Donasi

Buat yang punya rejeki berlebih dan merasa terhibur dengan Situs Cerita Silat Cersil Terbaik ini bisa mendonasikan bantuannya ke
No. Rekening BPD Jateng No. 2004084554
demi keberlangsungan dan keberadaan Blog Cersil Cerita Silat yang sama-sama kita cintai ini. Kritik dan Saran hub No HP.083837358519. Atas Bantuannya disampaikan Terimakasih.

Minggu, 27 Mei 2018

Pedang Naga Kemala 1

======
baca juga
Jilid I *****
T ENG - KO, sejak tadi engkau menghisap madat sampai rumah ini baunya seperti
kebakaran. Darimana engkau memperoleh uang untuk membeli madat begitu banyak ?
Kemarinpun engkau sudah menghisap madat seharian, dan sekarang lagi. Dan aku melihat
bungkusan berisi madat. Suamiku, bagaimana engkau bisa mendapatkan madat begitu banyak
sedangkan barang-barang kita sudah habis kaujual ?"
Wanita itu masih muda, paling banyak tigapuluh tahun usianya. Biarpun pakaiannya
bersahaja, wajahnya membayangkan kemiskinan, rambutnya kusut dan tubuhnya agak kurus,
namun ia termasuk wanita yang cantik manis raut wajahnya, dan tubuhnya yang agak kurus itu
padat semampai. Seorang wanita dengan daya tarik yang masih kuat. Akan tetapi kini wajahnya
muram dan sinar matanya heran dan marah ketika ia menegur suaminya yang enak- enak duduk
bersila sambil menghisap madat dari cangklong bambu yang besar itu. Disulutnya tembakau
campur madat yang diselipkan di tempat tembakau yang nampaknya seperti cabang yang
menonjol keluar di tengah pipa bambu, lalu disedotnya. Terdengar suara menderodot d'sertai
suara gluk-gluk. Asap tembakau madat itu melalui air, terus masuk ke mulut, langsung
menembus tenggorokan memenuhi paru-paru, dihisap oleh darah di tubuh yang tak berbaju itu.
Matanya terpejam dan dia seolah-olah tidak mendengar teguran istrinya, bahkan agaknya dia
sudah lupa sama sekali akan dunia di sekitarnya, terbuai oleh pandangan khayal indah yang
muncul karena pikiran dan syarafnya sudah dikuasai oleh racun madat.
Pria itu bertubuh kurus, akan tetapi masih nampak bekasnya bahwa dahulunya dia tentu
bertubuh tegap. masi nampak otot menonjol di balik kulit yang hampir tak berdaging lagi itu,
dadanya bidang akan tetapi kini kedua pundaknya menurun. Wajahnya juga tidak boleh disebut
buruk. Tidak, pria ini tadinya tentu seorang laki-laki yang bertubuh tegap dan gagah. bahkan
melihat keadaan buku-buku jarinya, pergelangan tangannya, nampak tulang-tulang menonjol dan
Pedang Naga Kemala > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com 2
kulit yang menebal, tanda bahwa dia banyak melakukan latihan ilmu silat yang mengandalkan
tenaga gwa-kang (tenaga luar). Memang demikianlah. Siauw Teng, nama pria itu, adalah seorang
ahli silat yang tangguh, memahami ilmu silat Siauw-lim-pai dan Bu-tong-pai, bahkan pernah
menjadi guru silat di kampungnya. Usianya juga baru tigapuluh lima tahun. Akan tetapi semenjak
dia menghi'sap madat, lima tahun yang lalu, dia menjadi pemadat yang sudah tidak ketulungan
lagi. Dia malas bekerja dan kebutuhannya akan madat makin hari makin banyak sehingga barangbarangnya
habis dijualnya hanya untuk membeli madat yang amat mahal harganya itu. Dia
seolah-olah sudah lupa akan anak istrinya, tidak perduli akan keadaan sekitarnya dan dia hanya
membiarkan dirinya terbuai di alam khayal yang timbul oleh asap madat.
“Teng-ko, jawablah aku!” Chin Hwa, istrinya, berteriak dengan hati kesal dan iapun
memegang pundak suaminya yang telanjang itu dan mengguncangnya beberapa kali.
Tubuh yang sedang dibuai asap madat itu terguncang dan kedua matanya dibuka perlahan,
seperti mata orang yang hampir tidak kuat menahan kantuk. Hanya sedetik saja dia membuka
mata memandang kepada istrinya dengan sinar mata tidak mengenal, lalu dipejamkannya lagi
matanya. Akan tetapi kedua tangannya dengan cekatan dan otomatis sudah memilin-milin
tembakau campur madat lagi untuk dipasang di tempat tembakau.
Teng-ko! Dengarkan aku dan jawablah atau ……….akan kubuang pipamu ini!” Chin
Hwa berteriak dan mengguncang pundak suaminya semakin kuat.
Sekali ini Siauw Teng membuka matanya, dilebarkan seperti orang tidur yang terganggu
dan terkejut. “Aih, engkau ? Ada apakah ? Mengapa kau ganggu aku yang sedang menikmati
madat ?”
“Suamiku,” Cin Hwa menahan kesabarannya. “Kenapa engkau sekarang menjadi begini?
Aku bertanya kepadamu, dari mana engkau memperoleh uang, kenapa tidak engkau beli lagi
perabot-perabot rumah kita yang sudah kau habiskan ? Kenapa tidak kau beli pakaian untuk kita,
untuk anak kita ? Dan beras ?”
Laki-laki itu dengan muka penuh kesabaran tersenyum, akan tetapi kedua tangannya kini
sibuk mengisi lagi pipanya dengan tembakau madat.
“Aku mendapatkan madat ini dari sahabat baikku, Ciu Wan-gwe ..........heh-heh-heh, dia
memberiku cukup banyak, cukup untuk persediaan satu bulan. Ha-ha-ha, aku beruntung sekali
mempunyai sahabat seperti Ciu Wan-gwe ..............”
Sepasang mata wanita itu terbelalak dan mukanya menjadi agak pucat, matanya
memandang wajah suaminya penuh selidik. “Ciu ...............Ciu Lok Tai, pedagang madat itu ?
Mengapa dia memberi madat kepadamu ...............hayo ceritakan, apa maunya ...............!”
Wanita itu teringat betapa hartawan itu pernah datang ke rumah mereka, bercakap-cakap dengan
suaminya, akan tetapi matanya yang berminyak itu selalu ditujukan kepadanya secara kurang ajar
sekali. Dan kini hartawan itu, yang ia dengar dari para tetangga nya merupakan seorang laki-laki
mata keranjang yang suka mengganggu anak istri orang dengan mempergunakan hartanya, telah
memberi madat demikian banyaknya kepada suaminya.
“Heh-heh, dia seorang sahabat baik. Dia hanya minta agar engkau suka membantu
membereskan rumahnya selama satu minggu ...............”
Pedang Naga Kemala > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com 3
“Gila …………!” Cin Hwa menjerit. “Dan kau …………kau setuju ?”
Suami itu memandang dengan sikap heran “Mengapa tidak ? Engkau akan berada di
rumah gedung mewah itu selama satu minggu, membantu istrinya membereskan rumah karena
katanya dia mantu. Karena engkau pandai menjahit, maka engkau dimintai bantuan, dan aku
setuju. Siapa tidak akan membantu seorang sahabat baik seperti dia ?”
“Tapi aku tidak sudi ! Aku tidak mau !”
Tiba-tiba saja pria yang tadinya seperti lesu dan lemah itu membuka matanya dan
sepasang mata itu memandang marah. Seketika lenyaplah kantuknya dan di dalam sinar mata itu
memandang marah. Seketika lenyaplah kantuknya dan di dalam sinar mata itu terkandung
ketajaman dan wibawa yang membuat Cin Hwa menunduk. Kini ia merasa seperti berhadapan
dengan suaminya yang dulu sebelum menjadi hamba madat dan memang suaminya ini selalu
dapat menguasainya dengan sikapnya yang tegas.
“Engkau istriku, bukan ? Dan engkau hendak menjerumuskan aku sebagai seorang lakilaki
yang menjilat ludah sendiri, yang melanggar janji sendiri ? Lihat, madat itu sudah kuhisap
selama dua hari. Tak mungkin kukembalikan dalam jumlah yang sama, dan aku sudah berjanji.
Pula, apa salahnya membantu keluarga Ciu yang mempunyai kerja itu ? Apa salahnya ?”
“Akan tetapi ………… akan tetapi ………. Pandang matanya kurang ajar …………… ?”
“Ha-ha, dia tidak akan berani berbuat kurang ajar kepadamu. Dia tahu siapa aku dan aku
percaya kepadamu, istriku. Aku cinta padamu dan engkau cinta padaku. Pula, siapa yang
dikhawatirkan ? Engkau di sana akan membantu istrinya. Tentang pandang mata, heh-heh, mata
pria mana yang tidak akan berminyak memandang engkau yang cantik manis ?”
Laki-laki itu tertawa bergelak dan melanjutkan pekerjaannya mengisap madat.
Cin Hwa tidak membantah lagi, akan tetapi ia masih mencoba. “Suamiku, ingatlah,
bagaimana aku dapat meninggalkan anak kita, Lian Hong, yang baru berusia lima tahun itu ?
Siapa akan merawatnya ?”
“Ha-ha, istriku, apakah engkau sudah lupa lagi. Setiap kali engkau mencari penghasilan
dengan membantu tukang cuci sehingga engkau seharian tidak pulang, siapakah yang merawat
anak kita ? Apa engkau tidak percaya lagi kepadaku ?”
Cin Hwa tidak dapat membantah lagi, ingin dengan hatinya yang panas dan gelisah ia
meneriakkan ketidakpercayaannya. Akan tetapi suaminya adalah seorang suami yang selama ini
amat baik, amat mencintanya dan selama sepuluh tahun ini ia tidak dapat mencela suaminya.
Akan tetapi, semenjak suaminya menghisap madat, lima tahun yang lalu terjadilah perobahan
perlahan-lahan. Memang mula-mula suaminya masih bekerja dan masih memperhatikannya.
Akan tetapi, makin lama suaminya semakin tidak menaruh perhatian kepadanya. Dan hal itu
terjadi semenjak anak satu-satunya mereka, Siauw Lian Hong, lahir. Kadang-kadang ia malah
berpikir bahwa anaknya itulah yang mendatangkan kesialan, akan tetapi dengan ngeri ia cepat
Pedang Naga Kemala > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com 4
mengusir pikiran itu.
“Dan Ciu Wan-gwe akan datang, atau suruhan orang-orangnya, datang menjemputmu hari
ini. Aku sudah janjikan hal itu, dua hari yang lalu.”
Chin Hwa semakin terkejut, akan tetapi sebelum ia mampu menjawab, terdengar suara
orang di luar rumah. Daun pintu terketuk dan masuklah dua orang sambil tersenyum
menyeringai. Mereka adalah dua orang laki-laki yang usianya sekitar empatpuluhan, yang
seorang gendut dan seorang lagi tinggi tegap. Si tinggi tegap ini membawa sebuah bungkusan
besar yang diletakkannya di atas meja.
“Selamat siang, Siauw Kauw-su ! Aha, kulihat engkau sedang menikmati madat.
Hemmm, alangkah sedap baunya !” Si gendut berkata sambil menyedot-nyedot hawa yang
pengap dalam ruangan itu, dan matanya yang sipit melirik ke arah nyonya rumah yang
memandang dengan muka pucat.
Siau Teng sudah biasa disebut Siauw Kauw-su (Guru Silat Siauw) dan mendengar ucapan
itu, tampa menghentikan sedotannya, dia membuka mata memandang. Setelah dia menyedot
habis semua asap dari pipa, kedua matanya dipejamkan dan dia menahan napas sekuatnya, untuk
menahan asap itu selama mungkin di dalam dadanya. Baru setelah dia tidak kuat bertahan lagi,
dia menghembuskan napas perlahan-lahan dan hanya sedikit sisa asap yang keluar dari mulut dan
hidungnya. Sebagian besar sudah menempel pada dinding-dinding paru-parunya.
“Eehhhhh ............... !” Keluhnya penuh nikmat dan diapun membuka matanya lagi dan
tersenyum kepada dua orang itu. “Apakah kalian diutus oleh Ciu Wan-gwe ?” tanyanya
Si gendut itu mengangguk-angguk dan mengangkat kedua tangan di depan dada.
Mulutnya menyeringai dan matanya menjadi semakin sipit, mukanya mirip seekor babi, “Benar
............... , eh, betul, Siauw Kau-su, kami diutus Ciu Wan-gwe untuk ............ eh, menjemput toanio
...............eh, membantu nyonya besar kami.”
Siauw Teng menoleh kepada istrinya yang memandang kepadanya penuh kegelisahan dan
keraguan. Istriku, berangkatlah engkau bersama mereka ke rumah Ciu Wan-gwe dan lakukanlah
pekerjaanmu sebaik mungkin.”
“Tapi ............ tapi, Teng-ko ............ !” Istrinya membantah.
Siauw Teng mengerutkan alisnya. “Berangkatlah ! bentaknya, lalu kepada dua orang itu
dia berkata, “Silahkan, bawa dan antar istriku kepada keluarga Ciu.” Dan diapun sudah mulai
menghisap madat lagi.
“Teng-ko ............ aku tidak bisa meninggalkan anak kita Lian Hong ............ !” Cin Hwa
mencoba untuk membantah.
“Aihh, toa-nio, kenapa membantah perintah suamimu yang sudah berhutang budi kepada
Ciu Wan-gwe. Jangan khawatir, keluarga Ciu akan mengatur semuanya, engkau tidak perlu
membawa pakaian, di sana sudah tersedia pakaian untukmu, toa-nio ......” Si gendut membujuk
Pedang Naga Kemala > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com 5
dengan sikap halus.
“Tidak, aku tidak mau !” Cin Hwa berseru.
“Toa-nio, tidak baik bersikap begitu.” Kini si tinggi besar melangkah maju dengan sikap
mengancam.
“Tidak ............ , bagaimana nanti anakku ? Kami tidak mempunyai beras, aku harus
mencarikan dulu untuk ditinggalkan, untuk makanan anakku ............”
“Ha – ha – ha !” Si tinggi besar tertawa dan membuka buntalan yang dibawanya. “lihat,
semua telah tersedia !” Dan benar saja, buntalan itu berisi bahan makanan, lebih dari cukup untuk
dimakan suami istri dan anaknya selama satu minggu. Kiranya mereka ini sudah mempersiapkan
segalanya.
“Tapi ………… anakku ………… Lian Hong ………… !”
Chin Hua masih berteriak, “Suamiku, benarkah engkau begini tega …………… ?”
Ia hendak lari menghampiri suaminya, akan tetapi lengan kanannya ditangkap oleh si laki-laki
tinggi besar dan nyonya itu terkejut. Jari-jari tangan si tinggi besar itu mencengkeram kuat sekali
sehingga ia meringis kesakitan dan tidak mampu meronta lagi.
“Ibu ............ ibu ............ !”tiba-tiba dari dalam muncul seorang anak perempuan berusia
lima tahun. Anak itu terbelalak heran dan takut melihat kegaduhan itu, apa lagi melihat ibunya
demikian pucat mukanya dan nampak bingung. “Ibu, ada apakah dan ………… siapakah kedua
paman ini ?” Anak itu adalah Siauw Lian Hong, anak tunggal keluarga itu.
“Lian Hong ………… mintalah kepada ayahmu agar aku tidak perlu ikut kedua orang
paman ini …………”
“Ibu ………… ada apakah ………… ?”

Hemm, anak baik, jangan ikut-ikut, nanti ayahmu marah kepadamu.” Si tinggi besar
berkata. Suaranya halus, akan tetapi kedua matanya yang besar melotot, membuat anak itu
terkejut dan mundur ketakutan, lalu ia lari menghampiri ayahnya.
“Ayah …………, ayah …………, ibuku itu …………”
Anak itu mengguncang-guncang lutut kiri ayahnya.
Akan tetapi Siauw Teng tidak memperdulikan anaknya, atau mungkin juga tidak
mendengarnya, masih enak-enakan membiarkan dirinya melayang-layang bersama asap madat.
Sementara itu, dua orang utusan Ciu Wan-gwe sudah tidak sabar lagi. Si tinggi besar memegang
lengan nyonya itu dan menariknya, sedangkan si gendut sambil senyum-senyum mendorong
kedua pundaknya dari belakang. Nyonya itu menoleh kea rah suaminya dengan air mata
berlinang, mengepal kedua tangannya.
“Teng-ko …………… ! Engkau suami pengecut, ayah yang berhati kejam ! Laki-laki tak
bertanggung jawab !” Ia sendiri merasa heran mendengar suaranya yang mencaci maki
suaminya. Selama menjadi istri Siauw Teng, baru sekarang ia berani memaki karena hatinya
Pedang Naga Kemala > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com 6
diliputi kegelisahan dan kemarahan. Akan tetapi dua orang utusan itu sudah menariknya keluar
dari rumah. Si kecil menjadi bingung dan ketakutan melihat ibunya diseret dua orang itu.
“Ayah ………… ! Ayaaah ………… !” Ia merengek.
“Diam kau ! Duduk !” Tiba-tiba Siauw Teng membentak tampa membuka matanya dan
anak itu terkejut, lalu terduduk di atas lantai, mengangkat muka memandang kepada ayahnya
dengan mata terbelalak berlinang air mata.
Tidak lama kemudian Siauw Teng berhenti menghisap madat. Ketika dia membuka mata
dan melihat putrinya yang kecil masih duduk diatas lantai mengangkat muka, memandang
kepadanya dengan sepasang matanya yang dibuka lebar-lebar tampa berkedip, dia terkejut dan
baru teringat betapa tadi dia membentak putrinya dan anak itu masih duduk sampai saat itu.
Diapun cepat turun dari atas balai-balai dan merasa menyesal atas sikapnya terhadap putrinya
tadi. Hatinya gembira sekali rasanya, hal yang selalu dirasakannya setelah dia menghisap madat
sepuasnya. Pikiran menjadi tenang dan ringan, tubuh rasanya seperti melayang di udara, segala
sesuatu yang dilihatnya nampak indah, cerah berseri-seri, dan telinganya juga mendengar bunyibunyi
yang menjadi merdu dan indah. Dunia di sekelilingnya nampak indah bukan main setelah
badannya puas menerima racun madat. Tidak ada sedikitpun keresahan mengganggu pikirannya
yang menjadi kosong dan bebas ! Diangkatnya tubuh anaknya tinggi-tinggi dengan kedua
tangannya yang menyangga di bawah ketiak anak itu.
“Ha-ha-ha, Lian Hong, engkau menangis ? Ihh, kenapa anakku begini cengeng ? Hapus
air matamu dan senyumlah. Tidak ada apa-apa yang patut ditangisi di dunia ini, anakku !” Dan
diapun menurunkan tubuh anaknya, diciumnya pipi anak itu dan dihapusnya air matanya yang
tadi berlinang dan kini jatuh menjadi dua butir mutiara diatas kedua pipinya.
Pandang mata gelisah dan duka seketika lenyap dari mata anak itu yang merangkul leher
ayahnya.
“Ayah, ibu tadi dibawa ke mana ?”
Siauw Teng membawa anaknya duduk di atas balai-balai, tersenyum membelai rambut
anaknya yang dibagi menjadi dua sanggul kecil di kanan kiri kepalanya. “Lian Hong, jangan
khawatir. Ibumu hanya pergi bekerja membantu kesibukan keluarga Ciu yang akan menikahkan
putrinya. Akan ada pesta besar di sana dan nanti kita datang ke pesta itu. Wah, ramai sekali,
selain makanan yang enak-enak juga kita akan menonton pertunjukan tari-tarian.”
“Aku ikut, ayah !” Anak itu menjadi gembira kini, tidak khawatir lagi setelah melihat
ayahnya bersikap biasa. Hatinya muak dan tidak suka mencium bau merangsang dan aneh dari
tubuh dan mulut ayahnya, bau madat, akan tetapi ia tidak berani menegur karena anak ini sudah
cukup tahu bahwa kesukaan ayahnya adalah menghisap madat, kesukaan yang seringkali ia lihat
menjadi sebab pertengkaran antara ayah dan ibunya.
“Tentu saja engkau ikut ! Aku, ibumu dan engkau. Kita akan mengenakan pakaianpakaian
baru dan ............”
Pedang Naga Kemala > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com 7
“Mana pakaian barunya, ayah ?” Anaknya memotong.
Siauw Teng teringat, lalu merangkul anaknya sambil tertawa. “Jangan khawatir, Ciu
Wan-gwe yang baik hati akan memberi kepada kita.” Diapun mencium lagi putrinya dan sekali
ini Lian Hong tidak dapat menahan rasa tidak sukanya akan bau madat itu.
“Ayah menghisap madat lagi,” pancingnya.
“Heh-heh, benar, dan ayah gembira sekali.”
“Baunya tidak enak !”
Ayahnya tertawa. “Tentu saja tidak enak bagimu yang biasa, akan tetapi enak sekali
bagiku. Soalnya hanya kebiasaan, nak, kebiasaan ............”
“Biarkan aku mencobanya, ayah, mencoba menghisap madat.” Anak ini tahu benar
bahwa ia dilarang keras meniru ayahnya, baik oleh ayahnya maupun oleh ibunya. Kini ia
sengaja memancing untuk menyatakan rasa tidak sukanya melihat ayahnya menghisap madat.
“Kau ? Ah, tidak boleh ! Sama sekali tidak boleh, Lian Hong. Memegangpun tidak
boleh, apa lagi menghisap !” Siauw Teng berkata keras.
“Akan tetapi mengapa ayah boleh dan aku tidak ?” Anak itu mendesak dengan suara
mengandung penuh teguran dan penasaran.
Tampa disadarinya, Siauw Teng merasa betapa perasaan hatinya tertusuk. Dia bukan
seorang bodoh. Dan dia dahulu terkenal sebagai seorang gagah yang selalu menentang kejahatan
dan ketidakadilan. Kini menghadapi pertanyaan-pertanyaan putrinya yang baru berusia lima
tahun, tiba-tiba saja ia melihat betapa pada hakekatnya dia tahu akan berbahaya dan buruknya
menghisap madat sehingga walaupun dia sendiri menikmatinya dan ketagihan, namun dengan
amat keras dia melarang anaknya menyentuh madat !
“Ayah sudah tua dan engkau masih kanak-kanak. Anak kecil tentu saja tidak boleh
menghisap madat.” Dia menjawab juga.
“Tapi ibu, kenapa ia tidak menghisap madat ?”
“Ibumu ? Ah, ia tidak suka.”
“Kalau aku sudah besar dan suka, apakah aku boleh menghisap madat, Ayah ?”
Siauw Teng mengepal tinju dan merasa terdesak. “Tidak ............ tidak boleh, wanita
tidak boleh menghisap madat. Sudahlah, Lian Hong, mari kita masak. Engkau bisa membantu
ayah memasak nasi, bukan ?”
Setelah puas menghisap madat, kembalilah watak baik Siauw Teng dan sehari itu dia
mengasuh putrinya dengan penuh kasih sayang. Dan malam itu, setelah Lian Hong tidur pulas,
Pedang Naga Kemala > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com 8
barulah Siauw Teng menghisap madat lagi.
Malam itu dingin sekali. Hujan turun rintik-rintik. Dalam cuaca di luar buruk seperti itu
dan hawa yang amat dingin, membuat Siauw Teng semakin keenakan menghisap madat.
Setelah puas, dia duduk termangu-mangu di atas dipan, matanya meram-melek penuh kenikmatan
dan tubuhnya kadang-kadang bergoyang-goyang. Dia merasa seperti terbang di alam yang amat
indahnya. Mulutnya tersenyum penuh kepuasan.
Tiba-tiba terdengar suara kilat menggelegar. Siauw Teng yang sedang dibuai nikmat
racun madat itu membuka mata. Tiba-tiba daun pintu rumahnya terbuka, didorong orang dari
luar. Memang dia tidak mengunci daun pintu itu dari dalam. Di dalam rumah sudah tidak ada
apa-apanya yang berharga, perlu apa dikunci ?
Api dua batang lilin di sudut ruangan itu bergoyang-goyang tertiup angin yang menyerbu
masuk ketika daun pintu terbuka. Dan bersama angin dan air hujan, masuk pulalah sesosok tubuh
dibarengi suara isak tertahan.
Siauw Teng terbelalak memandang istrinya yang masuk secara luar biasa itu. Rambut
istrinya awut-awutan, muka dan rambutnya basah oleh air hujan, pakaiannya robek-robek dan
kusut, bahkan bagian lehernya terobek sehingga nampak kulit dada bagian atas yang putih mulus.
Di ujung mulut ada bekas darah dan nampak pipinya membiru, juga mata kirinya.
Tentu saja Siauw Teng terkejut sekali. Cin Hwa ..............., apa yang telah terjadi ??”
tanyanya sambil memandang dengan mata terbelalak, terlalu kaget sehingga dia tetap duduk di
atas dipan itu.
Sepasang mata itu menjadi jalang. Sepasang mata yang kemerahan, dan air mata
bercucuran mengalir ke atas sepasang pipi yang sudah basah oleh air hujan, wanita itu
mengangkat lengannya, telunjuk kanannya ditudingkan ke arah muka suaminya.
“Engkau ............... engkau laki-laki jahanam !
Engkau ............... engkau menjual diriku ? Kautukarkan diriku, kehormatanku, dengan madat?
Engkau menjual diriku untuk dapat menghisap madat ?”
Siauw Teng terkejut sekali dan menjadi bingung. “Istriku, apa maksudmu ?”
Melihat suaminya masih bertanya, Cin Hwa menyangka dia berpura-pura sehingga
kemarahan dan kedukaannya memuncak. “Mana anakku ? Mana ............... ?”
“Ia sudah tidur di kamar ............”
Cin Hwa lari memasuki kamar. Hanya untuk melihat putrinya sajalah ia lari pulang.
Siauw Teng masih duduk terbelalak, tidak mengerti apa yang telah terjadi, tidak menduga
sesuatu sehingga kata-kata dan sikap istrinya itu amat mengejutkan hatinya.
Tiba-tiba terdengar suara berdebukan di dalam kamar seperti orang jatuh, disusul jerit
anaknya.
Pedang Naga Kemala > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com 9
“Ibuuuu …………! Ibuuuu …………!”
Siauw Teng merasa betapa bulu tungkuknya meremang dan sekali loncat dia sudah turun
dari atas dipan lalu lari menyerbu ke dalam kamar. Dia terbelalak sejenak melihat istrinya
terlentang di atas lantai berlumuran darah. Sebatang golok menancap di dada istrinya, dan Lian
Hong menangis ketakutan di atas tempat tidur kayu. Anak itu terbangun ketika dirangkul dan
diciumi ibunya yang menangis, kemudian menjadi ketakutan melihat ibunya menusuk dada
sendiri dengan golok.
“Chin Hwa …………!!” Siauw Teng menjerit dan menubruk. Sepintas lalu dia melihat
dan tahulah dia bahwa golok itu terlalu dalam menusuk dada istrinya sehingga dia tidak berani
mencabutnya. Golok itu goloknya, dan kini senjatanya itu, yang setia dalam menghadapi para
penjahat, kini menancap di dada istrinya sendiri.
“Istriku ! Mengapa kaulakukan ini ? Mengapa ?” Dia memangku tubuh itu,
mengguncangnya dan wanita itu membuka matanya yang masih berlinang air mata.
Mereka memperkosaku ............... Ciu Wan-gwe ............ kemudian pembantupembantunya
...............”
“Apa …………!!!” teriak Siauw Teng mengejutkan Cin Hwa dan juga putrinya.
Barulah nyonya ini percaya bahwa agaknya suaminya memang tidak tahu akan hal itu.
Akan tetapi ia sudah lemah dan kemarahan yang sejak tadi memenuhi batinnya kini
menguasainya lagi.
“Kau ............ kau telah menjual diriku dengan madat itu ............... demikian kata mereka
............ aku ............ aku berhasil melarikan diri tapi ............ tapi apa artinya hidup bagiku yang
telah ternoda ............ kau ............ kau ............ laki-laki tak bertanggung ja ............ wab ............”
tubuh itu terkulai, kehilangan tenaga dan nyawa.
“Cin Hwa ............ !” Siauw Teng mendekap tubuh istrinya. Setelah dia yakin bahwa
istrinya sudah tewas, tiba-tiba dia menjadi beringas. Kedua matanya merah melotot, basah
dengan air mata. Dicabutnya golok yang menancap di dada istrinya dan hanya sedikit darah yang
keluar dari tubuh yang baru saja ditinggalkan nyawanya itu.
“Jahanam Ciu Lok Tai ! Kau ………… kau menipuku ………… !” Dan dengan
sigapnya Siauw Teng meloncat keluar dari kamar, terus berlarian keluar menerobos kegelapan
malam dan hujan. Dia tidak mendengar lagi suara putrinya yang berteriak-teriak ketakutan
memanggil-manggil dia dan istrinya.
Malam itu gelap dan sunyi. Semua penghuni dusun Tung-kang di luar kota Kanton sudah
menutup semua daun pintu dan jendela karena semenjak sore hujan turun terus, membuat hawa
menjadi amat dingin dan cuaca amat gelap di luar rumah. Hanya beberapa orang penjaja
makanan yang masih nampak berjalan memikul barang dagangannya di tepi jalan raya
meneriakkan dagangannya untuk menarik perhatian para penghuni rumah-rumah tertutup itu.
Dan makanan yang panas-panas banyak dibutuhkan orang yang membeli.
Pedang Naga Kemala > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com 10
Akan tetapi, di malam gelap itu bayangan Siauw Teng berkelebat ketika dia berlari
menuju ke rumah gedung milik hartawan Ciu. Ciu wan-gwe adalah orang yang terkaya di dusun
Tung-kang, memiliki dua buah toko di Kanton, juga di Kanton dia memiliki rumah besar.
Rumah yang berada di Tun-kang adalah rumah istri mudanya yang nomor dua. Rumah besar itu
nampak sudah dikapur bersih karena memang keluarga itu mengadakan persiapan pernikahan
putri dari Ciu Lok Tai dan istri mudanya.
Dengan golok yang masih hangat oleh darah istrinya di tangan, Siauw Teng berlari
menuju ke gedung itu dan ketika tiba di pintu gerbang itu terbuka secara kasar. Akan tetapi tibatiba
nampak lima orang berlompatan dan mereka itu ternyata pengawal-pengawal yang
memegang senjata seperti tombak dan golok, agaknya mereka sudah siap menanti di tempat itu.
Kemudian muncullah si gendut yang tadi pagi datang menjemput Cin Hwa, ya’tu seorang di
antara dua utusan Cin Wan-gwe. Orang gendut ini muncul dengan memakai payung hitam untuk
melindungi dirinya dari hujan rintik-rintik. Penerangan yang terdapat di pintu gerbang itu, dua
buah lentera minyak, cukup untuk membuat wajah seperti babi itu nampak jelas dan wajah itu
menyeringai ketika pemiliknya menghadapi Siauw Teng dengan sikap congkak.
“Siauw Kauw-su, ada keperluan apakah malam-malam begini engkau datang ke sini ?”
“Aku mau bertemu dan bicara dengan jahanam she Ciu ! Panggil dia keluar atau aku
akan menyerbu ke dalam dan menyeretnya keluar !” Bentak Siauw Teng.
“Hemm, pemadatan, engkau sungguh tak tahu diri !” Si gendut mengejek dengan sikap
merendahkan sekali.
“Apa kau bilang ?” Siauw Teng melangkah maju, akan tetapi lima orang pengawal sudah
menghadang di depannya. Dia berhenti, tidak ingin memusuhi orang-orang lain kecuali mereka
yang telah menghina istrinya.
“Sebenarnya engkau mau apakah, orang she Siauw ? Aku adalah orang yang diberi
kuasa oleh Ciu Wan-gwe untuk menghadapimu. Nah, katakan saja kepadaku apa keperluanmu?”
kata pula si gendut.
“Lok-toako, perlu apa banyak cakap dengan pemadatan ini ? Hajar saja !” Tiba-tiba
terdengar bentakan orang dari sebelah dalam dan muncullah seorang laki-laki tinggi besar dari
samping bangunan. Kiranya dia adalah kawan si gendut yang pagi tadi ikut menjemput Cin Hwa.
Siauw Teng memandang kepada dua orang ini. Istrinya berpesan sebelum mati bahwa
yang memperkosanya adalah Ciu Wan-gwe dan pembantu-pembantunya. Besar sekali
kemungkinannya kedua orang inilah, yang pagi tadi menjemput Cin Hwa sebagai utusan Cin
Wan-gwe, yang ikut memperkosa istrinya.
“Hemm, akuilah secara laki-laki kalau kalian bukan pengecut-pengecut hina. Apakah
Ciu Wan-gwe dan kalian berdua yang telah memperkosa istriku tadi ?” Siauw Teng menahan
gejolak hatinya yang mendorongnya untuk segera menyerbu dengan goloknya dan mengamuk.
Akan tetapi dia ingin yakin lebih dahulu sebelum turun tangan.
Pedang Naga Kemala > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com 11
“Siauw Kauw-su, istrimu hanya membayar hutang-hutangmu. Bukankah engkau sudah
menerima banyak sekali madat dan barang-barang lain dari Ciu Wan-gwe dan engkau sudah
berjanji untuk menyerahkan istrimu untuk bekerja pada Ciu Wan-gwe selama satu minggu ?
Engkau berjanji bahwa istrimu akan melakukan semua pekerjaan yang diserahkan kepadanya?
Apakah engkau hendak menjilat ludah sendiri dan mengingkari janji ? Akan tetapi baru sehari,
istrimu sudah melarikan diri. Ini saja sebenarnya sudah tidak pantas dan masih baik Ciu Wangwe
tidak menuntutmu. Pulanglah dan pikirkan baik-baik.”
Tentu saja hati Siauw Teng menjadi semakin panas. “Akan tetapi istriku dibutuhkan
untuk membantu dengan jahitan-jahitan. Kenapa diperkosa ?” bentaknya.
Kini si tinggi besar yang sudah tidak sabar menjawab, “Kalau ia menyerahkan diri
dengan baik-baik, tentu kami tidak akan memperkosanya !”
Si gendut memegang lengan kawannya yang kelepasan bicara, akan tetapi sudah terlanjur.
Wajah Siauw Teng menjadi pucat saking marahnya.
“Keparat ! Jadi benar kalian berdua dan hartawan Ciu yang memperkosa istriku ?”
“Hanya membayar hutang,” kata si gendut, merasa sudah kepalang karena kawannya
sudah mengaku tadi. “Dan kami hanya memperoleh bagian saja dari Ciu Wan-gwe sebagai
imbalan jasa. Istrimu seperti kuda binal, atau kucing galak ............ hemm, tapi cukup
menyenangkan ...............” Si gendut mengelus lehernya dan ternyata lehernya berdarah, ada
guratan bekas cakaran kuku disitu. Agaknya ketika dia memperkosa Cin Hwa, wanita itu
melawan dan berhasil mencakar lehernya.
Mendengar ucapan itu, Siauw Teng tidak mampu menahan kesabarannya lebih lama lagi.
Bagaikan seekor harimau yang haus darah, dia mengeluarkan suara menggereng dan tubuhnya
yang tidak berbaju menerjang ke depan, goloknya membentuk sinar terang ketika meluncur
dalam serangannya.
“Mampuslah kalian anjing-anjing busuk !”
Akan tetapi, lima orang pengawal sudah menggerakkan senjata sehingga golok di tangan
Siauw Teng tertangkis, bahkan ada tombak dan golok yang menyerangnya dari kanan kiri dan
belakang. Ternyata, biarpun sejak lima tahun menjadi pemadatan, Siauw Teng masih menguasai
ilmu silatnya dengan baik. Dia berloncatan kesana-sini, goloknya membentuk gulungan sinar
dan terdengarlah suara berdenting bertubi-tubi ketika dia berhasil menangkis semua senjata
lawan. Kemudian dia menyerbu lagi dan begitu cepatnya golok itu berkelebat sehingga dua
orang pengawal roboh sambil mengaduh kesakitan.
“Eh, kiranya macan pemadatan ompong ini masih bisa mencakar juga !” kata si tinggi
besar dan diapun menerjang maju membantu para pengawal yang tinggal tiga orang itu. Si tinggi
besar ini mempergunakan sebatang pedang dan ternyata sambaran pedangnya cepat sekali.
“Tranggg ………… ! Siauw Teng terkejut. Hampir saja dia menjadi mangsa pedang itu
Pedang Naga Kemala > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com 12
dan pada saat terakhir dia dapat menangkis, akan tetapi dia merasa betapa lengannya kesemutan.
“Pemadatan busuk !” Tiba-tiba si gendut memaki dan diapun menyerang maju dengan
………… payungnya ! Kiranya si gendut ini lihai sekali dan senjatanya yang aneh itu
merupakan pedang yang tersembunyi di dalam paying. Tahulah Siauw Teng bahwa dua orang
utusan Ciu Wan-gwe itu adalah orang-orang yang pandai ilmu silat. Dia tidak gentar dan
memutar goloknya dengan cepat, selalu mengarahkan senjatanya dengan maksud membunuh
dua orang yang telah mencemarkan kehormatan istrinya ini. Memang hanya itulah tujuannya.
Membalaskan penghinaan terhadap istrinya, kalau mungkin membunuh tiga orang itu dan tidak
melibatkan orang lain.
Akan tetapi baru sekarang Siauw Teng sadar bahwa tubuhnya sudah dirusak oleh racun
madat. Mungkin dia masih menguasai ilmu silatnya dengan baik, akan tetapi tenaganya menurun
dengan hebatnya, dan terutama sekali pernapasannya amat mengganggunya. Paru-parunya sudah
terlalu kotor oleh racun madat sehingga belum lewat limapuluh jurus dia dikeroyok napasnya
sudah empas-empis hampir putus dan dia merasa betapa dadanya sakit kalau menarik napas.
Dalam keadaan seperti itu tentu saja tenaganya makin berkurang, pandang matanya berkunang
dan gerakannya menjadi lambat dan kacau.
“Crattt !” Ujung pedang di tangan si tinggi besar membabat siku kanannya dan seketika
lengan kanannya menjadi lumpuh. Urat di sikunya putus dan berbareng dengan muncratnya
darah, goloknyapun terlepas dari pegangan tangannya. Dia masih berusaha mengelak, akan tetapi
kurang cepat dan bertubi-tubi tubuhnya menerima hantaman-hantaman senjata lawan.
Lambungnya tertusuk, punggungnya dihantam gagang payung dengan kerasnya, kedua pahanya
juga luka-luka oleh sabetan pedang dan diapun terguling roboh mandi darah.
“Cukup, jangan bunuh ! Kita tidak perlu mendatangkan keributan !” Teriak si gendut
mencegah teman-temannya melanjutkan pembantaian mereka terhadap Siauw Teng.
Bekas guru silat ini merangkak, mencoba untuk melawan, akan tetapi baru sekali meloncat saja
sudah jatu lagi. Dia mengangkat muka dan dengan muka beringas, penuh darah dan peluh, dia
memandang kedua orang itu.
“Siapakah kalian berdua ?” katanya dengan suara penuh kebencian.
Si tinggi besar cepat menjawab, tampa memperdulikan isyarat temannya yang hendak
mencegahnya. “Takut apa mengaku nama. Engkau pemadatan mau bisa berbuat apakah
terhadap kami ? Dengar baik-baik. Aku bernama Gan Ki Bin dan temanku ini adalah Lok Hun,
Nah mau apa lagi kau ?”
Siauw Teng merasa matanya berkunang dan dia mencatat dua nama itu dalam benaknya,
lalu dengan sempoyongan dia pergi dari tempat itu, diikuti suara ketawa mereka.
Tertatih-tatih dia berjalan setengah lari, lengan kanannya lumpuh, tangan kirinya mendekap luka
di lambungnya. Di sepanjang jalan yang dilalunya, ada bintik-bintik darah yang menetes keluar
dari tubuhnya yang penuh luka.
Suara tangis putrinya masih terdengar di dalam rumahnya ketika dia tiba di situ.
Akan tetapi suara tangis itu terlalu lirih untuk dapat menarik perhatian para tetangga.
Pedang Naga Kemala > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com 13
Malam gelap dan hujan, maka suara tangis kanak-kanak tentu saja tidak begitu dihiraukan oleh
para tetangga yang menganggap anak itu sedang rewel atau tidak enak badan.
“Ayah …………… !” Lian Hong berteriak ketika melihat ayahnya masuk terhuyunghuyung.
Matanya terbelalak dan ia menjadi semakin ketakutan melihat keadaan ayahmya, saking
takut dan ngerinya. Lian Hong hanya melihat saya ketika ayahnya terhuyung-huyung memasuki
kamar dimana ibunya menggeletak pucat.
“Cin Hwa ............... istriku, aku berdosa padamu ...............” Siauw Teng meratap ketika
dia berdiri dan menundukkan muka memandang tubuh istrinya. Tak dapat ditahannya lagi air
matanya bercucuran dan jatuh menimpa leher istrinya yang berlepotan darah yang sudah mulai
mengering kehitaman. Lalu dia mengepal tinju dan mukanya menjadi beringas ketika dia
berteriak.
“Ciu Lok Tai, Gan KI Bun, Lok Hun ! Aku bersumpah untuk membalas penghinaan
terhadap istriku, membalas kematian istriku kepada kalian bertiga !” Kemudian dengan beringas
dia menoleh, melihat pipa tembakau madat dan bungkusan madatnya.
“Keparat ! Inilah yang menjadi gara-gara ! Madat jahanam, perusak hidupku,
pembunuh istriku !” Dengan kemarahan meluap dia menggunakan tangan kirinya untuk
membanting pipa tembakau madatnya sampai pecah berantakan. Dia masih belum puas, dan
dibakarnya pecahan bambu pipa itu pada api lilin, lalu dibakarnya pula semua sisa madat. Api
berkobar dalam kamar itu, Akan tetapi, Siauw Teng kehabisan tenaga dan tiba-tiba pandang
matanya menjadi gelap dan diapun roboh terpelanting di dekat istrinya. Bambu pipa yang tadi
dipegangnya dan masih berkobar, mengeluarkan bau yang memuakkan karena madatnya juga
terbakar, terlepas dari tangannya dan jatuh menimpa dipan bambu yang tentu saja segera
terbakar dengan amat mudahnya.
“Ayaaahhh ...............! Ibuuuu ...............!” Lian Hong berteriak-teriak ketakutan. Akan
tetapi ayah dan ibunya rebah saling tindih di atas lantai dan sekarang api sudah berkobar besar
membakar dipan dan segala yang berada di kamar itu. Lian Hong terbelalak. Bingung
memanggil-manggil ayah ibunya. Api menjalar cepat sekali dan rumah itupun mulai terbakar.
Setelah rumah keluarga Siauw itu terbakar cukup besar, barulah tetangga terdekat
mengetahuinya. Dia segera lari keluar dan berteriak-teriak. “Kebakaran ! Kebakaran !”
Dusun itu menjadi gempar. Semua orang berteriak-teriak dan berlarian menuju ke rumah
keluarga Siauw yang terbakar. Api sudah menjadi begitu besarnya sehingga tidak ada yang
berani masuk untuk memeriksa apakah di dalam rumah masih ada orangnya. Mereka hanya
menggunakan air untuk disiramkan ke arah api, akan tetapi apa artinya air berember-ember itu
terhadap api yang sudah membesar ? Celakanya, hujan gerimis sudah berhenti sehingga tidak
membantu.
Tiba-tiba terdengar suara melengking dari dalam rumah terbakar itu, “Ayaaaahhh
……………! Ibuuuu ……………!” Itulah suara Siauw Lian Hong. Anak itu tadi jatuh pingsan
karena bau madat dan ketika ia siuman kembali, api telah mengurungnya dan ia tidak dapat lari
ke manapun juga. Ia ketakutan dan melihat tubuh ayah ibunya mulai dimakan api, iapun
Pedang Naga Kemala > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com 14
menjerit sekuat tenaga sehingga terdengar oleh semua orang yang berada di luar rumah terbakar
itu. Mendengar jerit ini, semua orang saling pandang dengan muka pucat dan mata terbelalak.
“Celaka ! Si kecil itu agaknya berada di dalam rumah sendirian !”
“Tolong anak itu …………!”
“Harus didobrak pintunya !”
“Api sudah membakar pintunya !”
“Api terlalu besar ! Siapa berani masuk untuk menolongnya ?”
“Tidak mungkin ……………!”
Tiba-tiba semua suara terhenti dan semua mata melongo memandang ke arah pintu.
Terdengar suara keras dan pintu depan itupun ambrol, dan tiba-tiba saja sesosok bayangan
meluncur masuk dengan cepat sekali. Akan tetapi banyak orang mengenal bayangan itu,
setidaknya dari pakaian, topi dan kipas butut di tangan orang itu karena sinar api memberi
penerangan yang cukup.
“Dia si gila di pasar itu !”
“Kakek pembunuh lalat dengan kipasnya !”
Semua orang terheran-heran. Baru kurang lebih sepekan pasar dusun itu kedatangan
seorang kakek aneh. Seorang kakek kurus yang pakaiannya tambal-tambalan, topinya
meruncing ke atas dan tangannya tiada hentinya menggerakkan sebuah kipasnya itu. Anak-anak
suka menggodanya karena dia suka tersenyum-senyum seorang diri seperti orang yang geli
mentertawakan sesuatu. Dan kini kakek yang dianggap gila itu, secara luar biasa sekali, telah
meloncat ke dalam sebuah rumah yang sedang terbakar hebat setelah terdengar jeritan kanakkanak
dari dalam rumah.
Semua orang menahan napas, memandang ke arah pintu dengan penuh perhatian. Tibatiba
dinding samping rumah itu ambrol dan kakek itu meloncat ke luar sambil memondong
seorang anak perempuan. Semua orang berteriak, lega, girang dan juga khawatir karena ada api
berkobar mengikuti kakek itu. Kiranya ujung jubahnya yang terbakar. Akan tetapi, kakek itu
berjingkrak dan kipasnya mengebut-ngebut. Padamlah api yang merupakan ekornya tadi.
Semua orang bersorak, bertepuk dan tertawa girang karena merasa lucu dan lega. Akan tetapi
tiba-tiba kakek itu meloncat dan lenyap dalam kegelapan malam !
Kini semua orang berusaha memadamkan api. Percuma. Rumah itu terbakar habis dan
ketika para penduduk memeriksa puing kebakaran, mereka terkejut sekali menemukan mayat
guru silat Siauw dan istrinya yang sudah gosong sehingga sukar untuk dikenal lagi.
Akan tetapi mereka dapat menduga bahwa tentulah dua mayat itu adalah mayat Siauw Teng dan
istrinya. Siapa lagi kalau bukan mereka yang mati terbakar dalam rumah mereka ?
Pedang Naga Kemala > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com 15
Kembali gemparlah dusun itu. Semua orang bertanya-tanya ke mana perginya kakek
yang menolong Siauw Lian Hong. Dan mengapa pula rumah itu sampai terbakar habis, dan
lebih aneh lagi, bagaimana suami istri Siauw itu sampai mati terbakar sedangkan anaknya masih
sempat berteriak.-
Timbul bermacam dugaan. Akan tetapi yang dianggap paling tepat oleh para penduduk
dusun itu adalah perbuatan bunuh diri suami istri itu. Tentu mereka bunuh diri dengan membakar
rumah sendiri, demikian celoteh mereka. Dugaan ini bukan tak berdasar.
Mereka semua sudah tahu belaka bahwa bekas guru silat Siauw Teng adalah seorang pemadat
yang sudah mendarah daging, dan mereka seringkali melihat percekcokan terjadi antara suami
istri itu. Mereka tahu pula betapa suami istri itu sudah jatuh miskin, semua barang sudah dijual,
bahkan meja kursipun dijual untuk ditukar dengan madat. Maka, kalu kini rumahnya terbakar,
apa lagi kalau bukan bunuh diri karena putus harapan atau karena pertengkaran yang menghebat
antara mereka ?
Sebetulnya apakah yang telah terjadi di dalam rumah kebakaran itu setelah Lian Hong
menjerit sekuatnya dan kakek yang membawa kipas itu meluncur masuk ke dalam rumah yang
sedang berkobar itu ? Lian Hong yang ketakutan setengah mati itu tiba-tiba melihat seorang
kakek tua berada di dalam ruangan yang terbakar itu, dan kakek itu tahu-tahu sudah menyambar
tubuhnya ke dalam pondongan. Kemudian kakek itu memandang kepada jenazah yang sedang
terbakar.
“Itu ayah ibumu ?” tanya kakek itu sambil menuding ke arah dua jenazah dengan
kipasnya. Lian Hong hanya mengangguk sambil menangis.
Kakek itu lalu menggerakkan kipasnya ke kiri dan daun pintu kamar yang sedang
terbakar itupun roboh. Ada kayu dari atas runtuh pula ke bawah menimpa mereka, akan tetapi
dengan kebutan kipasnya, kayu yang terbakar itu tertangkis dan terpental. Kemudian kakek itu
meloncat melalui pintu yang roboh, mencari jalan keluar dan melihat betapa dinding disebelah
barat masih belum terbakar, kakek itu lalu menerjang dinding dengan tendangan kakinya.
Dinding itu jebol dan diapun membawa Lian Hong meloncat keluar, tidak tahu bahwa ujung
jubah di belakangnya ikut terbakar sehingga tergopoh-gopoh dia memadamkannya dengan
kebutan kipasnya setelah berada di luar. Melihat betapa semua orang bersorak dan
memperhatikannya, kakek itu lalu meloncat jauh ke dalam kegelapan malam.
Lian Hong memejamkan kedua matanya dengan ngeri. Ia merasa betapa angin bertiup
keras sekali dan betapa tubuhnya meluncur ke depan dengan amat cepatnya. Bayangan-bayangan
pohon menghitam seperti raksasa mengancam itu nampak berlari-lari cepat di kanan kirinya
ketika kakek itu membawanya lari di jalan besar yang diapit-apit jajaran pohon-pohon di tempat
yang gelap dan sunyi itu. Ia merangkul leher kakek itu, takut terlepas dari pondongan dan jatuh.
Akhirnya, saking lelahnya, lelah lahir bathin tertindih perasaan ngeri, takut, duka yang amat
menghebat, Lian Hong tertidur pulas dalam pondongan kakek itu, tidak tahu sama sekali bahwa
ia dilarikan sampai jauh sekali dari dusun Tun-kang, bahkan kakek itu baru berhenti setelah tiba
di luar daerah Kan-ton, berhenti di bawah sebatang pohon besar di lereng bukit, di tepi sebuah
sungai.
Kakek itu menggunakan sehelai kain bersih yang dicelup air sungai untuk membersihkan
Pedang Naga Kemala > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com 16
muka, leher, tangan dan kakinya, kemudian diapun mengusap muka Lian Hong yang kotor
karena angus dan debu itu dengan kain basah. Lian Hong sadar dan membuka matanya. Begitu
membuka mata, anak perempuan itu menjerit. Kakek itu merangkul dan mendekap anak yang
hendak lari itu, akan tetapi Lian Hong meronta-ronta dan setelah kakek itu mengusap belakang
lehernya, barulah anak itu diam tak bergerak, akan tetapi memandang dengan sepasang mata
terbelalak kepada kakek itu yang masih memangkunya.
“Anak baik, siapakah namamu ……………?” kakek itu bertanya sambil tersenyum.
Wajah kakek itu memang aneh. Wajah yang kurus, dengan tulang pipi menonjol dan matanya
sipit panjang. Kumis dan jenggotnya sudah putih, tak terpelihara, akan tetapi baik rambutnya,
kumis, jenggot dan kulit mukanya, bersih sekali. Dan matanya yang sipit itu mengeluarkan
sinar aneh dan kadang-kadang mencorong. Pakaiannya tambal-tambalan dan kusut, akan tetapi
juga bersih karena di dalam buntalan yang digendongnya terdapat beberapa stel pakaian
pengganti dan dia setiap hari berganti pakaian.
Lian Hong menggerakkan mulutnya. Bibirnya berkemak-kemik tak bersuara dan
sepasang mata yang lebar itu memandang wajah si kakek tampa kedip.
“Apa kau bilang, nak ?” kakek itu mendesak sambil tersenyum memberanikan.
“Ciu Lok Tai, Gan Ki Bin, Lok Hun ...............!
Ciu Lok Tai, Gan Ki Bin, Lok Hun ...............!” hanya tiga nama itulah yang berulangkali keluar
dari mulut anak perempuan itu, dan tiba-tiba pandang mata anak itu berobah penuh kebencian !
Mendengar dan melihat ini, kakek itu terkejut.
“Siancai ..............., batinmu tertekan hebat, nak.”
Bisiknya dan jari-jari tangannya meraba tengkuk Lian Hong. Anak itu memejamkan matanya
dan pulas lagi, pulas oleh rabaan tangan yang melakukan penekanan pada urat sjarafnya.
Setelah anak itu pulas, kakek berkipas itu lalu merebahkan Lian Hong dan dengan amat teliti dia
mengurut beberapa bagian di kepala anak itu. Setelah selesai diapun berkata halus,
“Tidurlah, nak. Tidurlah dengan tenang. Engkau sungguh patut dikasihani ...............”
Dan kakek itu sendiripun lalu duduk bersila di dekat Lian Hong, memejamkan mata, entah tidur
entah tidak, akan tetapi napasnya panjang dan halus seperti orang tidur, sedikitpun tidak
bergerak.
Lebih dari tiga jam mereka tidak bergerak.
Matahari telah mulai menerobos daun-daun pohon ketika tiba-tiba Lian Hong sadar dari
pulasnya. Ia menggeliat dan membuka mata. Mulutnya segera berseru, “Ayah ............!
Ibu ............!” Dan iapun bangkit duduk. Kakek itupun sudah membuka matanya dan
memandang penuh perhatian.
“Ayah ……………! Ibu ……………! Rumah terbakar ……………!” Kembali Lian
Hong berkata, lalu anak itu menoleh dan memandang kepada kakek itu.
Kakek itu mengangguk. “Benar, anak baik. Rumah orang tuamu kebakaran, engkau
terkurung di dalamnya dan aku mengeluarkanmu dan membawamu ke sini.”
Pedang Naga Kemala > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com 17
Anak itu seperti baru sadar. Mukanya pucat dan wajahnya terbelalak. “Ahhh ............,
Ayah ............ ibu ............ ?” Sinar matanya memandang penuh selidik kepada kakek itu menanti
jawaban yang agaknya sudah diduganya.
Kakek itu kembali mengangguk. “Ayah ibumu tewas karena kebakaran itu.”
Mata itu makin melebar. “Ayah ............ ibu ………… mati …………?”
Anak itu mewek-mewek akan tetapi tidak dapat menangis, dan sinar matanya sebentar menjadi
layu sebentar lagi seperti berapi-api. Tahulah kakek itu bahwa Lian Hong kembali terhimpit
bermacam perasaan.
“Benar, ayah ibumu telah mati dan engkau ditinggal sendiri saja di dunia ini. Engkau
seorang diri saja, ditinggal aya ibumu, tidak ada siapa-siapa lagi disampingmu !”
Tiba-tiba kakek itu berkata dengan nada menekan dan kejam. Tiba-tiba saja Lian Hong menjerit.
“Ayaaahhh ……………! Ibuuuu ……………!” Dan iapun menangis tersedu-sedu,
menelungkup di atas tanah, memanggil ayah ibunya dan tangisnya makin mengguguk.
Kakek itu tersenyum, akan tetapi dia menggunakan punggung tangannya untuk mengusap dua
butir air mata yang tiba-tiba saja berkumpul di pelupuk matanya. Dia berhasil memancing keluar
tangis anak itu, hal yang amat diperlukan karena kalau tidak, anak itu berada dalam keadaan
amat berbahaya, bisa menjadi gila atau bahkan mati. Kini rasa iba diri dalam batin anak itu yang
menang, membuat ia merasa sengsara dan menangis merupakan obat mujarab untuk menghadapi
pelbagai perasaan yang bergejolak di dalam hati. Dia hanya melihat dan biarpun anak itu
menangis terisak-isak sampai hampir sukar bernapas, dia tersenyum gembira dan membiarkan
anak itu menangis terus sepuasnya.
Akhirnya tangis Lian Hong mereda. Tinggal terisak-isak saja dan ia sudah dapat
mendengarkan ketika kakek itu bicara perlahan-lahan kepadanya.
“Anak yang baik. Manusia tidak dapat terlepas dari pada kematian, dan kematian bisa
saja datang kepada setiap orang pada suatu saat tertentu, tidak perduli orang itu sudah tua
ataukah masih muda. Ayah ibumu sudah mati, dan hal itu tidak dapat dirobah oleh siapapun di
dalam dunia ini. Setelah engkau sekarang sendirian saja di dalam dunia ini apakah engkau masih
mempunyai sanak keluarga ? Barangkali paman atau bibi ?”
Lian Hong menggeleng kepalanya. “Aku tidak punya siapa-siapa lagi di dunia ini
…………” Suaranya masih mengandung isak yang ditahannya.
“Bagus, engkau dapat menahan tangismu.” tiba-tiba kakek itu berkata sambil menyentuh
pundak anak itu. “Memang, tangis saja tidak dapat merobah keadaan. Jadi engkau benar-benar
seorang diri saja di dunia ini ? Tidak ada siapapun yang dapat kaudatangi, yang dapat
menampungmu ?”
Lian Hong memandang wajah kakek itu dan kembali menggeleng kepala.
“Akupun hidup sebatangkara seperti engkau ! Nah, kalau engkau mau ikut aku,
Pedang Naga Kemala > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com 18
bukankah berarti aku mempunyai seorang cucu dan engkau mempunyai seorang kakek ?”
Kakek itu tertawa sendiri, gembira dengan usulnya, gembira membayangkan betapa mendadak
saja dia memperoleh seorang cucu tampa mempunyai anak atau mantu !
“Kek, engkau siapakah ? Dan kenapa engkau ingin menjadi kakekku ?”
Kakek itu melongo. Anak yang masih begini kecil sudah pandai mengajukan pertanyaan
dengan sikap demikian penuh selidik seperti seorang jaksa yang hendak memeriksa pesakitan
saja ! Dan pandang matanya begitu penuh curiga. Dia menjadi kikuk sendiri dan tersenyum
masam.
“Eh, tidak kenapa-kenapa. Aku hanya merasa kasihan kepadamu. Sudah kuceritakan
bahwa secara kebetulan saja aku berada di sana ketika rumahmu terbakar. Mendengar bahwa ada
anak kecil di dalam rumahitu, aku lalu masuk dan berhasil membawamu keluar.”
“Kek, apakah engkau seorang sakti yang memiliki ilmu kepandaian silat tinggi ?”
Kembali kakek itu melongo dan merasa bulu tengkuknya meremang. Anak ini luar biasa
sekali ! “Eh, bocah aneh ! Bagaimana engkau menduga seperti itu ?” dia balas bertanya.
“Semua orang dusun sudah berkumpul di depan rumah kami yang terbakar. Andaikata
ada yang berani, tentu yang masuk menolongku seorang laki-laki muda dan kuat. Akan tetapi
tidak ada yang berani dan hanya engkau, seorang kakek tua yang dapat menolongku.
Juga engkau dapat menghindarkan semua bahaya kebakaran, engkau mendobrak dinding.
Ayahku sering bercerita tentang orang-orang sakti. Apakah engkau seorang sakti ?”
“Ha – ha – ha, kiranya engkau hanya seorang anak yang cerdik saja. Engkau cerdik dan
tidak cengeng. Bagaimana, apa engkau mau menjadi cucuku dan ikut denganku ? Kita akan
cocok sekali !”
“Jawab dulu, apakah engkau pandai ilmu silat, kek ? Kalau engkau pandai dan mau
mengajarku ilmu silat tinggi, baru aku mau ikut denganmu.”
“Kalau tidak ?”
“Kalau tidak aku tidak mau. Tidak ada yang dapat kuharap dari seorang kakek tua, juga
aku akan menjadi bebanmu saja.”
“Habis, kau mau apa ? Mana bisa kau hidup sendiri ? Dari mana engkau dapat
memperoleh makan ?”
“Aku bisa bekerja, aku bisa mengemis ...............” kata anak itu dengan tabah.
Kakek itu tertawa bergelak, hatinya senang bukan main. “Bagus ! Engkau anak baik.
Jangan khawatir, aku akan mengajarkan ilmu padamu. Setidaknya ilmu mencari makanan,
seperti ini. Lihat !” Kakek itu menutup kipas bututnya dan tiba-tiba dia menyambitkan kipas
yang tertutup itu ke atas pohon. Terdengar suara mencicit satu kali dan kipas itu jatuh lagi ke
bawah pohon bersama seekor tupai putih yang telah mati karena lehernya tertusuk ujung gagang
Pedang Naga Kemala > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com 19
kipas.
Lian Hong terbelalak girang dan iapun segera menjatuhkan dirinya berlutut di depan
kakek yang duduk bersila itu. “Aku mau menjadi cucumu, kek !”
Kakek itu merangkulnya. “Bagus sekali. Siapakah namamu, anak baik ?”
“Namaku Siauw Lian Hong, kek.”
“Lian Hong, nama yang bagus. Dan aku tidak punya nama, akan tetapi orang-orang ada
yang mengenalku sebagai Bu-beng San-kai ( Pengemis Berkipas Tampa Nama ), ha –ha !
Hong Hong, aku lebih suka menyebutmu Hong Hong, apakah kau pernah makan panggang
daging tupai ?”
“Belum, kek,” jawab Lian Hong, memandang bangkai tupai yang seperti tikus berekor
besar itu dengan ragu dan jijik.
“Nah, sekarang engkau akan merasakannya. Enak sekali ! Mari kuberi pelajaran
pertama, yaitu menguliti tupai dan memanggang dagingnya !”
Karena sikap kakek itu selalu gembira, sebentar saja Lian Hong yang masih kecil itu
dapat melupakan kedukaannya. Akan tetapi setiap kali duduk termenung seorang diri, bibirnya
komat-kamit dan kakek itu dapat menduga apa yang diucapkan bibir kecil itu karena pernah dia
mendengar cucunya mengigau di waktu tidur, “Ciu Lok Tai, Gan Ki Bin, Lok Hun...!”
Kematian Siauw Teng dan istrinya mungkin dianggap bunuh diri oleh para tetangga, dan urusan
itupun segera mereka lupakan. Akan tetapi tidak demikian bagi Tan Siucai, seorang sasterawan
miskin yang hidup berdua saja dengan putera tunggalnya di dusun Tung-kang.
Tan Siucai adalah sahabat baik mendiang Siauw Teng. Dia seorang sasterawan berusia sekitar
limapuluh tahun yang hidup menduda setelah istrinya meninggal dunia, bersama puteranya yang
berusia tujuh tahun. Sasterawan ini hidup sederhana. Penghasilannya hanyalah menuliskan
surat-surat atau tulisan-tulisan indah untuk penduduk dusun itu yang membutuhkannya.
Pekerjaannya setiap hari hanya menulis, kalau tidak ada pesanan orang tentu dia menulis,
membaca buku, itulah pekerjaannya setiap hari. Putera tunggalnya, Tan Ci Kong, sejak kecil
diajar membaca dan menulis sehingga dalam usia tujuh tahun anak itu sudah pandai menulis
indah, bahkan membaca kitab-kitab kuno.
Terdapat kecocokan antara dia dan mendiang Siauw Teng. Sasterawan ini menghargai
kegagahan dan kejujuran Siauw Teng, sebaliknya bekas guru silat itupun kagum akan
kepandaian sasterawan itu menulis indah dan membuat sajak. Apa lagi di antara keduanya ada
suatu ikatan batin, yaitu keduanya berjiwa patriot.
Kematian Siauw Teng amat menyedihkan hati sahabat itu sehingga begitu mendengar
akan musibah yang menimpa keluarga sahabatnya, siucai itu menghibur dirinya dengan minum
arak sampai mabok dan tidak ingat apa-apa lagi. Tan siucai sudah tahu bahwa sahabatnya adalah
seorang pemadat. Sudah berkali-kali dia menasihatkan, akan tetapi Siauw Teng yang juga pada
hakekatnya sudah tahu akan keburukan dan bahayanya menghisap madat, sudah tercengkeram
dan tidak mungkin dapat melepaskannya lagi. Akan tetapi Tan Siucai yang mengenal baik
Pedang Naga Kemala > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com 20
kegagahan temannya, tidak percaya bahwa temannya itu melakukan bunuh diri bersama istrinya.
Juga dia merasa berduka sekali mendengar akan hilangnya Siauw Lian Hong, anak perempuan
yang diam-diam diharapkannya kelak akan dapat dijodohkan dengan putera tunggalnya. Dia
tidak percaya sahabatnya melakukan bunuh diri. Maka diapun merasa penasaran dan mulailah
dia melakukan penyelidikan pada para tetangga sahabatnya itu. Dalam penyelidikannya ini,
orang-orang yang menaruh rasa hormat kepada Tan Siucai menceritakan apa adanya. Seorang di
antara mereka ada yang melihat ketika pada pagi hari sebelum terjadi musibah itu, istri Siauw
Kauw-su kelihatan berjalan diantar oleh dua orang petugas Ciu Wan-gwe.
“Saya sempat bertanya dan ia menjawab bahwa ia akan pergi membantu dengan
pekerjaan menjahit di rumah keluarga Ciu yang akan mengadakan pesta pernikahan.” demikian
seorang tetangga wanita menceritakan. Cerita ini tentu saja tidak berarti bagi orang banyak,
karena dianggap biasa. Akan tetapi tidak demikian dengan Tan Siucai, apa lagi ketika dia
mendengar bahwa sahabatnya itu pernah menerima pemberian banyak madat oleh Ciu Wan-gwe.
Timbul kecurigaannya. Mengapa pedagang madat yang kaya itu memberi madat kepada
sahabatnya yang dia tahu tidak akan mampu membeli banyak madat ? Dan kenapa pula istri
sahabatnya harus membantu di rumah keluarga kaya itu ? Dia sudah mendengar desas desus
akan sifat mata keranjang Ciu Wan-gwe yang. Yang kabarnya sudah banyak mengganggu anak
istri orang mengandalkan harta dan kekuasaannya.
Akan tetapi apakah yang dapat dilakukan seorang Tan Siucai, sasterawan lemah miskin
itu terhadap seorang Ciu Wan-gwe, yang kaya raya dan berpengaruh, bahkan menjadi sahabat
dari para pembesar di kota Kanton ? Juga dia tidak dapat membuktikan apa-apa.
Akan tetapi terbukalah kesempatan bagi Tan Siucai untuk melampiskan rasa penasaran
yang membakar hatinya sejak kematian sahabatnya yang kemudian disusul dengan hasil
keterangan yang diperolehnya melalui penyelidikannya. Ciu Wan-gwe mengadakan pesta
pernikahan puterinya secara besar-besaran. Sudah menjadi kebiasaan umum di pelosok dunia
yang manapun, kalau ada orang kaya mempunyai kerja, orang-orang berlumba untuk mengirim
sumbangan, bahkan sumbangan-sumbangan itupun dipilih yang paling berharga.
Sebaliknya, kalau yang mempunyai kerja itu orang miskin, jarang ada yang mengirim
sumbangan, kalaupun ada, maka sumbangan itupun tidak berharga. Hal ini jelas membuktikan
bahwa dibalik pemberian sumbangan itu, walaupun tidak diakui oleh para penyumbangnya,
tersembunyi pamrih, mengharapkan imbalan yang besar dan menguntungkan pula. Betapa
tidak ? Memang sudah membudaya bagi kehidupan manusia di dunia ini untuk menyembunyikan
pamrih di dalam setiap perbuatannya !
Di antara mereka yang mengirim sumbangan, terdapat banyak orang yang mengirim
sumbangan berupa tulisan-tulisan indah, pujian-pujian dan doa-doa yang ditulis dengan indahnya
dan tentu saja Tan Siucai kebagian pekerjaan yang cukup banyak. Banyak orang yang memesan
tulisan kepadanya untuk dijadikan sumbangan. Inilah kesempatan yang amat baik bagi Tan
Siucai untuk melampiaskan rasa penasaran di dalam hatinya. Dia menuliskan untuk seorang
yang buta huruf, tulisan indah berupa doa restu untuk sepasang mempelai seperti ini.
“SELAMAT KEPADA
SEPASANG MEMPELAI
SEMOGA HIDUP
Pedang Naga Kemala > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com 21
PENUH BAHAGIA DAN DAMAI
SEMOGA TIDAK RUSAK
RUMAH TANGGA MEREKA
OLEH MADAT SEPERTI SIAUW
YANG SENGSARA !”
Tentu saja hati hartawan Ciu terkejut bukan main ketika dia membaca sajak itu dan cepatcepat
dia menyuruh orang-orangnya menyingkirkan sajak itu agar tidak terbaca oleh para tamu.
Dia mengutus orang-orangnya untuk mendatangi pemberi sumbangan dan tahulah dia bahwa
pemberi sumbangan itu tidak dapat membaca dan bahwa sajak itu dipesan dari Tan Siucai. Jadi
Tan Siucailah orangnya yang bertanggung jawab.
“Sasterawan jembel mau mampus !” Ciu Wan-gwe mengepal tinju dengan marah, akan
tetapi karena dia sedang mempunyai kerja, tidak baik untuk melampiaskan kemarahannya di hari
baik itu. Apa lagi dia sedang sibuk menghadapi perayaan yang dihadiri oleh banyak orang besar,
para pejabat dan para pedagang hartawan itu.
Baru tiga hari kemudian setelah pesta pernikahan puterinya selesai, dia segera utsan
orang memanggil Tan Siucai. Pada hari itu, masih ada tamu di dalam rumahnya, di antaranya
adalah seorang komandan militer dari Kanton yang bernama Ma Cek Lung, seorang komandan
pasukan kenamaan kota Kanton. Ma Cek Lung ini seorang laki-laki berusia empatpuluh tahun
lebih, bertubuh tinggi besar dengan perut gendut dan tubuh yang kokoh kuat, wajah yang keras
dan kejam menyeramkan.
Ciu Wan-gwe sedang menjamu komandan Ma ini ketika pelayan melaporkan bahwa Tan
Siucai yang dipanggil sudah datang. “Suruh dia menunggu di luar sampai kami selesai
Makan !” kata Ciu Wan-gwe dengan sikap congkak dan pelayannya dengan senang hati
melaksanakan perintah itu dengan sikap yang lebih congkak lagi. Biasanya memang demikian.
Untuk menyampaikan kekejaman atau kesombongan, bawahannya lebih hebat dari pada
atasannya, makin ke bawah semakin menciut. Hukuman yang datang dari atas, makin ke bawah
semakin berat dan menjadi bahan pemerasan atau perbuatan-perbuatan yang lebih kejam,
sebaliknya sumbangan yang datang dari atas, makin ke bawah semakin berkurang sampai hampir
habis. Pahit dan aneh tetapi nyata.
Sambil bertolak pinggang, pelayan itu menghadapi Tan Siucai. “Kamu diperintahkan
untuk menunggu di sini dan tidak boleh pergi ke manapun sebelum majikan kami keluar
menerimamu !” Lalu sambil mengangkat hidung pelayan itu pergi meninggalkan tamu itu di
halaman depan !
Tan Siucai tersenyum pahit. Dia tidak merasa heran. Sudah banyak ia melihat kenyataan
seperti itu. Dia adalah seorang tamu yang diundang, akan tetapi diperlakukan seperti seorang
pengemis saja. Karena dalam undangan itu si pesuruh menyatakan bahwa Ciu Wan-gwe hendak
memesan tulisan dan dia diharuskan membawa perabot menulis, maka kini dia menurunkan
kotak berisi kertas dan alat-alat tulis, lalu duduklah dia di atas peti itu di halaman gedung sambil
menyeka keringat dengan ujung lengan bajunya yang lebar, baju potongan khas sasterawan. Dia
sudah siap menghadapi segala hal. Ketika menerima panggilan Ciu Wan-gwe, dia dapat
menduga bahwa kemungkinan besar panggilan ini ada hubungannya dengan tulisan yang dia
Pedang Naga Kemala > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com 22
lakukan untuk melampiaskan rasa penasaran di dalam hatinya itu. Karena menduga hal yang
buruk, maka ketika puteranya, Ci Kong, mau ikut, dia melarangnya. Dia tidak ingin puteranya
hadir menyaksikan kalau sampai terjadi keributan.
Setelah selesai makan, Ciu Lok Tai bersama tamunya keluar dan duduk di ruangan
depan. Seorang pengawal diutus untuk memanggil masuk Tan Siucai yang masih menanti di
halaman. Sasterawan itupun memasuki ruangan dengan sikap tenang, membawa petinya dan
dengan sikap sopan dia memberi hormat kepada dua orang yang duduk menanti kedatangannya
itu. Diam-diam dia memperhatikan kedua orang itu dengan sudut matanya.
Ciu Wan-gwe yang bernama Ciu Lok Tai adalah seorang laki-laki berusia sekitar
limapuluh tahun. Tubuhnya tidak besar, akan tetapi gemuk sehingga muka dan lehernya
kelihatan seperti membengkak. Matanya lebar dan hartawan yang terkenal mata keranjang itu
adalah seorang pesolek. Kumisnya yang kecil dipelihara rapi, mukanya putih bersih, tentu
dicukur setiap hari dan bahkan ada bekas-bekas bedak, seperti muka seorang thai-kam (
pembesar kebiri ) saja. Dia mengenakan topi batok hitam dan kuncirnya kecil bergantungan di
belakang kepala. Bajunya dari kain sutera yang mahal dan dia duduk dengan punggung yang
agak membungkuk, mulutnya tersenyum mengejek dan matanya yang lebar itu memandang
kepada Tan Siucai penuh selidik. Orang ke dua yang bertubuh tinggi besar tidak dikenalnya,
akan tetapi dia dapat menduga bahwa orang ini tentulah seorang perwira, kentara dari bajunya
dan juga dari sikapnya walaupun pakaiannyatidak seragam penuh.
Dan memang orang itu adalah Ma Cek Lung, komandan pasukan keamanan di Kanton yang
galak. Melihat sikap komandan ini saja sudah mendatangkan rasa tidak suka dan juga khawatir
di dalam hati Tan Siucai.
Akan tetapi dengan sikap ramah buatan, Ciu Wan-gwe menegur ramah, “Ah, kiranya
Tan Siucai yang datang ? Ma-ciangkun, inilah Tan Siucai, sasterawan dan pembuat tulisan dan
sajak paling pandai di Tung-kang, bahkan mungkin di seluruh Kanton.”
Dengan sikap acuh dan memandang rendah, kemudian menggumam, “Benarkah ?
Hemm, hal itu masih perlu dibuktikan dulu.”
Tan Siucai menjura. “Ciu Wan-gwe terlampau memuji !” katanya merendah.
“Ah, siapa yang tidak tahu akan keahlianmu, Tan Siucai ? Di dalam ruangan
perpustakaanku terdapat banyak hasil karyamu.”
Pujian-pujian ini semakin tidak mengenakkan, hati sasterawan itu. Pujian dari mulut
seorang seperti Ciu Wan-gwe ini amat berbahaya, dan diapun dapat merasakan adanya sikap lain
yang bertentangan dengan manisnya kata-kata ejekan itu. Maka diapun cepat bertanya, “Ciu
Wan-gwe memanggil saya, tidak tahu ada keperluan apakah ?”
“Engkau adalah ahli menulis, apa lagi keperluannya kalau tidak ingin agar engkau
membuatkan tulisan indah untukku ? Dan aku ingin melihat sendiri cara engkau membuat tulisan
indah.”
“Suruh dia membuatkan sajak yang baik, ingin aku melihatnya !” Tiba-tiba komandan
gendut itu berkata.
Pedang Naga Kemala > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com 23
“Bagus sekali ! Nah, engkau sudah mendengar sendiri, Tan Siucai. Ma-ciangkun minta
agar engkau suka membuatkan sajak yang baik.”
Legalah hati Tan Siucai. Agaknya dia terlalu banyak prasangka dan hartawan ini bersama
tamunya memang suka akan seni tulis dan sajak. Dia menurunkan petinya dan mempersiapkan
alat-alat tulisnya. Seperti biasa, dia lebih suka menulis mempergunakan alatnya sendiri. Dia
memasang bangku yang hanya merupakan papan di atas tiga kaki, dan dia sendiri duduk bersila
di atas lantai. Dia mengeluarkan sehelai kertas kuning dan setelah menggosok tinta bak dan
mengoles-oleskan pena bulu, dia mengangkat muka memandang kepada komandan gendut itu.
“Tidak tahu sajak yang bersifat bagaimana. Yang ciangkun inginkan ?”
“Sajak yang gagah, yang pantas bagi seorang perwira seperti aku tentunya !” kata
komandan gendut itu sambil membusungkan dadanya, akan tetapi akibatnya hanya perutnya
yang amat besar itu yang semakin maju.
“Baiklah, ciangkun.” Sasterawan itu lalu memejamkan kedua matanya sambil duduk
bersila, kulit di antara alisnya berkerut dan dia mulai mengerahkan kemampuannya mengkhayal.
Dan diapun melihat kesempatan yang amat baik untuk meneriakkan jerit hatinya, bukan hanya
karena kematian sahabatnya, akan tetapi juga karena melihat kenyataan bagaimana hebat madat
telah mencengkeram bangsanya. Sekarang terbukalah jalan baginya untuk menuliskan jerit
hatinya, juga untuk menyampaikan bahaya itu kepada pemerintah melalui seorang perwira tinggi!
Dalam keadaan seperti itu, tidak pernah Tan Siucai teringat akan diri sendiri, tidak lagi dapat
melihat adanya bahaya-bahaya dari hasil tulisannya. Mulailah dia menulis.
Tan Siucai memang seorang ahli. Setelah dia membuka mata, jari-jari tangan kanannya
seperti kemasukan aliran tenaga luar biasa, menjadi peka sekali dan kini jari-jari tangannya itu
mulai mengoles-oleskan pena bulu dengan gerakan yang halus dan manis sekali di atas tinta bak
dan setelah mengukur jarak di atas kertasnya, diapun mulai membuat coret-coretan yang
mengandung penuh gaya dan keindahan.
Iblis hitam berasap menyerbu Negara
membasmi semangat gagah para pendekar
melumpuhkan kebijaksanaan para pembesar
membekukan kelembutan para dermawan.
Madat ! racun yang membinasakan bangsa
sampai tinggal tulang belulang belaka !
Pendekar menjadi lemah
pembesar menjadi korup
dermawan menjadi kejam
sasterawan menjadi tumpul !
Hanya si kaya semakin kaya
madat sumber keuntungan mereka
basmi madat ! basmi racun dunia !!
Pedang Naga Kemala > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com 24
Setelah selesai menulis dengan gerakan cepat dan indah, Tan Siucai merasa seolah-olah
dadanya lapang dan lega dan dengan wajah berseri-seri dia menyerahkan tulisan itu kepada Maciangkun
sambil berkata, “Ciangkun, tulisan ini walaupun buruk akan tetapi menyuarakan hati
nurani rakyat kecil. Harap ciangkun sudi menerimanya.”
Perwira gendut itu menerima tulisan di atas kertas itu dan dengan lagak seorang pandai
dia membaca dengan suara lantang. Perwira itu membaca tampa reaksi apa-apa karena dia
menganggap bunyi sajak itu memang cukup bersemangat dan gagah. Akan tetapi begitu Ciu
Wan-gwe mendengarnya, wajahnya berobah merah dan lebih lagi ketika tiga baris terakhir
terbaca, dia bangkit berdiri.
“Kurang ajar !” bentaknya marah. “Sasterawan jembel busuk, engkau berani menghinaku
?” Dengan marah Ciu Wan-gwe lalu menyambar sebuah kemocing ( sapu bulu ayam ) yang
bergagang rotan, lalu dia menyerang sasterawan itu kalang kabut, memukuli kepala sasterawan
itu kalang kabut, memukuli kepala sasterawan itu dengan gagang kemocing. Sudah biasa
hartawan ini menghajar pelayan-pelayannya yang tidak menyenangkan hatinya dengan gagang
kemocing.
Tan Siucai berusaha melindungi kepalanya dengan kedua lengan sehingga lengannya
babak belur kena hantaman rotan. “Ciu Wan-gwe, saya tidak menghina seseorang.”
“Jelas sudah isi tulisanmu ! Engkau tahu bahwa aku adalah saudagar yang antara lain
berdagang madat, akan tetapi engkau berani mengutuk madat dan menyindir aku. Ma-ciangkun,
bukankah tulisannya itu menghina sekali ?”
Baru Ma-ciangkun kini sadar bahwa sahabatnya itu tersinggung. “Huh, sajak busuk dan
menghina !” Diapun berkata dan merobek kertas itu.
“Maaf, saya maksudkan pedagang madat pada umumnya, bukan pribadi dan saya hanya
menggambarkan kenyataan ............”
“Setan ! Keparat sombong, engkau patut dihajar !” Kembali Ciu Wan-gwe menghujankan
pukulan-pukulan rotan sehingga Tan Siucai terhuyung ke belakang dan bangku alat tulisnya
berantakan.
“Dukk ............!” Sebuah tendangan membuat sasterawan itu roboh ketika kaki kiri yang
besar dari Ma-ciangkun menyambar.
“Apakah engkau menghendaki aku menginjak mampus cacing ini ? tanya Ma-ciangkun
kepada Ciu Wan-gwe dan kaki kirinya sudah menginjak punggung Tan Siucai yang roboh
menelungkup di atas lantai.
“Jahanam kau, Tan Siucai. Berani engkau menulis kata-kata menghina melalui
sumbangan seorang tamuku dan kini engkau malah terang-terangan menghinaku ? Jangan bunuh
dulu, Ma-ciangkun, aku ingin menghajarnya sampai puas dan tidak baik membunuhnya di
rumahku.” Ma-ciangkun melepaskan injakannya dan kembali Ciu Wan-gwe menghujankan
Pedang Naga Kemala > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com 25
hantaman rotan itu di atas tubuh belakang Tan Siucai yang mengeluh lirih. Biarpun tubuhnya
terasa nyeri semua, namun sasterawan yang berjiwa gagah ini menahan diri agar tidak mintaminta
ampun atau menjerit-jerit.
Tiba-tiba terdengar teriakan, “Ayaaaah ............!” dan seorang anak laki-laki lari
menerobos masuk dari luar halaman. Dia adalah seorang anak laki-laki yang berusia sekitar tujuh
tahun, berpakaian sederhana dan bermata lebar.
“Ci Kong ............ pergilah ............ jangan ke sini ............ !” Tan Siucai mengeluh dengan
penuh kegelisahan melihat puteranya yang datang itu.
Akan tetapi Ci Kong, anak itu, cepat lari naik ke ruangan depan dan menjatuhkan dirinya
berlutut menghadap Ma-ciangkun dan Ciu Wan-gwe.
“Harap tai-jin sudi mengampuni ayahku ............!”
Dengan lagak congkak, Ma-ciangkun kembali mengangkat kaki kiri menginjak punggung
Tan Siucai, dan tangan kanannyayang besar itu menempel di kepala anak yang berlutut di
depannya.
“Bocah setan, berani kau mencampuri ? Sekali cengkeram, kepalamu akan dapat
kuhancurkan !”
Akan tetapi, Ci Kong yang amat mengkhawirkan keselamatan ayahnya, agaknya tidak
perduli akan keselamatan dirinya sendiri dan tidak menjadi takut oleh ancaman itu. Dia tetap
berlutut dan merangkap kedua tangan yang diangkat tinggi-tinggi, dengan air mata berlinang dia
berkata memohon, “Harap ampuni ayahku dan tai-jin boleh saja membunuhku. Akan tetapi harap
lepaskan ayahku ............!”
“Setan cilik ! Ayahmu ini kurang ajar, sudah menghinaku, dia pantas dihukum, bahkan
patut dibunuh !” bentak Ciu Wan-gwe marah, menudingkan telunjuk tangan kirinya ke arah Tan
Siucai dan mengamankan gagang kemocing di tangan kanan.
“Ampun, tai-jin. Untuk kesalahan ayah, biarlah aku yang menebus dosanya. Hukumlah
aku, akan tetapi bebaskan ayah ............” Ci Kong meratap.
Bukan main terharu rasa hati Tan Siucai.
“Anakku ………… aahhhh, engkau ………… jangan begitu ………… kau pergilah …………”
“Pergilah, anak setan !” Ma-cingkun mendorongkan tangannya dan tubuh anak itu
terpelanting dan bergulingan sampai beberapa meter jauhnya, babak belur. Akan tetapi Ci Kong
bangkit dan berlutut lagi.
“Ampunkan ayahku, ampun ............” ratapnya.
Anak ini memiliki keberanian luar biasa seperti ayahnya. Dia sendiri tidak takut mati, akan tetapi
dia takut kehilangan ayahnya.
Pedang Naga Kemala > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com 26
Pada saat itu, terdengar seruan nyaring, “Ayah …………!” dan muncullah seorang anak
perempuan dari dalam gedung Ciu Wan-gwe. Anak itu berusia sekitar enam tahun, berwajah
manis sekali dengan sepasang mata yang tajam da lebar. Pakaiannya indah dari sutera halus,
rambutnya dikuncir dua yang bergantungan di kanan kiri. Anak itu berhenti berlari ketika melihat
Tan Siucai masih rebah babak belur dan berlumuran darah. Ci Kong yang berlutut dan meratap
mintakan ampun bagi ayahnya. Setelah tertegun sejenak, anak perempuan itu lalu lari
menghampiri Ciu Wan-gwe dan memegang tangan orang tua itu.
“Ayah, apakah yang telah terjadi ? Kenapa ayah marah-marah dan siapa mereka ini ? Apa
yang telah mereka lakukan maka ayah agaknya menghajar mereka ?”
Sungguh mengherankan sekali, Ciu Wan-gwe yang sedang marah-marah dan jengkel itu,
begitu melihat anak perempuan ini, segera terjadi perobahan pada wajahnya. Kemarahannya
seperti hilang dan dia memandang kepada anak perempuan itu dengan sinar mata penuh sayang,
dan dibuangnya kemocing itu dan dirangkulnya pundak anaknya.
“Siapa yang tidak jengkel, anakku. Sasterawan jembel ini berani menghinaku dengan
tulisannya.”
“Tulisan apakah, ayah ? Boleh aku melihatnya ?”
Ciu Wan-gwe amat sayang kepada puteri bungsunya ini. Ciu Kui Eng, demikian nama
anak itu, memang amat cerdas dan menyenangkan hati, selain jelita dan manis, juga biarpun
disayang tidak menjadi manja. Yang mengagumkan hati ayahnya adalah karena anak ini selalu
bersikap berani dan tegas, bahkan bijaksana sekali.
“Dia mengejekku dan bersikap memberontak. Itu tulisannya.” Ciu Wan-gwe menunjuk ke
arah kertas yang sudah terobek menjadi dua potong.
Kui Eng mengambil kertas itu dan dengan alis berkerut dibacanya sajak itu. Biarpun baru
berusia enam tahun, anak ini memang cerdik dan sudah dapat menghafal banyak sekali kata-kata
tulisan sehingga sajak itu tidak terlalu sukar baginya untuk dapat dibacanya dengan mengerti.
Sehabis membaca sajak itu, ia lalu menghampiri Tan Siucai yang sudah bangkit duduk diatas
lantai karena agaknya kemunculan anak perempuan itu membuat Ma-ciangkun juga
menyingkirkan injakan kakinya.
“Orang tua, tulisanmu bagus sekali, juga sajakmu bagus dan menggambarkan kenyataan.
Akan tetapi engkau lancang sekali berani menulis sajak seperti ini di depan ayah, padahal engkau
tahu bahwa ayah adalah seorang pedagang madat. Nah, pergilah ! Dan dia itu siapa ?” Ia
menuding ke arah Ci Kong yang masih berlutut.
Tan Siucai memandang anak perempuan itu dengan heran dan kagum, sungguh anak ini
memiliki sikap yang penuh wibawa dan dari gerak gerik dan ucapannya, mudah diketahui bahwa
ia seorang anak yang cerdik sekali. “Dia adalah Ci Kong, anakku ............” jawabnya lirih karena
seluruh tubuhnya terasa sakit-sakit, terutama sekali dada kanannya yang tadi terkena tendangan
kaki Ma Cek Lung.
Pedang Naga Kemala > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com 27
“Aku benci melihat anak laki-laki merengek dan meratap minta ampun !” Tiba-tiba Kui
Eng berkata sambil memandang kepada Ci Kong.
Ci Kong menoleh dan mereka saling pandang. Ci Kong mengerutkan alisnya dan
sepasang matanya seperti mengeluarkan api. “Aku mintakan ampun untuk ayah, bukan untuk
diriku sendiri !” katanya, seketus suara Ciu Kui Eng. Sejenak mereka saling panadang dan Kui
Eng lalu membalikkan tubuh, menghampiri ayahnya.
“Ayah, biarkan mereka pergi.”
Ciu Wan-gwe mengangguk dan berkata kepada Tan Siucai, “Sasterawan jembel,
bersyukurlah atas kemurahan hati anakku dan pergilah !”
Jilid II *****
Ma Cek Lung menggerakkan kakinya dan kembali kakinya menendang rusuk kakek
itu. Terdengar suara “bukk !” dan tubuh sasterawan itu terlempar, terbanting dan dari mulutnya
keluar darah. Tendangan itu saja sedikitnya meretakkan dua tiga batang tulang rusuknya.
“Engkau telah nenimbulkan kekacauan dan engkau kuanggap pemberontak. Kau harus
pergi meninggalkan dusun ini, atau kau akan kutangkap dan kumasukkan penjara !”
kata Ma Cek Lung.
Ci Kong membantu ayahnya bangkit berdiri, mengumpulkan alat-alat tulis dan sambil
memapah ayahnya, anak itu lalu mengajak cepat-cepat pergi meninggalkan halaman gedung
keluarga Ciu.
Setelah tiba di rumahnya, Tan Siucai jatuh sakit. Tabib yang memeriksanya mengatakan
bahwa ada empat tulang rusuknya yang patah dan retak-retak dan selain itu Tan Siucai juga
menderita luka dalam yang cukup parah dan yang mengharuskannya tinggal di atas pembaringan
selama sedikitnya satu bulan ! Tan Siucai teringat akan ancaman …Ma-ciangkun. Dia harus pergi
dari Tung-kang. Akan tetapi dalam keadaan seperti itu, mana mungkin dia dapat pergi ? Berjalan
kaki jauh. Tidak mungkin, menyewa kereta lebih tidak mungkin lagi karena dia tidak punya uang.
Dipanggilnya putranya pada keesokan harinya setelah semalam suntuk dia tidak tidur dan
mempertimbangkan masak-masak apa yang harus dilakukan.
“Ci Kong, dengarkan baik-baik dan engkau harus mentaati semua permintaanku.
Kemaskan semua pakaianmu, jadikan satu buntalan dan hari ini juga engkau harus pergi ke barat,
ke kota Nan-ning ............”
“Nan-ning ? Di mana itu, ayah ? Aku belum pernah mengetahuinya ............”
“Dengar baik-baik. Kota Nan-ning terletak di sebelah barat, di seberang sungai Si-kiang.
Engkau harus menyeberang sungai itu dan menuju ke barat. Dengan bertanya-tanya, tentu engkau
akan bisa menemukan kota Nan-ning ............”
Pedang Naga Kemala > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com 28
“Tapi kenapa aku harus pergi ke sana sendiri saja, ayah ? Engkau sakit, aku harus
merawatmu. Kalau ayah takut akan ancaman perwira itu, mari aku antar ayah pergi meninggalkan
dusun ini.”
“Tidak, anakku, dan jangan membantah. Semua sudah kupikirkan baik-baik. Kau pergilah
ke Nan-ning dan di sana engkau carilah rumah seorang saudara angkatku. Ayahmu ini hidup
sebatangkara, hanya dengan engkau seorang, akan tetapi ada seorang saudara angkatku yang
bernama Sie Kian. Dia membuka toko obat di kota Nan-ning dan
kaucarilah dia, serahkan surat ini kepadanya. Dia yang akan mengatur semuanya, menolong kita
pergi dari sini kalau perlu dan ………. Dan dialah satu-satunya orang yang dapat kauharapkan
bantuannya kalau aku …………… tidak dapat menolongmu seperti keadaanku sekarang. Nah,
cepat kau berkemas , Ci Kong.”
Ci kong tidak banyak membantah lagi. Dia tahu bahwa keputusan yang diambil ayahnya
itu tentulah yang terbaik untuk mereka. Dan dia dapat menduga bahwa keadaan memang gawat
dan tentu ayahnya sudah memperhitungkan segalanya, maka diapun tidak ragu-ragu lagi
walaupun ada juga rasa bingung dalam hatinya menghadapi perjalanan jauh ke tempat yang
selamanya belum pernah diketahuinya itu.
Tidak banyak bekal yang dapat diberikan oleh Tan Siucai kepada puteranya, akan tetapi
yang dia serahkan kepada Ci Kong adalah seluruh uang yang dimilikinya. Setelah siap, Ci Kong
berlutut di dekat dipan ayahnya dan sasterawan itu menahan keluarnya air matanya. Tidak, dia
tidak boleh memperlihatkan kelemahan di depan puteranya yang menghadapi perjalanan sukar
dan jauh. Dia mengulur tangan menyentuh kepala Ci Kong, dibelainya rambut di kepala itu.
“Anakku yang baik, aku menyesal sekali tidak mampu memberi kehidupan yang lebih
baik untukmu, bahkan kini terpaksa engkau akan mengalami kesengsaraan dengan melakukan
perjalanan jauh yang melelahkan. Akan tetapi aku yakin bahwa engkau anakku yang baik, pandai
membawa diri dan berani menghadapi segala macam kesukaran. Pergilah, anakku, dan carilah Sie
Kian sampai dapat. Dialah satu-satunya orang yang boleh kauharapkan, boleh kita harapkan dan
jangan sampai hilang di jalan suratku untuknya itu.”
“Baiklah, ayah, akan kulaksanakan semua perintah ayah. Harap ayah pandai-pandai
menjaga diri dan jangan lupa minum obat yang telah diberi oleh sinshe kemarin.”
Anak itu merasa bersedih dan terharu sekali harus meninggalkan ayahnya dalam keadaan sakit
seperti itu, namun dia mengeraskan hatinya dan menahan diri agar tidak menangis.
Baru setelah dia meninggalkan rumah, sambil berjalan Ci Kong menangis, mengusapi air
mata yang menuruni sepanjang kedua pipinya. Dia tidak tahu betapa pada saat itu, setelah dia
pergi, ayahnya juga mengusapi air mata dengan ujung lengan bajunya.
Tentu saja hati orang tua ini merasa hancur membayangkan betapa terpaksa anaknya yang
masih begitu kecil harus melakukan perjalanan sukar seorang diri, bahkan mungkin anaknya
mulai sekarang akan hidup sebatang kara di dunia yang kejamini. Dia sudah mengambil
keputusan. Sakitnya takkan sembuh, ini dia dapat merasakan benar. Biarpun tabib itu hendak
menyembunyikan kenyataan, dia sendiridapat merasakan. Apa lagi dia tidak mempunyai cukup
uang untuk biaya pengobatan dirinya sampai sembuh, kalau hal itu mungkin. Dan diapun teringat
Pedang Naga Kemala > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com 29
akan ancaman Ma-ciangkun yang dia tahu bukan merupakan gertakan kosong belaka. Sekali
waktu ancaman perwira gendut itu tentu akan dilaksanakan dan dia tidak ingin puteranya ikut
tertangkap nanti. Ci Kong harus bebas dan satu-satunya jalan hanyalah lebih dulu pergi secara
diam-diam dari Tung-kang.
Syukur kalau puteranya dapat bertemu dengan Sie Kian, saudara angkatnya di Nan-ning.
Andaikata tidak dapat jumpa, setidaknya Ci Kong sudah pergi jauh dari Tung-kang dan aman dari
ancaman malapetaka yang datang dari Ciu Wan-gwe dan Ma-ciangkun.
Kini keputusannya telah tetap. Dia tidak boleh mati konyol begitu saja. Sehari itu, juga
pada malam harinya, Tan Siucai tiada hentinya menulis, dengan huruf besar-besar di atas kertas
bertumpuk-tumpuk sampai habis kertas-kertasnya baru dia berhenti. Kemudian, pada keesokan
harinya, pagi-pagi sekali dia membawa kertas-kertas itu, berjalan terhuyung-huyung, menuju ke
pasar yang berada di tengah-tengah dusun.
Kemudian, di tempat yang belum begitu ramai karena masih amat pagi itu, Tan Siucai
menempel –nempelkan semua kertas yang sudah ditulisinya itu di atas papan-papan, pada
dinding-dinding toko, pada batang-batang pohon. Tentu saja hal ini menarik perhatian orang dan
sebentar saja tempat-tempat itu penuh dengan kerumunan orang dan dapat dibayangkan betapa
kagetnya semua orang ketika membaca tulisan-tulisan Tan Siucai.
Mereka saling pandang dan saling bertanya-tanya apakah sasterawan yang mereka
hormati dan kagumi tulisannya itu kini sudah menjadi gila ! Tulisan-tulisan itu adalah protesprotes
terhadap para pejabat, dan protes akan adanya madat yang meracuni bangsanya. Di
antaranya terdapat kalimat keras, “Para pendekar, di mana kegagahan kalian ? Apakah kalian
membiarkan saja bangsa kita menjadi pemadat-pemadat lemah yang mudah dihina orang ?” dan
ada lagi kecaman-kecaman keras terhadap para pejabat, Begini, “Apakah para pembesar
mengorbankan rakyat hanya untuk memenuhi kantong hasil perdagangan candu ?” dan banyak
macam lagi kata-kata yang mengejutkan semua orang karena kata-kata itu jelas merupakan protes
keras dan dapat dianggap sebagai mengandung hasutan-hasutan pemberontakan !
Banyak orang yang sudah mengenal Tan Siucai memberi nasihat agar sasterawan itu
menyingkirkan semua tulisan itu. Akan tetapi hal ini membuat Tan Siucai marah dan dia berkata
lantang, “Kalau bangsa kita sudah begini pengecut, apa yang dapat diharapkan ? Anak cucu kita
akan menjadi hamba-hamba madat yang hina !”
Makin siang, makin banyak orang berkerumun dan tak lama kemudian, tentu saja
pembesar setempat mendengarnya dan Tan Siucai ditangkap ! Ketika Ciu Wan-gwe mendengar
akan hal ini, cepat dia menghubungi Ma Cek Lung yang segera mengirim pasukan untuk
mengambil alih tawanan dari dusun Tung-kang itu. Sebagai seorang tawanan berat, seorang yang
dicap sebagai pemberontak, Tan Siucai lalu dibawa ke Kanton sebagai seorang tawanan yang
diborgol kaki tangannya, diperlakukan kasar dan dijaga ketat seolah-olah dia seorang yang amat
berbahaya ! Padahal, napas sasterawan itu sudah empas empis dan sukar sekali dia
menggerakkan tubuhnya karena tarikan-tarikan dan pukulan-pukulan, serta perlakuan kasar yang
didapatnya dari para perajurit ketika dia diseret, membuat luka-luka di tubuhnya semakin parah.
Dan apa yang diduga oleh kebanyakan orangpun terjadilah. Tan Siucai meninggal dunia
di dalam tahanan tanpa memperoleh kesempatan membela diri di depan pengadilan !
Pedang Naga Kemala > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com 30
Banyak orang tahu bahwa di balik kematian Tan Siucai ini tentu tersembunyi rahasia.
Siapapun maklum akan kelihaian sasterawanitu dalam kesusasteraan dan andaikata sasterawan itu
dihadapkan di pengadilan, tentu akan banyak yang dibicarakan, banyak yang akan dibongkarnya
mengenai kebejatan-kebejatanyang terjadi. Dan hal itu amatlah berbahaya bagi para pejabat
setempat. Lebih aman dan mudah kalau sasterawan yang memang sudah menderita luka dalam
yang parah itu mati saja sebagai seorang tahanan.
------------0-----------
Pada waktu itu, yang menjadi kaisar dari kerajaan Ceng-tiauw atau kerajaan Mancu
adalah Kaisar Tao Kuang, seorang kaisar yang tidak berhasil mempertahankan kejayaan Kerajaan
Mancu yang selama puluhan tahun dibina oleh mendiang Kaisar Kian Liong sehingga menjadi
besar dan kuat. Semenjak Kaisar Kian Liong meninggal dan singgasana diserahkan kepada
Kaisar Cia Cing ( 1796 – 1820 ) sampai kini diduduki Kaisar Tao Kuang, putera Kaisar Cia Cing
, Kerajaan Ceng-tiauw terus merosot. Pemberontakan terjadi di mana-mana para pembesar mabok
kekayaan dan kedudukan, terjadi perebutan kekuasaan di antara para pembesar, dan penindasan
kaum pembesar terhadap rakyat jelata untuk menambah isi gudang kekayaan mereka. Korupsi
terjadi di mana-mana.
Di bawah pemerintahan Kaisar Cia Cing setelah Kaisar Kian Liong meninggal, rakyat
mulai mengenal madat. Mula-mula madat itu didatangkan oleh para pedagang dari India, karena
memang dari sanalah datangnya madat itu. Setelah banyak orang mencobanya dan mulai
ketagihan, perdagangan madat ini menjadi semakin subur.
Kebutuhan akan madat makin hebat, orang-orang yang ketagihan semakin banyak dan
mulailah benda yang amat berbahaya itu mengalir dalam jumlah besar ke Cina. Pada permulaan
abad ke sembilan belas itulah, Persatuan Dagang India Timur ( East India Company ) milik
orang-orang Inggeris, melihat kesempatan untuk mengeduk keuntungan yang amat besar. Mereka
lalu bersekutu dengan para pejabat pemerintah Ceng dan sebentar saja, dengan jalan penyuapan
dan penyogokan, kaum pedagang Inggeris itu berhasil menguasai seluruh pejabat pemerintah di
Kanton,dari gubernurnya sampai kepada perajurit-perajurit petugas keamanan.
Pemerintah Kaisar Tao Kuang sama sekali tidak mengijinkan peredaran madat itu dan
mereka sudah tahu akan bahayanya. Akan tetapi, di Kanton terjadi penyelundupanpenyelundupan
atau penyuapan-penyuapan dan dengan cara bagaimanapun juga, orang-orang
berkulit putih itu berhasil memasukkan madat dalam jumlah yang luar biasa besarnya ke daratan
Cina. Melalui madat, kaum kulit putih itu menghisap seluruh kekayaan Cina. Dan melihat sukses
yang diperoleh orang-orang Inggeris, maka bangsa kulit putih lainnya seperti Amerika,Portugis
dan Belanda, juga tidak mau tinggal diam dan merekapun mengharakan bagian sehingga
perdagangan madat menjadi semakin ramai. Orang-orang kulit putih itu mengusap-usap perut
gendut dan kantong padat, meninggalkan rakyat Cina menjadi kurus kering karena kehabisan
kekayaan dan juga karena keracunan madat.
Cerita ini terjadi pada jaman itu, selagi madat merajalela di Cina, dan pusatnya berada di
Kanton di mana terdapat banyak kantor-kantor perdagangan orang kulit putih. Tidaklah
mengherankan kalau Ciu Lok Tai menjadi kaya raya karena dia merupakan seorang di antara para
pedagang madat yang menerima madat dari orang-orang kulit putih. Dan tentu saja dia
Pedang Naga Kemala > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com 31
mempunyai hubungan erat dengan para pejabat, termasuk Ma Cek Lung yang menjadi
komandan pasukan keamanan di Kanton. Dan tidak mengherankan pula kalau Tan Siucai mati
di dalam kamar tahanan karena dia berani menyinggung masalah yang amat peka itu, soal
peredaran madat yang tentu saja dianggap membahayakan kedudukan para pembesar yang
menjadi makmur karena perdagangan madat.
Pada waktu itu, orang-orang kulit putih tidak memperoleh kebebasan gerak di daratan
Cina. Mereka hanya boleh datang di dua tempat saja. Yaitu pertama di Makao yang menjadi
pusat orang-orang portugis berpangkal, sedangkan kota ke dua adalah Kanton. Agaknya, setelah
ribuan tahun lamanya mempunyai pemerintahan feudal dan keluarga Kaisar selalu menganggap
derajatnya amat tinggi, jauh lebih tinggi dari derajat manusia biasa, bahkan Kaisar menganggap
dirinya sebagai utusan Tuhan, maka setelah bangsa kulit putih mulai mengadakan hubungan
dengan Cina, Kaisarpun memandang mereka itu atau bangsa-bangsa asing pada umumnya
sebagai bangsa biadab. Hal ini mungkin tadinya timbul karena di luar Cina banyak tinggal sukusuku
bangsa yang liar dan yang selalu membikin kekacauan, menyerbu ke pedalaman sehingga
timbul pandangan bahwa bangsa yang berada di luar Cina adalah bangsa liar atau bangsa biadab.
Pandangan yang besar sekali kemungkinan timbul karena kecongkakan pemerintahannya sebagai
akibad sistim perbedaan kelas yang menyolok dari keluarga Kaisar ini kemudian menjalar ke
seluruh rakyat sehingga timbul semacam penyakit dalam batin masyarakat Cina untuk
menganggap bangsa apapun di luar Cina adalah bangsa biadab. Kecongkakan dan pemujaan diri
sendiri yang berlebihan ini menghancurkan Cina sendiri. Karena congkak, mereka tidak mau
tahu bahwa bangsa-bangsa biadab yang mereka pandang rendah itu telah memperoleh kemajuan
pesat sekali dan sama sekali tidak dapat dinamakan bangsa yang lebih bodoh, lebih sederhana,
atau lebih rendah dari pada mereka. Bahkan untuk mengurus bangsa asingpun oleh pemerintah
dinamakan Kantor Urusan Bangsa-bangsa biadab !
Kaisar keturunan Bangsa Mancu, yang sebelum menguasai Cina juga dianggap bangsa
biadab oleh pribumi daratan Cina sendiri, agaknya sengaja mengangkat bangsanya agar terlupa
bahwa mereka adalah suku bangsa di luar tapal batas Cina dan hendak melebur diri sendiri
dengan pribumi. Pemerintah mengadakan peraturan yang amat menghina bangsa asing. Bangsa
asing dari manapun juga yang hendak menghadap Kaisar harus tunggu berbulan lamanya dan
diperlakukan sebagai utusan negara yang hendak menyataklan tunduk dan setia kepada Kaisar.
Mereka diharuskan menjura dengan hormat kepada kaisar. Kalau tidak mau melakukan
penghormatan ini, mereka tidak akan diterima dan akibatnya mereka tidak boleh berdagang, apa
lagi tinggal di Cina.
Pemerintah juga melarang orang-orang asing melakukan perdagangan langsung ke pasarpasar,
melainkan harus berhubungan dengan badan yang ditunjuk pemerintah khusus melayani
mereka, dan badan atau orang ini disebut Co-hong. Akibatnya tentu saja ada persekutuan antara
orang-orang asing dengan Cohong-cohong ini, yang meluas menjadi kerja sama dengan para
pejabat yang menerima suapan.
Pemberontakan yang merajalela di seluruh Tiongkok membuat pemerintah Kaisar Tao
kuang menjadi semakin lemah. Sementara itu, orang-orang Eropa yang datang ke daratan Cina
bukan lagi perantau-perantau seperti abad-abad yang lalu, melainkan orang-orang yang mewakili
negara-negara yang mulai berkembang menjadi negara yang kuat.
Pedang Naga Kemala > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com 32
Mereka tidak mau direndahkan dan menganggap diri mereka lebih tinggi. Merekalah yang
menganggap Bangsa Cina masih terbelakang dan kuno, dan melihat negara dan bangsa itu
merupakan makanan empuk dan merupakan pasar yang amat besar untuk menjual barang-barang
dagangan mereka.
Akan tetapi, pada permulaan abad ke sembilanbelas itu, Cina tidak membutuhkan baranbarang
dari Eropa. Kemudian, setelah orang-orang kulit putih melihat kelemahan rakyat Cina
yang mulai ketagihan candu, mereka melihat kesempatan baik sekali untuk mengeduk
keuntungan sebesarnya dan mulailah mereka memasukkan madat secara besar-besaran, madat
yang mereka datangkan dari India. Dan madat ini, seperti yang digambarkan oleh Tan Siucai,
memang benar-benar merupakan malapetaka bagi rakyat Cina. Dalam waktu beberapa tahun saja,
racun itu bukan saja terdapat dalam rumah-rumah madat umum di mana para pecandu boleh
membeli dan menghisap madat, akan tetapi juga sudah menyusup ke rumah-rumah para hartawan
dan bangsawan, bahkan banyak sekali pendekar-pendekar gagah perkasa tunduk dan lumpuh oleh
pengaruh madat, para pejabat juga menjadi hambanya.
Demikianlah gambaran sekilas tentang keadaan di jaman itu dan mari kita ikuti perjalanan
Tan Ci Kong, putera tunggal Tan Siucai yang bernasib malang itu. Pesan ayahnya masih
terngiang di telinganya ketika akhirnya dia tiba di tepi sungai Si-kiang, menyusuri tepi sungai
sebelah utara menuju ke barat untuk mencari tempat penyeberangan. Air sungai itu penuh dan
arusnya deras sekali dan tidak nampak ada perahu disitu. Di antara pesan ayahnya yang paling
membingungkan adalah, “............... jangan sekali-kali engkau kembali ke Tung-kang sebelum
ada berita dariku. Kelak aku akan menyusulmu ke Nan-ning.”
Jadi aku tidak akan melihat dusun tempat kelahiranku lagi, pikir Ci Kong ketika dia
berjalan dengan menyusuri sungai. Melakukan perjalanan di waktu itu tak dapat dibilang aman.
Penduduk tidak boleh membawa senjata dan tampa senjata di tangan, tentu saja orang mudah
menjadi korban keganasan perampok-perampok yang bersenjata. Akan tetapi, siapakah mau
menganggu seorang anak laki-laki kecil, apa lagi kalau dia tidak memakai pakaian bagus dan
tidak membekal uang ? Setelah menemukan perahu yang suka membawanya ke seberang dan
melanjutkan perjalanannya yang amat melelahkan, berulah seminggu kemudian Ci Kong tiba di
kota Nan-ning.
Kota ini tidak begitu besar dan tidak sukar bagi Ci Kong untuk menemukan toko obat
milik orang yang bernama Sie Kian. Dia tiba di toko itu setelah hari mulai gelap dan toko itu
sudah tutup, hanya daun pintunya saja yang masih terbuka. Sebuah toko sederhana saja, tidak
terlalu besar. Ketika Ci Kong mengetuk daun pintu perlahan, muncullah seorang laki-laki berusia
limapuluh tahun lebih, pakaiannya seperti seorang pelajar dengan lengan baju yang lebar sekali.
Biarpun usianya baru limapuluh tahun lebih, akan tetapi kepala orang itu sudah putih, semua
rambutnya sudah menjadi uban. Wajahnya juga membayangkan bahwa hidupnya lebih banyak
menderita dari pada bersuka ria. Pandang matanya sayu dan gerak geriknya halus.
“Anak baik, apakah engkau hendak membeli obat ? Ataukah ada yang sakit ?” Tanya
kakek itu denga sikap ramah.
Ci Kong menggeleng kepala. “Tidak, paman, saya mencari seorang paman yang bernama
Sie Kian dan kata orang tinggal di toko obat ini.” Ci Kong memandang penuh selidik karena dia
sudah menduga bahwa agaknya orang inilah sahabat ayahnya itu.
Pedang Naga Kemala > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com 33
“Sie Kian ? Ah, aku sendirilah orangnya. Engkau anak kecil ada urusan apakah mencari
aku ? Dan darimana engkau datang ? Nampaknya kau lelah sekali.”
Bukan main girangnya hati Ci Kong ketika orang itu mengaku bernama Sie Kian, orang
yang dicarinya. Segera dia menjatuhkan diri berlutut sebagai penghormatan. “Paman Sie Kian,
saya datang diutus oleh ayah saya yang bernama Tan Seng ……………” katanya dengan suara
serak karena hatinya merasa terharu sekali.
Orang itu terbelalak. “Apa ? Kaumaksudkan Tan Siucai ............ yang tinggal di Tungkang
?”
“Benar, paman, dan ada surat dari ayah untuk paman.” Ci Kong menurunkan buntalan
pakaiannya dan hendak membukanya. Akan tetapi Sie Kian menangkap lengannya.
“Mari masuk, nak. Kita bicara di dalam saja.”
Ci Kong menurut dan merekapun memasuki rumah itu. Sie Kian menutup daun pintunya
dan setelah mereka memasuki rumah itu, baru Ci Kong tahu bahwa laki-laki itu tinggal seorang
diri saja dalam rumah ini, bahkan pelayanpun tidak punya. Sie Kian mengajak anak itu duduk
menghadapi sebuah meja dan ruangan itu diterangi oleh sebuah lampu yang cukup besar.
“Duduklah. Taruh buntalanmu di atas meja dan keluarkan surat itu. Ingin sekali aku tahu
apa isi surat ayahmu,” kata Sie Kian, masih terheran-heran melihat anak sekecil ini datang
sendirian saja dari tempat yang begitu jauhnya. Hatinya merasa tidak enak. Apakah gerangan
yang terjadi dengan diri kakak angkatnya itu ? Sudah hampir sepuluh tahun mereka tidak saling
mengadakan hubungan dan dia tidak tahu sama sekali bagaimana keadaan sasterawan itu.
Setelah dia membaca surat Tan Siucai yang diterimanya dari Ci Kong, wajah orang she
Sie itu berobag agak pucat. “Ah ………… ahhh ………… !” berkali-kali dia mengeluh,
kemudian dia menyimpan surat itu di saku jubahnya.
“Anak baik, namamu Tan Ci Kong ?”
“Benar paman.”
“Engkau tinggallah disini bersamaku, engkau bisa membantuku. Besok aku akan
menyuruh seorang teman untuk pergi ke dusunmu dan menyelidiki tentang keadaan ayahmu.
Kalau mungkin, aku akan membawa ayahmu itu ke sini agar dapat kurawat dia sampai sembuh.”
Tentu saja hati anak kecil itu menjadi girang sekali dan diapun cepat menjatuhkan diri
berlutut di depan kaki Sie Kian. “Terima kasih, paman, aku Tan Ci Kong selama hidup tidak
akan lupa kepada budi paman ini.”
Sie Kian merangkul anak itu dengan hati terharu dan diam-diam dia merasa kagum.
Anak kecil ini bukan hanya tabah dan pemberani sekali, tahan menderita dan dapat melakukan
perjalanan demikian jauhnya sendirian saja, akan tetapi juga baik budi dan berkelakuan sopan.
Pedang Naga Kemala > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com 34
Mulai hari itu, Ci Kong membantu paman angkatnya yang tidak mempunyai pelayan.
Dia membersihkan rumah, mencuci pakaian, mencari air, masak nasi dan air, juga belajar
membuat masakan dari pamannya. Sementara itu Sie Kiam mengutus seorang teman untuk
melakukan penyelidikan ke Tung-kang. Seminggu kemudian, teman itu datang kembali dan
menyampaikan kabar yang amat mengejutkan hati Sie Kian, bahwa Tan Siucai telah tewas di
dalam tahanan setelah ditangkap karena menempelkan tulisan-tulisan yang dianggap
memberontak !
Sie Kian segera menutup tokonya dan membawa Ci Kong ke dalam kamarnya. Di situ dia
merangkul anak itu, tak mampu mengeluarkan kata-kata dan orang yang bertubuh agak gemuk
pendek dan biasanya amat peramah dan halus budi ini menangis !
Ci Kong adalah seorang anak yang amat cerdik. Melihat sikap pamannya, hatinya terasa
perih seperti tertusuk. “Paman Sie Kian, apakah yang telah terjadi dengan ayahku ?”
Mendengar pertanyaan ini Sie Kian makin mengguguk tangisnya dan dia mendekap
kepala anak itu di dadanya. Selama ini dia hidup menyepi seorang diri, tanpa sanak tanpa teman,
dan segera tiba-tiba dia dipertemukan dengan anak kakak angkatnya ini, akan tetapi ternyata
nasib anak ini demikian buruknya.
“Paman. Apakah ayah ............ ayah meninggal dunia ?”
Sie Kian terkejut dan memegang kedua pundak kecil itu, melalui air matanya dia
memandang wajah itu dengan heran.
Ci Kong tidak menangis, akan tetapi kedua matanya juga basah air mata. “Paman, ketika
aku disuruh pergi oleh ayah, dia terluka parah dan hatiku sudah tidak enak. Sikap ayah seolaholah
kami tidak akan saling bertemu kembali. Benarkah ayah meninggal dunia………… ?”
Sie Kian menelan ludahnya dan mengangguk. Ci Kong menjatuhkan dirinya berlutut,
tidak menangis hanya menundukkan mukanya dan hanya beberapa butir air mata yang menuruni
kedua pipinya. Anak itu mengepalkedua tangannya yang kecil. Hening sejenak, yang terdengar
hanya tarikan napas panjang berkali-kali dari Sie Kian.
Kemudian terdengar suara Ci Kong, lirih dan agak gemetar. “Paman Sie Kian, bagaimanakah
meninggalnya ayahku ? Dan siapakah yang mengurus penguburannya ?”
Dengan hati-hati dan perlahan-lahan Sie Kian lalu menceritakan apa yang telah
didengarnya dari teman yang disuruhnya melakukan penyelidikan ke Tung-kang itu, betapa ayah
anak itu dalam keadaan sakit menempelkan tulisan-tulisan yang menentang madat dan mengutuk
para pembesar dan pedagang madat, sehingga dia dianggap pemberontak, ditangkap dan karena
keadaannya memang payah, dia meninggal dalam tahanan.
“Ayahmu sungguh keras hati dan nekat,” Sie Kian berkata, “dalam keadaan masih sakit
berat, dia bahkan berani bertindak demikian jauh sehingga menimbulkan keributan.
Mungkin ketika ditangkap, dia berada dalam keadaan yang sudah menghebat sakitnya akibat
luka-lukanya dan dia meninggal di dalam kamar tahanan.”
Pedang Naga Kemala > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com 35
“Ayah hebat !” Tiba-tiba Ci Kong berkata sambil mengepal tinju. “Biarpun lemah dan
sakit, ayah berani menentang apa yang dianggapnya tidak benar, kalau sudah besar, akupun ingin
seperti ayah !”
Sie Kian memandang kagum dan tiba-tiba ada sebuah pikiran menyelinap di benaknya.
“Ci Kong, dengar baik-baik. Peristiwa kematian ayahmu ini mendorongku untuk segera
membawamu pergi ke suatu tempat. Engkau tidak bisa tinggal terus disini ........... !”
Ci Kong mengerutkan alisnya, menatap wajah Sie Kian dengan pandang mata tajam
penuh selidik. “Apakah paman takut terlibat dan menerima akibat buruk dari urusan keluarga
ayah ? Kalau begitu, biarlah aku pergi dari sini agar paman tidak sampai tersangkut.”
Sie Kian merangkul pundak anak itu. “Jangan salah sangka, anak baik. Dengarlah.
Ayahmu dimusuhi oleh pemerintah, dan dicap pemberontak. Hal ini amat berbahaya bagimu.
Kalau mereka tahu bahwa ayahmu mempunyai seorang putera, tentu mereka akan mencarimu dan
kalau sampai ketahuan engkau disini, bagaimana aku akan dapat melindungimu ? Karena itu,
engkau harus disingkirkan dan diselamatkan, disembunyikan dari mereka. Dan ke dua, engkau
tadi mengatakan bahwa engkau ingin segagah ayahmu, bukan ? Akan tetapi, bagaimana engkau
dapat berhasil melakukan kegagahan kalau tubuhmu lemah seperti ayahmu ? Engkau harus
menjadi seorang yang berbeda dengan ayahmu yang hanya pandai menulis itu. Engkau harus
menjadi seorang ahli silat yang pandai dan kuat.”
Ci Kong yang masih kecil itu dapat menangkap apa yang dimaksudkan pamannya dan dia
mengangguk-angguk. “Lalu apa yang akan paman lakukan ?”
“Aku akan mengantarmu ke sebuah kuil. Kepala kuil itu adalah seorang hwesio tua yang
berilmu tinggi. Aku mengenalnya dengan baik karena diantara kami terdapat kecocokan, yaitu
kami sama-sama penentang pemerintah penjajah Mancu. Di sana engkau akan lebih terlindung,
juga tersembunyi. Engkau dapat belajar ilmu dari hwesio itu dan membantu pekerjaan di kuil.
Setujukah engkau, Ci Kong ?”
Anak itu mengangguk. Dan pada hari itu juga Ci Kong dibawa oleh Sie Kian pergi ke
sebuah kuil tua yang besar. Kuil itu berada di lereng dekat puncak sebuah bukit, di sebelah utara
kota Nan-ning, dua hari perjalanan dari kota itu. Dari bukit inilah mengalirnya sungai Si-kang ke
timur.
Ketua kuil itu bernama Nam San Losu, seorang penganut agama Budha yang taat, berusia
enampuluh tahun lebih namun tubuhnya tinggi besar masih nampak kokoh kuat dan dengan
wajahnya yang hitam dan kasar dia kelihatan seperti seorang yang berhati keras. Akan tetapi
sesungguhnya tidak demikian karena Nam San Losu memiliki watak yang lembut, halus tutur
sapanya dan halus gerak geriknya walaupun dalam setiap gerakannya itu tenaga yang amat kuat.
Dengan sabar Nam San Losu mendengarkan penuturan Sie Kian yang sudah lama
menjadi sahabatnya karena keduannya suka bertukar pikiran tentang ilmu pengobatan, dan
setelah Sie Kian selesai bercerita, kakek kepala gundul itu menarik napas panjang dan
memandang kepada Ci Kong.
Pedang Naga Kemala > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com 36
“Omitohud …………… ! Pinceng sendiri prihatin melihat betapa makin banyak rakyat
yang menjadi korban madat. Kalau saja semua orang yang pandai memiliki kebijaksanaan seperti
Tan Siucai, tentu pengaruh madat itu akan dapat ditentang dan ditolak.” Kemudian dia bertanya
kepada Ci Kong, “Anak baik, siapakah namamu ?”
“Namaku Tan Ci Kong, losuhu.”
“Engkau tidak lagi mempunyai sanak keluarga di dunia ini ?”
“Tidak, kecuali paman Sie Kian seorang.”
“Pamanmu hendak menitipkan engkau disini, apakah engkau suka ?”
Ci Kong mengangguk tampa menjawab, akan tetapi sinar matanya yang tajam berseri itu
menunjukkan bahwa dia menyukai tempat sunyi yang berhawa sejuk itu.
“Ci Kong, tempat ini adalah sebuah kuil dan hanya orang-orang yang telah bersumpah
mengabdikan dirinya kepada agama saja dan menjadi hwesio yang tinggal disini. Pinceng tinggal
disini bersama lima orang hwesio yang menjadi murid pinceng.
Akan tetapi kulihat engkau tidak mempunyai bakat untuk menjadi pendeta. Satu-satunya jalan
agar engkau dapat tinggal disini untuk sementara waktu hanyalah menjadi muridku, bukan murid
agama melainkan murid ilmu silat. Bagaimana ?”
Ci Kong memang cerdik. Sebelumnya dia sudah mendengar penuturan Sie Kian tentang
hwesio tua ini, maka mendengar ucapan itu diapun segera menjatuhkan diri berlutut di depan kaki
hwesio itu.
“Teecu suka sekali menjadi murid suhu dan akan mentaati segala petunjuk dan perintah
suhu.”
Hwesio itu tersenyum dan saling bertukar pandang dengan Sie Kian yang menganggukangguk
girang dan kagum. “Selain mempelajari ilmu silat, karena kau putera seorang siucai,
engkaupun harus mempelajari ilmu sastera dan pinceng akan memimpinmu sedapat mungkin.
Akan tetapi, di waktu tidak belajar engkau harus bekerja keras membantu para suhengmu di kuil
ini.”
“Teecu akan mentaatinya !”
Demikianlah, mulai hari itu, Sie Kian meninggalkan Ci Kong di kuil tua dan anak itu
menjadi murid Nam San Losu, hwesio tua yang hidup seperti pertapa di dekat puncak bukit sunyi
itu. Dia belajar ilmu silat dan sastera kepada hwesio itu, dan bergaul dengan akrabnya dengan
para suhengnya yang menjadi hwesio-hwesio berusia antara empatpuluh sampai limapuluh tahun.
Anak ini rajin sekali, tidak pernah bermalas-malasan sehingga bukan saja Nam San Losu suka
kepadanya, juga lima orang hwesio lainnya menjadi sayang kepadanya. Untunglah bagi Ci Kong
karena Nam San Losu adalah seorang ahli silat dari Siauw-lim-pai dan betapapun beratnya
gemblengan yang dilakukan Nam San Losu terhadap dirinya, dia terima dengan segala keikhlasan
hati dan dia belajar tanpa mengenal lelah.
Pedang Naga Kemala > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com 37
***
Malam yang gelap di kota Kanton. Kota ini menjadi sebuah kota yang ramai dan mewah setelah
kota itu ditentukan untuk menjadi kota perdagangan dengan orang-orang berkulit putih. Kota
inilah, disamping kota Makao, yang menampung penyelundupan candu dan di kedua kota ini
rakyat dapat melihat orang-orang berkulit putih yang kalau masuk ke pedalaman, tentu akan
menimbulkan perasaan heran bukan main karena kulit mereka yang putih, rambut dan bola mata
mereka yang berwarna.
Malam itu gelap, kecuali rumah-rumah besar para pedagang kaya yang sekelilingnya
digantungi lampu-lampu minyak yang besar dan yang sinarnya mendatangkan penerangan
sekedarnya di jalan-jalan depan rumah-rumah gedung itu.
Rumah berpintu merah itu amat dikenal oleh mereka yang suka melacur dan mereka yang
suka menghisap madat. Di dalam rumah itu laki-laki iseng dapat menghamburkan uangnya untuk
pelacur ataupun untuk menghisap madat. Memang dua kebiasaan ini berdekatan selalu. Kalau
malam tiba, terdengar suara cekikikan ketawa wanita menyelinap keluar melalui jendela kamarkamar
itu bersama keluarnya asap tipis berbau madat yang memuakkan bagi mereka yang tidak
biasa, akan tetapi merupakan asap ajaib yang dapat mendatangkan kenikmatan tanpa batas bagi
mereka yang telah mencandu.
Orang-orang yang tidak punya uang jangan harap dapat memasuki rumah berpintu merah
ini, karena selain madat mahal harganya, juga para pelacur yang berkumpul disitu, yang
jumlahnya belasan orang, terdiri dari pelacur-pelacur kelas mahal.
Seorang laki-laki tinggi kurus yang mukanya pucat kehijauan keluar dari dalam kamar
yang bau pengap oleh asap madat dan dengan langkah terhuyung akan tetapi kedua kakinya
bergerak ringan dia berjalan ke ruangan depan. Sebuah buntalan kuning digendongnya di
belakang punggung dan wajah si muka kehijauan ini nampak senyum penuh kepuasan seperti
biasa senyum laki-laki yang meninggalkan kamar madat itu.
“Hai, A-Ceng ! Kau hendak kemana ? Malam belum larut dan kau sudah mau pergi?”
Tegur seorang laki-laki gendut yang sedang memangku seorang pelacur dan bergurau dengan
teman-temannya yang masing-masing dikawani seorang pelacur pula.
Mereka, empat orang itu, duduk menghadapi arak mengelilingi sebuah meja bundar dan agaknya
mereka ini lebih suka minum-minum di situ ditemani pelacur dari pada menghisap madat atau
melacur di dalam kamar. Atau mungkin juga mereka tadi sudah puas menghisap madat.
Laki-laki kurus bermuka hijau itu menoleh dan tersenyum ketika melihat mereka
berempat. Hanya si gendut itu saja yang dikenalnya, yang lainnya tidak. Kenalpun hanya selewat
dengan si gendut karena si gendut itu adalah seorang tukang pukul yang melindungi tempat
pelacuran dan pemadatan itu. Secara sambil lalu dia berkenalan dengan si gendut, bahkan secara
sembarangan dia memperkenalkan diri dengan nama palsu A Ceng, dan si gendut itu
memperkenalkan namanya pula yang tidak diingatnya lagi, akan tetapi dia teringat akan julukan
yang diperkenalkan dengan bangga oleh si gendut, yaitu “Si Kaki Besi”.
Pedang Naga Kemala > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com 38
Orang bermuka kehijauan yang mengaku bernama A Ceng itu melambaikan tangan
sebagai balasan salam. “Aku sudah puas menghisap, dan ada keperluan penting. Besok aku
dating lagi !”
A Ceng melanjutkan langkahnya keluar dari rumah berpintu merah itu. Si Kaki Besi
memberi syarat kepada tiga orang kawannya. Merekapun segera meninggalkan pelacur-pelacur
itu dan dengan berindap-indap mereka berempat keluar pula dari tempat itu melalui pintu
samping, dengan sikap yang amat mencurigakan. Empat orang wanita pelacur itu saling pandang
dengan heran akan tetapi seperti biasa, mereka tidak perduli dan segera memperbaiki muka dan
rambut mereka dengan bedak, pemerah bibir dan sisir untuk menanti datangnya lain tamu iseng.
Malam masih terlalu panjang bagi mereka ini.
A Ceng berjalan menyelinap di antara rumah-rumah penduduk dan tiba-tiba dia berhenti
di dekat tempat terbuka yang sunyi, memandang ke kanan kiri dan belakang karena dia seperti
mendengar suara yang mencurigakan. Dari sikapnya yang penuh curiga dan waspada, dapat
diduga bahwa dia tidak sedang berjalan-jalan biasa melainkan ada suatu urusan penting yang
sedang dikerjakannya.
Tiba-tiba nampak empat bayangan orang berloncatan dan si gendut yang berjuluk Si Kaki
Besi, tukang pukul rumah pelacuran dan pemadatan Pintu Merah telah berada di depan A Ceng,
bersama tiga orang kawannya yang tadi minum-minum dengannya. Melihat si gendut, wajah A
Ceng yang tadinya terkejut nampak lega.
“Ah, kiranya engkau, toako ! Ada apakah menyusulku ? Aku tidak meninggalkan hutang
di rumah Pintu Merah.”
Si gendut menyeringai. “Hemm, engkau membawa bungkusan dari rumah itu. Aku harus
memeriksanya dulu, sobat, apa isi bungkusan itu.”
Wajah yang kehijauan itu berobah pucat dan matanya terbelalak. “Aku tidak mengambil
apa-apa, tidak mencuri apa-apa. Ini adalah barangke sendiri !”
“Heh, mana aku tahu kalau belum kulihat isi buntalan itu ?” hardik si gendut dan dengan
sikap mengancam dia mendekati A Ceng, diikuti tiga orang temannya yang jelas memperlihatkan
sikap mengurung dan mengancam.
“Toako, sekali lagi kuperingatkan bahwa aku tidak mencuri apa-apa dan ketika memasuki
rumah Pintu Merah aku sudah membawa barangku ini.” Bantah pula orang yang mengaku
bernama A Ceng.
“Ha-ha ! Kaukira kami orang-orang bodoh atau buta ? Engkau bukan bernama A Ceng,
melainkan she Phek, seorang buaya darat dari sebelah utara Kanton. Engkau mengaku bernama A
Ceng dan engkau membawa barang yang selalu kaurahasiaka. Hayo buka dan perlihatkan kepada
kami !”
“Baiklah ………, baiklah ……… !” kata A Ceng dan diapun menurunkan buntalannya
dari gendongan dan meletakkannya di atas tanah. Ketika dia membuka buntalan itu perlahanPedang
Naga Kemala > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com 39
lahan, empat orang itu membungkuk di sekelilingnya karena mereka ingin melihat lebih jelas apa
isi bungkusan itu dan tempat itu hanya mendapat penerangan sedikit saja dari lampu yang
tergantung di rumah agak jauh dari tempat itu.
Dengan perlahan-lahan dan sikap tenang sekali A Ceng membuka buntalan kain kuning
itu dan tiba-tiba dia mengeluarkan bentakan nyaring, kedua tangannya bergerak ke atas. Sinarsinar
hitam menyambar ke empat penjuru dan Si Kaki Besi bersama tiga orang kawannya
berteriak kesakitan sambil menutupi kedua mata dengan tangan, menggosok-gosoknya karena
mata mereka disambar pasir yang dilemparkan dengan tiba-tiba oleh A Ceng tadi.
A Ceng tidak membuang waktu lagi.Melihat betapa empat orang itu kebingungan
menggosok-gosok mata dengan kedua tangan, diapun cepat meloncat berdiri dan membagi-bagi
pukulan dan tendangan yang dilakukan penuh pengarahan tenaga sinkangnya.
“bukk ……… ! Dess ……… ! Kekkk ……… !” Tiga orang teman Si Kaki Besi
terjungkal ketika dua pukulan mengenai lambung dan sebuah tendangan mengenai selakangan.
Mereka roboh dan munta darah, lalu pingsan. A Ceng mendesak terus, kini menyerang Si Kaki
Besi dengan pukulan maut kea rah leher. Akan tetapi Si Kaki Besi agaknya lebih pandai dari pada
kawan-kawannya. Dia dapat mendengar angin tendangan itu dan cepat meloncat ke belakang.
Ketika dia mendengar gerakan A Ceng menyerbu ke depan, cepat dia menggerakkan kedua
kakinya bergantian dan memang Si Kaki Besi ini tidak sia-sia saja mempunyai julukan itu. Kedua
kakinya dapat melakukan tendangan berantai yang amat cepat dan amat kuat sehingga biarpun A
Ceng yang menjadi kaget cepat mengelak ke samping, tetap saja sebuah tendangan menyerempet
pahanya dan diapun roboh terguling. Akan tetapi tendangan itu tidak tepat sekali dan A Ceng
bergulingan menjauh sehingga tendangan –tendangan berikutnya yang dilakukan ngawur itu
tidak mengenai sasaran. Sayang bagi Si Kaki Besi bahwa dia belum dapat membuka kedua
matanya yang masih terasa pedas dan perih terkena pasir yang tadi disambitkan A Ceng. Maka
kini dia hanya menyerang dengan ngawur, mengandalkan pendengarannya saja. Sementara itu A
Ceng atau yang lebih tepat sebenarnya bernama Phek Kiat itu, sudah meloncat lagi dan menjadi
marah sekali. Lawannya yang sudah tak mampu membuka mata itu masih dapat menendangnya
sehingga hampir saja dia celaka. Dengan cepat dan kuat dia lalu menyerang dari samping. Si
Kaki Besi mendengar angin serangan ini dan berusaha menangkis, akan tetapi tangkisannya luput
dan sebuah pukulan yang keras mengenai lambungnya.
“Bukk ......... !” Tubuh yang gendut itu terpelanting. Sebelum dia dapat bangkit, sebuah
tendangan mengenai dadanya dan kembali dia terjengkang. Phek Kiat tidak memberi kesempatan
lagi kepadanya dan menghujankan pukulan dan tendangan. Sebuah tendangan yang tepat
mengenai tengkuk membuat Si Kaki Besi itu roboh terkulai dan tidak mampu bergerak lagi.
Melihat empat orang lawannya sudah menggeletak tak berkutik lagi, si muka hijau itu
menyeringai puas dan kini nampaklah bentuk mukanya yang kejam, sinar matanya yang licik dan
senyumnya yang menyeramkan. Diperbaiki lagi buntalannya dan diapun cepat meninggalkan
tempat itu. Peristiwa itu terjadi amat cepatnya, di tempat sunyi dan gelap sehingga terjadi tanpa
diketahui orang lain.
Akan tetapi agaknya tidak demikian. Ketika A Ceng atau Phek Kiat meninggalkan tempat
itu dengan berlari cepat dan ringan, sesosok bayangan berkelebat dan terus membayangi orang
Pedang Naga Kemala > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com 40
bermuka kehijauan itu. Bayangan ini memiliki gerakan yang amat cepat dan ringan sehingga
langkah kakinya ketika berlari tidak menimbulkan suara apapun. Namun, Phek Kiat agaknya
merasa sesuatu yang tidak enak maka beberapa kali dia menoleh dengan tiba-tiba. Hebat sekali
gerakan bayangan itu. Begitu Phek Kiat menoleh, dia sudah menyelinap dengan kecepatan seperti
terbang dan setiap kali Phek Kiat menengok, dia tidak melihat apa-apa karena bayangan itu telah
bersembunyi di balik pohon atau dinding rumah.
Phek Kiat melanjutkan larinya menuju ke pinggir kota yang sepi dan di bagian ini tidak
ada rumahnya karena daerahnya terdapat banyak rawa dan sawah. Phek Kiat tiba di atas sebuah
jembatan yang tua. Sunyi dan gelap di tempat ini, hanya diterangi bintang-bintang yang
memenuhi langit. Dan begitu tiba di tempat itu, Phek Kiat bersuit perlahan. Tak lama kemudian
suitan itu dibalas orang dan muncullah seorang laki-laki dari bawah jembatan. Agaknya sejak tadi
dia sudah menanti di situ dan seperti juga Phek Kiat, orang itu juga membawa sebuah buntalan
hitam.
“Sin-touw (Maling Sakti), engkau sudah di sini pula ? Bagus !” kata Phek Kiat dengan
hati lega dan girang, apa lagi melihat betapa orang berpakaian hitam-hitam itu memondong
sebuah buntalan hitam yang bentuknya persegi panjang.
“Phek Kiat, aku belum pernah melanggar janji. Engkau ......... sudah membawa ......... itu
,,,,, ?” tanya si baju hitam yang disebut Maling Sakti itu dengan suara agak gugup, lalu menoleh
ke kanan kiri seolah-olah merasa takut kalau-kalau pembicaraan mereka dilihat atau didengar
orang lain. Akan tetapi tempat itu sunyi, tidak nampak sesuatu selain berkelap-kelipnya bintangbintang
di langit dan tidak terdengar sesuatu kecuali kerik jengkerik di sawah-sawah kering.
“Ha, jangan khawatir, sobat. Akupun bukan orang yang suka melanggar janji. Nih, sudah
kubawa, lengkap seperti yang kauminta. Tigapuluh kati, sedikitpun tidak kurang, barang murni
tidak campuran pula.” Phek Kiat menunjuk bungkusannya.
“Sobat Phek, tolong, beri aku sedikit dulu, sudah tiga hari aku tidak mengisap, badanku
sakit semua rasanya, tolonglah ……… kau tentu membawa yang sudah dicampur tembakau,
bukan ?”
Si baju hitam itu mengeluarkan sebuah pipa cangklong kecil dari balik bajunya, pipa yang
biasanya dia pakai untuk menghisap madat. Kedua tangannya gemetar ketika dia mengeluarkan
pipa itu. Melihat ini, Phek Kiat tersenyum dan matanya bersinar aneh.
“Tentu saja, Sin-touw. Akan tetapi sejak tadi sudah ingin sekali melihat benda itu. Berilah
aku lihat sebentar saja, dan aku akan memberi madat sampai engkau dapat menghisap sepuasmu.
Coba buka dan perlihatkan padaku benda itu,” kata Phek Kiat sambil memandang ke arah
buntalan kain hitam yang persegi panjang itu.
Maling Sakti itu agaknya sudah percaya benar kepada Phek Kiat, atau memang dia sudah
amat ketagihan candu, maka diapun segera membuka buntalan kain hitam dan nampaklah sebuah
peti hitam pula. Dibukanya tutup peti itu dengan sebuah kunci dan begitu tutup peti itu terbuka,
nampaklah sebuah benda berkilauan, benda yang berwarna hijau kemerahan, berbentuk sebatang
pedang kecil berukir tubuh naga dan benda itu terbuat dari batu giok yang luar biasa indahnya !
Pedang Naga Kemala > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com 41
Sepasang mata Phek Kiat terbelalak penuh kagum. Sungguh selama ini tidak pernah dia dapat
membayangkan akan dapat melihat benda pusaka ini, bukan hanya melihatnya, bahkan sebentar
lagi benda itu akan menjadi miliknya !
“Giok-liong-kiam ......... !” bisiknya.
“Ya, Giok-liong-kiam ......... !” kata pula Sin-touw dengan suara penuh kebanggaan. Siapa yang
takkan merasa bangga telah berhasil mencuri sebuah benda keramat, pusaka yang dikagumi dan
diinginkan oleh seluruh tokoh besar dunia persilatan ? Hanya dialah yang mampu dan
julukannya Sin-touw kiranya pantas diabadikan karena dia telah berhasil memiliki benda pusaka
ini. Akan tetapi semenjak dia berhasil mencuri benda pusaka ini kurang lebih setengah tahun
yang lalu, hidupnya menjadi sengsara ! Dia harus melarikan diri terus dan selalu bersembunyi,
tidak pernah berani muncul di siang hari. Keselamatannya terancam karena banyak sekali orang
pandai mencarinya, begitu terdengar berita di dunia kang-ouw bahwa pusaka Giok-liong-kiam
lenyap dari ketua perkumpulan Thian-te-pai (Perkumpulan Langit Bumi)! Bukan hanya jagoanjagoan
Thian-te-pai yang mencari jejaknya, bahkan tokoh-tokoh besar dari semua golongan juga
mencari maling yang telah melarikan pusaka itu. Bahkan juga dari istana muncul jagoan-jagoan
yang berkeliaran mencari pusaka itu. Seolah-olah terjadi perlumbaan untuk memperebutkan
benda pusaka itu. Setelah kini benda pusaka itu bukan lagi menjadi pusaka Thian-te-pai, karena
sudah berhasil dicuri orang, maka semua golongan mencarinya dan kini siapa yang berhasil
merampasnya dari si pencuri, berarti berhak untuk memiliki pusaka keramat Giok-liong-kiam
atau Pedang Naga Kemala. Inilah sebabnya maka Sin-touw yang merasa hidupnya terancam,
ketika bertemu dengan Phek-Kiat yang sudah lama dikenalnya sebagai seorang penjahat yang
cerdik dan licik, dia mengadakan perjanjian dengan orang itu. Dia yang sudah ketagihan candu,
setuju untuk menukarkan benda pusaka itu dengan tigapuluh kati madat murni. Tigapuluh kati !
Jumlah yang tidak sedikit dan mahal sekali harganya. Dan bukan itu saja. Juga Phek Kiat berjanji
untuk mencukupi semua kebutuhannya akan madat kalau yang tigapuluh kati itu sudah habis.
Berarti selama hidupnya dia tidak akan kekurangan candu. Kesenangannya terpenuhi,
keselamatannya tidak terancam lagi dan selain itu, yang lebih penting lagi, dia tahu di mana
adanya pusaka itu. Dia seperti menitipkannya saja kepada Phek Kiat, mengalihkan bahaya yang
mengancam kepada orang she Phek itu. Dan kalau sewaktu-waktu dia hendak mengambil
kembali benda pusaka itu, apa sukarnya baginya untuk mencari Phek Kiat ? Bahkan, kalau
keadaan memaksa, dia dapat menjual orang itu kepada tokoh pandai yang mengejar, dan untuk
keterangan bahwa dia tahu dimana adanya benda pusaka itu, tentu dia akan memperoleh hadiah
yang amat besar pula. Dia harus dapat mengeduk keuntungan sebanyaknya dari Giok liong-kiam
tanpa membahayakan keselamatan diri sendiri.
Sin-touw menutupkan kembali peti hitam itu dan lenyaplah sinar berkilauan hijau tadi.
Dan kembali dia menyodorkan pipa cangklong tembakau kepada Phek Kiat. “Nah, sekarang
isilah cangklong agar aku dapat menghisapnya dulu barang beberapa kali sedotan.”
“Baiklah, sobat, baiklah,” kata Phek Kiat yang segera mengeluarkan sebuah kantong dari
saku bajunya. Kantong itu dibuka dan dia mengambil atau menjumput tembakau madat dengan
tiga buah jari tangannya, lalu mengisi mulut pipa cangklong itu dengan tembakau sampai penuh
padat. Akan tetapi, tiba-tiba sekali Sin-touw yang sejak tadi sudah menempelkan mulutnya pada
ujung pipanya, mengerahkan tenaganya meniup.
Pedang Naga Kemala > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com 42
“Srrrr ..........! “ Sebatang jarum hitam halus menyambar dari sebuah lubang rahasia di
bawah cangklong dan karena jaraknya amat dekat, jarum yang tiba-tiba meluncur itu dengan
tepat sekali mengenai tenggorokan Phek Kiat yang sama sekali tidak menduganya dan tidak
mempunyai kesempatan untuk mengelak. Tahu-tahu jarum itu telah menusuk tenggorokannya.
Dia terkejut dan merasa tenggorokannya panas dan perih sekali. Dia terbelalak memandang
pencuri itu.
“Keparat ......... ! Kau ......... kau .......... !” Dia menerjang ke depan, mengerahkan
seluruh tenaganya untuk menghantam. Akan tetapi, Sin-touw sudah bersiap siaga, sekali
menggerakkan kakinya dia sudah meloncat jauh ke belakang sehingga tubrukan A Ceng atau
Phek Kiat mengenai tempat kosong dan tubuh itupun terguling. Phek Kiat bukanlah seorang
lemah, akan tetapi jarum yang menancap hampir seluruhnya ke dalam tenggorokannya itu bukan
jarum sembarangan, melainkan jarum yang mengandung racun amat keras sehingga begitu
tempat yang lemah itu tertusuk, racun dalam jarum itu sudah terbawa oleh darah dan menjalar
amat cepatnya. Leher itu seketika menjadi bengkak dan Phek Kiat merasa kepalanya pening
berputar sehingga dia roboh dan berkelojotan.
Sin-touw tertawa bergelak. “Ha-ha-ha ......... , baru engkau tahu akan kelihaian Sin-touw,
ha-ha-ha !” Dia merasa girang sekali. Akal ini baru diperolehnya tadi ketika dia menanti
munculnya Phek Kiat di bawah jembatan. Dia teringat bahwa Phek Kiat adalah seorang penjahat
yang amat licin dan keji dan mulailah dia merasa menyesal mengapa dia memilih Phek Kiat
sebagai orang yang akan menyimpan Giok-liong-kiam. Bagaimana kalau kelak dia ditipunya ?
Bagaimana kalau Phek Kiat di luar tahunya menjual pusaka itu dengan harga yang amat tinggi,
beberapa kali lipat dari sekedar tigapuluh kati candu ? Dan hal ini amat boleh jadi mengingat
bahwa Phek Kiat adalah seorang yang berwatak rendah. Lebih baik mencari orang lain yang lebih
dapat dipercaya, demikian timbul pikirannya dan diapun mencari akal untuk membatalkan jual
beli itu dengan membunuh Phek Kiat. Dan candu tigapuluh kati itu akan menjadi miliknya,
dengan gratis karena pusaka Giok-liong-kiam masih akan tetap berada padanya.
“Ha-ha-ha-ha !” Si Maling Sakti tertawa lagi, lalu merenggut buntalan dari pundak tubuh
Phek Kiat yang sudah kaku tak bergerak lagi. Dibukanya buntalan itu dan ketika dia melihat
candu sebanyak itu, kembali dia tertawa girang. “Aku harus memberi selamat kepada diri sendiri
dengan mengisap sepuasnya !” Dia lalu menyeret tubuh tubuh Phek Kiat yang sudah tidak
bernyawa itu ke bawah jembatan. Kemudian diapun mengikat dua bungkusan itu menjadi satu
dan menggendongnya di punggung. Setelah duduk di dekat mayat Phek Kiat, dia lalu menyalakan
tembakau di mulut pipa cangklongnya dan mulailah dia mengisap tembakau madat. Wajahnya
berseri gembira dan matanya terpejam ketika dia menyedot asap candu itu sampai memenuhi
paru-parunya. Terasa nikmat sekali dan dia menghisap terus-menerus dan sambungmenyambung.
Akan tetapi tiba-tiba dia tersentak kaget, pipa cangklong itu dibuangnya dan
diapun meloncat bangun, menekan dadanya. Akan tetapi, dia terguling roboh dan muntahmuntah,
kedua tangannya mencengkeram ke arah dadanya dan ditarik-tariknya bajunya sehingga
robek-robek. Mukanya kini berobah kehitaman, tidak lagi berseri-seri melainkan penuh ketakutan
dan kemarahan.
“Celaka .......... ! Jahanam keparat .......... !” Dia memaki dan dengan marah dia
menendang mayat Phek Kiat. Akan tetapi baru dua kali dia menendang, tubuhnya terguling dan
berkelojotan dan tak lama kemudian nyawanya menyusul Phek Kiat. Kiranya tembakau madat
Pedang Naga Kemala > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com 43
yang oleh Phek Kiat dimasukkan ke dalam pipa cangklong itu bukanlah tembakau biasa,
melainkan tembakau madat yang sudah dicampuri racun yang jahat sekali. Baru menyedot satu
kali saja sudah cukup untuk membunuh orang, apa lagi Sin-touw yang menghisapnya berkalikali
sampai paru-parunya penuh !
Setelah tubuh Sin-touw tidak bergerak lagi, mencullah sesosok bayangan hitam yang
gerakkannya gesit. Dia meloncat turun ke bawah jembatan, sejenak berdiri memandang dua
mayat itu dan dia tertawa terkekeh. Suara ketawanya aneh menyeramkan, seperti ringkik kuda
dan perutnya yang gendut bergoyang-goyang.
“Manusia-manusia hina, kalian memang tidak pantas untuk hidup lebih lama lagi di dunia
ini. Orang-orang macam kalian mana pantas menjamah Giol-liong-kiam ?” Dia lalu
menggerakkan tangannya dan tahu-tahu buntalan kain hitam persegi panjang itu sudah
direngutnya dari punggung mayat Sin-touw. Dibukanya buntalan itu dan ketika dia membuka
tutup peti, matanya bersinar-sinar melihat pedang kemala yang berkilauan kehijauan itu.
Ditutupnya kembali peti itu dan tiba-tiba dia memandang ke kanan kiri seperti orang khwatir.
Hati siapakah yang tidak merasa gelisah setelah berhasil memperoleh Giok-liong-kiam ?
Benda pusaka ini diinginkan oleh semua orang di dunia persilatan, baik dari golongan sesat
maupun para pendekar. Bahkan orang-orang dari istana juga menginginkannya. Belum lagi
diingat orang-orang dari Thian-te-pai yang ingin merampas kembali benda pusaka perkumpulan
mereka. Para tokoh dunia persilatan, baik dari golongan hitam maupun golongan pendekar, ingin
menguasai Giok-liong-kiam karena benda pusaka ini menjadi lambang dari keunggulan
seseorang, menjadi bukti ketinggian tingkat kepandaiannya dan bahkan sebelum benda itu
terjatuh ke tangan Thian-te-pay, pernah Giok-liong-kiam dianjurkan oleh para datuk persilatan
untuk menjadi tanda kuasa seseorang Bu-Lim Beng-cu (Ketua Dunia Persilatan) yang diakui oleh
semua orang di dunia kang-ouw ! Ada pula golongan sesat yang menginginkan benda itu bukan
karena kekeramatannya, melainkan karena harganya. Benda itu amat berharga karena selain batu
kemala hijau kemerahan itu merupakan kemala pilihan yang sukar didapatkan di dunia ini, juga
ukir-ukiran berbentuk pedang naga itu amat halus dan indahnya, kabarnya dilakukan oleh seorang
ahli ukir di jaman ahala Tang, ahli ukir dari istana yang kenamaan, seribu tahun yang lalu.
Sukar dinilai berapa harganya benda itu dan agaknya orang-orang yang kaya raya akan berlumba
membelinya dengan harga yang paling tinggi sekalipun !
Tidaklah mengherankan kalau terjadi pembunuhan-pembunuhan keji semenjak orang tahu
bahwa A Ceng atau Phek Kiat sedang melakukan urusan yang ada kaitannya dengan Giok-liongkiam.
Mula-mula dengan matinya Si Kaki Besi dan tiga orang kawannya yang hendak merampas
tigapuluh kati madat dari tangan Phek Kiat, kemudian kematian Phek Kiat dan Sin-touw yang
saling membunuh untuk memperebutkan Giok-liong-kiam dan madat yang banyak itu. Dan kini,
si Gendut berpakaian serba hitam itu dengan jantung berdebar penuh ketegangan menggendong
Giol-liong-kiam baik-baik dan merasa cemas. Akan tetapi diapun lalu mengambil buntalan madat
karena madat sebanyak tigapuluh kati itu merupakan harta yang amat banyak pula. Sambil
menyeringai puas dan girang si gendut berpakaian hitam itu melompat ke luar dari bawah
jembatan, setelah merasa yakin bahwa tempat itu sunyi dan tidak ada orang lain kecuali dia yang
menyaksikan perkelahian antara Phek Kiat dan Sin- touw yang mengakibatkan keduanya tewas
itu.
Pedang Naga Kemala > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com 44
Setelah kedua kakinya dengan ringan sekali hinggap di atas jembatan, dia celingukan lagi dan
makin legalah hatinya ketika melihat kesunyian sekeliling jembatan itu. Malam itu juga dia harus
dapat keluar dari kota Kanton, pikirnya. Dia tidak akan merasa aman sebelum meninggalkan
Kanton.
Dengan kepandaiannya yang tinggi, si gendut baju hitam itu dapat lolos dari kota dengan
jalan melompati pagar tembok kota di bagian yang sunyi tidak terjaga. Setelah meloncat ke luar
dari tembok, dia lalu mempercepat gerakan kakinya, berlari seperti terbang menuju ke utara.
Tujuannya adalah ke kota Sau-koan di mana dia mempunyai seorang sahabat yang dapat dimintai
tolong agar membantunya menyembunyikan diri untuk sementara.
Menjelang pagi, selagi dia menuruni sebuah bukit kecil, tiba-tiba dia mendengar derap
kaki kuda dari belakang. Dia terkejut sekali. Akan tetapi setelah dia mendengarkan dengan teliti
dan ternyata yang datang dari belakang itu hanya seekor kuda saja, hatinya menjadi tenang.
Kalau hanya menghadapi seorang lawan saja, dia tidak takut. Apa lagi yang datang dari belakang
itu belum tentu seorang musuh, mungkin sekali hanya orang yang kebetulan lewat saja. Karena
itu, setelah mempererat gendongannya, dia melanjutkan perjalanan dengan jalan seenaknya agar
tidak menimbulkan kecurigaan.
Tak lama kemudian, setelah derap kaki kuda itu semakin keras suaranya, muncullah
seorang penunggang kuda yang membalapkan kudanya mendahului si baju hitam. Si gendut baju
hitam ini melirik dan dia melihat seorang laki-laki tinggi besar menunggang kuda yang besar
pula. Seorang laki-laki biasa saja yang pandai menunggang kuda dan agaknya tergesa-gesa.
Akan tetapi ketika si gendut itu melihat baju orang itu, jantungnya berdebar tegang, Baju Kulit
Harimau ! Teringatlah dia akan nama Lam-hai Ngo-houw (Lima Harimau Laut Selatan) yang
terkenal di Kanton, lima orang kakak beradik yang ditakuti, karena mereka adalah orang-orang
kuat yang kadang-kadang mengandalkan kekuatan dan kepandaian silat mereka untuk
memaksakan kehendak mereka kepada orang-orang atau golongan yang lebih lemah. Ciri khas
mereka adalah baju harimau mereka. Biar dalam musim panas sekalipun mereka tak pernah
menanggalkan baju harimau mereka.
Akan tetapi, penunggang kuda ini hanya seorang saja, pikir si gendut baju hitam. Dan
kabarnya Lam-hai Ngo-Houw selalu maju berlima. Mungkin bukan mereka, dan andaikata benar
orang ini seorang di antara Lima Harimau itu, takut apa ? Orang itu tentu tidak tahu apa isi dua
buntalan di punggungnya. Juga dia tidak pernah berkenalan dengan Lam-hai Ngo-houw dan tidak
mempunyai urusan apapun juga. Tanpa sebab, tidak mungkin Lam-hai Ngo-houw mau
mengganggu dirinya. Hatinya lebih tenang melihat betapa penunggang kuda itu membalap terus
dan agaknya sama sekali tidak memperhatikan dirinya.
Karena hatinya lega, si gendut itu lalu beristirahat di dalam sebuah hutan dan pada
keesokan harinya, setelah matahari mulai mengusir kegelapan malam, diapun melanjutkan
perjalanan menuju ke utara. Dia tahu bahwa setelah dia keluar dari dalam hutan ini, kota Saukoan
tinggal belasan li saja lagi jauhnya.
Akan tetapi, dapat dibayangkan betapa kaget rasa hatinya ketika tiba-tiba dia mendengar
suara auman harimau dari depan ! Seekor harimau ! Dia merasa heran sekali karena dia bukan
seorang asing di daerah ini dan dia tahu betul bahwa di hutan ini tidak pernah orang bertemu
Pedang Naga Kemala > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com 45
harimau. Akan tetapi auman itu jelas merupakan auman harimau. Tiba-tiba dia terlonjak kaget
ketika terdengar auman harimau lain lagi, kini datang dari arah belakangnya ! Ketika terdengar
lagi suara auman dari kanan kiri, keheranannya berobah menjadi kegelisahan dan mukanya
berobah agak pucat. Tidak mungkin ada harimau demikian banyaknya tersesat di dalam hutan
Ini ! Harimau ! Lima ekor banyaknya ! Tiba-tiba wajah si gendut menjadi semakin pucat dan
dia siap siaga menghadapi segala kemungkinan karena dia teringat akan penunggang kuda
berjubah harimau semalam.
Dan ketika tiba-tiba bermunculan lima orang berjubah harimau dari semua penjuru, si
gendut jubah hitam itu tidak begitu kaget lagi karena memang dia sudah menduga bahwa tentu
suara-suara harimau itu perbuatan Lam-hai Ngo-houw yang agaknya sengaja menghadangnya di
tempat ini. Tahulah dia sekarang bahwa penunggang kuda semalam itu hanya ingin memperoleh
keyakinan bahwa dia memang memasuki hutan ini. Diam-diam dia merasa menyesal sekali atas
kelengahannya sendiri. Kalau dia berhati-hati dan sudah menduga lebih dulu akan berurusan
dengan Lam-hai Ngo-houw, tentu malam tadi diam-diam dia melarikan diri. Banyak terdapat
kesempatan baginya untuk diam-diam merobah tujuan perjalanan semalam. Akan tetapi kini
sudah terlanjur dan pula, andaikata dia merobah tujuan dan melarikan diri, siapa tahu lima orang
jahanam ini sudah selalu mengintai dan membayanginya. Dia menabahkan hatinya dan berhenti
melangkah, memandang kepada laki-laki tinggi besar berkumis tebal yang agaknya menjadi
pemimpin dari lima orang berjubah harimau itu.
“Maafkan saya,” katanya dengan sikap merendah. “Saya adalah seorang perantau yang
tidak mempunyai apa-apa dan tidak pernah mengganggu orang. Ada keperluan apakah ngo-wi
menghadang perjalanan saya ?”
Si kumis tebal menyeringai dan memandang tajam, bukan ke arah wajah si gendut,
melainkan ke arah punggungnya. Hal ini saja membuat si gendut menjadi semakin gelisah dan
dia sudah dapat menduga bahwa lima orang ini agaknya tahu akan isi kedua bungkusannya.
“Hemm, bukankah engkau yang berjuluk Tai-lek Hek-wan (Lutung Hitam Tenaga Besar)
dari Nan-leng ?”
Si gendut yang dijuluki Lutung Hitam itu terkejut. Kiranya lima orang ini sudah
mengenalnya ! Maka diapun tidak mau berpura-pura lagi dan cepat menjura, “Saya seorang
perantau dari Nan-leng merasa gembira sekali dapat bertemu dengan Lam-hai Ngo-houw yang
terkenal gagah perkasa !”
“Hemm, mengapa bergembira ?” tanya si kumis tebal dengan suara bernada ejekan.
“Bertemu dengan orang-orang segolongan, berarti bertemu dengan saudara sendiri.
Persatuan antara kita akan menciptakan kekuatan untuk menghadapi lawan kita bersama.
Sebaliknya perpecahan di antara kita hanya akan mendatangkan kelemahan dan menguntungkan
pihak lawan.”
Lima orang itu saling pandang. “Siapakah lawan yang kau maksudkan, Hek-wan ?” tanya
si kumis tebal.
Pedang Naga Kemala > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com 46
Tai-lek Hek-wan menarik napas panjang. “Banyak sekali ! Terutama sekali orang-orang
yang berhati sombong selalu mengejarku dan kalau aku tidak bertemu dengan kalian berlima,
tentu aku akan celaka. Aku minta bantuan kalian agar kita dapat bekerja sama, dan segala
keuntungan yang kudapatkan, tidak akan kumakan sendiri. Buktinya, inilah kuberikan untuk
kalian ! Dia lalu menurunkan buntalan madat dan melemparkannya kepada si kumis tebal.
Orang tinggi besar ini menerima buntalan itu dan membukanya, diikuti oleh empat orang
adiknya. Ketika mereka melihat isi buntalan yang ternyata adalah madat murni yang demikian
banyaknya, mereka terbelalak.
“Madat .......... ?” Si kumis tebal berseru. “Dan ini masih murni .......... ?”
Si gendut tertawa, merasa menang dan berhasil mengambil hati mereka sebagai kawan. Untuk
sementara ini dia harus mempergunakan akal menambah teman, bukan menambah musuh. Dia
tidak takut menhadapi lima orang ini, akan tetapi selama Giok-liong-kiam belum dia simpan dan
sembunyikan dengan baik, berbahayalah menentang mereka ini sambil membawa benda pusaka
itu.
“Ha-ha, itu baru sebagian, Lam-hai Ngo-houw. Kalau kalian mau bersekutu dengan aku,
masih banyak lagi kelak bagian kalian. Bagaimana ? Ataukah kalian mau nekat menggangguku,
belum tentu kalian menang dan kalian akan menghadapi semua pendekar yang melakukan
pengejaran kepadaku ?”
Lima orang itu adalah tukang-tukang pukul bayaran yang sudah biasa menerima
pembayaran untuk melakukan perbuatan-perbuatan jahat dan kekerasan. Kini ada orang yang
memberi hadiah madat demikian banyaknya, tentu saja hati mereka senang sekali. Mereka bukan
pemadatan, akan tetapi mereka yang menjadi penduduk Kanton tentu saja tahu betapa mahalnya
benda itu.
“Dan ………. Giok-liong-kiam ………. ?” Akhirnya si kumis tebal bertanya sambil
memandang ke arah buntalan yang ke dua dan yang berada di punggung Tai-lek Hek-wan.
Si Lutung Hitam ini tersenyum, namun hatinya mendongkol sekali. Kiranya lima orang kasar itu
sudah tahu pula akan Giok=liong-kiam !
“Itulah yang menggelisahkan hatiku, kawan,” katanya dengan sikap sebagai seorang
atasan terhadap para pembantunya. “Dengan kelihaianku, aku berhasil mendapatkannya. Akan
tetapi betapa banyaknya orang yang hendak memperebutkannya, dan bukan hanya orang-orang
biasa. Karena itu, kita harus bersatu menghadapi mereka. Dan kelak, kalau aku berhasil
menjualnya dengan harga tinggi, kita bagi bersama.”
Kembali lima orang itu saling pandang dan akhirnya si kumis tebal mengangguk-angguk.
“Baiklah, melihat pemberianmu ini kepada kami, kami menilai, bahwa engkau seorang kawan
baik. Akan tetapi kelak jangan lupakan kami kalau benda itu sudah menjadi uang.”
Sebelum Hek-wan menjawab, tiba-tiba terdengar suara ketawa yang lirih namun jelas
sekali seolah-olah suara itu berada di dekat telinga mereka berenam. Suara ketawa wanita yang
tidak nampak orangnya, merdu dan juga halus menusuk anak telinga, seperti suara ketawa
kuntilanak dalam dongeng. Tentu saja enam orang kasar itu, apa lagi setelah kini mereka bersatu,
tidak takut menghadapi lawan yang bagaimanapun juga. Akan tetapi menghadapi mahluk yang
Pedang Naga Kemala > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com 47
tidak nampak, hanya terdengar suara ketawanya saja yang demikian merdu, mereka terbelalak
dan memandang ke kanan kiri tanpa hasil karena tidak nampak seorang wanita di sekeliling
tempat itu.
“Hik-hik, tikus-tikus kecil mana ada harga untuk bicara tentang Giok-liong-kiam ?” Tibatiba
suara ketawa itu disusul kata-kata mengejek dan kini suara itu datangnya dari atas. Enam
orang itu memandang ke atas dan tiba-tiba dari atas melayang turun bayangan merah yang
menyambar ke arah Hek-wan. Tentu saja si Lutung Hitam terkejut sekali, maklum bahwa orang
ini menyeranganya untuk merampas buntalan Giok-liong-kiam. Dia cepat mengelak dengan
meloncat ke kiri sambil menggerakkan kakinya menendang ke arah tubuh yang menyambar dari
atas bagaikan seekor burung walet cepatnya itu.
“Plakkk .......... !” Kaki Hek-wan yang menendang bertemu dengan tangan yang
dimiringkan dan akibatnya, tubuh Hek-wan terjengkang dan bergulingan. Dia merasa ada angin
menyambar ketika dia bergulingan dan cepat dia menggerakkan tangan untuk menangkis atau
mencengkeram. Akan tetapi tiba-tiba dia merasa buntalan di punggungnya terlepas dan ketika dia
meloncat berdiri buntalan persegi panjang itu telah berada di tangan seorang wanita cantik
berpakaian merah !
Tentu saja si gendut ini menjadi terkejut dan marah sekali. Giok-liong-kiam telah
dirampas orang sedemikian mudahnya. Dan kini wanita berpakaian serba merah itu, yang usianya
sekitar tigapuluhan tahun, dengan amat tenang berdiri mengamat-amati peti hitam panjang lalu
membuka tutupnya dan melihat isinya yang membuat matanya terbelalak lebar dan wajahnya
berseri, mulutnya tersenyum kagum dan wanita itu mengguman lirih, Giok-liong-kiam ……......
Indah sekali ………. “
“Kembalikan barangku ! “ Hek-wan membentak dan tubuhnya sudah menerjang ke
depan dengan cepatnya. Gerakan Tai-lek Hek-wan ini selain cepat juga amat kuat karena dia
terkenal sekali memiliki tenaga yang besar. Dan kecepatan gerakannya inipun sesuai dengan
julukannya Lutung Hitam, karena memang dia dapat bergerak cepat dan lincah seperti seekor
monyet atau lutung.
“Wuuuttt !” Tubrukan Hek-wan untuk merampas pedang kemala dengan tangan kiri dan
menyerang dengan tangan kanan yang mencengkeram ke arah kepala wanita itu hanya mengenai
tempat kosong saja karena wanita itu tahu-tahu sudah menyingkir dengan gerak langkah kaki
ringan dan aneh, tanpa menghentikan pekerjaannya mengagumi pedang itu ! Kembali Hek-wan
menubruk, akan tetapi sekali lagi serangannya dielakkan dengan amat mudahnya. Tahulah Tailek
Hek-wan bahwa dia berhadapan dengan seorang wanita yang amat pandai, maka untuk ketiga
kalinya dia menyerang, sepenuhnya menyerang, bukan seperti tadi perhatiannya dipecah untuk
merampas Giok-liong-kiam. Dan serangan seorang bertenaga besar seperti Tai-lek Hek-wan
amatlah berbahaya dan agaknya hal inipun diketahui oleh wanita itu yang sudah mengalungkan
bungkusan itu di lehernya. Wanita itu bukan hanya mengelak sekarang, melainkan menangkis
dari samping.
“Heiiittt .......... !” Dan tangkisan tangan yang kecil lunak itu membuat Hek-wan
terpelanting kehilangan keseimbangan badannya ! Terkejutlah Hek-wan. Dia berhasil melompat
bangun.
Pedang Naga Kemala > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com 48
“Ngo-houw, bantulah !” teriaknya tanpa malu-malu lagi karena kini dia hampir yakin
bahwa dia berhadapan dengan lawan yang lebih tinggi tingkat ilmu silatnya. Lam-hai Ngo-houw
yang dipimpin oleh si kumis tebal itupun cepat bergerak mengurung. Mereka melihat betapa
Giok-liong-kiam sudah berpindah tangan, maka mereka harus turun tangan membantu Hek-wan
untuk merampas benda berharga itu kembali dari tangan wanita berpakaian merah.
Orang ke tiga dari Lam-hai Ngo-houw yang berusia tigapuluh lima tahun adalah seorang
laki-laki yang mata keranjang, Melihat kecantikan wanita berpakaian merah itu, sejak tadi dia
sudah melongo penuh kagum. Kini, sambil mengepung bersama teman-temannya, diapun
membujuk, “Manis, mengapa seorang cantik seperti engkau membahayakan diri memperebutkan
sebuah pedang kemala ? Ikutlah aku, dan aku akan membelikan tusuk konde kemala dan barangbarang
indah lain, juga engkau akan terlindung dan aman .......... !”
Sungguh merupakan rayuan yang menggelikan karena pada saat itu, si wanita sedang
dikepung dan diancam oleh enam orang laki-laki yang kuat-kuat. Wanita itu agaknya tidak marah
mendengar rayuan itu. Melihat betapa lima orang Lam-hai Ngo-houw memasang kuda-kuda
dengan kedua tangan membentuk cakar harimau, sedangkan Tai-lek Hek-wan juga memasang
kuda-kuda seperti ilmu Silat Monyet, iapun terkekeh dengan suara yang agak genit.
“Hi-hi-hik, seekor lutung dan lima ekor harimau ! Tapi kalian bisa berbuat apa terhadap
seekor burung bangau yang dapat terbang ?” Tiba-tiba saja tubuhnya sudah melompat tinggi ke
atas dan mulailah ia melancarkan serangan-serangan dari atas dengan kecepatan yang
mengejutkan. Sebelum enam orang itu tahu apa yang terjadi, mereka melihat warna merah
menyambar-nyambar dari atas dengan totokan-totokan jari tangan yang cepat sekali. Mereka
berusaha menangkis dan mengelak, akan tetapi dua di antara Lam-hai Ngo-houw yang kurang
cepat mengelak, terkena totokan pada ubun-ubun kepala mereka. Ubun-ubun kepala itu pecah
berlubang dan merekapun roboh berkelojotan dan tewas seketika.! Tentu saja tiga orang Lam-hai
Ngo-houw terkejut setengah mati melihat robohnya dua orang adik mereka dalam segebrakan
saja itu. Mereka berlima merupakan jagoan-jagoan di Kanton yang sudah terkenal dan ditakuti
karena ilmu silat mereka yang tinggi. Tentu saja merekapun tahu bahwa banyak orang pandai di
dunia ini dan mereka tidak berani mengaku yang paling pandai, akan tetapi dalam segebrakan
saja harus kehilangan dua orang saudara yang roboh tewas, hal ini sungguh sukar untuk dapat
mereka terima. Apa lagi kalau diingat bahwa mereka berlima, bahkan berenam dengan Tai-lek
Hek-wan yang mereka tahu juga memiliki ilmu kepandaian silat tinggi. Biarpun mereka dapat
menduga bahwa lawan yang satu ini memang lihai bukan main, namun kemarahan dan sakit hati
membuat mereka kehilangan rasa gentar dan merekapun mengeluarkan suara gerengan-gerengan
seperti harimau marah. Gerakan mereka kini semakin ganas dan kedua tangan mereka
membentuk cakar harimau dengan kuat sehingga tangan dan jari-jarinya itu seperti telah menjadi
kaku dan keras.
Si kumis tebal lebih hebat lagi. Ketika melihat Hek-wan menyerang ganas kepada wanita
itu, dibantu oleh dua orang adiknya yang juga telah mengerahkan seluruh tenaganya untuk
menyerang, dia mempergunakan kesempatan itu untuk meloncat ke atas dan menerkam
punggung wanita itu, kedua tangannya yang membentuk cakar harimau itu mencengkeram ke
arah ubun-ubun kepala. Wanita itu terkejut bukan main. Ia sedang menghadapi terjangan Hekwan
dan dua orang Ngo-Houw yang lain, dan tiba-tiba ada angin keras sekali menyambar dari
belakang atas !
Pedang Naga Kemala > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com 49
“Heiiiittt !” Ia membentak dan mengelak, Tubrukan itu luput akan tetapi terdengar bunyi
kain robek dan ternyata buntalan Giok-liong-kiam itu robek dan peti panjang itu terlepas dan
jatuh dari pinggang si wanita. Dan sebelum wanita itu dapat mengambilnya kembali, tiga orang
Ngo-houw sudah menerjangnya lagi dan melihat kesempatan ini, Hek-wan yang cerdik sudah
bergulingan ke arah Giok-liong-kiam dan sudah berhasil menyambar peti itu ! Cepat dia
membungkusnya lagi dan menggantungkan di lehernya ! Melihat ini, wanita baju merah itu tentu
saja marah bukan main, akan tetapi dalam kemarahannya, ia malah tersenyum-senyum, agaknya
sama sekali tidak khawatir akan kehilangan pusaka itu karena ia yakin akan mampu mengalahkan
empat orang ini.
“Hemm, kalian masih belum mau menyerah ?” bantak wanita baju merah itu sambil
tersenyum mengejek, akan tetapi karena serangan tiga orang itu benar-benar amat berbahaya,
wanita itupun kembali berloncatan ke atas dengan amat lincahnya. Melihat ini, diam-diam Tailek
Hek-wan terkejut dan khawatir sekali. Dia adalah seorang yang amat cerdik dan melihat
tewasnya dua orang di antara Lam-hai Ngo-houw, diapun maklum bahwa wanita ini benar-benar
seorang lawan yang amat tangguh dan amat berbahayalah kalau sampai dia melanjutkan
perlawanan. Yang penting adalah menyelamatkan Giok-liong-kiam, pikirnya. Maka, begitu
melihat tiga orang Lam-hai Ngo-houw sudah menyerang lagi dan sekali ini serangan mereka
penuh dengan rasa dendam sehingga amat hebat, diapun mempergunakan kesempatan ini untuk
melarikan diri !
Melihat ini, wanita itu berteriak, “Eh, pengecut, hendak lari kemana engkau ?” Tubuhnya
bergerak hendak mengejar, akan tetapi karena tiga orang harimau itu menyerangnya dengan amat
ganas, iapun tidak mudah melepaskan diri begitu saja.
“Tikus-tikus tolol, kau mau ditipu lutung itu yang melarikan pusaka sedangkan kalian
dijadikan korban ?” Wanita itu membentak. Bentakan ini agaknya menyadarkan tiga orang Lamhai
Ngo-houw itu. Biarpun mereka mendendam kepada wanita ini untuk kematian dua orang
saudara mereka, namun pada hakekatnya mereka adalah orang-orang yang berwatak jahat dan
amat leba akan harta, maka merekapun seperti disadarkan akan kelicikan Tai-lek Hek-wan dan
mereka mengendurkan kurungan mereka. Kesempatan ini dipergunakan oleh si wanita baju
merah untuk meloncat, lolos dari kepungan dan mengejar Lutung Hitam. Tiga orang Lam-hai
Ngo-houw itupun cepat melakukan pengejaran, mengejar Hek-wan akan tetapi juga mengejar
wanita itu.
Tai-lek Hek-wan sudah mengerahkan ilmunya berlari cepat, akan tetapi betapa kaget
hatinya ketika tahu –tahu ada bayangan merah berkelebat dan wanita itu sudah menghadang di
depannya dengan senyum mengejek. Marahlah Lutung Hitam ini, marah dan juga putus asa,
maka dengan nekat diapun menubruk ke depan menyerang wanita yang menghadangnya. Seperti
juga tadi, kecepatan gerakan Lutung Hitam itu tidak ada artinya bagi si wanita baju merah yang
ternyata memiliki gerakan lebih cepat lagi. Wanita itu sudah mengelak ke kiri dan tiba-tiba
kakinya mencuat dalam sebuah tendangan mengarah perut Hek-wan. Lutung Hitam itu terkejut
dan hanya dengan bergulingan menjatuhkan dirinya dia dapat menyelamatkan perutnya dari
ciuman sepatu yang akan membahayakan keselamatannya itu. Akan tetapi pada saat itu, tiga
orang Lam-hai Ngo-houw sudah tiba pula di situ dengan marah si kumis tebal menubruk ke arah
tubuh Hek-wan yang bergulingan untuk merampas buntalan di punggungnya.
Pedang Naga Kemala > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com 50
“Dukk .......... !” Hek-wan menangkis dan keduanya terpental. “Sobat, kenapa berbalik
menyerangku ? Mari kita keroyok wanita iblis itu !” Tai-lek Hek-wan berseru kaget.
“Pengecut, tak perlu merayu !” bentak si kumis tebal yang terus saja menyerang lagi
dengan marahnya, Sementara itu,dua orang adiknya sudah mengeroyok si baju merah yang
melayani mereka sambil tersenyum simpul karena girang hati wanita itu sudah berhasil
membakar hati si kumis tebal. Baginya sesungguhnya sama saja. Andaikata dikeroyok sekalipun,
ia yakin akan dapat merobohkan mereka semua. Apa lagi sekarang si kumis tebal yang marah dan
merupakan orang pertama paling lihai daro Lam-hai Ngo-houw telah menumpahkan
kemarahannya kepada Tai-lek Hek-wan sehingga ia hanya menghadapi dua orang lawan, tentu
dianggapnya amat ringan.
Ternyata kekuatan antara si kumis tebal dan Tai-lek Hek-wan seimbang dan selisihnya
hanya sedikit saja. Kalau perkelahian itu dilanjutkan, akhirnya si kumis tebal tentu akan kalah.
Sudah tiga kali dia terkena pukulan dan tendangan dari Lutung Hitam akan tetapi ternyata orang
pertama dari Lam-hai Ngo-houw itu kuat sekali tubuhnya dan belum juga roboh. Sementara itu,
dengan mudahnya wanita baju merah itu telah merobohkan dua orang pengeroyoknya denga
totokan-totokan yang membuat kedua lawan itu roboh dengan mata mendelik dan napas putus.
Kini wanita baju merah itu berdiri sambil tersenyum lebar, geli dan juga gembira menonton Tailek
Hek-wan dan ketua Lam-hai Ngo-houw saling gebuk. Akan tetapi yang dilihatnya bukanlah
kedua orang itu, melainkan dua buah buntalan yang berada di punggung mereka.
Melihat robohnya dua orang lagi, wajah Tai-lek Hek-wan berobah pucat. Sambil
menangkis sebuah pukulan dari si kumis tebal, dia menghardik, “Tolol ! Dua orang adikmu
sudah roboh pula, tinggal kita berdua yang terancam maut dan engkau masih menyerangku
seperti orang gila ?” Si kumis tebal menoleh dan barulah dia terkejut bukan main. Tadi dia
mencurahkan seluruh perhatiannya untuk menyerang Hek-wan sehingga dia tidak memperhatikan
dua orang adiknya dan kini dia melihat betapa dua orang adiknya telah menggeletak tak
bernyawa lagi sedangkan wanita baju merah itu berdiri sambil tersenyum-senyum mengejek.
Dapat dibayangkan betapa sedih dan marah hatinya. Empat orang adik-adiknya telah tewas
semua di tangan wanita cantik ini.
“Aurrggghhh ………. ! Gerengan seperti seekor harimau keluar dari dalam dadanya dan
biarpun harimau keluar dari dalam dadanya dan biarpun sudah terkena pukulan dan tendangan
Hek-wan, si kumis tebal ini mengerahkan seluruh tenaganya, menubruk kea rah wanita baju
merah. Melihat ini, Hek-wan lalu membalikkan tubuhnya dan ………. Lari tunggang langgang
sekuat tenaga !
“Hemm .......... !” Wanita baju merah itu melompat ke kiri dan tangannya menyambar ke
samping “Plakk !” Tubuh si kumis tebal terpelanting dan roboh berkelojotan karena pelipisnya
berlubang terkena tusukan dua jari tangan wanita itu. Tanpa menengok lagi kepada korbannya
yang ia yakin tentu akan tewas, wanita itu sudah berloncatan dengan amat cepatnya mengejar
Tai-lek Hek-wan !
Jilid III *****
Si Lutung Hitam menjadi panik dan wajahnya sudah pucat sekali ketika untuk kedua kalinya
wanita baju merah itu sudah menghadang di depannya sambil tersenyum manis, senyum yang
Pedang Naga Kemala > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com 51
baginya tidak manis lagi melainkan menyeramkan ! Dia bukan orang nekat seperti Lam-haihouw.
Sebaliknya, si gendut ini cerdik bukan main. Kecerdikannya sudah nampak ketika dia
membiarkan Sin-touw dan Phek Kiat saling bunuh sehingga dia mampu memperoleh Giok-liongkiam
dan madat yang amat banyak tanpa mengeluarkan sedikitpun tenaga. Juga dia sudah mampu
menggerakkan hati Lam-hai Ngo-houw sehingga lima orang itu mau bersekutu dengan dia.
Sekarang, melihat betapa Lam-hai Ngo-houw sudah tewas semua, diapun tidak begitu bodoh
untuk menjadi nekat. Betapapun besar harganya Giok-liong-kiam, tentu saja masih tidak melebihi
nyawanya sendiri. Apa artinya Giok-liong-kiam kalau dia sudah tidak bernyawa seperti kelima
orang Lam-hai Ngo-houw itu ? Tanpa malu-malu lagi Tai-lek Hek-wan lalu menjatuhkan diri
berlutut di depan kaki wanita baju merah itu, berkali-kali menyentuh tanah dengan dahinya dan
kedua tangannya segera menurunkan buntalan Giok-liong-kiam.
“Ampun ………., harap lihiap (pendekar wanita) sudi mengampunkan nyawa saya .......
… saya mengaku kalah dan dengan rela menyerahkan Giok-liong-kiam kepada lihiap ……….”
Wanita cantik itu tersenyum mengejek, geli melihat betapa perut yang gendut itu
menghalangi Hek-wan untuk dapat memberi hormat dengan baik. Perutnya mengganjal ketika
orang itu berlutut menyembah-nyembah. Sikap Tai-lek Hek-wan yang ia tahu selain cukup lihai
juga amat cerdik itu, yang kini menyembah-nyembah-nya dengan begitu merendahkan diri,
dianggap cukup berharga untuk menebus nyawa orang itu.
“Hemm, baiklah, monyet. Aku mau mengampuni nyawamu. Coba buka peti itu dan
perlihatkan aku Giok-liong-kiam.” Wanita itu memang cerdik. Tadi ia sudah melihat Giok-liongkiam
dan tidak meragukan lagi keasliannya. Akan tetapi untuk beberapa saat lamanya pusaka itu
telah dapat dirampas kembali oleh Hek-wan, maka ia tidak ingin tertipu dan hendak melihat lebih
dahulu apakah benar itu barang yang aseli. Ia sudah cukup mengenal kelicikan orang seperti Tailek
Hek-wan ini dan bisa saja penjahat itu memberinya peti yang isinya barang beracun yang
akan menyerangnya kalau dibukanya.
Akan tetapi, Hek-wan tidak sempat melakukan hal itu dan memang bukan tidak mungkin
hal itu dilakukannya, bahkan lebih hebat dari itu kalau saja dia berkesempatan. Kini tidak ada lain
jalan baginya kecuali menyerahkan pusaka itu sebagai penukar nyawanya. Dibukanya buntalan
dan dibukanya peti hitam itu. Dengan peti terbuka sehingga nampak isinya, dia menyerahkan
benda itu dengan kedua tangannya. Wanita cantik itu menjadi girang, melihat bahwa isi peti
memang Giok-liong-kiam yang tulen. Akan tetapi pada saat ia hendak menerimanya, tiba-tiba
ada angin menyambar dan sinar putih menyambar ke arah peti di tangan Tai-lek Hek-wan. Sinar
itu ternyata sebatang tali yang menyambar cepat, seperti ular hidup hendak merampas peti,
dibarengi bunyi meledak nyaring.
Melihat ini, wanita baju merah itu terkejut dan marah. Tangannya dikibaskan ke bawah
menangkis sambaran tali dan kakinya menendang tubuh Tai-lek Hek-wan sehingga si gendut ini
terguling-guling bersama peti yang masih dipegangnya. Memang wanita itu ingin menyingkirkan
Hek-wan agar peti itu tidak sampai terampas orang, kemudian ia membalik dan berhadapan
dengan orang yang telah menggunakan tali hendak merampas peti itu.
Ternyata orang itu adalah seorang laki-laki berusia tigapuluh tahun lebih, bermuka pucat
dan tampan, pakaiannya pesolek dan dia tersenyum masam ketika talinya membalik terkena
Pedang Naga Kemala > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com 52
tangkisan si wanita baju merah. Sambil menggulung talinya kini dia berdiri saling pandang
dengan si wanita baju merah dan dia tertawa.
``Ha-ha-ha, seorang tokoh Ang hong-pai yang lihai juga !``
Wanita cantik baju merah itu cemberut dan memandang dengan sinar mata marah. Siapa
takkan marah melihat daging sudah di mulut kini terancam lepas ? Ia menudingkan telunjuknya
ke arah muka yang putih itu. ``Hemm, agaknya Pek bin Tiat-ciang yang muncul. Apakah
sekarang tangan besimu sudah berkarat maka engkau mempergunakan tali untuk mencoba
menjadi pencuri ?`` Wanita itu mengejek. Si muka putih itupun tertawa lagi.
``Ha-ha-ha, siapa yang menjadi pencuri ? Monyet gendut inikah, atau engkau, ataukah
aku ?``
Tai-lek Hek-wan masih berdiri sambil mendekap buntalan berisi peti panjang Giok-liongkiam
itu, mukanya pucat dan dia merasa betapa kedua kakinya menggigil. Sama sekali tidak
pernah disangkanya bahwa dia berhadapan dengan dua orang yang memiliki nama besar yang
amat terkenal di seluruh Negara. Kiranya wanita itu adalah seorang tokoh perkumpulan Anghong-
pai (Perkumpulan Tawon Merah) yang ditakuti dunia kang-ouw seperti orang menakuti
gerombolan setan, sedangkan nama Pek-bin Tiat-ciang (Tangan Besi Bermuka Putih) juga tidak
kalah terkenalnya, sebagai seorang petualang yang ringan tangan dan mudah saja membunuh
orang. Entah sudah berapa banyaknya orang, baik dari golongan sesat maupun kaum pendekar,
yang tewas di tangan jagoan ini. Kedua orang ini termasuk tokoh-tokoh sesat yang lihai sekali.
Matilah aku, karena dia maklum bahwa kepandaiannya jauh sekali berada dibawah kedua orang
ini. Akan tetapi pikirannya yang cerdikitu diputar mencari akal. Bagaimanapun juga, wanita baju
merah itu tadi memperlihatkan sikap lunakdan mau mengampuninya, sedangkan laki-laki muka
putih tampan menyeramkan ini belum tentu mau membiarkan dia hidup.
Sementara itu, wanita tokoh Ang-hong-pai itu sudah menerjang dengan ganasnya,
menggunakan pukulan-pukulan yang dilakukan dengan jari-jari tangan terbuka, totokan-totokan
yang mengarah jalan darah yang mematikan.
“Heiiittt ………. !” bentaknya nyaring ketika kedua tangannya menyambar dengan
kecepatan kilat.
“Wah, ganas ………. !” laki-laki muka putih itupun menggeser kaki dan menangkis
dengan cepat pula.
“Plak ! Plakk !” laki-laki itu terkejut karena biarpun dia sendiri berjuluk Tiat-ciang
(Tangan besi), akan tetapi ketika lengannya bertemu dengan tangan wanita itu, dia merasa seolaholah
bertemu dengan daging lunak tak bertulang. Tahulah dia bahwa wanita lihai itu dalam
menghadapi kekerasan tangannya telah mempergunakan ilmu Bian-kun atau tangan yang berobah
menjadi kapas, mempergunakan sin-kang (tenaga sakti) untuk melawan yang keras dengan yang
lunak. Menghadapi tangan yang lunak itu, Pek-bin Tiat-ciang merasa seolah-olah tangannya
seperti besi memukul kapas di udara, sama sekali tidak berbekas. Maka diapun bersilat dengan
hati-hati sekali, maklum bahwa wanita itu sama sekali tidak boleh dipandang ringan. Sambil
membentak marah, diapun lalu mengerahkan tenaga saktinya, tidak lagi berani main-main atau
senyum-senyum, melainkan menyerang dengan amat kuat. Angin pukulan bertiup dahsyat ketika
Tiat-ciang melakukan serangannya. Akan tetapi wanita itu dengan gerakan indah dapat mengelak
sambil mengibaskan tangan menangkis dari samping.
Pedang Naga Kemala > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com 53
“Rasakan kau !” bentak Tiat-ciang sambil mengeraskan tangannya yang tertangkis karena
sekali ini dia mengerahkan seluruh tenaganya yang membuat tangan itu seolah-olah berobah
menjadi baja.
“Dukkk ………. !” Wanita itu menyeringai menahan jeritnya karena tangannya terasa
nyeri bukan main. Rasa nyeri seperti menusuk jantungnya, seolah-olah tulang-tulang tangannya
menjadi remuk. Karena rasa nyeri ini, tubuhnya agak terhuyung dan kesempatan ini
dipergunakan oleh Tiat-ciang untuk menubruk dengan kedua tangan terpentang. Akan tetapi
betapa kaget rasa hatinya ketika tiba-tiba dari samping ada angin pukulan menyambar dan
ternyata Tai-lek Hek-wan yang menyerangnya ! Hek-wan yang cerdik tidak lama mengambil
keputusan dan dia sudah maju membantu tokoh Ang-hong-pai. Dia merasa lebih aman kalau
tokoh wanita itu yang menang, maka diapun membantu ketika melihat wanita itu terdesak.
“Plakkk !” tangkisan Tiat-ciang membuat tubuh Hek-wan terlempar dan diapun
bergulingan sampai jauh. Baru dia berhenti ketika tubuhnya tertahan oleh sesuatu. Kiranya yang
menahannya itu adalah mayat si kumis tebal, orang pertama Lam-hai Ngo-houw dan tanpa
disengaja dia melihat buntalan madat. Teringatlah dia betapa banyaknya madat itu dan betapa
benda itu juga merupakan harta yang amat besar. Mengapa tadi dia lupa sama sekali tentang
buntalan madat ini ? Cepat dia mengambil buntalan itu dan mengalungkannya ke leher. Ketika
menengok, dia melihat betapa wanita itu kini mulai mendesak si muka putih ! Dan melihat
betapa kedua orang itu berkelahi dengan mati-matian, timbul pula niatnya yang terdorong
ketamakan dan kecerdikan. Diam-diam diapun melarikan diri, kini membawa dua buntalan itu,
buntalan madat dan buntalan Giok-liong-kiam !
“Keparat, kau hendak lari ke mana ?” Tiba-tiba terdengar bentakan suara tokoh Anghong-
pai itu. Hek-wan terkejut dan menengok. Dapat dibayangkan betapa kagetnya ketika dia
melihat wanita baju merah dan laki-laki muka putih itu telah berloncatan mengejarnya. Kiranya
mereka itu, biarpun sedang berkelahi, tidak pernah melepaskan perhatian mereka terhadap benda
yang diperebutkan, yaitu Giok-liong-kiam ! Tadi, ketika Hek-wan membantu tokoh Ang-hongpai
menyerang Pek-bin Tiat-ciang, Si Tangan Besi itu terpaksa menghentikan serangannya
terhadap lawannya yang tangguh dan menangkis serangan Hek-wan. Akan tetapi pada saat itu, si
wanita yang memiliki gerakan amat cepatnya telah meloncat ke atas, seperti terbang ia turun
menerjang dengan amat hebatnya, tangannya menyerang dengan totokan-totokan berbahaya.
Tentu saja Pek-bin Tiat-ciang cepat mengelak dan menangkis akan tetapi sebuah tendangan kaki
wanita itu yang dilakukan dari belakang, seperti seekor tawon menyengat, telah mengenai
pangkal pahanya, membuat Tiat-ciang terhuyung dan selanjutnya wanita itu menyerangnya
dengan bertubi-tubi, membuatnya nampak terdesak.
Pada saat itulah Hek-wan melarikan diri. Dua orang yang sedang berkelahi itu tentu saja
tidak dapat membiarkan hal ini terjadi. Mereka berkelahi justeru untuk memperebutkan Giokliong-
kiam yang berada di tangan Hek-wan. Kalau Hek-wan berhasil melarikan diri membawa
Giok-liong-kiam, perlu apa mereka saling serang lagi ? Demikianlah, bagaikan berlumba,
keduanya kini melakukan pengejaran.
Dapat dibayangkan betapa cemas rasa hati Hek-wan melihat betapa dua orang itu kini
mengejarnya ! Baru melawan seorang di antara mereka saja dia tidak akan mampu menang, apa
Pedang Naga Kemala > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com 54
lagi kini dikejar oleh mereka berdua ! Akan tetapi dia tidak kekurangan akal. Otaknya bekerja
dan tahulah dia bahwa satu-satunya cara untuk menyelamatkan diri dan menahan pengejaran
mereka aedalah memancing mereka dengan Giok-liong-kiam. Maka diapun lalu berseru keras,
“Lihiap, ini Giok-liong-kiam itu, terimalah !” Dan diapun melemparkan buntalan peti panjang
berisi Giok-liong-kiam itu ke arah dua orang yang mengejar di belakangnya.
Akalnya berhasil dengan baik. Melihat benda yang amat diinginkan itu kini dilemparkan,
dua orang itu tentu saja lalu berlumba untuk lebih dahulu memperolehnya. Benda itu oleh Hekwan
dilemparkan ke arah tokoh Ang-hong-pai, maka wanita itulah yang lebih dulu menyambar
peti.
“Brakkk .......... !” Si Tangan Besi menghantamkan tangannya ke arah peti dan peti itupun
pecah, isinya, yaitu pedang naga kemala itu terlempar dari dalam peti dan jatuh ke atas tanah !
Keduanya kini berebutan, berlumba untuk menubruk, dan akibatnya mereka saling bertumbukan.
Tentu saja keduanya marah dan tahu bahwa sebelum merobohkan lawan tak mungkin mereka
bisa mendapatkan pedang pusaka itu, maka kini mereka membiarkan pedang itu menggeletak di
atas tanah dan keduanya sudah saling terjang lagi dalam perkelahian mati-matian yang lebih
sengit dari pada tadi.
Dengan hati girang, Tai-lek Hek-wan melanjutkan larinya, membawa buntalan madat.
Lumayan, pikirnya, tidak terlalu mengecewakanlah memperoleh modal kekayaan berupa
tigapuluh kati madat ini walaupun gagal mendapatkan Giok-liong-kiam, pikirnya, yakin bahwa
dua orang itu tentu lebih mementingkan Giok-liong-kiam yang diperebutkannya dari pada
mengejar dia yang melarikan madat. Dan dugaannya ini memang betul. Dua orang pandai itu
sama sekali tidak memperdulikannya lagi karena kini mereka sudah saling serang mati-matian
untuk memperebutkan pedang pusaka yang menggeletak di atas tanah.
Ketika dengan hati girang sekali Tai-lek Hek-wan yang melarikan diri itu hampir tiba di
tepi hutan, mendadak ada angin dari kiri yang menerjangnya. Hek-wan terkejut dan cepat
mengelak, namun percuma saja karena tiba-tiba saja ada tenaga raksasa yang membuatnya
terpelanting. Dia berusaha bangkit, akan tetapi mendadakmuncul seorang laki-laki raksasa
bermuka hitam yang tertawa-tawa dan kaki orang tinggi besar ini menyambar, Hek-wan
melompat sambil menangkis dengan lengannya ketika kaki yang besar itu menendang ke arah
tubuhnya.
“Dessss .......... !” Kembali dia terpelanting dan kini terbanting keras dan tiba-tiba saja
terdengarkain robek ketika buntalan madat itu direngut secara paksa dari punggunggya !
“Ehhh .......... !” Tai-lek Hek-wan meloncat bangun dan memandang marah ketika dia
melihat betapa buntalan madat itu kini berada di tangan seorang laki-laki berusia limapuluh tahun
yang bertubuh tinggi besar. Laki-laki itu mengenakan pakaian kasar, sikapnya kasar dan
wajahnya yang penuh berewok itu menakutkan. Matanya lebar dan mulutnya menyeringai girang
ketika dia membuka buntalan dan melihat isi buntalan.
“Ha-ha-ha, kiranya engkau pemadatan besar ! Pantas saja begini lemah, tertiup angin saja
roboh. Itulah kalau terlalu banyak menghisap madat, hua-ha-ha !” Dia tertawa bergelak,
Pedang Naga Kemala > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com 55
perutnya bergoyang-goyang karena ketika tertawa dia menengadah dan mengangkat kedua
lengannya ke atas.
Tai-lek Hek-wan melihat kesempatan yang amat baik ini dan diapun meloncat ke depan
dan menendang ke arah perut yang bergoyang-goyang itu sekuat tenaganya.
“Klekk .......... !” Tendangannya tepat mengenai perut, akan tetapi bukan orang itu yang
roboh, bahkan tubuhnya sendiri terjengkang dan dia terbanting untuk ke tiga kalinya dan tanpa
malu-malu lagi dia mengaduh-aduh sambil memegang kaki kanannya karena tulang –tulang
kakinya itu seperti remuk rasanya. Dia tadi seperti menendang sebuah gentong besi saja, keras
dan amat kuat sehingga kakinya sendiri yang mengeluarkan bunyi seolah-olah semua tulangnya
patah. Akan tetapi karena marah dan kecewa melihat hasil rampasannya kini di tangan orang, dia
memaksa diri meloncat bangun lagi.
“Kembalikan barangku .......... !” Hampir dia menangis ketika mengeluarkan tuntutan ini.
Akan tetapi orang tinggi besar itu masih terus tertawa. “Ha-ha-ha, engkau tentu
penyelundup candu, engkau meracuni banyak orang. Orang seperti engkau ini harus dihukum
berat, akan tetapi aku tidak mempunyai banyak waktu untuk mengurusmu. Engkau tidak
mengaku dosa malah hendak minta kembali racun ini ? Sungguh tak tahu diri !”
Hek-wan mengerutkan alisnya dan memandang orang itu penuh perhatian. Orang ini
berpakaian kasar, terlalu kasar, maka sepantasnya orang ini melakukan penyamaran. Sikapnya
begitu angkuh dan pandang matanya berwibawa, pantasnya seorang pembesar militer. Apakah
seorang perwira yang menyamar ? Dia mendengar bahwa di antara orang-orang yang sibuk
menyelidiki dan mencari Giok-liong-kiam terdapat pula jagoan-jagoan dari istana. Apakah orang
ini juga seorang di antara mereka ? Diam-diam dia bergidik dan menjadi ragu-ragu.
“Sudahlah, memang nasibku yang buruk ....... !” Dia mengeluh, maklum bahwa orang itu
bukanlah lawannya, maka diapun menahan kemarahannya dan membalikkan tubuh untuk pergi
dari situ.
“Nanti dulu !” Tiba-tiba raksasa itu membentak. “Aku bilang tidak mempunyai waktu
untuk mengurusmu bukan berarti melepaskanmu begitu saja. Orang macam engkau ini terlalu
berbahaya dibiarkan terlepas begitu saja. Hayo ke sini kau !”
Tai-lek Hek-wan membalik dan menghadapi orang itu dengan sinar mata marah.
“Barangku sudah kau rampas, mau apa lagi memanggil aku ?” katanya ketus.
Raksasa itu menuding ke arah sepatunya yang besar dan kotor. “Aku sudah melakukan
perjalanan jauh dan tidak mengajak para pengawalku untuk membersihkan sepatuku yang kotor.
Hayo kau bersihkan sepatuku, baru aku akan membiarkanmu pergi.”
Wajah Lutung Hitam itu berobah semakin hitam. Dia bukan sembarang orang dan
banyak orang yang takut dan taat kepadanya. Kini orang menghina sampai di luar batas !
“Kau .......... terlalu menghina .......... !” bentaknya marah, mengepal tinju.
Pedang Naga Kemala > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com 56
“Ha – ha, orang macam engkau ini masih bisa bicara tentang kehormatan dan
penghinaan? Hidupmu sudah di dalam lumpur kehinaan. Aku hanya ingin menukar nyawamu
yang rendah itu dengan pekerjaan membersihkan sepatu dan kau banyak cakap lagi ? Hayo
bersihkan sepatuku atau aku mewakili pemerintah melaksanakan hukuman mampus kepadamu.
Pilih saja !”
Kini yakinlah hati Hek-wan bahwa dia berhadapan dengan seorang petugas pemerintah
yang menyamar. Dan jelas pula bahwa orang ini memiliki ilmu kepandaian yang tinggi dan dia
tidak akan mampu mengalahkannya. Di situ tidak terdapat orang lain, mengapa harus meributkan
tentang kehormatan.
“Baiklah ………. !” Katanya dan diapun berlutut di depan orang itu, menggunakan ujung
lengan bajunya untuk membersihkan kedua sepatu yang penuh debu itu. Kalau saja ada orang
yang melihat peristiwa ini. Betapa akan malunya dan akan hancur nama besarnya. Dia terkenal
sebagai orang yang paling ditakuti di seluruh daerah Nan-leng, dan kini dia membersihkan sepatu
orang, berlutut di depan orang itu. Kemarahannya tak dapat ditahannya lagi dan otaknya yang
cerdik itu bekerja. Orang yang menghinanya berdiri begitu dekat, tidak ada yang akan dapat
menghalanginya lagi. Diam-diam dia mengerahkan tenaganya dan tiba-tiba saja dia menghantam
ke arah pusar orang itu, dari jarak yang amat dekat.
“Krakk .......... aughhhh .......... !” Tubuh Tai-lek Hek-wan terkulai dan dia roboh tewas
dengan belakang kepala remuk karena sebelum pukulannya mengenai sasaran, si tinggi besar itu
telah lebih dahulu menghantam tengkuknya ! Sekali ini Tai-lek Hek-wan yang biasanya cerdikitu
salah perhitungan. Dia terlalu memandang rendah lawannya. Padahal begitu dia mengerahkan
tenaga, si raksasa itu telah mengetahuinya sehingga dapat mendahuluinya, menghantam
tengkuknya dari atas, sehingga bukan saja pukulan itu melumpuhkan semua gerakannya, juga
membuat nyawanya melayang !
Dengan sikap jijik, kakek bertubuh raksasa itu lalu menendang mayat Hek-wan sampai
terlempar jauh, kemudian diapun membuang buntalan madat itu ke dalam jurang tak jauh dari
situ sambil mengomel, “Candu ini harus dimusnahkan di seluruh dunia, membuat manusia
menjadi boneka, menjadi mayat-mayat hidup, berbahaya sekali .......... “
Tiba-tiba dia berhenti bergerak dan sejenak diam tak bergerak, samar-samar dia
mendengar suara orang berkelahidan tak lama kemudian, raksasa ini sudah berlari dengan
langkah lebar menuju ke tempat orang yang sedang berkelahi itu. Raksasa ini memang bukan
orang sembarangan dan seperti dugaan Tai-lek Hek-wan, dia adalah seorang jagoan istana !
Kaisar mengirim beberapa orang jagoan untuk melakukan penyelidikan dan kalau mungkin
merampas pusaka Giok-liong-kiam yang demikian menghebohkan dunia persilatan. Bagi kaisar,
seluruh pusaka yang terdapat di negeri itu adalah hak dan milik istana ! Karena itu, Giok-liongkiam
yang diperebutkan itupun adalah hak istana. Dan raksasa ini adalah seorang diantara para
jagoan istana, namanya Tang Kui dan jabatannya adalah komandan pasukan pengawal di luar
istana. Karena namanya terkenal di kalangan para pengawal sebagai seorang komandan yang
pandai, tegas dan memiliki ilmu silat yang tinggi dan tenaga yang besar, maka dia terpilih sebagai
seorang di antara para jagoan yang ditugaskan mencari dan merebut pusaka Giok-liong-kiam.
Pedang Naga Kemala > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com 57
Sebentar saja Tang Kui telah tiba di tempat dimana tokoh Ang-hong-pai itu masih
berkelahi dengan hebatnya melawan Pek-bin Tiat-ciang. Dari jauh saja Tang Kui yang banyak
mempelajari keadaan kang-ouw dan mengenal banyak tokoh kang-ouw, mengenal siapa mereka
yang sedang berkelahi itu. Dia mengenal Theng Ci, murid kepala Ang-hong-pai yang lihai itu
dan dia mengenal pula Pek-bin Tiat-ciang, pria pesolek tampan bermuka putih yang merupakan
tokoh di antara kaum sesat itu. Maka diapun cepat menyelinap di antara pohon-pohon dan
mendekat. Pada saat itu perkelahian antara kedua orang ini sudah mencapai puncaknya. Pek-bin
Tiat-ciang sudah mengeluarkan senjatanya, yaitu pecut panjang yang biasanya menjadi pengikat
pinggangnya. Pecut panjang putih itu kini membentuk lingkaran-lingkaran dan menyerang si
wanita cantik dari pelbagai jurusan. Akan tetapi, Theng Ci adalah murid kepala Ang-hong-pai,
tentu saja ilmu kepandaiannya sudah tinggi dan terutama sekali gerakannya yang amat ringan itu
membuat ia selalu dapat berloncatan ke sana-sini menghindarkan diri dari totokan ujung pecut.
Nampaknya pemandangan yang amat indah dari perkelahian ini. Pecut putih itu menjadi sinar
bergulung-gulung dan pakaian Theng Ci yang merah juga membuat gerakannya yang cepat
membentuk bayangan merah. Dari jauh nampak warna merah dan putih yang berselang-selang
amat indahnya.
Jangan dikira bahwa Theng Ci yang bertangan kosong itu terdesak. Sama sekali tidak
karena wanita cantik ini kadang-kadang membalas serangan lawannya dengan sambitan jarumjarum
halusnya. Bukan sembarang jarum, melainkan jarum halus yang mengandung racun !
Ang-hong-pai adalah perkumpulan para wanita yang lihai dan juga suka mempergunakan racunracun
binatang yang ampuh, terutama sekali racun-racun lebah, sesuai dengan nama perkumpulan
itu, ialah Ang-hong-pai (Perkumpulan Lebah Merah). Karena jarum-jarum ini amat berbahaya,
maka Pek-bin Tiat-ciang bersikap waspada dan gerakan pecutnya itu sebagian besar
dipergunakan untuk melindungi tubuhnya dari ancaman jarum halus.
Hanya sebentar saja Tang Kui si komandan yang menyamar itu nonton perkelahian dan
diam-diam dia juga kagum karena maklum bahwa baginya, dua orang itu masing-masing
merupakan seorang lawan yang tangguh. Akan tetapi pandang matanya segera tertarik oleh
mengkilapnya sebuah benda yang menggeletak tak jauh dari sesosok mayat berkumis lebat.
Benda itu adalah sebatang pedang kecil terbuat dari kayu giok berukirkan naga. Giok-liong-kiam
............ ! Hatinya berdebar amat kerasnya karena biarpun selamanya dia belum pernah melihat
sendiri bagaimana macamnya Giok-liong-kiam, namun dia sudah mendapatkan keterangan jelas
mengenai benda pusaka itu sebelum dia menerima tugas mencarinya. Hampir dia tak percaya..
Giok-liong-kiam berada di situ dan kini mengertilah dia mengapa dua orang tokoh sesat itu
berkelahi. Tentu mereka berdua itu sedang memperebutkan Giok-liong-kiam. Memang sudah
beberapa hari lamanya dia menaruh curiga terhadap Then Ci, wanita tokoh Ang-hong-pai itu.
Diam-diam dia membayangi Theng Ci dari jauh. Tidak disangkanya dia melihat Theng Ci
berkelahi dengan Pek-bin Tiat-ciang dan di situ terdapat Giok-liong-kiam !
Setelah membuat perhitungan dengan pandang matanya, tiba-tiba Tang Kui meloncat
keluar dari tempat persembunyiannya dan diapun lari ke arah pedang pusaka itu dan disambarnya
benda itu. Ketika Theng Cid an Pek-bin Tiat-ciang berteriak kaget melihat munculnya orang
yang menyambar Giok-liong-kiam sehingga mereka berdua secara otomatis menghentikan
perkelahian, Tang Kui sudah meloncat jauh dan melarikan diri. Tentu saja dua orang itu menjadi
marah sekali dan mereka melakukan pengejaran secepatnya. Tang Kui lari ke selatan, ke bagian
hutan yang lebih dalam. Agaknya sukar bagi dua orang yang sudah kelelahan karena sejak tadi
Pedang Naga Kemala > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com 58
berkelahi itu untuk dapat menyusul Tang Kui. Dan mereka sudah hampir kehilangan jejak
raksasa itu ketika tiba-tiba mereka melihat ada seorang yang tinggi kurus tiba-tiba muncul dan
menyerang Tang Kui. Serangan itu dilakukan secara tiba-tiba dan biarpun Tang Kui berhasil
menangkis, akan tetapi posisi kakinya membuat dia terpelanting, dan hal ini saja menunjukkan
betapa lihainya penyerang yang bertubuh jangkung itu. Si jangkung itu menyusulkan tendangan,
bukan menendang bagian tubuh yang berbahaya melainkan menendang tangan Tang Kui yang
memegang Giok-liong-kiam.
“Dukkk !” Tendangan itu mengenai tepat pergelangan tangan itu karena Tang Kui sedang
terpelanting dan pedang pusaka itupun terlempar jauh ke kiri !
“Wuuuuttt .......... !” Tiba-tiba muncul pula seorang laki-laki yang berpakaian serba putih
dan dengan sigapnya laki-laki itu meloncat dan menyambar Giok-liong-kiam dengan tangan
kirinya, lalu berdiri mengamati pusaka itu dengan penuh kagum.
“Hemm, inilah Giok-liong-kiam ............” guman laki-laki berpakaian putih. Dia
seorang laki-laki bertubuh sedang berusia kurang lebih empatpuluh tahun, pakaiannya sederhana
serba putih dan melihat orang yang telah merampas Giok-liong-kiam, Tang Kui segera
mengenalnya. Orang itu adalah Kam Hong Tek, seorang pendekar yang namanya terkenal juga
di daerah selatan.
“Kembalikan Giok-liong-kiam kami kepadaku !” Tiba-tiba laki-laki bertubuh tinggi
kurus itu berseru dan dengan beberapa langkah dia mendekati Kam Hong Tek. Pendekar Kam ini
mengangkat muka memandang, laki-laki tinggi kurus itu berusia empatpuluh tahun lebih, selain
tubuhnya yang tinggi kurus itu merupakan hal yang tidak wajar, juga bajunya disulam di bagian
dada dengan gambar bundar yang menggambarkan Im – yang. Melihat gambar ini Kam Hong
Tek dapat menduga bahwa dia berhadapan dengan orang Thian-te-pai.
Agaknya orang tinggi kurus itupun mengenal Kam Hong Tek dari pakaiannya dan
sikapnya, maka dia menjura dengan hormat. “Kalau saya tidak salah, saya berhadapan dengan
pendekar Kam Hong Tek dari pegunungan selatan. Benarkah ?”
Pendekar Kam Hong mengangguk. “Dan saudara tentulah seorang tokoh Thian-te-pai,
bukan ?”
“Benar, saya hanya seorang murid saja, menerima perintah ketua kami untuk mencari
pusaka kami yang hilang dicuri orang. Nama saya Lui Siok Ek, harap saudara sudi memandang
nama perkumpulan kami dan suka mengembalikan pusaka perkumpulan kami.”
“Semua pusaka di tanah air ini adalah hak milik sri baginda kaisar !” Tiba-tiba Tang Kui
berseru dan dengan langkah lebar dia mendekat pula. “Aku Tang Kui adalah komandan pasukan
pengawal yang bertugas mencari dan membawa Giok-liong-kiam ke istana. Serahkan itu
kepadaku !”
Kam Hong Tek dan murid Thian-te-pai itu mengangkat muka memandang kepada raksasa
itu. Mereka terkejut juga mendengar bahwa orang tinggi besar yang pakaiannya seperti seorang
petani ini mengaku sebagai seorang komandan pasukan pengawal dari istana kaisar ! Akan tetapi
Pedang Naga Kemala > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com 59
Kam Hong Tek lalu tersenyum dan sudah menggerakkan bibir untuk bicara ketika tiba-tiba
terdengar teriakan wanita dengan suara lantang.
“Kembalikan pusaka itu kepadaku !” Dan muncullah Theng Ci yang diikuti pula oleh
Pek-bin Tiat-ciang. Akan tetapi dua orang inipun terheran-heran melihat bahwa di situ terdapat
tiga orang dan pedang pusaka itu tidak lagi dipegang oleh si raksasa, melainkan oleh seorang
berpakaian putih-putih yang mereka kenal sebagai pendekar Kam Hong Tek yang tidak asing lagi
namanya !
Kam Hong Tek tertawa. “Ha – ha – ha, sekarang menjadi ramai ! Kulihat nona adalah
seorang anggauta Ang-hong-pai, dan saudara ini tentulah Pek-bin Tiat-ciang yang terkenal. Ada
murid Thian-te-pai dan ada pula utusan istana. Kita semua tahu bahwa semua orang di dunia
persilatan memperebutkan Giok-liong-kiam. Akan tetapi, kitapun tahu akan adanya nasib dan
tanpa kusengaja, Giok-liong-kiam melayang ke arah diriku dan berhasil kutangkap. Bukankah
ini namanya nasib dan memang pusaka ini berjodoh dengan diriku ? Harap cu-wi (anda
sekalian) dapat memaklumi hal ini dan tidak menentang nasib !”
“Nasib tahi anjing !” Pek-bin Tiat-ciang membentak marah. “Pusaka itu adalah milikku.
Kembalikan !” Dan si muka putih ini dengan marah lalu menerjang pendekar Kam Hong Tek.
Melihat serangan yang ganas dan berbahaya itu Kam Hong Tek cepat meloncat ke samping dan
mengibaskan tangan kanannya menangkis, sedangkan pusaka itu dipegangnya dengan erat-erat di
tangan kiri.
“Atas nama pemerintah, berikan kepadaku !” Tang Kui membentak dan diapun
menerjang maju untuk merampas pedang itu dengan pukulan ke arah leher Kam Hong Tek.
Pendekar ini terpaksa menangkis dengan tangan kanannya.
“Dukk ............!” Keduanya terdorong mundur dan hal ini saja membuat mereka maklum
bahwa tenaga mereka berimbang. Akan tetapi Lui Siok Ek, murid Thian-te-pai itu, tanpa banyak
cakap lagi sudah menerjang pula ke depan dan gerakannya demikian aneh dan cepat sehingga
tahu-tahu tangan kirinya sudah dapat menangkap ujung Giok-liong-kiam pada saat Kam Hong
Tek miringkan tubuhnya karena kembali Pek-bin Tiat-ciang menyerangnya. Kan Hong Tek
terkejut dan mencoba untuk menarik pedang batu kemala itu, namun murid Lui Siok Ek itu
mempertahankannya. Terjadilah betot-membetot, tarik-menarik dan pada saat itu, Theng Ci,
wanita baju merah itu mengirim tendangan kilat yang ditujukan ke arah pergelangan tangan Kam
Hong Tek. Pada saat yang sama pula, seperti sudah direncanakan saja, Pek-bin Tiat-ciang juga
mengirim tendangan, ditujukan ke arah pergelangan tangan murid Thian-te-pai. Dua tendangan
kilat itu amat kuat dan berbahaya dan mereka yang sedang bersitegang memperebutkan pedang
pusaka itu maklum akan hal ini dan terpaksa mereka lalu melepaskan pegangan dan melontarkan
pedang pusaka itu ke atas, kemudian tangan mereka membalik dan menangkis tendangan.
Pedang pusaka Giok-liong-kiam itu dilontarkan oleh gabungan dua tenaga, terlempar jauh
dan tinggi ke udara. Lima orang yang sedang memperebutkanpedang pusaka itu memandang ke
atas dan mereka sudah siap untuk meloncat dan berlumba memperoleh pusaka itu lebih dahulu,
walaupun masing-masing maklum bahwa empat orang yang lain pasti akan menghalanginya atau
akan merampasnya kembali.
Pedang Naga Kemala > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com 60
Setiap jalur urat syaraf di tubuh lima orang itu sudah menegang dan masing-masing sudah
siap untuk meloncat ke atas ketika benda yang berkilauan hijau itu melayang turun dari atas.
Akan tetapi, ketika benda itu sudah meluncur turun sampai kira-kira lima tombak dan semua
orang sudah siap meloncat, tiba-tiba saja benda itu menyeleweng ke arah barat dan lenyap di
antara daun-daun pohon, menimbulkan suara berkerosakan ketika benda itu menerjang daun-daun
pohon yang lebat. Tentu saja semua orang menjadi terkejut dan heran, akan tetapi juga penuh
kekhawatiran karena benda itu tiba-tiba saja lenyap. Seperti dikomando saja, lima orang itu lalu
berloncatan dan lari ke arah pohon besar di sebelah barat itu.
Dan merekapun berdiri tertegun ketika melihat seorang kakek berjubah pendeta,
bertubuh gendut sekali sehingga kelihatannya bulat. Kepalanya yang nampak kecil karena tubuh
yang gendut itu juga bulat, dan kakek itu nampak lucu karena kepalanya gundul licin tanpa
penutup kepala. Dia duduk bersila di atas batu hitam, sama sekali tidak bergerak, dan kedua
matanya terpejam, kedua tangan dirangkap di depan dada. Jubah kuningnya sudah kumal dan
warnanya hampir keputihan, kedua kakinya yang bersilang itu memakai sepatu kain yang
bawahnya dilapis besi. Sukar menaksir usia kakek ini karena kepalanya gundul dan mukanya
kelimis, bisa saja dia baru limapuluh tahun akan tetapi juga mungkin usianya sudah tujuhpuluh
tahun lebih. Alisnya yang tebal dan masih hitam itu menambah bingung bagi penaksir usianya.
Lima orang itu memandang penuh perhatian, terutama sekali dengan sinar mata mereka
mencari-cari apakah di situ terdapat pedang Giok-liong-kiam. Akan tetapi, kakek gundul yang
gendut itu sedang bersemadhi, hanya pernapasannya saja yang membuat perut gendutnya
bergerak perlahan turun naik. Jelas bahwa kakek itu tidak memegang Giok-liong-kiam, juga di
dekatnya tidak nampak benda pusaka itu. Lima orang itu celingukan akan tetapi tidak nampak
ada orang lain di sekitar tempat itu dan pusaka itupun lenyap tanpa bekas. Siapa lagi kalau bukan
kakek ini yang menyebabkan pusaka yang sedang melayang turun itu tiba-tiba menyeleweng dan
lenyap. Bukankah ke arah sini tadi terbangnya pedang kemala itu ?
Lima orang itu adalah orang-orang kang-ouw yang cukup maklum bahwa orang seperti
kakek tua ini sama sekali tidak boleh dipandang ringan dan sangat boleh jadi sekali kakek ini
adalah seorang datuk persilatan yang amat lihai walaupun tak seorang di antara mereka merasa
pernah mengenalnya. Tidak ada pula ciri-ciri yang mengingatkan mereka akan seorang datuk
persilatan, baik dari para pendekar maupun kaum sesat. Karena itu, mereka tidak berani
sembarangan mengganggu kakek itu. Akan tetapi, karena mereka ingin sekali memiliki Giokliong-
kiam dank arena mereka melihat sendiri betapa pedang pusaka itu tadi melayang ke arah
sini, tetap saja terdapat kecurigaan besar dalam hati mereka bahwa tentu kakek ini yang mainmain
tadi, mempergunakan semacam ilmu yang amat luar biasa. Yang membuat mereka raguragu
adalah karena mereka tidak melihat Giok-liong-kiam di situ. Entah kalau disembunyikan di
balik jubah kuning yang longgar itu, demikian mereka menduga-duga dan lima pasang mata
menunjukkan pandangannya dengan penuh selidik ke arah jubah kuning yang menutupi tubuh si
kakek gendut.
Lui Siok Ek yang merasa paling berhak atas pusaka itu, pusaka Thian-te-pai yang hilang
dicuri orang setengah tahun yang lalu, memberanikan hatinya dan diapun melangkah maju. Akan
tetapi begitu dia melangkah maju, empat orang lainnyapun ikut pula melangkah maju,
sejengkalpun tidak membiarkan tokoh Thian-te-pai itu lebih dekat dengan kakek itu dari mereka !
Pedang Naga Kemala > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com 61
Lui Siok Ek tidak perduli dan diapun menjura dengan sikap hormat kepada kakek gundul yang
masih duduk bersila sambil memejamkan mata itu.
“Harap locianpwe (orang tua gagah) sudi memaafkan. Saya Lui Siok Ek ………. “ tibatiba
saja tokoh Thian-te-pai itu menghentikan kata-katanya karena mendadak kakek itu membuka
kedua matanya dan sepasang mata itu mengeluarkan cahaya begitu mencorong membuat dia
tertegun.
“Ha – ha – ha !” Tiba-tiba hwesio gendut itu tertawa bergelak-gelak dan seluruh
tubuhnya yang gendut itu berguncang. Suara ketawanya sambung-menyambung dan semua
orang yang berada di situ terkejut bukan main dan cepat-cepat mereka mengerahkan tenaga
dalam untuk mempertahankan diri karena suara ketawa itu mengandung tenaga khikang yang
membuat isi perut mereka terguncang pula ! Hwesio itu menghentikan suara ketawanya, sejenak
memandang kepada mereka bergantian seolah-olah diapun merasa agak heran melihat betapa
lima orang itu kuat menghadapi suara ketawanya. Lalu dia memandang pula kepada Lui Siok Ek
dan berkata, suaranya parau, “Engkau tentu seorang murid Thian-te-pai, ada keperluan apakah
kalian mengganggu tidurku ?”
Lui Siok Ek cepat menjura. “Harap locianpwe sudi memaafkan saya. Saya kehilangan
pusaka perkumpulan kami yang disebut Giok-liong-kiam dan tadi pusaka itu melayang ke arah
sini. Kalau locianpwe mengetahui, mohon dapat memberi petunjuk agar saya dapat
membawanya kembali ke perkumpulan kami.”
“Ha – ha – ha –ha ............ !” Kembali kakek gendut itu tertawa dan sekali ini suara
ketawanya lebih hebat dari pada tadi. Agaknya dia telah menambah khikang dalam suara
ketawanya. Dan lima orang itu merasa betapa kaki mereka gemetar dan isi perut mereka
terguncang hebat ! Mau tidak mau mereka terpaksa segera menjatuhkan diri bersila dan
mengerahkan sinkang untuk melindungi diri mereka karena kalau dilanjutkan tanpa pertahanan
sinkang, tentu mereka akan dapat menderita luka dalam oleh serangan suara itu ! Suara ketawa
itu susul-menyusul bagaikan gelombang, semakin lama semakin hebat ! Lima orang itu kini
memejamkan kedua mata, memusatkan seluruh kekuatan sinkang mereka untuk menahan
gelombang suara yang seolah-olah menembus telinga mereka dan menusuk-nusuk jantung
mereka. Tubuh mereka tergetar hebat dan keringat sebesar kedele mulai membasahi muka dan
leher mereka. Mereka terkejut dan gelisah sekali. Mereka seperti terperosok ke dalam jurang
yang berbahaya. Untuk keluar tidak mungkin karena sudah terlanjur. Menghentikan sebentar saja
pemusatan sinkang mereka, tentu mereka akan terluka. Melanjutkanpun sampai kapan ?
Mereka sudah hampir tidak kuat dan terpaksa mereka menahan napas untuk membantu kekuatan
mereka.
Tiba-tiba saja suara ketawa itu terhenti dan lima orang itu terseret oleh perobahan tibatiba
ini dan tanpa dapat bertahan lagi, kelimanya lalu muntah darah segar ! Mereka semua
menderita luka dalam tubuh, walaupun tidak berbahaya sekali namun cukup membuat mereka
terkejut dan maklum bahwa kakek ini tidak berniat baik terhadap mereka. Begitu membuka
mata, mereka lalu bangkit dan melangkah mundur untuk mengatur jarak agar tidak terlampau
dekat dan agar mereka dapat berjaga diri.
Pedang Naga Kemala > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com 62
Dengan mulut masih menyeringai lebar, kakek itu lalu berkata, “Omitohud .......... !
manusia saling bermusuhan hanya untuk memperebutkan benda mati ! Mana mungkin
kehidupan ini menjadi aman tenteram dan penuh kedamaian kalau manusia saling hantam hanya
untuk memperebutkan benda mati ? Ha – ha – ha” Kini lima orang itu sudah siap untuk berjaga
diri, akan tetapi suara ketawanya sekali ini tidak mengandung tenaga khikang yang menyerang.
Akan tetapi, melihat wajah gundul yang tertawa-tawa dan menyeringai lebar itu, melihat jubah
kuning dan kepala gundul yang menunjukkan bahwa kakek itu seorang hwesio, lima orang itu
lalu teringat akan seorang tokoh Siauw-lim-pai yang namanya amat terkenal akan tetapi menurut
kabar tidak pernah keluar dari dalam kamarnya di mana dia bersamadhi dan bertapa sampai
belasan tahun lamanya ! Hwesio tokoh Siau-lim-pai itupun hanya dikenal julukannya saja, yaitu
Siauw-bin-hud (Buddha Bermuka Tertawa) !
Kam Hong Tek, pendekar selatan yang pernah selama beberapa tahun berguru kepada
seorang hwesio Siauw-lim-pai perantau, memberanikan diri untuk maju memberi hormat dan
bertanya, “Harap locianpwe sudi memaafkan kelancangan saya. Apakah saya yang bodoh
berhadapan dengan locianpwe Siauw-bin-hud ?”
Mendengar ini, empat orang lain memandang tajam penuh perhatian, akan tetapi juga
merasa gentar karena mereka semua sudah mendengar bahwa pertapa yang disebut Siauw-binhud
adalah seorang locianpwe yang amat tinggi ilmu kepandaiannya dan merupakan angkatan tua
yang dihormati.
Kembali kakek itu tertawa, ketawa biasa tanpa pengerahan khikang yang menyerang
seperti tadi. Karena mulutnya lebar, maka ketawanya yang menyeringai itu membuat mukanya
seperti terbelah dua atau retak lebar di tengah-tengah. “Ha – ha – ha, dan engkau yang
berpakaian putih ini apakah bukan bernama Kam Hong Tek ?”
Kam Hong Tek terkejut, akan tetapi kekagetannya disusul oleh rasa kaget mereka semua
ketika kakek itu melanjutkan, “Dan nona tentulah yang bernama Theng Ci murid kepala Anghong-
pai, bukan ? Dan engkau yang tampan ini siapa lagi kalau bukan Pek-bin Tiat-ciang ?
Dan engkau yang tinggi besar dan gagah ini, pinceng kira tentu seorang perwira pengawal istana
yang menyamar. Bukankah engkau yang bernama Tang Kui ?”
Tentu saja semua orang terkejut. Kakek ini selain memiliki khikang yang luar biasa
kuatnya, ternyata memiliki pula pemandangan yang amat luas sehingga begitu berjumpa sudah
dapat mengenal mereka semua ! Padahal, kakek ini dikabarkan selalu menyenbunyikan diri
dalam sebuah ruang pertapaan di kuil Siauw-lim-si ! Apakah kakek ini memiliki kesaktian yang
tidak lumrah manusia ?
Tang Kui yang menjadi besar hatinya karena kakek itu mengenalnya sebagai seorang
komandan pengawal istana, hendak mempergunakan kedudukannya dan kewibawaan kaisar
untuk mencari keuntungan. Dia menjura dengan sikap gagah seorang perwira tinggi tulen kepada
kakek itu.
“Locianpwe sungguh bijaksana dapat mengenal saya dalam penyamaran. Saya yakin
locianpwe mempunyai kebijaksanaan pula untuk mengingat bahwa saya adalah seorang utusan sri
baginda kaisar untuk mencari dan membawa pusaka Giok-liong-kiam ke istana.”
Pedang Naga Kemala > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com 63
Kembali kakek itu tertawa. “Ha – ha – ha, Tang-ciangkun. Apa hubungannya tugasmu
dengan pinceng (aku) ?”
“Maaf, locianpwe. Karena tadi saya melihat Giok-liong-kiam melayang ke arah tempat
ini, saya mohon petunjuk locianpwe apakah locianpwe tahu di mana adanya pusaka itu.”
“Kalian berlima siap untuk saling bunuh dalam memperebutkan Giok-liong-kiam ! Kalau
pinceng tidak tahu di mana adanya pusaka itu, tentu pinceng tidak dapat memberi tahu kalian.
Sebaliknya kalau pinceng tahu di mana, pinceng juga tidak dapat memberi tahu kalian karena
kalian tentu akan saling bunuh. Lebih baik pinceng simpan sendiri saja. Sudahlah, pinceng
sedang beristirahat dan tidak mau diganggu lagi. Kalian harap pergi dari sini !” Setelah berkata
demikian, kakek itu kembali memejamkan kedua matanya dan merangkapkan kedua tangan di
depan dada seperti tadi, sedikitpun tidak bergerak lagi !
Lima orang itu menjadi ragu-ragu, bahkan saling pandang seperti hendak saling bertanya
dan minta pendapat, lupa bahwa mereka itu masing-masing pernah bermusuhan dan siap untuk
saling bunuh dalam memperebutkan Giok-liong-kiam ! Memang lucu dan aneh, akan tetapi
merupakan kenyataan yang dapat kita lihat sehari-hari dalam kehidupan di sekeliling kita betapa
harta dapat mempermainkan kita manusia, akan tetapi juga dapat mempersatukan manusia
dengan manusia lain kalau memang kepentingan mereka bersama menguntungkan ! Maka
sesungguhnya bukanlah harta yang berkuasa dan mempermainkan manusia melainkan batin
sendiri yang dicengkeram oleh ke aku-an dan nafsu ingin memperoleh keuntungan bagi diri
sendiri sebesarnya,. Demi memperoleh keuntungan untuk diri sendiri inilah, kawan dapat
menjadi lawan dan sebaliknya, lawan dapat berubah menjadi kawan. Hal seperti ini menjadi
landasan dari setiap peristiwa antara manusia di dunia, bahkan dapat meluas menjadi antar
kelompok dan antar bangsa dan Negara ! Saling memperebutkan keuntungan inilah yang
menyebabkan terjadinya perang antara dua bangsa yang bersahabat, sebaliknya dapat
menyebabkan terjadinya persahabatan antara kedua bangsa yang tadinya bermusuhan.
Kita tinggal membuka mata melihat saja semua ini terjadi di sekeliling kita, bahkan di dalam
batin kita sendiripun demikian karena keadaan dunia tidaklah berbeda dari keadaan di dalam
batin kita sendiri. Dari batin manusia peroranganlah tercetusnya konflik yang dapat melebar dan
meluas menjadi konflik antara manusia dan konflik antara bangsa.
Lima orang itu hampir merasa yakin kini bahwa Giok-liong-kiam tentu berada di tangan
kakek ini, mungkin disembunyikan di balik jubahnya yang lebar dan longgar. Akan tetapi,
mereka tidak berani bertanya lagi dan pula, apa yang dapat mereka lakukan terhadap kakek ini ?
Baru diserang oleh suara ketawa saja, mereka sudah muntah darah dan sampai sekarangpun dada
mereka masih terasa nyeri. Kalau kini mereka mempergunakan kekerasan untuk memaksa kakek
itu mengaku dan menyerahkan Giok-liong-kiam, sama saja dengan mati konyol atau bunuh diri.
“Sudahlah !” teriak Tang Kui yang sudah meloncat mundur dan pergi dari situ. Empat
orang tokoh lain juga pergi dan isi hati mereka sama semua. Bagaimanapun juga, mereka kini
tahu dimana adanya Giok-liong-kiam, yaitu di tangan Siauw-bin-hud, tokoh Siauw-lim-pai yang
aneh itu ! Dan hal ini saja sudah dapat menghibur hati mereka karena mereka dapat melaporkan
kepada atasan mereka, atau dapat menyusun kekuatan untuk kelak mencoba merampas pusaka
yang sudah mereka ketahui berada di mana.
Pedang Naga Kemala > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com 64
***
Akan tetapi, semenjak peristiwa itu terjadi, Giok-liong-kiam dianggap hilang oleh dunia
kang-ouw walaupun mereka tahu bahwa pedang itu berada di tangan Siauw-bin-hud dari Siauwlim-
pai. Bahkan kaisar sendiri mendapat nasihat dari para penasihatnya agar tidak
mempergunakan kekerasan terhadap Siauw-lim-si hanya karena urusan pedang yang memang
tadinya bukan pusaka istana. Istana hanya mengutus serombongan pembesar untuk meminta
keterangan kepada Siauw-lim-si tentang pedang Giok-liong-kiam, dan ketua kuil memberi
jawaban dengan pasti bahwa Siauw-lim-pai tidak tahu sama sekali tentang Giok-liong-kiam, dan
bahwa selama puluhan tahun ini hwesio tua yang bernama Siauw-bin-hud tidak pernah
meninggalkan ruangan di mana dia mengurung diri dan bertapa! Tentu saja jawaban ini dianggap
sebagai pengingkaran untuk tetap menguasai pedang pusaka itu, namun kaisar menghabiskan
urusan itu sampai di situ saja. Negara sudah menghadapi terlalu banyak pemberontakan, dan
urusan menghadapi orang-orang asing berkulit putih juga sudah mendatangkan banyak
kepusingan, maka sungguh amat merugikan kalau pemerintah harus bersikap kasar dan
memancing permusuhan baru dengan pihak Siauw-lim-pai.
Lui Siok Ek juga melapor kepada ketua Thian-te-pai yang merasa terkejut sekali
mendengar bahwa Giok-liong-kiam kini berada di tangan orang Siauw-lim-pai. Karena antara
Thian-te-pai dan Siauw-lim-pai tidak ada hubungan apa-apa, walaupun tidak pernah terjadi
permusuhan, maka ketua Thian-te-pai hanya mengirim murid-murid kepala untuk menyerahkan
surat kepada ketua Siauw-lim-pai, di mana dia bertanya dengan hormat apakah Siauw-lim-pai
mendengar atau tahu tentang di mana adanya Giok-liong-kiam, pusaka perkumpulan mereka
yang hilang dicuri orang setengah tahun yang lalu. Ketua Siauw-lim-pai menjawab bahwa
Siauw-lim-pai sungguh tidak tahu sama sekali dan kalau tahu tentu dengan senang hati membantu
Thian-te-pai menemukan kembali pusakanya ! Jawaban ini membuat hati para tokoh Thian-tepai
mendongkol. Sudah jelas Siauw-bin-hud yang menguasai pusaka itu dan pihak Siauw-lim-si
masih pura-pura tidak tahu. Akan tetapi merekapun tidak dapat berbuat sesuatu karena tentu saja
tidak mau menanam permusuhan dengan perkumpulan yang sekuat Siauw-lim-pai.
Biarpun tidak ada yang berani menuntut kepada Siauw-lim-pai, akan tetapi dari lima
orang itu tersiarlah berita di seluruh dunia kang-ouw bahwa Giok-liong-kiam yang diperebutkan
itu kini berada di tangan Siauw-bin-hud tokoh Siauw-lim-pai.
Dan enam tahun lewat tanpa ada suatu peristiwa terjadi sehubungan dengan pedang
pusaka Giok-liong-kiam. Orang di dunia persilatan seolah-olah sudah melupakan peristiwa
perebutan Giok-liong-kiam itu. Dan memang perebutan pusaka itu hanya terjadi dan timbul
setelah tersiar kabar bahwa pusaka itu dicuri orang dari Thian-te-pai. Ketika pusaka itu masih
menjadi pusaka Thian-te-pai, tidak ada orang atau golongan yang begitu gatal tangan untuk
mencoba merampasnya dari tangan Thian-te-pai, sebuah perkumpulan yang amat kuat, apa lagi
karena Thian-te-pai adalah perkumpulan orang-orang gagah yang menentang pemerintah
penjajah Mancu dank arena itu dihormati oleh semua golongan. Kini, setelah pusaka itu berada
di tangan Siauw-lim-pai, tentu saja orang menjadi semakin segan untuk mencoba merampasnya.
Akan tetapi, secara diam-diam tentu saja banyak orang yang masih menginginkan pusaka
itu, hanya tidak berani menyatakan secara berterang. Bahkan ada pihak-pihak yang menyusun
kekuatan dan bersikap hati-hati, tidak berani sembarangan turun tangan terhadap perkumpulan
seperti Siauw-lim-pai sebelum merasa yakin akan kekuatan sendiri.
Pedang Naga Kemala > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com 65
Enam tahun telah berlalu sejak pedang pusaka Giok-liong-kiam lenyap dan dunia kangouw
mengetahui bahwa pedang itu berada di tangan Siauw-bin-hud, seorang tokoh tua Siauwlim-
pai. Selama enam tahun itu tidak pernah terjadi sesuatu di Siauw-lim-si, dan dunia kang-ouw
seolah-olah melupakan pusaka itu, karena memang negara berada dalam kekacauan.
Pemberontakan-pemberontakan kecil berkobar di mana-mana, dan makin banyaklah rakyat
dikuasai asap madat. Bahkan madat mulai menyusup ke dalam gedung-gedung para pembesar
sehingga banyaklah pembesar mulai kecanduan. Makin banyak madat dimasukkan ke Tiongkok,
makin banyak pula kekayaan negara dikuras. Yang puas mengelus perut gendut karena
memperoleh untung yang luar biasa banyaknya adalah orang-orang kulit putih, terutama Bangsa
Inggeris, dan juga orang-orang India yang menyediakan madat itu.
Suatu pagi yang cerah. Kecerahan pagi itu terasa sekali nikmatnya di sebuah puncak
bukit kecil. Sinar matahari yang cerah menjadi semakin segar dan hangat karena sejuknya hawa
udara yang jernih di bukit itu. Matahari baru saja muncul dengan sinarnya yang agak kemerahan
bercampur kuning menjadi keemasan. Masih lembut, belum keras panas seperti sinar di tengah
hari. Cahaya keemasan lembut itu memandikan seluruh permukaan bukit, rata dan tidak pilih
kasih. Cahaya yang indah itu menggugah bumi dari pada kelelapan malam gelap. Tanah
menguap tipis, hangat dan sedap baunya, menghalau kabut pagi yang agaknya masih bermalasan
untuk meninggalkan bumi yang sedap. Bunga-bunga yang sudah mekar menjadi berseri, masih
basah oleh embun, menerima cahaya matahari dengan penuh kebahagiaan. Embun yang tadinya
dingin menyelimuti kelopak-kelopak bunga, kini terasa menyegarkan dan indah bergantungan di
kelopak daun, berkilauan dan tersenyum-senyum. Daun-daun juga bangkit menghijau, segar dan
menyambut cahaya matahari pagi sebagai sesuatu yang baru, yang sama sekali terlepas dan tiada
kaitannya dengan malam tadi, dengan siang kemarin. Rumput-rumput hijau juga berseri-seri,
pucuk-pucuk rumput kekuningan bersemi dan seperti anak-anak yang tiada mengenal susah,
bergembira menyambut dan memasuki hidup. Burung-burung berkicau bersuka ria, kegembiraan
yang spontan dan tidak dibuat-buat, lincah berloncatan dari dahan ke dahan, saling tegur dengan
salam manis kepada teman-temannya, siap untuk bersama-sama menghadapi hari baru yang
cerah.
Sukarlah menggambarkan keindahan pagi. Keindahan yang hanya dapat dinikmati
dengan penghayatan, dengan rasa, bukan untuk digambarkan atau diceritakan. Keindahan dan
kebahagiaan yang dapat dinikmati setiap orang manusia. Sayang seribu sayang, jarang sekali ada
orang dapat lagi menikmati keindahan yang membahagiakan itu. Pikiran kita terlalu sibuk
dengan urusan lahiriah, mencari uang, menuntut ilmu, sosial, politik, agama, pengejaran
kesenangan, pelarian dari kesusahan dan sebagainya. Cobalah sekali-kali, makin sering semakin
baik, kita melepaskan diri dari semua itu, kita tinggalkan semua itu agar batin kita kosong sama
sekali dari pada segala macam konflik dan masalah kehidupan, lalu kita masuki pagi yang baru
ini, kita biarkan diri seperti sehelai rumput yang menikmati embun dan cahaya keemasan.
Pagi itu terasa amat sunyi di kuil Siauw-lim-si yang terletak di puncak bukit kecil itu.
Sunyi yang mengamankan hati, sunyi penuh keriangan dan kebahagiaan yang bukan timbul
karena senang akan sesuatu. Namun, sejak matahari belum nampak, baru sinarnya saja yang
mendahuluinya, para hwesio di kuil itu sudah sibuk dengan pekerjaan masing-masing. Pekerjaan
yang merupakan tugas sehari-hari, pekerjaan yang diulang-ulang sehingga tidak ada artinya lagi
bagi si pekerja. Menyapu pekarangan, memikul air, menyalakan api di dapur, membersihkan
Pedang Naga Kemala > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com 66
meja sembahyang, ataupun membaca liam-keng atau doa sambil mengetuk-ngetuk kayu. Semua
ini dilakukan seperti otomatis, tanpa gairah lagi, seperti kalau kita pergi ke kantor, ke sekolah, ke
pasar atau sibuk di dapur. Dan tahu-tahu usia telah menjadi tua oleh pekerjaan yang telah
menjadi gerakan kebiasaan tanpa isi ini.
Dapatkah kita menikmati segala hal yang kita lakukan, termasuk pergi sekolah, belajar,
bekerja di kantor, berbelanja di pasar, masak di dapur, segala sesuatu itu ? Dapatkah ? Hal ini
hanya kita sendiri yang mampu menyelidiki, mampu mempelajari dan mampu menjawabnya !
Mari kita mengguncang diri, seperti anjing kalau mengguncang tubuh mengeringkan diri dari air
atau melemparkan kutu-kutu dari badan, mari kita melepaskan belenggu dari semua ikatan
kebiasaan itu ! Dan mari kita melakukan APA SAJA, ketika bekerja, ketika mandi, ketika
makan, ketika kita bicara, bahkan ketika kita termenung, apa saja yang kita lakukan, pernapasan
kita, gerakan kaki tangan kita, GERAKAN PIKIRAN kita, mari kita lakukan semua gerakan lahir
batin itu dengan penuh KESADARAN, bukan gerakan robot atau otomatis, melainkan gerakan
dilakukan dengan penuh PENGAMATAN, dengan penuh kewaspadaan dan penuh kesadaran,
penuh perhatian. Mari kita buka mata dan lihat, kita amati setiap gerak badan dan batin KITA
SENDIRI, dan mari hentikan mengamati orang lain. Kita MASUK dengan seluruh jiwa raga ke
dalam sesuatu yang kita lakukan ! Sejak bangun tidur sampai pulas, dan bahkan pengamatan itu
masih hidup selagi kita tidur. Mau coba ? Marilah !
Sudah menjadi kebiasaan para hwesio untuk bangun pagi-pagi sekali. Kebiasaan yang
amat baik karena hal ini menyehatkan badan dan pikiran. Kuil Siauw-lim-pai tidaklah sebesar
ratusan tahun yang lalu. Bentrokan-bentrokan dengan pemerintah, terutama pemerintah Kerajaan
Mancu yang berkuasa, selama ratusan tahun membuat Siauw-lim-pai terpecah belah dan
mengalami kemunduran. Akan tetapi, biarpun demikian, tetap saja Siauw-lim-si merupakan satu
di antara kuil-kuil terbesar di seluruh negeri. Dan Siauw-lim-pai, yaitu perkumpulan yang terdiri
dari murid-murid Siauw-lim-si di bidang ilmu silat, tetap saja merupakan partai persilatan
terbesar. Haruslah diakui bahwa ilmu silat Siauw-lim-pai merupakan ilmu silat tertua, bahkan
merupakan sumber dari hampir semua ilmu silat yang kemudian bertumbuhan dan bermunculan
di dunia persilatan. Ilmu silat Siauw-lim-pai adalah ilmu silat murni, yang diciptakan oleh orangorang
suci, oleh para cerdik pandai yang berbatin bersih. Ilmu silat yang diperkembangkan untuk
keuletan badan, kebesaran jiwa dan ketenangan batin, yang dirangkai dengan ilmu batin yang
tinggi berdasarkan agama. Oleh karena aliran ini masih aseli maka cara berlatihnya juga amat
berat. Bukan seperti ilmu-ilmu silat yang sengaja dipelajari dengan pamrih untuk berkelahi,
mudah dipelajari dan mudah dipraktekkan untuk perkelahian, namun sama sekali tidak ada
manfaatnya untuk kemajuan batin.
Tidak kurang dari limapuluh orang hwesio tinggal di kuil Siauw-lim-si yang besar dan
luas itu. Kuil itu memang amat luas dan merupakan sebuah perkampungan kecil yang dikelilingi
tembok tinggi. Dahulu, pernah di masa jayanya kuil ini menampung penghuni sebanyak hampir
duaratus orang.
Yang menjadi ketua bernama Thian He Hwesio, seorang kakek tinggi kurus yang usianya
enampuluh tahun lebih, dibantu oleh beberapa sute (adik seperguruan) yang bertugas sebagai
kepala bagian. Sebagai ketua, Thian He Hwesio hanya menangani pelajaran agama, mengepalai
upacara-upacara sembahyang dan menentukan peraturan-peraturan serta mengambil keputusan
akan segala masalah yang timbul di antara mereka. Para sute-sutenya adalah Thian Kong Hwesio
Pedang Naga Kemala > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com 67
yang bertugas sebagai pelatih ilmu silat kepada para murid, Thian Tek Hwesio bertugas sebagai
kepala rumah tangga, dan Thian Khi Hwesio bertugas mengatur semua urusan yang berhubungan
dengan luar kuil. Mereka semua ini adalah hwesio-hwesio yang memiliki ilmu silat tinggi dan
nama mereka disegani di seluruh dunia persilatan, bukan hanya karena kepandaian mereka, akan
tetapi juga karena sepak terjang para murid Siauw-lim-pai yang gagah perkasa dan juga karena
para hwesio ini tidak pernah mau mencampuri urusan di luar linkungan mereka sendiri.
Di pagi yang cerah itu, semua hwesio melaksanakan tugas masing-masing seperti biasa.
Hanya ada sedikit perobahan terjadi di dalam kuil itu dan setiap perobahan tentu disambut
dengan penuh kegembiraan oleh mereka. Kebiasaan yang dilakukan setiap hari tanpa ada
perobahan menimbulkan jemu. Akan tetapi sedikit perobahan itu hanya dianggap baru selama
dua tiga hari saja dan sesudah itupun tenggelam lagi dan hampir terlupa oleh mereka. Perobahan
itu adalah keluarnya seorang kakek hwesio dari dalam ruangan pertapaannya di mana dia tinggal
selama hampir duapuluh tahun. Hwesio ini adalah seorang hwesio gendut yang dikenal sebagai
Siauw-bin-hud !
Hwesio tua ini adalah paman guru dari Thian He Hwesio dan tiga orang sutenya yang
menjadi pimpinan kuil. Merupakan satu-satunya hwesio yang masih hidup dari tingkatannya.
Menurut perkiraan para ketua itu, tentu usia susiok (paman guru) mereka itu tidak kurang dari
delapanpuluh tahun. Dapat dibayangkan betapa heran rasa hati mereka ketika pada suatu pagi,
seminggu yang lalu, paman mereka itu tahu-tahu sudah duduk bersila di ruangan belakang dan
kepada hwesio yang bertugas di situ minta agar disediakan air hangat untuk mencuci muka dan
bubur untuk sarapan pagi. Mereka semua segera berkumpul dan memberi hormat kepada susiok
mereka.
Kemudian Siauw-bin-hud ini memang mengejutkan sekali. Biasanya, para murid Siauwlim-
pai hanya tahu bahwa di sebuah ruangan tertutup terdapat seorang hwesio tua yang duduk
bertapa. Ruangan ini terkunci dan tak seorangpun boleh memasukinya, kecuali petugas yang
setiap hari meninggalkan makanan dan air minum ke dalam ruangan itu. Yang kelihatan hanya
punggung kakek itu yang menghadap dinding.
Dan kini, setelah duapuluh tahun bertapa di dalam ruangan itu, Siauw-bin-hud keluar dari
tempat pertapaannya dan yang amat mengherankan, tubuhnya masih gendut bulat, padahal
makannya hanya sekedarnya saja. Dan senyumnya yang ramah itu masih tak pernah
meninggalkan mukanya yang bulat.
Tentu saja berita aneh ini bocor keluar dinding kuil, dari mulut para hwesio yang sedang
bertugas di luar dan bertemu dengan penduduk di luar kuil. Dan secara luar biasa sekali, berita
tentang munculnya Siauw-bin-hud yang sudah duapuluh tahun bertapa itu dengan amat cepatnya
tersiar ke dunia kang-ouw.
Dan pada pagi hari itu, hanya sepekan kemudian, nampak beberapa orang datang menuju
ke kuil Siauw-lim-si, mendaki bukit dari berbagai jurusan. Seperti sudah dijanjikan lebih dulu
saja, pada waktu yang bersamaan, di pekarangan luar pintu gerbang kuil Siauw-lim-si kini
berkumpul beberapa orang yang terdiri dari beberapa rombongan.
Pedang Naga Kemala > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com 68
Rombongan pertama adalah Nam San Losu, ketua kuil dekat puncak bukit mata air Sikiang
atau yang dikenal pula dengan nama Sungai Mutiara. Kakek tinggi besar muka hitam ini
walaupun sudah berusia enampuluh enam tahun, masih dapat melakukan perjalanan cepat dan
dapat mendaki bukit menuju ke puncak kuil Siauw-lim-si tanpa banyak kesukaran. Dia ditemani
oleh seorang sutenya dan juga oleh seorang anak laki-laki berusia tigabelas tahun. Seorang anak
laki-laki yang berpakaian sederhana seperti anak petani, wajahnya membayangkan kegagahan
dan keberanian, tubuhnya tegap dan sikapnya gagah. Terutama sekali sepasang mata yang tajam
itu, dengan hiasan alis yang tajam tebal, membuat anak ini walaupun sederhana dan seperti anak
petani, namun nampak bukan anak sembarangan. Anak ini adalah Tan Ci Kong. Seperti kita
ketahui, enam tahun yang lalu Tan Ci Kong, putera tunggal mendiang Tan Seng atau Tan Siucai,
oleh paman angkatnya, Sie Kian yang tinggal di Nan-ning, diantar kepada Nam San Losu dan
diterima sebagai murid oleh ketua kuil itu. Dan seperti telah diceritakan di bagian depan, Nam
San Losu adalah seorang tokoh Siauw-lim-pai yang menjadi ketua kuil Budha di bukit mata air
Si-kiang itu.
Rombongan ke dua adalah seorang kakek kurus berbaju tambal-tambalan seperti seorang
pengemis, akan tetapi pakaiannya yang penuh tambalan itu bersih, juga mukanya yang penuh
cambang bauk itu nampak bersih. Dengan matanya yang sipit dan mulutnya yang selalu senyumsenyum,
kakek ini nampak lucu. Dia ditemani oleh seorang anak perempuan yang berusia
sebelas tahun, seorang anak yang bermata lebar dan tajam penuh keberanian memandang ke
sekelilingnya. Anak perempuan ini adalah Siauw Lian Hong dan kakek itu bukan lain adalah Bubeng
San-kai, kakek yang telah menolongnya dari kebakaran dan yang kemudian menjadi
kakeknya, juga gurunya, juga satu-satunya orang di dunia ini yang dekat dengan anak yatim piatu
itu.
Rombongan ke tiga terdiri dari lima orang, dipimpin oleh seorang kakek berusia
enampuluh tahun, yang tinggi kurus dan gagah perkasa akan tetapi agak angkuh sikapnya,
bersama empat orang yang usianya beberapa tahun lebih muda darinya. Lima orang laki-laki ini
semua bersikap gagah dan di dada mereka nampak lukisan gambar Im-yang, yaitu bulatan yang
terbagi dua dengan warna hitam dan putih sebagai tanda Im-yang, dua sifat yang saling
bertentangan, juga saling berkaitan, dua sifat yang menggerakkan, menciptakan dan mengadakan
segala yang ada di dunia ini. Dari pakaiannya ini mudah diduga siapa mereka, yaitu tokoh-tokoh
perkumpulan Thian-te-pai yang terkenal. Di antara mereka terdapat pula Lui Siok Ek, murid
kepala Thian-te-pai yang pernah memperebutkan pusaka Giok-liong-kiam pada enam tahun yang
lalu.
Rombongan ke empat adalah tiga orang yang berpakaian perwira tinggi, di antara mereka
nampak Tang Kui, raksasa yang pernah menyamar sebagai petani dan yang pada enam tahun
yang lalu pernah pula memperebutkan pusaka Giok-liong-kiam. Dua orang yang lain adalah dua
perwira yang kedudukannya lebih tinggi dan ilmu silatnya jauh lebih lihai dari pada Tang Kui,
terutama sekali kakek yang bertubuh kecil pendek itu, yang berjenggot panjang dan baju
seragamnya agak kebesaran dan kedodoran. Kelihatannya lucu dan tidak ada apa-apanya, akan
tetapi dialah Pouw Ciangkun, seorang komandan pengawal pribadi kaisar yang amat tangguh dan
terkenal karena ilmu kepandaiannya yang tinggi.
Rombongan ke lima terdiri dari seorang kakek tinggi besar bermuka merah yang
pakaiannya mewah sekali, bersikap angkuh, yang diikuti oleh tujuh orang pemuda antara berusia
Pedang Naga Kemala > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com 69
duapuluh sampai duapuluh lima tahun. Tujuh orang pemuda ini rata-rata bermuka tampan.
Bahkan pesolek seperti wanita, dengan pakaian yang indah-indah. Biarpun kakek itu hanya
seperti seorang hartawan besar, akan tetapi rombongan lain yang melihatnya nampak terkejut dan
gelisah. Hal ini tidaklah mengherankan karena kakek bermuka merah ini terkenal sekali sebagai
seorang datuk kaum sesat yang amat ditakuti orang. Kakek ini pernah merajalela di dunia
persilatan sebagai seorang tokoh sesat dan akhirnya setelah berhasil menjadi orang yang amat
kaya raya, lalu mengundurkan diri dan kabarnya tinggal di sebuah pulau di Lautan Kuning,
dinamakan Pulau Layar karena bentuknya dari jauh seperti layar sebuah perahu. Di pulau inilah
dia tinggal sebagai seorang raja, bersama para pelayan dan pembantunya, juga murid-muridnya.
Akan tetapi semenjak tinggal di pulau itu, Tang Kok Bu ini dijuluki orang Hai-tok (Racun
Lautan), tidak pernah muncul di dunia kang-ouw walaupun kaum sesat masih menganggapnya
sebagai seorang datuk mereka yang ditakuti.
Lima rombongan ini hanya saling pandang dengan heran karena tanpa berjanji mereka
pada pagi hari itu berkumpul di depan pintu gerbang Siauw-lim-si. Biarpun tidak saling bicara,
mereka semua diam-diam dapat menduga bahwa kedatangan mereka itu mengandung maksud
yang sama, yaitu tentu ada hubungannya dengan keluarnya Siauw-bin-hud dari tempat
pertapaannya seperti yang menjadi berita hangat di dunia kang-ouw, dan ada hubungannya
dengan Giok-liong-kiam !
Akan tetapi agaknya maksud kedatangan Nam San Losu, sutenya dan muridnya tidak
sama dengan maksud kedatangan rombongan lain. Nam San Losu bersama sutenya dan Tan Ci
Kong sudah berlutut di depan pintu gerbang dan kakek itu berseru dengan suara halus namun
mengandung tenaga khikang sehingga menggema ke dalam pintu gerbang. “Murid Nam San
datang berkunjung untuk memberi hormat kepada para suhu !”
Mendengar seruan ini, tak lama kemudian beberapa orang hwesio membuka pintu
gerbang. Tentu saja sebagai ahli-ahli silat pandai, para hwesio di dalam kuil sudah tahu akan
kedatangan banyak orang di depan pintu gerbang itu. Dua orang hwesio menyambut Nam San
Losu dengan sikap hormat.
“Kiranya Nam San suheng dan Nam Thi suheng yang datang berkunjung !” kata dua
orang hwesio tua yang membuka pintu gerbang itu.
“Kami mendengar bahwa susiok Siauw-bin-hud telah keluar dari tempat pertapaannya,
dan kami mohon dapat menghadap beliau,” kata pula Nam San Losu. Mendengar ini, dua orang
hwesio penyambut itu lalu mempersilahkannya masuk. Pada saat itu muncullah seorang hwesio
yang pendek kecil berusia enampuluh lima tahun lebih, dari dalam dan melihat hwesio yang
pendek kecil dan kelihatan lemah ini, Nam San Losu cepat menjura dengan sikap hormat.
“Thian Tek suheng, terimalah hormat pinceng.” Si pendek kecil itu membalas
penghormatan tamu dari selatan itu. “Ah, kiranya Nam San sute yang datang berkunjung.
Silahkan, sute, toasuheng dan juga susiok berada di ruangan belakang.” Setelah mempersilahkan
tamu yang masih keluarga Siauw-lim-si sendiri itu masuk, Thian Tek Hwesio lalu keluar dan
berdiri di ambang pintu gerbang menghadapi para rombongan lain. Nam San Losu diikuti oleh
Nam Thi Hwesio, juga Ci Kong, lalu masuk ke dalam.
Pedang Naga Kemala > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com 70
Ci Kong membuka mata lebar-lebar untuk memperhatikan segala yang nampakdi dalam
kuil besar ini. Sudah banyak dia mendengar penuturan gurunya tentang kuil Siauw-lim-si, dan
kini dia melihat kenyataan betapa kuil itu memang jauh lebih luas dan besar dibandingkan kuil di
selatan, di mana dia hidup selama enam tahun mempelajari ilmu-ilmu dari gurunya. Juga dia
mendengar penuturan gurunya dan para paman gurunya tentang kakek Siauw-bin-hud yang amat
mengagumkan hatinya. Bukan hanya karena kakek itu baru saja keluar setelah bertapa selama
duapuluh tahun lebih, juga bahwa menurut suhunya kakek itu memiliki kesaktian yang amat
hebat, akan tetapi juga dia kagum mendengar betapa kakek itu namanya telah menggemparkan
seluruh dunia persilatan karena dikabarkan telah merampas Giok-liong-kiam yang menjadi
barang pusaka yang diperebutkan oleh para tokoh persilatan. Karena itu, hatinya girang sekali
ketika gurunya mengajak dia untuk pergi mengunjungi Siauw-lim-si.
Ketika mereka memasuki kuil, para hwesio di kuil itu yang semua mengenal Nam San
Losu dan Nam Thi Hwesio, menyambut mereka dengan ramah dan seorang di antara mereka
mengantar tiga orang tamu itu ke ruangan belakang yang lebar.
Di dalam ruangan itu telah duduk seorang hwesio yang tua dan gendut sekali, demikian
gendutnya sampai nampak bulat. Jubahnya kuning menutupi semua tubuh dan sepatunya dari
kain, juga sudah agak butut seperti jubahnya. Yang menarik para hwesio ini adalah wajahnya
yang selalu tersenyum itu sehingga wajah itu nampak demikian ramah dan mencerminkan watak
yang halus dan budiman. Sinar matanya juga lembut dan sinar mata itu begitu penuh pengertian
dan agaknya tidak ada apapun yang akan kakek ini merasa heran. Sukarlah mengira-ngirakan
berapa usia kakek ini, karena walaupun sikapnya memperlihatkan usia yang sudah amat tua,
namun wajahnya yang bulat itu tidak dihiasi keriput karena gendutnya. Di depan kakek gendut
ini duduk bersila pula tiga orang hwesio, yaitu Thian He Hwesio, Thian Kong Hwesio dan Thian
Khi Hwesio, tiga di antara empat orang pengurus atau ketua Siauw-lim-si di waktu itu karena
orang ketiga, Thian Tek Hwesio, sedang keluar menyambut para tamu.
Begitu melihat hwesio gendut itu, diam-diam Nam San Losu dan Nam Thi Hwesio
merasa kagum dan terheran-heran. Duapuluh tahun lebih yang lalu, mereka pernah bertemu
dengan paman guru mereka ini, dan sekarang, setelah duapuluh tahun lebih lewat, agaknya kakek
gendut itu masih sama saja, sedikitpun tidak nampak perobahan ! Setelah tiba di ruangan itu,
Nam San Losu dan Nam Thi Hwesio segera menjatuhkan diri berlutut menghadap kakek gendut,
diikuti pula dari belakang oleh Ci Kong.
“Susiok, terimalah hormat dari teecu,” kata Nam San Losu dengan sikap hormat.
“Susiok ………. !” Nam Thi Hwesio juga memberi hormat dengan berlutut. Ci Kong
hanya berlutut saja tanpa mengeluarkan suara, hatinya gentar dan juga kagum.
Hwesio gendut itu menoleh dan senyumnya melebar ketika dia melihat dua orang hwesio
itu. “Aha, bukankah kalian ini Nam San dan Nam Thi ? Bagus sekali ! Bagaimana kabarnya di
selatan ? baik-baik sajakah ?”
Dua orang hwesio dari selatan itu menghaturkan terima kasih, kemudian barulah mereka
memberi hormat kepada tiga orang suheng mereka sebagai tuan rumah. Thian He Hwesio
Pedang Naga Kemala > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com 71
membalas penghormatan itu. “Sute, jauh-jauh sute datang dari selatan, apakah ada keperluan
khusus untuk dibicarakan ?”
“Suheng, pertama-tama karena sudah lama kami tidak berkunjung dan merasa rindu,
maka kesempatan ini kami pergunakan untuk berkunjung ke Siauw-lim-si. Kedua kalinya,
karena mendengar berita bahwa susiok telah keluar dari tempat pertapaan, maka kami ingin
sekali menghadap dan mohon petunjuk, dan ketiga kalinya, kamipun mendengar berita rebutribut
tentang Giok-liong-kiam, maka kami ingin sekali mendengar bagaimana sebenarnya hal
yang telah terjadi karena ini menyangkut nama Siauw-lim-pai.”
“Ahhh ………… !” Thian He Hwesio menarik napas panjang. “Justeru urusan itulah
yang kini sedang kita bicarakan. Sudah selama enam tahun kami di Siauw-lim-si selalu didatangi
orang yang secara halus maupun kasar menyindirkan bahwa Giok-liong-kiam kita rampas dan
kita sembunyikan. Karena pada waktu itu susiok masih bertapa, kami tidak berani menganggu.
Dan sekarang, menurut susiok, beliau sama sekali tidak tahu akan pedang Giok-liong-kiam itu.
Bukankah ini membuat orang merasa menyesal bukan main ?”
“Ha – ha – ha – ha ………. !” Kakek gendut itu tertawa bergelak sampai seluruh
tubuhnya bergoyang-goyang. Diam-diam Ci Kong mengangkat mukanya memandang dengan
heran. Kakekitu tertawa begitu polos, tidak dibuat-buat seperti orang yang merasa geli
mendengarkan sesuatu yang lucu. Padahal, dia sendiri tidak melihat atau mendengar sesuatu
yang lucu menggelikan. Apa sih yang ditertawakan oleh kakek gendut aneh itu, pikirnya heran.
Akan tetapi lima orang hwesio tua yang berlutut di situ tidak merasa heran dan mereka hanya
menanti saja dengan sabar sampai susiok mereka menghentikan ketawanya.
“Ha – ha – ha, Thian He, apakah sampai sekarang engkau masih juga berpikiran seperti
kanak-kanak ? Segala macam urusan yang terjadi di dunia ini, baik yang menyerempet diri kita
maupun yang bukan, adalah peristiwa yang terjadi, suatu kenyataan yang tak dapat dibantah lagi,
dan bagaimanapun juga, semua itu sumbernya terletak pada diri sendiri. Menyesal atau tidak
menghadapinya, terserah kepada kita. Apakah hanya dengan penyesalan saja segala urusan dapat
diselesaikan ? Tidak, sebaliknya malah. Penyesalan mendatangkan kemarahan dan dendam, dan
semua itu malah mengacaukan urusan karena mengeruhkan batin. Jelaslah bahwa ada orang
yang memalsukan namaku untuk merampas pedang pusaka. Buakankah demikian
persoalannya ?”
“Benar, susiok. Enam tahun yang lalu, pedang pusaka Giok-liong-kiam yang tadinya
disimpan oleh Thian-te-pai sebagai pedang pusaka, lenyap dicuri orang. Dunia kang-ouw
menjadi gempar dan semua orang merasa berhak untuk mencari dan memiliki pedang yang sudah
terlepas dari tangan Thian-te-pai itu dan terjadilah perebutan. Kemudian, berita terachir
mengatakan bahwa susiok yang telah merampas pedang itu. Nah, bukankah hal ini amat
membuat hati penasaran, apa lagi kalau susiok sendiri telah mengatakan bahwa susiok sama
sekali tidak tahu tentang pedang itu, apa lagi merampasnya ?” Orang memalsu nama susiok,
mana hal itu dapat dikatakan bersumber pada diri kita sendiri ?” Thian He Hwesio, ketua Siauwlim-
si itu membantah sambil mengerutkan alisnya, bagaimanapun juga merasa tidak enak
dikatakan masih kekanak-kanakan oleh susioknya di depan para sutenya.
Pedang Naga Kemala > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com 72
“Ha – ha – ha, mari kita diam sejenak menjernihkan batin agar kita dapat menghadapi
kenyataan dengan waspada dan tidak dipengaruhi oleh nafsu-nafsu yang mengeruhkan hati,”
kata kakek gendut itu yang lalu memejamkan kedua matanya. Lima orang hwesio itupun lalu
bersila dan memejamkan mata, memangku kedua tangan. Ci Kong yang melihat ini maklum
bahwa suhunya dan yang lain-lain sedang bersamadhi agar batin menjadi kosong. Dia duduk
bersila dan memandang semua itu dengan heran. Tak lama kemudian kakek gendut membuka
matanya dan tertawa, membuat yang lain juga membuka mata.
“kalian renungkan baik-baik. Andaikata di dunia ini tidak ada Siauw-bin-hud, andaikata
Siauw-lim-pai bukan merupakan partai persilatan yang dianggap kuat, apakah ada orang yang
mau jahil memalsu namaku dan Siauw-lim-pai ? Nah, sumber semua peristiwa ini didasari
keadaanku dan keadaan Siauw-lim-pai, bukan ? Jadi sumbernya berada dalam diri sendiri.
Berbahagialah orang yang sama sekali tidak ada nama dan tidak dikenal, berbahagialah orangorang
yang berada di tempat paling bawah sehingga tidak nampak menonjol.”
“Omitohud, baru sekarang teecu dapat melihat kebenaran ucapan susiok. Memang,
dengan penyesalan dan kemarahan kita tidak akan dapat mengatasi masalah, bahkan
mengeruhkan batin. Akan tetapi, maaf, susiok, apakah dengan berdiam diri saja masalahnya juga
dapat teratasi ? Semua orang kang-ouw tentu akan menuduh kita yang menyembunyikan pedang
pusaka itu,” kata pula Thian He Hwesio.
“Bahkan kini di luar telah datang banyak orang yang menurut dugaan teecu sudah pasti
ada urusannya dengan Giok-liong-kiam,” sambung Thian Ki Hwesio yang lebih mengenal
keadaan dunia luar kuil karena dialah yang menjadi ketua yang bertugas menghadapi semua
urusan di luar kuil.
Dengan wajah masih tersenyum ramah dan pandang mata sama sekali tidak memancarkan
emosi batin, kakek gendut itu berkata, “Menghadapi urusan dengan nafsu amatlah tidak benar,
akan tetapi menghadapinya dengan acuh juga tidak dapat membereskan urusan. Kita harus
menghadapi segala macam peristiwa dengan waspada dan dengan kewaspadaan akan timbul
kebijaksanaan dalam bertindak. Omitohud ............” Kakek itu kini memandang ke arah Ci
Kong dengan sinar mata berseri penuh kagum. Anak itu sedang memandang kepada Siauw-binhud
dengan sinar mata mencorong seperti mata anak harimau, dan ketika kakek itu menerima
pandang matanya, mereka saling tatap sejenak dan terkagumlah hati kakek itu.
“Siapakah anak itu ?” tanya Siauw-bin-hud tanpa melepaskan pandang matanya ke arah
Ci Kong.
“Maaf, susiok, teecu tadi sampai lupa melaporkan. Anak ini bernama Tan Ci Kong dan
sejak kurang lebih enam tahun yang lalu menjadi murid teecu. Dia sudah yatim piatu dan
ayahnya seorang siucai yang tewas karena madat ............”
“Hemm, demikian hebatkah benda beracun itu kini merajalela ?” Kakek gendut bertanya
dan masih terus memandang ke arah Ci Kong.
“Ayahnya bukan seorang pemadatan, susiok. Sebaliknya malah, ayahnya seorang siucai
yang gagah perkasa dan menentang peredaran madat. Dia menentangnya dengan tulisan-tulisan
Pedang Naga Kemala > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com 73
sehingga menyeretnya ke dalam kesukaran. Akan tetapi sampai saat terakhir, sebelum tewas
dalam tahanan, Tan siucai masih menyebar tulisan-tulisan yang menentang madat, mengecam
pemerintah dan memperingatkan rakyat akan bahayanya menghisap madat. Dia tewas dan karena
putera tunggalnya ini tidak lagi mempunyai sanak keluarga, teecu lalu mengambilnya sebagai
murid dan berdiam di kuil teecu.”
“Hebat ………. hebat ………. !” Kakek gendut itu mengusap perutnya dan memandang
dengan kagum. Entah siapa yang dipujinya, mendiang Tan Siucai ataukah puteranya itu. Akan
tetapi, pandang matanya yang tadinya lembut itu kini mencorong tajam dan dia menemukan
bahan yang amat baik pada diri anak berusia tigabelas tahun itu.
Pada saat itu terdengar suara ribut-ribut di luar kuil dan seorang hwesio tergesa-gesa
masuk ke ruangan itu dan melaporkan bahwa di luar banyak tamu secara paksa minta bertemu
dengan Siauw-bin-hud. Thian Tek Hwesio berusaha mencegah mereka, akan tetapi mereka
menjadi ribut dan hendak memaksa masuk.
“Hemm, sungguh tak tahu diri mereka itu !” kata Thian He Hwesio dan sekali
menggerakkan tubuh, dia sudah berkelebat keluar dari ruangan itu diikuti pula oleh Thian Kong
Hwesio dan Thian Khi Hwesio.
Siauw-bin-hud agaknya tidak memperdulikan semua itu dan dia melambaikan tangan
kepada Ci Kong yang tidak ikut keluar. Di ruangan itu hanya tinggal mereka berdua saja.
Melihat betapa kakek itu melambaikan tangan, Ci Kong lalu bangkit dan menghampiri kakek itu
lalu duduk bersila di depannya, menatap wajah kakek itu tanpa takut-takut. Siapa akan merasa
takut terhadap seorang kakek gendut yang tersenyum-senyum begitu ramahnya.
Siauw-bin-hud tidak bicara apa-apa, akan tetapi kedua tangannya meraba-raba tubuh Ci
Kong, dari ujung kepala sampai ke kaki, memijat-mijat dan menekan-nekan dan tiada hentinya
dia mengeluarkan suara ketawa kecil. “Aha, sudah kuduga ………. hmmm, hebat memang ….
……”
Ci Kong tidak tahu apa yang dimaksudkan kakek itu, akan tetapi dia telah mempelajari
ilmu silat selama enam tahun dan diapun dapat menduga bahwa rabaan-rabaan itu tentulah
merupakan semacam ujian bagi kakek itu untuk mengetahui kemajuan dalam hal latihan silat.
Jilid IV *****
Tiba-tiba terdengar suara teriakan Thian He Hwesio, ketua Siauw-lim-pai. Biasanya
kakek ini kalau bicara halus biarpun tegas, akan tetapi sekali ini suaranya keras dan agak kasar
tanda bahwa dia sedang dilanda kemarahan.
“Cu-wi (anda sekalian) adalah orang-orang terhormat, mengapa bersikap begini kerdil ?
Sudah pinceng katakan bahwa susiok masih perlu beristirahat dan belum siap menerima
kunjungan tamu, mengapa cu-wi memaksa ? Sekali lagi kami tekankan bahwa susiok dan kami
semua tidak tahu menahu tentang Giok-liong-kiam dan cu-wi harus tahu bahwa Siauw-lim-pai
tidak pernah membohong !”
Pedang Naga Kemala > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com 74
Kini terdengar suara-suara “duk – duk – duk !” seperti ada benda yang amat berat
dipukul-pukul di atas tanah, lalu disambung suara yang mengandung kekuatan khikang yang
hebat. “Hemm aku datang untuk bertemu dengan Siauw-bin-hud seorang, dan tidak ingin
berurusan dengan Siauw-lim-pai. Siauw-bin-hud sudah keluar dari tempat persembunyiannya,
apakah dia masih takut bertemu orang ?”
Mendengar suara ini, tiba-tiba Siauw-bin-hud yang masih meraba-raba kepala Ci Kong,
tertawa bergelak. “Ha – ha – ha, apakah itu bukan suara Hai-tok yang terdengar begitu keras ?”
Suaranya lirih saja, akan tetapi agaknya terdengar dari luar karena suara di luar tiba-tiba terhenti
dan sunyi. Kemudian terdengar kembali suara Hai-tok, sekali ini suaranya mengandung
kehalusan, seperti orang menghormat.
“Siauw-bin-hud, aku orang she Tang memang ingin bertemu denganmu. Silahkan
keluar!”
Mendengar ini, kembali Siauw-bin-hud tertawa dan diapun bangkit sambil menggandeng
tangan Ci Kong. “Mari, anak baik .......... eh, siapa namamu tadi ?”
“Nama saya Tan Ci Kong, susiok-couw !” kata Ci Kong dengan sikap hormat. Memang
selama enam tahun tinggal di kuil bersama Nam San Losu, dia bukan hanya menerima
gemblengan ilmu silat, akan tetapi juga ilmu sastera sehingga dia mengenal tata susila seperti
seorang terpelajar. Kini kakek gendut dan anak laki-laki itu bergandengan tangan berjalan
keluar, menyusul lima orang hwesio yang tadi keluar untuk menemui para tamu. Sebagai
saudara-saudara seperguruan, Nam San Losu dan Nam Thi Hwesio tadi juga ikut keluar
menyusul tiga orang suheng mereka.
Empat orang hwesio itu segera minggir memberi jalan ketika mereka melihat susiok
mereka muncul keluar, menuntun Ci Kong. Dan semua mata para tamu itupun kini ditujukan
kepada hwesio gendut itu yang tersenyum-senyum ramah, menyapu semua tamu dengan pandang
matanya. Setelah berhadapan dengan mereka, hwesio gendut itu tertawa, suara ketawanya lepas
dan tidak terkendali, keluar dari perutnya dan terdengar ramah menyenangkan, seperti suara
ketawa orang yang kegirangan.
“Heh – heh – heh, setelah duapuluh tahun lebih menyendiri, tetap saja tidak dapat bebas
dari urusan dengan orang-orang lain. Ha – ha, jelaslah kini bahwa tidak mungkin hidup
sendirian saja, hidup berarti antar hubungan, baik dengan manusia lain, dengan mahluk lain,
dengan benda maupun pikiran sendiri ………. Tak salah ………. Tak salah ………. “
Dia pasang mata menatap kakek gendut itu penuh perhatian, penuh selidik. Mereka
adalah Tang Kui, perwira istana yang bertubuh tinggi besar itu dan Lui Siok Ek, tokoh Thian-tepai.
Dua orang inilah yang pada enam tahun yang lalu pernah ikut memperebutkan Giok-liongkiam
dan melihat dengan mata kepala sendiri betapa pedang pusaka itu lenyap bersama
munculnya kakek gendut yang bukan lain adalah Siauw-bin-hud. Dan mereka berdua berani
bersumpah bahwa orang yang mereka temui enam tahun yang lalu adalah kakek gendut yang kini
berhadapan dengan mereka walaupun tokoh Thian-te-pai Lui Siok Ek melihat sesuatu yang
diam-diam membuat dia meragu. Ada perbedaan dalam sinar mata kakek ini dengan kakek enam
tahun yang lalu. Dia melihat sinar mata mencorong hebat dari kakek yang dahulu, sedangkan
Pedang Naga Kemala > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com 75
sinar mata kakek ini demikian lembut dan penuh pengertian. Betapapun juga, kecuali perbedaan
pada sinar mata ini, hampir segalanya kakek ini tiada bedanya dengan kakek yang muncul dalam
perebutan Giok-liong-kiam enam tahun yang lalu. Gundulnya, gendut bulatnya, jubah kuning
sampai sepatunya .......... dan kembali Lui Siok Ek tertegun. Sepatunya memang sama, sepatu
kain, akan tetapi telapak sepatu kakek yang dahulu itu berlapis besi. Ini dia ingat benar,
sedangkan telapak sepatu kakek ini tetap dari kain lunak. Akan tetapi, sinar mata yang berbeda
itu mungkin saja menunjukkan kemajuan batin kakek itu selama enam tahun ini, dan tentang
telapak sepatu, ah, bisa saja kakek itu kini tidak membubuhkan lapisan besi karena tidak sedang
melakukan perjalanan jauh. Dia bisa keliru akan tetapi tetap saja ada keraguan dalam hatinya.
Akan tetapi perwira Tang Kui tidak melihat perbedaan-perbedaan itu Tang Kui tidak
melihat perbedaan-perbedaan itu dan begitu melihat Siauw-bin-hud muncul, langsung saja dia
menudingkan telunjuknya ke arah muka kakek gundul itu dan berkata dengan suara lantang,
“Dia inilah yang dahulu merampas Giok-liong-kiam !”
Siauw-bin-hud memandang kepada Tang Kui sambil tersenyum. Pandang matanya sama
sekali tidak marah, melainkan penuh kesabaran seperti seorang kakek yang baik melihat
kenakalan cucunya. “Si-cu (orang gagah), apakah engkau melihat sendiri pinceng merampas
pusaka itu ?” tanyanya halus.
Tang kui cemberut dan mukanya menjadi merah karena marah. Dia adalah seorang yang
jujur dan kasar, dan tidak suka berpura-pura. “Locianpwe adalah seorang pendeta yang
dihormati, mengapa masih berpura-pura seperti anak kecil ? Enam tahun yang lalu, begitu
bertemu Locinpwe sudah mengenal aku sebagai Tang Kui, perwira pengawal istana !”
Kakek itu tersenyum lebar, juga matanya lebar. “Ahhh, betapa anehnya. Bahkan dalam
mimpipun pinceng belum pernah jumpa dengan ciangkun, sama tidak pernahnya pinceng
mendengar apa lagi melihat pusaka yang bernama Giok-liong-kiam.”
“Aku belum gila untuk menuduh locianpwe yang bukan-bukan. Akan tetapi dia itu
dahulupun pernah menjadi saksi !” Tang Kui menunjuk ke arah Lui Siok Ek dan kini semua
mata memandang ke arah tokoh Thian-te-pai itu.
Lui Siok Ek sedang berdiri bingung. Memang dia melihat perbedaan, dan juga suara
ketawa kakek gendut ini sama sekali tidak mengandung tenaga khikang yang menggetarkan
jantung seperti kakek enam tahun yang lalu, walaupun dalam suara kakek ini terasa pula adanya
tenaga yang amat kuat. Kini, dituding secara tiba-tiba oleh Tang Kui, dia menjadi gugup dan
melihat betapa semua orang memandang kepadanya, diapun mengangguk.
“Memang benar, locianpwe Siauw-bin-hud dari Siauw-lim-pai yang telah mengambil
Giok-liong-kiam ketika terjadi perebutan di antara kami.”
“Aha, sudah dua orang yang menjadi saksi mata ! Wah, ini berat jadinya untukku !” kata
kakek gendut. “Kalau saja pinceng tidak yakin benar bahwa pinceng selama duapuluh tahun
bertapa dalam ruangan, tentu pinceng mulai tidak yakin kepada diri sendiri ! Akan tetapi,
pinceng sudah menyelidiki diri sendiri dan tidak pernah pinceng meninggalkan ruangan, jadi,
Pedang Naga Kemala > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com 76
tidak mungkin mengambil pusaka. Eh, apakah jiwi-sicu melihat sendiri pinceng mengambil
pedang itu ?”
Lui Siok Ek mengerutkan alisnya. Seperti juga Tang Kui, ketika enam tahun yang lalu
dia berhadapan dengan Siauw-bin-hud, kakek ini sudah mengenalnya, akan tetapi kini agaknya
tidak mengenalnya. “Kami tidak melihat sendiri. Kami berlima sedang memperebutkan pusaka
itu. Giok-liong-kiam terlempar ke udara dan meleset ke arah di mana kami menemukan
locianpwe duduk bersamadhi. Siapa lagi kalau bukan locianpwe yang mengambilnya ?”
“Duk – duk – dukk !” Semua orang kembali terkejut karena ketika kakek tinggi besar
muka merah itu menotok-notokkan tongkatnya ke atas tanah, maka tanah di sekitar tempat itu
seperti tergetar dan terdengar suara keras seperti benda berat yang dipukul-pukulkan itu, bukan
ujung sebatang tongkat emas yang tidak begitu besar. Dari ketukan tongkat ini saja sudah dapat
dibayangkan betapa kuatnya tenaga yang tersembunyi di dalam lengan tangan yang besar itu.
Dan memang nama Hai-tok (racun lautan) Tang Kok Bu sudah terkenal di seluruh dunia
persilatan, maka semua orang memandang kepadanya dengan agak gentar.
“Aku tahu bahwa Siauw-bin-hud bukanlah seorang pengecut, melainkan seorang datuk
persilatan yang besar namanya. Tidak perlu banyak cakap lagi tentang urusan tetek bengek.
Yang jelas, Siauw-bin-hud telah memiliki Giok-liong-kiam melalui ilmu kepandaiannya yang
hebat sehingga dia mampu mengambil pusaka itu tanpa diketahui orang lain. Dalam dunia
persilatan memang ada peraturan bahwa siapa menang, dia berhak meraih pahalanya. Enam
tahun yang lalu dia menang, dan kini setelah dia keluar, aku orang she Tang mohon diberi
kesempatan untuk menguji kepandaian orang yang telah menguasai Giok-liong-kiam. Kalau aku
kalah, sudahlah, aku tidak akan banyak ribut lagi tentang pusaka itu.”
“Omitohud ………. !” Siauw-bin-hud berkata lirih akan tetapi masih tersenyum lebar
dan sabar.
“Hai-tok makin tua semakin keras saja. Apakah orang seperti engkau ini tidak mau
menerima penjelasan orang seperti aku bahwa pinceng sungguh tidak pernah melihat Giok-liongkiam,
apa lagi memilikinya ?”
“Aku tidak pernah menuduh, hanya mendengarkan berita di luaran dan kini ada dua orang
saksi mata. Mungkin mereka benar, mungkin pula engkau yang benar, siapa tahu akan kebenaran
yang sesungguhnya ? Yang penting, mari kita menguji kepandaian. Kalau aku kalah, sudahlah,
aku akan minta maaf dan akan pergi dari sini, akan tetapi kalau engkau yang kalah, engkau harus
menyerahkan Giok-liong-kiam kepadaku.”
“Wah, wah, wah, tulang-tulangku sudah tua ini bernasib sial hendak menerima gebukan
orang Hai-tok, bagaimana kalau aku kalah akan tetapi aku tidak memiliki pusaka itu untuk dapat
diserahkan kepadamu ?”
“Dunia kang-ouw mempunyai bukti-bukti bahwa engkau yang merampasnya, maka
engkau harus dapat pula membuktikan bahwa bukan engkau perampasnya !”
Pedang Naga Kemala > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com 77
“Ha – ha – ha, dengan lain kata, engkau menghendaki aku mencari perampasnya yang
agaknya mempergunakan namaku ?”
“Begitulah dan bersiaplah, Siauw-bin-hud !”
“Nanti dulu. Tamulu bukan hanya engkau seorang, melainkan masih ada beberapa orang
lagi. Kautunda dulu niatmu, Hai-tok, aku ingin bertanya kepada yang lain-lain.” Lalu kakek
gendut itu dengan sikap tenang, sabar dan peramah memalingkan mukanya kepada rombongan
perwira istana yang dipimpin oleh Pouw Gun atau Pouw Ciang-kun itu. “Cu-wi sekalian ini apa
juga datang untuk urusan pusaka yang hilang itu ?”
Pouw Gun menjura dengan sikap tegas dan hormat. Sebagai seorang perwira tinggi,
sikapnya tegas dan berwibawa, akan tetapi sebagai seorang ahli silat tinggi diapun menghormati
angkatan yang lebih tua seperti Siauw-bin-hud. “Locianpwe, saya Pouw Gun bersama beberapa
orang teman datang sebagai utusan sri baginda kaisar. Karena seorang di antara saudara muda
kami, yaitu Tang Kui, pernah mendapatkan Giok-liong-kiam yang kemudian dirampas oleh
locianpwe, maka kami atas nama sri baginda kaisar mohon dengan hormat agar locianpwe
menyerahkannya kepada kami.”
“Heh – heh, semua orang minta pusaka itu dariku. Aneh ! Ciangkun, kalau cu-wi
menjunjung perintah sri baginda kaisar, tentu membawa surat perintah.”
Wajah panglima yang bertubuh kecil itu menjadi merah. “Maaf, locianpwe, selama enam
tahun ini, Siauw-lim-pai tidak mengakui tentang Giok-liong-kiam, oleh karena itu, urusan ini
menjadi urusan pribadi. Kami ditugaskan untuk mencari dan membawa Giok-liong-kiam ke
istana. Andaikata kami harus berurusan dengan Siauw-lim-si, tentu kami akan membawa surat
perintah. Akan tetapi karena Siauw-lim-si tidak mengakui, dank arena ada saudara kami yang
melihat sendiri bahwa pusaka itu ………. oleh locianpwe ………. “
“Ha – ha, Pouw-ciangkun, jelaskan saja apa yang hendak kaulakukan sekarang,” kakek
gendut itu memotong dengan suara kasihan melihat kegugupan perwira itu.
“Seperti saya katakan tadi, kami mohon dengan hormat agar locianpwe suka
menyerahkan pusaka itu kepada kami, demi nama sri baginda kaisar.”
“Kalau pinceng tidak dapat memberikannya bagaimana ciangkun ?”
“Terpaksa saya melupakan kebodohan sendiri mohon petunjuk dari locianpwe.”
“Aha ! Menantang lagi ! Kiranya engkau tidak sendirian dalam hal berkeras kepala
untuk memukuli badanku yang sudah tua, Hai-tok. Baiklah, kautunggu dulu, ciangkun, aku akan
bertanya kepada rombongan lain.” Kakek itu tanpa menanti jawaban lalu menghadapi
rombongan Thian-te-pai yang berdiri berbaris dengan sikap gagah.
“Cu-wi tentu utusan perkumpulan Thian-te-pai,” katanya ramah sambil memandang ke
arah dada orang-orang itu. “Lalu apa kehendak cu-wi datang mencari aku orang tua ?”
Pedang Naga Kemala > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com 78
Coa Bhok yang gagah dan angkuh melangkah maju menghadapi Siauw-bin-hud. “Saya
Coa Bhok sebagai wakil ketua Thian-te-pai, mewakili perkumpulan kami untuk memohon
kebijaksanaan locianpwe Siauw-bin-hud. Pusaka Giok-liong-kiam sejak dahulu menjadi pusaka
perkumpulan kami, bahkan menjadi lambang kebesaran perkumpulan Thian-te-pai kami. Enam
tahun lebih yang lalu, pusaka kami itu lenyap dicuri orang dan setelah itu timbullah perebutan di
antara orang-orang kang-ouw untuk mencari dan merampasnya . Sute kami Lui Siok Ek ini pada
enam tahun yang lalu hampir berhasil merebut kembali pusaka kami itu, akan tetapi menurut
keterangannya tadi, pusaka itu oleh locianpwe dirampas. Karena selama enam tahun ini
locianpwe berada dalam pertapaan, kami segan untuk berurusan dengan Siauw-lim-si dan
mendengar locianpwe telah keluar, kami memberanikan diri untuk datang menghadap dan minta
kembali pusaka yang disimpankan oleh locianpwe itu.”?
Ucapan wakil ketua Thian-te-pai ini tegas, jelas dan menghormat. Biarpun mulutnya
masih tersenyum, akan tetapi Siauw-bin-hud menarik napas panjang. “Sayang sekali, andaikata
pinceng benar-benar menemukan pusaka yang hilang itu, dengan hati senang dan rela tentu akan
pinceng serahkan kepada cu-wi. Akan tetapi bagaimana kalau pinceng tidak tahu tentang pusaka
itu ?”
“Karena ada saksi-saksi mata, ke mana kami harus mencari kecuali pada locianpwe ?
Dan andaikata benar ada yang memalsukan nama locianpwe, hal itu adalah urusan locianpwe
pribadi dengan pemalsu itu.”
“Aha, dengan arti lain, cu-wi hendak memaksaku untuk mendapatkan pusaka itu dan
mengembalikan kepada Thia-te-pai ?”
“Begitulah !”
“Wah – wah – wah, runyam sekali ini !” Siauw-bin-hud mengelus kepala Ci Kong yang
masih berdiri di dekatnya. Dia heran melihat anak itu mukanya merah dan matanya
mengeluarkan sinar marah. “Eh, kau kenapa, anak baik ?”
“Susiok-couw, orang-orang ini sungguh tidak memiliki rasa keadilan sama sekali, mau
menangnya sendiri saja dan mendesak susiok –couw secara sewenang-wenang !” Ci Kong
berseru dengan suara nyaring. Kakek gendut itu tertawa bergelak dan mengelus kepala Ci Kong
dengan halus.
“Wah – wah, kalau engkau begini keras, lalu apa bedanya dengan mereka yang keras
juga ? Tenanglah, anak baik dan kita lihat saja perkembangannya.”
“Heh – heh – heh – heh, banyak lalat dan hawanya panas, sungguh tidak nyaman ..........!”
tiba-tiba terdengar suara orang mengomel. Semua orang menoleh dan ternyata yang mengomel
itu adalah Bu-beng San-kai yang duduk agak jauh dari orang-orang lain, duduk sembarangan saja
di atas rumput sambil mengipasi tubuhnya seolah-olah dia benar-benar merasa gerah padahal
hawa di puncak bukit itu tentu saja sejuk ! Seorang anak perempuan berusia sebelas tahun yang
cantik mungil, bermata lebar dan bersikap pendiam duduk di belakangnya, hanya sepasang
matanya yang lebar itu saja bergerak memandangi semua orang akan tetapi mulutnya yang kecil
merah itu tak pernah dibukanya.
Pedang Naga Kemala > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com 79
“Jembel badut !” tiba-tiba Hai-tok Tang Kok Bu mengejek. “Agaknya yang kaumaki
lalat itu termasuk dirimu sendiri, kalau tidak demikian, mau apa engkau muncul di sini !”
Siauw-bin-hud memandang kakek kurus yang bajunya tambal-tambalan itu dan diapun
tertawa bergelak. “Ha – ha – ha, kiranya ada pula Bu-beng San-kai di sini ! Wah – wah, San-kai,
apakah benar dugaan Hai-tok bahwa engkaupun datang untuk memperebutkan Giok-liong-kiam ?
Semua orang, kecuali Hai-tok, terkejut bukan main dan kini mereka memandang kea rah
pengemis tua itu dengan mata terbelalak. Bu-beng San-kai ? Sebuah nama yang pernah
menggemparkan dunia persilatan, dan tak seorangpun di antara mereka, kecuali Hai-tok dan
Siauw-bin-hud, menyangka bahwa kakek jembel yang nampaknya tidak ada apa-apanya itu
ternyata adalah Bu-beng San-kai ! Kalau disebut San-tok (Racun Gunung) tentu semua orang
akan lebih kaget lagi tadi. Akan tetapi nama Bu-beng San-kai (Pengemis Berkipas Tak Bernama)
atau San-tok (Racun Gunung) juga sama saja. Di dunia persilatan, pernah muncul empat orang
tokoh yang amat hebat, yang dinamakan Racun-racun Dunia. Mereka adalah San-tok (Racun
Gunung) yaitu yang berjuluk pula Bu-beng San-kai, lalu Hai-tok (Racun Lautan) yang kini
menjadi orang kaya di Pulau Layar. Masih ada dua orang lagi, yaitu Thian-tok (Racun Langit)
dan Tee-tok (Racun Bumi) yang tidak pernah didengar orang pula, entah berada di mana.
Kalau orang-orang seperti Hai-tok dan San-tok kini muncul, dapat dibayangkan betapa penting
dan berharganya Giok-liong-kiam !
Kalau Tang Kok Bu, seperti julukannya, Hai-tok, dahulunya adalah datuk para bajak laut,
sebaliknya San-tok adalah datuk para perampok di pegunungan dan hutan-hutan. Akan tetapi,
berbeda dengan Hai-tok yang kini nampaknya menjadi orang kaya raya, San-tok masih kelihatan
miskin, bahkan pakaiannya seperti seorang pengemis.
Bu-beng San-kai atau San-tok terkekeh mendengar ucapan Hai-tok dan Siauw-bin-hud
dan diapun menjawab, “Siauw-bin-hud, engkau tahu bahwa aku bukan seorang yang mata duitan
atau haus akan harta. Aku datang hanya untuk menonton keramaian, dan apa salahnya stelah
sama tuanya kita saling membuktikan siapa yang menjadi loyo lebih dahulu di antara kita semua
tuabangka-tuabangka ini ? Ha – ha – ha !” Dan diapun mengebutkan kipasnya semakin cepat.
Kipas itu butut saja, akan tetapi begitu dikebut dengan cepat, semua orang yang berada di situ
hampir menggigil karena hawa menjadi semakin dingin seperti ada angin besar yang lewat !
Siauw-bin-hud mengenal empat racun dunia sejak masih muda, bahkan mereka itu boleh
dibilang merupakan saingan-sainganya dalam dunia persilatan. Sejak dahulu, ilmu kenpaian
antara para Racun Dunia itu sebanding, dan masing-masing di antara mereka juga hampir dapat
menandingi tingkat kepandaian Siauw-bin-hud sendiri yang ketika itu masih menjadi seorang
tokoh Siauw-lim-pai yang disegani. Hanya selisih sedikit saja kepandaian tokoh Racun Dunia ini
dengan kepandaian para Racun Dunia itu. Kini, melihat munculnya dua orang ini, diam-diam
Siauw-bin-hud maklum bahwa mereka berdua itu bukan semata-mata mencari pedang pusaka
karena haus akan harta, melainkan dalam usia tua itu agaknya hendak melanjutkan persaingan
waktu dahulu untuk menjadi orang nomor satu. Atau mungkin juga mereka itu masih memiliki
keinginan untuk menjadi Bu-lim Beng-cu (Pemimpin Rimba Persilatan) yang disegani dan
dihormati seluruh dunia persilatan !
Pedang Naga Kemala > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com 80
Sebelum Siauw-bin-hud menjawab, tiba-tiba saja Ci Kong sudah melompat ke depan dan
dengan membusungkan dada dia menghadapi para tamu itu, memandang kepada mereka dengan
sinar mata mencorong. “Kalian ini orang-orang tak tahu malu, tamu-tamu tak diundang datang
mengganggu susiok-couw, seorang tua yang tidak berdosa. Apakah kalian tidak malu ? Kalau
memang kalian berhati kejam, biarlah aku yang maju mewakili susiok-couw, kalian boleh bunuh
atau siksa aku untuk memuaskan hati kalian yang kotor dan jahat !”
Tentu saja sikap dan ucapan Ci Kong itu sama sekali tidak terduga-duga dan semua orang
menjadi tertegun. Bahkan Nam Sam Losu sendiri terkejut, tidak mengira bahwa muridnya akan
seberani dan selancang itu. Mukanya sudah menjadi pucat karena marah dan malu. Dia sebagai
gurunya harus bertanggung jawab atas kelancangan muridnya itu, apa lagi mengingat nama Siaulim-
pai yang dapat tercemar karena sikap anak itu. Juga para tamu menjadi kaget dan heran, apa
lagi mendengar bahwa anak itu menyebut susiok-couw (paman kakek guru) kepada Siauw-binhud
! Seorang anak kecil, duabelas tahun, dengan tingkat yang serendah itu dari Siau-lim-pai,
berani menantang mereka yang terdiri dari orang-orang berkedudukan tinggi di dunia persilatan,
bahkan dua di antara mereka adalah San-tok dan Hai-tok !!
Akan tetapi sebelum Nam San Losu sempat memarahi muridnya, Siauw-bin-hud sudah
tertawa geli. “Ha – ha – ha, orang-orang tua memang sudah penuh dengan kepalsuan,
kemurkaan, loba tamak dan menjadi hamba dari pada kesenangan, kehilangan kewajaran dan
kehilangan perikemanusiaan. San-tok dan Hai-tok, kalian kalau dibandingkan dengan bocah ini
............ wah, kalah jauh sekali !”
“Huh !” Hai-tok mendengus. “Dibandingkan anakku yang di rumah, dia itu bukan apaapa,
Siauw-bin-hud !”
“Heh – heh, benarkah dia begitu hebat. Siauw-bin-hud ? Aku tidak percaya !” berkata
demikian, San-tok atau Bu-beng San-kai lalu menggerakkan kakinya dan dalam keadaan duduk
tahu-tahu tubuhnya melayang ke depan dan dia sudah berdiri di depan Ci Kong sambil
tersenyum-senyum. Ci Kong sama sekali tidak menjadi gentar dan memandang kakek
berpakaian jembel itu dengan sepasang mata mencorong.
“Bocah bernyali besar, kalau engkau tidak membolehkan aku mengganggu susiokcouwmu,
lalu kau mau apa ? Apa kau berani melawan aku ?”
Sikap dan ucapan ini membuat Ci Kong marah bukan main. “Apa lagi engkau, biar raja
iblis sekalipun akan kulawan kalau dia jahat dan hendak mengganggu kami !” bentaknya.
“Wah – wah, agaknya engkau memang memiliki ilmu yang lihai maka kecil-kecil berani
menantang aku. Nah, coba kulihat, apakah engkau berani memukul perutku ini ?” Kakek itu
mencoba untuk membusungkan perutnya yang kempis.
Ditantang begitu, Ci Kong menjadi marah dan hatinya terasa panas. Sudah enam tahun
lamanya dia belajar silat di kuil Siauw-lim-si, dipimpin langsung oleh Nam San Losu. Dia
mengenal jenis pukulan-pukulan berbahaya, apa lagi pukulan yang ditujukan kea rah perut. Dia
mengenal pukulan yang menggetarkan jantung, pukulan yang merusak isi perut. Akan tetapi
karena di samping mempelajari ilmu silat diapun mempelajari ilmu budi pekerti dan ilmu batin,
hatinya penuh welas asih dan betapapun marahnya, dia tidak tega untuk melakukan pemukulan
Pedang Naga Kemala > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com 81
yang berbahaya bagi seorang kakek yang sudah tua itu. Hanya tantangan itu saja yang
memaksanya untuk memukul.
“Baik, aku akan memukulmu seperti yang kau tantang itu. Bersiaplah !” katanya sambil
memasang kuda-kuda.
“Ha – ha, kauwakili susiok-couwmu memukulku, dan kerahkan semua tenagamu !”
Kakek kurus itu menantang.
Ci Kong tidak tahu betapa Nam-San-Losu, gurunya, sudah bergerak hendak mencegahnya
akan tetapi tiba-tiba gurunya terkejut karena tubuhnya seperti disedot angina dari belakang yang
membuatnya tidak mampu bergerak. Ketika suhunya menengok, ternyata Siauw-bin-hud sudah
mengulurkan tangannya dan kini kakek itu tersenyum lebar dan memberi isyarat agar dia tidak
melakukan sesuatu terhadap anak itu. Legalah hati Nam San Losu karena dia maklum bahwa
susioknya itu tentu tidak akan membiarkan muridnya celaka, hanya dia merasa heran mengapa
susioknya itu seperti mendukung sikap dan perbuatan Ci Kong yang dianggapnya kurang ajar
terhadap tingkatan yang tua. Ngeri dia membayangkan apa akan menjadi akibatnya kalau
muridnya itu memukul tubuh San-tok, seorang di antara Empat Racun Dunia itu ! Dia sudah
mendengar nama ini dan agaknya tingkat kepandaian susioknya, Siauw-bin-hud sajalah yang
dapat mengimbangi kepandaian Empat Racun Dunia. Bahkan para suhengnya sendiri yang kini
menjadi para pemimpin Siauw-lim-pai juga tidak akan mampu menandingi San-tok !
“Hyaaaattt ………. !” Ci Kong yang sudah melihat kakek itu bersiap diri, lalu menerjang
ke depan, tangan kanannya dikepal dan memukul ke arah perut. Menurut yang sudah
dipelajarinya, memukul bagian lunak dari tubuh lawan sebaiknya memutar kepalan tangan karena
hasilnya akan lebih baik, sehingga tangan membuat gerakan seolah-olah membor perut lawan.
Akan tetapi karena dia tidak berniat mencelakai lawan, hanya sekedar “menghajar” saja untuk
memperlihatkan bahwa dia benar-benar berani menentang siapa saja yang hendak mengganggu
susiok-couwnya, dia memukul biasa saja kea rah perut kecil itu.
“Bukkk ………. !” Pukulan itu tepat mengenai perut bawah kakek kurus itu, akan tetapi
sedikitpun kakek itu tidak menangkis atau mengelak, juga tidak bergoyang sedikitpun oleh
pukulan si anak kecil. Ci Kong yang merasa betapa kepalan tangannya memasuki daging lunak
sekali, menjadi terkejut dan cepat menarik kembali tangannya. Akan tetapi alangkah kagetnya
ketika kepalan tangannya memasuki perut itu tidak dapat ditarik kembali, bahkan kepalannya
tidak dapat dibuka ! Dia mengangkat muka memandang, dan melihat betapa wajah San-tok
masih menyeringai biasa, dan sepasang mata kakek itu memancarkan sinar aneh. Kembali dia
berusaha membetot tangannya, namun tiba-tiba tubuhnya malah terasa lemas kehilangan semua
tenaga dan kepalan tangannya terasa hangat, lalu semakin lama menjadi semakin panas !
“Heh – heh – heh, Siauw-bin-hud, engkau benar. Anak ini jauh lebih baik dari pada aku
atau Hai-tok, dan aku kagum sekali !”
Melihat keadaan muridnya yang nampak lemas dan tidak mampu menarik kembali
tangannya dari perut San-tok, tentu saja Nam-San-Losu menjadi terkejut sekali. Dia maklum
bahwa nyawa muridnya terancam maut, maka dengan nekat diapun bangkit dan melangkah maju
untuk menolongnya. Akan tetapi kembali tubuhnya tersedot ke belakang dan Siauw-bin-hud
Pedang Naga Kemala > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com 82
memberi isyarat dengan pandang matanya agar dia tidak sembarangan bergerak. Nam-San-Losu
mentaatinya karena kakek inipun maklum bahwa keadaan muridnya itu seperti telah ditolong.
Sedikit saja dia bergerak dengan mudah San-tok akan dapat membunuh anak itu.
“Ha – ha – ha, San-tok. Jelas dia jauh lebih baik, tidak seperti engkau yang tanpa malumalu
memperdayakan seorang anak kecil. Apa kehendakmu ?” Siauw-bin-hud berkata, dengan
sikap masih tenang. Diapun maklum betapa licik dan jahatnya Empat Racun Dunia, akan tetapi
dia menghadapi kelicikan San-tok yang kini mengancam nyawa cucu muridnya itu dengan tenang
dan sikap yang masih ramah tanpa dibuat-buat. Bagi seorang yang tingkat kebatinannya seperti
Siau-bin-hud, sudah tidak mengenal lagi rasa dendam atau khawatir, juga tidak dipengaruhi lagi
oleh emosi. Dan kewajaran ini seperti kembali kepada sifat kanak-kanak yang bersih dan polos,
namun matang dan tidak menjadi permainan emosi sehingga tenang dan jernih bagaikan air
telaga dalam yang tenang.
“Ha – ha, apa lagi, Siauw-bin-hud, kalau bukan Giok-liong-kiam yang ingin kulihat ?
Aku ingin sekali melihat macamnya benda yang diperebutkan itu.”
“Dan untuk itu kau akan membebaskan anak itu ?”
“Heh – heh, seperti kaukatanan tadi, anak ini jauh lebih baik dari pada aku atau Hai-tok,
mana aku mau merusak bahan sebaik ini ? Tentu dia kubebaskan.”
“Ha – ha – ha, Racun Gunung, kurasa engkau tidak begitu bodoh untuk tetap menyangka
bahwa aku menyembunyikan pusaka itu, bukan ? Pusaka itu tidak ada padaku.”
“Aku percaya padamu dan kiranya ada orang lain yang mempergunakan namamu untuk
merampas pusaka itu. Akan tetapi, seperti dikatakan orang Thian-te-pai itu, penggunaan namamu
oleh orang lain itu adalah urusanmu. Aku minta agar engkau mencari pemalsu itu, merampas
kembali Giok-liong-kiam kemudian memberikan kepadaku !”
“San-tok !” Tiba-tiba Hai-tok membentak marah. “Enak saja kau memaki orang lain
tadi, kini engkau sendiri yang hendak memaksa Siauw-bin-hud menyerahkan pusaka kepadamu !
Tak tahu malu !”
“Heh – heh, siapa tak tahu malu ?” kata kakek kurus. “Aku hanya ingin melihat,
kemudian akan kuputuskan siapa yang berhak menyimpan pusaka itu kelak. Nah, Siauw-binhud,
bagaimana ?”
Siauw-bin-hud tersenyum lebar. “Heh – heh, tanpa kauminta sekalipun, aku merasa
sudah menjadi kewajibanku untuk mencari pusaka itu. Pusaka itu sudah lenyap selama enam
tahun dan kalian tidak mampu mendapatkannya kembali. Karena itu, sudah adillah kiranya kalau
kalian memberi waktu enam tahun juga kepada pinceng untuk mencarinya. Enam tahun lagi,
pada hari dan bulan yang sama, pinceng harap cu-wi suka datang kesini dan kita lihat saja apakah
pinceng berhasil mendapatkannya kembali.”
Pedang Naga Kemala > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com 83
“Setuju .......... !” San-tok atau Bu-beng San-kai berseru, mendahului orang lain yang
masih ragu-ragu dan memandang dengan alis berkerut. “Nah, terimalah kembali cucu muridmu,
Siauw-bin-hud !”
Semua orang memandang ke arah Ci Kong yang masih bergantung pada perut kakek itu
dengan tangan kanannya menancap di perut itu sampai di pergelangan tangan. Anak itu sudah
lemas dan kini kulit muka dan tangannya nampak kehijauan ! Begitu kakek kurus itu
menggerakkan perutnya, anak yang sudah pingsan itu terlempar ke belakang, ke arah Siauw-binhud
yang cepat menangkapnya lalu merebahkan anak itu di atas tanah.
Melihat betapa kulit muridnya menjadi kehijauan dan anak itu pingsan, Nam San Losu
menjadi terkejut dan gelisah sekali. Akan tetapi diapun seorang kakek yang berpengetahuan luas
Dan dia tidak berani sembarangan bergerak, menyerahkan segalanya kepada susioknya. Sungguh
heran dia melihat betapa susioknya setelah meletakkan telapak tangannya ke dada Ci Kong, lalu
tertawa girang, dan memandang ke arah San-tok lalu berkata, “Ha – ha – ha, San-tok. Agaknya
selama ini engkau telah memperoleh banyak kemajuan, lahir batin. Terima kasih !”
Tiba-tiba, terdengar bentakan halus, “Kakek berwatak keji !” Dan tahu-tahu anak
perempuan yang sejak tadi berada di belakang Bu-beng San-kai atau San-tok dan hanya menjadi
penonton saja seperti yang lain, tiba-tiba meloncat ke depan dan sudah menghadap Siauw-binhud
sambil mengeluarkan suara celaan setengah memaki itu.
Siauw-bin-hud mengangkat muka memandang. Dia masih bersila ketika memeriksa
tubuh Ci Kong dan melihat anak perempuan yang berdiri di depannya, dia tersenyum ramah lalu
menoleh ke arah San-tok yang hanya memandang sambil tersenyum-senyum.
“Nona kecil, mengapa engkau datang-datang memaki aku ?” tanya Siauw-bin-hud.
Anak perempuan itu adalah Lian Hong. Sejak tadi anak ini mengikuti jalannya peristiwa
dan melihat betapa anak laki-laki yang pemberani itu menjadi korban karena membela kakek
gendut, hatinya merasa penasaran sekali. Apa lagi melihat sikap kakek gendut yang menerima
cucu muridnya yang pingsan itu sambil tertawa-tawa, bahkan mengucapkan terima kasih kepada
gurunya, hatinya memberontak. Ia mengenal gurunya sebagai seorang kakek yang wataknya
aneh luar biasa, maka iapun tidak dapat mengerti apa arti perbuatan gurunya itu. Karena itu,
melihat betapa gurunya tadi menerima pukulan anak laki-laki dan membuat anak laki-laki
pingsan dengan kulit kehijauan, ia tahu bahwa anak itu keracunan akan tetapi ia tidak berani
menegur gurunya yang juga menjadi kakeknya itu. Kemarahannya karena merasa kasihan dan
penasaran melihat anak laki-laki itu menjadi korban, kini ditimpakan kepada Siauw-bin-hud yang
dianggapnya menjadi gara-gara.
“Engkau ini orang tua yang keji dan tak tahu diri ! Semua urusan pusaka ini adalah garagaramu,
akan tetapi engkau tidak mau maju sendiri, malah membiarkan seorang anak kecil maju
mewakilimu sehingga terluka. Patutkah itu ?”
“Hemmm, anak perempuan licik !” Tiba-tiba Hai-tok mengejek. “Gurumu yang
mencelakai anak itu, dan engkau malah memaki Siauw-bin-hud !” Hati kakek yang menjadi
Racun Lautan ini sudah mendongkol sekali melihat permainan antara Siauw-bin-hud dan San-tok
Pedang Naga Kemala > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com 84
sehingga dia sendiri terdesak. Dua orang itu sudah membuat janji-janji dan menganggap orangorang
lain yang hadir di situ seolah-olah tidak ada dan tidak memiliki hak suara untuk
menentukan tentang urusan Giok-liong-kiam.
Lian Hong menoleh ke arah kakek pesolek itu. “Kakekku dipukul dan hanya membela
diri !” teriaknya membela kakeknya.
“Heh – heh – heh, jadi engkau cucu San-tok, ya ? Bagus, memang cocok sekali menjadi
cucu si Racun Gunung. Nona cilik, kalau benar pinceng membiarkan cucu muridku ini mewakili
pinceng memukul kakekmu, habis engkau mau apa terhadap diri pinceng ?”
“Cucu muridmu telah mewakili engkau memukul kakekku, maka akupun kini mewakili
kakekku untuk membalas memukulmu. Ada pepatah mengatakan bahwa satu pukulan layak
dibalas dua pukulan, akan tetapi melihat engkau sudah terlalu tua, lebih tua dari kakekku, biar
aku membalas dengan satu pukulan pula.”
“Ha – ha – ha, San-tok, cucumu ini hebat sekali, sama hebatnya dengan cucu muridku.
Nah, baiklah, kau pukullah aku, nona cilik !”
“Bersiaplah kau, kakek tua !” Lian Hong memasang kuda-kuda dan kini iapun menerjang
kedepan, mengirim tamparan yang dilakukan dengan pengerahan tenaga dalam kea rah kepala
kakek yang masih duduk bersila itu. Tamparannya ini hebat sekali, karena biarpun ia baru
berusia sebelas tahun, selama enam tahun ini Lian Hong menerima gemblengan yang keras dari
kakeknya atau gurunya.
“Wah, bagus ………. !” Siauw-bin-hud memuji dan sama sekali tidak mengelak.
“Plakkk !” Telapak tangan itu tepat mengenai kepala yang gundul dan hal ini tentu saja
dianggap amat kurang ajar oleh para hwesio Siauw-lim-pai yang memandang dengan mata
mendelik. Ingin mereka memukul anak perempuan yang berani menampar kepala susiok mereka
itu. Akan tetapi, Siauw-bin-hud hanya tersenyum lebar dan kini terulanglah peristiwa seperti
yang terjadi pada diri Ci Kong tadi. Lian Hong merasa betapa telapak tangannya bertemu dengan
batok kepala yang amat lunak dan dingin seperti es ! Ketika ia hendak menarik kembali
tangannya, ternyata telapak tangan itu melekat pada batok kepala yang halus itu. Berkali-kali ia
mengerahkan tenaga untuk membetotnya kembali, akan tetapi makin dibetot makin melekat dan
semakin dingin sehingga ia menggigil dan kehabisan tenaga untuk meronta.
Dan sebentar saja iapun pingsan dengan tangan masih menempel pada kepala kakek itu !
Terdengar Hai-tok terkekeh. “Ha – ha – ha, ternyata Siauw-bin-hud setelah bertapa
duapuluh tahun, tidak berobah menjadi dewa. Sama saja dengan San-tok !”
Mendengar ejekan ini, Siauw-bin-hud tertawa lalu dia menggerakkan kepalanya sambil
berkata, “San-tok, kauterimalah cucumu yang baik ini !”
Dan tubuh anak perempuan yang pingsan itupun terlempar ke arah Bu-beng San-kai yang
cepat menyambutnya. Ternyata Lian Hong pingsan dengan muka kebiruan seperti orang yang
Pedang Naga Kemala > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com 85
menderita kedinginan hebat ! San-tok meletakkan telapak tangannya ke punggung cucunya, lalu
tertawa girang.
“Ha – ha – ha, agaknya engkau bukan orang yang suka berhutang, Siauw-bin-hud.
Terima kasih !”
Tentu saja semua orang menjadi terheran-heran. Jelas bahwa San-tok tadi melukai Ci
Kong, akan tetapi Siauw-bin-hud malah berterima kasih, dan sekarang, Siauw-bin-hud melukai
Lian Hong akan tetapi San-tok juga berterima kasih ! Hanya Hai-tok yang ilmunya paling tinggi
di antara mereka yang lain, diam-diam merasa mendongkol sekali. Dia dapat menduga bahwa
dua orang kakek itu bukan melukai untuk mencelakakan, melainkan masing-masing telah
menyalurkan tenaga ke dalam tubuh dua orang anak itu sehingga dua orang anak itu bukannya
dirugikan, malah menerima tenaga yang hebat. Dua orang kakek itu telah saling menukar
kebaikan !
“Cukuplah semua permainan sandiwara dan badut ini !” Hai-tok berkata dan diapun
melangkah maju menghadapi Siauw-bin-hud. “Siauw-bin-hud, mari kita main-main sebentar saja
untuk menentukan siapa yang berhak menjadi pemilik Giok-liong-kiam, baik sekarang maupun
kelak.” Kakek ini sudah mengangkat tongkatnya ke atas. Tongkat itu panjangnya lima kaki,
berlapis emas dan terhias batu permata sehingga nampak indah dan berkilauan ketika
diangkatnya di depan dada.
“Wah – wah, Racun Lautan ini hendak menjual lagak di sini ? Kita sama-sama menjadi
tamu di Siauw-lim-si, sungguh tidak enak kalau aku membiarkan saja engkau mengacau.
Pergilah dan jangan membikin malu aku sebagai sama-sama tamu Siauw-lim-si !” Tiba-tiba Bubeng
San-kai atau San-tok sudah melompat ke depan, menghadapi Hai-tok dengan kipas bututnya
di tangan.
Dua orang kakek itu, dua di antara Empat Racun Dunia, kini saling berhadapan dengan
mata melotot seperti dua ekor ayam jago berlagak dan hendak saling bertempur mati-matian.
Entah sudah berapa puluh kali dua orang ini dahulu saling mengukur kepandaian dan belum
pernah di antara mereka ada yang menang atau kalah. Di antara empat orang Racun Dunia,
memang tidak ada yang lebih kuat atau lebih lemah. Mereka masing-masing memiliki
keistimewaan sendiri dan karena maklum bahwa tidak seorangpun di antara mereka yang dapat
menjagoi, maka merekapun dapat bekerja sama kalau menghadapi lawan. Tentu saja untuk
membela kepentingan sendiri, para tokoh sesat ini seringkali saling gempur sendiri. Dan
sekarangpun, setelah belasan tahun tidak saling jumpa dan berhubungan, kini sekali bertemu
mereka sudah siap untuk saling gebuk lagi ! Tentu saja semua orang memandang dengan hati
tegang sekali. Sudah belasan tahun mereka mendengar nama besar Empat Racun Dunia dan baru
sekarang berkesempatan melihat orangnya, dua diantara mereka, bahkan kini dua orang itu siap
untuk saling serang. Tentu saja mereka merasa tegang dan juga gembira karena berkesempatan
menyaksikan kehebatan dua orang yang dianggap sakti dan jahat seperti iblis itu.
“Bagus !” Hai-tok Tang Kok Bu membentak marah. “Biarkan kita membuat
perhitungan di sini dan lihat, siapa yang lebih pantas menjadi pemilik Giok-liong-kiam !”
Pedang Naga Kemala > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com 86
“Nanti dulu !” Tiba-tiba Pouw Gun atau Pauw-ciangkun, perwira tinggi dari istana itu
melangkah maju, “Ji-wi locianpwe tidak berhak menentukan sebagai calon pemilik Giok-liongkiam.
Hendaknya ji-wi ketahui bahwa sri baginda kaisar telah mengutus kami untuk mencari dan
membawa pusaka itu ke istana !”
“Tidak ! Kamilah yang paling berhak karena pusaka itu adalah pusaka perkumpulan
kami yang hilang dicuri orang !” kata Coa Bhok, wakil ketua Thian-te-pai yang merasa
penasaran melihat orang-orang membicarakan Giok-liong-kiam tanpa memperdulikan mereka
yang merasa paling berhak atas pusaka itu.
Dua orang kakek yang tadi sudah saling berhadapan untuk berkelahi itu, kini tiba-tiba
saling pandang dan tersenyum. Dari pandang mata yang saling tatap itu, keduanya mengalami
kegembiraan di jaman dahulu dan seolah-olah pandang mata mereka menjadi isyarat bagi mereka
untuk bersatu, walaupun hanya untuk sementara, guna menghadapi lawan yang datang dari luar
menentang mereka ! Secara otomatis, keduanya lalu membalikkan tubuh, membagi tugas !
Karena dia seorang yang hidup sebagai seorang hartawan kaya raya, agaknya Hai-tok masih
merasa sungkan untuk berurusan dengan orang pemerintah, maka dia memilih berhadapan
dengan orang-orang Thian-te-pai ! Sambil tersenyum mengejek dan melintangkan tongkat
emasnya di depan dada, dia menghadapi Coa Bhok wakil ketua Thian-te-pai dan empat orang
adik seperguruannya.
“Hemm, Kalian ini anak-anak kecil, sudah tidak becus menjaga Giok-liong-kiam, juga
tidak becus menemukannya kembali selama enam tahun ini, sekarang hendak berlagak
mencampuri urusan dan perjanjian orang-orang tua ? Pergilah dan jangan kalian mengganggu
kami !”
Karena Hai-tok sudah memilih lawan, terpaksa San-tok menghadapi Pouw Gun dan dua
orang temannya. Tentu saja kakek yang hidup sebagai seorang perantau miskin dan jembel ini
tidak takut berurusan dengan para pengawal istana. “Heh – heh – heh, biasanya, utusan lebih
sombong dari pada yang mengutusnya. Kalian hanya utusan, kalau tidak berhasil menemukan
Giok-liong-kiam, laporkan saja ke atasan bahwa kalian tidak berhasil. Kenapa hendak
mencampuri urusan kami orang-orang tua ?”
Tentu saja orang-orang dari dua rombongan itu menjadi marah mendengar ucapan dua
orang kakek yang memandang rendah itu. Terutama sekali Pouw-ciangkun dan dua orang
temannya. Mereka adalah perwira-perwira pengawal dari istana, dan di istana dikenal sebagai
jagoan, terutama sekali Pouw Gun, dan sekarang mereka sama sekali tidak dipandang mata oleh
seorang kakek jembel. Biarpun Pouw Gun pernah mendengar akan nama Bu-beng San-kai, akan
tetapi dia tidak takut, didukung oleh kedudukannya dan oleh dua orang temannya yang sudah siap
untuk membantunya.
“Bagus, kau orang-orang tua hendak memberontak terhadap petugas istana ?” Bentaknya
dan dia sudah mengeluarkan pedangnya, diikuti pula oleh si raksasa Tang Kui dan seorang
temannya lagi yang kedudukannya lebih tinggi dari pada Tang Kui dan memiliki ilmu silat lebih
tinggi pula. Sebagai perwira-perwira istana, tentu saja mereka tidak dilarang membawa senjata
dan masing-masing kini sudah mencabut golok mereka, berdiri di kanan kiri Pouw Gun yang
memegang pedang. Meluhat ini, San-tok terkekeh.
Pedang Naga Kemala > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com 87
“Majulah, majulah ………… heh – heh, sudah lama kipasku tidak menepuk lalat-lalat
hijau !” Jelas bahwa ucapannya ini merupakan ejekan, mengejek para perajurit Mancu yang oleh
sebagian orang patriot diejek sebagai lalat-lalat hijau. Pouw Gun dan dua orang temannya sudah
membuat gerakan mengurung dan membentuk barisan segi tiga, seorang di belakang, dan dua
orang di depan kanan kiri. Yang di belakang adalah Pouw Gun sedangkan dua orang temannya
yang bergolok siap di depan kakek kurus yang memegang kipas dan nampak enak-enakan
mengipasi tubuhnya yang kurus.
Sementara itu, Coa Bhok dan empat orang saudaranya juga sudah mengepung kakek
tinggi besar bermuka merah itu. Coa Bhok maklum akan kelihaian Hai-tok, maka diapun tidak
malu-malu untuk maju bersama empat orang sutenya. Mengapa mesti malu ? Urusan ini adalah
urusan perkumpulan, untuk merebut kembali pusaka perkumpulan, bukan urusan pribadi
sehingga boleh saja mereka maju bersama. Apa lagi mereka menghadapi seorang di antara
Empat Racun Dunia sehingga pengeroyokan mereka tidak akan ditertawakan orang kang-ouw.
Karena pada zaman itu, pemerintah Mancu mengeluarkan larangan keras bagi siapa saja untuk
membawa senjata tajam, apa lagi akhir-akhir ini setelah timbul banyak pemberontakan kecil di
mana-mana, maka Thian-te pai juga melarang murid-muridnya membawa senjata. Bahkan
perkumpulan itu kini lebih mengutamakan ilmu silat tangan kosong dan semua murid
memperdalam ilmu silat tangan kosong mereka. Mereka bahkan menciptakan ilmu silat khas
mereka yang diberi nama Thian-te-kun, yang sesungguhnya hanya merupakan ilmu silat tangan
kosong yang diperbarui dan dikembangkan dari Im-yang-kun, namun dimasuki gerakan-gerakan
dan langkah-langkah khas dari ilmu silat Thian-te-pai. Kini, dalam menghadapi Hai-tok, mereka
berlima yang mengepung ini juga tidak memegang senjata tajam.
Melihat ini, Hai-tok lalu sengaja menyelipkan tongkat emasnya, senjatanya yang paling
ampuh, di pinggangnya dan berdiri tegak dengan kedua tangan bertolak pinggang, sama sekali
tidak mengacuhkan pengepungan lima orang itu, sikapnya sama benar dengan sikap San-tok !
Seperti dikomando saja, tiga orang perwira tinggi yang mengeroyok San-tok dan lima
orang Thian-te-pai yang mengeroyok Hai-tok itu bergerak dan melakukan penyerangan. Tiga
orang perwira tinggi yang diopimpin oleh Pouw Gun itu melakukan penyerangan dengan teratur
sekali. Tang Kui dan temannya yang memegang golok menyerang dari kanan kiri, menggunakan
golok mereka, yang seorang membacok kepala dan yang kedua membabat pinggang. Serangan
ini disusul dengan selisih beberapa detik saja oleh Pouw Gun yang menusukkan pedangnya ke
punggung kakek kurus itu dan kemudian pedang itu dikelebatkan untuk mencegat semua jalan
keluar ! Sungguh merupakan serangan gabungan yang susul-menyusul, bahkan saling
bersambungan dan berbahaya sekali. Akan tetapi, apa yang terjadi ?
Kakek kurus yang memegang kipas itu, yang berdiri seenaknya dengan kipas dikebutkebutkan
mengipasi tubuhnya, sama sekali tidak menggeser kakinya, sama sekali tidak mengelak,
hanya kebutan kipasnya yang tadi mengebuti tubuhnya saja yang berobah gerakannya. Kipas itu
berkelebatan ke kanan kiri lalu ke belakang dan terdengar suara nyaring tiga kali yang akibatnya
membuat tiga orang perwira tinggi itu berloncatan ke belakang dengan muka pucat. Juga Pouw
Gun meloncat ke belakang dan menatap pedangnya sendiri dengan muka pucat karena tadi,
tangkisan kipas butut itu membuat lengannya tergetar hebat, bahkan hampir lumpuh ! Kiranya,
gagang kipas yang hanya terbuat dari bambu itu, ketika menangkis tiga buah senjata itu,
Pedang Naga Kemala > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com 88
menimbulkan suara nyaring seolah-olah senjata mereka bertemu dengan baja, dan yang luar biasa
sekali, setiap kali terbentur senjata tajam, gagang kipas itu langsung melesat dan ujung gagang itu
menotok pergelangan tangan. Begitu tepat totokannya sehingga lengan itu seketika menjadi
hampir lumpuh !
Sementara itu, Hai-tok juga sudah menghadapi pengeroyokan lima orang tokoh Thian-te
pai. Karena ilmu silat Thian-te-kun yang mereka pergunakan itu merupakan penggabungan
tenaga lemas dan kasar, lima orang itu menyerang dengan berselang-seling, ada yang melakukan
pemukulan dengan amat kuat, ada pula yang menampar dengan lembut namun mengandung
tenaga singkang yang berbahaya. Serangan mereka juga bertubi dan saling susul, karena mereka
itu memasang bentuk barisan Ngo-heng-tin dan mengepung dari lima jurusan. Akan tetapi, sikap
kakek tinggi besar berpakaian mewah ini tidak kalah anehnya dari sikap San-tok. Dia membuat
gerakan seperti menari, kedua lengannya bergerak ke kanan kiri muka belakang dan dari kedua
ujung lengan bajunya menyambar angin yang amat kuat dan ........ empat orang sute dari Coa
Bhok terpental, sedangkan Coa Bhok sendiri terhuyung ke belakang ! Padahal wakil ketua
Thian-te-pai ini memiliki tenaga singkang yang cukup kuat ! Sukar untuk dapat dipercaya betapa
hanya dengan angin pukulan saja, Hai-tok membuat lima orang lawan yang tangguh itu
terpelanting. Tentu saja wajah Coa Bhok berubah merah sekali. Sebagai wakil ketua Thian-tepai,
tentu saja ilmu kepandaiannya sudah amat tinggi, akan tetapi kenapa menghadapi kakek ini,
padahal dibantu empat orang sutenya, mereka berlima dibuat tidak berdaya seperti lima orang
anak kecil saja ! Dia menjadi penasaran dan bersama empat orang sutenya mengepung lagi,
seperti juga tiga orang perwira tinggi sekarang sudah mengepung tubuh San-tok yang masih
berdiri tegak.
Tiga orang perwira tinggi itu sudah menyerang lagi dengan senjata mereka, kini secara
berbareng karena mereka maklum bahwa lawan terlalu tangguh untuk diserang secara bergantian.
Tiga batang senjata tajam itu menyerang dari tiga jurusan dalam detik yang sama. Akan tetapi,
tiba-tiba mata tiga orang itu menjadi gelap ketika kipas itu mengebut dan berkelebatan di depan
muka mereka. Hawa dingin dari angin kipas membuat mereka tidak dapat membuka mata dan
tahu-tahu dua orang teman Pouw Gun terpukul gagang kipas, perlahan saja di pundak mereka
namun cukup membuat mereka terpelanting dengan golok terlepas dari tangan karena tubuh
mereka kehilangan tenaga dan pundak terasa nyeri bukan main. Adapun Pouw Gun yang lebih
lihai dan bertindak hati-hati, dapat mengelak dari sambaran kipas dan tahu-tahu pedangnya sudah
menusuk dari samping ke arah lambung San-tok. Kakek ini miringkan tubuh, tangan kirinya
bergerak ke bawah dan mencengkeram pergelangan tangan Pouw Gun yang terpaksa melepaskan
pedangnya karena dia merasa seolah-olah pergelangan tangannya itu patah-patah. Di lain detik,
tengkuknya sudah dicengkeram oleh tangan kiri San-tok dan tidak mampu berkutik lagi !
Di lain bagian dengan amat mudahnya Hai-tok juga sudah membuat para pengeroyoknya
Kocar kacir. Serangan-serangan lima orang itu yang dilakukan lebih cepat dan kuat disambutnya
Dengan totokan-totokan kedua ujung lengan bajunya sehingga dalam segebrakan saja, empat
orang sute dari Coa Bhok sudah roboh oleh totokan. Coa Bhok dapat menangkis totokan ujung
lengan baju, akan tetapi pada saat itu tangan kanan Hai-tok sudah bergerak mencengkeram ke
arah ubun-ubun kepalanya. Coa bhok terkejut sekali dan dengan menarik tubuh atasnya ke
belakang, cengkeraman itu tidak mengenai sasaran. Akan tetapi, cengkeraman itu hanya gertak
saja, atau berfungsi sebagai gertakan kalau dielakkan, karena secepat ular mematuk, ujung lengan
baju dari tangan yang mencengkeram itu telah mencuat ke depan dan tahu-tahu sudah menotok
Pedang Naga Kemala > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com 89
dan mengenai jalan darah di pundak Coa Bhok, seketika tubuh wakil ketua Thian-te-pai ini
menjadi lemas dan Hai-tok telah mencengkeram tengkuknya !
“Hai-tok, terimalah ini !” terdengar San-tok berseru sambil melontarkan tubuh Pouw Gun
yang dicengkeramnya tadi.
“Nih, untukmu !” Hai-tok juga berteriak. Keduanya sama-sama melontarkan tubuh orang
yang dicengkeram tengkuknya, dengan maksud untuk saling menyerang karena setelah kini tidak
ada lagi yang menjadi penghalang, dua orang Racun Dunia ini telah teringat kembali akan
persaingan mereka ! Dua batang tubuh yang sudah tidak mampu bergerak itu melayang ke udara
dan saling bertumbukan di udara. Sungguh sial bagi mereka, tubuh mereka yang melayang itu
tepat sekali saling hantam muka sama muka.
“Dukkk .......... !” Darah muncrat dari hidung dua orang itu yang sama sekali tidak
berdaya untuk mengelakkan tubrukan antar hidung itu dan tubuh mereka terbanting ke atas tanah
dalam keadaan pingsan !
Dua orang perwira yang maklum bahwa mereka tidak mampu menang menghadapi
San-tok, segera menolong Pouw-Gun, memanggulnya dan membawanya pergi tanpa pamit. Juga
empat orang tokoh Thian-te-pai menolong wakil ketua mereka dan menggotongnya pergi tanpa
pamit. Terlalu hebat peristiwa yang menimpa dua golongan ini. Pouw Gun adalah jagoan
pengawal istana yang biasanya amat ditakuti, juga Coa Bhok adalah wakil ketua Thian-te-pai
yang berkedudukan dan berkepandaian tinggi. Akan tetapi sekali ini, dua orang itu hanya
menjadi barang permainan yang sama sekali tidak berdaya di tangan dua orang Racun Dunia.
Kini dua orang kakek itu sudah saling berhadapan lagi, seperti lupa akan perkelahian
yang baru saja terjadi. Dalam perkelahian tadipun mereka bersaing, tidak mau kalah dan
memang mereka menyelesaikan perkelahian itu dalam dua gebrakan saja !
“San-tok, kalau aku dapat mengantarmu ke alam baka sekarang, matipun aku akan dapat
terpejam !” kata Hai-tok.
“Ha – ha – ha, aku yang akan membuat engkau mampus dengan mata melek, Racun
Lautan !” balas Bu-beng San-kai.
Belum habis ucapan ini Hai-tok sudah menerjang maju didahului oleh sinar kuning emas
karena menghadapi lawan berat ini, Si Racun Lautan sudah mencabut tongkat emasnya dan
menyerang dengan dahsyat. Tongkat emas itu berobah menjadi sinar berkeredepan menyambar
bagaikan kilat cepatnya.
Si Racun Gunung tidak mau kalah. Kipas bututnya mengebut dengan tangkisan yang
amat kuat.
“Cringgg .......... !” Bunga api berpijar dan keduanya menarik kembali senjata mereka,
lalu saling serang lagi dengan cepat dan bertenaga kuat. Angin sambaran senjata mereka
bersiutan, kadang-kadang berdesing saking cepat dan kuatnya. Makin cepat gerakan mereka,
Pedang Naga Kemala > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com 90
makin kabur lagi pandang mata mereka yang nonton perkelahian itu. Bayangan tubuh mereka
segera diselubungi gulungan dua sinar, putih dan kuning emas.
Para hwesio Siauw-lim-pai memandang dengan sinar mata penuh kagum, bahkan mereka
yang belum begitu tinggi tingkatnya, tak dapat mengikuti gerakan dua orang tokoh sakti itu
dengan jelas. Kini hampir seluruh hwesio Siauw-lim-pai berada di luar dan sejak tadi nonton
peristiwa hebat yang terjadi di luar pintu gerbang kuil mereka. Yang dapat mengikuti
perkelahian antara dua orang itu dengan jelas hanyalah Siauw-bin-hud seorang. Kakek ini juga
merasa kagum dan maklum bahwa dua orang itu memang memiliki ilmu silat yang kiranya sukar
dicari bandingannya pada jaman itu. Betapa sukarnya kedua orang itu mengumpulkan semua
ilmu kepandaian itu, betapa lamanya mereka melatih dan mencari ilmu-ilmu itu. Timbullah rasa
sayang dalam hati hwesio gendut ini. Dua orang itu sudah tua, tidak perlu bertanding untuk
saling membunuhpun akan berapa lama lagi mereka dapat mempertahankan hidup masingmasing
? Dia tahu bahwa kalau dilanjutkan perkelahian itu, biarpun akan makan waktu yang
lama, tentu seorang di antara mereka akan tewas, atau setidaknya keduanya akan menderita luka
yang amat parah. Usia mereka sudah terlalu tua untuk dapat bertahan dalam perkelahian seperti
itu. Dia dapat melihat dengan jelas betapa Hai-tok menang kuat dan tongkatnya itu lihai bukan
main, akan tetapi di lain pihak, San-tok menang cepat dan agaknya menang daya tahannya,
menang kuat napasnya.
“Omitohud, belum cukupkah main-main ini ? Ha – ha, kalian seperti dua orang anak
kecil berebut kembang gula saja !” Sambil berkata demikian, tiba-tiba nampak tubuh yang
gendut itu bergerak maju seperti sebuah bola besar dan tahu-tahu kakek tua renta gendut itu
sudah masuk di antara dua gulungan sinar. Terdengar dua orang Racun Dunia itu berseru kaget
dan dua gulungan sinar itupun lenyap. San-tok dan Hai-tok masing-masing meloncat ke
belakang dan mereka memandang kepada Siauw-bin-hud dengan mata terbelalak penuh kagum.
Ketika mereka sedang berkelahi dengan penuh semangat tadi, tentu saja mereka melihat
masuknya hwesio tua ini. Mereka menganggap kebetulan karena mereka memperoleh
kesempatan untuk menguji hwesio ini yang sejak dahulu memang belum pernah dapat mereka
kalahkan. Dengan menambah kecepatan gerakan dan besarnya tenaga, mereka mengharapkan
untuk dapat membuat Siauw-bin-hud tidak mampu memisahkan mereka, bahkan membahayakan
keadaan hwesio tua itu sendiri. Akan tetapi, begitu tubuh gendut itu masuk dan kedua tangannya
mendorong, ada hawa pukulan yang demikian kuatnya sehingga keduanya tidak sanggup
bertahan lagi, masing-masing terdorong ke belakang dan tentu akan terhuyung kalau saja mereka
tidak cepat melompat ke belakang untuk melenyapkan tenaga dorong yang amat hebat itu !
San-tok lebih dulu dapat menguasai dirinya. “Ha – ha, memang hanya Siauw-bin-hud
yang kiranya mampu menguasai Giok-liong-kiam pada enam tahun yang lalu dan Siauw-bin-hud
pula yang kini akan dapat membongkar rahasia ini dan menemukan kembali Giok-liong-kiam.”
Dia lalu melangkah mundur sambil mengipasi tubuhnya yang berkeringat. Perkelahian melawan
Hai-tok tadi menyadarkannya bahwa dia sudah tua dan bahwa Hai-tok merupakan lawan yang
masih seperti dulu, tangguh dan sukar dikalahkan.
Diam-diam Hai-tok masih merasa penasaran terhadap San-tok. Akan tetapi, melihat
munculnya Siauw-bin-hud, diapun merasa tidak enak untuk mendesak. Perbuatan Siauw-bin-hud
yang melerai tadi saja sudah membayangkan bahwa hwesio tua ini merupakan lawan yang lebih
berat dibandingkan San-tok, padahal Racun Gunung itupun masih cukup berat baginya dan dia
Pedang Naga Kemala > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com 91
tidak terlalu yakin akan dapat mengalahkan kakek kurus itu. Maka diapun menyimpan
tongkatnya, menarik napas panjang.
“Sudahlah, akupun harus tahu diri. Enam tahun lagi, kalau aku masih hidup, aku ingin
melihat engkau memenuhi janjimu, Siauw-bin-hud. Atau kalau tidak, tentu ada yang mewakili
aku !” Setelah berkata demikian, dia mendengus dan memberi isyarat kepada tujuh orang
pemuda yang mengiringkannya. Tujuh orang pemuda itu adalah anak buahnya, atau lebih tepat
lagi pelayan-pelayan dan juga kekasih-kekasihnya, karena kakek majikan Pulau Layar ini
memang suka sekali dengan pemuda-pemuda remaja yang tampan halus. Semenjak intrinya
meninggal dunia, meninggalkan seorang anak perempuan yang kini sudah berusia kurang lebih
sebelas tahun, kakek ini mulai dengan pemuda-pemuda tampan ! Kesukaan memelihara pemudapemuda
tampan sebagai pengganti selir-selir wanita ini memang banyak dimiliki oleh hartawanhartawan
atau bahkan pejabat-pejabat tinggi di jaman itu.
Setelah rombongan dari Pulau Layar ini pergi, San-tok lalu berlutut dekat murid atau cucu
angkatnya yang masih pingsan. Kini wajah Lian Hong tidak begitu kebiruan lagi, mulai putih,
dan pernapasannya juga mulai longgar. Beberapa kali dia mengurut leher dan punggung gadis
cilik itu dan akhirnya Lian Hong siuman. Ketika kakek ini mengangkat muka, dia melihat betapa
Siauw-bin-hud melakukan hal yang sama terhadap diri Ci Kong dan pemuda cilik itu siuman
lebih dahulu.
“Ha – ha – ha, anak baik, sungguh engkau menerima keuntungan besar sekali. Hayo
cepat menghaturkan terima kasih kepada Bu-beng San-kai !” kata Siauw-bin-hud kepada Ci
Kong. Tentu saja anak ini mengerutkan alisnya dengan penasaran. Jelas bahwa kakek itu tadi
mencelakakannya melalui penyaluran tenaga dalam, bagaimana sekarang susiok-couwnya bahkan
menyuruh dia menghaturkan terima kasih ?
“Hong Hong, cepat kauhaturkan terima kasih kepada Siauw-bin-hud yang telah memberi
petunjuk padamu !” Mendengar ini, Lian Hong cemberut, akan tetapi ia tahu bahwa kakeknya
yang suka senyum-senyum itu berwatak aneh dan tidak mau dibantah, maka biarpun dengan hati
panas, terpaksa iapun melangkah maju dan hampir saja ia bertabrakan dengan Ci Kong yang juga
melangkah maju untuk memenuhi perintah susiok-couwnya. Lian Hong tidak mau minggir, dan
Ci Kong yang mengalah dan mengelak ke pinggir. Gadis cilik itu agaknya menanti dan sengaja
bersikap lambat.
“Locianpwe, saya menghaturkan terima kasih kepada locianpwe dan maafkan
kelancangan saya tadi.” Ci Kong menambah kalimatnya karena anak yang cerdikini maklum
bahwa susiok-couwnya tidak mungkin menyuruhnya berterima kasih kalau tidak ada sesuatu
yang menguntungkan dirinya. Karena itulah, di samping menghaturkan terima kasih, sekalian dia
minta maaf mengingat betapa tadi dia bersikap lancang dan berani memukul perut kakek itu.
Melihat betapa pemuda cilik itu telah memberi hormat sambil berterima kasih kepada
kakek angkatnya, Lian Hong juga memaksa dirinya menjura kepada Siauw-bin-hud, akan tetapi
suaranya masih terdengar ketus ketika berkata, “Locianpwe, saya menghaturkan terima kasih.”
Pedang Naga Kemala > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com 92
Hanya dua orang kakek itu yang tahu akan perbuatan masing-masing. Siauw-bin-hud tadi
dengan cepat mengetahui bahwa biarpun kulit tubuh cucu muridnya kehijauan, namun keracunan
itu bukan membahayakan. Sebaliknya malah, kakek kurus yang dijuluki Racun Gunung itu telah
mengoperkan tenaga singkang yang hebat kepada Ci Kong, melalui tangan pemuda itu yang tadi
menempel di perutnya. Tahulah dia bahwa San-tok juga merasa kagum kepada Ci Kong dan
telah berkenan menghadiahi anak itu. Hal ini saja membuktikan bahwa San-tok kini telah
memiliki kasih sayang di dalam hatinya, dan juga perbuatan itu menunjukkan iktikad baik
terhadap Siauw-lim-pai. Oleh karena itulah, begitu melihat kesempatan terbuka ketika Lian
Hong memukulnya, diapun membalas dengan mengoperkan tenaga sakti ke dalam tubuh anak
perempuan itu yang dia tahu juga memiliki bakat yang baik sekali.
“Bagus begitu, Hong Hong. Mari kita pergi dari sini. Siauw-bin-hud, enam tahun lagi
aku datang menagih janji !” kata San-tok sambil menggandeng tangan Lian Hong dan
merekapun pergi dari tempat itu tanpa menoleh lagi.
Sunyi kembali depan kuil itu setelah semua tamu yang aneh itu pergi. Seperti tidak
pernah terjadi sesuatu, para hwesio lalu kembali melakukan tugas harian mereka masing-masing,
akan tetapi semua peristiwa yang terjadi pagi tadi sungguh akan melekat di dalam hati mereka
dan sampai lama akan menjadi bahan percakapan mereka di waktu sebelum tidur.
Siauw-bin-hud lalu mengumpulkan keempat orang pimpinan Siauw-lim-si, juga Nam San
Lo-su, Nam Thi Hwesio, dan Ci Kong diajak masuk ke dalam ruangan belakang di mana kakek
gendut itu bicara dengan suara sungguh-sungguh walaupun sikapnya masih ramah dan
senyumnya tak pernah meninggalkan wajahnya yang bulat.
“Kalian semua tentu tahu bahwa munculnya urusan Giok-liong-kiam ini mengikatkan
pinceng pada sebuah tugas, hal yang sama sekali tak pernah pinceng duga-duga. Akan tetapi,
segala sesuatu memang sudah digariskan dan kita hanya tinggal melaksanakannya saja. Ada
orang mempergunakan nama pinceng untuk merampas pusaka itu. Jelaslah bahwa maksudnya,
selain mengalihkan perhatian agar dia dapat menyimpan pusaka itu dengan aman, juga dia
meminjam nama Siauw-lim-pai dengan maksud mencari keamanan dan juga mungkin saja untuk
mengadu domba. Nah, tidak ada lain pilihan lagi, pinceng sendiri harus pergi mencari benda
yang menimbulkan keributan itu.”
“Maaf, susiok. Apakah tidak lebih baik kalau susiok mengutus murid-murid saja untuk
melakukan penyelidikan, mencari dan merampas kembali pusaka itu ?”
Siauw-bin-hud tersenyum akan tetapi menggelengkan kepalanya. “Pinceng dapat
menduga bahwa orang yang merampas pedang itu tentu seorang yang lihai sekali. Buktinya,
orang-orang pandai seperti San-tok dan Hai-tok saja tidak mampu mencarinya dan dapat ditipu
sehingga mereka mencari ke sini. Tidak, harus pinceng sendiri yang mencarinya. Bukankah dia
memakai nama pinceng untuk perbuatannya itu ? Pinceng sendiri yang akan pergi dan pinceng
hanya minta ditemani oleh Ci Kong ini saja.”
Nam San Losu terkejut, akan tetapi juga girang. Hal itu berarti bahwa muridnya itu akan
memperoleh kemajuan yang luar biasa. Di bawah bimbingan susioknya sendiri yang demikian
sakti !
Pedang Naga Kemala > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com 93
“Akan tetapi, dia masih kanak-kanak, apakah tidak hanya akan menjadi beban dan
gangguan bagi susiok ?” katanya.
“Justru karena dia masih kanak-kanak maka akan cocok untuk pergi menemani pinceng.
Ci Kong, maukah engkau menemani pinceng untuk mencari pusaka yang diperebutkan itu ?”
Tentu saja Ci Kong merasa girang bukan main. Dia sudah maklum bahwa susiokcouwnya
ini memiliki kesaktian luar biasa, maka kalau dia boleh menemani kakek itu berarti dia
akan dapat memperoleh banyak petunjuk dalam ilmu silat tinggi. Dia cepat berlutut di depan
kakek itu. “Teecu akan merasa girang dapat melayani susiok-couw.”
“Ha – ha – ha, anak cerdik. Kalau begitu bersiaplah, sekarang juga kita berangkat.”
Semua orang terkejut mendengar rencana pemberangkatannya yang tiba-tiba ini, akan
tetapi karena mereka semua sudah tahu akan watak yang luar biasa anehnya dari Siauw-bin-hud,
mereka tidak berani membantah. Dan tak lama kemudian Siauw-bin-hud nampak berjalan keluar
dari kuil Siauw-lim-si, menggandeng tangan Ci Kong yang menggendong buntalan besar berisi
pakaiannya sendiri dan pakaian hwesio itu, diantar oleh para hwesio sampai di lereng bukit.
Kota Kan-cou di Propinsi Kiang-si merupakan kota yang cukup besar dan ramai karena
kota itu juga menjadi kota pelabuhan perahu-perahu yang melayari Sungai Kan-kiang. Karena
Sungai Kan-kiang itu mengalir ke utara, maka banyaklah tukang perahu sibuk melayarkan para
pedagang yang mengirim barang-barang ke daerah pedalaman, ke kota-kota besar di bagian utara.
Memang pada waktu itu, sarana pengangkutan barang maupun orang yang paling cepat, praktis
dan murah adalah melalui sungai.
Juga kota Kan-cou menjadi semakin ramai dan penuh manusia karena kebanjiran
pengungsi dari barat ketika terjadi pemberontakan-pemberontakan di Hunan, baik pengungsi
orang-orang kaya yang menyelamatkan harta benda mereka maupun pengungsi-pengungsi miskin
yang menyelamatkan nyawa mereka. Bertambahnya toko-toko yang dibuka oleh para pengungsi
kaya, makin meramaikan kota itu, akan tetapi, bertambah pula pengemis dan gelandangan yang
tidak mempunyai rumah dan tidak mempunyai pekerjaan pula. Orang-orang berebutan mencari
pekerjaan, dan karena banyaknya pengangguran, tak dapat dihindarkan lagi banyak pula terjadi
kejahatan-kejahatan. Tak dapat disangkal pula bahwa segala macam perbuatan jahat seperti
pencurian, penjambretan, pencopetan, bahkan perampokan, timbul dari keadaan yang
dicengkeram kemiskinan. Orang-orang yang sudah tersudut karena tidak memiliki pekerjaan,
atau orang-orang pemalas yang tidak suka bekerja dan ingin mencari uang mudah, atau orangorang
yang tidak merasa puas dengan keadaannya, condong untruk mudah terbujuk dan menjadi
pelaku-pelaku kejahatan. Hal ini bukan berarti bahwa orang kaya raya tidak mau melakukan
kejahatan. Setidaknya, tidak mau melakukan pencurian. Akan tetapi orang kaya raya sekalipun,
kalau batinnya memang tamak dan tidak puas dengan keadaannya dan selalu ingin lebih dari pada
yang dimilikinya, condong pula untuk melakukan kejahatan yang lain bentuknya akan tetapi
sama saja sifatnya, yaitu demi kesenangan sendiri tanpa memperdulikan bahwa perbuatannya itu
merugikan orang lain. Mereka itu melepas uang panas dengan bunga tinggi, menindas para
petani dan buruh, mempermainkan perdagangan demi keuntungan mereka, bermanipulasi dan
korupsi, dan sebagainya. Uang atau harta benda memang merupakan sarana hidup, satu di antara
Pedang Naga Kemala > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com 94
persyaratan untuk hidup bahagia dan mencari uang bahkan merupakan suatu kaharusan yang
mutlak kalau kita ingin mempunyai sandang pangan dan papan yang cukup. Akan tetapi
pengejarannya terhadap uang itulah yang amat berbahaya. Pengejaran yang dilakukan karena
kebutuhan masih tidak begitu berbahaya, akan tetapi pengejaran yang didorong oleh kelobaan,
oleh nafsu ingin meraih keadaan yang dianggap lebih baik dari pada keadaan yang ada sekarang,
amat berbahaya dan condong untuk menjerumuskan kita ke dalam perbuatan jahat, merugikan
orang lain. Seperti orang yang mengejar-ngejar sesuatu di depan sana, matanya hanya tertuju
kepada yang dikejarnya sehingga kalau ada orang lain berada di depannya, dianggap penghalang
dan dilompati, bahkan mungkin ditendangnya untuk dapat mencapai apa yang dikejarnya.
Pengejaran inilah yang perlu kita amati pada diri sendiri, pengejaran uang menimbulkan
pencurian, penipuan, korupsi dan sebagainya. Pengejaran kedudukan menimbulkan jagaljegalan,
perkelahian bahkan perang. Pengejaran kesenangan sex menimbulkan pelacuran,
perjinahan. Kesenangan apapun juga bentuknya di dunia ini kalau sudah menguasai kita, dapat
saja menjadi pendorong agar kita mengejar-ngejar, menjadi suatu tujuan dan biasanya, tujuan
menghalalkan segala cara bagi orang-orang yang sudah buta akan kesadaran. Kita hidup berhak
untuk menikmati kesenangan, akan tetapi justeru pengejaran akan keadaan yang lebih dari pada
sekarang itulah yang melenyapkan kesenangan yang ada pada saat ini. Mata kita selalu tertuju ke
depan, kepada kesenangan-kesenangan yang belum ada, kepada bayangan-bayangan sehingga
kita tidak melihat lagi keindahan apa yang ada pada kita.
Pada hari itu sudah ramai di pusat kota Kan-cou. Apa lagi di pasar-pasar, para pedagang
sudah memamerkan dagangannya dan para pembelanja sudah hilir-mudik mencari-cari barangbarang
yang dibutuhkan. Ramai suara para pedagang menawarkan dagangannya, memuji barangbarang
dagangannya dan berusaha menarik orang-orang yang berlalu lalang agar berbelanja di
tempatnya. Ada pula pengemis-pengemis tua muda yang berjalan-jalan, menggunakan segala
cara untuk menarik perhatian dan kasihan orang, minta-minta dengan tangan diulurkan, dengan
suara yang memelas. Lucunya, ada pula yang pura-pura timpang, pura-pura buta. Ada pula
anak-anak, dari usia lima tahun sampai yang remaja berusia belasan tahun, berkeliaran, mintaminta
atau mencari barang-barang yang dapat dimakan, di tempat-tempat sampah, kadangkadang
berebutan dengan anjing-anjing yang banyak pula berkeliaran di situ. Bau sayur busuk,
ikan dan tanah lumpur menyesakkan hidung, akan tetapi agaknya bau campur aduk seperti ini
terasa sedap oleh mereka yang sudah terbiasa.
Seorang anak laki-laki remaja, berusia kurang lebih tigabelas tahun, dengan baju tambaltambalan,
berdiri di depan seorang penjual bakpao. Anak itu bertubuh sedang dan melihat betapa
urat-urat tubuhnya menonjol, dapat diduga bahwa anak ini sejak kecil biasa dengan pekerjaan
kasar dan keras. Mukanya agak pucat dan muka itu tampan gagah, juga menunjukkan kekerasan.
Sepasang matanya tajam dan berani, akan tetapi pada saat itu matanya memandang ke arah
tumpukan bakpao mengepul panas dengan gairah besar. Beberapa kali dia menelan ludah sendiri
dan perutnya yang sejak kemarin tidak diisi itu terasa semakin perih. Sudah sebulan dia terseret
arus pengungsi memasuki kota Kan-cou dan biarpun setiap hari dia mencari dan melamar
pekerjaan, namun tidak ada yang dapat menerimanya. Pekerjaan terlalu sedikit dan yang
membutuhkan terlalu banyak. Anak seusia dia itu dianggap masih kepalang tanggung, disebut
anak-anak bukan, dewasapun belum. Anak ini bernama Gan Seng Bu, berusia tigabelas tahun.
Sejak kecil dia ikut ayah bundanya yang bekerja sebagai pemburu dan selalu berpindah-pindah.
Akan tetapi, ketika terjadi pemberontakan di barat, ayah bundanya menjadi korban dan tewas di
tangan gerombolan pemberontak. Dia sendiri berhasil melarikan diri dan demikianlah, dia hidup
Pedang Naga Kemala > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com 95
seorang diri sebagai gelandangan, tak bersanak kadang tanpa pekerjaan dan satu-satunya
miliknya hanyalah pakaian dan sepatu yang menempel di tubuhnya, yang kini sudah menjadi
penuh tambalan dan butut.
Seng Bu merasa betapa perutnya lapar bukan main. Kalau saja dia bisa memperoleh
bakpao itu, sebuah saja ! Akan tetapi dia tidak mempunyai uang dan tadi dia sudah
memberanikan diri minta dari pedagang bakpao. Yang diterimanya hanya makian sehingga dia
terpaksa menjauhkan diri dan memandang ke arah tumpukan bakpao itu seperti seekor harimau
kelaparan memandang seekor kelinci gemuk yang diintainya. Tidak, dia tidak mau mencuri, atau
melakukan kekerasan mengambil bakpao lalu melarikan diri. Dia sudah melihat betapa ada
pencuri disiksa orang banyak sampai mati, pernah pula melihat pencuri disiksa oleh petugas
keamanan sampai lumpuh kaki tangannya. Dia tidak akan senekad itu. Pula, sejak kecil dia
digembleng oleh ayahnya yang keras untuk menjadi orang gagah yang pantang mencuri,
demikian satu di antara pelajaran yang diterima dari ayahnya.
Tiba-tiba matanya tertarik oleh gerakan seorang pemuda remaja lain. Pemuda remaja itu
bertubuh jangkung, dan usianya sebaya dengan dia, mukanya kurus pula akan tetapi matanya
jelilatan. Seperti dia pula, pemuda itu pakaiannya penuh tambalan dan pemuda itu mendekati
tempat penjualan bakpao dari belakang. Pada saat si pedagang bakpao sibuk melayani beberapa
orang pembeli yang merubungnya, tiba-tiba saja pemuda jangkung itu menyambar dua buah
bakpao dari tumpukan di belakang tanpa diketahui oleh si pedagang atau para pembelinya.
Akan tetapi Seng Bu melihatnya ! Engkau harus selalu menentang kejahatan, demikian
pelajaran yang diterima dari ayahnya. Biarpun si pedagang bakpao tadi menghardiknya, akan
tetapi kini bakpaonya dicuri orang dan dia melihatnya. Dia harus mencegahnya, kalau tidak
berarti dia menjadi pembantu pencuri, demikian pelajaran yang diingatnya. Tanpa ragu lagi
diapun lalu lari mengejar pemuda remaja yang melarikan dua buah bakpao itu.
Setelah tiba di luar pasar, barulah Seng Bu berhasil menyusul pencuri itu dan dia segera
mencengkeram pundak pemuda remaja tinggi kurus itu dari belakang.
“Eh, mau apa kau ?” bentak pemuda itu dengan marah sambil membalikkan tubuhnya
menghadapi Seng Bu, matanya yang tajam itu memancarkan kemarahan.
“Kau telah mencuri bakpao !” bentak Seng Bu marah, apa lagi melihat bahwa bakpao
yang sebuah tinggal separo, agaknya telah dimakan oleh pencuri itu sambil lari tadi.
Pemuda jangkung itu memandang dengan senyum mengejek. “Apakah engkau pemilik
bakpao itu ? jelas bukan, engkau tentu seorang pemuda gelandangan. Habis kau mau apa ?”
“Kembalikan bakpao itu kepada pemiliknya !”
“Aha, engkau seperti petugas keamanan saja. Engkau kurus dan pucat. Nih, kuberi
separuh. Makanlah !”
Seng Bu memandang kepada bakpao yang tinggal separuh itu. Nampak daging di
dalamnya dan kembali perutnya merintih. Akan tetapi dia teringat akan pelajaran ayahnya dan
betapa hinanya menerima sogokan seorang pencuri !
Pedang Naga Kemala > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com 96
“Aku tidak sudi makan barang curian. Hayo kembalikan atau aku akan menyeretmu ke
sana !”
Sepasang mata yang tadi memandang dengan ejekan itu menjadi tajam karena kemarahan.
“Kau mau menyeretku ? Setan buruk, kaukira aku takut kepadamu ?” Pemuda jangkung
itu menantang sambil mengantongi bakpaonya.
“Kau pencuri yang perlu dihajar !” Seng Bu berseru dan diapun lalu menyerang dengan
pukulan tangannya. Pemuda remaja jangkung itu menangkis dan balas memukul. Terjadilah
perkelahian dan terdengar suara bak – bik – buk ketika keduanya saling pukul. Dari gerakan
mereka dapat diketahui bahwa keduanya tidak mempergunakan ilmu silat melainkan berkelahi
dengan kasar dan liar. Akan tetapi keduanya memiliki tenaga besar dan tubuh yang kuat
sehingga beberapa pukulan yang mereka terima tidak membuat mereka roboh atau mengaku
kalah. Perkelahian ini segera menarik perhatian orang dan mereka dirubung banyak orang yang
menjadi gembira nonton perkelahian yang seruini. Tak seorangpun melerai, bahkan ada suarasuara
berpihak, memilih jago masing-masing. Perkerlahian antara dua orang remaja yang tidak
paham ilmu silat tentu saja lebih ramai dan menegangkan dari pada perkelahian antara ahli-ahli
silat. Seorang ahli silat pantang terkena pukulan dan memiliki kepandaian untuk menghindarkan
diri. Akan tetapi dua orang pemuda remaja itu membagi-bagi pukulan yang diterima oleh
badanmereka sehingga nampaknya lebih ramai.
Tiba-tiba terdengar suara orang tertawa. Suara ketawanya bebas lepas dan terbahakbahak,
dan nampaklah seorang kakek gendut bulat memasuki tempat perkelahian itu. Kakek itu
nampak sekali. Melihat kepalanya yang botak hampir gundul, dengan rambut di bagian
belakangnya dikuncir pendek dan tebal, jelas bahwa dia bukan seorang hwesio. Akan tetapi
tubuh dan kesederhanaannya itu membayangkan dia seorang pendeta. Kepalanya seperti bola
bulat, telinga, mata, mulut dan hidungnya juga serba bulat. Dia tidak berjenggot, alis dan
kumisnya pendek akan tetapi tebal dan berdiri seperti sikat kaku. Bajunya longgar akan tetapi
kancingnya tidak dapat ditutup karena perutnya yang amat besar itu mengganjal. Baju itu terbuka
sehingga nampak dada dan perut, dihiasi bulu sepanjang tengah dada menurun sampai ke
pusarnya yang besar. Celananya dari kain tebal dan kuat, sedangkan sepatunya juga masih baru.
Di pinggaangnya tergantung sebuah ciu-ouw (tempat arak) dan sebuah mangkok butut tersembul
dari kantongnya.
“Ha – ha – ha – ha, kalian dua jagoan kecil. Bukan di sini tempat berkelahi. Mari ikut aku ke
tempat yang lebih enak !” Berkata demikian, kakek itu melangkah maju melerai dan menyentuh
pundak dekat tengkuk kedua orang anak remaja yang sedang berkelahi itu. Tiba-tiba saja
keduanya menghentikan perkelahian, memandang kepada kakek gendut itu dan tanpa bersuara
lagi, seperti dua ekor anak kerbau, mereka mengikuti kakek itu yang meninggalkan tempat itu.
Penonton juga bubaran, melanjutkan pekerjaan masing-masing dan sebentar saja perkelahian
antara dua orang anak gelandangan itupun dilupakan orang.
Tak seorangpun tahu mengapa dua orang anak yang sedang berkelahi itu tiba-tiba saja
menurut dan taat kepada kakek yang melerai dan mengajak pergi mereka. Padahal, keduanya
belum mengenal siapa kakek itu. Hanya dua orang anak itu yang tahu. Ketika kakek itu melerai
dan menyentuh pundak mereka, tiba-tiba saja kedua lengan mereka menjadi lemas dan seperti
Pedang Naga Kemala > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com 97
lumpuh ! Tentu saja mereka berdua menjadi kaget bukan main, dan ketika kakek itu mengajak
mereka, keduanya tidak berani membantah. Kedua lengan mereka tidak dapat mereka gerakkan,
tergantung lepas dan lumpuh, hal ini saja sudah membuat mereka menjadi takut dan khawatir.
Hanya kakek itu yang akan dapat memulihkan kedua lengan mereka, maka merekapun menurut
saja ketika diajak pergi. Seng Bu sendiri dapat menduga bahwa kakek ini tentu seorang sakti.
Biarpun ayahnya tidak pandai silat, hanya memiliki tubuh kekar sebagai seorang pemburu,
namun ayahnya banyak bercerita tentang pendekar-pendekar dan orang-orang sakti.
Pemuda jangkung itupun memiliki nasib yang tidak jauh bedanya dengan Seng Bu.
Pemuda itu bernama Ong Siu Coan, berusia tigabelas tahun dan dari keluarga petani. Ayahnya
pernah menjadi seorang petani yang cukup keadaannya sehingga Ong Siu Coan sempat pula
bersekolah. Akan tetapi ketika terjadi pemberontakan, ayahnya ikut pula memberontak karena
ayahnya membenci pemerintah penjajah Mancu. Pemberontakan itu dapat dipadamkan dan
seluruh keluarga Ong Siu Coan binasa, harta bendanya ludas dirampok pasukan pemerintah.
Untung baginya bahwa dia sendiri masih dapat menyelamatkan dirinya dan arus pengungsi
membawanya sampai ke kota Kan-cou. Dia melakukan perjalanan dari utara sampai berbulanbulan
sebelum tiba di Kan-cou. Seperti juga Seng Bu, sukar sekali baginya untuk mendapatkan
pekerjaan. Baginya lebih sukar lagi karena ada sedikit keangkuhan dalam dirinya, merasa bahwa
dia pernah menjadi anak sekolah sehingga dia enggan bekerja kasar. Akan tetapi, berbeda
dengan Seng Bu, agaknya dia tidak mengharamkan mencuri makanan kalau perutnya sudah tidak
tahan lagi. Betapapun juga, di dalam dadanya bernyala api perjuangan menentang pemerintah
penjajah. Pemuda remaja ini memiliki kegagahan, patriot, juga cerdik sekali, selain itu juga ada
keanehan-keanehan pada wataknya.
Jilid V *****
Siapakah kakek gendut itu ? Orang-orang kang-ouw biasa saja tidak akan mengenalnya,
akan tetapi kaum tua di dunia kang-ouw tentu akan terkejut melihat munculnya orang yang sudah
belasan tahun lamanya tidak pernah lagi nampak di dunia ramai itu. Orang ini terkenal sekali
puluhan tahun yang lalu karena dia adalah seorang di antara Empat Racun Dunia ! Inilah yang
dijuluki orang Thian-tok (Racun Langit) yang memiliki kesaktian setingkat dengan San-tok atau
Hai-tok ! Seperti juga San-tok, dia selama belasan tahun bertapa di gunung-gunung dan baru
sekarang nampak muncul di dunia ramai, dan dalam keadaan sederhana, tidak seperti Hai-tok
yang menjadi seorang kaya raya. Ketika kakek ini dalam perantauannya tiba di luar pasar dan
melihat dua orang pemuda remaja saling gebuk dengan ramainya, diam-diam dia memperhatikan
dari jauh. Dan giranglah hatinya. Dia melihat bakat yang amat baik pada diri dua orang muda itu
maka dia sengaja membawa dua orang muda itu ke tempat sunyi setelah membuat mereka tidak
berdaya dengan semacam ilmu totok jalan darah yang amat halus.
Thian-tok membawa mereka berdua ke sebuah kuil tua yang sudah tidak
dipergunakan lagi, sebuah kuil kosong yang kotor dan rusak. Tempat inilah yang menjadi tempat
tinggalnya selama beberapa hari ini dan dia berjalan terus memasuki kuil tua sampai tiba di
sebuah ruangan dalam yang cukup luas.
Pedang Naga Kemala > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com 98
“Nah, di sini kalian boleh melanjutkan perkelahian sampai ada yang kalah atau
menang !” katanya sambil menepuk pundak kedua orang anak itu yang seketika merasa betapa
mereka mampu menggerakkan lagi kedua lengan mereka. Dua orang anak ini saling pandang.
Kemarahan sudah lenyap dari mereka, terganti rasa heran dan kagum akan kesaktian kakek itu.
Dan tiba-tiba ada suatu pikiran menyelinap di dalam benak mereka. Jelaslah bahwa kakek ini
hendak menguji mereka ! Dan siapa tahu, yang menang akan diambil murid ! Betapa akan
gembiranya kalau sampai bisa menjadi murid orang sakti ini, pikir mereka dan kini mereka sudah
saling pandang lagi dengan sikap bermusuh karena mereka hendak bersaing dan berebutan
menjadi murid kakek sakti.
“Ha – ha, nanti dulu !” kata Thian-tok melihat sinar mata mereka. “Sebelum dimulai,
aku ingin mengetahui dulu siapa kalian.”
“Namaku Ong Siu Coan,” kata pemuda jangkung.
“Namaku Gan Seng Bu,” kata pula pemuda tegap.
“Bagus, bagus ! Nama-nama yang bagus dan gagah. Nah, Siu Coan dan Seng Bu,
sekarang buka baju kalian. Baju kalian sudah robek-robek dan akan menjadi hancur kalau tidak
dibuka. Apa lagi kalau kalian tidak mempunyai pengganti.”
Baru teringatlah dua orang muda remaja itu akan pakaian mereka dan masing-masing
menunduk dan memandang baju mereka yang robek-robek dengan muka sedih. Lalu merekapun
menanggalkan baju mereka, menaruh di sudut ruangan itu. Kini mereka hanya memakai celana
dan sepatu saja, tanpa baju. Mengingat akan baju mereka yang robek-robek, kemarahan kembali
memenuhi dada mereka ketika mereka berdiri saling berhadapan.
“Ha – ha – ha, bagus, sekarang kalian mulailah saling hantam. Ingin aku melihat siapa
yang menang,” kata kakek itu dambil naik ke atas tembok rendah. Bersila dan menurunkan
tempat arak dari pinggang, juga mengambil mangkoknya.
Ucapan itu merupakan komando bagi kedua orang pemuda remaja itu. Keduanya sudah
saling terjang dan saling pukul, melanjutkan perkelahian mereka di depan pasar tadi, hanya
sekarang mereka bukan sekedar melampiaskan kemarahan, melainkan berusaha untuk menang
karena mereka menduga bahwa pemenangnya tentu akan diberi pelajaran silat dan diambil murid
oleh kakek gendut yang sakti ini. Terdengar lagi suara bak – bik – buk ketika mereka saling
pukul sekenanya, dan kakek itu menjadi kegirangan. Sambil menuangkan arak ke dalam
mangkok dan diminumnya perlahan-lahan, dia menonton perkelahian sambil tertawa-tawa girang.
Tubuh kedua orang pemuda remaja itu memang amat kuat dan keduanya tahan uji benarbenar.
Muka mereka sudah matang biru oleh pukulan, hidung mereka sudah mengeluarkan darah
terkena pukulan, akan tetapi keduanya tidak mau undur selangkahpun. Melihat ini, kakek itu
menjadi semakin girang dan tertawa-tawa senang.
“Bagus ! Siu Coan, pukul saja dia ! Seng bu, jangan mau kalah kau !” Teriaknya
berulang-ulang, memberi hati kepada keduanya sehingga dua orang anak itu menjadi semakin
sengit untuk saling mengalahkan.
Pedang Naga Kemala > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com 99
Akan tetapi agaknya Siu Coan lebih cerdik dari pada Seng Bu, walaupun dalam hal tenaga
dan keuletan mereka seimbang. Karena dia lebih jangkung, Siu Coan mulai dengan gencar
menyerang kepala Seng Bu dari atas. Hal ini membuat Seng Bu kewalahan, apa lagi setiap kali
ada pukulan mengenai ubun-ubun kepalanya, dia merasa pening.
“Ho – ho ………. Seng Bu, jegal kakinya dan hantam lehernya !” Tiba-tiba kakek itu
memberi nasihat ketika melihat Seng Bu mulai terdesak. Seng Bu mentaati pesan ini dengan
otomatis, kakinya menyapu ke arah kaki Siu Coan dan tangannya menghantam leher.
“Plak ………. Dukkk ………. !” Tubuh Siu Coan terpelanting karena dia selalu
memperhatikan atas dan ketika kakinya ditendang dan lehernya dihantam, diapun tidak mampu
bertahan dan terguling.
“Siu Coan, pegang kuncirnya ! Ha – ha – ha !” Kembali si gendut memberi nasihat dan
Siu Coan yang sedang terpelanting itu cepat menggunakan tangan kiri mencengkeram kuncir
Seng Bu sehingga pemuda remaja inipun ikut pula tertarik dan mereka berdua terbanting jatuh
bergulingan. Dan mereka lalu melanjutkan perkelahian dengan bergulat di atas lantai.
Thian-tok yang berwatak aneh itu menjadi semakin gembira. Dia selalu memberi nasihat
kepada yang terdesak sehingga dari keadaan terdesak, berbalik menjadi menang, akan tetapi
hanya sebentar karena si gendut itu berbalik pula memberi nasihat kepada yang kalah sehingga
keadaan kembali berobah. Sampai hampir dua jam mereka berhantam, bergulat dan akhirnya
keduanya menggeletak kelelahan, terengah-engah hampir putus napasnya dan tidak mampu
melanjutkan, hanya mendeprok di atas lantai dan saling pandang melalui mata yang bengkakbengkak
membiru !
“Ha – ha – ha, istirahatlah sebentar. Nih, kuberi arak biar segar !” Kakek itu lalu
menyemburkan arak dari mulutnya dan dua orang pemuda remaja itupun kehujanan arak yang
amat halus dan mereka merasa terkejut bukan main karena arak itu seperti ratusan buah jarum
yang menusuk-nusuk kulit mereka ! Akan tetapi rasanya memang segar mengenai kulit dan
biarpun begitu terkena arak bekas-bekas pukulan lawan itu terasa perih, akan tetapi lambat laun
rasa linu dan nyeri berkurang banyak.
“Nah, sekarang mulailah lagi, atau seorang di antara kalian harus mengaku kalah !”
Tentu saja dua orang remaja ini tidak mau mengaku kalah dan biarpun semua tulang
dalam tubuh terasa patah-patah saking lelahnya, mereka bangkit berdiri lagi dan mulailah mereka
berkelahi lagi. Ong Siu Coan mulai menyerang, akan tetapi karena dia mempergunakan semua
sisa tenaganya dan pukulan itu luput, tubuhnya terhuyung ke depan dan hampir jatuh. Akan
tetapi Gan Seng Bu tidak mempergunakan kesempatan ini, hanya berdiri memandang lawannya
yang terhuyung.
“Heh – heh, Siu Coan, salahmu sendiri. Bukan begitu caranya menyerang lawan. Nih,
begini, tirulah gerakan ini !” Kakek gendut itu sudah bangkit berdiri di atas tembokan rendah
dan dengan lambat namun jelas memberi contoh sejurus pukulan kepada Siu Coan. Pemuda ini
cerdik sekali, memperhatikan kedudukan kaki dan gerakan tangan ketika kakek itu memberi
Pedang Naga Kemala > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com 100
contoh. Setelah merasa paham betul, dia lalu menghampiri Seng Bu dan segera menyerang
dengan gerakan seperti yang diajarkan oleh kakek gendut. Seng Bu juga melihat gerakan seperti
yang diajarkan oleh kakek itu, akan tetapi dia tidak tahu bagaimana cara menghadapinya, maka
dengan ngawur saja diapun mencoba untuk menangkis.
“Dess .......... !” Akibatnya, tubuhnya tiba-tiba terpelanting dan jatuh terbanting cukup
keras, membuat kepalanya menjadi pening.
“Ha – ha – ha, diserang orang bukan melawannya dengan jatuh bangun dan membiarkan
diri dipukul !” Tiba-tiba kakek itu berseru lagi. “Seng Bu, beginilah kalau engkau menghadapi
serangan jurus Burung Bangau Menyambar Katak tadi, perhatikan baik-baik.” Kakek itu
memberi contoh, kedua tangannya membentuk cakar dan lengannya bergerak seperti gerakan dua
kaki depan harimau, kedua kakinya membuat kuda-kuda yang kokohkuat. Seng Bu
mencontohnya dan merasa dapat memahaminya.
“Nah, kalian lanjutkan sekarang !” kata si kakek gendut.
Siu Coan yang merasa bangga dengan jurusnya yang berhasil baik tadi menjadi
penasaran. Tak mungkin Seng Bu dapat menahan serangannya seperti tadi, pikirnya. Diapun
maju lagi dan menyerang dengan jurus tadi, yang oleh si kakek gendut dinamakan Burung
Bangau Menyambar Katak. Seng Bu menyambutnya dengan jurus seperti yang diajarkan si
kakek, tangan kanannya berhasil menangkis patukan burung yang dilakukan oleh tangan lawan,
kemudian dengan cepat tangan kirinya yang membentuk cakar itu menyambar muka lawan. Siu
Coan terkejut dan menarik muka ke belakang, akan tetapi cakaran tangan kanan menyusul dan
diapun terjengkang ke belakang dan terbanting jatuh !
“Ha – ha – ha ! Itulah jurus Harimau Mencakar Batang Pohon ! Engkau harus berhatihati,
Siu Coan dan jangan terlalu mengandalkan sebuah seranganmu, melainkan membagi
perhatian untuk berjaga diri.”
Dengan gembira sekali kakek itu lalu memberi petunjuk kepada kedua orang muda remaja
itu, mengajarkan jurus baru kepada yang kalah sehingga yang kalah berbalik menang, dan yang
menang itu berbalik kalah. Persis seperti tadi, akan tetapi kalau tadi dia hanya memberi
petunjuk-petunjuk gerakan tertentu, kini dia memberi petunjuk jurus-jurus silat sehingga dua
orang muda itu berkelahi dengan menggunakan jurus-jurus ilmu silat. Dua orang pemuda remaja
itupun makin lama makin genbira mempelajari jurus-jurus itu. Lenyaplah semua permusuhan di
antara mereka dan kini mereka menganggap lawan menjadi teman berlatih silat ! Akan tetapi
tenaga mereka terbatas dan akhirnya kembali mereka mendeprok di atas lantai. Mereka saling
pandang dan jantung mereka berdebar keras karena dalam sinar mata mereka ketika saling
pandang itu, keduanya merasa seolah-olah mereka saling memberi isyarat yang mereka mengerti,
yaitu bahwa keduanya merasa girang dapat saling berkenalan, bahwa terdapat kecocokan yang
hangat karena mereka saling serang dan sama-sama berlatih silat tadi, dan bahwa mereka berdua
sama-sama ingin menjadi murid kakek gendut sakti itu ! Ong Siu Coan berkedip memberi
isyarat, lalu dia bangkit duduk, berlutut menghadap kakek gendut.
“Kakek yang baik, kami berdua mohon agar dapat menjadi muridmu.”
Pedang Naga Kemala > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com 101
Kakek itu membuka matanya dan sinar mencorong menyambar ke arah Siu Coan. “Heh –
heh – heh !” Dia hanya tertawa.
Akan tetapi Seng Bu juga sudah bangkit duduk, lalu berlutut di samping kiri Siu Coan
sambil berkata, “Benar, locianpwe, kami berdua mohon dapat menjadi murid locianpwe.”
“Ha – ha – ha – ha, bukankah kalian tadi berkelahi dan saling bermusuhan ?”
Siu Coan dan Seng Bu menoleh dan saling pandang. Tidak ada sedikitpun rasa
permusuhan dalam hati mereka terhadap satu sama lain, dan keduanya tersenyum. “Sekarang
kami tidak lagi bermusuhan,” kata Siu Coan.
“Kami malah merasa cocok dan suka, locianpwe,” kata Seng Bu.
“Ha – ha – ha, sungguh lucu. Ong Siu Coan, coba jawab terus terang, mengapa engkau
ingin menjadi muridku ?”
Tanpa ragu-ragu Siu Coan menjawab lantang, “Saya ingin dapat menjadi seorang pandai
yang dapat berjuang untuk bangsa, menjadi seorang pahlawan yang mengusir penjajah dari tanah
air !”
Sepasang mata kakek gendut itu terbelalak. Memang aneh sekali mendengar ucapan
seperti itu keluar dari mulut seorang anak jembel yang tadi mati-matian berkelahi
memperebutkan sepotong roti ! Dan dia tertawa bergelak. Agaknya kakek ini memang suka
sekali tertawa, suara ketawa yang bebas dan lepas akan tetapi nadanya selalu mengejek. “Ha – ha
– ha, cita-cita yang terlalu tinggi, lebih tinggi dari pada cita-citaku, ha – ha – ha ! Dan kau, Gan
Seng Bu, kenapa engkau ingin menjadi muridku ?”
“Saya melihat locianpwe seorang sakti, maka saya ingin menjadi murid locianpwe agar
memiliki kepandaian untuk menolong orang-orang lemah. Dunia begini kejam dan banyak orang
menderita sengsara, saya mau mempergunakan kepandaian untuk menentang gerombolan yang
mengganggu rakyat !” Tentu saja jawaban Seng Bu ini terdorong oleh pengalaman keluarganya
yang binasa oleh gerombolan pemberontak yang di samping memberontak terhadap pemerintah,
sebagian besar juga melakukan perampokan-perampokan dan mengganggu rakyat jelata yang
tidak tahu apa-apa.
“Ha – ha – ha, maksudmu gerombolan pemberontak ?”
Seng Bu teringat akan gerombolan yang membasmi keluarganya dan dia mengangguk.
“Wah, kalau begitu kelak kalian tentu akan bermusuhan lagi. Siu Coan ingin menjadi
pemimpin pemberontak dan engkau akan menjadi penentang pemberontak. Bagaimana ini ?”
“Locianpwe, saya ingin memberontak terhadap penjajah Mancu, bukan pengganggu
rakyat jelata !” Siu Coan berkata dengan tegas dan penuh semangat kegagahan.
Pedang Naga Kemala > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com 102
“Dan saya tidak membela pemerintah, melainkan membela rakyat yang tertindas !” kata
pula Seng Bu.
“Ha – ha – ha, bagus, bagus. Aku suka menjadi guru kalian ………. “
“Suhu ………. !” kata Siu Coan dan Seng Bu hampir berbareng, berlutut di depan kaki
kakek gendut itu. Si kakek gendut tertawa bergelak beberapa lamanya, lalu tiba-tiba dia berhenti
ketawa dan bersikap sungguh-sungguh.
“Kalian gigit lengan kiri sendiri sampai keluar darah !” Tiba-tiba dia berkata, sekali ini
tidak tertawa lagi, bahkan suaranya terdengar galak. Dua orang anak itu hanya sebentar saja
kelihatan kaget, akan tetapi tanpa menoleh ke sana-sini, Siu Coan lalu membawa lengan kirinya
ke mulut dan menggigit lengan dekat pergelangan sampai kulit terobek dan darah mengalir
keluar. Seng Bu juga melakukan hal yang sama walaupun tidak secepat Siu Coan.
“Mendekatlah !”
Siu Coan san Seng Bu merangkak dekat, dan kakek itu lalu menarik lengan mereka,
menekan dan beberapa tetes darah keluar dari luka itu, ditadahnya dengan mangkok. Setelah
menadahi beberapa tetes darah dari kedua orang pemuda remaja itu di dalam mangkok, dia lalu
menuangkan arak ke dalam mangkok.
“Kalian benar-benar ingin menjadi muridku ?”
Dua orang anak laki-laki itu mengangguk.
“Kalau begitu bersumpahlah kepada darahmu sendiri bahwa kalian berdua sejak sekarang
menjadi saudara seperguruan dan tidak boleh bermusuhan satu sama lain, dan ke dua kalian harus
mentaati apa saja yang kuperintahkan tanpa ragu-ragu dan tanpa bertanya-tanya.”
“Baik, suhu.”
Atas petunjuk Thian-tok, kedua orang anak itu lalu berlutut delapan kali dan
mengucapkan sumpah itu, dan atas permintaan Thian-tok menambahkan bahwa kalau mereka
melanggar sumpah, mereka akan mati mandi darah.
Kakek itu lalu minum sedikit arak bercampur darah itu, kemudian minta kepada Siu Coan
dan Seng Bu untuk minum pula, seorang separuh. Dua orang pemuda remaja itu tanpa ragu-ragu
minum arak bercampur darah mereka dan barulah kakek itu tertawa bergelak.
“Ha – ha – ha – ha, selama hidupku baru satu kali aku mempunyai murid, akan tetapi dia
sudah mengecewakan hatiku. Sekarang tiba-tiba aku mendapatkan dua orang murid yang
menyenangkan. “Eh, Siu Coan dan Seng Bu, tahukah kalian siapa yang menjadi guru kalian
ini ?”
Dua orang anak itu mengangkat muka memandang wajah gurunya dan baru sekarang
mereka teringat bahwa mereka itu sama sekali tidak mengenal kakek yang telah menjadi guru
Pedang Naga Kemala > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com 103
mereka ini, dan betapa aneh pertemuan antara mereka dengan guru mereka itu. Mereka
menggeleng kepala dan memandang dengan sinar mata penuh pertanyaan.
Kakek gendut itu tertawa. Perutnya yang besar itu bergerak-gerak seperti ada apa-apanya
yang hidup di sebelah dalamnya dan matanya mengeluarkan sinar mencorong yang membuat
kedua orang anak itu merasa serem dan takut. Ada sesuatu pada diri kakek peramah ini yang
amat menyeramkan dan menakutkan.
“Ha – ha – ha, ketahuilah bahwa gurumu ini bukan orang sembarangan, bahkan pada
waktu ini dapat dibilang menduduki tempat nomor satu dan paling tinggi di dunia persilatan !”
Tentu saja dua orang pemuda remaja itu terkejut dan girang, akan tetapi juga merasa raguragu.
Apakah kakek yang menjadi guru mereka ini tidak terlalu sombong, pikir mereka.
“Orang menjuluki aku Thian-tok, Racun Langit ! Ha – ha – ha, Racun Langit, seorang di
antara empat Racun Dunia, akan tetapi jelas bahwa akulah yang paling hebat, ha – ha !”
Dua orang pemuda remaja itu menoleh dan saling pandang. Jangan-jangan kakek gendut
ini telah miring otaknya, pikir mereka. Mereka berdua sama sekali tidak pernah mendengar
julukan dengan segala Racun itu.
“Heh – heh, tentu saja kalian tidak pernah mendengar nama itu. Kalian bukan dari
keluarga kang-ouw, bahkan orang-orang kang-ouw yang kepalang tanggung saja tidak akan
mengenalku. Akan tetapi, ketahuilah bahwa kalian akan kujadikan jagoan-jagoan yang paling
unggul di dunia ini.”
“Terima kasih, suhu,” kata dua orang anak itu, masih agak ragu-ragu walaupun girang.
Demikianlah, mulai hari itu, Ong Siu Coan dan Gan Seng Bu menjadi murid-murid
Thian-tok dan dua orang pemuda remaja ini mengikuti kakek itu merantau. Makin lama mereka
menjadi murid kakek itu, mereka menjadi semakin kaget, heran dan takut di samping perasaan
girang karena kakek itu memang benar sakti sekali dan mengajarkan ilmu-ilmu yang amat tinggi
kepada mereka. Yang membuat mereka merasa serem adalah setelah makin lama mereka makin
mengenal watak kakek itu. Watak yang aneh, mendekati gila, dan kadang-kadang dapat bersikap
kejam bukan main,membunuh orang sambil tertawa-tawa saja, tidak pantang pula mencuri dan
melakukan perbuatan-perbuatan jahat lainnya. Akan tetapi semua perbuatan itu dilakukan sambil
tertawa dan dengan mempergunakan ilmu yang mengagumkan hati dua orang pemuda remaja itu.
Ong Siu Coan yang juga memiliki watak ugal-ugalan dan aneh, di samping kecerdikan luar biasa,
agaknya suka dan cocok sekali dengan watak gurunya yang aneh itu, bahkan dia dapat ikut
tertawa-tawa kalau gurunya menyiksa atau membunuh orang. Adapun Gan Seng Bu yang
melihat semua ini, diam-diam merasa tidak suka. Akan tetapi karena kakek itu sayang kepadanya
dan menurunkan pelajaran ilmu-ilmu yang tinggi, diapun menahan diri dan berlatih dengan
giatnya. Diam-diam dia mengkhawatirkan keadaan suhengnya, Siu Coan yang agak lebih tua
menjadi suheng dan dia menjadi sute, karena suhengnya ini kadang-kadang juga aneh seperti
orang gila. Banyak tempat mereka jelajahi dan kadang-kadang kakek itu mengajak mereka
“pulang” yaitu ke sebuah guha besar di puncak Tai-yun-san di mana Thian-tok suka bertapa dan
bersembunyi di dunia ramai. Dan dalam guha besar yang banyak rahasianya inilah Thian-tok
Pedang Naga Kemala > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com 104
menyimpan barang-barangnya yang ternyata amat banyak dan cukup membuat orang menjadi
kaya raya, yaitu benda-benda hasil pengumpulannya ketika dia masih menjadi datuk sesat dan
tumpukan benda itu masih terus ditambah dari hasil pencuriannya di gedung-gedung besar milik
para hartawan atau bangsawan.
***
Semenjak terjadi peristiwa antara dia dengan mendiang guru silat Siauw Teng yang
kemudian disusul pula dengan peristiwa dengan Tan Siucai, hati hartawan Ciu Lok Tai merasa
tidak enak dan selalu terancam. Dia dapat merasakan bahwa sesungguhnya banyak terdapat
orang-orang seperti mereka itu, dan bahwa tulisan-tulisan Tan Siucai menghasut orang-orang
yang mungkin kini memandang kepadanya dengan penuh kebencian. Orang-orang yang tidak
setuju adanya candu yang beredar di kalangan masyarakat. Oleh karena itu, dia lalu memanggil
Jagoan-jagoan dari seluruh Kanton untuk menjadi pengawal-pengawalnya. Akan tetapidia selalu
kurang puas dengan mereka ini. Dari hubungan dagangnya dengan orang barat, dia berhasil
memperoleh sebuah senjata api yang selalu dibawanya ke manapun dia pergi. Bahkan di waktu
tidur sekalipun senjata api itu disimpan di bawah bantalnya.
Saking khawatirnya akan keselamatan diri sendiri dan keluarganya yang timbul dari
perasaan banyak dimusuhi orang, Ciu Wan-gwe atau Ciu Lok Tai selalu merasa tidak puas
dengan jagoan-jagoan yang mengawalnya dan setiap ada jagoan baru yang datang untuk bekerja
padanya, dia mengujinya dengan pistolnya ! Setiap orang calon harus mampu menghadapi
serangan pistolnya dalam jarak tiga tombak sebanyak tiga kali tembakan ! Dan sampai beberapa
tahun lamanya, hasilnya tidak memuaskan entah sudah berapa banyaknya jagoan yang roboh
tertembus peluru, ada yang tewas dan banyak yang luka-luka. Tentu saja mereka tidak diterima,
hanya diberi uang sekedar biaya berobat atau mengurus penguburannya saja. Dan makin jarang
yang berani datang melamar pekerjaan kepala pengawal itu. Terpaksa Ciu Wan-gwe harus
mengandalkan keselamatannya pada pengawalan hampir seratus orang pengawal yang selalu
mengepung gedungnya, hal yang amat tidak enak dirasakannya. Dia menghendaki satu dua
orang saja pengawal yang benar-benar tangguh, yang mampu menghadapi musuh yang datang
menyerang dengan senjata api !
Dan sesungguhnya bukan karena ingin mempunyai pengawal yang tangguh saja dia
mencari orang yang mampu menandingi pistolnya, akan tetapi selain itu juga dia ingin
mencarikan seorang guru untuk putrinya yang terkasih. Ciu Wan-gwe mempunyai banyak istri,
akan tetapi hanya dari seorang selirnya yang paling disayangnya sajalah dia memperoleh
keturunan, seorang anak perempuan. Oleh karena itu, tidak mengherankan apa bila dia dan
sekeluarganya amat sayang kepada Ciu Kui Eng, puterinya itu. Puterinya itu sejak kecil suka
sekali dengan ilmu silat dan sejak kecil telah disuruhnya para pengawal yang memiliki ilmu silat
yang lihai untuk memberi gemblengan kepada puterinya.
Namun semua usahanya itu sia-sia. Agaknya tidak ada ahli silat yang berani lagi
mencoba ujian dengan pistol itu. Tentu saja, di dunia persilatan banyak yang akan mampu
menandingi lawan yang berpistol, akan tetapi para pendekar yang berjiwa patriot mana sudi
menghambakan diri kepada seorang hartawan yang membantu penyebaran racun madat kepada
rakyat jelata ? Itulah sebabnya mengapa sampai lewat enam tahun setelah terjadi peristiwa
dengan Tan Siucai, Ciu Wan-gwe belum juga mendapatkan seorang jagoan yang mampu
Pedang Naga Kemala > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com 105
menandingi pistolnya. Dan selama enam tahun itu, terpaksa pula Kui Eng hanya belajar ilmu
silat dari guru-guru biasa yang menjadi pengawal-pengawal ayahnya.
Pada suatu pagi, Kui Eng berlatih ilmu silat di pekarangan depan gedungnya, dipimpin
oleh tiga orang guru silat sekaligus. Guru-guru silat ini merupakan kepala-kepala pengawal di
gedung Ciu Wan-gwe. Anak ini memang manja, karena dimanja oleh keluarga orang tuanya.
Kalau berlatih kadang-kadang ia minta dilakukan di pekarangan depan. Hal ini adalah karena
kemanjaannya, untuk pamer karena kalau ia berlatih di pekarangan itu, orang-orang di luar
gedung dapat melihatnya melalui pintu besi terbuka. Ia senang sekali mendengar seruan kagum
dari orang-orang yang lewat, dan pandang mata mereka yang penuh kagum. Ia tidak perduli
apakah mereka itu sungguh-sungguh mengagumi kelincahannya bersilat, atau kecantikannya,
atau juga hanya sekedar mengeluarkan seruan kagum untuk menyenangkan hatinya sebagai puteri
orang terkaya di Tungkang ! Ia tidak perduli. Pokoknya, ia ingin dipuji dan disanjung orang.
Memang menyenangkan sekali nonton gadis cilik itu bersilat. Pada waktu itu, Kui Eng
telah berusia duabelas tahun, seorang gadis remaja yang sudah mulai nampak kecantikannya
walaupun masih kekanak-kanakan. Wajahnya manis sekali, sinar matanya tajam dan pakaiannya
indah. Gerakan-gerakannya juga indah dan manis gemelai, seperti orang menari saja dan tiga
orang guru silat yang melatihnya memandang sambil kadang-kadang mengangguk-anggukkan
kepala dengan hati bangga. Ketika orang-orang di luar pintu gerbang berkerumun ikut nonton,
hati tiga orang guru silat ini semakin besar. Kamilah gurunya, demikian hati mereka bersorak.
“Heiiiittt .......... !!” Kui Eng mengakhiri gerakan silatnya dengan sebuah pukulan
mematikan kepada lawan yang hanya dibayangkannya saja, kemudian ia berdiri tegak ke arah
pintu gerbang sambil tersenyum manis, menggerakkan kepala untuk memindahkan kuncir
rambutnya yang hitam panjang itu ke belakang. Terdengarlah tepuk tangan dan sorakan memuji
dari luar pintu gerbang dan seperti seorang pemain panggung yang menerima pujian para
penontonnya, Kui Eng mengangguk-angguk ke arah mereka sambil memperlebar senyumnya.
Akan tetapi, dari penonton itu muncul seorang kakek yang pakaiannya jubah pendeta atau
tosu. Kakek ini sukar ditaksir usianya, tentu sudah lanjut sekali usianya. Tubuhnya pendek kecil,
kepalanya botak hampir gundul. Alis, kumis dan jenggotnya panjang dan sudah putih semua, dan
tangan kirinya memegang tasbeh hitam, tangan kanannya memegang sebatang tongkat hitam
butut.
“Heh – heh, nona cilik. Engkau tadi menari ataukah bersilat ? Uhhh, bukan begitulah
orang bersilat !”
Wajah gadis cilik yang tadinya berseri-seri itu berubah, sepasang alisnya yang hitam
berkerut dan sepasang matanya yang tajam itu memandang marah. “Kau .......... kakek lancang
mulut ! Siapakah kau ?” bentaknya sambil membanting kaki kanannya karena jengkel dicela
oleh kakek itu yang dianggapnya sebagai penghinaan dan mengusir semua rasa bangga dari
hatinya.
“Heh – heh, kalau engkau haus pujian seperti itu, sampai kapanpun engkau tidak akan
bisa menguasai ilmu silat yang sesungguhnya, kecuali ilmu tari-tarian yang nampak indah saja.
Lebih baik belajar menari saja, nona.”
Pedang Naga Kemala > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com 106
Melihat munculnya kakek itu yang mencela ilmu silat murid mereka, tentu saja tiga orang
guru silat yang juga menjadi kepala pengawal itu menjadi marah sekali. Mereka maju
menghadapi kakek itu dan memandang dengan penuh perhatian, ingin tahu siapa gerangan kakek
yang lancang dan berani mencela murid mereka itu. Akan tetapi, mereka merasa belum pernah
mengenal kakek ini, juga tidak pernah mendengar adanya seorang tokoh persilatan seperti kakek
ini. Seorang kakek pendek kecil, ditiup saja rasanya sudah akan terjungkal !
Pada saat itu, terdengar suara pertanyaan yang nyaring, “Ada apakah ? Kenapa ributribut
?”
Melihat munculnya ayahnya dari dalam, Kui Eng yang manja lalu lari dan merangkul
pinggang ayahnya. “Ayah, kakek itu kurang ajar sekali, berani mencela ilmu silatku, mengatakan
agar aku belajar menari saja karena ilmu silatku seperti orang menari.”
Sementara itu tiga orang guru silat ketika melihat majikan mereka keluar, menjadi
semakin galak, seperti anjing-anjing peliharaan yang mengibaskan ekor melihat majikannya dan
ingin menjilat dan mencari muka.
“Kakek tua bangka tak tahu diri, berani engkau lancang mulut mencela permainan murid
kami ?” Seorang di antara tiga kepala pengawal itu membentak.
“Kalau tidak melihat engkau sudah tua mau mati, tentu aku sudah menghajarmu !” teriak
pula orang ke dua.
“Engkau ini kakek busuk yang tidak tahu apa-apa tentang ilmu silat, besar mulut sekali
berani menilai !” bentak orang ke tiga.
“Tahan dulu !” Ciu Wan-gwe berseru melihat betapa tiga orang kepala pengawalnya
mulai bergerak hendak menghajar kakek itu dan belasan orang pengawal yang tertarik oleh
keributan itupun sudah keluar dan siap untuk mengeroyok. Tiga orang kepala pengawal itu tentu
saja menahan gerakan mereka ketika mendengar teriakan majikan mereka.
Ciu Wan-gwe lalu duduk di atas sebuah kursi yang diseret datang oleh seorang
pengwalnya, kemudian dia memandang kakek yang masih berada di perkarangan itu. Sejenak ia
memandang keadaan kakek itu penuh perhatian, mengharapkan akan bertemu dengan seorang
aneh yang sakti. Akan tetapi hatinya kecewa. Kakek setua itu, dengan tubuh begitu kerempeng,
mana mungkin sakti ? jalannya saja sudah dibantu tongkat hitam butut, dan kerjanya tentu hanya
berdoa dan menghitung biji tasbeh !
“Ayah, dia kurang ajar, berani menghinaku,” puterinya yang berdiri di sisinya berkata
penasaran.
Ayahnya mengangguk, lalu berkata kepada kakek itu, “Kakek tua, sungguh kami tidak
mengerti mengapa engkau begitu usil untuk mencela permainan silat anakku. Anakku ini selama
bertahun-tahun dilatih ilmu silat oleh mereka bertiga, bagaimana sekarang engkau berani mencela
permainan anakku ? Dengan demikian berarti engkau mencela ilmu silat mereka bertiga.
Pedang Naga Kemala > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com 107
Apakah menurut pendapatmu engkau memiliki ilmu kepandaian yang lebih tinggi dari pada
mereka bertiga itu ?”
Kakek itu sambil menyeringai lebar, memperlihatkan mulut yang tidak bergigi lagi,
memandang sejenak kepada Ciu Wan-gwe, kemudian menoleh kepada tiga orang kepala
pengawal itu dan berkata, “Mereka bertiga ini seperti anjing-anjing yang pandai menggonggong
saja akan tetapi tidak mampu menggigit !”
Tentu saja tiga orang kepala pengawal itu menjadi marah bukan main, apa lagi ketika
mereka melihat betapa pandang mata semua orang berseri seolah-olah mentertawakan mereka,
walaupun tidak ada suara ketawa yang terdengar. Akan tetapi, di depan majikan mereka, tidak
berani mereka bertindak lancang.
“Taiya (tuan besar), kakek tua bangka ini terlalu menghina kami, bolehkah kami
menghajarnya ?” seorang di antara mereka minta perkenan.
Ciu Wan-gwe kembali memandang kakek itu. “Kakek tua, beranikah engkau melawan
tiga orang kepala pengawal kami ini ?” Lalu disambungnya, “Kalau kau tidak berani, cepat
berlutut dan minta ampun kepada puteriku, juga kepada tiga orang kepala pengawalku !”
“Ho – ho, jangankan baru tiga ekor anjing penjilat ini, biar ditambah tigapuluh lagi,
tongkatku masih sanggup mengusir mereka !” Kakek itu mengacung-acungkan tongkat
hitamnya seolah-olah bersikap hendak mengusir anjing-anjing yang berani mengganggunya.
Tentu saja ucapan dan sikapnya ini dianggap keterlaluan dan mulailah orang-orang menganggap
bahwa kakek itu tentu seorang yang miring otaknya. Ciu Wan-gwe juga menduga demikian,
maka diapun merasa tidak enak kalau tiga orang kepala pengawalnya sampai mengeroyok
seorang kakek tua renta yang gila.
“Seret orang tua gila ini keluar pintu dan lemparkan dia di jalanan !” bentak Ciu Wangwe
kepada tiga orang kepala pengawalnya.
Tiga orang kepala pengawal yang tadinya marah sekali itu kinipun saling pandang.
Mereka juga menduga bahwa kakek ini tentu orang gila, maka tidak enaklah hati mereka kalau
harus menghajar, apa lagi mengeroyok seorang kakek gila yang sekali dorong saja akan roboh
dan mungkin tewas. Mereka tidak mau mencari perkara dan biarlah mereka akan menyeret saja
kakek itu dan melemparnya keluar pintu seperti yang diperintahkan majikan mereka.
“Kakek gila, minggatlah dari sini !” teriak mereka dan tiga orang kuat itu lalu
mencengkeram tubuh si kakek. Seorang memegang lengan kiri, seorang memegang lengan kiri,
seorang lengan kanan dan orang ke tiga mencengkeram tengkuk kakek itu. Mereka bermaksud
untuk menyeretnya dan melemparkannya keluar.
Akan tetapi kini terjadi keanehan yang membuat semua orang terbelalak. Tiga orang
kepala pengawal itu tentu saja adalah orang-orang yang bertenaga besar, berusia kurang dari
limapuluh tahun dan memiliki ilmu silat yang cukup lihai. Akan tetapi kini mereka bertiga itu
nampak terkejut karena ternyata mereka tidak kuat dan tidak mampu menarik tubuh si kakek tua !
Pedang Naga Kemala > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com 108
Biarpun mereka telah mengerahkan tenaga membetot-betot, namun sedikitpun tubuh kakek itu
tidak bergeming ! Kakek itu berdiri tegak dan hanya tersenyum menyeringai, akan tetapi tiga
orang kepala pengawal itu seperti tiga ekor monyet yang berusaha mencabut sebatang pohon
yang akarnya mencengkeram tanah amat kuatnya ! Tiga orang itu tentu saja bukan hanya
terkejut dan heran, akan tetapi juga penasaran sekali.
“Uhhh ! Hehhh ! Uhhh !” Mereka mengerahkan tenaga sekuatnya, tidak percaya bahwa
mereka tidak akan mampu menyeret tubuh tua yang ringkih itu.
“Prooott .......... !” Tanpa disangka-sangka, dan tidak dapat ditahan-tahan, seorang di
antara tiga kepala pengawal itu yang pagi tadi terlalu banyak makan bubur gandum,
mengeluarkan gas yang memberobot dari belakang. Agaknya pengerahan tenaga sekuatnya itu
membuat bendungan belakangnya jebol.
“Uwahhhh .......... bau kentut busuk .......... !” Kakek itu menutupi hidungnya dengan
sikap jijik dan memandang kepada Ciu Wan-gwe. “Wan-gwe lihat, betapa sia-sianya memberi
makan enak kepada mereka ini, hanya menjadi kentut busuk saja !”
Terdengar suara ketawa karena mereka yang nonton di luar pintu gerbang tak dapat
menahan rasa geli di dalam hati mereka melihat peristiwa lucu itu. Tentu saja tiga orang kepala
pengawal itu selain terkejut dan heran, juga marah dan penasaran sekali. Kini merekapun dapat
menduga bahwa kakek ini seorang pandai, akan tetapi karena kakek itu mereka anggap terlalu
menghina dan juga merendahkan mereka dalam pandangan Ciu Wan-gwe, berarti membahayakan
kedudukan mereka, maka merekapun menjadi nekat.
“Tuabangka, engkau menggunakan ilmu siluman !” teriak mereka dan kini mereka tidak
hanya berusaha menyeret, melainkan menggerakkan tangan untuk memukul tubuh kakek kecil
kurus itu dengan pengerahan tenaga yang kuat. Tiga buah tangan yang dikepal kuat menghantam
ke arah punggung, dada dan kepala kakek itu yang agaknya sama sekali tidak mau mengelak atau
menangkis. Melihat ini, semua orang merasa khawatir, bahkan Ciu Wan-gwe sendiri
mengerutkan alisnya. Kakek itu tentu akan tewas dan dia tidak suka melihat tiga orang kepala
pengawal itu membunuh orang di rumahnya tanpa perintah darinya.
Terdengar suara bak – bik – buk ketika tiga kepalan tangan itu menimpa sasarannya.
Akan tetapi terjadilah keajaiban. Bukan tubuh kecil kurus itu yang ringsek, melainkan tubuh tiga
orang kepala pengawal itulah yang terpental, terjengkang dan terbanting keras ke atas tanah !
Tiga orang kepala pengawal itu tidak terluka parah, hanya benjut-benjut saja karena
terbanting. Mereka terpental oleh tenaga sendiri yang membalik secara aneh. Andaikata mereka
tadi memukul dengan tenaga kecil, tentu mereka tidak akan menderita apa-apa, dan mungkin
hanya pukulan itu membalik. Akan tetapi mereka menggunakan tenaga besar dan ketika tenaga
mereka membalik, mereka seperti terpukul oleh tenaga sendiri yang membuat mereka terpental
dan terjengkang.
“Kakek iblis !” Teriak mereka dan kini mereka sudah menyambar golok mereka. Tiga
orang ini adalah kepala pengawal Ciu Wa –gwe yang berpengaruh di antara para pejabat daerah,
oleh karena itu mereka berani mempergunakan senjata tajam walaupun ada peraturan resmi dari
Pedang Naga Kemala > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com 109
pemerintah yang melarang orang memiliki dan membawa senjata tajam. Dengan kemarahan
meluap, tiga orang itu sudah menerjang kakek kecil kurus dan pendek itu tanpa banyak cakap
lagi.
Ciu Wan-gwe hendak mencegah, akan tetapi tiba-tiba diapun tertarik sekali. Siapa tahu
kakek pendek kecil ini seorang yang sakti dan dia amat membutuhkan orang sakti, terutama
sekali yang akan mampu menandingi pistolnya ! Dia membutuhkan seorang pengawal sakti,
bukan hanya untuk menjaga keselamatan keluarganya, juga terutama sekali untuk dapat menjadi
guru Kui Eng. Maka, dia membiarkan tiga orang kepala pengawalnya itu untuk menyerang
kakek itu untuk mengujinya.
Semua orang memandang dengan mata terpentang lebar-lebar untuk mengikuti gerakan
mereka yang berkelahi. Tiga orang kepala pengawal itu menyerang si kakek kecil dari tiga
jurusan dan kakek itu agaknya tidak akan berpindah dari tempat dia berdiri. Akan tetapi sungguh
aneh sekali. Ketika tiga orang penyerang itu telah tiba dekat dan golok mereka itu sudah
menyambar, hanya tinggal beberapa sentimeter saja dari tubuh kakek itu, tiba-tiba mereka bertiga
mengeluarkan teriakan kaget dan tubuh mereka terlempar ke kanan kiri, padahal kakek itu hanya
memutar tasbehnya satu kali saja dan tidak kelihatan tasbeh itu mengenai tubuh mereka. Sekali
ini, tiga orang kakek itu terbanting keras sekali dan golok mereka terlepas, dan sekali ini tidak
mudah bagi mereka untuk meloncat bangun, melainkan mengaduh-aduh dan mencoba untuk
merangkak bangun.
Kini mereka telah sampai di batas yang tidak mungkin untuk mundur lagi. Mereka jelas
telah mendapat malu dari kakek itu, bukan hanya di depan majikan mereka, bahkan di depan
banyak orang yang berkerumun di depan pintu. Mereka akan menjadi bahan ejekan, nama
mereka akan merosot dan jatuh. Tidak ada lain jalan kecuali nekat mengadu nyawa dengan orang
yang mendatangkan malapetaka bagi mereka itu. Biarpun tubuh mereka terasa sakit-sakit, dan
biarpun mereka kini sudah tahu bahwa kakek itu sungguh seorang yang amat lihai, mereka yang
sudah nekat itu lalu berhasil bangkit kembali, mengambil golok mereka dan dengan sikap
mengancam kini mengurung kakek itu yang hanya tersenyum menyeringai dengan sikap
mengejek dan memandang rendah.
“Tahan .......... !” Tiba-tiba terdengar bentakan Ciu Wan-gwe kepada tiga orang kepala
pengawalnya. “Mundurlah kalian dan biarkan aku bicara dengan kakek itu !”
Mendengar perintah majikan mereka, tiga orang itu menyimpan golok dan mundur,
dengan hati yang agak lega karena mereka kini dapat menghentikan perkelahian itu bukan karena
kalah, melainkan karena dilerai dan dilarang oleh majikan mereka. Semua orang dapat melihat
bahwa walaupun sudah dua kali roboh, mereka masih belum menyerah dan akan menyerang lagi,
berarti mereka belum kalah ! Mereka kini berani mengangkat dada sambil mundur mendekati
nona majikan, juga murid mereka yang kini bersama ayahnya sudah turun dari atas undakundakan.
“Orang tua yang gagah,” kata Ciu Wan-gwe ketika berhadapan dengan kakek itu.
“Sudah lama sekali kami mencari seorang pengawal yang memiliki kesaktian. Akan tetapi usaha
kami itu selalu gagal karena semua pelamar tidak mampu lulus dalam ujian yang kami adakan.
Pedang Naga Kemala > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com 110
Melihat kehebatanmu yang mampu melawan tiga orang kepala pengawalku, agaknya engkau
memiliki kepandaian yang tinggi. Maukah engkau menjadi pengawal keluarga kami ? Berapa
saja upah yang kauminta, tentu akan kami penuhi !”
Sejenak mata kakek itu memandang Ciu Wan-gwe dengan sinar mata penuh selidik,
kemudian dia tertawa. “Heh – heh, semua orang di dunia ini gila akan uang, dari kecil sampai
tua dan mati. Akan tetapi apakah artinya uang bagi seorang tua renta macam aku ini ? Tidak,
Wan-gwe, aku tidak gila harta. Aku mau tinggal di sini dan menjadi pengawal keluargamu,
bukan untuk uang, melainkan untuk anak itu !” Kakek kecil pendek itu menudingkan tongkat
hitamnya ke arah Kui Eng yang sejak tadi berdiri nonton dengan sepasang mata bersinar-sinar.
Mendengar ucapan itu, Ciu Wan-gwe mengerutkan alisnya dan sudah siap mengerahkan
seluruh pengawalnya kalau kakek kecil itu hendak berbuat yang tidak sepatutnya. “Orang tua
yang aneh, apa artinya kata-katamu yang menyangkut puteri kami ini ?” tanyanya dengan suara
setengah membentak karena dia menyangka bahwa kakek itu mempunyai niat yang tidak baik.
“Heh – heh, kalau bukan karena puterimu itu, perlu apa aku datang ke tempat ini ? kakek
itu balas bertanya. “Tadi aku telah melihat gerak-geriknya dan aku berpendapat bahwa baru
sekaranglah aku menemukan calon murid yang sudah lama kucari-cari.”
Mendengar ini, bukan main girangnya rasa hati Ciu Wan-gwe. “Kakek yang sakti, tidak
mudah menjadi guru puteriku dan pengawal pribadi keluargaku. Engkau harus melalui sebuah
ujian dariku ………. “
”Heh – heh, kau terlalu mengandalkan dan membanggakan senjata apimu itu, Wan-gwe.
Orang lain boleh jadi takut menghadapinya, akan tetapi aku tidak !”
Mendengar jawaban ini, hati Ciu Wan-gwe menjadi semakin girang. Baru sekaranglah
timbul harapan di dalam hatinya yang ingin menemukan seorang yang demikian saktinya
sehingga bukan saja berilmu tinggi, akan tetapi juga mampu mengalahkan lawan yang
mempergunakan senjata api.
Ketika dia melihat bahwa banyak orang berkerumun di depan pintu gerbang, Ciu Wangwe
lalu menyuruh para pengawal mengusir orang-orang itu dan menutupkan daun pintu
gerbang, kemudian dia mempersilahkan kakek itu dengan sikap hormat. “Orang tua yang gagah,
sebelum kita bicara tentang pengangkatanmu sebagai pengawal keluarga dan guru puteriku,
marilah lebih dahulu buktikan bahwa engkau mampu menandingi orang yang mempergunakan
senjata api. Bagaimana ?” Berkata demikian, hartawan itu lalu mengeluarkan sebuah pistolnya,
senjata yang amat diandalkan, dan yang ditakuti oleh semua orang, termasuk para pengawalnya.
Entah sudah berapa banyak orang berkepandaian tewas atau luka-luka oleh senjata ini ketika
mereka diuji untuk menjadi pengawal keluarga Ciu.
Kakek itu terkekeh. “Heh – heh, boleh saja, boleh sekali. Bagaimana caranya, Wangwe?”
“Seperti yang pernah saya lakukan kepada para pelamar pekerjaan pengawal keluarga
kami. Engkau berdiri dalam jarak tiga tombak dan menghadapi serangan pistolku sebanyak tiga
kali. Kalau engkau tidak roboh oleh tiga kali tembakan, berarti kau lulus. Akan tetapi kalau
Pedang Naga Kemala > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com 111
merasa gentar, sebaliknya batalkan saja karena sudah banyak orang yang terluka bahkan tewas
oleh peluru-peluru pistol ini.” Berkata demikian, Ciu Wan-gwe mengelus pistolnya yang
dipelihara baik-baik sampai mengkilap.
Kakek itu terkekeh. “Heh – heh – heh, jarak tiga tombak cukup dekat bagiku untuk
merobohkan orang yang akan menembakku. Mungkin sebelum menembak dia sudah jatuh
olehku. Akan tetapi kalau engkau hendak mengujiku dengan tiga tembakan, silahkan, wan-gwe.”
Tembakan pertama akan kutangkis. Tembakan ke dua akan kuelakkan dan tembakan ke tiga
sebelum meletus, pistol itu sudah akan pindah ke tanganku !”
Semua orang terbelalak dan menganggap kakek itu benar-benar sudah gila, atau memang
orangnya sombong setengah mati. Mana ada orang mampu menangkis peluru ? Mengelakkan
mungkin bisa walaupun hal ini amat sukar dan berbahaya. Dan merampas peluru sebelum
ditembakkan juga rasanya tidak mungkin.
Akan tetapi Ciu Wan-gwe mempunyai penilaian tinggi terhadap kakek kecil pendek ini
dan diapun mengajak kakek itu untuk pergi ke ruangan belakang. “Kami mempunyai ruangan
yang khusus untuk ujian itu, agar peluru tidak sampai nyasar membahayakan orang lain.”
Sambil tersenyum-senyum kakek itu lalu mengikuti Ciu Wan-gwe dan para pengawal
yang semua segera tertarik untuk menyaksikan kelihaian kakek ini. Kui Eng sendiri sejak tadi
sudah merasa kagum kepada kakek yang mampu mengalahkan tiga orang gurunya hanya dalam
dua gebrakan saja, maka iapun tidak mau ketinggalan dan ikut ke ruangan itu dengan wajah
berseri dan pandang mata bersinar-sinar.
Suasana amat menegangkan ketika kakek itu dengan kedua tangan masih memegang
tongkat dan tasbeh, berdiri dengan sikap amat tenangnya di depan Ciu Wan-gwe, hanya dalam
jarak tiga tombak saja, kurang lebih lima meter !
“Sebelum aku menembakkan pistolku, aku ingin mengetahui siapakah sebetulnya
locianpwe ini, datang dari mana dan mengapa tiba-tiba saja mengunjungi kami ?” Ciu Wan-gwe
bertanya sambil menimang-nimang pistolnya yang sudah diisi enam peluru baru. Karena dia
sendiri tidak pandai ilmu silat dan untuk mempelajarinya memakan waktu lama dan dia tidak
tekun, maka dia mempelajari ilmu menembakkan pistol itu dan dalam hal ini Ciu Wan-gwe dapat
dibilang mahir juga. Tidak enak rasanya menembak orang yang belum diketahuinya siapa karena
mungkin saja kakek ini akan tewas oleh peluru pistolnya.
“Ciu wan-gwe, begitu memasuki Tung-kang, aku sudah mendengar bahwa engkau
mencari seorang pengawal keluarga dengan ujian pistol. Kau ingin mengetahui namaku ? Heh –
heh, aku tidak punya nama, akan tetapi aku pernah dikenal orang dengan julukan Tee-tok (Racun
Bumi), heh – heh ! Dan tempat tinggalku adalah di dunia ini, di mana saja aku berada di situlah
tempat tinggalku. Nah, aku sudah siap, Ciu Wan-gwe.”
Nama ini sama sekali tidak dikenal oleh Ciu Wan-gwe maupun para pengawalnya yang
saling pandang. Akan tetapi sikap kakek itu sungguh mengesankan hati semua orang dan kini
timbul kepercayaan di hati hartawan itu bahwa kakek inilah yang kiranya akan mampu lulus ujian
pistolnya.
Pedang Naga Kemala > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com 112
“Baik, locianpwe, aku akan menghitung sampai tiga baru akan kutembakkan peluru
pertama yang disusul peluru ke dua dan ke tiga tanpa hitungan lagi. Awas, tembakanku cepat
dan tepat, locianpwe.”
“Ha – ha – ha, aku sudah siap sejak tadi, mulailah !”
“Satu .......... dua .......... tiga ..........Dorrr .......! Tringgg .......... !”
Ketika Ciu Wan-gwe tadi menghitung sampai tiga, Kakek itu tiba-tiba memutar
tongkatnya dan nampaklah gulungan sinar hitam lebar menutupi tubuhnya di bagian depan
seperti sebuah perisai lebar sehingga ketika tembakan pertama dilakukan, peluru itu tertangkis
perisai istimewa itu dan pelurunya terpental entah kemana.
Ciu Wan-gwe terkejut dan sudah siap menembakkan peluru ke dua. Pada jaman itu,
pistol yang dipergunakan besar dan berat, memiliki daya tendang yang kuat sehingga untuk
menembakkannya orang harus mengerahkan tenaga dan membanting ke depan. Hal ini tentu saja
memperlambat gerakan menembak dan begitu pistol itu meledak dan asap mengepul sebagai
tembakan ke dua, tubuh kakek kecil pendek itu sudah lenyap karena dia sudah melempar tubuh
ke atas tanah, beberapa detik saja dari lewatnya peluru yang mengenai dinding tebal di
belakangnya ! Ternyata kakek itu mampu menghindarkandiri dari peluru ke dua dengan cara
mengelak seperti yang dijanjikannya tadi.
Ciu Wan-gwe melihat tubuh kecil itu bergulingan. Dia teringat bahwa kakek tadi berjanji
akan merampas pistol sebelum tembakan ke tiga kalinya dilakukan. Biarpun dia kagum terhadap
kakek yang mampu menghindarkan diri dari dua kali tembakan, namun rasa harga dirinya dan
kebanggaannya tersinggung kalau dia dikalahkan, maka dia sengaja memegang pistolnya eraterat
dan cepat-cepat hendak menembakkan peluru ke tiga ke arah tubuh yang bergulingan
sebelum pistolnya terampas sehingga andaikata dia luput menembak juga, tetap saja pistol itu
berada di tangannya dan tidak terampas. Dengan demikian, walaupun si kakek lulus, akan tetapi
tidak mampu merampas pistolnya ! Akan tetapi tubuh itu bergulingan dengan amat cepatnya
sehingga sukarlah dia menentukan bidikannya. Sasaran yang bergerak demikian cepatnya
memang sukar ditembak.
Tiba-tiba nampak sinar hitam kecil berkelebat, disusul teriakan Ciu Wan-gwe dan pistol
itu tiba-tiba saja terlepas dari tangannya yang mendadak menjadi lumpuh karena pergelangan
tangannya tadi disambar sebutir biji tasbeh yang tepat mengenai jalan darahnya ! Sebelum dia
mampu berbuat sesuatu, tiba-tiba saja tubuh yang bergulingan itu berkelebat dan pistol yang jatuh
ke atas tanah itu telah disambar oleh tangan si kakek kecil yang kini sudah berdiri lagi sambil
memegang pistol yang masih mengepulkan asap itu, menimangnya dengan alis mata berkerut dan
hidung diangkat mencemoohkan !
“Bagus .......... , bagus .......... !” Kui Eng bersorak dan bertepuk tangan dan perbuatan ini
segera diturut oleh para pengawal yang merasa kagum bukan main. Kalau tidak menyaksikan
dengan mata kepala sendiri tentu mereka tidak akan percaya bahwa ada orang bukan hanya
berhasil menghadapi serangan tiga kali tembakan dari jarak dekat, bahkan sebelumnya telah
menentukan cara penghindaran diri dengan menangkis, mengelak lalu merampas pistol ! Setelah
kehilangan rasa kagetnya, Ciu Wan-gwe yang ternyata tidak mengalami cedera, hanya kaget
Pedang Naga Kemala > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com 113
karena tangannya tiba-tiba lumpuh, kini ikut pula bertepuk tangan memuji. Dia tersenyum girang
ketika kakek itu tanpa berkata-kata mengembalikan pistolnya yang cepat disimpannya.
Sebagai orang yang pandai mengambil hati pembantu yang berguna, Ciu Wan-gwe lalu
menjura ke arah Tee-tok dan berkata, “Ah, sungguh Thian telah mengirimkan seorang sahabat
dan seorang pandai yang sakti kepada keluarga kami. Locianpwe, mulai hari ini, locianpwe
adalah penyelamat keluarga kami dan murid anak tunggal kami. Kui Eng, cepat beri hormat
kepada suhumu !”
Kui Eng adalah seorang anak perempuan yang cerdik sekali. Biarpun ia pernah dilatih
oleh para pengawal ayahnya, akan tetapi ia tidak pernah menganggap mereka itu guru-gurunya
apa lagi karena merupakan nona majikan mereka. Kini, berhadapan dengan seorang kakek yang
begitu sakti, tanpa ragu-ragu lagi iapun menjatuhkan diri berlutut memberi hormat delapan kali
kepadanya.
“Suhu, terimalah hormat teecu Ciu Kui Eng !”
“Ha – ha – ha, namamu Ciu Kui Eng ? Bagus, mulai sekarang engkau menjadi muridku.
Kui Eng, engkau tidak tahu bahwa mulai detik ini, engkau telah mengangkat dirimu sendiri
menjadi calon wanita paling lihai di dunia ini !”
Semua orang yang mendengar ucapan ini menganggap bahwa kakek itu memang
sombong sekali. Akan tetapi Kui Eng tidak berpendapat demikian. Ia percaya penuh akan
ucapan suhunya dan ia menganggap bahwa suhunya adalah orang yang paling pandai di dunia
persilatan. Dugaannya memang tidak meleset jauh karena pada jaman itu, orang yang dapat
manandingi Tee-tok memang hanya dapat dihitung dengan jari tangan saja.
Mulai hari itu, Tee-tok tinggal bersama keluarga hartawan Ciu Lok Tai. Biarpun
dianggap pengawal pribadi keluarga Ciu, namun dia tidak pernah bekerja sebagai pengawal dan
semenjak dia berada di situ, tidak pernah ada orang seperti mendiang Tan Siucai yang berani
mati, apa lagi sekarang setelah tersiar berita bahwa pengawal keluarga itu adalah seorang yang
demikian saktinya sehingga mampu melawan musuh yang mempergunakan senjata api ! Dan
biasanya, berita itu selalu dibesar-besarkan, semut menjadi gajah, sehingga nama Tee-tok
menjadi semakin terkenal dan ditakuti orang.
Yang merasa beruntung adalah Kui Eng. Anak perempuan ini memang sejak kecil amat
suka mempelajari ilmu silat dan ia memiliki bakat yang amat baik. Kini, di bawah bimbingan
seorang guru yang amat pandai, tentu saja ia memperoleh kemajuan pesat sekali sehingga
gurunya sendiripun merasa senang kepadanya. Ia berkemauan keras dan tidak mengenal lelah,
berlatih dengan tekunnya di samping kecerdikannya sehingga setiap jurus ilmu silat yang
diajarkan gurunya, betapapun sukarnya, dipelajari dan dilatihnya sampai sempurna benar baru ia
mau berhenti latihan. Setelah menjadi murid Tee-tok yang berwatak aneh dan tidak perdulian,
watak Kui Eng menjadi semakin keras, angkuh dan manja, akan tetapi iapun amat menghargai
kegagahan dan tidak mau bersikap rendah.
***
Pedang Naga Kemala > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com 114
Sang Waktu melesat dengan kecepatan kilat, dan hal ini terbukti apa bila kita mengenang
kembali masa lampau. Demikian cepatnya sang waktu berkelebat sehingga tahun-tahun
beterbangan seperti detik-detik saja. Seorang kakek-kakek akan teringat masa kanak-kanaknya
seperti baru kemarin saja dan agaknya sukar untuk percaya bahwa waktu kanak-kanak itu telah
ditinggalkannya selama puluhan tahun lamanya ! Sebaliknya, kalau kita mengamati dan
memperhatikan, waktu merayap seperti siput, perlahan-lahan dan seperti tidak pernah maju.
Sang Waktu nampak diam namun bergerak, dan memiliki kekuasaan yang tak terbatas,
seperti juga Tanah. Waktu menelan dan melahap semuanya, apa saja yang nampak, apa saja
yang hidup. Bahkan segala macam perasaanpun ditelannya habis-habis. Kesenangan, kedukaan,
apa saja, akan lenyap ditelan waktu, seperti juga Tanah yang akhirnya menelan segala sesuatu di
dalam perutnya.
Waktu melesat dengan cepat dan hampir enam tahun lewat semenjak Siauw-bin-hud
berjanji kepada para tokoh yang memperebutkan pedang pusaka Giok-liong-kiam, untuk mencari
pusaka itu. Selama waktu itu, Siauw-bin-hud mengajak Ci Kong merantau sambil melakukan
penyelidikan. Anak itu sendiri tidak tahu bagaimana cara kakek itu melakukan penyelidikan,
akan tetapi sering kali di waktu malam, kakek itu lenyap.
Pada suatu pagi, nampak seorang kakek gendut berjalan memasuki kota Nan-ping di
Propinsi Hokkian, ditemani seorang pemuda yang berpakaian sederhana, bertubuh tegap dan
nampaknya seperti seorang pemuda petani biasa. Wajah pemuda ini tampan dan sikapnya gagah
walaupun dari gerak-geriknya terbayang kesederhanaan dan kerendahan hati. Usianya kurang
lebih sembilanbelas tahun. Kakek gendut itu kepalanya gundul bulat seperti juga perutnya.
Wajahnya periang, matanya berseri lembut dan mulutnya tersenyum-senyum, usianya sukar
ditaksir karena wajahnya yang berseri itu masih nampak segar. Dia bisa saja berusia
delapanpuluh tahun, akan tetapi mungkin juga kurang dari enampuluh tahun. Jubahnya dan
kepalanya gundul menandakan bahwa kakek itu seorang hwesio. Jubahnya berwarna kuning
longgar.
Kakek itu bukan lain adalah Siauw-bin-hud, tokoh Siauw-lim-pai yang hampir enam
tahun yang lalu keluar dari ruangan pertapaannya, hanya untuk dihadapkan sebuah tugas yang
amat sulit, yaitu mencari sebuah pusaka yang dirampas oleh seorang yang agaknya menyamar
sebagai dirinya. Tanpa mengetahui siapa orang itu, di mana tempat tinggalnya, bahkan
selamanya belum pernah dia melihat Giok-liong-kiam, tentu saja mencari perampas itu tidaklah
mudah. Dia sudah melakukan penyelidikan dengan cermat selama hampir enam tahun dan
barulah dia menduga-duga siapa adanya orang yang telah memalsukan dirinya itu. Namun, dia
masih belum yakin benar dan karena itu, pada pagi hari ini dia bersama cucu muridnya, Tan Ci
Kong, berada di kota Nan-ping.
Selama itu, sambil merantau melakukan penyelidikan mencari jejak perampas Giok-liongkiam,
kakek ini setiap hari melakukan penggemblengan atas diri cucu muridnya. Tan Ci Kong
adalah seorang pemuda yang berbakat baik sekali dan berkemauan keras. Kini, menerima
gemblengan seorang sakti seperti Siauw-bin-hud, tentu saja dia memperoleh kemajuan yang
hebat ! Kakek itu hanya menurunkan ilmu-ilmu yang amat tinggi dan lewat hampir enam tahun
itu, kini Ci Kong telah menjadi seorang pemuda berusia sembilanbelas tahun yang sakti ! Kalau
Pedang Naga Kemala > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com 115
melihat orangnya, begitu pendiam dan sederhana, seperti seorang pemuda tani saja, takkan ada
orang dapat menyangka bahwa di dalam tubuh pemuda ini tersembunyi ilmu kepandaian dan
tenaga yang sukar ditandingi.
Setelah memasuki kota Nan-ping, Siauw-bin-hud mengajak cucu muridnya terus keluar
lagi dari kota itu melaui pintu gerbang utara, kemudian berjalan mendaki sebuah bukit yang
nampak hitam kehijauan. Dari bawah, nampak tembok bangunan di puncak bukit, samar-samar
nampak di antara pohon-pohon di hutan puncak.
Ci Kong yang selalu mengikuti paman kakek gurunya itu, diam-diam merasa prihatin
karena walaupun kakek itu tidak pernah mengeluh, dia tahu betapa kakeknya belum juga berhasil
menemukan perampas Giok-liong-kiam yang dicarinya selama ini. Kini, melihat bahwa kakek
itu jelas menuju ke puncak bukit, hatinya yang merasa kasihan kepada kakek yang telah menjadi
gurunya itu dan dia tidak dapat menahan lagi keinginan tahunya.
“Susiok-couw, tempat apakah yang akan kita kunjungi di puncak bukit itu ?”
Seperti biasa kalau bicara, Siauw-bin-hud mendahuluinya dengan senyum cerah, lalu dia
berkata, “Yang di puncak bukit itu adalah pusat dari perkumpulan Ang-hong-pai.”
Biarpun dia sendiri tidak pernah dimintai bantuan atau disuruh melakukan sesuatu oleh
kakek itu dalam urusan mencari jejak pembawa Giok-liong-kiam, akan tetapi Ci Kong sudah
mendengar akan semua hal mengenai Giok-liong-kiam, semenjak dicuri orang dari Thian-te-pai
sampai menjadi perebutan dan akhirnya terampas oleh orang yang memalsukan nama Siauw-binhud.
Oleh karena itu, diapun sudah mendengar akan nama Ang-hong-pai, bahkan ketika terjadi
keributan di depan kuil Siauw-lim-si, diapun melihat sendiri sepak terjang orang-orang yang
hendak memperebutkan Giok-liong-kiam. Dari gurunya, Nam Sam Losu, diapun mendengar
banyak tentang Ang-hong-pai sebagai satu di antara pihak yang ingin memiliki pusaka yang
diperebutkan itu. Dia teringat akan cerita bahwa dalam perebutan pertama, muncul seorang
tokoh Ang-hong-pai yang tidak berhasil pula merampas pusaka itu. Sejak itu, tidak terdengar
lagi tentang orang-orang Ang-hong-pai, juga mereka tidak datang mengganggu Siauw-lim-si.
“Tentu susiok-couw hendak mencari tokoh Ang-hong-pai yang pernah bertemu dengan
perampas Giok-liong-kiam itu, bukan ?” tanyanya hati-hati.
Kakek itu tersenyum dan mengangguk. “Sudah banyak keterangan kuperoleh, akan tetapi
hatiku masih belum puas dan belum yakin benar. Keterangan terackhir yang akan meyakinkan
hatiku kuharapkan dapat diberikan oleh tokoh Ang-hong-pai itu.”
“akan tetapi mereka itu tidak pernah muncul lagi.”
“Itulah yang menarik,” kata Siauw-bin-hud. “Ketika terjadi perampasan pusaka itu oleh
orang yang memalsukan diriku, terdapat lima orang tokoh kang-ouw, yaitu Tang Kui si perwira
istana, Lui Siok Ek tokoh Thian-te-pai, Kam Hong Tek seorang pendekar selatan, Pek-bin Tiatciang
seorang tokoh sesat dan Theng Ci tokoh Ang-hong-pai. Dari kelima orang itu, yang
muncul pada enam tahun yang lalu hanya Tang Kui dan Lui Siok Ek. Pendekar Kam Hong Tek
tidak muncul, hal ini tidaklah mengherankan karena bagaimanapun juga, dia pernah menjadi
Pedang Naga Kemala > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com 116
murid Siauw-lim-pai sehingga tentu tidak berani mengganggu Siauw-lim-si. Tinggal dua orang
lagi, yaitu Theng Ci dan Pek-bin Tiat-ciang, keduanya adalah golongan sesat. Mengapa mereka
tidak muncul di Siauw-lim-si ? Kiranya dari kedua orang inilah dapat diharapkan keteranganketerangan
yang menarik dan pinceng sengaja mendatangi Ang-hong-pai karena lebih mudah
dikunjungi dari pada mencari Pek-bin Tiat-ciang yang tidak keruan tempat tinggalnya itu. Pula,
biasanya kaum wanita lebih tajam pandangannya dan lebih kuat ingatannya mengenal
seseorang.”
“Teecu harap mudah-mudahan susiok-couw berhasil.”
Kakek itu tertawa, menghentikan langkahnya dan menatap wajah pemuda itu penuh
perhatian. “Mengapa, Ci Kong ? Mengapa engkau mengharapkan aku berhasil ?”
Kini pemuda itu yang balas memandang dengan heran. “Bukankah ………. Bukankah
susiok-couw mengharapkan berhasil dalam penyelidikan selama enam tahun ini ?”
“Pinceng ? Ha – ha – ha, pinceng tidak mengharapkan apa-apa, Ci Kong !”
Pemuda itu semakin heran. Kakek ini memang seringkali bicara yang aneh-aneh dan
tidak sama bahkan kadang-kadang bertentangan dengan pendapat umum. Dan kalau sudah
demikian, dia akan mendengarkan banyak kenyataan-kenyataan hidup yang tadinya belum pernah
didengarnya dan banyak sudah ucapan kakek ini yang membuka batinnya dan membuat dia dapat
memandang dengan waspada dan bijaksana. Akan tetapi sekali ini dia merasa heran sekali.
“Maaf, susiok-couw, akan tetapi bukankah dalam setiap pekerjaan, setiap perbuatan
terkandung harapan untuk berhasil ?”
Kembali kakek itu tertawa dan aneh sekali, begitu timbul kegembiraannya untuk bicara,
dia lalu duduk di tepi jalan, bersila di atas rumput-rumput hijau. Ci Kong yang tahu akan
kesukaan gurunya, yaitu bicara dengan santai dan seenaknya, lalu duduk pula di depan gurunya.
Jalan liar ke puncak bukit itu memang sunyi sekali, tidak nampak orang lain kecuali mereka dan
hawa udara amat sejuk, sinar matahari pagi amat cerah.
“Ci Kong, karena adanya harapan untuk mencapai hasil inilah maka timbul segala macam
konflik di dalam batin. Adanya harapan untuk mencapai hasil ini membuat gerak perbuatan itu
sendiri menjadi palsu, setengah-setengah, tidak sepenuhnya dan membuat perbuatan itu
kehilangan gairahnya, kehilangan mutu dan nikmatnya. Sebaliknya, kalau setiap perbuatan itu
hidup, barulah kita dapat menikmati setiap perbuatan kita, barulah perbuatan itu benar dan
bersih.”
Ci Kong mengangguk-angguk. Sebagai seorang yang cerdik, diapun maklum apa yang
dimaksudkan oleh kakek itu. Memang, pengejaran akan hasil baik, dan biasanya hasil baik ini
berlandaskan kepentingan dan kesenangan diri pribadi, membuat apa yang dilakukan itu
seringkali menjadi berobah sifatnya, dapat menimbulkan penyelewengan-penyelewengan dan
kejahatan dalam pelaksanaannya. Perbuatan yang ditunggangi pamrih mencapai sesuatu selalu
condong untuk menyeleweng, terdorong oleh keinginan mencapai hasil yang menyenangkan diri
Pedang Naga Kemala > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com 117
sendiri itu, kalau perlu boleh saja menyusahkan orang lain. Akan tetapi Ci Kong masih merasa
penasaran.
“Maaf, susiok-couw. Kalau dalam setiap perbuatan tidak membutuhkan harapan akan
hasil yang menjadi pendorong perbuatan itu, lalu apakah yang mendorong susiok-couw bersusah
payah, selama enam tahun menyelidiki dan mencari pusaka yang hilang itu ?”
Kembali kakek itu tersenyum lebar dan mengangguk-angguk, senang mendengar
pertanyaan yang mengandung kecerdikan itu. “Pinceng melihat bahwa perampasan
mempergunakan nama pinceng itu harus dibikin terang karena kalau tidak, hal itu akan
menimbulkan banyak sekali kekacauan, bahkan mungkin permusuhan. Karena melihat
pentingnya pencarian itu, maka pincengpun keluar dan mengerjakannya. Dalam minat karena
melihat kepentingannya inilah timbul gairah dan pinceng sepenuhnya dapat menikmati pekerjaan
ini karena tidak dirongrong oleh keinginan mencapai hasil.”
“Kalau begitu, apakah artinya hasil bagi susiok-couw ?” Apakah artinya bagi susiokcouw
berhasil atau tidaknya usaha susiok-couw mencari pusaka itu ?”
Kakek itu tersenyum dan menggeleng kepala perlahan. “Jelas tidak ada bedanya bagiku
pribadi, Ci Kong. Bagi orang yang tidak menyembunyikan pamrih dalam setiap perbuatannya,
maka hasil hanya merupakan suatu akibat saja dari pada suatu pekerjaan yang dilakukan.
Berhasil ataukah tidak, sama saja dan tentu kita bertindak selanjutnya sesuai dengan akibat itu
yang berupa berhasil ataukah gagal. Maksud pinceng, kata gagal itu hanyalah kata yang dipakai
oleh umum untuk menyatakan kekecewaannya bahwa harapannya tidak terpenuhi. Akan tetapi
bagi pinceng sendiri, tidak ada kata gagal itu. Yang ada hanyalah akibat dari suatu perbuatan,
dan akibat ini berkaitan dengan perbuatannya, dan tidak mungkin dapat dirobah lagi kalau sudah
tiba, seperti buah tidak terpisah dari keadaan pohonnya, dan keadaan buah itu tidak dapat dirobah
kalau sudah terjadi. Hanya dengan merobah perbuatan saja, yang bersumber dari batin sendiri,
maka buah itupun akan berubah. Mengertikah engkau, Ci Kong ?”
Pemuda itu mengangguk. Banyak yang harus direnungkan dari hasil percakapan singkat
itu.
“Nah, marilah kita lanjutkan pendakian kita. Lihat, kedatangan kita sudah diketahui
orang,” kata kakek itu sambil bangkit berdri. Ci Kong juga bangkit dan melihat ke arah puncak.
Dan dia tertegun penuh kagum. Dari atas puncak nampak pasukan berpakaian merah dan belasan
orang yang berbaris rapi itu berlari-larian turun dengan ringan dan cepat sekali, juga selalu
berbareng dan amat indah dilihat dari bawah. Karena kakek itu melanjutkan langkahnya, kini
dengan cepat mendaki ke atas, diapun mengikuti dari belakang, diam-diam jantungnya berdebar
tegang karena dia sudah mendengar bahwa Ang-hong-pai adalah sebuah perkumpulan yang para
anggautanya terdiri dari wanita-wanita yang lihai, dan perkumpulan itu termasuk perkumpulan
kaum sesat yang amat ditakuti di dunia kang-ouw.
Setelah mereka tiba di tanah datar yang ditumbuhi rumput tebal, barulah Ci Kong
mengerti mengapa kakek itu tadi mengerahkan kepandaian untuk berlari cepat ke atas
menyambut turunnya pasukan merah itu. Kiranya suhunya memilih tempat yang lapang ini untuk
menghadapi mereka.
Pedang Naga Kemala > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com 118
Kakek itu berhenti menanti dengan sikap tenang dan wajah berseri, didampingi Ci Kong
yang juga berdiri dengan sikap tenang namun penuh kewaspadaan. Selama ini dia sudah
mengikuti kakek itu mengunjungi Thian-te-pai, bahkan menemui perwira Tang Kui di kota raja.
Dan selama ini, belum pernah kakek itu bentrok atau terlibat dalam sebuah perkelahian. Jangan
memancing perkelahian, demikian antara lain kakek itu memberi nasihat kepadanya, dan
bersikaplah sabar dan mengalah. Ilmu silat hanya untuk berjaga diri, bukan untuk mencelakai
orang. Akan tetapi karena kini menghadapi perkumpulan kaum sesat yang kabarnya amat lihai
dan jahat, agaknya kakek itupun bersikap hati-hati.
Tak lama kemudian muncullah duabelas orang wanita berpakaian serba merah,
kemunculan merekapun rapi, dengan teratur mereka berloncatan dan tahu-tahu mereka telah
membuat gerakan melingkar di depan kakek dan pemuda itu. Usia mereka antara duapuluh lima
sampai tigapuluh tahun dan rata-rata berwajah manis, dengan wajah terpelihara dan pakaian rapi
bersih seperti serombongan penari karena pakaian itu seragam. Seorang di antara mereka,
seorang wanita cantik yang mempunyai tahi lalat di dahi, tepat di tengah-tengah, berkata dengan
suara lantang.
“Pai-cu kami mengutus kami untuk menyambut locianpwe Siauw-bin-hud !”
Kakek iyu terkekeh dan Ci Kong kagum akan ketajaman penglihatan orang-orang Anghong-
pai ini. Baru saja tiba di lereng, mereka sudah tahu akan kedatangan susiok-couwnya !
“Omitohud .......... ! Terima kasih, nona. Pai-cu kalian sungguh baik sekali,” kata Siauwbin-
hud dan merangkapkan kedua tangan di depan dada.
“Pai-cu menghaturkan hormat, kemudian pai-cu mengutus kami agar minta kepada
locianpwe, berdua dengan enghiong ini, untuk segera turun bukit kembali meninggalkan wilayah
kami.”
Siauw-bin-hud hanya tersenyum lebar. “Pinceng datang bukan untuk mengunjungi Anghong-
pai atau berurusan dengan pai-cu kalian, melainkan ingin bertemu sebentar dengan seorang
anggauta atau murid Ang-hong-pai yang bernama Theng Ci.”
“Tidak bisa,” kata wanita itu. “Toa-suci sedang berlatih dengan ketua kami dan mereka
tidak mau diganggu. Harap ji-wi segera pergi saja.”
Ci Kong merasa penasaran dan diapun cepat berkata, “Susiok-couw hanya ingin bicara
sebentar dengan orang yang bernama Theng Ci, setelah bicara kami akan segera pergi tidak akan
mengganggu Ang-hong-pai. Kami datang bukan dengan niat jahat, mengapa Ang-hong-pai
menyambut tidak semestinya dan dengan sikap bermusuh ?”
Wanita itu melirik kepada Ci Kong, akan tetapi lalu menghadapi Siauw-bin-hud lagi
ketika bicara, seolah-olah merasa tidak ada gunanya bicara dengan pemuda itu. “Selama ini,Anghong-
pai tidak pernah mengganggu Siauw-lim-pai, bahkan ketika banyak orang ramai-ramai
mendatangi Siauw-lim-pai enam tahun yang lalu, Ang-hong-pai juga tidak ikut-ikut. Oleh karena
Pedang Naga Kemala > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com 119
itu, tidak ada urusan apa-apa lagi antara kedua perkumpulan, maka pai-cu kini tidak bermaksud
menerima kunjungan locianpwe untuk mengadakan urusan apapun.”
“Pai-cu kalian sungguh tidak adil !” Ci Kong berkata. “Kunjungan orang-orang ke
Siauw-lim-pai mempunyai pamrih buruk, sedangkan sebaliknya, susiok-couw mengunjungi Anghong-
pai dengan hati bersih dan penuh persahabatan. Mengapa pai-cu kalian menolak ? Kalau
begitu, harap saudari Theng-Ci yang datang ke sini menemui kami agar susiok-couw bisa bicara
dengannya !”
Kini wanita itu menghadapi Ci Kong dengan alis berkerut. “Pai-cu kami berpesan bahwa
siapa saja yang hendak naik ke puncak, harus dapat melalui Cap-ji-kiam (Duabelas Pedang) !”
Ci Kong tertegun. “Cap-ji-kiam ………. ?”
“Sing – sing – sing .......... !” Nampak sinar berkilauan susul-menyusul dan ketika Ci
Kong memandang, ternyata duabelas orang wanita berpakaian merah itu telah mencabut keluar
sebatang pedang dan berdiri dengan berbaris rapi ! Mengertilah dia bahwa yang dimaksud adalah
barisan terdiri dari duabelas orang berpedang ! Dia menoleh kepada susiok-couwnya. Kakek ini
mengangguk sambil tersenyum dan berkata lirih, “Hati-hatilah terhadap racun mereka, Ci Kong”
Ucapan ini merupakan isyarat bagi Ci Kong bahwa susiok-couwnya memperbolehkan dia
menghadapi duabelas orang wanita itu. Akan tetapi dia merasa heran mengapa kakek itu
memperingatkan dia agar berhati-hati terhadap racun mereka. Apakah pedang mereka itu
mengandung racun ? Mungkin saja. Dan pandang matanya yang tajam akhirnya dapat
menangkap kantong-kantong kecil yang tergantung di pinggang dua belas orang wanita itu.
Mengertilah dia. Agaknya para anggauta Ang-hong-pai ini memang ahli mempergunakan racunracun
dan tentu mereka biasa mempergunakan senjata gelap beracun. Diapun mengangguk
kepada susiok-couwnya yang sudah mundur dan duduk bersila di atas rumput, lalu dia melangkah
maju menghampiri duabelas orang wanita itu.
“saudara adalah murid Siauw-lim-pai, dan adalah saudara sendiri yang hendak melawan
kami, bukan kami yang memaksa saudara mati dibawah ujung senjata Cap-ji-kiam. Hal ini
disaksikan sendiri oleh locianpwe Siauw-bin-hud !” kata wanita bertahi lalat di dahi itu dengan
sikap tegas. Jelaslah bahwa ia dan teman-temannya memandang rendah kepada pemuda itu.
Kalau pemuda itu hanya cucu murid Siauw-bin-hud, apa yang harus ditakuti ? Mereka lebih
merasa sungkan kalau sampai membunuh seorang murid Siauw-lim-pai, maka sebelum hal itu
terjadi, mereka ingin kakek itu menjadi saksi bahwa pemuda itulah yang mendahului perkelahian
itu.
“Cici yang gagah tak usah khawatir. Kalau sampai aku mati di dalam pertandingan ini,
biarlah aku sendiri yang tanggung, tidak ada sangkut-pautnya dengan Siauw-lim-pai atau susiokcouw,”
kata Ci Kong dengan sikap tenang.
Sementara itu, duabelas orang wanita itu sudah bergerak mengepungnya. Mereka
melangkah mengitari pemuda itu, dengan pedang di depan dada dan tangan kanan diangkat ke
atas kepala. Melihat langkah-langkah mereka yang teratur rapi itu, mengertilah Ci Kong bahwa
dia berhadapan dengan semacam kiam-tin (barisan pedang) yang tidak boleh dipandang ringan,
Pedang Naga Kemala > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com 120
karena berbeda dengan pengeroyokan yang liar dan kacau, barisan merupakan gerakan teratur
dari banyak orang sehingga kini dia seperti juga menghadapi seorang lawan dengan satu pikiran
akan tetapi dengan duabelas badan !
“Silahkan !” katanya sambil berdiri tegak dan memasang semua kepekaan mata dan
telinga untuk mengikuti gerak-gerik para pengepungnya dengan teliti.
“Si-cu, ingat, engkau yang menentang, bukan kami. Silahkan !” terdengar wanita yang
memimpin barisan pedang itu memperingatkan dari belakangnya.
Ci Kong maklum bahwa barisan itu berlaku hati-hati. Bagaimanapun juga, susiokcouwnya
tentu tidak setuju kalau dia sampai melukai seorang di antara para pengeroyoknya.
Tidak ada permusuhan apapun antara mereka, dan wanita-wanita itupun hanya melaksanakan
tugasnya saja mentaati perintah ketuanya. Maka, dia akan mencoba untuk merampas pedang
mereka, satu demi satu dengan menggunakan penyerangan yang sukar dielakkan lawan.
“Baiklah, lihat serangan !” bentaknya dan tiba-tiba dia membuat gerakan, bukan ke depan
melainkan ke belakang, ke arah suara wanita bertahi lalat yang memimpin barisan itu. Akan
tetapi, barisan itu masih terus bergerak sehingga kedudukan wanita pemimpin itu sudah berobah
dan dengan demikian, yang diserang oleh Ci Kong adalah seorang wanita lain. Serangannya
cepat dan tangannya sudah hampir dapat mencengkeram pergelangan tangan wanita yang
memegang pedang dalam usahanya merampas pedang. Akan tetapi terdengar aba-aba pemimpin
itu dan kini pedang datang bertubi-tubi menyerangnya dari belakang, kanan dan kiri. Walaupun
kalau dilanjutkan dia akan berhasil merampas pedang dari wanita yang diserangnya, namun
sebaliknya dia terancam oleh tusukan-tusukan dan bacokan-bacokan pedang yang lain !
Terpaksa Ci Kong membatalkan niatnya merampas pedang dan dia segera
mempergunakan kegesitan tubuhnya untuk mengelak. Akan tetapi, barisan Cap-ji-kiam itu
memang hebat sekali. Dengan gerakan susul-menyusul, serangan itu terus dilakukan tak pernah
berhenti, sambung-menyambung sehingga ke manapun dia mengelak, Ci Kong sudah disambut
oleh serangan pedang berikutnya. Dia meloncat keluar dari kepungan, akan tetapi wanita bertahi
lalat itu terus-menerus mengeluarkan aba-aba dan kembali dia sudah terkepung. Gerakan mereka
cepat dan teratur.
Diam-diam Ci Kong mengatur siasat sambil terus mengelak, mengandalkan gingkang
(ilmu meringankan tubuh) yang sudah dipelajarinya secara sempurna dari susiol-couwnya.
Tubuhnya berkelebatan di antara gulungan sinar pedang berkilauan dan betapapun cepatnya para
wanita itu menggerakkan pedang, atau kadang-kadang dengan kebutan telapak tangannya, dia
bahkan mampu menangkis pedang yang tajam itu. Pemuda ini amat berhati-hati karena dia
menduga bahwa tentu pedang-pedang itu beracun. Sekali saja tergores dan terluka, mungkin dia
akan keracunan. Setelah memutar otaknya, tiba-tiba dia mendapat gagasan yang baik sekali.
Cap-ji-kiam ini bergerak secara otomatis, teratur seolah-olah duabelas orang itu merupakan alatalat
yang digerakkan oleh satu pusat. Dan diapun kini teringat bahwa pusatnya ada pada wanita
bertahi lalat di dahinya itu. Pusat inilah yang harus dilumpuhkannya terlebih dahulu agar kerja
sama mereka menjadi kacau.
Pedang Naga Kemala > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com 121
“Heeeehhhh ………. !” Tiba-tiba dia mengeluarkan suara melengking nyaring, suara
yang dikeluarkan mengandung kekuatan khikang yang menyerang lawan. Rencananya berhasil
karena lengkingan itu mengejutkan para pengepungnya, membuat mereka selama dua tiga detik
tertegun dan kesempatan ini cukuplah bagi Ci Kong. Begitu mereka berhenti bergerak, dia dapat
mencurahkan perhatian kepada wanita pemimpin barisan dan tiba-tiba dia menyuruk ke arah
wanita itu, tangan kirinya menotok dan tangan kanannya merampas pedang. Sebelum wanita itu
tahu apa yang terjadi, pedangnya telah terampas ! Ia menjerit dan memperingatkan temantemannya.
Akan tetapi Ci Kong tidak menghentikan gerakan-gerakannya. Dengan pedang
rampasan di tangan dia mengamuk. Setiap serangan lawan ditangkisnya dan begitu terkena
tangkisannya yang dilakukan denga pengerahan tenaga singkang, pedang lawan terlempar dan
terlepas dari pegangan, bahkan ada yang patah ! Terdengar suara berdencing dan berkerontangan
dan dalam waktu beberapa menit saja, akhirnya Ci Kong meloncat jauh ke belakang dengan dua
pedang rampasan di kedua tangan sedangkan duabelas orang wanita itu kehilangan semua senjata
mereka ! Mereka sama sekali tidak pernah menduga bahwa pemuda itu demikian lihainya,
menyerang mereka bertubi-tubi tak pernah berhenti dan setiap kali beradu pedang, pedang
mereka patah atau terlepas karena pemuda itu mempergunakan tenaga yang luar biasa kuatnya.
Yang membuat mereka kagum dan heran, betapa dalam waktu singkat pemuda itu mampu
melucuti senjata mereka tanpa melukai mereka sedikitpun juga ! Bahkan totokan yang
dipergunakan juga hanya membuat lengan kanan lumpuh selama beberapa detik saja, cukup
untuk membuat pedang mereka terlepas, terlempar atau terampas.
Tiba-tiba wanita bertahi lalat itu mengeluarkan aba-aba, suaranya nyaring melengking dan
mereka semua menggerakkan tangan dengan cepat. Bintik-bintik merah beterbangan menyambar
ke arah Ci Kong ! Akan tetapi pemuda ini memang sudah waspada dan siap siaga. Begitu
melihat wanita-wanita itu menggerakkan tangan diapun cepat memutar dua batang pedang yang
dirampasnya. Puluhan batang jarum halus berwarna merah yang mengandung racun itu terpental
dan runtuh semua ketika menerjang gulungan sinar yang dibuat oleh pedang yang diputar cepat.
Kiam-tin atau barisan pedang itu walaupun sudah kehilangan pedang, agaknya memiliki
cadangan karena kini mereka sudah mencabut sebatang pisau belati dari pinggang mereka ! Dan
mereka agaknya hendak nekat melanjutkan perkelahian. Akan tetapi sebelum mereka bergerak,
terdengar bentakan halus yang datangnya dari jauh, “Kalian mundurlah !”
Jilid VI *****
Mendengar bentakan halus yang datang dari jauh ini, duabelas orang wanita berpakaian
merah lalu berloncatan pergi tanpa menghiraukan lagi pedang mereka yang berserakan di atas
tanah. Ci Kong tersenyum lega dan diapun membuang sepasang pedang rampasan itu.
Akan tetapi pada saat itu, terdengar suara bisikan susiok-couwnya. “Lebah-lebah itu
berbahaya sekali, sengatannya beracun mematikan !”
Ci Kong juga mendengar suara berdengung itu, makin lama semakin kuat dan tak lama
kemudian diapun melihat serombongan lebah berwarna merah yang terbang berkelompok ke arah
dia berdiri ! Dia merasa heran dan kagum sekali. Binatang itu warnanya sungguh merah cerah,
seperti warna pakaian para wanita tadi ! Dan kalau saja tidak mendapat peringatan susiokPedang
Naga Kemala > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com 122
couwnya, dia tidak akan percaya bahwa binatang kecil mungil yang indah warnanya itu dapat
membunuh manusia dengan sengatannya. Kini lebah-lebah itu sudah datang dekat dan tiba-tiba,
seperti dikomando saja, mereka menyerbu ke arah Ci Kong !
Pemuda itu melompat jauh menghindarkan diri, akan tetapi betapapun cepatnya gerakan
tubuh pemuda itu, mana mungkin dia dapat mengalahkan lebah-lebah itu dalam hal kecepatan
gerakan ? Ci Kong mulai kewalahan karena ke manapun dia melompat, lebah-lebah itupun
mengejarnya dengan kecepatan yang mengerikan dan suara mereka berdengung itu, ditambah
lagi dengan pengetahuan bahwa sengatan mereka mematikan, makin membuat hatinya merasa
serem dan ngeri. Dia mengerahkan tenaga pada kedua tangannya dan mulailah dia mengebut ke
sana-sini, ke arah lebah-lebah yang menyerangnya. Memang hebat kebutan kedua tangan Ci
Kong. Gerakan tangannya mengandung tenaga pukulan yang mematikan dan lebah-lebah yang
terkena sambaran angin pukulan telapak tangannya, terlempar atau terbanting dan tewas seketika.
Akan tetapi, lebah-lebah itu terlalu banyak dan menyerangnya dari atas kepala sampai ke kaki,
mana mungkin dia dapat menyambut mereka semua dengan kedua tangannya. Dia bergidik
ketika merasa ada benda menyentuh leher bagian tengkuk dan cepat tangannya bergerak
menangkis. Lebah yang berhasil menyusup itu tidak keburu menyengatnya, sudah mati terpukul
tangan Ci Kong. Akan tetapi pengalaman ini membuat Ci Kong maklum bahwa hanya dengan
kedua tangannya saja, dia tidak akan mampu menyelamatkan diri. Maka dia lalu menanggalkan
bajunya dan memutar bajunya itu. Lebah-lebah itu tentu saja terdorong oleh angin yang
ditimbulkan oleh pemutaran baju itu dan mereka menjadi kacau balau. Akan tetapi, hal ini
agaknya tidak membuat mereka menjadi jerih, bahkan mereka menjadi marah, menyerang makin
liar. Begitu hebatnya serangan mereka sampai ada beberapa bagian baju Ci Kong berlubang
ketika mereka terjang !
Ci Kong melihat betapa hanya angin kebutan baju itu yang mampu mendorong lebahlebah
itu, maka ia menggunakan akal. Dia tidak memukul dengan bajunya, melainkan memutar
bajunya sedemikian rupa sehingga timbullah angin berputar yang menggulung lebah-lebah itu.
Sekali masuk ke dalam putaran angin yang ditimbulkan oleh putaran baju, lebah-lebah itu tidak
lagi mampu menguasai diri sendiri dan tergulung atau terlibat ke dalam putaran angin hanya
terbang berputaran dengan kacau. Ci Kong bermaksud menggulung mereka sedemikian rupa,
lalu membungkus dengan bajunya. Usahanya berhasil. Makin cepat dia memutar bajunya, angin
putaran itu semakin kuat dan lebah-lebah itu semakin cepat pula terputar dan akhirnya, begitu Ci
Kong menggerakkan baju menelungkup ke arah kelompok lebah, binatang-binatang itu kena
ditangkapnya di dalam gulungan bajunya ! Beberapa ekor lebah yang luput dan berada di luar
gulungan baju, karena tiba-tiba kehilangan semua kawannya, menjadi bingung dan ketakutan,
lalu terbang pergi.
Suara berdengung di dalam gulungan baju itu nyaring sekali, dan Ci Kong sudah
tersenyum. Kini sekali banting saja bajunya ke atas tanah, lebah-lebah di dalamnya akan mati
semua.
“Tahan .......... ! Tiba-tiba terdengar bentakan halus ketika dia sudah mengangkat bajunya
yang berisi lebah-lebah itu ke atas. Ci Kong menahan gerakannya, menoleh dan melihat seorang
wanita yang diikuti oleh duabelas orang wanita Cap-ji-kiam tadi.
Pedang Naga Kemala > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com 123
“Si-cu, paicu kami minta agar engkau suka mengampuni lebah-lebah itu,” kata wanita
bertahi lalat di dahinya.
“Hemm, bagaimana aku dapat melepaskan lebah-lebah jahat ini ? Begitu dilepas dia akan
menyerangku dan mungkin mencelakai orang lain.”
Wanita cantik itu juga memakai pakaian serba merah akan tetapi berbeda dengan yang
lain, pakaiannya lebih indah, terbuat dari sutera mahal dan nampak ia anggun dan berwibawa
sekali. “Lepaskan dan aku tanggung mereka tidak akan menyerang siapapun juga,” katanya.
Diapun mengeluarkan sebuah bumbung bambu dan mengangkatnya ke atas.
Ci Kong yang mendengar bahwa wanita ini adalah ketua Ang-hong-pai, mempercaya
kata-katanya dan diapun mengebutkan bajunya. Baju terbuka dan lebah-lebah merah itupun
terpental keluar. Sejenak mereka beterbangan kacau, lalu berkumpul lagi di udara dan tiba-tiba
mereka terbang cepat ke arah bumbung bambu yang dipegang oleh ketua Ang-hong-pai. Seperti
sekelompok kanak-kanak yang pulang sehabis bermain-main, mereka berebutan memasuki
lubang di bumbung itu. Wanita baju merah itu lalu menutup bumbung dengan kayu berlubanglubang
kecil dan menyerahkan bumbung itu kepada wanita bertahi lalat di dahi. Kemudian ia
menoleh dan menghadapi Ci Kong sambil berkata, “Murid Siauw-lim-pai, biarpun masih muda
akan tetapi sungguh lihai.” Kemudian ia melangkah ke arah Siauw-bin-hud dan memberi hormat
dengan sikap sopan.
“Locianpwe, maafkan kelancangan kami tadi.”
Sejak tadi, Siauw-bin-hud hanya menonton saja cucu muridnya berjuang melawan Cap-jikiam,
kemudian melawan rombongan lebah merah, sambil tersenyum girang karena dia melihat
kegagahan dan kecerdikan pemuda itu. Ketika muncul ketua Ang-hong-pai, dia sudah siap untuk
menjaga keselamatan cucu muridnya. Dia sudah mengenal ketua ini, seorang wanita yang amat
lihai dan berbahaya. Akan tetapi agaknya wanita itu tidak bermaksud buruk. Sambil tertawa
diapun bangkit berdiri dan membalas penghormatan ketua Ang-hong-pai itu.
“Aha, ketua dari Ang-hong-pai sungguh lihai, dapat mengalahkan usia agaknya ! Sudah
lewat puluhan tahun masih nampak muda saja,” kata Siauw-bin-hud. Memang mengagumkan
sekali ketua Ang-hong-pai itu. Usianya kini ada enampuluhan tahun, akan tetapi masih tetap
cantik, ramping dan orang akan menyangka bahwa usianya paling banyak tigapuluh tahun saja !
Pai-cu itu tersenyum manis. “Dan Siauw-bin-hud tetap seorang locianpwe yang tidak
pernah susah agaknya. Dibandingkan dengan aku, Siauw-bin-hud jauh lebih muda dan selalu
bergembira lahir batin, sedangkan aku .......... ah, hanya lahirnya saja nampak muda, akan tetapi
batinnya sudah tua sekali !”
Siauw-bin-hud tertawa dan lebih berhati-hati. Wanita ini, setelah kurang lebih tigapuluh
tahun tidak dijumpainya, ternyata semakin cerdik dan berbahaya saja. Kata-katanya sudah
matang dan siapa yang dapat menduga isi hati wanita ini ?
“Pai-cu, engkaupun maafkanlah cucu muridku yang telah berani menentang hadangan
Cap-ji-kiam dan tawon-tawon merahmu.”
Pedang Naga Kemala > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com 124
“Sudahlah,” wanita itu menarik napas panjang dan memandang kepada Ci Kong.
“Orang-orang macam kita yang sudah berkecimpung di dalam dunia persilatan, kalau tidak
bertanding dulu mana dapat saling mengenal ? Karena tadi yang maju pemuda ini, maka muridmuridku
dan lebah-lebahku berani keluar mencoba-coba. Kalau engkau yang keluar, locianpwe,
siapa sih yang akan berani kurang ajar ? Sesungguhnya, apakah maksud kedatangan locianpwe
ke tempat kami yang buruk ?”
“Omitohud .......... tempat ini indah, semua tempat di seluruh pelosok dunia ini indah
sekali, sayang dibikin buruk oleh perbuatan-perbuatan manusia. Pai-cu, seperti sudah kami
katakan kepada murid-muridmu tadi, pinceng berkunjung bukan bermaksud buruk, melainkan
ingin sekali bertemu dengan muridmu yang bernama Theng Ci, karena pinceng ingin
menanyakan sesuatu darinya.”
“Theng Ci .......... ? Murid kepala di sini ?” Wanita itu mengangguk-angguk. “Ia sedang
berlatih dan mungkin dalam waktu dua atau tiga jam lagi selesai. Mari, locianpwe, dan engkau
orang muda silahkan naik dan menanti di tempat kami. Ji-wi (kalian berdua) menjadi tamu-tamu
Ang-hong-pai yang terhormat.”
“Omitohud .........., engkau terlalu baik, pai-cu, kami sama sekali tidak menduga akan hal
ini. Bagaimana kalau kami menanti saja di sini sampai murid kepala Ang-hong-pai itu selesai
latihan dan keluar menemui kami di sini ?”
“Aihh, locianpwe, apa akan kata orang di dunia kang-ouw kalau mendengar bahwa Anghong-
pai menyambut tokoh besar Siauw-lim-pai di lapangan rumput saja ? Ke mana mukaku
yang buruk ini akan kusembunyikan ? Marilah, mari, tamu-tamuku yang terhormat, mari ikut
dengan kami.”
Ci Kong memandang kepada susiok-couwnya yang mengangguk-angguk sambil
tersenyum lebar, akan tetapi Ci Kong melihat betapa sepasang mata yang lembut dari susiokcouwnya
itu tiba-tiba mengeluarkan cahaya aneh. Diapun dapat menduga bahwa tentu ada
sesuatubyang menarik, akan tetapi karena dia melihat kakek itu sudah melangkah mengikuti
rombongan orang Ang-hong-pai, diapun terpaksa mengikuti kakek itu dari belakang.
Ketika memasuki pintu gerbang tembok yang mengelilingi perkampungan Ang-hong-pai,
kemudian diajak masuk ke dalam ruangan dari bangunan terbesar, Ci Kong merasa kagum bukan
main. Tak disangkanya bahwa di puncak bukit sunyi itu, terdapat perkampungan yang amat
indah, penuh dengan bangunan-bangunan mungil dan taman-taman bunga yang amat indah
teratur, dan terutama sekali setelah memasuki ruangan gedung tempat tinggal ketua Ang-hongpai,
dia menjadi bengong karena ruangan itu amat hebat ! Layaknya menjadi ruangan di dalam
istana puteri-puteri dalam dongeng saja. Jelaslah bahwa Ang-hong-pai amat kaya raya.
Lantainya licin seperti kaca, ruangannya terhias perabot yang serba mahal dan indah, suterasutera
halus bergantungan, periuk-periuk kuno yang serba aneh dan indah, hiasan-hiasan batu
giok yang mahal, lukisan-lukisan yang pilihan. Akan tetapi dia melihat betapa susiok-couwnya
memasuki ruangan itu seperti memasuki sebuah ruangan kuil atau sebuah guha belaka, sama
sekali tidak nampak heran atau kagum, masih tetap tersenyum-senyum seperti biasa.
“Silahkan duduk, silahkan .......... !” kata wanita itu dengan ramah. “Sambil menanti
selesainya Theng Ci, kita ngobrol sambil menikmati hidangan sekedarnya.”
Pedang Naga Kemala > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com 125
“Omitohud, engkau terlalu sungkan, terlalu menghormat, sehingga kami merasa tidak
enak hati dan mengganggu saja, pai-cu.” Siauw-bin-hud berkata sambil tersenum lebar.
“Ah, tidak, locianpwe, dan jangan khawatir, aku tahu bahwa locianpwe dan cucu
muridnya ini tentu tidak makan barang berjiwa, juga tidak minum arak. Kami akan
menghidangkan makanan dan minuman yang bersih.” Tanpa menanti jawaban tamu-tamunya,
ketua ini lalu menyembunyikan sebuah genta yang terbuat dari pada emas sehingga terdengar
amat gemercing nyaring. Bukan main, pikir Ci Kong. Genta kecil itu saja sudah merupakan
benda yang luar biasa mahalnya !
Tak lama kemudian, beriringan datanglah lima orang wanita berpakaian merah yang
membawa baki-baki terisi masakan masakan. Bau gurih sedap memenuhi ruangan itu. Seorang
di antara mereka membawa baki terisi guci-guci kecil terbuat dari pada batu giok ! Mangkokmangkok
besar terisi masakan sayuran-sayuran yang beraneka warna memenuhi meja di hadapan
mereka.
“Lihat, locianpwe, semua masakan sayur-sayuran, daun-daunan, akar-akaran dan buahbuahan.
Sedikitpun tidak ada barang berjiwa, tidak ada secuwilpun daging, tidak ada setetespun
gajih. Semua bersih dan dimasak oleh ahli-ahli masak kami yang berpengalaman !” Nyonya
rumah itu dengan ramah sekali mempersilahkan dua orang tamunya makan,menemani mereka
makan. Agaknya ia sengaja meyakinkan hati dua orang tamunya bahwa masakan-masakan itu
tidak mengandung barang berbahaya, karena semua masakan dicicipinya dengan sepasang sumpit
gadingnya !
Siauw-bin-hud tertawa-tawa dan makan dengan lahapnya, sedikitpun tidak menaruh
curiga. Melihat ini, Ci Kong yang sudah lapar pula perutnya, juga makan dengan lahap.
Memang enak bukan main masakan-masakan itu, walaupun hanya dari barang-barang tak
berjiwa. Ci Kong tidak pantang barang berjiwa, tidak seperti Siauw-bin-hud, karena dia
bukanlah seorang calon pendeta. Akan tetapi belum pernah dia makan masakan selezat ini.
Ketua Ang-hong-pai membuka tutup guci yang terbuat dari batu giok itu. “Dan ini bukan
minum-minuman keras melainkan madu ! Bukan madu lebah, melainkan madu bunga, sari
bunga yang rasanya manis dan harum. Jangan khawatir, locianpwe, saya tidak berani
menghidangkan makanan atau minuman yang kotor terhadap seorang suci, seperti locianpwe.”
“Ha – ha – ha, kalau orang seperti pinceng ini kau namakan suci, aha, alangkah mudahnya
menjadi orang suci,” kata Siauw-bin-hud sambil melihat wanita itu menuangkan madu yang
berwarna kuning kemerahan ke dalam cawannya, cawan Ci Kong dan cawan wanita itu sendiri.
Semua terjadi dengan wajar, dan tidak ada yang mencurigakan.
“Nah, terimalah hormatku, locianpwe, dan engkau juga, orang muda perkasa !” kata
nyonya itu yang membawa cawan ke bibirnya. Melihat susiok-couwnya juga siap minum madu
itu, Ci Kong juga mengikutinya. Madu itu memang madu manis dan harum, enak sekali.
Pedang Naga Kemala > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com 126
Tiga kali nyonya itu mengisi cawan dan tiga kali ia mengajak tamu-tamunya minum, yang
pertama sebagai penghormatan, yang ke dua sebagai permintaan maaf atas penyambutan tadi, dan
ke tiga sebagai ucapan terima kasih atas kunjungan Siauw-bin-hud.
Ci Kong sudah banyak mendengar, baik dari Nam San Losu maupun para hwesio lain
penghuni kuil di puncak bukit mata air Si-kiang bahwa di dalam dunia kang-ouw terdapat banyak
kaum sesat yang berwatak curang, tidak segan-segan mempergunakan siasat yang licik untuk
menjatuhkan lawan. Juga dia sudah mendengar banyak tentang penggunaan racun. Dia sudah
tahu bahwa saat itu dia berada di dalam sarang golongan hitam atau kaum sesat dan andaikata dia
hanya sendirian saja di situ, tentu dia tidak akan berani menerima hidangan-hidangan dari
seorang seperti ketua Ang-hong-pai. Akan tetapi dia datang bersama susiok-couwnya dan tentu
saja dia percaya penuh akan kesaktian susiok-couwnya itu, maka, melihat betapa kakek itu
menerima hidangan, baik masakan maupun minuman madu, diapun tidak ragu-ragu lagi untuk
menerima hidangan madu sampai tiga cawan.
Setelah kedua orang tamunya minum cawan madu yang ke tiga, ketua Ang-hong-pai itu
tersenyum manis dan sepasang matanya mengeluarkan sinar mencorong yang mengejutkan hati
Ci Kong. Tiba-tiba ada rasa curiga yang amat besar menyelinap di dalam hati pemuda itu, dan
dia hendak berdiri untuk memberi peringatan kepada susiok-couwnya, akan tetapi tiba-tiba
kepalanya terasa pening dan matanya menjadi gelap.
“Susiok-couw ………. Celaka ………. !” keluhnya dan dia mencoba untuk menahan
napas dan mengerahkan sinkangnya, akan tetapi ketika dia melihat dengan remang-remang
betapa tubuh kakek itupun menjadi lemas dan kakek itu meletakkan kepala di atas meja,
kekhawatiran membuat peningnya datang kembali dan diapun tidak mampu mempertahankan
lagi. Ci Kong seperti juga Siauw-bin-hud, telah pulas atau pingsan di atas kursinya, dengan
kepala di atas meja !
“Hi – hi – hi – hik ! Orang-orang Siauw-lim-pai ! Kalian manusia-manusia sombong,
sekarang baru tahu kelihaian Ang-hong-pai !” Ia bangkit berdiri dan bertepuk tangan tiga kali.
Dari segala penjuru berloncatan wanita-wanita berpakaian merah, dipimpin oleh Theng Ci, murid
kepala yang tadi dikatakan sedang berlatih itu.
“Jebloskan mereka dalam tahanan, belenggu kaki tangan mereka dan masukkan dalam
kamar tahanan yang paling kuat, dan di luar kamar perketat penjagaan, jangan biarkan mereka
lolos. Hati-hati, mereka ini lihai sekali, terutama kakek ini. Selama tiga jam mereka tidak akan
siuman dan sebelum tiga jam, aku akan memberi mereka pembius lagi,” kata ketua itu dengan
senyum mengejek memandang ke arah dua orang tamunya yang masih pulas di atas meja.
“Akan tetapi, subo. Apakah tidak sebaiknya kalau kita bunuh saja mereka sekarang ?
Mereka terlalu berbahaya kalau dibiarkan hidup !” kata Theng Ci dengan sinar mata kejam.
“Aih, betapa bodohnya engkau ! Mereka ini, terutama Siauw-bin-hud, adalah tokoh
penting Siauw-lim-pai dan kalau kita memberi kabar ke Siauw-lim-pai bahwa mereka berada di
tangan kita minta tukar dengan Giok-liong-kiam, bukankah hal itu menguntungkan kita ?”
Pedang Naga Kemala > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com 127
“Akan tetapi, bagaimana kalau kelak mereka datang membuat perhitungan ? Apakah
subo merasa mampu menghadapi Siauw-lim-pai ?”
“Anak bodoh kau ini,” kata si ketua sambil terkekeh. Karena Theng Ci itu muridnya,
maka wanita ini terbiasa menyebutnya anak, padahal murid kepala itu usianya sudah empatpuluh
tahun lebih.
“Coba kaupertimbangkan baik-baik. Kalau kita membunuh mereka, apa untungnya bagi
kita ? Yang jelas saja, kerugian ada karena siapa tahu Siauw-lim-pai akhirnya akan tahu dan
kalau mereka memusuhi kita, akan celakalah kita. Mereka begitu lihai dan mungkin saja mereka
dapat mengetahuinya. Sekarang sebaliknya, kalau kita membiarkan mereka hidup dan minta
tukar nyawa mereka dengan Giok-liong-kiam ..........”
“Akan tetapi Giok-liong-kiam tidak berada pada mereka .......... !”
“Karena itulah ! Selain Siauw-lim-pai, siapa lagi yang akan mampu mencari dan
mendapatkan pusaka itu ? Dan dengan tertawannya Siauw-bin-hud, tentu mereka akan terpaksa
pergi mencari pusaka itu sampai dapat.”
“Akan tetapi bagaimana kalau kelak mereka membuat perhitungan dan merampas
kembali pusaka ?”
“Heh – heh, Theng Ci, apakah engkau tidak tahu siapa Siauw-lim-pai ? Sekali berjanji,
orang-orang yang terikat oleh janji itu tidak akan mau mengganggu kita. Sudahlah, jebloskan
mereka dalam tahanan !”
Para murid Ang-hong-pai itu mentaati perintah guru mereka dan tak lama kemudian,
Siauw-bin-hud dan Ci Kong sudah berada di dalam sebuah kamar tahanan yang amat kuat,
sebuah kamar di bawah tanah yang dindingnya berlapis baja, pintunya juga dari baja kuat sekali,
dengan hanya ada jeruji-jeruji besi. Tangan kaki mereka terbelenggu rantai baja yang panjang,
dan di luar pintu kamar tahanan itu, duabelas orang Cap-ji-kiam berjaga dengan ketat !
Akan tetapi, baru saja mereka meninggalkan kamar tahanan dan menutupkan pintunya,
kakek itu sudah bergerak dan membuka mata sambil tersenyum lebar. Bagaikan tukang sulap
saja, kakek itu dengan mudah menarik dan meloloskan kedua tangan kakinya dari belenggu.
Kaki tangan itu seperti berobah menjadi belut yang amat licin dan tak mungkin dapat ditahan
dengan belenggu-belenggu itu. Kemudian, setelah melihat bahwa tidak ada orang melihatnya,
dia menghampiri Ci Kong yang menggeletak terlentang di atas lantai. Dia menempelkan telapak
tangannya di kepala dan dada pemuda itu dan tak lama kemudian pemuda itupun membuka mata
dan menggerakkan bibirnya. Siauw-bin-hud cepat menutup mulut pemuda itu dengan telapak
tangannya dan memberi isyarat dengan kedipan mata agar pemuda itu tidak mengeluarkan suara.
Ci Kong segera teringat akan peristiwa tadi dan dia mengangguk, tanda bahwa dia sudah
mengerti. Dengan isyarat, kakek itu minta kepada Ci Kong agar membebaskan diri dengan ilmu
Sia-kut-hoat seperti yang pernah dipelajarinya. Ci Kong segera mengumpulkan hawa murni,
mengerahkan singkangnya dan dengan perlahan dia menarik lengan tangannya lolos dari
belenggu, seperti yang dilakukan kakek tadi. Ilmu Sia-kut-hoat adalah ilmu melepaskan tulang
Pedang Naga Kemala > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com 128
melemaskan diri. Dengan ilmu ini tubuh dapat ditekuk-tekuk dan kaki lengan bisa lemas seperti
belut.
“Mari kita duduk bersandar dan biarkan belenggu-belenggu itu menempel di kaki tangan
seolah-olah kita masih terbelenggu. Nanti kalau pintu dibuka, kita bergerak dan keluar,” kakek
itu berbisik dengan suara mengandung khikang sehingga yang terdengar suaranya hanyalah
pemuda itu saja, seolah-olah dia berbisik di dekat telinga Ci Kong.
Ci Kong mengangguk dan keduanya lalu duduk bersandar dinding, dengan rantai
belenggu masih menempel di kaki tangan mereka. Ci Kong melirik ke arah susiok-couwnya dan
melihat kakek itu tersenyum-senyum, seolah-olah tidak pernah terjadi sesuatu, dia mengerutkan
alisnya dan tidak dapat menahan hatinya lagi untuk tidak bertanya. Diapun mengerahkan
khikang sehingga suaranya hanya terdengar sebagai bisikan di dekat telinga kakek itu.
“Susiok-couw tadi tidak terpengaruh oleh madu itu ?”
Kakek itu tersenyum lebar tanpa suara, lalu menggeleng kepala. “Pinceng tidak minum
madu, bagaimana bisa terpengaruh ? Sebagai orang yang sudah puluhan tahun tidak pernah
makan daging, sekali cium saja pinceng tahu bahwa madu itu bukanlah madu kembang yang
murni, melainkan ada bau amis yang menunjukkan bahwa ada sesuatu pada madu itu. Maka,
pinceng hanya pura-pura minum, akan tetapi membuang madu itu.”
“Akan tetapi mengapa susiok-couw membiarkan teecu meminumnya dan bahkan purapura
pingsan ?”
“Pinceng ingin melihat apa maksud mereka membius kita. Bukankah kita sedang
melakukan penyelidikan ? Dalam keadaan pingsan tentu mereka akan bicara dengan leluasa.”
Diam-diam Ci Kong merasa kagum. Kakek ini cerdik dan juga amat tabah, berani
mengambil resiko terjatuh ke tangan iblis-iblis itu. “Dan bagaimana hasilnya, susiok-couw ?”
Kakek itu menggeleng kepala. “Mereka agaknya tidak tahu di mana adanya pusaka itu,
malah menawan kita untuk memaksa Siauw-lim-pai mencari pusaka itu dan ditukar dengan
nyawa kita.”
Mereka menghentikan percakapan bisik-bisik yang hanya dapat mereka dengar sendiri itu
ketika terdengar suara orang di luar kamar tahanan mereka. Suara ketua Ang-hong-pai dan
Theng Ci !
“Untuk apa racun itu, subo ?” terdengar suara Theng Ci.
Jawaban ketua Ang-hong-pai didahului dengan suara ketawanya yang halus akan tetapi
mengandung kekejaman. “Hi – hik, pembius di dalam madu itu mana kuat mempengaruhi
Siauw-bin-hud untuk waktu lama ? Orang biasa akan terbius selama tiga jam, akan tetapi aku
khawatir kakek gendut itu akan cepat sadar. Maka, aku akan memaksakan racun ini agar mereka
lumpuh selama tiga hari tiga malam. Dengan demikian, selain lebih aman, kalian tidak akan
diperlukan menjaga terlampau ketat. Buka pintunya.” Nampak kepala dua orang wanita itu di
Pedang Naga Kemala > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com 129
luar jeruji pintu. Mereka menjenguk ke dalam dan melihat betapa dua orang tawanannya masih
pulas atau pingsan. Kakek itu bersandar dinding seperti tadi dan Ci Kong menggeletak terlentang
Pemuda yang cerdik ini cepat sudah merobah kedudukannya. Dia teringat bahwa ketika pertama
kali sadar, dia berada dalam keadaan rebah terlentang, maka kalau kini dia duduk seperti susiokcouwnya,
tentu akan menimbulkan kecurigaan. Hal yang kecil tapi penting ini agaknya tidak
teringat oleh susiok-couwnya tadi !
Daun pintu terbuka dan masuklah ketua Ang-hong-pai yang membawa sebuah guci kecil,
sedangkan Theng Ci mengawal di belakang gurunya sambil memegang sebatang pedang,
agaknya kesaktian kakek itu membuat orang-orang Ang-hong-pai ini berhati-hati sekali.
Begitu ketua Ang-hong-pai itu menghampiri kakek Siauw-bin-hud, tiba-tiba saja kakek
itu membuka matanya dan tertawa bergelak. “Ha – ha – ha – ha –ha !”
Wajah ketua Ang-hong-pai seketika menjadi pucat sekali. Baru pertama kali itulah iblis
betina ini mengalami guncangan batin yang hebat, bukan hanya karena peristiwa ini sama sekali
tidak pernah disangkanya, seperti melihat orang mati hidup kembali secara mendadak, akan tetapi
juga suara ketawa kakek itu membuat tubuhnya menggigil dan guci itupun terlepas dari
tangannya.
“Prakkk ………. !” Guci itu pecah dan tercium bau yang harum-harum amis
memuakkan. Selagi guru dan murid ini terbelalak dengan muka pucat, tiba-tiba tubuh Ci Kong
melesat ke daun pintu dan diapun sudah menutupkan daun pintu itu dan menguncinya dari dalam!
Setelah itu, dia berdiri dengan keadaan siap siaga, menanti tindakan susiok-couwnya. Tanpa
perintah kakek itu, dia tentu saja tidak berani sembarangan bergerak.
Sementara itu, kakek Siauw-bin-hud sudah bangkit berdiri dan wajahnya tetap cerah dan
ramah penuh senyum lebar. “Pang-cu, engkau sungguh sungkan sekali. Sudah menjamu kami
sampai kekenyangan dan tertidur, kini masih hendak kautambah lagi ? Apakah itu ? Madu
pelumpuh badan ?”
“Siauw-bin-hud .......... !” kini ketua Ang-hong-pai itu nampak bulunya yang aseli dan
sikapnya tidak manis dan menghormat lagi seperti tadi. “Bagaimana .......... bagaimana kalian
.......... “ Ia tidak dapat melanjutkan kata-katanya saking herannya melihat ada orang mampu
sadar dari pengaruh obat biusnya sedemikian cepatnya.
“Iktikad baik, pai-cu, iktikad baik, batin bersih dan hidup bersih. Pinceng datang dengan
maksud baik, hanya ingin menanyakan sesuatu kepada muridmu Theng Ci, setelah itu kami akan
pergi dengan aman .......... “
Tiba-tiba ketua Ang-hong-pai itu tersenyum. “Aih, kalau begitu aku telah membuat
kesalahan terhadap Siauw-bin-hud, harap suka memaafkan aku ……….” Berkata demikian,
wanita ini menjura dengan hormat, akan tetapi tiba-tiba saja dari kedua tangannya yang memberi
hormat itu menyambar sinar-sinar merah ke arah tujuh jalan darah terpenting di bagian depan
tubuh Siauw-bin-hud ! Penyerangan itu dilakukan dalam jarak yang amat dekat, hanya dua meter
jaraknya, begitu tiba-tiba dan tidak terduga-duga, apa lagi jarum-jarum itu meluncur dengan
kecepatan kilat.
Pedang Naga Kemala > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com 130
Agaknya kakek gendut itu sudah tidak memiliki kesempatan lagi untuk mengelak atau
menangkis, maka tujuh batang jarum merah beracun itu tahu-tahu sudah menancap, dua di
pundak kanan kiri, satu di tenggorokan, satu di ulu hati, satu di pusar, dan dua lagi di kedua
selangkangan ! Karena tertutup pakaian, maka di bagian lain jarum-jarum itu tidak nampak,
hanya yang amat jelas sebatang jarum yang menancap di tenggorokan itu, telah menancap sampai
tinggal seperempatnya saja ! Tentu saja ketua Ang-hong-pai menjadi girang bukan main,
kegirangan yang dinyatakan dengan senyum lebar. Akan tetapi, senyum itu segera berobah
menjadi melongo dan terbelalak, perasaan girang itu berobah menjadi kekagetan yang membuat
wajahnya kembali menjadi pucat sekali. Kakek yang sudah tertusuk tujuh jarum merah beracun
yang amat berbahaya itu, masih berdiri biasa saja sambil terkekeh gembira, seolah-olah tujuh
jarum itu tidak pernah menyentuhnya ! Kemudian dia menarik napas panjang.
“Aihhh, jarum-jarum bernasib malang. Engkau tidak dipergunakan untuk menjahit
sehingga berjasa, sebaliknya malah dipergunakan untuk membunuh orang. Sialan ! Pai-cu,
kukembalikan jarum-jarummu. Terimalah !” Dan tiba-tiba saja jarum-jarum yang tadinya
menancap di tujuh tempat bagian tubuh depan Siauw-bin-hud, meluncur dengan cepat sekali ke
depan. Ketua Ang-hong-pai itu bukan seorang lemah, akan tetapi karena ia masih dalam keadaan
terpesona dan terkejut, apa lagi jarum-jarum itu meluncur dengan kecepatan dua kali lipat dari
pada kecepatan serangannya tadi, tahu-tahu tujuh batang jarum itu telah menusuk gelung rambut
di atas kepalanya ! Ia merasa betapa gelung rambut kepalanya tergetar dan ketika ia meraba,
matanya terbelalak mendapat kenyataan bahwa tujuh batang jarumnya telah menghias sanggul
rambutnya dengan rapi !
Pada saat itu, Theng Ci yang melihat subonya tidak berhasil, menggunakan pedangnya
menyerang Ci Kong. Tusukannya cepat dan kuat sekali ketika dari samping ia menusuk ke arah
lambung pemuda yang sedang nonton gurunya menghadapi ketua Ang-hong-pai. Akan tetapi,
pemuda ini telah memiliki ilmu kepandaian yang hebat. Dia dapat mendengar suara angin
serangan, juga matanya yang amat tajam dapat menangkap berkelebatnya pedang. Dengan
tenang sekali dia memutar tubuh sehingga pedang itu meluncur lewat dekat pinggangnya, hanya
dalam jarak beberapa sentimeter saja. Dan sebelum Theng Ci sempat menarik kembali
pedangnya, tiba-tiba saja jari tangan Ci Kong melayang dan tubuh wanita baju merah itupun
terguling dalam keadaan lumpuh tertotok ! Totokan yang amat hebat dari Ci Kong itu adalah
totokan yang diberi nama It-ci-san, totokan sebuah jari telunjuk yang amat cepat dan tepat.
Ketua Ang-hong-pai yang sedang meraba sanggulnya, menoleh ketika mendengar suara
gedebrukan. Ketika ia melihat bahwa murid kepala itu roboh dan tak dapat berkutik, ia cemberut.
“Bocah tolol, kau mencari penyakit !” Ia memaki jengkel dan dengan ujung sepatunya ketua
Ang-hong-pai ini menendang ke arah tengkuk muridnya dan Theng Ci mengeluh lalu dapat
bangun kembali, memungut pedangnya dan mundur, berdiri mepet dinding dengan muka merah,
kadang-kadang melirik ke arah Ci Kong yang masih berdiri tenang saja.
Ketua Ang-hong-pai menghela napas dan nampak uring-uringan, lalu memandang kepada
Siauw-bin-hud. Suaranya tidak lagi manis, bahkan ketus dan kasar. “Siauw-bin-hud, engkau
adalah seorang pendeta yang katanya suci, mengapa engkau dan cucu muridmu ini datang ke sini
untuk menghina orang ? Patutkah perbuatanmu ini ?”
Pedang Naga Kemala > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com 131
“Omitohud .......... !” Siauw-bin-hud mengeluh dengan muka masih tertawa cerah.
“Maafkanlah pinceng, seribu kali maaf, pai-cu, kalau engkau merasa terhina. Akan tetapi
sesungguhnya kami datang bukan untuk mengganggu atau menghina orang, melainkan untuk
bertemu dengan muridmu yang bernama Theng Ci dan untuk menanyakan sesuatu. Hanya itulah,
sayang bahwa kalian membesar-besarkan urusan sehingga berlarut-larut.”
Karena terdesak dan merasa tidak akan mampu menandingi kakek ini dan cucu muridnya
yang lihai, ketua itu akhirnya mengalah. Ia sendiri bersama murid kepala Ang-hong-pai telah
terjebak ke dalam ruangan itu sehingga mengerahkan anak buahnyapun sia-sia belaka, bahkan ia
tentu akan menderita lebih banyak malu lagi.
“Ia ini muridku yang bernama Theng Ci !” katanya ketus.
Mendengar ucapan subonya, Theng Ci melangkah maju menghadapi kakek gendut itu.
“Aku yang bernama Theng Ci , ada keperluan apakah locianpwe dengan aku ?”
Siauw-bin-hud dan Ci Kong memandang tajam ke arah wanita yang mengaku bernama
Theng Ci itu. Seorang wanita yang usianya empatpuluhan tahun, masih nampak cantik akan
tetapi matanya membayangkan kekerasan, pakaiannya ringkas serba merah dan biarpun mukanya
terawat baik-baik, garis-garis duka nampak di ujung mulut dan mata. Seorang wanita yang
banyak menderita dan keras hati.
“Omitohud, kiranya engkau yang bernama Theng Ci ? Apakah engkau yang hadir
sebagai wakil Ang-hong-pai ketika terjadi perebutan Giok-liong-kiam di luar kota Kanton, dan
engkau menjadi saksi pula ketika pusaka itu dirampas oleh orang yang mengaku bernama Siauwbin-
hud dari Siauw-lim-pai ?”
Theng Ci mengerutkan alisnya dan membuang mukanya yang menjadi merah sekali.
“Semua orang sudah tahu, kenapa locianpwe bertanya kepadaku ?”
“Begini, nona. Yang ingin pinceng tanyakan, apakah engkau yakin benar bahwa orang itu
adalah pinceng sendiri ! Ataukah orang lain yang menyamar sebagai pinceng ?”
Wanita itu meragu. “Aku ………. Aku tidak tahu !”
“Nona, sebenarnya pinceng sudah memperoleh banyak keterangan akan tetapi pinceng
masih belum yakin benar. Oleh karena itu pinceng sengaja mencarimu untuk minta bantuanmu.
Engkau seorang wanita, tentu lebih mudah mengingat keadaan seseorang. Apakah ada sesuatu
pada diri orang itu yang merupakan ciri khasnya ?”
Tiba-tiba Theng Ci mengangkat muka memandang wajah Siauw-bin-hud itu dan sinar
kebencian memenuhi matanya. “Tua bangka tak tahu malu ! Masikah engkau berpura-pura lagi
seperti tidak mengenal aku ? Sungguh biadab !”
Ci Kong terkejut bukan main dan marah. Susiok-couwnya adalah seorang alim, juga
seorang terhormat, kini dimaki dengan kata-kata kotor oleh perempuan ini. Akan tetapi, kakek
Pedang Naga Kemala > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com 132
itu hanya tersenyum lebar seolah-olah makian itu hanya lewat saja tanpa meninggalkan bekas
kepadanya, lahir maupun batin.
“Aha, sikapmu ini menarik sekali, nona. Tentu ada terjadi sesuatu antara engkau dan aku,
maksudku, orang yang merampas pedang pusaka Giok-liong-kiam itu sehingga engkau kini
bersikap begini marah dan penuh kebencian. Mungkin aku sudah terlalu tua untuk mengingat
kembali peristiwa lama. Karena itu, nona, maukah engkau menceritakan mengapa engkau begini
membenci pinceng ? Apakah yang telah terjadi antara kita enam tahun yang lalu itu ?”
Dengan muka sebentar pucat sebentar merah, wanita itu melotot ketika memandang
kepada Siauw-bin-hud dan suaranya tegas dan nyaring, “Masih berpura-pura lagi ! Engkau
………. Tua bangka binatang jahat, engkau telah memperkosaku !”
Jawaban ini bagaikan halilintar menyambar, membuat wajah Ci Kong berobah merah
sekali. Gilakah wanita ini ? Dan dia memandang kepada wajah susiok-couwnya dan wajah
kakek itu hanya tersenyum lebar, sama sekali tidak kelihatan kaget walaupun sebenarnya berita
inipun tidak kalah hebatnya bagi kakek itu sendiri.
“Ha – ha – ha, alangkah aneh dan lucunya. Pinceng selama duapuluh tahun tidak pernah
meninggalkan ruangan bertapa di Siauw-lim-si dan tahu-tahu kini muncul tuduhan-tuduhan aneh,
bukan hanya merampas Giok-liong-kiam, akan tetapi juga memperkosa wanita. Hemm, nona
Theng Ci, menurut penuturan mereka yang ikut memperebutkan pusaka itu, setelah pusaka
dirampas orang yang seperti pinceng, mereka semua, termasuk engkau menuduh bahwa pinceng
.......... eh, orang itu, melakukan perkosaan ?”
“Huh, engkau atau bukan, pokoknya orangnya persis engkau ini, tidak ada bedanya
sedikitpun juga ! Aku memang pergi seperti yang lain karena tidak berani berbuat sesuatu
terhadap Siauw-bin-hud, seorang tokoh besar Siauw-lim-pai, apalagi karena lenyapnya pusaka itu
tidak ada buktinya diambil oleh Siauw-bin-hud. Akan tetapi ketika aku pergi, malamnya tiba di
hutan. Aku membuat api unggun dan tiba-tiba muncul .......... engkau yang mempergunakan
kepandaian menaklukkan aku dan ..........semalam itu engkau mempermainkan aku, memperkosa,
menghina .......... uhhhh .......... “
“Theng Ci, kenapa engkau tidak memberitahukan hal itu kepadaku ?” tiba-tiba gurunya
membentak.
Theng Ci menjatuhkan dirinya berlutut di depan gurunya sambil menahan tangisnya.
“Subo, maafkan aku. Hal yang begitu menghancurkan hatiku, bagaimana mungkin aku
menceritakan kepada subo atau kepada siapapun juga ? Hanya karena terpaksa dengan
munculnya tua bangka ini, terpaksa aku bercerita ……….””
“Omitohud ………. !” Siauw-bin-hud mengeluh walaupun mukanya masih penuh
senyum. “Tenanglah, nona dan cobalah nona lihat baik-baik kepadaku. Benarkah pinceng yang
melakukan perbuatan terkutuk itu terhadap dirimu ? Tidak salah lagikah ?”
Pedang Naga Kemala > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com 133
Melalui mata yang basah, Theng Ci memandang wajah kakek itu, lalu sinar matanya
menjelajahi tubuh kakek itu dari kepalanya yang gundul sampai ke sepatunya yang terbuat dari
kain. Dan terbayanglah semua pengalamannya yang membuat hati yang alim. Sama sekali tidak.
Entah sudah berapa puluh pria yang digaulinya, yang menjadi kekasihnya. Ia mudah bosan dan
tentu saja ia selalu memilih pria yang ganteng dan tampan. Dengan pengaruhnya, dengan
kepandaiannya mudah saja baginya untuk memilih pria yang disukainya. Bahkan dengan
kekejamannya, ia seringkali menaklukkan pria dengan paksaan dan ancaman sehingga pria itu
karena takut mati terpaksa memenuhi hasrat dan nafsunya. Akan tetapi, pengalamannya ketika ia
berada di dalam hutan itu sungguh membuat ia merasa muak, terhina dan sakit hati sekali.
Ketika itu, hatinya sudah dipenuhi kekecewaan mengingat betapa pusaka Giok-liongkiam
lepas dari tangannya. Padahal, tadinya ia sudah amat mengharapkan pusaka itu dapat
dirampasnya. Pusaka itu sudah berada di tangannya ! Akan tetapi, sungguh tak disangkanya
akan muncul demikian banyaknya orang pandai yang ikut memperebutkan pusaka itu. Apa lagi
setelah muncul Siauw-bin-hud, harapannyapun lenyaplah. Ia tahu diri dan seperti yang lain, tidak
berani mengganggu kakek gendut itu, pertama karena iapun sudah mendengar akan kesaktian
kakek ini yang mengatasi kelihaian Empat Racun Dunia. Ke dua, siapa berani sembarangan
mengganggu seorang tokoh besar Siauw-lim-pai ? Dan ke tiga, tak seorangpun melihat bahwa
kakek ini yang merampas pusaka yang sedang diperebutkan itu.
Karena hatinya kesal, biarpun tubuhnya lelah sekali dan matanya mengantuk, ia tidak
dapat tidur. Padahal, ia telah memilih tempat di bawah pohon di mana terdapat rumput hijau
yang tebal dan ia sudah menghamparkan tikar di situ. Ia lalu duduk termenung di depan api
unggun besar yang mengusir nyamuk dan hawa dingin. Tiba-tiba terkejutlah ia ketika mendengar
suara terkekeh dan tahu-tahu Siauw-bin-hud telah berdiri di depannya. Kakek gendut itu nampak
menyeramkan sekali berdiri di dekat api unggun itu, dan perutnya yang tertutup jubah kuning itu
bergerak-gerak ketika dia tertawa.
Melihat munculnya kakek itu, timbul harapan di hati Theng Ci. Apa maksud
kedatangannya ? Apakah ………. Apakah hendak menyerahkan pusaka itu kepadanya ? Karena
itu, Theng Ci lalu bersikap hormat, bangkit dan memberi hormat kepada kakek gendut itu sambil
tersenyum ramah, hal yang jarang sekali dilakukannya.
“Locianpwe, petunjuk apakah yang akan locianpwe berikan kepada saya maka locianpwe
datang menemui saya ?” tanyanya dengan suara lembut.
“Ha – ha – ha – ha – ha, nona manis. Coba kauterka keperluan apa yang kubawa maka
aku mencarimu, ha – ha – ha !”
“Bukankah locianpwe hendak menganugerahi saya dengan pusaka Giok-liong-kiam itu ?
Locianpwe, saya merasa berterima kasih sekali dan akan suka mencium kaki locianpwe kalau
saya diberi pusaka itu !” katanya penuh harap.
“Ha – ha – ha, enak saja kau bicara ! Pinceng lewat di sini dan kedinginan, lalu
melihatmu. Maka pinceng mengambil keputusan untuk mengajakmu menemani pinceng untuk
mengusir hawa dingin. Aahhhh, ada tikar di sini ? Bagus, enak untuk tidur. Ke sinilah nona
……….” Kakek gendut itu lalu merebahkan dirinya begitu saja di atas tikar. Tubuhnya yang
Pedang Naga Kemala > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com 134
bulat itu menggelinding seperti bola ke atas tikar, terlentang dan dengan kedua tangan
dikembangkan, dia mengapai ke arah Theng Ci !
Tentu saja Theng Ci menjadi marah bukan main. Kakek yang tua bangka itu, dan
tubuhnya yang gendut bulat, perutnya yang begitu besar, mengajak ia bermain cinta ? Tentu saja
ia tidak sudi ! Banyak pria muda tampan siap melayani dan memuaskannya kalau ia mau.
“Locianpwe, harap jangan main-main !” tegurnya, suaranya mulai ketus.
“Siapa main-main, manis ?” Dan tiba-tiba lengan itu dapat memanjang dan tahu-tahu
sudah merangkul leher Theng Ci. Wanita ini terkejut dan meronta, akan tetapi tiba-tiba
pundaknya ditekan dan iapun terkulai lemas. Selanjutnya .......... ah, sukar baginya untuk dapat
mengenang peristiwa memalukan itu. Ia diperkosa, dihina, dipermainkan semalam suntuk oleh
kakek gendut itu tanpa mampu menolak atau meronta sedikitpun. Dan pada keesokan harinya,
kakek gendut itu meninggalkannya sambil tertawa-tawa mengejek !
Dengan sepasang mata yang merah dan basah, Theng Ci kini memandang kepada Siauwbin-
hud. Memang ada keraguan di dalam hatinya. Memang ia telah merasa curiga pada malam
hari sial itu juga. Mungkinkah Siauw-bin-hud, yang terkenal sebagai seorang tokoh besar Siauwlim-
pai, sebagai seorang hwesio Siauw-lim-si yang alim, mau melakukan perbuatan begini
biadab? Dan tingkah laku kakek gendut itu ketika mempermainkannya, lebih pantas dilakukan
oleh seorang manusia liar, manusia hutan atau binatang, sama sekali tidak nampak lagi bekasbekas
seorang hwesio !
“Aku ………. Aku tidak tahu ………. Memang aku meragukan bahwa orang itu adalah
locianpwe Siauw-bin-hud, seorang hwesio Siauw-lim-pai yang terkenal alim dan sakti ……….
Akan tetapi ………. bagaimana aku bisa tahu aseli ataukah palsunya ? Wajahnya, tubuhnya,
pakaiannya, ketawanya, semua memang serupa ………. Katanya agak bingung.
“Nona Theng Ci, ingatlah baik-baik, apakah tidak ada suatu tanda yang dapat
membedakan antara kami ? Ingatlah ……….”
Tiba-tiba sepasang mata Theng Ci mengeluarkan sinar aneh. “Locianpwe, harap kau suka
membuka jubahmu !”
Kembali Ci Kong mengerutkan alisnya dan tentu dia sudah marah dan menegur wanita
tak tahu malu itu kalau saja dia tidak melihat betapa susiok-couwnya dengan sungguh-sungguh
lalu membuka jubahnya yang lebar, bahkan menanggalkan jubah itu, kemudian berdiri dengan
tubuh atas telanjang di depan Theng Ci ! Nampaklah perut yang bulat itu, kulitnya yang kuning
halus mulus karena tak pernah terkena sinar matahari, kulit yang halus seperti kulit anak bayi !
Terdengar Theng Ci mengeluarkan seruan kecil, lalu ia mengelilingi tubuh kakek itu dan
memeriksa dengan teliti. “Ah, bukan kau .........., bukan kau ..........! Kulitnya tidak sehalus ini,
dan dadanya berbulu, dan .......... dan .......... di lambung kirinya terdapat tanda hitam sebesar
telapak tangan. Bukan kau, locianpwe, orang itu .......... ah, sudah kuragukan sejak dulu ..........!”
Dan Theng Ci menangis sesenggukan, menutupi mukanya.
Pedang Naga Kemala > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com 135
“Diam kau !!” Ketua Ang-hong-pai membentak muridnya yang segera menghentikan
tangisnya. Lalu ia menghadapi Siauw-bin-hud. “Apa sudah cukup pertanyaan-pertanyaanmu,
Siauw-bin-hud ? Kalau sudah, harap segera meninggalkan tempat ini. Sudah cukup kau
mendatangkan kekacauan di sini.”
“Omitohud ………. Cukup, lebih dari cukup. Marilah Ci Kong, kita pergi.” Kakek itu
lalu menjura ke arah dua orang wanita itu. “Dan terima kasih atas kebaikan budi kalian yang
telah membantu kami.”
Siauw-bin-hud diiringkan oleh Ci Kong keluar dari dalam kamar itu, lalu mereka berdua
dengan sikap tenang meninggalkan perkampungan Ang-hong-pai tanpa ada seorangpun yang
berani coba mengganggu.
Akan tetapi, ketika mereka tiba di pintu gerbang, ketua Ang-hong-pai yang mengikuti
mereka lalu bertanya, “Siauw-bin-hud, apakah engkau sudah tahu siapa orang yang memalsu
dirimu itu ?”
“Ha – ha – ha, mungkin sekali aku tahu, mungkin juga keliru. Selamat tinggal, pai-cu,”
kata kakek itu yang segera melangkah lebar meninggalkan tempat itu tanpa menoleh lagi, diikuti
oleh Ci Kong.
Setelah dua orang tamu yang lihai itu pergi, ketua Ang-hong-pai mengomeli Theng Ci,
“Sialan kau ini ! Dengan kebocoran mulutmu, tentu kini dia telah mengetahui di mana adanya
pusaka itu dan akan merampasnya kembali. Sungguh tolol kau ini. Dulu engkau diam saja tidak
menceritakan kepadaku tentang perampas pusaka yang memperkosamu, dan sekarang engkau
malah bocor mulut sejadi-jadinya !”
“Ah, apakah subo tahu siapa orang itu ?”
“Bodoh kau. Kalau dari dulu engkau bercerita, tentu aku dapat menduganya dan kita
dapat lebih dulu berusaha merampasnya. Orang itu siapa lagi kalau bukan Thian-tok ?”
Sepasang mata Theng Ci terbelalak dan mukanya berobah pucat. “Thian-tok .......... ?
Wah, kalau benar dia, siapa akan mampu merampas dari tangannya ?” Setelah kini mendengar
bahwa yang menghinanya adalah satu di antara datuk-datuk iblis itu, makin habislah
semangatnya untuk dapat membalas dendam. Kini ia tidak merasa heran. Kalau orang itu benar
Thian-tok, seorang di antara Empat Racun Dunia, ia masih boleh mengucap syukur karena ia
tidak mati konyol, atau tersiksa lebih hebat lagi dan dapat lolos dari maut mengerikan dalam
waktu semalam saja ! Sungguh aneh sekali wanita ini. Begitu mendengar bahwa pemerkosanuya
adalah Thian-tok, lenyaplah rasa penasaran di hatinya, bahkan ada rasa bangga yang luar biasa
bahwa ia telah dipilih oleh Thian-tok, datuk iblis itu !
Patut diketahui bahwa Theng Ci adalah seorang wanita yang tergolong kaum sesat.
Perkumpulan Ang-hong-pai juga perkumpulan sesat. Oleh karena itu, walaupun Ang-hong-pai
tidak dapat dikatakan menjadi anak buah atau pengikut Empat Racun Dunia, akan tetapi
kedudukan Thian-tok yang tinggi membuat dia dipandang dengan rasa takut, kagum dan hormat
oleh para anggauta kaum sesat, seperti pandangan seorang tahyul terhadap iblis atau dewa.
Pedang Naga Kemala > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com 136
Maka, mendengar bahwa dirinya dipilih oleh Thian-tok, timbul rasa bangga dalam hati wanita
ini.
***
Puncak Tai-yun-san merupakan puncak yang indah dan masih liar karena jarang
dikunjungi manusia. Memang tidak ada gunanya bagi orang biasa, kecuali hanya untuk
melancong, datang ke puncak itu. Selain amat terjal dan sukar dicapai, penuh dengan hutan liar
di mana terdapat banyak binatang buas, juga hawanya terlalu dingin. Akan tetapi semenjak
beberapa tahun ini, di puncak itu terdapat tiga orang, yaitu Thian-tok, dan dua orang muridnya
yang baru, yaitu Ong Siu Coan dan Gan Seng Bu. Dua orang muda itu digembleng dengan
sungguh-sungguh oleh Thian-tok sehingga selama enam tahun mereka telah menerima ilmu-ilmu
kesaktian dari datuk iblis itu.
Kini mereka berdua sudah mengenal benar watak guru mereka yang luar biasa, aneh, dan
kadang-kadang mengerikan. Di dalam perantauannya, Thian-tok mengajak dua orang muridnya
itu bertualang dan dengan terang-terangan dia melakukan pencurian, bahkan penculikan dan
pemerkosaan terhadap gadis-gadis cantik. Dua orang muridnya tertegun, cemas dan ngeri, akan
tetapi mereka tidak berani mencampuri. Mereka bergidik melihat betapa guru mereka itu sambil
tertawa bergelak-gelak memperkosa wanita, dan sambil tersenyum-senyum membunuh wanita itu
pada keesokan harinya ! Bahkan pernah kakek gendut itu merobek dada seorang korbannya,
mengeluarkan jantung yang masih berdenyut dan mengganyangnya mentah-mentah. Dua orang
pemuda itu hampir muntah menyaksikan hal ini, akan tetapi guru mereka mengatakan bahwa
jantung yang hidup itu merupakan obat kuat yang tiada taranya !
Kadang-kadang, kalau sedang berdua saja, Seng Bu menyatakan kecewa dan
penyesalannya kepada suhengnya, yaitu Siu Coan, tentang watak gurunya. Dia mengatakan
bahwa kalau melihat watak suhunya, dia ingin minggat saja, tidak sudi menjadi murid seorang
yang demikian jahatnya. Akan tetapi, Siu Coan membantahnya dan mengingatkan bahwa guru
mereka adalah seorang yang luar biasa saktinya. Mencari di ujung dunia sekalipun belum tentu
akan bisa mendapatkan seorang guru selihai Thian-tok.
“Pula, apa hubungannya semua perbuatannya dengan kita ?” demikian Ong Siu Coan
berkata, membujuk sutenya. “Dia adalah seorang sakti, dan semua orang sakti di dunia ini
memang aneh. Bahkan ada yang mendekati gila. Siapa bisa mengikuti jalan pikirannya ?
Mungkin saja ada sebab-sebab rahasia yang mendorong semua perbuatannya yang kelihatannya
jahat dan mengerikan itu.”
“Hemm, apa yang mendorong kecuali nafsu buruk ?” Seng Bu berkata. “Memperkosa
gadis, lalu membunuh gadis yang tak berdosa itu ! Bayangkan saja ! Dia mencuri barang-barang
berharga dari dalam gedung orang. Sungguh aku tidak mengerti, mengapa suhu yang sudah setua
itu masih mau mengganggu wanita, dan untuk apa pula barang-barang berharga itu.”
Akan tetapi setelah mereka tiba di dalam guha di puncak Pegunungan Tai-yun-san,
barulah terjawab pertanyaan kedua dari Seng Bu. Di dalam guha besar itu terdapat terowongan
dan kamar-kamar dalam tanah dan di dalam sebuah di antara kamar-kamar itulah disimpannya
banyak sekali barang-barang berharga yang langka ! Pusaka-pusaka, emas permata, batu giok
Pedang Naga Kemala > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com 137
dan bertumpuklah barang-barang itu seperti dalam guha harta karun saja ! Dan kadang-kadang
Thian-tok bermain-main di dalam kamar itu seperti anaj kecil, menimang-nimang semua bendabenda
itu sambil tertawa-tawa seorang diri !
Kalau Seng Bu merasa tidak cocok dengan watak gurunya dan hanya memaksa diri
bertahan untuk mengganggu ilmu kesaktian dari kakek itu, sebaliknya diam-diam Ong-Siu Coan
merasa kagum bukan main terhadap gurunya ! Bahkan ada perasaan puas di lubuk hatinya
melihat betapa gurunya melakukan semua kekejaman yang sadis itu. Hanya anak ini menyadari
bahwa perbuatan-perbuatan itu tidak benar, maka diapun memaksa hatinya sendiri untuk
memerangi perasaan puas itu sehingga di luarnya, dia nampak halus budi dan pandai menyimpan
gejolak hatinya. Seng Bu sendiripun tidak dapat menyelami batin suhengnya yang baginya
dianggap seorang yang cerdik, pandai dan juga tidak pernah melakukan perbuatan tercela. Sikap
suhengnya yang pendiam, serius, dan gagah sekali, terutama kalau bicara tentang perjuangan
menentang penjajah Mancu, benar-benar amat mengagumkan hati Seng Bu. Dia sendiri berwatak
jujur, terbuka dan agak bodoh walaupun dia memiliki jiwa yang gagah perkasa dan berani.
Demikianlah, dalam asuhan orang aneh seperti Thian-tok, dua orang pemuda remaja itu
tumbuh menjadi pemuda-pemuda yang gagah perkasa. Dalam usia sembilanbelas tahun, Siu
Coan merupakan seorang pemuda dewasa yang bertubuh tinggi tegap, berwajah tampan dan
gagah sekali, sepasang matanya mencorong, kadang-kadang nampak aneh, sikapnya pendiam dan
serius, pandang matanya penuh selidik dan membayangkan kecerdikan. Gan Seng Bu yang
usianya hanya beberapa bulan saja lebih muda dari suhengnya, bertubuh sedang namun
bentuknya kokoh dan kuat sekali, dengan otot-otot yang menonjol. Wajahnya tidak begitu
tampan, akan tetapi wajahnya jantan dan membayangkan kegagahan. Sinar matanya terbuka dan
dari situ berpancar cahaya mata yang jujur dan terang.
Sudah hampir enam tahun mereka menjadi murid Thian-tok dan boleh dibilang hampir
semua ilmu-ilmu pilihan dari kakek itu telah diajarkan kepada mereka. Terutama sekali ilmuilmu
andalan Thian-tok. Di antaranya adalah Ilmu Sin-houw Ho-kang, yaitu ilmu yang
berdasarkan penggunaan tenaga khikang pada suara sehingga kalau ilmu ini dipergunakan, maka
auman yang dikeluarkan itu demikian hebatnya sehingga mampu merobohkan lawan tanpa
menyentuhnya melainkan menyerang jantung dan isi perut melalui pendengaran dan getaran
suara ! Ada lagi ilmu yang diberi nama Kim-ciong-ko. Dengan mengandalkan ilmu ini, kalau
dikuasai dengan sempurna dan kalau pelakunya sudah memiliki tenaga singkang yang sempurna,
maka tubuh akan menjadi kebal terhadap senjata tajam dan kedua lengan dapat dipergunakan
sebagai senjata, kuat menahan senjata tajam sekalipun ! Adapun ilmu silat tangan kosong yang
diandalkan oleh Thian-tok adalah Ngo-heng Lian-hoan Kun-hoat, ilmu silat yang berdasarkan
gerakan Ngo-heng atau Lima Unsur yang saling berkaitan, saling menolong saling menghidupkan
dan membunuh.
Kalau dibuat perbandingan antara Siu Coan dan Seng Bu. Maka Siu Coan yang cerdik
lebih mahir dalam ilmu silat, akan tetapi dalam hal kekuatan, dia masih tidak mampu menandingi
sutenya yang kokoh kuat seperti pagoda besi itu.
Pagi hari itu, dua orang pemuda yang sudah dewasa ini sedang berlatih silat di depan guha
kecil di mana terdapat sumber mata airnya. Guha kecil ini letaknya agak jauh dari guha tempat
tinggal mereka dan guru mereka, dan mereka setiap pagi kalau hendak mengambil air, mandi atau
Pedang Naga Kemala > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com 138
bercuci muka, tentu berlatih silat di depan guha kecil itu. Melihat dua orang pemuda itu berlatih
silat dengan bertelanjang dada, hanya memakai celana panjang dan sepatu, amat mengagumkan.
Sungguh jauh bedanya dengan perkelahian yang mereka lakukan pada enam tahun yang lalu di
depan Thian-tok ketika kakek ini mengadu mereka di kuil tua. Dulu mereka berkelahi secara liar,
pukul-memukul, tendang-menendang dan jambak-menyambak sehingga hujan pukulan mengenai
badan masing-masing dan terdengar suara bak – bik – buk ketika pukulan mengenai badan. Akan
tetapi sekarang, tidak terdengar sesuatu dalam gerakan mereka. Demikian ringannya kaki mereka
bergeser dan kaki tangan itu namun sama sekali tidak mengeluarkan suara. Hanya kalau pukulan
mereka meluncur saja terdengar angin bersiut, dan kadang-kadang terdengar bentakan mereka
untuk menambah daya serangdalam pukulan atau tendangan mereka. Akan tetapi sekali ini, tidak
ada satu kalipun pukulan atau tendangan yang mengenai tubuh lawan. Betapapun cepat dan
kerasnya mereka menyerang, pihak lawan tentu mampu mengelak atau menangkisnya dengan
baik sekali. Mereka sedang melatih ilmu silat tangan kosong Ngo-heng Lian-hoan Kun-hoat,
ilmu silat yang menjadi andalan guru mereka.
Selagi mereka asyik berlatih, tiba-tiba terdengar suara orang mendengus dan nampaklah
bayangan hitam berkelebat dan terasa oleh dua orang muda itu angin pukulan menyambar dengan
dahsyatnya ke arah mereka ! Tentu saja mereka terkejut bukan main, karena mereka tahu bahwa
mereka diserang secara hebat sekali oleh orang yang berilmu tinggi dan yang memiliki tenaga
singkang yang amat kuat. Orang itu bertubuh tinggi kurus bermuka hitam dengan sepasang mata
mencorong kehijauan seperti mata kucing, pakaiannya serba hitam pula dan dengan dua pukulan
yang ganas sekali dia telah menyerang Siu Coan dan Seng Bu, dengan tamparan ke arah leher Siu
Coan dan tonjokan ke arah dada Seng Bu.
“Haiiiittt .......... !” Siu Coan berteriak sambil melakukan penangkisan dengan tangan
kirinya.
“Heiiiittt .......... !” Seng Bu yang kaget itupun cepat mengelak dengan miringkan
tubuhnya dan menyampok tonjokan itu dengan lengan kanannya.
“Dukk ! Dukk !” Dua orang pemuda itu semakin kaget karena ketika lengan mereka
yang menangkis itu terbentur dengan lengan lawan, mereka merasa seolah-olah menangkis besi
panas, dan juga tenaga lengan lawan itu sedemikian kuatnya sehingga mereka merasa lengan
mereka tergetar hebat !
“Siu Coan
Juga lawan itu memiliki gerakan cepat bukan main. Begitu serangan pertama dapat
mereka hindarkan, serangan-serangan selanjutnya menyusul sedemikian cepatnya sehingga tahutahu
mereka telah diserang secara bergantian dan bertubi-tubi sampai tiga kali ! Namun, mereka
kini telah menguasai banyak ilmu silat tinggi dan tubuh mereka sudah mampu bergerak secara
otomatis menghadapi ancaman serangan itu, selain itu mereka yang tahu bahwa penyerang
mereka ini amat lihai, sudah mengerahkan seluruh tenaga singkang mereka sehingga mereka
mampu menangkis dengan baik.
“Siapa kau yang datang-datang menyerang kami !” bentak Siu Coan ketika memperoleh
kesempatan. Ketika orang itu tidak menjawab melainkan melanjutkan serangan, Siu Coan
mengelak dan balas menyerang, diikuti oleh sutenya.
Pedang Naga Kemala > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com 139
Kembali orang itu mendengus, dan agaknya orang itupun merasa heran melihat betapa
serangannya yang bertubi itu tidak berhasil merobohkan seorang dari mereka , bahkan kini dua
orang pemuda itu mulai membalas. Tiba-tiba dia mengeluarkan suara mekengking lirih, akan
tetapi di dalam suara yang lirih tinggi itu mengandung tenaga serangan yang amat hebat. Dua
orang pemuda itu terkejut. Mereka mengenal Sin-houw Ho-kang yang sudah mencapai tingkat
tinggi sekali. Cepat mereka melangkah mundur dan mengerahkan tenaga khikang untuk
melawan suara itu dan melindungi diri. Kembali orang itu kelihatan terkejut dan heran, lalu suara
serangannya berhenti dan sekali berkelebat, orang itu telah lenyap di balik semak-semak tebal.
Siu Coan dan Seng Bu tidak mengejar, hanya saling pandang dengan heran. “Orang itu
sungguh lihai sekali .......... !” katanya menarik napas panjang. “Serangannya mendadak dan
kalau kita kurang hati-hati, tentu menjadi korban.”
Seng Bu menggeleng-geleng kepala, keheranan. “Mengapa dia menyerang kita membabibuta
tanpa alasan ? Siapa dia ?”
“Aku dapat menduga siapa dia.” Tiba-tiba Siu Coan berkata.
Seng Bu memandang wajah suhengnya denga heran. “Engkau tahu siapa dia, suheng ?
Apakah kau sudah mengenalnya ?”
Siu Coan menggeleng kepala. “Sute, lupakah engkau akan ucapan suhu ketika dia
menerima kita sebagai murid ? Suhu pernah mengatakan secara samar-samar bahwa suhu
mempunyai seorang murid yang sudah tidak diakuinya lagi. Agaknya orang itulah murid suhu,
mengingat bahwa dia mengenal ilmu silat Ngo-heng Lian-hoat kita, juga ketika dia menyerang
kita dengan Sin-houw Ho-kang. Siapa lagi orangnya yang mampu melakukan dua ilmu itu kalau
bukan murid suhu itu ?”
Seng Bu mengangguk-angguk “Akan tetapi, kalau benar dia, berarti dia itu adalah toasuheng
kita.
Mengapa dia menyerang kita mati-matian seperti itu ? Kurang cepat sedikit saja kita
mengelak atau menangkis, tentu seorang di antara kita akan roboh dan tewas.”
“Akupun tidak tahu mengapa, sute. Hanya, menurut ucapan suhu dahulu, tentu dia tidak
berhubungan secara baik dengan suhu. Entah mengapa suhu tidak mengakuinya lagi. Sebaiknya
hal ini kita tanyakan kepada suhu.”
Dua orang pemuda itu lalu membersihkan diri di sumber air dan setelah itu mereka
berjalan kembali menuju ke guha besar tempat tinggal mereka. Ketika mereka mencari guru
mereka, akhirnya mereka menemukan guru mereka duduk bersila di depan kamar harta karun di
mana disimpan semua pusaka dan barang-barang berharga milik guru mereka itu. Akan tetapi,
mereka terkejut bukan main melihat betapa Thian-tok yang duduk bersila itu berwajah pucat
sekali dan jelas kelihatan sedang menghimpun hawa murni dengan tarikan-tarikan napas panjang.
“Suhu .......... ! Ada apakah .......... ?” Siu Coan berseru kaget dan heran, lalu berlutut di
depan kakek yang duduk bersila itu, diikuti oleh Seng Bu.
Pedang Naga Kemala > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com 140
Kakek itu membuka kedua matanya dan melihat dua orang muridnya, dia tersenyum
menyeringai, lalu berkata dengan suara yang agak parau, “Ah, dia datang .........., mengambil
Giok-liong-kiam .......... dan aku kena ditipunya, terkena pukulannya, akan tetapi .......... diapun
membawa bekas pukulanku, mungkin terluka parah pula ..........”
Siu Coan yang cerdik segera dapat menduga. “Suhu, apakah suhu maksudkan murid suhu
itu yang datang ?”
Thian-tok terbelalak. “Kau ………. Kau sudah mengenal Koan Jit ?”
Siu Coan menggeleng kepala. “Tidak, suhu, teecu hanya menduga saja. Tadi ada seorang
bertubuh jangkung, bermuka hitam dan berpakaian serba hitam pula, menyerang teecu berdua
yang sedang berlatih silat di depan guha sumber air. Melihat gerakan-gerakannya, teecu
menduga bahwa tentu dia murid suhu itu ………. Dan dia lalu melarikan diri setelah tidak
berhasil merobohkan kami.”
Kakek itu mengangguk-angguk. “Benar, dialah Koan Jit, murid durhaka itu. Ah, aku
terlalu sayang kepadanya .......... dan dia terlalu durhaka ..........”
“Suhu, apakah yang telah terjadi ?” Seng Bu kini bertanya dengan hati penasaran sekali.
Suhunya ini menyatakan merasa sayang terhadap murid yang bernama Koan Jit itu, akan tetapi
juga mengatakan bahwa murid itu terlalu durhaka.
“Kalian belum tahu ………. baiklah kuceritakan agar kalian dapat mengenal siapa dia
dan orang macam apa dia itu. Akan tetapi dia memang hebat, dia paling berbakat, dan dia patut
menjadi datuk iblis penggantiku, akan tetapi dia durhaka kepadaku, ah, sungguh sayang. Kalau
tidak, tanpa dimintapun akan kuberikan Giok-liong-kiam kepadanya ……….”
Kakek itu lalu bercerita dengan singkat tentang muridnya yang bernama Koan Jit itu.
Orang she Koan bernama Jit itu telah menjadi murid Thian-tok, murid tunggal semenjak dia
masih kecil. Thian-tok amat sayang kepada muridnya ini, karena bukan saja Koan Jit memiliki
bakat yang amat baik sehingga dapat mewarisi hampir seluruh ilmu kepandaiannya akan tetapi
juga watak anak itu cocok benar dengan watak Thian-tok. Anak itu kejam, dapat bersikap jahat
dan licik, pendeknya seorang yang patut menjadi calon datuk iblis yang menjagoi di dunia kaum
sesat ! Dan di waktu kecilnya Koan Jit nampak patuh dan setia sekali kepada gurunya sehingga
Thian-tok merasa sayang kepadanya. Thian-tok yang tidak pernah berkeluarga dan tidak
mempunyai keturunan itu, bahkan hanya mempunyai seorang saja murid, menganggap Koan Jit
seperti anak sendiri.
Akan tetapi setelah Koan Jit tamat belajar, limabelas tahun yang lalu, dalam usia
duapuluh lima tahun, watak jahat Koan Jit mencapai puncaknya dan bukan saja dia melakukan
segala perbuatan jahat seperti mencuri, merampok, membunuh, memperkosa dan mengkhianati
siapa saja, bahkan dia berkhianat pula kepada gurunya sendiri ! Urusannya hanya menyangkut
diri seorang wanita yang diculik oleh Thian-tok. Kebiasaan Thian-tok, satu di antara kebiasaan
buruknya adalah menculik dan memperkosa wanita mana saja yang menarik hatinya. Dan
setelah diperkosanya, biasanya hanya untuk satu dua hari saja, lalu wanita itu dibunuhnya.
Pedang Naga Kemala > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com 141
Perbuatan keji inipun diwarisi pula oleh Koan Jit ! Pada suatu hari, Thian-tok menculik seorang
wanita dan dia tergila-gila kepada wanita ini, bahkan dia berniat untuk tidak membunuh wanita
itu, dan kalau mungkin malah mengangkatnya menjadi teman hidup atau istrinya.
Akan tetapi, beberapa hari kemudian, guru ini mendapatkan wanita pilihannya itu ada
dalam pelukan muridnya ! Hal ini saja masih belum menyakitkan hati datuk iblis itu kalau saja si
wanita tidak terang-terangan menyatakan bahwa ia mencinta Koan Jit dan tidak sudi berdekatan
dengan Thian-tok. Marahlah si datuk iblis dan wanita itupun dibunuhnya.
Tak disangkanya sama sekali bahwa Koan Jit mendendam karena peristiwa ini dan pada
suatu malam, selagi Thian-tok tidur pulas, murid durhaka itu telah menotoknya,
membelenggunya dan menyerahkannya kepada yang berwajib ! Tentu saja alat pemerintah
girang melihat penjahat besar itu diserahkan dalam keadaan terbelenggu, karena kalau tidak,
mereka tahu tidak akan mungkin dapat memegang Thian-tok yang menjadi iblis jahat dan
terkenal sekali di dunia kaum sesat.
Setelah siuman dan mendapatkan dirinya dalam tahanan, terbelenggu, Thian-tok menjadi
marah. Dia memberontak, melepaskan diri dan melakukan penyelidikan. Ketika mendengar
bahwa Koan Jit yang menyerahkan dirinya dalam keadaan pingsan terbelenggu kepada alat
negara, dia marah sekali dan cepat pulang. Setibanya di dalam guha di puncak Tai-yun-san itu,
dia mendapat kenyataan bahwa Koan Jit telah kabur dan membawa banyak barang-barang
berharga yang dikumpulkannya di dalam kamar dalam guha ! Tentu saja Thian-tok marah sekali,
bukan karena Koan Jit mencuri barang-barang, melainkan karena murid itu telah mendurhakainya
Dengan kemarahan meluap-luap, datuk iblis itu lalu mencari muridnya. Dan setahun
kemudian, dia dapat menemukan Koan Jit. Mereka bertanding, akan tetapi betapapun lihainya
Koan Jit, menghadapi gurunya dia kalah matang dan akhirnya dia roboh. Akan tetapi, ketika
Thian-tok hendak membunuhnya, kakek ini tidak tega. Dia terlalu sayang kepada murid yang
sudah dianggap sebagai anaknya sendiri itu. Apa lagi ketika Koan Jit berkata kepadanya bahwa
sepatutnya guru itu bangga mempunyai murid yang dapat melakukan kejahatan yang lebih besar
dari pada kejahatan gurunya !
“Suhu hanya merampok, mencuri, menculik, memperkosa dan membunuh. Pernahkah
suhu mengkhianati guru sendiri ? Nah, aku ingin melakukan kejahatan yang melebihi suhu, dan
hal itu sudah kulakukan ketika aku mengkhianati suhu. Kalau aku tidak cinta kepada suhu, tentu
suhu telah kubunuh, bukan kuserahkan kepada yang berwajib. Aku tahu bahwa suhu tentu akan
mampu melepaskan diri. Kenapa sekarang suhu marah-marah ? Pantasnya memujiku, karena
bukankah suhu yang mengajarkan semua itu kepadaku ?”
Mendengar ucapan muridnya ini, hati Thian-tok menjadi semakin lemah dan diapun
mengampuni muridnya itu. Akan tetapi hatinya telah menjadi kecewa dan diapun tidak mau
mengakui lagi muridnya, dan mengatakan bahwa kalau sekali lagi saling jumpa, dia tentu akan
membunuh murid durhaka itu.
“Demikianlah,” Thian-tok mengakhiri ceritanya. “Selama belasan tahun aku tidak
pernah bertemu dengannya, hanya mendengar bahwa dia telah dijuluki orang Hek-eng-mo (Iblis
Bayangan Hitam). Dan tadi, dia datang, menyelinap ke dalam kamar harta, mencuri Giok-liongPedang
Naga Kemala > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com 142
kiam. Aku mendengar suara yang bukan seperti kalian, maka aku datang melihat dan tahu-tahu
aku telah diserangnya. Dia memperoleh banyak kemajuan dan karena aku tadinya masih mengira
bahwa kalian yang berada di dalam, aku lengah dan terkena pukulannya yang beracun. Akan
tetapi, sebelum dia melarikan diri, akupun berhasil memukul dan melukainya. Dia lari hanya
membawa pedang pusaka Giok-liong-kiam.”
“Kurang ajar ! Aku akan mengejar dan mencarinya, suhu !” Siu Coan mengepal tinju.
“Benar, murid durhaka itu perlu dihajar !” kata pula Seng Bu marah.
Kakek itu tersenyum dan menggeleng kepala. “Jangan ! Aku bahkan diam-diam merasa
bangga bahwa dia menguasai pedang pusaka itu dengan cara yang demikian licik dan berani.
Perbuatan itu patut kalian jadikan contoh. Orang harus licin dan cerdik untuk dapat maju di
dunia ini, ha – ha – ha ! Dan Koan Jit benar-benar membuat aku bangga. Pula, belum tentu
kalian dapat menang menghadapinya. Dalam hal ilmu silat, kiranya kalian tidak perlu kalah,
hanya mungkin kalah matang dalam latihan. Semua ilmuku telah kuberikan kepada kalian. Akan
tetapi, dalam hal kelicikan dan kecurangan, kalian kalah jauh, apa lagi Seng Bu. Biarlah, pusaka
Giok-liong-kiam itu biar berada di tangannya. Tentu saja kelak, kalau kalian sudah merasa
mampu, kalian boleh coba-coba merampas dari tangannya. Ketahuilah, pusaka Giok-liong-kiam
itu menjadi semacam ukuran kelihaian seseorang. Pemiliknya boleh mengangkat diri menjadi
orang terpandai di dunia persilatan !”
“Omitohud .........., kata-kata yang sungguh tidak baik untuk didengar dan ditaati ..........”
Suara ini halus seolah-olah di dekat mereka ada orang yang berbisik. Hal ini amat
mengejutkan hati Thian-tok dan dua orang muridnya. Thian-tok segera maklum bahwa ada orang
sakti yang datang, karena orang yang berada di luar guha dapat mendengarkan kata-katanya tadi
dan dapat mengirim suara melalui ilmu Coan-im-jip-bit (Mengirim Suara Dari Jauh) sedemikian
lihainya, tentulah seorang yang memiliki kesaktian luar biasa.
“Awas, di luar ada orang sakti. Mari kita sambut dia !” kata Thian-tok yang segera
bangkit dan melangkah keluar dengan sikap tenang, dengan wajah tersenyum mengejek karena
kakek ini belum pernah merasa takut menghadapi lawan siapa saja di dunia ini. Dua orang
muridnya mengikuti dari belakang dengan hati tegang dan penuh pertanyaan dan dugaan.
Apakah Koan Jit datang kembali ? Mungkin saja murid pertama suhu mereka itu yang datang,
karena memang orang itu memiliki kepandaian tinggi. Akan tetapi mengapa ada seruan
omitohud yang biasa hanya keluar dari mulut para pendeta atau para umat Buddhis yang
beribadat ? Agaknya tidak mungkin kalau toa-suheng mereka yang sudah tidak diakui itu
menggunakan seruan seperti itu.
Ketika mereka tiba di luar, Siu Coan dan Seng Bu memandang heran. Di depan guha itu
telah berdiri seorang pendeta hwesio yang tubuhnya gendut bulat, segendut da sebulat guru
mereka. Bahkan ada persamaan atau kemiripan wajah di antara dua orang kakek itu, mirip sekali
bentuk mata, hidung dan mulut pada muka yang sama-sama bundar itu. Hanya perbedaannya,
kalau kepala Thian-tok botak dan di belakangnya berambut, kepala hwesio itu gundul plontos
tanpa ada sedikitpun rambutnya dan kalau baju Thian-tok tidak pernah tertutup sehingga nampak
Pedang Naga Kemala > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com 143
bulu di dadanya, sebaliknya tubuh hwesio itu tertutup rapat oleh jubah kuning, juga wajah Thiantok
dihias kumis pendek tebal, sedangkan hwesio itu sedikitpun tidak memelihara kumis.
Sejenak dua orang gendut itu saling pandang dan lucunya, keduanya sama-sama
tersenyum lebar. Hanya terdapat perbedaan dalam senyum itu. Kalau senyum Thian-tok
menyeringai dan membayangkan ejekan dan kesombongan, senyum hwesio itu halus dan ramah
dibayangi ketulusan hati.
“Ha – ha – ha – ha !” Thian-tok akhirnya tertawa bergelak. “Akhirnya ketemu juga !
Akan tetapi kedatanganmu itu terlambat beberapa jam saja, Siauw-bin-hud !”
Hwesio yang disebut Siauw-bin-hud itu tertawa dan menoleh kepada pemuda berpakaian
pemuda tani sederhana yang wajahnya membayangkan kesabaran. “Ci Kong, inilah dia yang
dujuluki orang Thian-tok, satu diantara empat orang datuk iblis yang dinamakan Empat Racun
Dunia.” Kemudian Siauw-bin-hud menghadapi Thian-tok dengan senyum lebar.
“Heh – heh, Thian-tok, engkau pandai sekali menyembunyikan diri. Setelah yakin bahwa
engkaulah orangnya yang duabelas tahun yang lalu merampas Giok-liong-kiam dengan
mempergunakan nama pinceng, barulah pinceng memaksa diri mendatangi tempat ini. Thiantok,
mengapa engkau melakukan perbuatan itu ?”
“Ha – ha – ha, ketika itu aku hanya menggunduli rambut dan kumisku, memakai jubah
kuning dan merobah sedikit alisku, mencoba-coba merasakan bagaimana kalau menjadi seorang
hwesio. Aku sama sekali tidak pernah mengaku bahwa aku adalah Siauw-bin-hud. Kalau
kemudian orang menyangka aku Siauw-bin-hud, salah siapakah itu ? Ha – ha – ha, dan sudah
sepatutnya kalau engkau menjadi pusing karenanya. Ingatkah engkau pada empatpuluh tahun
yang lalu ketika engkau pernah mengalahkan aku dalam pertandingan selama hampir satu malam
di puncak Thai-san ?”
Siauw-bin-hud tersenyum lebar. “Aihh, perlu apa mengingat-ingat masa lampau waktu
kita masih gila-gilaan dan dikuasai nafsu untuk menang ? Pinceng sekarang sudah tidak lagi haus
kemenangan, Thian-tok. Akan tetapi karena orang menyangka pusaka itu pinceng rampas, maka
pinceng terpaksa datang mengunjungimu dan minta agar engkau suka mengembalikan kepadaku
untuk diserahkan kepada mereka yang berhak.”
“Ha – ha, enak saja ! Majulah dan kalahkan aku sekali lagi kalau engkau mampu !”
Siauw-bin-hud hanya tersenyum dan menggeleng kepala. “Biarlah pinceng mengaku
kalah.”
“Kalau engkau kalah, berarti aku yang menang dan jagoan nomor satu sajalah yang
berhak menguasai Giok-liong-kiam. Jadi, akulah yang menguasainya dan akulah yang patut
disebut jagoan nomor satu di dunia, ha – ha – ha !”
“Omitohud ! Heh – heh, Thian-tok, bagi pinceng sama sekali tidak berkeberatan kalau
engkau menjadi jagoan nomor satu di dunia atau di akhirat. Biar kauborong semua gelar dan
julukan itu, ha – ha – ha !”
Pedang Naga Kemala > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com 144
Sementara itu, Ci Kong yang menyaksikan pertemuan antara kakek gurunya dan kakek
gendut itu, sejak tadi memandang penuh keheranan. Memang mirip sekali dua orang kakek itu
satu sama lain, dengan kebiasaan yang sama pula, yaitu suka tersenyum lebar dan ketawa-ketawa.
Hanya bedanya, kalau senyum susiok-couwnya itu ramah dan tulus, sebaliknya senyum kakek
botak itu mengandung ejekan dan sinar matanya mengandung kekejaman. Akan tetapi, diamdiam
dia merasa kagum kepada dua orang pemuda yang muncul keluar bersama Thian-tok itu.
Mereka adalah dua orang pemuda yang nampak gagah dan sama sekali tidak membayangkan
watak yang jahat.
“Ha – ha – ha, Siauw-bin-hud, kalau kau sudah mengaku kalah, pergilah dan jangan
ganggu aku !” Thian-tok berkata dan kini dua orang muridnya yang merasa heran. Biasanya,
tidak mungkin guru mereka itu membiarkan orang yang datang mengganggu pergi begitu saja
dan menghabiskan perkara itu sampai di situ ! Dari sikap ini saja mereka dapat menduga bahwa
suhu mereka itu merasa jerih terhadap hwesio tua ini. Hal itu membuat mereka merasa penasaran
sekali.
“Thian-tok, pinceng tidak mau merebut keunggulan jagoan, akan tetapi pinceng sudah
berjanji kepada para orang gagah untuk mencari perampas Giok-liong-kiam yang menyamar
pinceng. Kalau engkau tidak mau menyerahkan pusaka itu kepada pinceng untuk dikembalikan
kepada yang berhak, marilah kau ikut pinceng ke Siauw-lim-si dan engkau menghadapi sendiri
mereka yang menuntut dikembalikannya pusaka itu.”
“Hua – ha – ha, enak saja kau membuang kentut, hwesio busuk !” Thian-tok tertawa
bergelak dan memaki dengan nada mengejek sekali. “Aku merampas pusaka itu menggunakan
kepandaian dan kau hendak mengambilnya dariku hanya dengan menggunakan bujukan suara
kentut busuk ? Kalau engkau mampu mengalahkan aku, baru aku mau bicara tentang Giok-liongkiam,
kalau engkau tidak berani melawanku, pergilah dan jangan perlihatkan lagi kepala
gundulmu itu di sini !”
“Ha – ha – ha, Thian-tok, jangan seperti anak kecil yang memperebutkan mainan.
Pinceng hanya ingin meluruskan perkara yang bengkok, bukan untuk memperebutkan sesuatu
denganmu.” Siauw-bin-hud masih tertawa-tawa gembira, agaknya kata-kata yang menghina dari
Thian-tok sama sekali tidak dirasakannya. Ci Kong mengerutkan alisnya yang teba. Hatinya
sudah terasa panas sekali. Dia seorang pemuda sederhana yang menerima gemblengan lahir batin
dari Siauw-bin-hud selama enam tahun, juga wataknya bijaksana, sabar dan serius. Akan tetapi,
mendengar betapa susiok-couwnya yang amat dihormatinya itu kini dimaki-maki dengan katakata
kotor oleh seorang datuk sesat, dia merasa penasaran sekali dan menganggap bahwa sikap
susiok-couwnya terlalu lemah. Orang yang begitu jahat seperti Thian-tok ini tidak perlu dikasih
hati, pikirnya, karena makin lemah sikap kita, tentu akan makin diinjaknya.
“Heh – heh, Siauw-bin-hud, engkau mengaku kalah tanpa bertanding, mana mungkin itu?
Kalau saja engkau mengaku bahwa engkau takut melawan aku, nah, baru aku mau bicara tanpa
bertanding. Gundul busuk, kau berlututlah dan mengaku takut !” kata Thian-tok sambil
menyeringai dengan sikap merendahkan sekali. Anehnya, Siauw-bin-hud hanya tersenyum saja,
dengan sinar mata penuh kesabaran seperti dewasa melihat tingkah seorang anak kecil yang
nakal. Akan tetapi, Ci Kong sudah cepat melangkah maju.
Pedang Naga Kemala > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com 145
“Susiok-couw, segala sesuatu mempunyai batas. Orang ini terlalu menghina dan
memandang rendah, biarlah saya yang mencoba-coba menghadapi dan menandingi ilmunya !”
Sebelum Siauw-bin-hud menjawab, tiba-tiba Ong Siu Coan sudah meloncat ke depan dan
menudingkan telunjuk kirinya ke arah muka Ci Kong. “Orang sombong, kalau engkau yang
maju, tidak perlu suhu menghadapimu, akupun cukuplah. Sambut seranganku !”
Ong Siu Coan selain cerdik dan berwatak aneh, juga gagah perkasa dan melihat gurunya
ditantang oleh pemuda yang menjadi cucu keponakan seperguruan Siauw-bin-hud, dia menjadi
marah. Juga dengan cerdik dia mendahului maju untuk menyenangkan hati gurunya karena
perbuatannya itu tentu saja merupakan suatu kebaktian dan kesetiaan seorang murid yang baik.
Begitu mengeluarkan tantangan dan celaan terhadap Ci Kong yang dipandangnya rendah karena
bagaimanapun juga, pemuda itu hanyalah cucu murid Siauw-bin-hud, tentu hanya merupakan
seorang murid Siauw-lim-pai tingkat rendah saja, Siu Coan sudah mengirim serangan dengan
dahsyatnya. Begitu menyerang, dia telah mempergunakan sebuah jurus yang ampuh dari Ngoheng
Kun-hoat dan tentu saja dia mengerahkan tenaga singkang dalam serangan itu sehingga
pukulan tangan kirinya yang menyambar dari samping ke arah lambung lawan itu mengeluarkan
angin keras.
“Hemmmm ………. !” Ci Kong mengeluarkan suara menahan kemarahannya melihat
betapa pemuda tinggi besar itu begitu saja menyerang dengan ganas. Sebagai seorang murid
terkasih Siauw-bin-hud yang telah mewarisi ilmu-ilmu silat paling tinggi dari Siauw-lim-pai
bahkan mewarisi ilmu-ilmu simpanan rahasia yang bahkan jarang ada tokoh Siauw-lim-pai
menguasainya. Ci Kong memiliki ketenangan yang luar biasa. Sekali pandang sekelebatan saja,
diapun sudah tahu bahwa serangan lawannya itu mengandung hawa maut dan sama sekali tidak
boleh dipandang ringan. Juga dia tidak dapat diikat perhatiannya oleh pukulan tangan kiri lawan
yang menyambar lambungnya, maka sambil mengelak, dia tetap waspada. Kewaspadaannya ini
ternyata amat berguna karena belum juga pukulan tangan kiri Siu Coan itu terelakkan, tangan
kanan Siu Coan sudah menyambar dengan lebih cepat dan lebih ganas dari pada gerakan tangan
kiri dan yang diserang adalah pelipis kiri Ci Kong. Kiranya inilah serangan intinya sedangkan
sambaran tangan kiri tadi hanyalah pancingan atau gertakan saja. Memang demikian sifat ilmu
silat Ngo-heng Lian-hoan Kun-hoat yang dirangkai oleh Thian-tok. Serangan susul-menyusul
dan sambung-menyambung sehingga sukar diketahui lawan mana serangan pancingan dan mana
yang inti, karena kesemuanya nampak berbahaya, makin lama makin cepat.
Akan tetapi Ci Kong sudah tahu bahwa pukulan ke arah pelipis itulah serangan inti lawan,
maka diapun menggerakkan tangan kirinya, dengan gerakan berputar dari bawah lengan kirinya
menangkis.
“Dukkk ………. !” Keduanya terkejut karena begitu dua lengan bertemu, tubuh mereka
tergetar dan tiba-tiba tangan kiri Siu Coan pada detik berikutnya sudah menyambar dengan
dorongan ke arah ulu hati lawan. Serangan susulan yang amat berbahaya ! Akan tetapi Ci Kong
juga memapakinya dengan tangan kirinya. Dua telapak tangan kiri itu saling dorong dan bertemu
di udara.
Pedang Naga Kemala > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com 146
“Plakk !!” Keduanya terdorong ke belakang sampai tiga langkah dan sama-sama
memandang dengan sinar mata kagum karena dari pertemuan telapak tangan itu saja mereka
dapat mengetahui betapa kuatnya tenaga dari lawan masing-masing.
“Heh – heh, Ci Kong, apa gunanya bersitegang dan berkelahi seperti anak kecil ?
Mundurlah.” Tiba-tiba terdengar suara halus Siauw-bin-hud dan mendengar suara susiokcouwnya
ini, Ci Kong mundur walaupun pada saat itu, Siu Coan sudah menyerangnya lagi !
Melihat betapa lawannya mundur dan kakek gendut dari Siauw-lim-pai itu kini
melangkah maju, Siu Coan yang sudah menyerang lagi tidak mau menarik kembali pukulannya.
Bahkan pemuda yang cerdik ini memperoleh kesempatan untuk menguji kepandaian Siuw-binhud,
kakek yang menjadi tokoh penuh rahasia dari Siauw-lim-pai itu, yang menurut gurunya
merupakan seorang tokoh sakti yang sukar dicari tandingannya. Dia merasa penasaran dan ingin
menguji sendiri Siauw-bin-hud. Akan tetapi, kalau tidak ada kesempatan yang baik, tentu dia
tidak berani. Sekarang, dia sedang melakukan serangan yang tadinya ditujukan kepada pemuda
cucu murid pendeta itu. Kalau pemuda yang diserangnya itu menyingkir dan mundur, sedangkan
kakek gendut itu maju, maka serangannya yang dilanjutkan akan mengarah si pendeta dan hal ini
tidak dapat dikatakan bahwa dia berani lancang menyerang tokoh Siauw-lim-pai itu !
Maka, dia tidak menahan atau menarik kembali serangannya, bahkan mengerahkan
seluruh tenaganya dan serangannya itu diluncurkan dengan persiapan menyambungnya dengan
pukulan-pukulan lain yang paling hebat dari Ngo-heng Lian-hoan Kun-hoat !
Kombinasi pukulan tiga kali berturut-turut secara cepat lagi dilancarkan oleh Siu Coan ke
arah tubuh gendut itu. Pertama ke arah leher, ke dua ke arah lambung dan ke tiga kalinya ke arah
dada. Cepat sekali dan mengandung tenaga sepenuhnya. Demikian cepatnya tiga pukulan
berantai itu sehingga jatuhnya hampir berbareng, sekali dengan tangan kiri dan dua kali dengan
tangan kanan.
“Buk ! Buk ! Buk !” Tiga kali pukulan itu mengenai sasaran dengan tepatnya, akan
tetapi akibatnya sungguh aneh. Ong Siu Coan terkulai dan tentu sudah roboh kalau lengannya
tidak cepat disambar oleh sutenya, Gan Seng Bu. Ketika tiga kali pukulan tadi mengenai leher,
lambung dan dada kakek gendut itu, Siauw-bin-hud sama sekali tidak mengelak dan Siu Coan
merasa betapa pukulan-pukulannya seperti mengenai benda yang amat lunak, dingin dan yang
mengandung daya serap, menyedot semua tenaga singkang yang terkandung dalam semua
pukulannya. Dan seketika kaki tangannya terasa lemas dan lumpuh sehingga dia hampir
terguling roboh kalau tidak disambar oleh sutenya. Dia cepat melangkah mundur dan
memandang kepada kakek pendeta Siauw-lim-pai itu dengan mata terbelalak.
“Ha-ha-ha, Thian-tok, engkau mempunyai murid-murid yang amat lihai.” Siauw-bin-hud
berkata, ucapannya itu sama sekali bukan merupakan ejekan karena kakek ini tahu benar betapa
lihainya pemuda tinggi besar yang menyerangnya tadi. Dia bisa menderita malu kalau
menghadapi pemuda itu dengan kekerasan pula, dan diapun tahu bahwa biarpun cucu muridnya
mungkin tidak kalah, akan tetapi untuk dapat memenangkan pemuda murid Thian-tok itupun
bukan merupakan hal yang mudah. Yang paling mengagumkan hatinya adalah sinar mata Siu
Coan, begitu mengandung kecerdikan dan keanehan sehingga pemuda itu memang patut menjadi
murid seorang sakti aneh seperti seorang di antara Empat Racun Dunia itu.
Pedang Naga Kemala > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com 147
“Ha – ha – ha – ha, Siauw-bin-hud, tak perlu kau mengejek. Tentu saja murid-muridku
masih belum cukup matang untuk melawan tua bangka bangkotan seperti engkau, akan tetapi
mari kita yang tua sama tua mencoba kepandaian masing-masing. Kalau engkau tidak mampu
menang dariku, bukan saja engkau tidak akan mendengar dariku tentang pusaka Giok-liong-kiam,
bahkan aku akan membunuhmu dan membunuh muridmu ini ! Akan tetapi kalau aku kalah, aku
mau bicara tentang Giok-liong-kiam !”
Tentu saja Ci Kong semakin marah mendengar ucapan dan melihat sikap Thian-tok. Di
mana ada orang menggunakan aturan yang demikian boceng-li, mau menang sendiri dan mau
enaknya sendiri saja ?
Terhadap orang macam ini, yang lebih mendekati gila dari pada sekedar jahat, perlu
dipergunakan kekerasan untuk menghajarnya. Akan tetapi, pemuda itu tentu saja tidak berani
berbuat atau berkata dengan lancang tanpa ijin dari susiok-couwnya yang kini hanya tersenyum
lebar saja menghadapi tantangan Thian-tok.
“Omitohud .......... Thian-tok, sejak puluhan tahun engkau selalu haus kemenangan, haus
darah. Apakah sampai mati engkau akan selalu kehausan seperti ini ? Sungguh kasihan sekali !”
Siauw-bin-hud berkata sambil menggeleng-geleng kepala dan senyumnya amat ramah,
mengandung bayangan iba.
Jilid VII *****
Ucapan ini oleh Thian-tok yang selalu berprasangka buruk itu dianggap sebagai
penghinaan dan memandang rendah. Mukanya menjadi merah walaupun senyumnya masih
lebar, senyum menyeringai dan tiba-tiba dia mengeluarkan mangkok dan guci araknya.
Dituangkannya arak ke dalam mangkok sampai penuh, lalu diminumnya dengan sepasang
matanya masih terus menatap wajah Siauw-bin-hud. Dua orang muridnya yang sudah mengenal
kakek ini diam-diam menjadi tegang. Kalau gurunya sudah bersikap seperti itu, minum arak
seperti itu, maka hanya ada dua hal terjadi dalam batin gurunya. Terlalu gembira atau terlalu
marah, dan agaknya kini gurunya itu telah marah sekali.
Setelah menghabiskan tiga mangkok arak, Thian-tok menggantungkan kembali mangkok
dan ciu-ouw di pinggangnya, lalu terkekeh. Suara ketawanya tadinya terdengar ketawa biasa
saja, akan tetapi makin lama suara itu makin meninggi sampai seperti ringkik kuda, dan makin
tinggi lagi melengking-lengking.
Tentu saja Ci Kong menjadi terkejut bukan main, apa lagi ketika suara itu jelas
mengandung tenaga khikang kuat yang menyerang dia dan susiok-couwnya. Dia melihat betapa
Siauw-bin-hud masih tersenyum saja. Akan tetapi dia sendiri cepat-cepat mengerahkan singkang
untuk menjaga diri, karena dia tahu bahwa kalau dia tidak membela diri, mungkin dia akan
terkena serangan melalui suara itu dan terluka. Suara itu adalah ilmu Sin-houw Ho-kang yang
amat berbahaya. Diciptakan oleh Thian-tok meniru suara harimau. Seekor binatang harimau
yang menjadi raja hutan, menundukkan lawan atau korbannya cukup dengan suaranya saja.
Pedang Naga Kemala > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com 148
Harimau yang mengeluarkan suara gerengan itu mengandung tenaga yang menggetarkan jantung,
dapat membuat lawannya lumpuh dan ketakutan sehingga tanpa dikejar sekalipun sudah akan
roboh di depan kakinya. Suara inilah, dengan kekuatan getarannya, yang ditiru oleh Thian-tok,
disesuaikan dengan suara yang dapat keluar dari perutnya melalui tenggorokannya, dan
dibandingkan dengan suara harimau aseli, maka Sin-houw Ho-kang ini jauh lebih hebat dan lebih
berbahaya lagi.
Hanya dengan pengerahan sinkangnya, Ci Kong dapat menghadapi serangan suara itu
sambil berdiri tegak dan mengatur pernapasan. Akan tetapi, Siauw-bin-hud masih tersenyum
enak-enak saja, seolah-olah suara itu tidak mempengaruhinya sama sekali. Hanya kedua matanya
saja yang bersinar lembut itu menentang pandang mata Thian-tok yang melotot. Melihat sikap
Siauw-bin-hud yang seolah-olah sama sekali tidak terpengaruh oleh serangannya, tentu saja
Thian-tok menjadi penasaran. Di antara Empat Racun Dunia, dia terkenal sekali dengan Sinhouw
Ho-kangnya, bahkan datuk iblis yang lain tidak berani memandang rendah. Pemuda
Siauw-lim-pai itupun sudah harus mengerahkan sinkang untuk melawan suaranya. Akan tetapi
kenapa Siauw-bin-hud enak-enak saja ? Sikap enak-enakan itu merupakan tamparan baginya,
seolah-olah menunjukkan bahwa Sin-houw Ho-kang yang dipergunakannya untuk menyerang itu
bagi Siauw-bin-hud hanya nyanyian yang merdu saja. Dia lalu mengerahkan tenaga khikang
lebih kuat lagi sehingga suaranya itu kini melengking semakin tinggi sampai seperti suara
nyamuk-nyamuk berterbangan. Akan tetapi dalam keadaan seperti itu, daya serangan menjadi
semakin kuat sehingga Ci Kong yang lihai itupun terpaksa harus mengerahkan seluruh tenaga dan
bahkan memejamkan mata untuk memusatkan tenaga.
Akan tetapi, Siauw-bin-hud tetap saja tersenyum lebar, bahkan kadang-kadang terkekeh
lirih. Justeru dalam suara kekehnya inilah terletak kekuatan yang dapat menolak serangan suara
Sin-houw Ho-kang itu ! Agaknya bukan hanya Thian-tok yang menjadi penasaran, juga Siu
Coan mengerutkan alisnya. Dia biasanya amat menyombongkan Ilmu Sin-houw Ho-kang ini dan
sekarang suhunya sudah mengerahkan tenaga sekuatnya, belum juga mampu mengalahkan atau
setidaknya membuat Siauw-bin-hud kerepotan. Maka tiba-tiba diapun mengeluarkan suara
melengking yang disusul pula oleh Seng Bu dalam usaha dua orang murid itu untuk membantu
guru mereka ! Kini ada tiga suara yang mengandung Sin-houw Ho-kang yang menyerang ke arah
Siauw-bin-hud dan Ci Kong !
Ci Kong merasa terkejut bukan main. Serangan tambahan dari dua orang pemuda itu
sungguh tidak boleh dibuat main-main. Kekuatan yang terkandung dalam lengkingan suara
mereka itu tidak selisih banyak dengan kekuatan suara Thian-tok, dan karena dua orang pemuda
itu menggabungkan suara mereka, maka kekuatan suara gabungan itu bahkan lebih kuat lagi dari
pada suara Thian-tok. Ci Kong merasa betapa tubuhnya menggigil dan cepat dia lalu duduk
bersila dan mengerahkan semua tenaganya. Baru setelah dia duduk bersila dan mengerahkan
tenaga dalamnya, dia mampu menahan serangan getaran tiga suara yang bergabung itu !
Dan kini, senyum Siauw-bin-hud makin melebar dan mulai terdengar suara terkekehkekeh
dari mulutnya. Suara ini demikian kuatnya sehingga tiga orang penyerang itu merasa
betapa suara mereka terpukul membalik, membuat mereka terkejut sekali. Akan tetapi Thian-tok
masih berkeras mengerahkan tenaganya.
Pedang Naga Kemala > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com 149
“Thian-tok, engkau sedang menderita luka, apakah engkau mau bunug diri ?” tiba-tiba
terdengar Siauw-bin-hud berkata, suaranya lembut, akan tetapi aneh karena dalam kelembutan itu
terkandung kekuatan dahsyat sekali yang serentak membuyarkan kekuatan Sin-houw Ho-kang
dari tiga orang penyerang itu !
Thian-tok menghentikan serangan suaranya dan mukanya menjadi agak pucat. Dua orang
muridnya terpaksa menghentikan pula suara mereka dan didahi dan leher mereka nampak
butiran-butiran keringat yang besar-besar dan dingin. Kalau dilanjutkan melawan suara kakek
Siauw-lim-pai itu, yang membuat suara mereka sendiri membalik, mereka akan dapat menderita
luka parah sekali oleh tenaga khikang mereka sendiri yang memukul balik !
“Hemm, aku masih belum kalah, Siauw-bin-hud. Coba kausambut seranganku dan
kaukalahkan aku kalau bisa !” Berkata demikian, kakek gendut itu kini sudah menerjang ke
depan, menyerang Siauw-bin-hud kalang kabut. Angin pukulan dahsyat menyambar-nyambar
dengan hebatnya dan Siauw-bin-hud mengeluh.
“Omitohud, engkau menderita masih nekat, Thian-tok ?” Siauw-bin-hud juga
menggerakkan tubuhnya, mengelak sambil mengebut-ngebutkan ujung lengan bajunya untuk
menangkis. Kakek ini tidak pernah membalas, akan tetapi semua serangan Thian-tok yang amat
hebat itu dielakkannya saja sambil kadang-kadang ditangkis dengan ujung lengan baju. Thiantok
adalah seorang tokoh besar, seorang datuk iblis yang sudah mematangkan ilmunya selama
puluhan tahun ini, semenjak kalah oleh Siauw-bin-hud, maka ilmu kepandaiannya meningkat
banyak sekali.
Siauw-bin-hud maklum akan hal ini, akan tetapi kakek yang batinnya penuh dengan welas
asih ini, selain tidak suka memukul orang, juga merasa amat kasihan kepada Thian-tok yang dia
tahu sedang menderita luka cukup parah di sebelah dalam tubuhnya. Dan memang benarlah.
Pertemuannya dengan bekas muridnya yang murtad, yaitu Koan Jit, yang memukulnya dengan
tiba-tiba sehingga kakek itu terluka, membuat tenaganya banyak berkurang, bahkan kalau dia
terlalu mengerahkan tenaga dalam, amat membahayakan diri sendiri. Karena merasa kasihan
inilah, maka Siauw-bin-hud hanya mengelak dan menangkis saja atas semua desakan Thian-tok
yang mempergunakan Ilmu Silat Ngo-heng Lian-hong Kun-hoat yang amat diandalkannya itu.
Selama puluhan tahun dia menyempurnakan ilmu ini dan selama ini belum pernah menemui
tandingan.
Ci Kong memandang penuh kekhawatiran karena pemuda inipun dapat melihat betapa
hebatnya serangan-serangan Thian-tok dan betapa susiok couwnya hanya mengelak dan
menangkis saja dengan sikap amat mengalah. Kakek gurunya itu sudah amat tua, dan betapapun
sakti dan tinggi ilmunya, usia tua membuat tubuh itu tentu saja ringkih. Mana mungkin kakek itu
dapat bertahan terus menghadapi serangan dengan ilmu sedahsyat itu kalau hanya mengelak dan
menangkis saja tanpa membalas sama sekali ?..
Siu Coan dan Seng Bu juga menjadi penonton yang memandang penuh kagum. Mereka
berdua maklum bahwa biarpun mereka sudah berlatih dengan amat tekun, mereka masih belum
mampu menandingi suhu mereka dalam Ilmu Ngo-heng Lian-hoan Kun-hoat. Dimainkan oleh
Thian-tok, ilmu silat itu benar-benar amat berbahaya dan lihai sekali. Akan tetapi, yang membuat
mereka melongo penuh kekaguman adalah ketika mereka melihat betapa kakek gendut dari
Pedang Naga Kemala > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com 150
Siauw-lim-pai itu selalu dapat menghindarkan diri dari setiap jurus serangan Thian-tok, hanya
dengan mengelak dan mengebut menggunakan ujung lengan baju, sama sekali tidak pernah
membalas padahal kalau kakek Siauw-lim-pai itu menghendaki, dua orang pemuda ini maklum
bahwa kakek itu sanggup dan tentu balasannya akan lebih hebat lagi. Diam-diam Gan Seng Bu
merasa penasaran. Pemuda ini berjiwa gagah dan berwatak adil. Dia merasa tidak senang
melihat gurunya terus-terusan menyerang sedangkan lawannya yang sama sekali tidak kalah lihai
itu sama sekali tidak pernah membalas. Ini merupakan perkelahian yang dalam anggapannya
sama sekali tidak adil. Dan Siu Coan yang tidak memikirkan lain kecuali kemenangan untuk
suhunya, juga kagum terhadap kakek Siauw-lim-pai itu. Akan tetapi diapun tidak berani turun
tangan membantu suhunya tanpa perintah suhunya itu. Dia cukup mengenal watak Thian-tok
yang aneh. Biarpun Thian-tok seorang yang tidak segan melakukan segala macam kekejaman,
kecurangan dan kejahatan, namun sebagai seorang datuk iblis tingkat atas, kakek itu memiliki
keangkuhan dan tentu akan merasa terhina dan marah besar kalau muridnya membantunya dalam
suatu perkelahian tanpa perintahnya. Pengeroyokan merupakan hal yang amat merendahkan bagi
seorang datuk besar seperti Thian-tok. Oleh karena itu, biarpun suhunya belum juga mampu
mengalahkan kakek yang sama sekali tidak pernah membalas itu, Siu Coan juga hanya menonton
saja. Diam-diam dia menyayangkan, karena kalau sekali saja suhunya memberi perintah, dan dia
maju bersama sutenya, tentu kakek Siauw-lim-pai dan cucu muridnya itu akan dapat dibunuh
dengan mudah.
Sementara itu, Thian-tok merasa makin penasaran. Siauw-bin-hud sekarang, tidak seperti
empatpuluh tahun yang lalu, menghadapinya tanpa membalas dan sudah lewat limapuluh jurus,
belum juga dia mampu menyentuh tubuh kakek itu, apa lagi merobohkan ! Padahal, Siauw-binhud
sama sekali tidak pernah membalasnya. Empatpuluh tahun yang lalu, setelah melalui
perkelahian mati-matian selama belasan jam, baru Siauw-bin-hud mampu mengalahkannya, akan
tetapi Siauw-bin-hud ketika itu balas menyerang, tidak seperti sekarang ini, sama sekali tidak
membalas dan hanya mengelak dan menangkis saja. Sungguh tak mungkin dia dapat
menerimanya, bahkan sukar mempercayanya. Maka, tanpa memperdulikan luka yang dideritanya
akibat pukulan bekas muridnya, kakek gendut ini menyerang terus mati-matian. Dia tahu bahwa
dengan lukanya, dia sama sekali tidak boleh terlalu banyak mengeluarkan tenaga. Hal ini akan
membuat luka pukulan beracun bekas muridnya itu menjadi semakin parah. Akan tetapi, Thiantok
memiliki watak yang angkuh dan kepala batu, maka dia tidak memperdulikan diri sendiri dan
terus menyerang dengan maksud mengalahkan, kalau mungkin membunuh. Sepasang matanya
sudah merah, mulutnya masih tersenyum, menyeringai menyeramkan karena dalam senyum ini
terbayang nafsu membunuh ! Dia tidak perduli bahwa lawannya tidak pernah membalas, dan hal
ini malah dianggap amat menguntungkan, memberi kesempatan sebanyaknya kepadanya untuk
menang. Sikap Siauw-bin-hud yang mengalah itu dianggap suatu kebodohan, ketololan lawan
yang menguntungkan dirinya !
“Aagghhhh .......... !” Tiba-tiba dia mengeluarkan suara gerangan rendah yang
menggetarkan tanah sekitar tempat itu, seperti seekor raja hutan menggereng dengan dahsyatnya
dan sambil mengeluarkan suara gerengan itu, Thian-tok menubruk ke depan, kedua tangannya
mendorong ke arah dada Siauw-bin-hud sambil mengerahkan seluruh tenaga yang ada pada
dirinya. Agaknya Thian-tok sekali ini mengeluarkan segalanya untuk merobohkan lawan.
“Omitohud .......... kau menyiksa dirimu sendiri” Siauw-bin-hud berseru dan hwesio
gendut ini tidak sempat mengelak lagi, terpaksa mengulur kedua tangannya menyambut. SiauwPedang
Naga Kemala > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com 151
bin-hud yang berhati penuh welas asih itu tidak mengerahkan tenaga keras, melainkan
menggunakan kelembutan menerima serangan dahsyat dari lawan.
“Plakkk .......... !” Tubuh Siauw-bin-hud terlempar ke belakang dan diterima oleh Ci
Kong dengan lembut. Tubuh Thian-tok tetap berdiri tegak, dengan kedua kaki terpentang lebar,
dan dia tertawa bergelak, akan tetapi tiba-tiba suara ketawanya berganti suara muntah-muntah
dan dari mulutnya tersembur keluar darah segar, lalu diapun terjungkal ! Dua orang muridnya
cepat melompat dan membantunya bangkit duduk, kemudian Thian-tok cepat bersila dan
mengatur pernapasannya yang memburu. Dia terluka semakin hebat oleh tenaganya sendiri yang
membalik.
Sementara itu, Siauw-bin-hud ternyata tidak apa-apa, hanya mukanya saja berobah agak
pucat dan nampak kakek ini lelah sekali. Seperti juga Thian-tok, dia duduk bersila memejamkan
mata dan pernapasannya berjalan dengan lembut dan panjang.
Ong Siu Coan merasa penasaran dan tersinggung sekali karena gurunya jelas mengalami
kerugian atau kekalahan dari kakek Siauw-lim-pai. Dia memang licik. Melihat betapa kakek
yang sakti dari Siauw-lim-pai itu agaknya juga terluka atau setidaknya kehabisan tenaga, diapun
meloncat ke depan menantang.
“Orang-orang Siauw-lim-pai yang sombong ! Kalian datang untuk mengganggu kami,
majulah dan mari kita bertanding sampai seribu jurus !”
Mendengar tantangan murid Thian-tok ini, Ci Kong bangkit berdiri dari samping suhunya.
Ingin dia menyambut tantangan itu, dan biarpun dia tahu bahwa kaum sesat tidak segan untuk
berbuat curang dan mengeroyok, namun pemuda perkasa ini tidak merasa gentar. Yang membuat
dia tidak enak adalah susiok-couwnya. Tanpa ijin kakek itu, tentu saja dia tidak berani
sembarangan turun tangan. Maka, biarpun dia sudah berdiri menghadapi Siu Coan, dia menoleh
kepada kakek gurunya yang masih duduk bersila sambil memejamkan matanya.
Agaknya, tanpa membuka matanya, Siauw-bin-hud maklum akan keraguan cucu murid
itu. Diapun menggerakkan bibirnya dan biarpun tidak ada suara keluar dari mulutnya, namun Ci
Kong mendengar bisikan di dekat telinganya.
“Ingat, kita datang bukan untuk mencari permusuhan. Serahkan saja kepada pinceng dan
jangan ikut mencampuri urusan ini.”
Mendengar bisikan ini, Ci Kong menarik napas panjang untuk mencairkan kebekuan di
dalam batinnya karena penasaran tadi, dan diapun duduk kembali bersila di belakang susiokcouwnya.
Melihat ini, Siu Coan tertawa bergelak dengan sikap menghina.
“Ha – ha – ha, setelah tua bangka itu luka dan lelah, engkau kehilangan nyali ?” Itulah
penghinaan yang hebat bagi seorang gagah. Setiap orang pendekar pantang untuk merasa takut,
dan makian bahwa dia kehilangan nyali merupakan penghinaan yang sukar dapat ditahan. Dan
ini merupakan ujian berat bagi Ci Kong. Pemuda ini hanya menundukkan mukanya yang
sebentar merah dan sebentar pucat menahan kemarahan yang berkobar di dalam dada.
Pedang Naga Kemala > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com 152
“Hemm, kalau kalian diam saja, biarlah aku yang turun tangan, menyelesaikan pekerjaan
suhu yang kepalang tanggung tadi. Aku akan bunuh kalian !” Su Coan berkata lagi dan Seng Bu
hanya memandang bingung. Di dalam hatinya dia tidak setuju dengan sikap suhengnya itu.
Akan tetapi dia juga merasa tidak enak kalau harus memperlihatkan sikap membela musuh !
Maka, pemuda ini hanya diam saja dan memandang dengan mata terbelalak penuh ketegangan.
Ong Siu Coan sudah melangkah maju, siap untuk menyerang kakek gendut itu. Diapun
dapat menduga bahwa kakek itu sakti sekali, biarpun nampak lelah akan tetapi harus dihadapi
dengan amat hati-hati.
“Siu Coan, mundurlah !” Tiba-tiba terdengar suara Thian-tok. Siu Coan terkejut sekali
dan diapun mundur lagi, tidak berani menentang perintah gurunya. Lalu terdengar Thian-tok
tertawa. “Heh – heh – heh, anak bodoh. Aku sendiri saja tidak mampu menandinginya, apa
engkau kepingin mampus, berani mencoba untuk menyerangnya ?”
“Suhu, untuk membela suhu, aku berani menghadapi kematian !” kata Siu Coan dengan
sikap gagah.
Kembali Thian-tok tertawa bergelak. “Ha – ha – ha, gagah-gagahan apa untungnya ?
Mundur dan jangan mencampuri urusanku dengan Siauw-bin-hud. Eh, Siauw-bin-hud, aku tidak
perlu malu mengatakan bahwa sekali inipun aku belum mampu menandingimu. Nah, aku
memenuhi janjiku tadi. Mari kita bicara tentang Giok-liong-kiam. Apa kehendakmu mengenai
pusaka itu ?”
“Ha – ha, engkau bersikap baik sekali, Thian-tok. Pinceng tidak tamak dan tidak butuh
pusaka. Akan tetapi karena engkau merampas pusaka itu mempergunakan nama pinceng, atau
setidaknya semua orang menyangka pinceng yang merampasnya, maka pinceng ingin
membersihkan suasana. Serahkan pusaka itu kepada pinceng agar dapat pinceng kembalikan
kepada yang berhak.”
“Siapa yang berhak ?”
“Karena pusaka itu dicuri orang dari pusat Thian-te-pai, maka tentu saja akan pinceng
kembalikan kepada mereka.”
“Uhh, tolol kalau kaukembalikan kepada mereka ! Yang berhak memiliki pusaka itu
adalah orang yang paling sakti di dunia ini. Siapa yang mampu memilikinya, dialah yang berhak
menjadi pemiliknya.”
“Ha – ha – ha, tidak ada gunanya berdebat tentang pendapat, Thian-tok. Serahkan pusaka
itu dan pinceng akan pergi.”
“Heh – heh, takkusangka engkau sebodoh ini, Siauw-bin-hud. Ketika engkau baru datang
tadi, sudah kukatakan bahwa kedatanganmu terlambat. Baru pagi tadi pusaka itu hilang dari
tanganku.”
“Omitohud ………. ! Hilang lagi ?”
Pedang Naga Kemala > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com 153
“Bekas muridku yang amat pandai, mungkin lebih pandai dari pada aku sendiri, bernama
Koan Jit, tadi datang dan mengambil pusaka itu. Kalau saja dia tidak lebih dulu datang dan
melukai aku dengan pukulannya yang beracun, belum tentu sekarang aku sudah menyerah kalah
padamu !”
“Omitohud ………. ! Muridmu sendiri yang merampasnya dan memukulmu ? Hemm,
dia bernama Koan Jit ? Dimanakah tempat tinggalnya ?”
“Ha – ha – ha – ha, Siauw-bin-hud. Engkau seperti nenek-nenek bawel saja dalam
bertanya. Di mana dia ? Mana aku tahu ? Cari saja sendiri, nama Hek-eng-mo tidak sukar untuk
dikenal.”
Siauw-bin-hud mengangguk-angguk. “Hek-eng-mo ..........hemmm, terima kasih, Thiantok,
selamat tinggal.” Kakek gendut itu sambil tersenyum lalu menjura ke arah kakek gendut
lainnya yang masih duduk bersila, kemudian memberi isyarat kepada Ci Kong untuk pergi
meninggalkan tempat itu. Dua orang murid Thian-tok tidak berani mengganggu dan hanya
mengikuti gerakan dua orang itu dengan pandang mata sampai mereka lenyap di sebuah
tikungan.
Setelah dua orang itu pergi, Thian-tok memandang kepada dua orang muridnya.
Mulutnya masih menyeringai, akan tetapi sekarang nampak bahwa kakek ini menderita kesakitan
yang ditahan-tahan sejak tadi.
“Siu Coan dan Seng Bu, mulai hari ini kalian boleh turun gunung dan berpencar. Kalian
kuberi tugas untuk mewakili aku, mencari Koan Jit dan berusaha merampas kembali Giok-liongkiam
sebelum keduluan orang lain. Hati-hati, setelah kini Siauw-bin-hud tahu, tentu tugas kalian
akan menjadi semakin berat karena akan terdapat banyak saingan. Siapa di antara kalian yang
berhasil membawa Giok-liong-kiam kepadaku, akan kuwarisi ilmu pedang yang cocok untuk
dimainkan dengan Giok-liong-kiam dan dia yang akan menjadi pemilik Giok-liong-kiam. Nah,
pergilah kalian, aku harus mengaso dan bertapa lagi untuk mengobati lukaku.”
“Tapi, suhu. Ke manakah aku harus mencari suheng Koan Jit itu ?” Siu Coan bertanya.
“Ha – ha, kalau engkau pintar, tidak akan sukar mencari murid murtad itu. Julukannya
Hek-eng-mo, dia haus akan kedudukan, ingin menjadi jago nomor satu di dunia, dan aku sendiri
tidak tahu di mana tempat tinggalnya. Akan tetapi ada dua hal yang patut kauingat dan selidiki.
Dia sahabat baik pai-cu (ketua) dari perkumpulan wanita Ang-hong-pai, dan dia musuh besar
perkumpulan Thian-te-pai. Agaknya karena permusuhannya itulah yang membuat dia ingin
memiliki Giok-liong-kiam yang pernah menjadi pusaka Thian-te-pai. Sudahlah, aku tidak tahu
apa-apa lagi. Kalian pergi dan selidiki sendiri.”
Dua orang pemuda itu saling pandang ketika guru mereka sudah kembali lagi ke dalam
guha dan tidak mau keluar lagi. Mereka berpamit dari luar kamar dalam guha tanpa dijawab oleh
Thian-tok dan akhirnya keduanya meninggalkan guha di sebuah puncak Pegunungan Thai-san
itu.
Pedang Naga Kemala > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com 154
Mereka menuruni puncak bersama. Seng Bu menggendong sebuah buntalan pakaian
yang kecil, hanya terisi beberapa potong pakaiannya. Sebaliknya, Siu Coan membawa
bungkusan yang agak besar karena selain pakaiannya, juga diam-diam pemuda ini mengambil
beberapa barang berharga dari dalam guha untuk bekal. Pemuda yang cerdik ini tahu bahwa
perjalanan jauh membutuhkan banyak biaya, maka diam-diam dia mengambil beberapa puluh tail
emas dari simpanan gurunya. Hal ini tanpa setahu gurunya. Karena andaikata Thian-tok tahu
sekalipun, dia tidak akan marah, bahkan merasa bangga kalau muridnya itu pandai mencuri, satu
di antara ciri kejahatan orang sesat.
Setelah tiba di jalan simpangan, Siu Coan berkata, “Sute, kita berpisah, karena kalau
berpisah akan lebih mudah bagi kita untuk mencari jejak suheng Koan Jit. Apakah engkau telah
membawa bekal, sute ?” tanya Siu Coan sambil memandang buntalan di punggung sutenya,
buntalan yang kecil itu.
Seng Bu mengangguk. “Semua pakaianku sudah kubawa, suheng.”
“Bukan itu maksudku. Apa kaukira pakaian saja sudah cukup ? Engkau butuh makan,
dan mungkin butuh perahu atau kuda, semua itu membutuhkan uang. Apa engkau sudah
membawa uang ?”
“Uang ……..?” Seng Bu bertanya dengan muka bodoh. Maklumlah, sejak kecil Seng Bu
menjadi yatim piatu dan gelandangan sampai bertemu dengan Thian-tok dan diambil murid dan
sampai sudah dewasa itu dia tidak pernah mempergunakan uang, tidak pernah membeli apa-apa
dan juga tidak memperhatikan soal harta benda, berbeda dengan Siu Coan yang banyak bertanya
dan banyak melihat. Bahkan dalam hal ilmu baca-tulis, Seng Bu kalah jauh dibandingkan dengan
Siu Coan.
Siu Coan tertawa melihat kebodohan sutenya. “Aih, sute. Tentu saja uang, atau barang
berharga yang dapat dipakai untuk membeli kebutuhan dalam perjalananmu. Nih, aku sudah
menduga bahwa engkau tentu tidak membawa bekal, terimalah ini untuk bekal.”
Seng Bu menerima belasan tail emas dari suhengnya dengan perasaan berterima kasih.
Baru dia teringat bahwa kehidupan di tempat ramai membutuhkan uang dan diapun teringat akan
keadaannya di waktu dahulu, sampai seringkali kelaparan karena tidak mempunyai uang untuk
membeli makanan.
“Terima kasih, suheng. Engkau baik sekali.”
Kembali Siu Coan tersenyum. “Sute, setelah kita berpisah di sini, ke manakah engkau
akan pergi dan apa tujuanmu ? Ke mana engkau hendak mencari Koan Jit ?”
Seng Bu menggeleng kepala. “Entahlah, suheng. Terus terang saja, aku tidak tertarik
untuk mencarinya dan merampas pedang pusaka itu. Aku akan merantau dan mungkin mencari
pekerjaan, dan tentu saja aku akan mencoba melanjutkan pekerjaan orang tua dahulu, yaitu
berburu.”
Pedang Naga Kemala > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com 155
Siu Coan tertawa bergelak. Setelah kini bebas bersama sutenya, watak guru mereka yang
suka tertawa agaknya menurun kepadanya. “Aihh, sute. Berburu binatang ? Lalu apa artinya
sampai bertahun-tahun dengan susah payah engkau mempelajari ilmu-ilmu silat tinggi dari
Suhu ?”
“Tentu saja kalau ada orang jahat menindas yang lemah, aku akan bangkit melindungi dan
membela yang lemah, menentang si jahat yang sewenang-wenang ! Bagaimana dengan engkau,
suheng ?”
Kembali Siu Coan tertawa geli. “Aihh, engkau dengan cita-citamu yang muluk. Ingin
menjadi pendekar, ya ? Pendekar murid Thian-tok, seorang di antara Empat Racun Dunia yang
justeru menjadi datuk-datuk kaum sesat. Alangkah lucunya dan siapa mau percaya padamu,
Sute ?”
“Suheng,” kata Seng Bu dengan wajah serius. “Aku belajar dari suhu Thian-tok adalah
untuk belajar ilmu silat, bukan untuk mempelajari perbuatan jahat. Dan kalau aku dapat
melakukan kebaikan dan kegagahan, sedikitnya nama suhu akan terangkat dan siapa tahu dapat
mencuci dan membersihkan namanya. Hanya itulah yang dapat kulakukan untuk membalas budi
suhu. Dan engkau sendiri, suheng ?”
“Aku tentu saja akan mencari Koan Jit dan merampas pusaka itu. Pula, aku tetap akan
melanjutkan cita-cita para patriot. Aku akan mencari kawan-kawan, aku akan berjuang
menentang pemerintah penjajah asing !” Dengan sikap gagah dan sungguh-sungguh Siu Coan
berdiri tegak dengan muka menengadah dan kedua tangan dikepal. Sutenya memandang kagum
dan mengangguk-angguk.
“Kelak kalau engkau sudah berjuang dengan pasukanmu, aku akan membantumu, suheng.
Aku juga menghargai perjuangan para patriot menentang penindasan orang-orang Mancu.”
“Baik, sute, dan selamat berpisah. Kita mengambil jalan sendiri-sendiri dan mudahmudahan
kita akan dapat berjumpa kembali dalam keadaan yang lebih baik, sute.”
Dua orang pemuda itupun saling pegang pundak, lalu saling memberi hormat dan
melangkah pergi tanpa menoleh lagi.
Sementara itu, Siauw-bin-hud serta Ci Kong kembali ke Siauw-lim-si karena waktunya
telah tiba bagi para tokoh yang datang enam tahun yang lalu untuk berkumpul di Siauw-lim-si
seperti yang telah dijanjikan oleh kakek gendut itu. Di sepanjang perjalanan, kakek dan pemuda
itu mendengar betapa pergerakan orang-orang yang menentang pemerintah makin menjadi-jadi,
betapa kekacauan timbul di mana-mana, terutama sekali karena ulah orang-orang kulit putih yang
menyebarkan candu. Makin terasalah pengaruh racun madat di antara rakyat, dan walaupun yang
terkena sebagian besar adalah orang-orang hartawan dan bangsawan, namun keguncangankeguncangan
terjadi karena harta benda penduduk dihisap dan ditukar dengan benda yang
beracun dan amat berbahaya itu. Diam-diam Siauw-bin-hud merasa prihatin sekali, oleh karena
itu setelah tiba di kuil Siauw-lim-si, dia cepat berunding dengan para pimpinan kuil dan juga
dengan Ci Kong.
Pedang Naga Kemala > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com 156
“Ci Kong, pinceng dan para suhu di sini adalah pendeta-pendeta yang tidak mungkin
dapat mencampuri urusan pemerintah. Akan tetapi engkau bukan seorang hwesio dan engkau
telah mempelajari banyak ilmu. Kini bangsa kita sedang terancam bahaya besar berupa candu.
Karena itu, engkau harus turun gunung dan membantu setiap gerakan rakyat yang hendak
menentang diperbolehkannya candu meracuni bangsa kita. Dengan adanya engkau yang
mewakili kami, berarti Siauw-lim-pai juga ikut membantu. Kami akan memberi anjuran yang
sama kepada semua murid Siauw-lim-pai yang bukan pendeta.” Demikian antara lain Siauw-binhud
berkata.
Di sepanjang perjalanan, Ci Kong sudah mendengar banyak sekali tentang candu dan
racunnya yang mengakibatkan lemahnya rakyat dari kakek itu, maka kini tanpa ragu-ragu lagi
diapun menerima perintah itu. Dengan membawa bekal pakaian dan sedikit perak, pemuda ini
meninggalkan Siauw-lim-si. Karena itu dia tidak tahu betapa beberapa hari kemudian, sesuai
dengan janji Siauw-bin-hud, di kuil itu berdatangan tokoh-tokoh besar di dunia persilatan,
termasuk Hai-tok dan San-tok yang hendak menagih janji. Yang datang kini lebih banyak lagi
karena banyak tokoh dunia kang-ouw ingin melihat sendiri bagaimana caranya Siauw-bin-hud
membersihkan nama dan mengembalikan pusaka Giok-liong-kiam yang menghebohkan itu.
Seperti juga enam tahun yang lalu, sekali ini San-tok atau Bu-beng San-kai datang
bersama murid tunggalnya, yaitu Siauw Lian Hong. Akan tetapi siapapun akan pangling kalau
bertemu dengan murid Racun Gunung itu. Enam tahun yang lalu masih seorang anak perempuan
yang usianya kurang lebih sebelas atau duabelas tahun, dan sekarang ia telah menjadi seorang
gadis yang berusia hampir delapanbelas tahun ! Kini ia telah menjadi seorang wanita yang cantik
jelita walaupun pakaiannya sederhana sekali. Walaupun pakaian itu amat bersih, akan tetapi
terbuat dari bahan yang kasar dan murah, dengan potongan yang ringkas sederhana, akan tetapi
yang tidak mampu menyembunyikan bentuk tubuhnya yang sedang, ramping dan padat, tidak
dapat menyembunyikan kulit putih kuning mulus yang nampak pada leher, tangan dan lengan
sampai di siku. Sepasang matanya masih lebar seperti enam tahun yang lalu, akan tetapi kalau
dulu lebar kekanak-kanakan, kini mata itu lebar dan tajam, dengan sudut-sudut yang tajam
menarik, dengan alis yang hitam melengkung seperti dilukis, dengan bulu mata yang panjang
lentik. Sinar matanya dapat menyambar secepat pedang, tajam terbuka. Hanya satu sifat yang
masih dimiliki seperti enam tahun yang lalu, yaitu pendiam dan alim. Sebatang kipas lebar yang
kedua gagangnya berujung runcing terselip di pinggang, karena kipas ini merupakan senjata
ampuhnya yang diberikan oleh suhunya.
Hai-tok Tang Kok Bu kini sudah nampak tua, akan tetapi pakaiannya masih jelas
menunjukkan bahwa dia seorang yang hartawan dan berpengaruh, diikuti oleh pengawalpengawal
muda yang tampan dan halus, masih memegang tongkatnya, yaitu Kim-kong-pang !
Di samping dua orang di antara Empat Racun Dunia ini, masih ada pula beberapa
rombongan orang kang-ouw yang ingin mendengar tentang Giok-liong-kiam. Ketika Siauw-binhud
muncul dari dalam kuil, suasana menjadi kacau dan orang pertama yang menyambutnya
adalah Bu-beng San-kai atau San-tok. Dengan senyumnya yang khas, sikapnya yang
sembarangan dan tanpa sopan santun lagi, kakek yang usianya sudah tujuhpuluh tahun lebih itu
berkata, “Heh – heh, engkau masih hidup, Siauw-bin-hud ? Bagus sekali, aku sudah khawatir
kalau-kalau engkau mati dalam menunaikan tugas ! Dan mana itu Giok-liong-kiam ?”
Pedang Naga Kemala > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com 157
“Ya, di mana Giok-liong-kiam kami, locianpwe ?” tanya Coa Bhok, wakil ketua Thiante-
pai yang kini kembali datang mewakili perkumpulannya, dikawani oleh duabelas orang murid.
Coa Bhok yang menjadi wakil ketua Thian-te-pai itupun sudah nampak tua, sudah enampuluh
tahun usianya.
Siauw-bin-hud tertawa bergelak, seperti orang yang merasa geli. Hal ini membuat Haitok
menjadi marah. “Hati-hati, Siauw-bin-hud ! Jangan kau mempermainkan aku yang jauh-jauh
datang menagih janji, atau .......... tongkatku takkan mengampuni tubuhmu yang sudah tua renta
itu !”
Mendengar ancaman ini, Siauw-bin-hud menjadi semakin geli dan senyumnya melebar.
“Ha – ha – ha, betapa lucunya melihat kalian ini orang-orang tua masih saja dicengkeram
setan tamak sehingga begitu haus memperebutkan sebuah benda mati. Giok-liong-kiam tidak ada
padaku. Pinceng bahkan belum pernah melihatnya, ha – ha !”
“Aihh, Siauw-bin-hud, apa kau berani mengatakan bahwa engkau akan melanggar janji,
menjilat ludah sendiri ?” San-tok berkata, kaget karena sukar dia membayangkan kakek gendut
Siauw-lim-pai ini berani melanggar janji, padahal sejak dahulu Siauw-bin-hud terkenal sebagai
seorang gagah yang memegang teguh janjinya dan dapat dipercaya sepenuhnya.
“Ha – ha – ha, San-tok, makin tua kau makin kurang sabar saja. Baiklah, dengarkan
semua kawan yang sudah melimpahkan kehormatan kepada pinceng sehingga hari ini berkumpul
di sini. Selama enam tahun ini, sama sekali pinceng tidak pernah melanggar janji. Pinceng
menjelajahi hampir seluruh dunia untuk mencari jejak perampas Giok-liong-kiam yang
menyamar sebagai pinceng. Dan pinceng sudah bertemu dengan orangnya !” Kakek itu berhenti
sebentar, membiarkan semua orang saling pandang dan keadaan menjadi berisik.
“Ha – ha – ha, kalian berdua, Hai-tok dan San-tok, kiranya tidak akan sukar menduga
siapa orangnya. Agaknya kalian hanya pura-pura saja tidak tahu selama ini, bukan ?” Ketika dua
orang kakek itu saling pandang dengan mata dilebarkan, Siauw-bin-hud menyambung, “Ya,
siapa lagi pelawak yang membuat lelucon yang tidak lucu itu kalau bukan rekan kalian
Thian-tok ?”
“Ahhh ………. !” Coa Bhok, wakil ketua Thian-te-pai berseru. “Apakah buktinya bahwa
beliau yang menyamar sebagai locianpwe ?” tanyanya karena menghadapi seorang tokoh yang
namanya pernah menjulang ke langit seperti Thian-tok, bukan hal yang boleh dibuat main-main.
“Ha – ha – ha, memang dia tidak pernah mau mengaku bahwa dia telah memalsukan
nama pinceng. Dan dia benar, si cerdik itu ! Dia hanya mencukur rambut dan menutupi bulu di
dadanya dengan jubah kuning, cukuplah. Memang wajahnya mirip pinceng. Dan dia mengaku
bahwa Giok-liong-kiam berada di tangannya, sampai pada hari dia bertemu dengan pinceng
itu ……….”
“Ha – ha – ha, jadi si Racun Langit itu mengalah dan mengembalikan pusaka itu
kepadamu, Siauw-bin-hud ?” San-tok mentertawakan rekannya yang disangkanya mengalah atau
takut kepada hwesio ini sehingga mengembalikan pusaka Giok-liong-kiam.
Pedang Naga Kemala > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com 158
Kembali semua orang kecewa melihat Siauw-bin-hud tersenyum lebar sambil menggeleng
kepalanya menjawab pertanyaan San-tok itu. “Pedang pusaka Giok-liong-kiam itu telah
dirampas orang lain, hanya beberapa jam sebelum pinceng tiba di sana.”
Kembali terdengar suara berisik dari semua orang yang hadir, dan Hai-tok memukulkan
tongkatnya ke atas tanah. “Kalau bukan Siauw-bin-hud yang bicara, sungguh mati aku tidak
akan dapat percaya begitu saja. Siapakah orang yang dapat merampas pusaka itu dari tangan
Thian-tok ?”
“Perampasnya adalah bekas muridnya sendiri yang bernama Hek-eng-mo Koan Jit.
Jangan tanyakan di mana dia tinggal karena pinceng sendiri juga tidak tahu. Nah, selesailah
urusan Giok-liong-kiam ini yang mengait nama pinceng. Harap kalian jangan mengganggu
pinceng lagi.”
Tentu saja semua tokoh itu merasa kecewa mendengar ini. Tak mereka sangka bahwa
pusaka itu telah lenyap lagi begitu mereka ketahui jejaknya. Dan di antara mereka banyak yang
sudah mendengar akan nama Koan Jit yang berjuluk Hek-eng-mo. Apa lagi wakil ketua Thiante-
pai Coa Bhok. Wajahnya berobah ketika dia mendengar bahwa pusaka perkumpulannya itu
telah terjatuh ke tangan Hek-eng-mo Koan Jit ! Iblis Bayangan Hitam itu bukan orang asing bagi
Thian-te-pai, karena merupakan musuh besar ! Akan tetapi, keterangan itu mereka dengar dari
Siauw-bin-hud yang tidak dapat diragukan lagi kebenarannya. Kakek pendeta Siauw-lim-pai itu
tidak mungkin membohong. Maka merekapun bubaran dan kini terjadi lagi perlumbaan yang
dipersiapkan, yaitu untuk mencari Hek-eng-mo Koan Jit dan mencoba untuk merampas pusaka
Giok-liong-kiam dari tangannya. Akan tetapi, tentu saja hanya tokoh-tokoh besar yang akan
berani melakukan ini, karena semua orang sudah mendengar belaka akan kesaktian Iblis
Bayangan Hitam itu yang namanya tidak kalah menakutkan dibandingkan Empat Racun Dunia.
San-tok Bu-beng San-kai mengajak muridnya meninggalkan Siauw-lim-si dan di tengah
perjalanan, kakek ini tiada hentinya senyum-senyum sendiri. “Heh – heh, sungguh lucu sekali !
Sejak dahulu aku sudah menduga bahwa tentu Racun Langit itu yang menyamar sebagai Siauwbin-
hud, akan tetapi karena ragu-ragu yang kukejar-kejar adalah Siauw-bin-hud. Sayang baru
sekarang aku yakin setelah pusaka itu dirampas oleh si maling cilik Hek-eng-mo.”
“Suhu, siapakah Hek-eng-mo itu ?” tanya Lian Hong ketika mereka berhenti di bawah
pohon yang rindang di kaki gunung. Setelah dewasa, Lian Hong tidak lagi menyebut kakek
kepada San-tok, melainkan suhu karena ia menganggap sebutan ini lebih patut dan tepat.
Bagaimanapun juga, ia bukan cucu aseli dari kakek itu, dan yang jelas ia adalah muridnya.
Ketika tadi diadakan pertemuan di Siauw-lim-si, gadis inipun diam-diam amat memperhatikan
penuturan kakek gendut Siauw-bin-hud. Ia merasa kagum dan suka kepada kakek gendut itu,
karena bagaimanapun juga, ia telah menerima warisan tenaga singkang dari kakek itu enam tahun
yang lalu. Gurunya sendiri yang memberi keterangan kepadanya bahwa ia beruntung telah
menerima warisan tenaga sinkang itu dari kakek sakti Siauw-bin-hud, bahkan gurunya pernah
mengatakan bahwa melihat betapa ia telah menerima warisan tenaga dari Siauw-bin-hud dan
betapa suhunya juga mengoper tenaga sakti kepada anak laki-laki yang menjadi murid Siauwlim-
pai, maka antara ia dan pemuda cilik itu terdapat semacam pertalian saudara seperguruan !
Pedang Naga Kemala > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com 159
“Hek-eng-mo adalah murid Thian-tok. Dia lihai dan cerdik bukan main, amat
mengagumkan betapa dia pernah mencuri harta pusaka gurunya, bahkan kini merampas Giokliong-
kiam dari tangan Thian-tok. Ha – ha, ingin sekali aku melihat muka Thian-tok yang
dikibuli oleh muridnya sendiri itu !”
“Suhu, aku jadi tertarik sekali mendengar tentang perebutan Giok-liong-kiam. Ingin
sekali aku mencari Hek-eng-mo itu dan merampas pusaka dari tangannya.”
San-tok yang duduk bersila di atas rumput sambil mengipasi badannya dengan kipas
bututnya, menghentikan gerakan tangannya dan menatap wajah muridnya yang cantik itu.
Setelah melatih gadis ini selama duabelas tahun, San-tok merasa sayang sekali kepada murid ini
yang dianggap sebagai satu-satunya orang yang dimilikinya di dunia ini, menjadi seperti anaknya
atau cucunya sendiri. Inilah sebabnya maka dia menurunkan seluruh kepandaiannya kepada Lian
Hong yang memang berbakat baik sekali. Mendengar ucapan muridnya, dia benar-benar merasa
terkejut dan heran. Biasanya, muridnya ini pendiam dan tidak banyak kehendak, akan tetapi tibatiba
saja muridnya menyatakan hendak ikut memperebutkan Giok-liong-kiam !
“Heh – heh, Hong Hong, cucuku juga muridku yang baik, sungguh mati aku merasa
terkejut sekali mendengar ucapanmu tadi. Engkau tiba-tiba saja ingin memperebutkan Giokliong-
kiam ! Apa artinya ini ?”
“Selama belasan tahun suhu telah melimpahkan budi kepadaku. Aku ingin merampas
pusaka itu untuk suhu, sekedar pembalas budi. Bukankah suhu menghendaki pusaka itu sehingga
ikut pula datang ke Siauw-lim-si ? Selain itu, untuk apa suhu susah-susah melatih ilmu silat
kepadaku kalau tidak kupergunakan sekarang ?”
Belum pernah muridnya ini bicara sebanyak itu dan San-tok tertawa gembira. Hatinya
merasa gembira dan hangat karena muridnya ini dengan terus terang menyatakan ingin membalas
budi kepadanya. Dia adalah seorang tua yang cerdik dan banyak pengalaman, maka diapun dapat
menjenguk isi hati muridnya. Muridnya selama duabelas tahun selalu ikut dengannya dan kini
muridnya itu, setelah menguasai ilmu yang tinggi, tentu saja ingin bebas seperti burung di udara,
melakukan segala yang diinginkannya sendiri. Tentu muridnya akan membalas kematian ayah
bundanya pula.
Kembali dia mengipasi badannya. “Engkau benar, Hong Hong. Memang ilmu yang telah
banyak kaupelajari itu perlu dipergunakan dan dimanfaatkan. Akan tetapi ketahuilah, segala
macam ilmu yang kaumiliki itu masih belum mampu melindungi dirimu dan menjamin
keselamatan. Di dunia ini banyak sekali terdapat orang-orang yang lihai sekali. Hanya kalau
engkau berhati-hati dan waspada sajalah maka engkau akan dapat melindungi dirimu sendiri.
Apa lagi kalau berhadapan dengan Hek-eng-mo ! Berhati-hatilah. Dia itu selain lihai ilmu
silatnya, juga amat licik dan suka main-main dengan racun. Sayang, aku sudah terlalu tua dan
sudah malas untuk pergi merantau. Maka, biarlah aku akan menanti saja sambil bertapa di
puncak yang paling kusenangi.”
“Di puncak Naga Putih di Pegunungan Wu-yi-san itu ?”
Pedang Naga Kemala > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com 160
Kakek itu mengangguk. “Aku selalu ingin mengakhiri hidupku di tempat indah itu. Aku
akan menanti kembalimu di sana, Hong Hong.”
“Baik, suhu. Berilah waktu dua tahun kepadaku dan berhasil atau tidak dalam mencari
Giok-liong-kiam, aku akan datang mengunjungi suhu di puncak Naga Putih.”
Mereka saling berpisah di kaki gunung itu juga. SiauwLian Hong pergi meninggalkan
suhunya sambil membawa buntalan pakaian dan bekal sedikit perak pemberian gurunya, juga
tidak ketinggalan membawa kipas yang terselip di pinggangnya. Gadis cantik sederhana ini
melangkah dengan tegap dan tanpa ragu-ragu. Sebaliknya, San-tok yang masih duduk bersila itu
mengikuti kepergian muridnya dengan mata sayu. Senyumnya lenyap dan wajahnya
membayangkan kesedihan. Berulang kali dia menghela napas panjang, merasa betapa hati dan
semangatnya seperti terbang mengikuti gadis itu. Duabelas tahun dia hidup di samping muridnya
dan dia merasa betapa setelah mempunyai murid itu, perobahan besar terjadi pada batinnya.
Hidup seperti ada artinya dan hatinya tidak keras lagi seperti dahulu. Kini, melihat gadis itu
pergi meninggalkannya, dia merasa kehilangan, kesepian dan berduka sekali, perasaan yang
selamanya belum pernah dialaminya ! Kakek yang pernah menjadi seorang di antara Empat
Racun Dunia, yang pernah menjadi datuk kaum sesat, yang dianggap jahat seperti iblis, yang
tidak segan melakukan segala macam kejahatan dan kekejaman itu, kini duduk termenung dan
dia tidak merasa bahwa senyum yang biasanya selalu membayang di mulutnya itu kini sama
sekali lenyap, terganti oleh bayangan duka yang membuat kedua matanya menjadi basah !
Duka adalah iba diri. Merasa iba kepada diri sendiri, merasa kehilangan, kecewa. Dan
semua ini timbul dari aku yang merasa kehilangan, aku yang merasa kesepian, aku yang merasa
menjadi orang paling sengsara di dunia. Aku adalah suatu gambaran yang dibuat oleh batin
tentang diri sendiri, dibentuk oleh pengalaman-pengalaman masa lampau. Aku penuh dengan
harapan-harapan memperoleh kesenangan seperti yang pernah dialaminya, atau seperti yang
pernah didengarnya, pernah dibacanya dan diketahuinya. Aku penuh denga keinginan akan
merasakan dan menikmati`kembali segala hal yang menyenangkan, penuh dengan rasa takut
kalau-kalau tidak akan memperoleh lagi semua kesenangan itu, takut kalau-kalau ditinggalkan
oleh hal-hal yang menyenangkan. Aku yang selalu haus akan kesenangan ini menciptakan
ikatan-ikatan, belenggu-belenggu dan rantai-rantai emas yang dianggapnya membahagiakan
namun yang berakhir dengan kedukaan. Ikatan dengan orang lain karena orang lain itu
menyenangkan aku, ikatan dengan benda, dengan nama, dengan gagasan-gagasan.
Sekali ikatan ini menguasai aku, maka yang ada hanyalah duka dan sengsara. Ikatan ini
sama dengan candu, sekali terikat sukar untuk dilepaskan, karena akan menimbulkan perasaan
duka dan sengsara.
Semakin besar si aku menonjol, semakin banyak pula ikatan-ikatan terbentuk dan
semakin banyak pula duka mengelilingi batin. Bebasnya batin dari ikatan berarti runtuhnya
singgasana sang aku, bersamaan dengan lenyapnya pula duka. Semua ini jelas sekali nampak,
akan tetapi betapa sukarnya terbebas dari pada ikatan ! Betapa sukarnya meniadakan gambaran
tentang diri sendiri dalam bentuk aku yang makin hari makin kita bentuk dan perkuat !
***
Pedang Naga Kemala > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com 161
Kolam air di belakang rumah gedung yang besar megah dan luas itu amat jernih airnya.
Kolam buatan itu tentu amat mahal biaya pembuatannya dan hanya orang kaya seperti keluarga
Ciu di Tung-kang sajalah yang mampu membuatnya. Di sekitar kolam air yang luas itu terdapat
taman bunga yang indah, dan batu-batu alam yang bentuknya aneh dan nyeni terdapat pula di
dekat kolam. Akan tetapi, pada pagi hari yang sunyi itu nampaklah hal-hal yang amat aneh
terjadi di situ. Para pelayan sudah dilarang keras untuk tidak memasuki taman sehingga apa yang
terjadi tidak nampak oleh orang-orang lain yang tentu akan terheran-heran dan mungkin akan
merasa ngeri dan takut.
Seorang kakek yang bertubuh kecil pendek sedang duduk bersila di atas batu karang di
tepi danau buatan, meniup sebuah suling. Kakek ini bukan lain adalah Tee-tok, seorang di antara
Empat Racun Dunia. Seperti telah kita ketahui, sejak enam tahun yang lalu, Racun Bumi ini
diterima oleh hartawan Ciu Lok Tai sebagai pengawal keluarga, juga guru Ciu Kui Eng. Tentu
saja Tee-tok merasa senang sekali tinggal di rumah keluarga kaya raya itu. Dia sudah tua, sudah
capai bertualang. Usianya sekarang sudah tujuhpuluh tahun lebih dan hidup enak-enak di rumah
keluarga itu amat menyenangkan hatinya. Apa lagi dia memperoleh murid seperti Kui Eng yang
berbakat baik sekali. Selama enam tahun, dia mencurahkan seluruh tenaga dan perhatian untuk
memberi pelajaran ilmu-ilmu yang tinggi kepada muridnya, menurunkan semua ilmunya kepada
murid tersayang itu. Dan pagi hari ini muridnya sedang digembleng dengan latihan yang paling
sukar, ilmu silat dengan penggunaan ginkang yang amat hebat. Latihan ini merupakan ujian
terakhir bagi muridnya itu.
Suara suling yang ditiup kakek itu meliuk-liuk aneh, melengking-lengking dan matanya
ditujukan ke tengan danau buatan mengikuti gerak-gerik muridnya. Dan di tengah danau itu
nampak Ciu Kui Eng sedang bersilat ! Di atas air danau ! Dan kedua kakinya yang kecil itu
dengan ringannya berloncatan ke sana-sini, menginjak .......... ular-ular yang berseliweran di
purmukaan air danau. Ular-ular air itu sengaja dilepas di danau itu dan mereka itu bergerakgerak,
berenang dipermukaan danau seperti dipimpin oleh lengking suling. Ular-ular air yang
besar-besar dan kini Ciu Kui Eng menggunakan badan ular-ular itu untuk tempat berpijak ketika
ia bersilat dengan gerakan yang luar biasa lincahnya. Inilah ilmu silat yang paling aneh dan yang
amat hebat, yang diajarkan oleh kakek itu kepada muridnya, dan ilmu silat ini diberi nama Cuibeng
Coa-kun (Silat Ular Pengejar Arwah) ! Ilmu silat dengan latihan seperti ini membutuhkan
gingkang yang luar biasa, juga membutuhkan pengerahan sinkang, gerakan yang cepat dan tepat,
juga kematangan ilmu silat karena kesalahan sedikit saja dapat membuat tubuh Kui Eng
tergelincir dan terjatuh ke dalam air di mana dara ini akan dikeroyok oleh ular-ular itu.
Hebatnya, ular-ular yang puluhan banyaknya itu berenang-renang seperti berbaris saja mengikuti
irama suara suling yang aneh !
“Heiiiittt ........ plakk !” Kini Kui Eng mulai menyerang. Sambil melompat, kakinya
menyambar ke bawah dan seekor ular mati dengan kepala remuk. Dara itu berloncatan,
mengeluarkan pekik-pekik nyaring dan mulailah ia membantai ular-ular itu, dengan sambaran
kaki dan tangan, seperti ular-ular mematuk. Permukaan danau itu mulai merah oleh darah ular
dan mulai dipenuhi bangkai-bangkai ular yang mengambang. Loncatan terakhir dilakukan dari
atas bangkai-bangkai ular yang mengambang dan ketika ia berjungkir balik sampai lima kali
sebelum hinggap di atas batu di depan suhunya, puluhan ekor ular itu telah mati semua. Bau
amis memenuhi tempat itu dan Tee-tok menghentikan tiupan sulingnya.
Pedang Naga Kemala > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com 162
“Suhu, mari kita duduk di sana, di sini bau amis !” Kui Eng mengernyitkan hidungnya
yang kecil sehingga nampak manis dan lucu. Kui Eng sekarang telah menjadi seorang gadis yang
manis sekali, berusia delapanbelas tahun. Wajahnya manis, terutama sekali sepasang matanya
yang lebar dan memiliki pandang mata yang amat tajam seperti kilat menyambar. Tubuhnya
ramping dan padat, rambutnya digulung ke atas dan diikat dengan sutera kuning karena ia sedang
berlatih, maka ia memakai pakaian ringkas dan rambut yang digelung itu masih panjang sekali
sisanya, bergerak-gerak ketika ia bersilat tadi seperti ekor kuda yang indah. Muka yang putih
halus itu kini kemerahan dan agak basah oleh keringat, berseri-seri di dalam cahaya matahari pagi
yang memernuhi taman.
Tee-tok tersenyum puas. Hebat memang muridnya ini. “Engkau lulus ujian, Kui Eng,
dan mulai sekarang tak perlu aku mengajarmu lagi. Sudah cukup ilmu kepandaianmu dan
agaknya takkan mudah orang lain mengalahkanmu.” Kui Eng menggandeng tangan suhunya dan
dengan manja mengajak gurunya itu duduk di ruangan sebuah pondok merah yang berada di tepi
taman.
“Semua itu berkat budimu, suhu,” katanya dan iapun bertepuk tangan memanggil
pelayan. Tiga orang pelayan wanita datang berlarian dan mereka semua mengembangkempiskan
cuping hidung ketika mencium bau amis itu.
“Ih, bau apakah ini ?”
“Begini amis, aku ingin muntah .......... !”
Kui Eng tersenyum geli. “Sudah, jangan cerewet. Suruh tukang kebon bersihkan kolam
air.”
Tiga orang pelayan wanita itu berlarian ke dekat kolam dan Kui Eng geli ketika
mendengar jeritan-jeritan para wanita itu yang tentu saja menjadi terkejut, takut dan jijik melihat
puluhan ekor bangkai ular mengambang di atas air kolam. Kui Eng lalu memerintahkan para
pelaya wanita mempersiapkan hidangan makan pagi yang mewah untuk gurunya dan para pekerja
kebun disuruh membersihkan danau dari bangkai-bangkai ular itu.
Setelah makan pagi yang mewah dan lezat, dilayani oleh muridnya, Tee-tok lalu minta
berjumpa dengan Ciu Lok Tai. Hartawan Ciu ini sudah berusia enampuluh dua tahun, akan tetapi
pakaiannya masih mewah dan rambutnya tersisir rapi penuh minyak. Jenggot dan kumisnya juga
masih terpelihara dengan baik dan sinar matanya masih seperti dulu, bahkan mungkin lebih mata
keranjang lagi. Semenjak Tee-tok berada di situ sebagai pengawal keluarganya, apa lagi
mengingat bahwa puteri tunggalnya kini telah menjadi seorang gadis yang memiliki ilmu silat
amat tinggi, yang tidak dapat dilawan oleh semua pengawal dan jagoan di Tung-kang maupun
Kanton, hartawan ini menjadi semakin angkuh.
Ciu Wan-gwe yang diberitahu puterinya bahwa Tee-tok ingin bertemu dengannya dan
bahwa kakek itu akan pergi karena puterinya sudah tamat belajar, menjadi kaget dan bergegas
datang ke pondokan Tee-tok di dekat taman di belakang gedung itu.
Pedang Naga Kemala > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com 163
“Berita apakah yang saya dengar dari Kui Eng ini ? Locianpwe hendak pergi
meninggalkan kami ? Ah, kenapa begitu ?”
Tee-tok tersenyum dan menggoyang tasbeh hitamnya. Kakek pendek kecil ini memang
selalu membawa tasbeh dan tongkatnya, seperti seorang petapa atau seorang pendeta tosu saja.
“Muridku, puterimu ini sudah tamat belajar, Ciu Wan-we, pekerjaanku sudah selesai, maka aku
harus pergi dari sini. Jangan khawatir, semua kepandaianku telah kuajarkan kepada puterimu dan
dengan adanya puterimu di sini, tak seorangpun akan berani mengganggu keluargamu, karena
pengganggunya berarti sudah bosan hidup, heh – heh !” Tee-tok memandang kepada muridnya
dengan perasaan bangga.
“Biarpun begitu, mengapa locianpwe akan pergi ? Sudah baik-baik tinggal di sini.
Biarlah locianpwe tetap tinggal di sini, biarpun Kui Eng sudah tamat belajar. Kami akan
menjamin kehidupan locianpwe selanjutnya di sini karena kami sudah menganggap locianpwe
seperti keluarga sendiri.”
“Ha – ha, terima kasih, Wan-gwe. Akan tetapi, seorang perantau seperti aku ini, mana
bisa selama hidupnya tinggal di suatu tempat ? Betapapun indahnya tempatmu ini, betapapun
enaknya hidupku di sini, lama-lama aku menjadi bosan juga. Aku rindu akan keheningan di
tempat-tempat sunyi. Kui Eng, kalau sekali waktu engkau perlu bertemu denganku, engkau tahu
ke mana harus mencariku. Nah, selamat tinggal, aku akan pergi sekarang juga.”
Ciu Lok Tai terkejut dan berusaha menahan. “Saya .......... saya harap locianpwe tunggu
sebentar, akan saya suruh ambilkan bekal .......... “
Akan tetapi kakek itu melangkah terus dan membalikkan tubuh ketika tiba di pintu lalu
berkata, “Bekal ? Maksudmu harta ? Heh – heh, menjadi beban saja. Kalau aku butuh harta,
apa sukarnya bagiku ? Tinggal ambil saja di sepanjang perjalanan.” Kemudian dengan sekali
menggerakkan kakinya, kakek itu berkelebat lenyap dari pintu taman ! Ciu Wan-gwe hendak
mengejar, akan tetapi tangannya dipegang puterinya.
“Ayah, orang luar biasa seperti suhu tidak sama dengan manusia lain. Ayah tidak perlu
sungkan-sungkan terhadap suhu.”
Barulah hartawan itu menarik napas panjang. “Aihh, bertahun-tahun dia berada di sini
dan kita merasa aman tenteram. Kalau dia pergi, tentu saja hal itu membikin hatiku khawatir
sekali. Apa lagi sekarang suasana menjadi semakin keruh, banyak terjadi pemberontakan dan
banyak orang jahat membikin kota-kota menjadi tidak aman.”
Puterinya tersenyum manis sekali. “Mengapa ayah khawatir ? Tidak percuma selama
enam tahun aku menjadi murid suhu Tee-tok. Dengan adanya aku di sini sama saja seperti kalau
suhu berada di sini.”
Akan tetapi hati Ciu Lok Tai masih belum tenang dan percaya benar. Sudah sering dia
melihat puterinya berlatih silat, melihat puterinya bergerak dengan lincah sekali, akan tetapi
kelincahan dalam bersilat itu belum membuktikan bahwa puterinya memang dapat diandalkan
menghadapi serangan-serangan lawan. Apa lagi melihat puterinya kini menjadi seorang gadis
Pedang Naga Kemala > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com 164
yang demikian cantik manis, seperti ibunya di waktu muda, dan nampak demikian lemah lembut,
mana mungkin dapat menandingi musuh yang terdiri dari laki-laki yang kasar dan kuat ?
Agaknya Kui Eng dapat menduga apa yang diragukan ayahnya. Ia seorang anak manja
yang biasanya haus akan pujian. Apa lagi sekarang, setelah ia merasa bahwa dirinya memiliki
ilmu kepandaian yang amat tinggi, maka keraguan ayahnya akan kemampuannya membikin
hatinya terasa panas dan kecewa.
“Ayah, sebaiknya ayah mengundang para jagoan di kota ini dan juga dari Kanton, dengan
alasan apapun, dan aku akan memperlihatkan kepada mereka bahwa tak seorangpun dapat
mengganggu kita. Aku akan tantang semua jagoan yang ada, dan akan kuperlihatkan kepada
ayah bahwa tidak ada seorangpun yang akan mampu mengalahkan aku.”
Biarpun di dalam hatinya masih terdapat keraguan, akan tetapi hartawan Ciu menganggap
usul ini amat baik. Bukan saja dia akan dapat membuktikan sendiri kehebatan puterinya, akan
tetapi juga dapat dia memamerkannya kepada semua kenalannya dan sekaligus nama puterinya
akan terangkat dan takkan ada yang berani mengganggu keluarganya.
“Baik, akan kuundang mereka dengan dalih merayakan engkau tamat belajar silat. Akan
tetapi yakin benarkah hatimu bahwa engkau akan dapat mengalahkan jagoan dari Kanton ?
Jangan main-main, di sana terdapat banyak orang pandai.”
Kui Eng tersenyum mengejek. “Ayah panggil saja yang paling pandai dan ayah lihat saja
nanti.”
Demikianlah, untuk membuktikan sendiri kepandaian puterinya, beberapa hari kemudian
taman yang luas di belakang gedung Ciu Wan-Gwe itu berobah menjadi tempat pesta. Yang
diundangnya adalah para pembesar yang menjadi kenalannya, juga ahli-ahli silat yang kenamaan
di Tung-kang, bahkan dari Kan-ton, pula, tidak lupa dia mengundang Gan Ki Bin dan Lok Hun,
dua orang jagoan yang pernah membantunya duabelas tahun yang lalu. Kedua orang itu kini
tinggal di Kanton dan bekerja sebagai pengawal-pengawal dalam rumah seorang pembesar
Kanton. Juga hartawan itu mengundang Ma-ciangkun, komandan Ma Cek Lung yang menjadi
perwira pasukan keamanan di Kanton. Masih banyak lagi guru-guru silat dan kepala-kepala
pengawal yang terkenal mempunyai kepandaian tinggi dari Kanton diundangnya. Tidak lupa,
untuk mencari muka, Ciu Wan-gwe juga mengundang Wang Taijin, kepala daerah Kanton,
seorang pejabat baru di Kanton yang dikirim dari kota raja ! Kepala daerah baru ini dikenal
sebagai seorang pejabat yang keras, utusan kaisar sendiri, dan kepala daerah ini kabarnya adalah
seorang pejabat yang jujur, tidak sudi menerima sogokan dan terutama sekali yang
menggelisahkan hati banyak hartawan adalah bahwa Wang Taijin terkenal anti madat ! Juga
wakilnya, yang terkenal sebagai orang yang mudah didekati oleh para hartawan, seorang pejabat
lama yang bernama Lai Tek atau terkenal dengan sebutan Lai Taijin, yang bukan hanya sahabat
baik Ciu Wan-gwe akan tetapi juga seorang pecandu madat yang tidak ketulungan lagi, diundang.
Pernah Ciu Wan-gwe dipanggil oleh kepala daerah yang baru itu dan diperingatkan tentang
kegiatannya berdagang candu gelap. Dan Lai Taijin itulah yang menolongnya dan melihat muka
wakilnya, kepala daerah itu mengampuninya.
Pedang Naga Kemala > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com 165
Tidak kurang dari limapuluh orang yang rata-rata memiliki kepandaian silat tinggi dan
menjadi jagoan-jagoan terkenal di kanton dan sekitarnya hadir di dalam taman yang dirias indah
itu. Ciu Wan-gwe terkenal sebagai seorang kaya raya yang royal, maka tentu saja mereka dengan
gembira memenuhi undangan hartawan itu, apa lagi karena disebutkan bahwa pesta itu untuk
merayakan puteri hartawan itu yang selesai belajar ilmu silat ! Mereka sudah membayangkan
bahwa mereka akan melihat seorang gadis jelita bermain silat, dan walaupun para jagoan itu
memandang rendah, setidaknya mereka akan melihat seorang gadis cantik menari-nari dengan
senjata yang tentu akan menarik sekali, apa lagi kalau hidangannya serba lezat dan mewah !
Semua hartawan dan bangsawan datang bersama pengawal, sedikitnya dua orang kepala
pengawal yang boleh diandalkan. Para pembesar datang bersama pasukan pengawal, akan tetapi
pasukan itu dijamu di tempat lain, dan yang menemani para pembesar itu hanya kepala pengawal
saja. Wan Taijin tidak ketinggalan dikawal oleh kepala pengawalnya yang gagah perkasa. Juga
Gan Ki Bin dan Lok Hun, dua orang bekas kepala pengawal Ciu Wan-gwe, yang sudah mengenal
Kui Eng ketika anak itu masih kecil, datang dalam pakaian mereka yang mentereng.
Di taman itu sudah dibangun sebuah panggung dan para tamu sudah berkumpul dengan
digembirakan oleh musik yang dimainkan oleh serombongan pemusik kenamaan yang
didatangkan dari Kanton. Setelah menghaturkan selamat datang kepada para tamu dengan
suguhan arak, Ciu Wan-gwe lalu memperkenalkan puterinya.
Kui Eng keluar dalam pakaian serba merah muda, dengan ikat pinggang berwarna biru
dan rambutnya digelung ke atas, diikat dengan sutera kuning. Ia nampak manis sekali, sehingga
semua mata para tamu yang terdiri dari pria semua itu seperti hendak melahapnya.
“Kami merayakan tamat belajarnya puteri kami dan maafkanlah puteri kami yang hendak
memperlihatkan hasil ilmu yang selama ini dipelajarinya. Karena cuwi yang hadir adalah ahliahli
silat kenamaan, maka diharap agar sudi memberi petunjuk kalau permainan puteri kami
masih dangkal,” kata Ciu Wan-gwe dan ketika Kui Eng naik ke atas panggung, ia disambut
dengan tepuk tepuk tangan memuji, tentu saja memuji kecantikannya. Akan tetapi, hampir
semua tamu berasal dari Tung-kang, tidak ada yang berani memandang rendah. Semua orang di
Tung-kang sudah tahu bahwa gadis cantik ini adalah murid seorang kakek sakti yang demikian
pandainya sehingga berhasil menghadapi ujian senjata api dari Ciu Wan-gwe ! Biarpun mereka
sendiri belum pernah membuktikan kelihaian Kui Eng, namun mereka dapat menduga bahwa
tentu gadis itu memiliki ilmu kepandaian yang tinggi. Sudah banyak para pelayan dan pengawal
keluarga Ciu membocorkan berita bahwa gadis itu benar-benar lihai sekali, seringkali bersama
gurunya yang aneh bermain-main dengan ular-ular besar dan ular-ular beracun !
Setelah menjura ke empat penjuru dengan sikap gagah dan senyum manis sekali tak
pernah meninggalkan bibirnya, Kui Eng lalu mulai bersilat. Tentu saja ia tidak mau
mempertontonkan jurus-jurus simpanannya, melainkan hanya bersilat dengan landasan ilmu
ginkang yang hebat sehingga tubuhnya berkelebatan dengan amat cepatnya di atas papan
panggung. Kedua kakinya tidak mengeluarkan suara, dan panggung itu sedikitpun tidak
terguncang biarpun ia bermain silat dengan berloncatan cepat. Bagi para penonton yang belum
tinggi ilmu silatnya, mereka akan tersenyum mengejek karena mengira bahwa gadis itu tidak
memiliki tenaga sakti sehingga gerakannya kosong dan ringan. Sebaliknya, mereka yang lebih
Pedang Naga Kemala > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com 166
ahli, diam-diam terkejut dan kagum karena mengenal pertunjukan ilmu meringankan tubuh yang
hebat !
Setelah Kui Eng menghentikan permainan silatnya, semua orang bertepuk tangan
gemuruh, bahkan ada yang bersuit-suit, yaitu dari para muda yang lebih mengagumi kecantikan
dan keindahan gerak tubuh Kui Eng dari pada ilmu silatnya sendiri. Kui Eng menjura ke empat
penjuru, lalu dengan nyaring ia berkata, suaranya lantang dan sama sekali tidak canggung atau
malu-malu. Ia memang seorang gadis yang tabah, gagah dan juga galak, kegalakan yang lebih
terdorong oleh kemanjaan dari pada oleh watak yang jahat.
“Cu-wi yang mulia. Ilmu silat hanya nampak indah saja kalau dimainkan sendirian, akan
tetapi tidak ada artinya dan tidak kelihatan kelihaiannya kalau tidak dimainkan dalam suatu
pertandingan antara dua orang. Maka, saya menantang kepada cu-wi yang memiliki kepandaian
untuk mengadakan pertandingan silat persahabatan, untuk saling berkenalan dan saling memberi
petunjuk dalam ilmu silat. Dengan demikian, barulah yang menonton dapat menikmatinya.
Tidak tahu apakah di antara cu-wi ada yang berani untuk maju melayani saya barang sepuluh
jurus ?”
Di dalam ucapan ini terkandung kesombongan dan pandangan rendah terhadap para tamu,
dan hal ini memang disengaja oleh Kui Eng untuk memanaskan hati mereka agar ada yang berani
menyambut tantangannya.
“Oho, biarlah aku yang mencoba kelihaian nona Ciu !” terdengar suara nyaring dan
sesosok tubuh tinggi besar sudah meloncat naik ke atas panggung. Panggung itu tergetar dan
bergoyang-goyang ketika kedua kakinya hinggap di atas papan panggung. Laki-laki ini berusia
tigapuluh tahun lebih, tinggi besar dengan muka merah, agaknya terlalu banyak minum arak.
Akan tetapi semua orang dari Kanton mengenal siapa dia. Seorang guru silat muda yang
memiliki tenaga gajah ! Dan orang yang masih belum berkeluarga ini, ketika melihat Kui Eng,
diam-diam sudah tergila-gila, maka melihat kesempatan untuk memamerkan ilmunya dan
kesempatan bertanding, beradu tangan, berdekatan dengan nona cantik itu, terus saja dia
menyambutnya. Untuk mendatangkan kesan dan untuk pamer, begitu kedua kakinya menginjak
papan panggung, terus saja guru silat itu bersilat. Gerakannya mantap dan pukulannya
mendatangkan angin, bahkan panggung itu terus bergoyang-goyang seperti akan ambruk.
Memang kelihatan hebat dan gagah sekali dia, terdengar bunyi otot dan tulang berkerotokan dan
angin menyambar-nyambar kalau dia menendang dan memukul. Setelah mainkan beberapa jurus
ilmu silatnya, para penonton, terutama yang muda-muda, sudah menyambutnya dengan tepuk
tangan memuji. Dia berhenti dan tersenyum, senyum yang tidak menolong mukanya yang burik
kasar kemerahan itu lalu menghadapi Kui Eng dan menjura dengan sikap hormat dibuat-buat.
“Nona Ciu, ilmu silatmu sungguh hebat sekali. Tidak tahu apakah ilmu silatku tadi cukup
baik untuk melayani ilmu silatmu ?”
Kui Eng mamandang tajam dan alisnya berkerut ketika ia melihat sinar mata laki-laki itu
mengandung kekurangajaran. Ia balas menjura dan suaranya lantang terdengar semua orang yang
berada di situ, “Ilmu silatmu menunjukkan tenaga besar, cukup baik untuk manakut-nakuti
orang, akan tetapi aku sangsi apakah cukup tangguh untuk bertahan selama lima jurus melawan
ilmu silatku !”
Pedang Naga Kemala > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com 167
Tentu saja semua orang terkejut, bahkan para ahli sekalipun terkejut. Biarpun guru silat
muda itu lebih mengandalkan tenaga besar, namun dia memiliki ilmu silat yang tidak boleh
dibilang lemah. Mana mungkin mengalahkannya dalam lima jurus saja ? Gadis itu terlalu
membual atau memang sombong. Ciu Wan-gwe sendiri berobah wajahnya, merasa khawatir
karena puterinya bicara terlalu besar. Bagaimana kalau puterinya kalah ? Berarti sekali keluar
namanya terbanting keras dan hanya mendatangkan malu dan menjadi buah tertawaan saja.
Wajah guru silat muda itu menjadi semakin merah, akan tetapi sekali ini bukan merah
karena hawa arak, melainkan karena penasaran dan marah. Gadis cantik ini ternyata telah
membikin malu padanya di depan umum. Tunggu saja, manis, pikirnya gemas. Dalam
pertandingan ini aku akan membalas padamu, cukup dengan sekali raba dadamu saja sudah dapat
membalas. Kemarahan ini saja sudah menunjukkan bahwa guru silat muda itu kurang luas
pandangannya dan kurang matang ilmunya. Bagi orang yang sudah matang, melihat sikap gadis
itu yang berani memandang rendah saja tentu sudah menjadi waspada, curiga dan berhati-hati
sekali. Sebaliiknya, guru silat yang terlalu membanggakan kepandaian sendiri ini dikuasai emosi
dan bernafsu sekali untuk membalas dendam.
“Nona Ciu, benarkah bahwa engkau akan mampu mengalahkan aku dalam lima jurus ?
Hati-hati, kaki tangan tidak bermata, aku khawatir kalau-kalau nona akan terluka kalau kita harus
mengadu ilmu silat.”
Kui Eng tersenyum mengejek. “Kalau takut terkena pukulan, lebih baik tidak belajar ilmu
silat saja, pulang ke kampung bercocok tanam lebih aman !” Tentu saja ucapan ini disambut
dengan suara ketawa di sana-sini dan guru silat muda itu menjadi marah sekali.
“Nona Ciu, bersiaplah menyambut seranganku !” Teriaknya dan iapun memasang kudakuda
dengan kedua kaki terpentang sampai panggung yang diinjaknya mengeluarkan bunyi “krek
– krek !”
“Kau ini mau adu silat ataukah adu suara ? Majulah dan jangan omong saja !” Kembali
ucapan Kui Eng disambut suara ketawa dan tiba-tiba guru silat itu mengeluarkan suara seperti
harimau menggereng dan tubuhnya sudah menubruk ke depan. Kedua lengannya dipentang
lebar, dari kanan kiri mengurung dan hendak menerkam, seperti seekor biruang besar hendak
menerkam kelenci. Mata para tamu kini memandang penuh perhatian dan dengan hati tegang
karena mereka maklum bahwa guru silat muda itu agaknya sudah marah sekali dan menyerang
dengan sungguh-sungguh, walaupun serangannya bukan merupakan tendangan atau pukulan
melainkan tubrukan untuk menerkam dan memeluk gadis itu !
Akan tetapi, dengan gerakan yang amat lincah, tahu-tahu tubuh gadis itu sudah
menyelinap ke bawah kiri dan tubrukan itu luput. Guru silat itu tadi sudah melihat bayangan
tubuh itu menyelinap ke kiri, tubrukannya dirobah menjadi terkaman ke samping dan kini dua
lengannya itu menerkam dari atas dan bawah, kedua kakinya siap menyusulkan tendangan
andaikata nona itu mengelak lagi. Akan tetapi sekali ini Kui Eng tidak mengelak, bahkan
menghadapi serangan itu sambil membalikkan tubuhnya dan dua pasang kaki tangan itu bergerak
cepat, seperti ada empat ekor ular menotok ke depan dan tiba-tiba saja guru silat muda itu
mengeluarkan teriakan aneh dan tubuhnyapun roboh berlutut di depan Kui Eng !
Pedang Naga Kemala > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com 168
Tentu saja semua orang menjadi heran dan terkejut sekali. Dalam dua kali serangan saja
guru silat itu telah roboh berlutut dan mereka tidak melihat bagaimana caranya sampai guru silat
itu roboh. Guru silat itu sendiri menjadi pucat wajahnya. Tadi, ketika dia menerkam, tiba-tiba
saja kedua siku dan lututnya terpukul dan seketika kedua lengan dan kakinya menjadi lumpuh
sehingga dia tidak mampu berdiri lagi dan terpaksa jatuh berlutut. Bagaimanapun juga, kini
tahulah dia bahwa gadis itu memang sungguh seorang yang memiliki kesaktian dan sama sekali
bukan lawannya.
“Maafkan saya, nona .......... saya .......... mengaku kalah .......... !” katanya lirih dan
ketakutan karena dia belum mampu menggerakkan kaki tangannya.
“Hemm, belajarlah silat dengan baik, bukan memamerkan tenaga gajah,” kata Kui Eng
dan seperti orang menyuruh pergi, tangannya bergerak cepat sekali mrenyentuh ke pundak dan
ujung sepatunya menyentuh pinggang. Seketika tubuh yang lumpuh itu dapat bangkit lagi dan
dengan muka yang kini berobah merah sekali, guru silat itu memberi hormat kepada Kui Eng lalu
melompat turun dan kembali ke tempat duduknya tanpa banyak cakap lagi. Tepuk tangan riuh
menyambut kemenangan ini, akan tetapi beberapa orang mengerutkan alisnya. Benarkah guru
silat itu kalah sedemikian mudahnya ? Ataukah guru silat itu memang sengaja “dibeli” untuk
berperan sebagai orang yang dikalahkan ? Ciu Wan-gwe adalah seorang yang kaya raya, mampu
membayar apa saja dan guru silat itu merupakan orang baru di Kanton, siapa tahu dia memang
sengaja bermain sandiwara agar dikalahkan dalam dua gebrakan saja !
Akan tetapi, mereka yang memiliki kepandaian lebih tinggi berpendapat lain. Mereka
melihat bahwa selain guru silat itu memang tidak begitu pandai, ternyata bahwa gadis hartawan
ini benar-benar lihai sehingga mereka memandang kagum dan ketika Kui Eng mempersilahkan
jagoan lain untuk naik, tidak ada seorangpun berani menyambutnya.
Yang paling gembira adalah Ciu Wan-gwe. Ternyata puterinya mampu membuktikan
omongannya. Guru silat yang hebat tadi dirobohkan hanya dalam waktu sebentar saja ! Makin
percayalah dia bahwa kakek sakti itu memang benar telah mewariskan kepandaiannya kepada
Kui Eng.
“Cu-wi yang mulia ! Benarkah tidak ada lagi jagoan yang mau memberi petunjuk
kepadaku ? Ah, dan aku mendengar bahwa Kanton adalah gudangnya jago silat yang tinggi
ilmunya. Apakah cu-wi ingin mengecewakan hatiku ?” Kui Eng berkata karena memang ia
kecewa sekali. Ia ingin memamerkan kepandaiannya dan juga mendatangkan kesan agar
keluarganya ditakuti orang dan hati ayahnya menjadi tenteram. Kiranya di antara para jagoan itu
yang maju hanyalah seorang guru silat mentah !
Wang Taijin, kepala daerah Kanton, merasa tersinggung mendengar ucapan gadis itu.
Seorang gadis yang sombong, pikirnya. Memang di sudut hatinya, Wang Taijin merasa tidak
suka kepada hartawan ini, karena dia mendengar bahwa orang she Ciu ini merupakan pedagang
dan penyelundup candu terbesar di Kanton dan Tung-kang, seorang yang bersekongkol dengan
orang-orang kulit putih. Juga dia mendengar bahwa hartawan ini seolah-olah sudah menguasai
semua pembesar di Kanton dengan suapan-suapannya. Kalau saja tidak dibujuk oleh Lai Taijin,
tentu dia sudah menyuruh orang-orangnya menuntut hartawan ini di pengadilan atau setidaknya
Pedang Naga Kemala > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com 169
melakukan penyitaan atas candu-candu simpanannya. Kini, melihat sikap anak hartawan Ciu itu,
yang seolah-olah menantang dan menghina orang-orang gagah di Kanton, dia mendongkol sekali.
Dengan isyarat tangan dan mata, diapun lalu menyuruh kepala pengawal yang menemaninya
untuk maju dan menandingi gadis yang dianggapnya amat sombong itu.
Kepala pengawal ini adalah pengawal bawaan Wang Taijin dari kota raja, seorang lakilaki
berusia limapuluh tahun yang tubuhnya jangkung, matanya tajam dan kumis jenggotnya
panjang terpelihara rapi. Dalam mengawal Wang Taijin, dia selalu berpakaian preman.
Orangnya pendiam dan sikapnya halus. Melihat betapa majikannya memberi isyarat agar dia
maju, pengawal yang jangkung ini mengangguk, akan tetapi alisnya berkerut. Dia adalah seorang
kepala pengawal daerah Kanton, seorang yang memiliki kedudukan tinggi dan kini dia disuruh
maju melayani dan melawan seorang gadis yang usianya belum duapuluh tahun ! memang,
diapun tadi melihat bahwa gadis itu bukan orang sembarangan, akan tetapi maju melawan
seorang gadis semuda itu saja sudah menurunkan martabatnya. Akan tetapi, karena yang
memerintah adalah majikannya, tanpa banyak cakap diapun bangkit berdiri dan sekali
menggerakkan tubuhnya, dia sudah melayang naik ke atas panggung. Kedua kakinya tidak
mengeluarkan suara apapun ketika hinggap di atas panggung, berhadapan dengan Kui Eng dan
menjura dengan hormat. Diam-diam Kui Eng terkejut. Ini baru orang pandai, pikirnya, aku
harus berhati-hati menghadapinya.
“Nona Ciu, maafkan kalau saya orang yang tua memenuhi undangan nona untuk bermainmain
sebentar menghibur para tamu dan menggembirakan suasana. Harap nona suka mengalah
kepada saya.”
Kui Eng makin berhati-hati. Orang ini pandai merendahkan diri, akan tetapi sinar
matanya begitu tajam. Tentu lawan yang berbahaya, pikirnya. “Ah, paman terlalu sungkan.
Kuharap pamanlah yang suka mengalah terhadap orang muda yang belum berpengalaman.”
katanya sambil balas menjura.
“Saya sudah siap, harap nona suka mulai,” kata kepala pengawal Wang Taijin itu.
“Paman adalah tamu, silahkan mulai.”
Akan tetapi, kepala pengawal itu tentu saja rikuh sekali kalau harus menyerang lebih dulu.
Dia adalah seorang tua yang menang segala-galanya, mana mungkin harus menyerang dulu ?
Maka diapun diam saja, hanya berdiri tegak, sama sekali tidak berlagak dengan kuda-kuda kokoh
seperti yang dilakukan guru silat muda tadi. Melihat orang ragu-ragu, Kui Eng tersenyum dan ia
semakin hati-hati.
“Baiklah kalau begitu, lihat seranganku, paman !” Kui Eng menyerang dengan biasa saja,
dengan pukulan ke arah dada orang. Melihat cara gadis itu menyerang, si kepala pengawal
semakin memandang rendah. Kiranya gadis itu hanya memiliki kecepatan saja dan tidak
memiliki kepandaian yang berarti, demikian pikirnya. Maka diapun cepat menangkis dengan
mengerahkan sedikit tenaga saja, dengan harapan sedikit tenaga itu sudah cukup untuk memberi
peringatan kepada gadis yang dianggapnya sombong itu.
“Dukk ………. !” Ketika dua lengan bertemu, kepala pengawal itu terkejut bukan main.
Lengan gadis itu lunak hangat, seperti tidak bertenaga, akan tetapi membuat lengannya tergetar
Pedang Naga Kemala > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com 170
hebat seperti diguncang ! Maka, diapun cepat membalas dengan serangan kilat ke arah pundak
kiri Kui Eng yang ditamparnya, dan sekali ini, tamparannya dilakukan dengan pengerahan tenaga
sinkang. Ketika tadi bertemu lengan, Kui Eng tersenyum mengejek. Kiranya hanya sekian saja
tenaga orang jangkung ini, pikirnya. Maka, begitu melihat lawan menampar pundaknya, suatu
serangan yang dilakukan dengan sungkan-sungkan, dara inipun menangkis dengan mengerahkan
sebagian sinkangnya. Tidak sekuatnya, melainkan sedikit saja karena iapun tidak ingin
mencelakai orang ini yang bersikap baik, tidak seperti guru silat tadi.
“Dukk ………. !” Sekali ini Kui Eng yang terkejut ketika lengannya terpental. Barulah
ia tahu bahwa dalam pertemuan lengan pertama tadi, lawannya tidak sungguh-sungguh
mengeluarkan tenaga dan baru sekarang lawannya itu memperlihatkan tenaganya, membuat
lengannya terpental. Iapun memandang tajam dan bangkit semangatnya, hatinya gembira. Inilah
lawan yang tangguh, pikirnya.
“Paman, siaplah menghadapi seranganku !” teriaknya dan iapun kini menyerang dengan
sungguh-sungguh, kedua tangannya membentuk kepala ular yang mematuk-matuk dan
gerakannya itu didasari tenaga sinkang yang amat kuat.
Kepala pengawal itu terkejut bukan main. Dia melihat betapa kedua tangan lawannya
seperti berobah menjadi banyak, sukar sekali diikuti dengan pandang mata. Dia berusaha
sekuatnya untuk menangkis dengan kedua lengannya, akan tetapi gerakan gadis itu terlalu cepat,
ilmu silatnya terlalu aneh. Kui Eng belum mengenal kehebatan ilmunya sendiri karena ia belum
pernah berkelahi dengan orang lain dan ia tadi salah kira, menganggap bahwa lawannya itu
tangguh sekali. Kini, serangkaian serangannya tidak dapat dihindarkan lagi mengenai sasaran
dan pundak kanan lawan itu terkena patukan tangan kirinya dengan keras sekali.
“Krekkk ………. !”
Kepala pengawal itu mengeluh dan roboh terkulai dalam keadaan pingsan ! Patukan
tangan kiri Kui Eng itu bukan saja mematahkan tulang pundaknya, akan tetapi juga menembus
lebih dalam lagi, menggetarkan isi dada dan membuatnya roboh pingsan ! Kui Eng terkejut
bukan main.
“Ohh .......... maaf, paman .......... !” katanya, akan tetapi dara itu berdiri bingung karena
melihat bahwa lawannya itu telah pingsan. Tak disangkanya sedemikian mudahnya ia
merobohkan lawan yang disangkanya amat tangguh itu. Memang tangguh lawan itu, akan tetapi
ia tidak dapat membayangkan bahwa kepandaiannya jauh lebih tinggi dan ia jauh lebih tangguh
lagi.
Peristiwa ini tentu saja mendatangkan perasaan makin tidak senang di hati Wang Taijin.
Dia tadi menyuruh kepala pengawalnya untuk memberi pengajaran kepada gadis Ciu yang
sombong itu, akan tetapi siapa kira bahwa dalam beberapa gebrakan saja jagoannya tidak hanya
kalah, bahkan pingsan dan agaknya menderita luka parah ! Dengan alis berkerut kepala daerah
Kanton ini melihat betapa jagoannya diusung turun dari atas panggung di bawah tepuk tangan
para tamu yang memuji tuan rumah. Kini semua orang memandang kagum karena secara
berturut-turut, dua orang jagoan telah dirobohkan dalam waktu cepat sekali oleh gadis cantik itu.
Pedang Naga Kemala > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com 171
“Aha, benar hebat nona Ciu Kui Eng !” tiba-tiba terdengar suara parau dan seorang lakilaki
tinggi besar berperut gendut sudah meloncat naik ke atas panggung. Melihat laki-laki
berusia limapuluh tahun lebih dan berpakaian sebagai seorang perwira tinggi ini, Kui Eng cepat
memberi hormat dengan ramah, merendah. Tentu saja ia mengenal Ma Cek Lung, komandan
pasukan keamanan di Kanton yang sudah lama menjadi sahabat baik ayahnya, dan yang
dikenalnya sejak ia masih kecil. Memang pada akhir-akhir ini Ma-ciangkun jarang datang
berkunjung ke Tung-kang, akan tetapi hubungan antara perwira itu dan ayahnya masih tetap baik.
Sejak tadi Ma Cek Lung melihat betapa gadis itu mengalahkan dua orang lawannya. Dia
mengenal Kui Eng sebagai seorang anak yang manis dan ramah, dan diapun tahu bahwa gadis itu
sejak kecil suka mempelajari ilmu silat dari para pengawal Ciu Wan-gwe. Dia juga sudah
mendengar bahwa gadis itu memperoleh seorang guru yang pandai, yang juga menjadi pengawal
keluarga Ciu itu. Ketika tadi Kui Eng keluar dan memperlihatkan kepandaiannya, dia merasa
kagum juga, senang melihat anak perempuan yang dikenalnya di waktu kecil itu kini telah
menjadi seorang gadis yang cantik dan lihai. Akan tetapi ketika melihat betapa gadis itu
merobohkan dua orang lawan, dia merasa tertarik sekali, lebih lagi ketika dia melihat Kui Eng
mengalahkan kepala pengawal Wang Taijin yang diketahuinya adalah seorang yang memiliki
ilmu silat tinggi. Karena dia sendiripun seorang yang lihai ilmu silatnya, hatinya tertarik dan tak
dapat ditahannya lagi dia lalu meloncat naik ke atas panggung sambil mengeluarkan kata-kata
pujian.
Kini Ma Cek Lung sudah berhadapan dengan Kui Eng dan perwira bertubuh tinggi besar
berperut gendut ini menyeringai dan matanya menjelajahi tubuh dan wajah Kui Eng penuh
kagum. Mukanya yang licin itu seperti berminyak dan matanya yang sipit sekali menjadi
semakin sipit.
“Nona Ciu, akupun ingin main-main sebentar dengan engkau yang amat lihai !”
“Ah, Ma-ciangkun harap jangan main-main. Mana aku berani melawanmu ?”
Ma Cek Lung ini memang mempunyai watak mata keranjang. Kecantikan Kui Eng yang
sejak kecil dikenalnya itu telah membuat penyakitnya kumat, yaitu berlagak setiap kali bertemu
wanita cantik. Apa lagi sikap Kui Eng yang seolah-olah merasa sungkan kepadanya, yang
dianggapnya sebagai sikap takut melawannya ! Maka diapun tertawa bergelak sambil
membusungkan dadanya dan akibatnya yang busung adalah perutnya. Dia sendiri menganggap
sikapnya gagah, akan tetapi sebenarnya bagi orang lain hanya melihat perwira itu berkakakan
dengan perut besar menonjol ke depan dan terguncang-guncang.
“Ha – ha – ha, nona Ciu, ilmu silatmu begitu lihai, jangan merendahkan diri. Melihat
betapa sekarang engkau telah memperoleh kemajuan hebat, aku ingin sekali mencoba-coba.
Mari, jangan bersikap sungkan, bukankah kita hanya mengadakan permainan bersama seperti
latihan saja ?” Dia tertawa-tawa dengan sikap sombong sekali, seolah-olah sia seorang guru
besar yang hendak memberi petunjuk dan latihan kepada seorang murid.
“Baiklah, Ma-ciangkun,” kata Kui Eng.
Pedang Naga Kemala > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com 172
“Ma-ciangkun, harap jangan bersikap keras kepada puteriku !” tiba-tiba terdengar Ciu
Wan-gwe berteriak kepada perwira yang menjadi sahabat baiknya itu.
Perwira Ma itu menoleh ke arah tuan rumah dan tertawa lebar. “Heh – heh, jangan
khawatir, aku akan bersikap lunak sekali terhadap puterimu !”
Dengan lagak yang gagah, Ma Cek Lung lalu memasang kuda-kuda di depan gadis itu
sambil berkata, “Nona Ciu, mari kita mulai. Kausambutlah seranganku yang pertama.”
Dengan sikap gagah dan pengerahan tenaga yang kuat, Ma Cek Lung membuka
serangannya dengan pukulan tangan kanan ke arah pundak gadis itu. Memang perwira ini
memiliki tenaga besar dan juga ilmu silatnya sudah termasuk lumayan. Akan tetapi dasar perwira
mata keranjang yang sudah tergila-gila melihat wajah cantik dan bentuk tubuh yang
menggairahkan dari Kui Eng, pukulannya itu berobah menjadi colekan ke arah bawah pundak,
jadi ke arah dada gadis itu !
Tentu saja Kui Eng menjadi terkejut bukan main. Tak disangkanya bahwa perwira itu
akan menyerang seperti itu.
“Ihhh .......... !” Ia berseru lirih sambil cepat-cepat mengelak sehingga colekan itu
mengenai tempat kosong.
“Heh – heh !” Ma Cek Lung sudah menyusulkan serangan tangan kirinya yang kembali
melakukan colekan ke arah perut bawah ! Ini sudah keterlaluan sekali dan Kui Eng menjadi
marah bukan main. Jelaslah bahwa perwira yang menjadi sahabat ayahnya ini hendak kurang
ajar, apa lagi melihat mulutnya menyeringai genit lalu terdengar desisnya berbisik, “Kau manis
sekali .......... !” dan susulan tangan kanannya yang kembali mencolek ke arah dada.
“keparat !” Kui Eng mendesis di antara giginya dan dengan cepatnya tubuhnya mengelak
dan kedua tangannya bergerak cepat seperti dua ekor kepala ular mematuk. Ma Cek Lung tidak
tahu apa yang terjadi, akan tetapi tiba-tiba saja tubuhnya menjadi kaku dan tidak dapat
digerakkan lagi. Seperti sebuah arca batu, perwira Ma itu berdiri dengan tubuh agak merendah,
tangan kanan dengan jari-jari seperti akan mencengkeram dan tangan kiri mencengkeram ke
bawah, yaitu posisinya ketika hendak mencolek bawah perut dan dada tadi ! Melihat betapa
perwira tinggi besar itu kini diam seperti arca dalam keadaan kaku, semua orang terkejut !
Para ahli maklum bahwa perwira itu telah menjadi korban totokan jalan darah yang amat hebat.
Dan perwira itu tertotok dalam waktu baru dua tiga jurus saja ! Sungguh sukar dipercaya ini,
karena semua orang tahu bahwa Ma Ciangkun adalah seorang perwira tinggi, kepala pasukan
keamanan Kanton yang tentu saja memiliki ilmu silat tinggi !
Kui Eng juga sadar bahwa ia tadi terlalu menurutkan hati yang marah karena sikap
ceriwis dan kurang ajar dari komandan itu, maka kini melihat betapa perwira itu kaku oleh
totokannya, iapun sadar bahwa tidak baik membikin malu perwira tinggi yang menjadi sahabat
ayahnya ini. Maka iapun cepat menggerakkan kedua tangannya membebaskan totokan itu.
“Ma-ciangkun, maafkan aku ........ !” katanya lirih.
Pedang Naga Kemala > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com 173
Ma Cek Lung dapat bergerak kembali. Mukanya menjadi merah sekali dan dia menjadi
marah bukan main. Dia, kepala pasukan keamanan Kanton, yang biasanya ditakuti orang, kini
dihina oleh seorang gadis muda di depan begitu banyak orang bahkan di depan para pembesar.
Dia memang mata keranjang, akan tetapi kini dia dikuasai kemarahan yang memuncak sehingga
dia lupa segala. “Singgg ………. !” Perwira ini sudah mencabut pedangnya dan mengancam
dengan mengamangkan pedangnya di atas kepala.
Jilid VIII *****
“Bocah sombong, berani kau menghinaku ?” Dan tanpa banyak cakap lagi perwira yang
marah ini sudah menyerang Kui Eng dengan pedangnya. Hebat sekali serangan itu dan semua
orang terbelalak karena merasa khawatir dan tegang, sama sekali tidak mengira bahwa pi-bu
persahabatan itu berobah menjadi kemarahan sang perwira yang kini menggunakan pedang
menyerang dengan sungguh-sungguh. Ciu Wan-gwe sendiri memandang dengan muka pucat,
tidak tahu harus berbuat apa menghadapi peristiwa itu dan tentu saja dia khawatir sekali akan
keselamatan puterinya.
Pedang itu menyambar dahsyat ke arah leher Kui Eng. Agaknya, di dalam kemarahannya
karena merasa terhina, Ma-ciangkun hendak memancung leher Kui Eng ! Akan tetapi, pedang itu
hanya mengenai angin saja karena dengan cepat sekali Kui Eng telah mengelak dengan langkah
ke belakang.
“Ciangkun, ingatlah .......... !” Ia berkata, kaget dan juga penasaran melihat betapa
perwira itu kini menyerang dengan senjata pedang, dengan sungguh-sungguh lagi, bukan sekedar
pi-bu persahabatan lagi. Akan tetapi, luputnya serangan pertama ini seperti minyak disiramkan
pada api, membuat kemarahan Ma Cek Lung makin berkobar. Pedangnya mengeluarkan suara
berdesing ketika diputarnya dan dia sudah menyerang kalang kabut. Pedangnya berobah menjadi
sinar bergulung-gulung dan menyambar-nyambar ke arah tubuh Kui Eng. Gadis ini terus
mengelak, dengan kecepatan yang luar biasa dan sekali lagi ia mengingatkan Ma Cek Lung.
“Ma-ciangkun, hentikan seranganmu atau terpaksa aku membalas !”
Dalam keadaan marah seperti itu, tentu saja Ma Cek Lung tidak mau menghentikan
serangannya sebelum berhasil. Pedangnya menyambar semakin ganas seolah-olah perwira itu
menghadapi dan menyerang seorang musuh besar yang harus dibunuhnya ! Menghadapi
serangan seperti ini, Kui Eng yang mempunyai watak galak dan keras itu menjadi penasaran dan
marah sekali.
“Kaukira aku takut padamu !” bentaknya dan tiba-tiba tubuhnya yang tadi hanya
mengelak saja dengan loncatan-loncatan lincah, kini menerjang ke depan.
“Plak .......... ! Tranggg .......... !” Pedang itu terlempar ke atas papan panggung dan tubuh
perwira itupun terpelanting dengan keras. Semua orang ternganga dan terbelalak memandang ke
atas panggung. Sekali ini, tidak ada seorangpun berani bertepuk tangan atas kemenangan Kui
Eng, walaupun mereka terkejut, kaget dan juga kagum bukan main. Kini tidak ada yang
menyangsikan lagi akan kehebatan ilmu kepandaian Ciu Kui Eng.
Pedang Naga Kemala > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com 174
Ma Cek Lung tidak terluka parah karena Kui Eng yang masih ingat bahwa ia berhadapan
dengan seorang komandan, hanya menotok pergelangan tangan yang memegang pedang sehingga
pedang itu terlepas, kemudian sebuah tendangan ke arah lutut kaki membuat perwira itu
terpelanting. Akan tetapi karena pantatnya terbanting keras ke atas papan, rasa nyeri membuat
dia meringis ketika bangkit dan mengambil pedangnya. Dia mengeluarkan suara makian yang
diguman saja, matanya mendelik ke arah Kui Eng. Kemudian dia bangkit berdiri dan
memandang ke arah Ciu Wan-gwe dengan mata melotot. Hartawan ini cepat lari naik ke
panggung dan menjura kepada perwira itu.
“Ciangkun, harap maafkan kelancangan anakku ..........” Suaranya penuh permohonan.
Akan tetapi Ma Cek Lung hanya mendelik, kemudian tiba-tiba membalikkan tubuhnya
dan meloncat turun dari atas panggung, kemudian dengan langkah lebar tanpa pamit dia keluar
dari situ untuk meninggalkan rumah keluarga Ciu dan langsung keluar. Wang-taijin yang tadi
sudah merasa tidak suka karena kepala pengawalnya terluka, apa lagi ketika mendengar bahwa
tulang pundak pengawalnya itu patah-patah, melihat perginya Ma Cek Lung, dia juga bangun
berdiri dan pergi dari situ tanpa pamit ! Ciu Wan-gwe cepat menghampiri dan memberi hormat,
mencoba untuk menahan sang pembesar. Akan tetapi Wang-taijin hanya mendengus, kemudian
pergi dan langsung kembali ke Kanton. Para tamu juga merasa tidak enak dan seorang demi
seorang lalu berpamit meninggalkan tempat itu walaupun hidangan belum sempat disuguhkan
semua. Hanya tinggal Lai-taijin yang masih berada di situ karena ditahan-tahan oleh Ciu Wangwe.
“Harap taijin sudi memaafkan kami dan tolonglah keluarga kami dari kemarahan Wangtaijin
dan Ma-ciangkun. Saya tidak akan melupakan budi kebaikan taijin.” Berkali-kali Ciu Lok
Tai memohon kepada wakil kepala daerah Kanton itu yang mengangguk-angguk sambil
tersenyum-senyum, apa lagi ketika hartawan itu menyerahkan sebuah kantong terisi potonganpotongan
emas !
“Ah, tak perlu sungkan-sungkan, saudara Ciu,” katanya meringis malu-malu kucing.
“Akan kuusahakan agar kemarahan mereka mereda. Mereka tadi tentu hanya dikuasai oleh
perasaan marah saja. Jangan khawatir. Biar aku pulang dulu dan eh …….. anu ……..
persediaanku tinggal sedikit ……..”
Ciu Lok Tai tersenyum lega. “Ah, jangan khawatir, taijin, akan saya kirim besok. Akan
saya pilihkan yang murni dan paling baik.”
“Terima kasih, terima kasih ........” sambil tersenyum ramah pembesar itu lalu
meninggalkan rumah keluarga Ciu dengan keretanya yang sudah menanti di luar.
Ciu Lok Tai lalu memanggil Gan Ki Bin dan Lok Hun, dua orang tamu bekas jagoanjagoannya
yang masih berada di situ. Dua orang ini juga merasa khawatir sekali dan segera
mengikuti Ciu Wan-gwe bersama puterinya yang masuk ke dalam ruangan belakang. Setelah
tiba di situ, Ciu Wan-gwe menegur puterinya.
“Semua ini gara-gara engkau, Kui Eng. Kenapa engkau tidak dapat menahan diri dan
sampai melukai pengawal Wang-taijin, bahkan membikin malu Ma-ciangkun yang menjadi
Pedang Naga Kemala > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com 175
sahabat baikku ? Mereka adalah orang-orang yang berkedudukan tinggi di Kan-ton ! Engkau
mencari perkara saja !”
Kui Eng mengerutkan alisnya, tidak senang disalahkan oleh ayahnya. “Ayah, apakah aku
harus membiarkan saja orang menghinaku dan kurang ajar kepadaku ? Jangankan baru para
pembesar Kanton, biar dia dari istana sekalipun, kalau kurang ajar tentu akan kuhajar dia !”
“Ssttt, tahan tuh mulutmu !” Ayahnya membentak, akan tetapi tidak melayani anaknya
yang sudah pergi meninggalkan ruangan itu dengan marah. Dia tahu akan kekerasan hati
puterinya dan melihat betapa lihainya anak itu sekarang, diapun tidak mau membikin ribut.
Bagaimanapun juga, setelah Tee-tok pergi, dia harus mengandalkan kepandaian puterinya itu
untuk keselamatan dirinya dan keluarganya.
“Harap kalian suka bermalam di sini, dan besok tolong kirimkan candu yang pilihan
kepada Lai-taijin. Hatiku masih tegang dan khawatir, harap kalian temani aku malam ini.”
***
Pada sore hari itu, seorang pemuda memasuki sebuah rumah makan di kota Tung-kang.
Pemuda ini berpakaian sederhana sekali, membawa sebuah buntalan pakaian, tubuhnya sedang
tegap, dadanya bidang dan wajahnya yang tampan membayangkan kesabaran dan kebijaksanaan.
Pakaiannya seperti pakaian seorang petani, akan tetapi melihat gerak-geriknya, dia seperti bukan
petani dusun dan cara dia menerima sambutan pelayan dan duduk di kursinya menunjukkan
bahwa dia adalah seorang yang sopan. Pemuda ini memang bukan orang sembarangan walaupun
nampak sederhana sekali karena dia adalah Tan Ci Kong ! Baru saja Ci Kong memasuki kota
Tung-kang, tempat kelahirannya dan begitu memasuki pintu gerbang kota itu, hatinya dicekam
rasa haru. Dia langsung mengunjungi makam ayahnya. Akan tetapi dia tidak menangis ketika
bersembahyang di depan kuburan ayahnya yang sederhana. Juga dia tidak berjanji apa-apa
karena bimbingan yang bijaksana dari manusia sakti Siauw-bin-hud membuat batin Ci Kong
bersih dari pada benci dan dendam. Dia tahu bahwa ayahnya tewas dalam tahanan karena berani
menentang pemerintah, dan dia masih ingat betapa ayahnya disiksa oleh seorang perwira gendut
di rumah hartawan Ciu di kota Tung-kang. Akan tetapi dia tidak menaruh hati dendam.
Berulang kali Siauw-bin-hud memberi wejangan kepadanya, meyakinkan hatinya bahwa dendam
dan benci adalah penyakit yang meracuni badan dan batin sendiri. Sebagai seorang pendekar
tentu saja dia boleh bertindak mempergunakan kepandaiannya untuk menentang yang jahat dan
membela yang benar, akan tetapi semua tindakan itu sama sekali salah kalau dilandasi kebencian
dan dendam.
Setelah duduk bersila sampai berjam-jam lamanya di depan kuburan ayahnya, dan tahutahu
siang telah berganti senja, diapun meninggalkan makam itu dan karena perutnya terasa lapar,
dia lalu memasuki sebuah rumah makan di ujung jalan. Tidak ada seorangpun di kota itu yang
mengenalnya. Dia dahulu baru berusia tujuh tahun ketika pergi meninggalkan kota itu, dan kini
dia telah berusia hampir duapuluh tahun. Tentu saja tidak ada yang tahu bahwa pemuda
sederhana ini adalah putera tunggal Tan Siucai atau Tan Seng yang namanya dikenal oleh seluruh
penduduk Tung-kang, bahkan terkenal pula sampai ke Kan-ton sebagai seorang sasterawan
Pedang Naga Kemala > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com 176
miskin yang gagah berani dan patriotik. Terutama sekali kaum patriot dan orang-orang gagah,
amat menghormati nama Tan Siucai itu.
Restoran itu tidak begitu ramai. Ketika Ci Kong masuk dan duduk di sudut, di situ hanya
ada empat orang yang sedang makan minum di meja tengah, akan tetapi ketika mereka
menyebut-nyebut nama Ciu Wan-gwe mengingatkan dia akan hartawan yang pernah memukuli
ayahnya bersama seorang perwira gendut, dan nama Ciu Wan-gwe memang dikenal di seluruh
penduduk Tung-kang, termasuk dia sendiri. Sambil diam-diam makan pesanan nasi dan sayur,
tanpa menoleh, Ci Kong memasang telinga mendengarkan.
“Luar biasa sekali puteri Ciu Wan-gwe itu. Betapa mudahnya ia mengalahkan pria-pria
yang lihai itu !”
“Benar, ia memang cantik jelita, lihai dan kaya raya. Akan tetapi aku berani tanggung ia
tidak akan mudah memperoleh jodohnya.”
“Eh, kenapa kau bilang begitu, A-kao ?”
“Bayangkan saja. Siapa berani sembarangan melamar anak orang yang paling kaya di
Tung-kang ? Pula, kepandaiannya demikian hebat, salah-salah yang menjadi suaminya bisa
dibunuhnya !”
Terdengar empat orang itu tertawa lirih. “Dan ayahnya tentu tidak mengijinkan ia
menikah.”
“Lho ! Kenapa begitu ?”
“Masa kau tidak tahu, A-piu ! Ayahnya masih gila perempuan, tentu memikirkan diri
sendiri, mana mau memikirkan jodoh anaknya ?”
“Kabarnya banyak korban gadis-gadis dan istri-istri muda di tangan Ciu Wan-gwe,”
terdengar suara lirih akan tetapi masih dapat ditangkap oleh telinga Ci Kong. “Bahkan enci adik
Phoa yang menjadi kembang di kampung belakang pasar itupun kini menjadi miliknya.”
“Memang benar, baru beberapa hari yang lalu. Habis, ayahnya menjadi setan candu sih,
maka anak-anaknya ditukar dengan candu.”
“menjijikkan benar ! Kaki tangan Ciu Wan-gwe itu selalu mengincar keluarga yang ada
wanita-wanita cantiknya, lalu kepala keluarga dilolohi candu sampai menjadi ketagihan dan kalau
sudah begitu, anak atau bininya sendiri akan dijual untuk memperoleh candu.”
“Banyak orang bunuh diri setelah dipaksa melayani hartawan itu, yang oleh suaminya
ditukar dengan candu.”
“Ssttt, sudahlah. Untuk apa membicarakan hal itu ? Kalau terdengar anaknya, hiiiih,
sekali tangan yang kecil mungil itu bergerak, nyawa kita akan melayang !”
Pedang Naga Kemala > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com 177
Mendengar percakapan ini, timbul kemarahan dalam hati Ci Kong. Kiranya hartawan Ciu
itu masih saja mengedarkan candu yan dulu amat ditentang ayahnya. Dan di sepanjang
perjalanan bersama susiok-couwnya, diapun mendengar betapa candu makin mencengkeram
kehidupan rakyat jelata. Ayahnya juga tewas akibat menentang candu yang merusak rakyat.
Diam-diam dia mengepal tinju. Aku harus memperingatkan Ciu Wan-gwe itu, pikirnya. Bukan
untuk membalas dendam ayahnya. Sama sekali tidak. Hanya untuk memperingatkan hartawan
itu agar jangan mengedarkan candu di antara rakyat jelata, dan membuka mata hartawan itu
betapa buruk akibatnya bagi rakyat. Kalau hartawan itu tidak mengindahkan peringatannya, baru
dia akan turun tangan menghajarnya agar jera dan menurut.
Akan tetapi, Ci Kong tidak mau bertindak sembrono. Sebelum melaksanakan niatnya,
malam itu dia melakukan penyelidikan, bertanya-tanya pada penduduk di perkampungan. Dan
apa yang didengarnya dari keterangan orang-orang kampung bahkan melampaui apa yang
didengarnya di restoran itu. Ciu Wan-gwe memang menjadi semacam raja kecil di Tung-kang,
mengandalkan hartanya, mengandalkan jagoan-jagoan dan tukang pukulnya, dan mengandalkan
pengaruhnya terhadap semua pembesar setempat, bahkan para pembesar di kanton. Hampir
semua penduduk membencinya, tentu saja kecuali mereka yang memperoleh keuntungan dari
hartawan ini. Dan makin sedih hati Ci Kong mendengar dan melihat kenyataan bahwa sebagian
besar penduduk Tung-kang telah tercengkeram candu ! Dan tempat pemadatan tersebar di
seluruh kota. Bahkan ketika dia berjalan-jalan, bau madat terbakar menyambut hidungnya di
mana-mana, bau yang memuakkan sekali. Banyak pula dilihatnya orang-orang yang kurus
kering, dengan pandang mata sayu, dengan senyum aneh di bibir, berjalan seperti mayat hidup
tanpa semangat. Mereka itulah pecandu-pecandu yang sudah berat keadaannya, karena racun
candu sudah memenuhi tubuh sampai ke darahnya.
Pada keesokan harinya, pagi-pagi sekali Ci Kong sudah keluar dari rumah penginapan di
mana dia bermalam. Buntalan pakaiannya dia tinggalkan di kamar penginapan itu dan dia lalu
berjalan kaki menuju ke rumah gedung megah milik Ciu Wan-gwe. Pernah satu kali dia
memasuki gedung itu, duabelas tahun yang lalu, ketika dia mohon ampun untuk ayahnya yang
disiksa di situ. Dia mengepal tinju dan menekan hatinya. “Tidak, bukan untuk itu aku datang ke
sana !” bantahnya sendiri.
Ketika dia tiba di depan pintu gerbang gedung itu, ternyata pintu gerbang itu telah
terbuka. Dengan tabah dia lalu masuk begitu saja karena tidak nampak ada orang. Dia akan
berterus terang minta bertemu dengan Ciu Lok Tai dan langsung saja memberi peringatan kepada
hartawan itu untuk menyadarkannya.
“Heii ! Siapa kamu dan mau apa kamu masuk kesini ?” Tiba-tiba terdengar teguran suara
yang bengis. Ci Kong mengangkat muka dan melihat dua orang laki-laki baru saja keluar dari
dalam gedung. Seorang yang bertubuh tinggi besar, di pinggangnya tergantung sebatang pedang,
sikapnya angkuh dan galak. Orang ke dua bertubuh gendut, menyeringai dengan penuh ejekan
dan di pinggang orang ini tergantung sebatang payung sehingga nampak lucu sekali. Mereka ini
berusia kurang lebih limapuluh tiga tahun dan melihat pakaian mereka yang rapi, dengan topi
batok hitam, mudah diduga bahwa mereka tentu orang-orang yang memiliki kedudukan. Yang
gendut itu membawa sebuah peti kecil yang berukir indah, dan yang menegurnya adalah si tinggi
besar yang galak. Ci Kong tidak tahu bahwa dua orang ini adalah jagoan-jagoan yang pernah
Pedang Naga Kemala > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com 178
bekerja sebagai pengawal-pengawal Ciu Wan-gwe dan yang kini sudah menjadi pengawal di kota
Kanton. Mereka adalah Gan Ki Bin, yang tinggi besar, dan Lok Hun, yaitu yang berperut gendut.
Dengan sikap tenang Ci Kong menjura kepada dua orang itu dan menjawab dengan suara
tenang pula, “Maaf, karena tidak ada orang maka saya masuk ke dalam pintu gerbang. Saya
datang untuk bertemu dengan Ciu Lok Tai, harap ji-wi suka membantu saya dan memberi tahu
kepada Ciu Wan-gwe.”
“Kau datang mau pinjam uang ?” tanya Lok Hun yang gendut perutnya. Pandang
matanya menghina sekali.
Tentu saja Ci Kong merasa marah, akan tetapi dia tetap tenang. Sebagai murid Siauwbin-
hud, tidak mudah kemarahan menguasai batin pemuda ini. Dia menggeleng kepalanya tanpa
menjawab.
“Kalau tidak mau hutang, apakah mengemis ?” kini Gan Ki Bin yang membentak setelah
mengamati pakaian pemuda itu. Seorang petani saja mau apa minta bertemu dengan Ciu Wangwe
kalau bukan mau hutang atau mengemis ? Pertanyaan ini lebih menyakitkan hati lagi, akan
tetapi sungguh luar biasa pemuda itu. Dia tetap tenang dan sama sekali tidak kelihatan marah.
Akan tetapi, seperti juga tadi, dia menggeleng kepala.
“Bocah dusun ! Kalau bukan hutang atau mengemis, habis mau apa orang macam engkau
ini berani pagi-pagi datang mengganggu Ciu Wan-gwe ? Agaknya engkau mempunyai niat
busuk. Mau mencuri, ya ?”
“Urusan saya tidak ada sankut pautnya dengan ji-wi. Harap tolong panggilkan Ciu Wangwe,
biar saya bicara sendiri dengan dia.”
“Aku tidak sudi memanggilkan !” bentak Gan Ki Bin.
“Dan aku tidak memperbolehkan kau masuk !” bentak Lok Hun, keduanya siap untuk
memukul pemuda dusun yang berani mengganggu sepagi itu. Mereka baru saja keluar dari dalam
gedung Ciu Wan-gwe sambil membawa peti berisi candu murni untuk diserahkan kepada Laitaijin,
wakil kepala daerah Kanton.
Karena pintu gerbang itu terbuka lebar-lebar, maka keributan yang terjadi itu menarik
perhatian orang-orang yang lewat dan sebentar saja sudah banyak orang berdiri di luar pintu dan
nonton keributan itu. Di antara mereka terdapat seorang pemuda yang bertubuh tinggi besar dan
berpakaian seperti seorang ahli silat. Pemuda ini berusia kurang lebih duapuluh tahun, tubuhnya
tinggi besar, sepasang matanya mencorong penuh wibawa dan dia tersenyum-senyum melihat
keributan yang terjadi di sebelah dalam pintu gerbang itu. Pemuda itu bukan lain adalah Ong Siu
Coan ! Seperti kita ketahui, Ong Siu Coan diijinkan turun gunung oleh Thian-tok dan bersama
sutenya, Gan Seng Bu, dia turun gunung dan melakukan perjalanan berpisah. Dia hendak
mencari Koan Jit, suhengnya yang melarikan Giok-liong-kiam. Akan tetapi di sepanjang
perjalanan, Ong Siu Coan mendengar tentang pemberontakan yang terjadi dimana-mana. Juga
dia banyak mendengar tentang orang-orang kulit putih yang menyelundupkan candu dan
meracuni rakyat dengan benda itu. Sejak kecil dia terlahir di antara orang-orang yang berjiwa
Pedang Naga Kemala > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com 179
patriot, yang menentang pemerintah Mancu yang dianggap sebagai penjajah. Maka, melihat
kelakuan orang-orang kulit putih itu, dia menjadi marah sekali. Apa lagi melihat betapa madat
telah mendatangkan kesengsaraan yang amat hebat bagi rakyat jelata. Dia yang sejak kecil
bercita-cita menjadi patriot, merasa tidak senang dan terutama hal ini ditujukan kepada
pemerintah Mancu yang dianggapnya bersekongkol dengan orang-orang kulit putih untuk
meracuni dan merusak rakyat demi untuk keuntungan mereka sendiri.
Ketika dia tiba di kota Tung-kang, dia melakukan penyelidikan dan mendengar bahwa
Ciu Wan-gwe menjadi orang terpenting dan terkaya, orang yang menjadi pedagang candu dan
suka berhubungan dengan para pejabat dan orang-orang kulit putih. Dia menjadi tertarik dan
ingin menyelidiki. Kebetulan sekali, pada pagi hari itu dia melihat ribut-ribut ketika lewat di
depan gedung Ciu Wan-gwe dan ketika dia menyelinap di antara rombongan orang yang
berkerumun di luar pintu gerbang, dia melihat pula keributan yang terjadi di antara seorang
pemuda gagah dengan dua orang yang agaknya merupakan petugas-petugas keamanan di gedung
itu. Maka dengan hati tertarik sekali dia mengikuti peristiwa keributan itu, di mana si pemuda
gagah ingin bertemu dengan Ciu Wan-gwe dan disambut dengan ucapan-ucapan bernada
menghina oleh dua orang petugas itu. Melihat peristiwa itu, segera timbul kecondongan di hati
Siu Coan untuk membantu pemuda gagah itu, akan tetapi dia hanya nonton sambil tersenyum
karena dia dapat menduga bahwa pemuda yang nampak tenang dan berani itu tentu bukan orang
sembarangan. Bukan orang sembarangan kalau sudah berani menentang Ciu Wan-gwe yang
amat ditakuti oleh penduduk kota itu. Maka diapun hanya menyelinap ke depan saja untuk dapat
nonton lebih jelas.
Sementara itu, melihat sikap dua orang yang kasar dan menghinanya, Ci Kong
mengerutkan alisnya akan tetapi dia tetap tenang dan sama sekali tidak memperlihatkan rasa tidak
senangnya.
“Bukankah ji-wi hanya merupakan orang-orangnya Ciu Wan-gwe saja ? Kenapa ji-wi
bersikap begini kasar ? Aku ingin berjumpa dan bicara dengan Ciu Wan-gwe sendiri, tidak ada
sangkut pautnya dengan ji-wi. Kalau ji-wi tak mau memanggilkan juga tidak mengapa, aku bisa
masuk dan mencarinya sendiri.”
“Apa ? Kau berani memaksa masuk ?” bentak Gan Ki Bin yang bertubuh tinggi besar.
“Apa kau sudah kepingin mampus ?”
“Hayaaaa, bocah petani busuk ini perlu apa dilayani ?” Lok Hun menyeringai. “Pukul
saja biar dia tahu rasa. Anjing kalau tidak cepat dipukul tentu akan menggonggong terus, pukul
dia biar dia lari sambil mengempit buntutnya, ha – ha !”
Gan Ki Bin yang memang wataknya berangasan, mendengar kata-kata kawannya itu
mengayun tangan kirinya yang besar dan berat, menampar ke arah muka Ci Kong sambil berkata,
“Pergilah, kau menjemukan kami !”
Tamparan itu kuat sekali dan kalau mengenai pipi orang tentu akan membuat pipi itu
bengkak, bahkan mungkin giginya akan rontok. Memang Gan Ki Bin ini memiliki tenaga yang
besar, sesuai dengan tubuhnya yang tinggi besar, dan karena dia memiliki ilmu silat lumayan,
maka gerakannya itu selain kuat, juga amat cepat.
Pedang Naga Kemala > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com 180
“Wuuuttt .......... !” Akan tetapi pukulan itu lewat di samping muka Ci Kong karena
pemuda ini dengan sedikit miringkan kepala saja sudah dapat mengelak. Karena tamparannya
luput, Gan Ki Bin menjadi marah sekali. Dia tahu bahwa di luar pintu gerbang banyak orang
nonton dan memang dia dan kawannya sengaja membiarkan orang-orang itu nonton agar mereka
melihat betapa dia dan kawannya menghajar pemuda lancang ini. Akan tetapi, tamparannya
luput dan hal ini dianggap memalukan dirinya.
“Bocah kampungan, berani engkau melawanku !” Bentaknya dengan berang.
Demikianlah watak orang yang mengandalkan kekuasaan untuk menekan yang bawah. Orang
dupukul mengelak dianggap melawan. Maunya sih orang-orang macam Gan Ki Bin dan Lok
Hun ini, kalau memukul orang lain supaya orang itu menerima saja, jangan sekali-kali mengelak
atau membakang !
Karena tamparannya luput, Gan Ki Bin menjadi semakin marah dan kini tangan kanannya
yang dikepal besar dan kuat itu menonjok ! Jotosan yang amat keras meluncur ke arah dagu Ci
Kong yang kalau tepat mengenai sasaran dapat membuat orang seketika roboh pingsan dengan
tulang rahang retak atau patah-patah !
“Wuuuttt .......... !” Untuk kedua kalinya, pukulan itu luput karena dapat dielakkan
dengan amat mudahnya oleh Ci Kong. Hal ini membuat Gan Ki Bin menjadi semakin marah.
“Hemm, engkau manusia yang tidak patut dikasihani lagi !” bentaknya dan majulah dia
dengan berangnya, menghujankan serangan pukulan dan tendangan.
Mengalah ada batasnya, demikian pikiran Ci Kong dan melihat sebuah pukulan keras
menuju ke arah dadanya, dia menyambutnya dengan sentilan jari telunjuk.
“Tukk .......... !” Telunjuk itu menyentil ke arah kepalan tangan dan tiba-tiba orang tinggi
besar itu memekik kesakitan.
“Aduh – duh – duhh .......... !” Dengan tangan kirinya dia memegang dan menggosokgosok
kepalan tangan kanan yang kena disentil jari telunjuk pemuda itu karena terasa nyeri bukan
main, rasa nyeri yang menjalar melalui lengan itu dan seperti menusuk-nusuk jantung.
“Aku tidak ingin ribut dengan ji-wi, melainkan hendak bertemu dengan Ciu Wan-gwe.”
Ci Kong masih mencoba mengendurkan mereka dengan kata-kata. Akan tetapi kini Lok Hun
yang gendut itupun sudah menjadi marah sekali melihat betapa kawannya tidak berhasil malah
kesakitan dan melihat betapa wajah orang-orang yang berada di luar pintu gerbang berseri dan
senyum-senyum bermunculan di antara mereka !
“Anjing ini tidak boleh diberi ampun !” Bentaknya dan tangan kanannya sudah melolos
senjata payungnya yang aneh ! Juga Gan Ki Bin sudah mencabut pedangnya ! Kini dua orang
itu menghadapi Ci Kong dengan senjata di tangan dan sikap mereka mengancam sekali ! Melihat
betapa keributan itu kini memuncak dan dua orang yang mereka kenal amat galak dan kejam itu
kini mencabut senjata, semua penonton merasa khawatir akan keselamatan pemuda itu. Hanya
Pedang Naga Kemala > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com 181
Siu Coan yang masih nonton sambil tersenyum karena dia mengenal orang pandai dan yakin
bahwa biarpun bersenjata, dua orang galak itu tidak akan mampu manandingi pemuda tenang itu.
Yang menarik perhatian Siu Coan adalah peti kecil yang dikempit di tangan kiri si gendut. Dia
dapat menduga bahwa peti kecil itu tentu berisi benda yang amat berharga dan timbul niatnya
untuk memiliki peti kecil itu. Dia mulai sekarang harus mengumpulkan harta kekayaan karena
dia maklum bahwa perjuangan yang dicita-citakannya melawan penjajah membutuhkan banyak
tenaga pasukan dan untuk itu diperlukan sekali harta untuk pembiayaannya.
“Hemm, kalian mencari penyakit sendiri,” kata Ci Kong, kini maklum bahwa sikap
lembut dan damai tidak mungkin dapat mempengaruhi dua orang galak ini. Diapun bersiap untuk
menghajar dua orang ini agar jera, agar lain kali tidak lagi bersikap sewenang-wenang menghina
orang lain.
Dua orang pengawal itu tadinya mengharapkan pemuda itu ketakutan agar mereka dapat
menghinanya untuk menebus kekalahan tadi. Akan tetapi melihat sikap Ci Kong malah
menantang, keduanya segera menggerakkan senjata dengan niat membunuh ! Gan Kin Bin sudah
menggerakkan pedangnya membacok ke arah kepala Ci Kong, sedangkan dari sebelah kiri, Lok
Hun menggerakkan senjata payungnya yang menyembunyikan pedang sebagai gagang itu untuk
menusuk perut pemuda itu ! Serangan maut yang dilakukan hampir berbareng.
Akan tetapi, betapapun lihainya, tentu saja dua orang kasar ini sama sekali bukan
tandingan pemuda yang sudah digembleng oleh Siauw-bin-hud sampai matang itu. Biarpun
diserang dengan pedang dan payung pedang, Ci Kong tidak menjadi gentar atau gugup.
Sikapnya masih tenang saja, akan tetapi ketika kedua senjata itu sudah dekat menyambar
tubuhnya, tiba-tiba tubuhnya berkelebat dan lenyap dari depan kedua orang pengeroyoknya. Dia
telah mempergunakan ginkang yang amat hebat dan tahu-tahu dua orang pengeroyok yang
kehilangan lawan itu, sebelum mereka sempat menarik kembali senjata mereka, mengeluarkan
pekik kaget dan disusul suara berkerontangan karena senjata mereka terlepas dari tangan yang
tiba-tiba saja menjadi lemas kehilangan tenaga ketika Ci Kong menampar pundak kanan mereka.
Ci Kong yang memang ingin memberi hajaran kepada dua orang kasar itu, melanjutkan
dengan tamparan pada leher Gan Ki Bin yang kembali mengeluarkan pekik kesakitan dan
tubuhnya terpelanting ke atas lantai. Lok Hun juga terkejut, akan tetapi tahu-tahu lututnya telah
ditendang dan diapun roboh menelungkup, peti kecil yang dikempitnya tadi terjatuh. Dia teringat
akan benda itu dan dengan nekat dia lalu menubruk petinya. Gan Ki Bin sudah bangkit lagi,
menubruk dan dia disambut dengan sebuah tamparan yang membuat dia roboh kembali dengan
kepala menghantam tihang.
“Brukkk .......... !” Tiba-tiba semua orang menjadi kaget, termasuk Ci Kong karena
seperti seekor burung saja, dari luar pintu gerbang melayang tubuh seorang gadis cantik. Dari
luar pintu gerbang, tubuh itu melayang seperti terbang melampaui kepala para penonton di depan
pintu, dan kini tubuh itu langsung menerjang Ci Kong dengan bentakan nyaring dan halus tadi.
Ci Kong masih mencengkeram punggung baju Lok Hun dengan tangan kanan, dan melihat
serangan yang demikian aneh dan cepat, diapun menyambut dengan tonjokan tangan kirinya.
Pedang Naga Kemala > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com 182
Gadis yang cantik jelita dengan pakaian mewah itu cepat mengembangkan kedua
lengannya, yang kiri memukul ke arah dada dengan tangan terbuka, sedangkan tangan kanannya
siap menotok atau menangkis.
Sekali ini Ci Kong terkejut. Gadis itu memiliki ginkang yang amat luar biasa, dan itu saja
sudah membuktikan bahwa dia berhadapan dengan seorang gadis yang lihai bukan main. Dan dia
terpesona oleh kecantikan yang menyolok itu. Dalam keadaan tubuh di udara, gadis itu kini
malah mengancamnya dengan serangan tangan kiri ke arah dada, bukan sembarangan serangan
karena dari tangan kiri gadis itu keluar tenaga yang mendatangkan angin bercuitan ! Terpaksa
dia melemparkan tubuh Lok Hun ke kanan.
“Bresss .......... !” Dengan kerasnya tubuh si gendut itu menabrak dinding dan diapun
terkulai lemas, pingsan seperti temannya yang juga sudah setengah mampus itu.
“Dukkk !” Dua tenaga sinkang yang sama kuatnya, yang disalurkan melalui tangan
masing-masing, bertemu di udara dan akibatnya, tubuh dara itu terpental sampai jauh ke belakang
di mana secara indah sekali ia berjungkir balik dan turun ke atas tanah dengan tegak. Ci Kong
sendiri merasa betapa tangannya tergetar hebat oleh pertemuan tenaga tadi dan mengertilah dia
bahwa gadis itu benar-benar lihai bukan main. Di lain pihak, gadis itupun terkejut dan maklum
bahwa pemuda yang mampu menghajar dua orang kepercayaan ayahnya sampai jatuh pingsan ini
adalah seorang yang amat lihai maka iapun mengamati dengan penuh perhatian.
“Keparat, berani kau mengacau rumah kami ! Siapa kau ?” bentak gadis itu yang
ternyata adalah Ciu Kui Eng. Sebagai murid datuk sakti Tee-tok yang sudah tamat belajar, tentu
saja ia lihai sekali dan tingkat kepandaiannya tidak berada terlalu jauh di bawah tingkat Ci Kong.
Ci Kong juga merasa heran. Kiranya gadis cantik yang amat lihai ini masih keluarga Ciu
Wan-gwe dan tiba-tiba saja teringatlah dia akan peristiwa duabelas atau tigabelas tahun yang lalu.
Ketika ayahnya pergi memenuhi panggilan Ciu Wan-gwe untuk membuatkan tulisan indah, dia
menyusul dan melihat ayahnya dihajar oleh Ciu Wan-gwe dan seorang perwira. Ayahnya itu
agaknya akan dibunuh dan mungkin dia sendiripun akan dibunuh oleh perwira itu kalau saja tidak
muncul seorang anak perempuan yang dengan beraninya menentang hartawan yang menjadi
ayahnya itu untuk melepaskan ayahnya dan dia sendiri ! Dan gadis cilik itu dahulu mencelanya
karena dia berlutut mintakan ampun untuk ayahnya. Mengertilah dia bahwa agaknya inilah gadis
cilik yang sudah menunjukkan sikap hebat dahulu itu, kini telah menjadi seorang dara yang selain
cantik jelita, juga amat gagah perkasa. Maka, wajah Ci Kong menjadi merah dan diapun cepat
menjura.
“Maaf, aku datang bukan untuk mengacau. Aku ingin bertemu dan bicara dengan Ciu
Wan-gwe, akan tetapi dua orang ini selain melarangku, juga menghina bahkan menyerangku.”
Terdengar suara hiruk-pikuk dan bermunculanlah pengawal-pengawal dari depan dan
belakang yang jumlahnya belasan orang. Mereka itu sudah mencabut senjata dan mengurung
pendapa gedung itu. Melihat datangnya banyak pengawal, para penonton di depan pintu gerbang
menjadi panik dan tadipun para pengawal sudah mendorong mereka ke kanan kiri ketika sebagian
dari mereka datang dari luar. Para penonton itu menjauhkan diri, masih nonton akan tetapi dari
jarak jauh.
Pedang Naga Kemala > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com 183
“Bohong ! Dia bohong, nona !” tiba-tiba terdengar si gendut Lok Hun berseru. Si gendut
ini hidungnya berdarah dan dahinya membenjol sebagai akibat menubruk dinding tadi dan kini
dia sudah siuman dan begitu sadar tadi dia mencari-cari peti kecil terisi madat murni. Akan tetapi
peti kecil itu telah lenyap. Karena itu, dia cepat membantah ketika Ci Kong membela diri di
depan nona majikannya.
“Dia datang tentu untuk merampas peti kecil berisi madat murni yang kami bawa itu !”
Kui Eng mengerutkan alisnya. Dia tiba-tiba memandang penuh perhatian kepada pemuda
ini, seorang pemuda petani akan tetapi yang ternyata memiliki kepandaian amat tinggi. Dan
anehnya, ia merasa seperti pernah mengenal pemuda ini, namun lupa lagi entah kapan dan di
mana.
“Benarkah engkau datang hanya untuk mencuri sepeti kecil madat ?” bentaknya kepada
Ci Kong.
Ci Kong menggeleng kepala. “Aku paling benci madat, untuk apa aku merampas
madat?”
Sementara itu, Lok Hun yang kehilangan madat itu menjadi khawatir sekali, lalu dia
keluar bertanya-tanya. Di antara penonton ada yang melihat bahwa peti kecil itu tadi dilarikan
seorang pemuda yang sebaya dengan Ci Kong.
Mendengar ini, Lok Hun berlari memasuki pintu gerbang di mana Ci Kong masih
dihadapi Kui Eng dan dikurung oleh para pengawal.
“Nona, benar saja ! Dia sengaja melawan kami dan seorang temannya telah mengambil
madat itu dan dilarikan. Keroyok dia ! Tangkap dan paksa dia mengaku di mana candu itu
disembunyikan temannya !”
Teriakan ini menggerakkan para pengawal yang segera mengeroyok Ci Kong. Mereka
menggunakan golok dan pedang, dan bagaikan hujan senjata-senjata tajam itu menyambarnyambar
ke arah Ci Kong. Karena merasa tidak perlu lagi berdebat, Ci Kong mengamuk. Kaki
tangannya bergerak seperti angin cepatnya dan sebentar saja, enam orang pengawal terlempar ke
kanan kiri. Melihat ini, Kui Eng merasa kagum dan tertarik, maka iapun cepat maju sendiri,
menyerang pemuda itu dengan kedua tangan kosong. Akan tetapi dua tangan kosongnya itu jauh
lebih lihai dari pada belasan golok dan pedang para pengawal. Kedua tangan bercuitan seperti
melengking-lengking ketika menyambar dan tubuh dara itupun bergerak secepat burung walet
menyambar-nyambar. Ci Kong terpaksa harus mencurahkan seluruh perhatiannya menghadapi
serangan-serangan gadis ini yang benar-benar amat berbahaya, sedangkan serangan para
pengawal yang mengeroyoknya cukup dihalaunya kalau sudah dekat saja. Terjadilah
pengeroyokan yang seru, di mana Ci Kong yang berkelahi dengan Kui Eng itu dikeroyok dan
dikurung dengan ketat. Bahkan kini datang sepasukan keamanan kota yang telah diberi tahu dan
pemuda itu dikurung oleh musuh yang tidak kurang dari limapuluh orang jumlahnya. Andaikata
di situ tidak ada Kui Eng, agaknya dengan mudah Ci Kong akan merobohkan seluruh
pengeroyoknya. Akan tetapi, kelihatan Kui Eng membuat dia terdesak dan terhadap gadis puteri
Ciu Wan-gwe ini Ci Kong tidak sampai hati untuk menggunakan tangan maut ! Dia masih
Pedang Naga Kemala > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com 184
teringat bahwa bagaimanapun juga, dapat dikatakan bahwa gadis ini pernah menyelamatkan
nyawanya dan nyawa ayahnya di gedung ini duabelas tahun yang lalu.
Sementara itu, Ong Siu Coan yang melarikan peti kecil, setelah tiba di sebuah parit yang
sunyi, lalu membuka peti dan memeriksa isinya. Tadipun dia melihat peti itu terbuka dan isinya
benda hitam-hitam yang tidak dikenalnya. Kini dia memeriksanya dan bukan main kecewanya
ketika mendapat kenyataan bahwa peti itu tidak terisi benda berharga seperti yang diduganya,
melainkan benda yang diduganya tentu candu yang dihebohkan itu. Dia pernah mendengar
tentang madat, maka walaupun belum pernah melihat sendiri, dia dapat menduga dari baunya
bahwa ini tentu madat. Dia sudah hendak membuang peti itu ketika nampak tumpukan tahi
kering di parit itu. Dia tersenyum nakal, lalu sebagian dari candu itu dibuangnya di parit dan
sebagai gantinya, dia menggunakan kayu untuk mengambil kotoran itu dan mencampurnya
dengan sisa madat. Karena benda itu warnanya hitam, maka kotoran itupun dapat bercampur dan
tidak kelihatan lagi. Peti kecil itu masih penuh madat, hanya bedanya, madatnya kini tidak murni
lagi bahkan telah bercampur tahi kering !
Ketika Siu Coan kembali ke tempat tadi, dia terkejut melihat betapa pemuda perkasa itu
telah dikurung oleh puluhan orang pengawal dan perkelahian sengit dan seru masih terjadi antara
pemuda itu dengan gadis cantik yang tadi datang menyerang.
Siu Coan meloncat ke depan, melemparkan peti kecil ke tempat semula dan tanpa diminta
diapun mengamuk. Tubuh para pengeroyok bergelimpangan seperti sekumpulan daun diamuk
badai ! Dan akibat amukannya memang hebat dan menggetarkan hati para pengeroyok. Berbeda
dengan Ci Kong yang merobohkan para pengeroyok tanpa membunuh atau mendatangkan luka
parah, semua orang yang roboh oleh hantaman Siu Coan ini tentu roboh untuk tidak bangun
kembali karena mereka tewas oleh pukulan-pukulan maut yang disebar Siu Coan ! Tentu saja
para pengawal menjadi gentar dan kepungan itupun menjadi kocar-kacir.
“Sobat yang gagah, jangan takut aku membantumu !” Siu Coan berseru dengan gembira
ketika dia berhasil mendekati pemuda itu dan diapun menubruk ke depan menyerang Kui Eng.
Gadis ini terkejut. Kiranya pemuda ke dua yang baru datang ini tidak kalah lihai dibandingkan
pemuda pertama. Ketika ia menangkis pukulan pemuda jangkung itu, lengannya terasa dingin
sampai meresap ke tulang. Dara inipun maklum bahwa kepandaian dua orang pemuda ini
sungguh hebat dan kalau ia sendiri yang melawan mereka, akan sukar memperoleh kemenangan.
Melihat munculnya seorang pemuda bertubuh jangkung yang membantunya dan
membunuh banyak pengawal, Ci Kong terkejut dan tidak senang. Pemuda yang datang ini
memang gagah perkasa, akan tetapi hatinya terlalu kejam, menyebar maut seperti itu, pikirnya.
Diapun diam saja tidak menjawab, hanya mengambil keputusan untuk segera pergi saja agar
pemuda jangkung itu tidak membunuh orang lebih banyak lagi.
“Dar – darr .......... !!”
Siu Coan dan Ci Kong terkejut sekali dan cepat mereka menggunakan ginkang untuk
berloncatan mengelak ketika terdengar letusan-letusan itu. Mereka menengok dan kiranya dari
dalam gedung itu keluar seorang laki-laki berusia enampuluh tahun lebih, berpakaian mewah dan
di tangan kanan orang ini nampak sepucuk pistol yang masih mengeluarkan asap. Orang itu
Pedang Naga Kemala > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com 185
membidik-bidikkan pistolnya, mencari-cari dua orang pemuda itu yang dengan cerdik telah
berloncatan di antara para pengawal sehingga sukarlah bagi orang itu untuk menembak lagi.
“Ayah, jangan .......... !” Kui Eng, gadis itu berteriak karena ia khawatir kalau-kalau
peluru pistol ayahnya nyasar ke mana-mana. Sementara itu Siu Coan mengajak Ci Kong untuk
pergi dari tempat berbahaya itu.
“Sobat, mari kita pergi. Tunggu apa lagi ?” teriaknya. Ci Kong sudah mendengar pula
dari susiok-couwnya tentang senjata api yang amat berbahaya itu. Dia tidak gentar menghadapi
senjata itu, akan tetapi di situ terdapat gadis yang lihai itu dan banyak pengawal, kini ditambah
lagi tuan rumah yang pandai mempergunakan senjata api. Maka diapun mengikuti Siu Coan
yang sudah melompat pergi keluar dari halaman gedung Ciu Wan-gwe.
Setelah berada jauh dari kota Tung-kang, di kaki bukit yang sunyi, barulah mereka
berhenti dan ternyata tidak ada yang mengejar mereka lagi. Siu Coan berhenti dan memandang
kepada Ci Kong penuh perhatian. Tadi dia telah mempergunakan ilmu berlari cepat, akan tetapi
pemuda yang nampaknya seperti seorang petani ini mampu mengimbangi kecepatan larinya. Hal
itu membuat dia penasaran dan dia mengerahkan tenaganya sehingga tubuhnya bergerak cepat
meluncur seperti terbang saja. Akan tetapi, pemuda itu tetap saja berada di sampingnya !
“Sobat, engkau sungguh lihai sekali. Akan tetapi kalau perkelahian itu dilanjutkan, salahsalah
kita bisa menjadi makanan peluru panas. Senjata api itu amat berbahaya, apa lagi di tangan
orang yang tidak terlatih, tembakannya bisa ngawur sehingga kalau dielakkan malah terkena.
Dan gadis itupun lihai bukan main !”
Ci Kong juga memandang pemuda tinggi besar itu dengan penuh perhatian. Jelas bahwa
dia berhadapan dengan seorang pendekar yang tangguh, akan tetapi pendekar ini terlalu kejam
dan mudah membunuh orang. Teringat betapa pemuda di depannya ini tadi telah membunuh
banyak orang, mungkin sampai belasan orang, diam-diam dia bergidik dan tidak menyetujui
perbuatan itu.
“Sobat yang gagah perkasa, kenapa engkau tadi membunuhi orang ? Prajurit-prajurit itu
hanya petugas, kenapa kaubunuhi mereka yang tidak bersalah itu ?” tegurnya dengan suara
penuh penyesalan.
Ong Siu Coan mengerutkan alisnya dan memandang dengan heran. “Kenapa tidak ?
Kalau bisa, aku bahkan akan membunuh semua orang tadi ! Makin banyak dapat membunuh
pasukan pemerintah lebih baik. Bukankah pasukan yang datang belakangan tadi adalah pasukan
keamanan, antek-antek pemerintah penjajah ? Aku ingin membasmi penjajah, aku ingin
mengusir penjajah Mancu dari tanah air kita !” Tiba-tiba saja pemuda tinggi besar itu mengepal
tinju, matanya bersinar-sinar dan sikapnya penuh semangat. Ci Kong sudah banyak mendengar
tentang para pendekar yang berjiwa patriot, yang ingin menentang dan mengusir penjajah Mancu
dan dia menduga bahwa tentu di depannya ini seorang di antara para pendekar seperti itu.
Tiba-tiba Siu Coan memandang tajam kepadanya seperti teringat akan sesuatu dan
pemuda tinggi besar itu lalu memegang pergelangan tangannya. Ci Kong cepat mengerahkan
Pedang Naga Kemala > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com 186
tenaganya karena tangan yang mencengkeram itu kuat sekali. Bisa patah-patah tulang lengannya
kalau dia tidak mengerahkan tenaga untuk melindungi lengannya.
“Kau ………. ! Ah, kau murid hwesio gendut Siauw-bin-hud ………. !” tiba-tiba
pemuda jangkung besar itu berseru nyaring.
Ci Kong juga teringat sekarang, akan tetapi dia bersikap tenang-tenang saja dan
menjawab, “Bukan murid beliau, melainkan cucu murid. Dan engkau adalah murid Thian-tok.
Dan engkau telah membantuku tadi.” Ci Kong mengingatkan, merasa aneh juga karena yang
membantunya keluar dari kepungan pasukan tadi adalah murid Thian-tok, seorang datuk sesat,
seorang iblis di antara Empat Racun Dunia yang sudah amat terkenal kejahatan mereka.
“Aku lupa bertanya ! Kau siapakah ? Apakah engkau orang yang pro kepada pemerintah
Mancu ?” Tiba-tiba sinar matanya menjadi bengis sekali, mendekati kebuasan sinar mata seekor
harimau. “Engkau bukan memusuhi pemerintah, melainkan memusuhi hartawan itu ? Kenapa ?
Siapa engkau ?”
Ci Kong memandang ke arah lengannya yang dicengkeram, sikapnya tenang dan dengan
lembut dia berkata, “Bukan begini caranya orang bicara dengan sikap bersahabat,” katanya.
Siu Coan melepaskan cengkeramannya dan tersenyum. “Engkau memang hebat. Nah,
mari kita bicara, sebelumnya lebih baik kita saling berkenalan. Namaku Ong Siu Coan, dan
engkau tentu sudah dapat menduga bahwa aku membenci penjajah Mancu. Sekali waktu aku
akan menyusun pasukan untuk menghantamnya dan mengusirnya dari tanah air. Sekarang
katakan, siapa engkau dan apa yang kaulakukan tadi di gedung hartawan itu ?”
“Namaku Tan Ci Kong, seorang pengembara yang tidak memiliki tempat tinggal yang
tetap. Di Tung-kang aku mendengar tentang Ciu Lok Tai yang menjadi pedagang madat. Aku
melihat kesengsaraan rakyat oleh madat yang terkutuk itu, maka aku ingin menegur dan
memperingatkan Ciu Lok Tai agar dia menghentikan pengedaran madat yang meracuni rakyat
jelata.”
“Ha, engkau seorang pendekar pembela rakyat ?”
Ci Kong menggeleng. “Aku tidak berani memakai sebutan pendekar, akan tetapi aku
akan selalu membela yang lemah tertindas, membela kebenaran dan menentang kejahatan, di
manapun aku berada. Untuk itulah bertahun-tahun aku mempelajari ilmu silat.”
Ong Siu Coan mengangguk-angguk, lalu tersenyum mengejek. “Engkau hanya mengurus
soal-soal kecil. Apa artinya tindakan orang-orang sepertimu ini yang disebut pendekar ? Di
negara ini entah terdapat berapa puluh ribu hartawan pedagang candu seperti she Ciu itu.
Bagaimana engkau akan dapat memperingatkan mereka semua ? Pula, apakah kau yakin mereka
akan mentaati dan mundur ? Dan berapa puluh laksa lagi mereka yang sudah kecanduan madat.
Apakah engkau akan mendatangi mereka satu demi satu untuk dibujuk agar jangan menghisap
madat lagi, dan apakah mereka akan mau mentaatimu ? Ah, sobat yang gagah, bukan begitu
caranya kalau mau menolong rakyat.”
Pedang Naga Kemala > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com 187
“Lalu bagaimana ?”
“Marilah, bantu aku membentuk pasukan. Kita tentang pemerintah penjajah, karena
pemerintah penjajah yang bersalah, penjajah Mancu yang mendatangkan orang-orang kulit putih
itu, yang mendatangkan candu. Kita basmi penjajah Mancu dan sekaligus membasmi orangorang
kulit putih, maka candu tidak akan masuk ke negara kita dan rakyat akan terbebas dari
pengaruh racun itu. Bukan dengan cara menentangnya satu demi satu !”
Ci Kong mendengarkan denga hati penuh kagum. Orang ini memiliki cita-cita yang amat
besar dan muluk, dan bagaimanapun juga dia dapat melihat kebenaran ucapan itu, dapat
menghormati cita-cita itu. Akan tetapi, urusan pemberontakan tidak menarik hatinya.
“Dalam hal ini, jalan hidup kita bersimpang, kawan. Aku belum pernah berpikir tentang
perjuangan dan pemberontakan, akan tetapi aku hanya ingin mengulurkan tangan kepada mereka
yang tertindas dan menentang si penindas dan mereka yang melakukan kejahatan. Akan tetapi,
aku berjanji bahwa kalau ada kesempatan kita saling bertemu, aku tentu akan membantumu.”
Ong Siu Coan menarik napas panjang. “Sayang, tenagamu amat berharga untuk suatu
perjuangan. Akan tetapi, yang dipentingkan dalam perjuangan melawan penjajah adalah
semangat, bukan sekedar ilmu berkelahi. Baiklah, dan apakah yang kaulakukan tadi di gedung
hartawan itu ?”
“Sudah kukatakan bahwa aku hanya akan memperingatkan hartawan itu agar jangan
mengedarkan candu.”
“Hanya itu ?”
“Hanya itu,” kata Ci Kong sambil meraba-raba hati sendiri apakah ada terbawa rasa
dendam mengingat betapa ayahnya dahulu pernah dipukuli di rumah hartawan Ciu, akan tetapi
dengan lega dia melihat kenyataan bahwa dendam itu tidak ada pada hatinya.
Ong Siu Coan tertawa. “Ha – ha – ha, semua jerih payahmu itu tiada gunanya. Kukira
apa yang kulakukan tadi lebih berguna.”
“Membunuhi pasukan itu ?”
“Bukan hanya itu. Tadi ketika engkau berkelahi, peti kecil yang dipegang si gendut
terjatuh. Aku mengambil peti kecil itu dan tahukah engkau apa isinya ?”
Ci Kong menggeleng.
“Isinya candu murni ! Dan aku membuang setengahnya, lalu kuganti dengan tahi kering
yang kuaduk menjadi satu dengan candu. Ha – ha, ingin aku melihat muka orang yang
menghisap candu itu sekarang, ha – ha !”
Ci Kong juga tertawa, akan tetapi dia memandang heran. Orang ini bercita-cita besar dan
muluk, akan tetapi apa yang dilakukannya itu, mencampuri candu dengan tahi kering, sungguh
kekanak-kanakan sekali. Dan mengingat bahwa orang gagah ini adalah murid seorang datuk
Pedang Naga Kemala > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com 188
sesat seperti Thian-tok, diam-diam diapun menjadi bingung sendiri. Murid datuk sesat menjadi
patriot ?
“Sudahlah, sobat Ong Siu Coan. Aku akan pergi sekarang dan selamat tinggal. Mudahmudahan
cita-citamu yang tinggi itu akan dapat berhasil.”
“Tentu saja berhasil. Eh, Tan Ci Kong, apakah engkau diutus oleh gurumu yang gendut
itu untuk mencari Giok-liong-kiam ?”
Pertanyaan yang tiba-tiba ini mengejutkan Ci Kong, akan tetapi dengan tenang dia
menggeleng. “Tidak, akan tertapi kalau aku bertemu dengan saudara seperguruanmu itu, tentu
akan kucoba untuk merampas kembali Giok-liong-kiam untuk dikembalikan kepada yang
berhak.”
Ong Siu Coan mengangguk-angguk. Sejenak timbul keinginan hatinya untuk menyerang
pemuda murid Siauw-bin-hud ini, akan tetapi keinginan ini ditekannya. Tidak perlu menanam
permusuhan dengan pemuda ini, dan diapun belum yakin benar akan dapat mengalahkannya.
“Hemm, biarlah di lain kesempatan saja aku akan menguji kelihaianmu. Aku masih mempunyai
urusan yang lebih besar. Selamat tinggal !” Siu Coan lalu membalikkan tubuhnya dan berlari
cepat meninggalkan Ci Kong. Pemuda ini lalu melanjutkan pula perjalanannya, menuju Kanton.
***
Apa yang dikatakan Ong Siu Coan kepada Ci Kong, yaitu bahwa perbuatannya
mencampur madat dengan tahi kering itu lebih penting dari pada tindakan Ci Kong, memang
terbukti. Perbuatannya yang nakal kekanak-kanakan itu telah menimbulkan akibat yang amat
hebat terhadap keluarga hartawan Ciu Lok Tai. Dan juga ketika dia mengatakan bahwa dia ingin
sekali melihat muka orang yang menghisap madat bercampur kotoran itu, andaikata dia benarbenar
menyaksikan, tentu dia akan merasa puas dan geli karena yang menjadi korban
kenakalannya justeru adalah seorang pembesar Mancu yang dibencinya !
Seperti kita ketahui, dua orang kepercayaan Ciu Wan-gwe, yaitu Gan Ki Bin dan Lok
Hun, sedang berangkat meninggalkan rumah gedung hartawan itu untuk melaksanakan tugas
mengantarkan sepeti kecil madat kepada wakil kepala daerah Kanton yang oleh Ciu Wan-gwe
diharapkan untuk dapat melindunginya dan membantu meredakan kemarahan Wang Taijin dan
Ma-ciangkun yang merasa terhina dalam pesta itu oleh Kui Eng. Dan baru saja mereka muncul
dari dalam gedung pagi itu, mereka berjumpa dengan Ci Kong sehingga terjadilah keributan.
Setelah keributan itu selesai dengan larinya dua orang pemuda yang mengacau itu, mereka
berdua menemukan kembali peti candu. Giranglah hati mereka melihat bahwa peti itu masih
penuh. Bergegas mereka berganti pakaian lalu melaksanakan tugas yang tertunda itu, naik kuda
menuju ke Kanton.
Ketika Gan Ki Bin dan Lok Hun tiba di rumah gedung Lai-taijin, yaitu wakil kepala
daerah Kanton, mereka disambut dengan kegembiraan besar oleh Lai-taijin. Pembesar ini adalah
seorang pecandu yang sudah tidak ketolongan lagi, sudah mendarah daging. Agaknya racun
madat sudah menyusup sampai ke tulang sumsum, sehingga sehari saja tidak mengisap madat,
dia akan tersiksa hebat. Dia sudah kehabisan madat yang baik, dan sudah berhari-hari dia
Pedang Naga Kemala > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com 189
terpaksa mengisap madat yang tidak murni lagi, kurang memuaskan. Oleh karena itu, melihat
kedatangan dua orang utusan Ciu Wan-gwe yang membawa sepeti kecil madat murni,
kegirangannya memuncak.
“Cepat ambilkan pipaku, akan kunikmati sekarang juga, ha – ha !” katanya dan para
pembantunya cepat mengambilkan pipa madat yang segera diisi dengan tembakau yang
dicampuri madat murni yang diambil dari peti kecil itu. Dua orang utusan Ciu Wan-gwe masih
berlutut di situ. Mereka berdua juga merasa girang sekali, dengan wajah berseri mereka melihat
betapa pembesar itu bergembira dan segera mencoba madat murni yang mereka bawa. Tak salah
lagi, sebentar lagi mereka tentu akan keluar dengan saku berat dan sarat oleh hadiah-hadiah
berharga !
Jari-jari tangan orang yang ketagihan madat tak dapat bergerak tetap, melainkan agak
gemetar, dan kedua tangan wakil kepala daerah itupun gemetar ketika dia sendiri mencampurkan
madat murni dari peti itu dengan tembakau, lalu dimasukkanya ke dalam mulut pipanya.
Mencampur tembakau dengan madat, lalu memasukkan tembakau madat itu ke dalam pipa,
semua ini dilakukan dengan jari-jari tangan yang terlatih dan terbiasa, dan di dalam pekerjaan
inipun terkandung kenikmatan besar ! Terdapat keluwesan dan seolah-olah mengandung “seni”
tersendiri. Memasukkan tembakau madat ke mulut pipa, tidak boleh terlalu padat karena hal itu
akan menyukarkan penyedotan dan terbakarnya ramuan itu kurang lancar, juga tidak boleh terlalu
sedikit sehingga sudah habis terbakar sebelum isapan penuh memasuki paru-paru. Kemudian
menyalakan tembakau itu dengan mendekatkan mulut pipa pada api lilin yang tersedia. Lilinnya
juga terbuat dari api sumbu lemak, tidak berbau malam. Semua gerakan ini disertai bayangan
betapa akan nikmat rasanya kalau asap candu itu memasuki paru-paru. Hangat-hangat menyusup
melalui kerongkongan, memasuki paru-paru dan dari dada yang terasa hangat itu akan menjalar
rasa nikmat ke seluruh tubuh. Kalau hawa itu sudah memasuki kepala, maka tubuh akan terasa
ringan melayang-layang, pikiran akan menjadi kosong dan bebas seperti seekor burung dara yang
terbang di angkasa, panca indera akan menjadi demikian tajam dan peka sehingga warna-warna
akan nampak lebih cerah di mata, suara-suara akan terdengar lebih merdu di telinga, dan hidung
akan mencium keharuman dan kesedapan suasana yang biasanya tidak pernah terasa. Sorga di
dunia !
Dua orang utusan dari Tung-kang itu dengan wajah berseri dan mulut tersenyum
mengikuti semua gerak-gerik pembesar itu yang duduk di kursi. Dengan kedua mata dipejamkan,
akhirnya Lai-taijin membakar mulut pipa pada api kecil di atas meja, lalu disedotnya pipa itu.
Tembakau madat terbakar, nampak bara api pada mulut pipa itu dan tercium bau asap yang aneh.
Lai-taijin menyedot terus, sekuatnya karena dia menginginkan agar semua tembakau itu cepat
terbakar dan asapnya memenuhi rongga dadanya.
“Eh-ehh .......... okhh .......... ugh-ugh-uuggghhh .......... !” Tiba-tiba pembesar itu
tersentak, duduknya tegak dan matanya mendelik, terbatuk-batuk dan tangan kirinya mencekik
leher. Asap yang keluar dari mulutnya berbau aneh dan memuakkan, dan pembesar itu terus
batuk-batuk sampai kemudian muntah-muntah. Tentu saja para pengawal menjadi terkejut sekali,
juga dua orang utusan itu memandang dengan muka pucat.
“Pranggg .......... !” Cawan terisi minuman itupun terpukul oleh tangan pembesar itu dan
jatuh ke atas lantai.
Pedang Naga Kemala > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com 190
“Prakkk .......... !” Pipanya dibantingnya dan pembesar itu dengan muka merah seperti
udang direbus dan mata melotot, mulut masih mengeluarkan liur, segera memeriksa isi peti kecil.
Merabanya, lalu menciumnya dan kembali dia muntah-muntah.
“Keparat ! Jahanam busuk ! Tangkap mereka, cambuk sampai mereka mengaku
bagaimana mereka berani memberi madat bercampur kotoran busuk ini kepadaku !” perintahnya.
Kasihan sekali dua orang utusan itu. Dengan tubuh menggigil mereka minta ampun akan
tetapi para pengawal telah menyeret mereka dan merekapun menjadi korban cambukan sampai
kulit belakang tubuh mereka pecah-pecah dan mereka roboh pingsan saking tak kuat menahan
nyeri.
“Brakk ………. !” Lai Taijin menggebrak meja. “Keparat Ciu Lok Tai ! Berani sekali
menghinaku dengan mengirim madat bercampur kotoran !”
Peristiwa itu menimbulkan akibat yang amat hebat, sama sekali tidak disangka oleh Ong
Siu Coan sendiri yang membuat ulah. Karena merasa amat malu, marah dan menganggap bahwa
hartawan Ciu sengaja menghinanya, Lai Taijin lalu pergi menghadap Wang Taijin yang menjadi
atasannya. Tentu saja dia tidak bicara tentang peristiwa candu kiriman itu, melainkan bicara
tentang Ciu Wan-gwe yang dianggap kurang ajar berani menghina para pembesar dan pejabat
Kanton.
“Kalau aku tidak ingat bahwa dia telah banyak melakukan kebaikan terhadap kita, tentu
aku sudah mencapnya sebagai pemberontak dan mengerahkan pasukan untuk menangkap dan
menghukumnya,” demikian Wang Taijin berkata setelah mendengar pancingan wakilnya tentang
peristiwa di gedung Ciu Wan-gwe itu. “Akupun mendapatkan malu besar sekali ketika kepala
pengawalku dipermainkan oleh anak perempuannya. Sungguh keterlaluan sekali gadis itu.”
“Akan tetapi, walaupun dia telah banyak melakukan kebaikan terhadap kita, sebaliknya
kalau tidak ada kita yang mendukung, apakah dia mampu menjadi pedagang madat yang
memonopoli pemasukan madat dari orang-orang kulit putih ? Agaknya, yang dia berikan kepada
kita belum ada seperseratus keuntungan yang didapatkannya karena dukungan kita,” bantah Lai
Taijin. “Orang seperti dia itu patut dihajar !”
“Kuharap engkau dapat bersabar,” kata Wang Taijin. “Hartawan Ciu mempunyai
pengaruh yang cukup besar. Tanpa sebab tidak dapat kita bertindak apa-apa terhadap dia karena
di kota rajapun dia mempunyai hubungan. Sebaiknya kita mulai sekarang waspada dan mencari
kesempatan baik untuk membalas penghinaannya.”
“Harap taijin tidak usah khawatir. Saya akan menghubungi komandan Ma Cek Lung.
Biarpun tadinya Ma-ciangkun merupakan sahabat baik Ciu Wan-gwe, akan tetapi peristiwa
penghinaan terhadap dirinya di depan umum dalam pesta itu tentu membuat Ma-ciangkun malu
dan tentu dia berpihak kepada kita.”
Demikianlah, Lai Taijin yang merasa sakit hati sekali itu mulai membuat persekutuan
dengan Wang Taijin dan Ma-ciangkun untuk menanti kesempatan baik agar mereka dapat
Pedang Naga Kemala > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com 191
membalas dendam terhadap Ciu Wan-gwe yang mereka anggap telah melakukan penghinaan
besar terhadap diri mereka.
Dan kesempatan itupun tidak lama kemudian tibalah ! Pada waktu itu, madat telah
tersebar luas dan mencengkeram makin banyak korban di antara rakyat, juga menyusup ke kota
raja dan mempengaruhi para pembesar. Akan tetapi, yang paling parah keadaannya adalah
daerah Kanton, di mana orang-orang kulit putih berada dan kota ini merupakan sarang mereka,
merupakan sumber penyebaran candu. Bukan hanya mempengaruhi badan, akan tetapi juga
dengan adanya candu, para pembesar berkomplot dengan para pedagang candu yang amat
menguntungkan itu. Para pejabat menerima sogokan, para pedagang candu menumpuk
keuntungan besar, dan rakyat yang menjadi korban. Hal ini membuat rakyat menjadi semakin
gelisah. Kekayaan dikuras, ditukar dengan candu yang makin banyak dibutuhkan orang. Para
tuan tanah menekan ke bawah dan rakyat petani yang dicekik agar menghasilkan uang lebih
banyak.
Madat memang merupakan racun yang amat berbahaya. Akibatnya bukan hanya merusak
tubuh, akan tetapi juga merusak watak dan kepribadian bangsa. Para pembesar menjadi korup,
penyogokan terjadi di mana-mana. Orang yang sudah dicengkeram racun madat, sukar untuk
dapat pulih kembali. Dan madat merupakan satu-satunya kebutuhan mereka karena benda inilah
yang dapat membuat mereka seolah-olah merasakan sorga selagi hidup di dunia. Kalau orang
sedang menghisap madat, asap madat itu membuat tubuh melayang-layang rasanya, segala
kekhawatiran, segala kedukaan, segala macam penderitaan batinpun lenyaplah. Batin menjadi
kosong dan bebas, seperti gelembung sabun yang indah melayang-layang di udara, dan perasaan
kosong dan bebas ini mendatangkan kenikmatan yang luar biasa, mendatangkan kebahagiaan
yang selama ini didambakan orang.
Racun madat itu sesungguhnya hanya memabokkan orang. Hanya membuat
penghisapnya mabok, lupa segala dan dalam keadaan batin kosong memang orang dapat
merasakan kebebasan dan kebebasan batin inilah pangkal rasa bahagia itu. Bebas dari segala
macam perasaan takut, iri, marah, senang, susah dan sebagainya lagi. Akan tetapi, kebebasan
yang diciptakan oleh pengaruh madat ini hanyalah sementara saja. Keburukannya jauh lebih
banyak dari pada kebaikan yang diberikannya. Karena badan dan batin menjadi kecanduan,
kalau tidak diberi madat, tersiksalah badan dan batin itu, bahkan bisa membawa kematian
mengerikan. Kebebasan macam itu hanyalah kebebasan buatan, yang diciptakan karena keadaan
mabok dan lupa diri.
Keadaan yang kacau ini terasa sampai ke kota raja dan sampai pula ke dalam istana. Para
penasihat Kaisar Tao Kuang cepat menghadap kaisar dan melaporkan tentang keadaan yang amat
parah itu.
“Menurut penyelidikan hamba, rakyat sudah menjadi gelisah sekali, para pejabat
kehilangan kesetiaan mereka dan mudah digosok oleh para pedagang. Kalau dibiarkan berlarutlarut,
hamba khawatir kalau pemberontakan di antara rakyat makin menjadi-jadi. Pula, harta
kekayaan rakyat akhirnya akan dikuras habis oleh orang-orang kulit putih, ditukar dengan madat
yang hanya mendatangkan malapetaka.” Demikian antara lain para menteri itu melapor dan
menasihati kaisar.
Pedang Naga Kemala > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com 192
Setelah mendengarkan banyak peringatan dan nasihat para menterinya, akhirnya Kaisar
Tao Kuang mengambil keputusan yang tegas. Keputusan yang kemudian terkenal sekali dalam
sejarah sebagai permulaan perang yang dinamakan Perang Madat. Kaisar Tao Kuang
mengangkat seorang jenderal yang bernama Lin Ce Shu sebagai seorang penguasa, seorang
Gubernur untuk membawa pasukan besar pergi ke Kanton dan bertindak terhadap pengedar
candu yang memang tadinya sudah dilarang itu. Lin Ce Shu adalah seorang pembesar yang
paling benci dengan perdagangan candu yang dimasukkan oleh para pedagang kulit putih. Oleh
karena itu, begitu menerima kekuasaan, dia bergerak cepat. Dikerahkannya pasukan besar yang
secara kilat dan serentak tanpa ada kebocoran, menuju ke Kanton !
***
Gedung itu bagus sekali, coraknya masih merupakan gedung hartawan di kota Kanton,
akan tetapi perabot-perabot rumahnya sudah berlainan sama sekali dengan gedung para hartawan
Kanton. Perabot-perabot rumah itu asing, kursinya besar-besar, ruangannyapun lebar-lebar.
Melihat keadaan perabot dan hiasan rumah itu, mudah diketahui bahwa yang tinggal di situ
bukanlah seorang penduduk aseli Kanton, melainkan seorang asing.
Memang demikianlah. Pada waktu itu, banyak pedagang besar Inggeris yang tinggal di
Kanton dengan jabatan-jabatan tertentu, mewakili persatuan pedagang Inggeris yang disebut
English East India Company. Pada waktu itu, kekuasaan Inggeris di India mulai ditanamkan dan
pasukan-pasukan Inggeris di India mulai merebut kemenangan-kemenangan dan wilayah
kekuasaannya di India semakin meluas. Karena di India terdapat banyak bahan pembuatan
madat, maka mengalirlah madat itu ke Kanton dan di sinipun terdapat perwakilan dari persatuan
pedagang itu.
Rumah gedung itu ditinggali oleh keluarga Hell-way. Tuan Hellway ini seorang opsir
yang menjadi pembantu kapten Charles Elliot yang pada waktu itu menjadi penguasa Inggeris di
Kanton. Opsir Hellway bertugas menghubungi pedagang-pedagang Kanton, oleh karena itu dia
pandai berbahasa daerah dan sudah belasan tahun dia tinggal di Kanton bersama isteri dan
seorang puterinya. Ketika mereka pindah ke Kanton, puteri tunggalnya baru berusia empat
tahun. Kini Sheila, demikian nama puterinya, berusia tujuhbelas tahun. Karena ayah dan ibunya
pandai berbahasa daerah, maka Sheila juga mempelajari bahasa ini dari para pelayan sehingga
iapun pandai berbahasa daerah. Bukan itu saja, Sheila seringkali mendengar dongeng dari para
pelayannya, tentang pendekar-pendekar yang gagah perkasa, tentang ilmu silat yang tinggi, dan
dari beberapa orang pengawal yang bekerja pada ayahnya, ia malah sempat mempelajari ilmu
silat, yang walaupun tidak terlalu mendalam, namun cukup membuat ia pandai menjaga diri dan
tubuhnya juga selalu berada dalam keadaan sehat dan kuat.
Sheila telah menjadi seorang gadis yang cantik jelita dan lembut. Rambutnya berwarna
kuning emas, panjang dan berombak amat indahnya. Sepasang matanya biru laut, tubuhnya,
seperti biasa tubuh wanita barat, padat dan tinggi semampai, lebih tinggi dari pada tubuh gadisgadis
pribumi. Juga ia tidak pemalu seperti gadis pribumi, melainkan berani menentang pandang
mata pria dengan tenang walaupun keadaan keluarga membuat ia beranggapan bahwa bangsanya
adalah bangsa yang lebih maju dan lebih pandai dari pada bangsa pribumi yang kadang-kadang
aneh dan sukar untuk dapat dimengertinya itu. Akan tetapi karena ia bergaul erat dengan para
pelayan, sedikit banyak ia tahu akan keadaan atau cara hidup bangsa pribumi yang penuh dengan
Pedang Naga Kemala > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com 193
tradisi dan ketahyulan itu. Juga ia tahu bahwa Tiongkok berada dalam penjajahan Bangsa Mancu
yang dahulunya hanya merupakan suku bangsa liar di utara yang kecil saja, namun yang kini
telah menjadi kelompok yang kuat. Tahu pula ia bahwa di mana-mana terjadi pemberontakan
dari para patriot rakyat yang tidak rela melihat tanah air dijajah oleh orang Mancu. Lebih lagi ia
tahu segalanya tentang merajalelanya madat yang amat jahat, yang meracuni rakyat jelata dan
yang membuat hatinya merasa amat tidak senang karena ia tahu bahwa madat itu didatangkan
oleh bangsanya, oleh English East India Company. Lebih lagi, ayahnya menjadi opsir, menjadi
pembantu Kapten Charles Elliot, jelas bahwa ayahnya mempunyai peranan besar sekali dalam
masalah penyebaran madat yang diam-diam amat dibencinya itu. Ketika ia mendengar cerita dari
seorang pelayan tentang seorang suami yang menukarkan kehormatan isterinya dengan madat,
tentang seorang ayah yang menjual anak gadisnya karena ketagihan madat, dan orang yang
membunuh diri karena ketagihan madat dan tidak mempunyai uang lagi untuk membelinya,
hatinya memberontak dan pagi hari itu segera menemui ayahnya.
Opsir Hellway amat mencinta puterinya karena memang dia hanya mempunyai anak satusatunya
itu. Dia sedang duduk bersama isterinya, siap untuk berangkat ke kantor ketika Sheila
masuk ke dalam ruangan itu dengan wajah cemberut dan muka agak pucat karena semalam gadis
itu tidak dapat tidur, gelisah membayangkan semua peristiwa mengerikan yang terjadi di antara
rakyat jelata gara-gara madat.
“Selamat pagi, papa dan mama,” katanya kurang gairah.
“Selamat pagi, sayang. Eh, kenapa wajahmu nampak muram dan agak pucat ? Apakah
engkau sakit, Sheila ?” tanya ayahnya dengan nada lembut dan ibunya lalu merangkul dan
menciumnya.
Gadis itu menggeleng kepala, lalu melepaskan diri dari rangkulan ibunya dan iapun duduk
di atas kursi berhadapan dengan mereka. “Papa, kemarin aku mendengar cerita yang mengerikan
sekali,” katanya.
Papanya tersenyum memandang puterinya. “Ah, mengapa engkau perlu memusingkan
segala macam cerita burung ?”
“Bukan cerita burung, papa, melainkan cerita tentang orang-orang gagah yang menjual
isteri atau anak perempuannya, orang-orang yang membunuh diri dan melakukan kejahatankejahatan,
semua itu karena gara-gara madat.”
“Ehh ………. ?” Opsir Hellway memandang tajam kepada anaknya dan mengerutkan
alisnya.
“Apa maksudmu ?”
“Papa, semua itu memang terjadi. Madat telah meracuni rakyat, madat telah membikin
sengsara rakyat di sini ……….”
“Sheila !” ibunya berseru. Omongan apa yang kaukeluarkan itu ? Madat mendatangkan
keuntungan besar kepada bangsa kita, mendatangkan kemakmuran kepada bangsa kita !”
Pedang Naga Kemala > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com 194
“Mama, apa artinya keuntungan besar, kemakmuran kalau datang melalui kesengsaraan
orang lain ?”
“Sheila ! Siapa yang bercerita kepadamu ? Orang itu perlu kuhajar !” tiba-tiba Opsir
Hellway berseru marah.
“Tidak ! Tidak ada yang bercerita kepadaku. Aku mendengar omongan orang di jalan.”
Sheila cepat menjawab, tidak ingin melihat pelayan yang bercerita itu dihukum ayahnya.
“Hemm, lalu apa maksudmu ?” bentak opsir itu yang merasa tersinggung sekali dengan
ucapan-ucapan puterinya tadi.
“Papa, aku sungguh merasa tidak rela melihat papa menjadi seorang pejabat yang
mewakili English East India Company yang memperdagangkan candu, yang memasukkan madat
beracun itu ke negeri ini, meracuni rakyat jelata dan ..........”
“Cukup !” Opsir Hellway membentak marah, mukanya menjadi merah sekali. “Sadarkah
kau akan omonganmu tadi ? Segala yang kau makan dan pakai sampai kau dewasa ini, semua
kebutuhan kita sekeluarga, dicukupi karena perdagangan madat, dan engkau berani berkata
demikian ? Sheila, mengertilah bahwa salah mereka sendiri yang suka menghisap madat kalau
keadaan mereka menjadi demikian. Kita hanya melayani saja sebagai pedagang, melayani
kebutuhan mereka dan mendapatkan keuntungan. Itu sudah wajar, bukan ?”
“Tidak, papa ! Kalau rakyat tidak dikenalkan dengan madat, mereka takkan menjadi
pecandu ! Madat itu datang dari India dan kalau kita tidak mendatangkannya dari India, tentu
rakyat tidak pernah mengenalnya.”
“Belum tentu ! Kaukira orang-orang India sendiri tidak akan membawanya ke sini ? Dan
orang-orang sini sendiri yang membutuhkannya dapat pula mencari ke India.”
“Bagaimanapun juga, aku tidak senang melihat papa menjadi opsir yang mengurus
perdagangan madat yang terkutuk itu ……….” Sheila lalu menangis.
“Hemm, engkau harus kami kirim ke Inggeris. Kalau dibiarkan tinggal terus di sini
engkau akan menjadi rusak, pikiranmu akan diracuni oleh pikiran-pikiran pribumi. Engkaupun
perlu melanjutkan pelajaran ke sana.” Akhirnya Opsir Hellway berkata dan dia bertukar pandang
dengan isterinya yang merasa setuju dengan pendapatnya.
“Biar berada di manapun juga, hatiku akan merana kalau mengingat betapa di sini papa
melakukan pekerjaan yang amat tidak baik itu ..........”
“Kau tahu apa tentang baik dan tidak baik dalam suatu pekerjaan ?” bentak ayahnya dan
melihat suaminya marah-marah, nyonya Hellway cepat mendekati suaminya dan
menyabarkannya.
Pedang Naga Kemala > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com 195
“Sheila, masuklah ke kamarmu, jangan membikin marah papamu,” kata nyonya itu dan
Sheila dengan mata masih merah karena tangisnya tadi, lalu lari memasuki kamarnya. Ia merasa
berduka sekali melihat kenyataan bahwa ayahnya mempunyai pekerjaan yang demikian kejam
dan jahatnya.
Ketika Opsir Hellway yang masih marah karena ulah puterinya itu hendak berangkat ke
kantor, tiba-tiba datang seorang utusan dari atasannya yang menyerahkan surat dari Kapten
Charles Elliot. Opsir Hellway membaca surat itu dan seketika wajahnya menjadi pucat.
“Baik, aku akan segera pergi menghadap Kapten Elliot !” katanya kepada utusan itu yang
segera memberi hormat dan pergi.
“Ada urusan apakah ?” tanya isterinya yang merasa tidak enak melihat suaminya nampak
terkejut dan gugup itu.
“Celaka ! Kaisar laknat itu telah melakukan tindakan kekerasan ! Kota Kanton ini telah
dikepung oleh pasukan yang besar dari kota raja dan semua madat yang berada di kota ini harus
diserahkan dengan ancaman hukuman mati ! Ini perang ! Perang .......... !”
Sheila agaknya mendengar pula ribut-ribut itu dan ia datang berlari ke ruangan itu.
“Papa ! Mama ! Aku mendengar bahwa kota ini dikepung tentara kerajaan ………. !”
Opsir Hellway teringat akan sikap puterinya tadi. “Nah, puaslah sekarang hatimu. Kita
semua akan celaka. Berkemaslah kau dan ibumu, siapkan pakaian dan barang berharga, siapa
tahu kita harus pergi mengungsi. Aku mau ke kantor. Sheila, jangan kau keluar dari rumah,
keadaan gawat dan berbahaya.”
Apakah yang telah terjadi ? Kiranya malam tadi, panglima atau Gubernur Lin Ce Shu
bersama pasukannya yang besar telah tiba dan mengurung kota Kanton, menguasai empat pintu
gerbang dan memerintahkan kepada pasukan keamanan di kota Kanton untuk mengumumkan
bahwa siapapun yang keluar masuk kota itu akan digeledah, bahkan semua gudang milik para
pedagang, termasuk pula milik orang-orang kulit putih, akan diperiksa dan siapapun yang
memiliki simpanan madat harus diserahkan !
Tentu saja peristiwa ini menimbulkan kegemparan hebat. Dan seperti lumrahnya setiap
peristiwa kekerasan, tentu ada yang menyambut dengan gembira akan tetapi ada pula yang
menyambut dengan duka. Yang merasa gembira adalah rakyat yang merasa tercekik oleh
beredarnya candu, juga para pendekar yang membenci keadaan itu namun mereka tidak berdaya.
Sebaliknya, yang gelisah adalah para pedagang candu, para pembesar yang melindungi mereka,
dan tentu saja para pemadatan yang khawatir akan kehilangan benda yang amat disayang itu.
Inilah kesempatan yang dinanti-nantikan oleh Wang Taijin, Lai Taijin dan Ma-ciangkun
untuk dapat membalas dendam hati mereka kepada keluarga Ciu Wan-gwe ! Mereka ini adalah
penguasa-penguasa di Kanton yang tadinya merupakan orang-orang paling rajin mendukung
orang-orang kulit putih dan para pedagang candu karena mereka itu menerima suapan dan
sogokan yang luar biasa banyaknya. Merekalah yang tadinya seperti melindungi perdagangan
candu itu. Akan tetapi, begitu pasukan kota raja datang mengepung kota Kanton dengan maksud
Pedang Naga Kemala > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com 196
menyita semua madat dan menentang perdagangan itu, para penguasa ini seketika merobah warna
muka mereka, seketika mereka itu nampak gigih dan rajin sekali melaksanakan kebijaksanaan
pemerintah ini ! Dan di dunia ini memang penuh dengan penguasa macam mereka ini, bisa
didapatkan di mana-mana. Pejabat-pejabat seperti ini seperti ular-ular kepala dua yang dapat
menggigit ke depan dan kebelakang, sikap mereka dapat berobah seperti angin, semua dilakukan
demi kesejahteraan dan kesenangan mereka sendiri.

Tag:cersil cersil indo cersil mandarin full cerita silat mandarin online cersil langka cersil mandarin lepas cerita silat pendekar matahari kumpulan cerita silat jawa cersil mandarin beruang salju. cerita silat pendekar mataharicerita silat indonesia cerita silat kho ping hoo cerita silat mandarin online cerita silat mandarin full cerita silat jawa kumpulan cerita silat cerita silat jawa pdf cerita silat indonesia gratis cerita silat jadul indonesia cerita silat indonesia pendekar rajawali sakti cersil indonesia pendekar mabuk cersil langka cersil dewa arak cerita silat jaman dulu cersil jawa download cerita silat mandarin full cerita silat mandarin online cersil mandarin lepas cerita silat mandarin pendekar matahari cerita silat jawa pdf cersil indonesia pdf cersil mandarin beruang salju kumpulan cerita silat pdf
kumpulan cerita silat cersil online
Share:
cersil...
Comments
0 Comments

Arsip Cersil

Best Cersil

Pecinta Cersil