Donasi

Buat yang punya rejeki berlebih dan merasa terhibur dengan Situs Cerita Silat Cersil Terbaik ini bisa mendonasikan bantuannya ke
No. Rekening BPD Jateng No. 2004084554 a.n Ali Afif
demi keberlangsungan dan keberadaan Blog Cersil Cerita Silat yang sama-sama kita cintai ini. Kritik dan Saran hub No HP.083837358519. Atas Bantuannya disampaikan Terimakasih.

Rabu, 19 April 2017

Cersil ke 10 Kembalinya Pendekar Rajawali Sakti

Cersil ke 10 Kembalinya Pendekar Rajawali Sakti Tag:Penelusuran yang terkait dengan cersil cersil indo cersil mandarin full cerita silat mandarin online cersil langka cersil mandarin lepas cerita silat pendekar matahari kumpulan cerita silat jawa cersil mandarin beruang salju. cerita silat pendekar mataharicerita silat indonesia cerita silat kho ping hoo cerita silat mandarin online cerita silat mandarin full cerita silat jawa kumpulan cerita silat cerita silat jawa pdf cerita silat indonesia gratis cerita silat jadul indonesia cerita silat indonesia pendekar rajawali sakti cersil indonesia pendekar mabuk cersil langka cersil dewa arak cerita silat jaman dulu cersil jawa download cerita silat mandarin full cerita silat mandarin online cersil mandarin lepas cerita silat mandarin pendekar matahari cerita silat jawa pdf cersil indonesia pdf cersil mandarin beruang salju kumpulan cerita silat pdf
kumpulan cerita silat cersil online
-Cersil ke 10 Kembalinya Pendekar Rajawali Sakti
"Aku ajarkan kau tiga jurus sakti, dengan ini kau lantas
bisa paksa Yali Ce memakai kedua tangannya," kata Nyo Ko
lagi "Tetapi kau tentu tak percaya, bukan ? Nah, sekarang
juga aku boleh coba-coba dengan kau. Aku sama sekali tak
menggunakan kaki-tanganku untuk bergebrak dengan kau,
bagaimana ?"
Luar biasa heran Wanyen Peng oleh ucapan Nyo Ko,
katanya dalam hati: "Masakan kau bisa rami gaib hingga
dengan sekali tiup kau bisa robohkan aku?"
Melihat sikap si gadis, Nyo Ko tahu apa yang dipikir
olehnya.
"Kau boleh bacok dengan golok sesukamu, atau aku tak
bisa hindarkan diri biar matipun ku tidak menyesal" katanya
untuk menghiIangkan rasa sangsi si nona.
"Baiklah, cuma akupun tak pakai golok, balas dengan
tangan kosong saja kulukai kau," sahut Wanyen Peng.
"Tidak, tidak," kata Nyo Ko lagi sambil menggeleng kepala,
"aku harus rebut golokmu tanpa geraki tangan dan kakiku,
dengan begitu barulah kau mau percaya."
Tiraikasih Website http://cerita-silat.com/cc
Melihat sikap Nyo Ko yang anggap perkara itu seperti hal
sepele saja, mau tak-mau Wanyeng Peng mendongkol juga.
"Tuan begini lihay, sungguh, dengar saja aku tak pernah"
katanya
Habis ini, tanpa sungkan-sungkan lagi ia lolos golok terus
membacok ke pundak Nyo Ko.
Ketika melihat kedua tangan Nyo Ko masih terselubung di
dalam lengan baju dan anggap seperti tidak terjadi apa-apa, ia
menjadi kuatir betulI melukai orang, maka arah goloknya
sedikit dimiringkan ke samping.
Gerak senjatanya ini ternyata dapat dilihat jelas oleh Nyo
Ko, iapun tidak bergerak sedikitpun.
"Jangan kau sungkan-sungkan, kau harus membacok
sungguhan." demikian katanya.
Wanyen Peng menjadi kagum melihat orang sama sekali
tak hkaukan serangannya itu, "Apakah ia seorang dogol?"
pikirnya.
Menyusul itu, goloknya bergerak pula, sekali ini ia
membabat dari samping dengan sungguh-sungguh
Tak terduga, secepat kilat mendadak Nyo sedikit
berjongkok hingga golok menyamber lewat di atas kepalanya,
jaraknya cuma selisih satu-dua senti saja.
Sekarang Wanyen Peng tidak sungkan-sungkan lagi, ia
kumpulkan semangat, goloknya diangkat terus membacok
pula.
Tiraikasih Website http://cerita-silat.com/cc
"Dalam bacokanmu boleh diselingi pula dengan Thi-cio
(pukulan telapak besi)," kata Nyo Ko sembari hindarkan golok.
Luar biasa kaget Wanyen Peng oleh kata-kata Nyo Ko itu,
dengan golok terhunus ia melompat ke pinggir
"Da... dari mana kau bisa tahu?," tanyanya cepat dengan
suara tak lancar.
"Kau punya Ginkang adalah dari golongan Thi-cio-cuisiang-
biau, maka aku hanya coba menerkanya saja," sahut
Nyo Ko.
"Baik," kata Wanven Peng kemudian. Berbareng itu
goloknya membacok pula diikuti dengan tangan kiri lantas
memotong betul-betul diantara goloknya ia selingi dengan Thicio.
Namun dengan gampang saja Nyo Ko mengegos lagi
"Boleh lebih cepat sedikit." katanya malah.
Wanyen Peng menjadi makin heran, ilmu goloknya lantas
dikeluarkan seluruhnya, makin menyerang makin cepat nyata
dia memang anak murid kaum ahli yang tersohor, gerak
serangannya tidak boleh dipandang enteng.
Sungguhpun begitu, namun kedua tangan Nyo Ko masih
terselubung di dalam lengan baju, hanya tubuhnya saja vang
berkelit kian kemari di antara samberan golok dan hantaman
orang, jangan kata hendak melukainya, ujung baju saja
Wanyen Peng tak mampu menyenggolnya.
Tiraikasih Website http://cerita-silat.com/cc
Sesudah sebagian besar ilmu golok si nona dilontarkan,
tiba-tiba Nyo Ko berkata: "Awas, dalam tiga jurus ini, golokmu
akan kurebut!"
Kini Wanyen Peng sudah kagum luar biasa terhadap Nyo
Ko, tetapi kalau bilang dalam tiga jurus saja goloknya hendak
direbut, inilah dia masih belum mau percaya, maka senjatanya
ia genggam terlebih kencang.
"Coba saja rebut!" sahutnya, berbareng ia memotong dari
samping dengan kuat, tipu serangan ini adalah "Ling-hing-cinnia"
(dengan gesit melintasi bukit Cin).
Siapa tahu, dengan sedikit menunduk Nyo Ko malah
menerobos di bawah goloknya, menyusul ini kepalanya sedikit
melengos ke atas, dengan batok kepalanya ia bentur siku
Wanyen Peng yang memegang golok itu.
Tempat yang dibentur itu adalah "kiok-ti-hiat", keruan
lengan Wanyen Peng menjadi lemas tak bertenaga, ketika Nyo
Ko mendongak dan mangap mulutnya, dengan jitu sekali
punggung golok kena digigitnya, maka secara gampang saja
senjata itupun kena direbutnya, bahkan menyusul kepalanya
melengos lagi, dengan garan golok ia tumbuk iga Wanyen
Peng, maka tertutuklah Hiat-to si gadis.
Dengan tersenyum Nyo Ko segerapun melompat pergi,
waktu kepalanya bergerak, tiba-tiba ia mengayun ke atas
hingga golok yang dia gigit tadi terbang ke udara, dengan
melemparkan golok ini, perlunya agar bisa bicara dengan
mulutnya.
"Bagaimana, menyerah tidak?" begitu ia tanya.
Tiraikasih Website http://cerita-silat.com/cc
Habis berkata, golok itupun sudah menurun ke bawah,
Nyo Ko buka mulut dan dapat menggigitnya kembali
Terkejut dan bergirang Wanyen Peng, ia angguk-angguk
oleh pertanyaan Nyo Ko tadi.
Melihat kerlingan mata si gadis sungguh mirip sekali
dengan Siao-liong-li, tak tertahan Nyo Ko ingin sekali bisa
peluk orang dan menciumnya, cuma perbuatan ini terlalu
kurangajar, maka sambil gigit golok, mukanya menjadi merah
jengah.
Sudah tentu Wanyen Peng tak tahu apa yang sedang
dipikir Nyo Ko, hanya dilihatnya sikap orang yang aneh itu,
dalam hati ia terheran-heran, namun seluruh badan sendiri
terasa kaku, kedua kaki lemas seakan-akan hendak jatuh.
Nyo Ko melangkah maju dan melamun, tiba-tiba teringat
olehnya: "Ah, jangan, dia pernah berterima kasih pada Yali Ce
karena sopan santunnya, memang aku lebih rendah daripada
Yali Ce itu? Hm, aku justru hendak melebihi dia dalam hal
apapun juga."
Begitulah tabiat Nyo Ko yang gampang ter-singgung, sejak
kecil tak pernah memperoleh didikan orang tua, tentang sopan
santun dan tata krama sama sekali tak diketahui, setiap tindak
tanduknya bergantung pada pendapatnya apakah itu baik atau
buruk. Waktu itu kalau bukan pikirannya ingin melebihi Yali
Ce, boleh jadi ia sudah peluk Wanyen Peng dan menciumnya.
Kemudian dengan garan golok ia tumbuk lagi sekali
pinggang Wanyen Peng untuk melepaskan Hiat-to yang
ditutuk tadi, lalu golok itu ia angsurkan kembali padanya.
Tiraikasih Website http://cerita-silat.com/cc
"Siapa tahu, bukannya Wanyen Peng terima kembali
goloknya, sebaliknya ia terus berlutut di hadapan Nyo Ko.
"Mohon Suhu terima aku sebagai murid, kalau aku dapat
membalas sakit hati orang tua, budi ini pasti takkan
kulupakan," katanya tiba-tiba.
Nyo Ko menjadi kelabakan oleh kelakuan orang, lekaslekas
ia bangunkan Wanyen Peng.
"Mana bisa aku menjadi gurumu?" sahutnya, "Tetapi,
dapatlah kuajarkan satu akal padamu untuk membunuh Yalikongcu."
Girang sekali Wanyen Peng oleh keterangan itu.
"Bagus sekali, asal bisa bunuh Yali-kongcu, abang dan
adiknya bukan tandinganku semua, dengan sendirinya aku
dapat membunuh lagi ayahnya... berkata sampai disini, tibatiba
terpikir lagi olehnya: "Ah, kalau sampai aku memiliki
kepandaian untuk membunuh dia, apa mungkin Yali tua masih
hidup di dunia ini? Bagaimanapun juga, sakit hati ayahbundaku
tak dapat dibalas,"
Tetapi sehari ini saja Yali tua itu rasanya masih tetap
hidup," kata Nyo Ko dengan tertawa.
"Apa maksudmu?" tanya Wanyen Peng.
"Untuk membunuh Yali Ce, apa susahnya?" Sahut Nyo Ko.
"Sekarang juga aku ajarkan tiga tipu padamu dan malam ini
juga kau dapat membunuhnya."
Sudah tiga kali Wanyen Peng berusaha membunuh Yali
Cu-cay, tetapi ketiga kalinya selalu dikalahkan Yali Ce secara
mudah saja, maka ia cukup kenal ilmu kepandaian orang yang
Tiraikasih Website http://cerita-silat.com/cc
berpuluh kali lebih tinggi dari dirinya. Ia pikir, sungguhpun
ilmu silat Nyo Ko tinggi, tapi belum tentu melebihi Yali Ce.
Sekalipun bisa menangkan dia, tidak nanti juga hanya tiga
tipu saja lantas bisa digunakan buat membunuh orang, apalagi
malam ini pula katanya bisa membunuhnya, ini lebih-lebih tak
mungkin.
Begitulah ia menjadi sangsi, karena kuatir Nyo Ko marah,
maka tak berani Wanyen Peng mendebatnya, hanya kepalanya
menggeleng sedikit, sedang kerlingan matanya yang
menggilakan Nyo-Ko tadi semakin menggiurkan.
Betapa pintarnya Nyo Ko, segera iapun tahu apa yang
dipikirkan si gadis.
"Ya, memang ilmu silatku belum pasti bisa diatasnya,"
demikian katanya, "kalau saling gebrak, boleh jadi aku malah
banyak kalahnya daripada menangnya, Tetapi untuk
mengajarkan tiga tipu padamu dan buat membunuhnya
malam ini juga, hal ini sebaliknya tidak perlu buang tenaga,
Soalnya hanya bergantung padamu yang pernah mendapat
pengampunan tiga kali dari dia, aku kuatir kau tak tega
membunuhnya."
Hati Wanyen Peng tergerak, segera ia keraskan hatinya
dan menyahut: "Meski dia ada budi padaku, namun sakit hati
orang tua tidak bisa tidak dibalas."
"Baik, kalau begitu tiga jurus tipu ini segera kuajarkan
padamu," kata Nyo Ko. "Tetapi kalau kau mestinya bisa
membunuh dia dan tidak kau lakukan, lalu bagaimana nanti?"
"Bila terjadi begitu, terserahlah kau untuk berbuat
sesukamu, toh kepandaianmu begini tinggi kau mau pukul
Tiraikasih Website http://cerita-silat.com/cc
atau mau bunuh aku, apa aku sanggup melarikan diri?" sahut
Wanyen Peng tegas.
"Mana aku tega pukul, apalagi membunuh kau?" demikian
pikir Nyo Ko dalam hati. Maka dengan tersenyum ia
menjawab: "Sebenamya tiga jurus tipu inipun tiada yang
mengherankan Nih, kau lihat yang jelas!"
Habis itu, golok orang lantas diambilnya kembali, dengan
pelahan ia membabat dari kiri ke kanan.
"Tipu pertama yalah "hun-hing-cin-nia"," kata Nyo Ko.
Melihat tipu serangan ini, diam-diam Wanyen Peng
berpikir: "Tipu serangan ini aku sudah bisa, perlu apa kau
mengajarkan?" - Maka dengan mengegos ia hindarkan
serangan itu.
"Dan kini tipu kedua," kata Nyo Ko sambil mendadak ulur
tangan kiri buat pegang tangan kanan si gadis, "ini adalah tipu
"ko-tin-jiau-jiu" (akar rotan melingkar pohon) dari ilmu
pukulanmu Thi-cio-kang."
"Aneh, tipu inipun satu diantara 18 gerakan Kim-na-jiu dari
Thi-cio-kang kami, buat apa kau mengajarkan lagi?" kembali
Wanyen Peng berpikir "Tetapi aneh juga, darimana dia
mempelajari ilmu pukulan golongan Thi-cio-bun kami?"
"Ilmu kepandaian golongan Thi-cio-bun, pertama adalah
Ginkang atau ilmu mengentengkan tubuh, Kedua yalah Ciohoat
atau ilmu pukulan tangan kosong, lebih-lebih 18 jurus
Kim-na-jiu (cara mencekal dan memegang) juga sangat lihay,
Karena Kiu-im-cin-keng adalah himpunan dari inti2 itmu silat
seluruh jagat, asal satu dipelajari maka semuanya paham
dengan sendirinya.
Tiraikasih Website http://cerita-silat.com/cc
Nyo Ko sudah berhasil melatih Kiu-im-cin-keng, maka
iapun kenal Kim-na-jiu-hoat dari Thi-cio-bun itu, hanya cara
yang lebih mendalam belum diketahuinya.
Begitulah, maka Wanyen Peng menjadi heran karena
tangannya dipegang tadi ia merasa Kim-na-jiu-hoat yang
diunjuk Nyo Ko ini sebenarnya tidak lebih lihay dari apa yang
dia pernah belajar, karena itu, dengan mata terbuka lebar ia
menantikan tipu serangan ketiga yang akan diajarkan padanya
itu.
Belum lagi Nyo Ko perlihatkan tipu ketiganya, Wanyen
Peng telah membatin pula: "Jurus seranganmu yang pertama
dan kedua semuanya adalah ilmu kepandaian Thi-cio-bun
kami sendiri hakekatnya tiada sesuatu yang luar biasa, apakah
mungkin melulu andalkan tipu serangan ketiga ini lantas bisa
membunuh Yali-kongcu?"
"Nah, sekarang lihatlah yang jelas !" begitulah terdengar
Nyo Ko berseru padanya, Habis itu goloknya diangkat terus
menggorok tenggorokan sendiri.
Keruan saja tidak kepalang kaget Wanyen Peng, "Hai, apa
yang kau lakukan ?" jeritnya cepat Dan karena tangan
kanannya masih dipegang ken-cang2 oleh Nyo Ko, maka
dengan tangan kiri ia merebut senjata yang hendak dibuat
bunuh diri oleh Nyo Ko itu.
Meski dalam keadaan gugup, namun gerak tangan
Wanyen Peng tetap sangat cepat, sekali cekal, pergelangan
tangan si Nyo Ko sudah dipegangnya terus ditekuk, dengan
demikian mata golok itu tak dapat dipakai membunuh diri lagi.
Tiraikasih Website http://cerita-silat.com/cc
Nyo Ko lantas kendurkan kedua tangannya dan melompat
mundur. "Nah, sekarang kau sudah tahu bukan ?" dengan
tertawa ia tanya.
Wanyen Peng sendiri masih berdebar-debar hati-nya oleh
karena kagetnya tadi, maka ia belum paham apa maksud
kata-katanya.
"Pertama kau gunakan tipu "hun-hing-cin-nia" untuk
membabat, lalu dengan tipu oh-tu-jiau-jiu" kau cekal tangan
kanannya dengan kencang, dan tipu ketiga yalah angkat golok
buat bunuh diri.
"Dalam keadaan begitu, pasti dia akan gunakan tangan kiri
buat menolong kau, ia pernah bersummpah padamu bahwa
asal kau bisa memaksa dia menggunakan tangan kiri, ia akan
serahkan jiwanya padamu, itu namanya mati tanpa menyesal
dan bukankah urusan menjadi selesai ?" demikian Nyo Ko
menjelaskan.
Betul juga pikir Wanyen Peng, tetapi dengan termangumangu
ia memandang Nyo Ko, dalam hati ia pikir: "Usiamu
masih semuda ini, mengapa dapat kau pikirkan cara-cara yang
begini aneh dan nakal ?"
Dalam pada itu Nyo Ko telah berkata lagi:
"Ketiga tipu tadi tanggung berhasil dengan baik, kalau
gagal, aku nanti menyembah padamu!"
"Tidak," tiba-tiba Wanyen Peng menyahut dengan goyang
kepala, "sekali dia bilang tak akan pakai tangan kiri, tentu tak
digunakannya, lalu bagaimana?"
Tiraikasih Website http://cerita-silat.com/cc
"Lalu bagaimana? Kalau kau tak bisa membalas dendam,
bukankah lebih baik mati saja, beres." kata Nyo Ko.
"Kau betul," sahut Wanyen Peng dengan suara pilu,
"Terima kasih atas petunjukmu sebenarnya kau ini siapakah ?"
"Dia bernama si Tolol, jangan kau turut ocehannya,"
belum sampai Nyo Ko menjawab, tiba-tiba suara seorang
perempuan menyela di luar jendela.
Nyo Ko dapat mengenali itu adalah suara Liok Bu-siang,
maka ia hanya tersenyum dan tidak gubris.
Sementara itu Wanyen Peng telah melompat ke pinggir
jendela, sekilas masih dapat dilihat berkelebatnya bayangan
orang yang melompat keluar pagar.
Hendak dikejar oleh Wanyen Peng sebenarnya, namun
Nyo Ko telah mencegahnya.
"Tak perlu kau uber dia," kata Nyo Ko dengan tertawa,
"Dia adalah kawan-ku. Dia memang selalu ingin mengacau
padaku."
"Tak apalah kalau kau tak mau menerang-kan," ujar
Wanyen Peng sesudah termenung sejenak sambil
memandangi Nyo Ko. "Tetapi aku yakin kau tiada maksud
jahat padaku."
Watak Nyo Ko suka menyerah pada kelunakan dan sekalikali
tidak sudi tunduk pada kekerasan kalau ada orang
menghina dia, memaksa dia, sekalipun mati tak nanti dia
menyerah, tetapi kini oleh karena kerlingan mata Wanyen
Tiraikasih Website http://cerita-silat.com/cc
Peng dengan wajahnya yang sayu mengharukan, tanpa terasa
timbul rasa kasih sayang dalam hati Nyo Ko.
Maka dengan tarik tangan si gadis, dengan berendeng
mereka duduk di dipan, lalu dengan suara halus ia
menerangkan : "Aku she Nyo dan bernama Ko, ayah-bundaku
sudah meninggal semua, serupa saja dengan hidupmu..."
Mendengar sampai disini, hati Wanyen Peng tak tertahan
lagi air matanya mengucur. Dasar perasaannya Nyo Ko juga
gampang terguncang, mendadak iapun menangis hingga
menggerung.
Karena itu, Wanyen Peng keluarkan saputangan dan
disodorkan pada Nyo Ko.
Waktu mengusap air mata dengan saputangan orang, Nyo
Ko mencium bau harum yang sedap, tetapi ketika ingat pada
kisah hidupnya sendiri, air matanya semakin lama semakin
mengucur.
"Nyo-ya (tuan Nyo), kaupun ikut-ikut menangis --garagara
urusanku," kata Wanyen Peng.
"Jangan panggil aku Nyo-ya," sahut Nyo Ko.
"Betapa umurmu tahun ini?"
"Delapan belas," kata si gadis. "Dan kau?"
"Akupun delapan belas," sahut Nyo Ko, Dalam hati ia
berpikir: "Kalau bulan lahirku lebih muda dari dia hingga aku
dipanggil adik olehnya, rasanya kurang nikmat." - Karena
inilah, lantas di sambungnya lagi: "Aku terlahir dalam bulan
pertama, maka selanjutnya kau panggil aku Toako saja,
Tiraikasih Website http://cerita-silat.com/cc
Akupun tak akan sungkan 2 lagi dan panggil kau sebagai adik
perempuan."
Muka Wanyen Peng menjadi merah, ia merasa si Nyo Ko
ini segala apa selalu terang-terangan, sungguh sangat aneh,
tetapi memang nyata tiada maksud jahat terhadap dirinya,
maka kemudian iapun: mengangguk tanda setuju.
Mendapatkan seorang adik baru, rasa senang hati Nyo Ko
sungguh tak terkatakan.
Begitulah watak Nyo Ko, kalau Liok Bu-siang suka
mendamperat dan marah-marah padanya, maka ia pun tiada
hentinya menggoda, Tetapi kini wajah Wanyen Peng cantik
molek, perawakannya kurus lencir, nasibnya pun malang,
seperti dilahirkan supaya dikasihani orang, yang paling penting
lagi, jalan kerlingan sepasang mata-bolanya yang begitu mirip
seperti Siao-liong-li.
Dengan termangu-mangu Nyo Ko memandangi mata
Wanyen Peng, dalam khayalannya ia anggap gadis berbaju
hitam di hadapannya itu seperti berbaju putih, wajah orang
yang cantik kurus itu seakan-akan kelihatan seperti muka
Siao-liong-li tanpa terasa terunjuklah perasaannya yang
mengharap, perasaan rindu rasa kasih sayang yang halus.
Karena guncangan perasaan itulah, maka air mukanya pun
menjadi aneh luar biasa, akhirnya Wanyen Peng menjadi
takut, pelahan ia lepaskan tangan dari cekalan orang dan
menegur: "Kenapakah kau?"
"Tak apa-apa," sahut Nyo Ko seperti tersadar dari mimpi,
sambil menghela napas. "Sekarang kau pergi membunuh dia
tidak?"
Tiraikasih Website http://cerita-silat.com/cc
"Segera juga aku pergi," sahut Wanyen Peng cepat, "Nyotoako,
kau ikut serta tidak?"
Sebenarnya Nyo Ko hendak berkata : "sudah tentu ikut
serta", tetapi bila terpikir lagi kalau dirinya ikut, tentu hal ini
akan membesarkan hati Wanyen Peng, dan lagaknya
membunuh diri tentu menjadi tak sungguhan Yali Ce juga tak
bisa terjebak akalnya lagi
Sebab itu, maka dijawabnya : "Rasanya tak enak aku ikut
pergi."
Karena jawaban ini, tiba-tiba sorot mata Wanyen Peog
menjadi guram
Hati Nyo Ko menjadi lemas, hampir-hampir ia
menyanggupi untuk ikut serta kalau tidak keburu si gadis
berkata lagi: "Baiklah, Nyo-toako, cuma aku tak akan bersua
lagi dengan kau."
"Mana, ma... mana bisa begitu? ak,..aku...." sahut Nyo Ko
cepat dan tak lancar.
Namun Wanyen Peng sudah keluarkan serenceng uang
perak, ia lemparkan ke atas meja sebagai biaya menginap di
rumah penduduk itu, habis mana iapun melompat keluar.
Dengan ilmu entengkan tubuhnya yang hebat, sekejap
saja ia sudah berada lagi ditempat tinggalnya Yali Ce.
Tatkala itu Yali Cu-cay dll sudah kembali ke kamarnya
sendiri-sendiri, Yali Ce baru saja hendak me-ngaso, tiba-tiba
pintu kamarnya diketok orang.
Tiraikasih Website http://cerita-silat.com/cc
"Wanyen Peng mohon bertemu Yali-kongcu," demikian
terdengar suara si gadis yang nyaring.
Segera ada empat pengawal datang merintangi Wanyen
Peng, namun Yali Ce sudah keburu membuka pintu kamarnya.
"Ada keperluan apa lagi, nona Wanyen?" tanyanya segera.
"Aku ingin belajar beberapa gebrak lagi dengan kau,"
sahut Wanyen Peng.
Heran sekali Yali Ce, ia pikir mengapa orang tak tahu diri?
Namun tidak urung ia menyingkir ke samping sambil memberi
tanda dengan tangan: "Silakan masuk!"
Begitu masuk, tanpa bicara lagi Wanyen Peng lantas lolos
senjata terus mencecar tiga kali, diantara goloknya, ia selingi
pula dengan pukulan telapak tangan besinya.
Tetapi Yali Ce memang jauh lebih tinggi ilmu silatnya,
dengan tangan kiri lurus ke bawah, ia layani si gadis dengan
tangan kanan melulu, ia balas memukul dan hendak
menangkap senjata orang, dengan gampang saja semua
serangan Wanyen Peng dapat dipatahkannya.
Dalam hati iapun sedang pikirkan sesuatu daya-upaya agar
bisa membikin Wanyen Peng kapok dan mundur teratur untuk
selanjutnya tak datang merecokinya lagi .
Lewat tak lama, selagi Wanyen Peng hendak keluarkan
tiga tipu akal ajaran Nyo Ko, mendadak di luar pintu suara
seorang wanita berseru: "Hmm Yali-kongcu, dia hendak
menipu kau menggunakan tangan kiri." Tidak salah lagi itulah
suaranya Liok Bu-siang.
Tiraikasih Website http://cerita-silat.com/cc
Untuk sesaat Yali Ce tercengang, akan tetapi Wanyen
Peng tak memberikan kesempatan padannya untuk berpikir,
segera dengan tipu "hun-hmg-cin-nia" ia membabat, selagi
Yali Ce mengegos, sekonyong-konyong ia ulur tangan kiri
terus cekal tangan kanan Yali Ce dengan tipu "koh-tin-jiaujiu",
menyusul golok diangkat terus menggorok ke lehernya
sendiri!
Maka insaflah Yali Ce oleh seruan di luar pintu tadi, untuk
sesaat pikirannya sudah bergantian beberapa kali: "Harus
kutolong dia! - Tetapi inilah tipunya untuk pancing aku
menggunakan tangan kiri, kalau aku geraki tangan kiri, itu
berarti aku menyerahkan jiwaku untuk diperbuat sesuka
hatinya. Biarlah, laki-laki sejati mati biarlah mati, mana boleh
melihat orang mau bunuh diri tanpa menolongnya ?"
Sebenarnya Nyo Ko sudah mentafsirkan jalan pikiran Yali
Ce, asal mendadak tiga tipu serangan ajarannya itu
dilontarkan, maka tak bisa tidak pasti ia akan gunakan tangan
kirinya buat menolong,
Siapa tahu Liok Bu-siang sengaja mengacau dan
sebelumnya memperingatkan Yali Ce.
Sungguhpun begitu, namun Yali Ce memang manusia
yang berbudi dan berhati mulia, sudah terang diketahuinya
begitu ia keluarkan tangan kiri buat tolong Wanyen Peng,
maka jiwanya tak terjamin lagi. Tetapi pada saat yang
berbahaya itu, toh masih tetap tangan kirinya diulur untuk
menangkis pergelangan tangan Wanyen Peng, menyusul
tangannya membalik dan Liu-yap-to itu dapat direbutnya.
Sesudah saling gebrak tiga jurus itu, kemudian masingmasing
pun melompat mundur berbareng, Dan sejenak
Tiraikasih Website http://cerita-silat.com/cc
menunggu si gadis buka suara, Yali Ce segera mendahului
melemparkan golok rampasannya padanya.
"Nyata kau dapat paksa aku menggunakan tangan kiri
maka jiwaku kuserahkan padamu sekarang, cuma ada sesuatu
permohonanku padamu," demikian katanya.
"Urusan apa?" tanya Wanyen Peng dengan muka pucat.
"Aku mohon kau jangan celakai ayahku lagi," pinta Yali Ce.
Wanyen Peng menjengek sekali, lalu dengan ia melangkah
maju, golok ia angkat, di sinar lampu ia lihat sikap Yali Ce
biasa saja tanpa jeri sedikitpun, bahkan penuh berwibawa.
Wanyen Peng adalah gadis yang cantik dan halus budinya,
melihat seorang Laki-laki sejati sedemikian ini, teringat
olehnya sebabnya orang menggunakan tangan kiri tak lain tak
bukan adalah karena hendak menolong jiwanya, keruan
goloknya itu tak tega dibacokkan.
Tiba-tiba napsu membunuhnya yang membakar tadi
menjadi ludes, Liu-yap-to yang sudah dia angkat itu
mendadak dilempar ke lantai, dengan menutup mukanya
iapun berlari pergi.
Dalam keadaan begitu, Wanyen Peng menjadi seperti
orang linglung, ia melangkah setibanya hingga akhirnya
sampai di tepi sebuah sungai, sambil memandangi sinar
bintang yang ber-kelip2 guram tercermin di air sungai itu,
pikirannya kusut tidak keruan.
Lewat lama dan lama sekali, Wanyen Peng menghela
napas panjang, Tiba-tiba ia dengar di belakangnya ada orang
Tiraikasih Website http://cerita-silat.com/cc
menghela napas juga, di malam yang sunyi itu,
kedengarannya menjadi sangat seram.
Dalam kagetnya segerapun Wanyen Peng berpaling, maka
terlihatlah satu orang berdiri di belakangnya, siapa lagi dia
kalau bukan Nyo Ko ! "Nyo-toako," ia menyapa sekali, lalu
kepala menunduk dan tidak buka suara pula.
"Moaycu (adik), urusan membalas dendam orang tua
memang bukan perkara gampang, maka tak perlu tergesagesa
ingin lekas terlaksana," kata Nyo Ko sambil maju dan
menggenggam tangan si gadis.
"Kau sudah menyaksikan semuanya?" tanya Wanyen Peng.
Nyo Ko mengangguk.
"Manusia seperti aku ini, soal balas dendam sudah tentu
bukan urusan gampang." kata pula si gadis, "Tetapi kalau aku
bisa mempunyai setengah kepandaianmu rasanya tak nanti
aku bernasib begini,"
"Sekalipun bisa memiliki ilmu silat seperti aku, apa guna?"
ujar Nyo Ko sambil gandeng tangan orang dan duduk
berendeng di bawah satu pohon rindang, "Meski kau belum
bisa membalas dendam, namun sedikitnya kau sudah tahu
siapa musuhmu. sebaliknya aku? Sampai cara bagaimana
ayahku tewas, hingga kini akupun tidak tahu, begitu pula
siapa pembunuhnya juga tak tahu, jangankan hendak
menuntut balas, lebih-lebih tak perlu disebut lagi"
"Ayah-bundamu juga dibunuh orang?" tanya Wanyen Peng
dengan tercengang.
Tiraikasih Website http://cerita-silat.com/cc
"Bukan, ibuku tewas digigit ular berbisa, sedangkan
ayahku mati secara tak jelas, malahan selamanya belum
pernah aku melihat mukanya," sahut Nyo Ko sambil menghela
napas.
"Kenapa bisa begitu ?" tanya si gadis.
"Ya sebab waktu aku dilahirkan ayahku sudah keburu
mati," tutur Nyo Ko. "Sering aku tanya ibu sebab apakah
sebenarnya ayah mati dan siapa musuhnya, Tetapi setiap kali
aku tanya, selalu ibu mengucurkan air mata dan tak
menjawab, belakangan akupun tak berani bertanya lagi. Aku
pikir biarlah kelak kalau aku sudah dewasa barulah aku tanya
pula, siapa tahu ibu mendadak di-gigit ular, pada sebelum
ajalnya kembali aku bertanya tentang kematian ayah. Kata
ibu: "Sepak terjang ayahmu memang tidak baik, maka
kematiannya itu merupakan ganjarannya, Orang yang
membunuhnya berkepandaian tinggi sekali, pula adalah orang
baik. Sudahlah, nak, seumur hidupmu ini jangan sekali-kali
kau berpikir tentang balas dendam segala", Ai, coba, cara
bagaimana sebaiknya aku ini?"
Dengan penuturannya ini, maksud Nyo Ko hendak
menghibur Wanyen Peng, tetapi akhirnya ia sendiri menjadi
berduka juga.
"Lalu siapakah yang membesarkan kau?" tanya Wanyen
Peng.
"Siapa lagi? Sudah tentu kubesarkan diriku sendiri," sahut
Nyo Ko. "Sejak wafatnya ibu, aku lantas ter-lunta2 di kalangan
Kangouw, disini aku mengemis sesuap nasi, di sana
kulewatkan semalam, kadang-kadang saking tak tahan lapar
aku lantas curi sebuah semangka atau sepotong ubi sekedar
tangsal perut, namun sering kali kena ditangkap pemiliknya
Tiraikasih Website http://cerita-silat.com/cc
dan dihajar babak belur, lihat ini, di sini masih ada bekasnya,
dan yang ini tulangnya... sampai menonjol, semua ini akibat
dihajar orang semasih kecil"
Sambil berkata sembari lengan celananya di gulung untuk
menunjukkan tempatnya pada si gadis, tetapi keadaan
remang-remang, Wanyen Peng tak jelas melihatnya, Nyo Ko
memegang tangannya dan diletakkan pada belang bekas luka
di betisnya itu.
Wanyen Peng berhati Iemah, ia memang dilahirkan
sebagai gadis perasa dan suka bersedih, sambil meraba bekas
luka betis orang, tak tertahan hatinya terasa pilu, diam-diam
ia pikir nasib dirinya yang meski negara hancur dan rumah
runtuh, namun masih tidak sedikit terdapat sanak kadang
serta tidak sedikit kekayaan yang ditinggalkan sang ayah,
kalau dibandingkan dengan nasib pemuda di depannya ini
dirinya masih boleh dikatakan jauh lebih beruntung.
Begitulah mereka saling diam sejenak, kemudian perlahanlahan
Wanyen Peng tarik tangannya dari betis orang, hanya
masih membiarkan digenggam Nyo Ko.
"Dan cara bagaimana lagi kau berhasil melatih ilmu silat
seperti sekarang ini? Dan kenapa menjadi perwira Mongol
pula?" tanyanya dengan lirih.
"Aku bukan perwira MongoI," sahut Nyo Ko. "Aku sengaja
pakai baju bangsa Mongol, sebabnya hendak menghindari
pencarian seorang musuh."
"Bagus kalau begitu ?" kata Wanyen Peng tiba-tiba dengan
girang.
"Kenapa bagus?" Nyo Ko bingung.
Tiraikasih Website http://cerita-silat.com/cc
Sedikit merah muka Wanyen Peng. "Bangsa Mongol adalah
musuh besar negara kami, dengan sendirinya aku mengharap
kau bukan perwira mereka," sahutnya kemudian.
Hati Nyo Ko terguncang sambil genggam tangan si gadis
yang halus dan lunak itu.
"Moaycu, jika aku adalah perwira Mongol, lalu bagaimana
perasaanmu terhadapku?" tanya Nyo Ko tiba-tiba.
Sejak mula Wanyen Peng melihat tampan Nyo Ko yang
gagah dan ilmu silatnya tinggi, memangnya ia sudah suka,
belakangan mendengar lagi kisah hidupnya yang
mengharukan itu, hal ini lebih menambah rasa kasihannya,
maka iapun tidak menjadi marah meski mendengar kata-kata
Nyo Ko tadi rada blak-blakan.
"Jika ayahku masih hidup, apa yang kau inginkan tentu
akan menjadi mudah, tetapi kini ayah-bundaku sudah tiada
semua, apalagi yang dapat kukatakan?" sahutnya kemudian
dengan menghela napas.
Mendengar lagu suara orang lemah Iembut, si Nyo Ko
menjadi dapat hati, ia berani ulur tangannya buat memegang
pundak orang.
"Moaycu, bolehkah kumohon sesuatu," rayu-nya dengan
bisik-bisik.
Berdebar-debar hati si gadis, sudah beberapa bagian
dapat diduganya apa yang dikehendaki Nyo Ko.
"Hal apa?" sahutnya rendah.
Tiraikasih Website http://cerita-silat.com/cc
"Aku mohon diperkenankan mencium matamu ! Ya, mata
saja, yang lain-lain tak nanti aku melanggarnya," kata Nyo Ko.
Semula Wanyen Peng menyangka tentu si Nyo Ko hendak
meminang dirinya, malahan ia kuatir juga jangan-jangan
pemuda ini menjadi lupa daratan dan main kasar terus
melakukan perbuatan-perbuatan yang tak senonoh di tempat
terbuka ini, kalau sampai hal ini terjadi terang sekali dirinya
tak bisa melawannya.
Siapa tahu orang hanya mohon mencium matanya, maka
terasa lega sedikit baginya, namun entah mengapa, rasa
dalam hatipun rada-rada kecewa dan sedikit heran pula,
sungguh perasaan yang sangat ruwet dan aneh.
Karena itu, dengan tercengang ia pandang Nyo Ko dengan
kerlingan matanya yang basah-basah sayu dan sedikit rasa
malu.
Melihat kerlingan mata Wanyen Peng, tiba-tiba Nyo Ko
teringat pada saat sebelum perpisahannya yang terakhir
dengan Siao-Iiong-li, di mana Siao-liong-li pun pernah
memandang padanya dengan kerlingan mata yang maIu2 dan
mengandung arti yang dalam, Tak tertahan lagi ia menjerit
orangnya pun melompat bangun.
Tentu saja Wanyen Pcng kaget oleh kelakuan si Nyo Ko
itu, ingin dia tanya oleh sebab apa, namun sukar membuka
mulut rasanya.
Dalam pikiran yang kacau itu, Nyo Ko merasa kerlingan
mata di depannya itu adalah kerlingan mata Siao-liong-li
melulu.
Tiraikasih Website http://cerita-silat.com/cc
Dahulu waktu pertama kali ia melihat kerlingan mata
seperti demikian ini, saat itu ia masih hijau pelonco dan sama
sekali tak mengarti arti kerlingan mata demikian itu, tetapi
sejak ia turun gunung, sesudah berkumpul beberapa hari
dengan Liok Bu-siang, pula hari ini bergaul dengan Wanyen
Peng, maka mendadak jadi teringat olehnya maksud baik dan
cinta halus dari Siao-liong-li dahulu, semua itu baru dia
pahami sekarang.
Keruan ia menyesal tidak kepalang, bisa-bisa kepalanya
hendak ditumbukkan saja ke batang pohon di sampingnya biar
mati sekalian "Begitu tulus cinta Kokoh padaku, pula ia sudah
bilang hendak menjadi isteriku, tetapi aku telah kecewakan
maksud baiknya itu, sekarang ke mana harus kucari dia?"
demikian terpikir olehnya.
Karena itu, mendadak ia menjerit sekali lagi, tiba-tiba
Wanyen Peng ditubruknya dan dipeluk ken-cang2, dengan
bernapsu kelopak mata si gadis di-ciumnya.
Melihat orang seperti kalap dan seperti gila Wanyen Peng
terkejut tercampur girang, hendak meronta pun sukar karena
didekap Nyo Ko dengan kencang, akhirnya iapun pejamkan
matanya dan membiarkan orang mencium sepuasnya, terasa
olehnya selalu kelopak matanya itu saja yang ke kanan dan ke
kiri diciumi Nyo Ko, ia pikir orang ini meski kasar dan seperti
gila, namun apa yang sudah dikatakannya tadi ternyata dapat
dipercaya juga, sungguh aneh, sebab apakah melulu mata
saja yang terus diciuminya?"
"Kokoh, Kokoh!" sekonyong-konyong didengarnya Nyo Ko
berteriak-teriak, suaranya penuh rasa hangat dan menggelora,
tetapi terasa juga seperti sangat menderita.
Tiraikasih Website http://cerita-silat.com/cc
Selagi Wanyen Peng hendak tanya siapa yang
dipanggilnya itu, mendadak terdengar suara seorang
perempuan berkata di belakang mereka: "Ma'af, kalian
berdua!"
Nyo Ko dan Wanyen Peng sama-sama kaget, segera
tangan mereka yang saling genggam tadi terlepas kian
melompat pergi, waktu mereka berpaling, maka tertampaklah
di bawah pohon itu berdiri seorang gadis berbaju hijau yang
dapat dikenali Nyo Ko sebagai orang yang beberapa kali
mengirim berita serta menolong Liok Bu-siang itu.
"Berulang kali mendapat bantuanmu, budi ini tak nanti
kulupakan," cepat Nyo Ko menyapa sambil memberi hormat.
Dengan laku sangat sopan gadis itu membalas hormat
orang.
"Rupanya Nyo-ya sedang senang-senang karena ada
kenalan baru, tetapi apa masih ingat pada kawan lama yang
pernah mengalami mati-hidup bersama itu?" begitu katanya.
"Kau maksudkan..."
"Li Bok-chiu guru bermurid tadi telah menawannya pergi!"
potong gadis itu sebelum Nyo Ko selesai berkata.
Keruan Nyo Ko terkejut.
"Apa betul?" ia menegas dengan suara gemetar "Dia... dia
ditawan ke mana?"
Tiraikasih Website http://cerita-silat.com/cc
"Waktu kau sedang asyik-masyuk dengan nona ini, saat
itulah nona Liok ditawan Li Bok-chiu," sahut gadis itu.
"Apa... apa tidak berhalangan atas dirinya?" tanya Nyo Ko
pula.
"Untuk sementara rasanya tidak mengapa bagi
keselamatannya," kata si gadis, "Nona Liok tetap mengatakan
kitab pusakanya itu telah direbut oleh Kay-pang, maka Jiklian-
mo-tau itu telah giring dia pergi pada kaum pengemis itu,
jiwanya sementara tak menjadi soal tetapi siksaan badan
rasanya sukar dihindarkan."
Nyo Ko adalah seorang yang gampang terguncang, maka
segera ia mengajak : "Marilah, lekas kita pergi menolongnya."
Siapa duga gadis itu hanya menggoyang kepala.
"Meski ilmu silat Nyo-ya tinggi, tapi rasanya masih bukan
tandingan iblis itu," demikian sahutnya, "Mungkin jiwa kita
hanya akan melayang percuma, sedang urusannya masih
belum bisa ditolong,"
Walau dalam kegelapan, namun mata "Nyo- Ko sangat
tajam seperti memandang benda di siang hari saja, maka
wajah si gadis baju hijau ini dapat dilihatnya sangat jelek dan
aneh luar biasa, otot daging di mukanya kaku tanpa bergerak
sedikitpun seperti mayat hingga membikin seram orang yang
memandangnya, Karena itu, Nyo Ko tak berani memandang
lebih lama.
"Orang ini sangat baik terhadapku, tetapi aneh, mukanya
kenapa terlahir begini rupa?" demikian pikirnya, Maka
kemudian iapun bertanya: "Dapatkah mengetahui she dan
Tiraikasih Website http://cerita-silat.com/cc
nama nona? selamanya kita belum kenal, kenapa begitu
mendapat perhatian nona?"
"Namaku tiada harganya buat di-sebut-sebut, kelak Nyo-ya
tentu akan tahu juga, kini yang paling penting yalah lekas
berdaya-upaya buat menolong orang saja," sahut gadis itu.
Diwaktu berkata air mukanya sedikitpun tidak tampak
perubahannya, kalau bukan mendengar suara keluar dari
mulutnya, sungguh orang bisa menyangka dia adalah mayat
hidup. Namun aneh juga, suaranya ternyata nyaring merdu
menarik.
"Jika begitu, cara bagaimana menoIongnya, terserahlah
pada keputusan nona, dengan hormat aku menurut
petunjukmu saja," kata Nyo Ko kemudian.
"Nyo-ya hendaklah jangan sungkan-sungkan," sahut gadis
itu. "Ilmu silatmu berpuluh kali lipat di atasku berpuluh kali
lebih pintar juga dari padaku, pula usiamu lebih tua, dan
seorang laki-laki lagi, apa yang kau bilang baik tentunya baik,
kedatanganku justru untuk terima perintahmu saja,"
Mendengar kata-kata orang yang merendah dan
menyenangkan ini, sungguh Nyo Ko menjadi senang sekali
"Kalau begitu, kita mengintilnya secara diam-diam saja,
kita mencari kesempatan baik untuk turun tangan," sahutnya
kemudian sesudah berpikir.
"ltulah paling baik," kata si gadis, "Tetapi entah bagaimana
pendapat nona Wanyen?"
Habis berkata, ia sendiri lantas menyingkir pergi dan
membiarkan Nyo Ko berunding dengan Wanyen Peng.
Tiraikasih Website http://cerita-silat.com/cc
"Moaycu. aku hendak pergi menolong seorang kawan,
kelak saja kita bertemu puIa," demikian kata Nyo Ko pada
gadis itu.
"Tidak, Nyo-toako, meski kepandaianku rendah, mungkin
dapat juga aku memberi bantuan sekadarnya, biarlah aku ikut
serta dengan kalian." sahut Wanyen Peng.
Memangnya Nyo Ko merasa berat kalau harus berpisah
dengan dia, mendengar orang mau ikut, tentu saja ia amat
girang.
"Bagus kalau begitu !" serunya senang.
Habis ini, dengan suara keras ia teriaki si gadis baju hijau
tadi: "Nona, adik Wanyen Peng suka bantu kita dan ikut pergi
menolong orang!"
"Wanyen-kohnio, kau adalah puteri bangsawan sebelum
bertindak hendaklah kau suka pikir dahulu," dengan laku
sangat hormat gadis baju hijau itu berkata pada Wanyen
Peng, "Harus kau ketahui bahwa musuh yang akan kami
hadapi ini kejam luar biasa, orang Kangouw memanggil dia
Jik-lian Sian-cu, yalah mengumpamakan dia sekeji ular belang
rantai, sungguh tidak mudah untuk menghadapinya,"
"Jangan cici berkata begitu, jangankan Nyo-toako ada budi
padaku, apa yang menjadi urusannya adalah urusanku juga,
walaupun seorang kawan seperti cici saja, aku Wanyen Peng
pun ingin kenal Maka biarlah aku ikut pergi bersama cici, asal
segalanya kita berlaku hati-hati" demikian sahut Wanyen
Peng.
Tiraikasih Website http://cerita-silat.com/cc
"Baik sekali kalau begitu," kata gadis itu dengan suara
halus sambil tarik tangan Wanyen Peng, "Cici, umurmu lebih
banyak dari padaku, boleh kau panggil aku Moaycu saja,"
Dalam keadaan gelap Wanyen Peng tak bisa melihat wajah
orang yang sangat jelek itu, tetapi mendengar suaranya yang
begitu merdu, tangannya yang menggenggam padanya terasa
juga sangat halus dan lemas, maka disangkanya orang tentu
gadis yang cantik moIek, dalam hati iapun sangat senang.
"Berapakah umurmu tahun ini?" ia tanya.
"Ah, tak perlu kita merecoki umur, paling perlu segera
pergi menolong orang saja, bukankah begitu, Nyo-ya?" sahut
gadis itu bersenyum.
"Ya, silakan nona menunjuk jalannya," kata Nyo Ko.
"Aku melihat mereka menuju ke arah tenggara, tentu pergi
ke Hengcikoan," ujar gadis itu.
Segera mereka keluarkan Ginkang dan dengan cepat
memburu ke arah tenggara.
Bahwa Giok-li-sim-keng dari Ko-bong-pay yang dipelajari
Nyo Ko itu terkenal karena Ginkang yang hebat dan boleh
disebut nomor satu di seluruh kolong langit, hal ini tak perlu
dijelaskan lagi. Sedang Wanyen Peng adalah anak murid Thicio-
pang, dahulu pangcu atau pemimpin Thi-cio-pang yang
bernama Kiu Jian-yim berjuluk "Thi-cio-cui-siang-biau" atau
Telapak tangan besi me-layang2 di atas air, kalau bisa disebut
"melayang di atas air", dengan sendirinya Ginkangnya pasti
terhitung kelas satu juga.
Tiraikasih Website http://cerita-silat.com/cc
Siapa tahu si gadis baju hijau itu, senantiasa cepat tidak,
lambat pun tidak, tapi selalu mengintil di belakang Wanyen
Peng. Kalau Wanyen Peng cepat, maka iapun cepat, jika
lambat, iapun ikut lambat, jarak antara mereka selalu
dipertahankan dua-tiga tindak.
Keruan Nyo Ko terperanjat "Anak murid dari aliran
manakah nona ini? Kalau melihat Ginkangnya ini, tampaknya
sudah di atasnya Wanyen Peng," demikian ia heran, Dan
karena tak mau main menang2an dengan kedua nona itu,
maka ia sengaja tertinggal saja di belakang.
Sampai hari sudah terang, gadis baju hijau itu keluarkan
rangsum kering dan dibagikan kedua kawannya,
Melihat baju orang meski terbikin dari kain biasa saja, tapi
potongannya sangat serasi dengan perawakan pemakainya,
pula perbekalannya seperti rangsum kering, botol air dan
sebagainya diatur secara begitu baik, semua ini menunjukkan
ketelitian seorang gadis yang rajin.
Di lain pihak, ketika Wanyen Peng melihat wajah orang
begitu aneh, ia menjadi tak berani-memandang lebih jauh. "Di
dunia ini kenapa ada wanita bermuka sejelek ini?"
"Nyo-ya Li Bok-chiu itu kenal padamu, bukan?" kata gadis
baju hijau itu sesudah menunggu kedua orang habis makan.
"Ya, beberapa kali ia pernah bertemu dengan aku," sahut
Nyo Ko.
Gadis itu mengeluarkan sehelai benda tipis seperti kain
sutera, lalu berkata pula pada Nyo Ko: "lni adalah topeng kulit
manusia, sesudah kau pakai, tentu dia tak kenal kau lagi."
Tiraikasih Website http://cerita-silat.com/cc
Waktu Nyo Ko periksa topeng itu, ia lihat di atasnya ada
lubang2 tempat mata, mulut dan hidung, bila dipakai maka
topeng ini bagaikan karet saja mencetak muka si pemakainya
dengan persis seperti wajah asli, tentu saja Nyo Ko sangat
girang dan menghaturkan terima kasih.
Melihat wajah Nyo Ko seketika berubah menjadi jelek luar
biasa setelah memakai topeng itu, barulah kini Wanyen Peng
sadar.
"Ah, Moaycu, kiranya kaupun memakai topeng seperti ini,
sungguh aku sangat goblok, aku mengira wajahmu memang
terlahir begitu aneh," demikian katanya pada gadis baju hijau.
"Muka Nyo-ya yang ganteng dan bagus ini, sesungguhnya
sayang dan merendah dirinya saja bila pakai topeng ini," sahut
gadis baju hijau, "Mengenai diriku, memangnya mukaku
adalah begini, pakai topeng atau tidak serupa saja."
"Ah, aku tak percaya," ujar Wanyen Peng. "Moaycu,
maukah kau copot topengmu dan unjukkan muka aslimu ?"
Dalam herannya Nyo Ko pun ingin tahu wajah asli si gadis
itu, namun permintaan itu ternyata ditolak.
"Jangan, mukaku yang jelek ini mungkin akan bikin kalian
kaget," sahut gadis itu."
Melihat orang berkeras tak mau perlihatkan mukanya,
terpaksa Wanyen Peng sudahi permintaannya.
Tiraikasih Website http://cerita-silat.com/cc
Pada waktu lohor, mereka bertiga sudah sampai di kota
Bukoan, mereka masuk ke atas loteng sebuah restoran untuk
mengisi perut.
Melihat Nyo Ko berdandan sebagai perwira Mongol,
pengurus restoran itu tak berani ayal dan cepat memberi
pelayanan.
Tetapi baru setengah jalan mereka bersantap, ketika kerai
pintu tersingkap, tiba-tiba masuk pula tiga wanita yang bukan
lain daripada Li Bok-chiu dan Ang Ling-po yang menggiring
Liok Bu-siang.
Nyo Ko sangat cerdik, ia tahu meski saat itu Li Bok-chiu
tak kenali dirinya, namun mukanya yang aneh karena
memakai topeng tentu akan menimbulkan rasa curiga orang,
karena itu segera ia berpaling ke jurusan lain sambil
menjumpit nasi terus, ia hanya pasang kuping tajam2 untuk
mendengarkan percakapan mereka.
Siapa tahu sama sekali Bu-siang tidak buka suara, bahkan
Li Bok-chiu berdua pun tidak bicara sehabis pesan daharan
seperlunya,
Nampak orang yang mereka cari sudah berada di depan
mata, Wanyen Peng gunakan sumpitnya dan mencelup ujung
sumpit pada air kuwah, lalu ia corat-coret beberapa huruf di
atas meja dengan maksud: "turun tangan tidak?"
Nyo Ko diam-diam sedang memikir: "Dengan kekuatan
kami bertiga, ditambah lagi dengan "bini cilik", rasanya masih
susah melawan mereka guru dan murid berdua, urusan ini
hanya bisa dimenangkan dengan akal dan tak mungkin
dengan kekerasan."
Tiraikasih Website http://cerita-silat.com/cc
Oleh sebab itu, ia goyangi sumpitnya pelahan-lahan
sebagai tanda "jangan".
Li Bok-chiu juga orang cerdik, sesudah berada, di loteng
restoran itu, ia lihat sorot mata Bu-siang seperti bersinar
harapan, tentu saja ia merasa heran hingga tiada hentinya
Wanyen Peng bertiga di-diincar olehnya.
Tapi Nyo Ko duduk mungkur dan tidak bergerak sedikitpun
maka tiada sesuatu tanda yang menimbulkan curiganya.
Begitulah sedang kedua belah pihak sama-sama
menantikan kesempatan baik, tiba-tiba suara tangga loteng
berbunyi, kembali orang masuk pula ke situ.
Waktu Wanyen Peng melirik, ia lihat yang datang adalah
Yali Ce dan Yali Yen kakak beradik.
Ketika nampak Wanyen Peng juga berada di situ, kedua
orang itu rada terperanjat, tetapi sesudah memanggut, lalu
mereka mengambil tempat duduknya sendiri.
Diam-diam Li Bok-chiu sangat kagum terhadap sepasang
muda-mudi yang ganteng dan cantik itu, ia menyangka orang
adalah suami isteri, tak tahunya hanya saudara saja.
Kiranya setelah peristiwa Wanyen Peng mencari balas
pada ayahnya, Yali Ce menduga si gadis tak berani datang
lagi, maka bersama adik perempuannya, Yali Yen, mereka
pesiar keluar untuk menikmati keindahan alam daerah
Kanglam ini, disini pula bertemu dengan Wanyen Peng, tentu
saja mereka bertambah lega meninggalkan ayah mereka.
Sementara itu karena "Ngo-tok-pit-toan" atau "Kitab
Panca-bisa" yang tercuri itu disangkanya terjatuh di tangan
Tiraikasih Website http://cerita-silat.com/cc
orang Kay-pang, Li Bok-chiu sedang masgul, dalam beberapa
hari ini boleh dikatakan tak doyan makan dan tak nyenyak
tidur, oleh karenanya, baru setengah mangkok bakmi yang dia
pesan itu dimakan, kemudian ia taruh sumpitnya dan
memandang iseng keluar restoran itu.
Tiba-tiba tertampak olehnya di simpang jalan sana berdiri
sejajar dua pengemis, pada punggung mereka masing-masing
menggendong tujuh buah kantong kain, nyata mereka adalah
"Chit-te-tecu" atau anak murid berkantong tujuh dari Kaypang.
Dalam pada itu muncul lagi satu pengemis yang lain,
dengan tergesa-gesa pengemis belakangan ini mendekati
kedua kawannya dan bisik-bisik sejenak, habis itu dengan
langkah cepat lantas pergi lagi.
Ter gerak pikiran Li Bok-chiu, tiba-tiba ia memanggil kedua
pengemis itu melalui jendela loteng: "Kedua Enghiong dari
Kay-pang, silakan naik ke atas sini, ada sesuatu yang ingin
kuminta tolong kalian sampaikan pada pangcu
perkumpulanmu."
Li Bok-chiu tahu kalau memanggil orang begitu saja pasti
kedua pengemis itu tak mau gubris padanya, tapi kalau bilang
ada pesan untuk pangcu mereka, sekalipun harus menghadapi
bahaya betapapun besarnya pasti anak murid Kay-pang itu
akan datang padanya.
Karena mendengar gurunya memanggil orang dari Kaypang
yang diduga tentu hendak ditanyai kemana dibawanya
kitab "panca-bisa", tanpa tertahan lagi muka Liok Bu-siang
menjadi pucat, ia insaf sekali ini kebohongannya pasti akan
terbongkar.
Tiraikasih Website http://cerita-silat.com/cc
Di sebelah sana Yali Ce juga sedang merasa heran oleh
kelakuan Li Bok-chiu. ia kenal nama Kay-pang yang
pengaruhnya sangat besar di daerah utara, tetapi satu Tokoh
setengah umur yang biasa seperti ini ternyata bilang ada
sesuatu pesan hendak disampaikan pada Pangcu mereka itu,
ia menjadi tertarik untuk mengetahui macam apakah diri si
Tokoh ini maka ia berhenti minum araknya, ia melirik dan
memperhatikan gerak-gerik orang.
Selang tak lama, naiklah kedua pengemis yang dipanggil
tadi, mereka memberi hormat pada Li Bok-chiu dan menanya:
"Ada pesan apakah Sian-koh, tentu akan kami sampaikan,"
Sesudah berdiri tegak, salah satu pengemis itu melihat
Liok Bu-siang berada bersama juga dengan imam wanita itu,
keruan saja air mukanya seketika berubah.
Kiranya pengemis ini pernah ikut mencegat Bu-siang di
tengah jalan dengan beberapa kawannya berkantong tujuh
itu. Karena itu, cepat ia tarik pengemis satunya, keduanya
lantas melompat ke dekat tangga, dengan sebelah telapak
tangan berlindung di depan dada, mereka siap buat melayani
musuh.
Li Bok-chiu tersenyum melihat kelakuan kedua pengemis
itu.
"Coba kalian berdua melihat punggung tanganmu,"
dengan suara halus ia berkata.
Berbareng kedua pengemis itu memandang balik tangan
mereka, maka terlihatlah setiap telapak tangan mereka
masing-masing telah tercetak sebuah cap tangan yang merah
darah, nyata, entah dengan cara bagaimana, tahu 2 Li BokTiraikasih
Website http://cerita-silat.com/cc
chiu telah unjuk pukulan saktinya: Ngo-tok-sin-ciang, pukulan
sakti panca bisa.
Cara turun tangan Li Bok-chiu bukan saja di luar tahu
kedua pengemis itu, bahkan Nyo Ko dan Yali Ce juga tidak
melihatnya dengan jelas.
"Kau... kau adalah Jik-Iian-sian-cu?" teriak kedua
pengemis itu berbareng sesudah terkejut sejenak.
Li Bok-chiu tidak menjawab melainkan dengan pelahan ia
tuang setengah cawan araknya, ia angkat cawannya, ketika
jarinya menyentil, mendadak cawan arak itu terbang ke atas,
isi cawan terus mancur turun lurus ke bawah.
Ketika Bok-chiu menengadah, setengah cawan arak itu
masuk semua ke mulutnya tanpa menciprat keluar setetespun,
Yang lebih aneh, cawan arak yang terbang disentil itu, tahutahu
menyamber balik lagi ke tangannya sesudah berputar di
udara.
Ternyata tenaga menyentil yang dipakai Li Bok-chiu begitu
tepat, inilah ilmu kepandaian tertinggi dari cara menimpuk
senjata rahasia, meski termasuk juga ilmu dari Ko-bong-pay,
tapi Nyo Ko harus malu diri karena belum bisa memadai sang
Supek dan masih jauh daripada sanggup "menyentil cawan
dan menenggak arak" itu.
"Nah, bilanglah pada pangcu kalian," kata Li Bok-chiu
kemudian sesudah unjuk ilmu saktinya tadi "bahwa Kay-pang
kalian dengan aku orang she Li selamanya "air sungai tak
menggenangi air sumur", selamanya akupun mengagumi
kawan-kawan Kay-pang yang gagah perkasa, cuma sayang
tiada kesempatan untuk bertemu dan minta petunjuk sungguh
hal ini harus dibuat menyesal..."
Tiraikasih Website http://cerita-silat.com/cc
"Enak saja kata-katanya itu, tetapi kenapa tanpa sebab
tiada alasan kau turun tangan keji kepada kami?" demikian
pikir kedua pengemis itu sambil saling pandang.
"Kalian berdua sudah kena pukulanku Ngo-tok-sin-ciang,
tapi hal ini tak perlu dibuat kuatir asal kitab yang direbut itu
dikembalikan, tentu akan kusembuhkan kalian berdua," kata Li
Bok chiu lagi setelah berhenti sejenak.
"Kitab apa?" tanya salah satu pengemis itu.
"Kalau diceritakan kitab itupun tak laku beberapa duit, jika
perkumpulan kalian berkeras tak mau kembalikan, sebenarnya
pun tidak menjadi soal," demikian sahut Bok-chiu dengan
tertawa, "Cuma sebagai gantinya, terpaksa kuminta bayar
dengan seribu jiwa pengemis goIonganmu."
Walaupun kedua pengemis itu masih belum merasakan
tangan mereka ada tanda-tanda aneh, tapi tiap-tiap Li Bokchiu
berkata, tanpa tertahan mereka pun memandang ke
tangan yang terpukul itu, saking jerinya terhadap Jik-lian-sinciang
yang maha kesohor karena kejinya itu, dalam bayangan
kedua pengemis itu seakan-akan merasakan tanda merah di
telapak tangan mereka peIahan2 sedang meluas.
Kini mendengar lagi Li Bok-chiu bilang hendak minta ganti
seribu jiwa kawan mereka, mereka pikir tiada jalan lain kecuali
lekas-lekas kembali melapor pada Pangcu. Maka setelah saling
memberi tanda, segera mereka berlari turun ke bawah.
Nampak orang melarikan diri, Li Bok-chiu pikir: "Kalian
sudah terkena aku punya pukulan maut, di jagat ini kecuali Itting
Taysu tiada lagi yang mampu mengobati, jika Pangcu
Tiraikasih Website http://cerita-silat.com/cc
kalian inginkan jiwa kalian tentu dia akan menurut dan
serahkan Ngo-tok-pit-toan padaku. Tapi, nah, celaka, kalau
mereka menyalin kitab itu dan kitab aslinya baru dikembalikan
padaku, bukankah aku kena ditipu mentah-mentah?"
Segera ia berpikir pula: "Memang celaka, padahal segala
macam cara memunahkan racun pukulan dan senjata rahasia,
semuanya sudah kutulis di dalam kitab itu dengan jelas, kalau
mereka sudah dapat memiliki kitab itu, buat apa mereka
datang memohon pertolonganku?"
Teringat akan itu, tanpa terasa mukanya menjadi pucat,
begitu tubuhnya melesat, tahu-tahu ia mencelat dan
menghadang di tengah tangga di depan kedua pengemis yang
sedang melarikan diri itu.
Begitu kedua tangannya bekerja, susul menyusul dua kali
pukulan telah paksa kedua pengemis itu balik lagi ke atas
loteng.
Tindakan Li Bok-chiu ternyata cepat luat biasa, hanya
terlihat bayangannya berkelebat tahu-tahu sebelah lengan
salah satu pengemis sudah dia pegang terus ditekuk
sekuatnya, maka terdengarlah suara gemelutuk, tulang lengan
orang sudah patah hingga tangannya melambai ke bawah
dengan lemas.
Tentu saja pengemis yang lain sangat kaget, tetapi
disinilah terbukti betapa setia kawan antara kaum pengemis
itu, bukannya dia melarikan diri, sebaliknya ia menubruk maju
untuk melindungi kawannya yang terluka, ketika melihat Li
Bok-chiu merangsak maju lagi, kontan iapun mendahului
memukul.
Tiraikasih Website http://cerita-silat.com/cc
Tak terduga, kembali tangan Li Bok-chiu bergerak pelahan,
kepalan si pengemis yang memukul ini kena ditangkapnya dan
sekalian pula ditekuk, maka tulang lengannya segera senasib
dengan kawannya, kena dipatahkan lagi.
Hanya sekali gebrak saja kedua pengemis itu sudah
dihajar Li Bok-chiu hingga luka parah, maka insaflah mereka
bahwa hari ini mereka tentu celaka, namun demikian, mereka
tidak menyerah mentah-mentah, dengan punggung menempel
punggung mereka berdempetan satu sama lain dan dengan
sebelah tangan masing-masing yang masih sehat itu siap
menempur musuh.
"Kalian berdua baiknya tinggal di sini dulu, tunggu saja
Pangcu kalian datang sendiri dengan membawa kitabku itu
untuk tukar menukar," terdengar Li Bok-chiu berkata dengan
lembut.
Melihat orang habis berkata terus kembali ke mejanya
buat minum arak, malahan duduknya mungkur ke arah
mereka, maka kedua pengemis itu menggeser pelahan ke tepi
tangga dengan maksud kalau ada kesempatan terus hendak
kabur. Tak terduga mendadak Li Bok-chu berpaling.
"Tampaknya tulang kaki kalian berdua harus dipatahkan
juga, dengan begitu baru kalian kerasan tinggal di sini."
katanya dengan tersenyum, sembari berkata iapun berdirilah.
"Suhu, biarlah aku, menjaga mereka, tak nanti mereka
bisa kabur," tukas Ang Ling-po trba2. Rupanya ia tak tega
juga melihat kekejian sang guru.
"Hm, bajik juga hatimu," jengek Li Bok-chiu, perlahanlahan
ia masih terus mendekati kedua pengemis itu.
Tiraikasih Website http://cerita-silat.com/cc
Saking murkanya mata kedua pengemis itu merah berapi,
mereka sudah ambil keputusan tiada jalan lain daripada adu
jiwa dengan musuh.
Sejak tadi Yali Ce kakak beradik hanya menonton dengan
tenang, watak mereka berdua sebenarnya sangat keras, kini
tak tahan lagi, serentak mereka berdiri.
"Sam-moay, lekas kau pergi, perempuan ini terlalu lihay,"
dengan suara pelahan Yali Ce pesan adiknya.
"Dan kao?" tanya Yali Yen.
"Sesudah tolong kedua pengemis ini, segera aku melarikan
diri," sahut Yali Ce.
Biasanya Yali Yen menjunjung sang kakak ini bagai
malaikat dewata, tetapi kini mendengar orangpun nanti akan
selamatkan diri dalam hati si gadis menjadi ragu-ragu.
Pada saat itulah, dengan keras mendadak Nyo Ko gebrak
meja, lalu didekatnya Yali Ce.
"Yali-heng (saudara Yali), marilah kita turun tangan
bersama untuk menolong orang, bagaimana?" ajak Nyo Ko.
Melihat Nyo Ko mengenakan pakaian Mongol dan mukanya
sangat jelek, Yali Ce merasa belum pernah kenal orang
demikian ini, ia pikir kalau orang berada bersama Wanyen
Peng, tentu saja kenal siapakah dirinya.
Tetapi ilmu silat Li Bok-chiu sudah dia saksikan tadi, ia
yakin tak bisa menandinginya, kalau sembarangan turun
tangan, itu berarti antar jiwa belaka, oleh karena itu, seketika
ia ragu-ragu tak menjawab ajakan Nyo Ko tadi.
Tiraikasih Website http://cerita-silat.com/cc
Di lain pihak demi mendengar Nyo Ko membuka suara,
segera Li Bok-chiu mengamat-amati si pemuda dari kepala
sampai ke kaki dan sebaliknya, ia merasa lagu suara orang
sudah dikenalnya entah dimana.
Akan tetapi muka orang begitu rupa, kalau pernah
dikenalnya, tidak mungkin bisa melupakannya, maka dapat
dipastikan memang belum pernah kenal.
"Aku tak bersenjata, terpaksa harus pinjam dulu,"
sementara Nyo Ko berkata lagi.
Habis itu, mendadak tubuhnya melesat cepat, ia
menyerempet lewat samping Ang Ling-po, wak-tu tangannya
menguIur, tahu-tahu kerangka pedang yang tergantung di
pinggang orang sudah dia ambil malahan pipi Ang Ling-po dia
kecup pula sekali.
"Ehm, wanginya!" demikian seru Nyo Ko sengaja.
Keruan Ang Ling-po sangat murka, tangannya membalik
terus menggablok, namun sedikit menunduk Nyo Ko sudah
hindarkan serangan itu dan menerobos pergi untuk kemudian
berdiri diantara kedua pengemis itu dan Li Bok-chiu.
Tindakan dan perbuatan Nyo Ko itu dilakukan secara cepat
luar bisa, keruan dalam hati Li Bok-chiu diam-diam terperanjat
sebaliknya Yali Ce menjadi girang.
"Siapakah she dan nama saudara yang mulia ini?" segera
ia berseru menanya.
"Siaute she Nyo," sahut Nyo Ko sembari geraki tangannya,
ia angkat kerangka pedang samberan dari pinggang Ang LingTiraikasih
Website http://cerita-silat.com/cc
po itu dan menyambung pula: "Aku tahu isi di dalamnya
adalah pedang buntung!"
Dan waktu pedang ia IoIos, betul saja pedangnya
memang kutungan.
Mendadak Ang Ling-po mendusin "Anak keparat," serunya
cepat. "Suhu, dia inilah yang kita cari."
Karena orang sudah kenali dirinya, Nyo Ko tak perlu maut
sandiwara pula, topeng kulit yang dia pakai segera
ditanggalkan.
"Supek, Suci, Tecu Nyo Ko memberi hormat," katanya
segera pada Li Bok-chiu dan Ang Ling-po.
Mendengar Nyo Ko panggil Supek dan Suci, bukan saja
Yali Ce menjadi bingung, begitu pula Liok Bu-siang pun luar
biasa kagetnya.
"He, kenapa si Tolol ini panggil mereka Supek dan Suci?"
demikian Bu-siang tidak habis mengerti.
Sementara itu dengan tersenyum dingin Li Bok-chiu telah
menjawab: "Em, gurumu baik-baik-kah?"
Mendengar Siao-liong-li ditanyakan, seketika hati Nyo Ko
berduka hingga matanya pun basah.
"Gurumu sungguh pintar mengajar murid," demikian kata
Li Bok-chiu pula dengan tertawa.
Kiranya kemarin setelah saling gebrak tiga jurus di tengah
jalan itu, dengan tipu gerakan yang aneh Nyo Ko telah
patahkan tiga kali serangan "Sam-bu-sam-put-jiu", ia telah
Tiraikasih Website http://cerita-silat.com/cc
berpikir dan tetap tak bisa meraba "dari aliran manakah tiputipu
Nyo Ko itu, Oleh sebab itu ia menjadi ragu-ragu apakah
imam kecil yang bertarung dengan dirinya itu Nyo Ko adanya?
ia pikir bila betul murid sang Sumoay itu, lalu darimana bisa
memiliki ilmu silat yang begitu tinggi dan aneh?
Kini setelah mendengar si Nyo Ko memanggil "Supek" dan
"Suci", maka percayalah dia memang betul ialah si pemuda
yang beberapa tahun yang lalu dilihatnya di kuburan kuno itu.
Keruan saja diam-diam ia terperanjat, pikirnya: "Sekarang saja
bocah ini sudah begini lihay, apa Iagi Sumoay sendiri, lebihlebih
jangan ditanya betapa hebat kepandaiannya,"
Walaupun berpikir begitu, namun mukanya sedikitpun
tidak mengunjukkan perasaan hatinya itu.
Namun Nye Ko sangat cerdik, ia dapat menerka apa yang
orang sedang pikir, maka kembali ia memberi hormat dan
berkata lagi: "Suhu suruh aku menjampaikan salam pada
Supek!"
"O, dimanakah dia?" tanya Li Bok-chio, "Kami berdua
sudah lama tak berjumpa."
"Suhu berada di sekitar sini saja, tak lama tentu beliau
akan datang menemui Supek," sahut -Nyo Ko.
Nyata pemuda ini tahu dirinya jauh bukan tandingan Li
Bok-chiu, sekalipun ditambah dengan Yali Ce masih sukar
memperoleh kemenangan maka ia sengaja pakai akal "gertak
sumber, ia coba tonjolkan gurunya - Siao-liong-li - untuk
menakuti orang.
Tiraikasih Website http://cerita-silat.com/cc
"Aku lagi berurusan dengan murid sendiri, sangkut paut
apa dengan gurumu?" demikian kata Li Bok-chiu, Dari lagu
suaranya ini nyata ia rada miring terhadap Siao-Iiong-li.
"Tetapi Suhu ingin minta kemurahan hati Supek agar suka
ampuni Sumoay (maksudnya Liok Bu-siang) saja," kata Nyo
Ko.
"Huh, kau telah main gila dan melakukan perbuatan
terkutuk seperti binatang dengan gurumu sendiri, kini kau
masih panggil dia Suhu terus menerus di hadapan orang
banyak, sungguh tidak tahu malu?" ejek Li Bok-chiu tiba-tiba
dengan tertawa.
Tiba-tiba Li Bok-chiu merobah gerakan, badannya
mencelat naik kaki kirinya menginjak mulut cangkir, berbareng
kebutnya menyapu ke belakang, katanya menggoda : "Apakah
gendakmu tidak ajarkan jurus ini kepadamu?"
Nyo Ko tertegun, lekas dia merendahkan badan sarung
pedang menyapu seraya membentak : "Gendak apa ?"
Alangkah murkanya Nyo Ko mendengar nista itu, mukanya
seketika pucat lesi, Dalam hati ia junjung Siao-Iiong-li bagai
malaikat dewata, kini orang berani menista gurunya itu,
seketika darah seakan-akan mendidih, tanpa pikir lagi
kerangka pedang rampasannya tadi segera dipakai sebagai
pedang terus ditusukannya pada Li Bok-chiu,
"Haha, perbuatanmu yang kotor itu memangnya takut
dibongkar orang, ya?" Li Bok-chiu tertawa mengolok-olok lagi
Namun dengan Kiam-hoat dari Coan-cin-pay, Nyo Ko
melontarkan serangan yang gencar dan lihay luar biasa, itu
adalah ilmu silat warisan mendiang Ong Tiong-yang khusus
Tiraikasih Website http://cerita-silat.com/cc
untuk mengalahkan ilmu pedang "Giok-li-kiam-hoat" ciptaan
Ong Tiao-eng, setiap serangannya selalu diarahkan tempat
yang berbahaya di tubuh Li Bok-chiu.
Sedikitpun Li Bok-chiu tak berani ayal, ia putar kebutnya
dengan sama cepatnya, ia tangkis setiap serangan dan
menyambut pertempuran itu dengan seluruh perhatiannya.
Setelah lewat beberapa jurus, Li Bok-chiu merasakan
Kiam-hoat lawannya ternyata hebat luar biasa, daya
tekanannya pun semakin berat, setiap gerak-gerik dirinya
seakan-akan sudah dapat diketahui sebelumnya oleh lawan
hingga selalu kena didahului orang, kalau bukan dirinya
memang lebih ulet, mungkin sejak tadi sudah terkalahkan.
"Suhu betul-betul pilih kasih, Kiam-hoat sebagus ini hanya
diajarkan pada Sumoay saja," demikian pikir Li Bok-chiu
dengan gemas. ia menyangka itu adalah Kiam-hoat golongan
mereka sendiri.
Mendadak permainan silatnya berubah, tiba-tiba ia
melompat ke atas meja, ketika kaki kanan menendang
kesamping, kaki kiri lantas berdiri di atas sebuah cawan arak,
Cara mengajaknya di atas cawan, arak itu begitu tepat dan
tantangan badannya begitu bagus, maka cawan itu sama
sekali tak tumpah atau miring barang sedikitpun
"Haha, gendakmu itu pernah mengajarkan kepandaian
seperti ini tidak?" dengan gelak tertawa Bok-chiu menyindir
pula,
Nyo Ko tercengang bingung sejenak Tetapi segera ia
menjadi gusar, "Gendak apa maksudmu?" damperatnya
kemudian,
Tiraikasih Website http://cerita-silat.com/cc
"Ha, pura-pura bodoh," sahut Bok-chiu, "Sumoay-ku
pernah bersumpah takkan turun gunung kalau Siu-kiong-seh
belum lenyap dari lengannya, kini dia telah turun gunung ikut
kau, siapa lagi dia itu kalau bukan gendakmu ?"
Tidak kepalang murka Nyo Ko oleh tambahan nista orang
yang keji itu, tanpa berkata lagi, kerangka pedang dia putar,
begitu enjot tubuhnya segera iapun melompat ke atas meja.
Cuma Ginkangnya masih belum memadai orang, maka tak
berani Nyo Ko berdiri di atas cawan arak melainkan di atas
sebuah mangkok, lalu kerangka pedang dia angkat terus
menyerang dengan kalap.
"Ehm, tidak jelek juga Ginkangmu ini!" dengan tertawa Li
Bok-chiu mengejek pula sembari menangkis serangan orang,
"Nyata baik sekali gendakmu itu terhadapmu, sudah cinta lagi
berbudi semuanya telah diajarkan padamu."
Mendengar makin lama makin menjadi orang menistanya,
sungguh tak tertahankan asa murka Nyo Ko.
"Orang she Li kau ini manusia atau binatang?, Kau mau
bicara secara manusia tidak ?" teriaknya murka, sembari
memaki iapun menyerang lebih nekad.
"Hm, kalau ingin orang lain tak tahu kecuali kalau diri
sendiri tak berbuat" jengek Li Bok-chiu. "Ko-bong-pay kami
bisa timbul dua manusia sampah seperti kalian ini, boleh
dikata telah mencoreng muka habis-habisan."
Begitulah, seraya menyambut setiap serangan Nyo Ko,
sambil tiada hentinya Li Bok-chiu menyindir dan mengolokolok.
Tiraikasih Website http://cerita-silat.com/cc
Karena tak tahu hal ikhwalnya, Yali Ce kakak beradik dan
Liok Bu-siang hanya saling pandang, kemudian karena Nyo Ko
tak sanggup membantah lagi sepatah-katapun, mereka
berpikir tentu apa yang dikatakan Li Bok-chiu itu adalah
kejadian sebenamya, maka tanpa terasa timbul rasa hina
terhadap Nyo Ko.
Harus diketahui meski ilmu silat Nyo Ko sudah jauh maju,
tetapi sama sekali Li Bok-chiu tak gentar terhadapnya, yang
dia kuatirkan ialah kalau Siao-Iiong-li sembunyi di sekitar situ
hingga mendadak muncul, ini berarti sukar baginya untuk
melawannya, oleh sebab itu ia sengaja menista mereka
dengan kata-kata yang se-kotornya dengan tujuan agar Siaoliong-
Ii menjadi malu dan tak berani menampakkan diri.
Dasar sifat Nyo Ko memang gampang tersinggung dan
wataknya keras, karena dinista secara kotor itu, perasaannya
menjadi terpukuI, kaki tangannya menjadi lemas dan gemetar,
tiba-tiba kepala pun terasa puyeng, lalu pandangannya
menjadi gelap, ia menjerit sekali kerangka pedang terlepas
dari cekalannya dan orangnya pun roboh ke bawah.
Melihat ada kesempatan, Li Bok-chiu menjengek sekali,
kebutnya bekerja cepat, sekali pukul kepala Nyo Ko segera
disabetnya.
Tahu keadaan sangat berbahaya, lekas Yali Ce samber dua
cawan arak dari meja terus ditimpukkan ke punggung Li Bokchiu,
kedua cawan itu menghantam "Ci-yang-hiat" dan "Yangkoen-
hiat" yang merupakan urat nadi penting di tubuh
manusia.
Mendengar dari belakang ada samberan angin Am-gi atau
senjata rahasia, namun Li Bok-cIiu cukup tinggi Lwekangnya,
tiba-tiba ia tarik napasnya dalam-dalam untuk menahan
Tiraikasih Website http://cerita-silat.com/cc
semua jalan darahnya, ia pikir sekali pukul mampuskan Nyo
Ko dahulu, sekalipun Am-gi pembokong itu mengenai
punggungnya juga takkan melukainya.
Tak tahunya, belum tiba cawannya atau arak di dalam
cawan itu sudah muncrat datang lebih dulu hingga terasa
kedua urat nadi tadi rada kesemutan.
"Celaka! Kiranya Sumoay telah datang, Araknya saja begini
lihay, apa lagi cawannya?" demikian keluhnya dalam hati.
Maka lekas-lekas ia putar tubuh dan ayun kebutnya ke
belakang, dengan tepat kedua cawan arak itu kena
disampuknya, namun terasa juga lengannya terguncang
hebat, keruan hatinya bertambah kuatir, ia heran mengapa
tenaga sang Sumoay bisa begitu kuat kini?
Tapi sesudah dia mengawasi ia lihat orang yang
menimpukkan cawan arak itu ternyata bukan Siao-liong-li
melainkan si pemuda ganteng berdandan bangsa Mongol itu.
Tentu saja hal ini semakin menambah terperanjatnya.
"Kenapa dari angkatan muda bisa muncul begini banyak
jago-jago lihay?" demikian ia membatin.
Sementara itu ia lihat pemuda, Mongol itu sudah lolos
pedang dan dengan suara nyaring membuka suara: "Cara
turun tangan Sian-koh sesungguhnya terlalu keji, maka cayhe
ingin minta pengajaran beberapa jurus."
Siapakah perempuan baju hijau yang bermuka jelek itu?
Apakah Siau-liong-li? Murid siapakah Yali Ce yang
berkepandaian tinggi ini?
Tiraikasih Website http://cerita-silat.com/cc
Siapakah yang akan merebut kedudukan Bulim Bengcu untuk
pimpin kaum persilatan angkat senjata melawan serbuan
pasukan Mongol? Kwe Ceng, Nyo Ko atau Jago-jago Mongol
yang bakal menang?
Bacalah jilid ke -16
Jilid 16
Ia lihat si pemuda perlahan-lahan mendekati dirinya,
langkahnya mantap, melihat umurnya baru antara dua
puluhan, tetapi gerak-geriknya cara menimpuk cawan arak
tadi ternyata sudah memiliki keuletan latihan beberapa puluh
tahun.
"Siapakah kau? siapakah gurumu ?" tanya Li Bok-chiu
dengan sorot mata yang tajam.
"Cayhe Yali Ce, anak murid Coan-cin-pay," sahut Yali Ce
dengan sedikit membungkuk tubuh.
Saat itu Nyo Ko sudah siuman kembali, ia lihat Wanyen
Peng lagi memandang padanya dengan berjongkok, matanya
tertampak basah dan muka muram durja. Dan ketika
mendadak dengar Yali Ce mengaku sebagai anak murid Coancin-
pay, keruan Nyo Ko terperanjat.
"Apa gurumu Ma Giok atau Khu Ju-ki?" tanya Li Bok-chiu.
"Bukan semua", jawab Yali Ce.
"Kalau begitu, tentunya Ong Ju-it bukan?" tanya Bok-chiu
pula,
Tiraikasih Website http://cerita-silat.com/cc
"Bukan." sahut Yali Ce tetap.
Tiba-tiba Li Bok-chiu ketawa terkekeh.
"Dia sendiri mengaku murid Ong Tiong-yang kalau begitu
kalian berdua ini tentunya Su-heng-te (saudara seperguruan),"
katanya sambil menunjuk Nyo Ko.
"Mana bisa?" sahut Yali Ce terkejut "Sudah lama Ongcinjin
wafat, mana bisa saudara ini adalah muridnya?"
"Huh, anak murid Coan-cin-pay memang tiada seorangpun
yang baik. Awas senjata!" ejek Li Bok-chiu, berbareng
kebutnya lantas memukul.
Dengan cepat Yali Ce melangkah ke samping, tangan
kirinya bergaya pedang segera menusuk dengan tipu "tingyang-
ciam" yang merupakan serangan asli dari Coan-cin-tiamhoat.
Nampak gerak tangan orang begitu jitu dan lihay, sebagai
seorang tokoh segera Li Bok-chiu tahu telah ketemukan lawan
tangguh, bahwa orang mengaku anak murid Coan-cin-pay
memang bukanlah palsu, oleh karena itu, lekas-lekas ia
menggeser lagi, kebutnya menyabet pula secepat kilat, hanya
sekejap saja segala penjuru seakan-akan penuh dengan
bayangan kebutnya yang menyamber kian ke mari, asal
lawannya sedikit kesenggol ujung kebutnya kalau tidak mati
sedikitnya akan terluka parah juga.
Meski tinggi ilmu silatnya, namun pengalaman Yali Ce
masih cetek, kini untuk pertama kalinya menghadapi lawan
kuat, ia kumpulkan seluruh semangatnya untuk menempur
orang.
Tiraikasih Website http://cerita-silat.com/cc
Maka sebentar saja mereka sudah saling gebrak lebih 40
jurus, makin merangsak Li Bok-chiu semakin maju, sebaliknya
lingkaran pertahanan Yali Ce semakin ciut, namun secara gigih
ia masih bertahan, tampaknya kekalahannya sudah pasti,
tetapi seketika Li Bok-chiu hendak merobohkan dia juga belum
bisa.
"Ya, ilmu silat bocah ini memang dari Coan-cin-pay yang
murni, meski belum setingkat Ma Giok, Khu Ju-ki dan Ong Juit,
tetapi dibanding Sun Put-ji dan Hek Tay-thong terang tidak
kalah, sungguh anak murid Coan-cin angkatan muda banyak
yang pandai," demikian Li Bok-chiu terheran-heran.
Dan sesudah saling labrak beberapa jurus lagi, sengaja Li
Bok-chiu memberi suatu kesempatan dan membiarkan orang
menyerang maju.
Yali Ce tak tahu orang sengaja memancing, tanpa pikir
pedangnya terus menusuk, siapa duga mendadak kaki Li Bokchiu
lantas melayang hingga pergelangan tangannya kena
ditendang, saking sakitnya Yali Ce tak kuasa pegang kencang
senjatanya. sungguhpun begitu, namun Yali Ce tidak menjadi
bingung, tiba-tiba telapak tangan kirinya memotong dari
samping, sedang tangan kanan dengan ilmu menangkap dan
menawan segera digunakan untuk merebut kebut Li Bok-chiu.
"Hah, ilmu silat yang bagus!" Li Bok-chiu tertawa memuji.
Tatkala itu Nyo Ko sudah tak merasa puyeng lagi, segera
ia memaki: "Perempuan bangsat, selama hidupku ini tak sudi
aku mengaku kau sebagai Supek lagi!"
Habis itu, ia jinjing kerangka pedang rampasan dari Ang
Llng-po tadi terus maju mengerubut.
Tiraikasih Website http://cerita-silat.com/cc
"Ya, ya, kau adalah laki gurumu, boleh juga kau panggil
aku Suci saja," dengan tertawa Li Bok-chiu menyindir.
Dalam pada itu, pedang Yali Ce telah menyamber tiba,
Lekas-lekas Li Bok-chiu angkat kebutnya, dengan ujung kebut
tiba-tiba batang pedang kena direbut, bahkan terus dia tarik
dan ditimpukkan ke arah Nyo Ko,
Namun Nyo Ko tidak menjadi gugup, ia incar baik-baik
datangnya pedang itu, mendadak ia angkat kerangka sarung
pedangnya terus memapaknya.
Tanpa terasa Liok Bu-siang dan Wanyen Peng menjerit
kuatir, tetapi segera terdengar suara "sret", ternyata dengan
tepat sekali pedang itu masuk ke dalam sarung yang
disodorkan ke depan oleh Nyo Ko itu.
Dengan kerangka sarung untuk menyambut pedang,
sesungguhnya perbuatan ini terlalu berbahaya, asal pedang itu
sedikit meleset saja ditambah Iagi tenaga timpukan ti Bok-chiu
itu, maka dapat dipastikan dada Nyo Ko akan tertembus.
Harus diketahui sewaktu tinggal di kuburan kuno dahulu,
dengan giat Nyo Ko telah melatih ilmu menggunakan Am-gi,
maka soal ketajaman mata, ketepatan waktu yang digunakan
dan kejituan menaksir tempat yang diarah, semuanya sudah
terlatih begitu rupa hingga boleh dikatakan bisa dipergunakan
sesuka hatinya, sebab itulah kini ia berani unjuk
ketangkasannya ini di depan Li Bok-chiu.
Dan begitulah, segera Nyo Ko melolos pedang yg
ditancapkan, tadi dan tangan yg lain tetap pegang sarung
pedang ia merangsak maju lagi bersama Yali Ce.
Tiraikasih Website http://cerita-silat.com/cc
Restoran itu menjadi kacau balau, meja kursi jungkir balik
tak keruan, para tamu lain sudah sejak tadi lari
menyelamatkan diri Hanya Ang Ling-po saja yang masih ikut
menonton gurunya bertempur, selama Ling-po ikut gurunya
merantau, belum pernah ia saksikan gurunya dikalahkan
orang, oleh sebab itu, meski gurunya kini dikeroyok dua
rausuh, namun sedikitpun Ling Po tak kuatir, ia menonton
dengan tenang di samping.
Sementara itu pertarungan ketiga orang bertambah seru,
kemudian tipu serangan Li Bok-chiu berubah lagi dengan
angin pukulannya ia desak kedua lawannya hingga sukar
berdiri sekejap saja Yali Ce dan Nyo Ko berulang kali
menghadapi serangan bahaya.
"Celaka," seru Yali Yen dan Wanyen Peng, berbareng
merekapun melompat maju buat bantu kedua kawannya
Akan tetapi bertambahnya tenaga baru ini susah juga
merubah kedudukan yang sudah kalah itu, mendadak kaki Yali
Yen sendiri malah terserempet oleh ujung kebut Li Bok-chiu,
saking sakitnya sampai sebelah kaki gadis ini berlutut dan
hampiri terjungkal
Melihat adiknya terpukul pikiran Yali Ce menjadi kacau, ia
kena dicecar beberapa kali oleh Li Bok-chiu, terpaksa ia
mundur terus, tampak keadaan sangat genting, dengan cepat
si gadis baju hijau tadi melompat maju untuk memayang
mundur Yali Yen.
Meski dalam pertarungan sengit, namun mata telinga Li
Bok-chiu betul-betul dapat bekerja dengan tajam, begitu
melihat gadis baju hijau itu melompat secara gesit dan
enteng, segera ia tahu orang adalah anak murid guru pandai,
kontan saja kebutnya menyabet muka si gadis.
Tiraikasih Website http://cerita-silat.com/cc
"She apakah nona ini? siapakah gurumu?" demikian ia
bertanya.
Jarak diantara mereka ada setombak lebih, tetapi
menyambernya kebut ternyata cepat luar biasa, sekejap saja
ujung kebut itu sudah sampai di depan muka gadis itu.
Agaknya gadis baju hijau itu terkejut, secepat kilat
tangannya bergerak, tahu-tahu ia lolos sebatang senjata dan
kebut musuh dapat ditangkisnya.
Melihat senjata orang yang aneh itu sepanjang kira-kira
tiga kaki dan mengkilap seperti sebatang seruling, diam-diam
Li Bok-chiu berpikir: "Senjata macam ini dari aliran mana ini?"
Karena curiganya itu, segera ia tambahi serangan kilat
dengan maksud memaksa gadis itu mengeluarkan kepandaian
aslinya, Dan karena gadis itu kewalahan, lekas-lekas Nyo Ko
dan Yali Ce menubruk maju buat menolong.
Tapi sesungguhnya mereka memang tak bisa tandingi Li
Bok-chiu, hanya sekejap saja kembali kedua pemuda ini sudah
terdesak dibawah angin.
"Dalam keadaan begini, asal salah satu diantara kami
berdua ini sedikit meleng, pasti semua orang yang berada di
sini akan melayang jiwanya," demikan Nyo Ko pikir, Oleh
karena itu, segera ia berteriak-teriak : "Bini cilik, adikku
sayang, Enci yang baik, Yali-sumoay, lekas kalian melarikan
diri, perempuan keparat ini terlalu lihay."
Mendengar Nyo Ko berteriak-teriak serabutan, ke-empat
gadis itu ada yang senang dan ada pula yang mengkal, tetapi
Tiraikasih Website http://cerita-silat.com/cc
melihat keadaan memang sangat berbahaya, tanpa perintah
lagi Liok Bu-siang yang pertama-tama turun loteng restoran
itu, habis itu si gadis baju hijau dengan memayang Yali Yen
juga ikut lari.
Dalam pada itu kedua pengemis tadi menyaksikan kedua
pemuda gagah perkasa ini telah melabrak Li Bok-chiu karena
membela mereka, terpikir oleh kedua pengemis ini hendak
maju membantu, cuma sayang lengan mereka sudah patah
dan tak dapat berkutik Namun demikian, kedua pengemis ini
cukup setia kawan. meski Li Bok-chiu tiada tempo buat urus
mereka lagi, tapi mereka masih terus berdiri di tempatnya dan
tak mau kabur mendahului Nyo Ko.
Begitulah dengan gigih Nyo Ko bertempur sejajar dengan
Yali Ce, sekuat tenaga mereka menahan serangan Li Bok-chiu
yang makin lama semakin lihay hingga akhirnya Wanyen Peng
pun sudah undurkan diri dari restoran itu.
Meski Li Bok-chiu merangsak terus dan berada di pihak
yang unggul namun dalam hati iapun gusar luar biasa.
"Kurangajar kedua bocah ini, selama hidupku siapapun tak
berani merintangi kehendakku kalau sampai Liok Bu-siang bisa
lolos, sungguh gelarku Jik-lian-sian-cu bakal lenyap tersapu
bersih," demikian ia pikir dengan gemas.
Begitulah mereka terus bertempur mati-matian, dari loteng
restoran berpindah ke tengah jalan dan dari tengah jalan
sampai di ladang,
"Bini cilik, adikku sayang, pergi lekas, makin jauh makin
baik! Yali-sumoay, nona baju hijau, kalianpun lekas melarikan
diri, kami berdua lelaki tak nanti mati," begitulah si Nyo Ko
masih terus berteriak.
Tiraikasih Website http://cerita-silat.com/cc
Sebaliknya Yali Ce sama sekali tak buka suara sepatahkatapun.
Usianya hanya setahun dua lebih tua daripada Nyo
Ko, tetapi yang satu bersikap keren dan sungguh-sungguh,
sedang yang lain gagah dan lincah, watak kedua pemuda ini
ternyata sama sekali berbeda.
Di lain pihak karena Siao-liong-li masih tidak muncul, Li
Bok-chiu menjadi lebih berani lagi, senjata kebutnya diputar
semakin kencang menurut keinginannya.
Betapapun juga Nyo Ko dan Yali Ce memang masih selisih
jauh dibandingkan Li Bok-chiu, meski kedua pemuda itu bisa
mengeluarkan serangan yang aneh untuk mengacaukan
perhatian Li Bok-chiu, namun kini mereka berdua juga mulai
payah.
Tentu saja Li Bok-chiu sangat girang, pikirnya: "Tidak usah
setengah jam lagi pasti jiwa kedua orang ini akan kubereskan
semua."
Dalam pada itu, tiba-tiba didengarnya beberapa kali suara
burung, tahu-tahu dua ekor rajawali menyamber ke atas
kepalanya.
Kedua rajawali itu ternyata sangat tangkas dan lihay,
waktu menubruk turun, debu pasir ikut bertebaran hingga
keadaan sangat mengejutkan orang.
Nyo Ko kenal kedua ekor rajawali itu adalah binatang
piaraan Kwe Cing suami-isteri dahulu waktu dirinya masih kecil
dan tinggal di Tho-hoa-to, pernah juga bermain bersama
kedua rajawali ini, ia pikir kalau kini eajawali-rajawali ini
datang, tentu pula Kwe Cing suami-isteri berada juga di
sekitar sini, karena dirinya sudah berontak keluar dari Coancin-
kau, sesungguhnya tak ingin bertemu lagi dengan mereka,
Tiraikasih Website http://cerita-silat.com/cc
maka lekas-lekas Nyo Ko melompat mundur, ia keluarkan
topeng kulitnya dan dipakai segera.
Tatkala itu kedua ekor rajawali itu sudah menyerang pula
dari kanan-kiri dan terbang naik-turun dengan sengitnya
menempur Li Bok-chiu.
Ternyata ingatan kedua rajawali itu sangat baik, mereka
masih dendam terhadap timpukkan "Peng-pok-sin-ciam" yang
mengenai kaki mereka dahulu, kini pergoki Li Bok-chiu di
tengah jalan, segera juga mereka menubruk dengan sengit,
cuma kuatir merasakan lagi jarum orang yang berbisa, maka
bila Li Bok-chiu ayun tangannya segera kedua binatang itu
pentang sajap menjulang ke angkasa.
Diam-diam Yali Ce menjadi heran oleh datangnya kedua
rajawali itu, melihat binatang itu susah memperoleh
kemenangan, segera ia berseru: "Nyo-heng, mari kita maju
lagi bersama, kita keroyok dia dari atas dan bawah bersama
eajawali-rajawali itu, coba bagaimana ia akan,lawan kita?"
Dan selagi ia hendak merangsak maju, sekonyongkonyong
terdengar dari arah timur sana ramai suara derapan
kuda, seorang penunggangnya mendatangi secepat terbang.
Nyata itulah seekor kuda merah yang berkaki panjang dan
tinggi, larinya cepat tiada bandingannya, baru dengar suara
menderapnya atau tahu-tahu kudanya sudah sampai di depan.
Semua orang menjadi heran kenapa kuda ini bisa begini cepat
larinya ?
Sementara tertampak penunggangnya adalah seorang
nona berbaju merah, kuda dan penung-gangnya bagaikan
sesosok arang yang membara, hanya muka si nona yang putih
halus.
Tiraikasih Website http://cerita-silat.com/cc
BegituIah gadis itu tarik tali kendalinya, seketika kuda
merah itu berhenti dengan cepat kuda ini bisa mendadak
berhenti sewaktu berlari keras, tanpa meringkik juga tidak
berjingkrak, kelakuannya tenang dan biasa saja, sungguh
binatang bagus yang jarang diketemukan.
Sejak kecil Yali Ce dibesarkan di daerah Mongol, tidak
sedikit kuda pilihan yang sudah dilihatnya, tetapi binatang
sebagus ini sungguh belum pernah disaksikannya, keruan
iapun luar biasa terkejutnya.
Hendaklah diketahui bahwa kuda merah ini adalah "Hanhiat-
po-ma" (kuda mestika berkeringat merah darah) yang
didapatkan Kwe Cing secara kebetulan di gurun pasir diwaktu
mudanya.
Tatkala itu kuda merah inipun masih kecil, kini boleh
dikatakan sudah menginjak usia tua, akan tetapi binatang
bagus memang tak bisa disamakan dengan kuda biasa,
sungguhpun usianya sudah tua, namun larinya masih cepat
dan kuat tak kalah dengan masa mudanya.
Dan dengan sendirinya nona penunggangnya ini bukan
lain dari pada Kwe Hu, puteri tunggal Kwe Cing dan Ui Yong
dari Tho-hoa-to.
Sudah beberapa tahun Nyo Ko berpisah dengan Kwe Hu,
apabila ia ingat si gadis, selalu Nyo Ko masih sangka Kwe Hu
adalah anak perempuan yang nakal dan sombong, siapa tahu
kini sudah berupa satu nona yang cantik jelita.
Di lain pihak, sesudah tahan kudanya, Kwe Hu saksikan
kedua burungnya sejenak menempur Li Bok-chiu, lalu ia
melirik ke arak Yali Ce, waktu sinar matanya sampai di muka
Nyo Ko, dilihatnya Nyo Ko memakai baju orang Mongol,
Tiraikasih Website http://cerita-silat.com/cc
mukanya sangat jelek dan aneh karena memakai kedok, tanpa
terasa si gadis mengkerut kening, wajahnya mengunjuk rasa
hina pada Nyo Ko.
Sejak kecil memangnya Nyo Ko tak cocok dengan Kwe Hu,
kini setelah bertemu kembali dan melihat si gadis masih tetap
benci padanya, maka bertambah hebat rasa rendah dirinya
Nyo Ko dan berduka pula. Katanya dalam hati: "Kau pandang
hina padaku, memangnya aku lantas minta-minta kasihanmu?
ilmu silat ayahmu tiada bandingannya di seluruh jagad, ibumu
juga pendekar wanita pada jaman ini, Gwakongmu adalah
maha guru ilmu silat, semua orang dari segala aliran di kolong
langit ini siapa yang tidak menaruh hormat pada
sekeluargamu itu? Akan tetapi, dimana ayah-bundaku? ibuku
hanya wanita penangkap ular pedusunan saja, ayahku pun tak
diketahui siapa dia, matinya pun tidak terang apa sebabnya.
Hm, sudah tentu aku tak bisa dibandingkan dengan kau,
memang aku dilahirkan dengan nasib malang dan harus selalu
dihina orang, kini kau menghina aku lagi, rasanya pun tidak
menjadi soal!"
Begitulah Nyo Ko berdiri terpaku dan berduka hati, ia
merasa di dunia ini tiada seorangpun yang menghargai dirinya
lagi, meski hidup rasanya pun tidak berguna. Hanya Suhu
Siao-llong-li saja seorang yang bersungguh hati terhadap
dirinya, tetapi saat ini entah berada dimana sang guru itu?
Sisa hidup ini entah masih dapat bertemu tidak dengan beliau
?
Sedang Nyo Ko bersedih hati, tiba-tiba terdengar lagi
suara derapan kuda yang lebih riuh, kembali ada dua
penunggang mendatangi.
Kedua ekor kuda ini satu kelabu dan yang lain coklat,
meski tergolong kuda bagus juga, tetapi kalau dibandingkan
Tiraikasih Website http://cerita-silat.com/cc
kuda merah tunggangan Kwe Hu, terang selisihnya terlalu
jauh. Tiap-tiap kuda itu ternyata ditunggangi seorang pemuda
dan semuanya mengenakan baju kuning.
"Bu-keh-koko (engkoh keluarga Bu), perempuan jahat ini
kembali kita ketemukan lagi," segera Kwe Hu berseru pada
kedua pemuda itu.
Kiranya pemuda2 penunggang kuda ini memang adalah Bu
Tun-si dan Bu Siu-bun kakak beradik Dan begitu melihat Li
Bok-chhi, kedua saudara Bu itu terkejut.
Li Bok-chiu adalah musuh pembunuh ibu mereka, selama
beberapa tahun ini siang malam boleh dikatakan tak pernah
mereka melupakan dendam itu, siapa tahu mendadak bisa
kepergok di sini. Keruan saja mereka menjadi murka, serentak
mereka melompat turun dari kuda, pedang dan segera mereka
memapak maju tanpa bicara lagi.
"Akupun bantu kalian," teriak Kwe Hu. iapun lolos
pedangnya dan melompat turun buat bantu kawan-kawannya.
Melihat makin lama musuh bertambah banyak, apalagi
kedua pemuda yang datang terus merangsak maju dengan
muka merah dan mata melotot seperti hendak mengadu jiwa,
bahkan Kiam-hoat yang mereka mainkan sangat bagus, terang
adalah anak murid dari guru ternama, malahan si gadis cantik
tadi ikut-ikut menyerbu juga, pedang yang dipakai gemilapan
menyilaukan mata, ternyata adalah sebatang Pokiam atau
pedang pusaka, begitu juga Kiam-hoat yang dilontarkan lihay
luar biasa. Tentu saja Li Bok-chiu terkesiap oleh semuanya ini.
Tiraikasih Website http://cerita-silat.com/cc
"He, kau adalah nona keluarga Kwe dari Tho-hoa-to,
bukan?" tanyanya segera.
"Kau kenal juga padaku!" sahut Kwe Hu tertawa sambil
melompat ke atas terus menusuk cepat.
"Hmm, sungguh sombong kau bocah perempuan ini",
jengek Li Bok-chiu dalam hati, sembari kecutnya menangkis.
"Dengan sedikit kepandaianmu ini, kalau bukannya keder
terhadap orang tuamu, jangan kata kau hanya satu, meski
sepuluh orang pun sekaligus kumampuskan semua."
Selagi ujung kebutnya diayun hendak melilit pedang
orang, sekonyong-konyong ada angin tajam menyamber lagi
dari samping.
Harus diketahui bahwa ilmu silat kedua saudara Bu dan
Kwe Hu adalah sama-sama ajaran Kwe Cing sendiri, ketiga
muda-mudi ini tinggal setempat di Tho-hoa-to, Kiam-hoat
yang mereka pelajari adalah serupa, oleh sebab itu setiap
gerak serangan mereka bisa bekerja sama dengan rapat
sekali.
Di-tambah lagi ada kedua rajawali ikut mengerubut hingga
Li Bok-chiu rada kerepotan, sebenarnya kalau lewat sedikit
lama lagi pasti salah satu diantara mereka bisa dirobohkan Li
Bok-chiu dan tinggal dua yang lain tentu sukar buat
selamatkan diri.
Tetapi Li Bok-chiu berhadapan dengan orang banyak, ia
kuatir kalau lawannya mengerubut maju semua, inilah susah
baginya untuk melayani apalagi kalau Kwe Cing suami-isteri
menyusul datang lagi inilah lebih celaka baginya.
Tiraikasih Website http://cerita-silat.com/cc
Karena pikiran itulah, begitu kebutnya menyabet lagi,
dengan tertawa ia berkata: "Lihatlah sekarang, biar nonamu
unjuk permainan joget monyet!"
Menyusul itu kebutnya menyamber ber-turut-urut enam
kali, setiap serangannya selalu mengincar tempat-tempat yang
berbahaya, maka Kwe Hu dan Bu-si Hengte didesak hingga
kelabakan dan tiada hentinya melompat-lompat menghindari
tampaknya menjadi seperti monyet.
Kemudian Li Bok-chiu menyabet lagi sekali dengan keras,
lalu ia putar tubuh sambil berseru: "Ling-po, marilah pergi!" -
Habis itu, guru dan murid inipun kabur ke arah barat laut.
"Haha, Bu-si-koko, ia ketakutan pada kita, hayo, kejar
lekas!" teriak Kwe Hu.
Selesai berkata, dengan pedang terhunus iapun mengudak
cepat Dengan ilmu entengkan tubuh segera Bu-si Hengte
menyusul juga.
Namun larinya Li Bok-chiu dan Ang Ling-po ternyata cepat
luar biasa, tampaknya mereka berlenggang kangkung
seenaknya, tetapi sedikitpun tiada debu yang mengepul di
bawah kaki mereka, meski Kwe Hu dan Bu-si Hengte "tancap
gas" sekencang-kencangnya, namun jarak diantara mereka
dengan Li Bok-chiu berdua makin lama semakin jauh.
Hanya kedua ekor rajawali itulah yang masih bisa
menyandak orang, kadang-kadang kedua binatang itu masih
menubruk kebawah buat memagut.
Agaknya Bu Tun-si lebih bisa berpikir, ia tahu harapan
membalas dendam hari ini tak mungkin bisa terlaksana, maka
dia bersuit panjang memanggil kembali kedua rajawali itu.
Tiraikasih Website http://cerita-silat.com/cc
Karena kuatir ketiga orang itu terjadi sesuatu, maka Yali
Ce dan lain-lainnya ikut menyusul juga. Demi nampak Kwe Hu
dan Bu-si Hengte sudah balik kembali, segera mereka saling
memberi hormat Dan karena mereka sama-sama berwatak
muda, maka begitu bicara merekapun sangat cocok satu sama
lain.
"He, dimanakah Nyo-heng?" seru Yali Ce tiba-tiba teringat
pada Nyo Ko.
"Seorang diri dia sudah pergi," kata Wanyen Peng, "Aku
tanya dia hendak ke mana, tetapi dia tak gubris lagi padaku."
Habis berkata, Wanyen Peng menunduk kesal
Waktu Yali Ce berlari ke atas tanah tinggi buat
memandang, ia lihat si gadis baju hijau itu sedang jalan
berendeng dengan Liok Bu-siang dan sudah rada jauh, karena
mereka sedang bercakap dengan asyiknya, maka tak enak Yali
Ce hendak manggilnya, sebaliknya bayangan Nyo Ko sama
sekali tak kelihatan.
Sesaat itu perasaan Yali Ce seakan-akan kehilangan
sesuatu saja. Meski baru pertama kali ini ia bertemu Nyo Ko,
tetapi melihat ilmu silatnya tinggi dan wataknya jujur terus
terang, sekali bertemu saja rasanya sudah sangat cocok,
walaupun didengarnya Li Bok-chiu menista orang berbuat
sesuatu yang tak senonoh dengan gurunya, tetapi betapapun
juga rasa persahabatannya dengan Nyo Ko menangkan
pandangan hina karena kata-kata Li Bok-chiu itu. ia pikir:
"Seorang muda gagah perkasa seperti dia (Nyo Ko) ini
sesungguhnya susah diketemukan. Seumpama betul-betul ada
sesuatu perbuatannya yang kurang baik, kalau aku menasihati
Tiraikasih Website http://cerita-silat.com/cc
dia dan asal dia mau perbaiki diri, rasanya masih belum
kecewa sebagai seorang Laki-laki sejati."
Dan kini mendadak Nyo Ko pergi tanpa pamit, Yali Ce
menjadi seperti kehilangan seorang sahabat lama.
Kiranya tadi waktu Nyo Ko melihat Bu-si Heng-te menyusul
datang dan bersama Kwe Hu mengeroyok Li Bok-chiu,
kelakuan ketiga muda-mudi itu seperti rapat dan rukun sekali,
Kiam-hoat merekapun bagus luar biasa hingga dalam
beberapa gebrak saja sudah bikin Li Bok-chiu melarikan diri.
Ia tidak tahu larinya Li Bok-chiu sebab takut pada Kwe
Cing dan Ui Yong, sebaliknya ia menyangka Kiam-hoat ketiga
orang itu yang membikin Li Bok-chiu dipaksa kabur.
Pikiran ini disebabkan dahulu waktu Nyo Ko diantar ke
Cong-lam-san oleh Kwe Cing, di sana Kwe Cing telah unjuk
ketangkasannya mengalahkan tidak sedikit imam dari Coancin-
kau, ilmu silat yang sangat tinggi itu terlalu berkesan
dalam hati kecilnya Nyo Ko, oleh sebab itu ia pikir murid
ajaran Kwe Cing sudah tentu kepandaiannya berpuluh kali
lebih hebat dari pada dirinya.
Begitulah makin dipikir makin mendongkol teringat lagi
oleh Nyo Ko dahulu di Tho-hoa-to telah dihajar Bu-si Hengte
babak belur sampai sembunyi di dalam gua semalam sehari
pula terpikir olehnya Ui Yong sengaja tak mau mengajarkan
ilmu silat padanya, sebalikiya Kwe Cing malah mengirim
dirinya ke Tiong-yang-kiong untuk disiksa oleh kawanan imam
jahat itu, semuanya ini membikin perasaannya bergolak
ditambah lagi dilihatnya Wanyen Peng, Liok Bu-siang dan si
gadis baju hijau serta Yali Ce sedang memandang kepada
dirinya dengan muka yang sangsi-sangsi, Nyo Ko sendiri
Tiraikasih Website http://cerita-silat.com/cc
berpikir pula. "Hm, tentu kalian mengejek dan pandang hina
padaku!"
Begitulah timbul rasa benci pada dirinya Nyo Ko,
mendadak ia angkat kaki dan lari seperti keranjingan setan,
iapun tidak turuti jalanan umum, melainkan alas pegunungan
yang diterobosnya tanpa tujuan.
Dalam keadaan kehilangan pribadinya itu, Nyo Ko anggap
di seluruh kolong langit semua orang bermusuhan padanya,
padahal mukanya memakai kedok kulit, meski wajahnya
berubah, Wanyen Peng dan lain-lain mana bisa
mengetahuinya?
Kenapa tanpa sebab orang mengejek dan menghina
padanya?
Sebenarnya Nyo Ko dari utara hendak menuju ke selatan,
tetapi kini karena ingin bisa tinggalkan orang-orang itu sejauh
mungkin, maka dia malah balik menuju ke jurusan utara.
Dalam kusutnya pikiran dan benci pada sesamanya, Nyo
Ko tanggalkan kedok yang dia pakai terus gentayangan
seorang diri diantara pegunungan yang sepi, kalau perutnya
lapar, ia petik buah2-an untuk mengisi perut.
Semakin jalan semakin jauh dan makin lamapun makin
menanjak tinggi. Tiada sebulan, kondisi badan Nyo Ko sudah
berubah hebat, kini tubuhnya mulai kurus kering, pakaiannya
compang-camping tak terurus, akhirnya iapun berada di
sebuah gunung besar yang tinggi.
Ia tidak tahu bahwa waktu itu dirinya berada di atas Hoasan
(gunung Hoa), satu diantara lima gunung terbesar di
kolong langit ini, ia lihat keadaan gunung sangat curam dan
Tiraikasih Website http://cerita-silat.com/cc
terjal, tetapi dengan perasaan beku, ia justru makin menanjak
ke atas ke bagian yang tertinggi.
Walaupun Ginkang Nyo Ko sangat tinggi, tetapi Hoa-san
adalah pegunungan yang terkenal terjalnya di kolong langit
ini, kalau hendak ditanjaki begitu saja oleh Nyo Ko rasanya tak
dapat dilakukannya dengan mudah.
Dan baru dia sampai di tengah gunung atau cuaca menjadi
gelap, awan mendung menutup tebal, menyusul mana
turunlah hujan salju yang berhamburan.
Tetapi dalam keadaan masgul, Nyo Ko justru semakin
menyiksa diri se-bisa-bisanya, bukannya dia mencari tempat
meneduh, tetapi semakin besar turunnya salju, ia melanjutkan
perjalanan semakin nekad ke tempat yang paling curam dan
berbahaya, sampai hari sudah gelap, turunnya salju
bertambah lebat hingga jalanan sangat licin dan susah dikenali
lagi.
Dalam keadaan begitu, kalau sedikit salah langkah saja,
dapat dipastikan Nyo Ko akan tergelincir ke dalam jurang dan
badan hancur lebur.
Namun demikian, sama sekali hal mana tak dipikirkan Nyo
Ko, ia pandang jiwanya waktu itu seperti tiada harganya dan
masih terus menanjak ke atas dengan nekat.
Tak lama pula, tiba-tiba Nyo Ko dengar di belakangnya
ada suara gemerisik yang sangat pelahan sekali seperti ada
sesuatu binatang yang berjalan di tanah salju itu. Waktu Nyo
Ko menoleh, tiada sesuatu yang dilihatnya, tetapi di tanah
Tiraikasih Website http://cerita-silat.com/cc
salju itu tertampak ada serentetan bekas tapak kaki disamping
bekas tapak kaki dirinya sendiri.
Nyo Ko terperanjat melihat bekas tapak kaki itu, terang
ada orang sedang menguntit dirinya, tetapi waktu ia menoleh
kenapa tak sesuatu bayangan yang dilihatnya? Kalau dibilang
setan seharusnya tidak sampai meninggalkan bekas kaki,
tetapi bila manusia, kenapa gerak tubuhnya bisa begitu cepat
dan mendadak menghilang ?
Sesudah merandek sejenak, kemudian Nyo Ko berjalan
lagi, tetapi baru belasan tindak, suara gemerisik di
belakangnya berbunyi pula, nyata sekali itu adalah suara
orang yang berjalan di atas salju.
Mendadak Nyo Ko menoleh lagi, dengan tindakan yang
cepat dan diluar dugaan ini, ia pikir sekali ini pasti bisa tahu
siapakah gerangan orang itu.
Siapa duga, tetap yang dia lihat hanya dua baris bekas
kaki saja di tanah salju, sedang ujung baju orang sedikitpun
tak tertampak olehnya.
Kalau orang lain, menghadapi keadaan begitu,
sungguhpun ilmu silatnya tinggi, tentu juga akan merasa takut
dan mengkirik, tetapi Nyo Ko sudah tak sayangkan jiwanya
lagi, ia malah sangat ketarik oleh kejadian itu, ia justru ingin
cari tahu sampai ke-akar2nya. ia pikir di sekitarnya tiada
tumbuh pepohonan dan tempat-tempat lain yang bisa dibuat
sembunyi pada sebelah adalah gunung tinggi dan sebelah lain
adalah jurang, apa mungkin orang itu bisa terbang ke atas?
sekalipun bisa terbang pasti akan kelihatan juga!
Begitulah sambil jalan sembari Nyo Ko memikir, sementara
itu suara gemerisik di belakang terdengar berjangkit lagi.
Tiraikasih Website http://cerita-silat.com/cc
"Orang ini pasti berilmu silat sangat tinggi, begitu melihat
pundakku bergerak, segera ia tahu aku akan berpaling terus
mendahului sembunyi" demikian Nyo Ko membatin, "Sekali ini
biar pundakku tak bergerak, coba dia bisa lari kemana lagi?"
Lalu dengan tabah ia merangkak ke atas pula, satu saat,
mendadak ia membungkuk ke depan dan memandang ke
belakang melalui sela selangkangan.
Gaya ini adalah ajaran Auwyang Hong diwaktu melatih
ilmu secara menjungkir itu, karena sudah biasa dilatihnya,
cara membungkuk dan memandang ke belakang tadi
dilakukan dengan kecepatan luar biasa, maka sekilas dapat
dilihat olen Nyo Ko ada satu bayangan orang melesat ke
dalam jurang.
"Haya, celaka, sekali ini bisa tewas dia," teriak Nyo Ko
dalam hati saking kaget.
Ketika ia melongok ke dalam jurang, tiba-tiba dilihatnya
ada satu orang dengan sebuah jari tangan saja menggantol di
tepian batu dengan tubuhnya tergantung Kiranya beberapa
kali orang itu menggoda dan selalu dengan cara demikianlah
orang ini menyembunyikan diri.
Melihat orang sanggup menggunakan satu jari saja untuk
menahan bobot tubuhnya dan tergantung di udara yang
beralaskan jurang, sesungguhnya kepandaian orang sudah
sampai taraf yang tak dapat diukur.
Oleh karenanya, dengan laku sangat hormat Nyo Ko
membungkuk tubuh dan berkata : "Silakan naiklah
Locianpwe!"
Tiraikasih Website http://cerita-silat.com/cc
Sekonyong-konyong orang itu ketawa terbahak-bahak,
begitu keras hingga lembah pegunungan seakan-akan
bergemuruh, ketika jari tangannya menarik, orangnya seperti
burung saja lantas meloncat naik dari tebing jurang itu.
"Apa kau begundalnya Ngo-kui dari Tibet? Kenapa tengah
malam buta berkeliaran di sini?" mendadak ketawa orang itu
berubah membentak.
Karena bentakan orang yang tanpa sebab tiada alasan ini,
seketika Nyo Ko tersinggung lagi perasaannya hingga
mendadak ia menangis tergerung-gerung, terkenang oleh
nasibnya yang malang hingga selalu dihina orang, seorang
Siao-liong-li yang dihormati dan dicintai itu tanpa sebab pula
telah mendamperat padanya dan selanjutnya tak dapat bersua
lagi, saking dukanya hingga menangisnya makin men-jadi2
seakan-akan seluruh kesedihan dari dahulu hingga sekarang
hendak dilampiaskan dalam tangisnya ini
Melihat Nyo Ko mendadak menggerung-gerung mula-mula
orang itu rada tercengang, tetapi demi mendengar tangis
orang makin lama semakin duka, ia merasa heran puk, Melihat
tangis Nyo Ko men-jadi2 dan tiada habis-habisnya, mendadak
ia tertawa panjang sekeras-kerasnya, paduan suara tertawa
dan menangis ini menjadi begitu hebat hingga saling
berkumandang di antara Iebah2 pegunungan itu, sampai
gumpalan2 salju sama longsor oleh karena geloranya.
"Dan kau menangisi apa?" balas tanya orang itu tetap
tertawa.
Sebenarnya Nyo Ko masih hendak memaki orang dengan
kata-kata kasar, syukur segera teringat olehnya ilmu silat
orang yang tak terukur tingginya itu, seketika api amarahnya
ditahan, malahan dengan hormat sekali ia menjura.
Tiraikasih Website http://cerita-silat.com/cc
"Siaujin (aku yang rendah) Nyo Ko memberi hormat pada
Locianpwe," demikian sapanya.
Tangan orang itu memegang sebatang tongkat bambu,
tiba-tiba ia mencungkit pelahan lengan Nyo Ko, tanpa terasa
tahu-tahu Nyo Ko "telah terbanting kebelakang meski tenaga
tongkat orang tak berapa besar.
Menurut daya bantingan itu, seharusnya Nyo-Ko akan
terbanting hingga tak sanggup berdiri lagi, namun pemuda ini
sudah biasa dilatih Ha-mo-kang atau ilmu weduk katak
dengan tubuh menjungkir, maka di tengah udara ia masih bisa
berjumpalitan, lalu dengan tegak ia berdiri kembali Kejadian
ini sama-sama diluar dugaan kedua orang.
Dengan ilmu silat Nyo Ko sekarang ini, sekali serang
hendak bikin pemuda ini terjungkal biarpun tokoh seperti Li
Bok-chiu atau segolongan Khu Ju-ki, rasanya juga tak nanti
bisa, Melihat usia Nyo Ko semuda ini sudah melatih silat
sampai tingkat begini tinggi dalam hati orang itu menjadi
sangat kagum.
"Apa yang kau tangisi tadi?" demikian orang itu bertanya lagi
Nyo Ko amat-amati orang, ia lihat orang adalah kakek2
yang rambut jenggotnya sudah putih semua, pakaiannya
compang-camping seperti seorang pengemis, walaupun
malam gelap, namun di bawah pantulan sinar salju yang
memutih, lapat-lapat terlihat mukanya yang merah bercahaya,
semangatnya pun masih menyala-nyala, tanpa terasa Nyo Ko
sangat menaruh hormat padanya.
"Aku adalah seorang yang bernasib malang, hidup di jagat
ini sesungguhnya tiada gunanya, lebih baik mati saja beres,"
sahutnya kemudian.
Tiraikasih Website http://cerita-silat.com/cc
"Siapakah yang bikin susah kau, coba katakan pada
Kongkong (kakek)," kata si pengemis tua itu.
"Ayahku dibunuh orang, tetapi aku tak tahu siapa
pembunuhnya, ibuku pun mati digigit ular, di dunia ini tiada
orang lagi yang sayang dan cinta padaku," sahut Nyo Ko.
"Em, sebatangkara, sungguh harus dikasihani," ujar si
pengemis,tua, "Dan siapakah gurumu yang mengajarkan ilmu
silat padamu?"
Dengar orang menanyakan Suhunya, pikir Nyo Ko:
"Resminya Kwe-pekbo adalah guruku, tetapi sedikitpun ia tak
ajarkan ilmu silat padaku. Para imam busuk Coan-cin-kau itu
lebih menggemaskan pula, Auwyang Hong adalah ayah angkat
dan bukan guruku, sedang Kokoh yang telah ajarkan ilmu silat
padaku, kini telah berakhir dengan demikian ini, mana bisa
kuceritakan hal ini pada orang luar?" Ong Tiong-yang Siansu
(guru marhum) dan Lim-popoh menurunkan ilmu padaku
melalui ukiran-ukiran di kamar kuburan itu, rasanya juga
belum dapat dikatakan sebagai Suhuku, sungguhpun guruku
begitu banyak, tetapi satupuh ternyata tak bisa di-sebutkan."
Demikianlah pertanyaan pengemis tua itu jadi menusuk
perasaannya lagi hingga mendadak ia me-nangis2 tergerunggerung
pula, "Aku tak punya Suhu, aku tak punya Suhu!" ia
berteriak-teriak.
"Baiklah, baiklah! Kau tak mau mengaku juga tak
mengapalah!" ujar pengemis tua.
"Bukan aku tak mau katakan, tetapi aku tak punya," sahut
Nyo Ko terguguk-guguk.
Tiraikasih Website http://cerita-silat.com/cc
"Tidak punya ya sudah, perlu apa menangis lagi?" kata si
pengemis tua. "Melihat kau berjalan seorang diri di malam
gelap, tadi aku sangka kau adalah begundalnya Ngo-kui dari
Tibet, kini ternyata bukan, biarlah Lokiauhoa (pengemis tua)
terima kau sebagai murid saja."
Kiranya orang ini bukan lain dari pada Kiu-ci-sin-kay Ang
Chit-kong, Si pengemis sakti berjari sembilan, namanya sejajar
dengan Tang-sia, Setok, Lam-te dan Ong Tiong-yang.
Dahulu sesudah kedudukan Pangcu (ketua persatuan
pengemis) dia turunkan pada Ui Yong, lalu seorang diri ia
merantau ke timur dan ke barat untuk mencari makanan2
yang paling aneh dan enak seluruh jagat.
Memang ciri satu-satunya Ang Chit-kong yalah suka
makan, untuk mencari makanan enak, ia tak segan-segan
memasuki keraton raja untuk mencuri masakan yang ingin
dicicipinya itu, jadi sebelum raja makan, setiap masakan tentu
dia cicipi dahulu.
Bahkan untuk penganan enak ia tidak sungkan untuk
berebut tanpa pikirkan akibat-nya, saking rakusnya terhadap
penganan, suatu kali dalam gemasnya ia sampai hukum
dirinya sendiri dengan memotong sebuah jari telunjuk, oleh
karena inilah ia disebut "Kiu-ci-sin-kay" atau Si-pengemis sakti
berjari sembilan, walaupun demikian, toh cirinya yang rakus
itu masih belum bisa hilang,
Begitulah, oleh karena daerah Kwitang terkenal nyaman
dan paling banyak terdapat makanan yang aneh-aneh, maka
Ang Chit-kong sampai di propinsi ini, ia menjadi kerasan dan
sudah belasan tahun tak pernah kembali ke daerah utara lagi.
Tiraikasih Website http://cerita-silat.com/cc
orang-orang Bu-lim menyangka usia Ang Chit-kong sudah
lanjut, mungkin sudah lama wafat, siapa tahu ia justru hidup
sehat di Kwitang merasai segala macam penganan di mulai
dari sebangsa semut, tikus sampai ular-ular berbisa dan lain
sebagainya semua dimakannya, rejeki mulutnya sungguh tidak
sedikit.
Tahun itu dua "Kui" dari Cong-pian-ngo-kui" atau lima
momok dari Tibet melakukan pembunuhan se-wenang2 di
Kwitang, Dasar Ang Chit-kong benci pada kejahatan seperti
musuhnya, sebenarnya kedua Kui atau kedua momok itu
sekaligus hendak dibunuhnya, tapi karena ingin juga sekalian
bisa bereskan yang lain-lain, maka sengaja ia kuntit orang, ia
tunggu bila kelima momok itu sudah berkumpul semua baru
sekaligus akan dibasminya semua, siapa tahu karena
menguntitnya itu akhirnya sampai di atas Hoa-san.
Waktu itu, empat momok dari Tibet itu sudah berkumpuI,
hanya Toa Kui, si momok pertama, yang belum datang, siapa
tahu di tengah malam Nyo Ko yang dia ketemukan di tanah
salju itu, kini mendengar pemuda ini begitu sedih menangis,
tiba-tiba hatinya tertarik dan hendak-terima Nyo Ko sebagai
murid.
Selama hidup Ang Chit-kong, murid yang diterimanya
secara resmi hanya Kwe Cing dan Ui Yong berdua, kini entah
mengapa, tiba-tiba ia mengatakan sendiri ingin terima Nyo Ko.
ia pikir bocah ini pasti girang luar biasa dan menghaturkan
terima kasih.
Siapa tahu, sedikitpun Nyo Ko tak pernah melupakan Siaoliong-
li, ia sudah ambil keputusan tak mau lagi mengangkat
guru "yang kedua.
Tiraikasih Website http://cerita-silat.com/cc
Sebab itulah ia telah geleng-geleng kepala dan menjawab
: "Terima kasih atas maksud baikmu, tetapi aku tak mau
angkat kau sebagai guru."
Jawaban Nyo Ko ini sangat mengherankan Ang Chit-kong,
dasar pengemis tua ini wataknya sangat berkeras pada katakatanya
sendiri, maka ia bilang lagi: "Kau tak mau angkat
guru padaku, tetapi aku justru ingin kau menjadi muridku."
"Kau mau pukul mati aku, boleh silakan memukul saja,
tetapi ingin aku angkat guru, itulah tidak bisa," sahut Nyo Ko
tetap.
Nampak tabiat orang sama kerasnya dan kukuh pada
pendiriannya sendiri, Ang Chit-kong bertambah suka padanya.
"Sudahlah, kita jangan bicara urusan ini dulu, agaknya
kaupun sudah lapar, marilah kita makan dulu baru berunding
lagi," katanya,
Habis itu, ia berjongkok di tanah salju dan menggarukgaruk
untuk mendapatkan beberapa kayu kering, dengan
inilah lalu dinyalakan api.
"Hendak makan masakan apakah kita?" tanya Nyo Ko
sambil bantu orang mengumpulkan kayu,
"Kelabang!" sahut Chit-kong singkat
"Kelabang? Ah, mana mungkin!" demikian Nyo Ko pikir, ia
sangka orang cuma berguyon saja, maka ia hanya tersenyum
dan tak tanya Iagi.
"Dengan susah payah aku kintil Cong-pian Ngo-kui dari
Linglam (nama lain dari Kwitang) sampai di Hoa-san sini, kalau
Tiraikasih Website http://cerita-silat.com/cc
tidak mencari beberapa macam makanan enak yang anehaneh,
rasanya tak enak terhadap kawanku ini!" kata Chit-kong
sambil tepuk-tepuk perut sendiri.
Nyo Ko lihat perawakan pengemis tua ini kekar kuat,
hanya perutnya yang rada gendut
"Hoa-san adalah tempat yang paling teduh, tempat paling
dingin di kolong langit ini, produksi kelabangnya adalah paling
gemuk dan halus pula.
Hawa di Kwitang sebaliknya panas, segala makhluk hidup
di sana lebih cepat tumbuh besar, maka daging kelabangnya
pun rada kasar," demikian Ang Chit-kong mencerocos pula
dengan teori ilmu makannya
Mau-tak-mau Nyo Ko rada heran mendengar orang
berkata secara sungguh-sungguh dan kelihatan bukan
bergurau belaka.
Sembari berkata Ang Chit-kong tambahi kayu pada api
unggunnya, kemudian ia keluarkan sebuah wajan kecil dari
buntalannya dan ditaruh di atas api, ia mengepal dua
gelondong salju dan dimasukkan kedalam wajan.
"Mari ikut pergi mengambil kelabang," kata-nya. Selesai
berkata, sekali melesat, tahu-tahu orangnya sudah melompat
ke atas tebing gunung setinggi lebih dua tombak.
Melihat tebing gunung itu begitu terjal, seketika Nyo Ko
ragu-ragu tak berani ikut manjat ke atas.
"Anak tak berguna, lekas naik sini!" seru Ang Chit-kong.
Tiraikasih Website http://cerita-silat.com/cc
Nyo Ko paiing benci kalau ada orang pandang hina
padanya, kini dikatai tak berguna oleh Ang Chit-kong, tiba-tiba
ia kertak gigi terus ikut merangkak ke atas.
"Hm, memangnya aku sudah tak pikirkan mati atau hidup
lagi, biarkan mati tergelincir juga tak apalah," diam-diam ia
berpikir.
Karena marahnya itu, nyalinya menjadi besar, Ginkang
yang dia keluarkan bisa digunakan lebih hebat, maka dengan
kencang ia ikut di belakang Ang Chit-kong, meski tempattempat
yang paiing curam dan berbahaya, akhirnya dapat
dipanjatnya juga.
Hanya sebentar saja mereka berdua sudah memanjat
sampai di atas puncak gunung yang tak pernah diinjak
manusia.
Melihat Nyo Ko memiliki Ginkang yang bagus dan hatinya
begitu tabah, Ang Chit-kong menjadi tambah suka padanya.
"Anak bagus, tak bisa tidak aku harus terima kau sebagai
murid," demikian ia memuji.
"Terima kasih Locianpwe, kalau locianpwe ada perintah
apa-apa, siaujin tidak nanti bantah, tentang soal angkat guru,
harap jangan disebut puIa," sahut Nyo Ko.
Ang Chit-kong tahu pasti ada ganjelan hati orang yang
sukar diucapkan, sebenarnya ia hendak menanya, tetapi
teringat akan makanan enak yang harus diberi "prioritas" lebih
dulu, maka cepat ia mendekati sebuah batu padas, ia gali
tanah di bawah batu itu, maka tertampaklah seekor ayam jago
yang sudah mati
Tiraikasih Website http://cerita-silat.com/cc
Luar biasa herannya Nyo Ko.
"Eh, kenapa ada bangkai ayam jago disitu?" katanya
heran, Namun iapun segera mengerti: "Ah, engkau sendirilah
yang memendamnya."
Ang Ching-kong tak menjawab, ia hanya tersenyum dan
angkat bangkai ayam jago itu.
Mata Nyo Ko sudah terlatih memandang di waktu malam,
apalagi kini di bawah sorotan sinar salju yang membalik itu,
maka tertampaklah olehnya di bawah perut bangkai jago itu
penuh lengket beratus ekor kelabang yang panjangnya rata2
belasan senti dengan warna merah-hitam yang belangbonteng.
Sejak kecil Nyo Ko sudah berkawan dengan ular,
sebenarnya ia tidak takut terhadap binatang berbisa, tetapi
demi mendadak nampak kelabang sebanyak ini, saking
seramnya tidak urung ia mengkirik juga.
"Haha," sebaliknya Ang Chit-kong lantas tertawa riang,
"Kelabang ini memang musuh kawakan ayam jago, kemarin di
sini sengaja kupendam seekor bangkai jago, betul saja
keIabang2 ini kena dipancing datang semua."
Habis ini diapun mengeluarkan kain pembungkus, bangkai
ayam jago berikut kelabang2 yang masih melengket itu ia
buntal seluruhnya, lalu dengan riang gembira ia merosot turun
dari puncak gunung itu.
"Apa benar-benar akan makan kelabang? Kalau melihat
sikapnya, tampaknya bukannya sengaja buat menakuti aku,"
pikir Nyo Ko diam-diam sambil ikut di belakang orang.
Tiraikasih Website http://cerita-silat.com/cc
Sementara itu air salju yang digodok dengan wajan Ang
Chit-kong tadi sudah mendidih, Ang Chit-kong buka
buntalannya tadi, ia tarik ekor tiap-tiap ke!abang dan
dicemplungkan ke dalam wajan. Kelabang2 itu semula
kerupukan dalam air mendidih, tapi sekejap saja lantas kaku
dan tak berkutik.
"Sebelum mati, kelabang2 ini telah muntahkan semua
racun yang berada padanya, oleh sebab itu, air salju dalam
wajan ini luar biasa jahat bisanya," ujar Chit-kong.
Kemudian ia gali sebuah lobang di tanah salju itu, ia tuang
air berbisa itu ke dalamnya, saking dingin suhu di atas gunung
ini, maka sebentar saja air beracun itu sudah membeku
menjadi es.
Habis itu Ang Chit-kong keluarkan sebilah pisau kecil, ia
potong kepala dan buntut tiap-tiap kelabang, lalu dipelocoti
satu per satu, dengan gampang saja kulit kelabang2 itu
mengelotok hingga daging kelabang kelihatan putih bersih
seperti daging udang.
"Dengan caranya rnengolah ini, boleh jadi memang dapat
dimakan?" demikian pikir Nyo Ko, akhirnya ia jadi ketarik.
Ia lihat Ang Chit-kong menggodok lagi dua wajan air salju,
daging kelabang itu dia cuci bersih tanpa ketinggalan setetes
air racun, habis itu ia keluarkan lagi beberapa kaleng kecil dari
buntalannya Kaleng2 kecil ini ternyata berisi bumbul masak
sebangsa minyak, garam, kecap, cuka dan lain-lain. Lebih dulu
wajan dibikin panas dengan minyak mendidih, kemudian
daging kelabang itu dituang ke dalamnya untuk digoreng,
Tiraikasih Website http://cerita-silat.com/cc
begitu daging kelabang itu masuk wajan, maka terciumlah bau
sedap yang bikin orang mengilar.
Melihat macamnya Ang Chit-kong yang berulang kali telan
air liur, biji lehernya tampak naik turun, sifat rakusnya nyata2
kelihatan, mau-tak-mau Nyo Ko terheran-heran dan merasa
geli pula.
Setelah kelabang2 itu digoreng sampai berwarna kuning,
kemudian Ang Chit-kong tambah bumbunya, selesai itu, tanpa
tunggu2 lagi ia comot seekor terus dimasukkan ke mulutnya,
dengan pelahan ia mengunyah, matanya meram-melek, begitu
nikmatnya sampai ia menghela napas, rasanya tiada sesuatu
lagi di dunia ini yang lebih nikmat dari pada saat ini.
Sekaligus bet-turut-urut ia pindahkan belasan ke-labang ke
perutnya, habis itu baru ia katakan pada Nyo Ko: "Hayo,
makan! Sungkan-sungkan apa lagi?"
Akan tetapi Nyo Ko menggeleng kepala, "Tidak, aku tak
doyan," sahutnya.
Ang Chit-kong tertegun sejenak, tapi segera ia ketawa
terbahak-bahak.
"Ya, ya, betul, tidak sedikit orang gagah perkasa yang
pernah kujumpai sekalipun mereka dipenggal kepala dan
alirkan darah tidak nanti mereka mengkerut kening, tetapi
kalau bicara soal makan kelabang, tiada seorangpun yang
berani tiru aku Ang Chit-kong. Ha, kau bocah ini hanya
bermulut besar saja, sesungguhnya kau juga setan cilik
bernyali kecil," demikian katanya.
Dikatai bernyali kecil, Nyo Ko menjadi dongkol, pikirnya :
"Biar aku pejamkan mata dan tanpa mengunyah terus telan
Tiraikasih Website http://cerita-silat.com/cc
saja beberapa ekor kelabang itu, supaya tidak dipandang
rendah olehnya."
Maka dengan menggunakan dua tangkai lidi sebagai
sumpit, cepat ia jepit seekor kelabang goreng itu.
Siapa tahu, sebelum kelabang itu masuk mulutnya,
rupanya Ang Chit-kong sudah bisa menerka apa yang dia
pikirkan tadi.
"Tanpa mengunyah sedikitpun sambil tutup mata kau telan
sekaligus belasan kelabang, ini namanya akal bulus dan bukan
cara gagah kesatria," kata pengemis tua itu.
"Masakah makan kelabang saja ada soal gagah kesatria
segala?" sahut Nyo Ko tertawa dingin.
"Ya, di jagat ini tidak sedikit orang yang tanpa malu-malu
mengaku dirinya gagah kesatria, tetapi yang berani makan
kelabang rasanya tiada seberapa orang," kata Chit-kong.
Nyo Ko menjadi nekat karena dipandang rendah oleh
orang, ia pikir paling banyak hanya mati, kenapa harus takut.
Maka kelabang yang dia sumpit tadi segera dimasukkan ke
dalam mulut terus dikunyah.
Kalau tak dikunyah masih tak mengapa, tetapi karena jadi
dikunyahnya ini, seketika terasa daging kelabang itu
sedemikian gurih, begitu wangi dan begitu enak, sungguh
selama hidupnya belum pernah mengenyam makanan yang
begitu lezat rasanya. Karuan ia tidak mau sudah, cepat ia
telan daging kelabang itu, lalu sumpitnya menyamber lagi
kelabang yang kedua.
Tiraikasih Website http://cerita-silat.com/cc
"Em, hebat, sungguh hebat rasanya!" demikian berulang
kali ia memuji.
Nampak bocah ini telah kenal rasa dan menjadi tuman,
Ang Chit-kong girang sekali, segerapun ia berebut duluan
dengan Nyo Ko, hanya sekejap saja ratusan kelabang itu
sudah mereka sapu bersih.
Bagi Ang Chit-kong kelabang sebanyak itu rasanya masih
belum Cukua, lidahnya menggigit bibir, sungguh kalau bisa ia
pingin isi perutnya 100 ekor kelabang lagi.
"Biar aku pendam bangkai jago ini buat pancing kelabang
yang Iain," kata Nyo Ko tiba-tiba. ia betul sudah tuman oleh
rasa gurihnya kelabang goreng tadi.
"Tak bisa jadi lagi," sahut Chit-kong, "bangkai jago itu
sudah hilang daya penariknya, pula di sekitar sini kelabang2
yang gemuk sudah tak tersisa lagi.
Habis berkata, mendadak ia menguap sambil mengulet
ngantuk, tahu-tahu iapun merebahkan diri ke tanah salju.
"Sudah ada 7 hari 7 malam aku tak tidur," demikian ia
kata, "setelah makan enak besarZan ini, biarlah aku tidur
sepuas-puasnya selama tiga hari, seandainya langit bakal
ambruk juga jangan kau bangunkan aku."
Sembari berkata suara menggeros pun mulai terdengar,
ternyata lantas pulas begitu saja.
"Cianpwe ini sungguh orang yang sangat aneh," batin Nyo
Ko. "Baiklah akupun tiada tempat tujuan, ia bilang mau tidur
tiga hari, biar akupun tunggu tiga hari padanya."
Tiraikasih Website http://cerita-silat.com/cc
Sementara itu bunga salju terus turun tiada hentinya,
seluruh tubuh Ang Chit-kong sudah penuh tertutup salju yang
putih seperti kapas.
Tubuh manusia bersuhu panas, bunga salju tentu akan
cair karena hawa panas itu, tetapi kenapa bisa tertimbun di
atas muka dan tubuhnya, hal ini mula-mula bikin Nyo Ko tak
mengerti tetapi setelah ia pikir, segera iapun tahulah.
"Ya, ya, tentu diwaktu tidur ia telah keluarkan tenaga sakti
untuk menghimpun suhu panas ke dalam badannya, Seorang
yang masih hidup segar waktu tidur ternyata bisa kaku seperti
mayat, lwekang semacam ini sesungguhnya sangat hebat,
mungkin mendiang Suhu Ong Tiong-yang hidup kembali juga
tidak selihay dia ini," demikianlah pikirnya.
Sementara itu hari sudah hampir pagi, tubuh Ang Chitkong
telah terkubur di dalam salju, di atas tanah hanya
kelihatan sedikit tonjolan, bekas badannya sudah tak kelihatan
lagi
Nyo Ko sendiri tidak merasa letih, waktu ia mendongak, ia
lihat keadaan gelap gulita dan-sunyi senyap.
Mendadak ia dikejutkan oleh suara gemerisik seperti orang
berjalan di jurusan timur gunung itu, Waktu ia tegasi, dari
jauh kelihatan mendatangi lima bayangan orang dengan
kecepatan luar biasa, terang sekali semuanya berilmu silat
amat tinggi
"Ah, tentu inilah Ngo-kui dari daerah Tibet yang dikatakan
Locianpwe ini tadi," pikiran Nyo Ko tergerak tiba-tiba. Karena
itu, lekas-lekas ia sembunyi di belakang batu padas.
Tiraikasih Website http://cerita-silat.com/cc
Tidak lama kelima orang itu sudah sampai di depan batu
padas tempat sembunyi Nyo Ko, seorang diantaranya
terdengar bersuara heran.
"He, wajan pengemis tua itu ada di sini, pasti dia berada di
sekitar sini saja," kata orang itu.
Rupanya kelima orang itu merasa heran dan jeri, lalu
mereka berkumpul untuk berunding dengan bisik-bisik. Habis
ini, mendadak mereka terpencar pergi buat memeriksa
keadaan sekitar tempat ini.
Karena tempat di atas puncak gunung itu memang sempit,
maka tidak seberapa langkah mereka mencari, seorang di
antaranya kena injak badan Ang Chit-ong yang tertutup salju
itu. Karena kakinya tiba-tiba menginjak tempat Iunak, dalam
kagetnya sampai ia menjerit.
Dengan serta merta keempat saudaranya lantas merubung
dan menggali timbunan salju itu, maka tertampaklah Ang Chitkong
yang kaku dan seperti sudah mati. Tentu saja kelima
orang itu sangat girang, mereka coba periksa pernapasan Ang
Chit-kong, terasa sudah berhenti tubuhpun dingin membeku.
"Pengemis tua ini terus menguntit aku sepanjang jalan
hingga aku menjadi sebal digodanya, tak tahunya kini sudah
mampus di sini," kata seorang diantaranya.
"Orang ini sangat hebat ilmu silatnya, tanpa sebab kenapa
mati?" ujar yang lain ragu-ragu.
"ilmu silat bagus apa tidak bisa mati?" debat yang kin pula,
"Pikir saja, umurnya kini sudah berapa?"
Tiraikasih Website http://cerita-silat.com/cc
Karena kata-kata terakhir ini, empat orang yang lain
menyatakan benar, kata mereka: "Ya, beruntung ia telah
dipanggil raja akherat, kalau tidak, sesungguhnya sukar
dilawan."
"Hayo, kita masing-masing bacok tua bangka ini sekali
buat lampiaskan mendongkol kita! Biarkan dia gagah perkasa,
sesudah mati mayatnya pun tak bisa utuh," ajak orang yang
pertama tadi.
Saat itu sebenarnya Nyo Ko sudah siapkan segenggam
Giok-hong-ciam, ia pikir untuk melawan lima orang agak sulit,
tiada jalan lain kecuali cari kesempatan menyerang dulu
dengan Am-gi, kalau dua-tiga orang sudah dirobohkan,
sisanya tentu akan menjadi gampang dibereskan.
Tetapi dasar usianya masih muda dan kurang sabar, ketika
didengarnya orang bilang hendak bacok tubuh Ang Chit-kong,
ia kuatir orang benar-benar mencelakai pengemis tua itu,
maka Am-gi belum sempat dihamburkan satupun, dengan
sekali gertak ia sudah melompat keluar dari tempat
sembunyinya.
Karena tak bersenjata, terpaksa Nyo Ko samber sekenanya
dua tangkai kayu dan digunakan sebagai Boan-koan-pit,
begitu kedua tangannya bergerak beruntun-runtun ia
menyerang lima kali, tiap-tiap serangannya mengincar Hiat-to
kelima orang itu.
Lirna serangannya ini boleh dikatakan dilakukan secepat
kilat, cuma sayang ia telah membentak dahulu hingga Ngo-kui
keburu berjaga-jaga, kalau tidak, sedikitnya satu-dua orang
diantara mereka pasti ada yang dirobohkan.
Tiraikasih Website http://cerita-silat.com/cc
Sekalipun begitu, tidak urung Ngo-kui kaget hingga
berkeringat dingin, lekas-lekas mereka melompat.
Ngo-kui semuanya memakai senjata golok tebal, ilmu silat
mereka didapat dari satu guru, meski kepandaian masingmasing
ada beda antara tinggi dan rendah, tetapi caracaranya
adalah sama.
Ketika mereka berpaling dan melihat Nyo Ko hanya satu
pemuda "ingusan" yang bajunya rombeng, senjata yang
dipakai hanya dua kayu bakar, sikapnya kikuk-kikuk, wajahnya
biasa, seketika rasa kaget mereka pun hilang.
"Hai, anak busuk, apa kau adalah pengemis kecil dari Kaypang?"
segera Tay-kui, si Kui (setan jelek) tertua membentak:
"Cosuya-mu sudah melayang jiwanya, lekas kau berlutut dan
minta ampun saja."
"Ya, baik, biar aku menjura padamu", sahut Nyo Ko tibatiba.
Tadi waktu menyaksikan caranya Ngo-kui berkelit Nyo Ko
sudah dapat meraba sampai dimana ilmu silat mereka. ia
menaksir kalau seorang lawan seorang, kelima orang ini tiada
yang bisa menangkan dirinya, tetapi kalau main keroyok, ia
sendiri pun tak ungkuIan.
Tetapi Nyo Ko memang anak cerdik, ketika mendengar
Tay-kui berteriak agar menjura padanya, segera ia sambut
baik terus melangkah maju dan berlagak menjura. Tak
terduga mendadak kedua tangannya terus menyabet ke
samping secepat kilat dengan gerak tipu "tui-jong-bong-goat"
(mendorong jendela memandang rembulan).
Tiraikasih Website http://cerita-silat.com/cc
Waktu itu yang berdiri di sisi kirinya adalah Go-kui dan sisi
kanan Sam-kui.
Tipu serangan "Tui-jong-bong-goat" ini dilontarkan secara
tak kenal ampun, Sam-kui lebih tinggi kepandaiannya ia
sempat angkat goloknya buat menangkis, tetapi begitu
punggung goloknya kena disabet tangkai kayu Nyo Ko, ia
merasa lengannya kesakitan hingga goloknya hampir tak kuat
digenggam Iagi.
Sebaliknya Go-kui telah kena disaber tulang kakinya,
terdengar suara "keletak", meski tulang kaki tak sampai patah,
namun saking sakitnya Go-kui telah berjingkrak memegangi
kakinya.
Empat saudaranya menjadi gusar, senjata mereka
menyamber menghujam Nyo Ko dengan kalap.
Tetapi dengan gesit Nyo Ko dapat lompat kian kemari
untuk berkelit hingga seketika empat "Kui" itu tak mampu
berbuat apapun.
Tak lama dengan kaki pincang Go-kui ikut masuk kalangan
pertempuran lagi. ia adalah jagoan Bu-lim, tetapi kena dikibuli
seorang anak kemarin, tentu saja gusarnya bukan buatan.
Nyo Ko sudah mendapatkan pelajaran asli Giok-li-simkeng,
Ginkangnya jauh di atas Ngo-kui dari Tibet ini, kalau ia
niat lari, sebenarnya tidak sukar baginya, tetapi ia kuatir Ang
Chit-kong kalau ditinggal pergi tentu dicelakai Ngo-kui, oleh
karena itu ia tak berani menyingkir jauh hingga sebab itu pula
ia tak bisa bertempur secara Ieluasa, akhirnya ia sendiri
berulang kali harus menghadapi serangan bahaya.
Tiraikasih Website http://cerita-silat.com/cc
Tetapi kemudian terpikir lagi olehnya, tiada jalan lain
kecuali melarikan diri, maka pada suatu kesempatan
sekonyong-konyong ia samber tubuh Ang Chit-kong, ia putar
tangkai kayu terus menerjang pergi sekaligus ia berlari sampai
beberapa tombak jauhnya.
Tentu saja Ngo-kui lantas mengudak, cuma kepandaian
mereka ada yang tinggi dan ada yang rendah, maka sekejap
saja yang tiga orang berada di depan dan yang dua
ketinggalan di belakang.
Merasakan tubuh Ang Chit-kong yang dia kempit itu
sedingin es, mau-tak-mau Nyo Ko menjadi kuatir, ia pikir
betapapun nyenyak tidurnya seharusnya akan terbangun juga,
aku diudak musuh, kenapa ia diam saja tak mau menolong?
Jangan-jangan pengemis tua ini memang benar-benar telah
mati?
"Locianpwe, Locianpwe!" ia coba teriaki Ang Chit-kong.
Tetapi pengemis tua ini tetap tak bergerak sedikitpun
seperti mayat saja, cuma tidak kaku.
Dan karena sedikit merandeknya Nyo Ko, di belakang Taykui
sudah menyusul datang, karena takut pada kepandaian
Nyo Ko yang lihay, seorang diri Tay-kui tak berani terlalu
dekat, ketika ia tunggu datangnya kedua saudaranya yang
lain, sebaliknya Nyo Ko sudah lari lagi sejauh beberapa puluh
tombak.
Melihat jalan yang diambil Nyo Ko yalah panjat terus ke
puncak gunung, puncak itu melulu ada satu jalan kecil, maka
Ngo-kui menjadi heran, apa bocah ini bisa terbang ke langit?
Tiraikasih Website http://cerita-silat.com/cc
Sebab itulah merekapun tak perlu buru-buru mengejar
mereka menyusul dari belakang dengan pelahan saja.
Jalan pegunungan itu makin jauh makin curam, sampai
suatu tempat tikungan, tiba-tiba Nyo Ko melihat di kedua
samping adalah jurang yang beribu tombak dalamnya, di
tengah hanya ada sebuah jembatan batu sempit yang hanya
cukup dilalui seorang saja.
"Aha, bagus sekali tempat ini, biar disini juga aku tahan
mereka selama tiga hari," demikian pikir Nyo Ko. "Tetapi kalau
hari ke-4 Locianpwe ini masih belum bangun, aku... aku..."
Sampai disini ia tak berani berpikir lagi, sungguh ia tak
tahu apa yang harus diperbuatnya apa bila sampai saatnya
Ang Chit-kong masih belum sadar.
Segera pula ia percepat larinya melintasi jembatan batu
ciptaan alam itu, ia rebahkan Ang Chit-kong di bawah satu
batu padas di ujung jembatan sana, lalu dengan cepat ia putar
balik, sementara itu Tay-kui sudah menyusul sampai di ujung
jembatan.
"Siluman jelek, berani kau maju?" bentak Nyo Ko tiba-tiba
sambil menerjang ke depan.
Karena takut ketumbuk dengan Nyo Ko hingga ke-dua2nya
tergelincir masuk jurang, lekas-lekas Tay-kui mundur ke
belakang.
Waktu itu fajar sudah menyingsing, sang surya sudah
menampakkan diri di ufuk timur dengan cahayanya yang
kuning ke-emas2an, salju sudah berhenti turun, lapisan salju
yang menutupi seluruh gunung di bawah sorotan sinar
Tiraikasih Website http://cerita-silat.com/cc
matahari, sungguh pemandangan indah yang tiada
bandingannya.
Dengan berdiri di tengah jembatan langit itu, tiba-tiba Nyo
Ko pasang kedok kulit manusia di mukanya.
"Hayo, siapa yang lebih jelek, kau atau aku?" bentaknya.
Wajah Ngo-kui dari Tibet ini semuanya memang sangat
jelek, tetapi lebih jelek lagi adalah sepak terjang mereka yang
jahat, Kini mendadak melihat Nyo Ko berubah wajah yang
lain, pucat kuning, kaku tanpa perasaan, mirip seperti mayat
hidup yang baru muncul dari kuburan, Seketika Ngo-kui saling
pandang dengan kaget.
Pelahan Nyo Ko mundur ke tengah jembatan batu itu,
dengan gaya "Kim-ke-tok-lip" atau ayam emas berdiri dengan
kaki tunggal, ia berdiri dengan kaki kiri dan kaki kanan
sengaja menendang pelahan ke atas sambil ber-gerak.2
diantara hembusan angin pegunungan yang silir, tampaknya
alangkah gembiranya pemuda ini.
"Darimanakah Kay-pang mendadak bisa muncul seorang
kesatria muda ini?" demikian diam-diam Ngo-kui berpikir.
Dan karena tak berani menerjang ke jembatan alam itu,
kemudian mereka lantas berunding. Keputusan diambil:
mereka akan berjaga secara bergilir untuk mencari bahan
makanan ke bawah gunung, dengan demikian tidak sampai
dua hari "mereka yakin pemuda itu pasti akan kewalahan
karena kelaparan.
Begitulah, lalu empat saudara mereka menjaga rapat di
ujung jembatan alam itu dan Ji-kui yang diutus pergi mencari
bahan makanan ke bawah gunung.
Tiraikasih Website http://cerita-silat.com/cc
Dengan cara demikian kedua pihak saling bertahan sampai
setengah harian, Nyo Ko tak berani menyeberang ke sana,
sebaliknya Su-kui juga tak berani menyeberang kesini."
Sampai lewat lohor, Nyo Ko duduk bersemadi untuk
kumpulkan tenaga. Sampai besok paginya, Ji-kui datang
kembali dengan membawa makanan, kelima saudara itu
sengaja makan dengan bernapsu untuk meng-iming2 Nyo Ko.
Memangnya Nyo Ko sudah kelaparan, tentu saja ia
mengiler, menyaksikan orang makan begitu enak. Waktu ia
Berpaling memandang Ang Chit-kong, ia lihat pengemis tua ini
masih tetap serupa saja seperti hari pertama, pikirnya: "Jika
betul-betul tidur, adalah lazim kalau suatu ketikapun akan
membalik tubuh, tetapi ia justru tidak bergerak sedikitpun
jangan-jangan memang benar-benar telah mati? Kalau aku
bertahan lagi satu hari, bila lebih lapar dan tak bertenaga,
tentu lebih susah lagi untuk lawan kelima musuh itu. Tidaklah
lebih baik terjang pergi sekarang saja mungkin masih bisa
menyelamatkan diri."
Perlahan-lahan Nyo Ko berdiri, tetapi lantas terpikir lagi
olehnya: "la bilang akan tidur selama tiga hari, kini baru hari
kedua, lebih baik jangan kutinggalkan pergi begitu saja."
Maka dengan menahan perut yang keroncongan tiada
hentinya, ia pejamkan mata melatih lwekang sendiri, tak
dipandangnya lagi Ngo-kui yang sedang makan itu.
Sampai hari ketiga, Ang Chit-kong masih merebah saja
seperti hari pertama, makin melihat Nyo Ko menjadi semakin
sangsi.
Tiraikasih Website http://cerita-silat.com/cc
"Sudah terang ia telah mati, kalau aku berkeras tak mau
pergi, sesungguhnya terlalu bodoh, kalau sampai kelaparan
setengah hari lagi, tanpa mereka turun tangan, mungkin aku
sendiri akan mati kelaparan," demikian Nyo Ko membatin.
Namun ia tidak putus asa, ia telan dua kepal salju untuk
sekedar mengisi perut yang kosong itu, lalu terpikir lagi
olehnya: "Terhadap negara aku belum bersetia, terhadap
ayah-bunda akupun tak berbakti, pula aku tak punya sanak
saudara sekedar menyampaikan rasa hatiku, kini soal
"kepercayaan" ini betapapun juga jadinya aku harus
menjaganya sampai saat terakhir, apalagi aku Nyo Ko selama
hidup ini selalu dipandang hina saja oleh orang, kalau aku tak
bisa tepati janji ini, lebih-lebih aku akan dibuat buah
tertawaan mereka, sekalipun aku harus mati, janji tiga hari ini
harus kulaksanakan."
Dan karena keputusannya ini, rasa menderitanya lapar
menjadi rada ringan.
Sehari semalam ini dengan cepat dilalui lagi, pagi hari
keempat, segera Nyo Ko mendekati tubuh Ang Chit-kong, ia
raba badan pengemis tua itu dan terasa tetap dingin seperti
es. Tanpa tertahan pemuda ini menghela napas.
"Locianpwe," demikian ia memberi hormat kepada badan
Ang Chit-kong, "janji tiga hari ini sudah kulakukan, cuma
sayang cianpwe sudah terlanjur meninggal dunia, Tecu kuatir
tak sanggup menjaga keutuhan jenazahmu, maka terpaksa
melemparkan kau ke dalam jurang supaya tidak dibuat hinaan
orang-orang jahat itu."
Habis ini, dengan cepat ia angkat tubuh Ang Chit-kong dan
berjalan ke jembatan alam, tubuh pengemis tua itu hendak
dilemparkannya ke jurang.
Tiraikasih Website http://cerita-silat.com/cc
Pada saat itu juga, melihat Nyo Ko tiba-tiba hendak
tinggalkan jembatan alam itu, Ngo-kui menyangka pemuda ini
tak tahan lapar, maka ingin melarikan diri. Dengan cepat
mereka saling memberi tanda, segera mereka merubung maju
memapaki Nyo Ko.
Tatkala itu Nyo Ko sudah menerjang ke tengah jembatan,
sementara itu Tay-kui juga sudah menghadang di tengah
jembatan
Dengan sekali gertak mendadak Nyo Ko melemparkan Ang
Ching-kong ke bawah jembatan, menyusul ini Tay-kui pun
diterjangnya secara be-ringas.
Tak terduga mendadak angin santar berkesiur, tahu-tahu
ada seorang telah melayang lewat melalui kepalanya terus
tancapkan kaki di tengah-tengah antara Nyo Ko dan Ngo-kui.
"Haha, tidurnya Lokiauhoa sekali ini sungguh nyenyak dan
puas sekali!" kata orang itu sambil bergelak ketawa, Nyata ia
bukan lain dari pada Kiu-ci-sin-kay Ang Chit-kong.
Kejadian ini sungguh membikin Nyo Ko girang tidak
kepalang, sebaliknya Ngo-kui terkejut dan ketakutan
Kiranya pada waktu Ang Chit-kong dilemparkan ke bawah
jembatan tadi, pada saat hampir terjerumus ke bawah,
mendadak ia mendusin dan dengan tepat lengannya yang
panjang keburu menahan di atas jembatan, berbareng itu
orangnya pun melompat lewat di atas kepala Nyo Ko.
Maka tertampaklah Ang Ching-kong menggerak tangan kiri
ke depan, menyusul tangan kanan didorong maju, ini adalah
satu diantara tipu serangan "Hang-liong-sip-pat-ciang" atau
delapan-belas tipu pukulan penakluk naga, yang menjadi
Tiraikasih Website http://cerita-silat.com/cc
kebanggaan hidupnya, yakni yang disebut "kang-liong-yuhwe".
Tay-kui yang berhadapan pertama dengan Ang Chit-kong,
hendak menghindarkan diri juga tak ke buru lagi meski insaf
serangan pengemis tua ini tak sanggup disambutnya secara
keras, namun tiada jalan lain kecuali berbuat sehisanya,
terpaksa ia gunakan kedua telapak tangan untuk tangkis
pukulan Ang Chit-kong tadi.
Walaupun begitu toh Tay-kui merasakan kedua lengannya
kaku kesemutan dan dada sakit.
Nampak gelagat jelek, kuatir kalau saudara tuanya
dihantam terjungkal ke dalam jurang, lekas-lekas Ji-kui ulur
tangannya mendorong punggung sang toako. namun
demikian, ketika Ang Chit-kong tambahi tenaga telapak
tangannya, tiba-tiba Ji-kui kena didorong mendoyong ke
belakang dan hampiri terbanting jatuh.
Si-kui yang berdiri di belakang Ji-kui, terpaksa pula maju
mendukung kedua saudaranya, Dan karena menempel
tangannya ini, ia menjadi ikut kontak oleh tenaga pukulan Ang
Chit-kong, menyusul mana Si-kui menular pada Sam-kui dan
paling akhir Sam-kui menularkan juga pada Go-kui
Kelima orang ini hendak lari tak bisa lari, mau hindarkan
diri tak dapat menghindarkan diri, sekejap itu saja, bila Ang
Chit-kong tambahi tenaganya sedikit, sekaligus mereka pasti
akan kena dipukul mati oleh tenaga pukulan raksasa si
pengemis tua itu.
Menyaksikan betapa hebat daya pukulan itu, Nyo Ko
menjadi tercengang sambit ternganga kagum.
Tiraikasih Website http://cerita-silat.com/cc
"Kalian berlima setan jahat ini selamanya melakukan
berbagai kejahatan dan kekejaman, kini terpukul mati di
bawah tangan Lokiauhoa, agaknya mati pun tidak penasaran,"
kata Ang Chit-kong dengan tertawa.
Namun Ngo-kui tak menyerah mentah-mentah, mereka
pasang kuda-kuda dengan kuat, dengan mata mendelik
mereka melawan telapak tangan Ang Chit-kong yang tunggal
itu dengan gabungan tenaga mereka berlima.
Siapa tahu daya tekanan Ang Chit-kong makin Iama makin
berat hingga dada Ngo-kui terasa sesak, buat bernapas saja
rasanya sukar.
Pada saat yang sangat genting itu, tiba-tiba dari jauh sana
berkumandang suara "tok-tok-tok" yang keras, dari tikungan
jalan sana tahu-tahu muncul seorang aneh yang berjalan
dengan kepala, Siapa gerangan dia kalau bukan Auwyang
Hong.
"Ayah!" seru Nyo Ko tanpa pikir.
Akan tetapi Auwyang Hong seperti tak dengar saja,
mendadak ia melompat ke belakang Go-kui.
Ia ulur kaki kanan terus menahan kepunggungnya, makaterasalah
tiba-tiba satu kekuatan yang maha besar telah
disalurkan melalui tubuh kelima orang itu.
Melihat Auwyang Hong mendadak muncul di sini, Ang Chitkong
menjadi kaget, apalagi Nyo Ko memanggil padanya
"ayah", diam-diam pengemis tua ini pikir kiranya bocah ini
adalah anak Auwyang Hong, pantas memiliki ilmu silat tinggi.
Tiraikasih Website http://cerita-silat.com/cc
Dalam pada itu tangannya sudah terasa berat, tenaga
pukulan pihak lawan telah menembus datang melalui tubuh
Ngo-kui, mau-tak-mau Ang Chit-kong tambahi tenaga dan
balas menghantam.
Sejak "Hoa-san-lun-kiam" kedua rampung, selama belasan
tahun ini Ang Chit-kong dan Auwyang Hong belum pernah
bertemu lagi Meski otak Auwyang Hong rada kurang waras,
tetapi karena ia melatih Kiu-im-cin-keng secara terbalik hingga
ilmu silatnya makin dilatih makin aneh dan kuat.
Sebaliknya Ang Chit-kong sendiri pernah mendengar
sebagian isi kitab Kiu-im-cin-keng itu dari Kwe Cing serta Ui
Yong yang ternyata banyak persamaannya dengan dasar ilmu
silatnya sendiri, maka iapun sudah jauh lebih maju.
Kini satu sama lain bertemu lagi, apapun juga yang baik
selalu mengalahkan yang jahat, meski isi Kiu-im-cin-keng yang
asli tak banyak di-pahami Ang Chit-kong, tapi sudah tak kalah
dengan Se-tok Auwyang Hong, Si racun tua dari barat.
Beberapa puluh tahun yang lalu kedua orang ini sudah
sukar dibedakan siapa yang lebih unggul, sesudah itu masingmasing
pun bertambah lebih hebat lagi kepandaiannya sendirisendiri,
kini untuk ketiga kalinya mereka bersua di Hoa-san,
sesudah saling gebrak, keadaan masih tetap sama kuatnya.
Sudah tentu yang paling celaka adalah Ngo-kui yang
tergencet di tengah, mereka menjadi terombang-ambing
diantara aduan kekuatan dua "raksasa" ini, tubuh mereka
sebentar dingin, sebentar lagi panas, napas merekapun
sebentar kencang sebentar kendur, sungguh penderitaan yang
mereka rasakan waktu itu beribu kali lebih hebat melebihi
siksaan badan.
Tiraikasih Website http://cerita-silat.com/cc
Beberapa kali Ang Chit-kong mengerahkan tenaganya,
secara keras dan secara pelahan, tetapi setiap kali kena
dipatahkan oleh tenaga kaki Auw-yang Hong yang memancal
di sebelah sana, Ketika kakinya bertambah kuat memancalnya,
namun sukar juga bikin Ang Chit-kong mundur sedikitpun
Sesudah saling adu kekuatan ini, kedua orang pun sama
kagumnya, maka berbareng mereka melompat ke belakang
sambil ketawa terbahak-bahak.
Dan karena "lepas tangan" kedua "raksasa" ini, daya
tekanan pada Ngo-kui tadi seketikapun hilang hingga tubuh
kelima orang itu terhuyung-huyung kehilangan imbangan
bagai orang mabuk saja.
Sesudah badan kelima orang itu kena digencet ke sana ke
mari oleh tenaga raksasa Ang Chit-kong dan Auwyang Hong,
isi perut mereka sudah menderita luka parah semua, otot
tulang mereka pun lemas dan menjadi orang cacat, sekalipun
menghadapi seorang biasa merekapun tak sanggup melawan
lagi.
"Bangsat, hitung-hitung ajalmu belum sampai, baiknya
selanjutnya kalian tak bisa membikin celaka orang lagi, lekas
enyah dari sini!" demikian Ang Chit-kong membentak
Maka dengan Iesu dan tindakan sempoyongan, Ngo-kui
bertindak pergi pelahan dengan saling dukung-mendukung.
Dalam pada itu, setelah Auwyang Hong berdiri tegak, ia
lirik Ang Chit-kong dan lapat-lapat seperti pernah kenal, maka
segera ia menegurnya: "Hai, bagus amat ilmu silatmu,
siapakah nama-mu?"
Tiraikasih Website http://cerita-silat.com/cc
Mendengar pertanyaan ini dan melihat air muka orang
yang linglung, Ang Chit-kong tahu selama belasan tahun ini
Auwyang Hong masih belum waras dari otaknya yang miring.
"Aku bernama Auwyang Hong, dan kau siapa?" demikian
sengaja Ang Chit-kong menjawab.
Hati Auwyang Hong tergetar, ia merasa nama "Auwyang
Hong" itu seperti sudah dikenalnya betul, cuma dirinya sendiri
bernama apa, itulah ia tak bisa ingat lagi.
"Entah, aku lupa," demikian sahutnya kemudian "Eh, ya,
siapakah namaku ya?"
"Hahahaha!", Ang Chit-kong tertawa geli. "Namamu sendiri
kenapa tak tahu? lekas kau pulang saja buat meng-ingatingatnya".
Auwyang Hong menjadi gusar ditertawai orang.
"Tentu kau tahu, hayo beritahukan padaku," bentaknya.
"Baiklah, aku kasih tahu, kau bernama Hamo katak
busuk," sahut Ang Chit-kong.
"Ha-mo, Ha-mo", nama ini memang sangat dikenal
Auwyang Hong, kedengarannya rada mirip namanya sendiri,
tetapi bila dipikir lagi, rasanya pun bukan.
Seperti diketahui ilmu mujijatnya Auwyang Hong yang
sangat diunggulkan yalah "Ha-mo-kang" atau ilmu weduk
katak, bila digunakan harus berjongkok seperti lakunya katak
Oleh sebab itu Ang Chit-kong sengaja goda dan olok-olok
padanya.
Tiraikasih Website http://cerita-silat.com/cc
Auwyang Hong dan Ang Chit-kong adalah musuh
kebuyutan selama berpuluh tahun, rasa benci masing-masing
sudah tertahan dalam di hati mereka, meski dalam keadaan
linglung, namun dengan sendirinya Auwyang Hong menjadi
gusar demi melihat macamnya Ang Chit-kong.
Di lain pihak demi nampak orang berdiri menjublek, habis
itu matanya tiba-tiba menyorotkan sinar bengis, diam-diam
Ang Chit-kong telah berjaga-jaga.
Betul saja, sekejap kemudian, mendadak terdengar
Auwyang Hong menggeram sekali dengan kalapnya ia
menubruk maju. Ang Chit-kong tak berani ayal, sekali
tangannya bergerak, segera "Hang-liong-sip-pat-ciang"
dikeluarkannya.
Cara begitulah kedua jago tua ini memulai dengan
pertarungan yang maha sengit di atas jembatan alam di
puncak tertinggi dari Hoa-san itu, di kedua sisi mereka adalah
jurang yang dalamnya ber-ribu2 tombak, asal sedikit ada yang
berlaku meleng, tentu orangnya akan hancur lebur tergelincir
ke dalam jurang.
Oleh karena resiko itulah, maka begitu saling gebrak,
segera kedua orang mengeluarkan tipu serangan yang paling
hebat untuk mengadu jiwa, kalau dibanding dengan
pertandingan Hoa-san-lun-kiam yang dilakukan secara
halusan, terang sekali ini sudah lain keadaannya.
Kedua jago tua ini kini sudah lanjut umurnya, meski ilmu
silat yang dilatih semakin sempurna, tetapi soal tenaga justru
berkurang daripada tadinya. Oleh sebab itu, pertarungan
sekali ini terutama tidak ditentukan oleh besar-kecilnya tenaga
masing-masing, tetapi semuanya ingin menang dengan tiputipu
pukulannya sendiri yang paling bagus.
Tiraikasih Website http://cerita-silat.com/cc
Dan karena inilah rasanya yang paling untung ialah si Nyo
Ko, ia bisa menyaksikan segala kebagusan dari tiap-tiap ilmu
pukulan kedua jago tua itu hingga tidak sedikit intisari yang
dia petik, apa lagi dasarnya Nyo Ko memang pintar, pula
sudah memahami inti2 Giok-li-sim-keng dan Kiu-im-cin-keng,
sudah tentu ia menjadi lebih gampang menerima dimana letak
inti ilmu silat kedua jago tua yang hebat itu.
Sewaktu kedua jago tua itu mulai bergebrak Nyo Ko rada
kuatir Auwyang Hong akan terjerumus ke dalam jurang
mengingat tempat pertempuran yang berbahaya itu, tetapi
sesudah saling gebrak, kadang-kadang ia malah melihat Ang
Chit-kong terdesak di pihak terserang, tanpa terasa ia
mengharap agar pengemis tua itu diberkahi selamat.
Harus diketahui bahwa Auwyang Hong adalah ayah
angkatnya, perasaan kekeluargaan mereka sudah begitu rapat
dan melekat, tetapi tindak tanduk Ang Chit-kong juga
membawa semacam perbawa yang besar dan agung, hal ini
mau-tak-mau membikin Nyo Ko menjadi kagum dan
menghormat padanya.
Begitulah sesudah beratus jurus kedua jago tua itu
bergebrak, meski kedua orang berulang kali sama-sama
menghadapi serangan lihay, namun selalu mereka sanggup
menyelamatkan diri dengan baik, maka Nyo Ko akhirnya tak
perlu berkuatir lagi atas keselamatan kedua orang tua itu, ia
justru memusatkan pikirannya untuk mengingat baik-baik tipu
silat yang diunjuk mereka.
Sudah lama Nyo Ko apalkan isi Kiu-im-cin-keng dengan
baik, kini menyaksikan setiap gerak-gerik tipu yang
dikeluarkan kedua jago tua itu ternyata cocok sekali dengan
intisari pelajaran kitab sakti itu, sungguh bukan buatan rasa
girang Nyo Ko, pikirnya: "Satu istilah saja dalam kitab yang
Tiraikasih Website http://cerita-silat.com/cc
disangka cuma biasa saja, siapa tahu mempunyai perubahan2
yang begini luas dan banyak,"
Dan sesudah ribuan jurus pertandingan itu berlangsung,
meski kepandaian kedua jago tua itu belum habis dikeluarkan,
namun, karena usia yang sudah lanjut, mau-tak-mau napas
mereka mulai memburu dan jantung memukul cepat, gerakgerik
merekapun mulai kendur.
"Kalian berdua sudah setengah hari berkelahi, tentunya
perut sudah lapar, marilah kita makan yang keyang dulu, nanti
bertanding lagi!" demikian Nyo Ko coba teriaki mereka.
Bagi Auwyang Hong segala makanan itu tidak menarik,
lain halnya dengan Ang Chit-kong, begitu mendengar katakata
"makan", segera ia melompat mundur sambil berseru:
"Bagus, bagus! Memang harus makan duIu!"
Tadi Nyo Ko melihat bakul bambu berisi barang makanan
yang dibawa Ngo-kui itu masih berada di situ, maka dengan
cepat bakul itu disambernya ke hadapan Ang Chit-kong, waktu
ia buka tutup bakul bambu itu, ternyata isinya banyak sekali,
ajam-daging komplit dengan nasi dan arak segala.
Soal makan, selamanya Ang Chit-kong tak pernah
sungkan-sungkan, tanpa permisi lagi ia samber seekor ayam
beku, baik daging berikut tulangnya terus dilalap semua
hingga bersuara keletak-keletuk.
"Ayah, selama ini berada di manakah kau?" dengan suara
lembut Nyo Ko bertanya sambil menyodorkan sepotong daging
beku pada Auwyang Hong.
"Aku mencari kau," sahut Auwyang Hong dengan mata
mendelong.
Tiraikasih Website http://cerita-silat.com/cc
Nyo Ko jadi terharu oleh jawaban orang, ia pikir di dunia
ini ternyata masih ada juga seorang yang begini cinta padaku
dengan sesungguh hati.
Maka sambil merangkul tangan orang, Nyo Ko berkata
lagi: "Ayah, Ang-locian-pwe ini adalah orang baik, janganlah
kau berkelahi lagi dengan dia."
"Dia, dia ialah Auwyang Hong, Auwyang Hong adalah
manusia jahat," kata Auwyang Hong sambil tuding Ang Chitkong.
Melihat pikiran orang memang abnormal, sungguh pedih
sekali hati Nyo Ko.
"Ya, ya, betul Auwyang Hong adalah manusia busuk dan
janat, Auwyang Hong pantas mampas!" Ang Ching-kong
terbahak-bahak geli.
Tentu saja Auwyang Hong semakin bingung, ia pandang
Ang Chit-kong, lalu pandang lagi pada Nyo Ko, matanya
menyorotkan sinar yang guram dan hampa, pikirannya pun
menjadi kacau, sebisanya ia bermaksud meng-ingat-ingat
sesuatu, tetapi selalu tak bisa mengingatnya.
"Ang-locianpwe," kata Nyo Ko sesudah melayani Auwyang
Hong memakan sedikit, "dia adalah ayah angkatku, harap
engkau kasihan dia sedang menderita sakit ingatan, sukalah
jangan bikin susah lagi padanya."
Ang Chit-kong adalah seorang berbudi demi mendengar
permohonan Nyo Ko, berulang kali ia mengangguk "Anak baik,
anak baik," demikian pujinya.
Tiraikasih Website http://cerita-silat.com/cc
Siapa tahu Auwyang Hong yang abnormal itu mendadak
melompat bangun lagi.
"Hayo, Auwyang Hong, sekarang maju lagi." demikian ia
berteriak-teriak atas nama sendiri kepada Ang Chit-kong,
"Daiam hal pukulan kita sama kuat, kini kita boleh coba-coba
senjata."
"Tak usahlah sudah, anggaplah kau yang menang", sahut
Ang Chit-kong sambil geleng-geleng kepala.
"Menang apa segala? Aku justru ingin bunuh kau," teriak
Auwyang Hong tiba-tiba.
Habis itu, ia samber sepotong kayu digunakan sebagai
pentung terus menghantam ke atas kepala Ang Chit-kong.
Dahulu, dengan tongkat ular, senjata khasnya, pernah
Auwyang Hong malang melintang di dunia persilatan, ilmu
permainan tongkatnya itu lihay luar biasa, kini meski
tongkatnya tak berular pada ujungnya, namun hantamannya
sekali ini ternyata sangat keras, belum tiba pentungnya atau
Nyo Ko sudah merasakan samberan angin yang menekan
dada.
Lekas-lekas Nyo Ko melompat minggir, waktu ia pandang
Ang Chit-kong, dilihatnya pengemis tua ini sudah samber juga
sepotong kayu pendek dan dipakai sebagai senjata, lalu kedua
jago tua itupun saling labrak lagi dengan serunya.
"Pak-kau-pang-hoat", ilmu permainan pentung pemukul
anjing yang dimiliki Ang Chit-kong adalah ilmu silat yang tiada
bandingannya di kolong langit ini, cuma tidak sembarangan
Tiraikasih Website http://cerita-silat.com/cc
mau dia keluarkan selain ini iapun punya ilmu permainan
pentung lain yang bagus dan lihay, kini satu persatu ia
keluarkan untuk labrak Auwyang Hong, maka pertarungan
sekali ini menjadi berbeda lagi dengan gebrakan dengan
tangan dan kaki tadi, begitu hebat samber-menyambernya
tongkat dan pentung hingga Nyo Ko yang menonton di
samping ikut berdebat dan ternganga.
Pertarungan sengit ini terus berlangsung sampai magrib,
tetapi masih tiada yang lebih unggul atau asor.
Melihat keadaan tempat itu sangat berbahaya, seluruh
gunung hanya tanah salju belaka yang halus licin, kedua jago
tua itu sudah lanjut usianya, kalau terjadi sedikit meleng,
mungkin akan menjadikan penyesalan selama hidup, maka
dengan suara keras Nyo Ko berteriak-teriak minta mereka
berhenti.
Namun Ang Chit-kong dan Auwyang Hong sedang
bertempur dengan napsunya, mana bisa mereka berhenti
begitu saja?
Kemudian Nyo Ko dapat akal, ia ingat kegemaran Ang
Chit-kong satu-satunya: "makan", ia pikir kalau pancing
pengemis tua ini dengan makanan enak tentu orang akan
mengiler dan boleh jadi untuk sementara bisa diadakan
"gencatan senjata".
Maka dengan cepat ia pergi mencari di alas belukar
pegunungan itu, ia dapatkan beberapa potong ubi dan
singkong, segera ia nyalakan api dan dibakar hingga
menguarkan bau sedap.
Tiraikasih Website http://cerita-silat.com/cc
Betul saja, demi bau sedap itu, segera Ang Chit-kong
berteriak: "Ha-mo, busuk, tak mau lagi berkelahi dengan kau,
makan dulu paling perlu !"
Habis itu, iapun mendekati Nyo Ko terus samber saja dua
potong ubi bakar itu terus digeragoti meski mulutnya sakit
kebakar oleh panasnya ubi itu, sambil tiada hentinya ia puji
Nyo Ko yang pintar cari barang santapan.
Di sebelah sana Auwyang Hong tidak mau berhenti begitu
saja, ia susul Ang Chit-kong terus mengemplang kepala orang
dengan tongkatnya.
Namun sama sekali Ang Chit-kong tak berkelit sebaliknya
ia samber sepotong singkong bakar terus dilemparkan ke arah
Auwyang Hong sambil berseru : "Nih, makanlah !"
Auwyang Hong menjadi tertegun sebelum tongkatnya
diayunkan, sebelah tangannya otomatis pun tangkap singkong
yang dilemparkan padanya itu terus dimakan, seketika iapun
lupa pada pertarungan sengit tadi.
Malam itu mereka bertiga pun tidur di dalam suatu gua,
Nyo Ko berusaha agar Auwyang Hong bisa ingat kembali pada
kejadian-kejadian masa dahulu, maka beberapa kali ia sengaja
memancingnya, tetapi Auwyang Hong selalu hanya
termenung-menung saja tanpa menjawab Kadang-kadang
orang tua ini ketok2 batok kepalanya sendiri dengan kepalan,
tampaknya sebisanya hendak mengingat, namun percuma
saja karena otaknya seakan-akan sudah pantul ia menjadi
sangat masgul.
Karena kuatir orang makin pikir makin gila, lekas-lekas Nyo
Ko menghibur Auwyang Hong buat tidur saja, sebaliknya ia
sendiri hanya guIang-guling tak bisa pulas, ia sedang pikirkan
Tiraikasih Website http://cerita-silat.com/cc
ilmu pukulan kedua jago tua yang dilihatnya siang tadi, makin
mengingatnya makin bersemangat, sampai akhirnya diamdiam
ia bangun sendiri dan menjalankan gerak-gerik pukulan
itu menurut apa yang dilihatnya, ia merasakan kebagusan ilmu
silat yang tiada taranya itu, sampai tengah malam, sesudah
sangat lebih, barulah Nyo Ko pergi tidur.
Besoknya pagi-pagi sekali, waktu Nyo Ko masih layaplayap
dalam tidurnya, tiba-tiba didengarnya diluat gua ada
suara samberan angin yang menderu-deru di selingi dengan
suara bentakan dan lompatan, Lekas Nyo Ko meloncat
bangun, di depan gua terlihat Ang Chit-kong dan Auwyang
Hong kembali sedang saling labrak dengan ramainya.
Melihat kebandelan kedua orang tua itu, Nyo Ko menghela
napas tanpa berdaya, dengan kesal ia duduk menunggu di
samping, diam-diam iapun ingat baik-baik gerak tipu
permainan tongkat kedua orang itu, ia merasa setiap gerakan
Ang Chit-kong semuanya dapat dibedakan dengan jelas,
sebaliknya ge-rak-gerik Auwyang Hong sangat sulit diduga,
seringkali kalau Ang Chit-kong berada di atas angin, tahu-tahu
Auwyang Hong keluarkan tipu gerakan aneh dengan cepat,
lalu kedudukan merekapun berubah sama kuat Iagi.
Begitulah cara pertandingan mereka yang berlarut-larut
ini, siang berkelahi dan malam tidur, terus-menerus
berlangsung selama enam hari, begitu payah keadaan dua
orang tua ini hingga semangat lesu dan tenaga habis, namun
toh masih tiada satupun yang mau mengalah barang sekali
serangan saja.
"Jika pertarungan secara demikian berlangsung lagi, dua
harimau bertengkar, akhirnya tentu ada satu yang celaka,"
demikian Nyo Ko membatin.
Tiraikasih Website http://cerita-silat.com/cc
Karena itu, malamnya ia tunggu sesudah Auwyang Hong
tidur, diam-diam ia berkata pada Ang Chit-kong : "Marilah
Locianpwe keluar, ingin aku bicara sedikit."
Ang Chit-kong tak menolak permintaan itu, ia ikut Nyo Ko
keluar gua, mendadak pemuda ini berlutut di hadapannya
sambil menjura tiada hen-tinya, tetapi sepatah katapun tak
dikatakannya.
Ang Chit-kong adalah orang pintar, segera ia pun tahu
maksud hati orang, ia tahu pemuda ini memohon agar kasihan
pada Auwyang Hong yang menderita sakit ingatan itu dan
suka mengaku kalah saja padanya.
"Baiklah, aku turut permintaanmu," demikian katanya
kemudian sambil ketawa terbahak-bahak.
Habis itu, dengan menyeret pentungnya iapun bertindak
pergi turun ke bawah gunung.
Tak tahunya, baru beberapa langkah ia ber-tindak,
sekonyong-konyong dari belakang ada angin me-nyamber,
ternyata Auwyang Hong sudah melompat keluar dari gua terus
menyabet dengan tongkatnya.
"Bangsat tua, kau mau lari ya?" bentak Auwyang Hong
dengan gusar.
Ang Chit-kong hindarkan tiga serangan orang berulangulang,
ia bermaksud cari jalan buat pergi, siapa tahu selalu
dicegat dan kena dikurung oleh tongkat Auwyang Hong hingga
tak sempat meloloskan diri.
Pertandingan silat diantara jago kelas tinggi sebenarnya
sedikitpun tidak boleh saling mengalah, kini karena Chit-kong
Tiraikasih Website http://cerita-silat.com/cc
bermaksud mengalah, keruan saja ia menjadi kececar,
beberapa kali ia malah hampir dicelakai oleh tongkat
lawannya.
Pada suatu ketika, ia lihat Auwyang Hong menyodok cepat
dengan tongkatnya ke perutnya, Chit-kong tahu di belakang
serangan ini masih disusul serangan yang lebih lihay dan
sekali-kali tak boleh dihindari begitu saja, maka terpaksa ia
angkat tongkatnya sendiri buat menangkis.
Tak terduga, tiba-tiba terasa olehnya pada tongkat
Auwyang Hong membawa semacam tenaga dalam yang maha
kuat dan lihay, sungguh tidak kepalang kejut Ang Chit-kong.
"He, kau hendak adu lwekang dengan aku?" demikian sekilas
pikiran ini terlintas olehnya.
Betul saja, baru tergerak pikirannya, tahu-tahu tenaga
dalam musuh sudah mendesak, dalam keadaan demikian,
kecuali melawannya juga dengan tenaga dalam, memang
tiada jalan lain Iagi. Segera iapun kumpulkan Lwekangnya
buat lawan serangan tenaga dalam Auwyang Hong itu.
Dengan ilmu silat setinggi Ang Chit-kong dan Auwyang
Hong ini, kalau hanya terluka oleh sekali pukulan atau
pentungan juga belum pasti membahayakan jiwa mereka,
tetapi kini dengan adu tenaga dalam, keadaan telah
meningkat sampai detik yang tidak bisa saling mengalah Iagi,
hanya ada pilihan untuk mereka: "hidup atau mati", lain tidak.
Pemah juga dahulu mereka saling bertanding, tetapi
karena sama-sama jeri terhadap kelihayan pihak lain, kalau
tidak yakin bakal menang, tiada yang berani sembarangan
melakukan tindakan berbahaya ini. Siapa tahu dalam keadaan
sinting, karena sudah beberapa hari bertanding masih belum
Tiraikasih Website http://cerita-silat.com/cc
bisa menang, mendadak Auwyang Hong menyerang dengan
Lwekang asli.
Belasan tahun yang lalu, benci Ang Chit-kong terhadap Setok
Auwyang Hong boleh dikatakan meresap sampai ke
tulang, tetapi kini usianya sudah lanjut, tabiat kerasnya sudah
berkurang, pula melihat musuh kawakan itu tak waras
otaknya, sedang Nyo Ko berulang kali mohon kasihan baginya,
sesungguhnya tiada maksud lagi pada Ang Chit-kong untuk
membunuhnya.
Oleh sebab itu, ia hanya pusatkan tenaga dalamnya di
perut, ia hanya bertahan dan tidak menyerang, ia tunggu biar
Auwyang Hong sendiri yang kepayahan kehabisan tenaga
dalam.
Tak terduga, bukan tenaga Auwyang Horg berkurang,
sebaliknya seperti ombak samudera saja yang
menggelombang tiada henti-hentinya, satu gelombang
didorong dengan gelombang yang lain, makin lama pun makin
keras.
Mendadak Ang Chit-kong teringat pada sesuatu, tak
tertahan lagi ia terkejut sekali. Kiranya teringat olehnya
pertarungan siang tadi waktu adu tenaga dengan Auwyang
Hong dengan Ngo-kui di tengah sebagai alat mengukur,
tatkala itu berulang Auwyang Hong memancal tiga kali dengan
kakinya dan tenaga yang dikeluarkan itupun yang satu lebih
besar dari yang lain, kini tampaknya sama seperti tadi itu,
belum reda tenaga serangan pertama, gelombang serangan
kedua sudah menyusul tiba dan begitu seterusnya, tenaga
serangan kedua masih kuat, segera tenaga gelombang ketiga
datang lagi.
Tiraikasih Website http://cerita-silat.com/cc
Mampukah Nyo Ko melerai adu kekuatan kedua gembong silat
yang kosen ini?
Tugas apa pula yang akan dibebankan Ang Chit-kong kepada
Nyo Ko? Apakah Nyo Ko diterima jadi murid Kaypang?
Bacalah jilid ke -17
Jilid 17
Teringat akan itu, Ang Chit-kong tak berani ayal, segera
iapun pusatkan tenaga dalamnya melakukan serangan
balasan, dan karena keras lawan keras ini, tubuh kedua orang
sama-sama terguncang.
Melihat air muka kedua orang tua itu sangat tegang,
terang mereka sedang adu tenaga dalam yang maha hebat
secara mati-matian, diam-diam Nyo Ko sangat kuatir, Kalau
dia mau bela Auwyang Hong sebagai ayah angkatnya, asal dia
serang Ang Chit-kong dari belakang dengan jarinya saja, pasti
jago tua itu akan luka parah. Tetapi dilihatnya Ang Chit-kong
berjiwa jantan sejati, ia menjadi ragu-ragu dan tak tega turun
tangan.
Lewat tak lama, mendadak Auwyang Hong menggertak
sekali, berbareng itu ia terus menjungkir tegak dengan kepala
dibawah, malahan sepatu dan kaos kaki ia buang juga,
dengan sepasang kaki yang telanjang inilah ia meng-gejol2
dan meng-ayun-ayun cepat di udara hingga menerbitkan
angin.
Sebaliknya Ang Chit-kong kelihatan tenang saja, tanpa
bergerak sedikitpun bagai patung.
Tiraikasih Website http://cerita-silat.com/cc
Sesudah saling ngotot lagi tak lama, akhirnya telapak kaki
Auwyang Hong sampai menguap seperti digodok, nyata ia
telah kerahkan segenap tenaga dalamnya melakukan
serangan total. Begitu juga Ang Chit-kong, iapun melawan
dengan sepenuh kekuatan yang ada padanya.
Dalam keadaan demikian ia tak bisa lagi memikirkan bakal
mencelakai jiwa lawan atau tidak, yang dia harap asal dirinya
sendiri tak terluka, sudah sangat beruntung baginya.
Share:
cersil...
Comments
0 Comments

Arsip Cersil

Cersil Keren

Pecinta Cersil