Donasi

Buat yang punya rejeki berlebih dan merasa terhibur dengan Situs Cerita Silat Cersil Terbaik ini bisa mendonasikan bantuannya ke
No. Rekening BPD Jateng No. 2004084554
demi keberlangsungan dan keberadaan Blog Cersil Cerita Silat yang sama-sama kita cintai ini. Kritik dan Saran hub No HP.083837358519. Atas Bantuannya disampaikan Terimakasih.

Rabu, 18 April 2018

Si Raja Pedang 7

Si Raja Pedang 7
baca juga
-----
"Tahan dulu, Nona..."
Namun nona yang sudah marah itu makin penasaran dan menyerang lagi lebih hebat. Lim Kwi maklum bahwa
menghadapi nona ini yang sudah dia kenal kepandaiannya bermain pedang yang hebat, akan berbahaya
sekali kalau dia tetap bertangan kosong. Terpaksa dia mencabut keluar pedangnya yang juga sudah buntung
ujungnya, lantas menangkis. Bunga api berpijar ketika sepasang pedang itu bertemu.
"Nona, aku... aku maklum akan isi hatimu. Keadaanmu sama persis dengan keadaanku. Aku maklum akan
penderitaanmu, akan dendammu..."
Thio Eng menahan pedangnya, mendengarkan dengan pandang mata heran.
"Nona, percayalah, aku tidak menyalahkan kau kalau kau mendendam sakit hati. Aku pun demikian. Ayahku
terbunuh orang. Tapi, berilah kesempatan padaku untuk membereskan urusanku. Kau sudah mendengar
semua di Hoa-san tadi. Biarkan aku mencari susiok... eh, mencari Kwee Sin sampai dapat sehingga urusan
pembunuhan terhadap orang tuaku bisa diselesaikan. Setelah itu, nah... setelah itu kalau kau hendak
membalas dendammu kepadaku, silakan. Aku akan memberikan kepalaku kepadamu."
"Cih, siapa sudi mendengar obrolanmu.”
"Sungguh, Nona. Entahlah... hatiku tidak mengijinkan aku marah kepadamu. Aku kasihan kepadamu yang
bernasib buruk. Aku dapat merasakan penderitaanmu. Andai kata sakit hatimu itu dapat dipuaskan karena
kematianku sebagai penebus dosa ayahku, biarlah aku berkorban. Tapi tunggulah sampai aku selesai
mengurus urusanku sendiri."
"Bohong! Kau hanya mencari alasan untuk melepaskan diri dariku. Hemmm, orang she Bun, jangan harap aku
dapat kau bodohi. Atau kau pengecut... tidak berani menghadapi pedangku!"
Betapa pun juga, Lim Kwi adalah seorang pemuda. Dia memang penyabar sekali, dan memang sudah menjadi
dasar wataknya yang jujur dan sabar, berani mengalah. Akan tetapi karena sekarang didesak sedemikian rupa
oleh nona ini, apa lagi karena dianggap pengecut, sifat jantannya menonjol. la cepat menggerakkan
pedangnya menangkis dan berkata.
"Nona Thio, sungguh aku tidak ingin bertempur denganmu. Jangan kau memaksaku!"
Namun Thio Eng terus mendesak dan sebentar saja dua orang muda itu sudah bermain pedang dengan
hebatnya. Serangan-serangan Thio Eng benar-benar sangat berbahaya. Sebagai murid Swi Lek Hosiang,
tentu saja kepandaiannya amat tinggi. Ilmu pedangnya sudah masak dan juga ilmu pedang yang berasal dari
daerah pantai timur ini mempunyai gaya tersendiri, mempunyai keistimewaan sendiri. Permainan pedangnya
dunia-kangouw.blogspot.com
cepat, tangkas, lincah, serta mengandung tenaga yang bergelombang, seperti gelombang samudera yang
memecah di pantai timur!
Akan tetapi Bun Lim Kwi adalah murid termuda Kun-lun-pai yang sangat disayangi oleh gurunya. Hampir
seluruh ilmu pedang yang dimiliki Pek Gan Sian-Su diturunkan kepada muridnya ini sehingga dalam permainan
Kun-lun Kiam-hoat boleh dibilang di masa itu Bun Lim Kwi menjadi orang ke dua di Kun-lun setelah gurunya
sendiri.
Bahkan tingkat ilmu pedang yang dimiliki oleh paman dan ayahnya, juga yang dimiliki oleh Kwee Sin, masih
kalah setingkat olehnya. Tentu saja dia masih banyak membutuhkan pengalaman pertempuran untuk
mematangkan ilmunya. Gaya permainannya tenang dan kuat seperti batu karang di pantai laut, akan tetapi
juga kadang-kadang kalau dia mau dia bisa melancarkan serangan yang mematikan.
Betapa pun juga, menghadapi Thio Eng dia tidak tega untuk melakukan serangan maut, hanya
mempertahankan dan melindungi tubuhnya, serta kadang-kadang memancing dan menggertak untuk
mengurangi daya tekanan lawan. Hatinya merasa sedih sekali dengan kenekatan gadis ini yang agaknya tak
dapat ditahannya lagi. Bun Lim Kwi maklum bahwa percuma saja dia membujuk, maka dia mengambil
keputusan untuk merobohkan gadis ini tanpa melukai berat atau kalau mungkin meninggalkannya lari.
Yang pertama tadi, yaitu merobohkan tanpa melukai agaknya lebih mudah dipikirkan dari pada dilakukan.
Tingkat kepandaian gadis ini boleh dibilang seimbang dengan tingkatnya sendiri, mana mungkin dia
merobohkannya tanpa melukai?
Setelah berpikir demikian, Bun Lim Kwi mengambil keputusan untuk lari meninggalkannya saja, tak peduli dia
dicap pengecut atau takut. Karena soalnya bukan dia takut, akan tetapi karena dia tidak mau bermusuhan
dengan gadis yang sekaligus menarik cinta kasihnya dan juga menimbulkan kasihan di hatinya ini.
"Maaf, Nona Thio, aku tak dapat melayanimu lebih lama lagi!"
Pedangnya berkelebat cepat dan pedang nona itu tertangkis dengan kerasnya sehingga terpental. Thio Eng
kaget sekali sebab merasa telapak tangannya sakit. Baiknya dia masih dapat menjaga sehingga pedangnya
tidak terlepas dari pegangan. Ketika dia telah dapat menguasai keadaannya, pemuda itu sudah meloncat jauh
dan berlari cepat.
"Orang she Bun, kau hendak lari ke mana?!" bentaknya marah dan cepat dia mengejar.
Dari bertanding pedang, dua orang muda ini sekarang melakukan perlombaan lari cepat. Dalam ilmu ini
keduanya juga memiliki tingkat yang seimbang. Thio Eng sulit sekali untuk dapat menyusul lawannya, juga
amat sukar bagi Lim Kwi untuk memperjauh jarak antara dia dan pengejarnya. Gadis itu seakan-akan menjadi
bayangannya, terus mengikuti ke mana pun juga dia lari atau meloncat.
Ada sejam mereka berkejaran. Lim Kwi mulai merasa gelisah. la memasuki hutan-hutan dan sengaja
mengambil jalan pegunungan yang amat sukar dengan harapan agar gadis itu akhirnya membiarkan dia pergi.
Akan tetapi, dengan penuh semangat Thio Eng terus mengejar.
Karena merasa tak sanggup lari pergi dari gadis itu, Bun Lim Kwi membalikkan tubuhnya dan kembali dia
membujuk.
"Nona Thio, kenapa kau bertekat hendak membunuhku sekarang juga? Tidak kasihankah kau kepadaku yang
juga mempunyai semacam sakit hati dan penasaran seperti yang kau derita? Aku minta waktu tiga bulan,
Nona. Berilah tiga bulan agar aku lebih dahulu dapat menyelesaikan urusanku sendiri. Setelah itu, aku akan
mencarimu dan terserah kalau kau hendak membalaskan sakit hati ayahmu."
Tertegun juga hati Thio Eng mendengar ini. Pemuda ini lihai, belum tentu ia akan dapat menang kalau mereka
bertempur. Juga buktinya tadi, walau pun dia sudah mengerahkan seluruh kepandaiannya berlari cepat,
sampai sedemikian lamanya belum juga dia mampu menyusulnya. Kiranya pemuda ini merupakan tandingan
yang seimbang dan belum tentu kalah kalau melawan.
dunia-kangouw.blogspot.com
Mengapa pemuda ini tidak mau melawan dan bahkan memberi janji akan suka dibunuh tiga bulan kemudian?
Bukankah ini aneh sekali? Akan tetapi pikiran ini hanya sebentar saja memenuhi kepalanya, segera terganti
oleh rasa dendam yang sudah ditanggungnya semenjak ia kecil.
Kemarahannya datang lagi. Pedangnya bergerak menyerang disusul bentakan. ”Tak usah banyak cakap,
seorang di antara kita harus mati!"
Bun Lim Kwi merasa sedih sekali sehingga dia agak terlambat mengelak. Pedang yang menusuk lehernya itu
kini menyerempet pundaknya. Baju Lim Kwi robek berikut kulit dan sedikit dagingnya.
Darah mulai mengucur deras membasahi baju. Kembali Thio Eng tertegun, akan tetapi segera ia menyerang
lagi lebih hebat. Lim Kwi sudah bersiap dan pedangnya menangkis. Kembali dua orang ini bertempur hebat
sampai lenyap tubuh mereka terbungkus gulungan dua sinar pedang.
Dua orang itu saking hebatnya mecurahkan perhatiannya di ujung senjata masing-masing, tidak tahu bahwa
sesosok bayangan datang mendekat. Setelah melihat jelas siapa yang sedang bertempur, bayangan ini
mengeluarkan segenggam benda lalu dengan kecepatan kilat dia menyambitkan benda-benda kecil dalam
genggaman itu ke arah Bun Lim Kwi.
Pemuda Kun-lun ini tidak dapat mempertahankan diri terhadap serangan gelap ini karena benda-benda itu
ternyata adalah jarum-jarum halus sekali yang ketika melayang ke arah tubuhnya tak mengeluarkan bunyi
sedikit pun. Tahu-tahu dia merasa punggungnya panas dan gatal-gatal, tubuhnya kaku-kaku, sehingga tanpa
dapat ditahannya lagi dia terguling dan pedangnya terlepas dari pegangannya!
Thio Eng heran bukan main. Masih sempat dia menarik kembali pedangnya dan dengan mata terbelalak dia
melihat betapa Bun Lim Kwi sudah roboh telentang dalam keadaan mengerikan. Muka pemuda yang tampan
itu menjadi biru menghitam, tubuhnya kaku tak bergerak lagi.
Pada saat gadis ini mengangkat muka, dia melihat seorang pemuda sudah berdiri sambil tersenyum-senyum di
hadapannya. Pemuda ini bukan lain adalah Giam Kin! Tahulah Thio Eng sekarang bahwa diam-diam Giam Kin
membantunya dan menyerang Lim Kwi dengan senjata rahasia yang aneh.
"Nona Eng, puaskah kau sekarang melihat musuhmu menggeletak di depan kakimu? Nah, jangan buang
waktu lagi, segera kau penggal lehernya!" kata Giam Kin sambil tersenyum lebar.
Akan tetapi alangkah herannya ketika dia melihat nona itu dengan mulut cemberut serta mata berapi malah
membentak.
"Kenapa kau mencampuri urusanku?! Kenapa kau membunuhnya?"
"Ehh, Nona. Bukankah dia musuhmu? Tadi kulihat kau tidak kuat mengalahkannya, maka aku membantumu."
"Siapa sudi bantuanmu? Siapa butuh pertolonganmu? Lagi pula, kau menyerang secara pengecut!" Gadis itu
dengan marah lalu meloncat dan lari pergi dari situ.
Giam Kin berdiri terpaku di tempatnya. Dia menyeringai, tersenyum kemalu-maluan dan juga penasaran.
Akhirnya dengan marah dia lalu menoleh ke arah tubuh Lim Kwi yang masih menggeletak di situ, meludahinya
dan mengomel, "Sialan!"
Dengan hati murung Giam Kin lalu pergi dari situ juga. la tertarik oleh kecantikan Thio Eng, akan tetapi
berbeda dengan menghadapi gadis-gadis lain, terhadap Thio Eng dia tak berani bersikap sembrono. Selain
gadis ini memiliki kepandaian yang cukup lihai, juga dia harus mengingat guru gadis itu, Thai-lek-sin Swi Lek
Hosiang yang tidak boleh dipandang ringan.
Belum lama Giam Kin pergi, tubuh Bun Lim Kwi bergerak-gerak dan terdengar ia merintih perlahan. Pada
waktu itu Beng San sedang berlari-lari cepat dalam usahanya mengejar Thio Eng dan mencari Bun Lim Kwi.
dunia-kangouw.blogspot.com
"Celaka, terlambat...!" katanya ketika dari jauh ia melihat tubuh pemuda murid Kun-lun itu menggeletak di situ.
Cepat dia memeriksa dan alangkah kagetnya melihat betapa seluruh tubuh pemuda ini membiru, napasnya
kempas-kempis.
Beng San adalah seorang pemuda yang telah mewarisi ilmu yang hebat, akan tetapi dia bukanlah seorang ahli
pengobatan. Betapa pun juga, setelah mendapat kenyataan bahwa di punggung pemuda ini terdapat jarumjarum
halus yang menancap, dia dapat menduga bahwa tentu Bun Lim Kwi terkena racun yang amat
berbahaya. Dicabutnya jarum-jarum halus berjumlah tujuh buah itu, kemudian dengan hati-hati dia
membungkus jarum-jarum itu dan dimasukkan ke dalam saku bajunya.
"Terlalu sekali Thio Eng. Benarkah nona itu sampai hati menggunakan senjata rahasia begini ganas dan keji?"
Dia merasa penasaran.
Tanpa ragu-ragu lagi Beng San lalu menempelkan bibirnya pada luka-luka di punggung Lim Kwi, kemudian
mengecupnya kuat-kuat. Darah-darah yang menghitam dapat dia isap keluar dan diludahkan, akan tetapi dia
hanya berhasil mengeluarkan darah beracun yang berada di sekitar luka.
Segera Beng San menggunakan kepandaiannya. Dengan menempel kedua pundak Bun Lim Kwi dengan
kedua telapak tangannya, dia menahan napas dan mengerahkan tenaga dalamnya, menggunakan tenaga Im
Yang berganti-ganti untuk mendorong hawa beracun dari tubuh Bun Lim Kwi. Karena dia tidak tahu tergolong
apakah racun itu, Im atau Yang, dia tidak tahu harus mempergunakan tenaga apa untuk melawannya.
Baiknya hawa mukjijat di dalam tubuh Beng San memang hebat sekali. Pada waktu dia menggunakan tenaga
Im, banyak darah hitam segera mengucur keluar dari luka-luka di punggung Lim Kwi. Akhirnya muka pemuda
ini tidak biru lagi dan napasnya agak lega. Akan tetapi dia masih kaku dan pingsan.
Beng San teringat akan ular pemberian Giam Kin kepada ketua Hoa-san-pai, "Ah, kenapa aku begini bodoh?
Hoa-san belum terlalu jauh, kalau kubawa ke sana dan minta Lian Bu Tojin memberikan ular-ular itu untuk
menolong, bukankah Lim Kwi akan dapat tertolong segera?" Tanpa ragu-ragu lagi dia lalu memondong tubuh
Lim Kwi dan mempergunakan kepandaiannya untuk berlari cepat sekali naik ke puncak Hoa-san.
Setelah tiba di puncak, dia segera berjalan seperti biasa menuju ke tempat tinggal Lian Bu Tojin. la melihat
bahwa di tempat pesta itu masih ada sedikit tamu. Supaya tidak menarik perhatian orang, Beng San lalu
menggunakan kepandaiannya meloncat dan menyelinap menuju ke belakang, kemudian memasuki bangunan
itu dari belakang.
Beberapa orang tosu melihatnya dan menegur heran. "Beng San, kau dari mana dan... eh, Siapa itu...?"
Para tosu terheran-heran, apa lagi setelah mereka mendapat kenyataan bahwa orang yang dipondong Beng
San itu bukan lain adalah Bun Lim Kwi, murid Kun-lun-pai yang tadi datang bersama Pek Gan Siansu.
"Harap para Totiang tenang-tenang saja dan tolonglah panggilkan Lian Bu totiang, katakan aku Beng San
mohon bertemu, ada urusan amat penting.”
Para tosu segera melaporkan kepada Lian Bu Tojin yang masih duduk di ruangan depan menanti habisnya
para tamu. Begitu mendengar laporan, tosu tua ini cepat mengundurkan diri dan menuju ke belakang,
membiarkan Kwa Tin Siong dan Liem Sian Hwa melayani para tamu.
Akan tetapi Kwa Hong yang berada di dekatnya ketika ada tosu memberi laporan, segera mengikutinya. Hal ini
terlihat oleh Thio Bwee, Kui Lok dan Thio Ki yang segera mengikuti pula dari belakang.
"Beng San, kenapakah dia itu...?" Lian Bu Tojin menegur dengan kaget setelah melihat Bun Lim Kwi
menggeletak di atas sebuah dipan dalam keadaan amat payah.
"Totiang yang baik, saya memohon belas kasihan Totiang. Tolonglah Bun Lim Kwi yang teecu (saya)
ketemukan sudah menggeletak dalam keadaan begini di lereng bukit. Melihat keadaannya, teecu rasa dia
terkena senjata beracun dan... teecu teringat akan pemberian Giam Kin. Bukankah ular-ular kecil itu adalah
ular penolak racun?"
dunia-kangouw.blogspot.com
Lian Bu Tojin tidak menjawab, tetapi dia cepat memeriksa tubuh Bun Lim Kwi. Sebagai seorang ketua partai
persilatan besar tentu saja kakek ini mengerti pula mengenai ilmu pengobatan. Wajahnya berubah ketika dia
memeriksa pemuda itu.
"Dia telah terkena racun yang amat berbahaya," katanya. "Pinto sendiri tidak mempunyai penolak racun yang
akan dapat melawan racun ini."
"Totiang, bukankah Giam Kin telah memberi hadiah ular-ular penolak racun itu?"
Kakek itu mengangguk-angguk, akan tetapi ia nampak ragu-ragu. "Hemmm, pinto pernah mendengar
kemanjuran Ngo-tok-coa, akan tetapi belum pernah membuktikannya sendiri. Memang kata orang Ngo-tok-coa
dapat menyembuhkan segala macam penyakit akibat keracunan, akan tetapi pinto belum pernah melihat
kenyataannya, bahkan ularnya pun baru kini pinto melihatnya. Keadaan pemuda ini benar-benar hebat dan
amat berbahaya, kalau tidak mendapatkan obat yang cocok, dia takkan kuat bertahan sampai dua pekan."
Tosu itu nampak ragu-ragu dan khawatir.
"Totiang, kalau begitu, tolonglah Totiang berikan Ngo-tok-coa kepada teecu untuk dipakai mengobati Lim Kwi,"
Beng San berkata gelisah.
"Baiklah... memang seharusnya begitu...," kata kakek itu.
Tiba-tiba Thio Ki berkata dengan suara tak senang, "Sukong, dia itu adalah anak murid Kun-lun-pai, seorang
musuh besar. Luka atau matinya bukan merupakan urusan kita dari Hoa-san-pai!"
Thio Bwee dan Kui Lok menyatakan persetujuannya, malah Kui Lok menyambung, "Inilah tanda bahwa Thian
akan selalu menghukum mereka yang jahat. Kun-lun-pai sudah terlalu amat jahat terhadap kita, maka dia ini
murid Kun-lun-pai juga mengalami nasib seburuk ini. Sukong, dia ini musuh kita, tak ada perlunya kita
menolongnya."
Akan tetapi Kwa Hong yang selama ini amat bersemangat dalam permusuhan golongan Hoa-san-pai terhadap
Kun-lun-pai, agaknya berpikiran lain. Entah bagaimana, gadis ini sudah menaruh simpati besar terhadap Beng
San dan berlawanan dengan suara hatinya kalau menentang pemuda ini.
"Teecu tidak setuju dengan kedua Suheng," katanya kepada kakek ketua Hoa-san-pai itu. "Walau pun dia ini
musuh besar kita, akan tetapi dia terluka di Hoa-san, tentu orang luar akan menyangka bahwa kita yang
melukainya dengan cara yang begini keji."
"Peduli apa dengan segala fitnah? Pokoknya kita tidak melakukan penyerangan gelap dan habis perkara.
Biarkan orang lain menuduh!" Thio Ki bersikeras dengan sikapnya.
"Apa lagi Beng San ini selalu memperlihatkan sikapnya memihak golongan Kun-lun-pai. Dahulu, bertahuntahun
yang lalu juga dia sudah memperlihatkan sikap membela Kun-lun, sekarang pun dia mati-matian hendak
menolong orang Kun-lun. Sukong, kita harus sangat berhati-hati terhadap orang ini dan jangan mendengarkan
omongannya!" kata Kui Lok.
Semua ucapan cucu-cucu muridnya ini berkesan juga dalam hati Lian Bu Tojin. Dengan pandang mata tajam
dia bertanya kepada Beng San, "Beng San, mengapa kau selalu berpihak kepada Kun-lun? Kenapa kau
bersusah payah hendak menolong Lim Kwi murid Kun-lun ini?"
Beng San sudah marah sekali mendengar ucapan Thio Ki dan Kui Lok tadi. Makin marah dia setelah
mendengar pertanyaan Lian Bu Tojin yang jelas-jelas sudah terpengaruh oleh ucapan-ucapan itu.
"Lian Bu totiang, saya harap Totiang suka ingat akan beberapa hal ini. Pertama, seorang yang sudah
menjunjung tinggi keadilan, menilai baik buruk seseorang dari perbuatannya, bukanlah dari keturunannya!
Meski pun Lim Kwi seorang murid Kun-lun, tapi kesalahan apakah yang pernah dia lakukan terhadap Hoa-sanpai?
Kedua, seorang yang tahu akan Ke-Tuhan-an tahu pula bahwa soal keturunan adalah hasil pekerjaan
Tuhan. Bun Lim Kwi menjadi anak keluarga Bun bukanlah karena kehendaknya, melainkan karena kehendak
dunia-kangouw.blogspot.com
Tuhan. Maka apa bila ada orang menyalahkannya karena keturunannya, sama artinya dengan orang itu
menyalahkan hasil pekerjaan Tuhan! Ke tiga, seorang kuncu (budiman) selama hidupnya takkan meninggalkan
peri kemanusiaan dan akan menolong siapa saja yang membutuhkan pertolongan. Lian Bu totiang, saya
menolong Lim Kwi karena dua hal, pertama karena saya selalu teringat akan hal-hal yang saya sebutkan tadi,
kedua kalinya, kiranya Totiang ingat juga akan pesan terakhir Bun Si Teng kepada saya di dekat ajalnya.
Pesan orang yang sudah meninggal dunia adalah pesan keramat yang harus kita hargai, asal saja pesan itu
demi kebaikan. Nah, sekarang hendaknya Totiang segera mengambil keputusan, Totiang suka menolongnya
ataukah tidak?"
Wajah kakek itu menjadi merah. Dia merasa terpukul oleh ucapan-ucapan pemuda itu. Sambil menoleh
kepada cucu-cucu muridnya, ia pun berkata lirih, "Ambilkan Ngo-tok-coa itu..."
Thio Ki, Thio Bwee, dan Kui Lok tidak bergerak dari tempatnya, malah memandang marah kepada Beng San.
Akan tetapi Kwa Hong segera berlari dan tak lama kemudian dia sudah kembali membawa tabung-tabung
bambu yang berisi dua ekor ular kecil.
Lian Bu Tojin menerima dua tabung itu dan berkata kepada Beng San. "Inilah dua ekor Ngo-tok-coa itu, Beng
San. Pinto hanya menggunakan cara yang biasa untuk mengambil racun ular ini, kemudian meminumkannya
sebagian dan sebagian lagi digosokkan pada luka-lukanya. Namun karena pinto belum membuktikan dan
menyatakan sendiri khasiat racun Ngo-tok-coa, maka hasilnya pinto tidak berani menanggung."
"Totiang," kata Beng San dengan hormat dan berterima kasih, "keadaan Lim Kwi sudah payah. Kalau Totiang
suka berusaha mengobati, itu saja sudah merupakan budi besar, tentang riwayatnya hanya terserah kepada
Thian."
Lian Bu Tojin lalu membuka tutup tabung, menangkap ular pada belakang lehernya.
"Buka mulutnya," katanya kepada Beng San yang cepat membuka mulut Lim Kwi.
Dengan menekan pada leher dan belakang kepala ular itu, keluarlah cairan menguning dari mulut dan gigi ular,
menetes-netes ke dalam mulut Lim Kwi. Kwa Hong sudah datang membawa secangkir air yang segera
dipergunakan oleh Lian Bu Tojin untuk diminumkan pula sehingga racun tadi dapat masuk ke dalam perut.
Setelah racunnya habis dan dilepas, ular itu menjadi lemas dan tidak dapat berkutik lagi. Ular ke dua
dikeluarkan dan seperti tadi, racunnya dikeluarkan, ditadahi cangkir kemudian dengan tangannya Lian Bu Tojin
menggosok-gosokkan racun ini di punggung Lim Kwi. Pengerahan tenaga dalamnya dapat mendorong racun
ini masuk tubuh melalui luka-luka kecil itu. Setelah selesai, Lian Bu Tojin dengan napas agak terengah-engah
lalu mundur dan mencuci tangannya.
Beng San merasa berterima kasih sekali. Dari napas kakek itu dia maklum bahwa tadi Lian Bu Tojin telah
mengerahkan seluruh Iweekang-nya dan dia merasa kagum akan budi kakek ini. Ia tidak pedulikan lagi kepada
tiga orang cucu murid Hoa-san yang memandang semua itu dengan mulut cemberut dan sinar mata penuh
kemarahan kepadanya. Hanya Kwa Hong yang dengan setulus hati membantu pengobatan tadi dan diam-diam
dia pun berterima kasih sekali kepada nona ini.
Tubuh Bun Lim Kwi bergerak dan mulutnya mengeluh. Semua orang memandang dengan penuh perhatian.
Girang hati Beng San ketika melihat betapa tubuh yang kaku tadi kini mulai menjadi lemas, warna kehitaman
lenyap dan makin lama muka itu menjadi makin pucat. Lalu tubuh itu berhenti bergerak dan Lim Kwi kelihatan
seperti orang tidur nyenyak, hanya napasnya agak terengah-engah.
Lian Bu Tojin lalu mendekat dan memeriksa pergelangan tangan dan detak jantungnya.
"Celaka...!" Tosu itu berteriak kaget, wajahnya berubah pucat. "Keparat betul Giam Kin!" Saking marahnya tosu
ini mengeluarkan makian.
"Bagaimana, Totiang?" Beng San berseru heran dan kaget.
Kakek menggeleng-geleng kepala dan memandang sedih ke arah Bun Lim Kwi.
dunia-kangouw.blogspot.com
"Tidak baik, tidak baik... racun ular itu bukan menyembuhkan, malah menambah payah. Agaknya bukan Ngotok-
coa..." Mendadak kakek itu menghentikan ucapannya, wajahnya makin pucat pada saat dia berbisik, "...
ngo-tok (lima racun)...? Ahhh, jangan-jangan ada hubungannya dengan Ngo-lian-kauw, bukannya ular-ular
obat yang diberikan, malah ular beracun berbahaya."
Kalau Beng San menjadi kaget bukan main, adalah Thio Ki dan Kui Lok sekarang girang sekali.
"Beng San, lekas bawa pergi dia dari sini, tidak ada tempat untuk mengubur mayat orang Kun-lun!” kata Kui
Lok.
Pada saat itu Kwa Tin Siong dan Liem Sian Hwa muncul. Para tamu yang melihat Lian Bu Tojin mengundurkan
diri, lalu berpamit sehingga di puncak Hoa-san sudah menjadi sunyi.
"Bagaimana, Suhu?" tanya Kwa Tin Siong yang tadi sudah mendengar tentang peristiwa yang terjadi atas diri
Bun Lim Kwi.
"Kita ditipu Giam Kin," kakek itu menjawab. "Dua ekor ular itu bukanlah ular obat. Setelah dipergunakan
racunnya malah membuat dia makin parah."
"Bagaimana baiknya sekarang? Totiang, Kwa lo-enghiong, tolong beri petunjuk padaku," kata Beng San,
nampak gelisah sekali.
Kwa Hong menjadi terharu melihat sikap Beng San. Akan tetapi gadis ini diam saja dan hanya menahan air
mata yang hendak keluar dari matanya.
"Tidak ada obat di dunia ini dapat menolongnya... kecuali Thian turun tangan sendiri...," kata Lian Bu Tojin.
"Hanya ada satu jalan...," tiba-tiba Kwa Tin Siong berkata.
Semua mata ditujukan kepada jago Hoa-san-pai ini, tapi Kwa Tin Siong melihat dengan pandang mata jauh ke
arah kaki gunung di sebelah utara.
"Ahh, dia...?" Kui Lok dan Thio Ki berkata dengan nada mentertawakan.
"Ayah, tidak mungkin...," kata Kwa Hong penuh kekhawatiran memandang kepada Beng San. Ada pun Lian Bu
Tojin hanya menggeleng-geleng kepala saja.
"Kwa-enghiong, siapakah dia itu? Siapa yang dapat menolong Lim Kwi dan apakah yang kau maksudkan
dengan satu jalan tadi?" Beng San mendesak, akan tetapi Kwa Tin Siong hanya menggeleng kepala.
Beng San segera mendesak Lian Bu Tojin. "Totiang, harap berbelas kasihan dan berilah petunjuk. Siapakah
dia yang dimaksudkan oleh Kwa-enghiong dan yang bisa menolong Lim Kwi?"
"Tidak ada, tidak ada... tak mungkin ditolong lagi...," kata kakek ini pula.
Melihat bahwa Kwa Tin Siong dan ketua Hoa-san-pai agaknya hendak menyembunyikan nama orang yang
kiranya dapat menolong Lim Kwi, Beng San lalu menoleh kepada Kwa Hong, "Adik Hong, maukah kau
memberi penjelasan kepadaku?"
Bukan main panasnya hati Thio Ki dan Kui Lok mendengar pemuda itu menyebut ‘adik’ kepada Kwa Hong.
Menurut pendapat mereka, pemuda ini tidak patut menyebut ‘adik’, seharusnya menyebut nona.
"Sebenarnya bukan karena Ayah dan Sukong tidak mau memberi tahu, San-ko. Akan tetapi memang tiada
gunanya mendatangi orang itu, malah amat berbahaya. Ketahuilah, di kaki gunung ini sebelah utara terdapat
seorang sakti yang amat aneh, terkenal disebut Toat-beng Yok-mo (Setan Obat Pencabut Nyawa). Namanya
saja sudah menerangkan bahwa dia itu adalah seorang ahli obat sampai disebut Setan Obat. Akan tetapi,
sebutan Toat-beng sudah jelas pula bahwa dia mempunyai satu kesukaan, yaitu mencabut nyawa orang.
dunia-kangouw.blogspot.com
Menurut kabar, dia dapat menyembuhkan segala macam penyakit, akan tetapi begitu orangnya sembuh, dia
lalu turun tangan membunuhnya. Karena inilah maka Ayah dan Sukong tidak tidak mau menyebut namanya."
"Apa dia gila...?" Beng San berseru marah dan heran.
Kwa Tin Siong menarik napas panjang sebelum berkata. "Sama sekali kami tidak tahu bagaimana keadaannya
sebetulnya, Beng San, dan kami tidak mau mencoba-coba untuk menanam permusuhan dengan orang kangouw.
Dia tidak mengganggu kami dan kami tidak pedulikan dia, akan tetapi tentang kepandaiannya mengobati
sudah amat terkenal di dunia kang-ouw."
Lian Bu Tojin mengarigguk-angguk. "Dia sama terkenalnya dengan Bu-tek Kiam-ong Cia Hui Gan, keduanya
adalah keturunan tokoh-tokoh hebat di jaman dahulu. Kalau Ciu Hui Gan masih keturunan dari si dewi pedang
Ang I Niocu, adalah dia itu masih keturunan dari Yok-ong (Raja Obat). Sayangnya... hemmm, dia mempunyai
kebiasaan yang sangat keji dan aneh itu."
Beng San tidak berkata apa-apa, lalu menghampiri dipan dan memondong tubuh Lim Kwi yang masih pingsan
dan lemas.
"Beng San, kau hendak ke mana?" tanya Kwa Tin Siong dan semua orang memandang kepada pemuda ini.
"Ke mana lagi, Kwa-enghiong? Ke kaki gunung sebelah utara itu untuk minta pertolongan Toat-beng Yok-mo.”
"San-ko! Kau akan dibunuhnya!" seru Kwa Hong, wajahnya pucat. Sikap gadis ini amat menarik perhatian
sampai ayahnya sendiri menoleh dan memandang heran.
Beng San menoleh kepada Kwa Hong dan tersenyum pahit. "Apa boleh buat, tapi akan kuusahakan supaya
dia dapat menyembuhkan Lim Kwi."
"Beng San, dia ini apamu dan ada hubungan apakah kau dengan Kun-lun-pai maka kau bertekad
mengorbankan nyawa untuk menolongnya?" Lian Bu Tojin bertanya, mata kakek ini memandang kagum.
"Totiang, menolong orang lain dengan pamrih untuk keuntungan bagi diri sendiri bukanlah pertolongan
namanya. Manusia hidup harus saling tolong-menolong dan apakah artinya pertolongan tanpa disertai
pengorbanan?"
Setelah berkata demikian, dia berjalan pergi sambil memondong tubuh Lim Kwi, sengaja dia memberatkan
langkahnya sehingga kelihatan keberatan memondong tubuh itu.
Semua mata mengikutinya, mata Kwa Hong basah air mata. Lian Bu Tojin menggeleng kepalanya, menarik
napas panjang berkali-kali dan berkata penuh pujian.
"Siancai... siancai... selama hidupku baru kali ini pinto melihat orang dengan budi pekerti sebaik dia... kalian
semua lihatlah baik-baik dan ingat baik-baik, dialah orang yang patut dihormati, dialah yang patut disebut
seorang gagah!"
Setelah berkata demikian kakek ini terbongkok-bongkok memasuki pondoknya…..
********************
Kaki gunung sebelah utara itu sangat indah pemandangannya. Penuh pohon berkembang dan rumput
menghijau, juga di situ mengalir sebuah sungai kecil yang amat jernih airnya, penuh batu-batu hitam yang
beraneka macam bentuknya. Kalau di pandang dari lereng, tampak betapa indah dan suburnya tanah kaki
gunung ini, menggirangkan hati Beng San yang menuruni lereng dengan cepat sekali.
Akan tetapi, setelah tiba di kaki gunung, dia merasa bulu tengkuknya berdiri. Keadaannya memang indah,
akan tetapi amat menyeramkan. Begitu sunyi. Sunyi melengang melebihi sunyinya kuburan.
dunia-kangouw.blogspot.com
Daun-daun pohon bergoyang-goyang tertiup angin, kembang-kembang memenuhi ranting, rumput-rumput
hijau yang tidak pernah terinjak kaki nampak subur menggemuk, suara air gemercik seperti dendang lagu yang
tak kunjung henti. Akan tetapi, kesunyian itu adalah kesunyian yang mencekam dan amat menyeramkan.
Tak ada seekor pun burung kelihatan terbang, tiada seekor pun binatang kelihatan berlari, bahkan tidak ada
seekor pun jengkerik berbunyi. Tempat yang indah, namun seakan-akan tempat yang mati, tempat yang
terkutuk di mana hawa maut selalu mengancam semua yang hidup!
Hanya sebentar saja keseraman mencekam hati Beng San. Segera dia dapat menguasai dirinya dan
melangkah maju dengan tenang dan cepat. Dari atas tadi dia sudah melihat ada sebuah pondok kayu di antara
pohon-pohon dekat sungai dan sekarang dia tujukan langkahnya ke arah pondok itu. Ia berjalan, makin dekat
dengan pondok makin banyaklah dia mendapatkan bukti yang menyebabkan keadaan daerah itu demikian
sunyi.
Di sepanjang jalan, dan banyak yang sudah tertutup oleh rumput-rumput hijau, ia melihat banyak sekali tulangtulang
berserakan, kerangka-kerangka binatang besar mau pun kecil seakan-akan semua penghuni hutan itu
telah tewas karena bencana yang maha dahsyat. Makin dekat dengan pondok, dia mulai melihat kerangkakerangka
manusia yang sudah kering, sudah rusak dan ada pula yang masih baru. Beng San menekan debar
jantungnya dan melangkah terus sampai ke depan pintu pondok.
Dilihatnya asap keluar dari jendela pondok itu dan tercium bau yang amat aneh menusuk hidungnya. Bau yang
luar biasa, disebut wangi namun ada bau tak enaknya, seperti bau obat-obatan yang sedang dimasak.
"Teecu Tan Beng San mohon untuk bertemu dengan Locianpwe keturunan Yok-ong yang budiman.” Beng San
berseru tanpa mengerahkan khikang-nya, dengan suara biasa saja.
Terdengar suara cekikikan di dalam pondok itu. "Hi-hi-hik! Tidak ada keturunan Yok-ong (Raja Obat) yang
budiman di sini. Yang ada Setan Obat, dan sama sekali tidak budiman! Hi-hi-hik!"
Suara itu menyeramkan sekali terdengar di tempat sesunyi itu.
"Teecu mohon pertolongan locianpwe Setan Obat untuk menolong nyawa sahabat teecu yang terluka dan
terkena racun."
Kembali terdengar suara ketawa seperti tadi, disusul kata-kata yang parau, "Tidak ada Setan Obat penolong
nyawa di sini, yang ada Setan Obat Pencabut Nyawa (Toat-beng Yokmo)! Hi-hi-hik!"
Mendongkol hati Beng San, juga dia merasa gelisah. Terang bahwa orang di dalam itu adalah seorang yang
mempunyai sifat suka mempermainkan nyawa orang pula.
"Kalau begitu, biarlah teecu mohon bertemu dengan Toat-beng Yok-mo untuk bicara."
Pintu pondok yang tertutup tiba-tiba terbuka mengeluarkan suara berderit, dan seorang kakek bongkok
berkepala botak keluar sambil membawa sebuah panci yang mengebulkan uap. Panci itu dari besi dan di
bawahnya sampai merah membara, akan tetapi kakek itu memegang panci begitu saja, padahal dapat
dibayangkan betapa panasnya. Dari sini saja sudah dapat diketahui betapa lihainya kakek buruk rupa ini.
Matanya yang besar sebelah, sebelah lagi sipit seperti meram, memandang kepada Beng San yang masih
terus berdiri di depan pintu sambil memondong tubuh Bun Lim Kwi yang pingsan.
"Hi-hi-hi, orang muda nekat. Sudah tahu aku Setan Obat Pencabut Nyawa, masih nekat hendak bertemu.
Apakah kau mau menyerahkan jantungmu dan jantung temanmu yang sudah hampir mati karena racun itu
untuk kutambahkan ke dalam panci ini?"
Dia menggerak-gerakkan panci sehingga isinya berlompatan ke atas. Beng San bergidik ketika melihat isi
panci itu adalah potongan-potongan daging berwarna merah kebiruan. Benarkah itu jantung-jantung manusia?
dunia-kangouw.blogspot.com
"Toat-beng Yok-mo locianpwe, aku datang ke sini untuk mohon pertolonganmu mengobati temanku yang sakit
ini," kata Beng San.
"Goblok! Siapa mau mengobati? Aku hendak mengambil jantungmu dan jantung temanmu itu. Aku mau lihat
siapa berani menghalangi Setan Obat Pencabut Nyawa!" kata orang itu sambil tertawa-tawa.
Beng San memutar otaknya. Jelas sudah baginya bahwa orang ini apa bila bukan orang yang luar biasa
anehnya, tentulah seorang yang miring otaknya. Kalau melihat sikap dan mendengar kata-katanya, tentu orang
ini sombong bukan main dan selalu mengandalkan kepandaiannya sendiri. Maka dia lalu mengambil
keputusan untuk memanaskan hatinya.
"Hemmm, kiranya aku salah alamat. Ternyata kau bukanlah Yok-mo seperti yang sudah didengungdengungkan
orang kang-ouw. Kau hanyalah tukang membunuh, sama sekali tak becus mengobati orang.
Janganlah kau pura-pura menggunakan dan memalsu nama keturunan Yok-ong. Tak tahu malu.”
Mata kanan yang lebar itu makin terbelalak sedangkan yang kiri semakin sipit. Mulutnya menyeringai
memperlihatkan gigi yang tinggal tiga buah atas bawah itu.
"Orang muda, aku memang keturunan Yok-ong dan akulah Toat-beng Yok-mo. Mengobati orang ini saja apa
susahnya? Dia terkena racun kelabang yang digunakan orang di ujung senjata rahasia. Tentu dia sudah
terluka di punggungnya. Kemudian..." la mengarahkan pandangnya kepada muka Bun Lim Kwi, “kemudian
masih ditambah lagi dengan racun Ular Merah, hebat sekali, tidak saja racun itu memasuki perutnya, juga
memasuki seluruh tubuh melalui luka. Hihh, tiga hari lagi dia bakal mampus!"
Sampai ternganga mulut Beng San mendengarkan kata-kata yang cocok ini. Dia mulai percaya bahwa orang di
depannya ini benar-benar seorang ahli dalam pengobatan. Sekali melihat saja dia sudah dapat membuka
rahasia penyakit yang diderita Lim Kwi. Tetapi pemuda yang cerdik ini sengaja memperlihatkan senyum
mengejek.
"Ahh, kau hanya ngawur saja. Semua orang juga bisa bicara sesukanya tentang penyakit orang. Tetapi aku
tetap tidak percaya kalau kau dapat mengobati penyakitnya. Apa lagi penyakit karena keracunan begini hebat,
sedangkan orang masuk angin biasa saja aku sangsi apakah kau bisa mengobati sampai sembuh!"
Kakek bongkok ini membanting-banting kaki, marah sekali. "Anak setan! Jangankan baru sakit macam ini,
orang mati pun aku bisa bikin hidup lagi!"
"Uhh, siapa percaya omongan ini? Jika kau bisa buktikan, bisa menyembuhkan temanku ini, aku mau berlutut
padamu dan mengakui bahwa kau benar-benar keturunan Yok-ong yang pandai seperti dewa. Tetapi kalau
kau tidak becus, kau tidak lain hanyalah penjual lagak yang kosong melompong belaka.”
"Bawa dia masuk, bawa dia masuk... buka matamu dan lihat bagaimana dalam waktu singkat Toat-beng Yokmo
menyembuhkannya sama sekali!" kakek itu membentak sambil terbongkok-bongkok masuk ke dalam
pondoknya membawa panci itu.
Diam-diam Beng San tersenyum girang. Akalnya sudah berhasil. Segera dia melangkah masuk ke dalam
pondok tanpa ragu-ragu lagi. Pondok itu ternyata cukup lega dan terang karena bagian atapnya dapat dibuka
sehingga cahaya matahari dapat menyinar masuk. Akan tetapi kotor sekali, penuh dengan tulang belulang,
daun kering, akar-akaran yang bertumpuk di meja, di lantai dan di semua tempat. Di pojok terdapat sebuah
dipan bambu.
"Letakkan di sini!"
Beng San menurunkan tubuh Lim Kwi di atas dipan itu dan berdiri agak menjauhi untuk memberi kesempatan
kepada orang aneh itu memeriksa.
Akan tetapi, kakek itu sama sekali tidak melakukan pemeriksaan. Dia bahkan langsung membuka pakaian atas
pemuda itu dengan cara kasar, yakni merobek baju yang dipakai Lim Kwi begitu saja seperti orang merobek
dunia-kangouw.blogspot.com
kertas tipis. Dengan kasar juga kakek ini lalu membalikkan tubuh Lim Kwi sehingga tubuh pemuda itu
menelungkup.
Sebentar dia memeriksa luka-luka di punggung, kemudian mengeluarkan satu bungkusan dari saku bajunya
yang lebar. Ternyata itu adalah bungkusan jarum-jarum panjang terbuat dari emas dan perak. Setelah
memandang sejenak penuh perhatian, kakek ini kemudian menusuk-nusukkan tujuh belas batang jarum di
leher, kedua pundak sepanjang punggung dan di antara tulang iga.
Beng San memandang penuh perhatian. Dia kagum bukan main melihat cara kakek itu menusuk-nusukkan
jarum yang demikian cepat, bertenaga dan tepat mengenai jalan-jalan darah tertentu.
Kakek bongkok itu melangkah tiga tindak ke belakang, kemudian dari situ dia melompat ke depan dan
menggunakan jari telunjuknya menotok belakang kepala Lim Kwi. Dengan gerakan cepat sekali kakek itu
melangkah mundur lagi, melompat menotok lagi lain jalan darah berkali-kali. Makin lama makin cepat dia
bergerak sehingga dalam waktu beberapa menit saja dia sudah menotok hampir semua jalan darah yang tidak
tertusuk jarum-jarum emas dan perak di bagian belakang tubuh Lim Kwi.
Sesudah melakukan totokan-totokan selama setengah jam, dia terengah-engah serta dari ubun-ubun
kepalanya mengepul uap putih. Dengan lemas dia lalu mencabuti jarum-jarum itu, lalu membalikkan tubuh Lim
Kwi hingga telentang.
Beng San berdecak kagum. Sekarang muka Lim Kwi sudah mulai merah, napasnya tidak lemah seperti tadi.
Setelah kakek bongkok itu beristirahat sejenak, kembali ia menggunakan jarum-jarumnya menusuk-nusuk dan
menancap-nancapkan seperti tadi di tujuh belas tempat, akan tetapi kini di bagian depan badan Lim Kwi.
Seperti tadi pula, dia menotok terus-menerus dengan gerakan cepat.
Setelah selesai dan mencabuti semua jarum, kakek itu terengah-engah menghadapi Beng San, lalu berkata
parau, "Hi-hi-hik, kau lihat? Penyakitnya sudah sembuh, sebentar lagi semua racun di badannya akan keluar!"
Beng San masih belum percaya, akan tetapi tiba-tiba terdengar Lim Kwi mengeluh dan muntah-muntah. Yang
dimuntahkan hanya cairan racun dan seluruh tubuhnya seolah-olah mengebul panas. Anehnya, keringat yang
keluar dari tubuhnya berwarna agak biru, itulah racun yang keluar bersama keringatnya!
Dengan tenang kakek itu lalu menjejalkan tiga buah butir pil hijau ke dalam mulut Lim Kwi, mendorongnya
dengan jari telunjuknya sehingga tiga butir pil itu terus memasuki perut. Tidak sampai satu jam kemudian, Lim
Kwi sudah tenang, mukanya merah dan membuka matanya! la nampak heran sekali, akan tetapi ketika hendak
bangun duduk, dia pusing dan meramkan mata.
"Saudara Bun Lim Kwi, kau rebahlah saja dulu. Baru saja kau disembuhkan oleh tabib dewa Toat-beng Yokmo
keturunan Yok-ong!" seru Beng San girang bukan main. Akan tetapi kegirangannya lenyap seketika
terganti kekagetan ketika melihat kakek itu sudah memegang sebatang pedang yang tajam dan runcing sambil
tertawa-tawa.
"Ehh, ehh... kau mau apa dengan pedang itu?" Beng San bertanya dan merasa seram.
"Hi-hi-hik! Toat-beng Yok-mo namaku. Setan Obat Pencabut Nyawa Aku mengobati untuk bertanding dengan
penyakit, bukannya untuk menyembuhkan orang. Siapa yang sembuh oleh obatku, harus kucabut nyawanya
dengan pedangku. Tadi aku mengobati, sekarang aku mencabut nyawa, hi-hi-hik, nyawamu dan nyawa dia."
"Kakek yang baik, mengapa begitu? Mengobati orang sakit artinya memberi pertolongan dan hal ini sudah
menjadi kewajiban setiap manusia yang hidup di dunia ini, harus saling tolong-menolong! Ada pun urusan
mencabut nyawa, kurasa ini bukanlah urusan manusia. Hanya Thian yang menitahkan Giam-lo-ong (Raja
Maut) yang mempunyai hak mencabut nyawa manusia. Kau sudah menolong temanku dari bahaya maut,
kenapa malah hendak membunuhnya sekarang?"
"Hi-hi-hik, belum pernah ada orang yang kusembuhkan lalu kubiarkan tetap hidup. Tidak terkecuali dia ini."
dunia-kangouw.blogspot.com
"Janganlah, Locianpwe. Biarlah aku yang menjadi penggantinya. Jangan kau bunuh dia."
"Hi-hi-hik! Aneh, aneh... tapi kebetulan. Aku membutuhkan jantung orang, dan jantung dia ini kurang bersih
setelah tadi terserang racun. Jantungmu lebih bersih dan baik, bagus! Boleh diganti, boleh ditukar. Dia boleh
hidup, kau penggantinya dan jantungmu harus kau berikan kepadaku. Eh, orang muda, selama hidupku belum
pernah aku mendengar orang mau menukar diri mewakili orang mati. Apakah betul-betul kau mau
menggantikan orang ini untuk kuambil jantungnya?" Ujung pedang itu sudah menodong dada Beng San.
Beng San tenang-tenang saja. Ia tersenyum dan berkata, "Ucapan seorang laki-laki tidak akan ditarik kembali,
Locianpwe. Aku sudah bersusah payah berusaha menolong dia ini, maka tak akan kulakukan setengahsetengah.
Kalau memang kau membutuhkan jantung, biarlah aku mewakilinya. Kau harus berjanji akan
melepaskan dan tidak lagi mengganggu orang ini dan kau boleh mengambil jantungku, yaitu kalau kau bisa."
Ucapan terakhir dari Beng San ini rupa-rupanya tidak diperhatikan oleh kakek yang sudah terheran-heran dan
juga kegirangan itu. "Baik, boleh... aku berjanji tak akan mengganggu orang ini. Nah, bersiaplah kau
menghadiahkan jantungmu yang segar kepadaku!"
"Kau ambillah sendiri kalau dapat!" jawab Beng San, dan seluruh urat syaraf di tubuhnya sudah menegang,
siap untuk melawan kakek ini dengan seluruh tenaga dan kemampuan yang dimilikinya.
"Hi-hi-hik, orang muda yang aneh, yang sinting..."
Pedangnya diayun-ayun ke atas seperti orang menakut-nakuti. Mendadak Bun Lim Kwi meloncat dari dipan itu
dan menyerang kakek bongkok dengan pukulan-pukulan hebat.
"Siluman tua! Tak boleh kau membunuh penolongku!"
Dari gerakan-gerakannya, ternyata pemuda Kun-lun-pai ini sudah sembuh sama sekali. Serangannya hebat
bukan main dan terpaksa kakek bongkok itu meloncat mundur sambil terkekeh-kekeh tertawa.
"Hi-hi-hik, bukankah manjur sekali pengobatanku?"
"Saudara Bun, jangan serang dia. Dia adalah penolongmu, tadi telah mengobatimu," kata Beng San
mencegah.
"Aku tahu, tapi dia siluman jahat, hendak membunuhmu. Tidak bisa aku berpeluk tangan saja!"
"Hi-hi-hik, anak Kun-lun-pai, hi-hi-hik. Biarlah aku mencoba sampai di mana kehebatan latihan dari Pek Gan
Siansu si mata putih!" Sambil berkata begitu kakek ini menyimpan pedangnya dan melompat keluar. "Marilah,
mari sini orang muda Kun-lun-pai, boleh kau coba-coba, hi-hi-hik!"
Bun Lim Kwi yang tadi telah sadar dan melihat betapa kakek ini hendak membunuh Beng San, segera turun
tangan menolong. Sekarang dia melompat keluar untuk melayani kakek aneh itu. Beng San berdebar dan ikut
lari keluar.
"Siluman jahat, aku tidak rela diwakili oleh saudara ini. Jika kau hendak membunuh dan mengambil jantungku,
kau cobalah. Mati dalam pertempuran bukanlah apa-apa dan kau baru gagah kalau membunuh seorang yang
dapat melawanmu. Saudara ini tidak pandai silat, bagaimana kau punya muka untuk membunuhnya begitu
saja?"
"Hi-hi-hik, orang muda. Kau seperti orok kemarin sore yang masih merah berani mencoba aku? Hi-hi-hik, kau
sambutlah ini."
Biar pun bongkok dan gerak-geriknya seperti orang tua lemah, akan tetapi tiba-tiba kakek itu sudah mengirim
serangan yang luar biasa cepatnya. Lim Kwi kaget sekali, akan tetapi sebagai murid Kun-lun yang sudah
matang kepandaiannya, dia cepat mengelak kemudian membalas dengan serangan yang tak kalah
dahsyatnya.
dunia-kangouw.blogspot.com
Beng San memandang cemas. la maklum bahwa biar pun Lim Kwi cukup pandai, namun kiranya tak akan
mungkin dapat menangkan kakek itu yang ternyata adalah seorang ahli Iweekeh dan ahli totok yang lihai
sekali. la sendiri merasa sangsi dan ragu-ragu apakah dia harus membantu Lim Kwi ataukah tidak.
Bingung dia menghadapi peristiwa ini dan tidak dapat cepat-cepat mengambil keputusan bagaimanakah dia
harus bertindak. Dia memang harus menolong Lim Kwi seperti pernah dulu dipesankan oleh mendiang ayah
pemuda itu, akan tetapi dengan melawan kakek bongkok ini, bukankah hal itu merupakan suatu perbuatan
yang tidak bijaksana?
Kakek itu betapa pun juga sudah menolong Lim Kwi, tanpa ragu lagi dia mau mengakui bahwa kakek itu telah
merenggut nyawa Lim Kwi dari cengkeraman maut. Kalau sekarang mereka melawan kakek itu, bukankah itu
berarti seorang rendah budi yang tak ingat akan budi kebaikan orang?
Tapi sebaliknya kalau dipikirkan lagi, kakek itu hendak membunuhnya dan Lim Kwi justru melawan untuk
menolongnya. Karena itu, apakah sekarang dia harus diam saja melihat Lim Kwi terdesak? Benar-benar Beng
San menjadi bingung sekali. Pemuda ini mengambil keputusan untuk menolong Lim Kwi apa bila keselamatan
pemuda itu terancam.
Bun Lim Kwi benar-benar telah bertekad bulat untuk membela Beng San dengan taruhan nyawanya. Tadi
ketika dia sadar dari pingsan, dia mendengar semua pembelaan Beng San kepadanya dan dia pun segera
dapat menarik kesimpulan bahwa setelah dia roboh dalam pertandingan dengan Thio Eng di dalam hutan,
tentu telah ditolong oleh Beng San dan dibawa ke rumah tabib setan ini.
Dia merasa amat terharu mendengar betapa Beng San rela mewakilinya untuk mati di tangan kakek setan itu
dan diam-diam Lim Kwi pun kagum akan pandangan gurunya yang sangat tepat tentang diri Beng San.
Memang pemuda luar biasa. Biar pun tidak memiliki kepandaian silat, namun nyalinya besar dan budinya
luhur.
Maka sekarang dia hendak membalas budi itu, kalau perlu dia rela berkorban, mati dalam tangan kakek
bongkok untuk menolong Beng San. Lim Kwi maklum bahwa lawannya ini tangguh bukan main, memiliki
tenaga Iweekang yang luar biasa besarnya sedangkan ilmu silatnya juga amat aneh.
Pertempuran berlangsung makin hebat. Kakek itu selalu tertawa-tawa dan seakan-akan mempermainkan Lim
Kwi. Dengan rasa penasaran pemuda Kun-lun ini lalu mengeluarkan pukulan-pukulan Pek-lek-jiu (Tangan
Kilat) yang dia warisi dari gurunya. Kedua tangannya menyambar-nyambar, tulangnya berkerotokan dan angin
pukulannya terasa panas!
"Hi-hi-hik! Inikah Pek-Iek-ciang-hoat dari Kun-lun-pai?" Kakek itu tertawa mengejek sambil memapaki pukulan
kedua tangan Lim Kwi dengan tangan terbuka.
Dua pasang tangan bertemu dan saling tempel, tak dapat dilepaskan lagi. Dua orang itu, seorang pemuda dan
seorang kakek bongkok, kini mengadu tenaga Iweekang.
Sebentar saja Lim Kwi merasa betapa telapak tangannya tergetar dan makin lama makin dingin. Tenaga Peklek
Ciang-hoat yang dia miliki terasa makin lemah dan hampir buyar. Keadaannya sangat berbahaya karena
sebagai seorang ahli, pemuda ini maklum bahwa setelah tenaganya habis, dia akan terluka hebat di dalam
tubuhnya, luka yang mungkin akan merenggut nyawanya. Akan tetap dia mengerahkan seluruh tenaganya dan
berlaku nekat.
"Yok-mo, jangan bunuh dia...!"
Beng San menghampiri dua orang yang sedang adu tenaga secara mati-matian itu, lalu menepuk pundak Lim
Kwi dua kali sambil berkata, "Saudara Bun, dia penolongmu, jangan serang dia!"
Meski hanya merupakan dua tepukan perlahan, akan tetapi sebenarnya Beng San sudah mengerahkan hawa
tenaga Yang dari tubuhnya. Tenaga yang maha dahsyat ini tersalur melalui pundak Lim Kwi, terus melaju ke
arah kedua lengannya. Akibatnya hebat sekali. Dua pasang lengan yang saling tempel itu langsung terlepas
seperti direnggutkan tenaga yang tak tampak.
dunia-kangouw.blogspot.com
Lim Kwi tak dapat mempertahankan diri dan roboh terguling di atas lantai, pingsan! Tadi dia mengerahkan
tenaga Iweekang seluruhnya dan setelah secara mendadak tenaganya tidak mendapatkan sasaran, dia
kehabisan tenaga dan pingsan. Ada pun kakek bongkok itu terdorong mundur terhuyung-huyung.
"Ayaaa...!" seru kakek itu terheran-heran dan kaget bukan main.
Pada saat itu terdengar bunyi lengking tinggi dan tiba-tiba berkelebat bayangan putih yang menyambar ke arah
Toat-beng Yok-mo! Bayangan itu ternyata adalah bayangan seorang gadis remaja berpakaian serba putih
yang menggunakan sebatang pedang mengkilap dan langsung menyerang kakek bongkok itu.
Toat-beng Yok-mo mengeluarkan suara gerengan keras. Hanya dengan menggulingkan tubuh di atas tanah
dia dapat menyelamatkan diri dari serangan yang luar biasa hebatnya dari gadis itu. Gadis itu terus
melanjutkan serangannya yang membuat Beng San berdiri melongo karena gerakan-gerakan itu adalah Yangsin
Kiam-sut yang dimainkan dengan amat hebat dan mendekati kesempurnaannya!
Ada pun Toat-beng Yok-mo yang tadi belum hilang kagetnya karena serangan tenaga yang luar biasa,
sekarang menjadi makin kaget lagi menyaksikan ilmu pedang gadis ini. Ia memang mempunyai musuh yang
amat dibencinya sejak dahulu, yaitu Song-bun-kwi dan sekarang melihat gadis yang menyerangnya itu, dia
maklum bahwa kalau Song-bun-kwi muncul dia bisa celaka. Sambil berseru keras seperti binatang liar, kakek
ini meloncat jauh lalu pergi dengan amat cepatnya.
Gadis itu berdiri tegak, tidak mengejar, menyimpan pedangnya kembali lalu membalikkan tubuh memandang
ke arah Beng San. Juga pemuda ini berdiri terpaku memandang gadis baju putih itu. Keduanya seperti
terpesona.
Tadi Beng San tidak mengenal gadis ini karena pakaiannya yang serba putih. Sekarang setelah mereka
berhadapan, dengan jelas dia melihat sepasang mata itu, sepasang mata yang takkan pernah terlupa olehnya
selama dia hidup. Hidung itu, mulut itu... Bi Goat, si bocah gagu!
"Bi Goat...?!" Beng San setengah berlari menghampiri.
Gadis itu yang tadinya masih agak ragu-ragu setelah mendengar suara ini lalu lari pula menghampiri Beng
San. Kini mereka berhadapan, Beng San yang merasa terharu dan bahagia memegang kedua pundak gadis
itu.
"Bi Goat... benar kau Bi Goat,” katanya dengan napas memburu.
Gadis itu tersenyum, nampak giginya yang berderet rapi dan berkilauan, tapi kedua mata yang indah itu
bercucuran air mata. Kemudian Bi Goat menubruk dan merangkul leher Beng San sambil menangis di atas
dada pemuda itu!
"Bi Goat... ahh, tak dinyana kita bertemu di sini... kenapa kau begini sedih? Kenapa? Dan kau... kau
berkabung? Bi Goat, apakah yang terjadi...?" Beng San bertanya dengan suara gemetar.
Inilah orang yang selama ini menjadi kembang mimpinya, yang tidak pernah lepas dari ingatannya, orang yang
sejak kecilnya sudah mau berkorban untuknya. Melihat gadis ini menangis terisak-isak sehingga baju di bagian
dadanya basah oleh air mata gadis itu, Beng San terharu sekali dan tak dapat menahan turunnya dua butir air
mata.
"Bi Goat... anak baik, sayang... jangan menangis..."
Beng San makin terharu ketika mengingat bahwa gadis ini tidak dapat bicara, maka dia lalu mengelus-elus
rambut yang hitam panjang itu. Tidak karuan rasa hati Beng San. la menduga bahwa tentu telah terjadi
sesuatu yang hebat maka gadis ini memakai pakaian berkabung.
dunia-kangouw.blogspot.com
Seingatnya, Bi Goat paiing suka mengenakan pakaian berwarna merah, kenapa sekarang berpakaian serba
putih? Apakah ayahnya, Song-bun-kwi telah mati? Teringat akan ini, dia makin sedih dan hatinya terharu. Dia
memeluk gadis itu penuh kasih sayang.
Bi Goat mereda tangisnya, kemudian diambilnya sehelai sapu tangan putih dari saku baju sebelah dalam dan
diberikannya sapu tangan sutera putih itu kepada Beng San. Di atas sapu tangan sutera putih ternyata ada
tulisan, huruf-huruf memakai benang hitam yang disulam indah dan berbunyi:
Kau hanyut...
sungai membawamu pergi jauh,
entah mati ataukah masih hidup.
Aku berkabung untukmu...
sampai kita bertemu kembali,
entah di dunia ataukah di akhirat.
Membaca tulisan ini, Beng San makin terharu. Dipeluknya Bi Goat, didekapnya kepala itu ke dadanya,
dibisikkan mulutnya ke telinganya, "Bi Goat, alangkah mulia hatimu... ahhh, alangkah suci cinta kasihmu..."
Sampai lama dua orang muda ini diam, kediaman penuh bahagia, menikmati kebahagiaan yang bergelora di
dalam hati masing-masing. Beng San seakan-akan lupa akan diri Bun Lim Kwi yang masih pingsan di atas
tanah.
Tiba-tiba Bi Goat melepaskan diri dari pelukan, memegang kedua tangan Beng San, lalu tertawa-tawa dengan
mata masih basah oleh air mata. Dipandangnya Beng San dari atas sampai ke bawah, berkali-kali seperti
masih belum percaya bahwa dia betul-betul sudah bertemu dengan Beng San!
Sikap kekanak-kanakan ini makin mengharukan hati Beng San, mengingatkan dia bahwa gadis ini tidak dapat
bicara. Akan tetapi, juga telah membuyarkan cekaman rasa keharuan tadi, membuat dia teringat akan
keadaannya.
Kemudian Bi Goat sambil tertawa-tawa memberi isyarat kepada Beng San supaya tinggal saja di situ dan dia
sendiri segera lari memasuki pondok Toat-beng Yok-mo. Entah apa yang dilakukan di dalam, akan tetapi
ketika dia keluar kembali ternyata ia telah berganti pakaian!
Buntalan kecil yang tadi menempel pada punggungnya ternyata adalah pakaian berwarna merah berkembangkembang
indah sekali, yang sekarang dipakainya sebagai pernyataan bahwa perkabungannya telah berakhir!
Kedua orang itu kembali saling berpegang tangan dan saling berpandangan.
"Kau jelita, Bi Goat... kau hebat...,” hanya demikian Beng San dapat berkata lirih.
Bi Goat tidak bisa bicara, akan tetapi jari-jari tangan mereka yang saling remas itu cukup mewakili kata-kata,
menyatakan perasaan hati yang hanya dimengerti dan hanya mampu dirasakan oleh mereka berdua.
"Bi Goat, bagaimana kau bisa datang ke sini dan kenapa pula kau memusuhi Toat-beng Yok-mo?" Beng San
bertanya.
Mendengar ini Bi Goat seperti kaget, seperti baru teringat akan hal penting. Dia menarik tangannya dan
menggurat-gurat dengan jari telunjuk ke atas tanah. Ternyata ia menulis beberapa huruf sebagai pengganti
kata-katanya.
‘Kami tinggal di lereng Min-san. Kini aku harus mengejar Yok-mo. Kita pasti akan bertemu kembali. Selamat
berpisah!’
Demikianlah bunyi tulisan itu dan sebelum Beng San sempat berkata-kata, gadis itu sudah merangkul lehernya
sekali lagi, lalu tertawa dan berlari cepat sekali pergi dari situ. Sekejap mata saja sudah tidak kelihatan lagi.
"Bi Goat...!"
dunia-kangouw.blogspot.com
Beng San hendak mengejar, akan tetapi tiba-tiba dia mendengar suara orang mengeluh. Ketika dia menengok,
ternyata Bun Lim Kwi telah sadar kembali dan bangkit berdiri.
"In-kong (Tuan Penolong), syukur bahwa Thian masih melindungi kita..." kata Bun Lim Kwi sambil menjura
dengan hormat. "Tadi ada seorang gagah menolongku, di manakah dia sekarang dan siapakah dia gerangan?"
Melihat sikap pemuda itu demikian menghormatnya, dengan gugup Beng San membalas hormatnya dan
berkata, "Saudara Bun, kuharap dengan sangat jangan kau menyebutku tuan penolong. Sudah sepatutnya jika
manusia hidup di dunia ini saling tolong menolong, maka apa artinya kita meributkan soal pertolongan? Kalau
kita hendak berbicara tentang pertolongan, maka takkan ada habisnya. Katakanlah aku menolongmu,
kemudian Yok-mo menolongmu pula, lalu kau juga menolongku dari ancaman Yok-mo, dan terakhir sekali
pendekar wanita murid Song-bun-kwi tadi menolong kita. Sebutlah saja aku Beng San... ehhh, Tan Beng San."
Bun Lim Kwi nampak terheran-heran. "Murid Song-bun-kwi...? Sungguh aneh, bagaimana muridnya mau
menolongku... "
Beng San tidak suka banyak bicara mengenai Bi Goat, maka dia segera membelokkan percakapan, "Saudara
Bun, aku mendapatkan kau menggeletak di hutan dalam keadaan terluka hebat di punggungmu. Siapakah
yang melukaimu?”
Bun Lim Kwi menghela napas panjang, nampak berduka sekali. "Aku sendiri tidak tahu, tapi yang jelas bukan
dia..."
"Dia siapakah?"
Kembali pemuda Kun-lun-pai itu menarik napas panjang.
"Saudara Beng San yang budiman, aku benar-benar berterima kasih kepadamu dan aku tidak akan
menyimpan rahasia terhadapmu. Setelah aku dan suhu pergi dari Hoa-san, suhu terus pulang ke Kun-lun dan
aku... hemmm, terus terang saja aku ingin mencari bekas susiok-ku Kwee Sin. Tiba-tiba muncul nona baju
hijau yang menyerangku di puncak Hoa-san itu. Dia menuduh bahwa mendiang ayahku dan pamanku
membunuh ayahnya dan berkeras hendak membalas kepadaku. Ahhh..." Lim Kwi menghela napas, kelihatan
berduka sekali. "Aku tidak ingin bermusuhan dengannya, aku sudah mengalah... tapi dia mendesak terus, aku
lari, dia mengejar. Terpaksa aku mempertahankan diri. Setelah itu ada orang menyerangku dari belakang
secara menggelap, entah siapa karena aku roboh tak ingat lagi. Tahu-tahu sudah berada di sini."
Beng San mengerutkan keningnya dan hatinya diam-diam lega bahwa ternyata sekarang bukan Thio Eng yang
melakukan penyerangan menggelap menggunakan senjata rahasia mengandung racun yang demikian keji. Ia
sayang kepada Thio Eng, kasihan kepada nona itu, maka dia senang mendengar bahwa bukan gadis itulah
yang melakukan penyerangan curang dan keji.
"Tentu ada orang ke tiga yang berbuat curang," katanya. "Saudara Bun, aku melihat kau menggeletak di hutan
itu. Lalu kubawa kau kembali ke Hoa-san dan Lian Bu Tojin sudah berusaha keras menolongmu,
menggunakan ular-ular pemberian Giam Kin. Celaka sekali, ular-ular itu sama sekali bukanlah Ngo-tok-coa
yang mengandung obat pemunah racun, malah sebaliknya. Setelah diobati dengan ular-ular itu, kau
bertambah payah. Ternyata Giam Kin yang jahat itu telah menipu Hoa-san-pai."
Tercengang juga Bun Lim Kwi mendengar ini. "Ah, memang tepat sekali wawasan suhu... sebenarnya Hoasan-
pai adalah tempat orang-orang baik. Aku yang dianggap musuh masih mereka usahakan untuk
menolong... hemmm, kenyataan ini makin menguatkan hasrat hatiku hendak mencari Kwee Sin sampai dapat.
Dialah yang bertanggung jawab menerangkan segala keruwetan ini, termasuk urusanku dengan nona Thio
Eng..."
"Tapi akulah yang sudah berjanji untuk mencari Kwee Sin..."
"Tidak, saudara Beng San. Kau sudah terlalu banyak menanam budi serta melakukan kebaikan terhadap Kunlun-
pai dan kami berterima kasih sekali. Akan tetapi untuk mencari Kwee Sin adalah tanggung jawabku karena
dia adalah bekas murid Kun-lun-pai juga. Aku hanya mohon petunjuk-petunjukmu."
dunia-kangouw.blogspot.com
Beng San menjadi tertegun. la tidak tahu bahwa Lim Kwi teringat akan pesan suhu-nya agar supaya
mendengarkan nasihat Beng San. Dia sendiri menganggap Beng San hanya sebagai seorang pemuda
sastrawan yang berhati mulia dan sudah memberi pertolongan kepadanya dengan taruhan nyawanya sendiri.
Tentu saja Beng San terheran mengapa seorang pemuda segagah Lim Kwi sampai tidak malu-malu minta
petunjuknya.
"Saudara Bun, aku seorang lemah dan bodoh dapat memberi petunjuk apakah? Hanya kuharap saja kau
berlaku hati-hati. Penyerangan gelap atas dirimu itu sudah membuktikan bahwa kau diincar oleh musuh-musuh
gelap. Menurut kabar, Kwee Sin sudah memihak pemerintah penjajah yang sedang hendak digulingkan oleh
para pejuang, maka mencari dia sama artinya dengan memasuki goa harimau dan lubang naga. Apa lagi kalau
mereka mengetahui bahwa kau anak murid Kun-lun-pai yang hendak menangkap Kwee Sin, tentu kau
dikurung bahaya."
Bun Lim Kwi menjura dan memberi hormat. "Nasihat-nasihatmu akan kuingat selalu. Dan semoga saja kelak
Thian memberi kesempatan kepadaku untuk membalas semua budi kebaikanmu, saudara Beng San.
Perkenankan sekarang aku melanjutkan perjalanan."
Beng San menjadi semakin suka kepada pemuda Kun-lun-pai yang sangat sopan dan merendah ini. Diamdiam
dia membenarkan dirinya sendiri yang hendak memenuhi pesan terakhir dari ayah pemuda ini. Mereka
berpisah dan Beng San tidak menahannya lebih lama lagi.
Beng San masih selalu gelisah jika memikirkan perginya Bi Goat yang sedang mengejar Toat-beng Yok-mo. la
sendiri menghadapi banyak urusan penting. Di samping dia harus mencari Kwee Sin, juga dia berkewajiban
merampas kembali Liong-cu Siang-kiam dan di sana masih ada pula orang yang dia duga adalah kakaknya
dan yang sekarang agaknya menjadi kaki tangan Mongol pula. Apa lagi sekarang muncul Bi Goat yang
melakukan pengejaran terhadap seorang berbahaya seperti Toat-beng Yok-mo. Dia harus membantu dan
melindungi gadis gagu itu.
Dengan cepat Beng San berlari mengejar untuk menyusul Bi Goat. Akan tetapi sampai berjam-jam dia tidak
melihat bayangan gadis itu mau pun bayangan Toat-beng Yok-mo. Tentu dua orang yang berkejaran itu telah
mengambil jalan lain.
Beng San kecewa. Rindu hatinya terhadap Bi Goat masih menebal, karena pertemuan yang hanya sebentar itu
tidak mencukupi baginya. Aku harus ke sana, pikirnya. Harus ke Min-san.
Dia teringat akan Song-bun-kwi dan menjadi ragu-ragu. Bukankah orang sakti itu selalu memusuhinya?
Bahkan bermaksud membunuhnya apa bila tidak dapat merampas Im-sin Kiam-sut? Akan tetapi, dia sekarang
bukanlah dia dahulu. Dia tidak takut, kalau perlu dia akan melawan Song-bun-kwi, asal dia bisa dapat bertemu
dengan Bi Goat!
"Ah, tugasku masih banyak. Kenapa aku selalu teringat dia? Setelah semua tugas selesai dikerjakan, baru aku
akan mencari Bi Goat."
Setelah mencela diri sendiri Beng San menghentikan usahanya mencari dan mengejar Bi Goat. Urusan untuk
merampas kembali Liong-cu Siang-kiam bukan urusan yang terlalu mendesak, tak perlu dia tergesa-gesa.
Akan tetapi urusan mencari Kwee Sin adalah yang paling mendesak, kemudian urusan tentang kakaknya, Tan
Beng Kui. Dan dia maklum bahwa untuk mencari dua orang ini dia harus berani memasuki kota raja.
Kwee Sin kabarnya bekerja sama membantu Ngo-lian-kauw, yang menjadi kaki tangan Mongol. Ada pun orang
yang dia duga kakaknya itu datang ke Hoa-san-pai bersama Pangeran Mongol Souw Kian Bi.
Setelah menetapkan hatinya, Beng San lalu mulai melakukan penyelidikan untuk mencari Kwee Sin…..
********************
Di masa itu, perjuangan rakyat yang berupa pemberontakan-pemberontakan di sana-sini terhadap pemerintah
penjajah makin lama semakin berkembang luas. Pemerintah Goan yang didirikan oleh bangsa Mongol mulai
dunia-kangouw.blogspot.com
goyah kedudukannya. Hampir di seluruh daerah pedalaman selalu terjadi perang gerilya yang dilakukan para
petani di bawah pimpinan orang-orang gagah.
Pemberontakan-pemberontakan ini bagaikan api yang makin lama semakin besar, makin lama makin menjalar
ke dekat kota raja. Oleh karena ini maka keluarga Kerajaan Goan berkhawatir sekali dan tak dapat enak
makan nyenyak tidur.
Penjagaan di sekitar wilayah kota raja diperketat, mata-mata pun disebar di seluruh kota dan desa. Orangorang
dengan kepandaian tinggi yang dapat ditarik ke pihak pemerintah Mongol dengan pancingan harta
benda dan kedudukan tinggi, dikumpulkan di kota raja sebagai pelindung keselamatan keluarga Kerajaan
Goan.
Sunyi malam itu di sebuah dusun yang letaknya di pinggiran kota raja sebelah selatan. Malam belum larut
benar, belum pukul sembilan. Akan tetapi keadaan sudah amat sunyi dan ketegangan seperti biasanya
menyelubungi semua tempat yang berada dekat kota raja. Hal ini tidak mengherankan karena sejak terjadinya
pemberontakan-pemberontakan, di sekitar kota raja selalu terjadi hal-hal yang hebat.
Seakan-akan terjadi pertentangan antara petugas-petugas keamanan dan para pejuang yang keduanya secara
rahasia melakukan tugasnya masing-masing. Semacam perang rahasia antara para mata-mata pemerintah
kontra para mata-mata pejuang. Para pejuang yang berahasia itu sangat gagah berani dan entah sudah
berapa banyaknya pembesar Mongol dan perwira yang tahu-tahu telah kedapatan mati di dalam kamar
masing-masing. Akan tetapi tidak sedikit pula mata-mata pejuang itu tertangkap dan diseret ke depan
pengadilan yang cepat memutuskan hukuman mati bagi mereka ini.
Dua bayangan manusia berkelebat cepat sekali di dalam kegelapan malam itu. Dengan ginkang yang tinggi
kedua orang ini berlompatan menuju ke sebuah rumah yang tua dan buruk, tapi cukup besar. Kiranya rumah
ini adalah sebuah rumah penginapan merangkap warung nasi yang sederhana, sebagai tempat menginap para
saudagar dan pelancong yang hendak memasuki kota raja.
Dua bayangan itu memasuki rumah dengan jalan aneh, yaitu melalui belakang dengan melompati pagar
tembok. Di luar sebuah jendela mereka berhenti dan mengetuk jendela itu perlahan tiga kali. Dari dalam ada
jawaban ketukan dua kali lalu jendela terbuka. Dua orang itu sekali melompat sudah melayang masuk.
Kamar itu cukup luas. Di dalamnya sudah duduk tiga orang, yaitu seorang berpakaian tentara berusia empat
puluh tahun, seorang laki-laki pengemis yang berpakaian jembel bertubuh kurus dan pucat berusia kurang
lebih lima puluh tahun dan yang seorang adalah seorang nenek tua bongkok berambut putih.
Ada pun dua orang yang baru datang ini ternyata adalah dua orang kakek berpakaian seperti petani bercaping
topi tani lebar. Yang hebat adalah barang yang dibawa oleh dua orang itu. Ternyata sekarang di bawah
penerangan lampu bahwa dua orang kakek petani ini masing-masing menjambak rambut sebuah kepala
manusia! Begitu masuk, keduanya tertawa dan melemparkan dua buah kepala orang di atas meja.
Tiga orang itu segera bangkit dan memandang penuh perhatian ke arah dua buah kepala itu. Mereka
mengenal dua buah kepala itu sebagai kepala dua orang perwira pemerintah Mongol yang berkuasa di kota tak
jauh dari situ.
Segera nenek itu bangkit dan menyambar dua buah kepala tadi, dimasukkan ke dalam keranjang lalu dia
berkata, "Lebih dahulu kusingkirkan kepala anjing ini." Setelah berkata demikian dia menyelinap ke belakang
dan menghilang.
Tentara dan pengemis itu menjura kepada dua orang petani yang baru datang.
"Tentulah ji-wi (saudara berdua) ini dua saudara Phang dari Hun-lam, bukan?" bertanya pengemis itu.
Dua orang kakek petani itu menjura dan yang tertua menjawab, "Benar, siauwte adalah Phang Khai dan ini
adikku Phang Tui. Karena tergesa-gesa, kami tak dapat memilih tanda pengenal yang lebih berharga, harap
maafkan."
dunia-kangouw.blogspot.com
Nenek yang tadi pergi ke belakang membawa dua buah kepala, kini sudah datang kembali sambil mengomel,
"Kepala perwira atau kepala pembesar sama saja, dapat mengurangi jumlah musuh cukup baik. Sayangnya jiwi
terlampau sembrono. Ji-wi adalah tokoh-tokoh terkenal di Hun Lam, mengapa datang ke sini tanpa
menyamar?"
Phang Khai tersenyum memandang nenek itu, lalu berkata, "Aku sudah lama mendengar bahwa orang
kepercayaan Si-enghiong (pendekar ke empat) adalah seorang wanita muda yang gagah dan lihai. Kau
menyamar sebagai nenek, itu bagus sekali, akan tetapi bagai mana seorang nenek dapat memiliki sepasang
mata sejeli ini?"
Nenek itu kelihatan terkejut. "Ah, Phang-lohiap benar-benar bermata tajam sekali. Apakah penyamaranku
masih kurang sempurna?" Suara nenek itu yang tadi parau dan gemetar bagaikan suara orang tua, sekarang
berubah menjadi nyaring dan seperti suara wanita muda.
Phang Khai tertawa. "Ah, tidak, sama sekali tidak, Nona. Hanya aku mau menyatakan bahwa jika menyamar
malah lebih berbahaya dan mencurigakan karena tidak sewajarnya. Bentuk dan suara dapat disamar, akan
tetapi bagaimana dengan warna dan sinar mata? Sudahlah, andai kata anjing-anjing Mongol itu mengetahui
kedatangan kami, apa sih yang kami takuti? Paling-paling kalau tidak bisa membasmi mereka, kita yang akan
kehilangan nyawa! Bukankah sudah lama kita menyerahkan nyawa kita yang tak berharga ini kepada tanah air
dan bangsa? Ha-ha-ha!"
Tentara itu yang sejak tadi diam saja sekarang mencela, "Ucapan Phang-twako tak dapat kuterima. Memang
bagi seorang pejuang, mati hidupnya sudah tak berarti lagi asal demi perjuangan. Akan tetapi Phang-twako
harus ingat bahwa tugas kita dalam perjuangan ini agak berbeda dengan tugas pejuang yang bertempur
melawan musuh. Kalau kita sedang bertugas di bidang itu, tentu saja aku yang bodoh takkan ragu-ragu buat
mempertaruhkan nyawa. Akan tetapi dalam kedudukan kita sekarang yang bertugas sebagai mata-mata,
mengumpulkan keterangan dan dalam hal ini, mengabdi kepada Si-enghiong, tentu saja segala hal harus kita
lakukan secara rahasia agar supaya gerakan kita ini jangan sampai terbongkar. Seorang saja tertangkap maka
bisa membahayakan seluruh anggota gerakan. Bukankah celaka kalau begini?
Phang Khai dan Phang Tui memandang tajam kepada ‘tentara Mongol’ itu, lalu Phang Tui menjura. "Betul
sekali ucapan ini," katanya kagum.
Phang Khai tiba-tiba berkata, "Saudara, maafkan aku!"
Dan tahu-tahu dia telah mengirim serangan, tiga pukulan bertubi menyerang leher, dada dan perut orang
berpakaian tentara Mongol itu. Orang itu kaget juga karena dia maklum betapa lihainya petani tua ini. Akan
tetapi secepat kilat kedua tangannya diputar dalam lingkaran untuk menangkis, malah dia segera dapat
mencengkeram pergelangan tangan kanan Phang Khai sambil berseru, "Phang-twako harap jangan mainmain!"
Phang Khai menarik tangannya sambil tertawa bergelak. "Aha! Kiranya Bouw-enghiong yang menyamar
sebagai tentara. Aduh, penyamaranmu benar-benar hebat, tentu dapat mengelabui musuh!"
Orang itu pun tertawa. Memang dia adalah Bouw Hin jago Bi-nam yang berjuluk Kang-jiu (Tangan Baja).
Kiranya tadi Phang Khai sengaja menyerangnya untuk memancing agar ilmunya Kang-jiauw-ciang (Tangan
Cakar Baja) tadi dikeluarkan. Segera Phang Khai bisa mengenal siapa sebetulnya teman seperjuangan yang
menyamar sebagai tentara musuh ini.
"Bagus, Phang-twako memang cerdik”, kata Bouw Hin sambil tertawa. "Tapi Phang-twako tentu belum
mengenal dia ini.” Ia menuding kepada pengemis tadi. ”Biarlah kuperkenalkan dia kepada ji-wi Phang-twako.
Dia ini adalah she Lim."
"Aha, bukankah Lim Seng yang berjuluk Kim-mouw-sai (Singa Bulu Emas) dan Kwi-bun?" kata Phang Tui.
Pengemis itu berdiri dan menjura. “Ji-wi Phang-enghiong benar-benar bermata tajam."
dunia-kangouw.blogspot.com
Nona yang menyamar sebagai seorang nenek itu berkata, "Maaf, aku sendiri tidak boleh memperkenalkan diri.
Tidak tahu ada urusan penting apakah yang hendak ji-wi sampaikan kepada Si-enghiong?"
"Hemm, urusan ini penting sekali. Kami harus berjumpa sendiri dengan Sienghiong," kata Phang Khai.
‘Nenek’ itu mengerutkan kening, lalu menggeleng kepalanya. "Phang-lopek apakah tidak pernah mendengar
dari teman-teman bahwa adalah hal yang amat tidak mungkin orang menemui Si-enghiong? Si-enghiong,
seperti juga Sam-enghiong (pendekar ke tiga) adalah tokoh-tokoh rahasia yang tak boleh bertemu teman
seperjuangan di kota raja ini, karena hal itu sangat berbahaya. Sekali saja musuh membongkar rahasia pribadi
Sam-enghiong dan Si-enghiong, akan rusak binasalah semua usaha kita yang berjuang di bawah tanah di kota
raja ini. Segala kepentingan harap Lopek beri tahukan aku saja karena akulah satu-satunya orang yang dapat
menghubungi Si-enghiong."
Phang Khai menghela napas. "Aku sudah mendengar akan hal itu, tapi ini adalah urusan yang amat penting."
la tampak ragu-ragu.
Melihat keraguan ini, Kang-jiu Bouw Hin yang berpakaian tentara Mongol itu berkata, nada suaranya tegas,
"Siapa pun juga jangan harap dapat bertemu dengan Si-enghiong, malah aku sendiri pun belum pernah
bertemu dengannya, apa lagi melihatnya atau mengenal siapa dia. Kalau ada urusan yang menyangkut
kepentingan perjuangan, lekas ji-wi Twako memberi tahu kepada Nyonya Liong ini. Kalau berkeras hendak
menemui Si-enghiong, lebih baik berita itu kalian bawa pergi lagi saja." Biar pun kata-katanya keras, akan
tetapi lucu juga nenek yang nyata-nyata adalah penyamaran seorang nona muda ini disebut sebagai ‘nyonya
Liong’.
Phang Khai menjadi merah mukanya. "Maaf kalau tadi aku ragu-ragu. Sesungguhnya ada banyak hal yang
akan kusampaikan. Pertama-tama adalah mengenai pertemuan antara Hoa-san-pai dan Kun-lun-pai di puncak
Hoa-san. Kami berdua menghadiri pertemuan itu dan..."
Nyonya Liong tersenyum, aneh kalau tersenyum karena seorang nenek setua itu giginya putih berjajar rapi.
"Phang lopek tidak perlu menceritakan hal ini. Ketahuilah bahwa Si-enghiong sendiri juga hadir dalam
pertemuan itu."
Kedua orang saudara Phang ini tertegun dan saling pandang. Mereka adalah dua orang petani yang ketika
dalam pertemuan itu mendapat tempat sebagai tamu kehormatan, akan tetapi tidak melihat adanya orang yang
patut menjadi Si-enghiong, pemimpin ke empat dari pasukan mata-mata di kota raja. Mungkin dia bersembunyi
di antara rombongan para tamu yang tidak penting sehingga sukar dikenal, pikir mereka.
"Ahh, kalau begitu hal itu tak perlu kami kemukakan lagi," kata Phang Khai.
"Sekarang soal ke dua. Aku ingin memberi tahukan mengenai kedudukan teman-teman seperjuangan kita.
Saudara-saudara kita Su Souw Hwee beserta Tan Yu Liang sekarang telah mendapat kemajuan dan
memperluas gerakan pemberontakan di sepanjang Sungai Huang-ho. Thio Si Cen sudah menyeberang Sungai
Hui dan pasukan saudara Tan Hok sudah mendekati kota raja dari pergerakannya di sepanjang Sungai Yangce.
Akan tetapi, aku mendapat berita bahwa gerakan Pek-lian-pai di sebelah barat kota raja mendapat pukulan
hebat dari bala tentara musuh dan membutuhkan bantuan segera."
Nyonya Liong mengangguk-angguk. "Kami sudah mengetahui sebagian besar beritamu. Gerakan Pek-lian-pai
di sebelah barat kota raja memang sengaja dijadikan umpan agar musuh mengerahkan banyak tenaga ke
sebelah sana. Nanti kalau sudah tiba saatnya, pasukan-pasukan kita dari selatan dan timur akan menyerbu."
Phang Khai kagum sekali. "Ahh, sama sekali tidak pernah kusangka bahwa kalian dapat bekerja sesempurna
itu. Benar-benar menggembirakan sekali. Akhirnya, harap kau dapat sampaikan kepada Si-enghiong bahwa
kedatangan kami berdua ini selain menyampaikan berita dan menerima tugas baru, juga bahwa kami
mengambil keputusan untuk mencari tahu tempat tinggal Kwee Sin murid Kun-lun-pai yang menyeleweng itu.
Harap saudara-saudara memberi tahu di mana kami dapat menemukannya. Kami percaya bahwa Sam-wi
(saudara bertiga) sudah pasti akan dapat memberi petunjuk."
dunia-kangouw.blogspot.com
Nyonya Liong tersenyum sambil memandang tajam. "Tentu saja kami tahu di mana murid Kun-lun-pai itu yang
sekarang sudah menjadi pembantu pemerintah dan bekerja sama dengan orang-orang Ngo-lian-kauw. Akan
tetapi, pada saat seperti sekarang ini, di mana tenaga semua rakyat dibutuhkan untuk perjuangan menghalau
penjajah, bagaimana Ji-wi masih ada kesempatan untuk mencampuri segala macam urusan pribadi?
"Keliru... keliru pendapat seperti itu!" Phang Tui yang sejak tadi membiarkan kakaknya bicara mewakili mereka
berdua, sekarang berkata dengan sungguh-sungguh.
"Hoa-san-pai dan Kun-lun-pai bertengkar terus sampai-sampai tidak ada waktu membantu kita. Semua ini
gara-gara si Kwee Sin seorang. Kami berdua berpendapat bahwa apa bila kami dapat menangkap Kwee Sin,
mati atau hidup dan membawanya ke Hoa-san, tentu pihak Hoa-san mau pun pihak Kun-lun akan menghabisi
permusuhan mereka dan apa bila dua golongan itu sudah berdamai lalu suka membantu kita, bukankah
pekerjaan ini juga merupakan pekerjaan yang amat berguna bagi perjuangan?"
Nyonya Liong mengangguk-angguk, sedangkan kedua orang temannya juga menyatakan kebenaran ucapan
Phang Tui. “Jadi ji-wi berkeras hendak menangkap Kwee Sin terlebih dulu?"
Ketika dua orang kakek petani itu mengangguk, Nyonya Liong lalu berkata, "Baiklah kalau begitu. Tempat
tinggal Kwee Sin adalah di gedung ke lima sebelah barat perempatan jembatan Naga, rumah yang di atasnya
ada hiasan ukiran naga. Harap jiwi berhati-hati karena selalu dia bersama dengan ketua Ngo-lian-kauw yang
berkepandaian tinggi. Ji-wi kerjakan dulu maksud hati ji-wi, setelah itu baru kita mengadakan pertemuan lagi,
tiga hari kemudian pada waktu seperti ini dan bertempat di sini pula, dan pada waktu itulah saya akan
menyampaikan tugas-tugas baru bagi ji-wi. Nah, selamat berpisah."
Mereka lalu berpisah dan keluar dari rumah secara diam-diam. Hanya nyonya Liong dan Kang-jiu Bouw Hin
yang berpakaian tentara itu keluar secara biasa saja, dari pintu depan tanpa ada yang menaruh curiga.
Ketika dua orang saudara Phang itu melompat ke dalam gelap keluar dari tembok yang mengeliingi rumah,
mereka melihat bayangan berkelebat di dekat mereka. Mereka kaget, akan tetapi bayangan itu berbisik,
"Selamat sampai bertemu kembali, ji-wi Phang-twako."
Ternyata bayangan itu adalah si pengemis tadi, yaitu Kim-mouw-sai Lim Seng yang cepat meloncat ke kiri dan
menghilang di dalam gelap. Dua orang saudara Phang itu merasa sangat kagum karena ginkang dari orang
she Lim itu ternyata hebat juga…..
********************
Lima orang rahasia yang berkumpul dan mengadakan pertemuan rahasia di malam hari itu sama sekali tidak
tahu bahwa semenjak tadi gerak-gerik mereka telah diintai oleh Beng San. Pemuda ini dalam usahanya untuk
mencari Kwee Sin, telah pula sampai di kota raja dan kebetulan sekali bermalam di rumah penginapan
sederhana itu.
Malam tadi secara kebetulan dia yang berada di kamarnya mendengar desir angin yang hanya terdengar oleh
seorang yang memiliki Iweekang setinggi dia. Dia terkejut dan tahu bahwa ada orang mempergunakan ilmu
ginkang bergerak di luar rumah, maka cepat dia keluar dari kamarnya secara diam-diam dan melihat ada dua
bayangan berkelebat, yaitu bayangan kedua orang saudara Phang. Demikianlah, secara diam-diam dia
mengintai dan mendengar segala percakapan yang dilakukan oleh lima orang itu.
Hatinya kagum bukan main ketika mendapat kenyataan bahwa lima orang itu adalah pejuang-pejuang, orangorang
gagah seperti Tan Hok yang rela mengorbankan nyawanya demi perjuangan bangsa untuk menghalau
penjajah. Akan tetapi, lebih girang lagi hatinya karena tanpa sengaja dia mendapat petunjuk di mana dia bisa
mencari Kwee Sin.
Malam berikutnya Beng San sudah mengikuti lagi perjalanan dua orang saudara Phang yang menuju ke rumah
gedung Kwee Sin seperti yang telah ditunjuk oleh nyonya Liong pada kemarin malam. la mengenal dua orang
ini sebagai tamu terhormat di Hoa-san-pai, maka diam-diam dia tidak mau mengganggu mereka.
dunia-kangouw.blogspot.com
"Betapa pun juga, mengajak Kwee Sin datang ke Hoa-san-pai adalah tugasku," pikirnya. "Aku yang sudah
berjanji dan akulah yang harus memenuhi janji itu."
Dengan ginkang mereka yang sudah tinggi, dua orang saudara Phang itu dapat memasuki halaman rumah
gedung itu dengan mudah. Mereka melompati pagar tembok dan merasa girang karena ternyata rumah
gedung ini tidak ada yang menjaga.
Di lain saat mereka sudah mengintai ke sebuah kamar di mana duduk seorang laki-laki yang tampan dan
gagah, berusia tiga puluh tahun lebih. Wajah yang tampan itu angker dan agung, sedang menulis sesuatu di
atas meja.
Tak jauh dari situ duduk pula seorang perempuan cantik berpakaian mewah, memandang kepada lelaki itu
sambil tersenyum dan mengebut-ngebut tubuhnya dengan sebuah kipas. Laki-laki itu bukan lain adalah Pek-jiu
Kwee Sin, orang termuda dari Kun-lun Sam-hengte, jago muda Kun-lun-pai yang telah mengakibatkan
keributan antara Hoa-san dan Kun-lun. Ada pun perempuan cantik yang pesolek dan bersikap genit itu bukan
lain adalah Ngo-lian Kauwcu (ketua Ngo-Lian kauw) yang berjuluk Kim-thouw Thian li (Dewi Kepala Emas) dan
yang oleh Kwee Sin dikenal dengan nama Coa Kim Li, gadis yang sudah merayu dan merobohkan hatinya.
”Sin-ko (kanda Sin),” Kim-thouw Thian-li berkata dengan suara merdu, "malam ini kau harus menemani aku. Di
rumah amat sunyi, jangan kau sibuk dengan pekerjaanmu. Tak usah kau membanting tulang, para pembesar
sampai Hong-siang (kaisar) sendiri cukup maklum betapa besarnya jasamu kepada pemerintah."
"Aku banyak pekerjaan, Li-moi (adik Li). Biarlah besok siang kalau aku pulang dari kantor, aku akan
mengunjungi rumahmu. Kau adalah seorang ketua perkumpulan besar seperti Ngo-lian-kauw, bagaimana bisa
kesepian?" Kwee Sin tertawa dan menunda tulisannya.
"Biar pun ada seribu orang teman, mana bisa dibandingkan dengan kau seorang?" Coa Kim Li berkata genit
lalu menarik bangkunya mendekat.
Pintu kamar diketok dari luar. Cepat-cepat Kim-thouw Thian-li menjauhkan bangkunya lagi. Ketika pelayan
masuk, Kwee Sin sudah bersikap kereng seperti tadi.
"Kwee-ciangkun, di luar ada Lee-siocia (nona Lee) yang memohon menghadap Ciangkun (Panglima)," pelayan
itu memberi laporan dengan sikap hormat dan tanpa mengangkat muka.
"Baik, minta nona Lee masuk ke ruangan ini," jawab Kwee Sin.
Pelayan itu memberi hormat dan mengundurkan diri keluar dari ruangan.
"Huh, Sin-ko, awas kau kalau di belakangku kau berani main gila dengan nona muda itu!" tiba-tiba Kim-thouw
Thian-li berkata lirih, matanya bersinar penuh cemburu.
Kwee Sin tersenyum pahit. "Kim Li-moi apa-apaan cemburu ini? Kau tahu aku bukan... bukan mata keranjang
dan kau tahu pula bahwa Lee-siocia adalah orang yang mendapat kepercayaan semua panglima di kota raja,
juga lihai ilmu silatnya. Pertemuanku dengan dia tentu hanya berhubungan dengan pekerjaan, mengapa kau
malah menyangka yang bukan-bukan? Dia datang, kau pun di sini. Boleh kau saksikan sendiri apa yang
hendak dia sampaikan kepadaku!"
"Huh, biar dia lihai, siapa takut padanya? Dan siapa sudi bertemu dengannya? Melihat mukanya yang muda,
jangan-jangan timbul seleraku untuk mencakar mukanya! Aku akan bersembunyi di belakang pintu. Awas kau,
sekali saja kau dan dia main gila, kalian akan kubunuh!”
Dengan gerakan cepat sekali tubuhnya berkelebat dan menghilang di balik pintu samping. Kwee Sin menarik
napas lega. Wajahnya nampak girang dan tersenyum pada saat pintu depan terbuka dan seorang nona
berpakaian kuning berjalan masuk.
"Nona Lee, kau membawa kabar penting apakah?" Kwee Sin menyambut kedatangan nona ini dengan suara
nyaring gembira. "Apakah kali ini kau diutus oleh Pangeran Souw? Ataukah Tan-ciangkun yang mengutusmu?"
dunia-kangouw.blogspot.com
Nona berpakaian kuning itu sangat dikenal di kalangan atas kota raja. Dia bernama Lee Giok, puteri dari
seorang bangsawan di kota raja. Usianya baru sembilan belas tahun. Wajahnya yang cantik itu nampak muram
dan seperti diliputi kesedihan, matanya tajam dan gagang pedang menonjol di pinggangnya. Biar pun ia masih
muda, namun ia sudah terkenal sebagai seorang yang amat berjasa dalam menindas kaum pemberontak
berkat ilmu silatnya yang tinggi dan otaknya yang cemerlang.
Menghadapi pertanyaan Kwee Sin, nona itu menghela napas, memandang kepada Kwee Sin dengan matanya
yang tajam, lalu katanya perlahan, "Kwee ciangkun, kalau memang Kim-thouw Thian-li sudah berada di sini,
mengapa ia malah bersembunyi dan mengintai? Kuharap Ciangkun suka mempersilakan dia keluar karena
kedatanganku ini toh bukan hendak mengadakan pertemuan yang bukan-bukan!"
Tentu saja Kim-thouw Thian-li merasa kaget sekali. Akan tetapi dia pun seorang wanita yang cerdik. Dengan
tenang ia muncul dari balik pintu dan tertawa.
"Hebat benar kecerdikan nona Lee! Tadi memang saudara Kwee dan aku sengaja hendak menguji
kecerdikanmu yang sudah lama kudengar dibicarakan orang, kiranya benar-benar kau cerdik. Hanya aku yang
tolol, tidak ingat bahwa kepergianku dari sini meninggalkan ganda harum. Ehm, benar lihai!"
Diam-diam nona itu, Lee Giok terkejut juga. la dipuji cerdik, namun ketua Ngo-lian-kauw itu dengan sendirinya
telah pula membuktikan bahwa otaknya juga tidak kalah cerdiknya. Memang tepat sekali kata-katanya tadi, dia
dapat mengetahui bahwa Kim-thouw Thian-li baru saja meninggalkan ruangan itu karena tercium olehnya
ganda harum seperti yang biasa ia cium kalau ia bertemu dengan ketua Ngo-lian-kauw itu.
Setiap wanita sudah tentu memiliki kesukaan masing-masing tentang wangi-wangian yang dipakainya dan
wangi-wangian yang dipakai oleh Kim-thouw Thian-li mempunyai aroma yang khas.
"Kwee-ciangkun, kedatanganku tak lain hanya untuk menyampaikan peringatan padamu. Ada berita sampai
kepadaku bahwa pada waktu ini di kota raja datang dua orang saudara Phang dari Hun-lam yang sengaja
mencari Kwee-ciangkun dan hendak memaksa supaya Kwee-ciangkun, mati atau hidup, agar ikut mereka
pergi ke Hoa-san."
Berubah wajah Kwee Sin mendengar berita ini. "Nona, apakah kau maksudkan Phang Khai dan Phang Tui
Sepasang Naga dari Hun-lam?" katanya setengah berbisik.
Nona itu mengangguk. Wajahnya tampak makin murung, kemudian ia membalikkan tubuh dan berkata,
"Tugasku sudah selesai, Ciangkun. Aku tak dapat lama-lama di sini, khawatir kalau-kalau membuat orang lain
mendongkol saja."
Tanpa melirik kepada Kim-thouw Thian-li yang disindirnya itu, nona ini segera keluar dari ruangan itu dengan
langkah ringan dan cepat sekali.
"Hi-hi-hi, baru mendengar ada dua orang tua bangka dari Hun-lam datang saja, kau sudah kelihatan gelisah,"
kata Kim-thouw Thian-li.
Li Moi, jangan kau anggap ringan dua orang kakek itu. Nama besar Phang-hengte (kakak beradik Phang) dari
Hun-lam sudah lama aku dengar. Aku memang tidak takut, hanya sebab-sebab mengapa mereka hendak
menangkapku inilah yang menggelisahkan hati."
"Sin-ko, mengapa kau begini bodoh? Mudah sekali diduga. Mereka tentunya bergabung dengan para
pemberontak maka hendak memusuhimu, atau mungkin sekali mereka itu disuruh oleh perempuan she Liem
yang tak tahu malu itu untuk...”
"Li-moi, kau berjanji tidak akan menyebut-nyebut namanya!" Tiba-tiba Kwee Sin berkata, jidatnya berkerut tak
senang.
"Hi-hi-hi, sudahlah. Hanya dua ekor anjing tua dari Hun-lam itu untuk apa diributkan? Biar saja mereka datang,
masih ada aku di sini, mereka bisa berbuat apa terhadap dirimu?"
dunia-kangouw.blogspot.com
Phang Khai dan Phang Tui adalah dua orang kakek ternama di Hun-lam. Mendengar mereka dimaki anjinganjing
tua oleh wanita itu, tentu saja mereka tidak dapat menahan kemarahan mereka lagi. Serentak mereka
meloncat dan menerobos masuk ke dalam ruangan itu.
"Kwee Sin, kami dua saudara Phang dari Hun-lam datang ke sini untuk menjemput kau ke Hoa-san!" kata
Phang Khai sambil melirik penuh kemarahan ke arah Kim-thouw Thian-li yang sudah berdiri dengan alis
berkerut marah.
Kwee Sin juga berdiri dan menjawab, "Ji-wi Phang-enghiong, dengan maksud apakah ji-wi hendak mengajak
siauwte pergi ke sana?"
"Murid Kun-lun-pai yang murtad. Kau yang telah menjadi biang keladi permusuhan antara Hoa-san-pai dan
Kun-lun-pai. Kau harus mempertanggung jawabkan semua perbuatanmu terhadap Hoa-san-pai!" kata Phang
Tui tak sabar lagi.
Kwee Sin menghela napas. “Ji-wi Phang-enghiong, urusan itu adalah urusan pribadiku, harap ji-wi sebagai
orang luar jangan mencampurinya. Mengingat ji-wi adalah tokoh-tokoh terkemuka dari Hun-lam, maka siauwte
persilakan ji-wi pergi dengan baik-baik."
"Setan, siapa takut kepadamu? Kami sudah bersumpah untuk mebawamu ke Hoa-san, hidup atau mati. Tui-te
(adik Tui), kau tangkap dia, biar aku menjaga siluman ini!"
Phang Tui maju dan menubruk Kwee Sin dengan Ilmu Kim-na-jiu-hoat. Kedua lengannya bergerak-gerak, yang
kanan mencengkeram ke arah pundak kiri sedangkan tangan kirinya menotok jalan darah di leher. Terpaksa
Kwee Sin cepat menggeser kaki ke belakang dan memutar lengan untuk menangkis. Tentu saja jago muda
Kun-lun-pai ini tidak mau begitu saja membiarkan dirinya ditangkap.
Sambil mengeluarkan suara ketawa mengejek Kim-thonw Thian-li menggerakkan kedua tangannya dan tangan
kanannya sudah memegang sebuah golok tipis kecil yang sangat indah bentuk dan gagangnya, sedangkan
tangan kirinya sudah meloloskan sehelai sapu tangan merah yang panjang.
Phang Khai maklum bahwa menghadapi wanita ketua Ngo-lian-pai ini tak perlu dia berlaku sungkan lagi. Maka
sekali dia menggereng, dia telah melakukan serangan dengan pedang di tangan.
Melihat sinar pedang yang menyambarnya dari tiga jurusan, diam-diam Kim-thouw Thian-li kaget juga dan
maklum bahwa ilmu pedang lawannya ini sama sekali tak boleh dipandang ringan. Cepat dia menangkis
dengan gojoknya.
"Traaanggg...!"
Phang Khai lantas terdorong mundur satu langkah, sedangkan Kim-thouw Thian-li merasa tangannya tergetar.
Bukan main herannya Phang Khai. Seorang wanita yang bertubuh lemah gemulai dan halus itu kenapa bisa
memiliki tenaga Yang-kang demikian besarnya? Dia sendiri adalah seorang ahli tenaga Yang, ehhh, siapa kira
sekarang dia menghadapi seorang wanita yang lebih besar tenaganya. la berlaku hati-hati dan mengerahkan
seluruh ilmu kepandaiannya untuk mendesak.
Ilmu pedang dari dua orang saudara Phang itu adalah ilmu pedang keturunan warisan nenek moyang mereka.
Memang asalnya satu sumber dengan ilmu pedang Hoa-san-pai, hanya sudah banyak perubahan. Oleh
karena itulah maka dalam hal urusan Hoa-san-pai, dua orang kakek ini tidak mau melupakan sumbernya dan
ingin membantu Hoa-san-pai.
Seperti juga ilmu pedang Hoa-san-pai, ilmu pedang Phang Khai amat indah dan cepat, hanya bedanya apa
bila ilmu pedang Hoa-san-pai mengutamakan tenaga Im, sebaliknya ilmu pedang keluarga Phang ini
mengutamakan tenaga Yang.
Ketua Ngo-lian-pai itu, Kim-thouw Thian-yi, adalah murid dari Hek-hwa Kuibo, tentu saja kepandaiannya hebat.
Sayangnya, pada tahun-tahun terakhir ini Kim-thouw Thian-li telah hidup dalam kesenangan, selalu
dunia-kangouw.blogspot.com
menurutkan nafsu untuk mengejar kesenangan duniawi, sehingga dia malas untuk berlatih dan memperkuat
tenaga dalamnya.
Sekarang menghadapi seorang tokoh ilmu pedang seperti Phang Khai, biar pun tak akan kalah dalam waktu
singkat, juga amat sukar untuk mencapai kemenangan. Pertempuran ini pun berlangsung makin hebat di
ruangan itu.
Kwee Sin juga sudah mencabut pedangnya ketika Phang Tui yang merasa penasaran itu menyerangnya
dengan pedang juga. Tadinya Phang Tui hendak menangkap Kwee Sin hidup-hidup, maka dia bertangan
kosong dan menggunakan ilmu yang amat dia andalkan, yaitu ilmu tangkap Kim-na-jiu. Siapa kira, Kwee Sin
selalu mampu membuyarkan ilmu ini dengan pukulan-pukulan Pek-lek-jiu, semacam ilmu pukulan Kun-lun-pai
yang dahsyat sekali. Desakan-desakan ilmu tangkap itu selalu didesak mundur oleh pukulan Pek-lek-jiu,
bahkan dia sendiri yang terancam bahaya, maka dia lalu mempergunakan pedang. Kwee Sin juga seorang ahli
pedang Kun-lun-pai, maka pertempuran ini pun hebat sekali.
Tiba-tiba Kim-thouw Thian-li mengeluarkan suara bersuit panjang sekali.
"Li-moi, kau jangan mencelakai mereka..." Kwee Sin menegur lalu berkata nyaring, "Ji-wi Phang-enghiong,
harap sudahi pertempuran ini dan pergilah ji-wi (kalian) dengan aman!"
Akan tetapi dua orang jago kawakan seperti dua saudara Phang itu, sekali bekerja mana mau berhenti
setengah jalan? Kini mereka malah mendesak semakin hebat dalam usaha mengalahkan musuh dengan
segera dan dapat membawa Kwee Sin dari situ, baik dalam keadaan hidup mau pun sudah mati! Tidak seperti
Kwee Sin, mereka tidak tahu apa artinya suitan yang dikeluarkan oleh Kim-thouw Thian-li tadi.
Kiranya suitan itu adalah tanda rahasia bagi ketua Ngo-lian-kauw untuk memanggil anak buahnya. Di mana
ketuanya berada di situ pasti berkeliaran banyak para pembantunya yang setia. Maka pada waktu itu, belasan
orang tokoh Ngo-lian-kauw memang sudah berkeliaran di sekitar rumah gedung tempat tinggal Kwee Sin,
bersiap untuk menghadap sewaktu-waktu ketua mereka memanggil.
Akan tetapi sekali ini, walau pun Kini-thouw Thian-li bersuit sampai tiga empat kali, tidak ada seorang pun anak
buahnya yang muncul. la menjadi marah bukan main akan tetapi juga gelisah. Celaka, pikirnya, kiranya dua
orang kakek itu datang dengan banyak teman dan agaknya anak buahnya telah dirobohkan di luar!
Cepat dia mengeluarkan sebuah sapu tangan yang beraneka warna, sapu tangan sutera yang berbau harum
sekali. Pada saat itu, pedang Phang Khai sudah menyambar cepat ke arah lehernya. Kim-thouw Thian-li
membuang tubuh ke kiri karena tak sempat menangkis lagi sehingga pedang meluncur di atas pundaknya.
Tangan kirinya yang mencabut keluar sapu tangan tadi bergerak cepat, serangkum bau yang amat harum
menyambar.
Phang Khai mencium ganda yang harum luar biasa. Seketika kepalanya terasa pening, pandang matanya
berkunang.
"Celaka...!"
Dia berseru dan berusaha mengerahkan lweekang-nya untuk melawan hawa beracun itu. Akan tetapi sia-sia
saja. Tubuhnya limbung dan kakek gagah perkasa ini roboh terguling dengan pedang masih di tangan!
Kim-thouw Thian-li tidak berhenti sampai di situ saja. Cepat dia melompat ke dekat Phang Tui yang masih
saling gempur dengan Kwee Sin sambil mengebutkan sapu tangannya. Phang Tui juga tidak dapat menahan,
roboh terguling dan pingsan.
Kim-thouw Thian-li sudah menggerakkan pedang hendak membacok mati dua orang itu, namun Kwee Sin
cepat berseru, "Jangan bunuh mereka!"
Kiranya Kwee Sin tidak terpengaruh oleh racun itu, mengapa? Hal ini tidak aneh. Sudah bertahun-tahun Kwee
Sin berhubungan dengan Kim-thouw Thian-li, tentu saja dia sudah banyak pula mengenal senjata-senjata
rahasia wanita ini dan juga tahu bagaimana cara menolaknya.
dunia-kangouw.blogspot.com
Kim-thouw Thian-li amat marah. "Dua cacing tua ini datang hendak membunuhmu, masa sekarang kau
melarangku membunuh mereka?" Pedangnya masih tetap diayun hendak dibacokkan.
Pada saat itu dari luar menyambar angin keras. Dua sinar hitam melesat cepat mengenai dua buah lampu di
dalam ruangan itu. Seketika penerangan menjadi padam dan keadaan di dalam ruangan itu menjadi gelap
gulita.
"Ehh, apa ini...?" Kwee Sin berseru kaget.
"Aduh...!"
Kim-thouw Thian-li mengeluh dan roboh tanpa dapat bergerak lagi. Ternyata hiat-to (jalan darah) di tubuhnya
sudah kena ditotok orang dalam kegelapan itu dan ia pun roboh tanpa bergerak lagi.
Kwee Sin merasa tangannya dipegang orang. Cepat dia mengibaskan pegangan itu, tapi mendadak kedua
tangannya lemas tak bertenaga lagi. la pun sudah terkena totokan orang yang amat lihai itu, kemudian dia
merasa tubuhnya melayang dan berada di atas pundak orang yang memanggulnya.
Biar pun tubuhnya tidak mampu bergerak, pikiran Kwee Sin masih terang dan tahulah dia bahwa dia telah
dibawa lari orang, sudah diculik oleh seorang yang berkepandaian tinggi. Berkali-kali orang yang
memanggulnya itu meloncat tinggi, melalui genteng rumah orang dan akhirnya melompati tembok kota raja.
Orang ini terus lari keluar dari kota raja dengan kecepatan yang mengagumkan.
Ada pun Phang Khai serta Phang Tui yang tadinya roboh pingsan dengan tangan masih mencengkeram
gagang pedang masing-masing, merasa ada hawa dingin menyambar ke muka mereka. Phang Khai lebih dulu
siuman dari pingsannya. la merasa terheran-heran ketika mendapatkan dirinya telah berada di kebun belakang
kelenteng tua di mana dia dan adiknya bersembunyi selama bertugas di kota raja.
Dilihatnya Phang Tui juga menggeletak di rumput. Pedang mereka terletak di situ pula. Cepat Phang Khai
menolong adiknya dan mereka berdua tiada habisnya terheran-heran bagaimana mereka yang tadinya roboh
oleh hawa beracun Kim-thouw Thian-li sekarang tahu-tahu sudah berada di kebun kelenteng dalam keadaan
baik-baik saja.
"Ahh, tentu ada orang menolong kita," kata Phang Khai kagum.
"Twa-ko, jangan-jangan Kwee Sin yang menolong kita! Beberapa kali dia telah mencegah Kim-thouw Thian-li
membunuh kita. Kiranya orang muda itu masih memiliki watak setia kawan terhadap orang kang-ouw, tapi
kenapa dia terjerumus ke dalam lumpur kehinaan membantu pemerintah dan bersekongkol dengan iblis
macam ketua Ngo-lian-kauw itu?"
Phang Khai menggeleng kepala. "Tak mungkin jika Kwee Sin yang menolong kita, malah dalam hal ini terjadi
sesuatu yang aneh. Kalau Kwee Sin yang menolong kita, bagaimana dia bisa tahu bahwa kita bermalam di
tempat ini? Padahal tempat kita ini adalah rahasia kita sendiri. Selain itu tidakkah kau lihat betapa Kwee Sin
sangat takut kepada Kim-thouw Thian-li? Mana bisa dia menolong kita?"
"Memang amat aneh." Phang Tui mengangguk-angguk mengerutkan kening. "Akan tetapi, Twako, yang
membikin aku hampir mati penasaran adalah gadis yang bernama nona Lee itu. Kau tentu tahu pula apa yang
kumaksud, bukan?"
"Tentu saja. Dia boleh menyamar dengan bentuk bagaimana pun juga, tapi mana bisa dia mengubah
matanya? Nona Lee adalah si dia itulah. Hemmm, dia telah mengkhianati kita, memberi tahu kepada Kwee Sin
mengenai maksud kita. Orang semacam itu mana bisa dijadikan kepercayaan Si-enghiong? Terang berbahaya
sekali. Dengan pengkhianatannya ini jelas membuktikan bahwa dia adalah seorang pengkhianat, seorang
antek Mongol tak bedanya seperti Kwee Sin. Biarlah kau lihat saja sikapku besok lusa malam pada saat kita
bertemu dengan mereka."
Tiba-tiba Phang Tui yang tadi termenung menepuk pahanya. "Waah, kenapa aku sampai lupa?"
dunia-kangouw.blogspot.com
"Apa maksudmu?" kakaknya bertanya.
"Twako, terang bahwa tadi ada orang pandai menolong kita sehingga dalam keadaan pingsan di ruangan
gedung Kwee Sin kita bisa terbebas dari kematian. Siapakah kau kira yang telah menolong kita tadi?"
"Mana aku tahu? Aku pun pingsan seperti kau."
"Twako, sudah lama kita mendengar bahwa dua orang pemimpin pejuang yang bertugas di kota raja, yaitu Jienghiong
(Pendekar ke dua) dan Si-enghiong (Pendekar ke empat) memiliki ilmu yang amat tinggi. Apakah
bukan mereka yang telah menolong?"
"Ahhh, benar juga kata-katamu ini. Yang menolong kita tentulah orang yang mengerti keadaan dan tugas kita.
Siapa pula kalau bukan mereka? Tapi yang manakah di antara kedua enghiong itu? Dan siapa pula
sebenarnya mereka ini yang selalu bekerja penuh rahasia?"
Dua orang kakak beradik itu berhadapan dengan sebuah rahasia dan betapa pun mereka memutar otak
menduga-duga, tetap mereka tidak dapat memecahkannya…..
********************
Sesungguhnya dugaan-dugaan mereka bahwa yang menolong mereka adalah dua orang rahasia dari
pimpinan pejuang, adalah keliru. Penolong mereka pada waktu itu bukan lain adalah Beng San sendiri.
Seperti diketahui, pemuda ini juga turut mengintai di ruangan itu dan melihat semua apa yang telah terjadi.
Diam-diam Beng San siap sedia untuk membantu kedua orang saudara Phang itu. Akan tetapi melihat bahwa
keduanya cukup tangguh untuk melawan Kwee Sln dan Kim-thouw Thian-li, dia merasa tidak enak juga untuk
membantu.
Ketika Kim-thouw Thian-li bersuit memanggil anak buahnya, Beng San cepat berkelebat menghadang. Dua
belas orang anak buah Ngo-lian-kauw itu semua dia robohkan dengan totokannya yang lihai sebelum orangorang
itu sempat melihatnya!
Ketika dia kembali mengintai, Beng San terkejut melihat dua orang saudara Phang sudah roboh pingsan.
Cepat dia mengambil dua buah batu kerikil dan disambitkan ke arah lampu penerangan sehingga padam.
Di dalam geiap itulah Beng San cepat melompat masuk, merobohkan Kim-thouw Thian-li dan Kwee Sin,
kemudian sekaligus dia membawa keluar tubuh Kwee Sin dan dua orang saudara Phang! Kepandaian pemuda
ini sudah demikian tingginya, tenaganya luar biasa besarnya sehingga dengan mudah saja dia dapat
membawa tubuh ketiga orang itu sambil berlari-lari dan berlompatan.
Setelah meletakkan tubuh dua orang saudara Phang ke atas rumput di kebun kelenteng, Beng San kemudian
cepat membawa Kwee Sin keluar dari kota raja dengan kecepatan luar biasa. Setengah malam suntuk dia
berlari terus dengan cepat, tidak berani berhenti karena dia maklum bahwa kehilangan Kwee Sin pasti akan
menggegerkan kota raja dan sudah pasti Kim-thouw Thian-li akan mengerahkan anak buahnya melakukan
pengejaran.
Setelah malam berganti pagi dia sudah berada jauh sekali dari kota raja dan barulah dia berhenti dalam
sebuah hutan. Kwee Sin diturunkan dan segera dibebaskan dari totokan. Tetapi Kwee Sin merasa tubuhnya
lemas dan belum kuat berdiri.
Dengan amat terheran-heran Kwee Sin melihat bahwa orang yang menculiknya hanyalah seorang pemuda
yang berpakaian seperti seorang pelajar. Bukan main kagum dan heran hatinya, apa lagi ketika pemuda itu
menjura di depannya sambil berkata.
"Harap Kwee-enghiong suka memaafkan aku yang secara paksa sudah membawa kau keluar dari kota raja."
"Siapakah kau? Dan apa maksudmu membawaku ke tempat ini?"
dunia-kangouw.blogspot.com
Beng San tersenyum. "Agaknya Kwee-enghiong tidak akan mengenal aku, walau pun aku menyebutkan nama.
Aku membawa Kwee-enghiong keluar dari kota raja tidak lain dengan maksud membawamu ke Hoa-san-pai.
Ketahuilah bahwa hampir saja Hoa-san-pai dan Kun-lun-pai mengadakan pertempuran hebat di antara ketua
mereka, baiknya aku masih sempat mencegah mereka dan aku berjanji akan membawamu ke Hoa-san-pai.
Urusan permusuhan antara kedua partai itu semua adalah kau yang menjadi biang keladinya, maka apa bila
kau dapat mengaku terus terang tentang semua kejadian yang lalu, kukira permusuhan itu dapat dilenyapkan
dan akan ternyatalah bahwa sebetulnya bukan kau yang melakukan pembunuhan-pembunuhan terhadap
orang-orang Hoa-san-pai."
Kwee Sin makin terheran. "Bagaimana kau bisa tahu akan semua itu? Pihak Hoa-san-pai sudah yakin bahwa
aku yang membunuh ayah nona Liem, aku pula yang menyebabkan kematian dua orang dari Hoa-san Sie-eng,
mengapa kau bisa katakan bahwa bukan aku yang melakukan pembunuhan-pembunuhan?"
"Aku memiliki teman-teman di Pek-lian-pai dan dari mereka inilah aku sudah mendengar kejadian yang
sebenarnya."
"Ahh... jadi kau... kau ini juga seorang peju... eh, seorang pemberontak?" tanyanya gagap.
Beng San tersenyum mendengar kata-kata pejuang itu segera diganti pemberontak.
"Itulah kesalahanmu, Kwee-enghiong. Kau terpikat oleh Kim-thouw Thian-li dan jatuh di bawah pengaruhnya
sehingga kau membantu Kerajaan Mongol, memusuhi para pejuang yang kau anggap pemberontak. Sayang
sekali... sayang seorang gagah seperti kau dapat terjerumus sedemikian dalam. Aku bukan seorang anggota
Pek-lian-pai biar pun aku amat kagum akan perjuangan mereka. Aku melakukan penculikan atas dirimu ini
hanya untuk mencegah agar Kun-lun-pai tidak saling serang dengan Hoa-san-pai."
Kwee Sin kini telah pulih tenaganya dan dengan gagah dia berdiri lalu berkata, "Baiklah. Seorang laki-laki
harus berani mempertanggung jawabkan kesalahan dan perbuatannya. Marilah, bawalah aku ke Hoa-san-pai,
biar aku akan menanggung semua hukuman yang akan dijatuhkan kepadaku."
Dua orang ini kemudian berjalan menuju ke Hoa-san-pai. Diam-diam Beng San masih mengagumi sikap Kwee
Sin dan makin menyesallah dia kalau teringat betapa pendekar Kun-lun-pai ini roboh hanya karena
terpengaruh kecantikan seorang wanita jahat seperti Ngo-lian Kauwcu itu.
Di lain pihak, Kwee Sin tiada habis terheran-heran apa bila melihat Beng San. Seorang pemuda yang masih
hijau, kelihatan amat lemah-lembut dan seperti seorang ahli sastra, bagaimana dapat memiliki kepandaian
sehebat itu?
Apa lagi sekarang setelah mereka melakukan perjalanan biasa, pemuda itu sama sekali tak kelihatan memiliki
kepandaian tinggi. Benar-benarkah pemuda ini yang telah menculik dirinya? Hampir dia tak dapat
mempercayainya.
Pada malam ke dua, pada saat keduanya bermalam di dalam sebuah hutan, Kwee Sin menggunakan
kepandaiannya meloncat ke atas pohon besar.
"Hiante, hutan ini kelihatannya penuh binatang liar, lebih baik kita bermalam di atas pohon ini saja agar tidak
terancam keselamatan kita. Kau naiklah ke sini."
Dia sengaja hendak mencoba kepandaian pemuda yang dia sangsikan itu. Andai kata dugaannya keliru dan
ternyata pemuda ini tidak memiliki kepandaian, untuk apa dia harus mengalah dan menerima begitu saja untuk
dibawa ke Hoa-san?
Beng San tersenyum dan menggeleng kepalanya. "Lebih enak tidur di bawah sini. Kalau Kwee-enghiong ingin
tidur di atas pohon, silakan." Setelah berkata demikian, Beng San merebahkan diri bersandar pohon dan tak
lama kemudian saking lelahnya, dia sudah tidur pulas.
dunia-kangouw.blogspot.com
Kwee Sin penasaran. Benarkah bocah seperti ini mempunyai kepandaian? Jangan-jangan hanya pandai lari
cepat saja. Setelah dia mengaso dan mengumpulkan tenaga, menjelang fajar dilihatnya Beng San masih tidur
enak di bawah pohon. Kwee Sin lalu mengerahkan tenaganya, menggunakan ginkang-nya yang sudah tinggi
tingkatnya itu meloncat dari atas pohon, jauh ke cabang pohon lain yang berdekatan, kemudian dengan cepat
dan tanpa mengeluarkan suara dia berlari terus kembali ke kota raja!
Kurang lebih dua li dia berlari. Tiba-tiba dia berhenti dan memandang terbelalak ke depan. Kiranya di
depannya, di tengah jalan itu, Beng San sudah berdiri sambil tersenyum dan menjura.
"Kwee-enghiong, seorang laki-laki sudah berjanji kenapa hendak ditariknya kembali?”
Merah muka Kwee Sin. Sudah terang kini bahwa ilmu ginkang pemuda ini jauh melebihi tingkatnya sampaisampai
dia tidak tahu bagaimana caranya pemuda itu bisa berada di situ, padahal tadi dia tinggalkan dalam
keadaan pulas! Akan tetapi karena dia merasa penasaran dan memang maksud hati yang sesungguhnya
adalah untuk menguji apakah orang muda ini cukup berharga untuk memaksanya pergi ke Hoa-san, Kwee Sin
lantas berseru keras.
"Orang muda, kau memaksaku pergi ke Hoa-san, apakah yang kau andalkan? Sebagai seorang gagah, tentu
saja aku tak akan menarik kembali kata-kataku bahwa aku berani mempertanggung jawabkan perbuatanku.
Akan tetapi aku tidak berjanji untuk menuruti kehendakmu, kecuali kalau kau mampu mengalahkan aku!"
Setelah berkata demikian, Kwee Sin mengeluarkan pedangnya yang ternyata masih berada di sarung
pedangnya, entah siapa yang menyarungkannya kembali ketika dia dibawa lari oleh pemuda itu.
Beng San agak kaget, tapi lalu maklum. Tentu saja sebagai seorang pendekar, Kwee Sin merasa malu kalau
berkunjung ke Hoa-san-pai di bawah paksaan seseorang yang tidak diketahui sampai di mana kepandaiannya.
"Ah, Kwee-enghiong kenapa berkata demikian? Aku memang seorang yang tak memiliki kepandaian, akan
tetapi demi menjaga keutuhan Kun-lun-pai dan Hoa-san-pai, aku sudah berjanji akan mencari dan
membawamu ke Hoa-san-pai untuk mempertanggung jawabkan semua perbuatanmu. Andai kata kau hendak
menggunakan kekerasan membangkang, terpaksa aku pun melupakan kebodohan sendiri!"
"Bagus! Aku memang hendak mencoba sampai di mana kepandaianmu maka kau berani hendak memaksa
Pek-lek-jiu Kwee Sin sesuka hatimu." Kwee Sin menggerakkan pedang hendak menyerang.
Pada saat itu pula terdengar suara seorang laki-laki, "Nona, aku tidak ingin bertempur denganmu..."
Suara itu diikuti munculnya seorang pemuda yang berlari cepat ke tempat itu. Pada saat pemuda ini melihat
Beng San, segera dia berhenti berlari dan berkata girang. "Saudara Beng San...!"
Akan tetapi alangkah kagetnya dan girangnya ketika pemuda itu menoleh ke arah Kwee Sin. Sejenak dia
tertegun, lalu berseru gagap, "Kau... kau... Kwee-susiok (paman guru Kwee)..."
Kwee Sin menunda serangannya dan menoleh. "Ehh, bukankah kau Lim Kwi?"
Di dalam suara pendekar Kun-lun ini terkandung keharuan dan kedukaan besar. Paman guru dan keponakan
ini saling pandang penuh pertanyaan, penuh perasaan haru campur duka bingung sehingga tak tahu harus
berkata apa.
Pada waktu itu terdengar seruan seorang wanita. "Jahanam Bun, hendak lari ke mana kau?"
Dan muncullah Thio Eng, gadis baju hijau yang berlari cepat mengejar Bun Lim Kwi. Begitu sampai di situ,
tanpa menoleh lagi kepada orang-orang lain, Thio Eng segera menusukkan pedangnya ke arah dada Bun Lim
Kwi. Pemuda ini masih tertegun dalam petemuannya dengan paman gurunya, juga memang dia sudah merasa
sedih sekali oleh kejaran Thio Eng, maka agaknya tusukan pedang itu tidak dihiraukannya lagi dan tentu akan
mengenai sasaran.
"Traanggg…!"
dunia-kangouw.blogspot.com
Pedang Thio Eng terpental oleh tangkisan Kwee Sin yang tentu saja tidak membiarkan murid keponakannya
yang dia cinta itu ditikam begitu saja oleh seorang gadis. Berkilat mata Thio Eng ketika dia memandang
kepada Kwee Sin, kemudian dia mengerling ke arah Beng San. Kaget dan heran wajah gadis ini ketika
mengenal Beng San, akan tetapi hatinya sudah terlalu panas dan marah sehingga dia tidak mempunyai
kesempatan lagi untuk menegur Beng San.
"Siapakah kau? Mengapa kau mencampuri urusanku dengan musuhku ini?"
Kwee Sin tersenyum mengejek. "Nona cilik, ada urusan boleh diurus, mengapa kau begini galak hendak
merenggut nyawa Lim Kwi? Ketahuilah, aku adalah paman gurunya, maka tak mungkin aku mendiamkan saja
melihat kau hendak membunuh dia."
Sejenak gadis itu tertegun mendengar orang ini mengaku paman guru Bun Lim Kwi, lalu matanya bersinarsinar.
"Bagus...!" la menoleh kepada Beng San lalu berkata, "Tan-koko (kakak Tan), bukankah dia ini Kwee
Sin? Dan mengapa kau berada di sini pula?"
"Adik Eng, aku... aku hendak mengundang dia ke Hoa-san-pai."
Gadis itu teringat akan janji Beng San kepada ketua Kun-lun-pai dan Hoa-san-pai, lalu katanya gemas,
"Kurasa tidak baik kau berdekatan dengan paman dan keponakan jahat ini. Mereka bukanlah orang baik. Kwee
Sin ini pun bukan manusia baik-baik. Lebih baik kubinasakan sekalian!"
Kembali pedangnya berkelebat dan sebuah serangan yang amat cepat dan ganas lantas menyambar ke arah
Kwee Sin dan Lim Kwi secara beruntun. Hebat sekali serangan ini sehingga Kwee Sin terpaksa mundur sambil
menangkis keras. Kembali pedang Thio Eng terpental.
"Adik Eng yang baik, jangan... jangan terburu nafsu, segala urusan dapat dirunding! Urusanmu dengan
saudara Bu Lim Kwi tentu diketahui baik oleh Kwee-enghiong ini, lebih baik kita mendengarkan
keterangannya."
"Benar," kata Kwee Sin. "Nona, katakanlah lebih dulu kenapa kau mati-matian berusaha hendak membunuh
keponakanku Lim Kwi? Apakah dosanya? Coba kau jelaskan, tentu aku akan mempertimbangkan baik-baik.
Kalau memang dia yang bersalah, dia harus siap menerima hukuman."
Thio Eng tersenyum dingin dan mengejek, seakan-akan sinar matanya berkata, "Seorang seperti kau mana
dapat memiliki pertimbangan yang adil?" Akan tetapi mulutnya berkata, "Hemmm, ingin benar aku mendengar
bagaimana pertimbangan adil kalian yang sudah mencelakakan hidupku. Ayahku dibunuh oleh dua orang
saudara Bun murid Kun-lun-pai, yaitu ayah dan paman jahanam Bun Lim Kwi ini, apakah sudah tidak adil kalau
sekarang aku hendak membalas dendam kepadanya untuk menebus dosa ayah dan pamannya itu? Kau
sebagai paman gurunya, tentu akan membelanya, akan tetapi aku Thio Eng tidak takut mati dalam usaha
membalas dendam ayahku!
Kwee Sin mengerutkan kening. "Kau she Thio? Siapakah nama ayahmu? Apakah Thio San?"
Di dalam kemarahannya, makin yakinlah Thio Eng bahwa musuh-musuhnya memang dua orang yang berdiri di
depannya ini. "Betul, Thio San ayahku yang terbunuh oleh dua orang saudara keparat Bun dari Kun-lun-pai di
dalam sebuah hutan."
Kwee Sin tiba-tiba menjadi muram wajahnya. Teringat dia akan peristiwa itu, kurang lebih sepuluh tahun yang
lalu ketika dia bertempur melawan Thio San, kemudian mendadak muncul Coa Kim Li yang menurunkan
tangan jahat membunuh Thio San.
"Ahh, salah... kau keliru menyangka, Nona... kau begitu yakin bahwa ayah Lim Kwi yang membunuh ayahmu,
apakah kau melihatnya sendiri pembunuhan itu?"
Dalam pandang mata Thio Eng mulai tampak sinar keraguan. "Aku... aku mendapatkan ayah telah
menggeletak mati dalam hutan, aku menangisi dan... dan aku melihat pula dua orang saudara Bun di hutan itu,
kukira... siapa lagi yang membunuh ayah? Orang she Kwee, aku takkan percaya begitu saja pembelaanmu
dunia-kangouw.blogspot.com
terhadap para suheng-mu, kecuali kalau kau mengatakan siapa pembunuh ayahku. Apakah kau tahu siapa
orangnya yang membunuh ayahku?"
Kwee Sin mengangguk. "Tentu saja aku tahu..." la menarik napas dan wajahnya kelihatan berduka sekali.
"Semua salahku... ahhh, betapa besar dosaku, semua gara-garaku..."
Wajah Thio Eng yang cantik itu nampak beringas. "Bagus, jadi kaulah yang menyebabkan kematian ayahku?
Nah, terimalah pembalasanku!" Thio Eng menyerang lagi. Kali ini Kwee Sin tidak menangkis hanya mengelak
ke kanan.
"Adik Eng, jangan begitu. Biarkan dia memberi penjelasan dulu sampai selesai." Beng San berlari mendekati
Thio Eng dan memegang lengan gadis itu.
Thio Eng hanya mendengus, akan tetapi dia tidak melanjutkan serangannya dan menanti Kwee Sin memberi
penjelasan.
"Dengarlah baik-baik ceritaku, sembilan sepuluh tahun yang la!u..."
Kwee Sin lalu menceritakan semua pengalamannya dahulu ketika dia membantu kedua suheng-nya mencari
seorang bernama Thio San yang mereka anggap sebagai seorang penipu.
Seperti telah kita ketahui, Thio San seorang tokoh Pek-lian-pai hendak membeli kuda dari Bun Si Teng dan
minta agar supaya rombongan kuda itu diantar ke sebuah hutan. Akan tetapi setibanya di tengah hutan, dua
orang saudara Bun itu diserang oieh lima orang anggota Pek-lian-pai yang dibantu oleh seorang wanita tak
dikenal.
Bun Si Liong lalu terluka dan Kwee Sin yang mendengar hal ini menjadi marah lalu pergi mencari Thio San di
Hek-siong san. Dianggapnya bahwa Thio San adalah seorang yang menipu kedua suheng-nya, tidak saja
merampas dua puluh ekor kuda, malah juga telah melukai Bun Si Liong. Akhirnya di dalam hutan pohon siong
itu, Kwee Sin bertemu dengan Thio San dan dalam pertempuran ini mendadak muncul Kim-thouw Thian-li
yang berhasil merobohkan Thio San dengan sapu tangan merahnya.
"Aku sendiri terluka oleh Pek-lian-ting yang dilepas oleh Thio San di leherku, sehingga aku roboh pingsan lalu
dibawa pergi oleh Kim-thouw Thian-li dan mungkin ketika itu Thio San telah tewas dan ditinggalkan di dalam
hutan itu. Nah, demikianlah cerita yang sebenarnya. Mendiang Bun-suheng keduanya sama sekali tidak
bertanggung jawab dan tidak tahu menahu tentang kematian ayahmu, Nona Thio. Ayahmu dahulu telah
bertempur melawan Kim-thouw Thian-li."
Dengan mata merah karena menahan turunnya air mata, Thio Eng memandang kepada Bun Lim Kwi yang
kelihatan lega dan kebetulan pemuda ini pun memandang kepadanya dengan sayu tapi mulutnya tersenyum.
Thio Eng menjadi merah wajahnya, merasa telah berlaku keterlaluan terhadap Bun Lim Kwi, teringat olehnya
sikap Lim Kwi kepadanya dan betapa ia sudah merobohkan Lim Kwi atas bantuan Giam Kin.
"Kalau... kalau begitu... aku telah salah tangan..."
"Hampir saja, Nona. Hampir tamat hidupku di tanganmu, sayang bagimu, aku masih hidup berkat pertolongan
saudara Beng San yang budiman ini...," jawab Lim Kwi.
Thio Eng menoleh kepada Beng San, terheran lalu mengangguk-angguk. "Hemm, kiranya kau yang telah
menolongnya, Tan-ko?"
”Aku mendapatkan dia menggeletak dengan luka berbisa. Aku hanya membawanya dan minta tolong lain
orang untuk menyembuhkannya. Eh, adikku yang baik, apakah kau telah menyerangnya dengan senjata
beracun yang keji itu?"
Makin merah muka Thio Eng. "Jangan menuduh sembarangan! Aku adalah murid suhu Thai-lek-sin Swi Lek
Hosiang, mana sudi sudi menggunakan racun? Ini gara-gara si Giam Kin iblis cilik itu yang menyerang dengan
mendadak. Syukurlah kau telah menolongnya, Tan-ko, kalau tidak... ahh, aku tentu berdosa membunuh orang
dunia-kangouw.blogspot.com
tak berdosa. Siapa duga kalau bukan ayahnya yang membunuh ayahku? Ketika itu aku masih kecil... aku
melihat mayat ayah menggeletak di hutan, aku menangis dan ditolong oleh suhu dan aku melihat ayahnya di
hutan itu pula..."
Mendadak gadis itu menudingkan ujung pedangnya ke arah Kwee Sin sambil membentak. "Kiranya kau
manusia she Kwee yang menyebabkan kematian ayahku. Kau yang sudah menyerangnya dengan bantuan si
iblis wanita dari Ngo-lian-kauw!"
la hendak menyerang Kwee Sin, akan tetapi Beng San memegang lengannya. "Nanti dulu, adik Eng, kau
jangan keburu nafsu. Kau sudah mendengar sendiri tadi. Kwee-enghiong ini mencari ayahmu untuk membela
keadilan karena suheng-nya dilukai dan sejumlah kuda dirampas. Aku telah mendengar bahwa sebetulnya
ayahmu, Thio San itu, adalah seorang patriot sejati. Sebagai seorang tokoh Pek-lian-pai mana dia mau
merampas kuda? Semua ini adalah fitnah pihak Ngo-lian-kauw belaka yang berusaha atau bahkan bertugas
untuk mengadu domba antara Pek-lian-pai dengan pihak Kun-lun atau pihak Kun-lun dengan pihak Hoa-san
dan lain-lain."
"Orang muda, bagaimana kau bisa tahu akan hal itu?" tiba-tiba suara Kwee Sin terdengar keras penuh selidik,
sepasang matanya memandang tajam seperti ingin menjenguk isi hati Beng San.
Beng San mengangkat pundak, "Kwee enghiong, tentu saja orang sebodoh aku mana bisa tahu akan itu
semua? Tentu ada yang memberi tahu, yaitu orang-orang Pek-lian-pai sendiri."
Thio Eng masih kelihatan kurang puas. "Tan-ko biar pun dia kena fitnah, tapi sudah terang bahwa orang ini
tidak baik, buktinya dia membantu Ngo-lian-kauw dan membantu pihak jahat."
"Adik Eng, di dunia banyak terjadi kesalahan-kesalahan yang tak disengaja sebelumnya. Buktinya kau sendiri,
kau mengejar-ngejar saudara Bun Lim Kwi, hendak membunuhnya bahkan sudah hampir membunuhnya
karena bantuan serangan curang dari Giam Kin. Bukankah keadaan Kwee-enghiong dahulu juga hampir
serupa? Karena salah paham, mengira ayahmu menipu suheng-suheng-nya, dia lalu mencari dan
menantangnya. Akan tetapi dalam pertempuran ayahmu dirobohkan secara pengecut oleh ketua Ngo liankauw.
Nah, jika kau sekarang menumpahkan semua kesalahan kepadanya, apakah nanti orang lain juga tidak
akan menimpakan semua kesalahan kepadamu tentang urusanmu dengan saudara Bun Lim Kwi? Ingatlah,
dendam-mendendam bukanlah sifat yang baik. Urusan pembunuhan tak mungkin dapat diselesaikan dengan
pembunuhan lainnya, karena hal itu akan berekor panjang, tali-temali dan saling berkait hingga akhirnya
beberapa keturunan akan terus saling bermusuhan. Justru untuk menjaga agar jangan terjadi demikian itulah
maka di Hoa-san-pai tempo hari aku berjanji akan mencari Kwee-enghiong. Dan sekarang Kwee-enghiong
sudah berada di sini, tentu sebagai seorang jantan Kwee-enghiong akan berani mempertanggung jawabkan
kesemuanya kepada Kun-lun-pai dan Hoa-san-pai."
Thio Eng kalah bicara, dengan bersungut-sungut menyimpan kembali pedangnya. Kwee Sin menjadi kagum.
Kalau tadinya dia hendak menguji kepandaian Beng San, sekarang terbuka pikirannya dan dia merasa bahwa
dia akan membuat dirinya sendiri tak berharga sebagai seorang jantan apa bila dia tidak berani pergi ke Hoasan.
Akan tetapi kalau dia pergi ke Hoa-san, tentu dia akan menemui kesulitan besar. Dalam keraguannya dia
lalu menoleh kepada Bun Lim Kwi.
"Lim Kwi, bagaimana pendapatmu. Biarlah kau mewakili ayahmu dan pamanmu dalam hal ini, berilah
pendapatmu bagaimana aku harus bertindak?" Suara Kwee Sin gemetar, tanda bahwa di dalam hatinya dia
merasa menyesal bukan main.
"Kwee-susiok, segala perbuatan sudah terlanjur, menyesal pun takkan ada gunanya tanpa bukti penyesalanmu
itu. Kalau Susiok suka mendengarkan pendapat keponakanmu, mari kita pergi menghadap suhu di Kun-lunpai,
menjelaskan semua kesalahan dan selanjutnya mentaati semua perintahnya. Biar saya yang akan
menemani Susiok andai kata Susiok harus menghadap ke Hoa-san-pai. Ingatlah, Susiok, semuanya ini demi
kebaikan, bukan hanya kebaikan Kun-lun-pai dan Hoa-san-pai agar jangan bermusuhan terus, akan tetapi
pada hakekatnya untuk kebaikan perjuangan bangsa kita yang sedang berusaha untuk merobohkan
pemerintah penjajah."
dunia-kangouw.blogspot.com
Kata-kata Bun Lim Kwi sangat bersemangat, kemudian pemuda ini menuturkan secara singkat mengenai
pertemuan di Hoa-san-pai tempo hari yang hampir saja mengakibatkan pertempuran besar-besaran kalau saja
tidak dilerai oleh Beng San. Kwee Sin mendengar dengan rasa kagum. Juga Beng San girang sekali
mendengar ini.
"Bagus sekali jika begitu, saudaraku Bun Lim Kwi! Aku percaya sepenuhnya kepadamu. Kau pergilah bersama
Kwee-enghiong ke Hoa-san-pai. Terserah saja kalau kau hendak singgah ke Kun-lun-pai terlebih dahulu,
pokoknya Kwee-enghiong harus dapat mengakhiri permusuhan antara dua partai besar ini. Aku sendiri masih
banyak urusan yang harus diselesaikan." Ucapan Beng San ini keluar dari hati yang jujur.
Memang dia merasa girang sekali akan hasil usahanya. Mencari dan membawa Kwee Sin ke Hoa-san-pai
sudah berhasil dan dia percaya bahwa Bun Lim Kwi pasti akan menjaga nama baik Kun-lun-pai dan membawa
bekas paman gurunya itu ke Hoa-san.
Soal ke dua, yaitu tentang permusuhan antara Lim Kwi dan Thio Eng, juga sudah selesai dengan adanya
penjelasan dari Kwee Sin tadi bahwa pembunuh ayah Thio Eng ternyata adalah Kim-thouw Thian-li.
Tinggal dua soal lagi yang tak kalah pentingnya, bahkan teramat penting baginya, yaitu, pertama mencari nona
Cia yang nyata-nyata telah memegang Liong-cu Siang-kiam, dan ke dua mencari Tan Beng Kui yang dia yakin
adalah kakak kandungnya.
Bun Lim Kwi menyanggupi permintaan Beng San dan bersama Kwee Sin dia kemudian meninggalkan tempat
itu setelah lebih dulu menjura kepada Thio Eng dan berkata, "Nona Thio, aku bersyukur kepada Thian bahwa
kau telah insyaf sekarang bahwa aku bukanlah musuh besarmu dan... dan... semoga kita akan dapat saling
bertemu kembali dalam keadaan yang lebih... baik..."
Kwee Sin sebelum pergi sempat berkata kepada Beng San, "Orang muda, sebetulnya aku masih penasaran.
Kau ini... murid siapakah? Dan sampai di manakah kepandaianmu..."
Beng San buru-buru menjawab, "Ahhh, Kwee-enghiong jangan main-main. Mana aku memiliki kepandaian apa
segala? Sudahlah, selamat jalan, Kwee-enghiong, dan bila ada jodoh kelak kita pasti akan bertemu kembali."
Thio Eng hanya memandang saja ketika paman dan keponakan itu pergi, kemudian ia pun menoleh kepada
Beng San. "Tan-ko, aku sendiri heran..."
"Hemmm, heran apa lagi? Sudah terang pemuda she Bun itu sangat gagah perkasa, tampan, lagi bukan
musuh besarmu dan dia... hemmm, dia suka padamu, apa lagi yang diherankan?"
Wajah Thio Eng menjadi merah sekali, lalu berubah pucat.
"Tan-ko, janganlah kau main-main. Siapa pedulikan dia? Yang aku herankan adalah kau. Kau ini seorang
sastrawan muda, nampak lemah dan memang aku tahu kau tidak becus apa-apa. Mengapa kau berani mati
mencampuri urusan Kun-lun-pai dan Hoa-san-pai, urusan tokoh-tokoh persilatan? Pula, bagaimana kau
sampai dapat berhasil membawa Kwee Sin pergi dari kota raja?"
"Aku pernah bekerja sebagai kacung di Hoa-san-pai, tentu saja aku tidak senang melihat Hoa-san-pai
bermusuhan dengan Kun-lun-pai. Tentang Kwee Sin, agaknya dia sudah insyaf akan kesalahannya dan
dengan suka rela dia ikut aku ke Hoa-san, apa anehnya? Adik Enig, setelah kau sekarang mendengar bahwa
pembunuh ayahmu bukan Bun Lim Kwi, melainkan Kim-thouw Thian-li ketua Ngo-lian-kauw, apa yang hendak
kau lakukan?"
"Tentu saja aku akan mencari siluman betina itu dan membunuhnya!" jawab Thio Eng dengan gemas.
Beng San teringat betapa gadis ini pernah menyerangnya ketika dulu dia menolong Tan Hok di luar tahu gadis
ini, dan teringat pula dia betapa gadis ini adalah murid Thai-lek Swi Lek Hosiang yang dahulu pernah dia lihat
membantu Pangeran Mongol Souw Kian Bi. Pula ketika Thio Eng bertempur melawan Lim Kwi, bukankah
gadis ini dibantu pula oleh Giam Kin? Untuk mengetahui hatinya, Beng San sengaja memancing.
dunia-kangouw.blogspot.com
"Adik Eng, kurasa kau sembrono sekali apa bila hendak mencari Kim-thouw Thian-li. Aku mendengar bahwa
dia adalah ketua Ngo-lian-kauw yang berada di kota raja, mempunyai kedudukan tinggi dan berpengaruh
besar. Bagaimana kau bisa masuk kota raja dengan selamat? Kurasa tidak baiklah kalau kau menurutkan hati
dendam dan nafsu membalas. Kiranya akan lebih baik jika kau menyalurkan dendam hatimu itu dengan jalan
yang lebih baik lagi."
"Hem, hemm, kau memang tukang memberi kuliah. Kuliah apa lagi yang akan kau berikan sekarang? Jalan
lebih baik apa yang kau maksudkan?"
Thio Eng memandang dengan tajam, tapi mulutnya tersenyum manis. Kembali Beng San merasa jantungnya
berdetak-detak menyaksikan sikap dan senyum ini, teringat dia akan pengalamannya dahulu dengan Thio Eng
di atas perahu.
"Begini, Eng-moi. Aku mendengar bahwa mendiang ayahmu, Thio San, adalah seorang tokoh Pek-lian-pai,
seorang pejuang yang rela mengorbankan nyawa demi perjuangan bangsanya. Karena itu, sudah selayaknya
kalau kau sebagai puterinya melanjutkan jejak langkah ayahmu, turut membantu para pejuang yang sedang
berusaha membebaskan tanah air dan bangsa dari cengkeraman penjajah. Bila pada waktu sekarang ini
musuhmu, Kim-thouw Thian-li merupakan kaki tangan pemerintah Mongol, maka jika kau membantu para
pejuang, bukankah itu sama halnya dengan kau memusuhinya? Nah, kau pikirkan baik-baik, dari pada
mengantarkan nyawa sia-sia ke kota raja dan usahamu membalas dendam belum tentu berhasil, lebih baik kau
membantu Pek-lian-pai dan para pejuang lainnya."
Berkerut kening yang halus itu. “Mudah saja kau bicara. Suhu tak akan membiarkan aku terbawa-bawa dalam
peperangan. Orang-orang yang berpihak pada pemerintah banyak yang jahat, akan tetapi para pejuang itu
juga bukan orang baik-baik. Demikian kata suhu. Apa mendiang ayahku akan tewas kalau dia tidak menjadi
tokoh Pek-lian-pai? Hemmm, Tan-ko, aku tidak mau terseret dalam urusan perang dan pemberontakan."
Beng San merasa kecewa. Tahulah dia sekarang. Kiranya Thio Eng tidak mau berpihak dalam urusan
perjuangan, sesuai dengan perintah suhu-nya. Agaknya Swi Lek Hosiang sudah terkena bujukan orang-orang
licin semacam Souw Kian Bi sehingga dia tidak mau membantu para pejuang.
”Jadi kau hendak nekat pergi ke kota raja?" tanyanya, khawatir.
"Aku hendak mencari dan membunuh musuh besarku, kemudian apa bila masih panjang umurku, aku akan
mengikuti perebutan gelar Raja Pedang di Thai-san. Tan-ko, terutama sekali aku mengharapkan akan dapat
bertemu kembali dengan kau."
Ia pun melangkah maju dan memegang lengan Beng San, menekannya dengan jari-jari gemetar, lalu lari cepat
meninggalkan tempat itu. Beng San menarik napas panjang. Ia pun lalu berlari cepat menuju ke arah yang
sama dengan gadis itu. Memang dia harus kembali ke kota raja untuk mencari orang yang dianggap kakaknya,
dan sekarang dia masih harus menjaga agar Thio Eng tidak sampai tertimpa mala petaka di tempat yang
sangat berbahaya itu.
Ilmu lari cepat Beng San sudah tentu lebih tinggi tingkatnya dari pada kepandaian Thio Eng, maka sebentar
saja dia sudah dapat menyusul gadis itu. Diam-diam dia mengikuti dari belakang dalam jarak yang tidak terlalu
jauh, akan tetapi juga tidak terlalu dekat sehingga gadis itu takkan dapat melihatnya.
Ternyata olehnya bahwa Thio Eng mengambil jalan lain dan yang lebih dekat ke kota raja. Jalan yang melalui
hutan dan gunung yang sunyi lagi sukar. Di kaki sebuah gunung kecil, di pinggir jalan yang sunyi sekali.
Dengan heran dia melihat sebuah rumah yang membuka warung arak. Dilihatnya gadis itu berhenti, memasuki
warung ini dan terdengar memesan arak dan makanan. Beng San menelan ludah karena dia pun merasa
dahaga ingin minum.
Akan tetapi karena dia tidak ingin gadis itu melihatnya, terpaksa dia hanya bersembunyi di bawah sebuah
pohon besar tak jauh dari situ dan mengambil keputusan akan singgah di warung ini setelah Thio Eng selesai
makan dan meninggalkan tempat itu. Akan tetapi, sudah dua jam dia menunggu belum juga tampak Thio Eng
keluar dari warung itu. Masa makan sampai sedemikian lamanya? la memang tidak berani dekat-dekat karena
dunia-kangouw.blogspot.com
khawatir terlihat oleh Thio Eng, akan tetapi karena dianggapnya terlalu lama sehingga tidak wajar lagi, dia lalu
bangkit berdiri dan berjalan perlahan-lahan menuju ke warung itu.
Ternyata warung itu kosong, tidak kelihatan Thio Eng mau pun penjaga warung. Ia pun menjadi curiga dan
pada saat dia hendak membuka mulut, dia mendengar suara orang dari dalam.
"Celaka sekali kau ini! Apa matamu sudah buta? Dia ini kan murid Thai-lek-sin Swi Lek Hosiang?" Suara ini
suara seorang wanita.
Beng San menjadi tidak sabar lagi karena kegelisahannya akan keselamatan Thio Eng. Segera dia berseru.
"Di mana tukang warung?"
Sambil berkata demikian, dia melangkah masuk dan hendak terus memasuki ruangan dalam dari mana dia
mendengar suara tadi. Hampir saja dia bertumbukan dengan dua orang yang ke luar dari pintu dalam, seorang
laki-laki dan seorang wanita. Tiga pasang mata berpandangan dan ketiga orang ini berubah mukanya.
"Hemmm, kiranya kalian ini...?" Beng San berkata dengan senyum pahit, teringat akan pengalamannya dahulu
ketika dua orang ini mengaku-ngaku dia sebagai anak!
Dua orang itu memang suami isteri yang dahulu pernah mengakui Beng San sebagai anak, yaitu adalah Huisin-
liong Ouw Kiu yang tinggi besar dengan muka pucat dan kumis melintang bersama Bi-sin-kiam Bhe Kit Nio
si pesolek cantik genit. Suami isteri penjahat ini segera mengenal Beng San. Keduanya terkejut bukan main,
akan tetapi Bhe Kit Nio masih sempat berseru sambil menubruk Beng San.
"Aduh, anakku... ke mana saja kau pergi selama ini?"
"Ahhh, Beng San anakku. Akhirnya kau pulang juga...!" Ouw Kiu segera menyambung seruan isterinya.
Akan tetapi Beng San mengelak dari tubrukan-tubrukan itu dan berkata marah. ”Aku bukan anak kalian. Tak
perlu bermain sandiwara lagi, karena aku sudah tahu bahwa dulu kalian bersama Hek-hwa Kui-bo sengaja
hendak menipuku. Hayo lekas katakan, di mana adanya nona baju hijau yang tadi makan di sini?"
Ouw Kiu dan Bhe Kit Nio saling pandang, kemudian Ouw Kiu membentak marah, "Anak durhaka kau!"
Kepalan tangannya yang besar dan berat itu melayang ke arah kepala Beng San. Tapi dengan amat
mudahnya Beng San miringkan kepala mengelak.
"Kita lenyapkan dulu bedebah ini.” Tiba-tiba Bhe Kit Nio kehilangan kemesraannya dan mencabut pedang,
terus menyerang Beng San dengan hebat.
Lihai juga kiranya perempuan yang berjuluk Bi-sin-kiam (Pendekar Sakti Yang Cantik) ini, sekaligus pedangnya
sudah melakukan serangan tiga jurus banyaknya, mengarah leher, dada, dan pusar!
Pada saat yang sama, Ouw Kiu sudah mengirim serangkaian serangan lagi yang sangat dia andalkan, yaitu
tendangan berantai yang dia beri nama Ban-liong-twi (Tendangan Selaksa Naga)! Kedua kakinya bergerak
susul-menyusul dalam tendangan yang cepat dan kuat. Entah sudah berapa banyaknya lawan roboh oleh ilmu
tendangan yang sangat dibanggakan dan diandalkan oleh Ouw Kiu ini.
Pengeroyokan dua orang suami isteri ini yang mengeluarkan kepandaian masing-masing sudah terang
dimaksudkan untuk membunuh Beng San yang dahulu diakui sebagai anak kandung ini!
Beng San menjadi gemas dan marah. la anggap sepasang suami isteri ini amat jahat dan palsu, apa lagi jika
dia ingat bahwa mereka juga sudah menangkap Thio Eng, mungkin dengan maksud keji pula. Betapa pun
juga, sebelum mempelajari ilmu silat, Beng San adalah seorang anak yang tekun mempelajari ilmu kebatinan
dan filsafat dari kitab-kitab suci, semenjak kecil telah menerima petuah dan pelajaran batin dari para hwesio,
maka membunuh manusia baginya merupakan pantangan besar.
dunia-kangouw.blogspot.com
Pada waktu dia melihat datangnya serangan-serangan dua orang itu yang sangat hebat mengancam jiwanya,
dia menggunakan Ilmu Silat Khong-ji-ciang (Tangan Kosong) yang dulu dia warisi dari kakek Phoa Ti,
digabung dengan Ilmu Silat Pat-hong-ciang yang dia warisi dari kakek The Bok Nam. Dalam beberapa
gebrakan saja dia sudah berhasil mengetuk pergelangan tangan Bhe Kit Nio sehingga pedangnya terlepas,
mencelat dan menyambar ke arah suaminya sendiri.
Pada saat itu, Ouw Kiu sedang sibuk dengan ilmu tendangannya, maka pedang isterinya itu dengan keras
menyambar lengan kanannya sehingga bagian atas sikunya hampir putus. Ouw Kiu berteriak kesakitan, akan
tetapi melanjutkan tendangannya ke arah perut Beng San.
Pemuda ini menggeser kaki ke kiri, tangannya bergerak dan sekali sampok tendangan Ouw Kiu itu
menyeleweng dan... mengenai perut isterinya sendiri. Bhe Kit Nio menjerit dan tubuhnya terlempar ke
belakang, lalu terbanting dengan napas kempas-kempis!
Ouw Kiu terkejut bukan main, tapi juga gentar menghadapi pemuda yang lihai itu. Sekali melompat dia telah
mendekati isterinya, lalu dengan sebelah tangan membangunkannya. Dua orang suami isteri yang sudah
terluka itu kemudian tergesa-gesa lari pergi sambil saling bantu, terhuyung-huyung.
Beng San tidak pedulikan mereka lagi, cepat dia berlari masuk. Dalam ruangan yang agak gelap itu dia melihat
tubuh seorang gadis yang menggeletak di atas sebuah dipan dalam keadaan pingsan.
"Eng-moi...,.!" serunya sambil meloncat maju.
Alangkah terkejut dan herannya ketika dia sudah dekat dengan gadis itu, dia mendapat kenyataan bahwa
gadis itu sama sekali bukan Thio Eng si gadis baju hijau, melainkan seorang gadis cantik lain yang berbaju
merah!
"Hong-moi…!” tak terasa lagi Beng San berseru kaget.
Gadis ini adalah Kwa Hong yang entah sejak kapan dan bagaimana tahu-tahu bisa berada di tempat itu dalam
keadaan pingsan. Pada saat mendapat kenyataan bahwa Kwa Hong pingsan karena tertotok, cepat-cepat
Beng San membebaskan gadis itu dari pengaruh totokan. Setelah jalan darahnya bebas dan kepalanya
dibasahi air, Kwa Hong lalu siuman kembali.
"Kau... kau...?!" teriaknya, kaget, heran dan juga girang.
"Benar aku Beng San. Hong-moi, mengapa kau bisa berada di sini dan mengapa pula pingsan?"
Ditanya begini tiba-tiba Kwa Hong menangis dan segera Beng San merangkulnya karena tubuh gadis itu masih
lemas sehingga tiba-tiba terguling, tentu akan jatuh ke bawah dipan kalau tidak dipeluknya. Setelah merasa
dipeluk pemuda itu, tangis Kwa Hong makin keras dan gadis ini menyembunyikan mukanya di dada Beng San.
Tentu saja Beng San menjadi bingung, hatinya juga berdebar-debar. Dia merasa betapa canggung dan ‘tidak
beres’ adegan ini, akan tetapi untuk memisahkan diri dia pun tidak tega.
Semenjak kecil dahulu dia memang merasa amat suka kepada Kwa Hong, sekarang dara itu tanpa malu-malu
menangis di dadanya, siapa orangnya tidak berdebar jantungnya? Hati kasihan bercampur sayang mendorong
Beng San untuk mengelus elus dan membelai rambut yang hitam halus itu.
"Sudahlah, Hong-moi, mengapa menangis? Lebih baik kau ceritakan pengalamanmu,” ia menghibur.
"Semua orang membenci aku… ahhh, semua orang membenciku..."
Beng San makin heran. "Ehh, apa yang kau katakan ini, Hong-moi? Siapa bilang semua orang membencimu?
Yang terang aku tidak membencimu, aku... aku... suka dan sayang kepadamu."
dunia-kangouw.blogspot.com
Ucapan ini biar pun keluar dari kejujuran hatinya, akan tetapi kiranya takkan diucapkan kalau saja keadaan
Kwa Hong tidak seperti itu dan memang dia hendak menghiburnya. Akan tetapi ucapan ini mendatangkan
perubahan hebat pada diri Kwa Hong.
Gadis ini merenggutkan kepalanya dari dada Beng San, matanya yang masih basah dan indah itu memandang
tajam, berkedip-kedip lalu bertanya, "Betulkah itu? Coba katakan lagi, betulkah kau suka dan sayang
kepadaku?"
Mendadak wajah Beng San menjadi merah sekali. Ah, pikirnya, mengapa ragu-ragu dan malu-malu? Bukankah
memang dia suka dan sayang kepada Kwa Hong?
"Tentu saja, Hong-moi. Tentu saja aku suka dan sayang kepadamu."
Aneh! Tiba-tiba Kwa Hong tersenyum lebar, sehingga tampak giginya yang putih dan rapi biar pun matanya
masih merah dan basah. "Kalau begitu aku tidak sedih lagi, San-ko. Lihatlah aku bisa tertawa! Orang sedunia
boleh benci kepadaku, asal kau suka dan cinta. Hi-hi-hi, San-ko, lucu, ya? Semenjak dahulu aku... aku suka
sekali kepadamu, aku cinta seorang yang lemah, tolol tapi gagah perkasa. Ehhh, siapa tahu, kiranya kau... kau
pun mencintaku…" Sampai di sini Kwa Hong menundukkan mukanya yang menjadi merah sekali.
Kagetlah Beng San. Ketika tadi dia mengatakan suka dan sayang, sama sekali dia tidak berpikir tentang cinta,
tentang cintanya pemuda-pemudi yang diakhir dengan perjodohan.
"Ini... ini...," ia tergagap.
"San-ko, kau mau bilang apa?" Kwa Hong sudah turun dari dipan, tubuhnya sudah tidak selemas tadi,
tenaganya sudah hampir pulih. Dengan mesra gadis ini memegang tangan Beng San.
"Kau... kau belum menceritakan pengalamanmu, Hong-moi."
Gadis itu cemberut ketika diingatkan kepada ini. "Sesudah perayaan di Hoa-san, ayah hendak memaksaku
supaya aku suka dengan Thio-suheng. Aku tidak mau, biar pun suhu juga mendesakku. Kemudian ketika ayah
membentak-bentak dan menanyakan mengapa aku menolak Thio-suheng, dengan marah pula aku berterus
terang kepada ayah bahwa aku suka padamu, San-ko!"
Celaka, pikir Beng San. Masa di depan semua orang gadis ini terang-terangan mengaku kepadanya? Bisa
runyam nih!
"Lalu bagaimana, Hong-moi?"
"Melihat semua orang marah dan benci kepadaku, malam harinya aku lalu minggat dari Hoa-san, dan aku
hendak menyusul ke kota raja. Aku tahu bahwa untuk mencari Kwee Sin, kau tentu pergi ke kota raja."
"Kenapa kau menyusul aku?"
"Ah, tidak senang di Hoa-san kalau semua orang marah kepadaku, di samping itu, aku... ah, aku tidak tega
membiarkan kau sendiri mencari Kwee Sin di kota raja. Kau tentu akan menemui bahaya, maka aku menyusul
untuk membantu." Gadis itu memandang mesra, kemudian melanjutkan, "Siapa duga, sesampainya di sini,
suami isteri iblis tukang warung itu, ketika aku membeli makanan dan minuman, agaknya dalam minuman
diberi racun yang memabukkan. Aku pingsan tak ingat apa-apa lagi, dan tahu-tahu kau telah berada di sini
menolongku. Ahh, Beng San-ko... benar-benar aneh. Lagi-lagi kau yang lemah tidak berkepandaian apa-apa
muncul sebagai penolong, menolong orang-orang yang memiliki kepandaian. Aneh dan ajaib..."
"Hong-moi, selain kau masih ada lagi seorang gadis lain yang masuk dalam perangkap penjahat-penjahat itu.
Tadi kulihat nona Thio Eng memasuki warung ini dan tidak keluar lagi. Biarlah aku mencari dan menolongnya
dulu."
dunia-kangouw.blogspot.com
la lalu melangkah ke dalam sebuah kamar tak jauh dari ruangan itu dan benar saja, di dalam kamar ini dia
melihat Thio Eng rebah di lantai tidak pingsan lagi, akan tetapi kaki tangannya diikat tali kuat-kuat dan
mulutnya disumpal kain!
Cepat-cepat Beng San melepaskan tali pengikat kaki tangan gadis itu dan membuang pula kain penyumbat
mulut. Akan tetapi, siapa kira, begitu terbebas Thio Eng melompat bangun dan…
"Plak! plak!" dua kali pipi Beng San ditampar dari kanan kiri!
Selagi Beng San melongo saking herannya, gadis itu sambil menudingkan telunjuknya berteriak. "Tidak usah
kau tolong aku! Tidak usah kau peduli keadaanku lagi, biarkan aku mampus dan teruskan kau berkasihkasihan
dengan siluman itu!"
Kebetulan sekali Kwa Hong juga sudah masuk ke kamar ini dan dengan kemarahan meluap-luap Thio Eng
menudingkan telunjuknya ke arah Kwa Hong. Gadis Hoa-san-pai ini menjadi merah sekali mukanya, merah
karena malu dan juga karena marah. Kiranya semua yang ia ucapkan tadi telah didengar oleh gadis baju hijau
ini!
Yang repot adalah Beng San. Wah, celaka nih, pikirnya.
"Ehh, ehhh... sabar dulu... Eng-moi, kita bicara di ruangan depan..."
Kwa Hong yang masih merah mukanya itu mendahului meloncat keluar dari kamar. Juga Beng San yang
berdebar-debar hatinya cepat-cepat keluar dari kamar itu, memutar otak bagaimana dia harus bertindak untuk
menguasai keadaan yang amat gawat dan sulit ini.
Tiba-tiba dia mendengar sambaran angin. Cepat dia menoleh dan kiranya Thio Eng yang sudah meloncat
keluar. Gadis ini menggerakkan jari tangan menotok jalan darahnya.
Tentu saja gerakan ini terlampau jelas bagi Beng San dan sekiranya mau, pemuda ini dengan mudah akan
dapat mengelak atau menangkis. Akan tetapi dia sengaja diam saja, membiarkan hiat-to (jalan darah) di
tubuhnya tertotok. la mengeluh dan roboh lemas.
"Perempuan keji, kau apakan San-ko?" Kwa Hong membentak marah sekali dan gadis ini melangkah maju.
Akan tetapi Thio Eng sudah mencabut pedangnya yang tadi dia dapatkan di dalam kamar, dengan sikap
menantang ia berdiri menghadapi Kwa Hong dan berkata dingin.
"Kau perempuan tak tahu malu! Mestinya tinggal di rumah mentaati perintah ayah sebagai seorang anak yang
berbakti, eh, malah minggat dan mengejar-ngejar laki-laki! Perempuan macam engkau ini patut mampus di
ujung pedangku!"
"Keparat!" Kwa Hong juga mencabut pedangnya yang tadi sudah dapat ia ketemukan di sudut ruangan itu.
"Peduli apa kau dengan urusan pribadiku? Kau-kira aku tidak tahu akan isi hatimu. Kau cemburu! Ya, kau
cemburu dan iri hati melihat kami saling mencinta. Cih, tak tahu malu!"
"Tutup mulutmu!" Thio Eng makin marah, mukanya sebentar merah sebentar pucat.
"Laki-laki tak berbudi semacam ini, siapa menaruh hati? Mulutnya terlalu manis, satu hari mencinta gadis, lain
hari mencinta lain orang gadis. Seperti engkau, dia pun juga harus mampus!"
Kwa Hong pucat mukanya dan mengerling ke arah Beng San. Mungkinkah Beng San juga pernah menyatakan
cinta kasih kepada gadis ini? Akan tetapi hatinya sudah terlampau panas, sepanas hati Thio Eng.
Tanpa dapat dicegah lagi dua orang gadis ini sudah saling terjang, bertanding pedang dengan hebatnya
seperti dua ekor harimau betina memperebutkan seekor kelinci!
“Trang-tring-trang-tring…!” bunyi pedang mereka dan bunga api berkilat di dalam ruangan yang sunyi itu.
dunia-kangouw.blogspot.com
Thio Eng adalah murid tunggal Thai-lek-sin Swi Lek Hosiang, kepandaiannya tentu saja hebat. Kwa Hong
adalah cucu murid Lian Bu Tojin yang sudah menerima latihan langsung dari ketua Hoa-san-pai ini sendiri,
maka ilmu pedangnya juga tak boleh dipandang ringan.
Betapa pun juga, menghadapi Thio Eng, ia menemukan lawan terlalu berat dan segera ia mendapat kenyataan
bahwa biar pun ilmu pedangnya tak usah mengaku kalah dari ilmu pedang lawannya, namun dalam hal tenaga
Iweekang ia toh kalah banyak. Setiap kali dua pedang bertemu, tangannya tergetar dan makin lama ia semakin
terdesak oleh gadis baju hijau itu.
Beng San merasa batinnya tersiksa bukan main menyaksikan pertempuran ini. Dengan amat terheran-heran
dia tadi mendengarkan percakapan antara dua orang gadis itu dan benar-benar dia tak mengerti. Mengapa
dua orang gadis yang disukai dan disayanginya ini seperti bertempur karena dia?
Beng San masih terlampau hijau untuk bisa menangkap bahwa sesungguhnya dua orang gadis ini
mencintanya dan sekarang mereka bertanding karena iri hati dan cemburu, atau secara kasarnya, untuk
memperebutkan dia. Dalam kekecewaan hatinya bahkan Thio Eng mempunyai nafsu untuk membunuh Kwa
Hong dan dia pula.
Dengan penuh kekhawatiran dia melihat betapa Kwa Hong makin terdesak hebat. Setiap saat ujung pedang di
tangan Thio Eng mengancam keselamatan nyawanya.
"Eng-moi! Hong-moi! Sudahlah, jangan berkelahi!"
Tiba-tiba Thio Eng dan Kwa Hong tergetar mundur ketika pedang mereka saling bertemu dan pada saat itu
Beng San sudah berdiri di antara mereka.
Diam-diam Thio Eng merasa kaget sekali. Dia terheran-heran kenapa pemuda itu begitu cepat sudah dapat
bebas dari pengaruh totokannya. “Apakah totokanku tadi kurang tepat sehingga pengaruhnya juga kurang
lama?” pikirnya.
Tentu saja dia dan Kwa Hong tidak tahu bahwa mereka tadi keduanya mundur tergetar bukan disebabkan
pertemuan pedang mereka, melainkan karena getaran hawa dorongan tangan Beng San yang sengaja melerai
mereka.
Kiranya dalam kebingungannya tadi, terbayang oleh Beng San ketika Thio Eng di dalam perahu pernah
menangis dalam pelukannya seperti yang dilakukan Kwa Hong tadi, maka perasaannya membisikkan dugaan
yang membuat dia segera melompat dan mencegah perkelahian itu. Memang sejak tadi dia tidak terpengaruh
totokan karena begitu tertotok, dia telah menghentikan jalan darahnya dan hanya pura-pura roboh lemas.
"Eng-moi dan Hong-moi, jangan berkelahi...," katanya pula.
"Kau mau bicara apakah? Hayo bicara cepat, atau kau hendak membantu dia ini?" bentak Thio Eng yang
sudah tidak sabar lagi
"Bukan, Eng-moi, bukan begitu..."
"Hemmm, San-ko, apakah kau hendak membela siluman hijau ini?" Kwa Hong bertanya dengan suara dingin.
"Tidak, tidak sekali-kali... ahhh...” Beng San menggeleng-gelengkan kepalanya, mukanya merah sekali lalu
berganti kehijau-hijauan karena dia merasa marah, menyesal, malu dan bingung.
"Kalian berdua jangan salah paham, aku... aku tidak berat sebelah... aku sayang dan suka kepada Eng-moi,
sama seperti aku juga sayang dan suka pada Hong-moi. Aku tidak pilih kasih, kalian berdua kuanggap seperti
adikku sendiri, maka jangan... jangan bertempur..."
Seketika pucat wajah Kwa Hong, sepucat wajah Thio Eng.
dunia-kangouw.blogspot.com
"San-ko... jadi kau... kau tadi...?" Kwa Hong tidak dapat melanjutkan kata-katanya dan air matanya jatuh
berderai.
"Setan, sudah kuduga! Kau palsu! Di perahu dulu itu...? Ah, laki-laki tak berbudi!" Agaknya Thio Eng tidak
sesabar Kwa Hong karena segera ia menggerakkan pedangnya menusuk dada Beng San.
Akan tetapi kali ini Beng San tidak berpura-pura lagi, cepat dia mengelak sambil berkata. ”Di perahu aku
berbuat apa? Eng-moi, aku hanya kasihan dan suka kepadamu, juga aku suka dan sayang pada Hong-moi,
tapi keduanya kuanggap seperti dua orang teman baik, atau sebagai adik-adikku yang akan kubela, bu...
bukan... sebagai kekasih..."
"Ah, kau mempermainkan aku..." Kwa Hong menjadi malu sekali kalau ia ingat betapa tadi ia telah menyatakan
cinta kasihnya begitu terus terang, tidak hanya didengar oleh Beng San, malah juga oleh Thio Eng. Pikiran ini
membuat ia marah bukan main dan otomatis pedangnya juga digerakkan menyerang Beng San.
Dua orang gadis yang dikecewakan hatinya itu kini hanya mempunyai satu kandungan hati, yaitu membunuh
laki-laki yang mereka cinta dan yang kini mereka benci karena tidak membalas cinta kasih mereka. Dua
pedang yang tadinya saling gempur itu kini saling bantu untuk berlomba dalam merenggut nyawa Beng San.
Aduh, Beng San bergidik. Benar-benar berbahaya permainan cinta. Cinta kasih dua orang dara ini sama
bahayanya dengan dua ujung pedang mereka. Ia terpaksa mengeluarkan kepandaiannya, sekali tangannya
bergerak dia telah dapat merampas dua pedang itu dari tangan Thio Eng dan Kwa Hong.
Kedua orang gadis itu seketika melongo karena tidak tahu bagaimana caranya tahu-tahu pedang mereka
sudah terampas dan kini Beng San dengan muka sedih mengembalikan pedang mereka, mengangsurkan
dengan gagang pedang di depan. Kwa Hong dan Thio Eng seperti mendapat komando lalu merenggut pedang
masing-masing dari kedua tangan Beng San dan otomatis kedua pedang mereka sudah menyerang lagi!
Tapi kembali dengan gerakan aneh, tahu-tahu pedang mereka sudah berpindah tangan. Lagi-lagi Beng San
mengangsurkan pedang itu terbalik sambil berkata,
"Adik-adikku yang baik, kasihanilah aku. Aku benar-benar sayang kepada kalian."
Mendadak dua orang gadis itu bercucuran air mata.
"San-ko... kiranya kau... kau tidak hanya mempermainkan cinta orang... tetapi juga telah mempermainkan
orang dengan berpura-pura tolol dan bodoh..." Setelah berkata demikian, dengan isak tertahan Kwa Hong
membalikkan tubuh dan lari pergi.
"Orang she Tan... jadi kau... sejak di perahu dulu... kau sudah mempermainkan aku? Ah, alangkah kejamnya
kau..." Sambil menangis Thio Eng juga berlari pergi dari situ dengan terhuyuhg-huyung dan lemas.
Tinggal Beng San yang berdiri melongo, memandangi dua pedang di kedua tangannya, berulang-ulang
menarik napas panjang dan menjadi bingung. Apakah artinya itu semua? Benarkah dua orang gadis itu
mencintanya? Ah, tak mungkin rasanya. Mencinta dia, cinta sebagai seorang kekasih yang mengharapkan dia
menjadi suami mereka?
Aneh! Dengan kedua pedang masih dipegangnya, segera terbayanglah wajah gadis gagu, tersenyum-senyum
kepadanya dengan wajah diliputi kesayuan. Kemudian terngiang pula di telinganya pesan mendiang Lo-tong
Souw Lee bahwa dia harus mengawini perampas Liong-cu Siang-kiam kalau pencurinya itu wanita. Maka
terbayang pula wajah puteri Cia yang cantik jelita, gadis yang luar biasa ilmu pedangnya itu.
Hatinya terasa perih kalau teringat kepada dua orang gadis tadi. Akan tetapi apakah yang dapat dia lakukan?
Mereka cinta kepadanya, itu bukanlah kesalahannya. Tak mungkin dia mengimbangi cinta kasih setiap orang
gadis. Dan memang sesungguhnya hatinya masih bersih dari perasaaan ini. Agaknya hanya kepada gadis
gagu itulah dia dapat mencinta, atau... kepada puteri pencuri pedangkah?
"Setan!" Beng San memaki diri sendiri mengusir bayangan semua gadis itu.
dunia-kangouw.blogspot.com
Sepasang pedang rampasannya dia simpan, dijadikan satu dan disembunyikan di balik jubahnya. "Tak
mungkin aku memikirkan gadis-gadis itu, paling perlu sekarang aku pergi mencari kakakku di kota raja."
Makin diingat semakin yakinlah hatinya bahwa pemuda she Tan yang dahulu datang ke Hoa-san-pai bersama
Pangeran Souw Kian Bi itu tentulah Tan Beng Kui, kakaknya. Masih ingat betul dia akan muka kakaknya itu.
Hanya satu hal yang amat meragukan. Andai kata benar pemuda itu kakaknya, bagaimana dia bisa menjadi
seorang yang kedudukannya begitu tinggi dan menjadi sahabat si Pangeran Mongol. la harus menemui Tan
Beng Kui atau pemuda itu dan bicara secara terang-terangan.
Dengan cepat Beng San lalu kembali ke kota raja, berusaha sekuat hatinya untuk dapat melupakan peristiwa
yang dia alami dengan Kwa Hong dan Thio Eng. Setibanya di kota raja, dia mendengar berita yang amat
mengejutkan hatinya.
la sengaja bermalam di rumah penginapan di mana dulu dia mengintai lima orang gagah itu, dan mendengar
berita bahwa empat orang kakek gagah itu, ialah Kim-mouw-sai Lim Seng jago Kwi-bun, Kang-jiu Bouw Hin
jago Bi-nam murid Siauw-lim-pai dan dua orang kakek Phang pejuang dari Hun-lam, telah tewas semua
dikeroyok prajurit-prajurit kerajaan yang dipimpin oleh Tan-ciangkun (Panglima Tan)!
Jadi kakaknya sendiri yang telah memimpin barisan serta membunuh empat orang tokoh pejuang gagah
perkasa! Sebetulnya apakah yang terjadi di situ?
Seperti telah diketahui di bagian depan, Phang Khai dan Phang Tui dua orang kakek itu, gagal menangkap
Kwee Sin. Bahkan mereka sendiri hampir celaka kalau tidak tertolong oleh penolong rahasia. Setelah mereka
sadar dan mendapatkan diri mereka berada di halaman kelenteng di mana mereka bermalam, keduanya
menjadi sangat terheran-heran dan juga marah terhadap seseorang yang mereka anggap telah mengkhianati
mereka.
Pada malam ketiga, seperti sudah dijanjikan, mereka mengunjungi rumah penginapan itu dan mengadakan
pertemuan dengan Kang-jiu Bouw Hin, Kim-mouw-sai Lim Seng, serta nyonya Liong yang jadi perantara dan
orang kepercayaan Ji-enghiong dan Si-enghiong, yaitu dua orang tokoh perjuangan yang menjadi pemimpinpemimpin
dari gerakan rahasia atau jelasnya menjadi kepala jaringan mata-mata yang bergerak di dalam kota
raja!
Bouw Hin dan Lim Seng sudah hadir di situ lebih dulu. Nyonya Liong belum juga datang. Terhadap Bouw Hin
dan Lim Seng, kedua orang kakek Phang tidak mau menceritakan pengalaman mereka di gedung Kwee Sin.
Akhirnya datang juga nyonya Liong yang kelihatan gelisah dan berduka. Semua ini tidak terlepas dari pandang
mata dua kakek Phang yang penuh selidik. Mereka melihat betapa mata yang bening itu sekarang nampak
sayu dan ada bekas-bekas air mata.
Begitu memasuki kamar itu, nyonya Liong segera memberikan pesannya dengan suara perlahan dan tergesagesa.
"Kalian lekas pergi dari sini, keadaan berbahaya. Saudara Bouw Hin dan Lim Seng harap segera berangkat ke
tempat markas para pendekar yang dipimpin oleh saudara Su Souw Hwee dan Tan Yu Liang. Katakan bahwa
Ji-enghiong sendiri yang memesan agar mereka memutar pasukan ke arah selatan untuk bergabung dengan
pasukan besar Panglima Kok Ci Seng, dan ji-wi Saudara Phang-lopek harap segera mencari pasukan saudara
Tan Hok dan minta pasukannya membantu teman-teman di barat yang mengalami pukulan hebat. Harap kalian
cepat-cepat pergi dan jalankan tugas dengan baik, keadaan amat gawat di sini." Sambil berkata demikian,
nyonya itu memandang kepada dua orang saudara Phang itu dengan sinar mata menyesal.
Phang Tui yang tidak sabar lalu berkata, "Tentu saja semua tugas itu kami terima dengan baik dan akan kami
jalankan seperti biasa. Akan tetapi ada satu hal yang kami minta supaya nona Lee bicara terus terang dan
memberi penjelasan yang sewajarnya."
Mendengar Phang Tui menyebutnya nona Lee, ‘nenek’ itu mengeluarkan suara tertahan. "Phang-lopek, apa...
apa maksudmu...?"
dunia-kangouw.blogspot.com
Dalam kegugupannya, nenek ini lupa akan penyamarannya. Suaranya tidak parau seperti biasanya melainkan
merdu dan halus, suara seorang wanita muda!
Kini Phang Khai berdiri di samping adiknya, suaranya terdengar kereng penuh tuntutan. "Nona Lee, tak usah
kau berpura-pura lagi, kami sudah tahu bahwa kau adalah seorang nona muda yang menjadi pembantu
Pangeran Souw Kian Bi dan Tan-ciangkun. Semua itu tidak apa dan kami takkan peduli karena kenyataannya
kau bekerja untuk perjuangan kita. Akan tetapi apa artinya pengkhianatanmu kepada kami dan memberi tahu
kepada Kwee Sin akan ancaman kami hendak menangkapnya? Katakanlah, apa artinya semua ini? Siapa
sebenarnya engkau ini? Seorang teman pejuang ataukah seorang pengkhianat, ataukah seorang mata-mata
musuh?" Suara Phang Khai lerdengar penuh ancaman.
Tubuh ‘nenek’ itu gemetar. "Phang-lopek, ahhh... tiada kesempatan lagi. Terlalu panjang untuk diceritakan,
juga rahasia... ahhh, kalian percayalah kepadaku. Pergilah cepat-cepat meninggalkan kota raja, aku tidak
sempat bercerita... entah lain kali, sudahlah, pergilah kalian...”
"Kau harus terangkan lebih dulu!" Phang Tui membentak.
Sedangkan dua orang lain, yaitu Bouw Hin dan Lim Seng, hanya memandang dengan heran. Mereka belum
tahu apa yang telah terjadi dan melihat sikap dua orang saudara Phang itu, timbul pula kecurigaan mereka
terhadap nyonya Liong yang sekarang jelas adalah seorang nona muda she Lee adanya.
"Tidak...tidak bisa, tak sempat lagi..."
"Kalau begitu, kami akan memaksamu!" Phang Tui dan Phang Khai bergerak dan siap menghadapi ‘nenek’ itu
dengan pedang di tangan.
Pada saat itu terdengar suara gerakan orang di luar dan terdengarlah bentakan keras, "Tangkap mata-mata
pemberontak!" Sinar senjata rahasia melayang masuk kamar dan terdengar suara keras disusul padamnya
lampu penerangan.
Phang Khai, Phang Tui, Bouw Hin dan Lim Seng cepat mencabut senjata dan menerjang keluar. Akan tetapi
mereka disambut oleh gerakan pedang yang amat cepat, dihujani pula dengan senjata-senjata rahasia. Karena
keadaan amat gelap, maka mereka repot sekali dan beberapa buah senjata rahasia telah mengenai tubuh
mereka.
“Tan Ciangkun, kau sudah ada di sini? Ha-ha-ha, ternyata kau lebih cepat dari pada aku. Bunuh semua matamata
ini! Ha-ha-ha, tikus-tikus ini belum kenal kelihaian Pangeran Souw Kian Bi!" Orang yang bicara ini
mainkan pedangnya dengan hebat sekali.
Empat orang pejuang itu biar pun sudah mempertahankan diri, namun mereka tidak kuat menghadapi desakan
dua pedang dan hujan senjata rahasia itu. Dalam beberapa jurus kemudian mereka roboh, terluka parah oleh
pedang dan senjata rahasia. Di dalam gelap, Phang Khai dan Phang Tui yang sudah roboh itu mendengar
bisikan suara merdu dan halus, suara ‘nenek Liong’.
Demi mendengar bisikan ini, Phang Tui berseru. "Ayaaaaa, celaka..., bodoh benar aku...”
Phang Khai berseru pula. "Aduhhh... kalau begitu aku pantas mampus!"
Penerangan dinyalakan dan ternyata empat orang pejuang itu sudah tewas semua.
Tentu saja Beng San hanya mendengar berita tentang kematian empat orang mata-mata pemberontak di
tempat itu. Ketika dia melakukan penyelidikan dengan bertanya-tanya, dia mendengar bahwa yang membuka
rahasia mereka itu adalah seorang tokoh yang amat terkenal di kota raja yaitu Lee-siocia.
Beng San membayangkan wajah nona cantik yang menemui Kwee Sin di malam itu, lalu teringat pula dia akan
nyonya Liong. Diam-diam dia berpikir keras, tetapi tidak juga dapat mengerti apa maksudnya semua itu. Pada
dunia-kangouw.blogspot.com
waktu dia mendengar pula bahwa pemimpin penyerbuan yang akhirnya menewaskan empat orang mata-mata
pemberontak itu adalah Tan-ciangkun, diam-diam Beng San menjadi sedih sekali.
"Hemmm, ternyata kakakku telah menjadi kaki tangan Mongol, agaknya menjadi kaki tangan Pangeran Souw
Kian Bi yang jahat itulah. Celaka sekali, kalau orang-orang Han seperti kakakku dan Kwee Sin menjadi kaki
tangan penjajah, seperti ribuan orang lainnya yang dapat dipikat dengan harta dan pangkat, lalu bagaimana
rakyat bisa terhindar dari penindasan penjajah? Aku harus mengingatkan Kui-ko," demikian Beng San
mengambil keputusan di dalam hatinya.
Malam hari itu juga dia berada di depan rumah gedung besar tempat tinggal Tan-ciangkun yang terjaga kuat
oleh prajurit-prajurit tinggi besar. Sengaja Beng San memilih waktu pada malam hari agar dapat bicara dengan
bebas, dan memilih waktu tuan rumah telah selesai tugas dan sedang beristirahat. la menduga-duga apakah
kakaknya itu sudah berkeluarga dan diam-diam ia harus mengakui bahwa gedung tempat tinggalnya itu betulbetul
megah dan mewah.
Melihat Beng San longak-longok di depan pintu gerbang, seorang penjaga menghampiri dan membentaknya.
Beng San malah melangkah maju menghampiri penjaga itu dan berkata ramah. "Harap kau suka memberi
tahukan kepada Tan-ciangkun bahwa adiknya Tan Beng San datang hendak bertemu."
Penjaga itu tertegun, memandang lebih teliti lalu memberi hormat karena dia pun melihat persamaan wajah
antara pemuda ini dengan komandannya.
"Silakan Kongcu masuk dan menanti di ruang tamu, saya akan melaporkan kedatangan Kongcu," katanya.
Tidak lama kemudian Beng San dipersilakan masuk dan penjaga itu sendiri pergi keluar. Beng San memasuki
ruangan dalam dengan hati berdebar tegang. Dia akan berhadapan dengan Beng Kui, orang yang selama ini
selalu dirindukan, yang selalu dia bayangkan dan dia impikan. Kakak kandungnya!
"Ada keperluan apakah kau datang ke sini?" Suara yang angkuh dan dingin, makin seram karena suasana di
ruangan itu remang-remang dan dingin, lagi sunyi.
Beng San mengangkat muka. Dihatnya orang yang dianggap kakak kandungnya itu duduk di kursi menghadapi
meja besar di ruangan yang kosong, pakaiannya dari sutera warna biru. Matanya bersinar-sinar tajam dan
mulutnya menyeringai seperti orang mengejek dan memandang rendah.
Sejenak Beng San tidak dapat berbicara, berdiri tegak di depan meja. Kemudian setelah saling berpandangan,
ia berkata, "Kau... bukankah kau kakakku Tan Beng Kui? Bukankah aku ini adik kandungmu? Kui-ko, di mana
ayah dan ibu? Apa yang telah terjadi padaku waktu aku kecil.”
Suara Beng San mulai menggetar saking terharunya. Sikap dingin kakaknya tak membuat hatinya kecil, tidak
mengusir keharuannya bertemu dengan kakaknya ini.
"Aku tidak memiliki adik seperti kau," jawaban ini terdengar dingin sekali sehingga amat mengagetkan hati
Beng San. "Pergilah, kau jangan menggangguku."
Beng San menjadi marah, mukanya berubah merah. "Kenapa kau hendak menyangkal? Kenapa hendak
membohong dan merahasiakan? Aku yakin bahwa kau adalah kakakku Beng Kui. Kui-ko, apakah kau sudah
lupa? Bukankah di punggungmu ada dua tahi lalat? Apa kau lupa bahwa jidat ayah ada goresan bekas luka
dan lupa betapa lemah lembut ibu kita? Kui-ko..."
"Diam!" Beng Kui menggebrak meja sambil bangkit berdiri. Kedua matanya memancarkan api kemarahan.
"Andai kata dahulu aku mempunyai seorang adik, maka adikku itu sudah mati hanyut di air bah. Lebih baik
mempunyai adik mati dibawa banjir dari pada seorang pengacau yang goblok, seorang yang tolol akan tetapi
bersikap pintar sendiri, membiarkan dirinya terseret dalam pemberontakan jahat. Sudahlah, kau pergi dari sini,
aku tidak kenal kau!”
dunia-kangouw.blogspot.com
"Tapi... tapi, aku..." Beng San tergagap, "... aku ingin mengetahui di mana ayah ibuku..." Hampir dia menangis
karena sikap kakaknya ini benar-benar di luar dugaannya. Teringat dia ketika di Hoa-san-pai dahulu kakaknya
ini pun membuang ludah ketika melihat dia.
"Sudah mati semua.. mati ditelan Sungai Huang-ho..."
Bercucuran air mata di kedua pipi Beng San yang sekarang menjadi pucat. "Di mana... dikuburnya? Aku... aku
ingin menyambangi makam mereka... ingin bersembahyang... ah, ayah ibu…"
Kini suara Beng Kui juga terdengar serak dan menggetar. "Di dekat Kiu-liong-kiauw di Shan-si..."
Mendengar suara kakaknya ini, makin terharulah Beng San. la melangkah maju. "Kui-ko... kakak kandungku...
tak maukah kau memelukku...?"
Pada saat itu terdengar suara nyaring penjaga dari luar, "Pangeran Souw datang hendak berkunjung kepada
Tan-ciangkun!"
"Pergilah!" kata Beng Kui. "Kau hanya mengacau dan merusak kedudukanku. Aku tidak mau kenal kau lagi.
Pergi sekarang, melalui pintu belakang ini, jangan kau datang lagi, kalau nekat, akan kutangkap dan kujatuhi
hukuman sebagai pemberontak!"
Seketika menjadi panas hati Beng San. Tidak disangkanya kakak kandungnya sejahat ini moralnya.
"Kau... anjing Mongol, kau sudah membunuh para orang gagah di rumah penginapan dan sekarang kau
mengancam hendak membunuh adik kandung sendiri?"
"Tutup mulutmu dan pergilah! Siapa sudi bicara dengan segala macam pemberontak?! Pergi!"
Dengan dada panas seperti hendak dibakar rasanya, Beng San melangkah pergi melalui pintu yang ditunjuk
tadi. Begitu keluar, dia tiba di taman belakang dan seorang penjaga sudah siap mengantarnya keluar.
Setelah tiba di tempat gelap, dengan kepandaiannya Beng San menyelinap dan meloncat masuk lagi,
langsung dia melayangkan tubuhnya naik ke atas genteng dan di lain saat dia telah mengintai ke dalam
ruangan di mana tadi kakaknya menyambut kedatangannya. la melihat Pangeran Souw Kian Bi tertawa-tawa
memasuki ruangan itu, disambut dengan penuh kehormatan oleh Tan Beng Kui.
"Ha-ha-ha-ha, Tan-ciangkun, mengapa kau main kucing-kucingan? Bukankah dia itu adik kandungmu yang
betul-betul dan yang selama bertahun-tahun ini kau cari-cari?" Pangeran itu tertawa. "Alangkah lucunya kalau
kuingat bahwa ketika kecilnya dulu pun aku pernah melihatnya. Ha-ha-ha, adikmu itu tolol akan tetapi berani,
sayang... dia mau diperalat oleh pemberontak-pemberontak."
"Hemmm, siapa yang sudi mempunyai adik macam dia? Pangeran, satu kali ini saja aku mengampuni dia
karena mengingat keturunan. Akan tetapi jika lain kali dia berani muncul, di dalam hatiku aku sudah
menganggap dia seorang anggota pemberontak, bukan adik lagi. Lain kali tanganku sendiri akan
menggunakan pedang memenggal lehernya."
"Bagus! Tentu saja aku sudah ketahui semua isi hati dan kesetiaanmu pada pemerintah, Ciangkun. Sekarang
marilah kita bicarakan hal penting. Kau tentu tahu bahwa usahaku dengan pasukan melakukan pengejaran
atas Kwee-ciangkun yang dilarikan orang-orang Pek-lian-pai tidak berhasil. Tadinya kusangka adikmu yang
tolol itu yang berubah lihai dan melarikannya, eh, kiranya dia masih berada di sini. Jadi terang kalau di
belakangnya ada tokoh-tokoh Pek-lian-pai. Maka aku lalu mengerahkan lima orang perwira dan membawa
sepasukan yang kuat, dibantu oleh dua cianpwe (orang tua gagah), pergi menyusul ke Hoa-san. Perbuatan
kekerasaan menculik Kwee-ciangkun yang telah menjadi perwira ke Hoa-san, cukup dijadikan alasan bahwa
Hoa-san-pai hendak membantu pemberontak."
Tan Beng Kui mengangguk-angguk. "Bagus sekali tindakan Pangeran. Akan tetapi kenapa tidak memimpin
sendiri atau setidaknya mewakilkan padaku untuk membereskan urusan besar itu."
dunia-kangouw.blogspot.com
Souw Kian Bi tertawa bergelak, menyambar cawan arak yang dibawa masuk pelayan lalu diminumnya sekali
teguk. "Ha-ha-ha, untuk urusan itu sudah cukup ditangani dua cianpwe itu. Lebih penting sekali adalah urusan
di sini, yang terjadi di depan mata kita, Ciangkun."
"Urusan apakah itu?"
"Tan-ciangkun, kita benar-benar sudah dipermainkan oleh musuh. Dari surat-surat yang kudapatkan di tubuh
mata-mata pemberontak itu, jelas bahwa kota raja ini penuh dengan jaringan mata-mata yang dipimpin oleh
dua orang yang disebut-sebut sebagai Ji-enghiong (Pendekar ke dua) dan Si-enghiong (Pendekar ke empat).
Ternyata kedua orang tokoh mata-mata yang ini sudah berada di sini bertahun-tahun lamanya."
"Aku pun sudah mengetahui tentang surat itu. Akan tetapi apakah surat-surat itu dapat dipercaya? Kenapa
tidak disebutkan siapa orangnya dan di mana rumahnya? Pangeran, jangan-jangan surat itu hanyalah siasat
untuk membingungkan kita saja."
Pangeran itu menggelengkan kepalanya. "Hemmm, wawasanku tidak sesederhana itu, Ciangkun. Tadinya aku
sendiri menganggap demikian, akan tetapi setelah aku renungkan dan kuhubung-hubungkan semua kejadian
yang lalu, aku malah hampir yakin bahwa aku tahu siapa adanya Ji-enghiong dan Si-enghiong pemimpin matamata
itu."
"Bagus sekali kalau begitu. Biar pun baru dugaan, lebih baik kita tangkap dulu orangnya, paksa supaya
mengaku. Apa sukarnya?" Tan Beng Kui berkata cepat dengan girang.
"Hemmm, kiranya kau masih belum dapat menduga siapa mereka itu? Benar-benar aku heran kalau kau yang
biasanya amat cerdik ini masih tidak dapat menduga siapa adanya Ji-enghiong dan Si-enghiong itu?"
"Dalam hal ini aku harus mengakui kekuranganku, Pangeran. Siapakah dua orang tokoh pemberontak itu?
Harap suka memberi tahukan dan biarlah aku akan turun tangan sendiri menangkap mereka."
"Seorang di antaranya adalah Kwee Sin."
"Apa...?!" Wajah Beng Kui berubah sekali dan dia benar-benar terkejut mendengar ini. "Pangeran, harap kau
jangan main-main!"
"Tidak, Ciangkun. Dugaanku ini tidak mungkin keliru, seorang di antara mereka itu, entah Ji-enghiong entah Sienghiong,
adalah Kwee Sin. Dan yang seorang lagi, sudah tentu adalah Lee Giok..."
"Tidak mungkin!" Beng Kui sampai melompat dari bangkunya, kemudian dia pun tertawa bergelak. "Sekali ini
Souw-taijin benar-benar main-main. Lee-siocia adalah puteri keluarga bangsawan Lee yang sudah terkenal,
juga dia telah banyak membantu kita. Mana bisa dia dituduh kepala mata-mata? Ahh, aku mana bisa percaya
akan hal ini?"
"Tuduhanku bukan hanya serampangan saja, Tan-ciangkun, akan tetapi juga berdasarkan perhitungan.
Selama ini segala rahasia kita bocor sehingga gerakan para pemberontak dapat cepat dan semakin
mengancam kedudukan kita. Akan tetapi kejadian kali ini, coba Ciangkun pikir. Kwee Sin lenyap, katakanlah
diculik musuh-musuhnya akan tetapi kenapa nona Lee Giok terlihat menyamar sebagai seorang nenek dan
mengadakan pertemuan dengan dua orang kakek yang mencoba untuk menculik Kwee Sin, kemudian nona
Lee Giok bahkan diam-diam menghilang dari kota raja? Dan menurut penyelidikan, nona Lee Giok mengejar
Kwee Sin ke Hoa-san."
"Begitukah? Tetapi, bisa jadi kalau nona Lee Giok bermaksud menolong Kwee Sin dari tangan para
pemberontak."
Souw Kian Bi tertawa. "Betul ada kemungkinan itu, akan tetapi biarlah kita sama lihat saja. Aku sudah
mengutus pasukan itu menyusul dan membawa mereka berdua kembali ke kota raja, kalau perlu
menghancurkan Hoa-san-pai."
dunia-kangouw.blogspot.com
"Hoa-san-pai adalah partai yang kuat, banyak terdapat orang pandai di sana dan Lian Bu Tojin sendiri
mempunyai kesaktian yang tinggi. Mana bisa dihancurkan begitu saja oleh sebuah pasukan?" tanya Tan Beng
Kui.
"Ha-ha-ha, kau tidak tahu siapa adanya dua orang cianpwe itu? Seorang adalah Hek-hwa Kui-bo dan orang ke
dua adalah Siauw-ong-kwi Locianpwe. Ha-ha-ha, apakah mereka itu tidak cukup kuat untuk menghancurkan
Hoa-san-pai?"
"Hebat! Benar-benar aku takluk kepadamu, Pangeran. Bagaimana kau dapat menarik dua orang locianpwe itu
untuk membantu kita menumpas Hoa-san-pai?"
Souw Kian Bi tertawa girang sekali. Jarang dia bisa mendapat pujian Tan Beng Kui yang biasanya amat cerdik
dan banyak membuat jasa itu.
"Baiklah, aku berterus terang kepadamu. Hek-hwa Kui-bo dapat ditarik karena permintaan muridnya, Kimthouw
Thian-li..."
"Hemmm, tentu kekasih Kwee Sin itu, bukan? Bagus!"
"Selain kekasih Kwee Sin, Kim-thouw Thian-li dengan Ngo-lian-kauw yang dipimpinnya, harus diakui sudah
sangat banyak jasanya terhadap kita, apa lagi dalam hal mengadu domba golongan-golongan pemberontak.
Ada pun Siauw-ong-kwi Locianpwe, biar pun dia seorang pertapa yang aneh, tetapi dia berasal dari utara,
tentu saja suka membantu kita. Aapa lagi dia ditangisi muridnya yang ingin mendapatkan seorang gadis anak
murid dari Hoa-san pai."
"Kau maksudkan si Raja Ular Giam Kin itu, Pangeran?"
"Siapa lagi kalau bukan dia?" Souw Kian Bi tertawa. "Siluman cilik itu sudah tergila-gila kepada murid Hoa-sanpai
yang bernama Thio Bwee. Ha-ha-ha!"
Tan Beng Kui juga tertawa sehingga dua orang berpangkat ini tertawa bergelak. Suara ketawa mereka
memenuhi ruangan itu.
Beng San dengan hati gemas dan kaget cepat pergi dari situ untuk menyusul ke Hoa-san. Hoa-san-pai
terancam bahaya besar, pikirnya. Dia harus cepat pergi ke Hoa-san untuk membantu Hoa-san-pai dari
kehancuran. Juga kalau betul apa yang dia dengar dari Souw Kian Bi tadi bahwa Kwee Sin adalah seorang
pemimpin pasukan mata-mata pejuang, dia harus menyelamatkannya.
Diam-diam Beng San bingung, juga terharu. Betulkah Kwee Sin seorang pejuang? Malah menjadi pemimpin di
kota raja, di ‘mulut harimau’? Dan nona muda Lee Giok itu? Betulkah dia pemimpin pejuang pula? Ahhh,
rasanya tak masuk di akal…..
********************
Biar pun mulutnya memaki-maki Kwee Sin yang berlutut di depannya bersama Bun Lim Kwi, akan tetapi di
dalam hatinya Pek Gan Siansu menjadi terharu sekali dan juga girang bahwa bekas muridnya ini sekarang
mau menyerahkan diri dan bersedia membersihkan nama baik Kun-lun-pai.
"Kau murid murtad, kembalikan pedang kami!" kata Pek Gan Siansu setelah mendengar penuturan Bun Lim
Kwi dan mendengar permohonan ampun Kwee Sin yang menangis di depan suhu-nya.
Dengan air mata berlinang Kwee Sin meloloskan pedangnya yang dahulu dia terima dari gurunya. Dengan
berlutut dan dengan kedua tangan dia mengembalikan pedang itu.
Pek Gan Siansu memegang pedang dengan dua tangan, mengerahkan tenaga dalamnya dan…
"Pletakkk!" pedang itu patah menjadi dua potong.
dunia-kangouw.blogspot.com
Dilemparkannya potongan pedang ke atas tanah sambil berkata, "Semenjak saat ini kau bukan anak murid
Kun-lun-pai lagi. Karena kau sudah dianggap sebagai orang luar yang mencemarkan nama baik Kun-lun-pai
dan mengadu Kun-lun-pai terhadap Hoa-san-pai, maka kau adalah tangkapan ketua dan hendak kami
antarkan ke Hoa-san-pai. Gara-gara perbuatanmulah pinto kehilangan murid-murid terkasih yang dulu terkenal
dengan nama Kun-lun Sam-heng-te! Karena kaulah maka hubungan baik Kun-lun-pai dan Hoa-san-pai
menjadi pecah-belah. Lim Kwi, bersiaplah, kau dan aku sendiri akan mengantarkan orang tangkapan ini ke
Hoa-san-pai untuk menebus dosa."
Bun Lim Kwi yang sudah beberapa lamanya melakukan perjalanan berdua dengan Kwee Sin, sudah
mendengar penuturan bekas murid Kun-lun-pai ini, dengan suara terharu terus memintakan ampun dan
mengingatkan gurunya bahwa sebenarnya Kwee Sin tak pernah melakukan semua perbuatan jahat itu, yang
melakukan semua itu adalah orang-orang dari Ngo-lian-kauw.
"Dia sudah begitu rendah untuk jatuh oleh rayuan siluman wanita Ngo-lian-kauw, dengan sendirinya semua
perbuatan Ngo-lian-kauw yang tidak ditentangnya menjadi tanggung jawabnya juga." Hanya demikian jawaban
Pek Gan Siansu singkat.
Lim Kwi tidak berani membantah lagi dan berangkatlah tiga orang ini ke Hoa-san.
Lian Bu Tojin, Kwa Tin Siong, dan Liem Sian Hwa bersama tosu Hoa-san-pai menyambut kedatangan Pek
Gan Siansu, Lim Kwi, dan Kwee Sin.
"Lian Bu Tojin," kata Pek Gan Siansu setelah mereka saling memberi hormat, "bekas murid yang durhaka ini
sekarang sudah datang untuk mempertanggung jawabkan semua kesalahannya kepada Hoa-san-pai. Silakan
kau mengambil keputusan dan mengadili dia. Kau mau menghukum dia atau apa saja, tidak ada hubungannya
lagi dengan kami dari Kun-lun-pai. Maka, dengan datangnya dia ini, kuharap kau suka menghabiskan segala
permusuhan dan suka menerima usulku untuk menjodohkan muridku Bun Lim Kwi dengan seorang di antara
anak muridmu."
"Pek Gan Siansu, urusan perjodohan adalah urusan baik dan hal ini dapat dibicarakan lain hari. Sekarang yang
penting adalah mengadili orang yang selama ini menjadi biang keladi segala keributan. Pinto hendak
mendahulukan pengadilan ini."
Ketua Hoa-san-pai itu lalu memberi tanda dengan tepukan tangan dan memerintahkan beberapa orang tosu
untuk membawa Kwee Sin ke dalam ‘ruang pengadilan’. Ruangan pengadilan ini berada di tengah-tengah,
merupakan ruang yang lebar dan biasanya di sinilah para anak murid Hoa-san-pai Yang melakukan
penyelewengan diadili dan dijatuhi hukuman.
Lian Bu Tojin sudah duduk di atas bangku. Kwa Tin Siong dan Liem Sian Hwa berdiri di kanan kirinya, lalu
berturut-turut muncul Thio Ki, Thio Bwee dan Kui Lok yang berdiri di belakang ketua Hoa-san-pai itu. Di pinggir
ruangan itu berjajar murid-murid Hoa-san-pai tingkat paling tinggi dan keadaan di situ amatlah angkernya.
Sebagai tamu, Pek Gan Siansu dan Bun Lim Kwi mendapat tempat duduk di samping. Wajah kakek Kun-lunpai
ini nampak muram, demikian pula Bun Lim Kwi. Hal ini tidak mengherankan oleh karena orang yang
hendak diadili ini adalah bekas murid Kun-lun-pai.
Oleh seorang tosu penjaga, Kwee Sin dibawa masuk dan disuruh berlutut di depan ketua Hoa-san-pai. Akan
tetapi Kwee Sin tak mau berlutut, dan hanya menjura dengan memberi hormat sambil berkata,
"Saya Kwee Sin menghaturkan hormat kepada ketua Hoa-san-pai. Terhadap Hoa-san-pai saya tidak merasa
mempunyai kesalahan apa-apa, oleh karena itu saya terpaksa menolak untuk berlutut sebagai seorang
pesakitan, saya hanya suka menghadap sebagai seorang yang hendak ditanyai tentang hal-hal yang
menjadikan salah paham dan menimbulkan keributan." Suara Kwee Sin tetap dan sama sekali tidak gugup,
hanya pandang matanya yang berani menentang siapa saja di situ, tetapi dia selalu menghindarkan pandang
mata ke arah Liem Sian Hwa.
Kwa Tin Siong bertugas mewakili gurunya untuk mengajukan pertanyaan-pertanyaan. Mendengar ucapan
Kwee Sin itu, dengan muka keren dia berkata, "Kwee Sin, kau dengan enak menyatakan tidak mempunyai
dunia-kangouw.blogspot.com
kesalahan apa-apa kepada Hoa-san-pai. Kalau begitu coba kau jawab dan terangkan soal-soal yang terjadi
selama ini, yang sekarang hendak kami tuduhkan kepadamu. Pertama, bukankah ayah sumoi Liem Sian Hwa
tewas dalam tanganmu atau setidaknya akibat perbuatanmu? Ke dua, pada saat kau diantar oleh dua orang
suheng-mu ke sini beberapa tahun yang lalu, kemudian kau ternyata bersekongkol dengan Ngo-lian-kauw dan
malah menipu kami, lari bersama Hek-hwa Kui-bo sehingga terjadi bentrok antara suheng-suheng-mu dengan
kami pihak Hoa-san-pai. Bukankah hal ini menjadikan permusuhan dan disebabkan oleh kecuranganmu? Ke
tiga, kau lalu lari berkomplot dengan Ngo-lian-kauw, kemudian kau juga menyerbu ke Hoa-san-pai, berhasil
membunuh dua orang sute-ku dan melukai kami dengan bantuan Ngo-lian-kauw beserta Hek-hwa Kui-bo pula.
Ke empat, kau kini menjadi pembesar di kota raja di samping pihak Ngo-lian-kauw, membiarkan kami dan Kunlun-
pai bermusuhan, saling bunuh-membunuh, sengaja kau diam saja dan membiarkan permusuhan berlarutlarut.
Bukankah ini sesuai dengan siasat pemerintah dan memang kau sengaja bermaksud mengadu domba
serta menghancurkan Hoa-san-pai? Nah, sekarang coba kau jawab empat macam tuduhan ini lalu katakan
bagaimana kau berani bilang tidak bersalah terhadap Hoa-san-pai?"
Wajah Kwee Sin menjadi pucat. Akan tetapi dia berdiri tegak dan matanya bersinar penuh semangat.
”Sekali penyesalan yang layak kutebus dengan nyawa. Demi keutuhan hubungan antara Kun-lun-pai dan Hoasan-
pai, biarlah pada saat ini aku Kwee Sin, seorang bekas murid Kun-lun-pai..." sampai di sini suaranya
menggetar karena terharu, "...aku akan berterus terang. Hoa-san It-kiam Kwa Tin Siong, baiklah aku akan
menjawab dan menerangkan pertanyaan-pertanyaan yang kau ajukan itu satu demi satu. Pertanyaan pertama
tentang kematian Liem Lo-enghiong, seperti juga dahulu pernah kunyatakan, kematiannya sama sekali bukan
sebab perbuatanku. Aku tidak membunuhnya, bahkan tidak pernah bertemu dengannya. Hal ini berani
kunyatakan dengan sumpah sebagai bekas murid Kun-lun..."
"Jangan sebut-sebut nama Kun-lun-pai," kata Pek Gan Siansu, tenang namun berwibawa.
"Maafkan teecu..." Kwee Sin cepat berkata, suaranya parau, kemudian dia menghadapi Kwa Tin Siong lagi.
"Aku berani bersumpah sebagai seorang laki-laki, demi kehormatan dan namaku, aku tidak membunuh Liem
Lo-enghiong."
Kwa Tin Siong dan yang lain-lain pernah mendengar dari Beng San tentang hal ini, akan tetapi karena menurut
anggapan mereka tetap saja Kwee Sin yang telah menjadi biang keladinya, Kwa Tin Siong mendesak terus,
"Kalau kau begitu yakin bahwa kau bukan pembunuhnya, sudah tentu kau tahu siapa pembunuhnya yang
menggunakan pukulan Pek-lek-jiu? Liem-sumoi menuduh bahwa ayahnya kau bunuh karena ada tanda luka
bekas pukulan Pek-lek-jiu, diperkuat dugaan bahwa tentu kau malu dan marah terlihat oleh ayahnya ketika kau
berpesiar bersama ketua Ngo-lian-kauw."
Wajah Kwee Sin yang tadinya pucat berubah merah sebentar, lalu pucat lagi.
"Tadinya aku tidak tahu siapa pembunuhnya, baru kemudian ini aku mengetahui semua bahwa memang orang
menggunakan namaku dengan maksud mengadu domba antara Hoa-san-pai dan Kun-lun-pai."
"Siapa orang itu?"
Kwee Sin tampak ragu-ragu, akan tetapi kemudian berkata, "Pembunuh ayah nona Liem adalah Kim-thouw
Thian-li ketua Ngo-lian-kauw bersama anak buahnya yang menyamar sebagai anggota-anggota Pek-lian-pai!"
Sunyi seketika, hanya terdengar isak tangis Liem Sian Hwa dan disusul bisikannya, "Aku, harus membasmi
Ngo-lian-kauw..."
Akan tetapi kesunyian itu segera dipecahkan oleh suara Kwee Sin yang melanjutkan lagi keterangannya dan
kini semua orang kembali mendengarkannya penuh perhatian.
"Keterangan untuk menjawab tuduhan ke dua dapat kujelaskan dengan sumpah pula bahwa ketika aku datang
ke sini diantar oleh kedua orang suheng-ku, aku benar-benar bermaksud hendak memberi keterangan seperti
yang kulakukan pada ini hari. Akan tetapi, Cuwi sekalian di sini telah mengetahui betapa aku yang hendak
mengakhiri hidupku untuk menebus dosa, tidak berdaya ketika disambar pergi oleh Hek-Hwa Kui-bo. Terhadap
kepandaian nenek itu, aku yang bodoh bisa berbuat apakah? Dan memang aku mengakui bahwa sejak itu aku
dunia-kangouw.blogspot.com
bekerja di kota raja sebagai perwira, ada pun hal ini adalah rahasia pribadiku dan tak perlu kuterangkan
kepada siapa pun juga."
Pek Gan Siansu mengeluarkan suara mendengus dengan hidungnya. Kakek itu merasa terpukul mendengar
betapa bekas muridnya tanpa malu-malu mengaku sudah bekerja sebagai perwira di kota raja, berarti bekerja
sebagai anjing penjajah. Padahal dahulu dia tahu betul betapa besar semangat Kwee Sin untuk menentang
penjajah dan membantu perjuangan kaum patriot.
"Tentang pertanyaan ketiga, terang aku mengakui bahwa memang ada niat di hatiku untuk melakukan
pembalasan dendam atas kematian dua orang suheng-ku di tempat ini. Pada waktu itu kupikir bahwa dua
orang suheng-ku itu sama sekali tidak bersalah. Mereka datang hanya untuk mengantar aku dan memaksa aku
menjelaskan duduknya perkara. Siapa kira... dua orang suheng-ku itu, orang-orang gagah perkasa yang
berbudi, menemui kematian di sini secara menyedihkan. Karena itulah aku datang melakukan pembalasan,
dibantu oleh pihak Ngo-lian-kauw. Sebagai pengganti nyawa dua orang suheng-ku, aku berhasil merenggut
nyawa dua orang murid Hoa-san-pai, bukankah itu sudah pantas?"
Sampai di sini Kwee Sin tersenyum pahit, jelas dia memperlihatkan sikap menyesal bukan main.
"Sekarang pertanyaan ke empat, memang aku menjadi pembesar di kota raja. Terhadap permusuhan antara
Kun-lun-pai dan Hoa-san-pai, aku tak dapat berbuat apa-apa karena kedudukanku sebagai perwira. Dan untuk
hal ini pun aku mempunyai rahasia pribadi yang tak dapat kujelaskan sekarang mau pun kelak karena rahasia
itu akan kubawa mati. Nah, para orang gagah dari Hoa-san-pai, aku Kwee Sin sudah menjelaskan semua."
Kwa Tin Siong berbisik-bisik dengan Lian Bu Tojin, kemudian dia maju dan berkata pula, suaranya nyaring
jelas, "Kwee Sin, kami rasa pengakuan-pengakuanmu itu cukup jujur, kecuali mengenai rahasia pribadi yang
kau sembunyikan. Kami kira kau akan cukup jujur pula untuk mengakui bahwa perbuatanmulah yang jadi biang
keladi semua permusuhan antara Kun-lun-pai dan Hoa-san-pai. Selamanya dua partai ini menjadi sahabatsahabat
baik, malah telah ada ikatan kekeluargaan antara kedua partai melalui sumoi dan engkau. Akan tetapi,
dengan tak kenal malu kau telah melakukan perhubungan gelap yang sangat hina dengan siluman betina Kimthouw
Thian-li dari Ngo-lian-kauw sehingga terlihat oleh ayah sumoi dan mengakibatkan ayah sumoi dibunuh
oleh Kim-thouw Thian-li. Kemudian kau bukannya insyaf, malah kau melanjutkan hubungan itu dengan pihak
Ngo-lian-kauw, ditambah lagi menduduki jabatan perwira di kota raja. Sekarang hendak kami tanya, bagai
mana pertanggungan jawabmu terhadap semua ini? Ingat, bahwa karena perbuatanmu yang rendah itu, telah
banyak jatuh korban, baik di pihak Hoa-san-pai mau pun dari pihak Kun-lun-pai. Dan tanpa ada pertanggungan
jawabmu, kiranya dua pihak akan terus turun tangan."
Dengan sikap gagah Kwee Sin mengangkat dada dan berkata nyaring, "Sejak kecil aku dididik oleh Kun-lunpai
untuk menjadi seorang laki-laki yang menjunjung tinggi keadilan dan kebenaran." Sampai di sini suaranya
menggetar terharu dan dia mengerling ke arah Pek Gan Siansu yang duduk tak bergerak seperti patung.
"Sudah tentu saja aku mengakui semua kesalahanku, yaitu bahwa karena hubunganku dengan Kim-thouw
Thian-li maka terjadi keributan dan permusuhan antara Kun-lun-pai dan Hoa-san-pai. Para orang gagah Hoasan-
pai, aku Kwee Sin mengaku berdosa dan terserah hukuman apa yang hendak kalian jatuhkan kepadaku."
Kembali Kwa Tin Siong berbisik-bisik dengan gurunya, kemudian dia menerima sebatang pedang dari tangan
Lian Bu Tojin, pedang pusaka Hoa-san-pai! Dengan tenang dan suara tegas Kwa Tin Siong berkata,
"Kesalahanmu terhadap Hoa-san-pai menimbulkan banyak korban nyawa anak murid Hoa-san-pai, karena itu
seperti keharusan hukum kang-ouw, hutang nyawa bayar nyawa. Kwee Sin, mengingat akan hubungan antara
Kun-lun-pai dan Hoa-san-pai, Suhu memberi keringanan kepadamu dan mempersilakan kau menjatuhkan
hukuman bayar hutang nyawa dengan tanganmu sendiri."
Kwee Sin memandang ke arah pedang itu, lalu menerimanya dan tiba-tiba menjatuhkan diri berlutut di depan
Pek Gan Siansu. "Suhu, perkenankanlah teecu mohon kemurahan hati Suhu untuk terakhir kali. Teecu yang
banyak berdosa terhadap Suhu, mohon supaya Suhu yang menjalankan hukuman ini sebagai penebus dosa
teecu."
Wajah Pek Gan Siansu agak pucat. Sebetulnya di lubuk hatinya, kakek ini amat sayang kepada Kwee Sin,
akan tetapi karena kenyataannya membuktikan bahwa Kwee Sin telah melakukan penyelewengan, dia pun tak
dapat berbuat apa-apa kecuali menyesal.
dunia-kangouw.blogspot.com
"Kau bukan muridku lagi, aku tidak berhak mencampuri urusan hukuman."
Mendengar ini, Kwee Sin bangkit berdiri dengan air mata berlinang, lalu berkata perlahan, "Kwee Sin memang
sudah terlalu berdosa, patut mengakhiri hidupnya..."
Pedang berkelebat ke arah lehernya.
"Kwee-enghiong...!" Jerit melengking ini terdengar dibarengi oleh berkelebatnya bayangan kuning yang
ternyata adalah seorang gadis cantik berbaju kuning.
Akan tetapi terlambat datangnya, pedang di tangan Kwee Sin sudah membabat lehernya. Jeritan tadi hanya
mengagetkan Kwee Sin sehingga gerakan pedangnya agak tertahan dan batang lehernya tidak putus. Akan
tetapi luka di lehernya cukup hebat, membuat dia roboh terguling bermandi darah.
Gadis itu menangis dan menubruknya, memeluk dan mengangkat tubuh bagian atas yang dipangkunya.
"Kwee-enghiong... kau... kau... ahhh, mengapa kau mau menuruti kemauan orang-orang yang mau enak
sendiri? Kwee-enghiong... kau dengarkan aku, kau dengar aku... aku Lee Giok, aku cinta padamu, ahhh…
jangan kau tinggalkan aku..."
Nona baju kuning ini bukan lain adalah Lee Giok yang sudah kita kenal suka menyamar sebagai nyonya Liong,
mendekap kepala yang berlumuran darah itu sambil menangis. Dia kemudian kelihatan beringas dan marah,
diletakkan kembali Kwee Sin ke atas tanah lalu dia meloncat berdiri menghadapi orang-orang Kun-lun-pai dan
Hoa-san-pai yang bengong menyaksikan itu semua.
"Kalian orang-orang kejam! Kalian orang-orang buta tak mengenal orang! Kalianlah yang memaksa Kweeenghiong
membunuh diri!"
Liem Sian Hwa makin sakit hatinya melihat betapa sekarang, selain Kim-thouw Thian-li, ada lagi seorang gadis
cantik yang mencinta Kwee Sin dan datang-datang memaki-maki, maka ia pun membentak, "Siluman dari
mana datang-datang hendak mencampuri urusan kami?" la melangkah maju dan mencabut pedangnya.
Lee Giok dengan mata berapi memandang Sian Hwa. "Hemm, kau tentulah Kiam-eng-cu Liem Sian Hwa yang
dulu menjadi tunangan Kwee-enghiong, bukan? Orang yang mabuk akan dendam, yang memikirkan diri
sendiri, yang sempit pandangan. Orang seperti kau ini mana patut disandingkan Kwee-enghiong yang gagah
perkasa?"
"Cih, asal buka mulut saja," Sian Hwa balas memaki. "Dia begitu hina untuk berhubungan dengan ketua Ngolian-
kauw, dan merendahkan diri dengan menjadi kaki tangan penjajah, menjadi pengkhianat bangsa. Dan kau
masih memuji-mujinya. Kiranya kau pun tidak akan jauh sifatnya dengan orang-orang macam dia dan Kimthouw
Thian-li!"
"Bodoh! Goblok orang-orang macam kalian!" Lee Giok memaki, air matanya bercucuran. "Ahhh... buta kalian!
Dia ini adalah Si-enghiong..."
Tiba-tiba Pek Gan Siansu yang merasa curiga akan semua adegan itu, bertanya. "Siapa itu Si-enghiong
(Pendekar keempat)?"
"Nona Lee... ehh, Siok-moi... aku...?”
Mendengar suara ini Lee Giok tidak pedulikan semua orang dan cepat berlutut.
“…kau hati-hatilah... mereka sudah tahu... sudah mulai mencurigai... kita sudah… mereka ketahui… awas...
lekas peringatkan dia..."
"Siapa?" Lee Giok bertanya, suaranya tergetar, air matanya mengucur deras.
"Ji-enghiong..."
dunia-kangouw.blogspot.com
"Siapa dia? Siapa Ji-enghiong? Lekas kau katakan, sampai sekarang aku sendiri belum tahu siapa Jienghiong.
Lekas katakan..."
"Dia... dia... dia… ahhhhh...” Kwee Sin tak dapat melanjutkan kata-katanya karena sudah kehilangan
nyawanya.
Lee Giok memeluk dan menangis tersedu-sedu, tak peduli bahwa darah dari leher Kwee Sin membasahi muka
dan pakaiannya. Semua orang terharu juga melihat kejadian ini dan tanpa terasa mata Sian Hwa juga menjadi
basah.
Pek Gan Siansu tidak tega hatinya. "Lim Kwi, kau rawatlah baik-baik jenazah Kwee Sin. Biar pun dia bukan
muridku lagi tapi..."
Lim Kwi yang pada dasarnya berwatak penuh welas asih dan dia memang suka kepada Kwee Sin, segera
melangkah maju hendak mengangkat jenazah Kwee Sin.
Akan tetapi Lee Giok membentak. "Jangan sentuh dia!"
Dia lalu bangkit berdiri, dadanya turun naik, napasnya memburu, matanya berkilat-kilat. Wajahnya pucat dan
menjadi mengerikan karena berlepotan darah Kwee Sin.
"Kalian tidak berharga untuk menyentuhnya! Kalian ini pengecut-pengecut tak tahu malu. Bermata dua tapi
buta tak melihat, tidak dapat membedakan mana yang palsu mana yang tulen, tidak tahu mana yang baik
mana yang buruk. Kalian tidak tahu siapa dia yang kalian paksa bunuh diri ini? Dia adalah orang ke dua di kota
raja yang memimpin para pejuang melakukan gerakan di bawah tanah. Dia ini adalah orang kepercayaan Ciutaihiap.
Kalian tahu mengapa dia melakukan hubungan dengan Kim-thouw Thian-li? Hal itu disengaja, karena
merupakan rencana dari atasan. Kalau tidak mendekati Kim-thouw Thian-li, mana dia bisa memasuki kota raja,
mendapat kepercayaan orang-orang yang berkuasa di kota raja? Dia sengaja mengorbankan perasaannya,
sengaja menghubungi Kim-thouw Thian-li sehingga para pembesar di kota raja percaya kepadanya, sehingga
dengan aman dan mudah dia dapat mengorek rahasia-rahasia ketentaraan dan bisa membantu dan memberi
petunjuk kepada saudara-saudara seperjuangan yang bergerak di luar kota raja! Jasanya untuk perjuangan
sudah banyak sekali, dia seorang patriot sejati yang tidak segan-segan mengorbankan perasaan,
mengorbankan kekasih, mengorbankan segalanya untuk tanah air dan bangsa. Dan kalian ini... orang-orang
yang hanya ingat akan kepentingan diri sendiri, tidak peduli akan perjuangan bangsa, malah ribut saling
gontok-gontokan antara saudara sendiri, orang-orang macam kalian ini sekarang memaksa dia membunuh
diri? Celaka... celaka... semoga Thian mengutuk kalian semua!"
Lee Giok menangis lagi dan semua orang yang berada di situ terpaku dengan muka pucat dan sinar mata
bingung. Tidak terkecuali Pek Gan Siansu dan Lian Bu Tojin yang saling pandang dengan muka pucat dan
sedih. Mereka masih ragu-ragu akan kebenaran semua keterangan nona yang tidak mereka kenal itu.
Keterangan ini aneh luar biasa, terlalu asing sehingga kelihatan agak mustahil. Kwee Sin menjadi pemimpin
pejuang di kota raja? Dan semua kelakuannya yang dipandang rendah itu adalah siasat untuk perjuangan?
Akan tetapi keterangan mereka itu lenyap seketika setelah terjadi hal berikutnya…..
Tiba-tiba terdengar suara teriakan-teriakan, "Tangkap pemberontak! Tangkap mata-mata pemberontak!" Dan
serta merta muncullah rombongan pasukan tentara pemerintah yang bersenjata lengkap, jumlahnya seratus
orang lebih!
Bukan main kaget hati Pek Gan Siansu dan Lian Bu Tojin ketika melihat bahwa di antara pasukan itu terdapat
seorang wanita cantik berusia empat puluh tahun lebih, membawa sapu tangan sutera beraneka warna dan
seorang kakek berbaju kuning. Betapa tidak akan kaget hati mereka karena wanita yang sebenarnya sudah
berusia enam puluh tahun itu adalah Hek-hwa Kui-bo, sedangkan kakek itu adalah tokoh utara yang paling
terkenal, yaitu Siauw-ong-kwi Si Raja Setan Cilik, guru dari Giam Kin pemuda pemelihara ular.
dunia-kangouw.blogspot.com
Pemuda itu sendiri juga tampak tersenyum-senyum, matanya liar menyambar-nyambar ke arah Kwa Hong dan
Thio Bwee. Di sampingnya terlihat pula seorang wanita cantik yang bersikap genit, berpakaian indah dan
pesolek. Kim-thouw Thian-li!
Begitu melihat tubuh Kwee Sin yang menggeletak mandi darah di atas tanah, Kim-thouw Thian-li melompat
mendekati. Tadinya orang mengira bahwa dia tentu akan menangis menggerung-gerung menyedihi kematian
kekasihnya itu. Akan tetapi siapa kira, setelah melihat bahwa Kwee Sin betul-betul sudah mati, ia lalu meludah
ke arah tubuh itu sambil berkata.
"Cih, keparat keji! Bertahun-tahun kau menipuku, kusangka betul-betul setia, kiranya kau pemimpin mata-mata
anjing pemberontak!" Kakinya diangkat, kemudian dia menendang muka mayat itu.
"Kim-thouw Thian-li siluman betina, jangan kau hina dia!" Lee Giok marah sekali. Dia lalu melompat dan
memukul kepala ketua Ngo-lian-kauw itu. Kim-thouw Thian-li menangkis.
"Plakk!" Dua lengan halus bertemu dan keduanya terhuyung mundur.
Diam-diam Kim-thouw Thian-li kaget, sama sekali tak menyangka bahwa nona yang biasa menjadi pembantu
Pangeran Souw Kian Bi ini ternyata memiliki kepandaian yang tinggi juga. Pantas ia menjadi pemimpin matamata
seperti yang disangka oleh Pangeran Souw Kian Bi, pikirnya.
"Hemmm, kau inikah yang selama ini diam-diam menjadi Ji-enghiong?" ejek Kim-thouw Thian-li dengan suara
dingin.
Lee Giok nampak terkejut sekali. "Apa kau bilang ba... bagaimana kau bisa tahu tentang Ji-enghiong?"
"Hi-hi-hi-hi, mata-mata hina…! Kami sudah tahu bahwa Kwee Sin si keparat itu adalah Si-enghiong, dan kau
adalah Ji-enghiong? Kalian memimpin mata-mata pemberontak di kota raja."
Tiba-tiba Lee Giok tertawa girang sekali. "Bagus, bagus! Jadi kau sudah tahu sekarang? Memang betul, Kimthouw
Thian-li, Kwee-enghiong adalah pemimpin mata-mata pejuang yang memang bernama Si-enghiong.
Jadi selama ini dia bekerja untuk kepentingan para pejuang. Pembesar-pembesar di kota raja telah
dipermainkan termasuk kau. Kau kira dia betul-betul cinta kepada siluman macammu? Cih, tak tahu malu. Dan
aku... aku memang Ji-enghiong. Nah, kau mau apa?"
Bukan main marahnya Kim-thouw Thian-li mendengar ejekan-ejekan ini. Dengan gerak mata cerdik Kim-thouw
Thian-li memandang kepada pihak Hoa-san-pai dan Kun-lun-pai.
"Cuwi sekalian dari Hoa-san-pai serta Kun-lun-pai, wanita ini adalah seorang pemimpin pemberontak, terpaksa
aku dan teman-teman hendak menangkapnya hidup-hidup untuk kubawa ke kota raja."
Akan tetapi sementara itu Liem Sian Hwa sudah tak dapat menahan kemarahannya lagi. Inilah Kim-thouw
Thian-li, perempuan yang bukan saja merenggut nyawa ayahnya, akan tetapi bahkan yang merampas
tunangannya pula. Sekarang mendengar wanita ini hendak membujuk gurunya dan Pek Gan Siansu, ia lantas
menerjang dan memaki. "Siluman keji, kau telah membunuh ayahku. Rasakan pembalasanku!"
Pedangnya segera berkelebat menusuk. Kim-thouw Thian-li tertawa dan mengelak, cepat mengeluarkan golok
dan membalas serangan Sian Hwa.
Sementara itu, Pek Gan Siansu dan Lian Bu Tojin terbangun semangat mereka setelah mendengar dan
melihat sendiri kenyataan bahwa Kwee Sin betul-betul seorang pemimpin pejuang, ditambah pula oleh sikap
Lee Giok yang gagah perkasa dan patriotik. Dua orang kakek ini begitu bertukar pandang sudah mengambil
keputusan yang sama, yaitu akan membela Lee Giok demi penghargaan mereka terhadap perjuangan Kwee
Sin.
Sekarang melihat bahwa Sian Hwa telah bertempur melawan Kim-thouw Thian-li dan hal ini tak mungkin
mereka hentikan atau cegah mengingat bahwa Sian Hwa tentu akan nekat membalas dendam, melihat pula
bahwa bentrokan antara mereka dan pihak pemerintah sudah tidak dapat dicegah lagi, lalu keduanya
dunia-kangouw.blogspot.com
melangkah maju, siap menghadapi segala kemungkinan. Thio Ki dan Kui Lok juga meloncat maju membantu
bibi guru mereka.
"Siluman Ngo-lian-kauw, kaulah pembunuh ayah kami!" teriak mereka sambil menerjang maju.
Kim-thouw Thian-li masih tertawa-tawa dan menghadapi tiga orang itu dengan mainkan goloknya.
"Lian Bu Totiang, apa kau membiarkan saja anak-anak muridmu memberontak?"
Hek-hwa Kui-bo meloncat maju ke hadapan ketua Hoa-san-pai. Loncatannya luar biasa sekali, kedua kakinya
seperti tidak bergerak tapi tahu-tahu tubuhnya sudah berkelebat ke depan kakek Hoa-san-pai itu. Semua orang
yang melihat ini menjadi kagum dan juga keder.
Akan tetapi Lian Bu Tojin dengan sikapnya yang kereng dan pedang pusaka yang tadi dipergunakan Kwee Sin
membunuh diri di tangan kanannya, memandang nenek yang kelihatannya muda itu sambil berkata.
"Hek-hwa Kui-bo, enak saja kau memutar balikkan fakta. Adalah kau yang membiarkan muridmu Kim-thouw
Thian-li itu untuk melakukan perbuatan fitnah dan mengadu domba antara Kun-lun-pai dan Hoa-san-pai,
membiarkan muridmu membunuh anak-anak murid Hoa-san-pai dan malah kau selalu membantunya.
Sekarang kau datang ke mari pura-pura mencela kepada pinto. Heh, meski pun kau lihai, akan tetapi
kejahatanmu pasti tak akan membawa kau kepada kebahagiaan dan keselamatan."
"Hi-hi-hi, tosu bau. Kaulah yang akan mampus, masih banyak tingkah lagi.”
Dengan mengeluarkan suara melengking aneh, Hek-hwa Kui-bo menggerakkan tangan. Tahu-tahu sebatang
pedang telah berada di tangannya dan cepat ia menyerang ketua Hoa-san-pai itu.
Lian Bu Tojin maklum akan kelihaian wanita ini, maka dia tidak berani berayal, cepat-cepat menangkis dan
balas menyerang. Seperti juga pada saat ketua Hoa-san-pai ini mengejar Hek-hwa Kui-bo ketika nenek ini
menculik Kwee Sin, sekarang Lian Bun Tojin mendapat kenyataan bahwa ilmu pedang yang dimiliki nenek ini
hebat bukan main, kelihatan tidak mengandung tenaga besar akan tetapi hawa pedangnya dingin dan cepat.
Inilah Ilmu Pedang Im-sin-kiam yang dipelajari nenek ini dari kitab yang ia rampas atau curi dari Phoa Ti. Biar
pun Lian Bu Tojin sudah mengeluarkan seluruh ilmu pedangnya, namun tetap saja semua kekuatan Ilmu
Pedang Hoa-san Kiam-sut seakan-akan ditelan oleh hawa dingin ilmu pedang Hek-hwa Kui-bo. Betapa pun
juga, Lian Bu Tojin adalah seorang pendeta yang mengutamakan kehidupan suci serta bersih, maka daya
tahan di dalam tubuhnya amat kuat dan tidak mudah bagi Hek-hwa Kui-bo untuk merobohkannya secara
cepat.
"Heh-heh-heh, nona-nona manis, mari kita main-main sebentar!" Giam Kin ternyata sudah melompat maju dan
dengan sikap ceriwis sekali pemuda ini mengulur kedua tangannya untuk menangkap Kwa Hong dan Thio
Bwee.
Dua orang gadis ini membentak dan memaki, sambil mengelak dan mencabut pedang lalu dengan gemas
mereka mengeroyok Giam Kin.
Sementara itu, semenjak tadi Bun Lim Kwi memandang ke arah Giam Kin, maka ketika mendengar Kwa Hong
dan Thio Bwee memaki-maki dan menyebut nama pemuda muka pucat itu, darahnya segera naik. Jadi inikah
orang yang bernama Giam Kin, yang secara pengecut pernah menyerang dan merobohkannya ketika dia
bertempur melawan Thio Eng dahulu itu? Hampir saja nyawanya melayang karena pemuda muka pucat yang
jahat itu.
"Suhu, dialah orangnya yang hampir saja menewaskan teecu dengan serangannya yang amat curang. Teecu
hendak membalas," bisiknya kepada Pek Gan Siansu.
Ketua Kun-lun-pai ini mengangguk, berkata perlahan. "Sudah sepatutnya sekarang kita membantu Hoa-sanpai
menghadapi orang-orang jahat itu."
dunia-kangouw.blogspot.com
Dengan girang Bun Lim Kwi mencabut pedangnya dan menerjang Giam Kin yang sedang melayani dua orang
gadis Hoa-san-pai dengan enak sambil menggoda mereka dengan omongan kasar dan kotor itu.
"Nona berdua harap mundur, biarkan aku memberi hajaran kepada manusia bermulut kotor ini!" bentak Bun
Lim Kwi sambil memutar pedangnya.
Akan tetapi karena amat marah kepada Giam Kin, Kwa Hong dan Thio Bwee mana mau meninggalkannya?
Dengan begitu Giam Kin segera terkepung dan dikeroyok tiga orang. Giam Kin sibuk sekali. Biar pun dia amat
lihai namun dikeroyok oleh tiga orang ini, apa lagi ilmu silat Bun Lim Kwi memang hebat, segera dia terdesak
dan sibuk menangkis ke sana ke mari.
"Hemm, curang... curang...! Kulihat ilmu pedang Kun-lun-pai ikut membela Hoa-san-pai!" Suara ini keluar dari
mulut Siauw-ong-kwi yang sudah melangkah maju hendak menolong muridnya.
Akan tetapi tiba-tiba ada bayangan putih berkelebat dan Pek Gan Siansu sudah berdiri di depannya dengan
pedang pusaka Kun-lun-pai di tangan.
"Perlahan dulu, Siauw-ong-kwi. Biarkan saja bocah sama bocah, tua bangka seperti kau lawannya juga tua
bangka seperti aku!"
Siauw-ong-kwi membelalakkan matanya dan tertawa. "Ha-ha-ha, sejak kapan Kun-lun-pai menjadi pembantu
para pemberontak?"
"Sejak orang-orang seperti engkau membantu penjajah menindas rakyat," jawab ketua Kun-lun-pai tenang.
"O-ho, Pek Gan Siansu, artinya kau menantang Siauw-ong-kwi?"
"Pinto tidak menantang siapa pun juga. Akan tetapi, Siauw-ong-kwi, semenjak dulu pinto sudah mengenal
nama Siauw-ong-kwi sebagai seorang aneh yang tidak suka melanggar kepantasan, seorang tokoh utama di
utara yang tak berlepotan lumpur kejahatan. Kiranya sekarang kau terseret ke dalam perangkap penjajah,
bahkan kau membiarkan muridmu berlaku keji dan jahat tanpa menghukumnya. Muridmu secara curang
pernah berusaha membunuh muridku, sekarang kau hendak membantunya pula. Mana pinto dapat diamkan
saja?"
"Bagus Pek Gan Siansu, di antara kita terdapat perbedaan paham, kau sebagai antek pemberontak dan aku
sebagai antek pemerintah. Mari, mari... kita bermain-main sebentar, sudah lama tanganku gatal-gatal untuk
merasai lihainya pedang Kun-lun-pai!"
Dua orang ini segera bergerak dan bertandinglah keduanya. Pedang Pek Gan Siansu tak usah disangsikan
lagi amat hebat gerakannya, kuat dan meski digerakkan secara lambat, namun sinar pedangnya saja cukup
untuk merobohkan lawan yang kuat.
Pada lain pihak, Siauw-ong-kwi adalah seorang tokoh paling lihai dari utara. Ilmu silatnya aneh, berinti ilmu
tangkap yang menjadi dasar ilmu gulat Mongol, sekarang dia mainkan dengan kedua ujung tangan bajunya
yang panjang sehingga bila dipandang sekelebatan tampaknya seolah-olah Siauw-ong-kwi memainkan
sepasang pedang.
Jangan dipandang rendah sepasang ujung lengan baju ini. Walau pun terbuat dari kain lemas biasa, namun
mengandung tenaga Iweekang yang hebat, kuat untuk menangkis pedang. Kadang-kadang lemas mengancam
lawan dengan jeratan maut, kadang-kadang kaku seperti pedang baja atau seperti toya besi!
Kim-thouw Thian-li yang melihat betapa kedua pihak sudah saling gempur segera bersuit keras dan pasukan
pemerintah itu sambil berteriak-teriak hiruk-pikuk serentak bergerak menyerbu ke atas. Para tosu Hoa-san-pai
yang melihat hal ini tanpa menanti perintah lagi segera memapaki dan terjadilah perang kecil yang cukup hebat
di puncak Hoa-san-pai itu. Akan tetapi ternyata keadaan amat tidak menguntungkan pihak Hoa-san-pai.
Jumlah pasukan pemerintah tidak saja lebih besar, juga mereka ini memang pasukan pilihan yang sengaja
dikirim oleh Pangeran Souw Kian Bi, pasukan yang terbentuk dari serdadu-serdadu yang kosen dan ahli golok,
dunia-kangouw.blogspot.com
lebih terkenal disebut Barisan Golok Maut. Sebentar saja belasan orang tosu Hoa-san-pai roboh terbacok
golok dan keadaannya amat terdesak.
Keadaan pertempuran yang dihadapi para jago Hoa-san-pai dan Kun-lun-pai itu juga amat buruk. Menghadapi
Sian Hwa yang dibantu dua orang murid keponakannya, Thio Ki dan Kui Lok, ketua Ngo-lian-kauw, Kim-thouw
Thian-Ii ternyata jauh lebih lihai. Permainan goloknya biar pun lihai dan aneh, masih belum mampu menindih
ilmu pedang tiga orang murid Hoa-san-pai ini.
Akan tetapi sekarang Kim-thouw Thian-li sudah mengeluarkan selendang merahnya yang mengandung hawa
beracun, dan pada saat yang amat tak terduga-duga ia mengebutkan selendang merah itu. Bau harum
semerbak menyambar. Thio Ki dan Kui Lok yang masih kurang pengalaman, kurang cepat menghindar dan
robohlah mereka bergulingan dalam keadaan pingsan.
Liem Sian Hwa yang menjadi marah sekali lalu mempergunakan kesempatan itu. Selagi Kim-thouw Thian-li
tertawa-tawa kegirangan dan memerintahkan beberapa serdadu untuk menawan dua orang pemuda ini,
setelah tadi berhasil menggulingkan tubuh menghindar dari hawa beracun, dia cepat melompat tinggi
kemudian dari atas ia menggunakan gerak tipu Hui-liong Jip-hai (Naga Terbang Memasuki Lautan), dan
pedangnya bergerak cepat menyerang lawannya. Tidak percuma nona ini dijuluki Kiam-eng-cu (Bayangan
Pedang), gerakannya cepat sekali, sehingga bayangan tubuhnya dan sinar pedang menjadi satu.
Kim-thouw Thian-li kaget bukan main, cepat menangkis dengan golok sambil miringkan tubuh berusaha
menyelamatkan dirinya. Akan tetapi tetap saja ujung pedang Sian Hwa secara kilat sudah menyerempet
pundaknya sehingga baju pada bagian pundak terbabat robek berikut kulitnya yang putih halus dan darah
bercucuran keluar.
Tag:cersil cersil indo cersil mandarin full cerita silat mandarin online cersil langka cersil mandarin lepas cerita silat pendekar matahari kumpulan cerita silat jawa cersil mandarin beruang salju. cerita silat pendekar mataharicerita silat indonesia cerita silat kho ping hoo cerita silat mandarin online cerita silat mandarin full cerita silat jawa kumpulan cerita silat cerita silat jawa pdf cerita silat indonesia gratis cerita silat jadul indonesia cerita silat indonesia pendekar rajawali sakti cersil indonesia pendekar mabuk cersil langka cersil dewa arak cerita silat jaman dulu cersil jawa download cerita silat mandarin full cerita silat mandarin online cersil mandarin lepas cerita silat mandarin pendekar matahari cerita silat jawa pdf cersil indonesia pdf cersil mandarin beruang salju kumpulan cerita silat pdf
kumpulan cerita silat cersil online
Share:
cersil...
Comments
0 Comments

Arsip Cersil

Best Cersil