Donasi

Buat yang punya rejeki berlebih dan merasa terhibur dengan Situs Cerita Silat Cersil Terbaik ini bisa mendonasikan bantuannya ke
No. Rekening BPD Jateng No. 2004084554
demi keberlangsungan dan keberadaan Blog Cersil Cerita Silat yang sama-sama kita cintai ini. Kritik dan Saran hub No HP.083837358519. Atas Bantuannya disampaikan Terimakasih.

Kamis, 19 April 2018

Cerita Silat Pendekar Buta 3

---
"Ehh, kenapa?" Song-bun-kwi berteriak, kecewa dan marah. "Kenapa tidak kau teruskan? Sudah bagus
sekali tadi!"
Kun Hong menarik napas panjang dan menggeleng kepala. "Saya tidak bisa, Locianpwe. Tidak bisa
memaksa hati membenci pohon, apa lagi kalau membayangkan bahwa pohon ini adalah pengganti
seorang manusia, hati menjadi ngeri..."
Song-bun-kwi membanting-banting kakinya. Benar-benar seorang pemuda yang berhati lemah dan
berwatak halus. Masa terhadap sebatang pohon saja tidak tega menjatuhkan tangan maut?
"Bodoh kau! Ini penting untuk latihan. Anggap saja bahwa pohon itu musuhmu!"
"Saya tidak punya musuh, Locianpwe."
"Apa? Kau bisa bilang tidak punya musuh? Sudah lupa lagikah kau betapa Thai-san-pai dibakar orang,
adikmu Cui Sian telah diculik orang dan rumah tangga pamanmu Beng San menjadi rusak berantakan?
Yang berdiri di depanmu itu bukan lagi pohon biasa, akan tetapi dia adalah musuhmu yang telah berlaku
keji dan jahat terhadap Thai-san-pai."
Mendadak Kun Hong mengeluarkan suara bentakan nyaring, tubuhnya bergerak seperti tadi, lalu bagaikan
kilat menyambar kedua tangannya itu menyerang dengan berbareng, melakukan gerak jurus yang maha
dahsyat itu.
Tongkat berkelebat menjadi sinar merah menembus pohon, tangan kiri mencengkeram dan... pohon itu
masih tetap berdiri tanpa bergoyang sedikit pun sedangkan Kun Hong sudah melompat ke belakang
dengan berjungkir balik beberapa kali.
"Hebat... hebat...!" kakek itu bersorak.
Angin datang bertiup menggerakkan daun-daun pohon itu dan... lambat-lambat pohon itu tumbang, patah
di tengah-tengah di mana tadi dilalui sinar merah, roboh mengeluarkan suara hiruk-pikuk dan batang
sebelah atas remuk-remuk terkena cengkeraman tangan kiri Kun Hong tadi. Kiranya tadi hanya
kelihatannya saja tidak apa-apa, padahal batang pohon itu telah patah-patah dan bagian yang
dicengkeram telah remuk di bagian dalam!
"Bagus sekali, Kun Hong! Dengan jurus ini agaknya kau yang akan dapat membalaskan sakit hati
pamanmu. Mudah diduga bahwa musuh yang dapat mengacau dan merusak ketenteraman di Thai-sanpai,
pasti adalah orang-orang yang memiliki ilmu kepandaian tinggi. Kalau kau berhasil bertemu dengan
mereka dan tidak dapat mengalahkan mereka dengan ilmu silat biasa, kau pergunakanlah jurus ini."
"Saya akan mencari mereka, Locianpwe," kata Kun Hong dengan suara penuh dendam. "Saya akan
mencari pembunuh paman Tan Hok, mencari mereka yang melakukan fitnah dan mengadu domba antara
Thai-san-pai dengan orang-orang gagah, mencari penculik adik Cui Sian."
"Jurus tadi hanya kau seorang yang sanggup melakukan, namun karena tercipta di luar kesadaranmu dan
aku yang pertama kali melihatnya, maka aku yang hendak memberi nama," kata kakek itu sambil tertawa
bergelak, nampaknya puas sekali.
"Terserah kepada Locianpwe."
"Jurusmu tadi tercipta karena peluapan rasa duka dan amarah, jurus yang hanya dapat dilakukan tanpa
membahayakan diri sendiri dengan landasan dendam, maka kuberi nama jurus serangan Sakit Hati.
Bagaimana pikirmu, cocok tidak?"
Di dalam hatinya Kun Hong tidak setuju. Semenjak dahulu dia menganggap bahwa asas dendam dan sakit
hati amatlah berlawanan dengan pribudi dan kebajikan. Kalau sekarang dia hendak mencari orang-orang
yang merusak Thai-san-pai, mencari penculik Cui Sian, kalau perlu menghukum atau membasmi mereka,
dunia-kangouw.blogspot.com
semata-mata karena dia menganggap orang-orang itu amatlah jahat dan kalau dibiarkan dan tidak
ditentang tentu akan semakin merajalela dan mendatangkan banyak mala petaka di dunia ini. Sekali-kali
bukan karena dendam dan sakit hatinya.
Akan tetapi, oleh karena dia sendiri maklum bahwa tanpa adanya Song-bun-kwi, ia sendiri tak akan dapat
menemukan jurus hebat ini, maka dia anggap bahwa jurus itu adalah hasil ciptaan Song-bun-kwi, maka
kakek itulah yang berhak memberi nama.
"Saya setuju, Locianpwe." Kemudian disambungnya, "Locianpwe, karena paman Beng San tertimpa mala
petaka hebat, saya rasa hal yang paling dahulu harus dilakukan adalah memberi tahu kepada puteraputeranya."
“Betul katamu, memang harus demikianlah. Walau pun Kong Bu goblok, akan tetapi dia putera Beng San
dan dia wajib membantu untuk mencari adiknya serta membalas sakit hati ini. Juga Sin Lee di Lu-liang-san
harus diberi tahu. Kun Hong, biarlah aku sendiri yang akan memberi tahu kepada dua orang itu, ini
termasuk kewajibanku. Kau sendiri hendak ke mana sekarang?"
"Saya adalah seorang buta, Locianpwe, tentu amatlah sulit untuk melakukan penyelidikan seorang diri.
Oleh karena itu, saya bermaksud pergi dulu ke kota raja untuk mencari para anggota kaipang
(perkumpulan pengemis), karena dari mereka inilah agaknya saya akan dapat mencari keterangan tentang
orang-orang jahat yang memusuhi Thai-san-pai. Selain itu, juga saya mempunyai urusan penting yang ada
hubungannya dengan mahkota ini, untuk saya sampaikan kepada yang berhak."
Song-bun-kwi sebetulnya amat suka berada dekat dengan Kun Hong dan bercakap-cakap dengan si buta
ini. Akan tetapi sebagai seorang tokoh besar, tentu saja dia tidak suka melakukan perjalanan berkawan.
Apa lagi sekarang mereka mempunyai tujuan masing-masing, maka dia segera menepuk-nepuk pundak
Kun Hong dan berkata,
"Kita berpisah di sini. Ingat, Kun Hong, lekas kau mencari jodoh dan jangan lupa, anakmu kelak akan
menjadi muridku!"
Kun Hong tersenyum pahit dan mukanya menjadi merah. Dia tak dapat menjawab, hanya menganggukangguk,
lalu menjura dalam-dalam ketika dia mendengar betapa kakek itu berkelebat cepat pergi dari situ.
Hanya suara ketawanya saja terdengar dari tempat yang sudah jauh.
Dia menarik napas panjang dan kagum sekali. Kakek itu memang aneh, kadang-kadang amat kejam
seperti iblis kata orang, akan tetapi Kun Hong maklum bahwa pada dasarnya kakek ini hanyalah seorang
manusia biasa yang mempunyai kelemahan-kelemahannya.
Dia pun lalu berjalan perlahan, meraba-raba dengan tongkatnya dengan tujuan bertanya orang jalan ke
kota raja…..
********************
Loan Ki adalah seorang gadis yang berdarah perantau. Dia tidak dapat bertahan terlalu lama untuk tinggal
di rumah. Semenjak kecil dia sudah biasa melakukan perjalanan jauh, merantau bersama ayahnya.
Bahkan semenjak berusia lima belas tahun, ketika ayahnya menganggap bahwa ilmu kepandaiannya
sudah cukup tinggi untuk menjaga diri sendiri, dara lincah ini sudah melakukan perantauan seorang diri!
Telah dituturkan di bagian depan betapa Pek-tiok-lim, tempat tinggal Tan Beng Kui di tepi laut Po-hai,
didatangi Song-bun-kwi sehingga menimbulkan kekacauan, bahkan beberapa orang anak buah Pek-tioklim
tewas dan akhirnya oleh kecerdikan dan kepandaian bicara Loan Ki, Song-bun-kwi suka pergi dari
tempat itu.
Tan Beng Kui adalah seorang yang memiliki ambisi (cita-cita) besar. Di dalam cerita Raja Pedang dan
Rajawali Emas dapat kita baca betapa tokoh ini telah beberapa kali berusaha untuk mencari kedudukan
tinggi, tetapi selalu usahanya mengalami kegagalan. Sekarang, biar pun usianya sudah agak tua, ketika dia
mendengar tentang perebutan kekuasaan dan tentang kekacauan di kota raja, timbul lagi penyakit lama ini.
"Loan Ki," dia berkata, sehari setelah terjadi keributan karena kedatangan Song-bun-kwi, "kini kau harus
tinggal dan berjaga di rumah. Kedatangan Song-bun-kwi yang dibawa oleh seorang kaki tangan kota raja
dunia-kangouw.blogspot.com
tentu ada sebabnya dan aku ingin sekali ke kota raja untuk menyelidiki dan melihat, apakah yang sedang
terjadi di sana."
Maka pergilah Tan Beng Kui dari Pek-tiok-lim, meninggalkan anak gadisnya seorang diri, tentu saja
bersama para anak buah Pek-tiok-lim yang puluhan orang banyaknya. Biar pun tak berhasil menduduki
pangkat di kota raja, Tan Beng Kui telah berhasil menjadi seorang yang kaya raya dan hidup bagai raja
kecil di Pek-tiok-lim itu, dengan rumah-rumah gedung mewah dan besar di tengah hutan dan mempunyai
anak buah yang kuat-kuat.
Di dalam rumah gedung, Loan Ki dilayani oleh para pelayan yang banyak pula jumlahnya, hidup sebagai
seorang puteri. Ada pun ibu anak ini sudah lama meninggal ketika Loan Ki masih kecil.
Baru beberapa hari setelah ayahnya pergi, Loan Ki sudah tidak dapat tahan lagi tinggal di rumah seorang
diri. Karena itu, tanpa mempedulikan pencegahan para pelayan tua yang mengingatkannya bahwa
ayahnya tentu akan marah kalau pulang tidak melihatnya, Loan Ki memaksa diri pergi meninggalkan Pektiok-
lim.
Beberapa jam kemudian dia sudah meninggalkan Pek-tiok-lim seorang diri, menggendong sebungkus
pakaian, membekal potongan-potongan emas dan perak, serta tak ketinggalan tiga butir mutiara itu
dibawanya pula.
Pakaiannya serba hitam, terbuat dari pada kain yang mengkilap seperti sutera. Potongan pakaiannya
ringkas dan ketat, dan di pinggangnya tergantung sebatang pedang pendek. Rambutnya yang hitam dan
panjang itu ia gelung ke atas dan ditutup dengan kain kepala berwarna hitam pula. Ikat pinggangnya dari
sutera kuning emas, begitu pula warna sapu tangan yang mengikat lehernya serta sepatunya.
Dari jauh ia seperti seorang pemuda saja. Namun segala gerak-geriknya secara menyolok menyatakan
bahwa ia adalah orang muda kang-ouw yang sedang melakukan perjalanan mengandalkan perlindungan
pedang dan ilmu silatnya.
Siapa pun dia yang menyaksikan Loan Ki melakukan perjalanan pasti akan ikut gembira. Gadis yang
berwajah cantik jelita ini selalu berseri mukanya, mulut yang manis itu selalu tersenyum dan kedua
matanya bersinar-sinar. Memang sudah biasa bagi Loan Ki untuk memandang segala keadaan di dunia ini
dari segi yang menggembirakan. Ia gadis jenaka yang tak pernah mau mengenal susah.
Beberapa jam setelah keluar dari Pek-tiok-lim, ia sudah tampak berjalan ke arah selatan, kadang-kadang
berloncatan dan berlarian cepat, kadang kala berjalan perlahan menikmati keindahan tamasya alam di
sepanjang jalan. Kalau sudah melakukan perjalanan seorang diri seperti ini, baru gadis ini merasakan
kebahagiaan hidup bebas.
Sekerat roti kering rasanya jauh lebih lezat dari pada bermacam masakan yang biasa dihidangkan di
rumahnya. Air pancuran di gunung rasanya lebih segar dari pada air teh wangi di rumahnya. Tidur di atas
cabang pohon besar lebih nikmat dari pada tidur di atas ranjang dalam kamarnya yang mewah.
Tiga hari semenjak ia meninggalkan Pek-tiok-lim, tibalah ia di dalam hutan Pegunungan Shan-tung yang
amat lebat dan liar. Hutan besar itu sama sekali tidak menakutkan hati Loan Ki, sebaliknya malah
mendatangkan kegembiraannya.
Alangkah indahnya sinar matahari menerobos di antara daun-daun pohon yang rindang. Suara auman
binatang-binatang buas bagi gadis perkasa ini malah menambah suasana gembira.
Tiba-tiba ia mendengarkan penuh perhatian. Sebagai seorang gadis perantau yang sudah sering
menghadapi bahaya serangan binatang buas di tengah hutan, dia dapat mengenal suara harimau yang
sedang marah dan bertemu lawan. Dara ini merasa kuatir kalau-kalau binatang buas itu sedang
mengancam keselamatan seorang manusia, maka cepat ia lalu berlari menuju ke arah suara itu.
Benar saja dugaannya. Ia melihat seekor harimau yang besar sekali, sebesar anak lembu sedang
berhadapan dengan seorang laki-laki yang kelihatan tenang-tenang saja. Harimau itu berindap-indap maju
dengan perut diseret di atas tanah, kadang-kadang mengeluarkan auman yang dapat membuat seorang
penakut menggigil ketakutan. Akan tetapi lelaki itu berdiri dengan kedua kaki terpentang lebar, matanya
tajam menentang, sikapnya tenang waspada, malah mulutnya agak tersenyum seakan-akan ia merasa
amat gembira.
dunia-kangouw.blogspot.com
Loan Ki dapat menduga bahwa laki-laki yang berpakaian aneh itu tentu orang yang kuat, maka ia cepat
meloncat ke atas sebatang pohon besar, duduk di atas cabang pohon itu dan diam-diam mempersiapkan
diri untuk melayang turun dan menolong andai kata orang itu terancam bahaya. Dengan mata kagum ia
memperhatikan orang itu.
Usianya masih muda, kira-kira sebaya dengan Kun Hong Si Pendekar Buta. Akan tetapi tubuh orang ini
jauh lebih tegap dan nampak kuat sekali. Pakaiannya aneh. Bajunya telah dibuka dan baju itu kini
tergantung pada pundaknya. Agaknya dia tadi merasa panas dan membuka bajunya. Tinggal celananya
yang berwarna kebiruan, ringkas dan pada bagian bawahnya tertutup pembalut kaki sebagai pengganti
kaos kaki.
Sepatunya dari kulit. Tubuh atas yang telanjang itu berkilat-kilat karena peluh, urat-uratnya melingkarlingkar
membayangkan tenaga yang dahsyat. Rambut laki-laki itu aneh pula. Digelung ke atas dan di
tengah-tengah rambut ditusuk dengan sebuah tusuk konde hitam, ujung rambut dibiarkan terurai ke
belakang. Seperti bentuk rambut seorang pendeta tosu, tapi lain lagi. Pendeknya, aneh dalam pandangan
Loan Ki dan belum pernah dia melihat seorang laki-laki dengan gelung rambut seperti itu.
Di pinggang laki-laki itu tergantung sebatang pedang dengan sarung pedang indah, terukir dan berwarna
keemasan. Demikian pula gagang pedang itu. Akan tetapi anehnya, sarung pedang itu agak melengkung
dan gagang pedang itu terlalu panjang menurut ukuran dan anggapan Loan Ki. Wajah laki-laki itu gagah
dan tampan. Pendeknya, dalam pandangan Loan Ki, laki-laki itu amat menarik hati dan aneh sekali.
Ketika harimau itu sudah dekat, laki-laki itu mendadak mengeluarkan suara seperti orang berkata-kata dan
tertawa-tawa. Kadang-kadang nampaklah giginya yang putih berkilau ketika dia tertawa. Loan Ki makin
tertarik.
Jelas bahwa laki-laki ini seorang yang memiliki kepandaian. Kalau tidak, mana mungkin bisa tertawa-tawa
seenak itu menghadapi seekor harimau yang amat besar dan buas ini. Kekhawatirannya berkurang, biar
pun ada keraguan di dalam hatinya. Harimau itu adalah harimau betina yang amat galak, dan ia cukup
mengenal kehebatan harimau seperti ini. Tidak sembarang orang akan dapat mengalahkannya.
Benarkah laki-laki aneh itu memiliki kepandaian cukup tinggi untuk menyelamatkan diri? Atau, janganjangan
dia seorang yang miring otaknya? Ucapan yang keluar dari mulutnya tadi seperti ucapan orang gila,
sama sekali dia tidak mengerti artinya.
Pada saat melihat betapa laki-laki itu menghentak-hentakkan kakinya dan berteriak-teriak seperti orang
menghardik dan mengancam, wajahnya pun berseri-seri kelihatan gembira sekali, Loan Ki mengerutkan
kening. Agaknya benar telah gila orang ini, kenapa mengajak harimau itu bermain-main, tidak lekas
mencabut pedangnya?
Anehnya, harimau itu pun agaknya selama hidupnya baru kali ini bertemu dengan seorang manusia
seberani itu, maka tampak ragu-ragu, ekornya yang panjang bergerak perlahan. Harimau itu tiba-tiba
mendekam dan Loan Ki berdebar jantungnya. Ia tahu apa artinya itu. Harimau itu hendak melompat dan
menerkam, dan biasanya gerakan ini amat hebat, kuat dan cepat sekali. Dan lelaki itu masih tenang-tenang
saja berdiri mengejek, seakan-akan tidak akan terjadi sesuatu.
Harimau itu lalu mengeluarkan gerengan yang hebat, seakan-akan menggetarkan seluruh hutan. Tubuhnya
yang besar itu menerkam dengan loncatan yang tak dapat dibayangkan cepatnya, menubruk dengan dua
cakar kaki depan dan taring mulut yang terbuka lebar.
Celaka, pikir Loan Ki, menolong pun terlambat sekarang. Mengapa dia begitu sombong sehingga aku
enggan menolongnya? Dia merasa agak ngeri, tetapi dasar gadis pendekar yang tabah, matanya
terbelalak memandang penuh perhatian.
Ia melihat betapa dengan cekatan orang muda itu melompat ke kiri, disusul kilatan sinar pedang dan
jeritan,
"Yaaatt...! Yaaat!!"
Dua kali sinar pedang berkelebat, dua kali menyilaukan mata dan... tubuh harimau besar itu terbanting
roboh tak bergerak lagi, lehernya hampir putus sedangkan perutnya robek berantakan!
dunia-kangouw.blogspot.com
Loan Ki melongo. Ilmu pedang apa itu? Pemuda itu masih memegangi pedangnya yang berkilauan saking
tajamnya. Cara memegangnya aneh, dengan kedua tangan memegangi gagang pedang yang panjang dan
pedang itu agak melengkung bentuknya. Bukan main!
Ilmu pedang yang sangat aneh dan juga lucu, akan tetapi ganas luar biasa. Yang amat mengagumkan hati
Loan Ki adalah kehebatan tenaga orang itu, di samping ketabahan dan ketenangannya yang patut dipuji.
Dengan tenang dan muka berseri, pemuda aneh itu membersihkan pedangnya dari darah dengan cara
menggosok-gosok senjata itu pada kulit harimau yang berbulu indah, baru dia memasukkan pedang di
dalam sarungnya lagi. Lalu dengan muka gembira sekali dia mencabut sebatang pisau pendek yang amat
tajam. Tangannya bekerja cepat sekali dan tahu-tahu dia telah mengiris putus paha kanan sebelah
belakang dari binatang itu, terus dipanggulnya pergi ke arah sebatang anak sungai yang mengalir tak jauh
dari tempat itu. Sisa bangkai harimau itu dia tinggalkan begitu saja.
Loan Ki dalam keheranan dan kekagumannya terus mengikuti dari jauh. Ia bersembunyi di balik
gerombolan pohon-pohon, mengintai dan ingin sekali tahu apa yang akan dilakukan pemuda aneh itu. Tadi
ketika melihat pemuda itu menggunakan pisau, ia mengira bahwa pemuda itu seorang pemburu. Akan
tetapi kemudian perkiraan ini ia bantah sendiri. Tak mungkin seorang pemburu akan meninggalkan kulit
harimau yang begitu berharga dan hanya pergi membawa sebuah paha.
Pemuda aneh itu berjongkok di pinggir anak sungai menyalakan api, membuat gantungan di kanan kiri api
dan ternyata dia mulai memanggang paha harimau itu. Dia tertawa-tawa senang dan hidungnya kembangkempis,
beberapa kali dia bicara dengan bahasa yang tak dimengerti Loan Ki.
Gadis ini pun hidungnya mulai kembang-kempis ketika mencium bau sedap dan gurih dari daging harimau
yang dipanggang itu. Perutnya memang sudah lapar, sekarang mencium bau daging panggang, alangkah
sedapnya!
Tiba-tiba saja keningnya berkerut, matanya terbelalak, kemudian mendadak ia membuang muka dan
meramkan mata. Apa yang terjadi? Pernuda itu ternyata menanggalkan semua pakaiannya dan dengan
bertelanjang bulat pemuda itu terjun ke dalam air anak sungai yang amat jernih.
"Anak setan!" Loan Ki memaki, geli sendiri. "Kurang ajar betul dia, berani bertelanjang di depan mataku?"
Kemudian dia teringat bahwa pemuda itu sama sekali tidak tahu bahwa ada orang yang mengintai, maka
tentu saja tidak dapat dibilang kurang ajar. Wajahnya memerah karena sebetulnya ia sendirilah yang
kurang ajar, mengintai orang yang sedang mandi. Kemudian timbul pikiran yang amat nakal. Memang Loan
Ki seorang gadis remaja yang nakal sekali.
Ia memandang lagi dan lega hatinya melihat bahwa orang itu mandi dengan merendam tubuh sebatas
dada, jadi leluasa ia memandang. Ia melihat betapa pemuda itu dengan tubuhnya yang berotot kekar
berkali-kali menyelam ke dalam air. Cepat ia menyelinap di antara pepohonan menanti saat baik.
Sementara itu, daging paha harimau itu agaknya sudah matang, baunya membuat ia tak kuat menahan
laparnya lagi. Pada saat pemuda itu sekali lagi menyelam, cepat laksana kijang melompat, Loan Ki keluar
dari tempat sembunyinya dan sekali sambar kayu yang menusuk paha itu telah berada di tangannya. Ia
cepat melompat dan lenyap menyelinap di balik semak-semak belukar.
Di lain saat, gadis itu sudah duduk ongkang-ongkang di atas cabang pohon yang tinggi, repot sendiri. Ia
sibuk sekali meniup-niup daging yang panas, menggigit, mengunyah dan tertawa-tawa ditahan sambil
mendesis-desis kepanasan dan keenakan. Gurih dan sedap bukan main paha harimau yang setengah
matang itu.
Tiba-tiba ia mendengar suara banyak orang di bawah. Kiranya ada dua puluh orang lebih lewat di bawah
pohon dan kagetlah ia ketika mengenal bahwa yang lewat itu adalah para perampok, anak buah Hui-houwpang.
Ia bisa mengenal mereka karena yang mengepalai rombongan ini tak lain adalah ketua Hui-houwpang
yang bernama Lauw Teng, si kepala rampok gemuk pendek bermuka kuning yang pernah ia
permainkan dahulu itu.
Orang-orang itu agaknya sudah melihat si pemuda aneh yang sedang mandi, buktinya mereka berseru dan
pergi ke tempat itu.
dunia-kangouw.blogspot.com
Sekali lagi terpaksa Loan Ki meramkan mata. Kali ini ia tidak membuang muka karena sedang asyik
menggerogoti paha harimau, akan tetapi dia meramkan mata rapat-rapat ketika melihat betapa laki-laki itu
meloncat ke luar dari dalam air sambil mengeluarkan suara yang tidak dimengertinya, tetapi ia dapat
menduga bahwa orang itu tentu sedang memaki-maki.
Geli juga hatinya dan sejenak kemudian ia mengintai dari balik bulu matanya yang panjang. Belum berani
ia membuka matanya dan mata kiri yang dibuka sedikit saja itu siap ditutup kembali cepat-cepat kalau
orang aneh itu masih juga belum berpakaian.
Akan tetapi setelah mengintai dari balik bulu mata, ia menjadi lega. Dibukanya sepasang mata yang lebar
itu, dan jelita itu terbelalak. Dia melihat betapa laki-laki aneh itu sudah berpakaian, malah sedang memakai
bajunya. Dia marah-marah dan memaki-maki dengan bahasa asing itu sambil menuding-nuding ke arah
rombongan Lauw Teng dan ke arah api unggun yang sudah mulai padam di mana tadi paha harimau
dipanggangnya.
Lauw Teng dan rombongannya agaknya juga bingung menghadapi orang yang tak dapat dimengerti
bahasanya itu. Tiba-tiba seorang anak buah perampok itu berseru,
"Wah, dia orang Jepangl Dia tentu bajak laut Jepang, entah bagaimana bisa kesasar ke sini!"
Ramai mereka bicara dan semua orang sudah mencabut senjata untuk mengeroyok bajak laut Jepang
yang selalu dimusuhi oleh semua orang itu.
Mendadak orang aneh itu bicara dalam bahasa daerah yang kaku, akan tetapi cukup jelas dan lancar.
"Tutup mulut! Enak saja kalian menyangka orang. Aku memang orang Jepang, akan tetapi sama sekali
bukan bajak laut!"
Tiba-tiba matanya memandang ke arah belakang rombongan di mana terdapat beberapa orang wanita
yang dibelenggu kedua tangannya dan ujung rantai panjang dipegang oleh beberapa orang pula seperti
orang-orang menuntun domba saja. Orang itu memaki-maki lagi dalam bahasa Jepang, lalu menudingkan
telunjuknya ke arah orang-orang perempuan itu dan bertanya,
"Siapa mereka itu? Kalian ini mau apa menangkapi mereka? Heh, kalian menyebut aku bajak laut, agaknya
kalian inilah bangsa penjahat yang menculik gadis-gadis orang!"
Lauw Teng melangkah maju, suaranya kereng, "Hei, orang asing, jangan kau berlancang mulut!
Ketahuilah, kau berhadapan dengan Hui-houw-pang, dan akulah Hui-houw Pangcu Lauw Teng. Hayo
menyerah menjadi tawanan kami, agar sekalian kami bawa ke kota raja, dari pada kau menjadi makanan
golokku yang tak akan mengenal ampun lagi."
Laki-laki Jepang itu tertawa pendek, lalu menepuk dada dengan tangan kiri dan menepuk gagang
pedangnya dengan tangan kanan "Huh, kiranya kalian ini hanya ular-ular tanah biasa. Wah, memang
nasibku, jauh-jauh datang dari negeriku untuk mencari guru yang pandai di sini, kiranya yang kujumpai
sama sekali bukan guru-guru pandai, melainkan penjahat-penjahat biadab. Ehh, Lauw Teng, tentang
menangkap aku menjadi tawanan mudah saja, akan tetapi katakan lebih dulu, siapakah wanita-wanita itu
dan mengapa kau menculiknya? Seorang laki-laki harus berani mempertanggung jawabkan perbuatannya."
Lauw Teng tertawa bergelak. Agaknya ucapan ini menggelikan hatinya. Dia mengangkat dada dan berkata,
"Hei, orang gila... dengarlah baik-baik. Memang pekerjaan kami adalah penjaga gunung dan hutan, akan
tetapi kami bukan tukang menculik gadis-gadis cantik. Ketahuilah, semua gadis-gadis ini akan kami bawa
ke kota raja sebab kaisar baru sedang mengadakan pemilihan gadis-gadis cantik untuk menambah jumlah
selir barunya. Gadis yang dengan suka rela hendak memasuki pemilihan itu tentu diangkut dengan tandu,
akan tetapi gadis-gadis kepala batu yang menolak ini terpaksa kami belenggu dan kami bawa dengan
paksa."
Laki-laki itu menyumpah-nyumpah dalam bahasa Jepang, membanting kaki kanannya, lalu berkata,
"Keparat... Kiranya di mana-mana sama saja. Orang-orang besar kerjanya hanya memuaskan nafsu
jahatnya, tenggelam dalam kemewahan dan kesenangan. Aha, penjahat-penjahat rendah. Untuk perbuatan
kalian mencuri daging panggangku, aku mau memberi ampun. Akan tetapi untuk perbuatan menculik gadis
itu, jangan harap aku dapat mengampuni kalau kalian tidak segera membebaskan mereka!"
dunia-kangouw.blogspot.com
"Aduh...!" Loan Ki baiknya dapat menahan jeritnya sambil menutup mulut dengan tangan.
Ia tadi sedang makan daging sambil seluruh perhatiannya tertuju ke bawah, amat kagum mendengar
ucapan orang asing yang ternyata seorang Jepang itu. Begitu asyiknya dia mendengarkan sampai-sampai
beberapa kali ia kena menggigit tulang paha, malah baru saja ia salah menggigit bibir sehingga tanpa
terasa ia mengeluarkan keluhan mengaduh!
"Huh, dasar daging curian, dimakan pun dapat mendatangkan celaka!" gerutunya sambil melempar paha
yang tinggal tulang-tulangnya saja itu.
Bibirnya agak menyendol oleh gigitan tadi. Ia kini nongkrong di atas cabang dan mengintai terus, hatinya
tertarik sekali dan kegembiraan memenuhi hatinya karena ia merasa yakin akan menyaksikan
pertandingan yang menarik.
Sementara itu, ketua Hui-houw-pang sebetulnya kagum melihat pemuda Jepang yang bertubuh kokoh kuat
dan bersikap gagah itu. Diam-diam dia merasa sayang dan alangkah baiknya kalau dia dapat menarik
orang ini menjadi anak buahnya, karena selain dia dapat mempergunakan tenaganya, juga orang ini tentu
akan dapat dijadikan perantara untuk berhubungan dengan para bajak Jepang yang terkenal itu sehingga
menambah kekuatan Hui-houw-pang.
Maka dia kemudian berkata, "Orang muda Jepang, kau benar-benar sombong. Kalau kau hendak mencari
guru, tidak usah jauh-jauh, sekarang juga kau sudah berhadapan dengan seorang guru. Siapakah namamu
dan kalau kau mau, aku suka menerima kau sebagai muridku."
Pemuda itu mengerutkan alisnya yang tebal panjang berbentuk golok, memandang tajam. "Kau...? Kepala
tukang culik gadis menjadi guruku? Hemmm, aku Nagai Ici, di negeriku terkenal dengan julukan Samurai
Merah! Orang yang patut menjadi guruku harus dapat mengalahkan pedang samuraiku lebih dulu!"
"Buaya Jepang, jangan menjual lagak di sini!" bentak seorang anak buah Hui-houw-pang yang menjadi
kaki tangan Lauw Teng.
Perampok itu bertubuh tinggi besar dan terkenal akan tenaganya yang kuat seperti gajah. Melihat betapa
seorang pemuda Jepang yang ukuran tubuhnya hanya sedang saja berani menghina dan menantang
kepalanya, dia tak dapat menahan sabar lagi.
"Pangcu (ketua), biarlah saya menghajarnya!"
Lauw Teng menganggukkan kepala. Memang dia ingin menguji kepandaian orang Jepang ini agar dia
dapat menilai sampai di mana kemampuannya.
Pembantunya itu sambil berseru keras lalu menyerbu dengan tangan kosong, melakukan penyerangan
dengan kedua lengannya yang besar dan kuat. Kepalan tangannya yang sebesar kepala orang itu
menyambar, bertubi-tubi menghantam ke arah leher dan dada Nagai Ici.
Nagai Ici yang berjuluk Samurai Merah itu seperti semua pendekar di negerinya, sama pula dengan para
pendekar di Tiongkok, tidak mau sembarangan menggunakan pedang bila tidak terpaksa. Melihat
datangnya serangan yang biar pun amat kuat namun lamban ini, dia bersikap tenang-tenang saja.
Begitu kepalan tangan itu menyambarnya, dia tidak mengelak mundur, malah melangkah maju sambil
miringkan tubuhnya, kemudian secepat kilat dari pinggir dia mencengkeram, sekaligus dia berhasil
mencengkeram belakang siku kanan lawan dan belakang leher. Kakinya cepat digeser memasuki
selangkangan lawan, tubuhnya direndahkan dan...sekali gentak tubuh lawannya yang tinggi besar itu
terbang ke atas sampai tiga meter tingginya, lalu terbanting roboh seperti pohon tumbang. Orang itu
terbanting keras dan tidak mampu bangun kembali!
Nagai Ici tersenyum mengejek. "Begini sajakah kemampuan orangmu? Hemmm, pantas pekerjaannya
menculik gadis-gadis lemah!"
Dari tempat yang tinggi di atas pohon, Loan Ki menonton dengan penuh perhatian. Dia kagum karena ilmu
gulat yang dipergunakan orang Jepang itu benar-benar cepat dan tangkas. Itulah ilmu yang mengandung
tenaga lweekang dengan cara meminjam tenaga lawan, sekali gentak dapat membikin lawan terlempar dan
dunia-kangouw.blogspot.com
terbanting. Benar-benar cerdik sekali gerakan tadi dan dia dapat menduga bahwa menghadapi orang
Jepang ini amatlah tidak baik kalau lawan sampai kena terpegang.
Lauw Teng juga amat kagum dan gembira. Ternyata dugaannya tidak keliru. Orang muda Jepang ini kuat
dan tangkas, cukup berharga untuk dijadikan pembantunya. Akan tetapi dia belum yakin betul, maka dia
memberi tanda kepada tiga orang pembantunya untuk maju mengeroyok.
Tiga orang pembantu ini meloncat ke depan dan menghunus golok mereka. Mereka ini adalah tiga orang
yang boleh diandalkan karena termasuk murid-murid pilihan dari Lauw Teng yang sudah menerima
pelajaran ilmu golok ketua Hui-houw-pang itu,
"Eh-ehh, beginikah kegagahan Hui-houw-pang? Ha-ha-ha, macan terbang macam apa ini, beraninya
melakukan pengeroyokan?" Nagai Ici mengejek.
Hui-houw-pang berarti Perkumpulan Macan Terbang, maka ejekan ini benar-benar sudah memanaskan
hati orang-orang Hui-houw-pang. Akan tetapi Lauw Teng yang mempunyai maksud menarik pemuda
Jepang itu untuk memperkuat kedudukan perkumpulannya tidak marah melainkan menjawab,
"Kau kalahkan dulu tiga orang pembantuku ini, kalau bisa mengalahkan mereka baru kau cukup berharga
untuk melawanku." Dengan ucapan ini, sekaligus Lauw Teng menangkis ejekan itu dan malah mengangkat
kedudukan dirinya sendiri.
"Bagus! Majulah!" Nagai Ici menantang tiga perampok itu tanpa mencabut pedangnya, akan tetapi kudakudanya
yang kokoh kuat membayangkan bahwa setiap saat ia siap mencabut senjata itu karena tangan
kirinya dengan jari-jari terbuka berdiri lurus di depan dada sedangkan tangan kanannya melintang di
pinggang mendekati gagang pedang.
"Jepang sombong, cabut pedangmu!" bentak seorang di antara tiga pembantu Lauw Teng itu.
Mereka ini terkenal sebagai tukang-tukang pukul ketua Hui-houw-pang, ilmu golok mereka ditakuti orang,
masa sekarang sekaligus maju bertiga menghadapi seorang Jepang yang bertangan kosong?
"Hehh, tidak biasa Samurai Merah diperintah orang untuk mencabut samurai atau tidak. Samurai dicabut
untuk dipergunakan, bukan untuk pameran seperti golok kalian. Apa bila saatnya tiba, tak usah kalian
minta, samurai tentu akan kucabut dan kalau sudah begitu, kalian menyesal pun sudah terlambat!"
Ucapan ini gagah dan tabah, akan tetapi juga memanaskan hati. Tiga orang itu menjadi marah sekali,
sambil berteriak memaki lantas menggerakkan golok masing-masing. Sinar golok berkilauan segera
menyambar dan mengurung diri Samurai Merah.
Pendekar muda dari Jepang itu berusaha untuk menggunakan kegesitannya menghindar dan mencari
kesempatan untuk menangkap lengan lawan. Tetapi diam-diam dia merasa terkejut. Pendekar ini belum
lama datang dari Jepang, belum banyak bertanding melawan jago-jago silat di Tiongkok sehingga dia tidak
begitu mengerti akan sifat ilmu silat yang asing baginya ini.
Ilmu silat mengutamakan kecepatan, sama sekali tak memberi kesempatan kepada lawan untuk balas
menyerang. Apa lagi ilmu golok adalah ilmu permainan senjata yang paling cepat gerakannya, yang
mengutamakan bacokan, guratan dan tusukan sehingga mata golok yang amat tajam dan ujungnya yang
runcing itu tiada hentinya menyambar mencari kulit dan daging lawan.
Melihat betapa tiga batang golok itu mengurung dirinya dari semua penjuru, sibuk jugalah Nagai Ici.
Baiknya dia memang memiliki kegesitan yang luar biasa sehingga biar pun dia harus pontang-panting,
melejit dan berjumpalitan ke sana ke mari, masih dapat juga dia menyelamatkan dirinya. Dia berteriak
keras dan tubuhnya mencelat lima meter jauhnya keluar dari kalangan pertempuran.
Tiga orang pengeroyoknya mendapat hati, mengira bahwa jago Jepang itu terdesak dan ketakutan
sehingga melarikan diri. Sambil memaki dan tertawa mengejek ketiganya lalu menyerbu sekaligus dan
menghujani serangan kepada Nagai Ici Si Samurai Merah.
Tiba-tiba terdengar pekik dahsyat dari mulut jago Jepang itu,
"Yaaaat…! Yaaaat…! Yaaaat…!" disusul menyambarnya sinar kemerahan tiga kali pula.
dunia-kangouw.blogspot.com
Terdengar pekik kesakitan, golok jatuh berdencing dan pertempuran kacau balau. Ketika keadaan hening
kembali, jago muda dari Jepang itu sudah berdiri dengan kuda-kudanya yang gagah, yaitu kedua kaki
dipentang lebar, tubuh merendah, tangan kiri diangkat tinggi di atas kepala dengan jari-jari terbuka lurus ke
atas, tangan kanan di atas gagang pedang samurai yang ternyata sekarang sudah bersarang kembali ke
dalam sarung pedang pada pinggangnya.
Sepasang matanya yang tajam berkilau itu menyapu kanan kiri. Sikapnya garang dan gagah seperti seekor
harimau menghadapi bahaya!
Loan Ki kagum bukan main. Ini merupakan pemandangan yang baru baginya. Tiga orang pengeroyok tadi
kini terhuyung-huyung ke belakang memegangi lengan kanan masing-masing yang sudah tidak bertangan
lagi! Kiranya tangan kanan mereka sudah putus sebatas pergelangan dan jatuh berikut golok yang
dipegangnya. Hebat sekali gerakan samurai tadi.
Di samping kekagumannya, Loan Ki juga gembira sekali. Selama hidupnya belum pernah dia menyaksikan
sikap dan gerak-gerik seorang jago silat seperti orang itu. Setiap orang jago silat yang dia ketahui,
mengandalkan kecepatan yang wajar, mengambil inti sari ilmu silat yang praktis dan pada pertandingan
langsung dipakai untuk mencapai kemenangan mendahului lawan. Akan tetapi jago Jepang ini lain lagi. Dia
nampak tenang dan diam, seperti ayam jantan kalau lagi berlagak, diam tapi menanti saat untuk
merobohkan lawan seperti yang dia perbuat tadi.
Samurai telah dicabut dan benar seperti katanya tadi, sekali mencabut samurai pasti akan digunakan
dengan hasil baik dan sekarang, sebelum pulih mata yang menjadi silau oleh kelebatan samurai, pedang
itu sendiri telah bersarang kembali di tempatnya!
Lauw Teng juga kagum. Meski tiga orang pembantunya menjadi orang-orang tiada guna lagi karena tangan
kanan mereka buntung, namun dia tidak kehilangan kegembiraannya. Makin besar hasratnya menarik jago
Jepang itu menjadi pembantunya, dan dia merasa bahwa dia tak akan kalah dalam hal ilmu silat melawan
jago Jepang ini.
"Bagus, Nagai Ici. Kau benar-benar gagah perkasa. Makin suka aku untuk menerimamu sebagai murid
atau pembantuku. Lebih baik kita sudahi saja pertentangan ini dan kau kuangkat menjadi pembantuku,
juga muridku. Bagaimana?"
Pandang mata Nagai Ici melayang ke arah lima orang gadis tawanan itu dan mukanya menjadi merah. Dia
berkata marah, "Siapa sudi menjadi penculik gadis-gadis!"
Lauw Teng tersenyum, lalu memberi isyarat kepada orang-orangnya. Kelima orang gadis tawanan yang
ternyata sangat cantik-cantik itu digiring maju, juga dua orang memanggul dua buah peti kayu hitam.
Lauw Teng menghampiri dua peti kayu itu, lalu dibukanya. Kiranya terisi barang-barang perhiasan terbuat
dari pada perak dan emas terhias batu-batu permata yang berkilauan!
"Nagai Ici, kau lihat ini. Indah dan berharga sekali, bukan? Nah, dua peti benda berharga ini kuhadiahkan
kepadamu kalau kau suka menjadi pembantuku dan seterusnya kau akan hidup dalam kemewahan!"
Pemuda Jepang itu mendengus seperti kuda mencium asap. "Heh! Samurai Merah tidak tamak akan harta
benda!" jawabnya dengan suara kereng. "Lauw Teng, tidak perlu kau membujukku dengan pameran emas
permata. Biar kau tambah sepuluh kali itu, aku tidak sudi!"
Lauw Teng menutupkan kembali dua peti emas itu, lalu menarik tangan seorang gadis tawanan yang
paling cantik di antara kelima orang gadis itu.
Gadis ini masih muda, paling tua lima belas tahun usianya, tubuhnya ramping wajahnya cantik jelita.
Sayang gadis itu nampak berduka, matanya sayu dan mukanya agak pucat, kain penutup leher terbuka
sehingga terbayang kulit lehernya yang putih kuning berkulit halus.
"Ehh, Nagai Ici, kau lihat gadis ini. Cantik jelita dan molek! Pantas ia menjadi selir baru terkasih dari kaisar.
Akan tetapi, biarlah kuberikan ia kepadamu! Atau, kau boleh pilih di antara mereka ini, biar kuberikan
kepadamu asal kau suka membantu kami. Apa katamu? Kau gagah dan masih muda, patut mempunyai
kekasih secantik ia ini, ha-ha-ha!"
dunia-kangouw.blogspot.com
Sepasang mata pemuda Jepang itu memandangi gadis itu, dari atas ke bawah, lalu ke atas lagi untuk
kemudian berhenti menatapi wajah gadis itu. Yang dipandang menunduk saja. Pandang mata Nagai Ici
kemudian beralih kembali kepada Lauw Teng yang sedang memandangnya dengan senyum penuh harap.
"Lauw-pangcu, aku suka sekali menjadi muridmu asal kau dapat memenuhi tiga macam syaratku."
Lauw Teng sama sekali bukan terlalu ingin menarik pemuda Jepang itu sebagai murid. Maksud
sebenarnya dari pada keinginan hatinya ini berdasarkan kepada perhitungan agar melalui orang Jepang ini
dia dapat mengadakan hubungan baik dan saling bantu dengan para bajak laut Jepang yang terkenal kuat.
Hatinya tentu saja mendongkol sekali melihat sikap Nagai Ici yang demikian ‘jual mahal’.
Akan tetapi dia tersenyum dan menjawab. "Boleh... boleh..., katakan apa syarat-syaratmu yang tiga itu."
Loan Ki yang masih mengintai dan mendengarkan dari atas pohon, tertarik sekali dan alangkah kecewa,
mendongkol dan marah hatinya ketika ia mendengar jawaban Nagai Ici yang mengemukakan syaratsyaratnya.
"Syarat pertama, dua peti harta itu diberikan kepadaku..."
"Ha-ha-ha, boleh... boleh...! Memang tadi pun hendak kuberikan kepadamu!" jawab Lauw Teng sambil
tertawa bergelak.
"Syarat ke dua, lima orang nona itu semua diserahkan kepadaku..."
Sepasang mata Lauw Teng terbelalak melotot, kemudian dia tertawa berkakakan sampai perutnya yang
gendut itu bergoyang-goyang.
"Ha-ha-ha-ha, waduh lahapnya! Lima sekaligus? Ha-ha-ha, tidak kusangka kau begini... begini... Ha-ha-haha!"
"Setuju tidak dengan syarat kedua ini?" desak Nagai Ici tanpa pedulikan kelakar orang. Wajahnya masih
kereng dan sikapnya sungguh-sungguh.
"...eeehmmm, sebetulnya susah... mereka ini untuk kaisar... tetapi biarlah, kami akan cari penggantinya.
Nah, kau boleh ambil semua gadis ini, memang mereka cantik-cantik dan masing-masing memiliki
keindahan khas. Ha-ha-ha-ha, boleh kau ambil semua, Nagai Ici. Sekarang katakan, apa syarat ke tiga?"
"Nanti dulu, aku akan membereskan yang sudah diberikan padaku," kata pemuda Jepang itu sambil
tersenyum. Wajahnya yang gagah tampan itu berseri ketika dia menghampiri lima orang gadis tawanan itu.
Gadis-gadis itu memandang kepadanya dengan pelbagai perasaan. Ada yang nampak girang penuh
harapan, ada yang takut-takut, akan tetapi rata-rata mereka merasa lebih senang terjatuh ke dalam tangan
pemuda asing yang ganteng ini dari pada berada di tangan para perampok yang kasar dan bermulut kotor
itu.
Loan Ki merasa mukanya panas dan dadanya penuh hawa amarah. Ingin dia meloncat turun dan
menyerang orang Jepang yang tamak dan mata keranjang itu. Masa lima orang gadis dimintanya semua?
Ini sudah keranjingan namanya! Akan tetapi dia menahan diri dan memandang terus, kali ini pandang
matanya terhadap pemuda Jepang itu sudah tidak bersinar kagum seperti tadi, akan tetapi bersinar panas
berapi-api.
Nagai Ici dengan muka berseri-seri dan mulut tersenyum lalu mendekati gadis pertama, tangannya
bergerak maju seperti orang hendak memeluk, mukanya pun mendekat seperti orang hendak mencium!
Gadis itu menjadi merah mukanya dan mundur selangkah, akan tetapi Nagai Ici maju terus dan di lain saat
tali yang membelenggu kedua tangan gadis itu sudah putus oleh sekali renggutan tangan Nagai Ici yang
amat kuat.
Gadis itu tercengang, melihat kedua tangannya yang telah bebas dan dengan bingung kini memandang
pemuda asing yang telah menghampiri gadis ke dua, melepaskan belenggu, kemudian maju untuk
menolong gadis-gadis yang lain. Setelah lima orang gadis itu bebas semua, dia mundur dan membungkuk
dunia-kangouw.blogspot.com
dengan dalam di depan lima orang gadis itu yang kini hanya dapat berdiri melongo memandangnya
dengan sinar mata bingung, heran, dan juga terima kasih bercampur keraguan.
Nagai Ici kemudian menghampiri dua kotak tadi, membukanya dan mengambil perhiasan-perhiasan
berharga itu, membagi-bagikan kepada kelima orang gadis tadi sekuat tenaga mereka membawa, malah ia
membantu mengalung-ngalungkan perhiasan pada leher dan lengan mereka.
Semua ini ditonton oleh Lauw Teng yang tertawa-tawa, juga para perampok tertawa-tawa akibat merasa
geli melihat tingkah laku pemuda Jepang yang agaknya hendak mengambil hati para gadis itu sebelum
memaksa mereka menjadi selir-selirnya. Benar-benar seorang pemuda yang cerdik, pikir mereka. Hal
pertama yang dia lakukan adalah membanjiri para gadis itu dengan barang-barang hadiah untuk merebut
hati dan kasih!
Yang paling mendongkol adalah Loan Ki. Hatinya lantas memaki-maki, "Laki-laki ceriwis! Pemuda gila
perempuan! Si mata keranjang menyebalkan!"
Akan tetapi semua orang menjadi terheran-heran, juga Loan Ki, ketika melihat Samurai Merah itu sekali
lagi menjura dalam sampai kepalanya hampir menyentuh tanah di depan para gadis itu sambil berkata,
"Sekarang, Nona sekalian silakan pulang ke rumah masing-masing. Kalian kubebaskan!"
Lima orang gadis itu menjadi lebih heran dan bingung lagi. Mereka saling pandang, tidak kuasa
mengeluarkan kata-kata saking terharu serta bingungnya, hanya nampak mereka menggeleng kepala,
malah ada yang mulai menangis.
Nagai Ici memandang dengan mata terbelalak, kemudian mengerutkan alisnya yang tebal, menggelenggeleng
kepala dan berkata,
"Ahh, agaknya Nona sekalian tidak berani pulang sendiri? Baiklah, silakan kalian mengaso di sana, di
bawah pohon besar itu, biar aku menyelesaikan urusanku dengan orang-orang ini. Nanti saya yang akan
mengantar Nona semua pulang ke kampung dan rumah masing-masing.”
Lima orang gadis itu menjadi girang bukan main. Mulailah wajah mereka berseri-seri dan senyum-senyum
manis tersembul di balik keharuan dan air mata, menambah jelita wajah dara-dara muda itu. Dengan
langkah halus dan tertatih-tatih karena beban barang-barang berharga itu terlampau berat, mereka
mentaati permintaan Nagai Ici dan pergi ke bawah pohon besar, lalu duduk bersimpuh di atas akar pohon.
Loan Ki yang bersembunyi di atas pohon itu, diam-diam menjadi merah mukanya, malu kepada diri sendiri
yang tadi telah memaki-maki pemuda Jepang itu dengan tuduhan yang bukan-bukan. Sekarang ia kembali
mencurahkan perhatiannya pada pendekar muda dari Jepang itu.
Sementara itu, Lauw Teng mulai curiga dan marah. Dia melangkah maju, meraba gagang goloknya dan
suaranya sudah kehilangan keramahannya ketika dia bertanya, "Nagai Ici, apa maksudmu dengan semua
ini? Jangan kau main-main denganku!"
Dengan senyum mengejeknya pemuda Jepang itu membalikkan tubuh menghadapi ketua Hui-houw-pang,
membungkuk dengan caranya yang dalam pandangan Loan Ki amat lucu itu dan berkata, "Hui-houw
Pangcu Lauw Teng. Kau tadi menyanggupi tiga macam syarat, dan yang dua sudah kau penuhi, terima
kasih. Tinggal sebuah syarat lagi, kalau ini kau penuhi, aku Nagai Ici Si Samurai Merah berjanji akan suka
menjadi muridmu atau malah pembantumu sekali pun."
"Hemmm, kau katakan lekas, apa syarat ke tiga itu?"
"Kau dan anak buahmu bukanlah manusia baik-baik. Orang macam kau ini mana patut menjadi guruku?
Andai kata kau sepuluh kali lipat lebih pandai sekali pun, tidak sudi aku menjadi murid dari seorang
penjahat keji yang suka menculik gadis dan merampok harta orang lain. Lauw Teng, dengarlah. Syaratku
ketiga adalah, kalau kau bisa memenangkan samuraiku dan mampu memenggal batang leherku, barulah
aku suka menjadi murid atau pembantumu."
Loan Ki di atas pohon terkikik menahan tawa. Geli hatinya melihat Lauw Teng si gendut yang menjadi
melongo penuh amarah dan kecewa itu, di samping hatinya merasa girang bahwa pemuda Jepang yang
menarik hatinya serta mengagumkannya itu ternyata benar seorang gagah yang hebat. Kembali ia bersiap
sedia untuk membantu Samurai Merah itu andai kata terancam bahaya.
dunia-kangouw.blogspot.com
Memang marah sekali Lauw Teng. Sambil berseru keras dia mencabut goloknya yang tajam berkilauan.
"Bagus, kau Jepang keparat! Kalau kau ingin mampus, mengapa tidak sejak tadi bilang terus terang?
Manusia tak tahu diri, diberi hati merogoh jantung, keparat!"
Golok Lauw Teng berkelebat dan dengan kemarahan meluap-luap ketua Hui-houw-pang itu menerjang Ici.
Serangannya hebat dan dahsyat, golok menyambar menjadi kilat maut menyilaukan mata.
Samurai Merah terkejut juga dan maklum bahwa kini dia menghadapi lawan yang pandai. Oleh karena itu
ia pun tidak berani memandang ringan. Cepat dia melompat ke belakang sejauh dua meter dan tangannya
meraih pinggang.
"Srattt!"
Sinar berkilau ketika samurai yang merupakan pedang panjang melengkung itu tercabut dari sarungnya.
Baru sekarang Loan Ki dapat melihat pedang itu dengan jelas. Dia kagum dan heran. Kagum karena
sebagai puteri seorang pendekar pedang, tentu saja ia juga seorang ahli pedang dan tahu akan pedangpedang
baik. Biar pun hanya melihat dari tempat jauh, ia dapat menduga bahwa pedang aneh itu terbuat
dari pada bahan yang baik sekali. Bukan baja yang baik kalau tidak dapat mengeluarkan suara mengaung
seperti itu ketika dicabut dari sarungnya.
Pedang itu tajam seperti silet, bermata sebelah dan termasuk golongan pedang panjang. Akan tetapi
karena agak melengkung, tentu cara memainkannya seperti orang bermain golok. Anehnya, gagangnya
terlampau panjang sehingga Loan Ki meragu apakah dengan gagang pedang macam itu orang dapat
bersilat dengan baik?
Dengan hati berdebar Loan Ki melihat betapa pemuda Jepang itu sudah siap, memasang kuda-kuda yang
amat teguh. Tubuhnya merendah, mata tenang tajam memandang lawan dan... kedua tangannya
memegang gagang pedang itu. Hampir Loan Ki tertawa. Inilah aneh, pikirnya.
Walau pun tadi sudah menyaksikan sendiri betapa lihainya Samurai Merah ini membabat buntung tangan
ketiga orang pembantunya, akan tetapi melihat pasangan kuda-kuda jago muda Jepang itu, Lauw Teng
hanya memandang rendah. Sambil membentak nyaring dia menerjang lagi, goloknya bagaikan balingbaling
yang diputar makin lama semakin cepat, merupakan gulungan sinar putih mengurung diri lawan.
"Haiiiiit!" Samurai Merah mengayun samurai sambil meloncat.
Terdengar suara nyaring disusul bunga api muncrat pada saat dua senjata itu bertemu di udara. Diam-diam
mereka memuji tenaga lawan yang sanggup membuat tangan masing-masing bergetar. Namun Lauw Teng
yang sudah banyak pengalaman itu terus menerjang, mempergunakan kegesitannya karena melihat
betapa ilmu pedang lawan ini kurang gesit nampaknya.
Dugaannya keliru. Biar pun gerak-geriknya kaku dan aneh, kiranya jago muda Jepang itu sanggup
mengimbangi permainannya, melompat-lompat dan seakan-akan bukan dia yang memainkan pedang, tapi
pedangnya yang bergerak-gerak dan membawa serta tubuhnya. Tubuh Nagai Ici dan pedangnya seakanakan
menjadi satu ketika mencelat ke kanan kiri untuk menangkis dan balas membacok!
Kalau sudah bersilat seperti itu, tidak banyak bedanya kedudukan tubuhnya dengan para ahli pedang di
Tiongkok. Akan tetapi setiap kali ada kesempatan dan tidak terdesak, tentu dia akan berdiri tegak
memasang kuda-kuda di atas tanah, diam tak bergerak bagaikan patung, hanya biji matanya saja yang liar
bergerak mengikuti gerakan lawan, sedangkan pedangnya yang dipegang dengan kedua tangan itu
diacungkan ke depan dada, ujungnya mengikuti gerakan lawan pula.
Loan Ki tertawa senang. Boleh juga bocah ini, pikirnya. Apa lagi kalau dia sedang berdiri seperti itu
mengikuti gerakan lawan, gagah juga!
"Keparat, mampuslah!" teriak Lauw Teng yang sudah menerjang lagi.
Sejenak dia berhenti dan mengkal hatinya melihat lawannya laksana patung tidak balas menyerang atau
lebih tepat, tidak mau mendahului menyerang itu. Akan tetapi begitu dia kembali menyerang, Samurai
Merah itu selain menangkis dan mengelak, juga cepat balas membacok. Bahkan kali ini tidak ada bacokan
dunia-kangouw.blogspot.com
golok yang tidak dibalas. Setiap bacokan dibalas dengan bacokan pula sehingga pertandingan itu ramai
bukan main. Amat seru dan setiap kali pedang atau golok berkilat, berarti tangan maut menjangkau
mencari nyawa!
"Aduh sayang...," diam-diam Loan Ki menyesal melihat jalannya pertandingan seperti itu. "Ilmu pedangnya
aneh dan boleh juga, akan tetapi mengapa demikian lambat dan banyak membiarkan kesempatan berlalu
percuma? Kurang agresip, wah, sayang benar. Jika lebih agresip sedikit saja, hanya dalam belasan jurus
saja si katak gendut itu tentu sudah dapat dikalahkan."
Memang pendapat Loan Ki ini benar. Ilmu pedang Samurai Merah itu sangat kuat dalam pertahanan,
bahkan setiap kali bertahan selalu dirangkai dengan serangan balasan. Akan tetapi kurang cepat dan
kurang agresip.
Biasanya, pemain pedang malah menghujani serangan dengan maksud membuat lawan bingung dan
pertahanannya menjadi lemah sehingga banyak tercipta lowongan-lowongan untuk dimasuki. Akan tetapi,
permainan pedang gaya Jepang ini agaknya hanya mencari lowongan di waktu lawan menyerang.
Memang hal itu benar juga karena setiap penyerangan berarti membuka pintu pertahanan, akan tetapi
karena dia sendiri sudah diserang, maka tentu saja penyerangan balasannya kurang kuat karena tidak
dilakukan dengan tenaga dan perhatian sepenuhnya. Sebagian tenaga dan perhatian sudah dipakai untuk
mempertahankan diri dari penyerangan lawan.
Betapa pun juga, lambat laun Samurai Merah dapat pula mendesak Lauw Teng. Memang harus diakui
bahwa selain ilmu pedangnya aneh dan sulit diduga perkembangannya, juga pemuda ini menang gesit dan
menang kuat. Kini penyerangan Lauw Teng makin lemah dan balasan dari Samurai Merah itu makin hebat.
Malah setiap bacokan dibalas dengan dua tiga kali bacokan sekaligus yang membuat Lauw Teng
kelabakan!
Karena makin lama semakin repot, timbullah rasa takut di hati Lauw Teng sehingga ketua Hui-houw-pang
yang amat terkenal di Propinsi Shan-tung sebagai perkumpulan perampok yang ganas ini mulai berteriakteriak
minta tolong dan bantuan dari anak buahnya!
Inilah saat yang ditunggu-tunggu oleh para perampok itu. Semenjak tadi mereka sudah mendongkol dan
marah sekali terhadap pemuda yang agaknya akan diambil hatinya oleh ketua mereka. Begitu mendengar
teriakan sang ketua, serentak mereka lalu melakukan pengeroyokan dengan senjata di tangan.
Samurai Merah tertawa bergelak, lalu mengamuk. Berkali-kali terdengar pekiknya yang dahsyat.
"Yaaaattt!"
Setiap kali dia memekik, tentu seorang di antara pengeroyoknya roboh mandi darah, dan samurainya
selalu berhasil mendapatkan korban, membabat putus tangan, kaki, hidung, telinga, bahkan ada dua orang
yang buntung lehernya!
Pertempuran semakin hebat mengerikan. Walau pun jagoan muda Jepang itu mengamuk seperti seekor
harimau muda, menghadapi pengeroyokan para perampok yang nekat dan rata-rata memiliki kepandaian
cukup tinggi itu, akhirnya dia kewalahan juga.
Loan Ki merasa sudah cukup lama menjadi penonton. Ia melayang turun dari atas cabang pohon,
membuat kelima orang gadis yang sudah ketakutan setengah mati menyaksikan orang-orang bertempur,
darah muncrat serta tubuh luka-luka itu, kini terkejut bukan main melihat betapa dari atas pohon tiba-tiba
ada seorang manusia ‘terbang’ melewati kepala mereka!
"Hemmm, Lauw Teng perampok hina, masih beranikah kau menjual lagak mengandalkan pengeroyokan
menghina orang?"
Lauw Teng menengok dan wajahnya seketika menjadi pucat. Tentu saja dia mengenal gadis yang berdiri
tegak dengan kedua tangan bertolak pinggang dengan sikap gagah itu. Siapa lagi kalau bukan dara lincah
yang amat gagah perkasa, yang pernah tanpa gentar merobohkan banyak anak buah Hui-houw-pang dan
Kiang-liong-pang digabung menjadi satu.
dunia-kangouw.blogspot.com
Apa lagi kalau dia ingat bahwa munculnya gadis sakti ini mungkin sekali disusul pula oleh pendekar buta
yang seperti iblis itu. Hatinya sudah setengah membeku saking takut dan gentarnya.
"Kawan-kawan... mundur...!" Ia memekikkan aba-aba ini sambil mendahului anak buahnya lari tungganglanggang
meninggalkan gelanggang pertempuran.
Tentu saja para anak buahnya juga sangat ketakutan melihat munculnya Loan Ki yang sudah mereka kenal
kelihaian pedangnya. Jago muda Jepang itu saja sudah cukup berat dilawan, apa lagi muncul dara hebat
ini.
Maka terjadilah perlombaan yang menarik, yaitu lomba lari tunggang-langgang bersicepat meninggalkan
tempat itu tanpa mempedulikan lagi teman-teman yang tewas atau terluka. Bahkan mereka yang terluka
berusaha pula ikut melarikan diri, walau pun mereka harus merangkak-rangkak dan terhuyung-huyung.
Sebentar saja keadaan di situ sudah sunyi. Para penjahat yang tinggal hanyalah mereka yang sudah
tewas, yaitu dua orang yang putus lehernya karena mereka ini tentu saja tak mungkin dapat berlari lagi.
Selain mayat dua orang penjahat ini, di situ berserakan pula potongan-potongan tangan, kaki, hidung,
telinga dan ceceran darah. Mengerikan sekali!
Sampai lama Nagai Ici berdiri melongo memandang Loan Ki yang masih tersenyum geli menyaksikan
tingkah laku para perampok itu. Hampir saja jago muda dari Jepang ini tidak percaya akan pandangan
mata sendiri serta pendengaran telinga sendiri. Mimpikah dia? Ataukah dia betul-betul melihat bidadari
turun dari kahyangan dan begitu melihat bidadari ini para perampok yang ganas dan kejam itu lari
tunggang-langgang ketakutan?
Inilah hal aneh yang baru pertama kali selama hidupnya dia saksikan. Seorang dara jelita berpakaian bagai
seorang pendekar, yang membawa-bawa pedang di pinggangnya, gadis cilik berusia belasan tahun,
ditakuti kawanan perampok yang ganas dan kejam?
Hampir Nagai Ici tertawa geli. Melihat lima orang gadis tawanan tadi, timbul kasihan dalam hatinya karena
sifat mereka itu sama dengan wanita-wanita di negerinya, lemah-lembut dan tidak berdaya, membutuhkan
pertolongan pria yang kuat. Akan tetapi dara muda ini, yang membawa-bawa pedang, sama sekali tak
membutuhkan perlindungan dan bantuan dirinya, malah sebaliknya seperti sudah membantunya karena
kemunculannya mengusir para penjahat yang tadi sudah membuat dia kewalahan dan repot terdesak.
Laki-laki atau perempuankah orang ini? Melihat dari sikap dan gerak-geriknya yang begitu gesit cekatan
dan gagah, patutnya seorang pria. Akan tetapi melihat wajah yang begitu manis dan kulit yang begitu
halus, bentuk tubuh yang begitu ramping dan padat tanpa otot-otot tentunya seorang wanita. Malah wanita
yang cantik jelita, dengan mata seperti bintang kejora, pipi sehat kemerahan, mulut yang amat manis.
Bukan main! Manusiakah atau bidadarikah?
Setelah semua penjahat itu melarikan diri, tiba-tiba saja Loan Ki merasa seakan-akan ada sesuatu yang
menarik dan memaksanya menoleh. Dia membalikkan tubuh memandang dan... dua pasang mata saling
pandang, dua sinar mata bertemu di udara. Seakan-akan mengandung besi sembrani, sinar mata itu
bertaut dan saling tempel sulit dilepaskan lagi! Pandang mata si pemuda penuh keheranan, kekaguman,
dan penghormatan. Pandang mata si pemudi penuh keramahan, pengertian, kegigihan dan setengah
mengejek bahkan menantang!
Bibir Loan Ki bergerak mengarah senyum. Geli dan senang hatinya melihat betapa orang itu melongo
seperti orang yang lupa ingatan, pedang bengkok itu masih dipegang dengan kedua tangan, kedua kaki
masih memasang kuda-kuda yang lucu dan aneh itu. Alangkah bagusnya kalau orang itu menjadi patung
dan dipasang di depan jalan masuk Pek-tiok-lim tempat tinggal ayahnya, pikir dara nakal ini. Pikirannya itu
membuat senyumnya melebar sehingga berkilatlah deretan gigi putih.
Agaknya kilauan gigi putih ini menyadarkan pula Nagai Ici yang terpesona itu. Dia menarik dua kakinya,
memasukkan pedang Samurai ke dalam sarung pedang, merangkap kedua tangan dalam bentuk sembah,
ditempelkan di depan dada lalu membungkuk dalam sekali sampai tubuhnya hampir berlipat dua.
Makin geli hati Loan Ki menyaksikan penghormatan seperti ini, tapi sebagai seorang gadis ia membalas
pula dengan mengangkat dua tangan ke depan dada dalam bentuk kepalan, dan tubuhnya dibongkokkan
sedikit dengan cara menekuk sedikit lutut kirinya.
dunia-kangouw.blogspot.com
"Bolehkah hamba bertanya... tuan ini siapakah? Manusia ataukah dewa?" tanya Nagai Ici dengan
bahasanya yang kaku namun cukup jelas.
Segera dia melengak kaget dan kembali melongo pada saat melihat betapa makhluk yang disangkanya
dewa itu mendadak terkekeh, tertawa geli sambil menutupi mulutnya dengan tangan, ciri kewanitaan yang
berlaku juga di Jepang!
"Hi-hi-hik... aduh lucunya... hi-hi-hik, maafkan aku... tak tahan aku... ahh, kau lucu sekali. Ehh, Nagai Ici
yang berjuluk Samurai Merah, pertanyaanmu tadi kukembalikan kepadamu, coba kau terka, aku ini
manusia ataukah dewa? Wah, jangan-jangan kau malah tidak tahu pula dari jenis apa aku ini, laki-laki
ataukah perempuan..."
Merah seluruh muka Nagai Ici. Makin bingunglah dia. Juga makin heran dan kaget. Kalau disebut dewa,
terang bukan karena ujudnya jelas manusia, menginjak tanah, tak memiliki sayap, dan malah ada bau yang
harum menyentuh hidungnya. Tetapi apa bila dikatakan manusia, mengapa begini aneh dan datang-datang
sudah mengenal nama dan julukannya segala!
"Saya... saya tidak tahu... ehh, maksud saya... ehh, tuan seperti manusia... dan tentunya seorang wanita
pula, tapi... ehh, kalau wanita masa ditakuti para perampok dan apa bila manusia, mana mungkin manusia
wanita bisa meloncat turun dari atas pohon yang begitu tinggi? Dan tuan... ehh, sudah tahu akan nama
saya pula..."
Kembali Loan Ki tertawa. "Nagai Ici, kau cukup gagah perkasa, akan tetapi sungguh amat bodoh. Sudah
pasti aku manusia, dan sudah jelas aku bukan laki-laki, masa kau tidak dapat membedakan? Tentang
namamu, tentu saja aku tahu karena sudah sejak tadi aku mengintai dari atas pohon. Tentang meloncat
turun dari pohon, apa sih sukarnya? Yang lebih tinggi lagi aku sanggup meloncati. Perkara perampokperampok
itu takut kepadaku, apa pula anehnya kalau mereka itu pernah kuhajar?"
Kini pandang mata Nagai Ici berubah kagum, kagum bukan main karena baru pertama kali ini selama
hidupnya dia menyaksikan seorang wanita yang begini perkasa.
"Maaf, Nona... wah, kau hebat sekali." Tiba-tiba pandang matanya berubah dan dia lalu mendekat,
matanya lekat-lekat memandang arah mulut Loan Ki.
"Astaga! Jadi kau malah pencurinya?"
Kini Loan Ki yang menjadi bingung dan heran, juga geli melihat tingkah orang Jepang yang aneh ini. Baru
saja begitu ketakutan seakan-akan hendak berlutut menyembahnya karena mengira ia dewa, kemudian
berubah kemalu-maluan dan ramah, tetapi sekarang tiba-tiba seperti kurang ajar!
"Apa maksudmu? Pencuri apa?" tanyanya dengan kening berkerut.
Pemuda Jepang itu meloncat-loncat, kaki tangannya bergerak-gerak dan mukanya seperti orang marah,
"Siapa lagi kalau bukan kau. Ya, kau pencurinya! Tidak usah menyangkal, kau gadis nakal. Kau minta pun
akan kuberi, kenapa mencuri? Hayo kau mengaku!"
Loan Ki makin terheran dan makin lama ia makin marah. "Setan alas kau! Jangan kurang ajar, ya? Kau kira
aku takut kepadamu?"
Nagai Ici tersenyum mengejek. "Wah, ini mana dapat dibilang gagah kalau tidak berani mempertanggung
jawabkan perbuatan sendiri? Sudah pandai mencuri, kemudian pandai berpura-pura dan menyangkal pula.
Hayo, di kanan dan kiri bibirmu yang merah itu masih berlepotan minyak, malah ujung hidungmu yang
mancung itu pun berminyak. Kau belum sempat mencucinya, ya? Wah, agaknya sudah habis kau ganyang
semua panggang paha macan punyaku tadi. Celaka!"
Loan Ki melongo dan baru teringatlah ia akan perbuatannya yang nakal tadi, yaitu mencuri panggang paha
macan orang yang sedang mandi. Tiba-tiba saja mukanya menjadi merah bagai udang direbus dan
otomatis tangan kirinya diangkat untuk menghapus bibirnya yang kiranya benar-benar penuh minyak!
Wah, repotlah Loan Ki sekarang menggunakan dua tangannya. Karena malu dan bingung, Loan Ki menjadi
marah sekali. Dengan telunjuknya yang runcing dia menuding ke arah hidung Nagai Ici, pandang matanya
melotot.
dunia-kangouw.blogspot.com
"Setan kau! Berani kau memperolokku?"
Nagai Ici tertama, tubuhnya bergerak-gerak. "Kau... kau pencuri daging, tukang nyolong!"
Kemarahan Loan Ki bukan kepalang lagi, "Kau... tikus, cacing, kadal, anjing, monyet, babi, kuda!" Ia
memaki-maki sejadinya dan menyebut nama semua binatang. Paling akhir dia mencabut pedangnya dan
menantang. "Hayo kita buktikan di antara kita siapa yang lebih gagah!"
Memang sebenarnya inilah yang dikehendaki Samurai Merah. Begitu bertemu dengan dara ini,
semangatnya langsung terbetot, perhatiannya tertarik, hatinya terpikat tanpa dia sadari lagi. Tadinya dia
hampir percaya bahwa dara jelita dan gagah perkasa ini adalah sebangsa peri atau bidadari. Akan tetapi
setelah ‘bidadari’ itu bersuara, tahulah dia bahwa makhluk ini ternyata adalah seorang dara jelita yang
wajar, seorang manusia yang hidup dan segar gembira lahir batinnya.
Dia kagum bukan main dan melihat cara gadis ini tadi bergerak turun dari pohon, dia pun menduga bahwa
tentu ilmu kepandaian gadis ini juga hebat. Apa lagi kalau diingat bahwa menurut kata gadis itu sendiri,
para perampok jahat itu tadi ketakutan melihatnya karena pernah ia beri hajaran. Tentu saja hal ini dia
sendiri tidak dapat begitu saja mempercayai.
Inilah sebabnya, ketika melihat bibir dan ujung hidung yang amat lucu indah itu berlepotan minyak, dia
sengaja menuduh dan mengejek, dengan maksud membangkitkan amarah gadis itu dan mendapat alasan
untuk menguji kepandaiannya. Dia kurang percaya kalau seorang gadis sehalus dan secantik ini, masih
amat muda lagi, dapat ‘memberi hajaran’ kepada seorang kepala penjahat seperti Lauw Teng dan anak
buahnya.
Akan tetapi dia juga dapat menduga bahwa gadis yang ‘besar mulut’ ini sedikitnya tentu memiliki ilmu
pedang yang lumayan, terbukti dari caranya mencabut pedang yang cukup cepat dan cekatan itu. Karena
itu dia tidak berani memandang rendah dan dia pun segera melolos pedang samurainya dari sarungnya.
"Nona cilik..."
"Jangan sebut-sebut nona cilik. Apa kau sudah tua bangka? Kau sendiri pun masih cilik, paling-paling
hanya beberapa tahun lebih tua dari pada aku. Lagaknya seperti orang tua saja!"
Nagai Ici tertawa. Dia sebetulnya seorang yang berwatak pendiam dan serius (sungguh-sungguh), akan
tetapi berhadapan dengan dara lincah seperti ini mau tidak mau bangkit kegembiraannya. Sepasang
matanya yang biasanya tenang dan tajam itu kini bersinar-sinar, wajahnya yang gagah tampan berseri-seri.
"Hayo, kau mau bilang apa lekas bilang sebelum pedangku bicara, jangan cuma cengar-cengir seperti
kunyuk mencium cuka!" Loan Ki membentak lagi. Dasar gadis lucu jenaka, sedang marah pun lucu, sama
sekali tidak membuat orang takut.
"Nona... besar, maksudku... ehhh, apa perlunya kita mengadu senjata? Senjata pedang adalah benda
tajam yang berbahaya, bagaimana kalau sampai melanggar tubuh? Lebih baik kita mengadu kepandaian
dengan tangan kosong saja."
"Ihhh, siapa sudi? Tadi sudah kulihat bahwa hanya dengan pedangmu yang bengkok itu kau pandai
berkelahi. Kalau bertangan kosong, kau hanya mengandalkan cengkeraman dan tangkapan. Mana aku
sudi bersentuh tangan dengan kau? Hayo lekas serang dengan pedangmu!"
Nagai Ici tetap ragu-ragu. Ia telah belasan tahun mempelajari ilmu pedang, dan selama ini samurainya
amat ganas dan dikenal sebagai Samurai Merah. Ilmu pedangnya adalah ilmu pedang khusus untuk
merobohkan lawan, begitu samurainya berkelebat, tentu membabat putus sesuatu. Mana dia tega melukai
nona yang dia kagumi ini?
"Wah, kenapa bengong saja? Apa kau kira aku takut melihat pedangmu yang bengkok dan jelek itu?
Pedang apa itu, pantasnya untuk potong babi!"
Diejek begini, panas juga hati Nagai Ici. Ia akan memperlihatkan kepandaiannya dan tentu saja dia akan
berhati-hati agar jangan sampai salah tangan melukai dara ini.
dunia-kangouw.blogspot.com
"Hemmm, kau hendak mengenal Samurai Merah? Bersiaplah!" bentaknya.
"Samurai Merah atau samurai belang bonteng, peduli apa aku? Hayo serang kalau berani, ngomong saja
dari tadi kerjanya!" ejek Loan Ki.
Ia sendiri memang berwatak aneh, mudah marah, mudah gembira, namun lebih banyak gembiranya dari
pada marahnya. Sekarang pun kemarahannya karena tadi dimaki tukang nyolong sudah mereda dan ia
menghadapi pedang jago muda Jepang itu terutama sekali karena ingin menguji sampai di mana
kehebatan ilmu pedang aneh itu.
"Awas!" teriak Nagai Ici.
Samurainya berkelebat membuat gerakan segitiga di depan tubuhnya. Indah sekali gaya pertahanan
pertama ini. Dan dia lalu diam tak bergerak, hanya biji matanya yang hidup meneliti setiap gerakan lawan,
terutama gerakan kedua lengan.
Loan Ki sudah tahu bahwa ilmu pedang orang ini memang aneh, sifatnya diam menanti serangan. Kalau ia
pun diam menanti, agaknya mereka berdua akan berdiri berhadapan memasang kuda-kuda dan berdiam
terus seperti patung sampai seorang di antara mereka kalah karena menjadi kesemutan akibat berdiri diam
terlalu lama. Akan tetapi dia tak sudi menjadi patung. Cepat bagai kilat menyambar, pedangnya berkelebat
menjadi segunduk sinar menerjang maju.
"Haaaaiiiiit!"
Nagai Ici berseru keras saking kagetnya melihat betapa seakan-akan ujung pedang gadis itu berubah
menjadi belasan batang, tergetar dan menerjang kepadanya secara aneh, sukar diduga ke arah mana
ujung pedang itu akan menusuk! Dia segera, memutar samurainya sekuat tenaga, membabat ke arah
bayangan ujung-ujung pedang itu dengan maksud mempergunakan tenaganya untuk menghantam pedang
gadis itu agar terlepas dari pegangan.
"Wuuuuuttttt!"
Samurainya yang berat, tajam dan bergerak cepat itu ternyata hanya menghantam angin belaka karena
secara tiba-tiba belasan ujung pedang lawan itu sudah lenyap dan kembali berubah menjadi segundukan
sinar pedang menyerangnya, kini dari kanan kiri atas bawah tak tentu ujung pangkalnya.
"Bagus...!" Mau tak mau Nagai Ici berseru memuji.
Inilah hebat, pikirnya. Ilmu pedang yang luar biasa, jauh lebih hebat dari pada ilmu golok ketua Hui-houwpang
tadi. Maklumlah dia bahwa gadis itu benar-benar bukan sekedar memiliki ilmu ‘gertak sambal’ belaka,
tetapi benar-benar seorang gadis muda yang ‘berisi’, yaitu yang memiliki kepandaian tinggi.
Hatinya makin gembira dan berkurang keraguannya karena sekarang dia tidak takut lagi untuk salah
tangan sebab maklum bahwa gadis itu cukup mampu menjaga diri. Cepat dia memutar samurainya
sehingga sinar pedang samurai itu berkilat-kilat menyambar ke arah gulungan sinar pedang Loan Ki.
Dari angin sambaran pedang samurai, Loan Ki maklum bahwa orang muda itu memiliki tenaga gwakang
(tenaga luar) yang amat kuat, maka ia tidak berani mengadu pedang, kuatir kalau-kalau pedangnya akan
rusak bertemu dengan samurai yang digerakkan oleh tenaga gajah itu. Ia menggunakan kegesitannya dan
bersilat dengan Ilmu Pedang Sian-li Kiam-sut yang luar biasa.
Gerakannya indah dan lemah lembut, seperti seorang bidadari kahyangan tengah menari. Pinggangnya
yang ramping bergerak-gerak lemas dan lehernya ikut pula bergerak-gerak. Langkahnya berlengganglenggok
dan untuk melengkapi ilmu pedang ini yang memang mengharuskannya sebagai taktik, ia pun
tersenyum-senyum dan mengerling dengan amat manis dan ayunya.
Memang dahulu pencipta ilmu pedang ini, yaitu Si Pendekar Baju Merah Ang I Niocu, sengaja menciptakan
ilmu pedang yang luar biasa untuk mengalahkan lawan-lawan berat. Bentuk tarian indah gemulai disertai
senyum dikulum dan kerling memikat sesuai dengan wajah yang cantik jelita, semata-mata merupakan
taktik untuk mengacaukan konsentrasi (pemusatan pikiran) dan melemahkan daya tempur lawan.
dunia-kangouw.blogspot.com
Tentu saja Nagai Ici pun melihat ini semua dan hatinya berdebar tak karuan. Bukan main indahnya ilmu
pedang yang seperti tarian itu dan wajah gadis lincah itu makin lama makin cantik menarik.
Akan tetapi pemuda Jepang ini bukan seorang manusia biasa yang mudah lumpuh oleh kecantikan wanita.
Semenjak kecil dia sudah digembleng oleh seorang daimyo (pendekar bernama besar) yang sakti, tidak
saja diwarisi ilmu bermain samurai yang ampuh, juga sudah digembleng memperkuat batin dengan cara
bersemedhi dan menyatukan pikiran.
Oleh karena ini, biar pun dia amat tertarik dan kagum melihat lawannya, dia segera dapat menekan
perasaannya dan memperhebat gerakan samurainya, malah kini dia menguras semua jurus pilihan dan
yang paling rahasia dari ilmu pedangnya untuk menghadapi ilmu pedang lawan yang lemah-gemulai akan
tetapi mengandung daya serangan yang sangat dahsyat.
Diam-diam Loan Ki kagum juga. Ilmu silat aneh dengan pedang aneh pula ini, sesudah bergebrak kiranya
tidaklah selambat yang dia duga. Pertahanannya kokoh kuat dan biar pun serangannya tidak terlalu sering,
namun tiap kali menyerang laksana kilat menyambar dari udara cerah.
Inilah inti ilmu pedang lawannya dan inilah pula yang membuat samurainya itu berkali-kali berhasil tiap kali
berkelebat. Kiranya inti ilmu lawannya memang mengandung gerakan menyerang tersembunyi seperti kilat
yang menyambar dari angkasa yang sehingga sama sekali tidak tersangka-sangka datangnya. Ia pun
merasa malu kalau sampai kalah, maka ia kemudian mengerahkan seluruh tenaga dan mengeluarkan
semua simpanan jurus ilmu pedangnya.
Hebat bukan main pertandingan itu. Jauh lebih hebat dari pada tadi. Akan tetapi sekarang tidak nampak
mengerikan sehingga lima orang gadis tawanan itu yang sejak tadi melongo dan terheran-heran, sekarang
pada berdiri menonton dengan kagum.
Bagi mereka yang tidak mengerti ilmu silat, dua orang muda itu terlihat seperti sedang menari-nari secara
indah dan aneh. Pedang dan samurai itu lenyap dari pandangan mata mereka, yang tampak hanyalah
segulung sinar pedang seperti awan putih bergerak-gerak, dibarengi melesatnya sinar seperti kilat
menyambari awan itu!
Seratus jurus lebih mereka bertanding, hampir satu jam lamanya. Mereka berdua sudah gobyos (bermandi
peluh) dan sudah mulai lelah karena dalam pertandingan itu mereka mempergunakan semua tenaga dan
kepandaian.
Loan Ki mulai penasaran dan tak sabar. Ia menanti kesempatan baik dan tiba-tiba dengan pengerahan
tenaga lweekang-nya ia menghantam samurai lawan sekuatnya.
"Tranggggg!"
Bunga api berpijar menyilaukan mata ketika dua batang pedang itu bertemu dengan amat kerasnya. Nagai
Ici mengeluarkan suara keras seperti harimau menggereng dan tubuhnya terhuyung mundur tiga langkah.
Loan Ki sendiri tergetar telapak tangannya dan cepat dia memindahkan pedang pada tangan kirinya. Oleh
karena sempat melompat ke samping, maka dia tidak sampai terhuyung seperti lawannya.
Keduanya memeriksa pedang, kemudian saling pandang dengan napas terengah-engah. Nagai Ici tertawa
lebih dahulu. Kagumnya bukan kepalang, akan tetapi dia juga puas dan merasa bangga karena betapa pun
juga, gadis luar biasa itu sudah berkenalan dengan samurainya yang lihai.
"Heh-heh, kau benar hebat, Nona. Selama hidupku baru kali ini aku melihat seorang gadis muda yang
begini hebat. Sebelum ini, mendengar pun belum pernah. Ilmu pedangmu luar biasa, kepandaianmu hebat
bukan main. Akan tetapi, betapa pun juga kau takkan mampu mengalahkan aku."
"Ihh, sombongnya! Baru mengandalkan pedang bengkok itu saja sudah berani membuka mulut besar. Kau
tidak merasa bahwa aku tadi sengaja mengalah mengingat bahwa kau orang asing? Huh, benar-benar
tidak punya perasaan dan tidak malu. Pedang bengkokmu itu siapa sih yang takut? Kalau mau, dalam
segebrakan saja aku sanggup membikin putus lehermu, tahu?"
"Ha-ha-ha, Nona sungguh-sungguh pandai berkelakar! Sudah jelas kita bertanding sampai mandi keringat
belum ada yang terluka, belum ada yang kalah atau menang, bagaimana kau bisa bilang dalam
segebrakan dapat memenggal leherku? Ha-ha-ha, lucu!"
dunia-kangouw.blogspot.com
"Hemm, dasar tak tahu malu, tak berperasaan. Kau mau bukti?"
Tentu saja Nagai Ici tidak percaya, dia merasa penasaran sekali. Dia, Samurai Merah yang di Jepang
sudah terkenal sekali, mana mungkin dalam segebrakan saja terpenggal lehernya oleh seorang gadis cilik?
"Boleh! Kau buktikanlah dan coba kau penggal leherku, jangan dalam segebrakan, malah dalam seribu
gebrakan sekali pun boleh!" dia menantang dan sengaja dia mengulurkan lehernya.
"Huh, kau kira aku adalah algojo?" Loan Ki mendengus marah. "Biar pun kau kurang ajar setengah mati,
tadi kau menentang penjahat, berarti kau bukan penjahat. Aku tidak biasa membunuh orang yang bukan
penjahat. Tetapi aku bisa membuktikan bahwa aku seribu kali lebih pandai dari padamu dan bahwa tadi
aku sudah sengaja mengalah, hanya kau yang buta perasaan dan tidak tahu diri."
"Heh-heh, kau tekebur sekali. Bagaimana kau akan membuktikan?"
"Kau boleh gunakan pedang bengkok pemotong babi itu untuk melawan aku yang akan melayanimu
dengan bertangan kosong!" Loan Ki tersenyum mengejek. Tanpa pedulikan wajah lawan yang kelihatan
kaget itu ia menyambung, "Lebih dari itu malah, dengar wahai kadal, kuda, babi! Tidak saja aku melayani
pedang bengkokmu itu dengan tangan kosong, juga aku akan membiarkan kau menyerang sesukamu
tanpa membalas. Kalau nanti aku membalas sekali pukulan saja boleh dianggap kalah!"
Nagai Ici melengak. Benar-benar terlalu gadis liar ini, pikirnya dengan perut terasa panas. Menghina orang
tanpa takaran. Mana ada aturan seperti ini? Seorang jantan tulen seperti dia menyerang seorang gadis
bertangan kosong menggunakan samurai? Dan gadis itu malah tidak akan membalas sama sekali?
Waduh, dia dianggap anak kecil yang masih ingusan saja oleh gadis nakal itu. Keparat!
"Nona, apakah otakmu waras?"
Kini Loan Ki yang melengak, lalu membanting-banting kaki tanda marah. "Kau yang edan! Kau yang gila,
gendeng dan miring otakmu!" Ia memaki-maki marah lagi sejadi-jadinya asal hatinya yang mengkal dapat
merasa ‘plong’.
Melihat sikap yang sungguh-sungguh itu, mulai meragulah hati Nagai Ici. Siapa tahu gadis ini bicara
sungguh-sungguh? Wah, hebat kalau begitu.
"Nona, begini saja sekarang. Bukan watakku untuk menyerang seorang lawan, apa lagi seorang gadis
seperti kau, menggunakan samurai sedangkan yang kuserang bertangan kosong dan tidak akan
membalas. Sekarang begini saja, aku menerima tantanganmu tapi caranya begini. Aku akan menyerangmu
selama tiga jurus dan aku tanggung dalam tiga jurus itu, aku akan dapat memilih dengan samuraiku satu di
antara empat macam benda di tubuhmu, yaitu pertama pita rambutmu, ke dua ujung ikat pinggangmu, ke
tiga ujung ronce pedangmu dan ke empat ujung lengan bajumu. Dalam tiga jurus saja pasti sebuah di
antara yang empat tadi dapat kubabat putus, bahkan mungkin lebih dari satu atau keempatnya sekaligus!
Tetapi kalau hal ini terjadi, kau harus menyatakan bahwa aku tidak kalah olehmu dan bahwa ilmu
kepandaianku tidak berada di bawah kepandaianmu. Nah, bukankah ini adil namanya!"
Loan Ki mengernyitkan hidungnya, ditarik ke atas ujung hidungnya sehingga nampak lucu sekali. "Aduhaduh,
sombongnya! Tiga jurus katamu? Jadikan tiga puluh jurus baru aku sudi melayani. Nah, tiga puluh
jurus kau boleh menyerangku dengan pedang pemotong babi itu. Kalau dapat kau tebas sedikit saja
sebuah di antara yang empat itu, biarlah aku mengaku kalah. Akan tetapi kalau dalam tiga puluh jurus tak
berhasil bagaimana?"
"Tiga puluh jurus? Tidak berhasil? Tak mungkin!"
"Janji tinggal janji, jangan menyombong dulu. Wah laki-laki kok ceriwis amat, bicara saja!"
"Biarlah aku berjanji, kalau dalam tiga puluh jurus pedangku ini tidak berhasil membabat putus sebuah di
antara empat benda tadi, biarlah aku mengangkat kau menjadi guruku!"
"Hi-hi-hik, punya murid macam kau bikin repot saja! Kau berjanji akan merubah sikapmu, tidak ceriwis dan
cerewet lagi dan akan taat serta menuruti segala perintahku, bersedia menjadi bujang atau pelayanku?"
dunia-kangouw.blogspot.com
Merah wajah Nagai Ici. Inilah penghinaan besar. Akan tetapi dia yakin sekali bahwa dia tidak mungkin
kalah dalam taruhan ini. Andai kata dia kalah, hal itu berarti bahwa gadis ini benar-benar seorang dewi
yang sakti, bahkan lebih sakti dari pada gurunya di Jepang, maka sudah sepatutnya kalau dia angkat
menjadi gurunya yang baru dan sebagai murid, tentu saja dia harus mentaati gurunya dan rela mengabdi
dan menjadi pelayan.
"Baik, aku berjanji!" Dia berkata sambil mengacungkan samurainya ke atas di depan dahi sebagai tanda
sumpah.
"Nah, mulai seranglah!" seru Loan Ki setelah menyimpan pedangnya.
Sengaja ia memiringkan tubuh dan melambai-lambaikan ujung lengan baju, ikat pinggang, pita rambut dan
ronce pedangnya agar mudah dibabat pedang lawan! Melihat ini, Nagai Ici berseru keras lalu mulai
menyerang. Samurainya berkilat menyambar, kemerahan dan dengan kecepatan yang dahsyat.
Namun tiba-tiba jago muda Jepang itu berseru terheran-heran. Dia melihat betapa gadis itu sekarang
bergerak amat aneh, jauh bedanya dengan gerakan tadi ketika melawannya dengan pedang.
Tadi gadis itu gerakannya lemah gemulai, seperti seorang penari dari surga, begitu indah menarik.
Sekarang, gadis itu melangkah ke sana ke mari dengan gerakan kaku dan aneh, terhuyung-huyung serta
meloncat-loncat sambil jongkok berdiri tidak karuan. Tubuhnya ditekuk ke sana ke mari, miring ke kanan
kiri depan belakang.
Pendeknya gerakan gadis itu sekarang sangat buruk dilihat seperti gerakan orang mabuk. Akan tetapi
hebatnya, semua sambaran samurainya mengenai angin belaka dan betapa pun cepat dan kuat dia
menerjang, dia seakan-akan sedang menghadapi dan menyerang bayangannya sendiri.
Tentu saja jago muda Jepang ini tidak pernah mimpi bahwa gadis itu sekarang sedang menggunakan
langkah ajaib dari Ilmu Silat Kim-tiauw-kun, ilmu yang tergolong di deretan paling tinggi di dunia persilatan.
Inilah ilmu langkah ajaib yang diberi nama Hui-thian Jip-te (Terbang ke Langit Ambles ke Bumi) dan yang
dipelajari oleh Loan Ki dari Si Pendekar Buta Kwa Kun Hong!
Kiranya karena memiliki modal ilmu ini maka Loan Ki berani menantang dan bersombong di depan
Samurai Merah itu. Tadi ia telah mengerahkan seluruh kepandaiannya, namun ia maklum bahwa untuk
merobohkan lawan tangguh ini, bukanlah hal mudah baginya. Akan tetapi sebaliknya, Samurai Merah juga
tak akan mungkin dapat merobohkannya, apa lagi kalau ia menggunakan Hui-thian Jip-te untuk
menyelamatkan diri.
Makin lama Nagai Ici menjadi makin penasaran, ia pun bertekad mencapai kemenangan. Ia mengeluarkan
pekiknya yang dahsyat, samurainya menyambar-nyambar laksana naga sakti mengamuk, namun hanya
tampaknya saja samurainya hampir mengenai sasaran, kenyataannya selalu hanya berhasil membacok
angin kosong.
Setelah belasan kali serangannya tidak berhasil, mulailah dia merasa terkejut, heran, dan kagum, bahkan
kemudian bulu tengkuknya berdiri meremang saking ngerinya melihat betapa dengan berjongkok dan
melompat-lompat seperti katak atau seperti seorang anak kecil bermain-main, gadis itu dengan sangat
mudahnya menghindarkan diri dari sambaran samurainya! Ilmu ibliskah yang dipergunakan gadis ini?
Tiga puluh jurus lewat dan jangankan samurai itu mengenai sasaran. Mencium sedikit pun tak pernah.
Nagai Ici adalah seorang lelaki sejati. Tepat sesudah jurus ke tiga puluh lewat tanpa hasil, dia lalu
menghentikan serangannya, melempar samurainya ke atas tanah lalu menjatuhkan diri berlutut di depan
Loan Ki dan berkata, "Mulai saat ini murid mentaati segala petunjuk dan perintah Guru."
Terbelalak mata Loan Ki memandang. Namun yang dipandangnya tetap berlutut dengan kepala tunduk
sehingga yang tampak olehnya hanya rambut hitam digelung ke atas itu. Inilah sama sekali tidak pernah
diduganya! Sama sekali dia tidak pernah mengira bahwa pemuda ini benar-benar hendak memenuhi
janjinya dan mengangkatnya sebagai guru!
"Gila!" teriaknya. "Siapa sudi menjadi gurumu? Apa bila kau muridku, berarti aku gurumu dan kau akan
menyebut ibu guru kepadaku? Setan, jangan kau menghina, ya? Aku belum tua, lebih muda dari padamu,
mana bisa menjadi guru orang dewasa?"
dunia-kangouw.blogspot.com
Nagai Ici mengangkat kedua tangannya ke depan dada memberi hormat dalam keadaan masih berlutut.
"Saya sudah menikmati kehebatan ilmu kepandaian Guru dan sudah kalah janji. Terserah bagaimana
kehendak Guru, murid hanya akan menurut dan mentaati."
"Baik, kalau begitu dengarkan perintahku. Pertama, kau tidak boleh berlutut, hayo lekas berdiri. Aku bukan
ratu, bukan pula puteri istana dan kau lebih tua dari padaku. Bisa kualat aku kalau kau sembah-sembah.
Berdirilah!"
Nagai Ici bangkit berdiri dengan sikap hormat.
"Nah, sekarang dengarkan perintahku selanjutnya. Namaku Loan Ki, Tan Loan Ki dan di dunia kang-ouw
aku diberi julukan Bi-yan-cu (Si Walet Jelita). Kau tidak boleh menyebut aku ibu guru, sebut saja namaku
dan aku pun akan menyebutmu Nagai Ici begitu saja. Mengerti?!"
Nagai Ici mengangguk, di dalam hatinya bingung dan juga geli melihat sikap gadis yang luar biasa dan
yang sekaligus meruntuhkan hatinya ini. Juga kelima orang gadis tawanan yang sejak tadi menonton,
diam-diam saling pandang dan tersenyum simpul.
"Sekarang tugasmu yang pertama adalah membantuku mengantar para gadis tawanan itu pulang ke
kampung masing-masing."
"Baik, Nona. Tapi... izinkanlah murid mengubur..."
Nagai Ici berhenti bicara ketika melihat betapa Loan Ki melotot marah.
"Mengapa mesti menyebut diri sendiri murid? Aku bukan gurumu! Bilang saja aku, habis perkara!"
"Maaf, aku... aku akan mengubur mayat-mayat itu lebih dulu..."
Loan Ki mengangguk. Hatinya sangat setuju dan diam-diam dia memuji pribudi orang ini. Akan tetapi
mulutnya mengomel. "Manusia yang jahat seperti binatang, mayatnya sama pula dengan bangkai, perlu
apa banyak rewel? Hayo lekas, cepat saja kubur dan jangan biarkan aku terlalu lama menunggu."
Nagai Ici tersenyum dan cepat-cepat dia menggali lubang untuk mengubur mayat-mayat para penjahat
yang menjadi korban samurainya tadi. Ada pun Loan Ki mendekati para gadis tawanan yang
menyambutnya penuh hormat.
Dengan terharu mereka menjawab pertanyaan Loan Ki tentang kampung halaman mereka dan tentang
pengalaman mereka diculik oleh para penjahat Hui-houw-pang untuk dibawa secara paksa ke kota raja.
Mereka ini kiranya adalah gadis-gadis yang tinggal di kampung dekat Sungai Kuning, anak-anak dari para
petani. Memang mereka cantik-cantik karena memang mereka adalah kembang yang paling cantik di
dalam dusun masing-masing.
Menurut penuturan mereka, sudah terlalu sering terjadi perampokan gadis-gadis ini, baik oleh orang-orang
Hui-houw-pang mau pun oleh para bajak Kiang-liong-pang atau para penjahat lain yang berusaha untuk
mengeduk keuntungan sebesar-besarnya atau mencari muka baik dari kaisar baru dan para pejabat tinggi
di kota raja yang akan menyambut gembira persembahan berupa gadis-gadis cantik itu.
Loan Ki mendengarkan dengan hati sakit. Ia seorang gadis berjiwa sederhana yang tidak mengerti tentang
tata negara, tidak tahu-menahu akan keadaan di kota raja dan tentang kehidupan para pembesar. Akan
tetapi, mendengar penuturan yang disertai cucuran air mata oleh para gadis itu, pendekar wanita ini
menggertak gigi dan langsung menyatakan kebenciannya terhadap kaisar baru beserta para kaki
tangannya dengan memaki-maki sejadinya.
Memang, sangat menyedihkan apa bila dalam sebuah negara, para pembesar yang oleh rakyat dianggap
pemimpin malah melakukan penyelewengan-penyelewengan dan hanya mementingkan kesenangan
pribadi saja. Sudah terlampau banyak contoh terdapat dalam sejarah kuno betapa kaum ningrat, kaum
berkuasa yang duduk di tampuk pemerintahan, selalu mabuk akan kekuasaan dan apa bila kekuasaan
sudah berada di tangan, langsung dimabuk segala macam kemaksiatan! Mengapa begini?
Mengapa banyak sekali terjadi contoh-contoh menyolok, di mana bekas-bekas pejuang yang dahulu ikut
berjuang menumbangkan kekuasaan Mongol, yang dahulu benar-benar menjadi seorang ksatria yang rela
dunia-kangouw.blogspot.com
dan siap mengorbankan nyawa guna tanah air dan bangsa, setelah perjuangan berhasil dan dia mendapat
kedudukan, lalu berubah tabiatnya seperti bumi dengan langit, berubah menjadi ningrat atau pembesar
yang menimbun diri dengan perbuatan maksiat? Mengapa terjadi ini semua? Jawaban satu-satunya
kiranya hanya terletak pada diri pribadi masing-masing!
Kemaksiatan timbul karena dorongan nafsu yang tak dapat dikekang dan yang memaksa manusianya
melaksanakan dorongannya. Ini hanya dapat terjadi bila si manusia itu lemah batinnya, lemah pertahanan
dalam hatinya sehingga tidak kuat menghadapi penyerbuan nafsu-nafsu yang laksana iblis setiap saat
mendobrak pertahanan batin manusia.
Kekuatan batin melemah akibat pengaruh keadaan sekeliling, karena keadaan lingkungan hidupnya,
karena contoh-contoh hidup yang diperlihatkan atasannya. Apa bila atasannya mabuk kedudukan,
bawahannya pun tentulah demikian. Kalau atasannya mabuk wanita, bawahannya pun tak akan berbeda
jauh dan demikian selanjutnya.
Bagaimana akibatnya kalau kaum ningrat dan para pembesar sudah tenggelam ke dalam gelombang
perbuatan maksiat? Celakalah! Negara akan menjadi lemah dan rakyat akan menjadi sengsara. Tandatanda
tentang keadaan para pembesar yang demikian itu, selalu dapat dilihat dari keadaan di kota raja.
Kalau seorang pembesar, baik dia berkedudukan tinggi sekali atau pun hanya rendahan, tenggelam dan
mabuk atas kemewahan, itulah tanda bahwa pertahanan batinnya menjadi lemah dan dia akan mudah
tergelincir ke dalam tindakan maksiat. Dan segala macam tindakan maksiat di dunia ini mempunyai
pengaruh seperti madat. Diberi satu ingin dua, mendapat dua ingin empat dan seterusnya, tak kenal puas
tak kenal kenyang.
Sekali seorang manusia mabuk akan kedudukan, biar dia sudah menjadi kaisar sekali pun, dia akan
merasa tak puas dan iri melihat kaisar-kaisar di negara lain yang lebih besar kedudukannya, dan andai
kata dia sudah menjadi kaisar yang paling tinggi kedudukannya di dunia, agaknya dia masih akan mengiri
akan kedudukan Tuhan!
Sekali seorang manusia sudah mabuk akan wanita, biar dia sudah mempunyai isteri dan selir sebanyak
seribu orang sekali pun, matanya yang berminyak kiranya masih selalu akan jelalatan (melotot ke sanasini)
untuk mencari seorang wanita lainnya yang belum dia miliki!
Setelah selesai mengubur mayat-mayat itu, Nagai Ici lalu diajak Loan Ki mengantar para gadis bekas
tawanan itu. Untung bahwa perkampungan mereka tidak jauh dari hutan itu sehingga dalam waktu dua hari
saja mereka telah dapat sampai di rumah masing-masing. Tentu saja mereka dan orang-orang tua mereka
girang dan terharu bukan main, berlutut menghaturkan terima kasih kepada Loan Ki dan Nagai Ici. Akan
tetapi kedua orang muda perkasa ini tidak mau menerima atau melayani penghormatan mereka dan cepatcepat
pergi tanpa pamit lagi.
Pada pagi hari berikutnya, Loan Ki dan Nagai Ici sudah menunggang kuda berendeng sambil bercakapcakap.
Nagai Ici kini sudah berubah pakaiannya, merupakan seorang pria muda yang berpakaian gagah,
tidak aneh lagi kecuali pedang samurainya yang memang berbeda dengan pedang-pedang yang biasa
dibawa oleh para ahli silat di situ.
Loan Ki yang memaksanya berganti pakaian karena gadis ini tidak ingin melihat teman seperjalanannya
menjadi pusat perhatian dan keheranan orang. Dengan sisa-sisa uang rampasan dari para perampok Huihouw-
pang, mereka membeli pakaian dan membeli dua ekor kuda karena Loan Ki bermaksud untuk
mengadakan perjalanan jauh, menyusul ayahnya ke kota raja!
Nagai Ici yang tunduk benar kepadanya, sungguh penurut dan tidak pernah membantah, betul-betul
menyenangkan hati Loan Ki. Senang dan gembira juga mendapatkan seorang pengiring yang selain gagah
dan tampan, juga amat penurut dan setia seperti pemuda Jepang itu. Dalam perjalanan pada pagi hari itu,
Loan Ki minta kepada Nagai Ici untuk menceritakan keadaannya!
Menurut penuturan Nagai Ici, di Jepang pada waktu itu (sekitar tahun 1399-1400) baru saja terdapat
perdamaian setelah puluhan tahun di negeri itu terjadi perebutan kekuasaan yang mengakibatkan perang
saudara terus-menerus. Kemenangan terakhir pada tahun 1392 tercapai oleh Ashikaga Takauyi dan
mulailah di tahun itu apa yang dinamakan jaman Maromaci karena Ashikaga Takauyi menempatkan
markasnya di bagian kota Kyoto dan bernama Maromaci.
dunia-kangouw.blogspot.com
Sungguh pun kaisarnya masih keturunan keluarga Tenno yang berada di istana Tenno, tapi keadaan kaisar
ini tidak ubahnya seperti boneka belaka. Kekuasaan yang sebenarnya berada di tangan Ashikaga Takauyi
inilah.
Nagai Ici semenjak belasan tahun sudah menjadi yatim piatu. Selanjutnya dia dirawat dan dididik oleh
gurunya, yaitu seorang daimyo (pendekar besar) yang membantu perjuangan Ashikaga Takauyi.
Setelah dalam usia lima belas tahun ikut pula mengayun samurai dan membantu perang saudara yang
sudah hampir berakhir itu, Nagai Ici dinyatakan tamat dari perguruan dan dia pun diperbolehkan berdiri
sendiri menjadi seorang di antara golongan Samurai! Sepak terjangnya sebagai seorang pendekar amat
mengesankan sehingga pada beberapa tahun kemudian, dalam usia dua puluh tahun saja dia sudah
dijuluki orang Samurai Merah.
Nagai Ici memiliki darah perantau atau mungkin juga jiwa petualangnya ingin dia puaskan dengan
perantauan. Seluruh negeri Jepang sudah dia jelajahi dan akhirnya karena pada jaman itu hubungan
Jepang dan Tiongkok sudah sangat baik, dia pun mendengar banyak tentang Tiongkok.
Kebudayaan dari negara besar itu, termasuk ilmu silatnya, terbawa ke Jepang dan amat terkenal. Banyak
dongeng yang sering didengar Nagai Ici dalam perantauannya, betapa jago-jago silat di Tiongkok bagai
dewa-dewa saja saktinya. Inilah mula-mula yang menjadi pendorong baginya untuk menyeberangi laut
menuju ke Tiongkok dengan cita-cita untuk mencari seorang guru seperti dewa dan mempelajari kesaktian!
Lama sekali, setelah beberapa tahun lagi, barulah dia memperoleh kesempatan berlayar ke Tiongkok
bersama perahu ikan yang dengan berani mati menempuh perjalanan yang amat berbahaya itu dengan
perahu ikan yang kecil.
Seperti telah kita baca dalam bagian terdahulu, begitu mendarat, Nagai Ici dibikin kecewa dan marah
menyaksikan perbuatan para bajak laut bangsanya yang merampoki sebuah kota pelabuhan. Oleh karena
merasa malu akan perbuatan bangsanya yang di negerinya terkenal sebagai orang-orang kaya itu, Nagai
Ici turun tangan membasmi dan mengusir para bajak laut Tengkorak Hitam. Dia kemudian menghilang
karena tak ingin dilihat orang lain bahwa dia, seorang Jepang juga, mengamuk dan membasmi bajak laut
bangsanya sendiri.
Sampai berpekan-pekan dalam perjalanan selanjutnya, Nagai Ici mulai kecewa karena ternyata bahwa di
negara besar yang dahulunya dia sangka segalanya pasti serba hebat itu, kiranya tidak banyak bedanya
dengan negerinya sendiri, kalau tidak mau dibilang lebih buruk.
Para petani demikian miskinnya sampai-sampai hidupnya tak layak lagi sebagai manusia. Di mana-mana
banyak terdapat perampok dan para penjahat. Penghuni-penghuni dusun demikian sederhana hidupnya
dan amatlah bodohnya sehingga kadang-kadang Nagai Ici kehabisan harapan dapat bertemu dengan
seorang sakti seperti dewa di antara bangsa yang malah amat miskin ini.
Demikianlah, sehingga akhirnya pertemuan dengan Loan Ki sangat mengagumkan dan menggirangkan
hatinya. Mulailah timbul harapannya. Apa bila ada seorang gadis remaja sehebat ini, tidak mustahil dia
akan bertemu dengan seorang guru sesakti dewa. Baru gadis ini saja, bukan main! Belum pernah dia
mendengar, apa lagi menyaksikan seorang dara remaja memiliki kepandaian seperti ini.
Samurainya itu tidak berdaya sama sekali terhadap gadis ini yang bertangan kosong! Bukankah ini aneh
sekali? Gurunya sendiri, Daimyo Matsumori yang sangat terkenal di Jepang, belum tentu berani
menghadapi tiga puluh jurus serangan samurainya dengan tangan kosong tanpa membalas!
Inilah yang membuat Nagai Ici menjadi penurut. Biasanya, di negerinya kaum wanita tidak mendapat
tempat terlalu tinggi, dianggap sebagai mahkluk lemah yang tugasnya hanya menjadi penghibur kehidupan
pria belaka. Kini dia bertemu ‘batunya’, seorang dara lincah yang hebat, yang sekaligus membangkitkan
harapannya untuk mendapatkan guru pandai di samping sekaligus menjatuhkan hatinya pula, membuat dia
bertekuk lutut di dalam hati, tak kuasa menentang sinar mata jeli dari si juwita itu.
Anehkah kalau jago muda dari Jepang itu tersenyum-senyum gembira, wajahnya berseri matanya bersinarsinar
ketika dia mengendarai kuda di samping Loan Ki…..?
********************
dunia-kangouw.blogspot.com
Setelah Kian Bun Ti menduduki singgasana menjadi kaisar dan terkenal juga dengan nama Hui Ti (tahun
1399), timbullah persaingan hebat di kota raja untuk memperebutkan kedudukan. Sebagian banyak
pangeran tua merasa tidak puas melihat Hui Ti menjadi kaisar, karena mereka sudah mengenal Pangeran
Kian Bun Ti sebagai orang muda yang hanya mengejar kesenangan belaka.
Akan tetapi, para pangeran muda dan para pembesar yang mendapat kedudukan baik setelah Kian Bun Ti
naik tahta, tentu saja mati-matian membela kaisar baru ini. Dengan demikian, maka diam-diam terjadilah
permusuhan. Keadaan kota raja seperti api dalam sekam, sewaktu-waktu tentu akan meletus.
Walau pun kaisar Hui Ti yang muda itu sendiri adalah seorang yang keahliannya hanya mengejar wanita
cantik dan bersenang-senang, akan tetapi para pembantunya yang juga mempertahankan kedudukan
mereka masing-masing merupakan orang-orang pintar yang banyak pengalaman. Oleh karena itu, untuk
memperkuat kedudukan kaisar baru ini, para menteri dan pembesar tinggi, terutama dari golongan bu
(militer) segera memperkuat penjagaan, memperkuat barisan dan mendatangkan banyak ahli-ahli dari luar.
Selain itu, setiap hari selalu diadakan pembersihan untuk membasmi mereka yang dianggap sebagai
lawan, mereka yang dianggap membahayakan kedudukan Hui Ti beserta para pembesar pendukungnya.
Seperti sudah lazim terjadi, bila mana ada angin puyuh bertiup, yang rontok bukan hanya daun-daun kering
dan buah-buah busuk, juga daun-daun segar dan buah-buah muda bisa saja turut terlanda angin puyuh
dan rontok semua. Dalam keadaan negara pun demikian. Bila mana keributan terjadi, yang menjadi korban
bukan hanya mereka yang memang tersangkut, juga yang tidak tahu apa-apa bisa saja menjadi korban.
Sudah tentu saja menurut rencana para pembesar yang mengatur ini semua, yang harus dibersihkan
adalah mereka yang berbahaya, mereka yang diam-diam memiliki niat untuk melawan dan menumbangkan
kekuasaan kaisar baru untuk diganti dengan kaisar pilihan mereka sendiri. Akan tetapi dalam
pelaksanaannya banyak sekali terjadi penyelewengan dan penyalah gunaan kekuasaan sehingga
banyaklah terjadi pemerasan, penyelewengan dan kejahatan yang berdasafkan fitnah.
Bisa saja terjadi seorang petugas kecil mendatangi seorang hartawan dan melancarkan fitnah keji bahwa
hartawan itu termasuk anti kaisar baru. Kemudian dengan alasan akan ‘melindungi’, si petugas kecil itu
menerima ‘uang jasa’ yang jumlahnya melebihi besarnya jumlah upahnya sepuluh tahun! Ini baru contoh
kecil-kecilan saja, banyak terjadi hal yang lebih hebat dari pada contoh itu.
Kota raja goncang karena pertentangan-pertentangan ini. Penduduk kota raja dicekam kekuatiran. Banyak
malah yang pergi mengungsi keluar daerah, memilih tempat tinggal di dusun-dusun jauh dari kota raja, di
mana rakyatnya tidak sedikit pun merasakan akibat ketegangan politik di kota raja.
Akan tetapi ketenteraman ini pun hanya sementara saja mereka rasakan, karena tak lama kemudian
pembersihan dilakukan sampai ke dusun-dusun pula di mana tangan-tangan iseng dari manusia-manusia
berbatin rendah itu menyebar fitnah ke sana ke mari sambil mencari kesempatan mengeduk kekayaan
sebanyak mungkin.
Kota raja dijaga ketat. Semua pintu gerbang kota raja dijaga oleh para pasukan pilihan, dan di dalam kota
raja sendiri penuh dengan mata-mata yang melakukan penyelidikan supaya jangan sampai kota raja
diselundupi kaki tangan lawan. Memang paling repot menghadapi lawan yang tidak diketahui dari mana
datangnya ini. Lawan-lawan yang bisa saja menyelundup ke dalam golongan pedagang, pengemis, buruh,
seniman, malah bisa jadi menyelundup ke dalam golongan pembesar dan prajurit sendiri.
Pada suatu pagi, pagi-pagi sekali di luar pintu gerbang sebelah utara, tampak seorang laki-laki muda yang
pakaiannya sederhana tapi bersih, berdiri dengan tongkat di tangan dan kepala tunduk. Orang ini bukan
lain adalah Si Pendekar Buta, Kwa Kun Hong.
Telah kita ketahui bahwa setelah berpisah dari Song-bun-kwi, Pendekar Buta ini pergi ke kota raja. Banyak
hal harus dia selidiki, selain persoalan yang menyangkut Thai-san-pai juga soal mahkota kuno yang
mengandung rahasia kenegaraan besar itu, yang sekarang berada dalam bungkusan pakaian yang
digendongnya. Biar pun dia buta, namun karena kepandaiannya yang tinggi, dia dapat juga melakukan
perjalanan cepat.
Sambil bertanya-tanya di sepanjang jalan, akhirnya dia sampai juga di luar pintu gerbang sebelah utara.
Baru saja dia mendengar keterangan bahwa tidak mudah untuk memasuki kota raja, karena setiap orang
pasti dicurigai dan pintu gerbang dijaga keras. Sedikit saja menimbulkan kecurigaan para penjaga, tentu
akan ditangkap dan dimasukkan tahanan.
dunia-kangouw.blogspot.com
Inilah yang membuat Kun Hong ragu-ragu dan hati-hati. Dia tidak takut dicurigai, tidak takut pula ditangkap.
Akan tetapi karena mahkota kuno itu berada padanya, amatlah tidak baik kalau sampai dia tertawan.
Mahkota itu harus dia jaga, kalau perlu berkorban nyawa.
Betapa pun juga, pada dasarnya Kun Hong sudah mempunyai watak berhati-hati, tidak mau sembarangan
mempercayai berita yang didengamya tentang keburukan seseorang. Dia sudah mendengar dari Tan Hok
tentang Pangeran Kian Bun Ti yang sekarang sudah menjadi kaisar dan bahwa hal ini amatlah buruk
akibatnya.
Pangeran itu bukanlah seorang yang patut menjadi kaisar. Karena itulah maka mendiang kaisar tua sudah
meninggalkan surat rahasia yang disimpan di dalam mahkota kuno itu, surat rahasia yang memberi kuasa
penuh kepada Pangeran Tua Yung Lo di utara untuk bertindak terhadap kaisar baru.
Akan tetapi, Kun Hong tidak merasa puas kalau tidak mendengar sendiri keadaan di kota raja. Oleh karena
ini, dia sengaja pergi ke kota raja hendak melakukan penyelidikan dan mencari sahabat-sahabatnya, yaitu
perkumpulan Hwa-i Kaipang. Dia dapat mempercayai Hwa-i Kaipang, karenanya dia hendak minta bantuan
kepada mereka, selain menyelidiki tentang keadaan kaisar baru, juga menyelidiki tentang musuh-musuh
Thai-san-pai itu.
Selagi Kun Hong berdiri ragu-ragu di luar pintu gerbang tembok kota raja, menimbang-nimbang bagaimana
dia dapat memasuki kota raja yang terjaga kuat itu, tiba-tiba saja dia mendengar langkah kaki dua orang
mendekatinya dari arah belakang.
Dia mengira bahwa dua orang itu tentulah orang-orang yang lewat dan akan memasuki pintu gerbang,
maka dia tidak menaruh perhatian. Baru dia kaget dan heran ketika dua orang itu berhenti di depannya dan
terdengar suara halus seorang laki-laki muda,
"Aduh kasihan, semuda ini menanggung derita, tak pandai melihat! Saudara yang buta, kau hendak pergi
ke manakah? Biarlah aku menunjukkan jalan yang hendak kau tuju."
Dengan pendengarannya yang tajam Kun Hong dapat mengerti bahwa dia berhadapan dengan seorang
pria muda, paling banyak hanya beberapa tahun lebih tua dari padanya, seorang yang gerak-gerik dan
tutur bahasanya halus, pantasnya seorang muda terpelajar. Akan tetapi dalam suara itu juga terkandung
tenaga seorang ahli tenaga dalam, seorang yang biasa melakukan semedhi dan menguasai peraturan
bernapas.
Kun Hong cepat menjura dengan hormat dan berkata sambil tersenyum, "Terima kasih banyak. Anda baik
hati benar, sudi memperhatikan seorang buta seperti saya."
Orang itu tertawa, suara ketawanya lembut seperti ketawa wanita. "Aku dapat menduga bahwa kau
bukanlah seorang buta biasa saja. Wajah dan pakaianmu menunjukkan bahwa kau seorang yang
berpengetahuan dan terdidik. Kata-kata yang kau ucapkan memperkuat dugaanku. Sahabat, jangan kau
curiga. Aku The Sun bermaksud baik terhadap seorang buta yang menarik hatiku. Apakah kau hendak
memasuki kota raja? Hayo, engkau boleh bersamaku dan aku tanggung kau takkan diganggu para penjaga
goblok itu. Aku sudah mereka kenal baik."
Berdebar hati Kun Hong. Ia memang tadinya menaruh hati curiga, akan tetapi mendengar penawaran ini,
dia benar-benar bersyukur di dalam hati. Ini kesempatan terbaik baginya. Cepat-cepat dia menjura lagi dan
berkata,
"Saudara The benar-benar budiman. Aku Kwa Kun Hong seorang buta sangat berterima kasih padamu.
Sesungguhnyalah, aku bermaksud memasuki kota raja mengadu untung, siapa tahu di kota raja aku dapat
menolong banyak orang dan mendapat banyak rejeki."
Hening sejenak, agaknya The Sun itu mengamat-amatinya baik-baik, lalu terdengar dia berkata, "Ahh,
saudara Kwa, apakah kau seorang tukang gwamia (ahli nujum)!"
Memang banyak terdapat orang-orang buta yang membuka praktek sebagai ahli nujum, menceritakan
nasib orang-orang dengan cara meraba telapak tangan mereka. Tentu saja, seperti biasa, ahli-ahli nujum
ini sebagian besar hanyalah tukang bohong belaka, mencari korban di antara orang-orang bodoh yang
mudah ‘dikempongi’ dan ditarik uangnya.
dunia-kangouw.blogspot.com
Kun Hong menggeleng kepala. "Bukan, aku hanyalah seorang tukang obat biasa, saudara The."
"Ah, begitukah? Baiklah, mari kita memasuki kota raja dan kau akan kuantarkan ke pusat kota yang paling
ramai. Mudah-mudahan saja kau akan dapat menyembuhkan banyak orang sakit dan mendapatkan
banyak rejeki seperti yang kau harapkan."
Sambil berkata demikian, orang itu menggerakkan tangannya hendak menangkap tongkat Kun Hong. Akan
tetapi ternyata dia hanya menangkap angin saja karena seperti tanpa sengaja, Kun Hong sudah lebih
dahulu menarik tongkatnya sambil tertawa.
"Terima kasih atas kebaikanmu. Marilah, aku akan mengikuti di belakangmu."
The Sun tertawa, lalu berjalanlah dia perlahan-lahan menuju ke pintu gerbang, diikuti oleh Kun Hong.
Dengan pendengaran telinganya Kun Hong tahu bahwa orang ke dua juga ikut berjalan di samping The
Sun dan diam-diam dia terkejut juga karena orang itu memiliki ginkang (ilmu meringankan tubuh) yang
cukup hebat, akan tetapi masih juga tidak mampu menandingi kepandaian The Sun yang muda karena
jejak kaki The Sun ini sama sekali tidak mengeluarkan suara dan oleh pendengarannya yang amat tajam
sekali pun hanya terdengar sedikit seperti langkah seekor kucing saja.
Kun Hong mulai menaruh curiga. Terang bahwa orang yang mengaku bernama The Sun bersama
temannya yang tak diperkenalkan kepadanya ini adalah dua orang yang memiliki kepandaian silat tinggi.
Kebetulankah The Sun ini seorang yang berbudi dan menaruh kasihan kepadanya? Ataukah memang
sengaja hendak mendekatinya?
Dia harus berhati-hati. Karena kehati-hatiannya ini pulalah maka tadi dia sengaja tidak membiarkan
tongkatnya dipegang orang itu. Tongkatnya merupakan senjata yang paling dia andalkan.
Ketika mereka melewati pintu gerbang memasuki kota raja, Kun Hong melangkah dengan hati-hati dan
telinganya mendengarkan penuh perhatian. Tak terjadi sesuatu pun, kecuali agaknya ada seorang di
antara para penjaga yang menegur dengan suara menghormat.
"Sepagi ini The-kongcu (tuan muda The) baru pulang, agaknya mendapatkan kesenangan malam tadi.
Selamat pagi, Kongcu!"
Kemudian disusul suara penjaga ke dua, "Lo-ji, kau benar lancang mulut! Seorang siucai (lulusan pelajar)
seperti The-kongcu mana dapat kau samakan dengan kau yang suka keluyuran di waktu malam? Kongcu,
kalau Kongcu kehendaki, biar saya mewakili Kongcu menampar muka Lo-ji yang kurang ajar ini!"
The Sun itu tertawa perlahan, agaknya dia amat dihormati, disegani, dan juga disukai para penjaga,
terbukti dari keramahannya dan dari sikap para penjaga yang walau pun sangat menghormatinya dan
sangat takut kepadanya, namun berani pula bermain-main.
"Sudahlah, sepagi ini sudah berkelakar. Jaga saja baik-baik sampai kalian diganti penjaga baru. Aku
hendak mengajak sahabat buta tukang obat ini memasuki pintu gerbang, aku yang menanggung dia."
"Silakan... silakan...," serempak mulut penjaga berkata ramah.
Setelah mereka berhasil melewati pintu gerbang dan tiga lapis penjagaan lagi, Kun Hong mendengar The
Sun berkata, "Mulai sekarang tidak ada penjagaan lagi."
Kun Hong menjura dengan hormat, "Saudara ternyata adalah seorang kongcu dan juga seorang siucai,
harap suka memaafkan karena mata saya buta, saya tidak tahu dan telah berlaku kurang hormat. Budi
Kongcu sangat besar, Kongcu amat baik kepada saya dan terima kasih saya ucapkan."
"Ah, saudara Kwa Kun Hong, kenapa begini banyak sungkan? Biar pun kau seorang yang menderita
kebutaan, akan tetapi aku pun dapat menduga bahwa kau bukan seorang biasa yang tidak tahu apa-apa,
Sikapmu penuh sopan dan kau tahu aturan, tanda bahwa kau pun seorang yang pernah mempelajari
kebudayaan. Marilah, mari kuantar kau ke tempat yang ramai agar di sana kau dapat mulai dengan
pekerjaan itu."
dunia-kangouw.blogspot.com
Kembali Kun Hong menjura. Di dalam hati dia merasa amat curiga, akan tetapi di luarnya dia pura-pura
bersikap tidak enak.
"Mana saya berani mengganggu Kongcu lebih lama lagi? Budi Kongcu membawa saya masuk saja sudah
amat besar. Harap Kongcu meninggalkan saya di sini saja, biar saya berjalan perlahan sambil mencari-cari
langganan. Dengan tanya-tanya agaknya saya akan sampai juga ke tempat ramai."
"Ihh, mana bisa begitu? Aku pun hendak menuju sejalan denganmu. Marilah, tidak usah sungkan."
Telinga Kun Hong yang tajam mendengar betapa orang ke dua yang sejak tadi berjalan bersama The Sun,
kini berjalan cepat sekali meninggalkan tempat itu. Dia heran, akan tetapi tidak bertanya dan pura-pura
tidak tahu. Karena The Sun mendesaknya, tak dapat pula dia menolak dan terpaksa Kun Hong mengikuti
pemuda itu menuju ke tengah kota.
Makin lama makin ramailah orang hilir-mudik dan makin ramai orang bercakap-cakap. Biar pun sepasang
mata Kun Hong tidak dapat melihat lagi, akan tetapi dahulu sebelum dia menjadi buta kedua matanya,
pernah dia datang ke kota raja, malah pernah dia menjadi tamu dari Pangeran Kian Bun Ti yang sekarang
menjadi kaisar. Oleh karena itu, sekarang dia dapat membayangkan keadaan kota raja ini dengan hanya
mendengar keramaian di sekelilingnya dengan pendengaran saja. (baca Rajawali Emas)
"Saudara Kwa, mari kita masuk ke rumah makan ini dulu. Makan dahulu sebelum bekerja adalah hal yang
paling baik," kata The Sun sambil tertawa gembira.
Kun Hong mengerutkan keningnya. Terlalu baik orang ini. Apakah dia benar-benar baik terhadapnya,
ataukah ada sesuatu yang tersembunyi di balik keramahan ini? Mana ada seorang siucai yang agaknya
kaya raya dan berpengaruh di kota raja suka menolong, malah sekarang hendak menjamu seorang buta
seperti dia? Akan tetapi, semua ini baru dugaan dan amatlah tidak baik kalau dia menolak tawaran dan
keramahan orang, apa lagi memang dia merasa tertarik hatinya untuk mengetahui apa gerangan yang
menjadi dasar keramahan orang ini.
Sambil mengangguk-angguk dan berucap terima kasih dia mengikuti The Sun memasuki rumah makan
yang sudah menyambut mereka dengan asap dan uap yang gurih dan sedap. Diam-diam timbul pula
harapannya untuk dapat bertemu dengan seorang anggota Hwa-i Kaipang, karena bukankah sudah lazim
kalau pengemis-pengemis berada di dekat rumah makan untuk mengemis sisa makanan?
Pesanan masakan The Sun cepat dilayani oleh para pelayan yang juga menyebutnya kongcu dan
melayaninya dengan sikap hormat.
"Mari silakan, saudara Kwa," pemuda itu berkata sambil mengisi cawan arak, kemudian menyerahkannya
kepada Kwa Kun Hong.
Orang buta ini dengan berterima kasih tetapi tetap berhati-hati segera mulai makan minum dengan
pengundangnya yang aneh dan ramah.
Rumah makan itu tidak banyak didatangi tamu pada saat itu. Kun Hong mendengar ada beberapa orang
tamu saja di meja sebelah kanannya. Tiba-tiba dia mendengar beberapa orang memasuki rumah makan
itu. Dari bunyi derap langkah mereka tahulah dia bahwa orang-orang ini adalah ahli-ahli silat, malah
beberapa orang di antaranya adalah ahli silat tinggi. Dia mulai waspada.
Sukar menghitung tepat di tempat gaduh itu, akan tetapi dia tahu bahwa sedikitnya tentu ada lima orang
yang datang ini. Lalu terdengarlah ribut-ribut di sebelah kanannya, dan terdengar suara kereng berkata,
"Diam semua, duduk di tempat. Buka semua buntalan, kami datang melakukan penggeledahan!"
Kun Hong mengerutkan keningnya dan bertanya lirih kepada The Sun, "Saudara The Sun, apakah yang
terjadi di sana?"
The Sun tertawa, "Ah, tidak apa-apa, biasa saja terjadi di kota raja. Penggeledahan, apa lagi? Di kota raja
sekarang ini banyak terdapat orang-orang jahat, dan semenjak kaisar muda menggantikan mendiang
kaisar tua, banyak sekali terjadi keributan. Hampir setiap hari ada orang yang ditangkap dan dihukum mati
karena dia menjadi mata-mata musuh dan pengkhianat."
Kun Hong kaget sekali, "Kalau begitu, kita nanti juga akan digeledah?"
dunia-kangouw.blogspot.com
Dia tahu bahwa kalau buntalannya digeledah dan mahkota itu dilihat oleh para pemeriksa, tentu dia akan
ditangkap. Ini masih tidak hebat, lebih celaka lagi mahkota itu tentu akan dirampas dan dengan demikian,
surat rahasia itu ikut terampas pula sehingga segala yang telah dia lakukan selama ini untuk mendapatkan
kembali mahkota itu sia-sia belaka!
"Ahh, terhadap aku mereka takkan menggeledah," kata The Sun tertawa, "karena mereka semua sudah
mengenalku. Mereka hanya menggeledah orang-orang asing yang datang ke kota raja dan orang-orang
yang mencurigakan saja."
Meski pun Kun Hong tidak gentar menghadapi para penggeledah itu, akan tetapi dia juga merasa tidak
enak kalau belum apa-apa dia harus menimbulkan keributan di kota raja. Selama dia belum dapat
menemukan orang-orang Hwa-i Kaipang dan masih membawa mahkota itu, tidak baik menimbulkan
keributan dan menjadi perhatian para penjaga kota. Dia segera bangkit berdiri dan berkata,
"Saudara The, banyak terima kasih atas segala kebaikanmu. Kini aku sudah kenyang dan hendak pergi
saja, mulai dengan pekerjaanku."
The Sun memperdengarkan suara kaget, "Ehhh, saudara Kwa. Mengapa tergesa-gesa? Apakah kau takut
digeledah? Kau kan hanya tukang obat, yang kau bawa di buntalanmu, tentu hanya pakaian dan obatobatan.
Mengapa takut kelihatannya?"
"Tidak... tidak takut. Akan tetapi segan juga aku kalau harus digeledah. Siapa tahu kalau obat-obatku bisa
hilang sebagian."
Tiba-tiba The Sun memegang tangan kiri Kun Hong. "Saudara Kwa, percayalah kepadaku. Aku akan
melindungimu dari tangan anjing-anjing itu," bisiknya.
Kun Hong berdebar hatinya. Tidak salahkah pendengarannya? Siapa yang menyebut para pembantu
kaisar dengan sebutan ‘anjing’ atau ‘anjing penjilat’, berarti orang itu termasuk golongan anti kaisar?
Betulkan The Sun ini seorang yang segolongan dengan Tan Hok? Segolongan dengan Pek-lian-pai dan
para orang gagah yang menentang kaisar baru yang dikatakan tidak tepat menduduki singgasana karena
wataknya yang tidak baik? Dia tidak mau percaya begitu saja karena suara orang muda ini mengandung
getaran yang sukar ditangkap dasarnya.
The Sun meneriaki pelayan dan cepat membayar harga makanan sambil memberi persen besar kepada
pelayan. Kemudian dia menggandeng tangan Kun Hong dan diajak keluar. Bisiknya perlahan, "Saudara
Kwa, apakah kau membawa sesuatu yang kau tidak suka dilihat oleh anjing-anjing itu?"
Sukar bagi Kun Hong untuk menjawab, maka dia diam saja.
Selagi mereka berdua berjalan menuju ke pintu, tiba-tiba terdengar oleh Kun Hong orang membentak, "Hei,
orang buta! Berhenti dulu kau, tidak boleh ke luar sebelum digeledah!"
Kun Hong berhenti, siap melawan untuk menyelamatkan surat rahasia di dalam mahkota.
The Sun segera berkata nyaring, "Sahabat Kwa yang buta ini datang bersamaku, apa kalian tidak lihat? Dia
tamuku, seorang ahli pengobatan yang hanya membawa pakaian dan obat-obatan. Apa perlunya digeledah
kalau aku sudah menanggungnya?"
Terdengar oleh Kun Hong suara pimpinan para penggeledah itu yang cukup keras dan mengandung
tenaga, "Maaf The-kongcu. Kami mendapat perintah atasan agar hari ini kami menggeledah setiap orang
yang belum pernah kami geledah. Orang buta ini belum pernah kami lihat, terpaksa kami tidak berani
lepaskan sebelum digeledah karena kalau kami lakukan hal ini, tentu kami akan mendapat hukuman."
The Sun berkata mengejek, "Hemmm, kalau begitu lekas selesaikan dulu penggeledahan orang-orang itu,
kami menanti di sini." Dia menarik tangan Kun Hong diajak duduk di atas bangku di pojok. Lalu berbisik.
"Lekas, kau titipkan surat rahasia itu kepadaku!"
Kun Hong kaget dan heran bukan main. Apa yang dimaksudkan oleh The Sun? Apakah yang dimaksudkan
surat rahasia yang berada di dalam mahkota? Bagaimana orang ini bisa tahu? Dia sendiri yang selalu
membawa mahkota itu, tidak tahu di mana disimpannya surat itu.
dunia-kangouw.blogspot.com
"Apa maksudmu?" bisiknya tak mengerti, atau pura-pura tidak mengerti. "Aku tidak membawa surat apaapa."
"Ah, Saudara Kwa yang baik, masih tidak percayakah kau kepadaku?" bisik The Sun, lalu ditambahkan
lebih lirih lagi, "Aku segolongan denganmu... aku membantu perjuangan... aku membantu utara..."
Kun Hong lebih tidak mengerti lagi. Dia sendiri pun tidak tahu dia itu termasuk golongan mana karena biar
pun dia mendengar dari Tan Hok tentang pergerakan dan pertentangan di kota raja, namun kalau dia
belum mendapat kepastian siapa yang tidak benar dalam hal ini, bagaimana dia bisa membantu satu
pihak?
Hanya dia dapat menduga bahwa agaknya pemuda she The ini adalah pendukung Raja Muda Yung Lo di
utara. Padahal surat yang disimpan di dalam mahkota itu pun adalah surat rahasia dari mendiang kaisar
untuk diserahkan kepada Raja Muda Yung Lo. Tidak akan kelirukah dia kalau mahkota itu dia berikan
kepada pemuda ini supaya disampaikan kepada yang berhak menerimanya?
Karena keraguan Kun Hong ini, dia terlambat. Terdengar derap langkah menghampiri dan bentakan orang
tadi.
"Heii, orang buta. Hayo turunkan buntalanmu itu dan buka. Juga pakaian luarmu, biarkan kami
menggeledahmu!"
Kun Hong berdebar, lalu menjawab, "Saya hanya seorang tukang obat biasa saja, tidak membawa
sesuatu, harap kalian jangan mengganggu aku seorang buta..."
"Ha-ha-ha, kau kira akan mampu mengelabui aku Bhe Hap Si Malaikat Bumi? Ha-ha-ha, orang buta, kau
menyerahlah!"
Angin cengkeraman yang amat dahsyat menuju dada Kun Hong. Dia merasa kaget sekali. Ini bukanlah
serangan orang biasa, melainkan jurus yang dikeluarkan oleh seorang ahli silat kelas tinggi! Masa kalau
pangkatnya hanya tukang geledah saja memiliki kepandaian begini tinggi?
Pada saat itu juga dari kanan dan kiri menyambar pula angin pukulan yang membuktikan jelas bahwa
penyerang-penyerangnya merupakan orang-orang yang memiliki kepandaian hebat. Kun Hong cepat
menggerakkan kedua kakinya dan dengan langkah ajaib dia dapat menghindarkan tiga serangan sekaligus
itu.
"Ha-ha-ha, kau bilang seorang buta biasa?" Bhe Hap berseru mengejek dan merasa amat penasaran
sekali, lalu menerjang dengan hebat.
Kun Hong diam-diam mengeluh. Mau tidak mau, belum apa-apa dia sudah menimbulkan keributan yang
tentu akan berekor tidak baik. Dia telah siap menggunakan kepandaiannya untuk merobohkan orang-orang
ini ketika tiba-tiba The Sun membentak,
"Orang-orang tak tahu aturan. Kalian berani menghina tamuku?"
Kun Hong merasa betapa angin menyambar di sampingnya ketika pemuda yang ramah itu berkelebat ke
depannya. Terdengar suara gaduh disusul keluhan orang.
"The-kongcu jangan ikut campur!" Bhe Hap membentak.
Akan tetapi The Sun menjawab. "Menyerang tamuku sama dengan menghinaku!"
"The-kongcu, kami bukan bermaksud begitu..." Bhe Hap membantah.
"Sudahlah, bebaskan saudara Kwa ini dari pemeriksaan, kalau tidak, terpaksa aku akan melawan kalian."
"Hemmm, terpaksa pula kami menggunakan kekerasan!" bantah Bhe Hap.
dunia-kangouw.blogspot.com
Terjadilah pertandingan hebat di rumah makan itu. Kun Hong bingung. Haruskah dia turut membantu?
Dengan pendengaran telinganya, dia dapat menangkap betapa gerakan Bhe Hap dan empat orang
pembantunya yang lain amat kuat, cepat dan juga memiliki tenaga lweekang yang tinggi.
Akan tetapi agaknya orang muda she The ini benar-benar mempunyai kepandaian hebat seperti yang
sudah diduga oleh Kun Hong. Buktinya tadi hanya dalam segebrakan saja telah merobohkan seorang
lawan dan kini dikeroyok lima tidak terdesak sama sekali.
Meja kursi beterbangan dan secara kebetulan agaknya beberapa kali dengan amat keras meja dan kursi
melayang ke arah tubuh Kun Hong. Terpaksa pemuda ini mengelak dan hal ini tentu saja mengherankan
mereka yang melihatnya. Seorang buta bagaimana bisa mengelak dari sambaran meja kursi itu?
Kun Hong yang berdiri tegak dan diam memperhatikan jalannya pertandingan, menjadi terheran-heran
ketika tiba-tiba saja Bhe Hap dan teman-temannya meloncat keluar rumah makan dan orang itu berkata,
"Hebat kepandaianmu, The-kongcu. Akan tetapi, si buta itu pasti akan dapat tertawan oleh kami!" Lalu
terdengar mereka itu berlarian pergi.
The Sun menangkap tangan Kun Hong.
"Lekas," bisiknya, "mereka itu hanya untuk sementara saja mampu kuusir. Mereka tentu akan datang
kembali dengan teman yang lebih banyak, malah jika tokoh-tokoh pengawal yang lebih kosen datang, kita
bisa celaka. Mari cepat kau ikut denganku."
Kun Hong tidak mendapat jalan lain kecuali ikut berlarian cepat bersama The Sun, Dia tidak tahu ke mana
dia dibawa, jalannya berliku-liku dan lebih satu jam lamanya mereka melarikan diri. Akhirnya mereka
berhenti di tempat yang sunyi dan The Sun mengajak Kun Hong memasuki sebuah rumah tua di pinggir
kota yang sunyi ini.
"Di manakah kita ini?" Kun Hong bertanya, tongkatnya meraba lantai yang sudah bolong-bolong dan
dinding yang tua dan retak-retak.
"Dalam sebuah bangunan bekas kuil tua yang tak dipakai lagi. Di sini kita aman, takkan ada yang menduga
bahwa kau akan bersembunyi di tempat ini. Mari masuklah saja, di belakang ada sebuah kamar yang
cukup bersih, kau boleh bersembunyi di sana."
"Saudara The Sun, kau baik sekali..."
Kun Hong menangkap lengan tangan kanan orang muda itu. Gerakannya ini cepat sekali dan memang
sangat mengherankan bagaimana seorang yang tidak pandai melihat dapat menangkap lengan orang
hanya dengan mendengarkan gerakan orang itu.
"Ahhh...!" Kun Hong menghentikan kata-katanya tadi dan kini dia berseru kaget sambil meraba-raba lengan
kanan The Sun. "Saudara The, kau... kau terluka...?"
"Wah, hebat sekali kau, Kwa-lote! Begitu memegang lenganku kau sudah tahu bahwa aku terluka. Benarbenar
ilmu pengobatan yang kau miliki amat tinggi!" The Sun berseru kaget dan heran.
Tapi Kun Hong tidak mempedulikan pujian ini, melainkan segera memeriksa lengan kanan sampai ke
pundak, "Luka ini baru saja. The-kongcu... kau terluka ketika bertempur tadi!" Suara Kun Hong agak
gemetar saking terharu mengingat betapa orang yang baru saja bertemu dengannya ini telah membelanya
sampai terluka.
"Kwa-lote, jangan panggil kongcu kepadaku, bikin aku tidak enak saja. Aku sedikit lebih tua darimu, sebut
saja twako kepadaku. Tentang luka ini..." dia menarik napas panjang. "Memang anjing-anjing itu amat lihai,
maka untung tadi kita sempat melarikan diri. Kalau datang tokoh yang lebih sakti, celaka..."
Kun Hong terheran. "Tapi... bukankah kau tadi berhasil mengusir mereka? Bagaimana kau bisa terluka?"
The Sun tertawa mengejek. "Kadang-kadang dengan kepandaian silat saja tidak cukup untuk mencapai
kemenangan, Kwa-lote. Sering kali terjadi, kecerdikan dan akal bahkan dapat mengalahkan kepandaian
silat. Di antara para petugas istana tadi, terdapat seorang ahli pukulan Gin-kong-jiu (Tangan Sinar Perak)
yang lihai, karena selain ilmu pukulan ini mengandung hawa beracun, juga dilakukan dengan mengerahkan
dunia-kangouw.blogspot.com
tenaga Jeng-kin-kang (Tenaga Seribu Kati). Tadi dalam pengeroyokan dia sudah menyerangku dengan
pukulan itu. Karena menghadapi pengeroyokan orang-orang yang berkepandaian tinggi, aku tidak memiliki
kesempatan mengelak lagi, terpaksa aku menyambut pukulan itu dengan tangan kananku. Aku tahu bahwa
pada saat itu aku menderita luka dalam, akan tetapi kalau hal itu kuperlihatkan, kita tentu sudah celaka
tadi. Aku pura-pura tidak merasa akan hal ini, malah menyerang mereka kalang-kabut. Hal inilah yang
membuat mereka kaget dan jeri, mengira bahwa pukulan hebat itu sama sekali tidak mempengaruhiku dan
ini pula yang menyebabkan mereka mengaku kalah dan melarikan diri. Ha-ha-ha, Kwa-lote, kau pikir,
bukankah sekali ini ilmu silat kalah oleh akal dan kecerdikan?"
"The-twako sungguh-sungguh gagah dan berbudi. Untuk aku seorang buta, engkau sudah mengorbankan
diri menderita luka, membuat aku merasa tidak enak sekali."
"Kwa-lote, di antara kita, perlu apa bicara sungkan seperti itu? Sekali bertemu muka aku tahu bahwa kau
bukanlah seorang tukang obat buta biasa saja. Malah aku hampir merasa yakin sekali bahwa kaulah
orangnya yang disebut-sebut para teman seperjuangan yang mendesas-desuskan bahwa surat rahasia itu
berada di tanganmu."
"Surat rahasia? Apa maksudmu?"
The Sun terdengar kecewa sekali. "Ah, sampai sekarang kau agaknya masih belum mau percaya padaku,
Kwa-lote. Semua orang di antara para pejuang tahu bahwa surat rahasia peninggalan mendiang kaisar tua
berada di tangan bekas pembesar Tan Hok, kemudian dikabarkan bahwa kaulah yang agaknya sudah
menguasai surat itu. Kalau memang betul demikian, akulah orangnya yang akan membawa dan
mengantarkan surat itu kepada Raja Muda Yung Lo di utara."
Berdebar jantung Kun Hong. Ah, kiranya pemuda gagah ini adalah utusan atau pembantu dari raja muda
dari utara itu! Sungguh kebetulan. Memang dia sedang mencari orang yang berhak menerima mahkota
kuno berikut rahasianya itu untuk disampaikan kepada Raja Muda Yung Lo.
Akan tetapi, kehati-hatiannya membuat dia berpikir lebih jauh lagi. Baru sekarang ini dia berkenalan
dengan The Sun. Bagaimana dia dapat menyerahkan mahkota demikian saja?
"The-twako, nanti saja kita bicara tentang itu. Sekarang biarkan aku mengobati lukamu," katanya sambil
menotok dan mengurut jalan-jalan darah di seluruh lengan dan pundak The Sun, kemudian menyalurkan
hawa murni melalui telapak tangan kanan pemuda itu. The Sun terkejut dan berkali-kali mengeluarkan
suara memuji sesudah luka dalam itu sembuh oleh pengobatan Kun Hong yang mempergunakan sinkang
di tubuhnya.
The Sun menarik napas panjang dan berkata, "Ahhh, ternyata biar pun aku bermata, aku lebih buta dari
pada kau, Kwa-lote. Aku mengira bahwa kau hanyalah seorang di antara saudara-saudara seperjuangan
yang menentang kekuasaan kaisar muda yang talim. Tak tahunya kau adalah seorang ahli yang memiliki
kesaktian seperti ini! Benar-benar amat memalukan kalau kuingat betapa tadi aku memperlihatkan
kebodohan dan kedangkalan ilmu silatku di depan seorang sakti!"
Kun Hong tersenyum dan menjura. "The-twako, kau orang yang lihai, tak perlu merendah seperti ini. Aku
bukan apa-apa, hanya mempunyai sedikit ilmu pengobatan. Terus terang saja, aku bukanlah anggota
pejuang, aku tak bisa disamakan dengan kau seorang patriot. Secara kebetulan saja aku mempunyai tugas
yang ada hubungannya dengan perjuangan menentang kaisar baru."
"Sudah kuduga, sudah kuduga sebelumnya, kau tentu bukanlah seorang biasa. Betulkah desas-desus itu
bahwa kau telah menerima surat rahasia dari bekas pembesar Tan Hok? Atau... masih belum percayakah
kau kepadaku?"
Bimbang hati Kun Hong. Pikirannya bekerja keras dan dia mendapat akal.
"Bukan begitu, The-twako, akan tetapi soalnya karena aku harus berhubungan dengan orang yang berhak.
Sesungguhnya, walau pun aku mempunyai hubungan dengan paman Tan Hok, akan tetapi aku tidak
pernah diserahi sebuah pun surat rahasia, hanya aku telah merampas kembali sebuah mahkota kuno yang
tadinya terampas dari tangan paman Tan Hok."
"Mahkota kuno? Ah, segala benda berharga, apa artinya diperebutkan?" terdengar suara The Sun kecewa.
dunia-kangouw.blogspot.com
Diam-diam Kun Hong mengambil kesimpulan bahwa pemuda pejuang ini ternyata belum tahu akan rahasia
mahkota kuno yang menjadi tempat penyimpanan surat rahasia yang diperebutkan itu.
"Ahh, sayang sekali kalau kau tidak tahu tentang surat itu, Kwa-lote. Surat itu luar biasa pentingnya bagi
perjuangan dan celakalah kalau sampai terjatuh ke tangan musuh."
"Surat apakah yang kau maksudkan itu, The-twako?" Kun Hong memancing.
The Sun tidak segera menjawab, dari gerakannya tahulah Kun Hong bahwa pemuda itu pergi mendekati
pintu, agaknya menyelidik kalau-kalau ada orang yang mendengarkan di tempat itu. Akan tetapi dengan
ketajaman telinganya Kun Hong yakin bahwa di tempat itu, selain mereka berdua, tidak ada orang lain lagi.
Kemudian The Sun datang lagi mendekati Kun Hong dan berkata lirih. "Surat itu adalah surat peninggalan
mendiang kaisar tua yang diserahkan kepada bekas pembesar Tan Hok. Isi surat itu mengatakan bahwa
kaisar tua memberi kekuasaan penuh kepada Raja Muda Yung Lo dari utara untuk mewakilinya memberi
hukuman kepada kaisar muda yang baru ini andai kata kaisar baru ini menyeleweng. Nah, bukankah amat
penting surat itu? Jika surat itu diperlihatkan kepada para menteri dan pembesar yang berada di kota raja,
tentu menimbulkan keributan besar karena sebagian besar tentu saja akan tunduk kepada pesan terakhir
kaisar tua pendiri Kerajaan Beng. Sebaliknya apa bila terjatuh ke tangan musuh dan dimusnahkan, tentu
amat merugikan perjuangan."
Mendengar ini, makin menipis keraguan hati Kun Hong. Tak salah lagi, pemuda gagah ini tentulah seorang
pejuang yang diberi kepercayaan dari Raja Muda Yung Lo. Memang patut diberi kepercayaan karena
orang ini amat cerdik. Kalau tidak cerdik, mana mungkin seorang yang bertugas mata-mata dapat
seenaknya tinggal di kota raja, malah dikenal oleh para penjaga dan pengawal istana sebagai seorang
kongcu dan siucai?
Ingin sekali dia tahu murid siapakah pemuda ini dan sampai di mana tingkat ilmu silatnya. Tentu saja Kun
Hong tidak berani bertanya tentang ini, apa lagi menguji kepandaiannya, namun diam-diam dia sudah
menjadi makin kagum saja.
"Wah, kalau begitu benar-benar amat penting surat rahasia itu, The-twako. Sayang aku tidak tahu akan hal
itu. Tentang mahkota kuno ini, aku bermaksud untuk menyerahkannya kepada seorang sahabat baikku.
Karena itu kuharap kau sudi menolongku mencarikan sahabatku itu. Dia seorang pejuang kawakan dan
tentu kau mengenalnya."
"Siapakah dia?"
"Dia adalah Hwa-i Lokai ketua dari perkumpulan pengemis Hwa-i Kaipang."
"Ahh, dia...?" Suara The Sun terdengar seperti orang kaget. Akan tetapi menjadi tenang kembali ketika dia
berkata. "Tentu saja aku mengenalnya dengan baik. Siapa yang tidak mengenal Hwa-i Lokai yang sangat
lihai? Akan tetapi, mencari Hwa-i Lokai kiranya lebih sulit dari pada mencari iblis sendiri. Perkumpulan
pengemis itu merupakan perkumpulan rahasia, pengaruhnya sama besar seperti perkumpulan Pek-lian-pai
yang juga menentang kaisar."
Kun Hong mengangguk-angguk. "Kurasa kalau kau dapat mencari seorang dua orang anggota Hwa-i
Kaipang dan dapat mengajak mereka, tentu akan mudah menjumpai Hwa-i Lokai. Tolonglah kau cari dia
dan ajak Hwa-i Lokai datang ke sini menemuiku. Asal kau katakan bahwa Kwa Kun Hong yang minta dia
datang, pasti dia akan datang ke sini."
"Wah-wah, kiranya kau begini berpengaruh, Kwa-lote? Benar-benar membuat aku makin tunduk dan
kagum."
"Bukan, bukan... hal ini sama sekali tidak ada hubungannya dengan perjuangan. Soalnya karena...
beberapa tahun yang lalu aku pernah mencampuri urusan dalam mereka, urusan Hwa-i Kaipang dan
akhirnya aku diangkat mereka menjadi ketua kehormatan. Itulah, tidak ada sebab lain."
The Sun diam sampai lama, agaknya bimbang dan ragu apakah dia akan mampu mencari kakek itu.
Kemudian katanya lagi, "Kwa-lote, dari pada susah-susah mencari Hwa-i Lokai, apakah bedanya kalau kau
serahkan saja tugas itu kepadaku? Disuruh ke mana pun aku akan pergi, asal saja urusan itu penting untuk
perjuangan."
dunia-kangouw.blogspot.com
"Maaf, The-twako, soalnya bukan tidak percaya kepadamu, akan tetapi aku harus tidak mau
mengecewakan paman Tan Hok yang sudah menaruh kepercayaan kepadaku."
Akhirnya The Sun pergi setelah berkata, "Baik, akan kucari Hwa-i Lokai. Kau tunggulah saja di sini, lote."
Ternyata Kun Hong harus menunggu sehari penuh. Hari telah mulai sore dan Kun Hong sudah kehabisan
sabar. Selain merasa lelah menunggu dan lapar, dia juga tidak suka berada dalam keadaan yang serba
tidak pasti itu. Dia sudah hampir pergi meninggalkan tempat itu untuk mencoba mencari sendiri ketika
terdengar derap langkah beberapa orang memasuki bangunan tua ini.
Kun Hong cepat berdiri tegak menanti dengan sikap tenang namun penuh kesiap siagaan. Kiranya The
Sun yang datang itu, bersama tiga orang kakek pengemis.
"Kwa-lote, tak mungkin bertemu dengan Hwa-i Lokai karena dia sedang pergi keluar kota, agaknya ke
utara. Akan tetapi aku bertemu dengan tiga orang tokoh Hwa-i Kaipang, dan sekarang mereka kuajak ke
sini."
Sedangkan ketiga orang pengemis tua yang pakaiannya berkembang-kembang itu begitu melihat Kun
Hong lalu serentak menjatuhkan diri berlutut dan seorang di antara mereka berkata,
"Ah, kiranya Kwa-pangcu (ketua pengemis Kwa) berada di sini! Kami bertiga pengemis tua menyampaikan
hormat kepada Kwa-pangcu."
"Sam-wi lokai (Saudara pengemis tua bertiga) tidak usah berlutut dan terlalu sungkan, akan tetapi aku tidak
mengenal suara sam-wi. Maaf, sam-wi siapakah dan apa kedudukan sam-wi di Hwa I Kai-pang?"
"Tidak aneh jika Kwa-pangcu belum mengenal kami bertiga sebab sudah bertahun-tahun Kwa-pangcu tidak
pernah datang mengunjungi Hwa-i Kaipang. Kami bertiga merupakan pembantu-pembantu Lo-pangcu di
samping Coa Lokai, sebagai pengganti dari Sun Lokai dan Beng Lokai yang telah diusir. Kami bertiga tahu
semua akan kejadian beberapa tahun yang lalu saat Kwa-pangcu datang dan membereskan keruwetan
yang terjadi pada Hwa-i Kaipang."
Kun Hong mengangguk-angguk. Teringat ia akan semua pengalamannya beberapa tahun yang lalu
sebelum kedua matanya menjadi cacat. Memang, karena dia pernah berhasil membereskan keributan
yang terjadi karena perebutan kedudukan ketua di perkumpulan Hwa-i Kaipang, dia malah diangkat
menjadi ketua mereka! Dengan mempergunakan akal untuk mencegah terjadinya keributan, dia lalu
menerima kedudukan ketua, akan tetapi dia mewakilkannya kembali kepada Hwa-i Lokai yang dia angkat
menjadi ji-pangcu (ketua ke dua). (baca Rajawali Emas)
Tiba-tiba muka Kun Hong mengerut di bagian antara kedua matanya yang buta. Kenapa ketiga orang
pengemis tua ini menyebut Hwa-i Lokai sebagai lo-pangcu, tidak ji-pangcu?
"Lo-pangcu kami sedang pergi ke utara untuk tugas perjuangan, namun pangcu sudah memesan kepada
kami bahwa kalau ada orang mencarinya untuk menyampaikan pesan rahasia atau surat rahasia, boleh
kami mewakilinya. Oleh karena itu, setelah mendengar keterangan mengenai Kwa-pangcu dari Thekongcu,
kami segera datang menghadap ke sini. Sekarang, kami menanti perintah dan petunjuk Kwapangcu."
Mendadak Kun Hong membuat gerakan kilat dan tahu-tahu tangannya sudah menangkap pergelangan
lengan pengemis terdekat, lalu dia membentak.
"Siapakah kalian? Jangan coba-coba mengelabui orang buta! Aku tahu pasti, kalian bukan pembantupembantu
Hwa-i Lokai!"
Pada saat itu terdengar suara ribut-ribut di luar bangunan itu dan ternyata banyak sekali orang berpakaian
pengawal istana berlompatan masuk. Di antara suara mereka, Kun Hong mengenal suara Tiat-jiu Souw Ki
yang berseru, "Betul dia si buta yang merampas mahkota kuno. Hati-hati dia lihai!"
Pengemis yang dipegang pergelangan tangannya oleh Kun Hong itu berseru keras dan meronta. Kun Hong
terpaksa melepaskan pegangannya karena dia harus menghadapi bahaya baru yang datang dari luar. Dia
dunia-kangouw.blogspot.com
taksir bahwa yang datang ini ada belasan orang banyaknya dan segera terdengar suara senjata tajam
dicabut dan digerakkan.
"Kwa Kun Hong, kau sudah terkepung! Lebih baik menyerah dan serahkan mahkota serta surat rahasia
yang dipercayakan Tan Hok kepadamu!" terdengar suara seorang laki-laki tua yang suaranya tinggi
melengking.
Dari suara gerak-gerik mereka itu Kun Hong tahu bahwa dia dikepung oleh orang-orang pandai yang
memiliki kepandaian tinggi. Namun dia tidak gentar, siap mempertahankan mahkota kuno itu dengan
taruhan nyawanya. Hanya satu hal yang membuat dia gelisah, yaitu keselamatan The Sun. Kasihan bila
pemuda itu sampai ikut celaka akibat menolong dirinya. Dia hendak memancing pertempuran supaya
semua orang mengeroyoknya, dan dalam keributan itu memberi kesempatan kepada The Sun untuk
melarikan diri. Dia lalu tertawa bergelak.
"Ha-ha-ha-ha, anjing-anjing penjilat kaisar lalim! Kalau memang kaisar muda yang baru ini seorang yang
benar, mengapa takut akan segala surat rahasia peninggalan kaisar tua? Aku tidak tahu di mana surat
yang kalian cari-cari itu, akan tetapi kalau mahkota kuno memang berada padaku. Akan tetapi jangan
harap aku sudi menyerah dan memberikan mahkota kuno itu kepada siapa pun juga di antara kalian! Kalau
kalian memang sanggup, boleh tangkap aku!"
Tentu saja para pengawal istana itu marah sekali mendengar betapa ada seorang buta menantang
mereka. Mereka itu memaki-maki dan mulai mendesak maju untuk berlomba menangkap atau merobohkan
Kun Hong.
Tiba-tiba tiga orang berpakaian pengemis itu yang berdiri paling dekat dengan Kun Hong dan yang diamdiam
sudah menyiapkan senjata mereka, yaitu masing-masing sebatang tongkat, serentak menyerang Kun
Hong!
Bila saja Kun Hong tadinya tidak menaruh hati curiga kepada tiga orang ini, agaknya dia akan terkena
serangan gelap, atau setidaknya akan terkejut sekali. Akan tetapi dia tadi memang sudah menduga bahwa
tiga orang pengemis ini adalah anggota-anggota Hwa-i Kaipang yang palsu, yang agaknya sengaja
menyamar sebagai anggota-anggota Hwa-i Kaipang untuk menipunya.
Maka sekarang menghadapi serangan mereka, dia malah tertawa mengejek. Tubuhnya berkelebat cepat
dan aneh, kedua tangannya bekerja dan... berturut-turut tubuh tiga orang pengemis tua itu melayang ke
arah para pengawal yang maju hendak mengeroyoknya.
Akan tetapi Kun Hong segera harus mencurahkan seluruh perhatiannya guna menghadapi pengeroyokan
para pengawal istana yang mulai dengan penyerangan mereka itu. Pada mulanya dia hanya
mempergunakan langkah-langkah ajaib untuk menghindarkan diri dari setiap sambaran senjata, akan tetapi
karena para pengeroyoknya terdiri dari orang-orang berkepandaian tinggi, Kun Hong mulai menggerakkan
tongkatnya untuk menangkis.
"The-twako, harap lekas kau pergi!" Kun Hong sempat berseru beberapa kali karena dia benar-benar
merasa khawatir kalau-kalau penolongnya itu akan terbawa-bawa.
Akan tetapi tak mungkin dia dapat memperhatikan dan mencari tahu keadaan pemuda itu karena kepungan
dan pengeroyokan ketat para pengawal istana itu benar-benar membuat dia sangat sibuk. Sudah ada
beberapa buah senjata lawan dapat dia pukul dan terlepas dari pegangan, sedangkan tangan kirinya juga
telah merobohkan tiga orang yang terkena dorongannya.
Akan tetapi serbuan para pengeroyok semakin hebat sehingga terpaksa Kun Hong kini memainkan Ilmu
Pedang Im-yang Sin-kiam sambil tidak lupa mencelat ke sana ke mari mempergunakan langkah sakti dari
ilmu Silat Kim-tiauw-kun. Ributlah para pengeroyok itu, terdengar seruan-seruan kaget dan beberapa orang
roboh lagi. Akan tetapi mereka itu roboh hanya untuk sejenak saja karena Kun Hong sama sekali tidak mau
menggunakan pukulan maut, cukup baginya kalau dapat mendorong orang roboh atau membuat senjata
mereka terlempar.
"The-twako, tinggalkan aku...!" Dia sempat berseru lagi sambil berusaha membuka jalan untuk ke luar dari
rumah itu. Dia dapat menduga bahwa waktunya sekarang tentu hampir malam, karena dia tadi telah
menunggu sehari penuh dan hawa siang yang panas telah mulai menghilang tadi.
dunia-kangouw.blogspot.com
"The-twako, pergilah, biar aku menghadapi sendiri anjing-anjing ini!" serunya lagi.
Kun Hong berpikir bahwa kalau hari sudah menjadi gelap dan dia sudah berhasil ke luar dari kepungan dan
lari ke luar rumah, agaknya akan lebih mudah baginya untuk melarikan diri. Tentu saja dia akan dikejar,
akan tetapi dia dapat merobohkan setiap orang pengejar dan mencoba untuk lari keluar dari tembok kota
raja, atau mencari tempat sembunyi yang lebih baik.
"Kwa-lote, jangan khawatir, aku membantumu!" mendadak terdengar suara The Sun dan tahu-tahu
pemuda itu telah berada di dekatnya, malah kini The Sun juga menggerakkan pedangnya menangkis
beberapa senjata para pengeroyok.
"Ahh, jangan, The-twako. Tidak perlu kau membantuku, larilah...!" kata Kun Hong sambil menghantam
runtuh sebuah tombak panjang dengan tangan kirinya yang dimiringkan.
"Aha, kau hebat, Lote. Tetapi jangan kira aku pengecut! Aku pun berani mengorbankan nyawa untuk
perjuangan..."
"Ahh, jangan..." Kun Hong terharu dan saking marahnya kepada para pengeroyok, sekali kaki kirinya
menendang, dua orang berteriak kesakitan dan terlempar ke belakang.
"Kwa-lote, kulihat para perwira kerajaan datang. Mereka lihai... aku tidak takut, akan tetapi sayang...
bagaimana kalau sampai rahasia yang kau bawa terjatuh ke tangan mereka? Lebih baik kau serahkan
padaku. Katakan ke mana harus kusampaikan, rahasia itu lebih penting dari pada nyawa kita."
Kun Hong memutar otaknya sambil menghadapi pengeroyokan yang semakin ketat itu. Benar juga, satusatunya
jalan untuk menyelamatkan mahkota kuno dengan rahasianya, hanya menyerahkan kepada The
Sun.
"Lekas, ambil mahkota di buntalanku... kau bawa lari..."
"...mahkota...?" The Sun berbisik, suaranya kecewa, "untuk apa benda itu? Surat rahasia itu yang penting!"
"Tiada waktu bicara panjang lebar..."
Kun Hong mengambil keluar mahkota itu dan menyerahkannya kepada The Sun dengan tangan kiri,
sedangkan tongkatnya diputar melindungi mereka berdua. "Bawa ini kepada anggota-anggota Pek-lian-pai,
tentu mereka mengerti... lekas kau pergi..."
The Sun menerima mahkota itu. Pada waktu itu, empat orang perwira yang bersenjata golok telah
menerjang masuk. Gerakan golok mereka berat dan cepat. Desir angin senjata mereka membuat Kun
Hong maklum bahwa sekali ini dia harus mempertahankan dirinya mati-matian karena selain jumlah musuh
sangat banyak, juga ternyata makin lama yang datang mengeroyoknya adalah orang-orang yang makin
tinggi ilmu kepandaiannya.
"The-twako lekas pergi! Menanti apa lagi?" bentaknya ketika belum juga dia mendengar sahabatnya itu
melompat pergi meninggalkannya.
Lama The Sun tidak menjawab, kemudian terdengar suaranya. "Nanti dulu, aku menanti saat baik..."
Pada saat itu pula, empat buah golok besar yang bergerak bagaikan empat ekor naga menyambar,
bercuitan di atas kepala Kun Hong, dibarengi bentakan seorang di antara para perwira.
"Pemberontak buta, lebih baik kau menyerah!"
Kun Hong terkejut sekali. Jurus keempat buah golok yang dipersatukan ini benar-benar amat berbahaya.
Cepat dia melintangkan tongkatnya di depan dada dan kakinya yang kiri tiba-tiba menyapu dengan
gerakan cepat tak terduga.
Empat orang perwira itu terkejut dan meloncat sambil membabatkan golok mereka. Kun Hong menangkis
sekaligus, tongkatnya seakan-akan tergencet empat batang golok dari empat orang perwira yang
mempersatukan tenaga.
dunia-kangouw.blogspot.com
Kun Hong menunggu saat baik untuk memperoleh kemenangan, akan tetapi tiba-tiba dia mendengar The
Sun mendekatinya. Dia mengira bahwa sahabatnya ini hendak membantu dirinya karena mengkhawatirkan
keadaannya.
Akan tetapi alangkah kagetnya ketika mendadak dia merasa betapa jalan darahnya di punggung ditotok
orang. Seketika tubuhnya menjadi lemas seperti lumpuh dan pada saat itu, sebatang pedang tajam yang
datang dari tempat The Sun menyambar, menikam ke arah lambungnya!
Kun Hong mengerahkan seluruh tenaga sakti di dalam tubuhnya. Dia berhasil mengusir pengaruh totokan
dan jalan darahnya normal kembali, akan tetapi karena pengerahan tenaga ini, gerakannya kurang cepat
ketika mengelak dan…
"Craattt!"
Ujung pedang itu biar pun tidak mengenai lambungnya, masih menancap dan mengiris robek kulit dan
daging pada pangkal pahanya bagian belakang!
"The Sun keparat jahanam!" Kun Hong menggereng.
Tubuhnya menubruk maju, tongkat serta tangan kirinya dikerjakan. Gerakannya cepat laksana kilat
menyambar sehingga dia berhasil merampas kembali mahkota dari tangan The Sun, akan tetapi dia tidak
berhasil merobohkan The Sun yang cepat menghindar pergi sambil tertawa mengejek. Agaknya pemuda
yang ternyata adalah seorang di antara para musuh itu sudah maklum akan kelihaian Kun Hong dan tidak
mau secara ceroboh menyambut serangan tadi.
Kun Hong cepat menyimpan mahkota dalam buntalannya lagi dan dadanya penuh hawa amarah, penuh
dendam dan penasaran. Ternyata dia telah ditipu oleh The Sun! Dia telah dipermainkan, dan tahulah pula
dia sekarang bahwa tiga orang pengemis tua tadi pun adalah kaki tangan The Sun ini yang menyamar
sebagai anggota-anggota Hwa-i Kaipang!
"The Sun, jahanam pengecut! Hayo maju lawan aku, jangan sembunyi seperti seorang pengecut hina!" Kun
Hong menantang-nantang dengan kemarahan luar biasa.
Kun Hong tidak lagi bergerak lincah seperti tadi, melainkan berdiri seperti seekor harimau kepepet. Akan
tetapi tiap ada senjata pengeroyok melayang dekat, sekali menggerakkan tongkat senjata itu akan
terpental kembali.
Dari jauh terdengar The Sun menjawab dengan suara mengejek. "Pengemis buta hina, tak usah kau
sombong! Lebih baik menyerah dan takluk. Kalau tidak, sebentar lagi pun kau akan roboh oleh luka itu, haha-
ha!"
Kun Hong menggerakkan tubuhnya, mencelat ke arah suara. Tongkat dan tangan kirinya bergerak aneh ke
depan. Terdengar jerit mengerikan ketika dua orang perwira yang tidak sempat menyingkir, tahu-tahu
pinggang mereka telah terbabat putus dan kepala mereka hancur mengerikan terkena hantaman atau
cengkeraman tangan kiri Kun Hong. Kiranya dalam keadaan marah luar biasa ini, tanpa disadarinya Kun
Hong telah mempergunakan jurus ‘Sakit Hati’ hasil ciptaannya sendiri yang ditunjukkan oleh kakek sakti
Song-bun-kwi!
Bukan main marahnya para perwira ketika melihat dua orang teman mereka roboh tanpa bernyawa dalam
keadaan yang begitu mengerikan. Mereka merasa ngeri, akan tetapi kemarahan membuat mereka nekat
menyerbu sambil berteriak-teriak. Kini yang menyerbu adalah para perwira pilihan yang memiliki
kepandaian tinggi, karena yang berkepandaian lebih rendah tingkatnya dari pada dua orang perwira yang
tewas itu tidak ada yang berani maju mendekat!
Seorang perwira tinggi besar bermuka hitam, dia ini adalah orang yang siang tadi datang bersama The Sun
dan tidak mengeluarkan sepatah kata pun, seorang yang mempunyai kepandaian tinggi dan senjatanya
adalah sepasang ruyung baja yang dipasangi duri-duri, sekarang maju dan menerjang Kun Hong dengan
sepasang ruyungnya menyambar dari kiri dan dari atas.
Berbareng dengan serangan ini, seorang perwira lain yang bertubuh gemuk pendek sudah menerjang pula
dengan pedangnya dari belakang, menusuk punggung Kun Hong sambil menggerakkan tangan kiri dengan
pengerahan tenaga lweekang untuk bersiap menyusul dengan pukulan apa bila pedangnya tidak berhasil.
dunia-kangouw.blogspot.com
Beberapa detik kemudian dari pada serangan pedang ini, seorang perwira lain yang kurus dan bermuka
kuning menyerang pula dari sebelah kanan. Senjatanya adalah sepasang kongce (tombak cagak) yang
bergagang pendek. Gerakannya cepat bertenaga dan ujung kongce itu tergetar dengan hebat ketika dia
menusuk ke arah lambung Kun Hong.
Kun Hong sudah seperti orang keranjingan. Dia tidak bergerak, seperti sebuah patung, akan tetapi andai
kata Song-bun-kwi berada di situ, tentu kakek yang dijuluki iblis ini akan merasa ngeri melihat kedudukan
tubuh atau pasangan kuda-kuda pemuda buta itu, sebab dia mengenal betul kuda-kuda mukjijat itu.
Tubuh pemuda buta ini tak bergerak seperti patung, kaki kanan di depan dengan ujungnya berjungkit, kaki
kiri di belakang dengan lututnya ditekuk, tangan kanan memegang tongkat melintang di atas kepala,
tangan kirinya dengan jari-jari tangan terbuka bagaikan hendak mencengkeram sesuatu dari tanah,
mulutnya agak terbuka, hidungnya kembang-kempis, dadanya turun naik dan dari ubun-ubun serta kedua
lengannya mengepul uap putih! Inilah kuda-kuda dari jurus Sakit Hati yang amat dahsyat dan mukjijat itu!
Kun Hong seakan-akan membiarkan tiga orang perwira dengan senjata masing-masing itu menerjangnya,
dan seakan-akan sepasang ruyung baja itu sudah tentu akan meremukkan kepalanya, pedang si gemuk
pendek sudah hampir menembus punggungnya dan senjata kongce itu pasti akan menembus lambungnya.
"Haiiiiittttttt!"
Tiba-tiba suara nyaring bagai guntur ini memekakkan telinga semua pengeroyok. Tampak sinar kemerahan
menyambar menyilaukan mata, tubuh Kun Hong bergerak sedikit dan... ketiga orang perwira itu seakanakan
tertahan gerakannya karena tiba-tiba saja gerakan mereka terhenti, tubuh mereka berdiri kaku
bagaikan disambar halilintar, sedangkan Kun Hong sudah memasang kuda-kuda lagi seperti tadi.
Semua pengeroyok berdiri bengong, lantas muka mereka menjadi pucat dan hati mereka ngeri bukan main
ketika tiga orang perwira yang tadinya berdiri tegak kaku itu mendadak roboh ke atas tanah dan tubuh
mereka putus menjadi dua di bagian pinggang sedangkan kepala mereka hancur!
Tanpa ada orang yang dapat melihat atau mengetahui bagaimana caranya, tiga orang perwira itu tadi
sudah mati seketika karena pinggang mereka terbabat putus dan kepala mereka dihantam remuk! Inilah
akibat dari jurus Sakit Hati yang kembali telah merobohkan tiga orang korban dalam waktu beberapa detik
saja.
Kun Hong menggigit bibirnya menahan sakit. Luka pada pangkal paha sebelah belakang amat perih dan
panas, juga ada rasa gatal-gatal yang amat nyeri. Seluruh punggungnya terasa kaku. Dia tahu bahwa
lukanya itu amat berbahaya, tertusuk pedang yang ujungnya diberi racun yang amat berbahaya, mungkin
racun ular.
Tentu saja dia akan dapat menyembuhkan luka itu kalau dia mendapat kesempatan. Akan tetapi dia sama
sekali tidak diberi kesempatan untuk itu, maka satu-satunya jalan yang dapat dia lakukan hanyalah
mengerahkan tenaga dalam dan mendorong hawa sakti di tubuhnya untuk menahan racun itu agar jangan
menjalar ke dalam tubuh.
Sementara itu hatinya risau bukan main. Dia telah membunuh lima orang dalam waktu beberapa detik saja.
Dia dapat membayangkan betapa hebat dan mengerikan kematian lima orang lawannya itu. Akan tetapi
pada saat itu, walau pun agak risau dan tak enak hatinya, pikirannya memaksanya untuk tidak ambil peduli.
Dia didesak, diancam maut, dan perasaannya dilukai oleh penipuan The Sun.
Betapa pun marahnya, Kun Hong bukanlah orang nekat yang hendak mengadu nyawa dengan musuhmusuhnya.
Setelah merobohkan tiga orang dan tidak lagi mendengar ada pengeroyok bergerak
menyerang, kakinya otomatis bergerak melangkah, menggunakan langkah-langkah yang dia namakan Huithian
Jip-te itu menuju ke pintu bangunan tua. Dia bermaksud untuk melarikan diri, menghindarkan
pertempuran lebih jauh.
Tadinya dia melayani pertempuran hanya karena dia hendak melindungi mahkota itu. Dan hampir tanpa dia
sadari dia telah menggunakan jurus dahsyat itu sampai menewaskan lima orang akibat terdorong amarah
yang hebat terhadap The Sun yang telah menipunya.
"Penjahat buta jangan lari!" terdengar bentakan. Kembali belasan senjata mengepungnya.
dunia-kangouw.blogspot.com
Kun Hong tersenyum mengejek, akan tetapi hatinya mengeluh. Agaknya para perwira ini benar-benar
merupakan anjing-anjing penjilat yang beraninya hanya mengeroyok.
"Aku bosan mendengar suara kalian, aku hendak pergi dari sini. Siapa berani melarang?" Katanya
perlahan sambil melanjutkan langkahnya keluar.
Sebatang toya dengan kuatnya menghantam belakang kepalanya dari kanan, digerakkan oleh dua buah
tangan yang bertenaga besar.
"Blukkk!"
Ujung toya menghantam kepala demikian kerasnya sehingga robohlah seketika orang itu dengan kepala
keluar kecap! Tetapi orang itu bukan Kun Hong, melainkan si pemegang toya sendiri.
Pada saat toya tadi menyambar, Kun Hong melejit ke samping, tongkatnya bergerak dan dengan tenaga
‘menempel’ tongkatnya seolah-olah menangkap toya itu, lalu meneruskan dengan meminjam tenaga malah
ditambahnya dengan tenaga sendiri, memaksa toya itu terayun balik dan menghantam kepala si
pemegangnya sendiri!
Para perwira bengong. Inilah aneh! Mana mungkin seorang perwira berkepandaian tinggi, terkenal sebagai
ahli toya di antara mereka, mempunyai jurus yang demikian aneh dan goblok sehingga toya itu berbalik
menghantam kepala sendiri? Memang bagi orang luar, nampaknya di pemegang toya tadi seperti memukul
kepala dengan toyanya sendiri karena gerakan Kun Hong demikian cepatnya sehingga sukar diikuti
pandangan mata.
Hanya sebentar saja para perwira itu bengong, segera mereka menerjang kembali, lebih marah dan
penasaran lagi. Mana patut jika sekian banyaknya perwira pilihan dari istana mengepung seorang pemuda
buta saja sampai tak mampu merobohkan atau menawan?
Kun Hong terpaksa menggerakkan tongkatnya lagi. Tak mungkin ia hanya mengandalkan langkah-langkah
ajaib saja menghadapi pengeroyokan dan pengepungan demikian ketat. Kembali dia mengeluh karena
terpaksa dia berlaku kejam, menggunakan kepandaiannya untuk merobohkan setiap orang yang
menghalang jalannya.
Dia tidak mau memberi hati, tidak mau bersabar lagi karena soalnya sekarang adalah mati atau hidup.
Kalau dia kalah, tentu dia akan mati dan kalau dia ingin hidup, dia terpaksa harus merobohkan, melukai
bahkan mungkin membunuh orang!
Hebat pertempuran itu. Bagaikan hujan bermacam-macam senjata menerjang Kun Hong dari semua
jurusan. Dan semua orang kaget, heran, kagum tiada habisnya. Orang buta itu seperti orang memiliki
puluhan pasang mata saja, seakan-akan semua bagian tubuhnya bermata! Gerakannya aneh dan tampak
amat lambat, tapi pada hakekatnya cepat sekali. Pukulan dan hantaman tongkatnya perlahan tapi pada
hakekatnya amatlah kuat melihat betapa setiap benturan senjata pasti membuat senjata pengeroyok
terlepas.
Sudah belasan orang roboh oleh tongkat, tamparan tangan kiri, atau tendangan kaki Kun Hong. Sedikit
demi sedikit dia telah mendekati pintu. Biar pun belum lama dia tinggal di rumah tua ini, dia telah hafal dan
sekarang tahulah dia bahwa dia sudah berada dekat dengan pintu keluar.
Dia mengeluarkan suara keras, tongkatnya berkelebat dan kembali robohlah tiga orang pengeroyoknya
yang menghadang di depannya. Sekali dia menggenjot tubuh, dia sudah berhasil menerobos pintu dan kini
dia telah berada di luar rumah.
Hawa malam yang dingin segar menyambutnya setelah dia keluar dari bangunan itu. Timbul semangatnya
dan dia sudah siap melompat dan menggunakan ilmu lari cepatnya dengan untung-untungan karena kalau
dia menabrak pohon atau terjerumus jurang, tentu dia akan celaka, Dia harus dapat membebaskan diri dari
orang-orang itu, apa lagi kini selain luka itu membuat dia lelah dan kaku, juga terasa amat nyeri.
"Kwa Kun Hong, kau hendak lari ke mana? Lebih baik menyerah dan kalau kau bersedia takluk, aku yang
tanggung kau akan mendapat kedudukan besar sebagai tabib negara!" tiba-tiba terdengar suara orang.
dunia-kangouw.blogspot.com
Mendengar suara ini seketika muka Kun Hong menjadi merah saking marahnya. Itulah suara The Sun!
Munculnya The Sun ini tiba-tiba menghentikan semua pengeroyokan. Dengan telinganya Kun Hong dapat
mendengar betapa para perwira yang mengepungnya tadi dan yang kini sudah mengejar sampai di luar,
membuat lingkaran lebar seakan-akan memberi tempat kepadanya untuk berhadapan dengan The Sun.
Depan bangunan itu memang merupakan pekarangan rumput yang luas.
Kun Hong berhati-hati, tidak mau berlaku sembrono. Dia telah mendengar pula suara api menyala-nyala,
dan dapat menduga bahwa tempat itu tentu diterangi oleh banyak obor yang dipegang oleh para pengawal
dan penjaga.
Dia maklum bahwa The Sun memiliki kepandaian tinggi, hal ini dapat dibuktikan tadi ketika dia menerjang
The Sun, dia tidak berhasil mengenai pemuda itu, hanya dapat merampas kembali mahkota kuno. Akan
tetapi sebaliknya dia kena dicurangi dan dilukai.
Juga dia tahu bahwa kalau dia melanjutkan pertempuran di tempat yang diterangi api obor itu, menghadapi
pengeroyokan orang-orang pandai sedangkan dia sudah menderita luka parah, akhirnya dia akan roboh.
Hal ini tidak ada gunanya.
Dia tidak takut mati, akan tetapi khawatir kalau-kalau mahkota berikut rahasianya itu dapat dirampas orangorang
ini. Yang paling penting menyelamatkan mahkota itu lebih dahulu, menyerahkan kepada orang yang
dapat dipercaya, baru kemudian menghadapi The Sun dan menghajar orang ini.
Pikiran ini membuat Kun Hong menahan amarahnya, mendengar kata-kata The Sun yang membujuknya
supaya menyerah dengan janji diberi kedudukan mulia. Tanpa menjawab, secara cepat dan sangat tibatiba,
dia melayang ke arah orang itu sambil menggerakkan tongkatnya yang berkelebat lenyap berubah
menjadi sinar kemerahan itu.
"Tranggggg!" Pedang di tangan The Sun menangkis dan bertemu dengan tongkat itu.
Kun Hong merasa betapa pedang pemuda itu adalah sebuah pedang pusaka yang ampuh sehingga tidak
rusak oleh pedang di dalam tongkatnya, juga ternyata betapa tenaga The Sun amat kuat. Tergetarlah
telapak tangannya ketika kedua senjata tadi bertemu.
Di lain pihak, The Sun semakin kagum karena pedang pusakanya yang ampuh itu tidak mampu membikin
patah tongkat si buta ini dan telapak tangannya bahkan terasa sakit.
Siapakah sebetulnya The Sun, pemuda yang amat cerdik, juga amat lihai ini? Baiklah kita menjenguk
keadaan pemuda itu.
Di pegunungan Go-bi-san terdapat banyak sekali puncak-puncak yang menjulang tinggi di angkasa.
Karena keadaan pegunungan yang amat luas dan penuh dengan rahasia alam ini, maka banyaklah
pertapa-pertapa, orang-orang pandai dan sakti yang mengasingkan diri di sana. Malah partai Go-bi-pai
terkenal sebagai partai persilatan besar yang memiliki banyak murid pandai.
Akan tetapi bukan hanya Go-bi-pai saja yang terdapat di pegunungan itu. Masih banyak lagi orang-orang
pandai yang tak bergabung di partai Go-bi-pai ini, diam-diam melakukan pertapaan, bahkan kadangkadang
mereka mempunyai seorang dua orang murid rahasia yang tiada sangkut-pautnya dengan Go-bipai
yang besar.
The Sun adalah seorang pemuda dari Go-bi-san. Ayahnya seorang bekas pembesar pada Pemerintahan
Mongol yang melarikan diri setelah bangsa Mongol terusir oleh Ciu Goan Ciang dan para pejuang.
Ayahnya yang bernama The Siu Kai adalah seorang pembesar militer yang mempunyai kepandaian tinggi
dan merupakan seorang tokoh dari Go-bi-san pula. The Sun masih kecil sekali ketika dibawa lari
mengungsi oleh ayahnya, sedangkan keluarga lain semuanya tewas dalam kekacauan perang.
The Siu Kai yang terluka hebat ketika lari ke Go-bi-san membawa puteranya, akhirnya mampu juga
mencapai sebuah puncak di mana tinggal gurunya, yaitu seorang tosu tua yang bermuka dan berkulit
hitam, yang puluhan tahun bertapa di puncak itu tanpa mau mencampuri urusan dunia ramai. Tosu tua ini
karena kulitnya yang hitam disebut orang Hek Lojin (Orang Tua Hitam). Luka parah ditambah penderitaan
selama melarikan diri ini tak dapat tertahan lagi oleh The Siu Kai dan dia pun tewas di depan kaki gurunya
setelah berhasil membujuk gurunya agar supaya sudi mendidik The Sun putera tunggalnya.
dunia-kangouw.blogspot.com
Demikianlah, The Sun yang masih kecil itu akhirnya dipelihara dan dididik oleh Hek Lojin, diberi pelajaran
ilmu silat dan ilmu sastera sehingga akhirnya menjadi seorang pemuda yang amat pandai, lihai dan cerdik.
Makin lama Hek Lojin makin cinta kepada murid cilik ini sehingga bangkit pula gairahnya untuk urusan
duniawi, akan tetapi bukan demi dirinya sendiri, melainkan demi muridnya terkasih itulah.
Dia sengaja membawa The Sun turun gunung ke kota raja, malah menyuruh muridnya ini menempuh ujian
di kota raja sehingga berhasil memperoleh gelar siucai. Akhirnya karena kepandaiannya, The Sun
mendapat kepercayaan dari Pangeran Kian Bun Ti dan sesudah pangeran ini menjadi kaisar, The Sun
tetap menjadi orang kepercayaannya, bahkan dia mendapat tugas untuk menghimpun kekuatan,
mengumpulkan orang-orang pandai untuk memperkuat kedudukan kaisar baru ini yang maklum akan
adanya ancaman-ancaman terhadap kedudukannya.
Memang The Sun orang yang cerdik sekali. Dia lalu menyebar mata-mata untuk menjaga keamanan kota
raja, menyebar orang-orang pandai untuk menghubungi para tokoh besar di dunia kang-ouw, malah dia
berhasil mendatangkan banyak orang pandai, di antaranya beberapa orang sakti yang kini sudah tinggal di
kota raja pula.
"Sayang, orang muda begini cerdik pandai dan lihai merendahkan diri menjadi anjing kaisar!" tak terasa
lagi Kun Hong berseru ketika pemuda itu dapat menangkis tongkatnya dengan tenaga lweekang yang
mengagumkan!
The Sun tertawa mengejek. "Kaulah yang patut disayangkan, seorang pendekar buta ahli pengobatan
tetapi merendahkan diri menjadi pemberontak, mudah saja dihasut oleh para pengkhianat yang hendak
memberontak terhadap pemerintah yang sah!"
Akan tetapi Kun Hong tidak mendengarkan ejekan ini karena kembali dia sudah bergerak, kini ke kiri untuk
mencari jalan ke luar. Akan tetapi angin bertiup dari arah The Sun dan kembali pedang The Sun dengan
amat cepatnya telah menghadang di depannya, bahkan mengirim tusukan maut yang amat dahsyat.
Pedang yang ampuh serta digerakkan dengan jurus-jurus ilmu pedang dari Go-bi-san ini benar-benar luar
biasa. Bagi mereka yang bisa melihat tampak sinar yang berkeredepan, bagi Kun Hong terdengar bunyi
berdesing-desing laksana sebuah gasing berputar cepat atau seperti kitiran angin dilanda angin kencang.
"Hebat!" Dia memuji dan cepat menggerakkan tongkat.
"Trang-tring-trang-tring!”
Kembali terdengar bunyi nyaring pada saat tongkat bertemu dengan pedang dan sesudah saling serang
bertukar tikaman dan babatan maut sampai tujuh jurus, keduanya kembali terpental ke belakang oleh
benturan senjata yang amat keras.
Kun Hong diam-diam mengeluh di dalam hatinya. Pemuda ini benar-benar lihai. Agaknya kalau dilawan
dengan Kim-tiauw-kun atau Ilmu Pedang Im-yang Sin-kiam saja, walau pun akan menang akan tetapi akan
mempergunakan banyak waktu karena ilmu kepandaian pemuda itu memang tinggi sekali. Untuk
menggunakan jurus sakit Hati, dia merasa tidak tega, Sayang seorang pemuda begini hebat dibunuh.
"Kwa Kun Hong, kau tidak mungkin dapat meloloskan diri. Lebih baik kau menyerah dan takluk, mari kita
bekerja sama!" kembali The Sun membujuk.
"Tutup mulut dan tak perlu kau membujukku." Kun Hong membentak marah.
"Hemmm, kalau begitu kau memang harus mampus!" The Sun juga membentak dan dia segera menerjang
dengan kilatan pedangnya yang diputar cepat di depan dadanya.
Kun Hong tahu akan kelihaian lawan ini, maka dia cepat menggerakkan tongkatnya untuk menghadapi
dengan jurus-jurus Ilmu Pedang Im-yang Sin-kiam. Hebat sekali ilmu pedang warisan Si Raja Pedang Tan
Beng San ini karena ke arah mana pun pedang The Sun bergerak, pada akhirnya selalu terbentur oleh
tongkat yang bahkan otomatis dapat pula membalas, bacokan demi bacokan atau tusukan dengan
tusukan. Mengagumkan melihat dua orang muda itu bertanding.
dunia-kangouw.blogspot.com
Keduanya sama tampan, sama lincah cekatan, sama tinggi ilmu pedangnya. Baru kali ini Kun Hong
menghadapi lawan yang kuat dalam ilmu pedang sehingga dia makin kagum dan makin menyesal
mengapa orang seperti ini harus menjadi lawannya.
Karena tiada niat di dalam hatinya untuk bertempur terus, dia mencari kesempatan baik. Dengan gerakan
memutar, tongkatnya melakukan tusukan tujuh kali ke arah punggung lawan. Menghadapi jurus aneh dari
Im-yang Sin-kiam ini, The Sun kaget. Lawan berada di depan, bagaimana ujung tongkatnya seakan-akan
mengarah tengkuk dan punggungnya? Cepat dia melompat ke kiri dan memutar pedangnya melindungi
tubuh.
Kesempatan ini dipergunakan Kun Hong untuk lari ke kanan, menggunakan langkah ajaib dari Kim-tiauwkun
sehingga beberapa bacokan golok dari para perwira yang berdiri di tempat itu mampu dia hindarkan
dengan mudah. Tiga orang perwira lainnya yang sudah menghadang dia robohkan dengan dua kali
dorongan tangan kirinya, sedangkan kakinya melangkah terus berloncatan ke sana ke mari ketika mainkan
langkah-langkah Hui-thian Jip-te. Sebentar saja Kun Hong sudah berhasil lolos dari kepungan yang begitu
ketatnya!
Akan tetapi tiba-tiba terdengar bentakan berpengaruh di sebelah depannya.
"Pemberontak buta, jangan lari! The-siucai, serahkan dia padaku!" kata-kata ini dibarengi desir angin
tusukan pedang.
Kun Hong terkejut sekali dan segera dia membanting diri ke kiri. Gerakan menyelematkan diri ini dia
lakukan tergesa-gesa sehingga luka pada pangkal pahanya terasa nyeri sekali, akan tetapi dia selamat dari
pada sebuah tusukan yang hampir tidak mengeluarkan suara, demikian halus akan tetapi demikian
kuatnya. Celaka, pikirnya, ilmu pedang orang ini luar biasa sekali.
Karena maklum bahwa yang dihadapinya seorang ahli pedang kawakan yang amat lihai, Kun Hong cepat
menggerakkan tongkatnya membalas serangan tadi. Segera dia terlibat dalam pertandingan pedang
sampai belasan jurus dengan penyerang baru ini. Makin lama makin heran dan terkejut hati Kun Hong.
Pada jurus ke lima belas, dia menggunakan tongkatnya menangkis keras sehingga kedua senjata yang
bertemu itu terpental ke belakang dan kesempatan ini dipergunakan oleh Kun Hong untuk berseru.
"Bukankah tuan ini Sin-kiam-eng Tan Beng Kui lo-enghiong?"
"Hemmm, kalau sudah kenal baik lekas menyerah, tak perlu melawan," jawab orang itu yang bukan lain
adalah Sin-kiam-eng Tan Beng Kui, majikan Pek-tiok-lim di pantai Po-hai, yaitu ayah dari Tan Loan Ki si
dara lincah!
Kun Hong cepat mengangkat kedua tangan memberi hormat, wajahnya berubah penuh harapan ketika dia
berkata, "Lo-enghiong, harap jangan lanjutkan pertempuran, kita orang sendiri! Bukankah adik Loan Ki
baik-baik saja? Dia dan aku sudah seperti saudara sendiri, kami bertemu dan bersama mengalami hal-hal
hebat di Pulau Ching-coa-to, dan..."
"Tutup mulutmu! Tak perlu membawa-bawa nama anakku ke sini, keparat!" Sin-kiam-eng membentak
sambil menerjang lagi, kini malah lebih hebat karena dia marah sekali.
Kun Hong cepat mengelak dan mengeluh. Celaka, pikirnya, agaknya gadis nakal lincah itu tidak pernah
bercerita kepada ayahnya tentang dia sehingga sekarang Sin-kiam-eng tidak mengenalnya dan tentu saja
pendekar itu amat marah mendengar puterinya disebut-sebut namanya oleh seorang yang tidak dikenal!
Sesungguhnya bukan demikianlah soalnya. Sin-kiam-eng Tan Beng Kui yang sudah sejak tadi melihat
sepak terjang dan gerakan Kun Hong, diam-diam terkejut dan heran sekali karena gerakan dan langkahlangkah
ajaib yang dilakukan oleh pemuda buta ini persis seperti yang dia lihat dilakukan oleh Loan Ki
ketika menghadapi serangan-serangan kakek Song-bun-kwi!
Diam-diam dia terheran-heran akan tetapi juga penasaran dan amat marah. Jadi puterinya itu dalam
perantauannya telah melakukan hubungan dengan seorang buta, dan menerima pelajaran dari seorang
buta yang kini ternyata adalah seorang mata-mata pemberontak pula.
dunia-kangouw.blogspot.com
Inilah sebabnya ketika melihat betapa The Sun tidak sanggup mengalahkan Kun Hong, dia segera turun
tangan, tidak saja untuk menyatakan kemarahannya karena persamaan ilmu pemuda ini dengan puterinya,
juga untuk mencari jasa. Sebagai seorang pendatang baru yang diterima oleh The Sun, Tan Beng Kui yang
bercita-cita besar ini segera ingin memperoleh kedudukan tinggi dengan jasa besar.
Ilmu pedang Sin-kiam-eng Tan Beng Kui memang hebat bukan main. Dia adalah murid kepala dari
mendiang Bu-Tek Kiam-ong Cia Hui Gan ayah Cia Li Cu yang sekarang menjadi Nyonya Tan Beng San.
Nyonya ini saja ilmu pedangnya sudah hebat luar biasa, apa lagi ilmu pedang Sin-kiam-eng yang menjadi
kakak seperguruannya.
Memang dahulu ketika masih muda, Tan Beng Kui menjadi harapan mendiang gurunya, karena itu semua
kepandaiannya diturunkan kepadanya. Ilmu Pedang Sian-Ii Kiam-sut adalah ilmu pedang turunan yang
sesumber dengan Im-yang Sin-kiam, apa lagi dimainkan oleh seorang pendekar besar yang sudah matang
dalam pengalaman seperti Tan Beng Kui, benar-benar membuat Kun Hong kelabakan ketika dia diterjang
dengan dahsyat oleh Sin-kiam-eng.
Dengan langkah-langkah Hui-thian Jip-te, Kun Hong berusaha menghindarkan diri dari kurungan sinar
pedang lawan. Dia merasa segan untuk balas menyerang setelah kini dia tahu bahwa orang ini adalah
ayah dari Loan Ki.
Tidak sampai hatinya, kalau dia teringat akan suara ketawa dan celoteh Loan Ki yang nakal dan lincah itu.
Betapa dia ada hati untuk melawan ayah gadis jenaka itu. Dia merasa menyesal bukan main, menyesal
mengapa justru ayah dara lincah itu yang kini sedang menghalangi jalan larinya, mengapa ayah Loan Ki
justru menjadi pembantu kaisar baru?
Selain kebimbangan ini, ditambah lagi luka di pangkal pahanya yang parah membuat Kun Hong kurang
gesit menghadapi ilmu pedang yang hebat dari Tan Beng Kui. Betapa pun lihai dan aneh langkah-langkah
ajaibnya, tapi menghadapi seorang jago kawakan seperti Tan Beng Kui, tanpa melakukan perlawanan
sungguh-sungguh, akhirnya dia celaka juga.
"Lo-enghiong, aku tak mau bertempur melawanmu...," kata Kun Hong dan kesempatan ini digunakan oleh
lawannya untuk mendesak, memainkan jurus yang paling sulit dihadapi.
Kun Hong kaget dan masih berusaha menjatuhkan diri ke belakang, namun ujung pedang lawannya masih
sempat menggores dagunya, terus merobek baju di dada dan merobek pula kulit dadanya sehingga darah
bercucuran membasahi bajunya.
Kun Hong terkejut juga karena baru saja dia terhindar dari bahaya maut, sebab ujung pedang itu
sebenarnya tadi mengarah leher dilanjutkan ke ulu hatinya. Lebih hebat lagi, pada saat itu dari belakang
menyambar gerakan pedang yang amat cepat membabat ke arah lehernya.
Inilah pedang di tangan The Sun yang kemudian membentak pula, "Mampuslah engkau, jembel buta!"
Akan tetapi The Sun terlalu memandang rendah kepada Kun Hong kalau mengira bahwa sekali babat akan
berhasil memenggal leher Pendekar Buta. Tongkat di tangan Kun Hong bergerak cepat.
"Tranggg...!"
The Sun kaget setengah mati karena begitu bertemu, tongkat itu terus menyerong melalui bawah
lengannya, menusuk ke arah tenggorokannya secara amat aneh dan sama sekali tidak disangka-sangka
olehnya.
"Celaka...!" Dia berseru keras dan cepat tubuhnya mencelat ke belakang dalam usahanya menghindarkan
diri dari bahaya maut ini.
Kun Hong yang sudah marah sekali kepada The Sun juga melesat dalam pengejarannya tanpa
menghentikan ancaman tongkatnya ke arah tenggorokan lawan.
"Penjahat buta, jangan sombong kau!" tiba-tiba terdengar seruan yang amat berpengaruh, dibarengi
melayangnya lengan baju yang membawa serta angin pukulan dahsyat sekali.
"Plakkk!"
dunia-kangouw.blogspot.com
Tanpa dapat ditangkis atau dihindarkan lagi oleh Kun Hong yang pada saat itu tubuhnya sedang
mengapung dalam usahanya mengejar The Sun, ujung lengan baju itu tahu-tahu sudah menghantam
punggungnya. Kun Hong segera mengerahkan tenaga Iweekang-nya untuk menahan pukulan, akan tetapi
pukulan itu hebat bukan main sehingga dia merasa seolah-olah terpukul benda keras yang ribuan kati
beratnya.
Tubuh Kun Hong terlempar dan terbanting ke atas tanah sampai bergulingan! Dua batang pedang lain
mengejarnya dan langsung menyambar dari kanan kiri.
"Wuuuttt! Singgg!"
Kun Hong melenting ke atas. Begitu kedua kakinya menginjak tanah, otomatis dia telah membuat gerakan
jurus Sakit Hati.
"Tranggg! Wesss!"
Tongkat dan tangan kirinya telah bergerak tanpa dapat dicegah lagi. Dua orang perwira yang tadi berlomba
untuk membunuhnya setelah melihat dia terluka dan bergulingan, kini berdiri tegak bagai patung, kemudian
pelan-pelan roboh terguling dan... pinggang mereka ternyata telah putus dan kepala mereka remuk-remuk!
Bukan main ngerinya hati para perwira menyaksikan ini. Malah orang-orang sakti yang kini sudah berada di
situ melengak heran.
"Penjahat keji!" Terdengar Sin-kiam-eng Tan Beng Kui berseru marah dan pedangnya menyambar dengan
suara mendesing-desing.
Kun Hong merasa seluruh tubuhnya sakit-sakit. Luka di pangkal paha makin panas dan perih, gatal dan
sukar ditahan nyerinya. Luka di dagu dan dada terus mengucurkan darah sedangkan punggungnya terasa
patah-patah tulangnya oleh hantaman ujung lengan baju yang amat hebat tadi.
Dia terheran-heran, siapakah gerangan si pemukul ini. Melihat hebatnya hantaman itu, dia taksir tingkat
kepandaian orang ini tidak di bawah Song-bun-kwi. Celaka, kiranya di kota raja telah berkumpul begini
banyak orang sakti! Karena ini, dengan pikiran sudah pening, Kun Hong berlaku nekat dan menanti setiap
lawan dengan jurus Sakit Hati!
Sambaran pedang yang datang cepat laksana kilat dari Sin-kiam-eng itu sudah ditunggu oleh Kun Hong.
Dia tidak ingat lagi siapa lawannya, yang teringat olehnya hanya bahwa dia harus melindungi surat rahasia
di dalam mahkota dan harus mengalahkan tiap orang musuhnya untuk dapat melarikan diri dari kepungan.
Setelah serangan itu tiba, tubuhnya bergerak, tongkatnya menyambar berbareng dengan tangan kirinya
mencengkeram.
"Ayaaaa…!" Sin-kiam-eng berteriak keras.
Tubuhnya melayang sampai lima enam meter jauhnya, lalu dia terbanting ke atas tanah dan terengah
napasnya, mukanya pucat. Nyaris dia menjadi korban jurus Sakit Hati yang amat mukjijat itu.
Meski pun dia tidak menjadi korban, namun tetap saja hawa pukulan tangan kiri Kun Hong yang
mengandung hawa Yang-kang itu telah membuat dadanya serasa panas terbakar. Cepat-cepat Sin-kiameng
duduk bersila mengatur napas memulihkan tenaga agar jangan sampai isi dadanya terluka.
"Omitohud, ilmu siluman apakah ini?" kembali terdengar suara berpengaruh yang tadi dan segumpal hawa
dingin menyambar ke arah Kun Hong.
Pemuda buta ini maklum bahwa lawannya yang bersenjata ujung lengan baju, yang tadi berhasil
menghantam punggungnya, ternyata adalah seorang hwesio. Maklumlah dia kini bahwa semakin lama dia
berada di tempat ini, semakin besar pula bahayanya. Hantaman kali ini yang mendatangkan segumpal
hawa dingin menandakan bahwa dalam hal ilmu tenaga dalam hwesio ini sudah mencapai tingkat tertinggi
sehingga sukar dilawan.
dunia-kangouw.blogspot.com
Akan tetapi dia sudah nekat. Tiada artinya kalau dia hanya mengelak ke sana ke mari, akhirnya tentu
celaka juga. Lebih baik mengadu tenaga dan tinggal pilih satu antara dua. Menang dan lolos, atau kalah
dan tewas! Dengan pikiran ini, sambaran dingin itu lalu dia sambut dengan jurus Sakit Hati.
"Dess! Bukkk!"
Tubuh Kun Hong serasa didorong oleh tenaga yang maha kuat sehingga kuda-kuda jurus Sakit Hati itu biar
pun masih tetap, namun sudah tidak di tempatnya lagi karena kedua kakinya itu bergeser sejauh dua meter
lebih, membuat garis pada tanah yang dalamnya sampai dua dim lebih!
Dari tempat lima enam meter jauhnya terdengar hwesio itu berseru heran, "Omitohud... hebat... hebat"
Diam-diam Kun Hong mengeluh. Tadi tongkat yang dia gerakkan bertemu dengan benda lemas, agaknya
ujung lengan baju, ada pun tangan kirinya bertemu dengan lengan hwesio itu yang mengandung getaran
tenaga dalam yang hebat pula.
Berkat dua ilmu sakti Kim-tiauw-kun dan Im-yang Sin-kiam, dia tadi dapat menggunakan tenaga mukjijat.
Kalau diukur berdasarkan benturan tadi, dia sama sekali tidak kalah. Tapi hwesio yang dapat menyambut
jurus Sakit Hati ini sudah terang merupakan lawan yang paling berat! Dia sudah memasang kuda-kuda lagi
dan bersiap sedia mengadu nyawa.
Tiba-tiba terdengar suara hiruk-pikuk, dari atas terdengar pula suara bentakan nyaring.
"Jago-jago kawakan yang mengaku para tokoh istana, kiranya hanya cacing-cacing busuk yang beraninya
mengeroyok seorang pemuda buta!”
Pada waktu itu terdengar sorak-sorai, disusul dengan suara senjata saling beradu, tanda terjadi
pertempuran besar di tempat itu antara para perwira dan banyak orang yang baru datang dipimpin oleh
orang yang membentak tadi. Kun Hong mengerutkan kening dan mencoba mengingat-ingat, dia merasa
kenal suara tadi.
Pada saat itu pula suara tadi berkata perlahan kepadanya, "Pangcu (ketua), silakan pergi mengaso."
"Hwa-i Lokai...!" Kun Hong berseru kaget.
Memang benar. Yang datang adalah Hwa-i Lokai bersama anak buahnya yang dengan nekat sekarang
bertanding melawan para jagoan istana itu. Karena tidak ada kesempatan untuk bicara lagi setelah Hwa-i
Lokai kini bertanding melawan tokoh-tokoh istana, Kun Hong lantas mengamuk, menggunakan jurus Sakit
Hati sambil melompat ke sana ke mari. Para perwira yang lancang berani menyambut atau
menghadangnya langsung roboh tak bernyawa lagi.
Dengan jalan membuka jalan darah ini, akhirnya Kun Hong berhasil keluar dari kepungan yang ketat itu.
Mulailah dia melarikan diri karena merasa betapa tubuhnya sudah makin lemas dan gemetar. Ia
mengerahkan tenaga terakhir dan lari sekuatnya di malam gelap, lari secara ngawur karena tidak dapat
melihat. Ia hanya menyerahkan nasibnya ke tangan Thian Yang Maha Kuasa.
Agaknya Thian memang masih melindunginya karena secara aneh sekali Kun Hong dapat berlari jauh
meninggalkan tempat itu. Akan tetapi akhirnya, di tempat yang sunyi, agaknya daerah penduduk kota yang
miskin, dia menabrak pohon besar yang berdiri di belakang sebuah pondok kecil. Karena dia tertumbuk
pada batang pohon itu dengan dahi di depan, pendekar buta ini roboh terguling dalam keadaan pingsan!
Hening sejenak sesudah suara kepala beradu dengan batang pohon dan robohnya tubuh Kun Hong. Lalu
pintu pondok berderit terbuka dan sinar lampu menyorot keluar mengantar bayangan seorang anak laki-laki
yang agaknya kaget mendengar suara tadi.
Anak ini melangkah ke luar pintu belakang dan memandang ke kanan kiri. Seorang anak laki-laki yang
tabah. Biasanya anak sebesar itu, berusia sekitar enam tujuh tahun, suka takut-takut terhadap tempat
gelap. Akan tetapi anak ini meski pun tadi mendengar suara gedebukan aneh, masih berani membuka
pintu belakang dan keluar di tempat gelap.
Tidak lama kemudian dia sudah menghampiri tubuh yang menggeletak miring di bawah pohon itu dan
terdengar teriakannya.
dunia-kangouw.blogspot.com
"Ibu...! Ibu... mari ke sini, ada orang jatuh... mari bantu aku...!"
Tanpa ragu-ragu sedikit pun anak itu sudah mulai berusaha membangunkan Kun Hong yang masih
pingsan. Kali ini kembali membayangkan ketabahan hati anak itu, bahkan juga membayangkan wataknya
yang baik dan suka menolong orang lain.
Seorang wanita muda muncul dari pintu belakang. Dia ragu-ragu sejenak, ngeri melihat kesunyian dan
kegelapan malam.
"A-wan...! Kau di mana? Siapa yang jatuh?"
"Di sini, Bu. Lekas, jangan-jangan dia mati."
Ibu muda itu datang menghampiri, tersentak kaget mendengar ucapan terakhir.
"Apa...? Ma... mati...?"
"Mungkin juga belum. Aduh beratnya, lekas bantu, Bu. Mari kita bawa masuk dan beri pertolongan."
Ibu muda itu membulatkan hatinya dan melangkah maju. Dengan susah payah Kun Hong diangkat dan
setengah diseret oleh ibu dan anak itu, lalu dibawa masuk ke dalarn rumah melalui pintu belakang yang
segera ditutup kembali.
"Inkong...!"
"Paman buta...! Betul, dia paman buta...!"
Ibu dan anaknya itu terbelalak memandang wajah Kun Hong yang kini sudah direbahkan di atas tempat
tidur bambu yang sangat sederhana. Keduanya menubruk, memeluk serta mengguncang-guncang tubuh
Kun Hong.
Terdengar Kun Kong mengeluh, bibirnya bergerak perlahan. "...terlalu banyak musuh... terlalu banyak..."
Kemudian dia menjadi lemas dan mengigau tidak karuan.
"Inkong, ingatlah... Inkong, ini aku janda Yo..."
"Paman, aku A Wan..."
Kun Hong mendengar suara ini, nampak terheran-heran, lalu berkata lirih, "Yo-twaso...? A Wan...?
Bagaimana... ahhhhh..." Dia menjadi lemas dan pingsan lagi.
"Celaka! Inkong terluka hebat. Lihat darahnya begini banyak. Wah, bagaimana ini? A Wan lekas kau buka
pakaiannya, bersihkan luka-lukanya, aku akan memasak air..."
Janda itu dengan gugup sekali lalu lari ke sana ke mari mempersiapkan segala keperluan, akan tetapi
sesungguhnya tidak tahu betul bagaimana ia harus menolong Kun Hong yang mandi darah itu.
A Wan adalah seorang anak yang tabah. Biar pun ngeri juga dia melihat semua baju Kun Kong penuh
darah, akan tetapi dengan cepat dia membuka pakaian, lalu menurunkan buntalan dari punggung Kun
Hong. Pada saat dia membuka buntalan itu untuk mencari pengganti baju, dia melihat mahkota kecil dari
emas yang mencorong terkena sinar lampu. Terkejutlah dia dan diambilnya mahkota itu, diamat-amatinya
penuh perhatian.
A Wan adalah anak yang cerdik, otaknya lantas bekerja. Tadi paman buta bicara tentang musuh banyak,
tentu habis berkelahi dan dikeroyok oleh banyak musuh, pikirnya. Kenapa berkelahi? Paman buta ini
adalah seorang miskin, pendekar berbudi yang miskin, lalu dari mana bisa mempunyai benda begini indah?
Tak salah lagi, tentu paman buta berebutan benda ini dengan banyak orang jahat, akhirnya dikeroyok dan
luka-luka.
Pikiran ini membuat A Wan cepat membawa lari mahkata itu keluar kamar. Agak lama dia pergi ke
belakang rumah di luar tahu ibunya yang sibuk memasak air. Setelah dia kembali menyelinap ke dalam
dunia-kangouw.blogspot.com
kamar, dia sudah tidak membawa mahkota tadi. Dengan cepat A Wan membersihkan luka-luka di badan
Kun Hong, menggunakan sehelai kain bersih.
Ibunya datang membawa air panas. Janda ini cepat mengusir rasa jengah dan malu ketika melihat
keadaan Kun Hong yang setengah telanjang itu, malah perasaan ini lenyap sama sekali dan terganti rasa
ngeri dan cemas melihat betapa dada pemuda buta itu tergurat membujur dari atas ke bawah, juga
dagunya terluka serta pangkal paha sebelah belakang biru mengembung, punggungnya pun kebiruan.
Badan pemuda ini panas sekali, napasnya terengah-engah.
Dengan air mata mengalir saking bingung dan cemasnya, janda itu lalu membersihkan luka-luka Kun Hong
dengan kain yang dicelup air panas. Hilang sudah semua rasa malu dan sungkan. Air matanya mengalir
semakin deras ketika dia melihat betapa wajah yang tampan itu nampak pucat dan mulutnya terbuka
menahan nyeri.
"A Wan, lekas kau pergi panggil sinshe (tukang obat) Thio di jalan raya utara. Katakan di rumah ada orang
sakit, luka-luka, lekaslah!"
"Baik, Ibu. Kasihan paman buta, bagaimana kalau dia... mati...?"
"Hushh...? Jangan bicara dengan siapa juga mengenai dia, ini rahasia, mengerti? Lekas pergi dan lekas
kembali!"
A Wan mengangguk dan melompat ke luar, lenyap di dalam kegelapan malam.
Setelah anak itu pergi, janda muda ini tak sanggup menahan sedu-sedannya lagi. Sambil membersihkan
luka-luka itu, dia merangkul dan mengguncang-guncang tubuh Kun Hong sambil berseru lirih memanggil,
"Inkong...! Inkong... sadarlah, Inkong..."
Melihat betapa muka itu makin lama seakan-akan makin pucat, dia menjadi amat cemas. Terbayanglah dia
akan semua pengalamannya dulu ketika pemuda buta ini menolongnya, dan sekarang melihat penolong
yang selama ini tak pernah meninggalkan lubuk hatinya itu sedang menggeletak seperti mayat di
depannya, nyonya janda Yo tak dapat menahan luapan perasaan hatinya.
"Inkong...!" Dia mendekap kepala itu, diciuminya penuh perasaan dan dibanjirinya dengan air mata.
"Jangan mati, Inkong... jangan tinggalkan aku lagi setelah Thian mengembalikan kau kepadaku..."
Kemudian kegelisahan lebih menguasai hatinya. Dia berhenti menangis dan memeriksa dengan teliti lukaluka
pada tubuh Kun Hong di bawah sinar lampu remang-remang. Dia bergidik, jelas bahwa luka-luka itu
adalah luka bekas bacokan. Nampak tanda-tanda yang jelas bahwa penolongnya ini baru saja habis
berkelahi dengan hebat.
Wajahnya tiba-tiba pucat. Kalau penolongnya terluka seperti ini, berarti musuh-musuhnya masih ada. Siapa
tahu melakukan pengejaran sampai ke sini! Ia tahu bahwa penolongnya sakti, akan tetapi dalam keadaan
pingsan seperti ini, jika musuh datang lalu bagaimana? Ia kembali bergidik dan merasa ngeri, lalu menoleh
ke kanan kiri, matanya jelalatan penuh ketakutan.
Melihat tongkat Kun Hong menggeletak di atas lantai, cepat ia mengambilnya dan dengan tangan gemetar
ia menyusupkan tongkat itu ke bawah tilam pembaringan. Matanya cepat mencari-cari lagi, siap
menghapus tanda-tanda akan adanya Kun Hong di situ.
Pakaian Kun Hong yang penuh darah berada di sudut kamar. Cepat dia menyambarnya dan
melemparkannya ke kolong pembaringan. Lalu dengan cekatan ia menggosok-gosok dan menghapus
tanda-tanda darah di lantai dengan sehelai kain.
Setelah keadaan kamar itu normal kembali, dia lalu duduk lagi di pinggiran pembaringan, memegang
lengan tangan Kun Hong dan memandang bingung. Bagaikan seekor kelinci bersembunyi dari kejaran
harimau, sebentar-sebentar dia menoleh ke arah pintu depan, bibirnya gemetar berbisik lirih,
"A Wan... kenapa kau belum juga pulang...?"
Terdengar suara langkah kaki di luar rumah. Janda muda itu berseri wajahnya.
dunia-kangouw.blogspot.com
"A Wan dan sinshe datang...," pikirnya dan ia sudah bangkit berdiri.
Akan tetapi alangkah kagetnya ketika dia mendengar suara seorang laki-laki di luar pintu pondoknya itu,
suara halus tapi penuh ejekan.
"Hemmm, si buta keparat itu menghilang di sini."
"Tok-tok-tok!" terdengar pintu itu diketuk dari luar.
Menggigil kedua kaki janda Yo, sesaat ia seperti terpaku dan tak mampu menjawab atau bergerak sedikit
pun juga.
"Tok-tok-tok!” kembali pintu diketuk dari luar.
“Hee, sahabat pemilik rumah, harap buka pintu sebentar, aku ingin bertanya!" suara halus tadi kini
terdengar berteriak.
Seperti kilat menyambar sebuah pikiran menyelinap ke dalam kepala janda muda itu. Dia tahu benar
bahwa orang di luar pondoknya itu tentu musuh penolongnya yang datang membawa niat buruk. Berdegup
jantungnya kalau ia ingat bahwa orang itu datang untuk membunuh Si Pendekar Buta!
Hanya beberapa detik pikiran ini memenuhi kepalanya dan timbullah akal seorang wanita yang dengan
sepenuh perasaannya berusaha menolong seorang yang sangat dikasihinya dan dipujanya dari bahaya
maut. Rasa takut dan cemas sekaligus lenyap ketika timbul kenekatan di dalam hatinya untuk membela
serta melindungi penolongnya itu. Wajahnya memancarkan kecerdikan dan tubuhnya tidak menggigil lagi.
Cekatan sekali ia meraih selubung lampu minyak, menggosokkan jari-jari tangannya pada langes yang
menempel pada selubung lampu, lalu menghampiri Kun Hong dan memupuri muka pemuda itu dengan
langes. Dalam waktu sekejap saja muka itu sudah berubah jadi hitam, menyembunyikan muka yang asli
dari pemuda itu. Tangan lain meraih dinding yang masih ada sisa kapurnya, digosok-gosokkan seperti tadi
lalu ia menggosokkan kapur yang menempel di tangannya pada rambut Kun Hong.
Melihat hasilnya kurang memuaskan, ia segera memutar otak, memandang ke kanan kiri, lalu mengambil
tempat bedaknya dan menaburkan bedak itu pada kepala Kun Hong yang kini berubah menjadi keputihputihan
seperti rambut ubanan seorang laki-laki tua!
"Tok-tok-tok! Sahabat, bukakan pintu, kalau tidak kau buka, terpaksa akan kurobohkan!" suara di luar
mendesak tidak sabar lagi.
"Tunggu sebentar...!" Janda muda itu berseru kaget, menarik selimut menutupi tubuh Kun Hong sampai ke
leher.
Ia lalu melangkah ke pintu kamar, menoleh sekali lagi. Lega hatinya melihat bahwa kini tak ada lagi tandatanda
bahwa yang berbaring dalam kamar itu adalah seorang pemuda yang pingsan, akan tetapi kelihatan
seperti seorang laki-laki tua tidur pulas!
Tergesa-gesa ia keluar kamar. Tiba-tiba dia teringat akan sesuatu, pikirannya yang cerdik bekerja keras
dalam usahanya menolong Pendekar Buta itu. Dia melirik ke arah pakaian di tubuhnya dan cepat dia
membuka dua buah kancing di dekat leher dan melonggarkan ikat pinggangnya, mengusutkan pakaiannya
di sana sini, melepaskan sebagian rambut dari pita rambutnya yang ia kendurkan, kemudian cepat ia
berlari-lari ke arah pintu yang sudah mulai digedor lagi oleh orang di luar itu.
"Aku datang...! Tunggu sebentar... siapa sih yang suka mengganggu orang tidur?" kata nyonya janda ini
dengan suara yang tiba-tiba berubah genit!
Di ruang tengah ia menyambar lilin yang sudah menyala, kemudian dengan lilin dipegang tinggi-tinggi
dengan tangan kiri, ia membuka palang pintu depan dengan tangan kanan.
"Kriiiiitt!"
Daun pintu berderit pada saat dibuka perlahan oleh tangan nyonya janda Yo yang sedikit gemetar. Sinar
lilin bergerak-gerak tertiup angin, menerangi wajahnya serta wajah orang yang berdiri di luar pintu.
dunia-kangouw.blogspot.com
"Ohhhhh...!" Dua buah mulut mengeluarkan seruan sama dan dua pasang mata saling pandang.
Mata nyonya Yo memandang dengan perasaan cemas, heran dan seruannya tadi yang memang ia
sengaja untuk melengkapi aksinya bergenit tadi menjadi sumbang karena rasa heranannya ini. Sama
sekali dia tidak menyangka akan melihat seorang pemuda yang berpakaian seperti seorang kongcu
terpelajar, yang sikapnya halus dan sama sekali tidak memperlihatkan tanda-tanda orang jahat. Hal ini
membuatnya ragu-ragu dan sejenak dia hanya bengong, tidak tahu harus berbuat dan berkata apa.
Di lain pihak, seruan yang keluar dari mulut orang muda itu adalah seruan tercengang dan kagum, lalu
sepasang matanya menjelajahi pemandangan di hadapannya itu dari atas ke bawah lalu kembali lagi dari
bawah ke atas.
Sanggul rambut yang awut-awutan, sebagian rambut terurai menutupi sebuah muka yang berkulit putih
kuning berbentuk bulat telur, mata yang jernih, hidung mancung mulut kecil manis. Pakaian yang biar pun
sederhana akan tetapi membayangkan bentuk tubuh yang padat dan bagus, baju yang terbuka kancingnya
di bagian atas memperlihatkan sebagian leher dan dada yang berkulit halus bersih.
Apa lagi di bawah cahaya api lilin yang mobat-mabit karena angin. Wanita yang berdiri di depannya benarbenar
amat manis dan menggairahkan hati!
Orang muda itu bukan lain adalah The Sun. Pemuda cerdik ini diam-diam meninggalkan gelanggang
pertempuran karena maklum bahwa para pengemis anggota Hwa-i Kaipang itu tidak akan mungkin dapat
lepas dari pada hantaman para perwira yang selain menang banyak, juga dibantu oleh tokoh-tokoh lihai.
Yang dia pentingkan adalah Kwa Kun Hong, maka cepat dia mengejar ketika melihat Si Pendekar Buta itu
mampu meloloskan diri dari pada kepungan. Akan tetapi karena dia pun maklum bahwa Pendekar buta itu
memiliki jurus aneh yang amat dahsyat, dia lalu berlaku hati-hati dan mengejar secara diam-diam.
Dia maklum bahwa orang itu sudah terluka parah dan dia akan mencari kesempatan baik untuk turun
tangan. Akan tetapi dia sama sekali tidak mengira bahwa lawannya itu yang bermata buta dapat berlari
secepat itu sampai dia kehilangan jejaknya.
The Sun penasaran dan melakukan pengejaran ke sana ke mari. Dengan penuh perhatian dia mencari
jejak si buta itu dan akhirnya pemuda cerdik ini dapat menyusul sampai ke pondok janda Yo!
Hanya sebentar saja The Sun terpesona oleh kemanisan wajah nyonya janda muda itu. Ia memang
seorang pemuda yang romantis dan kadang kala tidak melewatkan kesempatan baik untuk melayani
wanita-wanita cantik yang tergila-gila kepada ketampanan wajahnya atau kepada kedudukannya yang
tinggi.
Akan tetapi hal ini bukan berarti bahwa The Sun adalah seorang mata keranjang atau hidung belang yang
suka mengganggu wanita, sama sekali bukan. Hanya dapat dikatakan bahwa pertahanan terhadap
kecantikan wanita tidaklah begitu kuat.
Ketika dia teringat lagi akan buronannya, secepat kilat dia menarik ke luar pedangnya dan mengelebatkan
pedangnya yang tajam itu di depan muka nyonya Yo yang menjadi pucat seketika.
"Katakan di mana jahanam buta itu, hayo cepat mengaku sebelum pedangku memenggal lehermu yang
putih itu!" The Sun mengancam, tapi matanya tak lepas dari kulit leher putih yang mengintai dari balik baju
yang terbuka dua buah kancingnya.
"Apa... apa maksudmu? Ehh, Kong-cu, harap kau jangan main-main dan cepat simpanlah senjatamu itu
yang bisa membikin aku mati ketakutan! Aku sedang pusing dan jengkel memikirkan suamiku tua bangka
yang berpenyakitan ini, kau datang-datang mengganggu dengan gedoran pintu dan sekarang menuduh
yang bukan-bukan, bicara tentang jahanam buta yang sama sekali tidak kumengerti artinya! Apa sih
maksudmu sebenarnya dan kau ini siapakah, Kongcu?"
Aneh sekali, ucapan dan nada suara nyonya janda ini jauh berbeda dari pada biasanya. Sekarang katakatanya
centil, sikapnya genit dan matanya yang bagus itu menyambar-nyambar wajah tampan The Sun!
dunia-kangouw.blogspot.com
"Hemmm, tak usah kau pura-pura!" bentak The Sun tanpa menurunkan pedangnya. "Aku mengejar
seorang penjahat buta dan jejaknya lenyap di tempat ini. Tentu dia bersembunyi di dalam rumahmu ini,
hayo lekas mengaku dan tunjukkan aku di mana dia!"
Jantung di dalam dada nyonya janda itu serasa hendak meloncat ke luar saking takutnya. Akan tetapi ia
pura-pura marah dan memandang kepada The Sun dengan mata melotot akan tetapi malah menambah
kemanisan wajahnya karena bibir yang mungil itu mengarah senyum dan sikapnya menantang.
"Apa kau bilang, Kongcu? Hemmm... harap kau jangan pandang rendah kepadaku! Biar pun suamiku tua
bangka dan berpenyakitan, tapi jangan kira aku mau berdekatan dengan seorang penjahat, apa lagi kalau
dia itu buta. Cih, menjijikkan!" Kembali lirikan matanya menyambar dalam kerlingan yang amat manis
memikat.
Mau tak mau The Sun tersenyum, jantungnya mulai berdebar. Hemm, jelas sekali wanita muda yang cantik
manis ini ‘memberi hati’ kepadanya dengan sikapnya menantang sekali. Benarkah suaminya tua bangka
serta berpenyakitan? Hal ini saja sudah menjadi alasan kuat. Akan tetapi, betulkah Kun Hong tidak
bersembunyi di situ? Dia tidak boleh sembrono dan lebih baik menyelidiki lebih dulu.
"Aku tidak percaya! Hayo lekas kau tunjukkan di mana suamimu dan biar aku melakukan penggeledahan
dulu. Dengan siapa saja kau di sini?"
Janda Yo sengaja cemberut, bibirnya yang merah itu diruncingkan ketika ia melangkah ke samping
memberi jalan kepada The Sun. "Kongcu begini halus dan tampan, tapi galaknya bukan main!" ia
bersungut-sungut. "Sudah terang suamiku tua bangka muka hitam yang buruk dan berpenyakitan, kau
masih ingin menjenguknya lagi, apakah untuk bahan ejekan dan memperolokku?"
Kembali The Sun berdebar dan tersenyum. "Mana bisa aku percaya kalau belum melihat sendiri? Siapa
dapat percaya seorang cantik jelita seperti kau ini suaminya tua bangka berpenyakitan?"
"Ihh, Kongcu ceriwis!" Janda Yo membuang muka dengan lagak yang genit dan memikat sekali. Di dalam
hatinya nyonya janda ini berdoa supaya musuh penolongnya ini akan percaya dan tidak akan memeriksa
ke dalam kamar.
Akan tetapi The Sun bukan orang bodoh. Dia amat cerdik dan biar pun kali ini jantungnya sudah berjungkirbalik
terkena pengaruh kecantikan janda muda itu, akan tetapi dia tidak kehilangan kewaspadaannya dan
mendahulukan tugasnya dari pada kesenangan hatinya.
"Hayo, perlihatkan aku kamar suamimu!"
Janda Yo mengangkat lilin dan dengan kaki agak menggigil ia melangkah ke arah pintu kamarnya. Dia
berdoa semoga penolongnya itu masih pingsan seperti tadi.
Pada saat dia dan The Sun melangkahkan kaki ke ambang pintu kamar, janda Yo sengaja menggoyanggoyang
tempat lilin sehingga api lilin itu bergerak-gerak dan keadaan dalam kamar itu tidak begitu jelas,
hanya tampak remang-remang oleh The Sun betapa seorang laki-laki bermuka kehitaman dan berambut
penuh uban sedang berbaring tidak bergerak, tidur pulas agaknya!
"Sshhhhh, harap jangan berisik. Kalau dia bangun, batuknya akan kumat dan akulah yang berabe harus
terus mengurut-urut dadanya..." bisik nyonya janda Yo sambil mendekatkan mukanya di telinga The Sun
sehingga orang muda itu mencium bau sedap yang agaknya keluar dari rambut wanita muda itu.
Terpikat oleh ini, The Sun tidak jadi melangkah masuk, hanya melepas pandang dengan tajamnya ke arah
‘kakek’ itu lalu sinar matanya berkeliaran ke seluruh kamar yang hanya kecil sederhana itu. Tiba-tiba
pedangnya berkelebat dan mengeluarkan bunyi mendesing menyambar ke depan!
"Crakkk!" Papan ujung pembaringan itu tahu-tahu telah terbelah.
"Oh-ohh... jangan... ahh...!" Janda Yo kaget setengah mati dan menubruk lalu merangkul pundak The Sun,
lilin yang dipegangnya jatuh dan padam.
The Sun tersenyum lega. Kakek itu ternyata masih enak tidur saja. Kalau di dalam kamar itu terdapat Kun
Hong yang bersembunyi, sebagai seorang ahli silat sudah pasti akan keluar mendengar desingan
dunia-kangouw.blogspot.com
pedangnya tadi. Terang di situ tidak terdapat orang yang dia kejar, sedangkan kakek tua bangka suami
wanita muda yang cantik jelita ini jelas adalah orang yang tiada guna.
Dia menyimpan pedangnya kembali, kemudian tertawa perlahan sambil menarik tangan nyonya Yo yang
masih gemetar ketakutan itu keluar kamar. Gelap pekat di luar kamar karena sekarang tidak ada lilin lagi.
"Kau cantik manis..."
"Ah, pergilah... jangan kau ganggu kami yang tidak berdosa... pergilah dari sini, kasihani aku dan suamiku
yang tua dan sakit..."
The Sun tertawa, tidak halus seperti biasanya lagi, melainkan suara tertawa yang parau dan mengandung
nafsu kotor. "Manis, kalau aku tidak kasihan dan cinta kepadamu, tentu pedangku tadi sudah memenggal
leher suamimu si tua bangka tiada guna, ha-ha-ha!"
Tak lama kemudian yang terdengar hanya desah napas dan rintih perlahan…..
********************
The Sun sudah lama pergi meninggalkan pondok tempat tinggal janda muda itu. Kini dia tampak terguguk
menangis menahan isaknya sambil memeluki dada Kun Hong. Dengan rambutnya yang kusut dan seluruh
mukanya basah air mata, janda muda ini merintih-rintih dalam tangisnya.
"Inkong... bangunlah... jangan mati, Inkong, sembuhlah kembali, jangan engkau sia-siakan
pengorbananku..." kembali ia menangis dengan amat sedihnya sampai-sampai napasnya menjadi sesak.
Pada saat itu pula, dari pintu kamar melayang masuk sesosok bayangan orang yang amat ringan dan
gesit. Begitu masuk bayangan ini lantas menendang sehingga tubuh nyonya janda ini terguling roboh.
"Ahh... Ahh...!" Nyonya Yo bersambat lirih, tapi rasa nyeri pada tubuhnya tak ia pedulikan lagi karena
hatinya dipenuhi kekhawatiran terhadap keselamatan Kun Hong yang masih pingsan.
Tadinya ia mengira bahwa sosok bayangan itu adalah orang muda musuh Kun Hong yang tadi datang dan
sudah siap untuk menegur. Akan tetapi alangkah kaget dan heran serta takutnya ketika dia melihat wajah
yang jauh berlainan tertimpa sinar api lilin di kamar itu.
Wajah seorang wanita! Tubuh ramping seorang wanita! Seorang wanita muda dengan muka kehitaman
dan pedang di tangan, kelihatan berdiri dengan penuh amarah.
Nyonya Yo segera menubruk Kun Hong dan memeluk dadanya untuk melindungi pemuda itu. "Jangan
ganggu dia...! Jangan bunuh dia...!" dia berteriak dengan suara mengandung isak tangis.
Wanita itu kembali bergerak. Sekali lagi tubuh nyonya Yo terlempar dari tepi pembaringan, malah kini
terguling-guling sampai di sudut kamar.
"Perempuan jalang! Pelacur! Jangan pegang-pegang dia dengan tanganmu yang kotor!" bentak wanita itu
yang sudah menyarungkan pedangnya dan melangkah maju mendekati pembaringan. Cekatan sekali dia
membungkuk dan kedua tangannya bergerak, tahu-tahu tubuh Kun Hong sudah dikempitnya.
"Heeeiiiii... jangan ganggu dia.….!"
Meski merasa seluruh tubuhnya sakit-sakit, dengan nekat Nyonya Yo berdiri dan hendak merampas tubuh
Kun Hong dari tangan wanita itu.
"Diam kau, perempuan hina!" wanita itu membentak lagi. "Dia ini adalah sahabat baikku, tak boleh berada
di tempat hina ini berdekatan dengan perempuan lacur macam kau!"
Mata janda muda itu terbelalak, diam-diam bersyukur bahwa orang ini bukanlah musuh penolongnya.
"Aku... aku... tidak... ahhh, dia adalah... penolongku...," katanya gagap.
Wanita itu mendengus marah. "Huh, dia penolong semua orang, akan tetapi perempuan rendah macam
engkau tidak perlu ditolong!"
dunia-kangouw.blogspot.com
"Nona, kau siapa? Mengapa engkau memaki-maki aku? Meski pun aku miskin... aku... aku betul-betul
berusaha mengobatinya dan..."
"Tutup mulutmu! Apa kau kira aku tidak tahu betapa kau main gila dengan setiap orang laki-laki? Hemmm,
siapa laki-laki yang barusan keluar dari sini? Bukankah dia kekasihmu pula? Huh, dan kau berani
mendekatkan tubuhmu yang hina dan kotor itu dengan Kwa Kun Hong? Menyebalkan!"
Bayangan wanita itu berkelebat dan dalam sekejap mata saja dia dan Kun Hong yang dipondongnya sudah
lenyap dari situ.
Nyonya janda Yo berdiri terkesiap, mukanya pucat bagai mayat, matanya terbelalak lebar dan dari kedua
matanya itu turun air mata bertitik-titik, deras mengalir di sepanjang kedua pipinya. Untuk sesaat tidak ada
suara keluar dari mulutnya, kecuali napas yang terengah-engah. Teringat dia akan segala hal yang tadi
menimpa dirinya, akan segala yang sudah dilakukannya.
Kedatangan The Sun tadi membuat ia berada dalam ketakutan hebat. Takut dan cemas akan keselamatan
penolongnya membuat ia bertekat untuk melindungi dan membelanya, menyelamatkannya dengan jalan
apa pun juga. Sebagai seorang wanita yang lemah dan tak berdaya, dia tahu bahwa satu-satunya senjata
miliknya hanyalah kecantikannya. Dan dia sudah pergunakan itu, sudah memberikan dirinya dengan katakata
manis dan mulut tersenyum namun dengan hati perih dan seperti disayat-sayat. Namun usahanya
berhasil.
Dia telah menyelamatkan Kun Hong, telah membeli keselamatan penolongnya itu dengan pengorbanan
yang paling besar yang dapat dilakukan seorang wanita lemah seperti dia. Akan tetapi sekarang muncul
wanita gagah itu yang memaki-makinya, yang telah melihat perbuatannya tadi.
"Ya Tuhan... aku perempuan hina... perempuan rendah..." Janda Yo tak kuat lagi. Kedua lututnya lemas
dan dia pun jatuh nglumpruk di atas lantai, menutupi muka dengan kedua tangannya.
Tiba-tiba dia terbelalak memandang ke kanan kiri, menatap pembaringan yang kini sudah kosong,
telinganya terus mendengar gema wanita tadi memaki-makinya.
"Perempuan jalang! Pelacur! Jangan pegang-pegang dia dengan tanganmu yang kotor!" lalu terdengar lagi,
"Bukankah laki-laki tadi kekasihmu? Uh, dan kau berani mendekatkan tubuhmu yang hina dan kotor itu
dengan Kwa Kun Hong?"
"Ooohhhhh...!" Janda Yo menangis lagi, sekarang tersedu-sedan, kemudian dia menubruk pembaringan
yang kosong itu. "Kwa Kun Hong... jadi namamu Kwa Kun Hong, Inkong? Setidaknya wanita itu berjasa
memberi tahu namamu. Orang mengatakan aku kotor, hina, jalang, lacur... Inkong (Tuan penolong), tidak
apalah, asalkan kau selamat. Badan dan namaku kotor bisa dicuci dengan... ini..."
Janda muda itu melolos ikat pinggangnya dan matanya memandang ke atas, mencari-cari tiang atau usuk
genteng rumah itu.
"A Wan...!" Hanya jerit ini saja terdengar satu kali dari dalam pondok di malam sunyi itu, kemudian sunyi
tak terdengar suara apa-apa lagi.
"Ibu...!" A Wan lari memasuki rumah itu.
Anak ini tidak berhasil mengundang datang sinshe Thio. Hal ini tidaklah mengherankan. Sinshe mana yang
sudi dipanggil oleh keluarga miskin? Selain tidak dapat mengharapkan pembayaran yang banyak, janganjangan
malah harus merogoh saku untuk membelikan obat!
Pada saat Sinshe Thio mendengar permintaan A Wan supaya suka datang ke rumahnya mengobati
seorang paman yang ‘jatuh’ dan luka-luka, dia hanya menggelengkan kepala sambil mengebulkan asap
huncwe (pipa tembakau) yang tebal dan berbau apek ke muka A Wan. Tanpa ‘uang muka’ dua tail perak
dia tidak akan sudi berangkat, katanya. A Wan terus membujuk-bujuk, memohon dan bahkan menangis,
akan tetapi sinshe Thio tetap tak melayaninya, malah ditinggal masuk.
dunia-kangouw.blogspot.com
A Wan adalah anak yang keras hati, dia tidak putus asa, terus saja dia mengetuk-ngetuk pintu dan
merengek-rengek. Akhirnya, bukan dituruti permohonannya, malah kepalanya mendapat benjol-benjol
karena pukulan huncwe sinshe itu pada kepalanya.
Sambil menangis akhirnya A Wan berlari pulang dan dia merasa hatinya amat tidak enak memikirkan
keadaan si paman buta. Jarak ke rumahnya yang amat jauh itu ditempuhnya sambil berlari-lari. Seperti ada
firasat tidak baik dia kemudian mempercepat larinya, malah telinganya serasa mendengar suara ibunya
memanggil-manggilnya.
Dapat dibayangkan betapa kaget, ngeri, dan bingungnya ketika dia memasuki pondok, dia melihat tubuh
ibunya sedang tergantung pada ikat pinggang yang ditalikan ke atas tiang. Ikat pinggang itu melilit leher
ibunya dan dengan mata terbelalak dia melihat betapa kedua kaki ibunya masih berkelojotan.
Biar pun merasa ngeri dan takut, namun A Wan adalah anak cerdik. Dia hanya terpaku sebentar saja.
Cepat dia merayap naik tiang sambil memekik-mekik dan memanggil nama ibunya. Jari-jari tangannya
gemetar pada saat dia merenggut-renggut ikat pinggang yang terikat kuat-kuat pada tiang.
Bagaikan seekor kera dia melorot kembali, berlari ke dapur mengambil pisau dan merayap naik lagi.
Akhirnya dia dapat memotong ikat pinggang itu sampai putus dan tubuh ibunya jatuh berdebuk di atas
tanah.
"Ibu...! Ibu...!"
A Wan menubruk dan merangkul ibunya, menangis sambil menciumi muka ibunya yang pucat membiru.
"Ibu... kenapa Ibu... ahhh, bagaimana ini...? Ibuuuuu...!"
Jeritan terakhir yang keluar dari mulut A Wan ini seakan-akan sanggup membetot kembali semangat janda
muda itu yang sudah mulai meninggalkan tubuhnya. Bibir yang biru itu berkomat-kamit, biji mata yang
sudah melotot tanpa cahaya itu bergerak-gerak perlahan, lalu terdengar suara janda muda yang bernasib
malang itu berbisik-bisik.
"A Wan... balas... budi Kwa Kun Hong... balas... dendam The Sun..."
"Ibu...! Ibuuu...!! Ibuuuuuu...!!!"
A Wan menggoncang-guncang tubuh ibunya yang makin lama makin lemas dan makin dingin karena pada
saat itu janda muda ini sudah terbebas dari pada duka nestapa dan derita sengsara dunia. Matanya yang
tadi melotot sudah meram, mulutnya menyungging senyum dan biar pun muka itu kini pucat dan rambutnya
awut-awutan, namun kelihatan tenang dan damai, makin nyata kecantikan aslinya.
Sebaliknya, puteranya yang masih hidup, yang masih sedang berkembang dalam hidup, menangis
menggerung-gerung dan memanggil-manggilnya. Alangkah ganjil penglihatan ini.
Yang hidup menangisi yang mati. Yang hidup merasa penuh duka lara. Yang mati tenang diam begitu
damai dan tenteram. Tidak janggalkah ini? Sudah benarkah itu kalau yang hidup menangisi yang mati?
Ataukah harus sebaliknya…..?
********************
Kita tinggalkan dulu Yo Wan atau A Wan yang sedang menangis menggerung-gerung memenuhi malam
sunyi itu, suara tangisannya tersaing oleh kentung peronda dan dengan suara doa dari kelentengkelenteng
berdekatan.
Mari kita mengikuti keadaan Kun Hong yang dalam keadaan pingsan dibawa lari oleh seorang gadis aneh.
Kun Hong benar-benar tidak tahu apa yang sudah terjadi dengan dirinya sejak dia menabrak pohon dan
roboh pingsan di belakang pondok itu. Dia tidak tahu apa yang telah terjadi dengan janda Yo setelah dia
siuman sebentar hanya untuk mengenal suara mereka ibu dan anak. Malah dia pun tidak sadar ketika
tubuhnya dikempit oleh seorang wanita dan dibawa lari berlompatan di dalam gelap dengan gerakan ringan
dan cepat.
Dengan kesigapan dan kecepatan gerakan yang luar biasa hebatnya, wanita itu akhirnya membawa tubuh
Kun Hong meloncat tinggi ke atas genteng sebuah rumah gedung, kemudian bagaikan seekor kucing saja
dunia-kangouw.blogspot.com
ringan dan cepatnya, ia telah melayang turun dan menerobos masuk ke sebuah kamar di dalam gedung itu
melalui jendela yang terbuka daunnya.
Sebuah kamar yang besar dan sangat indah, dengan pembaringan, meja rias, kursi-kursi dan perabotan
lain yang serba halus dan mahal. Sebuah kamar milik seorang gadis yang kaya-raya, atau patutnya kamar
puteri seorang bangsawan besar.
Gadis itu dengan cepat merebahkan tubuh Kun Hong di atas pembaringan yang bertilam kasur dan kain
merah berkembang. Dengan cekatan ia melakukan pemeriksaan di bawah penerangan lampu yang cukup
terang dan besar. Keningnya berkerut dan sepasang mata yang bening itu menjadi cemas ketika ia melihat
luka membiru di punggung dan kulit yang membengkak di pangkal paha karena sebuah luka bergurat
panjang yang menghitam!
"Keji!" Perlahan dia memaki. "Senjata beracun dan pukulan maut yang amat kuat..."
Tanpa ragu-ragu lagi dia merobek lebih lebar pakaian yang menutupi pangkal paha Kun Hong, lalu
mencabut pedangnya dan dengan ujung pedangnya yang tajam dan runcing itu ia menggurat luka
membengkak yang darahnya sudah mengering. Pecahlah kulit itu dan keluar darah yang menghitam.
Gadis itu meletakkan pedangnya di atas ranjang, berlutut di atas ranjang di sebelah Kun Hong, lalu dia
membungkuk dan... tanpa ragu-ragu lagi dia menggunakan mulutnya yang mungil untuk mengecup dan
menyedot ke luar darah hitam dari luka di pangkal paha itu! Beberapa kali meludahkan darah yang telah
disedotnya ke atas lantai, lalu menyedot lagi tanpa mempedulikan bau darah menghitam yang tidak enak
itu. Baru ia berhenti setelah ia menyedot darah yang merah segar.
"Hebat..." gumamnya. "Kun Hong benar-benar mempunyai sinkang (hawa sakti) yang luar biasa di dalam
tubuhnya sehingga meski pun dia pingsan, racun itu tidak dapat menjalar terus ke dalam tubuh, hanya
berhenti di sekitar luka. Kalau tidak demikian, ahh, tentu dia tidak akan dapat disembuhkan lagi..."
Gadis itu kemudian duduk bersila, menempelkan dua telapak tangan pada punggung Kun Hong yang dia
dorong miring, kemudian dia menyalurkan hawa sakti di dalam tubuhnya untuk memulihkan tenaga dan
menyembuhkan luka di dalam dada Kun Hong.
Sejam kemudian Kun Hong bergerak, mengeluh panjang. Gadis itu cepat menarik kembali kedua
tangannya. Gerakan ini perlahan sekali akan tetapi cukup membuat Kun Hong maklum bahwa dia sedang
berbaring dan di dekatnya ada seorang yang sedang duduk bersila. Serentak Kun Hong menggerakkan
tubuhnya dan di lain saat dia sudah meloncat turun dari pembaringan dan berdiri dengan bingung tetapi
siap dan waspada.
"Kun Hong, syukur kau telah siuman..."
"Hui Kauw...!"
Hampir saja Kun Hong tidak percaya ketika mendengar suara itu, akan tetapi sekarang hidungnya
mencium keharuman yang biasa keluar dari rambut gadis itu. Apa lagi suara itu tidak mungkin dapat dia
lupakan. Di antara seribu macam suara orang dia pasti akan mengenal suara Hui Kauw si nona bidadari!
"Betul Kun Hong. Aku Hui Kauw dan kau berada di dalam kamarku."
Kini Kun Hong teringat segalanya dan dia meraba luka di belakang pangkal pahanya. Dia menjadi heran
sekali. Luka itu sudah bersih dari pada racun yang tadinya mengeram di sekitar luka. Dia menunduk dan
tiba-tiba tercium olehnya bau tak enak dari darah yang kotor oleh racun, bau darah yang agaknya berada di
lantai.
"Hui Kauw... kau... kau... dengan cara bagaimana kau tadi mengeluarkan racun dari luka di pahaku?"
"Lukamu tadi menghitam, berbahaya sekali kalau menjalar sampai ke jantung. Aku tidak mengerti cara lain,
maka tadi kusedot keluar sampai bersih."
Menjawab begini, agak berubah air muka gadis ini karena sekarang dia teringat betapa perbuatannya tadi
sesungguhnya amat tidak sopan dan memalukan.
dunia-kangouw.blogspot.com
Kun Hong sudah menduga akan hal ini dan dia menyambar dan menggenggam tangan Hui Kauw, "Hui
Kauw alangkah mulia hatimu. Kenapa kau menolongku sampai begitu?"
Dengan suara tegas akan tetapi agak gemetar gadis itu menjawab, "Kun Hong, ingatlah bahwa bagiku, kau
adalah... suamiku, dan bagiku menolongmu adalah kewajibanku."
"Hui Kauw... Hui Kauw...." Kun Hong terharu sekali.
Untuk sejenak kedua orang muda ini saling berpegang kedua tangan. Mereka diam saja tidak berkata-kata,
akan tetapi getaran dari dua pasang tangan itu merupakan pelepasan dari pada hati yang penuh keharuan
dan kerinduan.
Setelah mereda gelora perasaannya Kun Hong melepaskan kedua tangan Hui Kauw, celingukan ke kanan
kiri lalu bertanya, "Mana dia...?"
"Kau mencari siapa?"
"Janda itu... Yo-twaso, di mana dia?"
"Oh, kau maksudkan perempuan hina, pelacur itu?" kata Hui Kauw, suaranya terdengar kaku karena
hatinya mengkal kalau ia teringat akan wanita muda cantik yang genit cabul dan yang ia lihat memeluk Kun
Hong itu.
"Perempuan hina? Pelacur? Apa maksudmu, Hui Kauw?" Kun Hong bertanya dengan perasaan amat
heran mengapa gadis yang berperasaan halus dan berbudi mulia ini bisa tiba-tiba memaki-maki janda Yo
sedemikian rupa!
"Dia bukan perempuan baik-baik, Kun Hong. Bagaimana kau yang tadinya di keroyok dan melarikan diri itu
tiba-tiba saja bisa berada di dalam pondok perempuan itu? Sayang aku datang terlambat sehingga tahutahu
sudah mendengar bahwa kau telah melarikan diri dan dikejar-kejar oleh para perwira istana."
Teringatlah sekarang Kun Hong akan pertempuran itu dan cepat-cepat dia bertanya, "Ah, habis bagaimana
dengan para anggota Hwa-i Kaipang? Bagaimana jadinya dengan Hwa-i Lokai?" tanyanya penuh
kekhawatiran.
Hui Kauw menarik napas panjang. "Sebagian besar dari mereka tewas. Lebih dua puluh orang tewas,
termasuk ketuanya. Hanya beberapa orang saja selamat, tapi masih menjadi buruan sampai sekarang."
Kun Hong membanting-banting kaki dan dia menangis di dalam hatinya.
"Celaka, aku benar-benar telah membikin celaka banyak orang gagah. Ah... benar-benar celaka, dan
benda yang kulindungi, yang sudah menjatuhkan korban banyak orang gagah itu sekarang masih tertinggal
di rumah Yo-twaso..."
"Heee? Kau tinggalkan mahkota itu di sana? Tadi aku sudah merasa heran melihat kau menggeletak tanpa
apa-apa, malah tongkatmu juga tidak nampak. Wah, berbahaya kalau begitu. Kun Hong aku tidak percaya
kepada perempuan itu. Tentu sekarang mahkota dan tongkatmu sudah ia berikan kepada perwira istana."
Kun Hong menggelengkan kepala. "Kau salah sangka, Hui Kauw. Perempuan itu adalah seorang janda
yang dahulu pernah kutolong. Yo-twaso orangnya baik, harap kau jangan keliru sangka yang bukanbukan!"
"Dia baik? Huhh, kau tertipu, Kun Hong. Memang dia seorang janda muda yang cantik manis. Tapi
wataknya tidak sebersih mukanya. Dia seorang perempuan genit dan cabul."
"Hee? Apa yang telah terjadi sampai kau menuduhnya demikian? Aku melarikan diri dan membentur
pohon, tidak ingat apa-apa lagi. Ketika aku sadar, aku sudah berada dalam pondok Yo-twaso, lalu aku
pingsan tidak ingat apa-apa lagi. Apakah yang telah terjadi? Apakah kau mengenal Yo-twaso?"
"Aku tidak kenal perempuan itu. Akan tetapi ketika aku mengejar dan mencarimu, aku melihat dia main gila
dengan The Sun, orang kepercayaan kaisar, penghimpun para orang kang-ouw di istana. Coba saja
bayangkan, dia main gila dengan The Sun dan sesudah kongcu hidung kerbau itu pergi, dia memelukimu
dunia-kangouw.blogspot.com
dan menangisimu. Hemmm, masih baik aku tidak tusuk dia dengan pedangku, hanya menendangnya
roboh ketika aku merampas dan membawamu ke sini."
"Celaka...!" Tiba-tiba Kun Hong berseru sambil melompat hingga mengagetkan Hui Kauw. Kemudian
Pendekar Buta itu mengeluh dengan suara seperti orang akan menangis. "Ah, celaka betul... Yo-twaso...
Yo-twaso... kenapa engkau berkorban untukku sampai sehebat itu?" Kun Hong menutupi mukanya dengan
kedua tangan dan dia benar-benar menangis.
Hui Kauw memegang tangan Kun Hong, suaranya gemetar karena dia menduga hal-hal yang hebat,
"Kenapa? Apa artinya semua ini Kun Hong?"
"Ahhh, Hui Kauw, kau tidak tahu. Dia... dia telah berkorban untuk keselamatanku, dengan pengorbanan
yang lebih hebat dari pada nyawa...! The Sun itulah orangnya yang sudah menipuku, dan dia pula yang
telah melukai pangkal pahaku secara curang, kemudian dia yang mengejar ketika aku melarikan diri. Dan
aku berada dalam pondok Yo-twaso dalam keadaan pingsan tak berdaya. Lalu kau melihat Yo-twaso... dan
The Sun itu... ahhh, aku dapat membayangkan hal apa yang telah dilakukan oleh Yo-twaso untuk
menyelamatkan nyawaku. Yo-twaso tentu tahu bahwa kalau The Sun melihat aku di sana tentu aku akan
dibunuhnya. Yo-twaso mempergunakan senjata tunggalnya sebagai wanita lemah, yaitu kecantikannya dan
dia... ahh, dia mempergunakan itu untuk memikat The Sun sehingga penjahat itu tidak memperhatikan dan
tidak mencari aku lagi..."
Bukan main kagetnya hati Hui Kauw mendengar penjelasan ini.
"Wah... celaka... aku bahkan menendangnya dua kali! Dan kau... ketika rebah di kamar itu, kulihat mukamu
berbedak langes hitam dan rambutrnu penuh pupur, sekelebatan kau seperti seorang kakek lagi
berbaring... wah kau betul Kun Hong! Tentu Yo-twaso sudah sengaja menaruh semua itu agar kau
disangka seorang tua untuk mengelabui mata The Sun. Celaka, ahhh... alangkah bodohku... Kun Hong,
kau maafkan kebodohanku..." Hui Kauw benar-benar merasa menyesal sekali atas kesembronoannya telah
menuduh yang bukan-bukan kepada seorang wanita yang demikian berbudi.
Kun Hong memegang lengan Hui Kauw. "Hui Kauw, hayo antar aku ke sana, sekarang juga. Selain aku
harus menghaturkan rasa terima kasihku, juga aku merasa khawatir akan keselamatan Yo-twaso dan A
Wan, anaknya. Lagi pula, aku harus mengambil kembali tongkatku dan mahkota itu sebelum terjatuh ke
tangan The Sun dan kawan-kawannya."
Karena merasa sangat menyesal akan perbuatannya terhadap janda muda itu maka Hui Kauw tak berani
membantah lagi. Segera digandengnya tangan Kun Hong dan dibawanya Pendekar Buta itu melesat keluar
melalui jendela, terus meloncat naik ke atas genteng dan dua orang itu mempergunakan ginkang mereka
berloncatan dari genteng ke genteng, cepat laksana bayangan hantu di malam gelap.
Waktu itu tengah malam sudah jauh terlewat, malah hari sudah hampir pagi. Ayam-ayam jantan sudah
mulai berkokok dan sungguh pun belum kelihatan orang-orang keluar dari rumah masing-masing, tetapi
kegelapan malam sudah mulai melepaskan dunia dari pada cengkramannya yang memabukkan.
Dapat dibayangkan betapa kaget hati Kun Hong dan Hui Kauw ketika mereka meloncat turun ke halaman
rumah kecil janda Yo, mereka mendengar suara tangis seorang anak kecil yang menggerung-gerung
penuh kedukaan.
"A Wan, ada apakah...?" Kun Hong tidak sabar lagi dan segera mendorong pintu yang sudah berada di
depannya. Bersama Hui Kauw dia lari memasuki pondok kecil itu.
"Ahhhhh...!" Tangan Hui Kauw yang menggandeng tangannya menggigil dan suara gadis ini gemetar.
"Ada apa? Hui Kauw, kau melihat apa? A Wan, mengapa kau menangis?"
"Paman...!" A Wan menubruk kaki Kun Hong dan tangisnya makin menjadi-jadi sampai akhirnya dia
menjadi sesak napas dan terguling pingsan di kaki Pendekar Buta itu.
“Kun Hong... dia... Yo-twaso itu... entah kenapa dia..."
"Mana Yo-twaso? Mana...?"
dunia-kangouw.blogspot.com
Hui Kauw menarik tubuh A Wan, dikempitnya dan dengan hati tidak karuan ia menuntun Kun Hong maju.
"Dia di lantai...," bisiknya.
Kun Hong berlutut, tangannya meraba dan... begitu menyentuh tubuh janda Yo, jari-jari tangannya cepat
bergerak memeriksa nadi tangan, memeriksa detik jantung, lalu meraba leher. Dia mengeluh panjang,
melepaskan tangan mayat itu, kemudian menutupi mukanya dengan tangan. Mulutnya berkata lirih,
"Yo-twaso... engkau sudah berkorban untukku... alangkah besar budi yang kau limpahkan kepadaku. Yotwaso,
biarlah aku bersumpah, aku tidak mau menjadi orang sebelum aku membalas ini semua kepada si
keparat The Sun..."
"Tidak...!" Tiba-tiba A Wan yang sudah siuman melepaskan diri dari pangkuan Hui Kauw yang juga
menangis perlahan saking terharunya.
A Wan berlari menghampiri dan memeluk tubuh ibunya, lalu memandang Kun Hong dan berkata lagi.
"Tidak, Paman, tidak boleh begitu. Akulah yang akan membalas dendam Ibu terhadap The Sun! Sebelum...
sebelum Ibu mati, ia sudah meninggalkan pesan kepadaku supaya membalas budi Paman dan membalas
dendam kepada The Sun. Ah, Ibu... Ibu...!"
Tiba-tiba Kun Hong yang sudah mampu menguasai perasaannya itu bangkit berdiri dan sekali tarik dia
sudah membuat A Wan berdiri pula. "Cukup bertangis-tangisan ini! Tanpa kegagahan, mana dapat kau
membalas dendam itu? Dan kalau mempelajari kegagahan, harus pantang menangis kau dengar? A Wan,
mulai sekarang kau menjadi muridku!"
"Suhu (guru)...!" A Wan lalu menjatuhkan diri berlutut di hadapan Kun Hong, terisak-isak menahan
tangisnya.
"Sekarang, ceritakan apa yang telah terjadi dengan ibumu!"
Sambil menahan isaknya A Wan kemudian menceritakan pengalamannya semenjak dia dan ibunya
menolong Kun Hong yang sudah menggeletak pingsan di belakang rumah. Kemudian betapa dia disuruh
ibunya memanggil sinshe Thio, akan tetapi meski pun dia membujuk-bujuk namun sinshe itu tidak mau
menolong, malah memaki dan memukulnya.
Lalu dia bercerita dengan air mata bercucuran akan tetapi tidak berani mengeluarkan suara tangisan,
betapa ketika dia pulang, dia mendengar jerit ibunya memanggil namanya dan pada waktu dia memasuki
rumah, ibunya sudah menggantung lehernya dengan ikat pinggang.
Kun Hong menarik napas panjang dan menoleh kepada Hui Kauw, berkata dengan suara tergetar, "Dia
mencuci noda dengan nyawa. Hui Kauw, adakah orang yang lebih mulia dari padanya?"
Hui Kauw tidak menjawab, hanya terisak perlahan menekan keharuan hatinya ketika dia memandang ke
arah mayat nyonya Yo yang masih menggeletak di lantai. Perlahan-lahan dia melangkah maju,
mengangkat mayat itu dengan hati-hati dan meletakkannya di atas pembaringan, lalu menggunakan
selimut butut yang berada di situ untuk menutupi tubuh dan muka mayat itu. Semua ini dia lakukan penuh
hormat dan dengan diam-diam, diikuti pandang mata A Wan dan pendengaran Kun Hong.
Ketika menyingkap selimut tadi, Hui Kauw melihat tongkat Kun Hong. Diambilnya tongkat itu dan
diserahkan kepada Kun Hong tanpa berkata-kata. Kun Hong merasa tangannya tersentuh tongkat, dengan
hati lega dia menerima senjata ini.
"A Wan, dahulu kau dan ibumu diantar Lao Tui pergi ke kota Cin-an, bagaimana kau dan ibumu bisa tinggal
di kota raja ini?"
Dengan singkat anak itu lalu menuturkan pengalamannya yang penuh duka dan derita. Memang sangatlah
buruk nasib dia dan ibunya. Lao Tui yang berhati palsu itu kiranya berlaku curang. Anak dan ibu ini tidak
diantar ke Cin-an sebagaimana yang dikehendaki nyonya Yo, melainkan diam-diam dia bawa ke kota raja!
Sesudah sampai di kota raja mereka menginap dalam sebuah rumah penginapan dan di tempat inilah
diam-diam Lao Tui kabur membawa semua uang pemberian Song-wangwe, membiarkan janda muda itu
bersama anaknya sendirian di kota raja yang besar dan ramai itu!
dunia-kangouw.blogspot.com
Dapat dibayangkan betapa bingung dan susahnya hati nyonya janda Yo. Seorang wanita dari dusun
seperti dia, kini tahu-tahu berada di kota besar tanpa uang tanpa sandaran!
Dengan amat sengsara janda muda ini bekerja keras sebagai tukang cuci, sekedar untuk dapat mencegah
kelaparan dan hidup dalam keadaan yang amat miskin dengan anaknya. Tentu saja banyak gangguan
yang dia alami, namun janda muda ini berhati keras dan dapat menjaga diri sehingga biar pun ia dan
anaknya hidup miskin dan serba kekurangan, menyewa sebuah pondok seperti gubuk, namun di dalam
kemiskinan itu dia tetap dapat menjaga kebersihan diri dan namanya.
"Ibu dan teecu (murid) hidup dalam kemiskinan, Ibu bekerja mencuci pakaian dan teecu membantu dengan
bekerja sebagai penggembala, sampai pada malam hari itu kebetulan sekali kami bertemu lagi dengan
Suhu," A Wan mengakhiri ceritanya yang didengarkan dengan penuh keharuan hati oleh Kun Hong dan Hui
Kauw.
"Memang nasib ibumu amat buruk, akan tetapi besarkan hatimu, Wan-ji, karena segala sesuatu yang
terjadi di dunia ini bukanlah kehendak manusia. Sudah ditakdirkan ibumu pergi menyusul arwah ayahmu di
waktu dia masih muda. Mereka itu, ayah bundamu itu, meninggalkan kau seorang diri di dunia, tentu
mereka percaya dengan penuh keyakinan bahwa sebagai ahli waris mereka engkau akan mewarisi pula
budi pekerti ayahmu yang wataknya gagah perkasa dan ibumu yang suci budinya."
A Wan mendengarkan dengan kepala tertunduk untuk menyembunyikan mukanya yang kembali menjadi
merah lagi.
"Wan-ji (anak Wan), ketika kau dan ibumu menolongku ketika aku pingsan, apakah kau melihat buntalan
pakaianku? Adakah kau melihat sesuatu dalam buntalan pakaian itu?"
"Suhu maksudkan sebuah benda seperti topi yang gilang-gemilang berwarna kuning?"
"Betul...," Kun Hong berdebar gembira. "Di mana berada benda itu?"
"Ada teecu simpan. Suhu jangan khawatir, teecu sembunyikan di tempat rahasia. Begitu melihat benda itu,
teecu bisa menduga bahwa tentu Suhu sedang memperebutkan benda itu dengan musuh-musuh Suhu,
maka sengaja teecu sembunyikan selagi Suhu pingsan. Tunggu sebentar Suhu, teecu hendak
mengambilnya, teecu simpan di belakang rumah." Anak itu lalu keluar melalui pintu belakang.
"Kun Hong, cerdik sekali Wan-ji itu, pantas dia menjadi muridmu, pula sudah sepatutnya kalau kita
membalas budi mendiang Yo-twaso...," kata Hui Kauw terharu.
"Kau betul, Hui Kauw, dan kita harus membantu Wan-ji mengurus penguburan jenazah Yo-twaso. Sambil
menanti Wan-ji dan datangnya pagi, baik kau ceritakan pengalamanmu. Tadi itu rumah siapakah? Apakah
kau berhasil bertemu dengan orang tuamu?"
Dua orang muda itu duduk berhadapan di atas lantai tanah yang hanya bertikar rombeng di rumah itu. Di
dekat mereka, jenazah nyonya janda Yo terbaring kaku. Api lampu minyak kecil membuat ruangan itu
remang-remang.
Suara Hui Kauw yang halus itu terdengar ketika dia mulai menceritakan pengalamannya setengah berbisikbisik.
Sebaiknya kita ikuti saja pengalaman nona ini sejak dia berpisah dari Kun Hong setelah membantu
pemuda buta itu memperoleh kembali mahkota kuno dari tangan Hui Siang dan Bun Wan di Pulau Chingcoa-
to.
Hui Kauw meninggalkan Pulau Ching-coa-to dengan perasaan hancur dan hati penuh duka nestapa.
Memang baginya pulau itu bukanlah tempat yang mendatangkan kenangan indah dan andai kata ia dapat
pergi meninggalkan pulau ini setahun yang lalu, agaknya ia akan merasa gembira, bahagia dan bebas
seperti burung terlepas dari sangkarnya.
Ching-toanio dan Hui Siang bukan merupakan orang-orang yang mengasihinya, sungguh pun ia sendiri
cukup berusaha untuk memaksa hati menyayang mereka untuk membalas budi mereka, terutama budi
Ching-toanio yang sudah memeliharanya semenjak dia kecil, sungguh pun wanita itu telah menculiknya
dari tangan ayah bundanya yang asli.
dunia-kangouw.blogspot.com
Andai kata sebelum terjadi peristiwa keributan karena kedatangan Kun Hong di pulau itu ia bisa berhasil
meninggalkan pulau, hal itu akan merupakan kebebasan dan kebahagiaan baginya. Akan tetapi, apa
hendak dikata. Nasibnya menghendaki lain.
Nasib sudah mempertemukan ia dengan Kun Hong Pendekar Buta itu, orang muda buta yang sekaligus
menarik hatinya dan menjatuhkan cinta kasihnya. Harapannya untuk bisa hidup berbahagia sebagai isteri
Kwa Kun Hong timbul ketika Ching-toanio membujuknya untuk melakukan upacara pernikahan dengan Si
Pendekar Buta.
Menyaksikan wajah Si Pendekar Buta yang simpatik, budi pekertinya yang baik, sikapnya yang gagah
perkasa dan kepandaiannya yang tinggi, di dalam hatinya Hui Kauw sudah jatuh benar-benar. Kebutaan
mata Kun Hong sama sekali tidak mengecewakan hatinya, bahkan merupakan hiburan baginya karena
dengan demikian laki-laki yang dia harapkan menjadi suaminya itu tidak akan dapat melihat betapa
wajahnya yang berkulit halus itu berwarna kehitaman yang menurut pandang mata setiap orang laki-laki
tentu menjemukan dan buruk sekali!
Siapa dapat mengira bahwa semua itu hanyalah tipuan belaka, siasat yang dijalankan oleh Ching-toanio
dan kawan-kawannya untuk menjebak Kun Hong dan menarik pemuda perkasa itu sebagai pihak mereka.
Sebagai seorang laki-laki gagah, tentu saja Kun Hong merasa terhina sehingga menolak pernikahan yang
hanya merupakan siasat. Akibatnya perasaan Hui Kauw hancur luluh, remuk redam dan buyarlah semua
khayal dan lamunan yang muluk-muluk tentang hidup bahagia bersama Kun Hong.
Kini sia sudah terpisah dari Kun Hong, meninggalkan pemuda itu sesudah membantunya mendapatkan
mahkota kuno kembali. Sedikitnya hatinya telah terhibur. Tidak saja ia telah berjasa dan membalas budi
Kun Hong, juga dia mendapat kenyataan bahwa Pendekar Buta itu sebetulnya menaruh hati cinta kasih
pula kepadanya. Dia tidak bertepuk tangan sebelah.
Kalau teringat akan ini, ingin rasanya Hui Kauw menari-nari saking bahagia rasa hatinya. Kun Hong juga
mencintainya! Kebahagiaan apakah di dunia ini yang lebih besar dari pada keyakinan bahwa orang yang
dicintanya itu ternyata membalas dengan cinta kasih yang sama besarnya pula?
Namun, duka dan suka memanglah sepasang saudara kembar. Masing-masing tak dapat berjauhan dan
masing-masing siap menggantikan kedudukan saudara kembarnya. Rasa suka karena mengetahui tentang
cinta kasih Kun Hong kepadanya ini segera tertutup oleh duka yang amat besar, yaitu kenyataan bahwa
Kun Hong tidak akan dapat mengawininya karena pemuda buta itu seluruh hati dan perasaannya masih
terikat oleh cinta kasihnya kepada mendiang Cui Bi, dan perasaan ini memaksa Si Pendekar Buta untuk
bersetia terus kepada mendiang kekasihnya itu!
Demikianlah, dengan dada kosong karena hatinya sudah tertinggal bersama Si Pendekar Buta, dan
perasaan amat berat karena semenjak saat itu ia harus hidup sendiri, Hui Kauw melakukan perjalanan
cepat sekali dengan tujuan kota raja. Selama hidup belum pernah ia melakukan perjalanan jauh, apa lagi
ke kota raja, karena ia seakan-akan ‘dikurung’ oleh Ching-toanio di dalam pulau. Kalau nenek itu
bepergian, tentu Hui Siang yang diajak serta.
Justru hal ini malah mendatangkan hiburan bukan kecil bagi Hui Kauw. Biasanya ia hanya melihat
pemandangan di sekitar pulau saja, kali ini setelah melakukan perjalanan jauh melalui gunung-gunung, ia
terpesona dan beberapa kali sampai terhenti untuk menikmati tamasya alam yang amat indahnya.
Selain minggat dari pulau Ching-coa-to, tujuan perjalanannya adalah untuk mencari ayah bundanya di kota
raja. Hal ini sebenarnya telah menjadi niat hatinya sejak bertahun-tahun yang lalu, akan tetapi ia selalu
kurang berani melakukannya. Sekarang karena keadaan memaksanya, ia dapat melaksanakan niatnya itu.
Meski pun perasaan ini mendatangkan kegirangan di hatinya, namun juga mendatangkan keraguan dan
kekhawatiran. Dia sudah tidak ingat lagi bagaimana wajah ayah bundanya, juga tak tahu nama mereka.
Yang pernah ia dengar dari pelayan tua di Ching-coa-to yang merasa sakit hati karena disiksa oleh Chingtoa-
nio dan membuka rahasia ini kepadanya hanyalah bahwa ia bukanlah anak Ching-toanio, bahwa ketika
masih amat kecil ia diculik oleh Ching-toanio dari kota raja dan bahwa dia adalah anak keluarga kaya raya
she Kwee!
Ia merasa ragu-ragu apakah ia akan dapat berjumpa dengan ayah bundanya, apakah ia akan berhasil
mencari seorang she Kwee di kota raja tanpa bahaya keliru cari? Bagai mana kalau ia bertemu dengan
keluarga Kwee yang kaya raya di kota raja akan tetapi sebetulnya keluarga itu bukanlah keluarganya?
dunia-kangouw.blogspot.com
Mungkinkah ayah bundanya akan dapat mengenal puterinya yang lenyap ketika masih amat kecil? Apa lagi
kalau ia ingat bahwa sekarang mukanya telah menjadi hitam! Kalau berpikir sampai di sini, Hui Kauw
menjadi amat gelisah.
Para penjaga pintu gerbang tembok kota raja, tentu saja tidak membiarkan gadis ini lewat begitu saja tanpa
diperiksa. Akan tetapi melihat sikap yang lemah lembut namun kereng, melihat pedang yang tergantung di
punggung Hui Kauw, mereka maklum bahwa gadis ini adalah seorang gadis kong-ouw yang
berkepandaian, maka mereka pun tidak berani main gila.
Tentu saja hal ini sebagian besar dikarenakan wajah Hui Kauw yang hitam dan karenanya tidak menarik.
Andai kata wajahnya yang sebetulnya amat cantik jelita itu tidak bercacat dengan warna kehitaman itu,
kiranya ia tak akan terluput dari pada godaan dan kekurang ajaran para penjaga itu. Setelah diperiksa
sebentar ia lalu diperbolehkan masuk.
Dapat dibayangkan betapa kagum dan herannya hati gadis ini ketika ia sudah memasuki kota raja dan
melihat keramaian yang luar biasa itu. Bingung ia dibuatnya. Hal pertama yang ia lakukan adalah mencari
sebuah rumah penginapan.
Seorang pelayan muda dengan muka cengar-cengir maju menyambutnya. Hampir semua pelayan rumah
penginapan di kota raja mengenal orang-orang kang-ouw, maka pelayan muda ini pun tentu saja dengan
mudah dapat menduga bahwa tamunya seorang wanita muda yang datang sendirian ini tentu seorang
wanita kangouw.
"Nona mencari kamar? Kebetulan masih ada yang kosong di sebelah belakang. Silakan Nona mengikuti
saya."
Hui Kauw merasa tidak senang dan sangat sebal melihat muka pelayan muda yang terus mesam-mesem
ini. Akan tetapi ia tidak berkata apa-apa dan berjalan perlahan mengikuti pelayan itu.
Rumah penginapan itu cukup besar dan mereka berjalan melalui beberapa ruangan. Di ruangan sebelah
dalam terdapat tiga orang laki-laki bertubuh tinggi besar sedang duduk bercakap-cakap. Ketika Hui Kauw
lewat, mereka menghentikan percakapan itu dan tiga pasang mata dengan cara yang tidak sembunyisembunyi
menatap gadis ini yang berjalan dengan tenang tanpa menoleh ke sana ke mari.
Akan tetapi diam-diam Hui Kauw melirik dan memperhatikan keadaan di situ sehingga ia bisa mengetahui
betapa kamar-kamar penginapan itu penuh dengan para tamu yang juga semua menengok dan
memandangnya dari jendela atau pintu kamar mereka. Diam-diam ia mendongkol sekali dan menganggap
bahwa para lelaki di kota raja adalah sebangsa laki-laki kasar dan tidak sopan terhadap wanita.
Kamar itu biar pun kecil tetapi cukup bersih, biar pun baunya apek dan menyebalkan hati Hui Kauw. Nona
ini cepat mengeluarkan beberapa potong uang kecil dan diberikannya kepada pelayan itu.
Setelah menerima persenan yang besar ini sikap pelayan itu otomatis berubah. Tubuhnya membungkukbungkuk,
mukanya berseri dan senyumnya melebar memamerkan deretan gigi menguning.
"Terima kasih, Nona yang gagah. Terima kasih. Apakah ada sesuatu perintah dari Nona? Barang kali Nona
membutuhkan bantuan saya...," katanya menjilat.
Oleh karena pelayan ini merupakan orang pertama yang dihubunginya dan yang dapat diajaknya
bercakap-cakap, Hui Kauw segera berkata, "Barang kali kau bisa menunjukkan kepadaku di mana rumah
keluarga Kwee yang kaya raya di kota raja ini."
Biar pun Hui Kauw sudah memandang tajam, ia merasa sukar untuk dapat menangkap perasaan pelayan
itu sebab mukanya berubah-ubah. Mula-mula matanya terbelalak bagai orang keheranan, kemudian
terbayang ketakutan, akhirnya keningnya berkerut bagaikan orang bercuriga, tapi mulutnya masih
tersenyum.
"Keluarga Kwee...? Kaya raya...? Ehm, di mana, ya? Nona, di sini banyak sekali keluarga Kwee. Yang kaya
raya juga sangat banyak, apa lagi yang miskin. Keluarga mana yang Nona maksudkan? Siapa nama
hartawan itu?"
dunia-kangouw.blogspot.com
Mendengar ini saja Hui Kauw sudah kecewa. Mana dia bisa tahu namanya? Dan kalau ia sendiri tahu yang
ia maksudkan, tentu ia tak akan bertanya-tanya lagi, pikirnya mengkal.
"Aku tidak tahu namanya, yang kuketahui hanya bahwa dia adalah seorang hartawan she Kwee."
Pelayan itu menggeleng-gelengkan kepalanya yang gepeng. "Wah, susah kalau begitu, Nona. Di sini
banyak hartawan she Kwee, entah ada berapa puluh orang!"
Hui Kauw menggerakkan tangan dan pada lain saat dia telah memperlihatkan dua potong uang emas. "Kau
suka menerima hadiah ini?"
Pelayan itu bengong, tidak dapat segera menjawab, hanya kala-menjing di lehernya yang kecil itu bergerak
naik turun. Setahun bekerja penuh di penginapan itu, tak mungkin bisa mendapatkan emas dua potong itu,
pikirnya mengilar. Saking kacau hatinya, dia tak dapat menjawab, hanya mengangguk-angguk seperti
ayam mematuki beras.
Hui Kauw menahan senyum. "Aku tidak mempunyai kenalan di kota raja ini, oleh karena itu aku
membutuhkan bantuanmu. Kau carilah keterangan tentang keluarga hartawan Kwee yang anak
perempuannya pernah diculik orang belasan tahun yang lalu. Nah, emas ini menjadi milikmu apa bila kau
bisa mendapatkan keterangan itu, malah akan kutambah kalau kelak ternyata bahwa keteranganmu tidak
keliru."
"Boleh... baik, Nona... akan segera saya kerjakan perintah Nona setelah selesai pekerjaan saya nanti."
Akhirnya si pelayan dapat juga menjawab, lalu cepat-cepat dia keluar dari kamar itu.
Hui Kauw juga melangkah ke luar kamar dan matanya bersinar-sinar ketika dia melihat berkelebatnya
sesosok bayangan yang agaknya mempunyai niat tidak baik. Akan tetapi karena berada di tempat asing, ia
diam saja, hanya bersiap menjaga diri dari pada segala kemungkinan.
Malam itu sehabis makan sekedarnya, Hui Kauw merebahkan diri di atas pembaringan. Jengkel juga
hatinya menanti-nanti pelayan yang belum kunjung datang. Akan tetapi dia menghibur hati sendiri dengan
pikiran bahwa tentu tidak mudah melakukan penyelidikan tentang orang yang tak diketahui betul
keadaannya di dalam kota sebesar itu.
Ia menutup kelambu, akan tetapi sengaja ia tidak membuka pakaian, malah ia berbaring dengan pakaian
lengkap dan pedang di dekat bantal. Lilin sudah ia tiup padam karena memang ia ingin mengaso sambil
menenteramkan pikirannya yang risau.
Sukar sekali ia tidur. Pikirannya kacau-balau, sebagian besar berpikir tentang Kun Hong dengan hati duka,
sebagian lagi membayangkan pertemuannya dengan ayah bundanya. Masih hidupkah mereka? Andai kata
masih hidup dan dapat bertemu muka dengannya, sukakah mereka menerimanya sebagai anak?
Bagaimana nanti sikap mereka terhadap dia? Masih adakah kasih sayang mereka? Bagaimana nanti
sikapnya sendiri terhadap mereka? Semua ini membuat dadanya berdebar-debar dan membuat sepasang
matanya terbuka lebar tidak mau dimeramkan.
Menjelang tengah malam, suara-suara di dalam rumah penginapan besar itu telah lenyap. Keadaan sunyi
menandakan bahwa para tamu sudah tidur. Dari dalam kamarnya, Hui Kauw dapat mendengar suara
orang-orang mendengkur dari kamar lain. Hal ini semakin memusingkan kepalanya dan menjengkelkan
hatinya.
Jemu sekali ia di dalam penginapan ini. Seribu kali dia lebih suka bermalam di sebuah hutan, di atas dahan
pohon besar, lebih segar dan nikmat, dapat mengaso betul-betul. Hawa di dalam kamar itu pengap,
membuat napas menjadi sesak.
Tiba-tiba ia tersentak kaget. Ada suara di jendela kamarnya. Tapi, sebagai seorang gadis pendekar yang
berilmu tinggi, hanya beberapa detik saja dia tegang, selanjutnya sambil tersenyum mengejek dia tenangtenang
rebah sambil menunggu apa yang akan datang.
Hatinya terasa geli mendengar betapa daun jendela dikorek-korek dengan senjata tajam. Agaknya ada
pencuri yang hendak membuka jendela kamar, pikirnya. Akan tetapi ketika ia mencurahkan perhatian dan
menggunakan pendengarannya, terdengar lebih dari pada dua buah kaki yang berpijak di lantai.
dunia-kangouw.blogspot.com
Hemmm, apakah di kota raja yang begini ramainya terdapat juga perampok-perampok? Sungguh-sungguh
berani mati penjahat-penjahat ini, pikirnya. Rumah penginapan adalah tempat umum dan di sana banyak
terdapat tamu, bagaimana mereka ini berani datang melakukan kejahatan di sini? Kalau ketahuan, apakah
mereka tak akan dikeroyok sampai mampus?
"Kraaakkk!"
Akhirnya daun jendela terbuka. Tiga sosok bayangan yang gerakannya ringan meloncat memasuki kamar
melalui jendela itu.
Diam-diam Hui Kauw terkejut karena gerakan tiga orang itu menunjukkan bahwa mereka bukanlah
merupakan penjahat-penjahat biasa, akan tetapi orang-orang yang mempunyai kepandaian lumayan. Akan
tetapi ia tetap rebah saja sambil mempersiapkan pedangnya.
Hui Kauw lalu membentak halus. "Tiga orang tikus kecil apakah sudah bosan hidup? Hayo lekas keluar lagi
sebelum nonamu habis sabar!" Memang ia tidak mau mencari perkara di kota raja yang asing baginya ini.
Tiga orang itu tidak bergerak, malah seorang di antaranya menyalakan lilin sehingga Hui Kauw dapat
melihat bahwa mereka adalah tiga orang tinggi besar yang siang tadi duduk di ruangan tengah.
"Nona muka hitam, jangan sombong," cela seorang di antara mereka.
"Hemm, benar-benar tidak tahu telah diberi kelonggaran," kata orang ke dua.
Orang ke tiga yang menyalakan lampu itu berkata sambil memandang Hui Kauw yang sudah bangun dan
duduk di pinggir pembaringannya, "Nona, kami bertiga sudah banyak mengalah, sengaja tidak membikin
ribut di depan umum agar kau tak mendapatkan malu. Karena itulah maka kami diam-diam mendatangimu
pada waktu malam-malam begini agar orang-orang tidak ada yang tahu."
Hui Kauw mengerutkan kening, membentak, "Orang-orang kurang ajar, kalian bicara apa? Aku tidak
mempunyai urusan dengan kalian, hayo lekas minggat dari sini!"
Gadis ini sekarang sudah marah dan sudah turun dari pembaringan, berdiri tegak dengan sikap kereng dan
dengan pedang di tangan.
Seorang di antara mereka yang matanya juling tertawa mengejek, sambil cengar-cengir berkata, "Nona,
agaknya kau belum tahu siapa kami, maka sikapmu kasar. Ketahuilah, kami adalah petugas-petugas dari
istana, kami mata-mata dan penyelidik yang bertugas di rumah penginapan ini. Entah sudah berapa
banyak mata-mata pengkhianat dan kaum pemberontak kami tangkap! Nah, lebih baik sekarang simpan
kembali pedangmu dan kau baik-baik membiarkan kami menggeledah dan mengajukan pertanyaanpertanyaan."
"Siapa peduli tentang keadaan kalian? Siapa pun juga kalian, tidak patut memasuki kamar orang seperti
pencuri-pencuri busuk. Kalau ada keperluan datanglah besok dengan cara yang sopan. Aku bukan
pengkhianat, bukan pula pemberontak, peduli apa dengan segala kedudukan kalian? Hayo minggat!"
"Ha-ha-ha, galak benar," orang ke dua yang kumisnya panjang tertawa,
"Biar pun mungkin bukan pemberontak, akan tetapi setidaknya tentu sebangsa perampok atau maling
tunggal yang datang dari luar kota raja hendak mengacau atau mencuri di sini. Nona tangan panjang, kau
menyelidiki keadaan seorang hartawan di kota raja, apa maksudmu selain hendak memindahkan sebagian
hartanya ke tanganmu?"
"Keparat, berani kalian menghina orang!"
Tubuh Hui Kauw bergerak dan terdengarlah suara…
"Plak-plak, blukk, ngekkk!"
Lalu terdengar pula susulan suara pekik tiga orang itu mengaduh-aduh diakhiri dengan melayangnya ketiga
tubuh mereka keluar melalui lubang jendela. Mereka masih terdengar mengaduh-aduh, lalu merangkakrangkak
dan akhirnya terdengar berderap-derap langkah mereka pergi meninggalkan tempat itu!
dunia-kangouw.blogspot.com
Hui Kauw tersenyum mengejek dan juga merasa geli hatinya. Begitu sajakah penyelidik-penyelidik dari
istana? Ia membersihkan kedua tangannya dengan taplak meja di kamar itu. Dua tangannya baru saja
‘makan’ muka dan kepalannya menjotos dada orang-orang itu. Dengan tenang Hui Kauw menutupkan
daun pintu jendelanya kembali, menyimpan pedangnya kemudian merebahkan diri di atas pembaringan
seolah-olah tak pernah terjadi sesuatu.
Menjelang pagi nona itu tiba-tiba terbangun. Enak juga ia tidur dari tengah malam tadi. Tidur pulas tiga
empat jam baginya cukup sudah. Kini dia terbangun karena mendengar suara ribut-ribut di luar kamarnya.
Banyak orang berkumpul di luar kamarnya, sedikitnya ada sepuluh orang.
“Di sini kamarnya…!” terdengar suara.
Mendengar suara ini Hui Kauw cepat turun dari pembaringan, menggosok-gosok mukanya dengan sapu
tangan, membereskan rambut beserta pakaiannya yang kusut, mengikatkan pedang di pinggangnya dan
mengencangkan tali sepatunya. Malah untuk menjaga segala kemungkinan ia mengikatkan pula buntalan
pakaian di atas punggungnya.
"Duk-duk-duk!” Pintunya mulai digedor orang.
"Buka pintu! Kami pengawal istana hendak memeriksa!"
Huh, menyebalkan, pikir Hui Kauw. Kiranya di kota raja berkeliaran segala anjing istana yang kerjanya
hanya mengganggu orang. Hemmm, lihat mereka hendak apa terhadapku. Kakinya melangkah ringan dan
sekali tangannya bergerak, pengganjal daun pintu terlepas dan daun-pintu terbuka lebar-lebar.
Dengan tenang Hui Kauw berdiri tegak. Sikapnya gagah dan matanya tajam menatap ke luar kamar.
Kiranya di luar kamarnya telah berkumpul sedikitnya selosin orang, dikepalai laki-laki tinggi besar bermuka
hitam yang bersikap gagah dan sombong. Sebuah senjata ruyung baja yang besar tergantung di
pinggangnya.
Melihat pakaian orang ini lebih mewah dan berbeda dari orang-orang yang lain, dapatlah Hui Kauw
menduga bahwa tentunya orang ini pemimpin mereka itu. Dengan tenang dia melangkahkan kaki keluar
dari dalam kamar, sedikit pun tidak memperlihatkan rasa takut berhadapan dengan selosin laki-laki yang
tampaknya tinggi-tinggi besar dan gagah-gagah itu.
"Hemmm, kiranya orang-orang lelaki di kota raja ini hanya kelihatannya saja gagah dan sombong," kata
Hui Kauw perlahan akan tetapi suaranya mengandung penuh penyesalan dan ejekan, "Malam tadi tiga
ekor anjing menggonggong dan berlagak membuat orang sukar tidur enak, dan sekarang pagi-pagi sekali
serombongan orang kasar menggedor pintu. Apa kehendak kalian?" Hui-Kauw sengaja berkata demikian
ketika melihat bahwa tiga orang laki-laki malam tadi berada di dalam rombongan ini pula.
Tiga orang laki-laki itu menjadi merah mukanya, mata mereka melotot lebar akan tetapi jelas mereka
kelihatan gentar. Siapa orangnya yang tidak menjadi gentar jika malam tadi mengalami hal seperti mereka?
Tanpa mereka ketahui bagaimana caranya, tadi malam gadis bermuka hitam itu sudah membuat mereka
kalang-kabut dan babak-belur sehingga dalam keadaan hampir pingsan tahu-tahu mereka mendapatkan
diri sendiri telah berada di luar kamar! Tentu saja mereka merasa seperti telah bertemu dan melawan setan
karena mereka yang terkenal sebagai orang-orang berkepandaian tinggi bagaimana bisa mengalami hal
seperti itu anehnya.
Semalam dengan tubuh sakit-sakit dan semangat terbang melayang, mereka menyeret kedua kaki
melarikan diri dan langsung melaporkan hal aneh itu pada seorang pengawal istana yang menjadi kepala
mereka.
Pengawal istana yang sekarang membawa sebelas anak buahnya, yang pagi-pagi sekali mendatangi
kamar tamu hotel yang aneh dan mencurigakan itu, bukan lain adalah Tiat-jiu Souw Ki yang sudah kita
kenal lama! Seperti telah kita ketahui, semenjak masih sebagai pangeran, kaisar yang sekarang, yaitu
dahulunya Pangeran Kian Bun Ti, sudah banyak mempunyai kaki tangan terdiri dari jago-jago silat. Dahulu
dia terkenal mempunyai tujuh orang pengawal jagoan yang terdiri dari orang-orang gagah, di antaranya
adalah Tiat-jiu Souw Ki itulah.
dunia-kangouw.blogspot.com
Setelah Kian Bun Ti menjadi kaisar, hanya tinggal tiga orang di antara tujuh jagoannya yang masih ada dan
yang masih dia pergunakan tenaganya sebagai pengawal istana. Mereka ini adalah Tiat-jiu Souw Ki,
Bhong Lo-koai dan Ang Mo-ko.
Dua orang kakek ini ilmu kepandaiannya jauh lebih tinggi dari pada Tiat-jiu Souw Ki, akan tetapi karena
watak mereka yang aneh, jarang sekali mereka keluar bila tidak menghadapi urusan besar. Mereka lebih
suka bertugas di dalam istana menjaga keselamatan kaisar.
Berbeda dengan Tiat-jiu Souw Ki yang lebih suka berkeliaran di luar. Baginya, bertugas di luar istana
memiliki kesempatan lebih banyak untuk dapat melampiaskan nafsu-nafsunya, mudah mencari ‘rejeki’
dengan memeras atau merampas, mudah pula mempermainkan anak isteri orang yang menjadi sebuah di
antara hobby-nya (kegemarannya)!
Di bagian awal cerita ini sudah dituturkan betapa Tiat-jiu Souw Ki yang tadinya berhasil merampas kembali
mahkota kuno yang dicuri oleh Tan Hok dari dalam istana kemudian ‘ketemu batunya’ saat Tan Loan Ki Si
Walet Jelita mempermainkan dan mengalahkannya serta merampas kembali mahkota itu.
Hati Souw Ki amat penasaran. Dia, seorang pengawal kaisar, berjuluk Tiat-jiu (Si Tangan Besi), ahli
bermain ruyung baja, masih dibantu pula oleh anak buah perampok-perampok Hui-houw-pang dan Kiangliong-
pang serta si tosu bopeng Ban Kwan Tojin, kalah oleh seorang dara jelita yang masih setengah
kanak-kanak! Mulai saat itu Tiat-jiu Souw Ki menaruh hati benci terhadap wanita-wanita kang-ouw.
Maka begitu mendengar dari anak buahnya bahwa di dalam penginapan di kota raja itu terdapat seorang
wanita kang-ouw yang mencurigakan akan tetapi berilmu tinggi, hatinya tertarik dan penasaran. Mana bisa
di dunia ini ada wanita ke dua yang boleh begitu saja menghinanya? Demikianlah, pagi-pagi benar dia
mengajak sebelas orang anak buahnya yang pilihan mendatangi penginapan itu dan menggedor pintu
kamar Hui Kauw.
Melihat sikap Hui Kauw yang menantang dan kereng, Tiat-jiu Souw Ki menjadi panas perutnya. Dia
seorang mata keranjang, dan agaknya kalau nona yang bentuk tubuhnya menggairahkan ini tidak hitam
mukanya, agaknya siang-siang kemarahannya sudah akan mencair kembali.
Akan tetapi kehitaman muka Hui Kauw memang menyembunyikan kecantikannya dan hal ini agaknya
membuat Souw Ki semakin panas perutnya sehingga meledaklah suaranya membentak.
"He, monyet betina muka hitam! Siapa kau berani bersikap sombong di depan Tiat-jiu Souw Ki?
Mendengar laporan anak buahku, kukira kau seorang tokoh kang-ouw yang bernama besar sehingga pagipagi
aku datang sendiri untuk melihat. Siapa tahu kiranya hanya seekor monyet hitam, lutung hitam. Hayo
lekas berlutut menyerah!"
Sebetulnya Hui Kauw adalah seorang yang memiliki watak penyabar dan luas pandangan. Semalam sudah
ia buktikan betapa wataknya sangat halus dan pemurah sehingga tiga orang laki-laki kasar yang sudah
menghinanya itu masih dia ampuni dan hanya memberi hajaran sedikit dan tidak mengakibatkan luka-luka
parah. Namun, sesabar-sabarnya hati wanita, kalau dimaki dan diperolok tentang keburukan mukanya, ia
tentu akan marah juga.
Demikian pula Hui Kauw. Ia maklum bahwa mukanya memang hitam dan buruk, akan tetapi bukan untuk
diperolok oleh seorang laki-laki macam Souw Ki ini. Dengan kilatan mata yang bercahaya, gadis itu
menudingkan telunjuknya yang runcing ke muka Souw Ki sambil berkata.
"Bangsat rendah bermulut kotor, mukamu sendiri hitam dan buruk, masih berani memaki orang lain? Tidak
peduli kau siapa, aku adalah seorang baik-baik yang tidak pernah dan tidak akan melakukan kejahatan.
Mengenai maksud kedatanganku di kota raja adalah urusanku sendiri, siapa berhak mencampuri? Tadi
malam aku masih mengampuni tiga ekor anjing kecil, akan tetapi sekarang kalau ada anjing besar berani
menggonggong tak tahu malu, agaknya aku takkan puas kalau belum dapat menghajar moncongnya
sampai tanggal semua giginya!"
Dapat dibayangkan betapa marahnya Tiat-jiu Souw Ki mendengar kata-kata menghina ini. Jelas bahwa
gadis muka hitam ini memakinya sebagai anjing besar yang hendak dihajar moncongnya dan ditanggalkan
giginya.
dunia-kangouw.blogspot.com
"Bangsat betina! Tidak biasa aku, Tiat-jiu Souw Ki Si Tangan Besi bertempur melawan perempuan, akan
tetapi karena kau terlalu kurang ajar sudah semestinya kau mengenal tangan besiku."
"Hemm, kau mau mengeroyok? Aku tidak takut!" kata Hui Kauw, masih tenang sikapnya dan sama sekali ia
tidak meraba gagang pedangnya.
Dia tahu bahwa kepandaian seseorang dapat diukur dari sikapnya. Sikap Souw Ki yang sombong ini sama
sekali tidak mencerminkan ilmu yang tinggi sehingga tak perlu pula ia berkhawatir.
"Wah-wah, kau benar-benar memandang rendah, keparat! Agaknya kau memiliki sedikit kepandaian maka
berani malang-melintang di kota raja. Siapa hendak mengeroyokmu? Dua buah jari tanganku saja sanggup
membuat kau berkeok-keok minta ampun. Mari... mari... boleh kita bertanding di tempat yang lapang!"
Dia melangkah lebar ke ruangan dalam di mana terdapat ruangan yang lapang setelah meja kursi didorong
ke pinggir tembok. Dengan lagak gagah dibuat-buat Souw Ki berdiri di tengah ruangan ini, menanti dengan
sikap jagoan yang sudah pasti akan mendapatkan kemenangan, sama sekali tidak sadar bahwa sikapnya
ini saja sudah menunjukkan sikap pengecut besar karena sebagai jago, yang dinanti bukanlah jago lain
melainkan seekor ayam betina!
Hui Kauw dengan senyum dikulum dan menahan kemengkalan hati, melangkah pula ke ruangan ini. Dia
mengambil keputusan untuk memberi hajaran kepada pemimpin orang istana ini agar selanjutnya dia tidak
mendapat banyak gangguan lagi.
Panas juga hatinya melihat betapa laki-laki tinggi besar itu sudah memasang kuda-kuda, mulutnya
menyeringai penuh ejekan dan cemooh, matanya melirik memandang rendah. Menurutkan gelora hati
panas Hui Kauw lantas menggenjot tubuhnya dan melayangkan tubuhnya itu ke tengah ruangan, tepat
berhadapan dengan Souw Ki.
Pengawal istana ini kaget, maklum bahwa lawannya ini kiranya benar-benar mempunyai kepandaian tinggi,
buktinya dia memiliki ginkang (ilmu meringankan tubuh) yang lumayan. Bagus, pikir si pongah, makin tinggi
ilmunya makin baik sehingga aku tak akan ditertawai anak buahku, disangka hanya pandai mengalahkan
wanita cantik dan lemah saja. Biarlah iblis betina ini kutundukkan dengan kepandaian, pikirnya.
Betapa pun juga, sesudah berhadapan dengan calon lawannya, Hui Kauw yang berhati lembut itu sudah
merasa menyesal. Saat ini dia sedang berusaha mencari orang tuanya. Kedatangannya ke kota raja
adalah untuk urusan itu, bukan untuk berkelahi! Sekarang, belum apa-apa dia sudah mendatangkan
keonaran dan sudah hendak bentrok dengan petugas-petugas istana!
"Tiat-jiu Souw Ki," katanya dengan suara lembut akibat penyesalan ini. "Terus terang saja, aku sebenarnya
tidak suka ribut-ribut karena kedatanganku di kota raja ini bukan untuk mencari keributan dengan siapa pun
juga. Anak buahmu kuhalau pergi karena mereka malam-malam mengganggu dan memasuki kamarku.
Melihat julukanmu, tentulah kau pun seorang kang-ouw yang tahu akan sopan-santun di dunia kang-ouw,
dan biarkanlah aku melanjutkan urusanku sendiri dan kita tidak saling ganggu."
Belasan tahun yang lalu, sebelum bintangnya naik menjadi pengawal pangeran, Tiat-jiu Souw Ki adalah
seorang bajak sungai yang terkenal. Tentu saja dia tahu akan peraturan dunia persilatan, dunia perantauan
dan dunia kaum hitam. Maka dia tertawa bergelak mendengar ucapan Hui Kauw ini dan menjawab.
"Ha-ha-ha, ucapanmu seperti kau ini seorang tokoh kang-ouw yang hebat saja! Bocah, aku Tiat-jiu Souw Ki
sudah banyak mengenal tokoh kang-ouw dan andai kata kau seorang tokoh sekali pun, kau juga masih
harus menghormati aku, apa lagi kau sama sekali tidak kukenal dan kau seorang pelonco dalam dunia
kang-ouw, mana bisa aku berlaku sungkan lagi? Kecuali kalau kau mau berterus terang menyatakan siapa
namamu, dari mana kau datang dan apa niatmu memasuki kota raja, baru aku mau menimbang-nimbang
untuk mengampunimu." Ucapan ini benar-benar amat sombong dan memandang rendah.
Akan tetapi karena Hui Kauw benar-benar tidak menghendaki terjadinya keributan tanpa sebab penting, ia
menahan kemendongkolan hatinya, menjura dan berkata, "Tiat-jiu Souw Ki, baiklah aku memperkenalkan
diri. Namaku Hui Kauw dan aku datang ke kota raja ini untuk urusan pribadi, mencari keluargaku. Nah,
sekali lagi harap kau dan orang-orangmu jangan mengganggu dan aku berjanji tidak akan mengganggu
kalian di mana saja kalian berada."
dunia-kangouw.blogspot.com
Orang yang sombong selalu tak mau mengalah, sempit pandangan dan tidak menimbang keadaan. Sikap
Hui Kauw ini diterima keliru oleh Souw Ki yang menyangka bahwa gadis muka hitam itu merasa jeri
terhadap dia!
"Ha-ha-ha, mana bisa urusan begitu gampang? Kau telah bersikap amat garang terhadap orang-orangku,
nah, sekarang kau harus berlutut tujuh kali minta ampun kepadaku, baru aku Tiat-jiu Souw Ki mau sudah!"
"Kau memang terlalu sombong!" Hui Kauw membentak.
"Ha-ha-ha, majulah kalau hendak merasai kelihaianku!" Souw Ki menantang.
Hui Kauw maklum bahwa tidak mungkin bersilat lidah dengan seorang manusia macam ini sombongnya.
"Lihat serangan!" dia membentak dan cepat laksana burung menyambar tubuhnya sudah bergerak maju
sambil kedua tangannya bergerak melakukan penyerangan.
Souw Ki yang memandang rendah, melihat datangnya tusukan dengan jari tangan kiri ke arah lehernya,
cepat menggerakkan tangan kanan untuk menangkap pergelangan tangan lawan. Dia bermaksud untuk
mengalahkan dalam satu gebrakan ini saja karena kalau dia berhasil menangkap tangan kecil itu berarti dia
akan menang.
Hatinya girang bukan main ketika melihat tangan kiri itu masih terus melakukan tusukan, agaknya sama
sekali tak peduli akan gerakan tangan kanannya yang hendak menangkap pergelangan tangan. Wah,
begini gampangkah? Dia sudah tertawa dalam hatinya karena yakin bahwa pergelangan tangan kiri yang
kecil itu sudah pasti akan dapat dia tangkap.
"Ayaaaaa... celaka...!"
Tubuh Souw Ki terjengkang dan roboh terus bergulingan ketika dia sengaja membanting diri ke belakang.
Dia meloncat bangun lagi dengan muka sebentar pucat sebentar merah sedangkan keringat dingin
membasahi lehernya. Dia sebentar marah, sebentar kemudian malu karena harus bersikap seperti itu di
depan orang banyak.
Dapat dibayangkan betapa kaget dan marahnya ketika dalam gebrakan pertama tadi saja dia sudah hampir
celaka. Kiranya tusukan tangan kiri Hui Kauw barusan memang sengaja dilakukan sebagai umpan.
Seakan-akan gadis itu membiarkan pergelangan tangan kirinya disambar, tapi tangan kanannya sudah
cepat ‘memasuki’ lowongan kedudukan lawan dan menyodok ke arah lambung di bawah iga.
Andai kata tadi Souw Ki tidak cepat-cepat membanting diri ke belakang, walau pun tangan kanannya akan
berhasil menangkap pergelangan tangan kiri lawan, akan tetapi dia sendiri juga pasti akan terkena pukulan
maut yang akhirnya dapat mengguncangkan jantungnya dan banyak kemungkinan akan menewaskannya!
Hui Kauw sekarang tersenyum mengejek. "Tiat-jiu Souw Ki, sudah kukatakan bahwa aku tidak suka
berkelahi mencari keributan. Masih belum terlambat apa bila kau sudahi saja pertempuran tiada guna ini."
Tiat-jiu Souw Ki adalah seorang yang sudah mempunyai banyak pengalaman bertempur dan ilmu
kepandaiannya pun tinggi, tentu saja dia tak menjadi gentar menghadapi bahaya yang tadi hampir
membuatnya kalah itu. Dia maklum bahwa hal tadi dapat terjadi bukan semata-mata karena lawan terlalu
lihai, melainkan karena kesalahannya sendiri.
Dia tadi terlalu memandang rendah lawannya, sama sekali tak mengira bahwa lawannya, seorang
perempuan muda, mempunyai kecepatan dan kelihaian seperti itu. Dia sekarang menjadi penasaran dan
marah. Dibantingnya kaki kanannya dan dia membentak.
"Bocah sombong, jangan banyak mulut. Lihat pukulan!"
Tanpa sungkan-sungkan lagi kini Tiat-jiu Souw Ki kembali menerjang Hui Kauw dengan kedua kepalan
tangannya yang kuat terlatih sehingga dia mendapat julukan Tiat-jiu atau Si Tangan Besi. Pukulannya
sampai mendatangkan angin saking keras dan cepatnya.
Akan tetapi Hui Kauw memiliki keanehan yang telah matang. Sebagai puteri Ching-toanio yang sudah
mewarisi kepandaian manusia iblis Siauw-coa-ong Giam Kin, tentu saja Hui Kauw memiliki dasar ilmu silat
dunia-kangouw.blogspot.com
yang tinggi. Menghadapi penyerangan Souw Ki yang biar pun ganas namun sebagian besar hanya
berdasarkan tenaga kasar itu, ia tidak menjadi gugup. Dengan tenang tapi cepat nona ini menggeser
kakinya, mengelak dengan cekatan sekali sambil mengayunkan kaki kiri membalas dengan sebuah
tendangan perlahan tetapi berbahaya karena yang dijadikan sasaran ujung sepatu adalah pusar lawan!
Tiat-jiu Souw Ki menggeram. Tangan kirinya menyambar kaki dengan niat mencengkeram hancur kaki
mungil itu, sedangkan tangan kanannya menjotos kepala nona yang besarnya sebanding dengan kepalan
tangannya.
Serangan balasan yang amat dahsyat ini dihadapi oleh Hui Kauw dengan memperlihatkan ginkang-nya
yang mengagumkan. Tanpa menarik kakinya yang menendang itu, Hui Kauw sudah menjejakkan kaki
kanannya ke atas tanah sehingga tubuhnya mumbul ke atas, lalu bergerak miring untuk membebaskan diri
dari pukulan Souw Ki dan otomatis kaki yang menendang juga menyamping, akan tetapi bukan berarti
membatalkan tendangan karena kaki itu masih terus menendang dari arah yang berlainan dengan sasaran
berubah pula, kini dari ‘udara’ nona itu menendang ke arah belakang telinga kanan lawan.
"Setan!" Souw Ki memaki.
Terpaksa dia merendahkan tubuhnya karena tendangan dari atas itu tidak sempat untuk dia tangkis lagi.
Dia hendak menyusuli serangan berikutnya, namun gadis itu lebih cepat lagi.
Ketika tendangannya luput Hui Kauw melayang turun dan langsung sambil meloncat turun ini ia mengirim
pukulan dengan jari tangan terbuka. Pukulan kedua tangannya yang kecil itu sangat cepat dan bertubi-tubi
datangnya, bagai sebuah kitiran angin sehingga kelihatan seakan-akan kedua lengannya berubah menjadi
belasan buah banyaknya yang serentak menghujankan pukulan-pukulan ke pelbagai sasaran berbahaya.
Souw Ki terpaksa meloncat kian ke mari sambil kedua tangannya sibuk bergerak untuk melindungi bagian
tubuhnya yang lemah. Dia sampai berkeringat ketika lawannya sudah menerjangnya sebanyak belasan
jurus, sebab dia betul-betul kalah cepat sehingga sama sekali tidak mendapat kesempatan untuk balas
menyerang. Jangankan balas menyerang, bernapas pun agaknya hampir tidak ada kesempatan. Tubuh
Hui Kauw bergerak-gerak makin lama makin cepat, mengitari dirinya sehingga matanya menjadi berkunang
dan dia sudah melihat empat lima orang Hui Kauw menari-nari di sekelilingnya!
"Plak-plak-plak!"
Tiga kali telapak tangan Hui Kauw menampar pipi, leher dan pundak. Panas rasanya dan membuat
pandang mata Souw Ki berkunang.
Memang kembali Hui Kauw sudah memperlihatkan kemurahan hatinya. Tiga kali pukulan ini sudah menjadi
bukti cukup bahwa dalam ilmu silat tangan kosong, dia jauh lebih lihai dan lebih cepat. Apa bila dia mau,
sebagai seorang ahli silat tinggi, sekali menjatuhkan tangan tentu mampu mencari sasaran yang
mematikan, akan tetapi sampai tiga kali dia hanya menampar saja.
Souw Ki mengeluh dan cepat dia melompat ke belakang sehingga menabrak kursi yang lantas menjadi
remuk! Dua orang anak buahnya cepat menghampirinya untuk menolong pemimpin mereka yang
terhuyung itu, akan tetapi Souw Ki membentak,
"Pergi kalian!"
Kakinya melayang dan... dua orang pembantu yang sial itu langsung terlempar kemudian mengaduh-aduh.
Kiranya saking marah dan mendongkolnya, Si Tangan Besi ini mencari korban dan melampiaskan kepada
dua orang anak buah yang hendak menolongnya.
"Tiat-jiu Souw Ki, kiranya sudah cukup sekarang." Hui Kauw kembali membujuk untuk menyudahi saja
pertempuran yang tiada gunanya itu.
"Wuuuttttt!" Ruyung baja yang berat itu sudah berada di tangan kanan Souw Ki.
"Iblis betina, jangan mengira kau sudah mampu mengalahkan aku! Hemmm, memang kau menang cepat,
tetapi cobalah kecepatanmu dengan ruyungku ini, akan hancur kepalamu. Hayo, cabut pedangmu itu!"
dunia-kangouw.blogspot.com
Terdengar suara berkerotan ketika Souw Ki menggertak gigi saking marah dan malunya karena dia telah
ditelan mentah-mentah oleh seorang dara yang masih hijau. Tak sampai tiga puluh jurus dikalahkan. Hebat
ini!
Ketika dia dikalahkan Bi-yan-cu Tan Loan Ki dalam memperebutkan mahkota, dia masih dapat
menghadapi Walet Jelita itu sampai hampir seratus jurus. Masa sekarang terhadap gadis muka hitam ini,
belum tiga puluh jurus dia sudah kena dikemplang tiga kali.
Kekalahannya dari Bi-yan-cu Tan Loan Ki masih bisa dia maklumi setelah dia mendengar bahwa dara
lincah itu adalah puteri Sin-kiam-eng Tan Beng Kui. Akan tetapi kekalahan terhadap seorang gadis muka
hitam yang tidak ternama sama sekali? Benar-benar bisa membikin dia muntah darah segar saking
dongkolnya!
Hui Kauw makin gelisah. Celaka, pikirnya, monyet tua ini sungguh-sungguh tidak tahu diri. Kepandaiannya
hanya sekian saja tapi mau digunakan untuk menjual lagak. Tidak dilayani tidak mungkin, kalau dia dilayani
dan bertempur menggunakan senjata, tentu lebih hebat ekornya. Maka dia hanya berdiri dan memandang
ragu ketika Souw Ki memutar-mutar ruyung berat itu di atas kepala dengan sikap beringas.
Melihat keraguan Hui Kauw, kembali Souw Ki si pengung (si tolol) itu salah tafsir, mengira nona ini takut
menghadapi senjatanya yang menyeramkan itu.
"Tidak lekas mencabut senjatamu? Nah, rasakan ini ruyung pencabut nyawa!"
"Weerrr!"
Ruyung yang beratnya tidak kalah dengan tiga perempat karung beras itu melayang dan angin pukulannya
saja sudah membuat rambut halus di kepala Hui Kauw berkibar.
"Singgggg!"
Senjata itu lewat di atas telinga Hui Kauw yang cepat-cepat menundukkan kepala untuk mengelak. Nona
ini maklum bahwa biar pun lawannya hanya mengandalkan tenaga besar dan senjata berat, namun ruyung
itu dapat merupakan bahaya juga baginya.
Tangannya bergerak dan pada lain detik pedangnya telah terhunus dan berada di tangan kanan. Kakinya
menggeser ke belakang membentuk kuda-kuda yang ringan, kaki kanan berdiri lurus dengan tumit
diangkat, kaki kiri menyilang lutut, tangan kiri dikepal dan hanya jari telunjuk dan jari tengah menuding ke
atas di belakang kepala, pedang di tangan kanan melintang di depan dada dari kiri ke kanan dengan
pergelangan tangan ditekuk membalik. Kuda-kuda yang sukar akan tetapi memperlihatkan sikap yang
gagah dan manis.
Tiat-jiu Souw Ki mendapat hati ketika gadis itu tadi mengelak dan sekarang mencabut pedang. Terang
bahwa gadis itu menganggap ruyungnya ampuh dan berbahaya. Sambil berseru keras dia kembali
menggerakkan ruyungnya sekuat tenaga. Kalau gadis ini berani menangkis, aku akan membikin
pedangnya patah atau terpental, pikirnya sombong.
Namun tentu saja Hui Kauw bukanlah sebodoh yang disangka Souw Ki. Gadis ini sebagai seorang ahli silat
kelas tinggi, maklum pula akan bahayanya jika ia mengadu senjatanya secara keras melawan keras
dengan ruyung lawan, sebab ia kalah tenaga dan senjatanya pun kalah berat. Dia mengandalkan
kelincahannya untuk menghindarkan diri dari semua amukan ruyung itu, sedangkan pedangnya berkelebat
merupakan sinar yang bergulung-gulung mencari kesempatan baik untuk menggores kulit lawan.
Memang hebat juga permainan ruyung dari Tiat-jiu Souw Ki ini. Kalau dalam hal ilmu silat tangan kosong ia
adalah seorang nekat yang hanya mengandalkan kekuatan otot-ototnya, kini dalam permainan ruyungnya,
dia benar-benar memiliki ilmu silat yang cukup tinggi, tidak hanya menggunakan tenaga otot namun juga
mempergunakan kecerdikan otaknya sesuai dengan siasat ilmu ruyungnya. Biar pun ruyung itu merupakan
senjata yang berat, namun di tangan Souw Ki berubah menjadi senjata ringan dan cepat sekali diputarnya,
mendatangkan angin dan mengeluarkan bunyi.
Hui Kauw melayaninya dengan ilmu pedang yang ia pelajari dari ibunya, yaitu dari Ching-toanio. Ilmu
pedang Ching-toanio ini pada dasarnya adalah Ilmu Pedang Kong-thong-pai, karena nyonya ini dahulu
pernah belajar ilmu pedang dari seorang tokoh Kong-thong-pai yang merahasiakan namanya.
dunia-kangouw.blogspot.com
Akan tetapi karena semenjak mudanya Ching-toanio berkecimpung dalam dunia golongan hitam, tentu saja
ia mempelajari banyak jenis ilmu silat dan juga termasuk ilmu pedang. Oleh karena inilah, terdorong pula
oleh bakat dan kecerdikannya, ia bisa menggabungkan beberapa macam jurus ilmu pedang menjadi satu
dengan Ilmu Pedang Kong-thong-pai.
Malah sesudah menjadi kekasih Siauw-coa-ong Giam Kin si manusia iblis, ia banyak pula mewarisi ilmu
silat yang amat tinggi dari Giam Kin. Ia mencampuri pula ilmu pedangnya dengan ilmu yang ia dapat dari
kekasihnya ini. Tidaklah heran apa bila ilmu pedang yang kini dimainkan oleh Hui Kauw merupakan ilmu
pedang campuran yang selain lihai, juga amat sukar untuk dikenal oleh Souw Ki.
Setelah lewat dari tiga puluh jurus dan selama itu Hui Kauw hanya mengambil kedudukan
mempertahankan dan menjaga diri saja, mulailah Souw Ki kaget dan gentar. Dia maklum bahwa ternyata
gadis ini memiliki ilmu kepandaian yang hebat, malah agaknya lebih hebat dari pada si dara lincah Loan Ki,
buktinya kalau dulu Loan Ki melawannya dengan keras dan balas menyerang, adalah gadis ini seenaknya
saja mempertahankan diri tanpa balas menyerang.
Kadang-kadang malah gadis ini membenturkan pedangnya dengan ruyung, bukan untuk mengadu senjata
atau tenaga, melainkan untuk mempermainkannya saja karena begitu bertemu, pedang itu menyelinap di
antara gulungan bayang ruyung lalu menyambar dekat bagian-bagian berbahaya seperti leher, ulu hati,
lambung dan tempat-tempat yang sekali tusuk tentu akan menghentikan perjalanan napas!
Memang demikianlah kehendak Hui Kauw. Ia ingin memperlihatkan kepada Tiat-jiu Souw Ki bahwa kalau ia
menghendaki, sudah sejak tadi ia dapat merobohkan orang itu. Akan tetapi, dasar lawannya yang hendak
menang sendiri saja.
Tiat-jiu Souw Ki pantang mengalah, apa lagi dia berada di kota raja di mana berkumpul banyak sekali anak
buahnya dan juga atasan-atasannya serta teman-teman sekerjanya yang masih lebih lihai dari padanya.
Bukannya mengaku kalah, dia malah penasaran dan memutar ruyungnya lebih ganas lagi.
"Manusia tak tahu diri, lepaskan ruyung!" tiba-tiba Hui Kauw membentak.
Pedangnya berkelebat menyerang dan... Tiat-jiu Souw Ki berteriak kesakitan, meloncat mundur sambil
terpaksa melepaskan senjatanya karena lengan kanannya serasa terbabat pedang!
Dengan muka pucat dia memeriksa lengannya yang mengeluarkan darah dari siku sampai ke pergelangan,
takut kalau-kalau lengannya itu akan menjadi buntung atau cacad. Akan tetapi lega hatinya melihat bahwa
lengannya itu hanya luka ringan tergurat ujung pedang, namun memanjang dari siku sampai pergelangan
sehingga mengeluarkan banyak sekali darah.
Sebetulnya macam dari lukanya ini saja cukup menjadikan bukti bahwa lawannya si gadis muda itu
merupakan seorang yang amat lihai dan juga yang telah menaruh belas kasihan kepadanya. Akan tetapi
kesombongan sudah membutakan matanya terhadap kenyataan, bahkan rasa malu dan penasaran
membuat dia berseru keras.
"Serbu! Tangkap pemberontak ini!"
Serentak sebelas orang anak buahnya segera maju mengeroyok dengan senjata mereka. Hui Kauw marah
bukan main dan terpaksa dia harus mengangkat pedangnya menangkis dan melakukan perlawanan.
Dengan kecepatannya, belum sepuluh jurus dia berhasil melukai lengan dan pundak dua orang
pengeroyok sehingga mereka ini terpaksa melepaskan senjata masing-masing, lalu menendang roboh
seorang lagi. Akan tetapi keributan ini akhirnya menarik datang para penjaga lainnya sehingga
pertempuran di ruangan rumah penginapan itu makin ramai.
Hui Kauw merasa makin marah, penasaran, juga menyesal. Tahulah ia sekarang bahwa ia berada dalam
keadaan yang sulit sekali. Mencari orang tua belum ketemu, tahu-tahu berada dalam keadaan sesulit ini.
Tiba-tiba terdengar seruan keras dan semua pengeroyok itu melompat mundur, memberi jalan kepada dua
orang yang baru tiba. Hui Kauw merasa lega hatinya, akan tetapi dia tetap waspada.
dunia-kangouw.blogspot.com
Ketika ia melirik, ia melihat dua orang laki-laki yang baru datang memasuki ruangan itu, dipandang oleh
para pengeroyoknya tadi dengan sikap menghormat. Ia dapat menduga bahwa dua orang ini tentulah
orang lihai yang mempunyai kedudukan tinggi sehingga ia makin memperhatikan.
Seorang diantara mereka adalah pemuda yang berpakaian gagah dan berwajah tampan serta halus gerakgeriknya.
Senyumnya menarik dan matanya tajam, namun Hui Kauw yang berperasaan halus dapat
menangkap sesuatu yang menyeramkan di balik senyum dan kerling menarik ini, sesuatu yang tak dapat ia
mengerti apa adanya akan tetapi yang membuat ia waspada, seperti kalau orang melihat keindahan pada
muka dan kulit harimau atau ular yang menyembunyikan sesuatu yang menyeramkan dan mengancam di
balik keindahannya itu.
Orang ke dua adalah seorang kakek yang kurus kecil, usianya lima puluhan. Pakaiannya sederhana tapi
penutup kepalanya mewah dan berhias permata. Mukanya biasa seperti orang kurang tidur sehingga mata
itu nampaknya hendak meram saja saking ngantuknya, tangan kanannya memegang sebatang tongkat
bengkok.
Melihat kedua orang ini, diam-diam Hui Kauw menduga bahwa tentu kakek ini memiliki kepandaian tinggi,
ada pun orang muda tampan itu sebaliknya malah ia pandang rendah. Mungkin dia hanya seorang putera
bangsawan yang berlagak dan sombong.
Pemuda itu bukanlah sembarang orang seperti yang diduga Hui Kauw, karena sebetulnya dia bukan lain
adalah The Sun, jago muda Go-bi-pai yang amat lihai itu. Kebetulan dia lewat di jalan raya depan rumah
penginapan itu bersama katek yang bukan lain orang adalah Bhong Lo-koai, seorang di antara para
pengawal kaisar.
Pada saat itu mereka berdua bertemu dengan Tiat-jiu Souw Ki yang dengan muka pucat dan lengan
berdarah berlari ke luar dari rumah penginapan untuk mencari bala bantuan. Mendengar bahwa di dalam
rumah penginapan ada seorang gadis lihai sedang dikeroyok, The Sun tertarik dan mengajak Bhong Lokoai
untuk melihat.
Begitu memasuki ruangan dan melihat sepak-terjang Hui Kauw yang luar biasa dan yang jelas
memperlihatkan sebagai seorang ahli silat tinggi, The Sun segera membentak dan menyuruh mundur
semua pengeroyok. Tentu saja mereka semua mengenal ‘The-kongcu’ ini, orang yang boleh dibilang duduk
di tingkat tinggi dari pada deretan orang-orang yang dijadikan tangan kanan kaisar baru.
Kini pemuda itu tersenyum-senyum sambil memandang Hui Kauw yang cepat membuang muka, tidak sudi
bertemu pandang lebih lama lagi dengan pemuda tampan yang menjual lagak sambil cengar-cengir itu.
"Nona yang gagah perkasa, agaknya kau masih amat asing di kota raja ini sehingga tidak mengenal siapa
para pengeroyokmu ini dan siapa pula aku dan Lo-enghiong ini. Andai kata kau mengenal kami, baik kau
datang dari golongan hitam atau pun putih, agaknya kau tidak nekat membuat ribut." Ucapan ini halus,
tetapi penuh teguran dan mengandung sikap memperlihatkan kekuasaan.
Hui Kauw bukanlah tergolong wanita galak, malah sebaliknya ia mempunyai watak halus dan penyabar.
Akan tetapi karena ia sudah mengalami pengeroyokan yang memanaskan hatinya, juga karena pertemuan
pertama dengan The Sun mendatangkan kesan yang tak sedap di hatinya maka ia pun tidak mau tunduk
begitu saja dan menjawab dengan sama dinginnya.
"Memang aku adalah seorang asing di sini, akan tetapi apakah ini merupakan alasan bagi orang-orangmu
untuk bisa berlaku sewenang-wenang? Aku tak mencari keributan, adalah orang-orangmu dan si Tiat-jiu
Souw ki yang sombong tadilah yang memaksaku. Sekarang juga aku minta kalian pergilah dari sini,
tinggalkan dan jangan ganggu aku, aku pun tidak ingin bertempur dengan siapa pun juga!"
Kembali The Sun tersenyum-senyum yang amat mencurigakan hati Hui Kauw. Pemuda ini tentu saja sudah
mendengar semua persoalannya dari Souw Ki bahwa gadis ini sangat mencurigakan, dan segera
menyuruh pelayan menyelidiki tentang seorang hartawan she Kwee yang dahulu kehilangan anak
perempuannya.
"Nona harus tahu bahwa di kota raja ini, kami para petugas yang berkuasa dan berhak mengawasi
keamanan kota raja. Kau adalah orang asing, tetapi datang-datang melakukan penyelidikan tentang
seorang hartawan, bukankah hal itu amat mencurigakan? Tapi yang sudah biarlah lalu, sekarang kuharap
dunia-kangouw.blogspot.com
kau suka memperkenalkan diri dan mengaku terus terang apa maksudmu melakukan penyelidikan itu dan
apa pula maksud kedatangan Nona di kota raja ini?"
Hui Kauw bukan seorang bodoh. Ia dapat mengerti kebenaran dalam ucapan orang muda ini. Akan tetapi
karena tadi sudah terlanjur dikeroyok, ia tidak dapat menekan kedongkolan hatinya begitu saja.
"Sudah kukatakan tadi bahwa namaku Hui Kauw, dan bahwa aku datang untuk urusan pribadi mencari
keluarga, tidak menyinggung siapa pun juga dan tidak berniat membikin ribut. Sudahlah, harap kalian pergi
meninggalkan aku!"
"He-heh-heh, anak ini memiliki kepandaian, tentu dia mengandalkan kepandaiannya dan perguruannya,"
tiba-tiba kakek dengan tongkat bengkok itu berkata perlahan dengan mata masih mengantuk. "Nona, kau
murid siapa? Tentu gurumu sudah mengenal aku Bhong Lo-koai."
"Betul, Nona. Katakan siapa gurumu, mungkin aku The Sun sudah pernah mendengar namanya pula,"
sambung The Sun.
"Aku tidak mempunyai guru, sudahlah, aku tidak ingin diganggu," jawab Hui Kauw yang merasa gemas
bukan main karena nama-nama itu tidak ada artinya sama sekali baginya.
The Sun dari Bhong Lo-koai adalah orang-orang yang memiliki kedudukan tinggi, semua penjaga kota raja
menaruh hormat kepada mereka. Sekarang, di depan para penjaga itu, gadis ini tidak memandang mata
kepada mereka, tentu saja mereka menjadi gemas juga.
Hemmm, kau mengandalkan apamu? Demikian The Sun berpikir gemas. Mukamu hitam buruk, siapa yang
tertarik? Biar kepandaianmu setinggi langit, mana mampu melawanku.
"Bhong-lo-enghiong, dapatkah kau mencari tahu dari perguruan mana nona ini?”
Bhong Lo-koai tertawa, kemudian melangkah maju menghadapi Hui Kauw sambil berkata, "Nona,
pedangmu masih di tangan. Nah, kau boleh coba hadapi tongkat bututku, dalam sepuluh jurus kalau kau
belum kalah berarti kau termasuk orang pandai. Dan kau boleh balas menyerangku, aku bukan Bhong Lokoai
kalau tak dapat mengenal ilmu pedangmu."
Hui Kauw semakin mendongkol. Tua-tua sudah kurang tidur begitu masih bisa berlagak, pikirnya.
"Aku hanya mau membela diri, sama sekali tak sudi mencari ribut dengan siapa pun juga. Kalau kau mau
mengganggu aku, silakan, aku tidak takut. Kalau tidak, jangan banyak bicara, pergilah tinggalkan aku!"
"Heh-heh-heh, lihat serangan!"
Bhong Lo-koai menggerakkan tongkatnya dan Hui Kauw membenarkan dugaannya tadi bahwa kakek ini
adalah seorang yang ‘berisi’, tidak seperti Tiat-jiu Souw Ki. Sambaran tongkat bengkok itu tidak
mengeluarkan suara, namun ujung tongkat menggetar-getar dan tusukannya mengandung tenaga dalam
yang hebat.
Cepat Hui Kauw mengubah kedudukan kaki, agak miring untuk menghindarkan tusukan sambil
mengelebatkan pedang mencari kesempatan membalas. Tiga kali Bhong Lo-koai menyerang hebat dan
tiga kali Hui Kauw mengelak, namun belum juga Bhong Lo-koai dapat mengenal gerakan mengelak sampai
tiga kali ini. Memang tidak gampang mengenal ilmu silat Hui Kauw karena seperti telah diterangkan tadi,
ilmu silat nona ini adalah ciptaan Ching-toanio yang mengawinkan banyak macam ilmu silat.
Karena penasaran, Bhong Lo-koai tidak berani memandang rendah lagi. Kini tongkatnya menyambarnyambar
laksana seekor ular terbang, mengurung tubuh Hui Kauw dari empat jurusan! Bila tidak dapat
mengenal ilmu nona ini, setidaknya dia harus dapat merobohkan gadis ini!
Namun benar-benar perhitungannya meleset. Ilmu tongkat dari Bhong Lo-koai memang aneh sehingga dia
memperoleh julukan Koai-tung (Si Tongkat Aneh), akan tetapi betapa pun hebatnya ilmu tongkatnya, dia
tidak sanggup menembus dinding sinar pedang Hui Kauw yang amat kokoh kuat.
Di lain pihak, Hui Kauw masih saja mainkan ilmu pedang warisan ibu angkatnya, karena dengan ilmu
pedang ini pun ia masih mampu menandingi ilmu tongkat kakek itu. Ia tidak menghendaki pertumpahan
dunia-kangouw.blogspot.com
darah, tidak mau sembarangan melukai apa lagi membunuh orang, maka juga ia tidak sampai
menggunakan ilmu pedang simpanannya yang bersifat ganas dan yang ia tahu amat ampuh dan sekali
turun tangan mungkin akan menjatuhkan korban itu.
Lima puluh jurus telah lewat. Mendafak kakek itu berseru keras sekali ketika pedang Hui Kauw membentur
tongkatnya dan tahu-tahu pedang itu melenting ke atas, lalu dengan gerakan aneh berlenggang-lenggok
mengarah lehernya. Sambil berseru ini Bhong Lo-koai menarik tongkatnya dan cepat melompat ke
belakang untuk menyelamatkan diri dari pada tusukan pedang.
"Tahan dulu!" demikian teriaknya dan sepasang mata yang biasanya mengantuk itu kini terbuka agak lebar
karena herannya. "Nona, jawablah yang betul, kau masih terhitung apa dengan Siauw-coa-ong Giam Kin?"
Hui Kauw maklum bahwa agaknya kakek ini mengenalnya dari ilmu pedang yang memang mengandung
pula inti sari ilmu silat ayah angkatnya itu, malah dahulu pernah pula dia langsung mendapat petunjuk dan
latihan dari ayah angkatnya itu.
"Dia adalah ayah angkatku, apa sangkut-pautnya denganmu?" jawabnya dengan suara masih tetap dingin.
Mendadak kakek itu tertawa dan menoleh kepada The Sun yang juga kelihatan girang. "Aha, The-kongcu,
kiranya orang sendiri! Nona, jika begitu kau she Giam pula! Ha-ha-ha, kalau tidak bertempur mana kenal?
Nona yang baik, aku adalah kenalan baiknya, malah sahabat baik."
The Sun juga menjura dengan sikap hormat. "Kiranya Giam-lihiap adalah puteri angkat mendiang Giam loenghiong.
Pantas begini lihai. Aku The Sun mengharap supaya kau sudi memaafkan orang-orangku yang
salah mata. Tentu saja terhadap puteri angkat Giam lo-enghiong, kami tidak menganggap musuh dan
sama sekali tak berani menaruh curiga. Sesungguhnya di antara kita masih ada hubungan persahabatan!"
The Sun lalu mengusir semua penjaga, malah segera memerintah para pengurus rumah penginapan itu
untuk menyediakan hidangan untuk menghormati Nona Giam Hui Kauw. Ruangan yang tadinya dijadikan
arena pertempuran, dalam sekejap mata saja lalu diubah menjadi tempat pesta, dengan meja yang ditilami
kain merah berkembang dan sebentar kemudian berdatanganlah arak wangi dan masakan-masakan lezat
yang masih panas, diambilkan cepat-cepat dari restoran terbesar yang berdekatan.
Hui Kauw merasa tidak enak sekali. Jangan dikira hatinya lantas menjadi girang karena permusuhan
berubah menjadi persahabatan, karena makin rendah saja nilai orang-orang ini di dalam pandangannya. Ia
sendiri sudah cukup tahu orang apa adanya Giam Kin ayah angkatnya itu, maka kalau orang-orang ini
mengaku sebagai sahabat ayah angkatnya, terang bahwa mereka ini biar pun memiliki kedudukan tinggi di
kota raja, juga bukan terdiri dari orang-orang yang baik.
Akan tetapi tentu saja ia tidak dapat menolak uluran tangan mereka, dan tidak dapat menolak pula
penghormatan berupa hidangan itu. Diam-diam ia lega juga bahwa ia tidak jadi menimbulkan keonaran di
kota raja dan dapat mencari orang tuanya dengan leluasa.
Beberapa kali The Sun dengan sikap menghormat dan manis menuangkan arak dan mengajak nona itu
minum, kemudian dalam percakapan itu The Sun bertanya,
"Nona, saya mendengar dari Souw Ki bahwa kau sedang mencari keluargamu dan kau menyelidiki tentang
seorang hartawan she Kwee yang dulu pernah kehilangan puterinya. Sebetulnya, kau mencari siapakah?
Kau percayalah kepadaku, kalau orang yang kau cari itu betul-betul berada di kota raja, aku The Sun pasti
akan dapat menemukannya. Anak buahku tersebar di seluruh kota dan mengenal setiap orang penduduk."
"Betul ucapan The Sun ini, Nona," sambung pula Bhong Lo-koai. "Kami pasti akan dapat mencarikan orang
itu. Tidak baik kalau Nona sendiri pergi mencari karena khawatir akan terjadinya hal-hal tidak enak akibat
salah mengerti."
Diam-diam Hui Kauw mempertimbangkan hal ini. Tentu saja dia tidak bermaksud untuk membuka
rahasianya sendiri, akan tetapi jika dibantu oleh The Sun, tentu lebih mudahlah untuk dapat bertemu
dengan ayah bundanya. Ia meneguk araknya lalu berkata manis,
"Terima kasih banyak, ji-wi (kalian berdua) baik sekali. Sebetulnya aku masih keluarga jauh dari seorang
she Kwee yang tinggal di kota raja semenjak belasan tahun yang lalu. Sayangnya, karena aku hanya
mendengar hal ini dari mendiang kakekku, aku yang sejak kecil tak pernah bertemu muka dengan keluarga
dunia-kangouw.blogspot.com
Kwee itu hanya tahu bahwa di kota raja dan belasan tahun yang lalu, keluarga ini kehilangan seorang anak
perempuan. Tentu saja aku tak bermaksud untuk menyusahkan dan merepotkan ji-wi, akan tetapi kalau jiwi
dapat mencarikan keluarga ini untukku aku akan berterima kasih sekali."
The Sun menoleh pada Bhong Lo-koai yang tampak termenung. "Lo-enghiong, kau yang lebih lama tinggal
di sini dari pada aku, apakah tidak mengenal orang yang dimaksudkan oleh Nona Giam?"
"Nanti dulu... nanti dulu..." kakek itu meraba-raba keningnya, kemudian dia mengangkat mukanya
memandang Hui Kauw. "Kau maksudkan hartawan Kwee yang kehilangan anak perempuannya? Anak
perempuan yang diculik penjahat belasan tahun yang lalu? Ahh... ahh... jangan-jangan yang engkau
maksudkan adalah Kwee-taijin (pembesar Kwee) yang sekarang menjabat pegawai tinggi bagian bendabenda
pusaka di istana. Aku ingat betul kejadian itu, kurang lebih tujuh belas tahun atau delapan belas
tahun yang lampau, pada suatu malam kota raja gempar karena puteri Kwee-wangwe (hartawan Kwee)
yang pada waktu itu belum menjadi pembesar namun sudah menjadi kenalan baik dari pangeran mahkota,
kabarnya diculik seorang penjahat wanita yang amat lihai. Banyak penjaga dan pengawal melakukan
pengejaran namun banyak yang jatuh menjadi korban penjahat wanita yang lihai itu. Aku ikut pula
mengejar akan tetapi sayang tidak bertemu dengan penjahat itu. Kabarnya, penjahat wanita itu akhirnya
kena dikepung oleh para pengawal, akan tetapi secara aneh dapat meloloskan diri karena tertolong oleh
seorang sakti yang tidak memperlihatkan diri. Benar-benar aneh... dan... jangan-jangan dia itu orang yang
kau maksudkan?"
Hui Kauw menahan debaran jantungnya. Tidak bisa salah lagi, tentu mereka itulah ayah bundanya. Anak
kecil yang diculik itu, siapa lagi kalau bukan dia? Penculik itu, penjahat wanita yang lihai, siapa lagi kalau
bukan ibu angkatnya, Ching-toanio yang dahulu masih bernama Liu Bwee Lan? Dan penolong sakti itu,
tentu saja mendiang Giam Kin! Dengan kekuatan batinnya dia menekan perasaan supaya mukanya tidak
menyatakan sesuatu, kemudian dia berkata dengan sikap gembira.
"Ahh, tentu dia orangnya! Dia masih pamanku, paman jauh... ahh, Bhong lo-enghiong, tolonglah, dapatkah
kau menunjukkan kepadaku, di mana rumahnya?"
The Sun dan Bhong Lo-koai saling bertukar pandang. Kwee-taijin adalah seorang yang penting
kedudukannya, dia pemegang kunci gudang benda-benda pusaka istana. Dalam keadaan politik sekacau
itu, mana bisa menaruh kepercayaan begitu saja kepada gadis lihai ini untuk mendatangi Kwee-taijin?
Siapa tahu gadis ini mengandung maksud buruk terhadap pembesar itu?
The Sun tersenyum. "Mudah saja, Nona. Kami mengenal baik pada Kwee-taijin. Marilah, sekarang juga
kami antar kau menghadap Kwee-taijin di rumahnya."
Orang yang berperasaan halus seperti Hui Kauw tentu saja dapat menangkap kecurigaan yang terkandung
dalam sikap dan pandang mata The Sun dan Bhong Lo-koai, akan tetapi ia tidak mempedulikannya karena
hatinya sudah terlampau girang mendengar keterangan tentang ayah bundanya ini. Soal ayahnya menjadi
pembesar atau bukan, itu urusan nanti. Yang penting baginya, ia dapat bertemu dengan ayah bundanya
yang asli, yang selama ini sering dikenangnya dan dirindukan semenjak ia mendengar penuturan pelayan
tua di Ching-coa-to.
"Aku tidak bermaksud merepotkah ji-wi, tapi..." dia bersungkan.
"Ah, tidak apa, Nona. Bukankah di antara kita adalah di antara orang segolongan sendiri? Tidak usah
sungkan, apa lagi memang kami adalah kenalan baik Kwee-taijin. Marilah."
Tiga orang itu segera meninggalkan penginapan, diantar oleh anggukan dan sikap sangat menghormat
oleh para pelayan dan pengurus rumah penginapan. Kiranya di depan rumah penginapan sudah tersedia
sebuah kereta kuda dan The Sun mempersilakan Hui Kauw naik bersama dia dan Bhong Lo-koai.
Hui Kauw merasa sungkan sekali. Akan tetapi karena hatinya dipenuhi kegembiraan dan ketegangan
hendak bertemu orang tuanya, dia tidak banyak menolak dan berangkatlah mereka sebagai pembesarpembesar
yang berkendaraan di kota raja!
Rumah Kwee-taijin amat besar dan mewah sehingga begitu memasuki pekarangan depan itu, hati Hui
Kauw sudah berdebaran dan dia merasa dirinya amat kecil. Rumah Ching-toanio di Ching-coa-to memang
juga besar dan indah, akan tetapi dibandingkan dengan bangunan-bangunan di kota raja, benar-benar
tidak ada artinya.
dunia-kangouw.blogspot.com
Rumah depannya itu dijaga beberapa orang prajurit yang memberi hormat ketika melihat The Sun dan
Bhong Lo-koai. Otomatis mereka menghormat Hui Kauw pula karena gadis ini datang bersama dua orang
tokoh itu. Apa lagi melihat gadis muka hitam ini membawa pedang di pinggang, para penjaga maklum
bahwa gadis ini tentulah juga seorang tokoh kang-ouw yang banyak berkeliaran di kota raja karena
bantuan mereka dibutuhkan oleh kaisar.
Penjaga pintu depan segera melapor ke dalam setelah mempersilakan tiga orang tamu ini duduk di ruang
tamu yang berada di depan, sebuah ruangan lebar yang penuh gambar-gambar indah dan tulisan-tulisan
sajak yang digantung pada sepanjang dinding tebal yang dikapur putih. Diam-diam Hai Kauw
membandingkan lukisan dan sajak-sajak itu dengan milik ibu angkatnya di Ching-coa-to dan merasa bahwa
lukisan-lukisan yang berada di sini tidak mampu melawan keindahan kumpulan lukisan ibu angkatnya.
Tak lama kemudian terdengar derap kaki dari dalam. Hati Hui Kauw sudah berdegupan tidak karuan, akan
tetapi ia terheran ketika melihat bahwa yang muncul dari pintu dalam adalah dua orang muda. Yaitu
seorang gadis dan seorang pemuda. Mereka masih muda benar, kurang lebih tujuh belas atau enam belas
tahun, akan tetapi sikap mereka gesit dan lincah, pakaian mereka mewah dan wajah mereka tampan dan
cantik.
"The-kongcu...!" dara remaja itu menegur sambil memberi hormat, suaranya berirama manja dan manis.
Diam-diam Hui Kauw mengerutkan keningnya. Gadis ini terlalu dimanja dan agaknya telah tergila-gila
kepada The Sun yang tampan! Bukan hal yang pantas kalau seorang dara remaja seperti dia itu keluar
menyambut tamu pria dengan sikap semanis itu.
"Nona Kwee, sepagi ini kau sudah tampak begini gembira dan segar cantik. Hendak ke manakah?" The
Sun menegur.
Diam-diam Hui Kauw dapat merasa betapa sikap The Sun ini dibuat-buat manis, seperti sikap seorang
dewasa terhadap anak-anak. Hemmm, agaknya pemuda berpengaruh ini tidak seceriwis yang
disangkanya, pikir Hui Kauw.
"Aku hendak pergi berburu dengan Kian-koko (kakak Kian)! Ah, kalau saja kau bisa ikut, The-kongcu, tentu
akan banyak hasilnya. Panahmu selalu tepat mengenai sasaran!" Dara lincah dan jelita itu berkata pula.
The Sun tersenyum dan menggeleng kepala. "Lain kali saja, sekarang aku lagi banyak urusan. Adik Kian,
hati-hati bila berburu, jangan terlalu jauh meninggalkan tembok kota," pesannya kepada pemuda remaja itu
yang sejak tadi memandang kepada Hui Kauw.
"Pelayan memberi tahu bahwa ada Bhong-Locianpwe dan The-kongcu bersama seorang nona mencari
ayah," katanya dengan suaranya yang besar dan keras.
"Ayah sedang mandi, kami dipesan agar mempersilakan kalian bertiga menanti sebentar."
"Baik, baik... tidak apa, hanya ada sedikit urusan," kata The Sun.
Sementara itu, pelayan datang membawa hidangan minuman. Hui Kauw merasa sangat canggung karena
dua orang muda itu tiada henti memandang kepadanya dengan sinar mata penuh selidik. Ia merasa tidak
enak, juga bingung, hatinya menduga-duga.
Dari percakapan ini ia dapat menduga bahwa dara remaja itu tentu adik si pemuda, apa lagi kalau dilihat
pada wajah mereka memang terdapat persamaan. Akan tetapi pemuda ini menyebut Kwee-taijin sebagai
ayahnya. Kalau ayah mereka ini, yaitu Kwee-taijin yang dimaksudkan itu, benar-benar adalah ayahnya
yang sejati, dengan sendirinya dua orang muda ini adalah adik-adiknya! Berpikir sampai di sini, hatinya
berdebar tidak karuan dan ia pun balas memandang penuh perhatian.
Makin berdebar hatinya ketika muncul pelayan yang berkata hormat. "Taijin menanti para tamu di ruangan
depan. Silakan sam-wi masuk."
The Sun dan Bhong Lo-koai bangkit berdiri. Hui Kauw juga mengikuti gerakan dua orang itu. Dua orang
anak muda tadi pun berdiri dan sambil tersenyum manis dara remaja itu berkata kepada The Sun,
dunia-kangouw.blogspot.com
"Kami juga akan berangkat, The-kongcu. Kalau kau sudah selesai dengan urusanmu dan ada waktu, kami
akan girang sekali jika kau menyusul kami ke hutan sebelah selatan."
The Sun hanya mengangguk-angguk sambil tersenyum dan memandang dua orang muda itu yang
berlarian ke luar rumah di mana menanti para pelayan yang sudah menyiapkan dua ekor kuda besar.
Sebentar kemudian terdengarlah derap kuda mereka meninggalkan tempat itu.
The Sun memberi isyarat kepada Hui Kauw untuk ikut memasuki ruangan depan yang ternyata lebih luas
dan lebih mewah dari pada ruangan tamu. Dengan mata tak berkedip Hui Kauw memandang lelaki
setengah tua yang segera bangun dari kursinya menyambut kedatangan mereka bertiga.
Laki-laki ini usianya tentu sudah lima puluh tahun lebih. Rambutnya sudah berwarna dua, akan tetapi yang
amat menarik adalah alisnya yang sudah putih seluruhnya. Wajahnya kurus, kelihatan lebih kurus dari
pada badannya yang berkerangka besar, tampan serta gerak-geriknya halus. Jari-jari tangan yang diangkat
ke dada untuk memberi hormat itu memiliki kuku-kuku yang panjang dan terawat, kuku seorang
sasterawan pada jaman itu. Senyumnya melebar, menyembunyikan sinar duka yang tergores pada
wajahnya sebagai bekas kepahitan hidup.
"Ah, kiranya The-kongcu dan Bhong-losu yang datang berkunjung. Tidak tahu siapa Nona ini?" pembesar
itu menyambut dengan suaranya yang halus.
Sikap yang tidak angkuh dan halus itu serta merta mendatangkan kesan baik dan amat mengharukan di
hati Hui Kauw yang cepat-cepat memberi hormat bersama The Sun dan Bhong Lo-koai.
"Kwee-taijin," kata Bhong Lo-koai setelah mereka dipersilakan duduk, "Justru kedatangan kami berdua ini
untuk mengantar Nona ini yang katanya masih terhitung keluarga dengan Kwee-taijin."
Hening sejenak, hening yang mencekam hati Hui Kauw, tetapi mendatangkan heran bagi Kwee-taijin.
Kedua orang jagoan itu hanya menanti sambil memandang penuh perhatian.
"Nona siapakah...?" Sepasang mata itu mengeluarkan sinar menyusuri wajah dan bentuk tubuh Hui Kauw,
lalu kembali ke wajah gadis itu dan menjadi ragu-ragu dan malah curiga ketika melihat muka yang
menghitam itu.
Rasa kecewa memenuhi hati Hui Kauw, membuat dia ingin sekali menangis. Kalau benar dia ini ayahnya,
mengapa tak mengenalnya lagi? Bagaimana mungkin ia mengaku begitu saja sebagai puterinya? Puteri
seorang bangsawan kaya raya? Apakah semua orang tak akan menyangka bahwa dia seorang penipu?
Apa buktinya bahwa ia anak pembesar ini? Dan bagaimana pula kalau ternyata bukan anaknya?
Suaranya gemetar ketika ia berkata, "Mohon maaf sebanyaknya, Taijin. Sesungguhnya, urusan ini
mengharuskan kehadiran Nyonya Taijin. Apa bila diijinkan, saya mohon supaya Nyonya Taijin dipersilakan
datang, baru saya akan bicara tentang urusan ini..."
Berubah wajah Kwee-taijin. Agaknya dia hendak marah, tetapi karena yang mengajukan permintaan yang
aneh ini adalah seorang gadis, dia dapat menahan kesabarannya.
Ada pun Bhong Lo-koai dan The Sun tidak heran mendengar ini malah The Sun segera berkata, "Kweetaijin,
Nona ini tahu bahwa belasan tahun yang lalu puteri taijin lenyap diculik orang..."
"Ahh...!" Pembesar itu berseru kaget. "Kau tahu...? Di mana dia itu sebenarnya? Di mana anakku...?"
Kemudian pembesar ini sadar akan kegugupannya, maka dia segera bertepuk tangan memanggil pelayan,
lalu katanya, "Pergi menghadap nyonya besar dan katakan bahwa aku minta ia datang ke ruangan depan
sekarang juga."
Pelayan pergi dan keadaan hening kembali. Kini Kwee-taijin kembali menatap wajah Hui Kauw penuh
perhatian dan seperti tadi, dia menjadi curiga dan ragu-ragu melihat wajah yang hitam itu karena
sepanjang ingatannya, dia tidak mempunyai keluarga atau anak kemenakan yang berwajah hitam seperti
nona ini.
"Kau betul-betul tahu tentang puteriku yang diculik orang itu?"
dunia-kangouw.blogspot.com
"Saya tahu betul, Taijin," jawab Hui Kauw perlahan dan di dalam hatinya nona ini berdoa semoga nyonya
pembesar ini kalau memang betul-betul ibu kandungnya, akan mengenal dirinya.
Sementara itu, diam-diam The Sun dan Bhong Lo-koai telah siap siaga menjaga segala kemungkinan
untuk melindungi pembesar itu dan isterinya, karena mereka pun merasa curiga kepada nona muka hitam
itu. Dengan pandang mata tajam The Sun menatap wajah Hui Kauw dan melihat betapa wajah nona yang
kehitaman itu mendadak menjadi pucat ketika terdengar langkah ringan dan halus dari sebelah dalam,
langkah seorang wanita.
Benar saja, tak lama kemudian muncullah seorang wanita setengah tua yang masih amat cantik dan halus
gerak-geriknya, tapi bermata sayu tanda penderitaan batin dan wajahnya yang pucat menandakan
kesehatan yang buruk. Begitu melihat wajah nyonya ini, seketika Hui Kauw memandang dengan mata
terbelalak dan ia seperti terkena pesona.
Inilah wajah yang sering kali dia lihat di dalam mimpi, dan sekaligus hatinya jatuh. Kasih sayang dan
keharuan memenuhi hatinya, membuat dua matanya tak dapat menahan lagi bertitiknya dua air mata.
Mulutnya serasa kering, lehernya serasa tercekik dan jantung di dalam dada meloncat-loncat.
Nyonya itu juga seperti tercengang melihat Hui Kauw, keningnya berkerut mengingat-ingat karena ia
merasa seperti pernah melihat wajah gadis ini. Hanya muka yang kehitaman itu membuat dia menjadi
ragu-ragu karena seingatnya belum pernah dia mengenal seorang nona bermuka hitam seperti nona ini.
Melihat adanya The Sun dan Bhong Lo-koai yang sudah dikenalnya, ia segera menjura dengan hormat
yang cepat dibalas oleh kedua orang tamu itu, kemudian ia menghadapi suaminya sambil berkata halus,
"Ada keperluan apakah maka aku dipanggil ke sini?"
Karena hatinya masih merasa tegang, Kwee-taijin hanya menuding ke arah Hui Kauw sambil berkata,
"Nona ini... dia bilang tahu tentang... Ling-ji (anak Ling)...”
Seketika wajah yang sudah pucat itu menjadi semakin pucat, kedua mata yang sayu itu memandang
terbelalak kepada Hui Kauw. Kedua kakinya yang kecil lalu melangkah maju sampai dekat. "Kau tahu... kau
tahu... mana dia Ling Ling anakku...?"
Hati Hui Kauw seperti ditusuk-tusuk rasanya. Ia terharu sekali dan diam-diam ia merasa bahagia karena
ibu ini ternyata sangat kasih kepada puterinya yang hilang diculik orang. Akan tetapi dia tidak boleh
sembrono, tak boleh begitu saja mengaku-aku sebagai anak mereka, karena biar pun hubungan darah di
antara mereka telah menggetarkan jiwanya, akan tetapi ia tidak mempunyai bukti yang sah. Bagaimana
kalau wanita ini bukan ibunya?
"Nyonya...," suaranya gemetar dan sukar keluarnya, "Dapatkah Nyonya katakan, apakah anakmu yang
hilang itu memiliki tanda-tanda atau ciri-ciri tertentu sehingga dapat dikenal kembali?"
Nyonya itu memejamkan kedua matanya, seakan-akan hendak membayangkan kembali anak kecil yang
lenyap di waktu malam itu, ingat ketika dengan amat gembira dan penuh bahagia dia memandikan anak itu
setiap hari, anak tunggal yang sangat disayanginya.
Dengan jelas tampak dalam bayangan ini betapa anaknya memiiki sebuah tanda merah di belakang leher,
seperti tahi lalat tapi merah, dan dulu sering kali ia menggosok-gosok agar tanda itu hilang. Malah
suaminya menghiburnya bahwa tanda tahi lalat seperti itu tidaklah buruk. Apa lagi bila anak itu sudah besar
kelak, tentu tanda itu akan tertutup oleh rambut. Pula, tanda sekecil itu kiranya malah menjadi penambah
manis pada leher yang berkulit putih.
"Ada... ada..." katanya sambil membuka mata dan memandang suaminya. "...kau tentu masih ingat, tahi
lalat merah di belakang leher..."
Kwee-taijin mengerutkan kening mengingat-ingat, kemudian dia berkata sambil tersenyum penuh harapan,
"Betul, ada tahi lalat merah di tengkuk, ibunya selalu meributkan hal itu."
Mendengar ini menggigil kedua kaki Hui Kauw dan serta merta ia menjatuhkan diri berlutut di depan
nyonya itu, memeluk kedua kakinya sambil menangis!
dunia-kangouw.blogspot.com
The Sun dan Bhong Lo-koai sudah mencelat dari tempat duduk masing-masing karena mereka tadinya
mengira bahwa gadis aneh itu hendak melakukan penyerangan. Akan tetapi melihat Hui Kauw hanya
menangis sambil memeluk dan menciumi kaki nyonya itu, mereka saling pandang dan berdiri bengong.
Juga Kwee-taijin berdiri dari kusinya dan memandang dengan penuh keheranan.
"Nyonya... kau periksalah ini..."
Sambil menangis dan dengan kepala tunduk Hui Kauw menyingkap rambutnya sehingga kulit tengkuknya
dapat terlihat. Nyonya Kwee, suaminya dan juga kedua orang tamu itu memandang. Karena Hui Kauw
berlutut di atas lantai, mudah bagi mereka untuk melihat betapa pada kulit yang kuning halus dari tengkuk
itu ternoda oleh sebuah tahi lalat merah sebesar kedele.
Hening sejenak di situ, semua orang bagai kena sihir, kemudian Nyonya Kwee mengeluh, membungkuk
meraba tengkuk Hui Kauw, memandang lagi, mulutnya berbisik-bisik, "...ah, mungkinkah ini...? Kau... Ling
Ling...? Kau anakku...?"
Juga Kwee-taijin tak dapat menahan diri berseru, "Mungkinkah ini? Tidak kelirukah...?"
Mendengar keraguan suami isteri itu, dengan terisak-isak Hui Kauw bangkit berdiri, tegak memandang
suami isteri itu dan berkata, suaranya tegas.
"Taijin dan Nyonya, memang sangatlah berat bagiku untuk memperkenalkan diri setelah melihat bahwa
ayah dan ibuku adalah orang-orang kaya raya dari golongan bangsawan berpangkat. Alangkah mudahnya
aku dituduh sebagai penipu! Lihatlah baik-baik mukaku, mataku, diriku, dan andai kata Taijin berdua
memang tak mengenalku sebagai anak yang diculik orang belasan tahun yang lalu, biarlah aku pergi dari
sini."
Keadaan tegang sekali. The Sun dan Bhong Lo-koai merasai ketegangan ini dan mereka hanya berdiri
tegak menjadi penonton. Kwee-taijin nampak bingung sekali, ragu-ragu dan pandang matanya tidak pernah
lepas dari pada wajah Hui Kauw.
Harus dia akui bahwa wajah ini cantik sekali dan mirip wajah isterinya pada waktu muda, akan tetapi
mengapa hitam sehingga tampak buruk? Dia ingat betul bahwa dahulu Ling-ji tidak berwajah hitam, malah
kulit muka anaknya dahulu itu putih sekali. Bagaimana dia bisa menerima gadis yang bermuka hitam, yang
menjadi seorang gadis kang-ouw dengan pedang selalu di pinggang ini sebagai puterinya?
Nyonya Kwee mengejar maju kemudian memegang tangan kiri Hui Kauw dengan kedua tangannya yang
dingin dan gemetar, bibirnya berbisik lirih, "...lihat tanganmu... aku ingat betul... di bawah jari manis kiri
terdapat guratan seperti huruf THIAN..."
Dia membalikkan tangan gadis itu, menariknya dekat dan memandang penuh perhatian. Benar saja, di situ
di antara guratan-guratan telapak tangan itu, terdapat guratan yang mirip dengan huruf THIAN, yaitu dua
tumpuk garis melintang dipotong garis tegak lurus yang di bawahnya bercabang dua!
"...ahh... kau betul Ling Ling... kau anakku...!"
"Ibuuuu...!" Dua orang wanita itu berpelukan, berciuman dan mereka bertangis-tangisan. Pertemuan yang
amat mengharukan.
"Ling Ling... inilah Ayahmu... berilah hormat kepada Ayahmu..."
Hui Kauw menjatuhkan diri berlutut di hadapan Kwee-taijin dan sambil terisak berkata, "Ayahhhh..."
Kwee-taijin mengerutkan kening. Diam-diam dia merasa kecewa sekali melihat nona ini yang ternyata
adalah puterinya sendiri yang dulu diculik orang. Kecewa melihat anaknya bermuka hitam seperti ini. Ia
menarik napas dan mengelus-elus rambut Hui Kauw setelah menerima sambaran pandang mata isterinya
yang seakan-akan mencelanya.
"Ling-ji... anakku, alangkah banyaknya engkau telah mendatangkan sengsara dalam hati ibumu...,"
akhirnya dapat juga Kwee-taijin berkata.
dunia-kangouw.blogspot.com
Sementara itu, The Sun dan Bhong Lo-koai juga tercengang, kemudian menjadi girang sekali bahwa nona
yang kosen itu ternyata adalah puteri Kwee-taijin yang hilang! Cepat keduanya lalu menjura dan
menghaturkan selamat kepada Kwee-taijin.
"Kionghi (selamat), Kwee-taijin, kionghi! Siapa kira hari ini begitu baik sehingga tanpa dinyana puterimu
sudah kembali!" kata The Sun.
"Tidak hanya sudah kembali, bahkan membawa kepandaian yang hebat. Kionghi, Taijin, selamat bahwa
kau mempunyai puteri yang menjadi anak angkat Siauw-coa-ong Giam Kin yang sakti. Ha-ha-ha!" Bhong
Lo-koai juga memberi selamat.
Kekecewaan Kwee-taijin agak terhibur pada saat mendengar bahwa puterinya ini ternyata memiliki
kepandaian yang tinggi. Apa lagi nama besar Siauw-coa-ong tentu saja pernah dia mendengarnya. Maka
ketika dua orang tamunya itu berpamit hendak pergi, dia cepat menahan mereka dan berkata,
"Ji-wi yang membawa datang puteri kami, sudah sepantasnya saya menghaturkan terima kasih dengan
tiga cawan arak."
Dua orang itu tertawa-tawa dan tidak dapat menolak. Cepat hidangan disiapkan di meja, sedangkan Kweehujin
segera mengajak puterinya itu ke dalam sambil memeluknya dan menciuminya.
Setelah berada di rumah ayah bundanya yang asli, Hui Kauw atau Kwee Ling mendengar banyak.
Ternyata ibunya hanya mempunyai anak dia seorang saja, ada pun dua orang remaja yang dilihatnya itu
adalah anak dari isteri muda Kwee-taijin.
Sebagai seorang kaya raya dan bangsawan yang mempunyai pangkat tinggi pula, Kwee Taijin mempunyai
tiga orang isteri di samping beberapa orang selir yang juga dianggap sebagai pelayan. Isteri pertama yang
disebut Kwee-huijin adalah ibu Hui Kauw itulah, isteri ke dua atau Ji-huijin (nyonya ke dua) tidak
mempunyai anak sedangkan Sam-huijin (nyonya ke tiga) mempunyai anak dua orang yaitu yang bernama
Kwee Kian, seorang pemuda berusia tujuh belas tahun dan yang ke dua adalah seorang dara remaja
bernama Kwee Siok. Dua orang inilah yang berjumpa dengan Hui Kauw pada waktu dia pertama datang di
rumah orang tuanya.
Hui Kauw bisa merasakan betapa kecuali ibu kandungnya, kehadirannya di rumah gedung itu sangat tidak
disukai oleh keluarga Kwee. Terutama sekali Sam-hujin dan dua orang anaknya. Hal ini mudah sekali
dimengerti karena sebelum hadir Hui Kauw, maka Kwee Kian dan Kwee Siok merupakan dua orang
keturunan keluarga Kwee yang menjadi ahli waris. Sekarang datang Hui Kauw yang ternyata adalah anak
dari isteri pertama, tentu saja mereka merasa dirugikan dan merasa terancam kedudukan mereka!
Hal ini karena dapat dimengerti oleh Hui Kauw, maka tidak mendatangkan rasa sesal di hatinya. Yang
membuat gadis ini selalu murung dan tak enak hati adalah sikap ayahnya. Ayahnya itu adalah ayah
kandung, mengapa terhadap dia dingin saja, sikapnya tidak semanis terhadap Kwee Kian dan Kwee Siok?
Juga sikap ayahnya terhadap ibunya tidak semanis sikapnya terhadap dua orang isterinya yang lain.
Hui Kauw merasa amat kasihan kepada ibunya dan diam-diam dia tidak puas terhadap ayahnya. Agaknya
perasaan tidak puas inilah yang membuat Hui Kauw menyatakan kepada ayah bundanya bahwa dia lebih
suka bernama Hui Kauw dari pada Kwee Ling, karena nama ini sudah dipakainya semenjak kecil, maka ia
minta agar nama Hui Kauw dijadikan nama alias atau namanya sehari-hari. Hanya ibu kandungnya sajalah
yang tetap menyebutnya Ling Ling, sedangkan orang lain menyebut dirinya Hui Kauw, juga ayahnya
sendiri.
Pada suatu hari Hui Kauw diajak ayahnya menghadiri pesta yang diadakan di dalam istana oleh kaisar!
Kejadian yang luar biasa, apa lagi kalau diingat bahwa kehadiran Hui Kauw itu adalah kehendak kaisar
sendiri yang mendengar tentang kelihaian gadis itu dari The Sun.
"Ayah, perlu benarkah itu sehingga saya yang harus ikut ke istana? Saya tidak senang dengan pesta-pesta
besar," kata Hui Kauw kepada ayahnya.
Aneh ayahnya kali ini, sikapnya manis sekali dan kini ayahnya tersenyum. "Hui Kauw, anak baik, kau tidak
tahu. Adalah kaisar sendiri yang minta supaya kau ikut datang karena beliau telah mendengar bahwa
anakku yang diculik dahulu telah pulang dan selain beliau hendak memberi selamat kepadaku, juga ingin
bertemu sendiri denganmu. Ini merupakan hal yang baik sekali dan merupakan kehormatan besar, anakku.
dunia-kangouw.blogspot.com
Baiklah kita berdua akan menggunakan kesempatan ini untuk menghaturkan selamat kepada kaisar atas
pemilihan beberapa orang selir baru."
Diam-diam Hui Kauw merasa muak dalam hatinya. Banyak sudah ia mendengar dongeng mengenai
kaisar-kaisar dan para pembesar tinggi yang selalu mengumpulkan sebanyak mungkin gadis-gadis cantik
untuk dijadikan selir. Kejadian ini amat memanaskan hatinya. Laki-laki yang memiliki kedudukan tinggi
benar-benar merupakan manusia-manusia yang hanya mau menangnya sendiri saja, yang bertindak
sewenang-wenang dan menganggap wanita-wanita hanya sebagai benda permainan belaka!
Sebenarnya tak sudi ia harus menghadapi semua ini, tak sudi ia harus menghadiri pesta itu, akan tetapi
bagaimana ia dapat membantah kehendak ayahnya? Baru beberapa hari ia berkumpul dengan ayahnya,
tak mungkin ia mengecewakan hati orang tua itu.
Apa lagi dalam kesempatan ini, ayahnya juga mengajak Kwee Kian dan Kwee Siok yang kelihatan gembira
bukan main. Pemuda dan gadis remaja ini berdandan dengan pakaian terbaru. Hui Kauw tidak dapat
meniru ini, walau pun ia telah diberi banyak pakaian indah oleh orang tuanya. Gadis ini berpakaian
sederhana saja, apa lagi ia pun maklum bahwa mukanya yang hitam itu membuat semua pakaian dan
hiasan badan tetap tidak patut.
Bukan main meriahnya pesta yang diadakan dalam taman bunga istana itu. Kaisar baru muncul setelah
para undangan memenuhi taman dan semua orang termasuk Hui Kauw menjatuhkan diri berlutut ketika
kaisar berjalan dengan sikap agung menuju ke tempat duduk kehormatan yang telah disediakan untuknya.
Dengan kerling mata Hui Kauw dapat melihat bahwa kaisar ini masih muda, berwajah tampan dan bersikap
gagah dengan mulut selalu memperlihatkan senyum yang menyembunyikan keangkuhannya.
Sesudah semua orang diperkenankan duduk, Kwee Siok menyentuh lengannya sambil berkata, "Hui Kauw
cici, lihat di sana itu duduk rombongan pengawal-pengawal istana dan jagoan-jagoan undangan, semua
adalah tokoh-tokoh persilatan tingkat tertinggi."
Kwee Kian juga tidak mau ketinggalan berkata lirih. "Dan yang duduk di sebelah kiri itu, yang berpakaian
serba merah, orang tua yang tinggi kurus dan tersenyum-senyum itu, dialah suhu (guru) kami. Dialah tokoh
besar berilmu tinggi yang berjuluk Ang Mo-ko!"
Diam-diam Hui Kauw menaruh perhatian. Memang seorang kakek yang aneh, sudah tua tapi pakaiannya
merah semua, duduknya tak jauh dari The Sun yang kelihatan berpakaian serba indah. Ia tahu bahwa dua
orang adik tirinya ini belajar ilmu silat dari seorang tokoh pengawal istana yang berjuluk Ang Mo-ko, akan
tetapi baru sekarang ia melihat orangnya.
"Cici," kata pula Kwee Siok, "di antara tujuh orang pengawal ketika kaisar masih menjadi pangeran
mahkota, suhu adalah orang yang paling lihai di antara mereka."
"Mungkin tidak kalah oleh The-kongcu," kata Kwee Kian.
"Wah, kalau dibandingkan dengan The-kongcu mungkin masih kalah satu tingkat," kata Kwee Siok. "Kiankoko,
kau tahu bahwa The-kongcu adalah seorang tokoh muda Go-bi yang mempunyai kesaktian luar
biasa, masa di dunia ada keduanya? Akan tetapi, kalau hanya dengan Bhong Lo-koai saja sudah pasti
suhu lebih menang!"
Hui Kauw tersenyum di dalam hatinya mendengar perdebatan antara kedua adik tirinya ini dan sekaligus ia
dapat menduga bahwa adik tirinya Kwee Siok ini tergila-gila kepada The Sun. Ia termenung dan diam-diam
ia berdoa semoga adik ini tak akan mengalami nasib buruk dalam percintaan seperti ia sendiri. Betapa pun
adik tirinya ini di dalam hatinya tidak suka kepadanya, namun Hui Kauw memang memiliki watak yang
penuh welas asih, dan pribudi yang mulia.
Dahulu pun di Pulau Ching-coa-to, meski ia tahu bahwa Hui Siang diam-diam membenci dirinya, namun ia
selalu menaruh iba pada adik angkat ini. Apa lagi sekarang, dua orang ini betapa pun juga adalah adik
tirinya, anak-anak dari ayah kandungnya!
Ternyata menurut percakapan yang ia dengar, Hui Kauw tahu bahwa kali ini kaisar telah memilih lima
orang selir baru di antara puluhan orang gadis-gadis yang didatangkan dari pelbagai daerah. Seperti telah
sering kali terjadi, gadis-gadis yang tidak diterima tentu saja menjadi bagian dari para pembesar yang
dunia-kangouw.blogspot.com
mengurusnya. Tidaklah mengherankan apa bila mereka kini berpesta pora amat gembira, selain untuk
memberi selamat kepada kaisar, juga untuk memberi selamat kepada diri mereka sendiri!
Hui Kauw merasa lega bahwa ayahnya tidak termasuk pembesar yang mengurus tentang penarikan gadisgadis
ini sehingga kali ini ayahnya tak ikut bergembira karena mendapat selir baru pula! Anehnya, selir-selir
baru itu tidak hadir di tempat pesta dan yang tampak hanyalah para pengunjung yang membanjiri hadiahhadiah
berupa benda-benda berharga untuk para selir baru itu! Tentu saja hal ini dilakukan untuk menjilat
kaisarnya, karena benda-benda berharga yang dikeluarkan itu hanya merupakan umpan untuk memancing
ikan yang jauh lebih berharga dari pada umpannya, yaitu berupa kenaikan pangkat dan lain-lain.
Hui Kauw sudah merasa lega bahwa kaisar agaknya tak akan melihat dan mengenalnya, juga agaknya
ayahnya tidak akan menyinggung-nyinggung tentang dirinya. Siapa kira tak lama kemudian, seorang
pembesar mendatangi ayahnya dan berbisik-bisik. Wajah orang tua itu seketika menjadi berseri-seri
gembira dan dengan suara bangga dia berkata,
"Hui Kauw... eh, Ling-ji... Kaisar memanggil aku dan kau menghadap. Mari...!"
Ayah yang bangga ini berdiri, lalu menggandeng tangan puterinya dan menjatuhkan diri berlutut di tempat
itu juga untuk menghormati panggilan kaisar, kemudian dia mengajak Hui Kauw berdiri dan berjalan
perlahan menuju ke tempat duduk kaisar. Di depan kaisar, ayah dan anak ini lalu menjatuhkan diri berlutut
lagi, menunduk tanpa berani mengangkat muka untuk memandang kaisar.
"Aha, inikah Nona yang lihai ilmu silatnya itu?"
Betapa pun juga, keadaan dan suara kaisar ini demikian berwibawa sehingga menekan perasaan Hui
Kauw dan membuat nona ini merasa mulutnya kaku dan tenggorokannya kering. Tak dapat ia
mengeluarkan suara untuk menjawab!
"Betul, Yang Mulia, inilah anak hamba Kwee... Hui Kauw yang bodoh. Hamba berdua menghaturkan
selamat atas hari baik ini, semoga Yang Mulia bertambah kebahagiaan dan dikurniai panjang usia selaksa
tahun!"
Kaisar ini tertawa senang. "Kwee Lai Kin, tidak kusangka kau mempunyai seorang anak perempuan yang
lihai ilmu silatnya, yang katanya malah menjadi murid dan anak angkat Siauw-coa-ong Si Raja Ular! Ha-haha!
Eh, kau... Kwee Hui Kauw, benarkah kau diangkat anak oleh Si Raja Ular?"
Tanpa berani mengangkat muka sedikit pun, Hui Kauw yang telah mendapatkan kembali ketenangannya
menjawab, "Tidak salah, Yang Mulia..."
"Bagus! Karena ayahmu adalah pembantuku, berarti kau pun pembantu istana pula. Hayo lekas kau
mainkan beberapa jurus ilmu silat supaya dinilai oleh para pengawal dan agar menambah kegembiraan
pesta ini."
Bingung dan mengkal hati Hui Kauw. Betapa ceriwisnya kaisar ini, pikirnya. Akan tetapi suasana di situ
benar-benar amat berwibawa sehingga ia hampir kehilangan ketenangan hatinya, "Mohon ampun
sebesarnya, Yang Mulia, hamba tidak berani memperlihatkan ilmu silat yang dangkal di hadapan Yang
Mulia."
Semua orang yang hadir di situ kaget dan khawatir. Setiap penolakan kehendak kaisar dapat dianggap
sebagai pembangkangan yang sama saja artinya dengan pemberontakan! Wajah Kwee Taijin sudah
berubah pucat seperti kertas kosong.
The Sun mengerutkan keningnya. Akan tetapi pemuda yang cerdik ini cepat berlutut dan berkata, "Mohon
Yang Mulia sudi mengampuninya. Sebagai seorang gadis yang baru kali ini berhadapan dengan Yang
Mulia, dan baru kali ini menghadiri pertemuan agung, tentu saja Nona Kwee Hui Kauw merasa malu-malu
dan canggung sekali. Hamba usulkan agar supaya salah seorang di antara para pengawal suka
mengawani dia sehingga selain Nona Kwee tidak akan sungkan, juga akan lebih indah untuk ditonton dan
lebih mudah dijadikan ukuran bagi kepandaian Nona Kwee yang hebat!"
Kaisar tertawa girang dan bertepuk tangan. "Bagus, kau memang pintar sekali, The Sun! Kau yang memuji
Nona ini kepadaku, tentu kau sudah tahu sampai di mana tingkatnya dan aku beri ijin kepadamu untuk
melakukan pemilihan di antara para pengawal itu."
dunia-kangouw.blogspot.com
The Sun tentu saja dapat menduga sampai di mana tingkat kepandaian Hui Kauw karena pernah dia
melihat gadis itu bertanding melawan Bhong Lo-koai. Tadinya dia hendak mengusulkan supaya Bhong Lokoai
maju melayani nona ini, akan tetapi dia ragu-ragu karena siapa tahu kalau-kalau Bhong Lo-koai akan
kalah.
Biar pun pertandingan kali ini hanya sebagai iseng-iseng dan menguji kepandaian belaka, namun kalau
sampai pihak istana kalah, bukankah hal ini akan merendahkan nama besar kaisar sendiri yang dianggap
mempunyai pengawal yang tidak becus? Oleh karena itu, dia segera memandang Ang Mo-ko, tersenyum
dan berkata,
"Menurut pendapat hamba, hanya Ang Mo-ko lo-enghiong yang pantas untuk melayani Nona Kwee,
mengingat bahwa kepandaian Nona Kwee sudah amat tinggi dan kalau lain orang yang melayaninya, akan
sukarlah dapat digunakan sebagai ukuran."
Semua orang terkejut mendengar ini, sedangkan Bhong Lo-koai menjadi merah mukanya. Terang bahwa
The Sun tidak percaya kepadanya, maka mengajukan Ang Mo-ko yang dianggap lebih pandai. Memang
semua pengawal di istana juga maklum bahwa sebelum datang The Sun dan para tokoh undangan, di
antara para pengawal lama, Ang Mo-ko merupakan tenaga yang paling boleh diandalkan karena ilmu
kepandaiannya memang hebat.
Akan tetapi, banyak di antara para pengawal istana merasa penasaran. Untuk menguji kepandaian
seorang nona yang begitu muda, mengapa mesti mengajukan Ang Mo-ko? Agaknya beberapa orang
pengawal muda saja sudah cukuplah. Benar-benar The-kongcu sekali ini keterlaluan, pikir mereka.
Malah diam-diam Kwee Taijin juga kaget sekali dan melirik ke arah orang muda itu. Apa yang dikehendaki
oleh orang muda ini, pikirnya tidak enak. Masa anakku harus diadu dengan Ang Mo-ko yang lihai? Hemm,
apakah dia sengaja hendak membikin malu kepada Hui Kauw dan aku?
Akan tetapi The Sun tak mempedulikan semua pandang mata yang ditujukan kepadanya penuh
pertanyaan itu. Juga kaisar yang tadinya terkejut pula, setelah memandang wajah The Sun yang
bersungguh-sungguh, diam-diam merasa amat kagum. Benarkah gadis ini mempunyai kepandaian
demikian tinggi sehingga patut dipertemukan dalam pertandingan melawan Ang Mo-ko?
Kaisar tertawa dan menjawab, "The Sun, kau lebih tahu dalam hal ini. Usulmu diterima, lakukanlah!"
The Sun lalu menghampiri Ang Mo-ko, berkata sambil tersenyum, "Ang lo-enghiong harap suka turun
tangan menggembirakan suasana pesta. Akan tetapi hati-hatilah, Nona Kwee benar-benar lihai."
Ang Mo-ko bangkit berdiri, mengangguk-angguk dan berkata, cukup keras sehingga dapat terdengar oleh
Hui Kauw. "Sungguh sebuah kehormatan besar untuk berkenalan dengan kelihaian anak angkat Siauwcoa-
ong Giam Kin yang sakti."
Yang paling merasa tegang di saat itu adalah Kwee Kian dan Kwee Siok. Dua orang muda ini saling
pandang dan muka mereka berubah sebentar pucat sebentar merah. Memang dari ayah mereka, mereka
telah mendengar bahwa kakak tiri mereka memiliki kepandaian tinggi, akan tetapi mereka sendiri yang
menjadi murid tokoh besar di istana, Ang Mo-ko, diam-diam memandang rendah kepada Hui Kauw. Malah
diam-diam mereka mencari kesempatan baik untuk ‘mencoba’ kepandaian nona muka hitam itu. Siapa tahu
sekarang di dalam pesta agung, di hadapan kaisar, kakak tiri itu akan dipertandingkan dengan guru
mereka!
Karena yang memerintahnya adalah kaisar sendiri, Hui Kauw tentu saja tidak berani membantah. Setelah
memberi hormat dengan berlutut, ia lalu memenuhi isyarat The Sun, bangkit berdiri dan berjalan tenang ke
tengah ruangan, di mana terdapat tempat yang agak tinggi dan memang sengaja dikosongkan.
Di dalam taman itu, Kaisar dan para tamu duduknya mengelilingi tempat ini sehingga tempat itu menjadi
pusat perhatian. Ang Mo-ko yang bertubuh tinggi kurus sudah berdiri di sana, menunggu dengan sikap
tenang.
Kaisar memerintahkan sesuatu kepada pengawal pribadinya yang cepat lari menghampiri The Sun.
Pemuda ini tersenyum mengangguk-angguk, kemudian berlari pula ke arena pertandingan, berkata kepada
Hui Kauw dan Ang Mo-ko yang sudah bediri berhadapan.
dunia-kangouw.blogspot.com
"Menurut perintah Kaisar, karena di antara para tamu banyak yang tidak tahu ilmu silat, maka untuk
menjaga kesusilaan dan mencegah persentuhan tangan, ji-wi (anda berdua) diperintahkan menggunakan
senjata dalam pertandingan persahabatan ini. Silakan Nona Kwee memilih senjata apa yang dikehendaki,
akan saya sediakan."
Hui Kauw memandang Ang Mo-ko untuk mengetahui pendapat orang tua yang diharuskan menjadi
lawannya itu. Dia melihat kakek itu sambil tersenyum lebar sudah mengeluarkan senjatanya yang aneh,
yaitu sebatang huncwe (pipa tembakau) yang putih kemilau bagai perak.
Hun-cwe ini panjangnya ada tiga perempat meter, ujungnya meruncing dan beberapa sentimeter sebelum
ujungnya terdapat ‘buahnya’, yaitu merupakan tempat tembakau yang biasanya dinyalakan. Tahulah Hui
Kauw bahwa lawannya adalah seorang ahli totok yang berbahaya karena senjata seperti itu memang tepat
untuk menotok jalan darah, bentuknya meruncing tapi ujungnya tumpul.
"Aku tidak ingin berkelahi sungguh-sungguh, mengapa harus memakai senjata?" katanya ragu-ragu. "Pula,
aku tidak membawa pedangku."
Memang semua pengunjung tidak diperbolehkan membawa senjata, tentu saja kecuali para pengawal yang
sudah dipercaya penuh. Aturan ini belum lama diadakan setelah terjadi perebutan kekuasaan dan makin
lama makin banyak terdapat mata-mata dari pihak yang anti kaisar berkeliaran di kota raja.
The Sun tersenyum dan mencabut pedangnya, "Kalau kau biasa berpedang, kau boleh mempergunakan
pedangku, Nona."
"Terima kasih." Hui Kauw terpaksa menerima pedang The Sun.
"Nah, Kaisar telah memberi tanda. Kalian boleh mulai," kata The Sun yang segera mundur dan berdiri di
pinggiran.
Para tamu menahan napas, apa lagi Kwee Taijin ketika melihat betapa anak gadisnya sudah berdiri
dengan pedang terhunus di hadapan Ang Mo-ko yang masih berdiri sambil tersenyum-senyum itu.
Dengan gaya lucu Ang Mo-ko sekali lagi berlutut memberi hormat kepada kaisar, lalu berdiri dan berkata,
"Nona Kwee, aku yang tua banyak mengharapkan petunjuk darimu."
"Ahh, lo-enghiong mengapa berlaku sungkan? Lekaslah bergerak dan lekas pula akhiri permainan ini, aku
mana bisa menang dibandingkan dengan seorang tokoh tua?" jawab Hui Kauw hati-hati, pedangnya sudah
melintang di depan dadanya.
Ang Mo-ko tertawa lagi, lalu menggerakkan huncwe-nya sambil berseru, "Awas Nona, aku mulai!"
Hui Kauw maklum bahwa lawannya bukanlah orang lemah, hal ini tidak hanya dapat ia duga dari sikap
kakek itu, juga sekarang jelas dapat dilihat dari dahsyatnya sambaran huncwe yang melakukan totokan ke
arah leher dan lambungnya. Dua bagian tubuh ini letaknya tidak berdekatan, akan tetapi ujung huncwe itu
dapat menotok secara beruntun dengan cepat sekali sehingga sukar diduga bagian mana yang akan
diserang lebih dahulu karena seakan-akan ujungnya berubah menjadi dua menyerang dengan berbareng!
"Tring! Tranggggg!"
Bunga api berhamburan menyilaukan mata pada saat pedang yang diputar Hui Kauw itu sekaligus bertemu
dua kali dengan huncwe itu. Karena ia menggunakan pedang orang lain, Hui Kauw dengan tabah berani
menangkis sekalian hendak menguji tenaga lawan. Ia merasa betapa tangannya tergetar hebat, akan tetapi
dengan pengerahan hawa murni ia dapat mengusir getaran itu.
Di lain pihak, Ang Mo-ko berseru keras. Ia melompat mundur, cepat menarik huncwe-nya dan diamat-amati
dengan penuh perhatian dan kekhawatiran.
"Wah-wah-wah, untungnya huncwe yang menjadi jimat hidupku ini tidak rusak!" katanya kemudian sambil
tertawa. Tadi dia memang takut kalau-kalau huncwe kesayangannya ini lecet. Dengan lagak lucu kakek ini
menerjang maju lagi mengirim serangan-serangan kilat.
dunia-kangouw.blogspot.com
Hui Kauw juga mainkan pedangnya yang berubah menjadi gulungan sinar putih. Makin cepat kakek itu
menyerangnya, makin cepat pula ia menggerakkan pedangnya, kini tidak hanya untuk mempertahankan
diri, juga untuk balas menyerang.
Hebat pertandingan itu dan juga indah sekali karena sambaran huncwe yang bagaikan kilat menyambar itu
selalu lenyap digulung awan putih sinar pedang Hui Kauw. Kadang-kadang dari dalam gulungan awan itu
muncrat bunga api dibarengi suara nyaring sekali seakan-akan halilintar menyambar dari gulungan awan
mendung.
Tentu saja Ang Mo-ko sudah maklum akan maksud pertandingan ini. Tadinya dia hanya bermaksud
menguji, tentu saja dia tidak akan menyerang sungguh-sungguh puteri Kwee Taijin yang juga menjadi
kakak dari pada kedua orang muridnya. Akan tetapi makin lama penyerangannya menjadi makin dahsyat
ketika dia mendapat kenyataan bahwa nona ini ilmu pedangnya sungguh tak boleh dipandang ringan.
Dia harus memeras keringat dan mengerahkan tenaga dan kepandaian kalau tidak mau dikalahkan dan
mendapat malu di dalam pertandingan agung itu! Setelah bertanding lima puluh jurus lebih, Ang Mo-ko
tidak berani main-main lagi dan terpaksa dia mengeluarkan kepandaiannya agar jangan sampai kalah.
Pada lain pihak, Hui Kauw juga hendak menjaga namanya, selain juga hendak menjaga muka ayahnya.
Kalau ia mudah saja dikalahkan, bukan hanya dia yang akan ditertawakan orang, apa lagi oleh kedua
orang adik tirinya, juga ayahnya tidak luput dari pada ejekan.
Namun, ia tetap tidak mau mempergunakan ilmu silatnya yang ia rahasiakan. Ia sengaja hanya mainkan
ilmu pedang yang ia pelajari dari ibu angkatnya dan ternyata ilmu pedang itu sudah cukup untuk
menandingi huncwe di tangan Ang Mo-ko.
Kaisar menjadi amat gembira menyaksikan pertandingan pedang tingkat tinggi melawan huncwe maut ini.
Berkali-kali dia bertepuk tangan memuji karena kaisar ini pun seorang yang suka sekali akan ilmu silat.
Setelah seratus jurus lewat, Ang Mo-ko menjadi gelisah dan dia merasa khawatir sekali kalau-kalau akan
ditertawai kaisar serta pangkatnya akan diturunkan gara-gara dia tidak dapat lekas-lekas mengalahkan
nona muda itu dalam pertandingan ini.
Tiba-tiba dia mengeluarkan seruan keras. Tangan kirinya bergerak melakukan serangan pukulan yang
aneh sekali, dengan jari tangan terbuka dan dilakukan dari bawah ke atas, akan tetapi pukulan ini
membawa angin panas yang luar biasa hebatnya. Kiranya inilah ilmu pukulan simpanan dari Ang Mo-ko
atau Iblis Merah, karena sebutan ini bukan saja menyindir pakaiannya yang serba merah, akan tetapi juga
ilmu pukulannya Ang-tok-jiu (Tangan Racun Merah).
Ilmu pukulan ini bukan main hebatnya, apa bila dilakukan, tangan kirinya berubah menjadi merah seperti
kepiting direbus dan dari tangan ini selain keluar hawa pukulan yang panas dan dapat meremukkan tulang
membakar kulit daging, juga mengandung hawa beracun!
Hui Kauw kaget bukan main ketika merasai hawa pukulan yang amat panas ini. Ia adalah puteri angkat dari
Ching-toanio dan semenjak kecil ia tinggal di Pulau Ular Hijau, tentu saja ia tahu akan racun-racun
berbahaya. Ia dapat menduga bahwa pukulan lawan ini tentu mengandung racun, maka ia tidak berani
menerimanya dan cepat mengelak.
Ang Mo-ko semakin penasaran, huncwe-nya terus mendesak diselingi pukulan-pukulan Ang-tok-jiu. Kali ini
dia sama sekali tidak mau memberi hati dan niat satu-satunya adalah menjatuhkan atau mengalahkan
gadis ini, baik secara halus mau pun kasar. Hal ini dia anggap penting sekali untuk menjaga nama dan
kedudukannya di hadapan kaisar.
Setelah Ang Mo-ko menggunakan ilmu pukulan Ang-tok-jiu ini, segera Hui Kauw menjadi terdesak hebat.
Gadis ini tidak sanggup mempertahankan diri lagi karena ia harus selalu mengelak dari pukulan tangan kiri
lawan sehingga permainan pedangnya tidak dapat lagi membendung banjir serangan huncwe yang bertubitubi
dan terus menerus mendesaknya dengan totokan-totokan berbahaya.
Celaka, pikirnya, kakek merah ini agaknya tidak main-main lagi dan terlalu bernafsu untuk mengalahkanku,
pikirnya. Dan ia tahu bahwa kalau kali ini ia kalah, itu akan terjadi dalam keadaan yang amat berbahaya
karena sekali terkena totokan huncwe atau kena pukulan beracun, ia akan terluka parah. Baginya, kalah
dunia-kangouw.blogspot.com
dari kakek ini di depan kaisar bukanlah hal yang terlalu ditakuti, akan tetapi tentu saja ia tidak sudi kalau
harus menyerahkan diri untuk ditotok atau dipukul sampai terluka parah.
Mendadak dia mengeluarkan seruan nyaring dan ilmu pedangnya segera berubah hebat. Bila tadinya ilmu
pedangnya bagaikan ombak-ombak kecil yang amat cepat menggelora, sekarang berubah tenang seperti
gelombang lautan besar yang tampaknya tenang dan lambat, namun yang menelan segala yang
dihadapinya. Gerakannya menjadi lambat dan aneh sekali.
Akan tetapi bagi Ang Mo-ko amat hebat kesudahannya, karena kakek ini tiba-tiba saja melihat betapa
tangan kirinya tahu-tahu berhadapan dengan pedang yang mengandung tenaga dalam yang dahsyat. Jika
ia melanjutkan serangannya, berarti tangan kirinya akan buntung! Cepat dia menarik tangan kirinya.
Akan tetapi pedang itu dengan gerakan lambat dan aneh namun mengandung tenaga menempel yang luar
biasa, tahu-tahu sudah menghantam huncwe-nya. Terdengar suara nyaring dan... huncwe itu terlepas dari
tangan Ang Mo-ko yang tiba-tiba merasa betapa tangan kanannya setengah lumpuh!
Ang Mo-ko kaget sekali, mengeluarkan suara keras dan melompat ke belakang. Keringat dingin
membasahi lehernya karena maklum bahwa tadi kalau lawannya berniat buruk, tentu dia akan terluka.
Ternyata pedang itu tidak mengejarnya dan Hui Kauw hanya berdiri dengan pedang melintang di depan
dada.
"Kiam-hoat bagus...!" Terdengar pujian dari salah seorang di antara mereka yang tempat duduknya di
dekat The Sun, seorang laki-laki setengah tua yang gagah dan tampan, yang bermata tajam bersinar-sinar.
Terdengarlah tepuk tangan, ternyata kaisar sendiri yang bertepuk tangan memuji. Semua orang lalu
mengikuti gerakan ini dan meledaklah tepuk tangan dan pujian di taman itu. Kaisar mengangkat tangan
dan semua suara itu berhenti.
"Kwee Hui Kauw, sebagai seorang gadis muda, ilmu silatmu hebat bukan main. Apa bila engkau sampai
mendapat pujian dari Sin-kiam-eng Tan Beng Kui, itu berarti bahwa ilmu pedangmu sudah mencapai
tingkat tinggi. Bagus sekali!" kaisar berkata dengan suara gembira.
Hui Kauw baru teringat bahwa ia berada di dalam pertemuan agung di mana kaisar hadir. Dan melihat
betapa Ang Mo-ko sudah menjatuhkan diri berlutut, ia pun segera berlutut menghadap kepada kaisar
dengan penuh hormat. Diam-diam ia mencatat ucapan kaisar tadi bahwa orang setengah tua yang
memujinya itu adalah Sin-kiam-eng Tan Beng Kui yang amat tersohor sebagai juara ilmu pedang!
"Kwee Hui Kauw, menyaksikan kepandaianmu, kami mengangkatmu sebagai pembantu komandan
pengawal istana. The Sun yang akan membagi tugas kepadamu. He, The Sun kau perkenalkan Nona
perkasa ini kepada para enghiong yang hadir!"
Dengan sikap gembira sekali kaisar itu lalu melanjutkan makan minum dan suasana pesta makin gembira.
Hui Kauw hanya dapat menghaturkan terima kasih sambil berlutut, lalu ia mengiringkan The Sun yang
mengajaknya untuk berkenalan dengan beberapa orang tokoh yang duduk di bagian tamu kehormatan.
Pertama-tama ia diperkenalkan dengan orang setengah tua yang tadi memujinya, yaitu Sin-kiam-eng Tan
Beng Kui!
Tokoh pedang ini memandangnya dengan tajam penuh selidik, kemudian mengangguk dan berkata, "Nona
Kwee, sebagai puteri angkat Giam Kin, aku tidak tahu dari mana kau mendapatkan ilmu pedang yang
hebat tadi. Lain waktu bila ada kesempatan aku ingin sekali mengajak kau bercakap-cakap tentang ilmu
pedangmu itu."
Suara itu terdengar manis memuji, akan tetapi mengandung sesuatu yang mendebarkan jantung Hui Kauw,
karena jelas terasa olehnya bahwa tokoh pedang ini nampak tidak puas. Ia tidak dapat memperhatikan
tokoh pedang ini lebih lanjut karena The Sun sudah memperkenalkan dia kepada tokoh-tokoh lain yang
banyak terdapat di bagian itu.
Orang ke dua yang diperkenalkan oleh The Sun kepadanya adalah seorang kakek yang berpakaian seperti
tosu tua, bertubuh pendek gemuk akan tetapi mempunyai sepasang lengan yang panjang sekali. Usianya
sudah lebih dari lima puluh tahun namun mukanya halus seperti muka kanak-kanak. Tosu ini adalah
dunia-kangouw.blogspot.com
seorang undangan dan dia bukanlah orang sembarangan karena dia ini bukan lain adalah paman guru The
Sun sendiri!
Tosu pendek ini adalah seorang pertapa Go-bi, adik seperguruan Hek Lojin yang terkenal dengan sebutan
Lui-kong atau Malaikat Guntur! Ada pun julukan atau nama pendetanya adalah Thian Te Cu.
Menilik dari sebutan dan julukan ini, Lui-kong Thian Te Cu, sudah membuktikan bahwa betapa tokoh ini
mempunyai watak jumawa. Akan tetapi kejumawaannya tidaklah kosong belaka karena dia memang
memiliki kepandaian yang amat luar biasa dan dia bahkan pernah membikin ribut di Go-bi-pai, yaitu partai
persilatan Go-bi-san yang amat tersohor.
Berbeda dengan watak suheng-nya, Hek Lojin, yang lebih suka menyembunyikan diri di puncak gunung,
tosu pendek ini menerima undangan The Sun dengan gembira karena sesungguhnya dia masih suka
bersenang-senang menikmati kemuliaan duniawi.
"Heh-heh, Nona Kwee masih amat muda tapi hebat ilmunya," kata Lui-kong Thian Te Cu sambil
memandang dengan matanya yang sipit dan menggerak-gerakkan dua lengannya yang panjang. "Muka
yang cantik jelita disembunyikan di balik kehitaman yang disengaja. Heh-heh-heh, Giam Kin si iblis cilik
benar-benar luar biasa, sudah mati meninggalkan keturunan begini hebat!"
Bukan main mengkalnya hati Hui Kauw mendengar ini dan diam-diam dia pun terkejut karena kakek
pendek itu benar-benar awas pandang matanya sehingga secara menyindir sudah membuka rahasia
mukanya yang hitam, agaknya dapat menduga bahwa mukanya menjadi hitam karena racun. Lebih-lebih
kagetnya ketika suara ketawa terkekeh yang terakhir dari kakek itu membuat ia hampir roboh karena
badannya serasa tertekan hebat membuat kedua kakinya seperti lemah tak bertenaga.
Cepat-cepat nona ini mengerahkan hawa murni di dalam tubuh melindungi jantung karena ia pun maklum
bahwa dengan suara ketawa itu, si kakek aneh telah menyerangnya atau menguji tenaga dalamnya. Itulah
semacam ilmu khikang yang hebat sekali, yang dapat menggunakan suara ketawa untuk menyerang orang
yang dikehendaki tanpa membawa pengaruh terhadap orang lain di sekelilingnya. Hanya seorang yang
lweekang-nya sudah tinggi sekali dapat melakukan hal ini!
Cepat ia menjura kepada kakek itu dan mengucapkan kata-kata merendah, "Saya yang muda dan bodoh
mana berani menerima pujian Locianpwe?"
Orang ke tiga yang diperkenalkan oleh The Sun adalah seorang yang tidak kalah aneh dan menariknya.
Dia ini seorang hwesio yang bertubuh tinggi besar, berjubah sederhana dengan dada setengah terbuka
sehingga tampak bulu dadanya yang lebat. Usianya tentu tidak kurang dari lima puluh tahun, kepalanya
gundul kelimis dan besar sekali sesuai dengan tubuhnya. Matanya lebar bundar tetapi jarang dibuka
karena sering kali meram, alisnya tebal berbentuk golok.
Wajah hwesio ini tampak angker dan berwibawa, tidak mencerminkan sifat welas asih melainkan
mendatangkan rasa segan dan hormat karena jelas dari pribadinya bersinar sifat keras dan kuat yang
sukar ditundukkan. Berbeda dengan para tamu lain, hwesio ini menghadapi meja kecil di mana terdapat
hidangan dari sayur-sayuran tanpa daging, tanda bahwa dia seorang yang ciak-jai (pantang daging) akan
tetapi suka minum arak, terbukti dari guci besar arak yang disediakan untuknya.
"Nona Kwee, losuhu ini adalah Bhok Hwesio, tokoh besar dari Siauw-lim, seorang patriot sejati yang siap
mengorbankan tenaga dan jiwa untuk mempertahankan negara. Apa kau pernah mendengar mengenai
Heng-san Ngo-lo-mo (Lima Iblis Tua dari Heng-san)? Nah, begitu Bhok losuhu ini menginjakkan kaki ke
Heng-san dan turun tangan, lima iblis tua itu terbasmi habis, sarangnya dibakar dan semua dilakukan oleh
Bhok losuhu seorang diri saja!"
Hui Kauw terkejut. Pernah dia mendengar ketika masih berada di Ching-coa-to mengenai Heng-san Ngolo-
mo ini, yang terkenal kejam dan amat tinggi kepandaiannya, apa lagi kalau maju berlima. Ibu angkatnya
sendiri pernah menyatakan rasa jerinya kalau harus menghadapi lima orang iblis tua itu dan sekarang
hwesio tua ini seorang diri saja mampu membasminya!
"Omitohud, kaum pemberontak dan pengacau negara kalau tidak dibasmi, tentu membikin sengsara
rakyat," komentar hwesio itu tanpa membuka matanya, akan tetapi senyum yang membayang di bibirnya
yang tebal itu menjadi tanda bahwa dia merasa senang akan pujian The Sun. "Syukur Nona Kwee sudah
dunia-kangouw.blogspot.com
terlepas dari ayah angkat macam Giam Kin yang jahat, seterusnya harap meneladani ayah sendiri yang
mengabdi kepada negara."
Hwesio itu selanjutnya menutup mata dan mulut tidak peduli lagi kepada Hui Kauw.
Masih banyak tokoh-tokoh diperkenalkan oleh The Sun kepada Hui Kauw, akan tetapi selain dua orang
yang sudah disebutnya tadi, hanya ada dua orang lagi yang menarik perhatian Hui Kauw, yaitu seorang
laki-laki tinggi kurus berambut keriting berkulit hitam yang diperkenalkan sebagai Bhewakala, seorang
pendeta Hindu yang tadinya adalah seorang pertapa di puncak Anapurna di Himalaya. Ia seorang bangsa
Nepal yang berilmu tinggi dan dalam perantauannya di timur akhirnya dia bertemu dengan The Sun dan
dapat dibujuk membantu kaisar baru dalam menghadapi musuh-musuhnya.
Seorang lagi tokoh wanita yang usianya sudah mendekati lima puluh tahun, seorang ahli pedang dari Kunlun-
pai. Sebetulnya tokoh wanita ini merupakan seorang pelarian dari Kun-lun-pai beberapa tahun yang
lampau karena sebagai anak murid Kun-lun dia sudah melakukan pelanggaran susila dan ketika ditegur
oleh ketua Kun-lun-pai pada waktu itu, ialah Pek Gan Siansu, ia melawan dan akhirnya ia dikalahkan dan
diusir oleh Pek Gan Siansu.
Semenjak itu, dia melakukan perantauan dan tidak berani kembali ke Kun-lun-pai. Akan tetapi dalam
perantauannya ini dia malah mendapat penambahan ilmu kepandaian yang hebat sehingga dia kini
merupakan tokoh yang lihai sekali. Wanita ini bernama Gui Hwa dan berjuluk It-to-kiam (Setangkai
Pedang).
"Demikianlah, Kun Hong," berkata Hui Kauw mengakhiri penuturannya kepada Kun Hong. "Selanjutnya aku
tinggal bersama orang tuaku. Karena tak berani menolak perintah kaisar, aku terpaksa membantu The
Sun, akan tetapi bukan membantu di dalam istana, hanya aku berjanji kepada The Sun akan membantu
setiap kali tenagaku dibutuhkan. Dia amat baik kepadaku dan memang keadaan di kota raja amat kuat,
banyak terdapat tokoh-tokoh pandai. Oleh karena itu, pada saat mendengar bahwa ada seorang buta
dikeroyok, hatiku terkejut bukan main. Cepat-cepat aku keluar dan menuju ke tempat pertempuran untuk
mencegah mereka yang mengeroyokmu. Akan tetapi ternyata kau telah dapat melarikan diri dan aku tak
berdaya melihat penyembelihan yang dilakukan para pengawal terhadap orang-orang Hwa-i Kaipang. Aku
menyusul dan mencarimu dengan diam-diam dan aku melihat jejak The Sun di rumah ini..." Hui Kauw
memandang kepada mayat janda Yo yang tak bergerak sambil menarik napas panjang. "Karena salah
sangka setelah melihat The Sun dilayani janda ini aku pun menjadi marah, menghinanya dan
merampasmu, Ah, aku menyesal sekali, Kun Hong."
Selama Hui Kauw berceritera, Kun Hong hanya mendengarkan dengan penuh perhatian. Terutama sekali
penuturan Hui Kauw tentang orang-orang kosen di kota raja yang amat menarik hatinya. Agaknya hwesio
yang mampu menghadapi jurusnya ‘Sakit Hati’ tentulah Bhok Hwesio, jago tua Siauw-lim itu. Wah, berat
kalau begini.
Dia merasa bersyukur bahwa mahkota kuno itu tidak terampas oleh mereka. Teringat akan ini, Kun Hong
berkata heran. "Ahh, mengapa A Wan begini lama belum kembali?"
Karena sejak tadi Hui Kauw asyik berceritera, nona ini pun seperti lupa kepada A Wan. Sekarang ia pun
merasa heran dan curiga. "Biar aku mencarinya di belakang rumah." Ia bangkit berdiri dan melompat ke
luar dari pondok itu melalui pintu belakang.
Baru beberapa menit seperginya Hui Kauw, tiba-tiba Kun Hong memiringkan kepalanya. Dia mendengar
ada suara banyak kaki dengan gerakan ringan sekali di sekeliling rumah! Otomatis tangan kanannya
menggenggam tongkatnya erat-erat, sedang seluruh tubuhnya tegang dalam persiapan.
Meski pun luka-lukanya masih terasa sakit, akan tetapi sudah tidak berbahaya lagi. Hanya punggungnya
saja yang masih terasa kaku sekali. Dia masih tetap duduk bersila di atas tikar dengan sikap tenang namun
dengan hati tegang.
Tiba-tiba terdengar suara ketawa yang sudah amat dikenalnya, ketawa The Sun!
"Ha-ha-ha, Kwa Kun Hong, kiranya benar kau yang secara pengecut bersembunyi di balik selimut janda
muda, pura-pura menjadi seorang kakek. Ha-ha-ha!"
dunia-kangouw.blogspot.com
Berbareng dengan ucapan itu, tubuh The Sun melayang masuk ke dalam pondok, lalu dia tertawa-tawa
lagi. "Perempuan keparat, berani kau menipuku, ya?"
Kun Hong mendengarkan penuh perhatian, namun dia sudah bersiap sedia membela diri. Terdengar The
Sun hampiri jenazah janda Yo, kemudian pemuda itu menahan pekik.
"...ahhh…!"
Kun Hong tersenyum mengejek. "The Sun manusia keparat, kau lihat baik-baik wanita tak berdosa yang
menjadi korbanmu!" Sehabis mengeluarkan ejekan ini, tubuhnya tiba-tiba melesat ke arah The Sun dan
tongkatnya sudah mengirim tusukan maut.
The Sun kaget dan cepat membanting diri ke kanan sehingga dinding pondok yang tidak kuat itu menjadi
jebol, terus tubuhnya menggelinding ke luar.
Kun Hong mengejar terus, juga melalui dinding yang jebol itu. Setibanya di luar pondok, Pendekar Buta ini
berhenti karena dia tidak mampu mengenali lagi di mana adanya The Sun. Di depan pondok itu ternyata
telah menanti banyak orang yang kini menghadapinya setengah mengurung.
"Omitohud... sayang pemuda berilmu tinggi menjadi pemberontak." Suara ini mengejutkan hati Kun Hong
karena dia segera mengenalinya sebagai suara hwesio kosen yang pernah memukul punggungnya.
Tentu inilah yang oleh Hui Kauw diceriterakan sebagai Bhok Hwesio, pikirnya. Entah ada berapa orang
tokoh lihai lagi di samping hwesio ini dan The Sun. Namun dia tidak takut, hanya dia amat khawatir kalaukalau
mahkota kuno yang tadi sedang diambil oleh A Wan itu dapat terampas oleh musuh.
Kun Hong tidak dapat melihat bahwa selain Bhok Hwesio dan The Sun, di situ terdapat banyak pengawal
dan masih ada lagi seorang kosen, yaitu si pertapa dari Nepal bernama Bhewakala yang berdiri tegak
sambil memandang tajam dengan sepasang matanya yang mengandung pengaruh sihir!
Mendengar pujian Bhok Hwesio kepada pemuda buta ini, Bhewakala menaruh perhatian besar karena dia
sudah cukup maklum akan kesaktian Bhok Hwesio.
"Mata buta tidak mengapa, tetapi kalau hati yang buta benar-benar amat sayang sekali," katanya dengan
suaranya yang besar dan bahasanya yang kaku.
Mendengar suara ini, Kun Hong dapat menduga siapa tokoh ke dua ini karena dia sudah pula mendengar
nama orang itu dari penuturan Hui Kauw.
"Bhok Hwesio dan pendeta Bhewakala adalah tokoh-tokoh tua yang memiliki ilmu tinggi, sudah tahu aku
seorang muda yang buta mengapa masih memusuhiku tanpa sebab? Apa perbuatan ini tidak
merendahkan derajat serta mencemarkan nama besar ji-wi (kalian)?" katanya dengan suara keras.
Bhok Hwesio melengak, lebih-lebih Bhewakala yang seketika itu menjadi pucat mukanya. Pendeta Nepal
ini datang dari Himalaya di mana kepercayaan akan keajaiban dan tahyul masih sangat tebal. Sekarang
mendengar seorang buta mengenal namanya begitu saja, tentu dia menjadi heran dan takut-takut. Siapa
tahu pemuda ini adalah sebangsa ‘dewa’ yang menjelma menjadi manusia sehingga biar pun matanya buta
akan tetapi tahu akan segala kejadian di dunia ini? Hampir saja dia menjatuhkan diri berlutut untuk minta
maaf kalau saja The Sun tidak membentak marah.
"Kwa Kun Hong! Janganlah engkau coba-coba mempengaruhi dua orang Locianpwe yang terhormat
dengan ucapanmu yang amat beracun! Kau ternyata diakui sebagai ketua oleh pemberontak-pemberontak
Hwa-i Kaipang, jelas bahwa kau adalah seorang pemberontak. Lebih baik kau menyerah dan kami berjanji
akan mintakan ampun kepada kaisar, asal kau suka berjanji untuk bekerja sama membela negara dari
pada rongrongan musuh. Melawan pun tak ada gunanya, kau sudah terluka dan apa artinya kepandaianmu
jika menghadapi kesaktian Bhok Losuhu dan Bhewakala?"
"The Sun, dalam hatimu kau maklum bahwa kalau mau bicara tentang ucapan beracun dan perangai
binatang, maka kaulah orangnya yang paling tepat. Selama hidupku aku tak pernah memusuhimu,
mengapa kau mendesakku dan malah kau menjadi sebab kematian seorang janda yang tak berdosa?"
dunia-kangouw.blogspot.com
"Tak usah banyak cakap lagi, lebih baik surat rahasia yang kau terima dari Tan Hok kau serahkan
kepadaku, jika tidak jangan harap engkau dapat meninggalkan kota raja dalam keadaan hidup!" The Sun
membentak.
"Manusia rendah, sudah kukatakan bahwa aku tidak membawa surat apa-apa. Terserah kepadamu."
"Saudara The, biarlah aku mencoba menangkap tuna netra yang amat bandel ini!" kata Bhewakala yang
amat tertarik mendengar percakapan itu dan kini ingin sekali dia menguji kepandaian si buta ini yang tadi
sudah dipuji-puji oleh Bhok Hwesio.
Bhok Hwesio tertawa. "Saudara Bhewakala, berhati-hatilah kau, dia benar-benar sangat lihai."
Pendeta Nepal itu tersenyum. Dia adalah seorang pertapa Himalaya yang berilmu tinggi, dalam hal
kepandaian dan kesaktian, dibandingkan dengan Bhok Hwesio kiranya hanya kalah setingkat, masa dia
harus merasa jeri menghadapi seorang muda lagi buta seperti Kun Hong ini?
"Orang muda, menyerahlah, atau kalau tidak, bersiaplah kau kutangkap untuk kujadikan tawananku!"
katanya.
Tiba-tiba tubuh Bhewakala sudah bergerak secara aneh, dua kakinya diangkat ujungnya sehingga
tubuhnya mendoyong ke belakang seperti orang akan terjengkang. Benar-benar gerakan ini merupakan
kuda-kuda yang sangat aneh dan lucu, terlebih lagi karena kedua lengannya diulur ke depan bagai seorang
bapak hendak memondong anaknya, atau lebih mirip seorang yang akan jatuh ke belakang sedang minta
tolong.
Kun Hong tak dapat melihat gerakan ini, namun dia dapat mendengarkan dan maklum bahwa orang yang
akan menangkapnya ini memiliki kepandaian luar biasa dan berbeda dengan orang-orang lain. Maka dia
pun tidak mau memandang rendah, tubuhnya sudah bergerak pula dengan perlahan, memasang kudakuda
jurus Sakit Hati.
Kali ini dia tidak mau memusingkan lagi tentang kesabaran, karena maklum bahwa dia sudah terkurung
dan berada dalam keadaan hidup atau mati. Apa lagi kalau teringat akan janda Yo, hatinya sakit sekali.
Ingin sekali rasanya dia membunuh The Sun dengan hanya sekali pukul, ada pun semua orang yang
membantu The Sun tentu saja akan dilawannya mati-matian.
Ketika Bhewakala melihat Pendekar Buta itu memasang kuda-kuda dan tidak menjawab permintaannya
agar menyerah, tiba-tiba dia mengeluarkan suara bentakan panjang dalam bahasa asing. Kedua matanya
menjadi lebar dan bercahaya seakan-akan mengeluarkan sinar kilat, lalu tubuh yang doyong ke belakang
itu tiba-tiba bergerak maju dengan kedua tangan mencengkeram ke arah pundak dan dada Kun Hong.
Serangan ini hebat bukan main, terbukti dari hawa pukulan yang menggetarkan dada Kun Hong, jauh
sebelum kedua tangan orang Nepal itu datang dekat. Bentakan Bhewakala itu juga mendatangkan
perasaan aneh di kepalanya, seakan terdapat dorongan yang hendak memaksa dia menjadi lumpuh.
Kun Hong terkejut dan teringatlah dia akan ilmu ‘merampas semangat’ yang pernah dia pelajari dari paman
gurunya, Sin-eng-cu Lui Bok. Dahulu sebelum dia buta, dia mampu mempergunakan ilmu ini untuk
mengalahkan lawan, yaitu dengan kekuatan lweekang dan batin yang disalurkan melalui pandangan
matanya. Sekarang setelah buta, tentu saja dia tidak dapat melakukan ilmu itu.
Teringat ini, dia menduga bahwa lawannya yang aneh ini agaknya menggunakan ilmu itu pula. Dia
bersyukur bahwa kebutaan matanya membuat dia kebal terhadap penyerangan ilmu ini, karena ilmu ini
menundukkan lawan melalui pandangan mata pula.
Dengan pengerahan tenaga batinnya, Kun Hong menghadapi serangan ini dengan jurus Sakit Hati.
Tongkatnya berkelebat kemerahan dari kanan atas sedangkan tangan kirinya menyambar dengan jari-jari
terbuka dari kiri bawah.
"Siuuuuuttttt!"
Inilah jurus Sakit Hati yang hebatnya bukan kepalang, sejurus ilmu pukulan gabungan dari Ilmu Silat Imyang
Sin-hoat dan Kim-tiauw Kun-hoat, gabungan aneh dari dua macam serangan yang memiliki dua
tenaga gaib pula, yaitu Yang-kang dan Im-kang.
dunia-kangouw.blogspot.com
Bhewakala menjerit ngeri menyaksikan betapa serangannya dihadapi oleh Si Pendekar Buta dengan
serangan pula yang luar biasa anehnya sehingga bulu tengkuknya berdiri semua karena kedua tangannya
tanpa sebab telah terpental oleh semacam hawa yang tidak kelihatan, yang keluar dari gerakan Pendekar
Buta itu. Tubuhnya yang tinggi kurus secepat kilat ditekuk ke kiri untuk menghindarkan diri dari sambaran
tongkat yang memiliki hawa panas seperti baja membara ini, sedangkan kedua tangannya cepat dia
gerakkan untuk menangkis sambil mencengkeram pukulan tangan kiri lawan yang menyambar dari bawah.
"Weeerrrrr... desssss! Auuuuuhh...!"
Bagaikan sebuah layangan putus talinya, tubuh Bhewakala melayang, terlempar sampai lima meter lebih,
sebagian rambut kepalanya hangus terlanggar tongkat sedangkan kedua tangannya bertemu dengan
tangan kiri Kun Hong tadi, membuat tubuhnya terpental jauh.
Bhewakala roboh terguling, akan tetapi cepat bangun lagi dengan kedua mata terbelalak keheran-heranan,
mukanya merah padam. Dia berusaha mempertahankan diri tetapi tidak kuat karena tiba-tiba dia
muntahkan segumpal darah merah dari mulutnya. Hanya dalam satu gebrakan tadi dia telah terluka!
Melihat Pendekar Buta itu masih memasang kuda-kuda Sakit Hati, tidak bergerak seperti patung, kaki
kanan di depan berjungkit, kaki kiri di belakang dan ditekuk lututnya, tangan kanan memegang tongkat
diangkat ke atas melintang, tangan kiri terbuka seperti cakar dan tergantung ke bawah, tokoh Nepal ini
menjadi penasaran dan malu sekali.
Selama dua bulan dia berada di kota raja sebagai seorang tokoh undangan, belum pernah dia melakukan
sesuatu jasa sungguh pun dia telah mendemonstrasikan kepandaiannya kepada para pengawal. Sekarang,
sekali turun tangan, menghadapi seorang pengacau muda lagi buta saja, dalam segebrakan dia sudah
muntah darah!
Dengan dada panas penuh hawa amarah, Bhewakala lalu merogoh saku jubahnya dan mengeluarkan
sebatang cambuk hitam yang ujungnya kecil dan panjang sekali. Cambuk ini tadinya digulung kecil dan
dimasukkan saku, sekarang setelah berada di tangannya berubah menjadi cambuk panjang sekali, tidak
kurang dari tiga meter panjangnya!
Dia merasa penasaran sekali dan hendak membalas kekalahannya. Sambil mengeluarkan bentakan aneh,
dia sudah memutar cambuknya di atas kepala, makin lama makin cepat dan terdengarlah suara seperti
suling ditiup orang. Aneh, makin cepat saja dia memutar cambuk, maka suara seperti suling itu menjadi
makin keras seperti suara sirene!
Kun Hong masih memasang kuda-kuda tanpa bergerak, seluruh inderanya tegang dan dia siap menanti
setiap serangan dengan jurus mautnya itu. Akan tetapi tiba-tiba dia terkejut ketika ada hawa serangan
ujung cambuk yang mengeluarkan suara mengaung aneh itu.
Maklum bahwa tiada gunanya menangkis serangan senjata lemas seperti ini, dia hanya menggerakkan
kedua kakinya dan dengan mudah saja mengelak. Namun ujung cambuk tetap mengejarnya dengan
kecepatan kilat, seakan-akan cambuk itu memiliki mata pada ujungnya, dapat mengejar ke mana jua pun
dia bergerak. Hebat ilmu cambuk dari orang Nepal ini, aneh dan berbahaya.
Baiknya Kun Hong memiliki ilmu langkah ajaib yang dinamai Hui-thian Jip-te, kalau tidak, tentu dia akan
celaka menghadapi penyerangan ilmu cambuk aneh itu. Tak mudah untuk membalas serangan ini dengan
serangan lagi karena lawannya yang memegang cambuk berada dalam jarak tiga meter sedangkan ujung
senjata itu terus mengancamnya.
Terpaksa dia menggunakan langkah ajaib dan berkali-kali orang Nepal itu mengeluarkan seruan heran dan
bingung sebab melihat betapa orang yang diserangnya itu enak-enakan saja berloncatan, kadang-kadang
terhuyung-huyung dan jongkok berdiri, namun semua penyerangannya tidak pernah menyentuh kulit
lawan!
Saking bingung dan herannya, dia marah-marah dan mengira bahwa Pendekar Buta itu memang sengaja
mengejek dan mempermainkannya. Sama sekali dia tidak tahu bahwa sikap Kun Hong itu sama sekali
bukan mengejek, melainkan mati-matian menyelamatkan diri dari kurungan ujung cambuk, karena langkah
ajaib itu memang terlihat aneh dan lucu.
dunia-kangouw.blogspot.com
Kemarahan Bhewakala membuat dirinya tidak hati-hati lagi. Dia tidak tahu bahwa dalam melakukan
langkah ajaib menghindarkan ujung cambuk, Kun Hong dengan cara memutar telah makin mendekatinya
dan begitu ada kesempatan, pemuda buta ini cepat membalas serangan lawan dengan jurus Sakit Hatinya.
"Haaiiiiittttt…!"
Dengan amat hebatnya Kun Hong sudah menerjang lawannya dengan jurus mautnya itu. Bhewakala kaget
sekali, akan tetapi dia sudah siap sedia. Cambuknya tiba-tiba melingkar pendek untuk memapaki tongkat
lawan, sedangkan tangan kirinya sengaja dia kerahkan dengan tenaga penuh untuk memapaki tangan Si
Pendekar Buta.
"Saudara Bhewakala, jangan...!" terdengar Bhok Hwesio berseru kaget. Namun terlambat.
"Deeesssss…! Blukkkkk!"
Cambuk itu putus berhamburan saat bertemu tongkat dan tubuh Bhewakala untuk ke dua kalinya melayang
ke belakang, lalu roboh dan kali ini sampai lama dia tidak dapat bangkit, dari mulutnya mengalir darah
segar dan napasnya terengah-engah. Bhok Hwesio segera menghampirinya.
"Omitohud...!" seru hwesio Siauw-lim yang kosen ini sambil mengurut dada orang Nepal itu beberapa kali.
Diam-diam dia merasa kagum juga kepada Bhewakala karena beberapa menit kemudian tokoh Nepal ini
sudah sanggup bangun dan duduk bersila untuk memulihkan tenaganya. Agaknya dia tidak terluka terlalu
hebat sehingga masih tidak membahayakan keselamatan nyawanya.
"Uuhh-uuhhh... aku tak dapat mempengaruhinya dengan pandangan mataku... uh-uh-uh, dia hebat... Bhok
losuhu...," katanya dengan suara bernada kecewa.
Memang hatinya kecewa bukan main karena dia harus menderita kekalahan. Andai kata lawannya itu, biar
pun memiliki ilmu silat luar biasa tingginya, tidak buta seperti sekarang, belum tentu dia akan kalah seperti
sekarang ini. Dengan pandangan matanya dia dapat mengerahkan kekuatan batin, dapat menggunakan
ilmu sihirnya untuk membuat lawannya bertekuk lutut tanpa mengulurkan tangan. Akan tetapi, apa daya,
justru lawannya tidak mempunyai mata sehingga kekuatan batinnya tidak mendapatkan ‘pintu’ untuk
memasuki tubuh lawan.
Pada lain pihak, diam-diam Kun Hong mengeluh. Dia telah menderita luka dalam akibat pukulan Bhok
Hwesio di punggungnya, sedangkan luka di pangkal pahanya biar pun tidak berbahaya lagi, namun belum
sembuh dan masih terasa nyeri dan perih, juga sebagian tenaganya sudah banyak dipergunakan untuk
mengusir racun dan untuk menambah daya tahan terhadap luka-luka itu, sekarang dia harus menghadapi
lawan tangguh.
Tadi, dalam dua kali bertemu tenaga dengan Bhewakala, walau pun dia berada di pihak unggul berkat
sinkang di tubuhnya dan jurus luar biasa itu, akan tetapi tenaga yang dia gunakan sangatlah merugikan
dirinya sendiri. Luka dalam di punggungnya menjadi makin nyeri sampai menyesakkan dada, luka di
pangkal paha mengucurkan darah baru karena dorongan dari dalam ketika dia mengerahkan tenaga.
Namun pemuda perkasa ini tidak menyatakan sesuatu, tetap memasang kuda-kuda jurus Sakit Hati
menghadapi segala kemungkinan, tetap tak bergerak seperti patung. Dia harus mempertahankan
nyawanya dan untuk ini, mau tidak mau dia harus berani merobohkan lawan, kalau perlu membunuhnya!
Setelah banyak mengalami hal-hal penasaran di dunia kang-ouw, pengertian Kun Hong mulai terbuka
mengapa banyak tokoh-tokoh kang-ouw yang terkenal gagah perkasa dan dia kagumi itu sering kali
melakukan pembunuhan. Kiranya di dunia ini memang terdapat banyak orang-orang yang sudah
sepatutnya dibunuh sebab hidupnya hanya mengotorkan dunia dan menjadi sumber segala kejahatan!
Sekarang dia tak rela menyediakan nyawanya untuk dibunuh orang lain, karena hidupnya masih memiliki
banyak tugas penting sekali. Pertama, mencari musuh-musuh Thai-san-pai dan membantu paman Beng
San membalas sakit hati. Ke dua, membantu mencari adik Cui Sian yang hilang diculik orang. Ke tiga,
melanjutkan tugas dari paman Tan Hok untuk menyampaikan surat rahasia itu kepada yang berhak, yaitu
Raja Muda Yung Lo di utara. Ke empat, mendidik A Wan sebagai muridnya agar dia dapat membalas budi
mendiang Yo-twaso. Ke lima... Hui Kauw!
dunia-kangouw.blogspot.com
Ya, karena adanya Hui Kauw maka dia tidak mau mati dan harus terus mempertahankan hidupnya. Biar
pun pikirannya melayang-layang seperti itu, namun Kun Hong tidak sedikit pun mengurangi kesiap
siagaannya menghadapi para lawan yang sudah mengurungnya.
"Omitohud..., orang muda buta benar-benar lihai sekali. Pinceng kagum... sayang kalau harus
membunuhnya. The-kongcu dan Tan-sicu, mari bersama-sama pinceng menangkap dia hidup-hidup!"
Mendengar kata-kata ini, Kun Hong mengerutkan kening. Hemmm, kiranya Sin-kiam-eng Tan Beng Kui
sudah berada di situ pula. Inilah berbahaya, pikirnya. Kalau tertawan oleh orang-orang ini sama saja
dengan mati. Kalau dia sudah tertawan, bagaimana mungkin melepaskan diri?
Dulu ketika dia belum buta, pernah pula dia ditawan di kota raja, akan tetapi dengan ilmu sihirnya dia
berhasil melarikan diri. Sekarang, sekali dia tertawan, apa bedanya dengan mati? Tidak, dia tidak mau
ditawan! (baca Rajawali Emas)
Begitu mendengar deru angin dari tiga jurusan, Kun Hong cepat menggunakan langkah-langkah ajaibnya
untuk menyelamatkan diri, sedangkan kedua tangannya sudah siap dan selalu mencari kesempatan
membalas. Sayang baginya, jurus Sakit Hati itu hanya sejurus saja, dan pula, hanya amat ampuh kalau
dipergunakan untuk menghadapi seorang lawan yang menyerang sehingga menjadi serangan balasan
yang tak terhindarkan.
Sekarang, menghadapi serangan tiga orang yang demikian tinggi ilmu silatnya, Dia sama sekali tidak
mempunyai kesempatan untuk menggunakan jurusnya ini. Pedang di tangan Sin-kiam-eng bagaikan
seekor garuda saja, menyambar-nyambar dari tempat yang tidak terduga-duga. Bukan main hebatnya Ilmu
Pedang Sian-li Kiam-sut dari Sin-kiam-eng Tan Beng Kui ini sehingga pada saat menghadapinya, timbul
keinginan aneh di hati Kun Hong untuk dapat mempergunakan mata melihat permainan pedang ini!
Tongkatnya sudah repot digunakan menangkis serangan Sin-kiam-eng, sehingga tinggal sedikit
kesempatan untuk menangkis pedang The Sun yang juga amat ganas menyambar-nyambar. Berkali-kali
dia berusaha untuk memukul runtuh pedang The Sun yang dia tahu mengandung racun yang sangat
berbahaya, lebih-lebih dari keinginan dan nafsu hatinya untuk mendapat kesempatan menerjang The Sun
dan merenggut nyawa pemuda halus ini untuk membalas sakit hati janda Yo.
Akan tetapi baru menghadapi dua pedang ini saja dia sudah repot bukan main, ditambah lagi sambaransambaran
aneh dan kuat bukan main dari kedua tangan Bhok Hwesio yang berusaha menangkapnya.
Mana mungkin dia melakukan serangan balasan?
Jika sekarang Kun Hong kewalahan menghadapi lawan-lawannya, hal ini bukanlah terlalu aneh. Pertama,
dia sudah terluka hebat sehingga tenaganya hanya tinggal tiga per empat bagian. Ke dua, dia sedang
menghadapi pengeroyokan tiga orang lawan yang tergolong jagoan-jagoan kelas satu. Ke tiga, hatinya
sudah gelisah sekali karena sampai saat itu dia tidak tahu ke mana perginya A Wan beserta Hui Kauw, dan
apa jadinya dengan mahkota yang menyimpan surat rahasia penting itu.
Pada saat itu pedang The Sun menyambar ke arah kakinya dengan babatan cepat sekali. Kun Hong
melompat ke atas dan cepat sekali menggunakan tongkatnya untuk menindih pedang ini, dengan maksud
menggunakan kesempatan ini dia memukul The Sun dengan tangan kiri. Akan tetapi pada saat itu pedang
Sin-kiam-eng sudah menusuknya, menusuk ke arah leher. Cepat-cepat dia miringkan tubuh dan tangan
kirinya telah siap melanjutkan pukulan kepada The Sun yang masih berkutetan hendak menariknya tetapi
tidak sanggup itu.
"Robohlah...!" tiba-tiba terdengar bentakan Bhok Hwesio yang mendorong dari samping.
Hebat tenaga dorongan hwesio ini, seperti angin puyuh saja datangnya. Kun Hong kaget sekali, terpaksa ia
harus membatalkan pukulannya pada The Sun, dan sebaliknya ia lalu menggunakan tangan kirinya itu
mendorong ke arah Bhok Hwesio.
"Deesssssss…!"
Tangan kiri Kun Hong bertemu dengan tangan Bhok Hwesio, dan dari kedua lengan ini mengalir hawa
dorongan yang luar biasa saktinya. Bhok Hwesio berteriak perlahan, lalu tubuhnya terhuyung-huyung ke
belakang, sedangkan Kun Hong merasa dadanya sesak dan dia pun terpaksa melompat ke belakang dan
berusaha memulihkan napasnya.
dunia-kangouw.blogspot.com
Akan tetapi alangkah kaget hati Kun Hong saat merasa betapa punggungnya yang masih luka itu makin
nyeri, membuat dia sulit bernapas. Kun Hong gugup, bingung, kecewa dan marah bukan main. Haruskah
dia mati dalam keadaan begini? Haruskah dia mati sebelum menunaikan tugasnya?
Terlintas pikiran aneh pula. Haruskah dia mati sebelum menyampaikan cinta kasihnya kepada Hui Kauw?
Tidak! Sekali-kali tidak boleh!
Dan terdengarlah pekik melengking tinggi keluar dari kerongkongannya, pekik yang amat mengerikan dan
mendirikan bulu roma, dibarengi dengan melesatnya tubuhnya dengan jurus Sakit Hati. Hampir saja Sinkiam-
eng Tan Beng Kui menjadi korban karena jago tua ini yang berada di tempat terdekat.
Kun Hong tidak peduli lagi siapa yang berada di dekatnya, tentu terus saja diterjangnya dengan jurus Sakit
Hati sambil mengeluarkan pekik melengking tinggi itu. Tan Beng Kui terkejut dan cepat melompat jauh
menghindarkan diri, juga The Sun kaget bukan main sampai mukanya menjadi pucat dan dia pun
menjauhkan diri. Hanya Bhok Hwesio yang tetap berdiri di tempatnya, memandang dengan penuh
kekaguman.
"Dia sudah seperti harimau luka, tinggal merobohkan saja!" kata hwesio itu membesarkan hati.
The Sun dan Tan Beng Kui mendesak maju lagi, menggerakkan pedang. Keadaan Kun Hong benar-benar
terancam hebat, kalau tidak akan roboh tewas, paling sedikit tentu dia akan tertawan seperti yang dia
khawatirkan.
Tiba-tiba saja terdengar lengking panjang dari atas, lengking yang hampir sama dengan pekik yang keluar
dari mulut Kun Hong, akan tetapi lebih panjang dan nyaring. Mendengar ini, Kun Hong terkejut dan
mukanya berubah berseri-seri.
Dia lalu memekik lagi sambil mengamuk terus, menggerakkan tongkatnya dengan cepat sehingga
tubuhnya tertutup sinar pedang kemerahan. Untuk menjaga dirinya dari desakan tiga orang lawannya yang
amat tangguh, tidak ada ilmu lain kecuali ilmu Pedang Im-yang Sin-kiam yang dapat melindungi tubuhnya.
Lengking panjang itu makin keras dan tiba-tiba terdengar kelepak sayap di udara.
Bhok Hwesio berseru kagum, "Omitohud... apa lagi ini...?”
Kiranya yang datang ini adalah seekor burung rajawali yang besar bukan main. Indah dan gagah burung
itu. Seekor burung rajawali yang jarang kelihatan oleh manusia, bulunya kuning bersih, paruh dan kuku
kakinya seperti emas, matanya merah menyala.
Inilah kim-tiauw si rajawali emas yang datang karena tertarik oleh pekik melengking dari mulut Kun Hong
tadi. Agaknya burung ini mengenal pekik sahabatnya dan begitu tiba di situ melihat Kun Hong dikeroyok,
dia segera mengeluarkan pekik dahsyat dan tubuhnya yang keemasan itu menyambar turun dengan
kekuatan ribuan kati!
"Awas...!" Bhok Hwesio memperingatkan dua orang temannya, juga para pengawal yang mengurung
tempat itu.
Namun tetap saja empat orang pengawal roboh terguling terkena sambaran sayap yang memukul ke
depan, dan paruh yang kuat itu menerjang Tan Beng Kui. Pendekar pedang yang berilmu tinggi ini cepatcepat
mengelak sambil membacokkan pedangnya pada leher burung.
Akan tetapi siapa kira, burung itu sama sekali tidak mengelak, melainkan menggunakan cakarnya untuk
menyambar pedang yang membacoknya! Andai kata bukan Tan Beng Kui yang menyerangnya, pasti
pedang itu akan terampas oleh kim-tiauw. Tetapi Sin-kiam-eng Tan Beng Kui segera menarik pedangnya,
bahkan melompat mundur tiga langkah untuk menghindarkan diri dari serangan cakar kedua yang
menerjangnya.
"Kim-tiauw-ko (kakak rajawali emas)!" seru Kun Hong girang ketika mendengar sepak terjang burung itu.
dunia-kangouw.blogspot.com
Burung itu bukan lain adalah burung kesayangannya, sahabat yang telah berpisah darinya lama sekali.
Kegirangan mendatangkan tenaga berlipat ganda sehingga dengan bentakan hebat dia berhasil memukul
pedang The Sun terlepas dari tangan pemuda itu. (baca Rajawali Emas)
"Serbu!" terdengar The Sun memberi aba-aba kepada para pengawal.
Akan tetapi burung rajawali itu sudah menyambar ke depan dan di lain detik Kun Hong telah melompat ke
atas punggungnya, merangkul lehernya kemudian membiarkan dirinya dibawa terbang meninggi. Puluhan
batang anak panah diiringi caci maki segera melayang mengejar burung itu, namun tak sebuah pun dapat
mengenainya. Yang menyambar dekat dengan mudah diruntuhkan oleh gerakan cakar kaki yang
menangkis! Benar-benar seekor burung yang amat tangguh dan kosen.
"Kim-tiauw ajaib... omitohud...!" Bhok Hwesio memuji.
Saking kagum dan herannya, kakek sakti ini tadi sampai terpesona dan tidak tahu harus berbuat apa. Hal
ini menguntungkan Kun Hong dan rajawali emas, karena kalau kakek ini tidak terpaku dan menjadi pikun
lalu tadi sempat turun tangan, agaknya tidak semudah itu kim-tiauw dapat menolong dan melarikan Kun
Hong dari tempat yang berbahaya itu.
Kun Hong hampir pingsan saking lelahnya pada saat dia duduk di atas punggung rajawali sambil memeluk
lehernya. Dengan terharu dia berbisik, "Tiauw-ko... ahh, kau baik sekali, terima kasih, tiauw-ko..."
Burung itu mengeluarkan bunyi perlahan seolah-olah dapat menerima ucapan Kun Hong, dan terbangnya
semakin pesat membubung tinggi di udara sampai kelihatan kecil sekali, kemudian menukik ke barat
dengan kecepatan kilat.
Belasan li di sebelah barat, di luar tembok kota raja, terdapat sebuah hutan besar. Daerah ini termasuk kaki
Pegunungan Tapie-san. Burung rajawali emas yang membawa terbang Kun Hong itu menukik ke bawah,
ke arah hutan ini dan tak lama kemudian dia sudah turun ke atas tanah di antara pohon-pohon besar di
tengah hutan itu, lalu mendekam. Kun Hong segera melompat turun dari punggung kim-tiauw.
"Bagus, A-tiauw, kau berhasil menolong Kun Hong!" terdengar suara orang, halus dan tenang.
Kun Hong tercengang, mengingat sebentar kemudian dengan girang dia menjatuhkan diri berlutut sambil
berseru. "Susiok (paman guru)..."
Kakek itu tertawa. Memang dia bukan lain adalah Sin-eng-cu Lui Bok, adik seperguruan manusia sakti Bu
Beng Cu, guru Kwa Kun Hong yang tak pernah dia lihat orangnya itu.
Dalam cerita Rajawali Emas dituturkan bahwa dahulu sebelum Kun Hong buta, pernah dibawa oleh
rajawali emas ini ke puncak Gunung Liong-thouw-san (Gunung Kepala Naga) dan di tempat rahasia inilah
dia menemukan kitab Im-yang Bu-tek Cin-keng peninggalan Bu Beng Cu sehingga dengan bantuan
rajawali emas, pemuda ini dapat mewarisi ilmu silat yang dia namakan Kim-tiauw-kun (Ilmu Silat Rajawali
Emas).
Dalam ceritera Rajawali Emas pula, pernah Kun Hong bertemu dengan adik seperguruan Bu Beng Cu,
seorang aneh yang sakti pula, yaitu bukan lain adalah Sin-eng-cu (Si Garuda Sakti) Lui Bok inilah yang
pernah mengajarnya ilmu sihir yang disebut ilmu merampas semangat.
Pada saat itu, selagi Kun Hong berlutut penuh keharuan karena tak mengira bahwa yang menyuruh
rajawali emas menolongnya ternyata adalah susiok-nya sendiri ini, terdengar kaki-kaki kecil berlari
mendekati dan suara yang amat dikenalnya berseru, "Suhu...!"
"A Wan, kau di sini?" Kun Hong memeluk anak itu, girang dan juga heran.
"Dan anak ini... siapakah?" Dia menoleh ke kiri karena telinganya juga dapat menangkap gerakan seorang
anak kecil lagi yang agaknya tadi digandeng oleh A Wan dan sekarang duduk pula di dekatnya.
"Suhu, dia adalah Cui Sian, adik kecil yang baik dan lucu..."
dunia-kangouw.blogspot.com
"Cui San?! Anak paman Beng San...?" Kun Hong sampai berteriak keras saking heran dan kagetnya
sehingga A Wan yang tak tahu apa-apa menjadi bingung. Dengan penuh keharuan tangannya meraih dan
pada lain saat anak perempuan berusia empat tahun itu telah dipeluknya.
Terdengar suara anak perempuan itu, nyaring dan jelas suaranya, tidak seperti anak-anak kecil lain yang
sebaya. "Paman buta, kau ini menangis ataukah tertawa? Karena aku tidak dapat membedakannya."
Kun Hong tertawa, pertanyaan bodoh seorang kanak-kanak namun mengandung makna demikian
dalamnya, sedalam lautan, meliputi rahasia hidup karena kehidupan di dunia ini memang hanya berisi dua
hal, tangis dan tawa!
"Anak baik... anak baik... aku menangis dan juga tertawa saking girangku mendengar kau selamat..."
Tiba-tiba dia teringat dan setelah melepaskan Cui Sian dari pelukan, dia bangkit berdiri, menoleh ke arah
Sin-eng-cu Lui Bok. Keningnya berkerut-kerut ketika dia berkata,
"Susiok... Cui Sian di sini bersama Susiok...? Bagaimanakah ini? Bukankah Cui Sian diculik orang dari
Thai-san? Apakah Susiok..." dia tidak berani melanjutkan kata-katanya sungguh pun hatinya penuh
kecurigaan yang bukan-bukan.
Kakek itu tertawa lembut. "Kenapa tidak kau lanjutkan, Kun Hong? Tak baik mengandung curiga di dalam
hati, karena kecurigaan yang dipendam dapat menimbulkan fitnah tanpa disengaja. Kecurigaanmu keliru,
Kun Hong. Aku bersama kim-tiauw ingin menjengukmu di Thai-san dan kulihat Thai-san diserang banyak
orang. Di puncak kulihat nyonya ketua Thai-san yang gagah perkasa dikeroyok dan bangunan dibakar.
Karena anak ini terancam bahaya, maka aku berlancang tangan membawanya pergi dari sana."
Mendengar ini, merah muka Kun Hong. Tidak dapat dia sangkal lagi, sebelum mendengar penjelasan ini,
tadi dia telah menaruh curiga kepada susiok-nya. Dia segera menjatuhkan diri berlutut lagi sambil berkata,
nada suaranya penuh permohonan dan juga penuh rasa dendam.
"Siapakah mereka itu, Susiok? Si...siapakah mereka yang menyerang Thai-san?"
Kembali kakek itu tertawa geli seakan-akan mendengar sesuatu yang amat lucu.
"Susiok, mengapa Susiok mentertawakan teecu (murid)?" Kun Hong merasa heran dan penasaran.
Apakah pertanyaannya itu dianggap lucu? Tak mengerti dia mengapa dalam urusan yang demikian
pentingnya, orang tua itu malah tertawa-tawa dan seakan-akan mentertawakan dirinya.
"Kau hendak apakah menanyakan mereka yang menyerang Thai-san?"
"Keparat-keparat itu telah berlaku keji terhadap paman Beng San, tentu saja teecu harus membalas
dendam sakit hati ini!"
"Ha-ha-ha, sudah kuduga! Sudah kukhawatirkan akan beginilah jadinya. Sayang..." Kakek itu tertawa lagi.
"Balas-membalas, dendam-mendendam, roda karma terus berputar tiada hentinya..."
Kun Hong terkejut, lalu cepat bertanya, "Susiok, salahkah sikap teecu ini?" Dan setelah berpikir sebentar
dia melanjutkan, "Susiok sudah sampai di Thai-san dan melihat semua itu, sudah berhasil menyelamatkan
adik Cui Sian, kenapa Susiok tidak membantu paman Beng San membasmi orang-orang jahat itu?"
"Hemmm, aku tidak mempunyai urusan dengan mereka semua, sudah terlalu lama aku membebaskan diri
dari pada libatan karma, Anakku. Sikapmu ini tidaklah salah, hanya hatiku menjadi geli mendengar katakata
dan melihat sikapmu ini. Agaknya kau sudah lupa sama sekali beberapa tahun yang lalu ketika kau
menasehati seorang kakek seperti aku ini pada saat aku hendak mencari dan membunuh Sin-chio The Kok
atau Hwa-i Lokai. Ha-ha-ha!"
Kun Hong tertegun dan seketika dia termenung. Terbayanglah kini semua pengalamannya dahulu, ketika
dia masih belum buta. Pertemuannya pertama dengan Sin-eng-cu Lui Bok terjadi amat aneh, yaitu kakek
itu menyatakan hendak mencari dan membunuh musuh besarnya, Sin-chio The Kok yang
menyembunyikan diri dan mengubah namanya menjadi Hwa-i Lokai. Dialah yang dahulu menasehati orang
dunia-kangouw.blogspot.com
tua ini agar jangan membalas dan membunuh, supaya jangan terikat oleh tali-temali yang sangat kusut dan
sulit, yaitu tali dendam mendendam.
Dan sekarang, persis seperti beberapa tahun yang lalu, sekarang di depan kakek itu dia bersikeras hendak
membalas dendam Thai-san-pai kepada orang-orang yang menyerbu Thai-san. Seketika mukanya menjadi
merah dan dia tidak dapat berkata sesuatu. (baca Rajawali Emas)
Kakek itu menarik napas panjang, maklum akan isi hati Kun Hong. "Kau masih ingatkah, Kun Hong, betapa
dahulu aku pernah datang ke Thai-san dan membujuk kau supaya ikut dengan aku menjadi pertapa, hidup
bahagia membebaskan diri dari pada ikatan karma? Kau tidak mau dan aku hanya dapat tunduk akan
kehendak Thian. Aku tak menyalahkan engkau. Pengertianmu tentang rahasia hidup memang sudah
cukup, tetapi pengertian itu hanya menjadi pengetahuan dari teori buku-buku lama saja, akan tetapi kau
belum dapat menguasai ilmu yang kau ketahui teorinya itu. Betapa pun juga, teori yang pernah kau
nasehatkan kepadaku dulu itu telah menolongku, sebaliknya tak mampu menolong dirimu sendiri. Ini tidak
aneh oleh karena kau memang masih muda, masih suka melibatkan diri dengan dunia beserta sekalian isi
dan peristiwanya, kau masih belum mampu menguasai perasaan muda." (baca Rajawali Emas)
Kun Hong menunduk dan diam-diam dia dapat menangkap kebenaran kata-kata kakek ini.
"Kau masih terlalu muda untuk dapat menyelami semua teori tentang filsafat dan rahasia kehidupan,
Anakku. Karena jiwamu belum masak, belum cukup kuat menghadapi gejolak perasaan sehingga mudah
terpengaruh keadaan dan hawa nafsu. Sekarang pun karena bertemu dengan anak pamanmu, seluruh
perasaanmu terpenuhi oleh urusan Thai-san-pai sehingga kau lupa akan tugas yang telah kau ikatkan
dengan dirimu, tentang mahkota..."
Kakek itu kembali tertawa. Suara ketawanya lebih keras ketika tiba-tiba Kun Hong seperti orang tersentak
kaget meraih A Wan dan serta merta bertanya,
"A Wan, di manakah adanya mahkota itu? Sudah dapat kau ambilkah?" Suaranya penuh harapan. Seperti
yang tadi dikatakan oleh Sin-eng-cu Lui Bok, kini seluruh perhatiannya terpusat kepada benda rahasia
itulah sehingga boleh dibilang dia lupa sama sekali akan urusan Thai-san-pai!
Sambil berlutut anak itu berkata, suaranya takut-takut, "...ampunkan, Suhu, mahkota itu... benda itu... telah
dirampas orang..."
"Apa katamu?" Kun Hong marah dan kecewa sekali, kemudian sambungnya agak tenang setelah dia ingat
bahwa seorang anak kecil seperti A Wan, mana sanggup melindungi mahkota itu?
“Siapakah yang merampasnya?"
Dengan suara mengandung takut kalau-kalau gurunya akan marah kepadanya, A Wan menuturkan
pengalamannya.
"Tadinya benda itu teecu sembunyikan dan kubur di belakang rumah dekat sumur. Ketika Suhu menyuruh
teecu mengambilnya, teecu segera pergi ke tempat itu dan menggalinya. Akan tetapi baru saja teecu
mengambil benda itu dan teecu bersihkan dari tanah lumpur yang masuk ke dalam mahkota, teecu
dibentak orang dan mahkota itu hendak dirampas."
''Hemmm, siapa dia? Laki-laki atau wanita?" tanya Kun Hong,
"Seorang laki-laki, akan tetapi karena keadaan gelap, teecu tidak mengenal wajahnya. Teecu
mempertahankan mahkota itu, akan tetapi dia menggunakan kekerasan, lalu teecu didorong dan benda itu
dapat dirampas. Pada saat itu muncul pula seorang wanita muda dan seorang laki-laki gagah dan masih
muda pula. Serta merta orang muda itu menyerang orang yang tadi merampas mahkota tadi, ada pun
wanita muda itu menolong teecu. Akan tetapi segera teecu ditinggalkan seorang diri ketika wanita itu
melihat teecu tidak apa-apa, kemudian wanita itu membantu temannya mengeroyok laki-laki yang
merampas mahkota. Entah bagaimana jadinya karena mereka bertempur sambil berlari dan berkejaran.
Teecu ikut mengejar sambil berteriak-teriak minta agar benda itu dikembalikan. Tiba-tiba muncul banyak
orang yang galak-galak. Teecu ditangkap dan dipaksa menyerahkan mahkota. Untung segera datang
Kakek perkasa (Locianpwe) ini yang menolong teecu kemudian membawa teecu pergi seperti terbang
cepatnya."
dunia-kangouw.blogspot.com
Kun Hong termenung mendengar ini. Kembali paman gurunya yang menolong A Wan, akan tetapi kenapa
tidak sekalian merampas mahkota itu? Dia menjadi amat kecewa.
"Jadi mahkota itu dirampas orang?" katanya lambat-lambat dengan nada sedih.
"Suhu, apa sih gunanya benda mengkilap itu? Jika memang amat diperlukan dan sangat berharga bagi
Suhu, biarlah teecu menyelundup masuk kembali ke kota raja dan pergi menyelidikinya." A Wan berkata
dengan suara sedih pula sebab anak ini melihat suhunya demikian kecewa.
Kata-kata ini menyadarkan Kun Hong dan seketika mukanya berubah biasa lagi. "Ah, kau mana tahu, A
Wan? Sebenarnya bukan benda emas itu yang berharga, melainkan surat yang tersembunyi di
dalamnya..."
"Surat? Bertulis? Wahhh, kebetulan sekali Suhu! Teecu sudah menduga-duga surat apa ini. Surat yang
disembunyikan di dalam mahkota ada pada teecu."
Sambil berkata demikian A Wan mengeluarkan segulung surat kekuning-kuningan dari dalam saku
bajunya. Kun Hong segera menyambar surat itu dan meraba-raba dengan jari-jari tangannya, wajahnya
berseri gembira dan bibirnya tersenyum.
"Bagaimana kau bisa mendapatkan ini? Di dalam mahkota katamu?"
"Benar, Suhu, Ketika teecu membersihkan mahkota itu, teecu menggosok-gosok sebelah dalamnya yang
kotor. Tiba-tiba terdengar bunyi berdetak dan tersembullah kertas di sudut dalam mahkota. Lalu ketika
mahkota itu hendak dirampas orang dan teecu pertahankan, tanpa sengaja teecu yang memegangi
mahkota dengan sebelah tangan di dalamnya, mencengkeram keluar kertas ini. Teecu baru mengetahui
bahwa kertas ini berada dalam genggaman teecu setelah mahkota itu dibawa lari orang."
Kun Hong mengangguk-angguk, meraba-raba kertas bergulung yang kecil itu, kemudian dia menoleh ke
arah Sin-eng-cu Lui Bok yang sejak tadi hanya berdiri sambil membelai leher burung rajawali, sama sekali
tidak mempedulikan percakapan antara Kun Hong dan A Wan.
"Susiok, tolonglah Susiok periksa gulungan kertas ini. Betulkah ini berisi perintah rahasia mendiang
kaisar?"
Terdengar kakek itu tertawa lirih, lalu bergumam, "Terlalu dalam kau terjerumus ke dalam persoalan dunia."
Akan tetapi diterimanya juga gulungan kertas kecil itu, dibukanya dan dibacanya sebentar, lalu digulung
kembali dan diangkatnya tinggi-tinggi surat itu di atas kepala sambil berkata, "Memang betul dan mendiang
kaisar adalah seorang manusia yang telah berbuat banyak jasa selama hidupnya untuk bangsa. Seorang
pejuang perkasa, seorang manusia berjiwa besar."
Dia mengembalikan gulungan kertas itu kepada Kun Hong yang segera menyimpannya di saku bajunya
sebelah dalam. Lenyap semua kekecewaannya. Mahkota kuno itu sendiri baginya tidak mempunyai harga,
yang penting adalah surat rahasia inilah.
"A Wan, kau anak baik! Kau telah berjasa besar..."
Akan tetapi A Wan yang dipuji gurunya hanya sebentar saja merasa girang karena dia teringat akan ibunya
dan bertanya. "Suhu, bagaimana dengan... Ibu? Siapa yang merawat jenazahnya?"
Atas pertanyaan ini Kun Hong tak mampu menjawab. Jelas tidak mungkin baginya untuk ke rumah
mendiang janda Yo yang menjadi pusat perhatian para pengawal istana. Akan tetapi dia percaya bahwa
Hui Kauw tidak akan membiarkan jenazah janda itu terlantar. Dia percaya bahwa Hui Kauw yang bisa
bergerak secara leluasa di kota raja akan dapat mengatur sehingga jenazah itu dapat dikubur baik-baik.
"Kau jangan khawatir, A Wan. Cici Hui Kauw tentu akan mengatur penguburan jenazah ibumu."
"Teecu hendak ke sana, Suhu! Teecu harus menunggui Ibu..." Sekarang anak itu mulai menangis.
Kun Hong mengerutkan keningnya dan menggeleng-gelengkan kepala.
dunia-kangouw.blogspot.com
"Tidak bisa, A Wan. Kau sudah dikenal, kau pun terlibat dalam urusan perebutan surat rahasia, kalau kau
muncul pasti kau akan ditangkap."
"Biar teecu ditangkap, biar teecu dibunuh, teecu tidak takut. Teecu harus merawat jenazah Ibu...!"
Kun Hong amat bingung mendengar tangis muridnya yang amat menyedihkan itu. Karena tidak tahu
bagaimana harus menghiburnya, dia membentak keras.
"Diam kau, A Wan! Muridku tidak boleh berhati lemah seperti ini! Pantang bagi laki-laki menangis!"
Seketika A Wan berhenti menangis, air matanya masih bercucuran ke luar dari sepasang matanya, akan
tetapi mata itu kini dibuka terbelalak lebar memandang gurunya dan dia menggigit bibirnya menahan
tangis. Hanya pundaknya saja yang digoyang-goyang oleh isak tangis yang tak mungkin ditahannya itu.
Kalau saja Kun Hong dapat melihat sikap muridnya ini, tentu dia akan menjadi terharu dan bangga sekali.
Ketaatan bocah itu bukan sekali-kali karena takut. Semenjak kecil A Wan mendapatkan cinta kasih dari
ibunya yang berwatak halus, tidak pernah dia mendapat perlakuan kasar sehingga dia tidak mempunyai
sifat takut-takut. Ketaatannya kepada Kun Hong berdasarkan keseganan dan kepercayaan bahwa segala
apa yang diperintahkan oleh gurunya yang dicintanya sebagai ibunya sendiri itu, pastilah benar dan baik
serta harus ditaatinya.
"A Wan, muridku yang baik. Pergilah kau ke sana, ajaklah adikmu Cui Sian itu mencari kembang, aku
hendak bicara dengan Susiok-couw-mu (Paman kakek gurumu)," kata Kun Hong.
Kemudian A Wan segera berdiri, menuntun tangan Cui Sian dan mereka pergi menjauh. Tak lama
kemudian hanya terdengar suara ketawa Cui Sian yang nyaring ketika A Wan mengajaknya menangkap
kupu-kupu yang bersayap indah.
Kini kakek itu berhadapan dengan Kun Hong. Pendekar Buta ini merasa lemah seluruh anggota tubuhnya,
terbawa oleh derita batin yang ditanggungnya selama ini. Semua tugas yang dipikulnya belum ada yang
terpenuhi dan kini dia menjadi bingung menghadapinya. Bagaimana dia akan dapat menunaikan semua
tugas itu dengan sempurna?
"Susiok, bagaimanakah pendapat Susiok? Teecu merasa bingung... teecu yang buta ini benar-benar
kehabisan akal, mohon petunjuk, Susiok."
Kembali Sin-eng-cu Lui Bok tertawa geli. "Duduklah, Kun Hong, dan mari kita bercakap-cakap."
Kun Hong lalu duduk di atas tanah, bersila di depan kakek itu yang sudah duduk bersila di atas rumput
tebal.
"Kun Hong, kalau aku dahulu membujukmu supaya ikut denganku ke puncak gunung dan bertapa,
sekarang sudah tak mungkin lagi. Kau telah mengikatkan dirimu dengan pelbagai urusan dunia dan
sebagai seorang yang menjunjung tinggi kegagahan engkau harus terus melanjutkan semua tugasmu
sampai selesai. Selama ini aku selalu mengikuti sepak terjangmu, dan jurus yang kau mainkan untuk
membunuhi lawan-lawanmu itu sungguh-sungguh keji sekali!"
Kun Hong terkejut sekali, mengeluh dan menutupi mukanya dengan kedua tangannya. "Ahh, Susiok...
berilah petunjuk..."
Diam-diam dia merasa malu terhadap diri sendiri. Kiranya susiok-nya ini sekarang sudah menjadi orang
yang demikian saktinya sehingga dapat mengikuti semua pengalamannya. Benar-benar hebat.
"Dahulu teecu pernah berlancang mulut memberi nasehat kepada Susiok supaya jangan membunuh Hwa-i
Lokai, sekarang teecu sendiri malah telah banyak membunuh orang."
"Kun Hong, aku tidak bisa menyalahkanmu karena perbuatanmu itu semata-mata hanya dalam tugas
membela diri, sama sekali tidak ada niat sebelumnya di dalam hatimu untuk membunuh. Kau masih muda,
tapi banyak kali hatimu terluka, terutama oleh peristiwa di puncak Thai-san di mana kau kehilangan kekasih
dan sekaligus kehilangan sepasang mata. Semua itu terjadi karena kau terlalu diperhamba oleh perasaan
dan sekarang pun masih menjadi hamba perasaanmu sendiri sehingga tanpa kau sengaja kau malah telah
menghancurkan pengharapan dan kebahagiaan seorang wanita mulia seperti nona muka hitam itu."
dunia-kangouw.blogspot.com
Kakek itu menarik napas panjang dan Kun Hong tiba-tiba menjadi merah mukanya. Bukan main kakek ini.
Sampai urusannya dengan Hui Kauw sekali pun sudah diketahuinya.
"Susiok, mohon petunjuk...," dia hanya dapat mengulang kata-kata ini.
"Agaknya sudah menjadi kehendak alam bahwa manusia ini hidupnya dipengaruhi dan dibimbing oleh
rasa. Rasa menimbulkan kehendak dan kehendak melahirkan perbuatan. Jadi setiap perbuatan merupakan
pelaksanaan dari pada kehendak yang akan menuruti dorongan rasa. Rasa ini halus sekali dan karenanya
sering kali dipermainkan oleh nafsu. Nafsu inilah pokok pangkal segala peristiwa di dunia, karena nafsulah
yang mendorong segala sesuatu di dunia ini sehingga dapat berputar. Nafsu ini besar kecilnya tergantung
pada pihak ke’aku’an yang ada pada diri setiap manusia. Orang yang selalu memikirkan diri sendiri, orang
yang selalu mementingkan diri pribadi, dialah seorang hamba nafsu dan sering sekali melakukan
perbuatan yang menyeleweng dari pada kebenaran."
Kun Hong adalah seorang pemuda yang sejak kecil banyak membaca filsafat, dan filsafat di atas sudah
pula diketahuinya. Akan tetapi, selama ini tidak pernah dia mendapatkan seorang teman untuk diajak
berdebat tentang kebenaran filsafat-filsafat itu, maka saat ini berhadapan dengan seorang sakti, dia
sengaja ingin memperdalam arti pengetahuannya dan minta petunjuk agar tidak terlalu risau hatinya.
"Susiok, kalau begitu, apakah sebaiknya kita membunuh saja nafsu diri sendiri sehingga terhindar dari
pada penyelewengan dalam hidup?"
Sin-eng-cu Lui Bok tertawa. "Aku tahu bahwa kau sudah mengerti akan hal ini akan tetapi agaknya
menghendaki keyakinan. Baiklah, akan kucoba untuk menjelaskan. Ada orang yang bertapa dan sengaja
berusaha untuk membunuh nafsunya sendiri. Sudah tentu bagi orang-orang yang melakukan hal demikian
usaha ini benar. Akan tetapi bagi aku pribadi, usaha seperti itu bukanlah merupakan jalan untuk mencapai
kesempurnaan. Nafsu tidak boleh dibunuh karena seperti yang sudah kukatakan tadi, nafsu adalah
pendorong hidup, pendorong segala di dunia ini hingga dapat berputar dan berjalan sebagaimana mestinya
menurut hukum alam. Tanpa adanya nafsu, dunia akan sunyi, akhirnya segala akan mati dan diam tak
berputar lagi. Karena itulah maka kuanggap keliru bila ada yang berusaha mencari kesempurnaan dengan
jalan membunuh nafsu-nafsunya sendiri."
Kun Hong mengangguk-angguk. Dia pun pernah membaca mengenai orang-orang yang berkeyakinan
bahwa jalan menuju arah keutamaan dan kesempurnaan adalah membunuh nafsunya sendiri. Dan dia
dapat menerima pendapat paman gurunya ini.
"Kalau begitu, bagaimana seyogyanya menghadapi nafsu-nafsu sendiri yang kadang kala menyeret kita
dalam perbuatan-perbuatan maksiat itu, Susiok?"
"Nafsu adalah pelengkap yang lahir bersama hidup itu sendiri. Tubuh manusia kalau boleh diumpamakan
sebuah kereta yang lengkap, maka nafsu merupakan kuda-kudanya yang dipasang di depan kereta. Si
kereta tidak akan dapat bergerak maju sendiri tanpa tarikan tenaga kuda-kuda nafsu itu. Kuda-kuda
nafsunya memang liar dan binal, kalau dibiarkan saja kuda-kuda itu tentu meliar dan membedal semauaya
sendiri, tentu ada bahayanya kuda-kuda itu, akan dapat menjerumuskan kereta ke dalam jurang
kesengsaraan hidup, mungkin berikut kusirnya sekalian karena kereta itu juga ada kusirnya, yaitu si aku
yang sejati, jiwa yang menguasai seluruh kereta. Kalau kusir itu cukup pandai mengendalikan kuda-kuda
liar itu dengan tali-temali berupa kesadaran, maka kuda-kuda nafsu yang liar dan binal itu dapat
dipergunakan tenaganya untuk menarik maju si kereta menuju ke jalan yang benar, sesuai dengan
kehendak alam. Segala sesuatu harus bergerak maju, namun kemajuan yang lurus dan benar, karena
siapa yang maju dalam keadaan menyeleweng pasti akan hancur ke dalam jurang kesengsaraan.
Mengertikah kau, Kun Hong?"
Kun Hong mengangguk-angguk. "Teecu mengerti, Susiok. Sungguh teecu tak menyangka bahwa Susiok
tahu akan segala peristiwa yang menimpa teecu, bahkan secara kebetulan Susiok turut menyaksikan pula
diserbunya Thai-san-pai oleh orang-orang jahat sehingga Susiok berhasil menyelamatkan Cui Sian. Akan
tetapi, Susiok, bolehkah teecu bertanya, mengapa Susiok tidak membantu paman Beng San menghadapi
orang-orang jahat yang merusak Thai-san-pai?"
"Aku tidak perlu mencampuri urusan pertempuran-pertempuran orang lain, hal itu bukan urusanku. Akan
tetapi aku tidak dapat membiarkan seorang anak kecil seperti Cui Sian menjadi korban pertentangan
orang-orang tua itu."
dunia-kangouw.blogspot.com
Kun Hong merasa tidak puas, dia mengerutkan keningnya. "Maaf, Susiok, terpaksa teecu harus
membantah. Sungguh pun pertempuran itu bukan urusan Susiok, namun kiranya Susiok dapat membela
kebenaran. Bukankah sikap seorang gagah harus selalu membela kebenaran dan keadilan di dunia ini?"
Sin-eng-cu Lui Bok tertawa bergelak. "Ha-ha-ha-ha, Kun Hong, kau bilang kebenaran dan keadilan, akan
tetapi kebenaran yang mana dan keadilan yang mana? Kebenaran untuk siapa dan keadilan untuk siapa?
Anakku, tahukah kau bahwa dunia ini menjadi kacau, manusia saling bermusuhan, tidak lain dan tidak
bukan hanya karena mereka itu saling memperebutkan kebenaran? Kebenaran itu hanya satu, akan tetapi
menjadi banyak sekali sifatnya karena tiap orang mempunyai kebenarannya sendiri-sendiri! Benar dan adil
bagi yang satu, belum tentu benar dan adil bagi yang lain. Dan apa bila ada dua orang saling bermusuhan
untuk memperebutkan kebenaran, katanya, maka jelaslah bahwa keduanya sudah menyeleweng dari pada
kebenaran sejati dan yang mereka perebutkan itu adalah kebenaran palsu, karena kebenaran untuk dirinya
sendiri, kebenaran dan keadilan demi kepentingan masing-masing. Kalau di waktu itu aku membantu Thaisan-
pai, apa kau kira mereka yang memusuhi Thai-san-pai menganggap aku benar dan adil? Ha-ha-ha,
kurasa tidak, muridku."
Tentu saja Kun Kong dapat menerima ini karena dia pun sudah tahu akan filsafat tentang kebenaran ini.
Akan tetapi dia masih penasaran karena dia amat yakin bahwa kebenaran berada di pihak pamannya.
"Maaf, Sosiok. Memang tepat apa yang Susiok uraikan itu, akan tetapi, Susiok, teecu yang bodoh
berpendapat bahwa dengan melihat watak orangnya, mudah ditarik kesimpulan siapa yang benar di antara
dua orang yang bermusuhan. Juga dengan pertimbangan dan akal, dapat pula kita menilai dari urusanurusannya,
siapa yang patut disebut berada di pihak kebenaran. Saya kira, tidak mungkin apa bila paman
Tan Beng San yang terkenal sebagai seorang pendekar yang gagah perkasa dan luhur budi pekertinya,
tidak berada di pihak benar."
"Belum tentu juga, Kun Hong. Yang datang menyerbu adalah orang-orang yang hendak membalas dendam
atas kematian orang-orang yang mereka kasihi dan dalam hal ini, isi hati mereka sama sekali tidak ada
bedanya dengan isi hatimu sekarang yang hendak membalas dendam Thai-san-pai terhadap mereka yang
telah merusaknya."
"Ahhh... begitukah kiranya...??" Kun Hong tercengang. "Bagaimana, Susiok apakah yang teecu harus
lakukan? Harap beri petunjuk."
"Kau masih muda, Kun Hong. Kau sudah melibatkan dirimu dalam tali-temali karma, tidak mungkin kau
dapat membebaskan dirimu sekarang. Akan tetapi, jalan satu-satunya untuk mendapatkan karma yang
baik adalah bertindak selaras dengan kebajikan. Dengan dasar kebajikan dan kesadaran, kau boleh
menentukan sendiri yang mana yang harus kau bela. Engkau berbeda dengan aku, engkau adalah
seorang pendekar muda, harus melangkah atas dasar jejak satria. Aku seorang pertapa yang sudah
mencuci tangan, sudah bebas dari pada ikatan duniawi, atau setidaknya, yang sedang berusaha untuk
pembebasan itu. Kau lanjutkan saja pelaksanaan tugas-tugasmu karena semua itu tidak menyeleweng dari
pada kebenaran. Kalau kau menimbang bahwa menyampaikan surat rahasia kepada raja muda yang
berhak menerimanya itu sudah benar dan patut, kau lakukanlah itu. Kalau kau merasa bahwa orang-orang
yang menyerbu Thai-san-pai itu berada di pihak keliru, kau boleh mencari dan menghajar mereka. Mereka
adalah orang-orang Ching-coa-to bersama teman-temannya, hampir semuanya mempunyai dendam
terhadap Thai-san Paicu (ketua Thai-san-pai). Ada pun tentang diri nona muka hitam itu, dialah wanita
satu-satunya yang tepat untuk menggantikan kedudukan mendiang nona Tan Cui Bi di sampingmu."
Mendengar kata-kata ini muka Kun Hong berubah menjadi merah dan hatinya berdebar tidak karuan.
Disinggung-singgungnya Hui Kauw dalam percakapan ini membuat dia tidak dapat membuka mulut lagi.
"Sekarang perhatikan baik-baik nasehatku yang terakhir, Kun Hong. Aku sudah melihat sebuah jurusmu
yang sangat hebat dan keji itu, jurus perkawinan antara Im-yang Sin-hoat dan Kim-tiauw-kun. Dari dua
macam ilmu kesaktian yang amat lurus dan bersih, kenapa bisa diciptakan menjadi sebuah jurus yang
demikian keji? Siapa yang memberi petunjuk kepadamu?"
"Locianpwe Song-bun-kwi,” jawab Kun Hong terus terang.
"Ha-ha-ha, pantas, pantas saja kalau dia, si tua bangka dimabuk nafsunya sendiri itu! Kun Hong,
seandainya gurumu, Bu Beng Cu masih hidup dan dapat melihat jurusmu itu, sudah pasti beliau akan
dunia-kangouw.blogspot.com
merasa sedih dan malu sekali. Juga kalau pamanmu Tan Beng San melihatnya, kau tentu akan mendapat
marah. Jurus apa itu namanya?"
Dengan perasaan sungkan dan malu Kun Hong menjawab lirih, "Locianpwe Song-bun-kwi yang memberi
nama... ehh, jurus Sakit Hati..."
Tag:cersil cersil indo cersil mandarin full cerita silat mandarin online cersil langka cersil mandarin lepas cerita silat pendekar matahari kumpulan cerita silat jawa cersil mandarin beruang salju. cerita silat pendekar mataharicerita silat indonesia cerita silat kho ping hoo cerita silat mandarin online cerita silat mandarin full cerita silat jawa kumpulan cerita silat cerita silat jawa pdf cerita silat indonesia gratis cerita silat jadul indonesia cerita silat indonesia pendekar rajawali sakti cersil indonesia pendekar mabuk cersil langka cersil dewa arak cerita silat jaman dulu cersil jawa download cerita silat mandarin full cerita silat mandarin online cersil mandarin lepas cerita silat mandarin pendekar matahari cerita silat jawa pdf cersil indonesia pdf cersil mandarin beruang salju kumpulan cerita silat pdf
kumpulan cerita silat cersil online
Share:
cersil...
Comments
0 Comments

Arsip Cersil

Best Cersil

Pecinta Cersil