Donasi

Buat yang punya rejeki berlebih dan merasa terhibur dengan Situs Cerita Silat Cersil Terbaik ini bisa mendonasikan bantuannya ke
No. Rekening BPD Jateng No. 2004084554
demi keberlangsungan dan keberadaan Blog Cersil Cerita Silat yang sama-sama kita cintai ini. Kritik dan Saran hub No HP.083837358519. Atas Bantuannya disampaikan Terimakasih.

Rabu, 30 Mei 2018

Cersil Dendam Sembilan Iblis Tua 2

=====
baca juga
Akan tetapi baru belasan langkah dia maju, tiba-tiba dia menahan langkahnya dan matanya terbelalak memandang ke depan karena dari depan muncul dua buah patung manusia dari kayu yang keduanya membawa tombak dan menyerbu ke depan menyerangnya! Karena lorong itu sempit, tidak leluasa untuk bergerak, maka si bayangan hitam terpaksa mundur dan bersiap-siap dengan pedang di tangan.
Maksudnya untuk mencari tempat yang luas di luar pintu agar mudah baginya untuk bergerak. Dia mundur dan tidak tahu betapa dua buah daun pintu besi itu bergerak menutup perlahan-lahan tanpa mengeluarkan suara sedikitpun.
Ketika dia tiba di ambang pintu, barulah dia menyadari datangnya bahaya, bukan dari dua buah patung kayu, melainkan dari dua buah daun pintu yang kini bergerak cepat menghimpitnya dari kanan kiri. Dalam kagetnya, si bayangan hitam melepaskan pedangnya dan menggunakan kedua tangan untuk menahan daun pintu yang menghimpitnya. Dia mengerahkan seluruh tenaganya dan berhasil menahan dua buah daun pintu, namun diapun tidak mampu membebaskan diri.
103
Dia telah terjebak, kedua tangan menahan daun pintu besi yang terus menghimpit. Bagaimanapun kuatnya, tenaganya terbatas dan tidak mungkin dia bertahan terus. Perlahan-lahan, dua buah daun pintu itu semakin menutup, kedua lengannya semakin terhimpit. Setelah lewat puluhan menit, dari mulut dan hidungnya mengalir darah, kedua tangannya sudah tertekan sampai ke kepalanya, tubuhnya sudah mulai terhimpit.
Akhirnya, setelah mengeluarkan jerit mengerikan dia terkulai. Dua buah daun pintu menutup terus, menghimpit tubuhnya sehingga ringsek dan ketika kepalanya terjepit, kepala itu mengeluarkan suara dan retak-retak. Orang itupun tewas secara mengerikan.
Jeritan tadi membangunkan Pek-liong dan enam orang pembantunya. Mereka terbangun dan berlarian menuju ke tempat itu. Melihat ada orang terjepit daun pintu dan tewas, Pek-liong menghela napas panjang, merasa heran mengapa ada orang demikian tolol berani memasuki tempat tinggalnya yang dipasangi banyak alat rahasia itu.
“Coba lihat, siapa orang yang sudah bosan hidup itu,” katanya.
Ketika para pembantunya melepaskan korban dari pintu dan membuka penutup muka, Pek-liong sendiri tidak mengenal muka yang sudah rusak karena kepalanya terjepit retak oleh daun pintu.
“Rawat dan kubur mayatnya baik-baik, dan bersihkan pintu ini,” katanya dan diapun kembali ke kamarnya.
104
Akan tetapi, peristiwa itu membuat Pek-liong-eng tidak dapat tidur. Dia duduk termenung di dalam kamarnya, menduga-duga siapa kiranya yang mengirim pembunuh ke tempat tinggalnya.
Sudah lama tidak pernah ada orang memusuhinya. Tentu saja amat sukar menduga siapa orang itu dan siapa yang menyuruhnya karena di dunia kang-ouw dia mempunyai banyak sekali musuh, atau para tokoh kang-ouw yang mendendam kepadanya. Sudah terlalu banyak penjahat dia tentang dan dia basmi sehingga tentu saja banyak yang mendendam kepadanya.
Sayang, pikirnya, kalau saja dia tahu akan munculnya pembunuh itu, tentu akan dia tangkap hidup-hidup agar dia dapat mengorek keterang darinya siapa yang mengutusnya. Dia merasa yakin bahwa orang itu hanyalah orang suruhan saja. Orang yang tewas terjepit pintu besi itu berarti hanya memiliki kepandaian biasa saja, maka tentu ada orang lain yang lebih lihai yang berdiri di belakang layar.
Membayangkan semua pengalamannya ketika dia menentang para penjahat untuk menduga siapa kiranya yang patut dia curigai, diapun teringat akan Hek-liong-li. Dan diam-diam diapun terkejut. Kalau dia diancam pembunuh, besar kemungkinannya Liong-li mengalami hal yang sama.
Selama beberapa tahun ini, mereka selalu maju bersama menentang para penjahat. Kalau ada penjahat mendendam kepadanya, maka penjahat itupun tentu mendendam kepada Liong-li. Tentu Liong-li juga mengalami ancaman penjahat, pikirnya.
105
Dia tidak mengkhawatirkan Liong-li. Dia tahu sepenuhnya betapa lihainya rekannya itu, bahkan tempat tinggal rekannya itu mengandung alat rahasia yang lebih rumit dibandingkan yang dipasang di rumahnya. Juga Liong-li mempunyai sembilan orang gadis pembantu yang boleh diandalkan.
Tidak, dia tidak mengkhawatirkan keselamatan Liong-li hanya ingin sekali tahu apakah Liong-li juga mengalami hal yang sama dan bagaimana pendapat Liong-li mengenai penyerangan itu. Dan timbullah perasaan rindu yang amat sangat kepada pendekar wanita itu.
Jelas ada orang yang berusaha untuk membunuhnya, pikir Pek-liong. Sungguh tidak enak mengetahui ada orang yang mengarah nyawanya tanpa mengetahui siapa orangnya. Kiranya tidak akan mungkin ada orang dapat menyusup ke dalam tempat tinggalnya, dan satu-satunya cara untuk memancing harimau keluar dari tempat sembunyinya, hanyalah dengan memberinya umpan. Kalau ada orang menghendaki kematiannya, maka orang itu harus di pancing keluar dan umpannya adalah dirinya sendiri.
Demikianlah, mulai hari berikutnya, setiap pagi Pek-liong berjalan-jalan keluar dari rumahnya, menuju ke tempat-tempat yang sepi di sekitar Telaga Barat (See-ouw) yang indah pemandangan alamnya. Sengaja dia berperahu seorang diri, mendarat di tepi telaga yang paling sunyi dan jarang dikunjungi orang,
Namun, sampai tiga hari tidak terjadi sesuatu. Mereka yang kebetulan melihatnya, dan sudah mengenalnya memberi hormat
106
dengan ramah, dan para pelancong dari tempat lain yang tidak mengenalnya, tidak ada yang memperdulikannya.
Pada hari keempat, pagi-pagi dia sudah berperahu, memancing ikan dan setelah mendapatkan tiga ekor ikan yang cukup besar, diapun mendarat di pantai sepi dekat hutan. Tempat ini menjadi tempat kesayangannya karena selain sunyi, juga rumputnya tebal dan bersih dan di tempat itu sejuk, tenang dan sedap baunya, bau pohon cemara, damar dan rumput.
Setelah menarik perahunya ke darat, Pek-liong membawa perlengkapan dan roti yang dibawanya dari rumah, membentangkan kain di atas rumput, lalu dia asyik memanggang tiga ekor ikan yang ditangkapnya dengan pancing tadi. Dia memang sengaja membawa bumbu dari rumah, dan memanggang ikan hasil pancingan di dekat telaga itu merupakan satu di antara kesenangan dan kebiasaannya.
Tak lama kemudian terciumlah bau sedap ikan panggang yang sudah dibumbui. Baunya dapat tercium sampai jauh dan Pek-liong tersenyum seorang diri. Memancing harimau keluar dari sarangnya tidak berhasil, yang berhasil dipancingnya hanya tiga ekor ikan gemuk, dan sekarang bau bakaran ikan itu siapa tahu akan memancing keluarnya orang yang selama ini dicarinya dan diharapkan kemunculannya.
Ah, angan-angan kosong, dia mencela diri sendiri. Musuh yang menginginkan kematiannya tentulah seorang tokoh yang lihai, bagaimana mungkin dapat dipancing keluar dengan aroma ikan
107
panggang seperti memancing keluar seorang yang kelaparan saja!
Dia sudah menurunkan tiga ekor ikan yang ditusuk dengan ranting itu dari atas api. Aromanya membuat perutnya tiba-tiba terasa lapar bukan main. Dibukanya bungkusan roti dan juga guci anggur yang dibawanya dari rumah. Selagi dia hendak sarapan, tiba-tiba dia menghentikan gerakannya dan telinganya menangkap gerakan kaki orang tak jauh dari situ. Akan munculkah harimau yang dipancingnya selama tiga hari ini?
Lalu dia teringat. Kalau ada musuh menyerangnya di situ, tentu sarapan paginya akan terinjak-injak dan rusak. Sayang kalau sampai terjadi demikian, maka cepat dia menutupi makanan itu dengan kain bersih dan diapun bangkit, lalu menjauhi tempat itu, sejauh sepuluh meter agar kalau terjadi perkelahian, sarapan pagi yang dibuatnya dengan susah payah itu tidak akan terinjak-injak dan rusak! Dengan hati geli Pek-liong dapat mengikuti gerakan orang itu dari pendengarannya dan dia tahu bahwa orang itu, yang memiliki gerakan ringan kini mengintai dari balik sebatang pohon besar tidak jauh dari situ.
“Sobat yang bersembunyi dari balik pohon, kalau hendak bicara dengan aku, keluarlah engkau!” katanya sambil menahan tawa.
Hening sejenak, lalu terdengar suara dari balik pohon, suara yang lirih dan lembut seperti suara kanak-kanak, atau suara wanita. “Apakah engkau berjuluk Pek-liong-eng?”
Pek-liong tersenyum. Agaknya inilah “Harimau” yang dipancingnya selama tiga hari ini! “Benar sekali, akulah yang
108
disebut Pek-liong-eng! Kalau engkau mencariku, keluarlah dan mari kita bicara!”
Seperti yang telah diduganya, dari batang pohon besar itu muncul seseorang, akan tetapi Pek-liong terbelalak kaget dan heran karena sama sekali di luar dugaannya, yang muncul adalah seorang gadis yang amat cantik manis! Gadis itu berusia paling banyak delapanbelas tahun, cantik manis dengan muka yang putih kemerahan, rambutnya panjang dikuncir menjadi dua dan diikat pita merah, pakaiannya serba biru dan ringkas, di punggungnya nampak gagang sepasang pedang, matanya bersinar-sinar, mata orang yang lincah dan periang, akan tetapi saat itu mulut yang manis itu cemberut dan kelihatan marah sekali.
Setelah gadis itu melangkah maju, kini mereka berhadapan dalam jarak empat meter. Sejenak mereka saling pandang dan Pek-liong tidak menyembunyikan pandang matanya yang kagum akan kecantikan gadis itu. Cantik dan gagah, akan tetapi sedang marah, demikian kesannya terhadap gadis itu. Sebaliknya, gadis itupun mengamati Pek-liong dan nampak tertegun sehingga sampai lama mereka hanya saling pandang tanpa mengeluarkan kata-kata.
“Nah, nona siapakah dan ada keperluan apakah mencariku?” akhirnya Pek-liong yang bertanya.
“Engkau benar yang berjuluk Pek-liong-eng, dan bernama Tan Cin Hay?” gadis itu bertanya, suaranya kini nyaring. Suara yang
109
merdu, pikir Pek-liong, sayang dalam keadaan marah tanpa sebab.
“Benar, dan nona siapakah?”
“Aku bernama Pouw Bouw Tan.......”
“Nama yang indah sekali, serasi dengan orangnya.......”
“Simpan saja rayuanmu itu. Aku datang untuk menangkapmu!”
Kini Pek-liong terbelalak. “Menangkap aku? Apa salahku, nona?”
“Engkau telah menyebabkan kematian kakakku!”
“Ehh? Aku tidak mengenal kakakmu dan tidak merasa telah membunuh kakakmu!”
“Akan tetapi kakakku tewas karena engkau, maka engkau harus kutangkap dan kuhadapkan kepada ayah. Di sana engkau boleh membela diri sesukamu.”
“Kalau aku tidak mau ditangkap?”
“Pedangku yang akan memaksamu!” kata gadis itu, sikapnya gagah sekali sehingga mau tidak mau Pek-liong tertawa. Gadis ini seperti seekor burung yang baru saja belajar terbang dan kini memamerkan kemampuannya terbang!
“Baiklah, nona. Tentang tangkap menangkap ini, kita bicarakan nanti setelah kita sarapan pagi “
110
“Sarapan?” Gadis itu terbelalak heran.
“Engkau tentu suka makan ikan panggang dan roti lunak, bukan? Enak sekali untuk sarapan pagi selagi perut lapar.”
“Ikan panggang......?” Gadis itu tadi memang sudah mengilar ketika mencium bau ikan panggang.
“Mari, nona. Mari kita sarapan dulu, baru bicara tentang urusan kita.” Tanpa banyak cakap lagi Pek-liong lalu melangkah ke arah hamparan kain di atas rumput. “Tidak baik membicarakan urusan penting dengan perut kosong, bisa masuk angin.”
Gadis itu masih termangu dan terheran, akan tetapi seperti di luar kehendaknya, kakinya melangkah mengikuti Pek-liong dan ketika pemuda itu dengan ramah memberi isyarat agar ia duduk di hamparan kain, iapun duduk berhadapan dengan pemuda itu.
Pek-liong membuka makanan yang tadi dia tutupi, lalu mempersilakan gadis itu makan. “Mari, rotinya masih baru, ikan panggangnya masih hangat, dan anggur ini manis dan tidak terlalu keras, buatanku sendiri, nona Bouw Tan. Namamu mengingatkan aku akan bunga bouw-tan yang indah.
Pouw Bouw Tan adalah seorang gadis kang-ouw yang tidak pemalu. Ia puteri seorang guru silat aliran Kun-lun-pai yang pandai dan sudah biasa merantau seorang diri mengandalkan sepasang pedangnya. Ia tabah, lincah dan gagah, maka kini melihat sikap Pek-liong yang tidak ceriwis, melainkan ramah dan nampak bersungguh-sungguh, iapun ikut duduk makan roti dan
111
panggang ikan dan minum anggur merah yang disuguhkan Pek-liong.
Pendekar ini sendiri merasa kagum dan senang. Seorang gadis yang cantik, berani dan tabah sekali. Sayang datang memusuhinya, hendak menangkapnya. Kalau saja datang sebagai seorang sahabat, alangkah akan menyenangkan suasananya, seperti sedang pesiar di telaga bersama seorang kekasih saja.
Mereka makan minum tanpa bicara dan dari cara gadis itu makan, Pek-liong tahu bahwa gadis itupun lapar, seperti dia, dan jujur, makan secara bebas tanpa malu-malu seperti kebanyakan gadis lain. Setelah mereka selesai makan, barulah Pek-liong berkata.
“Engkaukah kiranya orang yang menghendaki kematianku, nona? Jadi engkaukah yang mengirim orang beberapa hari yang lalu untuk memasuki rumahku?”
Bouw Tan memandang dengan alis berkerut. Mata yang bening indah itu memandang penuh selidik dan penasaran.
“Aku tidak menghendaki kematianmu dan aku tidak pernah menyuruh siapapun memasuki rumahmu. Aku hanya ingin menangkapmu dan menghadapkan kepada ayah karena engkau penyebab kematian kakakku.”
Jawaban ini membuat Pek-liong semakin tertarik. Kalau bukan nona ini yang menyuruh orang memasuki rumahnya, maka berarti
112
pancingannya telah gagal. Umpannya ternyata disambar oleh ikan yang tidak dikehendakinya!
Ikan itu adalah gadis aneh ini, yang tidak ada sangkut pautnya dengan orang yang mencoba memasuki rumahnya, akan tetapi yang hendak menangkapnya karena dia dianggap menjadi penyebab kematian kakaknya! Sungguh menarik.
“Nona Pouw Bouw Tan, sungguh aku menjadi bingung sekarang. Selama hidupku, sayang sekali aku belum pernah mengenalmu, baik orang maupun namanya. Baru sekarang ini aku bertemu dan mengenalmu. Akan tetapi engkau mengatakan bahwa aku menjadi penyebab kematian kakakmu, dan engkau hendak menangkap aku dan membawa aku menghadap ayahmu! Sungguh luar biasa. Mimpi apakah aku semalam maka hari ini hendak ditangkap orang tanpa salah? Siapakah ayahmu itu dan mengapa kaukatakan aku menyebabkan kematian kakakmu?”
“Tugasku hanya membawamu menghadap ayah, di sana engkau akan mendengar semua penjelasannya. Kita tidak mempunyai banyak waktu, mari kita berangkat, Pek-liong!” Gadis itu bangkit dan sikapnya kembali kaku dan tegas.
Pek-liong bangkit perlahan-lahan dan tersenyum. “Nona, engkau sudah mengenal aku sebagai Pek-liong-eng dan engkau berani hendak menangkap aku begitu saja. Apa kaukira engkau akan mampu mengalahkan aku?”
Bouw Tan mengerutkan alisnya dan matanya berkilat, tangannya meraba gagang sepasang pedangnya. “Aku tahu bahwa engkau seorang pendekar yang lihai. Akan tetapi aku tidak takut. Kalau
113
perlu aku akan menggunakan pedangku. Demi membalas kematian kakakku, aku rela mempertaruhkan nyawaku!”
Pek-liong mengerutkan alisnya. Ini gawat! Jelas bahwa gadis ini bukan orang jahat, akan tetapi ia mengandung dendam yang amat hebat, dan agaknya bukan hanya gertakan kosong. Kalau dia melawan, tentu gadis itu akan menyerangnya mati-matian. Tentu saja dia tidak ingin mengalahkan gadis yang tidak berdosa ini.
“Ke mana engkau akan membawaku, nona?”
“Tidak jauh. Kami tinggal di kota Hang-kouw.”
Kota itu berada di seberang Telaga Barat. Tentu akan makan waktu perjalanan sehari penuh. Agaknya urusannya dengan gadis ini sama sekali tidak ada sangkut pautnya dengan urusan penyusupan penjahat ke rumahnya tiga hari yang lalu. Akan tetapi apa boleh buat. Dia juga ingin sekali tahu apa sebenarnya yang telah terjadi maka gadis ini nekat hendak menangkapnya dan menghadapkan dia kepada ayahnya.
“Baiklah kalau begitu, nona. Mari kita berangkat,” katanya sambil tersenyum sabar.
“Nanti dulu. Engkau harus kubelenggu kedua tanganmu agar lebih mudah bagiku membawamu ke sana.”
Pek-liong membelalakkan kedua matanya. “Kedua tanganku dibelenggu?”
114
“Untuk meyakinkan hatiku bahwa engkau tidak akan menipuku dan tidak akan melarikan diri dalam perjalanan,” kata gadis itu galak.
Hampir Pek-liong tertawa bergelak mendengar ini,`dan melihat sikap galak itu. Seolah-olah dia seorang maling kecil saja! Akan tetapi, diapun melihat kelucuan dalam peristiwa ini, maka diapun menyodorkan kedua lengannya ke depan, dan berkata, “Nah, belenggulah kalau itu yang kaukehendaki, nona Bouw Tan.”
“Tarik kedua tanganmu ke belakang tubuh!” bentak Bouw Tan.
Ini sudah keterlaluan, pikir Pek-liong, akan tetapi dia masih tersenyum dan tanpa membantah dia menarik kedua tangan ke belakang tubuhnya. Nona itu lalu mengikat kedua pergelangan tangannya dengan rantai besi yang sudah dipersiapkannya sebelumnya. Setelah melihat bahwa ikatan itu kuat sekali barulah Bouw Tan berkata.
“Nah, mari kita berangkat. Jangan marah karena aku harus yakin bahwa engkau tidak akan melarikan diri,” tambahnya.
Pek-liong kembali tersenyum. Bocah ini nakal, pikirnya. Enak saja membelenggu orang lalu minta agar dia tidak marah!
“Baiklah, aku tidak akan marah. Aku ingin sekali tahu apa yang akan kuhadapi di Hang-kouw.”
Karena Pek-liong bersikap tenang, penurut dan sama sekali tidak melawan, sikap Bouw Tan juga lebih manis. Bahkan ketika mereka melakukan perjalanan di sepanjang pantai telaga yang
115
luas itu menuju ke kota Hang-kouw, gadis itu mau menceritakan tentang kematian kakaknya.
“Ayah bernama Pouw Kiat yang di kota Hang-kouw dikenal sebagai Pouw-kouwsu (guru silat Pouw) karena memang pekerjaan ayah adalah guru silat. Ayah murid Kun-lun-pai dan perguruan silat ayah cukup dikenal. Ayah hanya mempunyai dua orang anak, yaitu kakakku bernama Pouw Bouw Ki dan aku. Kakak Bouw Ki berusia duapuluh lima tahun. Kakakku sering mewakili ayah mengajar ilmu silat kepada para murid yang sudah pandai.
“Pada suatu hari, kurang lebih seminggu yang lalu, kakak Bouw Ki tewas terbunuh orang tanpa ada yang mengetahui siapa pembunuhnya. Akan tetapi, di baju kakakku yang putih ada tulisannya dan tulisan itulah yang membuat aku datang untuk menangkapmu dan membawamu menghadap ayah.”
Tentu saja Pek-liong merasa tertarik sekali. “Bagaimana bunyi tulisan itu?”
“Bunyinya begini:
Pek-liong-eng telah menebus dosanya dan akan tiba giliran Hek-liong-li.”
Pek-liong mengerutkan alisnya. Kalau saja kedua tangannya tidak dibelenggu ke belakang, tentu saat itu dia sudah meraba-raba dagunya, kebiasaannya kalau dia sedang berpikir keras. Kemudian dia bertanya,
116
“Kau tadi mengatakan bahwa tulisan itu ditulis di atas baju kakakmu yang putih. Apakah kakakmu biasa memakai pakaian serba putih?”
Gadis itu mengangguk. “Semenjak ibu kami meninggal dunia lima tahun yang lalu, kakak Bouw Ki selalu mengenakan pakaian serba putih, seperti yang kaupakai, juga perawakannya serupa denganmu walaupun wajahnya tidak sama benar.”
“Kalau begitu, dia menjadi korban salah bunuh! Tentu disangka aku maka dia dibunuh!” Pek-liong berseru.
“Kamipun menyangka demikian. Karena engkau maka kakakku tewas, oleh karena itu, aku harus menangkapmu dan kubawa kepada ayah karena pembunuhan ini ada hubungannya dengan dirimu.”
“Tapi yang salah membunuh adalah penjahat itu, bukan aku, nona!” Pek-liong memprotes.
Tiba-tiba terdengar suara tawa nyaring dan dua orang muncul dari balik semak belukar. Mereka adalah dua orang laki-laki yang berusia kurang lebih empatpuluh tahun, keduanya bertubuh tinggi besar dan nampak kokoh kuat.
Seorang bermuka hitam dan sebatang golok besar terselip di pinggangnya, sedangkan orang kedua brewok dan memegang sebatang tombak. Yang tertawa adalah si muka hitam dan diapun berkata dengan suara parau.
117
“Ha-ha-ha-ha, sekali ini kami tidak akan salah membunuh orang, Pek-liong-eng, dan kami bahkan mendapat upah seorang gadis yang cantik, heh-heh!”
Mendengar ini, Bouw Tan mencabut sepasang pedangnya dan dengan gagah ia menghadapi kedua orang laki-laki kasar itu. Matanya berapi-api dan ia membentak nyaring.
“Jadi kaliankah yang telah membunuh kakakku Pouw Bouw Ki, dan meninggalkan tulisan di bajunya itu?”
“Ha-ha-ha, kami Thian-te Siang-houw (Sepasang Harimau Langit Bumi) tidak pernah bekerja setengah-setengah. Sekali ini kami tidak akan salah bunuh lagi!” Setelah berkata demikian, kedua orang itu menggunakan senjata mereka untuk menyerang ke arah Pek-liong,
“Trang-tranggg.......!!” Gadis itu dengan gagahnya telah menggerakkan sepasang pedangnya menangkis, dan berdiri di depan Pek-liong, bersikap melindunginya.
“Jahanam busuk, kalian telah membunuh kakakku, maka hari ini aku akan membalas kematian kakakku!”
Si brewok kini menyeringai. “Aih, nona manis. Kami tidak sengaja membunuh kakakmu. Minggirlah, biar kami membunuh Pek-liong-eng lebih dulu, nanti kami akan minta maaf dan bersikap manis kepadamu!”
Akan tetapi ucapan ini bagaikan minyak disiramkan pada api, membuat kemarahan Bouw Tan semakin berkobar, “Kalian iblis
118
busuk!” bentaknya dan sepasang pedangnya sudah menjadi sinar bergulung-gulung menyambar ke arah dua orang laki-laki itu.
Si muka hitam berseru setelah menangkis serangan Bouw Tan. “Kita taklukkan kuda betina ini dulu, baru kita bunuh Pek-liong-eng!”
“Benar,” kata si brewok, “tapi jangan lukai gadis ini, sayang kalau sampai ia terluka, heh-heh!”
Bouw Tan marah sekali dan iapun memutar kedua pedangnya. Pek-liong segera mengenal ilmu pedang Kun-lun-kiam-sut yang indah. Akan tetapi dia pun terkejut melihat gerakan dua orang tinggi besar itu. Ternyata merekapun lihai sekali dan permainan golok dan tombak mereka cukup berbahaya.
Andaikata harus melawan satu di antara mereka saja, mungkin Bouw Tan masih mampu menandingi karena tingkat mereka seimbang. Akan tetapi karena dua orang itu maju berdua, maka setelah lewat belasan jurus saja, gadis itu terdesak hebat.
Pek-liong hanya menonton saja karena dari gerakan mereka, tahulah dia bahwa dua orang itu tidak akan melukai Bouw Tan. Hatinya terasa panas oleh amarah karena dia dapat menduga apa yang menjadi isi hati kedua orang busuk itu. Tentu mereka ingin mengalahkan Bouw Tan tanpa melukainya, dan setelah mereka membunuh dia, tentu mereka akan mempermainkan Bouw Tan.
Sungguh dua orang manusia yang amat jahat dan keji, akan tetapi diapun ingin sekali mengetahui mengapa mereka
119
memusuhinya. Melihat tingkat kepandaian mereka, tidak pantas kalau mereka itu memusuhinya, tentu mereka hanyalah anak buah saja, dan ada tokoh lain yang menyuruh mereka.
Tempat kedua orang itu menghadang merupakan tepi telaga yang amat sepi, dan tidak ada orang lain kecuali dia yang menyaksikan perkelahian itu. Seperti telah dikhawatirkannya, setelah lewat duapuluh jurus, akhirnya tangkisan yang amat kuat membuat kedua pedang gadis itu terlepas, dan gadis itupun roboh oleh sapuan gagang tombak pada kedua kakinya. Sebelum ia dapat bangkit, si brewok sudah menubruk dan menotoknya sehingga gadis itu rebah telentang tanpa mampu bergerak lagi.
Kedua orang itu tertawa bergelak, dan si muka hitam berkata, “Kau tunggulah sebentar, manis. Setelah kami membunuh Pek-liong-eng, kami akan mengajak engkau bersenang-senang sepuasnya, ha-ha-ha!”
Kini, si muka hitam yang memegang golok besar dan si brewok yang memegang tombak, menghampiri Pek-liong yang masih berdiri dengan kedua tangan terbelenggu ke belakang. Pek-liong nampak tenang-tenang saja, sebaliknya Bouw Tan yang rebah tak mampu bergerak itu memandang dengan sinar mata ngeri dan penuh penyesalan. Akan tetapi ia tidak berdaya, bahkan ia terancam bahaya yang lebih mengerikan dari pada maut.
“Pek-liong-eng, sekarang bersiaplah engkau untuk mampus!” bentak si muka hitam.
120
“Engkau tidak perlu penasaran karena engkau akan mati di tangan dua orang gagah. Kami adalah Thian-te Siang-houw yang namanya terkenal di kolong langit!” kata si brewok.
“Hemm, Thian-te Siang-houw, kalian telah membunuh Pouw Bouw Ki, mengapa?” tanya Pek-liong sikapnya masih tenang saja sehingga Bouw Tan merasa heran sekali. Ia gelisah setengah mati, akan tetapi pendekar yang nyawanya seperti bergantung kepada sehelai rambut itu demikian tenangnya!
“Ha-ha, tadinya kami salah kira. Dia berpakaian putih, perawakannya seperti engkau. Setelah tahu kami keliru, kami merasa bahkan kebetulan karena kekeliruan itu akan dapat memancing engkau keluar. Perhitungan kami tepat. Engkau akan mampus sekarang juga!”
Dua orang itu kini menerjang dengan senjata mereka, menyerang Pek-liong dari kanan kiri. Bouw Tan yang tidak dapat bergerak, merasa ngeri sekali dan ia memejamkan mata, tidak ingin melihat pendekar itu terkoyak-koyak tubuhnya.
Ia memejamkan matanya dan tak terasa matanya menjadi basah karena ia menyadari bahwa ialah yang membuat pendekar itu mati konyol. Ia telah membelenggu kedua tangan pendekar itu sehingga tentu saja tidak akan mampu melawan dan akan mati tercincang.
Akan tetapi tidak terdengar apa-apa, tidak terdengar teriakan kesakitan atau robohnya badan, hanya terdengar suara senjata berdesing-desing. Bouw Tan membuka matanya dengan hati tegang, dan ia segera terbelalak.
121
Pek-liong sama, sekali tidak roboh mandi darah dengan tubuh tercincang. Sama sekali tidak. Tubuh pendekar yang kedua tangannya masih terikat ke belakang tubuh itu bergerak dengan ringan dan lincah sekali, menyelinap di antara sambaran kedua senjata lawan. Setiap bacokan golok, setiap tusukan tombak, semua tidak mampu menyentuhnya, bahkan menyentuh bajunyapun tidak.
Bouw Tan terbelalak dengan muka berubah merah sekali. Ia seperti telah buta! Dengan kedua tangan terikat ke belakang, pendekar itu mampu mempermainkan dua orang bersenjata pada hal ia sendiri dengan sepasang pedangnya telah kalah dalam waktu yang tidak terlalu lama!
Hampir ia tidak pernah berkedip mengikuti perkelahian itu dengan pandang matanya. Akhirnya ketika Pek-liong mengeluarkan seruan-seruan nyaring, kakinya bergerak terputar dan kedua orang itu terpelanting, senjata mereka terlempar dan merekapun mengaduh-aduh, mencoba bangkit akan tetapi sukar sekali.
Pek-liong meloncat ke dekat tubuh Bouw Tan, dengan ujung sepatunya dia menendang dua kali ke arah pundak dan pinggang dan...... gadis itu dapat bergerak kembali. Pendekar itu telah membebaskan totokannya hanya dengan ujung sepatunya
Begitu dapat bergerak, Bouw Tan sudah meloncat dan mengambil sepasang pedangnya yang tadi terpukul jatuh, dan sebelum Pek-liong tahu apa yang akan dilakukannya, gadis itu sudah meloncat ke arah dua orang yang tadi dirobohkan Pek-
122
liong, sepasang pedangnya bergerak seperti kilat menyambar ke arah dua orang yang sudah tidak berdaya melawan itu.
“Nona, jangan......!” teriak Pek-liong dengan kaget, akan tetapi terlambat, dua orang itu sudah roboh mandi darah dengan leher hampir putus dibabat sepasang pedang di tangan Bouw Tan. Pek-liong meloncat dekat dan merasa menyesal sekali.
“Aihh, kenapa engkau membunuh mereka nona?” tegurnya dengan nada menyesal.
“Kenapa tidak? Merekalah pembunuh-pembunuh kakakku, dan aku harus membalas dendam. Sekarang, kematian kakakku telah terbalas, hatiku telah merasa puas.”
“Akan tetapi, nona, mereka itu sesungguhnya hendak membunuhku. Kakakmu hanya menjadi korban salah duga saja, dan aku sebetulnya ingin sekali memaksa mereka mengaku siapa yang menyuruh mereka untuk membunuhku. Sekarang mereka telah kaubunuh sehingga aku tetap tidak mengetahui siapa orang yang menyuruh mereka.”
Bouw Tan baru menyadari hal ini dan ia merasa menyesal juga. “Ah, maafkan aku, tai-hiap, aku telah terburu nafsu, dan...... aku telah membelenggu kedua tanganmu, dan dengan kedua tangan terbelenggu engkau dapat merobohkan dua orang yang tak dapat kulawan dengan sepasang pedangku. Aku menyesal dan merasa malu sekali, kau maafkan aku, tai-hiap. Mari kubukakan belenggu tanganmu......!” Gadis itu menghampiri Pek-liong untuk membukakan tali pengikat kedua pergelangan tangan pendekar itu.
123
“Tidak perlu repot-repot, nona Bouw Tan,” kata Pek-liong dan sekali dia mengerahkan tenaga, ikatan itupun putus dan kedua tangannya bebas.
Melihat ini, wajah Bouw Tan berubah merah sekali.
“Tai-hiap, kenapa tadi engkau mau saja kubelenggu kedua tanganmu? Kenapa engkau membiarkan dirimu menjadi tawananku?” tanyanya, heran dan juga malu.
Pek-liong tersenyum. “Aku tertarik akan urusan itu dan ingin pula melihat perkembangannya, nona. Karena itu aku sengaja membiarkan diriku menjadi tawanan untuk memancing keluarnya para pembunuh itu. Mereka itu hanyalah anak buah, nona dan pasti ada musuh besar yang berdiri di belakang layar.”
“Dan aku telah terburu nafsu membunuh mereka sehingga menggagalkan penyelidikanmu, tai-hiap. Maafkan aku......”
“Sudahlah, nona. Tidak ada yang perlu dimaafkan. Tanpa merekapun, pasti aku akan dapat bertemu dengan musuh itu karena dia pasti akan melanjutkan usahanya untuk membunuhku.”
“Tapi, bukan engkau saja yang diancamnya, tai-hiap. Menurut surat yang ditulis di baju kakakku, selain engkau, juga Hek-liong-li diancam......”
Pek-liong tersenyum. “Hal itu tidaklah aneh, nona. Memang kami berdua dimusuhi banyak orang dari golongan sesat. Akan tetapi, seperti juga aku, Liong-li dapat menjaga diri sendiri.”
124
“Suhengku sudah pergi mencari Hek-liong-li. Bukankah ia tinggal di Lok-yang?”
“Hem, siapakah suhengmu itu?”
“Suheng bernama Lu Kong Bu, dan setelah kakakku terbunuh, kami membagi tugas. Aku pergi mencarimu karena lebih dekat, sedangkan suheng pergi mencari Hek-liong-li yang jauh tempat tinggalnya.”
Pek-liong adalah seorang pendekar yang sudah banyak pengalamannya. Mendengar suara gadis itu ketika menyebut nama suhengnya, ada sesuatu yang lain, ada suatu kemesraan dalam sebutan itu dan dia dapat menduga bahwa hubungan antara Bouw Tan dan Lu Kong Bu itu pasti lebih mendalam dari pada hanya seorang suheng dan sumoi.
“Lu Kong Bu itu pergi mencari Hek-liong-li untuk memberitahu bahwa ia terancam oleh pembunuh kakakmu?” tanyanya, menahan rasa geli hatinya. Orang seperti Liong-li tentu saja tidak membutuhkan peringatan lagi.
“Tentu saja. Kami sekeluarga telah mendengar nama besar kalian, dan kami merasa berkewajiban untuk memberitahu. Akan tetapi, karena mengingat bahwa kematian kakakku karena engkau, maka tadi aku bersikap keras dan menangkapmu. Harap maafkan aku tai-hiap.”
“Sudahlah, mari kita lanjutkan perjalanan. Aku perlu bertemu dengan ayahmu untuk menjelaskan persoalan, juga untuk
125
menyelidiki tentang dua orang yang mengaku berjuluk Thian-te Siang-houw ini. Mungkin ayahmu mengenal nama mereka.”
Berangkatlah mereka berdua meninggalkan dua mayat penjahat itu, menuju ke kota Hang-kouw. Keluarga Pouw yang masih dalam suasana berkabung itu, menyambut kedatangan Pek-liong dengan hormat. Untung saja Pek-liong tidak lagi terbelenggu, kalau dia datang dengan kedua tangan terikat tentu Pouw Kiat atau yang dikenal dengan sebutan Pouw-kauwsu (guru silat Pouw) akan marah kepada puterinya.
Setelah diperkenalkan oleh puterinya dan mendengar cerita Bouw Tan tentang dua orang penjahat yang menghadang mereka dan yang mengaku sebagai pembunuh Pouw Bouw Ki, Pouw-kauwsu merasa puas juga. Pembunuh-pembunuh puteranya telah terbalas.
“Paman Pouw, apakah ada permusuhan antara keluargamu dengan mereka yang menamakan diri Thian-te Siang-houw?” Pek-liong bertanya.
“Mereka itu lihai sekali, ayah. Yang bermuka hitam memainkan golok dan yang brewok memainkan tombak. Aku tentu sudah tewas pula di tangan mereka kalau tidak ada Tan-taihiap yang menolongku,” kata Bouw Tan, tentu saja ia malu untuk bercerita kepada ayahnya betapa Pek-liong menolongnya dalam keadaan kedua tangan terbelenggu ke belakang dan ia yang melakukan itu!
“Thian-te Siang-houw......?” Pouw-kauwsu mengingat-ingat. “Aku pernah mendengar nama itu, sepasang tokoh yang pernah
126
mengacau di daerah Lembah Yang-ce. Akan tetapi seingatku, kami belum pernah bermusuhan dengan mereka. Aku lebih percaya bahwa mereka memang salah membunuh orang mengira bahwa anakku adalah engkau, taihiap,” kata guru silat itu. “Memang sungguh menyedihkan nasib puteraku, namun bagaimana juga, kini penasarannya telah terbalas dengan matinya dua orang penjahat itu.”
“Aku akan menyelidiki siapa yang menyuruh Thian-te Siang-houw melakukan pembunuhan itu, paman. Aku merasa yakin bahwa yang menyuruhnya bukan musuh keluargamu, melainkan musuh kami, yaitu aku dan Hek-liong-li.”
“Bagaimana dengan suheng, ayah? Apakah dia belum kembali dari Lok-yang?” tanya Bouw Tan.
“Belum, karena Lok-yang cukup jauh. Dengan adanya Pek-liong-eng dan Hek-liong-li yang akan melakukan penyelidikan, aku yakin hahwa penjahat yang menyuruh bunuh anakku pasti akan terungkap dan tertangkap.”
Pek-liong tidak tinggal lama di situ, lalu berpamit, pulang ke rumahnya dan dia segera menyuruh seorang pembantunya untuk melakukan penyelidikan ke sekitar Lembah Yang-ce, menyelidiki tentang Thian-te Siang-houw, tokoh mana yang baru-baru ini nampak berhubungan dengan dua penjahat yang telah tewas itu.
◄Y►
Suami isteri Song Tek Hin dan Su Hong Ing tinggal di susun Kian-co di luar kota Cin-an. Mereka telah lima tahun menikah dan
127
hidup rukun, mempunyai seorang anak laki-laki yang sudah berusia tiga tahun lebih bernama Song Cu.
Song Tek Hin yang pandai ilmu sastera dan silat membuka sebuah perguruan bun (sastera) dan Bu (silat) di mana banyak anak-anak muda belajar dengan pembayaran sekadarnya. Mereka mempunyai sawah ladang dan kehidupan mereka lumayan walaupun tidak kaya.
Dan nama suami isteri ini dihormati orang, karena keduanya merupakan orang-orang yang berwatak lembut dan ramah, juga bukan hanya Song Tek Hin saja yang pandai ilmu silat, bahkan isterinya, Su Hong Ing, tidak kalah oleh suaminya. Wanita ini adalah murid Bu-tong-pai dan memiliki ilmu silat yang cukup lihai.
Song Tek Hin yang berusia kurang lebih tigapuluh tahun itu bertubuh tegap dan wajahnya tampan, gerak geriknya halus dan biarpun dia pandai ilmu silat namun pakaiannya seperti seorang sasterawan. Isterinya berusia duapuluh empat tahun, cantik manis dengan kulit putih mulus dan senyumnya menawan.
Seperti suaminya, iapun sederhana, tidak kelihatan bahwa ia seorang pendekar wanita yang lihai, dan sikapnya selalu ramah kepada siapapun. Tidak mengherankan apabila suami isteri ini disuka oleh penduduk dusun itu, dan bahkan banyak orang dari kota Cin-an datang ke dusun itu untuk berguru kepada Song Tek Hin.
Pada suatu senja yang cerah dan tenang. Rumah Song Tek Hin sudah sepi karena suami isteri itu mengajar para murid dalam ilmu silat dan baca tulis mulai pagi sampai lewat tengah hari. Di
128
waktu sore dan malamnya mereka berdua tidak mau sibuk mengajar, melainkan mengurus hasil sawah ladang dan beristirahat.
Senja hari itu mereka mengaso di ruangan belakang sambil bermain-main dengan Song Cu, anak tunggal mereka. Dua orang pelayan mereka, seorang wanita setengah tua sedang membersihkan perabot rumah di ruangan depan sedangkan pelayan kedua, suami wanita itu, sedang menyapu kebun belakang.
“Semalam aku bermimpi......” Su Hong Ing berkata akan tetapi segera menahan ucapannya.
Suaminya yang sedang menimang Song Cu memandang isterinya dengan heran. “Kenapa berhenti? Engkau mimpi apakah?”
Su Hong Ing tersenyum dan wanita muda ini memang memiliki daya tarik luar biasa kalau tersenyum. Manis sekali. “Janji dulu engkau tidak akan cemburu.”
“Ehh! Aneh sekali engkau ini. Masa orang mimpi dicemburui?”
Isterinya tersenyum lagi dan melanjutkan. “Aku bermimpi naik perahu di Telaga See-ouw bersamamu, Song Cu tidak ikut. Kita berdua berperahu seperti...... seperti......”
“Ha-ha, aku mengerti, seperti kita sedang berbulan madu dahulu, kan?” suaminya menggoda.
129
Wajah isterinya kemerahan dan mengangguk. “Akan tetapi bukan itu yang penting, koko. Ketika kita berperahu, aku melihat sebuah perahu lain dan ternyata di dalam perahu itu adalah...... Pek-liong-eng dan Hek-liong-li......”
Kembali suami itu tertawa mendengar isterinya agak ragu menyebutkan nama pendekar itu.
“Ha-ha-ha, engkau sungguh lucu, Ing-moi. Kalau aku cemburu kepada Pek-liong-eng, apakah engkau juga cemburu kepada Hek-liong-li? Kita sama-sama tahu, Ing-moi. Mereka berdua itu bukan hanya bekas kekasih kita, orang-orang yang kita cinta, akan tetapi terutama merekalah yang menyebabkan kita dapat saling jatuh cinta dan menjadi suami isteri, di samping mereka berdua adalah penolong-penolong kita. Karena merekalah maka sampai hari ini kita masih bernapas. Tidak, Ing-moi, sampai matipun aku tidak akan mencemburui engkau dan Pek-liong-eng.”
“Aku mengerti perasaanmu, Hin-ko. Betapapun kita berdua memuja dan mengagumi mereka, mereka itu laksana dua buah bintang yang terlampau tinggi untuk kita, dan akupun sama sekali sudah tidak pernah mengharapkan lagi kepada Pek-liong-eng. Kebahagiannku adalah denganmu, sebagai isterimu. Akan tetapi aku merasa tidak enak hati setelah bermimpi itu, karena dalam mimpi itu, aku melihat perahu mereka terguling, dan ketika kita mendayung perahu kita menghampiri untuk menolong, perahu kita sendiripun terguling.”
130
“Aih, itu hanya mimpi, Ing-moi. Jangan dipikirkan lagi. Andaikata benar terjadi, kalau hanya perahu mereka terguling saja, dua orang pendekar sakti itu pasti akan mampu menyelamatkan diri.”
“Mudah-mudahan begitu,” kata Su Hong Ing dan suami isteri inipun melamun, terkenang akan pengalaman mereka lima tahun yang lalu. Hong Ing pernah tergila-gila kepada Pek-liong, bahkan ia rela menyerahkan diri kepada pendekar itu dan mereka berdua tenggelam dalam lautan asmara. Akan tetapi, kemudian ternyata bahwa Pek-liong adalah seorang pemuda yang aneh, yang tidak mau terikat oleh pernikahan.
Pek-liong-eng meninggalkannya walau dengan lembut dan mesra, dan demikian pula dengan Song Tek Hin yang pernah terlena dan tergila-gila kepada Hek-liong-li dan mereka berkasih-kasihan. Akan tetapi seperti juga Pek-liong-eng, Hek-liong-li tidak mau terikat pernikahan dan meninggalkannya. Karena patah hati oleh sikap kedua pendekar itu, Song Tek dan Su Hong Ing saling menghibur dan saling jatuh cinta, akhirnya menikah.
Selagi mereka melamun, pelayan wanita setengah tua masuk dan melaporkan bahwa di luar datang seorang tamu.
“Siapakah tamu itu?” tanya Tek Hin yang merasa terganggu karena dia dan isterinya sedang santai dan beristirahat. Dia tidak ingin diganggu urusan atau kesibukan pada saat seperti itu.
“Ia seorang wanita tua yang cantik dan pakaiannya indah seperti wanita bangsawan, katanya ada keperluan penting sekali ingin bertemu dengan tuan dan nyonya,” kata pelayan itu. “Ia datang berkereta, kereta indah ditarik dua ekor kuda.
131
Tentu saja suami isteri itu merasa heran bukan main. Mereka tidak mempunyai keluarga bangsawan. Su Hong Ing lalu menyerahkan Song Cu kepada pelayannya.
“Bawa Song Cu bermain-main di belakang dengan suamimu, kemudian persiapkan air teh di dapur agar kalau kubutuhkan sudah ada.”
Pelayan itu memondong Song Cu dan pergi ke belakang. Suami isteri itu saling pandang, kemudian mereka melangkah keluar menyambut tamu.
Ketika tiba di luar, keduanya merasa heran bukan main. Seperti diceritakan pelayan mereka, tamu itu seorang wanita yang cantik dan berpakaian mewah, sukar ditaksir berapa usianya. Ia pesolek dan kelihatannya seperti berusia empatpuluhan tahun, senyumnya ramah dan sikapnya lembut. Tentu saja suami isteri itu tergopoh memberi hormat dengan mengangkat kedua tangan depan dada, yang dibalas oleh wanita itu.
“Apakah kalian suami isteri yang bernama Song Tek Hin dan Su Hong Ing?” tamu itu mendahului bertanya, suaranya lembut dan halus seperti sikap seorang wanita bangsawan.
“Benar sekali,” kata Tek Hin. “Siapakah toanio dan ada keperluan apakah mencari kami?”
Tek Hin dan Hong Ing masih terbelalak heran memandang wanita itu. Pakaiannya yang mewah itu serba merah, pantasnya dipakai gadis remaja!
132
“Kalian tentu masih ingat kepada dua orang sahabat kalian, yaitu Pek-liong-eng Tan Cin Hay dan Hek-liong-li Lie Kim Cu, bukan? Aku adalah sahabat baik mereka yang diutus datang berkunjung.”
Tentu saja suami isteri itu terkejut dan girang bukan main. Mereka segera memberi hormat lagi. “Ahh, maafkan kami yang tidak tahu sehingga menyambut kurang hormat, toanio. Silakan duduk...... silakan duduk.....” kata suami isteri tu dengan sikap hormat dan gembira. Baru saja mereka membicarakan dua orang pendekar sakti itu dan kini muncul seorang utusannya, seorang sahabat baik mereka.
Akan tetapi wanita cantik berpakaian merah itu menggeleng kepala dan menggoyang tangannya. “Tidak banyak waktu, .......aku datang diutus mereka untuk menjemput kalian. Mereka dalam ancaman bahaya dan mereka membutuhkan bantuan kalian sekarang juga.”
Tentu saja suami isteri itu terkejut bukan main. Selama lima tahun mereka tidak mendengar berita tentang dua orang pendekar yang mereka kagumi itu, dan sekarang tiba-tiba sepasang pendekar itu mengirim utusan menjemput mereka karena membutuhkan bantuan!
“Apakah yang terjadi dengan mereka?” tanya Song Tek Hin.
“Di mana mereka sekarang?” tanya pula Su Hong Ing.
Wanita itu mengeleng kepala tidak sabar. “Tidak banyak waktu bicara. Nanti saja di kereta kita bicara. Sekarang cepat kalian ikut denganku sebelum terlambat. Pek-liong dan Liong-li amat
133
membutuhkan bantuan kalian!” Wanita itu membalik kan tubuhnya. “Kalau kalian tidak mau membantu, sudahlah aku pergi saja.”
Tentu saja suami isteri itu cepat mencegahnya. “Tunggu, kami mengambil senjata dulu!” kata mereka dan mereka lari ke dalam untuk mengambil sepasang pedang mereka dan memesan kepada pelayan agar menjaga Song Cu baik-baik. Kemudian mereka lari keluar dan ternyata wanita itu sudah duduk di atas kereta sambil memegang kendali kuda.
“Toanio, tunggu......!” seru suami isteri itu dan mereka segera menghampiri kereta.
“Masuklah ke dalam dan tutup semua pintu dan tirai kereta!” kata wanita itu.
Song Tek Hin dan Su Hong Ing mentaati permintaan itu, mereka masuk ke dalam kereta dan menutup daun pintu dan tirai jendela. Kereta itu dilarikan kencang oleh wanita baju merah tadi dan suami isteri itu saling pandang dengan hati tegang, khawatir menduga-duga apa yang terjadi dengan sepasang pendekar yang mereka kagumi.
Mereka tidak tahu ke mana kereta dilarikan, hanya tahu bahwa mereka dilarikan cepat keluar dari dusun. Lebih dari sejam lamanya kereta berlari kencang sehingga mereka menjadi tidak sabar.
“Toanio, ke manakah kita pergi?” Song Tek In berteriak mengatasi kegaduhan suara kaki kuda dan roda kereta.
134
Kereta itu berhenti dan suami isteri itu dengan hati tegang, mengira akan bertemu dengan sepasang suami isteri itu, membuka pintu kereta. Akan tetapi, mereka melihat bahwa mereka berada di tengah hutan yang sunyi! Dan wanita berpakaian merah itu telah turun pula dari atas kereta, dan berdiri sambil bertolak pinggang dan mulutnya senyum-senyum genit.
“Apa artinya ini? Di mana Pek-liong dan Liong-li?” tanya Su Hong Ing alisnya berkerut dan ia mulai curiga.
“Pek-liong dan Liong-li belum berada di sini. Justeru dengan adanya kalian berdua kami mengharapkan mereka akan muncul.”
“Toanio, harap jangan main-main. Jelaskan apa maksudmu. Kami tidak banyak waktu untuk main-main!” Song Tek Hin berkata dengan nada marah pula.
Kini senyum genit itu lenyap dari bibir wanita baju merah. “Siapa main-main dengan kalian? Kalau ingin tahu, sekarang kalian menjadi tawanan kami, mengerti?”
Tentu saja suami isteri itu terkejut bukan main. “Apa pula ini?” bentak Su Hong Ing sambil meraba gagang pedangnya. “Kaukira akan mudah saja menawan kami?”
“Siapakah engkau ini sebenarnya dan mengapa mengaku hendak menawan kami?” bentak pula Song Tek Hing.
Kini wanita itu tertawa, terkekeh-kekeh. “Heh-heh-heh, kalian ini anak-anak masih berbau bawang! Kalian masih hijau maka tidak
135
mengenalku. Dunia persilatan menyebut aku Ang I Sian-li (Dewi Baju Merah), heh-heh-heh!”
Biarpun suami isteri itu belum pernah bertemu dengan datuk ini, namun mereka sudah mendengar namanya dan wajah mereka berubah pucat. Mereka pernah mendengar bahwa Ang I Sian-li adalah seorang di antara Kiu Lo-mo (Sembilan Setan Tua) yang merupakan datuk-datuk kaum sesat yang amat kejam.
Bahkan mereka pernah mendengar bahwa wanita berpakaian merah itu demikian kejamnya seperti siluman atau iblis betina, kabarnya suka menghisap habis darah bayi untuk memperkuat tubuhnya dan memperdalam ilmu hitamnya! Tanpa banyak cakap lagi, mereka lalu mencabut pedang, maklum bahwa mereka berhadapan dengan seorang datuk sesat yang kejam.
“Kiranya kami berhadapan dengan Ang I Sian-li,” kata Tek Hin, menenangkan hatinya. “Engkau adalah seorang datuk kang-ouw tingkat atas, dan kami tidak pernah memotong jalan hidupmu, kenapa hari ini engkau mengganggu kami?”
“Aku tidak mengganggu, hanya menawan kalian untuk memancing munculnya Pek-liong dan Liong-li. Merekalah musuh kami yang sebenarnya, kalian ini hanya orang-orang yang tidak ada artinya.”
Tentu saja suami isteri itu marah dan tidak sudi ditawan begitu saja. “Iblis betina jahat!” bentak Hong Ing dan ia sudah menggerakkan pedangnya, disusul suaminya yang juga sudah menyerang dengan pedangnya.
136
Namun Ang I Sian-li hanya tersenyum mengejek dan ia menghadapi serangan suami isteri itu dengan tangan kosong saja! Tubuhnya bergerak cepat, berubah menjadi bayangan merah yang berkelebatan di antara gulungan dua sinar pedang suami isteri itu. Betapapun cepatnya suami isteri itu menggerakkan senjata, mereka tak pernah dapat mengenai tubuh lawan karena ke mana pun mereka menyerang, bayangan merah itu berkelebat lenyap dan berpindah tempat.
“Heh-heh-heh, kalian anak-anak kecil berani melawanku? Biar kalian belajar sepuluh tahun lagi, masih belum dapat menandingiku. Guru-guru besar kalianpun takkan mampu menang dariku. Nah, lepaskan senjata kalian!”
Suami isteri itu tidak perduli. Tek Hin menusukkan pedangnya ke arah lambung lawan dari kiri, sedangkan pada saat yang hampir bersamaan Hong Ing menyabetkan pedangnya ke arah leher wanita baju merah itu. Serangan suami isteri itu sungguh amat berbahaya dan keduanya merupakan serangan maut.
Namun sekali ini Ang I Sian-li tidak mengelak sama sekali, akan tetapi dua buah tangannya bergerak seperti ular, yang kiri menangkap ujung pedang yang menusuk lambung, yang kanan menangkap ujung pedang yang menyabet leher. Dua tangan kosong itu begitu saja menangkap dua batang pedang yang amat tajam dan yang dipegang oleh ahli silat yang sudah cukup lihai dan memiliki sin-kang cukup kuat! Kalau tidak kuat kedua tangan itu, tentu sekali tarik saja tangan itu akan putus berikut lima jarinya!
137
Suami isteri itu terkejut dan mengerahkan tenaga untuk menarik kembali senjata mereka dan membikin putus tangan lawan. Akan tetapi, betapa pun mereka mengerahkan seluruh tenaga, pedang mereka seperti telah melekat di kedua tangan itu dan sedikitpun tidak dapat ditarik.
Bahkan kini Ang I Sian-li mengerahkan tenaganya dan pedang itu tergetar hebat. Tangan suami isteri yang memegang pedang masing-masing ikut tergetar dan telapak tangan mereka terasa panas sekali. Mereka terkejut dan cepat melepaskan gagang pedang karena merasa tangan mereka seperti terbakar!
“Heh-heh-heh, kalau aku bermaksud membunuhmu, sama mudahnya dengan membalikkan telapak tanganku!” katanya dan sekali jari-jari tangannya mencengkeram, terdengar suara “krek-krek” dan kedua pedang itupun patah-patah! Suami isteri itu terbelalak dan mereka maklum bahwa wanita ini sama sekali bukan tandingan mereka!
“Kalian masih hendak melawan?” Ang I Sian-li bertanya, tersenyum mengejek.
Suami isteri itu saling pandang. Mereka bukan penakut, akan tetapi mereka juga bukan orang nekat yang ingin mati konyol. Di rumah mereka masih ada Song Cu yang amat membutuhkan mereka. Dengan lunglai Tek Hin lalu berkata, suaranya terdengar lantang.
“Ang I Sian-li, kami tidak pernah bermusuhan denganmu, akan tetapi hari ini engkau memaksakan kehendakmu kepada kami. Nah, apa yang harus kami lakukan?”
138
“Kalau engkau mengutus kami melakukan kejahatan, sampai matipun aku tidak sudi melakukannya!” Kata Su Hong Ing dengan sikap gagah.
Wanita itu tertawa. “Sudah kukatakan, kami tidak akan mengganggumu asal kalian mentaati perintah kami. Nah, Song Tek Hin, engkau yang laki laki sepatutnya menjadi kusir. Biar aku dan isterimu duduk di dalam. Aku akan menunjukkan kemana engkau harus menjalankan kereta, dan jangan sekali-kali bermain gila.”
Suami isteri itu saling pandang, maklum bahwa mereka telah kalah dan tidak ada jalan lain kecuali taat pada saat itu. Tek Hin mengangguk dan diapun lalu naik ke atas kereta, memegang kendali kuda. Hong Ing didorong halus oleh Ang I Sian-li memasuki kereta dan mereka duduk bersanding, menghadap ke depan.
“Engkau mengambil jalan lurus saja dan jangan membelok sebelum kuberitahu,” kata Ang I Sian-li.
“Memasuki kota Cin-an?” tanya Tek Hin dan dalam suaranya terkandung kegembiraan.
Dia mempunyai banyak kenalan di kota itu, banyak pula orang gagah di sana dan kalau kereta itu memasuki kota Cin-an yang ramai, dia dapat bersama isterinya meloncat keluar dan kalau wanita itu hendak menangkap mereka, tentu akan banyak kawan membantu.
139
Akan tetapi jawaban Ang I Sian-li melenyapkan harapannya. “Tidak, sebelum masuk kota, mengambil jalan ke kiri sampai ke tepi Sungai Kuning.”
Perjalanan itu cukup jauh dan Tek Hin sengaja menjalankan kereta itu tidak terlalu cepat karena dia masih mengharapkan dapat bertemu di jalan dengan rombongan orang yang dikenalnya dan yang sekiranya dapat membantunya. Misalnya rombongan piauwsu (pengawal barang kiriman) yang lihai dan yang sudah dikenalnya.
Ang I Sian-li yang duduk bersanding Hong Ing kelihatan mengantuk dan tak lama kemudian, diguncang-guncang oleh kereta, ia tertidur. Dari napasnya yang halus dapat diketahui bahwa wanita ini telah pulas.
Tentu saja hal ini tidak pernah lepas dari perhatian Hong Ing. Sejak tadi, ia sering melirik dan memperhatikan wanita itu. Mereka duduk bersanding, dan wanita itu nampaknya tidak memperhatikannya, akan tetapi karena ia tahu betapa lihainya wanita itu, ia tidak berani menyerang secara mendadak.
Kalau saja wanita itu tidak selihai itu, kalau hanya sedikit lebih lihai darinya, dalam keadaan duduk bersanding seperti itu, sekali menggerakkan tangan menotok saja mungkin ia akan dapat membuat wanita itu tidak berdaya. Akan tetapi ia duduk bersanding dengan Ang I Sian-li, seorang di antara Kiu Lo-mo, datuk sesat yang beberapa tingkat lebih tinggi dari tingkatnya.
Akan tetapi sekarang wanita itu tertidur. Dari pernapasannya, tahulah Hong Ing bahwa wanita itu sudah pulas. Betapapun
140
lihainya, kalau sedang pulas tentu tidak akan membela diri, tidak akan mengerahkan sin-kang dan bukankah sekali pukul saja ia akan dapat menewaskannya?
Akan tetapi, iapun tidak ingin membunuh orang tanpa alasan kuat, cukup menotoknya dan membuatnya tidak berdaya saja agar ia dan suaminya dapat terlepas dari bahaya. Beberapa kali, ketika jalan yang tidak rata membuat kereta itu terguncang, ia sengaja melanggar pinggang wanita di sebelahnya dengan sikunya, seperti yang tidak disengaja karena guncangan kereta. Dan wanita itu sama sekali tidak pernah terbangun, bahkan menggerakkan bulu matapun tidak. Agaknya sudah pulas benar, pikir Hong Ing.
Hong Ing mengatupkan bibirnya dan bersiap-siap. Diam-diam ia mengerahkan tenaganya yang akan dijadikan sasaran adalah pundak kiri, yaitu jalan darah kim-ceng-hiat. Kalau jalan darah itu ditotoknya, tentu wanita itu dalam satu-dua detik tak mampu bergerak dan akan disusulnya dengan totokan pada jalan darah hong-hu-hiat di belakang pundak dan ia tentu akan menjadi lemas tak mampu menggerakkan kaki tangannya lagi.
Setelah mendapat kesempatan baik, selagi jalannya kereta tidak banyak guncangan agar totokannya mengenai tepat, Hong Ing menggerakkan tangan kirirya, diangkatnya ke atas dan dengan jari tangan diluruskan ia menotok ke arah pundak kiri Ang I Sian-li.
“Wuuuuttt...... tuukk!” Hong Ing menjerit saking nyerinya.
141
Jari telunjuk dan jari tengah tangan kirinya seperti menotok baja, bahkan ada tenaga yang membuat tenaga totokannya membalik. Kedua jari itu nyeri sekali, kiut miut rasanya, sampai menusuk jantung, rasanya seperti patah-patah dan seketika menggembung bengkak.
Mendengar jeritan isterinya, Tek Hin menghentikan kereta dan cepat menengok. “Ing-moi, apa yang terjadi?” Dan melihat isterinya memegangi tangan kiri sambil meringis kesakitan, dia memandang kepada Ang I Sian-li dan berkata marah, “Ang I Sian-li, kalau engkau mengganggu isteriku, aku akan mengadu nyawa denganmu!”
Ang I Sian-li tertawa, “Heh-heh, Song Tek Hin. Kalau engkau banyak tingkah, isterimu kubunuh dulu baru engkau. Ketika aku tadi tertidur, ia menotok pundakku dan kini jari tangannya bengkak. Apakah engkau hendak menyalahkan aku?”
Mendengar jawaban ini, Tek Hin memandang isterinya. “Ing-moi, bagaimana dengan tanganmu? Engkau duduk sajalah di sini, biar kuobati tanganmu.”
Ang I Sian-li juga berkata. “Nah, duduk saja engkau di depan dekat suamimu agar aku dapat tidur nyenyak tanpa gangguan.”
Hong Ing pindah duduk di samping suaminya. Tek Hin memeriksa tangan itu dan ternyata dua buah jari itu membengkak dan biru, akan tetapi masih untung tidak sampai patah sehingga tidak berbahaya, walaupun rasanya nyeri bukan main.
142
Setelah mengurut tangan isterinya, Tek Hin melanjutkan perjalanan. Di dalam hati, suami isteri merasa khawatir bukan main. Wanita itu sungguh sakti, dalam keadaan tidur pulas masih mampu melindungi diri seperti itu.
Pada sore harinya, barulah mereka tiba di tepi Huang-ho dan Ang I Sian-li menyuruh Tek Hin memasukkan kereta ke dalam sebuah hutan di tepi sungai besar itu, mendaki sebuah bukit kecil penuh hutan belukar. Dan ternyata di puncak bukit itu, terlindung hutan yang lebat, terdapat sebuah bangunan besar yang nampaknya masih baru. Bangunan itu dikelilingi tembok yang tinggi dan kereta itu memasuki pintu gerbang yang dijaga oleh beberapa orang yang nampaknya bengis dan kuat.
Suami isteri itu oleh Ang I Sian-li diajak memasuki bangunan induk dan di ruangan tengah mereka melihat bahwa di situpun terdapat belasan orang laki-laki yang nampaknya kuat dan bengis.
Melihat munculnya Ang I Sian-li, semua orang cepat bangkit berdiri dan memberi hormat dengan mengangkat kedua tangan depan dada.
Ang I Sian-li menyambut penghormatan mereka dengan sikap angkuh, lalu bertanya, “Apakah yang lain belum tiba?”
“Belum toa-nio. Hanya ada pembawa berita yang mengatakan bahwa rombongan dari Nan-cang akan datang besok, sedangkan yang dari kota raja mungkin besok lusa baru tiba.”
143
“Antar mereka ini ke kamar tamu nomor tiga yang sudah dipersiapkan,” kata Ang I Sian-li kepada anak buahnya, dan kepada suami isteri itu ia berkata, “Kalian tentu tidak akan begitu bodoh untuk mencoba melarikan diri, karena selain di sini ada aku, juga terdapat banyak anak buahku yang lihai. Kalau kalian tidak melawan dan tidak mencoba melarikan diri, kalian tidak akan diganggu.”
“Akan tetapi, mengapa kami ditahan di sini dan sampai berapa lama?” tanya Tek Hin memprotes.
“Sampai selesai urusan kami dengan Pek-liong dan Liong-li. Tunggu saja sampai besok lusa, sampai dua orang rekanku tiba. Kalau kalian tidak mencoba untuk lari, kalian akan diperlakukan sebagai tamu. Akan tetapi, kalau-kalian mencoba lari, aku terpaksa akan membelenggu kalian seperti dua orang tahanan!”
“Mari, silakan!” kata seorang tinggi kurus bermata juling kepada suami isteri itu.
Tek Hin dan Hong Ing saling pandang, maklum akan kebenaran ucapan Ang I Sian-li bahwa mencoba lari sama saja dengan mencari penyakit. Dari pada tinggal sebagai tawanan yang dibelenggu dan mungkin diganggu, lebih baik sebagai tamu.
Soal melarikan diri, mereka akan bersabar dan mencari kesempatan sebaiknya. Kalau mereka ditahan sebagai tamu, berarti mereka mempunyai harapan dan kemungkinan meloloskan diri, sebaliknya kalau dibelenggu dan dikeram dalam kamar tawanan, sulitlah untuk lolos.
144
Dengan taat mereka lalu mengikuti si kurus juling itu menuju ke lorong masuk ke belakang dan ternyata sudah ada sebuah kamar yang dipersiapkan untuk mereka. Kamar itu cukup menyenangkan, berikut kamar mandi lengkap, ukurannyapun cukup besar, dan bersih. Tempat tidur, meja kursi, semua lengkap. Hanya dua buah jendelanya dipasangi ruji baja yang amat kuat, temboknya tebal, dan di depan pintu kamar itu selalu ada beberapa orang yang berjaga dengan senjata di tangan.
Andaikata mereka berdua dapat melumpuhkan beberapa orang penjaga di depan kamar itu, di sana masih terdapat banyak sekali anak buah, dan terutama terdapat Ang I Sian-li yang amat lihai. Tidak banyak kesempatan untuk lolos dan mereka harus hati-hati. Betapapun juga, suami isteri itu merasa lega bahwa mereka ditahan dalam satu kamar, tidak dipisahkan. Maka, mereka saling menghibur dan bersabar hati, tetap waspada.
◄Y►
Di kota Han-cang dekat Telaga Po-yang, nama kakak beradik Kam amat terkenal dan dihormati orang. Sang Kakak bernama Kam Sun Ting, berusia sekitar duapuluh lima tahun, seorang perjaka yang bertubuh tegap dan kokoh kuat, tubuhnya ramping namun berotot dan wajahnya tampan. Adapun adiknya, seorang gadis bernama Kam Cian Li, berusia sekitar duapuluh dua tahun, juga bertubuh ramping padat dan wajahnya cantik manis.
Kakak beradik ini memiliki bentuk tubuh yang mengagumkan, dengan tangan dan kaki panjang dan sempurna lekuk lengkungnya. Hal ini tidak mengherankan karena sejak kecil,
145
kakak beradik ini terkenal sebagai ahli-ahli renang yang pandai, ahli-ahli penyelam yang jarang ditemukan tandingannya karena mereka pandai bermain di air seperti ikan-ikan saja.
Yang membuat mereka dikenal orang bukan hanya karena keahlian mereka menyelam, bukan pula ilmu silat mereka yang hanya lumayan saja, tidak dapat dibilang ahli, bukan pula hanya karena mereka itu tampan dan cantik dan keduanya gagah. Akan tetapi karena mereka itu kaya raya dan dermawan!
Keduanya belum menikah, tinggal di sebuah rumah yang tidak sangat besar namun mungil dan indah, dikelilingi taman bunga yang terawat amat indahnya. Rumah dan taman mereka menjadi kebanggaan penduduk kota Nan-cang! Dan kalau kakak beradik ini rindu akan air, mereka memiliki sebuah perahu yang sedang besarnya, yang berada di Telaga Po-yang, dirawat seorang nelayan.
Kalau mereka berperahu, mengenakan pakaian penyelam yang ketat, lalu keduanya bermain-main di air telaga, banyak orang menonton dengan kagum. Banyak pemuda tergila-gila kalau melihat Cian Li berpakaian penyelam yang mencetak bentuk tubuhnya yang membuat setiap pemuda terpesona, juga banyak gadis yang sampai mimpi merindukan Sun Ting yang gagah dan tampan.
Namun sungguh aneh, biarpun usia pemuda itu sudah duapuluh lima tahun dan adiknya sudah duapuluh dua tahun, mereka masih juga belum berumah tangga dan selalu menolak halus kalau ada orang memperlihatkan sikap tertarik dan mencinta. Bahkan Cian
146
Li sudah menolak banyak pinangan secara halus. Kakak beradik ini hidup berdua karena sudah yatim piatu.
Tidak begitu mengherankan kalau Sun Ting dan Cian Li belum juga mau menikah karena keduanya masih belum sembuh dari luka karena cinta gagal. Sun Ting mencinta Hek-liong-li, sedangkan Cian Li mencinta Pek-liong-eng. Cinta mereka mati-matian, bahkan mereka telah menumpahkan rasa cinta dengan penyerahan diri, namun mereka hanya dapat memiliki tubuh kedua pendekar itu selama beberapa hari saja, namun tidak dapat memiliki hati mereka!
Pek-liong dan Liong-li tidak mau jatuh cinta dan diikat pernikahan. Kakak beradik itu pernah membantu kedua pendekar itu memperebutkan harta karun dan setelah berhasil, sepasang pendekar itu menyerahkan sebagian dari harta karun kepada mereka, akan tetapi meninggalkan mereka yang menjadi patah hati.
Sun Ting dan Cian Li menjadi dua saudara yang kaya raya akan tetapi dengan hati merana karena cinta gagal! Dan karena mereka berdua tidak atau belum dapat melupakan Pek-liong dan Liong-li, maka keduanya tak pernah memperhatikan gadis dan pemuda lain. Keadaan itulah yang membuat kakak beradik ini dikenal oleh semua orang di Nan-cang, terutama mereka yang tinggal di sekitar Telaga Po-yang.
Pada suatu senja yang indah, kakak beradik ini masih berada di atas perahu mereka setelah berenang dan bermain-main. Telaga
147
itu sudah sunyi dan mereka berada di bagian selatan, jauh keramaian.
Senja itu angin berembus dengan kencangnya. Mereka duduk di kepala perahu sambil menikmati langit di barat yang bagaikan terbakar oleh sinar matahari senja, membentuk istana-istana kelabu yang serba indah, ada pula bentuk binatang-binatang ajaib yang seolah berenang di laut api.
Tiba-tiba Cian Li yang kebetulan menoleh ke utara, terbelalak dan ia memegang lengan kakaknya dan berbisik. “Lihat, apa itu?”
Sun Ting menengok dan diapun terbelalak, bahkan mereka menggosok kedua mata seolah tidak percaya akan apa yang mereka lihat. Apakah ada satu di antara mahluk ajaib dari angkasa di timur itu turun ke atas permukaan air telaga?
Mereka melihat sesosok tubuh meluncur di atas air, seperti bersayap dan didorong angin yang datang dari utara! Kini makin nampak jelas bahwa yang meluncur di atas permukaan air itu adalah seorang manusia!
Mungkinkah itu? Bagaimana mungkin ada manusia berlari atau meluncur di atas air begitu saja, dengan jubah dikembangkan di kanan kiri tubuhnya, menggembung tertiup angin dari belakang?
Akan tetapi setelah kini dekat terpisah beberapa meter, mereka berdua yakin bahwa yang meluncur di atas air menghampiri mereka itu memang seorang manusia! Seorang pria yang usianya sekitar enampuluh tahun. Tubuhnya jangkung kurus dan kelihatan lemah, pakaiannya menunjukkan bahwa dia seorang sasterawan,
148
akan tetapi dilengkapi jubah yang lebar dan tebal, yang dipergunakan sebagai layar.
Kedua kakinya yang bersepatu kain itu ternyata menginjak dua potong papan kayu tebal yang ujungnya runcing seperti bentuk perahu. Itulah sebabnya mengapa dia dapat mengambang dan meluncur karena jubahnya menjadi layar yang tertiup angin.
Biarpun demikian, selama hidupnya kakak beradik yang ahli bermain di air ini belum pernah melihat ada orang yang mampu berbuat seperti itu! Kalau orang ini tidak memiliki gin-kang (ilmu meringankan tubuh) yang amat hebat, tidak mungkin dia dapat bertahan meluncur seperti itu.
“Selamat sore, orang-orang muda! Apakah kalian yang bernama Kam Sun Ting dan Kam Cian Li dari Nan-cang?” Suara pria itu lembut dan sopan, juga wajahnya yang masih nampak tampan halus itu tersenyum ramah.
Kedua orang kakak beradik itu mengangguk membenarkan, saking heran dan kagumnya, mereka sampai tidak mampu mengeluarkan suara, hanya nengangguk.
“Bagus sekali!” Pria itu berseru gembira. “Kalau begitu tidak sia-sia perjalananku. Bolehkah aku naik perahu kalian? Aku sengaja mencari kalian, diutus oleh sahabat-sahabatku, Pek-liong dan Hek-liong-li.”
Mendengar disebutnya nama dua orang pendekar itu dan orang itu mengaku sebagai sahabat dan utusan, tentu saja kakak beradik itu merasa girang bukan main.
149
“Silakan, Locianpwe (orang tua gagah), silakan naik ke perahu kami!” kata Sun Ting.
Kini kakak beradik itu melihat bukti dugaan mereka bahwa mereka berhadapan dengan seorang locianpwe yang sakti. Pria itu seperti seekor burung bangau saja, meloncat dan melayang naik ke atas perahu, kedua kakinya meninggalkan dua potong papan yang tadi dipergunakan untuk meluncur dan ketika kedua kakinya hinggap di atas perahu, perahu itu sedikitpun tidak terguncang!
Begitu tiba di atas perahu, orang itu berkata, “Orang muda, cepat kaulayarkan perahumu ke barat. Pek-liong-eng dan Hek-liong-li mengutusku untuk menjemput kalian dan agar kalian secepatnya menemui mereka.”
“Di manakah tai-hiap dan li-hiap itu, locianpwe?”tanya Kam Cian Li, hatinya tegang karena akan bertemu dengan Pek-liong, pria yang selalu dipuja di dalam hatinya.
Pria itu menghela napas panjang, mengeluarkan sebuah kipas dari saku jubahnya dan mengipas tubuhnya dengan lagak seorang sastrawan, lalu berkata,
“Mereka berpesan agar aku tidak boleh memberitahukan di mana mereka berada. Yang penting, mereka terancam bahaya dan hanya kalian berdua dengan kepandaian kalian dalam air yang dapat menolong dan menyelamatkan mereka. Cepatlah layarkan perahu ke barat, aku lelah sekali dan ingin beristirahat dan tidur. Kecuali kalau kalian tidak ingin menolong mereka, terpaksa aku akan pergi lagi.”
150
“Tentu saja kami suka sekali menolong mereka, locianpwe!” kata Sun Ting cepat-cepat dan diapun sudah mengatur layar dan kini perahu mulai meluncur ke arah barat.
Pria itu sudah merebahkan dirinya di tengah perahu dan sebentar saja dia sudah tidur mendengkur! Agaknya dia memang lelah sekali sehingga kakak beradik itu tidak berani dan tidak tega mengganggunya.
Mereka mengatur layar dan kemudi perahu. Angin kencang membuat perahu itu meluncur cepat ke arah barat. Akan tetapi, walaupun kakak beradik itu, selalu memandang ke barat, kini mereka tidak melihat lagi keindahan langit senja di barat karena pikiran mereka penuh dengan bayangan Pek-liong-eng dan Hek-liong-li dan hati mereka dicekam kekhawatiran. Ingin mereka cepat-cepat dapat bertemu dengan kedua orang pendekar itu.
Senja telah diselimuti kegelapan malam ketika perahu itu tiba di tepi pantai barat. Melihat pria itu masih tidur, Sun Ting mendekatinya dan dengan lirih dia menggugahnya.
“Locianpwe, kita sudah tiba di tepi pantai barat. Di mana mereka?”
Pria itu bergerak menggeliat dan bangkit duduk, memandang ke sekeliling. “Ehh? Sudah gelap? Sudah tiba di tepi pantai barat?”
“Benar, locianpwe,” kata Cian Li. “Di mana Pek-liong-eng?”
151
“Nanti dulu, mereka bilang akan menjemput kita dengan kereta di sini. Nah, itu di sana kukira keretanya,” kata pria itu dan pada saat itu terdengar ringkik kuda.
“Mari, keretanya di sana. Kita harus melanjutkan perjalanan naik kereta yang sudah disediakan.”
Dia meloncat ke darat. Kakak beradik itu saling pandang di keremangan malam yang hanya diterangi bintang, akan tetapi keraguan mereka dikalahkan keinginan bertemu dengan sepasang pendekar itu. Maka, merekapun mengikatkan tali perahu pada sebatang pohon, lalu merekapun mendarat dan mengikuti kakek itu.
Benar saja, tak jauh dari pantai terdapat sebuah kereta dengan dua ekor kudanya. Di bangku kusir duduk seorang laki-laki tinggi besar. Dia duduk seperti patung dan sama sekali tidak menengok, dan juga kakek sastrawan itu sama sekali tidak bertanya atau menegurnya.
“Marilah, kalian naik kereta ini bersamaku,” katanya mempersilakan kakak beradik itu naik ke kereta.
“Ke manakah kita akan pergi, locianpwe? Di mana mereka berdua itu?” tanya Sun Ting.
“Naik sajalah, nanti kalian akan mengetahuinya sendiri,” katanya.
Begitu mereka bertiga duduk di dalam kereta, kendaraan itu segera bergerak cepat. Dua buah lentera di kanan kiri kereta bergoyang-goyang dan kereta itu bergerak cepat.
152
Sun Ting mulai merasa curiga. “Locianpwe ini siapakah? Siapakah nama locianpwe dan apa yang yang terjadi dengan Pek-liong-eng dan Hek-liong-li?”
“Benar, ceritakan kepada kami, locianpwe, agar hati kami tidak merasa ragu dan bimbang. Apa yang terjadi dengan mereka dan di mana mereka sekarang?” kata pula Cian Li.
“Kalian ingin mengetahui siapa aku? Orang menyebut namaku Kim Pit Siu-cai (Sastrawan Pena Emas),” kata pria itu dan di dalam suaranya halus itu kini terkandung kebanggaan hati.
Akan tetapi, melihat wajah kedua prang kakak beradik itu tertimpa sinar lentera itu tidak kelihatan kaget, bahkan agaknya tidak mengenal nama julukan itu, alis Kim Pit Siu-cai berkerut. Tentu saja kakak beradik itu tidak mengenal nama datuk besar ini.
Mereka berdua bukanlah orang-orang kang-ouw dan kalau mereka berdua menjadi sahabat Pek-liong-eng dan Hek-liong-li, hal itu hanya kebetulan saja. Mereka bukan ahli-ahli silat dan bukan pendekar, tidak mengenal dunia kang-ouw dan para tokohnya, maka nama itupun sama sekali tidak mereka kenal.
“Tapi di mana kedua pendekar itu dan bahaya apakah yang mengancam mereka?” tanya Cian Li.
Melihat kenyataan bahwa dua orang kakak beradik itu tidak terkejut mendengar namanya, hal ini saja sudah membuat Kim Pit Siu-cai penasaran dan marah sekali. Kalau saja dia tidak membutuhkan dua orang kakak beradik ini, tentu akan dibunuhnya mereka seketika untuk memuaskan hatinya yang
153
merasa penasaran. Tidak dikenal nama besarnya sama saja dengan suatu penghinaan baginya!
“Kalian tidak mengenal nama besar Kim Pit Siu-cai?” tanyanya, kini suaranya terdengar ketus. “Ketahuilah bahwa aku adalah seorang di antara Kiu Lo-mo!”
Akan tetapi, kembali dia tertegun, penasaran dan wajahnya berubah merah sekali.
“Kiu Lo-mo? Siapakah mereka itu?” tanya Cian Li, juga Sun Ting memandang tak mengerti.
Kalau saja dia bukan sastrawan, tentu Kim Pit Siu-cai sudah menyumpah-nyumpah dan memaki-maki saking jengkelnya. Lalu dia teringat sesuatu dan membentak, “Coba katakan, apakah kalian tidak mengenal nama Siauw-bin Ciu-kwi?”
Mendengar disebutnya nama ini, kakak beradik itu terkejut. “Aih, iblis tua yang amat jahat itu?” tanya Cian Li.
Kini Kim Pit Siu-cai tertawa bergelak dan ketika dia tertawa, lenyaplah semua sikap halus dan sopannya. Di dalam suara tawanya terkandung kekejaman yang mengerikan.
“Ha-ha-ha, kalian mengenal Siauw-bin Ciu-kwi, bukan? Ha-ha-ha-ha!”
“Tapi iblis tua yang jahat itu telah mati!” kata Sun Ting.
154
“Dia telah mati, akan tetapi aku belum! Dan aku adalah saudaranya, dan aku akan membalas dendam kematiannya!”
“Ahhh......!!” tentu saja kakak beradik itu terkejut bukan main, wajah mereka berubah pucat dan mata mereka terbelalak. “Kalau begitu, engkau bukan sahabat Pek-liong-eng dan Hek-liong-li!”
“Ha-ha-ha-ha, sahabat? Mereka adalah musuh-musuh besar yang harus kubunuh! Dan kalian akan menjadi umpan agar mereka berdua datang!”
“Tidak, aku tidak sudi!” teriak Cian Li dan kakaknya juga menjadi marah sekali.
Keduanya bergerak hendak melompat keluar dari dalam kereta. Akan tetapi, kipas di tangan Kim Pit Siu-cai bergerak lebih cepat lagi. Dia duduk berhadapan dengan kedua orang kakak beradik itu dan begitu kipasnya bergerak dua kali, Sun Ting dan Cian Li sudah menjadi lemas tak mampu bergerak lagi karena sudah tertotok ujung gagang kipas! Mereka hanya duduk lemas bersandar dan dengan mata terbelalak marah mereka hanya dapat memandang kepada Kim Pit Siu-cai yang tertawa bergelak.
“Ha-ha-ha, tanpa kalian pun kami akhirnya akan dapat membunuh Pek-liong dan Liong-li. Akan tetapi dengan kalian, akan lebih mudah memancing mereka. Kalau kalian tidak memberontak, kami akan menerima kalian sebagai tamu, akan tetapi kalau kalian memberontak, terpaksa kalian akan ku perlakukan sebagai tawanan. Nah, kalian tinggal pilih saja!”
155
Cepat sekali kipasnya bergerak dan kedua orang kakak beradik itu sudah dapat bergerak kembali. Cian Li mengepal tinju, akan tetapi kakaknya segera memegang lengannya dan menggeleng kepala.
“Adikku, kita bukan tandingannya, tidak perlu melawan,” katanya dan Cian Li mengerti. Keadaan bagi mereka akan semakin buruk kalau mereka melawan. Selain percuma saja melawan, mereka akan menjadi tawanan, tertotok, atau terbelenggu, dan siapa tahu, sebagai tawanan mereka akan diperlakukan lebih buruk lagi.
“Ha-ha-ha, itu baru bijaksana namanya. Nah, sekarang tidak perlu banyak bertanya lagi. Pendeknya, kalian akan menjadi tamu-tamu kami di suatu tempat, di lembah Huang-ho, dan jangan banyak membuat ulah.”
Kakak beradik itu tidak membuat ulah, bahkan tidak bicara lagi kepada penawan mereka. Mereka kini tidak mengkhawatirkan diri sendiri karena tahu bahwa mereka hanya ditawan sebagai umpan untuk memancing datangnya Hek-liong-li dan Pek-liong-eng.
Mereka gelisah memikirkan keselamatan dua orang pendekar yang mereka cinta itu. Kakek yang menawan mereka itu demikian lihai, jahat dan kejam sekali nampaknya, walaupun sikapnya halus dan wajahnya masih tampan. Tampak mengerikan.
Biarpun mereka diam saja, namun di dalam hati kedua orang kakak beradik ini, mereka mengambil keputusan untuk membantu Liong-li dan Pek-liong sedapat mungkin, dan mereka hanya dapat menunggu. Di balik semua perasaan khawatir itu, juga terdapat
156
keinginan tahu apakah sepasang pendekar itu akan dapat dipancing dengan umpan diri mereka, apakah sepasang pendekar itu masih memperdulikan mereka? Ada harap-harap cemas tersembunyi di lubuk hati mereka.
Kakak beradik ini memang tidak membuat usaha melarikan diri atau melawan lagi sampai perjalanan itu berakhir di lembah Huang-ho, di rumah gedung yang menjadi tempat tahanan Song Tek Hin dan isterinya, Su Hong Ing yang ditawan oleh Ang I Sian-li, seorang di antara Sembilan Iblis. Akan tetapi karena kamar mereka terpisah, mereka tidak saling mengetahui bahwa ada tawanan lain di samping mereka.
Seperti juga suami isteri itu, Kam Sun Ting dan Kam Cian Li mendapat kebebasan, namun mereka tidak melihat sedikitpun kesempatan untuk dapat melarikan diri dari tempat yang terjaga ketat dan di mana terdapat orang-orang yang memilliki ilmu kepandaian tinggi seperti Kim Pit Siu-cai dan Ang I Sian-li. Kakak beradik itu, seperti juga halnya suami isteri itu, hanya dapat menanti dengan hati tegang dan khawatir.
Dibandingkan tugas dua orang rekannya, yaitu Kim Pit Siu-cai yang menangkap kakak beradik Kam, dan Ang I Sian-li yang menangkap Song Tek Hin dan isterinya, tugas yang dilaksanakan Pek-bwe Coa-ong jauh lebih sukar. Sebagai orang tertua di antara tiga orang sisa Sembilan Iblis Tua itu, Pek-bwe Coa-ong si Raja Ular ini memang sengaja menangani tugas sukar ini sendiri. Tugasnya ialah menangkap Cian Hui dan isterinya yang bernama Cu Sui In.
157
Tentu saja tugas.ini tidak mudah dilaksanakan oleh karena Cian Hui bukan orang sembarangan. Dia adalah Cian Ciang-kun, seorang panglima muda yang gagah perkasa dan yang di kota raja sudah terkenal sebagai seorang penyelidik atau detektip yang sudah banyak berhasil membongkar berbagai kejahatan.
Sebagai seorang panglima, tentu saja Cian Ciang-kun mempunyai kekuasaan atas sepasukan perajurit keamanan yang tangguh, dan dia sendiri memiliki ilmu silat yang lihai di samping kecerdikannya sebagai seorang pemberantas kejahatan.
Cian Hui yang sudah berusia empatpuluh tiga tahun itu masih nampak tegap dan gagah, wajahnya kejantanan, wajahnya berbentuk segi empat, dagunya berlekuk keras, alisnya hitam tebal sekali, hidungnya besar mancung dan mulutnya cerah, matanya lebar, suaranya juga tegas dan nyaring, tubuhnya tinggi tegap. Ilmu silatnya adalah ilmu silat keturunan keluarga Cian, senjatanya sebatang suling baja yang ampuh.
Dengan jenggot kumis terpelihara rapi, panglima ini memang nampak gagah berwibawa, membuat gentar hati para penjahat yang bertemu dengan dia. Selama tiga tahun sudah Cian Hui menikah dengan Cu Sui In, dan mereka mempunyai seorang anak perempuan berusia dua tahun yang diberi nama Cian Hong.
Kalau Cian Hui pandai ilmu silat keluarganya, isterinya yang murid Kun-lun-pai itu lebih lihai lagi! Cu Sui In seorang wanita cantik berusia duapuluh sembilan tahun, keturunan bangsawan pula. Ia seorang janda, empat tahun yang lalu suaminya tewas dibunuh penjahat yang dipimpin Kui-eng-cu, yang sesungguhnya
158
adalah dua orang di antara Sembilan Iblis Tua, yaitu mendiang Lam-hai Mo-ong dan Tiat-thouw Kui-bo.
Dalam memerangi gerombolan Kui-eng-cu (Si Bayangan Iblis) inilah ia bertemu dengan Cian Hui, dan bertemu pula dengan Hek-liong-li dan Pek-liong-eng. Kalau Cian Hui tergila-gila kepada Liong-li, Sui In tergila-gila kepada Pek-liong. Akan tetapi karena sepasang pendekar itu tidak mau terlibat dalam pernikahan, hubungan cinta itu gagal, dan kalau tadinya mereka saling menghibur, akhirnya Cian Hui dan Cu Sui In saling tertarik dan menikah. Dari pernikahan ini mereka mendapatkan seorang anak perempuan.
Suami isteri jagoan ini tinggal di sebuah gedung yang mungil di kota raja. Biarpun dia seorang panglima, namun Cian Ciang-kun tidak suka hidup gemerlapan dengan kemewahan. Rumahnya tidak terlalu besar seperti rumah para panglima lainnya, namun karena dia menyadari bahwa dia dimusuhi banyak penjahat dan tokoh sesat yang pernah diberantasnya, maka siang malam selalu ada saja pasukan khusus yang melakukan penjagaan di sekitar rumah Cian Ciang-kun untuk menjaga keselamatan, untuk mencegah agar tidak ada tokoh sesat yang datang membalas dendam kepada keluarga itu.
Sebetulnya, penjagaan ini dilakukan oleh Cian Hui semenjak isterinya melahirkan seorang anak. Sebelum itu, dia tidak pernah menyuruh anak buahnya melakukan penjagaan, karena dia merasa bahwa dia sendiri bersama isterinya cukup tangguh untuk membela diri kalau terjadi penyerangan. Akan tetapi setelah
159
puterinya lahir, dia melakukan penjagaan itu demi keselamatan puterinya.
Itulah sebabnya mengapa Pek-bwe Coa-ong mengalami kesulitan untuk dapat menculik Cian Hui dan isterinya seperti yang telah direncanakannya bersama dua orang rekannya, yaitu Kim Pit Siu-cai dan Ang I Sian-li dalam usaha mereka membalas dendam kepada Pek-liong-eng dan Hek-liong-li.
Telah sepekan dia berada di kota raja, setiap hari melakukan pengintaian namun tak pernah mendapatkan kesempatan untuk melakukan usahanya itu. Dia tidak berani melakukan kekerasan terhadap Cian Hui dan isterinya di kota raja karena dimaklum betapa besar bahayanya kalau sampai para jagoan istana dan pasukan keamanan mengepung dan mengeroyoknya. Kalau dia hendak membunuh panglima itu dan isterinya, hal itu agaknya akan dapat dia lakukan lebih mudah, apalagi dia memang sengaja membawa Thai-san Ngo-kwi untuk membantunya.
Akan tetapi justeru kesukarannya terletak pada tidak harus melakukan pembunuhan. Kalau panglima dan isterinya itu dibunuh, hal itu sama sekali tidak ada gunanya lagi. Mereka harus dapat ditangkap hidup-hidup, dijadikan tawanan sebagai umpan agar Liong-li dan Pek-liong berdatangan,untuk menyelamatkan sahabat baik itu. Pada suatu sore, Pek-bwe Coa-ong yang selalu melakukan pengintaian itu melihat Cian Hui dan isterinya keluar dari rumah mereka. Suami isteri itu agaknya hendak berjalan-jalan mencari hawa sejuk karena udara sore hari itu agak panas dan mereka tidak membawa pengawal.
160
Diam-diam Pek-bwe Coa-ong membayangi mereka dan melakukan persiapan karena dianggapnya bahwa hal itu merupakan kesempatan yang baik sekali. Atas isyaratnya Thai-kwi dan Ji-kwi ikut pula melakukan pengintaian dan kini dua orang di antara Thai-san Ngo-kwi itu ikut pula membayangi suami isteri yang sama sekali tidak mengira bahwa dalam suasana yang aman dan nyaman itu, mereka terancam bahaya.
Cian Hui dan Sui In memasuki sebuah taman di kota raja. Taman umum itu indah terpelihara baik-baik dan luas, terdapat banyak pohon dan rumpun bunga-bunga beraneka warna. Sore itu, banyak juga orang berjalan-jalan di taman umum itu karena hawa udara di situ lebih sejuk. Akan tetapi, karena taman itu luas, maka banyak bagian yang nampak sepi.
Ketika Cian Hui dan Sui In sedang berjalan perlahan-lahan di bagian yang sunyi dekat sebuah kolam ikan sambil bercakap-cakap, tiba-tiba muncul dua orang laki-laki yang berjalan dari depan. Tanpa curiga Cian Hui dan isterinya memandang kepada mereka. Seorang tinggi besar berkulit hitam dan seorang lagi pendek gendut, usia mereka empatpuluh tahun lebih.
Ketika dua orang itu telah datang dekat, tiba-tiba saja mereka menyerang suami isteri itu dengan pukulan yang dahsyat, tanpa memberitahu lebih dahulu. Tentu saja suami isteri itu terkejut bukan main. Namun, mereka adalah ahli-ahli silat kelas satu, maka cepat mereka dapat meloncat ke samping mengelak.
Si tinggi besar terus menyerang Cu Sui In, sedangkan yang pendek gendut menyerang Cian Hui. Tentu saja kedua orang itu
161
adalah Thai-kwi dan Ji-kwi yang telah mendapat perintah dari Pek-bwe Coa-ong untuk melakukan penyerangan kepada suami isteri yang sejak tadi mereka bayangi. Karena mereka sebelumnya sudah melakukan penyelidikan dan tahu bahwa Sui In lebih lihai dari Cian Hui, maka Thai-kwi menyerang Sui In dan Ji-kwi yang menyerang Cian Hui.
“Heii, gilakah kalian tanpa sebab menyerang kami?” Cian Hui membentak dan kembali dia mengelak dari serangan si pendek gendut yang amat lihai itu.
“Cian Hui, engkau dan isterimu harus mati untuk menebus dosamu terhadap banyak saudara kami yang kautawan dan kaubunuh!” teriak Thai-kwi yang juga mendesak Sui In.
Mengertilah Cian hui bahwa dia berhadapan dengan golongan sesat yang memusuhinya untuk membalaskan para penjahat yang pernah ditangkapnya atau dibasminya, maka tanpa banyak cakap lagi diapun membalas serangan si pendek gendut. Akan tetapi, sekali ini dia terkejut karena si gendut ini benar-benar amat lihai.
Ketika si gendut itu menangkis pukulannya, dia merasa betapa lengan kanannya tergetar hebat dan terasa nyeri. Ia menunjukkan bahwa si gendut ini memiliki tenaga yang amat kuat. Juga ketika dia melirik ke arah isterinya, dia melihat isterinya terdesak oleh si tinggi besar.
“Singg......!” Cian Hui mencabut pedangnya, akan tetapi pada saat itu, lawannya juga mengeluarkan sebatang golok yang berkilauan saking tajamnya. Mereka kembali saling serang dan
162
ternyata ilmu golok lawannya itupun hebat sehingga sebentar saja gulungan sinar pedangnya terhimpit. Tentu saja Cian Hui merasa khawatir sekali, terutama terhadap keselamatan isterinya.
Cu Sui In adalah murid Kun-lun-pai yang tangguh, bahkan tingkat ilmu silatnya lebih tinggi dibandingkan suaminya. Akan tetapi sekali ini ia bertemu tanding yang amat kuat. Apalagi ketika lawannya menggerak-gerakkan kedua lengan secara aneh dan nampak kedua lengan itu kemerah-merahan, tahulah Sui In bahwa lawannya memiliki ilmu yang aneh dan tangannya mengandung hawa panas seperti api.
Tidak seperti suaminya yang tak pernah ketinggalan membawa pedang, nyonya muda ini tidak membekal senjata, karena niatnya meninggalkan rumah hanya untuk jalan-jalan mencari hawa sejuk. Akan tetapi agaknya lawannya seorang yang tinggi hati karena melihat ia tidak bersenjata, lawannya juga tidak mencabut golok yang tergantung di punggungnya. Biarpun demikian, tetap saja dia mulai terdesak.
Tiba-tiba, di antara beberapa orang yang mulai tertarik dan nonton perkelahian itu, muncul seorang kakek yang rambutnya sudah putih semua. “Siapa berani mengganggu Cian Ciang-kun?” bentaknya halus dan diapun melompat ke dalam kalangan perkelahian, tangannya yang hampir tak nampak tertutup lengan baju yang lebar dan panjang itu digerakkan dua kali ke arah Thai-kwi dan Ji-kwi.
Angin yang kuat sekali menyambar dari lengan baju itu dan kedua orang yang menyerang suami isteri itu terdorong dan terhuyung
163
ke belakang! Mereka berdua maklum bahwa kakek yang membela suami isteri itu memiliki kesaktian, maka tanpa banyak sikap lagi keduanya lalu berlompatan melarikan diri dengan cepat sekali.
Tentu saja Cian Hui dan isterinya merasa lega dan berterima kasih sekali kepada kakek yang amat lihai itu. Mereka memandang dengan penuh perhatian dan merasa kagum.
Kakek itu usianya sekitar enampuluh lima tahun, rambutnya sudah putih semua dan wajahnya nampak tua sedangkan tubuhnya kecil kurus dan kelihatan ringkih. Siapa tahu, dia memiliki sin-kang sedemikian hebatnya sehingga sekali menggerakkan tangan, hawa pukulannya membuat penjahat yang tangguh tadi terdorong dan terhuyung! Cian Hui dan isterinya cepat memberi hormat kepadanya dan Cian Hui berkata dengan suara yang mengandung rasa kagum dan hormat.
“Kami menghaturkan terima kasih kepada locianpwe yang telah menolong kami. Agaknya lo-cianpwe sudah mengetahui bahwa saya bernama Cian Hui dan ini isteri saya, Cu Sui In. Bolehkah kami mengenal nama besar locianpwe yang mulia?”
Kakek itu tersenyum dan mengeluarkan suara tawa aneh dan lirih. “Heh-heh, namaku tidak ada artinya bagi Ciang-kun, yang lebih penting Ciang-kun ketahui bahwa saya memang mencari Ciang-kun berdua isteri karena saya membawa pesan dari sahabat baik saya Pek-liong-eng......”
164
Mendengar ini, Cian Hui dan isterinya terkejut akan tetapi juga girang. Kiranya kakek lihai ini adalah sahabat Pek-liong-eng Tan Cin Hay. Pantas demikian lihainya!
Akan tetapi karena di situ terdapat banyak orang yang berkumpul karena merasa tertarik oleh perkelahian tadi, Cian Hui berkata, “Locianpwe, tidak leluasa untuk bicara di sini. Mari, kami persilakan locianpwe berkunjung ke rumah kami di mana kita dapat bicara dengan leluasa.”
“Heh-heh, begitupun lebih baik......” kakek itu mengangguk-angguk lalu mereka bertiga meninggalkan taman dan pergi ke rumah panglima itu.
Setelah mereka duduk di dalam ruangan tamu, Cian Hui dan isterinya yang duduk berhadapan dengan kakek itu segera bertanya apakah pesan yang dibawa oleh kakek itu dari Pek-liong, dan siapa pula nama kakek yang lihai itu.
“Heh-heh, sudah saya katakan bahwa nama saya tidak ada artinya bagi ji-wi (kalian berdua). Nama saya Gan Ki dan saya adalah seorang sahabat baik dari Pek-liong-eng dan Hek-liong-li. Pek-liong-eng yang mengutus saya mencari Ciang-kun dan nyonya.
“Apakah pesan itu, Gan-locianpwe?” tanya Cian Hui.
“Dia berpesan agar sekarang juga ji-wi datang kepadanya. Dia berada dalam bahaya maut dan hanya ji-wi yang akan dapat menyelamatkannya. Saya diutus menjemput ji-wi dan sudah disediakan kereta untuk ji-wi di luar pintu gerbang selatan kota
165
raja. Karena tidak ingin menarik perhatian orang, sengaja kereta itu saya tinggalkan di sana, siap untuk mengantar ji-wi ke tempat Pek-liong-eng berada.”
Tentu saja suami isteri itu terkejut bukan main mendengar bahwa Pek-liong berada dalam bahaya maut!
“Di mana dia sekarang?” Sui In tak dapat menahan kecemasan hatinya dan bertanya. Bagaimanapun juga, Pek-liong merupakan orang yang pernah menjadi kekasihnya dan ia tidak pernah dapat melupakan pendekar itu.
“Di suatu tempat di lembah Huang-ho. Marilah kita segera berangkat, saya khawatir kita akan terlambat,” kakek itu mendesak.
Cian Hui teringat akan sesuatu. “Locianpwe, kalau Pek-liong berada dalam bahaya maut, kenapa lo-cianpwe mencari kami, bukan mencari Liong-li?”
“Liong-li? Ah, kaumaksudkan Hek-liong-li Ciang-kun? Ia tidak berada di tempat tinggalnya dan menurut Pek-liong-eng, Hek-liong-li juga terancam maut. Karena itu, marilah cepat-cepat kita pergi agar jangan terlambat, Ciang-kun. Sebaiknya Ciang-kun pergi berdua seperti pesan Pek-liong-eng, jangan bawa pasukan pengawal karena hal ini tentu akan diketahui oleh pihak musuh dan celakalah Pek-liong-eng!”
Suami isteri itu saling pandang, wajah Sui In membayangkan kecemasan. “Mari kita cepat pergi dan menolongnya!” kata nyonya muda itu.
166
“Mari, kita berkemas dulu. Harap locianpwe menunggu sebentar di sini, kami hendak membuat persiapan dan berkemas,” kata Cian Hui.
Kakek itu mengangguk sambil tersenyum dan suami isteri itu masuk ke dalam.
Setelah tiba di dalam, Cian Hui menarik tangan isterinya diajak ke belakang.
“Aku curiga kepadanya, kita harus membuat persiapan,” bisiknya dan diapun menulis surat dengan cepat, memanggil kepala penjaga lalu menyerahkan surat itu dengan pesan agar cepat-cepat surat itu diserahkan kepada Teng Gun atau Teng Ciang-kun.
Setelah kepala penjaga itu pergi dengan cepat, dia dan isterinya lalu membawa bekal dan tidak lupa mereka mempersiapkan pedang dan senjata rahasia, juga obat-obatan. Sui In memesan kepada pelayan agar menjaga Cian Hong baik-baik dan agar para pengawal menjaga keselamatan anak itu, barulah mereka pergi ke ruangan tamu kembali dan disambut dengan senyum gembira oleh kakek rambut putih itu.
“Bagus, ji-wi tidak membuang-buang waktu. Mari kita cepat berangkat!” katanya dan suaranya terdengar gembira.
“Akan tetapi agar tidak menarik perhatian, kita jangan terlalu cepat berjalan selama berada dalam kota,” kata Cian Hui. “Ketahuilah, locianpwe, saya mempunyai tugas pekerjaan, akan
167
tetapi terpaksa saya tinggalkan demi menolong Pek-liong-eng, sahabat baik kami.”
Kakek itu mengangguk-angguk. “Saya tahu, kalau bukan sahabat baik, tentu Pek-liong-eng tidak menyuruh saya mencari ji-wi.”
Mereka bertiga lalu keluar dari rumah Cian Hui dan berjalan dengan santai menuju ke selatan, ke arah pintu gerbang selatan. Tidak nampak ketegangan di wajah Cian Hui, apa lagi ketika dia melihat beberapa orang dalam penyamaran mengamati mereka, yaitu para jagoan istana yang menjadi sahabat-sahabatnya.
Kiranya Teng Ciang-kun, pembantunya yang setia, dapat bekerja dengan cepat sekali sesuai dengan isi suratnya yang dikirimkannya tadi.
Tidak terjadi sesuatu selama mereka melakukan perjalanan santai menuju ke pintu gerbang selatan. Setelah keluar dari pintu gerbang, kakek itu berkata, “Kami telah mempersiapkan sebuah kereta untuk melanjutkan perjalanan. Di sana keretanya, Ciang-kun,” dia menunjuk ke kiri, ke lorong yang menyimpang dari jalan raya.
Cian Hui dan Sui In mengikutinya memasuki lorong yang sepi itu, dan dari jauh nampak sebuah kereta sudah menanti.
Tempat itu memang sepi, apa lagi cuaca mulai gelap remang-remang. Ketika sudah tiba di dekat kereta, suami isteri itu melihat dua orang berada di atas kereta, di bangku kusir dan mereka terkejut bukan main mengenal bahwa mereka itu bukan lain
168
adalah si tinggi besar muka hitam dan si gendut yang tadi menyerang mereka di dalam taman!
“Heil! Apa artinya ini?” seru Cian Hui dan bersama isterinya diapun memutar tubuh untuk menghadapi kakek yang mengaku bernama Gan Ki.
Kakek itu berdiri menyeringai dan kini wajahnya yang nampak tua dan ringkih itu kelihatan licik dan kejam.
“Artinya, kalian berdua menjadi tawanan kami.”
“Siapakah engkau sebenarnya dan mengapa pula hendak menawan kami?” Cian Hui bertanya dengan suara lantang karena marah.
Kini kakek yang sudah merasa yakin akan keberhasilannya, tertawa mengejek.
“Ha-ha-ha, namaku memang Gan Ki walaupun tak pernah aku mempergunakan nama kecil itu. Dunia kang-ouw mengenalku sebagai Pek-bwe Coa-ong (Raja Ular ekor Putih).”
Cian Hui terkejut. “Seorang di antara Kiu Lo-mo?”
“Heh-heh, engkau memang cerdik, Cian Ciang-kun. Memang benar sekali dugaanmu itu.”
“Lalu mengapa engkau menawan kami?”
169
“Agar Pek-liong-eng dan Hek-liong-li datang untuk menolong kalian. Bukankah kalian sahabat sahabat baik mereka? Kalian kami tawan untuk menjadi umpan. Setelah dapat ikannya, kalian akan kami bebaskan.”
“Tidak sudi kami dijadikan umpan!” bentak Cu Sui In marah dan ia sudah mencabut pedangnya, diikuti suaminya yang juga mencabut pedang.
“Kalian hendak melawan? Ha-ha, menghadapi Thai-kwi dan Ji-kwi saja kalian tidak mampu menang, dan kalian hendak melawan aku?”
Cian Hui dan Cu Sui In yang sudah marah sekali tidak perduli dan menerjang kakek itu dengan pedang mereka. Pek-bwe Coa-ong tersenyum dan tubuhnya membuat gerakan seperti ular, lalu kedua lengannya didorongkan ke depan menyambut serangan itu.
“Wuuuuuttt......!” Angin dahsyat menyambut suami isteri itu dan betapapun mereka sudah mengerahkan sin-kang mempertahankan diri, tetap saja Cian Hui terjengkang dan Cu Sui In yang lebih tangguh, terdorong ke belakang dan terhuyung!
Cian Hui cepat mengeluarkan peluit kecil dan meniupnya. Terdengar suara nyaring dan belasan bayangan berkelebat. Mereka adalah jagoan-jagoan istana yang sudah berloncatan keluar dengan senjata di tangan dan di belakang mereka masih nampak puluhan orang perajurit.
170
Melihat ini, Pek-bwe Coa-ong terkejut, dan dua orang dari Thai-san Ngo-kwi juga terbelalak. Sama sekali tidak mereka sangka bahwa suami isteri yang sudah mereka jebak itu berbalik memasang perangkap bagi mereka!
Melihat bahwa keadaannya menjadi berbahaya karena diapun maklum bahwa jagoan-jagoan dari kota raja amat lihai dan jumlah mereka amat banyak, kakek itu mengeluarkan teriakan nyaring memberi isyarat kepada dua orang pembantunya dan merekapun berlompatan melarikan diri dengan cepat sekali, meninggalkan kereta dan kuda mereka. Mereka hanya bermaksud menawan suami isteri itu untuk dijadikan umpan. Usaha mereka telah gagal maka mereka tidak ingin terlibat dalam perkelahian dan permusuhan melawan pasukan keamanan pemerintah.
Cian Hui dan isterinya segera pulang dengan hati lega, akan tetapi setelah tiba di rumah, Sui In bertanya, “Bagaimana engkau bisa tahu bahwa dia berniat jahat dan telah mengerahkan bala bantuan?”
Cian Hui menghela napas. “Berkat pengalamanku selama bertahun-tahun, aku selalu waspada dan teliti. Ada banyak hal yang ganjil ketika kakek itu bercerita tentang Pek-liong-eng. Pertama kalau dia memang mencariku, bagaimana kita dapat bertemu dengan dia di taman, tepat pada saat kita diserang kedua orang itu? Kebetulan yang agaknya disengaja atau diatur. Kalau benar dia mencariku untuk menyampaikan pesan dari Pek-liong-eng tentu dia akan langsung saja datang ke rumah, bukan berkeliaran di taman.
171
“Kedua, kalau benar Pek-liong-eng membutuhkan bantuan kita, tentu dia akan mengirim surat, bukan secara lisan. Ketiga, kakek itu memiliki kepandaian tinggi, kalau dia benar sahabat baik dari Pek-liong-eng, mengapa dia jauh-jauh mencari kita dan bukan dia sendiri saja yang menolong Pek-liong? Kepandaiannya jauh di atas kita, lalu mencari kita apa gunanya? Keempat, dia bilang menyiapkan kereta untuk kita, dan tidak ingin menarik perhatian maka keretanya ditinggalkan di luar pintu gerbang.
Hal ini tidak masuk diakal. Kalau kedatangannya bermaksud baik, kenapa dia menjauhkan perhatian orang? Pendeknya, banyak sekali pada dirinya yang menimbulkan kecurigaan, maka ketika kita masuk untuk berkemas, aku mengirim surat kepada Teng Ciang-kun agar dia mengirim bala bantuan yang kuat dan memasang barisan pendam di luar pintu gerbang, melihat perkembangan.”
Isterinya mengangguk-angguk dan memandang kagum kepada suaminya, “Engkau memang cerdik sekali. Kalau begitu, jelas bahwa Pek-liong dan Liong-li sebenarnya tidak berada dalam ancaman bahaya maut.”
“Engkau keliru. Kakek itu adalan Pek-bwe Coa-ong, seorang di antara Sembilan Iblis Tua. Setahuku, Pek-liong dan Liong-li telah membunuh empat orang di antara mereka, dan dua orang lagi, yaitu Lam-san Siang-kwi (Sepasang Iblis Gunung Selatan) telah lebih dahulu tewas. Jadi sisanya tinggal tiga orang lagi, yaitu Pek-bwe Coa-ong, Kim Pit Siu-cai dan Ang I Sian-li.
172
“Mereka adalah orang-orang yang amat lihai dan berbahaya sekali. Siapa tahu mereka bertiga itu kini bersatu untuk membalas dendam atas kematian rekan-rekan mereka. Kalau mereka gagal menawan kita untuk dijadikan umpan, tentu mereka akan mempergunakan cara lain untuk membalas dendam kepada Pek-liong dan Liong-li. Dan aku harus cepat memberi kabar untuk memperingatkan mereka akan ancaman ini.”
“Engkau hendak pergi berkunjung kepada Pek-liong dan Liong-li? Akan tetapi, hal itu berbahaya sekali karena Pek-bwe Coa-ong dan kawan-kawannya tentu akan berusaha menangkapmu.”
Cian Hui menggeleng kepala. “Aku sudah mereka kenal, aku akan menyuruh seorang pembantu yang cerdik untuk membawa suratku kepada Pek-liong, dan seorang pembantu lagi kusuruh mengantar surat kepada Liong-li.”
Demikianlah, malam hari itu juga Cian Hui membuat dua buah surat dan menyuruh anak buah yang pandai, seorang pergi ke dusun Pat-kwa-bun mencari Pek-liong-eng, dan seorang lagi pergi ke kota Lok-yang mencari Hek-liong-li.
◄Y►
Hek-liong-li Lie Kim Cu duduk seorang diri di ruangan dalam rumahnya. Ia duduk seenaknya, mengangkat kedua kaki yang ditekuk lututnya ke atas kursi, nongkrong seorang diri di pagi hari itu. Rambutnya masih kusut, pakaiannya juga kacau dan tidak rapi karena ia baru saja bangun tidur dan belum sempat mandi dan bertukar pakaian karena pagi-pagi sudah disibukkan dengan termenung seorang diri.
173
Kadang-kadang ia menggosok-gosok hidungnya yang tidak gatal dan kesibukan menggosok hidung ini bagi yang sudah mengenalnya menjadi tanda bahwa wanita cantik jelita yang gagah perkasa ini sedang tenggelam dalam pikirannya sendiri, sedang mengerjakan kecerdasan otaknya untuk memecahkan persoalan yang rumit.
Dan memang Liong-li sedang termenung memikirkan semua peristiwa yang menimpa dirinya. Ia sudah mengerahkan semua pembantunya, beberapa hari yang lalu ia membawa sembilan orang pembantunya, semua bersenjata lengkap, mendaki puncak Thai-san hendak menyerbu sarang Thai-san Ngo-kwi. Akan tetapi, ternyata yang disergapnya hanyalah sarang yang kosong belaka.
Semua burung sudah meninggalkan sarang, atau lebih tepat lagi, semua srigala telah meninggalkan sarang mereka. Tak seorangpun dari Thai-san Ngo-kwi maupun anak buah mereka dapat ia temukan. Saking kecewa dan marahnya, Liong-li dan anak buahnya membakar sarang itu sampai habis rata dengan tanah.
Akan tetapi perbuatan itu masih belum menenangkan hatinya. Jelas bahwa Thai-san Ngo-kwi memusuhinya karena hendak membalas dendam kematian guru mereka, yaitu Siauw-bin Ciu-kwi. Akan tetapi, agaknya mereka tidak berdiri sendiri.
Nenek pesolek yang lihai itu tentu yang menjadi dalangnya dan ia tidak.mengenal nenek itu. Tidak tahu pula di mana sekarang
174
mereka berada. Dan selama ia belum dapat membasmi mereka, tentu ia akan selalu terancam.
Sekarangpun ia melarang anak buahnya keluar seorang diri. Tidak aman bagi mereka. Diancam musuh yang bergerak secara bersembunyi sungguh tidak mengenakkan hati, selalu tegang dan harus waspada setiap saat.
Ia harus dapat menghancurkan mereka. Akan tetapi di mana mereka? Ia teringat kepada Pek-liong. Kenapa belum juga ada balasan dari Pek-liong?
Tiba-tiba daun pintu ruangan itu diketuk seorang pembantunya. Ang-hwa yang berpakaian serba merah itu muncul.
“Li-hiap ada seorang tamu hendak bertemu dengan li-hiap, katanya dia membawa surat dari Song Tek Hin dan Kam Sun Ting.”
Liong-li mengerutkan alisnya. Terlalu banyak nama yang dikenalnya, maka untuk mengingat dua nama itu ia harus menggali ingatannya.
Kemudian ia teringat. Song Tek Hin adalah pemuda tegap tampan yang dikenalnya lima tahun yang lalu, dan Kam Sun Ting adalah seorang pemuda ramping tegap kokoh kuat, perenang dan penyelam tangguh di Telaga Po-yang itu yang dikenalnya tiga tahun yang lalu. Kedua pemuda itu adalah sahabat-sahabat baiknya, bukan sekadar sahabat malah, mereka pernah menjadi kekasihnya dan teringat kepada mereka mendatangkan kehangatan di hatinya.
175
“Suruh dia menunggu di ruangan tamu dan ingat, jaga dia baik-baik, awasi gerak-geriknya dan cegah sesuatu terjadi kepadanya. Aku mau mandi sebentar.”
Ang-hwa mengangguk dan pergi. Liong-li cepat mandi air dingin dan tak lama kemudian ia telah memasuki ruangan tamu dengan wajah segar dan pakaian yang rapi, pakaian serba hitam yang selalu menutupi tubuhnya. Seorang laki-laki berusia limapuluh tahun, melihat pakaiannya tentu seorang desa, bangkit dari tempat duduknya dan memandang kepada Liong-li dengan kagum.
Biarpun ia berhadapan dengan seorang dusun yang sederhana, namun karena orang itu menjadi tamunya, Liong-li cepat mengangkat kedua tangan, depan dada, lalu berkata, “Apakah paman hendak bertemu dengan saya?”
Pria itu nampak bingung. “Saya ingin berjumpa dengan...... yang namanya Hek-liong-li.....”
Liong-li tersenyum. Jelas bahwa orang ini belum pernah melihatnya, juga agaknya tidak tahu bahwa Hek-liong-li adalah sebuah julukan. Orang ini jelas seorang petani sederhana biasa, sehingga semakin menarik mengapa orang seperti ini hendak bertemu dengannya.
“Akulah Hek-liong-li, paman. Ada keperluan apakah paman hendak bertemu dengan aku?”
176
Dengan gugup orang itu mengeluarkan dua sampul surat dari dalam saku bajunya, “Aku hendak menyampaikan surat dari Song Tek Hin dan Kam Sun Ting.”
Demikian cepat dia mengucapkan dua nama itu seolah-olah dua nama itu telah dihafalkan berulang kali. Dia menyerahkan dua sampul surat itu kepada Liong-li yang menerimanya. Dua macam tulisan tangan di luar sampul yang menyebutkan namanya dengan jelas, nama berikut julukannya, yaitu Hek-liong-li Lie Kim Cu.
Tentu saja ia tidak mengenal bagaimana bentuk tulisan dua orang pria itu, dan tidak tahu apakah dua sampul surat ini benar dari mereka ataukah hanya tulisan palsu. Ia mengangkat mengamati wajah yang sederhana itu.
“Siapakah namamu, paman?”
“Namaku? Namaku Theng Kiu, nona.”
“Tempat tinggal paman?”
“Di luar kota ini, sebelah barat, dekat sungai. Aku seorang petani, juga nelayan........”
“Paman mengenal Song Tek Hin dan Kam Sun Ting?”
Petani itu menggeleng kepala. “Sama sekali tidak mengenal mereka, melihatpun belum.”
“Lalu bagaimana surat-surat ini......?”
177
“Aku menerimanya dari seorang laki-laki. Malam tadi ketika aku sedang menjala ikan di pantai sungai, muncul seorang laki-laki dan dia menyerahkan dua buah surat ini kepadaku dengan pesan agar aku menyampaikannya kepada Hek-liong-li yang tinggal di rumah ini.”
“Paman begitu taat kepadanya. Siapakah dia yang menyerahkan surat itu?”
“Aku tidak tahu, nona. Dia menyerahkan dua buah surat ini dan aku diberi upah sepotong perak, dengan pesan agar aku menyampaikan surat-surat ini dan jangan melupakan nama-nama pengirimnya. Karena hari telah malam, maka aku menunda sampai pagi ini.”
Liong-li mengangguk-angguk, memuji kecerdikan si pengirim surat. “Apakah paman dapat menceritakan bagaimana rupanya orang itu?”
“Malam itu gelap sekali di tepi sungai, nona. Aku tidak dapat melihat wajahnya dengan jelas, hanya dia seorang laki-laki yang bertubuh tinggi besar. Itu saja yang kuketahui.”
Kembali Liong-li mengangguk-angguk karena ia sudah menduga demikian. Kiranya tidak ada yang dapat ia harapkan memperoleh keterangan dari orang ini, maka iapun mengeluarkan sepotong perak dan menyerahkan kepadanya.
“Ini hadiah untukmu, paman. Kalau orang itu muncul lagi dan paman mengenalnya, harap paman suka cepat memberitahu kepadaku, dan aku akan memberi hadiah yang lebih banyak.”
178
Wajah itu berseri dan tangan itu gemetar ketika menerima sepotong perak itu. Selama hidupnya, baru dua kali ini dia melihat sepotong perak yang amat berharga, yaitu malam tadi dan pagi ini.
Dia mengangguk-angguk mengucapkan terima kasih dan berjanji akan memenuhi permintaan Liong-li. Kemudian dia pamit dan meninggalkan runah itu dengan hati yang gembira bukan main. Dalam waktu singkat dia telah memperoleh hasil melebihi hasil dia bekerja selama dua bulan!
Dengan tenang Liong-li membuka sampul surat dan membacanya sambil tetap duduk di ruangan tamu itu, tenggelam ke dalam sebuah kursi yang besar. Alisnya berkerut ketika membaca dua buah surat itu. Tulisan tangannya berbeda, akan tetapi isinya senada, yaitu keduanya mengatakan bahwa mereka telah menjadi tawanan musuh di lembah Huang-ho dan kalau ia tidak segera datang menolong mereka, tentu mereka akan dibunuh!
Liong-li menggosok-gosok hidungnya, kedua matanya terpejam. Ia membayangkan dua orang pemuda itu, terutama watak mereka.
Song Tek Hin adalah seorang pemuda yang memiliki ilmu silat yang cukup lihai, berjiwa pendekar. Sama sekali bukan seorang yang berwatak pengecut dan takut mati. Apa lagi Kam Sun Ting. Penyelam yang gagah ini seorang yang jantan, biarpun ilmu silatnya tidak¬lah sehebat ilmunya menyelam, namun dia berhati baja dan pemberani. Juga sama sekali bukan seorang pengecut.
179
Kesimpulannya adalah bahwa ada dua kemungkinan. Surat ini bukan tulisan mereka, atau kalau benar tulisan mereka, tentu ada sesuatu yang memaksa mereka menulis surat seperti ini. Dan jelas ini merupakah suatu jebakan baginya. Tentu pihak penulis surat palsu, atau pihak penawan kedua orang pemuda itu sengaja memancingnya datang ke lembah Huang-ho dan sudah bersiap-siap untuk mencelakakannya.
Ada dua hal yang mempertebal dugaannya bahwa ini bukan surat palsu. Pertama, siapakah orangnya yang tahu bahwa kedua orang pemuda ini merupakan orang-orang yang dekat dengan hatinya sehingga kalau mereka ditawan, tentu ia akan mencoba untuk menolong mereka? Kedua, mengapa kedua orang pemuda ini yang dipilih untuk dijadikan umpan baginya?
Jelas, ada musuh-musuhnya yang menggunakan siasat ini untuk memancingnya masuk ke dalam perangkap. Ini tentu ada hubungannya dengan gangguan yang dilakukan orang kepadanya beberapa hari yang lalu. Thai-san Ngo-kwi? Dan nenek itu?
Liong-li menggosok-gosok hidungnya lagi. Ia mengingat kembali peristiwa apa yang mempertemukan ia dengan kedua orang pemuda itu. Ia bertemu dengan Song Tek Hin ketika ia bersama Pek-liong membasmi gerombolan yang dipimpin Hek-sim Lo-mo, seorang di antara Kiu Lo-mo (Sembilan Ib1is Tua). Dan ia bertemu dengan Kam Sun Ting ketika ia bersama Pek-liong membasmi gerombolan yang dipimpin oleh Siauw-bin Ciu-kwi, juga seorang di antara Kiu Lo-mo dalam peristiwa perebutan Patung Emas!
180
Ah, dua peristiwa yang didalangi oleh tokoh-tokoh Kiu Lo-mo! Berarti Kiu Lo-mo berdiri di belakang ini. Apa lagi Thai-san Ngo-kwi yang mencoba untuk mengganggu rumahnya juga merupakan murid-murid mendiang Siauw-bin Ciu-kwi!
Liong-li menggosok-gosok hidungnya yang kecil mancung sampai menjadi kemerahan. Kini seluruh perhatian dan ingatannya ia kerahkan untuk mengingat tentang keadaan Kiu Lo-mo. Ia pernah bersama Pek-liong melakukan penyelidikan, mencari keterangan di dunia kang-ouw tentang Kiu Lo-mo.
Mereka itu terdiri dari sembilan orang tokoh sesat yang amat terkenal, 1ihai dan jahat sekali. Dan biarpun mereka berdiri sendiri-sendiri, namun ada semacam ikatan di antara mereka, semacam setia kawan yang membuat mereka dijuluki Sembilan Iblis Tua.
Dua orang di antara mereka yaitu Lam-san Siang-kwi (Sepasang Iblis Gunung Selatan) telah tewas ketika bentrok dengan pasukan yang dipimpin para jagoan istana, belasan tahun yang lalu. Kemudian ia bersama Pek-liong telah menewaskan empat orang di antara mereka, yaitu Hek-sim Lo-mo (Iblis Tua Berhati Hitam), Siauw-bin Ciu-kwi (Setan Arak Muka Tertawa), Lam-hai Mo-ong (Raja Iblis Lautan Selatan) dan Tiat-thouw Kui-bo (Siang Iblis Kepala Besi). Jadi sekarang, yang masih hidup tinggal tiga orang lagi di antara Sembilan Iblis Tua, yaitu Kim Pit Siu-cai (Sastrawan Pena Emas), Ang I Sian-li (Dewi Pakaian Merah), dan Pek-bwe Coa-ong (Raja Ular Ekor Putih).
181
Ang I Sian-li! Ah, kenapa ia begitu bodoh? Liong-li menepuk kepalanya sendiri. Tentu saja! Nenek berpakaian merah yang pesolek itu, siapa lagi kalau bukan Ang I Sian-li, seorang di antara Kiu Lo-mo? Pantas begitu kuat!
Jelaslah sekarang, tentu sisa dari Kiu Lo-mo yang berada di balik semua peristiwa ini. Kalau ketiga iblis tua itu masih hidup dan kini berusaha membalas dendam atas kematian empat orang iblis tua, tidak mengherankan kalau mereka itu menawan Song Tek Hin dan Kam Sun Ting! Agaknya mereka telah mengetahui akan semua peristiwa kematian saudara-saudara atau rekan-rekan mereka, melakukan penyelidikan dan tahu bahwa kedua pemuda itu terlibat dalam urusan pembasmian tokoh-tokoh Kiu Lo-mo itu.
Liong-li kembali mengingat-ingat. Belum lama ini, ketika ia dan Pek-liong membasmi Lam-hai Mo-ong dan Tiat-thouw Kui-bo, ada pula seorang pria yang terlibat, yaitu Cian Hui atau Cian Ciang-kun, panglima muda di kota raja. Apakah dia juga menjadi sasaran tiga orang dari Kiu Lo-mo?
Liong-li mengepal tinju. Bagaimanapun juga, merupakan jebakan atau tantangan, betapapun besar bahaya yang ia hadapi, ia harus menolong dua orang pemuda itu! Tidak mungkin ia membiarkan mereka berkorban karena perbuatan ia dan Pek-liong.
Ah, Pek-liong tentu akan melakukan hal yang sama. Ia mengenal benar isi hati Pek-liong. Tiba-tiba ia teringat kembali. Kalau ia mengalami serangan, dan kini menerima surat-surat yang agaknya merupakan umpan perangkap baginya, tentu Pek-liong juga tidak akan dilupakan oleh sisa Kiu Lo-mo! Apakah Pek-liong
182
juga mengalami serangan seperti yang ia alami? Dan menerima surat-surat seperti ini?
Tidak, ia tidak akan menanti surat balasan dari Pek-liong. Akan terlalu lama dan ia khawatir terlambat. Ia harus segera pergi menolong dua orang pemuda itu, dan sembilan anak buahnya sudah lebih dari cukup untuk membantunya.
Liong-li lalu memanggil sembilan orang pembantunya. Dengan cepat mereka berdatangan dan sepuluh orang gadis-gadis cantik itu mengadakan perundingan di dalam kamar rahasia di rumah besar itu. Liong-li mengatur rencana siasatnya untuk melakukan penyelidikan di lembah Huang-ho dan membagi-bagi tugas.
Sembilan orang anak buahnya memperhatikan dan mencatat dalam hati semua tugas yang diserahkan kepada mereka. Kemudian mereka membuat persiapan dan berkemas.
Liong-li sendiri membuat sehelai surat untuk Pek-liong dan ia meletakkan surat itu di tempat rahasia depan rumahnya, tempat rahasia yang hanya diketahui oleh ia dan Pek-liong berdua. Lalu sehelai surat lagi ia buat untuk Cian Hui dan surat ini ia titipkan kepada seorang anak tetangga yang biasa ia suruh-suruh, seorang anak yang cerdik dengan pesan kalau ada seseorang yang gambarannya seperti Cian Hui, agar surat itu diserahkan setelah orang itu mengaku siapa namanya.
Pada hari itu juga, berangkatlah Liong-li dan sembilan orang pembantunya. Akan tetapi, kalau ada orang mengintai di sekitar tempat itu, tidak nampak sepuluh orang wanita yang pergi bersama, karena masing-masing mengambil jalan sendiri melalui
183
pintu-pintu dan lorong-lorong rahasia. Hanya nampak Liong-li seorang yang meninggalkan pekarangan rumahnya dengan langkah santai.
◄Y►
Tepat seperti dugaan Liong-li, Pek-liong juga menerima surat yang senada. Hanya saja, pendekar ini menerima jauh lebih lama dari pada Liong-li menerimanya karena tempat tinggal Pek-liong jauh di selatan.
Ketika Pek-liong menyuruh pembantunya menyelidiki daerah Sungai Yang-ce di mana mendiang Thian-te Siang-houw merajalela, dia tidak mendapatkan keterangan yang meyakinkan. Dia tetap tidak percaya kalau Thian-te Siang-houw memusuhinya tanpa ada yang mendalangi mereka, karena dua orang sesat setingkat mereka itu tidak, mungkin akan berani mengusiknya tanpa ada pendorong yang lebih kuat. Akan tetapi mereka telah tewas dan pembantunya tidak berhasil mendapat keterangan siapa kiranya yang merupakan pendukung mereka.
Kemudian datanglah surat dari Liong-li. Ketika dibacanya surat itu yang menceritakan tentang peristiwa yang dialami orang yang paling dipuja, paling dicinta, paling dihormati dan dihargainya di seluruh dunia itu, Pek-liong tersenyum. Tak salah dugaannya. Serangan dan gangguan itu bukan hanya menimpa dirinya sendiri. Bahkan Liong-li tertimpa lebih hebat lagi. Diapun mengangguk-angguk ketika membaca bahwa yang mengganggu Liong-li adalah Thai-san Ngo-kwi, murid-murid dari mendiang Siauw-bin Ciu-kwi.
184
Pek-liong meraba-raba dagunya sambil melamun. Inilah ciri khasnya kalau dia sedang menggunakan daya pikirannya untuk memecahkan sesuatu. Murid-murid Siauw-bin Ciu-kwi, berarti ada hubungannya dengan Kiu Lo-mo.
Sudah tiga kali dia dan Liong-li bentrok dengan Kiu Lo-mo. Bentrokan pertama membuat mereka berhasil menewaskan Hek-sim Lo-mo, bentrokan kedua mereka menewaskan Siauw-bin Ciu-kwi, dan dalam bentrokan terakhir, yang ketiga kalinya mereka menewaskan Lam-hai Mo-ong dan Tiat-thouw Kui-bo.
Dia lalu berpikir apakah Thian-te Siang-houw juga mempunyai hubungan dengan Kiu Lo-mo? Jelas bahwa bukan Liong-li saja yang diincar musuh. Dia sendiripun menjadi sasaran musuh, yang belum diketahuinya siapa penggerak dari Siang-houw itulah. Entah siapa Pouw Bouw Ki, kakak dari nona Pouw Bouw Tan, dibunuh orang karena bentuk tubuh dan wajahnya mirip dia. Mungkin pembunuhnya adalah Thian-te Siang-houw.
Dan dia sendiri didatangi orang yang tewas dalam rumahnya, terjebak alat rahasia sehingga terjepit kepalanya dan hancur wajahnya sehingga tidak dapat dikenali siapa. Jelas bahwa Liong-li dan dia sedang diincar oleh orang-orang yang menghendaki kematian mereka. Akan tetapi siapa?
Beberapa hari kemudian, seorang kanak-kanak berusia sepuluh tahun datang mengantar dua buah surat kepadanya. Anak itu menceritakan pengalamannya. Dia putera seorang nelayan di tepi Telaga Barat (See Ouw). Pagi tadi, seorang laki-laki setengah tua
185
yang mukanya hitam dan tubuhnya tinggi besar menghampirinya ketika dia sedang mengail ikan di tepi telaga.
“Hei, anak baik, apakah engkau tahu di mana rumahnya Pek-liong-eng?”
Anak yang disebut A-sam itu tentu saja tahu. Nama besar Pek-liong-eng dikenal oleh seluruh orang di sekitar telaga itu, dari kanak-kanak sampai orang tua. Siapa tidak mengenal pendekar yang dermawan itu?
“Saya tahu, rumahnya di dusun Pat-kwa-bun!” kata anak itu dengan suara bangga.
“Bagus! Anak baik, maukah engkau mendapatkan upah sebanyak ini?” Orang itu mengeluarkan uang tembaga yang cukup banyak, bahkan terlalu banyak bagi A-sam yang anak keluarga nelayan miskin.
“Tentu saja saya mau!” kata anak itu, heran dan tidak percaya bahwa orang itu akan memberi uang sedemikian banyaknya.
“Bagus, kalau begitu, berikan surat-surat ini kepada Pek-liong-eng, dan semua uang ini menjadi milikmu. Maukah engkau?”
“Mau, tentu saja saya mau!” kata anak itu, melepaskan pancingnya saking girang hatinya.
“Nah, simpanlah surat ini baik-baik dan terimalah uang ini. Akan tetapi hati-hati kau, kalau engkau berbohong dan tidak menyampaikan surat ini kepada Pek-liong-eng, aku akan datang
186
lagi dan akan kuhancurkan kepalamu seperti ini!” Orang itu meninju sebongkah batu sebesar kepala anak itu dan batu itupun hancur!
Tentu saja A-sam menjadi pucat dan dengan suara gemetar dia berkata. “Akan saya sampaikan, saya tidak berani berbohong.”
Demikianlah keterangan A-sam ketika dia menyerahkan surat kepada Pek-liong dan menjawab pertanyaan pendekar itu. Ketika ditanya tentang gambaran orang itu, A-sam hanya ingat bahwa orang itu tinggi besar bermuka hitam. Itu saja.
Pek-liong memberi upah, menyuruh A-sam pergi dan dia lalu membaca dua buah surat itu. Tulisannya berbeda, namun nadanya sama. Sebuah surat ditulis oleh Su Hong Ing, dan yang kedua oleh Kam Cian Li, dan keduanya memberitahukan bahwa mereka ditawan musuh di lembah Huang-ho dan mereka mengharapkan pertolongan Pek-liong. Hanya itu saja.
Seperti yang dilakukan Liong-li, Pek-liong tenggelam dalam lamunan ketika membaca kedua buah surat itu. Dua orang gadis yang pernah menjadi kekasihnya, yang mencintanya. Dia mendengar bahwa Su Hong Ing telah menjadi isteri Song Tek Hin, dan Su Hong Ing adalah murid Bu-tong-pai yang pandai dan lihai. Juga Kam Cian Li telah menjadi gadis hartawan di samping kakaknya, Kam Sun Ting.
Bagaimana kedua orang wanita itu kini menjadi tawanan musuh? Siapakah musuh itu? Tidak mereka sebutkan dalam surat.
187
Dan dia tahu benar bahwa dua orang wanita itu amat mengagumi dan mencintanya, sehingga tidak mungkin mereka mau mencelakakan dia. Akan tetapi kenapa mereka membuat surat seperti itu? Pada hal, jelas surat itu merupakan pancingan agar dia datang menolong mereka dan musuh itu tentu akan menyambutnya dengan perangkap.
Pek-liong masih terbenam dalam lamunan setelah menerima surat itu dan kembali dia meraba-raba dagunya. Otaknya yang cerdik bekerja keras. Merupakan hal yang amat mencurigakan betapa dua orang wanita itu, Su Hong Ing dan Kam Cian Li dapat menjadi tawanan dalam waktu yang bersamaan, dan keduanya juga bersama-sama menyurati dia.
Yang seorang tinggal di dekat kota Cin-an, yang kedua tinggal di Nan-cang dekat telaga Po-yang, terpisah jauh. Bagaimana kini mereka dapat berkumpul sebagai tawanan? Apa yang membuat musuh-musuh itu menawan kedua orang wanita ini?
Jelas, surat itu untuk memancingnya agar dia mau datang ke lembah Huang-ho untuk menolong mereka. Akan tetapi mengapa kedua orang itu? Pada hal, teman-temannya banyak. Mengapa justeru mereka?
Dia mengingat kembali pertemuannya dengan mereka. Su Hong Ing dijumpainya ketika dia bersama Liong-li membasmi Hek-sim Lo-mo, dan Kam Cian Li dijumpainya ketika dia bersama Liong-li membasmi Siauw-bin Ciu-kwi! Dan Liong-li diserang oleh Thai-san Ngo-kwi, murid-murid mendiang Siauw-bin Ciu-kwi. Dalam suratnya, secara singkat Liong-li juga menyebut adanya nenek
188
berpakaian merah yang amat lihai, yang membantu Thai-san Ngo-kwi.
“Ah, tidak salah lagi. Tentu mereka yang mendalangi semua ini. Sisa Kiu Lo-mo tinggal tiga, Ang I Sian-li, Kim Pit Siu-cai, dan Pek-bwe Coa-ong! Siapa lagi kalau bukan mereka yang hendak membalas dendam atas kematian empat orang rekan mereka yang kubasmi bersama Liong-li? Ini berbahaya, mereka adalah orang-orang lihai yang amat jahat!”
Tiba-tiba dia teringat. Ketika dia bersama Liong-li membasmi Lam-hai Mo-ong dan Tiat-thouw Kui-bo, juga ada dua orang yang terlibat, yaitu Cian Hui dan Cu Sui In. Kalau memang sisa Kui Lo-mo hendak menangkap orang-orang yang terlibat tentu Cian Hui dan Sui In yang menjadi isterinya itu akan terancam pula. Akan tetapi dia teringat betapa cerdiknya Cian Hui dan sebagai seorang panglima muda yang berkedudukan di kota raja, kedudukannya kuat karena dia memiliki pasukan.
Selain itu, Cian Hui jauh lebih lihai dibandingkan dua orang wanita yang ditawan musuh, bahkan isterinya, Cu Sui In yang murid Kun-lun-pai, lebih lihai lagi. Agaknya kawanan penjahat tidak dapat menawan Cian Hui dan isterinya, maka tidak ada surat dari mereka kepadanya!
Pek-liong berpendapat bahwa bukan hanya dua orang wanita itu saja yang terancam bahaya seperti tertulis dalam surat mereka, walaupun dia belum yakin apakah surat-surat itu tidak palsu, melainkan juga Liong-li terancam bahaya. Dia harus bertindak, dan karena sekali ini, kalau perhitungannya tepat, dia akan
189
berhadapan dengan sisa Kiu Lo-mo, yaitu tiga orang datuk sesat yang lihai, dia membutuhkan bantuan enam orang pelayan yang juga menjadi pembantunya, juga boleh dibilang murid-muridnya karena dia telah menggembleng mereka menjadi pembantu-pembantu yang dapat diandalkan dan pandai ilmu silat, juga cerdik dan setia.
Cepat dia mengumpulkan enam orang pembantunya dan menceritakan kepada mereka semua yang terjadi, lalu mengatur siasat dan membagi tugas. Enam orang pembantunya itu secara berpencar dia beri tugas untuk melakukan penyelidikan ke lembah Huang-ho yang patut dicurigai menjadi sarang musuh-musuh itu, kemudian menanti dia di sana, siap untuk membantunya. Dia sendiri akan lebih dahulu singgah ke Lok-yang di selatan Sungai Kuning (Huang-ho) untuk mencari Liong-li sebelum berangkat pula ke lembah Huang-ho.
Di dalam surat kedua orang wanita itu, hanya minta agar dia datang menolong mereka yang ditawan di lembah Huang-ho di perbukitan Hek-san (Bukit Hitam). Pada hal perbukitan itu panjang dan luas, maka harus diselidiki di mana kiranya sarang mereka yang menawan dua orang wanita itu.
◄Y►
Bagaimana dua pasang suami isteri dan kakak beradik yang ditawan itu sampai mau mengirim surat kepada Liong-li dan Pek-liong? Pada hal, mereka berempat adalah orang-orang gagah yang tidak akan sudi membantu penjahat untuk menjadi umpan
190
dan memancing datangnya dua orang yang mereka sayangi dan hormati itu masuk dalam perangkap penjahat.
Perkembangan yang tidak menguntungkan mereka telah terjadi di tempat tawanan itu. Baru sehari setelah menjadi tawanan di situ, Song Tek Hin dan Su Hong Ing yang mendapat kebebasan walaupun selalu diawasi, tak pernah menyia-nyiakan kesempatan untuk meloloskan diri atau memberontak kalau perlu.
Mereka melihat ketika kakak beradik Kam datang sebagai tawanan pula dan ditempatkan di kamar nomor dua, tak jauh dari kamar mereka. Mereka memang tidak saling mengenal, akan tetapi dari sikap masing-masing, mereka dapat saling menduga bahwa mereka berempat mempunyai nasib yang sama.
Kesempatan ini tidak disia-siakan oleh Su Hong Ing yang melakukan pendekatan kepada Kam Cian Li. Para penjaga tidak melarang ketika dua orang wanita ini bercakap-cakap dan dalam percakapan itu, dengan hati-hati mereka saling bertanya dan betapa kaget hati mereka bahwa mereka benar-benar mengalami nasib yang sama. Keduanya ditangkap untuk dijadikan umpan bagi Pek-liong dan Liong-li!
“Kita harus menggunakan kesempatan ini untuk meloloskan diri! Kita tidak boleh menjadi umpan untuk mencelakai Pek-liong dan Liong-li,” bisik Su Hong Ing.
“Engkau benar, enci. Akan tetapi bagaimana caranya? Mereka amat lihai, kita tidak mungkin dapat menang, tidak mungkin dapat lolos dari tempat ini,” jawab Kam Cian Li sambil berbisik pula.
191
“Kita harus berani mencoba. Memang kami berdua juga tertawan karena kalah oleh iblis betina itu, dan tentu kakek yang menawan kalian itu lihai pula karena mereka adalah para tokoh Kiu Lo-mo. Akan tetapi kalau kita berempat bersatu, tentu kita akan menjadi lebih kuat. Bagaimana mungkin kita berdiam diri saja dan membiarkan kita dijadikan umpan yang akan mencelakakan dua orang yang kita sayang dan hormati, lebih dari pada lain orang?”
Cian Li mengangguk-angguk, bangkit semangatnya. Tentu saja gadis yang masih selalu terkenang dengan penuh kerinduan kepada Pek-liong, kekasih pertamanya itu, tidak rela melihat Pek-liong celaka.
“Aku siap, enci, dan akan kuberitahu kakakku. Tapi kapan dan bagaimana?”
“Malam nanti. Yang bertugas adalah penjaga-penjaga biasa. Kita menyelinap keluar dan kita bunuh kalau ada penjaga yang mencoba menghalangi. Memang berbahaya. Akan tetapi siapa berani menjamin bahwa kita akan dibebaskan kalau Pek-liong dan Liong-li sudah terpancing ke sini, kemudian kedua orang pendekar itu dapat mereka tangkap? Mungkin kita semua juga akan dibunuh. Dari pada dibunuh seperti babi, bukankah lebih baik mati seperti harimau yang melawan dengan gagah?”
Ucapan Su Hong Ing yang membakar semangat itu membuat Kam Cian Li berkobar dan gadis ini lalu membisikkan rencana untuk kabur itu kepada kakaknya, dan Hong Ing juga membujuk suaminya. Dua orang pria itupun akhirnya setuju karena mereka
192
yakin apakah kalau Pek-liong dan Liong-li dapat tertawan atau terbunuh oleh para penjahat, mereka akan dibiarkan pergi.
Demikianlah, malam itu kebetulan gelap gulita Dua pasang pria wanita itu saling memberi isyarat, lalu bersama-sama menyelinap keluar dari kamar mereka. Yang bertugas jaga di dekat kamar mereka masing-masing hanya dua orang. Dengan sigap dan tidak banyak kesukaran, dua pasang tawanan itu dapat merobohkan empat orang penjaga itu dan merampas pedang mereka. Kemudian mereka menyusup-nyusup mencari jalan keluar melalui tempat-tempat yang gelap dalam kompleks bangunan itu.
Keadaan nampak sunyi sehingga melegakan hati empat orang buronan itu. Mereka menyelinap dengan hati-hati dan akhirnya dapat tiba di dekat pintu gerbang di depan.
Hanya dari pintu itulah mereka dapat melarikan diri karena pagar tembok yang mengitari perumahan itu amat tinggi dan di atas pagar tembok itu dipasangi besi-besi runcing. Tak mungkin melompati pagar tembok itu. Juga tidak ada tali yang panjang untuk memanjat. Satu-satunya jalan hanyalah menyerbu keluar melalui pintu gerbang.
Song Tek Hin dan Su Hong Ing mengintai dari sebelah kiri pintu gerbang, sedangkan kakak beradik Kam mengintai dari sebelah kanan. Jantung mereka berdebar tegang. Hanya ada dua kemungkinan: Sekarang berhasil atau selamanya gagal. Hidup atau mati. Mereka sudah nekat.
Di pintu gerbang itu terdapat selosin orang penjaga. Kalau kepandaian mereka hanya biasa saja, tentu mereka berempat
193
akan mampu mengalahkan selosin orang itu dan ini berarti lolos! Song Tek Hin yang kini menjadi pimpinan, memberi isyarat, lalu bersama isterinya dia melompat keluar, menyerbu ke arah para penjaga yang sedang mengobrol. Kakak beradik Kam juga berloncatan keluar dan menyerbu.
Tentu saja para penjaga menjadi kaget dan kacau balau. Namun seorang di antara mereka meniup peluit berkali-kali sedangkan teman-temannya melakukan perlawanan dengan golok mereka.
Empat orang buronan itu mengamuk, akan tetapi diam-diam mereka mengeluh karena ternyata selosin orang itu bukan lawan yang lunak dan dapat mereka robohkan dalam waktu singkat. Setelah bertempur beberapa lamanya, mereka baru berhasil merobohkan empat orang.
Tiba-tiba terdengar bentakan nyaring, “Mundur kalian semua!”
Para penjaga mundur dan cepat mereka menyalakan lebih banyak obor untuk menerangi tempat itu. Ketika empat orang buronan itu mengangkat muka memandang, mereka melihat lima orang yang bersikap bengis berdiri menghadang di depan mereka. Empat orang buronan itu merasa lega karena tidak nampak si nenek pakaian merah dan kakek sastrawan pakaian putih yang amat lihai itu.
Tidak ada dua orang dari Kiu Lo-mo. Maka, dengan nekat dan semangat berkobar empat orang buronan itu menggerakkan pedang rampasan dan menyerang ke arah lima orang yang berdiri menghadang itu.
194
Mereka sama sekali tidak tahu bahwa mereka berhadapan dengan Thai-san Ngo-kwi yang lihai bukan main. Biarpun tingkat kepandaian Thai-san Ngo-kwi belum setinggi tingkat Kiu Lo-mo, akan tetapi jelas mereka ini jauh lebih kuat dari pada empat orang buronan itu.
Thai-san Ngo-kwi tertawa mengejek, mereka sudah mencabut golok dan menyambut serangan dua pasang tawanan itu. Dalam waktu belasan jurus saja, empat batang pedang rampasan itu patah-patah dan dua pasang tawanan itupun roboh dan diringkus kembali. Dalam keadaan terbelenggu mereka digiring kembali ke dalam kamar mereka, didorong masuk ke dalam kamar dalam keadaan terbelenggu dan kamar mereka dikunci dari luar!
Gagallah usaha pelarian itu dan pada keesokan harinya, mereka berempat di seret satu demi satu dihadapkan kepada Kim Pit Siu-cai, Ang I Sian-li, dan Pek-bwe Coa-ong, sedangkan Thai-san Ngo-kwi juga hadir di ruangan itu.
Biarpun dihadapkan seorang diri saja di depan pimpinan gerombolan penjahat itu, empat orang gagah ini tidak bersikap takut. Dengan gagah mereka itu memiliki sikap yang sama, yaitu menentang dan tidak sudi dijadikan umpan untuk memancing datangnya Pek-liong dan Liong-li!
Ang I Sian-li tidak menjadi marah-marah seperti dua orang rekannya menghadapi kekerasan kepala empat orang itu. Ia memerintahkan kepada Thai-san Ngo-kwi untuk menghadapkan para tawanan itu sepasang, pertama dimulai dengan pasangan suami isteri Song Tek Hin dan Su Hong Ing.
195
Setelah dua orang yang terbelenggu ini dihadapkan mereka, suami isteri itu berdiri tegak dan memandang dengan mata penuh kemarahan dan kebencian, sedikitpun tidak mau tunduk.
Ang I Sian-li lalu berkata kepada mereka. “Kalian berdua suami isteri memang mengagumkan sekali dan pantaslah menjadi sahabat-sahabat baik Pek-liong dan Liong-li. Akan tetapi, sikap kalian ini hanya merugikan kalian sendiri. Kami hanya menghendaki agar kalian menulis surat dan minta pertolongan kepada Pek-liong dan Liong-li. Itu saja. Kenapa kalian berkeras kepala menolak? Apakah kalian lebih suka mati dari pada menuruti permintaan kami dan mendapat kebebasan setelah itu?”
“Kami tidak takut mati!” bentak Su Hong Ing
“Lebih baik kami mati dari pada harus mengkhianati Pek-liong dan Liong-li!” kata pula Song Tek Hin dengan sikap gagah.
Ang I Sian-li terkekeh genit. “Bagus, bagus, kalian memang gagah perkasa. Akan tetapi dengarlah baik-baik, buka telinga dan perhatikan kata-kataku. Kalau kalian mau menulis surat yang kami butuhkan itu, setelah Pek-liong dan Liong-li dapat kami bunuh, kalian akan kami bebaskan, dan ini janji seorang datuk persilatan yang tidak akan kami langgar! Akan tetapi, sebaliknya kalau kalian berkeras tidak mau bekerja sama dengan kami, terpaksa kami akan melakukan hukuman yang akan membuat kalian menyesal telah dilahirkan di dunia ini.”
“Kami tidak takut!” seru suami isteri itu hampir berbareng.
196
“Benarkah? Dengar, pertama aku akan menyiksa si suami di depan si isteri, dengan membuntungi seluruh jari tangan dan kakinya satu demi satu! Kami akan menyiksanya akan tetapi membiarkan dia hidup agar dia dapat menyaksikan ketika kami menyuruh anak buah kami memperkosa si isteri di depan si suami sampai si isteri mati.”
Song Tek Hin dan Su Hong Ing menjadi pucat mendengar ini, akan tetapi mereka masih berusaha mengeraskan hati. “Gertak kosong!” teriak mereka.
Ang I Sian-li dengan cerdiknya menggiring suami isteri itu ke tepi jurang kengerian dengan ancaman-ancaman yang lebih mengerikan dari pada maut, sampai akhirnya mereka tidak tahan dan tidak ada jalan lain bagi mereka kecuali menyerah dan membuatkan surat itu. Song Tek Hin menulis surat kepada Hek-liong-li dan Su Hong Ing menulis surat kepada Pek-liong-eng, isinya minta bantuan mereka karena suami isteri itu ditawan musuh di pegunungan Hitam lembah Sungai Kuning.
Demikian pula dengan kakak beradik Kam. Mereka kalah jauh dalam hal siasat oleh Kiu Lo-mo, dan akhirnya semangat merekapun dapat dipatahkan dan untuk saling menjaga, kakak beradik ini terpaksa membuat pula surat seperti yang telah dilakukan suami isteri itu.
Empat orang ini tidak dapat terlalu disalahkan. Mereka bukan orang-orang yang suka berkhianat demi keuntungan sendiri. Akan tetapi di bawah ancaman mengerikan itu, tentu saja mereka tidak berdaya. Apa lagi mereka berpikir bahwa orang-orang sakti
197
seperti Pek-liong dan Liong-li tidak mungkin dapat dijebak begitu saja. Bahkan diam-diam mereka mengharapkan agar sepasang pendekar sakti itu benar-benar akan dapat menolong dan membebaskan mereka.
Bagaimanapun juga, Ang I Sian-li memegang janji. Setelah dua pasang tawanan itu menulis surat, merekapun dibebaskan berkeliaran di perumahan yang terkurung tembok tinggi dan terjaga kuat itu, tidak lagi dibelenggu.
Memang, bagi tiga orang tokoh Kiu Lo-mo, empat orang ini tidak ada artinya. Yang penting bagi mereka adalah Pek-liong dan Liong-li. Dua pasang tawanan itu hanya umpan, dan kalau sudah tidak dibutuhkan lagi, di lepas juga tidak mengapa bagi mereka.
Walaupun kini mereka bebas dalam perumahan itu, tetap saja dua pasang tawanan itu selalu merasa gelisah dan tidak berani lagi mencoba untuk melarikan diri. Mereka gelisah dan perasaan hati mereka tegang menanti munculnya Pek-liong dan Liong-li, gelisah membayangkan betapa kedua orang yang mereka sayang itu akan tertangkap pula dan disiksa dibunuh di depan mata mereka!
◄Y►
Sesosok bayangan putih berkelebat dan lenyap di balik pagar tembok yang mengelilingi pekarangan rumah mungil milik Hek-liong-li. Kalau pun kebetulan ada yang melihatnya pada senja hari itu, tentu orang ini akan mengira bahwa bayangan putih yang berkelebat itu bukan manusia, saking cepatnya gerakan orang itu.
198
Pada hal, bayangan putih itu adalah Pek-liong-eng Tan Cin Hay. Sebelum dia pergi melakukan penyelidikan ke pegunungan Hitam di Lembah Huang-ho (Sungai Kuning), dia ingin berkunjung lebih dulu ke tempat kediaman Liong-li. Akan tetapi, seperti sudah diduganya, tentu terjadi sesuatu pula dengan Liong-li, dia melihat tempat itu sunyi dan kosong ketika beberapa kali dia melewati jalan di depan rumah itu.
Dan pintu gerbang depan tertutup. Maka, pada senja hari itu diapun menyelinap dan melompati pagar tembok yang tinggi dengan gerakan ringan dan cepat sehingga tidak ketahuan orang lain.
Begitu menghampiri halaman depan, dia terbelalak memandang ke arah kolam ikan di halaman depan. Biasanya, dia amat menyukai kolam itu, terutama arca putri menunggang angsa, arca yang buatannya halus dan indah sekali.
Kini, hanya tinggal batu berserakan. Arca itu telah pecah berantakan! Dan agaknya Liong-li tidak sempat membangun kembali arca itu, bahkan membiarkan batu-batu bekas arca itu berserakan. Tentu telah terjadi sesuatu yang hebat, pikirnya dan hatinya mulai khawatir.
Tidak mungkin Liong-li tertimpa bencana. Tempat ini sunyi, jelas ditinggalkan dan tidak ada manusianya. Sembilan orang pelayan Liong-li juga tidak berada di situ. Ini hanya berarti bahwa Liong-li menghadapi peristiwa besar seperti diceritakan dalam suratnya kepadanya, peristiwa besar yang membutuhkan seluruh tenaga Liong-li untuk menghadapinya, dibantu oleh sembilan orang
199
pelayannya. Tak salah lagi, tentu Liong-li menerima pula surat-surat seperti yang diterimanya dari Hong Ing dan Cian Li.
Tanpa ragu lagi Pek-liong menghampiri sebuah arca singa yang berada di sebelah kiri pintu beranda. Dikerahkannya tenaganya dan didorongnya singa batu itu dengan tangan kanan. Ketika arca itu miring, dia mengambil sehelai surat di bawahnya. Itulah tempat rahasia kalau Liong-li meninggalkan pesan kepadanya, yang hanya mereka ketahui berdua. Dia segera membacanya.
Tepat seperti yang diduganya. Liong-li menerima surat dari Song Tek Hin dan Kam Sun Ting yang isinya sama dengan surat dari Hong Ing dan Cian Li kepadanya. Kedua orang pria itu ditawan di pegunungan Hitam Lembah Sungai Kuning dan mereka mohon pertolongan dari Liong-li.
Pek-liong meraba dagunya. Ini berarti bahwa suami isteri Song Tek Hin dan Su Hong Ing, juga kakak beradik Kam tertawan semua. Makin jelaslah kini bahwa yang berada di belakang semua peristiwa ini, yang menjadi dalangnya, tentu seorang di antara sisa Kiu Lo-mo, atau mungkin bahkan ketiga-tiganya. Yang ditawan adalah teman-teman yang pernah terlibat ketika dia dan Liong-li membasmi orang-orang Kiu Lo-mo dan tiba-tiba dia teringat bahwa ketika dia dan Liong-li membasmi Lam-hai Mo-ong dan Tiat-thouw Kui-bo dalam peristiwa Bayangan Iblis, terlibat pula Cian Hui dan Cu Sui In!
Kenapa kedua orang yang kini menjadi suami isteri itu tidak tertawan? Dia harus cepat menghubungi Cian Hui di kota raja!
200
Karena khawatir akan keadaan panglima muda dan isterinya itu, Pek-liong melakukan perjalanan cepat ke kota raja. Dia tidak khawatir akan keadaan Liong-li karena dia percaya sepenuhnya akan kelihaian dan kecerdikan Liong-li, apa lagi ia dibantu oleh sembilan orang pembantunya, para gadis yang amat lihai itu. Dia lebih mengkhawatirkan keadaan Cian Hui.
Setelah tiba di kota raja, dia langsung ke rumah panglima muda itu dan betapa lega hatinya melihat Cian Hui dan Cu Sui In menyambutnya dengan gembira. Suami isteri itu tidak kalah lega dan gembiranya melihat pendekar pujaan mereka dalam keadaan selamat dan sehat.
“Aih, tai-hiap! Engkau sudah menerima suratku?” tanya Cian Hui dengan heran karena menurut perhitungannya, utusannya yang mengirim surat itu tentu belum tiba di tempat kediaman pendekar ini.
Pek-liong menggeleng kepala dan pandang matanya yang serius membuat suami isteri itu dapat menduga bahwa tentu telah terjadi sesuatu yang penting, maka mereka segera mempersilakan pendekar itu untuk masuk dan diajak bicara di ruangan sebelah dalam.
Setelah mereka semua duduk dalam ruangan tertutup itu, Pek-liong segera bertanya, “Ciang-kun, apakah tidak terjadi sesuatu kepada kalian berdua?”
Dia memandang kepada Cu Sui In. Wanita yang pernah jatuh cinta kepadanya ini, dan yang kini menjadi isteri Cian Hui dan kabarnya telah mempunyai seorang putera, masih nampak cantik
201
jelita, akan tetapi wajah yang cantik itu kini dibayangi kegelisahan.
“Benar dugaanmu, tai-hiap. Pek-bwe Coa-ong, seorang di antara Kiu Lo-mo telah datang untuk melawanku, akan tetapi masih untung kami dapat menghindarkan diri,” kata Cian Hui dan diapun menceritakan peristiwa yang menimpa dia dan isterinya.
Diam-diam Pek-liong bersyukur dan kagum akan kecerdikan panglima ini sehingga usaha seorang di antara Kiu Lo-mo itu gagal.
“Setelah terjadi peristiwa itu, aku menduga bahwa tentu tai-hiap dan li-hiap terancam bahaya pula, maka cepat-cepat aku menulis dua pucuk surat untuk kalian dan mengirimkannya melalui seorang pembantu yang kupercaya. Agaknya tai-hiap bersimpang jalan dengannya. Syukur bahwa tai-hiap dalam keadaan selamat, dan entah bagaimana dengan Hek-liong-li. Mudah-mudahan iapun dalam selamat.”
Dengan singkat Pek-liong menceritakan tentang penyerangan yang dilakukan musuh kepadanya dan kepada Liong-li, juga tentang surat-surat yang menyatakan bahwa dua pasangan yang menjadi sahabat-sahabat baik dia dan Liong-li telah menjadi tawanan dan mereka itu minta pertolongan dia dan Liong-li. Diceritakannya pula bahwa ketika dia singgah di rumah Liong-li, pendekar wanita itu telah pergi bersama sembilan orang pelayannya yang lihai.
Mendengar ini, Cian Hui menjadi khawatir sekali. “Aih, jelas bahwa surat-surat itu tentu dimaksudkan untuk memancing tai-
202
hiap dan li-hiap untuk datang ke tempat mereka ditawan. Di mana tempat itu?”
“Di pegunungan Hitam lembah Sungai Kuning.”
“Hemm, tempat itu berbahaya sekali, dan sejak dahulu memang terkenal menjadi tempat pelarian para penjahat yang menjadi buronan!” kata Cian Hui. “Akan kurundingkan dengan para panglima dan kalau perlu kami akan memimpin pasukan besar untuk membasmi gerombolan mereka!” katanya penuh semangat.
“Jangan dulu, Ciang-kun!” kata Pek-liong.
“Akan tetapi, kenapa engkau melarangnya, tai-hiap? Keadaan dapat berbahaya sekali karena menurut dugaanku, bukan hanya Pek-bwe Coa-ong seorang yang menjadi dalangnya. Mungkin sekali semua sisa Kiu Lo-mo, yaitu dia, Kim Pit Siu-cai dan Ang I Sian-li telah mengambil keputusan untuk membalas dendam kepada tai-hiap dan li-hiap. Dan ini bisa berbahaya sekali, mereka pantas dibasmi dengan kekuatan pasukan!”
Pek-liong tersenyum, diam-diam merasa iba kepada tiga orang dari Kiu Lo-mo itu. Agaknya mereka itu tidak memperhitungkan adanya Cian Ciang-kun ini yang dapat merupakan lawan yang amat tangguh dengan adanya kekuasaannya atas pasukan keamanan kerajaan! Juga panglima ini amat cerdik sehingga bukan hanya dia dan Liong-li yang dapat menduga siapa yang mendalangi semua peristiwa itu.
“Ada dua hal yang membuat aku terpaksa tidak menyetujui rencanamu untuk menyerbu dengan pasukanmu, Ciang-kun.
203
Pertama, urusan ini adalah urusan pribadi, permusuhan antara Kiu Lo-mo dengan kami berdua. Mereka hendak membalas dendam maka demi kehormatan, harus kami hadapi tanpa campur tangan pasukan pemerintah. Kedua, kalau pasukan menyerbu, sukar untuk dapat menyelamatkan empat orang tawanan, para sahabat kami itu.”
Cian Hui termenung. Dia maklum akan harga diri dan kehormatan seorang pendekar yang sekali-kali tidak mau berbuat curang mengandalkan pengeroyokan untuk mencari kemenangan.
“Akan tetapi, itu berbahaya sekali, tai-hiap! Kalau benar mereka itu bertiga, dibantu pula oleh orang-orang pandai seperti dua orang yang menyerang kami, dan tentu mereka telah siap pula dengan banyak anak buah, maka tai-hiap dan li-hiap akan masuk perangkap,” kata Cian Hui.
“Apa yang dikatakan suamiku benar, tai-hiap,” kata pula Cu Sui In. “Saya tahu bahwa tai- hiap dan li-hiap memang harus bersikap jantan dan demi kehormatan seorang pendekar, namun kiranya sikap seperti itu hanya dapat dipakai kalau kita menghadapi orang-orang yang juga menghargai kegagahan. Akan tetapi, menghadapi iblis-iblis berbentuk manusia yang tidak segan mempergunakan segala macam kecurangan, seperti dilakukan mereka, dengan menawan empat orang itu, untuk memancing tai-hiap dan li-hiap, masih perlukah tai-hiap mempergunakan kehormatan pendekar itu? Biarkan suamiku memimpin pasukan besar untuk menyerbu mereka dan membasmi mereka demi keselamatan tai-hiap dan li-hiap!”
204
Pek-liong menggeleng kepala dan tersenyum.
Tag:cersil cersil indo cersil mandarin full cerita silat mandarin online cersil langka cersil mandarin lepas cerita silat pendekar matahari kumpulan cerita silat jawa cersil mandarin beruang salju. cerita silat pendekar mataharicerita silat indonesia cerita silat kho ping hoo cerita silat mandarin online cerita silat mandarin full cerita silat jawa kumpulan cerita silat cerita silat jawa pdf cerita silat indonesia gratis cerita silat jadul indonesia cerita silat indonesia pendekar rajawali sakti cersil indonesia pendekar mabuk cersil langka cersil dewa arak cerita silat jaman dulu cersil jawa download cerita silat mandarin full cerita silat mandarin online cersil mandarin lepas cerita silat mandarin pendekar matahari cerita silat jawa pdf cersil indonesia pdf cersil mandarin beruang salju kumpulan cerita silat pdf
kumpulan cerita silat cersil online
Share:
cersil...
Comments
0 Comments

Arsip Cersil

Best Cersil

Pecinta Cersil