jigrang (terlalu pendek) sambil memegang sebatang cangkul, siap
untuk bekerja di sawah, membantu Lauw Sek. Lauw Sek sendiri juga sudah siap ke sawah,
memakai capingnya yang butut. Isterinya juga siap karena pagi itu akan mulai menanam kacang.
Si kecil Lauw Tong, putera mereka juga sudah siap.
“Wah, gadis petani kita yang rajin sudah siap !” kata Lian Hong sambil
memegang lengan Diana. “Diana, kau sungguh nampak cantik dan segar
sekali pagi ini !”
“Wah, gadis petani yang rajin sudah siap !” kata Lian Hong sambil memegang lengan
Diana. “Diana, kau sungguh nampak cantik dan segar sekali pagi ini !”
Diana tersenyum, gembira. Memang, selama beberapa hari ini ia membantu pekerjaan di
sawah. Memang pertama kali telapak tangannya lecet-lecet dan seluruh tubuhnya, terutama
pinggangnya, terasa pegal dan lelah sekali. Malamnya, isteri Lauw Sek memaraminya, dan
memijatinya sehingga ia merasa nyaman sekali. Setelah bekerja selama seminggu, ia sudah
mulai terbiasa, tidak begitu lelah lagi dan pagi hari itu, pagi-pagi sekali ia sudah bangun, tidak
mau ketinggalan oleh anggauta keluarga Lauw.
Memang terjadi perubahan besar dalam kehidupan Diana, perubahan lahir batin. Setelah
hidup di dusun, bersama keluarga petani miskin, ia bukan hanya dapat mendengar dari cerita
orang, melainkan dapat melihat bahkan merasakan sendiri kehidupan yang serba bebas. Ia mulai
mengenal dan merasakan arti hidup sebagaimana adanya, jauh lebih aseli dari pada kehidupan di
kota. Apa lagi kehidupan bangsanya yang sudah tidak aseli lagi, sudah terselubung segalagalanya,
demi gengsi, demi kehormatan, demi pujian, sehingga hampir seluruh tindakan
merupakan suatu kepalsuan. Di dusun ini merasa bebas dan polos, tidak perlu menyembunyikan
sesuatu. Di sini ia dapat mengenal perjuangan manusia untuk memenuhi tuntutan atau kebutuhan
jasmaninya, bekerja di ladang dan melihat hasil jerih payah itu bersemi dan tumbuh. Di sini ia
dapat menikmati kekayaan alam, keindahan alam seperti yang terbentang luas di depannya,
bukannya meneropong dari balik jendela bertirai sutera. Dengan cangkul di tangan, ia seakanakan
bercanda dengan tanah, dengan lumpur, dan merasakan kenikmatan semua ini.
Bahkan ia mulai mengenal apa artinya lapar dan haus, belajar menahannya, dan dapat
menikmati kalau tiba waktunya makan atau minum. Dulu, biarpun belum lapar, kalau waktu
“dinner” sudah tiba misalnya, ia harus pergi menghadapi meja makan bersama keluarga
Pedang Naga Kemala > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com 330
pamannya, dengan pakaian yang khas dan pantas, mendapatkan pelayanan manis dan penuh
hormat dan aturan-aturan dari para pelayan. Makanpun harus sesuai dengan aturan-aturan
tertentu, cara menggunakan garpu dan pisau, cara mengunyah makanan, cara membersihkan bibir
dengan kain, dan sebagainya lagi. Semua ini membuat semua hidangan yang serba mahal
kadang-kadang menjadi amat hambar rasanya. Sebaliknya, betapa enaknya makan di pematang
sawah ! Perut sudah amat lapar, badan amat lelah, tenggorokan amat haus. Lalu datang nasi
dengan sayuran murah, datang air teh hangat-hangat atau sejuk dingin. Amboi ………. bukan
main lezat rasanya, melebihi segala macam makanan termahal yang pernah dimakannya !
Dan malamnya ! Badan lelah perut kenyang, biar tidur menggeletak di atas dipan bambu
yang berteriak-teriak marah kalau tertindih tubuhnya, rasanya begitu nikmat. Sekali rebahpun
pulas dan baru terbangun pada keesokan harinya, pagi-pagi sekali ketika ayam jantan berkokok,
dengan tubuh terasa segar seperti baru hidup kembali.
Maka, pagi hari itupun ia lupa bahwa temannya akan pergi hari itu. Sudah tiba saat
kepergian Lian Hong seperti yang sudah dijanjikan sebelumnya. Maka, ketika Diana ditegur oleh
Lian Hong dan ia melihat Lian Hong sudah berdandan dan berganti baju bersih, dengan
rambutnya yang hitam mengkilap itu dikepang dua dan diikat dengan saputangan sutera merah
yang menjadi pita, ia bertanya,
“Eih, Lian Hong. Masa ke sawah sebersih itu ?” Dan tiba-tiba saja Diana teringat dan ia
mengerutkan alisnya. “Ah, hari inikah engkau akan melanjutkan perjalananmu ?” Di dalam
suaranya ada sedikit kekecewaan.
Lian Hong merangkulnya dan mencium kedua pipi Diana. Ia kini mampu melakukan ini
menirukan Diana dan dalam perbuatan ini ia merasakan suatu kemesraan dan keakraban yang
mengharukan hatinya.
“Diana, engkau senang di sini, bukan ? Teruskanlah. Nikmati kehidupan sederhana di
sini. Aku melanjutkan perjalanan, menghadap suhu dan ingat, aku pasti akan datang ke sini
menjengukmu dan siapa tahu, kelak kita akan dapat melakukan perjalanan bersama. Kau boleh
belajar hidup dan juga mempelajari sedikit ilmu silat untuk membela diri dari paman Lauw Sek.”
Diana balas merangkul dan menciumi Lian Hong. “Baiklah, Lian Hong. Aku akan
menantimu dengan sabar, karena akupun mulai suka akan kehidupan di sini. Paman dan bibi
amat baik hati, juga adik Tong ini lucu dan menyenangkan. Bahkan semua tetangga di sini baikbaik,
rukun dan saling menolong.”
“Akan tetapi ingat baik-baik, Diana. Jangan engkau pergi meninggalkan tempat ini
seorang diri saja. Tunggu sampai aku datang. Maukah ?”
“Tentu saja. Aku berjanji.”
Mereka saling berpisah dan Lian Hong meninggalkan dusun itu diantar oleh hampir
semua penduduknya sampai ke pagar dusun. Diana merasa kehilangan, akan tetapi tidak
kesepian karena ia merasa mempunyai keluarga besar, bukan sekedar sahabat, di dalam dusun itu.
Pedang Naga Kemala > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com 331
Bahkan ia merasa menemukan dunianya yang disukainya. Ketika ia masih sekolah, ia banyak
mempelajari kehidupan jaman dahulu yang masih terbelakang, maka kini, setelah ia sendiri hidup
di dusun yang masih amat sederhana, ia menemukan banyak hal yang memiliki persamaan
dengan apa yang pernah dibacanya sehingga ia merasa seolah-olah memasuki sebuah dongeng
yang pernah menarik hatinya. Apa lagi ketika Lauw Sek mulai mengajarkan ilmu silat, ia
mempelajarinya dengan tekun, juga memperdalam pengetahuannya tentang bahasa dan
kebudayaan pribumi. Diana menemukan kelanjutan sekolah yang takkan bisa ditemukan di kotakota
besar dan ia merasa gembira sekali.
***
Orang-orang kulit putih yang berada di Kanton menjadi geger ketika mendengar bahwa
Diana keponakan Kapten Charles Elliot hilang di dalam hutan ketika berkuda bersama Letnan
Peter Dull. Tentu saja yang merasa paling gelisah adalah Kapten Charles Elliot. Letnan Peter
Dull sendiri mendapat teguran keras, bahkan menerima tugas untuk mencari nona itu sampai
dapat.
Peter Dull berunding engan pembantunya yang baru, yaitu Koan Jit. Orang ini dapat
menduga bahwa nona kulit putih itu tentu telah ditolong oleh seorang yang memiliki ilmu
kepandaian tinggi. Hanya dia tidak tahu siapa penolong itu, dan dari golongan apa, seorang
pendekar yang memang hendak menolong ataukah seorang penolong dengan pamrih lain. Dan
mengingat bahwa Diana tidak diantarkan kembali ke Kanton, dia mengambil kesimpulan bahwa
tentu orang yang menolong nona itu berpamrih, sengaja melarikan gadis itu dengan niat buruk
lainnya.
Maka Koan Jit yang sudah diterima sebagai pimpinan oleh para jagoan yang dikumpulkan
Peter Dull karena mereka semua sudah mengenal nama Hek-eng-mo, lalu memerintahkan para
jagoan yang terhimpun dalam suatu pasukan istimewa untuk berpencaran dan mencari berita di
antara kaum sesat untuk mencari jejak Diana. Sedangkan Peter Dull lalu memimpin sendiri
pasukannya untuk melakukan pencarian ke dusun-dusun dan kampung-kampung sehingga daerah
di sekitar itu menjadi gempar karena sikap pasukan kulit putih dan raksasa India itu merajalela di
dusun-dusun dengan kasar.
Hilangnya Diana belum ditemukan, sudah muncul masalah lain bagi orang kulit putih di
Kanton. Kelompok-kelompok anti kulit putih menjadi semakin marah dengan adanya aksi
pembersihan yang dilakukan Peter Dull dengan pasukannya ke dusun-dusun. Mereka lalu mulai
melancarkan aksinya lagi, kadang-kadang menyerang pos-pos penjagaan pasukan kulit putih dan
beberapa kali terlibat ke dalam pertempuran dengan pasukan Peter Dull.
Juga rakyat mulai tidak suka melihat sikap pasukan kulit putih itu. Kaum buruh di
pelabuhan yang banyak jumlahnya karena orang-orang kulit putih membutuhkan buruh-buruh
kasar untuk mengangkut barang-barang turun naik kapal, juga memperlihatkan sikap membantah
dan tidak taat.
Pada suatu hari, pagi-pagi saja sudah terjadi keributan di pelabuhan, ketika para kuli
angkut barang sibuk menurunkan barang dari sebuah kapal dan mengangkut barang ke kapal
yang lain. Seorang kuli muda yang bertubuh kokoh kekar, ketika sedang mengangkut sebuah
Pedang Naga Kemala > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com 332
peti, terpeleset pada anak tangga yang basah dan petinya terlepas, menimpa kaki seorang mandor
kulit putih yang bertubuh gendut. Biarpun kaki itu sudah terlindung sepatu kulit, akan tetapi
karena peti itu berat, maka tentu saja kaki itu terasa nyeri bukan main. Mandor itu berteriak
kesakitan, lalu menyumpah-nyumpah dan menghajar kuli itu dengan pukulan-pukulan kanan kiri
membuat kuli itu roboh sampai beberapa kali. Tiap kali dia hendak bangkit, sepatu kiri yang
tidak tertimpa peti tadi menyambar dan menendang kepalanya, dagunya, dadanya, membuat dia
terjerembab kembali.
Kuli-kuli lain hanya memandang tanpa bergerak, seolah-olah semua kuli yang tadi sibuk
bekerja itu tiba-tiba saja berubah menjadi patung. Ada yang mukanya membayangkan kengerian,
ketakutan, akan tetapi ada beberapa puluh orang kuli yang memandang dengan alis berkerut.
Mereka ini adalah sekelompok kuli yang memang mempunyai perasaan tidak suka dan hampir
anti kepada orang-orang kulit putih. Mereka itu bekerja sebagai kuli karena memang
penghasilannya jauh lebih besar dari pada kalau menjadi petani atau nelayan, akan tetapi juga
karena mereka ingin mengintai apa yang dilakukan oleh bangsa yang tidak disukainya. Jumlah
mereka ada hampir tigapuluh orang dan kebetulan sekali yang menjadi pemimpin mereka adalah
pemuda yang kini dijadikan bulan-bulan kemarahan mandor itu !
Tentu saja suasana menjadi tegang. Setiap orang anggauta kelompok itu berhenti bekerja
dan memandang dengan urat syaraf tegang dan siap siaga. Akan tetapi, karena pemimpin
mereka, pemuda yang bertubuh kokoh itu dipukuli dan ditendangi tanpa melawan, merekapun
hanya merasa penasaran saja dan tidak bergerak. Beberapa orang mador melerai dan
menyabarkan kawan mereka.
Akan tetapi, mandor gendut yang mukanya merah seperti orang mabok itu sudah marah
sekali. “Tidak bisa ! Tidak bisa kubiarkan saja dia meremukkan kakiku ! Tangan yang
melakukannya harus kupotong !” Dan dia mencabut sebatang pisau belati, kemudian, tanpa dapat
dicegah oleh kawan-kawannya, dia menubruk ke depan, pisaunya menyambar ke arah tangan kuli
muda itu.
Tiba-tiba kuli muda yang tadinya hanya mandah saja dihujani pukulan dan tendangan
sehingga mukanya matang biru dan benjol-benjol, kini melihat luncuran pisau belati berkilat yang
mengancam tangannya, cepat menarik tangannya. Hal ini membikin marah si mandor gendut,
dan sambil memaki-maki dia menyerangkan pisaunya lagi, sekali ini malah ke arah perut kuli itu.
Marahlah orang yang diserang. Serangan itu mengarah maut, maka dia harus
mempertahankan dan membela diri. Dengan sigap dia mengelak ke samping, lalu kakinya
meluncur ke depan, tepat menendang selangkang mandor gendut itu.
“Aughhh .......... adduuhhhh .......... !” Si mandor gendut mengaduh-aduh dan berloncatan
sambil menggunakan kedua tangan mendekap selangkangnya yang kena tendang. Kiut miut
rasanya, nyeri itu menusuk-nusuk dari selangkang sampai jantung.
Pada waktu itu, Kapten Charles Elliot yang ditemani oleh Peter Dull yang dikawal oleh
Koan Jit bersama beberapa orang jagoan berada pula di pelabuhan. Kapten Charles Elliot ingin
melihat sendiri pembongkaran peti-peti candu agar dapat diturunkan dengan selamat. Walaupun
antara pemerintah Ceng dan Pemerintah Inggeris telah terdapat persetujuan dan perdamaian, di
Pedang Naga Kemala > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com 333
mana disebutkan bahwa pemerintah Ceng memperbolehkan orang-orang kulit putih melakukan
perdagangan dan berdiam di Kanton, namun perdagangan candu secara terang-terangan tetap
dilarang. Namun, karena benda ini amat menguntungkan, maka secara sembunyi-sembunyi,
dengan peti-peti yang bercampur dengan barang-barang lain, dan dengan tanda-tanda bahwa petipeti
itu berisi barang lain, candu tetap dapat diselundupkan dan didaratkan dalam jumlah besar.
Hari itu, perusahaan Inggeris yang bergabung dalam East Indian Company mendaratkan sejumlah
besar candu dalam peti-peti yang tulisan dan gambarnya menunjukkan bahwa peti-peti itu terisi
barang dagangan.
Ketika para penjaga keamanan melihat mandor itu mengaduh-aduh, mereka menjadi
marah. Beberapa orang penjaga kulit putih lalu menghampiri dengan pistol di tangan. Akan
tetapi tiba-tiba terdengar bentakan Letnan Peter Dull. “Tahan ! Mundur semua dan jangan
tangkap kuli itu !”
Semua orang memandang heran dan tentu saja tidak ada yang berani membantah perintah
letnan ini. Peter berbisik kepada Kapten Charles Elliot yang menjadi atasannya. “Ini kesempatan
baik untuk menguji kepandaian para pembantu kita.” Mendengar ini, Charles Elliot mengangguk
dan melirik kepada Koan Jit. Bagaimanapun Peter memuji-muji orang ini, kapten itu masih
belum yakin benar, bahkan menaruh curiga terhadap laki-laki yang matanya seperti mata kucing
itu. Pada saat itu, di samping kuli muda tadi sudah berdiri empat orang lain yang merupakan
tokoh-tokoh dalam kelompok mereka, dan bersama si pemuda, mereka pernah dikenal sebagai
ahli-ahli silat yang cukup terkenal. Mereka berdiri tegak, akan tetapi sikap mereka jelas
menantang. Empat orang itu adalah teman-teman si pemuda yang memimpin kelompok mereka
dan mereka maju ketika tadi melihat betapa pemimpin mereka akan ditangkap, dan melihat lima
orang yang merupakan tokoh-tokoh utama dari kelompok mereka sudah maju, dua puluh lebih
anggauta kelompok itupun sudah siap siaga untuk bertempur !
Tujuh orang jagoan yang mengawal Peter dan Charles Elliot yang maklum bahwa mereka
diharapkan untuk menumpas pengacau itu tanpa mempergunakan senjata api, karena hal itu akan
memancing keributan antara orang kulit putih dengan pemerintah daerah, lalu maju menghampiri
lima orang itu. Peter mengedipkan matanya kepada Charles Elliot. Kapten ini maklum.
Memang, dia dan pembantunya sudah mengambil keputusan untuk mempergunakan
kebijaksanaan dalam menghadapi pribumi yang anti kulit putih, yakin dengan cara mengadu
domba antara mereka dengan jagoan-jagoan bayaran mereka. Tentu saja pasukan mereka akan
mampu membereskan perusuh-perusuh itu, akan tetapi kalau senjata api dipergunakan, tentu
pihak pemerintah akan mencampuri dan perdamaian akan terganggu lagi. Hal ini hanya
memancing keributan dan keresahan. Biarkan orang-orang itu saling hantam, dan sedapat
mungkin Charles Elliot akan membasmi mereka yang anti kulit putih dengan menggunakan
tenaga-tenaga bayaran dari orang pribumi.
Tujuh orang jagoan itu tanpa banyak cakap lagi lalu menerjang lima orang yang sudah
siap untuk membela diri. Terjadilah perkelahian seru antara seru antara lima orang perusuh itu
dengan tujuh orang jagoan. Akan tetapi, Peter mengerutkan alisnya melihat betapa tujuh orang
jagoannya itu jelas kalah kuat. Mereka dihajar habis-habisan, jatuh bangun dan sama sekali tidak
mampu menandingi lima orang yang ternyata pandai ilmu silat itu, jauh lebih pandai
dibandingkan tujuh orang jagoannya yang hanya menang lagak saja. Charles Elliot juga marah
dan kecewa.
Pedang Naga Kemala > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com 334
“Suruh para pengawal kita maju !” katanya ke pada Peter.
“Nanti dulu, Kapten !” Peter membantah. “Inilah kesempatan untuk menguji kelihaian
pembantu baru ini.” Karena dia bicara dalam bahasanya sendiri, Koan Jit tidak dapat menangkap
artinya, namun dia mengerti ketika dua orang itu bicara sambil memandang kepadanya.
“Tuan Letnan, biar aku yang akan menghajar mereka !” katanya. Peter mengangguk dan
dengan langkah lebar Koan Jit lalu maju ke dalam arena perkelahian yang ditonton banyak sekali
orang itu, baik dari pihak para kuli maupun dari pihak orang kulit putih yang menjadi mandor dan
lain-lain.
“Mundurlah kalian !” bentak Koan Jit kepada tujuh orang jagoan yang ternyata tidak
mampu menandingi lima orang itu. Dengan lagak yang masih gagah-gagahan, walaupun muka
mereka bengkak-bengkak dan ada pula yang terpincang-pincang, tujuh orang itu mundur dan
menonton dengan dada terangkat dan tangan terkepal, seolah-olah mereka itu terpaksa mundur
karena perintah atasan. Hanya mereka sendiri yang tahu betapa lega hati mereka, karena kalau
tidak disuruh mundur, akhirnya mereka akan roboh semua. Lima orang kuli itu ternyata amat
lihai, terutama sekali pemuda yang tadi menendang selangkang mandor gendut.
Kini semua mata ditujukan kepada Koan Jit. Tubuhnya yang tinggi kurus dengan muka
hitam dan pakaian serba hitam itu tidak terlalu mengesankan memang, akan tetapi lima orang itu
merasa ngeri ketika mereka bertemu pandang dengan sepasang mata yang mencorong kehijauan
seperti mata kucing itu.
Tiba-tiba terdengar suara Peter Dull berteriak, “Koan Jit, jangan bunuh mereka akan
tetapi beri hajaran agar mereka kapok !”
Koan Jit mengerutkan alisnya. Kalau menurut keinginannya, lebih mudah membunuh
mereka. Akan tetapi diapun sedang mencari muka agar diperhatikan oleh Kapten Charles Elliot
karena dia tahu bahwa kapten inilah yang berkuasa di antara pasukan kulit putih, bukan Peter
Dull.
Koan Jit memasuki benteng pasukan kulit putih sebagai sekutu atau pembantu bukan
sekedar iseng. Dia sudah memiliki perhitungan masak-masak. Dia melihat kekuatan yang amat
besar di dalam pasukan itu, dengan senjata-senjata apinya besar kecil yang amat sukar dilawan
dengan ilmu silat saja. Maka, selain mencari tempat yang aman untuk berlindung, juga dia dapat
mempergunakan kekuatan pasukan kulit putih untuk mencapai kedudukan, baik sebagi pimpinan
kaum sesat, juga kedudukan tinggi di dalam pasukan itu sendiri. Dia sengaja membiarkan Peter
Dull dan pasukannya mencari-cari Diana, pura-pura membantu namun tidak sungguh-sungguh
membantu. Dia ingin melihat Peter Dull gagal dalam usahanya, dan kelak setelah keluarga
Charles Elliot benar-benar kebingungan, barulah dia akan tampil sebagai bintang penolong !
Tentu jasanya akan besar sekali. Kedudukan Peter Dull sebagai tangan kanan kapten itu harus
diraihnya. Dia memiliki cita-cita yang lebih besar lagi. Bahkan pernah dia bermimpi betapa
bersama pasukan kulit putih dia menyerbu dan merampas tahta Kerajaan Mancu dan karena jasajasanya,
maka orang-orang kulit putih mengengkat dia sebagai kaisar baru !
Pedang Naga Kemala > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com 335
Karena itu, mendengar perintah yang dikeluarkan oleh mulut Peter Dull tadi, Koan Jit
menoleh kepada Kapten Charles Elliot. Dia tahu bahwa kapten itu belum percaya benar
kepadanya, baik kelihaiannya maupun kesetiaannya. Dengan pandang matanya dia bertanya dan
menanti keputusan kapten itu sebagai orang atasan yang paling berkuasa. Agaknya kapten inipun
maklum bahwa orang tinggi kurus ini mengharapkan pendapatnya, maka diapun mengangkat
tangan berkata, “Hajar saja mereka semua, jangan membunuh karena hal itu akan menimbulkan
keributan.”
Ucapan ini melegakan hati Koan Jit. Dia lalu berkata, “Baik, aku akan menghajar mereka
semua sampai kapok !” Setelah berkata demikian, Koan Jit melangkah lebar ke arah lima orang
yang masih bersiap siaga itu. Melihat munculnya orang tinggi kurus berpakaian hitam ini
seorang diri saja, tanpa senjata, lima orang itu tentu saja memandang rendah.
“Kalian berlima berlututlah dan menerima hukuman cambuk dengan suka rela, atau aku
akan menghajarmu lebih parah lagi,” kata Koan Jit, sengaja berkata demikian untuk
memperlihatkan kebesarannya. Tentu saja lima orang yang anti kulit putih itu tidak sudi
menyerah, dan mereka semua memandang Koan Jit yang dianggap sebagai antek dan kaki tangan
kulit putih itu penuh kebencian.
“Cuhhh !” Pemimpin kelompok yang masih muda dan bertubuh kokoh itu meludah ke
arah Koan Jit, lalu dia berkata kepada teman-temannya, “Biar aku sendiri yang mematahkan kaki
tangan anjing penjilat iblis-iblis putih ini !” Dan diapun menerjang dengan dahsyatnya,
mengirim pukulan ke arah kepala Koan Jit.
Koan Jit miringkan kepalanya sehingga pukulan itu lewat. Akan tetapi kuli muda itu
memukul lagi dengan tangan kiri, menonjok dada. Sekali ini Koan Jit tidak mengelak, juga tidak
menangkis.
“Dukkk !!” Pukulan itu kuat sekali datangnya dan tepat mengenai dada Koan Jit. Akan
tetapi tubuh yang jangkung kurus itu sama sekali tidak tergoyahkan, dan sebaliknya, si pemukul
yang merasa tangannya seolah-olah bertemu dengan dinding baja dan nyeri sekali, seperti remukremuk
semua tulangnya. Dan pada saat itu, Koan Jit mengayun tangannya menampar.
“Plakkk !” Tubuh orang muda itu terpelanting seperti disambar petir dan dia tak dapat
berkutik lagi, dari mulut dan hidungnya keluar darah segar ! Melihat ini, empat orang
pembantunya tadi terkejut dan marah. Mereka langsung menyerbu dan menyerang Koan Jit
dengan marah sekali. Kembali pukulan-pukulan dan tendangan-tendangan menghujani tubuh
Koan Jit yang memang hendak memperlihatkan kekebalannya kepada semua orang, terutama
kepada Kapten Charles Elliot. Terdengar suara bak-bik-buk, akan tetapi anehnya, bukan tubuh
orang yang menjadi sasaran pukulan-pukulan itu yang roboh, melainkan empat orang pemukul
dan penendang itu yang mengeluarkan seruan-seruan kaget dan kesakitan ketika kaki dan tangan
mereka kesakitan karena rasanya seperti membentur dinding baja. Dan sebelum mereka sempat
menyerang lagi, Koan Jit sudah menggerakkan kedua tangan, membagi-bagi tamparan dan empat
orang itupun berpelantingan dan roboh pingsan !
Menyaksikan kehebatan ini, Kapten Charles Elliot sendiri terkejut dan kagum bukan
main, akan tetapi juga khawatir. “Jangan membunuh .......... !”
Pedang Naga Kemala > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com 336
“Harap Kapten jangan khawatir. Koan Jit akan mentaati perintah dan orang-orang itu
tidak dibunuh, hanya dipukul pingsan saja,” kata Peter Dull dengan suara mengandung
kebanggaan karena bagaimanapun juga, dialah yang telah menemukan Koan Jit dan berhasil
membujuknya menjadi sekutu.
Kini, duapuluh lebih orang kuli yang menjadi kawan-kawan lima orang itu sudah
menyerbu dan mengeroyok Koan Jit, bahkan di antara mereka ada yang membawa senjata
sepotong besi dan lain-lain alat pengangkut yang terdapat di tempat itu. Dan terjadilah
perkelahian yang makin mengagumkan hati Kapten Charles Elliot dan juga mengagumkan hati
semua mandor dan orang kulit putih yang berada di situ. Seorang diri saja, Koan Jit melayani
pengeroyokan demikian banyaknya orang-orang yang buas karena kemarahan dan dia bergerak
seenaknya saja. Akan tetapi, ke manapun juga tangannya melayang, tentu seorang pengeroyok
terlempar dan kesakitan, pingsan atau merangkak-rangkak tak dapat bangkit kembali karena
mengalami patah tulang. Dan dalam waktu yang amat singkat, hampir tigapuluh orang perusuh
itu kini semua menggeletak malang melintang, tubuh mereka berserakan, ada yang pingsan dan
ada yang merintih-rintih karena patah tulang dan kesakitan.
“Orang ini berbahaya sekali ..........” kata kapten itu kepada pembantunya, akan tetapi
Peter Dull tersenyum kegirangan karena makin yakinlah hatinya bahwa Koan Jit benar-benar
merupakan tenaga bantuan yang amat berharga bagi kesatuannya.
Peristiwa ini membawa perubahan semakin besar kepada Koan Jit. Kini Kapten Charles
Elliot sendiri yakin akan kehebatan orang ini, dan karena jasanya, juga disesuaikan dengan
kemampuannya, kini Koan Jit diangkat menjadi komandan pasukan pribumi yang dibentuk tidak
lama kemudian. Pasukan ini terdiri dari jagoan-jagoan yang berhasil dikumpulkan Peter Dull dan
kemudian diperkembangkan oleh Koan Jit. Dia menaklukkan tokoh-tokoh sesat dan memaksa
mereka itu masuk menjadi anggauta pasukannya. Pasukan yang terdiri dari pribumi ini
mempunyai bendera sendiri, akan tetapi berada di bawah armada Inggeris dan mendapatkan
tempat di perbentengan yang dibangun di tepi pantai. Koan Jit amat disegani, dan menduduki
tempat penting karena sebagai komandan pasukan itu, dia dianggap seorang perwira tinggi yang
kedudukannya hampir setingkat dengan Peter Dull. Bukan Kapten Charles Elliot lagi yang
membawahinya, melainkan komandan armada yang pangkatnya jauh lebih tinggi dari pada
kapten itu ! Pasukan yang dipimpin Koan Jit kini terdiri dari tigaratus orang lebih dan diberi
nama Pasukan Harimau Terbang ! Semua anggauta pasukan ini mengenakan topi yang terbuat
dari kulit harimau ! Karena rata-rata memiliki ilmu silat lumayan dan gerakan mereka cepat,
maka diberi nama Harimau Terbang.
Sementara itu, Kapten Charles Elliot merasa semakin gelisah karena usaha Peter Dull
untuk mencari keponakannyabelum berhasil, pada hal lenyapnya Diana sudah berjalan selama
hampir tiga bulan ! Dia merasa khawatir sekali kalau-kalau keponakannya itu melakukan
penyelewengan seperti yang dilakukan Sheila, puteri mendiang Hellway yang lenyap itu
kabarnya telah menjadi isteri seorang di antara para pemberontak ! Hal ini merupakan sebuah
tamparan yang amat hebat bagi orang-orang kulit putih. Dan dia merasa khawatir sekali kalaukalau
Diana juga mengalami nasib buruk seperti yang dialami Sheila. Dia yang akan menderita
aib kalau sampai terjadi hal yang amat memalukan itu.
Pedang Naga Kemala > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com 337
Pada pagi itu, Kapten Elliot membicarakan soal Diana dengan Peter Dull. Untuk kesekian
kalinya, dia menegur pembantunya itu. “Peter, mengapa sampai kini engkau belum juga berhasil
menemukan Diana ? Ah, apa yang terjadi dengan anak yang malang itu ? Apakah engkau tidak
mengerahkan seluruh tenaga untuk mencarinya ? Ingat, Peter, engkaulah yang bertanggung
jawab karena Diana lenyap ketika berjalan-jalan denganmu !”
Peter Dull menarik napas panjang. Hal ini memang selalu mengganggunya, bahkan
membuat gelisah tak dapat tidur setiap malam. “Kapten, saya mencinta Diana. Sayalah di
samping Kapten yang merupakan orang yang merasa paling kehilangan dan gelisah. Rasanya,
saya mau mempertaruhkan nyawa untuk mendapatkan kembali. Tentang kehilangan itu ..........
saya kira Kapten sudah mengenal watak Diana yang keras. Diana yang memaksa saya
melakukan perjalanan sejauh itu, bahkan ia juga membalapkan kudanya sampai tak dapat saya
susul. Hal ini sudah saya ceritakan berkali-kali .......... !”
“Aku tidak perduli semua itu ! Yang penting, Diana harus dapat kita temukan kembali !
Harus !! Dan siapa lagi kalau bukan engkau yang dapat kuharapkan dan kupercaya untuk
melakukan tugas itu sampai berhasil ?”
“Selama ini saya tidak pernah berhenti berusaha menyebar orang-orang kita, bahkan juga
pasukan Harimau Terbang sudah membantu, akan tetapi hasilnya kosong. Dengan sedih saya
terpaksa berterus terang dengan dugaan saya bahwa Diana terjatuh ke tangan para pemberontak
yang anti kepada kita, sehingga mereka itu merahasiakan di mana adanya Diana.”
“Kita harus dapat menemukan Diana !” Kapten itu marah sekali dan juga gelisah.
“Panggil Koan Jit ke sini !”
Koan Jit dipanggil menghadap dan diam-diam orang ini merasa gembira sekali. Inilah
saat yang dinanti-nantinya. Ketika Kapten itu menyatakan keinginannya agar Koan Jit turun
tangan dan membantu sungguh-sungguh agar Diana dapat ditemukan kembali, sengaja Koan Jit
menoleh kepada Peter Dull dan berkata.
“Harap Kapten suka memaafkan saya. Selama ini, saya hanya melakukan perintahperintah
Letnan Peter Dull dalam usaha mencari keponakan tuan.”
“Cukup ! Sekarang engkau menerima perintah langsung dariku dan kau boleh melakukan
pencarian dengan caramu sendiri !” kata Kapten itu tak sabar.
“Baiklah, Kapten. Mulai hari ini, saya akan berusaha mati-matian untuk menemukan
keponakan tuan, dan akan saya kerahkan anak buah saya dengan menyamar sebagai rakyat biasa.
Saya yakin bahwa dalam waktu singkat tentu akan dapat diperoleh kabar tentang keponakan tuan
itu.” Dia berhenti sebentar dan berkata kepada Letnan Peter Dull, “Apakah Letnan sudah
menyampaikan permintaan saya kepada Kapten ?”
Peter Dull sedang pusing karena dimarahi atasannya. “Permintaanmu itu sedang
kupertimbangkan dan tidak ada sangkut pautnya dengan usaha mencari Diana !”
“Apa permintaanmu itu, Koan Jit ?”
Pedang Naga Kemala > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com 338
Mendengar pertanyaan itu, Koan Jit tersenyum. “Saya ingin sekali melihat kemajuan
kekuasaan pasukan Inggeris dan satu-satunya hal yang menjadi penghalang besar adalah
kelompok-kelompok yang anti kepada bangsa kulit putih. Saya ingin mengundang semua tokoh
persilatan, terutama dari golongan hitam untuk kita ajak bersama menghadapi pemerintah Mancu.
Kalau mereka semua sudah berpihak kepada kita, tentu golongan yang anti kepada kita itu akan
mundur. Dan saya minta agar pasukan Inggeris membantu saya dalam hal ini, yaitu setelah
mereka datang berkumpul, kita basmi mereka yang tidak mau bersekutu. Dan agar pasukan
membantu saya supaya dapat menjadi beng-cu di antara mereka.”
Bagi Kapten Charles Elliot, semua usul Koan Jit itu dianggap hanya ambisi seorang yang
ingin menjadi pemimpin para jagoan. Dia sedang pusing memikirkan Diana, maka permintaan
itu dianggap sepele saja. “Baiklah, kami akan membantumu kelak. Sekarang yang penting
adalah mencari Diana sampai dapat. Tentang usul-usulmu, akan kubicarakan dengan Admiral
Elliot, dan aku yakin dia akan setuju karena usahamu itu untuk memperkuat kedudukan kami
pula.”
Bukan main girang hati Koan Jit mendengar ini. Admiral Elliot adalah komandan
tertinggi dari armada Inggeris yang datang dan memberi hajaran kepada pemerintah Mancu
karena membakar candu sehingga timbul perang candu. Pasukan Harimau Terbang memang juga
direstui oleh Admiral, akan tetapi dia, sebagai komandan pasukan itu yang dianggap kecil, mana
mungkin bertemu dan bicara dengan Admiral Elliot yang kedudukannya demikian tinggi, sebagai
wakil dari Kerajaan Inggeris ? Akan tetapi, melalui kapten ini yang masih keponakan dari
admiral itu, tentu usul-usulnya akan dapat disampaikan langsung dan kalau sampai dia dapat
menjadi beng-cu, kalau sampai dia dapat memperoleh kedudukan tinggi di dalam pasukan
Inggeris dan menguasai dunia hitam, tentu akan mudah mencapai puncak cita-citanya, yaitu
merebut tahta Kerajaan Ceng !
Memang sebetulnya, mencari Diana sampai dapat, baik orangnya kalau masih hidup atau
keterangan tentang dirinya kalau sudah mati, tidak terlalu sukar bagi Koan Jit kalau memang hal
itu dikehendakinya. Sekarang, setelah dia mendapatkan tugas langsung dari Kapten Charles
Elliot, Koan Jit lalu mengerahkan anak buahnya, menyuruh mereka menanggalkan pakaian
seragam, mengenakan pakaian biasa dan membagi-bagi kelompok pergi mencari keterangan
tentang seorang gadis kulit putih yang mungkin tinggal di daerah padalaman.
Dengan berkelompok antara lima sampai sepuluh orang, ratusan orang anggauta Harimau
Terbang itu dalam pakaian preman mulai melakukan penyelidikan. Mereka menyusup-nyusup ke
dalam hutan-hutan, naik turun bukit, menyusuri sepanjang sungai sampai mereka tiba di daerahdaerah
terpencil.
Akhirnya, beberapa hari kemudian saja, sekelompok yang terdiri dari sepuluh orang dapat
menemukan jejak, yaitu ketika mereka mendengar bahwa di suatu dusun terpencil terdapat
seorang wanita kulit putih yang hidup seperti penduduk dusun. Tentu saja mereka merasa girang
sekali dan dengan cepat mereka mendatangi dusun itu.
Memang berita itu tidak bohong. Di dusun itulah hidup Diana ! Selama lebih dari tiga
bulan Diana hidup sebagai seorang gadis dusun. Kini kulitnya yang biasanya putih mulus itu
menjadi kemerahan dan wajahnya kini nampak berseri penuh gairah hidup. Ia sudah terbiasa
Pedang Naga Kemala > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com 339
dengan kehidupan miskin sederhana, bahkan mulai dapat menikmati kehidupan ini dan mulai
mengerti akan makna kebahagiaan hidup. Berkat pendidikannya, ia bahkan mulai mengajarkan
segala macam pengetahuan praktis kepada penduduk, tentang pemeliharaan kesehatan, tentang
pengolahan tanah yang diketahuinya dari buku-buku, tentang kebersihan dan lain-lain. Di
samping itu, iapun menerima pelajaran yang langsung didapatnya dari praktek. Bahkan ia sempat
pula belajar ilmu silat dari Lauw Sek yang sudah menganggapnya sebagai anak atau keponakan
sendiri.
Pada suatu hari, pagi-pagi sekali Diana sudah pergi ke sawah ladang bersama keluarga
Lauw. Pagi itu mereka akan menuai padi yang sudah menguning tua. Juga para penduduk dusun
itu, pagi-pagi sekali sudah meninggalkan rumah, pergi ke sawah.
Karena sawah mereka menghasilkan padi yang gemuk dan subur, semua orang
bergembira dan bahkan ada yang bernyanyi-nyanyi dengan suara lantang ketika mereka menuai
padi. Seorang di antara kaum wanita yang sedang menuai padi itu tiba-tiba minta agar Diana
suka bernyanyi. Permintaan ini segera didukung oleh semua orang dan sambil tersenyum
gembira akhirnya Diana memenuhi permintaan mereka dan sambil menuai padi, iapun bernyanyi.
Ia menyanyikan sebuah lagu Inggeris yang biarpun tidak dimengerti arti kata-katanya oleh
mereka yang mendengarkan, namun karena suara Diana merdu dan lagu itu adalah lagu rakyat,
mereka dapat juga menikmati lagu itu.
Akan tetapi, tiba-tiba semua orang terkejut dan Diana menghentikan nyanyiannya.
Sekelompok orang muncul di tengah sawah dan mereka itu adalah sepuluh orang laki-laki yang
kelihatan kasar dan bengis. Apa lagi melihat betapa di punggung mereka terselip golok atau
pedang, semua orang makin ketakutan. Pada jaman itu, pemerintah melarang orang membawa
senjata tajam. Oleh karena itu, yang berani membawa senjata tajam hanyalah dua golongan saja,
para perampok dan pasukan pemerintah. Bahkan para pendekar sekalipun, untuk menghindarkan
keributan, menyembunyikan senjata mereka, kalau mereka membawanya. Munculnya sepuluh
orang pria yang membawa senjata tajam ini tentu menimbulkan panik dan para petani itu serentak
menghentikan pekerjaan mereka dan berkumpul. Anak-anak dan wanita-wanita segera
mendekati ayah dan suami mereka seperti anak-anak ayam melihat burung elang dan lari
bersembunyi di bawah sayap induknya.
Sejenak mereka hanya saling pandang saja. Akan tetapi, sepuluh orangyang bukan lain
adalah para anggauta Harimau Terbang itu, hanya memandang ke arah Diana dengan penuh
perhatian, tanpa memperdulikan orang-orang lain. Laiuw Sek yang berdiri di dekat Diana, lalu
berbisik, “Diana, bersembunyilah di belakangku.”
Diana yang tidak tahu mengapa semua orang nampak begitu terkejut bahkan seperti orang
ketakutan, tidak mau bersembunyi, bahkan bertanya, “Paman, siapakah mereka itu dan mengapa
kalian semua kelihatan takut ?”
Sebelum Lauw Sek sempat menjawab, seorang di antara sepuluh orang itu, yang bertubuh
tinggi besar dan kumisnya melintang menyerankan, bertanya, suaranya menggeledek nyaring
sekali, “Heii ! Nona kulit putih, apakah engkau yang bernama Diana ?”
Pedang Naga Kemala > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com 340
Sebelum Diana menjawab, Lauw Sek yang lebih dulu menjawab denga suara berteriak,
“Bukan ! Namanya bukan Diana dan di sini
Diana menjadi semakin heran. Mengapa Lauw Sek membohong ? Akan tetapi, ia sendiri
tidak takut menghadapi sepuluh orang itu dan ia menganggap semua ini seperti lelucon saja,
maka iapun berkata, “Namaku Jane, bukan Diana !”
Akan tetapi si kumis melintang yang menjadi pimpinan kelompok itu agaknya tidak mau
pulang dengan tangan kosong. Sambil tertawa bergelak dia berkata, “Namamu Diana atau Jane
atau siapapun juga, engkau harus ikut bersama kami ke Kanton !”
“Aku tidak mau !” Diana membentak marah. Tidak ada seorangpun di dunia ini yang
boleh memaksanya pergi meninggalkan tempat dan kehidupan yang menarik hatinya itu.
“Kau mau atau tidak bukan urusanku, nona. Akan tetapi tugas kami hanyalah
membawamu ke Kanton, kalau kau tidak mau terpaksa kami akan memondong atau
memanggulmu, ha-ha-ha !” Sembilan orang temannya juga ikut tertawa, membayangkan
keadaan yang menyenangkan, yaitu memondong atau memanggul nona kulit putih yang cantik
itu.
“Tidak ada yang boleh membawa pergi nona ini !” Tiba-tiba Lauw Sek berdiri
menghadang di depan Diana dengan sikap gagah dan melindungi.
Si kumis melintang melotot dan membentak marah. “Petani busuk, siapa kau berani
mencampuri urusan kami !”
“Nona ini adalah anak angkat kami !” Lauw Sek membentak pula. “Dan kami akan
melawan siapa saja yang berani mengganggunya !” Para petani lain juga maju, dengan cangkul
dan segala alat pertanian lain mereka mengambil sikap melindungi Diana. Melihat in, diam-diam
Diana merasa terharu sekali. Orang-orang dusun yang sederhana dan miskin ini ternyata adalah
orang-orang yang memiliki budi yang luhur dan memiliki rasa setia kawan dan ketabahan besar.
Akan tetapi, sepuluh orang laki-laki itu adalah golongan penjahat yang telah menjadi
anggauta Pasukan Harimau Terbang. Mereka tertawa bergelak melihat sikap para petani itu yang
hendak melawan, apa lagi melihat betapa di antara mereka terdapat kakek-kakek tua dan juga
wanita-wanita yang agaknya nekat hendak melindungi gadis kulit putih itu.
“Ha-ha-ha, kalian mencari mampus !” kata si kumis melintang, lalu dia memerintahkan
kepada anak buahnya. “Hajar mereka itu dan biarkan aku yang akan menangkap nona ini !”
“Tahan !” Tiba-tiba Diana membentak marah. “Apakah kalian ini utusan dari komandan
Peter Dull !”
Mendengar disebutnya nama Peter Dull oleh Diana, si kumis melintang mengangkat
tangan memberi isyarat agar teman-temannya jangan bergerak dulu. Dia memandang dengan
tajam kepada Diana.
Pedang Naga Kemala > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com 341
“Kami mengenal tuan Peter Dull.”
“Kalau begitu, pergilah dan jangan menganggu aku. Aku adalah keponakan Kapten
Charles Elliot !”
“Ha ! Kalau begitu benar engkau nona Diana ?” kata si kumis melintang, girang bukan
main.
“Benar, aku Diana dan kalau kalian bersikap kasar, kelak aku akan melaporkan kepada
pamanku Kapten Charles Elliot !”
“Ha-ha-ha, nona Diana. Justeru beliau yang mengutus kami untuk membawa nona pulang
ke Kanton.”
“Aku tidak mau !”
“Maaf, nona. Mau atau tidak, kami harus membawa nona ke Kanton. Demikianlah
perintah yang harus kami jalankan.”
“Pergilah kalian orang-orang jahat !” Lauw Sek membentak dan bersama kawankawannya
diapun menyerbu dan hendak menghalau sepuluh orang itu. Akan tetapi sepuluh
orang itu melawan dan terjadilah perkelahian yang kacau balau di tengah sawah ! Perkelahian
yang tidak seimbang karena para petani itu tentu saja lebih pandai mengayun cangkul menggarap
tanah dari pada berkelahi, apa lagi melawan sepuluh orang tukang berkelahi itu. Si kumis
melintang sendiri lalu menubruk dan menangkap lengan Diana.
“Marilah, nona,” katanya sambil tertawa.
“Bangsat, lepaskan !” Diana merengut lengannya dan menendang. Kakinya besar dan
kuat, dan dia masih memakai sepatunya yang lama, sepatu boot yang keras.
“Takkk !” Ujung sepatu itu tepat mengenai tulang kering kaki si kumis melintang.
“Aughhh .......... aduhh – aduhh – aduh .......... !” Si kumis melintang berjingkrak-jingkrak
kesakitan akan tetapi dia tidak melepaskan pegangannya. Terjadilah betot membetot. Akan
tetapi, biarpun Diana memiliki perawakan tinggi dan lebih besar dibandingkan wanita pada
umumnya, tentu saja ia kalah kuat. Juga latihan silat yang diterimanya dari Lauw Sek tidak ada
artinya bagi si kumis melintang, maka akhirnya ia dapat diringkus dan dipanggul. Diana
meronta-ronta “Lepaskan ! Awas kau, akan kulaporkan kepada paman dan engkau akan
ditembak mampus !”
Akan tetapi si kumis melintang yang sudah menerima perintah dari Koan Jit agar
membawa pulang Diana, kalau perlu dengan paksa, tidak mau melepaskannya. Sementara itu,
orang-orang yang tadi membelanya kini sudah kocar kacir, dihajar oleh kawanan anggauta
pasukan Harimau Terbang itu. Mereka babak belur dan ada yang patah-patah tulangnya. Si
kumis melintang memberi aba-aba dan mereka semua lalu pergi dari situ dan Diana masih terus
dipanggul oleh si kumis melintang.
Pedang Naga Kemala > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com 342
Diana meronta-ronta, menjerit-jerit dan memaki-maki. Akan tetapi, sepuluh orang itu
adalah orang-orang kasar yang sudah biasa melakukan segala macam perbuatan busuk dan tidak
patut, di antaranya suka sekali mengganggu wanita. Maka, ulah Diana itu membuat mereka
semua menjadi marah karena dimaki-maki dan mulailah mereka memperlihatkan sikap kurang
ajar. Banyak tangan mulai mencolek-colek tubuh Diana yang masih dipanggul si kumis
melintang. Tentu saja Diana merasa semakin marah akan tetapi juga merasa ngeri karena kini ia
takut kalau-kalau sepuluh orang itu akan berbuat yang tidak sopan terhadap dirinya lebih lanjut.
Bagaimana kalau sampai ia diperkosa oleh mereka ? Membayangkan ini, Diana tidak berani lagi
meronta dan ia mulai menangis, ditertawakan oleh sepuluh orang itu yang terus membawa
menuju ke Kanton.
Menjelang senja ronbongan ini tiba di sebuah hutan. “Wah, agaknya kita harus bermalam
di dalam hutan ini,” kata si kumis melintang sambil menurunkan tubuh Diana ke atas tanah
untuk menghapus keringatnya karena gadis ini terus meronta. Diana rebah terlentang dan
matanya terbelalak penuh ketakutan memandang kepada mereka.
“Kenapa tidak terus saja dan bermalam di dalam dusun ? Kita bisa menggunakan rumah
penduduk.”
“Dan kita perlu mencari teman-teman untuk melewatkan malam dingin, ha-ha !”
“Atau kita bagi-bagi saja sama rata perempuan bule ini. Akur ?”
“Akur ! Akur !” Mereka semua berseru gembira. Tentu saja mereka hanya menggoda
Diana yang sudah menjadi pucat karena merasa ngeri dan ketakutan.
“Jangan ………. Oohhh, jangan ganggu aku ………. Jangan .......... !” ia berkata dengan
mata terbelalak liar ke kanan kiri seperti mata seekor kelinci yang sudah tersudut dan dikepung
harimau-harimau kelaparan.
Sikap ini membuat mereka menjadi semakin buas. “Wah, siapa yang akan bersenangsenang
lebih dulu ?”
“Tentu aku !” kata si kumis melintang. “Dan setelah aku, agar adil, harus diundi di
antara kalian.”
“Akur ! Mari kita undi.”
Disaksikan oleh Diana yang menjadi semakin ketakutan, si kumis melintang melakukan
undian di antara sembilan orang temannya untuk menentukan siapa yang mendapat giliran
sebagai nomor dua, nomor tiga dan seterusnya. Hampir pingsan Diana membayangkan dirinya
dipermainkan sepuluh orang itu saking ngerinya.
“Jangan ………. ganggu aku ……….” Ia berkata lagi. “Aku berjanji, kalau kalian
berlaku baik kepadaku, kelak aku akan minta kepada pamanku agar memberi hadiah yang banyak
kepada kalian, sebaliknya kalau kalian .......... kalian menggangguku, kalian tentu akan dihukum
berat.”
Pedang Naga Kemala > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com 343
“Heh – heh, nona manis, bukan engkau yang harus mengajukan syarat-syarat, melainkan
kami. Dengar baik-baik. Mestinya engkau ini kami bunuh, akan tetapi kalau engkau mau
melayani kami satu demi satu dengan manis, kemudian kelak memberi laporan yang baik kepada
pamanm, maka engkau tidak akan kami bunuh. Bagaimana ? Ha – ha – ha !” Dan semua orang
tertawa bergelak.
Wajah Diana menjadi semakin pucat dan matanya terbelalak. “Bunuh saja aku ..........,
kalau begitu bunuh saja aku, jangan ganggu aku .......... !” tangisnya.
“Aduh sayang kalau dibunuh begitu saja. Sebelum dibunuh, bagaimana kalau engkau
bersenang-senang dulu dengan kami semalam ini ?”
“Berikan saja kepadaku kalau mau dibunuh.”
“Untukku saja”
Kembali mereka tertawa-tawa bergelak. Orang-orang kasar ini memang tidak
memikirkan bahwa mereka dapat celaka kalau gadis itu kelak mengadu kepada pamannya.
Mereka adalah orang-orang yang sudah biasa melakukan perbuatan-perbuatan apa saja demi
memuaskan nafsu dan kesenangan diri sendiri tanpa mengingat akan akibat-akibatnya. Yang
mereka takuti adalah Koan Jit, bukan para komandan kulit putih. Andaikata Diana mengancam
mereka untuk melaporkan kepada Koan Jit, agaknya mereka itu akan teringat dan menjadi jerih.
“Sekarang begini,” tiba-tiba si kumis melintang berkata. “Kalau nona memberi ciuman
yang mesra kepadaku, aku akan mempertimbangkan permintaanmu tadi. Bagaimana ? Ha – ha –
ha, hayo cium yang mesra, nona.” Dan si kumis melintang itu membantu Diana bangkit duduk,
kemudian dia mendekatkan mukanya yang dihias kumis melintang.
Hampir muntah Diana ketika mukanya berdekatan seperti itu, tercium bau apak dan
memuakkan. Ia memejamkan mata dan tentu saja tidak mau melakukan ciuman yang diminta. Ia
hanya takut kalau si kumis itu yang akan menciumnya dengan paksa, maka ia memejamkan mata,
dan menangis.
Pada saat itu tiba-tiba berkelebat bayangan orang dan terdengar bentakan seorang pria
yang lantang. “Kalian ini manusia ataukah binatang ? Hayo lepaskan gadis itu !”
Si kumis melintang terkejut, melepaskan tubuh Diana yang jatuh rebah terlentang
kembali. Seperti sepuluh orang itu yang sudah berloncatan bangun, Diana juga memandang ke
arah seorang pemuda yang tiba-tiba muncul di situ. Cuaca masih cukup terang sehingga ia dapat
melihat seorang pemuda yang gagah, yang muncul dan mengeluarkan bentakan tadi. Seorang
pemuda yang bertubuh tegap, berpakaian sederhana seperti pakaian seorang petani, dengan
rambut hitam panjang dikuncir tebal bergantung di belakang punggungnya, wajahnya nampak
tampan dan cerah, matanya bersinar tajam akan tetapi lembut. Timbul kekhawatiran di dalam
hati Diana. Pemuda itu biarpun tampan dan wajahnya membayangkan wibawa, namun melihat
pakaiannya tidak ada bedanya dengan pemuda-pemuda dusun Lauw Sek, maka munculnya
pemuda itu tentu hanya akan berupa bunuh diri saja. Mana mungkin pemuda ini akan mampu
mencegah perbuatan sepuluh orang jahat itu ?
Pedang Naga Kemala > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com 344
Dapat dibayangkan betapa marah si kumis melintang dan sembilan orang kawannya
melihat munculnya seorang pemuda petani yang berani menegur mereka bahkan menyuruh
mereka melepaskan Diana. Si kumis melintang melangkah maju sampai dekat sekali di depan
pemuda itu dan memandang dengan mata melotot dan wajahnya beringas penuh ancaman.
“Bocah keparat apakah kau sudah bosan hidup ?” Setelah berkata demikian, tanpa
memberi kesempatan lagi kepada pemuda itu untuk bicara, si kumis melintang sudah mengayun
kepalan kanannya menghantam ke arah pemuda itu.
Si kumis ini merupakan jagoan di antara teman-temannya dan pandai ilmu silat, juga
memiliki tenaga besar yang kuat. Akan tetapi agaknya, bagi pemuda itu dia bukan apa-apa.
Pukulan ke arah dagu itu dielakkan dengan amat mudah, hanya miringkan kepala saja dan begitu
pemuda itu menggerakkan tangan kirinya, tubuh si kumis terpelanting keras dan terbanting ke
atas tanah. Dia berteriak dan meringis kesakitan mencoba untuk bangkit, akan tetapi jatuh lagi
karena agaknya ketika terbanting keras tadi urat kakinya terkilir. Pemuda itu sekali meloncat
sudah berada di dekat Diana dan gadis itu sendiri tidak tahu apa yang dilakukan pemuda itu, akan
tetapi tahu-tahu ikatan kaki tangannya terlepas !
Sembilan anggauta Harimau Terbang itu menjadi marah bukan main melihat betapa
pemimpin mereka roboh. Mereka semua tahu bahwa pemuda itu tentu lihai, maka merekapun
tanpa dikomando lagi sudah mencabut golok atau pedang masing-masing dan seperti
segerombolan srigala mereka menyerbu ke arah pemuda itu. Diana terbelalak dan kini hatinya
penuh gelisah, mengkhawatirkan keselamatan pemuda itu. Ngeri hatinya membayangkan tubuh
pemuda yang telah menolongnya itu, di depan matanya, akan dicingcang sampai hancur.
Bangkitlah semangatnya ketika ia melihat seorang lawan yang menyerang pertama kali, entah
bagaimana caranya, telah dirobohkan pula oleh pemuda itu hanya dengan satu kali gerakan
tangan. Bukan main kagum rasa hati Diana dan iapun bangkit menyambar sepotong kayu kering
patahan pohon dan gadis inipun menghampiri mereka yang sudah roboh. Agaknya setiap orang
lawan yang menyerang pemuda itu, segebrakan saja sudah dirobohkan dan yang sudah roboh itu
tidak mampu menyerang lagi, ada yang mengaduh-aduh memegangi kakinya, pundaknya dan
lain-lain. Agaknya mereka itu mengalami tulang patah.
Diana, dengan hati penuh kegemasan, mengayun potongan kayu di tangannya itu,
mengamuk di antara lawan yang sudah tak mampu bangkit kembali. Pentungan itu diayun keraskeras
dan menghantam tubuh-tubuh itu. Terdengar suara bak – buk – bak – buk ketika gadis ini
mengamuk. Ia termasuk wanita yang bertenaga kuat dan pukulan tongkatnya yang menimpa
pundak, atau dada, atau kepala tanpa pilih tempat cukup keras membuat mereka yang sudah
menderita patah tulang itu menjadi semakin kesakitan. Kalau tidak patah lagi tulang bagian lain,
atau kepala menjadi bocor terpukul tongkat itu, sedikitnya tentu mereka merasa tubuh mereka
memar-memar dan babak bundas.
Pemuda itu memang hebat bukan main. Sepuluh orang yang rata-rata memiliki tenaga
besar dan pandai bersilat mengeroyoknya, bahkan yang sembilan orang mempergunakan senjata
tajam. Dan dia hanya membutuhkan sembilan kali gebrakan saja dengan tangan menampar untuk
menyelesaikan perkelahian itu. Sepuluh orang itu hanya terkena tamparan tangan satu kali saja
dan mereka sudah roboh tak mampu melanjutkan perkelahian ! Jelaslah bahwa kalau pemuda itu
menghendaki, kalau dia mempergunakan tenaga yang lebih besar, sepuluh orang itu bukan hanya
Pedang Naga Kemala > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com 345
roboh menderita patah tulang, melainkan besar sekali kemungkinannya mereka takkan mampu
bangun kembali untuk selamanya !
Kini, melihat betapa Diana mengamuk dan menggebuki orang-orang yang sudah tak
mampu melawan itu dengan kayu di tangannya, seperti orang menggebuki anjing saja, pemuda
itu lalu meloncat dan dengan halus dia memegang lengan Diana.
“Sudahlah, nona, mereka sudah cukup mendapatkan hukuman,” katanya denga sikap
sopan dan halus, dan sentuhan tangannya pada lengan Diana itupun cepat dihentikan dan
tangannya ditariknya kembali.
Diana melempar kayunya dan membalikkan tubuh, menghadapi pemuda perkasa itu.
Sejenak ia hanya memandang dengan mata bersinar-sinar, penuh kekaguman, menjelajahi wajah
yang tampan dan gagah itu. Ia seperti melihat seorang mahluk yang aneh dan amat indah
mengagumkan. Demikian terpesona ia sampai tidak mampu berkata-kata. Ia teringat akan
sahabat baiknya, Siauw Lian Hong yang amat dikaguminya dan disayangnya. Besar sekali
persamaan antara pemuda ini dan Lian Hong, sama anggun, sama tinggi ilmu kepandaiannya.
Hanya bedanya, kalau Lian Hong seorang gadis cantik jelita, pemuda ini adalah seorang laki-laki
yang tampan.
“Kau .......... kau penolongku .......... siapakah namamu ?” akhirnya ia mampu juga
mengeluarkan suara.
Melihat betapa sepasang mata yang indah dan aneh karena warnanya biru itu memandang
kepadanya dengan sinar bercahaya penuh kekaguman, dan bibir itu gemetar ketika bicara,
pemuda itu melangkah mundur dua tindak.
“Tak perlu diketahui, nona, tak perlu diingat lagi. Itu kawan-kawanmu telah datang.”
Pemuda itu menunjuk ke kiri dan Diana menengok. Dilihatnya Lauw Sek dan para penduduk
dusun datang berlari-lari. Melihat Lauw Sek, Diana lari menyambut dan merangkul orang tua itu
yang nampaknya luka-luka berdarah pada pipi dan pahanya.
“Paman Lauw .......... !” Gadis itu menangis dalam rangkulan Lauw Sek. Semua
penduduk dusun merubungnya dan menghiburnya.
Tiba-tiba Diana melepaskan pelukan orang tua itu dan menengok, mencari-cari dengan
pandang matanya. “Di mana dia .......... ?”
“Dia .......... penolongku, di mana dia ?”
Seorang di antara mereka berkata, “Dia sudah pergi tanpa pamit !”
Lauw Sek menarik napas panjang. “Pemuda itu luar biasa sekali. Tadi dia datang dan
menemukan kami dalam keadaan babak belur dihajar gerombolan itu.”
“Eh, mana gerombolan itu .......... ?” Diana memotong.
Pedang Naga Kemala > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com 346
“Mereka sudah pergi saling bantu, dan keadaan mereka lebih parah dari pada kami,” kata
seorang di antara mereka.
“Siapakah pemuda itu, paman ?”
“Kami tidak mengenalnya, Diana. Tadi dia muncul dan kami beri tahu bahwa kami
diserang oleh gerombolan jahat yang melarikan kau. Pemuda itu lalu menghilang begitu
saja ..........”
“Dia berkelebat dan lenyap. Kami melakukan pengejaran dan melihat engkau selamat,”
kata seorang lain.
“Ahhh .......... dan dia tadi tidak mau mengaku siapa namanya. Ah, paman Lauw, sungguh
aku menyesal sekali. Dia telah menyelamatkan aku, mungkin menyelamatkan nyawaku, dan tak
seorangpun di antara kita mengenalnya.”
“Dia tentu seorang pendekar muda yang amat lihai.”
“Seperti Lian Hong ?”
Lauw Sek menghela napas. “Aku tidak tahu apakah ada orang yang dapat dibandingkan
dengan nona Siauw. Akan tetapi pemuda itu tentu lihai sekali kalau seorang diri dia mampu
merobohkan sepuluh orang penjahat tadi.”
“Merobohkan ? Wah, kalian tidak melihatnya tadi. Dia hampir tidak berkelahi sama
sekali ! Setiap kali menggerakkan tangan, seorang lawan roboh.” Diana merasa menyesal sekali
tidak sempat berkenalan dengan penolongnya dan di dalam hatinya ia merasa kagum bukan main.
Ia makin mengerti sekarang bahwa di dalam negara yang rakyatnya kelihatan masih terbelakang
dan bodoh ini ternyata terdapat banyak orang yang memiliki ilmu kepandaian tinggi sekali,
orang-orang aneh yang setelah menyelamatkan nyawa seorang lalu pergi begitu saja tanpa
memberi kesempatan namanya dikenal. Ia kagum sekali dan wajah pemuda itu terukir di dalam
lubuk hatinya. Ia takkan dapat melupakan peristiwa itu, takkan dapat melupakan wajah yang
tampan sederhana itu.
Lauw Sek dan para penghuni dusun itu lalu mengajak Diana pulang ke dusun mereka.
Melihat betapa banyak orang dusun luka-luka karena membela dirinya, Diana merasa terharu
sekali dan iapun membantu untuk merawat mereka yang luka-luka.
***
Koan Jit marah bukan main mendengar laporan anak buahnya, sepuluh orang yang
kembali menderita luka-luka itu. Apa lagi ketika dia mendengar bahwa mereka itu gagal
membawa pulang Diana hanya karena dihalangi oleh seorang pemuda yang tidak mereka ketahui
siapa.
Pedang Naga Kemala > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com 347
“Gentong-gentong nasi tiada guna !” Dia memaki marah. “Hanya menghadapi satu
orang saja kalian tidak mampu mengalahkan dan pulang dengan tangan kosong, juga dengan
menderita luka-luka. Kenapa kalian semua tidak mampus saja !”
Si kumis melintang dengan muka pucat dan tubuh menggigil berlutut di depan Koan Jit.
“Harap tai-ciangkun sudi mengampunkan kami. Pemuda itu sungguh bukan manusia biasa.
Kami sepuluh orang sudah berusaha sekuat tenaga, mempergunakan senjata-senjata kami
melawan sampai akhirnya kami roboh tak mampu melawan lagi. Dia amat lihai sekali dan
agaknya hanya paduka saja yang akan mampu mengalahkannya.”
Koan Jit mengepal tinju. “Keparat ! Masa untuk membawa pulang seorang perempuan
kulit putih saja harus aku sendiri yang maju ?”
Koan Jit marah bukan main. Baru kemarin, rombongan lain juga datang dengan tubuh
babak belur. Rombongan yang terdiri dari belasan orang itu mendengar adanya seorang gadis
bule di sebuah perkampungan di lereng gunung. Mereka segera mendatangi wanita itu dan
karena mereka belum pernah melihat bagaimana macamnya keponakan Kapten Charles Elliot,
mereka yang biasa bersikap kasar ini hendak memaksa wanita itu untuk ikut dengan mereka ke
Kanton. Akan tetapi, ternyata wanita bule sudah bersuami dan suaminya lalu mengamuk.
Mereka dihajar babak belur karena suami wanita itu adalah seorang pendekar yang amat lihai,
yaitu Gan Seng Bu, sute dari Koan Jit sendiri. Wanita itu adalah Sheila, puteri mendiang opsir
Hellway.
Tentu saja Koan Jit marah sekali mendengar bahwa yang menghajar anak buahnya ini
bernama Gan Seng Bu, sutenya sendiri. Dia juga sudah mendengar tentang wanita Inggeris yang
menikah dengan seorang pemberontak, akan tetapi baru sekarang dia mendengar bahwa
pemberontak itu adalah Gan Seng Bu, seorang di antara dua orang sutenya. Sebelum kemarahan
itu reda, kini si kumis melintang bersama anak buahnya datang memberi laporan bahwa mereka
sudah menemukan tempat tinggal Diana akan tetapi mereka tidak berhasil membawa Diana
pulang bahkan dihajar babak belur pula oleh seorang pemuda yang tidak terkenal. Tentu saja dia
tidak dapat bertindak apa-apa terhadap Sheila, karena bukan wanita itu yang dicarinya.
“Antar aku ke tempat wanita itu !” hardiknya kepada si kumis melintang. Lalu dia
melaporkan kepada Kapten Charles Elliot bahwa dia sudah berhasil menemukan tempat tinggal
Diana dan dia akan berangkat sendiri menjemput, membawa sebuah kereta ditemani oleh si
kumis melintang. Koan jit adalah seorang yang berwatak tinggi hati dan seperti biasa orang yang
berwatak tinggi hati, dia memandang rendah kepada siapapun juga dan penuturan si kumis
melintang bahwa Diana dilindungi seorang pemuda yang telah merobohkan sepuluh orang anak
buahnya itu sama sekali tidak membuat dia menjadi gentar, bahkan menimbulkan rasa penasaran
dan kemarahannya. Dia yakin akan dapat mengalahkan pemuda itu atau siapapun juga, maka
dengan hati penuh geram dia pergi bersama si kumis melintang untuk menghajar pemuda lancang
itu dan turun tangan sendiri menjemput Diana.
Agaknya bintang peruntungan Koan Jit sedang gelap, dia sedang dilanda kesialan. Ketika
keretanya tiba di dusun di mana Diana tinggal, dan bersama si kumis melintang dia meloncat
turun, di tonton oleh para penduduk dusun, tiba-tiba nampak Diana muncul bersama seorang
gadis lain dan seorang kakek kurus berbaju tambal-tambalan. Koan Jit sama sekali tidak
Pedang Naga Kemala > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com 348
mengenal gadis dan kakek itu, akan tetapi mudah menduga bahwa gadis cantik berkulit putih
bermata biru dan berambut kuning emas itu tentulah Diana yang dicarinya. Dia sama sekali tidak
memandang kepada para penduduk di situ dan dengan langkah lebar dia menghampiri gadis itu
dan berbisik kepada si kumis melintang, “Mana pelindungnya itu ?”
“Tidak ada .........., tidak nampak ..........” si kumis melintang menjawab sambil menoleh
ke kanan kiri dengan sikap takut-takut. Hati orang ini masih gentar kalau dia mengenang
kelihaian pemuda yang pernah menolong Diana dan legalah dia tidak melihat adanya pemuda itu
di situ.
Sementara itu, Koan Jit yang ingin tugasnya cepat-cepat selesai, sudah menghadapi Diana
dan berkata, “Nona Diana, silahkan naik ke kereta. Aku datang menjemput nona atas kehendak
pamanmu Kapten Charles Elliot.” Suaranya mengandung desakan yang kuat sehingga Diana
merasa khawatir juga. Orang ini berada dengan si kumis melintang itu dan sikap orang yang
berwibawa ini membuat ia gemetar.
“Tidak perlu dijemput, kalau aku ingin kembali ke Kanton, tentu akan kulakukan itu.
Aku belum mau pulang, harap engkau suka menyampaikan pesanku kepada pamanku.”
“Nona Diana, aku telah dimintai tolong oleh pamanmu untuk membawamu pulang ke
Kanton, baik engkau mau atau tidak. Kalau nona tidak mau, terpaksa akan kupaksa.” Koan Jit
tidak mengatakan bahwa dia diutus atau diperintah, melainkan berkata bahwa paman Diana itu
minta tolong kepadanya. Hal ini saja menunjukkan ketinggian hatinya.
“Aku tidak mau pulang !” Diana berkata lagi, kini agak marah.
“Terpaksa aku memaksamu !” kata Koan Jit dan tiba-tiba tangannya sudah meluncur ke
depan hendak menangkap pergelangan tangan Diana.
“Plakk ! ! !” Tiba-tiba tangannya itu tertangkis dan dia merasa betapa telapak tangannya
tergetar. Dia terkejut dan marah, dan ketika dia memandang wajah gadis yang telah
menangkisnya itu, dia makin kaget karena dia seperti pernah melihat gadis ini.
“Koan Jit, di mana-mana engkau mempergunakan tenaga dan kepandaian untuk menghina
dan memaksa orang. Apa kau sudah lupa kepadaku ?”
“Ah, kau kiranya !” bentaknya dan kini dia teringat. Gadis inilah yang dulu pernah
membebaskan Ciu Kui Eng. Kemarahannya memuncak. “Kau lagi yang menghalangiku ?
Sekarang akan kubunuh kau !” Dan diapun menyerang dengan dahsyat. Kalau dulu dia kalah
oleh gadis ini karena gadis ini mengeroyoknya bersama Kui Eng, murid Tee-tok yang cukup lihai
itu.
“Wuuutttt .......... !” Tamparan yang akan menghancurkan batu karang itu lewat di
samping kepala gadis itu yang bukan lain adalah Siauw Lian Hong, membalas dengan totokan
gagang kipasnya yang sudah dikeluarkannya dengan cepat. Gagang kipas itu melakukan totokan
di dekat siku lengan Koan Jit yang tadi menyerang. Murid pertama Thian-tok ini tentu saja
maklum akan kehebatan serangan ini. Kalau terkena totokan itu, lengannya akan lumpuh dan hal
Pedang Naga Kemala > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com 349
itu berbahaya sekali, maka terpaksa dia menarik kembali lengannya dan dari bawah kakinya
menyambar. Semua gerakannya dilakukan dengan kecepatan kilat, maka penasaranlah dia ketika
kembali gadis itu mampu menghindarkan diri dari tendangannya.
Sebelum dia dapat menyerang lagi, tiba-tiba ada angin yang amat kuat dari arah kiri. Dia
terkejut dan memutar tubuh ke kiri, siap untuk menandingi lawan yang kuat ini dan ternyata dia
berhadapan dengan kakek berbaju tambal-tambalan tadi. Koan Jit makin terkejut dan
diperhatikannya orang itu. Seorang kakek yang usianya tentu sudah tujuhpuluh tahun lebih,
kurus dengan baju tambal-tambalan akan tetapi bersih, mukanya kusut dan mulutnya tersenyum
terus ! Yang membuat Koan Jit merasa kaget adalah ketika dia melihat sebuah kipas butut di
tangan kiri kakek itu.
“Ah, apakah aku berhadapan dengan San-tok ?”
Kakek itu memperlebar senyumnya. “Ha-ha, murid pertama Thian-tok sungguh hebat dan
mengagumkan, mungkin dapat mengangkat dirimu di dunia hitam. Sayang, begitu merendahkan
diri menjadi anjing penjilat bangsa asing, dan lebih sayang lagi, kini berhadapan dengan kami
sebagai lawan karena hendak menganggu seorang gadis sahabat baik muridku.”
Baru sadarlah kini Koan Jit bahwa gadis perkasa yang pernah menolong Kui Eng dan
yang kini kembali menentangnya adalah murid San-tok. Pantas demikian lihai. Dan lebih celaka
lagi, gadis itu adalah sahabat baik Diana. Akan tetapi, bagaimana mungkin dia harus mengalah
dan mundur ? Biarpun di situ ada murid San-tok dan bahkan ada San-tok sendiri, dia tidak takut !
Sepasang mata kucing yang mencorong kehijauan itu menyipit dan mulut yang biasanya
lebih banyak tertutup itu, kini membayangkan ejekan. “San-tok, engkau sudah tua bangka tentu
sudah tahu bahwa setiap orang harus mencari kesenangan dengan cara masing-masing. Dan
menurut aku, caraku ini yang paling baik. Apakah sekarang orang yang bernama San-tok itu,
seorang di antara Empat Racun Dunia, sudah menjadi seorang pendekar budiman yang hendak
melindungi seorang gadis bule bermata biru ? Ha-ha, alangkah lucunya !”
“Koan Jit, tutup mulutmu yang beracun !” Lian Hong membentak dan melangkah maju
menghadapi laki-laki itu. “Di sini tidak ada persoalan pendekar atau bukan pendekar. Yang
membela Diana adalah aku, Siauw Lian Hong, karena Diana adalah sahabatku. Kalau suhu tadi
maju adalah karena dia hendak membela aku, muridnya. Akan tetapi, tanpa dibela suhu
sekalipun, jangan kira aku takut melawanmu !”
Lian Hong sudah membentangkan kipasnya dengan sikap menentang.
“Heh – heh – heh, Koan Jit. Kau mau bicara apa lagi ? Engkau memang murid Thian-tok
yang hebat, akan tetapi engkau mengkhianati gurumu sendiri. Engkau hanya seorang pencuri
rendah yang pengecut. Hemm, aku akan dapat mengambil Giok-liong-kiam itu darimu setiap
saat kuhendaki, ha-ha !”
Terkejutlah hati Koan Jit. Ucapan seorang di antara Empat Racun Dunia tidak boleh
dianggap main-main. Siapa tahu kakek ini sudah tahu tempat di mana pedang pusaka itu
disembunyikannya dan kalau demikian, berbahaya ! Dia sendiri terlindung di tengah-tengah
Pedang Naga Kemala > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com 350
benteng balatentara kulit putih, akan tetapi bagaimana dengan pusaka-pusakanya yang
disimpannya di suatu tempat rahasia itu ? Membawanya ke dalam markaspun dia segan karena
siapa tahu komandan-komandan bule itu akhirnya juga menghendaki pusaka-pusaka yang bagi
mereka merupakan benda aneh dan kuno yang amat berharga.
Kekhawatirannya membuat dia tidak bernapsu lagi untuk berkelahi melawan Lian Hong.
Apa lagi dia memperhitungkan bahwa bagaimanapun juga, kalau sampai dia mendesak gadis itu,
gurunya tentu tidak akan tinggal diam saja dan akhirnya dia harus menghadapi pengeroyokan
mereka. Walaupun dia tidak takut, akan tetapi dia maklum bahwa mereka berdua itu lihai sekali
dan kalau maju bersama, mungkin dia tidak akan mampu menang. Dan kini yang paling penting
adalah memeriksa pusaka-pusakanya. Jangan-jangan kakek kurus ini telah mengambil Giokliong-
kiam ! Terkejutlah dia ketika berpikir sampai di situ. Dia tahu akan kehebatan keempat
datuk sesat itu yang suka melakukan hal-hal luar biasa. Tidak akan menjadi hal yang aneh sekali
kalau San-tok ini diam-diam telah memasuki tempat rahasianya dan mengambil Giok-liongkiam!
“Sudahlah. Melihat bahwa San-tok berada di sini dan mengingat hubungan antara dia dan
suhu, aku tidak mencari keributan. Aku hanya dimintai tolong oleh Kapten Charles Elliot untuk
menjemput keponakannya. Kalau ia tidak mau diajak pulang, sudahlah.” Dia memberi isyarat
kepada si kumis melintang dan keduanya lalu meloncat ke atas kereta dan kendaraan itupun
kabur dengan cepatnya.
“Hong Hong, ajak Diana ke tempat lain, ke puncak yang ada sumbernya itu. Aku akan
menyelidiki tempat rahasianya !” kata San-tok atau Bu-beng San-kai kepada muridnya. Lian
Hong maklum apa yang dimaksudkan gurunya. Tentu gurunya khawatir kalau-kalau Koan Jit
datang kembali membawa pasukan untuk memaksa Diana, maka ia harus menyembunyikan
Diana ke tempat lain, dan tentu gurunya hendak menyelidiki di mana Koan Jit menyimpan
pusaka Giok-liong-kiam. Kalau tadi pusaka itu dibawa Koan Jit, tentu gurunya akan dapat
menduganya dan tentu gurunya sudah menyerang untuk merampasnya. Maka iapun mengangguk
dan sekali berkelebat San-tok lenyap dari situ.
Diana memegang lengan Lian Hong. “Lian Hong, gurumu itupun pandai menghilang
seperti engkau. Alangkah banyaknya orang sakti di sini ……….” Dan gadis bule ini teringat
akan wajah pemuda yang menolongnya akan tetapi tidak dikenalnya sehingga kembali ia
merasakan kecewa dan menyesal.
Sementara itu, kereta yang ditumpangi Koan Jit dan pembantunya membalap menuju ke
Kanton. Ketika kereta tiba di hutan terakhir di sebuah bukit yang terletak di perbatasan kota,
Koan Jit yang sudah memesan kepada pembantunya untuk pulang lebih dahulu meloncat dari
kereta yang masih berjalan cepat. Begitu meloncat turun, Koan Jit memandang sekeliling dengan
matanya yang tajam untuk melihat apakah ada orang yang melihat dia turun dari kereta.
Berdebar rasa jantung dalam dada San-tok. Untung dia bersikap hati-hati sekali dan tidak
membayangi larinya kereta secara terbuka, melainkan membayanginya sambil menyusup-nyusup
dan bersembunyi. Ketika tubuh Koan Jit berkelebat turun dari kereta yang masih membalap itu,
hal yang sama sekali takkan pernah disangkanya, dia melihatnya dan cepat kakek ini mendekam
Pedang Naga Kemala > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com 351
di balik semak-semak. Kalau saja dia tidak bertindak cepat, tentu Koan Jit akan dapat melihatnya
dan gagallah usahanya membayangi orang itu.
Setelah merasa yakin bahwa tidak ada orang melihatnya, Koan Jit lalu menyusup di antara
pohon-pohon dalam hutan di bukit itu, sama sekali tidak tahu bahwa bayangannya tak pernah
terlepas dari pengintaian San-tok. Dalam hal ini, tentu saja Koan Jit masih belum mampu
menandingi San-tok. Kakek itu berjuluk Racun Gunung, tentu saja dia ahli dalam hal naik turun
gunung, mengenal rahasia-rahasia hutan dan gunung dan pandai menyusup-nyusup seperti seekor
kelinci yang gesit sekali. Biasanya San-tok berkeliaran di hutan-hutan Pegunungan Wu-yi-san
yang luas, maka kini hutan kecil seperti itu tidak ada artinya baginya dan betapapun hati-hati
Koan Jit menyusup-nyusup, tetap saja kakek itu mampu membayanginya.
Kakek itu kagum sekali melihat Koan Jit menyusup ke dalam semak-semak berduri dan
setelah mendorong semak-semak berduri itu ke samping, ternyata di belakang semak-semak
terdapat sebuah batu yang didorongnya ke kiri. Dan nampaklah sebuah lubang yang hanya cukup
dimasuki satu orang saja. Tubuh Koan Jit lenyap memasuki lubang dan batu serta semak-semak
itupun ditariknya kembali menutup lubang dari dalam.
San-tok tersenyum lebar, hatinya merasa girang sekali. Kiranya ini tempat rahasia itu dan
dia dapat menduga bahwa tentu Giok-liong-kiam disimpannya pula di tempat ini. Tak mungkin
Koan Jit berani membawa-bawa pusaka yang diperebutkan seluruh tokoh kang-ouw itu di tempat
umum.
“Aih, sayang sekali Giok-liong-kiam buatanku itu tidak kubawa, masih disimpan Hong-
Hong,” kakek itu mengeluh dalam hatinya. Kalau pedang pusaka palsu yang sudah selesai
dibuatnya menurut catatan yang didapatkannya dari mayat kakek Kwi Ong yang tewas dan
mayatnya masih utuh karena terendam air belerang di Tapie-san itu, tentu dia dapat menanti
sampai Koan Jit pergi dari tempat itu dan langsung dia akan dapat menukarkan pusaka buatannya
dengan Giok-liong-kiam yang berada di tangan Koan Jit !
Setelah meneliti tempat sekeliling itu, kakek San-tok lalu secepatnya lari kembali ke
puncak bukit di mana terdapat sumber airnya, tempat yang dia tentukan agar menjadi tempat
persembunyian sementara dari Diana. Dia melihat muridnya dan Diana di dekat sumber air,
sedang bercakap-cakap. Ketika melihat kakek itu muncul, Lian Hong cepat menyambutnya.
“Bagaimana hasilnya, suhu ?”
“Bagus sekali, aku sudah tahu tempatnya. Mari kalian ikut bersamaku, sekarang juga.”
“Diana ikut juga ………. ?” tanya Lian Hong bingung. Membawa Diana dalam
perjalanan ini amatlah berbahaya.
Gurunya tersenyum. “Ya, dan ia akan banyak membantu dalam urusan ini. Tadinya aku
merasa menyesal bahwa pedang buatanku itu tidak kubawa, akan tetapi kalau dipikir-pikir, kita
harus bersikap hati-hati sekali. Koan Jit itu terlalu berbahaya dan licik. Siapa tahu di tempat
persembunyiannya ada teman-temannya yang berjaga. Jangan sampai ada yang tahu bahwa
pedang itu sudah ditukar. Nah, mari kita berangkat. Sambil berjalan nanti kuberi tahu.”
Pedang Naga Kemala > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com 352
Karena mereka harus melakukan perjalanan cepat dan tentu saja Diana tidak mampu
mengimbangi kecepatan dua orang yang mengerahkan ginkang itu, maka terpaksa Lian Hong
menggendongnya. Diana merangkul leher sahabatnya itu erat-erat ketika ia merasa betapa
tubuhnya seperti terbang saja, seperti dilarikan seekor kuda yang membalap dengan amat
kencangnya. Makin kagumlah hatinya terhadap orang-orang di dunia persilatan ini.
Setelah tiba di luar hutan di mana tempat rahasia Koan Jit ditemukan San-tok, mereka lalu
berpencar. Diana diturunkan Lian Hong dan gadis ini lalu ikut bersama San-tok, lebih dulu
memasuki hutan. San-tok menggandeng tangan Diana yang tidak merasa takut karena ia percaya
sepenuhnya kepada guru sahabatnya ini yang tentu saja lebih lihai dari pada muridnya. San-tok
menuju ke dekat semak-semak berduri, meneliti keadaan di sekitarnya. Sunyi saja, tanda bahwa
tidak ada pembantu-pembantu Koan Jit berjaga atau bersembunyi di situ. Dia tidak tahu apakah
Koan Jit masih berada di dalam tempat rahasia itu.
“Koan Jit ………. !” Tiba-tiba kakek itu berteriak dan Diana terpaksa menutupi kedua
telinga dengan tangannya. Teriakan kakek itu nyaring bukan main, seperti akan memecahkan
selaput telinganya. “Koan Jit, aku sudah tahu tempat persembunyianmu. Tentu di sekitar tempat
ini ! Koan Jit, keluarlah, atau aku akan menyerbu tempat persembunyianmu, membunuhmu dan
mengambil Giok-liong-kiam, ha-ha-ha !”
Akan tetapi, hanya gema suara kakek itu yang menjawab dari empat penjuru. Tidak ada
jawaban dari Koan Jit. San-tok bukan seorang bodoh. Dia merasa yakin bahwa Koan Jit masih
berada di dalam tempat persembunyiannya, atau kalau tidak demikian, tentu di tempat
persembunyiannya itu terdapat kawan-kawannya atau kaki tangannya yang melakukan
penjagaan.
Tiba-tiba kakek itu menangkap kedua pergelangan tangan Diana yang berdiri di dekatnya,
dan dengan sebelah tangan saja dia mengangkat tubuh Diana tinggi-tinggi di atas kepalanya,
suaranya terdengar semakin lantang, “Koan Jit, lihatlah gadis ini ! Aku mau menukarnya dengan
Giok-liong-kiam !”
Diana nampak tenang-tenang saja karena tadi ia sudah mendengar akan segala rencana
siasat kakek itu untuk memancing keluar Koan Jit dan iapun sudah siap membantu. Maka ketika
tubuhnya diangkat ke atas, ia tidak merasa takut. Beberapa kali San-tok berteriak menawarkan
Diana untuk ditukar dengan Giok-liong-kiam. Akan tetapi keadaan tetap sunyi saja dan tidak ada
jawaban atau tanggapan dari murid pertama Thian-tok itu.
San-tok menurunkan tubuh Diana yang berdiri dan memperlihatkan sikap ketakutan
seperti yang telah direncanakan, dan kakek itu berseru lagi, “Koan Jit, engkau manusia
Pengecut ! Engkau tidak berani keluar menyambutku, ha-ha-ha ! Engkau tidak pantas menjadi
murid utama Thian-tok kalau begitu.” Dan kakek ini tertawa-tawa bergelak, suara ketawanya
bergema di seluruh hutan dan menakutkan binatang-binatang hutan.
Sebetulnya, Koan Jit masih berada di dalam tempat persembunyian di mana dia
menyimpan pusaka-pusakanya itu. Ketika dia mendapat kenyataan bahwa Giok-liong-kiam dan
pusaka-pusaka lain masih utuh di tempat semula, hatinya merasa lega. Akan tetapi, dia masih
mengkhawatirkan ancaman San-tok yang tidak boleh dipandang ringan saja. Maka, sibuklah dia
Pedang Naga Kemala > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com 353
membuat persiapan untuk melindungi harta bendanya itu dan mengatur tempat rahasia itu
sedemikian rupa sehingga tidak akan mudah dimasuki orang dan memasang jebakan-jebakan
yang berbahaya bagi siapa saja yang berani masuk ke tempat itu.
Dia mendengar teriakan dan tantangan San-tok dan tentu saja dia terkejut sekali
mendengar suara itu datang dari tempat yang demikian dekatnya. Dia lalu memutar otak mencari
jalan terbaik untuk menghadapi lawan lihai itu. Kalau kakek itu datang berdua dengan murid
perempuannya, sukarlah mengalahkan mereka. Biarkan mereka masuk ke tempat ini, pikirnya
dan dia dibantu oleh perangkap-perangkap dan jebakan-jebakan rahasianya, juga ular-ularnya.
Akan tetapi, San-tok tidak datang menyerbu melainkan berteriak-teriak lagi menawarkan
diri Diana untuk ditukar dengan giok-liong-kiam ! Hal ini amat menarik hati Koan Jit. Giokliong-
kiam amat penting baginya, tidak mungkin akan diberikan orang begitu saja. Akan tetapi
Diana juga amat penting, harus dapat dirampasnya untuk menyenangkan hati Kapten Charles
Elliot. Dia harus mampu mendapatkan keduanya, mempertahankan Giok-liong-kiam dan
merampas Diana. Cepat Koan Jit melakukan pengintaian dari tempat sembunyinya itu. Ketika
dia melihat bahwa kakek San-tok itu hanya sendirian saja dan benar-benar membawa Diana
untuk ditukar, hanya bisa diartikan bahwa sebenarnya kakek itu belum tahu benar di mana letak
tempat rahasianya, hanya tahu daerahnya saja, ialah di hutan itu. Kalau sudah tahu benar letak
tempat rahasianya, orang seperti San-tok tak mungkin mau membujuknya dan menukar Diana
dengan pedang Giok-liong-kiam, melainkan tentu terus menyerbu untuk merampas pedang
pusaka itu dengan kekerasan. Maka, setelah membuat persiapan, Koan Jit lalu keluar dari tempat
rahasianya itu melalui jalan belakang yang menembus ke semak-semak lain di belakang pohon
besar. Dengan jalan memutar dia menghampiri San-tok dari belakang.
Kakek itu tentu saja mendengar kedatangan ini dan cepat memutar tubuhnya. Dengan
sikap sombong dan sama sekali tidak gentar, Koan Jit menghadapi San-tok dengan senyum yang
dapat mendirikan bulu roma lawan. Koan Jit ini dapat tersenyum seperti iblis. Lebih menyerupai
gerakan mulut mengejek dari pada senyuman karena hanya mulutnya yang bergerak seperti
tersenyum, akan tetapi bagian lain dari mukanya sama sekali tidak ikut tersenyum, dan sepasang
mata yang bersinar dan mencorong seperti mata kucing itu memandang tajam. Di pinggangnya
terselip sepasang pedang pendek yang tadi diambilnya dari tempat persembunyiannya karena dia
merasa perlu mempersenjatai diri untuk menghadapi lawan setangguh San-tok itu. Sepasang
pedang pendek itu merupakan satu di antara kumpulan pusaka-pusaka ampuh yang dimilikinya.
“Ha-ha, engkau baik hati sekali, San-tok, sengaja mengantarkan kepadaku gadis bule ini
dan juga nyawamu. Terima kasih !” Begitu kata terakhir keluar dari mulutnya, tubuh Koan Jit
bergerak cepat dan dua gulungan sinar pedang telah menyambar, satu ke arah leher San-tok dan
ke dua ke arah pusarnya. Sungguh merupakan serangan yang amat dahsyat dan keduanya
merupakan sinar maut yang kalau mengenai sasaran tentu mengakibatkan kematian.
Akan tetapi yang diserangnya sekali ini adalah seorang di antara Empat Racun, kakek
yang tinggi kepandaiannya amat tinggi, sejajar dengan tingkat guru Koan Jit sendiri. Walaupun
kakek itu juga terkejut menghadapi serangan maut yang amat dahsyat itu, namun dengan ilmu
ginkang (meringankan tubuh) yang luar biasa, dia sudah menggerakkan tubuhnya mengelak
sambil mengibaskan kipas butut di tangannya untuk menangkis dan mematahkan rangkaian
serangan sepasang pedang pendek itu.
Pedang Naga Kemala > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com 354
“Takkk ! Tranggg .......... !”
Keduanya terkejut, Koan Jit tidak menyangka bahwa kipas butut di tangan kakek itu
demikian kuatnya dan kakek yang sudah tua itu memiliki kecepatan gerakan yang demikian
mengejutkan, dan di lain pihak San-tok harus mengakui bahwa tenaga murid pertama Thian-tok
itu kuat sekali di samping sepasang pedang pendek yang ampuh dan kuat, tidak rusak oleh
hantaman gagang kipasnya yang didorong oleh tenaga sinkang yang tadi dikerahkannya. Karena
keduanya maklum akan ketangguhan lawan, mereka bersikap hati-hati dan kini San-tok yang
balas menyerang dengan kipasnya tidak berani main-main seperti biasanya, melainkan
menyerang dengan sungguh-sungguh, mengeluarkan jurus ilmu kipasnya yang ampuh. Kipas itu
mengembang dan mengibas ke arah muka lawan, akan tetapi hal ini hanya gerakan mengacaukan
untuk membuat mata lawan berkedip sehingga saat itu dia dapat menyerangnya. Akan tetapi
Koan Jit tidak berkedip sehingga ketika gagang kipas itu melakukan serangkaian totokan ke arah
tujuh jalan darah di bagian tubuhnya, dia dapat mengelak atau menangkis dengan sepasang
pedangnya, bahkan lalu membalas dengan serangan kontan yang tidak kalah dahsyatnya.
Serang-menyerang terjadi antara dua orang yang memiliki ilmu silat tinggi itu dan
kesempatan ini dipergunakan oleh Diana untuk diam-diam melarikan diri seperti yang sudah
direncanakan. San-tok membiarkan Diana lari agak jauh, barulah dia menoleh dan berteriak.
“Hai, gadis liar, hendak lari ke mana kau ?” Dan diapun meloncat, melakukan
pengejaran. Melihat ini, Koan Jit tidak mau membiarkannya saja. Setelah kini mulai bergebrak
melawan kakek itu, dia mendapat kenyataan bahwa dia mampu menandinginya dan hal ini
membesarkan hatinya. Sayang kalau sampai dia membiarkan kakek itu pergi bersama Diana
begitu saja. Dia harus mampu merampas gadis itu untuk diajak kembali ke Kanton ! Maka
diapun cepat ngejar di belakang San-tok.
Jilid XV *****
San-tok dapat menyusul dan memegang lengan Diana yang beraksi melakukan perannya.
Ia meronta-ronta dan memukuli kakek itu dengan kedua tangan. Pada saat itu, Koan Jit tiba dan
tiba-tiba San-tok melepaskan Diana dan menggerakkan kipasnya menyambut dengan totokantotokan
dahsyat. Koan Jit mengelak dan menangkis, lalu membalas pula dan mereka sudah
terlibat lagi dalam perkelahian yang seru. Melihat ini, Diana melarikan diri lagi. San-tok
mengejarnya dan Koan Jit juga mengejar. Koan Jit merasa bahwa makin jauh meninggalkan
tempat rahasianya, makin baik. Sama sekali dia tidak menduga bahwa memang dia dipancing
oleh kakek itu agar menjauh dari tempat itu !
Setelah melihat gurunya dan Koan Jit semakin jauh dan tidak nampak lagi, Lian Hong
keluar dari tempat sembunyinya. Ia sudah mempelajari keterangan gurunya dengan teliti tentang
tempat rahasia itu. Cepat ia menuju ke semak-semak itu, dan batu di belakang semak-semak
berduri itu didorongnya ke kiri. Nampaklah sebuah lubang kecil yang hitam dan gelap.
Lian Hong yang mengenakan kain menutupi mukanya dan rambutnya, sehingga yang
nampak hanya sepasang matanya yang jeli, memasuki lubang itu sambil mempersiapkan kipas
Pedang Naga Kemala > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com 355
yang menjadi senjata ampuhnya. Gadis ini sengaja menutupi muka agar kalau di bawah sana
terdapat orang-orangnya Koan Jit, mereka tidak akan mengenalinya.
Kakinya menyentuh anak tangga yang membawanya melalui terowongan menuju ke
sebuah guha dalam tanah yang cukup luas. Ada lubang-lubang rahasia agaknya yang dapat
menampung dan memasukkan cahaya matahari dari luar sehingga tempat itu walaupun tidak
terang sekali, akan tetapi juga tidak gelap.
Setibanya di ujung anak tangga, tiba-tiba kakinya menginjak tonjolan kecil di atas lantai
dan tiba-tiba saja Lian Hong menarik tubuh ke belakang dan menggerakkan kipasnya ke
samping.
“Wuuuutt ! Plakk !” Sebatang tombak meluncur dari kiri ke kanan, nyaris mengenai
perutnya dan tiga batang anak panah yang menyambar dari kanan runtuh oleh tangkisan
kipasnya. Kiranya benda yang diinjaknya tadi merupakan tombol yang menggerakkan alat-alat
rahasia. Sungguh berbahaya sekali. Hampir saja tubuhnya disate oleh tombak tadi, atau menjadi
korban anak-anak panah yang diduga tentu mengandung racun berbahaya. Dengan hati-hati ia
melangkah lagi ke depan, seluruh urat syaraf di tubuhnya siap menghadapi segala kemungkinan.
Apa yang dikhawatirkan memang terjadi. Tempat itu ternyata berbahaya sekali dan
dipasangi jebakan-jebakan maut. Baru belasan langkah, tiba-tiba saja, mungkin digerakkan oleh
lantai yang diinjaknya, lantai itu bergoyang dan runtuh ke bawah ! Untung bahwa Lian Hong
memang sudah siap siaga, maka begitu lantai yang diinjaknya bergoyang, ia sudah meloncat
kembali ke belakang. Ketika ia memandang, ternyata lantai yang diinjaknya tadi telah menjadi
lubang, lantainya entah ke mana dan lubang itu gelap menghitam, dan dari dalamnya keluar bau
yang amis memuakkan, juga terdengar desis-desis suara yang biasa dikeluarkan oleh ular-ular
berbisa ! Ia bergidik membayangkan kalau ia tadi terjeblos ke dalam lubang, tentu sudah menjadi
mangsa ular-ular yang mengeroyoknya. Perlahan-lahan, lantai yang runtuh ke bawah tadi timbul
kembali menutupi lubang yang menjadi rata seperti semula. Lian Hong sudah mengukur jarak
lubang jebakan itu dan kini ia meloncat dengan ringan melewati batas lubang dan turun dengan
aman di atas lantai yang keras. Dengan hati-hati dara perkasa itu melangkah maju lagi sampai
akhirnya ia tiba di sebuah anak tangga yang membawanya turun lagi. Kini di depannya, dalam
sebuah kamar dalam guha itu, nampaklah beberapa buah peti yang tertutup, juga nampak senjatasenjata
kuno seperti pedang, tombak, golok dan sebagainya, bertumpuk di kamar itu !
Dengan pandang matanya yang tajam, Lian Hong mencari-cari dan perhatiannya tertarik
kepada sebuah peti lonjong berwarna hitam yang agaknya baru saja diletakkan orang di atas
tumpukkan peti lain. Hal ini dapat diketahuinya karena ada bekas-bekas jari tangan pada
permukaan tutup peti yang penuh debu itu, sedangkan debu pada peti-peti lain tidak terganggu.
Tentu peti ini baru saja diperiksa dan diangkat orang dan siapa lagi kalau bukan Koan Jit yang
mengangkatnya ? Kalau perhatian Koan Jit ditujukan kepada peti yang satu ini, kiranya takkan
keliru kalau ia menduga bahwa peti inilah benda yang dicarinya. Dengan cekatan ia mendekati
peti dan kipas di tangan kanannya bergerak ke arah pinggir tutup peti. Peti itupun terbuka ! Ia
tidak mau sembarangan mempergunakan tangan telanjang untuk membuka peti karena
menghadapi manusia jahat dan licin seperti Koan Jit ia harus berhati-hati sekali.
Pedang Naga Kemala > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com 356
Di dalam peti itu nampak sebatang pedang dengan ukir-ukiran berupa naga dari batu
kemala ! Inilah pedang pusaka yang menggetarkan dunia kang-ouw itu. Akan tetapi, bukan
hanya pedang pusaka yang berada di dalam peti, melainkan juga seekor ular berkulit belangbelang
berkembang kehijauan yang amat berbisa. Dan begitu peti itu terbuka, ular itu dengan
gesitnya keluar, mengeluarkan suara mendesis-desis dan anehnya, begitu ular itu keluar dan
mendesis, beberapa ekor ular yang berukuran besar dan panjang berdatangan dari atas dan bawah,
melingkar-lingkar, menggeliat-geliat dan bergerak ke arah Lian Hong dengan desis penuh
ancaman !
Semenjak kecil, Lian Hong telah digembleng oleh kakek San-tok (Racun Gunung),
seorang yang sudah biasa berkeliaran di gunung-gunung dan di hutan-hutan besar sehingga Lian
Hong sudah sering menghadapi binatang-binatang buas termasuk ular-ular besar. Oleh karena
itu, menghadapi enam ekor ular besar itu ia sama sekali tidak mengenal jerih atau ngeri. Dengan
tenang ia bahkan melangkah maju dan ketika ular yang keluar dari dalam peti hitam itu
meluncurkan kepala menyerangnya, kipasnya menutup dan menyambut dengan totokan gagang
kipasnya.
“Trakkk !” Ular itu terkulai dengan kepala pecah, menggeliat-geliat akan tetapi tidak
mampu menyerang lagi. Kipas itu masih terus berkelebatan dan dalam beberapa detik saja, enam
ekor ular itu telah berkelojotan dengan kepala retak tertotok ujung gagang kipas yang ampuh itu.
Biarpun ular-ular itu sudah mati dan peti itu terbuka, nampak pedang pusaka yang
dicarinya itu terletak di dalam peti, seperti menggapai kepadanya, Lian Hong tidak sembrono
mengulur tangan untuk mengambilnya. Ia melihat cahaya yang tidak wajar keluar dari dalam peti
itu, dan pedang pusaka itupun tertutup debu tipis yang mencurigakan. Orang macam Koan Jit
tidak akan membiarkan pedang pusaka yang diperebutkan oleh semua tokoh besar dunia kangouw
itu begitu saja tanpa dipasangi perangkap-perangkap untuk mencelakakan orang yang
hendak mencurinya. Dengan hati-hati Lian Hong Menggunakan kipasnya untuk mengebut ke
arah dalam peti sambil mengerahkan tenaga singkang. Debu berwarna putih halus disambar
angin kebutan itu dan mengepul keluar dari peti. Lian Hong terus menggerakkan kipasnya agar
jangan ada debu mengenai dirinya. Untung ia melakukan ini karena begitu tubuh ular yang
masih berkeloyotan sekarat itu terkena debu putih, tubuh itu segera menjadi hangus seperti
dibakar api dan tidak bergerak lagi, mati seketika ! Diam-diam ia bergidik. Seperti telah
diduganya, debu putih itu adalah racun yang amat ampuh, kalau ia sembrono dan mengambil
pedang itu dengan tangannya, tentu tangannya akan terbakar seperti tubuh ular-ular itu.
Ia mengulangi perbuatannya tadi, mengebutkan kipasnya dengan tenaga sekuatnya ke
arah pedang dalam peti dan sisa debu mengepul keluar. Akan tetapi tiba-tiba peti itu tertutup dan
sinar-sinar hitam menyambar dari arah belakang peti, menyambar dengan kecepatan kilat
menyerang tubuhnya ! Lian Hong memang sejak tadi sudah siap siaga, maka begitu melihat
sinar-sinar kecil menyambar, ia sudah melangkah mundur sambil mengebutkan kipasnya.
Kiranya ketika tutup peti terbuka tadi, telah menggerakkan alat rahasia yang mengirim jarumjarum
beracun setelah tutup peti tertutup kembali. Serangan gelap itupun berbahaya sekali,
bahkan lebih berbahaya dari pada serangan ular-ular itu, juga debu beracun itu karena orang yang
kurang waspada dan tidak memiliki gingkang dan singkang tinggi, agaknya akan sukarlah untuk
dapat menghindarkan diri dari sambaran jarum-jarum halus itu.
Pedang Naga Kemala > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com 357
Lian Hong menggunakan ujung kipas mencokel tutup peti terbuka kembali dan kini ia
merasa yakin bahwa pedang pusaka itu tidak mengandung racun lagi. Ia mengeluarkan sebatang
pedang dari balik jubahnya, sebatang pedang yang serupa benar dengan Giok-liong kiam yang
berada di dalam peti. Itulah pedang Giok-liong-kiam palsu buatan kakek San-tok. Lian Hong
lalu mengenakan sepasang sarung tangan hitam. Bagaimanapun juga, ia tetap berhati-hati dan
setelah mengenakan sarung tangan, barulah ia berani mengambil Giok-liomg-kiam itu,
diamatinya sebentar lalu dibungkusnya dengan kain hitam dan disimpannya di balik jubah. Giokliong-
kiam palsu buatan gurunya itu ia letakkan di dalam peti dan ia menutup kembali peti itu. Ia
mengerti bahwa kalau Koan Jit memasuki tempat ini, tentu dia akan tahu bahwa ada orang yang
telah memasuki tempat rahasianya, melewati jebakan-jebakan dan bahkan membunuh ularularnya
dan melenyapkan pula debu beracun, akan tetapi karena melihat Giok-liong-kiam masih
berada di situ, tentu Koan Jit akan mengira bahwa orang itu tentu terkena serangan jarum-jarum
beracun sehingga keluar lagi tanpa membawa Giok-liong-kiam. Senyum manis menghias bibir
Lian Hong ketika ia teringat akan hal ini, lalu ia memungut beberapa batang jarum hitam dan
memasukkannya ke dalam kantong jubahnya. Harus dibawa pergi beberapa batang jarum
beracun agar Koan Jit yakin akan berhasilnya jarum-jarum beracun itu.
Sementara itu, perkelahian antara Koan Jit dan San-tok masih berjalan dengan seru.
Diana tidak melarikan diri lagi, karena kini mereka sudah jauh meninggalkan tempat rahasia itu
dan ia sudah melaksanakan tugasnya dengan baik seperti yang direncanakan San-tok. Mereka
berdua telah berhasil memancing Koan Jit menjauhi tempat rahasia itu dan kini ia duduk di
bawah sebatang pohon yang agak jauh dari perkelahian, hal inipun sesuai dengan pesan San-tok
kepadanya dan sepasang matanya terbelalak menonton perkelahian itu. Ia semakin kagum dan
terheran-heran. Hampir ia tidak dapat percaya bahwa ada orang-orang yang dapat bergerak
secepat itu sampai ia tidak dapat mengikuti gerakan kedua orang yang sedang berkelahi itu
dengan pandang matanya. Ia hanya melihat dua bayangan yang kabur berkelebatan ke sana-sini,
sukar ditentukan kaki atau tangan siapa yang kadang-kadang nampak itu. Tentu saja iapun sama
sekali tidak tahu apakah kakek yang dijagoinya itu berada di pihak yang mendesak atau terdesak.
Setelah beberapa bulan lamanya hidup di dusun dan mengikuti sendiri cara hidup orang-orang
dusun, timbul perasaan kasih dalam hati Diana terhadap orang-orang dusun yang sederhana dan
rukun itu. Dan terhadap ahli-ahli silat, terutama sekali Lian Hong dan pemuda penolongnya yang
tidak diketahui namanya itu, ia merasa kagum bukan main. Timbullah perasaan ingin yang besar
di dalam hati gadis ini untuk mempelajari ilmu silat agar dapat menjadi orang yang gagah dan
tangguh seperti mereka itu. Ia melihat betapa di dalam dunia yang penuh dengan kekerasan ini,
amatlah perlu membekali diri dengan ilmu silat agar ia dapat membela diri kalau terancam
bahaya akibat kejahatan orang.
Diana sama sekali tidak tahu bahwa kakek yang dijagoinya itu mulai kewalahan
menghadapi desakan-desakan sepasang pedang pendek di tangan Koan Jit. Bukan karena
keampuhan sepasang pedang pendek itu atau karena tingkat ilmu silat Koan Jit maka kakek ini
terdesak. Senjata kipasnya tidak kalah ampuh dibandingkan senjata lawan, dan dalam hal ilmu
silat, dia lebih matang dan tidak kalah tinggi tingkatnya. Akan tetapi dia kalah dalam semangat.
Koan Jit berkelahi mati-matian dengan niat menghancurkan lawan, membunuh lawan.
Sebaliknya, San-tok sama sekali tidak ingin membunuh lawannya. Dia tidak mau membunuh
Koan Jit karena hal ini akan mengakibatkan bibit permusuhan antara dia dengan Thian-tok, orang
segolongan. Memang, di dalam golongan sesat terdapat semacam “kode-etik” atau setia kawan
tak tertulis atau terucapkan, melainkan sudah diterima dan diakui oleh masing-masing bahwa
Pedang Naga Kemala > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com 358
mereka tidak saling ganggu. Kalau San-tok berhadapan dengan Thian-tok sendiri, maka
perkelahian di antara mereka, biar mengakibatkan kematian sekalipun, tidak akan berakibat apaapa.
Akan tetapi, kalau sampai San-tok dalam suatu perkelahian melawan Koan Jit
membunuhnya, berarti dia telah menghina pihak Thian-tok dengan membunuh muridnya,
membunuh orang yang tingkatnya lebih rendah. Inilah sebabnya mengapa San-tok berkelahi
dengan semangat yang tidak sebesar Koan Jit ! Dan selain itu, diapun tidak melihat
kepentingannya membunuh Kon Jit, melainkan hanya ingin memancingnya keluar dari tempat
persembunyian agar muridnya, Lian Hong, dapat bekerja dengan leluasa.
San-tok mulai merasa khawatir karena muridnya belum juga muncul. Koan Jit
merupakan lawan yang amat berbahaya dan biarpun dengan ketinggian ilmunya dia dapat
melindungi dirinya, memutar kipasnya sehingga gulungan sinar senjatanya itu mampu
membendung serangan sepasang pedang pendek yang lihai itu, namun usianya yang sudah tua itu
membuat keadaan tubuhnya tidak sekuat dahulu lagi. Daya tahannya tidak sebesar dulu dan
kalau dilanjutkan perkelahian itu sampai lama, dia akan terancam bahaya besar. Tangannya
mulai merasa tergetar kalau dia menangkis serangan pedang dan bajunya mulai basah dengan
keringat, sedangkan Koan Jit nampaknya belum berkurang tenaga serangannya, bahkan
mengamuk semakin dahsyat.
Legalah hati San-tok ketika tiba-tiba dia melihat berkelebatnya bayangan orang dan Lian
Hong, kini dengan pakaian biasa tanpa penutup muka, telah berada di situ dan gadis ini tanpa
banyak cakap lagi langsung membantu gurunya dan menyerang Koan Jit dengan kipasnya.
Tentu saja kemunculan gadis ini melegakan hati San-tok dan menggirangkan hati Diana,
akan tetapi mengejutkan hati Koan Jit. Dia mengenal kelihaian gadis ini dan melawan gadis ini
bersama gurunya tentu saja merupakan hal yang amat berbahaya sekali kalau tidak mau dikatakan
seperti usaha bunuh diri saja. Diapun menggerakkan sepasang pedangnya yang meluncur cepat
menyerang ke arah guru dan murid itu dengan dahsyat. Ketika dua orang lawannya mengelak
dengan loncatan ke belakang, diapun melompat jauh dan berlari cepat meninggalkan mereka.
“Ha-ha-ha, jangan mengejar, Hong Hong. Lain kali masih banyak kesempatan untuk
membunuhnya !” kata San-tok dan ini hanya gertakan saja karena Lian Hong juga sama sekali
tidak bermaksud mengejar orang itu. Gadis ini memberi isyarat kepada gurunya dengan
menepuk-nepuk pinggangnya bahwa Giok-liong-kiam telah berhasil ia tukarkan. San-tok tertawa
bergelak saking girangnya dan dia mengajak muridnya untuk segera pergi dari situ.
Lian Hong menggandeng tangan Diana. “Mari, Diana, kita pergi.”
Melihat ini, San-tok mengerutkan alisnya. “Kenapa harus mengajak gadis bule itu ?
Tinggalkan saja ia di sini, akan merepotkan saja !”
Sepasang mata Lian Hong yang lebar, bening dan tajam sinarnya itu terbelalak
memandang gurunya. “Tinggalkan di sini ? Tidak, suhu. Diana adalah sahabatku, bahkan
seperti saudaraku sendiri. Meninggalkannya di sini berarti membiarkan ia terancam bahaya.
Suhu tahu bahwa ia dicari oleh Koan Jit dan anak buahnya !”
Pedang Naga Kemala > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com 359
“Diana akan merepotkan saja kalau ikut kita. Selain kita tidak dapat melakukan
perjalanan cepat, juga ia mendatangkan kepusingan saja.”
“Wah, kakek yang aneh. Tadinya kukira, sebagai guru Lian Hong, engkau tentu orang
sakti yang budiman dan gagah perkasa. Tidak tahunya hanya seorang kakek yang curang,” tibatiba
Diana berkata dengan mata bersinar-sinar marah dan muka yang cantik dengan kulit yang
putih itu kini kemerahan.
Lian Hong terkejut mendengar itu dan ia memandang kepada kawannya itu. Ia melihat
betapa kemarahan membuat wajah Diana menjadi semakin cemerlang dan iapun merasa kagum.
Biarpun seorang wanita kulit putih, namun Diana memiliki keberanian dan semangat, bukan
seorang wanita yang cengeng dan lemah seperti kebanyakan wanita yang dijumpainya. Berani
begitu saja mengatakan San-tok seorang kakek yang curang ! Padahal, San-tok gurunya itu
adalah seorang di antara Empat Racun Dunia dan untuk itu saja tangan gurunya tentu siap untuk
membunuh orang !
Akan tetapi San-tok sendiripun terkejut dan memandang kepada gadis bermata biru itu
dengan mata dilebarkan. Hampir tidak percaya dia mendengar keberanian gadis itu memakinya.
“Eh, kenapa kau mengatakan aku curang ?” tanyanya dan di dalam pandang matanya terbayang
kemarahan dan ancaman sehingga diam-diam Lian Hong merasa khawatir sekali.
“Engkau curang dan tidak mengenal budi !” Diana berkata pula.
Tentu saja San-tok tidak mengenal budi. Tokoh hitam tidak akan pernah bicara tentang
budi ! “Coba jelaskan alasanmu memaki aku !”
“Engkau mengatur siasat memancing musuh meninggalkan sarangnya, tidak terangterangan
menantangnya melainkan mempergunakan akal licik, bukankah itu merupakan
kecurangan ? Dan ketika engkau membutuhkan bantuanku, engkau mengajak aku kesini, setelah
aku membantumu sampai berhasil, kini karena aku tidak kaubutuhkan lagi, engkau hendak
meninggalkan aku begitu saja terancam bahaya. Bukankah itu namanya tidak mengenal budi ?”
Lian Hong tersenyum geli di dalam hatinya melihat betapa kakek itu memandang
bengong seperti orang kehabisan akal, atau seperti seorang anak-anak dimarahi ibunya karena
kenakalannya.
“Wah, wah, kau membingungkan aku. Tidak kubunuh saja sudah baik, kenapa engkau
banyak mengomel ?” gerutu kakek itu.
“Mau bunuh aku ? Bunuhlah, agar lengkap engkau membuktikan sifat-sifatmu yang
mengecewakan hatiku, bukan hanua curang dan tidak mengenal budi, akan tetapi pengecut lagi.”
“Pengecut ?” San-tok berseru kaget.
“Seorang kakek yang berilmu tinggi hendak membunuh seorang gadis yang selama
hidupnya belum pernah belajar ilmu silat, bukankah perbuatan itu amat pengecut dan tidak tahu
malu ?”
Pedang Naga Kemala > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com 360
Kakek itu melongo dan tidak mampu menjawab sehingga Lian Hong merasa geli. Gadis
ini tertawa. “Hi-hik, suhu, mengakulah bahwa suhu telah kalah berdebat dengan Diana dan untuk
kekalahan suhu itu suhu harus menyerah.”
“Aku menyerah ? Maksudmu bagaimana ?”
“Karena suhu kalah dan tidak mampu membantah kebenaran omongan Diana tadi, sudah
adil kalau suhu memenuhi permintaannya.”
San-tok menarik napas panjang. Dia mengira bahwa permintaan itu tentu hanya agar
perempuan bule itu diperbolehkan ikut menyertai perjalanan mereka. Biarpun hal ini
menjemukan hatinya, akan tetapi karena muridnya agaknya amat sayang kepada gadis bule itu,
diapun mengalah. “Baiklah, aku penuhi permintaannya.”
“Suhu, benarkah ? Suhu memenuhi semua permintaannya ?”
Kakek itu memandang muridnya dengan curiga. “Semua ? Tidak, aku hanya memenuhi
satu saja permintaannya, tidak boleh banyak-banyak.”
“Satupun sudah cukup ! Diana, kenapa kau tidak cepat menghaturkan terima kasih
kepada guru kita ?”
Diana sudah cepat menjatuhkan diri berlutut di depan kakek itu. “Suhu, aku
menghaturkan terima kasih bahwa suhu telah sudi menerimaku sebagai murid.”
Kakek itu merasa seperti disambar geledek dan dia meloncat ke belakang, matanya
terbelalak.
“Apa ? Siapa mengambil engkau sebagai murid ? Tidak sudi aku, tidak sudi .......... !!”
Dia melangkah maju, kedua tangannya terkepal, dia sudah siap untuk memukul gadis kulit putih
itu. Melihat keadaan gurunya, Lian Hong yang sudah mengenal baik gurunya itu cepat
melangkah maju dan iapun menjatuhkan diri berlutut di depan kakek itu, di sebelah kanan Diana.
“Suhu, harap tenang dan sabar. Ingat bahwa suhu tadi telah mengatakan untuk memenuhi
permintaan Diana dan satu permintaan Diana itu adalah untuk menjadi muris suhu.”
“Tidak, ini semua kau yang mengaturnya, anak nakal !”
“Sungguh mati, aku tidak akan berani melakukan hal seperti itu, suhu. Sudah sejak lama
sekali Diana menyatakan bahwa ia ingin sekali menjadi murid suhu, menjadi saudara
seperguruanku agar ia dapat membela diri kalau diancam orang jahat. Permintaan menjadi murid
suhu itu adalah permintaan yang timbul dari dalam hati Diana sendiri, bukan aku yang
membujuknya.”
“Tidak, mana mungkin aku menerima seorang kulit putih sebagai murid ? Orang-orang
kulit putih adalah bangsa biadab, adalah bangsa jahat yang datang ke tanah air kita untuk
membikin kacau. Aku tidak suka kepada mereka dan aku bahkan mau membantu para pejuang
Pedang Naga Kemala > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com 361
untuk mengenyahkan mereka. Bagaimana mungkin sekarang kau hendak memaksaku
mengambil murid seorang gadis kulit putih ? Edan barangkali kau, Hong Hong !”
“Suhu, aku sendiri tidak setuju dengan perbuatan bangsaku yang datang ke negeri ini
untuk melakukan kejahatan-kejahatan.”
“Huh, jangan coba untuk merayu, kau !” bentak San-tok marah. “Kalau engkau tidak
setuju, lalu mengapa engkau sendiri berada di negeri ini ?”
Lian Hong terkejut mendengar serangan kata-kata gurunya itu yang tentu akan sulit
dijawab oleh sahabatnya. Akan tetapi Diana nampak tenang saja, bahkan tersenyum dengan
sikap tabah ketika ia menjawab, “Aku datang ke negeri ini karena ada tiga hal, suhu. Pertama
aku adalah keponakan dari Kapten Charles Elliot yang bertugas di sini, dan aku datang untuk
diperbantukan kepadanya, mengurus bagian tata usaha. Ke dua, aku adalah seorang ahli
penyelidik barang-barang kuno dan kedatanganku ke negeri ini juga untuk mempelajari dan
menyelidiki tentang benda-benda kuno di sini ..........”
“Huh, apa maksudnya menyelidiki barang-barang kuno ?” kakek itu memotong, tertarik,
karena baru sekarang dia mendengar ada orang yang pekerjaannya menyelidiki barang kuno.
“Dari penyelidikan barang-barang kuno kita mampu menyelidiki dan menjenguk di jaman
lalu, suhu, untuk membuat catatan sejarah negeri ini yang tak terpisahkan dari sejarah dunia.”
San-tok bukan seorang terpelajar, maka keterangan itu membingungkan hatinya dan sinar
matanya yang tadinya tertarik itu kini muram dan marah kembali.
“Dan sebab yang ke tiga, suhu, karena tadinya aku sama sekali tidak tahu bahwa
bangsaku datang ke sini untuk menyelundupkan madat dan untuk memerangi rakyat di sini,
tadinya kusangka bahwa mereka itu hanya datang untuk berdagang saja, perdagangan yang saling
menguntungkan.”
“Suhu, aku yang menanggung bahwa Diana adalah seorang yang amat baik budi, jujur
dan tabah sekali, sama sekali tidak boleh disamakan dengan orang-orang kulit putih yang lain.”
“Aahhh, omongan manis saja. Aku memang sudah mendengar bahwa orang-orang kulit
putih paling pandai membujuk rayu, mulutnya selalu tersenyum akan tetapi mata mereka yang
biru itu menyembunyikan pamrih yang jahat sekali.” Dia memandang kepada Diana yang masih
berlutut. “Apa buktinya bahwa semua omongannya itu tidak bohong belaka dan ia sama
palsunya dengan semua orang kulit putih ?”
“Suhu, kalau aku menyukai perbuatan bangsaku, kenapa aku lebih suka hidup di dusun
bersama para petani ? Bahkan aku menolak keras ketika kaki tangan pamanku itu datang untuk
memaksaku kembali ke Kanton ?” kata Diana.
“Suhu, ingat, betapapun juga, suhu sudah berjanji untuk menerimanya sebagai murid,”
sambung Lian Hong.
Pedang Naga Kemala > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com 362
“Berjanji menerima permintaannya ikut dengan kita, bukan menerima sebagai murid !”
“Akan tetapi hal itu tidak suhu jelaskan, dan yang dimaksudkan Diana adalah permintaan
menjadi murid. Suhu tidak mungkin akan menjilat ludah sendiri !”
“Hong Hong, jangan kau memaksa aku ! Kalau sampai salah tindak, menerima seorang
bule sebagai murid kemudian kelak ia membinasakan rakyat kita, bukankah namaku akan dikutuk
selama hidup sebagai seorang yang mengkhianati bangsanya ?”
“Tidak, suhu. Aku yang bertanggung jawab ! Biarlah aku yang akan dikutuk, bukan
suhu. Diana bukan orang macam itu.” Mendengar pembelaan Lian Hong ini, Diana merasa
begitu gembira dan terharu sehingga tiba-tiba ia merangkul Lian Hong, menciumi pipinya sambil
menangis. Lian Hong juga balas merangkul dan tak dapat menahan air matanya melihat betapa
Diana menangis karena terharu.
San-tok menghela napas panjang, tersentuh juga perasaan hatinya melihat dua orang gadis
itu berangkulan dan bertangisan. “Sudahlah, aku menerimanya sebagai murid, akan tetapi ia
harus tahan uji harus berani hidup menderita kekurangan dan belajar dengan tekun dan keras.
Dan untuk tingkat permulaan, engkaulah yang mewakili aku membimbingnya, Hong Hong.”
Lian Hong gembira sekali dan memberi hormat. “Tentu saja, suhu, tentu saja.” Juga
Diana merasa girang dan memberi hormat sambil berlutut sampai dahinya menyentuh tanah.
“Terima kasih, suhu. Biarlah aku bersumpah. Kalau kelak aku mempergunakan ilmu
yang kupelajari dari suhu untuk mencelakakan rakyat di negeri ini, biarlah aku akan mati di ujung
pedang !”
Lega juga rasa hati San-tok mendengar sumpah suka rela ini. “Sudahlah, mari kita
kembali ke Wu-yi-san.” Mereka bertiga lalu melanjutkan perjalanan dan mulailah Diana
memasuki suatu pengalaman hidup baru yang sama sekali berbeda dengan kehidupannya di
dusun selama ini. Di dalam dusun itu ia memang mengalami kehidupan yang sama sekali
berbeda dengan kehidupannya sebagai keponakan Kapten Charles Elliot, akan tetapi kehidupan
di dusun itu hanya sederhana dan penuh kerja keras di ladang saja. Setelah melakukan perjalanan
bersama Lian Hong dan San-tok, barulah ia mengalami kehidupan yang benar-benar amat sukar,
keras dan penuh bahaya ! Mereka tidur di tengah hutan, kadang-kadang di tempat terbuka,
menentang panas, dingin, dan ancaman bahaya dari binatang-binatang buas. Mereka menghadapi
kesukaran ketika perut menagih isi, harus mengadakan makanan di tengah hutan, tanpa bekal
bahan sama sekali. Diana belajar hidup dan mengalami hal-hal yang selama hidup sebelumnya
belum pernah dibayangkannya, belum pernah diimpikannya. Ia belajar menangkap ular untuk
dimakan dagingnya sekedar penyambung hidup, makan daun-daun muda, bahkan pernah diajak
makan ulat-ulat gemuk karena dalam sebuah hutan, satu-satunya bahan makanan yang bisa
didapatkan hanya ulat-ulat gemuk itu ! Dan iapun merasa kagum bukan main. Sahabatnya, Lian
Hong, benar seorang gadis yang luar biasa, dan gurunya itu lebih aneh lagi. Kadang-kadang baik,
kadang-kadang jahat, kadang-kadang acuh saja, akan tetapi kadang-kadang marah besar seperti
orang gila. Betapapun juga, ia telah diterima sebagai murid dan iapun maklum bahwa gurunya
seorang aneh dan luar biasa dan ini saja sudah merupakan bekal baginya untuk menghadapi
segala ulah dan tingkah gurunya yang aneh-aneh.
Pedang Naga Kemala > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com 363
Dalam perjalanan itu, Diana digembleng oleh kesukaran-kesukaran hidup yang membuat
gajih-gajih di tubuhnya lenyap, membuat tubuhnya agak kurus dan kokoh kuat, membuat kulit
tubuhnya yang sudah agak gelap oleh pekerjaan di ladang, kini semakin hitam ! Akan tetapi,
sifat pesoleknya belum juga hilang sehingga seringkali ia ditertawakan Lian Hong karena di
dalam hutan sekalipun ia masih sering membereskan rambutnya sampai rapi dan ada saja akalnya
untuk menambah merah pada bibirnya yang sudah merah !
Sementara itu, setelah melarikan diri untuk ke dua kalinya karena tidak kuat melawan
San-tok dan Lian Hong, Koan Jit menyelinap dan bersembunyi, mengintai musuh-musuhnya.
Dia merasa lega melihat mereka itu pergi dari situ, tidak berusaha mencari tempat penyimpanan
harta pusakanya. Dengan hati girang dia berpendapat bahwa tentu kakek itu benar-benar belum
tahu tempat rahasianya, akan tetapi sudah dapat menduga bahwa tempat itu berada di dalam
hutan ini. Aku harus cepat memindahkan benda-benda pusaka itu, pikirnya dan setelah menanti
agak lama dan merasa yakin bahwa musuh-musuhnya sudah pergi jauh, diapun cepat memasuki
tempat rahasianya.
Wajah Koan Jit berubah pucat dan tubuhnya gemetar penuh ketegangan dan kekhawatiran
ketika dia memasuki tempat itu. Dia melihat bahwa jebakan-jebakan rahasia di tempat itu sudah
bekerja, tanda bahwa ada orang memasuki tempat ini. Dengan hati-hati dia terus menuju ke
dalam dan melihat beberapa ekor ular itu mati, dia semakin khawatir. Akan tetapi,
kekhawatirannya berubah girang, lega dan juga terheran ketika dia melihat bahwa semua pusaka,
terutama sekali Giok-liong-kiam, masih utuh ! Tidak ada sebuahpun pusaka yang hilang. Kalau
tadinya dia merasa heran, lalu dia menjadi girang sekali. Dia melihat runtuhnya jarum-jarum
hitamnya yang beracun, dan ketika dia meneliti, ternyata ada beberapa batang jarum yang hilang.
Ini hanya dapat diartikan bahwa serangan gelap jarum-jarum itu telah mengenai tubuh orang lihai
yang masuk ke situ. Orang itu tentu menjadi kaget dan ketakutan karena jarum-jarum itu
memang mengandung racun yang ganas, dan orang itu melarikan diri sebelum dapat membawa
Giok-liong-kiam yang agaknya memang ingin diambil oleh pencuri itu. Dan andaikata orang itu
tidak mampus oleh racun jarum-jarumnya, setidaknya usahanya itu gagal dan semua pusakanya,
terutama Giok-liong-kiam, selamat !
Kenyataan bahwa tempat rahasianya sudah didatangi orang itu membuat Koan Jit makin
tergesa lagi untuk memindahkan barang-barangnya yang berharga itu. Dia tidak menyangka
buruk kepada San-tok dan Lian Hong. Kakek itu tadi berkelahi dengan dia, sedangkan gadis itu
walaupun datang belakangan, namun jelas tidak menderita luka oleh jarum beracun. Pula, kalau
dua orang itu yang berusaha masuk ketempat rahasia itu, tentu Giok-liong-kiam sudah
diambilnya. Tentu orang lain yang telah memasuki tempatnya, mempergunakan kesempatan
selagi dia sibuk berkelahi melawan San-tok dan muridnya. Akan tetapi walaupun orang itu
mampu melalui jebakan di lantai, ular-ular dan debu pembius, ternyata tidak mampu lolos dari
jarum-jarum hitamnya yang beracun !
Pada hari itu juga, Koan Jit lalu mengumpulkan pusaka-pusakanya dan membawanya
keluar dari tempat itu dan untuk sementara, secara rahasia, diboyongnya benda-benda berharga
itu ke markasnya tanpa diketahui atau dicurigai oleh para pimpinan pasukan kulit putih.
***
Pedang Naga Kemala > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com 364
Dunia persilatan, seperti kelompok-kelompok lainnya, memang memiliki sifat-sifatnya
yang berlawanan, yaitu sifat buruk dan baiknya. Buruknya, di dunia persilatan selalu terjadi
kekerasan, permusuhan, dendam-mendendam, adu kekuatan yang tak kunjung henti. Dunia ini
bergelimang darah walaupun sebagian besar dari pertentangan itu terjadi antara pribadi. Akan
tetapi, ada satu sifat baik pada mereka, juga di kalangan kaum sesatnya, seperti berkali-kali
terbukti dalam sejarah bahwa mereka itu dapat juga bersatu apa bila tanah air dan bangsa berada
dalam bahaya.
Sejak terjadinya perang madat sampai didudukinya kota-kota pelabuhan yang besar oleh
kekuasaan orang kulit putih, dunia persilatan terguncang. Bahkan di dalam kalangan kaum sesat
juga terdapat suatu perasaan tidak puas, bahkan dendam dan benci kepada orang kulit putih.
Dengan demikian, maka golongan-golongan itu, yang kesemuanya menamakan diri sendiri
sebagai pejuang-pejuang patriot, terpecah-pecah menjadi beberapa aliran. Ada golongan yang
hanya memusuhi orang kulit putih dan bahkan membantu pemerintah Mancu. Ada golongan
yang sebaliknya hanya menentang pemerintah penjajah Mancu dan acuh terhadap orang-orang
asing kulit putih. Golongan pertama ini condong untuk menjadi kaki tangan pemerintah Ceng,
sedangkan golongan kedua condong untuk diperalat oleh orang-orang kulit putih. Ada pula
golongan ke tiga yang menentang keduanya, menentang pemerintah penjajah Mancu, juga
menentang orang kulit putih. Tentu saja kadang-kadang timbul bentrokan antara ketiga golongan
ini. Akan tetapi, golongan yang anti kepada kedua kekuasaan asing Mancu dan kulit putih itu
semakin kuat dan besar saja. Hal ini karena banyak orang gagah merasa penasaran dan marah
kepada pemerintah Ceng yang dianggap telah menjual sebagian dari tanah air kepada orangorang
asing, melihat betapa pemerintah Ceng semakin lemah dan tidak berani menentang orang
kulit putih, bahkan dengan cara “menyogok” untuk menyenangkan hati orang kulit putih,
pemerintah Mancu telah menyerahkan kota-kota pelabuhan ke dalam kekuasaan orang kulit
putih.
Di antara mereka yang hatinya merasa penasaran dan bangkit, terdapat tokoh-tokoh datuk
persilatan, juga para datuk golongan hitam ikut bangkit dan merasa penasaran. Karena itu, tidak
mengherankan apa bila timbul perasaan setia-kawan dan persatuan yang besar di antara mereka
untuk menghadapi kekuasaan orang kulit putih dan juga kelaliman kerajaan Ceng yang mulai
lemah. Bahkan tanpa mereka sepakati bersama, Empat Racun Dunia yang terkenal keji dan jahat
itupun memiliki persamaan dalam hal ini. Mereka berempat merasa penasaran sekali dan ingin
menghabiskan sisa usia mereka yang sudah amat tua itu untuk melakukan sesuatu guna
menentang orang-orang kulit putih dan pemerintah penjajah. Karena itulah, ketika Hai-tok
(Racun Lautan) mengirim undangan kepada para tokoh besar persilatan untuk menghadiri pesta
yang akan diadakannya untuk memperingati ulang tahunnya yang ke tujuhpuluh lima, para datuk
persilatan menyambutnya dengan gembira dan hampir semua tokoh yang diundang memerlukan
datang menghadiri undangan itu !
Ada beberapa hal yang mendorong Hai-tok untuk merayakan hari ulang tahunnya itu
dengan mengundang tokoh-tokoh besar dunia persilatan. Pertama, karena hatinya juga tergugah
melihat keadaan tanah air yang terancam oleh orang-orang kulit putih dan karena penasaran
melihat politik yang amat lemah dari pemerintah Ceng dalam menghadapi kekuasaan orang kulit
putih yang semakin mendesak. Ke dua adalah karena dia ingin membicarakan tentang Giokliong-
kiam dengan para datuk, setelah diketahui bahwa pusaka itu berada di tangan Koan Jit yang
kini menjadi orang penting dan berkuasa di dalam pasukan orang kulit putih yang amat kuat itu.
Pedang Naga Kemala > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com 365
Dan ke tiga, yang membuat kakek ini penasaran dan marah, adalah karena dia mendengar dari
puterinya, Kiki, bahwa kini muridnya yang amat dibanggakan dan diandalkan, yang bernama Lee
Song Kim, telah menghambakan diri kepada istana kaisar yang dianggap sebagai kaisar yang
lemah dan pengkhianat itu ! Sebab-sebab inilah yang membuat Hai-tok mengundang semua
tokoh besar, bukan hanya dari golongan sesat seperti golongan sendiri, akan tetapi bahkan dia
mengundang tokoh-tokoh besar dunia persilatan dari golongan putih atau kaum pendekar !
Hai-tok mengundang para datuk persilatan untuk datang ke pesisir timur dari mana
nampak Pulau Layar di kejauhan. Pantai ini penuh dengan batu-batu karang dan guha-guha
besar, dan untuk keperluan pestanya, Hai-tok menyuruh anak buahnya untuk menggempur guhaguha
dan membuat lima buah guha besar menjadi satu, menjadi ruangan sebuah guha yang luas
sekali, yang menghadapi laut. Guha itu lalu disuruh hias dan ukir dan untuk keperluan ini, dia
sengaja mendatangkan ahli-ahli ukir yang pandai. Perpaduan antara alam dan keahlian tangan
manusia menciptakan sebuah ruangan dalam guha yang amat aneh dan indah. Batu-batu karang
itu diukir membentuk binatang-binatang aneh seperti naga, ki-lin, burung Hong dan sebagainya.
Lantai guha dibikin rata dan di situ dipasangi meja-meja alam, meja-meja yang dibuat dari batu
karang yang diukir-ukir, demikian bangku-bangku batu karang yang amat indah penuh dengan
gaya seni yang luar biasa.
Ketika para tamu berdatangan, anak buah Hai-tok yang gagah-gagah dan berpakaian
indah, menyambut dan mempersilahkan para tamu memasuki tempat duduk. Para tamu
mengucapkan seruan-seruan kagum bukan main. Tempat itu memang amat indahnya dan
menakjubkan. Selain penuh dengan batu-batu karang dan dinding-dinding batu terukir, juga
bangku-bangku dan meja-meja batu karang yang indah, pemandangan keluar guha amat indah.
Air laut seperti berada di luar guha yang tinggal mengulur tangan menyentuhnya, dan air laut
berkeriput lembut ditimpa sinar matahari pagi yang cerah. Matahari sendiri yang baru muncul,
masih memuntahkan sinar keemasan, akan tetapi menciptakan suatu jalur jalan putih keperakan
di atas permukaan laut. Semua tamu itu terdiri dari tokoh-tokoh besar persilatan, tokoh-tokoh
dan datuk-datuk yang sudah banyak mengalami hal yang aneh-aneh. Akan tetapi ketika
memasuki guha itu, mereka tertegun dan merasa seolah-olah mereka masuk ke dalam sebuah
istana dongeng di dalam lautan.
Belum lama mereka duduk, terdengar bunyi yang nyaring melengking dan lembut, seperti
bunyi rumah siput besar ditiup atau bunyi suling tanduk besar, mengaum dan terbawa angin
memasuki guha itu. Semua orang memandang ke arah laut dari mana suara itu terdengar.
Para anak buah yang tadinya bertugas menjaga guha itu dan menyambut para tamu, begitu
mendengar suara mengaung itu, lalu bangkit berdiri dengan sikap hormat, lalu seorang di antara
mereka berseru memberi pengumuman.
“Yang mulia To-cu datang ………. !!”
Para tamu tahu bahwa Hai-tok yang bernama Tang Kok Bu itu adalah seorang yang amat
kaya, menjadi majikan atau sebagai raja saja dari Pulau Layar yang nampak dari situ seperti layar
sebuah perahu. Mereka tahu bahwa yang disebut To-cu (Majikan Pulau) tentu Hai-tok Tang Kok
Bu, tuan rumah yang mengirim undangan dan yang merayakan hari ulang tahunnya yang ke
tujuhpuluh lima. Karena itu, semua tamu menujukan pandang mata mereka ke tengah lautan, ke
Pedang Naga Kemala > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com 366
arah Pulau Layar. Dan kini nampaklah oleh mereka beberapa buah perahu yang kecil-kecil
panjang dan meruncing, bergerak dengan amat lajunya menuju ke pantai. Beberapa orang di
antaranya memegang bendera-bendera, ada yang bertuliskan kata lautan, Pulau dan Raja.
Dengan bendera-bendera itu seolah-olah Hai-tok menjadi Raja Pulau dan Lautan yang kini
menuju ke pantai dengan segala kebesarannya. Memang inilah yang dimaksudkan oleh seorang
di antara Empat Racun Dunia itu. Hai-tok ingin memamerkannya lewat pesta yang luar biasa
megahnya itu, dan diapun ingin memamerkan kedudukan dan kekuasaannya lewat
pemunculannya yang mengesankan.
Dan memang mengesankan sekali pemunculan Hai-tok Tang Kok Bu ! Dari jauh tadi
tidak begitu nampak, hanya kelihatan seolah-olah Hai-tok duduk di atas sebuah perahu kecil
seorang diri, diiringkan oleh anak buahnya yang gagah-gagah dan tampan-tampan. Akan tetapi
setelah rombongan itu dekat dengan tebing-tebing karang, di mana para tamu nonton dari dalam
guha, semua orang tertegun ! Betapa tidak ? Hai-tok duduk di atas punggung seekor binatang
laut yang bentuknya seperti seekor buaya besar ! Binatang itu berenang dengan cepat sekali,
dikawal oleh anak buahnya yang naik perahu-perahu kecil dan yang memegang bendera-bendera
kebesarannya. Sungguh berwibawa dan gagah perkasa sekali nampaknya, juga menyeramkan.
Hai-tok Tang Kok Bu yang bertubuh tinggi besar itu mengenakan pakaian yang mewah.
Jubahnya dari sutera halus berwarna kuning dan di dadanya terdapat lukisan seekor naga ! Jubah
ini saja sudah menyaingi jubah seorang raja ! Tubuhnya yang tinggi besar itu nampak kokoh
kuat, wajahnya kemerahan dengan cambang bauk terpelihara rapi dan sepasang mata yang besar.
Sungguh seorang kakek yang gagah perkasa dan ranbut serta berewoknya yang masih hitam itu
sangat berlawanan dengan usianya yang sudah tujuh puluh lima tahun ! Dia nampak seperti
seorang laki-laki perkasa yang usianya sekitar limapuluh sampai enampuluh tahun saja. Akan
tetapi, kalau diperhatikan dengan sungguh-sungguh, pada sinar matanya yang tajam itu terdapat
sesuatu yang aneh, suatu sinar yang mengandung kegenitan seorang wanita ! Dan orang akan
merasa heran kalau memperhatikan wajah para anak buahnya. Mereka itu rata-rata tampan dan
tidak ada yang berusia tua, semua masih muda dan gagah.
Agaknya jauh di belakang rombongan ini, sengaja memisahkan dan memencilkan diri,
nampak seorang gadis yang naik perahu seorang diri. Tak seorangpun akan menduga bahwa
gadis ini adalah puteri tunggal Hai-tok, yang bernama Tang Ki atau biasa disebut Kiki. Gadis ini
cantik manis, sinar matanya mencorong tajam penuh keberanian, akan tetapi gadis yang menjadi
puteri tunggal ini tidak memperlihatkan kemewahannya. Sama sekali tidak pesolek seperti
ayahnya. Memang, Kiki gadis manja. Hal ini karena sejak kecil ia telah tak beribu, dan sebagai
puteri tunggal Hai-tok, tentu saja sejak kecil ia dimanja. Akan tetapi, ia memiliki watak gagah
yang mengusir kemanjaannya itu setelah menjelang dewasa. Dan kini, setelah ia kembali dari
melakukan perjalanan jauh dan melihat keadaan dunia luas, ia semakin tidak setuju dengan
keadaan dan watak ayahnya. Inilah sebabnya mengapa ia tidak mau dekat dengan rombongan
ayahnya, dan sikap inipun tidak dapat ditundukkan oleh ayahnya yang tahu kekerasan hati
puterinya maka mendiamkan dan membiarkannya saja.
Para tamu bangkit berdiri ketika dengan gerakan gagah Hai-tok Tang Kok Bu melompat
dari atas punggung binatang seperti buaya itu yang segera menyelam ke dalam air. Kemudian
dengan langkah yang tegap dan wajah angker akan tetapi mengandung senyum ramah, Hai-tok
Tang Kok Bu memasuki guha dan memberi hormat kepada para tamu yang terdiri dari tokohtokoh
besar dunia persilatan. Di antara mereka, yang berada paling depan adalah Siauw-bin-hud,
Pedang Naga Kemala > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com 367
itu tokoh terkenal sekali dari Siauw-lim-pai yang sudah tua namun amat disegani dunia persilatan
karena kesaktiannya dan yang belum lama ini namanya menimbulkan kegemparan di dunia kangouw
karena dia dituduh merampas pedang pusaka Giok-liong-kiam. Kakek hwesio yang telah
bertapa selama bertahun-tahun dan yang sudah tidak tertarik lagi akan urusan duniawi, ketika
menerima undangan, dapat menduga bahwa di balik undangan ini ada suatu kepentingan besar.
Seperti para datuk lainnya, juga Siauw-bin-hud amat memperhatikan keadaan negara dan merasa
tidak puas melihat sikap pemerintah menghadapi bangsa kulit putih. Diapun melihat ancaman
bahaya besar terhadap tanah air dan bangsanya, maka diapun, dalam usia setua itu, memenuhi
undangan Hai-tok dan hadir, bukan semata untuk menghormati datuk itu atau berpesta,
melainkan lebih condong untuk melihat dan mendengar sikap para datuk mengenai keadaan tanah
air.
Selain datuk besar Siauw-bin-hud itu yang datang bersama Tan Ci Kong, cucu murid
yang menerima gemblengan pribadi dari kakek tua renta itu, juga gemblengan pribadi dari kakek
tua renta itu, juga nampak lengkap rekan-rekan dari Hai-tok, yaitu ketiga Racun Dunia lainnya.
Thian-tok hadir bersama dua orang muridnya, yaitu Gan Seng Bu dan Ong Siu Coan. Seperti kita
ketahui, Gan Seng Bu telah menjadi seorang pejuang yang menentang kerajaan Mancu dan
pemuda itu telah menikah dengan Sheila, seorang gadis kulit putih. Sedangkan Ong Siu Coan
masih belum tentu kedudukannya setelah dia dipaksa meninggalkan Thian-te-pang setelah para
anggautanya memberontak dipimpin oleh ketua Thian-te-pang yang lama bernama Ma Ki Sun
yang dibantu oleh para tokoh pejuang lainnya dan para tokoh partai persilatan. Dia
mengundurkan diri dengan damai dari Thian-te-pang. Ketika dua orang muda ini mendengar
panggilan guru mereka, tentu saja mereka cepat mengunjungi guru mereka dan oleh Thian-tok,
keduanya diajak untuk menghadiri pesta ulang tahun Hai-tok. Seperti yang lainnya, guru dan
murid ini tertarik sekali untuk bicara dengan para datuk mengenai keadaan tanah air yang kacau
balau pada waktu itu.
Tee-tok (Racun Bumi) juga hadir bersama murid yang disayangnya, yaitu Ciu Kui Eng,
gadis hartawan yang telah kehilangan semua harta benda dan keluarganya itu. Tidak ketinggalan
pula hadir San-tok bersama Siauw Lian Hong ! Lengkaplah keempat Racun Dunia, termasuk
tuan rumah, bertemu di dalam ruangan guha yang luas dan indah itu. Tentu saja Diana tak dapat
ditinggalkan dan ikut pula, akan tetapi gadis berkulit putih ini tidak diajak hadir dalam pertemuan
itu. Baik San-tok maupun Lian Hong melarangnya dan setelah mendengar penjelasan Lian Hong
bahwa yang mengadakan pertemuan itu adalah datuk-datuk persilatan dan juga pemuka-pemuka
para pejuang yang menentang bangsa kulit putih, maka hadirnya Diana hanya akan memancing
timbulnya keributan saja. Diana tahu diri dan iapun tidak rewel lagi ketika ia ditinggalkan di
dalam sebuah kuil tua yang tidak dipergunakan, yang terletak tak jauh dari pantai itu.
Para tamu itu berduyun-duyun memberi selamat kepada Hai-tok yang sudah duduk di atas
kursi besar terbuat dari batu karang. Satu demi satu mereka menghampiri tuan rumah dan
memberi hormat, yang dibalas oleh Hai-tok dengan wajah gembira dan hati bangga. Para
tamunya adalah datuk-datuk yang memiliki kedudukan tinggi, memiliki tingkat ilmu kepandaian
hebat dan kini semua datang untuk menghormat dan memberi selamat kepadanya ! Kegembiraan
hatinya ini agak menghapus kekecewaannya mendengar bahwa murid yang disayangnya, Lee
Song Kim, telah menyeleweng dari pada garis yang telah ditentukan olehnya, yaitu tidak boleh
menghambakan diri kepada penjajah Mancu.
Pedang Naga Kemala > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com 368
Setelah semua orang memberi selamat dan mengambil tempat duduk masing-masing, Haitok
memandang dengan puas dan bangga. Keadaan pesta yang istimewa, luar biasa dan
mengesankan. Semua tamu itu mengambil tempat duduk berkelompok dengan kelompok
masing-masing, duduk diatas bangku-bangku batu karang dan menghadapi meja-meja kecil dari
batu karang pula, bukan sembarang batu karang melainkan batu karang berkembang yang pilihan
dan diukir indah, juga telah digosok mengkilap dan sama sekali tempat itu tidak mengandung bau
amis lagi walaupun dari dinding sampai meja kursinya terbuat dari batu-batu karang.
Kini Hai-tok bangkit berdiri. Suaranya terdengar besar dan berat, namun jelas dan
berwibawa ketika dia bicara. “Cu-wi (tuan-tuan sekalian) yang terhormat. Kami mengucapkan
terima kasih atas kehadiran dan ucapan selamat dari cu-wi. Mengingat akan keadaan di tanah air
kita yang tercinta, kami berpendapat bahwa kesempatan yang amat baik selagi kita berkumpul ini
tidak boleh dilewatkan begitu saja. Bagaimana kalau kesempatan ini kita pergunakan untuk
bicara tentang keadaan di tanah air ?”
“Akur ! Akur !”
“Setuju sekali !”
Semua orang menyatakan persetujuan mereka dan suasana menjadi gaduh. Tuan rumah
mengangkat kedua tangan ke atas sambil tersenyum. “Bagus, agaknya di antara kita memang
sudah terdapat persesuaian paham. Nah, sekarang kami persilahkan cu-wi untuk menikmati
hidangan kami sekedarnya, setelah makan minum barulah kita akan bicara tentang keadaan tanah
air. Pikiran akan menjadi lebih tenang kalau perut sudah kenyang, bukan ?” Semua orang
tertawa dan pestapun dimulailah. Dari ruangan sebelah terdengarlah bunyi alunan musik dan
nyanyian merdu. Hai-tok sengaja mengundang ahli-ahli musik dan para penyanyi yang pandai,
dengan bayaran tinggi untuk memeriahkan pesta itu.
Setelah hidangan dikeluarkan, semua orang menjadi semakin kagum. Kiranya, semua alat
makan yang dikeluarkan juga istimewa, tidak seperti alat makan biasa, melainkan unik dan cocok
dengan keadaan di dalam guha penuh batu-batuan laut itu. Mangkok dan piring terbuat dari kulit
penyu, mangkok dari kerang besar dan banyak pula kembang-kembang karang yang sudah
kering, dengan bentuk-bentuk aneh dan khas laut, dengan warna-warni yang indah, dikeluarkan
sebagai tempat-tempat sayuran dan masakan yang mengepulkan bau asap gurih. Sumpit-sumpit
yang dikeluarkan juga terbuat dari pada tulang-tulang ikan yang mengkilap seperti gading gajah.
Pendeknya, semua alat makan terbuat dari benda-benda yang diambil dari dasar lautan, dan di
sana-sini, pada piring, mangkok dan panci kerang besar itu malah dihias dengan mutiara-mutiara
gemerlapan ! Semua orang takjub dan merasa betapa mereka seakan-akan dijamu dalam pesta
yang diadakan di istana dasar lautan oleh Raja Lautan ! Hebatnya, untuk mereka yang tidak
makan daging seperti Siauw-bin-hud dan beberapa orang tokoh lagi, dihidangkan masakan
istimewa yang sama sekali tidak mengandung barang bernyawa ! Siauw-bin-hud sampai
tersenyum lebar.
“Omitohud .........., harta benda dunia memang bisa mendatangkan kenikmatan dan
kesenangan dunia yang tanpa batas. Ha-ha-ha, asalkan kita tidak sampai mabok olehnya !”
Mendengar ucapan Siauw-bin-hud, Thian-tok yang duduk di meja sebelah, juga tertawa
lebar. “Ha-ha, kuharap saja tempat ini tidak berubah menjadi kuil di mana ada hwesio tua yang
berceramah memberi kuliah. Mabokpun ada batasnya dan akhirnya akan sadar kembali, bukan ?”
Pedang Naga Kemala > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com 369
Siauw-bin-hud tidak marah, malah tersenyum. “Siancai .......... ada benarnya ucapanmu
itu, gendut ! Segala apa di dunia ini, yang menyenangkan atau menyusahkan, tentu ada batas
waktunya dan pada saatnya akan lenyap satu demi satu.”
Para tamu yang aneh-aneh itu, para datuk dunia persilatan, mulai makan minum dan
suasana menjadi meriah sekali. Memang nikmat sekali makan minum bersama orang-orang yang
sudah dikenal dengan baik, apa lagi kalau suasananya begitu akrab dan ada sesuatu yang
membuat pada saat itu mereka melupakan segala macam bentuk permusuhan dan memiliki suatu
pegangan tertentu yang menyatukan hati mereka. Makan minum hidangan yang pilihan, lezat
dan mahal, di tempat yang indah, dengan alat perabot makan yang aneh dan indah pula, dengan
pemandangan yang amat mempersonakan dari laut yang terbentang luas di depan mereka, dalam
suasana yang meriah.
Para datuk sesat Empat Racun Dunia makan satu meja dengan murid masing-masing.
Siauw-bin-hud dengan wajahnya yang bersih cerah dan selalu tersenyum itu duduk semeja
dengan Tan Ci Kong, kemudian di meja sebelah kirinya, duduk Thian-tok yang wajahnya dan
bentuk tubuhnya mirip sekali dengan Siauw-bin-hud, perutnya yang gendut, mukanya yang bulat
dan serba bundar, mulutnya yang selalu tersenyum lebar, semua serupa. Hanya bedanya, jubah
Siauw-bin-hud tertutup rapat sebaliknya jubah Thian-tok terbuka lebar memperlihatkan dada dan
perut gendutnya, dan kalau wajah Siauw-bin-hud halus bersih, sebaliknya wajah Thian-tok penuh
berewok. Mereka sedemikian mirpnya sehingga tidaklah mengherankan kalau dahulu dengan
mudah Thian-tok menyamar sebagai Siauw-bin-hud ketika dia merampas pedang pusaka Giokliong-
kiam. Kalau jubah itu dirapatkan dan muka itu dicukur, memang dia mirip sekali dengan
tokoh Siauw-lim-pai itu.
Thian-tok duduk semeja dengan dua orang muridnya, Gan Seng Bu dan Siu Coan. Dua
orang muda kakak beradik seperguruan ini ketika bertemu dan ikut bersama guru mereka
menghadiri undangan Hai-tok, tidak pernah bicara tentang perselisihan mereka yang lalu seolaholah
mereka berdua sudah melupakannya. Apa lagi antara kakak beradik seperguruan, bahkan
antara orang lain yang pernah bentrok sekalipun, pada waktu menghadapi urusan tanah air yang
terancam, mereka semua mengesampingkan urusan pribadi dan semua perhatian hanyan
ditujukan kepada perjuangan.
Tee-tok duduk berhadapan dengan Ciu Kui Eng, sedangkan San-tok duduk bersama Lian
Hong. Memang di dalam dada masing-masing golongan terdapat jiwa patriotisme yang agak
berbeda sifatnya. Ada yang memiliki kecondongan lebih keras membenci orang kulit putih dan
ada yang lebih membenci keduanya. Akan tetapi mereka yang hadir di situ, rata-rata tidak sudi
menghambakan diri kepada pemerintah penjajah Mancu atau kepada pasukan orang kulit putih,
dan mereka semua mengharapkan bangkitnya rakyat yang akan memiliki pemerintah yang
dipimpin oleh bangsa sendiri.
Di samping Empat Racun Dunia dan Siauw-bin-hud, hadir pula wakil-wakil dari
perkumpulan-perkumpulan besar di dunia kang-ouw. Akan tetapi karena yang diundang oleh
Hai-tok hanya tokoh-tokoh besarnya saja, maka yang hadir di dalam ruangan guha itu berjumlah
lebih dari tigapuluh orang saja.
Pedang Naga Kemala > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com 370
Pesta itu berjalan dengan meriah dan semua tamu memuji kelezatan masakan yang
dihidangkan. Bahkan Siuw-bin-hud harus memuji masakan-masakan yang tanpa daging itu
karena memang dimasak secara istimewa dan masakan tanpa daging itu tak kalah lezatnya
dengan masakan lain yang berdaging. Makan minum itu diakhiri dengan kepuasan, kekenyangan
dan kelegaan hati para tamu. Setelah selesai, alat-alat makan disingkirkan, meja-meja
dibersihkan kemudian meja-meja batu karang itu dipindahkan, diganti meja yang lebar dan semua
tamu duduk mengelilingi meja besar untuk mulai dengan percakapan mereka yang sebenarnya
merupakan inti pertemuan yang berselubung di balik ulang tahun itu.
Dengan dipimpin oleh Hai-tok sebagai tuan rumah, mereka bicara tentang keadaan tanah
air yang mulai dilanda kekuasaan orang kulit putih dan tentang keadaan pemerintah Ceng yang
semakin lemah dan sama sekali tidak melindungi rakyat jelata.
“Kalau dibiarkan saja orang-orang kulit putih itu menguasai kota-kota pelabuhan, makin
lama mereka akan menjadi semakin kuat. Harus diakui bahwa dengan kapal-kapal besar mereka,
dengan meriam-meriam besar dan pasukan yang diperlengkapi dengan senjata-senjata api,
mereka itu merupakan musuh yang sangat kuat dan sukar dikalahkan. Oleh karena itu, selagi
mereka belum terlalu kuat, kita harus berdaya mengumpulkan kekuatan dan menghancurkan
mereka,” demikian Hai-tok berkata dengan penuh semangat.
“Ha – ha – ha !” Thian-tok tertawa bergelak menanggapi ucapan penuh semangat ini
yang dikeluarkan Hai-tok setelah mereka tadi membicarakan keadaan yang makin kacau dan
kemelut yang menimpa kehidupan rakyat yang dicengkeram racun madat. “Orang-orang kulit
putih itu belum dapat dibilang berbahaya karena bagaimanapun juga, mereka hanya pedagangpedagang.
Yang penting untuk segera diruntuhkan adalah kekuasaan penjajah Mancu. Kalau
pemerintah dipegang oleh bangsa kita sendiri, apa sukarnya menghalau orang-orang kulit putih ?
Tentu saja pendapat ini tidak akan disetujui oleh mereka yang di dalam hatinya masih setia
kepada pemerintah penjajah Mancu.”
Sepasang alis tebal di wajah Hai-tok berkerut dan matanya yang lebar memancarkan sinar
kemarahan kepada Thian-tok. Dia merasa disindir karena dia mengerti bahwa muridnya, lee Song
Kim, kini menghambakan diri kepada pemerintah Ceng di kota raja. Akan tetapi rasa persatuan
dalam pembelaan tanah air membuat kakek yang biasanya berdarah panas ini dapat
mengendalikan diri, hanya suaranya terdengar mantap dan serius, sedangkan pandang matanya
ditujukan langsung kepada Thian-tok yang masih tersenyum lebar.
“Memang benar ucapan Thian-tok bahwa penjajah Mancu harus ditentang, dan siapa saja
yang membantu penjajah Mancu patut dikutuk. Akan tetapi, tidak benar kalau bangsa kulit putih
tidak berbahaya. Lihat saja penderitaan rakyat akibat perang candu yang lalu. Siapa saja yang
menghambakan diri kepada bangsa kulit putih lebih terkutuk lagi !”
Ucapan yang merupakan jawaban ini juga mengandung sindiran karena semua orang tahu
bahwa Koan Jit menjadi antek orang kulit putih, sedangkan Koan Jit adalah murid pertama
Thian-tok. Kakek gendut inipun merasa akan sindiran tuan rumah, maka dia tertawa semakin
keras.
Pedang Naga Kemala > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com 371
“Ha – ha – ha – ha, benar sekali, Hai-tok, benar sekali ! Akan tetapi sudah lama sekali
aku mengutuk Koan Jit, tidak menganggapnya sebagai murid lagi, dan bukan hanya mengutuk,
bahkan kalau ada kesempatan, akan kuhancurkan kepala murid murtad itu !”
Hai-tok tidak mau kalah. “Muridku yang pertama Lee Song Kim juga murtad, telah
bekerja kepada pemerintah Mancu di kota raja, dan akupun tidak menganggapnya murid lagi
melainkan musuh !”
“Ha – ha – ha – ha, kalau begitu keadaan kita sama, Hai-tok. Satu-satu, kita masingmasing
mempunyai murid yang murtad dan memalukan, ha – ha – ha !”
“Tidak sama benar keadaan kita, Thian-tok.” Hai-tok membantah, kini sepasang matanya
bersinar-sinar, wajahnya berseri-seri penuh rasa kemenangan. “Hanya seorang muridku yang
murtad dan memalukan, akan tetapi kabarnya, di samping Koan Jit yang menjadi antek penjilat
orang kulit putih, aku mendengar masih ada lagi muridmu yang bahkan menikah dengan seorang
perempuan bule !”
Tentu saja sindiran ini amat tepat menghunjam perasaan Thian-tok, akan tetapi kakek ini
kelihatan tenang dan tersenyum lebar saja, sedangkan semua mata kini ditujukan ke arah Gan
Seng Bu yang bersikap tenang memandang kepada gurunya. Ingin ia bicara, karena dialah yang
diejek, akan tetapi karena ucapan Hai-tok tadi ditujukan kepada suhunya, maka diapun tidak
berani melancangi gurunya.
“Ha – ha – ha – ha, pandangan yang picik, pandangan yang membuktikan kebodohan !
Bagaimana mungkin urusan perjodohan dicampuradukkan dengan urusan perjuangan membela
tanah air ? Perjodohan dasarnya saling mencinta dan dalam urusan cinta ini, tidak ada sangkutpautnya
dengan bangsa, negara, atau apa saja. Asal laki-laki dan perempuan, bukan laki-laki
dengan laki-laki, maka cinta dapat timbul tanpa mengingat bangsa dan keturunan. Siapa bisa
bilang bahwa kita semua hadir di sini adalah bangsa aseli ? Siapa berani memastikan dan siapa
bisa membuktikan bahwa darahnya tidak ada campuran darah keturunan bangsa lain, tidak ada
darah campuran darah Mongol, Mancu, atau Birma dan An-nam, bahkan darah India dan
Yahudi ? Ha – ha – ha – ha, kalau kita sendiri tidak bisa memastikan keaselian kita, bagaimana
mau bicara tentang perbedaan bangsa dalam pernikahan ? Muridku memang ada yang menikah
dengan seorang perempuan bule, dan dia adalah Gan Seng Bu yang hadir di sini, akan tetapi hal
itu sama sekali tidak ada sangkut-pautnya dengan perjuangan menentang penjajah Mancu atau
bangsa kulit putih !”
Hai-tok masih tidak mau kalah dan masih penasaran. Sambil memandang tajam ke arah
Gan Seng Bu, dia berkata lantang. “Biarkan yang bersangkutan sendiri bicara. Bukankah kalau
orang menikah dengan seorang perempuan kulit putih, lalu pandangannya terhadap orang kulit
putih juga menjadi berubah ? Tak mungkin memusuhi bangsa dari istrinya sendiri !”
“Tang locianpwe,” kata Gan Seng Bu dengan suara lantang tapi hormat, sambil
mengangkat muka setelah tadi memandang dan menentang pandang mata semua orang yang
hadir, “seperti dikatakan oleh suhu tadi, pernikahan dengan isteri saya seorang wanita kulit putih
sama sekali tidak ada hubungannya dengan perjuangan saya menentang kerajaan penjajah dan
pengaruh kulit putih yang memasukkan madat ke negeri kita. Isteri saya menentang politik
Pedang Naga Kemala > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com 372
bangsanya sendiri. Kalau tidak demikian, tentu ia dan saya akan berhadapan sebagai musuh,
bukan menjadi suami isteri. Dan urusan pernikahan adalah urusan pribadi, sedangkan perjuangan
membela tanah air adalah urusan umum, harap jangan dicampuradukkan.”
Sebelum Hai-tok atau yang lain sempat menjawab, terdengar suara halus namun begitu
penuh wibawa dan membuat semua orang terdiam mendengarkan. Itulah suara Siauw-bin-hud
yang melihat betapa percakapan antara Hai-tok itu makin meruncing dan menimbulkan suasana
panas. “Omitohud ………., kita ini mau dibawa ke manakah dengan percakapan tentang diri-diri
pribadi ? Cu-wi yang hadir ini datang hendak membicarakan segala tetek-bengek mengenai
urusan pribadi masing-masing, ataukah datang hendak bicara tentang tanah air dan bangsa ?
Kalau urusan pribadi, lebih baik pinceng pergi karena pinceng tidak mau bicara tentang diri orang
lain.”
Mendengar ucapan hwesio tua yang disegani itu, Hai-tok dan Thian-tok baru sadar dan
Thian-tok tertawa bergelak. “Aih, kalau tidak ada engkau hwesio tua yang selalu waspada dan
sadar, tentu kami akan terseret semakin jauh, ha-ha-ha !”
Hai-tok juga cepat berkata, “Maafkan kami yang lupa diri. Sebaliknya kita melupakan
saja segala pembicaraan kita tadi, Thian-tok.”
Terdengar lagi suara Siauw-bin-hud. “Sejak tadi kita bicara tentang perlunya menentang
pemerintah penjajah Mancu dan pasukan kulit putih. Akan tetapi bagaimana pelaksanaannya ?
Menentang mereka berdua itu membutuhkan tenaga yang amat kuat dan biaya yang amat besar.
Kalau tidak kuat, tentu perjuangan itu akan gagal di tengah jalan. Lihat saja betapa banyaknya
kelompok pejuang yang hancur di tengah jalan. Yang terpenting bagi kita adalah mencari jalan
bagaimana baiknya untuk dapat membentuk pasukan yang cukup kuat untuk menjatuhkan
pemerintah penjajah dan sekaligus menghalau pasukan asing kulit putih dari tanah air.”
Tiba-tiba Ong Siu Coan bangkit berdiri dan setelah memberi hormat ke arah semua orang
dia lalu berkata dengan suara lantang, “Mohon maaf kepada para locianpwe dan cu-wi yang
terhormat kalau saya berani lancang bicara. Urusan perjuangan ini memang harus dipecahkan
oleh kita semua, tua dan muda karena hal ini menyangkut kehidupan rakyat atau bangsa kita.
Agaknya akan berat sekali kalau dengan mati-matian kita harus melawan kedua musuh kita, yaitu
kerajaan Mancu dan pasukan kulit putih. Seperti yang sudah dilakukan oleh banyak kelompok
pejuang, saya merasa setuju sekali kalau dalam hal ini kita mempergunakan siasat dan
kecerdikan, bukan sekedar mengandalkan kekuatan badan. Seperti kita ketahui, pasukan asing
kulit putih amat kuat dengan persenjataan mereka dan merekapun tidak sangat bersahabat dengan
pemerintah Mancu semenjak terjadinya pembakaran candu secara besar-besaran di Kanton itu.
Kalau dua pihak itu bermusuhan dan berperang satu sama lain, hal ini amat menguntungkan kita.
Biarkan mereka itu saling serang karena peperangan antara mereka akan membuat keduanya
menjadi lemah. Dan kalau sudah begitu, barulah kita turun tangan menghantam mereka. Dengan
demikian, kita menghemat tenaga.”
Suasana menjadi bising karena semua orang menanggapi sendiri-sendiri pernyataan dari
Ong Siu Coan itu. “Omitohud .........., pemikiran yang muda-muda memang patut diperhatikan
karena kadang-kadang mereka itu lebih cerdik dari pada kita orang-orang tua.” Yang bicara itu
adalah hwesio yang menjadi wakil dari Bu-tong-pai. “Memang baik sekali melakukan siasat
Pedang Naga Kemala > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com 373
memancing perpecahan antara pemerintah Mancu dan orang-orang kulit putih. Biarkan mereka
itu berperang sendiri sementara kita menyusun kekuatan yang membutuhkan waktu dan tentu saja
membutuhkan banyak biaya seperti yang dikemukakan oleh locianpwe Siauw-bin-hud tadi.”
Sebagian besar yang hadir setuju dengan pemikiran yang diajukan oleh Siu Coan itu.
Siasat itu memang baik sekali. Mereka memang tidak suka kepada orang kulit putih dan semua
ingin menghalau mereka keluar dari tanah air. Akan tetapi selagi orang-orang kulit putih itu
bermanfaat untuk membantu mereka menjatuhkan pemerintah penjajah, maka calon-calon musuh
itu dapat untuk sementara dijadikan senjata demi keuntungan perjuangan mereka.
Girang karena hasil pemikiran muridnya itu diterima dengan baik oleh para tokoh yang
hadir, Thian-tok teringat akan muridnya yang pertama dan dia menghantamkan telapak tangan
kirinya sendiri sampai terdengar suara keras dan semua orang terkejut lalu memandang kepada
kakek gendut itu. Wajah kakek itu yang biasanya selalu menyeringai lebar, kini nampak agak
keruh dan tidak ada senyum. Baru Thian-tok merasa bahwa perbuatannya tadi menarik perhatian
semua orang setelah semua orang terdiam dan memandang kepadanya.
“Aku teringat akan murid murtad Koan Jit itu !” katanya penuh kemarahan. “Tidak saja
dia telah menjadi antek orang kulit putih, akan tetapi dia juga telah melarikan Giok-liong-kiam !”
Semua orang tertarik mendengar kakek itu mulai bicara tentang Giok-liong-kiam.
Terdengar suara ketawa dan yang ketawa ini adalah Siauw-bin-hud. “Heh – heh, ini namanya
hukum karma, Thian-tok, Engkau memperoleh pedang itu dengan menggunakan nama pinceng,
dan tanpa pinceng membalasmu, yang membalaskan adalah muridmu sendiri yang mencurinya
darimu !”
“Siancai, apa hubungannya Giok-liong-kiam dengan perjuangan kita ? Kenapa
percakapan kini menyeleweng ke arah pedang pusaka itu ? ?” terdengar seorang tosu dari Kunlun-
pai memprotes.
“Tosu bodoh, kau tahu apa ?” Thian-tok berseru. Memang sudah menjadi watak Empat
Racun Dunia untuk menyapa orang, baik sudah dikenalnya atau belum, tak perduli apa dan
bagaimana kedudukannya, dengan kasar dan tanpa sopan santun sama sekali. Oleh karena itu
diapun begitu saja memaki tosu bodoh kepada tosu Kun-lun-pai itu ! “Kalau Giok-liong-kiam
sekarang berada di tanganku, aku akan kuat membiayai perjuangan kita semua sampai kerajaan
penjajah Mancu dijatuhkan dan orang-orang kulit putih diusir habis !”
Kembali semua orang menjadi bising. “Benarkah berita tentang harta karun yang berada
di balik rahasia Giok-liong-kiam ?” terdengar suara orang berseru.
Thian-tok mengangkat kedua tangannya ke atas. “Jangan kalian pura-pura tidak tahu saja.
Kalau kalian tidak tahu akan rahasia itu, perlu apa orang-orang seluruh kang-ouw
memperebutkan pusaka itu ? Hanya untuk mencari nama agar dianggap jagoan nomor satu di
dunia persilatan ? Omong kosong ! Yang jelas karena kita semua memperebutkan harta karun
yang tersembunyi itu.”
Pedang Naga Kemala > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com 374
“Omitohud ……….!” Siauw-bin-hud berseru tersenyum. “Ingat, Thian-tok, pinceng
sama sekali tidak pernah ikut memperebutkan. Ceritakanlah, apa gunanya Giok-liong-kiam itu
untuk perjuangan kita ?”
Semua orang mendengarkan dengan penuh perhatian ketika Thian-tok mulai bercerita.
“Kalian tentu tahu bahwa orang macam aku ini tidak lagi membutuhkan bukti bahwa aku
adalah jagoan nomor satu dengan memiliki Giok-liong-kiam. Phuh ..! Kalau Giok-liong-kiam
tidak menyimpan rahasia harta karun, perlu apa aku bersusah payah merampasnya dan menyamar
sebagai Siauw-bin-hud ? Giok-liong-kiam itu mengandung rahasia yang menunjukkan di mana
adanya harta karun yang tak ternilai besarnya ! Kalau kita dapat memiliki harta itu, dapat dipakai
sebagai biaya perjuangan selama puluhan tahun. Sayang murid murtad itu telah mencurinya dari
tanganku.”
“Heii, si mulut besar Thian-tok !” Tiba-tiba San-tok yang sejak tadi diam saja dan hanya
saling pandang dengan muridnya sambil tersenyum, kini menegur Thian-tok. “Pedang pusaka itu
telah lama berada di tanganmu. Tentu engkau sudah mencari dan mengambil harta karun itu.
Jangan pura-pura bodoh ! Kami bukan orang-orang tolol yang mudah kaukelabuhi !”
“Jembel busuk enak saja kau ngomong !” Thian-tok balas memaki akan tetapi mulutnya
menyeringai. Dimaki oleh seorang rekan seperti San-tok itu sama sekali tidak merupakan
penghinaan, bahkan membawa kehangatan karena keakraban. “Kalau harta karun itu sudah
berada di tanganku, perlu apa aku banyak ngomong lagi ? Menurut keterangan yang kuperoleh,
rahasia itu berada di gagang pedang dan kalau direndam air semalam suntuk akan timbul
gambaran-gambaran atau tulisan yang menerangkan tempat dimana adanya harta karun. Akan
tetapi sungguh sialan, sudah kurendam sampai tiga hari tiga malam, tidak juga nampak perubahan
apa-apa. Sebelum aku berhasil menemukan rahasianya, pedang itu telah dicuri Koan Jit.”
Hampir San-tok tertawa bergelak, juga Lian Hong menahan senyumnya. Hanya mereka
berdualah yang tahu akan rahasia sebenarnya dari pedang pusaka Giok-liong-kiam itu. Thian-tok
sama sekali tidak tahu bahwa pedang pusaka yang dicuri dari tangannya oleh muridnya itu adalah
pedang pusaka yang palsu, walaupun yang palsu itu akan membawa pemiliknya kepada yang
aseli.
“Kalau begitu, mari kita berlumba untuk merampasnya kembali dari Koan Jit !”
terdengar seruan orang.
“Ah, bagaimana kalau muridmu itu telah mengambil harta karun itu ?” Hai-tok bertanya
kepada Thian-tok.
Kakek gendut itu menggeleng kepala. “Diapun tidak lebih tahu dari pada aku. Agaknya
keterangan tentang harta karun itu hanya dongeng belaka dan pedang itu tidak menyimpan apaapa.”
“betapapun juga, kita harus berusaha untuk merampas pedang pusaka itu !” Hai-tok
berkeras. “Akan tetapi, sekarang bukan merampas untuk diri sendiri, melainkan untuk bisa
mendapatkan harta karun untuk membiayai perjuangan kita. Apakah kalian semua setuju ?”
Pedang Naga Kemala > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com 375
Semua orang menyatakan setuju. “Omitohud, betapa mudahnya bicara dan betapa
sukarnya melaksanakan semua itu. Pinceng mendengar bahwa Koan Jit telah menjadi seorang
yang berkuasa di dalam pasukan kulit putih. Dia sendiri sudah memiliki ilmu kepandaian tinggi,
kabarnya semua ilmu dari Thian-tok telah dikurasnya. Sekarang dia berlindung di belakang
pasukan kulit putih yang memiliki benteng amat kuat. Bagaimana mungkin dapat merampas
Giok-liong-kiam dari tangannya ?” Siauw-bin-hud berkata dan semua orangpun termenung
karena merekapun maklum betapa sukarnya merampas pedang itu dari tangan Koan Jit. Agaknya
akan lebih sukar dari pada kalau pedang itu berada di tangan Thian-tok.
Tiba-tiba terdengar lagi San-tok bicara lagi, suaranya lantang dan menjadi perhatian
semua tamu yang hadir. “Biarpun sukar, kita semua harus berusaha untuk mendapatkan harta
karun itu. Memang suatu pekerjaan yang amat sukar dan berbahaya, karena itu, sudah sepatutnya
kalau siapa yang berhasil mendapat pahala yang wajar dan sesuai.”
“Wah-wah, jembel tua ini minta sedekah ! Pahala bagaimana maksudmu, San-tok ?”
tanya Thian-tok, tertarik juga karena siapa mau bekerja keras kalau tidak diberi imbalan jasa.
“Siapa yang berhasil mendapatkan harta karun itu dan menyerahkannya untuk
kepentingan perjuangan meruntuhkan penjajah Mancu dan mengusir bangsa kulit putih, maka
pedang pusaka Giok-liong-kiam diakui menjadi miliknya yang syah dan dia dianggap sebagai
seorang pahlawan dan jagoan nomor satu di dunia ! Bagaimana, setujukah kalian ?”
“Omitohud, pinceng anggap hal itu sudah sepatutnya. Merampas Giok-liong-kiam dari
tangan Koan Jit yang berlindung dalam pasukan kulit putih merupakan pekerjaan yang amat
berat, apa lagi kalau harus melanjutkan penyelidikan dari pedang itu sampai bisa mendapatkan
harta karun. Jasa orang itu amat besar dan patutlah dia menjadi pahlawan dan dianggap jagoan
nomor satu di dunia persilatan,” kata Siauw-bin-hud dan semua orang menyatakan persetujuan
mereka dengan serentak.
Akan tetapi tiba-tiba terdengar suara yang lebih gemuruh dari pada suara mereka. Semua
orang terkejut karena suara itu datangnya dari luar guha. Hai-tok yang paling dulu tahu akan
keadaan di situ, lebih dahulu meloncat bangun. Dia merasa adanya sesuatu yang luar biasa dan
mencurigakan sekali. Ketika dia tidak melihat gerakan anak buahnya, wajahnya berubah merah.
“Ada bahaya ……….!” Serunya.
Berbareng dengan seruannya itu, terdengar bunyi tambur di luar, disusul suara parau
penuh gertakkan, “Kalian yang berada di dalam guha, menyerahlah. Pasukan kerajaan telah
mengepung tempat ini. Lebih baik menyerah dan menjadi tawanan kami dari pada harus kami
kerahkan pasukan dengan jalan kekerasan !”
Mendengar itu, Hai-tok terbelalak penuh kemarahan dan semua orang mengusir
kecurigaan mereka terhadap Hai-tok yang tadinya timbul. “Di sini Tang Kok Bu, majikan Pulau
Layar yang bicara !” Teriakannya nyaring sekali sehingga akan mudah terdengar oleh mereka
yang berada di luar guha. “Hari ini kami mengadakan perayaan hari ulang tahun kami yang ke
tujuhpuluh lima, dengan mengundang beberapa sahabat baik kami. Apa salahnya dengan itu ?
Pedang Naga Kemala > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com 376
Kami tidak pernah bermusuhan dengan pasukan pemerintah. Apa maksudnya kini pasukan
pemerintah mengepung tempat ini dan menyuruh kami menyerah ?”
Hening sejenak setelah gema suara Hai-tok melenyap. Seolah-olah mereka yang berada di
luar itu berunding sebelum menjawab teriakan tadi. Kemudian terdengar pula suara parau dari
luar. “Tang Kok Bu ! Kami sudah tahu apa yang tersembunyi di balik pestamu itu ! Engkau
mengundang pemberontak-pemberontak, tokoh-tokoh pemberontak dari dunia persilatan untuk
berunding dan mengatur rencana pemberontakan lebih lanjut. Kami mengenal banyak diantara
tamu-tamu sebagai pemberontak-pemberontak di daerah Kanton dan sekitarnya, juga pengacaupengacau
yang suka menganggu pasukan-pasukan pemerintah di selatan kota raja. Lebih baik
menyerah dengan tenang dan serahkan para pemberontak itu kepada kami. Mereka yang ternyata
tidak berdosa, setelah melalui pemeriksaan, tentu akan dibebaskan kelak !”
“Ha – ha – ha, tidak kusangka bahwa Hai-tok hanya besar lagaknya saja. Mengatur
pertemuan begini saja sudah bocor sehingga kita dikepung pasukan pemerintah !”
Hai-tok mengepal tinju. “Ini tentu ada yang membikin bocor. Tentu ada anjing
pengkhianat, penjilat penjajah Mancu di sini !”
“Siancai, tidak perlu ribut, yang penting kita harus dapat lolos dari tempat ini,” kata
Siauw-bin-hud.
Kini terdengar bunyi terompet dan membanjirlah pasukan yang bersenjata tombak, golok
atau pedang, menyerbu bagaikan air bah ke dalam guha itu melalui pintu-pintu yang ada.
Agaknya semua jalan masuk telah dipenuhi oleh pasukan sehingga terpaksa para tamu itu
membela diri. Tentu saja pasukan itu bukan lawan para tamu yang rata-rata adalah orang-orang
sakti yang memiliki kepandaian silat tinggi. Akan tetapi, Karena semua jalan keluar sudah
tertutup dan pasukan itu berjumlah amat banyak, keadaan menjadi berbahaya sekali. Kalau
mereka diserang anak panah, apa lagi senjata api, atau tempat itu dikurungi api dan mereka
diserang dengan asap, akan celakalah mereka. Juga, andaikata mereka terus dikurung beberapa
hari saja, mereka tentu akan menjadi kelaparan dan akhirnya akan tewas juga.
Pengepungan itu membuat beberapa orang tamu merasa panik dan mereka lalu nekat
menyerbu ke luar guha. Tentu saja disambut pengeroyokan puluhan, bahkan ratusan orang anak
buah pasukan. Terjadilah perkelahian-perkelahian seru di luar guha, di mana para penyerbu yang
keluar itu mengalami pengeroyokan banyak sekali lawan. Melihat ini, Hai-tok khawatir kalaukalau
banyak di antara tamunya yang akan roboh dan tewas. Betapapun lihainya, mana mungkin
menghadapi pengeroyokan ratusan orang di tempat yang sempit itu ? Biarpun akan berhasil
membunuh banyak pengeroyok, akhirnya akan roboh juga. Dia sudah memperhitungkan segala
kemungkinan, maka dengan cepat dia lalu berseru.
“Cepat kalian ikut aku melarikan diri melalui air ! Cepat sebelum terlambat !” Dan
diapun lalu meloncat begitu saja ke depan guha dan tubuhnya meluncur ke bawah, ke arah air
laut !
Tang Ki atau Kiki yang sejak pertemuan itu tadi seringkali mengerling ke arah Ci Kong,
pemuda yang pernah menolongnya, kini menghampiri pemuda itu. “Ci Kong, mari ikut aku
Pedang Naga Kemala > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com 377
melarikan diri. Tidak ada jalan lain untuk melarikan diri selain seperti yang dianjurkan oleh suhu
tadi.” Sebelum pemuda itu sempat menjawab, gadis itu telah menarik tangannya ke tepi tebing
depan guha.
Melihat air laut jauh di bawah, di tempat yang amat curam itu, tentu saja Ci Kong merasa
ngeri. “Ah, kau hendak mengajak aku bunuh diri ?” tanyanya kepada Kiki.
“Kau masih tidak percaya padaku ? Baiklah, kalau bunuh diri juga berdua dengan aku.
Nah, siaplah !” Gadis itu lalu menarik tangan Ci Kong dan keduanya meloncat ke bawah ! Ci
Kong terkejut sekali akan tetapi karena dia mendapat kenyataan bahwa gadis itupun meloncat
bersama dia, maka dia mulai percaya dan membiarkan dirinya jatuh bersama gadis itu yang masih
memegang pergelangan tangannya.
“Tahan napas dan jatuhkan dirimu dengan tegak lurus !” Kiki sempat berkata sebelum
tubuh mereka menimpa air. Ci Kong melupakan rasa ngerinya dan diapun menahan napas,
mencoba untuk mengatur keseimbangan tubuhnya. Akan tetapi tetap saja dia menimpa air dengan
pinggul lebih dulu.
“Byurrrr .......... ! Keduanya tenggelam dan Ci Kong merasa pinggulnya sakit bukan
main. Akan tetapi gadis itu masih memegang lengannya dan kini mereka cepat timbul kembali ke
permukaan air. Ci Kong, gelagapan, akan tetapi tubuhnya tidak tenggelam karena Kiki telah
mencengkeram pundaknya.
“Ke sini ………. !” Terdengar suara Hai-tok dan ternyata kakek itu telah mendayung
sebuah perahu yang memang disembunyikan di bawah tebing untuk keperluan darurat. Kiki
berenang sambil menarik tubuh Ci Kong dan keduanya dapat naik ke dalam perahu itu.
Sementara itu, melihat betapa Ci Kong, Kiki dan Hai-tok sudah meloncat ke bawah,
banyak orang mengikuti jejak mereka. Berlompatanlah mereka ke bawah dan tubuh mereka
diterima air laut dengan lunak. Di situ sudah ada Hai-tok dan muridnya, keduanya adalah ahliahli
renang yang amat mahir, yang cepat menolong mereka itu naik ke dalam perahu. Di antara
tigapuluh orang itu, ada sepuluh orang yang tertinggal di atas, mengamuk dan membunuh banyak
anggauta pasukan pemerintah untuk akhirnya tewas dikeroyok ratusan orang. Tak seorangpun di
antara mereka yang mau menyerah, dan merekapun tewas setelah merobohkan dan membunuh
puluhan orang pengeroyok. Yang lainnya, kurang lebih duapuluh orang, telah selamat berada di
perahu yang disediakan oleh Hai-tok di bawah tebing karang yang curam itu dan kini perahu itu
bergerak perlahan menyusuri pantai dan akhirnya mendarat di bagian yang sunyi dan jauh dari
tebing itu.
“Terpaksa kita bubaran di sini dan kami merasa menyesal sekali setelah terjadi peristiwa
yang tidak terduga-duga ini. Baiklah, kita saling berpisah karena aku harus mempersiapkan diri.
Pemerintah tentu tidak akan tinggal diam dan Pulau Layar tentu akan diserbu. Mari kita berlumba
untuk mendapatkan harta karun itu dan peristiwa tadi makin mempertebal tekadku untuk
membantu perjuangan menumbangkan kekuasaan penjajah Mancu !” demikian Hai-tok berkata
dengan penuh semangat, kemudian bersama Kiki dia menggerakkan perahu kembali ke tengah
lautan menuju ke Pulau Layar. Sementara itu, para tamu yang berhasil diselamatkan, termasuk
Pedang Naga Kemala > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com 378
tiga orang di antara Empat Racun Dunia bersama murid mereka, Siauw-bin-hud dan Ci Kong,
segera meninggalkan tempat itu dengan berpencar.
Akan tetapi Siauw-bin-hud menahan Thian-tok, San-tok, dan Tee-tok. “Omitohud ..........,
sungguh sayang sekali bahwa perundingan yang baik dan sudah mulai berhasil itu diganggu
penyerbuan pasukan pemerintah. Bagaimana kalau pinceng mengundang kalian bertiga bersama
murid-murid kalian untuk melanjutkan perundingan sambil bersembunyi dari pengejaran pasukan
ke dalam kuil Siauw-lim-si yang tua dan tidak begitu jauh dari sini ?”
Tee-tok segera menyatakan kesediaannya. “Bagus, aku memang ingin sekali bercakapcakap
sebagai sahabat dengan Siauw-bin-hud yang sudah sekian lamanya kekagumi namanya dan
sudah kukenal kehebatannya sejak dahulu. Aku ingin minta banyak petunjuk darimu, Siauw-binhud.”
Akan tetapi Thian-tok mengerutkan alisnya. “Hwesio tua, kiranya sudah cukup kita bicara
tadi. Terlalu banyak bicara tidak ada gunanya bagiku. Dari tangankulah Giok-liong-kiam hilang
dan karena itu, aku merasa paling tertekan dan paling besar kewajibanku untuk merampas
kembali pedang itu, dibantu oleh dua orang muridku ini. Siu Coan, Seng Bu, mari kita pergi !”
Guru dan dua orang muridnya itu lalu pergi setelah siu Coan dan Seng Bu berpamit.
“Bagaimana dengan engkau, San-tok ?”
San-tok saling pandang dengan muridnya, lalu dia berkata, “Aha, sesungguhnya akupun
masih kangen kepada kalian dan ingin bicara panjang lebar dan saling bertukar pikiran. Akan
tetapi aku harus membagi tugas dengan muridku.” Lalu dia berkata kepada Lian Hong, “Hong
Hong, engkau tahu apa yang harus kaulakukan. Biarlah ini merupakan ujian bagimu. Dapatkan
pusaka itu lalu bawa kepadaku. Nah, pergilah sekarang juga.”
“Tapi, suhu .......... bagaimana dengan .......... sumoi ……….?”
San-tok terbelalak, nampaknya bingung dan terheran-heran. “Apa ? Sumoi ..........? Ah,
benar, anak itu ..........!” Dia teringat bahwa yang dimaksudkan oleh muridnya adalah Diana.
Hampir lupa dia kepada gadis bule yang menjadi muridnya itu. Sialan !
“Persetan ……….”
“Suhu, kalau suhu bersikap demikian, aku tidak akan mau melaksanakan perintah !” Lian
Hong berkata dengan sikap tegas sehingga San-tok merasa kewalahan dan agak kemalu-maluan
karena di depan dua orang kakek itu muridnya berani menantangnya.
Benar saja, Tee-tok sudah tertawa mengejek. “Huh, mampus kau, Jembel Gunung ! kau
keras kepala, muridnya lebih keras kepala lagi. Mau kulihat siapa yang menang !”
San-tok menghela napas. “Sudahlah ………. Memang nasibku yang sial. Baik, pergilah,
Hong Hong, aku akan mengurus anak setan itu.”
Pedang Naga Kemala > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com 379
Jilid XVI *****
Tapi, suhu, berjanjilah dulu bahwa suhu tidak akan mencelakainya.”
“Anak bandel ! Apa kaukira aku sudah gila, mencelakai murid sendiri ?” Tapi melihat
sinar mata muridnya, dia mengangguk-angguk. “Baiklah, baiklah, aku berjanji ……….”
Lian Hong merasa lega. Ia mengenal baik gurunya yang juga seperti kakeknya sendiri itu.
San-tok memang seorang tokoh atau datuk sesat yang memiliki watak aneh dan tergolong ganas
dan buas, tidak mengenal arti perikemanusiaan atau sopan santun, tidak perduli akan segala tata
cara atau kesusilaan. Akan tetapi, di balik itu semua terdapat suatu watak yang gagah perkasa
atau menghargai kegagahan dan sekali gurunya itu berjanji, dia tidak akan mau melanggar
janjinya sendiri seperti sikap seorang yang menjunjung tinggi kegagahan. Maka, setelah
memperoleh janji suhunya, ia lalu memberi hormat kepada semua orang dan pergi dari situ
dengan ilmu lari cepatnya yang membuat bangga San-tok dan membuat kagum semua orang.
“Siancai, muridmu itu memang hebat, San-tok,” kata Siauw-bin-hud, teringat akan
pertemuannya pertama dengan Lian Hong yang menyerang dan memukul kepalanya.
“Ha – ha – ha, berkat kebaikan budimu ia memperoleh kemajuan, hwesio tua,” jawab
San-tok . “Akan tetapi sekarang aku harus memisahkan diri untuk menjemput anak setan itu.”
“Aha, kiranya si jembel gunung mempunyai seorang murid perempuan lagi yang disebut
sumoi oleh muridmu tadi ?” Tee-tok berkata. San-tok yang biasanya suka senyum-senyum terus
itu kini agak cemberut. Teringat betapa muridnya yang ke dua ini seorang gadis bule dan belum
bisa apa-apa, sungguh tak dapat dibanggakan sama sekali, hatinya tak senang.
Dia tidak menjawab pertanyaan Tee-tok, melainkan bertanya kepada Siauw-bin-hud di
mana letaknya kuil yang dimaksudkan. Setelah diberi tahu, dia lalu meloncat dan pergi dari situ
untuk menjemput Diana yang ditinggalkan di sebuah kuil tua yang rusak.
Sementara itu, Siauw-bin-hud dan Ci Kong melakukan perjalanan menuju ke kuil yang
dimaksudkan Siauw-bin-hud bersama Tee-tok dan Ciu Kui Eng. Dua orang kakek itu bercakapcakap
di sepanjang perjalanan dan dua orang muda-mudi itu berjalan di belakang mereka. Karena
Ci Kong dan Kui Eng pernah bertemu, bahkan berkenalan secara mengesankan sekali, mula-mula
berkelahi dan Ci Kong pernah menyelamatkan Kui Eng dari pengeroyokan pasukan pemerintah,
maka setelah kini ada kesempatan, keduanya juga bercakap-cakap dengan lirih.
Sejak pertemuannya yang pertama dengan Kui Eng, hati Ci Kong memang telah tertarik.
Dia merasa kagum dan suka kepada gadis itu, walaupun gadis itu adalah puteri mendiang Ciu
Lok Tai atau Ciu Wan-gwe yang pernah mencelakakan ayahnya. Dia sama sekali tidak melihat
watak jahat dalam diri gadis ini. Sebaliknya malah, biarpun gadis ini menjadi murid seorang
datuk sesat seperti Tee-tok, namun jelas bahwa gadis ini berwatak gagah perkasa, penentang
kejahatan dan bahkan bersemangat besar untuk menjadi seorang pahlawan, seorang patriot yang
membela tanah air dan bangsa !
Pedang Naga Kemala > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com 380
Ci Kong tidak tahu tentang cinta. Dia tidak tahu apakah dia mencinta gadis ini, akan tetapi
yang jelas, dia merasa kagum dan suka kepada gadis yang bermata tajam, berwatak keras agak
angkuh namun gagah perkasa, galak akan tetapi manis dan kalau tersenyum bukan main
manisnya itu.
“Nona, apa saja yang telah kaualami semenjak pertemuan kita yang pertama dahulu itu ?”
tanyanya lirih.
Kui Eng tersenyum dan mukanya menjadi agak kemerahan. Ia masih teringat betapa
dalam keadaan pingsan dikeroyok pasukan, ia pernah ditolong pemuda ini yang memondongnya
dan membawanya keluar dari kepungan. Dan betapa ia salah sangka, bukannya berterima kasih
bahkan menyerang pemuda ini. Kemudian, betapa Ci Kong sama sekali tidak merasa menyesal
atau sakit hati atas perlakuannya yang tidak patut, sebaliknya pemuda itu bahkan membantunya
mengangkat jenazah keluarganya untuk dikuburkan dengan sepatutnya walaupun amat sederhana.
Perpisahan antara mereka adalah perpisahan dua orang sahabat dan di lubuk hatinya, Kui Eng
selalu terkenang kepada pemuda itu dengan perasaan hati kagum dan berterima kasih.
“Aku hanya membantu gerakan orang-orang gagah yang melawan pasukan pemerintah,
dan kadang-kadang juga melakukan pembersihan terhadap penjahat-penjahat yang sengaja
bersikap semena-mena dan merajalela di dusun-dusun dalam keadaan perang yang kacau itu. Ada
kalanya kami dengan kawan-kawan menghadang pasukan kulit putih dan mengganggu mereka.
Dan kau ?”
“Ah, selama ini aku tidak melibatkan diri dengan perang, tidak berpihak mana-mana
sesuai dengan sikap Siauw-lim-pai selama ini. Aku hanya menentang kejahatan dan membela
mereka yang lemah membutuhkan bantuan saja. Akan tetapi sekarang keadaannya sudah berubah
banyak. Agaknya Siauw-lim-pai juga melihat bahwa tanah air dan bangsa harus dibela.”
“Pernahkah engkau berhasil mencari Giok-liong-kiam ?” tanya pula Kui Eng.
Pemuda itu menggeleng kepala. “Bertemu dengan yang bernama Koan Jit itupun belum
pernah. Dan Kau ?”
Kui Eng tersenyum. Pertanyaan yang duajukan pemuda ini sama benar dengan yang
dilakukannya tadi, singkat namun akrab sekali. “Wah, aku hampir celaka di tangan iblis itu.
Koan Jit itu memang lihai bukan main. Aku pernah bertemu dengan dia dan bahkan kami
berkelahi, akan tetapi dia berhasil menawanku dengan obat bius. Aku pasti telah celaka di
tangannya kalau saja tidak tertolong oleh adik Lian Hong ..........”
“Murid San-tok tadi ?”
“Benar, adik Hong sungguh hebat. Karena pertolongannya maka sampai sekarang aku
masih bernapas, tentu saja juga karena pertolonganmu dahulu.”
“Dan kalian berhasil mendapatkan Giok-liong-kiam ?”
Pedang Naga Kemala > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com 381
Kui Eng tersenyum dan melirik. “Kalau sudah kami dapatkan perlu apa sekarang ributribut
? Kami hanya mampu mengusir Koan Jit, akan tetapi tidak pernah melihat pedang pusaka
itu. Entah kalau adik Lian Hong karena sejak itu, baru tadi kami saling jumpa, dan belum sempat
kami bercakap-cakap.”
Tidak begitu leluasa mereka bercakap-cakap karena mereka berdua berjalan di belakang
dua orang kakek yang berjalan di depan mereka. Benar seperti yang dikatakan kakek Siauw-binhud,
tak lama kemudian merekapun tiba di sebuah kuil yang tersembunyi di dalam hutan kecil di
daerah lereng bukit. Kuil itu selain menjadi tempat pertapaan beberapa orang hwesio Siauw-limsi
yang suka akan keheningan dan kesunyian, juga melayani beberapa buah dusun di sekitar bukit
itu.
Hanya ada lima orang hwesio di kuil sederhana dan tua itu. Mereka ini terkejut bukan
main melihat kedatangan Siauw-bin-hud. Dengan berlutut mereka menyambut dengan segala
kehormatan karena kepala hwesio itu masih terhitung cucu murid Siauw-bin-hud.
“Ha-ha, pinceng hanya akan merepotkan kalian,” kata Siauw-bin-hud. “Karena kami dan
kawan-kawan dikejar-kejar pasukan, kami akan beristirahat di sini dan pinceng ingin meminjam
sebuah ruangan untuk bercakap-cakap dengan beberapa orang sahabat.”
“Tentu saja teecu terima dengan senang hati dan merasa mendapat kehormatan yang
takkan teecu lupakan selama hidup !” kata para hwesio itu dan memasuki kuil dan membawa
mereka ke ruangan belakang yang luas, bersih dan berhawa jernih karena menghadapi kebun
terbuka.
Mereka lalu duduk, menerima hidangan air minum dan makanan sederhana, bercakapcakap
sambil menanti kedatangan San-tok.
Hati San-tok masih merasa tak senang dan mendongkol ketika tiba di kuil tua di mana dia
dan Lian Hong meninggalkan Diana. Kalau menurut kata hatinya, ingin dia meninggalkan gadis
bule itu atau bahkan kalau perlu membunuhnya agar tidak merepotkannya lagi. Dia mempunyai
murid seorang gadis kulit putih berambut kuning emas bermata biru ? Huh ! Seperti setan ! Apa
lagi kalau diingat betapa orang-orang kulit putih telah mendatangkan malapetaka di negerinya.
Sepatutnya dia membunuhi semua orang kulit putih ! Racun madat mereka sebarkan di antara
rakyat, ditukar dengan kekayaan rakyat. Mereka itu berpesta pora di atas mayat-mayat rakyat
karena kalau dilanjutkan penyebaran madat yang dijual mahal itu, akhirnya orang-orang kulit
putih yang menjadi kaya raya sedangkan rakyat menjadi miskin habis-habisan dan selain miskin
juga tubuh mereka menjadi rusak !
Ketika dia menyelinap ke dalam kuil. Dia melihat Diana sedang duduk bersila dan tekun
bersamadhi. Huh, gadis bule itu telah mendapat latihan-latihan permulaan dalam ilmu siulian dari
Lian Hong. Memang muridnya itu mengajarkan siulian (Samadhi) hanya untuk mengajar gadis
bule itu menjaga keselamatan badannya dan menenangkan batinnya.
Melihat betapa seorang diri di kuil tua itu, yang amat sunyi, Diana tekun melatih diri,
berkuranglah rasa tidak suka di hati San-tok. Bagaimanapun juga, gadis bule ini memang benar
Pedang Naga Kemala > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com 382
memiliki semangat besar dan tekun belajar. Orang dengan kemauan dan semangat sebesar ini
dapat diharapkan akan memperoleh kemajuan pesat.
San-tok memberatkan langkah kakinya sehingga terdengar suara keras dan lantai kuil
itupun tergetar. Diana terkejut, membuka matanya dan begitu dilihatnya kakek yang menjadi
gurunya itu telah berada di situ, ia cepat bangkit dengan muka cerah. Sepasang matanya yang
biru itu memandang dengan berseri-seri.
“Ough, kiranya suhu yang datang ? Mana suci (kakak seperguruan) Lian Hong ?”
Kembali perasaan tidak suka menyelinap di hati kakek itu. Matanya begitu biru, seperti
mata iblis dalam dongeng, rambutnya seperti benang emas. Sungguh menyeramkan dan
menjijikkan ! Dan menyebut dia “suhu” begitu mesra, juga menyebut Hong Hong “suci”.
Menyebalkan. Akan tetapi dia segera teringat akan janji-janjinya kepada gadis bule ini untuk
mengambilnya sebagai murid, juga janjinya kepada Lian Hong tadi bahwa tidak akan mencelakai
Diana. Kakek itu menarik napas panjang, tidak segera menjawab pertanyaan Diana.
“Mari kau ikut bersamaku, Diana. Hong Hong sedang melaksanakan tugas.” Tanpa
banyak cakap lagi dia lalu melangkah keluar dari kuil itu. Diana cepat mengejarnya dan kakek itu
berjalan cepat sekali sehingga Diana terpaksa harus berlari-larian untuk dapat mengimbangi
kecepatannya. Karena tidak pernah berlatih lari terus-terusan seperti itu, maka tak lama kemudian
Diana sudah terengah-engah berlari di samping San-tok yang masih berjalan seenaknya. Dia tidak
perduli melihat gadis itu sudah terengah-engah dan melangkah terus dengan langkah-langkah
lebar. Diana hampir tidak kuat lagi, akan tetapi gadis ini memiliki keangkuhan dan kekerasan
hati, sama sekali tidak ingin memperlihatkan kelemahannya, apa lagi di depan gurunya ! Ketika
kedua kakinya tersandung batu, membuat ia terhuyung, hampir ia tidak kuat karena napasnya
semakin memburu. Akan tetapi ia lalu teringat akan cerita Lian Hong bahwa belajar silat tidaklah
mudah, harus berani menghadapi segala macam kesukaran dan bahkan guru mereka, seperti guruguru
lain yang mengajarkan ilmu silat, sering kali menguji murid-muridnya. Wah, ini tentu
merupakan ujian dari gurunya, pikir Diana. Karena itu, sampai bagaimanapun juga, ia sama
sekali tidak boleh memperlihatkan kelemahannya ! Pikiran ini, secara aneh sekali, mendatangkan
semangat dan juga kekuatan sehingga kalau tadi napasnya sudah hampir putus kini ia merasa kuat
lagi dan berjalan setengah berlari dengan penuh semangat ! Kakinya merasa ringan, dan
napasnya tidak memburu lagi seperti tadi. San-tok melihat perubahan itu dan dia merasa heran,
akan tetapi juga kagum. Tadi dia tentu saja melihat betapa gadis itu sudah hampir tidak kuat dan
dia merasa girang sekali dapat menyiksanya . Dia ingin melihat gadis itu roboh tidak kuat agar
dapat dia memarahi dan mengejek, agar ia tidak tahan dan tidak suka menjadi muridnya. Akan
tetapi napas yang hampir putus itu kini tersambung kembali dan semangat yang hampir runtuh itu
bangkit kembali ! Mau tidak mau dia merasa kagum juga dan mengerti bahwa gadis ini memang
memiliki tekad yang amat besar.
Akhirnya tibalah mereka di kuil Siauw-lim-si itu. Dua orang hwesio penghuni kuil itu
yang menyambut di luar, terbelalak keheranan melihat betapa tamu yang berpakaian tambaltambalan
itu datang bersama seorang gadis bule yang rambutnya kuning emas dan matanya biru !
Biarpun gadis itu mengenakan pakaian petani dan gerak-geriknya seperti seorang gadis pribumi,
namun jelaslah bahwa gadis itu seorang gadis kulit putih. Memang ada orang bule di negeri ini,
akan tetapi biarpun orang bule itu memiliki kulit putih dan bulu yang keputih-putihan pula,
Pedang Naga Kemala > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com 383
namun rambutnya tidak kuning emas dan matanya tidak biru seperti itu !Akan tetapi karena
mereka berdua sudah menerima tugas untuk menyambut tamu-tamunya, mereka memberi hormat
dan mempersilahkan San-tok dan Diana untuk langsung saja masuk ke ruangan belakang kuil di
mana tamu-tamu terdahulu sudah berkumpul.
Dengan langkah lebar San-tok memasuki ruangan itu, meninggalkan Diana di
belakangnya. Dengan gembira dia melihat bahwa Siauw-bin-hud dan Tee-tok sudah duduk
bersila di atas lantai beralaskan bantal-bantal untuk siulian, dan juga murid hwesio itu bersama
murid Tee-tok berada di situ. Mereka berempat menyambut kedatangannya dengan pandang mata
gembira akan tetapi mata mereka terbelalak ketika melihat munculnya Diana di belakang Santok.
Jadi murid ke dua dari San-tok adalah seorang gadis kulit putih ? Hampir mereka tak
percaya. San-tok tentu saja merasakan keheranan dan kekagetan semua orang itu dan untuk
mengurangi rasa tak enak di hatinya itu diapun cepat-cepat menghampiri mereka, berlutut dan
hendak duduk bersila seperti yang lain.
“Kau ……….! Kau ………. Penolongku yang budiman itu ……….!” Tiba-tiba Diana
berseru dengan suara gembira bukan main dan selagi semua orang masih bengong memandang
kepadanya, gadis ini lalu berlari menghampiri Ci Kong. Pemuda inipun masih terheran-heran
melihat Diana datang bersama San-tok dan tadinya dia tidak ingat siapa adanya gadis bule itu.
Akan tetapi begitu Diana berteriak kepadanya, dia teringat bahwa itu adalah gadis yang pernah
ditolongnya ketika diculik oleh tukang-tukang pukul dari Kanton yang hendak memaksa gadis itu
pulang ke kota.
“Ah, aku girang sekali bertemu denganmu di sini dan aku berterima kasih sekali !” Diana
tiba-tiba menjatuhkan diri berlutut di depan Ci Kong dan ..........” cup ! cup ! ia telah mencium
kedua pipi Cio Kong !
Tentu saja peristiwa ini membuat semua orang menjadi bengong. Ci Kong sendiri tak
mampu mengelak karena selain dia sama sekali tidak mengira akan dicium begitu saja oleh gadis
bule itu di depan orang banyak, juga dia terlalu kaget, malu dan bingung sehingga ketika dicium
kedua pipinya, dia hanya terbelalak saja ! Ciu Kui Eng hampir menjerit dan menggunakan jari
tangan menutupi mulut untuk menahan jeritnya. Tentu saja gadis inipun merasa kaget setengah
mati dan sukar mengatakan perasaan apa yang memenuhi hatinya saat itu. Perbuatan seorang
wanita mencium pria begitu saja di depan banyak orang, baginya merupakan suatu perbuatan
yang amat tidak patut dan tidak tahu malu ! Akan tetapi iapun melihat kewajaran dari sikap gadis
bule itu, seolah-olah ia tidak pernah melakukan suatu kesalahan dan sikapnya benar-benar sikap
seorang yang merasa amat gembira bertemu dengan orang yang agaknya selalu dibuat kenangan.
Siauw-bin-hud hanya tersenyum lebar melihat adegan itu, walaupun alisnya yang putih
panjang itu agak berkerut. Sebagai seorang yang sudah memiliki pengalaman luas dan batin yang
kokoh kuat, Siauw-bin-hud tidak heran melihat adegan itu dan dia tahu bahwa gadis itu
menyatakan kegembiraan dan terima kasihnya secara langsung menurutkan gejolak hatinya, akan
tetapi betapapun juga dia merasa betapa perbuatan gadis ini tentu mengguncangkan perasaan
semua orang yang hadir di situ, terutama sekali membuat muridnya, Ci Kong, berada dalam
keadaan yang serba salah. Hwesio yang menjadi ketua kuil itu, yang tadi bangkit berdiri
menyambut tamu barunya, berdiri bengong dan tak dapat bergerak seperti telah berubah menjadi
arca. Juga Tee-tok mengerutkan alisnya dan melirik dengan perasaan tidak senang berbayang di
Pedang Naga Kemala > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com 384
wajahnya. Tee-tok diam-diam mengharapkan untuk dapat menjodohkan muridnya dengan
pemuda didikan Siauw-bin-hud itu, maka kini melihat pemuda itu diciumi oleh seorang gadis
bule di depan umum, sungguh membuat hatinya merasa tidak nyaman.
Yang paling terkejut setengah mati adalah San-tok. “Ya ampuuunnn ……….!”
Demikian dia mengeluh dan memandang dahinya sendiri, matanya terbelalak, mulutnya melongo
dan dia merasa malu dan marah bukan main. Rasa tidak sukanya kepada Diana semakin menebal.
Sungguh sialan, pikirnya. Perempuan bule ini benar-benar membikin malu saja dengan ulahnya
yang ganjil dan tidak sopan, amat memalukan dia yang menjadi gurunya, yang membawa masuk
ke kuil ini. Padahal, diam-diam seperti halnya Tee-tok, San-tok ini juga mempunyai keinginan
untuk menjodohkan muridnya, Lian Hong, dengan Ci Kong yang dikaguminya. Bukankah pernah
dia menyalurkan sinkang membantu pemuda ini di waktu masih kecil seperti halnya Siauw-binhud
membantu Siauw Lian Hong ? Bukankah perbuatan dan sikap mereka berdua sebagai orangorang
tua, yang dilakukan tanpa sengaja, seperti sudah memberi tanda ikatan jodoh, antara dua
orang anak itu ?
“Anak gila ! Apa yang kaulakukan ini ?” San-tok membentak keras dan kalau saja di situ
tidak hadir orang-orang sakti yang dikaguminya, mungkin dia sudah turun tangan memukul mati
gadis kulit putih itu.
Diana seperti baru sadar dan ketika ia menengok, ia melihat betapa semua orang
memandang kepadanya dengan aneh. Baru teringatlah ia bahwa perbuatannya yang spontan tadi
merupakan perbuatan yang ganjil dan asing bagi mereka ini, mungkin dianggap tidak sopan,
maka mukanya tiba-tiba menjadi merah sekali.
“Suhu, pendekar ini pernah menyelamatkan aku dari tangan anggauta pasukan Hui-houwtin
yang dipimpin oleh Koan Jit. Aku belum sempat mengucapkan terima kasih karena dia sudah
cepat melarikan diri. Kini, berjumpa dengan penolongku di tempat ini, hal yang sama sekali tidak
kuduga-duga, aku menjadi gembira sekali dan ingin menyampaikan rasa terima kasihku
kepadanya.”
“Benarkah itu, orang muda ?” San-tok bertanya sambil memandang kepada Ci Kong.
Pemuda itu masih bengong. Dapat dibayangkan betapa bingungnya rasa hati pemuda ini.
Dia diciumi begitu saja, di depan orang banyak, terutama di depan Kui Eng ! Bagaimana Kui
Eng akan menanggapi adegan yang memalukan tadi ? Celaka, dia sampai tidak berani
mengangkat muka bertemu pandang dengan Kui Eng. Dia merasa malu sekali.
Mendengar pertanyaan San-tok, Ci Kong mengangguk. “Benar, locianpwe.” Lalu dia
menoleh ke arah Diana dan menegur halus, “Nona, perbuatanmu tadi tidak sepatutnya. Sungguh
tidak sopan melakukan perbuatan terima kasih seperti itu, di depan orang banyak pula.”
Diana sudah menyesali perbuatannya tadi. “Maafkan aku, maafkan. Sungguh aku
melakukannya tanpa kusadari, saking gembiranya rasa hatiku. Sejak engkau menolongku lalu
pergi begitu saja, aku merasa menyesal bukan main. Kini, tanpa kuduga-duga, aku berjumpa
denganmu di sini, maka aku terdorong oleh luapan hati yang gembira. Maafkan ……….”
Pedang Naga Kemala > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com 385
Ketika ia melihat bahwa semua orang masih kelihatan bingung dan kacau, ia melanjutkan katakatanya
dengan cepat, “Maaf, sungguh bukan maksud saya untuk bersikap tidak sopan. Sekarang
saya teringat bahwa perbuatanku tadi dapat dianggap tidak sopan, akan tetapi, sesungguhnya
bukan demikian maksudku. Saya ………. saya berterima kasih, bersukur sekali telah dapat
bertemu dengan pendekar yang selama ini selalu kukenang dengan hati penuh penyesalan karena
belum sempat saya mengucapkan terima kasih. Ciuman ………. eh, tadi itu merupakan
pernyataan terima kasih dan kegembiraan, bukan ………. bukan tidak sopan ..... ah, saya harap
anda sekalian dapat memaklumi .....”
Melihat sikap gadis bule ini yang demikian penuh penyesalan dan wajar, dan mendengar
betapa gadis asing itu dapat bicara dengan gaya yang demikian lancar, sopan dan sejujurnya, di
dalam hati semua orang kecuali San-tok, telah timbul perasaan simpati dan mereka mau
memaafkan. Bahkan Kui Eng lalu tersenyum ramah.
“Sobat, engkau cantik sekali dan jujur. Siapakah namamu ?” Kui Eng menegur dengan
ramah.
Diana memandang kepada gadis itu dan iapun kagum. Seorang gadis yang manis, dan
kelihatan begitu gagah. “Namaku Diana, dan siapakah engkau, sobat yang manis ?”
Kui Eng tersenyum gembira. Baru bicara sedikit saja, ia sudah mulai suka kepada gadis
bule ini, gadis dari bangsa yang dianggap musuhnya. “Namaku Ciu Kui Eng.”
“Kui Eng, apakah engkau juga gagah perkasa dan lihai seperti suci Lian Hong ?”
Kui Eng tertawa. “Ah, mana aku bisa dibandingkan dengan adik Lian Hong yang lihai ?”
Tiba-tiba Tee-tok mengeluarkan suara ketawa nyaring. “Ha – ha, jembel gunung, inikah
muridmu itu ? Hemm, benar hebat kau, memilih murid dari bangsa kulit putih yang justeru
sedang kita tentang !”
San-tok menjadi serba salah, tidak mampu menjawab. Akan tetapi Diana sudah
menghadapi Tee-tok dengan sinar mata bernyala penuh kemarahan. “Kakek tua, kuharap engkau
sopan sedikit dan tidak menghina guruku. Apa kesalahan guruku kepadamu maka engkau berani
memaki dan menghinanya ?”
Kui Eng khawatir kalau-kalau gurunya marah dan turun tangan terhadap gadis asing ini,
maka iapun mendahului dan menghampiri Diana. “Diana, engkau adalah seorang gadis kulit
putih. Engkau tahu bahwa bangsamu sedang dimusuhi oleh bangsa kami. Bagaimana engkau kini
mendekati orang-orang seperti kami, bahkan menjadi murid San-tok, seorang diantara kami yang
memusuhi bangsamu ?”
Pertanyaan yang dilontarkan Kui Eng ini mewakili suara hati semua orang, bahkan juga
suara hati San-tok, maka mereka semua mendengarkan dengan penuh perhatian sambil
memandang wajah gadis bule itu.
Pedang Naga Kemala > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com 386
Diana menarik napas panjang, lalu menatap wajah Kui Eng, bahkan melepas pandang
matanya ke sekeliling sebelum menjawab dengan suara tegas dan jelas.
“Tidak salah, sobat, aku adalah seorang gadis kulit putih, berkebangsaan Inggeris. Juga
tidak salah bahwa bangsaku telah melakukan hal yang amat jahat terhadap bangsa kalian dan
tidak mengherankan kalau bangsaku dimusuhi di sini. Akan tetapi, justeru karena itulah aku tidak
mau kembali kepada bangsaku. Setelah aku bertemu dengan suci Lian Hong, dan aku merasakan
kehidupan di dusun-dusun, aku melihat betapa bangsaku telah berbuat jahat demi mencari
keuntungan. Aku merasa malu dan aku ingin sekedarnya menebus keburukan mereka dengan
bersaudara dengan rakyat, mempelajari kesenian rakyat, kebudayaannya, dan kemudian, siapa
tahu, dengan kepandaian yang dapat kupelajari di sini, aku akan dapat menentang dan
mengingatkan kesalahan bangsaku.”
“Omitohud .........., cita-cita ini amat luhur. Akan tetapi, nona, bagaimana kalau kelak
mereka tidak mendengarkan peringatan yang kauberikan ?”
Diana memandang hwesio tua itu dan diam-diam ia merasa tunduk. Hwesio ini memiliki
pandang mata yang demikian mencorong tapi lembut dan penuh pengertian mendalam seolaholah
di dunia ini tidak ada rahasia apa-apa lagi baginya.
“Lo-suhu,” katanya penuh hormat. “Kalau sampai mereka tidak mau menerima
peringatan yang akan saya berikan kelak, maka saya akan menggunakan segala kepandaian yang
ada pada saya untuk menentang perbuatan mereka yang jahat ! Demi untuk membela kebenaran
dan keadilan, saya rela mati di tangan bangsaku sendiri karena menentang mereka.”
“Siancai .......... gadis ini biarpun berkulit putih namun semangatnya besar dan berjiwa
pendekar. Engkau beruntung sekali mendapatkannya sebagai murid, San-tok.”
Akan tetapi hati San-tok tidak merasa gembira oleh ucapan Siauw-bin-hud ini, bahkan dia
lalu berkata kepada Diana, “Kau keluarlah dulu, aku mau bicara dengan mereka mengenai urusan
penting !”
Tentu saja wajah Diana berubah agak pucat. Ia sudah mendengar dari Lian Hong bahwa
kakek yang menjadi gurunya ini seorang yang aneh, kadang-kadang jahat dan kejam sekali
walaupun memiliki kesaktian. Akan tetapi tak disangkanya gurunya akan tega
memperlakukannya seperti ini, mengusirnya dari depan banyak orang secara merendahkan sekali.
Akan tetapi ia teringat akan pesan Lian Hong agar mentaati semua perintah suhunya, maka iapun
mengangguk dan mengundurkan diri, keluar dari ruangan belakang itu menuju ke kebun.
Melihat ini, Siauw-bin-hud merasa tidak enak. “Ci Kong, temanilah gadis itu. Sebagai
seorang tamu sudah sepantasnya ia kita sambut dengan baik.”
Tentu saja Ci Kong merasa tidak enak sekali. Sebetulnya, hatinya tidak keberatan untuk
menemani seorang seperti Diana yang walaupun seorang gadis kulit putih namun harus diakuinya
amat cantik, walaupun kecantikannya itu asing baginya. Namun, dia sedang berada di antara
tokoh-tokoh besar, bahkan terutama sekali di situ ada Kui Eng ! Dia akan merasa lebih senang
menemani Kui Eng dari pada gadis asing ini !
Pedang Naga Kemala > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com 387
“Kui Eng, engkaupun pergilah menemani mereka. Kami orang-orang tua mau bicara,” tiba-tiba
Tee-tok berkata. Ucapan ini menggirangkan hati Kui Eng yang segera bangkit dan turun ke kebun
itu, akan tetapi juga menggirangkan hati Ci Kong karena dengan adanya Kui Eng, tidak perlu lagi
dia merasa kaku dan malu-malu harus menemani Diana dari pada kalau dia berdua saja dengan
gadis bule itu.
Setelah tiga orang muda itu memasuki kebun dan tak nampak lagi dari ruangan itu, Santok
yang ingin segera menyampaikan keinginan hatinya lalu berkata, “Siauw-bin-hud, aku akan
menyampaikan suatu rahasia. Kebetulan sekali Tee-tok di sini, biarlah dia menjadi saksi.”
Siauw-bin-hud dapat menduga bahwa tentu kakek berpakaian tambal-tambalan itu hendak
menyampaikan hal yang amat penting sekali. Akan tetapi dia bersikap tenang saja dan berkata,
“Omitohud, pinceng siap mendengarkan, San-tok.”
“Tadinya, rahasia ini akan kusimpan sampai mati, karena memang aku ingin mengalihkan
perhatian seluruh tokoh-tokoh agar tidak mengetahui rahasiaku ini. Akan tetapi setelah kita
mengadakan pertemuan di tempat pesta Hai-tok, pendirianku berubah. Aku hendak bicara tentang
rahasia Giok-liong-kiam !”
Mendengar ini, Siauw-bin-hud yang biasanya tenang itupun kini mengangkat muka
memandang penuh perhatian. Apa lagi Tee-tok. Dia memandang rekannya dengan sinar mata
mencorong dan penuh curiga.
“Jembel gunung ! Jangan katakan bahwa engkau sudah merampas Giok-liong-kiam dari
tangan murid pertama Thian-tok yang murtad itu !”
San-tok mengangguk-angguk. “Terus terang saja, memang aku belum berhasil
menemukan Giok-liong-kiam, akan tetapi dapat dikatakan bahwa Giok-liong-kiam sudah berada
di tanganku ! Akan tetapi sebelum aku melanjutkan ceritaku yang akan membuka rahasia Giokliong-
kiam, aku ingin minta pendapat kalian lebih dulu.”
“Pendapat bagaimana ?” tanya Siauw-bin-hud.
“Bagaimana pendapat kalian tentang orang yang akan mampu menemukan harta karun itu
dan menyerahkannya untuk keperluan perjuangan menumbangkan pemerintah penjajah dan
menentang bangsa kulit putih ? Apa hadiah untuknya ?”
“San-tok, apakah kau masih pura-pura lagi ? Bukankah kau sendiri yang mengajukan
usul bahwa dia yang berhasil itu akan memperoleh pedang pusaka Giok-liong-kiam, dan
selanjutnya dianggap sebagai pahlawan dan jagoan nomor satu di dunia ?” Tee-tok menegur.
“Itu benar, dan hal itu sudah menjadi persetujuan bersama,” sambung Siauw-bin-hud.
“Aku tidak akan menyangkal persetujuan itu, Siauw-bin-hud, akan tetapi aku ingin
menambahkan sedikit, yaitu bahwa apa bila aku yang berhasil menemukan harta karun itu,
mengingat bahwa muridku Siauw Lian Hong yang banyak berjasa dalam hal itu, aku ingin agar
engkau suka menyetujui Hong Hong menjadi jodoh muridmu, Tan Ci Kong.”
Pedang Naga Kemala > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com 388
Mendengar ini, Tee-tok terkejut dan cepat mencela. “Ah, itu tidak ada sangkut pautnya
dengan urusan Giok-liong-kiam ! San-tok, baru saja aku hendak minta kepada Siauw-bin-hud
agar muridnya itu dijodohkan dengan muridku Ciu Kui Eng. Karena engkau sudah menyatakan
lebih dulu, biarlah akupun mengajukan pinangan dan kita lihat, siapa diantara murid-murid kita
yang akan diterima menjadi calon isteri murid Siauw-bin-hud .”
Kini Siauw-bin-hud yang merasa terkejut dan dia memandang kepada wajah dua datuk
sesat itu dengan hati yang agak cemas. Pinangan orang biasa saja merupakan hal yang wajar dan
menerima atau menolaknya merupakan peristiwa biasa yang takkanmendatangkan akibat apapun.
Akan tetapi pinangan orang-orang seperti mereka ini, kalau ditolak tentu akan mendatangkan
akibat apapun. Akan tetapi pinangan orang-orang seperti mereka ini, kalau ditolak tentu akan
mendatangkan akibat buruk, dan kini yang mengajukan pinangan sekaligus adalah dua orang !
Menerima yang satu tentu akan menolak yang lain dan dia menjadi serba salah. Akan tetapi,
Siauw bin-hud hanya sedetik dua detik saja dicekam kecemasan. Dia sudah tersenyum kembali.
“Omitohud, betapa lucunya kalian ini, ha – ha – ha – ha !” Kakek tua renta itupun
tertawa bergelak, suara ketawa yang halus dan penuh kegembiraan.
Sejenak dua orang datuk sesat itu saling pandang dengan sikap bermusuhan, akan tetapi
mendengar suara ketawa itu, San-tok berkata, “Siauw-bin-hud, apa engkau merasa terlalu tinggi
bagi orang macam aku ?”
“Engkau berani memandang rendah kepadaku, dan muridku tidak pantas menjadi jodoh
murid Siauw-lim-pai ?” Tee-tok juga menegur. Dua orang datuk sesat itu nampak penasaran
sekali dan siauw-bin-hud menarik napas panjang, akan tetapi masih tersenyum lebar. Baru
bayangan bahwa pinangan itu ditolak saja sudah membuat kedua orang datuk ini nampak
penasaran dan marah. Apa lagi kalau benar-benar ditolak ! Dia tidak takut akan ancaman
mereka, akan tetapi dia mengkhawatirkan perpecahan akan terjadi di antara mereka, pada hal
dalam menghadapi kekalutan tanah air, mereka sudah sepakat untuk bekerja sama.
“Siancai .......... harap kalian bersabar dan tidak mengambil keputusan dan pendapat
tergesa-gesa yang tidak tepat. Siapakah yang menolak dan siapakah yang menerima ? Kalian
tentu tahu bahwa perjodohan hanya dapat terlaksana kalau ada persetujuan kedua pihak, maksud
piceng pihak mereka yang tersangkut. San-tok, engkau mengajukan pinangan, apakah engkau
telah yakin bahwa muridmu itu mencinta Ci Kong ?”
Ditanya demikian, San-tok memandang bingung. “Aku tidak tahu, akan tetapi .......... ia
tentu mau, ia harus mau ..........”
“Bagaimana dengan engkau, Tee-tok, apakah muridmu itu mencinta Ci Kong ?”
“Wah, mana aku tahu ? Agaknya begitulah. Seharusnya begitu karena muridmu itu
seorang pemuda yang baik dan alangkah baiknya kalau kita menjadi besan ……….”
Siauw-bin-hud memperlebar senyumnya. “Omitohud, kalian ini dua orang tua yang
berpikiran singkat dan seperti kanak-kanak saja. Bagaimana kalian berani lancang mengajukan
pinangan kalau kalian belum tahu apakah murid-murid kalian itu mencinta cucu muridku, belum
Pedang Naga Kemala > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com 389
tahu apakah murid-murid kalian akan menyetujui ? Lancang, sungguh lancang ! Bagaimana
kalau andaikata pinangan kalian diterima kemudian ternyata bahwa murid-murid kalian itu tidak
setuju ? Bukankah ini berarti kalian menghina kepada yang dipinang ?”
Kembali dua orang datuk itu saling pandang dengan bingung. “Tidak, aku tidak
menghina, dan aku akan memaksa muridku untuk menyetujui !” kata San-tok.
“Akupun yakin muridku akan setuju, kalau ia menolak, akan kupaksa !”
“Nah, nah, itulah pikiran kekanak-kanakan, main paksa-paksaan. San-tok, pinceng sudah
melihat muridmu itu dan agaknya orang seperti ia tidak akan dapat dipaksa, apa lagi untuk
menikah dengan pria yang tidak dicintanya. Dan sekelebatan saja melihat muridmu, engkaupun
akan mengalami kesulitan yang sama, Tee-tok. Anak-anak seperti mereka berdua itu tidak akan
mudah ditundukkan, apa lagi menyangkut kehidupan mereka sendiri, kebahagiaan mereka
sendiri.”
“Hwesio tua, mengenai muridku, itu adalah urusanku sendiri, engkau tidak perlu ikut
campur. Yang penting, engkau terima atau tidak pinanganku ?” teriak San-tok.
“Benar, harus diputuskan sekarang siapa di antara kami yang pinangannya diterima, agar
tidak membuat kami ragu-ragu dan penasaran,” sambung Tee-tok tak mau kalah.
“Omitohud, kalian memang hanya anak-anak kecil belaka. Mana mungkin pinceng dapat
mengambil keputusan ? Kalau yang kalian pinang itu adalah pinceng, maka tentu saja
sekarangpun pinceng dapat mengambil keputusan ! Hei, San-tok dan Tee-tok, apakah kalian
meminang pinceng untuk dijodohkan dengan murid-murid kalian ?” Hwesio itu berkelakar untuk
mendinginkan suasana.
“Hwesio tua jangan pecengisan !” San-tok membentak, akan tetapi dari mukanya dapat
diketahui bahwa diapun merasa geli dan kemarahannya sudah banyak berkurang.
“Siapa sudi punya mantu seperti kau, tua bangka yang sudah tinggal menanti saatnya
saja ?” Tee-tok membentak.
Siauw-bin-hud tertawa bergelak. Kemudian dia berkata dengan suara yang serius, “Santok,
dengarkan baik-baik. Andaikata kedua murid kalian itu setuju dengan pinangan kalian,
andaikata mereka itu mencinta Ci Kong, itupun belum menjadi syarat bagi pinceng untuk
menerima pinangan kalian. Yang dipinang adalah Ci Kong dan ini sepenuhnya merupakan urusan
dan persoalan dia, maka keputusannya adalah di tangannya sendiri. Kalau dia suka menjadi suami
seorang di antara murid kalian, pincengpun setuju saja. Akan tetapi kalau dia tidak suka, siapapun
tidak akan dapat memaksanya. Dan pinceng kira kalian akan menjadi guru-guru yang bijaksana
kalau bertindak seperti yang pinceng lakukan.”
Dua orang datuk sesat itu kembali saling pandang dan agaknya mereka dapat melihat
kebenaran kata-kata pendeta itu. Mereka kinipun merasa ngeri kalau membayangkan watak
murid mereka masing-masing yang keras hati. Memang seharusnya bertanya dulu kepada anakanak
itu.
Pedang Naga Kemala > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com 390
“Baiklah, aku tunda dulu pinangan itu dan akan kurundingkan dulu dengan muridku. Asal
engkau tahu saja isi hatiku yang ingin berbesan denganmu,” kata San-tok.
“San-tok, kini engkau harus menceritakan apa rahasia tentang Giok-liong-kiam yang
kauketahui itu,” Tee-tok mendesak.
San-tok memandang kepada rekannya yang bertubuh pendek kecil berkepala botak
hampir gundul itu dan dia tertawa. “Heh-heh, engkau ini hwesio bukan tosupun bukan, pendeta
setengah matang, cerewet seperti perempuan bawel saja, tidak mau kalah dalam segala hal. Kau
mau tahu tentang Giok-liong-kiam yang diperebutkan itu ? Ha-ha, Giok-liong-kiam yang
diperebutkan itu, yang tadinya dirampas oleh Thian-tok dengan menggunakan nama Siauw-binhud,
kemudian dicuri kembali oleh Koan Jit, pedang itu adalah pedang Giok-liong-kiam yang
palsu.”
“Palsu .......... ??” Tee-tok berteriak, sedangkan Siauw-bin-hud juga memandang tajam
kepada San-tok. Tentu saja berita ini merupakan berita yang amat penting sekali. Namanya telah
dihebohkan karena pedang pusaka itu, bahkan dia telah mempergunakan waktu bertahun-tahun
untuk mencari perampas Giok-liong-kiam yang mempergunakan namanya. Bukan itu saja,
seluruh tokoh kang-ouw berebutan dan terjadi perkelahian-perkelahian, korban-korban nyawa,
dan semua itu untuk memperebutkan sebuah benda palsu !
“Ya, palsu, Giok-liong-kiam di tangan Koan Jit itu adalah pedang yang palsu, ha-ha !”
San-tok tertawa-tawa dengan gembira sekali.
“Aku tidak percaya !” Tee-tok membentak, mukanya merah karena dia mengira rekannya
itu mempermainkannya.
“Ha – ha – ha, kalau tidak percaya, pergilah kau mencari Koan Jit untuk memperebutkan
pedang palsu dengan dia. Ha-ha, memang orang seperti engkau ini lebih patut kalau
memperebutkan sebuah benda palsu dari pada mempercaya seorang seperti aku !”
“Omitohud, pinceng percaya ceritamu itu, San-tok,” kata Siauw-bin-hud dan suaranya
terdengar mengandung kekecewaan. Kalau dia bersusah payah selama bertahun-tahun dan
namanya dihebohkan hanya untuk urusan pedang palsu, itu bukan merupakan hal yang
mengecilkan hatinya sekarang ini. Akan tetapi yang mendatangkan kecewa adalah kenyataan
bahwa kalau pedang itu palsu, berarti harta karun itupun tidak akan bisa ditemukan. Mendengar
ucapan tokoh Siauw-lim-pai itu yang mempercayai cerita San-tok, Tee-tok menjadi ragu-ragu
dan diapun kini memandang kepada San-tok dengan penuh harapan untuk memperoleh
keterangan lebih lanjut.
“Hwesio tua, engkau memang belum pikun dan dapat berpikir secara bijaksana sekali.
Aku memang tidak berbohong.”
“Siancai .........., kalau begitu, musnahlah cita-cita kita bersama untuk mencari harta karun
agar dapat dipergunakan membiayai perjuangan rakyat ..........”
Pedang Naga Kemala > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com 391
“Ha – ha – ha, jangan khawatir, Siauw-bin-hud. Akulah yang akan menemukan harta
karun itu. Secara kebetulan aku mendapatkan keterangan tentang palsunya Giok-liong-kiam di
tangan Koan Jit itu dan bukan hanya itu yang kuketahui. Akupun mengetahui rahasia bagaimana
untuk dapat menemukan harta karun itu.”
“Kau membual !” teriak Tee-tok. “Kalau benar demikian, apa maksudmu menceritakan
kepada kami tentang kepalsuan Giok-liong-kiam ?” Tentu saja Tee-tok merasa curiga karena
biasanya, orang-orang seperti mereka, apa lagi Empat Racun Dunia, selalu mempergunakan
siasat dan tipu muslihat untuk mengelabui orang lain demi keuntungan diri sendiri. Maka,
keterangan San-tok ini tentu tak dapat ditelannya mentah-mentah begitu saja.
“Ha – ha – ha, dasar tolol tetap tolol ! Kalau tidak ada sebab-sebabnya, apa kaukira aku
begitu bodoh untuk menceritakan ini semua kepada orang seperti engkau, Tee-tok ? Sudah
kukatakan tadi, rahasia ini tentu saja kusimpan sendiri dan aku bersama muridku akan tertawa
geli sampai perut kaku melihat betapa kalian semua orang kang-ouw saling berlumba
memperebutkan pusaka yang berada di tangan Koan Jit itu. Tadinya aku memang ingin begitu,
melihat kalian seperti anjing-anjing berebutan tulang busuk, sedangkan aku diam-diam akan
mengambil dan menikmati harta karun itu. Akan tetapi, setelah pertemuan di pesta Hai-tok,
pendirianku berubah. Kita adalah rekan-rekan seperjuangan dan persatuan demi tanah air ini
membuat aku memaksa diri mengesampingkan kepentingan pribadi. Aku sengaja menceritakan
agar kalian tidak membuang-buang waktu memperebutkan pusaka palsu itu. Nah, belum juga
engkau menghaturkan terima kasih kepadaku, Tee-tok ?”
“Terima kasih hidungmu ! Engkau masih merahasiakan tempat harta karun dan akan
mengambilnya sendiri untuk memiliki Giok-liong-kiam tulen dan mendapatkan sebutan pahlawan
dan jagoan nomor satu ! Akan tetapi, mengenai perjodohan murid-murid kita, aku tidak mau
mengalah kalau engkau hendak memaksa Siauw-bin-hud menyerahkan muridnya !”
Mendengar nada suara menantang itu, San-tok mengerutkan alisnya dan menatap wajah
rekannya itu dengan tajam. “Kalau tidak mau mengalah, lalu kau mau apa ?”
“Mau apa ?” Tee-tok melompat berdiri dan sikapnya menantang sekali. “Hayo majulah,
kaukira aku takut padamu ?”
“Cacing pita ! Akupun tidak takut !” San-tok juga melompat berdiri.
“Omitohud, kalian ini benar-benar seperti anak kecil.” Siauw-bin-hud tahu-tahu sudah
berdiri di antara mereka. “Harta karun belum ditemuka, perjuangan belum dilakukan, dan kalian
sudang ingin saling genjot dan saling bunuh sendiri ? Pejuang-pejuang macam apa kalian ini ?
Celaka, kalau semua pejuang seperti kalian, belum apa-apa kita sudah kehabisan tenaga.”
Dua orang kakek yang sudah saling melotot itu sadar dan keduanya duduk kembali
dengan muka merah. “Wah, aku memang pelupa dan pemarah. Dia itu yang membikin darah
naik !” kata San-tok. “Maaf, Siauw-bin-hud. Menghadapi orang macam dia itu memang bisa
bikin orang lupa daratan !”
Pedang Naga Kemala > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com 392
Watak dan sikap dua orang datuk sesat ini memang menggelikan, seperti anak-anak saja
mereka itu. Akan tetapi, bukankah kita semua ini hanyalah anak-anak yang besar tubuhnya
saja ? Apa bedanya kita dengan anak-anak ? Masih selalu memperebutkan sesuatu, masih
cengeng, masih suka berkelahi, mesih mengejar-ngejar kesenangan ! Kalau orang yang susah
menjadi kakek berhadapan dengan anak cucunya, mungkin dia bersikap seperti seorang kakek.
Akan tetapi sikap ini sesungguhnya dipaksakan berhubung keadaan, karena malu dan merasa tua.
Akan tetapi, kumpulkanlah kakek-kakek itu dengan teman-teman sebayanya, maka akan kembali
menjadi anak-anak nakal ! Hal ini tentu dirasakan oleh kita semua yang mau melihat diri sendiri
dan tidak berpura-pura ! Kita ini hanya anak-anak besar tubuhnya. Tubuh kita memang tumbuh
menjadi besar, akan tetapi batin kita kadang-kadang bahkan semakin kecil, sarat dengan segala
macam kepalsuan dan pamrih-pamrih tersembunyi, sedangkan anak-anak belum mengenal
kepalsuan dan pamrih-pamrihnya tidak tersembunyi.
Karena merasa bersalah, Tee-tok lalu memperlihatkan sikap berbaik kembali dengan Santok.
Memang para datuk sesat itu aneh wataknya. Mudah tersinggung dan mudah marah sampai
tega membunuh kawan, akan tetapi juga tidak mendendam dan mudah melupakan perselisihan
antara mereka.
“Hei, San-tok. Engkau sudah mempunyai seorang murid perempuan yang baik, kenapa
engkau mengambil murid perempuan bule itu ? Untuk apa punya murid seperti itu ?”
“Aih, kau tidak tahu ! Siapa sudi mempunyai murid seperti itu ? Akan tetapi ini semua
gara-gara ulah muridku Hong-Hong. Ialah yang memaksaku menerima Diana sebagai murid, dan
aku diakali olehnya, kalah janji. Kalau aku tidak mau menjadi guru Diana, berarti aku menjilat
ludah sendiri. Sialan !”
Mereka lalu bercakap-cakap dengan Siauw-bin-hud, membicarakan keadaan tanah air dan
berita-berita yang mereka dengar tentang gerakan para pejuang, tentang kedudukan Koan Jit yang
kuat dan tentang cita-cita mereka untuk menumbangkan kekuasaan penjajah Mancu dan
menghalau kekuasaan asing kulit putih.
Sementara itu, Diana, Ci Kong dan Kui Eng berjalan-jalan di kebun yang luas itu. Mereka
lalu duduk di ujung kebun, jauh dari kuil, di bawah pohon yang rindang di mana terdapat bangkubangku
bersih yang seolah-olah tersenyum mempersilahkan mereka duduk. Tempat itu memang
nyaman sekali. Terdapat rumpun bambu yang gemersik tertiup angin, setiap ujung daun bergerak
sendiri-sendiri seperti memiliki kehidupan pribadi, padahal merupakan serumpun, dan semua
garis, semua lengkung, semua warna, antara cahaya dan bayangan, membentuk pandangan yang
mengandung kesenian bernilai tinggi.
Mereka tadi sudah berkenalan sambil berjalan-jalan dan hati Diana girang sekali telah
sempat berkenalan dengan penolongnya dan memperoleh sahabat baru yang demikian cantik
manis dan gagah perkasa. Diam-diam ia membandingkan Kui Eng dengan Lian Hong dan
biarpun hatinya lebih condong kepada sahabat lamanya itu, namun harus diakuinya bahwa teman
barunya inipun amat menarik dan mengagumkan.
“Ci Kong, sungguh aku minta maaf kepadamu atas peristiwa tadi. Aku tidak berniat buruk
sama sekali dan aku lupa diri.”
Pedang Naga Kemala > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com 393
Kui Eng tersenyum lebar melihat wajah pemuda itu menjadi merah sekali. “Tentu saja
engkau tidak berniat buruk dan perbuatanmu itupun tidak buruk, bahkan manis sekali, Diana !
Engkau tidak perlu minta maaf karena Ci Kong tentu senang juga dengan perbuatanmu tadi.”
Tentu saja Kui Eng berkata demikian untuk menggoda sehingga wajah pemuda itu menjadi
semakin merah.
“Sudahlah, Diana,” Ci Kong berkata dengan halus dan diapun merasa dekat dengan gadis
bule ini karena selain pandai sekali berbahasa daerah, juga gadis ini amat akrab, menyebut
namanya dan nama Kui Eng begitu saja sehingga mereka segera menjadi akrab dan dapat
bercakap-cakap tanpa sungkan-sungkan lagi. “Segala yang dilakukan tanpa unsur kesengajaan
untuk mengganggu orang lain adalah tidak salah. Perbuatanmu itu kaulakukan karena kebiasaan
cara hidup di negeri dan bangsamu. Akan tetapi di sini, perbuatan itu bisa dianggap tidak sopan,
dan amat mengejutkan orang yang melihatnya.”
“Aku tahu, tapi ketika aku melihatmu di sana, sungguh aku menjadi lupa diri dan hanya
menurutkan kegembiraan hati saja. Salahmu sih, dahulu itu kenapa engkau pergi begitu saja tanpa
pamit ? Coba kaubayangkan, Kui Eng, dia baru saja menyelamatkan nyawaku dari ancaman
maut, akan tetapi dia terus pergi tanpa pamit. Hati siapa takkan merasa menyesal ? Maka begitu
bertemu, aku begitu gembira sampai lupa diri.”
“Tentu saja, Diana,” kata Kui Eng. “Engkau tahu siapa Tan Ci Kong ? Biarpun namanya
saja cucu murid locianpwe Siauw-bin-hud, akan tetapi dia adalah muridnya, murid tunggal yang
memiliki kepandaian tinggi. Dia seorang pendekar Siauw-lim-pai dan seorang pendekar besar
memang selalu bertindak tanpa pamrih. Satu-satunya yang mendorong perbuatannya hanyalah
menentang kejahatan, melindungi yang lemah, dan membela kebenaran dan keadilan. Setelah
menyelamatkanmu, berarti tugasnya selesai dan perlu apa dia menanti balasan atau ucapan terima
kasih ?”
“Begitukah .......... ?” Diana memandang kepada Ci Kong dan matanya yang biru lebar itu
terbelalak penuh kagum. Mula-mula Ci Kong balas memandang, akan tetapi melihat betapa mata
biru amat indah dan lebar bening itu menatapnya seperti itu, dia tidak berani lama-lama
memandang. Sekarang dia mulai merasakan keindahan dan kecantikan wajah gadis bule ini !
“Wah, kalau begitu para pendekar di sini lebih hebat dari pada para ksatria dalam dongeng rakyat
di negeriku !”
“Bagaimana dengan pahlawan-pahlawan dan ksatria-ksatria di negerimu ?”
“Mereka juga pembela kebenaran dan keadilan, akan tetapi mereka masih ingin
memperoleh pahala, terutama sekali memperoleh hadiah gelar dan puteri.” Ia kembali
memandang wajah pemuda itu. “Jadi para pendekar di sini yang selalu siap menyumbangkan
tenaga dengan taruhan nyawa untuk membela kebenaran dan keadilan, selalu tidak pernah
menerima balas jasa apapun ?”
Kui Eng menggeleng kepala. “Kalau menerima balas jasa itu namanya bukan pendekar,
Diana. Seperti Ci Kong ini, bukan hanya tak pernah menerima balas jasa, bahkan sering
menerima air tuba sebagai balas air susu yang diberikan.”
Pedang Naga Kemala > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com 394
“Maksudmu ?”
“Dia menolong, akan tetapi yang ditolongnya membalasnya dengan kejahatan.”
“Ah, mana mungkin ?”
“Mungkin saja ! Pernah dia menyelamatkan seorang gadis yang terancam bahaya maut,
akan tetapi gadis yang diselamatkan nyawanya itu, tidak berterima kasih malah menyerangnya
dan hampir membunuhnya ……….”
“Kui Eng ………. ! Ci Kong mencoba untuk mencegah gadis itu melanjutkan.
Akan tetapi Kui Eng tersenyum, dan berkata, “Menceritakan hal yang sebenarnya terjadi,
tidak ada salahnya.”
“Ah, aku tidak percaya. Mana ada orang yang begitu jahat, diselamatkan nyawanya malah
menyerang dan hampir membunuh penolongnya dan tidak berterima kasih ? Tidak mungkin,
mana ada orang seperti itu ?”
“Inilah orangnya !” kata Kui Eng sambil menunjuk dada sendiri. “Ci Kong ini pernah
menolongku ketika aku dikepung pasukan pemerintah. Aku sudah terluka dan kehabisan tenaga
dan jatuh pingsan ketika Ci Kong menolongku, membawa aku keluar dari kepungan dan
menyelamatkan aku dari ancaman maut. Kalau tidak ada dia yang turun tangan, tentu aku sudah
mati. Akan tetapi begitu siuman dari pingsan, aku lalu menyerangnya mati-matian !”
“Ihhh ………. !” Diana berseru kaget dan mengerutkan alisnya.
“Jangan mudah dibohongi, Diana,” kata Ci Kong sambil tertawa. “Kui Eng melakukan
serangan itu tanpa disadarinya. Ia mengira bahwa saya seorang musuh, maka ia menyerang matimatian.
Setelah ia tahu bahwa saya bukan musuh, kami lalu menjadi sahabat baik.”
“Ah, kalau begitu aku mengerti. Aku tidak percaya orang seperti kau ini demikian
jahatnya, membalas kebaikan dengan kejahatan, Kui Eng.” Ia lalu memandang kepada Ci Kong
dan sebuah pikiran membuat wajah gadis bule ini berseri dan seperti biasa, ia langsung saja
mengatakan apa yang dipikirkannya itu. “Ah, kalian ini sungguh merupakan sepasang pendekar
yang amat cocok ! Ci Kong seorang pemuda tanpan dan gagah perkasa berwatak halus dan
budiman, sedangkan Kui Eng adalah seorang gadis yang cantik manis dan lihai pula.”
Mendengar ucapan yang sama sekali tak pernah mereka sangka dilontarkan begitu saja
dari mulut Diana, Ci Kong dan Kui Eng saling pandang dan muka mereka mendadak menjadi
kemerahan.
“Aih, kau ini ada-ada saja, Diana ! Mana mungkin aku disamakan dengan pendekar ini ?
Dia adalah murid dari locianpwe Siauw-bin-hud, dia seorang pendekar muda yang perkasa dari
Siauw-lim-pai, sedangkan aku ? Aku keturunan jahat, dan aku murid seorang datuk sesat yang
biasa berkecimpung dalam dunia kejahatan. Diana, kau seperti membandingkan aku sebagai
seekor burung gagak dan dia sebagai seekor burung Hong.”
Pedang Naga Kemala > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com 395
“Nona ………. Kui Eng, jangan engkau berkata demikian.” Ci Kong cepat membantah.
“Baik buruknya seseorang nampak dalam sepak terjang kehidupannya, bukan dari keturunan atau
perguruannya.”
“Cocok !” Diana berkata sambil tertawa. “Aku sudah mendengar banyak dari suci Lian
Hong tentang Empat Racun Dunia. Dan akupun sekarang menjadi murid seorang di antara
mereka. Akan tetapi, yang kupelajari adalah ilmu silatnya, bukan perbuatan jahat.”
Tidak lama kemudian, muncul tiga orang kakek itu, mengajak murid-murid mereka
melanjutkan perjalanan. Tiga orang kakek itu sudah bersepakat. San-tok hendak melanjutkan
usahanya mencari harta karun. Tee-tok ingin menyampaikan kepada rekan-rekan seperjuangan
agar menghentikan usaha mereka merampas Giok-liong-kiam dari tangan Koan Jit yang ternyata
hanya merupakan benda palsu. Sedangkan Siauw-bin-hud akan mengabarkan kepada para tokoh
besar di dunia para pendekar agar segala permusuhan pribadi antara kaum persilatan dihentikan
dulu sehingga seluruh kekuatan dapat dipersatukan untuk perjuangan. Mereka berjanji akan
saling bertemu kembali kalau San-tok sudah berhasil menemukan harta karun.
Hati Ci Kong merasa berat harus berpisah dari Diana dan Kui Eng, dua orang gadis yang
amat menyenangkan hatinya itu. Di dalam perjalanannya mengikuti Siauw-bin-hud kembali ke
pusat Siauw-lim-si, Ci Kong membayangkan wajah gadis-gadis yang pernah dijumpainya dan
membanding-bandingkan mereka. Dan harus diakuinya bahwa mereka semua itu, Siauw Lian
Hong, Ciu Kui Eng, Tang Ki, bahkan juga Diana, merupakan gadis-gadis pilihan yang selain
memiliki kecantikan-kecantikan khas, juga mempunyai watak-watak yang aneh dan menarik.
Dia sendiri tidak tahu apakah dia jatuh cinta kepada seorang di antara mereka. Dia tidak tahu
bagaimana sih rasanya jatuh cinta itu ! Akan tetapi harus diakuinya bahwa dia merasa suka,
kagum dan senang bergaul dengan mereka semua dan kalau dia disuruh memilih siapa di antara
mereka semua yang paling hebat, sukarlah agaknya bagi dia untuk menentukan. Siauw Lian
Hong seorang gadis yang cantik dengan sepasang matanya yang lebar dan bersinar-sinar bening
dan tajam, dengan wajahnya yang bulat, pendiam, sederhana dan nampak cerdik dan gagah
sekali. Ciu Kui Eng seorang gadis yang manis sekali, matanya tajam, mukanya lonjong dengan
mulut yang manis sekali, galak, manja akan tetapi juga memiliki sikap dan wajah gagah perkasa.
Sukar dikatakan siapa di antara keduanya itu, Lian Hong dan Kui Eng, memiliki bentuk tubuh
yang lebih elok. Keduanya bertubuh padat, penuh, langsing dan berkulit mulus. Tang Ki atau
Kiki, jelita dan galak lucu, nakal manja, ditambah manis dengan tahi lalat di pipinya, biarpun
nampak galak dan nakal, namun hatinya lembut sekali juga gagah perkasa dan pinggangnya
ramping bukan main, agaknya dapat dilingkari dengan jari-jari tangannya. Dan Diana ? Wah,
gadis ini memiliki kecantikan yang khas dan aneh. Matanya biru laut, rambutnya yang seperti
benang emas, kulitnya yang putih kemerahan dengan bulu-bulu halus sekali, tubuhnya yang
tinggi ramping, sikapnya yang terbuka, pendeknya, ada daya tarik yang amat kuat keluar dari diri
gadis bule itu.
Akan tetapi, lamunannya itu dibuyarkan oleh suara gurunya atau juga kakek gurunya yang
berkata dengan nada suara lembut, “Ci Kong, engkau sudah mendengar sendiri betapa pinceng
sudah berjanji untuk membagi tugas pekerjaan dengan para tokoh Empat Racun Dunia. Bagian
tugas pinceng adalah membujuk para pendekar di seluruh negara untuk menghentikan
permusuhan pribadi dan mau bekerja sama dengan segala golongan, juga golongan sesat, untuk
menyatukan tenaga untuk perjuangan. Pinceng sudah terlalu tua, Ci Kong, dan selain belum
Pedang Naga Kemala > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com 396
tentu pinceng akan kuat untuk melaksanakan tugas berat itu, juga pinceng ingin mengaso dan
bertapa lagi. Engkau wakililah pinceng melaksanakan tugas itu, pinceng akan bertapa di dalam
guha maut di bukit belakang kuil yang sudah kauketahui tempatnya. Setelah melaksanakan tugas
itu selama satu tahun, engkau boleh datang memberi laporan kepada pinceng.”
“Baik, su-couw, teecu akan mentaati perintah su-couw,” jawab Ci Kong dan kakek itu
lalu meninggalkan dia untuk kembali ke Siauw-lim-si pusat. Ci Kong sendiri, lalu berangkat
meninggalkan kuil kecil itu untuk melaksanakan tugasnya yang baginya amat menyenangkan.
Dia akan mengunjungi dan bertemu dengan tokoh-tokoh besar dunia kang-ouw, bukankah hal itu
amat menggembirakan ? Dengan penuh semangat, Ci Kong lalu berangkat.
*****
Kita tinggalkan dulu para tokoh yang sedang berusaha untuk memupuk kekuatan guna
perjuangan itu dan mari kita melihat keadaan Gan Seng Bu dan para pejuang yang berkumpul dan
tinggal di sebuah dusun sebelah barat Kanton. Mereka itu menyamar sebagai penghuni dusun,
bekerja sebagai petani-petani biasa. Mereka berjuang dengan rahasia, kadang-kadang saja mereka
menyelundup ke kota-kota dan menyerang markas-markas pasukan pemerintah penjajah. Gan
Seng Bu tinggal pula di antara mereka, bersama isterinya, yaitu Sheila. Suami isteri muda ini,
walaupun berlainan bangsa, berbeda kulit, namun ternyata mereka itu saling mencinta dengan
murni. Sheila yang mengagumi suaminya, kini sudah dapat menyelami cara hidup para pejuang
dan dianggapnya bahwa suami dan kawan-kawannya itu adalah pendekar-pendekar yang gagah
perkasa, yang patut dihormati. Ia merasa kagum dan menghormati perjuangan suaminya dan para
pejuang. Makin nampak olehnya betapa jahatnya politik yang dianut oleh bangsanya sendiri,
yang demi mengeduk keuntungan sebanyaknya, tidak segan-segan untuk meracuni sebuah bangsa
dengan racun madat, bahkan kalau perlu menguasai dan menjajah negara dan tanah air bangsa
lain.
Cinta kasih yang dicurahkan oleh suami isteri ini telah menghasilkan benih dalam
kandungan Sheila. Ia sudah mengandung tiga bulan dan hal ini bukan hanya menggirangkan
suami isteri muda itu, akan tetapi juga mendatangkan kegembiraan kepada para kawan
seperjuangan karena mereka itu rata-rata sudah dapat menerima Sheila sebagai seorang kawan,
berkat sikap Sheila yang amat baik dan juga setia kawan. Kebahagiaan hidup sederhana mereka
itu agaknya tidak akan mengalami gangguan. Sama sekali Seng Bu dan isterinya tidak sadar
bahwa ada bayangan malapetaka semakin mendekati mereka !
Bahaya ini datang dari Koan Jit ! Seperti diketahui, Koan Jit merasa marah, kecewa dan
penasaran sekali karena dia gagal menangkap Diana. Apa lagi ketika dia mendengar betapa anak
buahnya yang hendak menangkap Sheila telah dihajar babak belur oleh Gan Seng Bu, hatinya
menjadi semakin panas. Dia tahu bahwa dirinya menjadi incaran para tokoh diseluruh kang-ouw
yang ingin merampas Giok-liong-kiam. Dia sendiri, sekian lamanya memiliki Giok-liong-kiam
akan tetapi belum juga mampu menemukan rahasia pusaka itu, rahasia yang sudah didengarnya
bahwa pusaka itu menyembunyikan rahasia harta karun yang besar. Sudah dicobanya berbagai
macam, namun senjata pusaka itu sama sekali tidak memperlihatkan tanda-tanda menyimpan
rahasia ! Dan dia tahu bahwa dirinya diancam oleh banyak tokoh-tokoh besar yang lihai, yang
ingin sekali merampas pusaka itu. Dan dianggapnya berbahaya sekali baginya, di samping Empat
Racun Dunia, juga dua orang sutenya yang telah menguasai ilmu-ilmu yang pernah dipelarinya.
Pedang Naga Kemala > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com 397
Ong Siu Coan dan Gan Seng Bu ! Dua orang sute ini merupakan saingan yang cukup berat dan
berbahaya, dan kalau mungkin harus segera disingkirkan dari muka bumi !
Inilah sebabnya, ketika dia mendengar betapa anak buahnya dihajar oleh seorang
pendekar bernama Gan Seng Bu yang telah menikah dengan seorang gadis bule, dia menjadi
marah akan tetapi juga girang. Dia telah menemukan di mana sembunyinya sutenya itu. Untuk
menyerang ke dusun itu dia tidak berani. Dia maklum bahwa tentu Gan Seng Bu yang terkenal
sebagai seorang pejuang penentang pemerintah penjajah itu tidak sendirian di dusun itu,
melainkan dengan kawan-kawan seperjuangan. Kalau dia menyerbu, selain belum tentu akan
dapat menang karena dia belum mengetahui kekuatan musuh, juga tentu Gan Seng Bu akan lebih
mudah melarikan diri. Dan dia memerlukan sutenya itu untuk dibunuhnya, dan diapun merasa iri
bahwa sutenya itu telah dipilih oleh seorang gadis bule yang katanya cantik sekali. Dia harus
membunuh sutenya dan merampas wanita itu ! Maka, Koan Jit yang selain lihai ilmu silatnya,
juga benaknya penuh dengan tipu muslihat itu lalu mengatur siasat.
Dusun yang ditinggali para pejuang itu dapat dibilang merupakan dusun pejuang.
Penduduk dusun yang tadinya bukan pejuang, begitu melihat keadaan para orang gagah itu,
merasa tertarik dan bangkit semangat mereka, bahkan para mudanya lalu belajar ilmu silat dari
para pendekar dan mereka ikut pula berjaga, bahkan banyak yang sudah ikut aktip kalau
kelompok itu mengadakan serangan dan gangguan pada kesatuan-kesatuan tentara kerajaan.
Mereka bertempur secara gerilya, menyerbu selagi lawan lemah dan melarikan diri berpencar dan
lenyap ke hutan-hutan kalau musuh sudah mampu mengumpulkan kekuatan yang jumlahnya jauh
lebih besar dari mereka. Bahkan di antara mereka sudah ada yang membawa-bawa senjata api,
yang dapat mereka rampas dari orang-orang kulit putih atau para perwira kerajaan. Dan Sheila
berjasa dalam urusan senjata api ini. Ia banyak tahu tentang senjata ini dan ia melatih para
pejuang cara mempergunakan senjata api.
Pada suatu hari, para pejuang sedang sibuk menggarap sawah. Kalau tidak berjuang,
mereka itu bukan bermalas-malasan, melainkan bersama para petani menggarap sawah karena
dari situlah mereka memperoleh ransum. Pagi-pagi itu, terdengar suara derap kaki kuda dan hal
ini tidak aneh karena para pejuang itupun mempunyai banyak kuda dan banyak penunggang kuda
keluar masuk dusun itu. Akan tetapi, ketika para penghuni dusun itu melihat bahwa dua orang
penunggang kuda yang bertubuh tegap dan bersikap gagah itu merupakan dua orang pria yang
tidak mereka kenal, beberapa orang pemuda segera berlompatan dan sudah menghadang lalu
mengurung dua orang penunggang kuda itu dengan pandang mata penuh curiga.
Melihat diri mereka dikepung, dua orang laki-laki itu kelihatan gentar juga dan mereka
cepat mengangkat tangan dan seorang di antara mereka berkata dengan suara lantang, “Saudarasaudara,
kami datang bukan dengan niat buruk. Kami datang sebagai utusan dari komandan
pasukan Inggeris di Kanton !”
Mendengar ini, sudah tentu banyak mata melotot dan muka merah. Para patriot itu,
walaupun tidak memusuhi orang-orang kulit putih secara langsung, namun di dalam hati mereka
tidak suka kepada orang-orang kulit putih yang menyebar racun madat dan yang juga menduduki
beberapa kota pelabuhan setelah perang madat yang berakhir dengan kekalahan pihak pemerintah
Ceng yang lemah itu.
Pedang Naga Kemala > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com 398
“Kalian mata-mata orang bule !”
“Tangkap saja !”
“Bunuh saja !”
Dua orang penunggang kuda itu menjadi pucat dan seorang di antara mereka cepat
mengeluarkan sebuah sampul panjang dan berteriak. “Kami datang diutus untuk menyerahkan
surat ini kepada nona Sheila Hellway .......... !!”
“Di sini tidak ada nona Sheila Hellway, yang ada ialah nyonya Gan Seng Bu !”
“Jangan dengarkan ocehan mereka !”
“Awas, mereka tentu mata-mata yang membawa pasukan di belakang mereka !”
Untung pada saat itu, saat yang gawat bagi dua orang utusan ini, muncul Sheila yang
cepat berseru, “Kawan-kawan tahan dulu ! Coba berikan surat itu kepadaku. Akulah Sheila
Hellway !”
Dua orang itu nampak lega dan seorang di antara mereka turun, lalu menyerahkan surat
bersampul panjang itu kepada Sheila. Orang ke dua masih duduk di atas kudanya, agaknya siap
untuk segera melarikan diri kalau ada bahaya mengancam. Para pemuda dusun itu masih
mengepung dan semua mata memandang kepada Sheila. Kalau saja pada saat itu Sheila memberi
aba-aba untuk menyerang, tentu dua orang utusan itu akan dikeroyok dan dibunuh di saat itu
juga.
Sheila tidak mau bertindak sembrono. Dilihatnya dulu sampul itu dengan teliti dan
melihat sampul tercetak dengan alamat Kapten Charles Elliot sebagai pengirimnya, diam-diam ia
merasa terkejut. Namanya, Sheila Hellway, juga tercetak rapi dan surat itu jelas bukan surat
palsu. Dengan hati-hati lalu dibukanya sampul surat dan sebelum membaca isinya, iapun meneliti
cap kebesaran Kapten Charles Elliot. Kembali aseli, apa lagi isi surat dalam bahasa Inggeris
yang rapi itu menghapus semua kecurigaannya. Memang jelaslah bahwa surat ini datang dari
Kapten itu merupakan surat resmi ! Dan begitu ia membaca isinya, wajahnya berseri dan semua
pemuda yang sejak tadi mengamati itu, merasa lega.
“Kawan-kawan, dua orang ini memang utusan dari Kapten Charles Elliot dan surat ini
benar ditujukan kepadaku.”
Mendengar ucapan itu, semua orang bubaran, hanya ada beberapa orang menjaga dari
jauh saja dengan sikap melindungi Sheila dan beberapa orang lagi oleh Sheila dimintai tolong
untuk memanggil suaminya yang sedang bekerja di ladang. Kemudian Sheila mempersilahkan
dua orang utusan itu untuk memasuki rumahnya dan dipersilahkan duduk sambil menanti
datangnya Gan Seng Bu.
Mendengar berita bahwa ada dua orang utusan dari komandan pasukan kulit putih datang
mengantarkan surat untuk isterinya, Gan Seng Bu menjadi khawatir bukan main dan cepat dia
Pedang Naga Kemala > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com 399
berlari pulang tanpa mencuci kaki tangannya yang masih berlepotan lumpur. Dengan ilmu berlari
cepat dia langsung saja pulang ke rumahnya dan memandang dengan mata penuh selidik ketika
melihat dua orang laki-laki tinggi tegap sudah duduk di dalam rumahnya.
Melihat kekhawatiran suaminya, Sheila lalu menyongsong dan menggandeng tangannya,
lalu memperlihatkan surat itu. “Aku menerima surat penting dari Kapten Charles Elliot,” katanya
dengan halus dan tersenyum ramah untuk menghilangkan kekhawatiran suaminya. Melihat sikap
isterinya, memang hati Seng Bu menjadi agak lega dan dia membalas penghormatan dua orang
utusan itu dengan dingin saja. Pernah dia menghajar sekelompok pasukan Harimau Terbang yang
menyamar sebagai orang biasa dan diapun curiga apakah dua orang ini bukan anggauta pasukan
itu. Dugaannya memang tepat. Dua orang itu memang merupakan dua orang anggauta pasukan
Harimau Terbang golongan atas yang dipercaya oleh Koan Jit untuk mengantarkan surat dari
Kapten Charles Elliot itu dan memang inilah siasat yang diatur Koan Jit ! Dua orang anggauta
Harimau Terbang itu, walaupun belum pernah merasakan sendiri kelihaian Gan Seng Bu, namun
mereka berdua sudah mendengar dari teman-teman mereka, apa lagi mereka mendengar bahwa
orang muda yang tinggi besar dan gagah perkasa ini adalah sute dari pimpinan mereka, tentu saja
mereka merasa jerih bukan main.
“Apa maksudmu dia mengirim surat padamu ?” tanya Seng Bu, seperti biasa suaranya
ramah dan halus kepada isterinya, akan tetapi alisnya tetap berkerut karena dia merasa tidak enak
hatinya.
Isterinya tersenyum, maklum akan kecurigaan suaminya terhadap bangsanya. “Baik
kuterjemahkan untukmu.” Ia lalu membaca surat itu, sudah diterjemahkannya dengan baik
sekali. Ternyata isi surat itu hanya pemberitahuan kepada nona Sheila Hellway bahwa
pemerintah Inggeris menganggap Mr. Hellway dan isterinya yang gugur dalam keributan perang
madat itu sebagai pahlawan-pahlawan dan kini pemerintah mengambil keputusan untuk minta
pertimbangan Sheila, apakah kuburan orang tuanya itu akan dipindahkan ke Inggeris, ataukah
dimakamkan kembali secara kehormatan militer. Dan untuk itu, diminta kehadiran Sheila ke
markas pasukan Inggeris di kapal, di pantai Kanton.
Dengan alis berkerut Gan Seng Bu bertanya, “Isteriku, setelah engkau menerima surat
seperti itu, lalu bagaimana niatmu ?”
Sheila tersenyum, masih maklum bahwa suaminya tetap saja berkuatir. “Tentu saja aku
harus datang dan menghadiri upacara itu. Aku akan minta agar makam orang tuaku dikubur di
sini saja agar mudah bagiku untuk sewaktu-waktu berziarah.”
“Perlu benarkah engkau menghadiri ? Bagaimana kalau engkau membalas surat saja
menyatakan keinginanmu itu ?”
Sheila merangkul suaminya, tidak perduli di situ ada dua orang utusan yang memandang
mereka dan mencium lembut pipi suaminya. Seng Bu tidak merasa canggung karena memang
sudah biasa memperoleh perlakuan seperti itu dari isterinya yang amat bebas memperlihatkan
kasih sayangnya. “Seng Bu, pemindahan kerangka orang tuaku amatlah penting, Bukan ? Aku
harus menghadirinya sendiri, kalau tidak aku akan selalu merasa menyesal kelak. Jangan
khawatir, Kapten Charles Elliot tidak akan berani menggangguku. Aku adalah warga negara
Pedang Naga Kemala > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com 400
Inggeris dan berhak penuh untuk menentukan kemauanku sendiri. Harap jangan khawatir, tidak
ada yang akan berani mengganggu diriku.”
Seng Bu masih mengeritkan alisnya, menoleh kepada dua orang utusan itu dengan sinar
mata mencorong sehingga dua orang itu menundukkan muka dengan sikap jerih. Mereka merasa
gentar melihat sinar mata yang mencorong dari pendekar itu. “Kapan engkau akan pergi ke
Kanton ?” akhirnya Seng Bu bertanya, tidak mempunyai alasan lagi untuk mencegah kepergian
isterinya.
“Kurasa sekarang juga, Seng Bu. Hari masih pagi dan aku akan pergi bersama mereka ini.
Engkau tidak keberatan, bukan ?”
Seng Bu memandang ragu, kemudian berkata dengan suara penuh kepastian, “Sheila, aku
tidak keberatan karena memang perlu sekali engkau menghadiri urusan itu, akan tetapi aku akan
mengawalmu kesana.”
“Seng Bu .......... !” Sheila membelalakkan matanya. Suaminya adalah seorang pejuang
dan tentu saja amat berbahaya bagi Seng Bu untuk muncul di dalam kota Kanton di mana selain
banyak terdapat pasukan kulit putih, juga terdapat pasukan pemerintah yang tentu akan
menangkapnya karena nama Seng Bu sudah dikenal sebagai pemberontak.
Seng Bu tersenyum dan merangkul isterinya, mencubit dagunya dengan mesra sambil
berkata, “Jangan khawatir. Kalau mereka tidak mengganggumu, tentu mereka tidak akan
menggangguku pula. Selain itu, apakah engkau tidak percaya kepadaku bahwa aku dapat
membela dan melindungi diriku sendiri, termasuk dirimu ?”
“Tapi itu berbahaya sekali, Seng Bu !”
“Tidak kalah besarnya dengan bahaya yang mengancammu, Sheila. Kita pergi berdua atau
kita tidak pergi sama sekali.”
Sheila mengenal kekerasan hati suaminya. Ia berpikir bahwa di markas Inggeris, ia akan
mampu melindungi suaminya. Tak seorangpun di sana akan berani mengganggu Seng Bu yang
sudah menjadi suaminya, ayah dari calon anak mereka. Kapten Charles Elliot adalah seorang
gentleman tulen, tidak mungkin mau bertindak curang. Maka iapun mengangguk. “Baiklah, mari
kita pergi bersama.”
Mereka lalu berkemas. Kawan-kawan seperjuangan Seng Bu banyak yang merasa cemas,
mengkhawatirkan keselamatan mereka yang akan pergi ke Kanton. Akan tetapi setelah Sheila
mengemukakan pendapatnya, merekapun merasa lega dan hanya memesan kepada Seng Bu agar
berhati-hati.
Suami isteri ini menunggang kuda dan diiringkan oleh dua orang utusan itu, menuju ke
Kanton. Perjalanan itu berlangsung dengan selamat dan menjelang senja, mereka memasuki
Kanton. Benar saja, tidak ada gangguan dan merekapun langsung menuju ke pantai di mana
terdapat beberapa buah kapal Inggeris yang besar dan diperlengkapi meriam-meriam besar.
Banyak nampak serdadu-serdadu Inggeris di pantai hilir mudik, dan banyak pula mata yang
Pedang Naga Kemala > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com 401
menatap ke arah Sheila dengan sikap kurang ajar. Akan tetapi hal seperti ini sudah biasa dihadapi
Sheila maka iapun pura-pura tidak melihat saja dan bersama suaminya lalu dibawa ke atas sebuah
perahu yang membawa mereka langsung ke sebuah kapal besar yang tidak dapat menepi dan
melepas jangkar agak jauh di tengah lautan.
Kapten Charles Elliot sendiri setelah diberitahu, lalu keluar menyambut kedatangan
Sheila dan Seng Bu. Kapten ini menyambut Sheila dengan wajah berseri, menjabat tangan Sheila
dengan erat dan berkata dengan girang, “Sungguh bahagia sekali melihat engkau dalam keadaan
sehat dan selamat, nona Sheila Hellway. Berbulan-bulan lamanya kami dibuat gelisah oleh berita
tentang dirimu. Selamat datang di kapal kami !”
Sheila menyambut uluran tangan itu dan berkata dengan lembut dan ramah namun
suaranya tegas. “Kapten, saya bukan lagi nona Sheila Hellway melainkan nyonya Gan Seng Bu,
dan inilah suami saya.” Sheila memperkenalkan suaminya dengan maksud agar kapten itu
menyambut suaminya sebagaimana mestinya.
Akan tetapi, kapten itu hanya menoleh dan memandang kepada Gan Seng Bu sejenak.
Seorang pemuda bertubuh tegap, berpakaian seperti petani sederhana, masih lebih sederhana dari
pada kuli-kuli pelabuhan, bagaimana dia sudi menyambutnya seperti seorang tamu ? Dia diam
saja dan kembali memandang kepada Sheila.
“Nona Hellway, mari kita bicara di kantorku. Kita harus merundingkan urusan
pemindahan makam orang tuamu itu dengan para pejabat lain. Mari, silahkan !” Dan dengan
sopan sekali kapten itu memberikan lengannya untuk digandeng Sheila. Tentu saja Sheila
memandang ragu.
“Kapten, saya hanya mau bicara kalau disertai suamiku.”
“Ahh, mana mungkin itu, nona ? Urusan ini adalah urusan intern, urusan dalam di antara
bangsa kita sendiri dan amat penting. Biarlah dia menanti di sini dulu, nanti kalau rapat yang kita
adakan sudah selesai, engkau boleh datang kembali menjemputnya di sini. Aku akan merasa
canggung, tidak enak dan akan menjadi buah tertawaan kalau dia diajak memasuki ruangan
perundingan.”
Sheila masih ragu-ragu, akan tetapi Seng Bu merasa tidak enak sendiri. Dia dapat
mengerti alasan-alasan yang diajukan oleh kapten itu, maka diapun berkata, “Sheila, pergilah,
biar aku menanti di sini.”
Terpaksa Sheila menggandeng lengan Kapten Charles Elliot yang mengajaknya menuju
ke ruangan luas di ujung kapal di mana telah menanti beberapa orang yang pakaiannya
gemerlapan, yaitu orang-orang berpangkat dari pasukan armada Inggeris yang berada di situ.
Semua orang bangkit berdiri dan memberi hormat ketika Sheila masuk dan wanita ini yang sudah
hampir satu tahun hidup di antara orang-orang dusun sederhana, merasa betapa ganjil dan
anehnya sikap sopan santun dan hormat seperti itu yang kini nampak seolah-olah merupakan
sikap dibuat-buat saja. Mereka lalu mengambil tempat duduk dan mulailah mereka merundingkan
urusan pemakaman kembali jenazah keluarga Hellway yang dianngap gugur sebagai pahlawan !
Pedang Naga Kemala > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com 402
Pahlawan ! Sungguh merupakan suatu sebutan yang muluk dan terhormat, bahkan
mungkin diidamkan oleh semua orang. Siapa yang tidak ingin menjadi orang yang disebut
pahlawan, atau setidaknya menjadi keluarga pahlawan ? Seorang pahlawan adalah seorang yang
sudah dianggap berjasa untuk negara dan bangsa, seorang yang perbuatannya patut dijadikan
teladan dan dihormati semua orang, dari pembesar yang paling tinggi sampai rakyat yang paling
rendah. Akan tetapi, apa dan siapakah sesungguhnya pahlawan ? Pahlawan hanyalah seorang
yang dianggap menonjol dan berjasa bagi suatu pihak, suatu golongan, suatu kelompok, atau
suatu bangsa. Seorang yang dianggap pahlawan besar bagi suatu bangsa, belum tentu dianggap
pahlawan pula oleh bangsa lain, apa lagi kalau bangsa lain ini kebetulan menjadi lawan bangsa
yang pertama. Pahlawan dari suatu bangsa mungkin akan dianggap penjahat besar oleh bangsa
yang menjadi musuhnya. Dan bukankah pahlawan itu hanya merupakan suatu sebutan saja, yang
diberikan untuk merangsang semangat semua orang yang tenaganya dibutuhkan untuk suatu
perjuangan ? Setelah meninggal dunia, makamnya lalu dibikin bagus, dihormati setahun sekali
hanya untuk waktu beberapa menit saja, kemudian ditinggalkan dan dilupakan lagi, bersunyi sepi
terlupakan di antara kuburan-kuburan lain. Atau keluarganya mungkin akan menerima sekedar
sumbangan. Bukankah semua ini hanya merupakan semacam piala atau medali saja bagi orang
untuk merangsang orang-orang lain ? Dan orang yang berjuang demi mencari sebutan pahlawan
atau keuntungan lain, baik keuntungan benda atau batin, kiranya hanya orang-orang pengejar
keuntungan saja namanya. Seorang pahlawan yang sesungguhnya pahlawan adalah orang yang
melakukan sesuatu demi pengabdiannya akan sesuatu yang diagungkan, dimuliakan, tanpa
mengharapkan jasa. Berjuta pahlawan di dunia ini, yaitu mereka yang meninggalkan harta benda,
keluarga, untuk berjuang membela negara dan bangsa, tanpa pamrih, kemudian gugur tanpa ada
yang mengenalnya. Mati begitu saja, tidak diberi cap pahlawan, tidak dihormati setiap tahun
beberapa menit lamanya, tidak memperoleh tunjangan terhadap keluarganya yang ditinggalkan.
Mereka itulah pahlawan dalam arti yang seluas-luasnya. Semoga damai abadilah bagi mereka
itu !
Setelah mengikuti kepergian isterinya bersama Kapten Charles Elliot sampai mereka
lenyap di dalam ruangan kamar di ujung kapal, barulah Seng Bu sadar bahwa dia tidak berdiri
sendiri saja. Di sekelilingnya telah berkerumun banyak orang dan ketika dia menoleh karena ada
sesuatu di belakangnya yang menarik perhatiannya, dia tertegun karena dia telah berhadapan
dengan Koan Jit ! Dia masih ingat benar wajah orang ini, orang tinggi kurus memakai jubah
kebesaran berwarna hitam, dengan sepasang matanya yang seperti mata kucing, dengan wajahnya
yang membayangkan kekejaman dan kelicikan. Hanya kini, orang yang pernah dijumpainya satu
kali ketika orang ini datang di puncak Tai-yun-san dan mencoba kepandaiannya dan kepandaian
Ong Siu Coan, kemudian orang ini mencuri pusaka Giok-liong-kiam, telah berubah pakaiannya.
Mengenakan jubah seorang pembesar, dan kepalanya juga memakai kopyah atau topi batok
seperti topi yang biasa dipakai oleh seorang pembesar Mancu, rambutnya dikuncir tebal dan
ujungnya diikat pita kuning, sikapnya congkak sekali. Dan beberapa orang yang berada di
dekatnya adalah beberapa orang opsir dan perajurit bule dan juga beberapa orang yang
mengenakan pakaian pasukan Harimau Terbang ! Seng Bu sudah dikurung !
Menghadapi ancaman ini, Seng Bu sudah siap siaga dan melihat pemuda itu memasang
kuda-kuda, Koan Jit menyeringai. “Huh, bocah sombong, apakah engkau masih ingat padaku ?”
Seng Bu marah sekali. “Siapa tidak ingat padamu ? Sekali saja melihat seorang murid
murtad, seorang maling dan seorang pengkhianat yang curang, selamanya aku takkan lupa !”
Pedang Naga Kemala > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com 403
Tentu saja Koan Jit marah sekali mendengar dirinya dimaki di depan banyak orang. Dia
segera meneriakkan aba-aba kepada para perajurit kulit putih, “Tangkap orang ini !”
Seng Bu hendak memberontak, akan tetapi beberapa orang perajurit kulit putih sudah
mendorongkan pistol ke dadanya. Seng Bu maklum bahwa kalau dia melawan dengan nekat,
selain dia harus menghadapi Koan Jit yang lihai, juga harus menghadapi senjata api yang tak
boleh dipandang ringan. Apa lagi isterinya masih berada di situ, maka dia tidak melawan. Bahkan
dia tidak melawan ketika seorang serdadu Inggeris yang bertubuh tegap dan berkumis
menelikung kedua lengannya ke belakang dan memasang belenggu. Dia hanya memandang
kepada Koan Jit dengan mata berapi.
“Koan Jit, dengan alasan apa engkau menangkapku ? Aku datang mengantar isteriku
yang diundang sebagai tamu oleh Kapten Elliot !”
Koan Jit tertawa menyeringai dan menekan tangan kirinya di atas langkan besi di tengah
kapal itu. “Heh-heh, tentu saja. Nona Sheila Hellway memang menjadi seorang tamu terhormat,
akan tetapi engkau ini siapa ? Engkau seorang pemberontak, engkau seorang penjahat yang suka
memusuhi golongan dan pasukan Inggeris !”
“Bohong ! Fitnah ! Aku datang mengantar isteriku, Sheila !”
“Engkau memata-matai kapal ini ! Hayo jebloskan dia ke dalam kamar tahananku di
bawah !”
Seng Bu maklum akan datangnya bahaya maka diapun cepat menggerakkan khikangnya
dan berteriak, “Sheilaaaa .......... !!” Akan tetapi pada saat itu, Koan Jit sudah menotoknya
sehingga pendekar itu menjadi lemas tak berdaya lagi, tak mampu melawan ketika dia diseret
masuk ke tampat tahanan di bagian bawah kapal.
Biarpun demikian, teriakan yang mengandung khikang amat kuatnya itu telah menembus
dinding tebal dan terdengar oleh Sheila. Tentu saja wanita ini terkejut dan bangkit dari kursinya.
Tadi ia asyik membicarakan tentang pemindahan kerangka ayah ibunya dan ia mengajukan
permohonan agar kerangka itu dikubur di daerah Kanton saja, jangan dibawa pulang ke Inggeris.
Juga Kapten Charles Elliot dan yang lain-lain bangkit berdiri ketika mendengar pekik yang
nyaring memanggil nama Sheila itu. Tentu saja Kapten itu sudah dapat menduga apa yang terjadi,
akan tetapi dia pura-pura berkata kepada Sheila, “Akan kulihat apa yang terjadi di sana.”
“Yang berteriak tadi suamiku !” kata Sheila, juga mengikuti kapten yang sudah berlari
keluar.
Kapten Elliot dan Sheila, juga beberapa orang pejabat yang tadi ikut rapat, mendengar
keterangan dari beberapa orang penjaga bahwa teriakan tadi memang teriakan Gan Seng Bu yang
ditangkap dengan tuduhan sebagai penjahat dan pemberontak.
“Suamiku ditangkap ? Kurang ajar ! Siapa yang menangkapnya ? Kapten, apa artinya
semua ini !” bentak Sheila dengan mata terbelalak lebar dan marah sekali.
Pedang Naga Kemala > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com 404
Kapten itu memegang lengan wanita itu. “Tenang dan bersabarlah, nona Sheila. Yang
menangkap adalah perwira Koan, kepala dari pasukan Harimau Terbang. Memang dia bertugas
menjaga keamanan dan melakukan pembersihan terhadap penjahat-penjahat dan pemberontakpemberontak
dan agaknya dia mengenal suamimu sebagai seorang di antara pemberontak, maka
lalu ditangkapnya.”
“Akan tetapi, suamiku hanya melawan pemerintah Mancu ! Dia bukan penjahat dan
harus diingat pula bahwa dia datang untuk mengantar aku. Dia seorang tamu yang harus
dihormati, bukan ditangkap ! Kapten, aku protes ! Suamiku harus dibebaskan sekarang juga !”
“Tenanglah, tenanglah. Aku yang menanggung bahwa kalau memang suamimu tidak
bersalah, dia akan segera dibebaskan. Sekarang, biarlah dia mengalami pemeriksaan dari
komandan Koan. Dia tidak akan diapa-apakan, hanya ditanyai tentang penjahat-penjahat yang
sudah banyak membunuh orang-orang kita, dan yang sudah banyak membajak kapal-kapal kita
pula. Tidak patutkah dia ditanyai kalau memang dia dicurigai ?”
“Tapi dia suamiku !”
“Benar, akan tetapi dalam urusan ini tidak dipandang siapa saja, nona Hellway. Bahkan
aku sendiri, kalau mencurigakan, bisa saja ditangkap dan diinterogasi. Sabarlah dan tinggallah di
sini selama satu dua hari sampai selesai pemeriksaan terhadap Gan Seng Bu.”
Karena dibujuk dan tidak berdaya membantah lagi, terpaksa Sheila bersabar dan menanti,
walaupun hatinya tidak karuan rasanya. Tak seorangpun di antara mereka itu berani
mengganggunya atau kurang ajar kepadanya. Akan tetapi hatinya penuh kekhawatiran terhadap
suaminya.
Ia sama sekali tidak tahu bahwa semua itu adalah hasil siasat yang sudah diatur
sebelumnya oleh Koan Jit. Koan Jit tidak berani menyerbu ke dusun di mana Seng Bu tinggal
karena maklum betapa kuatnya dusun yang penuh dengan para patriot itu. Dia menghendaki Seng
Bu, sutenya itu yang tahu akan Giok-liong-kiam dan tahu pula akan pengkhianatannya terhadap
Thian-tok, guru mereka. Dia harus mampu menundukkan Seng Bu, kalau mungkin harus dibujuk
atau dipaksa untuk membantunya agar kedudukannya menjadi semakin kuat. Akan tetapi kalau
tidak mau dan pemuda itu berkeras, dia akan membunuhnya ! Dan ternyata siasatnya itu berjalan
sesuai dengan rencananya. Sheila dan Seng Bu datang seperti dua ekor kambing yang dituntun ke
dalam rumah jagal ! Tentu saja siasatnya ini tidak diketahui pula oleh Kapten Charles Elliot.
Kapten itu menganggap bahwa usul Koan Jit untuk mengundang Sheila untuk membicarakan
tentang pemakaman kembali keluarga Hellway itu sebagai hal yang sudah sepatutnya. Dia sama
sekali tidak mengira bahwa di balik usul yang kelihatan baik sekali itu tersembunyi pamrih demi
kepentingan pribadi Koan Jit.
Jilid XVII *****
Pedang Naga Kemala > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com 405
Pedang Naga Kemala > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com 406
Pedang Naga Kemala > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com 407
Pedang Naga Kemala > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com 408



Tag:cersil cersil indo cersil mandarin full cerita silat mandarin online cersil langka cersil mandarin lepas cerita silat pendekar matahari kumpulan cerita silat jawa cersil mandarin beruang salju. cerita silat pendekar mataharicerita silat indonesia cerita silat kho ping hoo cerita silat mandarin online cerita silat mandarin full cerita silat jawa kumpulan cerita silat cerita silat jawa pdf cerita silat indonesia gratis cerita silat jadul indonesia cerita silat indonesia pendekar rajawali sakti cersil indonesia pendekar mabuk cersil langka cersil dewa arak cerita silat jaman dulu cersil jawa download cerita silat mandarin full cerita silat mandarin online cersil mandarin lepas cerita silat mandarin pendekar matahari cerita silat jawa pdf cersil indonesia pdf cersil mandarin beruang salju kumpulan cerita silat pdf
kumpulan cerita silat cersil online
Share:
cersil...
Comments
0 Comments

Arsip Cersil

Best Cersil