Donasi

Buat yang punya rejeki berlebih dan merasa terhibur dengan Situs Cerita Silat Cersil Terbaik ini bisa mendonasikan bantuannya ke
No. Rekening BPD Jateng No. 2004084554 a.n Ali Afif
demi keberlangsungan dan keberadaan Blog Cersil Cerita Silat yang sama-sama kita cintai ini. Kritik dan Saran hub No HP.083837358519. Atas Bantuannya disampaikan Terimakasih.

Selasa, 24 April 2018

Cerita Silat Pendekar Pedang Pelangi 3

-----
Tak ada luka di
kepala itu. Tak ada
darah yang
mengalir.
Semuanya tampak
wajar seperti tak
pernah terjadi apaapa.
Bahkan
pemuda itu tampak
tersenyum bangga
ketika
menyerahkan
kembali dayung
tersebut.
Tio Siau In
melongo. Matanya
terbeliak tak
percaya. Hatinya menjadi penasaran. Karena
penasaran maka dicobanya juga memukulkan dayung
itu ke pundak A Liong. Mula-mula pelan, tapi
akhirnya disabetkannya pula dengan keras ketika
melihat pemuda itu tetap tersenyum memandangnya.
Bahkan hantaman dayung itu tidak cuma diarahkan ke
pundak lagi, tapi juga ke dada, punggung dan kepala.
399
Namun demikian Tio Siau In masih mengekang diri
untuk tidak mengerahkan tenaga dalamnya.
"Ayoh, Cici... yang lebih keras lagi! Jangan pelanpelan
begini! Kerahkan seluruh tenagamu!" dengan
suara lantang pemuda itu menantang.
Tio Siau In menjadi penasaran juga akhirnya.
Dicobanya untuk menyalurkan sebagian kecil tenaga
saktinya ke arah dayung yang dipegangnya. Blug!
Hantaman ujung dayung itu berubah menjadi kuat dan
keras seperti hantaman sebongkah batu hitam!
A Liong terhuyung dua langkah ke belakang. Tapi
pemuda itu bukannya menjadi kaget atau kesakitan,
bahkan dengan suara gembira dia berseru menantang.
"Ayoh, Cici... sekali lagi yang keras! Aku belum
merasakan apa-apa!"
Kini Tio Siau In benar-benar menjadi penasaran.
Sekali lagi ia menyabetkan dayung itu ke dada A
Liong. Kali ini dengan pengerahan separuh bagian
dari kekuatan lwekangnya.
Siiiiing! Dhuuug! Kraaaak! Dayung itu patah
menjadi tiga bagian!
"Aaaaaaaaah...!"
Dayung itu menghantam dada A Liong keras
sekali! Demikian kuatnya sehingga pemuda itu
memekik kaget dan terpelanting ke luar perahu!
Byuuuur! Pemuda itu tercebur ke dalam laut.
"A Lioooooong...!!!" Tio Siau In berteriak cemas.
Lalu dengan mata nanar dan hampir menangis Tio
Siau In mencari-cari tubuh A Liong di antara riak
400
gelombang yang mengelilingi sampan kecil itu.
Namun pemuda itu tidak kunjung kelihatan juga,
seakan-akan tubuhnya sudah lenyap ditelan air. Tio
Siau In semakin ketakutan, jangan-jangan dayungnya
tadi telah melukai dada A Liong sehingga pemuda itu
tak bisa berbuat apa-apa melawan arus ombak yang
menggulungnya.
Mata Tio Siau In mulai merah ketika tiba-tiba
terdengar suara A Liong di belakangnya.
"Wah... pukulan Cici kuat benar! Rasanya seperti
diterjang pohon tumbang saja...!"
Tio Siau In membalikkan tubuhnya dengan cepat.
Gadis itu melihat A Liong bergayut pada pinggiran
sampan. Tak ada tanda-tanda pemuda itu mengalami
luka atau kesakitan. Wajahnya tetap segar berseri-seri,
dengan rambut yang basah kuyup menutupi sebagian
besar mukanya.
"A Liong, kau tak apa-apa...?" gadis itu bertanya
cemas.
A Liong lalu naik kembali ke dalam sampan.
Dengan bangga pemuda itu memperlihatkan dadanya
yang masih tetap utuh tak kurang suatu apa.
"Nih, lihat! Tak apa-apa, bukan?"
Tio Siau In benar-benar takjub sekarang. Pemuda di
hadapannya itu sungguh-sungguh memiliki kekebalan
yang hebat. Walaupun dia juga tahu, apakah pemuda
itu masih tetap bisa mempertahankan kekebalannya
apabila ia benar-benar mengerahkan seluruh kekuatan
lwe-kangnya.
401
"A Liong...! Aku percaya sekarang, bahwa kulitmu
memang liat dan kuat seperti kulit naga. Tetapi
sebaliknya aku menjadi kurang percaya kalau kau
mengatakan tidak pernah belajar ilmu silat. Kekebalan
tubuhmu itu hanya dapat diperoleh dengan
mempelajari Iwe-kang yang tinggi. Kau tentu pernah
belajar silat, atau setidak-tidaknya kau pernah belajar
bersamadi untuk mengumpulkan sin-kang...."
"Bersamadi...? Eh, Cici! Apakah yang
kaumaksudkan begini ini?" tiba-tiba pemuda itu
berseru, kemudian duduk bersila di atas papan sambil
mengatur napasnya.
Tio Siau In mengerutkan dahinya. Pemuda itu
memang melakukan cara bersamadi, tapi apa yang
dilakukan itu adalah cara bersamadi yang umum, yang
sama sekali tidak ada keistimewaannya. Jadi rasanya
tidak mungkin kalau hal itu yang membuat pemuda
tersebut kebal terhadap pukulan.
Tapi sekonyong-konyong mata Tio Siau In
terbeliak ketika sesaat kemudian mendengar suara
tulang berkerotokan di dalam tubuh A Liong. Bahkan
gadis itu semakin kaget tatkala hidungnya juga
mencium bau amis yang amat menyengat.
"A Liong, cukup...!" akhirnya Tio Siau In berseru.
A Liong membuka matanya, lalu tersenyum
gembira. "Seperti itukah yang Cici maksudkan?"
tanyanya riang.
402
"Benar. Tapi coba katakan kepadaku. Sejak kapan
kau melakukan cara bersamadi seperti itu? Dan siapa
pula yang mengajarkannya kepadamu?"
Pertanyaan itu membuat A Liong terdiam untuk
beberapa saat lamanya.
"Bagaimana? Sejak kapan...?" Tio Siau In
mendesak.
"Wah... sudah lama sekali, Cici. Sejak aku masih
kecil, ketika aku masih suka ngompol (terkencing di
waktu tidur). Dan cara bernapas aneh itu... kudapatkan
dari seorang kakek tua renta, yang merasa kasihan
kepadaku, ketika aku hampir mati kedinginan di
bawah jembatan di kota Tai-yuan. Kakek itu
mengatakan bahwa cara bernapas seperti itu bisa
menghangatkan tubuhku. Ternyata perkataan kakek
itu memang benar. Aku dapat bertahan dan tidak
merasa kedinginan meskipun setiap hari hujan salju
mengguyur badanku."
Tio Siau In menatap A Liong dengan heran. "Kau...
sekecil itu, sudah berkeliaran sampai di kota Tai-yuan
di Propinsi Syansi?"
"Mengapa mesti diherankan, Cici? Namanya saja
anak gelandangan, meskipun baru berumur lima tahun
atau enam tahun, aku sudah biasa menjelajah ke
mana-mana. Jangankan cuma kota Tai-yuan yang
masih berada di dalam Tembok Besar itu, sedangkan
ke kota Wan-suan dan Ceng-teh di luar Tembok Besar
pun aku sudah pernah." A Liong menjawab dengan
mulut meringis.
403
Wan-suan dan Ceng-teh adalah ibu kota Propinsi
Tsa-har dan Je-hol di perbatasan Monggol dan
Mancu. Kota-kota tersebut masih ratusan lie jauhnya
dari Tembok Besar. Udaranya kering dan dingin.
Bahkan di musim dingin, salju turun menutupi kota.
"Dan... kau cuma tidur di sembarang tempat? Tanpa
alas dan selimut?" Tio Siau lu bertanya pula dengan
suara heran.
"Tentu saja, Cici. Kau ini ada-ada saja. Masakan
seorang gelandangan memiliki kasur dan selimut?
Jangankan punya peralatan seperti itu. Sedangkan
untuk makan dan minum saja harus menunggu belas
kasihan orang."
"Wah... wah!" Tio Siau In berdesah sambil
menggeleng-gelengkan kepalanya. "Masa kecilmu
sungguh sangat sengsara dan menderita. Lalu... kau
tahu nama kakek tua renta yang memberimu pelajaran
bersamadi itu? Dan kau juga pernah bertemu lagi
sesudah itu?"
A Liong menggoyangkan kepalanya. "Tidak. Aku
tidak tahu namanya. Dan aku juga cuma berjumpa
sekali itu saja. Hanya saja ketika dia hendak
meneruskan perjalanannya, dia memberikan tasbehnya
kepadaku. Dia berpesan agar setiap hari aku
melakukan cara bernapas yang aneh itu sebanyakbanyaknya.
Paling tidak seribu kali jumlah untaian
tasbeh tersebut setiap harinya."
"Dan... kau mematuhinya?"
404
A Liong mengangguk. "Ya. Soalnya... manfaatnya
banyak sekali, Cici. Selain dapat mengusir hawa
dingin, ternyata badanku pun menjadi sehat pula. Aku
tidak pernah sakit. Bahkan banyak sekali keanehankeanehan
yang terjadi akibat aku melakukan cara
bernapas yang aneh itu. Misalnya... badanku lalu
mengeluarkan bau amis setiap kali aku melakukan
cara bernapas itu, sehingga binatang-binatang berbisa
menjadi takut kepadaku. Bukankah aku tadi
mengeluarkan bau amis, Cici?"
Dengan wajah yang masih mengungkapkan
ketakjubannya Tio Siau In mengangguk-anggukkan
kepalanya. Tidak boleh tidak sekarang Tio Siau In
harus percaya pada omongan A Liong. Ia harus
percaya bahwa A Liong pernah tertimpa pohon
tumbang tanpa cidera. Dan ia juga harus percaya pula
bahwa A Liong pernah tergencet batu penggilingan
tahu yang beratnya ribuan kati itu tanpa cidera yang
berarti. Bahkan ia juga harus percaya bahwa A Liong
tidak tewas meskipun teruruk belasan karung garam.
Dan sekarang, ia terpaksa harus percaya juga kalau A
Liong ditakuti oleh binatang-binatang berbisa.
"Tapi... tahukah kau, mengapa badanmu
mengeluarkan bau amis?"
A Liong menggeleng. Tapi sesaat kemudian tibatiba
saja pemuda itu tersenyum geli. Matanya
memandang Tio Siau In seolah-olah hendak
menggoda.
405
"Kenapa kau terseyum-senyum, heh? Ada yang
kausembunyikan?" Tio Siau In menegur dengan nada
kesal. "Ayoh, katakan! Mengapa badanmu berbau
amis?"
Hampir saja A Liong tertawa. "Mungkin... mungkin
karena aku mempunyai telur naga! Hahahaha...!"
akhirnya pemuda itu tak bisa menahan ketawanya.
"Hus! Telur naga...? Apa yang kau maksudkan?"
A Liong semakin tak dapat mengekang ketawanya.
Suaranya lepas menyaingi suara ombak yang berdebur
keras di sekeliling sampan mereka.
"Cici, teman-temanku mengatakan bahwa aku
mempunyai' sebutir telur naga di bawah pusarku,
hahahaha...!"
Seketika air muka Tio Siau In menjadi merah
padam.
"Kurang ajar! Kau berani berkata sembarangan di
depanku?" bentaknya marah.
A Liong cepat membungkam mulutnya. "Maaf
Cici... aku tidak main-main. Aku benar-benar
mempunyai telur naga itu. Kau... kau mau lihat?"
katanya agak takut-takut sambil mengendurkan tali
celananya.
Tentu saja Tio Siau In menjadi kelabakan. Sambil
menjerit keras gadis itu membalikkan badannya.
"A Liong, jangaaaan...! Awas, berani kau berani
membukanya... kubunuh kau!"
406
A Liong tak jadi membuka celananya, namun
demikian tangannya masih tetap berada di bawah
pusarnya. Wajahnya tampak penasaran.
"Cici, aku... aku tidak kurang ajar! Aku
bersungguh-sungguh! Bau amis itu memang berasal
dari telur nagaku ini! Tapi kalau Cici malu
melihatnya... raba sajalah!"
"Apaaa...?" Tio Siau In menjerit tinggi seperti mau
menangis.
Kemudian sambil memejamkan matanya
sekonyong-konyong gadis itu memutar badannya.
Tangan kanannya menyambar cepat ke mulut A
Liong. Dan A Liong yang terkejut setengah mati itu
mencoba menghindarinya. Tapi mana mungkin
pemuda itu dapat mengelakkan serangan Tio Siau In
yang lagi marah?
Plaaak!
Byuuuur!
Tak ampun lagi tubuh A Liong yang masih basah
itu terlempar kembali ke dalam air. Sekejap Tio Siau
In menjadi puas, sebab pemuda kurang ajar itu telah ia
hajar dan ia ceburkan ke dalam air. Tapi beberapa saat
kemudian, ketika pemuda itu tidak muncul-muncul
juga dari dalam air, Tio Siau In berbalik menjadi
ketakutan pula seperti tadi. Dengan gugup Tio Siau In
mencari ke sana ke mari.
"A Liong...?!?" gadis itu bergumam lirih.
Namun sekali ini tubuh A Liong tampaknya
memang benar-benar hilang ditelan air laut. Gulungan
407
ombak yang berputar-putar di bawah sampan itu
tampaknya telah menyeret tubuh A Liong ke tengah
laut.
"A Liongggg...!!!" akhirnya Tio Siau In berseru
memanggil nama pemuda gelandangan itu. Suaranya
terdengar cemas dan penuh penyesalan.
DEMIKIANLAH kalau di pagi hari yang telah
mulai menyengat itu Tio Siau In menjadi cemas akan
keselamatan A Liong, maka di kota Hang-ciu ternyata
Tio Ciu In juga sedang mencemaskan keselamatan
Liu Wan dan Kwe Tek Hun.
Pertempuran di rumah penginapan itu memang
telah sampai di puncaknya. Baik Liu Wan maupun
Kwe Tek Hun benar-benar telah melepaskan seluruh
kesaktiannya. Liu Wan dengan Thian-lui-khongciangnya
itu sungguh-sungguh seperti Dewa Petir dan
angin yang sedang murka. Pukulan jarak jauhnya
meledak-ledak bagaikan sambaran halilintar yang
mengejar mangsanya, sementara arena pertempuran
itu seperti digoncang oleh badai besar. Semakin cepat
pemuda itu bergerak, semakin dahsyat pula badai
yang bergolak.
Meja, kursi dan peralatan yang ada di dalam
ruangan itu porak-poranda bagai diterjang angin
puting beliung. Begitu dahsyatnya ilmu yang
dikeluarkan oleh Liu Wan itu sehingga Tio Ciu In
terpaksa mengamankan Ku Jing San dan Song Li Cu
ke ruangan lain.
408
Sementara itu di luar rumah, baik di halaman
penginapan maupun di jalan raya, orang-orang mulai
berkerumun ingin menyaksikan apa yang terjadi.
Namun mereka tidak berani mendekat, karena suara
pertempuran yang amat gaduh itu membuat hati
mereka menjadi ngeri.
Pada saat itu pula dari arah jalan raya masuk lima
orang lelaki berbadan besar-besar dan tinggi-tinggi
seperti layaknya orang dari daerah utara. Wajah
mereka pun tampak kaku dan keras-keras pula.
Mereka masuk ke halaman rumah penginapan itu
dengan menyibakkan para penonton yang berjubel di
pintu halaman.
Pada saat yang hampir bersamaan, dari arah lain
masuk pula seorang lelaki buta ke halaman rumah
penginapan tersebut. Meskipun buta lelaki itu berjalan
dengan langkah biasa seperti manusia normal lainnya,
sehingga sepintas lalu orang tidak akan menyangka
kalau dia buta. Tubuhnya yang kurus jangkung itu
tertutup jubah panjang sampai ke betisnya. Sedangkan
usianya tak dapat ditaksir karena hampir seluruh
wajahnya tertutup kumis, jenggot dan rambutnya yang
terurai panjang. Namun bila dilihat dari warna
rambutnya yang telah terdiri dari dua macam itu dapat
dikira-kira umurnya telah lebih dari empat puluh
tahun. Tangannya memegang tongkat panjang.
Lelaki buta itu tidak dapat melihat apa yang sedang
terjadi, namun demikian ia tidak berusaha bertanya
kepada orang-orang yang sedang menonton tersebut.
409
Ia melangkah dengan tenang di belakang lima orang
lelaki tadi seperti tidak ada kejadian apa-apa.
Tongkatnya diseret di samping tubuhnya, dan sama
sekali tidak dipergunakan untuk mencari jalan seperti
halnya orang buta lainnya.
"Tampaknya Sang Puteri mendapat kesulitan di
tempat ini." salah seorang dari lima orang lelaki itu,
yang tampaknya adalah pimpinan mereka, berkata
dengan suaranya yang berat dan berwibawa.
"Tampaknya memang demikian, Panglima."
Demikian memasuki pintu pendapa, mereka
berlima sudah merasakan hembusan angin yang amat
kuat menerpa tubuh mereka. Bahkan ledakan-ledakan
yang diakibatkan oleh Thian-lui-khong-ciang juga
sudah mulai menggetarkan isi dada mereka.
"Wah tampaknya kali ini Sang Puteri benar-benar
menerjang badai." orang yang disebut panglima itu
berkata agak cemas.
Memang benar, walau tidak di bawah angin, namun
Mo Goat memang mendapatkan kesulitan untuk
menundukkan perlawanan Kwe Tek Hun dan Liu
Wan. Ilmu silat Liu Wan yang dahsyat itu benar-benar
membatasi ruang gerak Mo Goat kembar. Padahal
meski dalam bentuk dan sifat yang berbeda, namun
ilmu silat Kwe Tek Hun juga tidak kalah hebatnya
pula.
Berlainan dengan Thian-lui-khong-ciang yang
sifatnya keras, kuat dan meledak-ledak, Kim-hongsin-
kun milik Kwe Tek Hun lebih bersifat halus,
410
lembut dan indah dipandang. Namun demikian
ternyata akibatnya justru lebih berbahaya daripada
Thian-lui-khong-ciang. Apabila Thian-lui-khongciang
tersebut lebih berdaya-guna untuk
menghancurkan seluruh sasarannya, sebaliknya Kimhong-
sin-kun hanya bersifat melumpuhkan dan
merusakkan bagian-bagian titik terpenting dari
sasaran keseluruhannya.
Oleh karena itu tidak mengherankan bila Mo Goat
mendapatkan kesulitan untuk menundukkan mereka.
Meskipun ilmu silat gadis muda belia itu sangat tinggi
dan menggiriskan hati, tapi menghadapi dua macam
ilmu silat yang saling bertolak belakang sifatnya
tersebut benar-benar berat dan sulit.
Untung bagi Mo Goat karena selain gin-kangnya
lebih tinggi dan lebih sempurna, lawan-lawannya
yang masih muda itu juga belum berpengalaman
menghadapi ilmu sihirnya, sehingga gadis muda belia
itu dengan mudah masih bisa mengecoh dan
mengelabuhi lawan-lawannya.
Akan tetapi dengan demikian pertempuran itu akan
terus berlarut-larut dan takkan kunjung selesai.
Masing-masing pihak memiliki kemampuan yang
hampir setara. Mo Goat yang bisa memecah diri
menjadi dua bentuk manusia kembar itu mempunyai
tenaga dalam dan ilmu meringankan tubuh setingkat
lebih tinggi daripada lawan-lawannya. Namun
sebaliknya di pihak lain, Liu Wan dan Kwe Tek Hun
juga bisa saling mengisi serta memadukan ilmu silat
411
mereka yang sangat bertolak belakang itu demi
pertahanan mereka.
Justru yang paling cemas pada waktu itu adalah Tio
Ciu In. Dengan kepandaiannya yang masih terbatas
gadis ayu itu tidak dapat melihat perbandingan ilmu
mereka. Ia cuma bisa melihat keadaan luarnya saja,
yaitu repotnya Liu Wan dan Kwe Tek Hun dalam
menghadapi ilmu sihir Mo Gat.
Dan kecemasan gadis ayu itu semakin bertambah
pula ketika di tengah-tengah pintu masuk ruangan
tersebut tiba-tiba muncul lima orang lelaki
bertampang keras. Apalagi ketika lima orang lelaki itu
memberi salam kepada Mo Goat.
"Hmmh, di mana meja dan kursinya? Kenapa ruang
makan ini sama sekali tak ada tempat duduknya?"
sekonyong-konyong Tio Ciu In mendengar suara di
belakangnya.
Hampir saja Tio Ciu In melompat karena kaget.
Gadis itu sama sekali tak melihat atau mendengar
langkah kaki orang itu. Ketika ia membalikkan
badannya, di depannya telah berdiri seorang lelaki tua
memegang tongkat. Tio Ciu In tak bisa, melihat wajah
orang itu karena rambut dan kumisnya menutupi
hampir seluruh mukanya.
"Kau... kau siapa?" Tio Ciu In menyapa dengan hati
semakin cemas dan gelisah.
"Oooh!" Lelaki tua itu kelihatan kaget mendengar
suara Tio Ciu In. "Apakah ... apakah Nona pemilik
penginapan ini?"
412
Tio Ciu In baru menyadari bahwa lelaki di
depannya itu buta. Perasaannya sedikit tenang,
walaupun ia tetap waspada dan hati-hati. Ia selalu
ingat pesan gurunya, agar ia selalu berhati-hati bila
berhadapan dengan orang asing.
"Bukan. Aku seorang tamu di penginapan ini.
Kau... siapa?"
Orang buta itu tidak lekas menjawab pertanyaan
Tio Ciu In, seolah-olah ia memang tidak
mendengarnya. Sebaliknya orang itu malah
memalingkan kepalanya ke arah pertempuran sambil
memasang telinganya untuk mengetahui apa yang
telah terjadi di dalam ruangan tersebut.
"Seperti ada yang berkelahi di tempat ini. Hmm,
siapakah mereka itu, Nona?" lelaki buta itu bertanya
halus.
Sebenarnya Tio Ciu In merasa enggan untuk
menjawabnya. Namun lelaki buta itu seperti memiliki
perbawa yang menakutkan, sehingga Tio Ciu In tak
kuasa untuk tetap berdiam diri.
"Dua orang kawanku berselisih paham dengan
seorang gadis muda, sehingga mereka saling berbaku
hantam."
Lelaki buta itu mengarahkan telinganya lagi ke
arena pertempuran. Mulutnya yang tertutup kumis dan
jenggot lebat itu seperti menggumamkan sesuatu. Tio
Ciu In seperti tersihir. Gadis ayu itu hanya mengawasi
saja tanpa berani bersuara. Lelaki buta itu terasa
413
menakutkan, berwibawa, tapi juga tampak sangat
berbahaya.
"Apakah orang yang memiliki pukulan seperti petir
itu temanmu?" lelaki buta itu bertanya pula.
Sekali lagi Tio Ciu In tak kuasa menentangnya.
Gadis ayu itu menganggukkan kepalanya, namun
segera sadar bahwa ia sedang berhadapan dengan
orang buta.
"Be-benar. Apakah Tuan mengenal temanku itu?"
Lelaki buta itu cepat menggelengkan kepalanya,
sehingga rambutnya yang panjang sampai ke
pinggang itu terjurai ke depan menutupi wajahnya.
Dan orang itu ternyata membiarkan saja rambutnya
demikian.
"Dia itu temanmu atau saudara seperguruanmu?"
sekonyong-konyong lelaki buta itu bertanya aneh,
seperti sedang menyelidiki.
Tio Ciu In tersentak kaget. Wajahnya menjadi
merah. Matanya yang bulat indah itu bergetar, seakanakan
berusaha melihat rupa di balik tirai rambut
tersebut. Tapi ketika orang itu kemudian menyibakkan
rambutnya ke belakang sehingga tampak sebagian
mukanya yang tidak tertutup kumis dan jenggot, lagilagi
Tio Ciu In tertunduk. Wajah itu kelihatan kaku
dan dingin. Bahkan matanya yang jernih seperti mata
orang sehat itu seperti menyimpan sebuah kekuatan
yang mengerikan.
414
Sekejap Tio Ciu In menjadi ragu, jangan-jangan
lelaki yang mempunyai perbawa menyeramkan itu
cuma pura-pura buta.
"Nona belum menjawab pertanyaanku!" Sekali lagi
Tio Ciu In dikejutkan oleh suara orang itu.
"Kami... kami baru saja berkenalan. Dia... dia
bukan saudara seperguruanku." Tio Ciu In menjawab
dengan gugup.
"Hmmmmmm....!"
Sekali ini Tio Ciu In benar-benar heran terhadap
dirinya sendiri. Selama ini ia tak pernah merasa takut
terhadap siapapun juga. Bahkan di dalam sarang
perampok-perampok liar pun ia tak pernah merasa
ketakutan. Namun sekarang di depan lelaki tua
bermata buta ini, entah mengapa tiba-tiba hatinya
menjadi ngeri.
"Kudengar ada tiga orang yang sedang berkelahi.
Apakah temanmu dikeroyok dua?" lelaki buta itu
bertanya kembali.
"Ah, tidak...." Tio Ciu In menjadi malu. Malu
karena telah berprasangka buruk terhadap orang yang
ternyata benar-benar buta itu, serta malu karena justru
teman-temannyalah yang telah mengeroyok lawannya.
Meskipun Tio Ciu In tidak meneruskan
jawabannya, tapi orang itu tampaknya sudah dapat
menangkap maksudnya.
"Ah, kalau begitu gadis muda yang kaumaksudkan
itu benar-benar lihai sekali karena mampu melayani
keroyokan teman-temanmu. Hmm... siapakah
415
temanmu yang satu lagi itu? Apakah dia saudara
seperguruanmu? Kudengar gerakan ilmunya tidak
sama dengan temanmu tadi."
Tio Ciu In tidak segera menjawab. Kali ini gadis itu
menjadi bingung juga untuk menjawabnya. Ia
memang tidak begitu paham tentang Kwe Tek Hun
dan saudara-saudara seperguruannya.
"Maaf, aku... aku juga baru mengenal mereka di
tempat ini. Katanya pemuda itu bernama Kwe Tek
Hun." akhirnya Tio Ciu In dapat juga menjawab
pertanyaan lelaki buta itu.
"Oooh...." Orang tua itu mengangguk-anggukkan
kepalanya. "Tetapi meskipun maju berdua... kawankawanmu
itu seperti merasa sulit menghadapi
lawannya. Mengapa kau tak ikut membantu mereka?"
"Ah, kepandaianku belum cukup untuk ikut dalam
kancah pertempuran tingkat atas seperti itu. Selain itu
aku juga sedang menjaga teman-temanku yang
terluka."
"Hah? Teman-temanmu sudah ada yang terluka?
Apanya yang terluka?" Lelaki buta itu terperanjat.
Tio Ciu In menghela napas panjang. Entah apa
sebabnya, tapi yang jelas gadis ayu itu seperti menurut
saja untuk menceritakan apa yang telah terjadi. Dan
lelaki buta itu terdengar menggeram perlahan
mendengar kekejaman Mo Goat.
"Dan sekarang... kawan-kawan Mo Goat telah
datang pula. Mereka kelihatan lebih kasar dan garang
daripada Mo Goat. Aku benar-benar sangat cemas.
416
Kepandaianku amat rendah, sedangkan temantemanku
yang lain sudah terluka...." Tio Ciu In
mengakhiri ceritanya dengan nada gelisah.
"Hmmh!" Tiba-tiba lelaki itu menggeram. "Nona,
bawa kemari teman-temanmu yang terluka itu!"
Tio Ciu In tercengang mendengar perintah itu. Ada
perasaan untuk menentangnya, tapi keinginan itu
segera sirna begitu laki-laki itu kembali menyerukan
perintahnya. Tio Ciu In cepat membawa Song Li Cu
dan Ku Jing San ke hadapan lelaki buta itu. Song Li
Cu dipapahnya, sementara Ku Jing San beringsut di
belakangnya dengan berpegangan pada dinding.
Anehnya kedua saudara seperguruan itu juga menurut
saja.
"Inilah mereka, Tuan."
Lelaki buta itu mengulurkan tangannya kepada
Song Li Cu. "Di bagian mana gadis ini mendapatkan
totokan?" tanyanya kepada Tio Ciu In.
"Kalau tak salah di bagian kakinya, Tuan."
Seperti orang yang masih sehat kedua matanya,
lelaki itu cepat mengurut dan menotok di beberapa
bagian kaki Song Li Cu. Dan yang terakhir jari
telunjuk lelaki itu menotok pada jalan darah tan-bihiat
di bawah puser Song Li Cu.
"Maaf...!" ucap lelaki itu pendek, kemudian
mengebut-ngebutkan lengan bajunya tanda ia telah
selesai mengobati gadis itu.
417
Sungguh mengherankan! Song Li Cu yang semula
tak bisa menggerakkan tubuhnya itu tiba-tiba bisa
bergerak lagi!
"Nona tidak boleh terlalu banyak bergerak dulu!
Totokan yang melumpuhkan Nona tadi merupakan
ilmu totok (tiam hoat) yang tiada duanya di dunia ini.
Totokan itu hanya bisa dipunahkan kembali oleh
seseorang yang memiliki lwe-kang setidak-tidaknya
dua kali lipat lwe-kang penotoknya." lelaki buta itu
mem beri peringatan kepada Song Li Cu yang sudah
bersiap-siap untuk melabrak Mo Goat kembali.
Song Li Cu tertunduk kecewa. "Terima kasih, Locianpwe..."
gadis manis itu mengucapkan rasa terima
kasihnya.
"Lo-cianpwe...? Ah!" orang itu berdesah panjang.
"Tampaknya aku memang sudah tua. Belasan tahun
telah lewat tanpa terasa dan tentunya umurku juga
sudah mendekati setengah abad. Hmmm ... cepat
sekali...."
Sementara itu di arena pertempuran tampaknya Mo
Goat sudah tidak sabar lagi. Gadis cantik itu sudah
mulai menggenggam senjata rahasianya pula. Senjata
rahasia yang ampuh, yang dalam sekali lempar telah
melukai Song Li Cu dan Ku Jing San!
"Puteri...! Kau jangan menghambur-hamburkan
senjata rahasiamu! Sungguh sayang rasanya kalau
dibuang hanya untuk membunuh kelinci-kelinci
seperti mereka!" orang yang dipanggil dengan sebutan
Panglima tadi berseru kepada Mo Goat.
418
"Tapi sulit sekali menundukkan mereka! Padahal
aku sudah menggunakan Pat-sian-i-hoat (Delapan
Baju Dewa)! Sayang ilmuku belum sebaik ilmumu.
Kalau aku sudah dapat memecah diri menjadi empat
seperti kau, kelinci-kelinci ini sudah kuhabisi sejak
tadi." Mo Goat menyahut dengan suara jengkel.
Tentu saja ucapan-ucapan yang amat memandang
rendah itu sangat menyinggung perasaan Liu Wan dan
Kwe Tek Hun. Apalagi bagi Kwe Tek Hun yang
dalam perjalanan petualangannya selama ini hampir
tak pernah menjumpai lawan tangguh. Ejekan sebagai
kelinci itu benar-benar menyinggung harga dirinya.
Tanpa memikirkan akibatnya, pendekar muda dari
Pulau Meng-to itu melesat keluar dari arena
pertempuran. Hanya dengan dua gerakan saja dari
Ban-seng-po Lian-hoan, maka tubuhnya telah berada
di depan panglima itu.
"Kalau kau memang ingin mencoba menangkap
kelinci-kelinci kecil seperti kami, mengapa cuma
berteriak-teriak saja dari luar arena? Mengapa tidak
langsung saja mempergunakan kepalan dan kakimu?
Takut?" Kwe Tek Hun balas mengejek dengan nada
pedas.
"Bangsat! Kau memang bosan hidup!"
Benar saja, orang yang disebut panglima itu
menjadi marah bukan main. Sambil mengumpat kasar
ia menerjang Kwe Tek Hun. Kesepuluh jari tangannya
mengejang seperti cakar garuda, menyam bar ke arah
dada dan perut pendekar dari Pulau Meng-to itu.
419
Kwe Tek Hun tidak berani adu tenaga. Mendengar
percakapan lawannya tadi Kwe Tek Hun tahu bahwa
lawannya itu jauh lebih berbahaya dan lebih lihai
daripada Mo Goat. Padahal melawan Mo Goat saja
dia dan Liu Wan tidak menang. Oleh karena itu satusatunya
jalan untuk menandinginya hanyalah dengan
kecerdikan dan tipu muslihat. Untunglah ilmunya
Ban-seng-po Lian-hoan benar-benar mentakjubkan,
sehingga setiap kali dalam bahaya ia selalu dapat
menyelamatkan diri.
Demikianlah Kwe Tek Hun tidak mau menangkis
serangan itu. Pemuda itu justru memanfaatkan
kelebihannya dalam main petak. Dengan langkah
ajaibnya itu ia menghindar dan mengitari tubuh
lawannya. Sekali-sekali ia balas menyerang, meskipun
ia tahu lawannya jauh lebih gesit dan lebih tinggi
tenaga dalamnya.
Tentu saja ulah Kwe Tek Hun tersebut amat
menjengkelkan lawannya. Di dalam segala hal
panglima itu jauh lebih unggul, baik ginkang,
lwekang, maupun ilmu silatnya. Namun pemuda itu
ternyata memiliki ilmu langkah ajaib yang amat
mentakjubkan, sehingga keunggulan ginkang
panglima itu hampir tak ada gunanya lagi. Bagaikan
seekor belut pemuda itu selalu bisa melepaskan diri
dari cegatan-cegatan lawannya.
Akhirnya panglima itu tak dapat mengekang
kegusarannya lagi. Seperti halnya Mo Goat tadi, tibatiba
panglima itu melompat ke belakang sambil
420
menyilangkan tangannya di depan dada. Kwe Tek
Hun terkejut, tapi sudah terlambat Matanya sudah
terlanjur menantang mata panglima yang mencorong
seperti mata burung elang itu, hingga untuk
selanjutnya mata dan pikirannya telah jatuh dalam
perangkap ilmu sihir lawannya.
"Oooooh!" Tio Ciu In menjerit kecil. Demikian
pula dengan Song Li Cu.
"Hah? Ada apa...?" Lelaki buta itu tersentak kaget
pula.
"Orang itu bisa merubah dirinya menjadi empat!
Dan semuanya bisa bergerak sendiri-sendiri
mengeroyok Kwe Suheng!" Song Li Cu berdesah
bingung.
"Berubah menjadi empat? Wah, ilmu sihir!" Lelaki
buta itu berkata kaget, seperti sudah pernah
mengenalnya.
"Locianpwe, kautolonglah kami!" Tiba-tiba Song
Li Cu berlutut sambil menghiba di depan lelaki buta
itu. "Tolonglah Suhengku sekalian, seperti halnya
Locianpwe telah menolongku tadi. Aku percaya
Locianpwe bisa mengatasi mereka...."
Ternyata perasaan cinta gadis manis itu sedemikian
besarnya kepada Kwe Tek Hun, sehingga gadis itu
rela menanggalkan kekerasan hatinya selama ini
untuk meminta tolong kepada orang yang baru saja
dikenalnya.
Semula Tio Ciu In menjadi kaget juga menyaksikan
ulah Song Li Cu. Demikian pula halnya dengan Ku
421
Jing San sendiri. Tapi keduanya segera
memakluminya, apalagi ketika mereka menyaksikan
jalannya pertempuran setelah pembantu Mo Goat
yang lihai itu maju. Baik Kwe Tek Hun maupun Liu
Wan memang dalam keadaan yang memprihatinkan.
Setelah terpisah sendiri-sendiri, kedua pemuda sakti
itu memang tidak bisa berbuat apa-apa terhadap
lawannya. Rasanya memang tinggal menunggu waktu
saja, kapan keduanya dibabat habis oleh lawan lawan
mereka.
Lelaki buta itu mengerutkan dahinya yang tertutup
rambut. Sikapnya tetap dingin dan kaku, seolah-olah
tidak peduli pada keadaan sekelilingnya. Demikian
pula terhadap ratapan Song Li Cu. Sama sekali ia tak
bereaksi mendengar suara yang menghiba itu.
"Locianpwe...? Kakiku sudah buntung. Aku tak
bisa lagi membantu Suhengku. Maukah Locianpwe
menolongnya?" Ku Jing San yang sejak tadi diam
saja, tiba-tiba ikut memohon. Ternyata di dalam
keadaan kritis seperti itu ia memaklumi perasaan
sumoinya.
Tapi lelaki buta itu tetap tak bergeming. Bahkan
orang tua itu perlahan-lahan menyeret kakinya untuk
keluar dari ruangan tersebut. Wajahnya tertunduk lesu
seakan-akan hatinya amat menyesal sekali berada di
tempat itu. Beberapa kali terdengar suara tarikan
napasnya yang berat dan panjang.
422
"Locianpwe! Locianpwe...! Jangan tinggalkan
kami! Tolonglah Suhengku!" Song Li Cu memohon
dengan suaranya yang semakin memelas.
"Benar, Locianpwe.... Tolonglah Kwe Suheng
sekali ini saja!" Ku Jing San ikut pula meminta
dengan suaranya yang serak.
"Maaf. Maafkanlah aku.... aku tak bisa menolong
kalian." terdengar lelaki buta itu menjawab perlahan.
Kakinya tetap melangkah tersaruk-saruk ke arah
pintu.
Song Li Cu memandang sekali lagi ke arena
pertempuran. Hatinya semakin merasa cemas akan
keselamatan Kwe Tek Hun.
"Locianpwe...!?!" ratapnya sedih.
Namun dengan suara tak kalah lesunya, lelaki buta
itu menyahut lirih. "Maaf, Nona... aku tetap tak bisa
menolongmu. Sudah lama aku tidak melibatkan diri di
dalam urusan rimba persilatan seperti ini. Aku sudah
bosan. Aku sudah cukup banyak menderita karena
urusan perkelahian, permusuhan dan dendam kesumat
di dunia yang keras itu...."
Buuuuk!
"Auuuugh....!"
Sekonyong-konyong terdengar suara pukulan dan
keluhan tertahan dari arena pertempuran. Liu Wan,
pemuda sakti itu ternyata telah terkena tendangan kaki
Mo Goat.
Tio Ciu In terkejut. Ia menyaksikan Liu Wan
terhuyung-huyung sambil tetap berusaha menghindari
423
serangan Mo Goat kembar yang terus saja
memburunya. Pemuda itu kelihatan seperti lampu
yang kehabisan minyak. Tenaganya yang besar tadi
tampak sudah habis, sehingga pukulannya yang
meledak-ledak seperti petir itu sudah tidak kelihatan
lagi.
"Tuan...?" Tio Ciu In yang mencemaskan
keselamatan Liu Wan itu tiba-tiba menjerit kecil tanpa
terasa.
Sungguh mengherankan! Jeritan lemah dan amat
singkat dari Tio Ciu In itu ter nyata mampu
mengejutkan lelaki buta tersebut! Entah bagaimana
caranya bergerak. Namun orang tua yang telah berberada
di depan pintu keluar itu mendadak saja telah
berada di dekat Tio Ciu In kembali! Sama sekali tak
kelihatan bayangan tubuhnya yang berkelebat! Di
mata Ku Jing San, Song Li Cu, dan Tio Ciu In sendiri,
tubuh lelaki buta itu seperti menghilang dan berpindah
tempat begitu saja!
"Nona memanggil aku? Ada apa...?" orang tua itu
bertanya tegang.
Tio Ciu In yang baru saja menjerit kecil itu justru
menjadi gugup menyaksikan kesaktian lelaki buta
tersebut. Beberapa saat lamanya ia tak bisa menjawab
atau membuka mulutnya.
"Nona! Kau kenapa...? Apakah kau diserang dan
dilukai musuhmu?" lelaki buta itu mendesak semakin
tegang.
424
"Ti-tidak...! Kawanku... kawanku terdesak! Dia...
dia dalam bahaya!" akhirnya Tio Ciu In dapat
bersuara dengan patah-patah.
"Ooooh!" orang tua itu berdesah lega, kemudian
perlahan-lahan membalikkan badannya kembali.
"Tuan, tunggu...!" Tio Ciu In mengejar dan berseru.
Lelaki buta itu berhenti. "Ada apa lagi...?"
Tio Ciu In berdiri tegak di depan orang tua itu.
Matanya yang bulat indah itu mencoba mengawasi
wajah yang dingin tertutup rambut tersebut.
"Tuan...? Mengapa Tuan tidak mau menolong
teman-temanku itu?"
Mendadak tubuh lelaki buta itu seperti bergetar
menahan perasaan sedih. Tulang pipinya yang
menonjol itu tampak pucat, sementara matanya yang
bening seperti mata orang sehat itu kelihatan berair.
Kemudian sambil menghela napas berat orang tua itu
menundukkan wajahnya.
"Namamu siapa, Nona? Apakah kau tinggal di
sekitar Laut Kuning? Apakah kau bermarga Han?"
mendadak lelaki buta itu bertanya tanpa
mempedulikan pertanyaan Tio Ciu In.
"Bukan... bukan! Aku tidak bermarga Han!
Namaku Tio Ciu In dan aku juga tidak tinggal di
sekitar Laut Kuning! Aku tinggal di kota Yun-kia...."
"Oooh....!" orang tua itu berdesah panjang seperti
mengandung rasa kecewa yang amat dalam.
Sebaliknya Tio Ciu In menjadi sangat heran melihat
perilaku orang tua itu.
425
"Mengapa... mengapa Tuan tidak segera menolong
teman-temanku? Mengapa Tuan secara tiba-tiba
malah menanyakan nama dan tempat tinggalku?"
Sekali lagi orang tua itu menarik napas panjang
sekali. "Sudahlah, Nona Tio. Jangan kau hiraukan
pertanyaanku tadi. Hmmmm, sekarang jawab saja
pertanyaanku. Mengapa kau meminta pertolongan
kepadaku?"
"Karena... karena aku percaya Tuan akan
meluluskan permintaanku!"
Orang tua itu tampak tercengang sebentar,
kemudian mengangguk-angguk.
"Kau benar, Nona Tio. Khusus untuk dirimu, aku
bersedia mengubah pendirianku. Aku akan menolong
teman-temanmu, tapi... dengan syarat!"
"Syarat? Syarat apa...? Lekas katakan!" Tio Ciu In
yang melihat keadaan Liu Wan dan Tek Hun semakin
mengkhawatirkan itu menjadi tidak sabar.
"Tolong nyanyikan sebuah lagu untukku! Terserah
lagu apa saja boleh...!"
"Menyanyikan lagu...?" Tio Ciu In tercengang
mendengar syarat yang amat aneh itu. "Aku... aku tak
dapat bernyanyi! Aku...?!"
"Terserah kepadamu, Nona Tio Hanya itu syaratku.
Kalau kau tak mau, juga tidak apa-apa..." orang tua itu
berkata perlahan sambil membalikkan badannya
kembali.
Tio Ciu In menjadi tegang bukan main. Apalagi
ketika sekali lagi ia menyaksikan Liu Wan
426
terpelanting menabrak dinding. Darah segar tampak
mengalir dari mulut dan hidung pemuda itu.
"Tunggu...!" gadis ayu itu berteriak.
Namun sekali ini orang tua buta itu tak
menghiraukan panggilan Tio Ciu In. Kakinya tetap
melangkah perlahan ke arah pintu. Dalam keadaan
panik akhirnya Tio Ciu In juga tidak menghiraukan
lagi kejanggalan-kejanggalan yang dihadapinya.
Gadis ayu itu lalu menyanyikan sebuah lagu lama.
Lagu yang sering dinyanyikan oleh gurunya. Entah"
lagu apa, ia tidak tahu. Yang penting ia menyanyi,
meskipun suaranya yang merdu itu menjadi sumbang
karena kecemasan dan ketegangan hatinya.
Apabila di malam yang gelap gulita,
Tiba-tiba muncul bulan purnama.
Alam pun tersentak dari tidurnya,
Untuk menyambut kehangatan Sang Pelita Malam.
Kekasihku.../
Aku selalu mengharapkan kehadiranmu!
Dalam keadaan yang sangat menegangkan seperti
itu, suara nyanyian Tio Ciu In memang benar-benar
aneh dan terasa janggal kedengarannya. Bahkan Mo
Goat dan pembantunya yang disebut panglima itu
sampai merasa kaget dan agak mengendor
desakannya. Sabetan kipas yang mematikan dari Mo
Goat terhadap leher Liu Wan seolah-olah tertahan
427
sejenak mendengar alunan suara Tio Ciu In tersebut.
Demikian pula dengan hantaman siku Si Panglima
yang tertuju ke arah tengkuk Kwe Tek Hun seakanakan
juga terhenti beberapa saat pula ketika
mendengar suara nyanyian Tio Ciu In.
Namun pada waktu yang cuma sesaat itu tiba-tiba
berkelebat sebuah bayangan, yang hampir-hampir tak
bisa ditangkap oleh pandangan mata siapapun juga.
Begitu cepatnya, sehingga Kwe Tek Hun yang
memiliki Pek-in Gin-kang yang amat tersohor di
dunia persilatan itu tak kuasa apa-apa ketika
mendadak leher bajunya secara mendadak telah
dicengkeram bayangan tersebut dan dilemparkannya
keluar arena. Demikian pula dengan Liu Wan. Bahkan
Mo Goat dan pembantunya yang memiliki ilmu
meringankan tubuh jauh lebih tinggi lagi daripada
Kwe Tek Hun itu juga tak berkutik pula ketika
bayangan tersebut menyambar ke arah mereka serta
mendorong mereka keluar arena.
Bukan alang kepalang kagetnya Mo Goat dan
pembantunya menyaksikan kesaktian yang luar biasa
itu. Sejenak mereka berdua memandang dengan sinar
mata jeri ke arah lelaki buta yang kini telah berdiri
tegak di tengah-tengah ruangan.
"Kau... kau siapa?" Mo Goat yang kejam dan tak
pernah mengenal rasa takut itu mendadak menjadi
gemetaran suaranya.
Bagaimana Mo Goat maupun pembantunya itu
tidak jeri? Orang asing berpenampilan buruk dan
428
mengerikan itu sama sekali tidak terpengaruh oleh
ilmu sihir mereka Pat-sian-i-hoat. Bahkan ilmu
meringankan tubuh orang asing itu juga jauh lebih
hebat daripada gin-kang perguruan mereka, yang
menurut guru mereka tiada bandingannya di dunia ini.
Begitu pula dengan tenaga dalam yang dikeluarkan
oleh orang asing tersebut untuk mendorong mereka,
rasa-rasanya berlipat jauh dengan tenaga dalam yang
mereka miliki.
Demikianlah, kalau Mo Goat dan para
pembantunya merasa heran dan ketakutan, sebaliknya
Tio Ciu In dan Song Li Cu menjadi gembira bukan
main melihat Liu Wan serta Kwe Tek Hun selamat
dari keganasan lawan. Tio Ciu In segera membantu
Liu Wan mengobati luka-lukanya, sementara Song Li
Cu dengan telaten dan penuh perhatian mengusap
peluh yang mengalir di wajah dan leher Kwe Tek
Hun.
"Siapa orang itu, Ciu-moi?" dengan napas yang
masih memburu Liu Wan bertanya tentang orang buta
itu kepada Tio Ciu In.
"Siapa... dia, Su-moi?" Kwe Tek Hun juga bertanya
keheranan kepada Song Li Cu dan Ku Jing San yang
merubungnya.
Tapi baik Tio Ciu In maupun Song Li Cu tidak bisa
memberi jawaban. Keduanya memang tidak mengenal
orang buta yang maha sakti itu. Mereka cuma bisa
bercerita bahwa orang tua itu menolong Liu Wan dan
Kwe Tek Hun karena suara nyanyian Tio Ciu In.
429
"Nyanyian...?" Baik Liu Wan maupun Kwe Tek
Hun tercengang keheranan.
Kalau semua orang menatap heran atau jeri kepada
orang tua buta itu, sebaliknya orang yang
bersangkutan justru sedang berdiri terlongonglongong
mengenangkan isi syair nyanyian Tio Ciu In
tadi. Beberapa kali terlihat dadanya turun naik seakanakan
sedang menyangga beban yang teramat berat.
"Nona Tio...! Dari mana kau belajar lagu lama itu?
Siapakah yang mengajarimu lagu 'Merindukan
Kekasih1 itu?" tiba-tiba orang tua itu menoleh dan
bertanya kepada Tio Ciu In.
Gadis ayu yang sedang sibuk menolong Liu Wan
itu tersentak kaget.
"Aku... aku tidak belajar dari siapa-siapa. Aku
hanya sering mendengarnya dari Suhuku...." Tio Ciu
In menyahut dengan suara gugup.
"Oh, ya? Apakah Gurumu itu seorang tokoh Aliran
Im-yang-kau?"
Tio Ciu In tercengang, lalu mengangguk. "Benar.
Beliau adalah Giam Pit Seng, Ketua Cabang Im-yangkau
di kota An-king."
Sekarang ganti orang tua buta itu yang
mengangguk-angguk.
"Sudah kuduga...." orang tua itu kemudian
bergumam. "Ketahuilah, Nona Tio ... lagu itu adalah
ciptaan seorang tokoh tua aliran Im-yang-kau dua
puluhan tahun yang lalu. Lagu itu sangat populer dan
disukai orang, terutama oleh para anggota aliran itu
430
sendiri. Maka tak mengherankan bila Gurumu juga
suka menyanyikannya. Aaah, memang sungguh indah
lagu itu...."
"Tuan sangat, menyukai lagu itu?" Tio Ciu In
bertanya hati-hati, takut menyinggung perasaan orang
tua aneh itu.
"Ya, aku dulu sering menyanyikannya. Aku hafal
seluruh syair-syairnya..." Ternyata orang tua buta itu
justru bersemangat menjawab pertanyaan Tio Ciu In.
"Kalau begitu... kalau begitu, emmm .. apakah
Tuan ini juga anggauta Aliran Im-yang-kaui pula?"
dengan sangat hati-iati Tio Ciu In mencoba untuk
mengorek asal-usul orang tua tersebut.
"Oh, bukan...! Isteriku yang...?!"
Tiba-tiba orang tua itu menghentikan kata-katanya.
Dia seperti menyesal telah mengeluarkan ucapannya
tadi. Dan untuk menutupi kecanggungannya, tiba-tiba
pula ia melangkah meninggalkan tempat tersebut.
"Aku... pergi dulu!" katanya singkat, lalu tubuhnya
yang jangkung tinggi itu berkelebat meninggalkan
ruangan tersebut.
"Tuan, tunggu...! Bolehkah aku mengenal nama
besarmu?" Tio Ciu In berseru. Kakinya melompat,
mencoba mengejar sampai ke pintu.
Tak ada jawaban. Orang tua itu telah melesat jauh
meninggalkan rumah penginapan tersebut. Tapi
sekonyong-konyong terdengar suara lapat-lapat dari
kejauhan yang dikirim dengan ilmu Coan-im-jib-it
(Ilmu Mengirim Suara Dengan Gelombang Angin).
431
"Nona Tio, panggil saja aku Si Buta! Kalau kau
ingin bertemu dan ingin meminta pertolonganku lagi,
nyanyikan saja lagu 'Merindukan Kekasih' itu! Aku
tentu datang...!"
"Ihhh...!" Tio Ciu In yang menjadi salah terima
dengan ucapan orang tua buta itu mencibirkan
bibirnya. Wajahnya berubah sedikit memerah.
"Masakan aku harus menyanyikan lagu 'Merindukan
Kekasih' untuk bertemu dengan dia?"
Mendadak gadis ayu itu tersentak kaget karena
teringat kepada Mo Goat kembali. Bergegas gadis itu
membalikkan badannya. Matanya nanar mencari gadis
muda yang kejam itu di antara para pelayan
penginapan yang telah mulai berdatangan. Tapi gadis
itu sudah tidak kelihatan lagi batang hidungnya.
Mungkin secara diam-diam gadis cantik itu telah pergi
bersama para pembantunya, pada saat dia sedang
terlibat pembicaraan dengan orang tua buta tadi.
Tapi bagaimanapun juga kepergian Mo Goat itu
justru sangat melegakan hati Tio Ciu In. Apa jadinya
kalau Mo Goat dan para pembantunya itu belum
pergi, sedangkan orang tua buta itu sudah tiada lagi?
"Bagaimana, Ciu-moi? Siapakah orang tua itu?"
Liu Wan menyambut kedatangan Tio Ciu In dengan
sebuah pertanyaan.
"Entahlah! Dia hanya memperkenalkan diri dengan
nama Si Buta!"
432
"Si Buta? Jadi.... orang itu buta? Ah! Bukan main!"
Kwe Tek Hun berseru sambil menggeleng-gelengkan
kepalanya.
"Apanya yang bukan main, Suheng?" Song Li Cu
menukas keheranan.
Kwe Tek Hun tersenyum kecut. "Yah, kau lihat
sendiri! Caranya bergerak yang gesit dan lincah itu
sama sekali tak mencerminkan bahwa dia buta! Kita
semua yang waras ini benar-benar harus malu
terhadapnya."
Sementara itu orang-orang yang datang menonton
mulai berani memasuki ruangan tersebut. Pemilik
rumah penginapan itu beserta para pelayannya datang
menghampiri mereka. Dengan wajah sedih pemilik
rumah penginapan itu meratapi barang-barangnya
yang rusak dan berantakan.
"Sudahlah, kau tak perlu meratapi harta bendamu
yang sudah rusak!" Liu Wan yang sudah mengenal
pemilik rumah penginapan itu menghiburnya.
"Meskipun bukan aku yang membuat gara-gara di
dalam peristiwa ini, tapi aku akan menggantikannya.
Tolong kau hitung jumlah seluruh kerugianmu ini,
lalu masukkan ke dalam rekening kamarku!"
"Tapi... tapi...?" Pemilik rumah penginapan itu
pura-pura menolak, padahal hatinya menjadi senang
bukan main.
"Jangan membantah! Lakukan saja perintahku!"
Liu Wan berkata dengan tegas.
433
"Saudara Liu...!?" Kwe Tek Hun terkejut
mendengar kesanggupan Liu Wan.
Liu Wan tersenyum. "Tidak apa-apa, Saudara Kwe!
Biarlah, aku masih mempunyai bekal yang cukup."
Demikianlah, setelah membayar sewa kamar
beserta kerugian yang diderita oleh pemilik rumah
penginapan itu, mereka pergi meninggalkan tempat
tersebut. Seperti rencana mereka semula, mereka
langsung menuju ke markas Tiat-tung Kai-pang di
kota itu. Ku Jing San yang sekarang buntung sebelah
kakinya itu terpaksa mempergunaan tongkat seadanya
untuk menopang tubuhnya. Meskipun sangat sedih,
tetapi pemuda itu tetap tegar menghadapi
penderitaannya.
Markas Tiat-tung Kai-pang di kota itu menempati
bekas bangunan kuil tua yang sudah rusak dan tak
terpakai lagi.
Halamannya yang amat luas itu penuh ditumbuhi
rumput dan alang-alang tinggi, sementara bangunan
gedung dan tembok pagarnya sudah banyak yang
pecah dan runtuh. Hanya bagian pendapa dan ruang
dalam yang masih agak utuh, meskipun gentengnya
juga sudah banyak yang bocor di sana-sini.
Bangunan kuil itu berada jauh di pinggiran kota,
dan terpisah dengan perkampungan penduduk,
sehingga kedatangan Kwe Tek Hun beserta kawankawannya
itu sama sekali tidak menarik perhatian
orang. Justru orang-orang Tiat-tung Kai-pang sendiri
yang menjadi kaget akan kedatangan mereka.
434
Beberapa pengemis yang berkumpul di pintu gerbang
kuil itu segera memberi tanda dengan suitan mulut
kepada teman-temannya di dalam gedung.
Kwe Tek Hun terpaksa berkali-kali mengangguk
setiap melewati gerombolan pengemis yang sedang
duduk-duduk atau beristirahat di halaman kuil yang
luas itu. Banyak di antara mereka sedang mengobati
lukanya akibat pertempuran di kuil Pek-hok-bio
semalam.
"Ah, Kwe Siau-hiap rupanya...." beberapa orang di
antaranya menyapa begitu mengenal Kwe Tek Hun
dan Ku Jing San. Namun banyak juga di antara
mereka yang kaget melihat kaki Ku Jing San yang
buntung itu.
Kwe Tek Hun membawa rombongannya ke atas
pendapa, dan seorang pengemis tua yang tampaknya
paling berpengaruh di antara para pengemis yang
bertebaran di dalam ruangan yang luas itu segera
menyambut kedatangannya.
"Oh, Kwe Siau-hiap sudah kembali. Apakah Kwe
Siau-hiap akan langsung menemui Hu-pang-cu?"
pengemis tua itu bertanya.
Kwe Tek Hun memberi hormat kepada pengemis
tua itu. "Terima kasih, Pek-bi-kai (Pengemis Beralis
Putih). Aku memang bermaksud menemui kau dan
Jeng-bin Lo-kai sekalian kalau boleh...." katanya
merendah.
"Ah, jangan sungkan-sungkan! Marilah ke dalam!
Hu-pangcu berada di belakang. Hei...? Apa yang
435
terjadi dengan Ku Siau-hiap?" Pengemis tua yang
disebut Pek-bi-kai itu mendadak kaget menyaksikan
kaki Ku Jing San.
"Biarlah nanti kami ceritakan di depan Jeng-bin Lokai
sekalian." Kwe Tek Hun menjawab cepat.
Jeng-bin Lo-kai berusia di atas enam puluh tahun,
namun badannya masih segar dan sehat. Rambutnya
yang putih seperti perak itu digelung ke atas dan
diikat dengan tali kain berwarna putih pula.
Pakaiannya terbuat dari kain tenun kasar dengan dua
buah tambalan di kedua sikunya.
Orang tua itu sedang menikmati minuman teh
hangat dari potongan bambu yang dibentuk seperti
cangkir, ketika Pek-bi-kai datang melapor sambil
membawa rombongan Kwe Tek Hun.
"Hu-pangcu, Kwe Siau-hiap, ingin berjumpa
dengan engkau!" Pek-bi-kai melapor tanpa basa-basi,
kemudian juga ikut menenggak teh dari potongan
bambu tadi tanpa permisi.
Tio Ciu In mengernyitkan dahinya menyaksikan
tata cara atau kelakuan yang amat bebas di antara
kaum pengemis itu. Diam-diam gadis ayu itu menjadi
khawatir juga, jangan-jangan mereka disuruh minum
pula dari potongan bambu itu.
"Oh, Kwe Siau-hiap rupanya. Mari silakan
duduk...!" Jeng-bin Lo-kai menyambut kedatangan
mereka.
Demikianlah setelah memperkenalkan Liu Wan dan
Tio Ciu In, Kwe Tek Hun lalu bercerita tentang
436
musibah yang baru saja terjadi di rumah penginapan
tadi. Selain itu Kwe Tek Hun juga bercerita pula
tentang keinginan Tio Ciu In untuk menemukan
adiknya yang hilang.
Ternyata Jeng-bin Lo-kai amat kaget mendengar
kedatangan Mo Goat di kota itu, bahkan berkelahi
dengan rombongan Kwe Tek Hun.
"Baru saja aku menerima laporan tentang sepak
terjang mereka di Ciu-siang, Wu-an dan An-king,
sekarang justru sudah berada di sini. Hmmh, di
manakah mereka itu sekarang?"
"Entahlah, Hu-pangcu. Mungkin mereka juga
belum meninggalkan kota ini. Siapakah mereka itu
sebenarnya? Apa yang telah mereka lakukan di kota
Ciu-siang, Wu-an dan An-king?"
Jeng-bin Lo-kai berdiri dari tempat duduknya.
"Pek-bi-kai! Tolong kau kirim beberapa orang anak
buahmu ke kota untuk mencari khabar tentang orangorang
Hun itu!" perintahnya kepada Pek-bi-kai.
Sekali lagi Pek-bi-kai meraih potongan bambu
tempat air teh itu dan menenggaknya habis, kemudian
tanpa berbicara apa-apa ia beranjak pergi
meninggalkan ruangan itu.
"Orang-orang Hun? Siapakah yang kau maksudkan,
Hu-pang-cu?" Kwe Tek Hun berseru kaget.
"Ketahuilah, Kwe Siau-hiap, gadis kejam itu adalah
puteri Mo Tan, raja dari suku Hun di luar Tembok
Besar. Gadis itu datang ke Tiong-goan bersama
beberapa orang pasukan pilihan Ayahnya, dengan
437
tujuan yang belum diketahui. Tapi yang terang
mereka telah membunuhi para pemenang perlombaan
'Mengangkat Arca’ di kota-kota yang kusebutkan tadi.
Langsung di atas panggung-panggung perlombaan
tersebut diadakan!"
"Benar-benar keji! Apa sebenarnya yang mereka
kehendaki dengan membunuhi orang-orang yang tak
berdosa seperti itu? Apakah karena mereka sangat
membenci orang-orang Han, dan ingin membasmi
pemuda-pemudanya yang terbaik?" Liu Wan berseru
penasaran.
"Entahlah, Liu Siau-hiap. Tapi khabarnya para
pembesar kota itu telah mengirimkan utusan untuk
melapor ke kota raja. Kita nantikan saja
perkembangannya."
Mereka lalu berbicara tentang suku bangsa Hun dan
rajanya yang bernama Mo Tan, yang sejak Kaisar Liu
Pang dulu selalu membuat rusuh dan kekacauan di
daerah Tionggoan. Mo Tan yang sekarang sudah
semakin tua itu tampaknya sudah enggan untuk
melompati tembok Besar sendiri, sehingga kini
mengirim putrinya untuk mewakilinya. Sejak dulu
suku bangsa Hun memang bermusuhan dengan orangorang
Han.
Beberapa saat kemudian Pek-bi-kai telah datang
kembali ke ruangan itu.
Wajahnya tampak kesal dan cemas.
438
"Hmmh, bagaimana Pek-bi-kai? Apakah ada
laporan yang masuk lagi?" Jeng-bin Lo-kai cepat
menanyainya.
"Wah, gawat... Hu-pangcu! Pemuda-pemuda Hangciu
yang memenangkan perlombaan "Mengangkat
arca" kemarin ditemukan tewas semua di pantai dekat
perkampungan Ui-thianrcung!" Pek-bi-kai melapor.
Lalu katanya lagi sambil melirik kepada Liu Wan dan
Tio Ciu In. "Dan... salah seorang anggota kita ada
yang melihat seorang gadis cantik berbaju merah
berkelahi dengan orang-orang Hek-to-pai di
perkampungan mereka kemarin sore."
"Berkelahi dengan orang-orang Hek-to-pai?" Liu
Wan bergumam seraya mengawasi Tio Ciu In.
"Oh!" gadis ayu itu berdesah pucat. "Di manakah
perkampungan Hek-to-pai itu? Jangan-jangan...?"
Bagaimanapun juga Tio Ciu In menyadari bahwa
kepandaian adiknya tidak terpaut banyak dengan
dirinya. Dan sekarang setelah mengetahui betapa
banyaknya orang-orang berilmu tinggi di dunia ini,
otomatis hatinya menjadi khawatir terhadap
keselamatan adiknya yang suka bertindak sembrono
itu.
"Perkumpulan Hek-to-pai tidak terlalu jauh dari
kota ini, Nona Tio. Di tepi jalan yang menuju ke
perkampungan Ui-thian-cung, kira-kira dua lie
sebelum pantai." Kwe Tek Hun memberi keterangan.
Tiba-tiba Tio Ciu In berdiri. Air mukanya tampak
semakin gelisah dan cemas.
439
"Terima kasih atas keterangan Locianpwe. Aku
akan pergi ke sana." Gadis ayu itu menjura kepada
Jeng-bin Lo-kai dan Pek-bin-kai, kemudian berlari ke
luar meninggalkan tempat itu.
Tentu saja Liu Wan menjadi kaget dan khawatir.
Khawatir akart keselamatan gadis ayu itu. Apalagi
tempat yang hendak ditujunya itu dekat sekali atau
satu jalan dengan tempat pembantaian para pemenang
perlombaan itu. Siapa tahu pelaku pembantaian
tersebut memang benar rombongan Mo Goat, dan
sekarang masih berkeliaran di daerah itu?
"Maaf, Lo-kai...!" Pemuda itu dengan tergesa-gesa
meminta diri kepada Jeng-bin Lo-kai dan Pek-bi-kai
lalu berlari mengejar Tio Ciu In.
"Saudara Liu, tunggu...!" Kwe Tek Hun berseru
memanggil.
Pemuda sakti dari Pulau Meng-to itu juga
memohon diri kepada Jeng-bin Lo-kai.
"Suheng, aku ikut!" Song Li Cu tak mau
ketinggalan.
"Jangan...! Kau tunggu saja di sini bersama Ku Jing
San! Aku tidak akan lama!" Kwe Tek Hun melarang.
"Tapi...?" Song Li Cu cemberut.
"Sudahlah! Kalian tetap di sini saja!" Kwe Tek Hun
menggeram, kemudian dengan Pek-in Ginkangnya
yang tinggi badannya melesat bagaikan peluru
melintasi pendapa tersebut.
Jeng-bin Lo-kai dan Pek-bi-kai tersenyum sambil
menggeleng-gelengkan kepala.
440
"Bukan main...! Benar-benar tidak berbeda dengan
ayahnya!"
Matahari telah berada tepat di atas kepala, namun
karena awan tebal menutupi hampir seluruh udara di
atas kota itu, maka panasnya tidak sampai membakar
bumi. Akan tetapi dengan demikian justru hawanya
menjadi gerah bukan main.
Tio Ciu In sengaja berputar menyusup di pinggiran
kota, agar langkahnya yang cepat dan kadang kala
juga berlari itu tidak menarik perhatian orang.
"Ciu-moi tunggu...!"
Gadis ayu itu menoleh dan hatinya menjadi lega
begitu melihat kedatangan Liu Wan. Namun gadis itu
terpaksa mengerutkan alisnya ketika menyaksikan
Kwe Tek Hun juga ikut berlari di belakang pemuda
itu.
"Ciu-moi...! Tenangkanlah dulu perasaanmu! Kau
jangan bertindak gegabah dan sembrono memasuki
perkampungan Hek-to-pai itu! Tempat itu sangat
berbahaya! Ketuanya memiliki ilmu golok beracun
yang cukup disegani di daerah pantai timut ini!"
"Apa yang dikatakan oleh Saudara Liu itu memang
benar, Nona Tio. Tapi kalau kau memang berkeras
untuk memasuki perkampungan itu, biarlah aku dan
Saudara Liu menemanimu. Kita lihat saja, apakah
adikmu di sana."
Tio Ciu In berhenti melangkah dan memandangi
dua pemuda yang sama-sama gagah dan tampan itu.
Sejenak hatinya seperti memperbandingkannya. Liu
441
Wan berperangai halus, pandai bicara dan serba bisa.
Sedangkan Kwe Tek Hun tampaknya berwatak lebih
keras, jujur dan tidak suka banyak bicara. Namun
yang jelas keduanya sama-sama menariknya. Jauh
lebih menarik daripada Tan Sin Lun, suhengnya.
"Aaah...." Tio Ciu In berdesah lirih begitu teringat
akan suhengnya.
"Eh, kenapa kau kelihatannya seperti ragu-ragu?"
Liu Wan bertanya heran.
Tio Ciu In tersentak sadar. "Anu... emm, aku
khawatir hanya akan merepotkan kalian saja." jawab
gadis ayu itu berbohong.
"Wah, mengapa masjh sungkan-sungkan pula?
Bukankah kita sudah saling bersahabat? Ayohlah, kita
berangkat!" Kwe Tek Hun menyela.
Tio Ciu In tak bisa mengelak lagi. Mereka bertiga
lalu berlari menerobos sawah ladang ke arah timur.
Kedua pemuda berilmu tinggi itu, terutama Kwe Tek
Hun terpaksa harus memperlambat langkah kakinya
untuk mengimbangi gin-kang Tio Ciu In. Sampai di
jalan besar yang dilalui Tio Siau In kemarin terpaksa
mereka mengendorkan langkah. Jalan tersebut adalah
jalan utama menuju ke pantai, sehingga banyak sekali
orang lalu lalang di jalan itu. Ketiganya tak ingin
menarik perhatian orang.
-- o0d-w0o --
442
JILID XI
KAN tetapi setiap orang yang
berpapasan dengan mereka tetap saja
memandang dengan kagum, terutama
kepada Tio Ciu In yang ayu itu. Untunglah
mereka segera sampai di perkampungan
Hek-to-pai.
"Hei, ramai benar suasananya! Sedang ada apa di
kampung itu?" Liu Wan berseru heran melihat
kesibukan di pintu gerbang perkampungan Hek-to-pai
itu.
Kampung besar yang dipakai sebagai markas
perguruan Hek-to-pai itu memang lain daripada
biasanya. Sehari-harinya hanya ada dua atau tiga
orang penjaga yang berdiri di pintu gerbangnya,
namun kali ini ternyata ada delapan atau sepuluh
orang di sana. Dan apabila di hari-hari biasa para
anggotanya itu cuma berpakaian seadanya, tapi kali
ini mereka juga mengenakan pakaian kebesaran
mereka, yaitu hitam-hitam dan ikat kepala hitam pula.
Bahkan Liu Wan dan Kwe Tek Hun seperti
mendengar suara tambur dan gendang ditabuh di
tengah-tengah kampung itu.
"Apakah mereka masih merayakan Tahun Baru?"
Tio Ciu In menduga-duga dengan perasaan masih
cemas memikirkan adiknya.
A
443
"Mungkin benar. Tapi... hei, lihat Liu Wan berseru
tertahan sambil menunjuk ke arah bendera atau panji
perguruan yang terpancang di samping pintu gerbang.
Kwe Tek Hun dan Tio Ciu In memandang pula
dengan kening berkerut. Di samping tiang bendera
perguruan HekT-to-pai, ternyata terpancang pula
bendera lain yang lebih megah serta lebih besar
ukurannya. Bendera berwarna hitam legam itu
bergambar burung rajawali berbulu emas sedang
mencengkeram sebuah golok pusaka yang berwarna
kuning emas pula.
"Ah... itu bendera keluarga Tiau dari Hai-ong-hu di
Lautan Timur sana. Ada urusan apa mereka ke Sini?"
Kwe Tek Hun yang sudah terbiasa bertualang di laut
itu berseru heran.
"Wah, sungguh gawat! Kalau sampai bajak laut itu
berada di sini, semuanya bisa berbahaya." Liu Wan
menambahkan.
Tentu saja yang menjadi semakin cemas dan
gelisah adalah Tio Ciu In. Dengan wajah pucat gadis
ayu itu mengawasi Liu Wan dan Kwe Tek Hun
berganti-ganti.
"Siapa keluarga Tiau itu? Mengapa kalian
tampaknya sangat mengkhawatirkan mereka?"
Liu Wan menghela napas panjang, lalu dengan
sangat hati-hati agar tidak semakin membuat cemas
perasaan Tio Ciu In ia menerangkan. "Keluarga Tiau
adalah penguasa bajak laut terbesar di daerah Lautan
Timur. Nama mereka amat tersohor dari dulu, karena
444
selain memiliki kekuatan yang sangat besar mereka
juga berkepandaian luar biasa tinggi. Keluarga itu
berdiam di sebuah pulau kecil yang mereka sulap
menjadi sebuah istana yang dikelilingi benteng kuat
seperti istana raja. Mereka menyebut tempat itu Haiong-
hu (Istana Raja Laut). Mereka mempergunakan
panji atau bendera seperti yang berkibar di samping
pintu gerbang itu."
"Jadi mereka itu bajak laut?" Tak terduga Tio Ciu
In berseru geram. Gadis ayu itu teringat akan nasib
keluarganya yang musnah karena serangan para bajak
laut.
"Ciu-moi...?"
"Marilah! Kalau begitu kita hadapi mereka
sekalian! Aku akan mengadu jiwa dengan mereka bila
mereka benar-benar mencelakai adikku!"
Lalu tanpa menanti reaksi teman-temannya lagi Tio
Ciu In berlari menuju ke perkampungan Hek-to-pai.
Liu Wan hanya bisa saling pandang saja dengan Kwe
Tek Hun. Keduanya terpaksa berlari mengikuti gadis
ayu itu.
"Berhenti...!" Para pengawal pintu gerbang itu
menghentikan Tio Ciu In. Namun semuanya segera
cengar-cengir melihat kecantikan gadis ayu itu.
Tetapi mereka cepat pula bersiaga kembali begitu
menyaksikan Liu Wan dan Kwe Tek Hun!
"Kau mau ke mana, Nona?" salah seorang dari
penjaga itu bertanya.
445
Tio Ciu In mencoba untuk meredakan perasaannya
dahulu sebelum menjawab.
"Aku cuma ingin bertanya, apakah kemarin ada
seorang gadis muda berpakaian merah ke sini?"
"Nona maksudkan gadis galak yang membawa
sepasang pedang pendek di balik lengan bajunya?"
"Benar! Jadi dia berada di sini?" Tio Ciu In
berteriak tinggi penuh harap. "Lalu... di mana dia
sekarang?"
Tak terduga para penjaga itu justru menebar dalam
posisi mengurung rombongan Tio Ciu In. Wajah
mereka yang semula cengar-cengir, mendadak
berubah kaku penuh/kewaspadaan. Bahkan pimpinan
mereka segera memberi perintah kepada salah seorang
di antara mereka untuk melapor ke dalam.
"Nona siapa...? Apakah hubungan Nona dengan
gadis itu? Apakah saudara seperguruan atau
keluarganya?" pimpinan penjaga itu menggeram
dengan suara tak bersahabat.
Otomatis Tio Ciu In, dan juga Liu Wan serta Kwe
Tek Hun menjadi curiga pula. Tentu ada apa-apa di
antara Tio Siau In dengan perguruan itu sehingga
mereka bersikap seperti itu. Oleh karena itu baik Tio
Ciu In maupun Liu Wan dan Kwe Tek Hun segera
bersiap siaga pula menghadapi segala kemungkinan.
"Aku adalah Kakak kandung gadis itu. Mengapa...?
Di mana dia sekarang?"
Para penjaga itu saling pandang dengan wajah
kaget. Namun di lain saat wajah mereka segera
446
berubah pula menjadi keruh dan geram. Serentak
mereka menghunus golok yang terselip di pinggang
masing-masing.
"Bagus! Tampaknya kau ingin menggantikan
adikmu yang kurang ajar itu untuk menerima
hukuman! Ayoh, kawan! Ringkus gadis ini!"
Pimpinan penjaga itu berseru memberi perintah
kepada teman-temannya.
Tanpa diperintah untuk yang ke dua kalinya para
penjaga itu segera berloncat an sambil mengayunkan
golok mereka ke tubuh Tio Ciu In. Mereka tidak
merasa sayang atau tertarik lagi melihat kecantikan
Tio Ciu In. Pengalaman menghadapi Tio Siau In
kemarin, yang mengakibatkan beberapa orang teman
mereka terluka, bahkan ketua mereka juga, membuat
mereka lebih berhati-hati menghadapi lawan.
Perubahan keadaan yang sangat cepat itu tak lepas
dari pengamatan Liu Wan dan Kwe Tek Hun. Hanya
saja Liu Wan yang berpenampilan tenang dan sabar
itu tidak segera bertindak untuk membantu Tio Ciu In.
Apalagi pemuda itu juga sudah dapat menilai
kemampuan Tio Ciu In. Kalau cuma para penjaga itu
yang maju, Tio Ciu In bisa menghadapi mereka
sendirian.
Tapi berbeda dengan Kwe Tek Hun. Pendekar
muda dari Pulau Meng-to yang telah terbiasa malang
melintang di dunia kang-ouw untuk melindungi kaum
lemah itu cepat menerjang maju pula untuk
melindungi Tio Ciu In. Bukannya ia tak percaya akan
447
kemampuan Tio Ciu In, tapi ia hanya ingin
menghindarkan gadis itu dari bentrokan langsung
dengan laki-laki kasar tersebut.
Traaang! Traaaang! Trangg...!
Golok-golok hitam yang datang menyambar ke
arah tubuh Tio Ciu In itu tiba-tiba terpental balik dan
hampir mengenai pemiliknya sendiri ketika saling
berbenturan dengan pedang Kwe Tek Hun. Untunglah
para penjaga itu sejak semula sudah berhati-hati,
sehingga masing-masing cepat bisa menguasai
senjatanya sendiri.
"Nona Tio, kau beristirahatlah! Biarlah aku saja
yang mewakilimu menghadapi manusia-manusia
kasar ini!" Kwe Tek Hun berkata tegas.
"Terima kasih, Kwe Siau-hiap! Aku akan masuk ke
dalam untuk mencari Adikku."
Tanpa menanti jawaban lagi Tio Ciu In lalu melesat
ke dalam. Para penjaga itu mencoba merintangi,
namun dengan tangkas Kwe Tek Hun menyerang
mereka. Terpaksa mereka melepaskan Tio Ciu In
untuk menghadapi pendekar muda dari Pulau Meng-to
itu.
"Ciu-moi, hati-hati...!" Liu Wan berseru seraya
melompat ke depan mengejar gadis itu.
Tapi baru saja Tio Ciu In dan Liu Wan melompat
ke atas lantai pendapa utama yang ada di tengahtengah
halaman depan itu, mereka telah disongsong
oleh It Kwan dan murid-muridnya. Luka di leher
ketua Hek-to-pai itu telah dibalut dengan rapi. Begitu
448
pula dengan luka di punggung tangannya. Bekasbekas
luka yang diakibatkan oleh pedang pendek Tio
Siau In kemarin tampaknya telah diobati dengan baik.
"Tangkap mereka...!" begitu berhadapan muka
orang tua itu berteriak memberi perintah kepada anak
buahnya.
"Tahaaaaan! Orang tua, kau siapa?" namun dengan
seruan lantang, tidak kalah kerasnya dengan suara It
Kwan, Tio Ciu In menghentikan langkah mereka.
"Aku It Kwan, ketua partai persilatan di sini! Nah,
mau apa kau mencari Adikmu ke sini? Mau
menggantikan Adikmu untuk menerima hukumanku,
heh?"
"Bagus...! Kebetulan sekali kalau begitu, karena
aku memang ingin bertemu dengan engkau! Nah,
lekas kau katakan, di mana Adikku? Jawab!"
Ternyata Tio Ciu In yang biasanya lembut dan
halus budi bahasanya itu kini tidak mau berbasa-basi
lagi. Kekhawatiran terhadap Siau In membuatnya
tegang dan kaku.
"Kurang ajar...! Ternyata sifatmu juga tidak jauh
berbeda dengan Adikmu, Kuntilanak Kecil itu! Huh,
cepat... tangkap perempuan ini!" It Kwan menjerit
marah. Rasa malu dan terhina karena dilukai Siau In
kemarin membuat ketua Hek-to-pai ini dendam sekali.
Belasan anggota Hek-to-pai yang menyertai
ketuanya itu segera berloncatan menyerang Tio Ciu In
dan Liu Wan. Golok mereka yang hitam mengkilat itu
berkelebatan seperti tangan-tangan hantu yang berebut
449
mangsa. Sebagian menerjang ke tubuh Tio Ciu In,
sementara yang sebagian lagi menyambar ke arah Liu
Wan. Sedangkan It Kwan cepat-cepat menghunus
goloknya pula untuk setiap saat membantu anak
buahnya.
"Hmm... siapakah mereka, It Kwan?" tiba-tiba dari
ruang dalam muncul seorang lelaki tua berpakaian
mewah bertanya kepada It Kwan. Dia keluar dikawal
oleh empat orang laki-laki kekar berpakaian hitamhitam.
It Kwan menoleh. Bibirnya berusaha tersenyum.
"Perempuan ini mengaku sebagai kakak kandung
dari gadis yang melukai aku kemarin, Cong Su. Aku
akan menangkap dia sebagai ganti adiknya yang
terlepas akibat kebodohan Tong Tai-su."
Lelaki berpakaian mewah itu mencibirkan bibirnya
yang ditumbuhi kumis seolah olah amat meremehkan
kemampuan Tio Ciu In dan Liu Wan. Sambil
melangkah mendekati It Kwan ia menggerutu. "Kau
ini masih saja suka bermain-main dengan anak-anak."
Wajah It Kwan menjadi merah. Matanya
memancarkan sinar tak senang. Namun demikian ia
tak berbuat apa-apa. Tampaknya ia segan terhadap
tamunya itu. Ia cuma menarik napas panjang seraya
menatap kembali ke arena perkelahian.
Begitu mendengar adiknya sudah pergi dan tidak
ada di tempat itu lagi, sebenarnya Tio Ciu In sudah
tidak ingin berkelahi lagi. Tapi untuk lebih
meyakinkan hatinya bahwa Siau In memang benar450
benar sudah tidak ada lagi di tempat itu, Tio Ciu In
ingin menangkap salah seorang anggauta Hek-to-pai
itu untuk dikorek keterangannya. Dan tampaknya Liu
Wan juga mempunyai maksud yang sama.
"Ciu-moi...! Hadapi mereka! Aku akan meringkus
ketuanya itu! Berhati-hatilah ...!" pemuda itu berbisik
ke telinga Tio Ciu In.
Tio Ciu In tersenyum. "Kaulah yang harus berhatihati.
Sebagai seorang ketua partai persilatan tentunya
kepandaian silatnya sangat tinggi."
Demikianlah, dengan ginkangnya yang tinggi Liu
Wan berkelit ke sana ke mari untuk meloloskan diri
dari kurungan para pengeroyoknya. Sabetan-sabetan
golok yang datang bagaikan air hujan itu sama sekali
tak mampu menyentuh tubuhnya. Bahkan beberapa
kali ia mampu membalas dan menjatuhkan lawannya.
"Wah, pemuda itu tampaknya memiliki ilmu juga.
Kau harus berhati-hati menghadapinya." laki-laki
berpakaian mewah itu berkata kepada It Kwan.
"Tentu saja, Cong Su. Kau tak perlu ikuit campur
dalam masalah ini." Ketua Hek-to-pai itu mendengus
kesal.
"Ah, jangan begitu.... Kita sudah lama saling
mengenal, meskipun kita tidak bersahabat. Tiada
jeleknya kalau sekali waktu aku ikut membantu
kesulitanmu."
"Siapa yang berada di dalam kesulitan?" akhirnya It
Kwan menjerit gusar. Matanya mendelik, siap
berkelahi melawan tamunya.
451
Akan tetapi dengan tertawa perlahan Cong Su
mengerak-gerakkan tangannya.
"Sabar...! Sabar, It Kwan... sabaaaar! Aku
bermaksud baik. Kenapa kau cepat sekali tersinggung
hari ini?"
It Kwan menggeram. Dengan sekuat tenaga Ketua
Hek-to-pai itu mengekang kemarahannya.
"Habis kata-katamu juga sangat memandang rendah
kepadaku! Jangan dikira aku takut kepadamu! Kalau
selama ini aku selalu menghormati kamu, hal itu
karena kau adalah orang kepercayaan Hai-ong-hu!
Aku tidak ingin berselisih dengan mereka...."
Gong Su tertawa keras-keras. "Haaha-ha, baiklah...!
Sekarang kau hadapi saja lawanmu itu! Lihat! Pemuda
itu lolos dari kepungan anak buahmu!"
It Kwan terperanjat. Ia melihat Liu Wan berlari
menghampirinya.
"Cong Su, pergilah! Pulanglah sekalian ke Hai-onghu!
Bawa tukang masak kami seperti yang diminta
oleh rajamu! Tapi cepat kau kembalikan mereka
apabila tugas mereka telah selesai!"
"Terima kasih. Tapi aku ingin menyaksikan
keramaian ini dahulu. Hei, pengawal! Jemput lebih
dahulu tukang masak itu ke sini! Kita segera kembali
ke Hai-ong-hu!" Cong Su berseru kepada
pengawalnya.
"Kau memang selalu ingin mencampuri urusanku!"
It Kwan menggeram dengan mata mendelik.
452
Tapi ketua Hek-to-pai itu tak sempat untuk
berdebat lagi. Liu Wan yang sudah lepas dari
kepungan itu keburu menyerangnya. Pemuda itu
mengayunkan sisi telapak tangannya sambil melompat
ke arahnya. Terdengar desis angin tajam bagaikan
suara anak panah yang lepas dari busurnya. Siiiiiing!
It Kwan terperangah. Ia segera sadar sedang
menghadapi seorang lawan yang memiliki lwe-kang
serta ilmu pukulan yang tinggi. Dan ia tidak ingin
mendapat malu lagi. Goloknya segera bergetar di
depan dadanya, siap untuk menyongsong serangan
Liu Wan.
Whuuuus! Golok hitam itu terayun keras ke depan,
seolah-olah hendak menjemput kedatangan telapak
tangan Liu Wan, sementara kedua kaki It Kwan siap
untuk bergeser ke kiri apabila lawannya menarik
kembali serangannya.
Liu Wan kagum juga melihat kesigapan ketua Hekto-
pai. Tapi ia tak mau menarik kembali tangannya
yang sudah terlanjur terulur ke depan. Apalagi dengan
ketajaman penglihatannya yang sudah terlatih baik, ia
merasa ada sesuatu yang dipersiapkan oleh lawannya
apabila ia menarik tangannya kembali.
Oleh karena itu Liu Wan hanya memutar lengannya
setengah lingkaran ke kanan untuk menghindari
tabasan golok, kemudian mengubah jari-jari
tangannya yang merapat itu menjadi sebuah
cengkeraman ke arah pergelangan It Kwan yang
453
memegang golok. Gerakan tangannya yang cepat itu
diikuti dengan gerakan tubuhnya ke samping.
Sekali lagi It Kwan terkejut menyaksikan ilmu silat
lawannya. Tentu saja ia tak ingin pergelangan
tangannya tertangkap. Mati-matian ia membuang
badannya ke kanan untuk menghindari tangkapan itu,
sambil kaki kirinya menjejak ke depan untuk
memaksa lawan mundur kembali.
Duuuk! Tumit sepatu It Kwan membentur ujung
jari Liu Wan!
Langkah Liu Wan bagaikan tertahan oleh tembok
yang sangat kuat, namun sebaliknya kuda-kuda It
Kwan yang goyah itu tak mampu lagi menopang berat
tubuhnya! Sambil menyeringai kesakitan Ketua Hekto-
pai itu terdorong jatuh ke atas lantai. Tapi dengan
cepat pula orang tua itu bangkit kembali.
Cong Su bertepuk tangan menyaksikan gebrakan
pertama yang amat menegangkan itu. Dari gebrakan
tersebut sudah dapat dinilai bahwa tenaga dalam Liu
Wan masih jauh lebih baik dibandingkan tenaga
dalam It Kwan. Sekarang tinggal ilmu golok It Kwan,
apakah bisa menutup kekurangannya tersebut atau
tidak.
"Menyerah sajalah kau agar aku tidak perlu
menyakitimu!" Liu Wan mengejek agar lawannya
menjadi semakin panas dan penasaran.
"Persetan! Akan kukuliti kepalamu dan kucincang
tubuhmu, keparat!" It Kwan berteriak berang.
Goloknya berputar-putar di tangan kanannya.
454
Ketua Hek-to-pai itu cepat menerjang kembali.
Ilmu goloknya yang ganas dan keji itu segera
mengurung Liu Wan.
Sinarnya yang
hitam mengkilat itu
berkelebatan
bagaikan hendak
mencacah-cacah
tubuh lawannya.
Suaranya
mengaung keras
seperti suara ribuan
lebah yang terbang
mengelilingi Liu
Wan.
Liu Wan
menjadi repot juga
melayani kurungan
golok yang sangat
beracun itu. Salah
langkah sedikit saja mata golok yang tajam itu akan
menyayat kulitnya atau membelah tubuhnya, dan hal
itu berarti kematian baginya.
"Kalau hanya mengandalkan ilmu pukulan dan ilmu
meringankan tubuh saja kukira harus membutuhkan
waktu yang lama untuk menundukkan goloknya. Tapi
kalau harus mempergunakan Thian-lui-khong-ciang,
rasanya juga masih terlalu pagi. Ah, lebih baik aku
455
mempergunakan pisau saja...." pemuda itu berpikir
sambil tetap melayani serangan It Kwan.
Sementara itu melihat kawannya dapat mengurung
Liu Wan, Cong Su bertepuk tangan dengan gembira.
Berkali-kali orang tua itu memuji ilmu golok It Kwan
yang cepat dan ganas luar biasa.
"Bagus! Bagus! Wah, ternyata Ilmu Golokmu
benar-benar hebat sekali! Aku sungguh tidak
menyangkanya! Sayang tenagamu terlalu lemah...!"
Cong Su berteriak-teriak gembira.
"Diam kau, Cacing Tua!" It Kwan berteriak pula
dengan kerasnya.
Liu Wan tertawa perlahan. "Kau benar, ...Orang
Tua! Ilmu Golok orang ini memang hebat sekali.
Sayang kurang terdukung oleh tenaga dalamnya,
sehingga kehebatannya menjadi hambar dan kurang
berbobot! Hei, bagaimana kalau kau membantunya
agar pertarungan ini menjadi lebih mengasyikkan
lagi?"
Tiba-tiba senyum di bibir Cong Su menghilang.
Wajah tua yang masih kelimis itu berubah menjadi
keruh.
"Bangsat kecil! Kau menantang Hai-go Cong Su
(Si Buaya Laut)...?" orang tua itu menjerit marah.
"Eh, memangnya kenapa? Bukankah orang ini
kawanmu? Apa salahnya kalau kalian saling
menolong? Orang ini terang tidak akan menang
melawanku. Begitu pula kalau kau nanti maju
sendirian. Bukankah akan lebih baik kalau kau maju
456
bersama mengeroyok aku, sehingga kalian saling
tolong menolong bila dalam kesulitan?"
"Apa katamu...? Kau masih waras atau sudah gila,
heh?" Cong Su berteriak tinggi.
Liu Wan tertawa panjang. Dia tak menjawab
umpatan itu. Dia sedang sibuk melayani golok It
Kwan. Pisau yang kini tergenggam di tangannya
benar-benar dahsyat. Pisau yang tak seberapa panjang
itu ternyata mampu menahan golok lawannya yang
besar dan berat.
"Ayolah...! Kau tak perlu malu-malu untuk
mengeroyokku! Majulah!" tantangnya kembali kepada
Hai-go Cong Su.
"Kau...?" Hai-go Cong Su hendak mengumpat lagi,
tapi terhenti karena empat orang pengawalnya telah
kembali membawa lima orang tukang masak yang tadi
dikehendakinya.
"Inilah mereka, Cong Tou-bak...." salah seorang
dari pengawal itu melapor.
"Suruh mereka menanti di luar! Sekarang kalian
bantu aku dulu membungkam Si Mulut Sombong itu!"
Cong Su berseru sambil menunjuk ke arah Liu Wan.
"Baik, Tou-bak!"
Tanpa basa-basi lagi keempat pengawal Cong Su
itu segera menyerang Liu Wan. Kebetulan keempatempatnya
juga bersenjatakan golok, sehingga berlima
dengan It Kwan mereka mengeroyok dengan golok.
Sesuai dengan perawakan mereka yang gempal, cara
mereka bersilatpun ternyata juga kasar dan keras.
457
Apalagi mereka memang anggota bajak laut yang
sudah terbiasa berlaku kasar dan keras.
Namun untuk melawan Liu Wan kepandaian
mereka masih terlalu jauh. Kepandaian mereka
berempat tidak lebih baik daripada anak murid It
Kwan sendiri. Maka tidaklah mengherankan bila
sebentar saja mereka telah menjadi bulan-bulanan
pisau Liu Wan. Pemuda itu tidak bermaksud
membunuh mereka. Pemuda itu hanya, menggores
saja beberapa kali di tubuh empat orang pengawal itu.
Namun semuanya itu telah membuat mereka mundur
ketakutan.
"Wah, kalian memang cuma gentong nasi yang tak
berguna! Minggir...!" Cong Su marah-marah,
kemudian meloncat ke dalam arena menggantikan
mereka. Tangannya memegang sebuah ruyung besi
yang diberi gerigi tajam di bagian ujungnya.
"Nah, begitu! Akhirnya kau terjun juga ke arena
membantu kawanmu ini...!" Liu Wan mengejek.
"Bangsat keparat, diam kau! Lihat ruyungku...!"
Tapi kedatangan Cong Su sungguh tidak
menyenangkan hati It Kwan. Meskipun dia sendiri
merasa kewalahan menghadapi Liu Wan, tapi ia
benar-benar tidak menghendaki bantuan orang seperti
Cong Su itu.
"Kaulah orangnya yang mestinya diam dan tak ikut
campur dengan urusan orang, Cong Su! Cepat kau
pergi dari sini! Bukankah tugasmu hanya mengambil
458
tukang masak di sini?" Ketua Hek-to-pai itu
membentak.
"Maaf It Kwan. Anak ini telah menghina dan
menantangku, aku tidak boleh mendiamkannya saja.
Pantang bagi warga Hai-ong-hu untuk menolak
tantangan lawan."
"Tapi... dia baru bertempur dengan aku. Apakah
kau tidak bisa menunggu sampai pertempuran ini
selesai dahulu?"
"Wah, mana sempat aku menunggu lagi? Biarlah
aku saja yang lebih dulu berkelahi dengan dia! Kau
minggirlah!"
Liu Wan benar-benar tak bisa menahan tawanya
mendengar perdebatan kedua orang itu. Sambil
meloncat mundur pemuda itu menggeleng-gelengkan
kepalanya.
"Hei... sebenarnya kalian berdua ini bersahabat atau
bermusuhan? Kalau kalian memang saling
bermusuhan dan ingin berkelahi dahulu, yah...
baiklah, aku akan menunggu! Berkelahilah kalian!"
akhir nya Liu Wan berkata sambil menyeret sebuah
kursi dan duduk bertopang kaki.
It Kwan dan Cong Su menjadi salah tingkah
sekarang. Mereka saling berhadapan dengan senjata
masing-masing, tapi tentu saja tak seorang pun dari
mereka yang ingin menyerang yang lain. Mereka
hanya saling memandang dengan wajah kikuk.
"Nah, nah, nah... akhirnya kalian menjadi bingung
sendiri sekarang, hahahaha! Makanya kalian tak perlu
459
bertengkar lagi! Bersatu sajalah kalian berdua untuk
melawanku! Tidak usah malu-malu...! He-hehe-hehehehe!"
sekali lagi Liu Wan tertawa mengejek.
"Bedebah...!" It Kwan meraung, kemudian
meloncat menyerang Liu Wan.
"Bangsat...!" Cong Su juga mengumpat dan
menerkam pemuda itu.
Brraaaaak!!! Terdengar suara keras ketika kursi
yang diduduki Liu Wan tadi hancur berkeping-keping
dihantam golok dan ruyung lawannya. Pemuda itu
sendiri telah lebih dahulu melesat pergi. Bahkan
sebelum kedua lawannya itu menyadari apa yang
terjadi, Liu Wan ganti menyerang dengan pisaunya.
Singggg! Siiing! Pisau itu sekaligus menyambar
pergelangan tagan Cong Su dan It Kwan yang
memegang senjata.
"Aaaaah....!"
Baik It Kwan maupun Cong Su berusaha matimatian
untuk menyelamatkan tangannya, namun tetap
saja pisau itu menggores sedikit di lengan mereka
masing-masing. Untunglah mereka masih mampu
mempertahankan senjata mereka.
Namun dengan demikian kedua orang itu menjadi
semakin sadar bahwa pemuda yang mereka hadapi itu
benar-benar memiliki kepandaian di atas mereka.
Oleh karena itu tidak boleh tidak mereka berdua harus
bersatu padu untuk menghadapinya.
Demikianlah mereka berdua lalu mengeroyok Liu
Wan bersama-sama. Mereka menyerang dan bertahan
460
bergantian, saling mengisi dan melindungi, sehingga
membentuk sebuah kerja sama yang cukup kuat untuk
melayani ilmu silat Liu Wan yang tinggi.
"Nah, begitu...!" dalam kesibukannya Liu Wan
masih bisa memuji kerja sama lawannya.
Namun bagi It Kwan dan Cong Su, pujian itu
dirasakan sebagai sebuah ejekan yang sangat
menyakitkan hati. Terutama bagi It Kwan, yang
selama dua hari ini selalu dirundung kesialan. Sudah
barongsainya dikalahkan orang, dia sendiri dikalahkan
dan dilukai seorang gadis kecil, dan kini malah
dipermainkan serta dipecundangi pula oleh seorang
pemuda yang umurnya belum seberapa.
Maka sungguh tidak mengherankan bila ketua Hekto-
pai itu menjadi mata gelap, mengamuk tanpa
mempedulikan keselamatannya lagi. Golok
beracunnya yang berwarna hitam legam itu tampak
berkilat-kilat memantulkan sinar, berkelebatan
mengejar tubuh Liu Wan, bagaikan seekor naga hitam
yang berkelok-kelok di udara memburu mustika.
Dan kegarangan golok It Kwan itu menjadi
semakin berbahaya karena dibantu oleh permainan
ruyung Hai-go Cong Su. Meskipun permainan ruyung
tou-bak (kepala pasukan bajak) itu masih terasa lugas
dan kasar, tapi dasar dari ilmu ruyung itu sendiri
ternyata sangat baik dan berbahaya. Tak heran kalau
orang tua itu mendapat kepercayaan untuk memimpin
satu pasukan bajak laut.
461
Untunglah Liu Wan memiliki ilmu silat yang amat
tinggi. Walaupun hanya melawan dengan pisau, dan
tidak mengeluarkan ilmu andalannya, namun pemuda
yang telah memperoleh julukan Bun-bu Siu-cai itu
dapat melayani keganasan golok dan ruyung
lawannya. Malahan beberapa waktu kemudian, yaitu
setelah bisa membaca permainan ilmu silat lawanlawannya,
pemuda itu mulai bisa mendekte dan
mendesak mereka. Dengan kelebihan ginkang dan
lwekangnya semua itu dapat dia lakukan dengan
mudah.
Tetapi sebaliknya di arena pertempuran yang lain
Tio Ciu In benar-benar harus memeras keringat untuk
melayani kerubutan anak murid Hek-to-pai. Beberapa
orang dari mereka memang telah dilumpuhkannya,
akan tetapi kawan-kawan mereka yang lain segera
berdatangan pula ke tempat itu. Belasan anak murid
Hek-to-pai sekarang mengepung gadis itu.
"Gila! Jumlah mereka banyak sekali! Jatuh satu
datang tiga! Wah, kalau terus-terusan begini aku bisa
kehabisan napas nanti! Hmmm... ke mana Kwe Siauhiap
tadi? Mengapa tidak lekas-lekas ke mari?" gadis
itu berkata di dalam hati.
Tio Ciu In sama sekali tidak tahu bahwa Kwe Tek
Hun sendiri ternyata juga sedang mendapat kesulitan
di pintu gerbang. Sebenarnya mudah saja bagi
pendekar sakti itu untuk melumpuhkan para penjaga
yang merintanginya, kalau saja tidak ada pihak ke tiga
yang ikut campur. Namun karena mendadak ada pihak
462
lain yang kemudian ikut turun tangan mengganggu
usahanya, maka niat untuk melumpuhkan para
penjaga pintu gerbang tersebut menjadi gagal. Bahkan
pendekar muda dari Pulau Meng-to itu justru berbalik
menjadi repot dan menderita kesulitan malah.
Ketika Kwe Tek Hun ingin cepat-cepat
menyelesaikan perlawanan para penjaga itu, tiba-tiba
di jalan besar lewat dua orang penunggang kuda,
lelaki dan perempuan. Kedua penunggang kuda itu
segera menghentikan kuda mereka begitu
menyaksikan perkelahian tersebut. Bahkan mereka
lalu bergegas membelokkan kuda mereka untuk
menonton.
Akan tetapi begitu melihat ilmu silat Kwe Tek Hun,
kedua penunggang kuda itu kelihatan amat tertarik.
Mereka saling berbisik satu sama lain, kemudian yang
lelaki segera memajukan kudanya.
"Berhenti...!" orang itu berseru pendek.
Kwe Tek Hun terperanjat, otomatis kakinya
meloncat mundur. Namun kesempatan yang terakhir
kedua tangannya masih sempat membagi pukulan ke
arah lawan-lawannya. Bluuk! Bluuk! Bluuk! Empat
orang penjaga yang masih tersisa segera
bergelimpangan kesakitan.
Kwe Tek Hun berdiri siap menghadapi dua orang
pendatang baru yang belum dia ketahui lawan atau
kawan itu. Tapi diam-diam hatinya sedikit bergetar
juga. Suara orang itu tidak begitu keras, namun
terdengar sangat nyaring dan menyakitkan gendang
463
telinga, suatu tanda bahwa pemilik suara itu memiliki
tenaga dalam yang hampir sempurna.
Kedua orang yang baru datang itu segera turun dari
kudanya. Mereka seperti sepasang suami isteri. Yang
lelaki berusia kira-kira empat puluhan tahun,
sedangkan yang wanita sekitar dua tahun lebih muda.
Keduanya mengenakan pakaian seragam putih-putih,
dengan pedang panjang tergantung di masing-masing
pinggang mereka. Selain ciri-ciri tersebut tiada yang
aneh atau menonjol pada diri mereka, kecuali satu,
yaitu batang pedang mereka melengkung seperti
samurai pada bangsa Jepang.
"Anak muda, perkenalkanlah... aku bernama Swat
Kim Po, dan wanita ini adalah isteriku. Kami datang
dari pulau-pulau di sebelah utara Laut Kuning. Ketika
lewat tadi kami amat terkesan oleh ilmu silatmu.
Langkah-langkah kakimu rasanya hampir sama atau
mirip dengan langlah-langkah ilmu silat perguruan
kami. Eeemm... bolehkah kami berdua mengetahui
nama perguranmu? Dan... apakah nama ilmu yang
kaupergunakan tadi?"
Kwe Tek Hun terdiam dan tak segera bisa
menjawab. Orang asing itu berbicara dengan nada
halus serta sopan, tetapi pertanyaannya yang
menyinggung ilmu silat itu terasa sulit untuk dijawab.
"Tuan.... Namaku Kwe Tek Hun. Aku juga datang
dari sebuah pulau di sebelah timur daratan ini, dari
Pulau Meng-to. Tentang ilmu langkahku
tadi.......ehm...."
464
"Apakah ilmu langkahmu tadi bernama Ban-sengpo
Lian-hoan pula?" tiba-tiba Swat Kim Po menyela
begitu melihat keragu-raguan Kwe Tek Hun.
Bukan main terkejutnya Kwe Tek Hun! Orang itu
menyebut nama ilmu silatnya dengan tepat! Dan
orang itu mengatakan bahwa ilmu langkah milik
keluarganya itu mirip dengan ilmu mereka!
"Benar...? Jadi ilmu langkahmu tadi juga bernama
Ban-seng-po Lian-hoan...?" Orang itu menjadi kaget
pula. Ia berpaling kepada isterinya.
"Jadi... jadi Tuan berdua juga bisa mempergunakan
Ban-seng-po Lian-hoan...?" Kwe Tek Hun juga balik
berseru pula dengan ragu dan curiga.
Tentu saja Kwe Tek Hun menjadi curiga, karena
selama ini ayahnya tak pernah mengatakan bahwa ada
orang lain selain ayahnya, dia sendiri, dan kakek
gurunya yang sudah meninggal, yang mempelajari
Ban-seng-po Lian-hoan. Sedangkan Ku Jing San dan
Song Li Cu pun belum diperbolehkan
mempelajarinya.
"Kau bertanya, apakah kami berdua bisa
mempergunakan Ban-seng-po Lian-hoan? Ah-ah-ah,
Anak muda... kau ini suka sekali bergurau tampaknya.
Ilmu itu justru merupakan salah satu ciri dari
perguruan kami, bagaimana kami tidak mahir
mempergunakannya? Justru kamilah yang seharusnya
bertanya kepadamu. Darimana engkau atau Gurumu
mempelajarinya? Ketahuilah, ilmu tersebut tidak
pernah diturunkan kepada orang lain selain warga
465
Pondok Pelangi. Itu pun tidak semua warga Pondok
Pelangi bisa mempelajarinya sampai ke tingkat yang
tertinggi."
"Pondok Pelangi...?" Kwe Tek Hun mencoba
mengingat-ingat kalau-kalau ayahnya pernah
menyebut tempat itu. "Hmmm, tidak... Ayah memang
belum pernah bercerita tentang pondok itu."
"Anak muda, tampaknya kau belajar ilmu silat dari
Ayahmu sendiri. Siapakah nama ayahmu?"
Kwe Tek Hun menghela napas panjang. Rasa
curiganya tadi kini berubah menjadi rasa penasaran.
Apalagi Swat Kim Po seakan-akan telah memojokkan
dirinya sebagai orang yang tak berhak memiliki Banseng-
po Lian-hoan.
"Maaf, Tuan.... Ayahku adalah Keh-sim Tai-hiap
Kwe Tiong Li dari Pulau Meng-to. Beliau adalah satusatunya
pewaris Ilmu Ban-seng-po Lian-hoan. Tuan
jangan bicara seenaknya sendiri, mengaku sebagai
pemilik ilmu itu ...." akhirnya pemuda itu berkata
dingin.
Swat Kim Po memandang isterinya yang sejak tadi
belum pernah membuka suara. Keningnya berkerut.
Sementara bibirnya tampak tersenyum kecut. Dan
wanita itu seolah tahu apa yang diinginkan suaminya.
Ia segera bergeser maju menghadapi Kwe Tek Hun.
"Anak muda, kelihatannya kau menyangsikan
ucapan-ucapan suamiku. Sekarang begini saja, kita
saling mencoba ilmu kita masing-masing. Dan siapa
yang kalah harus tunduk dan menurut perintah yang
466
menang. Bagaimana...?" tiba-tiba wanita itu
menantang.
"Nyonya, aku...?" Kwe Tek Hun menjadi salah
tingkah.
"Hmmh, kau takut kepadaku?"
Wajah Kwe Tek Hun menjadi merah sampai ke
telinganya. "Siapa takut kepada kalian? Aku tidak
pernah takut kepada siapa-siapa! Aku hanya tidak
ingin bertaruh apa-apa di dalam pertarungan ini!
Kalah, ya kalah! Menang, ya... menang! Tidak perlu
harus tunduk atau menurut perintah yang menang!
Bagaimana kalau yang menang nanti memberi
perintah yang bukan-bukan kepada yang kalah?"
katanya berapi-api.
"Tapi... kami takkan memberi perintah yang bukanbukan
kepadamu paling-paling kami hanya akan
meminta agar kau membawa kami ke hadapan
Ayahmu!" wanita itu menukas cepat seakan-akan
sudah yakin akan menjadi pemenangnya.
Tentu saja Kwe Tek Hun semakin menjadi berang.
"Marilah kita coba, Nyonya." geramnya tertahan.
Sementara itu para penjaga yang tadi dikalahkan
oleh Kwe Tek Hun segera menyingkir agak jauh
untuk mengobati luka-luka mereka. Selain mengobati
luka, mereka juga ingin menonton pertarungan Kwe
Tek Hun dengan wanita asing itu.
"Nah, Anak muda... lihat serangan!" wanita itu
berseru serta menyerang lebih dahulu ketika
dilihatnya Kwe Tek Hun tidak mau mendahuluinya.
467
Sederhana saja serangan wanita itu, seakan-akan
memang hanya ingin memancing reaksi Kwe Tek
Hun, sehingga pemuda itu pun hanya mengelak
sedikit pula, asalkan serangan tersebut tidak mengenai
tubuhnya. Bahkan pemuda itu segera membalas
dengan pukulan sisi telapak tangannya, dalam jurus
Kim-hong-san-bwe atau Burung Hong Menebarkan
Ekor. Sambil menggeliat dari samping pemuda itu
mengayunkan sisi telapak tangannya dari atas miring
ke bawah, dan yang diserang adalah leher atau
punggung wanita itu.
"Bagus...!" Wanita itu berseru nyaring. Lalu dengan
cepat kakinya melangkah pendek-pendek tiga kali, ke
kanan dan ke kiri sambil meliukkan badan setengah
lingkaran ke muka dan ke belakang.
Tampaknya gerakan wanita itu amat sederhana
sekali. Langkahnya pun hanya pendek-pendek pula.
Akan tetapi hasilnya sungguh mencengangkan. Hanya
dengan tiga kali melangkah itu ternyata dia bisa
berputar mengelilingi Kwe Tek Hun, dan hanya
dengan meliukkan badan ke muka dan ke belakang itu
ternyata juga dapat mengelakkan pukulan tangan Kwe
Tek Hun pula.
Tak heran kalau para penjaga yang menonton
pertempuran itu merasa takjub melihatnya. Namun
rasa heran dan takjub mereka belumlah sehebat rasa
heran dan takjub yang ada di dalam dada Kwe Tek
Hun sendiri. Pemuda itu hampir-hampir tak percaya
apa yang dilihatnya, bahwa wanita itu benar-benar
468
menguasai Ban-seng-po Lian-hoan dengan baik. Apa
yang baru saja dilakukan oleh wanita itu adalah
gerakan yang ke sepuluh dari Ban-seng-po Lian-hoan,
yaitu Mengejar Bulan Mengelilingi Matahari.
Kwe Tek Hun semakin penasaran. Tapi ia tak bisa
terlalu lama memikirkan keajaiban itu, karena di lain
saat wanita itu ganti menyerangnya kembali.
Terdengar suara mencicit tajam ketika jari tangan
kanan wanita itu menusuk ke arah tulang rusuknya.
Pemuda itu seperti tersentak dari mimpinya.
Otomatis kakinya melangkah dengan gerakan
Memindah Bintang Kejora ke Kutub Utara, gerakan
Ban-seng-po Lian-hoan yang ke lima belas. Dan
seperti main sulap saja tubuhnya yang tegap itu telah
berpindah tempat di belakang lawannya.
"Bagus...!" sekali lagi wanita itu memuji.
Dan sebelum Kwe Tek Hun memanfaatkan
kedudukannya yang menguntungkan wanita itu cepat
meluncurkan tubuhnya setombak ke depan, lalu
berputar setengah lingkaran dan melangkah mundur
tiga tindak. Gerakannya sangat cepat, manis dan
lincah, sehingga Kwe Tek Hun yang amat mengenal
gerakan Menerobos Awan Mengejar bintang Jatuh
tertegun dibuatnya.
Lagi-lagi keraguan Kwe Tek Hun tersebut
dimanfaatkan oleh lawannya. Sambil berseru lirih
wanita itu kembali menyerang dengan jari-jari
tangannya. Kini yang dituju adalah jalan darah ping469
tai-hiat di bawah pinggang kiri Kwe Tek Hun. Hawa
panas seolah-olah menerpa tubuh pemuda itu.
Dengan tangkas Kwe Tek Hun menghindar. Tak
terasa kakinya melangkah dalam Ban-seng-po Lianhoan
yang ke empat, ya itu Bintang Kejora Meniti
Pelangi. Kakinya melangkah enam kali ke belakang
cepat sekali. Kaki kanan melangkah lebar, sementara
kaki kiri hanya pendek-pendek saja, sehingga jalannya
tidak lurus, tapi melengkung ke dalam.
Otomatis Kwe Tek Hun berada di samping kanan
wanita itu sekarang. Dan kesempatan tersebut segera
digunakan oleh pemuda itu untuk balas menyerang.
Kedua belah tangannya mencengkeram ke atas dan ke
bawah, ke arah pundak dan pinggang lawannya.
Akan tetapi wanita itu seperti sudah bisa menebak
apa yang hendak dilakukan oleh Kwe Tek Hun. Baru
saja serangan pemuda itu mencapai separuh jalan,
wanita itu sudah keburu melompat satu tombak ke
samping, lalu membalikkan badan menghadapi Kwe
Tek Hun. Kedua telapak tangannya juga terulur ke
depan, menyongsong serangan Kwe Tek Hun.
Plaaaak! Plaaaak!
Dua pasang tangan bertemu di udara dan
menimbulkan suara yang amat nyaring. Karena
masing-masing telah mengerahkan tenaga dalamnya,
maka benturan itu menimbulkan getaran kekuatan
yang sangat kuat. Kwe Tek Hun yang merasa
berhadapan dengan lawan yang berkepandaian sangat
tinggi, telah mengerahkan hampir seluruh tenaga
470
saktinya. Sebaliknya wanita itu merasa belum perlu
untuk bertarung mati-matian dengan Kwe Tek Hun,
sehingga ia hanya melepaskan separuh dari tenaga
saktinya.
Namun akibatnya sungguh tidak terduga. Benturan
yang keras itu menyebabkan Kwe Tek Hun terpental
seperti layang-layang putus. Untunglah pemuda itu
memiliki ginkang yang cukup tinggi, sehingga
tubuhnya tidak sampai terbanting ke atas tanah.
Namun demikian ketika dengan sempoyongan
kakinya menginjak tanah, pemuda itu merasa aliran
darahnya bergolak dengan hebat.
Ketika dengan nanar matanya memandang ke
depan, Kwe Tek Hun melihat lawannya tetap berdiri
kukuh di tempatnya. Sama sekali tidak ada tandatanda
bahwa wanita itu terpengaruh oleh benturan
tadi.
Wanita itu tersenyum, dan Kwe Tek Hun harus
mengakui bahwa wanita setengah baya itu tentu cukup
cantik di masa mudanya.
"Anak muda...! Apakah kau sudah percaya
sekarang?"
Dengan perasaan berat Kwe Tek Hun terpaksa
mengangguk. "Tetapi... aku belum puas." desahnya
kemudian setelah aliran darahnya telah kembali
normal.
Sekali lagi wanita itu tersenyum. Sekilas ia
menatap suaminya yang berdiri diam di tempatnya.
471
"Ah, Anak muda... kalau bicara soal puas dan tidak
puas, sebenarnya aku pun juga belum merasa puas
pula. Sedari tadi kau cuma mengeluarkan gerakan
tingkat pertama dan tingkat ke dua saja. Kau belum
pernah mengeluarkan gerakan pada tingkat-tingkat
selanjutnya. Hmm, apakah kau baru memperoleh
pelajaran sampai pada tingkat ke dua saja?"
Perasaan Kwe Tek Hun tergetar dengan hebat.
"Tingkat pertama dan ke dua? Apa... apa maksud
Nyonya?"
Wanita itu tetap tidak melepaskan senyumnya.
"Nah, sekarang semakin terbukti betapa kurangnya
pengetahuanmu tentang Ban-seng-po Lian-hoan.
Ketahuilah, Anak muda... Ban-seng-po Lian-hoan itu
terbagi dalam delapan tingkatan. Setiap tingkat
memiliki sembilan gerakan, sehingga seluruhnya ada
tujuh puluh dua gerakan. Jadi, apabila engkau baru
belajar sampai pada tingkat yang ke dua, berarti yang
kaupelajari baru delapan belas gerakan saja...."
"Delapan belas gerakan? Tapi... tapi Ban-seng-po
Lian-hoan keluargaku cuma ada lima belas gerakan
saja!" tak terasa Kwe Tek Hun menyela.
"Lima belas gerakan?" kini ganti wanita itu yang
terkejut. "Hei, kalau begitu tingkat ke dua saja kau
belum selesai!"
472
Kwe Tek Hun tertunduk diam tak bisa berkata-kata
lagi. Berbagai macam perasaan berkecamuk di dalam
hatinya. Bingung,
kikuk, malu, tak
percaya, sedih,
kesal, dan berbagai
macam perasaan
yang lain lagi.
Tapi di lain saat
pemuda itu masih
tetap merasa
penasaran dan
kurang percaya
pula. Benarkah
semua yang
dikatakan oleh
wanita itu?
"Nyonya, aku...
aku tetap belum
puas! Engkau pun sendiri tadi juga belum
mengeluarkan gerakan yang belum kukenal pula.
Aku... aku ingin kau memperlihatkan gerakan-gerakan
yang kausebutkan itu."
"Baik!" tiba-tiba Swat Kim Po berseru seraya
melangkah mendekati isterinya. "lsteriku ini juga baru
mempelajarinya sampai ke tingkat yang ke empat.
Akulah yang akan memperlihatkan kepadamu
beberapa gerakan Ban-seng-po Lian-hoan yang lain.
Marilah...!"
473
"Tuan...?" Kwe Tek Hun berdesah ragu.
"Seranglah aku!" laki-laki setengah baya itu berkata
tegas.
Kwe Tek Hun tersentak. Hatinya tergugah.
Otomatis tangannya terangkat, kemudian menerjang
dada lelaki itu. Wuuuus! Kini pemuda itu tidak mau
setengah-setengah lagi. Sekaligus ia mengerahkan
seluruh kekuatannya!
"Bagus!" Swat Kim Po memuji.
Serangan Kwe Tek Hun memang kuat dan
berbahaya. Kedua belah telapak tangannya yang
terbuka lebar itu menyambar dalam jurus Kim-hongpao-
goat (Burung Merak Memeluk Bulan). Dari
telapak tangan itu. meluncur udara hangat yang sangat
kuat.
Swat Kim Po cepat memiringkan tubuhnya untuk
menghindari benturan telapak tangan itu. Kemudian
sesuai dengan janjinya untuk mengeluarkan gerakan
Ban-seng-po Lian-hoan, Swat Kim-po mengangkat
lengan kanannya ke atas, dan mengebutkah ujung
lengan bajunya yang lebar itu ke wajah Kwe Tek Hun.
Udara yang luar biasa dingin berhembus dari ujung
lengan baju tersebut, sehingga Kwe Tek Hun terpaksa
berpaling untuk mengelakkannya. Akan tetapi ketika
udara dingin itu telah lewat, dan Kwe Tek Hun ingin
balas menyerang lagi, Swat Kim Po telah menghilang
dari hadapannya!
Sekejap Kwe Tek Hun menjadi bingung. Namun
dengan cerdik ia berbalik sambil mengayunkan
474
kakinya menendang ke belakang dalam jurus Burung
Merak Mengibaskan Ekor.
Benar juga dugaan pemuda itu. Swat Kim Po yang
lihai itu memang telah bergeser ke belakang tubuhnya
dengan gerakan Melihat Bintang di Balik Cakrawala,
gerakan yang ke dua puluh satu dari Ban-seng-po
Lian-hoan.
"Hahaha, meskipun ngawur, tapi kau cukup cerdik
juga...!" Swat Kim Po tertawa melihat kecerdikan
Kwe Tek Hun.
Sambil memuji Swat Kim Po berkelit menghindari
tendangan Kwe Tek Hun. Sekali lagi lengan bajunya
yang longgar itu menyambar ke depan. Namun kali ini
bukan udara dingin yang tertiup dari lubang lengan
baju tersebut, tetapi udara panas!
Kwe Tek Hun tak mau berpaling dari lawannya. Ia
tak ingin terkecoh untuk yang kedua kalinya. Oleh
karena itu ia hanya meloncat mundur menghindari
serangan ujung lengan baju tersebut.
Tapi Swat Kim Po tidak mau melepaskannya.
Lelaki itu kembali mengebutkan lengan bajunya yang
lain. Kali ini udara yang meniup semakin terasa
menyengat. Bahkan ujung lengan baju itu seperti
mengepulkan asap tipis. Asap tipis yang cukup
membuat pedas mata Kwe Tek Hun!
Sekali lagi Kwe Tek Hun melompat mundur. Dan
sebelum kakinya menginjak tanah, pemuda itu balas
menyerang dengan sisi tangannya. Kwe Tek Hun
tidak ingin terus-terusan diserang lawan.
475
Wuuuuuush! Pukulan Kwe Tek Hun menerjang ke
depan dengan sia-sia! Swat Kim Po telah tiada di
depan lagi! Laki-laki itu telah menghilang begitu saja!
Kwe Tek Hu cepat berbalik sambil memukul.
Namun kali ini ia terkecoh. Swat Kim Po tidak
bersembunyi di belakang punggungnya.
"Hahahaha...! Anak Muda, aku di sini!" tiba-tiba
terdengar suara lelaki itu dari kejauhan. Ternyata
Swat Kim Po telah berdiri di samping isterinya.
"Aaaah...!" Kwe Tek Hun berdesah. Badannya
menjadi lemas dan lesu. Ternyata lawannya benarbenar
memiliki gerakan-gerakan Ban-seng-po Lianhoan
yang lebih lengkap.
"Apakah kau sekarang sudah percaya, Anak
muda?" isteri Swat Kim Po berseru seraya
menghampiri Kwe Tek Hun kembali.
Kwe Tek Hun menghembuskan napasnya kuat-kuat
seperti ingin memuntahkan semua perasaan kesal
yang menindih hatinya, lalu menganggukkan
kepalanya. Tak sepatah pun kata-kata yang bisa
terucap dari bibirnya.
"Nah! Sekarang antarkan kami menemui Ayahmu!"
"Apa...?" Kwe Tek Hun tersentak. Wajahnya yang
kuyu itu kembali memerah.
"Antarkan kami menemui Ayahmu atau Gurumu
itu!" wanita itu mengulangi perintahnya. Kini suara
itu sangat tegas dan kaku.
Kwe Tek Hun mendengus. Dadanya seperti
disengat bara.
476
"Nyonya, aku memang percaya bahwa kau dan
suamimu memiliki Ban-seng-po Lian-hoan yang lebih
lengkap daripada aku. Tapi semua itu bukan berarti
aku harus tunduk pada perintah kalian. Dari semula
aku juga tidak berjanji apa-apa kepada kalian. Apalagi
aku juga belum kalah."
Wanita itu mengerutkan dahinya yang halus.
"Maksudmu...?" serunya kaku.
"Ban-seng-po Lian-hoan tidak menjamin seseorang
untuk menang di segala pertempuran, karena ilmu itu
hanya ilmu langkah kaki, dan tidak untuk menyerang.
Ilmu itu harus dilengkapi dengan ilmu silat lain yang
sepadan, sehingga bisa terlihat kedahsyatannya." Kwe
Tek Hun berdesah dengan suara kaku pula.
"Oooooo, jadi kau ini masih menyangsikan
kemampuan kami? Begitu...? Baik! Mari kita uji
sekali lagi dengan ilmu silat- yang lain!" wanita itu
menggeram sambil memasang kuda-kuda.
Kwe Tek Hun segera bersiap diri pula. "Hmmh!
Mengapa kau tidak mencabut pedang anehmu itu,
Nyonya?"
"Tidak usah! Kami warga Pondok Pelangi hanya
mencabut pedang bila benar-benar memerlukannya!
Untuk mengalah-kanmu cukup dengan ilmu silat kami
yang lain."
"Sombong!" Kwe Tek Hun berseru berang,
kemudian menerjang perempuan itu dengan
tendangan kaki kanannya.
477
"Kau sendiri yang sombong, tidak mau mengakui
kenyataan!" wanita itu menjawab seraya mengelak ke
samping, lalu dari samping ia balas menyerang
dengan tusukan jari telunjuknya.
Cusss! Cusss! Dari ujung jari itu meluncur seleret
sinar kebiruan menyambar tubuh Kwe Tek Hun.
Pemuda itu terkejut! Ia mengenal ilmu itu! Namun
belum juga ia sempat membuka suara, serangan itu
telah menyentuh pakaiannya!
Mati-matian Kwe Tek Hun mengelak. Tubuhnya
bergeser ke kanan dengan cepat, lalu meliukkan badan
sambil melangkah ke kanan dan ke kiri sebanyak tiga
kali dalam gerak Mengejar Bulan Mengelilingi
Matahari. Tapi belum juga pemuda itu berdiri tegak,
wanita itu kembali telah mengejarnya dengan
serangannya yang lain!
Cuuus! Cuuus! Cuuus!
Kwe Tek Hun menjadi sibuk sekali! Ternyata dia
tak bisa mengandalkan Ban-seng-po Lian-hoan lagi!
Gerakan-gerakannya telah dikenal baik oleh
lawannya! Terpaksa dia berkelit dan menghindar
dengan bantuan ilmu meringankan tubuhnya yang
hebat, yaitu Pek-in Gin-kang! Namun demikian tetap
saja salah sebuah serangan wanita itu menyerempet
pakaiannya!
Sreeet! Pakaian itu bolong seperti ditebas oleh
pedang yang amat tajam!
"Aaaah! Tahan!" begitu memperoleh kesempatan
Kwe Tek Hun berteriak.
478
"Kau menyerah, Anak Muda?" wanita itu bertanya
seraya menghentikan serangannya.
"Nanti dulu, Nyonya. Bukankah ilmu yang baru
saja kaupergunakan ini tadi... Tai-lek Pek-kongciang?"
Sekarang ganti wanita itu yang kaget. Demikian
pula suaminya, Swat Kim Po.
"Hei, apakah kau juga mempelajari ilmu silat itu?"
Swat Kim Po dan isterinya bertanya hampir
berbareng.
"Ah, tidak... tidak!" Kwe Tek Hun cepat-cepat
menggoyangkan tangannya. "Ilmu itu milik Keluarga
Souw...."
"Keluarga Souw...?" Tak terduga kedua suami isteri
dan Pondok Pelangi itu berteriak gembira.
Lalu dengan gerakan yang .sangat cepat sehingga
tidak bisa diikuti oleh pandangan mata, tangan Swat
Kim Po menyambar pergelangan tangan Kwe Tek
Hun. Dan pemuda itu sama sekali tidak mempunyai
kesempatan untuk mengelak. Tahu-tahu tangannya
telah tertangkap oleh cengkeraman Swat Kim Po
tersebut.
"Kau kenal keluarga Souw? Di mana mereka
tinggal?" laki-laki itu memberondong Kwe Tek Hun
dengan pertanyaan.
Kwe Tek Hun mengerahkan lweekang-nya untuk
melepaskan diri dari cengkeraman Swat Kim Po, tapi
tak bisa. Tenaga dalam orang itu hebat bukan main.
Terpaksa Kwe Tek Hun mempergunakan kakinya
479
untuk menyerang. Dan tangannya yang lain ikut
membantu pula.
Swat Kim Po mencoba untuk mengelakkan
tendangan Kwe Tek Hun, tapi ketika siku pemuda itu
mengancam ulu hatinya, terpaksa ia melepaskan
cengkeramannya.
Swat Kim Po mundur selangkah ke belakang.
"Bagus, Anak muda. Kepandaianmu memang hebat.
Tapi tolong katakan kepadaku! Benarkah Keluarga
Souw yang kau kenal itu memiliki ilmu Tai-lek Pekkong-
ciang?" tanyanya bersemangat.
Kwe Tek Hun menjadi ragu dan agak bingung. Ia
tak bisa menduga apa yang dikehendaki suami isteri
itu terhadap Keluarga Souw. Adakah mereka
mempunyai hubungan perguruan?
"Semua kaum persilatan tahu bahwa Keluarga
Souw memiliki ilmu Tai-lek Pek-kong-ciang dan Taikek-
sin-ciang..." akhirnya Kwe Tek Hun menjawab
apa adanya.
"Tai-kek-sin-ciang? Seperti ini?" Swat Kim Po
tiba-tiba berdesah keras dan tampak semakin
bersemangat.
Lelaki itu memasang kuda-kuda. Dua buah telapak
tangannya ia rangkapkan di depan dada seperti
layaknya orang menyembah. Dan sekejap kemudian
dari seluruh lobang kulitnya keluar asap tipis
berwarna kemerah-merahan. Anehnya, asap itu tidak
membuyar ditiup angin. Asap itu seperti melekat dan
menyelimuti tubuh lelaki itu setebal beberapa inchi,
480
sehingga sepintas lalu ia bagaikan mengenakan baju
kabut tembus pandang.
Tentu saja ilmu silat tingkat tinggi itu membuat
takjub para anggota Hek-to-pai yang dikalahkan Kwe
Tek Hun tadi. Mereka seperti melihat jago sihir yang
sedang memperlihatkan mujijat atau kesaktiannya.
Apalagi ketika Swat Kim Po tiba-tiba melayangkan
pukulannya ke sebuah pohon pelindung di samping
pintu gerbang. Batang pohon sebesar pelukan orang
dewasa itu mendadak mengeluarkan asap kehitaman
seperti kena bakar.
Belum juga hilang ketakjuban mereka, tiba-tiba
Swat Kim Po mengubah kuda-kudanya. Badannya
berdiri tegak lurus. Kedua tangannya merapat,
sementara kedua tangannya juga terangkap lurus ke
atas seperti hendak meraih langit. Asap atau kabut
tipis masih tetap menyelimuti tubuhnya.
"Waaaah...?!?" mendadak para penjaga itu berseru
takjub lagi.
Kwe Tek Hun yang pernah menyaksikan ilmu itu
memang tidak seheran para penjaga tersebut. Namun
bagaimanapun juga ilmu yang dipertunjukkan oleh
Swat Kim Po itu tetap mendebarkan hatinya. Apalagi
ketika melihat kabut yang menyelimuti badan Swat
Kim Po tersebut mendadak berubah warnanya
menjadi putih, kemudian kuning, hijau, biru dan
sebagainya.
Setiap kali berubah warna, Swat Kim Po tentu
menyerang batang pohon itu. Dan akibatnya memang
481
sangat mendebarkan hati. Berganti-ganti pohon itu
seperti disulut api, diguyur air panas, disiram salju,
dihembus badai, dan lain-lainnya. Akibatnya sungguh
menyedihkan. Begitu Swat Kim Po menghentikan
serangannya, pohon besar itu perlahan-lahan tumbang
bagaikan pohon tua yang telah lapuk dimakan rayap.
Batang kayunya yang semula sangat kuat dan keras
luar biasa itu kini telah berubah menjadi empuk dan
rapuh seperti gumpalan tanah.
Swat Kim Po kembali berdiri di depan Kwe Tek
Hun.
"Seperti itukah Tai-kek-sin-ciang Keluarga Souw?"
Kwe Tek Hun terdiam, kemudian menggeleng
lemah. "Memang hampir sama. Tetapi yang pernah
kulihat, asap yang menyelimuti tubuh Pendekar Souw
cuma ada dua warna."
"Dua warna...?"
"Yah! Putih dan merah!"
"Aneh. Mengapa hanya putih dan merah saja?"
Swat Kim Po mengerutkan keningnya. "Ah,
sudahlah...! Anak muda, ketahuilah. Kami berdua
datang ke Tiong-goan ini memang sedang mencari
sesesorang atau keturunan seseorang yang telah
menyimpan barang-barang pusaka Pondok Pelangi
selama lima ratus tahun. Kami tidak tahu siapa orang
itu, namun yang jelas orang itu tentu memiliki ilmu
yang sama dengan kami. Nah, itulah sebabnya kami
mencurigai keluargamu atau keluarga Souw itu.
482
Sekarang marilah kita berangkat menemui Ayahmu
dulu!"
Kwe Tek Hun menunduk. Sekejap terjadi perang
batin di dalam hatinya. Melawan atau menuruti
perintah orang itu. Melawan mereka berarti sia-sia.
Jangankan melawan Swat Kim Po, melawan isterinya
saja ia tak mungkin menang. Tapi kalau menuruti
perintah mereka, lalu bagaimana dengan Tio Ciu In
dan Liu Wan?
"Bagaimana, Anak muda? Kita berangkat
sekarang?" Swat Kim Po mendesak.
"Baiklah. Tapi biarlah aku memberitahukan
kepergianku ini kepada teman-temanku yang ada di
dalam perumahan itu." akhirnya Kwe Tek Hun
memberikan persetujuannya. Ia juga ingin tahu,
bagaimana reaksi Ayahnya tentang Ban-seng-po Lianhoan
itu.
Tapi dengan cepat Swat Kim Po menggoyangkan
tangannya.
"Tak usah! Biarlah orang-orang itu yang
mengatakan kepada teman-temanmu nanti. Kita
langsung berangkat saja sekarang." orang itu berkata
sambil menunjuk ke para penjaga yang tadi
mengeroyok Kwe Tek Hun.
"Mengapa...?" Kwe Tek Hun berdesis. Wajahnya
memerah, sementara urat-uratnya menegang kembali.
"Maaf, anak muda... kami tak ingin membunuh
teman-temanmu! Kalau kau mengatakan kejadian ini
kepada mereka, mereka pasti akan menahanmu,
483
membelamu! Nah, kalau kejadian nanti akan demikian
halnya... hemmm, terpaksa kami harus membunuh
mereka! Paham?" Swat Kim Po menerangkan dengan
suara dingin.
Hampir saja hati Kwe Tek Hun berontak. Dia tak
takut mati dan tentu demikian pula halnya dengan Liu
Wan. Tapi bagaimana dengan Tio Ciu In? Ia merasa
kasihan kepada gadis ayu itu. Gadis itu sedang
mencari adiknya.
Perlahan-lahan darah yang telah naik ke kepala itu
turun kembali. Kwe Tek Hun tak ingin mencelakakan
teman-temannya, terutama gadis ayu itu. Biarlah ia
sendiri yang menghadapi Swat Kim Po dan isterinya.
"Baiklah marilah kita berangkat!"
"Bagus! Nah, Sui Nio, kau berkuda bersama aku!
Biarlah anak muda ini menggunakan kudamu!" Swat
Kim Po berseru lega sambil menghampiri isterinya.
Demikianlah, tanpa berpamitan kepada temantemannya,
Kwe Tek Hun menempuh perjalanan ke
utara bersama Swat Kim Po dan isterinya. Sebenarnya
ada dua jalan untuk pergi ke Pulau Meng-to. Pertama,
menempuh jalan laut melalui Kampung Ui-thiancung,
dengan perahu besar ke arah utara. Ke dua,
menempuh jalan darat lebih dahulu hingga kota Liasiu
di Propinsi Kiang-su, lalu dari kota itu nanti
berlayar lurus ke timur ke arah matahari terbit. Dan
ternyata Kwe Tek Hun memilih melalui kota Lia-siu
tersebut.
484
Sementara itu di pendapa perguruan Hek-to-pai,
Liu Wan telah hampir bisa menguasai lawanlawannya.
Ketika pemuda itu melihat kerepotan Tio
Ciu In, hatinya menjadi tidak sabar lagi. Otomatis
ilmu Thian-lui-kong-ciangnya terungkap keluar tanpa
disengajanya. Dan yang men jadi korban pertama
adalah It Kwan sendiri!
Whuuuuuus! Dhuuaaar!
"Aduuuuuuh...!" Ketua Hek-to-pai menjerit keras.
Tubuhnya terlontar tinggi dan jatuh berdebam di
halaman.
Cong Su terbeliak ketakutan, dan tanpa malu-malu
lagi ia membuang ruyungnya tanda menyerah.
Liu Wan tak mengacuhkan Cong Su. Dia cepat
menghampiri It Kwan yang tak mampu bangkit lagi
itu. Dengan kaki di atas punggung It Kwan, pemuda
itu mengancam orang-orang Hek-to-pai yang
mengepung Tio Ciu In.
"Berhenti semua...! Kalau tak mau berhenti, tubuh
ketua kalian akan kuinjak sampai hancur!"
Puluhan anggota Hek-to-pai yang ada di pendapa
itu segera mundur ketakutan. Mereka sama sekali tak
mengerti bagaimana ketuanya yang lihai itu sampai
dapat dikuasai oleh anak-anak muda itu.
Tio Ciu In lalu menghampiri Liu Wan dan berdiri
di samping pendekar muda itu.
"Nah, orang tua... sekarang katakan yang
sebenarnya kepada kami! Di manakah gadis berbaju
merah yang datang ke sini kemarin itu? Ayoh, jawab!
485
Kuhitung sampai lima, kalau kau tetap tak menjawab
jangan salahkan aku menginjak punggungmu ini
sampai patah! Satu... dua ... tiga...."
"Baik... baik, aku akan menjawabnya!" dengan
suara kesakitan It Kwan berkata. "Gadis itu... gadis itu
telah pergi ke arah pantai! Kawanku, Tong Taisu,
kalah bertaruh dengan dia, sehingga dia dilepaskan
oleh temanku itu! Nah, lepaskan kakimu... aku telah
mengatakan semuanya."
Liu Wan memandang ke sekelilingnya, ke arah
anak murid perguruan Hek-to-pai yang menunggu
dengan cemas nasib ketuanya itu.
"Hei benarkah apa yang dikatakan oleh ketua
kalian?" pemuda itu berseru keras.
"Ya... benar!" orang-orang itu menjawab hampir
berbareng.
Liu Wan mengangkat kakinya dan membiarkan
ketua Hek-to-pai itu ditolong oleh anak buahnya.
"Ciu-moi marilah kita pergi! Kita susul Adikmu ke
pantai!"
-o0dw0o486
JILID XII
API... apakah anak itu masih berada di
sana? Apakah ia tidak kembali lagi ke
kota?"
"Yaaa... mungkin saja. Tapi lebih baik
kita membuktikan dulu masih ada tidaknya
adikmu di pantai. Setelah kita cari di pantai
dia tidak ada, baru kita kembali ke kota."
Tak seorang pun para anggota Hek-to-pai yang
bertebaran di halaman depan itu berani menghalangi
Liu Wan dan Tio Ciu In ketika sepasang muda-mudi
itu melewati mereka. Bahkan mereka segera
menyingkir untuk memberi jalan kepada Liu Wan.
"Heran...! Mengapa Kwe Tek Hun tidak kelihatan?
Bukankah dia tadi menghadapi para penjaga pintu
gerbang itu?" Liu Wan bergumam kaget ketika tidak
melihat Kwe Tek Hun di pintu gerbang masuk.
"Eh, Liu Twako... lihat pohon besar yang tumbang
itu! Bukankah tidak ada badai yang mengamuk ini
tadi? Mengapa pohon itu roboh?"
"Benar. Memang aneh. Marilah kita tanyakan
kepada penjaga itu!"
Para penjaga pintu gerbang itu menjadi pucat
wajahnya ketika Liu Wan dan Tio Ciu In datang
mendekati mereka.
"Hei! Katakan, ke mana teman kami tadi? Cepat!"
hardik Liu Wan keras.
T
487
"Dia... dia pergi bersama seorang lelaki dan seorang
wanita, setelah kedua orang itu mengalahkannya."
salah seorang penjaga menjawab dengan suara
gemetar.
Bukan main kagetnya Liu Wan dan Tio Ciu In!
Demikian gugupnya Liu Wan mendengar laporan itu
sehingga secara tak sadar tangannya menyambar leher
baju penjaga tersebut.
"Apa katamu...? Katakan yang benar!"
Tentu saja penjaga itu semakin menjadi takut.
"Anu... anu... aku mengatakan yang... yang
sebenarnya. Li-lihat pohon itu! Laki-laki yang
mengaku dari Pondok Pelangi itu menumbangkannya
dari jauh dengan... dengan pukulannya yang dahsyat,
sehingga teman Tai-hiap mengaku kalah, dan... dan
ikut pergi dengan mereka!"
Liu Wan melepaskan cengkeramannya dan
mendorong penjaga itu ke belakang, sehingga
menabrak teman-temannya. Mereka jatuh terjengkang
tumpang-tindih.
"Sungguh gawat sekali, Ciu-moi. Orang yang bisa
mengalahkan Kwe Tek Hun tentu bukan orang
sembarangan. Rasanya aku pun takkan bisa
menolongnya. Mungkin hanya tokoh-tokoh setingkat
Hong-gi-hiap Souw Thian Hai, Guruku, atau ayah
Kwe Tek Hun sendiri yang bisa menghadapinya."
"Orang itu... orang itu memang mengajak teman
Tai-hiap untuk menemui ayahnya." penjaga yang
didorong jatuh oleh Liu Wan tadi tiba-tiba berkata.
488
"Heh...? Jadi mereka pergi ke Pulau Meng-to?" Liu
Wan berseru kaget.
"Ya-ya... mereka tadi memang menyebut-nyebut
Pulau Meng-to." penjaga itu berkata pula.
"Aaaaah...." Liu Wan menarik napas panjang.
Keningnya berkerut, dan untuk beberapa waktu
lamanya pemuda itu tak berkata-kata lagi.
Tio Ciu In yang tak tahu apa yang sedang
dipikirkan oleh Liu Wan segera menarik lengannya.
"Twako, apa yang kaupikirkan?"
Sekali lagi pemuda itu menghela napas panjang,
kemudian menggandeng tangan Tio Ciu In untuk
dibawa keluar meninggalkan perkampungan itu. Liu
Wan tetap melangkah ke arah pantai seperti
rencananya semula.
Sementara itu matahari mulai bergulir dari atas
kepala. Panasnya benar-benar mulai menyengat,
sehingga pipi Tio Ciu In yang ranum itu menjadi
kemerah-merahan. Beberapa tetes keringat juga mulai
mengalir membasahi kening gadis ayu itu. Akan tetapi
tak sepatah katapun keluh kesah yang keluar dari bibir
tipis tersebut.
Justru Liu Wan-lah yang akhirnya merasa kasihan
melihatnya.
"Ah, panasnya bukan main! Kita berteduh dulu,
Ciu-moi?"
"Tidak usah, Twako. Panas sedikit tidak apa. Kita
berjalan terus saja hingga ke perkampungan Ui-thiancung.
Aku cepat-cepat ingin bertemu Siau In...."
489
"Tapi... tapi keringatmu mengalir membasahi
pelipis dan lehermu. Pipimu ... pipimu...." Liu Wan
tak berani meneruskan kalimatnya. Matanya juga
tidak berani memandang gadis itu lama-lama.
"Pipiku... kenapa, Twako?" Tio Ciu In
mengerutkan alisnya yang lentik.
"Ah, tidak... tidak apa-apa!" tiba-tiba Liu Wan
menjawab cepat sambil menundukkan mukanya.
Suaranya bergetar seperti orang yang sedang menahan
beban batin yang amat berat.
"Lho? Kau ini bagaimana, sih? Seperti orang
sedang kebingungan saja!" Tio Ciu In mendamprat
kesal.
Liu Wan
cuma tersenyum
kecut dan tak
berani
mengeluarkan
suara apa-apa.
Bahkan
memandang,
Tio Ciu In pun
ia tak berani.
Rasanya seperti
ada kesedihan di
hatinya setiap
kali memandang
gadis ayu itu.
Namun ia tak
490
tahu, apa yang menyebabkan kesedihan itu.
Sebaliknya gadis itu sama sekali tak tahu apa yang
sedang bergejolak di dada teman seperjalanannya. Ia
hanya menduga kalau Liu Wan sedang bingung
memikirkan kepergian Kwe Tek Hun.
"Siapa sebenarnya orang yang mengaku dari
Pondok Pelangi itu? Mengapa Twako sangat
mengkhawatirkan mereka?" akhirnya gadis itu
bertanya perlahan.
Liu Wan tersentak seperti orang yang terbangun
dari tidurnya. Kepalanya segera menggeleng tanda tak
tahu.
"Aku juga baru mendengarnya sekali ini. Tapi
kalau benar apa yang dikatakan penjaga itu bahwa
mereka dapat mengalahkan Kwe Tek Hun, rasanya
kepandaian mereka benar-benar sangat tinggi. Hanya
yang tidak kumengerti, mengapa mereka membawa
Kwe Tek Hun ke Pulau Meng-to. Apakah orang-orang
dari Pondok Pelangi itu bermusuhan dengan ayah
Kwe Tek Hun, sehingga mereka menyandera Kwe
Tek Hun?" Pemuda itu kemudian berkata agak lancar.
Tio Ciu In memandang Liu Wan sekejap, lalu
cepat-cepat beralih ke pucuk-pucuk pepohonan tinggi
yang tumbuh berjejer-jejer di pinggir jalan. Tak terasa
pikiran gadis itu juga ikut terbenam pula di dalam
urusan yang tak dimengertinya itu.
"Apakah kira-kira mereka itu mempunyai
hubungan dengan gadis yang memusuhi kita di
491
penginapan pagi tadi?" tiba-tiba Tio Ciu In
bergumam.
Liu Wan terkejut. Pemuda itu tidak berpikir sampai
ke sana, tapi kemungkinan tersebut memang bisa saja
terjadi. Mereka sama-sama memiliki kepandaian yang
sangat tinggi.
Angin terasa mulai berhembus dengan kencang,
membawa butiran debu dan pasir ke mana-mana.
Mereka berdua telah melewati hamparan tambak
garam yang berpetak-petak di kanan kiri jalan. Laut
pun mulai tampak di kejauhan, dengan garis pantai
yang rimbun oleh pepohonan perdu dan alang-alang
tinggi.
Mereka masih sempat menyaksikan bekas-bekas
kesibukan luar biasa di perkampungan nelayan itu.
Belasan orang perajurit penjaga keamanan masih
tampak berada di sana. Bahkan di rumah Ui Tiam
Lok, kepala kampung Ui-thian-cung itu masih
kelihatan seregu pasukan keamanan kota Hang-ciu
sedang beristirahat.
"Eh, tampaknya ada sesuatu yang baru saja terjadi
di tempat ini, Lopek?" Liu Wan mencoba bertanya
kepada seorang nelayan tua yang sedang membenai
jalanya.
Nelayan itu memandang Liu Wan dan Tio Ciu In
beberapa saat lamanya. Melihat wajah-wajah yang
bersih dan halus dari kedua anak muda itu, ia
kelihatan lesu.
492
"Yaaah... ada pembunuhan besar-besaran di pantai
sebelah sana! Para Pemenang Perlombaan
Mengangkat Arca dan pengawal mereka dibantai
orang di atas pasir itu...."
"Ohhhh!" Liu Wan dan Tio Ciu In yang sudah
mendengar berita tersebut di markas Tiat-tung Kaipang
berdesah pendek.
"Apakah sanak saudara Kongcu ikut menjadi
korban pula?"
"Oh, tidak... tidak!" Tio Ciu In cepat-cepat
menjawab. "Kedatangan kami berdua ke mari
memang mau mencari seseorang, tapi orang yang
kami cari itu bukan salah seorang dari orang-orang
yang terbunuh itu. Orang yang kami cari adalah
seorang gadis muda berpakaian merah. Perawakannya
biasa-biasa saja, tak begitu tinggi tapi juga tidak
pendek. Badannya agak kurus sedikit, rambutnya
dikepang dua. Eh, apakah Lopek melihatnya...?" N
Sekali lagi nelayan tua itu menatap Tio Ciu In dan
Liu Wan beberapa saat lamanya. Keningnya berkerut,
seolah-olah merasa heran, kaget dan curiga.
"Sungguh mengherankan...! Beberapa saat yang
lalu juga ada yang bertanya kepadaku tentang gadis
yang ciri-cirinya seperti itu...."
"Apa...? Ada orang lain yang bertanya kepada
Lopek? Siapa dia? Bagaimana ciri-cirinya?" Tio Ciu
In mendesak dengan suara penuh harap. Gadis itu
teringat akan suhengnya lagi.
493
Nelayan itu meletakkan jalanya, kemudian berdiri.
"Dia seorang pemuda tampan, tingginya kira-kira
sama dengan aku. Kurus. Rambutnya awut-awutan...."
"Ooooh...." Tio Ciu In berdesah kecewa, karena
ciri-ciri yang disebutkan itu bukan ciri Tan Sin Lun,
suhengnya.
"Nah... itu dia orangnya!" tiba-tiba nelayan tua itu
berseru, tangannya menuding ke pintu masuk
perkampungan Ui-thian-cung.
Liu Wan dan Tio Ciu In menatap ke depan. Mereka
melihat seorang pemuda kurus mengenakan pakaian
hitam kedodoran berjalan lesu ke arah mereka.
Tampaknya pemuda itu baru saja menemui kepala
kampung.
"Tampaknya memang bukan Suheng-mu...." Liu
Wan berdesah hambar seperti kehilangan semangat.
Tio Ciu In berpaling. Sekejap, mata yang bulat
indah itu menatap tajam penuh selidik. Ada terungkap
rasa heran dan tak mengerti pada pancaran sinar mata
itu. Tapi mata indah itu segera berpaling kembali
ketika Liu Wan balas memandangnya.
Tampaknya pemuda kurus yang tidak lain adalah
Chin Tong Sia atau Put-tong-sia itu memang
bermaksud menemui nelayan tua tersebut. Tapi ia
menjadi ragu-ragu melihat kehadiran Liu Wan dan
Tio Ciu In, sehingga ia diam saja di depan nelayan itu.
Liu Wan baru pertama kali ini melihat pemuda itu,
tapi Tio Ciu In sudah melihatnya di atas panggung
perlombaan kemarin. Tio Ciu In masih ingat sekali
494
karena pemuda itu telah membuat keributan di atas
panggung.
"Nah, apakah Tuan hendak bertanya tentang gadis
itu lagi?" sekonyong-konyong nelayan tua itu
mendahului bertanya kepada Chin Tong Sia yang
tampak ragu-ragu.
Chin Tong Sia melirik ke arah Liu Wan dan Tio
Ciu In, kemudian mengangguk lemah.
"Apakah engkau tetap belum melihatnya juga?"
tanyanya kaku.
Nelayan tua itu menggelengkan kepalanya. "Belum.
Mungkin gadis itu memang tidak pergi ke tempat ini.
Tapi... eh, omong-omong... Kongcu dan Siocia ini
juga menanyakan gadis itu. Apakah Tuan mengenal
mereka?"
Chin Tong Sia memandang Liu Wan dan Tio Ciu
In sekejap, kemudian mengangkat pundaknya. Sambil
beranjak pergi pemuda itu meninggalkan pesan
kepada nelayan tersebut.
"Paman, tolong beritahukan kepadaku kalau gadis
yang kumaksudkan itu lewat di sini. Aku berada di
tempat penambatan perahu."
"Saudara, tunggu...!" Tio Ciu In yang menjadi
penasaran itu tiba-tiba berseru memanggil.
Chin Tong Sia berhenti melangkah, lalu dengan
cepat membalikkan tubuhnya. Dan pada saat
membalikkan badan itulah buntalan pakaian Tito Siu
In yang dibawanya melorot turun dan jatuh dari balik
bajunya yang kedodoran. Namun dengari tangkas dan
495
cepat pula bungkusan itu disambarnya serta
dimasukkan kembali ke balik bajunya.
Akan tetapi waktu yang hanya sekejap itu sudah
cukup bagi Tio Ciu In ; untuk mengenali bungkusan
pakaian adiknya.
"Nona memanggil saya?" Dengan tenang Chin
Tong Sia menghadapi Tio Ciu In.
Sebaliknya Tio Ciu In sendiri juga mencoba untuk
bersikap hati-hati pula. Dia ingin mencari tahu perihal
hubungan adiknya dengan pemuda itu, sehingga
pemuda itu kelihatan berhasrat sekali menemui Siau
In.
"Maaf, kudengar dari Lopek ini Saudara sedang
mencari seorang gadis muda berbaju merah di tempat
ini. Eeem... apakah yang Saudara maksudkan itu
bernama Tio Siau In?" dengan amat sopan Tio Ciu In
bertanya, membuat Liu Wan yang berdiri di
sampingnya merasa kikuk melihatnya.
Tak terduga wajah Chin Tong Sia( menjadi merah.
Pertanyaan itu membuatnya bingung dan tak tahu
harus menjawab apa, karena dia memang belum tahu
nama gadis yang dicarinya itu.
"Ha-ha-haha-hihihi! Nona ayu, jangan kautanyakan
nama gadis itu kepadanya! Dia takkan tahu, karena
dia memang belum sempat menanyakan nama
pacarnya itu!" Tiba-tiba terdengar suara serak
berkumandang tanpa kelihatan orangnya.
"Suheng, mengapa kau suka benar mencampuri
urusan orang? Apakah lukamu akibat mencampuri
496
urusan orang-orang Hun tadi malam belum
membuatmu jera?" Put-tong-sia menggeram marah.
Matanya memandang nanar ke segala penjuru,
mencari tempat persembunyian Put-pai-siu Hong-jin.
Wajah Liu Wan menjadi amat tegang pula. Suara
tanpa ujud itu membuat jantungnya berdegup lebih
keras. Dan otomatis kakinya mendekati Tio Ciu In,
siap untuk setiap saat melindungi gadis itu dari
bokongan musuh.
Yang justru menjadi ketakutan adalah nelayan tua
itu. Mendengar suara tanpa ujud, padahal suara itu
seakan-akan berada di dekatnya, membuat orang tua
itu gemetar ketakutan. Setelah menengok ke sana ke
mari, ia segera mengambil langkah seribu,
meninggalkan tumpukan jala yang belum selesai
digulungnya.
"Kurang ajar! Bikin ribut saja! Eh, maaf... aku akan
mencari Suhengku dulu...."? akhirnya Chin Tong Sia
berkata kesal.
"Tapi... Saudara belum menjawab pertanyaanku."
Tio Ciu In cepat memotong ucapan pemuda itu.
Chin Tong Sia tertegun, kakinya tak jadi
melangkah. Sekejap wajahnya menjadi merah lagi,
namun segera hilang pula.
"Bukankah Suhengku tadi sudah menjawabnya?
Maaf, aku pergi dulu...."
"Tunggu...!" Tio Ciu In berseru seraya melompat
ke depan menghadang langkah Chin Tong Sia.
497
Pemuda kurus itu berdiri tegak, urat-uratnya
menegang, sehingga Liu Wan yang amat
mengkhawatirkan keselamatan Tio Ciu In cepat-cepat
bergeser mendampingi gadis itu.
"Apa yang Nona inginkan lagi?" Chin Tong Sia
berdesis. Matanya menatap dingin, terutama kepada
Liu Wan yang kelihatan selalu melindungi Tio Ciu In.
"Saudara, kulihat kau tadi membawa bungkusan
pakaian. Apakah bungkusan itu milik gadis yang
kaucari itu?" Tio Ciu In bertanya, suaranya tetap
tenang.
Mata pemuda kurus itu tiba-tiba bergetar seolaholah
menahan marah.
"Apa peduli Nona dengan bungkusan pakaian itu?
Kuharap Nona jangan mencampuri urusan orang!"
pemuda itu menggeram.
Ternyata Tio Ciu In juga tidak sabar pula. "Apa?
Aku tidak boleh mencampuri urusan Saudara?
Bagaimana aku tidak boleh mencampuri urusan
Saudara kalau bungkusan yang Saudara bawa itu
milik Adikku?" jeritnya marah.
"Apa...?" Chin Tong Sia berseru kaget.
"Bungkusan itu milik Adikku! Tahu? Sekarang,
berikan bungkusan itu kepadaku...!"
Tio Ciu In melangkah ke depan, tapi dengan cepat
Chin Tong Sia bergeser ke belakang. Pemuda itu
menatap Tio Ciu In dan Liu Wan dengan pandangan
curiga.
498
"Tidak! Aku tidak percaya kepadamu! Akan aku
serahkan sendiri bungkusan ini kepada yang punya."
"Kurang ajar! Serahkan kepadaku!" Tio Ciu In
menjerit, kemudian menyerang Chin Tong Sia.
Tapi dengan mudah pemuda kurus itu
mengelakkannya. Hanya dengan mendoyongkan
tubuhnya ke kiri, serangan Tio Ciu In gagal mengenai
sasarannya. Bahkan ketika pemuda itu balas memukul
dengan siku tangannya, Tio Ciu In menjadi gelagapan
dibuatnya. Untunglah Liu Wan cepat membantu. Dari
jauh Liu Wan melontarkan pukulan Thian-lui-kongciangnya!
Whuuuuus! Hembusan angin tajam menyambar
siku Chin Tong Sia!
Chin Tong Sia cepat menarik kembali serangannya,
lalu berjumpalitan menghindari sambaran angin tajam
yang amat berbahaya itu.
Thaaaaar! Angin pukulan yang gagal mengenai
sasaran itu menerjang gundukan pasir yang
menghamburkannya ke mana-mana.
"Bagus...!" sekonyong-konyong Chin Tong Sia
bersorak gembira, seakan-akan memperoleh mainan
yang menyenangkan.
"Ciu-moi, minggirlah... dia bukan tandinganmu!"
Liu Wan berseru.
Tio Ciu In menarik napas lega. Hampir saja
rusuknya patah. Dia tak mengira kalau lawannya bisa
bergerak begitu cepat.
499
Sementara itu Liu Wan telah berhadapan dengan
Chin Tong Sia. Seperti dua ekor ayam aduan mereka
saling menaksir kekuatan lawannya.
"Maaf, Saudara... bolehkah aku tahu namamu?" Liu
Wan menyapa lebih dulu.
"Boleh. Aku tak pernah menyembunyikan namaku.
Namaku Chin Tong Sia dari aliran Beng-kau. Dan kau
sendiri tentu datang dari utara, bukan? Aku belum
tahu namamu, tapi aku kenal ilmu pukulanmu tadi.
Thian-lui-kong-ciang, bukan?"
Jawaban itu benar-benar mengejutkan Liu Wan dan
Tio Ciu In. Sama sekali mereka tak menyangka kalau
pemuda itu dari aliran Beng-kau, salah sebuah aliran
keagamaan terbesar di daerah selatan. Bahkan hati Tio
Ciu In menjadi berdebar-debar pula karena pada
tahun-tahun terakhir ini di antara aliran Im-yang-kau
di utara dan aliran Beng-kau j di selatan seperti
bersaing dalam pertumbuhannya.
"Ah, kami sungguh tak menduga dapat berjumpa
dengan seorang murid aliran Beng-kau di pantai timur
ini. Aku memang dari utara, dan ilmu pukulanku tadi
kebetulan memang bernama Thian-lui-kong-ciang...."
"Hmm, bagus... bagus! Apakah gadis ini Adikmu?"
Liu Wan mengangguk. Hatinya mulai panas juga
melihat kecongkakan lawannya.
"Ooo, jadi... kau juga ingin mengambil bungkusan
ini?"
500
"Tentu saja, karena seperti yang dikatakan Adikku
ini bungkusan yang kau bawa itu adalah milik Adikkami."
"Baiklah, kau boleh membawanya, asal...." Chin
Tong Sia tak melanjutkan kata-katanya. Wajahnya
yang tampan itu tiba-tiba tersenyum dingin.
"Asal apa?" Liu Wan mendesak. Urat-uratnya
menegang, siap untuk menggempur lawannya.
"Asal kalian bisa mengalahkan aku! Kalau kalian
tidak mampu, jangan harap aku akan
memberikannya!"
"Kurang ajar! Sombong sekali...!" Liu Wan
menggeram.
Lalu tanpa mengulur-ulur waktu lagi Liu Wan
menerjang Chin Tong Sia dengan kedua telapak
tangannya. Hembusan angin yang amat kuat meluncur
dari telapak tangan tersebut, bergulung-gulung, susulmenyusul,
bagaikan gempuran ombak menerjang dada
Chin Tong Sia.
"Wah, dahsyat sekali!" pemuda kurus itu berteriak
kagum sekali sambil melompat tinggi ke udara.
Melihat lawannya bisa meloloskan diri dari
gempuran pukulan udara kosongnya, Liu Wan cepatcepat
mengejarnya dengan sabetan sisi tangannya.
Pukulan itu diarahkan ke lutut Chin Tong Sia yang
masih mengapung di udara. Dan sekali lagi dari sisi
telapak tangan itu berdesis angin tajam yang
menyambar lebih dahulu ke arah sasarannya. Liu Wan
501
benar-benar tak memberi kesempatan kepada Chin
Tong Sia untuk bernapas.
"Wah, gila...! Gila! Hihihi-ha-haha! benar-benar
pukulan bagus! Sute, kau takkan bisa mengelak lagi
sekarang! Hoho-ho... tibalah ajalmu kini!" tiba-tiba
suara tanpa ujud itu kembali bergema di tempat itu.
"Suheng keparat! Suheng bermuka jelek! Kaukira
aku tak bisa menghindar lagi? Huh, lihat...!"
Entah disebabkan karena ejekan atau cemohan
suhengnya itu, atau entah karena kemarahannya yang
memuncak akibat didesak terus menerus oleh Liu
Wan, tapi yang jelas pemuda kurus itu mendadak bisa
melakukan suatu gerakan yang aneh, sulit, namun
hebat bukan main! Tubuhnya yang terapung di udara
itu tampak menggeliat beberapa kali ke samping,
sehingga tubuhnya yang kecil kurus itu bagaikan
segumpal kapas yang turun-naik ditiup angin!
"Wah, wah, wah, Setan Busuk! Setan Gila! Kau
benar-benar telah melakukan jurus Menerobos
Lubang Pintu Jala dengan amat sempurna! Oh-ho-hoho,
Sute ... selamat! Selamat! Kini sudah ada dua
orang yang mampu melakukan gerakan itu di Aliran
Beng-kau kita, kau dan aku... he-he-he-he!" suara
tanpa ujud itu bersorak memuji gerakan Chin Tong
Sia yang hebat.
Begitu indah dan mentakjubkan jurus yang
diperlihatkan oleh Chin Tong Sia itu, hingga untuk
sesaat lamanya Liu Wan ikut tertegun di tempatnya.
502
Liu Wan baru sadar kembali ketika melihat lawannya
itu telah berdiri siap di depannya.
"Bagus!" Liu Wan memuji sambil menerjang
lawannya kembali. Kali ini dengan tusukan dua buah
jari ke leher Chin Tong Sia.
Akan tetapi Chin Tong Sia tak ingin jadi sasaran
terus-menerus. Sambil menghindari tusukan jari Liu
Wan, tangan kanannya menyambar ke depan, menuju
ke uluhati lawannya. Serangannya amat cepat dan
kuat bagaikan patukan ular kobra!
"Wah, jelek... jelek! Siku tanganmu masih terlalu
melebar ke luar lagi! Sute, kau bisa celaka!
Pertahananmu menjadi rapuh!" Put-pai-siu Hong-jin
yang belum juga mau memperlihatkan dirinya itu
mencela gerakan Chin Tong Sia.
Entah benar atau kurang benar, namun serangan itu
sendiri sudah cukup merepotkan Liu Wan. Pemuda
sakti itu terpaksa membuang tubuhnya ke kanan
sambil menjejakkan kakinya ke atas untuk
menghantam Chin Tong Sia, kemudian berjumpalitan
menjauhkan diri. Semua itu dilakukan Liu Wan
karena dilihatnya kaki kiri Chin Tong Sia telah
bersiap-siap menerjang tubuhnya.
"Aduuuh... salah! Seharusnya kau tidak mengelak
ke kanan! Seharusnya kau bergeser sedikit saja ke
kiri, lalu menghajar ketiak Suteku yang terbuka itu!
Huh, pasti suteku itu mampus!" suara Put-pai-siu
Hong-jin kembali terdengar, tapi kali ini mencela
gerakan Liu Wan.
503
Sementara itu Tio Ciu In menonton pertempuran itu
dengan perasaan kebat-kebit. Matanya selalu gelisah
melirik ke sana ke mari, mencari orang yang bersuara
tanpa kelihatan ujudnya itu. Namun sampai bosan ia
mencarinya, orang itu tetap tak kelihatan juga.
Padahal tempat itu adalah tempat yang lapang, sama
sekali tiada pepohonan atau pun bangunan rumah.
Yang ada cuma gubug kecil reyot tempat nelayan tua
tadi berteduh dan
teriknya
matahari Dan
bangunan reyot
itu tak mungkin
untuk
bersembunyi,
karena selain tak
ada dindingnya,
atapnya pun
hanya dari daundaun
ilalang pula
yang sudah
bolong di sanasini.
Seekor
kucing pun
sudah cukup
untuk meruntuhkan atap tersebut bila bertengger di
atasnya.
Demikianlah dua jago muda itu segera bertempur
pula dengan sengitnya. Masing-masing
504
memperlihatkan kehebatan ilmunya. Liu Wan bersilat
dengan gerakan-gerakan cepat dan bertenaga,
sehingga setiap gerakannya menimbulkan gesekan
atau pusaran angin yang semakin lama semakin
bertambah besar. Sedangkan lawannya yang
berperawakan kecil kurus itu bersilat dengan amat
lincah pula. Tubuhnya yang ringan itu bagaikan
seekor tupai yang gesit dan lincah, berloncatan ke
sana ke mari menghindari badai serangan yang
dilancarkan Liu Wan.
Pertempuran mereka benar-benar ramai dan
mengasyikkan untuk ditonton. Masing-masing
tampaknya masih berusaha menjajagi kemampuan dan
kekuatan lawannya, sehingga mereka bertempur
dengan sangat hati-hati dan tidak segera
mengeluarkan ilmu simpanan mereka. Liu Wan masih
tetap bersilat dengan gerakan-gerakan cepat penuh
tenaga, sementara Chin Tong Sia melayaninya dengan
gerakan-gerakan yang manis, gesit serta lincah bukan
main.
Tak terasa lima puluh jurus telah berlalu. Gesekan
dan pusaran angin yang ditimbulkan oleh ilmu silat
Liu Wan sudah demikian kuatnya sehingga debu dan
pasir di mana mereka berdua berkelahi mulai
terangkat dan berhamburan ke mana-mana. Bahkan
gubug reyot tadi sudah mulai bergoyang-goyang mau
roboh pula.
Tio Ciu In terpaksa mundur beberapa langkah
menjauhi arena yang sekarang menjadi gelap oleh
505
debu. Otomatis pertempuran yang hebat itu tak bisa
ditonton lagi. Tubuh Liu Wan maupun Chin Tong Sia
hanya tampak samar-samar saja dari luar.
"Wah-wah-wah, ilmu silat apa ini...? Kasar! Kasar
sekali, seperti kerbau berlaga saja! Tak sedap
dipandang! Huuuh, sebal mendingan tidur." Suara
Put-pai-siu Hong-jin yang serak itu terdengar kembali
namun nadanya terasa sangat kesal dan kecewa.
Pertempuran tetap berjalan terus, bahkan semakin
lama arena yang mereka pergunakan semakin lebar
dan luas. Tampaknya mereka mulai meningkatkan
kemampuan mereka masing-masing. Malahan Liu
Wan kelihatan sudah mulai menyelipkan pukulanpukulan
Thian-lui-kong-ciangnya, karena di dalam
pekatnya debu. yang bertaburan itu sesekali terdengar
letupan-letupan kecil.
Akhirnya gubug reyot itu tak bisa bertahan lagi.
Tiang-tiangnya yang sudah rapuh itu roboh
berpatahan, sementara atapnya yang rombeng
terhempas entah ke mana. Dan Tio Ciu In sendiri
terpaksa semakin menjauhi arena. Hatinya masih
merasa kebat-kebit dan cemas. Takut kalau Liu Wan
kalah, padahal pihak lawan masih ada satu orang lagi
yang belum memperlihatkan diri, seorang lawan yang
tampaknya justru lebih tangguh daripada pemuda
kurus itu.
Sebenarnyalah, sekali ini Liu Wan memang benarbenar
menghadapi lawan yang sangat berat. Chin
Tong Sia memiliki kelincahan dan kegesitan yang luar
506
biasa. Tubuhnya yang kurus kerempeng itu melejit
dan berjumpalitan ke sana ke mari laksana tupai yang
bermain akrobat di atas pohon. Gerakan tubuhnya
seringkah sangat aneh, muskil dan sulit diduga,
bahkan kadangkala seperti tak masuk di akal,
sehingga lama kelamaan Liu Wan menjadi bingung
juga menghadapinya.
Akhirnya terpaksa juga Liu Wan mengeluarkan
ilmu simpanannya, Thian-lui-kong-ciang. Setahap
demi setahap gerakannya diperlamban, sehingga
prahara atau angin ribut yang ditimbulkan, oleh ilmu
silatnya tadi juga berangsur-angsur menjadi reda pula.
Angin Prahara itu bagaikan terhisap kembali ke dalam
telapak tangannya, membuat kedua buah telapak
tangan itu seolah-olah menggenggam kekuatan angin
yang sangat dahsyat. Dan memang itulah inti
kekuatan Thian-lui-kong-ciang atau Telapak Tangan
Halilintar!
Sementara itu angin laut bertiup dengan kencang,
sehingga kumpulan debu dan pasir yang menyelimuti
arena itu tersapu bersih dalam sekejap. Sekarang dua
jago yang sedang berlaga itu kelihatan lagi. Keduanya
masih bertempur dengan gigihnya, dan masingmasing
telah mulai memperlihatkan ilmu andalannya.
Thian-lui-kong-ciang memang sebuah ilmu yang
sangat dahsyat. Dengan mengerahkan ilmu itu kaki
dan tangan Liu Wan seolah-olah berubah menjadi besi
yang beratnya ribuan kati. Setiap hentakan kaki atau
tangannya akan menimbulkan kekuatan yang dahsyat
507
tiada terkira. Bahkan angin pukulannya saja sudah
mampu melumatkan semua sasaran yang ada.
Setelah Liu Wan melancarkan serangan dengan
Thian-lui-kong-ciang, Chin Tong Sia memang
mengalami kesulitan. Gerakan-gerakan Liu Wan yang
ketat dan penuh tenaga itu seakan-akan menciptakan
dinding-dinding pertahanan yang sulit ditembus.
Bahkan dinding-dinding yang tercipta itu semakin
lama terasa semakin banyak sehingga ruang geraknya
menjadi ciut. Otomatis ia tak dapat mengembangkan
ciri-ciri ilmu silat Aliran Beng-kau, yaitu kelincahan
dan kegesitan tubuh.
Maka tiada jalan lain lagi bagi Chin Tong Sia selain
mengeluarkan ilmu puncaknya, yaitu Chuo-mo-ciang
(Ilmu Menangkap Setan), andalan Aliran Beng-kau,
yang sakah satu jurusnya, Menerobos Lubang Pintu
Jala, telah diperagakan oleh Chin Tong Sia tadi. Dan
sesuai dengan adat kebiasaan orang dusun, yang
selalu menabuh bunyi-bunyian sambil berdoa atau
bernyanyi di kala mengadakan upacara adat
menangkap setan, maka di setiap menjalankan ilmu
Chuo-mo-ciang pun para anggaota Aliran Bengkauw
tentu 'bocor' pula mulutnya. Dan karena sebagian
besar ilmu silat Chin Tong Sia itu hasil didikan
suhengnya, maka 'kebocoran’ Chin Tong Sia pun
sebagian besar juga mewarisi ’keceriwisan' Put-paisiu
Hong-jin!
Sambil menyerang atau mengelakkan pukulan Li
Wan, Chin Tong Sia tentu bernyanyi. Suaranya kaku
508
dan sumbang, sama sekali tak berbakat menjadi
penyanyi. Syair-syair lagunya pun hanya ngawur dan
sekenanya saja.
"Ada ular di dalam lubang...!
Ularnya satu lubangnya satu!
Ularnya bingung lobangnya buntu!
Maju mundur sampai mati...!"
"Hohohoo-hahaha...! Sute, ularmu goblok benar!
Masakan hanya karena lubang buntu saja sudah mati,
hohoho-hahahaa! Goblok... goblok!!!" Tak terduga
suara Put-pai-siu Hong-jin muncul lagi.
"Suheng, diam kau...! Kalau berani, keluarlah!
Jangan bersembunyi!" Chin Tong Sia tersinggung dan
marah-marah.
"Oho, Sute... Sute! Celaka benar ularmu! Ular
goblog saja dipelihara, hohoho! Mengapa engkau
tidak mencontoh ularku? Ularku pintar dan cerdik.
Dengarlah!"
Ada ular melihat lubang...!
Dilihat dulu lubangnya buntu!
Ular berbalik ekornya maju!
Di Lubang buntu ular berlagu...!
"Suheng keparat! Suheng bangsat! Awas, kuhajar
kau nanti...!"
509
Bukan main dongkolnya Liu Wan, lawannya yang
kurus kerempeng itu bertempur sambil bergurau
dengan suhengnya. Celakanya, tampaknya saja
bergurau tapi sambil bergurau ternyata Chin Tong Sia
menyerang terus dengan jurus-jurusnya yang aneh.
Demikian anehnya gerakan yang dilakukan Chin
Tong Sia, sehingga dia menjadi bingung dan serba
salah menghadapinya.
Suatu saat ketika Liu Wan menghajar pelipis Chin
Tong Sia, pemuda itu mengelak dengan gaya seperti
orang kesurupan setan. Badannya limbung, kemudian
terjerembab ke depan seolah-olah hendak menimpa
tubuh Liu Wan. Tentu saja Liu Wan menjadi curiga,
sehingga otomatis bergeser ke samping
menghindarinya.
Tak terduga tubuh Chin Tong Sia itu benar-benar
jatuh ke tanah, sehingga Liu Wan untuk sedetik
menjadi heran. Namun waktu yang cuma sedetik itu
ternyata telah membawa celaka. Ketika tubuh Chin
Tong Sia itu hampir menyentuh tanah, tiba-tiba
tangan kanannya menyambar. Cuma sedetik, sehingga
Liu Wan benar-benar tak mempunyai kesempatan
lagi. Tahu-tahu pergelangan kakinya telah
dicengkeram Chin Tong Sia!
Bluug! Tubuh Chin Tong Sia membentur tanah!
"Auugh!" Liu Wan menjerit seraya menghajar
lengan yang mencengkeram kakinya itu dengan
Thian-lui-kong-ciang-nya.
510
Duuuaaar! Tanah di depan Liu Wan meledak
berhamburan terkena hantaman Thian-lui-kong-ciang,
karena dengan gesit Chin Tong Sia telah melejit pergi
dengan lincahnya.
"Puteri istana menghisap hun-cwe (pipa panjang),
Hun-cwe terisi butiran candu,
Bibir pucat matanya sayu,
Bagai bidadari sedang bercumbu."
Dengan wajah cerah penuh senyuman Chin Tong
Sia telah berdiri siap kembali. Matanya yang kocak itu
memandang Liu Wan yang terpincang-pincang karena
salah satu urat darahnya tertutup akibat
cengkeramannya. Sambil tersenyum ia berpantun.
"Hei, Sute! Puterimu itu gila barangkali! Masakan
seorang puteri keraton menghisap pipa...!" Put-pai-siu
Hong-jin berteriak penasaran dari tempat
persembunyiannya.
Chin Tong Sia melirik ke sana ke mari mencari
arah suara suhengnya. Senyumnya menghilang.
"Suheng, kenapa engkau hari ini usil banget?
Apakah tidak boleh seorang puteri istana menghisap
pipa?" pemuda itu berseru kesal.
"Boleh... sih... boleh! Tapi, ya... aneh sekali!"
"Ah, peduli amat! Pokoknya puteri itu suka
menghisap pipa! Titik!"
"Uh, ya... terserah kalau begitu maumu. Tapi itu
tidak wajar, masakan seorang puteri... menghisap pipa
511
panjang, hehehehe. Tidak lucu. Hmmm, apakah kau
mau kalau isterimu besok suka menghisap pipa?"
"Suheng gila, keluar kau!" Chin Tong Sia berteriak
dengan wajah merah padam.
Tak ada jawaban. Tampaknya Put-pai-siu Hong-jin
sudah merasa cukup menggoda adik seperguruannya.
Mungkin orang tua itu kini terkekeh-kekeh gembira di
tempat persembunyiannya. sementara itu Liu Wan
memanfaatkan waktu tersebut untuk melancarkan
kembali urat darahnya yang tertutup. Tapi usahanya
sia-sia. Aliran darahnya masih tetap tersumbat,
sehingga kakinya tak bisa bergerak dengan leluasa.
Tio Ciu In menghampiri dengan wajah khawatir.
"Bagaimana, Twako? Ada sesuatu yang salah?"
tanyanya cemas.
"Gila! Anak itu memang lihai sekali, aku tak bisa
membuka totokannya."
"Lalu... apa yang harus kita perbuat?" Tio Ciu In
berbisik tegang.
"Apa boleh buat. Mungkin aku tidak bisa menang,
tapi yang jelas aku akan mengadu jiwa dengannya!"
"Liu Twako...."
"Sudahlah, Ciu-moi... minggirlah, aku belum
kalah."
Di lain pihak Chin Tong Sia masih menoleh ke
sana ke mari mencari suhengnya. Pemuda itu masih
kelihatan penasaran terhadap Put-pai-siu Hong-jin,
sehingga dia tak peduli lagi kepada Liu Wan. Bahkan
512
dia juga tidak ambil pusing pula ketika Tio Ciu In
menghampiri Liu Wan.
Tio Ciu In melangkah menjauhi arena lagi. Ia tak
dapat menghalangi niat Liu Wan, karena pemuda itu
tentu tak ingin kehilangan harga dirinya. Langkahnya
terhenti di dekat tumpukan jala si Nelayan Tua itu.
Sekonyong-konyong tumpukan jala itu terangkat
dan terlempar jauh, sementara dari bawahnya muncul
Put-pai-siu Hong-jin sambil menjerit-jerit!
"Kurang ajar! Kepiting keparat! Kepiting bangsat!
Menjepit pantat orang seenaknya! Huh, mati kau...!"
Ternyata tak seorang pun yang mengira kalau Putpai-
siu Hong-jin bersembunyi di bawah tumpukan jala
tersebut. Dan tampaknya Si Nelayan tadi tidak
menyadari pula kalau gulungan jalanya menindih Putpai-
siu Hong-jin yang tipis kerempeng itu. Mungkin
sewaktu meletakkan jalanya tadi Si Nelayan tak
memperhatikan bahwa di bawah gubug reyot itu ada
seseorang yang lagi tidur melingkar keenakan. Dan
sebaliknya Put-pai-siu Hong-jin sendiri kelihatannya
justru merasa kesenangan mendapatkan selimut tebal.
"Bagus! Ternyata Suheng bersembunyi di situ!
Nah, rasakan pukulanku...!" Begitu melihat
suhengnya, Chin Tong Sia segera menerjang dengan
pukulan tangannya.
"Hei... hei, nanti dulu! Aku belum mengikat tali
celanaku! Kepiting celaka itu ... kepiting celaka itu...
hei, awas... celanaku nanti melorot turun! Wah!"
513
Put-pai-siu Hong-jin yang sedang ribut dengan
kepiting di dalam celananya itu menjadi kaget dan
bingung melihat serangan sutenya. Sambil berusaha
mengikatkan kembali tali celananya orang tua itu
mengelak ke sana ke mari. Celakanya Chin Tong Sia
tak memberinya kesempatan sama sekali. Pemuda itu
terus saja mengejar suhengnya, sehingga akhirnya tali
celana itu bukannya terikat lagi dengan baik, tapi
malah menjadi ruwet tidak karuan.
"Wah, ini... ini bagaimana? Tali celanaku...?" orang
tua itu berteriak ketakutan, kemudian lari lintang
pukang meninggalkan tempat itu. Kedua tangannya
sibuk mencengkeram celananya yang melorot turun
memperlihatkan pantatnya yang tepos.
Tio Ciu In menjerit lirih dan cepat cepat
memalingkan mukanya.
"Kurang ajar! jangan lari...!" Chin Tong Sia berseru
sambil terus mengejar suhengnya.
Liu Wan menarik napas panjang, seolah-olah beban
yang menghimpit perasaannya telah lepas. Namun
demikian matanya masih tampak lesu memandang ke
depan, ke arah mana Chin Tong Sia dan suhengnya
tadi pergi.
"Bagaimana Liu-twako? Kita kembali saja ke kota?
Siau In mungkin sudah tidak berada di pantai ini,
karena pemuda itu juga sudah sejak kemarin
mencarinya." Tio Ciu In mendekati dan berkata
perlahan.
514
"Baiklah...." Liu Wan mengangguk lesu. "Ciu-moi,
ternyata sungguh banyak sekali orang lihai di dunia
ini. Aku yang selama ini sangat bangga dengan
julukan Bun-bu Siu-cai, ternyata harus menghadapi
kenyataan dalam sehari ini. Dalam waktu hanya sehari
ini saja aku bertemu dengan banyak orang yang
kepandaiannya lebih tinggi daripada aku. Kwe Tek
Hun, Ma Goat dan pembantunya, orang tua buta itu,
orang-orang dari Pondok Pelangi, dan sekarang Chin
Tong Sia bersama suhengnya dari Aliran Beng-kau.
Aaaah... aku memang harus banyak belajar lagi."
Sambil berjalan kembali ke kota Hang-ciu Tio Ciu
In berusaha menghibur kekecewaan Liu Wan.
"Twako, dunia ini memang luas. Di atas langit
masih ada langit. Kita tak usah merasa kecewa
terhadap diri sendiri, karena kita pun sebenarnya juga
sudah lebih dari pada yang lain. Contohnya, Twako
sendiri masih jauh lebih baik dan lebih beruntung
daripada aku, Adikku, Suhengku, Ku Jing San,
Sogudai dan pendeta-pendeta Pek-hok-bio itu. Namun
demikian aku sendiri juga masih lebih mendingan
daripada anak buah Kuil Pek-hok-bio, dan lainlainnya.
Nah, mau apa lagi?"
Liu Wan memandang tak percaya kepada Tio Ciu
In. Ia tak percaya kata-kata yang bermakna amat
dalam itu keluar dari bibir tipis itu.
"Bukan main...!" pemuda itu berdesah sambil
menggeleng-gelengkan kepalanya. Matanya menatap
515
redup dan sama sekali tak menyembunyikan rasa
kagumnya.
"Apanya yang bukan main...?" Tio Ciu In bertanya
sambil menundukkan mukanya, takut melihat
pandangan mata Liu Wan.
"Pandangan hidupmu itu tadi, Ciu-moi. Apakah
semua yang kaukatakan itu sungguh-sungguh keluar
dari lubuk hatimu?"
Tio Ciu In mengangkat wajahnya. "Tentu saja,
Twako. Kaukira aku cuma asal bicara saja?" katanya
kurang senang.
"Eh, bukan begitu maksudku...." Liu Wan cepatcepat
menyela. "Aku cuma mempunyai perkiraan,
bahwa kau bisa mengatakan seperti itu karena selama
ini kau selalu mendapatkan yang baik dan tak pernah
mendapatkan kekecewaan di dalam kehidupanmu."
"Maksudmu...?"
"Yaaaah, misalnya saja tentang... rupa. Kau tidak
ditakdirkan berwajah jelek, tetapi kau dikaruniai
wajah ayu. Sangat ayu malah. Nah, tentu saja kau
tidak pernah merasa kecewa dengan keadaanmu.
Akan tetapi lain halnya kalau Thian memberimu
wajah yang jelek, kau tentu takkan bisa berkata seperti
tadi. Kau tentu akan merasa kecewa terhadap dirimu
sendiri...."
Tak terduga wajah yang cantik dan halus itu
tersenyum.
"Kau salah menduga, Twako. Selama ini aku tak
pernah memikirkan, apakah wajahku cantik atau jelek,
516
sehingga aku tak pernah mempersoalkan pula, apakah
aku merasa gembira atau kecewa terhadap diriku.
Bagiku cantik atau tidak cantik itu sama saja.
Semuanya tak perlu dikecewakan."
"Apakah kau tidak merasa kecewa kalau wajahmu
jelek?" Liu Wan penasaran.
Tio Ciu In menggelengkan kepalanya. "Tidak ada
yang perlu dikecewakan. Misalkan aku berwajah jelek
pun masih tetap seorang manusia, Masih lebih baik
dan lebih cantik daripada seekor monyet betina."
"Hah...? Sungguh gila!" Liu Wan terbelalak. "Lalu,
misalkan kau benar-benar menjadi... eem, monyet
betina? Apakah kau juga tidak pernah kecewa
terhadap dirimu?"
Lagi-lagi wajah yang cantik itu tersenyum,
sehingga Liu Wan semakin menjadi gemas
melihatnya.
"Aku tetap tidak akan menjadi kecewa karenanya.
Menjadi monyet masih lebih beruntung daripada
menjadi patung batu. Thian maha adil. Kalau pun aku
ditakdirkan menjadi monyet, aku percaya Thian akan
mengirimkan kepadaku seekor monyet jantan yang
kuat dan tampan."
"Ooooooooooh!" Liu Wan berdesah panjang seraya
menundukkan mukanya.
Ucapan-ucapan Tio Ciu In yang amat sederhana itu
ternyata telah mampu menerangi hatinya,
menyadarkannya, betapa serakahnya dia selama ini.
517
"Ciu-moi, kau benar-benar hebat. Aku sungguh
merasa suka dan kagum sekali kepadamu. Rasarasanya
aku ingin sekali menjadi monyet jantan itu,
tapi...."
"Ah, kau...!" Tio Cu In cemberut dan. mukanya
menjadi merah. Semua itu hanya perumpamaan saja,
bukan kenyataan. Siapa bilang aku seekor monyet
betina?"
Liu Wan menjadi malu. "Maaf, Ciu-moi... memang
tiada seorang pun yang mengatakan kau seekor
monyet betina. Kau... seorang dewi, seorang bidadari
yang hebat tiada tandingannya. Akulah yang benarbenar
pantas menjadi monyet, dan bukan monyet
jantan seperti keinginanmu itu, tapi monyet kerdil
yang tiada artinya sama sekali."
"Nah, Twako... kau mulai merajuk lagi. Kau mulai
kecewa terhadap dirimu kembali. Semangatmu mudah
kembali patah...."
"Aaaaaaah!" Liu Wan menjadi sadar pula kembali.
"Maafkan aku, Ciu-moi."
Demikianlah, sambil berbicara macam-macam
mereka berjalan terus sehingga tak terasa. mereka
telah tiba di kota Hang-ciu lagi. Mereka berhenti dulu
untuk mengisi perut, baru kemudian memulai
pencarian mereka. Seluruh kota mereka jelajahi dan
mereka aduk-aduk, bahkan mereka juga menemui
Jeng-bin Lo-kai pula, namun Siau In tetap tak me reka
jumpai. Akhirnya .setelah sore mereka terpaksa
mencari penginapan lagi.
518
"Bagaimana kalau Adikmu tetap tak diketemukan
juga? Apakah kau akan tetap mencari di sini?" Liu
Wan bertanya.
Tio Ciu In menundukkan wajahnya,
menyembunyikan dua tetes air mata yang terlepas dari
pelupuk matanya.
"Aku akan menantinya di sini. Aku percaya dia
takkan jauh dari kota ini. Ia belum pernah bepergian
ke mana-mana."
"Tapi...?"
"Twako, kau jangan terlalu memikirkan aku. Aku
tahu engkau mempunyai banyak urusan yang lain.
Silakan kalau Twako hendak meneruskan perjalanan.
Biarlah aku menunggunya di sini, sekalian menanti
kedatangan Guruku...."
"Oh, ya...? Jadi Suhumu juga hendak datang ke
sini?" Liu Wan menegaskan, suaranya sedikit
berubah.
"Rencananya memang demikian. Empat hari yang
lalu kami berangkat bersama-sama dari Gedung
Cabang Aliran Im-yang-kau di kota An-king. Suhu
menyuruh Suheng, aku dan Adikku, langsung pergi ke
kota ini, sementara Suhu sendiri berangkat menyusuri
Sungai Yang-tse, melalui kota Wu-hu, Nan-king,
Wuh-si dan Soh-ciu. Karena harus melalui jalan
memutar yang sangat jauh, kemungkinan dua atau tiga
hari lagi Suhu baru sampai di sini."
"Baiklah, Ciu-moi... aku akan menemanimu sehari
lagi. Besok lusa baru aku akan berangkat ke barat
519
menemui Guruku. Aku harus melaporkan kegiatan
orang orang Hun itu kepada beliau." Liu Wan
berdesah panjang seakan-akan amat berat
meninggalkan Tio Ciu In sendiri. "Yaaaaah, sekalian
memohon maaf kepada guruku, karena aku telah
meninggalkan beliau selama hampir lima tahun tanpa
pamit."
Tio Ciu In memandang Liu Wan dengan kening
berkerut.
"Kau tinggalkan Gurumu selama lima tahun tanpa
pamit? Mengapa...?" tanya gadis itu heran.
Liu Wan tersenyum kecut. Dipandangnya gadis ayu
itu sekejap, kemudian menggeleng lemah. "Ah, cuma
karena urusan keluarga yang kurang menyenangkan
saja."
"Yang Twako maksud... keluarga Gurumu atau
keluargamu sendiri?"
Sekali lagi Liu Wan menghela napas panjang.
Wajahnya kelihatan buram.
"Keluargaku sendiri... aku... ah, sudahlah... aku tak
ingin mengingat-ingatnya lagi."
Tio Ciu In menjadi semakin heran. Baru kemarin
pemuda itu memperlihatkan gambar-gambar
keluarganya dengan hati riang. Mengapa sekarang
tiba-tiba saja pemuda itu kelihatan sedih
membicarakan keluarganya? Siapakah sebenarnya
pemuda itu?
"Baiklah, Twako... aku juga tak ingin mencampuri
urusan keluargamu. Kau tentu mempunyai alasan
520
yang kuat, mengapa sampai pergi meninggalkan
keluargamu sekian lamanya."
Demikianlah mereka terpaksa tinggal di kota itu
menantikan munculnya Tio Siau In. Sama sekali
mereka tidak membayangkan bahwa gadis itu telah
berada jauh di laut utara.
-- o0d-w0o --
KETIKA menyaksikan A Liong benar-benar tidak
muncul lagi ke permukaan air, Siau In menjadi sedih
dan menyesal bukan main. Gadis itu merasa telah
mem bunuh orang tak berdosa, sehingga seharian ia
tak bosan-bosannya berputar-putar di pinggiran pantai
itu, sambil berharap-harap kalau-kalau pemuda itu
muncul kembali.
Setelah matahari terbenam barulah Tio Siau In
mengayuh sampannya ke pinggir. Tubuhnya lemas
karena seharian tidak makan dan minum. Dan malam
itu terpaksa harus tidur dan berpuasa pula di atas pasir
yang dingin.
Demikianlah, karena perasaannya selalu dicengkam
rasa gelisah, maka dalam tidurnya Siau In juga
mendapat mimpi yang menyeramkan pula. Di dalam
mimpinya gadis itu seperti melihat A Liong timbul
tenggelam dipermainkan ombak di tengah lautan.
Pemuda itu seperti menjerit-jerit memanggil namanya.
Siau In berusaha menolong pemuda itu. Matimatian
ia mengayuh sampannya, menerjang ombak
521
yang setiap kali selalu melemparkan sampannya
kembali ke tepian. Namun suara jeritan A Liong
membuat Siau In seperti kesetanan. Ia tetap mengayuh
terus, sehingga akhirnya bisa juga sampannya
mendekati A Liong.
Siau In mengulurkan tangannya untuk menarik
tubuh A Liong. Tetapi belum juga tangan itu sempat
menyentuh tubuh A Liong, sekonyong-konyong dari
dalam air muncul kepala seekor naga raksasa yang
sangat menyeramkan! Ketika naga itu membuka
mulutnya yang lebar, maka air laut yang ada di
sekitarnya pun segera membanjir masuk, termasuk
pula di antaranya adalah tubuh A Liong serta Siau In
bersama sampannya!
Ia terbangun dari tidurnya. Keringat dingin
membanjir membasahi seluruh badannya, padahal
malam itu bertiup angin laut yang cukup kencang,
dinginnya menggigit tulang.
"Ooooooh... aku bermimpi." Tio Siau In berdesah
dengan napas terengah-engah.
Siau In mencoba meringkukkan tubuhnya,
berlindung di dalam sampannya yang sempit, namun
tetap saja ia menggigil kedinginan. Saat itulah Siau In
baru ingat bahwa buntalan pakaiannya tertinggal
ketika berselisih dengan pemuda kurang ajar yang
mengintipnya itu.
Teringat akan kekurangajaran Chin Tong Sia, Siau
In menjadi merah kembali mukanya. Ingin rasanya ia
522
membunuh pemuda tak tahu adat itu, yang enak saja
mengintip orang sedang berganti pakaian.
"Aaaah!" Siau In cepat-cepat membuang kenangan
yang amat memalukan itu.
Angin laut semakin kencang bertiup, membuat Siau
In semakin tak bisa memicingkan matanya kembali.
Akhirnya gadis itu bangkit dari tidurnya.
Dipandangnya air laut yang kini tampak tenang di
dalam cerahnya sinar bulan. Dan otomatis matanya
mencari-cari kalau-kalau terlihat A Liong di antara
riak gelombangnya yang berkejaran ke arah pantai.
Tiba-tiba hidung Siau In mencium bau dupa wangi,
tapi ketika gadis itu mencoba mencari dari mana arah
bau itu datang, mendadak bau itu hilang kembali. Tak
terasa berdiri juga bulu roma Siau In. Matanya
menatap ke sana ke mari, kalau-kalau ada orang yang
sedang membakar dupa sekitar tempat itu.
"Jangan-jangan A Liong yang membakar dupa
tapi..." Siau In berpikir keras.
Timbul kembali harapan Siau In untuk menemukan
A Liong. Bergegas ia bangkit dari duduknya,
kemudian berjalan meninggalkan sampannya,
menyusuri pantai itu menyongsong angin ke arah
utara. Dan semakin jauh ia berjalan, bau dupa wangi
itu semakin sering pula tercium oleh hidungnya.
Ketika kemudian tepian berpasir itu terhalang oleh
tebing tinggi yang menjorok ke laut, bau dupa itu
semakin keras menyentuh hidung Siau In. Gadis itu
lalu melangkah ke kiri, menyusuri tebing tersebut
523
untuk mencari tempat yang landai agar dia bisa naik
ke atasnya.
Tapi semakin jauh ke darat tebing itu justru
semakin curam dan tinggi, sehingga akhirnya Siau In
memutuskan untuk merayapi tebing tersebut dengan
ilmu meringankan tubuhnya.
Untunglah dinding tebing itu tidak licin rata seperti
tembok rumah. Selain banyak tumbuh-tumbuhan kecil
yang bisa untuk berpegangan, dinding tebing itu
sendiri banyak memiliki ceruk-ceruk atau pun
tonjolan-tonjolan batu karang yang bisa untuk
berpijak. Namun demikian tanpa memiliki ginkang
yang tinggi rasanya sulit orang bisa merayap sampai
di atas.
Ternyata dataran di atas tebing yang menjorok ke
tengah laut itu cukup luas juga. Bahkan di atasnya
banyak tumbuh pepohonan rindang sampai hampir di
ujungnya. Diam-diam merinding juga hati Siau In.
Hembusan angin laut yang kuat itu membuat pohonpohon
itu bergoyang-goyang, sehingga dalam
keremangan sinar rembulan pohon-pohon itu bagaikan
makhluk-makhluk hitam yang bernyawa.
Sekarang bau dupa itu benar-benar terasa
menyentak hidung Siau In. Malahan lapat-lapat gadis
itu seperti mendengar suara manusia pula.
"Ada orang di ujung tebing itu. Coba kulihat ke
sana...."
Dengan mengendap-endap Siau In berjalan
mendekati ujung tebing itu. Bau dupa wangi semakin
524
menyengat hidungnya, membuat gadis itu menjadi
makin berhati-hati. Ia tak pernah keluar dari bayangan
semak maupun pepohonan yang gelap.
Siau In terpaksa berhenti sebentar di bawah semaksemak
yang paling akhir. Ujung tebing itu ternyata
merupakan tanah bebatuan yang tak ada tumbuhtumbuhannya
sama sekali. Yang ada cuma batu-batu
karang tajam berserakan di sana-sini. Dan persis di
ujung tebing itu, di tempat yang kosong dari bebatuan,
tampak belasan orang lelaki duduk berjajar, berderetderet
menjadi beberapa lapis, menghadap ke arah laut.
Di depan mereka terlihat berbagai macam sesaji yang
ditempatkan di atas nampan-nampan bambu. Masingmasing
orang itu tampak memegang dupa yang
terbakar, sehingga asapnya yang tebal bertebaran
ditiup angin.
Dengan mengendap-endap di antara batu-batu
karang Siau In mendekati orang-orang itu. Dalam
jarak yang cukup dekat gadis itu berhenti.
Dipandangnya punggung orang-orang itu dengan
seksama.
"Kelihatannya mereka bukanlah orang-orang
persilatan. Mereka seperti orang-orang dusun biasa
yang sedang mengadakan upacara sesaji kepada laut.
Mungkin mereka terdiri dari keluarga-keluarga
nelayan yang sedang meminta berkah kepada Dewa
Laut, agar mereka selalu mendapatkan keselamatan
serta memperoleh hasil ikan yang banyak setiap kali
525
pergi ke laut." Siau In menduga-duga di dalam
hatinya.
Siau In beringsut lebih dekat lagi agar ia bisa
mendengarkan apa yang-mereka bicarakan.
"Oh, Dewi Bulan Yang Agung! Tolonglah kami
sekali lagi untuk mengenyahkan setan dan hantu yang
saat ini sedang meraja-lela mengganggu dusun kami,
seperti ketika kau menolong kami membasmi para
perompak yang menduduki dusun kami beberapa
bulan yang lalu. Dan seperti juga ketika kau menolong
kami mendamaikan pertengkaran serta pertempuran
antar-dusun di daerah kami dua bulan yang lalu."
Siau In melihat salah seorang di antara orang-orang
itu berdiri meneriakkan doa-doanya, lalu berjalan ke
ujung tebing diikuti oleh yang lain sambil membawa
sesajian yang tadi ditaruh di depan mereka. Mereka
melemparkan sesajian tersebut ke laut yang berdebur
di bawah tebing itu. Setelah itu mereka mengelilingi
tumpukan kayu kering yang telah dipersiapkan pula di
tempat tersebut.
"Kelihatannya mereka hendak membuat api
unggun...." Siau In yang melihat tumpukan kayu itu
membatin.
Benar juga apa yang diduga Siau In. Orang yang
meneriakkan doa-doanya tadi tampak memimpin lagi
teman-temannya untuk membakar tumpukan kayu
tersebut. Dan sebentar saja tumpukan kayu yang
menggunung itu berkobar dimakan api. Tempat itu
526
serentak menjadi terang benderang karena lidah api
menjilat sampai tinggi di udara.
Untuk beberapa waktu orang-orang itu masih tetap
berdiri di sekeliling api unggun, namun setelah api itu
benar-benar berkobar dengan baik mereka lalu
bersama-sama meninggalkan ujung tebing tersebut.
Mereka berjalan satu-persatu seperti orang berbaris,
dengan orang yang meneriakkan doa-doa sebagai
pemimpinnya.
Siau In segera bersembunyi ketika orang-orang itu
lewat di dekat tempat persembunyiannya.
"Mudah-mudahan sesaji kita yang ke tiga kalinya
ini dapat dilihat dan diterima oleh Dewi Bulan,
sehingga dia cepat-cepat datang menolong kita, Cungcu
(Kepala Kampung)...." salah seorang dia antara
mereka berkata penuh harap.
"Mudah-mudahan saja begitu." orang yang
memimpin doa tadi menjawab. "Ketika datang yang
terakhir kalinya itu Dewi Bulan berpesan, kita disuruh
membuat api unggun yang besar di tempat ini apabila
menghendaki kedatangannya."
"Tapi kita sudah tiga malam berturut-turut
membuat api unggun di sini, ternyata dia belum juga
datang menolong kita." yang lain berkata pula dengan
nada kecewa.
"Ah, kau jangan berkata begitu, Ji Tek." orang yang
pertama kali membuka suara tadi memperingatkan
temannya tersebut. "Bukankah Dewi Bulan itu juga.
mengatakan bahwa dia tidak mesti bisa datang oleh
527
panggilan api unggun itu, karena mungkin dia berada
di tempat yang jauh dari sini sehingga dia tidak bisa
melihat kobaran api unggun kita."
"Kau benar, Kok Siang. Mungkin saat ini Dewi
Bulan memang tidak berada di sekitar pantai Laut
Timur- ini." orang yang disebut Cung-cu tadi
membenarkan ucapan orang itu.
Akhirnya rombongan itu menghilang di balik
rimbunnya, pepohonan yang tumbuh di atas tebing
tersebut. Tinggallah kini Siau In sendirian di tempat
persembunyiannya, sibuk memikirkan kejadian yang
baru saja dilihatnya itu.
"Apa sebenarnya yang sedang dihadapi oleh orangorang
dusun itu? Mengapa mereka sampai
mengadakan sesaji untuk memanggil Dewi Bulan?
Dan... siapa sebenarnya yang mereka anggap sebagai
Dewi Bulan itu? Masakan di atas bulan yang bersinar
itu benar-benar ada seorang dewi yang mau turun ke
bumi untuk menolong orang-orang itu?"
Kejadian tersebut sungguh menarik perhatian Siau
In, sehingga gadis itu untuk sementara menjadi lupa
akan urusan A Liong.
"Baiklah... akan kuikuti saja mereka! Akan kulihat,
apa sebenarnya yang menjadi masalah mereka. Siapa
tahu aku bisa melihat Dewi Bulan yang mereka harapharapkan
itu."
Bergegas Siau In meninggalkan tempat
persembunyiannya. Meskipun rombongan itu telah
berada jauh. di depan, Siau In tetap melangkah
528
dengan hati-hati, karena siapa tahu ada satu dua orang
di antara mereka yang tertinggal. Demikianlah,
dengan cara menyusup ke sana ke mari di antara
semak dan pepohonan, Siau In mengejar rombongan
orang dusun itu.
Ternyata di balik tebing yang tinggi itu terhampar
lembah yang cukup subur. Malahan tampak pula di
sana sebuah sungai kecil yang berkelok-kelok di
antara tanah pertanian. Beberapa gerombol
perkampungan penduduk tampak berkelompok di
kanan kiri sungai kecil tersebut.
Sejenak Siau In terpesona menyaksikan
pemandangan yang amat indah itu. Di bawah tebaran
sinar rembulan yang terang benderang lembah itu
benar-benar seperti sebuah taman alam yang
mentakjubkan.
"Nah... itu mereka!" gadis itu berseru perlahan
ketika melihat iring-iringan manusia ke luar dari
semak-semak belukar di bawahnya.
Dari atas tebing iring-iringan itu memang sangat
jelas sekali. Mereka keluar dari semak belukar dan
mulai berjalan berurutan di pinggir sungai. Siau In
segera hendak beranjak dari tempatnya ketika tibatiba
ia melihat bayangan orang di belakang
rombongan orang dusun itu.
Bayangan itu juga mengendap-endap pula seperti
dirinya. Kadang-kadang berkelebat di antara bebatuan
yang banyak terdapat di pinggiran sungai tersebut. Di
bawah sinar bulan bayangan itu seperti seorang
529
perempuan bongkok yang mengenakan jubah panjang
sampai ke lutut.
"Eh, siapa dia? Mengapa dia mengikuti rombongan
itu secara sembunyi-sembunyi pula? Apakah dia
bermaksud buruk?"
Sekarang Siau In benar-benar bergegas turun
mengejar orang-orang dusun itu. Hatinya sungguhsungguh
tergelitik untuk mengetahui apa yang akan
terjadi pada mereka.
Semakin dekat dengan mereka Siau In semakin
meningkatkan kewaspadaannya, apalagi pinggiran
sungai itu tidak banyak semak-semak yang bisa
dipakai untuk bersembunyi. Ia hanya dapat
mengandalkan ginkangnya untuk bergerak menyusup
di antara bebatuan besar saja.
Bayangan perempuan bongkok itu masih
berkelebatan di depan Siau In. Perempuan itu
tampaknya tak menduga kalau dirinya yang sedang
diikuti orang, buktinya ia sama sekali tak pernah
menoleh atau mengawasi keadaan sekitarnya.
Perhatiannya cuma ke depan, ke arah rombongan
orang-orang dusun itu saja. Namun demikian setiap
bergerak atau berpindah tempat, gerakannya cepat
bukan main.
-- o0d-w0o --
530
JILID XIII
ATI aku!" diam-diam Siau In
berdesah di dalam hati. "Orang itu
mempunyai ginkang yang sangat tinggi.
Sekali saja aku salah langkah, orang itu
tentu tahu kalau kuikuti."
Menyadari kalau ginkangnya masih
kalah dibandingkan dengan perempuan bongkok itu,
maka Siau In semakin tidak berani terlalu dekat.
Untunglah awan tebal lewat menutupi bulan sehingga
suasana menjadi sedikit gelap.
Ketika akhirnya di kejauhan mulai tampak sinarsinar
lampu minyak yang berkedip-kedip di kegelapan
malam, Siau In menghela napas lega.
"Itu tentu dusun yang mereka tuju..." gadis itu
membatin. "Tampaknya dusun itu... eh, ke mana
perempuan bongkok tadi?"
Siau In cepat-cepat meringkuk di balik sebuah batu
besar, sementara matanya nanar melihat ke depan,
mencari bayangan perempuan bongkok tadi. Namun
perempuan itu benar-benar tidak kelihatan lagi.
Bagaikan hantu tubuh bongkok itu seperti hilang
begitu saja.
Tak terasa meremang juga bulu tengkuk Siau In,
sehingga untuk beberapa waktu lamanya ia tak berani
menggerakkan tubuhnya, takut kalau-kalau
perempuan bongkok itu berada di sekitarnya.
M
531
"Hantuuu! Tolong...!" Tiba-tiba terdengar jeritan di
kejauhan.
Siau In tersentak kaget, suara itu datang dari arah
rombongan orang-orang dusun tadi. Dan benar juga,
ketika Siau In memandang ke depan dilihatnya
rombongan itu telah lari cerai berai. Masing-masing
seperti berlomba untuk lebih dahulu sampai di dusun
mereka.
Mendadak sebuah bayangan berkelebat lewat tidak
jauh dari tempat persembunyian Siau In. Gadis itu
terkejut. Meskipun tidak begitu jelas, namun Siau In
segera mengenalnya sebagai perempuan bongkok tadi.
"Dia membawa sesuatu di punggungnya, seperti
tubuh manusia! Eh, jangan-jangan perempuan itu
telah menculik seorang dari rombongan itu!"
Rasa ingin tahu membuat Siau In melupakan
perasaan takutnya. Gadis itu segera meloncat
mengejar bayangan perempuan bongkok tadi.
Untunglah awan yang menutup bulan tadi telah
bergeser, sehingga lembah itu kembali menjadi terang
benderang. Siau In melihat perempuan bongkok itu
melesat cepat melintasi lembah itu, kemudian
mendekati lereng bukit sebelah barat.
Walaupun larinya jauh ketinggalan dari lawannya,
tapi dengan pertolongan sinar rembulan Siau In masih
dapat mengikuti terus ke mana perempuan itu menuju.
Apalagi lembah tersebut merupakan tanah yang
lapang dan tidak banyak ditumbuhi pepohonan tinggi.
532
Namun demikian Siau In sempat menjadi bimbang
juga tatkala sampai di kaki bukit itu. Perempuan
bongkok tadi sudah tidak kelihatan bayangannya lagi
dari bawah. Dan Siau In khawatir perempuan itu telah
menunggunya di atas bukit.
"Ah, persetan! Aku akan melawannya kalau dia
memang berada di sana." akhirnya gadis itu
mengambil keputusan.
Kemudian dengan sangat berhati-hati Siau In
mendaki bukit itu. Segala kemampuan yang ia miliki
ia persiapkan, kalau-kalau secara mendadak mendapat
serangan dari perempuan itu. Tapi sampai di puncak
bukit itu ternyata tidak terjadi apa-apa. Perempuan
bongkok itu tidak menghadangnya, bahkan
bayangannya pun sudah tidak kelihatan lagi.
Sebaliknya justru ada hal lain yang lebih
mengejutkan Siau In!
Tanah lereng di balik bukit itu ternyata merupakan
sebuah kuburan kuno yang luas sekali. Batu-batu
nisannya, bangunan bangunannya, benar-benar
menunjukkan betapa sudah ratusan tahun umurnya.
Banyak yang sudah roboh atau rusak, meskipun
dahulunya bangunan itu kelihatan sangat kokoh dan
kuat. Malahan ada beberapa di antara bangunan itu
yang kini telah ditumbuhi oleh pohon yang tinggi.
"Melihat luas dan keadaan bangunannya,
tampaknya kuburan ini adalah bekas kuburan orangorang
kaya dan orang-orang berpangkat di zaman
533
dulu. Mungkin dahulu ada sebuah kerajaan di sekitar
tempat ini."
Bulan sudah jauh bergeser turun ke arah barat, dan
lapat-lapat juga sudah terdengar suara lonceng ditabuh
tiga kali dari arah perkampungan penduduk. Hari
telah menunjukkan pukul tiga pagi. Suara binatang
malam juga sudah mulai berkurang, sementara embun
pagi sebaliknya malah menjadi semakin tebal turun ke
bumi.
Kabut dingin tampak mulai mengepul menyelimuti
tanah kuburan itu, namun demikian semua itu tidak
menghalangi niat Siau In untuk mencari perempuan
bongkok tadi. Selangkah demi selangkah gadis itu
turun memasuki tanah kuburan tersebut. Langkahnya
tetap berhati-hati, bahkan sebentar-sebentar selalu
berhenti untuk mengamati keadaan lebih dahulu.
Ternyata apa yang dilakukan oleh Siau In tersebut
membuahkan hasil pula. Ketika untuk yang kesekian
kalinya dia berhenti mengamati keadaan, tiba-tiba
matanya menangkap sebuah gerakan di tengah-tengah
kuburan itu. Sebuah bayangan tampak melintas di
antara dua bangunan yang masih berdiri megah.
Bayangan itu kemudian masuk ke salah satu dari
bangunan megah tersebut.
"Itulah dia perempuan bongkok tadi. Tak salah lagi.
Tapi... apakah dia tinggal di tempat itu? Aaaaaaah!"
Sekejap merinding juga bulu roma Siau In, dan
otomatis bermacam-macam bayangan menakutkan
melintas di dalam pikirannya.
534
"Sebenarnya... sebenarnya dia itu manusia atau
hantu? Kalau manusia biasa ... kenapa berada di
tempat yang menyeramkan begini? Tapi kalau hantu,
mengapa bisa menggendong orang dan berlari seperti
manusia biasa? Ah, kepalang tanggung... sudah
sampai di sini, masakan aku harus kembali lagi? Biar
kulihat saja sekalian, hantu atau bukan!"
Dengan bekal nekad Siau In beringsut sedikit demi
sedikit mendekati bangunan tua itu. Semakin dekat
perasaan Siau In juga semakin tegang, sehingga
jantungnya hampir copot ketika dua ekor tikus tibatiba
berlari melintas di depannya.
Bangunan itu sudah retak-retak dindingnya, bahkan
gentingnyapun juga sudah banyak yang pecah dan
berlubang-lubang pula sehingga sorot sinar bulan
dengan leluasa menerobos masuk menyinari lantainya
yang kotor dan berdebu. Rumput dan alang-alang juga
tampak merajalela di antara rekahan-rekahan dinding
dan lantainya yang berlumut.
"Benar-benar sebuah bangunan yang
menyeramkan...." Siau In berdesah dengan bulu
meremang.
Dalam jarak lima tombak Siau In berhenti dan tidak
berani maju lagi, khawatir bila secara mendadak
perempuan bongkok itu keluar memergokinya.
Kebetulan pula tempat di mana ia berhenti terdapat
sebuah pohon tua yang besar dan rimbun daunnya,
dan salah satu ca bangnya menjulur panjang
mendekati bangunan itu.
535
"Sebaiknya aku naik ke atas pohon ini dan
mengawasi bagian dalam bangunan itu dari atas
genting."
Tanpa menimbulkan suara Siau In merayap
mendekati pohoh tua itu, lalu memanjatnya perlahanlahan.
Gadis itu tidak' berani melompat langsung ke
dahan dengan ilmu meringankan tubuhnya, karena
takut gerakannya justru bisa ditangkap oleh orang
lain. Tapi dengan merayap seperti cecak sambil
berlindung di antara sulur-sulur pohon tua yang
memiliki batang sebesar perut gajah itu, tubuh Siau In
justru terlindung serta tidak menarik perhatian.
Sambil terus mengamati keadaan di sekelilingnya
Siau In memanjat setapak demi setapak ke atas.
Beberapa kali gadis itu terpaksa berhenti karena
beberapa ekor kelelawar beterbangan di sekelilingnya.
Tampaknya kelelawar-kelelawar itu merasa heran atas
kehadiran seorang manusia di daerahnya.
Teeeeng! Teeeeng! Teeeeng! Teeeeng!
Terdengar lagi sayup-sayup suara lonceng
dikejauhan memberikan tanda bahwa hari telah
menunjukkan pukul empat pagi. Sambil
menengadahkan kepalanya Siau In buru-buru
mengulurkan tangan guna meraih cabang pohon di
atasnya.
"Aku harus cepat-cepat berlindung di balik
dedaunan, siapa tahu... oooooh!"
Dengan memekik kecil dan wajah pucat pasi Siau
In cepat-cepat melepaskan pegangannya! Matanya
536
nanar ketakutan, menatap seorang wanita muda bak
bidadari yang duduk tersenyum bergantung kaki,
persis di atas kepalanya! Benda yang dikira cabang
pohbn tadi ternyata sebuah kaki manusia, yang tak
lain adalah kaki perempuan cantik yang kini duduk di
atas cabang pohon itu!
"K-k-kkau... siapa?" dengan suara gugup serta
hampir tak terdengar Siau In bertanya.
"Sssssst! Kau duduklah dahulu di dekatku ini!"
perempuan cantik bak bidadari itu berbisik merdu
seraya menaruh jarinya yang lentik di depan bibirnya.
Untuk beberapa saat Siau In berdiam diri,
sementara matanya tak lekang dari wajah yang amat
cantik itu. Akhirnya hilang juga rasa kaget, takut dan
bimbang di dalam hati Siau In. Gadis itu segera
menyadari bahwa ia benar-benar sedang berhadapan
dengan seorang manusia biasa, bukan dengan hantu
atau bidadari.
"Ba-baiklah...!"
Siau In lalu melompat ke cabang yang melintang di
depan perempuan cantik itu. Mereka duduk
berhadapan dalam jarak yang dekat, tidak lebih dari
satu tombak, sehingga Siau In dapat dengan jelas
memandang wajah lawannya.
Wanita itu memang benar-benar luar biasa
cantiknya. Wajahnya bulat telur dengan bentuk mata,
hidung dan bibir yang amat sempurna. Tubuhnya
tinggi semampai dengan kulit yang putih cemerlang
seolah-olah bercahaya di dalam gelap. Rambutnya
537
yang hitam panjang itu disanggul seperti puteri istana,
sementara tubuhnya yang lentur seperti pohon yangliu
itu terbungkus mantel hitam yang panjang sampai
di mata kakinya. Siau In menduga perempuan itu
berusia di atas dua puluh atau dua puluh satu tahun.
"Adik manis, kulihat sejak tadi kau berlari-lari,
kemudian mengendap-endap seperti ada sesuatu yang
kau kejar dan kau cari. Eeeem, bolehkah aku tahu
siapa yang kau cari?" perempuan cantik itu memecah
kebisuan dengan suara yang lirih namun sangat jelas
diterima oleh telinga Siau In.
Siau In tidak segera menjawab, ia masih tetap
bercuriga terhadap perempuan cantik yang baru . saja
ditemuinya itu. Bahkan ada terlintas di dalam pikiran
Siau In, jangan-jangan perempuan bongkok tadi
adalah samaran dari perempuan cantik bak bidadari
ini.
Tampaknya perempuan cantik itu merasa pula
kalau Siau In mencurigainya. Namun demikian ia tak
menjadi marah atau berkecil hati karenanya, bahkan ia
seperti bisa memakluminya. Pertemuan mereka itu
memang sangat mengejutkan, aneh dan terasa kurang
wajar!
"Maaf. Adik manis. Aku bukan orang jahat, kau
tidak perlu khawatir. Namaku ... Giok Hong, Souw
Giok Hong!" dengan suara sabar dan lembut
perempuan cantik itu mencoba meyakinkan Siau In.
Siau In menghela napas panjang. Ucapan yang
halus bernada jujur yang keluar dari bibir perempuan
538
itu mulai menyentuh hatinya. Kecurigaannya
menurun, walaupun ia masih tetap teringat akan pesan
suhunya, agar ia selalu berhati-hati terhadap orang
asing.
"Aku... aku, ah, aku bernama Siau In. Tio Siau
In...." akhirnya meluncur juga jawaban dari mulut
Siau In.
"Mmmm...." bibir perempuan cantik bernama Souw
Giok Hong itu tersenyum lega. "Lalu... apa yang
sedang kaucari di tempat seperti ini, In-moi?"
Siau In menatap Souw Giok Hong sekejap.
Perempuan cantik yang baru saja dikenalnya itu
memanggilnya adik, seakan akan mereka telah
menjadi sahabat akrab, sehingga Siau In semakin
merasa tidak enak untuk bercuriga terus menerus.
"Aku, aku... sebenarnya tidak mencari siapa-siapa.
Aku... aku tersesat. Cuma, ketika aku memasuki
makam kuno ini, aku seperti melihat berkelebatnya
sebuah bayangan di bangunan itu sehingga aku ingin
melihatnya. Emmmm, apakah Cici juga melihatnya?"
Souw Giok Hong memandang bangunan yang
ditunjuk oleh Siau In. Dahinya berkerut, lalu
mengangguk perlahan. Meskipun demikian ia tak
segera menjawab. Lebih dulu dia mengawasi Siau ln.
"Ya, aku memang melihatnya. Bahkan aku sudah
bersiap untuk mengejar bayangan itu, tapi... niat itu
segera kuurungkan karena aku melihat kedatanganmu.
Eh, In-moi... apakah kau penduduk Lim-kang-cung
itu?"
539
Siau In menggeleng. "Cici maksudkan ... dusun di
pinggir sungai itu?" ujarnya menegaskan. Sikap Siau
In sudah mulai longgar.
Souw Giok Hong mengangguk, kemudian
berpaling mengawasi langit yang mulai semburat
kemerah-merahan. Fajar mulai menyingsing dan
sebentar lagi matahari akan muncul dari peraduannya.
"Pagi telah tiba. In-moi, aku pergi dulu. Lain kali
kita berjumpa lagi..." tiba-tiba Souw Giok Hong
berdesah, lalu tubuhnya yang terbungkus mantel
hitam itu melayang ke bawah dan sekejap saja telah
hilang di balik semak-semak belukar.
"Cici, tunggu...!" Siau ln berseru kaget.
Tapi perempuan cantik bak bidadari itu benar-benar
telah pergi. Bayangannya seperti terhisap oleh kabut
pagi yang mengepul menyelumuti kuburan kuno itu.
Siau In tertegun di tempatnya. Wajahnya sedikit
pucat, dan diam-diam bulu romanya meremang.
Perempuan cantik yang mengaku bernama Souw Giok
Hong itu datang dan pergi bagaikan hantu malam.
Sama sekali tak terlihat atau terdengar gerakan
tubuhnya. Tahu-tahu seperti muncul atau menghilang
begitu saja, dan yang kini tertinggal hanyalah baunya
yang harum semerbak tertiup angin.
Siau In bergegas turun dari pohon itu. Sebentar ia
menoleh ke arah bangunan kuno di mana bayangan
perempuan bongkok tadi malam menghilang.
Dadanya berdebar-debar kembali, timbul
540
keinginannya untuk melihat tempat tersebut,
mumpung hari telah terang tanah.
Setelah menarik napas panjang beberapa kali untuk
menguatkan hatinya Siau In melangkahkan kakinya
ke bangunan kuno itu. Setiap langkah rasanya seperti
menginjak lumpur liat yang kental, sehingga
langkahnya terasa berat dan agak tertahan-tahan.
Apalagi ketika sepatunya telah menginjak lantai
pendapa yang berlumut tebal itu, Siau In seperti
hendak mengurungkan niatnya saja.
Bangunan itu memang benar-benar menyeramkan.
Lantai dan temboknya yang telah pecah-pecah atau
retak-retak itu banyak ditumbuhi alang-alang, rumput
atau tetumbuhan perdu lainnya. Sementara genting
dan susunan kayu penyangga atapnya juga sudah
banyak yang kropos dan runtuh ke bawah, sehingga
atap gedung itu tampak bolong di sana-sini. Ruang
dalamnya yang terlihat dari luar karena pintunya telah
hilang itu kelihatan pengab, kotor dan menyeramkan
pula. Rasanya sudah bertahun-tahun, bahkan mungkin
sudah berpuluh tahun ruangan dalam itu tak diinjak
manusia. Keadaannya benar-benar porak-poranda.
Tiba-tiba Tio Siau In terpekik kecil karena dua ekor
ular mendadak melintas di dekat kakinya. Kedua ekor
binatang menjijikkan itu saling berlumba untuk
menangkap anak tikus yang lari ketakutan. Anak tikus
itu melesat ke ruang dalam, diikuti oleh dua ekor ular
pengejarnya. Mereka segera hilang di balik
541
bongkahan-bongkahan batu bekas patung yang
berserakan di dalam ruangan itu.
Tio Siau In menghela napas sambil mengusap
dadanya yang berdebar-debar. "Sialan! Mengagetkan
orang saja!" sungutnya perlahan.
Akibatnya Tio Siau In mengurungkan niatnya
memasuki pintu yang terbuka itu. Dia tak mau
bertemu dengan ular-ular yang menjijikkan tadi.
Langkahnya berbelok ke kanan, keluar dari pintu
samping, lalu berjalan mengitari bangunan itu ke arah
belakang. Tio Siau In ingin masuk ke dalam gedung
itu dari pintu belakang.
Sementara itu matahari benar-benar telah muncul di
ufuk timur. Sinarnya yang terang keemasan itu segera
mengusir sisa-sisa kegelapan yang masih bercokol di
kuburan kuno itu. Tio Ciu In menjadi lega. Semangat
keberaniannya seperti pulih kembali.
Bagian depan dan belakang ternyata sama saja.
Sama-sama rusaknya. Bahkan ruangan-ruangan yang
ada di belakang hampir dipenuhi dengan tumbuhtumbuhan
berduri yang menjalar ke mana-mana. Tio
Siau In enggan masuk, takut ada ularnya lagi. Dia
hanya menjulurkan kepalanya saja melalui lubang
jendela.
"Iiiih...! Tak ada tempat sedikitpun yang bersih dan
lapang untuk lewat. Bagaimana mungkin perempuan
bongkok itu dapat masuk ke sini?" gadis itu berdesah.
Tio Siau In lalu mengelilingi bangunan itu.
Dicarinya tempat yang kira-kira memungkinkan untuk
542
masuk. Namun usahanya sia-sia, semua tempat juga
penuh dengan onak dan duri. Malahan dinding gedung
yang sebelah kanan hampir runtuh karena terbelah
oleh pohon yang tumbuh melekat di dindingnya.
Begitu besarnya pohon tersebut sehingga salah sebuah
dahannya yang rimbun itu telah mengangkat sebagian
dari atap gedung itu.
"Ah, sudahlah! Lebih baik aku kembali ke pantai
saja, atau... wah, perutku lapar!" mendadak gadis itu
berseru perlahan ketika tiba-tiba dari balik alangalang
di depannya muncul tiga ekor kelinci yang
gemuk-gemuk.
Tanpa membuang waktu lagi Tio Siau In mengejar
kelinci-kelinci itu. Tapi tampaknya binatang berbulu
tebal itu sudah bercuriga sejak semula, sebab begitu
Tio Siau In bergerak maka mereka pun segera
menghilang ke dalam semak-semak. Akan tetapi Tio
Siau In juga tidak ingin kehilangan calon sarapan
paginya. Semak itu segera diaduknya, sehingga
kelinci itu terpaksa lari ketakutan.
Huup! Salah seekor di antaranya cepat disambar
oleh Tio Siau In. Kena.
Namun dua ekor lainnya keburu menghindar dan
menyusup ke semak-semak yang lain.
Tio Siau In tidak berusaha mengejar mereka lagi.
Seekor sudah cukup baginya. Demikianlah, tanpa
membuang-buang waktu lagi ia menguliti buruannya.
Sama sekali dia tak peduli bahwa dirinya masih
berada di kuburan. Panas matahari yang semakin terik
543
itu membuatnya tidak takut akan segala macam hantu,
termasuk pula hantu perempuan bongkok itu. Yang
penting baginya adalah mengisi perutnya yang lapar.
Sebentar saja bau sedap daging kelinci bakar
memenuhi tempat itu. Dan Tio Siau In dengan
gayanya yang bebas dan sedikit urakan menyantap
daging yang telah matang. Sambil berdiri
menopangkan sebelah kakinya di atas batu nisan
(bong-pai), gadis itu berkacak pinggang seraya
mengunyah makanannya. Sama sekali ia tak berusaha
menutupi decak mulutnya yang penuh daging itu.
Tanpa kehadiran sang kakak di sampingnya, Tio
Siau In memang merasa bebas dan merdeka. Segala
tingkah lakunya tiada yang mencela atau
memarahinya. Wataknya memang bebas terbuka dan
tidak pedulian. Bahkan cenderung untuk bersikap
seenaknya sendiri.
Sepotong demi sepotong daging kelinci itu amblas
ke dalam perutnya. Namun demikian ketika daging itu
telah habis, perutnya masih terasa kurang.
"Memalukan benar! Masakan sudah menghabiskan
seekor kelinci perut ini masih belum kenyang juga?
Wah, kalau cici ada... tentu sudah marah-marah
kepadaku." gumamnya sambil mengendorkan tali
celananya.
Karena masih merasa lapar Tio Siau In mulai
mengincar dua ekor kelinci tadi. Pelan-pelan kakinya
melangkah mendekati semak-semak di mana kedua
kelinci tadi bersembunyi. Dan gerumbul perdu yang
544
menutupi gundukan tanah sebuah makam itu
disingkapnya hati-hati. Lalu dengan merangkak ia
menyusup di bawah dedaunan yang rimbun itu untuk
mencari
buruannya.
Diam-diam Tio
Siau In tersenyum
geli sendiri.
Semak itu
ternyata hanya
rimbun di bagian
atas saja, karena
di bagian bawah
amat longgar,
mengingatkan dia
pada ayam-ayam
piaraannya yang
suka bersembunyi
dan bertelur di
semak-semak
seperti itu.
"Tampaknya aku juga seperti ayam-ayamku itu.
Sehabis makan kenyang, lalu mencari tempat
tersembunyi untuk... bertelur! Hehehe, rasanya aku
juga ingin ... buang air besar! Heeei? Apa itu?"
Mata Tio Siau In terbelalak. Di depannya tampak
sebuah lubang persegi setinggi satu meter, menembus
ke dalam tanah. Di dalam bayang-bayang rimbunnya
545
daun, lubang itu menganga bagaikan mulut raksasa
yang hendak mencaplok dirinya.
Tio Siau In segera bisa menduga bahwa lubang itu
merupakan pintu masuk ke dalam kuburan di
bawahnya. Zaman dahulu, terutama orang-orang kaya,
memang sering membuatkan kamar-kamar atau
ruangan-ruangan yang lengkap dengan segala
perabotnya di dalam makam sanak familinya.
Ruangan-ruangan itu bisa dibuatkan di dalam tanah,
di bawah gundukan makamnya, atau bisa juga
dibangun di atas kuburan itu, berwujud seperti pondok
atau rumah biasa.
Perlahan-lahan Tio Siau In mundur kembali. Entah
mengapa bulu romanya terasa meremang
membayangkan apa yang ada di dalam lubang
kuburan itu. Namun baru saja dia beringsut beberapa
langkah, tiba-tiba telinganya mendengar suara
langkah banyak orang mendatangi tempat itu.
Terpaksa dia merangkak ke tempat semula, bahkan
lebih dekat lagi dengan pintu makam yang menganga
itu. Hati-hati ia mengintip dari balik rimbunnya daun.
"Nah... inilah dia, Tuan! Dia benar-benar
bersembunyi di sini! Baru saja dia membakar daging
di tempat ini! Dia tentu melihat kedatangan kita...!"
Tio Siau In beringsut semakin dalam, dan tanpa ia
sadari ia telah bersandar di bibir pintu makam itu.
Dari tempatnya itu ia masih bisa melihat orang-orang
yang baru saja datang. Mereka terdiri dari tujuh orang
546
lelaki, di mana empat orang di antaranya ternyata
telah pernah dilihat olehnya.
"Ah, mereka orang-orang kampung yang
mengadakan upacara di atas tebing itu. Hanya tiga
orang aneh berpakaian putih-putih itu saja yang belum
pernah kulihat. Siapakah mereka?" Tio Siau In
berkata di dalam hatinya.
Tiga lelaki yang dimaksudkan oleh Tio Siau In itu
memang berpenampilan aneh dan agak menyeramkan.
Selain pakaian berwarna putih yang mereka kenakan
itu dibuat dari kain kasar yang biasa digunakan untuk
membungkus mayat, rambut mereka yang panjang itu
juga mereka biarkan terurai lepas pula. Usia mereka
rata-rata belum mencapai empat puluh tahun, namun
karena wajah mereka sangat pucat dan kurus seperti
orang yang sedang menderita penyakit berat, maka
mereka kelihatan lebih tua.
Tapi yang paling membuat seram di hati Tio Siau
In adalah pancaran sinar mata mereka. Mata yang
cekung dan menjorok ke dalam itu bersinar dingin
menyeramkan, seperti mata hantu di kegelapan
malam.
"Kalian cepatlah menyingkir! Aku masih membaui
kehadirannya di tempat ini ... tiba-tiba salah seorang
dari lelaki menyeramkan itu menggeram dengan
suaranya yang serak.
"Tapi... tapi kuharap Tuan berhati-hati
menghadapinya. Hantu Bongkok itu masih membawa
teman kami...."
547
Lelaki menyeramkan itu mendengus dingin, lalu
berpaling ke arah teman-temannya. "Sute, bersiaplah!
Tampaknya kali ini kita benar-benar beruntung bisa
menemukan persembunyian budak perempuan dan
pengasuhnya itu!" katanya serak penuh harap.
"Baik, Suheng! Kita harus bisa menangkap dia dan
mengambil kembali pusaka yang dicurinya!"
Sementara itu Tio Siau In menjadi bingung di
tempat persembunyiannya. Dia tak tahu apa yang
harus ia lakukan. Dia tak mengenal mereka dan tak
tahu siapa mereka pula. Tapi kalau mereka bertiga
benar-benar mengobrak-abrik tempat itu untuk
menemukan perempuan bongkok, otomatis mereka
akan menemukan dirinya juga.
"Daripada mereka menemukan aku bersembunyi di
sini, lebih baik aku mendahului keluar menemui
mereka." katanya di dalam hati.
Tio Siau In lalu mengerahkan tenaga saktinya untuk
bersiap-siap menghadapi segala kemungkinan.
Kemudian diperiksanya kedua pedang pendek yang
terikat di dalam lengan bajunya. Akan tetapi ketika
dia hendak bangkit dari tempatnya, tiba-tiba sebuah
totokan membuatnya lemas tak berdaya.
Tio Siau In ingin berteriak, tapi mulutnya tak kuasa
mengeluarkan suara. Ia hanya mampu terbelalak
mengawasi seorang wanita tua yang menyeretnya ke
dalam lubang makam itu. Entah mengapa, mendadak
saja hatinya menjadi ketakutan setengah mati. Ia
548
seperti sedang dijemput oleh Giam-lo-ong untuk
dibawa ke Akherat.
Semuanya gelap gulita dan Tio Siau In merasakan
seperti diseret melalui lorong-lorong yang berlikuliku.
Kadang-kadang seperti melalui sebuah pintu dan
memasuki sebuah ruangan, tapi kadang-kadang juga
seperti menaiki atau menuruni sebuah tangga pula.
Lama sekali rasanya Tio Siau In diperlakukan
seperti itu. Dibawa setengah diseret, berputar-putar
naik turun tangga, tanpa sedikit pun wanita tua itu
berbicara kepadanya. Wanita itu berjalan dengan
langkah cepat seolah-olah dia bisa melihat di tempat
gelap. Akh! Tio Siau In baru menyadari keanehan itu!
Dia yang masih muda saja sama sekali tak bisa
mempergunakan matanya untuk menembus kegelapan
itu, tapi mengapa wanita tua itu malah bisa berjalan
dengan lancar seperti di tempat terang saja?
Keringat dingin membanjir membasahi tubuh Siau
In. Bagaimana kalau wanita tua itu mendadak
meninggalkannya di tempat itu? Bagaimana ia bisa
keluar nanti? Dan bagaimana kalau ia ditinggalkan di
antara mayat-mayat atau tulang-belulang yang tentu
banyak terdapat di dalam makam itu?
Brug! Tiba-tiba Tio Siau In merasa tubuhnya
diletakkan dengan kasar di atas lantai yang dingin.
Lalu terdengar suara langkah wanita itu
meninggalkannya.
Tio Siau In mau berteriak sekeras-kerasnya, tapi
suaranya tetap tak bisa keluar! Otot gagunya masih
549
terkunci oleh totokan wanita itu. Lalu dicobanya
untuk membebaskan totokan yang membelenggu kaki
dan tangannya. Tak berhasil juga. Rasa takut mulai
merayapi hatinya. Apalagi ketika hidungnya
menangkap bau busuk di sekitarnya. Bayangan mayat
yang menakutkan itu seolah-olah telah menjadi
kenyataan.
Hampir saja Tio Siau In menangis ketika mendadak
ada seberkas cahaya memasuki tempat itu. Dan
semakin lama cahaya itu semakin banyak sehingga
tempat tersebut menjadi semakin terang pula. Namun
berbareng dengan itu terdengar juga suara langkah
kaki mendatangi. Wanita tua itu ternyata telah datang
kembali ke tempat itu sambil membawa obor besar di
tangannya.
"Oooouuh!" Tio Siau In menjerit kecil ketika
wanita itu membebaskan totokannya.
"Berdirilah!" wanita tua itu memerintah dengan
suaranya yang berat mengerikan.
"Kkkau... siapa?" Tio Siau In berdesah ketakutan.
Wajah yang menyerupai mayat hidup itu
menyeringai. "Diam... kau!" hardiknya.
Wanita itu lalu meletakkan obornya di pojok
ruangan. Sekali lagi matanya yang cekung itu berkilat
ke arah Tio Siau In.
"Kau tunggu sebentar di sini dan jangan pergi ke
mana-mana!"
550
Selesai berbicara wanita itu tiba-tiba menghilang.
Tubuhnya yang bongkok itu seperti tertelan oleh
kepulan asap obor.
Tio Siau In menggigil ketakutan. Meskipun
demikian kakinya bergegas melangkah mengitari
ruangan itu untuk mencari pintu keluar. Tapi
usahanya sia-sia. Ruangan itu sama sekali tak
berpintu. Keempat dindingnya tertutup rapat. Bahkan
Tio Siau In juga tidak melihat sebuah lubang
anginpun di sana.
"Lalu... dari mana wanita itu bisa keluar masuk
ruangan ini?" Tio Siau In ber desah ngeri.
Obor yang berada di pojok ruangan itu diambilnya,
kemudian dicobanya kembali mencari jalan keluar. Di
pojok yang lain ia melihat lima buah peti mati yang
telah terbuka tutupnya. Dilihatnya mayat yang ada di
dalamnya tinggal tulang-tulangnya saja.
"Ooooh... bagaimana aku bisa keluar dari tempat
ini? Apakah aku harus mati sia-sia di dalam lubang
kuburan yang gelap dan mengerikan ini?"
Gadis itu lalu menjatuhkan dirinya di atas lantai.
Seluruh tubuhnya merasa lemah lunglai. Serasa hilang
semua harapan dan kini tinggal menanti maut yang
akan menjemputnya. Tak terasa air matanya mengalir.
Timbul rasa sesal di hatinya. Ternyata dia terlalu
menuruti kemauannya sendiri. Coba kalau kemarin
dia tidak ngambeg dan pergi meninggalkan kakaknya,
dia tentu tidak akan mengalami kejadian seperti ini.
"Cici...!?" ratapnya sedih.
551
-- o0d-w0o --
TERNYATA di kota Hang-ciu, Tio Ciu In sendiri
juga tidak kalah sedihnya. Sejak Siau In pergi, gadis
ayu itu sama sekali tidak bisa memicingkan matanya.
Bagaimanapun juga dia merasa bersalah atas
kepergian adiknya. Dan dia harus mempertanggungjawabkan
hal itu di depan gurunya.
Demikianlah, ketika akhirnya korban kebiadaban
orang-orang Hun itu dibawa ke kota, maka suasana di
kota pun lalu berubah menjadi gempar. Korban yang
berjumlah lebih dari empat puluh jiwa itu
disemayamkan berjajar di pendapa Kabupaten.
Semua orang menjadi sibuk. Bupati, sebagai
penguasa tertinggi di kota itu segera mengumpulkan
pembantunya. Mereka segera berembug dengan para
petugas keamanan daerah, serta para utusan dari kota
raja yang kebetulan belum meninggalkan kota itu!
Mereka benar-benar menjadi penasaran atas kejadian
itu.
Memang semua orang sangat penasaran. Mereka
ingin tahu, apa sebenarnya yang telah terjadi di pantai
malam itu?
Dan mereka juga ingin tahu pula, siapakah
orangnya yang begitu berani membantai para perwira
dan prajurit itu?
Ternyata Liu Wan juga merasa penasaran pula.
Pemuda itu akhirnya juga membatalkan niatnya untuk
meninggalkan kota itu. Pemuda yang setiap harinya
552
selalu menyamar sebagai Tabib Ciok itu juga ingin
memastikan, apakah pembantaian itu juga dilakukan
oleh Mo Goat seperti yang dikatakan Jeng-bin Lo-kai?
"Penjahat biasa memang tidak mungkin berani
membasmi kelompok prajurit dan perwira kerajaan!
Dendam pribadi juga tidak mungkin sampai
membantai pemenang sayembara sebanyak itu! Satusatunya
kemungkinan memang hanya... gerombolan
Mo Tan! Jadi kelihatannya memang benar dugaanku
selama ini! Sogudai, yang selalu berkeliaran di daerah
Tiong-goan itu, memang merupakan sebagian dan
orang-orang Hun yang disebar oleh Mo Tan! Dan
kemungkinan besar Mo Goat adalah atasan Sogudai,
atau sebaliknya! Yah, benar... memang tak pelak
lagi!" pemuda itu mencoba merangkai semua
penyelidikannya selama ini.
Keesokan harinya seorang pelayan mengetuk pintu
kamar Liu Wan. Pelayan itu melapor bahwa ada dua
orang tamu mencari Liu Wan. Ketika Liu Wan keluar,
ternyata tamu itu adalah Ku Jing San dan Song Li Cu,
saudara seperguruan Kwe Sun Tek.
"Oh, Saudara Ku dan Nona Song! Marilah, silakan
duduk!"
Tapi Ku Jing San cepat menggoyangkan tangan
kanannya, sementara tangan kirinya tetap memegang
tongkat penyangga tubuhnya.
"Tak usah, Saudara Liu. Kami hanya singgah
sebentar saja. Kami hanya ingin menanyakan khabar
Twa-suheng. Kemarin Twa-suheng bersama Saudara
553
Liu pergi menemani Nona Tio ke perkampungan Hekto-
pai. Tapi kami lihat Twa-suheng tidak kembali
bersama-sama Saudara Liu. Lalu... ke mana Twasuheng
kami?"
"Aduh, maaf...! Ketika kemarin kami pergi ke
markas Tiat-tung Kai-pang, kami melihat Saudara Ku
dan Nona Song sehingga kami lupa mengatakan hal
itu kepada Jeng-bin Lo-kai,"
"Lalu... di manakah Kwe Suheng sebenarnya?"
Song Li Cu menyela dengan suara kurang senang.
Tio Ciu In yang kamarnya tidak terlalu jauh dari
kamar Liu Wan, bergegas keluar mendengar ributribut
itu. Dengan senyum ramah dia menyapa muridmurid
keluarga Kwe tersebut.
"Ah, ternyata Saudara Ku dan Nona Song. Ada
apa...? Ada sesuatu yang bisa kami bantu?"
"Saudara Ku dan Nona Song ke sini untuk bertanya
tentang Saudara Kwe...." Liu Wan menyahut. Lalu
pemuda itu bercerita tentang munculnya tokoh
Pondok Pelangi yang mengajak Kwe Sun Tek ke
Pulau Meng-to.
"Pondok Pelangi?" Ku Jing San dan Song Li Cu
mengerutkan kening. Mereka belum pernah
mendengar nama itu.
"Ya, katanya tokoh itu ingin bertemu Keh-sim Taihiap."
"Ingin bertemu dengan Suhu? Ada maksud apa
mereka? Ah, Saudara Liu... Nona Tio kalau begitu
kami mohon diri saja. Kami akan pulang juga ke
554
Pulau Meng-to. Kami ingin tahu, apa sebenarnya yang
dikehendaki oleh orang dan Pondok Pelangi itu.
Ayoh, Sumoi... kita berangkat!" Ku Jing San berseru
dan menarik lengan Song Li Cu.
Liu Wan dan Song Li Cu mengantar mereka sampai
ke pintu depan.
"Nah, bagaimana kalau kita mencoba berkeliling
kota kembali? Siapa tahu Adikmu sudah datang? Dia
tidak akan bisa menemukan kita kalau kita hanya
berdiam diri di sini." Liu Wan berkata setelah tamu
mereka pergi.
Tio Ciu In cepat menganggukkan kepalanya.
"Ayoh!" sahutnya bersemangat.
"Tapi... aku akan mengenakan pakaian Tabib Ciok
dulu! Tunggulah!"
"Eh, kenapa Twako menyamar lagi? Bukankah
musuh Twako yang bernama Sogudai itu sudah pergi
meninggalkan kota ini?"
Liu Wan yersenyum sambil mengepalkan
tangannya. "Aku tetap akan memburu orang itu
sampai ketemu...!" ucapnya tegas.
Demikianlah pagi itu mereka berkeliling kota
kembali untuk mencari Siu In. Tapi dari pagi hingga
matahari berada di atas kepala, gadis bengal itu tetap
tak dapat mereka temukan. Sama sekali tidak ada
petunjuk tentang Siau In. Liu Wan yang diam-diam
juga mencari berita tentang Sogudai dan rombongan
Mo Goat, juga tidak memperoleh khabar apa-apa.
Sebaliknya, secara tak terduga Ciu In justru
555
menemukan isyarat atau tanda yang diberikan oleh
gurunya.
"Twako... eh, Tabib Ciok! Guruku sudah tiba di
kota ini. Lihatlah pit berwarna merah di atas
bubungan rumah itu! Suhu pernah berpesan, bahwa
dia akan meletakkan sebuah pit merah di atas
bangunan yang paling tinggi di kota ini kalau datang."
Tiba-tiba perasaan Liu Wan menjadi berdebardebar.
"Kalau begitu, di mana dia sekarang?"
"Entahlah! Tentunya pit itu ditaruh di sana sejak
tadi malam. Tidak mungkin Suhu menaruhnya pagi
ini. Tempat ini sangat ramai. Sekarang Suhu tentu
sudah berada di salah satu penginapan di kota ini.
Twako, marilah kita mencarinya...."
Mereka lalu berkeliling kota kembali. Selain
mencari Siau In, mereka juga mencari Giam Pit Seng.
Tapi nasib mujur memang belum berada di tangan
mereka. Sampai matahari mulai bergulir dari
puncaknya, mereka belum bisa menemukan orang
yang mereka cari.
Tapi sekali ini jerih payah Liu Wan benar-benar
mendapat imbalan. Sekilas pemuda itu melihat
bayangan Mo Goat dan kawan-kawannya di depan
kabupaten. Tapi karena tidak ingin meresahkan hati
Ciu In, pemuda itu tidak mengatakan apa-apa.
Di pinggiran kota mereka beristirahat dan berteduh
di bawah pohon. Dengan perasaan kesal dan kecewa
Ciu In menyeka keringatnya.
"Twako... ke mana kita harus mencari lagi?"
556
Liu Wan menatap wajah Ciu In. Gadis itu benarbenar
kelihatan kesal dan kecewa sekali.
"Wah, kau panggil aku... Twako lagi! Bagaimana
kau ini? Bukankah kini aku sedang menyamar sebagai
Tabib Ciok? Celaka! Bagaimana kalau di depan
Gurumu nanti kau tetap memanggil aku Twako? Bisa
berantakan penyamaranku!" Pemuda itu mencoba
mengalihkan perhatian.
Tio Ciu In pura-pura cemberut dengan mencibirkan
bibirnya yang tipis. "Baiklah... baiklah! Aku berjanji
takkan menyebutmu Twako lagi, dah!"
Liu Wan tersenyum, meskipun senyum nya nyaris
tertutup oleh kumis dan jenggot panjang Tabib Ciok.
"Bagus! Begitu baru cocok! Nah, begini... mungkin
Gurumu tidak tidur di penginapan. Mungkin dia
bermalam di rumah kawan atau keluarganya. Kau
tahu, siapa sahabat atau keluarganya di kota ini?"
Tio Ciu In mengangkat wajahnya. Dahinya
berkerut. Dicobanya mengingat, kalau-kalau gurunya
pernah bercerita tentang sahabat atau familinya di
daerah itu.
"Tapi Guru... Guruku tak pernah bercerita tentang
keluarga atau sahabatnya yang tinggal di kota ini.
Entahlah...." akhirnya gadis itu menjawab ragu.
"Baiklah. Kalau begitu kita pergi saja ke markas
Tiat-tung Kai-pang sekarang. Siapa tahu mereka
memperoleh berita tentang Adikmu atau... Gurumu?
Biasanya kaum persilatan lebih cepat memperoleh
khabar daripada orang awam."
557
"Kau benar! Mengapa tidak terpikirkan oleh kita
sejak tadi?" Tio Ciu In bersorak gembira.
Liu Wan tersenyum kembali. "Yah, pikiran itu juga
baru saja timbul dalam pikiranku. Tapi sebaiknya...
kita mencari rumah makan dulu untuk mengisi perut.
Jadi ada alasan buat kita nanti untuk menolak jamuan
makan para pengemis itu. Bagaimana? Atau... kau
memang berminat untuk mencicipi masakan mereka?"
Terbayang di dalam pikiran Tio Ciu In sebuah
bumbung bambu milik Jeng- bin Lo-kai. Bumbung itu
digunakan untuk minum secara bergantian. Dan
mereka tidak pernah mencucinya lebih dulu.
"Ih, tidak mau! Lebih baik berpuasa daripada harus
makan bersama mereka."
Demikianlah, mereka lalu mencari rumah makam
yang terdekat. Mereka memilih tempat yang baik dan
bisa leluasa melihat ke jalan raya.
"Aku akan tinggal beberapa hari lagi. Aku ingin
mengetahui lebih jelas tentang pembantaian para
perwira dan perajurit kerajaan itu." Liu Wan berkata
setelah memesan makanan kepada pelayan.
"Betul...? Wah!" Tio Ciu In hampir bersorak, tapi
segera terdiam pula. Wajahnya tiba-tiba menjadi
merah.
Namun Liu Wan pura-pura tak melihatnya. Pemuda
itu justru melayangkan pandangannya keluar pintu, ke
arah anak-anak gelandangan yang bergerombol di
pinggir jalan. Pikirannya masih dipenuhi oleh
bayangan Mo Goat dan kawan-kawannya. Gadis yang
558
ia curigai sebagai pelaku pembantaian para perajurit
itu ternyata masih berkeliaran di dalam kota.
Tiba-tiba perasaan Liu Wan menjadi kecut.
Wajahnya berubah. Sebuah dugaan buruk melintas di
benaknya. "Jangan-jangan pihak yang berwenang
memang belum mencium gerakan orang-orang Hun
ini." katanya di dalam hati.
"Twako! Kau... kau kena apa? Mengapa tiba-tiba
wajahmu menjadi pucat?" Tio Ciu In menjerit kaget.
Liu Wan tersadar kembali. "Ah, maaf. Tidak apaapa.
Aku tidak apa-apa. Aku hanya bercuriga terhadap
seseorang." katanya sambil tersenyum untuk
menghibur hati Ciu In. Matanya yang tajam itu
menatap keluar, memperhatikan sebuah kereta yang
mendadak berhenti di seberang jalan.
Seorang lelaki jangkung kurus, dengan kulit putih
pucat seperti penderita penyakit berat, keluar dari
dalam kereta. Orang itu menyeberang jalan dan
melangkah menuju ke restoran. Kusirnya yang sudah
tua mengikuti di belakangnya. Orang itu mengenakan
kain katun kasar, berwarna putih, seperti pakaian yang
dikenakan oleh orang-orang yang sedang kesusahan.
Rambutnya yang panjang dibiarkan tergerai menutupi
pundaknya.
Anak-anak gelandangan yang berkumpul di depan
restoran itu berlarian menyongsongnya. Mereka
berlumba mengacungkan tangan sambil memohon
belas kasihan.
559
"Kasihanilah kami, Tuan. Sejak kemarin sore kami
belum makan." seperti penyanyi opera mereka
meratap bersama-sama.
Lelaki berambut panjang itu berhenti dan
menengadahkan kepalanya. Angin ber tiup keras
menyibakkan rambut yang terjurai di depan
keningnya. Wajah yang tertutup jenggot dan kumis itu
tertimpa sinar matahari.
"Ah...! Hampir saja aku mengira Lo-cianpwe buta
itu yang datang." Liu Wan berdesah perlahan.
"Siapa...??" Tio Ciu In menoleh dengan kening
berkerut.
Liu Wan menunjuk keluar, ke arah tamu yang baru
saja datang.
"Oooh...?!?" Ciu In terpekik perlahan. Penampilan
orang itu memang hampir sama dengan Si Pendekar
Buta. Bahkan lebih menyeramkan.
Di depan pintu restoran orang itu merogoh saku
jubahnya, lalu memberikan beberapa keping uang
tembaga kepada anak-anak itu. Tentu saja anak-anak
itu menjadi gembira bukan main. Sambil
mengucapkan terima kasih mereka berlarian ke jalan
raya.
"Pai-cu...???" Kusir itu berseru kaget. Matanya
mengawasi bocah-bocah terlantar itu.
Liu Wan yang sedang menyamar sebagai Tabib
Ciok itu tiba-tiba bangkit dari kursinya. Hatinya
berdebar-debar. Ada sesuatu yang mengerikan pada
orang itu, tapi ia tidak bisa mengatakan sebabnya.
560
"Twako ada apa lagi? Kau membuatku takut saja!"
Ciu In berseru kesal.
Liu Wan cepat menggelengkan kepalanya. Perlahan
ia duduk lagi di atas kursinya. "Entahlah! Aku... aku
tidak tahu." gumamnya kurang jelas sehingga Ciu In
menjadi semakin kesal pula.
Sementara itu pelayan telah meletakkan makanan
dan minuman di atas meja. Dan begitu menyaksikan
makanan yang tersedia, Ciu In segera melupakan
sikap Liu Wan yang menjengkelkan. Dengan penuh
semangat dia mengajak Liu Wan menyantapnya.
"Tabib Ciok, ayolah...!"
Akhirnya Liu Wan terseret pula oleh kegembiraan
Tio Ciu In. Dibuangnya pikiran buruk yang sedang
menghantui pikirannya. Kemudian dipandangnya
wajah ayu itu seolah-olah meminta maaf. Mereka lalu
menyantap makanan itu dengan lahap. Selesai makan
mereka langsung keluar pula tanpa menghiraukan
tamu lainnya.
Ketika melewati jalan setapak di pinggiran kota
mereka dihentikan oleh seorang pengemis berwajah
bersih. Terlalu bersih untuk ukuran pengemis. Bahkan
berkesan agak genit dengan dandanan rambutnya.
Usianya sekitar tiga puluhan tahun lebih sedikit.
Pakaiannya benar-benar bersih dan rapi, meskipun di
bagian dada ditempelkan tiga lembar kain tambalan.
Dan jumlah tambalan itu merupakan pertanda dari
tingkat kedudukannya di dalam perkumpulan.
561
"Apakah Saudara anggota Tiat-tung Kai-pang?" Liu
Wan menyapa pengemis itu dengan ramah.
Orang itu tidak segera menjawab. Matanya
memandang Liu Wan dan Tio Ciu In berganti-ganti.
Dan mata itu akhirnya berhenti pada wajah Tio Ciu
In.
"Apakah Nona murid pendekar Giam Pit Seng dari
Aliran Im-yang-kau?" pengemis itu tiba-tiba bertanya
kepada Tio Ciu In.
Sambil melirik ke arah Liu Wan, Tio Ciu In
mengangguk. Dia tak tahu arah pembicaraan
pengemis itu.
"Maaf. Bolehkah aku melihat sepasang pedang
pendek Nona?" Pengemis itu tetap bercuriga.
Tio Ciu In mengerutkan dahinya. Ia merasa kurang
senang dengan sikap itu. Tapi Liu Wan cepat
menggamit lengannya. "Tidak apa. Perlihatkan saja
kepadanya!" bisiknya perlahan.
Dengan agak segan Tio Ciu In mengeluarkan
pedang pendeknya. Senjata itu dipegangnya erat-erat.
Mendadak pengemis tua itu memberi hormat.
"Maaf, Nona Tio. Aku memang mendapat perintah
untuk menjemputmu. Pendekar Giam Pit Seng kini
berada di markas kami. Beliau telah menunggu Nona
sejak tadi pagi."
"Oh, Suhu benar-benar berada di markas Tiat-tung
Kai-pang?" Tio Ciu In bersorak lega.
562
"Benar, Nona. Dan... maafkanlah kelakuanku tadi.
Aku belum mengenal Nona, karena aku tak berada di
markas ketika Nona mengunjungi kami."
"Tapi... Paman sudah mengenal Tabib Ciok ini,
bukan?" Tio Ciu In ingin tahu, apakah pengemis itu
mengenali penyamaran Liu Wan.
"Mengenal secara pribadi... memang belum. Tapi
semua anggota Tiat-tung Kai-pang tentu sudah
mendengar nama dan melihat Tabib Ciok." pengemis
itu menjawab tegas.
Liu Wan menghela napas lega. Ternyata
penyamarannya masih tetap baik.
"Terima kasih. Kalau begitu kami juga ingin tahu
nama besar Saudara. Bolehkah...?" Liu Wan menjura.
"Namaku Ho Bing! Tapi kawan-kawan biasa
memanggilku Si Tongkat Bocor! Dan aku berada
dibawah pimpinan Jeng-bin Lo-kai!" Pengemis itu
menjawab dengan cepat.
"Tongkat Bocor...?" Tio Ciu In bergumam, namun
tak berani bertanya lebih lanjut.
Mereka bertiga lalu menyusuri jalan yang berdebu.
Tapi belum ada seratus langkah, mereka mendengar
siulan dari belakang. Otomatis ketiganya berhenti dan
menoleh.
"Lo Kang...!" Liu Wan berseru ketika dilihatnya
orang yang bersiul tadi ternyata pelayannya. "Ada
apa? Mana saudaramu? Mengapa kau menyusulku?"
Pelayan setia itu menggerak-gerakkan kedua
tangannya untuk menjawab. Raut wajahnya tampak
563
tegang dan penasaran. "Apa yang dia katakan, Tabib
Ciok?"
Tio Ciu In bertanya kepada Liu Wan.
Ternyata air muka Liu Wan berubah pucat. "Dia
mengatakan bahwa saudaranya terluka! Nona Tio...
kau berangkatlah lebih dulu! Setelah melihat Lo Hai,
nanti aku akan menyusul!"
"Tapi...?" Tio Ciu In ragu-ragu.
"Jangan khawatir! Mereka tidak apa-apa! Nah, aku
berangkat dulu! Maaf, Saudara Ho Bing!" Liu Wan
bergegas pergi bersama Lo Kang.
Sejenak Tio Ciu In masih termangu di tempatnya.
Matanya tetap saja terpaku di tempat Liu Wan hilang
di balik pepohonan.
"Marilah, Nona Tio...!" suara Si Tongkat Bocor Ho
Bing menyadarkan Tio Ciu In.
Mereka lalu melangkah di atas jalan itu kembali.
Teriknya matahari sudah tidak terasa lagi, di kanan
kiri jalan mulai banyak pepohonan yang rindang.
Tio Ciu In mengikuti saja langkah Si Tongkat
Bocor sambil melamun. Pikirannya sudah
membayangkan pertemuannya dengan gurunya.
Bagaimana dia harus melapor dan
mempertanggungjawabkan kepergian Siau In?
Bagaimana kalau gurunya menjadi marah? Lalu
bagaimana pula ia harus mengatakan tentang
kepergian suhengnya?
"Lho? Paman...? Rasanya kemarin aku tidak
melewati jalan ini?" Tio Ciu In berseru kaget ketika
564
melewati jembatan kayu yang melintang di sebuah
sungai kecil.
Ho Bing menoleh. "Kita memang mengambil jalan
memutar, Nona. Jalan yang biasa kita lalui sudah
tidak aman lagi dengan kedatangan para pembunuh."
"Pembunuh...? Pembunuh yang beraksi di pantai
itu?"
Ho Bing mengangguk dan melangkahkan kakinya
kembali. Tongkatnya yang pendek itu diseretnya
melintasi jembatan. Untuk beberapa saat Ciu In masih
termangu-mangu di tempatnya, tapi memang tiada
pilihan lain kecuali mengikuti orang itu.
Ketika sampai di sebuah rawa Tio Ciu In menjadi
heran. Di tempat sepi dan terpencil itu ternyata ada
sebuah pondok kecil. Dan Ho Bing melangkah ke
sana.
"Paman, mau ke mana? Tempat siapkah ini?" Tio
Ciu In bertanya ragu. Hatinya mulai was-was.
Pengemis itu tersenyum aneh. "Kita beristirahat
dulu di sini. Ada seorang kawan yang ingin berjumpa
dengan aku. Mari... kita masuk!" katanya seraya
mendahului masuk ke dalam pondok.
Tio Ciu In makin curiga. Pengemis itu masuk tanpa
mengetuk pintu terlebih dulu, seperti masuk ke rumah
sendiri saja. Padahal rumah itu cukup bagus. Terlalu
bagus untuk seorang pengemis.
Perasaan Ciu In menjadi semakin was-was. Seperti
ada perasaan yang mengatakan bahwa tempat itu
sangat berbahaya baginya. Tapi sebelum otaknya
565
mampu berpikir lebih lanjut, tiba-tiba terdengar suara
lolongan serigala. Dan suara itu bersaut-sautan,
semakin lama semakin dekat.
"Kawanan serigala...?" Tio Ciu In terbeliak kaget.
Otomatis kakinya melangkah ke dalam pondok.
"Di rawa-rawa ini memang banyak berkeliaran
serigala pemakan bangkai. Baik bangkai hewan
maupun bangkai... manusia!" Ho Bing yang berada di
dalam ruangan itu tiba-tiba tertawa seram.
Tio Ciu In terbelalak. Tangannya mencengkeram
gagang pedang di balik bajunya. Tapi hatinya segera
bergetar hebat ketika melihat rombongan serigala itu
tiba-tiba telah berhamburan datang. Begitu banyaknya
mereka, sehingga dalam tempo singkat halaman
pondok itu telah penuh dengan serigala.
Tio Ciu In bergegas menutup pintu dan jendela,
namun beberapa ekor di antaranya sempat melompat
melalui jendela. Gadis itu menjerit dan melompat ke
atas meja. Otomatis pedang pendeknya tercabut dan
berkelebat melindungi diri. Srrrrt! Dua ekor serigala
segera meraung kesakitan karena terbelah perutnya.
Bau darah membuat serigala-serigala itu menjadi
buas. Mereka segera menerkam dan menjarah bangkai
kawanan yang masih berkelojotan itu. Mereka berebut
sambil meraung, menggeram, dan melolong! Dan
lolongan itu bagaikan tengara perang bagi serigala
yang lain. Kawanan binatang buas itu tiba-tiba
menyerbu pintu dan jendela. Mereka mencakar,
566
menggigit, dan menerjang daun pintu bagaikan telah
menjadi gila!
Daun pintu itu mulai berderak mau pecah,
sementara dari lubang jendela yang belum tertutup
baik itu telah masuk beberapa ekor serigala lagi!
Meski agak tinggi, tapi beberapa ekor serigala muda
ternyata mampu melompati jendela itu.
Tio Ciu In mengamuk. Rasa ngeri membuat gadis
itu membabat mati setiap serigala yang mendekatinya.
"Hihihihi.... bagus! Bagus!" Ho Bing yang berdiri
di pojok ruangan
tertawa sambil
bertepuk tangan.
"Paman! Bantu
aku...!" Tio Ciu In
berteriak.
"Bantu? Eh-oh?
Baik... baik! Aku
datang!"
Ho Bing
memutar
tongkatnya kuatkuat,
lalu
menerjang ke
depan. Desing
suaranya
mengaung bersamaan dengan derak pecahnya pintu
rumah. Puluhan ekor serigala berhamburan ke dalam,
bagaikan kawanan semut memasuki liangnya!
567
Tio Ciu In menjerit dan berteriak sambil
menghentakkan pedangnya. Dan setiap kali
pedangnya terayun, maka tentu ada dua atau tiga ekor
serigala yang mati! Darah muncrat dan memercik ke
mana-mana! Akan tetapi semua itu tidak membuat
mereka takut. Bahkan bau darah membuat mereka
semakin beringas. Semuanya seperti sudah berubah
menjadi gila. Mereka meminum darah yang mengalir
dari bangkai kawan-kawannya dan mencabik-cabik
pula dagingnya.
"Pamaaaaaan...!?!?" sekali lagi Tio Ciu In
memekik. Gadis itu benar-benar merasa ngeri
menyaksikan kebuasan binatang itu.
"Ya-ya, aku datang! Awaaaaas...!"
Tapi yang didapatkan oleh Tio Ciu In kemudian,
ternyata sungguh di luar dugaannya! Begitu tiba di
dekatnya tiba-tiba ternyata Ho Bing justru
menyabetkan tongkatnya ke arah pergelangan tangan
Ciu In! Wuuuuut! Sabetan itu benar-benar cepat dan
kuat luar biasa!
"Hei!? Kau...???" Tio Ciu In menjerit kaget.
Namun sambaran tongkat itu tak mungkin dapat
dielakkan lagi. Tio Ciu In hanya mampu mengerahkan
tenaga sakti untuk melindungi tangannya.
Taaaak! Tongkat itu dengan telak menghajar
pergelangan tangan Tio Ciu In!
Gadis itu berteriak kesakitan. Meski tidak sampai
mematahkan pergelangan tangannya, tapi pukulan
tongkat itu terasa nyeri luar biasa! Sampai-sampai
568
pedang yang ada di dalam genggaman tak bisa
dipertahankan pula! Senjata itu terlempar jatuh
menimpa kawanan serigala!
"Kenapa... kenapa kau menyerangku?" di dalam
kekalutannya Tio Ciu In masih sempat berteriak.
Tapi Ho Bing tak mau memberi kesempatan lagi.
Tongkatnya yang garang itu sekali lagi terayun dalam
bentuk lingkaran. Begitu kuatnya sehingga tongkat itu
mengeluarkan suara lengkingan! Seperti suara suling
yang ditiup kuat-kuat!
Sekejap telinga Tio Ciu In seperti tercocok oleh
ribuan jarum! Otomatis konsentrasi dan
keseimbangannya terganggu! Dan pada saat itu
pulalah tiba-tiba tongkat Ho Bing menerjang
pinggangnya!
"Auugh!"
Tio Ciu In mengeluh. Tubuhnya terhuyung. Ujung
tongkat itu mengenai jalan darah ki-ping-hiat di
bawah punggungnya, yang membuat seluruh
tubuhnya menjadi lemas.
Dan kawanan serigala itu telah siap untuk
menerkam tubuh Tio Ciu In. Tapi Ho Bing lebih dulu
menyambarnya.
"Hihihi... tidak boleh! Ini bagianku, kawan!"
Ho Bing menggendong tubuh Tio Ciu In. Dengan
tangkas ia menerobos kepungan serigala, lalu masuk
ke ruangan dalam melalui pintu rahasia. Sementara itu
pesta pora tetap berlangsung dengan meriah. Kawanan
569
serigala yang sudah terlanjur gila itu saling
menyerang di antara mereka sendiri.
Sebentar kemudian Tio Ciu In telah siuman
kembali. Dia sangat terkejut ketika mengetahui
dirinya berada di dalam gendongan Ho Bing. Dia mau
meronta, tapi tak bisa. Seluruh urat darahnya
tersumbat! Berbicarapun ia tak mampu!
Ho Bing membawanya ke ruang bawah tanah. Satu
persatu kakinya melangkah menuruni kayu. Tubuhnya
yang kecil memang terlalu berat untuk menggendong
tubuh Ciu In.
Ruangan itu benar-benar lembab, sehingga lampu
minyak di atas meja tak mampu untuk
menghangatkannya. Di pojok kiri ada sebuah bangku
panjang beralaskan jerami. Ho Bing meletakkan tubuh
Tio Ciu In di sana.
"Hihihi, aku sungguh beruntung sekali hari ini!
Sekali menebar jala, seorang bidadari cantik dapat
tertangkap dengan mudah! Oh-hoooo, betapa mulus
kulitnya! Benar-benar seperti sutera!" Bagaikan orang
gila Ho Bing meraba dan mengelus-elus pipi dan leher
Tio Ciu In.
Di dalam ketakutannya Tio Ciu In terus mencoba
membebaskan diri. Dan akhirnya ketika wajah yang
kasar dan berminyak itu hendak mencium pipinya,
Ciu In telah berhasil membebaskan urat gagunya.
"Jangannnnnn...!" Tio Ciu In menjerit keras sekali,
sehingga Ho Bing meloncat mundur saking kagetnya.
570
Beberapa saat lamanya pengemis itu memandangi
wajah Tio Ciu In. Dia seperti tak percaya bahwa gadis
itu mampu melepaskan totokannya. Tapi ketika
dilihatnya gadis itu hanya bisa melepaskan urat
gagunya, ia tertawa.
"Bukan main! Ternyata tenaga dalammu hebat
juga. Kau dapat membebaskan diri dari totokanku,
meskipun hanya sebagian...! Untunglah aku tadi tidak
berlaku sembrono terhadapmu. Coba, kalau aku hanya
main pukul saja, tanpa menggiring dan menjebakmu
di dalam rumah ini, mungkin tugasku bisa gagal!"
"L-le-paskan aku...! Lepaskan aku! Aku...." Tio Ciu
In berseru serak dan hampir menangis.
"Lepaskan? Huh, enaknya! Aku sudah dibayar
mahal untuk tugas ini. Bagaimana mungkin aku bisa
membatalkannya? Hehe he! Apalagi setelah melihat
wajahmu! Betapa cantiknya! Aku benar-benar
terpesona, tanpa diupahpun aku juga mau..."
Selesai berbicara Ho Bing kembali mendekatkan
wajahnya untuk mencium Tio Ciu In.
"Tahaaaaaan!" Gadis ayu itu menjerit lagi.
"Ada apa lagi, Bidadariku? Ingin kubuka dulu
pakaianmu agar kau tidak merasa kegerahan? Boleh...
boleh!"
"Jangaaaaann...!"
"Lalu, apa yang kau kehendaki?" Ho Bing yang
sudah kalap itu berhenti sebentar.
"Ceritakan dulu! Siapa kau sebenarnya? Dan siapa
pula yang mengupahmu?" Tiada jalan lain bagi Tio
571
Ciu In selain mengulur-ulur waktu. Sambil bertanya
otaknya bekerja keras untuk mencari jalan keluar.
Pengemis itu mengedip-ngedipkan matanya.
Wajahnya kelihatan puas sekali. Puas dan gembira.
"Oh, jadi kau ingin tahu siapa yang memberi tugas
kepadaku? Boleh! Nah, apakah kau kenal dengan
gadis cantik bernama... Mo Goat? Dia yang memberi
banyak uang kepadaku. Dia meminta agar aku mau
menangkapmu dan mengurungmu di tempat ini, lalu
memperkosamu setiap hari, sampai akhirnya kau mati
secara mengenaskan."
Bulu roma Tio Ciu In bergetar dengan hebat.
Wajahnya menjadi pucat, seakan-akan darahnya
langsung membeku mendengar ancaman itu.
"Mo Goat...?" Tio Ciu In ternganga.
Di dalam kengeriannya Ciu In merasa kaget
setengah mati. Gadis kejam yang dijumpai di restoran
itu ternyata benar-benar membuktikan ancamannya.
Semua orang yang bentrok dengan dia harus mati.
Apalagi dia itu orang Han. Dan kini, gadis itu benarbenar
mengirimkan seorang pembunuh kepadanya.
Sungguh keji!
Begitu ingat Mo Goat, otak Ciu In segera ingat
kepada Pendekar Buta pula! Dan untuk sekejap
matanya berbinar. Tapi sekejap kemudian wajahnya
kembali muram. Tak mungkin dia bisa meminta
pertolongan orang itu. Selain tempat itu sangat
terpencil, ruang di mana dia berada pun jauh di bawah
tanah. Meskipun berteriak setinggi langit, tak seorang
572
pun akan bisa mendengarnya. Apalagi cuma dengan
bernyanyi seperti yang diminta oleh orang tua itu.
"Nah, kau sudah mengenal gadis itu, bukan? Dan
tentang aku, kau juga sudah tahu pula. Selama ini aku
memang sangat menyukai perempuan, sehingga
kawan-kawanku memberi julukan Si Tongkat Bocor,
hehehe...!"
Selesai tertawa pengemis itu kembali mendekatkan
mukanya. Dan kali ini Tio Ciu In tak ingin menjerit
lagi. Satu-satunya jalan untuk melawan hanya
menyemburkan ludahnya ke muka penjahat itu!
Cuuuh! Cuuuh!
Ho Bing tak menyangka akan hal itu menjadi
kelabakan. Wajahnya yang kelimis dan berminyak itu
segera berlepotan dengan ludah Tio Ciu In.
"Bangsat keparat! Perempuan celaka!"
Bukan main berangnya pengemis itu. Sambil
mengeluarkan kata-kata kotor tangannya
mencengkeram baju Tio Ciu In dan merenggutnya
kuat-kuat. Brrrrrrt! Baju itu sobek dan terlepas.
Tak selembar benang pun menutupi pundak dan
dada Tio Ciu In, sehingga kulitnya yang lembut itu
seolah-olah bercahaya di dalam kegelapan. Begitu
mempesonakan pemandangan itu sehingga Ho Bing
seperti terpaku di tempatnya. Tak terasa pengemis itu
menelan ludahnya berkali-kali.
-- o0d-w0o --
573
JILID XIV
KAN tetapi sebaliknya, Tio Ciu In
Hampir pingsan mendapat perlakuan
seperti itu. Rasanya takut, malu dan ngeri,
membuat gadis itu seperti kehilangan akal.
Tiba-tiba Ho Bing terbelalak. Matanya
yang melotot itu melihat sebuah tatto kecil
di bagian kiri atas dari buah dada Tio Ciu In. Gambar
tatto itu berbentuk burung Hong! Burung Hong yang
sedang mengepakkan sayapnya. Indah bukan main!
Sekali lagi Ho Bing menelan ludahnya.
Pemandangan itu membuat otaknya semakin tidak
bisa dikendalikan lagi. Namun sebelum ia menerkam
tubuh Tio Ciu In, lonceng di dalam ruangan itu tibatiba
berbunyi.
"Kurang ajar! Sudah berkali-kali kukatakan bahwa
jangan sekali-kali datang ke terapat ini! Tapi tetap
saja datang! Huh!" mulutnya menggeram.
Dengan sikap malas dan geram pengemis itu
melangkah ke tangga. Sambil berjalan matanya tetap
tak lepas dari tubuh Tio Ciu In, sehingga tubuhnya
hampir menabrak meja.
"Baiklah, kau tunggu dulu sebentar! Aku akan
melihat siapa yang datang! Setelah itu kita lanjutkan
lagi acara kita...."
Sebentar kemudian pengemis itu menghilang di
balik pintu. Merasa ada kesempatan Tio Ciu In lalu
berusaha untuk membebaskan totokannya. Berkali-
A
574
kali ia mengerahkan tenaga dalamnya. Tapi totokan
itu benar-benar sulit dibuka. Keringat sampai
mengalir membasahi dada bergambar burung Hong
itu.
Akhirnya tidak hanya keringat yang mengalir, tapi
air mata pun mulai menetes dari mata Tio Ciu In.
Gadis ayu itu benar-benar mulai putus asa sekarang.
Dan di dalam keputusasaannya, tak terasa bibirnya
mulai bergumam dengan nyanyian. Nyanyian yang
disukai Si Pendekar Buta itu. Semakin lama semakin
keras.
Bahkan untuk melepaskan segala kepepatan
hatinya, Tio Ciu In menyanyikannya dengan seluruh
perasaan. Bahkan dengan dorongan seluruh tenaga
saktinya.
Suara yang keluar dari bibir Ciu In memang tidak
terlalu keras, namun dorongan tenaga dalamnya
ternyata mampu menggetarkan udara di sekelilingnya.
Memantul dan bergema ke segala penjuru, bagaikan
getaran suara guruh yang merambat melalui udara.
Ternyata tanpa disadari Tio Ciu In bernyanyi dengan
lon taran ilmu Coan-im-jip-pit!
Apabila di malam yang gelap gilita.
Tiba-tiba muncul Bulan Purnama.
Maka malam pun bagai tersentak dari tidurnya.
Untuk menyambut hangatnya Sang Pelita Malam!
Kekasihku.../
Aku selalu mengharap kehadiranmu!
575
-- o0d-w0o --
SEMENTARA itu pada saat yang hampir
bersamaan Liu Wan telah tiba di tempat kediamannya.
Rumah di tengah-tengah empang itu kelihatan sepi.
Dan Lo Kang yang sudah tidak sabar lagi untuk
melihat keadaan saudaranya, segera mendahului
menyeberang. Pelayan gagu itu bergegas membuka
pintu.
Tapi tiba-tiba tubuh Lo Kang terpental balik.
"Lo Kang!" Liu Wan berseru.
Pemuda yang berpakaian sebagai Tabib Ciok itu
melesat ke depan dengan tangkasnya. Tubuhnya yang
tegap itu bagaikan burung rajawali yang terbang
melintasi empang. Di lain saat tubuh Lo Kang telah
ditangkapnya.
Liu Wan menurunkan tubuh Lokang di
sampingnya. Matanya hampir tak lepas dari lubang
pintu, di mana Lo Hai yang baru saja menyerang
saudaranya itu berdiri dengan garang. Pembantunya
yang lain itu telah siap untuk melancarkan pukulannya
lagi.
"Lo Hai...! Kau kenapa, hei?" Liu Wan berteriak
bingung. "Mengapa kau menyerang saudaramu?"
Tapi Lo Hai yang biasanya sangat penurut itu, tibatiba
melompat ke luar dan menghantam dada Liu
Wan. Dari telapak tangannya meluncur getaran tenaga
576
berputar seperti layaknya tenaga untuk menutup botol
minuman.
Liu Wan terkejut. Lo Hai langsung
mempergunakan ilmu silat perguruannya, Hong-luikun-
hoat (Pukulan Petir dan Badai)! Pukulan itu
merupakan pembukaan dari jurus yang ke sembilan,
yang disebut Badai Berputar Menerjang Ombak!
Jurus itu biasa dilontarkan bila berhadapan dengan
lawan bertenaga besar!
Lo Hai maupun Lo Kang memang bukan saudara
seperguruan Liu Wan. Mereka berdua hanyalah
pelayan dan pembantu kepercayaan gurunya. Namun
oleh gurunya mereka berdua juga diberi pelajaran
ilmu silat. Meskipun hanya kulitnya!
Tapi karena sebelum mengabdi pada guru Liu Wan,
Lo Kang dan Lo Hai juga telah memiliki ilmu silat
tinggi, maka tambahan ilmu itu sudah cukup membuat
mereka semakin berbahaya.
Demikianlah, meskipun jurus Badai Berputar
Menerjang Ombak tersebut tidak ditopang dengan
tenaga sakti yang asli dari perguruan Liu Wan, namun
perbawanya ternyata cukup mengerikan. Dada Liu
Wan yang merupakan sasaran pokok dari pukulan itu
tiba-tiba seperti diremas olah sebuah kekuatan yang
tidak kelihatan!
"Lo Hai, jangan!" Liu Wan berteriak dan bergegas
melejit ke samping untuk menghindarkan diri. Karena
terburu-buru maka segumpal dari jenggot
penyamarannya terlepas.
577
Namun seperti orang kesurupan Lo Hai tetap saja
menyerang Liu Wan. Semakin lama semakin gencar.
Bahkan serangan itu tetap tidak mau berhenti
walaupun Lo Kang yang sudah bisa mengobati lukalukanya
itu mencoba melerai saudaranya.
"Sudahlah, Lo Kang. Engkau mundurlah! Biarlah
kucoba untuk melumpuhkan kekuatannya dulu." Liu
Wan memperingatkan pembantunya.
Lo Kang memberi isyarat kepada Liu Wan.
"Jangan khawatir. Aku tidak akan melukainya. Aku
hanya ingin melumpuhkannya, agar kita lebih tahu
apa yang menyebabkan dia berbuat seperti ini."
Pemuda itu menjawab.
Tapi untuk melumpuhkan Lo Hai tidaklah mudah.
Ilmu silat Lo Hai hanya satu tingkat di bawah Liu
Wan. Maka dengan sangat terpaksa pemuda itu juga
mengeluarkan ilmu andalannya. Hong-lui-kun-hoat!
Liu Wan menjejakkan kakinya ke lantai. Tubuhnya
segera melenting ke atas dalam jurus Awan
Mengambang Menutupi Bumi. Kedua lututnya
menempel perut, sementara kedua lengannya
mengembang ke depan membentuk sapit udang.
Kemudian dengan sekuat tenaga pemuda itu
mengayunkan kedua kakinya ke bawah, menuju ke
arah ubun-ubun!
Lo Hai tersentak kaget. Tapi gerakannya sungguh
cepat pula. Sambil mengangkat kedua sikunya ke atas,
orang tua itu melangkah setindak ke kiri. Gerakannya
sungguh indah. Tubuhnya meliuk ke kanan seperti
578
pohon cemara yang akan roboh. Namun bersamaan
dengan gerakan itu, ke sepuluh jari tangan Lo Hai
telah terkepal dalam bentuk kepala ular. Selanjutnya
kepala ular itu
segera mematuk
kaki Liu Wan.
Kali ini Lo Hai
tidak
mempergunakan
ilmu Hong-luikun-
hoat lagi.
Orang tua itu
mengeluarkan
ilmu silatnya
sendiri. Sebuah
ilmu silat dari
daerah Selatan,
yang lebih
mementingkan
kekuatan tenaga
dalam daripada
kemampuan geraknya! Gerakannya sangat sederhana
dan mudah diduga, namun dengan kekuatannya
ternyata gerakan itu sulit dielakkan! Tangan itu
memang belum menyentuh sasaran, tapi kekuatan
yang mendorongnya ternyata telah lebih dulu tiba di
kaki Liu Wan.
Sengatan udara panas membuat Liu Wan cepatcepat
menarik kedua kakinya sambil membuat salto
579
dua kali ke depan. Jleg! Tanpa mendapat kesulitan
pemuda itu mendaratkan kakinya di depan pintu.
Dari tempatnya berdiri Liu Wan segera menyerang
kembali. Kedua tangannya mendorong ke depan
dalam jurus Satu Petir Dua Gelombang. Jurus ke dua
puluh satu dari Hong-lui-kun-hoat. Dari telapak
tangannya meluncur angin pukulan yang menyambar
punggung Lo Hai dengan dahsyatnya.
Dhuaaaar! Pukulan itu menyambar tempat kosong,
karena dengan tangkas Lo Hai telah keburu melejit ke
kanan!
Melihat letupan yang dahsyat itu Lo Kang tak
kuasa menahan dirinya lagi. apa pun yang telah
dilakukan Lo Hai kepadanya, dia tetap tidak tega
melihat saudaranya itu terluka. Dengan badan masih
terasa sakit, ia segera melesat di antara Liu Wan dan
Lo Hai. Kedua tangannya membuat isyarat untuk
memohon belas kasihan Liu Wan.
Liu Wan menggigit bibirnya. "Jangan khawatir, aku
tidak akan melukainya. Aku hanya ingin meringkus.
Menyingkirlah...!"
Namun Lo Kang tetap menggoyang-goyangkan
tangannya. Bahkan dia lalu membalikkan tubuhnya
dan berusaha memeluk saudaranya. Tangannya
mengembang ke arah Lo Hai.
Tapi tiba-tiba telapak tangan Lo Hai menyambar ke
depan dengan cepatnya. Di tangannya telah terhunus
sebilah pisau tajam.
580
Cuuuuuus! Pisau itu menancap tepat di ulu hati Lo
Kang! Suatu hal yang benar-benar tak diduga oleh Liu
Wan maupun Lo Kang sendiri!
"Uh-uh-uh...?" Sekejap mata Lo Kang terbelalak
tak percaya. Tapi di lain saat tubuhnya segera
terbanting di atas lantai. Mata itu tetap terbeliak,
namun nyawanya sudah melayang.
"Lo Kang...!" Liu Wan menjerit dan menubruk
tubuh pembantunya.
Tapi lagi-lagi Lo Hai yang sudah kalap itu
menghunjamkan pisaunya ke arah Liu Wan.
Untunglah Liu Wan tetap waspada. Otomatis kedua
tangannya menampar ke depan. Karena ada
kemarahan yang terpendam di dalam hati, maka
seluruh kekuatannya seolah meluncur begitu saja
dalam tangkisan itu.
Duaaaar! Tangan itu seperti mengeluarkan suara
ledakan ketika bertemu dengan lengan Lo Hai!
Pelayan itu mengeluh, sementara pisau di tangannya
terlempar ke bawah, persis mengenai punggung Lo
Kang! Dan pisau itu menancap sampai di gagangnya!
Kemarahan Liu Wan benar-benar tak bisa
dikendalikan lagi.
"Kurang ajar! Kau... kau! Oh, binatang apa
sebenarnya kamu ini?" pemuda itu menjerit.
Liu Wan tak bisa berpikir lagi. Tak terasa kedua
tangannya menyambar ke depan dalam jurus
Mencabut Hutan Mengangkat Gunung, gerakan
terakhir dan Hong-lui-kun-hoat! Jurus itu diciptakan
581
oleh kakek gurunya pada saat ditinggal pergi nenek
gurunya! Perasaan marah, sedih dan tertekan seperti
tertuang dan terungkap dalam jurus itu! Maka tidak
mengherankan bila pengaruhnya sungguh hebat tiada
terkira!
Sekali lagi di hari yang cerah itu terdengar suara
letupan petir menyambar. Dan pada saat yang sama
tubuh Lo-Hai tampak terlempar tinggi ke udara.
Lo Hai berusaha menyelamatkan diri dengan
menggeliatkan tubuhnya beberapa kali. Gerakan
tersebut mampu menahan daya luncur tubuhnya
ketika kembali jatuh ke bawah. Namun demikian
tamparan Liu Wan yang dahsyat tadi telah
mengacaukan seluruh susunan syaraf dan aliran
darahnya. Bagaikan hutan dan gunung yang diaduk
oleh topan puting beliung, maka seperti itu pulalah
keadaan tubuh Lo Hai ketika kakinya mendarat di atas
papan. Orang tua itu sudah tidak berdaya lagi ketika
menjejakkan kakinya. Tubuhnya tersungkur di dekat
mayat Lo Kang, saudaranya. Dan matanya yang
terbuka itu tampak berkedip-kedip menahan tangis.
Mata itu tampak redup dan tidak liar lagi.
Tiba-tiba Liu Wan seperti terbangun dari
mimpinya. Matanya terbelalak kosong, seolah tak
percaya apa yang telah terjadi. Dipandangnya tubuh
Lo Hai yang bergetaran itu beringsut mendekati mayat
Lo Kang. Darah mengalir dari sela-sela bibirnya. Dan
sebentar kemudian orang itu telah memeluk mayat
582
saudaranya dengan air mata bercucuran. Keduanya
mati di depan kaki Liu Wan.
"Lo Hai... Lo Kang!"
Liu Wan tak kuasa membendung rasa sedihnya.
Pada saat-saat terakhir baru terpikir olehnya
ketidakberesan itu. Sikap Lo Hai sangat aneh dan
tidak sewajarnya. Dan keadaan itu seperti sudah
terlihat pula oleh Lo Kang. Tapi karena tidak bisa
berbicara, maka Lo Kang tidak bisa mengatakannya.
Lo Kang hanya berusaha untuk mencegah dan
menghentikan kesalah-pahaman itu.
Liu Wan berlutut di depan mayat mereka.
Terbayang kembali saat-saat Lo Hai memeluk mayat
saudaranya. Wajah dan pandang matanya kelihatan
wajar seperti biasanya. Bahkan matanya yang
berkeriput itu tampak mengalirkan air mata. Sungguh
sangat berlainan dengan saat berkelahi melawan
dirinya tadi.
"Lo Hai! Apa yang telah terjadi denganmu? Bukan
watakmu untuk berbuat seperti itu, apalagi sampai
membunuh saudara kembarmu sendiri. Tentu ada
sesuatu di luar kehendakmu, yang membuatmu
berbuat seperti ini. Buktinya pada saat-saat terakhir
kau kembali normal seperti biasanya...."
Satu persatu mayat itu dibawa Liu Wan ke dalam.
Mereka diletakkan berjajar di atas meja. Ketika Liu
Wan membuka jubahnya untuk menutupi jasad
mereka, tiba-tiba telinganya mendengar suara
mencurigakan dari ruang dalam.
583
"Siapa...?" Sambil menyapa Liu Wan melesat ke
dalam. Seluruh kekuatannya siap untuk dipergunakan.
Tiada siapa pun di sana. Liu Wan mengerahkan
seluruh kemampuannya untuk memeriksa ruangan itu.
Namun tak seorang pun dilihatnya. Perlahan-lahan dia
bergeser ke bagian belakang, di mana dia memasang
gambar-gambar keluarganya.
"Ah...!" Tiba-tiba otot Liu Wan menegang.
Tampak di dalam ruangan itu seorang pemuda
tampan sedang menggoyang-goyangkan kipasnya.
Dan di sebelahnya berdiri seorang lelaki yang tak
mungkin dilupakan oleh Liu Wan! Sogudai!
Pemuda tampan itu tampak pucat, namun sorot
matanya sungguh tajam luar biasa. Di depan mereka,
persis di tengah-tengah ruangan, terlihat tiga orang
lelaki diikat menjadi satu. Mereka adalah seorang
pemuda dan dua orang tua, di mana salah seorang di
antara orang tua itu benar-benar sudah lanjut usia.
"Inikah Bun-bu Siu-cai itu, Sogudai?" Pemuda
tampan yang tidak lain adalah Mo Hou bertanya
kepada Sogudai.
"Benar, Kongcu. Telah Kongcu lihat sendiri betapa
pandainya dia menyamar sebagai seorang tabib tua.
Apabila tidak menyaksikan sendiri jenggotnya yang
copot tadi, mungkin kita sudah terkecoh pula
olehnya." Sogudai menjawab dengan suara geram.
"Jangan banyak bicara! Aku sudah tahu... dan aku
tidak suka melihat dandanannya itu! Ternyata ia
hanya seorang pengecut yang berlindung di balik
584
topeng-topeng penyamarannya! Aku justru lebih
menghargai pemuda lemah yang kauikat itu. Dia lebih
berani daripada pengecut itu...."
Pantang bagi pemuda seperti Liu Wan disebut
sebagai pengecut. Apalagi oleh gerombolan pengacau
seperti Sogudai dan kawan-kawannya. Tak heran bila
wajah di balik penyamaran itu tiba-tiba menjadi
merah padam.
"Aku belum kenal denganmu. Tapi enak saja kau
berkata jelek tentang aku. Apakah kau sadar apa yang
kaukatakan? Apakah kau benar-benar masih waras?"
Ternyata kata-kata Liu Wan yang pedas itu
menyulut kemarahan Mo Hou pula. Terdengar suara
berkerotokan ketika pemuda itu mengerahkan tenaga
dalamnya.
"Kurang ajar! Mulutmu sangat tajam! Kubunuh
kau...!"
"Tahan!" Liu Wan mengangkat tangannya ke atas.
"Sebelum bertempur aku ingin menanyakan sesuatu
kepadamu. Siapakah engkau ini sebenarnya? Apa
hubunganmu dengan Sogudai? Dan siapa pula orangorang
yang kauikat ini?"
Mo Hou menurunkan tangannya kembali. Namun
matanya masih berkilat penuh hawa pembunuhan
ketika menjawab pertanyaan Liu Wan.
"Aku bukan pengecut yang suka menyembunyikan
diri seperti engkau. Aku orang Hun dari luar Tembok
Besar. Aku putera Raja Mo Tan Yang Agung.
Namaku Mo Hou, dan Sogudai adalah pembantuku.
585
Kedatanganku ke sini adalah untuk menangkap dan
membunuhmu, karena kau telah berani mengganggu
anak buahku. Nah, apa lagi...?"
Jawaban itu memang sangat mengejutkan Liu Wan.
Meskipun sejak semula ia sudah menduga kalau
Sogudai itu tentu memiliki hubungan dengan Raja Mo
Tan, namun kenyataan tersebut tetap saja
menggetarkan hatinya. Kini tinggal mencari, apa
sebenarnya yang dilakukan oleh orang-orang Mo Tan
itu di Tiong-goan.
"Dan kedatanganku di sini tidak ada hubungannya
dengan orang-orang Im-yang kau ini. Kami
bermusuhan dengan mereka sejak mereka
mencampuri urusan kami kemarin malam. Mereka
melarikan diri dari pertempuran. Maka ketika kutemui
mereka di sini, kami tak mau kehilangan lagi. Nah,
sekarang giliranmu untuk menyerahkan diri. Akan
kuikat kau bersama mereka, kemudian kubakar
bersama rumahmu ini. Hmmmmmm, bagus sekali,
bukan?" Mo Hou meneruskan ucapannya.
Liu Wan tidak memperdulikan ancaman tersebut.
Pikirannya lebih terpusat pada orang-orang yang
terikat itu. Liu Wan memang belum pernah mengenal
tokoh-tokoh Im-yang-kauw. Namun demikian di
dalam hatinya timbul juga perasaan, jangan-jangan
salah seorang dari mereka itu adalah Giam Pit Seng,
guru Tio Ciu In.
"Aku tahu, kau ingin membalas dendam atas
kekalahan Sogudai di Kuil Pek-hok-bio. Tapi sebelum
586
bertempur, katakan juga kepadaku, apakah kematian
pembantuku tadi juga karena perbuatanmu?"
Mo Hou tertawa panjang. Gema suaranya
menggetarkan permukaan air empang di sekeliling
pondok itu, sehingga ikan-ikan kecil di dalamnya
tampak berlarian menyembunyikan diri di balik
bebatuan.
"Huh, mengapa otakmu begitu bodoh? Kau telah
memperlakukan Sogudai seperti binatang buruan.
Maka tidak ada salahnya pula kalau aku juga
memperlakukan pembantumu seperti ayam aduan.
Bukankah hal itu sudah adil?"
"Manusia tak berperasaan...!" Liu Wan mengumpat.
"Sudahlah! Waktuku tidak banyak. Dan sebentar
lagi matahari juga akan terbenam. Tidak enak rasanya
kalau malam-malam membakar rumah ini. Ayoh,
menyerahlah! Kau bukan lawan yang setimpal
untukku...." Mo Hou menggeram.
"Tunggu...! Satu pertanyaan lagi! Benarkah kau
yang membantai para prajurit dan perwira kerajaan
itu?"
Sekonyong-konyong pemuda itu menggertakkan
giginya. "Tidak salah! Setiap prajurit Kerajaan Han
memang layak untuk dibunuh! Nah... kau mau apa?"
"Kemarin aku bertemu dengan seorang gadis
bernama Mo Goat. Kau kenal dia?" Dalam
kekagetannya Liu Wan masih berusaha untuk
mengorek keterangan sebanyak-banyaknya.
587
Mo Hou tersentak kaget. Matanya yang dingin
tajam itu berkilat-kilat mengawasi Liu Wan. Ada sinar
kecurigaan di mata bak burung hantu itu.
"Kau maksudkan seorang gadis yang selalu
memegang kipas seperti kepunyaanku ini?" tanyanya
kemudian tak percaya.
"Ya!" Liu Wan menganggukkan kepalanya.
Mo Hou menatap Sogudai sebentar. "Gila! Kenapa
bocah itu sudah ada di sini?" Ia bergumam penasaran.
Pemuda itu melangkah setindak ke depan, sehingga
Liu Wan bergegas mengerahkan seluruh kekuatannya.
Mo Hou adalah putera Mo Tan, Raja dari seluruh
suku bangsa liar di utara Tembok Besar. Mo Tan
sangat terkenal akan kehebatan ilmunya, karena itu
Mo Hou tentu lihai pula seperti ayahnya.
"Dengan siapa adikku itu berada ketika bertemu
denganmu?"
"Oh... jadi gadis galak itu adikmu?"
Diam-diam perasaan Liu Wan menjadi kecut. Kalau
Mo Goat saja demikian dahsyatnya, apalagi kakaknya.
Tak terasa keringat dingin mulai mengalir membasahi
punggungnya.
"Gila! Cepat katakan...! Dengan siapa adikku itu
berada?" Tiba-tiba Mo Hou berseru bengis.
"Aku tidak tahu nama-nama mereka. Hanya salah
seorang di antaranya dipanggil dengan sebutan
Panglima...."
"Solinga!" Mo Hou berdesah. Matanya menatap
Sogudai.
588
"Kongcu...?" Sogudai menanti perintah.
Pemuda itu mendekati Sogudai, lalu berbisik pelan.
"Pergilah menemui Lok-kui-tin! Katakan kepada
mereka bahwa adikku dan Panglima Solinga sudah
berada di kota ini! Katakan pula agar mereka mencari
rombongan itu dan menunggu kedatanganku di tempat
biasanya!"
"Bagaimana dengan dia?" Sogudai menunjuk ke
arah Liu Wan.
"Jangan pedulikan dia. Bocah yang menyamar jadi
tabib ini juga akan kuikat pula seperti yang lain.
Mereka akan kubakar bersama-sama rumah ini. Nah,
pergilah!"
Sogudai tidak berani membantah lagi. Sekali
berkelebat tubuhnya yang besar itu melesat ke luar
pondok. Sebentar saja dia telah menghilang di balik
rimbunnya pepohonan.
"Nah, Bun-bu Siu-cai... nama julukanmu sangat
hebat. Aku percaya kepandaianmu tentu hebat pula.
Tapi demi kebaikanmu sendiri, engkau tak usah
melawan. Coba kau lihat, siapa yang terikat di
depanmu itu? Mereka adalah tokoh-tokoh puncak
aliran Im-yang-kau. Orang tua yang sudah uzur itu
adalah Lo-jin-ong, sesepuh Im-yang-kau. Di waktu
mudanya ia disebut orang Toat-beng-jin (Manusia
Pencabut Nyawa). Sedangkan yang lain adalah Giam
Pit Seng, Ketua Cabang Im-yang-kau daerah timur
bersama muridnya. Nah, mereka bertiga tidak kuasa
melawan aku. Apalagi... kau!"
589
Selesai bicara Mo Hou mengangkat tangan
kanannya, siap untuk menyerang. Tangan kirinya
yang memegang kipas tetap terlipat di depan dada.
Hawa dingin berembus dari dalam tubuhnya, suatu
tanda bahwa tenaga dalamnya telah tersalur ke seluruh
darahnya.
Liu Wan terkejut. Benar juga dugaannya, ternyata
salah seorang di antara orang yang terikat itu adalah
guru Tio Ciu In. Tapi tidak ada kesempatan untuk
menolong mereka. Ia tidak bisa mengelak lagi dari
pertempuran itu. Bagaimanapun juga dia tetap harus
berkelahi melawan Mo Hou. Apabila ilmu silat
pemuda itu memang lebih tinggi daripada adiknya,
maka kesempatannya memang sangat tipis.
Dan apa yang ditakutkan oleh Liu Wan memang
menjadi kenyataan. Begitu bergerak tubuh Mo Hou
laksana burung walet menyambar mangsanya.
Walaupun sudah bersiap-siaga, gerakan Liu Wan tetap
terlambat setindak. Serangan tangan kanan Mo Hou
yang berbentuk cengkeraman itu hampir saja
mengenai pelipisnya. Liu Wan sudah berusaha
menghindar secepatnya, namun serangan itu tetap
menyerempet rambutnya. Bahkan dorongan hawa
dingin yang menyertai serangan tersebut terasa
membeset kulitnya dan mencabut beberapa lembar
rambut di keningnya.
Buru-buru Liu Wan membanting tubuh ke samping,
sekalian melepaskan sebuah pukulan berputar dari
bawah ketiaknya. Gerakan itu disebut Membuat
590
Bendungan Menadah Hujan, jurus ke tiga puluh tiga
dari Hong-lui-kun-hoat. Jurus ini memang diciptakan
untuk menangkal dan menghadapi lawan yang lebih
kuat. Bagaikan sebuah bendungan air tubuh Liu Wan
menyedot sebagian dari arus kekuatan lawan,
kemudian memuntahkannya kembali lewat pukulan
tangannya.
"Bagus...!" Mo Hou menghindar seraya memuji.
Dhuuuuaaar! Pukulan udara kosong Liu Wan
meledak hanya sejengkal dari tubuh Mo Hou!
Ternyata Mo Hou bergerak lebih cepat. Tubuhnya
yang jangkung itu menyelinap ke kanan. Begitu
cepatnya sehingga mata Liu Wan hampir tidak bisa
mengikutinya. Pemuda itu seperti menghilang begitu
saja.
Dan pada saat yang hampir bersamaan, Liu Wan
merasa seperti diterpa oleh hembusan angin dingin
dari arah belakang. Hembusan hawa dingin itu begitu
kuatnya, sehingga kulit punggungnya bagai dicocok
dengan ribuan batang jarum.
Liu Wan tahu bahwa Mo Hou berada di
belakangnya. Tetapi untuk berbalik serta menangkis
serangan tersebut, jelas tidak ada waktu lagi. Namun
kalau harus menghindar lagi, dia akan semakin kalah
langkah dan terdesak. Bahkan pada serangan
selanjutnya dia tentu akan mati langkah dan tidak bisa
berkutik lagi. Hal itu berarti bahwa dia ditundukkan
lawan dalam tiga jurus saja!
591
Demikianlah, pada saat-saat yang berbahaya itu
tiba-tiba Liu Wan mengambil keputusan yang amat
riskan dan berbahaya. Bahkan bisa dibilang untunguntungan.
Dia biarkan pukulan lawannya itu
mengarah ke punggungnya, sementara secara naluriah
tubuhnya menggeliat sedikit untuk memperkecil
bidang sasaran. Kemudian dengan berani Liu Wan
menghantamkan sikunya ke belakang, untuk
menyongsong pukulan Mo Hou. Liu Wan hanya
berharap agar lawannya yang belum kenal Hong-luikun-
hoat itu menjadi ragu-ragu dan mengurungkan
niatnya.
Ternyata perhitungan Liu Wan benar.
Melihat keberanian Liu Wan, pemuda itu justru
menjadi curiga. Pemuda itu menyangka ada jebakan
dalam gerakan Liu Wan, sehingga dengan cepat pula
dia menahan tangannya. Serangan yang sudah hampir
mengenai sasaran itu buru-buru ditarik kembali dan
diganti dengan tendangan kaki ke arah pinggang.
Tapi waktu yang hanya sesaat itu sudah lebih dari
cukup bagi Liu Wan. Begitu serangan Mo Hou yang
berbahaya itu ditarik, Liu Wan dengan tangkas
meloncat mundur. Gerakan yang dia lakukan pada
saat yang sangat berbahaya itu benar-benar cepat
bukan main.
Siiiing! Ujung sepatu Mo Hou mengejar perut Liu
Wan, namun gagal. Ujung sepatu itu hanya mampu
menyerempet baju Liu Wan hingga bolong.
592
Sebaliknya Liu Wan yang telah dapat
membebaskan diri dari tekanan Mo Hou, segera balas
menerjang dengan jurus Sambaran Petir Membelah
Bumi! Telapak tangan Liu Wan menyambar ke
bawah, tertuju ke arah perut Mo Hou!
Tag:cersil cersil indo cersil mandarin full cerita silat mandarin online cersil langka cersil mandarin lepas cerita silat pendekar matahari kumpulan cerita silat jawa cersil mandarin beruang salju. cerita silat pendekar mataharicerita silat indonesia cerita silat kho ping hoo cerita silat mandarin online cerita silat mandarin full cerita silat jawa kumpulan cerita silat cerita silat jawa pdf cerita silat indonesia gratis cerita silat jadul indonesia cerita silat indonesia pendekar rajawali sakti cersil indonesia pendekar mabuk cersil langka cersil dewa arak cerita silat jaman dulu cersil jawa download cerita silat mandarin full cerita silat mandarin online cersil mandarin lepas cerita silat mandarin pendekar matahari cerita silat jawa pdf cersil indonesia pdf cersil mandarin beruang salju kumpulan cerita silat pdf
kumpulan cerita silat cersil online
Share:
cersil...
Comments
0 Comments

Arsip Cersil

Best Cersil

Pecinta Cersil