Donasi

Buat yang punya rejeki berlebih dan merasa terhibur dengan Situs Cerita Silat Cersil Terbaik ini bisa mendonasikan bantuannya ke
No. Rekening BPD Jateng No. 2004084554 a.n Ali Afif
demi keberlangsungan dan keberadaan Blog Cersil Cerita Silat yang sama-sama kita cintai ini. Kritik dan Saran hub No HP.083837358519. Atas Bantuannya disampaikan Terimakasih.

Kamis, 27 April 2017

Cersil Mandarin Online 26 Toliongto

Cersil Mandarin Online 26 Toliongto Tag:Penelusuran yang terkait dengan cersil cersil indo cersil mandarin full cerita silat mandarin online cersil langka cersil mandarin lepas cerita silat pendekar matahari kumpulan cerita silat jawa cersil mandarin beruang salju. cerita silat pendekar mataharicerita silat indonesia cerita silat kho ping hoo cerita silat mandarin online cerita silat mandarin full cerita silat jawa kumpulan cerita silat cerita silat jawa pdf cerita silat indonesia gratis cerita silat jadul indonesia cerita silat indonesia pendekar rajawali sakti cersil indonesia pendekar mabuk cersil langka cersil dewa arak cerita silat jaman dulu cersil jawa download cerita silat mandarin full cerita silat mandarin online cersil mandarin lepas cerita silat mandarin pendekar matahari cerita silat jawa pdf cersil indonesia pdf cersil mandarin beruang salju kumpulan cerita silat pdf Cersil Mandarin Online 26 Toliongto
kumpulan cerita silat cersil online
Cersil Mandarin Online 26 Toliongto
Sesudah berpikir sejenak, sambil mengibas tangan
kirinya ia membentak, “Tangkap kepala siluman itu!”
Hian beng Jie-loo segera menerjang, Lok Thung Kek
menggunakan tongkat tanduk menjangan sedang Ho Pit
Ong menyerang dengan pit-nya. Lweekang dari Hian beng
Jie-loo agak lebih tinggi daripada orang-orang seperti Ia
Thian Geng dan Cia Soen dan sekarang mereka
mengerubuti seorang musuh adalah kejadian yang baru
pertama kali terjadi. Melihat penyerangnya kedua lawan
yang tangguh Boe Kie pun tidak berani bertindak sembrono
dan segera melayani dengan menggunakan segenap
kepandaiannya.
Tio Beng tahu kehebatan kedua kakek itu, ia merasa
sangat kuatir akan keselematan Boe Kie. “Hian beng Jieloo!”
teriaknya, “Jika kau melukai Thio Kauwcoe aku akan
memberitahu Thia-thia dan Thia-thia pasti tak akan
mengampuni kau.”
“Omong kosong!” bentak Ong Po-po, “Setiap orang
berusaha untuk membunuh penjahat pemberontak. Hian
beng Jie-loo! Setelah kalian bunuh penjahat itu, Thia-thia
dan aku akan memberi hadiah besar.” Ia terdiam sejenak
2384
dan berkata pula, “Sok Sianseng, aku akan
mempersembahkan empat wanita cantik untukmu.”
Hian beng Jie-loo serba salah, pihak mana yang harus
diikuti? Sesaat kemudian, Lok Thung Kek memberi isyarat
kepada soetenya dengan kedipan mata dan berkata dengan
suara perlahan, “Tangkap hidup-hidup saja.”
Tiba-tiba Boe Kie mengubah cara bersilatnya. Ia
menggunakan ilmu silat Seng hwe teng. Dilain detik dengan
satu pukulan aneh yang dikirim dari satu sudut yang tak
mungkin dapat dilakukan oleh orang lain ia berhasil
menggaplok pipi Lok Thung Kek, “Coba tangkap hiduphidup!”
bentaknya dengan suara mengejek.
Si kakek gusar sekali, tapi sebagai ahli silat kelas utama
dalam kegusarannya pemusatan pikirannya tidak terpecah.
Ia segera menambah tenaga dan menyerang bagaikan hujan
dan angin.
Saat semua orang mencurahkan perhatian pada
pertempuran itu, tiba-tiba Tio Beng mengedut tali dan kuda
yang ditungganginya segera melompat. Ong Po-po terkejut
dan menyabet dengan cambuknya yang mampir di mata kiri
binatang itu sehingga sambil meringkik keras dia
mengangkat kedua kakinya. Tubuh Tio Beng miring dan
karena masih sangat lemah ia hampir jatuh terjengkang.
“Koko, apa kau benar-benar mau menghalangi aku?”
bentaknya.
“Adik yang baik, dengarlah perkataanku,” jawabnya,
“Jika kau menurut, aku akan menghaturkan maaf.”
“Koko, jika sekarang kau menghalangi aku, aku pasti
akan mati. Thio Kauwcoe akan membenci aku sampai di
sumsum…adikmu…sukar hidup lebih lama lagi….”
“Hian moay, mengapa kau berkata begitu? Gedung Jie
2385
lom ong dijaga oleh banyak orang pandai yang tentu akan
bisa melindungi kau sebaik-baiknya. Jangankan melukai
kau, sekalipun hanya bertemu muka dengan kau, iblis kecil
itu tak akan bisa lagi.”
Si adik menghela nafas. “Aku justru kuatir tak bisa
bertemu muka lagi dengannya,” katanya, “Kalau sampai
begitu…aku…aku lebih suka mati.”
Pada jaman itu wanita Mongol memang lebih berani
daripada wanita Han. Selain hubungan kakak dan adik itu
sangat erat, mereka biasanya selalu bicara terus terang.
Maka itu dalam keadaan terdesak, Tio Beng membuka
rahasia hatinya secara terang-terangan.
“Moaycoe, mengapa kau bicara yang tidak-tidak?”
bentak Ong Po-po dengan gusar, “Kau adalah anggota
keluarga raja muda Mongol. Ibarat pohon, kau bercabang
emas berdaun giok. Mana bisa kau jatuh cinta kepada
anjing itu? Jika tahu, Thia-thia bisa mati berdiri!” Seraya
berkata begitu, ia mengibaskan tangan kirinya dan tiga jago
segera turun ke gelanggang untuk membantu mengepung
Boe Kie. Tapi mereka tak bisa mendekati sebab saat itu Boe
Kie dan Hian beng Jie-loo sedang bertempur menggunakan
Sin kang yang tertinggi sehingga dalam jarak beberapa
tombak angin tenaga dalam menyambar-nyambar bagaikan
tajamnya pisau.
“Thio Kongcoe!” teriak Tio Beng, “Jika kau mau
menolong Giehoe, kau harus lebih dulu menolong aku.”
Mendengar itu Ong Po-po tidak bisa menahan sabar lagi.
Ia segera memeluk adiknya dan menendang perut kuda
yang segera kabur.
Ilmu silat Tio Beng sebenarnya lebih tinggi dari
kakaknya tapi dalam keadaan terluka ia tidak bertenaga
untuk melawannya. Ia hanya bisa berteriak, “Thio Kongcoe
2386
tolong! Thio Kongcoe tolonglah aku!”
Boe Kie terkejut, dengan menggunakan seluruh tenaga ia
mengirimkan dua pukulan sehingga Hian beng Jie-loo
terpaksa mundur beberapa langkah. Dengan menggunakan
kesempatan itu ia melompat dan mengejar Ong Po-po. Hian
beng Jie-loo dan tiga jago segera mengejar. Tapi begitu
mereka mendekat, Boe Kie segera memukul dengan Sinliong
Pah hwee (Naga sakti menyabetkan ekornya), yaitu
salah satu pukulan dari Han liong Sip pat ciang. Biarpun
belum menyelami inti sari dari pukulan itu tapi karena
memiliki Kioe yang Sin kang, tenaga pukulan itu dahsyat
sekali sehingga Hian beng Jie-loo dan tiga kawannya tidak
berani terlalu dekat.
Dilain saat Ong Po-po sudah terkejar oleh Boe Kie.
Sambil melompat tinggi ia mencengkram jalan darah
dibatang leher pemuda bangsawan itu yang segera tidak
bisa bergerak lagi yang lalu diangkat dan dilemparkan ke
arah Lok Thung Kek. Karena kuatir majikannya terluka, si
kakek buru-buru menyambuti. Dilain detik Boe Kie sudah
mendukung Tio Beng melompat turun dari punggung kuda
dan terus kabur ke lereng gunung.
Ho Pit Ong dan jago lain segera menguber tapi dari
lereng Boe Kie lari ke atas puncak yang tingginya beberapa
ratus tombak sehingga untuk mengejarnya orang harus
mempunyai ilmu ringan badan yang tinggi. Hian beng Jieloo
adalah ahli silat kelas utama tapi ilmu ringan badan
mereka tidak seberapa tinggi dan mepat lima jago yang lain
bahkan tidak bisa lari lebih cepat daripada Ho Pit Ong.
Melihat dirinya dikejar, Boe Kie menjumput beberapa batu
dan menimpuk. Dua orang roboh dan menggelinding ke
bawah sehingga yang lain tidak berani mengejar terlalu
keras. Dalam sekejap Boe Kie sudah lari jauh.
Ong Po-po jadi kalap. “Lepaskan anak panah! Lepaskan
2387
anak panah!” teriaknya sambil mementang busurnya sendiri
dan lalu melepaskan sebatang anak panah ke punggung Boe
Kie tapi karena jaraknya terlalu jauh, jatuh di tanah tanpa
mengenai sasarannya.
Setelah memastikan bahwa kaki tangan kakaknya tidak
akan bisa mengejar lagi barulah Tio Beng merasa lega.
Sambil memeluk leher Boe Kie ia menghela nafas dan
berbisik, “Untung aku berjaga-jaga untuk tidak segera
memberitahukan di mana adanya Cia Tayhiap, kalau tidak,
kau tentu tidak akan mau menolongku.”
“Bukankah aku sudah mengatakan bahwa sebaiknya kau
pulang untuk berobat?” kata Boe Kie, “Untuk apa kau
bentrok dengan kakakmu dan ikut aku menderita.”
“Aku rela menderita,” jawabnya, “Mengenai kakak,
sekarang atau nanti aku pasti bentrok dengan dia. Hal
terpenting bagiku adalah kuatir kau tidak mau mengajak
aku. Yang lainnya hal kecil.”
Boe Kie tertegun. Ia tak pernah menduga sama sekali
bahwa cinta Tio Beng terhadapnya sedemikian besar.
Sudah lama ia tahu bahwa si nona menyukai dirinya. Tapi
pada hakekatnya ia menganggap rasa cinta itu hanyalah
rasa cinta yang tidak berdasar teguh dari seorang gadis
remaja yang pikirannya mudah berubah-ubah. Baru
sekarang ia menyadari bahwa cinta Tio Beng tulus dan
murni. Untuk mengikuti dia, si nona rela melemparkan
segala kekayaan dunia.
Berpikir begitu ia menunduk dan mengawasi muka yang
pucat tapi cantik luar biasa. Pada saat itu sebagai manusia
biasa ia tidak dapat menahan gejolak hatinya lagi dan
dengan rasa cinta yang meluap-luap ia menempelkan
bibirnya ke bibir si nona.
Muka Tio Beng segera berubah merah, kejadian itu
2388
merupakan goncangan yang terlampau berat bagi badannya
yang sangat lemah dan ia pingsan.
Boe Kie yang paham ilmu ketabiban tidak menjadi
bingung. Pingsannya Tio Beng hanya memperlipat rasa
terima kasih dan rasa cintanya. Tiba-tiba dalam otaknya
berkelabat sebuah pertanyaan, “Cinta Cie Jiak terhadapku
mana bisa menandingi cinta Tio Kauwnio?”
Beberapa saat kemudian Tio Beng tersadar. Melihat Boe
Kie seperti sedang memikirkan sesuatu ia bertanya, “Apa
yang dipikirkan olehmu? Cioe Kauwniokah?”
Boe Kie mengangguk, “Aku merasa bersalah
terhadapnya,” jawabnya.
“Kau menyesal?”
“Waktu aku mau bersembahyang dengan dia sebagai
suami istri, aku ingat padamu dan aku sedih. Sekarang aku
ingat dia dan aku merasa bersalah terhadap dia.”
“Tapi dalam hati kau lebih mencintai aku, bukankah
begitu?”
“Bicara terus terang, terhadapmu aku cinta dan aku
benci, terhadap Cie Jiak aku menghormati dan aku takut.”
Si nona tertawa geli. “Aku lebih suka terhadapku kau
cinta dank au takut,” katanya, “Terhadap dia kau
menghormati dan kau benci.”
Boe Kie ikut tertawa. “Tapi sekarang sudah jadi lain,”
katanya tersenyum. “Terhadapmu kubenci dan kutakut.
Kubenci karena kau sudah menggagalkan pernikahanku,
kutakut sebab aku takut kau tidak mau membayar
kerugian.”
“Bayar kerugian apa?”
“Bayar kerugian dengan dirimu sendiri, dengan menjadi
2389
istriku sebagai gantinya Cie Jiak.”
Muka Tio Beng segera berubah merah. “Tidak
segampang itu,” katanya dengan sikap malu-malu,
“Terlebih dulu aku harus ijin dari ayah, aku harus lebih
dulu menyadarkan kakak….”
“Tapi bagaimana jika ayahmu menolak?”
Si nona menghela nafas. “Kata orang tua, menikah
dengan iblis harus ikut iblis,” katanya. “Kalau sampai
begitu, bagiku tiada jalan lain kecuali mengikuti si iblis
kecil.”
“Perempuan siluman!” bentak Boe Kie, “Kau
berkomplot dengan penjahat cabul dan pemberontak Thio
Boe Kie! Hukuman apa yang harus dijatuhkan atas
dirimu?”
“Di dunia ini, kamu berdua dihukum menjadi suami istri
yang hidup beruntung sampai berambut putih. Di akhirat
kamu berdua harus masuk ke delapan belas lapis neraka
dan tidak bisa menitis lagi sebagai manusia!”
Bicara sampai disitu, mereka berdua tertawa terbahakbahak.
Mendadak di sebelah depan terdengar teriakan
seseorang. “Koencoe Nio nio, siauw ceng sudah lama
menunggu di sini!” Teriakan itu nyaring dan tajam, suatu
tanda bahwa orang itu memiliki Lweekang yang sangat
kuat.
Boe Kie terkejut dan segera menghentikannya. Dilain
saat, dari sebuah tikungan muncul tiga orang hoan ceng
(pendeta asing), yang satu mengenakan jubah warna merah,
yang lain memakai jubah kuning, yang ketiga bertubuh kate
kecil mengenakan jubah warna kuning emas. Si jubah
merah merangkap kedua tangannya dan berkata sambil
2390
membungkuk, “Atas titah Ong-ya, siauw ceng menunggu di
sini untuk menyambut Koencoe Nio nio pulang ke Ong
hoe.”
Tio Beng tak kenal ketiga pendeta itu. “Siapa kalian?”
tanyanya, “Aku belum pernah mengenal kalian.”
“Siauw ceng Mohan Fa,” jawabnya. Ia menunjuk si kate
kecil dan berkata pula, “Yang itu Soepeh Kioe Coen cia
sedang yang ini kakak seperguruan siauw ceng, Mohan
Singh. Kami bertiga datang dari Thian tiok (India) dan
bekerja di Ong hoe. Waktu kami datang Koencoe sudah
berkelana maka tak heran jika Koencoe tak mengenal
kami.” Setelah berkata begitu, ia membungkuk diikuti oleh
kedua kawannya.
“Lweekang orang itu tidak lemah,” piker Boe Kie selagi
Mohan Fa bicara. “Paman dan kakak seperguruannya tentu
lebih hebat lagi. Seorang diri aku belum tentu bisa melawan
mereka bertiga.”
“Perlu apa kalian mencegat aku di sini?” tanya Tio Beng.
Mereka tidak menyahut hanya Mohan Singh
mengangkat tinggi-tinggi seekor merpati putih yang
dipegangnya. Tio Beng tahu bahwa itulah merpati pos yang
membawa warta dari kakak kepada ayahnya. Ia menduga
bahwa ayahnya yang berkepandaian tinggi sudah turun
tangan sendiri. Ia melirik Boe Kie dan melihat paras yang
muram, “Apa ketiga pendeta itu sukar dimundurkan?”
bisiknya.
Boe Kie mengangguk.
Sesudah berpikir sejenak, Tio Beng segera mengambil
keputusan. “Aku akan beritahukan kau di mana Cia
Tayhiap berada,” bisiknya pula, “Apa yang akan terjadi di
kemudian hari, apa kau akan menyia-nyiakan aku atau
2391
tidak aku serahkan kepadamu.” Ia tahu bahwa Boe Kie
sendiri dengan mudah akan bisa meloloskan diri dari
kepungan, ia tak mau demi kepentingan pribadi, jiwa Cia
Soen sampai terancam.
Tapi sekarang, Boe Kie sendiri sungkan berpisah lagi
dengan Tio Beng. Ia menolak untuk kabur sendirian. “Kau
jangan kuatir, kita harus menerjang keluar bersama-sama,”
katanya.
Mereka dicegat di jalan gunung yang sangat sempit. Di
sebelah kiri terdapat jurang yang dalam dan disebelah
kanan berdiri lereng gunung yang menjulang ke atas
bagaikan tembok, jalan satu-satunya ialah menerjang
dengan kekerasan.
“Koencoe terluka berat dan Ong-ya sangat kuatir,” kata
Mohan Fa, “Maka itu beliau telah memerintahkan siauw
ceng untuk mengantar Koencoe pulang ke Ong hoe secepat
mungkin.” Walaupun orang asing, ia bisa bicara Tionghoa
secara lancar, kedua kawannya tak mengeluarkan sepatah
kata. Kioe Coen cia menundukkan kepala sambil
memejamkan mata seperti orang bersemedi sedang Mohan
Singh berdiri tegak dengan membusungkan dada.
“Di mana Thia-thiaku?” tanya Tio Beng.
“Ong-ya menunggu di kaki gunung,” jawabnya, “Beliau
ingin sekali bertemu dengan Koencoe.”
Tio Beng tertawa. “Bahasa Tionghoamu sangat baik,”
katanya, “Baiklah! Thio Kongcoe mari kita berangkat!”
Dengan berlagak menurut ia sudah mencari cara untuk
segera kabur begitu mereka berada di tempat yang lebih
terbuka.
Tapi diluar dugaan, Mohan Fa mengambil sekarung kain
dari punggungnya dan dengan sekali dikibaskan karung itu
2392
berubah menjadi kain panjang yang kedua ujungnya
dipegang olehnya dan Mohan Singh. “Koencoe, naiklah ke
joli ini,” katanya sambil membungkuk.
“Aku tak suka duduk di joli,” kata Tio Beng sambil
tertawa, “Aku lebih senang didukung olehnya.”
Boe Kie mengerti bahwa ia tak boleh lengah, hampir
bersamaan ia maju dengan langkah lebar.
Sesudah membaca surat yang dibawa merpati pos, ketiga
pendeta itu tahu bahwa Boe Kie berkepandaian tinggi.
Mohan Singh segera memapakinya dengan benturan sikut.
Boe Kie melompat tinggi melewati kepala Kioe Coen cia.
Mendadak ia merasa sambaran angin yang sangat dingin ke
arah kakinya. Bagaikan kilat ia membaba dengan tangan
kiri untuk menyambut pukulan itu, mendadak angin dingin
itu berubah menjadi sangat panas. Ternyata dalam sekejap
si pendeta sudah dapat mengubah tenaga pukulannya dari
dingin menjadi panas. Itulah Ciang hoat yang sangat hebat
dari Thian tiok dan yang sangat berbeda dengan pukulan di
wilayah Tiong goan. Tapi Kioe yang Sin kang yang dimiliki
oleh Boe Kie adalah gubahan Tat mo Couwsoe yang
berasal dari Thian tiok, begitu mendengar bahwa ketiga
pendeta itu datang dari Thian tiok, ia segera berhati-hati.
Dalam sambutannya itu ia menggunakan delapan bagian
tangannya, begitu tangan kebentrok dengan meminjam
tenaga lawan dan dengan menggunakan kesempatan itu
Boe Kie melompat jauh dan kemudian dengan mendukung
Tio Beng ia kabur secepatnya. Sesudah menjajal tenaga ia
tahu bahwa Lweekangnya masih lebih tinggi setingkat dari
tenaga dalam si pendeta.
Ketiga pendeta itu segera menguber sambil berteriakteriak.
Ilmu ringan badan mereka cukup tinggi tetapi
mereka masih belum bisa menandingi Boe Kie yang
memiliki Lweekang luar biasa. Biarpun mesti mendukung
2393
Tio Beng makin lama pemuda itu lari makin cepat dan
sesudah melewati sebuah lereng ia sudah meninggalkan
pengejarnya jauh sekali.
Tapi baru saja mau cari jalanan kecil untuk
menyembunyikan diri, mendadak terdengar suara terompet
yang berulang-ulang dan dilain saat tigapuluh lebih serdadu
Mongol yang bersenjata gendewa dan anak panah sudah
menghadang di depannya. Hampir bersamaan di atas
tanjakan muncul pula sejumlah serdadu yang melemparkan
balok-balok dan batu-batu ke bawah tanjakan itu. Tapi
karena kuatir melukai Tio Beng, balok dan batu itu tidak
ditujukan ke arah Boe Kie. Karena jalanan di depan sudah
tercegat ia segera berlari ke tanjakan sebelah kiri, tapi baru
lari beberapa tombak sudah terdengar suara gembereng dan
diatas tanjakan muncul lagi pasukan Mongol lain yang
bersenjata gendewa dan anak panah. Kalau seorang diri ia
tentu akan menerjang, tapi dengan mendukung Tio Beng, ia
tidak berani mengambil tindakan yang nekat itu. Andaikata
si nona terkena anak panah atau balok batu dan terbinasa,
seumur hidup ia akan menyesal.
Setelah berpikir sejenak, ia segera lari balik ke jalanan
yang tadi dilaluinya tapi baru setengah li ia sudah
berhadapan dengan ketiga pendeta asing. Ia menaruh Tio
Beng di tanah dan membentak, “Kalau masih mau hidup,
mundurlah!”
Kioe Coen cia maju selangkah dan segera memukul dada
Boe Kie dengan kedua telapak tangannya dalam pukulan
Pay san ciang. Dalam menghadapi jalan buntu, Boe Kie
tidak dapat berbuat lain selain melawan. Dengan sepenuh
tenaga ia segera menangkis dengan tangan kirinya.
Sesudah tertangkis tangannya, Kioe Coen cia terhuyung
dan mundur beberapa langkah. Mohan Singh dan Mohan
Fa menahan punggungnya dan mendorongnya kembali ke
2394
depan. Untuk kedua kalinya Kioe Coen cia mengirim
pukulan Pay san ciang. Karena ingin menyimpan tenaga
kali ini Boe Kie tidak mau melawan kekerasan dengan
kekerasan. Ia menangkis dengan Kian koen Tay lo ie. Tapi
ia segera terkejut karena telapak tangannya mendadak
tersedot dan melekat pada telapak tangan si pendeta. Dua
kali mencoba menarik kembali tangannya tapi tidak
berhasil. Karena terpaksa, ia segera mengerahkan Kioe
yang Sin kang dan mendorong lawannya. Tapi Kioe Coen
cia tidak kena didorong, ia tetap berdiri tegak.
Dalam kagetnya Boe Kie menyadari bahwa Mohan
Singh dan Mohan Fa menempelkan kedua telapak tangan
mereka pada punggung Kioe Coen cia dan ketiga pendeta
itu kelihatannya sedang mengerahkan seluruh tenaga dalam
mereka. Ia segera tersadar, ia ingat Thio Sam Hong pernah
memberitahukan kapadanya bahwa di Thian tiok terdapat
sebuah ilmu mempersatukan tenaga beberapa orang untuk
menghadapi tenaga yang sangat besar. Karena kuatir bala
bantuan lawan keburu tiba, sambil membentak keras ia
mengempos semangat dan menambah tenaganya.
Ketiga pendeta itu lantas saja memperlihatkan tanda2
tidak bisa bertahan lagi dan keringat mereka mengucur dari
kepala dan muka. Sekonyong2 Mohan Fa menyemburkan
darah dari mulutnya. Itulah bukti bahwa si pendeta sudah
terluka berat, tapi sungguh aneh, sesudah darah
disemburkan, tenaga pihak lawan berbalik bertambah satu
kali lipat. Boe Kie terpaksa menambah pula tenaganya. Di
lain saat Mohan Singh, yang selebar mukanya sudah
berubah merah, meyemburkan darah ke leher Kioe Coen
Cia seperti tadi, tenaga lawan bertambah lagi satu kali lipat.
Boe Kie lantas saja mersa tenaganya mulai tertindih.
Dalam keadaan terdesatk ia segera mundur dua tindak
untuk mengurangi tekanan dan sesudah itu, sambil
2395
mengambil napas dalam2 ia menyerang balik. Diserang
begitu, badan Mohan Singh dan Mohan Fa bergoyang2,
hampir2 mereka roboh.
Melihat kedua keponakan muridnya tak dapat bertahan
lagi, buru2 Kioe Coen Cia membuka mulutnya dan
menyemburkan darah kemuka Boe Kie. Pemuda itu
miringkan kepala untuk mengegos semburan itu. Mendadak
ia merasa dadanya seperti ditindih dengan besi yang berat
nya berlaksa kati dan hawa dibagian tan tian bergolak2. Ia
terkejut, Ia tanya nyana, ketiga pendeta itu memiliki ilmu
yg sedemikian aneh. Tapi ia pun tahu, bahwa pihak lawan
sudah hampir kehabisan tenaga. Jika ia bisa bertahan terus,
kemenangan terakhir akan direbut olehnya sendiri. Ia
segera memusatkan pikirannya dan mengempos seluruh
Kioe yang Sin Kang yang terdapat dalam tubuhnya.
Beberapa saat kemudian Mohan Fa berlulut, tapi tangannya
masih tetap menempel dipunggung Kioe Coen Cia.
Baru saja Boe Kie bergiran, kupingnya mendadak
mendengar suara tindakan kaki yang sangat enteng dan
seorang pembokong menghantam punggungnya. Ia
terkesiap dan mengibaskan tangan kanannya kebelakang
untuk memunahkan serangan itu dengan Kian Koen Tay lo
Ie. Tapi ia salah hitung. Tenaga Kian Koen Tay lo ie yg
dimilikinya berdasarkan tenaga Kioe yang sin Kang. Pada
saat itu hampir semua tenaga itu sudah dipergunakan
olehnya untuk melawan ketiga pendeta itu.
Dengan demikian, tenaga untuk menangkis si
pembokong hanya kira2 dua bagian dari seluruh tenaganya.
Begitu tangannya kebentrok dengan tangan si pembokong,
begitu cepat ia merasa menerobosnya semacam hawa yang
dingin luar biasa dan badannya lantas saja bergemetaran.
Dilain detik, ia roboh.
“Lok Sianseng, tahan!” teriak Tio Beng. Si penyerang
2396
gelap memang bukan lain daripada Lok Thung Kek.
Sehabis berteriak, dengan nekad si nona menubruk dan
memeluk Boe Kie. “Aku mau lihat siapa yg berani bergerak
lagi!” bentaknya.
Lok Thung Kek sebenarnya sudah mengangkat tangan
untuk menghabiskan jiwa Boe Kie yang dipandangnya
sebagai lawan terberat didalam dunia. Tapi karena pemuda
itu dialingan oleh badan sang Koencoe, ia terpaksa undur
kemabli dan lalu bersiul keras, sebagai isyarat bahwa Boe
Kie sudah dapat dirobohkan. “Koencoe Nio nio,” katanya,
“Ong ya hanya menghendaki supaya Koen coe Nio nio
pulang. Beliau tak punya lain maksud. Orang ini adalah
pemberontak. Mengapa Koen coe Nio nio melindungi dia?”
Tio Beng sebenarnya ingin mencaci bekas orang
sebawahan itu tapi sebab kuatir dia menjadi gusar dan lalu
teruntuk tangan jahat terhadap Boe Kie, maka sebisa bisa ia
menahan hawa amarahnya dan lalu membangunkan Boe
Kie tanpa mengeluarkan sepatah kata.
Beberapa saat kemudian tiga penunggang kuda kelihatan
mendatangi yang paling depat Ho Pit Ong, yang kedua Ong
Po Po dan yang paling belakang Jie Lam Ong sendiri.
Begitu tiba, mereka lantas melompat turun dari punggung
kuda.
Jie Lam Ong mengerutkan alisnya dan berkata, “Beng
beng, mengapa kau tak turut nasehat kakakmu? Bikin apa
kau disini?”
Air mata si nona lantas saja mengucur, “Thia,” katanya,
“anak telah di hina orang.”
Sang ayah maju beberapa tindak dan mengangsurkan
tanagn untuk memegang putrinya. Tiba2 Tio Beng
membalik tangannya, sinar putih berkelebat dan ia sudah
2397
menandalkan ujung sebatang pisau pada dadanya sendiri.
“Thia!” teriak nya dengan suara menyayat hati. “Jika kau
tidak meluluskan permintaanku hari ini anak akan mati di
hadapanmu!”
Jie Lam Ong terkejut, ia mundur setindak dua, “Eeh!...
Beng beng… mengapa kau begitu?” tanyanya. “Jika kau
ingin minta sesuatu bicaralah baik2.”
Si nona segera membuka baju di bagian pundaknya dan
memperlihatkan lukanya. Racun pada lukanya itu sudah
hilang, tapi lukanya masih belum sembuh dan kelihatannya
hebat sekali.
Sebagai seorang ayah yg sangat mencintai anaknya, Jie
Lam Ong kaget bercampur bingung. “Mengapa… mengapa
kau sampai mendapat luka begitu berat?” tanyanya dengan
suara gemetar.
Sambil menuding Lok Thung Kek, Tio Beng menjawab
dengan suara terputus putus, “Manusia itu sangan jahat..
anak melawan.. dan … dia menyengkeram anak. Mohon…
Thia thia suka mengadilinya…”
Semangat si tua terbang. Untuk sejenak ia mengawasi si
nona dengan mulut ternganga dan kemudian berkata
dengan gemetar. “Tak.. tak mungkin… siauwjin berani
berbuat begitu!”
Jie Lam Ong mendelik dan mengeluarkan suara di
hidung. “Binatang!” bentaknya. “Dalam urusan Han Kie,
aku sudah menaruh belas kasihan dan tak mau menyelidiki
lebih jauh. Sekarang… huh, huh!... kau berani coba2
melanggar puteri ku. Tangkap!”
Ketika itu para boesoe sudah menyusul sampai disini.
Mendengar perintah sang majikan. Biarpun tahu si kakek
berkepandaian sangat tinggi, empat orang lantas saja
2398
menerjang. Kaget dan gusar mengaduk dalam dada Lok
Thung Kek. Ia tahu bahwa si nona mau balas sakit hati
sebab ia coba membinasakan Boe Kie. Ia pun tahu bahwa ia
takkan dapat melawan sang putri yg pintar dan banyak
akalnya. Maka itu, sesudah memukul mundur keempat
boesoe itu dengan tangan ia menghela napas dan berkata
“Soeiee, mari kita pergi!”
Ho Pit Ong kelihatan bersangsi.
“Ho sianseng!” seru Tio Beng. “Kau orang baik, tak
seperti suhengmu. Lekas tangkap kan! Ayahku akan
menaikkan pangkatmu dan memberi hadiah besar.”
Hian beng Jie Loo adalah ahli silat jarang tandingan
pada jaman itu. Hanyalah karena kemaruk akan pangkat
dan kemewahan, mereka rela mengabdi pada Jie Lam Ong.
Ho Pit Ong tahu, bahwa kakak seperguruannya memang
suak paras cantik dan tuduhan sang Koencoe Nio Hio
mungkin sekali bukan tuduhan kosong. Disamping itu,
hatinya jg bergoncang sebab mendengar janji pangkat dan
hadiah besar. Tapi di lain pihak, hubungan dengan Lok
thung Kek menyerupai hubungan antara saudara kandung
dan ia merasa tak teag untuk mengkhianati suhengnya itu.
Maka itulah ia sangsi, sangat bersangsi.
Melihat begitu paras muka Lok Thung Kek lantas saja
berubah pucat pasti. “Sute,” katanya, “Kalau kau ingin naik
pangkat tangkaplah aku!”
Ho Pit Ong menghela napas, “Suko!” katanya. “Mari
kita pergi!” sehabis berkata begitu ia lalu melompat
mendekati kakak seperguruan nya dan dengan berendeng
pundak Hian Beng Jie Loo meninggalkan majikan mereka.
“Beng beng,” kata Jie Lam Ong sesudah kedua kakek itu
berlalu, “Sesudah terluka kau harus pulang dahulu untuk
berobat.”
2399
“Waktu anak mau diperkosa, Tio Kongcoe itulah yang
sudah menolong,” kata Tio Beng sambil mengunjuk Boe
Kie. “Koko yg tak tahu, latar belakangnya berbalik
menuduh dia sebagai pemberontak Thia ada satu peekraan
besar yg harus dilakukan oleh anak dan Tio Kongcoe.
Sesudah selesai kami berdua akan segera menemui Thia
Thia.”
Mendengar keterangan itu, Jie Lam Omg tahu bahwa
putrinya mencintai Boe Kie. Tapi menurut laporan
puteranya, pemuda itu Kauwcoe dari Beng Kauw kepala
pemberontak yg coba merobohkan Gaon Tiauw.
Kunjungannya ke Tiongkok Selatan adalah untuk
menghadapi kawanan pemberontak Beng Kauw didaerah
Hway see, Ho Lamg dan Ouwpak. Maka itu cara
bagaimana ia bisa mempermisikan putrinya mengikuti si
kepala pemberontak? “Kakak Kauwcoe dari Beng Kauw,”
katanya. “Apa benar?”
“Koko paling pandai mengarang cerita,” jawabnya.
“Thia coba taksir2 usianya. Apa mungkin orang yang
seperti dia menjadi pemimpin pemberontak Beng Kauw.”
Jie Lam Ong mengawasi Boe Kie. Ia menaksir paling
banter pemuda itu berusia 22 tahun. Sesudah terluka muka
boe kie pucat, sehingga yang tak tahu lebih baik pasti tidak
akan menduga bahwa dia adalah pemimpin dari ratusan
ribu tentara rakyat. Tapi raja muda itu tahu, bahwa
putrinya sangat berakal budi. Biarpun bukan seorang
kauwcoe, mungkin sekali pemuda itu salah seorang tokoh
penting didalam Bengkauw pikirnya. Memikir begitu ia
lantas saja membentak, “Bawa dia kekota dan selidiki asal
usulnya. Asala saja dia bukan anggota Mo Kauw aku akan
“memberi hadiah,” dengan begitu, ia coba menolong
putrinya supaya si nona tak usah mendapat malu terhadap
orang2 sebawahannya.
2400
Empat boecoe segera mendekati Boe Kie.
Tio Beng menangis, “Thia thia apa benar mau mau
memaksakan kebinasaanku?” tanyanya. Ia menekan
pisaunya yg lantas saja menancap setengah dim, di daging
sehingga darah lantas saja mengucur dan menodai bajunya.
Jie Lam Ong terkesiap, “Beng beng! Tak boleh kau
berbuat begitu…” teriaknya.
“Thia thia anakmu tidak berbakti…” kata pula si nona.
“Diam diam anak sudah menikah dengan Tio Kongcoe dan
sekarang anak sudah mengandung! Kalau Thia mau
membinasakand ia, binasakanlah anak terlebih dahulu…”
Pengakuan itu bagaikan halilitar ditengah hari bolong.
Bukan saja Jie Lam Ong dan Ong Popo, bahkan Boe Kie
sendiri kaget tak kepalang. Pemuda itu tak pernah mimpi,
bahwa untuk melindungi dirinya si nona rela mengarang
cerita itu, kedustaan yg menodai kesuciannya sendiri
sebagai seorang gadis bangsawan dan terhormat.
Berulang ulang Jie Lam Ong membanting2. “Apa
benar?.... Apa benar?....” tanyanya berulang2.
“Hal itu adalah hal yg sangat memalukan,” jawabnya.
“Kalau bukan karena terpaksa anak pasti tidak akan
membusukkan nama sendiri dihadapan orang banyak.
Anak tahu, kejadian ini juga akan menyeret nama baik ayah
dan saudara. Thia thia, jangalanh kau berduka! Hitung2
Thia thia kehilangan seorang anak. Lepaskanlah supaya
anak bisa bawa diri sendiri!”
Dengan tagnan rada bergemetaran raja muda itu
mengurut2 jenggotnya, sedang kepala dan mukanya basah
dengan keringat. Dia adalah seorang jendral besar yang
biasa mengambil keputusan2 penting dalam waktu yg
sependek2nya. Tapi sekarang ia bingung. Ia tak tahu apa yg
2401
harus diperbuatnya.
“Moaycoe,” kata Ong Popo, “Kau dan Tio Kongcoe
terluka berat, maka sebaiknya pulang bersama sama Thia
thia untuk berobat. Sesduah kau berdua sembuh, Thia thia
lantas bisa menikahkan kamu secara pantas. Thia thia dapat
menatu, aku sendiri mendapa moay-hoe. Bukankah lebih
baik begitu?”
Tio Beng tahu, bahwa bujukan sang kakak hanya
merupakan tipu untuk mengulur waktu. Ia tahu, bahwa
begitu lekas jatuh ke dalam tangan mereka, Boe Kie tak
usah harap hidup lebih lama lagi. Tanpa menghiraukan
kakaknya, ia lantas saja berkata, “Thia thia, ibarat beras
sekarang adalah menjadi bubur. Kata orang, kawin dengan
ayam, mengikut ayam, kawin dengan anjing, mengikuti
anjing. Mati atau hidup anak mengikut Tio Kongcoe.
Segala siasat tidak akan bisa memperdayai aku. Bagi Thia
thia hanya terbuka 2 jalan. Apabila kau suka mengampuni
anak, anak akan hidup terus. Tapi jika kau ingin anak mati,
anak anak segera mati dihadapanmu.”
“Beng beng!” bentak sang ayah dengan gusar. “Kau
harus pikir masak2. Jika kau mengikuti pemberontakan itu,
mulai dari sekarang kau bukan anakku lagi.”
Dalam sedetik itu, si nona memikiri bulak balik ratusan
kali. Ia merasa sangat berat untuk meninggalkan ayah dan
kakak. Mengingat kecintaan sang ayah, hatinya seperti
tersayat pisau. Tapi ia mengerti, bahwa sedikit saja ia
bersangsi, jiwa Boe Kie takkan bisa ditolong lagi. Ia segera
mengambil keputusan untuk lebih dahulu menolong
kecintaannya dan dihari kemudian, barulah berusaha untuk
meminta pengampunan sang ayah dan kakak. Maka itu, ia
lantas saja berkata dengan suara perlahan. “Thia thia..
koko… segala apa memang salah Beng beng. Ampunilah
aku…”
2402
Melihat keputusan putrinya tak bisa diubah lagi, bukan
main rasa dukanya Jie Lam Ong. Ia merasa sangat
menyesal, bahwa ia telah memperlihatkan rasa cintanya
secara berlebih2an terhadap anak itu dan membiarkannya
berkelana di dunia Kangouw, sehingga terjadi kejadian
yang menyakiti hatinya itu. Mereka mengenal putri itu
sebagai manusia keras kepala. Kalau dipaksa, bukan tak
bisa jadi dia benar2 akan membunuh diri. Tanpa merasa
jenderal tua itu menghela napas dan air matanya mengucur,
“Beng beng...” katanya dengan suara parau, “Kau harus
bsia menjaga diri. Thia thia mau pergi… berhati-hatilah!...”
Si nona mengangguk. Ia tidak berani mengangkat muka
untuk melihat wajah ayahnya.
Jie Lam Ong memutar tubuh lalu turun gunung dengan
tindakan perlahan. Ia seperti tidak melihat kudanya yg
dituntun oleh seorang pengawal. Ia terus berjalan kaki. Tapi
baru berjalan belasan tombah, tiba2 ia menengok dan
berseru, “Beng beng, apa lukamu tak berbahaya? Apa kau
bawa uang?”
Dengan air mata berlinang2, si nona menganggutkan
kepalanya.
Alis Jie Lam Ong berkerut. Tiba2 dia berpaling kepada
pengawalnya dan berkata, “Serahkan dua ekor kuda kepada
Koen Coe!”
Beberapa pegawal lantas saja menuntun dua ekor kuda
pilihan dan menyerahkan nya kepada Tio Beng.
Sesudah menghadiahkan kedua ekor kuda kepada
putrinya, dengan diiring oelh para pengawal, Jie Lam Ong
terus turun gunung. Enam orang boesoe memapak ketiga
pendeta Thian tiok yg tidak bisa jalan karena kehabisan
tenaga. Tak lama kemudian di jalanan itu hanya
ketinggalan Boe Kie dan Tio Beng berdua.
2403
Boe Kie lantas bersila dan mengerahkan sinkang untuk
mengeluarkan hawa dingin akibat pukulan Lok Thung Kek,
dari dalam tubuhnya. Dia menderita luka berat, sebab pada
Long Thung Kek mengirim pukulan, ia sedang
menggunakan seanterot tenaganya untuk menghadapi
ketiga pendeta Thian tiok. Sesudah ia mengerahkan Kioe
Yang Cin Khie tiga putaran dan dua kali memuntahkan
darah, barulah dadanya yg menyesak jadi lebih lega. Ia
membuka mata dan melihat paras muka Tio Beng yg
diliputi rasa kuatir, “Tio Kouwnio, kau sangat menderita,”
katanya dengan suara lemah lembut.
“Apa sampai sekarang kau masih merasa perlu untuk
memanggil aku dengan istilah Tio Kouwnio?” tanya si
nona. “Aku sudah bukan orang Kerajaan lagi, aku sudah
bukan seorang Koencoe… Apa… apa kau menganggap aku
sebagai wanita siluman?”
Perlahan2 Boe Kie bangun berdiri.
“Aku ingin ajukan satu pertanyaan,” katanya dengan
suara sungguh2. “Kau harus menjawab sejujur2nya.
Siapakah yg melukai piauw moay ku, In Lee? Apa kau?”
“Bukan!” jawabnya.
“Kalau bukan kau siapa?”
“Aku tidak bisa memberitahukan. Begitu lekas aku
bertemu dengan Cia Tayhiap, orang tua itu bisa segera
memberi keterangan jlease kepadamu.”
“Giehoeku? Apa benar Giehoe tahu siapa yg turunkan
tangan jahat?”
“Kau baru saja terluka dan kau tidak boleh banyak
berpikir. Aku hanya ingin mengatakan begini. Apabila
dihari kemudian, sesudah menyelidiki sejelas2nya, kau
mendapat bukti bahwa Thio Kouwnio dicelakai olehku,
2404
maka tanpa kau turun tangan, aku sendiri akan membunuh
diri dihadapamu.”
Mendengar perkataan yg diucapkan sangat bernapsu dan
tegas jelas, Boe kie tidak bisa percaya. Sesudah memikir
sejenak ia berkata. Hm… kalau tak salah piauwmoay
dicelakai oleh salah seorang dari kapal Persia. Mungkin
sekali seorang yg berkepandaian tinggi dari kapal itu diam
diam menyateroni pulau itu membikin kami semua jadi
mabuk, turunkan tangan jahat terhadap piauw moay dan
kemudian mencuri Ie Thian Kiam dan To Liong To.
Dilihat begini, sesudah menolong Gie Hoe, kita harus pergi
ke Persia. Hai!... Siauw Ciauw!...
Tio Beng tertawa geli, “Ku tahu segala akalmu,”
katanya. “Kau ingin bertemu dengan Siauw Ciauw dan kau
sengaja membuat dugaan yg tidak2. Aku menasehati, lebih
baik kau jangan memikir yg bukan. Paling penting kau
mengobati lukamu, supaya kita bisa pergi ke Siauw Lim Sie
secepat mungkin.”
Boe Kie heran, “Perlu apa ke Siauw Lim Sie?” tanyanya.
“Menolong Cia Tayhiap?” jawabnya.
Boe Kie jadi lebih heran lagi, “Giehoe berada di Siauw
Lim Sie?” ia menegas.
“Bagaimana Giehoe berada disitu?”
“Hal ini banyak seluk beluknya,” sahut si nona.
“Akupun masih belum tahu seterang2nya. Tapi bahwa Cia
Tayhiap sekarang berada di Siauw Lim Sie adalah
kenyataan yang tak dapat dibantah lagi. Diantara orang2
sebawahanku terdapat seorang serdadu yang mencukur
rambut dan menjadi pendeta di Siauw Lim Sie. Dialah yang
beritahukan aku tentang Cia Tayhiap.”
“Ha!... sungguh lihai!...” seru Boe Kie. Entah apa yg
2405
dimaksudkan olehnya dengan perkataan lihai itu. Mungkin
lihai itu berarti hebatnya bahaya yg dihadapi Cia Soen.
Sesudah berkata begitu ia menundukkan kepala dan tak
bicara lagi. Mendadak tubuhnya bergoyang ‘uah’. Ia
muntah darah.
Tio Beng jadi bingung “Aku sungguh menyesal!”
katanya. “Kalau kutahu lukamu begitu hebat, kalau kutahu
kau jadi begitu jengkel aku pasti takkan bicara.”
Boe Kie duduk menyandar dibatu gunung dan berusaha
untuk menjernihkan pikirannya. Tapi sebab pikirannya lagi
kalut ia gagal dalam usahanya. “Kong kian Sengceng dai
Siauw Lim Sie dibinasakan oleh Gie Hoe,” katanya.
“Selama dua puluh tahun lebih orang2 Siauw Lim Sie coba
mencari Gie hoe untuk membalas sakit hati. Kalau sekarang
Gie hoe jatuh ketangan mereka, jiwalnya pasti akan
melayang.”
“Kau tak usah bingung,” bujuk si nona. “Ada sesuatu
yang menolong jiwa Cia Tayhiap.”
“Apa itu?”
“To Liong To.”
Boe Kie mendengar. Ia mengakui kebenaran perkataan
Tio Beng. Selama beberapa ratus tahun Siauw Lim pay
menjadi pemimpin dalam rimba persilatan. Partai itu sangat
ingin memiliki To Liong To yg dikenal sebagai “Boe lim
Cie coen” (yang termulia dirimba persilatan).
Untuk mendapatkan golok mustika itu mereka pasti
takkan gampang2 membunuh ayah angkatnya. Tapi biar
bagaimana pun juga, orang tua itu tentu takkan terlolos dari
macam2 penderitaan dan haluan.
“Menurut pendapatku, usaha menolong Cia Tayhiap
sebaiknya dilakukan oleh kita berdua saja,” kata Tio Beng.
2406
“Biarpun dalam Beng Kauw terdapat banyak orang gagah,
tapi kalau kita menyerang secara besar2an, kedua belah
pihak pasti akan mendapat kerusakan besar. Apabila Siauw
Lim Sie merasa tak tahan menghadapi serang Beng Kauw,
mungkin sekali mereka akan turunkan tangan jahat
terhadap Cia Tayhiap, sebelum kita keburu menolong.”
Boe Kie manggut2kan kepala. Ia menyetujui perkataan si
nona dan ia merasa sangat berterima kasih, “Beng moay,
kau benar”, katanya. (Beng moay = adik Beng).
Sungguh sedap perkataan “Beng moay” itu, yang
digunakan Boe Kie untuk pertama kali! Tapi dilain detik
Tio Beng ingat orangtuannya, sanak familinya. Ia ingat
bahwa mulai sekarang ia tak bisa pulang lagi kepada
orantuanya dan mengingat begitu, ia berduka. Boe Kie apa
yang dipikir gadis itu, tapi ia tak tahu bagaimana harus
menghiburnya. Akhirnya ia berbangkit dan berkata. “Hayo
kita berangkat.”
Melihat paras muka Boe Kie yang pucat pasi. Si nona
merasa sangat kuatir. “Thia thia yang sangat mencintai aku
tidak akan mengambil tindakan,” katanya. “Yang aku
kuatir adalah koko. Dia mungkin akan mengirim orang
untuk menangkap kita.
Boe Kie mengangguk. Ia pun merasa bahwa Ong Popo
yang sangat lihat tak akan gampang2 mau melepaskan
mereka berdua. Mereka terluka berat dan perjalanan ke
Siauw Lim Sie kelihatannya penuh dengan duri.
“Boe Kie koko,” kata si nona. “Sekarang kita menyingkir
dulu dari tempat ini. Sesudah tiba di kaki gunung barulah
kita berdami lagi.”
Sekali lagi Boe Kie mengangguk. Dengan tindakan
limbung mendekati kuda. Selagi mau melompat naik, tiba2
badannya sakit dan tenaganya tak cukup untuk naik
2407
kepunggung kuda. Sambil mengigit gigi, Tio Beng
mendorong dia keatas dengan tangan kiri. Tapi sesudah Boe
Kie berada diatas kura, lukanya di dada akibat tusukan
pisau kembali mengeluarkan darah. Dengan banyak susah
barulah ia bisa turut naik dan duduk dibelakang Boe Kie.
Kalau tadi ia dipapah Boe Kie, sekarang ia yang harus
memapah Boe Kie. Sesudah mengaso beberapa saat,
tunggangan itu baru dijalankan, sedang yang seekor lagi
mengikuti dari belakang.
Perlahan2 mereka turun gunung. Tio Beng sudah
menduga pasti, bahwa sebegitu lama masih berada
dihadapan ayahandanya, kakaknya tentu tidak akan berani
bertindak. Tapi kalau sudah menyingkir dari mata orang tua
itu, Ong Popo bisa mengambil segala rupa tindakan. Maka
itu, mereka segera membelok ke timur dan kemudian
mengambil sebuah jalanan kecil. Sesudah berjalan beberapa
lama, mereka merasa agak lega. Andaikata Ong Popo
mengirim orang untuk mengejar, tak mudah orang itu bisa
menemukan mereka.
Selagi enak jalan, sekonyong2 terdengar suara kaki kuda
dan dua penunggang kuda mendatangi dari belakang
dengan cepatnya. Muka Tio Beng lantas saja berubah pucat.
Sambil memeluk pinggang Boe Kie, berkata, “Kakakku
bertindak cepat sekali. Kita ternyata tidak bisa terlolos dari
tangannya. Boe Kie biarlah aku pulang dulu. Aku akan
berikhtiar untuk memohon kepada ayah supaya kita bisa
berkumpul kembali. Boe Kie koko, aku akan bersumpah
tidak akan mengkhianati kau!” Sesaat itu kedua pengejar
sudah datang dekat sekali. Tio Beng menarik les supaya
tunggangan miring ke sisi jalanan dan mencabut pisaunya.
Ia sudah mengambil keputusan pasti, bahwa jika kakaknya
mau jiwa Boe Kie, ia akan mati bersama2 kecintaannya itu.
Tapi sesudah elwat, kedua pengejar itu tidak lantas
2408
berhenti dan ternyata mereka hanyalah dua serdadu biasa.
Baru saja Tio Beng bergirang, kedua serdadu Mongol itu
mendadak menahan kuda tunggangan mereka dan sesudah
berdamai sejenak mereka lalu membelokkan kuda dan
menghampiri.
“Hai! Darimana kamu curi kuda2 itu?” bentak salah
seorang yang berewokan.
Mendengar bentakan itu Tio Beng tahu, bahwa mereka
jadi mata merah karena melihat kuda yang dihadiahkan
oleh ayahnya. Kuda2 itu adalah tunggangan pilihan dengan
seta tertata emas sanggurdi yg terbuat daripada per k.
Orang2 Mongol sangat mencinai kuda, sehingga oleh
karenanya tidaklah heran kalau kedua serdadu itu
bergoncang hatinya. Diam2 si nona mengambil keputusan
bahwa kalu terpaksa ia akan menyerahkan kuda2 itu.
“Jangan kurang ajar!” bentaknya dalam bahasa Mongol,
“Dalam pasukan siapa kamu berdua?”
Serdadu itu terkejut. “Siapa Siocia?” dia balas menanya.
Melihat pakaian Boe Kie dan Tio Beng yang sangat indah
dan mendengar bahasa Mongol yg diucapkan dengan lancar
dia tidak berani berlaku sembrono.
“Aku adalah putri Waeri Puche Ciangkoen,” jawab Tio
Beng. “Ini kakakku. Ditengah jalan aku bertemu dengan
orang jahat dan kami terluka.”
Kedua serdadu itu saling melirik dan kemudian mereka
tertawa terbahak2. “Bagus!” teriak si berewok. “Paling
benar aku antar kamu berdua ke akherat!” Seraya berkata
begitu, dia menghunus golok menyentik les dan menerjang.
Tio Beng terkesiap. “Ee!” teriaknya. “Aku akan
beritahukan ayah dan engkat akan dibeset oleh empat
kuda.”
2409
Si botak menyeringai dan mengeluarkan suara di hidung.
“Puche tak becus melawan pemberontak Beng kauw dan
melampiaskan amarahnya terhadap aku,” katanya.
“Kemarin aku membenrontak dan mencincang ayahmu.
Sungguh kebetulan kami bertemu dengan kamu berdua.”
Seraya berkata begitu ia membacok. Tio Beng mengendut
les dan kudanya melompat sehingga golok membacok
angin. Selagi siberewok mau mengubar kawannya yg
berusia lebih muda berkata, “Jangan bunuh nona manis itu!
Paling benar kita mengambil dia untuk menghibur hati.”
“Bagus!” kata si berewok.
Pada detik itu, Tio Beng yg sangat pintar sudah
menghitung tindakan yg harus diambilnya. Ia melompat
turun dari punggung kuda dan lari ke sisi jalanan.
Kedua serdadu itu lantas saja mengubar.
“Aduh!” teriak si nona yang lantas roboh ditanah.
Si berewok menubruk. Begitu di tubruk, dengan sikutnya
Tio Beng menggentus dada si penyerang, yang tanpa
bersuara lagi, lantas terguling. Gentasan itu kena tepat pada
jalan darah. Kawannya gusar dan lantas menyerang, tapi
iapun mendapat nasib seperti si berewok. Sesudah
merobohkan kedua serdadu itu, dengan napas tersengal
sengal Tio Beng turunkan Boe Kie dari punggung kuda.
“Binatang! Kamu mau mati atau hidup?” bentaknya.
Kedua serdadu itu yang tidak mengharap hidup lagi,
melihat jalan hidup. “Ampun nona!” kata si berewok. “Aku
tidak ikut menyerang Waerl Puche Ciangkoen.”
“Baiklah,” kata si nona. “Kamu menurut perintah, aku
akan mengampuni jiwa anjingmu!”
“Turut! Turut!” jawab mereka, tergesa gesa.
2410
Sambil menuding kedua kudanya sendiri si nona berkata,
“Dengan menunggang kuda2 itu, kamu harus pergi ke
jurusan timur. Dalam sehari dan semalam, paling sedikit
kamu harus melalui tiga ratus li. Lebih cepat lebih baik.”
Kedua serdadu itu saling mengawasi. Mimpi pun ereka
tak pernah mimpi, bahwa mereka akna mendapat perintah
itu. Beberapa saat kemudia barulah si berewok berkata,
“Kauw nio, siauwjin tidak… tidak berani…”
“Jangan rewel!” memutus Tio Beng. “Lekas nunggang
kuda2 itu! Kalau ditanya orang, katakan saja, bahwa kamu
membelinya di pasar. Kamu tidak boleh beritahukan hal yg
sebenarnya. Mengerti?”
Kedua serdadu itu masih bersangsi. Tapi karena didesak
Tio Beng berulang2, sambil menahan sakit dan dengan
terpincang2, mereka lalu menghampiri kedua tunggangan
itu. Tangan mereka masih belum bisa bergerak. Untung
juga setiap orang Mongol pada jaman itu mahir dalam ilmu
menunggang kuda, sehingga, biarpun tidak menggunakan
tangan, ia bisa juga naik kepunggung binatang itu dan
kemudian menjalankannya. Mereka menduga Tio Beng
seorang otak miring dan merasa kuatir, kalau si nona
berubah pikiran secara mendadak. Maka itu, sesudah
berjalan belasan tombak, mereka menjepit perut kuda erat2,
sehingga kedua binatang itu lantas saja kabur.
Boe Kie menghela napas, “Beng moay, kau sungguh
pintah,” ia memuji. “Jika kuda2 itu dilihat oleh orang2nya
kakakmu, mereka tentu menaksir, bahwa kita lari kejurusan
timur. Beng moay, kemana kini kita menuju?”
“Ke Barat Daya,” jawabnya.
Mereka lantas saja menunggung kuda yg ditinggalkan
oleh serdadu Mongol dan dengan perlahan menuju ke barat
daya.
2411
Jalan kecil yg diambil mereka berliku2 dan penuh
dengan pohon2 berduri. Sesudah berjalan kurang lebih satu
jam dan melalulu kira2 duapuluh lie, matahari mulai
menyelam ke barat. Selagi mencari2 tempat untuk
beristirahat, tiba2 mereka melihat mengepulnya asal
disebelah depan. “Didepan ada rumah orang untuk kita
bermalam,” kata Boe Kie dengan girang.
Mereka segera menuju keasap itu. Tak lama kemudia
mereka lihat tembok kuning yg mengitari sebuah kelenteng.
Sesudah menurunkan Boe Kie, Tio Beng menghadapkan
kuda itu ke arah Barat dan kemudian mencambuknya
dengan sebatang ranting duri. Kedua binatang itu berdenger
dan kabur sekeras2nya. Demikianlah, sekali lagi si nona
mengatur siasat untuk memperdayai pengejar2 yang
mungkin dikirim oleh kakaknya. Dengan hilangnya
tunggangan, perjalanan makin sukar dilakukan. Tapi nona
Tio tidak mau memikir panjang2. ia mendahulukan apa yg
dianggapnya paling penting. Untuk menyelamatkan diri ia
haru lebih dahulu menenggelamkan perahu.”
Dengan saling memapah, mereka mendekati pintu.
Diatas pintu itu terdapat sebuah papan dengan huruf2 yang
berbunyi, “Tiong gak Sin oio.” (Kelenteng Malaikat Tiong
gak)
Tio Beng segera mengetuk2 pintu. Sesudah menunggu
lama belum juga ada jawaban, si nona mengetuk lagi.
Selang beberapa saat, dari dalam terdengar bentakan,
“Siapa? Manusia atau setan?” dalam suara itu terdapat
lweekang sehingga sudah dapat dipastikan, bahwa yg bicara
adalah seorang Rimba Persilatan. Boe Kie kaget dan
menarik si nona.
Tiba2 terdengar suara “kreeeyot” dan daun pintu itu yg
rupanya jarang dibuka lantas saja terpentang. Diambang
2412
pintu berdiri seorang tapi karena waktu itu cuaca mulai
gelap dan dia berdiri membelakangi sinar tenar terang,
maka Boe Kie dan Tio Beng tidak bisa melihat mukanya.
Tapi dia seorang pendeta, sebab kepalanya gundul dan
mengenakan pakaian hwee-shio.
“Kami berdua kakak beradik,” kata Boe Kie. “Ditengah
jalan kamu bertemu dengan perampok dan mendapat luka.
Kami mohon bermalam disini dan kamu percaya Taysoe
suka menaruh belas kasihan.”
Pendeta itu mengeluarkan suara dihidung.
“Huh… tidak!” sahutnya. “Disini bukan penginapan.”
Sehabis berkata begitu, tangannya bergerak untuk menutup
pintu.
“Taysoe, tahan dulu!” kata Tio Beng. “Kata orang, siapa
yg membantu orang, membantu diri sendiri. Dengan
menolong kamu, mungkin Taysoe mendapat juga
kebaikannya.”
“Kebaikan apa?” tanyanya dengan aseran.
Si nona segera membuka anting2nya yg tertata mutiara
dan meyerahkannya kepada pendeta itu.
Melihat mutiara yang bersinar terang, untuk sejenak si
pendeta mengawasi kedua tamunya dengan mata tajam.
Akhirnya ia berkata, “Baiklah! Ya … membantu orang,
membantu diri sendiri.”
Dengan memapah Boe Kie, Tio Beng segera bertindak
masuk. Si pendeta membawa merea melewati ruang
sembahyang dan sebuah perkarangan dan akhirnya berhenti
disebuah kamar samping yang terletak dibagian timur.
“Kalian boleh tidur disini,” katanya.
Kamar ini gelap gulita. Dengan meraba2 ranjang, Tio
2413
Beng hanya mendapat selembar kasur rumput.
Mendadak terdengar suara sangat nyaring. “Hek Soetee,
siapa?”
“Dua tamu yg numpang mengindap,” jawabnya si
pendeta yang lantas saja bertindak untuk berlalu.
“Taysoe,” kata Tio Beng, “Bolehkan kami minta dua
mangkok nasi dan sedikit makanannya?”
“Tidak ada nasi!” bentaknya, dan terus berlalu.
Si nona mendongkol bukan main. “Kurang ajar!”
katanya, “Boe Kie koko, kau tentu lapar. Kita harus
berusaha untuk mendapat makanan.”
Diluar kamar sekonyong2 terdengar suara tindakan yang
ramai. Sinar api berkelebat dan pintu didorong orang. Dua
orang pendeta mengangkat Ciaktay (tempat menancap lilin)
tinggi2. dengan sekelebatan Boe Kie sudah tahu, bahwa
yang datang berjumlah delapan orang ada yg alisnya tebal
matanya melotot. Ada yang otot2 mukanya menonjol
keluar. Semua beroman bengis dan kelihatannya semua
bukan orang baik2.
“Keluarkan semua harta bendamu!” bentak seorang
pendeta tua.
“Perlu apa?” tanya Tio Beng.
“Karena berjodoh kalian datang disini dan secara
kebetulan kami ingin mengadakan sembahyang besar serta
memperbaiki kelenteng kami yang sudah tua,” kata si
pendeta. “Maka itu kami minta kalian suka mengeluarkan
emas, perak dan lain2 barang berharga dan
menyumbangkannya kepada kami. Apabila kalian berlaku
pelit dan pousat sampai jadi gusar kalian berabe sekali.”
“Ah! Itulah perbuatan perampok!” kata si nona dengan
2414
gusar.
“Maaf! Maaf!” kata si pendeta sambil menyeringai.
“Urusan perampok membunuh dan membakar memang
perkerjaan kami. Karena didesak Mo Kauw, kami terpaksa
mencukur rambut untuk mengelakan bencana. Kalian
berdua berjodoh dengan kami. Kambing gemuk datang
sendiri! Ha! Ha! Sungguh kejadian yg sukar terjadi lagi!”
Boe Kie dan Tio Beng terkesiap. Celaka sungguh!
Mereka masuk disarang perampok.
“Lie siecoe jangan takut,” kata seorang pendeta lain
sambil tertawa terhehe hehe.
“Kami berdelapan kebetulan tak punya nyonya. Kau
begitu cantik! Sungguh kebetulan! He he he he…”
Tio Beng merogoh saku dan mengeluarkan delapan
potong emas serta serenceng mutiara yg lalu ditaruh diatas
meja. “Inilah semua milikku,” katanya. “Kami berdua
adalah orang2 Rimba Persilatan juga. Kami harap dengan
memandang persahabatan, kalian tak menganggu kami
lagi.”
“Bagus!” kata si pendeta tua. “Apakah aku bisa tahu
nama partai kalian?”
“Kami murid Siauw Lim Pay,” jawabnya. Siauw Lim
Pay adalah sebuat partai besar dan dengan menyebutkan
partai ebsar itu Tio Beng mengharap urusan akan jadi beres.
Tapi diluar dugaan si tua lantas saja tertawa terbahak2.
“Murid Siauw Lim Pay?” Ia menegas denga suara
menyeramkan. “Sungguh kebetulan! Kami tidak bisa
melawan hweeshio2 Siauw Lim Pay dan sekarang
mendapat kesempatan untuk melampiaskan ganjelan kamu
terhadap kamu.” Seraya berkata begitu, ia mengangsurkan
tangannya untuk menarik Tio Beng. Si nona mundur,
2415
sehingga tangan itu menjambret angin.
Boe Kie mengerti, bahwa baya sudah sangat
mengancam. Ia dan Tio Beng terluka berat dan tidak bisa
melawan. Selama beberapa tahun ia merobohkan banyak
jago Rimba Persilatan yg kenamaan. Apa sekarang ia mesti
binasa didalam tangan kawanan penjahat kecil? Tidak! Biar
bagaimana pun juga, ia mesti melawan. “Beng Moay,”
bisiknya “Kau sembunyi dibelakang ku. Aku masih bisa
bereskan mereka.”
Nona Tio sangat pintar. Tapi sekarang ia mati akal.
“Siapa sebenarnya kamu semua?”
“Kami adalah murid2 yang diusir dari Siauw Lim Sie,”
jawab si perampok tua.
“Kalau bertemu dengan anggota lain partai, kami masih
bisa menaruh belas kasihan. Tapi terhadap orang Siauw
Lim sie… huh.. huh!... semuanya mesti dibunuh.”
“Bagus!” bentak Boe Kie. “Kamu pasti murid2 pendeta
jahat Goan Tin. Bukan begitu?”
Si perampok tua (Red: aslinya di bilang si nona)
mengeluarkan seruan kage. “Heran! Bagaimana kau tahu?”
tanyanya.
“Kami justru mau ke Siauw lim sie.” Tio Beng
mendahului. “Kami ingin menemui Tan Yoe Liang toako
untuk mengangkat Gian Tin Taysoe menjadi Hong thio.”
(Hong Thio kepala sebuah kelenteng).
“Bagus!” seru si tua. “Sang Budha memang sangat
murah hati.”
“Ya.” Menyambung si nona, “kita semua harus bersatu
padu untuk mencapai tujuanyg besar.”
Semua penjahat itu tiba2 tertawa terbahak2.
2416
Kedelapan penjahat itu memang benar konco2 nya Tan
Yoe Liang. Tan Yoe Liang lah yg membawa mereka ke
Gian tin. Mereka berasal dari Rimba Hijau (kalangan
perampok) dan memiliki ilmu yg cukup tinggi. Sesudah
mendapat petunjuk2 Goan tin kepandaian mereka
bertambah tinggi. Selama beberapa tahun memang Goan
tin berusaha keras untuk merebut kedudukan hong thio dan
mencari murid dari berbagai tempat. Untung juga Siauw
lim sie mempunyai peraturan yang keras dan setiap murid
baru selalu diselidiki asal usulnya, sehingga Goan tin tiada
berhasil dalam usaha mengumpulkan orang2nya didalam
kuil itu. Belakangan Tan Yoe Liang mengatur lain siasat. Ia
mencari orang2 gagah dan penjahat2 dalam dunia Kang
ouw dan mereka mengangkat Goan tin sebagai guru diluar
Siauw Lim sie. Mereka disiapkan sekitar Siauw Lim Sie dan
menunggu saat yg baik untuk turun tangan.
Goan tin adalah ahli silat kelas utama pada jaman itu.
Mendengar nama Siauw Lim sie yang cemerlang dan
melihat kepandaian pendeta itu banyak orang Kang ouw
lari dari partainya sendiri dan rela menjadi muridnya, untuk
menjadi murid Goan tin. Perkataan “Sang Budha memang
sangat murah hati” sebenarnya kata2 rahasia dari
persekutuan Goan tin dan harus dijawab dengan “Kembang
mekar menemui Sang Budha.” Tio Beng sangat pintar. Ia
bisa lantas menebak, bahwa Goan Tin ingin merebut
kedudukan hong thio, tapi ia tidak tahu, bahwa perkataan
yg diucapkan oleh si tua adalah kata2 rahasia.
“Hoe toako,” kata seorang yg katai gemuk, “Bocah
perempuan itu mengatakan guru kita mau diangkat sebagai
Hong thio. Darimana ia dengar warta itu? Hal ini hal besar.
Kitaharus menyelidiki seterang2nya.”
Sementara itu, begitu mendenar nada tertawa kedelapan
penjahat itu, Boe Kie sudah tahu bahwa ada sesuatu yg
2417
tidak benar dan bahaya yg lebih besar sedang mengancam.
Sesudah terluka, meskipun Cin khie (hawa tulen) didalam
tubuhnya tidak menjadi musnah, hawa itu suka
dikumpulkan dan digunakan untuk berkelahi. Dalam
menghadapi bencana, mati2an ia berusaha untuk
mengumpulkan hawa tersebut. Tapi ia gagal. Hawa itu
berkumpul dalam kelompok2 kecil disana sini dalam
tubuhnya, tapi tidak bisa menjadi satu dan mengalir
disepanjang jalan darah.
Tiba2 si penjahat tua menjambret Tio Beng. Sebab tak
kuat menangkis, si nona hanya mundur keranjang Boe Kie
sendiri tetap bersila sambil memejamkan kedua matanya. Ia
terus mengerahkan pernapasannya dengan harapan
sebagian tenaganya akan pulih kembali.
Melihat Boe Kie bersila dengan tenang di tengah ranjang,
penjahat yg bertubuh katai gemuk meluap darahnya.
“Bocah, kau sungguh sombong!” bentaknya sambil
mengerahkan seluruh lweekangnya, sehingga tulang2nya
berbunyi perotok2 dan kemudian, ia meninju Lan thiong
hiat di dada Boe Kie sekuat2nya. “Buk!” Sehabis meninju
lengan kanannya terkulai, matanya melotot dan ia tidak
bergerak lagi. Si pendeta tua terkejut dan mengangaurkan
tangan untuk menarik kawai itu. Tapi begitu tersentuh, si
katai gemuk roboh --- mati!
Kawanan penjahat itu kaget tercampur gusar. Mereka
menduga Boe Kie memiliki ilmu siluman.
Mengapa penjahat itu binasa seketika? Sebagaimana
telah dikatakan, sesudah terluka Cin Khie (hawa tulen)
dalam tubuh Boe Kie sukar berkumpul menjadi satu dan
tidak bisa digunakan untuk melukai musuh. Tapi biarpun
begitu, Kioe yang sin Kang didalam badannya tidak
menjadi musnah. Penjahat itu memukul dengan sepenuh
tenaganya. Kioe yang Sin kang Boe Kie waktu itu memang
2418
tidak cukup untuk menghantam musuh, tapi lebih dari
cukup untuk melindungi dirinya sendiri. Begitu terpukul,
tenaga Kioe yang segera menolah dan memulangkan tenaga
pukulan itu. Disamping itu terjadi pula kejadian yg diluar
dugaan. Karena terpukul hawa Kioe yang dalam Boe Kie
terbangun pula, sehingga tenaga menolak ditambah lagi
dengan tenaga lain. Itulah sebabnya mengapa si penjahat
lantas saja binasa.
Pendeta tua itu seorang yg berpengalaman luas. Ia tahu
bahwa Boe Kie mengugnakan ilmu meminjam tenaga,
memukul tenaga. Tapi ia tidak jadi gentar, sebab ia percaya
akan kelihaiannya Tiat see ciang nya (Tangan Pasir Besi).
Sambil menarik napas dalam2, ia segera memukul dengan
kedua tangannya.
Dalam Rimba Persilatan, Tiat See Ciang si tua cukup
terkenal dan ia mendapat julukan Sin see Pa Thian Chioe
(Tangan pasir malaikat yg bisa memecahkan langit)
Waktu kawannya yg gemuk memukul dada Boe Kie ia
menyaksikan terang2an denga kedua matanya sendiri. Ia
menduga bahwa didada pemuda itu tersimpat senjata
beracun. Maka itu ia sekarang tujukan pukulannya kepada
lengan Boe Kie yang berada di luar tangan baju. Ia ingin
mematahkan lengan itu lebih dahulu dan kemudian barulah
membinasakan pemuda itu. Tapi begitu memukul tubuh si
tua terbang keluar dari jendel yg terbukan menjadi hancur
dan kepalanya membentur batang pohon, sehingga ia
binasa seketika itu juga.
Ketiga kawannya, yg masih belum tahu nasib si tua,
lantas saja menyerang dengan berbareng. Yang satu
meninju Tay yang hiat yang satu mencoba mengorek biji
mata dengan pukulan Siang liong Chio coe (Sepasang naga
merebut mutiara) sedang yg ketig menendang tan tian
(dibawah pusar). Dengan menundukkan kepala Boe Kie
2419
menggores dua jari tangan yang mau mengorek biji
matanya sehingga pukulan itu mampir pada dahinya dan
sambil menahan napas, ia menerima dua pukulan yg lain.
Berbareng dengan suara “buk buk!” terdengar jeritan
menyayat hati dan ketiga penjahat itu melayang jiwanya.
Penjahat yg menendang tna sian mati dengan tulang kaki
patah sebab tendangan terlalu keras. Dilain pihak dengan
tertendangnnya tan tian chin khie dalam tubuh Boe Kie
bergolak hebat dan tiba2 ia mersa jalan2 darah disebagian
tubuhnya terbuka dengan mendadak. Ia girang dan berkata
didalam hati. “Sayang sungguh pendeta jahat itu mampus
terlalu cepat. Kalau ia bisa menendang beberapa kali lagi,
keadaan akan lebih banyak mendingan. Diluhat begini
dalam sepuluh hari tenagaku akan pulih kembali.”
Diantara delapan sudha lma orang melayang jiwanya.
Taku usdah dikatakan lagi sisanya tiga orang ketakutan
setengah mati dan kabur lintang pukang. Setibanya diluar
mereka melihat mayat si tua yg menggeletak di bawah
pohon dengan kepala hancur. Mereka kabur terus sampai
diluar pintu kelenteng. Sebab tak diubar mereka berenti dan
berdamai. “Kurasa bocah itu mempunya ilmu siluman,”
kata yang satu.
“Bukan.. bukan ilmu siluman,” bantah yang lain. “Dia
tentu memiliki lweekang yg tinggi yg digunakan untuk
memukul balik serangan saudara kita.”
“Benar,” meyambung yg ketiga. “Biar bagaimanapun
juga kita harus membalas sakit hati.”
Biarpun penjahat kejam, mereka ternyata masih
mempunyai “gie khie” (rasa setia kawan) dari kalangan
Kong ouw. Mereka berdelapan telah mengangkat saudara
denga bersumpah untu sama2 senang dan sama2 susah.
Sesudah berdamai agak beberapa saat, mereka bertekad
2420
bulat untuk membalas sakit hati. Tapi mereka mengerti,
bahwa mereka bukan tandingan Boe Kie.
“Ah! Tak salah!” seorang tiba2 berseru. “Bocah itu tentu
mendapat luka berat. Kalau tidak mengapa dia tidak
mengubar?”
Kedua konconya jadi girang. “Benar,” kata yang satu.
“Rupa2nya dia tidak bisa berjalan. Kelima saudara kita
menyerang denga kai tangan dan dia memukul balik dengan
lweekang. Sekarang kita serang dia dengan senjata. Aku
tidak percaya badannya, badannya tidak mempan senjata.”
Untuk segera bertindak. Satu membawa tombak satu
menentang golok, saut mencekal pedang dan mereka lantas
masuk lagi kedalam kelenteng.
Mereka mendapat kenyataan, bahwa kamar disebelah
timur sunyi tidk terdengar suara apapun juga. Indap2 merek
mendekati dan mengintip dari jendela yang hancur.
Ternyata Boe Kie masih tetap duduk bersila dan ia
kelihatnnya lelah sekali. Tio Beng duduk disampingnya
sambil menyusuti keringat.
Ketiga penjahat itu saling melirih. Tapi tak ada satupun
yang berani menerjang lebih dahulu.
Selang beberapa saat, yang satu tidak sabar lagi. “Bocah
bau!” teriaknya. “Akali kau nayari2 keluar!”
“Bocah tak tau malu!”
Menyambung yang lain. “Kalau kau benar2
berkepandaian tinggi, jangan gunakan ilmu siluman!”
Boe Kie tidak meladeni. Makin lama ketiga penjahat itu
makin berani sehingga belakangan mereka mencaci dangan
perkataan2 kotor. Tapi Boe Kie dan Tio Beng tidak marah.
Sebaliknya dari bergusar, mereka bersyukur, bahwa sesudah
2421
kabur ketiga penjahat itu kembali lagi. Tempat itu tak jauh
dari Siauw Lim Sie dan tadi waktu mereka lari, Boe Kie
dan Tio Beng merasa khawatir kalau2 mereka pergi ke
Siauw Lim Sie dan melaporkan kejadian itu kepada Seng
Koen. Apabila Seng Koen atau konconya datang, bencana
suka di hindarkan.
Sementara itu, sesudah diserang beberapa kali Kioe yang
Ci Khie dibeberapa bagian tubuh Boe Kie yang tadinya
terus membuyar, sekarang sedikit banyak bisa berkumpul.
Ia masih belum bisa menggunakan lweekang untuk melukai
musuh, tapi ia sekarang sudah tidak begitu bingung seperti
semula.
Tiba2 terdengar suara, “brak!” dan pintu berbareng ujung
tombak ygn berkuncir merah muncul di ambang pintu.
“Celaka!” seru Tio Beng seraya menyodor kan pisau
yang dipegangnnya kepada Boe Kie. Boe Kie
menggelengkan kepala. Dia tidak menyambut pisu itu sebab
ia tahu, ia tak punya tenaga untuk menggunakannya.
Dilain detik sesudah membuat sebuah lingkaran
bagaikan kilat ujung tombak menyambar kepada Boe Kie.
Pada saat yg sangat berbahaya tapa berpikir lagi, Tio Beng
merogo saku Boe Kie dan mengeluarkan sebatang Seng hwa
leng, yang lalu ditaruh di dada Boe Kie, ditempat yang
sedang disambar oleh mata tombak.
“Tak!” mata tombak mampir tepat pada Seng hwee leng.
Pukulan itu merangsang Kioe yang sin kang dalam tubuh
Boe Kie, dan tenaga itu lantas balik memukul. “Aduh!” si
pendeta yang menikam mengeluarkan teriakan hebat,
karena gagang tombak ambals didadanya.
Sebelum dia roboh seorang kawanan sudah membacok
batok kepala Boe Kie dengan goloknya sebab kuatir
sebatang Seng hwee leng tidak cukup kuat denga kedua
2422
tangannya nona Tio menaruh dua batang leng diatas kepala
Boe Kie, sekali lagi terdengar suara “tak!”. Golok itu
terpental dan menghantam janggut majikannya yg lantas
saja menjadi hancur. Kali ini, sebab tidak keburu menarik
palang tangan kirinya, ujung kelingking nona Tio tepapas
putus oleh mata golok yang terpental. Dalam keadaan
tegang, si nona sendiri tidak merasai luka itu.
Pendeta ketiga yg masuk dengan membawa pedang,
terbang semangatnya ketika lihat dua kawan nya
menggeletak tanpa bernyawa. Sambil berteriak keras, ia
kabur.
“Dia tidak bolek di biarkan lari!” seru Tio Beng seraya
menimpuk dengan sebatang Seng hwee leng. Meskipun ia
menimpuk dengan seantero tenaga, senjata itu jatuh di
tengah jalan sebab tenaganya tidak cukup.
Boe Kie terkejut. Ia memeluk si nona dan berbisik.
“Timpuk lagi!” ia mengempos cin khie yg berkumpul
didadanya dan mengirimnya kedalam tubuh si nona.
Tio beng menimpuk lagi deng Seng hwee leng yg dicekal
ditangan kiri. Dua tindak lagi penjahat itu akan bisa
menyelamatkan diri dibelakang tembok. Tapi dia tidak
keburu sebab Seng hwee leng menyambar bagaikan kilat,
amblas dipunggungnya menembus keluar didadanya.
Sesudah menggunakan tenaga yang penghabisan Boe Kie
dan Tio Beng pingsan bersama sama dan dengan salik peluk
mereka lantas ke bawah ranjang. Dalam kamar itu
menggeletak enam sosokmayat, diluar kamar dua mayat
lagi, sedang Boe Kie dan Tio Beng sendiri berbaring
diantara kobakan darah. Sinar rembulan menerangi
kelenteng itu yg sunyi bagaikan kuburan.
Sesudah lewat beberapa lama, Tio Beng tersadar. Ia
memegang hidung Boe Kie dan mendapat kenyataan,
2423
bahwa pemuda itu masih bernapas dan jalan napasnya
tenang. Perlahan2 ia berbangkit dan berusaha untuk
mengangkat Boe Kie ke atas ranjang, tapi tenaga nya tak
cukup, sehingga ia hanya bisa meluruskan tubuh Boe Kie
dan kemudian mereka lantas napas tersenggal2 ia berduduk
disamping kecintaannya.
Beberapa saat kemudian, Boe Kie membuka matanya.
“Beng moay,” katanya. “Kau.. kau berada disini?”
Si nona tertawa. Mereka saling mengawasi dan mereka
tertawa bersama2. muka mereka belepotan darah dan
keadaan dalam kamar itu sesudah terlolos dari bencana
bersama2 didalam hati mereka merasakan semacam
kebahagiaan yang sukar dilukiskan.
Dalam seluruh pertempuran, mereka membinasakan
tujuh pendeta tanpa mengeluarkan tenaga sendiri dan
menggunakan ilmu meminjam tenaga memukul tenaga.
Tapi dalam mengambil jiwa penjahat yg terakhir, mereka
telah menggunakan seantero kekuatan dan sekarang mereka
tak punya tenaga lagi. Meeka terpaksa rebah diantara
mayat2 itu. Dengan tangan gemetaran Tio Beng membalut
kelingkingnya yg terpapas golok untuk menghentikan
darah. Sesudah itu bersama Boe Kie ia tertidur pulas.
Pada keesokan tengah hari barulah mereka tersadar.
Sesudah bersamedhi kira2 setengah jam, Boe Kie merasa
badannya segar, sebab lapar, perlahan2 ia pergi ke dapur,
dimana ia dapatkan nasi yang separuh hangus didalam
kuali. Sambil tersenyum ia makan dua suap kemudia
mengisinya disebuah mangkok yang lalu dibawa ke kamar
dan diserahkan kepada Tio Beng.
“Bagaimana kalau keadaan sekarang dibanding makan
minum dirumah makan kecil dikota saja?” kata Tio Beng.
“Dulu lain, sekarang lain!” jawabnya sambil tertawa.
2424
“Ya,” kata pula si nona. “Sekarang kita menderita dilahir
tapi apa yang dirasakan didalam hati kita, hanya diketahui
oleh langit, oleh bumi, olehmu dan olehku sendiri. Orang
luar tak pelu tahu!” Mereka tertawa dan lalu makan
bersama2 dengan hanya menggunakan tangan. Yang
dimakan mereka hanyalah nasi separuh hangus. Tapi bagi
mereka lezatnya nasi itu melebihi santapan yang terlezat
didalam dunia.
Belum habis mereka makan, ditempat jauh sekonyong2
terdengar suara tindakan kuda. Tak kepalang kagetnya Boe
Kie dan Tio Beng. Mangkok nasi yg dipegang si nona jatuh
dan hancur dilantai. Meeka saling mengawasi dengan hati
berdebar2.
Tak lama kemudian kedua ekor kuda berhenti dihadapan
pintu kelenteng dan pintu di ketuk orang. “Siangkoan Sam
ko!” teriak seorang. “Buka pintu! Aku Cia Loo Ngo.”
“Bagaimana sekarang?” bisik Boe Kie.
“Mereka akan segera merusak pinth” kata Tio Beng.
“Kita berlagak mati.” Boe Kie menganggul dan mereka lalu
rebah tengkurep.
Beberapa saat kemudian terdengar suara kedubrakan dan
pintu terpental karena dorongan tenaga yg sangat kuat.
“Kau rebah dipinggir pintu cegat jalan mundur mereka!”
bisik si nona.
Boe Kie lalu merangkak kepintu kamar.
Di luar terdengar seruan kaget dari dua orang yang baru
masuk, disusul dengan suara menghunus senjata. Rupa2nya
mereka sudah lihat mayat yang menggeletak diluar.
“Hati2!” kata seorang. “Jangan kena di bokong!”
“Sahabat!” teriak yang lain. “Perlu apa kau sembunyi2?
2425
Kalau nualimu besar, keluarlah!” Suara orang itu nyaring
dan bertenaga. Tak bisa salah lagi dialah yang mendobrak
pintu. Dia teriak menantang berulang2 tapi tetap tak dapat
jawaban.
“Bisa jadi penjahatnya adalah pergi,” kata kawannya.
“Mari kita geledah,” kata orang yg suaranya nyaring,
yang tadi memperkenalkan diri sebagai Cin Lo Ngo. “Sioe
Lao tee, kau memeriksa disebelah timur, aku dibarat.”
Orang she Soe itu bernyali kecil, “Kau kuatir musuh
berjumlah besar,” katanya dengan nada jeri. “Lebih baik
kita jalan berdua.”
Sebelum Cin Loo Ngo menyahut, dia mengeluarkan
seruan, tertahan, “Ini!” katanya sambil menuding kamar
sebelah timur. “Dikamar itu kelihatannya masih ada lain
mayat.”
Mereka menghampiri dan bulu mereka bangun semua.
“Siapa… siapa yg binasakan mereka?” kata Cin Loo Ngo
dengan suara gemetar.
“Cin Loo Ngo mari kita pulang! Kita harus beritahukan
Suhu.”
“Suhu telah memesan, kita harus buru2. Surat undangan
harus disampaikan secepat mungkin supaya tamu2 bisa
hadir dalam To Say Eng Hiong Hwee yang akan diadakan
pada harian Toan ngo. Kalau kita terlambat, kita bisa
dihukum. (Toa say Eng hiong hwee – Pertemuan orang2
gagah dalam upacara membinasakan singa Toan ngo Bulan
Lima tanggal Lima menurut perhitungan Imlet atau hari
perayaan Pehcun).
Mendengar Toan say Eng hiong hwee, alis Boe Kie
berkerut. Tiba2 darahnya bergolak kaget, girang dan gusar
bercampur aduk jadi satu. Ayah angkatnya begelar Kim Mo
2426
Say Ong atau Raja singa bulu emas dan To say eng hiong
hwee tentu dimaksudkan upacara membunuh ayah
angkatnya. “Dilihat begini sebelum Toan ngo jiwa Giehoe
takkan diganggu,” pikirnya. “Hai … kedudukanku sebagai
pemimpin Beng Kauw tapi aku tak mampu melindungi Gie
hoe, hingga di mesti menderita, mesti menerima segala rupa
hinaan. Aku sungguh seorang anak yg tidak berbakti.”
Makin lama ia jadi makin gusar. Kalau menuruti
kemauannya, ia ingin lantas membinasakan kedua orang
itu. Tapi sebab tenaganya belum pulih, jalan satu2nya
adalah menunggu sampai mereka masuk kamar dan
kemudian membinasakan dengan ilmu ‘Meminjam tenaga,
memukul tenaga’.
Tapi kedua orang itu tidak berani lantas masuk. Mereka
berdiri diluar kamar dan berdamai.
“Begini saja,” kata Cin Loo Ngo, “Kita berdua membagi
tugas. Aku mengantarkan surat undanagn dan kau kembali
ke Siauw Lim Sie untuk memberi laporan kepada suhu.”
Tapi si orang she Sioe kuatir kalau ditengah jalan ia
bertemu dengan musuh. Ia bersangsi dan tidak mengiakan
usul kawannya.
Cin Loo Ngo mendongkol, “Kalau kau takut kau boleh
pilih,” katanya. “Kalau kau mau mengantarkan surat
undangan, bolehlah.”
Sesudah berpikir sejenak, si orang she Soe menganggap,
bahwa pulang ke Siauw Lie Sie banyak selamat. Maka itu,
ia lantas saja berkata, “Aku turut perkataan Cin Loo Ngo.
Biarlah aku pulang dan melaporkan kejadian ini kepada
suhu.”
Sesudah mencapai persetujuan, mereka segera bertindak
untuk berlalu.
2427
Mendadak Tio Beng menggerakkan tubuhnya dan
merintih.
Kedua orang terkejut. Mereka menghentikan tindakan
dan menengok. Sekali lagi nona Tio menggerakkan
badannya. Kali ini kedua orang itu melihat tegas bahwa yg
tubuhnya bergerak adalah seorang wanita.
“Siapa perempuan itu?” tanya Cin Loo Ngo seraya
menghampiri. Si orang she Sioe juga mengikuti masuk ke
kamar. Biarpun nyalinya kecil ia tak takut sebab Tio Beng
seorang wanita dan seorang wanita yg terluka berat. Ia
membungkuk untuk membalikkan tubuh si nona.
Tiba2 Boe Kie batuk2, sehingga si orang she Sioe
terkesiap dan mengurungkan niatnya. Sesudah batuk2, Boe
Kie duduk sambil memejamkan kedua matanya.
Melihat Boe Kie yg mukanya berlepotan darah, kedua
orang itu terbang semangatnya.
“Celaka!” teriak si orang she Sioe, “Mayat bangun lagi!”
“Setan!” bentak Cin Loo Ngo sesudah menentramkan
hatinya. “Aku tak takut!” Ia mengayun golok dan
membacok batok kepala Boe Kie.
Ketika itu Boe Kie sudah siap sedia dengan kedua Seng
hwee leng. Begitu musuh membacok, ia menaruh kedua
leng itu diatas kepalanya. “Tak” golok terpental memukul
Cin Loo Ngo yg binasa seketika itu jg.
Si orang she Sioe, yang tangannya mencekal golok itu
terlepas dari tangannya.
“Kalau kau punya nyali, bacoklah aku!” tantang Boe
Kie. “Tinjulah aku, kalau kau berani!”
“Siawjin… siauwjin tak berani,” jawabnya.
“Coba kau tendang aku!”
2428
“Siauwjin… siauwjin.. lebih2 tak berani.”
“Tolol kau! Lekas bacok aku!”
Orang she Sioe itu makin ketakutan. Tiba2 ia berlutut
dan berkata sambil manggut2an kepalanya. “Ampun loya…
ampun…”
Tio Beng sangat mendongkol. Ia mengeluarkan suara
dihidung dan berkata, “Aku tak nyana didalam Rimba
Persilatan ada manusia yg begitu rendah seperti kau!”
“Ya… ya… siauwjin manusia rendah…….,” katanya.
Thio Boe Kie jadi kewalahan. Mendadak ia dapat serupa
pikiran. “Kemari kau!” bentaknya.
Dia lantas menghampiri dengan merangkak.
Boe Kie segera menempelkan kedua jempol tangannya di
biji mata orang itu dan membentak. “Aku korek biji
matamu!”
Dalam menghadapi bahay, tanpa merasa si orang she
Sioe mendorong dengan kedua tangannya. Inilah yang
diinginkan oleh Boe Kie. Dengan meminjam tenaga itu, ia
menotok jalan darah Sin Hong dan Po Long di bawah tetek
orang itu yang badannya lantas saja kesemutan dan tak
bertenaga lagi. “Looya… ampun…” dia sesambat.
Tio Beng tahu bahwa totokan Boe Kie hanya bisa
menahan orang itu untuk sementara waktu. Dalam waktu
kira-kira setengah jam “hiat” yang tertotok itu akan terbuka
lagi dengan sendirinya. Tapi iapun tak ingin mengambil
jiwa orang, terutama sebab ia memerlukan banyak
keterangan dari orang itu. Sesudah memikir sejenak, ia
berkata, “Kau sudah ditotok pada hiat yang membinasakan.
Coba kau tarik napas dalam-dalam.”
Orang itu menurut.
2429
“Nah, bukankah dadamu di sebelah kiri sangat sakit?”
Si orang she Sioe mengangguk dengan rasa takut yang
lebih besar, padahal rasa sakit itu adalah gejala biasa,
sebagai akibat dari totokan yang dilakukan Boe Kie. Ia
lantas saja memohon mohon kepada Tio Beng supaya
jiwanya ditolong.
“Untuk menolong jiwamu aku harus menggunakan
jarum emas dalam waktu setengah bulan,” kata Tio Beng.
“Tolong Kouwnio!” sesambat si orang she Sioe.
“Apabila Kouwnio sudi menolong Siauwjin rela menjadi
kerbau atau kudanya Kouwnio.”
Si nona tertawa. “Huh! Baru pertama aku lihat orang
Kang ouw yang semacam kau,” katanya. “Baiklah. Ambil
sepotong batu!”
“Baik… baik… jawabnya tergesa gesa dan dengan
menahan sakit dan tindakan limbung ia berjalan keluar
untuk mencari apa yang diminta Tio Beng.
“Untuk apa?” bisik Boe Kie.
“Kau lihat saja,” sahutnya sambil tersenyum.
Beberapa saat kemudian, si orang she Sioe kembali dan
sambil membungkuk menyerahkan sepotong batu kepada
Tio Beng.
Nona Tio mencabut tusuk kundainya yang terbuat
daripada emas dan memasangnya di Coat poen hiat, di
pundak orang she Sioe itu. “Aku akan membuka jalan
darahnya dengan tusuk kundai ini, supaya hawa Sie hiat
(“hiat” mati) tidak naik ke atas dan masuk ke dalam
otakmu. Tapi aku tak tahu, apa Looya itu suka
mengampuni jiwamu atau tidak.”
Mendengar keterangan itu, si orang she Sioe lantas saja
2430
mengawasi Boe Kie dengan sorot mata minta dikasihani.
Boe Kie mengangguk dan dia kegirangan. “Looya suka
memberi ampun!” katanya. Kouwnio, hayolah.”
“Hm!...” si nona mengeluarkan suara di hidung. “Apa
kau takut sakit?”
“Tidak! Siauwjin hanya takut mati, tidak takut sakit.”
“Kalau begitu, panteklah tusuk kundaiku dengan batu
ini.”
Tanpa berpikir lagi, ia memantek tusuk kundai itu yang
lantas saja masuk di daging pundaknya, tepat di Coat poen
hiat.
Sebaliknya dari sakit, ia merasa nyaman sehingga ia
makin percaya omongannya Tio Beng dan menghaturkan
terima kasih berulang-ulang.
Beberapa saat kemudian, si nona menyuruh mencabut
tusuk kundai itu dan mengulangi penusukkan pada Hoen
boen hiat, Kouw pong hiat dan beberapa “hiat” lain.
Boe Kie tersenyum dan berkata. “Sudah! Sudah cukup!”
Penusukan beberapa “hiat” itu adalah tindakan Tio Beng
untuk berjaga jaga menghadapi pengkhianatan. Selama
sepuluh hari, jika orang she Sioe itu berlari-lari dalam jarak
kira-kira seratus lie ia akan roboh dan binasa. Menurut
perhitungan nona Tio, apabila ia ingin melaporkan kejadian
itu kepada Seng Koen, begitu keluar dari kelenteng, ia tentu
akan lari secepat mungkin sebab takut diuber. Dan larinya
itu berarti kebinasaannya.
“Sekarang ambil dua paso air untuk kami cuci muka dan
sesudah itu masak nasi,” kata si nona. “Kalau sudah bosan
hidup, tak ada halangan kau menaruh racun di nasi, supaya
kita bertiga bisa mampus bersama-sama.”
2431
“Siauwjin tak berani, siauwjin pasti tidak berani…”
jawabnya.
Demikianlah, mulai hari itu Boe Kie dan Tio Beng
mempunyai seorang pelayan.
Atas pertanyaan Tio Beng, ia menerangkan bahwa ia she
Sioe, bernama Lam san. Ia juga dikenal dengan julukan Ban
sioe Boe Kiang.
Julukan itu berarti Usia Abadi, hanya merupakan suatu
ejekan. Ia berasal dari kalangan Rimba Hijau dan ia
mengabdi kepada Goan tin (Seng Koen) sebab ia tolol,
otaknya tumpul dan kepandaiannya cetek. Goan Tin hanya
menggunakannya sebagai pesuruh dan tidak pernah
memberi pelajaran silat kepadanya. Paling belakang ia
mendapat perintah untuk mengantarkan surat surat
undangan dan akhirnya bertemu Boe Kie dan Tio Beng.
Dalam peranan sebagai pelayan, Sioe Lam San rajin dan
mendengar kata. Dialah yang mengubur mayat-mayat.
Biarpun bodoh, dia memiliki semacam ilmu yang cukup
tinggi yaitu ilmu memasak. Sayur sayur yang dibuatnya
sangat lezat dan bernilai tinggi, sehingga kedua
“majikannya” jadi sangat girang.
Perlahan-lahan Boe Kie dan Tio Beng menanyakan soal
To say Eng hiong hwee. Sioe Lam San memberi segala
keterangan yang ia tahu, hanya sayang, ia tahu sangat
sedikit. Ia hanya mendengar bahwa Hong thio Siauw lim
sie, Kong boen Taysoe telah mengangkat Goan Tin sebagai
pelaksana pertemuan besar yang bakal diadakan dan bahwa
yang mengundang adalah Kong boen dan Kong tie Seng
ceng. Orang2 gagah dari berbagai partai dan golongan
diundang untuk berkumpul di Siauw lim sie pada hari
perayaan Toan ngo.
Boe Kie lalu minta surat surat undangan yang dibawa
2432
olehnya. Ternyata surat surat itu dialamatkan Houw tin
goe, Kouw siong coe dan lain-lain kiam kek (ahli pedang)
dari Tiam cong pay di In Lam. Jago jago pedang Tiam cong
pay sudah lama dikenal dalam Rimba Persilatan. Tapi
mereka selalu menyembunyikan diri di daerah In Lam dan
tidak pernah bergaul dengan orang-orang gagah di wilayah
Tionggoan. Bahwa sekarang Siauw lim pay telah
mengundang juga mereka itu, dapatlah dibayangkan bahwa
pertemuan yang bakal diadakan benar2 bukan pertemuan
kecil. Siauw Lim pay diakui sebagai pemimpin Rimba
Persilatan, dengan kedua Seng Ceng (pendeta suci) yang
mengundang sendiri, maka orang-orang yang menerima
undangan sedapat mungkin akan coba menghadiri
pertemuan itu.
Bunyi undangan itu sangat singkat. “Kami mengundang
(tuan) untuk berkumpul di kuil Siauw lim sie pada hari
perayaan Toan ngo untuk minum arak dan bergembira ria
bersama-sama orang-orang gagah di kolong langit.”
Dalam surat undangan itu sama sekali tidak disebutsebut
soal “To-say”. Mengapa Cin Loo Ngo mengatakan
bahwa pertemuan itu adalah To-say Eng hiong hwee?”
tanya Boe Kie.
“Thio ya tak tahu,” jawab Sioe Lam San dengan suara
bangga. “Guruku telah menangkap seorang yang
mempunyai nama sangat besar, yaitu Kim Mo Say Ong Cia
Soen. Kali ini Siauw lim pay akan mendapat muka terang
di hadapan para orang-orang gagah. Di hadapan mereka itu
Siauw lim pay akan binasakan si Singa Bulu Emas, maka
itu pertemuan itu dinamakan To say Eng hiong hwee.”
Boe Kie meluap darahnya, tapi sebisa bisa ia menahan
sabar. “Apa kau pernah lihat Kim mo say ong?” tanyanya.
“Bagaimana gurumu menangkap dia? Di mana adanya dia
sekarang?”
2433
“Kim mo say ong… huh huh.. lihay tiada
bandingannya,” jawabnya. “Tingginya… dua kali tubuh
Siauwjin. Yang lain boleh tak usah disebutkan. Matanya
saja sudah sukar dilawan. Matanya berkeredepan dan kalau
kita diawasi… huh… semangat kita lantas terbang!” Ia
mendehem beberapa kali dan berkata pula. “Tujuh hari dan
tujuh malam guruku bertempur dengan dia, belakangan
Soehoe marah dan menggunakan Kim Liong Hok hauw
kang. Sesudah menggunakan ilmu itu barulah Kim mo Say
Ong dapat ditaklukkan. Sekarang dia dikurung di dalam
gua batu di belakang kuil dan dirantai dengan delapan…”
“Diam!” bentak Boe Kie. “Jangan ngaco kalau kau
masih sayang jiwamu! Kim mo say ong Cia Tayhiap buta
matanya. Mana bisa matanya berkeredepan?”
Sioe lam San terkesiap. “Ya… ya… siauwjin tentu salah
lihat,” jawabnya dengan ketakutan.
“Bilang sebenar-benarnya,” kata pula Boe Kie. “Apakah
kau pernah bertemu dengan Cia Tayhiap atau tidak?”
Sioe lam San yang tadi hanya mengibul buru-buru
menyahut. “Siauwjin tidak berani berdusta lagi. Siauwjin
sebenarnya belum pernah lihat Cia Tayhiap. Siauwjin
hanya dengar cerita itu dari saudara saudara seperguruan.”
Apa yang sangat ingin diketahui Boe Kie adalah tempat
dikurungnya Cia Soen. Ia mendesak dan mendesak lagi,
tapi Sioe Lam San tetap mengatakan tidak tahu. Boe Kie
yakin, bahwa dia tidak mendusta. Rahasia besar yang tentu
tidak akan dibocorkan kepada sembarang orang. Untung
juga perayaan Toan-ngo masih dua bulan lebih, sehingga
mereka mempunyai cukup waktu. Yang paling penting bagi
mereka ialah mengobati luka dan beristirahat.
Sesudah berdiam sepuluh hari di kelenteng itu Boe Kie
dan Tio Beng sembuh seluruhnya dan tenaga merekapun
2434
sudah pulih kembali. Hari itu Boe Kie lalu berdamai dengan
Tio Beng cara bagaimana mereka harus menolong Cia
Soen.
“Jalan yang paling baik adalah menotok “hiat mati” Sioe
lam San dan kemudian mengirim dia ke Siauw lim sie
untuk jadi mata-mata kita,” kata nona Tio. “Tapi orang itu
terlalu tolol dan kalau rahasia sampai diendus Seng koen
atau Tan Yoe Liang semua urusan dengan mereka selalu
akan menjadi rusak. Begini saja. Kita berdua pergi ke kaki
Siauw sit san dan coba menyelidiki. Tapi kita harus
menyamar.”
“Menyamar bagaimana?” tanya Boe Kie.
“Apa menyamar jadi hweesio dan niekouw?”
“Fui! Bagus sungguh pikiranmu! Apa katanya orang
kalau mereka lihat seorang hweesio berjalan bersama sama
seorang niekouw?”
“Kalau begitu kita menyamar saja sebagai suami isteri
dari pedusunan.”
Tio Beng tertawa. “Apa tidak boleh sebagai kakak dan
adik?” tanyanya. “Apabila kita menyamar sebagai suami
isteri dan dilihat Cioe Kouwnio, bukankah pundakku bisa
berlubang lagi?”
Boe Kie turut tertawa dan tidak mengatakan apa-apa
lagi. Sesudah menanyakan Sioe lam san tentang keadaan di
kuil Siauw lim sie, ia lantas berkata. “Sie-hiatmu yang
tertotok sekarang sudah hampir sembuh. Tapi kau perlu
berada di daerah Selatan yang hawanya panas. Manakala
kau berdiam di tempat yang turun salju, jiwamu akan lantas
melayang. Sekarang juga kau harus berangkat ke Selatan, ke
tempat lebih panas lebih baik lagi. Apabila kau kena angin
utara, dadamu akan menyesak dan kau akan batuk-batuk
2435
dan itulah sangat berbahaya.” Sehabis berkata begitu, ia
segera mengurut dada dan punggung si tolol.
Sioe Lam San tentu saja percaya habis karangan Boe
Kie. Tanpa menyia-nyiakan waktu, ia segera meminta diri
dan lalu berangkat ke Selatan. Di Tiongkok Selatan ia hidup
tenteram dan berumur panjang. Ia baru meninggal dunia
pada tahun Kian boen, kerajaan Beng.
Sesudah Sioe lam san berlalu, sebelum berangkat ia
membakar kelenteng itu. Di satu dusun mereka membeli
seperangkat pakaian dan menukar di tempat sepi.
Pakaian mereka yang mewah ditanam di tanah.
Dengan hati-hati mereka menuju ke Siauw sit-san.
Dalam jarak tujuh delapan lie dari kuil Siauw lim sie,
beberapa kali mereka bertemu dengan beberapa pendeta.
“Kita tidak boleh maju lebih jauh,” kata Tio Beng.
Kebetulan sekali di pinggir jalan terlihat gubuk dan
seorang petani tua yang sedang menyiram kebun sayur di
depan gubuk itu.
“Kita boleh numpang nginap di situ,” kata si nona.
Boe Kie segera menghampiri dan sesudah memberi
hormat, ia berkata. “Loo-tiang, kami berdua kakak beradik
capai sekali dan kami memohon semangkok air dingin.”
Tapi si kakek tidak meladeni. Ia terus menyirami sambil
menundukkan kepala.
Tiba-tiba pintu gubuk terbuka dan keluarlah seorang
nenek yang rambutnya sudah putih semua. “Suamiku tuli
dan gagu,” katanya sambil tertawa. “Apa yang tuan
inginkan?”
“Adikku tak kuat jalan lagi,” jawab Boe Kie. “Kami
ingin minta air minum.”
2436
“Masuklah,” kata si nenek.
Gubuk itu bersih, perabotnya bersih dan pakaian si
nenek biarpun terbuat dari kain kasar juga tidak kalah
bersihnya. Melihat kebersihan itu, Tio Beng merasa senang.
Sesudah minum air ia mengeluarkan sepotong perak dan
berkata sambil tertawa. “Popo, kakakku mengajak aku ke
rumah nenek kami. Lantaran tidak biasa, kakiku sakit
bukan main. Apa boleh malam ini kami numpang nginap?
Besok pagi kami akan meneruskan perjalanan.”
“Numpang nginap tidak halangan dan juga tidak perlu
mengeluarkan uang,” jawabnya dengan suara manis. Tapi
kami hanya mempunyai sebuah kamar dan sebuah ranjang.
Andaikata aku dan suamiku tidur di luar, kalian berdua
kakak beradik tentu tidak boleh tidur seranjang. Hm! Nona
kecil… sebaiknya kau bicara terus terang kepada Popo.
Bukankah kau kabur dari rumah mengikut kakak yang
tercinta?”
Muka si nona lantas saja berubah menjadi merah. Di
dalam hati ia kaget. Nenek itu mempunyai mata yang
sangat tajam dan dia pasti bukan sembarangan orang.
Tanpa merasa ia melirik orang tua itu beberapa kali.
Walaupun sudah berusia lanjut dan badannya bongkok,
ia kelihatan gagah. Kedua matanya bersinar, sehingga
mungkin sekali ia memiliki ilmu silat yang tinggi. Tio Beng
tahu, bahwa roman Boe Kie masih menyerupai seorang
petani. Tapi dia sendiri pasti bukan seorang gadis dusun.
Maka itulah, sesudah memikir sejenak, ia lantas saja
berkata dengan sikap kemalu-maluan.
“Sesudah ditebak Popo, aku tahu tidak boleh berdusta
lagi. Dia itu, Goe koko kawan mainku sedari kecil. Sebab
dia miskin, ayah tidak mufakat aku menikah dengannya.
Melihat aku mau bunuh diri, ibu lantas menyuruh aku…
2437
aku lari mengikut dia. Kata ibu, sesudah lewat satu atau
dua tahun, sesudah kami mempunyai anak, kami baru
boleh pulang. Di waktu itu, mungkin ayah sudah berubah
pikiran. Sambil berkata begitu, dengan sorot mata
mencintai, beberapa kali ia melirih Boe Kie. Sesudah
berdiam sejenak, ia berkata pula. “Di kota raja keluargaku
mempunyai muka. Ayah bekerja sebagai pembesar negeri.
Apabila kami kena ditangkap, celakalah kami! Maka itu,
sesudah aku bicara terus terang, mohon Popo tidak
membuka rahasia kepada siapapun juga.”
Si nenek tertawa terbahak-bahak dan manggutmanggutkan
kepalanya. “Aku sendiri pernah muda,”
katanya. “Kau jangan kuatir! Aku akan menyerahkan
kamarku kepada kamu berdua. Tempat ini terpisah ribuan li
dari kota raja dan aku tanggung tidak ada manusia yang
akan berani ganggu kamu. Andai kata ada orang berani
main api, Popo tentu tidak berpeluk tangan.”
Melihat Tio Beng yang cantik dan lemah lembut sudah
lantas membuka rahasianya sendiri, hati si nenek jadi girang
dan ia segera mengambil keputusan untuk membantu kedua
orang muda itu.
Di lain pihak, Tio Beng makin tetap dugaannya, bahwa
mereka itu seorang Rimba Persilatan. Tempat itu sangat
berdekatan dengan Siauw lim sie dan belum diketahui, apa
dia itu musuh atau sahabat Seng Koen, sehingga si nona
merasa bahwa ia harus lebih berhati-hati. Ia lantas saja
menyoja dan berkata, “Terima kasih banyak atas kebaikan
dan bantuan Popo. Goe koko, mari! Lekas haturkan terima
kasih kepada Popo!”
Boe Kie segera mendekati dan menyoja.
Malam itu si nenek benar-benar menyerahkan kamarnya
kepada Boe Kie dan Tio Beng. Ia sendiri membuat
2438
semacam dipan di ruangan tengah dengan menggunakan
beberapa lembar papan dan mengalaskannya dengan
selembar tikar.
Di dalam kamar Tio Beng menceritakan pembicaraannya
dengan si nenek kepada Boe Kie.
Boe Kie manggut-manggutkan kepalanya. “Kakek yang
menyiram sayur memiliki kepandaian lebih tinggi,”
katanya. “Apa kau tak lihat?”
“Ah… aku benar-benar tak dapat lihat.”
“Tadi dia memikul air. Tindakannya sangat cepat tapi
airnya sama sekali tidak bergoyang. Inilah bukti dari
lweekang yang sangat tinggi.”
“Bagaimana kalau dibandingkan kau?”
“Aku mau coba.” Sehabis berkata begitu, Boe Kie
mengangkat tubuh si nona yang lalu bergaya seperti orang
memikul air.
Tio Beng tertawa geli. “Gila kau! Aku tahang air?”
bentaknya dengan rasa bahagia.
Mendengar senda gurau, rasa curiga si nenek lantas
hilang sama sekali.
Malam itu Boe Kie dan Tio Beng makan bersama-sama
kakek dan nenek itu. Makannya cukup baik, ada daging dan
sayur. Selama makan Boe Kie dan Tio Beng terus bercanda
dan memperlihatkan rasa cinta mereka, sebagaimana
biasanya pengantin baru. Si nenek tersenyum-senyum, tapi
si kakek tidak menghiraukan dan terus makan sambil
menundukkan kepala.
Sesudah makan dan beromong-omong sebentar, Boe Kie
dan Tio Beng masuk ke kamar dan memalang pintu.
Dengan muka kemerah-merahan, Tio Beng berbisik.
2439
“Kita hanya bersandiwara, bukan sungguhan.”
Boe Kie lantas memeluknya erat-erat dan berkata dengan
suara perlahan. “Kalau tidak sungguhan, dalam dua atau
tiga tahun, cara bagaimana kita bisa mendapatkan anak?”
“Fui!” bentak si nona. “Kau tentu mencuri dengar
pembicaraanku!” Sehabis berkata begitu, ia menundukkan
kepala dengan sikap kemalu-maluan.
Dalam keadaan itu sebagai seorang ksatria Boe Kie dapat
menguasai dirinya. Ingat, bahwa dengan Cioe Cie Jiak, ia
sudah mengikat janji itu mesti dipenuhi. Nanti sesudah
menikah dengan nona Cioe, pikirnya, barulah ia boleh
mengurus persoalan nona Tio. Sesudah beromong-omong
lagi beberapa lama, ia segera mempersilahkan Tio Beng
tidur, sedang ia sendiri bersila di kursi dan mengerahkan
Kioe yang Cin khie. Tak lama kemudian ia tertidur.
Tio Beng tidak bisa lantas pulas. Lama ia bergulak gulik
di ranjang. Kira-kira tengah malam, dalam keadaan
setengah tidur, tiba-tiba kupingnya dengar suara tindakan
kaki yang datang dari tempat jauh. Tindakan itu cepat luar
biasa dan dalam sekejap sudah tiba di pintu luar. Ia
melompat dan menyentuh tangan Boe Kie. Pemuda itu
ternyata sudah tersadar dan mencekal tangannya.
Dalam saat itu terdengar suara seorang yang sangat
nyaring. “Suami isteri Touw – selamat bertemu! Malam
malam kami datang berkunjung. Apakah kunjungan ini
dianggap tak pantas?”
“Apa Ceng hay Sam kiam?” tanya si nenek. “Dari Coan
see (Soecoen barat) kami menyembunyikan diri di tempat
ini. Dengan berbuat begitu, kami sudah mengunjuk rasa
takut terhadap Ceng hay Giok ciu koan. Mengapa kalian
mendesak sampai begitu keras?”
2440
Tamu itu tertawa terbahak-bahak. “Kalau benar-benar
kalian takut, berlututlah tiga kali di hadapan kami dan kami
akan mencoret semua hutang lama,” katanya.
Sekonyong-konyong terdengar suara dibukakannya
pintu. “Masuklah!” kata si nenek.
Boe Kie dan Tio Beng mengintip dari celah-celah papan
dan dengan bantuan sinar rembulan mereka lihat tiga toojin
(imam) yang berdiri di ambang pintu.
Toojin yang berdiri di tengah-tengah seorang katai
gemuk dengan berewok pendek lantas saja bertanya. “Apa
kalian mau meminta ampun dengan berlutut atau
membereskan persoalan ini dengan senjata?”
Sebelum si nenek menjawab, suaminya keluar dengan
tulang tulang dalam tubuhnya memperdengarkan suara
peratak perotok, suatu tanda bahwa dia memiliki lweekang
yang luar biasa. Ia lantas berdiri di samping isterinya seraya
mengawasi ketiga imam itu dengan mata tajam.
“Touw loosianseng,” kata si berewok, “mengapa kau
tidak mengeluarkan sepatah kata? Apa kau merasa
derajatmu terlalu tinggi untuk beromong-omong dengan
Ceng hay Sam kiam?”
“Suamiku tuli,” kata si nenek.
Si berewok mengeluarkan seruan tertahan, “Ilmu Thia
hong Pan kee (membedakan senjata rahasia dengan
mendengar sambaran anginnya) dari Touw Loosianseng
amat terkenal dalam Rimba Persilatan,” katanya.
“Mengapa Loosianseng bisa jadi tuli? Sungguh sayang!”
Toojin yang berbadan lebih gemuk dari si berewok lantas
saja menghunus pedang dan berkata, “Mengapa kalian
tidak mengeluarkan senjata?”
2441
Si nenek mengangkat kedua tangannya dan ternyata
pada setiap telapak tangan terdapat tiga batang golok yang
panjangnya belum cukup setengah kaki. Hampir berbareng
si kakek juga mengangkat kedua tangannya dan iapun
memegang enam golok pedang yang berukuran sama, tiga
batang di saban tangan. Di lain saat golok itu saling
berpindah tangan yang di tangan kanan pindah ke tangan
kiri dan yang di tangan kiri pindah ke tangan kanan. Cara
pemindahan itu menakjubkan dan memperlihatkan suatu
hasil dari latihan yang lama dan sungguh sungguh.
Melihat senjata yang aneh itu ketiga toojin terkejut.
Dalam Rimba Persilatan belum pernah ada senjata begitu.
Mau dikata golok terbang (hoetoo), cara menggunakannya
bukan menggunakan golok terbang.
Siapa pasangan tua itu?
Kakek yang tuli dan gagu itu seorang she Touw bernama
Pek Tong dan dengan senjata Siang kauw (sepasang gaetan)
ia telah mendapat nama besar di Soecoan barat. Isterinya
yang bernama Ek Sam Nio mahir dalam menggunakan
tombak. Banyak tahun yang lalu mereka bermusuhan
dengan Giokcit koan di Ceng pay. Karena harus
menghadapi musuh yang berjumlah banyak lebih besar dan
juga sebab bibit permusuhan sebenarnya hanya soal yang
remeh, maka mereka belakangan mengambil keputusan
untuk meninggalkan Soecoan dan berpindah ke tempat lain.
Di luar dugaan biarpun sudah berada di tempat jauh,
malam ini mereka disusul oleh musuh-musuh lama itu.
Ketiga imam itu adalah murid turunan kedua dari Giok
cin koan. Yang berewokan bernama In Ho, yang gemuk Ma
Hoat Thong, sedang yang ketiga yang bertubuh kecil kurus
bernama In Yan. Mereka menggunakan pedang dan
mendapat julukan sebagai “Ceng hay Sam kiam” (tiga jago
pedang dari Ceng hay).
2442
Biarpun berbadan gemuk dan gerak geriknya kelihatan
tidak begitu gesit, Ma Hoat Thong sangat berakal budi.
Melihat suami isteri Touw menggunakan golok golok
pendek dan tidak menggunakan lagi senjata mereka yang
lama, ia lantas saja mengetahui bahwa keduabelas golok
pendek itu tentu mempunyai kelihayan yang luar biasa.
Maka itu, ia lantas saja berseru, “Sam Cay-kiam tin Thian
tee jin (Samcay) kiam tin – barisan pedang Sam cay kiam.
Thian tee-jin – langit, bumi, manusia yang dikenal sebagai
Sam kay.
“Tian swee seng cie Coet giok cin!” menyambung In Ho.
(Tan swee seng cie Coet giok cin – kilat menyusul bintang,
keluar dari Giok cin koan).
Dengan serentak ketiga imam itu bergerak mengurung
suami isteri Touw.
Boe Kie memperhatikan “tin” itu dengan perasaan
sangsi. Tiga toojin itu tak henti2nya saling menukar tempat
dan tiga batang pedang seolah-olah merupakan selembar
jala yang bersinar putih. Sesudah mengawasi beberapa saat
ia lantas dapat menebak intisari daripada barisan itu.
“Kurang ajar!” pikirnya, “ketiga imam itu benar-benar licik.
Mereka menggunakan Sam cay kiam tin, tapi sebenarnya di
dalam tin mengandung Ngo-heng. Kalau musuh percaya
bahwa tin itu Sam cay kiam tin dan coba memecahkannya
dengan mengambil kedudukannya Thian tee jin, maka dia
lantas bisa celaka dalam kepungan Ngo heng, tapi memang
bukan gampang untuk tiga orang menciptakan Ngo heng
kiam tin, sebab setiap orang harus menduduki lebih dari
satu kedudukan. Ilmu ringan badan dan kiam hoat mereka
memang sudah cukup tinggi.” (Ngo heng kiam tin – barisan
dari Ngo heng).
Suami isteri Touw lantas saja berdiri saling
membelakangi dan kedua belas batang golok itu segera
2443
bergerak-gerak di seputar badan mereka. Dengan cara yang
mengagumkan, golok-golok itu bertukar tangan. Golok
Touw Pek Tong diserahkan kepada Ek Sam Nio dan
sebaliknya. Dalam tukar menukar, mereka bukan
melemparkan tetapi menyodorkan dari satu ke lain tangan.
Tio Beng heran. “Boe Kie Koko, ilmu apa itu?” tanyanya
dengan berbisik.
Boe Kie tidak lantas menyahut. Ia terus mengawasi
dengan alis berkerut. Tiba-tiba ia berkata. “Ah! Sekarang
kutahu! Dia takut akan Bay coe hauw Giehoe” (Bay coe
hauw – Geram singa).
“Apa itu Say coe hauw?” tanya Tio Beng.
Boe Kie tidak menyahut. Ia manggut2 kan kepalanya, ia
tertawa dingin dan berkata. “Hmm dengan kepandaian itu
mereka ingin membunuh singa?”
Si nona jadi lebih tidak mengerti. “Eh… tolol!” katanya
dengan mendongkol. “Mengapa kau bicara sendirian?”
”Kelima orang itu adalah musuh2nya Giehoe,” bisik Boe
Kie. “Karena takut akan Saycoe hauw Giehoe, si tua sudah
merusak kupingnya sendiri.”
Sementara itu pertempuran sudah berlangsung dan
bentrokan senjata terdengar tak henti-hentinya.
Lima kali Ceng hay Sam kiam menyerang, lima kali
mereka dipukul mundur. Dua belas golok pendek yang
dioper dari satu ke lain tangan berputar terus menerus dan
di bawah sinar rembulan, tiga helai sinar putih mengelilingi
tubuh suami isteri Touw. Garis pembelaan itu rapat dan
padat.
Selang beberapa saat, tiba-tiba Touw Pek Tong
membuka serangan bagaikan kilat golok pendek
2444
menyambar kempungan Ma Hoat Thong. Dalam ilmu silat
terdapat kata kata begini, “Panjang satu cun (dim),
kekuatan satu cun. Pendek satu cun, bahaya satu cun.”
Golok Touw Pek Thong hanya kira-kira lima cun, maka
dapatlah dibayangkan hebatnya bahaya serangan itu. Tiga
kali ia melakukan serangan yang membinasakan tanpa
memperdulikan pembalasan pada diri sendiri. In Ho dan In
Ya balas menyerang tapi serangan serangan itu ditangkis
oleh Ek Sam Nio. Ilmu golok suami isteri itu ternyata
berdasarkan kerjasama yang sangat erat, yang satu
menyerang, yang lain membela. Yang menyerang boleh tak
menghiraukan pembalasan atas dirinya sendiri. Diserang
cara begitu, Ma Hoat Thong repot bukan main. Touw Pek
Tong terus mendesak, kian lama serangan kian hebat.
Sekonyong-konyong, sambil bersiul nyaring In Ho
mengubah cara bersilatnya. In Ya dan Mo Hoat Thong
pung mengikuti perubahan itu dan mereka bertiga membuat
sehelai jala pedang yang sedemikian rapat, sehingga
andaikata mereka disiram air, air itu tak akan kena di badan
mereka.
Boe Kie tertawa dingin dan berbisik. “Ilmu golok dan
ilmu pedang itu semuanya dilatih untuk menghadapi Gie
hoe. Lihatlah! Mereka lebih banyak membela diri daripada
menyerang. Berkelahi cara begini sampai besok tidak akan
ada keputusannya.” Benar saja sesudah serangan
serangannya gagal, Touw Pek Tong juga mengubah siasat
dan sekarang dia hanya membela diri.
Sesudah memperhatikan beberapa lama, Tio Beng pun
mendapat lihat bahwa serangan2 kelima orang itu biasa saja
dan yang istimewa adalah pembelaan mereka. “Boe Kie
koko,” bisiknya. “Kim mo say ong Cia Tayhiapo
berkepandaian sangat tinggi. Dengan ilmu silat itu, mana
bisa mereka memperoleh kemenangan?”
2445
Sesudah lewat tujuh delapan jurus lagi, tiba-tiba sambil
melompat keluar dari gelanggang, Ma Hoat Thong berseru.
“Tahan!” Touw Pek Thong melompat ke belakang dan
berdiri tegak sambil mengawasi lawannya.
“Apakah to hoat (ilmu golok) kalian dilatih untuk
membunuh singa?” tanya Ma Hoat Thong.
Ek Sam Nio kaget, “Kupingmu terang sekali,” jawabnya.
“Saudara Touw Loosianseng dibunuh Cia Soen dan sakit
hati itu memang tidak bisa tak dibalas,” kata Ma Hoat
Thong. “Sesudah kalian mendapat tahu bahwa Cia Soen
berada di Siauw liem sie, mengapa kalian tidak coba
membereskan persoalan itu terlebih siang?”
“Urusan itu urusan kami berdua,” jawab Ek Sam Nio.
“Tootiang boleh tak usah turut memikiri.”
“Ganjelan antara Giok cin koan dan kalian berdua
adalah urusan kecil,” kata Ma Hoat Thong. “Perlu apa kita
mengadu jiwa? Bukankah lebih baik jika kita bersahabat
dan bersama sama mencari Cia Soen?”
“Apa Giok cin koan juga bermusuhan dnegan Cia
Soen?” tanya Ek Sam Nio.
“Tidak, bermusuhan memang tidak.”
“Kalau tidak bermusuhan, mengapa kalian melatih diri
dalam kiamhoat yang istimewa itu? Kalau tidak salah kiam
hoat kalian dan to hoat kami bertujuan sama, yaitu untuk
melawan pukulan Cit siang koen.”
“Sam Nio mempunyai mata yang sangat tajam! Kini
kami tidak perlu menyembunyikan suatu apa lagi. Maksud
kami ialah meminjam To liong to.”
Nyonya Touw manggut2kan kepalanya dan dengan jari
tangannya lalu menulis beberapa huruf di telapak tangan
2446
suaminya. Sebagai jawaban, Touw Pek Tong pun menulis
huruf-huruf di telapak tangan isterinya. Sesudah “berbicara”
dengan tulisan, si nenek berkata. “Tujuan kami berdua ialah
membalas sakit hati. Untuk itu kami rela membuang jiwa.
Terhadap To liong to, sedikitpun kami tak punya minat.”
“Bagus!” kata Ma Hoat Thong dengan girang. “Sekarang
sebaiknya kita berlima berserikat untuk mencapai tujuan
kita – kalian membalas sakit hati dan kami meminjam golok
mustika. Dengan demikian, kita mendapat dua keuntungan,
yaitu hasil yang dikejar dan persahabatan.”
Semua orang setuju. Mereka berlima lalu mengangkat
tangan dan mengucapkan sumpah perserikatan.
Sesudah bersumpah, suami isteri Touw lalu mengundang
ketiga tamunya masuk ke rumahnya untuk minum teh dan
merundingkan rencana tindakan mereka.
Sesudah duduk di ruangan tengah, melihat pintu kamar
tidur tertutup, Ceng hay Sam kiam merasa curiga dan
menengok beberapa kali.
“Sam wie tak usah bercuriga,” kata Ek Sam Nio sambil
tertawa. “Yang tidur di situ adalah sepasang suami isteri
muda yang kabur dari rumah mereka di kota raja. Yang
perempuan cantik bagaikan dewi, yang lelaki seorang
pemuda kasar yang tak tahu ilmu silat.”
Ma Hoat Thong adalah seorang yang sangat berhati-hati.
“Sam Nio jangan gusar,” katanya. “Bukan aku tidak
percaya, tapi sebab urusan ini urusan sangat besar, maka
jangan sampai bocor.”
Si nenek tertawa, “Kita bertempur begitu lama dan
mereka terus tidur seperti bangkai,” katanya. “Kalau tak
percaya Ma Tooya boleh lihat sendiri.” Sehabis berkata
begitu ia berbangkit dan menolak pintu, tapi pintu dipalang
2447
dari dalam.
Boe Kie tahu, apabila rahasianya bocor, kesempatan
untuk menolong ayah angkatnya akan menjadi hilang.
Buru-buru ia membuka sepatu, naik ke ranjang dan
menyelimuti dirinya.
Di lain saat terdengar suara “krek” dan palang pintu
patah didorong In Ho. Ek Sam Nio masuk paling dulu
dengan membawa ciak-tay (tempat menancap lilin) diikuti
oleh Ceng hay Sam kiam.
Dengan mata dan paras muka seperti orang yang baru
tersadar, Boe Kie mengawasi si nenek. Tiba-tiba Ma Hoat
Thong menghunus pedang dan menikam tenggorokan Boe
Kie. Tikaman itu menyambar bagaikan kilat.
Boe Kie mengeluarkan teriakan kaget. Sebaliknya dari
berkelit, dengan lagak bingung ia coba bangun, sehingga
tenggorokannya seolah olah memapaki ujung pedang. Buruburu
Ma Hoat Thong menarik pulang senjatanya. Ia tak
pernah mimpi bahwa kepandaian pemuda itu sepuluh kali
lipat lebih tinggi daripada kemampuannya dan bahwa,
andaikata ia benar-benar mempunyai niatan jahat iapun tak
akan bisa mencelakai Boe Kie. Tio Beng hanya
mengeluarkan suara seperti orang mengigau dan terus tidur.
“Sam Nio tak salah,” kata In Ho. “Mari kita keluar.”
Mereka lantas kembali ke ruangan tengah.
Boe Kie segera melompat turun dari ranjang, memakai
sepatunya dan mengintip pula.
“Apakah kalian sudah menyelidiki pasti bahwa Cia Soen
berada di Siauw lim sie?” tanya Mo Hoat Tong.
“Siauw lim pay telah mengirim surat undangan kepada
berbagai orang gagah untuk menghadiri To say Tay hwee
pada hari perayaan Toan ngo. Apabila Cia Soen belum
2448
tertangkap mereka tentu tak akan berbuat begitu.”
Ma Hoat Thong mengangguk. “Kong kian Seng ceng
telah dibinasakan oleh Cia Soen,” katanya. “Semua murid
Siauw lim sie bertekat untuk membalas sakit hati.
Sebenarnya kalian berdua tak usah banyak capai. Kalian
hanya perlu menghadiri pertemuan itu dan menyaksikan
kebinasaan Cia Soen. Tanpa mengangkat tangan, sakit hati
kalian sudah terbalas. Perlu apa Touw loosianseng merusak
kuping sendiri dan menempuh bahaya besar?”
Ek Sam Nio tertawa dingin.
“Hm… ! Kalian tak tahu bahwa anak lelaki tunggal
kami, tanpa sebab, tanpa lantaran, sudah dibunuh Cia
Soen,” katanya dengan suara parau. “Sakit hati sedalam
lautan, untuk membalas sakit hati itu, mana bisa kami
hanya memainkan peranan sebagai penonton? Begitu
bertemu dengan bangsat she Cia itu, aku akan tusuk kedua
kupingnya dan kami berdua rela untuk binasa bersama
sama dia. Huh.. huh!... untuk membalas sakit hati itu, kami
tak memperdulikan segala akibatnya. Kami tidak
menghiraukan kalau kami mesti melanggar Siauw lim pay,
Boe tong pay atau pay apapun juga.”
Mendengar keterangan itu, Boe Kie bergidik. “Karena
perbuatan Seng Koen Giehoe melampiaskan amarahnya
kepada orang-orang yang tidak berdosa,” pikirnya. Suami
isteri Touw kelihatannya bukan orang jahat. Tapi sakit hati
mereka sudah pasti tak akan bisa didamaikan. Hai!.... jalan
satu-satunya bagiku adalah menolong Giehoe dan
membawanya ke tempat jauh, supaya permusuhan tidak
bertambah hebat.”
Sesudah itu Boe Kie tak dengar suara apa apa lagi. Ia
mengintip dari sela sela papan dan mendapat kenyataan
bahwa suami isteri Touw dan ketiga tamunya bicara dengan
2449
menulis huruf huruf di meja dengan menggunakan air the.
“Mereka sungguh berhati-hati,” katanya dalam hati.
“Giehoe banyak musuhnya dan To liong to mempunyai
daya tarik yang sangat hebat. Dilihat gelagatnya, sebelum
Toan ngo Siauw lim sie bakal disatroni oleh banyak orang
pandai. Kalau penjagaan kurang kuat, Giehoe bisa mati
konyol. Aku harus mencoba menolong secepat mungkin.”
Sebab tidak bisa mengorek rahasia lagi, Boe Kie lantas
tidur. Pada keesokan paginya, Ceng hay Sam kiam sudah
berlalu. “Popo,” kata Boe Kie kepada si nenek. “Semalam
mengapa ketiga tooya itu masuk ke kamar dengan golok
terhunus? Aku takut setengah mati dan menduga mereka
datang untuk menangkap kami.”
Mendengar Boe Kie menamakan pedang sebagai golok si
nenek tertawa di dalam hatinya. “Mereka nyasar dan
sesudah minum teh, mereka berlalu,” jawabnya. “Can
Siauwko, sesudah tengah hari kami ingin membawa tiga
pikul kayu bakar ke kuil Siauw lim sie untuk dijual.
Bolehkah kau membantu kami? Kepada para pendeta kami
akan mengaku kau sebagai anak supaya mereka tidak
curiga. Isterimu sangat cantik, sebaiknya menunggu saja di
rumah.”
Boe Kie mengerti bahwa kedua orang itu mau
menyelidiki keadaan Siauw lim sie. Ia girang dan lantas
menyahut, “Aku akan menurut semua perintah Popo
harapanku yang satu satunya Popo suka menerima kami
menumpang di sini. Kami sudah lelah berlarian kesana
sini.”
Lohor itu Boe Kie mengikuti suami isteri Touw, dengan
masing-masing memikul satu pikul kayu bakar. Boe Kie
memakai tudung besar, kasur rumput dan di pinggangnya
terselip kapak pendek. Selagi mereka berangkat, Tio Beng
2450
berdiri di ambang pintu sambil tersenyum.
Mereka berjalan perlahan lahan dan berlagak tersengalsengal.
Setibanya di pendopo di luar kuil Siauw lim sie,
mereka berhenti mengaso. Di pendopo itu terdapat dua
orang yang mengawasi mereka dengan sikap acuh tak acuh.
Ek Sam Nio membuka bungkusan kepala yang terbuat dari
kain kasar dan menggunakan untuk menyusut keringat,
sesudah itu ia menyusut keringat Boe Kie. “Nak, apa kau
sudah capai?” tanyanya.
Waktu keringatnya disusuti, Boe Kie merasa agak
jengah. Tapi begitu mendengar suara si nenek, jantungnya
memukul keras. Itulah suara yang bernada rasa cinta dan
yang keluar dari hati setulusnya. Ia melirik dan melihat air
mata yang berlinang-linang di kedua mata si nenek. Ia tahu,
bahwa orang tua itu ingat anaknya sendiri, yang telah
dibunuh Cia Soen. Sesudah menanya nenak itu mengawasi
Boe Kie dengan sorot mata meminta jawabah. Boe Kie tak
tega dan segera menjawab dengan suara lemah lembut.
“Ibu, aku tidak capai. Kau sendirilah yang sudah capai.”
Begitu mendengar perkataan “Ibu” air mata si nenek
lantas mengucur. Buru buru ia menyusut mukanya. Touw
Pek Tong lantas saja bangun dan memikul pikulannya.
Sambil mengulapkan tangan kirinya, ia lantas bertindak
keluar dari pendopo itu. Ia tahu, bahwa isterinya bersedih
dan kalau mereka berdiam lama lama, kedua pendeta itu
bisa bercuriga. Sebelum berangkat, Boe Kie menghampiri
pikulan si nenek dan menaruhnya di pikulannya sendiri.
“Ibu, mari!” katanya.
Melihat kecintaan Boe Kie, Ek Sam Nio jadi makin
sedih. “Jika puteraku masih hidup, kemungkinan dia lebih
tua daripada pemuda ini,” pikirnya. “Mungkin sekarang
aku sudah mengempo cucu. Sambil mikir begitu, ia segera
memikul pikulannya. Karena berduka, tindakannya agak
2451
limbung dan Boe Kie yang melihat itu lantas saja kembali
dan menuntun tangan si nenek.
”Anak itu sangat berbakti,” kata salah seorang pendeta.
“Popo apa kamu mau bawa kayu itu ke Siauw lim sie?”
seru pendeta yang lain. “Sedari beberapa hari berselang,
Hong thio telah mengeluarkan peraturan bahwa orang luar
tidak boleh datang ke kuil. Sebaiknya kau jangan pergi!”
Ek Sam Nio terkejut. Kalau mereka tidak bisa masuk
dengan menyamar, penjagaan Siauw lim sie yang sangat
kuat sukar ditembus. Sementara itu, melihat isterinya dan
Boe Kie berhenti, Touw Pek Tong yang sudah berjalan
lebih dahulu juga turut berhenti.
“Mereka keluarga baik,” kata pendeta yang pertama.
“Ibu mencintai anak, anak berbakti kepada ibunya. Kita
patut menolong. Soetee, ajaklah mereka ke dapur. Kalau
diketahui pengawas, katakan saja penduduk dusun sini yang
biasa menjual kayu bakar.”
“Baiklah,” jawabnya. Ia lalu membawa suami isteri
Tauw dan Boe Kie ke dapur dengan masuk dari pintu
belakang. Sesudah tiga pikul kayu bakar itu dimasukkan ke
gudang dan harganya dibayar oleh hweesio pengurus dapur,
Ek Sam Nio berkata. “Kami menanam piecay yang sangat
bagus. Besok aku akan suruh A Goe membawa beberapa
kati untuk para soehoe, sebagai pernyataan terima kasih
kami.”
Pendeta yang mengantar mereka tertawa dan
menggelengkan kepalanya. “Tak bisa,” katanya. “Mulai
besok, siapapun jua tak boleh masuk di sini. Kalau
ketahuan aku bisa celaka.”
Pendeta pengawas dapur mengawasi Boe Kie dan tibatiba
ia berkata. “Selama perayaan Toan ngo, kita bakal
2452
menerima kira-kira seribu tamu. Kita akan sangat repot,
masak, pikul air, bacok kayu bakar dan sebagainya. Kulihat
saudara ini bertubuh kuat. Apa kau mau bantu di sini
selama dua bulan? Setiap bulan kau akan menerima lima
tahil perak.”
Ek Sam Nio girang. “Bagus!” katanya. “A Goe, di
rumah tidak ada kerjaan penting. Kalau kau bisa bekerja di
sini dan mendapat beberapa tahil perak, kau bisa membantu
ongkos rumah tangga.”
Boe Kie bersangsi. Di antara tokoh tokoh Siauw lim sie
banyak yang mengenal dia. Kalau salah seorang datang ke
dapur, ia bisa dikenali. Maka itu ia lantas berkata, “Ibu…
isteriku…”
Si nenek tidak menyia nyiakan kesempatan yang begitu
baik, ia segera berkata, “Apa kau takut aku aniaya isterimu?
Turutlah perkataanku. Kau berdiam di sini dan bekerja
baik2. Beberapa hari lagi ibu dan isterimu akan menengok
kau. Hm!... kau sudah begitu besar, tapi masih belum
ketinggalan ibu. Apa kau masih menetek?” Setelah berkata
begitu, sambil membereskan rambutnya, ia mengawasi Boe
Kie dengan sorot mata penuh kecintaan.
Dalam menghadapi pertemuan orang2 gagah, sudah
banyak hari pendeta pengurus dapur merasa jengkel.
Pekerjaan mempersiapkan makanan dan minuman untuk
begitu banyak orang bukan pekerjaan enteng. Pendeta
pengawas kuil sudah mengirim banyak pembantu, tapi
semua tidak memuaskan. Pendeta-pendeta Siaulw lim pay
kalau bukan mempelajari kitab-kitab suci tentu belajar ilmu
silat. Pekerjaan di dapur tak ada yang suka. Orang-orang
yang dikirim oleh pengawas pergi ke dapur dengan
perasaan mendongkol, mereka di dapur tidak mau bekerja.
Apabila tingkatannya lebih tinggi daripada pengurus dapur,
mereka lebih-lebih sungkan diperintah. Itulah sebabnya
2453
mengapa pengurus dapur itu bertekad untuk mendapat
bantuan Boe Kie yang kelihatannya kuat dan rajin. Ia lalu
membujuk berulang2.
Sebenarnya, sesudah memperhitungkan untung ruginya,
tawaran itu menggirangkan Boe Kie. Tapi sengaja ia
mengunjuk lagak sangsi. Sesudah pendeta yang
mengantarkannya turut membujuk, barulah ia mengiakan
dengan tawaran. “Soehoe,” katanya. “Kalau aku bisa minta
enam tahil perak sebulan, lima tahil untuk ibu dan setahil
untuk isteriku membeli pakaian…”
Pengurus dapur tertawa terbahak-bahak. “Baiklah! Enam
tahil perak sebulan!”
Sesudah memberi pesanan berulang-ulang supaya Boe
Kie bekerja baik-baik, barulah bersama suaminya, Ek Sam
Nio turun gunung.
Atas pertanyaan Boe Kie, pendeta pengurus dapur
memberitahukan bahwa nama sebagai seorang pendeta
adalah Hoei cie. Mulai hari itu, Boe Kie melakukan ruparupa
pekerjaan kasar, seperti bacok kayu, ambil arang,
nyalakan api, pikul air dan sebagainya. Ia sengaja
menghitamkan mukanya, sehingga waktu berkaca di air, ia
sendiri tidak mengenalinya.
Malam itu, bersama lain-lain pekerja dia tidur di sebuah
rumah kecil di samping dapur. Ia tahu bahwa Siauw lim sie
sarang harimau dan di antara pendeta-pendeta yang
berkedudukan rendah kadang-kadang terdapat orang yang
berkepandaian tinggi. Maka itu, ia sangat ber-hati2 setiap
gerak geriknya. Selama kurang lebih seminggu, dua kali Ek
Sam Nio dan Tio Beng menyambanginya. Ia bekerja keras,
dari pagi sampai malam dan tidak pernah menampik
pekerjaan apapun juga, sehingga pengurus dapur sangat
menyayanginya. Iapun bergaul rapat dengan semua kawan.
2454
Tapi mereka tidak berani menanya ini atau itu yang
bersangkut paut dengan Cia Soen. Ia hanya memasang
kuping dan mata. Ia berpendapat bahwa manakala ayah
angkatnya berada di Siauw lim sie, orang tentu harus
mengantarkan makanan. Kalau tugas mengantarkan
makanan diberikan kepadanya, ia akan bisa tahu dimana
ayah angkatnya dikurung. Tapi sesudah bersabar beberapa
hari, ia belum juga menemukan sesuatu yang memberi
harapan.
Pada hari kesembilan, selagi tidur lapat-lapat Boe Kie
mendengar bentak-bentakan. Perlahan-lahan ia bangun dan
sesudah mendapat kepastian, bahwa semua kawannya
sedang tidur pulas, ia segera pergi ke arah suara itu dengan
menggunakan ilmu mengentengkan badan. Ia sangat
berhati-hati. Saban-saban ia melompat naik ke pohon besar
dan memperhatikan keadaan di seputarnya. Sesudah
mendapat kepastian bahwa di sekitar tempat itu tidak ada
manusianya, barulah ia berani maju dan kemudian naik lagi
ke atas lain pohon. Tak lama kemudian ia sudah lihat satu
pertempuran yang dilakukan oleh beberapa orang. Ia segera
bersembunyi di belakang pohon dan memperhatikan
pertempuran itu. Karena berada di hutan yang gelap, ia tak
bisa lihat mukanya orang-orang yang berkelahi. Ia hanya
lihat berkelebat-kelebatnya senjata dan enam orang yang
sedang bertempur, dengan masing-masing pihak terdiri dari
tiga orang. Selang beberapa saat ia mengenali bahwa pihak
yang satu itu adalah Ceng hay Sam kiam yang ketika itu
sedang membela diri dengan Sam cay tin palsu. “Tin” itu
sangat rapat, tapi ketiga pendeta Siauw lim yang bersenjata
golok ternyata memiliki kepandaian tinggi dan terus
merangsek dengan hebatnya. Tak lama kemudian, salah
seorang dari Ceng hay Sam kiam roboh terbacok. Begitu
lekas “tin” itu pecah, pembelaan diri dari dua orang yang
masih hidup lantas kalang kabut. Selang beberapa jurus
2455
terdengar teriakan menyayat hati dan seorang pula roboh
terguling. Didengar dari suaranya, yang roboh itu ialah Ma
Hoat Thong. Orang yang terakhir, yang lengannya sudah
terluka, terus melawan secara nekat.
Tiba-tiba salah seorang pendeta membentak. “Tahan!”
Anggota Ceng hay Sam kiam yang masih hidup itu yaitu In
Ho tetap dikurung, tapi serangan segera dihentikan. “Cang
hay Giok cin koan dengan Siauw lim sie sama sekali tidak
bermusuhan,” kata seorang pendeta tua. Mengapa kamu
menyatroni kuil kami di tengah malam?”
“Sesudah kami kalah, perlu apa banyak bicara lagi?” kata
In Ho dengan suara parau.
Pendeta tua itu tertawa dingin. “Kamu datang untuk Cia
Soen atau untuk To liong to?” tanyanya pula. “Aku belum
pernah dengar, bahwa Giok cin koan bermusuhan dengan
Cia Soen. Huh huh!... kamu tentu datang untuk merebut To
liong to. Dengan kepandaian yang tidak berarti itu, kamu
berani menyatroni kuil kami. Selama seribu tahun lebih
Siauw lim sie, kuil kami ini telah memimpin Rimba
Persilatan. Aku tak nyana ada orang yang memandang
kami begitu rendah.”
Selagi dia bicara, mendadak In Ho menikam bagaikan
kilat. Pendeta itu berkelit, tapi tak urung pundak kirinya
tertikam juga. Dua kawannya lantas membacok dan In Ho
roboh binasa.
Tanpa mengeluarkan sepatah kata, ketiga pendeta itu
memanggul mayat Ceng hay Sam kiam dan kembali ke kuil.
Baru saja Boe Kie mau menguntit, tiba-tiba kupingnya
mendengar suara bernafasnya manusia. “Sungguh
berbahaya!” pikirnya. Ia tidak berani bergerak. Berselang
kira2 setengah jam, dari rumput2 tinggi barulah terdengar
suara tepukan tangan yang disambut oleh lain-lain tepukan.
2456
Di lain saat enam pendeta yang memegang macam-macam
senjata muncul dari tempat persembunyiannya. Mereka
balik ke kuil dengan berjalan dalam barisan yang berbentuk
kipas.
Sesudah mereka pergi jauh, Boe Kie kembali ke
pondokannya. Para pekerja dapur ternyata masih tidur
pulas. “Kalau bukan melihat dengan mata sendiri, aku tak
akan menduga bahwa dalam sekejap tiga orang gagah
sudah mengorbankan jiwanya,” pikirnya. Dengan adanya
pengalaman itu, ia lebih berhati-hati.
Beberapa hari lagi sudah lewat pertengahan bulan empat.
Hawa udara berubah hangat dan perayaan Toan ngo sudah
berada di ambang pintu. Hari lepas hari, Boe Kie
bertambah bingung. Kalau tidak berlaku nekad, aku tentu
tak akan bisa tahu dimana Giehoe dikurung,” pikirnya.
“Malam ini biar bagaimanapun juga, aku harus berani
menempuh bahaya.” Ia tahu, bahwa ilmu silatnya lebih
tinggi dari pendeta Siauw lim manapun juga. Tapi dengan
seorang diri, ia tak berdaya. Siauw lim sie sarang harimau
dan dengan kekerasan ia pasti takkan bisa menolong ayah
angkatnya. Jalan satu2nya ialah menggunakan tipu.
Malam itu kira2 tengah malam ia keluar dan melompat
ke atas genteng. Tiba-tiba dua bayangan hitam mendatangi
dari selatan ke utara. Buru-buru ia mendekam. Kedua
bayangan itu adalah pendeta Siauw lim yang meronda.
Sesudah peronda itu lewat, Boe Kie bergerak maju. Tapi
baru berjalan beberapa tombak, kupingnya mendadak
menangkap suara tindakan yang sangat enteng. Sekali lagi
ia menyembunyikan diri. Yang datang kali ini juga dua
peronda. Boe Kie mengerti bahwa penjagaan diperkeras
sebab para pemimpin Siauw lim sie tahu, kali ini kuilnya
bakal disatroni oleh banyak tokoh Rimba Persilatan.
Sesudah melihat penjagaan yang hebat itu, Boe Kie merasa
2457
bahwa jika ia maju terus, ia bakal dipergoki.
Tiga hari lewat.
Malam itu geledek bergemuruh, kilat menyambar
nyambar dan turunlah hujan yang sangat besar. Tak
kepalang girangnya Boe Kie. “Thian membantu aku!”
katanya di dalam hati.
Makin lama hujan makin besar. Langit gelap gulita.
Sesudah berdandan rapi, dengan tetap berhati-hati Boe Kie
pergi ke gedung sebelah depan. “Lo han tong, Tat mo tong,
Cong kek kok dan tempatnya Hong thio adalah tempattempat
penting,” pikirnya. Biarlah lebih dulu aku
menyelidiki di situ.”
Tapi Siauw lim sie besar. Ia tak tahu dimana Lo han
tong, dimana Cong kek kok. Indap indap ia maju, waktu
tiba di sebuah lorong sayup sayup ia ingat, bahwa ia pernah
berada disitu. Aha benar.. dulu waktu ia diajak Thio Sam
Hong datang di Siauw lim sie untuk meminta pelajaran
Siauw lim Kioe yang kang guna mengobati lukanya akibat
pukulan Hian beng Sin ciang, ia pernah lewat di lorong itu
dan sesudah membiluk ke kiri ia pergi ke kamar Seng koen
atau Goan tin. Sesudah berpikir sejenak, ia mengambil
keputusan untuk menyelidik kamar rahasia itu.
Perlahan-lahan ia maju sambil mengingat-ingat jalan
yang dulu dilewatinya. Sesudah melalui jalanan kecil yang
tertutup batu batu sebesar telur itik dan sesudah melewati
sebuah hutan-hutan bambu tibalah ia di depan kamar Seng
Koen.
Jantungnya memukul keras. Ia tahu Seng Koen
berkepandaian tinggi dan banyak akalnya. Jika rahasianya
bocor, kesudahannya tak dapat diramalkan. Ketika itu
pakaiannya basah kuyup. Sambil mengentengkan tubuhnya
ia menghampiri jendela dan memasang kuping. Di dalam
2458
terdengar suara orang. Dengan satu perkataan saja ia
mengenali bahwa yang bicara adalah Kong boen Taysoe,
Hong thio atau kepala kuil Siauw lim sie.
“Karena Kim mo Say ong, selama sebulan Siauw lim pay
sudah membinasakan dua puluh orang,” kata Kong boen.
Pada hakekatnya ini bukan cara cara agama kita yang
berdasarkan belas kasihan. Beng kauw Co soe Yo Siauw,
Yoe soe Han Yauw Peh bie Eng ong We It Siauw dengan
beruntun telah mengirim utusan untuk meminta supaya kita
melepaskan Cia Soen.”
Mendengar sampai disitu, Boe Kie merasa terhibur.
Sedikitpun ia mendapat tahu, bahwa tokoh tokoh Beng
kauw sudah bertindak.
Sesudah berdiam sejenak, Kong Boen berkata pula. “Kita
menolak, tapi Beng kauw tidak akan menyudahi dengan
begitu saja. Thio Kauwcoe berkepandaian sangat tinggi
sampai sekarang ia belum muncul. Kukuatir ia bekerja
dengan diam-diam.”
Aku dan Kong tie Soetee pernah ditolong olehnya dan
kami berhutang budi. Manakala ia sendiri meminta
bagaiman kita harus menjawabnya? Hari ini ketiga Soesiok
coba menanyakan Cia Soen tentang kebinasaan Kong kian
Soe heng. Tapi dia menutup mulut. Hal ini benar-benar
sukar. Soetee, Soetit, bagaimana pikiranmu?”
Seorang tua batuk-batuk beberapa kali. Sesudah itu ia
berkata, “Hong thio Soesiok terlalu banyak berkuatir.
Dengan dijaga ketiga Thay soesiok, Cia Soen tak akan bisa
lari dan tak akan bisa ditolong oleh siapapun juga. Eng
hiong Tay hwee bersangkut paut dengan nama baiknya
Siauw lim pay sebagai pemimpin Rimba Persilatan selama
ribuan tahun. Budi kecil dari pihak Mo-kauw, Hong thio
Soesiok tak usah terlalu pikiri. Apa pula dalam urusan itu
2459
sebenar benarnya secara menggelap Mo kauw telah
bersekutu dengan kerajaan Goan dalam usaha mencelakai
enam partai. Apa Hong thio Soesiok belum tahu kenyataan
itu?”
Boe Kie mengenali bahwa yang bicara adalah Seng koen
yang dikenal sebagai Goan tin (Thay Soesiok kakek paman
guru, Seng Koen murid Kong kian, sehingga Kong boen
dan Kong tie adalah paman gurunya. Thay Soesiok Seng
koen ialah tokoh tokoh Siauw lim pay yang tingkatannya
lebih atas daripada Kong kian Taysoe dan saudara saudara
seperguruannya).
“Cara bagaimana Beng kauw bisa bersekutu dengan
kerajaan?” tanya Kong boen dengan heran.
“Thio Kauwcoe sebenarnya harus nikah dengan Cioe
Kouwnio, Ciangboenjin Go bie pay,” Coan tin
menerangkan. “Pada hari pernikahan, Koencoe Nio nio
puteri Jie lam ong mendadak muncul dan kemudian kabur
bersama sama bocah she Thio itu. Kejadian ini
menggemparkan seluruh Kang ouw. Hong thio Soesiok
tentu sudah mendengarnya.”
“Benar, aku pernah dengar cerita itu,” kata Kong boen.
“Di antara jago jagoannya Koencoe Nio nio itu terdapat
orang yang dikenal sebagai Kouw Touwtoo,” kata pula
Goan tin. “Di Ban hoat-sie, Jie wie Soesiok tentu sudah
pernah bertemu dengan dia.”
“Hm!...” Kong tin mengeluarkan suara di hidung dengan
paras muka gusar. Ia rupa-rupanya ingat kejadian dahulu.
“Sesudah urusan di sini beres, aku ingin pergi ke kota raja
untuk mencari Kouw Touw too.”
“Apa Jie wie Soesiok tahu siapa sebenarnya Kouw Touw
too?” tanya Goan tin.
2460
“Dia berpengetahuan luas dan dia agaknya paham segala
rupa ilmu silat,” kata Kong tie.
“Tapi aku sendiri tak bisa lihat asal usulnya. Kouw
touwtoo itu bukan lain daripada Kong beng Yoe soe Hoan
Yauw,” kata Goan tin.
Kong boen dan Kong tie terkejut. “Apa benar?” tanya
mereka dengan berbareng.
“Mana berani Goan tin mendustai Soesiok,” jawabnya.
“Kalau dia benar akan datang di sini, Jie wie Soesiok akan
bisa membuktikan sendiri.”
Sesudah berpikir sejenak Kong tie berkata, “Kalau begitu
memang benar Thio Boe Kie bersekutu dengan Koencoe
itu. Si Koencoe menangkap tokoh-tokoh enam partai dan
Thio Boe Kie berlagak melepas budi dan memberi
bantuan.”
“Rasanya memang begitu,” sahut Goan tin.
“Tapi menurut penglihatanku, Thio Kauwcoe seorang
ksatria yang jujur dan bukan manusia jahat,” kata Bong
boen. “Kita tidak boleh sembarangan menuduh orang yang
baik.”
“Tapi Hong thio Soesiok jangan lupa, bahwa menurut
katanya pepatah kita bisa mengenal muka tapi sukar
mengenal hati orang,” kata Goan tin. “Cia Soen adalah
ayah angkatnya Thio Boe Kie. Mungkin sekali tanpa
memperdulikan segala apa dan dengan menggunakan
segala rupa daya, Mo kauw akan coba menolong Cia Soen.
Pada hari Toa say Tay hwee segala apa akan menjadi
terang.”
Sesudah itu mereka bertiga lalu merundingkan soal
menyambut tamu, melawan musuh dan menghitung-hitung
tokoh tokoh berbagai partai yang berkepandaian tinggi.
2461
Didengar dari perkataannya, siasat Goan tin ialah mengadu
domba berbagai partai persilatan dan kemudian sesudah
partai-partai itu rusak, barulah Siauw lim pay tampil ke
muka dan secara resmi menjadi partai yang menguasai To
liong to. Dan sesudah itu, barulah Cia Soen dibunuh dan
diadakan sembahyangan untuk rohnya Kong kian. Tapi
Kong boen sendiri kelihatannya tidak berani memandang
enteng kepada Beng kauw.
“Tapi biar bagaimanapun juga, yang paling penting ialah
mengorek rahasia dimana adanya To liong to dari mulut
Cia Soen,” kata Kong tie. “Kalau kita tidak berhasil
memiliki senjata itu, maka To say Tay hwee bukan saja
tidak ada artinya, bahkan dapat menurunkan derajat partai
kita.”
“Soetee benar,” kata Kong boen. “Dalam pertemuan itu
kita harus memperlihatkan To liong to untuk mengangkat
tinggi derajat partai. Kita harus bisa mengumumkan bahwa
To liong to yang termulia dalam Rimba Persilatan sudah
dikuasai oleh partai kita. Dengan demikian partai kita akan
bisa memerintah dalam Rimba Persilatan tanpa ada yang
berani tidak menurut.”
“Ya, begitu saja,” kata Kong tie. “Goan tin sekarang kau
pergilah untuk coba membujuk Cia Soen supaya dia suka
memberitahukan dimana adanya To liong to. Katakanlah
kepadanya bahwa jika ia menurut, kita akan mengampuni
jiwanya.”
“Baik,” jawabnya. “Serahkan tugas ini kepada Goan tin.
Aku tanggung, sebelum hari Toan ngo sudah memiliki To
liong to.” Kemudian terdengar suara tindakan yang sangat
enteng dan bayangan Goan tin berkelebat keluar dari kamar
itu.
Tak kepalang girangnya Boe Kie. Tapi ia mengerti,
2462
bahwa ketiga pendeta itu berkepandaian tinggi. Jika
ceroboh gerak geriknya bakal diketahui. Maka itu ia segera
menahan nafas. Ia lihat bayangan Goan tin berlari-lari ke
jurusan utara. Dia memakai payung kertas minyak dan
jatuhnya air hujan di payung menerbitkan suara yang agak
keras. Sesudah musuh itu berjalan belasan tombak, barulah
Boe Kie berani menguntit.
DALAM HUJAN, penjagaan banyak kendur. Dengan
mengandalkan ilmu ringan badan dan dengan bantuan sang
hujan, Boe Kie bisa maju terus dengan selamat. Ia lihat
Goan tin melompati tembok dibelakang kuil dan terus ke
utara. "Kalau begitu Giehoe dikurung diluar Siauwlimsie,"
pikirnya. Ia tidak berani melompat tembok dengan begitu
saja. Ia menempelkan badannya ditembok dan kemudian
memanjat dengan perlahan. Sesudah tiba diatas, ia
menunggu sampai peronda lewat dan sesudah itu, barulah
ia melompat turun. Ketika itu Goan tin sudah berada jauh
didepan, kira-kira seratus tombak. Lapat-lapat ia lihat
manusia itu membiluk kekiri dan menuju kescbuah bukit
kecil.
Goan tin adalah gurunya Cia Soen dan waktu itu ia
sudah berusia lebih dari tujuh puluh tahun. Tapi ia masih
gagah dan gesit. Selagi memanjat bukit, payungnya tidak
bergoyang dan tubuhnya seolah olah ditarik keatas dengan
seutas tambang. Boe Kie mempercepat tindakannya. Tapi
baru saja ia tiba dikaki bukit, dari antara pohon2 mendadak
berkelebat bayangan manusia. Dengan cepat ia
menghentikan tindakan. Sesaat kemudian muncul empat
orang, tiga didepan satu dibelakang, yang lalu memanjat
bukit itu.
Boe Kie mengawasi keatas. Dipuncak hanya terdapat
beberapa pohon siong yang sudah tua dan sama sekali tidak
terdapat rumah atau gubuk. "Dimana Gihoe dipenjarakan?"
2463
tanyanya didalam hati. Dipuncak itu juga tidak terlihat
manusia. Dengan menggunakan ilmu ringan badan, ia
segera ikut memanjat bukit. Ke empat orang itu memiliki
ilmu meringankan badan yang cukup tinggi. Dalam
memanjat bukit, mereka seperti juga berjalan di tanah datar.
Boe Kie mengempos semangat dan mengudak. Dalam
beberapa saat saja ia sudah berada dalam jarak kira-kira dua
puluh tombak dari orang-orang itu. Ia mendapat kenyataan
bahwa diantara mereka terdapat seorang wanita. Ketiga
pria mengenakan pakaian biasa, sehingga bisa dipastikan
bahwa mereka itu bukan pendeta Siauw lim sie. Mereka
tentu datang untuk mencelakai Gihoe " pikirnya. "Biar
mereka bertempur dulu dengan Goan tin dan kemudian
barulah aku turun tangan."
Waktu mendekati puncak, keempat orang itu lari makin
cepat. Tiba-tiba Boe Kie mongenalinya, antaranya, "Ah! Ho
Thay Ciong dan Pan Siok Ham!" katanya didalam hati.
Sekonyong konyong, sambil bersiul nyaring Goan tin
memutar tubuh dan turun lagi dari bukit itu dengan berlarilari.
Ternyata ia sudah tahu, bahwa dirinya dikuntit orang.
Gerakan Boe Kie cepat luar biasa. Begitu lihat Goan tin
memutar tubuh ia melompat ke rumput tinggi dan lalu
merangkak kesebelah kiri, sehingga dalam sekejap ia sudah
berada di tempat puluhan tombak jauhnya. Dilain saat ia
dengar suara beradunya senjata. Dari suara itu, ia tahu,
bahwa dua orang mengerubuti Goan tin. "Ah! Yang dua
lagi tentu menyateroni Gihoe!" pikirnya. Buru-buru ia
merangkak keluar dari rumput tinggi kan mendaki bukit
secepat mungkin.
Setibanya dipuncak, ia merasa sangat heran. Seperti
dilihat dari bawah, puncak itu hanya merupakan tanah
datar. Disitu haaya terdapat tiga pohon siong tua yang
tumbuh dalam bentuk segi tiga. “Dimana adanya Gihoe?"
2464
tanyanya didalam hati. Sesaat kemudian ia dengar suara
orang. "Kita harus lantas turun tangan, Sat Soetee dan Lam
Soetee belum tentu bisa melayani pendeta itu." Itulah suara
Pan Siok Ham.
"Benar" jawab Ho Thay Ciong.
Mendadak kedua orang itu yang mendaki bukit dengan
merangkak bangun berdiri dan lalu menerjang kearah tiga
pohon siong. Karena kuatir ayah angkatnya celaka Boe Kie
segera mengudak.
Sekonyong-konyong Ho Thay Ciong mengeluarkan
suara “huh!" seperti orang terluka. Boe-Kie mengawasi. Ia
lihat suami isteri Ho itu memutar pedang sambil berdiri
diantara ketiga pohon siong. Mereka seperti juga sedang
bertempur tapi lawannya tak kelihatan. Dilain saat
terdengar suara "tak tak tak!" seolah-olah pedang kedua
suami isteri itu kebentrok dengan semacam senjata. Dengan
heran Boe Kie mendekati dan tiba-tiba saja ia terkesiap.
Dipongkol dua pohoo siong yang berada didepannya
ternyata terdapat sebuah lubang berduduk seorang pendeta
tua yang masing-masing memegang seutas tambang untuk
menyerang suami isteri Ho. Pohon yang ketiga
membelakangi Boe Kie, sehingga tidak bisa lihat
keadaannya. Tapi sebab dari samping pohon itu juga keluar
seutas tambang, maka dapatlah ditarik kesimpulan, bahwa
dipangkal pohon itupun terdapat seorang pendeta. Pada
malam yang gelap itu, Boe Kie tak bisa lihat tegas gerakan2
tiga tambang itu.
Dalam pertempuran itu Ho Tay Ciong dan isterinya
kelihatan repot sekali. Mereka memutar pedang bagaikan
kitiran dan membuat garis pembelaan yang sangat rapat.
Beberapa kali mereka membentak keras dan coba
menerjang keluar, tapi selalu dipukul balik dengan ketiga
tambang itu.
2465
Boe Kie kaget tercampur kagum. Tambang hitam itu
sama sekali tidak mengeluarkan suara dan kenyataan ini
membuktikan, bahwa Lweekang ketiga pendeta itu sudah
mencapai puncak kesempurnaan, "Goan tin mengatakan,
bahwa Giehoe dijaga oleh tiga Thaysoesioknya,” pikir Boe
Kie, "Ketiga pendeta itu tentulah juga paman guru dari
Kong koen dan Kong tie. Mereka mempunyai Lweekang
yang sudah dilatih selama tujuh-puluh tahun. Kalau aku
harus melawan mereka, aku pasti akan kalah."
Mendadak mendengar teriakan menyayat hati. Teriakan
itu keluar dari Ho Thay Ciong yang punggungnya terpukul
tanbang dan tubuhnya terlempar keluar dari gelanggang. Ia
jatuh rebah dan kelihatannya sudah binasa. Pan Siok Ham
gusar dan sedih. Dilain detik, karena tidak berwaspada,
kepalanya terpukul pecah. Seutas tambang menyambar dan
melemparkan mayatnya keluar gelanggang.
Sementara itu Goan-tin berkelahi sembari mundur.
"Mari! Mari! Kalau kamu berani, maju terus untuk
menerima kebinasaan!" ia berteriak ber-ulang2 untuk
memancing lawannya.
Orang she Sat dan she Lam itu adalah jago-jago Koenloen-
pay. Mereka tahu, bahwa si pendeta tengah
memancing mereka, tapi mereka tidak takut dan terus
mendesak. Dalam ilmu silat, biarpun dikerubuti, Goan-tin
tidak kalah. Tapi menurut perhitungannya, paling banyak ia
binasakan seorang lawan dan yang lain tentu melarikan diri.
Maka itu, ia memancing mereka ke pohon siong supaya
kedua-duanya bisa dibunuh oleh Thay-soesioknya. Waktu
berada dalam jarak beberapa tombak dari pohon siong,
kedua jago Koen-loen itu mendadak lihat mayat Ho Thay
Ciong. Dangan serentak mereka berhenti. Tiba-tiba dua
utas tambang menyambar dan melibat pinggang mereka.
Dengan sekali disentak, tambang-tambang itu melempar
2466
tubuh mereka. Ditengah udara mereka berteriak dan jatuh
tanpa bernyawa lagi.
Melihat caranya ketiga pendeta itu membinasakan empat
tokoh Koen loen pay, Boe Kie meleletkan lidah. Itulah
kepandaian yang belum pernah dilihatnya. Kepandaian itu
lebih tinggi daripada yang dimiliki Hian beng Jielo. Biarpun
belum bisa menyamai Thio Sam Hong kepandaian mereka
sudah boleh dikatakan mencapai puncak kesempurnaan.
Bahwa Siauw lim pay masih mempunyai tetua yang
berkepandaian sedemikian tinggi mungkin tidak diketahui
oleh Thio Sam Hong dan Yo Siauw yang berpengetahuan
luas. Hati Boe Kie berdebar-debar. Ia terus mendekam di
rumput tinggi, tanpa berani bergerak.
Sementara itu, sambil mengeluarkan senyuman
mengejek Goan tin menendang mayat Ho Thay Ciong dan
Pan Siok Ham kesebuah jurang yarg sangat dalam. Boe Kie
berduka. "Biarpun Ho Thay Ciong dan Pan Siok Ham
pernah membalas kebaikan dengan kejahatan terhadapku
dan biarpun mereka ingin mencelakai Gie hoe, mereka
adalah pemimpin-pemimpin sebuah partai besar." Pikirnya,
"Bahwa mereka harus mati cara begitu, adalah kejadian
yang mendukakan.”
Dilain saat, Goan tin menghampiri Thay soesioknya dan
berkata sambil membungkuk. "Sam wie Thay soesiok
mempunyai kepandaian yang tidak terbatas. Dalam sekejap
Thay soesiok sudah binasakan empat tokoh Koen-loen pay.
Rasa kagum Goan tin tak dapat dilukiskan lagi.
Salah seorang mengeluarkan suara di hidung. Mereka
tidak menjawab perkataan si penjilat.
"Atas perintah Hong thio Soe siok, Goan-tin datang
untuk menanyakan kewarasan Sam-wie Thay soesiok,"
katanya pula. "Disamping itu, Goan tin juga diperintahkan
2467
untuk berbicara dengan orang yang dipenjarakan".
"Kong kian Soetie seorang mulia dan berkepandaian
tinggi," kata salah seorang pendeta tua. "Kami sangat
mencintai dan kann mengharap ia akan bisa
memperkembang ilmu silat kita. Tak dinyana ia binasa
dalam tangan penjahat itu. Selama puluhan tahun kami
menutup diri dan tidak mencampuri lagi urusan dunia.
Hanyalah karena memandang muka Kong kian Soetie,
kami rela menjaga tempat ini. Penjahat itu pantas mendapat
hukuman mati, maka perlu apa rewel-rewel lagi ?"
Perkataan Thay soesiok memang tidak salah," kata Goan
tin seraya membungkuk. ''Tapi
Hong thio Soesiok mengatakan, bahwa biarpun In soe
benar dibunuh oleh penjahat itu, tapi mengingat
kepandaian In soe yang sangat tinggi, maka timbullah
pertanyaan, apa benar dengan seseorang diri penjahat itu
bisa membunuh In-soe ? Sekarang kita penjarakan dia disini
dan meminta bantuan Sam wie Thay soesiok untuk
menjaganya. Maksud kita pertama ialah untuk memancing
kawan-kawan penjahat itu supaya kita bisa membasmi
musuh-musuh yang mencelakai In soe dengan sekali pukul
dan kedua, untuk memaksa dia supaya menyerahkan To
liong to supaya golok mustika itu tidak jatuh ke tangan lain
partai. Apabila To liong to direbut oleh partai lain, maka
partai itu juga akan merebut julukan "Boelim Cie coeh” (
yang termulia dalam Rimba Persiiatan), sehingga dengan
demikian, derajat Siauw lim pay yang sudah dipertahankan
selama ribuan tahun akan merosot." (In soe: Guruku yang
budinya besar).
Mendengar itu, bukan main gusarnya Boe Kie. "Goan tin
benar-benar jahat!" katanya di dalam hati. "Dengan
lidahnya yang beracun, dia lagui ketiga pendeta itu yang
selama puluhan tahun menutup diri. Hmm ! .... Dia coba
2468
menggunakan tangan mereka untuk membinasakan tokohtokoh
Rimba Persilatan."
Salah seorang pendeta tua itu mengeluarkan suara di
hidung. "Ya, kau boleh bicara dengan dia," katanya."
Ketika itu hujan belum berhenti dan guntur saban-saban
bergemuruh, sehingga keadaan jadi lebih menyeramkan.
Goan tin pergi ke antara tiga pohon siong itu, berlutut dan
berkata "Cia Soen, apa kau sudah pikir masak-masak?
Begitu lantas kau beritahukan, dimana To liong-to
disembunyikan, aku akan segera melepaskan kau."
Boe Kie heran,"Apa Giehoe dikurung dalam penjara di
bawah tanah?" tanyanya didalam hati."
Mendadak salah seorang pendeta tua membentak dengan
gusar. "Goan tin! Seorang beribadat tidak boleh berjusta!
Mengapa kau justai dia? Kalau dia beritahukan dimana
adanya To liong to, apakah kau akan benar-benar
melepaskan dia?"
"Biarlah Thay soesiok mengetahui, bahwa menurut
pendapat teecoe, meskipun sakit hati kita karena binasanya
In-soe sangat mendalam, tapi kalau ditimbang-timbang
antara dua soal, soal nama dan derajat partai kita adalah
terlebih penting," jawabnya. "Asal dia beritahukan dimana
adanya To liong to dan partai kita dapat memiliki golok
mustika itu, kita boleh melepaskan dia. Dalam waktu tiga
tahun, teecoe pasti akan bisa membalas sakit hatinya In
soe."
"Baiklah," kata pendeta tua itu. “Dalam Rimba
Persilatan, kita harus mengutamakan kesatriaan. Perkataan
itu yang sudah diucapkan adalah seperti melesatnya anak
panah yang tidak bisa ditarik kembali. Biarpun terhadap
orang jahat, murid Siauw lim sie tidak boleh hilang
kepercayaan."
2469
Mendengar perkataan itu, Boe Kie mengakui bahwa,
ketiga pendeta tersebut bukan saja
berkepandaian tinggi, tapi juga luhur wataknya. Hanya
sayang, tanpa merasa mereka sudah kena ditipu Goan tin.
“Cia Soen!" bentak Goan tin. "Apa kau dengar perkataan
Thay-soesiokku? Ketiga tetua kami ini sudah bersedia untuk
melepaskan kau."
Tiba-tiba dari bawah tanah keluar suara yang nyaring
dan angker. "Seng koen, apakah kau masih ada muka untuk
bicara dengan aku?"
Jautung Boe Kie melonjak. Itulah suara ayah angkatnya!
Kalau turut batinnya, seketika itu juga ia akan menerjang,
membinasakan Seng Koen dan menolong sang ayah. Tapi
sebisa-bisa ia menahan sabar. Ia yakin, bahwa ia tak akan
bisa melawan ketiga pendeta tua itu. "Biarlah sesudah
penjahat Goan tin pergi, aku akan menemui ketiga pendeta
itu,” pikirnya. "Aku akan jelaskan latar belakang urusan ini.
Mereka berilmu tinggi dan mereka tentu bisa membedakan,
siapa yang salah, siapa yang benar.”
Sementara itu, sesudah menghela napas Goan tin berkata
pula. “Cia Soen, kita sama-sama sudah berusia lanjut. Perlu
apa kau selalu ingat kejadian yang dulu-dulu? Paling lama
dua puluh tahun lagi, kita akan berpulang ke alam baka.
Aku bersalah terhadap kau, tapi kau pun bersalah terhadap
aku. Biarlah kita sama-sawa coret kejadian di masa
lampau."
Cia Soen tidak menghiraukan. Ia hanya berkata. "Seng
Koen, apa kau masih ada muka untuk bicara dengan aku?”
Goan-tin membujuk berulang-ulang, tapi Cia Soen tetap
tidak meladeni. Akhirnya ia bergusar dan berkata. "Dengan
mengingat kecintaan dahulu, aku belum pernah turunkan
2470
tangan jahat terhadapmu Apa kau masih ingat totokanku
yang dinamakan Ban-gie Can sim cie?" (Ban gie Can sim
cie-Totokan berlaksa semut berkumpul dijantung).
Begitu mendengar "Ban-gie Can sim cie," darah Boe Kie
bergolak. Dari ayah angkatnya ia tahu, bahwa totokan itu
salah satu ilmu paling beracun dalam kalangan persilatan.
Siapa yang tertotok, isi perutnya seperti juga digigit berlaksa
semut sakit dan gatal bercampur menjadi satu. Ia lantas saja
mengambil keputusan, bahwa andaikata Goan tin benarbenar
coba menurunkan tangan jahat itu, ia akan mengadu
jiwa untuk menolong ayah angkatnya. Tapi Cia Soen
sendiri hanya menjawab. "Seng koen, apa kau masih ada
muka untuk bicara dengan aku?"
“Aku beri batas waktu tiga hari kepadamu," kata Goan
tin dengan suara dingin.
"Kalau dalam tiga hari kau tetap membandel, rasakanlah
Ban gie Can sim cie!" Sehabis berkata begitu ia memberi
hormat kepada ketiga pendeta tua dan kemudian turun dari
bukit itu.
Sesudah pendeta jahat itu berlalu, selagi Boe Kia mau
muncul untuk menemui tiga pendeta tiba-tiba saja ia
merasakan ketidak beresan pada aliran hawanya. Ia tahu,
bahwa ia diserang orang. tapi sedikitpun ia tidak merasakan
sambaran serangan itu. Bagaikan kilat ia menggulingkan
diri dan dua utas tambang lewat didepan mukanya. Baru ia
berguling setombak lebih, seutas tambang yang tegak
bagaikan toya menyambar dadanya hampir berbareng, dua
tambang, lainnya menyambar punggungnya.
Sesudah menyaksikan keempat jago Koen-loen pay, ia
mengerti bahwa jiwanya tergantung pada selembar rambut.
Pada detik berbahaya, ia membalik tangan kirinya dan
menangkap tambang yang menotok dada. Baru saja ia mau
2471
mendorong tambang itu, ia mendadak tambang tersebut
dikerut dan semacam tenaga yang dahsyat luar biasa
menindih dadanya. Kalau tindihan itu kena jitu, maka
tulang-tulang dadanya akan menjadi remuk. Pada saat yang
genting, dengan kecepatan yang tak mungkin dilukiskan,
dengan tangan kanan ia menyampok dua tambang yang
menyambar punggungnya dan berbareng dengan Kian koen
Tay lo ie dan Kioe yang Sin kang tangan kirinya yang
mencekal tambang mendorong dan melepaskan tambang ,
sehingga pada detik itu juga tubuhnya melesat ke tengah
angkasa.
Sekonyong-konyong kilat berkeredepan. Karena kaget
dan kagum melihat kepandaian Boe Kie, salah seorang
pendeta mengeluarkan seruan tertahan. Ketiga pendeta itu
menengadah dan dengan bantuan sinar kilat, mereka
melihat wajah Boe Kie yang ternyata pemuda dusun
dengan muka kotor. Bukan main rasa heran mereka.
Dilain saat, bagaikan naga hitam, tiga utas tambang
menyambar keatas dan coba menggulung tubuh Boe Kie
dari tiga penjuru.
Dengan bantuan sinar kilat, Boe Kie bisa melihat wajah
tiga pendeta itu. Yang duduk disudut timur laut bermuka
hitam, yang dibarat laut bermuka kuning dan yang
disebelah selatan bermuka putih seperti kertas. Mereka
ketiga-tiganya kurus kering, seperti tak punya daging,
sedang pendeta yang bermuka kuning hanya bermata satu.
Ditengah malam yang gelap itu, lima sinar mata mereka
mengeluarkan sinar berkilauan.
Melihat sambaran tiga tambang itu, selagi tubuhnya
melayang di udara, Boe Kie mengibas menarik dan
menggulung. Dengan meminjam tenaga lawan ia
menggulung tiga tambang itu menjadi satu. Itulah ilmu
Thay-kek dari Boe-tong pay yang tenaganya merupakan
2472
sebuah lingkaran. Dengan ilmu itu Boe Kie menggulung
tenaga tambang itu menjadi satu.
Tiba-tiba sesudah kilat yang tadi, guntur berbunyi
berulang-ulang, sehingga bumi seolah-olah bergetar.
Diantara keangkeran Langit dan Bumi itu, Boe Kie
berjungkir balik di tengah udara dan kemudian kaki kirinya
hinggap di sebatang siong. "Boan pwee Thio Boe Kie,
Kauw coe dari Beng kauw, menghadap Sin wie Koceng,”
serunya sambil membungkuk. Ia berdiri diatas sebelah kaki,
ketika ia menyoja, ranting siong itu membal beberapa kali,
sehingga tubuhnya terayun-ayun dan memberi sebuah
pemandangan yang sangat indah. Tapi biarpun ia
menjalankan kehormatan sebagai seorang muda terhadap
orang tua ia berdiri disebelah atas, sehingga dengan
demikian ia mempertahankan kedudukannya sebagai
pemimpin Beng kauw.
Dengan mengedut beberapa kali, ketiga pendeta itu
melepaskan tambang mereka yang tergulung. Tadi mereka
menyerang dengan Sam cauw Kioe sit ( Tiga jurus sembilan
pukulan ). Dalam setiap pukulan mengandung perubahan
yang terdiri dari sepuluh jurus dan walaupun namanya
"Sam cauw Kioe sit," serangan itu sebenarnya merupakan
beberapa puluh serangan berantai yang membinasakan.
Diluar dugaan, semua serangan itu sudah dapat dipatahkan
olen Boe Kie. Pada hakekatnya, setiap serangan berarti
kebinasaan dan salah sedikit saja, tulang-tulang Boe Kie
akan terpukul remuk. Tapi sesudah lolos dari lubang jarum,
pemuda itu, kelihatan tenang tenang saja dan paras
mukanya sedikit pun tidak berubah. Inilah kejadian yang
belum pernah dialami ketiga pendeta itu. Tapi mereka tak
tahu, bahwa selagi badannya terayun-ayun diranting pohon,
diam-diam Boe Kie mengerahkan pernapasannya untuk
mengatur hawanya yang sudah kalang kabutan.
2473
Jurus silat yang tadi digunakan oleh Boe Kie terdiri dari
Kioe yang Sin kang, Kian koen Thay lo ie, Tay kek koen
dan paling belakang untuk berjungkir balik, ia
menggunakan ilmu dari seng bwee leng. Biarpun memiliki
kepandaian sangat tinggi, tapi karena sudah rnenutup diri
selama beberapa puluh tahun, ketiga pendeta Siauw lim itu
tidak mengenal ilmu2 tersebut, mereka hanya merasakan
bahwa Lwee kang Boe Kie agak menyerupai Siauw lim kioe
yang kang, meskipun tenaga dalam itu banyak lebih kuat
daripada Kioe yang kang mereka. Mereka kagum tercampur
kaget. Tapi sesudah Boe Kie memperkenalkan diri sebagai
Kauwcoe dari Beng kauw, rasa kagum itu, lantas berubah
jadi (amarah).
Pendeta yang bermuka putih berkata dengan suara
menyeramkan. "Loolap kira siapa, tak tahunya iblis besar
dari Mo Kauw! Sejak beberapa puluh tahun yang lalu
loolap bertiga menutup diri dan tak pernah mencampuri
urusan luar. Kami bahkan tak pemah menghiraukan urusan
Siauw lim sie sendiri. Tak dinyana hari ini kami bertemu
dengan Kauw coe dari Mo kauw dan oleh karenanya kami
merasa syukur."
Mendengar perkataan "Mo kauw" (Agama iblis ), Boe
Kie jadi bingung. Ia tak tahu, bagaimana harus menjawab
pendeta tua itu. Sebelum ia membuka suara, pendeta yang
bermuka kuning bertanya. "Dimana adanya Yo po Thian?”
“Yo Kauw coe sudah meninggal dunia pada tiga puluh
tahun yang lalu," jawabnya.
Mendengar jawaban Boe Kie, pendeta itu mengeluarkan
seruan"ah!” Nada seruan itu mengandung rasa kaget, duka
dan putus harapan.
“Mendengar meninggalnya Yo Kauwcoe, dia
kelihatannya sangat berduka," kata Boe Kie di dalam hati.
2474
"Tak salah lagi, ia tentu mempunyat hubungan erat dengan
Yo Kauwcoe. Giehoe orang sebawahan Yo Kauwcoe.
Biarlah aku coba menggerakan hatinya dengan
menyebutkan persahabatan dahulu dan kemudian
menceriterakan cara bagaimana Yo Kauwcoe meninggal
dunia sebab perbuatan Goan tin." Memikir begitu, ia lantas
saja berkata. "Kalau begitu, Taysoe mengenal Yo Kauwcoe,
bukan?"
"Tcntu saja," jawab pendeta yang bermuka kuning.
"Apabila loolap tidak mengenal poaenghiong Yo Po Thian,
cara bagaimana loolap menjadi manusia bermata satu? Dan
perlu apa kami bertiga bersamadhi tiga puluh tahun lebih?"
(Bersamadhi dalam artiannya mempertinggi ilmu silat).
Kata-kata itu yang diucapkan secara tawar mengandung
nada sakit hati dan kebencian yang sangat berat.
"Celaka," Boo Kie mengeluh didalam hati. "Didengar
dari perkataannya, sebelah mata pendeta itu telah dibutakan
oleh Yo Kauwcoe dan mereka menutup diri untuk mencari
ilmu yang lebih tinggi guna membalas sakit hati. Dan
kecewa putus harapan waktu mendengar Yo Kauwcoe
sudah meninggal dunia."
Tiba-tiba pendeta muka kuning itu mengeluarkan siulan
nyaring dan berkata dengan suara keras, "Sesudah Yo Po
Thian meninggal dunia, jalan satu-satunya hanyalah
menumplek sakit hati kami diatas pundak Kauwcoe yang
sekarang, Thio Kauwcoe, hoat-mia (nama sebagai orang
beribadat) loolap Touw-ok, soetee ku yang putih mukanya
bernama Touw ciat, sedang soetee yang bermuka hitam
adalah Touw lan. Kong kian, Kong boen, Kong tie dan
Kong seng adalah keponakan murid kami. Kong kian dan
Kongtie binasa dalam tangan Mokauw. Tipu busuk apa
yang digunakan Mokauw, kami pun tak ingin tahu.
Kunjungan Kauwcoe mengunjuk, bahwa Kauwcoe tidak
2475
merasa gentar terhadap kami. Maka itu, hutang-piutang
dahulu baiklah kita selesaikan sekarang dengan mengadu
ilmu. (Touw ok = Menyeberangi penderitaan. Touw-ciat =
Menyeberangi kecelakaan. Touw lan = Menyeberangi
Kesengsaraan ).
“Kedatanganku hanyalah untuk menolong Gie hoe Kim
mo Say ong Cia Tayhiap," kata Boe Kie. "Boanpwee sendiri
tak punya ganjelan dengan Siauw lim pay dan dalam
soalnya Giehoe terdapat latar belakang yang berbelit-belit.
Meninggalnya Kong seng Seng ceng sedikitpun tiada
sangkut-pautnya dengan agama kami. Sam wie tak boleh
hanya mendengar keterangan dari satu pihak dan Sam wie
sebaiknya menyelidiki persoalan itu sampai seterangterangnya.
“Coba kau bilang siapa yang binasakan Kong-seng?”
tanya Touw ciat yang bermuka putih.
Alis Boe Kie berkerut. "Menurut pengetahuan boanpwee,
Kong Seng ceng telah dibinasakan oleh boesoe dari Jie lam
ong!” jawabnya.
"Siapa yang memimpin boesoe Jie lam ong?" tanya pula
Touw ciat.
“Tio beng, putera Jie lam ong."
"Goan tin telah memberitahukan aku bahwa perempuan
itu telah kerja sama dengan agamamu. Dia mengkhianati
kaizarnya dan memberontak terhadap ayahnya akan
kemudian masuk kedalam Mo kauw. Apa benar begitu?”
Desakan Touw ciat hebat sekali. Boe Kie yang tak biasa
berjusta, terpaksa menyahut, "Benar. Dia- - - dia telah
meninggalkan tempat gelap dan pergi ke tempat terang."
Touw ciat mengeluarkan suara di hidung. "Yang
membunuh Kong kian, Kim mo Say ong dari Mo kauw,
2476
yang membunuh Kong ceng Tio beng dari agamamu!"'
katanya dengan suara kaku. "Tio beng adalah orang yang
sudah memukul pecah Siauw lim sie dan menangkap
murid-murid partai kami. Yang paling tak bisa diampuni
ialah dia sudah menulis perkataan2 menghina dipatung
Couwsoe Tat mo Loocouw, Semua sakit hati itu ditambah
pula dengan sebuah biji mata dari soehengku, Thio
Kauwcoe kalau piutang tak diperhitungkan dengan kau,
dengan siapa lagi kami bisa memperhitungkannya?”
Boe Kie menghela napas. Ia merasa perkataan Touw ciat
ada benarnya juga. Kalau ia sebagai kauwcoe dari Beng
kauw tak mau bertanggung jawab atas semua itu, siapa lagi
yang bisa bertanggung jawab?”
Maka itu, ia segera mengerahkan Lweekang ke ujung
kaki sehingga bergoyang-goyang ranting siong, lantas saja
berkata, "Jika Sam wie Loosiansoe berpendapat begitu,
boanpwee tak bisa berkelit lagi," katanya dengan suara
nyaring "Biarlah boanpwee memikul kedosaan itu. Tapi
dalam kebinasaan Kong kian Seng ceng terdapat hal-hal
yang mendukakan. Biar bagaimana pun juga, dalam
peristiwa itu boanpwee memohon pengampunan Sam wie
Loosiansoe."
"Apa yang diandalkan olehmu, sehingga kau berani
minta pengampunan untuk Cia Soen?" tanya Touw ciat.
"Apa kau rasa kami bertiga tidak mampu mengambil
jiwamu?"
Boe Kie yakin, bahwa kali ini ia bertempur, ia mesti
mengadu jiwa. “Kalau, satu melawan tiga, boanpwee tak
akan bisa menandingi Sam wie," katanya. "Loosiansoe yang
mana yang lebih dulu mau memberi pelajaran kepada
boanpwee?"
"SATU lawan satu belum tentu kita menang,” kata
2477
Touw ciat. "Dalam sakit hati yang hebat ini, kami tidak bisa
mempertahankan peraturan Kang ouw. Kepala iblis
terimalah kebinasaanmu! Omie tohoed!"
"Sang Buddha berbelas kasihan!" menyambung Touw ok
dan Touw lan.
Hampir berbareng tiga tambang menyambar kearah Boe
Kie. Sambil mengegos tali, Boe Kie melompat turun.
Sebelum kakinya hinggap di tanah ia memutar badan dan
menubruk Touw-?
Touw lan mengibaskan tangan kiri dan Boe Kie merasa
semacam tenaga dalam yang hebat menyambar ke
punggungnya. Ia berkelebat dan memunahkan pukulan itu
dengan Kian koen Tay-lo ie. Pada saat itu, dua tambang
dari Touw ok dan Touw lan menyapu dengan datang
berbareng.
Baru saja Boe Kie mengegos, Touw ciat sudah meninju
dengan pukulan yang tak ada anginnya. Boe Kie menangkis
dan membalas menyerang. Demikianlah, dengan berdiri di
tengah-tengah tiga pohon siong, Kauwcoe dari Beng kauw
itu melakukan pertempuran mati hidup melawan tiga tetua
Siauw lim pay.
Sesudah lewat sekian jurus tiba-tiba Boe Kie memukul
dengan telapak tangannya sambil menggetarkan tubuh,
sehingga ratusan butir air yang menempel pada badannya
menyambar Touw ok. Pendeta itu memiringkan kepalanya,
tapi tak urung mukanya disambar juga oleh beberapa puluh
butir air sehingga kulitnya dirasakan pedas perih. "Kurang
ajar!" bentaknya seraya mengedut tambang yang lantas saja
menghantam kepala Boe Kie. Bagaikan kilat, Boe Kie
melompat mundur akan kemudian menyerang Touw ciat
dengan tenaga dalam yang tidak kurang hebatnya.
Makin lama Boe Kie makin bingung. Semenjak memiliki
2478
ilmu silat tinggi, belum pernah ia bertemu dengan lawan
yang sedemikian berat. Ketiga pendeta itu bukan saja lihay
pukulan-pukulannya, tapi juga mempunyai Lwee-kang yang
sangat dahyat. Semula ia masih bisa menggunakan tujuh
bagian kepandaiannya untuk membela diri dan tiga bagian
untuk menyerang. Tapi sesudah lewat seratus jurus, hawa
tulennya mulai merosot dan hanya mampu membela diri.
Menurut pengalamannya, yang berada dalam tubuhnya
bukan saja tidak bisa habis, bahkan semakin digunakan jadi
makin kuat. Tapi dalam menghadapi ketiga pendeta itu
setiap gerakan meminta Lweekang yang sedemikian kuat
dengan gerakan-gerakan demikian, perlahan-lahan ia
merasa datangnya tenaga susulan tidak begitu lancar lagi.
Inilah kejadian yang belum pernah dialaminya.
Sesudah bertanding lagi beberapa puluh jurus, ia berkata
didalam hati. "Kalau terus begini, jiwaku akan melayang.
Sebegitu lama gunung masih berdiri, kayu bakar tak akan
habis. Kini aku mesti kabur. Biarlah dilain hari aku datang
lagi bersama Gwa kong, Yo Coe soe, Hian Yoesoe dan Wie
Hok ong. Dengan berlima, ketiga pendeta itu pasti akan
bisa dikalahkan dan aku akan menolong Giehoe." Memikir
begitu ia lantas saja mengirim serangan-serangan hebat dan
coba melompat keluar dari gelanggang. Diluar dugaan, tiga
tambang itu membuat sebuah lingkaran yang teguh
bagaikan tembok tembaga. Berulang ia menerjang, tapi
selalu terpukul mundur. Sebaliknya dari terlolos,
pinggangnya kena disapu tambang Touw lan sehingga
terluka.
Boe Kie jadi bingung. Ia tak tahu, bahwa dalam melatih
ilmu selalu tiga puluh tahun lebih dengan bersemedhi dalam
kamar tertutup, ketiga pendeta itu telah mencapai sebuah
"Perpaduan pikiran." Dengan demikian apa yang dipikir
oleh seorang pendeta lantas saja bisa di rasakan oleh kedua
2479
pendeta lainnya. Adanya perpaduan pikiran itu
memungkinkan sebuah kerja sama yang sangat sempurna.
Boe Kie mulai putus harapan. “Dilihat begini, biarpun
mendapat bantuan Gwakong dan yang lain-lainnya, belum
tentu aku bisa mengalahkan mereka," pikirnya. "Apakah
Giehoe tak akan bisa ditolong? Apa hari ini aku harus mati
di tempat ini?"
Karena bingung, pemusatan semangatnya lantas saja
terpecah. Dilain detik, pundaknya tertotok lima jari tangan
Touw ciat dan rasa sakit masuk di sumsum. Tiba-tiba ia
ingat sesuatu, “Kalau mesti mati, aku rela mati. Tapi
sebelum mati, aku harus menyampaikan rasa penasaran
Gie-hoe. Giehoe seorang yang beradat tinggi. Sesudah
dapat ditangkap, ia menjadi lebih-lebih sungkannya untuk
mengeluarkan sepatah kata membela diri."
Memikir begitu, ia lantas saja berkata dengan suara
nyaring. "Sam wie Loosiansoe! Boanpwee sudah terkurung
dan boan pwee akan binasa. Seorang lelaki sejati tak takut.
Tapi sebelum berpulang ke alam baka boan pwee ingin
lebih dulu memberitahukan...” Dua tambang menyambar
dan sesudah memunahkan dua senjata itu, ia berkata pula,
"Nama Goan-tin yang sebenarnya, yaitu nama pada
sebelum ia menjadi murid Siauw lim sie, ialah Seng-koen,
bergelar Hoe goan Pek lek chioe. Dia adalah guru dari
Gihoe."
Mendengar bicaranya Boe Kie, ketiga pendeta itu kaget
bukan main. Mereka kaget sebab menurut kebiasaan,
seorang yang sedang bertempur dengan menggerahkan
Lweekang, tak boleh bicara. Sekali bicara tenaga dalamnya
buyar. Bahwa Boe Kie bicara selagi bertempur merupakan
bukti bahwa pemuda itu memiliki Lweekang lain dari yang
lain. Sebab dikelabui Goan tin, ketiga tetua itu beranggapan
bahwa Boe Kie manusia jahat. Makin tinggi
2480
kepandaiannya, makin besar bahayanya untuk masyarakat.
Maka itu mereka berpendapat, bahwa dengan
membinasakan pemuda itu, mereka berbuat kebaikan untuk
umat manusia. Sebab adanya anggapan itu, mereka tak
menghiraukan dan terus menyerang sehebat-hebatnya.
Boe Kie berkata pula, "Sam wie Loosiansoe harus tahu,
bahwa Seng koen dan Yo Kauwcoe dari Beng kauw adalah
saudara seperguruan. Mereka berdua sama-sama jatuh cinta
kepada seorang Sumoay (saudari seperguruan) yang
belakangan menjadi isteri Yo Kauwcoe. Seng koen sakit
hati dan ia lantas memusuhi Beng kauw." Dengan suara
lantang Boe Kie terus menceritakan segala rahasia yang
meliputi sepak terjangnya Seng koen. Ia menuturkan cara
bagaimana Yo Hoejin mengadakan pertemuan rahasia
dengan Seng koen, sehingga lantaran gusar, Yo po Thian
meninggal dunia, cara bagaimana dengan berlagak mabuk,
Seng koen coba merusak kehormatan isterinya Cia Soen
dan lalu membasmi keluarga Kim mo Say ong, cara Seng
koen mengatur tipu sehingga Cia Soen jadi kalap dan
membunuh banyak orang dalam Rimba persilatan, cara
bagaimana ia mengangkat Kong kian menjadi guru dan
belakangan memancing guru itu supaya menerima pukulan
Cia SOEN, tapi dia sendiri tak muncul sehingga Kong-kian
meninggal dunia dengan penuh rasa penasaran...
Makin mendengar ceritera itu, Touw ok bertiga jadi
makin kaget. Walaupun hebat ceritera itu kedengarannya
sangat beralasan dan sesuai dengan beberapa kenyataan.
Gerakan tambang Touw ok lantas saja berubah perlahan.
"Boanpwee tak tahu sebab musabab permusuhan antara
Yo Kauwcoe dan Touw ok Taysu," kata pula Boe Kie. Tapi
Boanpwee merasa pasti, bahwa permusuhan itupun sudah
terjadi karena siasat Seng Koen. Cobalah Touw ok Tay-su
mengingat-ingat lagi kejadian yang lampau itu."
2481
Touw ok menundukkan kepalanya. Beberapa saat
kemudian, ia berkata; "Mungkin, memang mungkin kerjaan
Seng-koen. Dalam permusuhan antara Yo Kauwcoe dan
loolap, Seng koen telah mengeluarkan banyak tenaga
untukku. Belakangan ini ia minta berguru kepada loo-lap,
tapi sebab belum pernah menerima murid, maka loolap
lantas memujikan dia kepada Soe tit. Memang mungkin
sekali kejadian itu sudah terjadi karena siasat Seng koen.”
"Bukan saja begitu," menyambung Boe Kie, “dia
sekarang berusaha untuk merebut kedudukan hong thio dari
Siauw lim sie. Diam-diam ia menerima murid sembarangan
dan bersekutu dengan orang kangauw yang tidak baik. Dia
berusaha untuk mencelakai Kong boen Seng ceng...!"
Perkataan Boe Kie itu terputus sebab dengan mendadak
ia mendengar suara keras dan sebuah batu raksasa yang
menggelinding ke arah tiga pohon siong itu. "Siapa?" bentak
Touw ok sambil menghantam dengan tambangnya sehingga
batu itu somplak, sekonyong-konyong dari belakang batu
berkelebat bayangan manusia yang lantas menubruk Boe
Kie dan sebilah golok pendek menyambar ke tenggorokan
pemuda itu.
Itulah serangan yang tak diduga-duga!
Pada detik itu seantero tenaga di kedua tangan Boe Kie
sedang menyambut tambang Touw ciat dan Touw lan. Ia
tak pernah mimpi bahwa ia bakal dibokong.
Waktu ia mendusin adanya serangan itu, ujung golok
sudah hampir menyentuh kulit tenggorokan. Tapi detik
penghabisan, mati-matian ia mengegos. Golok lewat dan
merobek baju di bagian dadanya. Terlambat sedikit saja,
jiwanya pasti melayang. Sesudah serangannya gagal,
dengan ditedeng batu besar yang tengah menggelinding,
pembokong itu menggulingkan diri sampai diluar kalangan
2482
tambang.
"Sungguh berbahaya!” kata Boe Kie. "Binatang Seng
Koen ! Kalau kau punya nyali datanglah kesini untuk
dipadu denganku! Huh huh!- - - Kau coba membunuh aku
untuk menutup mulutku." Biarpun tak melihat tegas muka
penyerang itu, dengan memperhatikan gerakannya dan
Lweekang, Boe Kie tahu, bahwa penyerang itu bukan lain
daripada Seng Koen.
Semeatara itu, dengan tambang mereka ketiga tetua Siau
lim itu sudah berhasil mengalihkan sambaran batu raksasa
itu ke jurusan lain.
"Apa benar Goan tin?" tanya Touw ok. "Benar dia,"
jawab Touw lan.
"Ya," kata pula Touw ok, "kalau dia tak berdosa, perlu
apa...”
Perkataan itu mendadak terputus sebab tiba-tiba saja
beberapa bayangan manusia berkelebat. Orang yang paling
dulu membentak, “Pendeta Siauw lim adalah murid Sang
Budha tapi mereka telah membunuh begitu banyak orang,
apa mereka tak takut dosa? Kawan-kawan, seranglah!"
Delapan orang lantas saja menerjang. Boe Kie yang
segera berduduk diantara
ketiga pendeta itu mendapat kenyaataan, bahwa tiga
orang bersenjata pedang dan yang lain menggunakan
macam-macam senjata. Mereka semua berkepandaian
tinggi dan dilain detik, mereka sudah bertempur hebat
dengan ketiga tetua Siauw lim. Sesudah memperhatikan
sesaat, ia lihat, bahwa ketiga orang yang bersenjata pedang
memiliki ilmu silat yang bersamaan dengan ilmu Cenghay
Sam kiam yang sudah binasa dalam tangan pendeta Siauw
lim. Ia lantas saja menarik kesimpulan, bahwa ketiga orang
2483
itu tetua dari Ceng hay pay. Mereka bertiga mengepung
Touw ok. Tiga orang lain mengerubuti Touw ciat. Sisanya,
dua orang, menyerang Touw lan. Meskipun hanya
dikerubuti dua orang, sesudah bertempur kurang lebih dua
puluh jurus, Touw lan mulai jatuh dibawah angin sebab dua
orang itu berkepandaian tinggi dari lain-lain kawannya.
Dalam tiga rombongan, pendeta yang berada di atas angin
adalah Touw ok.
Sesudah bertempur belasan jurus lagi, Touw ok
mendapat kenyataan, bahwa Touw-lan terdesak. Ia
mengedut tambangnya yang lantas saja menyambar
lawannya Touw lan. Mereka bertubuh jangkung, berjenggot
hitam dan meskipun sudah berusia lanjut, gerakannya
masih sangat gesit. Yang satu bersenjata poan-koan pit
(senjata yang berbentuk pena Tiong-hoa), yang lain
memegang pah hiat-koat ("pacul" untuk menotok jalan
darah). Kedua senjata itu untuk menotok "hiat". Touw ok
dan Touw lan tahu, bahwa mereka bukan lawan enteng.
Ketika itu, mereka masih berada dalam jarak beberapa
tombak, tapi sambaran angin senjata mereka sudah dapat
dirasakan. Kalau mereka bisa merangsek lebih dekat,
serangan kedua senjata pendek itu akan lebih berbahaya.
Sementara itu, ketiga jago Ceng hay pay mulai
menyerang lagi dengan hebatnya, sekarang Touw ciat
melawan tiga orang, sedang Touw ok dan Touw lan
melayani lima lawan. Untuk sementara waktu, keadaan
berimbang dan kedua belah pihak dapat mempertahankan
diri.
Boe Kie heran. "Ilmu silat kedelapan orang itu rata-rata
bisa melayani Ceng ok Hok-ong,” pikirnya. "Mereka
kelihatannya lebih unggul daripada Ho Thay Ciong dan
hanya setingkat lebih rendah dari Biat coat Soethay. Tapi
kecuali tiga anggauta Ceng hay pay, yang lain aku tak
2484
kenal. Dari sini bisa dilihat, bahwa dalam dunia yang lebar
ini, bagaikan harimau yang mendekam di rumput-rumput
tinggi, bersembunyi banyak orang gagah yang namanya
tidak dikenal.”
Sesudah bertanding kira-kira seratus jurus, tambang
ketiga pendeta itu menjadi lebih pendek. Dengan lebih
pendeknya tambang itu, mereka bisa menghemat tenaga.
Tapi dilain pihak kelincahan tambang dalam serangan juga
agak berkurang. Sesudah lewat beberapa puluh jurus lagi,
tambang-tambang itu jadi makin pendek.
Kedua kakek jenggot hitam menyerang sehehat-hebatnya
dalam usaha untuk mendekati ketiga pendeta itu. Tapi
sesudah menjadi pendek, garis pembelaan tambang lebih
rapat dan padat. Ketiga tambang itu membuat sebuah
lingkaran yang terisi dengan tenaga memukul yang sangat
dahsyat. Kedua kakek berjenggot berulang-ulang
menerjang, tapi mereka selalu terpukul mundur.
Sambil bertempur, ketiga pendeta itu mengeluh di dalam
hati. Mereka bukan takut kena dikalahkan. Asal mereka
menarik tambang-tambang itu sampai panjangnya delapan
kaki, maka akan bisa membuat garis Kim kong Hok mo co
an.
Dengan garis pembelaan itu, jangankan delapan orang
sekalipun, enam belas atau tiga puluh orang, mereka masih
sanggup menahan. Apa yang mereka takuti ialah dalam
lingkaran mereka bersembunyi seorang lawan yang hebat.
Lawan itu adalah Boe Kie. Jika pemuda itu turun tangan
menggencet dari dalam, habislah jiwa mereka. Mereka lihat
Boe Kie bersila. Mereka itu menduga pemuda itu sedang
menunggu waktu yang baik untuk menyerang. Mungkin
sekali Boe Kie mau menunggu, sampai kedua belah pihak
payah dan kemudian, dengan sekali pukul ia bisa
merobohkan semua orang.
2485
Waktu itu ketiga pendeta tersebut sedang menggunakan
seantero tenaga dalamnya. Mereka mau berteriak meminta
bantuan, tapi mereka tidak bisa berbuat begitu. Kalau
mereka membuka suara, andaikata tidak mati, mereka pasti
terluka berat dan akan menjadi manusia bercacad. Sekarang
mereka menyesal, bahwa mereka terlalu mengandalkan
kepandaian sendiri. Kalau tadi mereka meminta
pertolongan, semua musuh tentu sudah dapat dikalahkan.
Kenyataan ini juga sudah dilihat Boe Kie, kalau ia mau
mengambil jiwa ketiga pendeta itu ia dapat berbuat begitu
dengan mudah sekali. Tapi ia merasa bahwa seorang lakilaki
sejati tidak boleh menarik keuntungan pada waktu
pihak lawan berada dalam bahaya. Apapula mereka hanya
menjadi korban dari tipu busuknya Goan tin dan mereka
tidak pantas menemui kebinasaan. Disamping itu andaikata
ia membunuh ketiga pendeta itu ia masih harus
menghadapi delapan lawan yang berat, yang belum tentu
dapat dikalahkan olehnya. Ia tahu, bahwa kekuatan kedua
belah pihak kira-kira berimbang dan bagaimana
kesudahannya masih meminta waktu.
Sekarang ia lihat bahwa sebuah batu menutup pintu
penjara dibawah tanah dan di pinggir batu hanya terbuka
sebuah lubang kecil untuk bernapas dan memasukkas
makanan. Batu itu yang beratnya ribuan kati, tak akan bisa
digerakkan oleh seorang dua orang. Tapi sebagaimana
diketahui, waktn berada dijalanan rahasia di Kong beng
teng, sesudah mempelajari Kian koen Tay lo ie Sin kang,
Boe Kie pernah membuka pintu batu yang tebalnya
setombak lebih. Kalau dibandingkan dengan pintu itu, batu
tersebut agaknya tak terlalu berat. Tapi batu itu terletak
diatas tanah gundul sehingga didorongnya banyak lebih
sukar dari pada mendorong pintu. Tapi biar bagaimanapun
juga, ia harus berdaya. Ia yakin, bahwa kalau salah satu
2486
pihak sudah memperoleh kemenangan atau dari kuil Siauw
lim sie sudah datang bala bantuan ia takkan bisa menolong
lagi ayah angkatnya.
Maka itu ia segera berlutut disamping batu dan
mendorongnya dengan mempergunakan Kian koen Tay lo
ie Sinkang. Begitu tenaganya dikerahkan dan dikirim, batu
tersebut lantas bergerak dengan perlahan.
Tapi baru saja batu itu terdorong satu kaki, punggungnya
sudah disambar dengan pukulan Touw lan. Bagaikan kilat
ia menggunakan ilmu "memindahkan tenaga, meminjam
tenaga." "Buk” punggungnya terpukul, bajunya hancur dan
keping-keping kain berterbangan diantara hujan dan angin.
Tapi tenaga pukulan itu sudah dialihkan ke batu raksasa
yang lantas saja terdorong kira-kira satu kaki. Walaupun tak
mendapat luka didalam, pukulan tersebut mengakibatkan
rasa sakit yang hebat. Sebab waktu terpukul, Boe Kie
adalah menggunakan seantero tenaga dalamnya untuk
mendorong batu.
Karena Touw lan memukul Boe Kie, pada garis
pembelaan tambang terbuka sebuah lowongan. Pihak lawan
sungkan menyia-nyiakan kesempatan itu dan seorang kakek
jenggot hitam lantas saja menerjang kedalam garisan.
Senjata tambang dari ketiga pendeta itu sangat lihay jika
digunakan pada jarak jauh dan kurang kelihayannya pada
jarak yang dekat. Begitu menerobos ke dalam garis
pembelaan si jenggot hitam menotok bawah tetek Touw lan
dengan pah hiat koat. Touw lan menangkis dengan tangan
kirinya. Selagi senjata ditangkis, seperti kilat jari tangan kiri
si jenggot menotok Tao-tiong hiat. "Celaka!” seru Touw
lan. Ia tak duga, totokan It cie sian si jenggot lebih lihay
daripada pah-hiat-koatnya. Dalam keadaan berbahaya, mau
tak mau ia melepaskan tambangnya dan balas menyerang
dengan jari-jari kedua tangannya. Walaupun si jenggot kena
2487
ditahan namun seutas tambang sudah jatuh di tanah, kakek
yang bersenjata poan koan pit lantas saja menerjang masuk.
Ketiga pendeta Siauw lim sie sekarang menghadapi
bencana. Antara tiga tambang, satu sudah jatuh dan Kim
kong Hok mo coan sudah jadi pecah!
Mendadak bagaikan seekor ular yang mau hidup
kembali, tambang hitam yang menggeletak di tanah itu
mendongak ke atas dan menyambar muka si kakek yang
bersenjata poan koan-pit. Tambangnya belum sampai
anginnya sudah berkesiur seperti pisau. Si-kakek buru-buru
menangkis dan begitu lekas tambang kebentrok dengan
poan koan pit, kedua lengannya kesemutan.sehingga poan
kit yang dipegang dengan tangan kirinya hampir-hampir
terpental, sedang poan koan pit yang dicekal dengan tangan
kanan terlepas dan jatuh di batu gunung.
Tambang itu kemudian menyambar ketiga jago Ceng hay
pay yang lantas saja terdesak mundur setombak lebih.
Demikianlah Kim-kong Hok mo coan pulih kembali--bukan
saja pulih kembali, bahkan sekarang lebih kuat dari pada
semula.
Ketiga pendeta Siauw lim sie kaget tercampur girang.
Mereka mendapat kenyataan, bahwa lain ujung tali
tambang itu dipegang oleh Thio Boe Kie. Pemuda itu belum
pernah berlatih dalam ilmu Kim kong Hok mo coan. Dalam
kerja sama, ia tentu tidak bisa menyamai Touw-lan. Akan
tetapi dalam Lweekang, ia tak kalah. Tenaga dalam yang
keluar dari tambang yang dicekalnya seolah-olah tenaga
robohnya gunung atau terbaliknya lautan yang menyambarnyambar
ke delapan penjuru. Dengan bantuan tambang
Touw ok dan Touw ciat, tujuh lawan yang berada diluar
garis pembelaan terpaksa mundur jauh-jauh.
Sekarang, dengan hati mantep Touw lan melayani si
jenggot hitam itu yang berada di dalam garis pertahanan.
2488
Baik dalam ilmu silat, maupun dalam Lweekang, ia lebih
unggul setingkat. Dengan tetap berduduk didalam lubang
pohon sepuluh jari tangannya menyerang dengan rupa-rupa
pukulan yang dahsyat, sehingga dalam sekejap si jenggot
sudah keteter. Melihat tujuh kawannya terpukul mundur,
sambil membentak keras dia melompat keluar dari garis
pembelaan tambang.
Sesudah si jenggot terpukul mundur, Boe-Kie segera
mengembalikan tambang yang dipegangnya kepada Touw
lan dan kemudian mendorong lagi batu raksasa penutup
lubang. Sekarang lubang itu sudah cukup besar untuk tubuh
manusia. "Gie hoe!" teriak Boe Kie. "Anak terlambat dalam
memberi pertolongan. Apa Gie-hoe bisa keluar sendiri?"
“Aku tak mau keluar," jawab Cia Soen. "Anak baik, kau
pergilah!"
Boe Kie heran dan kaget. "Giehoe apa kau ditotok
orang?" tanyanya. "Atau dirantai?"
Tanpa menunggu jawaban, ia melompat ke lubang
"Pruk," kakinya menginjak air. Ternyata lubang itu terisi air
sampai sebatas pinggang.
Dengan hati tersayat pisau, pemuda itu merangkul ayah
angkatnya. Ia meraba-raba tangan kaki orang itu tapi tidak
dapatkan rantai atau lain alat pengikat. Kemudian ia
meraba-raba beberapa"hiat," tapi jalan-jalan darah itupun
tak ada yang tertotok. Tanpa menanya lagi ia memeluk
sang ayah erat-erat dan melompat ke atas. Cia Soen tidak
mengucapkan sepatah kata. Sesudah berada diatas, mereka
berduduk di atas sebuah batu besar.
"Sekarang mereka baru bertempur dan kesempatan iai,
tidak boleh disia-siakan," kata Boe Kie. "Giehoe, mari kita
berangkatl" Seraya berkata begitu, ia menuntun tangan ayah
angkatnya.
2489
Tapi Cie Soen tidak bergerak. Sambil menepuk lutut ia
berkata. "Nak, kedosaanku yang
paling besar ialah membunuh Kong Kian Taysoe.
Apabila Giehoemu jatuh ditangan orang lain, dia tentu
akan melawan mati-matian. Tapi di Siauw lim sie, aku rela
binasa untuk membayar hutang kepada Kong kiansoe."
"Karena kesalahan tangan Giehoe telah mencelakai
Kong kian Tay soe," kata Boe Kie dengan suara bingung.
"Tapi itu semua adalah akibat dari tipunya Seng Koen.
Sedang ini sakit hati Giehoe belum terbalas, mana bisa
Giehoe mati dalam tangan Seng Koen?"
Cia Soen menghela napas. "Selama sebulan setiap hari
kudengar Sam wie Koceng menghafal kitab suci," katanya,
“Saban pagi kudengar suara lonceng dan saban sore suara
tambur dari kuil Siauw lim sie. Mengingat kejadiankejadian
dahulu, aku harus mengakui bahwa kedua
tanganku berlepotan terlalu banyak darah dan sebenarbenarnya,
biarpun mati seratus kali, aku masih belum bisa
membayar hutang. Dalam dunia ini, siapa yang berdosa
harus bertanggung jawab akan segala akibatnya.
Kedosaanku banyak lebih berat daripada Seng koen.
Anakku, jangan kau perdulikan aku lagi. Pergilah!"
Boe Kie jadi makin bingung. "Giehoe!" teriaknya dengan
suara duka. "Jika kau tidak mau berangkat juga anak akan
menggunakan kekerasan." Sesudah berkata begitu, ia
mencekal kedua tangan Cia Soen dan coba
menggendongnya.
Sekonyong-konyong terdengar suara ribut-ribut dan
beberapa orang berteriak-teriak: "Siapa berani jual lagak di
Siauw lim sie?" Dilain saat belasan orang mendatangi
dengan menggunakan ilmu ringan badan.
Boe Kie memegang kedua paha Cia Soen erat-erat, tapi
2490
baru saja ia bertindak, mendadak Tio hiatnya tertotok dan
kedua tangannya lemas sehingga mau tak mau ia
melepaskan orang tua itu. Tak kepalang dukanya Boe Kie
hampir-hampir ia menangis, "Gieboe! ... Mengapa...
mengapa... kau begitu?" teriaknya dengan suara parau.
"Nak, hal ihwal sakit hatiku, kau sudah beritahukan
kepada ketiga pendeta suci itu,” jawabnya. "Untuk segala
kedosaanku, akulah yang harus menerima segala
hukumannya. Kalau sekarang kau tidak berlalu, siapakah
yang akan balas sakit hatiku?” Kata-kata yang terakhir
diucapkan dengan suara keras, sehingga Boe Kie jadi kaget.
Sementara itu, belasan pendeta yang membekal ruparupa
senjata sudah menerjang delapan orang yang sedang
mengerubuti tiga tetua Siauw lim sie. Si jenggot yang
bersenjata Poan koan pit tahu bahwa jika pertempuran
dilangsungkan, pihaknya bakal celaka. Ia merasa sangat
penasaran bahwa kemenangannya yang sudah berada di
depan mata dirusak oleh seorang pemuda yang macamnya
sepertinya orang kampung. Maka itu ia lantas saja berteriak,
"Bolehkah kami mendapat tahu she dan nama besar dari
pemuda yang berada di pohon siong? Homi dan Kathay
dari Hokian ingin mengenal orang yang sudah campur
urusan kami."
Sebelum Bae Kie menjawab, Touw lan mengedut
tambangnya dan berkata dengan suara nyaring. "Apakah
Ho kian Siang sat-sin tak pernah mengenal Beng kauw Thio
Kauwcu, ahli silat nomor satu dikolong langit?"
Homi mengeluarkan seruan kaget. Sambil mengibaskan
kedua pitnya, ia melompat keluar dari gelanggang. diluar
oleh tujuh kawannya. Belasan pendeta itu sebenarnya mau
coba menghalangi, tapi kepandaian mereka kalah setingkat,
sehingga dengan demikian kedelapan orang itu segera turun
gunung tanpa rintangan.
2491
Selain bertempur, Touw ok bertiga sudah dengar
pembicaraan antara Cia Soen dan Boe Kie. Disamping itu,
Boe Kie bukan saja tidak menyerang waktu mereka
menghadapi bencana, tapi juga sudah dianya itu, memberi
pertolongan. Andaikata pemuda itu berpeluk tangan,
mereka tentu sudah binasa didalam tangannya Ho kian
Siang-sat.
Sekarang sesudah musuh kabur, semua ketiga pendeta
itu melepaskan tambang mereka, bangun berdiri dan
memberi hormat dengan merangkap tangan. "Terima kasih
banyak atas pertolongan Thio Kauwcoe ini," kata mereka.
Boe Kie buru-buru memberi hormat.
“Itulah hanya kewajiban sebagai sesama manusia dan
tiada harganya untuk disebut-sebut,” jawabnya.
"Hari ini sebenarnya loolap harus membiarkan Cia Soen
berlalu bersama-sama Thio Kauw coe," kata Touw ok.
“Kalau tadi Thio Kauw-coe menolong dia, kami tak akan
bisa mencegah. Tapi pada waktu menerima perintah Hongthio
untuk menjaga Cia Soen. Di hadapan tangan Buddha,
loolap bertiga telah bersumpah bahwa sebegitu kami masih
bernyawa, kami tak akan membiarkan larinya Cia Soen.
Hal ini, mengenai nama baik partai kami, dan kami
memohon Thio Kauwcoe suka memaafkan."
Boe Kie tidak menyahut, ia hanya mengeluarkan suara
di hidung.
Sesudah berdiam sejenak, Touw-ok berkata pula.
"Sekarang loolap sudah tahu, siapa gara-gara rusaknya
sebelah mata loolap. Mana kala Thio Kauwcoe main
menolong Cia Soen, Thio Kauwcoe pula datang di lain
waktu asalkan bisa mengalahkan kami, Thio Kauwcoe
dapat membawa Say ong pergi. Thio Kauwcoe dapat
membawa banyak kawan, boleh menyerang kami dengan
2492
berganti atau mengerubuti kami. Yang akan melawan
hanya kami bertiga. Kami takkan minta bala bantuan. Pada
sebelum Thio Kauwcoe tiba, kami akan berjanji untuk
melindungi Cia Soen. Kami tak akan membiarkan dia
dihina atau digangggu selembar rambutnya oleh Goan tin."
Boe Kie milirik ayah angkatnya. Diantara gelapnya sang
malam, Kim mo Say ong yang bertubuh tinggi besar dan
rambut terurai, berdiri sambil menundukan kepala.
Dihadapan ketiga pendeta suci itu, dia bersikap sebagai
seorang yang berdosa yang rela menerima hukuman.
Boe Kie mengawasi ayah angkatnya dengan air mata
berlinang linang. Ia insyaf, bahwa sekarang ia tidak bisa
berbuat banyak. Bukan saja dengan seorang diri dia tidak
dapat mengalahkan ketiga pendeta itu, tapi ayah angkatnya
sendiri juga menolak untuk diajak lari. "Jalan satu-satunya
ialah mengajak Gwa kong, Yo Cosoe, HoanYo soe dan
yang lain lainnya datang kemari,” pikirnya. Tapi garis
pembelaan itu teguh bagaikan tembok tembaga. Kalau tadi
Touw lan tidak memukul punggungku dan aku
memindahkan tenaganya ke batu raksasa, Kathay pasti tak
akan bisa merangsek. Masih merupakan sebuah pertanyaan,
apakah kau dan kawan-kawan akan bisa memecahkan garis
pertahanan mereka.
“Hai... Tapi jalan lain tidak ada lagi,” memikir begitu ia
lantas saja berkata: "Baiklah, beberapa hari lagi aku akan
datang berkunjung pula untuk meminta pelajaran."
Sesudah itu, dengan berduka, ia memeluk Cia Soen.
"Giehoe, anak mau pergi ..." bisik dengan suara parau.
Cia Soen manggut-manggutkan kepalanya. Dengan
penuh kasih sayang, ia mengusap-usap kepala Boe Kie.
"Kau tak usah datang lagi, aku sudah mengambil keputusan
untuk tidak berlalu dari tempat ini,” katanya, "Nak, aku
2493
berdoa supaya kau selalu berada dalam keselamatan,
supaya kau tidak menyia-nyiakan harapan ayah dan ibumu
dan harapanku sendiri. Kau harus menelad ayahandamu.
Janganlah turut ayah angkat mu.”
“Thia-thia dan Giehoe sama-sama eng hiong,” kata Boe
Kie. "Hanyalah nasib ayah lebih bagus dari Giehoe."
Di lain detik ia melompat keluar dari lingkaran pohon
siong dan sesudah menyoja kepada ketiga pendeta itu,
badannya berkelebat dan mendadak hilang dari
pemandangan. Orang hanya mendengar teriakan nyaring
ditempat kira-kira satu li jauhnya. Semua pendeta kaget
tercampur kagum. Sudah lama mereka dengar kepandaian
Kauwcoe dari Beng kauw tapi mereka tak pernah menduga
bahwa Boe Kie memiliki ilmu ringan badan yang begitu
lihai.
Sesudah orang tahu kedatangannya, Boe Kie memang
sengaja memperlihatkan kepandaiannya. Di tengah hujan
lebat, teriakannya yang saling susul seperti juga pekik naga
yang terbang di tengah angkasa. Ia lari dengan ilmu ringan
badan yang tertinggi makin lama makin cepat, sedang
teriakan kian lama kian nyaring. Di kuil Siauw lim sie,
seribu lebih pendeta tersadar dari tidurnya. Sesudah
teriakannya itu tidak terdengar lagi, barulah mereka saling
mengutarakan pendapat mengenai peristiwa itu. Kong boen
dan Kong tie segera mendapat laporan tentang kedatangan
Boe Kie dan mereka jadi berkuatir.
Sesudah lari beberapa li, dari belakang sebuah pohon lioe
tiba-tiba Boe Kie mendengar bentakan “hai!" dan satu
bayangan manusia melompat keluar. Orang itu bukan lain
daripada Tio Beng. Boe Kie menghentikan tindakannya dan
mencekal tangan si nona yang pakaiannya basah kuyup.
"Kau sudah bertempur dengan pendeta Siauw lim sie?"
2494
tanya Tio Beng.
“Benar."
"Bagaimana Cia Tayhiap? Apa kau sudah bertemu
dengannya?"
Share:
cersil...
Comments
0 Comments

Arsip Cersil

Cersil Keren

Pecinta Cersil