Donasi

Buat yang punya rejeki berlebih dan merasa terhibur dengan Situs Cerita Silat Cersil Terbaik ini bisa mendonasikan bantuannya ke
No. Rekening BPD Jateng No. 2004084554
demi keberlangsungan dan keberadaan Blog Cersil Cerita Silat yang sama-sama kita cintai ini. Kritik dan Saran hub No HP.083837358519. Atas Bantuannya disampaikan Terimakasih.

Kamis, 31 Mei 2018

Pedang Cheng Hoa Kiam 2

====
baca juga
Setelah menuturkan tentang kekalahannya terhadap Thai Khek Sian kepada gurunya sambil menangis. Wi Liong lalu menerima latihan-latihan lagi selama satu tahun. Ilmu-ilmu tinggi yang tadinya disimpan saja oleh Thian Te Cu. sekarang diwariskan kepada pemuda itu, di samping nasihat-nasihat dan gemblengan ilmu batin yang sekaligus merobah watak Wi Liong menjadi lebih pendiam dan masak.
Demikianlah, seperti telah dituturkan dalam bagian yang lalu. Thio Wi Liong; duduk berlutut di hadapan suhunya yang bersila di tempat samadhinya. Hati Wi Liong amat terharu namun ia dapat menekannya karena pemuda ini sekarang telah memiliki kekuatan batin untuk menekan dan mengalahkan segala perasaan yang datang dalam kalbunya. Baru sekarang selama belasan tahun hidup di dekat Thian Te Cu. ia mendengar orang aneh ini bicara agak banyak. Biasanya Thian Te Cu hanya bicara sedikit sekali singkat dan yang perlu saja. Bahkan ada kalanya kakek luar biasa ini hanya mempergunakan gerak tangan dan kepala untuk menyatakan kehendaknya, seperti orang gagu. Baru hari itu. setelah gurunya menyatakan bahwa kepandaiannya sudah cukup untuk menandingi Thai Khek Sian gurunya bicara panjang lebar memberi nasihat-nasihat. Perasaannya membisiki bahwa ini merupakan tanda bahwa gurunya hendak memisahkan diri, mungkin untuk selamanya.
"Mulai sekarang kau boleh turuni gunung dan mulai hidup baru. Ingat, pekerjaan apapun juga yang kaulakukan kerjakanlah dengan hati bersih, dengan semangat besar dan dengan kesadaran sepenuhnya bahwa yang kau kerjakan tidak berlawanan dengan kebajikan dan keadilan. Jangan kau mudah dimabok kesenangan dan kemuliaan dunia yang palsu dan yang mudah menyelewengkan batin manusia. Ingat bahwa segala kejahatan manusia yang terjadi di dunia ini selalu ditimbulkan oleh ketidak-sadaran karena mabok dan silau oleh kesenangan, kemuliaan dunia, karena lemah dan tak berdaya terhadap nafsu sendiri." Kakek aneh itu berhenti, agaknya lelah sekali karena terlalu banyak bicara. Memang sudah lama dia menghemat suaranya dan bicara agak banyak ini amat melelahkannya.
151
"Suhu teccu mendengar dari paman Kwee, juga dari luaran ketika teecu turun gunung bahwa sekarang ini negara sedang dalam keadaan terancam dan tidak aman. Orang-orang kang-ouw saling bermusuhan, ada yang memihak pemerintah baru di utara dan ada yang memihak Kerajaan Sung. Kalau teecu turun gunung dan sampai terlibat ke dalam persaingan atau permusuhan ini teecu harus membantu yang mana?"
Terdengar kakek itu menarik napas panjang. "Manusia tiada hentinya berebut kekuasaan. Hanya mereka yang bekerja dengan penuh kesadaran bahwa apa yang mereka lakukan itu demi kebenaran adalah orang-orang bahagia. Perang....... perang....... semenjak nenek moyang kita ribuan tahun yang lalu, negara kita selalu dilanda perang. Siapa menang siapa kalah? Belum tentu yang benar menang. Biarpun kemenangan sementara, sepuluh tahun seratus tahun, seribu tahun, namun ada kalanya yang jahat menang dan rakyat menderita. Semua ditentukan olen Thian!”. Kembali kakek itu berhenti dan Wi Liong tidak mengerti apa yang dimaksudkan oleh gurunya. Akan tetapi ia tidak merasa heran oleh karena sudah biasa mendengar kata-kata yang aneh dan penuh rahasia dari kakek itu.
"Suhu, andaikata bala tentara Mongol menyerbu ke selatan, teecu harus membantu yang mana? Mongol atau Sung? Dan pertentangan antara orang-orang kang-ouw teecu harus memihak yang mana?" Ia mendesak oleh karena biarpun hatinya sendiri sudah menemukan bagaimana ia harus bertindak, tetap saja ia hendak mendengar petunjuk suhunya sebagai pegangan.
Anehnya, kakek itu hanya menggeleng-geleng kepala dan keningnya berkerut.
"Suhu. siapa yang harus teecu bantu?” tanya pula pemuda itu.
Sekali lagi Thian Te Cu menggeleng kepala dan lebih aneh lagi ia kelihatan berduka sekali. Kembali mereka diam sampai lama. Akhirnya Wi Liong memberanikan diri bertanya untuk ke tiga kalinya.
"Suhu. nasihat suhu akan teecu jadikan obor bagi perjalanan teecu agar teecu tidak sampai sesat jalan. Keadaan dunia sedang bergolak, kalau teecu salah tindak, bukankah berarti akan melakukan dosa besar dan suhu akan terbawa nama suhu kalau tidak memberi petunjuk?"
"Obor berada di tangan rakyat. Selama kau dekat dengan rakyat dan memihak mereka yang tertindas, mengulurkan tangan kepada mereka yang lemah sengsara, kau takkan tersesat. Inilah sebabnya mengapa dunia selalu dilanda perang, karena manusia selalu lupa diri, kalau sudah mendapatkan yang besar lupa kepada yang kecil. Orang-orang berebut kedudukan, berebut kesenangan dan kemuliaan tanpa mau menoleh kepada rakyat kecil yang tak pernah mengetahui sesuatu, tak pernah diberi kesempatan untuk tahu akan sesuatu. Coba ada yang berebut untuk mengangkat mereka dari penderitaan, coba segala usaha dikerahkan untuk bersatu dengan mereka, satu nasib satu penderitaan, iblispun takkan berani mengganggu tanah air karena akan berhadapan dengan rakyat yang merasa kebahagiaan dan keamanannya terganggu.
Sekarang bagaimana? Setiap kerajaan merupakan penindas baru......ahhh, Wi Liong, jangan tanya kerajaan mana yang harus kau bantu. Asal kau tidak lupa bahwa kau mempelajari ilmu untuk bertugas sebagai pemberantas kejahatan dan pembela si lemah yang tertindas, cukuplah. Segala di dunia yang nampak besar-besar itu belum tentu betul-betul besar. Aku lebih suka melihat engkau menjadi seorang petani miskin yang berbatin bersih dan berjiwa gagah pembela keadilan dari pada melihat engkau menjadi seorang berpangkat, kaya raya dan mulia akan tetapi batinmu kotor oleh suau emas
152
dan jiwamu bejat, lupa akan keadilan. Nah. pergilah, kelak kita bertemu sekali lagi kalau aku datang nntuk minta kembali Cheng-hoa-kiam."
Tentu caja ucapan terakhir ini membingungkan Wi Liong. Tentang Cheng-hoa-kiam tadi ia benar tidak mengerti. Ketika ia pergi turun gunung, pedang itu dicuri orang, mengapa suhunya bilang kelak hendak mengambil kembali dan bertemu dengannya? la hendak bertanya akan tetapi kakek itu sudah meramkan kedua mata dan berada dalam keadaan samadhi lagi, maka ia tidak berani mengganggu.
"Semua petunjuk akan teecu ingat betul" katanya sambil berlutut memberi penghormatan terakhir, kemudian keluar dari kamar suhunya. Pamannya segera menemuinya.
"Bagaimana? Sudah boleh turun gunung?” tanya Kwee Sun Tek penuh gairah.
"Sudah dan kuharap paman suka pergi bersamaku. Aku tidak tega meninggalkan kau orang tua seorang diri di sini."
Kwee Sun Tek menghela napas panjang. "Apa sih perlunya aku turun gunung? Di puncak gunung, atau di dusun maupun di kota raja sekalipun bagiku sama saja......"
Wi Liong kasihan memandang pamannya. Ia dapat menangkap maksud kata-kata pamannya ini. Memang apa sih bedanya bagi seorang buta?
"Tak usah aku ikut pergi, Wi Liong. Kau pergilah dan cari manusia jahanam Beng Kun Cinjin itu, balaskan sakit hati ayah bundamu, kemudian kau carilah nama untuk menjunjung nama orang tuamu. Kau sudah meudengar semua riwayat orang tuamu, kalau kau berhasil membinasakan manusia jahanam Beng Kun Cinjin. baru hatiku puas dan aku tidak penasaran biarpun aku hidup tak bermata lagi!" Kata-kata ini diucapkan dengan keras penuh semangat, membayangkan sakit hati yang dipendam bertahun-tahun.
Wi Liong menundukkan mukanya. Pemuda inipun merasa berduka sekali, baru setelah ia pulang dari perjalanannya mencari Beng Kun Cinjin, pamannya menceritakan pengalaman ayah bundanya yang tewas ketika mereka berusaha menyadarkan Beng Kun Cinjin dari kesesatannya.
"Wi Liong, belasan tahun aku bertahan hidup menderita hanya untuk dapat menyaksikan bahwa pada suatu hari putera enciku akan dapat berhasil membalaskan sakit hati ayah bunda dan pamannya. Kuharap kau tidak akan gagal. Wi Liong."
"Akan kuusahakan sedapat mungkin, paman." jawab Wi Liong.
"Dan jangan lupa, kau harus mampir di Poan-kun dan tengok calon mertuamu. Sampaikan hormatku dan jangan lupa bilang bahwa pernikahan baru dapat dilangsungkan kalau kalau sudah berhasil membalas dendam kepada Beng Kun Cinjin."
Kwee Sun Tek memang sengaja tidak mau menceritakan tentang obrolan maling pedang yang mengaku-aku menjadi kekasih Kwa Siok Lan, dan sekarang ia menyuruh Wi Liong ke sana untuk melihat apakah obrolan itu betul-betul ataukah hanya omong kosong belaka. Selain itu memang ia
153
tidak rela Wi Liong melangsungkan pernikahan sebelum pemuda itu sempat berdarma bhakti kepada ayah bundanya yaitu membalaskan sakit hati mereka.
Setelah menerima banyak nasihat dari pamannya. Wi Liong lalu turun gunung membawa bekal pakaian dan senjata satu-satunya hanya suling pemberian gurunya. Suling ini bukan suling biasa, melainkan sebuah senjata yang istimewa sekali.
Ketika Wi Liong turun gunung, matahari baru mulai timbul. Ia turun melalui lereng sebelah utara gunung dan matahari muncul dari sebelah kanannya muncul dari permukaan laut yang jauh berada di timur. Hawa pegunungan yang sejak ditimpa cahaya matahari yang hangat nyaman benar-benar mendatangkan suasana yang menggembirakan. Daun-daun pohon seperti disepuh air emas kuning kemilau tapi sejuk sinarnya tidak menyilaukan mata.
Burung-burung berkicau di dahan pohon dan kelihatan beberapa ekor burung bermain-main dengan riangnya merupakan keluarga yang amat berbahagia menyambut darangnya matahari. Wi Liong sengaja berhenti berjalan untuk menikmati pemandangan itu, pemandangan keluarga burung kuning yang kebahagiaannya membuat ia tersenyum dan juga iri. Dua ekor anak burung mencicit diloloh oleh biangnya sedangkan bapak burung menyisiri bulu si biang dari belakang!
Wi Liong tersenyum lalu melanjutkan perjalanannya. Ingin ia berdendang. Hawa dan keadaan semeriah itu memang menimbulkan selera orang untuk berdendang dan bernyanyi seperti burung, atau lari berlompat-lompatan seperti anak kijang. Tiba-tiba Wi Liong mendengar pekik burung dari udara. Ia mendongak dan melihat seekor burung berbulu kehitaman terbang lewat sendiri, merupakan titik hitam pada langit yang bersih cerah. Wi Liong mengerutkan keningnya, ada sesuatu menusuk pada ulu hatinya. Burung itu sendiri kelihatan begitu sunyi tak berkawan, hidup menyendiri di alam yang luas. Teringat Wi Liong akan keadaan dirinya, yatim-piatu dan seorang diri pula di dalam dunia. Sedih hatinya dan bangkit rindunya kepada pamannya Tidak tega rasanya meninggalkan pamannya satu-satunya orang yang semenjak ia kecil berada di sampingnya, pengganti orang tuanya.
"Beng Kun Cinjin jahanam busuk, kau pembunuh ayah ibuku dan kau yang membikin buta sepasang mata pamanku. Tunggu saja pembalasanku!" kata hatinya yang menjadi panas karena pembunuh orang tuanya itu yang menjadi biang keladi sehingga ia sekarang hidup seorang diri dan kesepian.
Teringat kepada musuh besarnya bangun kembali semangat Wi Liong dan ia segara mengerahkan tenaga dan kepandaiannya untuk berlari cepat sekali turun gunung.
Seperti telah dituturkan di depan biarpun kekuasaan Bangsa Mongol berkembang pesat dan Tiongkok utara telah diduduki, namun Tiongkok bagian selatan masih berada dalam kekuasaan pemerintah lama, yaitu Kerajaan Sung selatan. Pemerintah Mongol tidak melanjutkan penyerbuannya ke selatan adalah karena ia sedang memusatkan bala tentaranya untuk menyerbu lagi ke barat. Untuk sementara waktu keadaan dalam negeri menjadi aman, kecuali hentrokan-bentrokan di antara para pengikut pendukung dua kerajaan itu yang saling bersaing dan bermusuhan sendiri.
Kaisar Mongol Oguthai. yang berhasil merebut wilayah Cin di Tiongkok utara masih menggunakan kota Mongol bernama Karakorum sebagai ibu kota kerajaannya. Istananya megah dan indah, penuh barang-barang berharga hasil perampasan dari macam -macam negara yang diserbu oleh bala tentaranya yang amat kuat. Juga di istana bekas Kaisar Cin. yaitu di Peking, dijadikan istana ke dua,
154
dan kerusakan-kerusakan telah dibangun dan diperbaiki kembali, malah sekarang lebih mewah dari pada dahulu.
Peking merupakan kota raja ke dua dan kota besar ini menjadi semacam tempat beristirahat kaisar dan para pembesar tinggi. Akan tetapi kaisar sendiri jarang sekali berada di Peking, atau kalau kebetulan berada di situ juga hanya untuk beberapa minggu saja. Yang sudah pasti, di situ menjadi sarang para pembesar Mongol dan kaki tangannya, yaitu penghianat-penghianat bangsa yang bermuka-muka terhadap penjajah menjual bangsa sendiri untuk mencari kedudukan dan harta. Banyak jumlahnya pembesar-pembesar penghianat macam ini, orang-orang Tiongkok yang lagak-lagunya sudah pula meniru-niru lagak penjajah.
Amat lucu melihat orang Tiongkok itu berpakaian seperti pembesar Mongol bertopi Mongol. aksinya seperti orang Mongol. bahkan bicaranya di pelo-pelokan meniru-niru logat orang Mongol! Bukan main! Dan mereka menganggap mereka telah menjadi orang berkuasa yang gagah. Inilah macamnya orang-orang yang kehilangan kepribadiannya, beginilah manusia yang menjadi bujang nafsu kesenangan, mengejar kesenangan diri dengan pengorbanan apapun juga, rela bersikap palsu, hidup bertentangan dengan hati nurani dan jiwa sendiri, asal bisa memperoleh kedudukan bisa memperoleh kemuliaan dan harta dunia!
Sudah tentu saja manusia-manusia macam begini ini memuakkan perasaan setiap orang yang sedikit saja mempunyai kepribadian manusia-manusia macam penghianat-penghianat bangsa yang sudah seperti badut-badut menari menurut irama musik majikannya kaum penjajah tentu saja menimbulkan rasa benci kepada setiap orang yang sehat pikirannya. Untuk menyenangkan majikan-majikannya, para bangsawan Mongol itu, para penghianat ini tidak segan-segan untuk menangkap-nangkapi bangsa sendiri dengan tuduhan memberontak, dengan ketawa-tawa sambil menuangkan arak di cawan majikannya melihat bangsa sendiri dipenggal batang lehemya sebagai hukuman seorang pemberontak. Alangkah rendahnya akhlak mereka! Untuk mendapatkan kedudukan dan uang. tidak segan-segan penghianat bangsa ini mencari dan menangkapi gadis-gadis cantik anak bangrsanya, untuk dijadikan umpan dan mangsa bagi bangsawan-bangsawan Mongol yang liar seperti bandot tua! Bahkan ada beberapa orang tikus kaki dua macam ini yang tidak sayang-sayang memberikan anak gadisnya sendiri kepada bangsawan Mongol. hanya agar dia mendapat kedudukan, kekuasaan dan kekayaan!
Dunia sudah tua..... manusia sudah gila..... demikian keluh rakyat jelata yang hanya pandai berkeluh-kesah tanpa berani berkutik. Tak dapat disalahkan rakyat jelata, tidak boleh mereka ini disebut lemah atau kurang semangat. Apa daya mereka kalau berkutik sedikit saja berarti kepala mereka dipenggal? Apa daya-mereka kalau di sana tidak ada pahlawan-pahlawan bangsa yang sanggup mempersatukan dan memimpin mereka? Yang bermunculan malah bangsa sendiri yang menjadi penghianat dan lincah darat!
Kalau orang-orang biasa saja sudah merasa penasaran dan kemarahan mereka hanya dipendam dalam dada. lebih-lebih lagi para pendekar perkasa yang tadinya hidup sebagai penghuni-penghuni hutan di gunung-gunung. Mereka merasa marah dan penasaran sekaii. Mereka maklum bahwa terhadap kaum penjajah Bangsa Mongol yang memiliki bala tentara kuat dan besar sekali itu. mereka tidak berdaya. Akan tetapi melihat bangsa sendiri menjadi penghianat. mereka tak dapat menahan kemarahan hati dan segera para enghiong pendekar ini turun gunung. Gegerlah di Peking setelah secara aneh. beberapa orang "pembesar" Bangsa Han yang menjadi penghianat ini tahu-tahu
155
kedapatan tewas dipenggal orang lehernya di dalam kamar, tanpa ada tanda-tanda siapa adanya pembunuh- pembunuh itu.
Kemudian, setelah diketahui bahwa yang melakukan pembunuhan-pembunuhan terhadap para "boneka" penjajah itu adalah orang-orang kang-ouw, mulailah para.pembesar mendatangkan jagoan-jagoan, untuk menjadi pelindung dan penjaga keamanan dan mulailah kerusuhan-kerusuhan terjadi, pertempuran-pertempuran kecil dan pertentangan-pertentangan antara orang-orang kang-ouw yang membenci para penghianat dan para jagoan yang dapat dijadikan kaki tangan mereka.
Thio Wi Liong tiba di Peking pada saat sedang gawat-gawatnya karena beberapa hari yang lalu seorang pembesar boneka she Ciu terbunuh ketika sedang melakukan perjalanan dalam keretanya. Pemuda ini sengaja datang ke Peking karena setelah berbulan-bulan mencari keterangan di selatan, ia mendengar bahwa Gan Tui atau Beng Kun Cinjin lari dari istananya setelah membunuh seorang pangeran muda she Liu. Semenjak melarikan diri, tak seorangpun mendengar ke mana perginya bekas koksu itu? Oleh karena berita ini Wi Liong langsung menuju ke Peking untuk melakukan penyelidikan. Kalau dari orang-orang kang-ouw ia tidak bisa mendapat keterangan, mungkin dari pembesar- pembesar dan kaki tangan Kerajaan Mongol ia bisa mendapatkan jejak musuh besarnya. Kalau perlu ia akan menyusul ke kota raja di utara.
Sebagai seorang yang berpakaian seperti seorang pemuda pelajar yang lemah lembut gerak- geriknya. ia tidak banyak menarik perhatian orang. Ia menginap dalam kamar sebuah rumah penginapan sedernana dan kelihatannya tidak mencurigakan. Akan tetapi setiap hari ia berkeluyuran ke tempat ramai, setiap kali ada kesempatan ia mencoba untuk bicara kepada orang-orang tua dan memancing tentang keadaan Koksu Beng Kun Cinjin. Di waktu malam ia keluyuran pula dan di waktu malam gelap begini lenyap sifatnya yang lemah lembut berubah menjadi seorang yang gerak-geriknya gesit seperti burung walet.
Pada suatu pagi Wi Liong sudah nampak duduk di bangku rumah makan kecil menghadapi scmangkok bubur panas. Bukan kebetulan bahwa ia berada di warung itu, karena warung itu berada di seberang jalan di mana berdiri sebuah rumah gadung besar sekali milik keluarga Liu. Pemuda ini ternyata berhasil mendapat keterangan bahwa keluarga dari pemuda she Liu yang dahulu dibunuh oleh Beng Kun Cinjin, sekarang telah pindah ke Peking, di dalam rumah gedung itulah. Akan tetapi hanya sampai sekian saja keterangan yang ia peroleh. Tak seorangpun rupanya mengetahui mengapa pemuda Liu itu dibunuh.
"Tentu ada rahasianya." pikir Wi Liong dan bukan tidak bisa jadi kalau anggauta keluarga Liu itu ada yang tahu atau setidaknya dapat menduga ke mana perginya Beng Kun Cinjin yang kabarnya lari pergi membawa isteri dan anaknya.
Warung itu cukup besar dan di situ sudah ada belasan orang tamu yang semua ingin mengisi perut dengan bubur panas yang sedap.
"Buburnya satu mangkok lagi!" terdengar suara keras dari belakang tempat duduk Wi Liong. Suara ini nyaring akan tetapi tidak menarik perhatian. Wi Liong yang sedang melamun sambil pandang matanya selalu menatap ke arah pintu halaman gedung keluarga kaya raya Liu itu.
156
"Hebat betul orang itu, sudah habis tujuh mangkok masih tambah terus." terdengar pelayan berkata perlahan sekali ketika memberi Wi Liong semangkok bubur lagi yang dimintanya. "Dengan arak lagi.......!"
Ucapan ini menggerakkan hati Wi Liong. Tidak aneh orang banyak makan, di mana-mana juga ada orang gembul. Akan tetapi pagi-pagi menghabiskan tujuh mangkok bubur dengan arak? Lucu juga. Ia melirik ke belakang dan melihat bahwa orang gembul itu ternyata adalah seorang laki-laki tua berusia limapuluh tahunan, bertubuh tinggi besar tegap dan sikapnya gagah sekali. Hampir semua orang di dalam warung itu memandang kepada kakek ini dengan muka kagum. Memang kakek itu benar-benar gagah, pakaiannya ringkas dan kuat. Mukanya kemerahan dengan kumis dan jenggot seperti pahlawan besar di jaman Sam-kok, Kwan In Tiang atau Kwan Kong! Golok besar bersarung indah tergantung di pinggang kiri. Duduknya tegak dan gerak-geriknya membayangkan bahwa dia bukan orang sembarangan.
Sekaligus Wi Liong tertawan hatinya oleh orang tua gagah perkasa ini. Tidak sukar untuk diduga bahwa orang ini tentulah seorang yang berjiwa gagah, seorang kang-ouw yang patut dijadikan kawan.
Mangkok bubur panas mengepul sudah diantar lagi ke depan kakek itu. Sambil mengibaskan tangannya yang besar, kakek itu berkata tak senang. "Hemm. di Peking sekarang menjadi sarang lalat hijau!"
Wi Liong tersenyum diam-diam. Sebagai orang yang sudah beberapa hari berada di situ, tentu saja ia segera dapat mengenal tiga orang "mata-mata'" kerajaan yang sejak tadi memperhatikan kakek itu sambil saling bisik-bisik. Akan tetapi tak seorangpun kecuali Wi Liong melihat betapa kibasan tangan yang lebar itu sekaligus membuat tiga ekor lalat menempel pada telapak tangan.
"Lalat makan lalat, sudah sepatutnya." kembali kakek itu berkata.
Kecuali Wi Liong, tidak ada yang melihat bagaimana kakek itu menggerakkan jari-jari tangannya. Di lain saat. tiga orang mata-mata itu berseru marah, "Heeei.........pelayan! Dalam mangkok bubur ini ada lalatnya!"
"Di sini juga ada."
"Ini juga!" Tiga orang itu melotot dan memandang jijik.
Pelayan berlari-lari menghampiri dan melihat bahwa betul dalam mangkok tiga orang itu terdapat masing-masin seekor lalat hijau yang besar! Ini betul-betul aneh dan tak dapat dimengerti karena sungguh kejadian yang langka ada lalat sampai masuk ke dalam mangkok bubur. Akan tetapi mata pelayan ini juga tajam, ia mengenal siapa adanya tiga orang itu, maka sambil membungkuk-bungkuk ia mengambil tiga mangkok itu dan berkata
"Maaf loya. Biar saya mengambilkan gantinya." Buru-buru ia mundur dan tak lama datang lagi membawa tiga mangkok bubur panas di atas baki. Dengan hati-hati ia menaruh tiga mangkok bubur itu di depan tiga orang tamunya yang segera mengaduk-aduk dengan sumpit untuk melihat kalau-kalau ada lalatnya, sedangkan pelayan itu mengusir lalat yang mendekat dengan kain lapnya. Setelah
157
melihat betul bahwa di dalam mangkok mereka tidak terdapat lalat, tiga orang itu mulai makan buburnya dan kembali mereka mulai melanjutkan pengawasan terhadap kakek gagah tadi.
Kini Wi Liong sudah selesai makan dan sengaja duduk miring agar ia dapat mengawasi gerak-gerik kakek aneh itu. Kakek itu tersenyum kepadanya tangannya kembali mengebut lalat dan kini tidak kurang dari enam ekor lalat hijau "menempel" pada jari-jari tangannya.
"Lalat hijau menjemukan!" kakek itu kembali menggerutu dan tangannya bergerak perlahan.
"Auupphhh......!!" Seorang di antara tiga mata-mata itu membawa tangan ke mulut sambil melepaskan mangkok buburnya di atas meja, lalu terbatuk-batuk dan matanya mendelik.
"Ada apa.........?” tanya dua orang kawannya sambil menunda makannya.
"Ada....... lalat........ ma........ mahukk........” kata orang yang mulutnya kemasukan lalat besar yang menempel di kerongkongannya itu.
Dua orang kawannya tertawa bergelak akan tetapi tiba-tiba mereka inipun terengah-engah, malah yang seorang terus muntah-muntah karena ada lalat memasuki mulut terus tanpa permisi masuk ke dalam perutnya!
Kejadian yang lucu ini tentu saja menarik perhatian banyak orang dan tak dapat dicegah lagi meledaklah suara kerawa orang-orang yang sedang makan di situ, sampai ada yang tersedak-sedak dan terbatuk-batuk. Tiga orang mata-mata itu marah sekali, akan tetapi kepada siapa harus marah? Dengan mata melotot dan mulut memaki-maki tiga orang itu meninggalkan rumah makan tanpa membayar harga makanan. Pelayan yang menghadangnya menerima semprotan.
"Mau minta bayaran? Tidak kulaporkan dan tidak ditutup rumah makanmu masih enak kau! Pedagang bubur lalat!!"
Pelayan itu buru-buru mundur membiarkan mereka pergi dan kembali orang-orang di situ gelak tertawa. Mereka sebagian besar adalah penduduk aseli Peking maka mereka tahu belaka hahwa tiga orang itu adalah kaki tangan manusia-manusia penghianat yang suka menangkap-nangkapi bangsa sendiri yang dicurigai. Orang-orang macam ini kerjanya hanya keluyuran setiap hari mencari orang yang kiranya dapat dijadikan korban. Bagi para tamu. kejadian tadi adalah hal yang kebetulan saja dan mungkin sebagai hukuman atas dosa-dosa mereka. Kalau tidak begitu, masa hanya mereka saja yang diserbu lalat?
"Mulut mereka terlalu busuk baunya sampai-sampai menarik lalat-lalat hijau." kata seorang tamu sambil tertawa terpingkal-pingkal.
"Lalat juga tahu mana sahabatnya!" kata orang lain.
Akan tetapi senda-gurau dan ejekan terhadap tiga orang mata-mata itu berhenti seketika setelah mereka melihat bahwa tiga orang itu ternyata tidak pergi jauh hanya berhenti di depan warung dan berdiri di seberang jalan dekat pintu halaman rumah gedung keluarga Liu.
158
Sementara itu, kakek aneh itu menggapaikan tangan kepada seorang pelayan tua. Pelayan itu cepat menghampiri membungkuk-bungkuk merendahkan diri seperti sikap seorang pelayan rumah makan yang pandai.
"Duduklah, mari temani aku minum arak." kata kakek itu.
Pelayan tua kaget, menggeleng-gelengkan kepala. "Mana berani saya berlaku kurang ajar terhaaap tamu? Silahkan loya minun, saya yang melayani."
"Duduk kataku mengapa bantahan?" Kakek gagah itu menarik lengan si pelayan yang terduduk di atas bangku seperti bukan atas kehendaknya sendiri, tahu-tahu ia telah duduk begitu saja. "Minum secawan arak!"
Pelayan itu dengan wajah berobah terpaksa minum, dan ternyata diapun seorang setan arak karena sekali tuang saja arak secawan itu sudah amblas! Ia menaruh cawannya yang sudah kering di atas meja wajahnya yang tadi agak pucat menjadi kemerahan dan ia tersenyum-senyum."Terima kasih. loya (tuan tua), arak ini enak sekali "
Akan tetapi diam-diam Wi Liong mengerutkan kening karena ia melihat bagaimana secara cepat dan diam-diam tadi kakek aneh itu menaruh sebutir pel ke dalam cawan arak pelayan. Agaknya pel itu mudah cair dan tidak ada rasanya, buktinya pelayan itu minum habis tanpa merasa apa-apa. Apakah niat kakek itu melakukan hal ini? Apa kehendaknya? Wi Liong benar-benar merasa heran sekali.
Akan tetapi tak lama kemudian ia segera mengerti. Kakek pelayan itu melihat caranya minum arak, terang bukan seorang yang tak pernah minum arak kalau tak mau dikata masuk golongan setan arak. Akan tetapi mengapa baru minum dua cawan saja sudah merah sekali mukanya dan suara ketawanya menandakan bahwa ia telah mabok berat? Kalau baru dua cawan saja, arak yang bagaimana tua pun takkan dapat memabokkan seorang ahli minum! Pelayan itu mulai bicara tidak karuan diselingi ketawa-tawa dan kini ia tidak begitu merendah-rendah seperti tadi.
Wi Liong menjadi tak senang. Kakek tua aneh itu boleh jadi seorang tokoh kang-ouw yang nakal, akan tetapi tidak semestinya kalau ia mempermainkan seorang, pelayan yang tidak punya desa. Selagi ia hendak menegur, ia tersentak kaget dan tidak jadi bergerak ketika mendengar kakek itu berkata.
"Nah. loheng (kakak tua), sekarang kau dongengkan tentang orang-orang ternama seperti misalnya keluarga Liu pemilik rumah gedung di depan itu."
Pelayan itu tertawa terkekeh-kekeh, tawa seorang mabok yang tidak sadar lagi.
"Bandot tua bangka itu? Heh-heh-heh. apanya yang patut didongengkan? Bandot mata keranjang sampai ke tulang sumsum, bapak anak seringgit dua-rupiah-setengah, sama saja!”
Wajah kakek aneh itu nampak berseri dan penuh harap. "Mengapa kau bisa bilang keluarga itu mata keranjang? Apa buktinya?”
"Heh-heh-heh. bukti? Mau bukti? Hanya orang buta yang tidak melihat. Siapa tidak tahu tentang gadis desa yang tahu-tahu mati dan dikubur diam-diam di tengah malam? Dan belum lama ini setiap
159
malam terdengar tangis wanita, kabarnya ada lagi gadis yang diculiknya. Padahal usianya sudah enampuluh lebih. Kalah tua aku! Tapi tua-tua keladi makin tua makin menjadi! Heh-heh-heh."
"Semua orang tahu memang kalau Liu-wangwe hartawan Liu mata keranjang, akan tetapi kau bilang ayah anak sama saja, apa artinya itu? Bukankah anaknya hanya seorang yang sudah remaja puteri?"
"Oooo kau keliru........."
Pada saat itu pengurus rumah makan itu datang menghampiri dengan langkah lebar. "A Sam. jangan mengganggu tamu........."
Kakek aneh itu melotot kepada pengurus rumah makan. "Apa mengganggu? Aku yang mengundangnya menemani aku minum. Kau mau apa?”
"Maaf, loya.........” pengurus itu merendah dan wajahnya memperlihatkan kekhawatiran dan beberapa kali ia menengok ke arah tiga orang mata-mala yang sejak tadi berdiri di depan. "akan tetapi A Sam kami beri upah bukan untuk mengobrol, melainkan untuk bekerja....... dan........"
"Berapa sih upahnya? Nih gantinya!" Kakek aneh itu melemparkan sepotong perak yang barangkali cukup untuk membayar upah A Sam selama sepekan!”Sudah, enyah! Teruskan Sam-ko!"
Pengurus itu tidak berani berkata apa-apa lagi dan pergi. Ia maklum bahwa kakek yang seperti Kwan Kong dan membawa-bawa golok itu tentu seorang kangouw maka ia tidak berani memaksa. ’Celaka, pikirnya. A Sam sudah mabuk: dan membuka-buka rahasia orang sedangkan anjing-anjing pemburu itu masih berada di depan pintu. Celaka, celaka......... apa yang akan menimpa rumah makan kita?’ Demikian pengurus itu menggerutu seorang diri.
Adapun A Sam setelah longak-longok dan tersenyum-senyum puas melanjutkan kata-katanya. "Kau keliru loya. Keluarga Liu itu dahulunya mempunyai seorang putera, dalam hal watak cabulnya tidak kalah oleh si bandot tua ayahnya sendiri."
Pengurus rumah makan itu membanting-banting kaki melihat tiga orang mata-mata kaget mendengar seorang pelayan warung berani memaki-maki Liu-wangwe (hartawan Liu) atau boleh juga disebut Liu-taijin (pembesar Liu). Saking herannya mereka ini sampai tidak bertindak apa-apa. hanya membuka telinga ikut mendengarkan.
"Di mana puteranya itu sekarang?" tanya kakek aneh penuh perhatian.
"Ho-ho. sudah tidak ada lagi. Sudah mampus! Akibat mata keranjangnya. Masa dia berani main gila dengan isteri koksu baru."
"Kau maksudkan Beng Kun Jinjin?"
"Namanya siapa aku tidak tahu, mana aku bisa tahu? Kabarnya koksu itu seorang hwesio tua, diberi hadiah selir kaisar yang disebut Puteri Harum! Ha-ha-ha lucunya manusia! Puteri Harum bekas selir kaisar dijodohkan dengar seorang hwesio gundul tua, mana puas? Diam-diam main gila dengan putera keluarga Liu yang muda dan ganteng. Semua orang tahu belaka, hanya hwesio tua bangka itu
160
goblok seperti kerbau...... Ha-ha. tentu saja aku juga tahu, dahulu aku berdagang di kota raja, sampai jatuh gulung tikar karena aku keedanan judi dan........."
Mendengar cerita itu melantur tidak karuan, kakek tadi lalu menyetop.
"Main gila dengan isteri koksu lalu bagaimana?”
"Akhirnya hwesio koksu itu tahu juga rupanya. Pada suatu malam si hwesio minggat setelah membunuh pemuda she Liu itu di kamarnya. Dengar baik-baik loya, dibunuh di dalam kamar tidur koksu itu sendiri. Ha-ha itu saja sudah menerangkan keadaan sebenarnya. Hwesio itu membunuh si pemuda lalu minggat bersama Puteri Harum dan anaknya."
"Sudah punya anakkah Puteri Harum dan hwesio itu?”
"Bukan anak si hwesio!"
"Anak orang she Liu "
"Juga belum tentu."
"Habis anak siapa?”
"Ha-ha-ho-ho, bapaknya banyak......... ha-ha. Tadinya selir kaisar, lalu isteri hwesio dan kekasih Liu-kongcu. Coba bilang, siapa bapaknya?”
"A Sam, cukup! Bantu aku di sini!" teriak si pengurus rumah makan dengan muka pucat. A Sam agaknya masih ingat akan pengaruh bentakan majikannya ini, cepat-cepat ia berdiri menjura kepada kakek aneh itu dan menghampiri majikannya untuk membantu pekerjaan lain.
Kakek aneh itu tertawa seorang diri sambil menenggak araknya. "Bandot tua....... mata keranjang......!" terdengar ia bersungut-sungut. Akan tetapi kakek itu tersentak kaget ketika memandang ke depan. Terlihat tiga orang mata-mata itu sedang bercakap-cakap dengan seorang kakek tinggi besar dan buruk rupa, bengis kelihatannya, alisnya tebal menutupi mata.
"Dia di sini.......?" kakek itu berbisik, buru-buru membayar harga makanan dan segera pergi dari warung itu. Akan tetapi Wi Liong masih dapat melihat bagaimana kakek itu menekan, pinggir meja yang segera melesak ke bawah dan meja itu menjadi miring!
Wi Liong diam-diam merasa kagum dan tidak mengerti akan sikap yang aneh ini. Ia masih terlampau tertegun mendengar penuturan pelayan tua yang benar-benar sangat menguntungkan baginya itu. Jadi sudah jelas bahwa keluarga Liu ini pernah berurusan dengan Beng Kun Cinjin dan kiranya kakek pelayan atau keluarga itu akan dapat memberi petunjuk kepadanya ke mana perginya Beng Kun Cinjin.
Ketika ia melihat lagi, kakek aneh bermuka Kwan Kong itu sudah tidak kelihatan lagi bayangannya dan sebagai gantinya, dengan langkah lebar masuklah kakek tinggi besar yang tadi bercakap-cakap dengan tiga orang mata-mata di halaman gedung keluarga Liu. Kakek ini tidak kalah anehnya oleh yang tadi.
161
Tubuhnya tinggi besar, mukanya segi empat alisnya tebai menutupi mata, kulit tubuhnya mbengkerok seperti kulit buaya kudisan.
"Mana dia A Sam si mulut busuk?" tanya kakek tinggi besar itu sambil terus melangkah menghampiri pengurus warung yang kelihatan ketakutan melihat kakek ini. Pengurus itu menudingkan telunjuknya ke kiri dan...... A Sam telah tidur mendengkur di atas bangku panjang!
Kakek itu menghampiri A Sam yang mabok berat sekali, melihat sebentar lalu menepuK kepalanya beberapa kali. Aneh. A Sam lalu membuka matanya dan agaknya sudah sadar sama sekali dari pengaruh arak. Wi Liong yang menyaksikan ini semua membuka mata lebar-lebar. Ternyata kakek itu telah membuka hawa murni pelayan itu sehingga semua hawa pengaruh arak telah buyar dan lenyap. Hanya seorang berilmu tinggi saja yang sanggup menotok urat-urat kecil di bagian kepala untuk memberi jalan kepada hawa arak yang memenuhi kepala! Lagi-lagi seorang pandai di depannya! Ia memandang terus dan makin lama ia merasa makin tidak asing, seakan-akan ia pernah bertemu dengan kakek ini, entah di mana. A Sam memandang bingung, kemudian kelihatan ketakutan.
”Hayo katakan, kau yang tahu akan riwayat dahulu, di mana adanya Beng Kun Cinjin sekarang!” tanya kakek tinggi besar itu dengan suaranya yang parau dan kasar.
"Saya....... hamba....... tidak tahu. Nama itupun baru sekarang hamba dengar........"
"Bulus! Kalau tidak tahu mengapa tadi mengobrol tidak karuan?”
"Hamba tidak mengobrol, loya. Sejak tadi melayani para tamu dan........."
Terdengar beberapa orang tamu tertawa geli, akan tetapi segera diam kembali seperti jengkerik terpijak ketika kakek tinggi besar itu mengerutkan kening dan membentak, "Siapa orang muka merah yang kau ajak mengobrol tadi?”
"Orang muka merah yang mana? Aahhhh......." A Sam teringat. "dia kan tamu di sini tadi.........?" A Sam benar-benar kelihatan bingung sekali. "Hamba tidak kenal dan tidak tahu ke mana perginya........." A Sam memandang ke arah meja yang sudah miring.
Melihat meja itu, kakek tinggi besar menghampiri dengan langkah lebar, lalu tertawa bergelak menyeramkan. "Yang beginian saja dipamerkan?" Jari telunjuknya mengungkit ujung meja yang segera terangkat dan rata kembali berdirinya.
Kemudian kakek itu menyambar kedua kaki pelayan tua, mengangkatnya ke atas sehingga pelayan itu tergantung dengan kepala di bawah! Tentu saja A Sam menjerit-jerit seperti babi disembelih minta diampuni.
Sambil tertawa-tawa kakek itu membawa A Sam ke dekat tempat godokan bubur dan menggantung kepala A Sam di situ. mengancamnya hendak memasukkan kepala yang kecil gepeng (tipis) itu ke dalam bubur yang mendidih!
"Aduuhhh...... aaa...... aadduuhhh....... loyaa....... panas.......!" A Sam menjerit-jerit, ngeri melihat bubur yang panas mendidih, yang setiap pagi menjadi permainannya kalau ia melayani para tamu.
162
Belum juga kepalanya menyentuh bubur, ia sudah hampir pingsan dan berteriak-teriak kepanasan! Para tamu memandang penuh kengerian pula. Betul-betulkah kepala itu hendak dimasukkan ke dalam bubur mendidih? Sementara itu pengurus rumah makan berdiri dengan kaki menggigil dan muka pucat.
Kakek kejam itu agaknya mengalami kegembiraan benar melihat A Sam yang ketakutan. Ia tertawa-tawa geli seperti meiihat sesuatu yang lucu. Tangan kirinya yang memegang dua pergelangan kaki A Sam sebentar diturunkan sampai kepala itu sudah mulai terkena uap lalu diangkat lagi, dipermainkan.
"Ampuuunn...... am..... ampun, tuan besaaarrr......"
"Ha-ha-ha. mana bisa ada ampun? Kau kemarin memberi bubur yang terlalu panas sampai lidahku serasa terbakar, sekarang kau rasakan bagaimana kalau kepalamu kumasukkan ke dalam bubur panas" kata kakek itu membuat semua orang terheran-heran. Tadinya mereka mengira bahwa kakek itu hendak menghukum A Sam karena tadi A Sam membongkar rahasia keluarga Liu, tidak tahunya sekarang mendadak si tinggi besar itu mempersoalkan lidah terbakar oleh panasnya bubur. Benar-benar hal yang amat mbo-cengli (tiada aturan)!
"Bu-ceng Tok-ong.......!" tiba-tiba terdengar suara ini dan kakek itu seperti dipagut ular, melemparkan tubuh A Sam ke samping, membuat pelayan itu mengaduh kesakitan dan kepalanya benjol sebesar telur bebek. Cepat ia merayap dan menymgkirkan diri ke belakang, terus bersembunyi masuk ke kolong meja dapur!
Adapun kakek itu yang sebetulnya bukan lain memang Bu-ceng Tok-ong. meraba-raba siku tangan kirinya sambil memandang ke sekelilingnya. Sinar matanya yang bersembunyi dari balik alis tebal itu menyambar-nyambar penuh bahaya. Akan tetapi, para tamu di dalam warung itu hanya orang-orang biasa, tidak ada yang mencurigakan. Diam-diam ia bergidik sendiri. Sudah terang baginya bahwa ada orang pandai yang baru saja menyerangnya dengan pukulan dari jauh, tepat mengenai siku tangan kirinya, membuat tangan kirinya terasa lumpuh. Orang yang mampu melakukan hal ini sudah tentu seorang pandai sekali. Akan tetapi ternyata orang itupun tidak bermaksud jahat, kalau tidak demikian kiranya pergelangan sikunya dapat terluka lebih hebat lagi. Setelah mendapat kenyataan bahwa di tempat itu tidak terdapat orang yang patut memiliki kepandaian tinggi dalam pandangannya, Bu-ceng Tok-ong dengan langkah lebar keluar dari warung itu, sedikitpun tidak menengok lagi kepada A Sam.
Para tamupun bubaran cepat-cepat dan sehari itu warung yang biasanya ramai ini menjadi sepi. Berita tentang peristiwa itu cepat sekali tersiar dan orang-orang tidak berani berbelanja di situ, takut kalau terbawa-bawa. Juga Wi Liong diam-diam pergi dari tempat itu. Tadi dia yang menolong A Sam dan diam-diam dia mengirim pukulan jarak jauh, tidak terlalu kuat akan tetapi cukup memberi peringatan kepada Bu-ceng Tok-ong bahwa kalau Raja Racun ini melanjutkan perbuatannya, menggodok kepala A Sam hidup-hidup, tentu akan ada orang yang menolong pelayan itu. Wi Liong bukan seorang bodoh. Dia tidak mau berlaku ceroboh di dalam kota yang selalu terjaga kuat dan penuh dengan mata-mata pemerintah Mongol. Ia hendak menyelidiki urusan pribadinya dengan diam-diam tanpa banyak menimbulkan keributan. Ia sudah mengambil keputusan untuk menemui A Sam malam nanti dan minta penjelasan lebih jauh tentang Beng Kun Cinjin.
Malam hari itu kota raja ke dua itu nampak indah di bawah sinar bulan yang sore-sore telah muncul di langit biru. Suasana remang-remang romantis menimbulkan kegembiraan dalam hati. Sayang sekali hawa amat dinginnya, orang-orang tidak sda yang berani keluar kalau tidak mempunyai keperluan
163
penting. Lebin enak berdiam di rumah menghadapi hangatnya api di perapian. Apa lagi menjelang tengah malam setelah bulan jauh terbang ke arah barat, dinginnya bukan kepalang.
Akan tetapi bagi Wi Liong yang sudah memiliki kepandaian tinggi, dengan hawa sinkangnya ia dapat mempertahankan kedinginan itu. Malah ia melompat ke sana ke mari dari genteng rumah ini ke genteng rumah itu bagaikan seekor burung beterbangan. Gerakannya gesit bukan main dan bagi mata biasa sukarlah mengikuti gerakan-gerakan Wi Liong. Sebentar saja ia sudah tiba di atas genteng rumah makan yang pagi hari tadi menjadi tempat keributan. Wi Liong mengintai dari atas genteng. Di bawah gelap saja. tanda penghuninya sudah tidur. Ia melompat turun dan sekali raba terbukalah jendela rumah itu.
Wi Liong terheran karena mendapat kenyataan bahwa jendela itu memang tidak terkunci dari dalam. Ia melompat masuk bagaikan seekor kucing tanpa menerbitkan suara sedikitpun dan di lain saat ia hampir mengeluarkan seruan kaget ketika di bawah sinar bulan yang menerobos masuk ia melihat tubuh A Sam terbujur kaku dan tak bernyawa di atas bangku panjang! Ia cepat melompat lagi dan kini ia menuju ke rumah gedung di depan warung itu. A Sam sudah tidak bisa dimintai keterangan dan orang satu-satunya yang dapat memberi keterangan kiranya hanya orang she Liu yang oleh A Sam disebut bandot tua.
Dari jauh ia sudah melihat pertempuran hebat terjadi di atas genteng tebal rumah gedung keluarga Liu. Ia mengenal kakek aneh bermuka merah yang pagi tadi makan di warung. Kakek itu dibantu oleh seorang gadis muda mengeroyok Bu-ceng Tok-ong yang lihai, menggunakan golok besarnya sedangkan gadis muda itu menggunakan sebatang pedang, ilmu silatnya cepat dan cukup lihai. Namun Bu-ceng Tok-ong yang bertangan kosong itu dapat melayani dua orang lawannya yang bersenjata dengan baik, malah dengan pukulan-pukulan yang mengandung hawa beracun ia dapat mendesak dua orang lawannya yang bersikap hati-hati dan main mundur!
Wi Liong tahu akan kejahatan Bu-ceng Tok-ong dan ia memang tidak suka kepada tokoh Mo-kauw yang sudah pernah menculiknya dari puncak Kun-lun-san itu. Akan tetapi ia tidak mengenal kakek bermuka merah dan gadis berpedang itu. maka merasa tidak pada tempatnya kalau ia membantu mereka tanpa mengetahui sebab-sebab pertempuran. Tanpa diketahui oleh mereka yang sedang bertempur seru, Wi Liong menyelinap dan terus melompat ke bagian lain dari rumah gedung keluarga Liu. Dia hendak menyelidiki dan mencari musuh besarnya, tak perlu melibatkan diri dengan urusan orang lain, pikirnya.
Akan tetapi baru saja kedua kakinya menginjak genteng di bagian belakang, tiba-tiba ia berjongkok dan bersembunyi di balik wuwungan ketika dari bawah melayang naik dua bayangan orang, juga seorang gadis dan seorang kakek pengemis. Gadis manis itu belum pernah Wi Liong mengenalnya, akan tetapi melihat kakek pengemis yang tangan kiri memegang tongkat bambu dan tangan kanan memegang mangkok, pengemis bertubuh kecil pendek dan bermata besar ini. ia teringat akan penuturan pamannya bahwa di dunia kang-ouw terdapat seorang tokoh besar bernama Pak-thian Koai-jin. Inikah orangnya?
"Suhu. puas hati teecu (aku) dapat membasmi seorang okpa (hartawan jahat) seperti bandot tua she Liu itu!" terdengar gadis manis itu berkata, suaranya nyaring dan bersemangat.
164
"Hemm. kalian orang-orang muda memang berdarah panas. Lihat agaknya See-thian Hoat-ong dan keponakannya yang jelita itu tidak akan kuat menghadapi Bu-ceng Tok-ong. Mari kita bantu!" kata kakek tadi yang sebetulnya memang Pak-thian Koai-jin adanya.
Dua pendatang baru ini cepat menyerbu dan betapapun lihai kepandaian Bu-ceng Tok-ong. menghadapi empat orang lawan yang berilmu tinggi, apa lagi dua orang kakek itu, ia segera terdesak dan menjadi kerepotan.
"Ramai-ramai mengeroyok seorang lawan! Curang sekali......!" ia memaki-maki sambil melompat ke sana ke mari mengibaskan tangan baju dan mengirim pukulan-pukulan dahsyat.
Melihat sekarang Bu-ceng Tok-ong mundur-mundur. Pak-thian Koai-jin berkata kepada kawan-kawannya, "Beri ampun dia kali ini!" Inilah tanda ajakan bagi kawan-kawannya untuk melarikan diri. Pandangan mata Pak-thian Koai-jin memang tajam sekali. Ia sudah melihat berkelebatnya bayangan dua orang yang cepat sekali gerakannya, maka maklum bahwa Bu-ceng Tok-ong akan mendapat bantuan kuat, ia mengajak kawan-kawannya pergi lebih dulu.
Betul saja, baru empat orang itu melompat jauh dan melarikan diri, terdengar bentakan nyaring suara seorang wanita, "Tok-ong kejar mereka, kami bantu!"
Bu-ceng Tok-ong girang bukan main melihat munculnya Tok-sim Sian-Ii dan seorang pemuda ganteng yang bukan lain adalah Kam Kun Hong bekas muridnya! Akan tetapi tiba-tiba dua buah benda kecil hitam melayang dan menyamhar ke arah Bu-ceng Tok-ong dan Tok-sim Sian-li dengan kecepatan luar biasa. Dua orang Mo-kauw itu mengeluarkan seruan marah dan mengibaskan tangan. Dua potong genteng itu hancur berantakan, akan tetapi dua orang itupun merasa telapak tangan yang dipakai menghantam tadi panas dan agak sakit. Kagetlah mereka. Lweekang mereka sudah mencapai tingkat tinggi, masa menghadapi sambitan genteng saja terasa sakit? Terang bahwa penyambitnya seorang berilmu. Mereka ragu-ragu.
Tiba-tiba terdengar hiruk-pikuk dan tangis riuh rendah dari dalam gedung itu. Bu-ceng Tok-ong menarik napas panjang. "Sayang kau datang terlambat, kalau tadi kau di sini mereka takkan berhasil memasuki gedung. Mari kita lihat apa yang terjadi di bawah."
"Mana Kun Hong?'' tanya Tok-sim Sian-li. memandang ke kanan kiri dan merasa khawatir tidak melihat Kun Hong.
"Celaka, tentu dia mengejar mereka. Mereka itu adalah orang-orang kuat, mana bisa Kun Hong melawan mereka seorang diri saja?"
Tok-sim Sian-li mengeluarkan suara mengejek. "Pak-thian Koai-jin dan See-thian Hoat-ong itu orang-orang macam apa sih? Biar ditambah sepuluh lagi mereka itu bukan apa-apa bagi Kun Hong. Jangan kira Kun Hong sekarang sama dengan dulu. hemmmm!"
Bu-ceng Tok-ong maklum bahwa tentu pemuda bekas muridnya itu telah menerima warisan ilmu dari Thai Khek Sian, maka ia tidak membantah lagi dan mengajak wanita itu turun untuk melihat apa yang telah terjadi di bawah.
165
Ke mana perginya Kun Hong? Pemuda ini tadi melihat dua orang gadis cantik manis mengeroyok Bu-ceng Tok-ong dan sekaligus hatinya tertarik dan tergila-gila. Melihat mereka lari pergi, Kun Hong lalu mengikuti mereka secara diam-diam, tidak mau menyerang hanya membayangi mereka untuk mengetahui ke mana mereka pergi. Ia mengandalkan ilmu ginkangnya yang luar biasa dan dengan mudah ia mengikuti empat orang itu tanpa diketahui oleh mereka yang ia bayangi. Sebaliknya, seujung rambutpun pemuda ini tidak pernah menduga bahwa ada bayangan lain yang mengikutinya dengan gerakan yang tidak kalah gesit dan ringannya! Benar-benar hal yang amat ajaib kalau dibicarakan. Pak-thian Koai-jin dan See-thian Hoat-ong adalah dua orang tokoh kang-ouw yang sudah memasuki tingkat tokoh-tokoh tertinggi, namun mereka berdua, juga dua orang gadis cantik yang kepandaiannya sudah tinggi pula itu sama sekali tidak tahu bahwa mereka diikuti oleh dua orang pemuda!
Kun Hong terus mengikuti empat orang itu yang mempergunakan ilmu lari cepat keluar dari kota menuju ke barat. Ia merasa gembira sekali melihat bahwa dua orang gadis itu betul-betul cantik menarik kalau sewaktu-waktu ia dapat melihat wajah mereka tertimpa cahaya bulan. Yang seorang adalali seorang gadis bertubuh langsing agak tinggi dengan kepala digelung ke atas, dibungkus saputangan sutera. Gadis ke dua manis sekali, agak pendek kalau dibandingkan dengan yang pertama, rambutnya dikepang dua dan ujungnya dibiarkan terurai di atas punggung. Gadis pertama kelihatan cantik jelita, keren dan gagah. Sedangkan yang ke dua nampak manis sekali dan lincah.
"Aduh, keduanya sama hebatnya. Yang satu jelita yang satu manis sukar dikatakan yang mana lebih menarik hati." pikir Kun Hong. "Kalau aku disuruh pilih, tentu aku akan pilih......... keduanya!"
Ia baru siang tadi memasuki kota bersama Tok-sim Sian-li. setelah mendapat perkenan dari Thai Khek Sian. Selama setahun lebih ia menerima gemblengan dari gurunya itu, mewarisi ilmu-ilmu yang tinggi sehingga dalam waktu sependek itu kepandaiannya telah meningkat secara luar biasa sekali. Juga ia dipercaya penuh oleh Thai Khek Sian dan kedatangannya di Peking juga membawa tugas sebagai wakil gurunya. Akan tetapi, seperti kebiasaan orang-orang golongannya, dia dan Tok-sim Sian-li tidak mau muncul sebelum malam tiba dan segera setelah tengah malam tiba, mereka pergi mencari Bu-ceng Tok-ong yang mereka dengar berada di gedung keluarga hartawan Liu. Dan melihat dua orang gadis jelita itu Kun Hong sekaligus lupa akan tugasnya dan kini ia mengikuti mereka secara diam-diam sampai jauh di luar kota.
Sambil berlari ia berpikir. Ia menerima tugas untuk mewakili gurunya, mengadakan hubungan dengan orang-orang segolongan yang sudah berada di Peking dan di kota raja, membantu pergerakan Bangsa Mongol. Ia diberi hak untuk bertindak atas nama Thai Khek Sian dan mewakili gurunya itu membantu pemerintah baru. Begitu tiba di situ, ia sudah mendapat kenyataan bahwa kawan- kawan segolongannya ternyata dimusuhi oleh orang-orang kang-ouw seperti Pak-thian Koai-jin dan See-thian Hoat-ong. Akan sibuk dan banyak pekerjaan kelak pikirnya. Kebetulan sekali sekarang aku mengikuti mereka, jadi aku dapat mengetahui di mana sarang musuh, pikir Kun Hong yang menjadi makin gembira oleh karena selain dapat mengenal dua orang nona itu, juga ia dapat menyelidiki sarang musuh!
Ternyata setelah berlari-larian cepat setengah malam lamanya, di waktu fajar menyingsiag empat orang itu tiba di sebuah bukit yang berbatu-batu. Di atas puncak bukit itu terdapat sebuah kelenteng tua dan dari jauh sudah dapat diketahui bahwa itu adalah kelenteng Siauw-lim-si. bangunannya sudah tua dan kuno akan tetapi masih kokoh.
166
Anehnya, tidak ada jalan masuk ke kelenteng itu. Sekelilingnya adalah jurang-jurang lebar belaka dan kelenteng itu jadinya berdiri di atas batu besar terpisah dari tanah datar yang lain. Melihat potongan batu itu. dapat diduga bahwa dahulu batu itu menjadi satu dengan tanah di sebelah kiri, akan tetapi mungkin karena gempa bumi menjadi pecah dan makin lama retaknya makin melebar menjadi jurang yang amat lebar dan dalam.
Kun Hong yang bersembunyi di balik pohon melihat dari jauh betapa empat orang itu menyelinap ke dalam semak-semak lalu menghilang! Ia menjadi bingung dan mencari-cari. Ke mana perginya mereka? Setelah sampai di sini, sudah tentu mereka pergi ke kelenteng itu. Itulah sarang mereka, tak salah lagi. pikirnya. Kalau aku kembali ke kota, membawa kawan-kawan untuk menyerbu ke sini, sekaligus mereka akan dapat kutawan! Akan tetapi Kun Hong belum puas kalau belum melihat sebelah dalam, apa lagi kalau belum melihat dua orang nona manis tadi! la mulai mencari-cari jalan masuk dan baru ia mendapat kenyataan bahwa jalan masuk memang tidak ada. Akan tetapi empat orang tadi, mengambil jalan manakah?
Mari kita menengok ke dalam kelenteng yang agaknya tersembunyi di atas bukit itu. Memang kelenteng ini bekas Kelenteng Siauw-lim-si yang sudah amat tua. Bangunannya kuno dan kokoh sekali. Kelenteng ini masih ditempati oleh hwesio-hwesio Siauw-lim-si, merupakan cabang dari partai Siauw-lim yang amat terkenal. Ada duapuluh orang lebih hwesio tinggal di situ, rata-rata lulusan tingkat pertengahan, jadi rata-rata memiliki kepandaian silat yang lumayan. Yang mengepalai mereka adalah Souw Lo Hosiang, murid pertengahan dari Bhok Lo Cinjin ketua Siauw-lim-pai. Memang semenjak terjadinya pertentangan antara pembela-pembela penjajah Mongol dan orang-orang kang-ouw yang memusuhi para penghianat bangsa, kelenteng ini menjadi sarang atau tempat persembunyian orang-orang gagah.
Pak-thian Koai-jin dan tiga orang kawannya tadi memasuki kelenteng melalui jalan tambang yang sengaja dipasang dari seberang jurang, disembunyikan di dalam semak-semak. Tambang ini cukup besar dan kuat, dipasang dari akar pohon di semak-semak itu sampai ke sebuah jendela bulan di samping kelenteng. Dengan ilmu meringankan tubuh, empat orang itu melalui jalan tambang yang amat berbahaya dan mengerikan bagi mereka yang tidak berkepandaian, lalu mereka melompat ke dalam jendela bulan, yaitu jendela yang bentuknya bundar.
Wi Liong yang mengikuti mereka segera dapat menemukan jalan ini dan mempergunakan kesempatan selagi empat orang itu melompat ke dalam jendela, secepat burung terbang pemuda ini lari melalui jalan aneh itu. Tanpa ragu-ragu karena tidak bermaksud buruk, iapun melompat ke dalam jendela dan...... tubuhnya terus "nyeplos" ke bawah karena di balik jendela itu ternyata tidak ada lantainya! Atau lebih tepat lagi. tadinya memang ada lantainya, hanya saja sekarang lantai digeser dengan alat yang sudah disiapkan dan menjadi lubang jembatan yang amat lihai. Memang Siauw-lim-pai terkenal dalam hal memasang jebakan-jebakan rahasia.
Kalau Wi Liong tidak memiliki kepandaian tinggi, tentu ia akan jatuh tunggang-langgang dan mungkin kepalanya akan pecah menimpa lantai batu di bawah, di dalam "sumur" yang dalamnya tidak kurang dari lima tombak itu! Ia cepat mengatur keseimbangan tubuhnya dan dapat meluncur ke bawah dengan kaki lebih dulu dan tiba di dasar sumur itu tanpa menderita luka. Ketika ia melihat ke depan, ternyata ia berada dalam sebuah kerangkeng besi dan di luar kerangkeng itu ia melihat empat orang yang tadi ia ikuti. Pertama-tama pandang mata Wi Liong bertumbuk dengan sinar mata yang amat
167
tajam, sinar sepasang mata yang membuat jantung dalam dadanya tidak karuan lagi kerjanya, gedebak-gedebur tak menentu. Itulah sepasang mata nona yang tinggi langsing, yang rambutnya diikat ke atas. nona yang matanya tajam hidungnya mancung bibirnya kecil! Cepat-cepat Wi Liong mengalihkan pandang matanya dan merasa jengah, merasa pipinya menjadi panas-panas. Tentu saja ia tidak tahu bahwa kedua pipinya memang berubah merah sekali seperti orang kalau merasa malu.
Kakek muka merah yang kemarin pernah bertemu dengan dia di warung, yang melempar senyum kepadanya, melangkah maju sambil tertawa. "Sudah kuduga kau kemarin memang bersikap mencurigakan, terlalu halus! Orang muda. melihat muka dan sinar matamu kau bukan dari golongan sana. Mengapa kau mengikuti kami dan kau siapakah?"
Wi Liong memang merasa malu. Tidak hanya malu yang tak diketahui sebabnya kalau ia memandang atau lebih tepat bertemu pandang dengan nona tinggi langsing itu. akan tetapi juga malu karena ia sampai terjebak, dan malu pula karena keadaannya memang mencurigakan sekali, memasuki tempat orang tanpa minta, ijin!
"Aku......... aku hanya mau memberi tahu bahwa ada orang-orang dari gedung keluarga Liu itu mengejar kalian." katanya sederhana.
"Ha-ha-ha. jangan mencoba menimpakan dosa ke pundak orang lain, orang muda." kata Pak-thian Koai-jin. "Bu-ceng Tok-ong dan Tok-sim Sian-li tidak mengejar kami dan andaikata ada, tentu tidak bisa sampai di sini. Hayo kau mengaku kau ini siapa dan apa maksudmu masuk ke sini? Jangan banyak bicara bohong." Biarpun ia berlagak galak, namun orang seperti Pak-thian Koai-jin mana bisa galak? Mukanya saja sudah amat lucu dengan matanya yang lebar dan bersinar lembut, biarpun ada cahaya kenakalan terpancar dari manik matanya.
"Mana berani aku yang bodoh membohong di depan locianpwe seperti Pak-thian Koai-jin?" kata Wi Liong.
"Lho.........?! Kau kok sudah mengenalku? Di mana kita pernah bertemu?”
"Andaikata tidak mengenal muka lccianpwe yang mulia, sedikitnya aku mengenal tongkat dan mangkok itu, sepasang senjata locianpwe sudah terlalu banyak dikenal orang sehingga pamanku Kwee Sun Tek sendiripun mengenalnya. Pamanku itu yang memperkenalkan keadaan dan gambaran tentang locianpwe kepadaku."
Nama Kwee Sun Tek mana dikenal oleh orang-orang seperti Pak-thian Koai-jin dan See-thian Hoat-ong? Akan tetapi tiba-tiba nona cantik bertubuh langsing itu melangkah maju dan menodongkan pedangnya di depan ulu hati Wi Liong.
"Jangan banyak mengobrol bohong! Lekas kau menjawab pertanyaan susiok See-thian Hoat-ong tadi, siapa namamu dan apa maksudmu datang ke sini?" bentaknya dan matanya memandang tajam.
Wi Liong mengangkat muka dan kembali kedua pipinya panas ketika ia bertemu pandang dengan gadis itu. Dalam marahnya gadis itu kelihatan makin cantik menarik pikirnya dan ia sama sekali tidak gentar melihat ujung pedang menerobos masuk melalui jeruji besi dan menyentuh baju di dadanya. Malah Wi Liong tersenyum dan saking terpesona oleh wajah jelita itu, sukar baginya menjawab.
168
"Hayo jawab! Apakah kau gagu?" gadis itu membentak lagi.
"Nona, selama hidup aku tidak pernah dan tidak akan membohong. Namaku Thio Wi Liong dan aku datang untuk memberi tahu bahwa di luar ada musuh. Malah sekarang agaknya sudah mau memasuki kelenteng ini."
Pedang itu ditarik mundur dan nona itu nampak kaget, sungguhpun mukanya berobah merah sekali, entah marah entah mengapa. "Susiok. jangan-jangan betul ada musuh datang!" katanya menoleh kepada See-thian Hoat-ong. Jawabannya segera datang dengan munculnya dua orang hwesio bertubuh tegap dari pintu.
"Cuwi-enghiong" di luar ada seorang muda mencurigakan menyelidiki tempat ini! Seorang di antara mereka melapor. "Gerakannya gesit luar biasa dan agaknya ia berilmu tinggi."
"Kalau begitu kau tidak membohong" kata Pak-thian Koai-jin sambil membuka kaitan yang menutup pintu kerangkeng, Beramai mereka lalu naik ke kamar atas di mana ada jendela bulan tadi melalui sebuah anak tangga kecil. Thio Wi Liong ikut berlari-lari dan begitu sampai di kamar yang kini lantainya sudah pulih kembali, ia segera mendekati jendela dan menuding keluar.
"Lihat, dia itulah yang tadi mengikuti kalian sampai di seberang sana!" katanya dan otomatis tangan kirinya mencabut suling di pinggangnya.
Semua orang memandang. Betul saja, seorang pemuda tampan sedang berjalan di atas jembatan tambang dengan enaknya seperti orang bermain-main. Mulut pemuda itu tersenyum manis dan matanya berseri-seri ketika ia memandang ke arah jendela dan melihat dua orang nona manis itu berada di balik jendela. Inilah Kam Kun Hong, murid Thai Khek Sian yang lihai dan berani.
"Kalau dia musuh biar kuputuskan tambang ini!" kata gadis manis murid Pak-thian Koai-jin gemas, pedangnya sudah digerakkan ke depan untuk memotong jembatan tambang.
"Eng Lan jangan! Biarkan dia masuk, mau tahu apa kehendaknya!" kata Pak-thian Koai-jin mencegah niat muridnya. Tidak mau kakek tokoh kang-ouw ini membiarkan muridnya melakukan penyerangan curang kepada musuh, apa lagi kalau dipikir bahwa musuh itu hanya seorang pemuda remaja. Belum dapat dipastikan lagi apakah yang datang ini musuh, seperti halnya Thio Wi Liong yang ternyata juga bukan seoramg musuh.
Sementara itu. Kun Hong yang melihat perbuatan gadis manis itu, dari atas tambang tersenyum lebar.
"Aduhai nasib........! Tega benar orang hendak membuat aku terjerumus ke dalam jurang begini dalamnya. Bagaimana kelak orang dapai menyembahyangi bongpai-ku (pusaraku)!" Dengan sengaja ia membikin berat tubuhnya dan ia berjalan di atas tambang dengan tubuh goyang-goyang tidak tegak.
Melihat sikap jenaka pemuda yang baru datang, Pak-thian Koai-jin timbul gembiranya. "Ha-ha-ha orang muda, awas jangan kau sampai jatuh. Di sini tidak ada cadangan nyawa untukmu!"
169
Kun Hong tertawa dan sementara itu ia sudah sampai di pinggir jendela bulan, lalu melompat masuk, sengaja membuat gerakannya kaku dan berat. Gadis manis murid Pak-thian Koai-jin yang bernama Pui Eng Lan yang tadi herdak memutus tambang, sekarang menjadi merah pipinya ketika melihat betapa sepasang mata pemuda yang baru datang itu menatapnya penuh arti. Setelah dekat baru ternyata betapa gantengnya pemuda yang baru datang ini. ganteng dan aneh sekali, hampir sama dengan pemuda Thio Wi Liong yang datang lebih dulu. Sementara itu Wi Liong sudah mengundurkan diri di sudut dan diam-diam memperhatikan keadaan sambil kadang-kadang melirik ke arah gadis langsing yang amat menarik hatinya.
Begitu memasuki ruangan itu, Kun Hong menatap wajah dua orang gadis itu ganti-berganti dengan sinar mata berseri gembira. Memang hebat dua orang gadis itu, cantik jelita dan kecantikan yang aseli, jauh lebih menarik dari pada Cheng ln dan Ang Hwa atau selir-selir lain dari Thai Khek Sian gurunya yang memiliki kecantikan sudah agak meluntur atau dibantu oleh alat-alat kecantikan. Akan tetapi dua orang gadis ini memang cantik manis bawaan lahir, yang seorang tinggi langsing berkulit kuning langsat dengan sikap gagah, yang ke dua agak pendek berkulit sedikit gelap, manis sekali. Kecantikan yang berbeda sifatnya, namun masing-masing memiliki daya penarik yang sama besarnya seperti orang melihat kembang teratai dan kembang seruni, amat berbeda bentuk dan warna, namun sama cantik menariknya sehingga sukar untuk menentukan mana yang lebih menarik tergantung dari selera yang melihat! Akan tetapi sifat lincah jenaka yang memancar keluar dari mata Pui Eng Lan lebih cocok dengan wataknya. Gadis manis lincah galak berkepandaian tinggi, inilah idam-idaman hatinya.
"Hemm. inilah calon kawan hidupku.........” Kun Hong diam-diam mengambil keputusan dalam hatinya. Akan tetapi ia tidak diberi kesempatan untuk makin lama memandangi gadis-gadis itu karena Pak-thian Koai-jin sudah menyambutnya dengan pertanyaan.
"Orang muda. kau seperti anak lembu berjantung harimau. Berani betul kau mengikuti kami dan datang ke sini. Kau mau apa?”
Kun Hong tersenyum, sama sekali tidak kelihatan takut. "Orang tua. kau keliru, bukan seperti anak lembu berjantung harimau sebaliknya anak harimau berjantung lembu. Lebih baik di luar kelihatan gagah biarpun jantungnya lemah dari pada jantungnya kuat tapi kelihatan seperti anak lembu!"
Tentu saja ucapan ini mbocengli (tanpa aturan) karena sebagian orang tentu lebih suka disebut berjantung harimau dari pada berjantung lembu. Akan tetapi Kun Hong pernah menjadi murid Bu-ceng Tok-ong Si Raja Racun Tanpa Aturan, tentu saja ia lain dari pada orang lain.
"Ha-ha-ha, orang muda gemblung (idiot), kenapa kau bilang begitu? Apa sebabnya kau bilang lebih baik luarnya kelihatan gagah dari pada dalamnya yang gagah?”
"Karena yang berada di luar itu yang kelihatan, orangj tua. Tentu aku lebih suka kelihatan seperti anak harimau, gagah dan ganteng dari pada menjadi anak lembu. Tentang jantung, siapa sih yang dapat mengetahui bagaimana isi perut orang?” Kun Hong tertawa-tawa dan Pak-thian Koai-jin yang terkenal sebagai seorang kakek nakal dan jenaka, juga ikut tertawa terbahak-bahak.
Akan tetapi See-thian Hoat-ong menjadi hilang kesabarannya. Berbeda dengan Pak-thian Koai-jin, jago tua dari barat ini dahulunya adalah seorang raja muda di Sin-kiang. seorang bangsawan dan ahli perang yang jujur dan tidak suka akan segala perkataan yang plintat-plintut. Melihat sikap Kun Hong
170
yang dianggap pemuda mata-mata musuh itu demikian riang dan seperti orang main- main, ia membentak sambil mengancam dengan kepalan tangannya yang besar dan kuat.
"Jangan kurang ajar, hayo mengaku siapa kau dan mau apa berkeliaran sampai ke sini!”
Kun Hong masih bersikap tenang, ia memandang rendah kepada kakek itu, memandang rendah kepada semua orang yang berada di situ karena yakin akan kelihaian sendiri.
"Aku bernama Kam Kun Hong, datang ke sini karena ingin berkenalan dengan dua orang nona ini dan ingin jalan-jalan........."
Kata-kata ini membikin marah semua orang, kecuali gadis langsing dan Wi Liong yang menjadi terkejut sekali.
"Kun Hong...... aku telah bertemu dengan ayahmu.....!” kata Wi Liong dan untuk sedetik Kun Hong melempar pandang kepadanya, kaget. Akan tetapi gadis tinggi langsing itu sudah menerjang maju dengan pedangnya sambil membentak.
"Jadi kau ini jahanam muda yang membuntungi kedua kaki Ciok Kim Li!”
Serangan pedang itu hebat sekali dan hanya kelihatan sinarnya menyambar ke dada Kun Hong. Akan tetapi, dengan gerakan enak saja Kun Hong miringkan tubuh dan...... di lain saat dua jari tangannya telah berhasil menjepit punggung pedang itu!
"Aku adalah sahabat baik Ciok Kim Li. kenapa kau marah-marah?" tanya Kun Hong tanpa melepaskan pedang yang dijepitnya dengan jari tangan.
"Susiok. dia ini kawan Tok-sim Sian-li." kata gadis itu yang menjadi penasaran karena tidak mampu mencabut kembali pedangnya juga ia amat terkejut karena tidak menyangka bahwa pemuda itu demikian lihainya. Siapakah gadis ini? Dia bukan orang sembarangan karena inilah Kwa Siok Lan, puteri tunggal dari Siang-jiu Lo-thian Kwa Cun Ek. Dia inilah tunangan dari Thio Wi Liong yang sekarang berada di situ tanpa mengetahui bahwa dia berhadapan dengan calon isterinya yang belum pernah dijumpainya itu. Juga ia mana bisa menyangka bahwa hatinya tergila-gila kepada gadis yang sesungguhnya tunangannya sendiri?
Di bagian depan sudah diceritakan tentang pertemuan antara Kun Hong dengan Kwa Cun Ek ketika Kwa Cun Ek menolong Kim Li dari tangan Tok-sim Sian-li. Itulah sebabnya mengapa Siok Lan kaget mendengar nama Kam Kun Hong yang selalu disebut-sebut oleh Kim Li setelah tadi ia terkejut juga mendengar nama Thio Wi Liong, tunangannya! Sungguh ia tidak menyangka sama sekali bahwa di Kelenteng Siauw-lim itu, ia akan bertemu dengan dua orang yang selama ini hanya didengar namanya saja dan begitu bertemu ia menjadi tertegun, juga girang. Ternyata tunangannya adalah seorang pemuda yang tampan sekali dan bukti bahwa pemuda itu bisa memasuki kelenteng menandakan bahwa dia memiliki kepandaian yang tidak mengecewakan!
Dan sekarang ia berhadapan dengan Kam Kun Hong. pemuda yang membuat Kim Li tergila-gila, yang selalu dipuji-puji gadis buntung itu, ternyata pemuda ini memiliki kepandaian yang luar biasa sekali. Sekali lagi Siok Lan mengerahkan tenaga membetot pedangnya dan kali ini Kun Hong sengaja melepas
171
dengan tiba-tiba sampai Siok Lan terhuyung ke belakang. Akan tetapi tiba-tiba gadis ini berdiri tegak kembali dan merasa ada tenaga aneh menahan punggungnya menjaganya dari jatuh terjengkang. Tak terasa lagi ia menoleh akan tetapi tidak ada siapa-siapa di belakangnya yang ada hanya Wi Liong yang berdiri di sudut, agak jauh.
Sementara itu, See-thian Hoat-ong ketika melihat keponakannya dipermainkan dan mendengar bahwa pemuda itu adalah kawan Tok-sim Sian-li, segera mencabut golok besarnya dan menerjang sambil membentak keras
"Mata-mata anjing Mongol. kau datang mengantarkan nyawa!"
Melihat datangnya golok besar demikian cepat dan kuat. merupakan bahaya maut yang mengerikan dan mengancam lehernya Kun Hong berseru, "Ayaaa...... galak amat!' la mengerti akan kelihaian lawan ini maka cepat-cepat, ia mengelak sambil melompat ke kanan.
"Jangan memamerkan kepandaianmu di sini!" terdengar bentakan dan sebuah mangkok retak menyambar hendak menelangkup kepala Kun Hong. Gerakan ini mendatangkan angin dan kembali Kun Hong kaget bukan main. Tidak disangkanya bahwa dua orang kakek itu demikian lihainya, ia pikir tidak enak kalau melayani mereka ini di sarang lawan. Biarpun ia tidak takut meghadapi mereka, akan tetapi kalau ia mengalami keroyokan di tempat musuh, benar-benar merupakan bahaya besar.
"Ha-ha-ha, kiranya orang-orang tua malah tidak tahu menghormat datangnya tamu." Kata-katanya ini hanya untuk mengacaukan perhatian lawan, karena tiba- tiba ia menyelinap dan di lain saat ia telah berkelebat mendekati Pui Eng Lan murid perempuan yang cantik manis dari Pak-thian Koai-jin. Eng Lan bukan seorang wanita lemah. Melihat musuh mendekat ia mengirim pukulan dengan tangan kanan. Akan tetapi sambil tertawa Kun Hong menangkap lengan ini dan sekali jari tangannya menotok, tubuh Eng Lan telah menjadi lemas dan Kun Hong menyambar tubuh itu terus dibawa melompat ke atas. Biarpun tokoh-tokoh kangouw besar seperti Pak-thian Koai-jin dan See-thian Hoat-ong, sama sekali tidak menyangka akan hal ini sampai mereka tertegun dan tidak lekas melakukan sesuatu untuk mencegah tamu muda itu membawa lari Eng Lan.
"Kun Hong, jangan kurang ajar!" bentakan lirih ini terdengar dari mulut Wi Liong, disusul suara tertahan dari Kun Hong dan......... tubuh Eng Lan yang tadinya sudah dibawa melompat ke atas itu terlepas dari pondongannya, jatuh ke bawah dalam keadaan masih lemas. Baiknya jatuhnya tepat di atas Wi Liong, maka pemuda ini segera menerima dengan kedua tangannya, dan tubuh gadis yang ringan itu jatuh ke dalam pelukan kedua lengannya.
Adapun Kun Hong yang pada saat itu sudah diserbu lagi oleh Siok Lan, Pak-thian Koai-jin dan See-thian Hoat-ong. secepat kilat melompat ke arah jendela bulan lalu terus melompat ke atas jembatan tambang sambil memutar sebatang pedang yang tahu-tahu telah ia cabut keluar dari balik bajunya. Matanya untuk sejenak menatap ke arah Wi Liong penuh pertanyaan keheranan dan penasaran, akan tetapi mulutnya tidak berkata apa-apa karena ia tidak sempat lagi. didesak terus oleh tiga orang lawannya yang lihai. Siok Lan yang melihat pemuda itu mulai berlari melalui jembatan tambang, cepat mengayun pedang membacok tambang itu.
172
"Ahh, jangan.......!" kata Pak-thian Koai-jin hendak mencegah, akan tetapi terlambat. Tambang itu sudah putus oleh sabetan pedang di tangan Kwa Siok Lan. sedangkan See-thian Hoat-ong berkata, "Biar saja. Koai-jin, anjing Bangsa Mongol sudah sepatutnya mampus di dalam jurang!”
Akan tetapi segera ketiga orang ini terbelalak memandang ke bawah dengan kagum. Biarpun tambang itu sudah putus dan tubuh Kun Hong terjerumus ke bawah, namun dalam saat terakhir pemuda ini masih sempat menyambar tambang itu, menggunakan kakinya menjejak pinggiran jurang dan......... dengan enaknya ia merayap melalui tambang itu terus ke atas. selamat sampai di seberang jurang! Dari jauh kelihatan pemuda ini tertawa-tawa, lalu mengacung-acungkan pedangnya sambil memperdengarkan suara yang disuarakan dengan pengerahan khikang istimewa,
"Kalau hendak mengadu tenaga, tunggu tiga hari lagi!" Kemudian bayangan pemuda itu lenyap. Pak-thian Koai-jin menarik napas panjang.
"Hebat.........!" katanya perlahan. "Pemuda itu benar-benar mengagumkan sekali kepandaiannya. Ginkangnya dan khikangnya sedemikian sempurna, entah sampai di mana kelihaian ilmu silatnya.........!” Memang kakek ini amat suka melihat orang pandai apa lagi yang dipujinya itu seorang pemuda yang ganteng, lincah dan juga sifatnya agak nakal seperti dia sendiri, sungguhpun kenakalannya bukan berarti jahat.
Selagi tiga orang itu masih tertegun memandang keluar jendela, tiba-tiba terdengar suara Pui Eng Lan menjerit lirih.
"Lepaskan aku........ tak tahu malu kau.........!"
Siok Lan secepat kilat memutar tubuh memandang, juga dua orang kakek itu menoleh. Pak-thian Koai-jin tertawa terkekeh-kekeh melihat Wi Liong masih berdiri memondong tubuh Eng Lan. Pemuda ini seperti kena tenung (sihir), berdiri bengong memandang keluar jendela. Memang Wi Liong tadi terkejut, heran, dan juga marah melihat sepak-terjang Kun Hong. Terkejut karena melihat kepandaian Kun Hong demikian tinggi, heran melihat bahwa tadi Kun Hong mempergunakan gerakan yang mirip sekali dengan ilmu lompat yang ia pelajari dari gurunya kemudian ia marah melihat pedang yang berada di tangan Kun Hong. Itulah Cheng-hoa-kiam tak salah lagi! Jadi Kun Hong pula yang mencuri pedang dan berani naik ke Wuyi-san? Benar-benar kurang ajar sekali! Saking terlampau dikuasai perasaan ini ia sampai lupa kalau sejak tadi ia memondong tubuh seorang gadis cantik yang ia sambar tubuhnya agar jangan terbanting ke atas lantai!
Eng Lan tadi terkena totokan Kun Hong yang dilakukan dengan istimewa, membuat ia lemas, ia telah mencoba untuk mengerahkan lweekangnya agar dapat terbebas dari totokan, namun percuma saja. Celakanya, pemuda yang menerimanya dari kejatuhan tadi, tidak segera menurunkannya, malah terus memondongnya seperti seorang ayah memondong anaknya! Saking jengkel dan malu Eng Lan lalu menjerit minta dilepaskan dan memaki Wi Liong tak tahu malu.
Wi Liong memang tadi tidak sengaja memondong tubuh Eng Lan terlalu lama. Sekarang ia kaget dan malu sekali, ketika ia melihat gadis langsing itu menoleh dan memandang kepadanya dengan mata mengandung cemooh dan bibirnya agak terbuka mengejek, ia menjadi makin malu sampai meningkat menjadi bingung. Dalam kebingungannya, ia tidak menurunkan tubuh Eng Lan. malah di bawa
173
berjalan menghampiri gadis langsing itu dan menyodorkan tubuh Eng Lan seperti orang memberikan sebuah barang kepada pemiliknya!
"Turunkan dia di sini." kata Pak-thian Koai-jin sambil tertawa nakal. "Apa kau menggendongnya selama hidup? Ha-ha-ha!"
Wi Liong menjadi makin merah mukanya dan cepat-cepat ia menghampiri Pak-thian Koai-jin dan menurunkan tubuh Eng Lan di atas lantai.
Jago tua dari utara yang bertubuh pendek kecil berpakaian pengemis ini sambil tertawa ha-ha-he-he menotokkan tongkatnya dan seketika itu juga Eng Lan sudah dapat bergerak. Begitu ia bangkit ia melompat dan tangan kanannya menyambar.
"Plak!” pipi kiri Wi Liong menjadi makin merah karena ditampar oleh Eng Lan.
"Lho. mengapa nona menamparku? Apa salahku??” tanya Wi Liong terheran.
"Mengapa......mengapa kau pondong aku?”
Eng Lan membentak dengan muka merah dan mata basah air mata. Gadis ini merasa malu dan jengah, membuat ia menjadi marah kepada pemuda tampan ini.
"Ha-ha-ha, Eng Lan anak bodoh! Tentu saja ia suka memondongmu. Pemuda mana yang tidak akan suka memondongmu? Ha-ha-ha, orang muda. Kau tadi bilang namamu Thio Wi Liong dan; pamanmu Kwee Sun Tek? Apakah orang gagah yang buta dan yang dulu pernah membawamu ke puncak Kun-lun-san?”
"Betul, locianpwe. Dan barangkali locianpwe tidak tahu bahwa pemuda tadi kukenal baik, dia itulah Kam Kun Hong, putera Seng-goat-pian Kam Ceng Swi di Kun-lun-san, bocah yang dulu bersama aku diculik oleh Bu-ceng Tok-ong dan Tok-sim Sian-li."
Pak-thian Koai-jin menepuk jidatnya. "Aduhh...... diakah itu? Dulu aku pernah suka melihatnya dan ingin mengambilnya sebagai murid." Matanya bersinar-sinar ketika dia memandang kepada Wi Liong. "Wi Liong, kau anak baik. Dia ini muridku, namanya Pui Eng Lan, yatim-piatu dan aku walinya. Karena kau tadi telah memondongnya, dan aku suka melihatmu, aku akan merasa girang sekali kalau muridku ini dapat berjodoh denganmu. Hoat-ong, bagaimana pendapatmu dengan usulku ini?”
Memang orang-orang kang-ouw seperti Pak-thian Koai-jin ini aneh. Namanya saja sudah Pak-thian Koai-jin (Orang Aneh dari Kutub Utara) orangnya nakal, suka menggoda orang dan kalau bicara seenaknya sendiri saja. Masa begitu berjumpa hendak memunguit mantu? Dapat dibayangkan betapa bingungnya Wi Liong mendengar ucapan itu. Lebih-lebih lagi Eng Lan. Kasihan gadis ini yang menjadi amat kikuk dan jengah.
Mukanya sebentar pucat sebentar merah, membuat dia nampak jelita bukan main. Kalau tadi ia bersikap galak, ia sekarang mati kutunya. memutar tubuh dan berdiri membelakangi mereka semua sambil menundukkan dan menutupi muka dengan kedua tangan.
174
Tak seorangpun di antara mereka tahu betapa hebat kegoncangan hati Kwa Siok Lan di saat itu. Tanpa diketahui oleh siapapun juga, ia menjadi saksi betapa tunangannya, calon suaminya, di depannya telah dilamar orang lain! Akan tetapi gadis ini dapat mengeraskan hatinya dan diam-diam ia malah ingin sekali mendengar bagaimana jawaban Thio Wi Liong, tunangannya yang baru kali ini ia lihat.
Sementara itu. See-thian Hoat-ong mengangguk-anggukan kepalanya, "Memang cocok sekali. Pemuda ini baik, kepandaiannyapun lumayan setelah ia dapat memasuki tempat ini!" Sambil berkata demikian. See-thian Hoat-ong menanggalkan bajunya dan kini terlihatlah pakaian perangnya yang tadi sengaja ia tutup dengan pakaian biasa agar jangan menimbulkan kecurigaan di dalam kota. Inilah pakaian perangnya sebagai Raja Muda Sin-kang yang selalu dipakainya untuk mencerminkan bahwa biarpun negaranya sudah dikalahkan oleh bala tentara Mongol. di dalam hatinya ia tetap saja memaklumkan perang.
"Kau dengar, pilihanku memang tidak keliru!" kata Pak-thian Koai-jin sambil terkekeh-kekeh girang dan menepuk-nepuk pundak Wi Liong. "Pilihanmupun tidak keliru kalau kau mendapatkan seorang jodoh seperti muridku Pui Eng Lan ini. orang muda,. Kau belum tahu betapa besar semangatnya, betapa berani hatinya. Dia menyeret-nyeretku unituk mendatangi gedung keluarga Liu di kota raja dan berhasil menewaskan bandot tua she Liu itu yang telah membunuh encinya (kakak perempuannya) sekeluarga. Untung aku bertemu dengan Hoat-ong dan keponakannya yang begitu baik hati suka membantu, kalau tidak belum tentu kami dapat berhasil. Apa lagi setelah ternyata gedung keluarga Liu dijaga oleh Bu-ceng Tok-ong dan Tok-sim Sian-li. Hemmm, berbahaya sekali!”
Wi Liong hampir tidak mendengarkan kata-kata yang melantur-lantur dari kakek itu. Dia sudah terpukul dan bingung ketika mendengar hendak ditarik mantu! Tak dapat disangkalnya lagi, Eng Lan seorang gadis yang tiada cacad celanya, wajah cantik manis sekali, bentuk tubuh indah menarik, berwatak gagah dan berkepandaian lihai lagi. Mau apa lagi? Biarpun dalam pandangannya Eng Lan tidak semenarik gadis tinggi langsing keponakan See-thian Hoat-ong itu. namun tak boleh disangkal lagi bahwa sukarlah mencari seorang seperti Eng Lan di antara seratus orang gadis! Dia hendak dijodohkan begitu saja dengan seorang gadis cantik menarik seperti Eng Lan dan di situ masih ada seorang gadis langsing yang benar-benar membuatnya tertarik, akan tetapi dia sudah ditunangkan oleh pamannya dengan seorang gadis lain. seorang gadis she Kwa yang tinggal di Poan-kun, yang selama hidupnya belum pernah dilihatnya, entah buruk entah cacad yang karena belum dilihatnya tak mungkin ia dapat menentukan apakah ia menyukainya ataukah tidak!
"Bagaimana, Wi Liong? Nyatakan kesanggupanmu menerima perjodohan ini!" tiba-tiba Pak-thian Koai-jin mendesak sambil terkekeh-kekeh lagi. kegirangan melihat wajah Wi Liong dan wajah Eng Lan kemerahan dan kedua orang muda itu malu dan jengah bukan main. Memang kakek ini tukang menggoda orang.
"Maaf, locianpwe. Bukan sekali-kali aku menampik kebaikan hatimu, bahkan aku amat berterima kasih bahwa ada orang menaruh perhatian dan kepercayaan kepadaku yang bodoh. Akan tetapi, sesungguhnya tentang perjodohan......... terpaksa tak dapat aku menerimanya.........!"
"Ehhh.........? Apa Eng Lan kurang cantik?” Benar-benar keterlaluan Pak-thian Koai-jin menggoda orang, sampai-sampai muridnya tidak kuat mendengarkan terus dan larilah Eng Lan ke dalam sambil menutupi mukanya.
175
"Sekali-kali bukan begitu, locianpwe. Nona Pui sudah terlampau baik bagi seorang seperti aku, malah aku tidak berharga baginya. Akan tetapi....... aku......... aku sudah mempunyai seorang calon jodoh yang sudah ditentukan oleh paman Kwee........."
Untuk sejenak Pak-thian Koai-jin kelihatan tertegun, akan tetapi wajahnya berseri kembali dan senyumnya muncul lagi pada mukanya yang lucu.
"Aha, muda-muda sudah mempunyai calon isteri? Benar-benar tergesa- gesa! Tentu cantik dia, secantik Eng Lankah? Kau tentu suka sekali padanya, he? Kapan menikahnya? Jangan lupa undang aku orang tua, jangan terlalu pelit dengan arakmu."
Merah sekali wajah Wi Liong, bukan hanya karena malu, juga karena mendongkol.
"Locianpwe, siapa sih yang memikirkan pernikahan? Aku ditunangkan di luar kehendakku. Kalau saja aku tidak mau menyakitkan hati paman, kalau saja bukan karena aku hendak berbakti kepada paman, tentu perjodohan itu kutolak tentu ikatannya kuputuskan dan pertunangannya kubatalkan."
Wi Liong mengeluarkan kata-kata ini dengan sungguh-sungguh sambil mengerling kearah gadis tinggi langsing itu. Memang di dalam hatinya pemuda ini sudah merasa kurang setuju terhadap keputusan pamannya yang menjodohkannya dengan seorang gadis yang sama sekali tidak dikenalnya. Apa lagi setelah sekarang, bertemu dengan gadis langsing itu, makin kecewa hatinya bahwa ia telah bertunangan dengan gadis lain!
Dapat dibayangkan betapa hebat pengaruh kata-kata ini terhadap Siok Lan sendiri. Gadis ini menjadi pucat, menggigit bibirnya dan segera meninggalkan tempat itu menyusul Eng Lan. Juga gadis ini menahan air matanya, dan perasaannya ketika meninggalkan tempat itu tidak berbeda dengan perasaan hati Eng Lan, yaitu perasaan hati seorang gadis yang merasa ditolak oleh seorang pemuda!
Pada saat itu terdengar suara pekik memanjang dari seberang jurang dan Souw Lo Hosiang, ketua kelenteng itu muncul dari pintu, menjura kepada dua orang kakek itu sambil berkata,
"Pinceng melihat dua orang di seberang jurang, seorang wanita dan seorang kakek yang buntung tangan kirinya. Harap ji-wi sicu memberi petunjuk." Hwesio ini adalah murid Bhok Lo Cinjin, maka ia berlaku amat hormat kepada dua orang kakek yang menjadi sahabat baik gurunya itu, yang ia ketahui memiliki kepandaian tinggi. Seperti hampir semua anggauta Siauw-lim-pai, juga Souw Lo Hosiang ini berjiwa patriot dan selalu menentang penjajah Mongol. Oleh karena itu dia rela menggunakan kelentengnya sebagai tempat pertemuan dan tempat persembunyian orang-orang gagah, malah dia menyediakan tenaga untuk membantu bersama murid-muridnya.
Mendengar laporan yang disampaikan sendiri oleh ketua kelenteng, Pak-thian Koai-jin tertawa bergelak dan See-thian Hoat-ong juga tersenyum girang.
"Tua bangka buntung itu tentu Lam-san Sian-ong!" kata Pak-thian Koai-jin sambil bertepuk tangan. Beramai mereka lalu menuju ke jendela bulan untuk memandang keluar. Kelihatanlah dua orang tamu itu. tidak begitu jelas karena memang jurang itu lebar sekali, akan tetapi mudah mengenal kakek gemuk pendek yang buntung tangan kirinya sedangkan tangan kanannya memegang sebatang tongkat bambu yang butut. Di sebelahnya berdiri seorang wanita, dari jauh kelihatan cantik.
176
"Wanita baju biru apakah bukan Tung-hai Sian-li?” kata See-thian Hoat-ong sambil mengerutkan kening. See-thian Hoat-ong adalah adik seperguruan dan Siang-jiu Lo-thian Kwa Cun Ek, jadi paman guru dari Kwa Siok Lan. Dia mengawani Siok Lan ke Peking untuk membantu pergerakan para orang gagah karena Kwa Cun Ek sendiri berhalangan pergi dan sedang menderita sakit. Memang semenjak ditinggal pergi oleh isterinya yaitu Tung-hai Sian-li, sering kali Kwa Cun Ek termenung penuh kedukaan dan sering kali menderita sakit di dada. Sekarang muncul Tung-hai Sian-li sedangkan Kwa Siok Lan berada di situ. Ibu dan anak yang tak pernah bertemu muka semenjak Siok Lan berusia satu tahun dan ditinggalkan, sekarang akan bertemu! See-thian Hoat-ong mengkhawatirkan kalau akan terjadi sesuatu yang tak diingini antara ibu dan anaknya ini.
"Hei, setan-setan gundul yang di kelenteng, mana jembatan tambang kalian?" teriak Lam-san Sian-ong dengan suaranya yang nyaring dan tongkat di tangan kanannya diacung-acungkan.
"Kakek buntung, kenapa kau tidak terbang saja ke sini?” Pak-thian Koai-jin berseru menggoda.
"Pengemis kelaparan, sayapku belum tumbuh, mana bisa terbang?”
Selagi dua orang kakek aneh yang sama pendek sama gemuknya itu berkelakar mempergunakan tenaga khikang untuk "mengirim'" suara mereka satu kepada yang lain. Souw Lo Hosiang memberi perintah kepada murid-muridnya untuk mengambil tambang dan panahnya. Empat orang murid menggotong gulungan tambang yang panjang dan kuat, seorang murid lain membawa sebuah gendewa besar dan berat.
Souw Lo Hosiang adalah murid Bhok Lo Cin-jin yang amat pandai menggunakan anak panah, dan dia pula yang menciptakan jembatan tambang yang hanya dapat dipasang olehnya secara istimewa, yaitu menggunakan anak panahnya. Dengan tenang tapi cepat ia memasangkan sebatang anak panah yang berat dan kuat terbuat dari pada baja tulen pada gendewanya setelah ekor anak panah itu diikat oleh ujung tambang. Ia berdiri di belakang jendela bulan, memasang kuda-kuda yang teguh seperti biasa anak murid Siauw-lim-pai memasang kuda-kuda. mementang gendewa sampai hampir melengkung bundar, lalu mulutnya berseru.
"Haaaiiiihhh!" Terdengar suara menciut dan anak panah itu meluncur seperti burung terbang ke seberang jurang, membawa tambang yang melayang di belakangnya seperti ular yang panjang sekali. Betul indah kelihatannya anak panah yang di belakangnya diikuti tambang itu dan anak panah itu akhirnya dengan tepat sekali menancap pada batang pohon besar yang tumbuh di seberang jurang. Kalau tidak memiliki tenaga lweekang yang matang dan kepandaian ilmu memanah yang mahir, tak mungkin dapat melakukan apa yang telah diperlihatkan oleh Souw Lo Hosiang tadi.
"Bagus!" Pak-thian Koai-jin memuji.
Sementara itu. Lam-san Sian-ong dan kawannya yang berada di seberang segera mengikatkan ujung tambang itu erat-erat dan kuat-kuat kepada batang pohon besar. Tambang lalu ditarik oleh Souw Lo Hosiang sampai menegang kemudian ujungnya yang sebelah sini diikatkan pada tiang yang berada di luar ruangan, maka siaplah jembatan tambang itu. Lam-san Sian-ong bersama kawannya lalu melompat ke atas tambang dan berlari-lari dengan enaknya seperti akrobat-akrobat tambang yang mahir. Hal ini tidak mengherankan kalau orang mengenal siapa Lam-san Sian-ong dan kawannya itu
177
yang setelah dekat ternyata benar Tung-hai Sian-li adanya. Lam-san Sian-ong, kakek yang tangan kirinya buntung itu memiliki ilmu yang sudah terkenal di seluruh wilayah selatan, sedangkan Tung-hai Sian-li, siapakah di antara orang kang-ouw yang tidak pernah mendengar namanya? Orangnya jujur dan galak akan tetapi pedang dan ilmu silatnya lebih galak lagi!
Sebagai tuan rumah. Souw Lo Hosiang menyambut kedatangan dua orang tamu yang sudah dikenalnya baik siapa adanya itu dengan menjura dan berkata, "Sungguh merupakan kehormatan besar bagi kelenteng yang buruk ini menerima kunjungan ji-wi yang terhormat. Selamat datang.........!'
Tung-hai Sian-li balas menjura sebagaimana mestinya, wajahnya yang cantik dan masih nampak muda itu kelihatan sungguh-sungguh dan bibirnya memperlihatkan senyum sopan. Akan tetapi Lam-san Sian-ong hanya menggerak-gerakkan tangannya yang buntung tanpa membalas penghormatan orang, hanya berkata,
"Siauw-lim-pai benar-benar partai terbesar, di mana-mana terdapat muridnya yang pandai. Ilmu memanah tadi benar-benar tidak jelek. Kau ini seorang hwesio tak pernah makan daging bisa mempunyai tenaga sehebat itu, benar-benar mengagumkan sekali."
Souw Lo Hosiang hanya tersenyum menjura dan merendahkan diri. Dia sudah kenal baik watak orang aneh ini. Bukan Lam-san Sian-ong namanya kalau bicaranya genah! Sudah menjadi watak Lam-san Sian-ong kalau bicara tidak karuan atau seenak perutnya sendiri saja.
Lam-san Sian-ong lalu menghadapi Pak-thian Koai-jin dan See-thian Hoat-ong sambil berkata.
"Kedatanganku bersama Tung-hai Sian-li ini untuk menyelamatkan nyawa kalian dari bahaya maut!”
"Lam-san Sian-ong, enak saja kau bicara!" suara See-thian Hoat-ong menggeledek. "Apa kau kira kami ini memerlukan bantuanmu kalau hanya ingin menjaga keselamatan diri saja?"
"Hoat-ong. perduli apa obrolan kosong Lam-san Sian-ong si kakek buntung?" kata Pak-thian Koai-jin mengejek. "Lebih baik kita bicara dengan Tung-hai Sian-li. Sebetulnya apakah yang terjadi dan berita apa yang kalian bawa?” tanya Pak-thian Koai-jin kepada wanita itu.
Sebelum menjawab, Tung-hai Sian-li melirik ke arah Thio Wi Liong yang sejak tadi masih berdiri di pojok dengan pandang mata penuh kekaguman dan kegembiraan dapat bertemu dengan orang-orang ternama di dunia kang-ouw. "Aku mengenal kalian, juga mengenal Souw Lo Hosiang dan murid-muridnya. Akan itetapi di sini kulihat seorang pemuda asing, tak enak untuk bicara!”
Pak-thian Koai-jin tertawa dan memang kakek ini wataknya aneh sekali. Melihat orang tersinggung ia malah suka. melihat orang tergoda malah diketawai. wataknya presis seorang bocah yang bengal sekali. Mendengar ucapan Tung-hai Sian-li ia mengerti betapa tersinggung dan tak enak hati Wi Liong maka sengaja ia berkata.
"Kalau begitu mari kita bicara di luar ruangan ini!" Cepat ia mengajak kawan-kawannya keluar dari ruangan dan sebentar saja Wi Liong ditinggal seorang diri! Diam-diam pemuda ini mendongkol sekali dan merasa tidak suka kepada Tung-hai Sian-li, wanita yang dianggapnya amat galak dan penuh curiga. Ia tersenyum mengejek karena orang-orang yang menganggap diri sebagai pentolan- pentolan
178
kang-ouw itu terlalu memandang rendah kepadanya. Mereka itu sama sekali tidak.tahu bahwa biarpun mereka mengadakan pembicaraan di luar ruangan itu dengan suara perlahan tetap saja pendengarannya yang tajam masih dapat menangkap pembicaraan itu dengan cukup jelas! Akan tetapi hatinya sudah panas, mana ia sudi mendengarkan percakapan orang? Malah ia sengaja menjauhkan diri berdiri di depan jendela bulan. Hanya karena mendengar disebutnya nama Beng Kun Cinjin membuat Wi Liong terpaksa memasang telinga mendengarkan juga.
"Mereka mengira bahwa Beng Kun Cinjin bersembunyi di sini, maka mereka datang dengan pengerahan tenaga ratusan orang perajurit pilihan. Di antara mereka terdapat Bu-ceng Tok-ong. Tok-sim Sian-li. Hek-mo Sai-ong dan beberapa orang Panglima Mongol yang kosen. Sama sekali kita bukan lawan mereka dan melawan berarti membuang nyawa cuma-cuma. Untuk apa kita melayani mereka?" terdengar Tung-hai Sian-li berkata.
"Jalan ke sini tidak ada dan tanpa jembatan tambang tak mungkin mereka datang. Takut apa? Kalau mereka berani melalui jembatan tambang, kita tinggal merobohkan mereka seorang demi seorang. " kata Pak-thian Koai-jin.
"Tidak bisa begitu." See-thian Hoat-ong mencela. Dia seorang bekas raja muda, juga bekas panglima perang, tentu saja mengerti akan siasat perang. "Barisan Mongol dipimpin oleh panglima-panglima yang pandai". Mereka takkan begitu goblok untuk mencoba menyerbu ke sini melalui jembatan tambang. Ada dua macam penyerangan mereka, pertama menghujani anak panah sampai kelenteng ini terbakar habis dan ke dua mengurung sekeliling jurang memutuskan jalan keluar sehingga kita akan menjadi kering dan kelaparan di tempat ini."
"Waduh, benar-benar bukan jalan mati yang enak." Pak-thian Koai-jin berkelakar, "mati terpanggang atau mati kelaparan. Lebih baik kita terbang pergi saja!"
"Itulah jalan terbaik”, kata See-thian Hoat-ong, "kita lari dari sini bukan karena takut musuh, hanya agar jangan mati konyol. Biarpun kita lari, masih ada bahaya terkepung di seberang sana akan tetapi lebih baik dikeroyok dan tewas dalam pertempuran dengan golok di tangan dari pada mati konyol di sini tanpa dapat membalas sedikit pun kepada musuh."
Pada saat itu dari dalam muncul Kwa Siok Lan dan Pui Eng Lan. Mereka mendengar orang bercakap-cakap dan mendengar suara wanita, maka dengan heran mereka lalu keluar. Anehnya, tidak hanya mata Eng Lan yang merah bekas menangis, malah mata Siok Lan juga kelihatan tanda-tanda bekas menangis! Hal ini tidak mengherankan kalau diingat betapa mendongkol dan marahnya mendengar tunangan, calon suaminya, menyatakan tidak suka akan ikatan jodoh itu!
Pak-thian Koai-jin yang melihat Tung-hai Sian-li membalikkan tubuh dan memandang kepada dua orang gadis itu, segera tertawa dan memperkenalkan muridnya. "Tung-hai Sian-li. jangan curiga. Yang hitam manis itu adalah muridku. Pui Eng Lan.......!"
Akan tetapi Tung-hai Sian-li seperti tidak mendengar ucapan ini dan matanya menatap wajah Siok Lan dengan tajam. Sebaliknya, ketika Siok Lan mendengar Pak-thian Koai-jin menyebut wanita itu Tung-hai Sian-li. seketika menjadi pucat wajahnya dan matanya terbelalak menatap wanita itu, bibirnya gemetar dan tubuhnya agak menggigil. Ia melangkah maju tiga tindak, matanya seakan-akan
179
membakar seluruh tubuh Tung-hai Sian-li, telunjuknya menuding dan bibirnya yang gemetar itu berkata perlahan,
"'Kau..... kau...... Tung-hai Sian-li......??” Ia segera memutar tubuhnya dan menutupi muka dengan kedua tangan, menangis terisak-isak. Jadi inikah ibunya? Wanita cantik jelita dan gagah perkasa ini ibu kandungnya? Keharuan membuat seluruh tubuhnya menggigil dan tentu ia akan menubruk, merangkul ibu kandungnya yang sering kali ia impi-impikan ini kalau saja tidak teringat olehnya betapa ibunya dengan keji telah meninggalkan ayahnya dan meninggalkan ia ketika ia berusia satu tahun! Perbuatan ini ia anggap sebuah perbuatan yang paling kejam tiada taranya, perbuatan yang tidak boleh diampunkan! Ia bangga melihat ibunya demikian cantik, gagah dan masih muda nampaknya, akan tetapi ia menjadi benci sebenci-bencinya kalau teringat akan perbuatan ibunya terhadap ayahnya, teringat betapa ayahnya menderita, betapa ayahnya sering kali jatuh sakit dan mengigau menyebut-nyebut nama ibunya.
Dengan dua langkah lebar Tung-hai Sian-li sudah berada di belakang Siok Lan. Dia seorang wanita yang jujur dan galak. Sekali tangannya bergerak ia sudah memegang pundak Siok Lan dan diputarnya tubuh gadis itu sehingga menghadapinya.
"Siapa kau? Apa maksud sikapmu yang aneh ini? Hayo kau bilang!" Diguncang-guncang tubuh Siok Lan dengan tangannya yang amat kuat sehingga gadis itu terhuyung-huyung.
See-thian Hoat-ong melangkah maju dan berkata dengan suaranya yang keren dan tegas. "Tung-hai Sian-li dia inilah puteri suheng yang kau tinggalkan ketika ia masih berusia satu tahun!'
Bagaikan disambar geledek. Tung-hai Sian-ii tersentak mundur, wajahnya pucat sekali. "Kau....... kau........??” katanya perlahan dan di lain saat ia telah menubruk dan merangkul Siok Lan. Untuk sesaat Siok Lan menyerah kepada perasaan hatinya membalas pelukan kasih sayang ibunya, akan tetapi segera ia merenggut diri terlepas dan berkata.
"Tidak....... tidak.......! Kau bukan ibuku....... kau wanita yang mencelakai hidup ayah....... pergi kau.......!"
Tung-hai Sian-li berdiri terpaku, tak bergerak dan tidak tahu harus berbuat apa, matanya masih basah air mata yang sudah belasan tahun tak pernah mengalir dari matanya, kedua tangan terkepal, hatinya tidak karuan rasanya. Semua orang berdiri tertegun, juga terharu menghadapi pertemuan luar biasa ini.
Tiba-tiba terdengar teriakan nyaring sekali. "Kun Hong, kalau kau laki-laki, tunggu aku di seberang situ. Aku Thio Wi Liong, masih ingatkah kau? Mari kita ulangi pibu yang dahulu untuk melihat siapa yang lebih unggul!"
Dari seberang jurang terdengar jawaban nyaring. "Aha, bagus sekali! Jadi kaukah itu? Kesinilah, aku sudah siap menghajarmu setengah mampus!”
Mendengar teriakan-teriakan ini semua orang lari ke ruangan itu dan melihat Wi Liong sudah melompat ke atas jembatan tambang. Pemuda itu menoleh dan berkata kepada Pak-thian Koai-jin
"Locianpwe harap bawa kawan-kawan menyeberang, biar aku yang menjaga di sana."
180
Semua orang mendongkol karena siapa percaya omongan pemuda itu? Di seberang sana kelihatan Kun Hong. Bu-ceng Tok-ong, Tok-sim Sian-li dan yang lain-lain, bahkan kelihatan barisan di lereng bukit, bagaimana pemuda itu bisa menjaga di sana? Tentu untuk menyombong saja dan sebetulnya pemuda itu hendak melarikan diri.
"Celaka, jangan-jangan dia itu mata-mata musuh yang sengaja memancing kita!" tiba-tiba Pui Eng Lan berkata dan tangannya bergerak. Sebatang piauw menyambar ke arah punggung Wi Liong. Tak terasa lagi Siok Lan mengeluarkan teriakan kaget. Teriakan ini disusul oleh seruan-seruan kaget dan kagum dari lain orang yang berada di situ ketika melihat betapa piauw yang tepat mengenai punggung Wi Liong itu runtuh ke bawah seperti mengenai tubuh terbuat dari karet saja. Wi Liong seperti tidak merasa apa-apa dan berjalan terus. Benar-benar mengherankan sekali. Pemuda yang berjalan di atas tali itu saja menggunakan kedua lengan untuk menahan keseimbangan tubuh, yang kelihatan begitu lemah, bagaimana bisa menahan serangan piauw seakan-akan punggungnya itu disentuh oleh tangan yang halus?
Akan tetapi See-thian Hoat-ong yang tidak mau membuang banyak waktu segera berkata. "Hayo kita menyeberang ke sana sebelum mereka bergerak!" Dan ia menarik tangan Siok Lan. mengajak keponakannya itu melompat ke atas jembatan tambang disusul oleh Pak-thian Koai-jin yang menarik tangan muridnya, kemudian disusul oleh Tung-hai Sian-li. dan Lam-san Sian-ong. Souw Lo Hosiang dan para muridnya tidak mau meninggalkan kelenteng.
"Pinceng tinggal di sini. mereka kiranya takkan mengganggu para hwesio”.
Karena kukuh tidak mau ikut pergi, terpaksa pendeta ini dan murid-muridnya ditinggalkan. Sementara itu. Wi Liong sudah sampai di seberang jurang di mana ia disambut oleh Kun Hong yang memandang kepadanya lalu tertawa bergelak,
"Eh eh, benar-benar kau ini? Ha-ha-ha. Wi Liong. Menyeberangi jembatan tambang saja kau sudah gemetaran, masa kau berani menantang pibu kepadaku?”
"Kun Hong, soal pibu tentu saja akan kulayani. Akan tetapi yang terpenting sekarang, mengapa kau tidak bertindak sebagai seorang laki-laki? Kau sudah berjanji hendak mengadu tenaga tiga hari kemudian, mengapa sekarang kau sudah datang lagi dan membawa kawan-kawan? Apakah janjimu tak dapat dipegang lagi?”
"Janji macam apa? Jangan banyak cerewet kau!” bentak Bu-ceng Tok-ong dan tangannya menampar ke arah kepala Wi Liong, tamparan yang mengandung kekuatan dan pukulan berhawa racun.
"Ayaaaa Bu-ceng Tok-ong betul-betul tak tahu malu!" ejek Wi Liong dan ia mengangkat tangan kiri menangkis.
"Plakk!" dua tenaga hebat bertemu melalui dua lengan tangan.
"Ayaaaaaa...........!" Tubuh Bu-ceng Tok-ong terhuyung mundur dan Raja Racun ini memegangi lengan kanannya yang seperti remuk tulangnya rasanya. Ia meringis dan menahan sakit sambil memandang penuh keheranan dan penasaran. Mana ia bisa menyangka bahwa bocah yang dulu pernah hendak ia
181
jadikan murid, sekarang telah menjadi begini lihai sehingga sekali tangkis saja tidak hanya dapat menolak hawa pukulan beracun, malah hampir membikin remuk tulang lengannya?
"Tok-ong. muridmu itu manis sekali sekarang!" ejek Tok-sim Sian-li yang sudah mencabut pedang. "Sayang dia memihak musuh." Sambil bicara tangannya bekerja, pedangnya menusuk dan tangan kirinya melakukan pukulan Toat-sim-ciaug yang lihai!
"Kun Hong, guru-gurumu memang mboceng-li (tak tahu aturan)!" ejek Wi Liong lagi. Ia menggerakkan tangan kiri lagi dikibaskan ke arah pedang sedangkan tangan kanan wanita itu yang menghantam dadanya tidak diapa-apakan, ia terima begitu saja pukulan itu.
"Dukk.........! Aaauuuu.........!!" Tok-sim Sian-li hampir saja melepaskan pedangnya. Ia merasa pergelangan tangan kanannya lumpuh dan kepalan tangan kiri yang melakukan Pukulan Pencabut Jantung sakit bukan main.
"Kun Hong. mengapa guru-gurumu begini lemah?” Wi Liong mengejek Kun Hong lagi, sengaja membikin panas hati pemuda itu supaya jangan mempunyai kesempatan mengganggu Pak-thian Koai-jin dan kawan-kawannya yang sudah mulai berdatangan menyeberang melalui jembatan tambang.
"Apa anehnya mengalahkan dua orang yang sudah tua-tua?" teriak Kun Hong. "Akulah lawanmu, jangan kau sombong!"
"Kun Hong, hati-hati. Dia murid Thian Te Cu......!" Kata Bu-ceng Tok-ong yang kini sudah percaya betul akan kelihaian pemuda yang dulu dibawa pergi oleh Thian Te Cu ini.
"Kun Hong. kau bilang aku sudah tua......??" Tok-sim Sian-li berseru dengan suara sedih mengandung keluhan.
Akan tetapi Kun Hong tidak perdulikan seruan dua orang itu dan mulai menyerang Wi Liong dengan pukulan kanan kiri yang dahsyat. Kembali Wi Liong tertegun karena pukulan ini mengandung unsur-unsur pat-kwa dan dasarnya hampir sama dengan pukulan Pat-kwa-ciang-hoat yang ia pelajari dari gurunya.
"Hemmm, agaknya kau sudah menerima pelajaran dari Thai Khek Sian." Wi Liong yang sudah dapat menduga itu menegurnya.
Kun Hong hanya mempercepat serangannya tanpa menjawab. Wi Liong cepat mengelak karena maklum akan kelihaian serangan ini dan sebentar saja dua orang muda murid orang-orang sakti itu mulai bertanding hebat sekali.
Sementara itu, Pak-thian Koai-jin dan kawan-kawannya sudah sampai di tempat itu.
"Lari terus jangan layani pertempuran. Musuh terlampau banyak, barisan berada di lereng seru See-thian Hoat-ong yang maklum bahwa kalau bertempur, kawan-kawannya akan menghadapi keroyokan beratus orang musuh”.
182
Pui Eng Lan dan Kwa Siok Lan berlari di depan, baru di belakangnya mengikuti Lam-san Sian-ong, Tung-hai Sian-li, See-thian Hoat-ong dan Pak-thian Koai-jin. Sebagai seorang ahli perang, See-thian Hoat-ong maklum bahwa biarpun fihaknya kuat sekali, namun fihak musuh selain mempunyai orang-orang pandai seperti Bu-ceng Tok-ong dan lain-lain, juga terdiri dari ratusan orang tentara, sehingga kalau terjadi pengeroyokan, fihaknya yang akan kalah.
Beberapa orang perwira membawa pasukan mereka menghadang dan mencoba untuk menghalangi larinya enam orang ini. Akan tetapi mana bisa mereka menghadapi orang-orang gagah itu? Eng Lan dan Siok Lan mengerjakan pedang masing-masing dan beberapa orang anggauta pasukan roboh. Lam-san Sian-ong memutar tongkat bambunya dan empat orang jungkir-balik tak dapat bangun lagi. Yang hebat adalah Tung-hai Sian-li. Tokoh wanita ini sedang marah dan sedih karena melihat puterinya yang cantik itu tidak mau mengakuinya, maka sekarang menghadapi pasukan musuh ia melampiaskan kemarahannya. Pedamgnya menyambar bagaikan kilat menyambar-nyambar dan celakalah pengeroyok yang terkena sinar pedangnya.
Pak-thian Koai-jin sambil tertawa-tawa merobohkan banyak pengeroyok dengan tongkat bambu dan mangkoknya. Lima orang itu kiranya akan lupa waktu dan terus membabati musuh yang empuk-empuk itu kalau saja di situ itidak ada See-thian Hoat-ong yang memberi "komando". Kakek bermuka merah bekas panglima besar ini yang memberi ingat kepada kawan-kawannya bahkan dia yang mengatur siasat mencari jalan keluar yang paling lemah. Akhirnya mereka dapat menyelamatkan diri turun dari bukit itu dari sebelah selatan, bebas dari pengepungan para tentara Mongol yang berani mati itu. Akan tetapi di dalam keributan itu setelah terbebas dari pengeroyokan, baru mereka melihat bahwa Kwa Siok Lan tidak berada di situ!
"Celaka mana dia......! Mana Siok Lan......?” seru Tung-hai Sian-li dengan muka berubah. Tokoh-tokoh yang lain juga kaget, khawatir kalau-kalau gadis itu roboh oleh pengeroyokan musuh.
"Tadi dia melawan musuh berdekatan dengan teecu." kata Eng Lan kepada gurunya, ''dan melihat keadaan para pengeroyok, tidak mungkin kalau enci Siok Lan roboh."
"Aku akan mencarinya!" kata See-thian Hoat-ong dengan suaranya yang menggeledek, tanda bahwa dia marah sekali karena murid keponakannya dalam bahaya. Golok besarnya sudah bergerak dalam tangannya, mukanya kelihatan makin angker. Ia sudah membuang pakaian luarnya dan kini See-thian Hoat-ong yang mengenakan pakaian perang dari suku bangsanya, benar-benar nampak angker dan gagah. Bahkan ia jauh nampak muda dari usia sebenarnya.
Akan tetapi sebelum ia bergerak, berkelebat bayangan biru dan tahu-tahu Tung-hai Sian-li sudah mendahuluinya, naik lagi ke atas bukit untuk mencari dan membela anaknya. Benar-benar aneh wanita ini. Semenjak belasan tahun, ia meninggalkan puterinya begitu saja kepada bekas suaminya dan hatinya yang keras menindas semua rasa rindu kepada anak dan suami, membuat ia kuat menahan keinginan hati dan tidak pernah bertemu muka dengan mereka. Akan tetapi sekarang, begitu bertemu dengan Siok Lan, kasih ibu yang terpendam di hati dan sebetulnya tak pernah lenyap itu tiba-tiba bangkit dan dia akan rela berkorban nyawa demi keselamatan anaknya, biarpun anak itu tidak mau mengakuinya sebagai ibu. Memang, tidak ada kecintaan lebih mulia dari pada kasih sayang seorang ibu terhadap anaknya, sebaliknya juga tidak ada kekejaman lebih hebat dan pada hati wanita yang dibakar api cemburu terhadap suaminya. Tung-hai Sian-li adalah seorang wanita yang menjadi korban cemburu.
183
See-thian Hoat-ong dengan golok terhunus juga mengejar Tung-hai Sian-li. Melihat ini, Pak-thian Koai-jin tertawa.
"Ha-ha-ha bukan saja untuk membela nona Kwa. akan tetapi terutama sekali untuk melindungi keselamatan murid-murid Siauw-lim-pai. Memang tidak pantas kalau kita tidak membantu mereka." Iapun memberi isyarat kepada Pui Eng Lan dan cepat menyeret tongkat bambunya, mengejar kembali ke atas bukit. Tidak ada lain pilihan bagi Lam-san Sian-ong. Kakek yang buntung tangan kirinya ini. yang juga termasuk seorang gagah, menggerakkan kedua kakinya yang pendek-pendek, lari cepat mengikuti yang lain.
Ke mana larinya Kwa Siok Lan? Apa betul seperti yang dikhawatirkan oleh rombongan itu bahwa gadis ini roboh atau tertawan? Tidak demikian halnya. Ketika dia dan rombongan itu mulai terlepas dari kepungan musuh dan tinggal lari saja turun gunung. Siok Lan ingat kepada Wi Liong, pemuda tunangannya itu. Biarpun Wi Liong tanpa disengaja telah menyakiti hatinya, yaitu mengaku di depan Pak-thian Koai-jin bahwa adalah di luar kehendaknya ditunangkan dengan gadis she Kwa, akan tetapi Siok Lan harus mengaku bahwa wajah dan kegagahan pemuda itu amat menarik hatinya. Pemuda itu demikian ganteng dan gagah, pula telah memperlihatkan keberanian luar biasa.
Adapun tentang kepandaian ia sudah menyaksikan sendiri kelihaiannya. Bukan saja serangan piauw dari Eng Lan sama sekali tidak melukainya malah juga ia tadi melihat sepintas lalu betapa calon suaminya itu telah mengalahkan Bu-ceng Tok-ong dan Tok-sim Sian-li secara mudah sekali! Kenyataan ini tentu saja membuat Siok Lan makin kagum kepada pemuda itu. Pemuda itu betapapun juga adalah tunangannya yang diresmikan oleh ayahnya, sekarang pemuda itu telah dikepung banyak musuh karena hendak menolong dia dan rombongannya. Bagaimana ia bisa meninggalkannya begitu saja? Sungguhpun hatinya sakit oleh ucapan Wi Liong di depan Pak-thian Koai-jin. akan tetapi tidak seharusnya ia meninggalkannya begitu saja.
Dengan pikiran ini, di luar tahunya yang lain, malah ia kembali ke dekat jurang di mana Wi Liong tadi menghadapi musuh-musuhnya. Melihat gadis cantik ini kembali ke dalam kepungan, para anggauta pasukan segera mengurung dan menerjangnya. Akan tetapi Siok Lan tidak menjadi gentar, pedangnya dikerjakan dan kembali ia mengamuk.
"Niocu, kau wakili aku tawan gadis jelita itu hidup-hidup untukku!" terdengar suara nyaring. Inilah suara Kun Hong yang minta tolong kepada Tok-sim Sian-li supaya menangkap dan menawan Siok Lan. "Akan tetapi ingat, jangan lukai dia!" Kun Hong benar lihai dalam menghadapi Wi Liong ia masih sempat melihat amukan Siok Lan dan menyuruh bekas gurunya menangkapnya.
Tok-sim Sian-li menjebikan bibir, hatinya mendongkol akan tetapi ia tidak berani membantah perintah bekas muridnya yang kini sudah terlampau lihai baginya itu.
"Minggir semua! Biarkan aku menangkap kuda betina yang binal ini!"
Kwa Siok Lan yang tiba-tiba berhadapan dengan Tok-sim Sian-li. tidak membuang banyak waktu lagi terus saja ia menyerang dengan pedangnya secara hebat. Tok-sim Sian-li menangkis.Terdengar suara nyaring ketika dua pedang bertemu dan Siok Lan hampir saja melepaskan pedangnya karena tangannya terasa sakit.
184
"Hi-hi, anak baik. Lepaskan saja pedangmu dan menyerahlah. Percuma kau melawanku." kata Tok-sim Sian-li mengejek.
"Siapa takut padamu?" Siok Lan membentak marah dan melompat lagi menerkam dengan pedangnya. Ia mengerahkan seluruh tenaganya dan menggerakkan pedang secepatnya karena maklum bahwa lawannya ini amat lihai.
Akan tetapi, kepandaian Tok-sim Sian-li memang jauh lebih tinggi. Dengan mudah pedang Siok Lan ditangkis lagi. Kemudian sambil tertawa-tawa Tok-sim Sian-li balas menyerang. Kalau wanita ini menuruti hatinya, ingin ia menikam mati gadis muda itu, akan tetapi ia tidak berani membuat Kun Hong marah. Ia lalu mainkan pedangnya secara istimewa sekali, diputarnya cepat membuat Siok Lan menjadi silau pandangannya dan bingung. Dalam belasan jurus saja Tok-sim Sian li berhasil merampas pedangnya dan menotoknya roboh. Siok Lan roboh tak dapat berkutik lagi.
"Bocah manis, kalau Kun Hong sudah begitu tergila-gila kepadamu, tentu dia sudah pernah pernah melihatmu. Kau bernama siapakah dan kapan kau mulai kenal dengan Kun Hong?”
"Aku Kwa Siok Lan selamanya tak pernah berkenalan dengan orang-orang macam kalian!" jawab Siok Lan ketus. Ia berusaha keras untuk membebaskan pengaruh totokan itu, akan tetapi sia-sia saja. Ia hanya dapat bicara, akan tetapi tidak mampu menggerakkan kedua kakinya.
Tiba-tiba tangan Tok-sim Sian-li melayang. "Plak! Plak!" Kedua pipi Siok Lan telah ditamparnya. Masih baik dia tetap iteringat akan pesan Kun Hong sehingga tamparan itupun hanya membikin pipi Siok Lan menjadi merah dan terasa panas pedas saja, akan tetapi tidak melukainya.
"Kau puteri Tung-hai Sian-li? Ha-ha. bagus! Kalau saja aku tidak ingat akan ayahmu. Kwa Cun Ek, yang pernah menjadi kekasihku sampai bertahun- tahun tentu akan kupecahkan kepalamu!"
Siok Lan adalah seorang gadis cantik yang memiliki keberanian istimewa dan kegagahan seperti ayahnya, akan tetapi sedikitnya ia mewarisi kekerasan hati ibunya. Ia memandang kepada Tok-sim Sian-li dengan mata berapi dan berkata,
"Wanita siluman, kau mau bunuh boleh bunuh. Siapa takut mati? Tak usah kau banyak bicara tidak karuan, siapa percaya omonganmu yang busuk seperti racun?”
Pada saat itu terdengar ribut-ribut dan barisan di sebelah selatan kacau-balau. Tak lama kemudian muncul Tung-hai Sian-li dan kawan-kawannya. Tung-hai Sian-li dari jauh sudah melihat Siok Lan tertawan. Ia cepat menggerakkan pedangnya merobohkan dua orang serdadu musuh dan dengan lompatan-lompatan jauh ia menghampiri Tok-sim Sian-li. Wanita ini sudah tersenyum-senyum mengejek lalu berkata kepada seorang perwira Mongol. "Kau tawan gadis ini, akan tetapi ingat, dia ini pesanan Kam-taihiap jangan ganggu! Siok Lan tak berdaya lagi ketika ia dibawa pergi oleh perwira itu.
"Tok-sim siluman betina! Kau apakan anakku?" Tung-hai Sian-li membentak dan pedangnya berkelebat menyerang dengan tusukan mematikan karena ia tidak sabar lagi hendak cepat-cepat menolong anaknya.
185
"He-he-he, budak hina-dina, jangan banyak tingkah!" Tok-sim Sian-li menangkis keras. Dua musuh kawakan saling bertemu muka. Tok-sim Sian-li masih menaruh dendam karena merasa kekasihnya, Kwa Cun Ek dirampas oleh musuh ini, sebaliknya Tung-hai Sian-li mendendam karena gara-gara Tok-sim Sian-li inilah ia sampai terpaksa meninggalkan suami dan anaknya.
Dua orang wanita biasa saja yang saling bermusuhan kalau bertemu muka akan terjadi hal yang hebat. Apa lagi dua orang wanita ini yang keduanya terkenal sebagai tokoh-tokoh besar dalam dunia persilatan. Segera terjadi perang tanding yang amat seru dan hebat.
Akan tetapi, segera Tung-hai Sian-li kaget karena dibandingkan dengan belasan tahun yang lalu, kepandaian Tok-sim Sian-li ternyata meningkat banyak sekali. Ini berkat latihan-latihan yang ia dapat dari Thai Khek Sian. Hanya dengan pengerahan tenaga dan seluruh kepandaian saja Tung-hai Sian-li masih dapat mengimbangi permainan pedang lawannya yang dahsyat dan ganas itu.
Baiknya See-thian Hoat-ong juga sudah datang dan cepat membantunya ketika melihat Tung-hai Sian-li terdesak. Berubahlah keadaannya dan kini Tok-sim Sian-li yang montang-manting dikeroyok dua oleh dua orang yang tinggi ilmunya dan banyak pengalaman dalam pertempuran. Akan tetapi Dewi Hati Beracun ini masih dapat mempertahankan dan masih dapat membalas serangan-serangan lawan dengan ilmu pedang dan pukulan-pukulan Toat-sim-ciang yang berbahaya.
Bu-ceng Tok-ong sudah datang pula di tempat pertempuran itu. Dia dikawani oleh Hek-ma Sai-ong. Seperti pernah diceritakan dalam jilid pertama. Hek-mo Sai-ong ini adalah Perwira Kim-i-wi di istana kaisar, pengawal kelas satu yang lihai ilmu silatnya. Dia berusia limapuluh tahun lebih, bertubuh besar kuat bermuka hitam lagi berbulu seperti muka singa. Hek-mo Sai-ong ini adalah seorang ahli gwakang. tenaganya sebesar tenaga gajah dan senjatanya sepasang gembolan yang entah sudah menghancur-remukkan berapa puluh buah kepala orang! Tadinya ia bekerja sebagai kepala pengawal di ruang depan istana Kaisar Mongol, sekarang dia dipindahkan sebagai kepala penjaga istana di kota raja ke dua. Ketika tadi Bu-ceng Tok-ong mendengar laporan Kun Hong bahwa di bukit itu terdapat sebuah Kelenteng Siauw-Iim-si yang mencurigakan, menjadi tempat bersembunyi para pembunuh bangsawan-bangsawan di Peking, ia cepat minta bantuan Hek-mo Sai-ong yang segera mengerahkan pasukan-pasukannya untuk melakukan penyerbuan.
Bu-ceng Tok-ong segera disambut oleh Lam-san Sian-ong. Kakek ini tangan kirinya buntung akibat pukulan Ngo-tok-jiauw dari Bu-ceng Tok-ong. belasan tahun yang lalu. Oleh karena itu dapat dibayangkan betapa marah dan dendam hatinya melihat musuh besar ini. Sebaliknya, melihat Lam-san Sian-ong, Bu-ceng Tok-ong tertawa bergelak dengan sikap mengejek.
"Ha-ha-ha, apa kau datang untuk menyumbangkan tangan kananmu?"
Lam-san Sian-ong tidak menjawab, melainkan menggerakkan tongkatnya menyerang dengan dahsyat. Dengan masih tertawa bergelak. Bu-ceng Tok-ong mengelak dan membalas dengan pukulan-pukulannya yang berbahaya. Lam-san Sian-ong sudah mengenal kelihaian pukulan-pukulan ini, maka ia tidak berani berlaku sembrono dan karenanya ia bertempur sambil mundur. Bu-ceng Tok-ong terus tertawa mengejek dan mendesak keras.
Akan tetapi, tiba-tiba ada tongkat bambu butut ke dua yang menyambar dan menyerangnya, di samping tongkat di tangan Lam-san Sian-ong, lalu terdengar suara nyaring mengejek.
186
"Raja Racun, kau sekarang seperti anjing yang diancam dua tongkat bambu. Ha-ha-ha, ke mana kau dapat melarikan diri?"
Yang baru datang ini adalah Pak-thian Koai-jin yang tahu bahwa Lam-san Sian-ong takkan menang kalau seorang diri menghadapi Bu-ceng Tok-ong yang kosen itu. maka lalu membantunya. Hek-mo Sai-ong menggereng seperti singa, dan menerjang maju dengan sepasang gembolannya. Akan tetapi ia dihadapi secara berani oleh Pui Eng Lan, gadis cantik manis murid Pak-thian Koai-jin yang gagah itu!
Kini pertempuran terpecah menjadi empat rombongan. Tok-sim Sian-li dikeroyok oleh Tung-hai Sian-li dan See-thian Hoat-ong. Bu-ceng Tok-ong dikeroyok oleh Lam-san Sian-ong dan Pak-thian Koai-jin. Hek-mo Sai-ong bertempur melawan Pui Eng Lan. dan Kun Hong digempur oleh Wi Liong. Para serdadu Mongol hanya berteriak-teriak memberi semangat kepada kawan sendiri. Pertempuran orang-orang kang-ouw dengan tingkat yang sudah tinggi itu amat sukar bagi mereka untuk membantunya. Membedakan mana kawan mana lawan saja sudah amat sukarnya. Oleh karena itu, para perwira Mongol rendahan lalu mulai menyuruh orang-orangnya menghujankan anak panah ke arah Kelenteng Siauw-lim-si di seberang jurang. Segera berluncuran panah-panah api ke arah kelenteng itu!
Adapun pertempuran antara Kun Hong dan Wi Liong terjadi amat hebatnya. Kun Hong adalah murid Thai Khek Sian yang sudah mewarisi sebagian besar ilmu pentolan Mo-kauw itu sebaliknya Wi Liong telah menerima gemblengan hebat dan penuh kasih sayang dari Thian Te Cu. Dahulu, pernah Thian Te Cu bertanding dengan Thai Khek Sian sampai memakan waktu tiga hari tiga malam baru Thai Khek Sian mengakui keunggulan Thian Te Cu. Siapa sangka sekarang murid-murid mereka, keduanya masih muda belia dan rupawan mengulangi pertandingan itu dengan tidak kalah ramainya. Setelah mengeluarkan pelbagai pukulan beracun yang semuanya dapat dihadapi dan ditangkis oleh Wi Liong, Kun Hong memuncak kemarahannya dan ia mencabut Cheng-hoa-kiam.
"Hemm, maling pedang tak tahu malu. Apa kau tidak malu menggunakan pedang yang sudah kau curi dari paman?" Wi Liong mengejek.
"Siapa bilang mencuri?" Kun Hong membentak. "Gurumu kakek tua bangka itu tahu bahwa pedang ini bukan hak milik Kwee Sun Tek pamanmu, maka gurumu membiarkan saja aku mengambil pedang ini. Pedang ini mengapa bisa terjatuh ke dalam tangan pamanmu? Tentu ia dapat mencurinya......"
"Ngawur! Paman menerimanya dari ibuku dan ibu menerima dari gurunya. Beng Kun Cinjin"
Kun Hong kaget. Tak disangkanya dari mulut Wi Liong ia akan mendengar lagi nama Beng Kun Cinjin atau Gan Tui putera Gan Yan Ki yang masih terhitung saudara sesumber dari suhunya. Lebih tidak disangka-sangkanya lagi bahwa ibu pemuda yang menjadi saingannya ini adalah murid Beng Kun Cinjin Gan Tui! Akan tetapi karena dia cerdik, lagi memang tidak memperdulikan aturan, Kun Hong berkata tertawa,
"Aha, begitukah? Tidak tahunya Beng Kun Cinjin itu sukongmu (kakek gurumu). Aku mendengar Beng Kun Cinjin seorang hwesio gundul tua bangka yang masih suka menikah dengan puteri muda dan cantik......"
187
"Tutup mulutmu! Antara Beng Kun Cinjin dan aku tidak ada hubungan kakek guru dan murid!" Wi Liong membentak marah. Bicara tentang Beng Kun Cinjin mengingatkan dia betapa ayah bundanya dibunuh oleh kakek itu, dan pamannya dibikin buta matanya, membuat ia naik darah.
Kun Hong menyeringai. "Sejak dulu pedang ini menjadi rebutan, siapa kuat dia menang dan berhak menjadi pemiliknya. Kau boleh coba merampas kalau kau becus."
"Melawan macammu saja masa takut?" bentak Wi Liong yang cepat mencabut sulingnya dan menyerang. Biarpun Wi Liong marah dan menghadapi Kun Hong yang benar-benar lihai sekali, namun perhatian Wi Liong terpecah. Ia amat memperhatikan Siok Lan yang tiba-tiba muncul kembali setelah tadi ia lihat melarikan diri turun gunung. Ia menjadi gelisah. Bagaimana gadis itu muncul lagi? Tadinya ia sudah merasa senang melihat gadis itu dan kawan-kawannya berhasil melarikan diri. Apa lagi ketika melihat Siok Lan mengamuk, ia menjadi makin khawatir. Terlampau banyak musuh tangguh di sini dan Siok Lan takkan mampu melawan mereka.
Melihat perhatian Wi Liong tertarik ke tempat lain. Kun Hong menengok. Wajahnya yang ganteng menjadi berseri dan ia gembira sekali ketika melihat gadis langsing jelita itu datang kembali seorang diri. Cepat ia minta tolong Tok-sim Sian-li yang hanya berdiri menonton di pinggir. Seperti sudah diceritakan di depan, akhirnya Siok Lan tertawan oleh Tok-sim Sian-li dan dibawa pergi oleh seorang perwira Mongol sedangkan tokoh-tokoh lain sudah datang pula dan disambut oleh Bu-ceng Tok-ong dan kawan-kawannya.
Ilmu pedang yang dimainkan Kun Hong betul-betul hebat. Wi Liong melihat bahwa ilmunya dan ilmu lawannya mempunyai dasar yang hampir sama, maka ia maklum pula bahwa kalau dilanjutkan biarpun ia takkan kalah, akan tetapi untuk memperoleh kemenangan juga memerlukan waktu yang lama sekali. Sedangkan hatinya gelisah melihat Siok Lan tertawan!
Baiknya ia dapat mendesak Kun Hong dengan ilmu pedang yang dimainkan dengan suling, berdasarkan Ilmu Silat Pat-sian-lo (Jalan Delapan Dewa) yang sudah diubah dan dicipta oleh Thian Te Cu. Dan lebih menguntungkan lagi pertempuran di rombongan lain juga berhasil baik. Pak-thian Koai-jin yang lebih banyak jumlah kawan yang berilmu silat tinggi, dapat mendesak lawan. Akhirnya Tok-sim Sian-li dan Bu-ceng Tok-ong. juga Hek-mo Sai-ong. tidak kuat lagi. Atas isyarat Bu-ceng Tok-ong, mereka bertiga melompat ke dalam barisan dan Hek-mo Sai-ong memberi aba-aba. Barisan panah lalu menghujankan anak panah ke arah Pak-thian Koai-jin berlima! Mereka adalah orang-orang lihai, akan tetapi menghadapi hujan anak panah ini tentu saja mereka tak berani melanjutkan pertempuran. Bahkan Pui Eng Lan yang tadi dengan gagahnya mendesak Hek-mo Sai-ong kini dalam sibuknya terluka sedikit pundaknya oleh sebatang anak panah. Lima orang ini terpaksa lari lagi turun gunung.
Wi Liong melihat hal ini. cepat mengirim serangan maut sambil berseru keras. Hebat sekali pengerahan tenaganya, sampai-sampai pedang Cheng-hoa-kiam yang dipakai menangkis sulingnya terpental. Kun Hong terkejut dan saat itu digunakan oleh Wi Liong untuk berkelebat lenyap dari depannya.
Kun Hong marah sekali. "Kejar mereka! Bunuh semua! Hujani anak panah."
188
Akan tetapi. Pak-thian Koai-jin dan kawan-kawannya sudah berlari cepat sekali turun gunung, sedangkan Wi Liong sudah lenyap entah ke mana. Ke manakah perginya Wi Liong? Apakah dia juga jerih menyaksikan kehebatan pasukan lawan dan melarikan diri ketakutan?
Thio Wi Liong takkan pantas disebut mund Thian Te Cu kalau dia takut dan melarikan diri. Apa lagi dalam keadaan seperti itu. di mana orang-orang yang dibelanya, karenanya ia anggap mereka itu di fihak yang benar, sedang terancam bahaya. Pemuda ini tadi sengaja mempergunakan kesempatan selagi keadaan ribut-ribut, untuk menyelinap pergi dari depan Kun Hong dan secara cepat sekali ia melakukan pengejaran terhadap perwira yang tadi ia lihat membawa pergi gadis langsing yang roboh oleh Tok-sim Sian-li. Perwira itu tadi membawa lari gadis itu dengan menunggang seekor kuda putih yang baik sekali dan cepat larinya.
Berbeda dengan gadis-gadis lain yang dalam keadaan seperti itu pasti akan menjerit-jerit minta tolong. Siok Lan sama sekali tidak mengeluarkan suara. Dia maklum bahwa dia telah terjatuh ke dalam tangan musuh dan keselamatannya terancam bahaya hebat, namun gadis pendekar ini tidak takut sama sekali. Selama napasnya masih ada, ia tidak akan putus asa dan akan berdaya menolong diri sendiri.
"Gadis jelita, kau manis sekali!" berkali-kali perwira Mongol itu berkata. Perwira itu masih muda. tinggi besar dan mukanya buruk sekali. Sepasang matanya sipit sampai seperti meram terus, hidungnya bundar pesek dengan lubang hidung besar-besar, bibirnya tebal dan giginya kuning menjijikkan. "Sayang kau sudah dipesan oleh Kam-taihiap, kalau tidak...... hemmm, aku mau dipotong usiaku satu tahun kalau bisa mendapatkan engkau.........!"
Dapat dibayangkan betapa mendongkol dan marah hati Siok Lan. Gadis ini mewarisi watak keras sekali seperti ibunya. Akan tetapi mulutnya tetap terkunci rapar-rapat bahkan melirik sedikit saja ia tidak sudi. Diam-diam ia mengerahkan seluruh tenaganya untuk membebaskan totokan yang masih membuat kaki tangannya lemas tak berdaya itu. Ia seperti seorang anak kecil dalam pondongan perwira itu. Masih baik nasibnya bahwa perwira ini tahu siapa adanya Tok-sim Sian-li dan Kam Kun Hong, maka ia sekali-kali tidak berani mengganggunya, sungguhpun kata-kata yang keluar dari mulutnya cukup menyakitkan hati.
Perwira itu tahu ke mana harus membawa gadis tawanan ini. Ke kota raja Peking dan ke rumah gedung Kok-konghu (istana pangeran). Gedung ini merupakan kelompok istana di mana selain tinggal orang-orang Mongol. juga disediakan gedung-gedung untuk tempat bermalam orang-orang gagah yang dipandang tinggi sebagai tempat kehormatan. Tentu saja Bu-ceng Tok-ong. Tok-sim Sian-li, Kam Kun Hong juga Hek-nio Sai-ong bermalam di gedung-gedung ini.
Dengan hati berdebar girang Siok Lan merasa bahwa jalan darahnya mulai pulih berkat usahanya yang tekun dan sungguh-sungguh. Ternyata Tok-sim Sian-li terlalu memandang rendah nona ini dan dikiranya totokannya itu akan membuat nona ini tidak berdaya untuk waktu yang cukup lama. Ia tidak tahu bahwa Siok Lan sudah memiliki lweekang yang cukup tinggi tingkatnya dan sebagai murid Siang-jiu Lo-thian Kwa Cun Ek, tentu saja ia sanggup memunahkan totokan ini. biarpun tidak secara serentak.
Hatinya sudah girang sekali. Gatal-gatal tangannya. Ia sabar menanti, karena kalau tenaganya belum pulih betul, ia tidak berani gegabah menyerang perwira Mongol ini. Hampir rata-rata perwira Mongol
189
memiliki kepandaian lumayan dan kalau dia gagal karena terlampau tergesa-gesa, bukankah berarti sia-sia saja usahanya selama ini?
Tiba-tiba. seperti diterjang angin taufan, perwira itu terlempar dari atas kudanya, jatuh bergulingan di atas tanah dan Siok Lan juga ikut terlempar, terlepas dari pondongannya. Perwira itu cepat bangun berdiri, mencabut pedangnya, akan tetapi ia bengong terheran-heran memandang ke depan. Ternyata Wi Liong sudah berdiri di situ dengan suling di tangan dan sepasang matanya berapi-api memandang perwira itu penuh kemarahan dan kebencian!
"Nona, jangan khawatir, aku akan menolongmu dari bangsat ini." kata Wi Liong sambil memandang ke arah gadis yang masih duduk di atas tanah. Setelah berkata demikian, Wi Liong melangkah maju perlahan-lahan ke arah perwira itu, penuh ancaman.
"Jangan sentuh dia!" tiba-tiba gadis itu berseru marah dan melompat bangun. "Aku tidak butuh pertolonganmu! Biarkan aku sendiri membunuhnya!"
Secepat kilat Siok Lan yang kini sudah pulih kembali sebagian dari kekuatannya itu menyerang perwira tadi. Akan tetapi perwira itu ternyata gesit juga, cepat dapat mengelak dan mengirim serangan balasan dengan pedangnya! Siok Lan terkejut, apa lagi setelah mendapat kenyataan bahwa tenaganya baru pulih tujuh bagian saja, dan sekarang dia bentangan kosong menghadapi lawan berpedang yang tidak lemah.
Siok Lan menyerang terus, akan tetapi perwira itu membela diri mati- matian. Kalau saja gadis itu memegang pedang, kiranya biarpun tenaganya belum pulih semua, ia akan dapat menangkan lawannya. Atau. biarpun ia bertangan kosong, kalau tenaganya sudah pulih semua tentu ia takkan begitu sibuk.
Tiba-tiba perwira itu mengeluarkan seruan kaget dan kakinya tertumbuk pada akar pohon, membuat ia roboh terguling! Kesempatan ini dipergunakan oleh Siok Lan untuk menendang pundaknya, membuat tangan kanannya lumpuh dan di lain saat pedang perwira itu sudah berpindah ke tangan Siok Lan. Sekali pedang itu berkelebat dan......... tubuh perwira itu lenyap, bagaikan terbawa angin melayang ke dalam jurang yang berada tak jauh dari tempat itu! Untuk sesaat Siok Lan melenggong, kemudian ia membalik dan memandang kepada Wi Liong dengan mata penasaran.
"Kau manusia usilan! Mengapa tidak mengurus urusanmu sendiri dan mengejar sampai di sini?”
Wi Liong gelagapan. Tak dinyana tak dikira pertolongannya akan disambut dengan sikap demikian galak. "Aku....... aku........ tadinya kukira kau berada dalam bahaya, nona......... maka aku mengejar ke sini.”
"Kau pcrduli apa aku dalam bahaya atau tidak?” bentak Siok Lan marah- marah.
Selagi Wi Liong "ap-ap, ep-ep" sukar menjawab, gadis itu sudah membentak lagi, "Dan kenapa kau lancang-lancang menghalangiku membunuhnya, dan membunuh dia dengan tanganmu sendiri? Apa kau sengaja hendak memamerkan kepandaian? Apa kaukira di kolong langit ini hanya kau sendiri yang pandai? Pemuda sombong!!”
190
Wi Liong berdiri seperti patung dengan muka bodoh. Ia diberondong caci maki, dan gadis itu kelihatan betul-betul marah sekali kepadanya. Ia benar-benar tidak mengerti. Masa gadis ini demikian buruk wataknya? Akan tetapi benar- benar ia merasa lebih heran terhadap perasaan hatinya sendiri. Kenapa melihat gadis itu memaki-makinya dan marah-marah malah nampak lebih manis?
"Maafkan, aku sebanyaknya nona. Bukan sekali-kali aku hendak memamerkan kepandaian. Aku seorang bodoh, kepandaian apakah yang patut dipamerkan? Aku hanya......... hanya merasa sayang kalau kau mengotorkan tangan melakukan pembunuhan."
Siok Lan masih mendongkol. Pertama-tama ia marah karena sakit hati mendengar pemuda itu menyatakan tidak suka ditunangkan dengan puteri Kwa Cun Ek atau dirinya sendiri. Kedua kalinya ia yang hendak membantu pemuda ini malah ditawan, dan sekarang malah ditolong oleh pemuda ini. Benar-benar memalukan sekali, pikirnya. Alangkah kecil tak berarti aku tampak di depan matanya, pikir Siok Lan kecewa, mendongkol dan marah. Ketika ia melirik dan melihat pemuda itu memandang kepadanya dengan mata mengandung penuh penyesalan dan minta maaf, ia memutar tubuhnya dan pergi dari situ cepat-cepat sambil membawa pedang rampasannya tadi.
"Nona. kau hendak ke manakah?" Wi Liong bertanya, agaknya kaget melihat nona itu tiba-tiba meninggalkannya.
Tanpa menoleh Siak Lan menjawab, "Ke mana aku pergi ada sangkut-paut apakah dengan kau?"
Mendengar jawaban ketus ini. Wi Liong menarik napas panjang. Memang kalau dipikir-pikir betul juga teguran nona ini. Ia bertanya-tanya maksud kepergian orang ada perlu apakah? Dengan hati sedih Wi Liong melihat betapa tubuh langsing menarik itu berlari cepat sekali pergi dari situ. Tiba-tiba ia mendengar ringkik kuda. Ia menoleh dan melihat kuda putih bekas tunggangan perwira yang sudah ia lemparkan dengan hawa pukulan ke dalam jurang itu berada di bawah pohon. Aah. ada jalan untuk menyenangkan hatinya, pikirnya girang. Cepat ia melompat dan dengan mudah ia menangkap kuda itu pada kendalinya. Lalu ia melompat dan membedal kuda itu mengejar nona cantik menarik tadi.
"Kuda bagus." pikirnya. "Dia tentu senang melihat perhatianku."
Kuda itu memang kuda baik sekali, kuda yang tinggi besar dan dapat berlari cepat. Tak lama kemudian Wi Liong dapat menyusul nona itu. Dari jauh ia sudah berteriak-teriak,
"Nona. harap tunggu sebentar!"
Siok Lan berhenti dan menengok, mukanya tetap cemberut.
"Ada apa lagi kau mengejar-ngejar aku?”
Wi Liong merasa bingung lagi. Entah mengapa dia yang biasanya tenang-tenang saja, menghadapi nona ketus galak ini mendadak menjadi bingung dan pemalu. Akan tetapi diam-diam ia merasa penasaran juga. Nona ini benar-benar tak memandang mata kepadaku, pikirnya. Hemm, kalau bukan dia, kalau bukan dia yang membikin hatinya demikian kacau-balau tidak karuan tentu ia sudah meninggalkan gadis itu dan selamanya takkan mau melihatnya lagi!
191
"Nona. kalau kau melakukan perjalanan jauh. lebih baik kau memakai kuda ini supaya tidak lelah dan perjalananmu dapat dilakukan lebih cepat. Aku sengaja menangkap kuda ini untuk kuberikan kepadamu. Pakailah!"
"Aku tidak pergi jauh! Aku hendak kembali kepada kawan-kawanku," jawab Siok Lan, sukar untuk bersikap keras dan ketus lagi melihat kebaikan pemuda ini. Juga diam-diam gadis ini girang di dalam hatinya dan bangga bahwa agaknya pemuda tunangannya yang di depan orang lain secara terang-terangan menyatakan tidak suka ditunangkan dengan dia, agaknya sekarang "ada hati" padanya! Benar-benar lucu!
Akan tetapi kalau dia tertawa di dalam hati, mukanya tetap cemberut. Tentu saja ia kaget dan heran ketika tiba-tiba Wi Liong yang tertawa. Wajah yang ganteng dan gagah itu kelihatan muda sekali, bahkan seperti muka bocah ketika tertawa, membuat orang yang melihat ia ketawa menjadi ketularan dan ingin ikut-ikut tertawa.
"Ha-ha. kau lucu, nona. Kalau kau hendak kembali ke sana, bukan ini jalannya, seharusnya ke sana. Kau telah salah jalan! Mari kau kuantar saja. nona. Duduklah di kuda ini. biar aku berjalan kaki di belakang kuda. "
"Tak usah, aku bisa berjalan sendiri."
"Apa boleh buat," Wi Liong menghela napas. "Sayang kalau kuda ini tidak dipakai. Apa kau berkeberatan kalau aku berjalan bersamamu?"
"Kau naiki saja kudamu, aku tidak butuh melakukan perjalanan bersama orang lain. Laginya. kau seorang pemuda, sudah bertunangan lagi. Bukankah amat mencemarkan namaku kalau orang melihat aku bersamamu? Tunanganmu akan marah-marah dan aku yang akan mendapat nama busuk! Cih, kau laki-laki tidak setia!"
Wi Liong tersenyum dan menjalankan kudanya terus di samping nona itu. Ucapan nona itu menarik perhatian dan menimbulkan harapan baru baginya. Jadi nona ini bersikap keras dan ketus kepadanya hanya kaarena dia sudah bertunangan.
"Nona, percayalah bahwa aku belum tentu akan suka berjodoh dengan orang yang dipaksakan menjadi tunanganku itu."
"Kau......... kau orang puthauw (tidak berbakti)!" cela gadis itu.
"Tidak, nona. Aku akan mentaati perintah pamanku dalam segala hal, akan tetapi dalam hal perjodohan, aku tidak mau dijerumuskan begitu saja. Aku belum pernah melihat gadis yang ditunangkan dengan aku, akan tetapi aku......... aku tidak suka kepadanya."
"Mengapa?”
"Dia puteri Siang-jiu Lo-thian Kwa Cun Ek seorang tokoh kang-ouw yang terkenal. Dan aku mendengar bahwa ada sesuatu yang tidak beres antara tokoh itu dengan isterinya. Entah apa sebabnya pamanku tidak memberi tahu, hanya memberi tahu bahwa tokoh itu sudah bercerai semenjak anaknya masih
192
kecil. Anak dari suami isteri yang tak dapat menjaga kesetiaan macam itu ditunangkan dengan aku. Hemm tentu saja aku tidak mau. Tentu gadis itu wataknya tidak jauh dari ayah bundanya, tidak setia dan kasar!"
Alangkah kagetnya hati Siok Lan mendengar ini dapat dibayangkan! Wajahnya menjadi pucat dan ia menahan-nahan diri untuk tidak menjerit menangis.
"Kau percayalah, nona," kata pula Wi Liong sambil merenung karena ia merasa amat berduka kalau teringat akan keputusan Kwee Sun Tek yang menjodohkannya dengan seorang gadis yang tak pernah dilihatnya dan yang menjadi anak tunggal suami isteri yang tidak rukun. "Percayalah, begitu bertemu dengan engkau, hatiku memastikan bahwa hanya dengan seorang gadis seperti kau inilah kiranya aku mau berjodoh, dan........."
Pada saat itu terjadi dua hal yang berbareng dan amat mengejutkan hati Wi Liong. Dari sebelah kanan, yaitu dari jurusan Kelenteng Siauw-lim-si itu kelihatan api berkobar tinggi dan pada saat itu pula terdengar seruan nyaring dan tahu-tahu gadis jelita itu menyerang Wi Liong dengan pedangnya dari samping. Gadis itu menusukkan pedangnya sambil melompat, serangannya hebat sekali!
Namun Wi Liong telah memiliki kecepatan luar biasa. Melihat berkelebatnya sinar pedang, ia menggenjot tubuhnya melayang dari atas punggung kudanya dan ketika pedang itu menusuk lewat di depannya, ia cepat menangkap pergelangan tangan gadis itu.
"Nona, apa yang kau lakukan ini?” katanya dan di lain saat gadis itu telah ia tangkap dan ia dudukkan di atas punggung kuda yang sementara itu sudah lari lagi ke depan. Siok Lan berusaha melepaskan diri, namun ia sama sekali tidak berdaya. Wi Liong yang duduk di belakangnya sudah memegang kedua pergelangan tangannya, membuat ia tidak dapat berkutik.
"Nona. tahan dulu kebencianmu kepadaku. Kau lihat di sana itu, kebakaran besar. Apa kau tidak ingat akan nasib para locianpwe? Entah apa yang telah terjadi di sana. Hayo kita cepat ke sana untuk menolong mereka!"
Baru sekarang Siok Lan melihat cahaya api itu dan ia menjadi khawatir sekali. Paman gurunya berada di sana dan sahabat-sahabat lain termasuk....... ibunya! Karena ingin tahu apa yang telah terjadi di sana dan bagaimana keadaan para sahabat itu, ia tidak memberontak lagi dan Wi Liong segera melepaskan pegangannya, maiah pemuda itu cepat melompat turun lalu berlari cepat di samping kuda putih itu. Diam-diam Siok Lan kagum melihat pemuda ini yang begitu sopan, begitu lihai, begitu tampan dan begitu..... begitu menyakitkan hatinya!
Setelah tiba kembali di tempat pertempuran tadi, mereka melihat hal yang hebat. Pasukan-pasukan Mongol sudah pergi, juga Pak-thian Koai-jin dan yang lain-lain tidak nampak lagi. Yang kelihatan hanya di seberang jurang. Kelenteng Siauw-lim-si yang megah dan kuat itu. kini menjadi makanan api! Ternyata kelenteng itu telah dibakar oleh Kun Hong dan kawan-kawannya untuk melampiaskan kemarahan mereka dan di antara para hwesio di situ. hanya Souw Lo Hosiang ketuanya saja yang berhasil menyelamatkan diri dengan jalan menuruni jurang melalui jalan rahasia. Sedangkan hwesio-hwesio lain yang kurang tinggi kepandaiannya, terbunuh semua!
193
Dengan hati penuh kekhawatiran. Siok Lan mencari ke sana ke mari kalau- kalau melihat jejak kawan-kawannya. Ia baru bernapas lega ketika tidak melihat mayat kawan-kawannya.
Akan tetapi biarpun tahu bahwa di antara rombongannya tidak ada yang tewas, ia masih gelisah juga. Siapa tahu kalau mereka itu tertawan oleh musuh seperti dia tadi?
"Jangan khawatir, nona. Orang-orang seperti para locianpwe itu tidak sembarangan dapat ditawan. Aku percaya mereka itu sudah dapat menyelamatkan diri."
"Mudah-mudahan begitu......." kata gadis itu perlahan.
Wi Liong melirik, melihat betapa wajah yang jelita itu nampak sedih. Ia tidak tahu bahwa gadis itu teringat akan ibunya dan ia masih terharu sekali. Pertemuan dengan ibunya, orang yang semenjak ia kecil sudah dirindukannya, juga amat dibencinya karena ibunya itu meninggalkan ayahnya yang ia tahu amat merindukan ibunya pula, pertemuan tadi benar-benar telah mengguncangkan hati dan perasaannya. Ia sendiri tidak tahu apakah dia cinta atau benci kepada ibunya. Ia memang merindukannya dan melihat ibunya begitu cantik, begitu gagah, ia menjadi bangga dan ingin sekali ia menangis dalam pelukan ibunya. Akan tetapi kalau ia teringat akan ayahnya, yang hidup menyepi dan menderita kesengsaraan batin akibat perginya ibunya, ia menjadi benci kepada Tung-hai Sian-li. Ia tidak tahu mengapa ibunya pergi meninggalkan dia dan ayahnya. Ayahnya hanya memberi tahu bahwa ibunya pergi, pergi semenjak ia masih amat kecil dan ayahnya selalu menggeleng kepala dan nampak sedih kalau ia bertanya sebab kepergian ibunya.
Melihat sinar mata sedih di wajah gadis itu, Wi Liong merasa terharu dan kasihan.
"Kau suka memaafkan aku atas kelancangan mulutku tadi. nona?” tanyanya, merasa menyesal bahwa tadi. karena dorongan nafsunya, ia telah menyatakan perasaan hatinya yang mencinta, membuat gadis ini menjadi marah.
Merah wajah gadis itu. ia menoleh dan menatap muka Wi Liong. Tidak cemberut lagi akan tetapi nampak sedih. Sedih karena ucapan Wi Liong tadi. yang menganggap ayah bundanya suami isteri tidak setia dan karenanya anaknyapun tentu tidak mempunyai hati setia!
"Kau tidak marah lagi kepadaku, nona?”
Siok Lan sadar kembali dari lamunannya. "Hemmm? Ah, mengapa aku harus marah? Asal kau tidak bicara yang bukan-bukan........"
"Aku akan berlaku hati-hati. Bolehkah aku mengetahui siapa nama nona? Seperti kau ketahui aku Thio Wi Liong, anak keponakan paman Kwee Sun Tek. Aku seorang sebatangkara. tiada ayah bunda lagi....... dan aku......aku......"
"Kau tunangan puteri Siang-jiu Lo-thian Kwa Cun Ek, calon mantu seorang tokoh kang-ouw!"
Wi Liong menarik napas panjang. Ia menyesal sekali mengapa nona ini lagi-lagi mengemukan persoalan ini. Untuk menyimpangkan pembicaraan dari persoalan yang tak disukainya itu. Wi Liong pura-pura tidak mendengar dan melanjutkan kata-katanya,
194
"Nona sudah tahu aku siapa, akan tetapi tentang dirimu sama sekali aku tidak tahu. Yang kuketahui hanya bahwa kau adalah murid keponakan kakek gagah perkasa yang mukanya seperti Kwan Kong itu. Kau siapakah, nona?"
Bagaimana Siok Lan mampu menjawab? Tak mungkin ia bisa memperkenalkan dirinya sebagai Kwa Siok Lan, tunangan pemuda itu sendiri!
"Apa sih gunanya kuperkenalkan nama? Tidak perlu sama sekali. Yang lebih perlu pada saat ini adalah mencari tahu di mana adanya susiok dan yang lain-lain. Nah. aku pergi!" kata Siok Lan sambil mengeprak kudanya supaya lari cepat.
Di tikungan jalan ia menengok dan masih melihat Wi Liong berdiri seperti patung memandang kepadanya. Siok Lan tersenyum geli dan membalapkan kudanya lebih cepat lagi keluar dari hutan itu menuju ke selatan. Akan tetapi, baru saja ia keluar dari hutan itu, ia telah dihadang oleh pasukan orang-orang Mongol yang dikepalai oleh tiga orang Perwira Mongol. Melihat nona yang tadi tertawan telah terlepas lagi dan menunggang kuda seorang diri saja. pasukan itu menjadi girang dan cepat para komandannya memerintahkan untuk menawan nona manis itu.
Siok Lan tidak menjadi gentar. Dicabutnya pedang rampasannya tadi dan sambil mengajukan kudanya ia mengamuk. Sebentar saja beberapa orang serdadu Mongol roboh binasa. Yang lain-lain menjadi gentar juga. Perintah para komandan adalah untuk menawan si nona. dan hal ini jauh lebih mudah diperintahkan dari pada dilaksanakan.
"Robohkan kudanya!" bentak seorang perwira. Golok dan pedang berkelebatan dan kuda putih yang ditunggangi Siok Lan roboh. Kaki belakangnya luka-luka. Siok Lan terpaksa melompat agar jangan terbawa jatuh, akan tetapi ia disambut oleh keroyokan. Betul ia dapat menusukkan pedangnya yang amblas ke dalam perut seorang musuh, akan tetapi sebelum ia sempat mencabut pedangnya, ia telah disergap dan diikat.
Akan tetapi pada saat itu, rombongan serdadu itu lari cerai-berai dan tiga orang perwiranya sudah terlempar ke kanan kiri seperti daun-daun kering tertiup angin. Sebentar saja mereka pada melarikan diri tunggang-langgang. Kiranya Wi Liong yang datang menolong. Dengan kepandaiannya yang tinggi, pemuda ini dapat melempar-lemparkan para serdadu yang tentu saja menjadi ketakutan melihat pemuda itu mengalahkan tiga orang komandan mereka dengan cara demikian mudah, seperti orang mencabuti rumput saja.
Sebelum Wi Liong sempat membebaskan Siok Lan dari ikatannya,, baru dihampiri saja gadis itu sudah mengerahkan tenaganya dan memutus tali itu sampai kulit lengannya agak lecet-lecet. Melihat ini Wi Liong menggeleng kepala. Benar-benar seorang gadis yang amat angkuh!
"Nona,, mari kutemani kau mencari susiokmu. Di daerah ini banyak sekali tentara Mongol yang dipimpin oleh perwira-perwira kosen, malah di sampingnya dibantu oleh orang-orang seperti Bu-ceng Tok-ong dan kawan-kawannya."
Siok Lan memang seorang gadis yang keras hati dan angkuh. Pula ia mempunyai kepercayaan besar kepada diri sendiri. Kecelakaan yang menimpanya tadi. tertawan oleh musuh adalah karena di sana
195
terdapat Tok-sim Sian-li yang kepandaiannya jauh lebih tinggi. Baru tadi ia hampir tertawan kembali oleh rombongan serdadu Mongol adalah karena ia terpelanting dari atas kudanya. Kalau tidak demikian, jangan harap pasukan kecil dengan tiga perwiranya itu dapat menangkap dia! Biarpun di daerah itu berkeliaran orang-orang Mongol. Siok Lan sama sekali tidak merasa takut. Akan tetapi, pemuda ini biarpun tanpa disengaja telah menghina dan menyakiti hatinya dengan pernyataan menolak pertunangannya dengan dia, namun tak dapat disangkal lagi telah memperlihatkan sikap yang amat ramah dan baik terhadap dia. Siok Lan maklum betul bahwa sekali pemuda itu tahu siapa dia. pasti pemuda itu akan menyesali pengakuan sendiri. Karena kebaikan sikap Wi Liong, Siok Lan merasa malu sendiri kalau terus-menerus memperlihatkan keangkuhannya.
Ia tidak menjawab ajakan Wi Liong untuk menemaninya mencari kakek muka merah, hanya mengangguk. Dua orang muda itu berjalan pergi dari situ tanpa berkata-kata dan Siok Lan yang tidak begitu hafal akan daerah ini mengikuti saja arah yang ditempuh Wi Liong.
Pemuda ini sendiri juga baru kali ini menginjak daerah utara, akan tetapi karena ketika berangkatnya ia melakukan penyelidikan secara teliti, ia masih hafal akan jalan menuju ke selatan. Ia dapat menduga bahwa rombongan orang gagah itu kalau sudah berhasil menyelamatkan diri tentu akan kembali ke selatan.
Hari telah malam ketika Wi Liong dan Siok Lan tiba di tepi sungai yang mengalir di sebelah selatan kota raja. Keadaan di situ sunyi bukan main. Perahu-perahu yang nampak agak jauh bergerak-gerak perlahan di pinggir sungai, tak sebuahpun yang berisi manusia. Pada waktu seperti itu memang tidak pernah ada orang menyeberang.
Tiba-tiba sebuah perahu yang berada dekat tempat mereka berdiri, bergerak dan sebuah kepala manusia menjenguk keluar.
"Ji-wi mencari siapa?” tanya suara yang parau. Keadaan gelap, tak dapat melihat muka orang itu kecuali bayangannya yang menyatakan bahwa dia seorang laki-laki berkepala bulat besar.
"Kami hendak menyeberang.," jawab Wi Liong. "Dapatkah kau menyeberangkan kami?”
Orang itu tidak menjawab dan kedua tangannya bekerja membuat api. lalu menyalakan obor yang diangkat tinggi-tinggi. Tangan kanan yang memegang obor itu bergerak-gerak untuk dapat menerangi wajah dua orang yang baru tiba. Akan tetapi pandang mata Wi Liong yang tajam dapat melihat betapa gerakan tangan itu aneh dan teratur, seakan-akan merupakan isyarat, bergerak-gerak dari kanan ke kiri dua kali berturut-turut, lalu dari depan ke belakang. Apakah gerangan maksud orang itu? Ia memandang teliti dan melihat bahwa sungguhpun pakaian orang itu seperti nelayan, namun sepasang matanya bersinar tajam dan tubuhnya nampak kuat berisi.
Laki-laki setengah tua itu tercengang ketika melihat bahwa yang datang adalah seorang pemuda tampan dan seorang gadis cantik jelita.
"'Malam-malam gelap begini ji-wi hendak menyeberang? Mengapa begitu tergesa-gesa? Lebih baik besok pagi saja." kata orang itu sambil keluar dari perahunya.
196
"Kami perlu menyeberang sekarang," kata Siok Lan ketus. "Apakah kau melihat tiga orang kakek, seorang nyonya dan seorang nona menyeberang sungai ini siang tadi?”
Tanpa dilihat orang itu, Wi Liong menowel lengan Siok Lan, akan tetapi terlambat, gadis itu sudah mengajukan pertanyaan ini. Orang itu menggerakkan obornya sehingga mukanya bersembunyi di dalam gelap, hanya terdengar suaranya. "Tiga orang kakek aneh dan dua orang wanita cantik? Ada......ada....... malah aku sendiri yang menyeberangkan mereka sore tadi!" kata tukang perahu itu, suaranya gembira sekali. Kembali obornya bergoyang-goyang, akan tetapi hanya Wi Liong yang dapat melihat ini tanpa mengetahui artinya. Siok Lan sama sekali tidak memperhatikannya, malah dengan girang gadis ini berkata.
"Lekas seberangkan kami dan turunkan kami di tempat mereka tadi mendarat di seberang sana. Jangan khawatir, aku mau membayar sepuluh kali lipat dari pada biaya yang biasa."
Kembali orang itu tertawa aneh. mengangguk-angguk dan mundur ke dalam perahunya. "Silahkan masuk, silahkan masuk.........!” katanya.
Wi Liong hendak menolak, akan tetapi Siok Lan sudah mendahuluinya melompat ke dalam perahu, terpaksa diapun melangkah ke dalam perahu itu. ’Tentu akan terjadi sesuatu’, pikirnya. ’Tukang perahu ini mencurigakan sekali. Hendak kulihat dia akan berbuat apa’.
Tukang perahu itu menancapkan obornya di kepala perahu, lalu mengambil dayung, melepaskan tambang dari batang pohon, lalu mulai menggerakkan perahunya ke tengah sungai yang lebar itu.
Siok Lan berdiri memandang ke seberang. Hatinya girang akan tetapi tidak sabar lagi, hendak cepat-cepat menyeberang dan mengejar rombongannya, terutama ingin sekali lagi bertemu dengan ibunya! Setelah bertemu dengan Wi Liong dan mendengar buah pikiran Wi Liong tentang perhubungan ayah bundanya, Siok Lan diam-diam mengambil keputusan untuk membujuk atau memaksa ibunya kembali kepada ayahnya!
Wi Liong juga diam saja, duduk di belakang perahu sambil diam-diam memperhatikan tukang perahu yang mendayung perahunya perlahan-lahan, nampaknya sama sekali tidak tergesa-gesa. Akan tetapi orang itu mempergunakan tenaganya karena ia mendayung perahunya mudik, melawan arus sungai.
"Sahabat tukang perahu, mengapa kau dayung perahu mudik?" tanya Wi Liong sambil lalu agar tidak kentara bahwa dia menaruh hati curiga.
Tukang perahu itu tertawa. "Orang muda. agaknya kau tak pernah naik perahu menyeberang sungai. Untuk menyeberang sungai, perahu harus didayung mudik lebih dulu agar ketika menyeberang terbawa arus sungai ke hilir, dapat tepat mendarat di seberang. Pula, bukankah nona ini minta supaya aku mendaratkan di tempat rombongan kakek-kakek aneh tadi? Nah. inilah jurusannya."
Merah muka Wi Liong. Memang benar ucapan nelayan ini, ia sampai lupa untuk memperhatikan hal itu. Akan tetapi tetap saja ia menaruh hati curiga, apa lagi ketika dari seberang kelihatan bayangan empat buah perahu yang bentuknya sama benar dengan perahu ini, menuju ke tengah sungai seakan-akan hendak menjemput mereka! Akan tetapi ia diam saja dan makin memperhatikan tukang perahu itu yang kini menayung perahunya cepat-cepat.
197
"Dukk!" Perahu itu tiba-tiba menempel pada perahu-perahu yang telah mengurung di depan dan kanan kiri.
"Eh-eh, apa artinya ini?" Siok Lan berseru kaget dan mencabut pedangnya.
Tukang perahu tertawa. "Kawan-kawan, dua ekor domba ini adalah teman-teman yang tadi!"
"Bangsat, jangan kau main-main! Apa artinya ini?" Siok Lan mengancam tukang perahu dengan pedangnya. Akan tetapi tukang perahu itu tiba-tiba sudah memegang sebatang golok yang dipergunakannya untuk menangkis pedang itu. "Jangan kalian bergerak!" bentaknya dengan suara mengancam. "Percuma saja melawan. Satu kali kugulingkan perahu, kalian akan menjadi makanan ikan! Lebih baik menurut dan menyerah saja!"
"Jahanam, kau yang mampus lebih dulu!" bentak Siok Lan sambil menyerang dengan pedangnya. Akan tetapi ia berteriak kaget dan terhuyung, terpaksa membatalkan niatnya menyerang ketika tiba-tiba perahu menjadi miring dan hampir saja ia terjungkal. Tukang perahu itu ternyata telah memegangi pinggiran perahu dan mengguncang-guncangnya! Kalau ia menjungkalkan perahu, celakalah Wi Liong dan Siok Lan yang tidak bisa berenang, sebaliknya tukang perahu itu tentu saja amat pandai.
"Ha-ha-ha-ha........ auppp!" Tiba-tiba tukang perahu yang tadinya tertawa-tawa itu berhenti dan ia terduduk di kepala perahu, diam seperti patung batu! Sehelai tambang yang tadi dipakai mengikat perahunya, telah meluncur seperti ular dan tahu-tahu ujungnya menotok jalan darahnya, seketika membuat ia kaku. Tentu saja perbuatan lihai ini dilakukan oleh Wi Liong.
"Bu Beng Siocia (Nona Tiada Nama), kau pegang dayung dan jaga perahu supaya tidak hanyut. Biar aku bereskan mereka!" kata Wi Liong yang tidak mengenal nama nona itu sambil berkelakar.
Siok Lan maklum bahwa saat genting itu amat berbahaya. Ia melompat dan mengambil dayung dari tangan tukang perahu yang sudah kaku. Ketika ia merampas dayung, tukang perahu itu roboh terguling ke dalam perahu, rebah miring tak bergerak seperti balok. Biarpun bukan ahli, kalau hanya menggerakkan dayung supaya perahu tidak berputar-putar saja Siok Lan sudah pandai.
Sementara itu, melihat bahwa di tiap perahu terdapat dua orang yang berpakaian seperti serdadu Mongol, tahulah Wi Liong bahwa tukang perahu itu memang seorang mata-mata Mongol. Ia cepat melompat, bagaikan seekor burung hantu yang sukar diikuti mata gerak-geriknya. ia berloncatan dari perahu ke perahu. Terdengar seruan-seruan kesakitan dan orang-orang di dalam perahu itu sudah dapat dibikin tak berdaya dalam waktu singkat. Perahu-perahu mereka yang empat buah jumlahnya itu mulai hanyut berputaran dibawa arus sungai.
"Jangan bunuh dia!" teriak Wi Liong yang tahu-tahu telah melompat kembali ke dalam perahu dan mencegah Siok Lan yang hendak menusuk tukang perahu itu.
"Lagi-lagi kau menghalang-halangiku," kata Siok Lan tak puas, akan tetapi tidak marah lagi. Ia kini makin kagum melihat sepak-terjang Wi Liong yang betul-betul memiliki kelihaian yang luar biasa sekali itu.
198
"Apa kau lupa bahwa susiokmu dan yang lain-lain tadi juga menumpang perahunya? Kita bisa memaksa dia mengaku apa yang telah terjadi dengan mereka."
Ingin Siok Lan menampar kepalanya sendiri. Mengapa ia begitu bodoh? Di samping ini, timbul rasa gelisahnya. Jangan-jangan susiok dan ibunya telah terpedaya oleh tukang perahu ini dan telah mengalami kecelakaan!
"Lekas katakan, apa yang telah terjadi dengan rombongan itu!" bentak Siok Lan, mengancam tukang perahu itu dengan ujung pedang, siap ditusukkan ke lehernya.
Melihat betapa pemuda itu dengan mudahnya merobohkan semua kawannya, tukang perahu atau mata-mata Mongol itu menjadi pucat, tubuhnya gemetar dan ia berlutut di atas perahunya dengan kedua kaki lemas.
"Ampun, aku......... aku hanya tukang perahu biasa....... aku tidak ikut- ikut.......!"
"Bohong!" Siok Lan membentak marah. "Tak usah pura-pura, hayo lekas ceritakan apa yang terjadi dengan mereka."
"Rombongan itu, tiga orang kakek dan dua orang wanita......... mereka menumpang perahuku, lalu datang pasukan kerajaan......... mereka menggulingkan perahu......... mereka menawan dua orang yang wanita. Tiga orang kakek berhasil melarikan diri........."
Siok Lan menjadi pucat. Celaka, ibunya tertawan, bersama Pui Eng Lan.
"Yang tertawan itu dibawa ke mana?” kini Wi Liong yang bicara.
"Mana aku tahu? Tentu ke kota raja........ ke mana lagi.........?"
"Pergilah!" Siok Lan tak dapat menahan kemarahan hatinya lagi. Sekali tendang tukang perahu itu terlempar ke dalam air dan tidak timbul lagi.
"Kita harus menolong mereka" kata Wi Liong sambil mengambil dayung, "lebih dekat kita mengambil jalan melalui sungai itu, lebih cepat dan aman. Tentu di belakang penangkapan ini berdiri Kun Hong jahanam busuk itu"
Siok Lan memandang dengan terima kasih. Tanpa pemuda ini. agaknya ia tidak mempunyai harapan untuk dapat menolong ibunya. Dengan pemuda ini di sampingnya, ia merasa kuat, aman dan sanggup melakukan pekerjaan yang betapapun beratnya. Ia hanya mengangguk dan mukanya tidak cemberut lagi.
Pada keesokan harinya pagi-pagi sekali perahu mereka telah tiba di sebelah selatan kota raja. Siok Lan bangun dari tidurnya. Saking lelahnya, ketika ia duduk di dalam perahu, ia tertidur sambil menyandarkan tubuhnya pada papan perahu. Wi Liong mengemudi perahu hanyut oleh arus sungai, tidak berani mengeluarkan suara berisik agar dara itu tidak terganggu tidurnya. Makin dipandang makin meresap, makin lama makin mendalam perasaan kasih sayangnya kepada dara yang pemarah
199
ini. Di balik sifat marah ini Wi Liong mendapatkan sesuatu yang menarik hatinya, mendapatkan watak yang mulia dan kedukaan yang menimbulkan kasihan di hatinya terhadap gadis ini.
"Selamat pagi. Bu Beng Siocia." kelakar Wi Liong menyambut gadis yang baru bangun itu.
Siok Lan menggosok kedua matanya. Masih mengantuk rasanya. Lelah dan kurang tidur, lapar pula, membuat tubuhnya lesu.
"Aku sampai tertidur tanpa kurasa." katanya perlahan sambil mencuci muka dengan air sungai yang mudah saja dicapai tangan di pinggir perahu. "Apa kau tidak tidur?" tanyanya, mengangkat mukanya yang menjadi segar kemerahan setelah digosok-gosoknya dengan air.
Wi Liong tersenyum, menggeleng kepala.
"Kau tidak mengantuk?"
"Rasa kantuk sih ada, akan tetapi dapat kutahan. Melihat kau dapat tidur enak saja sudah puas hatiku."
Wajah Siok Lan makin memerah. Tiba-tiba ia mengangkat mukanya lagi, memandang tajam sambil bertanya, "Mengapa kau begini baik terhadap aku?" Ketika mengajukan pertanyaan ini matanya bersinar dan bibirnya yang merah agak tersenyum, bukan main manisnya dalam pandangan Wi Liong.
"Aku baik terhadapmu?" Wi Liong berkata sambil mengangkat alis dan menggerakkan bahunya. "Entahlah, ada sesuatu yang memaksa aku harus bersikap baik kepadamu, lebih kepada semua orang di dunia ini."
"Apa maksudmu! Apa yang kau harapkan dari sikap baikmu ini? Tentu agar akupun bersikap baik dan suka kepadamu, bukan?"
Wi Liong berdebar hatinya. Gadis ini luar biasa sekali. Sinar matanya menunjukkan bahwa di balik sinar mata itu terdapat kecerdikan yang tinggi, yang sekaligus sudah dapat menebak isi hatinya.
"Tak perlu aku bicara panjang lebar dan berputar-putar, nona. Sungguhpun baru satu kali aku bertemu denganmu, bahkan namamupun aku belum tahu, akan tetapi ada sesuatu di dalam dadaku yang membuat aku amat suka kepadamu, membuat aku ingin selalu berada di sampingmu, membuat aku ingin selama hidupku menjadi pelindungmu. Memang ada pula perasaan yang menginginkan supaya kaupun suka kepadaku, akan tetapi, melihat kau selamat dan bebas dari pada bahaya dan kedukaan saja rasanya aku sudah puas!"
Siok Lan adalah seorang gadis yang cerdik bukan main. Semenjak pemuda itu menolongnya untuk pertama kali, bahkan semenjak pemuda itu memandang kepadanya di Kelenteng Siauw-lim-si, ia dapat menduga bahwa pemuda ini jatuh cinta kepadanya. Pemuda ini, tunangannya, calon suaminya yang sah, jatuh cinta kepadanya dan pada saat itu juga, di depan orang lain menyangkal atau menolak ikatan pertunangannya dengan dia pula. Alangkah lucu dan anehnya! Dapat dibayangkan betapa hatinya menjadi bahagia, kecewa, marah dan banyak macam lagi teraduk menjadi satu. Ia merasa bahagia oleh karena melihat bahwa tunangannya ternyata seorang pemuda yang menarik hatinya.
200
Tak dapat disangkal pula bahwa diapun suka dan bangga mempunyai tunangan seperti Thio Wi Liong ini. Akan tetapi ia marah dan kecewa karena pemuda ini tidak setia terhadap ikatan jodoh yang sudah dilakukan oleh paman pemuda itu dan ayahnya, sehingga di luaran berani menyatakan tidak cocok dengan pertunangan itu. Malah ia marah sekali karena pemuda ini di depannya berani mencela ayah bundanya!
Melihat pemuda itu berdiri sambil memegang dayung tersenyum ganteng sekali kepadanya, Siok Lan makin berdebar hatinya. Kemudian ia membuang muka dan memandang ke darat.
"Kurasa........."
"Ya.........?" Wi Liong mendesak melihat gadis itu ragu-ragu.
"Kau ini.........seorang pemuda yang terlalu baik hati akan tetapi........"
"Akan tetapi apa.........? Teruskan......"
"Akan tetapi......... bodoh, sombong dan tidak setia!"
Wi Liong melengak, kemudian mukanya menjadi merah sekali. Ia mendongkol juga. Ingin ia memaksa gadis itu menengok memandangnya, akan tetapi gadis itu tetap menghadapi daratan dan sedikitpun tidak mengerling kepadanya.
"Hemm, begitukah........? Kau maksudkan aku tidak setia terhadap pertunanganku dengan gadis bernama Kwa Siok Lan yang selama hidupku belum pernah kulihat itu? Bu Beng Siocia (Nona Tiada Nama), kau tidak adil! Andaikata kau yang menjadi nona yang ditunangkan dengan seorang pemuda yang selama hidupmu belum pernah kaulihat, apakkah kau juga akan suka hati? Aku tidak melanggar kesetiaan, karena di dalam hati aku merasa belum ada ikatan sesuatu dengan gadis yang dipaksa menjadi tunanganku itu. Akan tetapi terhadap kau....... aku......."
"Sttt. diam! Kulihat susiok di sana!" kata gadis itu sambil melambai ke darat. Wi Liong menengok dan betul saja, ia melihat kakek muka merah itu sudah berada di darat seorang diri. "Kita berpisah di sini......" bisik Siok Lan.
"Akan tetapi......... ke mana aku harus mencarimu kelak.........?"
"Kau masih bertunangan, untuk apa mencariku? Kalau kau sanggup memutuskan tali perjodohanmu dengan gadis she Kwa itu. kelak pasti kita saling bertemu......" Ia berbisik lalu disambungnya keras-keras, "Hayo dayung ke pinggir!''
Berseri wajah Wi Liong. "Betulkah?" bisiknya. "Baik, aku akan memutuskan pertunangan itu, kemudian akan kucari kau!" Ia lalu mendayung perahunya ke pinggir. Sebelum perahu menempel daratan, Siok Lan berbisik pula.
"Aku mendarat dan sini jangan kau ke pinggir, tak usah kau menemui susiok!" Dalam kata-kata ini terkandung permintaan yang amat sangat sehingga Wi Liong berdiri mematung, tidak mendayung perahunya lagi. Adapun Siok Lan dengan gerakan lincah ringan, melompat seperti seekor burung
201
melayang ke darat di mana susioknya, See-thian Hoat-ong. kakek gagah perkasa yang berpakaian baju perang itu, telah menanti dengan muka girang.
"Syukur kau telah dapat terlepas dari cengkeraman musuh!" kata kakek itu menyambut kedatangan Siok Lan. "Mengapa dia tidak ikut ke sini? Apakah dia yang telah menolongmu? Pemuda itu sungguh lihai!"
Karena gadis itu meminta dengan suara mengandung penuh permohonan, Wi Liong merasa tidak enak untuk menolak, maka iapun cepat-cepat mendayung perahunya ke tengah lagi dan sebentar saja perahunya menghilang di sebuah tikungan. Gadis aneh, benar-benar aneh sekali, akan tetapi menarik! Anehnya itukah yang menjadi daya paling menarik? Kemudian ia teringat akan gadis yang seorang lagi, yang agak hitam manis, gadis yang oleh gurunya, Pak-thian Koai-jin. hendak dijodohkan dengan dia! Gadis itu kini tertawan musuh, juga wanita gagah Tung-hai Sian-li. Mereka ini, dua orang wanita dan tiga orang kakek aneh, seperti juga gadis langsing yang aneh itu, adalah orang-orang kang-ouw yang mengagumkan. Orang-orang gagah yang tidak mau diam membiarkan, para penghianat bangsa mempergunakan kedudukan untuk memeras rakyat. Mereka ini memang patut disebut pendekar-pendekar perkasa, karena bukankah gurunya juga memberi petunjuk bahwa kalau dia hendak memilih jalan benar, harus ia bersatu dan membela rakyat jelata?
"Aku harus menolong mereka," pikirnya. "Dia bersama susioknya si muka merah itu tentu kembali ke kota raja juga. Di sana berbahaya, ada Kun Hong yang lihai sekali. Aku harus membantunya menolong kawan-kawannya yang tertawan." Dengan pikiran ini. Wi Liong lalu mendayung perahunya cepat-cepat ke depan, kemudian iapun mendarat dan menuju ke kota raja yang temboknya sudah kelihatan dari tempat itu.
Adapun Siok Lan begitu bertemu dengan See-thian Hoat-ong, segera bertanya apa yang telah terjadi semenjak mereka berpisah.
"Berbahaya sekali........." kata See-thian Hoat-ong sambil menggeleng kepalanya. Kemudian ia menceritakan pengalamannya. Seperti telah dituturkan di bagian depan. See-thian Hoat-ong, Pak-thian Koai-jin Lam-san Sian-ong. Tung-hai Sian-li. dan Pui Eng Lan, terpaksa melarikan diri karena pasukan Mongol menyerang mereka dengan hujan anak panah. Mereka lari turun gunung dan terus ke selatan. Mereka bermaksud untuk memasuki kota raja melalui sungai dan mencoba menyelamatkan Siok Lan yang tertawan. Tukang perahu yang ternyata mata-mata Mongol itu menyeberangkan mereka, akan tetapi setelah tiba di tengah sungai, tukang perahu itu melompat ke dalam air dan menyelam. Rupa-rupanya memang sudah diatur lebih dulu karena begitu tukang perahu melompat ke air. dari kedua seberang sungai datang banyak perahu yang ditumpangi oleh pasukan Mongol. Belasan orang serdadu Mongol ahli renang melompat ke dalam air menyelam dan menyerang perahu itu dari bawah. Perahu itu mereka balikkan dan lima orang gagah itu tidak berdaya sama sekali. Mau melompat, melompat ke mana? Daratan masih terlampau jauh. Terpaksa mereka melompat ke air dan segera dikeroyok oleh banyak orang serdadu yang pandai bermain di air.
Celakalah Pui Eng Lan dan Tung-hai Sian-li. Mereka lihai sekali kalau di darat, akan tetapi di air. mereka tak berdaya dan sebentar saja mereka telah dapat ditawan dalam keadaan setengah pingsan. Sungguh menyedihkan. Apa lagi bagi Tung-hai Sian-li seorang tokoh besar di dunia kang-ouw begitu mudah tertawan oleh serdadu-serdadu Mongol yang kalau di darat, biar ada limapuluh orang sekalipun tak mungkin akan dapat menawannya!
202
Tiga orang kakek itu biarpun tak boleh dibilang ahli. namun masih dapat berenang, maka serdadu-serdadu itu mana dapat menangkap mereka? Beberapa orang serdadu yang berani mendekat, tewas oleh pukulan-pukulan mereka dan sambil mengikuti arus air, tiga orang kakek ini akhirnya berhasil mendarat. Akan tetapi mereka tidak berdaya sama sekali untuk menolong Tung-hai Sian-li dan Pui Eng Lan yang sudah dibelenggu dan dibawa pergi dengan perahu oleh para serdadu.
Demikianlah pengalaman yang dituturkan oleh See-thian Hoat-ong. "Pak-thian Koai-jin tidak sabar lagi, langsung mengejar ke kota raja untuk menolong muridnya." berkata kakek muka merah itu. "Lam-san Sian-ong mengawaninya. Aku menanti di sini kalau-kalau Tung-hai Sian-li atau nona Pui itu muncul, karena ketika kami bertiga mati-matian berusaha mendarat, mereka yang tertawan sudah tidak ada lagi. Aku sudah mencari-cari di sekitar sini. khawatir kalau- kalau kawan-kawan yang tertawan tidak dibawa ke kota raja. Akan tetapi menurut beberapa orang nelayan yang melihatnya, memang Tung-hai Sian-li dan nona Pui dibawa ke kota raja."
"Susiok kita harus menolong dia............" kata Siok Lan.
"Ibumu.........?”
Siok Lan mengangguk, lalu berkata pasti, "Kita harus menolong dia dan membawanya ke Poan-kun!"
See-thian Hoat-ong memandang tajam, lalu menarik napas panjang dan berkata. "Alangkah baiknya kalau usahamu berhasil. Akan tetapi aku amat menyangsikannya. Ibumu itu terkenal berwatak keras seperti baja, kemauannya tak dapat dirobah lagi........."
Mereka lalu melakukan perjalanan cepat, kembali ke kota raja untuk berusaha menolong Tung-hai Sian-li dan Pui Eng Lan yang tertawan.
Semenjak dunia berkembang, cinta memang merupakan sesuatu yang amat berpengaruh. Cinta memegang peran penting sekali dalam kehidupan manusia, menguasai hati manusia sepenuhnya, baik ia seorang bodoh atau pintar, jahat atau baik. Demikian besar pengaruh cinta kasih terhadap manusia sehingga ia kadang- kadang bahkan mengalahkan watak. Orang bodoh sewaktu-waktu bisa menjadi cerdik orang pintar bisa menjadi tolol, orang jahat bisa berbuat kebaikan sebaliknya orang baik bisa melakukan perbuatan jahat, ini semua gara-gara cinta!
Kam Kun Hong adalah seorang pemuda yang biasanya memandang rendah kaum wanita. Melihat wanita baginya sama dengan melihat boneka-boneka cantik yang adanya hanya untuk ditimang-timang kemudian dibuang setelah bosan. Atau seperti kembang-kembang segar yang adanya hanya untuk dipetik kemudian dibuang setelah layu. Wataknya yang tidak baik ini terutama sekali adalah pengaruh dari watak dua orang gurunya yang mendidiknya sejak ia kecil, yaitu Tok-sim Sian-li wanita cabul itu dan Bu-ceng Tok-ong tokoh yang terkenal paling mbocengli (tidak tahu aturan)! Kemudian gurunya yang terakhir, Thai Khek Sian yang juga seorang manusia iblis berwatak rendah dan cabul. Ini semua masih ditambah lagi oleh lingkungan atau perhubungannya dengan orang-orang yang memang tidak bersih pikirannya.
Sudah banyak wanita yang dikenal Kun Hong, yang dipermainkannya seperti orang mempermainkan boneka atau kembang. Dia pemuda pembosan. Akan tetapi aneh bin ajaib, begitu bertemu dengan
203
Pui Eng Lan, tak sedetikpun ia dapat melupakan wajah yang manis itu, tak dapat ia mengusir bayangan senyum gadis itu, kerlingnya yang tajam, lesung pipit di ujung bibirnya.
"Aku harus mendapatkan dia!" Berkali-kali pemuda ini mengambil keputusan. "Aku bisa mati karena rindu kalau tidak bisa mendapatkan dia!"
Oleh karena itu, dapat dibayangkan betapa gembira hatinya ketika ia mendengar bahwa gadis pujaan hatinya itu telah tertawan, bersama Tung-hai Sian-li! Cepat ia mendatangi tempat tahanan mereka dan melarang semua orang mengganggu dua orang tawanan itu, terutama sekali si gadis. Biarpun baru sebentar di kota raja, namun Kam Kun Hong sudah mempunyai pengaruh dan kekuasaan besar sekali. Ini bukan hanya karena dia datang sebagai wakil Thai Khek Sian, akan tetapi terutama sekali karena semua orang sudah menyaksikan sendiri betapa lihatnya pemuda ini. Apa lagi melihat betapa Tok-sim Sian-li dan Bu-ceng Tok-ong, tokoh-tokoh yang amat terkenal di antara pasukan-pasukan penjaga Mongol, bersikap demikian takut-takut terhadap Kun Hong.
Kekuasaan pemuda, ini menguntungkan Tung-hai Sian-li dan Pui Eng Lan. Oleh larangan Kun Hong ini, tak seorangpun berani mengganggu mereka, bahkan Bu-ceng Tok-ong sendiripun tidak berani!
Pada hari ke dua, selagi Pui Eng Lan merenung menantikan nasibnya di dalam kamar tahanan, pintu kamar itu terbuka dari luar. Nona ini mendapat perlakuan baik. Biarpun masih diborgol kaki tangannya, akan tetapi ia berada di dalam sebuah kamar yang bersih, duduk di atas kursi dan di atas meja tersedia makanan dan minuman. Borgol kaki tangannya berantai panjang, tidak menghalangi apa bila ia hendak makan atau minum.. Akan tetapi mana bisa gadis ini mengisi perutnya? Ia hanya menanti datangnya musuh yang hendak membunuhnya sambil mengharapkan munculnya suhu dan kawan-kawannya untuk menolong dia dari kamar tahanan ini. Ia menyesal sekali karena dipisahkan dari Tung-hai Sian-li yang tiada hentinya memaki-maki menantang orang-orang Mongol mengadakan pertandingan secara jujur.
Eng Lan kaget sekali ketika mendengar pintu tahanannya terbuka dari luar. Tak salah lagi. pasti musuh yang datang. Kalau suhunya atau kawan-kawannya yang hendak menolong, tentu datang pada malam hari tidak pada pagi hari seperti itu. Akan tetapi ia tidak takut. Pui Eng Lan tidak mengenal takut. Rasa takut akan bahaya sudah habis dideritanya ketika ia masih berusia enam tahun dahulu, ketika bala tentara Mongol menyerbu ke Tiongkok desanya dihancurkan, orang tuanya binasa dalam rumahnya yang dibakar. Dia lari, lari terus menjauhkan diri dari segala kengerian itu sampai akhirnya dipungut oleh Pak-thian Koai-jin dan menjadi muridnya. Kalau di waktu masih kecil sudah mengalami kengerian seperti itu apa lagi yang dapat mendatangkan rasa takut dalam hatinya? Tidak, Pui Eng Lan tidak kenal lagi terutama sekali tidak takut akan bahaya yang dapat membawa maut.
Mukanya yang agak pucat menjadi merah secara tiba-tiba dan matanya yang indah jeli berapi-api, bibirnya yang manis bentuknya itu merengut.
"Kau?? Mau apa kau datang ke sini? Penghianat, pengecut! Tak usah membuka mulut, kalau mau bunuh lekas bunuh, aku Pui Eng Lan tidak takut!" katanya, menyambut masuknya pemuda tampan itu dengan makian pedas.
Kun Hong tersenyum, senyum mengejek yang sudah menjadi kebiasaannya dan sepasang matanya berseri-seri. penuh godaan dan penuh kegembiraan.
204
"Kalah madu olehmu......" katanya dan pandangannya penuh gairah.
"Kalah apa? Madu bagaimana? Jangan ngaco-belo!"' Eng Lan memang tidak tahu apa yang dimaksudkan oleh pemuda ini.
"Kalah manis!"
"Setan jahanam, siapa sudi mendengar pujianmu? Jangan coba bermain gila di sini!"
"Main gila apa? Memang aku sudah tergila-gila kepadamu. Nona Pui Eng Lan, tahukah kau bahwa selama hidupku baru kali ini aku bertemu dengan seorang gadis yang gagah perkasa, cantik jelita, manis denok, tiada cacad seujung rambut-pun! Adikku yang baik, aku tidak main-main kali ini, aku betul-betul cinta kepadamu. Katakan saja kau suka, aku akan meminangmu untuk menjadi isteriku!"
"Keparat busuk, siapa sudi mendengarkan omonganmu? Kau penghianat dan pengecut, kau menyuruh anjing-anjing Mongol itu menawan aku dan Tunghai Sian-li secara curang, dan sekarang kau masih ada muka untuk pura-pura bersikap manis? Hemm. kaukira aku orang macam apa mudah kautipu dan bujuk?”
"Kau galak, akan tetapi aku lebih suka gadis bersemangat. Kau menuduh orang sembarangan saja. Yang menawanmu memang pasukan kerajaan, akan tetapi apa kau tidak ingat akan perbuatanmu yang amat ceroboh dan menggegerkan kota raja? Kau telah membunuh seorang hartawan she Liu yang mempunyai pengaruh besar. Masih herankah kau kalau kau ditawan? Memang mudah menyalahkan orang, alangkah sukarnya meneliti kesalahan diri sendiri." Sambil berkata demikian, Kun Hong menggerakkan kedua tangannya, terdengar suara pletak- pletok dan belenggu yang mengikat kaki tangan gadis itu putus semua! Bukan main kagumnya hati Eng Lan. Ia sejak malam tadi sudah mengerahkan seluruh lweekangnya untuk mencoba mematahkan belenggu, akan tetapi tambang itu terbuat dari pada kulit binatang yang amat kuat, ulet dan mulur. Sekarang dengan gerakan demikian ringan dan cepat, pemuda ini sudah berhasil memutuskan semua ikatannya. Benar-benar hebat pemuda ini.
Eng Lan mengangkat dadanya. "Memang aku yang membunuh hartawan okpa (jahat) itu. Kau hanya menegur karena aku membunuh, tidak bertanya mengapa aku membunuhnya. Bandot tua she Liu itu karena ingin memaksa enciku menjadi selirnya, telah membunuh enciku dan suaminya berikut seorang anaknya setelah enciku menolak. Coba kau pikir, apa bandot macam itu tidak patut dibunuh?”
"Sudah sepatutnya! Dia harus seribu kali dibunuh!" Kun Hong mengangguk-angguk dengan muka sungguh-sungguh. "Akan tetapi dengar. Aku dan pasukan itu adalah petugas-petugas, penjaga keamanan kota Peking dan sekitarnya. Kau sudah datang bersama kawan-kawanmu dan melakukan pembunuhan atas diri seorang bangsawan kaya, sudah tentu kami menangkapmu."
Eng Lan mengedikkan kepalanya. "Aku yang membunuh anjing tua itu! Kau boleh tangkap aku, boleh bunuh aku. Akan tetapi jangan mengganggu yang lain. Tung-hai Sian-li tidak berdosa, mengapa ikut-ikut ditangkap? Akulah pembunuhnya dan aku siap menerima hukumannya, jangan bawa-bawa orang lain. Lepaskan dia!”
205
Kun Hong mengangguk-angguk. "Kau betul juga. Biar sekarang aku menyuruh orang membebaskan Tung-hai Sian-li. Dan kau juga! Akan tetapi berjanjilah bahwa kau takkan menikah dengan orang lain dan menanti pinanganku!"
Eng Lan kurang memperhatikan kalimat terakhir ini. Dia terlampau heran mendengar ucapan pemuda ini yang hendak membebaskannya, juga Tung-hai Sian-li.
"Membebaskan...... aku......?" tanyanya, matanya terbelalak lebar memandang pemuda itu, tidak percaya.
Kun Hong mengangguk, tersenyum. "Eng Lan. aku cinta padamu. Lebih baik aku menggantung leherku sendiri dari pada melihat dan membiarkan kau dihukum gantung! Aku cinta padamu, masih herankah kau?" Sambil berkata demikian, dengan mata bersinar-sinar dan bibir tersenyum pemuda ini melangkah maju.
Eng Lan melangkah mundur, takut dan ngeri akan apa yang diperbuat oleh pemuda ini kcpadanya, Tiba-tiba, melihat bahwa ia tidak akan dapat melarikan diri lagi, nona ini menjadi nekat. Sambil berseru keras ia menerjang maju, memukul dada pemuda itu sekuatnya. Eng Lan adalah murid terkasih dari Pak-thian Koai-jin, biarpun dia seorang ahli ilmu pedang, namun pukulan tangannya juga lihai dan berbahaya.
Kun Hong mengeluarkan suara ketawa menyeramkan dan sekali ia menggerakkan tangan, ia telah berhasil menangkap pergelangan tangan gadis itu yang lalu dipeluknya. Eng Lan mencoba untuk meronta, namun tak berdaya lagi. Dalam pegangan Kun Hong ia sama sekali tidak kuasa memberontak. Ia menjadi gelisah dan......... menangis!
Aneh sekali. Kun Hong yang biasanya berhati keras dan tidak mengenal kasihan, mendengar tangis Eng Lan tiba-tiba seperti lemas seluruh tubuhnya. Cekalannya mengendur, hatinya penuh rasa kasihan. Tidak tega ia menggoda gadis yang dicintanya ini, tidak ingin ia menyusahkan hati Eng Lan. Ia melepaskan pelukannya dan....... berlutut!
"Eng Lan, maafkan aku.......... jangan khawatir, aku takkan mengganggumu......... maafkan aku, aku cinta padamu........."
Eng Lan menjatuhkan diri di atas kursi, menutupi mukanya dengan kedua tangan dan menangis tersedu-sedu. "Pergi kau! Pergilah.......! Pergiii!!"
Kun Hong berdiri, memandang beberapa lama, menarik napas panjang, lalu berkata.
"Malam ini aku akan membebaskan kau dan Tung-hai Sian-li. Aku tidak mungkin dapat menyusahkan hatimu. Eng Lan. Sementara menanti datangnya malam, kau makan dan minumlah, jangan sampai terkena angin dan jatuh sakit."
Makin keras tangis Eng Lan mendengar ucapan yang halus dan penuh perhatian ini. Ia menangis sampai lama sesudah pintu kamar itu ditutup dan dikunci lagi dari luar. Hatinya tidak karuan rasanya. Ia kagum kepada Kun Hong. pemuda yang amat lihai ilmu silatnya, yang amat pemberani itu. Ia
206
kagum, ia benci setengah mati, akan tetapi ia juga kasihan kepadanya! Pemuda lihai, kurang ajar. jahat, namun......... Eng Lan mulai makan hidangan di depannya!
Malamnya, menjelang tengah malam, pintu kamar tahanannya terbuka dari luar dan masuklah......... Tung-hai Sian-li. Pendekar wanita ini menaruh jari telunjuk di bibir, lalu menghampiri sambil berbisik. "Kita pergi dari sini......."
Eng Lan makin terharu, maklum bahwa pemuda yang jahat itu ternyata memegang janji. Tung-hai Sian-li lalu mendahuluinya, keluar dari pintu. Tidak kelihatan ada penjaga di luar pintu. Eng Lan mengikutinya. Kemudian, setelah melihat suasana sunyi saja. Tung-hai Sian-li dan Eng Lan melompat ke atas genteng rumah gedung yang menjadi tempat tahanan itu, lalu mulai melompat-lompat pergi dari situ.
"Kuntianak dari timur, jangan lari!" Tiba-tiba terdengar bentakan nyaring dan muncullah Tok-sim Sian-li dan Bu-ceng Tok-ong di depan Tung-hai Sian-li dan Pui Eng Lan. Tentu saja dua orang wanita ini kaget sekali, maklum bahwa mereka telah dihadang oleh dua orang musuh yang amat tangguh.
"Siluman beracun, kalau tidak kau, tentu aku yang menggeletak tak bernyawa!" bentak Tung-hai Sian-li dengan kemarahan meluap-luap melihat musuh besarnya kembali telah mencoba menghalangi larinya. Cepat ia mencabut pedang dan menyerang. Tok-sim Sian-li yang memang lebih lihai, tertawa mengejek sambil melompat ke samping.
Akari tetapi tiba-tiba Tok-sim Sian-li terhuyung mundur dan Bu-ceng Tok-ong yang hendak maju juga tersentak kaget dan melompat ke belakang.
"Jangan halangi mereka, biarkan mereka bebas!" kata Kun Hong yang muncul secara tiba-tiba dan tadi mendorong Tok-sim Sian-li dan Bu-ceng Tok-ong.
"Kun Hong! Kau membiarkan mereka lolos?" terdengar Tok-sim Sian-li berseru kaget sekali, juga terheran-heran. Bu-ceng Tok-ong juga heran dan mengomel.
Sementara itu. melihat munculnya pemuda yang menolong mereka, Tung-hai Sian-li dan Pui Eng Lan tidak membuang waktu lagi, terus melompat pergi dan berlari-lari menghilang di dalam gelap malam. Mereka mempergunakan kesempatan ini untuk lari saja oleh karena maklum bahwa apa bila terjadi pertempuran, tanpa dibantu kawan-kawan lain, mereka pasti akan kalah.
Biarpun merasa penasaran, Tok-sim Sian-li dan Bu-ceng Tok-ong tidak berani mengejar.
"Kun Hong., melepaskan mereka berarti melanggar tugas kita yang sudah berjanji hendak membantu pemerintah menghalau para pengacau. Bagaimana kita harus mempertanggung-jawabkan terhadap Hek-mo Sai-ong yang tentu akan melaporkan hal ini ke kota raja!” kata pula Tok-sim Sian-li penuh penyesalan.
"Kita bungkam mulut Hek-mo Sai-ong untuk selamanya kalau dia melapor." kata Kun Hong tidak perdulian.
207
"Biarpun Hek-mo Sai-ong dapat dibungkam, semua pasukan akan tahu belaka bahwa kau sengaja melepaskan tawanan. Apa kaukira mereka begitu bodoh?” Tok-sim mendesak lagi.
"Hayaaa. mengapa ribut-ribut? Kita tinggal pergi, habis perkara," kata Bu-ceng Tok-ong sambil tersenyum masam.
"Tok-ong, kita sudah menerima banyak hadiah dan kesenangan dari orang- orang Mongol, masa belum memperlihatkan jasa lalu ditinggal pergi?" tegur Tok-sim.
"Perduli apa? Mereka boleh mampus!" jawab Bu-ceng Tok-ong.
Tahu akan watak Bu-ceng Tok-ong yang memang paling mbocengli (tidak tahu aturan) dan susah diajak urusan. Tok-sim Sian-li yang hendak mengingatkan Kun Hong berkata lagi kepada pemuda itu. "Kun Hong, anak baik. Boleh jadi kita tidak usah terlalu pusingkan pemerintah Mongol akan tetapi kita harus ingat akan perintah Thai Khek Siansu. Thai Khek Siansu bilang, selama murid keturunan Thian Te Cu dan Gan Yan Ki memusuhi orang-orang Mongol, kita harus membantu orang-orang Mongol dan menghadapi anak murid dua orang musuh lama itu."
"Siapa melanggar perintah suhu? Tung-hai Sian-li dan nona Pui Eng Lan bukan murid dua orang itu." bantah Kun Hong.
"Akan tetapi mereka bersekongkol dengan murid Thian Te Cu. Memang keturunan Gan Yan Ki sekarang menyembunyikan diri dan tidak membantu siapa- siapa, kita boleh tidak usah memusingkan dia, akan tetapi harus diingat bahwa murid Thian Te Cu, pemuda she Thio itu telah membantu rombongan yang mengacau di sini. membantu pembunuh-pembunuh kakek Liu. Pembunuhnya sudah tertawan, akan tetapi kau membebaskannya........."
"Cukup! Aku sengaja membebaskannya, siapa melarang!" Kun Hong membentak marah dan bekas guru-gurunya tidak ada yang berani berkelisik. "Aku......... aku cinta kepada gadis itu. Aku akan mencari ayah untuk......... untuk mengatur perjodohanku dengan dia........."
Merah muka Tok-sim Sian-li, dan terdengar Bu-ceng Tok-ong tertawa bergelak.
"Ha-ha-ha-ha cinta bisa membikin dunia jungkir-balik! Aku mencinta Tok-sim., Tok-sim mencinta Kun Hong, Kun Hong mencinta nona Pui dan nona Pui mencinta siapa?”
"Dia tentu mencintaiku!" potong Kun Hong, matanya bersinar, siap untuk marah kalau ada yang berani menyangkal.
"Tidak bagus kalau begitu. Urusan akan berhenti di sini saja, tidak ramai lagi, tidak menggembirakan. Selama ada keruwetan dan keributan, baru ada kegembiraan. Kalau Kun Hong sudah jatuh cinta dan terbalas, untuk apa aku lama-lama di sini bengong melihati orang asyik mesra? Aku mau pergi saja!" Setelah berkata demikian, kakek yang wataknya aneh ini lalu melompat pergi, didiamkan saja oleh dua orang kawannya.
"Akupun malam ini juga hendak mencari ayah di Kun-lun-san." kata Kun Hong sambil berkelebat pergi pula.
208
Tok-sim Sian-li berdiri bengong. Tak terasa lagi dua butir air mata mengalir turun di atas pipinya. Hatinya perih, penuh sesal, penuh iri. penuh cemburu. Kebenciannya terhadap Tung-hai Sian-li meluap-luap.
"Siluman betina dari timur!" bisiknya sambil menggigit gigi saking gemas dan sakit hati. "Dahulu kau datang merampas Kwa Cun Ek dari tanganku, merobek luka hatiku. Sekarang kau datang lagi bersama Pui Eng Lan yang mencuri hati Kun Hong kekasihku kau menghancur-leburkan hatiku. Kalau aku tidak dapat membelek dadamu dan mencabut jantungmu, sampai matipun aku akan menjadi setan penasaran!" Setelah menyumpah-nyumpah dan memaki-maki, Tok-sim Sian-li juga pergi dari situ. Untuk apa lebih lama berada di kota raja membantu Kaisar Mongol kalau di situ tidak ada Kun Hong di sampingnya? Ia hendak kembali ke Pulau Pek-go-to, hendak minta keadilan kepada Thai Khek Sian. hendak membujuk Thai Khek Sian mempergunakan pengaruhnya yang masih kuat atas diri pentolan Mo-kauw itu, agar supaya Thai Khek Sian melarang Kun Hong berjodoh dengan Pui Eng Lan!
Pegunungan Kun-lun adalah daerah yang amat luas. Panjangnya meliputi daerah Propinsi Cinghai memanjang ke barat sampai ke Tibet. Jarang ada orang kelihatan di daerah liar ini, kecuali para pertapa yang memang selalu mencari tempat-tempat sunyi seperti itu. Bahkan di sebuah di antara puncak-puncak Pegunungan Kun-lun-san, terdapat kelenteng besar yang merupakan kompleks perumahan para tosu dari Kun-lun-pai, partai persilatan yang sudah terkenal di dunia kang-ouw.
Kam Kun Hong berlari-lari di lereng Pegunungan Kun-lun-pai dengan wajah gembira sekali. Wajahnya yang tampan berseri-seri. rambutnya yang hitam tebal itu digelung ke atas. diikat saputangan putih, membuat mukanya nampak bundar putih tampan sekali, matanya bersinar-sinar. Hatinya gembira melihat pegunungan yang sudah amat dikenalnya ini. Ia pernah dahulu tinggal di puncak Kun-lun-san, di dalam kelompok perumahan Kun-lun-pai bersama ayahnya. Seng-goat-pian Kam Ceng Swi. Belasan tahun ia meninggalkan tempat ini, semenjak ia diculik oleh Tok-sim dan Tok-ong. Tigabelas tahun ia tidak bertemu dengan ayahnya. Kadang-kadang ia merasa rindu juga, akan tetapi kadang-kadang ia tidak ingin bertemu dengan ayahnya.
Entah mengapa. Akan tetapi kali ini dengan penuh harapan ia mendaki Bukit Kun-lun untuk dapat bertemu dengan ayahnya. Tidak hanya karena rindu, terutama sekali untuk mengajukan sebuah permintaan, yaitu meminang Pui Eng Lan murid dari Pak-thian Koai-jin. Dia sendiri tidak tahu di mana tempat tinggal nona itu atau gurunya, akan tetapi ia percaya bahwa ayahnya tentu akan mengetahuinya. Ayahnya amat luas pengalaman dan pergaulannya, mustahil tidak tahu di mana tinggalnya Pak-thian Koai-jin, kakek kang-ouw berpakaian pengemis, bertubuh kecil pendek, matanya besar, nakal dan senjatanya juga aneh, mangkok butut dan tongkat bambu itu.
Ketika tiba di lereng di mana dahulu Tok-sim Sian-li dan Bu-ceng Tok-ong menculik dia dan Wi Liong, hari telah menjelang senja. Kun Hong berhenti dan merenung. Seakan-akan baru kemarin saja terjadinya hal itu. Masih terbayang di depan matanya ketika ia berkelahi dengan Wi Liong. Masih teringat ia ketika Pak-thian Koai-jin mempermain-mainkannya dan mau mengambil murid padanya.
"Orang muda dari mana dan siapa nama yang datang ke tempat sunyi ini?" tiba-tiba terdengar orang menegur sampai Kun Hong menjadi kaget. Dari cara orang ini datang begitu tiba-tiba tanpa ia melihatnya, sudah dapat diduga oleh Kun Hong bahwa orang ini tentu memiliki kepandaian tinggi. Dia seorang kakek kurus bermata sipit, jenggotnya sedikit, tak terpelihara, rambutnya digelung ke atas.
209
Dia tidak membawa apa-apa, hanya di punggungnya tergantung sebuah tempat arak terbuat dari kulit buah waluh yang dikeringkan.
Karena berada di tempat perguruan ayahnya. Kun Hong tidak berani berlaku lancang dan kurang hormat. Ia segera menjura dan menjawab.
'Siauwte adalah Kam Kun Hong. datang sengaja hendak menghadap ayahku. Kam Ceng Swi. Entah siapakah lo-enghiong ini. apakah seorang anak murid Kun-lun-pai?”
Orang itu melengak, memandang tajam lalu tertawa bergelak. "Kau putera Seng-gwat-pian? Ha-ha-ha, tidak nyana Kam-twako mempunyai seorang putera begini ganteng dan gagah! Eh Kam Kun Hong, ketahuilah, aku Cin Cin Cu sahabat baik ayahmu, seperti adik sendiri. Ha-ha, alangkah senangnya mempunyai seorang keponakan begini ganteng. Pertemuan ini harus dirayakan dengan minum arak wangi." Sambil berkata demikian, orang yang bernama Cin Cin Cu itu menurunkan ciu-ouw (tempat arak) dari punggungnya dan membuka sumbatnya. Betul saja tercium bau arak yang amat harum oleh Kun Hong.
"Maaf, siok-siok (paman). Bukan kurang menghormat, akan tetapi aku ingin sekali cepat bertemu dengan ayah. Nanti setelah bertemu dengan ayah, tentu dengan senang hati aku akan melayanimu minum arak," kata Kun Hong sambil tersenyum.
"'Tidak bisa. tidak bisa. Ayahmu kebetulan tidak berada di sini," kata Cin Cin Cu.
"Tidak berada di sini?" Kun Hong bertanya dengan suara kecewa sekali. "Ke manakah perginya ayah?"
"Kau ikutlah ke sini. minum arak. Tidak ada yang lebih nikmat dari pada minum arak sambil memandang bulan purnama dari tempat sunyi." Kakek itu lalu melompat dan tahu-tahu ia telah duduk di atas sebuah cabang pohon yang menjulang ke atas sebuah jurang yang curam. Cabang itu bergoyang-goyang naik turun dan hanya orang yang berkepandaian tinggi saja berani duduk di tempat seperti itu, dengan melompat dari bawah pula. Sekali cabang itu patah, orangnya tentu akan terjerumus ke dalam jurang yang amat dalam!”Anak muda. kau ke sinilah temani aku minum arak mengagumi bulan sambil mengobrol seenaknya."
Kun Hong merasa ditantang. Ajakan kakek itu hampir sama dengan mencoba kepandaiannya. Di samping ini, juga ia ingin sekali mendengar di mana adanya ayahnya agar ia dapat menyusulnya Pemuda ini mengenjotkan kedua kakinya, mengerahkan ginkangnya dan melayang ke atas cabang itu, duduk di sebelah kanan kakek tadi. Diam-diam Cin Cin Cu kaget dan kagum bukan main karena cabang itu sedikitpun tidak bergoyang! Padahal tadi ketika ia melompat ke situ, cabang itu bergoyang-goyang. Terang bahwa dalam ilmu ginkang, ia malah kalah oleh pemuda ini! Padahal ia adalah seorang ahli ginkang yang sudah mendapat julukan Bu-beng-kwi (Setan Tanpa Bayangan)!
"Bagus, kau pemuda gagah pantas menjadi keponakanku, pantas kuberi hadiah secawan arak harum!" katanya sambil mengeluarkan sebuah cawan arak yang amat kecil dan menuangkan arak dari tempat arak itu ke dalam cawan sampai penuh. Kun Hong menerima cawan penuh arak itu dan tersenyum. Alangkah kikirnya kakek ini. cawan araknya saja demikian kecil, seperempat cawan arak biasa! Akan tetapi karena gembira juga melihat bahwa dari tempat itu ternyata mereka dapat melihat bulan purnama yang baru timbul dari timur, Kun Hong menyatakan terima kasih dan mengirup
210
araknya sekaligus. Akan tetapi, alangkah kagetnya ketika ia merasa betapa arak itu menyengat lidah dan mulutnya. Arak yang demikian keras, demikian harum dan demikian enak belum pernah ia minum selama hidupnya. Hampir ia tersedak.
Cin Cin Cu tertawa ketika menerima cawan yang sudah kosong. "Ha-ha. kaukira arak ini sama dengan arak yang boleh kaubeli dari segala warung? Ha-ha-ha, arak ini telah menyimpan sari cahaya bulan bertahun-tahun lamanya, namanya juga arak sinar bulan! Kau dapat menenggak habis sekaligus tanpa tersedak, itu menandakan bahwa lweekangmu sudah amat tinggi. Kau seorang muda begini lihai, patut minum cawan ke dua!" Kembali ia menuangkan arak ke dalam cawan sampai penuh memberikannya kepada Kun Hong.
Kini tahulah Kun Hong bahwa kakek ini tidak pelit, melainkan araknya yang istimewa dan tidak bisa disamakan dengan arak lain yang boleh ditenggak sampai berpuluh cawan besar. Timbul kegembiraannya, ia menerima cawan itu sambil mengucapkan terima kasih.
"Lo-enghiong patut menjadi pamanku, patut menjadi saudara ayah......."
"Ha-ha-ha. tentu saja. Aku Cin Cin Cu memang dengan Kam Ceng Swi seperti adik dan kakak. Kau selanjutnya boleh menyebutku paman Cin!"
Kun Hong juga tertawa. "Paman Cin benar-benar baik sekali. Tidak tahu apakah kau juga mengerti mengapa ayah turun gunung dan sekarang berada di mana?”
"Ayahmu turun gunung menuju ke Peking untuk membantu perjuangan ornag-orang gagah sedunia yang berusaha membendung pengaruh Mongol yang makin meracuni semangat orang-orang kang-ouw. Kabarnya orang-orang Mo-kauw juga sudah terang-terangan membantu para penghianat dan pembesar Mongol. Oleh karena itu ayahmu tidak dapat menahan hatinya dan sudah mendahului kami turun gunung. Apa lagi ketika ia mendengar bahwa manusia-manusia busuk macam Bu-ceng Tok-ong dan Tok-sim Sian-U juga ikut-ikut menjadi anjing penjilat Bangsa Mongol, malah kabarnya si gembong Mo-kauw Thai Khek Sian juga turut-turut!" Sambil berkata demikian, tiba-tiba Cin Cin Cu menghentikan sikapnya yang tertawa-tawa, sebaliknya kini menatap wajah Kun Hong dengan tajam penuh selidik!
Ucapan itu memang benar merupakan serangan mendadak yang menikam isi dada Kun Hong, akan tetapi pemuda ini dapat mengendalikan diri dan untuk menutupi mukanya yang menjadi merah, ia meneguk arak di dalam cawannya sekaligus ke dalam mulut. Kali ini ia tidak akan tersedak lagi karena ia sudah bersiap menghadapi arak keras itu.
Cin Cin Cu kembali tertawa bergelak. "Ayahmu memang bersemangat sekali, seorang gagah perkasa yang mulutnya saja sering kali bilang tidak perduli urusan dunia., akan tetapi di dalam hatinya selalu membela rakyat kecil yang terus- menerus menjadi korban kekuasaan ganas. Kaupun gagah, mari minum cawan ke tiga. Kau.tahu hanya tokoh-tokoh nomor satu dari Go-bi-pai yang sanggup menghabiskan tiga cawan arak sinar bulan ini sekaligus!'
Kembali cawan diisi penuh dan mendengar ucapan terakhir ini. darah muda dalam tubuh Kun Hong membuat ia pantang mundur. Kalau tokoh-tokoh nomor satu dari Go-bi-pai sanggup, masa ia tidak sanggup? Padahal pandang matanya sudah mulai berkunang dan kepalanya mulai berdenyut-denyut.
211
Dari tempat tinggi itu ia melihat jurang di bawah ternganga seperti mulut hitam yang besar mengerikan. Bulan yang tadinya bundar terang, sekarang masih terang malah lebih terang, hanya bundarnya sudah pletat-pletot dan kadang-kadang kelihatan seperti ada dua atau tiga bertumpuk-tumpuk. Akan tetapi sebagai seorang muda yang tidak mau kalah, Kun Hong malu kalau menolak. Ia menerima cawan itu dan minum habis sekali tenggak, la mengambil keputusan untuk segera melompat turun setelah menenggak cawan ke tiga dan bercakap-cakap di atas tanah. Akan tetapi, begitu isi cawan ke tiga memasuki perutnya, matanya menjadi gelap, denyut di kepalanya makin hebat dan tiba-tiba Cin Cin Cu bergerak melompat dari tempat itu, dari alas cabang pohon.
Kun Hong maklum bahwa kalau dia tidak lekas-lekas turun, ia bisa jatuh terguling. Cepat ia melompat, akan tetapi oleh karena pandang matanya sudah kabur, lompatannya tidak tepat dan tubuhnya melayang ke pinggir jurang!
"Bagus. Cin Cin Cu sicu. terima kasih atas pertolonganmu!'" terdengar suara halus dan sehelai tambang meluncur bagaikan ular panjang, melibat tubuh Kun Hong yang. masih melayang lalu menariknya dengan sentakan kuat sekali ke atas tanah. Tambang ini yang dipegang oleh seorang tosu tua telah menolong Kun Hong dari bahaya terjerumus ke dalam jurang. Kun Hong bergulingan di atas tanah dalam keadaan setengah pingsan. Tosu tua itu lalu terus mengikat kaki tangannya dengan tambang tadi. biarpun ia sudah amat tua namun gerakannya cekatan dan segera muncul lima enam orang tosu yang membantunya. Sebentar saja Kun Hong sudah menjadi orang tawanan yang dibelenggu, tak berdaya sama sekali
Tosu tua tinggi kurus berambut putih ini bukan lain adalah Pek Mau Sianjin atau juga terkenal disebut Kun-lun Lojin, couwsu atau guru besar dari Kun-lun-pai! Beberapa orang tosu lain adalah anak-anak muridnya atau tokoh-tokoh utama dari partai Kun-lun.
Cin Cin Cu menjura dan menarik napas panjang. "Thian memang tidak menghendaki kejahatan merajalela di dunia. Kebetulan sekali selagi aku turun gunung hendak pulang, muncul pemuda ini yang memang kita cari-cari. Kalau ia tidak lekas-lekas mengaku putera Seng-gwat-pian, mana aku bisa mengenal murid Thai Khek Stan?" Ia menggeleng-geleng kepala dan berkata lagi. "Sungguh berbahaya! Dari lompatannya ke atas cabang saja sudah membuktikan bahwa dia benar-benar lihai sekali."
"Syukur dia datang sendiri, tak usah kita susah-susah mencarinya," kata Pek Mau Sianjin, kemudian ia menyuruh murid-muridnya menggusur pemuda itu dan membawanya ke kelenteng dan menjaganya keras-keras.
Siapakah Cin Cin Cu dan mengapa dia dan tokoh-tokoh Kun-lun-pai menawan Kun Hong mempergunakan arak keras yang agaknya dicampuri obat memabokkan?
Cin Cin Cu adalah seorang tokoh Go-bi-pai. partai persilatan yang tidak kalah ternama oleh Kun-lun-pai. Dia ini adalah sute (adik seperguruan) dari Pak-thian Koai-jin dan Hulek Siansu yang menjadi ketua Go-bi-pai. Seperti juga Pak-thian Koai-jin, Cin Cin Cu ini paling gemar merantau, tidak suka berdiam di gunung seperti Hu Lek Siansu dan saudara-saudara yang lain. Cin Cin Cu hidup seperti burung, terbang ke sana ke mari tidak ada yang melarang, hidup sebatangkara bersama guci araknya. Dia seorang yang amat doyan minum arak, maka julukannya Bu-eng-kwi (Setan Tanpa Bayangan) kadang-kadang ditambah dengan ciu-kwi (Setan Arak)! Seperti halnya Pak-thian Koai-jin. Cin Cin Cu
212
juga seorang yang berjiwa patriotik, tidak rela ia melihat tanah airnya dijajah oleh orang-orang Mongol. Akan tetapi menghadapi kekuatan yang maha besar dari bala tentara Mongol, ia bisa apakah? Paling-paling hanya mengganggu dan mengacau saja seperti yang dilakukan oleh pendekar-pendekar lainnya.
Dalam hal ilmu silat, biarpun tidak sepandai Pak-thian Koai-jin, kiranya tidak kalah jauh oleh suhengnya. Hu Lek Siansu, hwesio yang menjadi ketua Go-bi-pai. Ada kelebihannya dari kedua orang suhengnya itu, ialah bahwa Cin Cin Cu mahir ilmu pengobatan.
Ketika melakukan perjalanan ke Peking, Cin Cin Cu mendengar tentang keadaan di sana, mendengar bahwa Thai Khek Sian, gembong pertama dari Mo-kauw telah mengutus seorang muridnya yang pandai bernama Kam Kun Hong, dikawani oleh Bu-ceng Tok-ong dan Tok-sim Sian-li, untuk memperkuat kedudukan kaki tangan Mongol. Ketika mendengar bahwa murid Thai Khek Sian itu adalah putera Kam Ceng Swi yang dulu diculik oleh Bu-ceng Tok-ong dan Tok-sim Sian-li yang kini menjadi murid Thai Khek Sian. Cin Cin Cu cepat-cepat menuju ke Kun-lun-pai. Kam Ceng Swi adalah murid Kun-lun-pai, kalau puteranya sekarang menjadi jago Mongol. bukankah hal itu dapat mencemarkan nama baik partai Kun-lun-pai yang menjadi partai sahabat perkumpulannya?
Cin Cin Cu lebih tahu dari pada Kun Hong mana jalan terdekat menuju ke: Kun-lun, maka dia datang lebih dulu dari Kun Hong, biarpun selisihnya hanya dua hari. Diceritakannya kepada Pek Mau Sianjin tentang pemuda putera Kam Ceng Swi itu. Semua tokoh Kun-lun-pai masih teringat akan Kun Hong yang memang pernah tinggal di situ, maka kagetlah mereka. Terutama sekali Pek Mau Sianjin.
"Kita harus tangkap dia dan beri hukuman. Sayang Kam Ceng Swi sedang turun gunung, kalau.tidak tentu hal ini bisa kita rundingkan dengan dia sebagai ayahnya."
Dua hari Cin Cin Cu melepaskan lelah di puncak Kun-lun-san yang permai. Pada hari ke tiga, ia turun gunung pada waktu senja. Seperti sudah diceritakan, secara kebetulan sekali ia bertemu dengan Kun Hong. Ia belum pernah melihat pemuda ini, akan tetapi begitu mendengar pengakuan Kun Hong, ia cepat mengatur siasat untuk menangkapnya. Tentu saja Cin Cin Cu takkan menggunakan bantuan arak obatnya sekiranya ia tidak lebih dulu mengetahui sampai di mana kelihaian pemuda ini. Itulah sebabnya ia sengaja menguji kepandaian Kun Hong di atas cabang.
Arak yang diminum Kun Hong sebanyak tiga cawan itu bukan arak sembarangan. melainkan arak pilihan yang amat keras dan kuat. Dua cawan pertama tidak dicampuri apa-apa. akan tetapi melihat Kun Hong sudah agak pusing, cawan ke tiga dicampuri obat mabok oleh Cin Cin Cu di luar tahu Kun Hong. Biarpun Kun Hong memiliki kepandaian tinggi, lebih tinggi dari pada kepandaian jago tua Go-bi-pai ini, namun Kun Hong tetap seorang pemuda yang masih hijau. Ia terlalu percaya kepada Cin Cin Cu dan tidak merasa bahwa ia sedang di "loloh" sampai mabok. Kini ia dilempar ke dalam kamar tahanan dalam keadaan terbelenggu dan mabok setengah pingsan. Sampai sehari semalam ia tidak sadar, seperti orang tidur.
Dapat dibayangkan betapa kaget hatinya ketika ia bangun kembali, ia mendapatkan dirinya terbaring di atas pembaringan bambu dalam keadaan terbelenggu. Ia berusaha mengerahkan tenaga melepaskan ikatannya, namun sia-sia belaka. Tambang itu adalah tambang terbuat dari pada benang perak yang amat kuat. Kulit dagingnya akan lebih dulu rusak sebelum ia dapat memutuskan tambang itu. Ia maklum bahwa ia telah tertawan oleh orang pandai. Ia mengingat- ingat.
213
"Cin Cin Cu manusia curang!" tiba-tiba ia memaki keras setelah ia teringat akan pengalamannya sebelum ia pingsan. "Lepaskan aku dan mari kita bertanding secara jantan kalau kau memang laki-laki!" Biarpun ia terikat kaki tangannya, sekali menggerakkan tubuh. Kun Hong sudah melompat ke arah pintu dan begitu saja ia menumbukkan tubuhnya kepada daun pintu.
"Braakkk!' Pecahlah daun pintu itu dihantam pundaknya. Ia jatuh bergulingan keluar dan ketika ia mengangkat muka memandang, ia melihat banyak tosu tua dengan pedang di tangan sudah mengurungnya, dipimpin oleh tosu rambut putih yang masih ia kenal, karena tosu ini bukan lain adalah Pek Mau Sianjin, sucouw-nya atau guru dari ayahnya.
"Sucouw!" teriaknya girang. "Tolong lepaskan ikatan kaki tangan teecu. Teecu ditipu dan ditawan oleh seorang penjahat bernama Cin Cin Cu yang malam tadi berkeliaran di sini.........!"
"Cin Cin Cu adalah sahabat pinto (aku) dan yang membelenggumu bukan dia, melainkan pinto sendiri!” jawab Pek Mau Siannjin dengan suaranya yang halus dan sikapnya yang lemah-lembut, namun sungguh-sungguh dan keren sekali. Di samping kemarahannya, juga kakek tua ini amat kagum menyaksikan pemuda putera Kam Ceng Swi yang dulu merupakan seorang bocah nakal sekarang telah memiliki kepandaian hebat. Bahkan dibelenggu kaki tangannya masih dapat menghancurkan pintu kamar tahanan!
Adapun Kun Hong ketika mendengar kata-kata ini. seketika melompat bangun saking herannya lupa bahwa kaki tangannya masih dibelenggu sehingga biarpun ia dapat melompat berdiri, namun ia terhuyung-huyung dan melompat- lompat seperti seekor monyet untuk menjaga keseimbangan tubuhnya jangan jatuh terguling. Setelah dapat berdiri tegak, ia melihat tosu-tosu tua itu sudah menodongkan ujung pedang kepadanya. Pedangnya sendiri. Cheng-hoa-kiam. ternyata telah dirampas.
"Apa....... apa artinya ini? Mana ayah,mengapa Kun-lun-pai memusuhiku?"
"Kam Kun Hong. tak perlu menyeret nama baik ayahmu. Jawablah, apakah kau benar menjadi murid Thai Khek Sian?” tanya Pek Mau Sianjin.
"Kalau betul mengapa? Berdosakah menjadi muridnya!” Kun Hong mulai penasaran dan suaranya tidak menghormat lagi. Ia mulai memandang rendah kepada sucouwnya yang telah menangkap dia secara curang.
Kun-lun Lojin atau Pek Mau Sianjin. ketua Kun-lun-pai itu menarik napas panjang. "Jadi kau betul murid Thai Khek Sian? Dan kau menjadi wakil gurumu itu untuk membantu para penghianat bangsa dan para bangsawan penjajah Bangsa Mongol?”
"Memang aku mewakili suhu untuk membantu penjagaan keamanan kota raja dari para pengacau. Apa salahnya pula?" jawab Kun Hong berani.
"Memang tidak salah, kalau saja kau bukan anak Kam Ceng Swi." kata ketua Kun-lun-pai itu. "Akan tetapi sebagai keturunan seorang tokoh Kun-lun-pai. perbuatanmu itu tidak saja berarti merusak nama baik ayahmu, malah kau telah merusak nama baik Kun-lun-pai di dunia kang-ouw. Oleh karena
214
kau putera Kam Ceng Swi. kau terhitung cucu murid pinto dan karenanya kau juga seorang anak murid Kun-lun-pai. Oleh karena inilah maka pinto harus menangkapmu dan menghabiskan riwayat sepak-terjangmu yang benar-benar memalukan itu."
"Susiok, dia telah bercampur gaul dengan orang-orang Mo-kauw. dengan perempuan-perempuan cabul seperti Tok-sim Sian-li, itu saja sudah cukup untuk menjatuhkan hukuman mati kepadanya. Apa lagi ditambah dengan peristiwa-peristiwa yang timbul akibat sepak-terjangnya yang sudah seperti iblis Mo-kauw, suka mengganggu wanita dan sebagainya.........!" kata seorang tosu yang sudah gatal-gatal tangannya untuk segera menjatuhkan hukuman itu.
Ketua Kun-lun-pai itu menarik napas panjang. "Sungguh pinto menyesal sekali. Kau seorang berbakat baik sekarang telah memiliki kepandaian tinggi sekali. Akan tetapi ilmu sesat yang kaumiliki hanya akan menjerumuskan kau ke dalam lembah kehinaan, menyeret nama baik orang tua dan partai. Karena itu. dengan hati berat terpaksa pinto menjatuhkan hukuman mati kepadamu. Kam Kun Hong!"
"Nanti dulu!" teriak Kun Hong marah sekali.
"Hemm, apa kau takut mampus!" bentak tosu keponakan Pek Mau Sianjin yang tadi memperingatkan susioknya tentang keburukan watak Kun Hong.
"Kalian yang takut mampus, masih tanya lagi kepadaku? Kalau kalian gagah dan tidak takut mampus hayo lepaskan aku dan boleh kalian keroyok. Hendak kulihat sampai di mana sih kehebatan Kun-lun-pai. Masa nama besar Kun-lun-pai ternyata sekarang hanya terbukti dengan menawan seorang, pemuda secara curang kemudian membunuhnya seperti orang membunuh ayam? Cih. tidak malukah kalian?”
"Bocah ingusan besar mulut! Berani kau menghina Kun-lun-pai?" teriak tosu tadi yang bernama Ban Heng Tosu. murid keponakan Pek Mau Sianjin. Guru dari Ban. Heng Tosu ini adalah seorang suheng dari ketua Kun-lun-pai itu. atau kakak seperguruannya, yang suka merantau.
Akhirnya suheng ini meninggal di perantauan, meninggalkan surat untuk Pek Mau Sianjin agar suka memelihara muridnya yaitu Ban Heng Tosu yang membawa surat peninggalannya. Tosu ini terkenal keras wataknya la membentak Kun Hong berbareng menusuk dada pemuda itu dengan pedangnya. Gerakannya cepat bukan main sampai-sampai Pek Mau Sianjin tidak sempat mencegahnya Akan tetapi secepat-cepatnya gerakan Ban Heng Tosu. Kun Hong lebih cepat lagi. Biarpun kedua tangan dan kakinya dibelenggu, ia berhasil miringkan tubuh.
"Breettt!" Baju Kun Hong robek di bagian dada.
"Ban Heng. jangan menjatuhkan hukuman sendiri!" bentak Pek Mau Sianjin melihat Ban Heng Tosu yang penasaran melihat tusukannya dapat dielakkan oleh orang muda yang sudah dibelenggu kaki tangannya ini masih melanjutkan serangannya.
"Bleekkk........ aauuukkkhh!" Cepat sekali terjadinya hal yang aneh dan membuat semua orang tertegun ini. Ketika pedang di tangan Ban Heng Tosu sudah menyerang lagi, tiba-tiba tubuh Kun Hong melayang dan pemuda ini telah mengirim tendangan yang dilakukan dengan dua kaki, tepat mengenai dada tosu sombong itu. Ban Heng Tosu terlempar ke belakang dan menggeletak tak
215
bergerak lagi, dari mulutnya keluar darah. Sedangkan Kun Hong yang melakukan tendangan dalam posisi seperti itu juga tertolak ke belakang dan jatuh seperti balok pohon dilempar.
Pek Mau Sianjin cepat menghampiri Ban Heng Tosu dan memeriksa keadaan murid keponakan ini, Cepat ia mengeluarkan obat bubuk. dicekokkan ke dalam mulut tosu yang sudah mau mati itu, lalu mengurut-urut dadanya beberapa lama.
"Ia terluka hebat, sukur tidak akan tewas," kata ketua Kun-lun-pai akhirnya sambil bangkit berdiri memandang Kun Hong yang kini masih rebah di atas lantai dengan ujung banyak pedang ditodongkan ke tubuhnya. Sedikit saja ia bergerak tentu tubuhnya akan menjadi bulan-bulan banyak pedang para tosu itu.
"Kau terlalu berbahaya.........." kata Pek Mau Sianjin. akan tetapi dalam suaranya terkandung rasa kagum. "Kau terlalu lihai dan terlalu jahat, karena itu terpaksa pinto tidak segan menangkapmu mengandalkan arak Cin Cin Cu. Kam Kun Hong, orang seperti engkau ini kalau dibiarkan hidup, selain akan mencemarkan nama baik orang tua dan partai, juga akan mendatangkan banyak kesengsaraan bagi rakyat." Ketua Kun-lun-pai ini menoleh kepada murid- muridnya. "Ikat dia di Kim-kio (jembatan emas)!"
Kun Hong lalu diseret dan dibawa ke jembatan emas yang dimaksudkan ketua partai itu. Jembatan emas ini adalah sebuah jembatan terbuat dari pada kayu kuning yang melintang di atas jurang yang amat dalam sampai tidak kelihatan dasarnya. Di tengah jembatan ini terdapat tiangnya dan inilah tempat latihan ginkang juga tempat menghukum murid-murid murtad. Di samping partai Siauw-lim-si yang amat keras terhadap murid-murid yang menyeleweng, Kun-lun-pai merupakan partai ke dua yang amat berdisiplin dan tak kenal ampun. Pengurus- pengurus Kun-lun-pai selain dipilih seorang yang berdisiplin dan menjunjung tinggi panji kepartaian.
Nama baik partai adalah nomor satu, lebih berharga dari pada nyawa sendiri, apa lagi nyawa murid menyeleweng yang akan mencemarkan nama partai. Biasanya, kalau ada murid yang menyeleweng dan sudah dijatuhi hukuman mati, ketuanya sendiri yang melakukan hukuman itu, yakni dengan cara membunuh si murid penyeleweng di atas jembatan emas (kiru-kio) itu. Akan tetapi oleh karena ketua Kun-lun-pai adalah seorang pendeta To yang mencucikan diri, cara membunuhnya juga tidak menusuk dengan begitu saja, melainkan dengan cara menyambitkan pedang pusaka dari jarak jauh ke arah dada yang terhukum!
Untuk menghukum Kun Hong, Pek Mau Sianjin sudah memegang pedang pusaka Kun-lun-pai. berdiri dalam jarak seratus langkah dari tempat di mana Kun Hong sudah diikat erat-erat pada tiang jembatan.
Sebelum melempar pedang Pek Mau Sianjin mengeluarkan suara keren sebagai keputusan hukuman. ”Kam Kun Hong. kau sebagai putera Kam Ceng Swi berarti anak murid Kun-lun-pai, akan tetapi kau telah mencemarkan nama baik Kun-lun-pai dengan menjadi rnurid orang-orang Mo-kauw dan terutama sekali oleh perbuatanmu membantu penjajah asing Bangsa Mongol. Oleh karena itu demi nama baik Kun-lun-pai yang kami junjung tinggi melebihi segala apa. kami mengambil keputusan untuk menghukum mati kepadamu agar bahaya kecemaran nama partai lebih lanjut dapat dilenyapkan. Kam Kun Hong pinto (aku) atas nama Kun-lun-pai hendak melakukan hukuman atas dirimu, bersiaplah!"
216
Pek Mau Sianjin sudah mengangkat tangan yang memegang pedang Kun Hong yang sejak tadi mencoba untuk mengerahkan tenaga dan melepaskan diri dari ikatan ternyata sia-sia belaka karena ikatan itu kuat sekali, kini sudah tidak melihat jalan keluar. Ia tenang-tenang saja memandang ketua Kun-lun-pai dengan tajam, sama sekali tidak gentar menghadapi maut yang bersembunyi di balik ujung pedang pusaka yang setiap saat akan menembusi jantungnya! Para tosu Kun-lun-pai diam-diam memuji. Jarang sekali ada anak murid Kun-lun-pai dihukum mati. karena belum tentu tiga tahun sekali terjadi penyelewengan-penyelewengan, akan tetapi anak murid lain yang menghadapi maut tentu akan menjadi pucat atau setidaknya meramkan mata. Pemuda ini sama sekali tidak demikian! Dia menghadapi kematian dengan mata mendelik dan bibir tersenyum mengejek!
"Murid iblis tentu saja sudah bukan manusia lagi........." kata seorang tosu.
"Dia hebat betul, sayang menyeleweng....” kata seorang tosu tua sambil menarik napas panjang.
"Kasihan sekali Seng-gwat-pian Kam Ceng Swi......." kata lagi tosu ke tiga.
Ketika Pek Mau Sianjin melangkah mundur tiga tindak, semua tosu berdiam dan semua mata ditujukan ke arah Kun Hong. Semua orang tahu bahwa kakek ketua Kun-lun-pai itu hendak melakukan gerakan Sin-liong-hian-bwe (Naga Sakti Mengulur Ekornya), yaitu ilmu pedang yang dilakukan dengan jalan menimpukkan pedang sambil memutar tubuh. Gerakan ini hanya dapat dilakukan oleh jago-jago kelas utama dari Kun-lun-pai karena pedang jauh sekali bedanya dengan senjata timpuk semacam piauw dan lain-lain. Dengan penggunaan ilmu lweekang tinggi serta latihan yang bertahun-tahun, pedang yang ditimpukkan ini akan meluncur seperti anak panah dan akan mengenai sasarannya dengan ketepatan seratus kali timpuk seratus kali kena!
Akan tetapi pada saat itu, terdengar bunyi keras" tar! tar! tar!" diikuti seruan. "Suhu. tunggu dulu. Jangan bunuh dia.........!"
Bayangan orang berkelebat dan Seng-goat-pian Kam Ceng Swi sudah berlutut di depan Pek Mau Sianjin! Semua tosu kaget dan khawatir sekali melihat sikap Kam Ceng Swi ini. Sikap iai dapat diartikan merintangi ketua yang hendak menjalankan tugas menghukum, dan ini boleh dianggap membela yang menyeleweng dan ikut berdosa pula! Kam Ceng Swi adalah tokoh Kun-lun-pai yang amat disegani dan disayang oleh para tosu karena dia adalah bekas seorang pembesar Cin yang setia dan berbudi. Di samping ini, sepak-terjang Kam Ceng Swi sebagai seorang pendekar besar telah banyak mendatangkan pujian bagi Kun-lun-pai. Maka semua tosu amat khawatir melihat sikapnya takut kalau-kalau pendekar ini akan mendapat kesalahan dari ketua.
Pek Mau Sianjin mengeratkan keningnya. Kam Ceng Swi merupakan murid tersayang baginya, murid yang kepandaiannya hampir mengimbangi kepandaiannya sendiri oleh karena Kam Ceng Swi berkenan menggerakkan hati Liong Tosu, susioknya yang mengasingkan diri di balik gunung. Kalau bukan Kam Ceng Swi yang merintangi pelaksanaan hukuman ini tentu ia sudah menjadi marah sekali. Namun betapapun besar rasa sayangyna kepada Kam Ceng Swi, rintangan ini benar-benar membuat hatinya tersinggung.
"Kam Ceng Swi kau mau apa menghalangi pinto menurunkan hukuman kepada orang berdosa?" tegurnya.
217
"Suhu, harap ampunkan teecu. Apakah dosa Kun Hong maka hendak dijatuhi hukuman mati? Kiranya teecu sebagai ayahnya berhak mengetahui sebab-sebabnya."
"'Hemmm kau memang tidak tahu ataukah pura-pura tidak tahu? Dia telah menjadi murid orang-orang Mo-kauw, telah membantu Bangsa Mongol dan kau masih bertanya lagi tentang dosa-dosanya?"
"Maaf. suhu. Dia tidak seharusnya dihukum secara anak murid Kun-lun-pai. karena ia bukan murid Kun-lun-pai!" bantah Kam Ceng Swi. "Belum pernah dia diambil sumpahnya sebagai anak murid Kun-lun-pai, bagaimana dia sekarang bisa dikenakan hukuman secara murid Kun-lun-pai?"
Pek Mau Sianjin melengak. Betul juga ucapan ini!
"Akan tetapi. Ceng Swi. kau harus ingat, dia itu puteramu. Kalau dia mencemarkan namamu berarti mencemarkan nama Kun-lun-pai juga!"
”Tidak bisa, suhu. karena....... karena dia itu....... bukan anak teecu!”
Kagetlah semua orang, termasuk Kam Kun Hong sendiri.
"Ayah, jangan kau menyangkal aku sebagai anakmu hanya untuk menolongku!" teriak pemuda ini, penuh keharuan dan kemenyesalan. Ia tidak rela melihat ayahnya membohong merendah, dan bahkan menyangkalnya sebagai anak, hanya untuk menyelamatkannya dari maut.
"Siapa bilang kau anakku?" Kam Ceng Swi berkata ketus. Untung bagiku kau bukan anakku sehingga aku tidak begitu malu mempunyai anak yang menjadi penghianat bangsa!"
"Ceng Swi, dahulu kau tidak bercerita apa-apa dan kami semua menganggap dia betul-betul puteramu yang ibunya sudah meninggal. Coba kauterangkan yang jelas. Kalau dia bukan anakmu. anak siapakah?"
"Teecu juga tidak tahu." kata Kam Ceng Swi dengan keras-keras, sengaja supaya Kun Hong mendengarnya. "Dia masih kecil sekali ketika teecu mendapatkan dia menggeletak dan menangis di samping seorang wanita muda yang sudah tewas dalam sebuah hutan. Wanita muda itu tewas oleh cengkeraman seperti Tiat-jiauw-kang (Ilmu Cengkeraman Besi) di dadanya dan di situ tidak ada tanda-tanda siapa adanya nyonya muda itu. Satu-satunya tanda hanyalah gelang emas dengan ukiran huruf KUN HONG pada lengan kiri anak itu yang teecu bawa setelah teecu mengubur jenazah itu. Sampai sekarang teecu tidak tahu siapakah ayah anak itu dan siapa pula nyonya muda yang agaknya ibunya itu."
Terdengar isak tangis. Semua orang melihat Kun Hong yang menangis terisak-isak. Air matanya membanjir keluar dari sepasang matanya, mengalir turun di atas pipinya tanpa ia dapat menghapus karena kedua tangannya diikat ke belakang. Baru sekarang Kun Hong menangis, betul-betul menangis karena hatinya terasa perih, terharu dan nelangsa. Sampai ayah bundanya saja tidak ada orang yang mengenal! Jadi dia bukan putera Kam Ceng Swi!
218
"Namaku terukir di gelang, akan tetapi siapa she-ku?" tanyanya dengan suara terputus-putus dan serak. Berkali-kali ia menelan ludah dan menggerak- gerakkan kepala untuk mengusir air mata yang membanjir turun itu dari mukanya.
"Aku tidak tahu siapa she mu. Akan tetapi biarpun kau anak orang lain, semenjak kecil aku memeliharamu, mendidikmu sampai kau diculik orang jahat. Tidak nyana sama sekali bahwa hari ini aku bertemu lagi dengan kau sebagai seorang penghianat yang jahat sekali. Kun Hong, kalau aku tahu akan begini jadinya, lebih baik dulu kau kubiarkan mati di samping ibumu!" kata Kam Ceng Swi yang tak dapat menahan air matanya saking menyesal dan kecewa.
Untuk beberapa lama tidak ada yang membuka mulut. Kemudian Pek Mau Sianjin berkata, "Ceng Swi, setelah ternyata bahwa orang itu bukan anakmu, memang dia tidak boleh dianggap sebagai murid Kun-lun-pai. Akan tetapi dia murid Thai Khek Sian, dia seorang penghianat yang berbahaya. Setelah terjatuh ke dalam tangan kita, masa kita harus melepaskannya begitu saja? Bukankah itu sangat berbahaya?"
"Suhu, biarpun dia hanya anak pungut, akan tetapi teecu merasa akan kelemahan hati sendiri, teecu sudah menganggap dia anak sendiri dan terlalu tebal kasih sayang di dalam hati teecu. Karena inilah teecu harus berdaya sekuat tenaga untuk menyelamatkannya, lahir batin. Kalau suhu sudi mengampuni nyawanya, itu berarti teecu sudah berhasil menyelamatkan dia dari kematian. Akan tetapi tentu saja teecu takkan membiarkan dia terlepas begitu saja, membahayakan keselamatan rakyat. Melihat penjahat tanpa turun tangan berusaha membasminya, sama dengan bersekutu dengan penjahat itu."
"Lalu, bagaimana kehendakmu sekarang? Karena bukan murid Kun-lun-pai, juga bukan anakmu, pinto tidak kuasa lagi mengambil keputusan atas dirinya setelah kau berada di sini. Kau yang lebih berhak" kata ketua Kun-lun-pai dengan suara halus, hatinya merasa kasihan kepada muridnya ini yang bernasib demikian buruk sehingga mempunyai dan menyayang seorang anak pungut yang demikian jahat.
"Perkenankan teecu bicara dengan dia." kata Kam Ceng Swi. Setelah ketua itu mengangguk memberi ijin, ia lalu melangkah maju mendekati jembatan. Hatinya hancur menyaksikan betapa puteranya itu telah menjadi seorang pemuda yang tampan dan gagah sekali, tepat seperti yang sering kali ia bayangkan di kala ia merindukan anak pungutnya ini. Dia begini gagah, begini tampan, mengapa tersesat? Semua gara-gara Bu-ceng Tok-ong yang telah menculiknya, pikir pendekar ini dengan hati geram. Bocahnya ini tidak bersalah. Tentu saja karena mendapat didikan dari orang-orang Mo-kauw, ia menjadi tersesat. Bukan salah anak itu karena terjatuh ke dalam tangan orang-orang Mo-kauw bukanlah kehendaknya. Malah Kun-lun-pai yang bersalah dalam hal ini, karena Kun-lun-pai tidak mampu merampas kembali anak ini dari tangan orang jahat.
"Kun Hong, kau bersumpahlah demi arwah ibumu bahwa sudah bertobat tidak akan melakukan kejahatan seperti yang biasa dilakukan oleh orang-orang Mo-kauw, tidak akan menjadi kaki tangan pemerintah penjajah dan akan membantu perjuangan orang-orang gagah membela rakyat. Bersumpahlah dan aku yang akan menanggung supaya kau diampuni oleh Kun-lun-pai."
Kalau tadinya Kun Hong nampak terharu dan menangis karena mendengar bahwa dia bukan putera Kam Ceng Swi. akan tetapi anak yang ditemukan di tengah jalan di samping mayat ibunya, tidak
219
diketahui pula siapa ayahnya sekarang mendengar ucapan Kam Ceng Swi yang dikeluarkan dengan suara mengandung penuh harapan, pemuda ini tiba-tiba tertawa bergelak. Kelakuannya ini demikian aneh sampai semua tosu memandangnya, juga Seng-goat-pian Kam Ceng Swi melengak.
"Ayah. kau tadi bilang bahwa kau bukan ayahku, bahwa aku anak yatim piatu yang tidak diketahui siapa ibu bapaknya. Akan tetapi kenapa kau bersusah- payah hendak menolongku? Orang-orang Kun-lun-pai berlaku pengecut, menangkap aku secara menggelap dan memalukan. Mau bunuh boleh bunuh, siapa sih takut mati? Orang-orang hanya bisa menumpahkan kesalahan kepadaku. Aku dibawa ke Kun-lun-pai bukan kehendakku, kemudian diculik Bu-ceng Tok-ong dan menjadi murid Thai Khek Sian, masa itu salahku? Suruh aku bersumpah? Ha-ha-ha. lucu sekali, aku boleh melakukan apa saja sesuka hatiku, kenapa harus diikat dengan sumpah segala?"
Seorang tosu Kun-lun-pai marah sekali mendengar ini.
"Suheng. untuk apa mintakan ampun bagi manusia macam begitu? Kita basmi saja iblis ini berarti kita menolong banyak orang."
"Nanti dulu! Ucapannya itu. bagaimana jahat terdengarnya, memang ada betulnya. Dia sampai menjadi dewasa, salahku karena aku dahulu yang menolongnya. Dia sampai menjadi murid Mo-kauw, salah Kun-lun-pai karena dulu bocah ini berada di sini dan Kun-lun-pai tidak berdaya merampasnya kembali ketika ia diculik oleh Bu-ceng Tok-ong. Akan tetapi bagaimanapun juga kalau dia tidak mau berjanji, memang berbahaya melepaskan dia......" Seng-goat-pian Kam Ceng Swi kelihatan bingung dan sedih sekali. Melihat keadaan Kun Hong. memang seharusnya demi keamanan pemuda ini dihukum dan ditewaskan. Akan tetapi bagaimana seorang ayah dapat melihat puteranya dibunuh? Di dalam hatinya, ia menganggap Kun Hong seperti anak sendiri.
Pek Mau Sianjin yang berpemandangan awas tahu akan hal ini. Kakek ini berkata lembut. "Muridku, ada jalan pemecahannya, melenyapkan kepandaiannya tanpa melenyapkan nyawanya. Kalau kau setuju pinto akan mematikan hawa thai-yang dalam tubuhnya."
Wajah Kam Ceng Swi berseri. Inilah jalan satu-satunya menyelamatkan anak pungutnya itu, menyelamatkannya lahir batin. Pemuda itu tidak saja takkan terbunuh mati. juga kalau kepandaiannya lenyap, ia akan dapat melakukan kejahatan apakah?
"Suhu bersedia melakukan hal ini, sungguh menjadi bukti lagi akan kemuliaan hati suhu. Teecu menghaturkan banyak terima kasih dan tentu saja teecu menyetujuinya, kalau saja hal ini tidak akan mengganggu kesehatan suhu sendiri." Ilmu untuk mematikan hawa thai-yang adalah ilmu warisan Kun-lun-pai yang amat dirahasiakan dan biasanya hanya boleh diwarisi oleh ketua-ketua Kun-lun-pai atau tokoh-tokoh yang mempunyai kedudukan paling tinggi. Murid-murid biasa, biarpun tokoh seperti Kam Ceng Swi sekalipun, tidak diperbolehkan mempelajarinya. Sebetulnya ilmu ini adalah semacam ilmu pengobatan untuk mengusir hawa di dalam tubuh yang menimbulkan pelbagai penyakit, juga menimbulkan daya kekuatan, adapun cara untuk melakukannya amat sukar, lagi melelahkan dan menghabiskan tenaga lwee-kang. Oleh karena itu, biarpun ia sendiri tidak bisa, akan tetapi Kam Ceng Swi yang sudah pernah melihat guru besarnya dahulu melakukan ilmu ini, menyatakan kekhawatirannya kalau-kalau ketua Kun-lun-pai itu akan menjadi sakit jika menjalankan ilmu ini.
220
"Bawa dia ke lian-bu-thia (ruang belajar silat)," kata kakek itu perlahan kepada Kam Ceng Swi, lalu mendahuluinya pergi ke arah kelenteng besar yang berada di puncak bukit itu diikuti oleh para tosu lainnya.
Kam Ceng Swi menghampiri Kun Hong berdiri memandang pemuda itu dengan kening berkerut dan mata penuh keharuan, kemudian ia memeluk pemuda itu sambil berkata. "Kun Hong. kau tahu betapa besar kasih sayangku kepadamu. Aku melakukan hal ini demi keselamatanmu."
Melihat Kam Ceng Swi. orang yang selama ini ia anggap ayahnya dan yang kadang-kadang ia kenang penuh kerinduan tiba-tiba Kun Hong teringat akan maksudnya mencari ayahnya dan terbayanglah Pui Eng Lan yang manis. Begitu teringat kepada gadis ini, otomatis semua kekhawatiran lenyap, semua urusan terlupa, dan serta-merta ia berkata.
"Ayah. apa benar kau sayang kepadaku?"
"Masih perlukah kau bertanya lagi? Aku sayang kepadamu seperti seorang ayah kepada anaknya sendiri."
"Kalau begitu, harap ayah mencari Pak-thian Koai-jin dan melamarkan murid perempuannya yang bernama Pui Eng Lan untuk aku!"
Kam Ceng Swi melengak dan bengong memandang putera angkatnya. Bocah ini menghadapi urusan besar, sebentar lagi akan kehilangan semua kepandaiannya, akan tetapi yang dipikirkan adalah soal perjodohan! Di samping keheranannya, ia juga merasa terharu sekali.
"Baiklah. Kun Hong. Aku akan melamar dia untukmu. Sekarang kau harus ikut ke lian-bu-thia dan merelakan kepandaianmu yang didapat dari orang-orang jahat. Lebih baik tak berkepandaian namun bersih dari pada berkepandaian akan tetapi kotor. Kepandaian yang dipergunakan untuk kebenaran adalah suatu berkah dan nikmat, akan tetapi kepandaian yang dipergunakan untuk kejahatan adalah suatu kutuk dan awal kesengsaraan." Setelah berkata demikian, Kam Ceng Swi memondong tubuh anak pungutnya yang masih terikat itu dibawanya lari menuju ke lian-bu-thia di mana Pek Mau Sianjin dan tosu-tosu Kun-lun-pai sudah menanti kedatangannya.
Ketika Kam Ceng Swi merebahkan tubuh Kun Hong di tengah lian-bu-thia itu, dengan gerakan tubuhnya Kun Hong berhasil bangkit dan duduk dengan lutut ditekuk ke belakang. Pemuda ini tersenyum memandang ke arah Pek Mau Sianjin. lalu berkata mengejek.
"Tosu tua bangka bau! Alangkah lucunya kalau para tokoh kang-ouw melihat kau menghadapi seorang pemuda yang sudah diikat erat-erat. Ha-ha. biarpun sudah diikat, agaknya aku masih mampu membuat kau tak berdaya. Haa. kau kelihatan takut! Wajahmu yang kurus kering menjadi pucat. Ha-ha-ha! Sungguh tidak patut kau menjadi ketua Kun-lun-pai!"
"Kun Hong, jangan kurang ajar!" bentak Ceng Swi, gelisah melihat sikap putera angkatnya ini.
"Suhu, lebih baik basmi saja manusia iblis ini," bentak lain orang tosu yang menjadi panas perutnya mendengar ejekan Kun Hong. Pemuda itu menoleh dan melihat tosu yang mengusulkan supaya ia dibunuh ini adalah seorang tosu yang mukanya bopeng bekas dimakan penyakit cacar, ia berkata.
221
"Eh. tosu bopeng, kau berani bilang begitu apakah juga berani melawanku? Coba kaulepaskan ikatan ini, tanggung dalam sepuluh jurus aku sudah dapat membuat kau lebih bopeng lagi!"
"Kun Hong. apa kau berani melawan aku?" bentak Kam Ceng Swi sambil melompat maju mendekati pemuda itu. Kun Hong menjadi serba susah. Ia menundukkan mukanya dan berkata perlahan.
"Kau bukan ayahku, akan tetapi kau telah berlaku sebagai ayahku sendiri, kau baik dan sayang kepadaku. Bagaimana aku berani melawanmu?”
"Kalau begitu kaupun harus taat kepadaku. Kun-lun-pai mengampuni kau akan tetapi kau harus rela membuang kepandaianmu yang sesat. Kau tahu, untuk mematikan hawa thai-yang di tubuhmu, suhu mengorbankan tenaga beliau yang sudah tua. Kau seharusnya berterima kasih atas maksud baik suhu bukan bersikap kurang ajar seperti itu. Atau kau lebih suka mati?” Kam Ceng Swi marah karena ia sudah bersusah payah untuk menolong nyawa anak angkatnya, tidak tahunya yang ditolong malah bersikap demikian kurang ajar. Ia khawatir kalau-kalau ketua Kun-lun-pai akan berubah pikiran dan melanjutkan niatnya semula, membunuh pemuda ini.
Kun Hong menarik napas panjang, akan tetapi ia tersenyum. "Ayah, manusia sudah berani hidup mengapa takut mati? Di dunia ini tidak ada orang baik setiap perbuatan baik setiap pertolongan, merupakan kedok untuk menutupi pamrih yang buruk. Kun-lun-pai hendak menolongku? Mengapa aku ditangkap dengan curang? Pek Mau Sianjin hendak menolongku? Tentu di belakang maksud ini ada niat lebih buruk dan jahat. Akan tetapi kau sudah kuanggap ayahku sendiri aku belum pernah membalas budi biarlah kali ini aku menyenangkan hatimu. Pek Mau tosu tua bangka, kau akan berbuat apa saja atas diriku, silahkan!"
Setelah berkata demikian. Kun Hong meramkan matanya. Kedua kakinya masih ditekuk berlutut karena ia tidak dapat bersila, sedangkan kedua tangannya masih diikat di belakang tubuhnya. Sikapnya ini seperti seorang hukuman yang hendak menjalani hukum potong leher!
Pek Mau Sianjin sudah bersiap-siap. ia mengerahkan seluruh tenaga sinkang di tubuhnya sambil meramkan kedua matanya. Uap putih perlahan mengebul dari kepalanya yang agak botak, tanda bahwa hawa Yang di tubuhnya bekerja sekuatnya, kemudian perlahan-lahan uap itu menghilang dan semua tosu yang berada di situ, yang tadinya merasakan hawa panas keluar dari tubuh ketua Kun-lun-pai ini, kini merasa betapa hawa panas itu berubah menjadi dingin sekali. Inilah hawa sakti Im yang keluar dari tubuh kakek itu. Pek Mau Sianjin sedang mematangkan perubahan-perubahan hawa di tubuhnya agar siap melakukan mematikan hawa thai-yang dari Kun Hong. Perubahan makin cepat, sebentar panas sebentar dingin dan tiba-tiba kakek itu mengeluarkan seruan keras tangan kanannya bergerak maju dan dua jari tangan ini. telunjuk dan tengah menotok ke arah punggung Kun Hong.
"Plak!!" Dua jari tangan itu menempel di punggung Kun Hong dan seketika pemuda itu menjadi merah sekali mukanya, cepat sekali peluhnya keluar semua dan dari kepalanya mengepul uap putih. Inilah tanda bahwa hawa Yang di tubuhnya sudah dibangkitkan oleh totokan itu. bagaikan api menjadi berkobar-kobar di tubuhnya, panasnya tak tertahankan lagi.
"Uaakkhh!" Kun Hong muntahkan segumpal darah dari mulutnya, kemudian ia mengeluarkan seruan dan............”krekk!" sebagian tambang yang mengikat kedua kakinya putus!
222
Pek Mau Sianjin mengeluarkan seruan kaget sekali. Cepat tangan kirinya bergerak dan dua jari tangannya menggantikan tangan kanan, kini menotok ke arah lambung dekat pusar. Kembali dua jari tangannya menempel di situ dan tenaga Im yang hebat menyerang Kun Hong. Memang inilah kehebatan ilmu pukulan mematikan hawa thai-yang. Mula-mula hawa Yang di dalam tubuh lawan dibangkitkan sampai sehebatnya, kemudian dengan tiba-tiba menyerang dengan hawa Im yang akan meresap ke dalam tulang sumsum dan perubahan yang mendadak ini akan memusnahkan hawa Thai-yang sehingga orang itu akan kehilangan semua lweekamg di tubuhnya dan menjadi seorang yang biasa saja tidak akan mungkin dapat mempergunakan kepandaian silatnya lagi.
Tadi Pek Mau Sianjin kaget menyaksikan hawa Yang di tubuh Kun Hong yang ternyata demikian hebatnya sehingga hawa ini mendatangkan kekuatan luar biasa, dan membuat pemuda itu tanpa disengaja dapat memutuskan sebagian dari tambang yang membelenggu kakinya. Ia tidak tahu bahwa pemuda itu telah mewarisi ilmu yang hebat dari Thai Khek Sian, sehingga tenaga Yang dari Pek Mau Sianjin yang dikeluarkan untuk memancing; atau membangkitkan tenaganya, dapat ia sedot dan bahkan menambah kekuatan hawa Yang di tubuhnya!
Tiba-tiba Kun Hong merasakan pukulan atau totokan pada lambungnya yang mendatangkan hawa dingin melebihi dinginnya salju. Meresap di seluruh tubuhnya membuat ia menggigil. Tubuhnya yang tadinya disaluri hawa panas luar biasa karena hawa Yang di tubuhnya dibangkitkan, sekarang mengalami serangan hawa dingin yang hebatnya bukan kepalang. Ia maklum bahwa hawa ini akan merusak sinkang di tubuhnya, maka cepat-cepat ia mengerahkan tenaganya untuk merobah hawa Yang menjadi hawa Im. Akan tetapi alangkah kagetnya ketika ia mendapatkan kenyataan bahwa ia tidak dapat melakukan perobahan itu, karena tenaga Im yang disalurkan dari totokan Pek Mau Sianjin sudah mendahuluinya dan kini sudah terlampau kuat sehingga ia tidak keburu lagi merobah hawa di tubuhnya. Kun Hong berlaku nekat. Biarpun ia maklum bahwa pertarungan antara kedua hawa yang bertentangan di dalam tubuhnya membuat jiwanya terancam, namun tidak ada lain jalan lagi baginya.
Begitu hawa Im dari tangan Pek Mau Sianjin sudah makin menguat, Kun Hong lalu menyedot hawa ini sekuatnya ke dalam tubuhnya. Ia seperti orang kemasukan arus listrik, bulu-bulu dan rambut di tubuhnya sampai berdiri semua dan tiba-tiba dengan teriakan dahsyat semua belenggu di tubuhnya putus dan Pek Mau Sianjin sendiri memekik kesakitan lalu melompat mundur. Melihat ini. Kam Ceng Swi yang khawatir kalau-kalau pemuda itu memberontak dan menyerang Pek Mau Sianjin cepat maju dan memukul anak angkatnya. Akan tetapi ia terkejut sekali. Ketika tangannya mengenai tubuh Kun Hong di bagian dada Seng-goat-pian Kam Ceng Swi merasa tangannya seperti digigit ular berbisa sehingga ia menariknya dan melompat ke belakang dengan muka meringis kesakitan.
"Siancai...... siancai....... baru kali ini pinto bertemu dengan pemuda begini lihai........” kata Pek Mau Sianjin yang cepat menjatuhkan diri bersila sambil mengatur napasnya. Wajahnya pucat sekali dan napasnya empas-empis. tanda bahwa kakek tua ini hampir kehabisan tenaga dan napas.
Sementara itu, Kun Hong berkelojotan di atas tanah sebentar, lalu diam dan rebah dengan muka pucat sekali. Ceng Swi memandang dengan muka pucat pula, lalu dihampirinya pemuda itu. Hatinya lega karena pemuda itu ternyata masih bernapas, biarpun amat lemah. Ia lalu berdiri dan pergi hendak mengambil air untuk diminumkan kepada anak angkatnya.
223
Akan tetapi begitu ia pergi, Kun Hong siuman dari pingsannya. Ia bangun duduk, nampaknya lemas. Seorang tosu. yaitu yang bopeng tadi melihat pemuda ini sudah berhasil melepaskan ikatan dan kini bangun duduk sedangkan Pek Mau Sianjin masih duduk bersila mengatur pernapasan, menjadi khawatir sekali. Cepat ia melompat maju dan menggerakkan pedangnya membabat ke arah leher Kun Hong!
"Plak......... traaanggg!" Pedang itu mencelat, si tosu bopeng melompat ke belakang sambil memegangi tangan kanannya yang sakit sekali. Ternyata tadi Kun Hong telah menggerakkan tangan kiri menyampok, sekali sampok saja ia berhasil membuat pedang itu terlepas. Akan tetapi gerakan ini yang hanya menggunakan sedikit tenaga lweekang, sudah mendatangkan rasa sakit di dadanya sampai- sampai ia menggigit bibir dan menahan keluhannya.
Melihat ini, Ceng Swi sudah berlari cepat datang ke tempat itu. Ia menegur sutenya yang lancang hendak menyerang Kun Hong, akan tetapi diam-diam iapun khawatir karena dari tangkisan tadi masih terbukti bahwa kepandaian anak muda ini tidak lenyap, tenaga lwekangnya masih hebat.
"Jangan ganggu dia, dia sudah terluka hebat......” tiba-rtiba terdengar suara Pek Mau Sianjin yang masih lemah. "Salahnya sendiri. Kalau dia tidak menyedot hawa pukulanku yang ke dua, totokan itu akan membuyarkan thai-yang di tubuhnya dan ia hanya akan kehilangan tenaga di dalam tubuhnya tanpa terluka. Sekarang, tenaganya tidak lenyap bahkan ditambah oleh sebagian dari tenaga hawa pukulan pinto tadi, tenaganya makin hebat. Akan tetapi dia telah menderita luka hebat di jantung dan paru-paru karena bentrokan dua macam tenaga yang berlawanan. Luka ini akan menghalangi dia mengerahkan tenaga lweekangnya. Setiap kali dia mengerahkan tenaga, dia akan terpukul sendiri dan lukanya di dalam dada akan menghebat. Thian Maha Adil, anak itu telah membuat sendiri pencegahnya sehingga dia takkan dapat berbuat jahat tanpa terancam nyawanya oleh luka itu."
Kun Hong menderita kesakitan hebat, namun ia mendengar jelas semua kata-kata ini. Ia mendongkol sekali, akan tetapi juga cemas karena baru saja ia telah mengalami bukti bahwa kata-kata kakek itu benar adanya. Ia meraba-raba dadanya dan diam-diam memaki ketua Kun-lun-pai.
"Kun Hong, kau sudah mendengar sendiri ucapan suhu. Kuharap saja mulai sekarang kau takkan melanjutkan kesesatanmu. Lebih baik menjadi rakyat biasa dari pada menjadi seorang pandai tapi menghianati bangsa sendiri."
Kun Hong tersenyum pahit, lalu berdiri perlahan dan menjura kepada ayah angkatnya. "Ayah, hanya ada dua permintaan dariku, harap ayah penuhi."
"Apa itu? Katakan," jawab Ceng Swi, terharu juga melihat keadaan pemuda yang seperti putus asa ini.
"Pertama, harap kau jangan lanjutkan pelamaranmu kepada nona Pui Eng Lan."
Ceng Swi adalah seorang yang cerdik dan luas pandangannya. Mendengar omongan ini, ia merasa hatinya tertusuk. Ia tahu akan isi hati anak angkatnya. Tentu saja pemuda ini tidak berani lagi mengharapkan perjodohannya dengan murid Pak-thian Koai-jin yang tentu memiliki kepandaian tinggi, sedangkan pemuda itu sendiri sekarang boleh dibilang telah menjadi seorang pemuda yang lemah dan selalu berada di tepi jurang maut. Maka ia mengangguk tanpa kuasa mengeluarkan kata-kata jawabannya.
224
"Ke dua, harap suka beri tahu, di mana dahulu kau telah mengubur jenazah ibu."
Mendengar ini Ceng Swi menjadi makin terharu. Ia melompat dekat dan memeluk leher pemuda itu. "Kau anak tak bahagia......." bisiknya.
"Sebetulnya ada rencanaku membawamu ke sana, marilah kita bersama mengunjungi makam itu......”
"Tak usah. ayah. Biar aku sendiri yang mengunjungi makam ibuku........."
"Kalau begitu, pergilah ke sebuah hutan tak jauh di sebelah selatan kota raja, hutan yang banyak terdapat batu karang berbentuk menara. Makam itu kutandai dengan batu karang menara yang tinggi di mana terdapat tanda senjataku. Carilah."
Kun Hong melepaskan diri dari pelukan ayahnya, memandang kepada Pek Mau Sianjin yang masih duduk bersila, lalu berkata,
"Kau tosu tua tentu sudah puas dapat melukaiku, akan tetapi apakah kau juga masih begitu tamak untuk mengangkangi pedangku?"
Pek Mau Sianjin memberi isyarat kepada muridnya yang membawa Cheng-hoa-kiam, mengembalikan pedang itu kepada Kun Hong sambil berkata. "Pokiam yang baik, berguna sekali bagi seorang penegak keadilan, berbahaya bagi seorang penjahat. Semoga berguna bagimu, orang muda."
Kun Hong menerima pedang itu menyembunyikannya di bawah baju luarnya sehingga tidak kelihatan dari luar. Setelah sekarang ia tidak dapat lagi menggunakan kepandaiannya, untuk apa pedang itu? Lebih baik disembunyikan agar jangan sampai dirampas orang, apa lagi jika bertemu dengan Thio Wi Liong!
"Aku pergi," katanya singkat kepada ayahnya. lalu berjalan perlahan meninggalkan puncak itu. Ia tidak berani lagi menggunakan ilmu lari cepatnya, karena sedikit saja mengerahkan lwee-kang di dalam tubuh, berarti memperhebat luka di dadanya! Kam Ceng Swi memandang putera angkatnya sampai jauh. Setelah Kun Hong menghilang di sebuah tikungan. Seng-goat-pian Kam Ceng Swi menghantam-hantamkan senjatanya itu di udara sehingga berbunyi "tar! tar! tar!" lalu disusul oleh nyanyian-nyanyiannya yang terkenal!
Pek Mau Sianjin menghela napas, maklum betapa hebat kesedihan hati dan kekecewaan muridnya itu. Nasib buruk.......... siapa dapat mengubahnya? Hanya hati yang kuat menerima, hati yang maklum bahwa hidup ini memang merupakan ujian lahir batin, siapa kuat dia menang. Dan baiknya Kam Ceng Swi termasuk orang yang kuat batinnya, maka dihadapinya kesedihan dan kekecewaan itu dengan nyanyian. Pek Mau Sianjin diikuti oleh murid-muridnya memasuki ruangan dalam untuk beristirahat. Sedikitnya membutuhkan waktu satu bulan bagi kakek ini untuk memulihkan tenaganya setelah melakukan totokan-totokan hebat tadi.
Dengan langkah perlahan dan hati-hati Kun Hong keluar dari ruangan belajar silat di Kelenteng Kun-lun-pai. lalu menuruni puncak. Ia harus berlaku hati-hati, karena jalan di situ amat sukar dan berbahaya. Kalau di waktu datangnya, ia dapat berlari-lari dengan mudah. Akan tetapi sekarang,
225
sekali terpelesat ia harus menggunakar ginkangnya dan ini berarti ia akan memperhebat luka di dadanya. Ia benar-benar tersiksa, memiliki kepandaian tinggi tanpa berani mempergunakannya.
"Keparat si tua bangka Pek Mau Sianjin." hatinya memaki. "Kalau aku mendapat kesempatan, akan kucabuti semua tulang-tulang tuamu dari tubuhmu. Awas kau siluman Go-bi Cin Cin Cu! Kelak kuminumi arak sampai pecah perutmu. Awas kau Seng-goat-pian Kam Ceng Swi.......”.
Baru sampai di sini jalan pikirannya, ia mendengar tindakan kaki orang. Pendengarannya amat tajam dan Kun Hong segera memutar tubuhnya. Ia melihat orang yang baru saja menjadi buah pikirannya, Kam Ceng Swi, berlari-lari menyusulnya.
"Kun Hong, kau hendak ke mana?" tanya ayah angkat ini. "Kau terluka hebat, mari kuantar."
"Aku hendak ke mana, apa sangkut-pautnya dengan kau? Aku tidak membutuhkan pengantar?" jawab Kun Hong yang masih panas kepalanya karena mendongkol.
Kam Ceng Swi menundukkan kepalanya. "Aku tahu kau amat marah, akan tetapi semua itu kubiarkan demi kebaikanmu sendiri."
"Hemm, kau angkat aku dari tepi jurang kematian, dulu di waktu kecil dan sekarang pula, hanya untuk melihat aku hidup menderita? Bagus, kelak akan kubalas budimu ini!"
"Kun Hong, kau terlalu! Tak dapatkah kau melihat kenyataan? Aku tak menghendaki balasan, aku tidak perlu menonjolkan jasa, akan tetapi kalau memang hatimu belum rusak betul oleh pendidikan orang-orang Mo-kauw, kelak kau akan insyaf bahwa aku Kam Ceng Swi sesungguhnya sayang kepadamu. Kau lihat ini, selama kau tidak ada, gelangmu ini menjadi kawan yang tak pernah meninggalkan saku bajuku. Sekarang, kau sudah kembali dan pandanganmu terhadap aku sudah tidak selayaknya. Nah, kau ambil kembali gelang ini.'' Kam Ceng Swi melemparkan sebuah gelang emas kecil ke arah Kun Hong yang segera menyambarnya. Pemuda itu memandang gelang yang berada di tangannya, tidak memperdulikan lagi kepada Kam Ceng Swi yang sudah pergi dengan muka muram dan hati penuh kedukaan. Tak lama kemudian terdengar lagi suara senjata cambuknya menjeletar-jeletar dan suara nyanyiannya dari jauh.
Akan tetapi Kun Hong tidak mendengarkannya lagi. Pemuda ini memandang kepada gelang emas kecil yang dipegangnya. Di situ terdapat ukiran dua buah huruf yang diukir amat indah dan halusnya, dua buah huruf yang berbunyi KUN HONG. Hanya benda dan huruf inilah yang menjadi pengenal dirinya, yang membuat ia disebut Kun Hong, tanpa nama keturunan!
Kun Hong mencium gelang yang lengkat pada lengannya ketika ia masih bayi dan ditemukan oleh Kam Ceng Swi. Ia menciuminya dengan air mata berlinang, kemudian ia berkata seperti orang gila. "Kaulah ibu bapaku! Kaulah orang tuaku dan kau yang menciptakan Kun Hong di dunia ini. Ha-ha-ha!"
Sikap ini timbul dari keperihan hatinya. Biarpun Kun Hong semenjak berusia tujuh tahun sudah terjatuh ke dalam tangan Bu-ceng Tok-ong dan Tok-sim Sian-li. kemudian semenjak itu hidup di lingkungan orang-orang yang terkenal sebagai golongan yang tidak mengenal prikebajikan sehingga bocah ini dewasa dalam keadaan kurang bersih batinnya, namun sebagai seorang manusia ia mempunyai perasaan cinta kasih yang dalam terhadap ayah bundanya. Sekarang, mendengar bahwa
226
ayah bundanya tidak ada yang kenal, dan bahwa yang menjadi kawan hidupnya senenjak ia ditemukan hanyalah sebuah gelang itu tentu saja ia amat menyayang benda itu dan menganggapnya sebagai pengganti ayah bundanya.
Selagi ia tertawa sambil berjalan perlahan tanpa memperhatikan ke mana sepasang kakinya menuju, tiba-tiba ia melihat seekor kera melompat dari atas cabang pohon dan berdiri di atas batu. Binatang kera bukan merupakan binatang aneh dan melihat seekor kera melompat turun dan pohon juga bukan merupakan penglihatan yang aneh. Akan tetapi melihat seekor kera yang membawa sehelai kertas bertulisan huruf-huruf "ORANG MUDA, KAU KE SINILAH" benar-benar merupakan pemandangan yang jarang terdapat!
Kun Hong berdiri bengong. Apakah hal ini hanya kebetulan saja? Apakah binatang itu menemukan kertas yang dibawanya ke mana-mana dan kertas itu kebetulan sekali ada tulisannya seperti itu? Akan tetapi, tiba-tiba kera itu berjalan dan kadang-kadang menengok kepadanya, meringis seperti gadis cantik tersenyum dan menggerak-gerakkan tangan kirinya seperti melambai kepadanya! Kun Hong sampai menjadi bengong. Apakah kera ini dapat menulis? Aah, belum pernah ia mendengar akan hal ini. Biarpun di antara orang-orang Mo-kauw banyak yang memiliki kepandaian aneh. akan tetapi belum pernah ia melihat atau mendengar akan adanya seekor binatang kera yang pandai menulis.
Ia masih sangsi. Tak mungkin kera itu melambai-lambai kepadanya. Ia diam saja, akan tetapi kera itu memutar tubuhnya, mengeluarkan bunyi bercuitan. lalu kembali melambai-lambaikan kertas itu kepadanya, lalu berjalan lagi ke depan sambil menengok beberapa kali seperti orang yang mengajak Kun Hong supaya mengikutinya.
Kun Hong menjadi tertarik dan mulai berjalan mengikuti monyet itu. Akan tetapi monyet itu amat gesit, melompat dari batu ke batu. membuat Kun Hong payah sekali. Kalau ia tidak terluka jangankan hanya mengikuti monyet itu. biar di suruh menangkap sekalipun dapat dilakukannya dengan mudah. Sekarang, takut akan menghebatnya luka di dadanya, pemuda ini terpaksa bersusah payah, berjalan perlahan, bahkan setengah merangkak apa bila melalui batu-batu karang yang sukar. Anehnya, kera itu seperti mengerti akan keadaannya dan beberapa kali binatang itu berhenti dan menengok seperti sengaja menantinya.
Kera itu membawanya mengitari puncak. Kun Hong terkejut karena tahu-tahu setelah mengikuti kera itu sampai setengah hari lamanya, ia tiba di daerah terlarang yang dianggap suci oleh Kun-lun-pai, yaitu tanah kuburan para guru besar Kun-lun-pai yang dimakamkan di situ! Tempat ini merupakan sebidang tanah yang penuh dengan makam, keadaannya selain sunyi juga menyeramkan, ditumbuhi pohon-pohon yang berbunga putih. Kera itu terus memasuki tanah kuburan sambil menengok-nengok. Dengan tindakan kaki perlahan dan hati seram Kun Hong memasuki tempat terlarang itu. Akan tetapi ia tidak takut dan terus mengikuti kera itu.
Tiba-tiba kera itu melompat ke atas sebuah batu karang, melompat-lompat sambil mengeluarkan suara kemudian sekali meloncat ia telah berada di atas cabang pohon berkembang, melepaskan kertas yang tadi dipegangnya. Mulutnya dimonyongkan dan terus bercuitan.
Kun Hong melangkah terus ke depan dan hampir ia berteriak saking kagetnya ketika ia tiba di bawah pohon itu. Kalau ia tidak berlaku hati-hati mungkin ia kena injak kepala orang yang menonjol keluar dari tanah seperti sepotong batu! Kepala ini botak kelimis. mengkilap dan hitam seperti batu hitam
227
digosok, mukanya penuh rambat putih, alisnya gompyok akan tetapi sudah putih semua saking tuanya, matanya meram-melek. Untungnya waktu itu siang hari, kalau melihat pemandangan seperti ini pada malam hari. benar-benar mengerikan sekali. Orang itu ternyata bersila ke dalam sebuah lubang di tanah sehingga hanya kepalanya saja yang kelihatan. Ketika Kun Hong menjenguk, ternyata tubuh orang laki-laki tua renta ini sama sekali tidak berpakaian, telanjang bulat seperti tengkorak hidup karena tubuhnya kurus kering tinggal tulang dibungkus kulit.
"Bagus sekali kau mau datang, orang muda!"
Ucapan ini terdengar nyaring dan jelas sampai Kun Hong melompait perlahan. Ia lupa akan pantangannya dan terasa dadanya sakit sekali ketika ia melompat kaget dan heran tadi. la meringis, akan tetapi tanpa memperdulikan rasa sakit, ia menoleh ke sana ke mari untuk mencari siapa orangnya yang bicara tadi. Kakek telanjang ini tentu bukan orangnya yang bicara, karena semenjak tiba di situ pandang matanya tak pernah terlepas dari wajah orang dan ia tidak melihat orang itu bicara, hanya matanya meram-melek seperti boneka mainan kanak-kanak. Karena tidak melihat ada orang di sekelilingnya, Kun Hong menoleh kepada kera yang masih ayun-ayunan di atas cabang pohon di atasnya. Ah. aku sudah menjadi gila. pikirnya dengan muka merah. Monyet menulis saja sudah tak mungkin, mana ada monyet bicara? Aku terlalu terpengaruh oleh tulisan di atas kertas itu sehingga telingaku mendengar yang bukan-bukan pikirnya.
Perhatiannya segera tertuju kepada kakek itu lagi. Apa sih yang dilakukan oleh kakek ini? Melihat keadaan wajah dan kepalanya kakek ini tentu sudah sangat tua, mungkin seratus tahun lebih usianya. Seluruh tubuhnya nampak seperti sudah mati, kulit yang berkeriput dan kering itu, bibir yang pecah-pecah, rambut yang putih layu. Hanya sepasang matanya saja yang membuktikan bahwa mahluk ini masih hidup. Sudah seperti bukan manusia lagi.
"Kau terluka oleh totokan Im-yang lian-hoan! Sudah kuduga, karenanya kau kupanggil ke sini!" kembali suara yang tadi, suara serak dan pelo terdengar.
Sekali lagi Kun Hong gedandapan (terkejut dan bingung), celingukan ke sana ke mari. Sukar sekali menentukan dari mana suara tadi arah datangnya, bisa dibilang dari depan, dari kakek yang diam tak bergerak kecuali matanya itu, mungkin juga dari belakang, kanan kiri, atau dari atas! Ketika ia memandang ke atas, monyet itu mengeluarkan suara cecowetan seperti orang bergembira dan, tertawa-tawa!
"Pek-wan (lutung putih), kau senang mendengar pinto bicara dengan seorang manusia, ya? Bagus kau ambil hidangan untuk tamu kita." suara itu terdengar lagi. Kera atau lutung putih itu melompat pergi sambil cecowetan. memasuki hutan sebelah kanan. Sedangkan Kun Hong celingukan lagi, akan tetapi kini kecurigaannya timbul kepada kakek itu. Kalau di situ ada manusia, manusianya hanya kakek itu sendiri dan dia tentu. Siapa lagi kalau bukan kakek ini yang bicara? Ia tentu saja pernah mempelajari Ilmu Coan-im-kang (Ilmu Mengirim Suara) dari jauh sehingga suaranya dapat ia tujukan untuk orang-orang tertentu tanpa orang lain dapat mendengarnya. Akan tetapi, setidaknya bibir orang yang melakukan ilmu ini akan bergerak sedikit. Sedangkan kakek ini sama sekali tidak menggerakkan bibirnya yang seakan-akan sudah mati!
"Lapisan luar paru-parumu hampir terbakar oleh hawa thai-yang, sedangkan jantungnya hampir beku oleh pukulan Im-kang. Tanpa diobati mana kau bisa hidup leluasa!”
228
Kun Hong sudah amat memperhatikan kakek itu. Ketika suara ini terdengar, ia tidak celingukan lagi, melainkan memandang ke wajah kakek itu dengan seksama. Biarpun bibir kakek itu tidak bergerak, namun ada sedikit perubahan pada wajahnya, yaitu jenggotnya bergerak-gerak tanda bahwa di dalam leher atau perut tentu terjadi pergerakan-pergerakan oleh hawa mujijat. Ternyata benar kakek ini yang bicara, mempergunakan semacam coan-im-kang yang tinggi sekali!
Kun Hong boleh jadi buruk wataknya, akan tetapi dia cerdik. Melihat keadaan orang ini yang begitu aneh, ia segera dapat menduga bahwa kakek ini tentulah seorang sakti dan mungkin sekali dapat menyembuhkan luka di dadanya. Tanpa ragu-ragu lagi ia lalu menjatuhkan diri berlutut di depan kepala itu sambil membentur-benturkan jidatnya di atas tanah seperti seekor ayam makan beras.
"Huh, sikapmu tadi lebih jantan. Perlu apa bermuka-muka? Bilang saja kau ingin ditolong, hentikan segala tekuk lutut dan sembah itu!" kata kakek itu tanpa menggerakkan bibirnya.
Merah muka Kun Hong mendengar ucapan dengan nada mengejek ini. Keangkuhannya tersinggung. Ia segera berdiri dan berkata sambil lalu,
"Orang tua, aku datang kau yang panggil, apa kehendakmu? Kau bilang aku terluka oleh totokan Im-yang-lian-hoan, kalau bukan untuk memberi obat, apakah hanya untuk mengejek?”
Kakek itu tertawa tanpa membuka mulut, akan tetapi suaranya seperti orang gelak terbahak, membuat Kun Hong memandang dengan melongo. Banyak sudah ia melihat orang-orang aneh di dunianya orang-orang Mo-kauw. gurunya sendiri Thai Khek Sian adalah seorang manusia yang luar biasa sekali. Akan tetapi yang selucu kakek ini belum pernah ia melihatnya Masa ada orang bicara dan tertawa-tawa tanpa membuka mulut atau menggerakkan bibirnya!
"Ha-ha-ha„ kalau aku mengobatimu bagaimana dan kalau aku hanya mengejek bagaimana?"
”Kalau kau mengobatiku, tak mungkin, mana ada orang miring otak macam kau mampu mengobatiku? Kalau kau mengejek, itu hakmu karena kau berada di sini tentu ada hubungannya dengan Kun-lun-pai dan karenanya namamu akan kucatat di hatiku agar kelak kalau ada kesempatan akan kubalas hinaanmu bersama si tua bangka Pek Mau Sianjin!"
Tiba-tiba kakek itu menarik napas panjang, bibirnya tetap tertutup rapat akan tetapi dadanya yang gepeng itu beralun. "Hemm, benar-benar kau kotor......! He, orang muda ketahuilah bahwa hanya karena kau ini anak pungut Kam Ceng Swi maka aku ambil perduli padamu. Ceng Swi orang baik. seorang jantan tulen maka aku tidak sayang menurunkan satu dua ilmu pukulan kepadanya. Dia jauh lebih baik dari pada semua tosu di Kun-lun. Dia sayang kepadamu, celakanya kau hidup di antara bangkai-bangkai yang berbau busuk. Akan tetapi emas tetap berharga biarpun terendam lumpur, bunga teratai tetap gemilang biarpun hidup di pecomberan. Hatimu kulihat tidak jahat."
"Stop! Kakek tua bangka, aku kau panggil ini apakah hanya untuk mendengarkan pidatomu?" Kun Hong mencela, mendongkol.
"Heh-heh-heh, kau sudah ketempatan watak Bu-ceng Tok-ong! Ketahuilah, pukulan Im-yang-lian-hoan adalah pukulan rahasia dari partai Kun-lun, biarpun orang-orang seperti Tian Te Cu atau Thai
229
Khek Sian takkan mampu mengobati luka akibat pukulan Im-yang-lian-hoan! Pinto orang Kun-lun-pai, tentu saja dapat mengetahui ini semua. Sayang pmgobatannya tak dapat dilakukan oleh pinto seorang. Pukulan Im-kang dapat kusembuhkan dan kau akan terbebas dari rasa sakit apa bila mempergunakan lweekangmu. Akan tetapi pengaruh desakan hawa thai-yang darimu sendiri hanya dapat disembuhkan oleh seorang ahli gwakang seperti temanku hwesio bermuka hitam. Setelah kuobati, tenaga lweekangmu pulih kembali akan tetapi celaka kalau kau berhadapan dengan ahli gwakang. Setelah diobati oleh temanku hwesio bermuka hitam, tenagamu luar dalam pulih semua, akan tetapi tetap saja bekas luka pada jantungmu membuat kau hanya dapat hidup paling banyak untuk dua tahun saja" Kakek itu berhenti bicara, agaknya menjadi lelah setelah bicara panjang lebar.
"Aku hidup bukan atas kehendakku, matipun bukan atas kehendakku. Kau orang tua mana bisa bicara tentang matiku? Jangan mengoceh!" kata, Kun Hong mencela lagi.
"Heh-heh-heh, bagus. Ucapan ini menyatakan kebesaran hatimu sehingga kau hidup dua tahun lagi juga tidak menyesal. Hanya kalau kau bisa mendapatkan batu kemala yang bernama Im-yang-giok-cu yang dimiliki oleh Kui-bo Thai-houw di Ban-mo-to maka kau akan dapat menyambung nyawamu."
Diam-diam Kun Hong kaget sekali. Gurunya, Thai Khek Sian pernah berpesan kepadanya bahwa di dunia ini hanya dua orang yang disegani gurunya yaitu pertama Thian Te Cu kakak seperguruan Thai Khek Sian sendiri dan Kui-bo Thai-houw di Ban-mo-to!
"Orang muda, jangan bengong saja. Maju dan berlututlah agar aku dapat menotokmu!"
Kun Hong berpikir bahwa ia telah mendapat luka hebat, hiduppun percuma kalau setiap kali mengerahkan tenaga lweekang ia merasa dadanya sakit sekali. Kalau kakek ini membohong dan sebagai orang Kun-lun-pai hendak membunuhnya, paling-paling ia hanya mati! Lebih baik dari pada sekarang ini mati tidak hiduppun bukan! Ia lalu maju dan berlutut di dekat kepala itu.
Kakek itu mengeluarkan tangan kanan kiri dari lubang, dua lengan dan tangan yang kurus tinggal tulang terbungkus kulit, mengerikan.
"Jangan bergerak!" kata kakek itu dan dua tangannya bergerak cepat bukan main. Andaikata Kun Hong belum terluka dan masih leluasa bergerak sekalipun, agaknya tidak mudah mengelak dari dua serangan yang dilakukan hampir berbareng itu. Tahu-tahu jari-jari tangan kiri kakek itu sudah menotok punggungnya. Seketika hawa yang panas sekali memasuki tubuhnya melalui punggung, membuat seluruh kulitnya merah dan peluh berkumpul di jidatnya. Kemudian dengan cepat sekali menyusul totokan di lambungnya yang mendatangkan hawa dingin seperti salju. Dua serangan ini gerakannya serupa benar dengan serangan Pek Mau Sianjin, maka diam-diam Kun Hong kaget sekali. Diserang satu kali saja oleh Pek Mau Sianjin ia terluka hebat, sekarang diserang dengan pukulan yang sama untuk kedua kalinya! Akan tetapi ia sudah tak dapat bergerak lagi karena hawa panas dan dingin yang bercampur aduk itu membuat dia pusing dan....... tiba-tiba ia muntahkan darah lalu terguling pingsan!
Kun Hong tidak tahu berapa lama ia jatuh pingsan, akan tetapi ketika ia siuman kembali, ia mendengar suara kera itu cecowetan dengan aneh. la menengok dan melihat kera itu bergulingan seperti anak kecil menangis di atas tanah dan....... kepala kakek itu sudah terkulai miring, matanya meram dan sekarang mata itu sudah mati seperti anggauta tubuh yang lain. Kun Hong cepat
230
mendekat dan meraba jidat kakek itu. Dingin! Ternyata kakek itu benar sudah menghembuskan napas terakhir. Di atas tanah terdapat corat-coret tulisannya. Kun Hong segera membacanya, dan benar saja. tulisan itu memang sengaja ditulis oleh kakek aneh itu sebagai pesan terakhir untuknya.
"Hwesio muka hitam di puncak Kepala Harimau Pegunungan Bayangkara. Mintalah obat kepadanya, katakan bahwa kau diberi petunjuk oleh Liong Tosu di Kun-lun-san!”
Tiba-tiba terdengar bentakan-bentakan nyaring, "Pemuda iblis, kau berani mengganggu Liong-couwsuhu!" Serombongan tosu Kun-lun-pai dikepalai oleh Pek Mau Sianjin sendiri, berlari-larian cepat sekali menuju ke tempat itu.
Kun Hong cepat menghapus tulisan di atas tanah itu. kemudian ia melompat berdiri lalu melarikan diri turun gunung. Tak mungkin aku dapat melawan mereka, pikirnya. Karena ingin lekas pergi ke Pegunungan Bayangkara dan khawatir kalau- kalau dikejar oleh para tosu Kun-lun-pai. ia berlari cepat, lupa bahwa kalau berlari cepat mengerahkan lweekang dadanya akan menjadi sakit sekali. Setelah ia berlari cepat sekali mengerahkan seluruh lweekangnya dan berada di kaki gunung jauh meninggalkan para tosu Kun-lun-pai baru ia teringat dengan kaget dan heran bahwa dadanya tidak terasa sakit sama sekali!
"Aah, lukaku sembuh sebagian. Kalau begitu tua bangka aneh itu tidak bicara bohong" katanya nyaring dengan hati girang sekali, ia lalu berlutut dan menjura ke atas langit. "Liong Tosu, terima kasih atas kebaikanmu. Semoga arwahmu menjadi dewa!" Pemuda ini sama sekali tidak tahu bahwa Liong Tosu telah mengorbankan nyawa sendiri untuk menolong menyembuhkan sebagian dari pada luka di dadanya. Untuk menyembuhkan luka hebat itu, Liong Tosu harus mengerahkan seluruh sinkangnya dan hal ini terlampau berat bagi jasmaninya yang sudah tua sekali sehingga begitu selesai mengobati pemuda itu ia lalu jatuh terkulai dan nyawanya melayang.
"Setelah ada bukti bahwa totokan Liong Tosu itu mendatangkan hasil baik dan dadaku tidak terasa sakit lagi. tentu bicaranya tentang hwesio muka hitam yang dapat menyembuhkan sama sekali luka di dadaku itu benar pula. Pegunungan Bayangkara tidak jauh dari sini, di sebelah timur. Aku harus ke sana, mencari puncak Kepala Harimau, minta tolong kepada hwesio muka hitam," pikir Kun Hong dengan hati gembira. Tadinya ia terluka parah dan bergerak sedikit saja dadanya sakit. Sekarang rasa sakit lenyap, akan tetapi menurut Liong Tosu penyakit itu baru sembuh sama sekali setelah ia diobati oleh hwesio muka hitam-Karena Bayangkara tidak jauh, hal itu kiranya tidak sukar dilakukan. Biarpun setelah disembuhkan, menurut tosu tua itu, ia hanya dapat hidup selama dua tahun saja, akan tetapi hal inipun ada obatnya, yaitu Im-yang-giok-cu di Ban-mo-to. Betapapun sukarnya, kalau obat untuk menyambung nyawa, tentu akan ia cari sampai dapat!
Kun Hong hanya tahu bahwa Pegunungan Bayangkara terletak di sebelah timur Kun-lun-san akan tetapi ia tidak tahu benar, malah hampir tidak mengenal jalan di daerah ini. Pada suatu hari. perjalanannya terhalang oleh sebuah sungai yang besar. Inilah Sungai Kun-sha-kiang yang merupakan sebuah dari pada sungai- sungai yang mengawali Sungai Yang ce-kiang.
Hari telah menjelang senja ketika ia tiba di tepi sungai itu. Di tempat yang sunyi ini hanya kelihatan sebuah perahu kecil, tergolek-golek di tepi sungai dan seorang nelayan setengah tua, agaknya pemiliknya, duduk melenggut di atas kepala perahu sambil memegangi sebatang pancing. Agaknya
231
sudah terlalu lama ia memancing namun tidak ada ikan yang menyambar maka membuat ia mengantuk, apa lagi hawa di siang hari itu memang amat panasnya.
"Haai, kakek pemalas! Hayo antar aku menyeberang sungai!" Kun Hong membentak.
Hampir saja kakek itu terguling dari perahunya saking kaget. Baru enak-enak tidur ayam dibentak sampai ia menjumbul dan tersentak kaget, matanya terbelalak.
"A......... ada apa...... ikan besar......?”
Ia gagap-gugup lalu menarik-narik pancingnya. Akan tetapi tidak ada ikan yang menyangkut.
Kun Hong tertawa terbahak-bahak. "Mana ada ikan mau makan umpan tukang pancing yang malas? Paling-paling yuyu (kepiting sungai) yang mau menyapit. Ha-ha!"
Tukang pancing itu membuka capingnya yang lebar, lalu memandang kepada Kun Hong penuh perhatian, agak merengut.
"Eh, orang muda. Kau siapakah dan apa kehendakmu datang menggoda seorang nelayan tua yang kurang makan kurang tidur?"
"Kakek, aku hendak menyeberang. Hayo kau seberangkan aku dengan perahumu ini."
Kakek itu mengamat-amati pemuda ini. "Kau mau bayar berapa?”
Kun Hong mengerutkan kening. Pemuda ini tak pernah membawa uang, tak pernah mengenal uang. Kebiasaan golongannya, yaitu golongan Mo-kauw. mau makan atau pakai ambil saja. Milik setiap orang milik mereka juga!
"Aku tidak punya uang. Aku butuh menyeberang, kau mempunyai perahu perlu apa uang?” katanya tak senang.
Kakek itu meludah ke dalam air. "Tak punya uang untuk bayar tak punya perah u sendiri untuk menyeberang, kalau mau menyeberang boleh berenang saja." Setelah berkata demikian kembali kakek itu memperhatikan pancingnya, sama sekali tidak mau perdulikan Kun Hong.
”Tua bangka busuk! Cacingmu tidak ada ikan makan? Kau makanlah sendiri!" Kaki Kun Hong bergerak dan tubuh kakek itu terlempar ke dalam air sungai! Air muncrat dan kakek itu gelagapan baiknya ia seorang nelayan yang pandai berenang, kalau tidak tentu ia akan mati tenggelam di air yang dalam itu-
Sambil tertawa-tawa Kun Hong mencabut pedang Cheng-hoa-kiam. "He, kakek tukang pancing lihat ini! Lain kali pedangku akan membabat lehermu seperti ini. Baiknya sekarang aku sedang gembira maka kuampuni nyawamu!" Kun Hong menyabetkan pedangnya ke arah cabang pohon yang tumbuh di pinggir sungai. Sekali sabet saja putuslah cabang itu. Kakek nelayan makin ketakutan dan berenang menjauhi tempat itu, tidak memperdulikan perahunya lagi.
232
Kun Hong tertawa dan hendak menghampiri perahu. Akan tetapi tiba-tiba terdengar bentakan nyaring lembut, "Orang jahat kebetulan sekali aku bertemu denganmu di sini!" Dari atas pohon melayang turun sesosok bayangan yang bergerak cepat dan langsung menyerang Kun Hong dengan sebatang pedang tipis. Serangan ini berhabaya sekali, akan tetapi dengan mudah saja Kun Hong menangkis, terus menggunakan pedangnya menempel dan menindih pedang lawan. Ketika ia memandang, ia mengeluarkan seruan kaget dan melompat mundur. Orang itu bukan lain adalah Pui Eng Lan. gadis manis yang selama ini memenuhi ruangan hati Kun Hong dan setiap detik terbayang di depan matanya.
"Nona Pui Eng Lan..........alangkah girang hatiku bertemu dengan kau di sini...... eeehhh....... anu...... aku tadi hanya main-main saja dengan tukang perahu, harap kau jangan salah mengerti........." katanya ketika ingat bahwa mungkin sekali nona pujaan hatinya ini marah melihat dia mempermainkan tukang perahu tadi. Heran benar, Kun Hong yang selama ini tidak perduli apa yang lain orang akan menganggap tentang sepak-terjangnya, sekarang di hadapan Eng Lan begitu gugup dan kikuk seperti pengantin baru di depan mertuanya!
Eng Lan merengut dan matanya berkilat-kilat. "Tak perlu mengobrol yang bukan-bukan! Aku tidak mengenal segala tukang perahu! Kau girang bertemu dengan aku? Bagus! Aku lebih girang lagi karena sekarang datang kesempatan bagiku untuk membalaskan sakit hati enci Siok Lan kepadamu!" Begitu kata-kata terakhir diucapkan, pedangnya meluncur cepat menusuk dada pemuda itu.
"Traangg.........!" Kun Hong menahan pedang itu, cukup perlahan agar gadis itu tidak terkejut. "Sabar, nona manis......... sabaaar......!"
"Apa sabar? Kau pengecut jahanam, kau mempermainkan enci Siok Lan! Kau membikin sakit hatinya, merusak kebahagiaan hidupnya. Gara-gara kau yang mengacau, gara-gara kejahatan dan kecuranganmu, enci Siok Lan sampai diputus perjodohannya dengan calon suaminya!" Kembali Eng Lan menyerang, sekarang dengan bacokan keras. Kun Hong mengelak cepat, lalu menggerakkan pedangnya menindih pedang nona itu sebelum Eng Lan sempat menyerang lagi.
"Nanti dulu. kau menyerang aku ini apakah untuk membunuhku?"
"Tentu saja! Kau kira main-mainkah ini?” Eng Lan meronta hendak melepaskan pedangnya dari tindihan pedang pemuda itu, namun tidak berhasil.
"Sabar dulu, adikku yang manis. Percayalah kalau memang aku bersalah dan layak menerima hukuman mati. hanya pedang di tanganmu yang akan dapat mengantar nyawaku ke sorga. Aku rela seribu kali mati di tanganmu. Akan tetapi berilah kesempatan padaku untuk mendengar uraianmu sejelasnya. Kalau kau tidak percaya, lihat. kusimpan pedangku dan ini dadaku kalau kau nanti mau tusuk setelah aku mendengar penuturanmu dan merasa aku berdosa dan layak mati." Pemuda itu benar-benar menarik pedangnya dan menyimpannya di sarung pedang, membusungkan dadanya yang bidang.
"Kau....... kau menantang.......?" Eng Lan menggerakkan pedangnya menusuk cepat dan kuat ke arah ulu hati pemuda itu. Ia menduga bahwa pemuda yang biasa mempermainkan orang berilmu tinggi ini tentu berpura-pura saja dan akan mengelak. Akan tetapi alangkah kagetnya ketika ia melihat pemuda
233
itu sama sekali tidak bergerak, bahkan sepasang mata yang tajam seperti bintang itu sedikitpun tidak berkedip.
"Cesss........” Pedang menembus baju mengenai kulit.
"Aduhhhh celaka.........!"
Aneh, yang menjerit ini bukan Kun Hong yang tertusuk, melainkan Eng Lan sendiri. Gadis ini merasa kaget setengah mati melihat pedangnya menembus baju, cepat-cepat ia menarik pulang pedangnya akan tetapi ujung pedang sudah mengenai kulit dada. Darah merah membasahi baju pemuda itu yang tetap tersenyum dan berdiri tegak.
"Aku........ aku tidak bermaksud membunuhmu secara begitu......... aku tak sudi membunuh orang yang tak mau melawan........." katanya gagap sambil memandang ke arah baju yang penuh darah itu.
"Kau belum membunuhku, baru menggores kulit. Mengapa tidak jadi? Kalau kau memang menghendaki nyawaku, ambillah. Nyawaku sudah bukan milikku lagi, adikku sayang. Nyawa dan badan ini sudah lama menjadi milik seorang gadis manis bernama Pui Eng Lan........."
"Cih. tak tahu malu!!" Eng Lan menjadi merah sekali mukanya, hampir semerah baju Kun Hong yang terkena darah. "Aku menantangmu bertempur seperti layaknya orang-orang gagah. Salahmu sendiri mengapa tidak melawan?”
"Eng Lan, adikku yang manis, aku tidak main-main. Padamu aku tidak kuasa melawan, aku menyerah kalah, menurut hendak kau apakan juga. Akan tetapi coba kau ceritakan dulu apa kesalahanku. Seorang pesakitan yang diperiksa oleh pengadilan dan dijatuhi hukuman mati sekalipun akan lebih dulu diceritakan apa yang menjadi dosanya."
"Kau masih berpura-pura? Sudah kusebutkan tadi dosamu kepada enci Siok Lan sekeluarga."
"Aku tidak merasa berdosa kepada enci Siok Lan. Apakah kau maksudkan murid Pak-thian Koai-jin itu? Aku sama sekali tidak mengenalnya, bagaimana bisa berdosa kepadanya? Aku tidak berpura-pura, sungguh mati, aku tidak mengerti. Coba kau ceritakan."
Eng Lan menarik napas panjang dan memaki diri sendiri. Mengapa menghadapi pemuda ini yang sudah menyerah begitu saja, tinggal menusuk dadanya cuss dan beres mengapa mendadak ia menjadi lemah dan tidak tega? Ah, keterlaluan memang kalau dia membunuhnya begitu saja, membunuh orang yang tidak melakukan perlawanan, membunuh orang yang kelihatannya betul-betul belum tahu akan dosanya, seorang yang......... yang....... demikian mencintanya. Dulupun. ketika pemuda ini membebaskannya dari tawanan, ia sudah tahu akan cinta kasih hati pemuda ini kepadanya.
"Baik kuceritakan, supaya orang tidak menganggap aku keterlaluan, akan tetapi itu......... lukamu itu obatilah dulu. Ini aku mernbekal obat. Tak. tahan aku melihat darah." kata gadis itu sambil mengeluarkan sebungkus obat bubuk untuk mengobati luka.
"Kau yang melukai, kau pula yang harus mengobati." kata Kun Hong tersenyum.
234
Makin merah muka gadis itu. "Jangan main gila! Maksudku baik kau anggap yang bukan-bukan. Mau pakai obatku atau tidak?”
Melihat gadis itu marah-marah lagi dan bicaranya ketus, Kun Hong tertawa, menerima bungkusan itu dan mengobati luka kulit dadanya. Eng Lan miringkan kepalanya, jengah melihat pemuda itu membuka kancing baju, malu ia melihat kulit dada yang putih itu, yang sekarang kelihatan tergores ujung pedangnya. Setelah mengenakan obat, rasa perih hilang dan Kun Hong menutup lagi bajunya.
"Kau berceritalah, aku sudah siap mendengarkan." katanya sambil memandang muka gadis yang masih dipalingkan ke kiri.
Eng Lan lalu bercerita, Kun Hong mendengarkan. Mereka duduk di atas akar pohon yang menonjol keluar dari permukaan tanah. Keduanya kelihatan seakan- akan dua orang sahabat baik yang sedang mengobrol sambil makan angin. Padahal Eng Lan masih memegang pedangnya dan ia masih menganggap pemuda ini musuhnya seorang jahat yang layak ia bunuh!
Apakah yang diceritakan oleh Eng Lan kepada Kun Hong. Mari kita ikuti sendiri pengalaman gadis itu. Semenjak dibebaskan dari tawanan oleh Kun Hong di Peking, Eng Lan bersama Tung-hai Sian-li berhasil melarikan diri keluar dari kota raja.
Begitu mereka lolos keluar dari tembok kota, mereka bertemu Siok Lan dan See-thian Hoat-ong. Tentu saja dua orang ini merasa girang sekali melihat mereka telah berhasil menyelamatkan diri. Tak lama selagi mereka maling bicara, datang pula Pak-thian Koai-jin dan Lam-san Sian-ong yang melompat keluar dari balik tembok kota.
"Kami melihat kalian berlari-lari. Merasa heran tidak ada yang mengejar, maka diam-diam kami hanya mengikuti, takut kalau-kalau ada musuh menyerang dari belakang." kata Pak-thian Koai-jin. Tadinya dia bersama Lam-san Sian-ong memasuki kota raja dengan maksud hendak menolong Tung hai Sian-li dan Pui Eng Lan. Akan tetapi selagi mereka mencari-cari pada tengah malam itu mereka melihat bayangan dua orang wanita itu berlari-lari cepat sambil berlompat- lompatan dari genteng ke genteng.
"Kami ditolong oleh pemuda yang bernama Kam Kun Hong itu. Lebih baik kita lekas pergi dari sini siapa tahu kalau-kalau musuh mengirim barisan mengejar," kata Tung-hai Sian-li. Tanpa banyak cakap mereka semua lalu berlari cepat ke selatan. Setelah malam terganti pagi baru mereka berhenti dan Tung-hai Sian-li menceritakan pengalamannya.
"Sungguh mati aku tidak nyana bahwa pemuda yang lihai sekali itu ternyata berhati baik, tidak seperti yang lain. Sukar dipercaya kalau dia itu murid Thai Khek Sian. Dia memasuki kamar tahanan, minta maaf atas kecurangan kawan-kawannya yang menangkap aku dan Eng Lan secara pengecut. Kemudian ia mematahkan belenggu dan minta supaya aku menjemput Eng Lan dan melarikan diri sambil memesan agar jangan aku melayani serangan kawan-kawannya. Aahh. sungguh berbahaya. Kalau tidak ada pemuda itu, aku dan Eng Lan mana kuat melawan keroyokan mereka? Cuma heranku, apakah yang menyebabkan pemuda itu berbalik pikir dan menolong kami!”
Eng Lan seorang yang mengetahui sebabnya. Akan tetapi ia diam saja dan menundukkan kepala. Setelah Tung-hai Sian-li selesai bercerita. Siok Lan lalu menghampiri ibunya ini. Sikapnya lain dari
235
pada ketika mereka saling bertemu untuk pertama kalinya. Gadis ini berlutut dan dengan suara gemetar ia berkata, "Apakah kau masih menganggap aku anakmu?"
Tung-hai Sian-li tercengang. Tak disangkanya gadis ini akan bersikap begini. Tadinya ia sudah putus harapan dan mengira bahwa selamanya gadis itu tentu akan membencinya. Akan tetapi dia tidak menyalahkan Siok Lan yang membela ayahnya. Melihat anaknya itu kini berlutut di depannya dan mengeluarkan pertanyaan itu. hatinya berdebar dan dengan mata basah ia memeluk Siok Lan.
"Anak bodoh, tentu saja kau anakku! Sampai matipun aku akan menganggap kau anakku."
"Kalau begitu, sebagai seorang ibu tentu akan suka memenuhi permintaan anaknya yang selamanya tak pernah minta apa-apa!”
Tung-hai Sian-li terharu dan membelai kepala anaknya. "Sudah tentu saja, nyawaku kusediakan untuk memenuhi permintaanmu."
Kwa Siok Lan membalas pelukan ibunya. "Ibu, tidak begitu sukar permintaanku. Hanya satu, yalah ibu supaya ikut anak pulang ke Poan-kun."
Wajah yang masih cantik itu menjadi pucat seketika.
"Dan....... dan........ ayahmu.......?"
"Sudah bertahun-tahun ayah menanti kedatangan ibu seperti malam gelap menanti munculnya matahari. Kau tentu mau pulang bersamaku, bukan? Ibu. permintaanku hanya satu ini, kalau ibu tidak mau penuhi, kuanggap ibu tidak mencintaku dan tidak mau menganggap aku sebagai anakmu!"
Tiba-tiba Tung-hai Sain-li melepaskan pelukannya, bangkit berdiri dan melangkah mundur. Ia membanting kakinya dan membentak "Kau hendak memaksaku?”
Siok Lan juga melompat berdiri tegak, menjawab sama kerasnya, "Ibu terlalu kejam kepada ayah!"
Dua orang wanita ini berdiri tegak saling berhadapan. Sama cantik sama tinggi langsing, dan sama-sama keras kepala dan marah! Dua pasang mata yang indah bening itu berkilat-kilat seperti mengeluarkan api. Mereka sama sekali bukan seperti ibu dan anak, lebih patut disebut dua orang lawan yang sedang saling berhadapan hendak bertempur. Seperti dua ekor singa betina!
See-thian Hoat-ong, adik seperguruan atau sute dari Kwa Cun Ek melihat keadaan ibu dan anak itu, mendehem dan berkata perlahan, berbeda dengan biasanya, "Siok Lan, jangan bersikap begitu terhadap ibumu........." Terang bahwa kakek gagah perkasa ini merasa terharu. Ia menyaksikan persamaan yang tak dapat disangkal lagi antara ibu dan anak ini, bukan persamaan rupa, melainkan persamaan watak. Sama keras kepala, sama pemarah dan sama berani!
Pak-thian Koai-jin tertawa, suara ketawanya mengandung tenaga khikang membuyarkan suasana tegang itu. Memang kakek ini sengaja hendak mendinginkan suasana, maka ia tertawa lalu disambungnya dengan kata-kata "Nona Kwa memang betul. Mengajak ibu pulang agar supaya dapat
236
berbakti terhadap ayah bunda. Cinta kasih yang suci tidak mementingkan perasaan sendiri. Ha-ha-ha."
Ucapan ini seperti air dingin diguyurkan ke atas kepala Tung-hai Sian-li. Terdengar ia mengisak ditahan, lalu ditubruknya tubuh anaknya dan ia berkata. "Aku menurut....... apa saja yang kau minta, aku menurut.........” katanya.
Siok Lan memeluk ibunya dan menangis, menangis saking girang hatinya.
Pui Eng Lan yang semenjak tadi diam saja menyaksikan adegan ini. sekarang ia tak dapat menahan keharuan hatinya. Ia menghampiri Siok Lan dan dengan air mata berlinang ia memegang tangan sahabatnya itu. Siok Lan menoleh dan tersenyum kepadanya, penuh perasaan kasihan. Siok Lan tahu betapa Eng Lan tertusuk hatinya menyaksikan ia dapat bertemu dan berbaik kembali dengan ibunya. Eng Lan sendiri seorang gadis yatim piatu, hanya hidup berdua dengan encinya. Akan tetapi encinya itu menjadi korban keganasan hartawan Liu si tua bangka mata keranjang sehingga enci Eng Lan sekeluarga binasa. Itulah yang menyebabkan Eng Lan pergi ke kota raja bersama suhunya untuk membalas dendam, membunuh kakek hartawan Liu.
"Eng Lan kau berjanji hendak berkunjung ke rumahku. Lebih baik sekarang kau sekalian ikut bersama aku dan ibu ke Poan-kun. Bagaimana?" kata Siok Lan. Eng Lan hanya menoleh kepada suhunya, orang aneh dari utara yang selama ini menjadi pengganti orang tuanya.
"Boleh, boleh! Kau memang seharusnya menghibur dirimu. Pergilah ke Poan-kun tiga bulan kemudian aku menyusul ke sana." kata Pak-thian Koai-jin.
Maka berangkatlah Siok Lan dan Eng Lan bersama Tung-hai Sian-li dan juga See-thian Hoat-ong ke Poan-kun. Pak-thian Koai-jin pergi bersama Lam-san Sian-ong katanya mereka berdua hendak mancing ikan dan minum arak di Telaga See-ouw.
Hati Eng Lan agak terhibur ketika ia melakukan perjalanan dengan Siok Lan dan Tung-hai Sian-li. Adapun See-thian Hoat-ong adalah seorang gagah yang pendiam dan dengan adanya kakek tinggi besar seperti Kwan Kong ini di samping mereka, tiga orang wanita ini tidak mengalami kepusingan karena tidak ada orang berani mengganggu mereka. Jarang ada orang berani bersikap kurang ajar di depan orang seperti See-thian Hoat-ong.
Kepada Tung-hai Sian-li dan Eng Lan, Siok Lan menceritakan keadaan rumah tangganya. Karena perjalanan itu jauh dan memakan waktu lama. banyak yang sempat diceritakan oleh Siok Lan, malah ia bercerita juga tentang Ciok Kim Li. gadis yang menjadi korban keganasan Tok-sim Sian-li, sehingga kedua kakinya sampai dibuntungi oleh Kun Hong.
"Pemuda itu baik sekali kepandaiannya luar biasa tingginya. Sebagai murid Thai Khek Sian. memang pantas ia memiliki kepandaian demikian lihai. Sayangnya, ia berkawan dengan orang-orang Mo-kauw. Aku dan Eng Lan sudah berhutang budi kepadanya." Sambil berkata demikian, Tung-hai Sian-li melirik ke arah Eng Lan dengan pandang mata penuh arti. Wanita gagah ini sudah dapat menduga mengapa Kun Hong membebaskan dia dan Eng Lan”.
237
Eng Lan menjadi merah mukanya. "Bibi mengapa harus disayangkan? Orang jahat bergaul dengan orang-orang jahat, itu sudah sejamaknya. Mana ada burung gagak bergaul dengan burung hong?”
"Eng Lan. kenapa kau bicara begitu? Dia sudah menolongmu, tahu?” Siok Lan menggoda. Gadis inipun mengerti akan jalan pikiran ibunya. Memang Siok Lan amat cerdik.
"Siok Lan, kenapa kau bicara begitu? Dia nolong ibumu, bukan aku!" bantah Eng Lan, akan tetapi Siok Lan dan ibunya hanya tertawa.
Ketika tiba di luar kota Poan-kun. tiba-tiba Tung-Hai Sian-li berhenti. Siok Lan memandang heran. Sudah semenjak makin dekat dengan Poan-kun. pendekar wanita ini nampak makin muram mukanya, berbeda dengan Siok Lan yang menjadi makin gembira.
"Ibu, kita sudah sampai di Poan-kun, kenapa berhenti?" tanya Siok Lan sambil memandang wajah yang menjadi agak pucat itu.
"Kau pulanglah dulu beri tahu ayahmu. Aku menanti di sini." jawab Tung-hai Sian-li singkat.
Siok Lan seorang gadis cerdik luar biasa, akan tetapi ia berwatak keras seperti ibunya sehingga ia tidak mengerti akan sikap ini. Sebaliknya, Eng Lan lebih halus perasaannya maka Eng Lan lalu menggandeng tangannya dan berbisik.
"Enci Siok Lan, sudah sepantasnya kau pulang dulu memberitahukan ayahmu akan kedatangan ibumu." Sambil berkata demikian, ia mengerahkan tenaga menarik lengan sahabatnya itu melanjutkan perjalanan. Siok Lan memandang tak mengerti, akan tetapi Eng Lan berkedip memberi isyarat sehingga dia menurut saja memasuki kota Poan-kun.
"Enci Siok Lan. mengapa kau hendak memaksa ibumu masuk? Tentu aaja ayahmu harus keluar menyambut kedatangannya. Masa kau tidak dapat menyelami perasaannya?"
Siok Lan mengangguk-anguk, akan tetapi di dalam hatinya ia merasa heran mengapa ibunya harus bersikap demikian. Namun kini timbul lagi kegirangan hatinya dan cepat-cepat ia mengajak Eng Lan menuju ke rumahnya.
Sunyi saja di rumah besar itu. Siok Lan terheran. Mengapa tidak kelihatan seorangpun di halaman depan? Ia bersama Eng Lan terus memasuki halaman dan kini terlihatlah ayahnya duduk di atas kursi, diam tak bergerak seperti patung dan Kim Li juga duduk di atas kursi pendek Gadis buntung kakinya ini memakai celana yang menutupi kedua kaki itu sehingga ia kelihatan berkaki pendek sekali tidak kelihatan buntung.
"Ayah.........!" seru Siok Lan sambil berlari menghampiri ayahnya. Ketika ia pergi, ayahnya memang kurang enak badan, akan tetapi tidak sekurus ini dan juga tidak kelihatan begini sedih. "Ayah. aku membawa oleh-oleh yang amat indah dan akan menyenangkan hatimu......!" kata Siok Lan setelah tiba di depan ayahnya, lalu ia menjatuhkan diri berlutut daan memeluk lutut ayahnya.
Akan tetapi, alangkah kagetnya ketika tiba-tiba ayahnya menggerakkan tangan menamparnya.
238
"Plakk!!" Siok Lan menjerit dan terjengkang ke belakang. Pipi kirinya merah bengkak dan mulutnya berdarah!
"Anak setan, kau lebih baik mampus dari pada membikin malu orang tua!" terdengar Kwa Cun Ek memaki marah sambil bangkit berdiri. Kim Li biarpun kedua kakinya sudah buntung, namun semenjak memperdalam ilmu silatnya di bawah asuhan Kwa Cun Ek, gerakannya menjadi gesit. Cepat ia melompat dan menubruk Siok Lan. lalu menghalangi di depan Kwa Cun Ek sambil berkata.
"Suhu, ingat, jangan menuruti nafsu amarah! Belum tentu nona Siok Lan bersalah dalam urusan itu........!"
Kwa Cun Ek membanting kaki. "Kwee Sun Tek adalah seorang laki-laki sejati, mana dia bisa membohong? Anak ini biar minggat saja dan sini, biar aku hidup seorang diri menderita sampai mampus dari pada didekati anak yang hanya mencemarkan namaku!" Kembali ia hendak memukul akan tetapi pada saat itu terdengar bentakan nyaring.
"Kau berani memukul anakku?”
Kwa Cun Ek tersentak kaget, berdiri tegak seperti patung, matanya melotot dan mulutnya melongo. Tung-hai Sian-li telah berdiri di hadapannya, secantik dulu, segagah dulu, segalak dulu! Di belakangnya nampak Eng Lan berdiri di pojok. Nona ini yang tadi cepat-cepat memberi tahu kepada Tung-hai Sian-li akan peristiwa di rumah itu. Mendengar anaknya dipukul oleh Kwa Cun Ek, bagaikan seekor harimau betina Tung-hai Sian-li berlari cepat sekali sampai-sampai Eng Lan sukar menyusulnya.
Tung-hai Sian-li memeluk puterinya. "Begini kau memperlakukan anakku......?" Melihat Siok Lan menangis dengan pipi bengkak dan bibir berdarah. Tung-hai Sian-li mencabut pedangnya dan melompat berdiri. "Kau hendak membunuh dia! Kau bunuh aku lebih dulu!" tantangnya.
Kwa Cun Ek yang tadinya marah-marah dan berdiri tegak kini merasa kakinya gemetar dan ia tentu akan roboh terguling kalau saja Kim Li tidak cepat- cepat membawa sebuah kursi di belakangnya. Kwa Cun Ek menjatuhkan diri di atas kursi dan menutupi mukanya.
"Kenapa baru sekarang kau datang! Kalau siang-siang kau datang, takkan terjadi peristiwa ini. Hui Goat........ Hui Goat........" kata Kwa Cun Ek, suaranya terdengar menyedihkan sekali.
Hui Goat adalah nama Tung-hai Sian-li. Wanita ini menarik napas panjang lalu menyimpan kembali pedangnya. Sementara itu, Siok Lan sudah menubruk kaki ayahnya dan menangis sedih. Ia mengira akan menyaksikan pertemuan yang mesra antara ayah dan ibunya, tidak tahu datang-datang ia dipersen tamparan oleh ayahnya dan menyebabkan ayah dan ibunya hampir saja bertempur sendiri!
"Ada urusan dengan anak boleh dibicarakan, boleh dirunding, bukan datang- datang anak ditampar sampai begitu. Ayah macam apa begini?" Tung-hai Sian-li mengomel dan semacam perasaan yang aneh menjalar di dada pendekar gagah Kwa Cun Ek. Ia merasa senang diomeli isterinya, alangkah nikmat perasaan ini!
"Semua salahku......... Hui Goat, apakah kau mau kembali? Membantuku merawat dan mendidik Siok Lan.........? Aku sudah tidak kuat lagi mendidiknya seorang diri........"
239
Diam-diam Eng Lan melangkah keluar dari ruangan itu dan menangis seorang diri di halaman rumah. Ia merasa terharu dan teringat akan nasibnya sendiri. Ia tidak kuasa lagi menyaksikan pertemuan mereka, akan tetapi masih dapat mendengar pembicaraan mereka. Juga Kim Li diam-diam pergi ke belakang untuk mengambilkan minum dan persediaan lain bagi Tung-hai Sian-li dan Siok Lan. Anak ini memang mengenal kewajiban dengan baik.
"Kau kira aku datang mau apa? Kalau tidak Siok Lan yang memaksaku, untuk apa aku datang? Kau datang-datang memukul Siok Lan, apakah kesalahannya? Kau jelaskan, kalau tidak betul omonganmu, jangan kau menyesal kalau aku pergi lagi membawa serta anakku!" ancam Tung-hai Sian-li.
Diam-diam besar sekali hati Kwa Cun Ek. Mendapatkan kembali Tung-hai Sianli hidup serumah dengan isterinya yang tercinta, ah seakan-akan ia memasuki hidup baru. Akan tetapi ia menekan perasaannya dan setelah berkali-kali menarik napas panjang ia bercerita.
"Telah Lama aku ingin mendapatkan seorang calon jodoh Siok Lan akan tetapi bocah ini selalu menolak. Akhirnya aku memutuskan sendiri ikatan jodohnya dengan keponakan Kwee Sun Tek yang bernama Thio Wi Liong. Pemuda itu adalah murid Thian Te Cu, seorang anak yatim piatu. Aku segera menerima ikatan jodoh ini karena selain mengingat bahwa pemuda itu murid Thian Te Cu, juga aku kagum melihat Kwee Sun Tek yang kukenal baik di waktu mudanya. Ketika aku memberi tahu hal ini kepada Siok Lan, dia tidak menyatakan apa-apa."
Tung-hai Sian-li memandang heran kepada anaknya. "Apa kau bilang? Thio Wi Liong........?? Siok Lan, bukankah itu pemuda yang menolong kita dari kepungan pasukan Mongol........?" Ketika Siok Lan tidak menjawab dan hanya menundukkan muka, Tung-hai Sian-li berteriak memanggil Eng Lan. Eng Lan cepat-cepat masuk setelah menghapus air matanya, dan menghadap nyonya pendekar itu. "Eng Lan bukankah pemuda lihai yang menolong kita di kelenteng Siauw-lim-si itu bernama Thio Wi Liong?" Eng Lan hanya mengangguk.
"Teruskan ceritamu, teruskan. Aku menjadi bingung........." kata Tung-hai Sian-li. Tentu saja pendekar wanita ini bingung sekali teringat akan sikap Siok Lan terhadap Wi Liong yang ternyata adalah tunangannya sendiri.
"Sebelum aku mengikat jodoh anak kita dengan keponakan Kwee Sun Tek. pernah aku bertemu dengan seorang pemuda yang lihai, pemuda bekas murid Tok-sim Sian-li, akan tetapi dalam pertemuan itu kulihat dia gagah dan berhati baik, yang kemudian kuketahui bernama Kam Kun Hong."
Kembali Tung-hai Sian-li melengak, akan tetapi suaminya tidak memperdulikan ini dan melanjutkan ceritanya. "Dalam hati kecilku, aku kagum melihat pemuda itu dan kiranya akan suka bermantukan dia, akan tetapi karena dia sudah galang-gulung dengan orang-orang jahat, aku memilih murid Thian Te Cu. Kemudian terjadi hal yang tak kusangka-sangka." Pendekar ini nampak gemas sekali.
"Baru kemarin, Kwee Sun Tek datang ke sini dengan sikap marah-marah dan berkata bahwa Siok Lan diam-diam telah mempunyai pilihan sendiri, telah mempunyai seorang kekasih, malah kekasihnya itu datang ke Wuyi-san bersama Tok-sim Sian-li mencuri sebatang pedang pusaka, pedang Cheng-hoa-kiam. Dan pemuda itu menurut dugaan adalah Kam Kun Hong! Bukankah itu memalukan sekali! Tentu saja Kwee Sun Tek membatalkan ikatan jodoh dan menyatakan menyesal dan kecewanya."
240
"Bohong semua itu.......!!" Tiba-tiba Siok Lan melompat ke atas dan jeritannya demikian keras sampai mengagetkan orang-orang dan See-thian Hoat-ong yang tadinya merasa sungkan untuk masuk ke ruangan itu dan hanya menanti di luar tak berani mengganggu suhengnya yang sedang mengadakan pertemuan dengan anak isterinya, kini berjalan masuk. Melihat keadaan tegang, ia diam saja, hanya duduk di atas sebuah bangku di pojok, dekat Eng Lan yang juga tidak berani berkutik.
"Hemmm, dan kau percaya saja akan obrolan kosong manusia yang bernama Kwee Sun Tek itu?" tegur Tung-hai Sian-li kepada suaminya.
"Kwee Sun Tek adalah seorang laki-laki sejati, seorang jantan yang gagah perkasa, selama hidupnya tak pernah ia membohong biarpun kedua matanya sudah buta." jawab Kwa Cun Ek membela diri.
"Jadi kau lebih percaya kepada orang lain dari pada anak sendiri?" isterinya mendesak, penuh kemarahan dan penyesalan. Kwa Cun Ek terdesak dan bingung.
Menghadapi serangan-serangan omongan isterinya yang kini berdiri galak di depannya dalam membantu Siok Lan, Kwa Cun Ek menjadi lemas. Timbul penyesalannya mengapa ia buru-buru marah kepada Siok Lan dan tidak menyelidiki lebih dulu. Biasanya pureri tunggalnya itu tak pernah mengecewakan hatinya, masa sekarang gadis itu benar-benar telah main gila dengan pemuda lain di luar tahunya? Agaknya tak masuk di akal mengingat bahwa Siok Lan tentu akan menolak kalau dahulu tidak suka dijodohkan dengan keponakan Kwee Sun Tek. Akan tetapi. Kwee Sun Tek adalah seorang gagah yang sangat boleh dipercaya!
"Tentu saja aku juga percaya kepada Siok Lan," akhirnya ia menjawab teguran isterinya. "Akan tetapi, tidak mungkin agaknya kalau Kwee Sun Tek membohongiku. Untuk apa dia berbohong? Apa keuntungannya baginya? Dia marah-marah dan sikapnya menunjukkan bahwa dia tidak membohong ketika dia mencelaku dan memutuskan pertunangan keponakannya dengan Siok Lan."
Tiba-tiba wajah Tung-hai Sian-li Lee Hui Goat berubah dan ia memandang kepada puterinya.
"Siok Lan coba katakan sekali lagi. Betulkah kau tidak ada hubungan dengan pemuda bernama Kam Kun Hong itu?”
Siok Lan membalas pandang mata selidik ibunya itu dengan berani ketika ia menjawab. "Ibu sendiri menjadi saksi bahwa selama hidupku baru kumelihat pemuda itu di kelenteng Siauw-lim-si dahulu Aku tidak kenal kepadanya sebelum atau sesudah itu, bagaimana orang berani memfitnahku yang bukan-bukan?"
"Semua kata-katamu itu kupercaya penuh. Akan tetapi anakku, kalau kau sudah menjadi tunangan pemuda yang bernama Thio Wi Liong itu, mengapa kau bersikap aneh dan bermusuh kepadanya ketika kita berhadapan dengan dia? Apa artinya semua sikapmu itu?”
Merah wajah Siok Lan ditanya begini. Bagaimana ia harus menjawab? Akan tetapi dasar cerdik, ia dapat juga menjawab dengan suara mengandung penasaran.
"Ibu. biarpun aku dan dia bertunangan, namun selamanya kami tak pernah saling bertemu muka. Dia tidak mengenal aku. akupun tidak mengenal dia. Ketika dia muncul, sikapnya mencurigakan. Biarpun dia itu tunanganku akan tetapi kalau dia mencurigakan, masa aku harus membelanya? Laginya, dia tidak mengenalku, apakah aku harus memperkenalkan diri? Memalukan sikap demikian bagiku, ibu"
241
Tung-hai Sian-li mengangguk kemudian ia teringat bahwa memang anaknya ini sama sekali tidak pernah tampak ada hubungan dengan Kun Hong. malah beberapa kali bertanding dan selalu memperlihatkan sikap bermusuhan. Tidak ada tanda-tanda sedikitpun yang membayangkan bahwa anaknya mempunyai hubungan tidak bersih dengan pemuda murid Thai Khek Sian yang amat lihai itu.
Ia menoleh kepada suaminya dan berkata tetap. "Tak mungkin Lan-ji mempunyai hubungan dengan Kam Kun Hong. Kau telah dibohongi orang. Kwee Sun Tek itu bicara bohong, akan kucari dan kuberi hajaran! Membatalkan pertunangan sih tidak apa-apa, di dunia ini bukan hanya Thio Wi Liong seorang yang patut menjadi jodoh anakku. Akan tetapi dia telah memburukkan nama baik Lan-ji dan hal ini aku tidak bisa mendiamkannya begitu saja."
Kwa Cun Ek terkejut sekali. Ia cukup maklum akan kekerasan hati isterinya dan sekali bicara, tentu akan dibuktikannya. Akan tetapi apa yang dapat ia perbuat? Baiknya pada saat itu. See-thian Hoat-ong yang sudah luas pengalamannya dan maklum pula bahwa orang seperti Kwee Sun Tek patut dipercaya, segera bertanya kepadanya,
"Suheng. sebetulnya tentang tuduhan Kwee Sun Tek itu terhadap Siok Lan, apakah yang menjadi dasar? Bagaimana dia bisa menyatakan tuduhan seperti itu?"
Kwa Cun Ek bernapas lega. Ada jalan baginya untuk menyabarkan hati isterinya, untuk membela Kwee Sun Tek yang dianggapnya tidak bersalah.
"Hal itupun sudah kutanyakan kepadanya karena mana aku bisa percaya begitu saja terhadap tuduhan itu? Dia bercerita bahwa seorang pemuda bersama Tok-sim Sian-li datang di Wuyi-san dan mencuri pedang Cheng-hoa-kiam. Dia telah bertempur dengan pemuda itu dan dengan Tok-sim Sian-li. Pemuda itulah yang mengaku menjadi tunangan tak resmi dari Lan-ji tanpa memperkenalkan diri sendiri. Akhirnya Kwee Sun Tek dapat mengetahui bahwa pemuda itu adalah Kam Kun Hong. Demikianlah, dia lalu datang ke sini untuk menegurku dan membatalkan ikatan jodoh."
Tung-hai Sian-li. Kwa Siok Lan, See-thian Hoat-ong. dan juga Pui Eng Lan teringat bahwa memang Kam Kun Hong memegang pedang pusaka Cheng-hoa-kiam. Mendengar penuturan itu, diam-diam Pui Eng Lan merasa panas sekali hatinya. Entah mengapa, mendengar Kun Hong mengaku-ngaku sebagai kekasih Siok Lan dan memburukkan nama sahabatnya itu, ia menjadi marah sekali.
"Kalau begitu pemuda keparat itulah yang salah!" bentaknya, membuat semua orang menjadi kaget dan memandang kepadanya. Setelah semua orang memandangnya, baru Eng Lan sadar bahwa ia tanpa disengaja telah menarik perhatiaa semua orang, wajahnya menjadi merah karenanya.
"Maafkan, Kwa-lo-enghiong, bukan maksudku mencampuri urusan ini. Akan tetapi aku berani bersumpah bahwa enci Siok Lan tidak bersalah apa -apa dan pemuda bernama Kam Kun Hong itulah agaknya yang sengaja hendak memburukkan nama enci Siok Lan. Biar aku mencari suhu dan melaporkan hal ini agar suhu membantu cari pemuda keparat itu!" Setelah berkata demikian, tanpa memberi kesempatan kepada Siok Lan dan yang lain-lain untuk mencegahnya, gadis itu sudah melompat pergi dan lari cepat meninggalkan rumah Kwa Cun Ek.
Fihak tuan rumah sekeluarga karena sedang menghadapi urusan yang menyangkut nama baik mereka dan berada dalam suasana tegang, tidak mempunyai kesempatan untuk mencegah gadis itu pergi.
242
Akhirnya Kwa Cun Ek dan anak isterinya, ditengahi oleh See-thian Hoat-ong, dapat berbaik kembali dan sama-sama menduga bahwa yang menjadi biang keladi adalah Kam Kun Hong.
. "Pemuda itu aneh sekali," kata Tung-hai Sian-li akhirnya,, "kepandaiannya lihai bukan main, kadang-kadang wataknya nakal kurang ajar, akan tetapi ada kalanya ia berbudi baik seperti ketika membebaskan aku dan Eng Lan. Hemm. benar-benar sukar dijajaki hatinya, sukar diketahui wataknya."
"Sudah pantas dengan kedudukannya," kata See-thian Hoat-ong. "sebagai murid Thai Khek Sian, mana tidak aneh dan jahat! Betapapun juga, kita harus selalu berhati-hati menghadapi orang seperti itu yang setiap waktu bisa menjadi lawan. Bangsa Mongol tetap merupakan ancaman besar bagi tanah air dan orang-orang bagaimana gagahpun kalau sudah dapat diperalat oleh Bangsa Mongol berarti mereka itu penghianat bangsa yang berjiwa rendah! Pemuda itu sudah terang-terangan membela kepentingan bala tentara Mongol dan kaki tangannya, mana orang begitu bisa dipercaya?"
"Kalau begitu, Kwee Sun Tek berarti dibohongi oleh pemuda itu. Aku harus mencari Kwee Sun Tek di Wuyi-san dan memberitahukan hal ini. Perjodohan yang sudah diikat erat mana bisa diputuskan hanya karena gangguan orang luar yang sengaja mengacau? Tanpa alasan yang kuat. tak boleh Kwee Sun Tek mengambil tindakan sefihak yang merugikan nama baik kita." kata Kwa Cun Ek penasaran.
Sementara itu. sejak tadi Kwa Siok Lan mengerutkan kening. Ketika bertemu dengan Wi Liong, ia sengaja hendak mercberi pelajaran kepada tunangannya itu untuk datang sendiri membatalkan pertunangannya dengan Siok Lan, tanpa mengetahui bahwa Kwa Siok Lan adalah gadis yang dicintanya! Akan tetapi, siapa kira ada terjadi perkara begini membingungkan. Sebelum pemuda itu tiba, kiranya sudah didahului oleh paman pemuda itu memutuskan pertunangan, dengan alasan yang bukan-bukan. Gadis ini menjadi bingung, sedih dan juga marah. Diam-diam ia harus akui bahwa ia telah jatuh cinta kepada pemuda tunangannya sendiri! Kini mendengar kata-kata ayahnya, kekerasan hatinya tiba- tiba bangkit dan dia berkata. "Tidak ayah! Untuk apa kita harus merendahkan diri merangkak-rangkak seperti orang mohon supaya perjodohan itu jangan diputuskan? Alangkah rendahnya kalau kita berbuat demikian. Mereka sudah memutuskan, sudahlah! Jangankan tidak menjadi jodoh manusia itu biar selamanya tidak kawin sekalipun aku takkan mati!" Selelah berkata demikian. Siok Lan lalu lari keluar rumah sambil menangis.
Kwa Cun Ek dan Tung-hai Sian-li memandang bengong lalu menarik napas panjang.
"Kau lihat, Hui Goat, setelah kau tinggalkan aku, keadaanku menjadi kacau-balau, hidupku tidak tenteram, bahkan anakmu sendiripun tidak bahagia. Apakah kau masih tega meninggalkan kami lagi.........?" Suara Kwa Cun Ek terdengar demikian mengenaskan sehingga di kedua mata nyonya itu nampak berlinang air mata. Tanpa mengeluarkan kata-kata lagi, suami isteri yang sudah berpisah belasan tahun lamanya itu saling pandang, penuh keharuan, penuh kerinduan penuh cinta kasih.
Demikianlah pengalaman Pui Eng Lan ketika ia ikut dengan Siok Lan ke Poan-kun menjadi saksi dari adegan pertemuan yang amat mengharukan. Gadis ini setelah lari pergi dari Poan-kun, tidak pergi mencari suhunya yang katanya hendak berpesiar di Telaga See-ouw, melainkan ia terus menuju ke Kun-lun-san untuk mengadukan tentang perbuatan Kam Kun Hong itu kepada Kam Ceng Swi. Dari gurunya ia mendapat tahu bahwa Kam Kun Hong dahulunya ikut dengan ayahnya. Seng-goat-pian Kam Ceng Swi di Kun-lun-san sebelum bocah itu terculik orang jahat dan kemudian jatuh di tangan Thai Khek Sian sebagai muridnya.
243
Sebagaimana telah dituturkan di bagian depan. Pui Eng Lan kebetulan sekali bertemu dengan Kam Kun Hong ddan menyerang pemuda itu, melukai dadanya dan kemudian- sambil duduk berhadapan di bawah pohon, dua orang muda itu bercakap-cakap, Eng Lan menceritakan pengalamannya dan sebabnya mengapa ia menyerang Kun Hong.
"Begitulah." ia mengakhiri penuturannya, "kau dengan keji sekali telah merusak perjodohan antara enci Siok Lan dan tunangannya, telah membuat sekeluarga Kwa berduka-cita. Apa sekarang kau masih hendak katakan bahwa tidak sepatutnya kalau aku membunuhmu untuk dosa-dosamu?" Setelah berkata demikian, kembali Eng Lan bangkit berdiri dan pedangnya sudah siap lagi di tangannya, siap untuk melakukan pertempuran mati-matian. "Hayo kau keluarkan pedangmu, pedang Cheng-hoa-kiam yang kau curi itu dan mari kita bertanding sampai seorang di antara kita mengeletak di sini tak bernyawa!"
Kam Kun Hong atau sekarang ia tidak mau mempergunakan she Kam lagi oleh karena telah tahu bahwa Kam Ceng Swi bukan ayahnya, tersenyum getir dan memandang wajah nona itu dengan hati tidak karuan rasa. Terbayang olehnya betapa tadinya dengan segala kebahagiaan ia naik ke Kun-lun-san untuk minta ayahnya pergi meminang gadis ini sebagai isterinya tidak tahu selain disambut dengan pukulan yang akhirnya membuat ia terluka hebat, juga ia dipukul batinnya dengan keterangan bahwa ia bukanlah anak Kam Ceng Swi, melainkan anak pungut yang tidak karuan siapa bapak ibunya dan yang hanya diketahui di mana ibunya yang tak terkenal itu dikuburkan!
"Eh kau mentertawai aku?" tegur Eng Lan marah. "Aku tahu kau lihai dan aku takkan dapat mengalahkanmu, akan tetapi jangan kira aku takut padamu!"
"Eng Lan, nona manis aku percaya akan kegagahanmu. Kalau kau ingin benar membunuhku, bunuhlah. Apa bedanya bagiku? Tidak kau bunuh sekarang dua tahun lagi akupun akan mati konyol. Laginya biarpun tidak kusangkal bahwa aku telah mempermainkan si tua buta Kwee Sun Tek. akan tetapi salahnya sendiri mengapa begitu mudah dipermainkan orang!"
Mendengar ucapan ini, Eng Lan diam-diam kaget. "Apa artinya dua tahun lagi kau mati?" tanyanya dengan penuh gairah yang tidak disadarinya. Melihat sikap ini. Kun Hong menjadi girang bukan main. Kalau ada seorang gadis mengkhawatirkan keselamatan seseorang, hal itu berarti bahwa si gadis tadi menaruh perhatian dan dapat diharapkan bahwa timbangannya dalam asmara tidak berat sebelah!
"Kau sudi mendengarkan nona? Biarlah kuceritakan kepadamu. Hanya kepadamu seorang aku mau bercerita. Aku telah naik ke Kun-lun-san dengan maksud mencari ayahku. Kam Ceng Swi untuk minta dia....... dia....... ah, tak perlu kuceritakan apa perluku mencarinya. Akan tetapi......... setelah tiba di puncak Kun-lun-san. secara curang sekali aku dikeroyok oleh orang-orang Kun-lun-pai dan ditawan secara licik, lalu aku dipukul sampai terluka hebat dan membuat aku hanya akan hidup dua tahun lagi kecuali jika mendapatkan obat tertentu yang amat sukar dicarinya, melebihi sukarnya masuk sorga! Ini semua belum seberapa........." Kun Hong menarik napas panjang dan nampak sedih sekali, mukanya menjadi pucat dan jelas kelihatan ia menahan air matanya, "yang hebat........ aku mendengar kenyataan pahit bahwa ayahku itu........ Kam Ceng Swi yang semula kuanggap ayahku, ternyata bukan ayahku........ dan....... dan aku tidak diketahui anak siapa, tidak tahu siapa ayahku, ibuku sudah meninggal dan....... dan.......”
244
Kun Hong tak dapat melanjutkan ceritanya. Entah mengapa di depan gadis ini ia mencurahkan isi hatinya dan seluruh perasaannya sehingga ia menjadi berduka bukan main, padahal tadinya ia tidak begitu perduli akan nasib dirinya. Di depan Eng Lan ia merasa dirinya begitu penting dan menghadapi kenyataan tentang dirinya yang tidak berayah ibu ia menjadi terharu bukan main. Ia menyembunyikan muka di antara kedua lututnya dan diam-diam menghapus dua titik air mara yang tak tertahankan lagi keluar dari kedua matanya. Baru ini kali Kun Hong menitikkan air mata, air mata yang keluar dari lubuk hatinya karena merasa betapa percakapan dengan Eng Lan ini demikian sungguh-sungguh menembus ke dalam sanubari.
Sebuah tangan yang halus menyentuh pundaknya, demikian mesra sentuhan itu sampai Kun Hong merasa betapa tubuhnya menggigil. Sudah banyak ia mendekati wanita sudah banyak wanita mencintanya, akan tetapi belum pernah sentuhan jari tangan wanita dapat membuat ia menggigil seluruh tubuhnya. Ketika perlahan ia mengangkat mukanya dan menengadah, ia melihat Eng Lan menunduk dan memandang kepadanya dengan air mata bercucuran!
"Kun Hong........" suaranya lirih halus, menggetar penuh perasaan terharu, "jangan berduka, bukan hanya kau anak yatim piatu akupun tiada ayah bunda."
Memang Eng Lan tak dapat lagi menahan perasaannya. Semenjak ia bertemu dergan pemuda itu di lubuk hatinya sudah dipenuhi rasa kagum. Hanya karena pemuda itu dianggap fihak musuh maka ia mengeraskan hati dan rasa kagumnya menjadi kebencian maka membuat ia menyerang pemuda itu di Kelenteng Siauw-lim dahulu. Akan tetapi biarpun pada umumnya Kun Hong memperlihatkan sikap jahat dan nakal, terhadap dia pemuda ini memperlihatkan kebaikan budi. Malah tanpa tedeng aling-aling lagi pemuda itu menyatakan cinta kasihnya. Diam-diam, di luar kesadarannya sendiri bahkan di luar kehendaknya yang diperkuat oleh wataknya sebagai seorang pendekar yang patriotik, gadis ini ternyata telah jatuh cinta kepada Kun Hong.
Tadinya ia masih dapat mengeraskan hati, masih dapat membantah hasrat hatinya sendiri, akan tetapi ketika melihat pemuda itu berduka, mendengar kata-kata yang mengharukan dan mendengar kenyataan bahwa pemuda inipun seorang yatim piatu seperti jmja dia, patahlah semua pertahanan di hati Eng Lan dan tanpa daya lagi gadis itu memperlihatkan kelunakan dan kelemahannya.
"Eng Lan........." Dengan hati tak karuan rasa, bahagia duka terharu bercampur aduk menjadi satu. Kun Hong lalu memeluk kedua kaki gadis itu Eng Lan berdongak ke atas dengan kedua mata dimeramkan. air matanya menetes turun di sepanjang pipinya dan tangan kirinya menekan dada sedangkan tangan kanannya membelai rambut pemuda itu.
Kemudian gadis itu limbung dan ia tentu roboh terguling kalau tidak cepat-cepat Kun Hong memeluknya. Eng Lan merasa dirinya aman sentausa dalam pelukan Kun Hong, menemukan kembali kasih sayang ayah bunda dan kasih sayang sanak saudara yang kini tidak pernah dirasainya. semua itu bercampur dengan kasih sayang seorang pemuda yang dicintanya di luar kehendaknya! Dalam keadaan hampir pingsan karena bergeloranya perasaan. Eng Lan menyembunyikan mukanya di dada Kun Hong.
Di lain fihak. Kun Hong mendapatkan sesuatu yang amat mengherankan hatinya sendiri. Ia merasa bangga dan bahagia sekali pada saat itu, akan tetapi anehnya, tidak seperti biasanya dengan wanita lain. terhadap Eng Lan hatinya bersih dari pada segala kekotoran nafsu. Kasih sayangnya terhadap Eng
245
Lan mendalam dan sedikitpun tidak pernah timbul dalam pikirannya untuk menguasai gadis ini berdasarkan nafsu. Ia mencinta Eng Lan dan mengharapkan cinta imbalan. Maka ia berlaku hati-hati sekali, hanya tangannya mengelus-elus rambut yang hitam halus dan harum itu.
Akhirnya Kun Hong dapat juga menekan perasaan yang bergelombang, yang tadi membuat ia menjadi gagu. Ia berbisik di dekat telinga Eng Lan.
"Eng Lan. dewi pujaan........ terima kasih......... terima kasih bahwa di dunia ini, di mana semua orang baik-baik memusuhiku. membenciku, masih ada kau seorang dewi yang sudi memperdulikan orang seperti aku......... terima kasih Eng Lan dan aku bersumpah, takkan mencinta orang lain kecuali engkau. Kelak.......... kalau Thian mengijinkan aku hidup lebih lama, kalau aku bisa mendapatkan obat untuk menyambung nyawa........ kelak aku akan mencari gurumu, akan mengajukan pinangan dengan hormat untukmu........."
"Kun Hong........." Eng Lan membalas bisikan dengan lirih, hampir tidak kedengaran, "kau tidak jahat......... kau orang baik......... ooohhh, betapa inginku meneriakkan di telinga mereka bahwa kau bukan orang jahat. Tidak, kau tidak jahat!"
Kun Hong bersenyum pahit. "Aku memang jahat, Eng Lan. Kau tidak dapat membayangkan betapa jahatnya aku! Pikiranku kotor, hatiku selalu ingin melihat orang menderita, tergoda. Setiap melihat wanita cantik aku tergila-gila........ ah, betapa jahatnya aku. Akan tetapi sekarang, demi engkau......... aku akan membuang semua itu jauh-jauh.........!"
Tiba-tiba Eng Lan seakan-akan orang baru sadar dari tidur dan mimpi. Ia tersentak kaget, melihat dirinya berpelukan dengan Kun Hong ia merenggut tubuhnya, mengeluarkan jerit lirih, melompat berdiri sambil menyambar pedangnya lalu......... menyabetkan pedang itu ke lehernya!
"Eng Lan............!!!" Secepat kilat Kun Hong bergerak menyambar tangan gadis itu dan merampas pedang lalu membuang pedang itu jauh-jauh. Eng Lan mengeluarkan isak tertahan, lalu berlari pergi sambil menangis tersedu-sedu.
"Aku......... aku gadis hina-dina.......... aku lebih baik mati.........!!" keluhnya di antara tangis sambil berlari terhuyung-huyung, dengan saputangan menutupi mukanya yang banjir air mata.
"Eng Lan.......... tunggu aku.........! Kau hendak ke mana.........? Ah. Eng Lan kekasihku, kau kenapakah?" teriak Kun Hong sambil lari mengejar.
Karena ilmu lari cepat Kun Hong memang jauh lebih cepat, sebentar saja ia dapat menyusul dan ia memegang lengan gadis itu. Eng Lan merontas-rontas dan berteriak-teriak.
"Lepaskan aku! Jangan sentuh aku.......... Kun Hong, kau bunuhlah aku, jangan seret aku ke jurang kehinaan. Ah. suhu. ampunkan teecu yang telah menjadi seorang berbatin hina........" Gadis itu menangis makin sedih ketika tak berdaya melepaskan diri dari pegangan Kun Hong.
Kun Hong kembali menjatuhkan diri berlutut di depan Eng Lan.
246
"Eng Lan akulah orangnya yang siap sedia kau kutuk siap sedia kau maki atau kau bunuh sekalipun kalau aku yang membikin kau bersedih. Eng Lan, apakah karena aku hanya tinggal hidup dua tahun lagi maka kau tiba-tiba mengubah sikapmu? Apakah karena aku seorang penjahat yang sudah mengakui kejahatannya maka kau menjadi benci dan jijik kepadaku?"
"Tidak....... tidak........ Kun Hong kau tidak tahu. Aku tadinya datang untuk membalaskan penghinaan yang kau jatuhkan atas diri enci Siok Lan dan keluarganya. Akan tetapi....... apa yang kulakukan di sini........ ah,. benar-benar tak patut aku......."
Kun Hong bangkit berdiri dan tersenyum, menggunakan tangan mengangkat muka gadis itu dengan memegang dagunya. "Anak manis! Anak nakal! Begitu saja kau hendak memenggal lehermu yang indah itu? Hai. nanti dulu, manis! Aku mencintamu dengan segenap jiwaku, ini kau sudah yakin, bukan? Dan kaupun mencintaku, aku percaya penuh akan hal ini. Apa salahnya dalam hal ini? Bukankah cinta kasih kita suci dan bersih? Mengapa harus malu? Kecuali kalau kau merasa bahwa kau jauh lebih tinggi, lebih bersih dan lebih mulia dari pada aku, tidak ada yang harus dibuat malu!"
Eng Lan menghapus matanya dengan saputangan, lalu menatap wajah yang tampan dan nampak sungguh-sungguh itu. Ia melihat sinar terang pada wajah itu dan kembali cinta kasihnya bangkit. Ia tersenyum dan mengangguk!
"Naaahh, begitu baru anak manis yang kusayang. Eng Lan. sekali lagi aku menyatakan kepadamu, demi kehormatanku sebagai laki-laki, aku sama sekali tidak ada niat atau kesengajaan untuk menghina keluarga Kwa. Hanya kebetulan saja aku mendengar tentang Kwa Cun Ek, malah aku sama sekali tidak tahu apakah Kwa Cun Ek itu mempunyai anak gadis ketika aku membohong dan mempermainkan Kwee Sun Tek." Lalu dengan singkat ia menceritakan pertemuannya dengan Kwee Sun Tek ketika ia mencuri pedang Cheng-hoa-kiam.
Setelah mendengar penuturan Kun Hong, Eng Lan pura-pura marah, cemberut dan menegur. "Kau memang nakal. Untuk apa kau mencuri pedang orang?”
Wajah Kun Hong menjadi merah. Heran, pikirnya dalam hati, ditegur begini saja hatinya berdebar seperti anak kecil mencuri kueh ditegur ibunya!
"Aku hanya....... ingin memiliki pedang pusaka ampuh dan di samping itu, sejak kecil aku memang sudah ada keinginan menguji kepandaian Wi Liong. Selain itu," ia menyambung cepat-cepat, "pedang Cheng-hoa-kiam ini memang dahulunya bukan milik supek Thian Te Cu, melainkan milik susiok Gan Yan Ki. Entah bagaimana bisa berada di Wuyi-san. Oleh karena memang nenek moyang guru-guru kami selalu bermusuhan dan bersaing, maka aku sengaja hendak memperlihatkan bahwa perguruan kami tidak kalah oleh mereka. Sebagai bukti. Cheng-hoa-kiam sekarang berada di tanganku."
Eng Lan menggeleng-geleng kepalanya. "Aku tidak tahu dan tidak perduli akan itu semua, pokoknya aku percaya bahwa kau tidak jahat, Kun Hong."
"Terima kasih, kau seperti dewi kahyangan yang turun ke bumi untuk mengangkat aku dari lembah kesengsaraan." seru Kun Hong girang sambil memegang lengan gadis itu.
"Nanti dulu, aku takkan berjanji apa-apa kepadamu sebelum kau penuhi permintaanku." kata Eng Lan sungguh-sungguh.
247
Kun Hong melebarkan mata dan mengangkat alis. "Permintaan apa.......?"
"Jawablah dengan sejujurnya apakah kau betul-betul tidak mencinta enci Siok Lan?"
Kun Hong benar-benar terkejut dan heran mendengar pertanyaan ini, juga ia merasa penasaran mengapa gadis ini masih saja menyangsikan hatinya.
"Kalau mencinta bagaimana dan kalau tidak bagaimana?" tanyanya sambil tersenyum menggoda.
"Kalau kau mencintanya, sekarang juga kau bersama aku harus pergi ke Poan-kun untuk minta maaf dan sekalian mengajukan pinangan secara sah. Kalau kau tidak mencintanya, sekarang juga kau bersama aku harus pergi ke Wuyi-san untuk mengakui kesalahanmu di depan Thio Wi Liong, kemudian membujuk atau memaksa pemuda itu untuk menyambung ikatan jodohnya dengan enci Siok Lan yang sudah diputuskan oleh pamannya."
Sampai lama Kun Hong menatap wajah kekasihnya itu dengan mata mengandung keheranan dan kekaguman besar.
"Eng Lan....... Eng Lan....... begini anehkah watak semua gadis secantik engkau? Yang kau bicarakan itu adalah urusan Siok Lan dan Wi Liong mengapa kau mau bersusah payah karenanya dan mengajak aku serta pula? Suhu sering berkata bahwa tidak perlu kira mencampuri urusan orang lain yang tidak ada sangkut-pautnya dengan kita. yang tidak menguntungkan kita!"
Eng Lan membanting-banting kakinya dengan gemas- "Itulah celakanya! Kau sudah diracuni oleh ajaran-ajaran busuk! Selalu berpikir untuk keuntungan diri sendiri. Kun Hong, kau tidak tahu bahwa di luar dunia golonganmu kita manusia tidak selalu memikirkan kepentingan sendiri, malah selalu mencari kesempatan untuk memikirkan dan menolong orang lain. Tentang enci Siok Lan dan perjodohannya, tak dapat dipungkiri lagi kaulah biang keladinya sampai perjodohan itu diputuskan. Oleh karena itu, kau pula orangnya yang harus menyambungnya kembali."
Ucapan ini terdengar baru bagi telinga Kun Hong. Selama ia berkumpul dengan Thai Khek Sian, para selirnya. Tok-sim Sian-li, Bu-ceng Tok-ong, dan lain-lain tokoh golongan mereka selalu orang mengutamakan kepentingan sendiri. Ia mengangguk-angguk dengan kening berkerut lalu bertanya lagi,
"Kalau aku biang keladinya mengapa kau juga bersusah-payah, malah tadi kau siap mempertaruhkan nyawa membela Siok Lan?"
Eng Lan menggigit bibir dengan gemas. "Anak bodoh! Kalau bukan kau yang menjadi biang keladinya, aku takkan susah-susah seperti ini. Hayo jawab, kau pilih yang mana. Mengawini Siok Lan atau menyambung kembali ikatan jodoh antara dia dan Wi Liong?”
Kun Hong benar-benar tak mengerti. Akan tetapi mendengar desakan pertanyaan tadi, terpaksa ia menjawab. "Tentu saja aku tidak akan mengawini Siok Lan karena aku tidak mencintanya."
”Kalau begitu kita harus ke Wuyi-san sekarang juga." kata Eng Lan.
248
Di dalam hatinya. Kun Hong merasa gentar untuk pergi ke Wuyi-san. Ia tidak takut berhadapan dengan Kwee Sun Tek orang tua buta itu. juga menghadapi Wi Liong sekalipun ia tidak takut. Akan tetapi yang membuat hatinya gentar adalah Thian Te Cu, kakek yang sebetulnya masih terhitung supek-nya (uwa guru) sendiri. Andaikata supeknya turun tangan, ia dapat berdaya apakah? Betapapun juga. melihat sepasang mata bintang gadis itu menatap wajahnya penuh selidik, Kun Hong mengertak gigi dan berkata gagah.
"Baik, kupenuhi permintaanmu. Mari kita mencari Wi Liong dan kalau perlu akan kupaksa dia pergi ke Poan-kun menyambung tali perjodohannya dengan Kwa Siok Lan."
Eng Lan tersenyum girang dan dengan mesra memegang tangannya. "Kalau begitu mari kita lekas berangkat!" Ia menarik tangan Kun Hong dan pemuda ini sambil tertawa terpaksa mengikuti gadis itu berlari cepat.
"'Eng Lan, nanti dulu! Kau mengajakku ke Wuyi-san mengapa lari ke sana? Kita harus menyeberang sungai ini!"
Eng Lan berhenti, tercengang lalu tertawa. Sambil bergandengan tangan mereka lalu masuk ke dalam perahu yang telah ditinggal pergi oleh pemiliknya tadi, dan Kun Hong mendayung perahu itu ke seberang. Diam-diam ia tersenyum geli melihat kini gadis itu sama sekali tidak perduli lagi bahwa mereka telah memakai perahu orang lain. Anehnya bagi Kun Hong. setelah tiba di seberang, ia terdorong oleh semacam perasaan yang, membuat ia turun tangan mengikat perahu itu pada sebarang akar pohon agar perahu itu jangan hilang dan hanyut. Heran sekali baru kali ini ia melakukan sesuatu demi kepentingan lain orang, dalam hal ini demi kepentingan si tukang perahu agar jangan kehilangan perahunya. Dan ia tahu dengan penuh keyakinan bahwa perasaan ini timbul karena Eng Lan.!
Eng Lan nampak gembira sekali. Memang. dia gembira karena akhirnya ia toh akan dapat berjasa dalam membela Siok Lan. Kalau saja ia berhasil menghubungkan kembali perjodohan Siok Lan dan tunangannya! Dengan Kun Hong di sampingnya, ia berbesar hati dan pasti usahanya akan berhasil. Melihat wajah pemuda ini saja sudah mendatangkan keyakinan baginya bahwa bersama Kun Hong. ia akan sanggup melakukan hal-hal besar.
"Eng Lan, aku masih tidak mengerti mengapa, justeru karena aku biang keladinya, maka kau mau bersusah-payah?" di tengah perjalanan Kun Hong bertanya.
Eng Lan memandang kepadanya dengan senyum simpul. "Kelak kau akan tahu sebabnya dan sekarang tak usah kau sebut-sebut hal itu."
Kun Hong melengak. Alangkah besarnya cinta kasih di dalam hatinya terhadap gadis ini. Dengan Eng Lan di sampingnya, seakan-akan hidup ini baru baginya Ia merasa tenang, tenteram, penuh kebahagiaan.
Di lain fihak. Eng Lan yang sudah menyerahkan kasihnya kepada Kun Hong, diam-diam mempergunakan perjalanan jauh ini sebagai ujian terhadap kekasihnya. Di lubuk hatinya ia sudah percaya bahwa kekasihnya ini pada hakekatnya adalah seorang yang baik. akan tetapi kalau belum
249
terbukti, kelak hanya akan menjadi gangguan batin baginya. Maka ia sengaja tidak menjauhkan diri. dan hendak menyaksikan bagaimana watak aseli dari Kun Hong.
Akibatnya hebat bagi Kun Hong. Sering kali di waktu malam, apa bila terpaksa mereka bermalam di dalam hutan karena jauh dari kampung, melihat Eng Lan tidur di bawah pohon tidur pulas dan penuh kepercayaan kepadanya, pemuda ini duduk menjauh, bersandar pohon dan semalam suntuk tak dapat memejamkan matanya. Pelbagai rangsangan hawa nafsu yang digerakkan oleh setan yang tak pernah menjauhi manusia, membuat ia panas dingin. Akan tetapi setiap kali ia menatap wajah gadis itu, hatinya melembut dan semua rangsangan itu dapat ia tekan. Tidak, pikirnya, Eng Lan bukan seperti wanita lain. Ia mencinta gadis ini dengan murni, penuh kelembutan dan kehormatan. Ia hanya membuka jubahnya untuk diselimutkan kepada tubuh gadis itu dan seekor nyamuk kecil saja yang berani mengganggu Eng Lan. akan mampus oleh sambaran tangannya.
Demikianlah, berpekan-pekan hubungan mereka makin erat dan makin yakinlah hati Eng Lan bahwa pilihannya tidak keliru. Kun Hong benar-benar seorang laki-laki yang boleh dipercaya. Belum pernah ia diganggu di sepanjang perjalanan. Hanya beberapa kali, apa bila mereka sedang duduk berhadapan menghadapi api unggun di dalam hutan untuk mengusir dingin, pemuda itu berkata.
"Eng Lan, setelah selesai tugasku menemui Wi Liong, kau harus kembali kepada suhumu. Aku akan mencari obat dan...... dan hanya kalau kelak aku sudah terhindar dari bahaya maut yang mengeram di dalam tubuhku, aku akan mencarimu, akan meminangmu dari tangan suhumu. Sementara itu kita......... kita tak boleh berkumpul seperti ini........."
"Kenapa, Kun Hong.........?”
"Tidak baik. Eng Lan. Dan....... dan merupakan siksaan bagiku......... semua itu bukan apa-apa kalau dibandingkan dengan besarnya kekhawatiranku kalau- kalau aku......... tak dapat menahan gelora hatiku......... aku khawatir sekali........."
Eng Lan tersenyum apa bila mendengar keluhan ini, senyum bangga dan girang. Ia tahu akan perjuangan batin kekasihnya, tahu bahwa pengaruh kehidupan lama yang kotor sedang diperanginya sendiri di dalam batinnya. Dan ia senang sekali melihat Kun Hong berada di fihak yang menang. Ia mencinta pemuda ini, mencinta sepenuh jiwanya. Kepada Kun Hong seorang ia menggantungkan harapannya. Baik Kun Hong menjadi sadar maupun tetap jahat, ia tetap mencintanya. Oleh karena itu gadis ini tidak gentar menghadapi bahaya, karena ia yakin betul bahwa melakukan perjalanan bersama seorang pemuda seperti Kun Hong, merupakan bahaya besar bagi seorang gadis. Sungguhpun ia berkepandaian, namun apa dayanya terhadap Kun Hong? Kalau pemuda itu runtuh pertahanan batinnya, ia akan menjadi korban Dan andaikata terjadi hal demikian, ia akan mengundurkan diri dari Kun Hong. akan mengundurkan diri dari dunia karena idam-idaman dan cita-citanya berarti sudah hancur. Akan tetapi sebaliknya kalau pemuda itu lulus dalam "ujian" ini, ia benar-benar akan menemui kebahagiaan sejati.
Demikianlah, setelah melakukan perjalanan cukup lama. dua orang muda-mudl ini akhirnya sainpai di Wuyi-san. Karena Kun Hong sudah pernah mendatangi tempat itu, maka mudah ia mencari jalan mendaki bukit itu. Hari telah mulai gelap ketika mereka akhirnya tiba di puncak, di mana tempat tinggal Thian Te Cu. sudah kelihatan. Rumah besar dari batu bertumpuk yang kokoh, kuat itu membuat jantung Kun Hong berdebar lebih keras dari biasanya.
250
"'Kita berhenti di sini dulu." katanya sambit berhenti dan duduk di atas sebuah batu.
"Kenapa berhenti? Bukankah lebih baik terus langsung menemui Thio Wi Liong?" tanya Eng Lan.
"Tidak. Aku tidak mau mendatangkan keributan. Kalau si tua buta mendengar akan kedatanganku, pasti dia akan marah-marah dan membikin ribut. Lebih baik kita menanti dan sedapat mungkin aku hendak menjumpai Wi Liong sendiri saja."
Ucapan ini memang sesungguhnya, hanya harus ditambah sedikit bahwa sebetulnya selain alasan di atas, juga Kun Hong jerih sekali kalau sampai kedatangannya diketahui oleh Thian Te Cu dan membuat marah orang tua itu. Melihat gadis itu memandang heran dan ragu-ragu, ia melanjutkan.
"Eng Lan, kaupun tahu malam ini terang bulan purnama. Kiranya takkan sukar mencari Wi Liong. Dengan pemuda itu mungkin kita bisa bicara secara baik-baik, akan tetapi tidak demikian dengan pamannya yang keras hati."
Karena Eng Lan sendiri belum pernah bertemu dengan Kwee Sun Tek. dan iapun merasa jerih melihat bangunan yang megah dan kokoh itu, ia menurut saja akan kehendak Kun Hong. Menantilah dua orang muda-mudi ini agak jauh dari bangunan tempat tinggal Thian Te Cu itu, duduk di atas batu-batu hitam.
Tiba-tiba Eng Lan memandang wajah Kun Hong ketika ia mendengar suara yang keluar dari perut yang lapar. Ia teringat bahwa sehari itu Kun Hong belum makan sesuatu. Sudah dua hari dua malam tak pernah bertemu dengan dusun sehingga mereka hanya makan buah-buahan di hutan. Celakanya, sehari tadi mereka hanya mendapatkan sedikit buah-buah yang masak dan Kun Hong menyuruhnya makan semua sedangkan pemuda itu sendiri hanya minum air gunung dengan alasan ia belum lapar.
Kun Hong juga merasa betapa perutnya yang perih tadi mengeluarkan bunyi perlahan. Wajahnya memerah dan ia tersenyum sambil berkata kepada Eng Lan yang memandangnya dengan kasihan. "Perut tak tahu diri, sering dimanja menjadi tak tahu malu! Padahal dahulu sudah sering kali aku mengalami tak makan sampai berhari-hari."
Eng Lan menarik napas panjang. Alangkah sengsara kehidupan pemuda ini, sunyi dan kosong hidupnya.
"Kau tentu lapar sekali. Kun Hong."
"Ah. tidak apa. Sudah jamak sekali-kali mengurangi makan. Seorang gagah menganggap makan soal ke dua. Kalau kita sudah berumah tangga, tentu takkan terjadi hal seperti ini kelaparan di atas gunung." kelakarnya sambil tertawa.
Berdebar jantung Eng Lan mendengar ucapan ini. "Pulang ke rumah........." katanya perlahan tanpa memandang pemuda itu. sebaliknya menatap wajah bulan purnama yang mulai timbul dari timur. Kata-kata ini amat besar pengaruhnya, amat sedap didengar dan amat indah artinya. Pulang ke rumah, rumah dia dan Kun Hong, suaminya. Rumah yang bahagia, di mana mereka hidup aman tenteram., kasih-mengasihi, dilengkapi pula oleh suara tawa anak-anak! Belum pernah dia merasai kebahagiaan rumah tangga, seperti juga Kun Hong!
251
Bukan main indahnya pemandangan di puncak itu ketika bulan purnama bersinar-sinar di angkasa raya yang bersih dan cerah Semua nampak mandi cahaya keemasan, redup hening, sejuk bersih. Memandang ke bawah nampak puncak-puncak pohon hitam kekuningan, kadang-kadang bergerak tertiup angin, berombak-ombak membuat dua orang muda itu merasa duduk di atas sebuah perahu besar yang terapung di samudera luas. Menengok ke puncak bukit, kelihatan bangunan dengan genteng-gentengnya yang hitam merah bermandikan cahaya kuning, mengkilat seperti habis dicuci.
"Eng Lan, kau telah kuceritakan tentang riwayatku semenjak kecil. Sekarang sambil menanti bulan naik tinggi, kau berceritalah tentang dirimu. Selama ini yang kuketahui tentang kau hanya bahwa kau seorang gadis bernama Pui Eng Lan murid Pak-thian Koai-jin."
Eng Lan menjawab lirih. "Apa sih yang menarik tertang riwayatku? Semenjak kecil mengalami kesengsaraan belaka."
"Dewiku, kesengsaraan hidup di waktu kecil tak patut disesalkan, malah mereka yang belum pernah merasai kesengsaraan hidup harus dikasihani karena jiwa mereka menjadi lemah. Kesengsaraan hidup di waktu kecil merupakan gemblengan hidup, membuat orang menjadi tabah dan berpengalaman. Bukankah pengalaman-pengalaman yang pahit dan berbahaya itu justeru dapat menjadi kenangan yang tak mudah dilupa dan nikmat dibicarakan?”
Eng Lan menatap wajah kekasihnya di bawah sinar bulan purnama dengan pandang mata berseri akan tetapi ia juga terharu. Benar sekali dugaannya, kekasihnya ini bukan pada dasarnya jahat, melainkan telah terkena noda hitam karena dahulunya selalu berdekatan dengan pergaulan kotor.
"Riwayatku singkat dan tidak menarik." ia mulai menuturkan keadaan dirinya. "Entah masih ada berapa banyak gadis yang seperti aku riwayatnya, yang hingga kini masih tenis-menerus berulang, riwayat anak-anak malang para petani dusun."
Kun Hong mendengarkan dengan penuh perhatian, sepasang matanya yang tajam luar biasa itu menatap wajah Eng Lan penuh perasaan cinta kasih dan iba hati.
"Ayah bundaku petani-petani dusun yang miskin Sampai sekarangpun aku masih bertanya-tanya dalam hati mengapa para petani yang mengerjakan sawah ladang, yang memeras keringat bercocok tanam kadang-kadang malah tidak dapat makan, banyak malah yarg mati kelaparan. Tak mengerti aku mengapa di kota- kotalah tempat beras dan sayur berlimpah-limpah sedangkan di dusun, di tempat tumbuh dan dikerjakannya semua bahan pangan itu orang-orang sampai kekurangan dan kelaparan. Tentu saja aku mengerti kemudian bahwa inilah gara- gara para tuan tanah, gara-gara para pengisap darah rakyat petani yang diperlakukan lebih buruk dari pada kerbau-kerbau atau anjing-anjing. Demikian payah kehidupan para petani, tidak saja banyak di antara mereka yang mati kelaparan bahkan banyak yang terpaksa menjual anak-anak mereka, yang wanita untuk dijadikan permainan para tuan tanah dan pembesar setempat, yang laki-laki untuk dijadikan budak, dijadikan kerbau kaki dua!"
Kun Hong memandang heran. Baru kali ini ia mendengar hal-hal seperti itu dan sukar baginya untuk mempercaya. Semenjak dahulu, dia tidak pernah dihadapkan dengan hal-hal seperti itu. Dunianya yang dulu hanyalah mempergunakan kepandaian untuk memenuhi kebutuhannya, baik kebutuhan
252
sandang-pangan maupun kebutuhan lain, tanpa memperdulikan bagaimana caranya mendapatkan itu. Baik dengan merampok maupun mencuri, asalkan terpenuhi hasrat hati dan kebutuhan.
"Oleh karena keadaan hidup yang tercekik, bagi kaum tani, menikah berarti menambah beban hidup yang luar biasa, permulaan dari pada semua kesengsaraan karena sudah hampir lajim menjadi kenyataan bahwa mempunyai anak berarti sebuah malapetaka besar. Banyak sekali kandungan digugurkan, malah tidak jarang orang terpaksa mencekik mati bayi yang baru lahir, apa lagi kalau bayinya perempuan......."
"Setan.........!!" Kun Hong memaki kaget. "Bagaimana manusia bisa sekeji itu? Banyak sudah kumelihat perbuatan kejam, akan tetapi belum pernah yang sekeji itu!"
"Siapa itu yang kau katakan kejam dan keji?'
"Siapa lagi kalau bukan setan-setan yang mencekik mati bayi sendiri yang baru terlahir?”
"Kau keliru. Mereka itu lebih patut dikasihani dari pada dimaki sungguhpun aku sendiri pribadi tidak dapat menyetujui perbuatan itu," kata Eng Lan sambil menarik napas panjang.
"Lebih patut dikasihani?" Kun Hong tiba-tiba tertawa bergelak. "Eng Lan kau kadang-kadang membuat aku bingung. Dengan kau di dekatku, aku mulai belajar membedakan mana yang baik dan mana yang jahat, akan tetapi pertanyaanmu bahwa orang-orang yang mencekik mati bayinya sendiri yang baru terlahir kausebut patut dikasihani dari pada dimaki, benar-benar membuat aku bingung.
"Itulah kalau kau hanya melihat sesuatu peristiwa dari sudut terakhir saja tanpa menjenguk awalnya atau itidak mencari tahu akan sebab-sebabnya. Kau tahu Kun Hong, mereka yang terpaksa membunuh bayi sendiri itu melakukannya dengan mata tertutup dan air mata bercucuran, malah tanpa terlihat darah bercucuran di dalam hatinya. Mereka melakukannya karena terpaksa, karena maklum bahwa kalau anak itu dibiarkan hidup, apa lagi kalau perempuan kelak hanya akan mengalami kesengsaraan hidup yang tiada taranya. Baru membesarkannya saja sudah setengah mati, ayah bunda sudah kekurangan makan mana bisa ditambah mulut seorang anak lagi, apa lagi kalau perempuan? Setelah anak itu besar, akhirnya hanya akan digelandang pergi oleh tuan-tuan tanah, ya yang muda, ya yang kakek-kakek, semua mereka itu bandot-bandot belaka. Untuk mencegah hal ini kelak terjadi, malapetaka hebat yang tidak saja akan menimpa anak perempuannya akan tetapi mungkin menyeret sekeluarga, jalan satu-satunya hanya membunuh anak itu sebelum menimbulkan rasa kasih sayang yang besar."
Kun Hong melompat berdiri dan membanting-banting kakinya. Wajahnya merah dan ia kelihatan marah sekali. Dicabutnya pedang Cheng-hoa-kiam lalu diputar-putarnya pedang itu cepat bagaikan kilat menyambar-nyambar, mulutnya mengeluarkan geraman-geraman perlahan yang menggetarkan hati Eng Lan.
"Kun Hong......! Kau kenapa.......?” gadis itu menegur, heran dan khawatir.
Mendengar suara gadis ini. Kun Hong sadar kembali dan menghentikan amukannya pada udara kosong. Akan tetapi ia masih marah dan membanting- banting kakinya. "Keliru.........! Keliru besar manusia-manusia tolol itu! Itu hanya perbuatan manusia-manusia bodoh yang lemah, tiada bedanya
253
dengan anjing-anjing dipentung berlari sambil berkuikan. Ditindas dari atas malah membunuh anak sendiri! Untuk apa manusia-manusia demikian hidup?”
Karena dia sendiri anak seorang petani dusun, mendengar maki-makian ini Eng Lan menjadi panas hatinya. "Kalau menurut kau, harus bagaimana?”
"Lawan saja para penindas itu! Andaikata benar yang membuat hidup mereka demikian celaka adalah tuan-tuan tanah., para hartawan dan bangsawan di dusun, andaikata benar tuan-tuan tanah itu memeras keringat dan darah mereka, mengapa tidak serentak bangkit melakukan perlawanan? Hancurkan saja lintah-lintah darat itu, ganyang habis penindas-penindas itu, dan aku siap mengorbankan nyawa untuk membantu!" Pemuda itu berdiri tegak penuh semangat, seperti seorang patriot yang menyatakan hendak membela tanah air dari serangan musuh negara.
Eng Lan berseri kembali wajahnya, ia bangga terhadap kekasihnya. "Kalau saja banyak orang gagah seperti kau, dan kalau saja sejak dulu kau bersikap seperti ini, alangkah banyaknya orang dusun yang, tertolong hidupnya. Kun Hong. kau tidak tahu bahwa para petani miskin itu amat lemah kedudukannya. Apakah daya mereka? Aku lebih tahu karena dahulu akupun anak petani di dusun. Berapa banyaknya petani yang sudah nekat dan memberontak, akan tetapi dalam beberapa hari saja habis dibasmi oleh kaki tangan hartawan dan bangsawan di dusun yang rata-rata terdiri dari tukang-tukang pukul yang kuat dan berkepandaian.? Sungguh celaka keadaan mereka, tidak melawan mati kelaparan atau sedikitnya hidup seperti binatang, kalau melawan tewas semua dengan sia-sia. Kalau tidak orang-orang seperti kita yang turun tangan membantu biar seratus tahun lagi mereka akan tetap tertindas dan terhisap."
"Aku akan membela mereka!" teriak Kun Hong bersemangat.
Eng Lan memegang tangan pemuda itu dan matanya berlinang. "Terima kasih, Kun Hong. Bagus sekali kau bersikap seperti ini. Jangan kau kembali seperti dulu. membantu penjajah Mongol yang menambah beban rakyat karena para tuan tanah dan bangsawan itu rata-rata juga telah menjadi kaki tangan penjajah itu."
"Apa.........?" Kun Hong menjadi pucat.
"Kau bilang bahwa dulu aku malah membantu mereka yang membikin celaka rakyat jelata?”
"Tidak salah. Dengarlah ceritaku selanjutnya agar kau tahu manusia macam apa itu bangsawan Liu yang hendak kau bela di kota raja, hartawan yang putus lehernya oleh pedangku."
Kun Hong ditarik lengannya dan duduk kembali di atas batu siap mendengarkan cerita gadis yang sudah dapat membuat ia terpengaruh lahir batin itu.
"Seperti kuceritakan tadi. ayah bundaku petani-petani miskin sekali yang penghasilannya hanya mengerjakan sawah tuan tanah sebagai buruh tani. Berpuluh tahun keringat dari darah ayah bundaku diperas untuk menggarap sawah dan memenuhi gudang tuan tanah sedangkan ayah ibu hanya menerima sekedar tidak kelaparan. Ayah ibu hanya punya dua orang anak perempuan, enciku dan aku. Enci sudah menikah dengan seorang pemuda tani juga dan pindah ke dusun dekat kota tempat tinggal hartawan Liu untuk mengerjakan sawah hartawan itu. Aku tinggal bersama ayah bundaku.
254
Kemudian malapetaka menimpa keluarga kami ketika aku berusia limabelas tahun. Tuan tanah yang dikerjakan sawahnya oleh ayah, mempunyai niat jahat terhadap diriku. Ayah dan ibu biarpun miskin, namun tidak sudi menuruti permintaannya. Bermacam usaha dan jalan dilakukan oleh tuan tanah jahanam itu, sampai akhirnya ayah ibu mereka tahan dengan tuduhan menggelapkan hasil panen dan aku yang ditinggal seorang diri diculik oleh kaki tangannya."
"Keparat jahanam! Katakan siapa dan di mana tuan tanah itu, akan kuhancurkan kepalanya!" Kun Hong membentak dan mengenal tinjunya.
"Sabar dan dengarkan saja sampai habis," Eng Lan menghibur sambil menangkap dan menggenggam tangan kekasihnya itu.
"Baiknya pada waktu itu muncul suhu di dusun itu. Suhu menolongku dan membunuh tuan tanah keparat. Ketika suhu hendak menolong ayah bundaku, ternyata ayah ibu telah...... mati di dalam kamar tahanan, membunuh diri dengan......... membenturkan kepala pada dinding......"
Sampai di sini Eng Lan menangis sedih. Kun Hong memeluk dan mendekap kepalanya, mengelus-elus rambut gadis itu dengan menahan air matanya sendiri.
"Kasihan sekali kau......... dewiku........."
Tak lama kemudian Eng Lan sudah dapat menguasai dirinya dan dia melanjutkan ceritanya.
"Karena aku tiada sanak kadang lagi, dan karena suhu kasihan melihatku semenjak saat itu aku menjadi muridnya. Suhu menjadi pengganti orang tuaku dan aku berlatih ilmu dengan giat karena aku menjadi yakin bahwa hanya dengan memperkuat diri dan bersatu dengan rakyat jelata maka kelak kita akan dapat mengubah keadaan rakyat, yang demikian sengsaranya. Kemudian dapat kaubayangkan betapa sakit hatiku ketika mendengar bahwa enciku sekeluarga juga dibunuh habis oleh kaki tangan bangsawan Liu karena hartawan itu tergila-gila melihat kecantikan enciku. Aku mendengar bahwa keparat itu sudah pindah ke Peking. Aku mohon pertolongan suhu dan akhirnya seperti kau ketahui, aku berhasil membalas sakit hati enciku dan membunuh keparat she Liu tua bangka mata keranjang itu. Kebetulan sekali aku mendapat bantuan enci Siok Lan dan susioknya (paman gurunya) maka segala sesuatu berjalan lancar."
Pada saat Eng Lan mengakhiri ceritanya, bulan sudah naik tinggi dan keadaan malam itu menjadi makin terang dan makin sejuk. Tiba-tiba terdengar suara tiupan suling yang amat indah. Lagu yang ditiup dari suling itu adalah lagu yang terkenal yaitu lagu "Penggembala Merindukan Puteri" sebuah lagu percintaan yang dipetik dari sebuah dongeng tentang penggembala yang melihat puteri raja dan jatuh hati kepadanya. Penggembala itu setiap hari menumpahkan rasa rindunya melalui suling. Demikian pandai ia menyuling, demikian indah suara sulingnya sampai-sampai ia menjadi terkenal dan diundang ke istana untuk bermain suling di depan keluarga raja termasuk...... sang puteri itu! Saking bagusnya ia menyuling dan saking kagumnya keluarga raja mendengar tiupan suling penuh perasaan ini, raja lalu menjanjikan hadiah dan menyuruh penggembala itu memilih sendiri hadiahnya. Tanpa ragu-ragu lagi penggembala itu menunjuk pilihannya, yaitu...... sang puteri itulah! Raja dan orang-orang lain di situ kaget sekali. Raja marah, menyuruh tangkap penggembala itu dan menyuruh algojo memenggal batang lehernya di saat itu juga! Melihat ini. sang puteri jatuh sakit sampai matinya.
255
Demikianlah dongeng itu yang tersusun dalam sebuah lagu yang kini dimainkan orang denngan suling di tengah kesunyian malam bulan purnama itu. Untuk sejenak Eng Lan dan Kun Hong saling pandang dengan heran, mendengarkan dengan kagum karena suling itu ditiup dengan penuh perasaan pula dan mendengar suara suling melengking begitu halus dan nyaring, diam-diam Kun Hong terkejut karena maklum bahwa peniupnya tentulah seorang ahli khikang yang pandai.
"Mari, sudah waktunya kita mencari Wi Liong," bisiknya. Dengan pedang Cheng-hoa-kiam di tangan. Kun Hong berjalan menuju ke bangunan itu, diikuti oleh Eng Lan.
Akan tetapi, seluruh bangunan kelihatan gelap dan sunyi saja. Yang ada hanya suara suling ditiup makin asyik, mendatangkan suasana romantis dan juga agak ganjil. Ketika mereka sudah mendekati bangunan kuno itu ternyata bahwa suara suling terdengar dari belakang bangunan, akan tetapi dari atas datangnya!
"Agaknya orang sudah menanti kunjungan kita dan sengaja menyambut dengan suara suling di atas genteng" kata Kun Hong yang mengenal watak yang aneh-aneh dari orang-orang kang-ouw. Apa lagi di tempat kediaman Thian Te Cu hal seperti itu bukan aneh namanya.
"Ssttt.........!" Eng Lan menyentuh tangan Kun Hong dari belakang. Pemuda ini menengok dan ia melihat dua bayangan orang berkelebat, menyusul dari belakang. Kun Hong cepat bersiap-siap, akan tetapi oleh karena mengira bahwa dua orang itu tentu fihak tuan rumah, tidak baik kalau ia memegang pedang terhunus. Cepat ia menyimpan pedangnya di balik baju. Siapa kira dalam saat itu juga, dua orang itu serta-merta tanpa banyak cakap lagi sudah melompat maju dengan kecepatan kilat, menyambar dan menyerang dia dan Eng Lan! Kun Hong terkejut sekali melihat serangan ini yang mengandung hawa pukulan kuat sekali. Ia tahu bahwa Eng Lan takkan mungkin dapat menahan serangan sehebat ini. maka cepat sekali ia mendorong tubuh kekasihnya sampai Eng Lan mencelat dan bergulingan jauh!
Akan tetapi pada saat itu, serangan dua orang itu sudah sampai, malah yang tadinya hendak menyerang Eng Lan, melihat gadis itu didorong pergi lalu membalik dan mengalihkan penyerangannya kepada Kun Hong. Dengan demikian secara bercubi-tubi Kun Hong menghadapi dua serangan dahsyat. Pemuda ini cepat menggerakkan kaki dan kedua tangannya menyampok serangan-serangan itu.
"Plak! Plak!!" Cepat sekali dua tangannya berhasil menyampok dua kepalan tangan, akan tetapi betapa kagetnya ketika ia merasa kedua tangannya sakit ketika bertemu dengan dua buah tangan yang keras laksana besi baja! Namun Kun Hong adalah murid Thai Khek Sian, ilmu silatnya aneh dan luar biasa sekali, gerakannya cepat tak terduga. Dalam keadaan terserang tadi, begitu menangkis ia sudah dapat menyusul dengan dua macam serangan ke arah dua orang, lawan yang belum ia lihat betul keadaan orangnya. Lawan yang agak tinggi bingung menghadapi pukulan Kun Hong. hendak menangkis namun kurang cepat sehingga pundaknya kena diserempet, membuat ia mengaduh dan terhuyung ke belakang. Akan tetapi lawan ke dua yang bertubuh gemuk pendek, menghadapi pukulan Kun Hong dengan kedua tangan didorong ke depan. Kun Hong terkejut dan maklum bahwa lawan hendak mengadu tenaga. Ia hendak menarik tangannya sudah tidak keburu.
256
"Dukkk............!!" kepalan tangan Kun Hong membentur telapak tangan si gemuk pendek itu. Kun Hong merasa seperti menghantam dinding baja. Rasa panas yang aneh menjalar cepat dari kepalan tangan, menikam jantungnya.
"Huakk............! ' Tak dapat ditahan lagi Kun Hong muntahkan darah segar yang seakan-akan menyembur keluar dari dalam dadanya. Sementara itu, si gemuk pendek terjengkang lalu bergulingan dan melompat berdiri lagi.
"Kun Hong............" Eng Lan menjerit dan gadis ini sudah mencabut pedangnya untuk bersiap membantu kekasihnya. Namun Kun Hong memberi isyarat supaya ia mundur dan kini pemuda ini tanpa mengeluarkan kata-kata lagi sudah mencabut Cheng-hoa-kiam dan menghadapi dia orang itu yang juga sudah mencabut pedang masing-masing. Kun Hong tidak berani mengeluarkan kata- kata karena ia maklum bahwa isi dadanya terluka hebat. Ia teringat akan pesan Liong Tosu, guru besar yang aneh dari Kun-lun-pai itu bahwa biarpun ia sudah diobati oleh Liong Tosu. namun kalau ia berhadapan dengan ahli gwakang ia akan celaka, kecuali kalau ia sudah mendapat pengobatan dari hwesio hitam yang tinggal di puncak Houw-thouw (Kepala Harimau) di Pegunungan Bayangkara. Sekarang ia telah terluka karena tadi ia mengadu tenaga dengan si gemuk pendek yang ternyata adalah seorang ahli gwakang!
"Ha-ha-ha. apakah kau murid Thian Te Cu? Kepandaianmu boleh juga, akan tetapi kau sudah terluka hebat. Lebih baik kau panggil Thian Te Cu keluar agar tua bangka itu dapat merasai kelihaian, kami Im-yang Siang-cu!" kata si gemuk pendek.
Kun Hong diam-diam merasa geli. Biarpun dua orang ini cukup lihai, akan tetapi mana bisa melawan Thian Te Cu? Akan tetapi karena tak berani mengeluarkan suara ia hanya menjawab pertanyaan itu dengan serangan pedang Cheng-hoa-kiam di tangannya. Pedang pusaka ini berkelebat bagaikan kilat menyambar, cepat dan tidak terduga gerakan-gerakannya. Dua orang itu melihat pedang Cheng-hoa-kiam menjadi bersemangat.
"Cheng-hoa-kiam di tanganmu, tentu kau murid Thian Te Cu!" kata yang gemuk pendek sambil memutar pedangnya, disusul oleh orang kedua. Akan tetapi segera mereka melompat mundur karena sinar pedang Cheng-hoa-kiam yang dimainkan secara istimewa oleh Kun Hong membuat pandangan mata mereka menjadi silau dan bingung.
"Ini ilmu pedang apa?'" bentak si gemuk pendek, heran dan juga kagum. "Apa kau bukan murid Thian Te Cu?”
Mana Kun Hong mau mengobrol panjang lebar? Pemuda ini sudah terluka parah, kepalanya pening dadanya panas sekali. Pedangnya menjawab pertanyaan orang dengan serangan kilat lagi. Si gemuk pendek menangkis dengan pedangnya yang ternyata juga pedang pusaka. Terdengar suara nyaring, bunga api berhamburan dan si gemuk itu memekik keras. Kun Hong telah mempergunakan ilmu pedang warisan gurunya yang luar biasa, yaitu ketika kedua pedang bertemu, pedang Cheng-hoa-kiam menggeser turun di sepanjang pedang lawan untuk menyerang tangan atau jari yang memegang pedang itu. Inilah siasat licik dan curang yang memang merupakan kelihaian ilmu silat Thai Khek Sian. Si gemuk itu sama sekali tidak pernah menyangka maka dalam segebrakan itu sebuah jari tangannya, yang tengah, terbabat putus setengahnya.
257
Kawannya menjadi marah dan hendak menyerbu, akan tetapi tiba-tiba iapun berseru kaget ketika lehernya disambar benda kecil keras sekali sampai terasa sakit dan membuat matanya berkunang. Cepat tangan kirinya menyambar benda itu, dan ternyata itu adalah sepotong pecahan genteng! Si gemuk yang jari tengah tangan kanannya putus, juga tiba-tiba tertimpuk dadanya.
"Thian Te Cu curang.........!" teriak mereka lalu kabur, melarikan diri sipat kuping ke bawah gunung.
Kun Hong maklum bahwa dia dibantu orang, akan tetapi ia sudah terlalu pening untuk dapat melihat siapa pembantunya dan iapun tidak ada tenaga untuk mengejar dua orang itu. Eng Lan segera menghampirinya dan memegang lengannya.
"Kun Hong........ kau........ kau tidak apa-apa.........?"
Dengan pedang Cheng-hoa-kiam di tangan kanan Kun Hong menggunakan lengan kirinya mengusap bibirnya untuk membersihkan darah, lalu menatap wajah Eng Lan sambil tersenyum dan menggeleng kepala.
"Akan tetapi......... kau tadi........ muntah darah........." gadis itu berkata lagi penuh kegelisahan. "Kun Hong, kau terluka parah.........”
Kun Hong sudah dapat mengatur pernapasannya dan kepeningannya tadi lenyap, hanya di bagian dada masih terasa sakit dan panas. Akan tetapi ia memaksa diri berkata sambil tersenyum. "Lukaku yang kemarin ini akibat pukulan totokan Im-yang-lian-hoan Kun-Iun-pai, tidak apa-apa...........” Ia memeluk pundak nona itu dengan lengan kirinya. "Eng Lan, hayo kita mencari Wi Liong.......”
Suara suling tadi berhenti sebentar ketika Kun Hong bertempur, akan tetapi sekarang sudah berbunyi lagi. Tentu saja dua orang muda-mudi itu tadi tidak memperhatikan hal ini dan baru sekarang suara suling yang memecah kesunyian malam itu menarik perhatian mereka lagi. Tiba-tiba Kun Hong teringat akan sesuatu dan ia tertawa.
"Alangkah bodohku. Yang menyuling itu siapa lagi kalau bukan Wi Liong? Hayo kita naik ke sana!" Ia menuding ke atas. ke arah genteng bangunan kuno itu.
Eng Lan juga teringat bahwa dahulu Wi Liong bersenjata sebuah suling. Memang amat boleh jadi pemuda itulah yang menyuling di saat itu. Diam-diam ia berdebar dan mukanya menjadi merah kalau teringat betapa dahulu suhunya hendak menjodohkan dia dengan Thio Wi Liong. Baiknya sinar bulan tidak cukup terang untuk dapat menyinari perubahan air mukanya maka Kun Hong tidak melihat perubahan muka Eng Lan yang memerah itu. Ia lalu menggandeng tangan Eng Lan. diajak melompat ke atas genteng. Kemudian Kun Hong berjalan di depan dengan pedang Cheng-hoa-kiam di tangan sedangkan Eng Lan berjalan di belakangnya. Mereka berjalan di sepanjang wuwungan rumah menuju ke arah suara suling yang keluar dari sebelah belakang bangunan itu.
Setelah mereka tiba di atas bangunan belakang ternyata bahwa dugaan mereka betul. Di atas wuwungan rumah, di bawah sinar bulan purnama, duduklah Wi Liong menyandarkan tubuh pada dinding loteng. Ia asyik menyuling dengan kedua mata meram, begitu asyik seakan-akan ia tidak berada di dunia ini. Ia hanyut oleh ayunan suara sulingnya yang menggetar-getar, tanda bahwa peniupnya menyuling dengan penuh perasaan.
258
Kun Hong berhenti dan menatap Wi Liong dengan mata berseri. Sekaranglah tiba saatnya ia berhadapan muka dengan musuh bessr sejak kecilnya. Sekarang ia mendapat kesempatan untuk menantang Wi Liong berpibu, mengadakan pertandingan sampai seribu jurus sampai seorang di antara mereka mengakui keunggulan lawan! Ingin ia membentak Wi Liong dan menantangnya, akan tetapi tiba-tiba Eng Lan dari belakang menyentuh tangannya dan memberi isyarat supaya Kun Hong jangan mengganggu orang yang sedang begitu asyiknya menyuling. Terpaksa Kun Hong menunda niatnya dan ikut mendengarkan. Ia melihat Eng Lan ikut terharu dan tertarik sekali akan lagu itu. Memang, Eng Lan mengenal baik lagu baru yang ditiup oleh Wi Liong melalui sulingnya, yaitu lagu "Bulanku Jangan Lari" yang kata-katanya ia kenal seperti berikut
"Bulan....... dewi malam juita
Kau terbang tinggi, hendak ke mana?
Berkejaran dengan barisan mega
Kau hendak mencari siapa?
Bulan, sinarmu menerangi hatiku
Mengisi dada ini penuh rindu
Bulan, bulanku, jangan kau lari
Tunggulah daku, wahai dewi........"
Wi Liong berhenti meniup. Suara suling melenyap dan di dalam suasana hening itu mulai terdengar lagi suara binatang-binatang kecil yang tadi seakan- akan menghentikan suara mereka untuk menikmati suara suling itu. Pemuda ini untuk sejenak bengong menatap ke angkasa raya seperti mencari-cari sesuatu, kemudian tiba-tiba ia menoleh dan memandang kepada Kun Hong dan Eng Lan.
"Kun Hong, apakah kau datang hendak mengembalikan pedang dan minta maaf kepada suhu? Pedang boleh kau kembalikan kepadaku, akan tetapi suhu tak dapat diganggu."
Sejak disentuh tangannya oleh Eng Lan tadi. Kun Hong teringat lagi bahwa maksud kedatangannya bukan sekali-kali untuk kepentingannya sendiri, bukan untuk menantang pibu kepada pemuda saingannya ini, melainkan untuk memenuhi tugasnya membujuk Wi Liong menyambung kembali perjodohannya dengan Kwa Siok Lan! Kini mendengar kata-kata Wi Liong yang sudah berdiri di depannya, ia tersenyum mengejek dan berkata.
"Wi Liong, jangan kau sombong. Pedang ini dahulu milik Wuyi Sam-lojin. dan kemudian menjadi perebutan dan menjadi lambang kejayaan. Siapa dapat memilikinya berarti ia unggul dalam hal kepandaian. Kalau kau sanggup, boleh kau merampasnya dari tanganku. Tentang minta maaf kepada suhumu Thian Te Cu si orang tua, tiada perlunya karena aku tidak ada urusan dengan dia Kedatanganku malam-malam di sini kali ini bukan untuk menguji kepandaian, melainkan untuk memberi peringatan kepadamu tentang perbuatanmu yang sewenang-wenang terhadap nona Kwa Siok Lan puteri Kwa Cun Ek lo-enghiong di Poan-kun!"
Wi Liong mengangkat alisnya, memandang kepada Kun Hong dengan heran dan tertarik. Kemudian ia tersenyum lebar. Kali ini ia mengalihkan pandang matanya kepada Pui Eng Lan yang sejak tadi menundukkan muka saja dan bersembunyi di balik tubuh Kun Hong yang bidang, agaknya mencoba berusaha supaya Wi Liong tidak mengenal mukanya.
259
"Kun Hong kau benar-benar orang aneh yang mengherankan dan sukar diketahui hatinya. Patut benar kau menjadi murid Thai Khek Sian. Kau dahulu mencuri pedang Cheng-hoa-kiam di sini, lalu mengaku kepada paman Kwee Sun Tek bahwa kau melakukan perhubungan gelap dengan nona Kwa Siok Lan yang ditunangkan dengan aku di luar kehendakku itu. Karena aku memang tidak setuju ditunangkan secara begitu saja tanpa mengenal bagaimana watak tunanganku, aku berterus terang kepada paman. Paman lalu memutuskan pertunangan itu. Kenapa kau sekarang datang-datang menuduh aku berlaku sewenang-wenang?"
"Pamanmu terlalu bodoh sehingga percaya saja kepada kelakarku. Nona Kwa Siok Lan tidak kenal padaku dan kau harus menyambung kembali ikatan jodoh itu agar tidak menodai nama baik keluarga Kwa!"
Wi Liong tertawa keras dan memandang ke arah bulan. "Benar-benar orang aneh! Kau yang menimbulkan gara-gara dan sekarang kau berlaku sebagai comblang hendak menjodohkan aku kembali dengan nona Kwa? Anehnya, kau datang bersama......... kalau tidak salah nona Pui murid dari Pak-thian Koai-jin. Apa artinya ini? Ada keperluan apakah nona Pui datang ke Wuyi-san. kalau sekiranya aku boleh bertanya?"
Dengan muka kemerahan Eng Lan menjawab.
"Aku sebagai sahabat baik enci Siok Lan, sengaja mencari saudara Kun Hong dan mengajaknya ke sini untuk merundingkan hal ini denganmu. Enci Siok Lan tidak berdosa apa-apa, sungguh tidak semestinya pertunangan itu diputuskan."
Wi Liong merasa tersinggung kehormatannya. Ia salah duga. Ia pikir tentu nona Pui ini mengandung dendam kepadanya karena dahulu ia pernah menolak usul guru nona itu supaya ia berjodoh dengan Pui Eng Lan. Dan siapa tahu kalau-kalau mereka berdua ini bersekongkol. Baginya baik Kwa Siok Lan mempunyai hubungan dengan Kun Hong atau tidak, sama saja. Ia tidak mungkin bisa menikah dengan orang yang tidak dicintanya, malah yang belum pernah dilihatnya. Pamannya sudah membatalkan pertunangan itu, mana ada keputusan seorang gagah dirobah atau dicabut kembali?
"Apa maksud kalian begitu baik hati memikirkan tentang perjodohanku, benar-benar merupakan teka-teki sulit bagiku," katanya mengejek. "Kun Hong, aku tahu benar bahwa tentu bukan karena hatimu terlalu baik kepadaku maka kau pianhoa (beralih rupa) menjadi comblang ini. Akan tetapi ketahuilah bahwa sekali pertunangan itu diputuskan, tetap sudah putus tak dapat disambung lagi!"
"Wi Liong!" Kun Hong membentak keras. "Sudah kukatakan nona itu tidak bersalah, hanya aku yang mengeluarkan ucapan main-main kepada pamanmu yang goblok itu. Kau harus menyambung kembali ikatan jodohmu dengan nona Kwa."
"Dia bersalah atau tidak, tetap aku tidak suka berjodoh dengan orang yang belum pernah kulihatnya. Kau ini mengharuskan dan hendak memaksa padaku berdasarkan alasan apa dan kau hendak mengandalkan apakah?"
"Mengandalkan ini!" kata Kun Hong melonjorkan pedangnya. "Mau atau tidak, kau harus menyatakan kesanggupanmu untuk mengikat kembali pertunangan itu,"
260
Wi Liong naik darah. "Bagus kiranya ke situ jurusannya? Kun Hong. kalau kau hendak menantangku, mengapa mesti menggunakan alasan yang bukan- bukan tentang perjodohan? Mau memamerkan kepandaianmu yang kaudapat dari raja siluman Thai Khek Sian? Boleh, kau majulah!"
Pada saat itu, dari bawah terdengar bentakan keras dan sebuah benda hitam besar sekali melayang naik ke arah tiga orang muda itu. Dari sambaran angin yang datang meniup, dapat diketahui bahwa benda itu luar biasa beratnya, dilempar dengan tenaga dahsyat pula. Setelah benda itu menyambar dekat. Eng Lan melompat ke samping dan berseru kepada Kun Hong. "Awas!"
Benda itu ternyata adalah sebuah batu hitam yang sebesar gentong air, beratnya ratusan kati. Dapat melemparkan batu besar itu ke atas genteng. sungguh menyatakan bahwa yang melakukannya memiliki tenaga yang hebat sekali. Biarpun Eng Lan telah mewarisi ilmu silat tinggi dari Pak-thian Koai-jin. akan tetapi melihat sambaran batu besar ini ia menjadi ngeri juga dan tentu saja cepat melompat minggir supaya jangan diterjang batu. Karena Kun Hong berdiri di sebelah pinggir, maka sebelum menyerang Wi Liong, lebih dulu batu besar itu mengancam Kun Hong.
Pemuda ini tidak menjadi, gugup. Biarpun ia terluka hebat, namun ilmu kepandaiannya cukup tinggi untuk menghadapi serangan kasar ini saja. Kaki kirinya diangkat dan ujung sepatunya menyambut batu itu. Aneh sekali! Batu besar itu begitu bertemu dengan ujung sepatu kaki Kun Hong, lalu berputar-putar cepat di atas kaki, kemudian sekali menggerakkan kakinya, Kun Hong telah melanjutkan atau mengoper batu besar itu ke arah Wi Liong! Inilah semacam penyerangan untuk menguji kekuatan lawan.
"Bagus!" Wi Liong memuji dan karena ia memperhatikan datangnya batu besar, ia tidak melihat betapa mulut Kun Hong menyeringai sedikit menahan sakit ketika tadi ia mengerahkan sedikit tenaga untuk mempermainkan batu dengan tenaga lweekangnya. Karena tidak ingin menghadapi penyerangan gelap dari bawah, Kun Hong sudah membetot lengan Eng Lan diajak melompat ke bawah. Lebih baik menghadapi lawan berterang di bawah dari pada menghadapi lawan gelap di atas genteng.
Sementara itu, dengan tenang Wi Liong mengulur tangan kiri dengan jari-jari tangan terpentang. Dengan tangan ini ia menerima batu besar tadi. disangganya dan iapun melompat ke bawah dengan batu itu masih disangga tangan kirinya. Ini saja sudah membuktikan bahwa tenaga dalam dan ilmu ginkang dari pemuda murid Thian Te Cu ini sudah benar-benar hebat sekali.
Ketika melompat ke bawah. Wi Liong melihat dua orang tua, seorang gemuk dan seorang kurus, memegang pedang menyerbu Kun Hong sambil membentak. "Kau masih belum mampus?"
Wi Liong marah sekali. Tadi ketika ia sedang menyuling, ia sudah melihat Kun Hong dikeroyok dua orang ini. Karena ia tahu bahwa Kun Hong cukup lihai, ia hanya membantu diam-diam dengan sambitan-sambitan pecahan genteng hanya dengan maksud mengusir dua orang itu. Kenapa mereka masih belum kapok dan berani datang lagi?
”Manusia-manusia tak tahu diri pergilah dari sini!" seru Wi Liong sambil melemparkan batu besar itu ke arah mereka!
261
Batu itu melayang cepat ke bawah, akan tetapi tiba-tiba entah dari mana datangnya sosok bayangan orang tinggi besar telah berkelebat dan melompat naik ke udara menyambut batu besar itu yang terus dihantamnya.
"Darrr!" Batu besar itu pecah berantakan ke sana ke mari seperti tertumbuk oleh sebuah palu raksasa!
Wi Liong terkejut bukan main. Ia maklum bahwa yang datang ini adalah seorang sakti luar biasa, maka cepat-cepat ia melompat dan menghadapi orang itu. Ternyata dia seorang kakek tua yang kepalanya botak, matanya besar-besar dan potongan serta pakaiannya seperti seorang sai-kong. Lengan tangannya berbulu dan ia nampak kuat bukan main, biarpun sudah sangat tua,
"Ha-ha-ha-ha, Thian Te Cu sudah begitu kecil nyalinya sampai melatih dua orang murid untuk menjaga diri. Ha-ha-ha! Bocah, kepandaianmu tidak jelek, cukup berharga untuk melayani lohu bermain-main. Sambutlah!" Sambil berkata demikian, sai-kong tua iitu bergerak maju dan tangan kirinya menampar.
Wi Liong mendongkol sekali. Tak dapat disangkal pula bahwa kakek ini adalah seorang tokoh besar persilatan yang asing, namun kesaktiannya tinggi. Akan tetapi mengapa begini sombong? Karena orang itu tidak memberi kesempatan bicara kepadanya, iapun tidak mau banyak cakap lagi. Ia melihat Kun Hong sudah didesak dua orang berpedang itu, maka menghadapi tamparan tangan kiri yang dilakukan seolah-olah seorang dewasa menggertak anak kecil, Wi Liong mengerahkan tenaga di tangan kanan untuk menangkis.
Akan tetapi alangkah terkejutnya ketika tiba-tiba angin pukulan menyambarnya bukan dari kiri melainkan dari kanan dan ternyata bukan tangan kiri yang menamparnya, melainkan tangan kanan! Saking kagetnya Wi Liong sampai mencelat ke belakang untuk menghindarkan diri. Kakek itu terkekeh. "Heh-heh bagus kau dapat mengelak. Awas pukulan ini!" Dari jauh kakek itu memukul dengan tangan kanan Wi Liong bersiap-siap karena menduga bahwa lawan hendak menggunakan pukulan jarak jauh. Ia tidak gentar karena sinkang di tubuhnya cukup kuat dan ia bersiap menangkis.
Akan tetapi ia makin terkejut ketika melihat tiba-tiba lengan tangan kakek itu menjadi "mulur" panjang sekali dan tahu-tahu sudah mencengkeram ke arah dadanya! Cepat ia menyampok dengan tangan sambil miringkan tubuh dan memindahkan langkah, akan tetapi secara luar biasa sekali tahu-tahu tangan kedua kakek itu juga sudah mulur dan menyambar lehernya! Hanya dengan membanting tubuh ke belakang dan berjumpalitan, baru Wi Liong terhindar dari bahaya serangan hebat itu.
Hebat, pikirnya. Tak disangkanya kakek ini demikian lihai dan ilmu memanjangkan anggauta tubuh ini belum pernah ia saksikan sehelumnya sungguhpun ia pernah mendengar suhunya bicara tentang itu. Akan tetapi Wi Liong tidak menjadi gentar dan ia tidak mau membiarkan dirinya menjadi sasaran serangan lawan terus-menerus. Cepat ia membalas dengan serangan pukulan-pukulan, kini tanpa ragu-ragu ia mempergunakan sulingnya karena maklum bahwa ia menghadapi lawan yang berat.
Kakek itu mengeluarkan suara aneh, seperti orang heran dan kagum, juga penasaran. Ia menarik kembali kedua tangannya menjadi biasa ukurannya, kemudian ia melawan Wi Liong dengan dua tangan kosong. Biarpun ia bertangan kosong akan tetapi Wi Liong harus menghadapi sepasang tangan ditambah sepasang ujung lengan baju yang tidak kalah ampuhnya oleh sepasang pedang! Setelah
262
beberapa gebrakan, barulah Wi Liong tahu bahwa lawannya benar-benar tangguh dan yang amat mengherankan hatinya, langkah-langkah yang dipergunakan kakek ini tidak banyak bedanya dengan langkah-langkah ilmu silatnya sendiri. Jelas dapat dilihat olehnya bahwa ilmu kepandaian mereka bersumber satu.
Wi Liong boleh merasa beruntung bahwa saat itu Kun Hong berada di situ. Menghadapi kakek botak ini saja ia mendapatkan lawan setanding. kalau dua orang kakek lain itu datang mengeroyok kiranya ia takkan kuat menahan karena dua kakek itupun lihai sekali ilmu silatnya. Dengan adanya Kun Hong. maka dua orang kakek itu tidak mendapat kesempatan membantu kawannya yang sedang bertanding melawan Wi Liong.
Kun Hong memang boleh dipuji. Dia telah terluka hebat, namun dengan semangat menggelora ia masih dapat membuat dua orang lawannya sukar untuk mengalahkannya. Pedang Cheng-hoa-kiam kali ini betul-betul memperlihatkan keampuhannya. Berkali-kali terdengar suara nyaring disusul oleh muncratnya bunga api. Dua orang kakek itu biarpun mulai mendesak namun hati mereka penasaran karena pedang mereka sudah mulai rusak dan gempil setelah berkali-kali beradu dengan Cheng-hoa-kiam.
Eng Lan melihat kekasihnya yang terluka itu dikeroyok tadinya segera mencabut pedang dan membantu. Akan tetapi baru beberapa belas jurus saja ia sudah terdesak mundur. Ia hendak nekat terus. akan tetapi Kun Hong berseru menyuruh ia mundur. Tak mau pemuda ini melihat kekasihnya terancam bahaya. Ia maklum bahwa betapapun tinggi Eng Lan mewarisi ilmu silat dari Pak-thian Koai-jin. dua orang ini masih terlalu berbahaya bagi gadis itu. Dua orang ini memiliki tingkat kepandaian yang mungkin tidak kalah oleh Pak-thian Koai-jin sendiri!
Sementara itu. kakek botak yang bertempur melawan Wi Liong, setelah berkali-kali mengeluarkan seruan aneh. harus mengakui bahwa gerakan senjata suling pemuda itu benar-benar sukar ditembusi. Kakek ini sudah mengerahkan tenaga, memusatkan semangat untuk mengalahkan Wi Liong, namun sia-sia. Pertahanan pemuda ini demikian kuat seperti benteng baja yang tak mungkin ditembusi atau dihancurkan.
"Bagus! Murid Thian Te Cu lumayan juga. Biar lain kali kami minta tambahan pelajaran dari Thian Te Cu sendiri!" seru kakek botak ini yang disusul dengan suitan keras dan kata-kata terhadap dua orang lain yang mengeroyok Kun Hong, "Mundur.........!"
Dua orang kakek itu masih penasaran. Sehelum mundur, yang tinggi cepat melakukan serangan dari bawah dengan babatan pedangnya. Kun Hong melompat ke atas dan pada saat itu yang gemuk pendek mengeluarkan seman keras, melepaskan pedangnya dan kedua tangannya bergerak, yang kiri merampas pedang yang kanan melakukan pukulan dorongan dengan tenaga gwakang sepenuhnya. Ia sudah maklum bahwa lawan muda itu tadi terluka oleh pukulan gwakangnya, maka sekarang dalam saat terakhir ia hendak, menggunakan lagi serangan seperti ini.
Kun Hong terkejut sekali. Maklumlah ta bahwa kalau ia menyambut serangan ini, nyawanya bisa melayang. Ia lebih sayang nyawa dari pada pedang maka terpaksa ia melempar tubuh ke belakang sambil menyambitkan Cheng-hoa-kiam ke arah penyerangnya. Kakek gemuk pendek itu tertawa lebar dan cepat ia menyambar pedang itu dengan mudah, lalu sambil teritawa-tawa dia berlari pergi dengan dua orang kawannya.
263
Wi Liong yang melihat mereka pergi cepat berseru, ”Sam-wi siapakah agar kelak dapat aku melaporkan kepada suhu tentang kedatangan kalian!"
Tiga orang itu sudah tidak kelihatan lagi bayangannya dan keadaan di situ sudah menjadi amat sunyi. Tiba-tiba terdengar jawaban dari jauh sekali, terdengar lapat-lapat namun jelas.
"Im Yang Siang Cu dan Thai It Cinjin yang berkunjung........!"
Wi Liong menarik napas panjang. Gerakan tiga orang itu benar-benar cepat sekali sehingga dalam sekejap mata saja sudah tiba di tempat jauh.
"Lihai dan berbahaya sekali........." katanya sambil menggunakan saputangan menghapus keringat di jidatnya.
Kalau Wi Liong memuji-muji tiga orang yang datang menyerbu Wuyi-san tadi, adalah Kun Hong yang memaki-maki dan membanting kaki. "Celaka, keparat-keparat itu telah merampas pedangku!" Ia lalu menghampiri Wi Liong dan berkata kasar. "Semua ini adalah karena gara-garamu. Sekarang setelah para pengganggu keparat itu pergi, hayo kita teruskan urusan kita. Kau mau atau tidak pergi ke Poan-kun memenuhi permintaanku tadi!”
Wi Liong tersenyum. "Kau manusia aneh. Sudah kukatakan aku tidak ingin berjodoh dengan nona Kwa Siok Lan atau dengan siapapun menurut perantaraanmu. Habis kau mau apa?”
"Kalau begitu kau harus kuseret ke sana!" Setelah berkata demikian, Kun Hong menerjang dan menyerang Wi Liong dengan dahsyat.
Wi Liong cepat menangkis, akan tetapi begitu kedua lengan orang-orang muda itu saling bentur. Wi Liong melompat ke belakang dan berseru kaget, "Kau luka.........!"
Dalam pertemuan kedua lengan tadi, terpaksa Kun Hong menggunakan tenaganya dan kembali ia muntah darah dan terhuyung-huyung. Eng Lan cepat memeluknya dan melihat keadaan kekasihnya gadis ini marah sekali. Ia menudingkan telunjuknya ke arah Wi Liong dan berkata keras,
"Manusia tidak berbudi! Biarpun Kun Hong yang menjadi gara-gara sampai pamanmu memutuskan perjodohan, akan tetapi Kun Hong sudah mengakui kesalahannya. Mengingat bahwa enci Siok Lan tidak bersalah apa-apa.sudah sepatutnya kalau kau menyambung kembali ikatan itu. Akan tetapi kau tidak sudi mendengarkan malah kau sengaja menantang Kun Hong. Tak tahukah bahwa Kun Hong tadi terluka karena melayani dua orang musuh yang menyerbu Wuyi-san?"
"Eng Lan, aku tidak minta pujian dari dia!"
Kun Hong berseru dan kembali ia muntahkan darah.
Eng Lan mengajaknya pergi sambil berkata. "Kun Hong, kita sudah melakukan kewajiban kita. Dia tidak mau bukanlah perkara kita. Sekarang lebih baik aku yang akan menerangkan semuanya kepada
264
enci Siok Lan, bahwa bukan hanya karena mendengar kata-kata Kun Hong perjodohan itu dibatalkan, melainkan karena orangnya memang tidak suka!"
"Tidak, Eng Lan, kau......... kau kembalilah kepada suhumu......... biar aku yang membereskan urusan ini. Aku yang hendak ke Poan-kun........” kata Kun Hong lemah. Keduanya lalu pergi dari situ perlahan-lahan, dipandang oleh Wi Liong yang merasa merah dan bingung. Mengapa agaknya ada hubungan demikian akrab antara Kun Hong dan Eng Lan? Ia benar-benar tidak mengerti dan lebih heran lagi menyaksikan sikap Kun Hong. Dibandingkan dengan tempo hari, sikap pemuda itu benar-benar seperti seekor harimau berubah menjadi domba.
"Aku sudah berjanji kepada nona tanpa nama itu untuk memutuskan sendiri pertunanganku dengan Kwa Siok Lan. Biarpun paman sudah mendahuluiku sekarang timbul perkara ini, kebetulan sekali. Aku harus pergi sendiri ke sana dan memberi penjelasan kepada orang tua she Kwa agar tidak ada ganjalan hati lagi." pikirnya lalu pemuda ini memasuki bangunan yang sunyi. Pada waktu itu ia memang tinggal seorang diri saja di situ. Pamannya dan gurunya turun gunung dan sedang menjelajah puncak-puncak lain seperti biasa. Sering kali pamannya yang buta itu diajak oleh Thian Te Cu mendaki puncak-puncak dan pergi sampai beberapa pekan.
"Kun Hong. kau terluka. kau pucat dan nampak lemah. Jangan kau pergi seorang diri, urusan enci Siok Lan biarlah kita tunda dulu. Lebih baik kau segera mencari obat untuk lukamu. Mari kuantar kau. Kun Hong. Tidak baik dalam keadaan seperti kau ini melakukan perjalanan seorang diri........" Ucapan ini dikeluarkan oleh Eng Lan yang menjadi gelisah sekali melihat keadaan Kun Hong. Mereka telah turun dari Gunung Wuyi-san dan Eng Lan berkali-kali menolak ketika Kun Hong menyuruh gadis ini pergi saja meninggalkannya.
"Eng Lan kau harus mengerti bahwa yang menimbulkan gara-gara sehingga kau sendiri sampai repot, adalah aku seorang. Oleh karenanya, untuk menebus kesalahanku, harus aku pula yang membereskannya. Tentang pergi ke Gunung Bayangkara untuk mencarikan obat guna luka di dadaku, itupun akan segera kulakukan. Akan tetapi kau jangan turut, adikku sayang. Selama ini aku dapat menekan gelora hatiku akan tetapi......... aku khawatir, aku takut, benar-benar aku takut kalau membayangkan betapa pada suatu saat mungkin aku akan lupa dan setan akan menguasai hatiku. Lebih baik kita berpisah sekarang. Kau kembalilah kepada suhumu dan aku bersumpah, setelah aku sembuh pasti aku akan mencarimu, akan kupinang kau dari tangan suhumu."
Untuk beberapa lama Eng Lan nampak ragu-ragu. Kemudian iapun teringat bahwa memang tidak pantas baginya kalau ia terus-menerus melakukan perjalanan berdua dengan Kun Hong. Dengan hati terharu ia lalu melepaskan pedangnya dan memberikan pedang itu kepada Kun Hong.
"Kau terimalah pedang ini dan kuharap takkan lama dapat melihat kau datang membawa pedang ini kembali kepadaku. Tempat tinggal suhu tak sukar dicari karena di mana-mana ia dikenal orang."
Kun Hong menerima pedang itu dan mendekap di dadanya. "Pedang ini jauh lebih berharga dari pada Cheng-hoa-kiam" katanya sungguh-sungguh. Memang ia tidak bicara main-main, biarpun pedang itu bukan pedang pusaka seperti Cheng-hoa-kiam, namun pedang itu pemberian kekasihnya, seakan-akan mewakili kekasihnya akan mengawani di ke manapun dia pergi.
265
"Kun Hong. kau hati-hatilah....... dan pesanku....... ingatlah selalu kepadaku dan ingat bahwa aku tidak suka melihat engkau........ tersesat seperti dulu lagi........." Setelah berkata demikian, sambil menghapus air matanya Eng Lan lalu berlari pergi meninggalkan Kun Hong yang berdiri mematung.
Setelah Eng Lan pergi, baru ia merasa betapa sebetulnya dadanya amat sakit dan tubuhnya amat lemah. Hampir saja ia merobohkan diri di atas tanah kalau saja ia tidak ingat bahwa tugasnya masih banyak dan terutama sekali bahwa di sana ada Eng Lan yang menanti-nantinya penuh harapan. Aku harus berhasil, pikirnya, berhasil dalam semua tugasku dan berhasil mencari obat penyembuh lukaku. Pikiran ini menguatkan hatinya dan pemuda ini menahan rasa sakit di dadanya lalu melanjutkan perjalanan dengan semangat, menuju ke Pegunungan Bayangkara. Ia tidak mungkin pergi ke Poan-kun lebih dulu sebelum lukanya terobati, maka ia lebih dulu mementingkan pengobatan lukanya agar dapat melakukan tugasnya dengan baik dan tidak terganggu oleh luka itu. Ia maklum bahwa sebelum luka di dadanya diobati, ia tidak bisa terlalu mengandalkan kepandaiannya dan sekali bertemu dengan lawan tangguh seperti malam tadi, nyawanya berada dalam bahaya.
Tepat pada keesokan harinya setelah Kun Hong dan Eng Lan turun gunung, dari lain jurusan kelihatan dua orang kakek mendaki Gunung Wuyi-san. Mereka ini bukan lain adalah Thian Te Cu sendiri bersama Kwee Sun Tek. Kakek sakti yang sudah mengasingkan diri dari dunia ramai ini sekarang kesenangannya hanya melihat-lihat tamasya alam yang indah di puncak puncak pegunungan sekitar Wuyi-san, memetik daun obat dan mengirup hawa segar. Kalau sedang menikmati keadaan puncak-puncak gunung kakek ini betah sekali sampai berhari-hari. Kwee Sun Tek yang sekarang mulai mempelajari ilmu batin, menemukan hiburan luar biasa dalam mengikuti Thian Te Cu. Matanya memang sudah buta sehingga ia tidak dapat lagi menikmati pemandangan indah, namun mata hatinya sudah mulai terbuka dan ia dapat memandang hal-hal yang lebih indah lagi dengan mata hatinya. Kepandaiannya juga meningkat secara luar biasa sehingga biarpun matanya tak dapat melihat, namun ia dapat mengikuti perjalanan kakek sakti itu melalui bukit-bukit dan tempat-tempat yang sukar dilalui orang yang waras matanya.
Ketika dua orang kakek ini tiba di puncak Thian Te Cu terus saja memasuki bangunan untuk beristirahat di kamarnya, sedangkan Kwee Sun Tek yang biasa duduk di atas batu besar depan bangunan, berjalan menuju ke tempat itu. Akan tetapi ketika tangannya menyentuh batu itu, keningnya berkerut dan ia tidak jadi duduk.
"Paman, kau sudah pulang?" tiba-tiba Wi Liong menegur pamannya ketika pemuda ini keluar mendengar suara mereka.
"Wi Liong, ketika aku keluar, siapakah yang datang mengunjungimu?" Kwee Sun Tek meraba batu tempat duduknya tadi dan berkata lagi, "Batu ini dipindahkan orang tentu bukan kau"
"Banyak orang datang malam tadi, paman. Pertama-tama datang Kun Hong si pencuri pedang itu bersama murid Pak-thian Koai-jin. Maksud kedatangannya untuk mengakui kesalahannya bahwa dulu ia pernah mempermainkan paman dengan pengakuan bahwa ia mempunyai hubungan dengan nona Kwa Siok Lan. Padahal sama sekali ia tidak kenal, dahulu hanya kelakar saja. Oleh karena itu ia hendak memaksaku ke Poan-kun untuk......... untuk menyambung kembali pertunangan yang telah kau batalkan."
Kwee Sun Tek terduduk di atas batu itu. Pada saat itu mata hatinya terbuka dan ia melihat dengan jelas sekali akan kesalahan, dan kecerobohannya. Ia menarik napas panjang.
266
"Percuma saja Thaisu memimpin manusia seperti aku! Aku tidak berobah sejak dulu, terburu nafsu dan keras hati. Ah, kalau begitu aku harus menemui Kwa Cun Ek untuk, minta maaf." Kemudian sikapnya berobah dan ia berkata lagi. "Kurang ajar setan cilik Kun Hong itu. Selain mencuri pedang ia malah mempermainkan aku sehingga terjadi perkara sulit ini. Habis, kau tentu merampas pedangnya dan memberi hajaran kepadanya?"
"Tidak bisa, paman. Pada saat itu datang tiga orang aneh, yang begitu datang langsung menyerang aku dan Kun Hong sehingga Kun Hong terluka hebat di dalam dadanya. Mereka itulah yang melontarkan batu ini ke atas genteng ketika aku dan Kun Hong sedang bercakap-cakap di atas genteng."
"Siapa mereka?" Sun Tek bertanya heran.
"Mereka mengaku bernama Tai It Cinjin dan dua orang lagi berjuluk Im Yang Siang Cu........"
Kwee Sun Tek nampak tercengang. "Aahhh.......... mereka? Sungguh aneh. baru saja kemarin Thaisu bercerita kepadaku tentang mereka......." Dia lalu menceritakan kepada Wi Liong tentang tiga orang kakek itu seperti yang ia dengar kemarin dari Thian Te Cu.
Tai It Cinjin itu sebetulnya adalah adik ipar dari Gan Yan Ki, seorang yang semenjak mudanya berwatak kasar dan buruk. Akan tetapi dia ini bukan orang sembarangan, melainkan seorang jago dari Bu-tong yang berilmu tinggi. Semenjak Gan Yan Ki masih hidup, Tai It Cinjin ini sudah ingin sekali mewarisi ilmu silat yang tinggi sekali dari Gan Yan Ki sebagai murid Kui Cinjin, seorang di antara tiga Wuyi Sam-lojin. Melihat muka isterinya, pendekar besar Gan Yan Ki memberi petunjuk ilmu silat kepada adik ipar ini maka tidak mengherankan apa bila Tai It Cinjin mempunyai dasar-dasar ilmu silat Wuyi-san. yaitu ilmu silat keturunan dari Wuyi Sam-lojin yang terjatuh kepada Thian Te Cu, Thai Khek Sian, dan Gan Yan Ki. Setelah Gan Yan Ki meninggal dunia dalam usia tiga puluh tahun Tai It Cinjin yang berwatak sombong hendak memperlihatkan jasa, meneruskan permusuhan atau persaingan antara murid-murid tiga kakek Wuyi-san dan ia mendatangi Thian Te Cu untuk mengadu kepandaian sebagai wakil dari Gan Yan Ki yang sudah tewas! Akan tetapi ia kalah oleh Thian Te Cu- Betapapun juga. Tai It Cinjin tidak mau menerima kalah belajar lagi memperdalam kepandaiannya, bahkan kini ia belajar bersama dua orang sutenya dari Bu-tong-pai. yaitu Im-yang Siang-cu yang masing-masing memiliki sebutan tersendiri Im Thian Cu dan Yang Thian Cu.
"Sungguh tidak tersangka sama sekali tiga orang ini masih berani datang lagi. Biar belajar seratus tahun lagi mana mereka mampu menandingi Thaisu? Lalu bagaimana selanjutnya? Kau toh tidak kalah oleh mereka?" Kwee Sun Tek mengakhiri penuturannya yang ringkas.
"Aku melawan Tai It Cinjin. Kakek itu memang lihai bukan main. gerakan-gerakannya mempunyai dasar yang sama dengan ilmu yang diajarkan oleh suhu. Baiknya aku dapat menjaga diri dan tidak sampai kalah. Di lain fihak Kun Hong dikeroyok oleh Im Thian Cu dan Yang Thian Cu. Dua orang itupun lihai bukan main dan Kun Hong sudah terluka parah maka pedang Cheng-hoa-kiam kena dirampas oleh mereka lalu dibawa pergi, bersama Tai lt Cinjin."
"Hemmm. mereka itu keterlaluan sekali. Thai-su terlalu sabar terhadap mereka, orang-orang yang tidak tahu diri dan sombong. Lalu........ bagaimana dengan pemuda murid Thai Khek Sian itu?”
267
"Ia pergi dalam keadaan terluka parah. Paman, aku melihat sesuatu yang aneh dalam diri Kun Hong. Agaknya ia tidak seperti dulu lagi, malah............ malah aku mulai merasa kasihan kepadanya. Ayah, Kun Hong dahulu terculik bukan atas kehendak sendiri, ia menjadi murid Thai Khek San juga bukan atas kehendak sendiri, maka hubungannya dengan orang-orang jahat membuat ia tersesat. Hal ini benar-benar tak dapat disalahkan kepadanya. Aku masih mengharapkan pada suatu hari dia insyaf dan mengambil jalan benar............"
Dengan termenung Kwee Sun Tek berkata, "Jahat atau baiknya sesuatu tindakan dalam hidup sepenuhnya tergantung dari kotor bersihnya pikiran sendiri. Memang keadaan di sekeliling seseorang amat mempengaruhi keadaan pikirannya pula, akan tetapi biasanya, perbuatan yang sudah menjadi kebiasaan, baik ia buruk maupun baik. lambat-laun menjadi watak dan amat sukar dirobahnya”
"Kecuali kalau perobahan itu juga dipaksakan dengan memberi pergaulan yang baik dan bersih, bukan begitu, paman? Seperti banyak contohnya betapa bekas-bekas orang jahat menjadi baik kembali setelah ia masuk menjadi hwesio........."
"Memang ada yang tertolong. Akan tetapi juga banyak yang tidak berhasil sehingga mereka merupakan penjahat berselimut pendeta yang lebih berbahaya lagi, Semua ini. tentang merobah diri ke arah kebaikan, tergantung dari kuat lemahnya batin mereka. Harus ada sesuatu yang amat besar pengaruhnya terhadap dirinya baru orang itu mudah dituntun ke arah kebaikan."
Wi Liong mengangguk-angguk dan bibirnya tersenyum. Seakan-akan ada sinar terang membuka matanya. Terbayang wajah Eng Lan yang cantik manis dan sikap gadis itu terhadap Kun Hong. Bukankah sikap itu membayangkan cinta kasih yang besar? Dengan cinta kasih yang besar ini bukan tidak mungkin kalau Kun Hong kelak akan dituntun ke jalan kebenaran!
"Apa yang kau renungkan?" tegur Kwee Sun Tek yang demikian 'tajam perasaannya sehingga kesunyian seakan-akan berbisik kepadanya.
Wi Liong terkejut. "Tidak apa-apa. paman. Hanya aku menjadi kasihan kalau teringat kepada Seng-goat-pian Kam Ceng Swi, tokoh besar Kun-lun-pai yang gagah perkasa itu. Alangkah akan bahagia hatinya kalau Kun Hong puteranya itu berobah menjadi seorang pendekar yang budiman."
"Kau betul. Kam Ceng Swi seorang gagah yang patut dihargai."
Hening sejenak, kemudian terdengar Kwee Sun Tek berkata, suaranya lemah mengandung kedukaan. "Aku harus pergi menemui Kwa Cun Ek dan minta maaf atas kecerobohanku. dan kalau mungkin menyambung lagi perjodohan itu......."
"Tidak, paman......... jangan!"
"Apa maksudmu?"
"Kumaksudkan......... eh. kiranya tidak perlu paman sendiri pergi ke Poan-kun. Biarlah aku yang akan pergi ke sana dan tentu saja aku akan minta maaf atas terjadinya hal itu. akan tetapi........ tentang perjodohan itu........ kurasa amat tidak baik kalau disambung lagi."
268
"Wi Liong, apa alasan ucapanmu ini?" Wi Liong maklum bahwa andaikata pamannya itu masih dapat melihat, tentu sepasang mata itu akan menembusi hatinya dan tentu ia takkan dapat menyembunyikan perasaan hatinya lebih lama lagi dari pamannya!
"Karena aku...... eh. kurasa bahwa mereka tentu sakit hati sekali atas pemutusan ikatan itu dan......... dan......... belum tentu mereka mau.....
-----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Halaman 67s/d70 hilang!
-----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
.......membaca sajak. Cepat ia menuju ke pinggir lorong dan dilihatnya dari jauh mendatangi seorang laki-laki tua menunggang keledai. Binatang keledai itu berjalan seenaknya, perlahan saja namun tetap menimbulkan debu mengebul di belakangnya karena hari itu memang panas dan tanah menjadi berdebu. Orang itu menunggang keledai sambil memegangi sebuah kitab dan membaca dengan suara nyaring, jelas dan lambat seakan-akan huruf-huruf di dalam buku itu harus diingatnya benar. Kun Hong menjadi geli dan ingin tahu apa gerangan yang dibaca oleh orang itu. la mendengarkan penuh perhatian.
"Hi no ai lok ci bi hoat, wi ci tiong.
Hoat ji hai tiong ciat, wi ci hoo.
Tiong ya cia. thian he ci tai pun ya.
Hoo ya cia, thian he ci tat too ya."
Setelah membaca kata-kata bersajak ini dengan nada sungguh-sungguh dan terdengar amat lucu dan aneh di tempat sunyi itu, orang tadi mengerutkan kening dan bibirnya berkemak-kemik, terdengar ia mengulangi satu demi satu semua kata-kata yang tadi ia baca, kemudian ia mencoba menguraikan arti setiap kalimat dengan kata-kata yang keras. Sajak atau ujar-ujar di atas artinya begini :
"Sebelum timbul rasa SENANG,. MARAH, DUKA dan GEMBIRA, maka disebut TIONG (Lurus/lempang / tegak).
Dapat mengendalikan perasaan- perasaan yang timbui itu. maka disebut HOO (Akur/selaras/sesuai).
TIONG itulah merupakan pokok terbesar pari pada dunia.
HOO adalah jalan utama dari pada dunia."
Selama hidupnya belum pernah Kun Hong mendengar ini dan entah mengapa, ia merasa amat tertarik. Orang tua itupun kini sudah lewat di depannya dan menengok, lalu mengangguk-angguk tersenyum ramah kepadanya.
"Orang muda. kau menanti siapa? Ataukah kau seorang diri dan hendak ke mana?” tanyanya, suaranya ramah-tamah sekali membuat Kun Hong menjadi makin tertarik.
“Lopek, aku hanya sendiri dan memang sedang melakukan perjalanan," jawabnya menyimpang. "Akan tetapi sajakmu tadi benar- benar amat menarik hati. Sayangnya amat sukar dimengerti. Apakah
269
itu TIONG dan apa itu HOO, mengapa disebut pokok terbesar dari pada dunia dan jalan utama dari pada dunia?"
"Aha, anak muda yang sedang menderita. Bagus sekali kau bertemu dengan aku. Tunggulah kuobati penderitaanmu itu dengan ujar-ujar agung dari kitab Tiong Yong." Sambil berkata demikian, kakek itu merosot turun dari atas punggung keledai dan ia ternyata pendek saja, tubuhnya agak bengkok di bagian punggungnya seperti penderita penyakit encok. Lalu ia menuntun keledainya, diikatkannya kendali binatang itu pada batang pohon lalu ia menghampiri Kun Hong dengan langkah perlahan.
Kun Hong tercengang. "Lopek, bagaimana kau bisa bilang bahwa aku seorang yang sedang menderita?"
"Hemm, apa sukarnya? Seorang penderita lapar baru dapat menikmati makanan seorang penderita dahaga baru dapat menikmati minuman, seorang penderita penyakit baru dapat menikmati kesehatan. Dan hanya orang yang menderita batinnya saja dapat menikmati ujar-ujar dalam kitab Tiong Yong."
Kun Hong makin tertarik. Suara orang ini amat menarik perhatiannya dan kata-kata yang keluar dari mulutnya aneh-aneh belaka sungguhpun ia masih kurang mengerti, namun agaknya ia dapat menangkap kebenaran-kebenaran yang tersembunyi dalam ucapan-ucapan itu.
"Lopek, coba kaujelaskan arti sajak tadi. Kalau memang cocok dan baik, biar aku mengaso sambil mendengarkan."
Orang itu terkekeh, lalu duduk di atas sebuah batu yang halus permukaannya. Juga Kun Hong lalu duduk di atas batu, menghadapi kakek aneh itu.
"Ujar-ujar itu ada hubungannya erat sekali dengan watak dan tabiat manusia, " kakek itu mulai dengan uraiannya, "Pada hakikatnya sifat manusia yang masih belum terganggu perasaan-perasaan sesuatu, adalah sama dengan air yang diam, tenteram, diam rasa, pokoknya lurus dan tidak berat sebelah. Inilah yang disebut TIONG atau tengah-tengah, ibarat orang sedang tidur nyenyak tanpa diganggu mimipi apa-apa, begitu tenteram dan damai, bersih dan adil Akan tetapi, sekali datang perasaan-perasaan senang, marah, duka, gembira dan sebagainya, ketenangan itu terguncang dan pertimbangannya lalu menjadi miring, dan hal ini dapat membuat manusia menyeleweng dan meninggalkan jalan kebenaran."
Kun Hong mengerutkan kening, penasaran. "Akan tetapi, lopek. Manusia mana yang tidak akan diganggu oleh perasaan-perasaan hatinya? Hanya orang yang sudah mati, atau orang yang hidupnya tidak ada artinya lagi, baru kiranya tidak akan perduli akan perasaan hatinya."
Kakek itu mengangguk-angguk. "Pelajaran dalam kitab Tiong Yong mengakui akan kenyataan bahwa manusia tidak terluput dari pada gangguan-gangguan yang timbul dari pada panca inderanya, mengalami gocangan- goncangan yang menerjang ketenteraman hatinya seperti sebuah perahu di laut teduh sewaktu-waktu tentu menerima serangan ombak dan badai. Akan tetapi, kalau kita dapat menerima serangan itu dengan penuh kebijaksanaan, dapat mengendalikan perasaan seperti seorang tukang perahu yang pandai mengemudikan perahunya dalam terjangan ombak dan badai, itulah yang baik sekali dan disebut HOO."
270
"Aku mulai mengerti, lopek. Bagus sekali ujar-ujar itu. Akan tetapi, bagaimana orang bisa berlaku demikian? Mengalami kenikmatan siapa yang tidak senang, menghadapi hal yang tidak menyenangkan siapa yang tidak berduka, dan menghadapi tindasan siapa yang tidak akan marah!"
"Itulah yang dimaksudkan supaya kita mengendalikan perasaan. Orang yang dapat mengendalikan perasaan sendiri, selalu akan bersikap tenang dan waspada. Dari ketenangan dan kewaspadaan ini timbul kebijaksanaan dan tindakan yang sudah dipertimbangkan masak-masak berdasar keadilan. Inilah sifatnya orang bijaksana. Ia bisa berduka, ia bisa marah menghadapi hal-hal iitu. akan tetapi perasaan duka dan marah itu dapat ia kendalikan sehingga ia tidak menjadi mata gelap, tidak akan melakukan perbuatan yang terdorong oleh nafsu-nafsu itu. Bisa jadi ia akan girang dan senang menghadapi sesuatu yang menguntungkan dan menyenangkan, akan tetapi perasaan girang dan senang itu dapat ia kendalikan sehingga ia tidak akan menjadi sombong, angkuh, serakah, dan sebagainya."
Kun Hong mengangguk-angguk. Sekarang isi ujar-ujar itu menjadi gamblang baginya dan ia makin tertarik. Ia segera berdiri dan menjura dengan hormat.
"Bolehkah aku yang bodoh mengetahui nama lopek yang mulia? Dan kalau sekiranya lopek tidak keberatan, aku mohon bimbingan lebih lanjut untuk mempelajari ujar-ujar yang bagus itu."
Kakek itu menutup kitabnya dan memandang kepada Kun Hong. Keningnya dikeruitkan ketika ia berkata, "Orang muda, kau seorang muda yang gagah, membawa-bawa pedang, tentu seorang ahli silai. Mengapa ingin mempelajari segala ujar-ujar ini?”
"Lopek, seperti lopek katakan tadi. hatiku gelisah dan aku terluka hebat. Aku sedang mencari hwesio muka hitam untuk mohon kepadanya mengobati lukaku ini. Karena selama ini hatiku gelisah dan tidak mendapat ketenteraman, tadi mendengar uraian lopek sebagian besar kegelisahanku berkurang, maka mohon lopek yang budiman sudi memberi petunjuk."
Kakek itu nampak terperanjat. "Kau mencari hwesio muka hitam? Hemmm, bagaimana kau bisa tahu di sini ada seorang hwesio muka hitam?" Pertanyaan ini diajukan dengan tiba-tiba dan sepasang mata kakek itu memandang penuh selidik.
Terhadap orang ini Kun Hong tidak berani main-main. "Aku mendapat petunjuk dari mendiang Liong Tosu dari Kun-lun-san yang mengatakan bahwa hanya hwesio muka hitam dari Pegunungan Bayangkari yang akan dapat mengobati lukaku dan menghilangkan rasa sakit di dadaku."
Kakek itu menarik napas panjang. "Dia tentu akan marah setengah mati kalau kau datang sendiri. Kalau aku yang membawamu, dia bisa memaafkan aku. Kau orang muda menderita lahir batin, aku kasihan kepadamu. Kalau kau mencari hwesio muka hitam, kiranya hanya aku Miang Sinshe seorang di dunia ini yang akan dapat mengantarmu. Mari kau ikut aku."
Setelah berkata demikian, kakek itu kembali menaiki keledainya dan menjalankan keledai itu perlahan-lahan. Bukan, main girangnya hati Kun Hong. Dicari susah-susah, sekarang ada seorang perantara yang akan membawanya kepada hwesio muka hitam. Akan tetapi tiba-tiba ia teringat akan ujar-ujar tadi dan menggunakan kekuatan batinnya untuk mengendalikan perasaan girang ini!
271
"Terima kasih, lopek. Kau baik hati sekali," katanya sederhana lalu mengikuti kakek itu dari belakang. Kakek itu tidak menjawab, melainkan membuka kitabnya dan membaca ujar-ujar lain dengan suara keras. Kun Hong mendengarkan dari belakang dan betul-betul ia mendapatkan banyak pelajaran batin dari isi kitab Tiong Yong itu. Banyak hal-hal yang membuka matanya dan membuat ia insyaf betapa penghidupannya yang dulu-dulu ketika ia masih bercampur-gaul dengan Bu-ceng Tok-ong dan Tok-sim Sian-li, benar benar telah meninggalkan jalan kebenaran. Diam-diam ia memperhatikan pelajaran-pelajaran itu sambil terus mengikuti jalannya keledai yang amat lambat.
Agaknya kakek yang naik keledai itu sudah hafal benar akan jalan naik ke puncak, buktinya ia tidak pernah mencari jalan lagi. Malah-malah keledainya seperti yang audah mengenal jalan sehingga biarpun kakek itu terus-menerus membaca kitab tanpa mengendalinya, binatang itu bisa memilih jalan sendiri. Setelah mendaki setengah hari lamanya, akhirnya mereka tiba di puncak dan keledai itu berhenti di depan sebuah pondok yang amat sederhana, (terbuat dari pada tumpukan batu dan balok-balok kayu kasar).
"Phang Sinshe, kau sudah datang? Siapa kawanmu itu?" terdengar suara dari dalam pondok, suara yang parau akan tetapi mengandung pengaruh besar.
Kakek itu tertawa dan merosot turun dari keledainya sambil menutup kitabnya.
"Seorang murid baru," katanya. "Losuhu, kau keluarlah, orang muda ini sengaja datang untuk mencarimu."
Tidak terdengar jawaban dari dalam pondok, keadaan menjadi sunyi sekali. Kun Hong melihat betapa pondok itu bersandar pada sebaris pohon-pohon yang besar sekali, pohon-pohon raksasa yang usianya sudah ratusan, mungkin ribuan tahun. Sungguh tempat yang sunyi dan tersembunyi, ia ingin sekali melihat bagaimana macamnya orang yang menyembunyikan diri di situ. yang oleh Liong Tosu disebut hwesio muka hitam yang akan dapat mengobatinya.
"Losuhu. harap kau jangan marah kepadaku. Akulah yang berlaku lancang mengajaknya ke sini, karena kulihat dia betul-betul patut ditolong, dia menderita luka lahir batin. Mungkin aku dapat mengobati luka batinnya, akan tetapi luka jasmaninya, hanya kau seorang yang dapat mengobati, demikian kata pemuda ini menurut petunjuk Liong Tosu dari Kun-lun-san."
Kembali sampai lama tidak terdengar jawaban. Kun Hong diam-diam mendongkol sekali melihat sikap orang yang agaknya ”amat jual mahal" itu. Tiba-tiba terdengar suara itu lagi. "Phang Sinshe orang macam pinceng (aku) yang mengasingkan diri, tidak mempunyai kepandaian apa-apa, bagaimana bisa mengobati orang sakit? Orang muda itu percuma saja membuang waktu datang ke sini. Suruh ia pergi lagi saja,"
Kun Hong adalah seorang muda yang berwatak keras. Mendengar ucapan ini ia lalu berkata kepada Phang Sinshe dengan suara nyaring. "Phang Sinshe. kalau aku tahu bahwa hwesio muka hitam yang ditunjuk oleh mendiang Liong Tosu supaya aku minta pengobatan hanya seorang yang tidak berbudi, kasar, dan macam ini sikapnya menyambut tamu, aku lebih suka mati karena lukaku. Aku benar menyesal sudah menyusahkan Phang Sinshe dan mendaki bukit ini. Lebih baik aku pergi saja, Phang Sinshe." Setelah berkata demikian, Kun Hong memutar tubuh lalu pergi dari situ.
272
Tiba-tiba dari dalam pondok itu berkelebat bayangan orang dan seorang kakek bertubuh tinggi besar dengan kepala gundul melompat bagaikan seekor burung garuda terbang melampaui kepala Kun Hong dan turun di depan pemuda itu sambil bertolak pinggang.
"Orang muda. berhenti dulu!" bentaknya.
Kun Hong mengangkat muka dan melihat betapa muka hwesio itu hitam sekali, akan tetapi anehnya, kulit tubuh yang lain tidak, hanya muka itu yang hitam sehingga sukar dilihat tarikan mukanya. Hwesio ini bertubuh tinggi besar, kelihatan kuat sekali dan di lehernya tergantung seuntai tasbeh. Sinar matanya keras akan tetapi membayangkan penderitaan batin yang besar.
''Orang muda, kau tadi bilang mendiang Liong Tosu! Benarkah Liong Tosu dari Kun-lun-san sudah tewas?"
Menghadapi sikap keren dan bersungguh-sungguh dari hwesio muka hitam ini. Kun Hong tidak mau main-main. Ia mengangguk dan menjawab singkat. "Betul. Liong Tosu dari Kun-lun-san sudah tewas."
Hwesio ini menepuk dadanya dan mengomel, "Benar juga, akhirnya kau mendahului aku sahabatku........" lalu ia menarik napas panjang dan berkata perlahan, "alangkah baiknya nasibmu, cepat terbebas dari pada derita hidup........."
Kun Hong melongo. Pengalaman-pengalaman yang ia jumpai akhir-akhir ini benar membuat ia sering kali terheran. Ia bertemu dengan orang-orang yang selalu mengutamakan kebaikan, selalu menolong orang dan membasmi kejahatan, orang-orang yang bertindak sebagai pendekar seperti kekasihnya Eng Lan Kemudian ia bertemu dengan Phang Sinshe yang mempelajari hal-hal tersembunyi dalam hidup, yang tidak memandang hidup asal hidup saja melainkan hendak mengupasnya dan melihat isinya. Kemudian ia melihat hwesio muka hitam yang menganggap kematian sebagai kebebasain dan mengatakan orang mati sebagai bernasib baik! Benar-benar membuat Kun Hong tak mengerti.
"Orang muda, kalau betul Liong Tosu yang menyuruhmu datang, coba ceritakan bagaimana ia tewas dan bagaimana pula ia bisa menyuruh kau datang kepada pinceng."
"Aku terluka oleh pukulan Im-yang-lian-hoan dari ketua Kun-lun-pai dalam sebuah pertempuran,." Kun Hong bercerita, sengaja tidak mau menceritakan kecurangan orang-orang Kun-lun karena ia teringat akan ajaran-ajaran Eng Lan bahwa tidak selayaknya menceritakan keburukan orang lain kepada orang lain pula. "Secara kebetulan aku bertemu dengan Liong Tosu yang mengobati luka di dadaku, akibat pukulan itu, Liong Tosu menyatakan bahwa biarpun ia sudah mengobati luka Im-kang di dadaku, akan tetapi luka akibat Thai-yang hanya dapat diobati oleh losuhu. Setelah mengobatiku. Liong Tosu meninggal dunia di luar tahuku karena setelah ditotok punggungku, aku roboh pingsan. Ketika siuman kembali, dia telah tewas."
Hwesio itu membelalakkan matanya. "Dia mengorbankan nyawanya untuk menolongmu? Hebat.........hebat............kau pernah apanyakah?"
"Aku bukan apa-apanya, juga aku sama sekali tidak tahu bahwa ia mengorbankan nyawa untukku," jawab Kun Hong tak senang.
273
"Liong Tosu menolong orang memang tidak kepalang tangung. Orang muda. kau memang terluka hebat oleh Im-yang-lian-hoan, dan hawa Thai-yang yang memukul isi dadamu benar-benar hebat sekali. Agaknya kau baru-baru ini telah terpukul pula oleh seorang ahli gwakang, maka lukamu makin parah, membuat mukamu pucat dan lehermu merah. Kalau pinceng tidak mengobatimu, tentu Liong. Tosu di alam baka akan mentertawakan pinceng, memaki pinceng terlalu pelit. Orang muda, biarpun kepandaianku kalau dibandingkan dengan Liong Tosu bukan apa-apa, akan tetapi di dunia ini yang dapat memulihkan luka bekas pukulan Yang-kang dari Kun-lun-pai, kiranya hanya beberapa orang saja. Kau duduk bersilalah!”
Biarpun hatinya mendongkol melihat sikap yang terlalu kasar ini, namun karena maklum bahwa orang hendak mengobatinya. Kun Hong tidak membantah. Ia melepaskan pedang pemberian Eng Lan, lalu duduk bersila di atas tanah. Hwesio itu lalu menghampirinya dan meraba pundaknya. Seketika hwesio itu menarik kembali tangannya dan bertanya cepat, "Hebat sinkangmu! Kau murid siapa?"
Kun Hong orangnya cerdik. Ia sekarang sudah maklum bahwa di dunia kang-ouw, nama gurunya, Thai Khek Sian, bukanlah nama yang harum dan disuka. Orang ini hendak mengobatinya, maka kiranya tidak baik kalau ia memperkenalkan diri sebagai murid Thai Khek Sian.
"Murid Seng-got-pian Kam Ceng Swi," katanya, tidak membohong besar karena memang pertama-tama ia mendapat latihan dari ayah pungutnya itu.
"Heran sekali! Seng-goat-pian bisa mempunyai murid dengan hawa sinkang begini tinggi? Dan sebagai cucu murid Kun-lun bagaimana sampai terpukul Im-yang-lian-hoan? Akan tetapi sudahlah bukan urusan pinceng. Phang Sinshe, harap kau suka duduk dulu di dalam sebentar pinceng menyusul setelah selesai mengobati orang, muda ini."
Phang Sinshe yang sejak tadi sudah membaca lagi kitabnya, mendengar permintaan ini lalu mengangguk dan memasuki pondok membiarkan dua orang itu yang berada di luar pondok.
"Kau harus tutup saluran hawa sinkangmu, jangan sekali-kali melakukan perlawanan atas desakan hawa Thai-yang dariku. Biarpun tubuhmu akan serasa terbakar, bahkan biarpun kau hampir mampus juga. jangan sekali-kali melakukan perlawanan. Ingat ini semua demi kesembuhanmu sendiri. Janji?"
"Janji!" jawab Kun Hong singkat lalu ia menutup matanya dan bersiap menghadapi pengobatan aneh itu. Tiba-tiba ia merasa dua telapak tangan yang lebar dan kasar menghantam punggungmya dengan keras sekali sampai tubuhnya terguncang. Akan tetapi dua telapak tangan itu menempel di punggungnya, terus melekat dan dari kedua tangan itu mengalir keluar hawa panasnya seperti api! Ia tidak melihat betapa hwesio itu dengan pasangan kuda-kuda, kedua kaki ditekuk ke bawah dan kedua tangan menempel punggungnya, sedang mengerahkan tenaga dan "mengirim" hawa panas dari Thai-yang di tubuhnya untuk menyembuhkan Kun Hong. Semacam penyetruman agaknya.
Mula-mula Kun Hong masih dapat menahan mengalirnya hawa panas ke dalam punggungnya. Akan tetapi lama-kelamaan hawa itu menjadi makin panas berputar-putar di seluruh tubuhnya lalu berkumpul di dadanya, membuat dadanya serasa hendak meledak. Ia terengah-engah, kepalanya pening, ketika membuka mata, matanya berkunang. Peluh mengucur deras, tubuhnya seperti dibakar di atas api unggun. Kun Hong merobek bajunya agar angin gunung mengurangi panasnya, akan tetapi makin panas saja. Kalau saja ia tidak ingat janjinya, mau rasanya ia melawan hawa ini dengan
274
lweekangnya, atau melompat pergi, dari situ. Akan tetapi ia sudah berjanji dan kata Eng Lan, seorang pendekar atau seorang jantan lebih baik mati dari pada melanggar janjinya! Oleh karena ini, Kun Hong mempertahankan terus sambil menggigit bibirnya sampai terluka dan berdarah.
Ia tidak tahu lagi apa yang terjadi di sekelilingnya dan beberapa menit kemudian Kun Hong pingsan sambil masih duduk bersila, la tidak tahu bahwa keadaan kakek gundul itupun tidak menyenangkan. Keringat sebesar kacang hijau memenuhi kepala yang gundul itu. Muka yang hitam itu nampak mengerikan dan hwesio tua ini menyeringai sambil terus menekan punggung. Tubuhnya makin lama makin menggigil keras, akhirnya ia melepaskan kedua tangannya dan jatuh terduduk di samping Kun Hong. Dengan ujung jubahnya ia menyusuti peluhnya lalu mengatur pemapasannya. Setelah itu, ia lalu berdiri lagi dan menotok tujuh-belas persimpangan jalan darah di tubuh Kun Hong. Semua totokan ini ia lakukan dengan jari telunjuk, termasuk gerakan menotok dari Ilmu Silat Pai-in-ciang. Baru setelah beres ia nampak lega, lalu duduk di atas batu depan Kun Hong sambil menatap wajah pemuda itu.
"Tampan dan menarik," demikian kesan pertama dalam hatinya ketika hwesio muka hitam itu mulai memperhatikan wajah Kun Hong. Ada sesuatu pada wajah pemuda ini yang membuat ia memandang makin penuh perhatian. Ada sesuatu pada wajah itu yang serasa telah dikenalnya baik-baik. Akan tetapi, betapapun ia memeras otak, tak diingatnya bila dan di mana ia pernah melihat pemuda ini.
Tiba-tiba ia melihat sebuah benda kecil mengkilap di atas tanah dekat kaki pemuda itu. Hwesio itu menjadi tertarik sekali dan mengambilnya. Itulah sebuah gelang emas kecil. Tiba-tiba mata itu terbelalak dan tangan yang memegang benda perhiasan itu menggigil.
"Kun...... Hong......." ia berbisik sambil menatap dua buah huruf yang terukir di gelang itu, dua buah huruf, yang berbunyi Kun dan Hong. Itulah gelang kecil yang diberikan oleh Kam Ceng Swi kepada Kun Hong ketika pemuda itu hendak meninggalkan Kun-lun-san. sebuah benda yang menjadi saksi tunggal dari keadaan Kun Hong, akan tetapi karena benda itu tak dapat bicara maka sebegitu jauh Kun Hong maupun Kam Ceng Swi tidak dapat menyingkap tabir yang menutupi rahasia sekitar diri Kun Hong.
"Mungkinkah ini.........?” Hwesio muka hitam itu berkata lagi perlahan dan ia menatap wajah Kun Hong. Teringatlah ia kini bahwa memang wajah pemuda ini sudah sering kali dilihatnya, malah sudah terukir di lubuk hatinya, merupakan wajah seorang wanita yang cantik jelita, wanilta yang dulu terkenal sebagai Puteri Harum, bekas selir Kaisar Mongol Jengis Khan puteri cantik jelita yang bernama Kiu Hui Niang yang kemudian menjadi isterinya yang terkasih dan kemudian dia bunuh! Menggigil seluruh tubah hwesio itu kini, karena ia bukan lain adalah Beng Kun Cinjin Gan Tui!
Karena mukanya yang sehitam arang sukar sekali dilihat apa yang sedang ia rasakan pada detik itu. Akan tetapi di dalam hatinya terjadi perang tanding yang hebat Bermacam-macam pikiran memasuki kepalanya dan akhirnya matanya menjadi beringas ketika ia memandang kepada Kun Hong. Beringas yang timbul dari rasa takut. Ia lalu melompat berdiri dan mengguncang-guncang pundak Kun Hong.
Baru saja pemuda itu siuman, dari pingsannya dan ia masih meramkan mata karena ia merasa tubuhnya amat ringan dan enak. Rasa sakit yang tadinya membuat ia menderita sudah lenyap sama sekali, akan tetapi perubahan itu membuat ia merasa tubuhnya seringan kapas dan kepalanya menjadi pusing. Perubahan yang tiba-tiba ini benar benar membingungkannya. Ia membuka mata dan
275
masih bingung dan heran ketika melihat penolongnya mengguncang-guncang pundaknya, la masih ingat betul bahwa hwesio muka hitam ini yang tadi menolongnya.
Melihat pemuda itu sudah membuka matanya, hwesio itu membentak keras dalam pertanyaannya, "Lekas bilang, apakah kau bernama Kun Hong?"
Dengan mata masih berkunang karena pusing dan bingung mengalami perubahan keadaan tubuh yang mendadak itu. Kun Hong mengangguk. "Namaku memang Kun Hong......” ia berkata perlahan sekali.
"Kau anak siapa? Hayo lekas kau mengaku!" hwesio itu mendesak.
Seperti diketahui Kun Hong sendiri tidak tahu siapa ayah bundanya, maka dalam keadaan pusing itu menghadapi pertanyaan ini ia menjadi makin bingung dan tak tahu harus menjawab apa. Akhirnya dengan gagap ia menjawab juga.
"Aku....... aku tidak punya ayah dan ibu....... ibuku sudah mati....... dibunuh orang dihutan........ ayahku entah siapa.......!”
Tubuh Beng Kun Cinjin menggigil makin keras. "Gelang ini....... kau lihat ini........ apakah gelang ini milikmu........?"
Kun Hong berada dalam keadaan bingung dan pening. Kalau tidak tentu ia akan merasa curiga sekali melihat keadaan orang. Akan tetapi ia lebih banyak menutup mata dari pada membukanya.
Kalau ia membuka matanya, ia melihat pohon-pohon di sekelilingnya seperti berputaran. Ia hanya membuka mata sebentar untuk melihat gelang itu, lalu ia mengangguk lagi. ”Gelang itu......... ditemukan oleh......... ayah pungutku ketika ia menolongku........."
Beng Kun Cinjin melompat berdiri. Ia bimbang. Telah belasan tahun setiap hari ia menyesali perbuatannya, menyesali kesesatannya sehingga ia mengorbankan nyawa murid-muridnya yang terkasih, murid-muridnya yang ia tahu adalah pendekar-pendekar gagah perkasa. Thio Houw dan Kwee Goat binasa ketika dua murid itu hendak mengingatkannya dari pada kesesatannya. Malah ia telah membikin buta mata muridnya yang ke tiga. Kwee Sun Tek Dan semua itu ia lakukan karena ia tergila-gila kepada Kiu Hui Niang, Puteri Harum yang kemudian ternyata hanyalah seorang perempuan rendah yang berwatak hina yang tidak setia dan mengadakan perhubungan gelap dengan laki-laki lain.
Biarpun ia sudah agak terhibur karena sudah membunuh perempuan itu, namun ia masih selalu gelisah jika mengingat akan perbuatan-perbuatannya terhadap murid-muridnya. Oleh karena inilah ia lalu menyembunyikan diri di Bayangkari, membuang namanya, malah melumuri mukanya dengan obat sehingga muka itu menjadi hitam dan sukar dikenal lagi. Belasan tahun ia menyesali perbuatannya secara diam-diam dan selain Liong Tosu dan Kun-lun-pai yang menjadi kenalannya hanyalah Phang Sinshe karena ia suka mendengar Phang Sinshe menguraikan tentang ilmu-ilmu kebatinan untuk pengobat hatinya yang terluka.
Siapa kira, tiba-tiba sekarang ia berhadapan dengan Kun Hong! Bocah yang ketika masih bayinya ia timang-timang, ia sayang sepenuh jiwa karena bocah ini adalah anaknya sendiri. Akan tetapi yang
276
kemudian ia benci karena ternyata kemudian bahwa bocah itu bukan anaknya seperti yang ia dengar dari percakapan antara Kiu Hui Niang dan Liu-kbngcu. Tiba-tiba saja ia menjadi benci melihat Kun Hong. pemuda putera Kiu Hui Niang itu.
"Anak haram! Keparat kau pergilah menyusul ibumu yang kotor!" Tiba-tiba hwesio itu menendang tubuh pemuda yang masih duduk bersila di atas tanah.
"Bukk!' Tubuh Kun Hong terlempar sampai beberapa meter jauhnya dan anehnya. Kun Hong jatuh ke atas tanah kembali dalam keadaan masih tetap bersila! Hal ini tidak aneh Tenaga lwee-kang dan hawa sinkang di tubuh Kun Hong sudah mencapai tingkat tinggi sekali. Tadi berkat pengobatan Beng Kun Cinjin yang benar-benar manjur luka di dadanya sudah hilang rasa sakitnya dan telah memulihkan semua tenaganya, maka tendangan itu tidak membuat ia terluka. Akan tetapi oleh karena ia masih pening dan bingung, tubuhnya terasa masih ringan dan aneh, ia seperti tidak ambil perduli perbuatan hwesio itu kepadanya dan masih tetap duduk bersila seperti tadi.
Untuk sejenak Beng Kun Cm jin terkejut bukan main. Tidak salahkah matanya memandang? Pemuda itu terkena tendangan kilatnya tidak apa-apa, hanya mencelat tapi seperti tidak merasa sesuatu! la menjadi penasaran, dilolosnya senjatanya yang hebat, yaitu tasbeh yang dikalungkan di lehernya. Sambil memutar tasbehnya, ia memaki.
"Bocah keparat kau tidak patut hidup di dunia ini. Bawalah pergi nama buruk perempuan yang melahirkanmu, pergilah menyusul roh Kiu Hui Niang di neraka!" Dengan cepat Beng Kun Cinjin melompat dan tasbehnya diputar di atas kepala, menyambar ke arah kepala Kun Hong. Pemuda ini masih seperti orang mabok dan agaknya biarpun ia berkepandaian tinggi, pukulan tasbeh ini tentu akan meremukkan kepalanya.
"Tar........ ' Tar.........!"
Suara menyetar ini dibarengi berkelebatnya dua benda berbentuk bintang dan bulan yang menangkis tasbeh di tangan Beng Kun Cinjin dan disusul suara bentakan keras,
"Beng Kun Cinjin jadi kaukah yang membunuh ibu anak ini? Kau yang membunuh........ isterimu sendiri? Benar-benar manusia tidak tahu malu, pengecut tak berani memikul akibat perbuatan sendiri! Setelah membunuh murid-murid gagah, kau malah sekarang hendak membunuh anak sendiri........"
"Tutup mulut! Kau tentu Seng-goat-pian Kam Ceng Swi? Bagus, kau sudah mengetahui persoalanku, mampuslah kau!" Beng Kun Cinjin yang merasa malu dan gelisah sekali ada orang mengenalnya, cepat mengirim serangan dengan tasbehnya. Kam Ceng Swi mengelak, sambil membalas dengan serangan yang tak kalah hebatnya. Di lain saat, dua orang tokoh besar itu sudah bertempur dengan ramai sekali.
Seng-goat-pian Kam Ceng Swi adalah seorang tokoh Kun-lun-pai yang berkepandaian tinggi dan pengalamannya luas, apa lagi senjatanya merupakan senjata yang aneh dan sukar diduga gerakannya. Malah tokoh Kun-lun ini pernah mendapat petunjuk-petunjuk dari Liong Tosu, maka ia lihai sekali.
277
Akan tetapi, sekarang ia berhadapan dengan Beng Kun Cinjin Gan Tui. Seperti telah diketahui, Beng Kun Gnjin atau Gan Tui ini adalah putera tunggal dari pendekar besar Gan Yan Ki, murid seorang di antara Wuyi Sam-lojin. Selain mewarisi kepandaian ayahnya yang mati muda biarpun yang diwarisinya itu hanya sebagian saja, namun selain kepandaian keluarga ini ia pernah mendapat petunjuk-petunjuk dari Thian Te Cu yang merasa kasihan kepadanya. Di samping ini. juga di waktu mudanya Gan Tui telah mempelajari banyak ilmu silat tinggi dari cabang persilatan lain sehingga kepandaiannya makin meningkat saja. Dibandingkan dengan Seng-goat-pian Kam Ceng Swi, ilmu kepandaian Beng Kun Cinjin masih menang banyak.
Biarpun sepasang senjata bulan sisir dan bintang di ujung tali itu menyambar- nyambar dengan dahsyat dan berbahaya, namun selalu dapat dikeltt dan ditangkis oleh Beng Kun Cinjin. Setiap kali senjata di tangan Kam Ceng Swi bertemu dengan tasbeh, senjata itu terpental ke belakang dan tasbeh terus menyambar langsung, merupakan serangan balasan yang hebat sekali. Diam-diam Kam Ceng Swi terkejut dan maklum bahwa lawannya ini memiliki kepandaian yang jauh lebih tinggi dari pada kepandaiannya sendiri Akan tetapi, untuk membela anak pungutnya yang ia sayang seperti putera sendiri, pendekar ini tidak takut mati. Diam-diam ia menduga-duga mengapa hwesio tinggi besar ini hendak membunuh Kun Hong? Bukankah Kun Hong itu puteranya sendiri? Hwesio ini menyatakan bahwa Kun Hong putera Kiu Hui Niang, padahal Kiu Hui Niang itu adalah puteri yang dihadiahkan kepada Beng Kun Cinjin ketika hwesio itu menjadi koksu dari pemerintahan Mongol.
Akan tetapi Kam Ceng Swi tidak mendapat banyak kesempatan untuk memikirkan hal ini karena sekarang ia mulai terdesak hebat. Gulungan sinar senjatanya makin menyempit, gerakan bintang dan bulan sisir di kedua ujung talinya makin lambat. Sekarang ia lebih banyaik menangkis serangan lawan dari pada menyerang. Ia sudah mulai mundur-mundur dan matanya silau karena tasbeh itu menyambar-nyambar seperti kilat putih, bergulung-gulung sukar diduga ke mana gerakannya. Kam Ceng Swi harus mengeluarkan seluruh tenaga untuk menjaga diri, namun tetap saja ia terdesak terus.
Setelah pertempuran berlangsung limapuluh jurus lebih, tiba-tiba Kam Ceng Swi mengeluarkan bentakan nyaring dan ia melakukan serangan dengan geralk tipu yang paling ia andalkan, yaitu gerakan Seng-goat-kan-in (Bintang; dan Bulan Mengejar Awan). Ujung cambuk yang berbentuk bintang itu meluncur cepat seperti bintang jaituh mengarah lambung lawan sedangkan ujung yang berbentuk bulan sisir melayang ke arah kepala Beng Kun Cinjin yang gundul licin!
"Bagus............!" Beng Kun Cinjin mengeluarkan seruan pula, kagum dan juga kaget, akan tetapi sebagai seorang ahli dia dapat berlaku tenang. Malah- malah ia terus berpura-pura kaget dan melompat ke belakang dengan gerakan limbung untuk mengelabui lawan. Benar saja. Kam Ceng Swi yang berpengalaman itu menjadi girang karena mengira bahwa kali ini lawannya terdesak oleh gerakannya Seng-goat-kan-in, maka dengan besar hati ia terus mendesak. Tidak tahunya, secara tiba-tiba sekali Beng Kun Cinjin memindahkan tasbeh di tangan kiri lalu tangan kanannya melakukan pukulan jarak jauh sambil menggereng seperti seekor singa!. Inilah Lui-kong-jiu atau Pukulan Geledek yang dilakukan dari jarak jauh. sebuah di antara banyak ilmu yang diandalkan oleh Beng Kun Cinjin.
Seng-goat-pian Kam Ceng Swi sadar setelah terlambat. Ia masih mencoba untuk mengelak, namun tetap saja hawa pukulan yang dahsyat itu menghantam dadanya dan membuat ia terjengkang ke belakang. Ia masih dapat mengatur kakinya sehingga tidak roboh melainkan terhuyung-huyung akan tetapi pada saat itu, tasbeh di tangan Beng Kun Cinjin sudah menyusul tanpa mengenal ampun lagi.
278
Kam Ceng Swi mengelak sambil miringkan kepala, akan tetapi kurang cepat, pinggir kepalanya pada pangkal telinga kena hantaman tasbeh.
"Prakk.........!" Tubuh Kam Ceng Swi terguling, pecut yang merupakan senjatanya istimewa itu di luar kesadarannya menggubat-gubat tubuh sendiri dan ia roboh tak dapat bergerak lagi.
Pada saat itu. terdengar bentakan nyaring, "Keparat jahanam!!" Tahu-tahu Kun Hong yang tadi duduk bersila sambil meramkan mata, kini sudah menerjang Beng Kun Cinjin dengan hebat. Gerakannya ringan bagaikan burung walet, pukulannya mengandung angin pukulan yang membuat Beng Kun Cinjin terkejut bukan main. Ia cepat mengelak, dan menyabetkan tasbehnya. Akan tetapi pemuda itu berkelebat cepat dan tahu-tahu sudah berada di samping dan menyerang lagi lebih hebat dari pada tadi. Makin terkejutlah Beng Kun Cinjin. Tak disangkanya sama sekali bahwa pemuda ini demikian lihai.
"Kau murid siapa.........!" tanyanya sekali lagi ketika ia melirik dan melihat betapa dasar gerakan-gerakan ilmu silat pemuda ini amat dikenalnya.
"Siluman gundul, kau berani membunuh ayah pungutku......?" Kun Hong berseru lagi tanpa menjawab pertanyaan lawan sambil terus mendesak secara bertubi-tubi malah sekarang pedang yang tadinya ia taruh di tanah telah ia ambil untuk melakukan penyerangan mematikan.
Beng Kun Cinjin memutar tasbehnya. Ia memang merasa menyesal karena terpaksa harus menewaskan Kam Ceng Swi untuk menutup rahasianya, malah ia harus membunuh anak Kiu Hui Niang yang dibencinya ini. Sekarang sudah kepalang ia harus berdaya membunuh Kun Hong. Ia mengerahkan seluruh tenaga dan kepandaiannya, menyerang pemuda itu kalang-kabut.
Tadi Kun Hong berada dalam keadaan setengah pingsan. Ia masih mabok oleh perubahan keadaan tubuhnya yang tiba-tiba menjadi enak dan ringan hilang rasa sakit pada dadanya. Ketika Kam Ceng Swi bertempur melawan Beng Kun Cinjin pemuda ini hanya tahu samar-samar saja seperti orang mimpi. Pada saat Kam Ceng Swi berseru keras melancarkan serangan, baru ia sadar dan siuman kembali. Ia membuka mata dan secara perlahan kesadarannya pulih kembali. Maka dapat dibayangkan betapa terkejutnya menyaksikan ayah angkatnya dipukul roboh oleh hwesio muka hitam yang tadi menolongnya.
Betapapun juga. karena semenjak, kecil dipelihara penuh kasih sayang oleh Kam Ceng Swi di lubuk hati Kun Hong terdapat rasa cinta dan bakti seorang anak terhadap ayahnya bagi Kam Ceng Swi. Sekarang melihat ayah angkatnya dibunuh orang tentu saja ia marah bukan main. Memang betul hwesio muka hitam itu tadi telah mengobatinya, akan tetapi hal itu bukan menjadi alasan bahwa ia harus mendiamkan saja orang membunuh ayah angkatnya yang ia sayang dan hormati Oleh karena itu dengan kemarahan yang meluap-luap ia menyerang Beng Kun Cinjin.
Setelah menghadapi permainan pedang Kun Hong. Beng Kun Cinjin tidak kuat lagi ia menjadi makin yakin sekarang bahwa ilmu silat pemuda ini sesumber dengan ilmu silat ayahnya.
"Apa kau murid Thian Te Cu?" tanyanya.
279
Kun Hong hanya menjawab dengan tusukan pedangnya yang demikian dahsyat sehingga biarpun sudah ditangkis tasbeh dan dielakkan, tetap saja sebagian besar ujung lengan baju hwesio itu terbabat putus!
"Ataukah murid Thai Khek Sian?" tanya pula Beng Kun Cinjin penasaran.
Akan tetapi kembali jawabannya hanya babatan pedang yang nyaris memutuskan lehernya kalau tidak cepat-cepat Beng Kun Cinjin membuang ke belakang, menggelundung dan terus melarikan diri secepatnya!
Kun Hong hendak mengejar, akan tetapi tiba tiba ia menghentikan langkahnya ketika mendengar suara lemah memanggilnya, "Kun Hong......."
Pemuda itu cepat melompat menghampiri Kam Ceng Swi yang tadi memanggilnya itu. Ia melihat ayah angkatnya itu membuka mata dan menggerakkan bibir. Kun Hong mengangkat kepala orang tua itu dan dipangkunya. Darah dari kepala membasahi bajunya.
"Ayah.......... bagaimana dengan lukamu?" tanyanya sambil memeriksa luka di pangkal telinga itu. Hebat luka ini dan ada tanda-tanda kepala itu retak.
"......... Kun Hong....... aku tahu sekarang......... hwesio itu......... Beng Kun Cinjin........ dialah pembunuh ibumu......... dia itu......... ayahmu sendiri......... kau......... kau tanyalah......... Kwee Sun Tek........." Sampai di sini Kam Ceng Swi tak dapat melanjutkan kata-katanya matanya meram dan napasnya terhenti.
"Ayaaahh.........!!" Kun Hong memanggil namun nyawa yang sudah melayang pergi meninggalkan badan tak dapat ditahan lagi.
Keterangan ayah angkatnya ini seperti halilintar menyambar kepalanya, membuat Kun Hong untuk sekian lamanya duduk di atas tanah dengan jenazah ayah angkatnya masih dipangkunya. Wajahnya pucat sekali dan dua butir air mata menitik turun tanpa diusapnya. Jalan pikirannya berputar tidak karuan, bingung ia memikirkan betapa hwesio muka hitam yang mengobatinya dan kemudian membunuh ayah angkatnya itu adalah ayahnya sendiri!
Jadi hwesio itu adalah Beng Kun Cinjin. pikirnya. Pantas saja gerakan- gerakan ilmu silatnya mirip dengan ilmu silatnya sendiri, tidak tahunya hwesio muka hitam itu putera tunggal Gan Yan Ki. Tapi bagaimana bisa jadi hwesio itu ayahnya sendiri? Sayang ayah angkatnya tak dapat memberi keterangan yang jelas dan keburu tewas karena lukanya. Akan tetapi ia akan mencari Kwee Sun Tek. orang tua buta itu untuk ditanyai keterangan. Hatinya berdebar. Bagaimana bisa terdapat keanehan yang demikian kebetulan? Mengapa justeru kepada Kwee Sun Tek ia harus mencari keterangan? Justeru kepada orang tua buta yang pernah ia permainkan sehingga terjadi kehebohan dalam tali perjodohan Wi Liong.
Dengan hati berduka Kun Hong lalu mengubur jenazah ayah angkatnya, dibantu oleh Phang Sinshe. Orang she Phang ini tadinya bersembunyi di dalam pondok saja karena takut mendengar suara ribut-ribut, kemudian setelah Kun Hong memanggilnya keluar, ia bergemetar melihat di situ ada jenazah seorang yang tidak dikenalnya.
280
"Sobatmu muka hitam itu sudah melarikan diri, dan ini ayah angkatku terbinasa. Phang Sinshe, apa kau tahu ke mana kiranya Beng Kun Cinjin pergi?"
"Beng Kun Cinjin itu siapa? Aku tidak mengenalnya," jawab Phang Sinshe sejujurnya.
Kun Hong dapat menduga bahwa kutu buku ini tidak tahu apa-apa dan tidak berdosa. "Bagaimana kau bisa menjadi sobat hwesio muka hitam itu dan bagaimana pula agaknya kau mengenal Liong Tosu?" tanya Kun Hong sambil memandang tajam.
Kakek itu menarik napas panjang. "Aku hanya mengenal hwesio itu sebagai seorang hwesio yang menderita batinnya, yang selalu kelihatan susah dan berduka. Ia tertarik akan pengetahuanku tentang kitab-kitab kuno, maka kami sering kali bercakap-cakap tentang ilmu kebatinan. Anaknya percakapan-percakapan kami itu dapat sedikit menghibur hatinya maka sering kali aku datang mengunjunginya. Karena perkenalanku dengan dia itulah aku mengenal Liong Tosu yang pernah pula mengunjunginya."
Penguburan jenazah Kam Ceng Swi dilakukan dengan amat sederhana. Kun Hong menaruh sebuah batu besar di depan makam dan mengikatkan senjata Seng-goat-pian erat-erat pada batu itu. Batu nisan yang istimewa itu kelihatan angker dan menjadi tanda yang mudah dikenal. Setelah menghaturkan terima kasih kepada Phang Sinshe. Kun Hong lalu turun gunung, di dalam hati ia berjanji untuk mencari Beng Kun Cinjin dan biarpun hwesio itu dikatakan oleh Kam Ceng Swi adalah ayahnya, namun ia benci kepada "ayah" itu yang telah membunuh ibunya dan membunuh ayah angkatnya yang terkasih. Apa lagi kalau diingat bahwa matinya Kam Ceng Swi.adalah untuk membelanya. Biarpun ia tadi masih dalam keadaan pusing namun setelah ditendang oleh hwesio muka hitam itu, ia ingat samar-samar bagaimana hwesio itu hendak memukulnya dengan tasbeh akan tetapi lalu tiba-tiba saja bertempur dengan Kam Ceng Swi.
Tadinya Kun Hong berniat hendak langsung mencari Im-yang-giok-cu yaitu batu giok Im-yang yang dapat menjadi obat baginya. Menurut pesan Liong Tosu biarpun kini rasa sakit sudah lenyap setelah ia menerima pengobatan Liong Tosu dan hwesio muka hitam, namun tetap saja akibat pukulan Im-yang-lian-hoan itu akan membuat ia hanya dapat hidup selama dua tahun kecuali kalau ia mendapatkan obat Im-yang-giok-cu yang dimiliki oleh Kui-bo Thai-houw di Ban-mo-to. Memang tadinya ia hendak mencari obat ini lebih dulu sebelum mengurus hal-hal lain. akan tetapi semenjak mendengar pesan terakhir dari Kam Ceng Swi sekarang ia ingin cepat-cepat mencari Kwee Sun Tek guna minta penjelasan tentang keadaan Beng Kun Cinjin yang dikatakan sebagai ayahnya itu. Oleh karena itu, kini setelah turun dari Bayangkari ia langsung menuju ke Wuyi-san lagi untuk mencari Kwee Sun Tek. Kalau perlu ia hendak minta keterangan dari Wi Liong, yaitu apa bila Kwee Sun Tek tidak berada di sana.
Kun Hong sedang berbaring di atas tempat tidur dalam kamar hotelnya. Ia telah melakukan perjalanan jauh terus-menerus sehingga tubuhnya terasa lelah sekali. Siang hari tadi ia tiba di kota Kong-siang ini dan langsung mencari hotel, lalu setengah hari lamanya ia bersamadhi untuk memulihkan kesegaran tubuhnya. Kemudian ia makan sore dan membaringkan diri di dalam kamar. Malam ini ia hendak mengaso sampai puas baru besok pagi-pagi melanjutkan perjalanan.
281
Ia berbaring sambil melamun. Alangkah banyaknya persoalan yang dihadapinya. Menyelidiki tentang Beng Kun Cinjin kemudian mencarinya. Pergi ke Ban-mo-to untuk mencari Im-yang-giok-cu yang baginya merupakan obat penyambung nyawa. Belum lagi mencari Thai It Cinjin dan kedua sutenya. Im Thian Cu dan Yang Thian Cu, yang telah merampas pedang Cheng-hoa-kiam. Semua itu masih ditambah urusan tentang perjodohan Kwa Siok Lan dengan Wi Liong yang harus ia sambung kembali memenuhi permintaan Eng Lan dan hal ini biarpun sama sekali tidak mengenai dirinyn sendiri, malah mendapatkan kedudukan pertama dalam perhatiannya karena Eng Lan yang menyuruhnya. Eng Lan......... mengenangkan gadis itu, tersenyum bibir Kun Hong dan wajahnya berseri. Apapun akan jadinya, betapapun berat tugas-tugas yang dihadapinya, asal kelak dapat mempersunting bunga hatinya itu ia tetap gembira dan tidak akan mundur setapak menghadapi rintangan-rintangan maha berat.
"Eng Lan.......... kau di mana sekarang dan sedang apa saat ini.........?" bibirnya bergerak membisikkan kata-kata ini sambil menekan kerinduan yang timbul di dalam hatinya.
Tiba-tiba ia mendengar suara kaki di atas genteng, gerakan kaki yang amat ringan dan sukar terdengar oleh telinga biasa. Kun Hong cepat meniup padam api lilin di atas meja, menyambar pedangnya, membuka jendela kamar perlahan-lahan lalu melayang keluar dari jendela itu. Tanpa terasa olehnya, malam telah merayap jauh dan pada saat ia melangkah keluar ke belakang hotel, baru kelihatan bahwa malam itu amat terang, gemilang oleh sinar bulan. Ia melihat keadaan sekeliling sunyi saja, lalu ia mengenjot kakinya melompat ke atas genteng. Sambil berlindung di balik wuwungan ia mengintai dan melihat dua sosok bayangan bergerak-gerak di atas genteng hotel.
Ketika ia menghampiri dengan hati-hati sambil bersembunyi, terlihat olehnya bahwa dua orang itu adalah dua orang wanita muda yang gerak- geriknya amat lincah dan ringan. Mereka sedang menjenguk dari lubang yang mereka buat di antara genteng-genteng, dan terdengar mereka tertawa terkekeh ditahan dan tangan mereka bergantian menyambitkan sesuatu ke bawah "Aduh, setan kurang ajar!" terdengar seruan-seruan dari bawah, suara laki- laki yang parau dan dua orang wanita itu terkikik lagi.
Kun Hong terkejut, ia ingat bahwa kamar yang diganggu oleh dua orang wanita itu adalah kamar seorang laki-laki tinggi besar yang dari golok yang tergantung di pinggang serta gerak-geriknya saja sudah dapat diketahui bahwa orang itu adalah seorang kang-ouw yang memiliki ilmu silat dan bukan seorang yang mudah diganggu begitu saja. Dari mana datangnya dua orang wanita yang ternyata adalah gadis-gadis muda ini dani mengapa mereka mengganggu laki-laki tinggi besar itu?
"Enci, kau bilang dia itu yang berjuluk Tiat-thouw-sai (Singa Kepala Besi)?"
"Betul dialah Tiat-thouw-sai Tan Kak." jawab gadis ke dua.
"Julukannya hebat, mengapa kepalanya tidak sekuat besi?" gadis pertama yang rambutnya diikat pita di kanan kiri bertanya lagi. Keduanya lalu tertawa- tawa lagi sambil mengincar ke bawah genteng.
Kun Hong menjadi ingin tahu dan ikut pula mengintai ke dalam melalui genteng di balik wuwungan. Dan ia menahan ketawanya. Benar-benar dua orang gadis itu nakal sekali. Di dalam kamar itu kelihatan si Tiat-thouw-sai itu sedang mencak-mencak dan mengelus-elus kepalanya. Kain pembungkus kepalanya sudah lubang-lubang dan kepalanya benjol-benjol. Tiap kali ia hendak lari ke pintu, sebuah benda kecil menyambar kepalanya membuat ia mengurungkan niatnya dan tiap kali ia
282
hendak melompat dan menyerbu ke atas melalui jendela sebuah benda malah kadang-kadang dua buah membuat ia roboh kembali!
Akhirnya Tiat-thouw-sai Tan Kak insyaf bahwa di atas genteng terdapat orang pandai, maka ia lalu menjatuhkan diri berlutut di atas lantai sambil mengeluh.
"Enghiong dari mana dan siapakah yang di atas dan mengapa mempermainkan siauwte (aku)? Jika ada salah, harap sudi memberi maaf. "
Kini dua orang enci adik itu tertawa cekikikan tanpa menahan suara ketawanya sehingga Tiat-thouw-sai Tan Kak yang mendengar bahwa yang di atas genteng adalah wanita-wanita, menjadi terbelalak heran.
"Tiat-thouw-sai Tan Kak. kau telah mengacau kota Kong-siang dan mencuri banyak emas permata, masih pura-pura tanya kesalahan!" kata gadis yang tertua, yang bertubuh tinggi langsing, suaranya merdu akan tetapi keren sekali.
"Seorang perantau kehabisan bekal, mengambil sedikit harta para hartawan yang kikir, apakah itu dianggap kesalahan?" kata Tan Kak. mengeluarkan aturan para perantau kang-ouw dan liok-lim, yaitu tidak ada salahnya bagi mereka untuk menyatroni para hartawan jahat.
"Siapa tidak kenal alasanmu yang kosong? Kau mencuri bukan sekedar kekurangan bekal perjalanan. Masa untuk bekal perjalanan kau mengambil uang beratus tael emas? Dan kau telah mengganggu pula gedung hartawan Bun yang terkenal dermawan dan sosiawan, benar-benar dosamu tak boleh diampuni!"
Karena mendapat kenyataan bahwa yang mengganggunya hanyalah dua orang wanita, semangat Tiat-thouw-sai Tan Kak timbul kembali.
Dengan gerakan tiba-tiba ia memukul ke arah lilin sehingga api lilin di kamarnya padam dan keadaan menjadi gelap sekali. Cepat ia mencabut goloknya dan melompat keluar dari pintu, terus ke belakang dan melompat naik ke atas genteng.
"Siluman wanita dari mana berani main-main dengan Tiat-thouw-sai?" bentaknya setelah ia melompat ke dekat dua orang gadis itu ia segera disambut oleh gadis ke dua yang rambutnya diikat pita di kanan kiri dengan bentakan nyaring.
"Singa Kepala Besi (Tiat-thouw-sai), hendak kulihat sampai di mana kerasnya kepalamu!"
Tan Kak marah sekali dan goloknya menyambar. Melihat bahwa dua orang wanita itu hanya dua orang gadis muda, ia makin memandang rendah lagi. Inilah kesalahan seorang yang sombong. Setiap ahli silat paling hati-hati apa bila menghadap tiga macam orang. Laki-laki sasterawan yang kelihatan lemah, orang-orang bercacad yang nampaknya tak berdaya, dan wanita-wanita yang lemah-lembut. Mereka tiga macam orang ini pada umumnya memang lemah akan tetapi kalau mereka berani beraksi di dunia kang-ouw, itu tandanya bahwa mereka sudah memiliki kepandaian yang tinggi. Kalau Tan Kak tidak sombong mengandalkan julukannya dan tidak memandang rendah kepada dua orang gadis itu, tentu baginya lebih selamat kalau ia tadi melarikan diri aja di dalam kegelapan.
283
Menghadapi sambaran golok di tangan Tan Kak, gadis muda itu tertawa mengejek. Ia bertangan kosong saja dan sedikit gerakan tubuhnya yang langsing itu telah membikin golok lawan menyambar angin. Tan Kak menjadi penasaran dan menyerang terus, akan tetapi lawannya bergerak seperti seekor burung walet cepatnya, setiap sabetan golok dapat dihindarkan tanpa banyak mengeluarkan tenaga.
Sementara itu gadis ke dua yang berambut panjang dan di bagian depan menutupi jidatnya telah melompat ke bawah menuju ke kamar Tan Kak. Tak lama kemudian ia sudah keluar lagi membawa dua buah kantong yang berat! Melihat adiknya masih terus mempermainkan Tan Kak bergerak ke sana ke mari sambil tertawa-tawa di antara berkelebatnya sinar golok, ia berseru, "Hui Sian, tidak lekas bereskan dia mau tunggu sampai kapan?"
Hui Sian atau gadis yang rambutnya diikal dan diikat pita di kanan kiri tertawa merdu lalu membentak "Kau gantilah julukan menjadi singa kepala remuk!'' Sebuah tendangan kilat menyambar tepat menghantam lutut pencuri itu. Tan Kak berseru kesakitan tubuhnya terpental dan ia terguling di atas genteng. Tendangan ke dua menyusul membuat Tan Kak terlempar ke bawah dan suara keras menyatakan bahwa ketika jatuh ke bawah kepalanya tentu terbentur benda keras.
Kun Hong masih bersembunyi ketika semua ini terjadi. Di dalam hatinya ia memuji kepandaian dua orang nona itu, akan tetapi ketika melihat dua orang gadis itu hendak lari membawa dua buah kantong yang tak salah lagi isinya tentulah uang yang menjadi hasil curian Tan Kak, hati Kun Hong penasaran dan tidak senang. ’Masa nona-nona itu menyerang Tan Kak hanya untuk merampas barang curian? Kalau begitu sama saja tidak ada perbedaan antara Tan Kak dan dua orang nona ini. Sayang kalau gadis-gadis-muda cantik seperti itu menjadi perampok- perampok rendah’, pikir Kun Hong.
Ketika dua orang gadis itu hendak melarikan diri, mereka terkejut sekali karena tiba-tiba terdengar bentakan halus. "Gadis-gadis cantik tidak patut menjadi perampok!"
Berbareng dengan bentakan itu, tahu-tahu dua buah kantong yang dibawa gadis pertama tadi telah lenyap! Gadis itu mengeluarkan teriakan kaget. Ia hanya merasa betapa kantong-kantong itu direnggut orang. Cepat ia dan adiknya memutar tubuh dan............ mereka melihat seorang pemuda ganteng berdiri di depan mereka dengan gagah dan angker!
"Gadis-gadis muda dan cantik tidak patut menjadi perampok-perampok!" Kun Hong mengulangi kata-katanya sambil melemparkan dua buah kantong itu ke atas genteng. Terdengar suara nyaring yang menandakan bahwa kantong-kantong itu terisi emas dan perak.
"Bangsat rendah! Kau siapa berani mencampuri urusan kami?" Gadis ke dua yang bernama Hui Sian tadi membentak sambil melangkah maju, siap menyerang.
Kun Hong tetap tersenyum tenang. "Perlu sekalikah kau mengetahui namaku? Tidak malu kau menanyakan nama seorang pemuda!" Ia menggoda.
"Cih. pemuda ceriwis!" bentak gadis pertama marah.
284
"Penjahat macam ini bereskan saja, enci Hui Nio!" bentak Hui Sian sambil menyerang dengan pukulan tangan kanannya. Pukulannya mantap dan cepat datangnya, tanda bahwa dia bukanlah orang sembarangan.
Akan tetapi kali ini ia menghadapi Kun Hong, pemuda yang memiliki tingkat kepandaian jauh lebih tinggi dari padanya. Sekali menggeser kaki dan menggerakkan tangan, Kun Hong berhasil menangkap pergelangan tangan gadis itu dengan tangan kirinya, membuat Hui Sian tak dapat bergerak untuk melepaskan diri! Melihat ini. Hui Nio menghantam dari samping ke arah lambung Kun Hong. Akan tetapi, dengan jalan menarik tangan Hui Sian sehingga gadis ini menggantikan tempatnya membuat Hui Nio cepat-cepat menarik kembali tangannya karena tidak mau memukul adik sendiri. Sebelum ia tahu apa yang terjadi, tahu-tahu pergelangan tangannya tertangkap pula oleh tangan kanan Kun Hong!
"Lepaskan aku!" bentaknya dan mukanya menjadi merah sekali.
"Kurang ajar, hayo lepaskan tanganku!" Hui Sian juga berseru marah sambil meronta-ronta tanpa hasil.
"Tidak akan kulepaskan sebelum kalian berjanji takkan merampok lagi," kata Kun Hong tersenyum. Dalam keadaan seperti itu, timbul kembali sifatnya yang suka menggoda orang. Timbul kembali sukanya untuk mempermainkan wanita cantik seperti sebelum bertemu dengan Eng Lan. Ia mendapat kenyataan betapa dua orang gadis ini cantik-cantik sekali.
Tiba-tiba Hui Nio melakukan serangan dengan tangan kanannya mencengkeram ke arah lehernya sedangkan Hui Sian dengan tangan kiri melakukan gerakan dalam saat itu juga, mencengkeram ke arah kepalanya! Gerakan kedua orang gadis ini hebat sekali, tapi yang amat mengejutkan hati Kun Hong, ia mengenal gerakan-gerakan ini sebagai gerakan Hek-jiauw-kang. semacam ilmu mencengkeram yang ia pelajari dari Thai Khek Sian! Kagetnya bukan main dan ia melepaskan pegangannya lalu melompat ke belakang untuk menghindarkan diri dari cengkeraman-cengkeraman maut itu.
"Kalian murid siapa?" tanyanya akan tetapi dua orang gadis yang sudah menjadi marah sekali itu tidak memperdulikan pertanyaan ini, sebaliknya malah menghujani serangan dengan gerak tipu Hek-jiauw-kang yang lihai.
Keheranan Kun Hong makin besar melihat gerakan-gerakan mereka itu biarpun pada dasarnya sama dengan Hek-jiauw-kang yang dimilikinya, namun variasi atau perkembangannya berbeda dan tidak begitu berbahaya lagi, tidak sejahat dan seganas Hek-jiauw-kang. Tentu saja dengan enak dan mudah ia dapat menghindarkan semua serangan itu.
Hui Nio dan Hui Sian kaget setengah mati. Baru kali ini ada orang dapat melawan mereka dan dapat menghadapi ilmu cengkeraman mereka secara begitu mudah. Mereka maklum bahwa lawan ini lihai sekali, membuat mereka diam- diam menjadi kagum akan tetapi juga penasaran dan khawatir.
Pada saat itu terdengar hiruk-pikuk di bawah rumah penginapan dan obor dinyalakan orang. Banyak orang berkumpul di bawah dan keadaan menjadi ramai. Ternyata suara ribut-ribut itu membangunkan para tamu dan mayat Tan Kak yang menggeletak di bawah sudah menarik perhatian
285
dan menimbulkan kepanikan. Melihat ini, dua orang gadis itu cepat membalikkan tubuh dan melarikan diri, berlompatan dengan cepat dan ringan di atas wuwungan rumah.
"Berhenti dulu!" seru Kun Hong sambil mengejar. Tadi ia tidak melayani mereka dengan sungguh-sungguh, hanya main-main karena memang ia tidak mempunyai permusuhan dengan mereka dan tidak ada mau untuk merobohkan mereka. Akan tetapi ia masih penasaran karena melihat ilmu silat mereka ada persamaannya dengan ilmu silatnya maka ia mengejar.
Akan tetapi dua orang gadis itu sudah berlari cepat. Beberapa kali Hui Sian menoleh dan melempar senyum kepada pemuda ganteng dan lihai itu, akan tetapi tidak memperlambat larinya. Tiba-tiba bulan yang tadinya terang benderang, tertutup awan hitam, membuat keadaan menjadi gelap dan Kun Hong kehilangan jejak, dua orang gadis cantik yang dapat berlari amat cepat itu. Ia terpaksa membatalkan niatnya mengejar dan kembali ke tempat tadi. Melihat keributan orang, ia tidak mau terlibat dalam persoalan itu, maka cepat ia mengambil dua kantong uang emas dan perak di atas genteng, lalu melompat turun tanpa diketahui oleh siapapun juga. Ia menuju ke kandang kuda, lalu melarikan diri malam- malam, menunggang kuda berbulu abu-abu yang besar dan kuat, kuda milik Tiat-thouw-sai Tan Kak!
Dengan kuda ini Kun Hong melanjutkan perjalanannya ke Wuyi-san. Benar saja. setelah melakukan perjalanan dengan kuda yang baik dan kuat itu. ia tidak begitu lelah dan perjalanan dapat dilakukan lebih cepat. Apa lagi kini ia telah membawa bekal dua kantong yang ternyata berisi potongan-potongan emas dan perak yang amat banyak jumlahnya! Kun Hong yang biasanya tak pernah memegang uang, selalu mengambil punya siapa saja apa bila memerlukan, sekarang ia hidup sebagai seorang putera hartawan, menghamburkan uang seperti membuang pasir saja! Ia mengambil uang itu dan mempergunakannya untuk menyesuaikan hidupnya dengan yang dikehendaki Eng Lan, tidak mau lagi ia mengambil milik orang apa bila membutuhkan makan pakai. Sama sekali ia tidak sadar bahwa kalau Eng Lan melihat cara ia menghamburkan uang yang ia rampas dari dua orang gadis itu. Eng Lan tentu akan mengerutkan dahinya yang halus, akan memarahinya.
Kun Hong sekarang muncul sebagai seorang pemuda yang tampan dan pakaiannya indah dan mahal. Seorang pemuda pesolek yang membuat tiap orang wanita mengerlingkan mata penuh arti kepadanya. Malah banyak orang mengira dia seorang putera pangeran yang melakukan pelancongan!
Kita tinggalkan dulu Kun Hong yang sedang melakukan perjalanan menuju Wuyi-san dan mari kita ikuti perjalanan Wi Liong, pemuda yang tertimpa kemalangan dalam urusan perjodohannya karena gara-gara Kun Hong! Ataukah hal itu harus dipersalahkan kepada Kun Hong? Seperti kita telah mengetahui, bukan saja karena kenakalan Kun Hong maka perjodohan itu mengalami keributan, malah juga karena sikap Wi Liong sendiri! Sikap pemuda ini ketika berhadapan muka dengan Kwa Siok Lan, gadis tunangannya sendiri kepada siapa ia jatuh cinta! Memang nasib pemuda ini sial sekali. Ia bertemu dengan Siok Lan tanpa mengetahui bahwa gadis ini tunangannya, ia malah menyatakan cinta kepada Siok Lan dan menyatakan hendak membatalkan perjodohannya dengan tunangannya! Dasar nasibnya buruk, tidak tahu bahwa yang dicinta adalah tunangannya sendiri dan tunangan yang dibenci adalah gadis yarg membikin dia tergila-gila itu juga.
Dengan kawannya yang setia, suling itu yang sekaligus merupakan senjatanya juga Wi Liong melakukan perjalanan cepat menuju ke Poan-kun. Biarpun dia sudah menenteramkan hati, tidak urung berdebar juga dadanya. Debar-debur jantungnya menghantam kulit dada ketika ia memasuki
286
pintu gerbang kota Poan-kun. Bagaimana macamnya gadis yang menjadi tunangannya itu? Bagaimana nanti sikap bekas calon mertuanya.
Kwa Cun Ek yang kabarnya adalah seorang jagoan tua yang gagah perkasa?
Untuk menghilangkan kegelisahannya yang timbul. Wi Liong lalu mampir di sebuah warung memesan minuman. Ia mengaso minum teh wangi sambil berpikir-pikir, menghafalkan kata-kata yang harus ia ucapkan di depan bekas calon mertuanya nanti. Bibirnya berkemak-kemik matanya merenung.
"Lo-enghiong," ia seharusnya menyebut gak-hu (ayah mertua) akan tetapi karena pamannya sudah membatalkan ikatan jodoh, lebih baik menyebut lo-enghiong (orang tua gagah perkasa), "harap sudi memaafkan bahwa saya berani berlaku lancang menghadap lo-enghiong. Saya datang membawa pesan paman Kwee untuk menyatakan penyesalan dan maafnya kepada lo-enghiong bahwa paman telah berlaku khilaf, telah berani berlaku kasar dan memutuskan ikatan jodoh hanya karena dapat dibodohi dan dipermainkan orang jahat. Sekarang paman telah mengetahui sejelasnya, bahwa...... Kwa-siocia tidak bersalah dan selanjutnya paman dan saya menyerah kepada lo-eng-hiong, mengakui kesalahan kami dan akan menerima segala hukuman yang akan dijatuhkan kepada paman dan saya........."
Kata-kata ini ia hafalkan di luar kepala, la tidak perlu menyinggung-nyinggung tentang disambungnya kembali ikatan jodoh, ia malah mengharapkan kemarahan orang tua she Kwa itu dan ia sudah bersiap sedia menerima penghinaan, bahkan sanggup pula menerima pukulan dari kakek itu, asal saja urusan beres sampai di situ saja dari perjodohan jangan disambung lagi!
Setelah debar jantungnya mereda kembali. Wi Liong membayar uang teh lalu bertanya di mana rumah keluarga Kwa. Tukang warung memandang kepadanya dengan mata dibuka lebar, agaknya terheran. Wi Liong maklum akan keheranan orang, dapat menduga bahwa tentu mengherankan orang Poan-kun bahwa ada orang yang tidak mengetahui tempat tinggal seorang ternama seperti Kwa Cun Ek.
"Siauwte bukan penduduk sini maka belum tahu di mana rumah Kwa-lo-enghiong." katanya menerangkan. Tukang warung mengangguk-angguk, lalu memberi petunjuk di mana letak rumah keluarga Kwa itu. Wi Liong menghaturkan terima kasih lalu menuju ke rumah itu.
Hatinya kembali dag-dig-dug setelah ia memasuki halaman rumah Kwa Cun Ek. Ia memang menghadapi urusan yang amat tidak menyenangkan. Ketika melihat seorang laki-laiki setengah tua yang bertubuh gemuk dan bermuka ramah sekali, tersenyum terus berdiri di ruangan depan memandangnya, Wi Liong menjadi makin sibuk hatipya. Kalau bekas calon mertua itu orang galak dan sombong, ia malah dapat menghadapinya dengan seenaknya. Akan tetapi kalau seramah itu mukanya, ia menjadi makin tidak enak! Cepat-cepat ia membungkuk dan mengangkat tangan memberi hormat.
Dapat dibayangkan betapa kaget dan malunya ketika ia mendengar orang itu berkata. "Kongcu mencari siapa? Apakah mencari Kwa-loya (tuan besar Kwa)?”
Ketika Wi Liong mengangkat muka, ia melihat mulut yang tadi tersenyum-senyum, kini tertawa lebar nampaknya girang sekali. Mendengar orang ini menyebut Kwa-loya. baru ia sadar bahwa kiranya
287
orang yang ia sangka tuan rumah ini hanya seorang pelayan saja! Mukanya menjadi merah ketika ia menjawab, "Benar, aku mohon bertemu dengan Kwa-lo-enghiong. harap twako suka memberi tahu ke dalam."
Pelayan itu tertawa lebar lalu membungkuk-bungkuk sambil berkata. "Kongcu baik sekali begitu menghormat kepada seorang pelayan, tidak seperti kongcu-kongcu lain........."
Untuk menyembunyikan malunya karena tadi salah duga. Wi Liong berkata, "Bagiku pelayan atau majikan sama saja sama-sama manusia, apa sih bedanya?”
Pelayan itu menjadi makin senang dan heran lalu ia membungkuk-bungkuk lagi dan mundur ke dalam rumah untuk melaporkan kedatangan seorang kongeu (tuan muda) yang ganteng, halus tutur sapanya dan suka menghormati seorang pelayan! Saking girangnya mendapat penghormatan dari tamu muda itu, pelayan gemuk itu sampai lupa menanyakan nama tamunya sehingga ketika melapor kepada Kwa Cun Ek, ia hanya berkata bahwa di luar ada seorang tuan muda mohon berjumpa dengan Kwa Cun Ek, dan bahwa tamu muda itu tampan dan sopan santun sekali.
Kwa Cun Ek segera keluar diiringkan oleh isterinya. Ketika tiba di ruangan depan, Kwa Cun Ek hanya melihat seorang pemuda yang tampan dan kelihatan seperti seorang terpelajar lemah. Akan tetapi di sampingnya, Tung-hai Sian-li mengeluarkan seruan kaget ketika melihat Wi Liong.
Di lain fihak, Wi Liong juga menjadi kikuk sekali ketika melihat Tung-hai Sian-li yang segera dikenalnya berada di samping orang tua yang tinggi besar, gagah perkasa dan berjenggot panjang bagus terpelihara itu. la segera dapat menduga bahwa tentu dia inilah yang bernama Kwa Cun Ek, memang patut sekali menjadi seorang tokoh yang gagah. Akan tetapi mengapa Tung-hai Sian-li berada di situ pula? Betapapun juga, ia segera maju dan menjura dengan hormat sekali sehingga menimbulkan rasa suka pada perasaan Kwa Cun Ek.
Kwa Cun Ek dengan senyum ramah membalas penghormatan tamu. Sama sekali dia tidak melihat bagaimana Tung-hai Sian-li di sampingnya memandang pemuda itu dengan muka merah dan mata bernyala-nyala penuh kemarahan.
"Hiantit, silahkan duduk. Ada angin baik manakah yang membawa kau datang ke sini? Kepentingan apa gerangan yang kaubawa?" Memang semenjak isterinya kembali berada di sampingnya, Kwa Cun Ek telah menjadi seorang manusia yang jauh berbeda dari pada kemarin-kemarin. Kini tidak saja ia nampak segar, sehat dan pakaiannya rapi, akan tetapi juga ia menjadi seorang yang peraman, manis budi dan kelihatan bahagia sekali. Ia amat mencinta isterinya, apa lagi sekarang, setelah isterinya itu meninggalkannya selama belasan tahun,!
Memang Wi Liong paling takut menghadapi keramahan bekas calon mertua ini. Kembali ia berdebar-debar ketika ia melangkah maju, memberi hormat lagi lalu mengucapkan hafalannya,
"Lo-enghiong. harap sudi memaafkan bahwa saya berani berlaku lancang menghadap lo-enghiong. Saya datang........."
"Nanti dulu, hiantit." Kwa Cun Ek memotong sambil tertawa lebar sehingga di balik jenggot panjang itu kelihatan deretan gigi yang kuat. "Kau bernama siapakah dan dari mana?"
288
Gangguan ini mengacaukan hafalan Wi Liong yang menjadi gugup-gugup.
"Saya datang......... eh. saya yang rendah bernama Thio Wi Liong......... dan......... dan saya datang membawa pesan paman Kwee......."
Berubah wajah Kwa Cun Ek seketika. Saking kaget, heran, menyesal dan marah ia sampai tidak bisa berkata apa-apa lagi! Tung-hai Sian-li yang maju ke muka dan suara wanita ini lantang nyaring ketika ia berkata.
"Pamanmu si buta itu sudah datang menghina kami dengan tuduhan-tuduhannya yang keji dan kotor. Apakah sekarang kau datang hendak menghina kami dengan mengandalkan kepandaianmu? Kalau begitu, orang muda jangan kira kami takut!"
Setelah berkata demikian tangan Tung-hai Sian-li bergerak dan......”sratt!" pedangnya telah dicabutnya!
Karuan saja Wi Liong menjadi makin bingung dan gugup. Akan tetapi pemuda ini memang aneh. Begitu menghadapi kekasaran atau kesombongan, semangatnya tiba-tiba bangkit kembali maka ia berkata dengan suara dingin,
"Tung-hai Sian-li, kau ikut-ikutan mencampuri urusan kami ada sangkut-paut apakah? Kuharap kau suka meninggalkan kami dulu karena aku ada urusan penting untuk dibicarakan dengan Kwa-lo-enghiong. Nanti kalau sudah selesai urusan kami boleh kalau kau hendak bicara denganku."
Tung-hai Sian-h bagaikan dibakar isi dadanya. Mukanya makin merah dan matanya yang bagus jeli itu berapi-api. "Setan kurang ajar! Kau dan pamanmu telah menghina Siok Lan anakku! Kau hendak bicara dengan suamiku sama saja bicara dengan aku!"
Kalau saat itu lantai yang diinjaknya tiba-tiba amblas, kiranya Wi Liong tidak akan sekaget ketika mendengar brondongan kata-kata yang sama sekali tak diduga-duganya ini! Celaka tiga belas setengah! Dia yang bertugas menjadi duta perdamaian, yang diharapkan akan dapat meredakan kemarahan fihak keluarga Kwa yang tersinggung kehormatannya karena kejalaian pamannya, bukannya meredakan kemarahan malah sebaliknya memperbesar nyala api. Dia telah bersikap kurang ajar kepada nyonya rumah, ibu Siok Lan atau isteri Kwa Cun Ek yang dianggapnya orang lain yang usil mulut! Tanpa terasa, matanya terbelalak mulutnya ternganga dan otomatis tangannya bergerak ke belakang menggaruk- garuk kepala di belakang telinga yang sebetulnya tidak gatal.
"A...... a......pa........ ba...... gaimana.........?" Dia bertanya ap-ap-ep-ep tidak karuan saking gagapnya.
Sementara itu, Kwa Cun Ek sudah dapat meredakan guncangan hatinya ketika ia mendengar bahwa pemuda ganteng lemah-lembut yang berdiri di depannya ini bukan lain adalah bekas calon mantunya. Ia menyentuh lengan isterinya untuk menyabarkan hati isterinya itu, melangkah maju setindak dan berkata, suaranya sekarang kaku dan sikapnya angkuh.
"Thio Wi Liong, kau datang mencari aku sebetulnya mau apakah?"
289
Wi Liong mengerutkan kening, mengerahkan seluluh tenaga otaknya untuk mengingat-ingat hafalannya. Akan tetapi entah mengapa, tiba-tiba saja ia kehilangan semua itu. Kata-kata yang sudah dirangkai dan dihafalkan di luar kepala di warung teh tadi, kini lenyap sama sekali. Otaknya tiba-tiba menjadi tumpul. Ia memeras otak sampai keringat sebesar kacang-kacang hijau berkumpul di dahinya, namun tetap tak dapat ia mengingat rangkaian kata-kata itu. Akhirnya ia berkata sekenanya,
"Saya diutus oleh paman Kwee untuk meminta maaf atas kekhilafan paman karena paman telah mendengar omongan orang jahat. Paman Kwee menyesal sekali telah........ telah memutuskan perjodohan......... dan......... dan......... ya sudah cukup begitulah.........!" Wi Liong menghapus keringatnya dari muka dengan ujung bajunya. Agaknya terlalu keras ia menghapus sehingga kulit mukanya menjadi merah sekali ketika ia menurunkan tangan yang menggosok muka.
"Hemmm...... pamanmu benar-benar telah melakukan hal yang amat ceroboh. Betapapun juga, aku masih dapat memaklumi mengingat bahwa dia telah buta sehingga tak dapat membedakan antara kebohongan dan sungguh-sungguh. Akan tetapi selain minta maaf. apakah tidak ada pesan lain tentang ikatan yang sudah ia putuskan?"
"Ti........ tidak.........!" Wi Liong membohong dengan suara perlahan sehingga untuk menguatkan pernyataannya, ia menggeleng kepalanya keras- keras. Terpaksa ia membohong. Sebenarnya pamannya masih amat ingin berbesan dengan kakek gagah ini, masih ingin menyambung kembali ikatan jodoh yang telah diputuskan oleh pamannya. Akan tetapi bagaimana ia dapat menerima penyambungan kembali kalau seluruh jiwa dan hatinya sudah terikat oleh Bu-beng Siocia (Nona Tak Bernama)? Sekarang sudah terlanjur, kebetulan ada kesempatan baik ini, setelah ikatan terputus oleh pamannya, biarlah tinggal terputus sehingga leluasa baginya untuk mencari Nona Tak Bernama!
Jawabannya yang kelihatan dipaksakan ketika mengatakan "tidak" tadi. tidak lepas dan pandang mata Tung-hai Sian-li yang amat tajam. Bagi nyonya gagah ini. lebih suka ia bermantukan Kun Hong dari pada Wi Liong yang biarpun sudah ia saksikan kelihaiannya, namun sikapnya terlalu lemah-lembut, kurang gagah. Apa lagi terutama sekali karena Kun Hong sudah pernah menolongnya maka hati nyonya ini lebih condong kepada Kun Hong. Ia melangkah maju dan berkata kepada Wi Liong, suaranya keras menuntut kepastian.
"Orang muda katakan sejelasnya. Pamanmu itu mengharapkan disambungnya kembali tali perjodohan antara kau dan anakku atau tidak? Jawab yang betul, tak perlu ragu-ragu dan sungkan-sungkan!" Kwa Cun Ek mengangguk-angguk menyetujui ucapan isterinya. biarpun ia anggap hal itu terlalu kasar.
Terjadi perang dalam kepala Wi Liong, perang antara kebaktian terhadap pamannya yang menjadi pengganti orang tuanya dan cinta kasih yang mendalam terhadap Nona Tak Bernama. Seperti biasa dan sering kali terjadi dalam hati para muda, cinta kasihlah yang menang. Pemuda yang selama hidupnya diajar jangan membohong dan yang memang belum pernah membohong itu, kali ini terpaksa membohong karena beratnya desakan cinta kasih yang membara di dalam hatinya. Ia menggeleng sebagai pengganti jawaban "tidak"!
Berubah wajah Kwa Cun Ek, Ia merasa tersinggung dan penasaran, juga amat marah. Kwee Sun Tek yang selama ini dianggapnya sahabat sejati, seorang gagah perkasa yang amat ia hormati, ternyata sekarang malah menjadi satu- satunya orang di dunia yang berani menghinanva secara luar batas.
290
Mula-mula melontarkan fitnahan keji dan kotor terhadap puterinya, lalu membatalkan pertunangan dan sekarang biarpun minta maaf, namun pada hakekatnya masih tetap menghinanya buktinya tidak mau menyambung kembali ikatan yang telah dipatahkannya secara paksa dan kasar!
"Dan sekarang, orang muda." Tung-hai Sian-li melanjutkan kata-katanya, senyum di bibirnya yang manis itu penuh ejekan, "bagaimana dengan pendapatmu sendiri? Apakah kau tidak mempunyai niat untuk menyambung kembali ikatan jodohmu yang diputus karena kebodohan pamanmu?"
Dapat dibayangkan betapa sukarnya mulut Wi Liong menjawab pertanyaan yang bagaikan ujung pedang runcing ditodongkan di depan ulu hatinya ini. Akan tetapi wajah Nona Tak Bernama terbayang di depan matanya, maka sambil meramkan matanya ia menjawab pasti. "Yang putus biar putus, aku menurut kehendak paman."
Terdengar isak makin keras lalu disambung Cepat Kwa Cun Ek dan Tung-hai Sian-li menengok, juga Wi Liong memandang ke dalam dengan hati tak enak. Sejak tadi ia sudah khawatir.kalau-kalau akan mendengar bekas tunangannya menangis atau melihat munculnya tunangan itu. Betapapun juga. diam-diam ia merasa kasihan kepada tunangannya yang belum pernah dilihatnya itu gadis yang sama sekali tidak berdosa akan tetapi secara tak berdaya telah "diikatkan" kepadanya!
"Siok Lan.........! Ke sinilah kau dan lihat macam apa manusia yang pernah menjadi tunanganmu!" teriak Tung-hai Sian-li yang sudah marah sekali kepada Wi Liong dan Kwee Sun Tek.
Terdengar isak makin keras lalu disambung suara campur sedu-sedan, "Ti...... tidak, ibu........ aku tak sudi lagi melihat mukanya......!"
"Bu Beng Siocia.........!" Suara Wi Liong bukan seperti suara orang ketika ia mengeluarkan sebutan ini. Dan pada saat itu berkelebat bayangan orang di dalam rumah orang yang melarikan diri ke belakang dengan cepat sekali. Wi Liong yang mendengar suara itu sudah mengenal gadis pujaannya, sekarang melihat bayangan tubuh langsing tinggi dengan rambut dibungkus sutera di bagian atas, tidak ragu- ragu lagi. Seketika ia menjadi limbung, semangatnya seperti meninggalkan tubuhnya dan mukanya berobah pucat seperti kertas putih.
"Bu Beng Siocia.......! Aahhhh........ apa yang telah kulakukan.........?" Dua kali ia memukul kepalanya sendiri dengan kedua tangannya sampai pipinya menjadi bengkak-bengkak dan darah mengalir dari mulutnya. Kemudian seperti orang gila ia menubruk maju, lari pesat sekali memasuki rumah dan mengejar ke belakang sambil berteriak-teriak.
"Bu Beng Siocia........! Bu Beng Siocia......!!"
Tung-hai Sian-li dan suaminya saling pandang dengan muka pucat, kemudian mereka juga lari cepat mengejar. Akan tetapi mereka tertinggal jauh sekali oleh Wi Liong yang sudah mengejar laksana kilat menyambar cepatnya.
"Bu Beng Siocia.........!" Wi Liong berteriak lagi setelah ia dapat mengejar dekat.
"Jangan kejar aku..........! Tak sudi aku melihat mukamu..........!!" Siok Lan berkata dengan isak tangisnya menyesakkan dada. Gadis ini mengerahkan seluruh ginkangnya untuk lari secepat mungkin
291
dari tempat dan orang yang amat dibencinya karena orang yang amat dicintanya ini telah menghinanya sehebat- hebatnya.
"Tunggu......... Siok Lan......... tungguuu......... siapa sangka kau Siok Lan??" terengah-engah Wi Liong berkata karena pukulan batin yang diderita pada saat itu melebihi tenaga yang ada padanya. Setelah dapat menyusul, ia menyambar tangan gadis itu dan sekali sentakan saja gadis itu telab didekapnya.
"Bu-beng Siocia...... Siok Lan....... kau tunanganku sendiri....... kau....... kau ampunkan aku, Siok Lan........."
Untuk beberapa detik Siok Lan menangis tersedu-sedan di atas dada orang yang paling dicintanya dan juga paling dibencinya itu. Kemudian ia merenggutkan tubuhnya dari pelukan Wi Liong. "Keparat jahanam tak tahu malu! Jangan kau sentuh aku! Siapa sudi padamu.........? Minggir!" Siok Lan menendang keras sekali dan tepat mengenai perut Wi Liong yang tidak mau mengelak atau menangkis. Tubuh pemuda itu terlempar dan membentur batu karang yang berada di belakangnya, roboh terguling -guling. Mukanya yang sudah bengkak itu lecet- lecet, akan tetapi dia bangun kembali. Melihat Siok Lan sudah lari lagi cepat iapun melompat dan mengejar.
"Siok Lan......... pujaanku......... Siok Lan.........!" Ia mengejar terus.
Sambil menangis Siok Lan terus berlari. Gadis ini hancur hatinya. Dahulu ketika ia bertemu dengan pemuda yang menjatuhkan hatinya ini, pemuda yang sebenarnya adalah tunangannya sendiri akan tetapi begitu bodoh sehingga tidak mengenalnya, ia sengaja mempermainkan Wi Liong, ia sudah bersiap-siap untuk mempermainkan tunangannya dan pada saat Wi Liong datang ke Poan-kun untuk membatalkan pertunangannya seperti telah dijanjikan pemuda itu kepadanya, ia akan muncul, tidak saja mencegah pemuda itu membatalkan, juga.akan mentertawakannya dan ia sudah membayangkan betapa akan lucu kemudian mesra pertemuan itu Akan tetapi, celaka sekali, paman pemuda itu telah mendahuluinya, telah merusak rencananya dengan pembatalan ikatan jodoh!
Kalau paman pemuda itu yang membatalkan hal itu bukan main-main lagi dan merupakan penghinaan besar. Apa lagi kini Wi Liong muncul bukan untuk memenuhi janjinya dulu, bukan merupakan pemuda yang hendak membatalkan perjodohan karena cinta kepadanya Akan tetapi sebagai pemuda utusan pamannya yang biarpun sudah mengakui kesalahannya, namun tetap tidak ada niatan untuk menyambung kembali ikatan jodoh. Alangkah hebat penghinaan ini dan betapapun besar cinta kasihnya kepada Wi Liong, tak mungkin ia dapat melanjutkan perjodohan itu. Menyambung kembali berarti mencemarkan kehormatan dan nama orang tuanya, berarti menjatuhkan penghinaan yang sebesar-besarnya di atas kepala ayah bundanya yang terkenal sebagai jago-jago di dunia kang-ouw!
"Tidak.......... minggat kau. Aku benci kepadamu, benciiii......... tak dengarkah engkau...?"
Akan tetapi Wi Liong terus mengejar. Siok Lan adalah seorang gadis yang keras hati, lebih keras dari ibunya. Melihat bahwa tak mungkin ia dapat lari dari Wi Liong yang memiliki kepandaian jauh lebih tinggi dari padanya, ia menjadi nekat. Dengan gerakan tiba-tiba ia mencabut pedangnya dan membalikkan tubuh lalu sambil memekik. "Mati kau........!" ia menyabetkan pedangnya membuta ke arah Wi Liong. Pemuda ini dalam keadaan setengah sadar karena hebatnya tekanan batin yang dideritanya, tidak mengelak sehingga dengan tepat pedang itu membacok paha kirinya.
292
"Cappp.........!" Wi Liong roboh terguling, darah mengucur deras dari luka di pahanya. Baiknya pemuda ini sudah menggembleng diri secara hebat sekali sehingga biarpun ia tidak mengerahkan lweekang atau tenaga untuk menahan sabetan, namun hawa sinkang di tubuhnya membuat urat-uratnya kuat dan dagingnya otomatis dapat menahan serangan dari luar sehingga ia hanya menderita luka di luar saja yang berdarah banyak. Lain orang tentu sudah putus pahanya disambar pedang gadis itu.
"Bunuh aku....... kau bunuh saja aku......!” kata Wi Liong dengan pucat ketika ia roboh terguling.
Melihat darah, Siok Lan menjadi makin kalap. Ia mengangkat pedangnya, siap ditusukkan ke arah leher pemuda yang pada saat itu amat dibencinya. Akan tetapi, pada saat ujung pedang sudah mendekati tenggorokan Wi Liong, pandang mata Siok Lan bentrok dengan sinar mata pemuda itu yang menatapnya penuh kedukaan dan cinta kasih. Naik sedu-sedan di kerongkongan Siok Lan membuat tangannya menggigil dan ujung pedang itu menurun, melukai kulit dada Wi Liong dan merobek bajunya. Pada saat itu. dari jauh sudah muncul Kwa Cun Ek yang berteriak nyaring, Siok Lan.........!!"
Gadis itu kaget, membalikkan tubuh dan lari lagi secepatnya. Wi Liong melompat bangun, agak terpincang namun berkat ginkangnya yang luar biasa tingginya, sudah dapat berlari lagi cepat sekali walau terpincang-pincang. Darah menetes di atas tanah, di sepanjang jalan yang dilaluinya. Darah segar, sebagian besar dari paha kirinya dan sebagian dari dadanya. Kepalanya serasa dipukuli palu besar, berdenyut-denyut sakit. Ini adalah akibat pukulannya sendiri tadi, pukulan yang dilakukan dengan keras dan dalam keadaan menyesal, duka dan marah kepada diri sendiri. Pukulannya sendiri ini di luar kesadarannya telah melukainya sendiri, luka yang tidak seberapa akan tetapi karena mengguncang otak, menjadi hebat dan berbahaya!
Melihat pemuda itu sudah mengejar sampai ke dalam hutan di sebelah timur kota Poan-kun, Siok Lan menjadi bingung. Akhirnya, setelah Wi Liong sudah dapat terdengar napasnya yang terengah-engah di belakangnya, Siok Lan mengambil keputusan nekat lalu melompat ke dalam sebuah jurang!
"Bu-beng Siocia......!" Pekik yang dikeluarkan oleh Wi Liong ini hebat sekali, seperti raung seekor singa terluka. Dengan kecepatan yang sukar diikuti pandangan mata, pemuda ini melompat, melempar diri terjun ke.dalam jurang itu, kedua kakinya mengait akar pohon dan tangannya menangkap tubuh Siok Lan. Semua ini terjadi dalam beberapa detik saja dan apa yang dilakukan oleh Wi Liong ini kiranya hanya dapat dilakukan oleh orang yang sudah tak memperdulikan kematian lagi. Dalam keadaan sadar, kiranya takkan dapat dilakukan olehnya, sungguhpun kepandaiannya amat tinggi. Perbuatan yang dilakukan oleh Wi Liong ini biarpun mengandalkan kepandaian tinggi, namun terutama sekali berkat kenekatan yang luar biasa terdorong oleh putus asa. Melihat kekasihnya melempar diri ke dalam jurang. Wi Liong cepat menyusul dan melompat pula. Karena kepandaiannya tinggi, lompatannya demikian cepatnya sehingga ia dapat menyusul Siok Lan dan ketajaman perasaannya membuat ia ingat untuk mengaitkan kaki kepada apa saja yang dapat menahan tubuhnya, kemudian ia berhasil untuk menyambar pinggang Siok Lan pada saat itu juga!
"Lepaskan aku. keparat!" Siok Lan meronta-ronta. Gadis ini sudah mengambil keputusan nekat untuk mati saja. Ia menggunakan kedua tangan untuk memukul, dan kedua kakinya menendang-nendang.
293
Sayang pedangnya sudah terlempar lenyap ketika ia melompat ke dalam jurang tadi, kalau tidak agaknya ia akan menggunakan pedangnya itu.
Betapapun tinggi kepandaian Wi Liong, dipukul dan ditendang oleh gadis yang berilmu tinggi juga itu, tak dapat ditahan lebih lama lagi. Lebih-lebih karena kaki kirinya terasa lumpuh, agaknya terlampau banyak darah keluar. Tubuhnya mulai gemetar menggigil dan sukar baginya untuk mempertahankan diri lagi. Akan tetapi ia tidak mau melepaskan tubuh kekasihnya.
"Jahanam, lepaskan aku!" teriak Siok Lan sambil memukul-mukul lagi sekenanya.
Pada saat itu. Kwa Cun Ek dan isterinya sudah tiba di pinggir jurang dengan muka pucat dan napas terengah-engah.
"Lan-ji...........!" Kwa Cun Ek berseru kaget melihat keadaan puterinya, dipegang pinggangnya oleh kedua tangan Wi Liong yang menggantungkan kaki pada akar pohon di tebing jurang, kira-kira sepuluh kaki dalamnya dari atas. Kalau cekalan Wi Liong terlepas, atau kalau pemuda itu jatuh ke bawah......... tentu akan celaka puterinya!
"Siok Lan.........jangan pukul dia.........!"
Tung-hai Sian-li juga memekik kaget dengan muka pucat. Kemudian wanita ini hampir pingsan menyembunyikan mukanya di dada suaminya, terisak. Mereka tak berdaya menolong.
Mendengar seruan-seruan mereka, pikiran Wi Liong yang sudah gelap dan tidak karuan itu seperti mendapat sinar terang. Cepat ia mencengkeram pinggang gadis itu dengan tangan kiri. melepaskan tangan kanan dan begitu tangan kanannya bergerak, ia sudah menotok jalan darah Siok Lan sehingga gadis ini tak dapat bergerak lagi.
"Kwa-lo-enghiong. awas, terimalah puterimu.........!" seru Wi Liong yang mengerahkan seluruh tenaga kepada dua lengannya, kemudian melemparkan tubuh Siok Lan ke atas sepenuh tenaga. Tubuh itu melayang ke atas melampaui mulut jurang. Kwa Cun Ek cepat menyambar tubuh puterinya yang lalu dipeluk dan ditangisi Tung-hai Sian-li. Akan tetapi ketika Kwa Cun Ek menengok ke bawah, ia meramkan matanya melihat betapa berbareng dengan terlemparnya tubuh Siok Lan ke atas, kaitan kaki Wi Liong pada akar itu terlepas dan tubuh pemuda itu meluncur ke bawah sampai lenyap dari pandangan mata!
Kwa Cun Ek menahan napas dan membuka lagi matanya yang menjadi basah. Ia tidak mengerti apakah sebetulnya yang sudah terjadi maka demikian aneh sikap Wi Liong dan Siok Lan. Betapapun juga, Wi Liong telah merenggut nyawa Siok Lan dari maut dengan pengorbanan nyawa sendiri, agaknya. Karena, bagaimana orang masih dapat hidup setelah terjatuh ke dalam jurang sedemikian dalamnya?
Akan tetapi ia tak dapat berbuat sesuatu, malah hendak menjaga agar Siok Lan jangan sampai tahu lebih dulu akan kengerian yang terjadi pada diri pemuda aneh itu. Ketika ia memandang puterinya, gadis itu sudah dibebaskan pengaruh totokannya oleh ibunya, akan tetapi Siok Lan telah roboh pingsan. Dengan hati tidak karuan rasa, suami isteri itu lalu membawa pulang Siok Lan, kemudian
294
setelah gadis itu direbahkan di dalam kamarnya dan dirawat oleh ibunya. Kwa Cun Ek lalu pergi ke hutan itu, untuk mencari mayat Wi Liong agar ia dapat mengurus penguburannya secara baik-baik. Tung-hai Sian-li, biarpun biasanya berhati baja. kali ini menyetujui kehendak suaminya, malah mendesak suaminya berangkat cepat-cepat agar jenazah pemuda itu tidak menjadi korban binatang buas. Pesanan ini ia ucapkan dengan air mata berlinang.
Akan tetapi, menjelang senja, Kwa Cun Ek pulang dengan muka lesu dan tangan kosong.
Isterinya menyambut di ruangan depan. "Lan-ji sudah siuman, menangis saja lalu sekarang sudah tertidur. Bagaimana usahamu mencarinya.......?" berkata Tung-hai Sian-li perlahan.
Kwa Cun Ek menggeleng kepalanya dengan sedih."Agaknya kekhawatiranmu telah terbukti. Aku hanya melihat bekas-bekas darah...... dan robekan-robekan pakaian...... tapi tidak menemukan jenazahnya....... agaknya....... kutakut....... jenazahnya digondol binatang buas............" Kwa Cun Ek tak dapat melanjutkan kata-katanya karena keharuan membuat kerongkongannya tersumbat.
Tung-hai Sian-li mendekap mulut sendiri agar jangan mengeluarkan suara tangisan. Akan tetapi dari celah-celah jari dan ujung lengan baju yang dipakai menutupi mulut dan mata. mengalir butiran-butiran air mata.
Keharuan suami isteri ini diakhiri dengan tidur karena lelah. Baru menjelang subuh mereka dapat tidur. Tekanan-tekanan batin membuat mereka lelah. Setelah mereka bangun, keharuan itu berganti dengan panik dan gelisah karena kamar Siok Lan telah kosong! Gadis itu telah lenyap tanpa meninggalkan bekas!
"Siok Lan.........!" Tung-haa Sian-li menjerit dan di lain saat wanita ini sudah berlari cepat meninggalkan rumahnya.
"Hui Goat.........!!" Suaminya memanggil sambil mengejair keluar.
"Aku takkan pulang sebelum bertemu dengan Siok Lan!" kata Tung-hai Sian-li sambil mempercepat larinya. Kwa Cun Ek menarik napas panjang berkali-kali sambil berdiri mematung di depan rumahnya. Kemudian, beberapa orang tetangganya melihat orang gagah ini pergi meninggalkan rumahnya, menggendong sebuah bungkusan kuning terisi bekal perjalanan. Setelah Siok Lan dan Tung-hai Sian-li pergi, untuk apa dia tinggal di rumah? Ia harus menemukan mereka, kalau tidak, biar dia tak usah pulang, sampai mati.........! Memang, peruntungan manusia tidak tentu, terputar seperti roda, sebentar di atas sebentar di bawah. Ini mengingatkan orang agar jangan menjadi congkak sombong di waktu jaya dan jangan putus asa dan kecil hati di waktu menderita.
"Pak tua, tolong kau urus baik-baik kudaku ini. aku hendak mendaki ke puncak. Ini uang untuk biayanya, kalau nanti aku turun dan mendapatkan kudaku terawat baik-baik akan kuberi hadiah lagi. Dan sekalian aku titip sekantong uang ini, awas jangan hilang" Demikian pesan Kun Hong kepada seoramg petani miskin yang tinggal di kaki Bukit Wuyi-san.
Tentu saja petani tua yang miskin itu girang menerima hadiah uang perak hanya untuk meiawat kuda beberapa hari saja. Akan tetapi kegirangannya menjadi ketakutan dan kekhawatiran ketika ia melihat
295
sekantong uang perak dan emas itu dititipkan kepadanya. Selama ia hidup, sampai lima puluh tahun lebih, jangankan melihat, mimpipun belum pernah ia melihat uang sebanyak itu!
Setelah Kun Hong pergi, petani itu dengan badan menggigil menyimpan uang sekantong nu ke dalam biliknya di dalami pondok yang butut. Memang aneh orang begitu miskin dalam pondok begitu butut menyimpan uang emas dan perak yang kiranya kalau dibelikan pondok seperti itu. bisa dapat beberapa ratus buah berikut tanahnya! Padahal untuk makan setiap harinya saja kadang-kadang kakek ini dipaksa berpuasa karena tidak ada yang dimakan!
Kun Hong sengaja meninggalkan kudanya kepada petani itu. Ia tidak mau memaksa kuda yang haik itu kehabisan tenaga mendaki bukit Dengan jalan kaki, mempergunakan ginkangnya ia akan dapat mencapai puncak lebih cepat lagi Kuda itu merupakan binatang tunggangan yang amat baik, laginya ia merasa mempunyai kawan dalam perjalanan Juga uang itu ia tinggalkan, karena untuk apa sih membekal uang mendaki puncak Wuyi-san? Paling-paling hanya akan menimbulkan kecurigaan kepada Kwee Sun Tek atau Wi Liong, terutama sekali Thian Te Cu.
Dengan ginkangnya yang istimewa, cepat sekali Kun Hong sudah mendaki puncak Wuyi-san. Sambil berlari naik, ia mengatur siasat. Saat ini, tidak perlu ia bersikap kasar dan tidak perlu menantang Wi Liong. Kedatangannya ini terutama sekali hendak mencari keterangan perihal Beng Kun Cinjin yang menurut keterangan ayah angkatnya pada saat kematiannya adalah ayahnya sendiri yang telah membunuh ibunya! Ia menjadi bingung kalau memikirkan hal ini. Ia harus dapat membuka rahasia ini dan harus mengetahui lebih dulu sedalam-dalamnya sebelum ia mengambil tindakan atas diri Beng Kun Cinjin. Kalau memang betul Beng Kun Cinjin membunuh ibunya, ia akan mencari hwesio itu dan akan membunuhnya biarpun ia itu ayahnya sendiri biarpun ia itu sudah mengobatinya!
Ketika ia tiba di puncak dan rumah tinggal Thian Te Cu sudah di depan mata, Kun Hong memperlambat larinya dan akhirnya ia memasuki halaman dengan amat hati-hati. Tiba-tiba ia berhenti dan memandang ke sebelah kiri bangunan batu kuno itu. Di atas sebuah batu yang bentuknya bundar, duduk Kwee Sun Tek yang buta. Orang tua ini duduk tak bergerak seolah-olah sudah berubah menjadi patung, pada wajahnya terbayang kekesalan hati. Kerut-merut di pinggir matanya mendatangkan keharuan dalam hati Kun Hong, perasaan yang dahulu tak pernah dialaminya. Entah mengapa, melihat orang tua buta yang duduk seorang diri di tempat sunyi, kelihatan sedih itu, menimbulkan, rasa kasihan di dalam hatinya. Akan tetapi hanya sebentar saja karena pada dasarnya watak Kun Hong amat periang.
Kun Hong menghampiri orang tua itu. menjura di depannya dan berkata, "Kwee Sun Tek lo-enghiong, aku Kun Hong datang memberi hormat!"
Hanya kulit muka itu saja bergerak sedikit, tubuhnya tetap diam. Lalu terdengar Kwee Sun Tek menarik napas panjang.
"Murid Thai Khek Sian lihai, aku si buta takkan dapat melawanmu. Bocah kurang ajar, kau datang lagi apakah hendak menimbulkan lain keonaran?”
"Tidak, sekali saja sudah cukup. Aku bertobat takkan mempermainkanmu lagi karena akibatnya cukup memusingkan aku sendiri. Kwee-lo enghiong. aku sengaja datang ini untuk minta pertolonganmu."
296
Kalau saja Kwee Sun Tek tidak buta, tentu ia akan membuka matanya lebar-lebar saking herannya. Pemuda murid Thai Khek Sian ini memang aneh sekali. Aneh, lihai dan jahat seperti iblis, seperti juga gurunya, Thai Khek Sian yang menjadi benggolan atau datuk kaum sesat.
"Bocah setan, kau berjanji takkan mempermainkan orang, akan tetapi kata-katamu ini bukankah sudah merupakan main-main? Jangan keterlaluan, pengakuanku bahwa aku takkan menang melawanmu bukan berarti bahwa Kwee Sun Tek takut padamu!"
Kun Hong menghela napas. Sikap orang buta ini gagah, mengingatkan ia akan ayah angkatnya yang juga gagah perkasa.
"Tidak, Kwee-lo-enghiong. Sungguh mati aku tidak main-main dan aku datang betul-betul mengharapkan bantuanmu."
Suara pemuda ini terdengar sungguh-sungguh membuat hati Kwee Sun Tek menjadi bimbang.
"Orang muda yang aneh bantuan apa yang dapat diberikan seorang buta kepadamu?"
"Hanya sedikit keterangan tentang seorang bernama Beng Kun Cinjin........."
"Prakkk.......!!"' Kwee Sun Tek menghantamkan tangan kanan yang dimiringkan ke arah batu karang yang didudukinya sehingga pinggir batu karang itu hancur! Orang tua buta ini tak dapat menahan kemarahannya ketika mendengar nama musuh besarnya yang dibencinya itu.
Kini giliran Kun Hong yang memandang penuh keheranan. Ia teringat akan pesan ayah angkatnya supaya bertanya kepada Kwee Sun Tek. Ternyata betul, tentu ada apa-apa di antara orang tua buta ini dengan Beng Kun Cinjin.
"Kwee-lo-enghiong. kenapa kau menjadi marah-marah mendengar nama Beng Kun Cinjin?" tanyanya penuh ingin tahu.
"Orang muda, kau ada hubungan apa dengan Beng Kun Cinjin maka kau menanyakan dia?"
"Dia......... dia itu.........musuhku." jawab Kun Hong, tidak berani ia mengakui Beng Kun Cinjin sebagai ayahnya.
"Musuhmu............?" Kali ini Kwee Sun Tek benar-benar kelihatan kaget dan heran sekali. Memang jawaban ini sama sekali tidak pernah disangkanya.
"Dia...... dia telah membunuh ayah......."
"Kam Ceng Swi dibunuhnya pula? Keparat jahanam! Orang muda, kau melihat di manakah? Hayo katakan, di mana adanya jahanam Beng Kun Cinjin sekarang?"
Diberondongi pertanyaan-pertanyaan ini Kun Hong menjawab tenang "Di Pegunungan Bayangkari, akan tetapi sekarang ia telah melarikan diri, entah ke mana. Kwee-lo-enghiong, sebelum ayah
297
meninggal, dia berpesan supaya aku datang kepadamu untuk bertanya tentang Beng Kun Cinjin. Ternyata kaupun agaknya sakit hati kepadanya. "
"Sakit hati? Ah. orang muda dendamku bertumpuk-tumpuk dan aku tidak mau mati sebelum melihat dia terbunuh!" Kwee Sun Tek nampak bernafsu sekali, kemudian ia dapat meredakan pikirannya dan berkata lagi, "Ayahmu betul. Hanya aku yang dapat menceritakan kepadamu tentang iblis itu. Kau duduklah dan dengarkan ceritaku.”
Kun Hong mengambil tempat duduk di atas sebuah batu hitam di depan Kwee Sun Tek. mendengarkan dengan penuh perhatian dan dada berdebar. Ia tahu bahwa sekarang ia hendak mendengar pembukaan rahasia orang yang mengaku sebagai ayahnya itu, orang yang telah membunuh ibunya!
"Kau sebagai murid Thai Khek Sian, apakah kau tidak tahu bahwa dia itu terhitung saudara seperguruanmu sendiri karena dia adalah putera susiokmu Gan Yan Ki?”
"Hal itu sudah pernah kudengar." Kun Hong mengaku lalu menutup mulut karena ingin mendengar kelanjutan cerita orang tua itu.
"Beng Kun Cinjin bernama Gan Tui, dahulunya seorang tokoh kang-ouw yang besar namanya dan dapat disebut seorang gagah perkasa. Akan tetapi, biarpun ia sudah menjadi hwesio, ternyata ia lemah menghadapi godaan wanita. Ketika pada suatu malam ia menyerbu istana Kaisar Mongol, ia terpikat oleh seorang selir kasiar bernama Kiu Hui Niang Puteri Harum dan rela menjadi anjing Kaisar Mongol karena ia diberi hadiah puteri itu! Batinnya menjadi rusak dan ia menjadi seorang hina karena pengaruh wanita rendah itu."
Kun Hong menggigit bibirnya, hatinya sakit bukan main mendengar Kiu Hui Niang yang dinyatakan sebagai ibunya itu, kini dimaki-maki orang di depannya. Akan tetapi dia diam saja dan mendengarkan terus, siap untuk mendengar yang sehebat-hebatnya dari mulut orang buta ini.
"Dia mempunyai tiga orang murid. Thio Houw dan isterinya. Kwee Goat dan adik iparnya Kwee Sun Tek........."
Kun Hong menatap wajah onang buta itu dan hatinya berdebar. Jadi Kwee Sun Tek ini dahulunya murid Beng Kun Cinjin?
"Tiga orang murid itu tidak rela melihat guru mereka menjadi anjing Kaisar Mongol, lalu menyerbu ke kota raja untuk memberi peringatan kepada guru mereka. Akan tetapi, Beng Kun Cinjin Gan Tui yang sudah berubah menjadi anjing hina itu, tidak mendengarkan nasihat murid-muridnya, malah dengan keji menyuruh para pengawal mengeroyok sehingga Thio Houw dan isterinya tewas di tangan para pengawal!"
"Keji benar!!" Kun Hong berseru merah.
"Aku sempat melarikan diri, membawa anak enciku yang masih kecil dan pedang Cheng-hoa-kiam milik enciku pemberian guru kami. Akan tetapi manusia iblis itu mengejarku dan biarpun ia tidak membunuhku, dia telah mengorek keluar kedua mataku, membikin aku buta........."
298
"Setan jahanam benar!" kembali Kun Hong memaki. "Kalau begitu, Thio Wi Liong keponakanmu itu....... dia tentulah anak Thio Houw dan isterinya yang terbunuh oleh Beng Kun Cinjin."
"Betul begitu. Nah, itulah yang kuketahui tentang Beng Kun Cinjin........."
"Akan tetapi, selanjutnya bagaimana. Kwee-lo-enghiong? Apa yang terjadi dengan Beng Kun Cinjin kemudian?"
Kwee Sun Tek menarik napas panjang. "Aku hanya mendengar kabar angin saja. Katanya ia telah kena bencana. Manusia jahat selalu dikutuk Thian. Aku mendengar isterinya, perempuan rendah Kiu Hui Niang itu, melahirkan seorang anak laki-laki. Akan tetapi Beng Kun Cinjin mendapatkan isterinya main gila dengan orang lain. Orang itu dibunuhnya dan dia bersama anak isterinya telah menghilang, tidak diketahui lagi bagaimana keadaannya dan sampai saat ini belum pernah aku berhasil mencari tempat sembunyinya."
Sekarang semua jelas bagi Kun Hong. Tak salah lagi. Tentu Beng Kun Cinjin yang marah itu telah membunuh isterinya di dalam hutan dan....... dan dia ditolong oleh Kam Ceng Swi. diaku anak. Tentu jenazah ibunya ditemukan oleh Kam Ceng Swi dan gelang itu......... gelang itu......... tentu saja Beng Kun Cinjin mengenal gelang anaknya!
"Aku tidak tahu entah apa yang terjadi dengan isteri dan anaknya........."
"Isterinya telah dia bunuh dengan kejam di dalam hutan........!" kata Kun Hong di luar kesadarannya, suaranya keras menggigil.
"Dan anaknya.........?" tanya Kwee Sun Tek.
"Anaknya.........?" Kun Hong melompat dan lari pergi dari situ, turun gunung. Masih terdengar ia memekik, "Akan kubunuh dia! Kubunuh dia.........!!"
Kwee Sun Tek tersentak kaget dan berdiri dari batu itu.
"Kau......... kau anaknya.........!" Teringat ia bahwa sepanjang pengetahuannya. Kam Ceng Swi tidak pernah punya isteri atau punya anak. Tentu Kam Ceng Swi yang menolong bocah itu dan memeliharanya, mengakunya sebagai anak sendiri. Dan sekarang Kam Ceng Swi terbunuh pula oleh Beng Kun Cinjin. Sekarang Kun Hong, bocah itu mencarinya untuk membalas dendam atas kematian ibunya, atas kematian ayah pungutnya!
Kwee Sun Tek tertawa bergelak, menengadah ke langit. "Ha-ha-ha, enci Goat dan cihu, kalian lihatlah. Bukankah Thian telah menghukum manusia macam dia? Ha-ha-ha, tidak saja anak kalian yang mencari-carinya untuk membalas dendam, malah anaknya sendiri juga mencarinya untuk membunuh! Ha-ha ha. mendengar ini saja, sudah terobat hatiku.........!" Kwee Sun Tek tertawa-tawa, kemudian menjatuhkan diri duduk di atas batu lagi dan menjadi tenang.
Sambil berlari-lari turun Gunung Wuyi-san, Kun Hong berkali-kali mengeluarkan suara menyeramikan, "Akan kubunuh dia....... akan kubunuh dia.........!"
299
Di samping kemarahannya dan kebenciannya terhadap ayahnya sendiri, Beng Kun Cinjin Gan Tui yang telah membunuh ibunya, yang telah melakukan perbuatan terkutuk, juga timbul semacam perasaan gundah dan nestapa di dalam dada pemuda ini. Ayahnya seorang yang rendah wataknya dan ibunya......... ibunya telah melakukan perbuatan serong, ibunya juga seorang wanita yang tidak tahu malu, seorang berbudi rendah. Kenyataan-kenyataan pahit ini seperti membuka matanya untuk dihadapkan pada duri-duri tajam yang menusuk-nusuk hatinya. Ia keturunan orang rendah budi, keturunan orang-orang jahat! Terbayang wajah Wi Liong, pemuda yang ternyata adalah keturunan orang-orang gagah, murid-murid yang berjiwa patriotik, yang terbunuh oleh gurunya yang sesat, terbunuh oleh......... ayahnya!
Bermunculan wajah-wajah orang gagah yang selama ini memusuhinya, dan yang terakhir dan paling mengesankan adalah bayangan wajah...... Eng Lan! Dia keturunan hina dan rendah ini, anak orang-orang jahat, mana boleh dibandingkan dengan Eng Lan, pendekar wanita yang hidup di lingkungan orang-orang gagah?
Kun Hong berlari terus ke bawah gunung, hatinya tidak karuan, wajahnya pucat. Teringat ia akan nasibnya yang buruk teringat akan usianya yang tinggal setahun lebih atau dua tahun kurang lagi. Ia telah menderita luka akibat pukulan Im-yang-lian-hoan dari Kun-lun-pai. biarpun pengaruh beracun dari Hawa Im-kang dan Thai-yang di tubuhnya sudah disembuhkan oleh Liong Tosu dan oleh Beng Kun Cinjin, namun jantungnya sudah terluka dan ia hanya akan hidup dua tahun lagi kalau tidak mendapat obat dari Ban-mo-to. Bagaimana kalau aku selama dua tahun tak dapat mengejar Beng Kun Cinjin? Demikian pikir Kun Hong cemas. Lebih baik aku berobat dulu, setelah sehat betul baru mencari jahanam itu sampai dapat.
Setelah mengambil ketetapan ini. Kun Hong lalu menuju ke rumah petani yang ia titipi kudanya, ia memberi banyak hadiah sehingga petani tua itu menjadi girang sekali, buru-buru mengeluarkan kuda yang selama pemuda itu pergi ia rawat baik-baik dan beri makan sampai kenyang.
Kun Hong cemplak kudanya dan melarikan kudanya ke timur. Karena batinnya menderita setelah mendengar penuturan Kwee Sun Tek tentang ayah bundanya, ia seperti orang linglung, lupa bahwa sudah hampir dua hari perutnya belum diisi dan ia sedang menderita lapar. Kudanya yang sudah beristirahat dan makan kenyang, dapat lari cepat sekali. Melalui jalan yang sunyi itu pikiran Kun Hong makin melayang-layang sehingga ia tidak tahu bahwa di tempat yang sunyi itu. jauh di depan dekat gunung kecil batu karang, terdapat tiga orang yang berdiri menantikannya.
"Berhenti!"
Bentakan yang nyaring dan tiba-tiba ini menarik kembali Kun Hong dari dunia lamunannya dan barulah ia melihat bahwa ada orang-orang menghadangnya. Cepat ia menarik kendali kudanya dan berhenti di depan orang yang membentaknya tadi. Orang itu adakah seorang pemuda yang luar biasa gagahnya, berpakaian sebagai seorang panglima perang, bentuk tubuhnya tegap mukanya tampan dan amat gagah. Begitu melihatnya, timbul rasa suka di hati Kun Hong. Seorang pemuda seperti itu sudah tentu memiliki kegagahan yang mengagumkan.
Akan tetapi tidak demikian dengan pemuda gagah itu. Dia berdiri dengan kaki dipentang dan sikapnya membayangkan kemarahan. Ketika Kun Hong melirik ke belakang pemuda gagah itu, ia terkejut
300
karena mengenal dua orang gadis manis yang pernah ia jumpai, yaitu dua orang gadis yang telah membunuh perampok tunggal Thiat-thouw-sai Tan Kak dan merampas uang kemudian ia rampas kembali dan ia kalahkan. Hatinya menjadi tidak enak karena tentu dua orang gadis itu hendak membalas kekalahan mereka.
"Saudara ini siapakah dan ada keperluan apa menyuruh aku berhenti?" tanyanya dengan ramah sambil turun dari kudanya. Menghadapi seorang dengan sikap demikian angker dan gagah seperti pemuda itu, benar-benar membuat ia tidak enak kalau bicara sambil duduk di atas kuda. Dengan tenang Kun Hong menambatkan kendali kudanya pada batang pohon di pingigir jalan lalu ia menghadapi pemuda gagah itu dengan sikap tenang.
Pemuda gagah itu melirik ke arah kuda dan kantong kain terisi uang emas dan perak, dua kantong yang dirampas oleh Kun Hong dari tangan dua orang gadis itu. Kemudian pandang matanya dialihkan kepada Kun Hong, melirik ke arah pedang yang tergantung di pinggang pemuda itu.
"Aku Kong Bu dan kalau kau seorang dari jalan hitam yang biasa beroperasi di selatan, tentu kaupun tahu bahwa See-thian Hoat~ong Kong Lek In adalah ayahku." Agaknya dengan perkenalan namanya dan nama ayahnya ini, Kong Cu pemuda gagah itu hendak membikin kedar hati penjahat di depannya.
Memang Kun Hong sudah mengenal See-thian Hoat-ong, maka ia cepat-cepat menjura dan tersenyum ramah, berkata.
"Ah. kiranya kau adalah putera See-thian Hoat-ong. Pantas saja begini gagah perkasa. Sungguh menyenangkan sekali dapat bertemu dan berkenalan dengan kau. Aku bernaima Kun Hong dan she-ku......... she Gan!" Agak ragu-ragu ia menyebutkan she Gan ini, akan tetapi setelah jelas asal-usulnya, tentu saja ia tidak lagi berhak memakai she Kam. Biarpun ia benci kepada ayahnya sendiri, akan tetapi kalau ayahnya she Gan, habis ia harus pakai she apa?
"Bagus kalau kau sudah mengenal nama ayahku," kata Kong Bu menarik napas lega. "Perlu juga kiranya kau ketahui bahwa aku adalah panglima perang Kerajaan Sung Selatan yang bertugas menjaga keamanan di sekitar pantai timur. Gan Kun Hong, apakah kau sudah mengakui dosa-dosamu?"
Kun Hong tersenyum. Harus ia akui bahwa pemuda: di depannya itu gagah sekali, akan tetapi sikapnya masih hijau, masih mentah dan kekanak-kanakan, la tahu bahwa pemuda yang menjadi panglima perang ini tentu maksudkan perbuatannya terhadap dua orang gadis manis itu, akan tetapi ia pura-pura bodoh dan bertanya, "Kong-ciangkun (komandan Kong), kita baru kali ini saling bertemu, bagaimana aku bisa berbuat dosa kepadamu?"
”Jangan kau pura-pura!" Kong Bu membentak sambil meraba gagang goloknya yang besar seperti golok ayahnya. ”Kau lihat, apakah kau tidak mengenal dua orang nona ini?”
Kun Hong menoleh dan memandang kepada dua orang gadis itu sambil tersenyum. Ia lihat gadis yang muda, yang rambutnya digelung dan dibungkus sutera di kanan kiri, gadis yang bernama Hui Sian itu dulu ia pegang kedua lengannya, berdiri sambil bertolak pinggang. Encinya, Hui Nio berdiri di sebelahnya dan dua orang gadis ini memandang kepadanya dengan penasaran. Diam-diam Kun Hong menjadi merah mukanya, jengah karena tentu ia disangka perampok oleh pemuda gagah itu. Akan tetapi ia tetap tersenyum dan diam-diam ia menduga duga siapa adanya dua orang gadis lihai itu,
301
yang memiliki ilmu cengkeraman seperti yang pernah ia pelajari dan yang sekarang tahu-tahu telah berkawan dengan seorang pemuda gagah putera See-thian Hoat-ong!
Mari kita berkenalan sebentar dengan tiga orang muda itu Pemuda itu adalah putera tunggal See-thian Hoat-ong yang bernama Kong Lek In dan bekas raja muda di Sin-kang. Ibunya sudah meninggal dunia, tewas ketika daerah itu diserbu oleh bala tentara Mongol. Seperti juga ayahnya, pemuda itu yang bernama Kong Bu, memiliki kegagahan. Malah pemuda ini lalu menghambakan diri pada Kerajaan Sung Selatan untuk memerangi bala tentara Mongol, dan ia mendapat kepercayaan menjaga keamanan di sekitar pantai timur. Tentu saja sebagai putera See-thian Hoat-ong, Kong Bu telah mewarisi ilmu silat dan ilmu golok ayahnya.
Ketika ia mulai memegang jabatannya dan melakukan tugasnya di pantai timur, ia bertemu dengan dua orang gadis enci adik itu yang bernama Liok Hui Nio dan Liok Hui Sian. Ternyata bahwa dua orang gadis ini bukanlah orang orang sembarangan, melainkan murid-murid dari Tai it Cinjin, seorang tokoh besar di dunia kang-ouw sebagai orang sakti Bu-rong-pai! Di samping Tai it Cinjin, masih ada lagi lm Yang Siangcu. dua orang sutenya yang juga merupakan jago-jago Bu-tong-pai yang sakti. Tentu saja pertemuan dengan orang-orang gagah ini menggirangkan hati Kong Bu. Tai It Cinjin juga suka sekali melihat pemuda ganteng putera See thian Hoat-ong ini, maka ia lalu mengusulkan perjodohan antara Kong Bu dan murid perempuannya yang pertama, Liok Hui Nio. Kong Bu sendiri tertarik dan suka kepada Hui Nio yang pendiam, cantik jelita dan tinggi ilmu silatnya. Akan, tetapi pertunangan itu belum diresmikan karena Kong Bu menanti kesempatan berjumpa dengan ayahnya untuk minta persetujuan orang tua itu.
Seperti telah dituturkan di bagian depan secara kebetulan sekali Liok Hui Nio dan adiknya Hui Sian, ketika sedang merampas harta curian perampok tunggal Tan Kak, dua orang kakak beradik ini bertemu dengan Kun Hong dan dikalahkan Mereka menjadi terheran-heran akan kelihaian pemuda itu, akan tetapi juga penasaran sekali. Di tengah perjalanan mereka bertemu dengan Kong Bu dan melaporkan tentang pengalaman mereka. Kong Bu marah sekali siapa orangnya yang tidak marah kalau tunangannya dikalahkan orang? Ia mencegah enci adik itu mencari guru mereka.
"Urusan dengan seorang maling cilik saja perlu apa harus mencapaikan guru kalian? Mari kita bereskan sendiri, hendak kulihat sampai di mana kekurangajaran maling itu!"
Bersama dua orang gadis itu ia lalu pergi hendak mencari Kun Hong, akan tetapi kebetulan sekali sebelum pergi jauh tahu-tahu Kun Hong yang dicari-cari sudah datang .
Demikianlah perkenalan singkat dengan Kong Bu dan dua orang gadis cantik itu yang marah-marah kepada Kun Hong. Sebetulnya kalau mau dibilang marah, yang marah dan penasaran adalah Hui Nio. Akan tetapi Hui Sian, gadis manis jenaka yang rambutnya diikat kain sutera di kanan kiri, diam-diam memandang ke arah Kun Hong dengan mata bersinar-sinar aneh. Biarpun tangannya bertolak pinggang dan sikapnya seperti seorang musuh, namun sinar matanya lembut menyapu wajah Kun Hong yang taunpan. Diam-diam gadis remaja ini amat kagum kepada Kun Hong yang selain tampan, juga amat tinggi ilmu silatnya.
Seperti telah dituturkan di atas, Kong Bu membentak kepada Kun Hong yang sikapnya masih tenang jenaka. "Jangan kau pura-pura, kau lihat, apakah kau tidak mengenal dua orang nona itu?”
302
Kun Hong yang sudah turun dari kudanya menjura kepada Hui Nio dan Hui Sian. Hui Nio tidak perduli, akan tetapi Hui Sian dengan muka merah balas menjura!
"Siauwte memang sudah mendapat kehormatan, berjumpa dengan ji-wi lihiap (dua nona pendekar) ini, hanya sayang sekali tidak dalam keadaan yang menyenangkan......." katanya tersenyum.
"Maling kecil!" Hui Nio melangkah maju, memaki sambil menudingkan telunjuknya yang runcing ke arah hidung Kun Hong. ”Kau sudah merampas barang- barang kami dan menghina kami. Hari ini aku tentu akan mengadu nyawa denganmu!" Setelah berkata demikian, Hui Nio mencabut pedangnya. Dahulu ketika bertemu dengan Kun Hong. dia dan adiknya menghadapi Kun Hong dengan tangan kosong, sekarang ia mencabut pedangnya karena ia memang ingin sekali menebus kekalahannya yang lalu.
Melihat cara gadis itu mencabut pedang, Kun Hong kagum dan iapun ingin sekali mencoba ilmu pedang gadis-gadis yang mempunyai ilmu cengkeraman yang hampir sama dengan ilmunya sendiri itu. Akan tetapi Kun Hong sekarang jauh sekali bedanya dengan Kun Hong dahulu. Ketika ia masih merasa menjadi seorang dari golongan gurunya, ia tidak perdulian dan mungkin sekali timbul maksud kotor melihat dua orang enci adik yang cantik jelita dan tinggi ilmunya itu. Akan tetapi nafsu-nafsu buruk dalam dirinya sudah tersapu bersih oleh kerling mata dan senyum Pui Eng Lan kekasih hatinya, yang membuat hatinya menjadi tawar melihat dan menghadapi wanita-wanita lain.
Dahulu, ia lebih mbocengli (tidak tahu aturan) dari pada bekas gurunya Bu-ceng Tok-ong dan selalu mempergunakan aturan-aturannya sendiri seenaknya. Akan tetapi, semenjak bertemu dengan Eng Lan dan terutama sekali setelah ia mengetahui asal-usulnya, mendengar tentang ayah bundanya yang sama sekali tak patut ia banggakan, pemuda ini menjadi prihatin sekali. Ia harus menebus semua kesesatan ayah bundanya, ia harus memupuk kebaikan untuk menebus dosa keluarganya! Malah-malah ia merasa menyesal sekali atas segala kesesatan yang pernah ia lakukan.
"Sabar nona. Ada perkara bisa diurus dengan baik-baik. ada persoalan bisa dirundingkan dan diselesaikan tanpa mencabut pedang," katanya. Sikapnya ketika mengucapkan kata-kata ini keren dan sungguh-sungguh sehingga membuat Hui Nio ragu-ragu dan Kong Bu juga memberi isyarat kepada tunangannya untuk bersabar. Kemudian Kong Bu bertanya kepada Kun Hong.
"Kalau semua tuduhan tadi betul, apa lagi yang harus dirundingkan?"
"Kong-ciangkun, memang aku pernah bertempur dengan dua orang nona ini. Akan tetapi aku sama sekali bukan bermaksud merampas atau menghina......... aku sebetulnya........."
"Masih mau menyangkal lagi?" Tiba tiba Hui Sian yang melompat maju dengan marah-marah. "Kuda siapa yang kau naiki tadi? Dua kantung itu bukankah berisi uang emas dan perak? Dan kau......... kau sudah memegang kedua tanganku......... kau sudah kurang ajar dan menghinaku.........!"
Kun Hong menarik napas panjang dan memang harus ia akui bahwa pada malam hari itu, ketika menghadapi Hui Sian yang cantik dan galak, ia hampir lupa kepada Eng Lan! Kini ia teringat dan merasa menyesal bukan main.
303
"Harap Kong-ciangkun suka mempertimbangkan. Malam hari itu aku melihat dua orang nona ini membunuh orang dan merampas uangnya. Biarpun yang dibunuh dan dirampas itu seorang penjahat, akan tetapi hatiku tidak rela melihat dua orang nona yang...... can...... eh, yang lihai ini menjadi perampok-perampok."
Tag:cersil cersil indo cersil mandarin full cerita silat mandarin online cersil langka cersil mandarin lepas cerita silat pendekar matahari kumpulan cerita silat jawa cersil mandarin beruang salju. cerita silat pendekar mataharicerita silat indonesia cerita silat kho ping hoo cerita silat mandarin online cerita silat mandarin full cerita silat jawa kumpulan cerita silat cerita silat jawa pdf cerita silat indonesia gratis cerita silat jadul indonesia cerita silat indonesia pendekar rajawali sakti cersil indonesia pendekar mabuk cersil langka cersil dewa arak cerita silat jaman dulu cersil jawa download cerita silat mandarin full cerita silat mandarin online cersil mandarin lepas cerita silat mandarin pendekar matahari cerita silat jawa pdf cersil indonesia pdf cersil mandarin beruang salju kumpulan cerita silat pdf
kumpulan cerita silat cersil online
Share:
cersil...
Comments
0 Comments

Arsip Cersil

Best Cersil

Pecinta Cersil