Donasi

Buat yang punya rejeki berlebih dan merasa terhibur dengan Situs Cerita Silat Cersil Terbaik ini bisa mendonasikan bantuannya ke
No. Rekening BPD Jateng No. 2004084554
demi keberlangsungan dan keberadaan Blog Cersil Cerita Silat yang sama-sama kita cintai ini. Kritik dan Saran hub No HP.083837358519. Atas Bantuannya disampaikan Terimakasih.

Minggu, 22 April 2018

Pendekar Penyebar Maut 8 Full Tamat Komplit Baca Online disini

----
"Kau tidak ingin berjumpa dengan Hong siang dulu?"
Chin Yang Kun tampak termangu-mangu sebentar. Lalu
katanya, "Sebaiknya aku tidak usah menemuinya. Aku minta
tolong saja kepada Chu twa-ko untuk melaporkan perihal
kepergianku ini besok pagi. Biarlah semua orang tidak menjadi
ribut kalau mendengarnya. Twa-ko, bersediakah kau?"
Tabib muda itu menarik napas panjang. "Baiklah kalau
memang itu yang kau inginkan. Tapi........ bagaimana dengan
gangguan pada simpul syarafmu itu ? Apakah penyakit
tersebut akan kau diamkan saja hingga menjadi parah ?"
"Tentu saja tidak, Chu twa-ko. Aku akan segera mencari
Chu twa-ko begitu urusanku ini selesai."
"Dan........ apabila urusan itu dalam jangka waktu lama
tidak kunjung selesai juga? Padahal penyakitmu semakin hari
semakin parah. Apa jadinya nanti? Di satu pihak kau dapat
menyelesaikan dendammu, tetapi di lain pihak kau sudah
berubah-berubah menjadi seorang iblis penyebar maut di
kalangan para wanita. Apakah kau tidak merasa ngeri?"
"Ahh.... aku akan berhati-hati sekali menjaga diriku. Akan
selalu kuhindari hal-hal yang sekiranya bisa membuat
penyakitku kambuh."
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Saudara Yang, tampaknya kau belum menyadari
sepenuhnya, macam apa penyakitmu itu. Tak seorangpun di
dunia ini yang mampu bertahan terhadap penyakit seperti itu.
Jangankan Cuma seorang manusia biasa seperti kau dan aku,
biarpun seorang pendeta atau pertapa yang telah berpuluhpuluh
tahun menyepipun takkan kuat bertahan menghadapi
amukan penyakit tersebut. Paling-paling kau akan menyesal
setelah semuanya terjadi. Tapi apa gunanya itu?”
“tapi......tapi.......aku harus mencari dan menemukan orang
yang telah membunuh ayah serta pamanku dulu. Aku takkan
enak makan dan tidur kalau belum mendapatkan orang itu.”
Chu Seng Kun berdesah panjang melihat kekerasan hati
kawannya itu. “terserahlah kalau begitu.....”
Demikianlah, tanpa menimbulkan perhatian kawankawannya
serta para perajurit yang berada di dusun itu, Chin
Yang Kun menuntun si Cahaya Biru dan pergi meninggalkan
tempat tersebut. Dibawanya kuda itu menyeberangi muara,
kemudian terus berjalan ke arah utara. Pemuda itu berharap
pagi hari besok telah bisa mencapai lembah itu. Tempat
dimana keluarganya dulu mengasingkan diri memang tidak
jauh dari muara itu.
Langit mulai tampak kemerah-merahan, dan udarapun
sudah tidak begitu gelap lagi. Pohon-pohon sudah kelihatan
daunnya, sementara jalan yang mereka lalui juga sudah
kelihatan pula batu-batu dan kerikilnya, sehingga langkah si
Cahaya Birupun dapat menjadi lebih cepat pula.
Kenangan Chin Yang Kun mulai terusik kembali ketika
melewati tempat-tempat yang dulu sering ia kunjungi atau ia
lewati. Hutan yang kini ia lalui adalah hutan tempat ia dan
mendiang paman bungsunya sering berburu kelinci atau babi
hutan dahulu.
“Sebentar lagi akan terlihat batu karang berwarna putih itu.
Ahhh.......masihkah batu putih itu disana? Dan masih jugakah
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
bekas pukulan tangan Paman Bungsu itu?” Chin Yang Kun
yang semakin tenggelam dalam kenangan dengan paman
bungsunya itu bergumam perlahan.
Chin Yang Kun sejak kecil memang lebih dekat dengan
paman bungsunya dari pada dengan ayahnya sendiri. Apalagi
semua ilmu silat pemuda itu hampir semuanya adalah hasil
didikan paman bungsunya. Maka tak heran kalau pemuda itu
lebih merasa sedih dan lebih merasa kehilangan ketika paman
bungsunya itu mati daripada ketika ayahnya sendiri dibunuh
orang.
“Haa......itu dia Batu Putih itu!” Chin Yang Kun seperti
bersorak ketika melihat sebongkah batu karang besar
berwarna putih di pinggir jalan. “Kalau begitu desa Hoa-kicung
tinggal beberapa langkah lagi, Ah........ tampaknya
semuanya tak berubah dan masih seperti dahulu juga.
Rasanya aku menjadi ingin sekali singgah barang sebentar
untuk menengok sanak keluarga ibuku.....”
Ibu Chin Yang Kun berasal dari desa In-ki-cung, yaitu desa
yang letaknya hanya bersebelahan dengan desa Hoa-ki-cung
tersebut. Keluarga ibunya sangat besar dan hampir semuanya
tinggal di dua desa itu. Dan karena sejak kecil ayah dan
ibunya sering mengajak Chin Yang Kun mengunjungi kakek
dan neneknya, maka Chin Yang Kun juga hampir mengenal
semua sanak keluarga ibunya. Hanya saja hubungan keluarga
tersebut memang tidak begitu akrab seperti halnya dengan
keluarga ayahnya, sebab bagaimanapun juga ayahnya adalah
seorang Pangeran Chin, sementara ibunya hanya dari
kalangan rakyat jelata saja.
Tetapi kakek luarnya atau ayah dari ibunya adalah orang
yang terpandang di kedua desa itu. Kakek luarnya adalah
seorang kepala kampung yang disegani di sekitar daerah itu.
Teringat akan kakeknya, Chin Yang Kun menghela napas
beberapa kali.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
“Masih hidupkah dia? Dan masihkah ia menjabat sebagai
kepala kampung?” Chin Yang Kun bertanya di dalam hatinya.
Sambil berjalan mendekati batu karang putih itu Chin Yang
Kun mengenangkan kembali kakek dan nenek luarnya.
“Sejak kakek baginda digulingkan oleh pemberontak Chu
Siang Yu dan Liu Pang, ayah lantas mengajak seluruh
keluarganya keluar dari Kota raja. Mula-mula ayah bermaksud
tinggal disini, di tempat kakek luarku. Tapi karena takut nanti
dikejar dan dicari oleh musuh yang kini berkuasa, maka ayah
lantas memutuskan untuk mengasingkan diri di tempat yang
terpencil, yaitu di daerah pegunungan di sebelah barat desa
In-ki-cung itu. Bertahun-tahun aku tinggal di lembah terpencil
itu tanpa setahu atau memberi kabar kepada kakek luarku.
Ayah mengancam akan membunuh siapa saja yang berani
keluar dari lembah itu. Ahhhh.......! tapi meskipun sudah
bersembunyi, rencana itu akhirnya tetap datang juga.......”
Chin Yang Kun menghela napas panjang, lalu
menghentikan kudanya di pinggir jalan. Batu karang putih itu
telah berada di depan matanya, dan iseng-iseng ia ingin
melihat bekas pukulan paman bungsunya disana. Tapi......tibatiba
matanya terbelalak! Telinganya seperti mendengar suara
orang mengerang di balik batu karang putih itu!
Bergegas pemuda itu meloncat turun dari punggung
kudanya, lalu berlari menghampiri batu karang itu. Dan.......
sekali lagi pemuda itu terbelalak matanya!
Di batu itu tampak terikat erat seorang lelaki dengan kulit
muka biru memar bekas pukulan. Mulut dan hidung orang itu
pun tampak bekas-bekas darah yang telah mengering,
sementara kedua biji matanya hampir tertutup oleh kelopak
matanya yang membengkak.
"Ooughh...... tu-tuan........ to-tolonglahhh....... aku." orang
itu merintih begitu melihat kedatangan Chin Yang Kun.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Chin Yang Kun cepat menolong orang itu. Dilepaskannya
ikatannya, lalu dibaringkannya tubuh yang lemas tersebut
diatas rumput. Kemudian Chin Yang Kun mengambil buli-buli
tempat airnya dan memberi minum orang itu.
“Hmm.......saudara siapa? Mengapa kau berada di tempat
ini ? Siapakah yang telah menganiayamu ?" Chin Yang Kun
bertanya setelah orang itu kelihatan bisa menguasai dirinya
kembali.
Orang itu kelihatan gelisah kembali. Matanya yang sipit
karena membengkak itu berkali-kali melirik Chin Yang Kun
dengan sinar mata curiga dan ketakutan. Tampaknya orang
itu masih merasa ngeri dan ketakutan terhadap orang yang
menyiksanya.
Chin Yang Kun bisa menduga apa yang sedang berkecamuk
di dalam pikiran orang itu. Maka agar supaya orang itu tidak
semakin curiga dan menduga hal-hal yang buruk kepadanya,
Chin Yang Kun cepat membujuknya dengan kata-kata halus.
"Saudara tak usah takut atau curiga kepadaku. Aku adalah
seorang pengembara yang secara kebetulan sedang lewat di
tempat ini. Aku tadi mendengar suara rintihan saudara,
sehingga aku berhenti dan menolong saudara........ Nah,
sekarang coba saudara ceritakan, apa sebenarnya yang
terjadi?"
Orang itu tampak lega dan mulai percaya akan perkataan
Chin Yang Kun.
"Siapa.... siapakah tuan ini ?" tanyanya ragu.
"Namaku Yang Kun....... Chin Yang Kun !"
"Chin Yang Kun........? Apa....... apakah tuan ini
Chin.....Chin Yang Kun putera Pangeran Chin itu?" tiba-tiba
orang itu berdesah kaget.
Chin Yang Kun menatap orang itu tajam-tajam. Keningnya
berkerut.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Ayahku memang seorang Pangeran Chin. Mengapa........?”
"Dan....... ibumu adalah puteri kakek Cia, kepala desa Inki-
cung dan Hoa-ki-cung itu ? Benarkah......?" orang itu
bertanya lagi dengan tegangnya.
"Ya-ya, benar! Maksudmu ? Eh.....siapakah kau ini ?
Mengapa kau mengenal kedua orang tuaku? Apakah kau
tinggal di desa In-ki-cung juga ?"
"Ohhh........ Adik Yang Kun! Ketahuilah, aku...... aku ini
Yung Ci Pao, saudara sepupumu dulu itu." orang itu berseru
gembira.
"He? Kau si Bopeng Ci Pao putera bibi Hui itu?”
“Be-betul !”
"Wah....... aku sudah tidak mengenalmu lagi. Kau dulu kecil
dan berpenyakitan, sekarang demikian gemuk dan kekar."
Chin Yang Kun tersenyum memuji.
"Ahhh......akupun sudah tidak mengenalmu pula, adik
Yang. Delapan tahun yang lalu kau juga hanya merupakan
seorang anak kecil kerempeng pula seperti aku. Tapi
sekarang..... wah! Tentu banyak sekali gadis-gadis yang
tergila-gila kepadamu !" Ci Pao tersenyum pula seraya bangkit
duduk.
"Ah! Kau ini tampaknya masih suka menggoda anak
perempuan, ya ? Bagaimana dengan Si Burung Walet dulu itu?
Kau masih berani menggodanya juga ?" Chin Yang Kun yang
teringat kembali akan masa kanak-kanak mereka segera
bertanya tentang Wi Yan Cu, puteri guru sekolah desanya
yang cantik Iincah dahulu.
“Hei? Kenapa tidak berani? Setiap hari aku tentu
menggodanya, karena dia telah menjadi isteriku sekarang.
Kau ... ouughh!!!"
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Tiba-tiba wajah Yung Ci Pao berubah dengan hebat! Wajah
itu secara mendadak berubah menjadi sedih, murung, gelisah
dan ketakutan kembali ! Mata yang bengkak ini menatap Chin
Yang Kun tanpa berkedip.
"Hah, Ci Pao....... kenapakah kau?” Chin Yang Kun berseru
kaget.
"Oooooh !” Yung Ci Pao berdesah lemas. "Dia........ dia
sekarang...... ohh!"
"Dia? Dia siapa? Wi Yan Cu maksudmu? Kenapa dia ?
Katamu dia telah menjadi isterimu !”
"Dia........ dia memang telah menjadi isteriku. Tapi
sekarang....... dia diculik orang jahat! Aku....... aku.......... Oh
! Inilah mungkin akibat dari dosa-dosaku !” Yung Ci Pao
menangis tersedu-sedu.
"Diculik penjahat ?" Chin Yang Kun menegaskan.
Yung Ci Pao tidak segera menjawab. Tangisnya semakin
keras malah.
"Dosa ! Dosa ! Aku orang yang berdosa ! Uh-huuu.........!"
Chin Yang Kun menahan napas jengkel karena saudara
sepupunya itu tidak mau berhenti menangis juga. la lalu
berdiri dan berjalan menghampiri kudanya yang sedang
merumput.
“Piao-te (Adik sepupu)....... tunggulah, kau jangan pergi !"
melihat itu Yung Ci Pao berteriak.
Chin Yang Kun berhenti melangkah. "Mengapa kau berhenti
menangis? Menangislah terus, kalau menurut pendapatmu
tangis itu memang bisa menyelesaikan segala-galanya,"
katanya acuh.
“Piao-te, maafkan aku ........"
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Chin Yang Kun menghampiri Yung Ci Pao kembali.
"Nah.......kalau demikian, ceritakanlah apa yang terjadi !"
Yung Ci Pao mengangguk. "Baiklah........” katanya seret.
Yung Ci Pao lalu bercerita. Dia telah dua tahun kawin
dengan Wi Yan Cu, tapi belum dikaruniai seorang anakpun.
Sebenarnya Wi Yan Cu pernah hamil, tapi bayi tersebut
meninggal sebelum dilahirkan. Hal itu menyebabkan Wi Yan
Cu menjadi sedih luar biasa. Sikapnya menjadi berubah.
Gadis yang semula lincah dan gembira itu berubah menjadi
pendiam dan tak mempunyai semangat hidup lagi. Seperti
orang yang kurang waras isterinya itu sering meninggalkan
rumah mereka tanpa tujuan. Tetapi karena dia sangat
mencintai isterinya itu, maka ia selalu mencarinya dan
mengajaknya pulang kembali.
Dan kemarin sore seperti biasa isterinya telah pergi
meninggalkan rumah mereka lagi. Dia cepat-cepat
mencarinya. Dan menurut penuturan para tetangganya,
isterinya itu pergi ke arah hutan ini. Demikianlah, dengan
ketekunannya ia berhasil menemukan isterinya kembali. Tapi
di tengah perjalanan pulang, tiba-tiba mereka berjumpa
dengan dua orang lelaki dan seorang wanita muda. Ketiga
orang itu ternyata bukan orang baik-baik.
Melihat kecantikan isterinya, salah seorang dari kedua lelaki
itu, yaitu yang berwajah tampan dan berpakaian mentereng,
segera mencoba untuk berbuat tak senonoh. Tentu saja dia
menjadi marah sekali. Tapi kali ini ia benar-benar membentur
batu. Ketiga orang itu ternyata adalah jago-jago silat
berkepandaian tinggi. Hanya dengan tangan kirinya saja lelaki
tampan itu telah menghajarnya habis-habisan dan kemudian
mengikatnya di batu karang putih ini. Selanjutnya penjahat itu
lalu membawa pergi isterinya.
“Ohhh......piao-te, tolonglah!” Yung Ci Pao menangis lagi.
“Baiklah ! Mari kita cari mereka!"
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
“Tapi.....tapi mereka bertiga, sedangkan kita hanya berdua.
Dan mereka itu mahir ilmu silat lagi!” Yung Ci Pao berkata
ketakutan.
“Sudahlah! Hal itu kita pikirkan nanti. Sekarang yang
penting kita cari dulu isterimu!”
“Ohh......ba-baiklah!”
Demikianlah mereka lalu bersama-sama naik di atas
punggung si Cahaya Biru. Chin Yang Kun mengarahkan kuda
itu ke desa Hoa-ki-cung yang jaraknya tinggal beberapa ratus
langkah lagi.
Sementara itu matahari benar-benar telah keluar dari
peraduannya. Sinarnya yang hangat itu telah menyergap kulit
pipi dan punggung mereka. Burung-burungpun mulai
terdengar berkicau bersaut-sautan di atas pohon yang mereka
lalui.
“Itu dia Hoa-ki-cung !” Yung Ci Pao berseru, telunjuknya
menunjuk ke depan.
“Ahh.......masih seperti dulu juga. Tidak ada perubahan.
Hanya pohon siong di muka jalan masuk ke desa itu kini sudah
besar sekali,” Chin Yang Kun bergumam.
“Yaa!” Yung Ci Pao mengangguk.
“Dan.....rumah besar yang kelihatan gentingnya itu rumah
Wi Yan Cu, bukan?”
“Ya........! dan kami berdua tinggal disana selama ini.”
"Lalu di mana ayah dan ibu Wi Yan Cu ? apakah kalian
tinggal bersama mereka?”
"Ah-eh......ti-tidak! Be-beliau sudah......sudah meninggal
dunia semua." tiba-tiba wajah Yung Ci Pao berubah pucat,
suaranyapun menjadi gemetar.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Hei....... Sudah mati semua? Kapan?" Chin Yang Kun
berseru kaget.
"Anu... anu........ dua tahun yang Ialu, setelah........setelah
perkawinan kami," jawab Yung Ci Pao semakin gagap dan
pucat. Sikapnyapun tampak semakin gelisah pula.
Chin Yang Kun mengerutkan keningnya. Pemuda itu
menjadi curiga, hatinya seperti mencium hal-hal yang tak
wajar di dalam sikap saudara sepupunya itu.
“Dua-duanya mati setelah perkawinan kalian? Apakah
mereka dibunuh orang?”
“Oh, tidak.......tidak! mereka mati karena sakit! Mereka
tidak.....eh, tidak di-dibunuh orang!” Yung Ci Pao cepat
menyahut dengan suara tinggi.
Chin Yang Kun menghela napas panjang, matanya menatap
wajah saudara sepupunya itu dengan tajamnya, sehingga
Yung Ci Pao menjadi gelisah sekali.
“Sudahlah! Kenapa kau menjadi gelisah dan berteriak-teriak
begitu?” akhirnya Chin Yang Kun berkata pelan.
"Habis, pertanyaanmu tadi mengingatkan aku kembali
kepada semua kesedihan dan penderitaanku......" Yung Ci Pao
berkata seraya mengusap peluh yang meleleh di atas dahi dan
lehernya.
"Kalau begitu maafkanlah aku....... ! Eh, lihat! Tampaknya
ada sesuatu yang terjadi di mulut desa itu! Banyak orang
berkumpul di sana ! Mungkin isterimu telah dikembalikan.......”
mendadak Chin Yang Kun berseru seraya mengangkat jari
telunjuknya ke depan.
Chin Yang Kun lalu menepuk pantat Si Cahaya Biru agar
berlari lebih cepat.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Ko Tiang! Jiu Kok......! Ada apa di sini?" begitu tiba Yung
Ci Pao lantas berteriak ke arah dua orang pemuda yang berdiri
di luar kerumunan orang itu.
Semua orang lantas berpaling mendengar kedatangan Chin
Yang Kun dan Yung Ci Pao. Kedua orang pemuda yang
dipanggil Yung Ci Pao itu juga menoleh.
"Hei.... si Bopeng Ci Pao telah pulang rupanya!" salah
seorang dari mereka yang bernama Jiu Kok berkata
seenaknya. Malah kedua buah lengannya segera bertolak
pinggang.
"Apakah kau telah menemukan isterimu?”
"Belum. Apakah dia telah pulang kembali?” dengan cemas
namun penuh harap Yung Ci Pao balik bertanya. Sedikitpun
dia tidak mempedulikan sikap Jiu Kok yang sinis itu. Malahan
dengan tergesa-gesa ia melorot turun dari atas punggung
Cahaya Biru.
“Ya. Isterimu sudah pulang.” Ko Tiang menyahut pendek,
suaranya kaku.
“Benarkah? Lalu dimanakah dia? Dan...eh, mengapa semua
orang berada disini?”
“Ketahuilah! Isterimu pulang bersama tiga orang
kawannya, dua lelaki dan seorang wanita. Tapi.... ternyata
mereka adalah penjahat-penjahat yang sangat kejam sekali.
Karena mereka datang pada saat tengah malam, beberapa
orang pemuda kita menahan mereka dan menanyakan
maksud kedatangan mereka. Hal itu dilakukan oleh para
peronda malam, karena mereka melihat hal-hal yang tidak
wajar pada diri isterimu. Tapi......apa yang terjadi? Orangorang
itu menjadi marah dan membunuh para peronda kita
itu!” Jiu Kok menerangkan.
Chin Yang Kun terkejut mendengar cerita Ko Tiang dan Jiu
Kok itu. Bergegas ia turun dari punggung kudanya dan ikut
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
menghampiri kerumunan orang dari desa Hoa-ki-cung
tersebut.
“Oh??? Lantas bagaimana dengan para penduduk yang
lain?” Yung Ci Pao mendesak dengan wajah kaget.
“Tak seorangpun yang berani melawan. Ketika ada
beberapa orang yang mencoba memperingatkan perbuatan
kejam mereka, mereka semakin marah! Orang-orang itu juga
dibunuh pula. Oleh karena itu semua penduduk lantas
menutup pintu rumah mereka dan tidak berani keluar. Mayatmayat
itu mereka biarkan saja tergeletak di jalanan. Baru
sekarang kami berani keluar untuk mengambil mayat-mayat
kawan kita itu. Lihatlah! Mengerikan bukan?” Jiu Kok
menunjuk ke tengah-tengah kerumunan temannya.
“Oooh......!” Yung Ci Pao terbelalak memandang ke arah
mayat-mayat itu.
“Lalu kemana perginya tiga penjahat itu ?” tiba-tiba Chin
Yang Kun yang baru saja mendekat itu menyela.
Orang-orang itu terperanjat. Mereka menatap Chin Yang
Kun dengan curiga. Begitu pula dengan Jiu Kok dan Ko Tiang.
“Si-siapa dia......?” Ko Tiang bertanya kepada Yung Ci Pao.
“Ahhh.....masakan kalian sudah lupa? Dia......Chin Yang
Kun dulu itu, saudara sepupuku yang bertempat tinggal di
kota raja.”
“Chin Yang Kun.....? Putera Pangeran Chin itu? Eh.......!” Ko
Tiang dan Jiu Kok tersentak kaget. Tapi sekejap kemudian
Chin Yang Kun telah dirubung oleh para penduduk Hoa-kicung
tersebut.
“Sudahlah! Kalian tadi belum menjawab pertanyaanku.
Dimanakah ketiga orang itu?” Chin Yang Kun mengalihkan
perhatian yang ditujukan kepada dirinya itu.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
“Mereka berada di rumah Yung Ci Pao ! dan mereka
memaksa beberapa orang gadis kita untuk melayani mereka
disana. Tapi....mengapa kau tanyakan hal itu? Apakah engkau
bermaksud untuk bunuh diri di sana? Jangan! Mereka bertiga
benar-benar mempunyai kepandaian seperti iblis. Dengan
hanya menggerakkan tangan dari kejauhan saja mereka bisa
membunuh kawan-kawan kita itu.......!” Jiu Kok menjawab.
“Hmmm......aku hendak melihat mereka. Ci Pao,
ayoh......antarkan aku kesana!” Chin Yang Kun menggeram,
lalu mengajak saudara sepupunya untuk menemui para
penjahat itu.
“a......aaku ti-tidak berani!” Yung Ci Pao menjawab
gemetar.
“Pengecut! Bukankah isterimu dibawa oleh mereka?
Mengapa kau tidak berusaha mengambilnya? Huh!
Sudahlah.....kalau begitu aku akan kesana sendirian!” Chin
Yang Kun mendengus jengkel melihat sikap saudara
sepupunya yang pengecut itu.
Pemuda itu lalu meloncat ke punggung kudanya dan pergi
menuju rumah besar yang kelihatan gentingnya tadi. Orangorang
Hoa-ki-cung itu sebenarnya merasa takut juga seperti
halnya Yung Ci Pao, tapi melihat kenekadan Chin Yang Kun,
beberapa orang diantaranya termasuk juga Ko Tiang dan Jiu
Kok, akhirnya ingin melihat pula apa yang hendak dilakukan
oleh Chin Yang Kun terhadap para penjahat itu.
“Jiu Kok, mari.....marilah kita me-mengintipnya dari
kejauhan!”
“Ma......marilah!”
Sementara itu matahari telah merangkak semakin jauh dari
peraduannya. Dan sinarnya yang hangat itupun juga mulai
menebar menjelajahi setiap sudut halaman rumah para
penduduk. Meskipun demikian, tidak seperti biasanya desa itu
masih tetap sunyi. Sunyi dan sepi, seolah-olah desa itu telah
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
ditinggalkan oleh penduduknya. Tak sesosok bayanganpun
yang tampak meskipun hari telah terang tanah.
Chin Yang Kun menggeleng-gelengkan kepalanya. Di
sepanjang jalan yang dilaluinya ia juga tak menjumpai
siapapun. Pintu-pintu rumah penduduk masih tetap tertutup
rapat sementara para penghuninya entah berada dimana.
“Hmmm......desa ini benar-benar dicekam ketakutan!”
pemuda itu berbisik.
Beberapa puluh meter dari rumah Yung Ci Pao, Chin Yang
Kun menghentikan kudanya. Kuda itu ia tinggalkan di halaman
rumah penduduk, kemudian ia melanjutkan perjalanannya
dengan berjalan kaki. Dengan sangat berhati-hati pemuda itu
menuju ke bagian belakang rumah yang ditujunya.
Rumah peninggalan ayah Wi Yan Cu itu kelihatan sunyi dan
sepi pula. Tapi ketika Chin Yang Kun melompati tembok
belakang dan bersembunyi di dekat dapur, lapat-lapat ia
mendengar suara tangis perempuan disana. Oleh karena itu
tanpa mengendorkan kewaspadaannya pemuda itu masuk ke
dalam dapur itu.
Dua orang gadis desa kelihatan kaget dan takut sekali
ketika tiba-tiba mereka berhadapan dengan Chin Yang Kun.
Dengan sekuat tenaga kedua orang gadis itu berusaha
menghentikan tangis mereka, sementara tangan mereka sibuk
menghapus air mata yang mengalir di atas pipi mereka.
Sebaliknya Chin Yang Kun juga berusaha keras untuk
mengenali gadis-gadis itu, mungkin salah seorang diantaranya
adalah Wi Yan Cu, temannya bermain semasa kanak-kanak.
Tapi wajah kedua gadis itu tak satupun yang mirip Wi Yan Cu
semasa kecil.
“Jangan takut! Aku bukan kawan dari penjahat itu. Aku
adalah saudara Yung Ci Pao....mengapa kalian menangis?
Dimana Wi Yan Cu dan para penjahat itu?” Chin Yang Kun
berkata lirih.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Kedua orang gadis desa itu berpelukan dan tidak bisa
menjawab. Mereka masih tetap ketakutan. Terpaksa Chin
Yang Kun harus berulang-ulang menerangkan kepada mereka
bahwa ia benar-benar bukan penjahat, dan kedatangannya itu
justru hendak menolong mereka. Barulah sedikit demi sedikit
kedua orang ini mau menerima keterangannya.
“Nah, sekarang katakanlah! Dimana ketiga penjahat itu
berada? Dan dimana pula Wi Yan Cu kini?” Chin Yang Kun
mendesak.
“Mereka......mereka bertiga berada di.....diruang dalam,
bersama dengan nyonya Yung Ci Pao. Tuan.....tuan ini,
eh.......apakah saudara sepupu Tuan Yung yang berasal dari
kota raja itu?” salah seorang dari kedua gadis itu, yang
tampaknya malah mulai mengenal Chin Yang Kun, akhirnya
menjawab tersendat-sendat.
“Benar, aku memang saudara sepupu Yung Ci Pao. Kau
mengenali aku?” Chin Yang Kun memandang gadis itu dengan
raut muka gembira.
“Aku juga penduduk Hoa-ki-cung ini. Turun temurun
keluargaku telah tinggal disini.” Gadis itu menjawab lagi
dengan muka tertunduk. Wajahnya tampak murung dan sedih.
Chin Yang Kun menarik napas panjang. “Sudahlah! Kalian
tak perlu takut dan sedih lagi. Penjahat itu akan kutangkap.
Sekarang marilah kau pulang......!”
Lalu dengan hati-hati Chin Yang Kun mengantar kedua
gadis itu ke pintu halaman belakang serta membukakannya.
“Nah, pulanglah kembali ke rumah kalian masing-masing!
Dan katakanlah kepada semua orang, bahwa penjahat itu
sebentar lagi akan kutangkap. Oleh karena itu mereka tak
perlu takut lagi. Mengerti.....?”
Kedua gadis itu mengangguk dan mengucapkan terima
kasih, lalu melangkah pergi meninggalkan tempat itu. Setelah
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
keduanya hilang dari pandangan, Chin Yang Kun lalu
melangkah masuk ke dalam gedung besar itu kembali. Dengan
berindap-indap pemuda itu menuju ke ruangan dalam.
Sama sekali Chin Yang Kun tidak menyadari bahwa semua
gerak-geriknya itu telah diketahui dan diintip oleh salah
seorang dari ketiga penjahat tersebut. Penjahat itu kebetulan
hendak pergi ke dapur, sehingga dapat melihat gerak-gerik
Chin Yang Kun ketika melepaskan gadis-gadis tadi. Penjahat
itu, yang ternyata adalah wanita, segera berlari ke dalam
menemui kawan-kawannya.
"Li Tai-hiap ! Jai-hwa Toat-beng-kwi ! Celaka..........!”
serunya pelan setelah berada di ruangan dalam.
Pendekar Li dan Jai-hwa Toat-beng-kwi bergegas keluar
dari kamar masing-masing. Pendekar Li hanya mengenakan
celana saja sementara Jai-hwa Toat-beng-kwi malahan hampir
tidak memakai apa-apa lagi pada tubuhnya. Dengan kaget
keduanya menyongsong kedatangan wanita itu. Lapat-lapat di
kamar Jai-hwa Toat-beng-kwi terdengar suara isak tangis
perempuan.
"Pek-pi Siau-kwi, ada apa...... ? Apanya yang celaka?”
Pendekar Li segera bertanya, nadanya sedikit mendongkoI
dan penasaran karena merasa terganggu tidurnya.
"Benar! Apa sebenarnya yang telah terjadi, Hantu Cantik?"
Jai-hwa Toat-beng-kwi juga meminta penjelasan. Suaranya
halus, namun juga terasa kalau ia terganggu pula oleh seruan
wanita itu tadi.
"Celaka! Pemuda itu telah datang ke rumah ini! Apa yang
harus kita kerjakan?" tanpa mempedulikan kemarahan
temannya Pek-pi Siau-kwi berteriak lagi.
“Kurang ajar! Mengapa kau tiba-tiba menjadi penakut
seperti ini? Memangnya kenapa dengan pemuda-pemuda desa
itu? Biarkan saja mereka membawa seluruh penduduk
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
kampung ini kemari, apa yang kita takutkan ?" Pendekar Li
menjawab marah.
"Whah ! Sedang asyik-asyiknya, diganggu pula....... hmm!"
dengan sedikit jengkel Jai-hwa Toat-beng-kwi berbalik kembali
ke dalam kamarnya.
"Ei! Yang kumaksudkan adalah...... Yang Kun ! Bukan
pemuda desa ini !" Pek-pi Siau-kwi berteriak penasaran.
"Apaaa........? Yang Kun??” hampir berbareng Pendekar Li
dan Jai-hwa Toat-beng-kwi menjerit.
“Benar! Nah, apa yang akan kita lakukan ?"
Ternyata kedua penjahat itu tampak gemetar sekarang.
Bagaimanapun juga kesaktian Chin Yang Kun itu amat
menggiriskan hati mereka.
“Dengan siapa dia datang?” Pendekar Li bertanya.
“Sendirian.”
“Syukurlah. Kalau begitu kita masih punya kesempatan
untuk melawannya. Hmm, kita harus menjebaknya di ruang
dalam tanah itu....”
“setuju. Mari kita menjebaknya di sana!” Jai-hwa toat-bengkwi
mengangguk.
Pendekar Li lalu mendekati Pek-pi Siau-kwi. “Siau-kwi,
persiapkanlah perangkap itu! Pergunakanlah perempuan itu
sebagai umpannya! Mengerti?”
“Tapi.....aku belum puas dengan perempuan itu!” Jai-hwa
Toat-beng-kwi cepat memotong.
“lupakan saja perempuan itu! Engkau bisa mencarinya lagi
yang lain! Yang penting kita dapat lolos dari tangan pemuda
itu hari ini!” pendekar Li membentak.
“Kita lawan saja dia. Masakan kita bertiga tidak mampu
melawannya?” Jai-hwa Toat-beng-kwi masih tetap penasaran.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
“Tentu saja! Tapi kitapun perlu berhati-hati. Tiada jeleknya
kita berjaga-jaga sebelumnya. Siapa tahu kita benar-benar tak
bisa menghadapi dia nanti?”
“Baiklah!” Jai-hwa Toat-beng-kwi akhirnya mengangguk.
Ketiga orang itu lalu bersiap-siap. Pendekar Li dan Jai-hwa
Toat-beng-kwi mengambil pakaian dan senjata mereka,
sementara Pek-pi Siau-kwi membawa perempuan yang berada
di dalam kamar Jai-hwa Toat-beng-kwi, yang tidak lain adalah
Wi Yan Cu itu, ke ruang bawah tanah untuk memasang
perangkap.
Meskipun demikian ketika Chin Yang Kun masuk ke dalam
ruangan itu, Pendekar Li dan Jai-hwa Toat-beng-kwi tergetar
juga hatinya. Di dalam pandangan mereka, pemuda itu
tampak lebih matang serta garang sikap dan penampilannya.
Dan hal itu berarti bahwa pemuda itu sudah matang dan
berpengalaman daripada ketika berjumpa dengan mereka
beberapa waktu yang lalu.
Sebaliknya, Chin Yang Kun kelihatan terkejut sebentar
begitu berhadapan dengan Pendekar Li dan Jai-hwa Toatbeng-
kwi! Pemuda itu memang tidak menyangka akan
berjumpa dengan mereka di desa itu. Tapi begitu teringat
pada apa yang telah diperbuat orang-orang itu di Kim-liong
Piauw-kiok, darahnya segera mendidih.
“Bangsat! Sungguh kebetulan sekali kalian kujumpai di
tempat ini! Hmmh.....coba katakan! Apa maksud kalian
membunuh Thio Lung dengan meminjam namaku ini? Apakah
kalian bermaksud menghilangkan jejak kejahatan kalian
dengan mengadu-domba antara aku dan Kim-liong Piauwkiok?
Begitukah? Hmmm.....kini aku justru menjadi curiga,
jangan-jangan kalian malah benar-benar ikut terlibat dalam
pembunuhan keluargaku itu!” Chin Yang Kun menggeram
marah.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Pendekar Li saling pandang dengan Jai-hwa Toat-beng-kwi,
kemudian menoleh ke arah pintu dimana Pek-pi Siau-kwi tadi
keluar membawa Wi Yan Cu. Melihat kawan wanitanya itu
belum muncul lagi, Pendekar Li lalu berusaha untuk mengulur
waktu.
“Baiklah! Bagaimanapun juga kalau aku tidak berterusterang,
kau tentu akan selalu mencari aku. Nah, kau
dengarlah.....! pada malam yang naas itu, engkau telah
mengetahui pula bahwa tidak hanya keluargamu saja yang
terbunuh, tetapi seluruh keluargakupun telah habis pula
dibantai orang. Dari kenyataan ini saja, setiap orang tentu bisa
berpikir bahwa pelakunya tentu bukan dari pihakku atau
pihakmu. Tentu orang ketigalah yang telah berbuat......”
“Sudahlah, kau jangan berbelit-belit! Sekarang ceritakan
saja secara terus terang, apa sebenarnya yang telah terjadi di
rumahmu malam itu? Cepat!” Chin Yang Kun memotong
dengan tak sabar.
“Baik.....aku akan menceritakan apa adanya, terserah
kepadamu untuk menilainya.” Pendekar Li mengangguk. Lalu
sambungnya lagi. “Seperti telah kuceritakan kepadamu,
bahwa malam itu aku dan kawan-kawanku sedang menantikan
kedatangan Tung-hai Sam-mo, untuk menyelesaikan
persoalan peta harta karun itu. Tapi secara tidak terduga
rombongan ayahmu telah datang ke rumahku. Tentu saja
kami menjadi bingung. Perselisihan tidak bisa dikendalikan
lagi, apalagi rombongan ayahmu itu sejak semula tampaknya
sudah siap tempur.......”
“Hmm.......tentu saja. Sudah beberapa hari rombongan
ayahku itu dikejar-kejar orang.......” Chin Yang Kun menyahut.
“Begitulah, aku bersama-sama dengan kawan-kawanku
bertempur melawan rombongan ayahmu. Oleh karena kawankawanku
lebih banyak jumlahnya, maka sebentar saja
rombongan ayahmu jatuh di bawah angin. Apalagi salah
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
seorang di antara rombongan ayahmu itu ternyata tidak bisa
ilmu silat sama sekali......”
“Tentu saja! Orang tua itu cuma pelayan keluargaku.” Lagilagi
Chin Yang Kun memotong perkataan Pendekar Li.
“Nah......beberapa saat kemudian kamipun segera dapat
membunuh dua orang di antara rombongan ayahmu itu.
Tampaknya kedua orang itu adalah pengawal kepercayaan
ayahmu.....”
“Benar! Kedua orang itu adalah Siang-hu-houw (Sepasang
Harimau Terbang), pengawal kepercayaan ayahku.” Chin Yang
Kun mengiyakan. “Hmmm.....lalu bagaimana dengan ayah dan
pamanku?”
Pendekar Li mengambil napas seraya melirik sekali lagi ke
arah pintu. Ternyata Pek-pi Siau-kwi belum tampak juga,
sehingga diam-diam hatinya menjadi khawatir.
“Karena sudah bisa membunuh dua orang lawan, maka
kamipun menjadi semakin bersemangat untuk segera
menyelesaikan pertempuran itu. Siapa tahu rombongan Tunghai
Sam-mo akan segera tiba pula?” Pendekar Li meneruskan
ceritanya. “Tetapi kepandaian ayah dan pamanmu itu ternyata
sangat tinggi. Meskipun lengan ayahmu tinggal sebelah, tapi
ilmu goloknya ternyata hebat bukan main. Kami benar-benar
mendapatkan kesulitan untuk segera membereskannya.
Apalagi ayah dan pamanmu itu berkelahi seperti orang
kesetanan........”
Pendekar Li menghentikan lagi ceritanya untuk mengambil
napas. Tapi ia segera melanjutkan lagi ketika didengarnya
Chin Yang Kun menggeram tidak sabar.
“Pada saat kami sedang berusaha dengan sekuat tenaga
untuk membereskan ayahmu itulah tiba-tiba terdengar suara
siulan panjang tinggi melengking bagaikan hendak
memecahkan gendang telinga kami. Dan sekejap kemudian di
halaman rumahku itu tampak berkelebat sesosok bayangan
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
hitam dengan cepat sekali. Begitu hebat dan mentakjubkan
gin-kangnya sehingga kami semua lantas menduga kalau
orang itu tentulah Keh-sim Siauw-hiap, musuh bebuyutan
kami. Dan terus terang......kami menjadi ketakutan pada
waktu itu. Selain kami tak pernah menang melawan dia,
bangsat itu biasanya tentu datang dengan pengikutpengikutnya.
Oleh karena itu tanpa mempedulikan perasaan
malu, kami semua pergi meninggalkan arena pertempuran itu.
Dan selanjutnya......kau telah melihatnya sendiri. Keluargamu
dan keluargaku sama-sama terbantai habis!”
“Huh! Jadi kau tetap berpendapat bahwa pembunuh itu
adalah Keh-sim Siau-hiap?”
“Ya!”
“Lalu apa sebabnya kau membunuh Thio Lung? Ingin
membungkam mulutnya?”
“Ya! Kami khawatir kau akan membalas dendam pula
kepada kami, karena bagaimanapun juga kami telah
membunuh dua orang kepercayaan ayahmu. Selain itu
memang ada persoalan pribadi antara kami dan Thio Lung.....”
Chin Yang Kun terpekur menatap lantai. Ia dapat
merasakan bahwa apa yang diceritakan oleh Pendekar Li
tersebut tentu benar. Tampaknya orang itu memang tidak
berbohong sekali ini. Hanya saja dugaan tentang Keh-sim
Siau-hiap itu rasanya juga tidak benar pula. Keh-sim Siau-hiap
adalah seorang pendekar besar yang disanjung dan dipuji oleh
banyak orang, tak mungkin rasanya ia berbuat sekeji itu.
Apalagi pendekar itu pernah bersumpah dihadapannya, bahwa
ia tak pernah melakukan pembunuhan tersebut.
“Hmmm......kalau begitu ada orang ketiga yang tampaknya
memanfaatkan suasana yang ruwet dan ribut seperti itu. Dan
entah dengan alasan apa orang itu lalu membunuh ayah serta
paman. Malahan tidak cuma itu saja. Orang itupun kemudian
juga membantai pula seluruh keluarga Pendekar Li, tanpa
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
sisa!” Chin Yang Kun mencoba mengupas persoalan tersebut
di dalam hatinya.
“Nah, sekarang bagaimana menurut penilaianmu? Apakah
kau juga akan menuntut balas atas kematian kedua orang
pengawal kepercayaan ayahmu itu?” Pendekar Li tiba-tiba
bertanya, sehingga membuyarkan semua lamunan Chin Yang
Kun.
“Meskipun mereka itu bukan keluargaku, tapi mereka
berjuang dan bertempur mengadu nyawa demi keluargaku.
Maka sudah selayaknyalah kalau aku juga menuntut balas
untuk mereka. Tetapi biarpun begitu, aku juga menghormati
hakmu pula untuk mencari dan menuntut balas kepada orang
yang telah membantai keluargamu. Nah, apakah engkau telah
menemukan orang itu? Ataukah engkau masih tetap juga
menuduh Keh-sim Siau-hiap yang berbuat?” Chin Yang Kun
berkata tenang.
“Ini.......ah.......ini.......lalu siapa lagi di dunia ini yang
mempunyai ginkang sehebat itu selain Keh-sim Siau-hiap? Dan
yang terang........siapa lagi yang berusaha menghancurkan
aku selain Keh-sim Siau-hiap, musuh bebuyutanku itu?”
Chin Yang Kun menghela napas. “Nah......kau sekarang
telah berubah menjadi ragu-ragu pula seperti diriku. Di dalam
hati kau tentu tidak percaya pula kalau pendekar yang
terkenal berbudi baik itu sampai hati membunuh wanita dan
anak-anak, bukan?”
“Ini…..eh….lalu siapakah menurut pendapatmu?” Pendekar
Li semakin merasa ragu-ragu di dalam hati.
“Itulah yang harus kita cari! Kukira pembunuh ayahku dan
pembunuh anak-isterimu adalah sama orangnya. Oleh karena
itu aku tidak membunuhmu sekarang. Aku memberi waktu
kepadamu untuk mencari dan membalas dendam kepada
pembunuh itu. Tapi waktu yang kuberikan itu hanya khusus
untuk kau, teman-temanmu yang lain…….tidak!” Chin Yang
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Kun menutup perkataannya dengan menoleh ke arah Jai-hwa
Toat-beng-kwi.
“Kurang ajar…….! Kaukira aku takut kepadamu? Huh!
Marilah kita mengadu jiwa!” iblis pemetik bunga itu
terperangah. Dengan cepat tangannya telah mengeluarkan
pipa tembakaunya yang panjang.
Chin Yang Kun segera menggeser kakinya dan bersiap-siap
pula.
“Dimana kawan wanitamu itu? Mengapa dia belum keluar
juga?” tanyanya kaku.
“Aku disini…….!” Tiba-tiba Pek-pi Siau-kwi muncul dari balik
pintu. Wanita cantik itu telah bersiap siaga dengan pedangnya
pula.
Chin Yang Kun menoleh. “Bagus! Nah, sekarang
katakanlah! Dimana kalian menyembunyikan perempuan yang
kalian culik itu?”
“Saudara Yang, kami tentu akan mengembalikan
perempuan itu. Tapi…….kuminta dengan sangat agar kau mau
melepaskan kedua orang kawanku ini. Hanya mereka
berdualah sekarang yang membantu aku. Bagaimana aku bisa
melawan pembunuh itu kalau aku hanya sendirian saja?
Tolonglah……!” Pendekar Li memohon kepada Chin Yang Kun.
“Tidak bisa! Kedua iblis ini sudah banyak membawa korban.
Mereka harus mati! Apalagi korban yang terakhir ini masih
saudara sepupuku sendiri!” Chin Yang Kun menjawab tegas.
“Saudara sepupumu……?”
“Benar! Perempuan yang kalian culik itu adalah isteri dari
Yung Ci Pao, saudara sepupuku sendiri.”
“Akhh……!” Pendekar Li berdesah.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
“Tuan Li, kita tak perlu merengek-rengek kepadanya!
Biarlah aku mengadu jiwa dengan dia!” Jai-hwa Toat-beng-kwi
berteriak.
Tanpa membuang waktu lagi iblis cabul itu lalu
mengayunkan pipa tembakaunya. Begitu deras ayunan pipa
tersebut sehingga serbuk api tampak berhamburan keluar dari
tempat tembakaunya. Wuuuutt!!!
Chin Yang Kun cepat menundukkan kepalanya, lalu
bergegas berputar ke arah kiri, sehingga serangan itu lewat
diatas kepalanya. Selanjutnya pemuda itu membalas pula
dengan pukulan lurus ke arah ketiak lawan. Angin dingin
terasa menyembur dari kepalan tangan tersebut.
Iblis cabul itu terkejut juga melihat kegesitan dan
ketangkasan Chin Yang Kun! Justru dia sendirilah kini yang
berbalik terancam oleh serangan lawan. Tak ada kesempatan
baginya untuk menangkis atau mengelak! Satu-satunya jalan
hanya mengadu nyawa seperti yang telah dikatakannya tadi!
Dengan ibu jarinya iblis cabul itu menekan pipa
tembakaunya sehingga melengkung. Tiba-tiba asap tebal
tampak menyembur keluar dari ujung pipa, tepat ke arah
muka Chin Yang Kun. Hebatnya, bersamaan dengan semburan
asap itu melesat pula puluhan batang jarum lembut sebesar
rambut!
Serangan asap dan jarum itu benar-benar tidak terduga
dan sangat mendadak pula, sehingga mereka sama-sama
terpojok dan tidak bisa mengelak lagi. Tentu saja siasat
mengadu nyawa itu sungguh sangat mengejutkan Chin Yang
Kun. Bagaimanapun juga pemuda itu tidak ingin bertukar
nyawa dengan iblis cabul itu.
Maka hanya dengan mempergunakan sedikit kesempatan
yang tersisa, Chin Yang Kun berusaha membagi tenaga
saktinya. Sebagian untuk bertahan terhadap serangan asap
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
dan jarum itu, sebagian lagi tetap untuk menyerang ketiak
lawannya!
Wuuuuttttt!
Dhiesssss!
Jai-hwa Toat-beng-kwi terlempar jauh ke kiri, sementara
Chin Yang Kun juga terjengkang ke belakang. Dan keduanya
juga segera bangkit berdiri kembali. Chin Yang Kun beberapa
kali mengusap kulit mukanya untuk mengambil jarum-jarum
yang menempel pada kulitnya, dan Jai-hwa Toat-beng-kwi
tampak meringis kesakitan sambil memegangi lengan
kanannya yang lumpuh sebatas bahunya.
“Gila! Tampaknya kau benar-benar ingin mati bersama aku,
yaa……? Tapi kau jangan buru-buru bergembira dahulu!
Lihatlah! Jarum-jarummu tidak ada yang dapat menembus
kulitku…..” Chin Yang Kun mengejek sambil memperlihatkan
jarum-jarum yang tadi menempel pada kulit mukanya.
Jai-hwa Toat-beng-kwi terbelalak kagum. Tapi dilain saat
iblis itu lalu tersenyum lagi. “Tapi engkau sendiripun juga
jangan buru-buru bergembira pula. Jarum-jarum itu memang
tidak bisa melukai kulitmu, tetapi jangan lupa bahwa asap
yang menyertai jarum-jarum tadi telah terlanjur mengenai
kulit mukamu. Malah kalau tak salah kau juga telah
menghisapnya pula. Dan semua itu berarti kau telah terkena
racun Bunga Karangku. Nyawamu tinggal beberapa saat saja
lagi, hehehe…..!”
“Hei, begitukah……? Kalau demikian sebelum mati aku
harus membunuhmu dahulu, hahaha……!” pemuda yang kini
sudah menyadari betapa dirinya telah kebal racun itu tertawa.
Dengan cepat kedua tangannya segera menyerang Jai-hwa
Toat-beng-kwi kembali.
Tapi sekali ini kawan-kawan iblis cabul tersebut tidak
tinggal diam lagi. Begitu melihat Jai-hwa Toat-beng-kwi
diserang Chin Yang Kun, Pendekar Li dan Pek-pi Siau-kwi
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
cepat-cepat membantunya. Pendekar Li dengan pedang tujuh
bintangnya segera menebas lengan Chin Yang Kun, sementara
Pek-pi Siau-kwi menusuk ke arah pinggang dan punggung
pemuda itu.
“Kurang ajar……! Mengapa kau menyia-nyiakan waktu yang
kuberikan kepadamu? Ataukah kau juga ingin mati sekarang
saja?” Chin Yang Kun terpaksa mengurungkan serangannya
dan berteriak ke arah Pendekar Li.
“Sudah kukatakan, tiada gunanya aku membalas dendam
tanpa adanya teman-temanku ini. Oleh karena itu engkau saja
yang memilih, kaulepaskan saja teman-temanku ini, atau
kaubunuh aku sekalian bersama mereka!” Pendekar Li
berteriak pula menyatakan rasa setia kawannya.
Seperti juga teman-temannya, Pendekar Li itu juga percaya
bahwa Chin Yang Kun tentu akan segera terkena pengaruh
racun yang disemburkan oleh Jai-hwa Toat-beng-kwi melalui
pipa tembakaunya tadi. Jadi, asal mereka bisa bertahan
beberapa saat saja, pemuda itu tentu akan roboh dengan
sendirinya.
Dengan keyakinan seperti itulah ketiga orang sekawan itu
lalu menyerang dan mengeroyok Chin Yang Kun mati-matian.
Mereka bertiga berharap bahwa dengan pengerahan tenaga
yang berlebihan, pemuda itu akan semakin cepat terpengaruh
oleh daya kerja racun Batu Karang Jai-hwa Toat-beng-kwi.
Sebaliknya, desakan dan serangan yang bertubi-tubi dari
lawan-lawannya itu membuat Chin Yang Kun semakin menjadi
marah bukan main! Pikirannya menjadi gelap, darahnya
seolah-olah mau mendidih! Dan akibatnya benar-benar sangat
menggiriskan ketiga orang lawannya! Bukan saja racun yang
mereka andalkan itu tidak kunjung merobohkan Chin Yang
Kun, tapi pengaruh racun yang mereka nanti-nantikan itu
seolah-olah memang tidak ada khasiatnya sama sekali.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Maka ketiga orang itu mulai menjadi gemetar dan
ketakutan. Dengan sekuat tenaga mereka bertahan dan
menyerang Chin Yang Kun bersama seluruh kemampuan yang
mereka punyai. Pedang tujuh bintangnya Pendekar Li itu
tampak berkelebatan kesana kemari, bagaikan bianglala yang
menari-nari di angkasa sementara batu permata yang
menempel pada batang pedang itu tampak berkeredepan
seperti bintang-bintangnya.
Sedangkan Jai-hwa Toat-beng-kwi, meskipun lengan
kanannya lumpuh, ternyata juga tidak kalah garangnya. Pipa
tembakaunya yang panjang itu tampak melayang-layang pula
mencari sasaran. Dan bila sekali waktu pipa yang penuh
tembakau menyala itu tertangkap oleh lengan Chin Yang Kun,
bunga api akan segera memercik berhamburan kemana-mana.
Iblis cabul itu ternyata dapat memainkan senjatanya itu
dengan tangan kirinya pula. Dan hebatnya, tangan kiri itu
ternyata juga sama tangkasnya dengan tangan kanan!
Mungkin Cuma Pek-pi Siau-kwi saja yang daya tempurnya
tidak begitu hebat dan garang! Sebagai seorang wanita, gaya
ilmu silatnya memang lain sekali bila dibandingkan dengan
kedua teman prianya. Gerakan tangan dan tubuhnya tampak
halus serta lemah gemulai. Meskipun demikian pengaruh dari
serangan-serangannya ternyata juga tidak kalah
berbahayanya bila dibandingkan dengan yang lain-lain. Ilmu
silat wanita itu ternyata banyak bertumpu pada tipu muslihat
dan gerakan-gerakan semu yang mengandung perangkap
yang mematikan!
Demikianlah, pertempuran satu lawan tiga itu benar-benar
sangat seru dan menegangkan. Kamar atau ruangan yang
tidak begitu luas itu sudah menjadi porak poranda serta
hancur berantakan. Suara pertempuran tersebut terdengar
sampai jauh di luar rumah besar itu, sehingga penduduk yang
tinggal di dekat rumah itupun semakin ketakutan dibuatnya.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
“Ihhh…..ribut benar! Suara apakah itu?” Ko Tiang dan Jiu
Kok yang bersembunyi tidak jauh dari rumah itu saling
berbisik satu sama lain.
“Ahh….apalagi kalau bukan suara para penjahat itu di
dalam menghajar si Anak Pangeran yang mau
menyombongkan keberaniannya itu?”
“Huh…..kasihan juga anak itu! Dikiranya ia masih
mempunyai kekuasaan untuk menakut-nakuti orang seperti
dahulu.”
Sementara itu pertempuran di dalam rumah itu semakin
lama semakin sengit juga! Tampaknya ketiga orang itu sudah
menyadari bahwa racun yang dilepaskan oleh Jai-hwa Toatbeng-
kwi tadi sudah tidak dapat mereka harapkan lagi.
Tampaknya racun itu benar-benar tak berpengaruh apa-apa
terhadap lawan mereka yang masih muda itu. Oleh karena itu
mereka harus benar-benar mengerahkan seluruh kemampuan
mereka masing-masing. Dan hal itu memang sungguhsungguh
mereka lakukan! Demi kelangsungan hidup mereka
bertiga!
Jit-seng-kiam (Pedang Tujuh Bintang) yang berada di
tangan Pendekar Li itu bergetar dengan hebat seolah-olah
sedang digerakkan dalam hembusan badai yang maha
dahsyat. Ujungnya yang runcing itu bagaikan menyala di
dalam keremangan ruangan itu.
Sedangkan hun-cwe atau pipa tembakau Jai-hwa Toatbeng-
kwi juga bergerak tak kalah ganasnya dengan pedang
itu. Di dalam kegelisahannya iblis cabul itu benar-benar
mengeluarkan seluruh kepandaiannya. Beberapa kali di dalam
kesempatan yang baik, pipa tersebut menyemburkan asap
ataupun jarum-jarum beracun.
Sementara itu, sebagai orang yang berilmu paling rendah,
Pek-pi Siau-kwi juga berusaha dengan sekuat tenaga untuk
membantu pertahanan atau serangan kedua orang kawannya.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Dengan pedangnya yang tidak begitu panjang wanita itu
selalu mencari lobang kelemahan Chin Yang Kun, sehingga
bagaimanapun juga pemuda itu menjadi sibuk pula untuk
melayani musuh-musuhnya.
Celakanya, Chin Yang Kun sendiri tidak membawa senjata
untuk melayani mereka. Sejak dari awal pertempuran pemuda
itu cuma mengandalkan kedua belah tangannya saja. Dengan
Hok-te Ciang-hoatnya pemuda itu berusaha mencari lobang
diantara hujan senjata yang melanda dirinya. Untunglah
pemuda itu memiliki sin-kang yang maha dahsyat sehingga
bisa untuk melindungi dirinya. Beberapa kali pemuda itu
sengaja membiarkan pedang Pek-pi Siau-kwi menyabet atau
menggores tubuhnya, sementara pemuda itu tetap
meneruskan serangannya kepada lawannya yang lain.
"Gila ! Pemuda ini tak bisa kulukai dengan pedangku........!"
Pek-pi Siau-kwi menjerit penasaran.
"Bocah ini memang telah kerasukan iblis ! Racunkupun tak
ada yang mempan terhadap tubuhnya!” Jai-hwa Toat-bengkwi
juga berteriak pula.
"Kalau begitu serang saja bagian-bagian tubuhnya yang
lemah ! Atau...... tusukkan senjata kalian pada jalan darahnya
yang penting!" Pendekar Li berseru memperingatkan kawankawannya.
"Baik....!” Jai-hwa Toat-beng-kwi dan Pek-pi Siau-kwi
menyahut. Demikianlah, ketiga orang itu lalu menujukan
serangan mereka ke arah bagian-bagian tubuh Chin Yang Kun
yang lemah. Dengan kerja sama yang rapi mereka menyerang
ubun-ubun, pelipis, mata, ulu hati dan bagian bawah perut
Chin Yang Kun.
Dan perubahan itu memang benar-benar menyulitkan Chin
Yang Kun. Dengan kedua buah tangan kosongnya pemuda itu
tak mungkin bisa melindungi semua tempat-tempat yang
berbahaya itu.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Kurang ajar .....! Kalian memang benar-benar membuatku
marah ! Awaaaaas!"
Chin Yang Kun menggeram keras dan tiba-tiba tubuhnya
melesat keluar dari arena pertempuran. Dan selagi lawanlawannya
masih dalam keadaan kaget dan bingung melihat
ulahnya, Chin Yang Kun cepat mengerahkan seluruh tenaga
sakti Liong-cu-I-kangnya, dan bersiap-siap untuk
mengeluarkan Kim-coa-ih-hoatnya !
Sekejap kemudian terdengar suara desis ular marah dari
mulut Chin Yang Kun, dan perlahan-lahan di dalam ruangan
itu berhembus udara yang sangat dingin menggigilkan. Tentu
saja perubahan udara yang sangat mendadak itu semakin
merisaukan dan membingungkan ketiga orang lawan pemuda
itu. Apalagi ketika mereka melihat tatapan mata Chin Yang
Kun yang mencorong menakutkan itu, tanpa terasa bulu roma
mereka tiba-tiba berdiri. Ketiga-tiganya merasakan firasat
yang tidak baik.
Dan seperti sudah berunding sebelumnya, ketiga orang itu
sama-sama memutuskan untuk cepat-cepat melarikan diri dari
pemuda yang sangat mengerikan itu ! Dan seperti ada yang
memberi komando pula, ketiga-tiganya melesat ke arah pintu
keluar dengan berbareng!
"Berhentiiii......!" Chin Yang Kun berteriak mengguntur.
Pemuda itu melangkah ke depan dengan cepat. Tangan
kanannya meluncur ke samping, dan memanjang dua-tiga
jengkal jauhnya, untuk memotong Iangkah Pendekar Li dan
Pek-pi Siau-kwi, sementara lengan kirinya tampak
menghantam ke depan, ke arah Jai-hwa Toat-beng kwi yang
telah lolos dari jangkauan tangannya!
"Eeit! Whusss!"
"Bhlaaaar......!"
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Dengan wajah pucat serta mulut ternganga Pendekar Li
dan Pek-pi Siau-kwi terpaksa meloncat mundur kembali.
Keduanya menjadi "ngeri" menyaksikan lengan Chin Yang
Kun. Sedangkan Jai-hwa Toat-beng-kwi yang merasa telah
memperoleh jalan untuk melarikan diri dari ruangan itu, tibatiba
juga mengumpat dan membalikkan tubuhnya kembali.
Mendadak saja iblis cabul itu merasakan hembusan angin
dingin yang sangat dahsyat ke arah punggungnya. Dan ketika
ia mengelak ke samping, pintu yang hendak ia terobos tadi
tiba-tiba meledak dan runtuh dengan suara hiruk-pikuk!
"jangan mengharap kalian bisa lolos dari tanganku !
Hayo....... kita lanjutkan lagi pertempuran kita!" Chin Yang
Kun yang dapat menggagalkan niat ketiga lawannya itu
berseru lantang.
"Perem…. perempuan yang...... yang kami culik itu berada
di…di ruang bawah tanah !” saking takutnya Pek-pi Siau-kwi
berkata dengan suara gemetar.
"Bangsat ! Bunuhlah kami kalau mampu!” Pendekar Li
menjerit dan menyerang Chin Yang Kun kembali.
"Betul ! Ayoh........ kita bertarung lagi!" Jai-hwa Toat-bengkwi
yang sudah mulai berputus asa itu menyerang pula tanpa
memperhitungkan keselamatan dirinya.
Dan pertarungan hidup-mati itupun berlangsung kembali
dengan serunya. Sekarang Pendekar Li dan Jai-hwa Toatbeng-
kwi bertempur tanpa memperdulikan jiwanya lagi.
Melihat jalan untuk meloloskan diri sudah tidak mungkin lagi,
mereka benar-benar bertarung untuk mengadu jiwa. Dan
sepak-terjang mereka memang dahsyat bukan main.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Jilid 40
TAPI Chin Yang Kun di dalam puncak ilmunya memang
sungguh-sungguh menggiriskan. Kulit tubuhnya yang
sekarang seakan-akan telah berubah menjadi mengkilap
kekuning-kuningan itu, benar-benar liat dan licin bagai kulit
ular emas. Ketiga batang senjata lawannya itu tak satu pun
yang mampu menggores kulit tersebut. Paling-paling ketiga
buah senjata itu hanya bisa merobek atau merusakkan
pakaian yang melekat pada tubuhnya.
Maka sungguh tidak mengherankan bila sebentar saja
ketiga orang itu telah menjadi repot bukan main. Anggota
tubuh Chin Yang Kun yang bisa bergerak seenaknya sendiri itu
benar-benar membuat mereka terkecoh habis-habisan. Hanya
karena mereka itu berjumlah tiga orang saja, sehingga dapat
saling membantu dan melindungi, membuat Chin Yang Kun
tidak segera bisa mengalahkan mereka.
Tapi keadaan itupun juga tidak dapat berlangsung lama.
Sebuah tendangan untuk Pendekar Li dan dua buah pukulan
beracun untuk Jai-hwa Toat-beng-kwi, membuat kedua orang
itu terlempar menabrak dinding. Dan selanjutnya, hanya
dengan sekali gebrakan saja Pek-pi Siau-kwi telah dapat
diringkus oleh Chin Yang Kun pula.
"Nah....... lihatlah! Kedua orang temanmu sudah tak
berdaya dan tinggal menunggu saat kematiannya saja!
Sekarang marilah kau antar aku mengambil wanita yang kalian
culik itu!" Chin Yang Kun menggeram sambil mencengkeram
leher Pek-pi Siau-kwi.
"Ja-jangan.....! A-aku ti...... tidak berani!" Pek-pi Siau-kwi
yang ingat akan jebakan atau perangkapnya sendiri merintih
ketakutan.
"Kenapa tidak berani? Hah?”
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Aku.......oh, aku........ aku......." Pek- pi tetap tidak berani
berbicara tentang jebakan atau perangkap yang dipasangnya
itu, takut Chin Yang Kun menjadi marah dan membunuhnya.
Hanya jari telunjuknya saja yang teracung ke arah kamar
samping.
"Kurang ajar!” saking jengkelnya pemuda itu memaki,
"Kenapa kau tidak mau mengatakan juga ? Ayoh, lekas
katakan! Di mana ruang di bawah tanah itu?"
Sambil membentak Chin Yang Kun menarik tubuh
perempuan cantik itu dan bermaksud untuk menyeretnya ke
tempat yang ditunjuk oleh perempuan tersebut. Tapi tidak
terduga, saking takutnya perempuan itu meronta sehingga
pegangan tangan Chin Yang Kun terlepas. Secara otomatis
tangan Chin Yang Kun yamg lain segera menyambar tubuh
perempuan tersebut. Tetapi……
"Aaauuuuu........!!" Pek-pi Siau-kwi menjerit keras sekali.
Ternyata karena terburu-buru, tangan Chin Yang Kun tadi
telah mencengkeram persis pada buah dada Pek-pi Siau-kwi
yang sebelah kanan. Tentu saja hal itu juga sangat
mengejutkan Chin Yang Kun sendiri. Bagai disengat lebah
pemuda itu cepat-cepat melepaskan "benda lunak" yang selalu
dirahasiakan oleh pemiliknya itu. Pemuda itu mukanya merah
padam, tubuhnya gemetar, dan tiba-tiba saja bayangan si
Wanita Genit isteri pemilik penginapan itu kembali terbayang
di depan matanya.
"Oohhh.......!"
Chin Yang Kun berdesah sambil memejamkan matanya.
Tapi wajah genit yang menggairahkan itu tetap saja
menggoda hatinya. Berahinya timbul pula perlahan-lahan....
"Ahhh......!” berkaIi-kali pemuda itu mencoba membuang
bayangan-bayangan kotor itu dari kepalanya dengan
mengibas-ngibaskan kepalanya ke kanan dan ke kiri. Tapi
tetap tak berhasil juga.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Kemudian pemuda yang telah sadar akan bahaya yang
hendak menimpa dirinya itu segera menggeram dengan hebat.
"Cepat.......! Sebutkan tempat itu, sebelum kau mendapatkan
perlakuan yang lebih buruk dariku !"
Celakanya, Pek-pi Siau-kwi justru semakin ketakutan
melihat perubahan wajah Chin Yang Kun yang menakutkan
itu. Mulutnya tak kuasa menjawab. Sehingga akhirnya, karena
sangat jengkel pemuda itu segera menyambar rambutnya dan
membawanya ke ruang yang ditunjuk oleh perempuan itu.
Chin Yang Kun memasuki ruangan itu dan segera melihat
sebuah lobang terbuka di atas lantai.
''Hmmm....... itukah pintunya?" Chin Yang Kun bertanya
seraya menggerakkan kepalanya ke arah lobang itu.
"Be-be-be....... benar !" dengan suara gugup dan wajah
yang semakin ketakutan perempuan cantik ini menjawab.
"Sungguh? Hmm....... kalau begitu mari kita memasukinya!
Awas........kalau engkau berbohong, kupatahkan lehermu......
lehermu yang bagus itu !" Chin Yang Kun yang sudah mulai
terpengaruh oleh kecantikan perempuan cantik itu
membentak.
"Ohh, jaangannn......! Aku........ aku tidak mau!" pek-pi
Siau-kwi yang takut kepada perangkap yang telah dibuatnya
sendiri itu menjerit dan meronta-ronta.
"Hei? Kenapa tidak mau? Apakah........? Ohh......
bagus........ bagus ! Aku tahu sekarang ! Tentu ada apa-apa di
dalam lobang itu, dan........ kau tidak mau mengatakannya
kepadaku! Baik! Sekarang kau akan kubawa saja bersamasama,
sehingga kau akan mengalami hal yang sama denganku
apabila terjadi apa-apa nanti……"
"Jahanam.....! Jangannn......!”
Tapi Chin Yang Kun sudah tidak peduli lagi. Perempuan itu
ditotoknya lemas. Kemudian diseretnya memasuki lobang
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
masuk ke ruang di bawah tanah tersebut. Tapi begitu kaki
pemuda itu menginjak anak tangga yang ke tujuh, tiba-tiba
terjadi ledakan hebat yang menggoncangkan seluruh
bangunan rumah tersebut !
Bhhlaaaaaarr....!!!
Bagaikan gunung meletus atap rumah besar itu tercampak
berhamburan ke udara! Suaranya menggelegar mengagetkan
seisi dusun itu. Pecahan-pecahan genting, kayu dan lainlainnya,
terlempar jauh ke pekarangan-pekarangan di
sebelahnya.
Tiba-tiba saja semua orang keluar dari rumah-rumah
mereka yang tadi tertutup rapat itu. Mereka berlarian kesana
kemari dengan wajah ngeri dan ketakutan! Dan sekejap saja
dusun yang semula sepi itu menjadi ribut dan gempar luar
biasa ! Terdengar jerit dan tangis anak-anak serta wanita
dimana-mana! Semua orang menyangka telah timbul bencana
alam seperti dulu lagi.
Tetapi beberapa orang yang tergabung dengan Ko Tiang
dan Jiu Kok, yang melihat dengan jelas apa yang telah terjadi,
segera keluar dari persembunyian mereka dan berusaha untuk
menenangkan penduduk yang panik. Mereka mengatakan
kepada semua orang, apa yang telah terjadi di rumah Yung Ci
Pao. Dan kemudian mereka mengajak para penduduk untuk
melihat rumah itu.
Akhirnya kegemparan tersebut menjadi reda juga. Kini
semua orang berbondong-bondong ingin melihat ke rumah
Yung Ci Pao, untuk mengetahui apa sebenarnya yang telah
terjadi di tempat itu.
Tetapi orang-orang itu hanya bisa melihat puing-puing
bekas rumah Yung Ci Pao saja sekarang. Rumah yang dulu
sangat besar dan megah itu kini telah hancur dan hampir rata
dengan tanah. Asap masih tampak mengepul di sana-sini.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Mendadak seorang pemuda berlari mendatangi, dan
kemudian menyibakkan kerumunan orang yang berjubel di
sekitar tempat itu. Wajahnya yang biru memar bekas disiksa
orang itu tampak pucat pias! Matanya melotot mengawasi
rumah yang telah hancur berantakan itu !
"Rumahku.......! Ohhh....... rumahku! Wi Yan Cuuuuu........!
Wi Yannn Cuuuu .....! Dimanakah engkauuuu.......???” pemuda
yang tidak lain adalah si Bopeng Yung Ci Pao itu menjerit-jerit
seperti orang gila.
Beberapa orang tetangga Yung Ci Pao berusaha membujuk
pemuda itu, termasuk pula Ko Tiang dan Jiu Kok. Tetapi
cobaan yang datang bertubi-tubi itu tampaknya benar-benar
sangat memukul batin dan jiwa Yang Ci Pao sehingga sulit
sekali bagi mereka untuk menyadarkan atau
menenangkannya. Seperti orang gila pemuda itu menjerit-jerit
memanggil nama isterinya, meronta-ronta dan setelah terlepas
dari pegangan orang-orang itu lalu berlarian sambil
menjambaki rambutnya sendiri.
"Rumahkuuuu........! Rumahkuuu......ohh! ....... Yan Cu !
Yan Cu ! Yan Cuuuu.......! Huhu-uh-huuuuu....... !"
Akhirnya semua orang membiarkan saja pemuda itu
meratapi nasibnya.
"Kasihan anak itu. Habis sudah semua yang dikejarnya dan
dikuasainya dengan cara yang kurang terpuji itu sekarang....."
seorang tetangganya yang telah berusia lanjut berdesah
perlahan.
"Benar. Tampaknya pemuda itu telah mulai memetik hasil
perbuatannya sendiri." isterinya yang juga telah tua menyahut
pula.
Sementara itu Ko Tiang dan Jiu Kok rupanya telah membagi
tugas. Ko Tiang dengan kawan-kawannya, dibantu oleh
pemuda-pemuda desa itu berusaha menyingkirkan puingpuing
reruntuhan itu. Mereka mencari kalau-kalau di bawah
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
reruntuhan itu masih ada sesuatu yang perlu mereka
selamatkan. Siapa tahu Chin Yang Kun, Wi Yan Cu atau teman
gadis mereka yang juga dipaksa untuk melayani ketiga
penjahat itu masih hidup pula?
Sedangkan Jiu Kok dengan tergesa-jesa mengajak dua
orang temannya berlari ke desa In-ki-cung untuk melaporkan
hal itu kepada kepala desa mereka. Seorang kepala desa yang
telah limapuluhan tahun mengabdikan dirinya, yaitu semenjak
pemerintahan kaisar lama. Tetapi meskipun telah lanjut usia,
kepala desa itu benar-benar sangat disegani dan dihormati
oleh penduduknya. Sebab, selain orang tua itu adalah
keturunan dari cikal-bakal desa tersebut, ia juga seorang yang
sangat bijaksana serta berwibawa. Apalagi salah seorang
puterinya pernah diambil isteri seorang pangeran dari kota
raja pula.
"Jadi ada penjahat yang telah mengacau desa Hoa-ki-cung?
Hmm....... kalau begitu marilah kita ke sana! Ah........Ci
Pao....... Ci Pao ! Sudah kuperingatkan sejak dahulu........"
kepala desa itu berbisik dengan muka muram.
Dengan mengajak beberapa orang pembantunya, kepala
desa itu mengikuti Jiu Kok ke desa Hoa-ki-cung. Wajah kakek
itu tampak muram dan gelisah, sebab bagaimanapun juga
Yung Ci Pao masih termasuk cucu luarnya sendiri.
“ln-cungcu (Kepala Desa she In)......" di tengah jalan Jiu
Kok mencoba mengajak berbicara dengan kepala desanya itu.
"Ada apa Jiu Kok?"
"Selain Ci Pao di sana juga ada cucu In-cungcu yang
lain..............."
"Hmmh ....... siapa?" kakek itu menyahut hampir tidak
peduli. Apa anehnya kalau di tempat itu ada cucunya yang
lain? Kakek itu hampir mempunyai seratus cucu di desa In-kicung
dan Hoa-ki-cung. Dan dengan terjadinya musibah di
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
rumah Yung Ci Pao itu tentu saja semua sanak-familinya
berkumpul disana.
"Tapi cucu ln-cungcu yang seorang ini tidak tinggal di desa
kita ini........" Jiu Kok yang ingin memberi kejutan kepada
kakek itu cepat-cepat berkata.
"Cucuku yang tidak tinggal di desa kita? Huh.....apa
maksudmu?" kakek itu menoleh dan bertanya, sama sekali
belum menangkap maksud dari perkataan Jiu Kok.
"Ahh……bukankah In-cungcu masih mempunyai cucu yang
lain ? Cucu kesayangan yang hampir sepuluh tahun tak pernah
datang mengunjungi In-cungcu lagi .....?" Jiu Kok masih tetap
jual mahal dan tidak lekas-lekas mengatakan apa yang
dimaksudkannya.
Benar juga. Mendengar ucapan Jiu Kok yang terakhir itu
tiba-tiba In-cungcu berhenti. Dengan suara gemetar kakek itu
menghardik, "Jiu Kok! Katakan cepat ! Jangan berputar-putar !
Apakah yang kaumaksudkan itu........,cucuku yang tinggal di
kota raja?"
"Be-ben.........eh....... benar !” Jui Kok menjawab dengan
suara gemetar pula melihat kemarahan kepala kampungnya.
"Siapa ? Chin Yang Kun........?" In-cungcu mendesak.
Jiu Kok yang sedianya mau membuat kejutan itu
mengangguk.
"Heh ? Benarkah........? Apa-apa........ oh apakah engkau
tidak salah lihat ?" kakek itu mendadak menyambar leher baju
Jiu Kok dan berteriak dengan suara parau.
Jiu Kok malah tidak bisa menjawab lagi. Pemuda itu cuma
mengangguk dan menggeleng-geleng saja. Tapi sikap itu
sudah merupakan jawaban yang jelas bagi In-cungcu.
"Ooohh........!”
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Kakek itu tiba-tiba berbalik, lalu dengan tergesa-gesa
berlari ke rumah Yung Ci Pao di desa Hoa-ki-cung!
Pembantunya, Jiu Kok dan teman-temannya hanya saling
pandang, kemudian juga berlari mengikuti kakek itu pula.
Kedatangan In-cungcu di Hoa-ki-cung disambut dengan
ratap tangis oleh anak cucunya yang tinggal di desa itu.
Mereka segera melaporkan apa yang telah terjadi di rumah
Yung Ci Pao, yang juga masih keluarga mereka sendiri itu.
"Di manakah Ci Pao sekarang?"
"Itu dia .......! saah seorang dari sanak keluarganya itu
mengacungkan jari telunjuknya ke arah Yung Ci Pao, yang
duduk bengong termangu-mangu sendiri di bawah pohon di
pojok halaman rumahnya.
"Lalu .... di mana.... eh, di manakah...?" In-cungcu masih
juga bertanya seraya menoleh kesana kemari, seolah-olah ada
yang ia cari lagi selain Yung Ci Pao.
Dan ketika kakek itu tidak juga dapat menemukan orang
yang dimaksudkannya, ia lalu menoleh ke arah Jiu Kok.
“Hei, Jiu Kok........! Di manakah dia ?” teriaknya tak sabar.
Jiu Kok cepat berlari datang. "Ada apa Cungcu?" tanyanya
setelah berada di depan kakek itu.
"Kau katakan bahwa dia berada di sini. Apakah engkau mau
mempermainkan aku? Di manakah dia...... hei ?"
Tentu saja orang-orang yang berada di tempat itu menjadi
heran melihat kelakuan kepala desa mereka. Mereka menatap
In-cungcu dan Jiu Kok berganti-ganti.
"Eh...... anu ! Chin Yang Kun berada di rumah ini ketika
rumah ini meledak dan roboh ! Mungkin....... mungkin dia
tertimbun pula di dalam reruntuhan itu bersama tiga orang
penjahat itu." dengan hati-hati Jiu Kok memberi keterangan.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Lalu secara singkat pemuda itu menceritakan apa yang telah
terjadi di desa itu sebelum semua peristiwa tersebut terjadi.
"Hai.,.,... kalau begitu cepatlah semua orang menyingkirkan
reruntuhan itu ! Ayoooooh !" kakek itu berteriak keras sekali.
Demikianlah, semua orang yang berada di tempat tersebut
lalu bekerja keras menyingkirkan puing-puing rumah Yung Ci
Pao yang roboh tersebut. Dan beberapa waktu kemudian,
yaitu bersamaan dengan saat matahari berada di atas kepala
mereka, mereka menemukan mayat Pendekar Li dan Jai-hwa
Toat-beng-kwi di bawah reruntuhan itu. Tubuh kedua
penjahat itu hampir tak bisa dikenali lagi bentuknya. Keduanya
tergencet oleh balok-balok kayu besar penyangga rumah.
Penemuan itu sungguh mengejutkan In cung-cu yang
sedang mengkhawatirkan Chin Yang Kun. Serta-merta kakek
itu meloncat menghampiri.
''Ma-mayat si..,,,,, siapa itu?" teriaknya hampir menjerit.
"Ah, bukan dia In-cungcu.......! Bukan dia! Kedua sosok
mayat ini adalah mayat penjahat-penjahat itu." Jiu Kok cepatcepat
memberi keterangan.
"Ouohh.........!" kakek itu bernapas lega.
"Kalau begitu.......ayolah kalian teruskan pekerjaan kalian
ini!"
Tapi sampai matahari condong ke barat dan akhirnya
malah tenggelam di balik pegunungan, para penduduk itu
tidak juga menemukan mayat-mayat yang lain lagi. Padahal
mereka telah menyingkirkan seluruh reruntuhan rumah itu.
"Hei, kemanakah mayat-mayat mereka? Bukankah di
rumah ini ada penjahat wanita, Wi Yan Cu dan Chin Yang Kun
pula? Apakah mereka bertiga bisa meloloskan diri dari
bencana itu? Tetapi….. mustahil ! Kalau mereka lolos, mereka
tentu datang menemui kita.......” Ko Tiang berkata seraya
memandang Jiu Kok dan yang lain-lain.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Kau benar ! Lalu ke mana mereka itu ?" Jiu Kok menyahut
pula.
"Ayoh„.......coba terus ! Kalian singkirkan reruntuhan itu
sampai kelihatan lantainya! Siapa tahu kita bisa menemukan
mereka di bawah reruntuhan pasir dan tembok itu.'' In-cungcu
dengan suara tegang dan gelisah memberi perintah lagi.
Beberapa orang penduduk yang lain segera menyiapkan
obor untuk penerangan. Tapi belum juga mereka meneruskan
pekerjaan mereka itu, tiba-tiba seorang pembantu In-cungcu
datang tergopoh-gopoh mendapatkan kepala desanya itu.
"Cungcu, kau........ kau diharapkan pulang sekarang juga!"
Begitu datang orang itu langsung mengatakan maksudnya.
"Heh? Ada apa di rumah?" In-cungcu tersentak kaget.
"Anu.........anu ......Baginda........Baginda Kaisar telah
berkenan datang di desa kita ! Sekarang, beliau berada di Kuil
Ban-lok-si di pinggir desa itu."
"Apa.......??? Hong-siang berkunjung ke desa kita?" kakek
itu berseru dan wajahnya mendadak menjadi pucat pasi. Rasa
gentar dan takut yang luar biasa tampak membayangi wajah
yang biasanya sangat berwibawa itu.
Selanjutnya kakek itu tampak gelisah dan bingung sekali.
Keringat dingin kelihatan membasahi pakaiannya, sementara
dengan sangat tergesa-gesa kakinya melangkah meninggalkan
rumah Yung Ci Pao yang sedang tertimpa malapetaka itu.
Begitu risaunya hati orang tua itu sehingga beberapa kali
tubuhnya melanggar orang yang menghalangi jalannya.
"Matilah sudah aku sekali ini ! Ohhh........Leng Hoan........
Leng Hoan, apa yang akan kau andalkan lagi sekarang? Dia
telah menjadi kaisar junjunganmu! Dan engkau takkan bisa
mengelak lagi kalau dia mau membalas dendam atas
perlakuanmu dahulu......ohhh !" kakek itu komat-kamit
menyalahkan dirinya sendiri.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Tentu saja semua orang heran sekali melihat kelakuan
orang tua itu. Bukankah kakek itu seharusnya bergembira
menerima kunjungan rajanya? Tidak semua orang bisa
memperoleh kesempatan baik seperti itu.
Tapi bagi orang-orang tua yang seangkatan dengan kakek
itu, yang selama ini selalu tinggal di desa In-ki-cung dan Hoaki-
cung, sikap yang aneh dari In-cungcu tersebut sama sekali
tidak mengherankan mereka. Semuanya masih ingat dengan
jelas pada peristiwa duapuluh tahun yang lalu, ketika Incungcu
itu hendak mengawinkan salah seorang puterinya
yang bernama In Soh Hwa. Gadis yang menjadi bunga desa
ln-ki-cung itu ternyata menjadi rebutan para pemuda yang
ingin memperisterikannya, sehingga akhirnya mengakibatkan
keributan dan kegemparan di desa tersebut. Dan keributan itu
baru dapat menjadi reda setelah secara kebetulan ada
seorang pangeran dari kota raja yang lewat dan berhenti di
desa mereka.
Tapi kedatangan si pangeran tersebut ternyata berbuntut
panjang. Sebab pangeran yang masih berusia muda dan
belum beristeri itu akhirnya juga menghendaki ln Soh Hwa
pula. Tentu saja pemuda-pemuda desa itu menjadi segan dan
takut untuk bersaing dengan pangeran yang kaya dan
mempunyai kekuasaan besar itu. Satu persatu mereka mundur
dari arena persaingan, apalagi ketika mereka mengetahui
bahwa si pangeran itu masih putera dari kaisar mereka
sendiri.
Meskipun demikian, ternyata masih ada juga yang nekad
dan tidak mau mengalah. Pemuda tersebut adalah Liu Pang,
putera seorang petani melarat di desa itu juga. Memang sudah
lama pemuda itu menjalin cinta dengan In Soh Hwa, biarpun
ayah gadis itu atau In-cungcu tidak menyukai hubungan
mereka itu.
Dan puncak dari kenekadan pemuda Liu Pang tersebut
adalah ketika dia dengan berani mengambil In Soh Hwa serta
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
melarikan gadis tersebut ke daerah perbukitan. Tentu saja
perbuatan pemuda itu mengundang kemarahan si pangeran
dan keluarga In Soh Hwa sendiri. ln Leng Hoan atau Incungcu
segera mengerahkan para pembantunya untuk
mengejar Liu Pang, sementara pangeran itu juga
mengerahkan perajurit yang dibawanya dari kota raja untuk
merampas kembali calon isterinya.
Demikianlah, selama dua hari dua malam pasukan besar itu
mengobrak-abrik tempat persembunyian Liu Pang. Dan pada
hari ke tiga, barulah sepasang kekasih itu mereka ketemukan.
Maka penyiksaan atas diri pemuda nekad itupun terjadilah !
Sayang, pada saat pangeran itu memberi perintah untuk
membunuh Liu Pang, seorang pendekar tak dikenal telah
datang dan menyelamatkan nyawa pemuda itu. Dan
selanjutnya tak seorangpun tahu bagaimana nasib Liu Pang
itu.
Tapi belasan tahun kemudian, orang-orang dari desa ln-kicung
itu dikejutkan oleh berita tentang munculnya Liu Pang,
yang memimpin ribuan orang petani dan pendekar-pendekar
persilatan untuk menumbangkan kekuasaan Kaisar Chin Si di
kota raja. Tampaknya dendam pemuda itu terhadap si
Pangeran Chin, yang telah merebut kekasihnya itu telah
menyalakan semangat pemuda tersebut untuk membalas
dendam. Dan dendam itu akhirnya ternyata terlaksana juga.
Kaisar Chin Si dan bala tentaranya menyerah. Liu Pang
menjadi kaisar yang baru, bergelar Kaisar Han. Sayang di
dalam kemenangannya itu Kaisar Han tak pernah bisa
menemukan kekasih yang dicintainya, yaitu In Soh Hwa !
Dan tampaknya setelah bertahun-tahun tak bisa
menemukan juga kekasihnya itu, kini Liu Pang kembali ke
desanya. Anak petani melarat itu sekarang datang dengan
segala kebesarannya, kereta-kereta perang dan ribuan orang
perajuritnya ! Bagaimana seorang kepala desa kecil seperti ln
Leng Hoan tidak menjadi gemetar ketakutan melihatnya?
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Di dalam perjalanan kembali ke rumahnya, In Leng Hoan
terus saja mendesak kepada pembantunya.
"Lo Kwang, apa........ apakah Hong-siang membawa banyak
pengawal ?"
"Pengawal.....? Ah, Cungcu ini aneh benar! Masakan Hongsiang
hanya diikuti oleh beberapa orang pengawal? Hmm.......
tentu saja Hong-siang membawa pasukan yang lengkap.
Lengkap sekali........!" Lo Kwang menjawab pertanyaan kepala
desanya dengan wajah terheran-heran.
"Lengkap sekali?" ln Leng Hoan mengulangi seolah tak
percaya.
"Ya ! Cungcu ingat padang rumput di lereng bukit di
sebelah selatan desa kita itu? Nah, tempat itu kini penuh
dengan perajurit dari kota raja!”
“Hah? Padang rumput yang luar biasa luasnya itu?" sekali
lagi In Leng Hoan mengulangi kata-kata pembantunya, "Ohhh
mati aku !!!"
'"Hei, Cungcu........ kau kenapa?" Lo Kwang berteriak kaget.
Tapi ln Leng Hoan cepat-cepat menggeleng. “Tidak apa-apa
! Tidak apa-apa.......” desah kakek itu dengan suara putus asa.
Tentu saja kegelisahan kepala desanya itu sangat
mengherankan Lo Kwang. Pembantu kepala desa yang masih
berusia muda dan belum lama tinggal di In-ki-cung tersebut
tentu saja tak tahu menahu sama sekali peristiwa yang terjadi
pada duapuluhan tahun berselang.
Demikianlah, dengan pikiran kacau ln Leng Hoan sampai di
rumahnya. Kedatangannya telah dinantikan oleh isteri dan
anak-anaknya, yang sengaja berkumpul di rumah itu. Anakanaknya
yang tua, yaitu kakak-kakak ln Soh Hwa, segera
menyongsong dia dan mengelilinginya.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"A-ayah..... dia telah datang kemari ! Apa....... apa yang
harus kita perbuat?” puteranya yang tertua, yang rambutnya
juga telah mulai memutih, bertanya dengan suara khawatir.
"Benar, yah........! Tampaknya dia hendak...... hendak
membalas dendam atas perlakuan kita dahulu." puteranya
yang ke dua, yang dahulu ikut menyiksa Liu pang, berkata
pula dengan bibir bergetar.
Wajah In Leng Hoan semakin tampak pucat tak berdarah.
Perasaan takut, cemas dan ngeri membuat kakek itu seolaholah
sudah tidak mempunyai pengharapan untuk hidup lagi.
Kedatangan Kaisar Han beserta pasukannya itu seakan-akan ia
rasakan sebagai malaikat elmaut yang hendak mencabut
nyawanya.
Melihat itu isterinya menjadi tidak tega. Betapapun dirinya
juga takut luar biasa, tapi memandang suaminya seperti itu
hatinya menjadi kasihan dan tidak rela.
"Sudahlah! Kau tak perlu takut dan bersedih hati ! Kita
berdua sudah tua-renta. Tanpa mereka bunuhpun kita juga
akan segera meninggalkan semua ini. Apa bedanya mati
sekarang atau besok bagi kita? Sudah cukup rasanya kita
berdua mengasuh anak cucu selama ini……"
"Ahhh.......!" In Leng Hoan berdesah dan tiba-tiba
wajahnya tampak berseri-seri memandang isterinya. Kedua
lengannya terulur ke depan dan di lain saat sepasang kakeknenek
itu lalu saling berangkulan tanpa mempedulikan anakanak
mereka.
"Kau benar, isteriku…..Ah, aku sekarang sudah tidak takut
lagi. Biar sampai lumat dengan tanahpun kita berdua akan
selalu bersama-sama. Bukan begitu?"
Nenek itu tersenyum dan mengangguk-anggukkan
kepalanya. Beberapa butir air mata kelihatan meloncat dari
pelupuk matanya dan membasahi pipinya yang keriput.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Ehh....... tetapi bagaimana dengan anak-cucu kita nanti ?
Bagaimanakah kalau kaisar itu juga memusuhi mereka pula?"
In Leng Hoan berbisik perlahan ke telinga isterinya.
"Ah, tidak mungkin! Perbuatan itu hanya akan merugikan
nama baiknya di mata para perajuritnya. Pembunuhan yang
membabi buta terhadap rakyat kecil seperti kita justeru akan
menimbulkan pengaruh yang tidak baik terhadap
kewibawaannya," isterinya cepat-cepat menyahut.
"Klinting………klinting....... klinting !”
"Ohh…..itu suara kelintingan kuda! Utusan yang hendak
menjemput ayah telah datang,” putera In Leng Hoan yang
tertua berbisik gelisah.
Tapi dengan bibir tersenyum In Leng Hoan menepuk-nepuk
pundak puteranya, kemudian seraya menggandeng lengan
isterinya kakek itu melangkah ke ruang pendapa. Dan benar
saja di halaman depan telah terlihat seregu perajurit berkuda
mendatangi. Seorang perwira berpakaian gemerlapan tampak
memimpin pasukan itu.
ln Leng Hoan bergegas mengajak isterinya turun ke
halaman, menyongsong kedatangan perwira itu. Dengan
sangat hormat sekali kakek itu membungkuk di hadapan
perwira tersebut.
"Selamat datang di rumah kami, Ciangkun.......!”
Perwira itu melambaikan tangannya ke belakang, menyuruh
anak buahnya berhenti. Lalu tanpa beranjak dari punggung
kudanya perwira itu mengangguk.
"Terima kasih ! Apakah kamu yang bernama In Leng Hoan
dan menjabat sebagai kepala desa di dusun In-ki-cung ini?"
katanya singkat tanpa berbelit-belit.
"Betul, Ciang-kun! Aku memang In Leng Hoan, kepala desa
di tempat ini. Bolehkah saya bertanya, siapakah Ciang-kun
ini?"
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Aku adalah utusan Hong-siang yang saat ini sedang
berada di Kuil Ban-lok-si, di luar desamu ini. Hong-siang
berkenan untuk memanggilmu ke sana sekarang juga! Oleh
karena itu engkau bersiaplah untuk kami bawa ke hadapan
beliau!" perwira itu berkata lagi, halus namun tegas.
"Ba-baik.......! Tapi silakanlah Ciang-kun singgah dulu
sebentar di pendapa! Aku akan berbenah dahulu di
dalam........" In Leng Hoan yang sudah tidak merasa
ketakutan lagi itu menjawab tenang.
"Terima kasih! Tidak usah........! Aku akan menunggu saja
di halaman ini. Nah, lekaslah kau bersiap-siap.......!"
Demikianlah, setelah berpamitan dengan anak-isterinya In
Leng Hoan lalu pergi mengikuti perwira itu. Semula isteri dan
anaknya hendak ikut, tetapi dengan keras kakek itu
melarangnya. Kakek itu menyuruh mereka supaya menunggu
saja di rumah. Mereka baru diperbolehkan menyusul kalau ada
berita darinya.
Bagaimanapun juga hati kakek itu menjadi ciut pula melihat
penjagaan yang begitu rapat di sekeliling Kuil Ban-lok-si itu.
Berpuluh-puluh orang perajurit bersenjata lengkap tampak
mondar-mandir di sepanjang jalan dan halaman kuil tersebut.
Mereka tampak bersiap siaga sepenuhnya !
"Ah, perajurit-perajurit ini cuma sebagian saja dari
kekuatan yang dibawa oleb Liu Pang itu. Yang lain mereka
tempatkan di lereng bukit itu........" In Leng Hoan bergumam
di dalam hati.
"Utusan Hong-siang telah tiba........!” tiba-tiba perajurit
yang berdinas jaga di pintu halaman kuil berteriak ke dalam.
Lalu terjadilah kesibukan yang luar biasa di dalam kuil itu.
Beberapa orang perwira tampak keluar dari dalam kuil. Di
belakang mereka tampak belasan perajurit pengawal
mengiringkan mereka. Bergegas para perwira itu
menyongsong perwira yang membawa In Leng Hoan tadi.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Dan perwira yang membawa In Leng Hoan itu cepat
meloncat turun dari atas punggung kudanya. Sambil memberi
hormat perwira itu melaporkan tugas yang telah
diselesaikannya. Salah seorang perwira yang keluar dari dalam
kuil itu mengangguk, lalu mengajak In Leng Hoan ke dalam.
Para perwira yang lain segera mengikuti mereka dari
belakang.
Belasan orang anggota Sha-cap-mi-wi, dengan pakaian
seragam kebesarannya yang gemerlapan, tampak berdiri
berderet di kanan kiri jalan yang mereka lalui menuju ke pintu
ruang dalam. Jagoan-jagoan pengawal rahasia kerajaan itu
tampak gagah-gagah, berwibawa dan garang-garang!
Kepandaian mereka yang rata-rata sangat tinggi itu membuat
sikap dan pembawaan mereka sangat tenang dan yakin pada
diri mereka sendiri. Dan semua itu membuat hati In Leng
Hoan semakin menjadi lebih menciut lagi. Apalagi ketika kakek
kepala desa itu sampai di dalam.
Para perwira tinggi dan panglima-panglima kerajaan yang
saat itu dibawa oleh Yap Tai-ciangkun dalam perlawatannya
ke Pantai Karang, tampak duduk berderet-deret di sekitar altar
pemujaan, di mana kursi baginda Kaisar Han diletakkan.
Lampu-lampu besar dan bau dupa wangi yang tersebar di
ruangan dalam yang luas itu membuat suasana menjadi
kelihatan agung dan menggetarkan hati.
Kursi itu masih kosong. Hong-siang belum berkenan duduk
di tempat itu. Tampaknya baginda ingin menunggu
kedatangan utusannya lebih dahulu.
In Leng Hoan diperintahkan duduk di atas lantai di depan
altar, sambil menunggu kedatangan baginda Kaisar Han. Dan
kakek itu hampir tak berani menengadahkan mukanya.
Perwira-perwira tinggi dengan seragamnya yang indah
gemerlapan itu seakan-akan menyilaukan matanya dan
menyita seluruh keberaniannya.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Sementara itu udara di luar kuil benar-benar telah menjadi
gelap. Malam telah datang menyelimuti bumi. Para perajurit
juga telah memasang obor penerangan di mana-mana,
sehingga suasana di sekitar tempat itupun telah menjadi
terang benderang bagaikan siang hari saja.
Demikian pula yang terjadi di rumah Yung Ci Pao di Hoa-kicung.
Penduduk di sana juga sudah memasang obor
sebanyak-banyaknya untuk membantu kawan-kawan mereka
yang sedang sibuk membongkar puing-puing reruntuhan
rumah itu. Sesuai dengan perintah kepala desa mereka,
mereka melanjutkan usaha mereka untuk menemukan mayat
Wi Yan Cu dan Chin Yang Kun. Tetapi sampat habis
reruntuhan rumah itu mereka singkirkan, mayat kedua orang
itu tetap juga tak mereka ketemukan.
Tentu saja hal itu sangat mengherankan orang-orang itu.
Mereka lalu bertanya-tanya di dalam hati, kemanakah
gerangan mayat kedua orang itu? Masakan cuma mayat kedua
orang penjahat itu saja yang dapat mereka ketemukan ? Lalu
kemanakah mayat penjahat wanita itu? Dan ke mana pula
mayat Wi Yan Cu dan Chin Yang Kun, yang saat itu juga
berada di rumah tersebut?
Tak seorang pun penduduk desa itu yang tahu tentang
ruang di bawah tanah itu. Selama hidupnya keluarga Wi Yan
Cu selalu merahasiakan ruang di bawah tanah tersebut. Hanya
keluarga terdekat saja yang diberitahu tentang hal itu,
termasuk pula Wi Yan Cu dan Yung Ci Pao. Tetapi di bawah
ancaman Pendekar Li dan kawan-kawannya, ternyata Wi Yan
Cu juga telah memberitahukan pula tempat tersebut kepada
penjahat-penjahat itu. Dan sekarang ruang rahasia itu telah
dipergunakan oleh Pek-pi Siau-kwi untuk menjebak Chin Yang
Kun.
Lalu apa yang terjadi dengan Chin Yang Kun setelah
ledakan dahsyat tersebut?
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Ternyata ledakan hebat yang menggoncangkan seluruh
bangunan rumah besar itu benar-benar sangat mengagetkan
Chin Yang Kun pula. Pemuda itu terlempar ke bawah bersamasama
dengan tubuh Pek-pi Siau-kwi dan untuk beberapa saat
lamanya mereka seperti orang yang tidak sadarkan diri.
Dan ketika keduanya sudah siuman kembali, mereka
mendapatkan diri mereka di dalam sebuah ruangan yang
pengap dan gelap. Hanya ada sebatang lilin besar menyala di
pojok ruangan di mana sinarnya tak mampu menerangi
seluruh ruangan yang luas itu.
"Uh-huuu ........ uh !” mendadak mereka mendengar suara
tangis perempuan di arah sebelah kiri mereka.
Chin Yang Kun cepat menoleh. Di dalam keremangan
cahaya lilin matanya melihat sesosok tubuh wanita
tertelungkup di atas pembaringan.
"Ah, Wi Yan Cu…...!” pemuda itu berbisik perlahan, lalu
bergegas bangkit dari tempatnya.
Pek-pi Siau-kwi yang merasa seram melihat suasana di
dalam kamar itu cepat-cepat berdiri pula di belakang Chin
Yang Kun. Tetapi belum juga kakinya dapat berdiri tegak, iblis
cantik itu buru-buru mendekam kembali. Dari mulutnya
terdengar suara jeritannya yang khas !
"Aiiih........!”
Dengan sigap Chin Yang Kun membalikkan tubuhnya. Rasa
kaget membuat pemuda itu segera bersiap siaga sepenuhnya.
Tapi dengan perasaan kaget pula pemuda itu cepat-cepat
membuang mukanya ! Pipinya merah seketika ! Sekejap
matanya melihat Pek-pi Siau-kwi sedang "sibuk" dan repot
menutupi tubuhnya yang "nyaris" telanjang !
"Wahh........!" pemuda itu berdesah, kemudian menunduk
untuk menenteramkan hatinya yang tiba-tiba berguncang.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Tapi sekali lagi pemuda itu terkejut! Ternyata seperti
halnya Pek-pi Siau-kwi, pakaian yang melekat pada
tubuhnyapun juga kedodoran serta compang-camping pula.
Malah apabila diperbandingkan dengan Pek-pi Siau-kwi,
keadaannya justru lebih parah lagi malah! Tubuhnya yang
kurus itu rasa-rasanya sudah tidak tertutup pakaian lagi!
"Wah, ini......... ini? Bagaimana ini........?” Chin Yang Kun
gugup dan tiba-tiba tangannya ikut-ikutan menjadi sibuk pula.
Sementara itu suara jeritan Pek-pi Siau-kwi tadi ternyata
sangat mengejutkan Wi Yan Cu pula. Wanita yang berada di
atas pembaringan itu segera meloncat turun dan berlari
menjauhi mereka.
"Jangan ! Jangan sentuh aku........!" wanita itu berteriak
ketakutan seraya bersandar di dinding ruangan.
Sambil menutupi anggauta tubuhnya yang terbuka Chin
Yang Kun menjadi bingung, gelisah dan serba salah ! Berkalikali
matanya tak dapat ia cegah untuk melirik ke arah Pek-pi
Siau-kwi yang "mendekam" di dekatnya. Wanita cantik itu
hampir tidak berpakaian sama sekali, sehingga tubuhnya yang
mulus itu tampak dengan jelas Iekuk-likunya.
"Aaaah.......!" Chin Yang Kun berdesah dengan napas
memburu. Badannya menjadi panas-dingin serta gemetar. Dan
tiba-tiba saja seperti ada "sesuatu" yang bergerak di dalam
tubuhnya!
"Ini....... ini, oh....... gila! Hmmmh !” pemuda itu
menggeram dan berusaha dengan sekuat tenaganya untuk
menahan gejolak nafsu yang hendak membakar dirinya.
Sebenarnya Chin Yang Kun telah sadar akan bahaya yang
hendak menyerang dirinya. Tapi seperti yang pernah
dikatakan oleh Chu Seng Kun, bahwa nafsu setan ini tak
mungkin bisa ditahan lagi bila datang, maka usahanya sia-sia
belaka. Detik demi detik nafsu iblis itu menggelegak semakin
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
ganas dan beberapa saat saja pemuda itu sudah menjadi
kewalahan untuk mencegahnya!
Akhirnya pemuda itu sudah tidak kuasa membendung nafsu
berahinya ! Perlahan-lahan lengannya terulur ke depan untuk
meraih tubuh yang menggairahkan itu. Meskipun demikian
dari mulut pemuda itu masih terdengar juga kata-kata yang
menunjukkan sedikit kesadarannya.
"Ce-cepaat....... kau pergilah. Se-sebelum........ ouhhh!"
Tapi Pek-pi Siau-kwi sudah terlanjur ketakutan terhadap
Chin Yang Kun. Sikap Chin Yang Kun yang sangat mengerikan
itu justru dianggapnya sebagai pertanda bahwa pemuda itu
telah mengetahui perangkap yang dipasangnya, dan kini
pemuda itu menjadi berang dan mau membunuhnya !
"Jangan.......oh....... jangan kaubunuh aku ! A-aku
menyerah……!” iblis cantik itu meratap seraya menubruk kaki
Chin Yang Kun. Beberapa helai dari sisa pakaian yang tadi
masih melekat di tubuhnya tampak terlepas pula, sehingga
tubuhnya yang memang sangat bagus itu nyaris tak
mempunyai penutup lagi.
"Gila ! Pergiii........ oh....... pergilah kau!" dengan sisa-sisa
kesadaran yang masih dipunyainya Chin Yang Kun berteriak.
Tapi Pek-pi Siau-kwi tetap tak mau melepaskan
pelukannya. Iblis cantik itu justru bangkit berdiri dan memeluk
lebih erat, sehingga Chin Yang Kun semakin "kebakaran" !
"Ooh....... ampunilah aku! Kau berbuatlah sesuka hatimu,
tapi....... jangan bunuh aku......!” Pek-pi Siau-kwi meratap.
Gejolak nafsu iblis yang membakar tubuh pemuda itu
benar-benar telah menggelegak sampai di puncaknya. Pemuda
itu benar-benar telah kehilangan seluruh kesadarannya !
Perempuan telanjang yang berada di dalam pelukannya itu
segera ia lemparkan ke atas pembaringan dan........ kemudian
semuanya berlangsung tanpa ada yang mencegah lagi !
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Ooooooh...... !" Wi Yan Cu yang menyaksikan dengan jelas
semua kejadian itu menjerit ngeri dan pingsan.
Demikianlah, kejadian yang sebenarnya sangat tidak
diinginkan oleh Chin Yang Kun sendiri itu, berlangsung
dengan cepat dan tidak bisa dihindarkan lagi. Semula Pek-pi
Siau-kwi memang meronta dan hendak melawan, tapi dengan
kepandaiannya yang berselisih jauh itu, mana mampu ia
melawan Chin Yang Kun? Sekali gebrak saja wanita cantik itu
segera menggelepar tak berdaya. Dan selanjutnya peristiwa
mengerikan seperti yang pernah terjadi di rumah penginapan
dulu itu terulang kembali di tempat tersebut, Pek-pi Siau-kwi
mengerang dan menggelepar kesakitan sebelum akhirnya mati
keracunan!
Dan begitu sudah selesai dan sadar kembali Chin Yang Kun
menangis sedih. Kembali seorang wanita telah menjadi korban
keganasan "penyakitnya".
"Ohh...... sungguh malang benar nasibku ! Sampai
kapankah aku harus menderita penyakit seperti ini ? Dan
sampai kapan pula aku harus mencelakakan orang-orang yang
tidak berdosa di dunia ini?"
Chin Yang Kun meratap pula semakin sedih, apalagi ketika
matanya melihat mayat Pek-pi Siau-kwi yang rusak kehitamhitaman
itu. Hatinya semakin sedih dan pilu. Sambil
menjambaki rambutnya sendiri pemuda itu meratap dan
mengeluh panjang pendek.
Begitu besar rasa penyesalan Chin Yang Kun sehingga
untuk sementara pemuda itu sampai melupakan keadaan
sekelilingnya. Dia tidak menduga sama sekali kalau Wi Yan Cu
telah siuman kembali, dan kini wanita itu justru sedang
mengamat-amati atau memperhatikan semua tingkah lakunya
yang aneh itu.
Dan wanita itu tampak benar kalau menjadi heran serta
bingung menyaksikan ulah tingkah Chin Yang Kun, pemuda
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
yang semula kelihatan sangat ganas dan mengerikan itu.
Wanita itu tidak habis mengerti, mengapa pemuda keji itu
mendadak menangis sedih, begitu selesai melakukan
perbuatan terkutuknya.
"Yang Kun....... Yang Kun ! Oh ! Tampaknya di
kehidupanmu yang silam kau adalah orang yang penuh dosa,
sehingga dalam penitisanmu yang sekarang kau harus
membayarnya dengan kesengsaraan dan penderitaan." Chin
Yang Kun meratapi nasibnya.
"Yang Kun......?" mendengar keluh kesah itu tiba-tiba Wi
Yan Cu berteriak di hatinya.
Dengan perasaan ragu-ragu dan kurang percaya wanita itu
bangkit berdiri. Matanya menatap Chin Yang Kun dengan
tajamnya, seolah-olah ingin memastikan, apakah pemuda
berwatak keji yang tiba-tiba merasa menyesal setelah
melakukan perbuatan terkutuknya itu benar-benar Chin Yang
Kun, temannya semasa kanak-kanak dulu?
"Ah.... tentu bukan dia! Chin Yang Kun adalah putera
seorang pangeran. Wataknya halus, pendiam dan baik hati.
Orang ini kejam, ganas, kasar dan keji! Tak mungkin dia !" Wi
Yan Cu bergumam dan menduga-duga di dalam hati.
Memang tidak mengherankan kalau Wi Yan Cu merasa
terkejut mendengar keluh kesah Chin Yang Kun tadi. Sebab
bagaimanapun juga nama itu sangat dikenal dan tak mungkin
dilupakan oleh Wi Yan Cu. Sejak kanak-kanak nama itu amat
dikenalnya serta amat dekat dengan dirinya. Nama itu menjadi
pujaan dan idaman dari gadis-gadis keciI sebayanya, karena
nama itu adalah nama seorang pemuda yang amat tampan,
perangainya halus, baik budi dan kaya-raya. Dan yang tak
mungkin dapat dilupakannya adalah pemuda itu sering
melindunginya dari kenakalan teman-teman sekampungnya.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"lih.......!" tiba-tiba Wi Yan Cu terpekik perlahan ketika
mendadak Chin Yang Kun mengangkat kepala dan menoleh ke
arahnya.
Sekejap wanita itu gemetar dan ketakutan bagaikan seekor
kelinci yang tiba-tiba saja berhadapan dengan seekor singa
yang hendak memangsanya. Dan rasa takut itu secara
serentak juga berbaur dengan rasa kaget dan ragu di dalam
benaknya ! Wajah pemuda ini persis dengan wajah teman
semasa kanak-kanaknya itu !
"Ohh??” sekali lagi Wi Yan Cu menjerit seraya menutupi
muIutnya. Matanya melotot Iebar, seakan-akan melihat hantu
dari temannya itu.
Sebaliknya Chin Yang Kun tampak tersenyum sedih melihat
kekagetan wanita yang telah menjadi isteri Yung Ci Pao itu.
"Wi Yan Cu tentu kaget sekali melihat perbuatanku tadi."
pemuda itu berkata di dalam hatinya. Dan tiba-tiba saja Chin
Yang Kun merasa dirinya sangat rendah dan kotor sekali.
"Wi Yan Cu....... maafkanlah aku bila aku
mengagetkanmu!" Chin Yang Kun membuka mulutnya.
"Ooh? Kau mengenalku.......? Kau...... kau benar-benar
Chin Yang Kun temanku itu? Oooooh.......!" Wi Yan Cu
menjerit Iemas, tak menyangka kalau pemuda di hadapannya
itu betul-betul Chin Yang Kun.
"Ah....!" Chin Yang Kun berdesah semakin sedih. Mukanya
tertunduk dalam-dalam.
"Yang...... Yang Kun, oh.... mengapa kau sekarang berubah
sekali? Mengapa kau..... kau berbuat se-seperti itu?" Wi Yan
Cu mendadak mempunyai keberanian kembali, dan menegur
teman yang dulu pernah dikaguminya itu.
"Ahh! Nasibku memang buruk. Aku memang sudah
ditakdirkan untuk menderita....." Chin Yang Kun menjawab
perlahan.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Ditakdirkan untuk menderita? Apa maksudmu?" Wi Yan Cu
bertanya tak mengerti.
"Bukankah kau selalu bergelimang kekayaan? Bukankah
kau tak pernah merasa kecewa di dalam hidupmu? Bukankah
kau selalu memperoleh apa yang kau inginkan?"
Chin Yang Kun menarik napas dalam-dalam.
"Kau belum tahu hal yang sebenarnya.....” pemuda itu
berdesah panjang, kemudian menutupi mukanya dengan
kedua belah telapak tangannya. Tampak benar betapa
sedihnya hatinya.
Untuk beberapa saat lamanya mereka lalu berdiam diri,
yang terdengar hanya tarikan napas dan keluhan Chin Yang
Kun saja. Pemuda itu sungguh-sungguh kelihatan bersedih
sekali, sehingga akhirnya Wi Yan Cu menjadi tertarik dan
merasa penasaran sekali untuk mengetahui apa yang
disedihkan oleh temannya tersebut.
Perlahan-lahan wanita itu mendekati Chin Yang Kun. Entah
mengapa melihat kesungguhan pemuda itu, hatinya merasa
tersentuh. Hilang perasaan takutnya. Yang ada di dalam
hatinya kini hanya perasaan tertarik dan ingin tahu masalah
yang sedang disedihkan oleh pemuda yang dulu pernah
dikaguminya itu.
''Yang Kun......... Apa sebenarnya yang kausedihkan ?
Mengapa kau merasa amat menderita ? Itukah...... itukah
yang menyebabkan sehingga kau menjadi berubah seperti
ini?"
Chin Yang Kun tersentak kaget. Tahu-tahu Wi Yan Cu telah
memegang pundaknya dan berbisik di telinganya.
"Yan Cu........kau ? Kau......?" Chin Yang Kun tergagap
bingung menyaksikan tingkah Wi Yan Cu.
"Sudahlah, kau jangan bersedih! Kau tidak sendirian di
dunia ini. Tidak hanya engkau saja yang merasa sengsara
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
serta dirundung kesedihan di dalam hidup ini. Malah banyak
orang lain yang lebih menderita dari pada dirimu........"
"Aaa-apa maksudmu ?" Chin Yang Kun terpekik, dan tanpa
terasa pemuda itu mencengkeram tangan Wi Yan Cu.
"Hidupkupun tidak bahagia pula." Wi Yan Cu menjawab
pendek dengan wajah berubah merah.
Chin Yang Kun menarik lengan yang halus itu lebih dekat
lagi. Matanya menatap wajah yang pernah dikenalnya itu
lekat-lekat, sehingga si pemilik wajah itu menjadi tersipu-sipu
malu.
“Kau tidak berbahagia ? Apa maksudmu ? Bukankah Yung
Ci Pao sangat........ sangat mencintaimu? Dia sedang
kebingungan mencarimu."
"Huh ! Persetan dengan lelaki bangsat itu ! Karena dia aku
menderita seperti ini !" tiba-tiba Wi Yan Cu berteriak geram.
Lalu menangis tersedu-sedu.
Chin Yang Kun semakin tak mengerti akan sikap Wi Yan Cu.
“Ah, engkau tak berubah sama sekali. Sejak dulu kau selalu
menangis bila sedang merasa kesal. Hanya bedanya kini
engkau telah menjadi dewasa dan telah menjadi isteri orang
pula. Hemm, apa sebenarnya kekuranganmu ?”
Tiba-tiba Chin Yang Kun menjadi malu sendiri. Hampir saja
pemuda itu memuji kecantikan Wi Yan Cu dan menyebut
tentang keberuntungan Yung Ci Pao, yang bisa
mempersunting bunga desa ln-ki-cung itu. Untunglah dengan
cepat pemuda itu bisa membelokkan perkataannya dan hanya
bertanya tentang kekurangan yang diderita oleh wanita itu,
sehingga ia tidak semakin malu di depan Wi Yan Cu.
Tapi di dalam hati Chin Yang Kun merasa kesal terhadap
dirinya sendiri.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Huh, kenapa sekarang aku menjadi romantis sekali ?"
kutuknya di dalam hati.
Sementara itu Wi Yan Cu semakin menundukkan
kepalanya. Berulang kali tangannya mengusap air mata yang
mengalir di atas pipinya.
“Yan Cu, katakanlah kepadaku ! Mengapa engkau
tampaknya sangat membenci Yung Ci Pao, suamimu ?
Bukankah dia sangat baik kepadamu?"
Tangis yang sudah hampir mereda itu kembali naik pula,
sehingga pundak wanita itu sampai turun naik dengan
kuatnya. Chin Yang Kun mengerutkan keningnya, tapi ia tak
berbuat apa-apa. Dibiarkannya saja wanita itu menangis
sepuas-puasnya agar supaya lapang hatinya.
"Sa-sangat baik…… ? Huh ! Musang berbulu ayam !
Serigala berkulit domba ! Kelihatannya saja baik, tapi
sebenarnya hatinya culas, kejam dan jahat ! Kalau tidak
dengan muslihatnya yang kotor dan keji, tak mungkin dia bisa
memperisterikan aku !" dengan suara lantang dan disertai isak
tangisnya yang masih berjejalan di tenggorokannya Wi Yan Cu
menggeram penuh kemarahan.
"Hah ? Apa katamu ?” Chin Yang Kun berseru kaget.
"Lelaki bangsat itu ! Kalau tidak karena memperkosa aku
lebih dahulu, sehingga aku hamiI, tak mungkin bangsat itu
mendapatkan aku."
"Memperkosamu ? Yung Ci Pao memperkosa engkau ?"
Chin Yang Kun berteriak tak percaya.
“Ya ! Karena ulahnya itu ayah ibuku yang biasa dihormati
orang itu menjadi malu dan makan hati. Malah karena tak
tahan menanggung semua itu ayahku lantas jatuh sakit dan
kemudian meninggal dunia. Melihat kematian ayah, ibuku
yang biasanya tabah itu juga tak kuasa menahan pula. Beliau
juga jatuh sakit, dan akhirnya pergi pula meninggalkan aku
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
seorang diri di dunia ini. Tampaknya selain tak kuat menahan
beban batin yang ditanggungnya, ibuku juga tak tahan melihat
penderitaanku setiap harinya,” Wi Yan Cu menjawab dengan
suara berapi-api.
"Kurang ajar !" Chin Yang Kun menggeram dan ikut
menjadi marah pula mendengar ceritera Wi Yan Cu tersebut.
"Tapi kalau memang demikian halnya, mengapa engkau mau
juga kawin dengan Yung Ci Pao itu?"
Tiba-tiba mata Wi Yan Cu menjadi berkaca-kaca kembali,
"itulah kelemahanku ! Sebenarnya aku bermaksud bunuh diri
pada waktu itu. Tapi niat itu lalu kuurungkan, karena aku
kasihan kepada ibu dan ayahku. Beliau akan semakin terpukul
batinnya bila aku mengakhiri hidupku sendiri. Apalagi aku
menjadi hamil karena perbuatan keji itu."
"Huh ! Sungguh kurang ajar benar si Bopeng Ci Pao itu !
Tapi kaupun sebenarnya juga salah ! Tak Seharusnya kau
diam saja menerima semua itu. Seharusnya kau melapor
untuk minta keadilan.”
"Melapor? Kepada siapa ? Kepada kepala kampung
maksudmu? Hmm, apakah engkau sudah lupa, siapa Yung Ci
Pao itu ? Apa gunanya kami melaporkan kejahatan itu kepada
In-cungcu yang masih kakek Yung Ci Pao sendiri itu? Adakah
laporan kami tersebut akan mereka perhatikan ?"
"Ahhh.......!" Chin Yang Kun berdesah dengan muka merah,
sebab sebagai cucu In Leng Hoan dia pun merasa ikut terkena
pula sindiran Wi Yan Cu tersebut.
Dan untuk beberapa saat lamanya mereka lalu berdiam diri,
masing-masing berusaha mengenangkan kembali semua
peristiwa yang telah lampau itu. Chin Yang Kun, yang kini
sudah mengetahui duduk persoalannya itu, mulai bersimpati
kepada Wi Yan Cu.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Lalu........ dimanakah anakmu itu sekarang?" Pemuda itu
mencoba untuk mencocokkan cerita Yung Ci Pao dengan
cerita wanita ini.
"Anak haram itu ? Uh ! Kenapa anak itu harus lahir ? Dia
mati sebelum waktunya. Dan aku gembira sekali malah!" Wi
Yan Cu menjawab dengan berapi-api kembali.
"Tapi.........bukankah anak itu tidak berdosa sama sekali?"
Wi Yan Cu terdiam tak menjawab. Sekilas tampak matanya
berkaca-kaca lagi. Agaknya diam-diam wanita itu tersentuh
juga rasa keibuannya. Namun dengan kekerasan hatinya
wanita itu berusaha untuk menindasnya.
"Ya....... dia memang tidak bersalah! Tapi dia akan lebih
menderita apabiIa terlahir nanti."
Chin Yang Kun mengangguk-angguk, mencoba untuk
mengerti perasaan Wi Yan Cu. Demikianlah mereka berdua
lalu terdiam pula kembali.
Tetapi beberapa waktu kemudian Wi Yan Cu tampak
gelisah duduknya. Beberapa kali matanya melirik ke arah Chin
Yang Kun, tampaknya ada sesuatu yang hendak dia katakan.
“Yang Kun........”
“Hah? Ada apa........?"
“Mengapa...... mengapa kau dan keluargamu tak pernah
berkunjung ke In-ki-cung lagi setelah peperangan besar itu
berakhir? Apakah....... apakah keluargamu menjadi.......
menjadi korban dari peperangan itu?”
Tiba-tiba Chin Yang Kun mengerutkan keningnya.
Kemudian sambil menarik napas panjang sekali pemuda itu
menundukkan kepalanya. Lama sekali baru ia menjawab
pertanyaan wanita itu.
"Keluargaku memang tidak menjadi korban paskan
pemberontak yang masuk ke kota raja, karena ayahku telah
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
lebih dahulu mengungsikan kami semua. Namun demikian
nasib keluargaku selanjutnya ternyata juga tidak lebih baik
dari pada jatuh ke tangan para pemberontak itu. Sebab
ternyata kami hanya bisa bersembunyi selama beberapa tahun
saja di tempat persembunyiannya atau tempat pengungsian
kami itu. Setahun yang lalu beberapa kelompok musuh telah
mendatangi tempat kami. Karena kalah banyak, maka kami
sekeluarga segera pergi meloloskan diri. Tapi....... ternyata
satu-persatu keluargaku mati terbunuh di perjalanan !"
"Dan.... kini kau sebatang kara?"
Chin Yang Kun mengangguk.
"Ah........jadi nasibmu sama dengan aku sekarang." Wi Yan
Cu berdesah dan tiba-tiba timbul sebuah perasaan kecewa di
hati wanita itu, mengapa perjumpaan itu datang terlambat.
Chin Yang Kun menatap wajah Wi Yan Cu, kemudian
bibirnya yang pucat itu tersenyum hampa, seolah-olah tahu
apa yang sedang dipikirkan oleh wanita tersebut.
"Ya, kita memang senasib. Sama-sama sebatang kara. Tapi
kesendirianku ini sebenarnya tak begitu kusedihkan. Aku lebih
merasa sedih kepada nasib buruk yang selalu menimpa diriku.
Setelah aku hidup sebatang kara itu….”
"Nasib buruk?" Wi Yan Cu bertanya dengan kening
berkerut.
"Ya !"
Lalu Chin Yang Kun menceritakan semua riwayat buruknya
setelah ia ditinggalkan oleh ayah, ibu dan paman-pamannya.
Bagaimana ia terkena racun yang membuat tubuh dan
darahnya menjadi beracun semua, sehingga dirinya menjadi
sangat berbahaya bagi orang lain. Dan semua itu juga belum
seberapa jika dibandingkan dengan "penyakit aneh" yang
akhir-akhir ini menyerangnya. Yaitu penyakit yang membuat
dirinya tiba-tiba berubah menjadi manusia yang haus akan
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
nafsu berahi. Dan celakanya "penyakit" itu tak bisa ia cegah
apabila datang. Padahal dengan keadaan tubuhnya yang
beracun itu, semua orang akan mati bila berhubungan
dengannya. Seperti yang telah terjadi pada Pek-pi Siau-kwi
tadi.
“Ohhh!" Wi Yan Cu menjerit kecil seraya menutupi
mulutnya.
"Nah, itulah yang menjadikan aku sangat sedih sekali........”
Chin Yang Kun menundukkan mukanya. Matanya sayu.
Tampak benar kalau hatinya sangat sedih.
Wi Yan Cu lantas teringat pada saat-saat ketika pemuda itu
tadi hendak memperkosa Pek-pi Siau-kwi. Bagaimana pemuda
itu tampak gelisah sekali, seolah-olah sedang bergelut atau
bertahan terhadap rasa sakit yang menyerang di bagian dalam
tubuhnya. Bagaimana pemuda itu kemudian seakan-akan tak
kuasa mengatasi rasa sakit tersebut. Dan selanjutnya
bagaimana pemuda itu lalu memperkosa Pek-pi Siau-kwi untuk
menghilangkan rasa sakit yang melilit-lilit itu. Dan yang
terakhir, Wi Yan Cu juga teringat, bagaimana pemuda itu
sangat menyesali perbuatannya yang keji itu.
Semuanya itu terbayang kembali di dalam pikiran Wi Yan
Cu. Dan tiba-tiba wanita itu seperti dapat melihat juga
kemelut yang ada di dalam tubuh Chin Yang Kun.
"Ah...... kasihan benar dia. Racun itu tampaknya benarbenar
telah merusak seluruh jaringan tubuhnya......”
Wanita itu lalu beringsut mendekati Chin Yang Kun.
Perlahan-lahan jari-jarinya menyentuh lengan pemuda itu.
"Dug ! Dug ! Dugg......I"
Tiba-tiba atap kamar itu seolah-olah bergetar dihantam
palu. Pasir berhamburan ke bawah, mengagetkan Wi Yan Cu
dan Chin Yang Kun.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Chin Yang Kun cepat melenting berdiri, kemudian
menyambar pinggang Wi Yan Cu, dibawa ke pinggir. Pemuda
itu tak memikirkan lagi keadaan tubuhnya yang hampir
telanjang.
“Apa….. apakah itu ?" Wi Yan Cu berseru dengan suara
serak.
"Ahh......!” mendadak Chin Yang Kun berdesah lega.
"Tampaknya ada orang yang hendak menolong kita.”
"Oh, benar........! Kelihatannya ada orang yang sedang
menggali ke arah ruangan ini." Wi Yan Cu berseru gembira,
dan untuk sesaat wajahnya tampak cantik bukan main.
"Oh........!"
Mereka saling berpandangan dan........tiba-tiba saja mereka
lalu melepaskan pelukan mereka. Keduanya tampak merah
padam mukanya.
"Maaf.......! Maafkanlah aku !" Chin Yang Kun bergumam
dengan suara yang hampir tidak bisa didengar oleh siapapun
juga.
"Dug! Dug ! Brug.......! Brolll........!"
"Hei ! Di sini tanahnya berlubang !" tiba-tiba terdengar
suara orang berteriak di atas mereka.
“Benar......! Eh....... hei ? Di bawah ada sinar lampu......??!"
terdengar suara yang lain pula.
Dan sesaat kemudian suara palu itu semakin gencar
menghantam atap ruangan tersebut. Debu dan pasirpun
berhamburan pula semakin deras ke bawah, sehingga Chin
Yang Kun dan Wi Yan Cu rasanya hampir tak bisa melihat atau
bernapas lagi.
Tapi lobang di atas itu menganga pula semakin lebar.
"Huk! Huk! Huk......!" Wi Yan Cu terbatuk-batuk.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Hei........ berhenti semua! Aku seperti mendengar suara
orang di bawah lobang ini...... !"
Suara palu itupun lantas berhenti.
"Huk ! Huk........!"
"Nah, kalian dengar itu? ...... Hei ?! Siapa di dalam ?"
Hening sejenak. Semua orang memasang telinga mereka
baik-baik.
"Hmh! Aku,.......! Chin Yang Kun dan Wi Yan Cu !” Chin
Yang Kun menjawab.
“Hah........ itu dia! Mereka masih hidup! Eee....... apakah
kalian bisa naik bila kami berikan seutas tali ?"
"Tak usah ! Kalian menyingkir saja dari lobang itu ! Kami
akan meloncat keluar.......!" Chin Yang Kun cepat menjawab.
Tapi sebelum pemuda itu membawa Wi Yan Cu keluar,
tiba-tiba terjadi keributan di luar lobang tersebut, dan
sebentar kemudian sebuah kepala melongok ke bawah.
"Yang Kun, cucuku....... kaukah itu?" teriak orang itu
dengan suara tegang.
Chin Yang Kun tergagap kaget. Meskipun sudah sangat
lama tidak pernah mendengar suara itu, tapi pemuda itu tetap
mengenalnya.
"Kong-kong....." Seru pemuda itu serak.
"Ya, Thian........! Kau benar-benar Chin Yang Kun, cucuku !
Ouuh….!” orang tua yang tidak lain adalah In Leng Hoan itu
berdesah gembira.
"Yang Kun........!" tiba-tiba sebuah kepala lagi dengan
hiasan rambut yang gemerlapan, melongok pula di samping
kepala kampung itu.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Chin Yang Kun terperanjat. "Liu-twa..ohh ! Baginda.......
?!?" desahnya tak percaya.
"Yaa........selamat bertemu kembali, Yang Kun. Kau naiklah
!” Kaisar Han mengangguk seraya menjawab.
Yang Kun ? Chin Yang Kun bertanya-tanya di dalam hati.
Mengapa sekarang Liu-twako-nya itu memanggil namanya
begitu saja? Mengapa tidak dengan sebutan "adik Yang"
seperti biasanya itu? Apakah......? Ah, benar! Semuanya sudah
tersingkap sekarang. Tiada rahasia lagi. Dan tentu saja
sebagai seorang kaisar atau raja besar Liu twako-nya itu
berhak untuk memanggil apa saja terhadap rakyatnya.
Berpikir sampai di situ Chin Yang Kun lantas menghela
napas panjang.
"Baiklah, Hong-siang...... hamba akan naik. Tapi........ eh,
anu........ bolehkah hamba meminta seperangkat pakaian buat
mengganti pakaian hamba yang hancur akibat ledakan itu ?"
''Pakaian? Oh.... baiklah! Hei, perajurit ! Bawa seperangkat
pakaian yang bersih kemari! Cepat!"
"Hamba, Hong siang.......!"
Sebentar kemudian perajurit itu telah kembali lagi dengan
membawa setumpuk pakaian bagus-bagus. Dan oleh Kaisar
Han pakaian itu segera dilemparkan ke dalam lobang. Chin
Yang Kun segera berganti pakaian pula.
"Nah, Wi Yan Cu....... sekarang mari kau kubawa naik ke
atas !" setelah selesai berganti pakaian Chin Yang Kun
menoleh ke arah Wi Yan Cu.
Tapi Wi Yan Cu tampak pucat ketakutan.
"Hei, kau kenapakah…..?” Chin Yang Kun bertanya kaget.
"Be-benarkah.....orang..... orang yang berada di atas itu
Baginda Kaisar Han ?" wanita itu bertanya gagap.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Ohh....... itukah yang membuat kau gemetar? Benar,
memang beliau adalah Kaisar Han. Marilah kita naik!" Chin
Yang Kun tersenyum, sehingga dengan pakaiannya yang indah
ini dia tampak tampan sekali.
Sekali sambar kemudian terus menjejakkan kakinya di atas
lantai, Chin Yang Kun dengan cepat telah membawa tubuh Wi
Yan Cu keluar dari lobang itu. Kedatangannya segera
disambut dengan hangat oleh kakeknya dan Kaisar Han.
"Yang Kun, cucuku....... Aku sungguh tak menyangka bisa
bertemu lagi denganmu. Sudah sekian lamanya kau tak
mengunjungi aku dan nenekmu, dimanakah ibu dan adikadikmu
sekarang ?" ln Leng Hoan memeluk serta
menghujaninya dengan pertanyaan-pertanyaan.
"Tenanglah, kek......! Nanti aku akan menceritakan
semuanya kepadamu. Sekarang marilah kita mencari tempat
yang baik dahulu !" Chin Yang Kun berkata sambil melepaskan
diri dari pelukan kakeknya.
"Yang Kun......! Kau....... kau........ eh, hmm..... In-cungcu,
benarkah pemuda ini putera Soh Hwa itu ?” tiba-tiba Kaisar
Han maju dan menyela di antara mereka. Wajah kaisar itu
kelihatan pucat dan tegang ketika memandang ke arah Chin
Yang Kun.
"Benar, Hong-siang....... inilah anak itu," dengan wajah
ketakutan serta dengan suara gemetar pula ln Leng Hoan
membungkukkan badannya.
Chin Yang Kun melirik dengan kening berkerut. Tak
diduganya tempat itu telah dipenuhi dengan perajurit-perajurit
kerajaan. Dan selain orang-orang yang ikut menggali lobang
tadi, semua penduduk tampak berdiri menggerombol di luar
halaman. Wi Yan Cu yang tadi dibawanya keluarpun juga telah
berada di antara mereka, isteri Yung Ci Pao itu kelihatan
menangis dalam bujukan wanita-wanita tua, sementara Yung
Ci Pao sendiri tampak ketakutan di dekatnya. Beberapa kali
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
saudara misannya itu mengawasi isterinya, lalu melirik ke arah
perajurit-perajurit yang bertebaran di halaman rumahnya.
"Oh, benarkah........? Sungguh tak kusangka........ Hmm,
Yang Kun......., Yang Kun!" tiba-tiba Kaisar Han memeluk Chin
Yang Kun dari belakang. Wajah baginda kelihatan gembira,
sedih dan terharu. "Oh........ makanya begitu melihat anak ini,
tanpa sebab dan alasan aku lantas menyukai dan
menyayanginya seperti adik atau anakku sendiri.
Hmm........ternyata naluri dan perasaanku telah merasakannya
sebelum aku sendiri menyadarinya. Yang Kun.....,, anakku,
ayahmu sungguh berdosa sekali kepadamu !"
"A-a-aapa....... apa ini?" Chin Yang Kun tersentak kaget dan
meronta dalam pelukan Kaisar Han.
"Yang Kun, kau....... kau jangan kurang ajar di depan
ayahandamu ! Ayoh, berlututlah!" In Leng Hoan menghardik
cucunya.
"Kong-kong ! Liu twa-ko ! Ada apa ini? Kalian......... kalian
ini omong apa? Ja-ja-jangan ngawur....!" di dalam kagetnya
Chin Yang Kun berteriak keras sekali.
Tapi Kaisar Han cepat merangkulnya kembali.
"Yang Kun, tenanglah. Kami semua tidak ngawur. Marilah
kita berbicara yang baik di rumah kakekmu atau di
pesanggrahanku!" ajak kaisar itu.
"Tidak!! Omong kosong ! Kalian cuma mau menipu
aku......!" mendadak Chin Yang Kun berteriak marah. "Ayahku,
ibuku, pamanku dan adik-adikku sudah mati semua. Aku
sebatang-kara di dunia ini. Mana aku mempunyai ayah yang
lain lagi?"
"Apa........? Jadi ibumu sudah meninggal?" In Leng Hoan
dan Kaisar Han menjerit hampir berbareng.
"Benar........."
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Ohh........ Soh Hwa........" lagi-lagi ln Leng Hoan dan Kaisar
Han berdesah hampir bersamaan pula.
Untuk sejenak semuanya tampak berdiri diam termangumangu
di tempat masing-masing. Dan sinar obor yang terang
benderang itu menerpa wajah mereka yang pucat-pucat
seperti tak ada darahnya. Dan khusus untuk Chin Yang Kun,
pemuda itu selain pucat juga kelihatan masih sangat
penasaran sekali.
Akhirnya Kaisar Han yang arif dan bijaksana itulah yang
lebih dulu terjaga dari kebisuan tersebut. Dengan kata-kata
yang halus baginda membujuk dan mengajak Chin Yang Kun
ke pesanggrahannya, yaitu di Kuil Ban-lok-si. Para perajurit
yang menebar di halaman itupun lalu berkumpul pula untuk
mengiringkan Baginda Kaisar Han kembali ke In-ki-cung.
Ketika berjalan melewati Wi Yan Cu, Chin Yang Kun
berhenti. Dengan tangkas pemuda itu meloncat keluar
barisan, lalu meringkus Yung Ci Pao yang masih tetap berdiri
ketakutan di tempatnya. Setelah menotok urat-urat
pentingnya, sehingga lelaki bopeng itu lumpuh, Chin Yang Kun
melemparkannya di depan Wi Yan Cu.
"Yan Cu, inilah lelaki yang telah mencelakakan hidupmu itu.
Dia kuserahkan kepadamu. Kau bebas untuk berbuat apa saja
terhadapnya. Dia telah kutotok lumpuh agar kau bebas untuk
menghukumnya." Chin Yang Kun menggeram, lalu kembali ke
samping kakek dan Liu Twa-konya lagi.
Sebaliknya In Leng Hoan menjadi terperanjat sekali melihat
perbuatan Chin Yang Kun tersebut.
"Yang Kun........ mengapa kau........ kau menyerang
saudara misanmu sendiri? Apa kesalahannya?” ln Leng Hoan
berseru kaget.
"Ah......... kong-kong, kau tentu sudah tahu sebabnya, apa
kesalahan si Bopeng itu terhadap keluarga Wi. Kita tidak boleh
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
melindungi pemuda brengsek semacam dia, meskipun dia
masih keluarga kita sendiri." Chin Yang Kun menjawab kaku.
"Eh, bolehkah aku bertanya? Apa sebenarnya kesalahan
pemuda itu?" Kaisar Han tidak bisa menahan diri untuk
bertanya.
Chin Yang Kun menatap Kaisar Han atau Liu twakonya, lalu
sambil mengangguk ia menjawab halus namun tegas.
"Saudara misanku itu dengan cara yang licik tidak terhormat
telah mengawini wanita itu. Mula-mula ia telah
memperkosanya hingga mengandung, setelah itu baru ia
melamarnya. Untuk menutupi aib tersebut, ayah wanita itu
terpaksa mengawinkan mereka. Tapi aib tersebut tetap
merupakan beban yang tidak tertanggungkan oleh keluarga si
wanita itu. Satu persatu ayah ibunya lalu sakit dan meninggal
dunia.”
"Tapi…… mengapa orang seperti itu didiamkan saja?
Mengapa ia tidak ditangkap dan dihukum?" Kaisar Han
bertanya lagi.
"Hmm.....pemuda itu masih cucu dari orang yang paling
berpengaruh di daerah ini. Pemuda itu adalah cucu dari
kakekku sendiri. Itulah sebabnya dia berani berlaku
sewenang-wenang." Chin Yang Kun menjawab pula seraya
berpaling ke arah kakeknya.
"Hmmh!" Kaisar Han menggeram, teringat akan nasibnya
sendiri ketika ia ingin mempersunting ibu Chin Yang Kun
dahulu. Bagaimana In Leng Hoan atau kakek Chin Yang Kun
itu mengerahkan seluruh kaki tangannya untuk menangkap
dirinya.
"Benarkah perkataan cucumu itu, In Cung-cu?" Kaisar Han
berdesah seraya berpaling kepada ln Leng Hoan.
"Be-be benar, Hong-siang .......! Hamba......hamba
memang telah berlaku salah, membiarkan sepak terjang Yung
Ci Pao itu."
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
“Hmmm....... perajurit!” Kaisar Han berseru.
"Ya, tuanku...?”
"Kau tinggal di sini bersama sepuluh orang temanmu.
Lindungilah perempuan itu! Kau turuti saja apa keinginannya!
Kalau dia ingin membalas dendam kepada lelaki itu, kaupun
harus membantunya ! Mengerti ......?"
"Hamba, tuanku!" perajurit itu mengangguk.
"Nah, Yang Kun........In Cung-cu...... marilah kita berangkat
!"
"Ohh....... jangan ! Jangan ! Kong-kong...Piao-te, tolonglah
aku ! Aku jangan ditinggalkan di sini.....!" Yung Ci Pao
berteriak-teriak dan menjerit-jerit ketakutan.
Tapi Chin Yang Kun bersama rombongan kaisar itu, tidak
mempeduIikannya. Begitu pula dengan In Leng Hoan. Kakek
itu sama sekali tidak berani berbuat apa-apa di depan Kaisar
Han. Mereka tetap berjalan terus meninggalkan tempat itu.
"Ohh, Yang Kun....... terima kasih !" sambil mengusap air
matanya Wi Yan Cu berbisik. Matanya sayu menatap
punggung Chin Yang Kun yang semakin lama semakin jauh.
Demikianlah, menjelang tengah malam rombongan itu
sampai pulalah di Kuil Ban-lok-si di luar desa In-ki-cung. Dan
Chin Yang Kun yang sudah tidak sabar lagi untuk mendengar
penjelasan kakeknya dan Kaisar Han itu bergegas memasuki
kuil tersebut. Tapi pemuda itu menjadi terkejut sekali ketika di
dalam kuil ia disambut oleh nenek serta saudara-saudara
ibunya. Keluarga mendiang ibunya yang sudah lama tidak ia
jumpai itu tampak menyongsong kedatangannya dengan
meriah.
Chin Yang Kun menjadi terharu juga melihat mereka.
Apalagi ketika dia menceritakan kepada mereka tentang
kematian ibunya. Semuanya tampak sedih dan meneteskan air
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
mata. Neneknya yang telah tua itu malah menangis meraungraung.
Sementara itu di pihak lain In Leng Hoan kelihatan gelisah
dan khawatir sekali menyaksikan seluruh keluarganya berada
di tempat itu. Berbagai macam pikiran buruk segera
berkelebat di depan matanya. Jangan-jangan dia serta seluruh
keluarganya sengaja dikumpulkan oleh Kaisar Han di tempat
itu untuk menerima hukuman.
"Tapi.......tapi aku telah menceritakan semuanya, seluruh
peristiwa yang menyebabkan keluargaku dan keluarga Chin
memburu dia pada duapuluh tahun berselang. Malah aku telah
membuka pula rahasia keluargaku tentang anak itu
kepadanya. Masakan ia sekarang masih mendendam dan mau
membalas sakit hatinya itu ?" orang tua itu berkata-kata di
dalam hatinya.
Apa sebenarnya yang telah terjadi? Mengapa ln Leng Hoan
yang semula memenuhi panggilan Kaisar Han di kuil itu tibatiba
telah berada di rumah Wi Yan Cu di Hoa-ki-cung bersamasama
dengan kaisar tersebut ? Dan bagaimana pula secara
tiba-tiba Kaisar Han itu menyebut Chin Yang Kun sebagai
puteranya ? Apa sebenarnya yang telah terjadi di kuil itu
setelah kakek ln Leng Hoan menghadap Baginda Kaisar sore
tadi?
Apa yang telah dibayangkan oleh In Leng Hoan dan
isterinya sebelum kepala kampung itu memenuhi panggilan
Kaisar Han ternyata meleset. Kepala kampung itu ternyata
tidak memperoleh perlakuan buruk seperti yang telah ia duga
sebelumnya. Liu Pang yang kini telah menjadi kaisar itu
ternyata cuma menanyakan, apakah dia masih kenal
kepadanya. Dan kaisar itu juga hanya bertanya tentang ln Soh
Hwa, ibu Chin Yang Kun yang telah kawin dengan seorang
Pangeran Chin itu.
Tentu saja ln Leng Hoan tidak berani berbohong di depan
kaisarnya. Dengan menyembah kakek itu menjawab bahwa ia
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
masih tetap mengenal junjungannya itu. Adapun mengenai ln
Soh Hwa, karena sejak pecah perang itu ia memang tidak
pernah lagi melihat dan mendengar beritanya, maka ia juga
menjawab seperti apa adanya.
Ternyata Kaisar Han mempercayai kata-katanya. Tapi
ketika akhirnya Kaisar Han itu bertanya tentang bayi yang
dikandung oleh In Soh Hwa sebelum kawin dengan Pangeran
Chin itu, ln Leng Hoan menjadi bungkam mulutnya. Kakek itu
menjadi gugup dan gelisah. Bagaimanapun juga aib yang
menimpa puterinya itu adalah rahasia pribadi keluarganya.
Tetapi Kaisar Han itu terus saja mendesaknya. Malahan
saking jengkelnya, karena ia tetap saja menutup mulutnya,
kaisar itu sempat membentak serta mengancamnya. Akhirnya
karena merasa takut kakek itu terpaksa membuka rahasia itu
juga. ln Soh Hwa memang telah mengandung putera Liu Pang
selama dua bulan ketika kawin dengan Chin Yang, si Pangeran
Chin itu.
"Dan... anak itu akhirnya lahir dengan selamat, bukan?"
Kaisar Han berbisik dengan perasaan tegang.
"Benar, Ba-baginda........"
"Lalu dimanakah puteraku ini sekarang?" saking tegang dan
gembiranya kaisar itu meloncat turun dari kursinya, lalu
mengguncang-guncang pundak In Leng Hoan.
"Anak itu? Eh, dia....... dia.…..”
"Ya! Di manakah dia sekarang? Lekas katakan !" Kaisar Han
berteriak gelisah melihat keragu-raguan kakek itu.
"Anu........anu..... menurut laporan orang-orang hamba
anak itu sekarang tertimbun reruntuhan rumah Yung Ci Pao
yang roboh ! Eh, maksud….. maksud hamba........"
"Apaaa.......?" Kaisar Han menjerit.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Tiba-tiba tubuh kakek yang sedang berada di lantai itu
terlempar ke atas ketika lengan baginda menariknya.
Untunglah seorang perwira dengan cepat menyambarnya,
kalau tidak tubuh tua itu mungkin sudah hancur terbanting di
atas lantai.
"Ampun, tuanku.......! Hamba…. hamba .…."
In Leng Hoan cepat-cepat menyembah. Lalu dengan gagap
dan gemetar kakek itu mencoba menerangkan apa yang telah
terjadi pada Chin Yang Kun menurut laporan anak buahnya.
Kakek itu juga menerangkan bahwa iapun belum sempat
bertemu dengan anak itu. Malah ketika baginda mengirim
utusan untuk memanggil dirinya itu, ia baru memimpin orangorangnya
untuk menggali reruntuhan itu.
"Kalau begitu....... ayoh, tunjukkan tempat itu ! Kita harus
lekas-lekas menolongnya!” Kaisar Han berteriak.
Demikianlah, seperti yang telah diceritakan di depan, Kaisar
Han beserta perajurit-perajuritnya telah bisa menyelamatkan
Chin Yang Kun dan Wi Yan Cu dari lobang di bawah tanah.
Dan begitu diberi tahu bahwa pemuda itulah putera yang
dikandung oleh ln Soh Hwa itu, Kaisar Han menjadi kaget
bukan main.
Jilid 41
BAGI Kaisar Han atau Liu Pang, Chin Yang Kun bukanlah
orang asing lagi. Pemuda itu pernah ditolongnya dari
kematian. Pemuda itu sudah dianggapnya sebagai saudara
angkat. Dan lebih dari pada itu, Chin Yang Kun telah dianggap
sebagai keluarganya sendiri pula. Maka dari itu kenyataan
tentang hubungan mereka itu benar-benar sangat
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
mengharukan, sekaligus amat menggembirakan hati Kaisar
Han tersebut.
Tetapi Chin Yang Kun agaknya masih belum siap untuk
menerima semua kenyataan itu. Hal itu terbukti dengan sikap
pemuda itu ketika mendengar perkataan kakeknya dan Kaisar
Han. Pemuda itu tampak tidak percaya dan bersikap
menentang. Oleh karena itu setiba mereka di pesanggrahan
Ban-lok-si, Kaisar Han berusaha dengan sekuat tenaga untuk
meyakinkan kenyataan tersebut kepada Chin Yang Kun.
"Yang Kun, engkau memang benar-benar puteraku. Ibumu
sudah berhubungan dengan aku, dan telah hamil dua bulan
ketika kawin dengan ayahmu. Kalau engkau kurang percaya,
engkau dapat bertanya kepada kakekmu ini…." dengan suara
haru Kaisar Han berkata kepada Chin Yang Kun.
“Hal ini....... hal ini........ se-sebenarnya merupakan rahasia
pribadi keluarga kita." In Leng Hoan berkata dengan suara
gemetar pula. ".........Tapi apa boleh buat, rahasia itu kini
terpaksa harus kukatakan juga kepadamu. Keadaan memang
sudah berubah, dan aku sungguh berdosa besar kepadamu
kalau aku tetap tidak mau membeberkan rahasia ini. Kau
sudah dewasa. Kau berhak untuk mengetahui, siapa
sebenarnya orang yang menurunkan dirimu .........."
Kakek itu berhenti sebentar untuk mengambil napas, lalu
seraya menatap wajah Chin Yang Kun lekat-lekat ia
meneruskan perkataannya. "Cucuku .....! Sebenarnyalah
bahwa kau ini bukan putera kandung ayahmu. lbumu telah
hamil muda ketika kawin dengan ayahmu. Dan ayahmu yang
sebenarnya adalah........seorang petani muda bernama Liu
Pang, yang kini telah berkenan duduk di depanmu dan telah
menjadi raja junjungan kita semua!"
Tiba-tiba Chin Yang Kun berdiri dari tempat duduknya.
Wajahnya pucat, matanya terbelalak mengawasi Kaisar Han.
Bibirnya gemetar dan komat-kamit seakan ada yang hendak
dikatakannya, tapi tak bisa. Kelihatannya apa yang telah
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
diutarakan oleh kakeknya itu benar-benar di luar dugaan dan
sangat menggoncangkan hatinya.
Memang, selama ini tak seorangpun yang bercerita tentang
kenyataan itu kepadanya. Mendiang ibunyapun tidak.
Sehingga selama ini dia beranggapan bahwa dirinya memang
putera dari ayah ibunya, keluarga bangsawan Chin dari Kota
raja.
Dan seingatnya, ia seperti tak pernah mendapatkan
perlakuan lain seperti halnya seorang anak tiri di rumahnya.
Ayahnya memang sangat keras dan kaku terhadap dirinya.
Malah kadang-kadang terasa sangat kejam. Tetapi menurut
penilaiannya, memang begitulah watak dan sifat ayahnya. Ia
tak pernah merasa diperlakukan lain dengan adik-adiknya.
Kalau toh ia lebih dekat dengan paman-pamannya, itu hanya
karena paman-pamannya tersebut lebih ramah serta pandai
mengambil hatinya. Apalagi mereka itulah yang selama ini
selalu membimbing dirinya dalam ilmu silat.
Membayangkan semuanya itu hati Chin Yang Kun lantas
berteriak.
"Tidaaak......! Kalian semua bohong !" akhirnya pemuda itu
menjerit.
Semua orang yang berada di dalam kuil itu tersentak kaget.
Kaisar Han dengan pandang mata tak percaya, perlahan-lahan
bangkit dari kursinya. Para perwira yang duduk di dekat
bagindapun juga ikut berdiri pula. Begitu pula dengan para
perajurit yang berjaga-jaga di dalam kuil itu. Mereka tampak
bersiap siaga dengan senjata masing-masing.
Nenek Chin Yang Kun cepat menubruk serta memeluk
cucunya itu, diikuti pula oleh anak-anaknya, atau saudarasaudara
kandung ibu Chin Yang Kun.
"Cucuku......! Oh, kau jangan berkata demikian. Itu
berdosa! Memang benar apa yang telah dikatakan oleh
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
kakekmu tadi. Kau adalah putera Liu..... eh, putera kandung
Hong-siang........!” nenek itu berseru dan menangis.
"Benar, Yang Kun. Kau memang putera Hong-siang!"
paman Chin Yang Kun ikut menegaskan perkataan ibunya.
"Tidaaaaak.......!” sekali lagi pemuda itu berteriak setinggi
langit.
Lalu tanpa diduga oleh siapapun, tiba-tiba Chin Yang Kun
berlari ke arah pintu. Disibakkannya para penjaga yang
menghalang-halangi jalannya, kemudian tubuhnya melesat
keluar, dan sekejap saja sudah tidak kelihatan bayangannya.
Sayup-sayup masih terdengar teriakannya.
"Tidak.......! Tidaaak..........!"
Kejadian itu benar-benar sangat mendadak dan di luar
dugaan siapapun juga. Semua orang, termasuk Hong-siang
sendiri seolah-olah telah terkena hipnotis, sehingga mereka
cuma bisa melihat saja kepergian pemuda itu. Semuanya
terdiam bagaikan patung di tempat masing-masing.
Baru beberapa saat kemudian Kaisar Han tersadar dari
impian buruk itu. Tapi semuanya telah terlambat. Chin Yang
Kun, puteranya yang baru saja ia dapatkan, yang selama ini
selalu menjadi teka-teki dalam hidupnya, tak mungkin dapat
dikejar lagi. Anak yang berkepandaian sangat tinggi itu telah
hilang di dalam kegelapan malam.
"Hong-lui-kun ! Yap Tai-ciangkun ! Kejar dia….!" dalam
kebingungannya baginda memberi perintah kepada jagojagonya.
"Baik, Hong-siang!” kakak-beradik itu menyahut berbareng,
kemudian dengan cepat tubuh mereka berkelebat keluar.
Tetapi karena mereka berdua tidak tahu arah ke mana Chin
Yang Kun tadi berlari, maka usaha mereka pun sia-sia.
Meskipun dengan gin-kang mereka yang tinggi keduanya
menjelajahi hampir seluruh perbukitan di sekitar tempat itu,
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
bayangan Chin Yang Kun tetap tidak dapat mereka
ketemukan. Keduanya kembali ke kuil Ban-lok-si dengan
tangan hampa.
Tentu saja Kaisar Han menjadi penasaran sekali.
"Yap Tai-ciangkun! Kerahkan seluruh anggauta Sha-cap-miwi
untuk mencari puteraku tadi sampai ketemu ! Bawalah
anak itu menghadapku!" baginda berteriak.
"Baik, Hong-siang........ akan hamba kerjakan!"
Demikianlah, malam itu suasana di dalam kuil itu menjadi
sibuk bukan main. Yap Tai-ciangkun memanggil semua
anggauta Sha-cap-mi-wi yang kebetulan bertugas mengikuti
perjalanan baginda pada malam itu. Dengan singkat panglima
muda itu menjelaskan persoalannya dan kemudian
memerintahkan kepada mereka untuk melaksanakan tugas
yang dibebankan kepada mereka itu.
Sementara itu malam semakin larut dan suasana di daerah
yang berbukit-bukit itu tampak semakin lengang pula. Hanya
desau angin dan suara-suara binatang malam saja yang
terdengar. Dan bulan yang pucatpun tampak semakin
condong pula ke arah barat. Tapi semuanya itu ternyata tak
bisa mendinginkan hati Chin Yang Kun. Pemuda itu masih
tetap terus berlari dan berlari, naik turun bukit dan jurang
bagaikan orang gila. Kenyataan yang dihadapi oleh pemuda
itu sungguh-sungguh sangat menggoncangkan jiwanya, dan
sama sekali tak pernah terlintas dalam hati dan pikirannya.
Oleh karena itu meskipun derajatnya sekarang menjadi lebih
tinggi, karena ayahnya yang sekarang adalah seorang kaisar,
tapi hati dan perasaan pemuda itu tetap belum bisa
menerimanya. Jiwa dan pikiran pemuda itu masih tetap lekat
dengan erat kepada ayahnya, apapun yang terjadi. Bayangan
ayahnya ketika mau meninggal masih jelas teringat dalam
benaknya. Bagaimana sang ayah itu memeluknya, dan
bagaimana ayahnya itu memberi pesan-pesan terakhir
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
kepadanya. Apalagi jika teringat akan kebaikan hati pamanpamannya,
terutama paman bungsunya.
"Ooooh.……!" pemuda itu berlari terus seraya mengeluh
panjang-pendek.
Tanpa terasa malam telah berganti pagi. Seperti orang
yang tidak mempunyai rasa lelah, Chin Yang Kun masih tetap
juga berlari tanpa tujuan. Pemuda itu baru berhenti ketika
tiba-tiba ia memasuki sebuah lembah subur yang sangat
dikenalnya.
Lembah itu tidak begitu luas dan terletak di antara gununggunung
yang tinggi, sehingga lembah itu sebenarnya hanya
merupakan sebuah celah gunung yang agak luas begitu saja.
Tempat itu letaknya sangat terpencil dan sedikit sulit untuk
didatangi. Namun demikian Chin Yang Kun ternyata telah
sampai di tempat tersebut.
Ternyata tanpa disengaja dan hanya karena nalurinya saja
pemuda itu sampai di lembah tersebut. Lembah yang selama
beberapa tahun menjadi tempat persembunyian keluarganya.
Dalam kepepatan dan kerisauan hatinya ternyata pemuda itu
telah berlari ke lembah itu, seperti ayam pulang ke kandang di
sore hari. Hal ini bisa saja terjadi karena lembah itu memang
tidak begitu jauh letaknya dari daerah perbukitan di mana
desa ln-ki-cung dan Hoa-ki-cung berada.
Chin Yang Kun termangu-mangu sejenak ketika lewat di
bawah pohon cemara tua, yang tumbuh di mulut lembah itu.
Dahulu ketika dia dan keluarganya masih tinggal di situ, setiap
hari tentu lewat di bawah pohon tua itu. Begitu seringnya ia
lewat di sana, sehingga ia sangat hapal akan lekuk Iiku dan
jumlah dahan serta cabang dari pohon cemara tua tersebut.
Dia sendiri malah sering menggurat namanya di tempat itu.
Chin Yang Kun melangkah mendekati pohon itu dan
mencari guratan namanya di sana. Tetapi matanya terbelalak
lebar. Bagian di mana ia pernah mengukir namanya ternyata
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
telah rusak dan hancur seperti bekas dihantam dengan benda
keras. Dan bekas kerusakan itu seperti masih baru, paling
tidak belum lebih dari dua hari yang lalu. Bekas itu masih
tampak mengeluarkan getah.
"Hemm, ada orang yang baru saja datang kemari. Siapakah
dia ?" Chin Yang Kun tertegun.
Pemuda itu lalu melangkah lagi, tapi sekejap kemudian
berhenti lagi. Matanya nanar melihat ke arah sebuah benda
yang tergolek tidak jauh dari pohon itu, yaitu sebuah guci
bekas tempat arak, terbuat dari tanah liat. Tetapi bukan guci
itu yang mengejutkan Chin Yang Kun, akan tetapi bekas-bekas
cuilan kayu cemara yang menempel di bagian pantatnya.
Chin Yang Kun cepat menoleh kembali ke arah pohon yang
rusak tadi dan tiba-tiba hatinya tergetar hebat ! Rusaknya
atau hancurnya kulit pohon itu terang diakibatkan oleh
hantaman pantat guci tersebut. Hanya anehnya, mengapa
guci yang terbuat dari tanah liat itu tidak pecah, tapi justru
malah kayu cemara yang keras itu yang rusak? Dari kenyataan
itu saja dapat diduga bahwa orang yang memegang guci
tersebut tentu bukan orang sembarangan.
Chin Yang Kun meningkatkan kewaspadaannya, siapa tahu
orang itu masih berada di lembah itu dan kini sedang
mengamati seluruh gerak-geriknya? Dan siapa tahu pula orang
tersebut adalah lawannya? Maka dari itu dengan sangat hatihati
dan teliti, Chin Yang Kun mengedarkan seluruh
pandangannya ke seluruh lembah dan tebing-tebing gunung di
sekitarnya. Dicarinya kalau-kalau ada sesuatu yang
mencurigakan di sana.
Tapi tempat itu sepi sekali. Hanya suara kicau burungburung
liar saja yang terdengar di telinga Chin Yang Kun.
"Hmm ....... sepi benar! Rasa-rasanya ada sesuatu yang tak
beres di tempat ini. Perasaanku seperti........ eh ! Apakah itu?"
tiba-tiba pemuda itu berbisik kaget.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Segulung asap tipis tampak mengepul dari sebuah jurang di
sebelah kirinya. Tapi ketika pemuda itu berlari mendekati,
asap tersebut telah hilang tertiup angin.
"Kelihatannya ada orang di bawah jurang ini. Mungkin
orang itu adalah orang yang datang merusak pohon cemara
tadi. Ahh…..!”
Hati-hati Chin Yang Kun mencari jalan turun ke bawah
jurang itu. Kakinya berloncatan di antara batu-batu besar yang
menonjol pada tebing yang curam.
"Gila! Di mana aku harus mencari asal asap tadi?” pemuda
itu menggerutu sambil berjalan berkelak-kelok di antara
serakan batu-batu besar di dasar jurang itu. "Batu-batu ini
demikian rimbunnya, dan bertumpuk-tumpuk seperti kueh
bak-pao......."
Kemudian pemuda itu melangkah menelusuri parit kecil
yang mengalir di tengah-tengah jurang itu. Tapi beberapa saat
kemudian Iangkahnya terhenti lagi. Hidungnya mencium bau
kayu terbakar di dekatnya.
Otomatis Chin Yang Kun meningkatkan kewaspadaannya,
siapa tahu dia telah berada di dekat orang yang membuat
asap tadi ? Oleh karena itu dengan sigap ia meloncat ke balik
semak-semak.
Tetapi betapa terkejutnya pemuda itu ketika kakinya
hampir saja menginjak tubuh seseorang yang tergolek di balik
semak tersebut. Maka dengan tangkas, sekali lagi pemuda itu
meloncat ke samping untuk menghindarinya.
"Ehh...!?" Chin Yang Kun terpekik perlahan sambil
mempersiapkan dirinya.
Tapi untuk yang kedua kalinya pemuda itu menjadi
terperanjat bukan buatan. Malah kali ini kekagetannya justru
ditambah dengan perasaan tidak percaya pula, karena orang
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
yang tergeletak di depannya tersebut adalah..... pelayan tua
yang menjadi pengasuhnya sejak kecil dahulu !
“Kakek........!" Chin Yang Kun menjerit seraya mengusapusap
matanya.
"Oohh.......! Tuan...... tuan muda……huk-huk-huk !" dalam
kagetnya pelayan tua itu terbatuk-batuk.
"Kek, kau...... kau kenapa ? Apakah penyakit batukmu
kumat lagi ?”
Begitu tersadar dari perasaan kagetnya Chin Yang Kun lalu
bergegas menubruk pengasuhnya itu. Dibangunkannya orang
tua itu, lalu didudukkannya di tempat yang baik dan kemudian
dipeluknya erat-erat. Tak terasa air matanya meleleh
membasahi pipinya.
"Tuan muda....... oh, tuan muda....... betapa bahagianya
hatiku! Tak kusangka tubuhku yang tua dan sudah keropos ini
masih bisa bertemu dengan tuan muda, huk huk-huuk.......ah
! Tak sia-sia rasanya penantianku selama ini. Ternyata doaku
masih dikabulkan juga. Huk-huk-huk........!" kakek tua itu
menangis pula di antara batuknya.
"Kek...... tampaknya penyakitmu kumat lagi. Kau jangan
banyak bicara dulu. Hmm, di mana....... di manakah pipa
tembakaumu itu? Berikanlah kepadaku ! Biarlah aku racikkan
obatmu.........." Chin Yang Kun yang ingat akan kebiasaan
pengasuhnya itu segera menanyakan pipa tembakau milik
kakek tua itu.
Tapi kakek tua itu segera menggelengkan kepalanya
dengan lemah. Beberapa kali bibirnya tampak meringis
menahan sakit, seolah-olah ada sesuatu yang sangat
menyakitkan di dalam tubuhnya.
"Tuan....... tuan muda, oh...... tidak usah ! Semuanya
sudah tidak berguna lagi. Penyakitku sudah,....
sudah........sangat parah........"
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Kakek…..” Chin Yang Kun cepat menyela dengan suara
serak. "Kau jangan berputus asa ! Mari kau kugendong ke
rumah......!”
"Oh, jangan !" tiba-tiba kakek tua itu berdesah. “Di..........
di rumah ada.... ada orang yang akan membunuh kita. Orang
itu..., orang itu...... ohhh huk huk-huk !"
"Apa…..? Siapa yang berada di rumah kita ?" Chin Yang
Kun mendesak dengan suara tinggi.
"Oh, bukan ! Anu.......ah, tidak! Tidak......!” kakek itu
tampak ragu-ragu serta menyesal telah mengatakan hal itu.
"Apa, kek ? Ayoh, katakan ! Mengapa kau tiba-tiba tidak
mau berbicara? Siapakah yang berada di rumah kita ?”
"Jangan……! Jangan ! Kau tidak boleh bertemu dengan
mereka! Kita lebih baik menyingkir dari tempat ini." kakek itu
cepat menjawab dengan suara takut dan khawatir.
"Heh ? Mengapa begitu........?" seru Chin Yang Kun
penasaran. "Siapa sebenarnya orang ini? Mengapa kakek
katakan..... mereka? Ada berapa orang di sana ?"
"Tuan muda...... oh....... pokoknya tuan muda jangan ke
sana! Turutilah perkataan hambamu ini ! Sungguh ! Hukhuk.......
tuan muda akan merasa kecewa serta sedih luar
biasa bila tidak menurut perkataanku ini.......”
Chin Yang Kun semakin tidak mengerti maksud
pengasuhnya itu.
“Sudahlah, tuan muda. Marilah kita lekas-lekas pergi dari
tempat ini. Siapa tahu mereka pergi ke tempat ini nanti?”
Chin Yang Kun terdiam. Dipandangnya kakek tua yang
banyak sekali jasanya terhadap dia itu. “Baiklah…..!” akhirnya
pemuda itu menyerah. “Kau tentu mempunyai alasan yang
kuat, mengapa aku tidak kauperbolehkan menemui mereka.
Marilah kakek kugendong keluar dari tempat ini! Tapi…..kakek
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
harus berjanji. Kakek harus menceritakan pengalaman kakek
selama ini! Kakek tentu tahu peristiwa yang menimpa ayah
serta paman setelah kutinggalkan di tengah hutan malam itu,
bukan ?”
Kakek tua itu tampak ragu-ragu Iagi. Tapi agar Chin Yang
Kun mau dia bawa keluar dari tempat itu dengan cepat, maka
kakek itu lalu mengangguk.
“Baiklah tuan muda......"
Chin Yang Kun tersenyum, lalu mengangkat tubuh kakek itu
ke pundaknya. Kemudian dengan hati-hati pemuda itu
melangkah mengikuti aliran parit kecil itu. Sampai di luar
lembah pemuda itu berlari menerobos hutan, menuju ke
utara. Pemuda itu masih ingat pada sebuah gubug kecil di
tengah hutan, tempat ia dulu sering beristirahat bila sedang
berburu binatang.
"Nah, kek........ untuk sementara kita beristirahat saja dulu
di sini. Nanti kalau penyakitmu sudah agak baik, kita
melanjutkan lagi perjalanan kita," pemuda itu berkata setelah
tiba di dalam gubug tersebut.
"Eh, tuan muda..... Gubug siapa ini? Mengapa aku tak
pernah melihatnya selama ini ?”
Chin Yang Kun tersenyum lagi, "Tentu saja kakek tak tahu,
karena kakek tidak pernah ikut aku berburu sejak dahulu.
Gubug ini aku sendiri yang membuat........"
"Ohh...... huk-huk-hukk!" tiba-tiba kakek itu terbatuk-batuk
lagi dengan keras. Beberapa tetes darah merah tampak
membasahi telapak tangan kakek itu.
"Hei, kek...... kau kenapa ?" Chin Yang Kun berseru kaget.
Wajah kakek itu tampak semakin pucat, dan batuknyapun
juga semakin menjadi-jadi pula. Chin Yang Kun menjadi
gelisah sekali. Apalagi ketika dilihatnya kakek itu
mengeluarkan darah yang lebih banyak dari dalam mulutnya.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
“Kek, kau…..?” Chin Yang Kun berdesah serak dan hampir
menangis melihat penderitaan pengasuhnya itu.
“Tuan muda…..huk…..aku sudah tidak kuat lagi, huk!
Sudah dua hari aku bertahan di jurang itu. Huk! Ada orang
yang hendak membunuhku…… Ah, tuan muda, kau……kau
lekaslah pergi dari tempat ini! Lebih jauh lebih baik…..!”
“Kakek…..! kau jangan mati dulu! Ooooh! Kau belum
bercerita tentang kematian ayah dan pamanku…….!”
“Aaaah……tuan muda lebih baik tak usah mengetahui siapa
pembunuhnya. Tuan muda malah akan menyesal selama
hidup nanti…..” Chin Yang Kun terbelalak memandang
pengasuhnya yang hampir sekarat itu.
“Jadi…..jadi kakek tahu siapa pembunuh ayahku? Jadi
kakek berada di rumah Pendekar Li pula malam itu?”
"Hamba....... hamba........ Uu-huk huk-huu-huk..........!”
Kakek tua itu kelihatan berat sekali untuk menjawab.
"Kek.....? Mengapa kau diam saja? Mengapa tak kaujawab
pertanyaanku? Bu-bukankah kau selalu berada di dalam
rombongan itu pula? A-apa yang terjadi di rumah bergenting
merah itu?”
Di dalam ketegangan dan kegelisahan hatinya Chin Yang
Kun sampai lupa mengguncang badan orang tua itu keraskeras,
sehingga akibatnya kakek itu lalu terbatuk-batuk
semakin hebat dan tak bisa menjawab pertanyaannya malah!
Tetapi pemuda itu tak menyadari perbuatannya tersebut,
malah sebaliknya ia menjadi marah dan semakin merasa
penasaran melihat kebandelan pengasuhnya itu.
"Mengapa engkau tak mau menjawab juga? Ohhh…...
sungguh heran benar aku !" saking jengkelnya pemuda itu
berteriak. Apalagi ketika orang tua itu tetap menutup
mulutnya juga. "Kek ! Berbicaralah ! Mengapa kau seperti
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
menyembunyikan sesuatu dan tak mau berterus terang
kepadaku ?"
"Tu-tuan muda.,..... uu huk huk-huuuk......maafkan
hambamu !” orang tua itu tetap tak mau menjawab.
Chin Yang Kun menggeram dengan hebat sehingga debudebu
yang menempel di dalam rumah atau gubuk itu
berguguran ke bawah.
"Hmmh, baiklah.......! Tampaknya kau memang tidak
menyayangi aku ! Tampaknya kau memang ingin membuat
aku mati penasaran....”
"Tuan muda......." kakek itu berdesah sedih sekali. Matanya
yang kuyu itu menatap anak asuhannya dengan air mata
berlinang-linang. Meskipun demikian mulutnya tetap bungkam
seribu bahasa.
Chin Yang Kun lalu bangkit berdiri. “Baiklah, kek.........!
Kalau begitu, aku akan kembali ke lembah itu. Kau tadi
melarangku menemui orang itu. Sekarang aku menjadi curiga
malah. Jangan-jangan merekalah yang membunuh orang
tuaku. Dan jangan-jangan orang-orang itulah yang
menyebabkan engkau tidak mau berterus terang kepadaku.
Nah, biarlah aku ke sana sekarang juga!"
"JANGANNN.......!" tiba-tiba kakek itu menjerit keras sekali,
lalu pingsan.
Chin Yang Kun terkejut sekali.
"Kek, kau...?"
Bergegas pemuda itu menolong kakek pengasuhnya.
Dibawanya orang tua itu ke dalam bilik dan dibaringkannya di
atas pembaringan kayu yang telah tersedia di sana. Kemudian
dengan lwee-kangnya yang tinggi pemuda itu berusaha
menyadarkan orang tua tersebut.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Akhirnya tak lama kemudian orang tua itu sadar pula
kembali. Melihat Chin Yang Kun masih berada di sampingnya,
orang tua itu menjadi gembira bukan main. Sinar kelegaan
tampak membayang di wajahnya yang pucat pasi.
“Tuan muda……!” kakek tua itu berbisik seraya
mencengkeram tangan Chin Yang Kun erat-erat.
Chin Yang Kun menatap wajah kakek pengasuhnya itu
dengan mata berlinang.
“Kek, maafkanlah aku……! Aku tak bermaksud
menyakitimu. Aku terlalu mementingkan diriku sendiri
sehingga aku melupakan penyakitmu.”
“Hu-hu-huuk……tuan muda, kau tak bersalah. Hambamu
inilah yang bersalah. Tuan muda tentu telah banyak menderita
selama ini. Maka tak seharusnya hambamu ini menyimpan
rahasia kematian keluargamu itu. Baiklah, sekarang aku akan
menceritakan semuanya. Terserah kepada tuan muda untuk
menilainya…….”
Chin Yang Kun memeluk pengasuhnya dengan perasaan
lega.
“Terimakasih, kek. Tetapi kaupun tak bersalah juga.
Sebagai orang yang dengan penuh kasih sayang mengasuhku
sejak kecil, engkau tentu mempunyai alasan-alasan dan
pertimbangan-pertimbangan yang baik demi aku jua. Hanya
saja di dalam persoalan ini, aku memang meminta dengan
sangat kepadamu agar kau berterus terang dan menceritakan
saja semuanya kepadaku. Apapun yang terjadi, biarlah semua
itu menjadi jelas, sehingga tidak menjadi beban batin di dalam
hidupku. Kalau kau tahu, bagaimana penderitaanku selama ini,
kau tentu akan memaklumi perasaanku ini.”
Kemudian dengan singkat Chin Yang Kun bercerita tentang
riwayat hidupnya, semenjak ditinggalkan ayah bundanya
sampai ia bertemu kembali dengan kakek pengasuhnya itu. Di
dalam ceritanya itu Chin Yang Kun sengaja menekankan
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
seluruh penderitaan yang diperolehnya selama ini, dalam
usahanya mencari tahu siapa pembunuh keluarganya itu.
“Nah, kek……akupun tak tahu, sampai kapan aku bisa
bertahan terhadap racun yang mengeram di dalam tubuhku
itu. Setiap saat akupun bisa mati karenanya. Dan aku tidak
mau mati dalam keadaan penasaran. Oleh karena itu engkau
tentu bisa memaklumi semua sikapku kepadamu tadi…..” Chin
Yang Kun mengakhiri ceritanya.
Orang tua itu memandang Chin Yang Kun dengan sinar
mata sedih. Bagi orang tua tersebut Chin Yang Kun sudah
dianggapnya sebagai anak atau cucunya sendiri. Puluhan atau
belasan tahun ia memelihara dan mengasuh anak itu seperti
anaknya sendiri, sehingga apa yang diutarakan oleh anak itu
ia dapat merasakannya pula.
Orang tua itu menghela napas panjang. Untuk beberapa
saat lamanya ia masih kelihatan ragu-ragu juga. Tampaknya
apa yang hendak ia ceritakan itu masih terasa berat untuk
dikeluarkan.
Tapi akhirnya cerita itu keluar juga dari mulutnya.
“Tuan muda…..! tampaknya Thian telah murka kepada
keluarga Chin. Dan entah dosa apa yang telah diperbuat oleh
nenek moyangmu, tapi yang terang seluruh keluargamu
tampaknya memang akan dimusnakan dari muka bumi ini.
Sejak kakek bagindamu Kaisar Chin Si wafat, semua anak
cucunya saling cakar dan saling bunuh sendiri hanya karena
berebut harta dan singasana. Sekarang sisa-sisa dari anak
keturunannyapun juga berguguran pula satu persatu oleh
sebab yang sama. Dan sebentar lagi satu-satunya keluarga
Chin yang masih tertinggal juga akan musnah karena dosadosa
yang telah diperbuatnya sendiri…….”
“Kek…..? apa katamu? Apa yang kaumaksudkan…..?” Chin
Yang Kun berseru kaget mendengar perkataan pengasuhnya
itu.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Orang tua itu menghela napas panjang lagi dan entah apa
sebabnya kakek tua itu seperti mendapatkan kekuatan baru
untuk menceritakan pengalamannya. Penyakit batuknya tibatiba
mereda dan tidak begitu mengganggunya lagi.
“Sudahlah, tuan muda……kelak kau akan mengerti sendiri
semua perkataanku itu. Sekarang biarlah aku bercerita
tentang kejadian di rumah bergenting merah itu dahulu……”
“Oooooh!” Chin Yang Kun berdesah dan terpaksa berdiam
diri pula.
Kakek tua itu lalu mendongakkan kepalanya ke langit-langit
kamar, seolah mau mengingat-ingat atau mengumpulkan
kembali semua ingatannya tentang kejadian di malam yang
bersejarah itu.
“Malam itu…..ayahandamu mengajak pamanmu untuk
singgah di rumah bergenting merah itu. Sebenarnya waktu itu
pamanmu tidak menyetujui maksud ayahandamu itu. Tapi
karena ayahandamu tetap memaksanya juga, maka pamanmu
terpaksa tidak berani membantahnya. Maka seluruh
rombongan, termasuk aku dan Siang-hui-houw, lalu memasuki
halaman rumah bergenting merah itu……”
orang tua itu berhenti bercerita dan tiba-tiba wajahnya
menjadi tegang. Otomatis Chin Yang Kun ikut menjadi tegang
pula hatinya.
“Tak terduga di halaman rumah itu kami disambut
dengan……senjata dan kepalan oleh tuan rumah!”
sekali lagi orang tua itu menghentikan ceritanya. Napasnya
mulai memburu dan wajahnya kelihatan semakin tegang pula.
Tampaknya kejadian pada malam itu benar-benar sangat
mencekam hatinya.
“Pada gebrakan yang pertama, aku telah terkena senjata
nyasar. Aku menggeletak tak berdaya dan dikira telah mati.
Tapi dengan demikian aku justru menjadi selamat malah! Dan
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
dengan menggeletak di tengah-tengah pintu halaman, aku
beruntung dapat menyaksikan pertempuran itu dengan jelas.
Tampaknya pertempuran itu berlangsung karena salah paham
belaka. Dari sumpah serapah mereka selagi bertempur, aku
dapat memastikan bahwa kedua belah pihak telah terjadi
salah paham. Di malam yang gelap gulita itu pihak tuan rumah
telah menyangka kami sebagai musuh yang hendak
menyerang rumah mereka, sementara ayah dan pamanmu
menganggap mereka sebagai kawanan pembunuh yang selalu
mengejar-ngejar keluarga Chin. Sebentar saja korban segera
berjatuhan, termasuk pula diantaranya adalah Siang-huihouw.
Kedua harimau pengawal keluarga Chin itu mati
terkena pukulan sakti lawannya.”
“Aaaah……!” Chin Yang Kun menjadi tegang sendiri
mendengar cerita pengasuhnya itu.
“Selanjutnya tinggal ayah dan pamanmu saja yang
melawan keroyokan pihak tuan rumah. Tapi selagi…..selagi
pertempuran itu berjalan dengan sengit, tiba-tiba…..tibatiba……
oooh!” mendadak orang tua itu menghentikan
ceritanya dan menutup wajahnya dengan kedua telapak
tangannya.
Tentu saja Chin Yang Kun menjadi kaget sekali.
“Kek…..ada apa? Apa yang telah terjadi?” pemuda itu
berteriak seraya mencengkeram lengan pengasuhnya.
Tapi orang tua itu tampak sukar sekali melanjutkan
ceritanya.
“……tiba-tiba terdengar siulan nyaring. Dan tibatiba……
tiba-tiba…..oh, tiba-tiba pamanmu datang! Ooooh……!
Maksudku……maksudku…….”
“Maksud kakek…….seseorang telah datang pula ke tempat
itu, begitukah, kek?” Chin Yang Kun membantu pengasuhnya
yang tampaknya mulai bingung itu.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
“Tidak……tidak! Ehh! Ya…….ya! Ooooh……apa yang mesti
kukatakan kepadanya?” mendadak kakek tua itu mengeluh
dan tak tahu apa yang harus dia ceritakan selanjutnya.
Tampaknya kakek tua itu telah sampai pada inti ceritanya.
Tapi karena inti cerita tersebut sangat mengerikan dan
menggoncangkan batinnya, maka kakek itu menjadi
terpengaruh dan sulit mengutarakannya. Namun sebaliknya
bagi Chin Yang Kun, yang sedikit banyak telah mendengar
cerita itu dari mulut Pendekar Li dan Keh-sim Siau-hiap, cerita
tentang kedatangan orang yang bersiul nyaring tersebut
tidaklah begitu mengagetkannya. Pemuda itu telah tahu
bahwa orang yang datang itulah yang telah membantai ayah
dan pamannya. Cuma yang masih menjadi pertanyaannya
sampai sekarang adalah “siapakah sebenarnya orang itu”?
“Tenanglah, kek! Marilah kau kubantu menyelesaikan cerita
itu! Setelah orang yang bersiul nyaring itu datang, dia lalu
bertanya kepada tuan rumah tentang sebuah peta yang
terlukis pada potongan emas, bukan?”
“Ehh! Tuan muda, kau....kau benar! Dari mana kau tahu?”
sekarang kakek tua itulah yang terkejut mendengar perkataan
Chin Yang Kun.
“Dan....karena pihak tuan rumah ternyata tidak mau juga
memberikan potongan emas itu, maka orang yang baru
datang itu lantas mengamuk! Benar tidak, kek.....?”
“Be-benar......! eh, bagaimana tuan muda tahu? Bukankah
tuan muda pergi ke tepi sungai Huang-ho pada waktu itu?
Apakah tuan muda tidak jadi pergi ke sana dan kembali
mengikuti rombongan kami?”
Chin Yang Kun cepat menggelengkan kepalanya, lalu
meneruskan ceritanya. Yaitu cerita yang ia dapatkan dari
Pendekar Li dan Keh-sim Siau-hiap.
“Sebentar saja pihak tuan rumah telah terdesak oleh
amukan orang yang baru datang itu. Untunglah dalam
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
keadaan yang gawat pihak tuan rumah dapat meloloskan diri
melalui pintu rahasia. Tentu saja orang yang mengamuk itu
marah sekali. Seluruh bagian rumah itu diobrak-abriknya.
Setiap orang yang dijumpainya, tidak peduli itu lelaki atau
perempuan, orang tua atau anak-anak, semuanya
dibunuhnya! Termasuk pula di dalamnya.....ayahku dan
pamanku!” Chin Yang Kun menutup ceritanya dengan suara
berapi-api.
Tetapi dengan cepat orang itu menggoyang-goyangkan
tangannya di depan Chin Yang Kun. “Eh, tuan muda......nanti
dulu!” selanya dengan sinar mata agak curiga. “Akhir dari
peristiwa pada malam itu memang demikian halnya. Darah
berceceran, mayat-mayat bergelimpangan dimana-mana.
Sungguh mengerikan sekali.....! tetapi jalan peristiwanya tidak
begitu.....eh, tuan muda! Dari mana kau memperoleh cerita
seperti itu?”
“Oh......jadi ceritanya tidak demikian itu? Lalu
bagaimanakah.....?” Chin Yang Kun yang ternyata telah salah
terka itu bertanya dengan suara cemas dan tegang.
“Ahhh.......ini......ini......oh, apa yang mesti kukatakan?”
tiba-tiba orang tua itu kembali ragu-ragu dan berat untuk
melanjutkan ceritanya.
Tentu saja Chin Yang Kun yang sudah tidak sabar lagi
untuk mendengarkan cerita itu menjadi kelabakan dibuatnya.
“Ayolah, kek.....! mengapa kau menjadi ragu-ragu lagi?”
Sekali lagi orang tua itu memandang anak asuhannya
tersebut dengan pandangan sedih. Matanya berlinang-linang,
sementara batuknya mulai timbul lagi satu-satu.
“Baiklah, tuan muda.......huk-huk, aku akan bercerita. Tapi
kuharapkan tuan muda mempersiapkan diri lebih dahulu
secara lahir batin, karena cerita ini sungguh-sungguh akan
mengecewakan hatimu. Mungkin kau malah akan merasa
menyesal sekali telah mendengar cerita ini dariku.....huk-huk!”
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Berdebar hati Chin Yang Kun mendengar ucapan
pengasuhnya itu. Berkali-kali kakek tua itu memperingatkan
dirinya, dan berulang kali pula orang tua itu kelihatan berat
serta ragu-ragu untuk menceritakan jalannya peristiwa
berdarah itu. Tampaknya memang ada sesuatu yang aneh
atau sesuatu yang akan mengejutkannya dalam cerita kakek
pengasuhnya itu.
Diam-diam Chin Yang Kun menjadi ketakutan juga hatinya.
Tapi setelah dipikir-pikir lagi, pemuda itu menjadi tenang
kembali. Bagaimanapun juga sejak semula ia memang
bermaksud membuka tabir rahasia itu. Kalau sekarang telah
terbuka kesempatan itu, mengapa ia harus menghindarinya?
“Silakan, kek.....aku sudah siap untuk mendengarkannya,”
akhirnya pemuda itu berkata dengan suara dalam.
Untuk beberapa saat orang tua itu masih terbatuk-batuk di
tempatnya. Tampaknya dia juga sedang berusaha untuk
menenangkan dirinya pula.
“.......Begitu suara siulan nyaring itu berhenti, tiba-tiba di
dekatku telah berdiri seorang lelaki gagah mengenakan
sebuah topi lebar, yang dibenamkan dalam-dalam sehingga
hampir menutupi seluruh mukanya. Dan begitu ia melihat
ayah dan pamanmu sedang bertempur di halaman itu dia
lantas menurunkan kain cadar hitam yang terikat di pinggir
topinya. Sekejap saja wajahnya telah tertutup oleh kerudung
hitam.”
Sesungguhnya Chin Yang Kun telah mempersiapkan diri
secara lahir batin, tapi meskipun demikian perkataan orang
tua itu ternyata masih tetap juga seperti petir yang meledak di
pinggir telinganya.
“Lelaki berkerudung hitam.......?” serunya bagai disengat
lebah.
“Be-benar.........!” kakek tua itu ikut-ikutan kaget dan
menjadi gagap pula karenanya.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
“Oooh.........Hek-eng-cu..........Hek-eng-cu! Tak kusangka
kaulah biang-keladinya!” pemuda itu menggeram penuh
dendam.
“Tuan.......tuan muda, kau......kau sudah mengenal orang
itu?”
“Hmm, aku memang belum berkenalan. Tapi aku telah
beberapa kali bertemu dengan dia.....”
“Apaaa........? Huk-hukk! Tuan muda telah beberapa kali
bertemu dengan dia? Dan......tuan muda tidak dapat
mengenalnya?” kakek tua itu terbelalak seperti tidak percaya
pada anak asuhannya itu.
“Aku tidak mengenalnya katamu? Hei, memang siapa
sebenarnya orang itu......?” Chin Yang Kun bertanya
keheranan.
Orang tua itu menelan ludah dan mulutnya yang terbuka
itu tampak gemetar.
“Orang itu adalah…….” Akhirnya ia berkata.
Tapi sebelum kata-kata itu selesai ia ucapkan, tiba-tiba
pintu bilik itu terbuka dengan paksa dari luar. Dan pada detik
yang sama pula, sebilah pisau kecil melesat menembus dada
orang tua itu.
Grobyaaag!
“Aduuuuuh…….!” Kakek tua itu berteriak kesakitan, lalu
terkulai diam di pembaringannya.
Chin Yang Kun membalikkan badannya dan bersiap siaga
menghadapi segala kemungkinan. Bibirnya berdesis panjang,
sementara kedua matanya mencorong ke depan, seakan-akan
seperti dua bongkah bara yang menyala dan hendak
membakar tubuh seorang lelaki yang secara tiba-tiba telah
berdiri di depan pintu bilik gubug tersebut.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
“Kau…..kau…….paman Wan It?” tiba-tiba pula pemuda itu
berdesah tak percaya melihat siapa orang yang berdiri di
depan pintu itu.
“Ya…..akulah yang datang, tuan Yang Kun!”
Bangsat, Chin Yang Kun mengumpat di dalam hati melihat
sikap yang menantang dari bekas pengawal keluarganya itu.
Kecurigaan yang telah lama mengeram di dalam hatinya
ternyata memang benar-benar terbukti sekarang. Orang
bertubuh tinggi besar itu telah membunuh kakek tua itu.
“Hmmh…..tak kusangka kau yang telah bertahun-tahun
mengabdi kepada Keluarga Chin ini sekarang telah berbalik
memihak musuh.” Chin Yang Kun menggeram dengan hebat.
Lalu,”apa maksudmu membunuh orang tua ini secara licik?”
“Hahaha……sungguh garang sekali! Lagaknya masih juga
seperti seorang pangeran……” Hek-mou-sai Wan It tertawa
dengan lagak yang sangat meremehkan.
“Diam kau, bangsat pengecut! Sekali lagi kutanya kau,
kenapa kaubunuh orang tua sakit-sakitan itu secara licik,
hah?” dengan kemarahan yang meluap-luap Chin Yang Kun
membentak.
Tawa yang berkumandang di dalam gubug kecil itu seketika
berhenti, tapi wajah orang tinggi besar berbulu lebat itu
perlahan-lahan berubah merah seperti besi yang membara.
“Anak haram! Jaga mulutmu baik-baik, aku bukan orang
upahanmu lagi! Sekali lagi kau membentak aku, kubunuh
kau!” orang itu menggeram dengan hebat.
Tapi sebaliknya kata-kata umpatan “anak haram” yang
dikeluarkan oleh orang itu benar-benar meledakkan
kemarahan Chin Yang Kun. Sekilas pemuda itu teringat akan
pernyataan kakek luarnya tentang dirinya tadi malam.
“Kurang ajar……!” Chin Yang Kun menjerit, lalu kedua
telapak tangannya bagai kilat mendorong ke depan.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Krrraaaak! Grobyag!
Dinding depan yang terbuat dari kayu itu hancur berkepingkeping
dilanda pukulan Chin Yang Kun. Untunglah sedari tadi
Hek-mou-sai Wan It selalu waspada hingga serangan itu dapat
dihindarinya. Meskipun demikian bekas pengawal kepercayaan
keluarga Chin itu merasa bergetar juga hatinya menyaksikan
kekuatan pemuda itu.
Sebelumnya Hek-mou-sai memang telah diberitahu oleh
Hek-eng-cu dan Song-bun-kwi, bahwa kepandaian Chin Yang
Kun sekarang tidak boleh dipandang ringan lagi. Pemuda itu
pernah beradu tenaga dengan mereka dan pemuda itu
ternyata bisa bertahan tanpa mengalami cedera sedikitpun.
Tetapi Hek-mou-sai tidak begitu yakin akan peringatan
tersebut, sebab dia sangat mengenal ilmu silat Keluarga Chin.
Apalagi ia sering melihat anak itu berlatih silat di tempat
pengasingan mereka.
Tapi setelah melihat sendiri akibat dari pukulan pemuda itu,
Hek-mou-sai baru percaya, meskipun belum sepenuhnya. Oleh
karena itu bekas pengawal yang dulu pernah menjadi
pengawal pribadi Kaisar Chin Si itu bermaksud mencoba
kemampuan pemuda tersebut. Apalagi kedatangannya di
tempat ini memang atas perintah Hek-eng-cu untuk mencari
dan melenyapkan kakek tua yang tahu tentang rahasia
mereka itu.
“Bagus! Tenagamu sungguh hebat! Marilah kita keluar
untuk mencari tempat yang lapang untuk saling mencoba
kekuatan kita, hehehe…..! Dan kau akan kuringkus serta
kubuat tidak berdaya, untuk kemudian akan kupersembahkan
kepada Ong-ya sebagai obat untuk menyembuhkan rasa
kecewanya selama ini.” Hek-mou-sai menantang seraya
meloncat keluar halaman.
Chin Yang Kun menatap tubuh pelayannya yang terbujur di
atas pembaringan itu sebentar. Kemudian sambil berjanji di
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
dalam hati bahwa ia akan membalaskan dendam orang tua itu
Chin Yang Kun lantas mengejar Hek-mou-sai Wan It keluar.
Orang tinggi besar itu telah berdiri bertolak pinggang di
atas tanah yang lapang di samping gubug tersebut. Sinar
matanya kelihatan berseri-seri, menunjukkan keyakinan
hatinya.
“Hahaha……ayolah kemari anak muda! Kita mengukur
kemampuan di tempat ini. Hmm, sungguh beruntung benar
aku bisa mendapatkan engkau di tempat yang tak disangkasangka
ini. Alangkah senangnya Ong-ya nanti bila tahu akan
hal ini. Berbulan-bulan kami mencarimu, sampai akhirnya kami
datang kembali ke lembah itu. Hehehe…dan ternyata engkau
kami ketemukan pula disini. Ooooh…….alangkah senangnya!”
sebenarnya Chin Yang Kun sudah tidak dapat
mengendalikan kemarahannya lagi. Tapi serentak ia
mendengar ucapan Hek-mou-sai tentang si Ong-ya atau Hekeng-
cu itu, ia segera berusaha dengan sekuat tenaga untuk
menahan diri. Ia tadi belum selesai dengan cerita si kakek tua
pengasuhnya itu. Siapa tahu sekarang ia bisa mengorek
keterangan dari bekas pengawal keluarganya itu? Lain dari
pada itu diapun harus berhati-hati pula, siapa tahu Hek-eng-cu
berada disekitar tempat itu juga?
Oleh karena itu sambil menenangkan hatinya Chin Yang
Kun berdiri lima langkah di depan musuhnya.
“Hek-mou-sai! Aku benar-benar tidak menyangka pula
bahwa kau dapat berbalik pikiran dengan mengabdi kepada
musuh keluargaku. Padahal selama ini kami selalu
memperlakukan kau dengan baik, malah boleh dikatakan kami
telah menganggapmu sebagai keluarga kami sendiri. Hmm…..
lalu sejak kapan kau ikut Hek-eng-cu?”
orang tinggi besar itu menatap Chin Yang Kun dengan
pandang mata kasihan.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
“Sejak kapan? Hahaha…ya tentu saja sejak keluargamu
mengasingkan diri di lembah ini. Kau tidak menyangkanya,
bukan?” ejeknya.
Bukan main kagetnya Chin Yang Kun.
“Jadi…..kau selama ini selalu memata-matai kami
sekeluarga? Lalu……lalu apa sebenarnya maksudmu dan
maksud Hek-eng-cu itu?” pemuda itu bertanya penasaran.
Hek-mou-sai tersenyum. “Ah……kau jangan berlagak tak
tahu. Masakan kau tak mengerti harta kekayaanmu sendiri?”
“Jangan berbelit-belit! Apa maksudmu…..?” Chin Yang Kun
menggeram marah.
“Kaulah yang berbelit-belit dan pura-pura tidak tahu!
Apalagi yang lebih berharga di dalam keluargamu selain Cap
Kerajaan itu, hah? Itulah yang kami cari selama ini……!
Nah…..sebelum nyawamu melayang, sekarang katakan saja
kepadaku, dimana benda itu kalian sembunyikan?”
“Oooo…….jadi benda itukah yang kau incar selama ini?
Hmm, benar-benar tak kusangka. Kalau begitu aku sungguh
kagum pada kesabaran dan ketabahanmu selama ini.
Demikian hebat pengabdianmu kepada Hek-eng-cu, dan
demikian besar keinginanmu untuk mendapatkan benda itu,
sehingga kau rela menjadi budak, selama bertahun-tahun di
tempatku. Ahhh…….benar-benar tak kusangka! Makanya
selama itu kami tak pernah bisa bersembunyi dari kejaran
orang-orang yang ingin memiliki benda pusaka tersebut,
sebab di dalam rombongan itu sendiri ternyata telah bercokol
seekor ular berbisa seperti dirimu……”
“Hahaha…..jangan penasaran!” Hek-mou-sai memotong
dengan ketawanya yang menyakitkan hati.
“Aku tidak penasaran. Aku justru kagum kepadamu.
Hmm…..jadi ketika kau ditangkap oleh anak buah Hek-eng-cu,
kemudian dijebloskan ke dalam penjara di bawah tanah
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
bersama-sama dengan aku dulu itu cuma hasil sandiwaramu
saja? Dan dalam keadaan tak berpengharapan seperti itu kau
ingin mengorek keterangan dariku? Begitukah…..?”
“Benar……hahaha! Sayang kau tak mau menyebutkannya
pada waktu itu. Kau Cuma menyebutkan Goa Harimau saja.
Hmh, sekarang coba kausebutkan, dimanakah Goa Harimau
yang kau maksudkan itu?”
“Nanti dulu! Aku belum selesai dengan pertanyaanku.” Chin
Yang Kun memotong pertanyaan Hek-mou-sai. “Aku ingin tahu
pula.....imbalan apakah sebenarnya yang kau terima dari Hekeng-
cu, sehingga kau rela menuruti segala perintahnya? Dan
yang terakhir.....apa sebabnya kau sampai di tempat ini
sehingga kau membunuh kakek tua itu secara licik?”
“Ooh.....kau ingin mengetahui dengan jelas semuanya
sebelum engkau mati, begitukah?”
Chin Yang Kun mengumpat di dalam hati, tapi demi untuk
menyenangkan hati lawannya dia mengiyakan saja pertanyaan
itu.
“Yaa.....kalau aku boleh bertanya,” jawabnya sambil
menghela napas.
Betul juga. Hek-mou-sai tampak puas sekali melihat Chin
Yang Kun kelihatan lemas dan tak berdaya seperti itu. Maka
dengan senyum yang mengembang di wajahnya bekas
pengawal keluarga Chin itu bercerita.
“Dengarlah.....! Ong-ya yang bergelar Hek-eng-cu itu
sebenarnya adalah seorang Pangeran Chin. Dan sebagai
keturunan Raja Chin beliau bermaksud untuk mengembalikan
lagi kekuasaan Dinasti Chin di Tiong-kok ini, maka untuk
mewujudkan.....”
“Nanti dulu.....! kalau dia memang keturunan Raja Chin dan
bercita-cita untuk mendirikan kembali Kerajaan Chin, mengapa
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
dia malah membinasakan ayah serta pamanku?” Chin Yang
Kun memotong.
Hek-mou-sai mengerutkan alisnya. Jawabannya kaku,
“Karena....ayah dan pamanmu merupakan penghalang besar
bagi seluruh cita-citanya itu. Selain dari pada itu, ayah serta
pamanmu dianggap terlalu lemah dan penakut untuk dijadikan
sekutu dalam melaksanakan rencana besar ini. Oleh karena itu
daripada mereka menjadi dari penghalang di kemudian hari,
maka lebih baik mereka dimusnahkan saja......!”
“Hmmh !” Chin Yang Kun menggeram di dalam hati.
Lagi-lagi Hek-mou-sai tersenyum melihat kegeraman
lawannya. Lalu dengan senyum yang masih mengembang di
wajahnya orang itu meneruskan ceritanya.
“Dan......untuk mewujudkan cita-citanya itu, Ong-ya lalu
mengajak aku dan beberapa orang kawan untuk menghimpun
sebuah kekuatan besar di antara rakyat. Mereka akan
dipersiapkan sebagai laskar yang nanti akan dipergunakan
untuk menumbangkan kekuasaan Kaisar Han.....”
Hek-mou-sai menghentikan ceritanya sebentar untuk
melihat tanggapan Chin Yang Kun mengenai peranannya di
dalam rencana besar tersebut. Tapi karena pemuda itu hanya
berdiam diri saja, maka Hek-mou-sai lalu meneruskan kembali
ceritanya. Cuma sekarang nada suaranya tak selantang dan
segembira tadi.
“Sebenarnya maksud Ong-ya itu telah mendapatkan
sambutan yang meriah di kalangan rakyat. Buktinya dalam
setahun saja kekuatan yang diperoleh telah mencapai puluhan
ribu orang. Itu belum yang diperoleh di dalam kalangan
perajurit Kaisar Han sendiri. Tetapi sayang.....” tiba-tiba
ucapan Hek-mou-sai semakin merendah. “Tetapi sayang
kekuatan yang belum terbina dengan baik itu buru-buru
tercium oleh kaki tangan Kaisar Han sehingga Kaisar Han
segera mengerahkan bala tentara untuk menumpasnya. Dan
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
kini....kekuatan itu telah tercerai-berai kembali. Meskipun tidak
hancur seluruhnya, tapi untuk menghimpunnya lagi
dibutuhkan waktu yang lama.”
Sekali lagi Hek-mou-sai menghentikan ceritanya. Matanya
menerawang jauh ke depan. Namun demikian dari sikap dan
raut wajahnya dapat dibaca bahwa ia masih mempunyai
keyakinan untuk memperbaikinya lagi.
“Hmmh! Menurut Ong-ya kegagalan tersebut disebabkan
oleh karena beliau dan kami semua telah mengabaikan atau
melupakan syarat utama dari perjuangan itu sendiri. Telah
disabdakan oleh para cerdik-pandai dan para bijaksanawan
zaman dulu melalui nenek-moyang kita, bahwa siapa saja
akan bisa menduduki takhta apabila ia dapat menyimpan dan
memiliki benda pusaka yang berwujud Cap Kerajaan.....! dan
ternyata sampai sekarang Ong-ya belum juga memiliki benda
pusaka tersebut. Itulah sebabnya perjuangan besar gagal di
tengah jalan.”
Hek-mou-sai mengambil napas, seolah-olah menyesali
kegagalan itu. Tetapi sesaat kemudian matanya telah berapiapi
kembali.
“Tapi untuk selanjutnya kegagalan itu tak boleh terulang
kembali ! Oleh karena itu, sebelum langkah untuk
menghimpun kembali kekuatan yang tercerai-berai itu
dilaksanakan, Ong-ya telah menetapkan untuk mencari benda
pusaka itu terlebih dahulu! Nah.....itulah sebabnya aku dan
Ong-ya berada di lembah ini! Kami ingin mencarinya lagi yang
lebih teliti.....”
“Dan.......kalian secara tidak terduga menjumpai kakek tua
itu disini, begitu, bukan? Lalu kalian beranggapan pula bahwa
kakek itu tentu menyimpan benda pusaka itu, atau setidaktidaknya
tentu mengetahui dimana benda tersebut disimpan,
sehingga kalian lalu menyiksanya agar mau mengaku serta
menunjukkan tempatnya.....”
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
“Benar! Tapi orang tua itu ternyata membandel. Selain
tidak mau mengakui bahwa dia menyimpan benda itu, dia
malahan berani menasehati Ong-ya secara panjang lebar.
Ternyata selain telah mengenali penyamaran Ong-ya, orang
tua itu juga sudah tahu tentang sepak-terjang Ong-ya selama
ini, termasuk diantaranya adalah pembasmian keluarga Chin
itu.”
Mendengar penjelasan Hek-mou-sai itu Chin Yang Kun
mengangguk-anggukkan kepalanya. Tahulah sudah pemuda
itu sekarang, siapa sebenarnya pembunuh ayah dan
pamannya, serta latar belakang apa yang menyebabkannya.
Semua itu ternyata adalah tanggung jawab Hek-eng-cu!
“Jadi......jadi.....Hek-eng-cu juga yang membunuh Paman
Bungsuku?” dengan hati berdebar Chin Yang Kun
menegaskan.
Hek-mou-sai tertawa terbahak-bahak. Matanya sampai
berair ketika memandang kepada Chin Yang Kun.
“Tentu saja, anak bodoh! Siapa lagi yang dapat membunuh
atau menyingkirkan paman bungsumu itu selain Hek-eng-cu di
dunia ini? Hahaha......”
Sekarang Chin Yang Kun benar-benar sudah tidak bisa
mengendalikan dirinya lagi.
“Bangsat! Sekarang pertanyaanku yang
terakhir......siapakah sebenarnya Hek-eng-cu itu? Apakah dia
itu Putera Mahkota Kaisar Chin Si yang kini bersembunyi di
Pegunungan Kun Lun bersama Yap Cu Kiat dan Siang-houw
Nio-nio itu?”
“Hahaha.....jangan merengek-rengek seperti itu! Tidak ada
gunanya! Aku tidak akan menjawabnya, hahahah.....!”
“Kurang ajar......! kubunuh kau pengkhianat!” Chin Yang
Kun berteriak, lalu menyerang dengan kepalannya.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Hek-mou-sai cepat mengelak, “Hahaha, anak muda.....!
jangan salahkan aku kalau nyawamu nanti melayang ke alam
baka. Meskipun kau telah menyempurnakan ilmu silatmu, tapi
kau tetap bukan lawanku. Aku mengenal ilmu silat keluarga
Chin seperti mengenal ilmu silatku sendiri, hahaha......! ayoh,
kerahkan seluruh kemampuanmu.....!”
Sambil mengeluarkan kata-kata ejekan Hek-mou-sai
meluncur ke samping kiri Chin Yang Kun dalam jurus
Menyangga Pedati Dengan Kaki Tunggal. Kaki kanannya yang
besar dan kuat itu mengait setengah lingkaran ke belakang,
sehingga tumitnya menghantam ke arah pusar Chin Yang Kun!
Begitu manis dan cepat gerakan itu dilakukan oleh Hekmou-
sai, sehingga Chin Yang Kun tak mempunyai banyak
waktu untuk berpikir lagi. Tahu-tahu kaki itu telah nyelonong
begitu saja di depan perut Chin Yang Kun. Apalagi sejak
semula pemuda itu memang telah salah duga dengan gerakan
lawannya tersebut. Pemuda itu mengira bahwa Hek-mou-sai
mau menerobos ke belakang tubuhnya, untuk kemudian
hendak menyerang ke arah punggungnya!
Dalam keadaan terpepet, tiada jalan lain lagi bagi Chin
Yang Kun selain menghantam tumit itu dengan siku
tangannya! Sementara untuk menghindari serbuan atau
serangan beruntun dari lawannya itu. Chin Yang Kun
menjejakkan kakinya ke tanah, sehingga tubuhnya segera
melenting tinggi melampaui kepala Hek-mou-sai !
Dan begitu terlepas dari desakan lawannya, Chin Yang Kun
ganti menyerang dengan Jurus Liong-ong-sao-te (Raja Naga
Menyapu Tanah) ke kaki Hek-mou-sai, yang masih berdiri
dengan satu kaki itu. Sayang karena terlalu tergesa-gesa,
serangan itu terlalu tinggi sehingga dengan mudah Hek-mousai
dapat mengelakkannya pula.
Demikianlah, beberapa saat kemudian mereka telah
bertempur dengan sengitnya. Masing-masing berusaha
mengungguli lawannya. Chin Yang Kun mengeluarkan ilmu
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
silat Hok-te-ciang-hoatnya, sementara Hek-mou-sai
mengeluarkan ilmu silat perguruannya pula. Kedua-duanya
sama-sama bergerak dengan lincah dan gesit, bagaikan dua
buah bayang-bayang hitam yang sukar dipisahkan. Mereka
berkelebatan kesana kemari mengitari halaman gubug itu,
seperti dua ekor kupu-kupu yang sedang bercanda di pagi
hari.
Dan sejalan dengan meningkatnya kemampuan yang
mereka keluarkan, maka gerakan merekapun semakin lama
juga semakin cepat dan ganas. Angin pusaran yang timbul
akibat hembusan tenaga sakti yang keluar dari dalam tubuh
merekapun juga semakin menggiriskan hati. Desisan-desisan
panjang atau letupan-letupan kecil yang diakibatkan oleh
pergeseran atau bentrokan tenaga mereka juga semakin
sering terdengar pula.
Sepuluh jurus. Duapuluh jurus. Akhirnya limapuluh
juruspun telah berlalu pula. Hek-mou-sai mulai ragu-ragu dan
keringatpun mulai keluar membasahi punggungnya. Bekas
pengawal pribadi Kaisar Chin Si, yang dulu selalu bersamasama
dengan Siang-hou Nio-nio dalam setiap tugasnya itu,
kini mulai berdebar-debar menyaksikan lawannya. Setiap kali
ia meningkatkan kemampuannya atau setiap kali ia
menambah tenaganya, setiap kali pula ia masih merasakan
kekurangannya dalam melayani serbuan lawannya.
Dan akhirnya kecemasan mulai timbul di dalam hati Hekmou-
sai ketika dalam puncak kemampuannya Chin Yang Kun
masih tetap mengungguli juga. Malah beberapa saat kemudian
pemuda itu masih juga mampu meningkatkan lagi
kepandaiannya, sehingga sedikit demi sedikit dirinya mulai
terdesak. Apalagi ketika lawannya itu masih juga menambah
terus kekuatan tenaga saktinya, maka tanpa ampun lagi ia
semakin terperosok ke dalam jurang kesulitan yang dalam.
Mulailah Hek-mou-sai menyesali kecerobohannya. Tidak
seharusnya ia mengabaikan peringatan kawan-kawannya. Dan
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
tidak seharusnya pula ia menghadapi pemuda itu tanpa
senjata di tangan. Begitu cerobohnya dirinya tadi, dan begitu
congkaknya dia tadi, sehingga dengan tanpa melaporkan lebih
dulu kepada majikannya, ia merasa dapat mengatasi pemuda
itu dengan mudah.
Kini semuanya telah terlambat. Untuk meloloskan diri dari
libatan lawannya sudah tidak mungkin lagi, apalagi mau
melapor kepada Hek-eng-cu. Satu-satunya jalan yang tersedia
baginya cuma bertempur mati-matian dan mengadu jiwa!
“Hhhaaarrgh.....!” Hek-mou-sai menggeram dahsyat
dengan ilmu Sai-cu-ho-kang (Auman Singa). Siapa tahu
suaranya itu bisa terdengar sampai ke lembah?
“Hmmh.....Hek-mou-sai! Coba kaukatakan sekarang, siapa
yang kini berteriak merengek-rengek karena nyawanya
hendak melayang ke alam baka? Ho-ho....kau berteriaklah
setinggi langit untuk memanggil calon rajamu itu, aku tidak
takut! Aku justru hendak membantainya pula di depan mayat
kakek tua itu, seperti dia telah membantai seluruh
keluargaku!”
Hek-mou-sai tak mampu untuk menjawab lagi. Seluruh
pikiran dan kemampuannya telah tercurah habis untuk
menghadapi desakan lawannya. Tak ada lagi kesempatan
baginya untuk melayani ejekan-ejekan ataupun kata-kata
lawannya itu.
Jangankan untuk melayani kata-kata ejekan itu, untuk
menyelamatkan diri saja Hek-mou-sai sudah tidak mungkin
lagi. Pukulan demi pukulan, tendangan demi tendangan,
meskipun belum telak tapi sudah mulai menyentuh kulitnya.
Itupun sudah bukan main sakitnya dia rasakan. Malah
beberapa saat kemudian rasa sakit itu diikuti pula dengan rasa
gatal yang hebat di tempat-tempat ia menerima sentuhan
tersebut.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
“Gila! Setan mana yang telah merasuk ke dalam tubuh
anak ini?” Hek-mou-sai mengumpat di dalam hati begitu
menyadari pukulan lawannya ternyata mengandung racun
yang berbahaya pula.
Demikianlah, racun yang masuk melalui pukulan Chin Yang
Kun itu semakin lama semakin mempengaruhi daya tahan dari
tubuh Hek-mou-sai. Ketika pada suatu saat Chin Yang Kun
secara tidak sengaja membalikkan tangannya ke belakang
dalam jurus Naga Melingkar Menjilat Ekor, yaitu salah satu
jurus dari Kim-coa-ih-hoat, Hek-mou-sai sudah tidak bisa lagi
mengelakkan diri. Bekas pengawal Keluarga Chin itu menjadi
terperanjat bukan main melihat lawan yang sedang
membelakangi dirinya itu tiba-tiba bisa memukul ke belakang
seperti layaknya orang yang sedang menghadap ke arah
dirinya.
"Bhluuug !"
"Aaarrrgh.......!"
Hek-mou-sai melenguh seperti kerbau disembelih ketika
pukulan itu menimpa ulu hatinya. Tubuhnya yang tinggi besar
itu terjerembab ke belakang menghantam pohon, kemudian
jatuh terlentang di atas tanah. Dari mulutnya mengalir darah
segar berwarna kehitaman.
“Kkkauu....kau.....? Ilmu.....ilmu a-apa itu......? Uuuhh !”
Hek-mou-sai berbisik dengan suara serak, untuk kemudian
terkulai menemui ajalnya.
Beberapa saat lamanya Chin Yang Kun masih saja berdiri
mengawasi mayat bekas pembantu ayahnya itu. Perlahanlahan
kulit orang itu menjadi kehitam-hitaman, sehingga
tubuh yang besar dan berbulu lebat itu menjadi sangat
mengerikan rupanya.
“Uuuuh......!”
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Tiba-tiba terdengar suara keluhan tertahan di dalam gubug,
sehingga Chin Yang Kun menjadi kaget sekali. Serentak uraturatnya
menegang, dan sekejap kemudian pemuda itu telah
melesat bagai terbang cepatnya ke dalam gubug itu.
“Kek.....kau.....kau ma-masih hidup.....?” bukan main
kagetnya pemuda itu begitu melihat kakek tua pelayannya itu
masih bergerak di pembaringannya.
“Uuuuh......!?”
“Kek! Kakek......! Bagaimana......? a-apa yang
kaurasakan......?” di dalam kegugupannya Chin Yang Kun
justru menjadi bingung malah.
“Tu-tuan muda.....? kau.....kau se-selamat?”
“Ya-ya......tentu saja, kek! Orang itu telah kubunuh mati!
Ba-bagaima......?”
“Ooh, s-s-syukurlah.....! d-d-dialah yang men-men.....jadi
biang ke-ke-keladi semua mala-mala......mala-petaka ini!
Dialah ib......iblis penghasut yang.....yang.....me-memeretakkan
Keluarga Chin......oooooh !”
Wajah tua itu mendadak tersenyum lega dan matanya
perlahan-lahan tertutup kembali.
Chin Yang Kun menjerit dan menggoncang tubuh kakek itu
keras-keras.
“Kek....! kau jangan mati dulu! Ayoh! Jangan mati dulu!
Katakan padaku.....be-benarkah aku ini bukan putera ayahku?
Benarkah aku ini putera Kaisar Han yang bertakhta sekarang
ini?”
Tiba-tiba mata yang sudah hampir terpejam itu terbuka
kembali, meskipun sudah buram dan tak bersinar sama sekali.
“K-kau sudah me-mengetahuinya.....? Ohh.....!” bibir yang
sudah mulai kaku itu berbisik lemah, kemudian terdiam untuk
selama-lamanya.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
“Ouuuh......!” Chin Yang Kun berdesah pula dengan
lemahnya.
Sejenak pemuda itu memandang jenazah pengasuhnya itu.
Wajahnya tampak muram dan sedih. Ucapan terakhir yang
dikeluarkan oleh kakek itu tadi membuat perasaannya menjadi
kosong dan hampa luar biasa. Seakan-akan dirinya yang
sebatang kara itu telah dilemparkan ke dalam jurang yang
dalam, sepi dan lengang!
“Ooooh.....kenapa semuanya ini terjadi pada diriku?” Chin
Yang Kun meratap di dalam hati. Air matanya menetes
membasahi pipinya.
Lama sekali pemuda itu terpekur saja di tempatnya. Sekalisekali
terdengar tarikan napasnya yang panjang dan berat.
Baru beberapa saat kemudian kakinya melangkah lambat ke
luar gubug, untuk mencari tempat yang cocok buat
menguburkan mayat-mayat itu.
Demikianlah, meskipun lambat kedua sosok mayat itu telah
selesai dikuburkan semua. Tempat itu menjadi sepi serta sunyi
kembali. Kini tinggallah perasaan lelah yang luar biasa
menggayuti tubuh Chin Yang Kun. Pertempurannya tadi
ternyata telah menyita seluruh sisa kekuatan yang masih ada
di dalam tubuhnya.
“Oh, betapa lelahnya badanku........! telah beberapa hari ini
aku kurang makan dan kurang tidur.” Chin Yang Kun menguap
seraya menjatuhkan dirinya di atas pembaringan yang ada di
dalam gubug itu. Dan sebentar saja matanya telah terpejam.
Rasa lelah yang amat sangat membuat Chin Yang Kun
bermimpi di dalam tidurnya. Pemuda itu merasa seperti
sedang berada di tepi pantai bersama-sama dengan Souw Lian
Cu. Mereka berdua duduk bersanding di atas pasir, sambil
memandang gulungan ombak yang berdebur memecah pantai.
Chin Yang Kun meremas jari-jari tengah Souw Lian Cu,
sementara matanya menatap wajah gadis itu seperti tiada
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
puasnya. Dan biarpun Souw Lian Cu hanya selalu
menundukkan kepalanya, serta tidak pernah menjawab
perkataannya, Chin Yang Kun tidak pernah menjadi berkecil
hati karenanya.
“Lian Cu......! mengapa kau tidak mau memandangku? Apa
sebenarnya yang menyusahkan hatimu? Apakah yang
kaupikirkan selama ini? Dengarlah......! Kau tidak boleh selalu
bersusah hati. Kau harus selalu bergembira di dalam
hidupmu.....aku akan selalu menjagamu. Aku.....aku.... cinta
kepadamu!”
Tiba-tiba kepala yang tertunduk itu menengadah dan
memandang Chin Yang Kun. Mata yang indah itu terbelalak.
“Jangan.....!” gadis itu berbisik ketakutan.
“Heh? Jangan? Mengapa......?” Chin Yang Kun mendesak
penasaran.
Mendadak gadis itu bangkit berdiri, lalu berlari cepat sekali
meninggalkan Chin Yang Kun. Tentu saja Chin Yang Kun
terperanjat sekali.
“Lian Cu......!” pemuda itu berteriak.
Tapi Souw Lian Cu menolehpun tidak. Gadis itu berlari terus
menerjang ke tengah laut, menyongsong ombak. Dan
sebentar saja tubuhnya telah lenyap ditelan gelombang besar.
“Oh, Lian Cu.....!” Chin Yang Kun meratap. Wajahnya
tertunduk lesu.
“Yang Kun....!” tiba-tiba pemuda itu dikejutkan oleh suara
lirih di dekat telinganya.
Chin Yang Kun menoleh dengan cepat, dan hampir saja
pipinya menyentuh pipi Tiau Li Ing yang secara tiba-tiba telah
berada di dekatnya.
“Li Ing.....kau?” pemuda itu berbisik kaget.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
“Ya......akulah yang datang! Aku datang untuk mencarimu.
Mengapa kau dulu meninggalkan aku seorang diri di rumah
penginapan itu? Dan kemana saja kau selama ini? Yang Kun,
oh....jangan tinggalkan aku lagi! Aku mau ikut engkau
kemanapun kau pergi! Aku tidak mau berpisah lagi
denganmu.....” gadis binal itu mencengkeram lengan Chin
Yang Kun dan merengek manja.
“Li Ing.....ini.....ini.....ahhh!” Chin Yang Kun berdesah
gugup sambil berusaha melepaskan diri dari cengkeraman
tangan Tiau Li Ing.
Tapi gadis itu tak mau melepaskan tangannya juga,
sehingga Chin Yang Kun menjadi kikuk dan salah tingkah.
“Ini.....ini....eh! Le-lepaskan dulu.....” Chin Yang Kun
mendorong tubuh Tiau Li Ing. Tapi tak terduga telapak
tangannya persis mendorong ke arah dada gadis itu, sehingga
Chin Yang Kun lantas menjadi kelabakan sendiri untuk
menarik tangannya.
“Grobyaag !”
Chin Yang Kun terjatuh dari pembaringan dan....siuman
dari tidurnya!
“Ahhh......kurang ajar! Aku telah bermimpi ini tadi.....”
pemuda itu bergumam sambil menggeleng-gelengkan
kepalanya ke kiri dan ke kanan.
Chin Yang Kun lalu melangkah keluar gubug. Dilihatnya hari
telah menjelang sore. Matahari telah turun mendekati
cakrawala, sehingga sinarnya yang kuning kemerahan
membentuk bayang-bayang hitam pada pepohonan. Sesaat
pemuda itu memandang gundukan tanah tempat ia mengubur
Hek-mou-sai dan kakek pengasuhnya tadi, lalu melangkah
pergi meninggalkan tempat tersebut.
Pemuda itu merasa beruntung bisa tidur agak lama tadi.
Sekarang badannya terasa lebih segar serta telah pulih
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
kembali kekuatannya. Dan kini ia telah merasa siap untuk
bertarung mengadu jiwa dengan Hek-eng-cu!
“Hemmm....Hek-eng-cu, nantikanlah kedatanganku!
Apapun yang telah terjadi padaku, aku tetap tak merubah
niatku untuk membunuhmu! Aku masih tetap akan menagih
hutangmu kepada Keluarga Chin!”
Chin Yang Kun berlari menuju ke lembah lagi. Ia masuk
melalui jalan pertama, yaitu celah gunung dimana pohon
cemara tua itu tumbuh. Sebab dengan melalui jalan tersebut
dia bisa naik ke atas lereng lembah, untuk kemudian dapat
berputar mengelilingi rumahnya, sehingga ia bisa turun di
bagian belakang rumahnya. Dengan demikian kedatangannya
takkan diketahui oleh Hek-eng-cu.
Tapi betapa kagetnya pemuda itu tatkala lewat di tempat
pohon cemara tersebut tumbuh. Pohon tua yang kokoh kuat
itu kini telah tumbang, sehingga batangnya yang tinggi itu
melintang menutupi jalan masuk ke dalam lembah.
“Hei....kenapa dengan cemara ini? Tiada hujan tiada angin,
tahu-tahu telah tumbang. Padahal pagi tadi pohon ini masih
berdiri dengan tegarnya.....” Chin Yang Kun berkata di dalam
hatinya.
Karena merasa penasaran Chin Yang Kun mencoba
memeriksa pohon itu.
“Ah, pohon ini tumbang bukan karena lapuk atau dihembus
angin kencang, tetapi....tumbang karena pukulan seorang jago
silat berkepandaian tinggi.” Chin Yang Kun bergumam
perlahan begitu melihat bagian batang pohon yang patah.
Pemuda itu mencoba menyentuh pada bagian yang patah
tersebut. Dan pemuda itu tersentak kaget tatkala kayu yang
disentuhnya tersebut rontok ke bawah seperti tepung yang
berhamburan tertiup angin.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Diam-diam pemuda itu menjadi cemas juga. Melihat akibat
yang ditimbulkan oleh pukulan itu bisa diduga bahwa
pelakunya tentu seorang tokoh sakti yang mempunyai tenaga
dalam hampir sempurna. Dan siapa tahu orang tersebut
adalah Hek-eng-cu sendiri?
"Sekali ini aku memang harus berhati-hati. Siapa tahu
orang yang merobohkan cemara ini memang benar-benar
Hek-eng-cu adanya? Dan kalau dugaan itu memang betul,
hmmm..... tugasku kali ini sungguh tidak ringan. Lwee-kang
yang telah diperlihatkan itu terang tidak berada di bawah
Iwee-kang yang kuterima dari nenek Buyutku. Oleh karena itu
jika ilmu silatnya nanti ternyata jauh lebih hebat dari pada
Hok-te Ciang-hoat atau Kim-coa-ih-hoatku, terang aku nanti
akan mengalami kesulitan di dalam menghadapinya.....”
Untuk lebih meyakinkan siapa sebenarnya orang yang telah
merobohkan pohon cemara tersebut, Chin Yang Kun lalu
memeriksa tempat itu sekali lagi. Siapa tahu ia bisa
menemukan petunjuk lain tentang orang itu? Tapi apa yang
kemudian ia ketemukan lagi di tempat itu malah membuatnya
lebih cemas dan khawatir.
Ketika pemuda itu tanpa sengaja menyepakkan kakinya ke
arah tumpukan daun cemara kering di depannya, tiba-tiba
sebuah benda keras ikut pula terlempar bersama-sama
dengan tumpukan daun tersebut. Dan pemuda itu menjadi
kaget sekali tatkala diketahuinya benda itu adalah sebuah
kipas besi.
Chin Yang Kun cepat mengambil kipas itu dan menimangnimangnya
di atas telapak tangannya. Dilihatnya beberapa
buah jeruji kipas itu telah rusak dan patah.
"Kipas ini milik Tiau Li ing........ Hmm ...sungguh
mengherankan sekali. Apakah sebenarnya yang telah terjadi di
tempat ini beberapa saat yang lalu? Apakah gadis itu telah
kesasar ke tempat ini dan kemudian lalu bertemu dengan Hekeng-
cu? Wah, kalau memang demikian halnya gadis itu tentu
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
mendapatkan kesulitan......” pemuda itu menduga-duga dalam
hatinya.
Begitu memikirkan nasib yang mungkin menimpa Tiau Li
lng, Chin Yang Kun lantas menjadi gelisah hatinya. Bergegas
pemuda itu melompati pohon yang tumbang tersebut dan
kemudian berlari meninggalkan tempat itu. Dan sesuai dengan
rencananya tadi, pemuda itu tidak berjalan langsung menuju
ke rumahnya, tetapi lebih dahulu naik ke atas tebing,
kemudian merambat diantara batu-batu karang dan semakperdu,
terus melingkar ke belakang rumahnya.
Sambil merangkak dengan hati-hati, Chin Yang Kun
mengawasi terus keadaan rumahnya. Rumah tempat
tinggalnya itu sekarang boleh dikatakan telah rusak sama
sekali. Temboknya telah banyak yang hancur, sementara pintu
dan jendelanyapun juga telah banyak yang copot pula. Dan
semuanya itu karena akibat ulah para pencari Cap Kerajaan!
Chin Yang Kun sudah sampai di belakang rumahnya. Tapi
sejak tadi rumah itu tampak sepi dan sunyi seperti kuburan.
Tak ada tanda-tanda kalau ada manusia atau hewan di tempat
itu. Yang terdengar cuma suara gemerisiknya daun alangalang
tertiup angin.
Sementara itu matahari benar-benar telah hilang di balik
cakrawala. Dan keadaan didalam lembah itupun semakin
tampak gelap juga. Tetapi, meskipun hari sudah menjadi
gelap, rumah itu tetap sepi pula. Tak ada tanda-tanda orang
menyulut lampu atau yang lainnya. Suasana benar-benar
sunyi dan lengang, sehingga dengan kegelapan malam yang
menyelubunginya, rumah itu menjadi tampak angker dan
menyeramkan.
Chin Yang Kun menjadi gelisah. Dengan wajah tegang
pemuda itu lalu bergerak menuruni tebing itu. Sampai di
bawah pemuda itu lalu melingkar ke kanan melewati makam
paman bungsunya.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Tapi ketika melewati makam itu Chin Yang Kun menjadi
terkejut sekali!
Makam itu sudah tidak ada lagi! Yang sekarang ada
ditempat itu hanyalah sebuah lobang terbuka yang ditumbuhi
semak dan alang-alang! Dan di pinggir lobang itu tampak
sebuah kotak peti mati yang telah hancur tertimbun tanah.
“Gila......! si-siapa yang be-berani.....membongkar makam
ini?” saking kagetnya Chin Yang Kun berdesah agak keras.
Dan tiba-tiba saja terdengar suara gaduh dari dalam rumah
yang gelap itu. Sekejap terdengar jeritan seorang wanita. Tapi
suara itu cepat terhenti, seolah-olah mulut yang menjerit
tersebut telah dibungkam orang secara paksa. Dan sebagai
gantinya kemudian terdengar suara bentakan yang ditujukan
ke arah Chin Yang Kun.
“Siapa di luar......?”
Sekali lagi Chin Yang Kun terperanjat! Ternyata di dalam
rumah itu ada orangnya juga. Malah karena kurang hati-hati,
kedatangannya telah diketahui oleh orang tersebut. Terpaksa
pemuda itu keluar dari tempat persembunyiannya. Dengan
kaki terpentang lebar pemuda itu berdiri menghadap ke pintu
rumah tersebut.
"Aku! Akulah yang datang.......! Keluarlah!” Chin Yang Kun
menggeram keras, meskipun sebenarnya hatinya amat
berdebar-debar.
Hening sejenak. Chin Yang Kun semakin berdebar-debar.
Rasanya lama sekali orang itu tidak keluar-keluar.
Tiba-tiba...........................!
"Huh.......? Kau........ Chin Yang Kun?” seorang lelaki
berkerudung hitam yang bukan lain adalah Hek-eng-cu,
muncul di depan pintu dengan suara kaget pula.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Sejak semula Chin Yang Kun sudah menduga kalau Hekeng-
cu tentu berada di rumah tersebut, namun demikian
kemunculan orang itu ternyata masih tetap juga mendebarkan
hatinya ! Saking tegangnya pemuda itu tidak dapat segera
mengeluarkan suara.
Baru beberapa saat kemudian, setelah pemuda itu ingat
kembali pada tujuannya semula, mukanya menjadi merah
padam. Dengan cepat kemarahannya membakar seluruh poripori
tubuhnya.
“Iblis keji ! Jangan kaget ! Aku datang untuk menagih
nyawa keluargaku! Oleh karena itu.....bersiaplah!” Chin Yang
Kun menggeram.
Karena menyadari bahwa lawannya sekali ini benar-benar
sangat berat, maka Chin Yang Kun tidak mau berlaku ceroboh.
Langsung saja pemuda itu mengerahkan seluruh kekuatan
Liong-cu-i-kangnya. Tubuhnya sampai bergetar karena
menahan gelombang tenaga sakti yang maha dahsyat itu.
Sebaliknya Hek-eng-cu masih kelihatan tenang-tenang saja
di tempatnya. Beberapa kali kepalanya malah menoleh kesana
kemari seolah-olah ada yang dicarinya. Sikapnya tampak
memandang rendah sekali kepada Chin Yang Kun.
Tentu saja Chin Yang Kun menjadi marah sekali.
"Kurang ajar........! Apa yang kaucari? Kau mencari
pembantumu yang tinggi itu ? Huh......! Percuma ! Orang itu
telah kucabut nyawanya sore tadi !” Chin Yang Kun
membentak.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Jilid 42
KEPALA yang tersembunyi di dalam kerudung itu cepat
berpaling kepada Chin Yang Kun. Bola matanya tampak
mencorong seakan-akan bisa menembus tirai kerudung
tersebut.
"Apa katamu? Kau telah membunuh Hek-mou-sai Wan lt?
Huh.......! Jangan mengigau di depanku! Aku tahu dengan
pasti siapa Wan It dan siapa...... engkau! Jangankan
membunuhnya, menyentuh ujung bajunyapun engkau takkan
mampu. Apakah yang kau pergunakan sebagai modal untuk
menghadapi dia? Hok-te Ciang-hoat ? Atau Hok-te To-hoat ?
Hmh !” Hek-eng-cu mendengus dengan suara di hidung.
Merah telinga Chin Yang Kun. Namun demikian pemuda itu
tetap berusaha untuk mengendalikan dirinya. Pemuda itu
masih tetap sadar bahwa untuk menghadapi lawan tangguh,
ia harus tetap berhati tenang dan dingin. Kemarahan justru
akn membuat dirinya lemah dan lengah. Masih terngiang di
dalam teIinganya kata-kata paman bungsunya dahulu bahwa
ketenangan mutlak diperlukan dalam setiap pertandingan.
Barang siapa bisa berlaku tenang dan selalu dapat
mengendalikan dirinya dalam setiap pertandingan pi-bu, boleh
dianggap orang itu telah memenangkan separuh dari
pertandingan itu sendiri. Ketenangan membuat seorang jago
silat menjadi waspada, jernih pikiran dan tidak salah langkah.
Oleh karena itu Chin Yang Kun segera mengambil napas
panjang untuk menenangkan hatinya. Setelah itu dengan
suara dingin ia menjawab perkataan lawannya, "Engkau
sendiri adalah keturunan Chin. Dan sedikit banyak kau tentu
mempelajari juga ilmu silat warisan nenek moyang kita itu.
Tapi sungguh mengherankan sekali, mengapa kamu tidak
menghargainya? Malah tampaknya kau sangat meremehkan
sekali ilmu silat itu? Apakah kau.....?”
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Dengan sikap kaget Hek-eng-cu melangkah mundur
setindak.
"Huh .......Yang Kun ! Kau sudah tahu siapa aku?" lbIis
berkerudung itu berseru kaget. Chin Yang Kun mencoba
tersenyum agar lebih memantapkan hatinya.
"Sudab kukatakan tadi bahwa pembantumu yang lihai itu
telah kubereskan nyawanya dan sebelum napasnya terhenti, ia
sempat bercerita panjang lebar tentang dirimu. Dia juga telah
membeberkan apa saja yang telah kauperbuat selama ini demi
untuk mencapai cita-citamu yang besar itu, termasuk
diantaranya pemusnahan keluarga Chin sendiri.
Nah........apakah kau sekarang masih meragukan juga semua
kata-kataku tadi? Apakah kau masih juga tidak percaya kalau
pembantumu itu telah kubunuh ?”
"Huh! Aku tetap belum percaya! Kau cuma ingin membakar
kemarahanku saja!" Hek-eng-cu yang sudah mulai termakan
oleh gosokan Chin Yang Kun itu mencoba untuk berlaku
tenang.
Tapi Chin Yang Kun yang merasa telah mendapatkan angin
itu segera menceritakan semua peristiwa di gubug tadi,
sehingga mau tidak mau Hek-eng-cu terpaksa
mempercayainya. Apa lagi ketika Chin Yang Kun menyebutnyebut
tentang kakek tua pengasuhnya itu, Hek-eng-cu
semakin merasa terpukul hatinya.
"Dan ...... tahukah kau, apa yang kupergunakan untuk
membunuh Hek-mou-sai Wan It? Tidak lain adalah ...... Hok-te
Ciang-hoat juga!" Chin Yang Kun yang merasa bahwa katakatanya
mulai dapat mempengaruhi perasaan lawannya itu
cepat-cepat memberi pukulan lagi dengan kata-katanya yang
menyakitkan.
Namun dalam keadaan tertekan itu Hek-eng-cu justru
menjadi tenang malah. Karena semua belangnya telah
diketahui oleh lawannya, maka iblis itu merasa tak perlu untuk
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
menutup-nutupi lagi. Dengan suara lantang iblis itu lalu
menggeram.
"Baiklah ! Aku memang tak ingin menutup-nutupinya lagi.
Dengarlah .......! Memang aku yang membasmi keluargamu !
Itu kalau kau mau menganggap bahwa mereka adalah
keluargamu juga!”
"Kalau aku mau ? Apa maksudmu......?” Chin Yang Kun
mengerutkan keningnya.
“Sudahlah! Kau tak perlu berpura-pura pula. Kau bukan
keturunan Chin. Engkau keturunan Liu Pang, musuh keluarga
Chin!" Hek-eng-cu membentak dengan suara keras untuk
memancing kemarahan Chin Yang Kun.
Namun Chin Yang Kun tetap berusaha dengan keras pula
untuk mengendalikan dirinya. Pemuda itu sadar bahwa
lawannya secara diam-diam juga sedang berusaha untuk
membakar hatinya.
"Baiklah! Kalau memang demikian halnya kau mau apa ?
Bagiku, keturunan Chin atau bukan, sama saja! Aku tetap
merasa berkewajiban untuk menuntut balas kepadamu !
Dan…..kukira sikapku ini masih tetap jauh lebih mulia serta
lebih baik dari pada sikapmu yang berkhianat serta durhaka
terhadap keluargamu sendiri itu!”
"Kurang ajar! Kau ini anak keciI tahu apa? Heh........? Apa
yang kaumaksud dengan "mulia" itu? Dan apa pula yang
kauartikan dengan istilah "durhaka" itu......? Bagi seorang
besar yang bercita-cita tinggi dan berpandangan luas seperti
aku, istilah "mulia" dan "durhaka" itu hanya dikaitkan pada
"tujuan hidup" ini saja. Siapapun juga yang mau berjuang
demi terlaksananya cita-cita itu, dialah yang disebut mulia.
Tapi sebaliknya, siapa saja yang berkhianat terhadap cita-cita
itu, dialah yang disebut durhaka ! Dan orang yang bersikap
durhaka itu patut untuk dibasmi serta disingkirkan, siapapun
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
juga mereka itu ! Tak perduli mereka itu kawan atau keluarga
sendiri........"
“Hmh........ manusia berbudi rendah! Kalau begitu engkau
ini tak ada bedanya dengan seekor binatang buas, yang
sanggup memangsa kawannya sendiri bila menginginkan
sesuatu……” Chin Yang Kun menggeram dengan hebat.
“…..Jadi karena ayah serta pamanku itu kau anggap durhaka
maka mereka lalu kaubunuh? Begitu?"
Hek-eng-cu tertawa lirih. "Benar, anak bodoh! Ketika
malam itu kutemui ayah dan pamanmu di rumah pendekar Li,
langsung saja kuminta Cap Kerajaan itu kepada mereka,
seperti juga aku meminta potongan peta rahasia harta karun
kepada Pendekar Li dan kawan-kawannya. Karena ayahmu
tidak memberikannya seperti juga Pendekar Li yang tak mau
memberikan potongan petanya, maka aku lalu mengamuk.
Ayah dan pamanmu dapat kubunuh mati, tapi sebaliknya
Pendekar Li dan kawan-kawannya dapat melarikan diri melalui
pintu rahasia. Karena kedua buah benda itu tak dapat
kuperoleh semua, maka aku lalu menjadi marah dan
penasaran. Siapa saja yang kujumpai di dalam rumah itu
kubunuh mati semuanya……”
“Manusia keji! Siapa sebenarnya kau ini……? Aku hampir
mengenal semua keluarga Chin di kota raja, tapi kenapa aku
seperti belum pernah melihatmu? Ayoh, lepaskan kerudungmu
itu dan bertanding secara jantan denganku!” Chin Yang Kun
menantang.
“Oh……jadi kakek pengasuhmu itu belum sempat
memberitahukan siapa sebenarnya aku ini kepadamu, heh?
Hah-hah-ha-ha-ha, sungguh malang benar orang tua itu! Dua
hari yang lalu aku dan Wan It kemari. Kutemukan orang tua
itu di pondok ini bersama gadis berkipas besi itu. Lantas
kuperintahkan kepada Wan It untuk menangkap mereka.
Mereka berusaha untuk melarikan diri keluar lembah, tapi
dengan mudah Wan It mencegat mereka di mulut lembah itu.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Akhirnya gadis itu dapat kutangkap sementara kakek tua itu
terjatuh ke dalam jurang, hiah-hah-ha-ha...... Hmmm,
kusangka kakek berpenyakitan itu sudah mati terbanting di
dasar jurang, eh…… tak tahunya masih hidup dan dapat
kautemukan. Sungguh ceroboh benar aku ini!"
Chin Yang Kun menatap wajah di balik kerudung itu lekatlekat,
tapi kegelapan malam ternyata tidak dapat
membantunya untuk mengenali orang itu.
"Kalau begitu kaliankah yang merusakkan pohon cemara
tua itu?” Chin Yang Kun bertanya.
Hek-eng-cu memiringkan kepalanya yang tertutup oleh topi
dan kerudung itu.
“Eh! Apakah yang kaumaksudkan adalah pohon cemara
yang tumbang itu? Yah…..kalau itu yang kaumaksudkan,
memang akulah yang menumbangkannya. Habis, pagi tadi
gadis itu bermaksud melarikan diri dan bersembunyi di puncak
pohon itu, maka aku terpaksa menumbangkannya…..” orang
itu berkata dengan tenang.
“Hmm…..bukan itu yang kumaksudkan! Yang kumaksudkan
adalah bekas guci tanah liat yang merusakkan kulit pohon
itu……”
Sebenarnya Chin Yung Kun hendak mengatakan......... guci
tanah liat yang merusakkan guratan namanya itu tapi karena
takut dikatakan terlalu kekanak-kanakan, maka ia lalu batal
menyebutkannya. Pemuda itu cuma mengatakan tentang kulit
pohon itu saja yang rusak.
"Bekas guci tanah liat? Huh…... siapa yang membawa guci
tanah liat ke tempat ini?” Hek-eng-cu malah kaget mendengar
perkataan Chin Yang Kun itu. Kepalanya menoleh kesana
kemari, seolah-olah ingin memastikan bahwa Chin Yang Kun
hanya sendirian datang ke tempat itu.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Sebaliknya Chin Yang Kun juga merasa heran melihat sikap
Hek-eng-cu yang aneh itu. Tetapi karena tidak bisa menebak
hati lawannya, pemuda itu juga diam saja.
"Guci tanah liat…..guci tanah liat....,” iblis berkerudung itu
bergumam terus seperti orang linglung. "Eh, apakah guci itu
berwarna putih kekuningan seperti warna......gading gajah?”
“Ya......! Memangnya ada apa ?” Chin Yang Kun
mengangguk dengaa kening berkerut.
"Ah, setan itu lagi-lagi datang membayangiku.......!" Hekeng-
cu menggeram.
"Siapa? Apa yang kaukatakan?" Chin Yang Kun yang tidak
begitu mendengar ucapan lawannya itu menegaskan.
Tapi Hek-eng-cu diam saja tak menjawab. Iblis
berkerudung itu kembali termangu-mangu di tempatnya.
Berita tentang guci yang terbuat dari tanah liat itu tampaknya
benar-benar sangat mengganggu ketenangannya. Begitu
risaunya hatinya sehingga beberapa kali mulutnya berdesah
panjang pendek. Malahan di lain saat tanpa mempedulikan
Chin Yang Kun lagi, ia berteriak ke segala penjuru dengan
tenaga dalamnya yang dahsyat.
“Penyanyi Sinting........! Hayo, keluarlah kalau kau memang
ingin bermain-main denganku ! Jangan selalu bermain kucingkucingan
saja.......!"
"Penyanyi Sinting? Siapakah yang dimaksudkan itu ?" Chin
Yang Kun bertanya-tanya di dalam hatinya.
Teriakan Hek-eng-cu itu bergema di dalam Iembag seperti
gemuruhnya halilintar yang hendak menyingkirkan kelamnya
malam di saat itu. Dan diam-diam Chin Yang Kun bergetar
juga hatinya menyaksikan kedahsyatan ilmu lawannya. Lagilagi
pemuda itu menjadi ragu-ragu akan kemampuannya
sendiri.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
“Persetan! Aku tidak takut mati!” Chin Yang Kun
menggeram di dalam hatinya.
Pemuda itu melangkah ke depan. Tapi sebelum mulutnya
membuka suara, tiba-tiba kesunyian malam itu dikuakkan oleh
suara nyanyian yang seolah-olah juga bergema di seluruh
lembah itu. Malahan suara nyanyian itu diiringi pula dengan
suara harpa yang melengking-lengking tinggi.
Chin Yang Kun terkejut di dalam hati. Dengan ketajaman
serta ketinggian Liong-cu-I-kangnya, ternyata dia tak bisa
menemukan sumber atau asal dari suara itu. Suara itu
bergema dimana-mana.
Dari pada memegang sampai penuhnya
Lebih baik berhenti pada saatnya.
Menempa untuk mencapai tajamnya
Tidak akan tahan lama,
Ruangan penuh dengan emas dan permata
Tak mungkin bisa dijaga,
Angkuh karena kemewahan dan kemuliaan
Dengan sendirinya akan membawa bencana.
Tugas selesai, nama menyusul, diri mundur
Demikian jalan yang ditempuh Langit!
“Ahh…..kalau tak salah syair ini diambil dari kitab To-tikking
bagian ke sembilan. Dan kelihatannya syair ini memang
ditujukan kepada Hek-eng-cu,” Chin Yang Kun yang sejak kecil
juga diajari menulis dan membaca kesusasteraan lama itu
berkata di dalam hatinya.
Dilain pihak Hek-eng-cu tampaknya juga merasakan
sindiran itu. Buktinya dengan kemarahan yang meluap-luap
tiba-tiba saja tubuhnya melesat bagai kilat ke depan, menuju
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
ke gerumbul perdu di belakang rumah. Kedua belah telapak
tangannya yang penuh berisi Pat-hong sin-kang (Tenaga Sakti
Delapan Penjuru) itu tampak mendorong ke depan dengan
kekuatan penuh!
Tapi hampir bersamaan pula dengan gerakan Hek-eng-cu
tersebut, Chin Yang Kun juga melenting pula ke depan dengan
tangkasnya, mengejar Hek-eng-cu! Lengan kanan pemuda itu
memanjang hampir dua kali lipat panjangnya ke arah
punggung iblis berkerudung itu. Dalam kagetnya pemuda itu
mengira bahwa Hek-eng-cu hendak melarikan diri.
“Bangsat, jangan lari kau…..!”
Kroooosak…..broooollll !
Srrrt…..! Plaaaak!
Bagaikan dihantam oleh angin puting beliung yang maha
dahsyat gerumbul perdu di belakang rumah itu tiba-tiba
meledak berhamburan ke sekelilingnya! Tempat yang semula
rimbun dan gelap itu mendadak berubah menjadi terang dan
lapang. Namun demikian si penyanyi yang dikira bersembunyi
di tempat itu ternyata tidak berada di sana. Tempat tersebut
kelihatan kosong tidak ada apa-apanya. Sementara itu, seperti
tidak pernah terjadi apa apa, suara nyanyian itu terus saja
mengalun memenuhi udara di dalam Iembah itu. Suara
petikan harpanyapun juga masih terus melengking-Iengking
menggelitik hati, seolah-olah mengajak para pendengamya
untuk ikut menciptakan kedamaian di atas dunia ini.
Sebaliknya jari-jari tangan Chin Yang Kun yang terulur ke
punggung Hek-eng-cu dengan tepat mencengkeram mantel
pusaka yang dikenakan oleh iblis berkerudung tersebut. Lalu
dengan dilandasi tenaga sakti Liong-cu-l-kangnya yang maha
hebat Chin Yang Kun menyendalnya (menariknya) ke belakang
kembali.
Entah karena disebabkan oleh kuatnya tarikan Chin Yang
Kun, atau entah karena disebabkan oleh kendornya tali
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
pengikat mantel pusaka itu sendiri, tapi yang terang mantel
pusaka tahan senjata itu tiba-tiba terlepas dari tubuh Hekeng-
cu. Malah saking kuatnya tarikan itu, menyebabkan tubuh
Hek-eng-cu terpelanting dan hampir saja terbanting ke atas
tanah.
Dapat dibayangkan betapa marahnya orang berkerudung
hitam tersebut. Mata di balik kerudung itu bagaikan menyala
di dalam kegelapan. Selanjutnya, seperti seekor harimau
kelaparan tubuhnya melesat ke depan, menerkam tubuh Chin
Yang Kun ! Dengan ilmu Bu-eng Hwe-tengnya yang sangat
termashur itu gerakannya hampir tidak bisa diikuti dengan
mata biasa. Tahu-tahu jari-jari tangannya yang penuh dengan
tenaga sakti Pat hong sin-kang itu telah berada di depan mata
Chin Yang Kun.
"Keparattt........! Kembalikan mantel itu kepadaku !"
Iengkingnya buas. Untunglah sejak semula Chin Yang Kun
sudah melipat-gandakan kewaspadaannya ! Apalagi jauh-jauh
sebelumnya pemuda itu telah berjaga-jaga terhadap gin-kang
Hek-eng-cu yang hebat tiada tara itu. Maka begitu iblis
berkerudung itu bergerak, Chin Yang Kun segera
menyongsongnya dengan jurus Tiang Bendera Meruntuhkan
Panah Lo Biauw, yaitu salah sebuah jurus dari Hok-te To-hoat.
Mantel pusaka yang masih terpegang di dalam tangannya itu
ia sabetkan ke arah lawannya. Dan oleh karena gerakan
tersebut ditunjang oleh tenaga sakti Liong-cu-i-kang yang
maha dahsyat, maka berkelebatnya mantel itu sampai
menimbulkan suara mengaung yang sangat keras.
“Dhukk.....srrrt!
Tapi ternyata sekali ini Chin Yang Kun benar-benar terkena
batunya. Sebagai seorang keturunan Chin, tentu saja Hekeng-
cu juga mendalami ilmu Hok-te To-hoat pula. Melihat Chin
Yang Kun menyerang dengan jurus Tiang Bendera
Meruntuhkan Panah Lo Biauw, dengan mudah ia bisa
menebak arah dan cara-cara mengatasinya. Kedua tangannya
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
yang terjulur ke depan itu segera ditekuk ke bawah, kemudian
ditarik sedikit ke samping, sehingga ayunan mantel pusaka itu
otomatis tidak mengenai lengannya. Setelah itu dengan
kecepatan luar biasa jari-jarinya mengejar dan menjepit
mantel yang baru saja lewat tersebut. Dan sekejap saja ujung
mantel itu telah berada di dalam genggamannya.
Chin Yang Kun dan Hek-eng-cu lalu memasang kuda-kuda.
Keduanya lantas saling menarik ujungnya. Dan masing-masing
segera mengerahkan tenaga saktinya. Hek-eng-cu
mengerahkan Pat-hong sin-kangnya, sementara Chin Yang
Kun mengerahkan Liong-cu-i-kangnya! Masing-masing
merupakan tenaga sakti yang jarang ada bandingannya di
dunia persilatan, dan masing-masing juga sudah boleh
dikatakan hampir mencapai kesempurnaan dalam
mempelajarinya.
Untunglah yang menjadi ajang adu tenaga itu juga bukan
benda biasa. Mantel tersebut adalah sebuah mantel pusaka
yang kebal segala macam senjata. Oleh karena itu
kekuatannyapun juga luar biasa pula. Meskipun kedua
ujungnya telah ditarik oleh kekuatan yang maha dahsyat,
ternyata mantel itu sedikitpun tidak mengalami kerusakan.
Masing-masing tidak mau mengalah. Perlahan-lahan kedua
kaki mereka amblas ke dalam tanah. Uap atau asap tipis
tampak mengepul di atas ubun-ubun mereka, suatu tanda
bahwa mereka benar-benar mengerahkan seluruh kemampuan
mereka.
Tigapuluh jeruji berpusat pada satu poros,
Pada tempat yang kosong terletak gunanya.
Dari tanah liat terbuat jambangan,
Pada tempat yang kosong terletak gunanya.
Lobang dibobol untuk pintu dan jendela ruangan,
Pada tempat yang kosong terletak gunanya.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Maka,
Ia diadakan untuk menjadi pegangan,
Ia dikosongkan supaya berguna.
Dalam keadaan yang sangat menegangkan itu lagi-lagi
suara nyanyian itu mengganggu pemusatan pikiran mereka.
Kini si Penyanyi itu melagukan syair yang dipetik dari kitab Totik-
king bagian yang ke sebelas. Suara nyanyian itu terdengar
lebih renyah dan mantap seperti suara seorang guru sekolah
di depan murid-muridnya.
Yang sangat mengherankan, dengan tingkat ilmu
kepandaian mereka yang sangat tinggi itu Hek-eng-cu maupun
Chin Yang Kun sama sekali tak bisa melepaskan diri dari
pengaruh suara nyanyian yang mengalun riang itu. Semakin
mereka itu berusaha menutup pikiran dan perasaan mereka,
nada dan kata-kata di dalam lagu itu semakin menggelitik hati
mereka malah. Apalagi ketika si Penyanyi itu selalu
mengulang-ulang lagu tersebut, pemusatan pikiran mereka
semakin menjadi runyam dan perhatian mereka semakin
menjadi terpecah-pecah pula.
“Bangsat keparat.......!” Hek-eng-cu mengumpat-umpat di
dalam hati.
Memang dapat dimaklumi bila iblis berkerudung itu menjadi
jengkel dan mendongkol. Pada mula pertama dari adu tenaga
dalam memang ia bisa mengimbangi kekuatan Chin Yang Kun.
Tapi beberapa saat kemudian Pat-hong sin-kang yang ia
andalkan itu ternyata tak kuasa membendung derasnya arus
tenaga sakti Liong-cu-i-kang milik Chin Yang Kun yang
dahsyat. Sementara daya tahan Pat-hong sin-kangnya
semakin menurun, kekuatan Liong-cu-i-kang lawannya
ternyata justru semakin berkembang dan bertambah terus
seperti tiada habis-habisnya.
“Gila! Sungguh gilaaaa.......!” lblis berkerudung itu
berteriak.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Terpaksa ujung mantel yang dipegangnya itu dilepaskannya
lagi ke tangan Chin Yang Kun. Kemudian masih dengan
mengumpat-umpat Hek-eng-cu bersiap siaga kembali
menghadapi Chin Yang Kun.
Sementara itu suara nyanyian yang sangat mengganggu
itupun telah berhenti pula. Dan sebagai gantinya, terdengar
suara tertawa terkekeh-kekeh yang ditujukan kepada Hekeng-
cu.
“Hi-hi-hi……! Hek-eng-cu, anak malang…..! Tak usah kau
bersikeras untuk merebut kembali mantel pusaka itu, karena
hal itu akan sia-sia belaka. Telah disebutkan di dalam Buku
Rahasia, bahwa kau akan jatuh di tangan keluargamu sendiri
hari ini……”
“Buku Rahasia…….Buku Rahasia……..! Kau selalu saja
menyebut tentang Buku Rahasia itu! Huh! Siapa kau ini
sebenarnya? Ayoh……..keluarlah!” Hek-eng-cu menjerit marah.
Tapi si Penyanyi itu tetap saja tertawa terkekeh-kekeh.
“Kukatakan namakupun kau takkan mengenalnya, hi-hi-hihi…….
dan tak seorangpun di dunia ini yang mengenalku,
karena aku baru saja keluar dari tempatku bertapa selama
seratus tahun, hi-hi-hi-hiii……..!”
“Apa…..? Seratus tahun ?'' tanpa terasa Chin Yang Kun
berdesah.
“Hihi…..kalian tak percaya? Akupun dulu juga tak percaya
kepadaku sendiri pula. Dan aku mulai bertapa pada umur
delapanbelas tahun. Kepalaku gundul……oleh karena itu aku
memilih tempat bertapa di sebuah gua di tepi Telaga Tai-ouw
yang sejuk. Tapi ketika aku selesai dengan tapaku, ternyata
aku tak bisa keluar lagi dari gua itu. Mulut gua tempat aku
masuk dulu ternyata sudah tertutup oleh akar-akar pohon dan
semak-belukar. Malah persis di depan mulut gua itu telah
tumbuh pohon pek besar sekali, yang batang pohonnya
sepelukan dua orang lelaki dewasa besarnya. Terpaksa aku
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
membuat liang seperti seekor tikus untuk keluar dari gua itu.
Kemudian aku sudah kembali lagi ke dunia ramai. Tapi aku
menjadi kaget ketika melihat bayanganku sendiri di Telaga
Tai-ouw. Mukaku sudah berkeriput, rambutkupun telah putih
semua. Paras dan kepalaku yang dulu tampan dan gundul itu
kini tak ubahnya seperti seekor anjing berbulu panjang
dengan jenggot dan rambut yang melambai-lambai sampai di
tanah ini, hi-hi-hiii…….”
“Diaaaam…….!” Sekali lagi Hek-eng-cu menjerit kesal
karena tak tahan mendengar suara ketawa yang terkekehkekeh
itu. “Aku tak butuh cerita khayalanmu! Yang kuinginkan
adalah…..nyawamu! ayoh……kau keluarlah! Kita bertanding
mengadu kepandaian!”
"Bertanding dengan aku? Hi-hi-hi-hiii..... itu terlalu berat
bagimu. Di dalam Buku Rahasia, namamu cuma tercantum di
urutan yang ke tujuh pada Daftar Tokoh-tokoh Persilatan
Terkemuka dewasa ini. ltupun kau harus bersaing dengan
anak muda di depanmu itu, karena pada urutan yang ke tujuh
tersebut tercantum tiga buah nama yang memiliki kepandaian
setarap, yaitu Toat-beng jin, kau dan pemuda itu!"
“Omong kosong……! Omong kosong dengan Buku
Rahasiamu yang menyesatkan itu ! Aku adaIah orang yang tak
terkalahkan! Dengan ilmu warisan Bit-bo-ong almarhum,
kesaktianku tiada yang bisa menandingi lagi…….” Hek-eng-cu
berteriak.
"Sudahlah! Kau jangan berteriak-teriak begitu! Apalagi
menjerit-jerit menyombongkan diri sebagai orang yang tak
terkalahkan di dunia persilatan seperti itu, hi-hi-hiii…….
Apakah kau lupa, bahwa kau selama ini tak pernah menang
melawan Hong-gi-hiap Souw Thian Hai yang selalu kau
curangi dan kau tipu itu? Hi-hi-hiiii……padahal pendekar
ternama itu baru yang nomer lima di dalam Daftar Tokohtokoh
Persilatan Terkemuka itu.”
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
“Hong-gi-hiap Souw Thian Hai…..nomer lima?” Chin Yang
Kun berdesah di dalam hatinya, seolah-olah tak percaya
bahwa pendekar sakti yang ia kagumi kesaktiannya itu Cuma
mendapatkan nomer yang kelima. “Ahh, tampaknya orang ini
memang benar-benar hanya omong kosong belaka, biarpun
kesaktiannya memang tidak meragukan lagi.”
Sementara itu, begitu diingatkan pada musuh besarnya,
Hong-gi-hiap Souw Thian Hai, Hek-eng- cu semakin menjadi
berang dan penasaran.
"Apa? Hong-gi hiap Souw Thian Hai? Kurang ajar........!
Ayoh, bawalah dia ke sini! Akan kuhancurkan dia ! Akan
kulumatkan tubuhnya !” teriaknya setinggi langit.
Tapi lagi-lagi si Penyanyi itu cuma tertawa terkekeh-kekeh,
tanpa mau menampakkan dirinya sedikitpun.
"Sudahlah! Jangan terlalu besar kepala ! Lawanlah dulu
pemuda di hadapanmu itu untuk memperebutkan nomer yang
ke tujuh. setelah itu baru kau memikirkan untuk menantang
tokoh yang duduk pada nomer di atasmu !” si Penyanyi itu
memperdengarkan lagi suaranya.
"Persetan dengan urutan nomermu yang tak masuk di akal
itu! Tapi....... baiklah, akan kutunjukkan kepadamu sekarang,
bahwa……Buku Brengsekmu........ itu........."
"Buku Rahasia.......!" Si Penyanyi itu membetulkan.
"Peduli amat ! Aku bebas menyebutnya apa saja ! Buku
Gila, kek! Buku Brengsek, kek ! Pokoknya aku akan
menunjukkan bahwa tulisan itu adalah salah dan ngawur!
AkuIah sebenarnya orang yang nomer satu di dunia ini!
Hmmh........!”
"Baik! Sekarang buktikanlah dulu kata-katamu itu! Kalau
kau bisa menyingkirkan pemuda itu, kau boleh bertanding
dengan tokoh yang berada diurutan ke enam nanti."
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Siapa yang berada diurutan ke enam menurut Buku
Brengsekmu itu, heh?"
"Tokoh yang berada diurutan nomer enam kebetulan juga
tidak cuma seorang saja. Ada dua tokoh sakti yang kebetulan
mempunyai kepandaian seimbang pada tingkatan itu. Mereka
adalah Kam Song Ki atau Kam Lo-jin dan......... Lo-si-ong,
muridku sendiri !"
“Lo-si-ong? Siapakah Lo-si-ong itu? Apakah dia itu bekas
ketua lm-yang-kauw yang buta matanya karena pi-bu dengan
Put-chien-kang Cin-jin dulu itu?" Hek-eng-cu menggeram
keheranan.
"Ya, benar. Sekarang orang tua itu telah menjadi muridku.”
"Huh....... jadi menurut Buku Brengsekmu itu dia menjadi
tokoh yang ke enam di dunia persilatan saat ini! Di mana dia
itu sekarang?"
"Dia....... berada di belakangmu !" Si penyanyi itu
menjawab, kemudian tertawa lagi terkekeh-kekeh.
Hek-eng-cu dan Chin Yang Kun cepat membalikkan tubuh
mereka. Dan dengan wajah kaget mereka menatap seorang
lelaki tua, yang secara tiba-tiba telah berdiri di tengah-tengah
pintu rumah, di mana Hek-eng-cu tadi keluar.
Orang tua yang usianya tentu lebih dari tujuhpuluhan tahun
itu berdiri menggandeng lengan seorang gadis, yang tidak lain
adalah Tiau Li lng. Di atas pundak orang tua itu tergantung
sebuah Khim atau harpa yang bertali banyak itu.
"Li lng.....," Chin Yang Kun menegur gadis itu perlahan.
Tapi Tiau Li Ing tidak mempedulikan teguran itu. Seperti
orang yang belum pernah saling berkenalan gadis itu malah
membuang mukanya ke tempat lain. Tapi sekilas Chin Yang
Kun dapat menyaksikan setetes air mata yang meloncat keluar
dari mata gadis itu.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Hmmm .... kenapa dengan Tiau Li Ing itu ?" Chin Yang
Kun bertanya-tanya di dalam hatinya.
"Eh....... apakah dia ini .......pemuda yang kauceritakan
itu?" tiba-tiba orang tua itu bertanya kepada Tiau Li Ing.
"Be-benar........ kek !" gadis itu menjawab dengan suara
berbisik.
"Kalau begitu, jangan kauhiraukan dia! Sekarang katakan
saja kepadaku, di manakah orang berkerudung itu?"
"Dia....... dia...... ohh! Dia...... berada kira-kira sepuluh
langkah di depan kita. Kakek harap berhati-hati terhadap dia.
Gin-kangnya hebat sekali !" Tiau Li Ing, menjawab dengan
suara sendu.
Lo-si-ong atau orang tua itu tertawa halus. “Jangan
khawatir! Dia itu bukan lawanku. Kau mendengar kata-kata
guruku tadi bukan? Aku masih berada satu tingkat di atasnya.
Dan yang jelas orang berkerudung itu akan bertanding Iebih
dahulu dengan Chin Yang Kun, bukan dengan aku."
Sementara itu Hek-eng-cu sudah tidak dapat lagi
mengendalikan dirinya. Melihat tawanannya telah dibebaskan
oleh Lo-si-ong, iblis berkerudung itu segera mengeluarkan dua
bilah pisau panjangnya yang ampuh itu. Meskipun salah satu
dari ciri kebesarannya telah berada di tangan Chin Yang Kun,
tapi perbawa pisau yang bersinar kebiruan itu masih tetap
menggiriskan hati juga. Di dalam keremangan malam pisau itu
tampak berkilat-kilat seperti hidup.
Tetapi ketika iblis itu hendak menyerang Lo-si-ong, dengan
cepat Chin Yang Kun menghadangnya. Selain khawatir
terhadap keselamatan Tiau Li lng, pemuda itu juga takut
kehilangan kesempatan bertanding dan membunuh musuh
besarnya itu.
Sambil mengenakan mantel rampasannya tadi, Chin Yang
Kun bertolak pinggang di depan Hek-eng-cu. "Pembunuh keji!
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Jangan kau layani orang tua itu ! Hadapilah aku dulu, baru
nanti yang lain-lainnya..........!"
"Hmmmh.......! Bocah tak tahu diri! Minggirlah........! Kau
bukan lawan yang setimpal buatku. Hok-te To-hoat maupun
Hok-te Ciang-hoat yang kaupelajari itu takkan berguna untuk
menghadapi aku. Jangan percaya pada Buku Brengsek atau
pada ramalan Penyanyi Sinting itu......! Nah....,,, cepatIah kau
menyingkir !" Hek-eng-cu membentak dengan suara nyaring.
Iblis berkerudung itu sengaja mengisi suaranya dengan
Pat-hong-sin-kangnya yang mempunyai kekuatan sihir itu,
sehingga suaranya menjadi nyaring sekali. Begitu nyaring
suara bentakannya itu sehingga suara itu seakan-akan dapat
menembus dada Chin Yang Kun dan bergema atau
berkumandang di dalam sudut hatinya.
Untuk sesaat pemuda itu seperti tidak bisa menolak
perintah lawannya. Perlahan-lahan kakinya terangkat untuk
melangkah pergi dari tempat itu. Tapi sekejap kemudian
Liong-cu-i-kangnya yang maha hebat itu segera bergolak
untuk menyadarkannya kembali dari pengaruh sihir tersebut.
Kaki yang telah terangkat itu cepat-cepat diturunkannya
kembali.
Dan ternyata keadaan itu sungguh tepat sekali datangnya.
Terlambat sedetik saja, kemungkinan besar nyawa Chin Yang
Kun sudah melayang ke alam baka. Karena seperti kebiasaan
Hek-eng-cu yang menyerang lawannya selagi mereka
terpengaruh oleh kekuatan sihirnya, tiba-tiba saja kedua bilah
pisaunya telah berkelebat menyambar leher dan ulu hati Chin
Yang Kun !
Untunglah kesadaran itu segera memberi kesempatan bagi
Chin Yang Kun untuk menghindari serangan berbahaya
tersebut. Sambil menggeser tubuhnya ke samping pemuda itu
menghantam ke depan dalam jurus Raja Chin Miu
Mematahkan Kim-pai. Kedua sisi tangan pemuda itu
menebang pergelangan tangan Hek-eng-cu !
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Sekejap Hek-eng-cu kaget juga menyaksikan lawannya bisa
melepaskan diri dari pengaruh sihirnya tapi melihat pemuda
itu menyerangnya dengan ilmu silat Hok-te Ciang-hoat, diamdiam
mulutnya tertawa.
"Bocah ini benar-benar tidak bisa melihat kenyataan.
Masakan dia masih juga berani melawan aku dengan ilmu
Hok-te Ciang-hoat? Sungguh kasihan benar.......!"
Karena iblis berkerudung itu juga mahir memainkan ilmu
silat tersebut, maka dengan gampang serangan itu dapat ia
elakkan. Malah untuk selanjutnya iblis itu juga tahu, gerakan
apa yang hendak dilakukan oleh Chin Yang Kun.
"Hei ! Siapa mengajari kau melakukan gerakan Panglima Yi
Po Mengatur Barisan seperti itu? Kenapa kakimu kau tekuk
terlebih dulu, heh?" suatu saat Hek-eng-cu menegur, ketika
Chin Yang Kun melakukan jurus Panglima Yi Po Mengatur
Barisan yang diajarkan oleh Nenek Buyutnya.
Chin Yang Kun yang merasa serangannya selalu mengenai
tempat kosong menggeram penasaran. "Jangan menggurui
aku ! Justeru gerakan seperti yang kulakukan itulah yang
betul. Kalau kau tak percaya, marilah kita mengadu ilmu silat
Hok-te Ciang-hoat kita ...............!"
"Baik!" Hek-eng-cu tertawa mencemooh, lalu menyimpan
kembali kedua bilah pisaunya.
Demikianlah, kedua orang she Chin itu segera bertarung
dengan ilmu keluarga mereka sendiri, yaitu Hok-te Ciang-hoat.
Karena masing-masing sudah hapal dan mendalami ilmu silat
tersebut sampai ke dasarnya, maka masing-masing seperti
sudah tahu apa yang hendak dilakukan oleh lawan mereka.
Malahan pada suatu saat keduanya mengeluarkan jurus yang
sama pula, sehingga benturan-benturan yang sangat keras
tidak bisa dielakkan lagi.
Lo-si-ong dan Tiau Li Ing menyaksikan pertempuran
tersebut dengan hati tegang. Tiau Li Ing yang mengetahui
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
betapa hebatnya kesaktian Hek-eng-cu itu menjadi gelisah
sekali terhadap keselamatan Chin Yang Kun. Meskipun gadis
itu sedang marah dan kecewa kepada Chin Yang Kun, namun
tak dapat dipungkiri hatinya masih terpaut kepada pemuda itu.
Sebaliknya, Lo-si-ong yang buta itu, meskipun tidak dapat
melihat langsung pertempuran mereka, tetapi dengan indera
tubuhnya yang sudah sangat terlatih, ia bisa menduga-duga
apa yang telah terjadi.
"Tenanglah, cucuku.....! Kau tak perlu mengkhawatirkan
nasib temanmu itu. Biarpun mereka bertanding dengan ilmu
yang sama, tapi aku dapat merasakan perbedaanperbedaannya.”
"Berbeda.........? Apanya yang berbeda, kek? Ilmu silat
mereka sama, jurus-jurus yang mereka keluarkanpun sama
pula. Kalau toh berbeda....... itu cuma karena Hek-eng-cu
Iebih tangkas dan lebih mendalami ilmu tersebut!” Tiau Li lng
bertanya dengan kening berkerut.
Lo-si-ong tertawa perlahan, sehingga mulutnya yang
ompong tak bergigi lagi itu terbuka dengan jelas. "Kau keliru,
cucuku. Kalau kaukatakan bahwa Hek-eng-cu itu lebih cepat
dan gesit gerakannya, itu memang benar. Siapapun sudah
tahu bahwa Hek-eng-cu mempunyai ginkang yang hebat
sekali. Tapi kalau kaukatakan bahwa Hek-eng-cu itu lebih
dalam ilmunya dari pada Chin Yang Kun..........hmm, kau
salah! Yang terjadi justeru sebaliknya malah ! Meskipun
mereka melakukan gerakan yang sama, tetapi apa yang
dilakukan oleh Chin Yang Kun ternyata lebih baik dan lebih
bermutu dari pada Hek-eng-cu..........”
"Lebih baik dan lebih bermutu? Apanya yang lebih baik?
Kulihat mereka sama-sama tangkasnya......" sekali lagi Tiau Li
Ing memotong perkataan Lo-si-ong dengan wajah tak
mengerti.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Tangan Lo-si-ong terangkat, lalu menepuk-nepuk pundak
Tiau Li Ing.
"Li Ing, memang masih sulit bagimu untuk melihat
perbedaan-perbedaan itu. Tapi suatu saat kaupun akan bisa
juga melihatnya, hanya saja mulai sekarang kau harus belajar
lebih giat lagi."
Tiba-tiba wajah Tiau Li Ing menjadi murung sekali. "Ohh !
Tidak.......! Aku tidak berminat lagi untuk belajar silat......."
desahnya seperti berputus asa.
Tapi Lo-si-ong segera menutup mulutnya.
"Ssstt ! Lihatlah......!" orang tua itu berbisik sambil
memasang telinganya dengan sungguh-sungguh. "Tampaknya
mereka sama-sama mengeluarkan jurus yang sama, sehingga
kedua kepalan mereka saIing beradu satu sama lain. Tapi
karena gerakan Chin Yang Kun lebih baik dan lebih betul,
maka jurus yang dilakukan oleh pemuda itu lebig
menampakkan hasilnya dari pada jurus yang dilakukan oleh
Hek-eng-cu....... Hei, lihat! Benar bukan perkataanku ?
Lihat........ Hek-eng-cu terjatuh kesakitan." orang tua itu
berseru gembira. Tiau Li lng memandang ke arah
pertempuran. Gadis itu benar-benar melihat Hek-eng-cu
terpelanting karena beradu kepalan dengan Chin Yang Kun !
Namun demikian dengan Bu-eng Hwe-tengnya yang maha
hebat, iblis berkerudung itu cepat-cepat melenting kembali,
sehingga tubuhnya tidak jadi menyentuh tanah. Meskipun
begitu iblis itu telah merasa malu bukan main.
"Gila.....!" Hek-eng-cu mengumpat. “Darimana kau
mempelajari ilmu silat itu ? Mengapa ilmu silat itu sudah tidak
sesuai lagi dengan aslinya?”
Chin Yang Kun tersenyum puas melihat keberhasilannya.
Dan di dalam hati pemuda itu semakin percaya kepada nenek
buyutnya yang telah tiada.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Hei ? Siapa bilang ilmu silat Hok-te Ciang-hoatku tadi
sudah tidak sesuai lagi dengan aslinya ? Hmmh...... mengapa
sebagai seorang ahli kau tidak bisa menilainya ? Dari hasilnya
saja setiap orang tentu bisa melihat, bahwa ilmu silatmu itulah
yang telah menyimpang dari aslinya." pemuda itu
menerangkan, lalu lanjutnya lagi. "Ketahuilah....,! Jurus
Menatap Lantai menyembah Raja tadi diciptakan oleh
mendiang Raja Chin yang ke tiga, yaitu Raja Chin Luan. Dan
jurus itu khusus diciptakan dan dipersiapkan oleh beliau untuk
menghadapi Raja Chouw yang menduduki istana kerajaan
Chin pada waktu itu. Ketika Baginda Raja Chin Luan diseret ke
depan Raja Chouw dan dipaksa untuk berlutut didepan raja
penakluk itu, Baginda Raja Chin Luan lalu mengeluarkan jurus
Menatap Lantai Menyembah Raja itu. Dengan telapak tangan
penuh Iwee-kang Baginda Raja Chin Luan menghantam lutut
kiri Raja Chouw sehingga remuk ! Oleh karenanya dalam jurus
Menatap Lantai Menyembah Raja ini, tangan kanan kita
bergerak dari atas ke bawah seperti layaknya sebuah kaki
yang hendak memasang kuda-kuda. Dan karena bergerak
seperti kaki, maka tumpuan tenaga kitapun terletak pada
bahu, bukan dari pinggang ..... seperti yang kaulakukan tadi."
Pemuda itu menerangkan atau lebih tepatnya membuka
rahasia jurus Menatap Lantai Menyembah Raja kepada Hekeng-
cu, seperti halnya dulu nenek buyutnya menerangkan hal
tersebut kepadanya.
"Selain kau tadi salah dalam menyalurkan tenaga saktimu,
gerakan tubuhmu juga masih terlalu tegak dan kurang
membungkuk sedikit. Meskipun kepalamu sudah menunduk,
tapi matamu masih dapat melihat aku sebagai lawanmu.
Sehingga jurusmu tadi lebih tepat disebut Menatap Kaki
Menghantam Lutut dari pada Menatap Lantai Menyembah Raja
! Hmm......untunglah aku tadi tidak mengerahkan seluruh
Iwee-kangku. Kalau aku tadi mengerahkan seluruh tenagaku,
niscaya lenganmu sudah patah......"
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Dapat dibayangkan betapa merahnya muka di balik
kerudung hitam itu. Namun karena perkataan lawannya itu
memang terbukti dan masuk akal, maka iblis yang banyak
akalnya itu tak bisa membantah atau menyanggahnya lagi.
Dan untuk menutupi perasaan malunya, iblis itu segera
mengerahkan tenaga sakti Pat-hong-sin-kangnya. Yang
bergejolak di dalam benak iblis itu sekarang hanyalah
membunuh mati pemuda yang telah membuatnya malu itu !
Perlahan-lahan tangan yang gemetar itu telah memegang
sepasang pisaunya lagi.
"Bocah sombong.......! Kini aku tak bisa mengampunimu
lagi ! Kau bersiaplah! Pisauku ini akan mengerat tulang dan
dagingmu, sepotong demi sepotong, sehingga darahmu akan
terkuras habis dan tak bisa berdiri lagi........"
Asap tipis kehitam-hitaman mengepul di atas kepala Hekeng-
cu, suatu tanda bahwa iblis itu benar-benar telah
mengerahkan seluruh kesaktiannya. Oleh karena itu Chin Yang
Kun juga tidak berani berlaku sembrono Iagi. Pemuda itu tahu
bahwa dirinya tak mungkin bisa melawan gin-kang Hek-eng-cu
yang tersohor itu. Maka untuk menghadapi keIincahan dan
kegesitan iblis itu, Chin Yang Kun segera membentengi
tubuhnya dengan Liong-cu-i-kangnya yang maha dahsyat itu
pula. Dan untuk membatasi gerak langkah lawannya yang
cepat seperti angin itu Chin Yang Kun segera bersiap-siap
untuk bertempur dalam jarak jauh.
"Sayang aku tak membawa senjata untuk melawan
pisaunya. Hmm, tampaknya hari ini harus benar-benar
mengerahkan seluruh kemampuanku." Chin Yang Kun
mengeluh di dalam hatinya.
"Hei ! Kenapa kau tidak lekas-lekas mengeluarkan
senjatamu ? Jangan salahkan pisauku kaIau kau terluka atau
tak bisa menahannya nanti.......!" Hek-eng-cu menggeram dan
bersiap-siap menyerang.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Kau mulailah ! Aku memang tidak pernah membawa
senjata.....” Chin Yang Kun menantang seraya membetulkan
letak bungkusan pakaian yang terikat di atas pinggangnya.
"Kurang ajar........!" Hek-eng-cu yang semakin merasa
terhina itu menjerit dan menyerang dengan buasnya.
Bagaikan kilatan halilintar sepasang pisau itu berkelebat ke
arah leher dan ulu hati Chin Yang Kun! Sepintas lalu tangan
yang tergenggam itu seperti tidak memegang apa-apa. Itulah
sebabnya ilmu silat yang sedang dikeluarkan oleh Hek-eng-cu
ini mendapat sebutan Kim-Iiong Sin-kun atau Kepalan Sakti
Naga Emas! Dan pada zamannya Bit-bo-ong asli, iImu silat ini
hampir tak pernah mendapatkan tandingan.
Melihat lawannya menggerakkan pisau ke arah leher dan
ulu hatinya, Chin Yang Kun segera melangkah ke samping dua
tindak. Kemudian sambil meliukkan badannya ke depan,
pemuda itu menotok ke arah tulang rusuk Hek-eng-cu bagian
kiri bawah, yaitu pada jalan darah leng-siu-hiat.
Begitu serangannya gagal dan kemudian malah
mendapatkan serangan balik dari lawannya, Hek-eng-cu buruhuru
menarik sepasang pisaunya. Dengan cepat ujung
sepatunya menotol ke tanah, sehingga tubuhnya melesat ke
atas seperti burung meninggalkan sarangnya. Ketika tubuhnya
berada di atas Chin Yang Kun, iblis berkerudung itu kembali
menyerang dengan kedua bilah pisaunya. Kali ini yang diincar
adalah ubun-ubun kepala Chin Yang Kun!
"Sungguh lihai.........!" Chin Yang Kun berdesah seraya
menarik kembali tangannya, lalu bergeser setengah langkah
lagi ke depan, sehingga serangan lawannya itu juga menemui
tempat kosong pula.
"Hmmh ....... !" Hek-eng-cu menggeram penasaran, lalu
sebelum tubuh meluncur kembali ke atas tanah kakinya
menendang ke arah punggung Chin Yang Kun.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Dengan tangkas Chin Yang Kun memutar badannya pula.
Siku tangan pemuda itu dengan cepat menghantam tumit
Hek-eng-cu ! Dhuuuk ! Chin Yang Kun terdorong ke samping
dan hampir jatuh tertelungkup. Sebaliknya tubuh Hek-eng-cu
yang berada di atas itu juga terpelanting dengan kuatnya,
sehingga menghantam batang pohon yang-liu (cemara) yang
tumbuh di dekat pintu rumah.
Lagi-lagi Iwee-kang Chin Yang Kun menunjukkan
keunggulannya bila dibandingkan dengan Iwee-kang Hek-engcu
! Dan hal itu semakin membuat penasaran Hek-eng-cu !
"Anak gila! Awas, kubunuh kau ........! Kubunuh kau.........!"
iblis berkerudung itu menjerit-jerit seraya menyerbu Chin Yang
Kun kembali dengan ganasnya.
Dan pertempuran selanjutnya sungguh-sungguh dahsyat
tidak terkira. Tubuh Hek-eng-cu berkelebat kesana kemari
dengan gesitnya seperti burung walet menyambar
mangsanya, sementara Chin Yang Kun yang telah
membentengi tubuhnya dengan Liong-cu-i-kang itu tampak
bergerak lamban namun pertahanannya kelihatan kokoh dan
rapat sekali.
Sepuluh jurus. Duapuluh jurus. Dan akhirnya tigapuluh
juruspun telah berlalu. Hek-eng-cu benar-benar mengerahkan
seluruh kemampuan dan kesaktiannya. Semua ilmu
peninggalan Bit-bo-ong yang dahsyat itu ia keluarkan
semuanya, sehingga tubuh iblis berkerudung itu bergerak
bagaikan badai angin yang hendak melumatkan tubuh Chin
Yang Kun.
Sepasang pisau pusaka di tangan Hek-eng-cu, yang
mempunyai perbawa mengerikan karena telah banyak
meminum darah manusia itu, tampak berkelebatan memenuhi
arena. Pisau itu tampak berkilat-kilat di keremangan malam,
memburu serta mengejar Chin Yang Kun kemanapun pemuda
itu pergi, seolah-olah pisau tersebut memang bernyawa iblis,
yang haus akan kehangatan darah Chin Yang Kun.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Memang sungguh berat lagi Chin Yang Kun sekali ini.
Meskipun sudah menguras seluruh kemampuan dan kesaktian
yang diperolehnya selama ini, pemuda itu masih tetap saja
kewaIahan menghadapi kebuasan ilmu lawannya. Hok-te
Ciang-hoat yang tadi sempat membuat malu Hek-eng-cu
ternyata menjadi kalang kabut menghadapi kim-liong Sin-kun
dan Pat-hong sin-ciang warisan Bit-bo-ong. Untunglah dengan
Kim-coa-ih-hoatnya yang aneh pemuda itu dapat sekedar
membingungkan lawannya, sehingga dengan demikian dia
bisa bertahan dan mengulur waktu. Apalagi dengan
perlindungan Liong-cu-i-kangnya yang dahsyat itu, Chin Yang
Kun semakin sulit untuk ditundukkan dalam waktu singkat.
Namun demikian kalau hal itu berlanjut terus tanpa ada
pertolongan dari luar, tak pelak lagi Chin Yang Kun benarbenar
akan mengalami kesulitan yang serius.
Benar juga beberapa saat kemudian Chin Yang Kun mulai
kebobolan pertahanannya. Untunglah dengan mengenakan
mantel pusaka yang dapat direbutnya tadi, pemuda itu dapat
terhindar dari goresan pisau yang mengandung racun
mematikan itu.
"Kurang ajar ! Gin-kang iblis ini semakin lama semakin
memusingkan aku !" pemuda itu mengeluh di dalam hatinya.
Memang tak dapat disangkal lagi. Tanpa memegang
senjata yang sekali waktu dapat ia pergunakan sebagai perisai
untuk menangkis pisau beracun itu, Chin Yang Kun tak
mungkin dapat bertahan terus-menerus. Sekali waktu pisau itu
tentu akan terhunjam pula ke dalam tubuhnya.
Sementara itu di tepi arena pertempuran, Tiau Li Ing
menjadi gelisah bukan main melihat Chin Yang Kun terdesak
terus tanpa bisa membalas. Tanpa terasa saking gelisahnya
gadis itu mencengkeram lengan Lo-si-ong yang berdiri di
sampingnya.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Meskipun matanya buta, namun orang tua itu tahu juga
keadaan Chin Yang Kun yang "repot" itu. Tapi karena bekas
ketua lm-yang-kauw itu sangat percaya pada ucapan gurunya,
maka hatinya tidak segelisah hati Tiau Li Ing. Orang tua itu
tetap yakin bahwa lblis berkerudung itu akan jatuh di tangan
Chin Yang Kun. Hanya saja orang tua itu tidak mengetahui
cara bagaimana pemuda yang telah terdesak habis-habisan itu
akan bisa mengalahkan Iawannya.
Yang sangat mengherankan, meski sudah sedemikian jauh
pertempuran antara Hek-eng-cu dan Chin Yang Kun itu
berlangsung, namun Si Penyanyi Sinting itu tetap belum
menampakkan dirinya juga. Malahan suara nyanyiannya yang
sejak tadi selalu mengganggu konsentrasi Hek-eng-cu, kini
telah tiada dan tidak terdengar pula. Seolah-olah orang itu
memang telah pergi meninggalkan tempat itu.
Langit tampak bersih tanpa awan, sehingga bintangbintang
kelihatan jelas bertaburan di angkasa. Mereka
berkelap-kelip berdesakan, seolah-olah mereka juga ingin
menyaksikan pertempuran seru antara Chin Yang Kun dan
Hek-eng-cu tersebut. Sementara itu angin pegunungan yang
dingin terasa meniup semakin kencang pula, sehingga udara
di dalam Iembah itupun seolah-olah menjadi beku karenanya.
Dan pada saat yang sama, udara dingin juga bertiup di atas
Pulau Meng-to yang sunyi. Angin laut yang mengandung air
itu bertiup kencang membasahi pepohonan dan bebatuan di
atas pulau kecil tersebut, sehingga suasana di atas pulau itu
menjadi lembab dan basah. Maka tidak mengherankan bila
semua penghuninya menjadi enggan untuk keluar dari pintu
rumah, padahal d Pendapa Utama saat itu banyak berkumpul
tamu-tamu yang ingin bertemu dengan majikan pulau mereka,
Keh-sim Siau-hiap.
Tamu-tamu yang berdatangan sejak pagi hari itu banyak
yang sudah bosan dan mulai tak sabar lagi untuk bertemu
dengan Keh-sim Siau-hiap. Meskipun mereka semua dijamu
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
dan diberi tempat istirahat yang baik, tapi semuanya
berkeinginan untuk lekas-lekas bertemu dengan Keh-sim Siauhiap
dan mengutarakan maksud kedatangan mereka masingmasing.
Kini semuanya berkumpul di tengah-tengah Pendapa
Utama yang luas itu. Tapi sejauh ini mereka juga baru ditemui
oleh Sepasang Gadis Berbaju Putih dan Sepasang Gadis
Berbaju Hitam, pembantu Keh-sim Siau-hiap itu. Beberapa
orang tamu yang mulai terpengaruh oleh arak yang
disuguhkan kepada mereka, mulai terdengar menggerundel
dan mengeluarkan rasa ketidak-senangan mereka. Tapi
dengan sabar dan halus gadis-gadis pembantu Keh-sim Siauhiap
itu menenangkan hati mereka. Gadis-gadis itu memberi
tahu kepada mereka bahwa Keh-sim Siau-hiap memang baru
akan keluar pada tengah malam nanti, sebab Keh-sim Siauhiap
sekarang sedang menyelesaikan samadhinya.
Untuk mengurangi perasaan kesal serta bosan itu beberapa
orang tamu tampak berdiri dari tempat duduk mereka, lalu
keluar dari pendapa, menuju ke arah pantai. Mereka berjalan
sendiri-sendiri atau dengan teman seperjalanan mereka, tanpa
menghiraukan hembusan angin laut yang membasahi tubuh
mereka. Dan diantara mereka itu terdapat seorang lelaki muda
dan dua orang gadis cantik yang berjalan perlahan-lahan
menyusuri tepian pantai.
Diantara suara angin dan debur ombak yang memecah
pantai itu terdengar desah suara mereka bertiga dalam nada
yang amat kesal dan mendongkol.
"Lagaknya seperti seorang raja saja.....hah ! Tahu begini
aku tidak mau berkunjung ke mari." salah seorang dari
kedua gadis itu menggerutu seraya menyepak sepotong kayu
kecil yang dilemparkan ombak di atas pasir.
"Ah, sudahlah Adik Pek Lian.....! Kau tak perlu menggerutu
begitu.....! Kau harus ingat, bahwa pulau ini adalah rumah dan
tempat tinggalnya. Tentu saja dia bebas untuk berbuat apa
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
saja di rumahnya sendiri. Apa lagi dia tak memintamu atau
mengundangmu kemari. Kau datang ke pulau ini atas
kehendakmu sendiri. Apa salahnya ia menemui kita tengah
malam nanti ? Dan...... eh, Adik Pek Lian.......kau jangan
Iupa bahwa dia pernah menyelamatkan kita dari keganasan
mendiang para iblis Ban-kwi-ti itu !” gadis satunya yang tidak
lain adalah Kwa Siok Eng menegur Ho Pek Lian, gadis yang
sedang kesal itu.
"Benar, Nona Ho ........ biarlah kita bersabar lagi barang
sejenak. Toh waktu yang dijanjikannya itu sudah tidak lama
Iagi........." lelaki yang bersama mereka itu ikut membujuk Ho
Pek Lian.
“BaikIah.......... ! Baiklah ! Tapi....... aku tetap ingin segera
tahu, macam apa sebenarnya pendekar yang disanjungsanjung
orang itu?'' Ho Pek Lian terpaksa mengalah, meskipun
mulutnya masih tetap cemberut juga.
"Hei....... bukankah kita dulu pernah melihatnya?" Kwa Siok
Eng memotong.
“Ya ! Tapi kita tak dapat melihat wajahnya dengan jelas.
Selain sangat gelap, waktu itu dia selalu membelakangi kita.”
“sudahlah.......! Sebentar lagi kita juga akan melihatnya.
Yang terang, melihat namanya... dia itu masih muda," Chu
Seng Kun, lelaki yang bersama mereka itu, menengahi
perdebatan mereka.
"Benar ! Masih muda dan......... sukar diajak bersahabat !"
tunangannya menambahkan dengan suara menggoda.
Chu Seng Kun menatap wajah Kwa Siok Eng dengan kening
berkerut. Namun demikian mulutnya tetap bersenyum ketika
bertanya, "Sukar diajak bersahabat? Mengapa demikian.....?”
Kwa Siok Eng juga tersenyum. "Ko-ko, sebutan atau
gelarnya saja Pendekar Patah Hati (Keh-sim Siau-hiap).
Nah.......mana ada seorang yang sedang patah hati bisa diajak
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
bersahabat di dunia ini? Ko-ko sudah bisa melihat sendiri
sekarang, bagaimana ia selalu menutup dirinya........"
Chu Seng Kun menunduk serta menghela napas dalamdalam.
"Memang. Sejak kedatangan kita di pulau ini akupun
sudah berpikir tentang......... dia ! Namanya begitu disanjung
dan dikagumi orang karena kemuliaannya. Hartanya banyak,
kaya raya, kepandaiannyapun tinggi sekali. Lalu apa yang
masih kurang pada dirinya itu ? Mengapa dia masih bisa patah
hati? Puteri mana yang telah menolak manusia pilihan seperti
dia itu?"
"Ah, Chu twa-ko jangan berpendapat demikian........" Ho
Pek Lian cepat-cepat menyahut perkataan Chu Seng Kun itu.
“Patah hati itu bisa diakibatkan oleh bermacam-macam sebab.
Dan salah satu di antaranya memang bisa seperti yang twa-ko
katakan itu. Tapi selain hal itu, patah hati dapat juga
disebabkan oleh karena hal yang lain. Misalnya .....salah
seorang dari mereka meninggal dunia, padahaI keduanya
sudah saling mencinta satu sama lain. Atau........ patah hati itu
bisa juga terjadi karena adanya rintangan dari pihak luar yang
sama sekali tidak dapat mereka atasi, sehingga akhirnya
mereka tak bisa mewujudkan cita-cita dan impian mereka itu.
Dan hal-hal yang demikian itu bisa mengakibatkan mereka
menjadi patah hati pula.......Banyak contoh tentang peristiwa
seperti itu di masa lampau. Misalkan pada zaman Dinasti Chou
Barat dahulu, seorang pangeran mahkota telah dipaksa untuk
melepaskan kekasihnya yang hanya seorang gadis rakyat
jelata ketika ia dinobatkan sebagai raja. Akibatnya gadis itu
menjadi patah hati dan akhirnya bunuh diri, sementara putera
mahkota itu juga patah hati dan tak mau kawin pula selama
hidupnya. Dan contoh yang lain tak usah jauh-jauh kita cari.
Baginda Kaisar Han yang sekarangpun juga seorang yang
menderita patah hati, sehingga beliau memilih tidak kawin
pula sampai sekarang......”
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Chu Seng Kun dan Kwa Siok Eng saling memandang satu
sama lain. Wajab mereka malah kelihatan bingung dan
terheran-heran mendengar ucapan Ho Pek Lian yang seolaholah
malah membantu atau melindungi Keh-sim Siau-hiap itu.
Padahal gadis itu tadi baru saja marah-marah karena kesal
dan dongkol kepada Keh-sim Siau hiap.
Dan yang lebih mengherankan Iagi adalah sikap dan cara
gadis itu berbicara. Gadis itu berbicara dengan bersemangat
dan bersungguh-sungguh, seakan-akan gadis itu sendiri
sedang mewakili orang-orang yang patah hati tersebut.
Oleh karena itu sambil tertawa menggoda, Kwa Siok Eng
berkata kepada Ho Pek Lian, ''Adik Lian ....... mendengar katakatamu
yang bersemangat tadi hatiku malah menjadi
berdebar-debar. Ehh......., jangan-jangan kaupun.........
kaupun juga pernah menderita patah hati pula."
Tiba-tiba wajah yang cantik itu menyeringai kecut.
"Ahh, ci-ci....... kau ini ada-ada saja. Patah hati....... sih
tidak. Cuma pada suatu saat aku memang pernah merasa
kecewa kepada seseorang dan kepada hidupku sendiri,
sehingga sampai sekarang akupun belum mempunyai minat
untuk mencari teman hidup.......” Ho Pek Lian terpaksa
menerangkan dengan suara lirih.
"Kecewa.......? Ah, sungguh tak masuk akal. Siapa yang
telah berani mengecewakanmu? Apakah orang itu tidak tahu
kalau kau ini murid terkasih dari Baginda Kaisar Han?"
"Ahh, kau ini ..... Apa hubungannya Kaisar Han dengan
masalah pribadiku ? Apa lagi waktu itu su-hu belum menjadi
kaisar seperti sekarang ini........"
"Oh, jadi peristiwa itu terjadi pada waktu kau dan Kaisar
Han masih suka berkelana di dunia kang-ouw dahulu?
Hmm........ kalau begitu sudah hampir sepuluhan tahun yang
lalu, ya ? Eh, Adik Lian........ kalau aku boleh bertanya…. kalau
aku boleh bertanya, siapa sih pemuda yang pernah
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
mengecewakanmu itu ?” Kwa Siok Eng yang sudah amat
akrab dan sudah seperti saudara sendiri dengan Ho Pek Lian
itu berbisik sambil merangkul pundak gadis itu.
Ho Pek Lian menjadi merah pipinya, sementara matanya
melirik ke belakang, kearah Chu Seng Kun yang berjalan enam
atau tujuh langkah di belakang mereka. Tampaknya pemuda
ahli obat itu memang sengaja memperlambat langkahnya
begitu mendengar pembicaraan mereka yang mulai bersifat
pribadi itu.
"Bagaimana Adik Lian ? Apakah…..apakah aku boleh tahu
siapa orang itu?" Kwa Siok Eng mendesak lagi.
"Aaaaah...... !" Ho Pek Lian mengerling dan berdesah
panjang, seakan-akan masih merasa enggan atau malu
mengatakannya.
"Ayolah........ Adik Lian! Kita toh sudah seperti keluarga
sendiri. Apa lagi usia kitapun sudah tidak muda lagi. Kau
duapuluh lima dan aku duapuluh enam, yang kalau menurut
adat kebiasaan kita sudah dianggap terlambat kawin.
Mengapa kau masih merasa malu dan ragu-ragu untuk
mengatakannya kepadaku ?"
"Tapi........"
Ho Pek Lian sekali lagi melirik ke belakang. Dilihatnya Chu
Seng Kun tertinggal semakin jauh di belakang mereka.
Pemuda itu tampak sedang bermain-main dengan air laut
yang menjilati kakinya.
"Baiklah, ci-ci Siok Eng ....... Aku akan berbicara. Tapi
kuminta kau jangan menceritakannya kepada Chu twa-ko.
Maukah kau ?” akhirnya gadis itu mengalah.
Kwa Siok Eng tersenyum lalu menoleh ke arah
tunangannya. "Jangan takut ! Kalau kau memang
menginginkan demikian, akupun takkan mengatakannya
kepada siapapun. Aku berjanji ! Nah....... ayolah !"
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Hening sejenak. Kedua orang sahabat itu lalu berjalan
menuju ke gardu pemandangan, yang khusus dibangun oleh
Keh-sim Siau-hiap dan anak buahnya di tempat itu. Mereka
berdua duduk berendeng seperti sepasang kekasih atau
seperti dua orang kakak-beradik yang sedang menikmati
hamparan ombak di depan mereka. Keduanya tidak
mempedulikan lagi pada Chu Seng Kun yang bermain-main
dengan air sendirian.
"Ci-ci.....! Sebenarnya aku malu menceriterakan hal ini
kepadamu. Tapi karena kau sudah berjanji untuk tidak
mengatakannya kepada siapa pun juga, maka aku berani pula
berterus-terang kepadamu. Begini…..! Sebenarnya sampai
saat ini aku sendiri juga masih bingung terhadap hatiku
sendiri. Aku benar-benar tak tahu, siapa sebenarnya Ielaki
yang kudambakan itu? Dan aku sendiri juga masih bingung,
siapa sebenarnya lelaki yang kupilih diantara mereka itu? Cici.......
aku benar-benar bingung bila memikirkan hal itu. Rasarasanya
aku menjadi asing terhadap diriku sendiri........”
"Heh…..? Adik Lian.......? Kau ini sungguh aneh sekali.
Bagaimana bisa sampai begitu? Coba kau terangkan kepadaku
! Aku malah menjadi bingung pula mendengar ceritamu
itu....... Eh, apakah… apakah kau mencintai lebih dari seorang
lelaki? Ataukah........kau ini dicintai dan dilamar oleh beberapa
orang lelaki, sehingga kau malah menjadi bingung dan sulit
untuk memilihnya ?" Kwa Siok Eng berbisik dengan suara
heran.
“Ahh, ci-ci...... bukan begitu maksudku.” Ho pek Lian
mencubit lengan sahabatnya itu dengan cemberut.
"Aku........aku....... ah, bagaimana ya?"
“Wah……..kau ini bagaimana sih?” Kwa Siok Eng pura-pura
merasa kesal. “Sudahlah! Marilah kita pulang kembali saja
kalau kau memang tak ingin menceritakannya!”
Kwa Siok Eng pura-pura bangkit dari tempat duduknya, tapi
dengan cepat lengannya ditarik kembali oleh Ho Pek Lian.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
“Baik! Baiklah…..! Aku akan mengatakannya kepadamu……”
gadis itu berkata kepada Kwa Siok Eng.
“Kalau begitu cepatlah bercerita……!” Siok Eng mendesak
tak sabar.
Sambil menundukkan mukanya Ho Pek Lian akhirnya
bercerita, meskipun suaranya terdengar semakin lirih di telinga
Kwa Siok Eng.
“Ci-ci, aku mulai merasa tertarik kepada laki-laki pada usia
tujuhbelas tahun. Dan perasaan itupun bermula dari rasa
kasihan pula, karena pemuda yang kumaksudkan itu
menderita penyakit aneh yang sukar disembuhkan. Rasa
kasihan itu ternyata berkembang menjadi perasaan tertarik
dan perasaan kagum pula ketika aku semakin bisa mendalami
watak dan sikapnya yang jantan penuh keperwiraan. Tetapi
karena waktu itu usiaku masih terlalu muda dan belum punya
pengalarnan sama sekali, maka aku belum menyadari bahwa
sebenarnya aku telah jatuh cinta kepada pemuda itu. Oleh
karena itu ketika salag seorang sahabat akrabku juga merasa
tertarik kepada pemuda itu, bahkan kemudian malah jatuh
cinta pula kepadanya, aku langsung saja menyetujui dan
merelakannya. Bahkan aku ikut membantunya malah ! Saya
sangat bergembira pemuda itu memperoleh kebahagiaannya.
Tapi.......lama-kelamaan justru hatiku sendiri yang akhirnya
menjadi sedih. Entah mengapa aku seperti telah kehilangan
sesuatu yang tak kumengerti. Hatiku seakan-akan selalu
merasa menyesal terus-menerus........”
Ho Pek Lian berhenti untuk mengambil napas. Wajahnya
pucat, matanya menerawang jauh ke tengah laut, seolah-olah
benar-benar menyesali sikapnya selama ini.
" ......Lalu datanglah pemuda yang kedua mendekatiku. Di
dalam segala hal pemuda ini jauh lebih baik dari pada pemuda
yang pertama. Selain masih muda, kaya, tampan dan
berkepandaian tinggi, pemuda yang kedua ini juga sangat
dihormati orang. Sebab pemuda itu adalah seorang pemimpin
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
persilatan yang mempunyai anggota lebih dari ribuan orang.
Dan pemuda ini juga seorang pejuang serta ksatria pembela
kaum lemah pula. Apalagi secara terus terang pemuda itu juga
telah menyatakan cinta kasihnya kepadaku.....,”
Sekali Iagi Ho Pek Lian menghentikan ceritanya. Matanya
yang sayu itu tampak berkaca-kaca ketika bercerita tentang
pemuda yang kedua itu, sehingga Kwa Siok Eng sama sekali
tak berani mengganggunya. Gadis itu takut kalau-kalau Ho
Pek Lian menjadi terganggu konsentrasinya.
"Sebetulnya....... di dalam hati aku telah menerimanya.
Memang pemuda seperti itulah yang selalu kucari-cari selama
ini. Gagah, tampan, berkedudukan baik, berwatak ksatria pula.
Nah...apalagi yang kurang? Tapi........ ci-ci, aku sungguh
heran terhadap hatiku sendiri. Kenapa aku tak bisa melupakan
pemuda yang pertama itu? Wajahnya yang polos, yang
kadang-kadang tampak sangat menderita karena penyakitnya
itu sering mengganggu hatiku. Biarpun di sana sudah ada
seorang gadis yang mendampinginya, namun hatiku ini
rasanya masih tetap juga belum yakin dan belum percaya
kepada gadis tersebut. Rasanya hatiku ini seperti hati seorang
ibu yang tidak tega melihat bayinya dalam perawatan wanita
lain. Dan celakanya, perasaan itu selalu saja mengejar dan
menggangguku di manapun aku berada, sehingga lambat-laun
hatiku menjadi terpengaruh pula karenanya. Tanpa terasa
sikapku terhadap pemuda yang kedua itu menjadi berubah
dingin dan acuh tak acuh, padahal aku sama sekali tak
bermaksud demikian. Akibatnya pemuda yang telah kupilih
dan kucintai sepenuh hati itu menjadi salah sangka
terhadapku. Dengan perasaan kecewa dia lantas
mengundurkan diri dari sampingku, dan kemudian pergi entah
ke mana......... Oh, ci-ci…. bagaimanakah menurut
pendapatmu ? Salahkah sikapku itu? Apa yang mesti
kuperbuat? Ci-ci, aku benar-benar bingung sekali. Aku benarbenar
tak tahu, apa sebenarnya yang kukehendaki selama ini.
Sebab sepeninggal pemuda yang kedua itu, hatiku juga
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
menjadi pecah berantakan pula. Kalau semula sikapku
terhadap pemuda yang pertama itu seperti sikap seorang ibu
yang tidak tega melepaskan bayinya dalam perawatan orang
lain, kini sikapku terhadap pemuda yang kedua malah justru
lebih parah lagi. Sikapku sekarang benar-benar seperti sikap
seorang ibu yang telah kehilangan anaknya! Setiap hari hatiku
menangis tak henti-hentinya menyesali kepergiannya. Tapi
apalah dayaku........ nasi telah menjadi bubur, semuanya telah
terjadi dan tak mungkin diulang kembali. Kini tinggallah aku
seorang diri, terombang-ambing tak menentu, seperti perahu
yang kehilangan arah di tengah lautan."
Gadis itu menghela napas panjang ketika menyelesaikan
ceritanya. Matanya yang semula hanya berkaca-kaca, kini
benar-benar meneteskan air mata. Wajahnya tampak pucat
dan hampa, sungguh berbeda sekali dengan sikapnya seharihari
yang riang dan gembira.
Sekejap Kwa Siok Eng juga termangu-mangu saja di
tempatnya. Meskipun gadis itu bisa menebak siapa yang
dimaksudkan dalam cerita Ho Pek Lian itu, namun kenyataan
yang tak pernah diduganya itu sungguh-sungguh telah
mengagetkannya. Hampir tak terlintas sama sekali di dalam
hati Kwa Siok Eng bahwa temannya itu akan mengalami hal
yang demikian.
"Adik Lian....... sungguh tak kusangka kau akan mengalami
persoalan yang rumit seperti itu. Selama ini aku hanya
menyangka bahwa kesendirianmu ini memang telah kau
sengaja karena engkau belum mendapatkan pasangan yang
cocok dengan selera hatimu. Ternyata dugaanku atau
bayanganku itu adalah salah sama sekali. Ternyata kau telah
menyimpan persoalan yang demikian peliknya di dalam
hatimu. Adik Lian, kita telah lama menjalin persababatan. Oleh
karena itu kukira aku telah bisa menebak siapa-siapa yang
kaumaksudkan dalam ceritamu itu. Hmm........ pemuda yang
pertama, yang menimbulkan rasa belas kasihanmu itu tentu
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Souw Thian Hai, bukan? Dan pemuda yang kedua, yang
sebenarnya merupakan pemuda yang sangat mencocoki
hatimu itu tentulah saudara Kwee Tiong Li, bukan ? Dan tentu
saja gadis yang kau maksudkan itu adalah Enci Chu Bwe
Hong. Benar tidak?" dengan sangat hati-hati Kwa Siok Eng
menanggapi cerita Ho Pek Lian itu.
Gadis itu mengangguk tanpa menjawab.
Kwa Siok Eng merangkul pundak sahabatnya itu. "Adik
Lian....... sungguh malang benar keadaanmu. Seharusnya kau
tak perlu mengalami keruwetan itu apabila kau mau meminta
pendapat atau petunjuk kepada sahabat-sahabatmu.
Persoalanmu itu sebenarnya sangat jelas dan mudah sekali
pemecahannya..."
Dengan cepat wajah yang tertunduk itu menengadah,
menatap wajah Kwa Siok Eng.
"Ci-ci Siok Eng........?" gadis itu berdesah kaget.
Siok Eng merangkul pinggang Pek Lian. Dengan suara
tenang dan halus gadis itu berbisik, "Adik Lian....... jangan
terkejut ! Aku tidak bergurau, aku berkata sebenarnya. Kalau
hal itu terasa sulit dan ruwet, semua itu karena kau ikut
terlibat langsung di dalamnya, sehingga akibatnya kau malah
tak bisa melihat persoalan tersebut secara jelas dan terang."
Wajah yang cantik itu semakin tertunduk lesu.
"Ohhh........kalau begitu lekaslah ci-ci katakan pendapatmu
itu !”
"Baik........!" Siok Eng berkata seraya bangkit dari tempat
duduknya, lalu berdiri bersandar pada dinding gardu tersebut.
"Sebagai orang luar aku justru dapat melihat persoalanmu itu
dengan jelas sekali. Oleh sebab itu aku dengan mudah juga
bisa mengetahui di mana letak kesalahannya dan bagaimana
pula pemecahan serta jalan keluarnya....... Nah, Adik Lian.......
marilah kita bahas masalahmu itu perlahan-lahan !”
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Bulan tipis yang tadi berada di atas langit sebelah barat,
kini sudah hampir tenggelam di balik cakrawala, suatu tanda
bahwa hari sudah mendekati tengah malam. Dan dengan
sabar serta penuh pengertian Chu Seng Kun masih tetap
berada di tepi laut, bermain-main dengan percikan air
sendirian.
"Adik Lian ........ Dari dasar atau landasan perasaan
tertarikmu kepada kedua orang pemuda itu saja sebenarnya
sudah bisa dipergunakan sebagai pedoman, siapa sebenarnya
pemuda yang kaupilih. Karena kasihan kau menaruh perhatian
kepada Saudara Souw Thian Hai. Dan perhatian itu akhirnya
berkembang menjadi rasa kagum melihat kepandaian dan
keperwiraannya. Dari hal ini saja sebenarnya sudah dapat
ditarik kesimpulan bahwa kau sesungguhnya tidak mencintai
Saudara Souw Thian Hai. Kau cuma merasa kasihan
kepadanya dan juga sangat menyayangkan kepandaiannya
yang tinggi. Kau sebenarnya tidak mencintainya, karena di
dalam hati kecilmu kau sendiri merasa kurang cocok dengan
keadaannya. Sebab sebagai seorang puteri pejabat tinggi kau
sudah terbiasa berkecimpung dalam dunia kemewahan,
kemuliaan dan kehormatan. Kau tidak akan merasa puas dan
cocok dengan pemuda biasa seperti Souw Thian Hai itu. Apa
lagi dia mempunyai penyakit gila. Itulah sebabnya ketika Enci
Chu Bwee Hong jatuh cinta kepada Souw Thian Hai, kau
merasa girang luar biasa, sebab kau merasa seperti
mendapatkan wakil yang bisa kaupercayai untuk merawat
pemuda hebat seperti Saudara Souw Thian Hai itu. Sementara
itu kau sendiri sudah cocok dengan Saudara Kwee Tiong Li.
Sebab selain di dalam segala hal Saudara Kwee Tiong Li itu
tidak kalah dengan Saudara Souw Thian Hai, diapun juga
datang dari golongan terhormat, kaya dan berpangkat pula.
Apa lagi Saudara Kwee Tiong Li tidak gila seperti Saudara
Souw Thian Hai. Dan semua penilaianku ini sebenarnya juga
sudah tercermin di dalam pendapatmu sendiri. Bukankah Adik
Lian sendiri sudah mengibaratkan tentang kepergian mereka
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
itu? Kau mengibaratkan Saudara Souw Thian Hai sebagai bayi
yang diasuh oleh wanita lain, sementara kau menganggap
kepergian Saudara Kwee Tiong Li sebagai ibu yang kehilangan
anaknya. Dari perumpamaanmu itu saja sudah dapat ditarik
kesimpulan bahwa kau lebih merasa berat kehilangan Kwee
Tiong Li dari pada kehilangan Souw Thian Hai......" dengan
panjang lebar Kwa Siok Eng memberi petunjuk kepada Ho Pek
Lian.
Bagai terbuka rasanya hati Ho Pek Lian sekarang. Ternyata
persoalan tersebut sebenarnya tidaklah sesulit yang ia
rasakan. Hanya karena dia sendiri ikut terlibat di dalamnya,
maka dirinya seolah-olah menjadi buta dan tak bisa mengurai
persoalan tersebut dengan baik.
"Ohh, ci-ci...... lalu apa yang harus kukerjakan sekarang?"
gadis itu bertanya dengan suara sendu.
Kwa Siok Eng menghampiri Ho Pek Lian dan kemudian
duduk di samping gadis itu kembali. Dengan suara tenang
namun pasti Siok Eng berkata, "Tentu saja kau harus mencari
Saudara Kwee Tiong Li sampai dapat, lalu meminta maaf
kepada dia karena kau telah menyakiti hatinya."
"Mencarinya sampai dapat ? Ohhh....... Ci-ci, ba -
bagaimana kalau........ kalau ia sudah kawin dengan wanita
lain? Delapan tahun bukanlah waktu yang pendek, siapa tahu
kalau dia telah melupakan aku ?” Ho Pek Lian berdesah
hampir menangis, lalu menubruk ke atas pangkuan Kwa Siok
Eng.
Siok Eng menghela napas panjang. Matanya ikut berkacakaca
melihat penderitaan sahabat akrabnya itu.
"Adik Lian........ kau jangan buru-buru berputus asa dahulu.
Serahkanlah semuanya ini kepada Thian. Yang penting kau
harus berusaha, siapa tahu Thian masih menaruh belas
kasihan kepadamu? Namun demikian kalau Thian nanti
terpaksa menentukan lain, kaupun juga harus menerimanya
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
dengan hati lapang pula. Anggaplah semua cobaan itu sebagai
tebusan atas kesalahan-kesalahanmu di masa lalu........"
"Ci-ciii..........!" Ho pek Lian tak dapat menahan tangisnya.
Angin laut bertiup semakin kencang, mengawali pasangnya
air laut, tepat pada waktu tengah malam. Begitu kuatnya
hembusan angin tersebut sehingga mampu menerbangkan
pasir-pasir Iembut ke udara. Sekejap tempat itu menjadi gelap
oleh debu-debu pasir tersebut.
Namun demikian Chu Seng Kun tidak menjadi terhalang
pandangannya ketika dari arah Pendapa Utama mendatangi
dua sosok bayangan ke tempat itu.
"Berhenti ! Siapakah kalian.......?" pemuda ahli obat itu
menyapa.
Kedua sosok bayangan itu berhenti beberapa langkah di
depan gardu pemandangan, sehingga Chu Seng Kun dengan
tergesa-gesa menghampiri mereka.
"Oh, Tuan Chu rupanya.......! Inilah kami yang datang.
Kami berdua mau menjemput To-cu (Majikan Pulau) karena
waktu yang beliau janjikan telah tiba." kedua sosok bayangan
yang tidak lain adaIah kedua gadis pembantu Keh-sim Siauhiap
itu menjawab teguran Chu Seng Kun.
"Ahh....... nona berdua kiranya." Chu Seng Kun bernapas
lega, "Hmm, jadi pertemuan itu sudah akan dimulai ?
Tapi....... kenapa nona berdua malah datang kemari.......?
Apakah nona berdua mau memberi tahu kepada tamu-tamu
yang berada di luar pendapa ?"
Kedua gadis pembantu Keh-sim Siau-hiap itu saling
memandang satu sama lain. Tiba-tiba mereka menjadi curiga
ketika dalam gardu pemandangan itu muncul Kwa Siok Eng
dan Ho Pek Lian menghampiri mereka.
“Kami...... kami berdua mau menjemput To-cu kami. Eh,
kenapa cu-wi bertiga berada di sini ? Di sini tempat
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
terlarang......," dengan suara gemetar gadis-gadis itu
menjawab gemetar.
"Gerrriiit.......!” tiba-tiba terdengar suara daun pintu
terbuka di dalam gardu pemandangan itu.
Kwa Siok Eng dan Ho Pek Lian menjadi terkejut setengah
mati, sebab mereka tahu bahwa tidak ada pintu di dalam
gardu pemandangan tersebut. Bangunan itu cuma bangunan
kecil berukuran tiga kali tiga meter, dengan tembok di bagian
samping dan belakang saja. Sementara di dalamnya hanya
ada tumpukan batu-batu tebal memanjang, di mana di bagian
atasnya ditutup papan kayu tebal untuk alas duduk orangorang
yang ingin beristirahat di sana.
Empat sosok bayangan hitam tiba-tiba berdiri di tengahtengah
bangunan itu. Dua orang lelaki dan dua orang wanita.
Dan salah seorang dari ke empat bayangan itu segera
melangkah keluar dari dalam gardu pemandangan tersebut,
kemudian diikuti pula oleh ketiga sosok bayangan yang lain.
Meskipun udara sangat gelap, namun sinar bintang yang
berkelap-kelip di atas langit ternyata mampu juga menerangi
raut wajah mereka berempat.
"To-cu....... !" dua orang pembantu Keh-sim Siau-hiap tadi
segera berlari menyongsong bayangan yang pertama dan
berlutut di hadapannya. "Hari sudah tepat waktu tengah
malam. Para tamu sudah lama menantikan kedatangan Tocu."
mereka melapor.
Lelaki yang tak lain adalah Keh-sim Siau-hiap atau pemilik
Pulau Meng-to sendiri itu mengangguk. "Aku sudah siap.
Kalian berangkatlah lebih dahulu, nanti aku menyusul
bersama-sama sahabat-sahabatku ini !”
Dua orang gadis itu mengerutkan kening mereka.
Sebenarnya mereka agak curiga kepada orang-orang yang
berada di tempat terlarang itu. Tapi karena majikan mereka
telah mengatakan bahwa orang-orang itu adalah sahabatnya,
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
maka keduanya tidak berani berbuat apa-apa lagi. Keduanya
lantas pergi meninggalkan tempat itu.
Sementara itu Chu Seng Kun, Kwa Siok Eng dan Ho Pek
Lian seolah-olah menjadi patung saking kaget mereka melihat
siapa yang keluar dari gardu pemandangan itu. Meskipun tidak
begitu jelas, namun mereka semua takkan melupakan wajahwajah
yang telah lama mereka kenal itu.
“Kwee Tiong Li........ koko !” Ho Pek Lian menatap wajah
Keh-sim Siau-hiap seakan tak percaya, lalu tiba-tiba saja
tubuhnya telah menghambur ke dalam pelukan.
"Saudara Thian Hai......!" Chu Seng Kun menegur Ielaki
tinggi besar yang berada dibelakang Keh-sim Siau-hiap.
“Bwee Hong......! Lian Cu......! Kenapa kalian diam saja?”
Kwa Siok Eng berteriak dan segera menghambur memeluk
kedua wanita itu pula.
Jilid 43
DEMIKIANLAH, pertemuan itu sungguh-sungguh sebuah
pertemuan yang tak mereka sangka sebelumnya. Semuanya
benar-benar tak mengira bahwa Keh-sim Siau-hiap yang
tersohor dan amat terkenal di dunia persilatan itu adalah Kwee
Tiong Li, sahabat lama mereka sendiri (baca Darah Pendekar).
Sahabat lama yang telah delapan tahun tak pernah berjumpa.
Dan khusus bagi Ho Pek Lian, pertemuan itu sungguhsungguh
sangat membahagiakan hatinya. Rasanya ia bisa
mendapatkan kembali anaknya yang hilang itu. Dunianya yang
semula sepi itu tiba-tiba terasa ramai dan cerah kembali.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Lian-moi, aku dan Saudara Souw telah mendengar semua
pembicaraanmu tadi. Sungguh tak kusangka kaupun juga
menderita pula seperti aku......." Keh-sim Siau-hiap atau Kwee
Tiong Li berbisik di telinga Ho Pek Lian, kekasihnya.
Sekejap pipi gadis itu menjadi merah. Sekilas matanya
mengerling ke dalam gardu pemandangan itu. Tatkala
dilihatnya papan kayu tempat duduknya tadi kini telah
terbuka, gadis itu maklum apa yang telah terjadi.
"Tampaknya di bawah tempat duduk itu merupakan pintu
masuk ke ruangan di bawah tanah. Benarkah, ko-ko ?” gadis
itu bertanya.
"Benar. Tempat ini adalah tempat terlarang, karena tempat
ini adalah tempatku melakukan samadhi setiap harinya.
Kebetulan pula sejak sore tadi aku telah berada di sana
bersama saudara Souw Thian Hai, Chu Bwee Hong dan Souw
Lian Cu.....”
"Ohh.......kalian sungguh nakal. Mengapa kalian tidak lekaslekas
keluar menemui kami? Huh........ dasar tukang intip dan
mendengar omongan orang !" Ho Pek Lian pura-pura
mengomel, padahal sesungguhnya hatinya merasa malu
sekali. Malu sekaligus berbahagia !
Keh-sim Siau-hiap tersenyum pula. "Tapi kalau aku tadi
terus keluar, kami semua ini tentu takkan bisa mendengarkan
isi kesulitanmu itu. Dan tanpa mendengarkan pengakuanmu
yang tulus dan berterus terang tadi, kami semuapun tentu
masih akan tetap salah sangka terhadapmu, sehingga
pertemuan ini juga tidak akan dapat semeriah dan sebahagia
ini pula. Tanpa pengakuanmu tadi semuanya masih akan tetap
gelap dan ruwet.......... Bukankah demikian, sahabatsahabatku
?" pendekar itu berkata sambil menoleh ke arah
tamu-tamunya, terutama kepada Souw Lian Cu yang
kelihatannya baru saja selesai menangis.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Souw Thian Hai melirik ke arah puterinya sebentar, lalu
mengangguk-anggukkan kepalanya. Demikian pula yang
dilakukan oleh Chu Bwee Hong. Wanita ayu bekas isteri ketua
Bing kauw itu juga menatap wajah Souw Lian Cu sambil
menepuk-nepuk bahu gadis berlengan sebelah itu.
"Ayolah, Lian Cu.......! Tunjukkanlah kebesaran dan
keluhuran hatimu ! Bukankah kau tadi sudah mengatakan,
bahwa kau telah maklum dan sadar pula akan kekeliruanmu
selama ini, seperti halnya yang terjadi pada Ho Pek Lian, yang
sadar akan sikapnya yang kurang benar itu ?" katanya lembut
kepada gadis calon anak tirinya tersebut.
Souw Lian Cu tersenyum getir, namun demikian matanya
yang bulat dan indah itu menatap Chu Bwee Hong penuh
pengertian. SeteIah itu dengan dada tengadah gadis tersebut
melangkah maju menghampiri Keh-sim Siau-hiap dan Ho Pek
Lian.
"Apa yang telah dikatakan oleh Paman Tiong Li tadi
memang benar, Ci-ci Pek Lian...... Tanpa mendengar
pembicaraanmu dengan Ci-ci Siok Eng tadi, suasana tentu
belum akan sejernih sekarang ini. Semuanya tentu belum akan
menyadari kesalahannya. Dan masing-masing tentu juga
masih salah sangka terhadap yang lain. Alhasil, persoalan ini
masih akan tetap ruwet sepanjang masa.......” gadis itu
berkata dengan suara dalam seolah-olah tertahan di dalam
tenggorokannya.
"Ehh......Lian Cu, kau ? Mengapa kau ....kau berkata
demikian? Ada..... ada hubungan apa kau dengan masalah ini
?" Ho Pek Lian tersentak kaget, matanya menatap heran.
Souw Lian Cu menarik napas panjang untuk lebih
menenangkan hatinya, kemudian melangkah lagi semakin
dekat. Tangan yang tinggal sebelah itu mencengkeram lengan
Ho Pek Lian dengan eratnya. Mata yang merah bekas tangis
itu tampak basah kembali.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Ci-ci..... ternyata tidak cuma kau yang mengalami
kebingungan serta salah tafsir dalam masalah cinta itu!
Ternyata aku.......akupun telah mengalaminya pula seperti
halnya engkau. Keadaanku.......... serta persoalanku ternyata
persis seperti yang kau alami pula. Cuma bedanya, aku yang
masih sangat muda ini tidak dapat mengendalikan diri seperti
engkau. Aku masih terlalu kekanak-kanakan pikirankupun
belum dewasa. Untunglah semua yang telah kulakukan selama
ini belum sampai merugikanmu, atau merugikan Paman Tiong
Li. Baru aku sendirilah yang menanggung rugi akibat
kedangkalan pikiranku itu........."
Ho Pek Lian semakin merasa bingung dan tak mengerti.
Matanya menatap Kwee Tiong Li, Souw Thian Hai, Chu Bwee
Hong berganti-ganti. Tapi gadis itu semakin menjadi heran
menyaksikan orang-orang itu juga tercenung diam tak
bergerak di tempat masing-masing. Mereka semua seperti
deretan patung batu di keremangan malam.
"Ci-ci Pek Lian, ketahuilah......! Pada pertemuanku yang
pertama dengan Paman Tiong Li, aku juga merasa kasihan
melihat penderitaannya. Dan seperti juga yang terjadi di hati
ci-ci Pek Lian terhadap ayahku, rasa kasihan itu akhirnya juga
berkembang menjadi rasa....... rasa.......cinta pula. Padahal di
dalam hati aku sudah merasa bahwa langkahku itu telah
menyimpang dari angan-angan dan cita-citaku selama ini.
Akibatnya lalu terjadi pertentangan yang hebat di dalam diriku
sendiri. Dan pertentangan itu semakin memuncak tatkala
kuketahui bahwa Paman Tiong Li ternyata tidak mau
menyambut uluran tanganku itu. Akibatnya aku menjadi
marah karena malu. Aku merasa telah mengesampingkan
kepentingan dan cita-citaku sendiri, dan aku juga merasa telah
merendahkan diriku sendiri dengan mengasihani seorang lelaki
yang telah patut menjadi ayah atau pamanku sendiri. Tapi
semuanya itu ternyata tidak memperoleh tanggapan yang baik
dari orang itu. Oleh karena itu aku lantas menjadi benci
kepadanya ! Aku benci kepada laki-laki ! Aku benci kepada
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
semua orang.....! Maka ketika seorang pemuda lain hendak
mendekatiku, akupun lantas menghindarinya. Aku sudah tak
mau lagi berhubungan dengan lelaki, meskipun di dalam hati
sebenarnya aku menyukai pemuda itu......”
Souw Lian Cu berhenti sejenak untuk mengambil napas.
Kemudian sambil memandang ke arah Keh-sim Siau-hiap gadis
itu meneruskan kembali ceritanya. “....... Tetapi rasa benciku
itu ternyata semakin hari semakin luntur pula, dan akhirnya
aku kembali ke sini untuk menengok Paman Tiong Li.
Meskipun demikian rasa marah dan penasaranku masih tetap
belum mereda juga. Rasa marah dan rasa penasaran itu baru
lenyap setelah mendengar percakapan Ci-ci Pek Lian dengan
Ci-ci Siok Eng tadi. Seperti halnya Ci-ci Pek Lian, akupun
Iantas menjadi sadar pula akan kekeliruanku. Aku sebenarnya
tidak cinta kepada Paman Tiong Li, aku hanya merasa kasihan
saja melihat nasibnya. Sebenarnya aku hanya ingin
menghiburnya saja, sebab aku tak rela orang seperti Paman
Tiong Li menderita demikian hebatnya hanya karena patah
cinta........"
"Oooohh....... Lian Cu !” Ho Pek Lian menjerit lirih, lalu
merangkul gadis berlengan buntung itu.
Semuanya menghela napas lega, tak terkecuali pula ayah
Souw Lian Cu sendiri, Souw Thian Hai. Pendekar bernama
besar itu kelihatan mengangguk-anggukkan kepalanya,
sebagai tanda bahwa hatinya merasa puas dan bangga
terhadap kebesaran dan kelapangan hati puterinya itu.
"Ci-ci Pek Lian, maafkan aku...!” Souw Lian Cu berbisik di
telinga Ho Pek Lian.
"Tidak, Lian Cu...... kau sama sekali tidak bersalah ! Itu
sudah lumrah dan wajar bagi seorang gadis sebayamu ! Aku
malah kagum sekali kepadamu. Ternyata kau lebih terbuka,
dan lebih berani dalam hal ini dari pada aku. Semuda ini
usiamu, namun demikian ternyata kau sudah mempunyai
pemikiran yang dalam dan pertimbangan yang matang dalam
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
hal ini...... Dan..... eh, omong-omong siapakah pemuda yang
mencintaimu itu ? Apakah pemuda itu bernama Yang Kun,
yang berada di tepi pantai kemarin malam itu ?”
"Be-benar, Ci-ci........" Souw Lian Cu menjawab perlahan.
"Oh......... dia! Hmm ...... benar-benar pemuda yang hebat!
Aku sudah mengenalnya pula." tiba-tiba Keh-sim Siau-hiap
menyahut. “Malah hampir saja aku terjatuh di tangannya."
"Kau......? kau kalah melawannya?" Ho Pek Lian menatap
wajah kekasihnya seolah tak percaya.
“Kukira Saudara Kwee memang tidak berbohong, Nona Ho.
Akupun pernah terluka pula ketika berbaku hantam dengan
anak itu. Selain lwee-kangnya amat tinggi, pukulannya
mengandung racun pula........." Souw Thian Hai yang sejak
tadi belum membuka suara mendadak ikut menyahut pula.
Ho Pek Lian semakin terperanjat. Kemarin malam gadis itu
juga sudah menyaksikan kehebatan Chin Yang Kun, yaitu
ketika pemuda itu memukul patah pedangnya di tepi pantai
itu. Namun demikian gadis itu sungguh tak menyangka kalau
pemuda tersebut bisa menandingi Keh-sim Siau-hiap dan
Hong-gi-hiap Souw Thian Hai sedemikian rupa. Padahal gadis
itu sudah lama mengenal pemuda tersebut, yaitu sejak
pemuda itu dibawa oleh Kaisar Han ke istana beberapa tahun
yang lalu.
Melihat keheranan Ho Pek Lian, Chu Seng Kun segera
menyela, “Ah........ kukira tidak hanya Saudara Kwee dan
Saudara Souw saja yang pernah merasakan kuatnya pukulan
Saudara Yang Kun. Akupun pernah melihat Hek-eng-cu yang
lihai bukan main itu dibuat jatuh bangun oleh pemuda itu......”
"Hek-eng-cu.....?. Dia dibuat tak berdaya oleh Yang Kun?"
tanpa terasa Kwa Siok Eng, Chu Bwee Hong dan Ho Pek Lian
berdesah tak percaya.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Begitulah........! Padahal pada waktu itu Hek-eng-cu ada
bersama dengan........ kakak dari Siok Eng sendiri, yaitu Songbun-
kwi Kwa Sun Tek." Chu Seng Kun mengiyakan seraya
melirik tunangannya.
Demikianlah, mereka berbicara tentang Chin Yang Kun,
tanpa mereka ketahui sama sekali bahwa pada saat itu
pemuda tersebut sedang memeras keringat beradu tenaga
dengan Hek-eng-cu pula !
Tanpa memegang senjata yang dapat ia pakai sebagai
perisai untuk menahan sabetan-sabetan pisau beracun itu,
Chin Yang Kun semakin tak berdaya menghadapi kecepatan
gerak lawannya. Untunglah dengan Kim-coa-ih-hoatnya yang
mempunyai gerakan-gerakan aneh di luar kewajaran manusia
itu Chin Yang Kun mampu bertahan serta meloloskan diri
setiap menemui jalan buntu.
"Setan! Iblisss........! Kau ini manusia atau hantu, hah?
Gila........! Ilmu apa sebenarnya ini?" beberapa kali Hek-engcu
mengumpat dengan suara agak takut-takut setiap kali
pemuda itu melakukan gerakan-gerakan yang tak masuk akal.
Sebenarnya apabila diperbandingkan ilmu kepandaian
mereka, Chin Yang Kun agak lebih unggul dari pada Hek-engcu.
Setelah sehari lamanya mereka bertempur, ternyata Pathong-
sin-kang yang sangat dibangga-banggakan oleh Hekeng-
cu itu benar-benar tak mampu mengimbangi kedahsyatan
Liong-cu-i-kangnya Chin Yang Kun. Begitu pula dengan Kimliong
Sin-kun dan Pat-hong Sin-ciang. Ilmu silat yang dulu
sangat disegani orang itu kini ternyata juga tak mampu
menaklukkan Kim-coa-ih-hoat pula.
Satu-satunya keunggulan Hek-eng-cu hanyalah ginkangnya
yang maha hebat itu! Apa lagi keunggulan tersebut
ditunjang pula dengan sepasang pisau pusaka beracun itu.
Maka tak mengherankan kalau Chin Yang Kun lantas menjadi
terdesak karenanya, bagaimanapun hebatnya Iweekang dan
ilmu silat Chin Yang Kun, tapi menghadapi lawan yang dengan
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
gerakannya seolah-olah bisa menghilang dari pandangan itu,
tentu saja sedikit keunggulannya itu seperti menjadi tak
berguna lagi. Apalagi orang yang hampir tak bisa dilihat
bentuknya itu membawa sebuah pusaka yang ampuh dan
berbahaya pula.
Alhasil, pertempuran itu memang terasa sangat berat dan
melelahkan bagi mereka berdua. Dengan Bu-eng Hwe-tengnya
Hek-eng-cu memang mampu mendesak dan menghujani
lawannya dengan sabetan-sabetan pisaunya. Namun demikian
dengan memeras tenaga dan keringat ternyata Chin Yang Kun
masih dapat juga melindungi dirinya pula, sehingga rasarasanya
pertempuran itu takkan selesai-selesai meskipun
sampai pagi hari nanti. Memang, telah beberapa kali Chin
Yang Kun kecolongan serta tak mampu menangkis pisau Hekeng-
cu. Namun dengan mantel pusaka yang dipakainya,
pemuda itu berhasil lolos dari kematian. Atau pula, kalau
pemuda itu sudah benar-benar terpojok, ia lalu mengobral
pukulan dengan seluruh kekuatan Iweekangnya! Biarpun
sangat melelahkan serta menguras tenaganya, tapi dengan
demikian pemuda itu dapat memaksa lawannya untuk
mengundurkan desakannya.
"Wah, pemuda itu memang hebat bukan main ! Usianya
masih muda, tapi Iweekangnya ternyata benar-benar sudah
mencapai tingkat kesempurnaan. Dan Iweekangku yang telah
kuhimpun dengan susah payah selama puluhan tahun inipun
agaknya juga belum bisa menandinginya pula.
Hmmm........sungguh tidak masuk akal !” Lo-si-ong yang buta
itu menggeleng-gelengkan kepalanya seraya berdecak kagum.
Dengan cepat Tiau Li Ing memandang orang tua itu.
"Tapi....... menurut suara yang terdengar berkumandang tadi,
kepandaian kakek masih tetap lebih tinggi bila dibandingkan
dengan mereka berdua itu? Suara itu tadi mengatakan bahwa
kakek berada di urutan yang ke enam bersama Kam Lo-jin,
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
sementara Hek-eng-cu dan Chin Yang Kun itu berada di
urutan yang ketujuh.” Gadis itu menyela.
Lo-si-ong tersenyum. “Memang benar......tapi
keunggulanku itu sebenarnya juga tidak terpaut terlalu banyak
dengan mereka itu. Apalagi kalau dibandingkan dengan
kepandaian Hek-eng-cu. Aku hanya mempunyai kelebihan
sedikit dari pada dia, yaitu ilmu melontarkan senjata rahasia.
Gin-kangnya yang hebat itu hampir tak ada gunanya
menghadapi lontaran senjata rahasiaku.......” bekas ketua
Aliran Im-yang-kauw itu menerangkan.
“Oh.......!” Tiau Li Ing berdesah dengan suara gemetar.
Di dalam hati gadis itu semakin merasa kecil dan lemah di
hadapan jago-jago silat berkepandaian tinggi itu. Diam-diam
gadis itu menyesali sikapnya yang sombong dan pongah
selama ini. Dia yang merasa tak terkalahkan di kalangan para
perompak anak buah ayahnya itu, kini ternyata seperti seekor
anak ayam yang lemah begitu berada di daratan Tiongkok.
Setiap saat gadis itu merasa selalu bertemu dengan jago silat
berkepandaian tinggi, lebih tinggi dari pada kepandaian
ayahnya malah!
“Prraaaaaang !!!”
Tiba-tiba Tiau Li Ing dikejutkan oleh suara gemerincing
senjata yang terjatuh di depannya. Dan ketika gadis itu
memperhatikan senjata itu hatinya menjadi kaget sekali!
Beberapa langkah di depannya tergeletak sebilah golok
bersinar kuning keemasan! Dan gadis itu tidak akan lupa
kepada golok itu, karena golok itu adalah golok pusaka
kebanggaan ayahnya selama ini! Golok mustika yang bisa
mematahkan besi baja!
Dan sebelum gadis itu sempat berteriak atau mengambil
suara, mendadak di angkasa terdengar lagi suara Si Penyanyi
Sinting itu!
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
“Lo-si-ong.....! Pisahkanlah dahulu perkelahian mereka !
Lambat laun Lo-hu merasa perkelahian ini tidak adil. Yang
satu hanya bertangan kosong, sementara yang lain malah
membawa dua buah senjata. Kauberikanlah golok di depanmu
itu kepada....... Chin Yang Kun agar pertempuran ini menjadi
adil!”
Kakek buta itu tampak tersentak kaget mendengar suara
gurunya. Tapi sekejap kemudian tangannya telah terulur ke
arah golok mustika itu untuk melakukan perintah gurunya
tersebut. Dan tanpa bisa diketahui bagaimana caranya, tibatiba
saja dari dalam lobang lengan bajunya yang lebar,
meluncur seutas tali kecil panjang, membelit gagang golok
tersebut. Dan kemudian seperti seorang pemain sulap saja,
golok tersebut sudah berpindah ke tangannya. Semua gerakan
itu berlangsung dengan cepatnya, sehingga sepintas lalu golok
tersebut bagaikan terbang sendiri ke tangan kakek Lo-si-ong
itu.
"Berhenti !” kemudian orang tua itu berseru ke arah
pertempuran.
Dan sebelum gema suaranya hilang, kakek itu sudah
menggenggam duapuluh batang paku besi di masing-masing
telapak tangannya. Lalu sambil mengerahkan Iweekangnya,
kakek itu mengayunkan tangannya empat kali berturut-turut
secara bergantian. Dan sebentar kemudian delapan kelompok
paku, yang masing-masing terdiri dari lima batang melesat ke
arena pertempuran, membentuk gambar bunga teratai yang
berdaun bunga delapan lembar.
Dan sampai dengan satu tombak jauhnya dari arena
pertempuran, paku-paku tersebut masih tetap juga
membentuk daun bunga teratai. Tapi setelah satu tombak
jauhnya dari arena pertempuran, paku-paku itu berguguran
satu persatu, bertebaran menyerang ke arah Chin Yang Kun
dan Hek-eng-cu bagaikan derasnya titik-titik hujan.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Tentu saja kedua orang yang sedang terlibat dalam
pertempuran itu menjadi kaget setengah mati ! Terutama bagi
Chin Yang Kun yang secara kebetulan sedang membelakangi
paku-paku itu. Apalagi saat itu pisau Hek-eng-cu juga sedang
menusuk ke arah dadanya.
"Kurang ajar.......!" Chin Yang Kun yang mendapat
serangan dari muka dan belakang itu mengumpat marah.
Karena sebagian besar dari paku-paku itu menyerang ke
arah dirinya, maka tiada pilihan lain bagi Chin Yang Kun selain
mengebutkan mantel pusaka yang dipakainya itu ke belakang,
yaitu untuk menangkis atau meruntuhkan paku-paku tersebut.
Dan bersamaan dengan itu pula kakinya melangkah ke
samping untuk menghindari tusukan pisau Hek-eng-cu yang
mengarah ke dadanya.
Sementara itu beberapa buah paku yang lain juga
menyerang ke arah dada dan muka Hek-eng-cu pula. Tapi
dengan tenang serta penuh keyakinan diri, iblis berkerudung
itu menyongsongnya dengan pisaunya yang lain. "Traaaang !"
Begitulah, pada saat yang bersamaan paku-paku itu
ditangkis oleh Chin Yang Kun dan Hek-eng-cu dengan kebutan
mantel dan pisau mereka. Dan seperti tanpa kekuatan sama
sekali, paku-paku itu segera terpental dengan mudahnya.
Tetapi betapa terperanjatnya kedua orang itu tatkala pakupaku
yang terpental tersebut tiba-tiba meliuk kembali ke arah
mereka, seperti layaknya senjata bumerang yang tidak
mengenai sasaran. Dan yang amat mengejutkan, paku-paku
itu ternyata justru melaju lebih cepat daripada tadi.
"Gila! Ilmu melempar senjata rahasia macam apa ini, hah?"
Hek-eng-cu memekik keras seraya berjumpalitan ke belakang
untuk menghindarkan diri.
Begitu pula halnya dengan Chin Yang Kun! Dengan sekuat
tenaga pemuda itu terpaksa melemparkan dirinya ke atas
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
tanah untuk meloloskan diri dari sergapan paku-paku yang
bergerak seperti setan itu.
Demikianlah, paku-paku itu meluncur terus tanpa mengenai
sasarannya. Namun demikian maksud Lo-si-ong untuk
memisahkan perkelahian mereka ternyata telah berhasil.
"Nah, anak muda........! Terimalah golok pusaka ini, agar
kau bisa melawan musuhmu itu !" orang tua itu kemudian
berteriak sambil melemparkan golok pemberian Si Penyanyi
Sinting tadi.
Chin Yang Kun menatap Lo-si-ong dengan air muka kurang
senang, namun demikian golok pusaka itu diterimanya juga.
Sebaliknya Hek-eng-cu semakin merasa kesal serta jengkel
kepada orang tua itu. Selain merasa telah diganggu
perkelahiannya, Hek-eng-cu juga merasa marah karena
lawannya kini telah memegang senjata pula seperti dirinya.
"Hmmh, bangsat tua yang mau mampus! Tunggulah !
Selesai membereskan bocah ini akan kubereskan pula
nyawamu!" iblis itu berteriak menggeledek.
"Apa.........? Mau membereskan nyawaku? Oh-ho-ho ho
ho........!" Lo-si-ong tertawa terkekeh-kekeh, "Boleh........
boleh ! Tapi....... bereskanlah dulu lawanmu itu, ho-ho-ho...!"
“Baiklah! Kalian saksikan saja, golok itu tidak akan banyak
berarti di tangan bocah pandir itu ! Dia tetap akan kubereskan
dalam waktu singkat !" Hek-eng-cu tetap saja bersuara besar.
"Kurang ajar ! Sombong benar .......!” Chin Yang Kun
menggeram marah.
Kemudian tanpa memberi peringatan lagi pemuda itu
menerjang dengan golok pusakanya. Sambil melompat golok
itu mula-mula diayun dari atas ke bawah, seakan-akan golok
itu mau membelah tubuh Hek-eng-cu menjadi dua bagian
yang sama besar. Dan disebabkan karena kemarahannya pula
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
pemuda itu sengaja mengerahkan seluruh kekuatannya yang
maha dahsyat !
"Whuuuuus .......!”
Seketika tubuh Hek-eng-cu bagaikan membeku karena
terhembus oleh udara dingin yang keluar dari golok pusaka
itu! Begitu dingin rasanya, sehingga iblis berkerudung itu
seperti diguyur dengan air es yang keluar dari ujung golok
pusaka itu !
Tentu saja Hek-eng-cu terperanjat ! Dia yang selama ini
juga mempelajari tenaga dalam yang bersifat dingin ternyata
masih tetap merasa menggigil juga oleh hawa yang terpancar
dari golok pusaka tersebut.
"Bangsat ! Bocah ini tampaknya mendapatkan sebuah
senjata yang amat cocok dengan ilmunya ! Sungguh golok
mustika yang tiada duanya...! Aku harus berhati-hati
menghadapinya." iblis itu berkata di dalam hatinya.
"Traaaang !”
Bunga api berpijar menerangi arena pertempuran ketika
Hek-eng-cu menangkis golok itu dengan sepasang pisaunya.
Dan masing-masing segera meloncat mundur untuk
memeriksa senjatanya. Dan begitu melihat senjata tersebut
masih utuh serta tidak kurang suatu apa, maka mereka
berdua lantas maju bergebrak kembali.
Begitulah, sebuah pertempuran yang sangat dahsyat
kembali berlangsung pula di dalam lembah yang sunyi itu.
Masing-masing berusaha dengan sekuat tenaganya untuk
cepat-cepat mengalahkan lawannya. Dan karena masingmasing
kini memegang senjata pusaka, apalagi keduanya
mempunyai ilmu silat yang seimbang, maka pertempuran itu
benar-benar sulit untuk diduga kesudahannya. Paling-paling
keduanya tentu akan berusaha dengan sekuat tenaga untuk
memanfaatkan kelebihan mereka untuk mendepak atau
menindih kekurangan lawannya.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Hek-eng-cu semakin meningkatkan ginkangnya. Tubuhnya
berkelebat dan berputaran dengan cepatnya seperti balingbaling,
sehingga Chin Yang Kun terpaksa harus mengerahkan
seluruh tenaga sakti Liong-cu-i-kangnya untuk bertahan.
Pemuda itu memutar golok mustikanya di sekeliling tubuhnya,
untuk membendung serangan pisau lawannya. Kemudian
sekali waktu, kalau ada kesempatan pemuda itu balas
menyerang dengan tidak kalah dahsyatnya.
DemikianIah, begitu dahsyatnya pertempuran sehingga tak
terasa embun pagi telah turun membasahi mereka. Sinar
cerah kemerahan telah mulai menyibak di langit sebelah timur
lembah itu. Hari telah mulai menjelang fajar.
"Kek, lihatlah ........fajar sudah mulai menyingsing ! Ohh,
lama benar pertempuran mereka. Belum pernah aku melihat
pertempuran seperti ini......” Tiau Li Ing tiba-tiba berseru
sambil mengangkat jari telunjuknya ke arah langit.
“Ya, cucuku........! Kedua orang itu memang boleh
dikatakan mempunyai kesaktian yang seimbang. Itulah
sebabnya mereka berdua sama-sama menduduki urutan yang
ketujuh di dalam Buku Rahasia itu. Mereka itu mempunyai
kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Coba,
kaulihatlah yang lebih baik......! Hek-eng-cu mempunyai ginkang
yang lebih tinggi, bukan? Namun demikian sulit juga
baginya untuk mendesak Chin Yang Kun, karena lweekangnya
ternyata masih kalah jauh dengan pemuda itu. Padahal ilmu
silat mereka boleh dikatakan seimbang, kalau tidak lebih tinggi
si pemuda itu malah! Kalau tadi Hek-eng-cu bisa menang di
atas angin, hal itu disebabkan oleh karena Chin Yang Kun tak
bersenjata. Untunglah pemuda itu tadi memakai tutup mantel
pada tubuhnya, kalau tidak.......dia bisa kalah! Dan
sekarang......mereka sama-sama bersenjata, sementara Chin
Yang Kun malah mempunyai kelebihan sedikit yaitu......mantel
pusaka itu!” kakek Lo-si-ong memberi penjelasan panjang
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
lebar, seolah-olah orang tua itu bisa menyaksikan
pertempuran tersebut dengan jelas.
"Jadi.......?"
Kakek Lo-si-ong tersenyum lebar. “Kau tidak usah gelisah,
cucuku.......! Pertempuran ini akan segera selesai. Bukankah
sudah kukatakan semuanya tentang mereka itu.......? Kau
harus bisa menebak pula, bagaimana akhir dari pertempuran
ini........"
"Ohh .......!”
Benar juga, sejalan dengan semakin susutnya tenaga
mereka masing-masing, maka semakin tampak pulalah selisih
perimbangan kemampuan mereka. Kelelahan yang diakibatkan
oleh pertempuran yang berkepanjangan itu membuat Hekeng-
cu seolah-olah kehabisan napas. Gerakannya tidak
selincah dan segesit tadi. Berbeda dengan Chin Yang Kun.
Meskipun pemuda itu juga tampak lelah, namun tenaga
dalamnya yang hebat itu ternyata masih tetap membuatnya
kokoh dan bersemangat. Angin pukulan yang keluar dari
tangan pemuda itu masih tetap juga menderu-deru seperti
sedia-kala, seolah-olah sumber tenaga Liong-cu-i-kangnya itu
tidak pernah habis atau kering.
Maka dari itu jalan pertempuran merekapun segera menjadi
berat sebelah. Hek-eng-cu yang sudah semakin kehabisan
tenaga itu sudah tidak dapat memainkan Bu-eng Hwe-tengnya
dengan lincah lagi. Akibatnya semua gerakan-gerakannya
dengan cepat bisa dicegat dan dibuat kalang kabut oleh Chin
Yang Kun yang masih segar dan bersemangat itu. Malahan
beberapa saat kemudian golok pusaka di tangan Chin Yang
Kun itu sudah mulai menggores dan melukai kulit Hek-eng-cu
pula.
Iblis berkerudung itu mulai mengumpat-umpat karena
ketakutan. Tapi ia sudah tidak bisa berbuat banyak lagi. Tanpa
mantel pusaka di tubuhnya iblis itu tidak bisa berlindung lagi
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
dari amukan golok Chin Yang Kun. Dan akibatnya semakin
banyak pula luka yang tergores pada tubuh iblis berkerudung
itu !
Akhirnya, iblis yang selalu merasa tidak akan terkalahkan
itu, yang selama ini selalu bertindak kejam, ganas dan tidak
berperikemanusiaan itu, menjadi hancur keangkuhan dan
kesombongannya ! Iblis keji itu mulai merintih dan menjeritjerit
ketakutan! Lenyap sudah semua kegarangan dan
kebiadabannya selama ini! Kini iblis yang menakutkan itu tak
ubahnya seekor babi yang menguik-nguik ketakutan ketika
dibawa ke tempat penjagalan.
"Ingat, Yang Kun ! Bila kau membunuh aku, kau akan
menanggung dosa yang besar. Kau akan dikutuk keluarga
kita, karena kau teIah membunuh aku !” Hek-eng-cu berteriak
dengan suara gemetar.
“Persetan! Kaupun telah membunuh ayah dan pamanku!
Apa bedanya itu?” Chin Yang Kun balas berteriak.
“Tapi.......kau belum tahu, siapa aku ini sebenarnya! Kalau
kau sudah tahu.....kau benar-benar akan menyesal setengah
mati nanti!” Hek-eng-cu sekali lagi berusaha untuk
melemahkan hati Chin Yang Kun.
Golok yang hampir mengenai punggung Hek-eng-cu itu
mendadak berhenti di tengah jalan. Perkataan yang diucapkan
Hek-eng-cu itu sungguh-sungguh mengena di hati Chin Yang
Kun. Perkataan itu segera mengingatkan Chin Yang Kun pada
kata-kata kakek pengasuhnya tadi siang.
“Kurang ajar......! ayoh, bukalah kedokmu itu! Siapakah
sebenarnya kau ini? Pengecut.....!” dalam kemarahannya Chin
Yang Kun berteriak, lalu meneruskan serangannya kembali.
Tapi kesempatan yang hanya sesaat itu telah dipergunakan
dengan baik oleh Hek-eng-cu. Sambil menahan rasa sakit
yang diakibatkan oleh luka-lukanya, iblis itu telah meloncat
menghindarkan diri. Namun ketika iblis berkerudung itu
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
berusaha untuk melarikan diri, Chin Yang Kun segera
melompat mencegatnya.
Traaaaaang......!
Sekali lagi golok dan pisau itu saling beradu di udara.
Namun sekarang akibatnya sungguh lain. Kalau semula tenaga
mereka masih boleh dikatakan seimbang, kini Hek-eng-cu
terpaksa harus terbanting dan jatuh tunggang langgang
karena terdorong oleh kekuatan Chin Yang Kun! Itupun
ternyata belum menjamin keselamatan Hek-eng-cu pula.
Karena begitu iblis itu terpental jatuh, Chin Yang Kun segera
mengejar lagi dengan sabetan goloknya.
“Aaaaah.........!” iblis berkerudung itu menjerit setinggi
langit.
Chin Yang Kun cepat-cepat melompat mundur kembali
untuk menghindari percikan darah segar yang menyembur
dari lengan Hek-eng-cu. Dan iblis berkerudung itu sendiri
tampak terhuyung-huyung sambil mendekap lengan kirinya
yang putus akibat golok Chin Yang Kun tadi.
“Bangsat kurang ajar! Anak durhaka.....ohh!” Hek-eng-cu
mengumpat dan merintih dengan suara tak jelas.
Tapi suara itu cukup untuk didengar oleh Chin Yang Kun.
“Anak durhaka? He-he-he.....pembunuh keji, sungguh
menggelikan sekali ucapanmu itu. Huh! Apakau kau sudah
lupa lagi pada ucapanmu sendiri tentang arti perkataan
“durhaka” itu, heh?” pemuda itu mengejek.
“Bangsaaat.......!” Hek-eng-cu yang diingatkan pada
ucapannya sendiri itu berteriak marah.
Kemudian tanpa menghiraukan lagi pada luka-lukanya, iblis
berkerudung itu menerjang Chin Yang Kun dengan pisaunya.
Tapi karena gerakan iblis keji itu sudah tidak tangkas dan gesit
lagi, maka dengan mudah Chin Yang Kun mengelakkannya.
Pemuda itu berputar ke kiri untuk kemudian menyerang lagi
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
dengan ujung goloknya ke arah pinggang Hek-eng-cu! Kali ini
Chin Yang Kun benar-benar ingin menghabisi lawannya!
Tampaknya iblis berkerudung itu sudah berputus asa pula.
Dengan nekad iblis itu memutar tubuhnya, dan dibiarkannya
saja golok Chin yang Kun itu menabas ke arah pinggangnya.
Dan pada saat itu juga, pisau yang masih terpegang di tangan
kanan iblis itu melesat menyambar tenggorokan Chin Yang
Kun.
“Wusssss.......!”
“Croooooot !”
Chin Yang Kun menundukkan kepalanya, dan pisau itu
melayang di atas ubun-ubunnya dan berbareng dengan itu
goloknya dengan tepat menabas pinggang Hek-eng-cu!
Bagaikan sapi disembelih tubuh iblis berkerudung itu
menggeliat, kemudian jatuh berdebam di atas tanah. Pinggang
itu menganga hampir putus!
Namun demikian ketika Chin Yang Kun mendekat untuk
membuka kerudung hitam itu. Tiba-tiba Hek-eng-cu bergerak
untuk bangkit kembali. Dan.......dengan susah payah iblis itu
akhirnya bisa berdiri juga. Tapi karena perutnya sudah terbuka
dan pinggangnya hampir putus, maka iblis itu tak dpat berdiri
tegak lagi. Dengan darah yang mengucur dari luka-lukanya,
iblis itu bertelekan pada lututnya.
"Kakek........!” Tiau Li Ing yang telah biasa membunuh
orang itu menjerit kecil dan membuang muka karena tak
tahan melihat pemandangan itu.
Lo-si-ong merangkul pundak Tiau Li Ing. Orang tua itu juga
menggeleng-gelengkan kepalanya. "Bukan main ......!
Sungguh hebat sekali daya tahannya !" desahnya seolah tak
percaya.
Jikalau orang lain saja sampai merasa heran menyaksikan
daya tahan yang sangat mentakjubkan itu, apalagi Chin Yang
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Kun yang langsung berhadapan sendiri dengan iblis itu.
Pemuda itu hampir-hampir tak mempercayai matanya lagi
melihat Hek-eng-cu yang putus lengannya dan terbuka isi
perutnya itu masih hidup. Masih mampu berdiri pula malah!
Tak terasa Chin Yang Kun melangkah mundur perlahanlahan
saking tegangnya. Tapi langkahnya segera terhenti
begitu mendengar suara geram Hek-eng-cu. Dan pemuda itu
lantas berdiri tegak seperti patung, dengan perasaan yang
semakin menjadi tegang dan.....heran!
Tiba-tiba pemuda itu melihat atau merasakan adanya suatu
perubahan dalam sikap lawannya yang hampir mati itu.
Meskipun tidak bisa melihat wajah yang tertutup oleh
kerudung hitam itu, namun Chin Yang Kun seperti melihat
adanya sinar kedamaian yang memancar keluar dengan
kuatnya, seolah-olah mau mengusir kabut kejahatan yang
selama ini selalu membungkus jiwa Hek-eng-cu!
Mendadak pemuda itu seperti melihat kembali wajah
Paman Bungsunya yang telah meninggal dunia itu !
"Aaaaah........!" Chin Yang Kun berdesah seraya menatap
lawannya itu dengan tajamnya.
"Yang .......Yang Kun ! Kemarilah........! A a-a-aku hendak
membisikkan sesuatu kepadamu. Kau....... kau datanglah
kemari !" Hek-eng-cu tiba-tiba membuka mulutnya.
Tiada lagi nada permusuhan di dalam suara itu. Dan tiada
lagi hawa kejahatan yang menyelubungi manusia yang hendak
pergi meninggalkan kehidupan dunia itu. Namun demikian
Chin Yang Kun masih curiga dan tak mau melakukan perintah
lawannya yang mau mati itu.
“Anakku....! cepatlah kemari! Aku ingin meninggalkan
pesan kepadamu! Jangan takut! Aku sudah tak bisa berbuat
apa-apa lagi. Sebentar lagi aku akan mati. Dan aku tak ingin
menambah bebanku dengan dosa yang lebih besar lagi. Oooh,
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Yang Kun......anakku, cepatlah.....!” Hek-eng-cu merintih
dengan suara yang semakin lirih.
“Huh, iblis keji! Kau telah membunuh seluruh keluargaku!
Kini dalam keadaan sekaratpun kau masih menunjukkan
kekejamanmu! Hmm, jangan harap aku akan termakan oleh
tipu dayamu ini......” Chin Yang Kun menggeram.
"Tapi....... tapi....... aku benar-benar hendak meninggalkan
pesan kepadamu. Aku benar-benar tak bermaksud jelek, apa
lagi hendak memperdayai engkau....... Yang Kun, lihat!
Lihatlah, siapa aku...........!"
Hek-eng-cu cepat menarik kerudung hitamnya. Dan karena
tangannya satu-satunya yang dipakai untuk menopang
tubuhnya itu dipakai untuk membuka kerudung, maka
tubuhnya yang mandi darah itu pun lantas tersungkur ke
depan. Namun demikian wajahnya yang putih pucat itu sudah
dapat dilihat oleh Chin Yang Kun. "Paman Bungsu........!?!”
tiba-tiba Chin Yang Kun menjerit sekeras-kerasnya.
Kemudian tanpa memikirkan keselamatannya lagi, Chin
Yang Kun melompat dan menubruk paman bungsunya itu.
Golok yang dipegangnya dibuang begitu saja, dan kepala Hekeng-
cu atau paman bungsunya itu didekap serta dipeluknya
sambil mencucurkan air mata.
"Bun su-siok (Paman Bun)........ oh, benarkah engkau Bun
su-siok? Bukankah Bun su-siok telah meninggal dunia?"
seperti orang yang tak waras Chin Yang Kun memeluk dan
mengguncang-guncang tubuh Hek-eng-cu yang basah dengan
darah itu.
"Kau....... kau tidak salah lihat, anakku...... Aku memang
benar paman bungsumu. Aku..... aku memang tidak mati pada
waktu itu. Semuanya itu hanya sandiwara belaka, agar aku
bisa terlepas dari lingkungan keluarga Chin. Dan hal itu telah
kurencanakan dengan matang bersama pamanmu Wan It,"
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Hek-eng-cu menjawab dengan suara yang masih tetap jelas
dan terang.
“Ohh.......... tapi mengapa........ mengapa paman berbuat
demikian? Dan....... dan kenapa paman juga tega membunuh
ayah serta Kong su-siok (paman Kong)?"
"Inilah yang hendak kuutarakan kepadamu, anakku.
Sekarang cobalah kaukeluarkan dulu bungkusan kain yang
terikat di punggungku ini, kemudian kau bukalah!” Hek-eng-cu
memberi perintah.
Tanpa membantah lagi Chin Yang Kun segera mengambil
bungkusan yang dimaksudkan itu. Tapi pemuda itu segera
mengkerutkan dahinya begitu melihat beberapa buah buku
kumal di dalamnya. Buku itu terbuat dari lembaran-lembaran
kain sutera yang dijilid menjadi satu, dan sudah berlobanglobang
saking tuanya. Dan ketika pemuda itu membaca
tulisan-tulisan yang tertera di sampulnya, seketika menjadi
kaget.
"Kim-liong Sin-kun.......Bu-eng Hwe-teng........ Pat hong
Sin-ciang ! Eh....... bukankah buku-buku ini peninggalan Bitbo-
ong almarhum?"
Tubuh Hek-eng-cu tampak menggeletar menahan sakit,
namun tak sepatah katapun suara rintihan terdengar dari
bibirnya.
"Benar, anakku......... Buku ini memang benda peninggalan
almarhum Bit-bo-ong. Dan buku ini kudapatkan secara licik
dari tangan Hong-gi-hiap Souw Thian Hai beberapa tahun
yang lalu. Nah, anakku......... kuminta dengan sangat
kepadamu, kembalikanlah buku-buku ini kepada Hong-gihiap
Souw Thian Hai! Atau........kalau engkau tidak bisa
melakukannya, hmm.......lebih baik kaumusnahkan saja, agar
tidak terjatuh ke tangan orang lain! Jangan sekali-kali
kaumiliki ataupun kau pelajari isinya, sebab hal itu benarbenar
sangat berbahaya! Ilmu yang tertulis di dalam bukuTiraikasih
Website http://kangzusi.com/
buku ini tampaknya memang diciptakan oleh seorang manusia
iblis, sehingga ilmu yang dahsyat itupun seolah-olah
mempunyai pengaruh buruk, kotor dan jahat terhadap siapa
saja yang mempelajarinya.”
Chin Yang Kun mencoba membuka beberapa halaman dari
buku-buku itu. Semuanya tampak biasa dan tak ada
keistimewaannya. Hanya suatu hal yang membuat kening Chin
Yang Kun berkerut, yaitu dilihatnya beberapa halaman terakhir
pada setiap buku itu telah hilang tersobek. Dan pada setiap
buku itu, yaitu pada halaman terakhir yang tersisa, tentu
tertulis kata-kata :
HALAMAN SELANJUTNYA TELAH DIMUSNAHKAN KARENA
SANGAT BERBAHAYA !
TERTANDA HOA-SAN LO-JIN
Tampaknya Hek-eng-cu juga dapat membaca pikiran Chin
Yang Kun. Tetapi karena sudah tidak punya banyak waktu
lagi, maka iblis yang pada saat-saat terakhirnya telah
menyadari kesalahannya kembali itu tidak bertanya lebih
lanjut. Sebaliknya iblis itu malah meneruskan kata-katanya.
“Yang Kun, anakku.....! Ketahuilah! Sebelumnya sudah
kauketahui pula, bahwa sifat dan watak pamanmu ini tidak
demikian jahat, kejam serta angkara murka, bukan......? Tapi
semenjak berhubungan dengan Hek-mou-sai Wan It dan
kemudian mempelajari ilmu-ilmu peninggalan Bit-bo-ong, aku
lantas menjadi berubah pikiran. Watakku juga berubah. Aku
lantas ingin menguasai dunia. Aku ingin semua orang tunduk
dan menuruti segala kemauanku. Aku menjadi kejam, serakah
dan senang melihat penderitaan orang lain. Dan karena tak
seorangpun bisa mengalahkan aku, maka akupun lantas
semakin lupa daratan. Aku ingin berkuasa di Tiongkok. Aku
ingin merebut kembali singgasana kerajaan yang telah
dikuasai oleh Liu Pang itu. Tapi ternyata masih ada sedikit
ganjalan untuk melaksanakan cita-cita keinginanku itu.
Sebagai saudara termuda di dalam keluarga Chin, aku tentu
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
tak berhak untuk menduduki singgasana apabila perjuanganku
itu nanti berhasil."
"Dan....... oleh sebab itu paman lalu membunuh ayah serta
Kong-siok (Paman Kong)?”
Hek-eng-cu berusaha untuk menggelengkan kepalanya,
tapi tidak bisa lagi. Sebaliknya mulutnya malah meringis dan
mendesis menahan rasa sakit yang tiba-tiba menyerang
seluruh tubuhnya. Dan karena otot-ototnya menegang, maka
darahpun segera mengucur semakin deras dari luka-lukanya.
Sehingga sekejap saja wajah yang pucat itu semakin menjadi
putih pula seperti kapas.
"Yang Kun........ uuuuuh........! Semula aku tidak bermaksud
membunuh kakak-kakakku itu. Aku ingin berjuang sendiri
tanpa melibatkan semua keluarga Chin. Untuk itu aku dan
Hek-mou-sai Wan It lalu membuat sandiwara "kematianku”
itu. Aku berpura-pura mati dan meninggalkan pesan agar
seluruh keluarga Chin "lari" dari lembah itu. Sandiwara itu
kulakukan dengan maksud agar mereka tidak memikirkan aku
lagi. Selain itu, dengan keberangkatan mereka semua dari
lembah itu, otomatis semua barang-barang berharga tentu
akan mereka bawa pula, termasuk di antaranya Cap Kerajaan
itu ! Sebab selama ini hanya ayahmu saja yang tahu di mana
benda itu berada.”
"Dan kemudian........ paman bermaksud untuk merampas
benda itu di tengah perjalanan! Hmm...... paman sungguh
lihai sekali, bisa bermain sandiwara sedemikian rapinya tanpa
diketahui oleh ayah dan Paman Kong,” Chin Yang Kun
menyela perkataan Hek-eng-cu.
"Benar. Aku dan anak buahku memang bermaksud untuk
merampas benda pusaka itu. Tapi semuanya itu ternyata tidak
dapat terlaksana. Orang-orang kepercayaanku, yang
kutugaskan untuk merampas benda itu, kembali kehadapanku
dengan tangan kosong, Benda itu ternyata tidak dibawa oleh
ayahmu. Sementara itu orang-orangku malah melapor
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
kepadaku bahwa ada kelompok lain yang juga menginginkan
benda pusaka itu. Aku menjadi marah. Dengan diam-diam aku
lalu menemui ayahmu sendiri. Kutemui dia di rumah Pendekar
Li. Dan kebetulan juga mereka sedang bertempur karena
saling salah paham. Maka langsung saja kuringkus ayah dan
pamanmu itu dan selanjutnya kuminta kepada mereka Cap
Kerajaan itu. Tetapi ternyata mereka tidak membawanya. Dan
lebih celaka lagi, ayahmu dan Kakak Kong seperti mengenali
penyamaranku. Aku menjadi gelisah dan khawatir, maka aku
lantas membunuh mereka!”
“Oooh, paman sungguh kejam sekali.....!” Chin Yang Kun
dengan suara serak dan menahan tangis.
“Benar, anakku.....! dan kini aku telah mendapatkan
pembalasan yang setimpal pula.......” Hek-eng-cu bergumam
sendiri diantara desah napasnya yang mulai tersengal-sengal.
Sungguh tidak dapat ditebak ataupun diterka, bagaimana
perasaan Chin Yang Kun pada saat itu. Demikian pahit
kenyataan yang diterima oleh pemuda itu, sehingga kelihatan
benar kalau pemuda itu menjadi sangat menderita hatinya.
Semua bayangan-bayangan indah dan bahagia di dalam
keluarganya di masa lampau, kini satu persatu telah tanggal
oleh kenyataan pahit yang dihadapinya. Dan tampak benar
kalau pemuda itu menjadi sangat kecewa sekali hatinya.
Dengan pandang mata kosong dan hampa, namun masih
dengan sisa-sisa air mata di sudut matanya, pemuda itu
memandang wajah paman bungsunya yang telah mulai
meregang jiwa menghadapi maut itu. Sukar dikira-kira, apa
yang sedang berkecamuk di dalam hati pemuda itu. Tapi yang
terang, segala macam perasaan tentu telah bercampur aduk
menjadi satu, yaitu antara perasaan kecewa, sedih, menyesal
dan juga perasaan berdosa.
"Ooooh....... demikian ruwetnya liku-liku jalan yang
kutempuh selama ini, sehingga rasa-rasanya aku ini bukan
hidup di dunia kenyataan, tapi hidup di alam impian atau
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
hidup dalam sebuah lakon sandiwara saja. Dari kecil......aku
merasa sebagai keturunan Keluarga Chin, tapi ternyata......aku
bukan keturunan mereka. Dan orang yang selama ini
kuanggap sebagai ayahku, ternyata juga.......bukan ayahku
pula. Malah orang lain, yang selama ini tak pernah kukenal
nama dan wajahnya, kini secara tiba-tiba justeru menjadi
ayahku! Dan........Paman Bungsu, yang demikian baik budi,
ramah dan menjadi kebanggaan keluarga Chin, tak disangkasangka
bisa berubah menjadi manusia iblis yang tega
membasmi keluarganya sendiri. Sementara.......aku sendiri,
yang sejak kecil dididik, diasuh dan diberi pelajaran ilmu silat
oleh Paman Bungsu, kini justru menjadi........pembunuhnya
malah! Aaaaah........!”
Begitu dalamnya pemuda itu memikirkan nasibnya sehingga
tak tahu kalau nyawa paman bungsunya telah keluar
meninggalkan jasadnya. Pemuda itu baru sadar ketika Lo-siong
dan Tiau Li Ing datang menghampirinya.
“Anak muda, pamanmu sudah meninggal......” orang tua itu
berkata perlahan agar tidak mengagetkan Chin Yang Kun.
“Aaaaah.....!?!” ternyata pemuda itu masih tetap tersentak
kaget juga.
Dengan wajah yang semakin tampak kaku pemuda itu lalu
mengurus jenasah pamannya. Dikuburkannya mayat Hek-engcu
itu di bekas lobang tempat ia pura-pura dimakamkan
dahulu, sehingga iblis itu kini benar-benar terkubur di tempat
itu selama-lamanya. Sedangkan barang-barang peninggalan
Bit-bo-ong oleh Chin Yang Kun dikumpulkan menjadi satu
dalam satu bungkusan besar.
“Di saat-saat terakhir hidupnya, Paman Bungsu ternyata
telah menjadi sadar kembali dan memberi pesan agar aku
mengembalikan barang-barang ini kepada Hong-gi-hiap Souw
Thian Hai. Hmm........baiklah, aku akan melaksanakannya
sekarang juga! Aku akan pergi ke Pulau Meng-to. Kudengar
kemarin pendekar itu akan ke Pulau Meng-to bersama Chu
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Bwee Hong dan Souw Lian Cu........” pemuda itu berkata di
dalam hatinya.
Demikianlah, selesai mengubur mayat pamannya Chin Yang
Kun lalu mengambil golok pusaka pemberian Si Penyanyi
Sinting tadi dan mengembalikannya kepada Lo-si-ong. Setelah
itu sambil menganggukkan kepalanya pemuda itu minta diri
untuk pergi ke Pulau Meng-to.
"Lo-cian-pwe, terima kasih atas bantuanmu. Tiau Li
Ing....... aku mohon diri pula........”
Hampir saja gadis itu menjerit dan menahan kepergian Chin
Yang Kun. Untunglah Lo-si-ong segera menahan lengan gadis
itu. Sebagai orang telah banyak makan asam garam
kehidupan, dan juga sebagai orang buta yang telah terbiasa
mempergunakan perasaannya yang amat tajam, sekejap saja
orang tua itu sudah mengetahui bahwa cinta Tiau Li Ing
terhadap pemuda itu bertepuk sebelah tangan.
“Cucuku......! biarkanlah dia pergi melaksanakan tugas yang
diberikan oleh pamannya. Masih banyak waktu untuk bertemu
kembali,” orang tua itu berbisik dengan suara halus.
Tiau Li Ing membalikkan tubuhnya, lalu memeluk kakek itu
dengan sedu-sedan yang tertahan di tenggorokannya.
“Kakek......!” keluhnya sedih/
demikianlah, bersamaan dengan fajar pagi yang mulai
bersinar di ufuk timur, Chin Yang Kun pergi meninggalkan
lembah yang sangat bersejarah itu. Pemuda itu sudah tidak
memikirkan lagi keadaan Tiau Li Ing, Lo-si-ong maupun si
Penyanyi Sinting itu. Jangankan orang lain seperti mereka
bertiga, terhadap dirinya sendiripun kini Chin Yang Kun juga
sudah tidak peduli pula lagi, Chin Yang Kun benar-benar
sudah berubah sekarang. Penderitaan demi penderitaan,
kekecewaan demi kekecewaan yang diterimanya, dan yang
terakhir tadi adalah kenyataan pahit tentang paman
bungsunya itu, benar-benar telah membuat hati pemuda itu
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
menjadi hampa serta kecewa sekali terhadap hidupnya.
Hampir-hampir pemuda itu sudah tidak percaya lagi kepada
manusia dan alam sekelilingnya. Yang sekarang ada di dalam
hati dan jiwa pemuda itu hanyalah perasaan kecewa, hampa
dan sedih luar biasa. Dan begitu beratnya beban perasaan itu,
sehingga tanpa diketahui oleh pemuda itu sendiri rambutnya
telah banyak yang berubah menjadi putih.
Sementara itu di Pulau Meng-to waktu itu ternyata juga
terjadi pertempuran pula yang tidak kalah dahsyatnya dengan
pertempuran Chin Yang Kun melawan Hek-eng-cu! Dikatakan
amat dahsyat, karena pertempuran itu tidak hanya
berlangsung antara seorang melawan seorang, melainkan
antara beberapa orang sekaligus.
Malam itu seusai pertemuan yang mengharukan dan tak
disangka-sangka antara sepasang kekasih, yang telah
bertahun-tahun berpisah dan tak pernah berjumpa, yaitu
antara Keh-sim Siau-hiap dan Ho Pek Lian, suasana di pulau
yang sunyi dan sepi itu seakan-akan lalu berubah menjadi
cerah dan bergairah kembali.
Keh-sim Siau-hiap dengan wajah yang berseri-seri dan
hampir tak pernah lekang dari sisi Ho Pek Lian, mengajak
sahabat-sahabatnya ke ruang Pendapa Utama, untuk
menemui tamu-tamunya. Dan kedatangan mereka disana
segera disambut dengan gegap gempita oleh teman-teman,
sahabat-sahabat dan anak buah Keh-sim Siau-hiap itu.
Sebaliknya sambutan yang sangat meriah itu ternyata juga
menjadi tanda pula akan mulainya suasana panas di arena
pertemuan tersebut. Otomatis semua orang atau tamu yang
berada di dalam ruangan itu lantas mengetahui siapa orangorang
di sekitar mereka yang berpihak kepada Keh-sim Siauhiap
dan siapa pula yang kedatangan mereka di tempat itu
hanya untuk mengadakan perhitungan dengan pihak tuan
rumah.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Lain dari pada itu munculnya pendekar ternama seperti
Hong-gi-hiap Souw Thian Hai bersama Keh-sim Siau-hiap
ternyata juga menimbulkan kegaduhan pula. Banyak yang
bertanya-tanya di dalam hati masing-masing, ada keperluan
apa gerangan sehingga pendekar ternama itu sampai datang
pula di pulau itu? Apakah pendekar itu memang sengaja
diundang oleh Keh-sim Siau-hiap ? kalau memang demikian
halnya akan sungguh ramai seklai pertemuan mereka kali ini
nanti.
Serombongan tamu yang terdiri dari belasan tokoh-tokoh
silat berkepandaian tinggi tampak duduk bergerombol di
tempat yang terhormat. Mereka tidak lain adalah rombongan
bekas Putera Mahkota Chin yang lari bersembunyi di
Pegunungan Kun-lun-san itu. Selain Putera Mahkota itu
sendiri, mereka terdiri dari Beng Tian, Yap Cu Kiat, Siang-hou
Nio-nio dan Siangkoan Ciangkun beserta beberapa orang
perwiranya. Hanya saja perwira-perwira bekas pemberontak
itu kini tidak memakai pakaian seragam perajurit lagi. Namun
demikian, mereka tetap mengenakan pakaian kuning-kuning
sebagai tanda bahwa mereka dulu merupakan perwira-perwira
pilihan dari pasukan Kaisar Han. Lalu di belakang mereka
berdiri belasan orang pengawal bekas perajurit Siangkoan
Ciangkun, yang siap dengan pedang-pedang di tangan.
“Ong-ya.......! inilah dia bangsat Souw Thian Hai itu!
Sungguh kebetulan sekali kita bisa menemuinya di sini. Kita
harus minta pertanggunganjawabnya atas kematian Siau Ongya,”
Siang-hou Nio-nio berbisik kepada bekas Putera Mahkota
Chin itu.
“Ya. Tapi kita harus berhati-hati menghadapinya. Selain
kepandaiannya sangat tinggi, temannyapun banyak. Apalagi
dia tampaknya bersahabat dengan Keh-sim Siau-hiap pula.
Hmm, apakah kita tidak lebih baik menunda saja urusan
tentang Siau Ong-ya itu? Sekarang kita bereskan urusan harta
karun itu saja lebih dahulu! Ini lebih penting karena
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
berhubungan dengan biaya perjuangan kita nanti.......” Yap Cu
Kiat, suami wanita tua itu menyahut perkataan istrinya.
“Kukira pendapat Yap Locianpwe itu memang benar. Masih
banyak waktu untuk menemui pendekar sakti itu. Sedangkan
urusan tentang harta karun ini sudah tidak bisa ditunda-tunda
lagi. Laskar kita yang berjumlah ribuan itu membutuhkan
biaya hidup yang tidak sedikit......” dari belakang Siangkoan
Ciangkun menyela pula.
Putera Mahkota itu menatap Beng Tian untuk meminta
pertimbangan.
“Hambapun sependapat dengan Saudara Yap. Semua
kepentingan pribadi harus kita kesampingkan dulu.
Kepentingan kita bersama harus kita dahulukan.....” Beng Tian
berkata lirih.
“Baiklah.......!" akhirnya bekas Putera Mahkota itu
mengambil keputusan.
Demikianlah, setelah membalas penghormatan tamutamunya
kemudian mempersilakan sahabat-sahabatnya untuk
duduk, Keh-sim Siau-hiap lantas memanggil para
pembantunya. “Siang In ...! Coba kalian baca daftar para tamu
kita kali ini beserta maksud dan tujuan mereka!" perintahnya
perlahan, tapi terdengar oleh semua tamu yang memadati
ruangan itu.
Sepasang gadis berbaju putih bergegas maju ke tengahtengah
pendapa diikuti oleh kawannya, dua orang gadis
berseragam hitam-hitam. Di dalam tangan gadis berbaju putih
itu terlihat sebuah buku tebal berisikan nama-nama tamu yang
hadir di arena pertemuan tersebut.
Setelah memberi hormat kepada Keh-sim Siau-hiap, salah
seorang dari gadis berbaju putih itu lalu membuka buku yang
dibawanya.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
“Tocu ......! Seperti biasanya, kami berempat membagi
mereka menjadi tiga kelompok, berdasarkan kepentingan dan
tujuan mereka kesini. Kelompok pertama adalah kelompok
tamu yang ingin menyatakan rasa terima kasih mereka kepada
To-cu, karena To-cu telah membantu dan memberi hadiah
kepada mereka. Kelompok kedua adalah kelompok tamu yang
ingin mengadakan perhitungan dengan To-cu karena To-cu
telah merugikan mereka. Sedangkan kelompok yang ketiga
adalah kelompok orang-orang yang ingin menyatakan
persoalan harta karun yang tersimpan di Pantai Karang
kepada To-cu. Orang-orang yang terkumpul di dalam
kelompok ini rata-rata menganggap bahwa pantai itu masih
termasuk di dalam wilayah kekuasaan Pulau Meng-to. Oleh
karena itu kelompok ini juga beranggapan bahwa harta karun
tersebut tentu sudah diketahui pula oleh To-cu.”
“Apa.......? Harta karun yang diperebutkan itu berada di
Pantai Karang? Siapa.......yang mengatakan demikian?”
ternyata Keh-sim Siau-hiap berseru kaget malah.
Beberapa orang tamu yang ikut tercatat di dalam kelompok
itu kelihatan berdiri dari kursinya. Salah seorang diantaranya
yang mengenakan baju tapi membiarkan di bagian dadanya
tetap terbuka lebar, segera berteriak ke arah Keh-sim Siauhiap.
“Hek-eng-cu yang menemukan tempat itu! Dan dia
memperolehnya dari peta yang terlukis pada potongan emas.
Beberapa hari yang lalu Hek-eng-cu dan anak buahnya datang
ke pantai itu untuk mencarinya, tapi tak berhasil, sebab
pasukan dari kota raja keburu menggagalkannya. Mendengar
peristiwa itu kami dan puluhan orang persilatan yang lain
segera datang pula ke tempat itu. Kami ikut mencarinya pula.
Namun sampai rusak pantai itu kami aduk, harta karun itu
tetap tidak dapat kami temukan juga. Maka akhirnya kami
semua lantas menjadi curiga kepada To-cu, sebab To-cu juga
yang menguasai pantai itu. Siapa tahu To-cu telah
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
mengambilnya......?” orang itu berteriak dan ikut-ikutan
memanggil To-cu seperti halnya Siang In.
Tiba-tiba Keh-sim Siau-hiap menundukkan kepalanya.
“Jadi......? jadi barang-barang itu adalah harta karun yang
diperebutkan orang selama ini? Aaaah.....!” desahnya.
“Naaah......! Apa kataku? Bukankah Keh-sim Siau-hiap
sudah tahu pula tentang harta karun itu?” dari pojok ruangan
mendadak terdengar teriakan serak seorang lelaki brewok
seraya mengacung-acungkan kepalan tangannya.
“Huh! Tidak hanya tahu saja! Tampaknya harta karun itu
telah diangkutnya pula.......!” dua orang lelaki gendut yang
duduk di dekat pintu depan berseru pula sambil berdiri.
“Hah? Apa......? Kalau begitu harta karun itu harus dibagi
rata kita semua! Bukankah setiap orang berhak untuk
mendapatkannya? Kalau Keh-sim Siau-hiap tidak mau, kita
bakar saja pulau ini menjadi lautan api.........!” mendadak
Siang-hou Nio-nio ikut berdiri pula seraya berseru nyaring.
“Setuju!”
“Setuju!”
“Setuju! Itu baru adil namanya......!”
ruangan itu lalu riuh dengan teriakan dan jeritan para tamu
yang menyetujui ucapan Siang-hou Nio-nio tadi. Mereka
menjerit dan berteriak-teriak sambil mengacung-acungkan
kepalan tangan dan senjata mereka, seolah-olah mereka
benar-benar akan menyerang dan membakar pulau itu.
Beberapa orang tamu dari kelompok pertama, yang
kedatangan mereka di pulau itu hanya untuk menemui Kehsim
Siau-hiap dan mengatakan rasa terima kasih mereka, dan
sebagian besar rata-rata tidak mengenal ilmu silat, segera lari
berserabutan keluar dari ruangan Pendapa Utama itu. Orangorang
itu menjadi ketakutan menyaksikan tingkah jago-jago
silat yang seolah-olah telah menjadi gila itu.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Sementara itu para tamu yang termasuk dalam kelompok
kedua, yaitu orang-orang yang tak suka kepada Keh-sim Siauhiap,
yang kedatangan mereka di tempat itu memang
bermaksud mengadakan perhitungan dengan Keh-sim Siauhiap,
seakan-akan malah memperoleh angin dengan suasana
yang ribut itu. Mereka segera ikut menimbrung pula untuk
memanaskan suasana itu. Mereka berteriak-teriak pula
menantang pihak tuan rumah.
Dan suasana di arena pertemuan itu semakin menjadi kalut
tatkala para sahabat dan pendukung Keh-sim Siau-hiap berdiri
pula menghadapi kedua kelompok itu. Beberapa orang di
antara mereka telah mulai saling melotot dan memaki. Malah
mereka yang secara kebetulan telah berdiri atau duduk
berdekatan sudah saling mendesak, siap untuk berkelahi.
Tapi sebelum semuanya itu terjadi, tiba-tiba Keh-sim Siauhiap
bangkit dari tempat duduknya dan berteriak melengking.
"Diaaam semua........!"
Semua orang yang berada di ruangan itu seolah-olah
mendengar suara petir yang meledak di dalam telinga mereka
masing-masing. Otomatis semuanya diam sambil menutup
lobang telinga mereka, takut gendang telinga mereka akan
pecah. Beberapa orang di antara mereka malah sudah ada
yang terhuyung-huyung karena terlambat menutup telinga
mereka. Meskipun demikian banyak juga jago-jago silat
berkepandaian tinggi yang hampir tidak terpengaruh oleh
pameran lwee-kang Keh-sim Siau-hiap itu.
“Cu-wi semua harap mau mendengarkan omonganku......!”
begitu ruangan tersebut telah menjadi tenang kembali Kehsim
Siau-hiap meneruskan perkataannya. “Terus terang
sampai saat ini aku baru mengetahui kalau harta karun yang
diperebutkan itu adalah harta karun yang tenggelam di Pantai
Karang itu. Dan terus terang kuakui pula bahwa akulah yang
mengambilnya, kalau tandu-tandu itu yang dimaksudkan
sebagai harta karun.”
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
“Tandu......?” Siang-hou Nio-nio bertanya.
"Ya ! Tandu-tandu yang terbuat dari emas. Ada duabelas
buah tandu banyaknya. Benda- benda itu kuketemukan secara
tak sengaja enam atau tujuh tahun yang lalu, yaitu ketika
perahuku dihantam ombak dan terbalik di pantai itu.”
“Oooh........!”
semua tamu bagaikan terpaku di tempat masing-masing.
Seluruh perhatian mreka tercurah untuk mendengarkan
ucapan Keh-sim Siau-hiap itu. Dan tak seorangpun di antara
mereka yang mengeluarkan suara. Ceritera Keh-sim Siau-hiap
tentang harta karun itu benar-benar merampas seluruh
semangat dan perhatian mereka.
“Lalu......tuan simpan dimana harta karun itu sekarang?”
tiba-tiba bekas Putera Mahkota Chin itu memecahkan
keheningan di dalam ruangan tersebut.
Keh-sim Siau-hiap menoleh ke arah bekas Putera Mahkota
Chin itu. Dahi pemilik Pulau Meng-to itu berkerut, suatu tanda
bahwa ia tak mengenal tokoh itu.
“Siapakah tuan ini? Rasanya aku belum pernah berkenalan
dengan tuan.......” Keh-sim Siau-hiap bertanya. Tapi To-cu
dari Pulau Meng-to itu segera menutup mulutnya tatkala
pandang matanya tertumbuk pada wajah Yap Cu Kiat dan
Beng Tian. “Ah, Yap Lo-cianpwe dan Beng Lo-cianpwe
kiranya.........maaf, siauw-te tidak menyambut Ji-wi Locianpwe
sejak tadi.......” lanjutnya kemudian dengan suara
merendah.
Beng Tian dan Yap Cu Kiat terpaksa menganggukkan
kepalanya dengan kikuk. Apalagi ketika mereka melihat Kehsim
Siau-hiap itu tersenyum sambil melirik ke arah bekas
Putera Mahkota Chin itu.
“To-cu tak usah menanyakan namaku, karena meski
kukatakan......To-cu juga belum pernah mendengarnya. Lebih
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
baik To-cu lekas-lekas mengatakan saja, dimana To-cu
menyimpan harta karun itu.......” bekas Putera Mahkota Chin
itu cepat-cepat menyela untuk melindungi muka kedua
pembantu utamanya itu.
“Benar......! jangan bertele-tele dan berbicara tentang halhal
yang tak perlu! Lekaslah To-cu mengatakan tempat
penyimpanan harta karun itu kepada kami!” laki-laki yang
bajunya dibiarkan terbuka di bagian dadanya itu berseru lagi.
“Benar!”
“Benar!”
Dan merekapun lantas menjadi ribut pula kembali.
Semuanya berkehendak agar Keh-sim Siau-hiap segera
mengatakan tempat penyimpanan harta karun tersebut.
Begitu bising dan ributnya suara mereka sehingga Keh-sim
Siau-hiap tidak memperoleh kesempatan untuk
mengatakannya malah. Pendekar itu terpaksa harus
menantikan redanya suara mereka.
Dan hal ini membikin salah seorang sahabat Keh-sim Siauhiap
menjadi marah. Orang tersebut tidak lain adalah ketua
Tiat-tung Kai-pang daerah Selatan, yaitu Tiat-tung Lo-kai.
"Hei! Cu-wi mau diam atau tidak.....? Kedatangan cu-wi
kemari ini untuk mendapatkan keterangan atau.......sengaja
cuma mau ribut saja? Kalau memang hanya ingin ribut,
baiklah......marilah kita langsung berkelahi saja! Keh-sim Siauhiap
tak perlu memberikan segala macam keterangan lagi!
Ayoh.......!” sambil meloncat ke tengah-tengah pendapa orang
tua itu berteriak.
Tapi kata-kata ketua pengemis itu ternyata telah
menyadarkan orang-orang itu. Seketika mereka berhenti
berteriak-teriak, sehingga sekejap saja ruangan itu telah
menjadi tenang kembali.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
“Terimakasih, Lo-kai.......! Silahkan kau duduk kembali!
Nah, cu-wi sekalian......! tadi sudah kukatakan bahwa kalau
yang dimaksudkan dengan harta karun itu adalah tandu-tandu
emas itu, memang akulah yang mengambilnya. Tapi semua itu
sudah terjadi pada enam atau tujuh tahun berselang,
sehingga benda-benda itu sekarang sudah habis dan tiada
yang tertinggal lagi. Semuanya sudah kusebar dan kubagibagikan
kepada fakir miskin dan rakyat yang menderita.........”
“Bohong........!”
“Bohong........!”
“Tidak percaya! Geledah saja pulau ini!”
“Benar........! Mari kita geledah bersama!”
“Benar! Ayoh.......!”
“Ayoh!”
Para tamu berteriak-teriak dan menjerit-jerit kembali.
Belasan orang diantara mereka malah sudah berloncatan ke
tengah-tengah arena dengan senjata di tangan. Ho Pek Lian,
Chu Bwee Hong dan Souw Lian Cu menjadi khawatir juga
akhirnya. Diam-diam mereka bertiga juga mempersiapkan diri
mereka.
Tapi sebelum orang-orang itu menjadi semakin liar, tibatiba
Yap Cu Kiat berdiri dari kursinya.
“Saya harap cu-wi semua duduk kembali. Biarlah Keh-sim
Siau-hiap menyelesaikan keterangannya dahulu.....!” orang
tua itu berkata perlahan, namun anehnya setiap orang
merasakan dadanya seperti dihantam oleh kekuatan yang
sangat kuat, sehingga belasan orang tamu tampak terbatukbatuk
dan sesak napas. Malah untuk beberapa saat orangorang
yang meloncat ke tengah-tengah pendapa tadi tampak
tersengal-sengal kehilangan napas mereka.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Oleh karena itu dengan wajah ketakutan orang-orang itu
segera kembali lagi ke tempat duduk mereka. Dan ruangan
itupun menjadi tenang pula kembali.
“Terima kasih, Yap Lo-cianpwe......” Keh-sim Siau-hiap
menjura kepada Yap Cu Kiat yang telah duduk kembali di
kursinya. Lalu, “Cu-wi sekalian.......! Siauw-te tidak
berbohong. Cu-wi semua tentu sudah mendengar nama dan
sepak terjangku selam tujuh atau delapan tahun belakangan
ini. Dan.......maaf, siauw-te tak bermaksud untuk
menyombongkan diri....tapi kukira cu-wi semua juga sudah
pernah mendengar pula serba sedikit, tentang apa yang
pernah siauw-te lakukan dalam waktu tujuh-delapan tahun
itu.”
Keh-sim Siau-hiap menghentikan kata-katanya sejenak
untuk melihat tanggapan tamu-tamunya. Tapi kesempatan itu
dipergunakan dengan cepat oleh Tiat-tung Lo-kai. Ketua
perkumpulan pengemis daerah selatan itu segera meloncat ke
depan dan ikut berbicara di depan para tamu.
“Coba cu-wi ingat-ingat kembali! Masihkah cu-wi ingat
bencana paceklik yang diakibatkan oleh perang besar tujuh
atau delapan tahun berselang itu? Hampir seluruh penduduk
negeri pada bagian utara menjadi pengemis pada waktu itu.
Nah, bila cu-wi masih ingat akan kejadian itu, cu-wi tentu
akan ingat pula sebuah peristiwa besar yang sangat
menggemparkan masyarakat pada saat itu. Peristiwa besar itu
adalah.......sebuah iring-iringan gerobag berisi gandum dari
daerah Kang Lam menuju ke daerah paceklik, yang memakan
waktu sebulan lebih itu! Iring-iringan atau barisan gerobag itu
terdiri dari tigaratus pedati besar berisi gandum dan duaratus
gerobag kecil berisi bahan makanan lainnya. Kemudian
dengan pengawalan pasukan kerajaan bahan makanan itu
dibagi-bagikan kepada penduduk yang kelaparan. Nah, kalau
cu-wi sudah tidak ingat lagi, siapa orangnya yang bertanggung
jawab dalam peristiwa besar itu, tuan bisa bertanya langsung
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
kepada para penduduk itu sekarang. Siauw-te percaya bahwa
mereka tentu masih ingat akan nama........Keh-sim Siau-hiap
yang budiman ini! Nah......lalu dari mana Keh-sim Siau-hiap
memperoleh biaya untuk membeli dan mengirimkan bahan
makanan sebesar itu? Dan......masih ada lagi sebuah peristiwa
lain yang tak kalah besarnya dengan peristiwa tadi, yaitu
tatkala terjadi banjir besar sungai Huang-ho, yang
menimbulkan bencana harta benda, sawah-ladang dan
penyakit di kalangan penduduk tepian sungai itu pada kira-kira
lima tahun berselang. Cu-wi tentu juga masih ingat siapa yang
mendirikan barak-barak pengungsi, mencukupi bahan
makanan mereka, dan kemudian juga mengirimkan obatobatan
bagi penduduk yang sakit? Kalau toh cu-wi sudah tak
ingat lagi, cu-wi tentu masih tetap ingat juga apa yang karena
kemuliaan budinya itu memperoleh tanda penghargaan dari
Kaisar Han. Nah, cu-wi sekalian.....dari mana Keh-sim Siauhiap
mendapatkan biaya sebesar itu kalau tidak dari harta
karun itu? Dan semuanya itu belum terhitung dengan
peristiwa-peristiwa kecil yang juga mendapatkan penanganan
Keh-sim Siau-hiap pula. Cu-wi masih ingat waktu ada wabah
penyakit menular di daerah Sin-kiang tiga tahun yang lalu?
Siapa yang mengumpulkan tabib di seluruh negeri dan
mengirimkannya ke daerah itu bersama obat-obatannya?
Hmmm.....Keh-sim Siau-hiap pulalah orangnya! Jadi.....kalau
cu-wi masih menginginkan juga harta karun itu, ambillah atau
mintalah kepada para penduduk yang kelaparan, yang terkena
musibah sungai Huang-ho, yang dilanda penyakit menular,
dan kepada fakir miskin yang pernah mendapatkan bantuan
Keh-sim Siau-hiap itu.......” dengan panjang lebar dan berapiapi
ketua perkumpulan Tiat-tung Kai-pang itu memberi
keterangan.
Sungguh mengherankan! Ratusan tamu yang berada di
Pendapa Utama itu tampak terdiam semuanya. Tak
seorangpun menyela, apalagi membantah perkataan pengemis
tua itu. Semuanya menutup mulut, seolah-olah mereka
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
memang mengakui apa yang dikatakan Tiat-tung Lo-kai
tersebut.
“Tapi........tentu masih ada juga sisanya, meskipun
sedikit.......” tiba-tiba Siang-hou Nio-nio ambil suara.
Dengan cepat Tiat-tung Lo-kai membalikkan badannya.
Ditatapnya Siang-hou Nio-nio yang duduk di samping Putera
Mahkota Chin itu dengan marah.
“Sungguh tega benar Nio-nio mengatakan hal itu! Dan hal
itu berarti Nio-nio tidak menghargai jerih payah dan kemuliaan
hati Keh-sim Siau-hiap sama sekali! Seharusnya Nio-nio
merasa malu berkata seperti itu!”
“Kurang ajar! Pengemis hina........apa katamu, heh?”
ternyata Siang-hou Nio-nio merasa tersinggung oleh kata-kata
itu dan berseru marah pula.
Tapi Tiat-tung Lo-kai malah tertawa semakin menyakitkan.
“Aha-aha-ah........Nio-nio sungguh pandai memutarbalikkan
kata-kata! Siapakah yang “hina” sebenarnya? Nio-nio atau
aku? Hehehe....biarpun hanya seorang pengemis tapi aku ikut
pula membantu pekerjaan-pekerjaan mulia dari Keh-sim Siauhiap
itu. Dan aku tak pernah meminta imbalan untuk itu. Tapi
apa yang Nio-nio lakukan? Membantupun tidak. Apalagi
menyumbang harta benda. Kini datang-datang malah minta
bagian.......”
“Tutup mulutmu.....!” Siang-hou Nio-nio menjerit marah,
lalu terbang dari kursinya menyerang Tiat-tung Lo-kai.
Menyadari kalau wanita tua itu sangat lihai, Tiat-tung Lo-kai
segera mengeluarkan tongkat besinya, lalu menyongsong
serangan tersebut dengan tidak kalah ganasnya. Dengan
demikian mereka berduapun segera terlibat di dalam
pertempuran yang cepat dan seru. Dan biarpun hanya dengan
tangan kosong, ternyata Siang-hou Nio-nio mampu
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
menyerang dan bertahan sama tangguhnya dengan Tiat-tung
Lo-kai.
Sebagai tuan rumah tak enak juga rasanya Keh-sim Siauhiap
menyaksikan tamu-tamunya itu berkelahi di depannya,
apalagi yang menjadi dasar persoalan adalah dirinya. Maka
sambil menarik napas panjang, Keh-sim Siau-hiap segera
melangkah pula ke tengah-tengah pendapa. Perlahan saja
gerakan kakinya, namun apa yang terjadi sungguh membuat
kagum dan geleng-geleng kepala para tamunya.
Sekali saja kaki itu tampak terayun dan itupun dilakukan
oleh Keh-sim Siau-hiap dengan gerakan lambat, tapi seperti
main sulap saja tiba-tiba tubuhnya telah berada di arena
pertempuran.
“Maaf, siauw-te mohon ji-wi berdua mau menahan diri
dahulu......!” pendekar itu berkata seraya memukul dengan
telapak tangan terbuka ke arah pertempuran.
Serangkum udara hangat berhembus dari telapak tangan
tersebut menghantam persis di antara Siang-hou Nio-nio dan
Tiat-tung Lo-kai. Begitu kuatnya hembusan angin itu sehingga
kedua orang yang sedang bertempur itu terdorong mundur
beberapa langkah ke belakang.
“Sekali lagi siau-te mohon maaf. Silakanlah ji-wi berdua
duduk kembali! Ada beberapa perkataan yang hendak siau-te
haturkan ke hadapan ji-wi semua......" dengan suara tetap
halus Keh-sim Siau-hiap mempersilakan mereka duduk.
Melihat kehebatan tenaga dalam Keh-sim Siau-hiap, Sianghou
Nio-nio dan Tiat-tung Lo-kai tidak berani bersitegang lagi.
Apalagi mereka berdua juga merasa tidak enak hati pula
melihat perlakuan Keh-sim Siau-hiap yang halus dan sopan
itu. Namun demikian keduanya masih tetap saling melotot
dan melemparkan ancaman ketika harus kembali ke tempat
duduk mereka masing-masing.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Terima kasih.......!" Keh-sim Siau-hiap menjura. Lalu
terusnya. "Begini, cu-wi semua..... siau-te memang masih
menyimpan sebuah dari pada tandu emas itu. Dan benda itu
juga berada di sini pula. Inilah dia.......!"
Pendekar dari Pulau Meng-to itu melangkah lagi ke kursinya
yang bertutup kain sutera hitam halus berenda-renda dan
kemudian membukanya. Tampaklah sebuah tandu yang telah
dipreteli bagian atas dan tongkat penyangganya, sehingga kini
tinggal tempat duduk dan sandarannya saja yang ada.
Bagaikan disedot oleh besi bermagnit semua mata di
ruangan itu melotot ke bekas tandu yang kini menjadi tempat
duduk Keh-sim Siau-hiap tersebut. Namun mata itu segera
berubah menjadi ragu-ragu dan tak percaya tatkala melihat
kursi itu tak lebih hanya sebuah kursi kayu biasa saja. Dan
keragu-raguan itu segera berubah pula menjadi kemarahan
karena merasa dipermainkan.
Tapi Keh-sim Siau-hiap cepat mencongkel lapisan kayu
yang melapisi sandaran tangan pada kursi itu, dan hasilnya
....... semua tamu menjadi terbelalak matanya ! Sinar
kekuning-kuningan tampak menyorot keluar dari balik lapisan
kayu yang diambil oleh Keh-sim Siau-hiap tadi. Emas !
Ternyata tandu itu benar-benar terbuat dari emas tulen !
“Emas.........!”
"Heh? Kursi sebesar itu ........ terbuat dari emas?”
"Ohh, lantas berapa kati berat seluruhnya.......?”
"Hwaduh ! Kursi itu bisa untuk membeli sebuah kota.......”
Kemudian........sesuatu yang tidak terbayangkan oleh Kehsim
Siau-hiap sebelumnya berlangsung dengan cepatnya!
Ratusan tamu itu tampak berdesakan dan berebut ke depan
untuk melihat sisa harta karun tersebut lebih dekat lagi. Dan
pertengkaran-pertengkaran kecil akibat keributan itupun
segera terjadi pula diantara mereka. Malahan beberapa saat
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
kemudian sebagian dari mereka lantas berkembang menjadi
saling tangkis dan baku hantam yang seru. Akibatnya di
tempat yang sempit itu segera terjadi perkelahian besarbesaran.
Beberapa orang yang terkena salah pukul atau
tendangan nyasar, segera menjadi marah dan merasa
terganggu niatnya untuk mendekati kursi emas itu. Mereka
lalu menggunakan kekuatan dan kepandaian masing-masing
untuk menyingkirkan penghalangnya. Dan akhirnya masingmasing
tamu itu juga tak segan-segan lagi mempergunakan
senjata mereka! Dan pertempuran yang dahsyatpun tak
terelakkan lagi, masing-masing dengan segala cara dan
kekuatan mereka berusaha maju mendekati kursi emas
tersebut. Tujuan mereka sekarang adalah memperebutkan
kursi yang sangat berharga itu!
Sementara itu Keh-sim Siau-hiap tampak terpaku bagai
patung di tempatnya. Pendekar itu sungguh-sungguh tak
mengira bahwa keadaan akan berbalik menjadi kalut dan tidak
terkendalikan seperti itu. Dan pendekar itu malah menjadi
semakin gugup ketika tiba-tiba beberapa orang tamu yang
dapat meloloskan diri dari keributan itu tampak berloncatan ke
arahnya. Mereka saling berebut lebih dulu untuk mencapai
kursi emas itu!
Ketika Keh-sim Siau-hiap berusaha untuk menahan orangorang
itu, tiba-tiba ia dikejutkan oleh datangnya belasan buah
am-gi (senjata gelap) yang menyerang ke arah dirinya. Dan
am-gi itu terdiri dari berbagai macam bentuk, dengan
kekuatan dan cara menyerang yang berlainan pula, sehingga
Keh-sim Siau-hiap segera dapat mengetahui bahwa pelepas
am-gi tersebut tidak hanya seorang saja.
Terpaksa pemilik Pulau Meng-to itu memperlihatkan
ginkangnya yang maha hebat untuk mengelakkan senjata
rahasia tersebut. Sambil memperingatkan kawan-kawannya
pendekar itu “beterbangan” melesat kesana kemari bagai
burung walet yang sedang bermain-main diantara derasnya
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
tetesan air hujan! Dan...........tak sebuahpun dari am-gi yang
mampu menyentuh pakaiannya!
Tetapi akibatnya sungguh hebat! Senjata rahasia yang tidak
mengenai sasarannya itu melesat turun ke arah pertempuran !
Mereka yang tahu akan datangnya am-gi itu segera mengelak,
tapi yang tidak tahu segera melengking tinggi sambil
menyumpah-nyumpah karena menjadi korban am-gi nyasar
tersebut.
Darah mulai menetes membasahi pendapa itu,
mengakibatkan orang-orang yang berada di dalamnya
semakin bertambah ganas dan garang pula. Orang-orang itu
seolah-olah sudah menjadi lupa diri. Kursi emas itu seakanakan
telah membutakan mata dan hati mereka, hingga yang
ada di dalam hati mereka sekarang hanyalah membunuh
saingan mereka untuk dengan segera dapat mengambil harta
karun tersebut.
Jilid 44
DAN pertempuran itu menjadi semakin kejam dan ganas
tatkala orang-orang seperti Siang-hou Nio-nio, Siangkoan
Ciangkun dan para pengawal mereka ikut pula terjun dalam
kancah perebutan harta karun tersebut. Korbanpun segera
berjatuhan. Darah segera mengalir membasahi lantai pendapa
yang licin itu.
Keh-sim Siau-hiap sudah tidak bisa mencegah orang-orang
itu lagi. Pendekar itu bersama-sama teman dan pengikutnya
segera terdesak ke pinggir menjauhi kursi emas itu sementara
orang-orang yang telah kalap tersebut sudah mencapai kursi
emas dan saling memperebutkannya.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Kraaak…….!”
Dengan suara keras kursi itu patah dan tercabik-cabik
menjadi beberapa bagian kecil-kecil. Dan bagian-bagian yang
kecil itupun lalu rebutan pula diantara mereka.
“Saudara Kwee, marilah kita tinggalkan pendapa ini ! Sudah
amat sulit untuk mengatasi orang-orang kalap itu ! Mereka
tidak akan mau berhenti sebelum mereka berhasil atau mati !"
Souw Thian Hai berbisik di telinga Keh-sim Siau-hiap.
"Tapi......." Keh-sim Siau-hiap masih ragu-ragu.
"Ko-ko…..!" Ho Pek Lian berdesah pula seraya memegang
lengan kekasihnya. “Saudara Souw memang benar. Kita tak
perlu melibatkan diri dengan mereka. Biarlah mereka saling
berebut sisa emas itu. Marilah kita semua keluar.....!"
"Tapi emas itu hendak kugunakan untuk membangun
tanggul sungai di hulu Sungai Wei-ho……"
Belum juga pendekar itu menyelesaikan perkataannya, tibatiba
Siang In datang tergopoh-gopoh mendekati mereka.
"To-cu ! Pulau ini sudah dikepung oleh pasukan kerajaan di
bawah pimpinan Gui Goan-swe ! Ratusan buah perahu telah
berlabuh di seluruh pantai pulau ini. Katanya mereka hendak
menangkap seorang bekas Putera Mahkota Chin yang ikut
menyusup diantara tamu-tamu kita." gadis itu melapor.
“Heh.......? Bekas Putera Mahkota Chin ?” Keh-sim Siauhiap
berseru kaget, lalu menoleh ke tempat di mana Sianghou
Nio-nio dan rombongannya tadi berada.
Tapi sulit sekaIi menemukan mereka. Tempat itu telah
menjadi ajang pertempuran dahsyat untuk memperebutkan
potongan-potongan kursi emas itu.
"Baiklah! Mari kita semua keluar menemui Gui Goan-swe!"
akhirnya Keh-sim Siau-hiap berkata.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Kemudian pemilik Pulau Meng-to itu mendahului keluar,
diikuti oleh para pembantunya dan sahabat-sahabatnya.
Hong-gi-hiap Souw Thian Hai menempatkan dirinya di barisan
paling belakang bersama Chu Bwee Hong dan Souw Lian Cu.
Pendekar sakti itu tampak tenang sekali dan tidak tergesagesa.
Sambil melangkah, beberapa kali pendekar sakti itu
menangkis atau meruntuhkan senjata atau am-gi yang
meluncur ke arah rombongannya. Atau kadang-kadang
pendekar sakti itu sengaja memperlihatkan kesaktiannya
dengan membiarkan saja am-gi dan senjata itu mengenai
tubuhnya.
Benarlah. Di tepian pantai yang berpasir lembut itu telah
berbaris ribuan prajurit kerajaan, lengkap dengan senjata dan
panji-panji mereka. Di dalam keremangan sinar bintang di
langit, barisan itu bagaikan pagar manusia yang mengelilingi
Pulau Meng-to.
Kedatangan Keh-sim Siau-hiap dan rombongannya segera
disambut oleh beberapa orang perwira dan prajurit pengawal.
Seorang perwira setengah umur bersama dua prajurit
pengawalnya, maju ke depan menghentikan langkah mereka.
"Berhenti! Siapakah kalian?" perwira itu membentak.
Keh-sim Siau-hiap menyuruh rombongannya berhenti, lalu
ia maju pula ke depan.
"Siau-te Keh-sim Siau-hiap, pemilik pulau ini. Siapakah
Ciang-kun ini? Dan mengapa malam-malam begini berkunjung
kemari ? Apakah ada sesuatu urusan penting yang tidak bisa
ditunda-tunda lagi?"
Perwira setengah umur itu kelihatan terperanjat.
"Oh...... Keh-sim Siau-hiap rupanya. Maaf! Maaf........!"
perwira itu tiba-tiba menjura. Lalu sambil menoleh ke arah
prajuritnya perwira itu berbisik, "Lekas kalian melapor kepada
Gui Goan-swe, bahwa Keh-sim Siau-hiap telah keluar menemui
kita !"
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Baik, Ciang-kun !" kedua prajurit tersebut memberi
hormat, lalu berlari pergi.
"Ah, sekali lagi kami semua minta maaf kepada Siau-hiap,
karena kami telah mengejutkan Siau-hiap dan seluruh isi pulau
ini. Biarlah nanti Gui Goan-swe sendiri yang memberi
penjelasan kepada Siau-hiap, kenapa secara mendadak kami
berkunjung ke pulau ini...” sambil menantikan kedatangan
jendralnya, perwira itu berkata lagi.
"Oh...... jadi kedatangan Ciang-kun dan para prajurit ini
bersama-sama dengan Gui goan-swe? Bagus! Bagus! Memang
sudah lama siau-te tidak pernah berjumpa dengan Gui goanswe.
Sungguh kebetulan sekali kalau begitu.......”
Tidak lama kemudian Gui Goan-swe datang dengan
kudanya. Meskipun sudah tua jendral itu belum juga
kehilangan ketangkasannya. Belum juga kudanya berhenti,
jendral itu telah melompat turun dengan lincahnya.
"Hei........ Siau-hiap ! Apa khabar?" begitu tiba jendral tua
itu segera memeluk dan menepuk-nepuk punggung Keh-sim
Siau-hiap. "Sudah lama kita tak bertemu. Kita bertemu yang
terakhir kali....... kalau tak salah.....di kota raja, yaitu ketika
Hong-siang berkenan memberi tanda penghargaan kepada
Siau-hiap itu, bukan? Ha-ha-ha...... benar! Benar!"
Keh-sim Siau-hiap tersenyum juga melihat kehangatan Gui
Goan-swe itu.
“Ah..... Goan-swe! Siau-te justru merasa kikuk dan malu
kalau teringat peristiwa itu. Tidak seharusnya siau-te
memperoleh penghargaan yang begitu tingginya dari Hongsiang,
siau-te cuma berdiri saja di belakang tembok, orang
lainlah yang melaksanakannya." pendekar itu merendahkan
diri.
"Hei, kenapa begitu? Justru itulah yang penting. Tanpa
Siau-hiap yang mengatur dan memimpin mereka, apa yang
dapat mereka hasilkan? Lihatlah para prajurit kerajaan ini.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Tanpa perwira dan pimpinan yang pandai, mereka tak
ubahnya seperti penyamun yang tercerai-berai."
"Ah, benar......!" Keh-sim Siau-hiap pura-pura kaget,
"Semula Siau-te memang mengira ada perampok yang datang
untuk menghancurkan tempat kediamanku ini. Eh, tak
tahunya…. Goan-swe yang datang. Maaf, siau-te terlambat
menyambutnya."
“Wah.... Siau-hiap menyindir kami." Gui Goan-swe tertawa.
Lalu katanya lagi dan kini dengan suara bersungguh-sungguh.
"Siau-hiap......! Kedatangan kami ini memang sangat
mendadak sekali, sehingga kami tidak sempat lagi memberi
kabar kepada Siau-hiap. Soalnya di dalam penyelidikan kami,
kami memperoleh petunjuk bahwa bekas Putera Mahkota Chin
yang lari bersembunyi di Pegunungan Kun-lun itu, malam ini
telah berlayar ke Pulau Meng-to bersama-sama para
pembantunya. Malahan di antara mereka itu terdapat pula
Siangkoan Ciangkun dan para perwiranya, yaitu para perwira
kerajaan yang membangkang dan memberontak di kota Sinyang
beberapa hari yang lalu. Hmm...... benarkah berita yang
kami dengar itu, Siau-hiap?"
Keh-sim Siau-hiap memang tak bermaksud untuk menutupnutupi
peristiwa yang terjadi di tempat kediamannya itu. Oleh
karena itu ia lantas bercerita apa adanya dan apa yang kini
sedang berlangsung di Pendapa Utamanya.
"Siau-te tak hendak menghalang-halangi niat Goan-swe
untuk menangkap bekas Putera Mahkota itu. Tapi sebelumnya
Siau-te hendak memohon kemurahan hati Goan-swe, yaitu
agar Goan-swe mau melindungi pulau dan isinya ini dari
kehancuran. Sebab, hanya pulau sunyi inilah satu-satunya
tempat siau-te berlindung selama ini. Dan selain itu, siau-te
juga hendak memberi sedikit peringatan kepada Goan-swe,
yaitu agar Goan-swe berhati-hati menghadapi bekas Putera
Mahkota Chin itu, karena di antara mereka itu terdapat pula
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Yap Lo-cianpwe, Beng Lo-cianpwe dan Siang-hou Nio-nio."
pendekar itu berkata halus.
"Ahh, terima kasih Siau-hiap. Kami memang tak bermaksud
untuk merusak tempat kediaman Siau-hiap ini. Oleh karena itu
kami akan bertanggung jawab penuh atas segala kerusakan
akibat pertempuran kami nanti. Dan sekali lagi kami ucapkan
terima kasih atas peringatan Siau-hiap tadi. Kami memang
telah mengetahui pula akan beradanya ketiga tokoh besar itu
di samping bekas Putera Mahkota Chin itu. Oleh karenanya
kami juga telah mempersiapkan pula beberapa orang anggota
Sha-cap-mi wi untuk menghadapi mereka.......”
"Sukurlah kalau Goan-swe telah tahu. Hmm........ kalau
begitu kami akan menghindar dari pulau ini untuk sementara
waktu. Siau-te serahkan seluruh pulau ini kepada Goan-swe
dan........ eh, benar ...... Siau-te belum memperkenalkan
para sahabat baikku ini. Mereka adalah........”
"Ah, sudahlah ! Kami sudah mengenal mereka semua. Siauhiap
boleh membawa mereka keluar pulau ini. Bukankah
mereka ini Hong-gi hiap Souw Thian Hai dan sahabatsahabatnya
yang terkenal itu? Apa lagi di sini ada Nona Ho
Pek Lian pula, mana kami berani mencurigai mereka? Ha ha
ha........" Gui goan-swe cepat memotong.
"Terima kasih kalau begitu........"
Demikianlah, rombongan Keh-sim Siau-hiap itu lalu pergi ke
pantai dan meninggalkan pulau itu dengan naik perahu.
Karena sudah mendapatkan perintah dari Gui Goan-swe, maka
tak seorangpun dari ribuan prajurit itu yang menghalangi
kepergian mereka. Para prajurit itu justru membantu
mempersiapkan perahu mereka dan mendorongnya ke laut.
Beberapa saat lamanya Keh-sim Siau-hiap tetap
memandangi Pulau Meng-to yang mereka tinggalkan. Ada
sedikit keharuan di hati pendekar itu, seolah-olah pendekar itu
telah merasa bahwa ia takkan kembali lagi ke sana. Pendekar
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
itu baru tersenyum kembali tatkala Pek Lian menyentuh
lengannya. "Ko-ko, apakah yang sedang kaupikirkan?” gadis
itu bertanya perlahan.
Keh-sim Siau-hiap menatap wajah kekasihnya itu dengan
mesra, lalu menggelengkan kepalanya. "Tidak ada yang
kupikirkan, moi-moi. Aku hanya merasa agak terharu, karena
pulau itu pernah menjadi tempatku mengenang dan
memikirkan kau selama delapan tahun lebih......”
"Ah, kau ini......!" Ho Pek Lian pura-pura mengomel seraya
mencubit lengan Keh-sim Siau-hiap. “Itukan salahmu sendiri !
Mengapa kau tak mau berusaha mencari aku selama ini ?
Bukankah semuanya akan lekas menjadi beres kalau kau bisa
bertemu dengan aku ?"
"Hei! Hei! Bagaimana aku berani menemuimu kalau di saat
perpisahan kita dulu saja sikapmu demikian dinginnya
terhadapku?" Keh-sim Siau-hiap berbisik menggoda.
"Huh! Siapa yang bersikap dingin kepadamu? Kaulah yang
salah mengira. Hmm……itulah kalau jejaka kurang
pengalaman ! Aku sebenarnya tidak bersikap dingin pada
waktu itu, tapi......... aku sedang bingung ! Tahu ?!?" Ho Pek
Lian menjawab dengan mulut cemberut.
"Baiklah! Baiklah........! Akulah yang saat itu tidak bisa
melihat keadaan. Maafkanlah ........!" Keh-sim Siau-hiap
mengalah.
Ho Pek Lian tersenyum sambil menatap wajah Kwee Tiong
Li. Diam-diam gadis itu menjadi kasihan melihat bekas-bekas
penderitaan di wajah kekasihnya itu.
"Ko-ko, maafkanlah aku.........! Aku tidak bersungguhsungguh.
Aku cuma bergurau denganmu. AkuIah yang dulu
bersalah kepadamu. Akulah kini yang seharusnya meminta
maaf kepadamu. Ko-ko....., maukah kau memaafkan aku ?”
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Kwee Tiong Li atau Keh-sim Siau-hiap menundukkan
kepalanya dan menatap wajah kekasihnya dengan mesra. Dan
kemudian untuk beberapa saat lamanya mereka saling
menatap tanpa berkedip. Kedua telapak tangan mereka saling
remas satu sama lain. Mereka tampak berbahagia sekali, dan
remasan jari-jemari mereka itu seolah-olah merupakan sebuah
ikrar, bahwa mereka berdua takkan ingin berpisah lagi
selamanya.
Ternyata kebahagiaan tersebut tidak hanya dirasakan oleh
Keh-sim Siau-hiap dan Ho Pek Lian saja. Siang In dan gadisgadis
pembantu Keh-sim Siau-hiap lainnya, yang selama ini
selalu melayani keperluan pendekar itu, ternyata juga
kelihatan berbahagia pula menyaksikan kebahagiaan mereka.
Mata para gadis itu saling melirik satu sama lain, untuk
kemudian saling menyembunyikan senyum mereka di balik
saputangan masing-masing.
Begitu pula dengan para sahabat Keh-sim Siau-hiap yang
lain. Kelihatannya saja mereka sibuk dengan urusan mereka
sendiri-sendiri, padahal secara diam-diam mata mereka melirik
dengan wajah gembira pula.
"Sukurlah, Thian telah mempertemukan mereka
kembali........" Kwa Siok Eng berbisik di telinga Chu Seng Kun.
"Kau benar, kekasihku......... Akupun merasa gembira sekali
melihat mereka. Dan perasaan gembiraku ini rasa-rasanya
juga terdorong oleh perasaan bahagiaku melihat Chu Bwee
Hong telah mendapatkan kembali kebahagiaannya........" Chu
Seng Kun mengangguk haru seraya menatap punggung
adiknya yang berdiri berjajar dengan Souw Thian Hai di
anjungan perahu.
Memang. Chu Bwee Hong kelihatan berbahagia sekali
malam itu. Wajahnya tampak cerah, bibir selalu tersenyum,
sehingga wajahnya yang memang cantik luar biasa itu
semakin tampak gilang gemilang ditimpa sinar bintang di
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
langit. Sebentar-sebentar gadis ayu itu melirik ke arah Souw
Thian Hai, kekasihnya.
Demikianlah, semuanya tampak bergembira dan
berbahagia. Kalaupun ada yang tak bergembira, orang itu tak
lain hanyalah Souw Lian Cu sendiri. Gadis remaja itu kelihatan
termenung sendirian di pinggir perahu. Sambil bertelekan di
pagar perahu gadis itu memandang air laut yang kehitamhitaman
di bawahnya. Sekali-sekali terdengar tarikan
napasnya yang berat.
Begitu banyaknya penumpang di dalam perahu besar
berukuran sepuluh tombak itu, namun demikian gadis ini
masih tetap merasakan kesepian juga. Dan bila sesekali
terpandang wajah Keh-sim Siau-hiap, gadis itu lantas teringat
pula akan wajah seorang pemuda tampan bertubuh jangkung
yang selalu mengusik hatinya.
"Aku telah mengundangnya pula untuk datang ke Pulau
Meng-to hari ini. Apakah ia lupa bahwa hari ini adalah tanggal
lima yang telah kujanjikan itu ? Apakah ia memang tak ingin
datang untuk mewakili pihak Kim-liong Piauw-kiok seperti
yang pernah dikatakannya dulu itu ? Aaaaaah.......!" Souw
Lian Cu berpikir dan berdesah berulang-ulang.
Lalu gadis itu mencoba untuk menilai dan membaca
perasaan hatinya sendiri. Adakah kepulangannya ke Meng-to
kali ini benar-benar karena memenuhi panggilan dan karena
ingin membantu Keh-sim Siau-hiap ? Apakah kedatangannya
kali ini bukan karena ingin bertemu Chin Yang Kun, dan untuk
selanjutnya menguji kepandaian pemuda yang secara diamdiam
telah menarik hatinya itu?
Selanjutnya Souw Lian Cu mencoba pula untuk melihat
serta menilai sikapnya terhadap pemuda itu selama ini.
"Selama ini aku selalu acuh tak acuh dan dingin setiap kali
bertemu atau berdekatan dengan dia. Kadang-kadang aku
malah menunjukkan sikap tak suka dan benci kepadanya.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Apakah sebenarnya yang menyebabkan semua itu ? Benarkah
aku ini tak suka dan benci kepadanya? Bukankah sebenarnya
aku tak mempunyai alasan untuk membencinya? Bukankah dia
pemuda yang baik dan tak pernah berbuat jelek terhadapku ?
Lalu apa sebabnya aku lantas membencinya? Ohhh....... rasarasanya
semua itu hanya satu jawabannya, yaitu.......karena
aku telah jatuh cinta kepadanya ! Hmm...... benar! Semua itu
karena hati kecilku telah tertarik kepada pemuda itu, padahal
saat itu pikiranku sedang kalut memikirkan Keh-sim Siau-hiap.
Maka masuknya pemuda itu ke dalam pintu hatiku itu
kuanggap sebagai godaan dan beban yang semakin
memberatkan jiwaku. Oleh karena itu aku lantas menjadi
uring-uringan tanpa sebab dan membencinya tanpa alasan,
padahal semuanya itu bersumber pada rasa marah dan rasa
benciku terhadap diriku sendiri, karena aku telah tertarik dan
jatuh cinta kepadanya. Ouhhhh…..”
Tak terasa butir-butir air mata menetes dari sudut mata
Souw Lian Cu. Gadis itu menjadi kaget sendiri, dan dengan
tergesa-gesa lalu menghapusnya dengan saputangannya.
Kemudian sambil berpura-pura mengusap rambutnya yang
tergerai ditiup angin laut, gadis itu menatap jauh ke depan.
Sedikit demi sedikit kegelapan yang menyelubungi udara di
atas permukaan air laut itu kian sirna, dan kemudian diganti
dengan sinar terang dari matahari yang mulai mengintip di
balik cakrawala. Angin lautpun mulai tenang sehingga
gelombang airpun tidak sebesar tadi.
“Ohh....... betapa hangatnya sinar matahari pagi !" Tiattung
Lo-kai menarik napas seraya menggeliatkan badannya ke
kanan dan ke kiri.
"Ya ! Tapi..... hei ! Lihat ! Ada perahu datang........!" tibatiba
Tiat-tung Hong-kai menunjukkan jarinya ke depan.
Semua orang yang ada di dalam perahu itu tersentak
kaget. Mereka lantas memandang ke arah mana ketua
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
perkumpulan Tiat-tung Kai-pang daerah utara itu
menunjukkan jarinya.
"Ah, benar ....... Perahu kecil dengan seorang penumpang.
Hmm, siapakah dia ?" Chu Seng Kun cepat menyahut pula.
"Wah! Paling-paling juga seorang nelayan. Bukankah kita
telah mendekati daratan Tiongkok?" Tiat-tung Lo-kai
menjawab.
Perahu yang datang itu tampak seperti sebuah kotak kayu
kecil yang hanyut di tengah-tengah lautan. Dari kapal Keh-sim
Siau-hiap yang besar, perahu kecil itu kelihatan dengan jelas
terombang-ambing dan timbul-tenggelam dipermainkan
ombak.
“Haaaaaiii........!" begitu melihat kapal Keh-sim Siau-hiap,
orang yang berada di atas perahu kecil itu berteriak dan
mendayung perahunya lebih giat lagi.
"Hei....... siapakah dia? Hebat benar tenaga dalamnya!"
Tiat-tung Hong-kai bergumam seraya berdiri mendekati Tiattung
Lo-kai.
"Entahlah! Kita nantikan saja dia......!"
Sebentar saja perahu kecil itu telah datang, lalu dengan
mahirnya orang itu memotong arus air yang diakibatkan oleh
kapal Keh-sim Siau-hiap, dan merapatkan perahunya dari arah
belakang.
"Heiii....... siapa di atas?" orang itu mendongakkan
kepalanya dan berteriak kembali.
Keh-sim Siau-hiap dan sahabat-sahabatnya, berbondongbondong
menuju ke pagar kapal, sehingga kapal besar itu
sedikit miring karenanya. Mereka segera menjenguk ke bawah
untuk melihat siapa yang datang.
"Chin Yang Kun........!" semuanya berdesah kaget.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Yang Kun...........!" Souw Lian Cu yang masih tetap
melekat di pagar perahu itu juga berdesah pula.
"Eeehh.......!" tiba-tiba Chin Yang Kun berseru kaget pula.
Ternyata pemuda itu juga tidak mengira sama sekali kalau
hendak berjumpa dengan mereka di tempat itu. Pemuda itu
hanya menduga bahwa kapaI besar tersebut tentu datang dari
Pulau Meng-to. Dan maksudnya menghampiri kapal besar
tersebut adalah untuk menanyakan keadaan di Pulau Meng-to
malam itu.
"Saudara Yang Kun, kaukah itu? Marilah naik.......!” Kehsim
Siau-hiap berseru.
"Eh....... anu, apakah.......... apakah Souw Tai-hiap ada di
atas pula?" mendadak Chin Yang Kun menjadi gugup ketika
melihat wajah Souw Lian Cu di antara orang-orang di atas
kapal besar itu.
"Aku ada di sini, Saudara Yang ! Apakah kau mencari aku?"
Souw Thian Hai menyeruak maju dan menjengukkan
kepalanya pula.
“Ya....... ya! Ada sesuatu yang hendak siau-te sampaikan
kepada Tai-hiap......" Chin Yang Kun cepat-cepat menjawab.
"Kalau begitu, naiklah.......!" Souw Thian Hai
mempersilakan seraya melemparkan tali ke bawah.
"Terima kasih!"
Chin Yang Kun menangkap tali tersebut, kemudian
mengikatkan ujungnya di tiang perahunya. Setelah itu dengan
ringan dan gesit pemuda itu melompat ke atas kapal Keh-sim
Siau-hiap. Dan Keh-sim Siau-hiap sendiri bersama kawankawannya
segera mundur pula untuk memberikan tempat.
Begitu menginjakkan kakinya di atas kapal Chin Yang Knn
lantas menjura ke sekelilingnya.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Maafkanlah siau-te kalau siau-te mengganggu cu-wi
sekalian......" pemuda itu berseru perlahan. Lalu katanya lagi
seraya menghadap ke arah Keh-sim Siau-hiap, "Siau-hiap,
sebenarnya siau-te hendak berkunjung ke Meng-to untuk
menemui Souw Tai-hiap. Tapi sungguh kebetulan sekali siaute
sudah bisa menjumpainya di sini. Eh...,, anu, bolehkah siaute
menjumpainya sekarang?"
Keh-sim Siau-hiap mengerutkan keningnya. Sebenarnya
pendekar dari Meng-to itu agak curiga terhadap Chin Yang
Kun, apalagi bila melihat baju dan celana Chin Yang Kun yang
bernoda darah itu. Namun karena pemuda itu berkehendak
untuk bertemu dengan Souw Thian Hai, pendekar itu tak bisa
menolak atau menghalang-halanginya. Siapa tahu mereka
berdua mempunyai urusan pribadi ? Dan siapa tahu pula
mereka hendak berbicara tentang Souw Lian Cu ?
Oleh karena itu Keh-sim Siau-hiap segera mengajak kawankawannya
yang lain untuk menyingkir.
"Ohhh.... silakan ! Tapi,,..... nanti aku juga ingin berbicara
sebentar dengan Saudara Yang, yaitu tentang......... dendam
Saudara Yang tempo hari."
"Ah........ benar ! Keh-sim Siau-hiap, maafkanlah siaute......!
Siau-te telah menemukan pelaku pembantaian itu, dan
siau-te telah membalasnya ! Hmm........ maafkanlah
kekurangajaranku beberapa hari yang lalu, Siau-te benarbenar
ceroboh telah menduga yang tidak-tidak terhadap Siauhiap........”
Chin Yang Kun buru-buru memotong perkataan
Keh-sim Siau-hiap.
"Hei ? Jadi ..... Saudara Yang telah dapat menemukan
orang itu ? Oh, siapakah dia......?” Keh-sim Siau-hiap berseru
kaget.
Mendadak wajah Chin Yang Kun berubah. Sinar
kekecewaan kembali memancar dari sorot matanya.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Orang itu adalah....... Hek-eng-cu! Dan….
Tanganku……tanganku telah membunuhnya !" pemuda itu
menjawab dengan suara hampa dan tak bergairah, seolaholah
pemuda itu justru menjadi kecewa dan menyesal telah
dapat membalaskan dendam keluarganya.
Tentu saja perubahan sikap dan wajah pemuda itu tak
luput dari perhatian Keh-sim Siau-hiap dan kawan-kawannya.
"Hek-eng-cu........? Jadi orang itu adalah Hek-eng-cu yang
sangat terkenal itu ? Dan orang itu telah mati di tangan
Saudara Yang?" Keh-sim Siau-hiap berseru seakan-akan tak
percaya.
Demikian pula dengan orang-orang yang berada di atas
kapal besar itu. Kata-kata yang diucapkan oleh Chin Yang Kun
itu seperti geledek di telinga mereka, dan tak seorangpun dari
mereka yang percaya pada ucapan pemuda itu. Hek-eng-cu
adalah tokoh besar yang berkepandaian amat tinggi, dan
mungkin justru lebih tinggi dari pada Keh-sim Siau-hiap
sendiri. Oleh karena itu sungguh mustahil kalau pemuda itu
bisa membunuhnya.
Tapi Chin Yang Kun tak peduli dengan keragu-raguan orang
di sekelilingnya. Dengan acuh tak acuh pemuda itu membuka
buntalan yang dibawanya.
"Justru kedatangan siau-te ini juga ada hubungannya
dengan orang itu. Karena sebelum menghembuskan napasnya
yang penghabisan, Hek-eng-cu telah minta tolong kepada
siau-te untuk mengembalikan benda-benda pusaka
peninggalan Bit-bo-ong ini kepada Hong-gi-hiap Souw Thian
Hai.”
"Oooh !"
“Ooh........!”
Tiba-tiba semuanya melangkah mundur begitu melihat
benda-benda mengerikan yang telah memakan banyak korban
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
itu. Hanya Souw Thian Hai saja yang tidak beranjak dari
tempatnya. Dengan wajah tegang pendekar sakti mengawasi
Chin Yang Kun.
"Kau....... kau telah membinasakan iblis keji itu ? Kau tidak
berbohong?”
Chin Yang Kun menggeleng lemah. "Siau-te tidak
berbohong. Siau-te memang benar-benar telah
membunuhnya. Tapi...... tapi....ahh, sudahlah ! Biarkanlah
siau-te pergi sekarang......." Chin Yang Kun menjawab Iemah
lalu melangkah kembali ke pinggir kapal.
Dan ketika melewati Souw Lian Cu pemuda itu tampak
tersipu-sipu sedih.
"Maafkanlah aku, Nona Souw........" katanya lirih.
Lalu pemuda itu meloncat kembali ke dalam perahunya.
Sekali lagi ia menoleh ke atas, kemudian mengayuh
perahunya cepat-cepat pergi dari tempat itu. Sungguh
berbeda sekali sikapnya sekarang dengan ketika ia datang
tadi.
Semua kejadian itu berlangsung dengan cepat dan tidak
terduga sama sekali. Semuanya masih tertegun di tempat
masing-masing. Dan begitu mereka tersadar kembali, Chin
Yang Kun telah berlayar jauh meninggalkan kapal mereka,
pemuda itu kembali menuju ke daratan Tiong-kok lagi.
"Yang Kun, tungguuuu ........!" tiba-tiba mereka dikejutkan
lagi dengan adanya jeritan Souw Lian Cu.
Dan sebelum semuanya sadar apa yang telah terjadi, Souw
Lian Cu telah mengambil sebuah perahu kecil yang terikat di
atas buritan, dan melemparkannya ke dalam air. Gadis itu
segera meloncat ke bawah, lalu mendayung perahu kecil itu
kuat-kuat untuk mengejar perahu Chin Yang Kun.
"Nona Souw.....!” Keh-sim Siau-hiap memanggil.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Lian Cu.......!" Souw Thian Hai dan Chu Bwee Hong
berteriak pula.
"Aaaagh !” yang lain berdesah kaget dan bingung.
Tapi gadis itu telah jauh meninggalkan kapal mereka. Dan
demikian pula halnya dengan perahu Chin Yang Kun. Sebentar
saja perahu mereka telah hilang di balik gelombang air laut
yang tinggi.
"Oh, Hai-ko.......! Bagaimana dengan Lian Cu nanti?" Chu
Bwee Hong mengeluh.
Souw Thian Hai menghela napas panjang. "Sudahlah, dia
bukan anak kecil lagi! Biarlah ia menemukan jalannya
sendiri........!”
"Tapi......... tapi aku kurang begitu percaya kepada pemuda
itu. Sikapnya amat aneh dan mengkhawatirkan. Aku takut
jangan-jangan Souw Lian Cu nanti......"
"Ah, sudahlah ! Sudahlah.......! Kau jangan berpikir yang
bukan-bukan ! Lebih baik kita berdoa saja untuk keselamatan
Lian Cu." Souw Thian Hai berkata sambil memeluk pundak
Chu Bwee Hong.
Lalu pendekar sakti itu mengambil buntalan yang diberikan
oleh Chin Yang Kun tadi. Keragu-raguannya tentang Chin Yang
Kun seketika lenyap. Benda-benda itu memang benar-benar
pusaka mendiang Bit-bo-ong yang diambil secara licik oleh
Hek-eng-cu beberapa tahun yang lalu.
"Tampaknya pemuda itu memang tidak berbohong. Ini
betul-betul pusaka Bit-bo-ong asli. Sungguh hebat sekali
kepandaian pemuda itu. Baru sekarang kudengar ilmu warisan
Bit-bo-ong dikalahkan orang.......” Souw Thian Hai bergumam
seperti kepada dirinya sendiri.
"Tapi ...... bukankah Saudara Souw juga pernah
mengalahkan Duplikat Bit-bo-ong yang meraja-lela di dunia
kang-ouw pada sepuluh tahunan yang lalu ?" Keh-sim SiauTiraikasih
Website http://kangzusi.com/
hiap yang mendengar kata-kata Souw Thian Hai itu cepatcepat
memotong.
Souw Thian Hai menoleh dan tersenyum kecut. "Tidak.
Bukan itu yang kumaksudkan. Bagi aku dan seluruh keluarga
Souw, ilmu warisan Bit-bo-ong ini sudah bukan barang yang
aneh dan asing lagi, karena diantara Bit-bo-ong dan kami
sebenarnya masih sekeluarga. Apalagi Duplikat Bit-bo-ong
yang kubunuh itu juga masih terhitung adik seperguruanku
sendiri. Berbeda dengan Hek-eng-cu itu. Dia terbunuh oleh
seseorang yang tidak mempergunakan ilmu keluargaku ...„,,.
Oleh karena itu tadi kukatakan bahwa baru sekarang ini
kuketemukan ilmu warisan Bit-bo-ong itu dikalahkan orang."
"Aaah !" semuanya menarik napas panjang. Demikianlah,
selagi semua orang membicarakan dirinya, ternyata Chin Yang
Kun sendiri telah pergi jauh meninggalkan mereka.
Perahu kecil yang ditumpanginya itu meluncur cepat
dibawa angin. Sesekali terlihat pemuda itu merentangkan
lengannya dan menghirup udara pagi sebanyak-banyaknya.
Keretakan dan kehancuran hatinya akibat kekecewaan
hidup yang dihadapinya, membuat pemuda itu merasa segan
untuk kembali lagi ke dunia ramai. Apalagi pemuda itu merasa
sudah menyelesaikan semua tugas-tugas pokok yang
diberikan oleh ayahnya. Hanya beberapa hal saja yang belum
ia laksanakan. Itupun karena sejak semula ia memang tak
berhasrat untuk melakukannya, yaitu mencari Cap Kerajaan,
menghimpun kekuatan dan merebut kembali kekuasaan
Wangsa Chin.
"Aku tak ingin menjadi Kaisar. Apalagi untuk menjadi kaisar
aku harus...... merebutnya dari tangan Liu...,.. Liu........ ah!”
pemuda itu tak bisa melanjutkan keluhannya.
Pemuda itu lalu menatap ke sekelilingnya. Dilihatnya ombak
yang bergulung-gulung di sekitarnya. Dinikmatinya suara
kecipak air yang menghantam badan perahunya. Lalu
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
dikaguminya pula gumpalan awan yang berarak beraneka
warna di atas langit yang membiru. Dan semuanya itu
ternyata sangat melegakan serta terasa lapang di dalam dada
pemuda itu.
"Ahh....... ternyata hidup bersama alam begini justru lebih
nyaman dan membahagiakan dari pada hidup bersama
manusia yang tamak dan kotor hatinya. Hmm, baiklah.........
aku tinggal mempunyai satu tugas lagi, yaitu menabur abu
Nenek Hoa di samping makam Kakek Piao Liang. Setelah itu
aku akan mencari pulau kecil di tengah lautan untuk
mengasingkan diri, seperti halnya Keh-sim Siau-hiap itu.
Dengan demikian penyakitku yang membahayakan orang itu
juga tidak akan menimbulkan korban yang lebih banyak
lagi....." Chin Yang Kun kembali merenung. Wajahnya
tertunduk lama sekali, seperti orang yang sedang samadhi
atau memusatkan pikirannya.
"Eh........!"
Tiba-tiba pemuda itu tersentak kaget dan wajahnya
menjadi tegang luar biasa ! Dalam ketermenungannya tadi
mendadak berkelebat di angan-angan Chin Yang Kun sejumlah
kapal besar berisi prajurit berseragam saling bentrok satu
sama lain. Dan tempat di mana pertempuran itu berlangsung
rasa-rasanya hanya di depan perahunya saja.
Namun secepat angan-angan itu datang, secepat itu pula ia
pergi. Mendadak saja bayangan itu menghilang lagi dan
diganti dengan bayangan yang lain, yaitu bayangan seorang
kakek tua, berjenggot dan berambut putih panjang sampai di
telapak kakinya. Kakek itu seperti sedang berayun-ayun di
atas selembar daun teratai, yang mengambang di atas
permukaan air laut. Dan tubuh kakek itu tidak tertutup oleh
pakaian atau kain selembarpun. Satu-satunya penutup
tubuhnya hanyalah uraian rambutnya yang luar biasa
panjangnya itu.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Tapi ketika Chin Yang Kun telah tersadar kembali, ia tak
melihat siapapun di sekitarnya. Yang ada tetap hanya
gelombang air laut yang bergulung-gulung dan percikan air
yang membasahi lantai perahunya.
"Ah, lagi-lagi pikiranku telah dibajak oleh ilmu Lin-cui Suihoat
yang tak sengaja kupelajari itu. Hmmm......" pemuda itu
menggerutu.
Namun betapa terperanjatnya pemuda itu tatkala
didengarnya suara nyanyian mengalun di telinganya. Tidak
begitu keras, tapi kata-katanya sangat jelas didengarnya.
Langit dan Bumi itu abadi.
Sebabnya Langit dan Bumi abadi
adalah karena tidak hidup untuk diri
sendiri, maka itu abadi.
Inilah sebabnya orang suci
membelakangkan dirinya
dan oleh karenanya dirinya tampil ke depan
ia menyampingkan dirinya.
dan oleh karenanya dirinya utuh.
Karena ia tak ada kehendak pribadi,
maka ia dapat menyempurnakan pribadinya.
"Ah....... Penyanyi Sinting itu lagi ! Gila! Siapa sebenarnya
dia? Kenapa ia tak pernah mau menampakkan dirinya? Dan.....
hei ! Apakah dia itu Si Kakek Telanjang yang melintas dalam
angan-anganku tadi?" Chin Yang Kun tergagap kaget, lalu
...sibuk memandang kesana kemari untuk mencari orang tua
itu.
Tapi yang terlihat dari perahu itu cuma air dan air saja. Tak
ada yang lain.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Lo-cianpwe........! Kalau Lo-cianpwe bermaksud menemui
aku, mengapa Lo-cianpwe tidak menampakkan diri saja ?"
akhirnya Chin Yang Kun berseru dengan mengerahkan lweekangnya.
Tak ada jawaban. Suara nyanyian itu berhenti dan tak
terdengar lagi, namun demikian Penyanyi Sinting itu tak
menjawab pertanyaan Chin Yang Kun. Tentu saja Chin Yang
Kun menjadi kesal.
“Hmm….. apakah Lo-cianpwe merasa malu menemui aku
karena Lo-cianpwe tidak mengenakan pakaian ?”
“Kurang ajar! Bagaimana kau tahu? Apakah kau bisa
melihatku?"
Tiba-tiba saja Chin Yang Kun merasa ada angin bertiup di
belakang perahunya, dan......entah dari mana datangnya,
mendadak di beIakang perahunya itu telah berdiri seorang
kakek tua, yang ujudnya persis dengan yang ada di dalam
angan-angannya tadi.
"Hayo, jawab ! Bagaimana caranya kau bisa melihatku tadi,
he?'' kakek tua itu membentak penasaran.
Chin Yang Kun tidak segera menjawab. Selain masih kaget
pemuda itu juga merasa geli pula melihat ulah Si Kakek Aneh
yang tiba-tiba datang itu. Kalau tidak menyadari bahwa ia
sedang berhadapan dengan seorang sakti, mungkin pemuda
itu sudah tertawa terbahak-bahak sejak tadi.
Bagaimana Chin Yang Kun tak hendak tertawa kalau orang
tua yang sering menyanyikan ujar-ujar Lao-tse itu, dan yang
kini sedang membentak-bentak dirinya itu, ternyata hanya
seorang kakek yang tingginya tidak lebih dari seorang anak
lelaki berusia sepuluh tahunan ? Dan bagaimana pula Chin
Yang Kun tidak merasa geli melihat "bocah tua" itu kini
berusaha dengan sekuat tenaga untuk "menutupi" bagianbagian
tubuhnya yang telanjang?
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Hei ! Apa yang kaulihat, heh? Mau mengintip punyaku,
yaa? Kurang ajar.......! Hayo...kau menghadap ke sana ! Dan
cepat jawab pertanyaanku tadi ! Lekas !”
“Eh-oh..... anu..... nama siau-te Chin......"
"Goblok! Siapa tanya namamu? Tanpa kau beritahupun aku
sudah tahu kalau namamu Chin Yang Kun. Tapi bukan itu
yang kutanyakan kepadamu. Yang kutanyakan
adalah.......bagaimana kau bisa melihatku tadi ?”
“Wah, kalau itu...... kalau itu sih Cuma kebetulan saja. Pada
waktu....... pada waktu siau-te termenung sendirian tadi, tibatiba
melintas di dalam angan-angan siau-te.......bayangan
wajah dan bentuk tubuh Lo-cianpwe....... persis seperti
keadaan Lo-cianpwe sekarang ini. Maka....... maka.....”
"Huh........ jangan membual kau! Kaupikir berapa umurmu
sekarang, heh? Kaupkir dengan usiamu yang baru belasan
tahun ini kau heudak mengatakan kepadaku bahwa kau sudah
mampu meyakinkan ilmu Lin-cui-sui-hoat, begitu? Kau tahu
berapa batasan umur seseorang yang ingin mempelajari ilmu
itu? Paling sedikit duapuluh lima tahun, tahu? Itupun kalau
semenjak lahir dia langsung belajar Iwee-kang. Kalau
tidak...... huh, ya.......belajar Iwee-kang dulu selama duapuluh
lima tahun, baru kemudian berpikir untuk meyakinkan Lin-cuisui-
hoat itu......."
Chin Yang Kun menggaruk-garuk kepalanya yang tidak
gatal.
"Lo-cianpwe, ini.….ini...... wah ! Siapa yang bilang kalau
siau-te mempelajari ilmu Lin-cui-sui-hoat? Bukankah siau-te
tadi cuma berkata, bahwa bayangan tentang Lo-cianpwe itu
hanya melintas sekejap di dalam angan-angan siau-te?"
"Huh! Apa bedanya itu? Kaupikir tanpa ilmu itu kau bisa
berkonsentrasi dan bisa membayangkan hal-hal yang tak
dapat kaulihat dengan matamu itu, demikian jelasnya? Bocah
sombong !”
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Wah! Sungguh repot benar Lo-cianpwe ini.....! Siapa yang
berkonsentrasi? Bukankah siau-te sedang....... sedang
termenung?"
"Termenung? Kau hanya termenung dan...., bisa melihat
hal-hal yang belum kau saksikan? Omong kosong! Pembual!”
Penyanyi Sinting itu "mencak-mencak" di atas daun teratainya.
Lalu teriaknya lagi. "Kaumaksudkan hanya dengan termenung
kau sudah bisa melihat diriku yang bersembunyi di bawah air?
Dan dengan termenung itu kau bisa melihat sesuatu yang
belum terlihat oleh matamu?"
“Entahlah ..... Siau-te sendiri kadang-kadang merasa
bingung dan tidak mengerti pula. Apa yang pernah kupikirkan
atau apa yang pernah terlintas di dalam angan-anganku,
kadang-kadang cocok dengan kenyataannya. Seperti ini tadi,
siau-te memang benar-benar melihat bayangan Lo-cianpwe di
dalam angan-angan. Malah tidak cuma itu saja. Selain
bayangan Lo-cianpwe, siau-te juga melihat bayangan yang
lain, yaitu bayangan tentang beberapa buah perahu berisi
prajurit, yang bertempur satu sama lain......”
"Apaaa........? Kau melihat pertempuran di Pantai Karang
itu pula?'' Penyanyi Sinting itu semakin kaget.
''Pertempuran di Pantai Karang? Pertempuran apa itu ?"
"Mana kutahu? Mereka sama-sama prajurit kerajaan, tapi
tampaknya mereka saling berselisih paham. Nah, lihatlah
itu.......!" Penyanyi Sinting itu berkata seraya mengacungkan
jarinya ke depan.
Chin Yang Kun cepat membalikkan tubuhnya. Sayup-sayup
terdengar suara terompet dibawa angin dan jauh di depan
sana lamat-lamat terlihat asap hitam mengepul tinggi ke
udara.
"Itukah pertempuran yang Lo-cianpwe katakan itu?" Chin
Yang Kun bertanya.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Ya! Dan tampaknya sudah selesai sekarang, karena
pertempuran itu sudah berlangsung sejak fajar tadi."
Keduanya lalu memperhatikan tempat yang sangat jauh itu
dengan saksama. Untuk sekejap mereka lupa pada
pertengkaran mereka tadi. Tapi suasana yang tenang itu
ternyata tidak berlangsung lama. Beberapa saat kemudian
mereka dikejutkan oleh suara teriakan Souw Lian Cu yang
sudah sampai di tempat itu pula.
"Yang Kunnnnn........!"
"Heh, celaka! Ada suara wanita di sini ! Aku harus cepatcepat
pergi......!" mendadak seperti orang kebakaran jenggot
kakek bertubuh pendek itu menjerit, lalu bergegas mengambil
daun teratainya dan....... ambles ke dalam air! Dan yang
tampak kemudian hanyalah daun itu saja yang hanyut
menjauhi perahu Chin Yang Kun.
"Ah, makanya aku tak melihat orang tua itu tadi. Tak
tahunya ia bersembunyi di bawah daun teratainya......."
pemuda itu berkata di dalam hati. Lalu, "Hei! bukankah suara
itu tadi seperti suara Souw Lian Cu? Apa - apakah ia mengejar
aku?”
Dengan sedikit gemetar Chin Yang Kun mengedarkan
pandangannya, mencari gadis yang selama ini selalu
terbayang-bayang di dalam ingatannya. Dan sesaat kemudian
jantungnya segera berdenyut semakin keras ketika dari jauh
terlihat sebuah perahu kecil mendatangi.
"Yang Kuuun.........!"
"Ah, benar-benar dia! Benar-benar dia ! Ouh.......
apa,……apa maksudnya mengejar aku? Apakah......apakah dia
ingin mengadakan perhitungan dengan aku sekarang? Ah,
tidak! Tidaaaaak! Aku tidak ingin mencelakainya! Aku harus
lekas- lekas pergi menghindarinya, sebelum tanganku yang
kotor dan bernoda darah ini mencelakainya......” tiba-tiba Chin
Yang Kun berdesah ketakutan.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Lalu tanpa berpikir panjang lagi pemuda itu mendayung
perahunya kuat-kuat. Perasaan takut apabila dirinya nanti
berbuat tak senonoh dan tidak baik terhadap gadis yang
dicintainya itu membuat Chin Yang Kun mendayung
perahunya seperti dikejar setan. Sebentar saja perahu Souw
Lian Cu telah jauh ketinggalan dan tidak kelihatan pula lagi.
Chin Yang Kun bernapas lega, apalagi ketika dilihatnya
Pantai Karang telah kelihatan dari perahunya. Namun rasa
leganya tersebut segera berganti menjadi perasaan was-was
tatkala dilihatnya ada "kesibukan" yang mengkhawatirkan di
perairan pantai itu, yaitu kesibukan para perajurit dan perahuperahunya
setelah peperangan selesai.
Sebenarnya Chin Yang Kun tak ingin berurusan dengan
mereka, tapi karena sudah terlanjur dilihat oleh mereka, maka
ia terpaksa tidak bisa menghindar Iagi. Pemuda itu terpaksa
mengayuh perahunya untuk mendarat di pantai tersebut.
Air Iaut di pantai itu tampak keruh dan amis. Dan beberapa
kali pemuda itu harus menyingkirkan mayat-mayat atau
pecahan-pecahan perahu yang menghalangi jalannya. Dan
beberapa kali pula pemuda itu harus menahan napas karena
terpaksa menerobos gulungan asap tebal, yang mengepul dari
perahu atau kapal besar yang terbakar.
"Hei! Berhenti! Siapakah kau......?”
Mendadak dari arah kanan meluncur sebuah perahu
menghalangi jalan Chin Yang Kun. Seorang perwira bertubuh
pendek kekar tampak berdiri di ujung perahu, sementara di
belakangnya, tampak enam orang perajurit bertombak berdiri
mengawalnya.
Chin Yang Kun terpaksa membelokkan moncong perahunya
dan berhenti di samping perahu perwira tersebut. Tapi ketika
pemuda itu mau menjawab, tiba-tiba perwira itu berseru
kaget.
"Ong ya (Pangeran).......!"
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Dan seperti sedang bermimpi saja Chin Yang Kun melihat
perwira dan para perajurit itu berlutut ke arahnya. Tentu saja
kejadian yang amat mendadak serta tidak dimengerti oleh
Chin Yang Kun itu sangat mengejutkan dan membingungkan
pemuda itu. Apa lagi ketika perajurit-perajurit itu memanggil
"pangeran" terhadap dirinya.
"Ini....., ini.........eh, apa maksud kalian ini sebenarnya ?"
dalam gugupnya Chin Yang Kun bertanya kepada perwira itu.
Dengan agak takut-takut perwira itu menjawab. "Ampun
Ong-ya.....! Kedatangan kami ke pantai ini memang untuk
menjemput Ong-ya. Kemarin Hong-siang telah memerintahkan
kepada kami dan seluruh perajurit kerajaan, untuk mencari
paduka dan mempersilakan paduka pulang ke kota raja
secepatnya. Hong-siang bermaksud untuk mengadakan
pembicaraan empat mata dengan paduka."
Chin Yang Kun berdesah panjang dan menundukkan
kepalanya. Sejak semula pemuda itu memang telah menduga
akan hal ini, yaitu cepat atau lambat Hong-siang tentu akan
mengerahkan balatentaranya untuk mencari dia.
Bagaimanapun juga pemuda itu adaIah satu-satunya putera
Kaisar Han, sebab hingga kini baginda itu tetap tidak mau
kawin dengan siapapun juga. Dan bila mengenang akan hal
ini, secara diam-diam pemuda itu merasa kasihan dan
tersentuh pula hatinya. Demikian agung dan besar cinta
baginda itu terhadap ibunya, sehingga kaisar itu rela tidak
kawin selama hidupnya. Padahal dengan kekuasaannya yang
tidak terbatas itu Kaisar Han bisa memilih setiap wanita yang
diingininya.
Sementara itu melihat Chin Yang Kun hanya tertunduk
diam dan tak berkata-kata, perwira di atas perahu itu menjadi
gelisah. Maka untuk menghilangkan kegelisahannya tersebut
perwira itu lalu meneruskan keterangannya.
"Tak kami sangka di pantai ini kami justru bisa bertemu
dengan pasukan Siangkoan Ciang-kun yang telah membelot
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
dan hampir mencelakai Hong-siang di kota Sin-yang beberapa
hari yang lalu. Tampaknya pasukan itu sedang bersiap-siap
untuk menyerbu Pulau Meng-to. Dan melihat kesiap-siagaan
pasukan itu, kami tidak berani membuang-buang waktu lagi.
Kami segera menyerang pasukan itu sebelum mereka jauh
meninggalkan pantai. Dan ternyata kami memenangkan
pertempuran ini."
Chin Yang Kun masih tetap tertunduk diam. Pemuda itu
hampir tak mendengarkan cerita perwira itu. Di dalam hati
pemuda itu sedang terjadi pula perang batin yang hebat, yaitu
antara keinginan untuk menuruti ajakan perwira itu dan
keinginan untuk menolak ajakan tersebut. Keduanya samasama
beratnya bagi pemuda itu.
"Ong-ya .....!" akhirnya perwira itu memberanikan dirinya
menegur Chin Yang Kun.
Namun Chin Yang Kun masih tetap berdiam diri. Dan
sementara itu dari arah pantai tiba-tiba muncul sebuah perahu
besar mendekati mereka. Beberapa orang perwira berseragam
gemerlapan tampak berdiri di atas perahu itu.
"Ada apa di sini?" seorang perwira tua yang pernah dilihat
Chin Yang Kun di istana Kaisar Han, maju ke depan dan
bertanya kepada perwira pendek kekar tadi.
"Goan-swe, kami telah menemukan Ong-ya di sini !"
"Apa......? Di manakah dia?” perwira tua itu tersentak
kaget.
Perwira bertubuh pendek itu segera mengangguk ke arah
Chin Yang Kun. "Inilah Ong-ya..........” lapornya dengan suara
bangga.
"Ong-ya ......?? Ohh.......!" perwira tua itu menatap Chin
Yang Kun dengan air muka seolah tak percaya. Tapi sesaat
kemudian perwira tua itu segera mengenal Chin Yang Kun.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Ong-ya.......!" sekali lagi perwira tua itu menyebut, lalu
menjura dengan sangat hormatnya. Perwira-perwira yang
lainpun segera mengikutinya.
Chin Yang Kun semakin menjadi kikuk dan tak enak
hatinya.
"Terima kasih, Ciang-kun .....terima kasih ! Sungguh tak
enak benar perasaanku menerima penghormatan Ciang-kun
yang berlebih-lebihan ini. Ahh........... apa sebenarnya maksud
Ciang-kun menyongsong aku ini ?" akhirnya Chin Yang Kun
terpaksa menanggapi perkataan mereka.
Perwira tua itu menoleh sekejap ke arah temannya, Si
Perwira Pendek Kekar tadi. Lalu katanya sambil
membungkukkan tubuhnya.
"Ampun Ong-ya........ saya kira Giam Ciang-kun tadi telah
mengatakan pula kepada paduka, apa yang menjadi tugas
kami saat ini. Tapi tak apalah kiranya kalau saya
mengulanginya kembali. Ong-ya, kami mendapat perintah dari
Hong-siang untuk mencari dan menjemput paduka di
manapun paduka berada, dan kemudian mengawal paduka
pulang ke kota raja secepatnya. Saat ini Hong-siang sedang
menderita sakit. Oleh karena itu beliau sangat mengharapkan
sekali kedatangan paduka..."
“Apa.......? Liu twa-ko sakit....... eh, Hong-siang sakit ?
Sakit apa ?” tiba-tiba Chin Yang Kun berseru kaget.
Dan sambil berseru pemuda itu melompat dari perahunya
ke perahu Si Perwira tua itu. Gerakan pemuda itu begitu
cepatnya sehingga orang-orang di atas perahu itu baru sadar
ketika Chin Yang Kun telah berdiri memegangi tangan perwira
tua itu. Para prajurit itu benar-benar tidak bisa percaya bahwa
putera Kaisar Han tersebut mampu meloncati jarak yang
sangat jauh itu.
“Ooh...... bukan main !" seorang perwira muda berdesah
kagum.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Yaaah…….itulah sebabnya Yap Tai-ciangkun memberi
pesan secara sungguh-sungguh kepada kita, agar kita jangan
berlaku sembrono bila berhadapan dengan Ong-ya itu,"
perwira yang berdiri di sampingnya berkata.
"Dan rasa-rasanya kita semua ini juga takkan mampu
menangkapnya bila dia menolak untuk dibawa ke kota raja."
seorang perwira yang lain memberi komentar.
Sementara itu Chin Yang Kun segera menggoncanggoncangkan
lengan perwira tua itu saking tegangnya.
"Ciangkun.......! Katakanlah! Apa yang sedang diderita oleh
Hong-siang?"
Perwira tua malah menjadi pucat wajahnya.
"Hong-siang..... jatuh sakit karena merasa…… merasa
terpukul batinnya akibat penolakan paduka dua hari yang lalu.
Hong-siang….. Hong-siang merasa sedih luar biasa!" dengan
tergagap-gagap perwira tua itu memberi keterangan.
"Ooough.....!" Chin Yang Kun terhenyak di tempatnya.
Perlahan-lahan pegangan tangannya terlepas. Matanya
berkaca-kaca.
Pemuda itu lantas teringat akan kebaikan Hong-siang atau
Liu twa-konya itu selama ini. Bagaimana nasibnya di kota Tiekwan
setahun yang lalu bila tidak memperoleh pertolongan
ayahandanya itu, padahal waktu itu masing-masing belum
tahu sama sekali bahwa mereka adalah ayah dan anak.
"Ong-ya........?” perwira tua itu tiba-tiba menyapa dan
menyentuh lengan Chin Yang Kun, sehingga pemuda itu
menjadi sadar akan dirinya kembali.
"Baiklah, Ciangkun........ marilah kita kembali ke kota raja
menemui Hong-siang.......!" seperti tidak mempunyai pilihan
lain lagi pemuda itu akhirnya berkata kepada perwira tua itu.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Aaaah....!" semua perwira itu bernapas lega, seakan-akan
mereka terbebas dari sebuah beban yang sangat berat.
"Oh, marilah Ong-ya......... marilah !” perwira tua itu cepatcepat
mengangguk-angguk di depan Chin Yang Kun. Seketika
wajahnya menjadi cerah luar biasa.
Demikianlah, seperti orang yang sedang melamun Chin
Yang Kun mengikuti saja semua perintah perwira tua tersebut.
Pasukan kerajaan yang baru saja bisa menumpas anak buah
Siangkoan Ciang-kun itu segera berangkat setelah berbenah
diri dan merampungkan urusan mereka di tempat itu. Dan
Souw Lian Cu yang tiba di tempat tersebut tinggal
menemukan sisa-sisa atau bekas-bekas pertempuran itu saja.
Gadis itu telah kehilangan jejak Chin Yang Kun.
Sementara itu pasukan yang membawa Chin Yang Kun ke
kota raja tetap meneruskan perjalanan mereka. Sesampai
mereka di kota yang terdekat, pasukan itu Ialu dibagi menjadi
dua kelompok. Kelompok pertama, yaitu para prajurit yang
tidak mempunyai kuda, mereka tinggalkan di kota tersebut.
Sedang kelompok kedua, yaitu kelompok prajurit berkuda,
yang terdiri dari empatpuluhan orang prajurit, tetap
meneruskan perjalanan untuk mengawal Chin Yang Kun.
Karena semuanya sekarang menunggang kuda maka
perjalanan mereka itupun lantas menjadi lebih cepat pula. Dan
di setiap tempat atau kota mereka selalu bertambah
jumlahnya. Para perajurit kerajaan yang dua hari lalu disebar
Yap Tai-ciangkun ke seluruh pelosok timur negeri itu, segera
bergabung dengan mereka begitu berjumpa dengan
rombongan tersebut.
Rombongan itu menginap dua malam di perjalanan. Dan
setiap kali mereka menginap, mereka terpaksa mencari
tempat yang lapang di luar kota, karena jumlah mereka sudah
mencapai hampir seribu orang lebih sekarang. Seribu orang
dengan seribu kuda pula.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Benar-benar sebuah barisan berkuda yang luar biasa
panjangnya.
Pada hari yang ketiga barisan itu sudah mencapai batas
kota raja. Seorang perwira tinggi yang mulai kemarin
menggabungkan diri dengan rombongan itu dan sekarang
berada di samping Chin Yang Kun bersama-sama perwira tua
itu, segera menghentikan barisan tersebut.
"Maaf, Ong-ya.......! Kita telah sampai di tapal batas kota
raja dan sebentar lagi kita akan memasuki pintu gerbang kota
sebelah Timur. Oleh karena di jalan-jalan nanti tentu akan
banyak penduduk yang menyambut dan mengelu-elukan
kedatangan Ong-ya, maka kami memohon dengan sangat
kepada paduka untuk berganti pakaian yang sesuai dengan
kedudukan paduka."
Chin Yang Kun mengerutkan dahinya tanda kurang setuju.
Tapi serentak melihat semua orang menundukkan kepala
kepadanya, pemuda itu tidak tega untuk menolaknya. Apalagi
pemuda itu ingin lekas-lekas berjumpa dengan ayahandanya.
"Baiklah! Manakah pakaianku itu?” sahut pemuda itu
singkat.
Seorang perwira muda segera turun dari atas kudanya dan
berlari-lari datang mempersembahkan sebuah buntalan
kepada perwira tinggi itu. Dan selanjutnya perwira tinggi itu
lalu mempersilakan Chin Yang Kun untuk mengganti
pakaiannya dengan pakaian yang berada di dalam buntaIan
tersebut.
Dan beberapa saat kemudian Chin Yang Kun benar-benar
telah berubah menjadi seorang pangeran yang tampan
berwibawa. Rambutnya yang gemuk tebal itu digelung ke atas
dan diberi hiasan emas permata yang gemerlapan. Sedangkan
pakaian dalamnya berwarna kuning emas dan ditutup dengan
sebuah mantel sutera hitam berhiaskan benang berwarnaTiraikasih
Website http://kangzusi.com/
warni di bagian pundak dan punggungnya. Sepatunya juga
berwarna hitam dengan hiasan permata merah di ujungnya.
Chin Yang Kun menghela napas panjang ketika melihat
para perwira itu menatap kagum dan bangga kepadanya. Di
dalam hati kecilnya pemuda itu sebenarnya malah merasa
kikuk dan kaku berpakaian seperti itu. Tapi apa boleh buat,
pokoknya dia dapat lekas menjumpai ayahandanya yang
sedang sakit.
"Ong-ya…..! Ong-ya benar-benar cocok dan serasi sekali
mengenakan pakaian seperti ini." perwira tinggi itu memuji.
Dan betul juga kata-kata perwira itu. Di setiap jalan mereka
disambut dan dielu-elukan oleh para penduduk. Lelaki
perempuan, anak-anak dan dewasa, semuanya berlari-lari ke
jalan besar dan berdesakan di sana.
“Hidup Pangeran…..!"
“Hidup Putera Mahkota !"
Para penduduk itu berteriak-teriak, menjerit-jerit gembira,
seakan-akan mereka itu sedang menyambut pasukan yang
pulang dari medan perang. Dan semakin mendekati pintu
gerbang kota, penduduk yang menyambut rombongan itupun
juga semakin banyak pula.
Chin Yang Kun semakin kikuk pula di atas punggung
kudanya. Belum pernah rasanya pemuda itu dihormat dan
disanjung-sanjung orang seperti itu. Apa lagi ketika pemuda
itu melihat di antara mereka yang berdesakan di pinggir jalan
itu amat banyak gadis-gadis kota raja yang sangat terkenal
cantiknya itu, otomatis wajah pemuda itu menjadi merah dan
keringat dinginnya keluar. Namun demikian agar jangan
mengecewakan mereka, terpaksa pemuda itu menyambut
lambaian tangan mereka.
"Ciangkun ......!" Chin Yang Kun berbisik kepada perwira itu
yang selalu mendampinginya itu. "Mengapa mereka
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
mengetahui kedatanganku ? Dan mengapa mereka juga
mengetahui kalau aku putera Hong-siang?”
Perwira tua itu tersenyum seraya menganggukkan
kepalanya. Namun demikian dia tidak segera menjawab
pertanyaan itu. Sebaliknya, matanya yang telah mulai
berkeriput itu melirik kepada Perwira Tinggi yang berkuda
bersama dengan mereka itu.
"Hong-siang adalah kaisar yang berani dan suka berterus
terang, Ong-ya sendiri tentu masih ingat akan pertemuan di
desa ln-ki-cung beberapa hari yang lalu. Sebenarnya
pertemuan antara keluarga ln Leng Hoan dan Hong-siang itu
sifatnya sangat rahasia dan pribadi. Meskipun demikian
ternyata Hong-siang tidak berusaha untuk merahasiakannya.
Hong-siang justeru mengumpulkan seluruh perwira dan
pembantu-pembantunya untuk ikut menyaksikan pertemuan
itu. Dan agaknya sekarangpun Hong-siang telah berbuat
demikian pula terhadap kita," perwira tinggi itulah yang
akhirnya membuka mulut untuk memberi keterangan.
"Maksud Goan-swe?" Chin Yang Kun mendesak dengan
wajah tak mengerti.
"Kemarin kami telah mengirimkan kurir untuk berangkat
Iebih dulu ke kota raja. Kurir itu kami perintahkan untuk
melapor kepada Hong-siang tentang kedatangan Ong-ya
kemari. Dan agaknya....... Hong-siang demikian gembiranya
sehingga beliau lalu memerintahkan para pembantunya untuk
memberitahukan kegembiraan itu kepada seluruh penduduk
kota raja. Dan inilah akibatnya ........"
Ternyata pintu gerbang kota itu telah dihias dan dipajangpajang
pula dengan meriahnya. Seregu perajurit pengawal
utama yang berseragam indah gemerlapan tampak
menjemput rombongan itu di pintu gerbang tersebut. Tambur
dan terompet segera dibunyikan sebagai ucapan selamat
datang. Dan rakyat yang berjejal-jejal di tempat itupun lantas
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
bersorak-sorak gembira sekali, suatu tanda bagaimana
cintanya mereka terhadap kaisar junjungan mereka.
Begitu kuda yang dinaiki Chin Yang Kun menginjakkan
kakinya ke atas jembatan penyeberangan, semua perajurit
penyambut segera berlutut ke arah Chin Yang Kun. Setelah
mereka berdiri kembali, lalu seorang perajurit bergegas maju
ke depan seraya menuntun .......Si Cahaya Biru, lengkap
dengan pakaiannya yang gemerlapan!
"Hei ! Cahaya Biru……!" Chin Yang Kun berseru kaget, lalu
bergegas turun menghampiri kuda kesayangannya itu.
Prajurit yang menuntun kuda itu segera berlutut dan
menyerahkan tali kendali kuda itu kepada Chin Yang Kun.
"Ohh....... apa khabar Cahaya Biru ?” Chin Yang Kun
menyapa dan mendekati kuda itu, lalu merangkul lehernya
dengan penuh kecintaan.
Dan kuda itu tampaknya juga sangat bergembira sekali
dapat berjumpa dengan tuannya. Sambil meringkik perlahan
kuda itu menggosok-gosokkan kepalanya ke badan Chin Yang
Kun.
Demikianlah, dengan naik di atas punggung Si Cahaya Biru,
Chin Yang Kun memasuki pintu gerbang kota raja yang sangat
megah itu. Regu Prajurit Pengawal Istana yang tadi
menyambut kedatangan pemuda itu kini berganti menjadi
pengiringnya, karena kota yang amat rapat dan sangat padat
penduduknya itu tak mungkin bisa menampung ribuan prajurit
berkuda yang tadi mengawalnya dari luar kota. Hanya
beberapa orang perwira saja yang tetap ikut mengantar Chin
Yang Kun, yaitu Si Perwira Tinggi dan Si Perwira Tua beserta
bawahannya Si Perwira Pendek Kekar itu.
Di dalam kota sambutan penduduk semakin meriah lagi.
Jalan yang lebar itu rasanya cuma penuh dengan manusia
saja. Mereka berbondong-bondong, berjejaI-jejaI dan saling
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
mendesak di pinggir jalan, seolah-olah ingin berebut di depan
agar bisa melihat wajah Chin Yang Kun sejelas-jelasnya.
Chin Yang Kun merasa terharu juga menyaksikan sambutan
penduduk yang sangat meriah itu. Ini benar-benar di luar
dugaannya! Dan semua itu membuat Chin Yang Kun semakin
ingin lekas bertemu dengan Kaisar Han atau ayahandanya itu,
sebab semua ini tentu karena pengaruhnya juga.
Begitulah, meskipun agak merasa kaku karena menjadi
perhatian orang sedemikian banyaknya, Chin Yang Kun tetap
bersenyum dan melambai-lambaikan tangannya. Dan sama
sekali pemuda itu tidak mengira dan menduga bahwa diantara
penduduk yang dilaluinya itu terdapat beberapa orang yang
pernah dikenalnya, yang kini dengan mata terbelalak
memperhatikan dirinya.
"Hei....... Tong Cu-si, bukankah pangeran itu Saudara Yang
Kun yang kita kenal dulu ? Nah, apa kataku! Isyarat yang
kuterima itu mengatakan bahwa Im-yang-kauw akan menjadi
sebuah aliran yang kuat dan besar apabila bisa menarik anak
muda itu. Nah, apa jadinya kini?" Toat-beng-jin yang ikut
berdesakan diantara penduduk itu menepuk pundak
temannya.
"Yah, Lo-jin-ong memang benar. Tapi kita tak perlu
berputus asa dahulu, siapa tahu dia akan menjadi saudara kita
juga ? Bukankah dia pernah berjanji untuk mengunjungi
perkumpulan kita?"
Dan tidak jauh dari tempat itu seorang gadis cantik juga
tampak lesu setelah dengan kaget melihat siapa sebenarnya
pangeran yang lewat itu. Gadis itu diam-diam mengusap air
matanya. Meskipun demikian kakek tua yang berada di
samping gadis tersebut merasakan juga kesedihan itu.
"Li Ing...... sudahlah, kau tak perlu menyesali nasibmu.
Belum tentu semuanya itu akan berakhir sampai di sini saja.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Semuanya bisa berubah setiap saat......" Lo-si-ong
membesarkan hati gadis cantik itu.
"Tapi..... jarak antara aku dan dia tampaknya semakin jauh
juga, kek," Tiau Li Ing menyahut dengan suara sendu.
"Ya, tapi kau tak perlu berputus asa karenanya..........."
Dan di dekat pintu gerbang istana seorang gadis ayu
berlengan buntung sebelah juga merasa kecewa di dalam
hatinya begitu melihat Chin Yang Kun kini telah menjadi
seorang pangeran yang amat dihormati orang.
"Dia ternyata seorang putera mahkota. Setiap saat dia
tentu dikelilingi oleh gadis-gadis bangsawan yang ayu dan
cantik. Aaah..... masakan dia mau memikirkan seorang gadis
cacat seperti aku ini lagi?"
Perlahan-lahan gadis buntung itu keluar dari dalam
himpitan para penonton di sekitarnya, lalu melangkah pergi
dari tempat tersebut dengan kepala tertunduk. Beberapa kali
gadis itu hampir bertubrukan dengan penonton lainnya,
sehingga banyak orang yang menjadi heran melihatnya.
Sementara itu Chin Yang Kun telah memasuki halaman
istana. Dengan masih tetap dikawal oleh Prajurit Pengawal
Istana tadi, pemuda itu berjalan kaki melintasi halaman serta
lorong-lorong bangunan istana yang amat luas itu. Dan
setelah berbelok-belok kesana kemari, akhirnya mereka
sampai juga di Gedung Induk di mana Kaisar Han tinggal.
Seorang anggota Sha-cap mi-wi yang berjaga di pintu
utama segera menyambut kedatangan mereka, Si Perwira
Tinggi yang sejak tadi terus menyertai Chin Yang Kun lalu
maju ke depan dan berbicara dengan anggota Sha-cap-mi wi
itu. Tapi sebelum pembicaraan tersebut selesai, tiba-tiba Yap
Tai-ciangkun tampak melangkah keluar dari dalam gedung itu.
"Oh..... Ong-ya sudah datang rupanya! Wah, sungguh
kebetulan sekali kalau begitu, kita bisa bersama-sama
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
menghadap Hong-siang di Kuil Agung sekarang juga."
panglima muda itu berkata gembira.
"Di Kuil Agung? Eh, katanya Hong-siang sedang sakit......."
Chin Yang Kun berdesah bingung.
Yap Tai-ciangkun menghela napas dengan wajah murung.
"Hong-siang memang sakit. Tapi beliau ingin berdoa terus
sampai Ong-ya datang. Dan kami semua tak kuasa
mencegahnya......"
"Ooooh!" Chin Yang Kun terhenyak dan rasa haru tiba-tiba
mengembang memenuhi rongga dadanya.
Maka ketika Yap Tai-ciangkun itu melangkahkan kakinya,
Chin Yang Kun buru-buru mengikutinya. Dan mereka langsung
menuju ke bangunan kuil tersebut. Beberapa orang pendeta
segera menyambut mereka, sementara belasan anggota Shacap-
mi-wi yang lihai-lihai itu tampak berkeliaran sambil
berjaga-jaga di sekitar tempat itu.
"Hong-siang berada di altar pemujaan, Tai-ciangkun,"
seorang anggota Sha cap-mi-wi menemui Yap Tai ciangkun
dan melaporkan keadaan baginda.
"Dengan siapa beliau di sana ?"
"Sendirian. Tak seorangpun boleh masuk."
"Baiklah! Aku akan menghadap........"
Yap Tai ciangkun dan Chin Yang Kun bergegas masuk ke
ruangan dalam, di mana altar pemujaan atau altar
sembahyang itu berada. Dan kedatangan mereka segera
disambut dengan suara baginda yang berat. "Siapa.......?”
"Hamba Yap Kim datang bersama Pangeran Yang Kun,
Hong-siang........." Yap Tai Ciangkun menjawab seraya
berlutut.
Tiba-tiba Kaisar Han yang duduk membelakangi mereka di
atas altar itu bangkit berdiri dengan tergesa-gesa. Lalu sambil
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
bertele dan di atas meja sembahyang dia memandang Yap Tai
ciangkun. Keadaannya sungguh sangat menakutkan.
Wajahnya pucat pasi, rambutnya dibiarkan tergerai di pundak,
sementara kumis dan jenggotnya yang lebat luar biasa itu
hampir menutupi seluruh mukanya.
"Apa katamu, Tai-ciangkun? Puteraku sudah tiba? Di mana
dia, hah?" suaranya gemetar.
"Liu twa-ko......!?!" Chin Yang Kun menjerit dan berlari
menghampiri Kaisar Han.
Sekejap Kaisar Han itu terbelalak menatap Chin Yang Kun,
dia seakan-akan tidak percaya bahwa Chin Yang Kun benarbenar
telah datang. Namun beberapa saat kemudian mata itu
lantas menjadi merah berkaca-kaca. Dan kemudian mereka
berdua, ayah dan anak itu lalu saling berpelukan dengan
eratnya.
''Yang Kun, anakku........! Sekarang engkau sudah mau
mengakui aku sebagai ayahmu, bukan ?" Hong siang berkata
sendu.
Chin Yang Kun balas menatap wajah Hong-siang atau
ayahnya yang asli itu dengan perasaan haru dan kasihan. Lalu
pemuda itu menganggukkan kepalanya. Meskipun demikian
Chin Yang Kun tetap diam tak menjawab.
Entah mengapa, pemuda itu tiba-tiba teringat kembali pada
Keluarga Chin. Dan ingatan itu menyebabkan hati dan
perasaannya kembali kosong dan hampa luar biasa. Namun
demikian pemuda itu tak hendak melukai atau mengurangi
kegembiraan Hong-siang atau ayahandanya itu. Oleh karena
itu Chin Yang Kun kembali bersikap biasa, seolah-olah tidak
pernah terjadi gejolak apa-apa di dalam dirinya. Maka ketika
Hong-siang merangkulnya lagi, Chin Yang Kun segera
membalasnya dengan mesra.
"Biarlah, suatu saat nanti........kalau waktunya sudah
mengijinkan, aku akan berterus terang kepada Hong-siang,
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
bahwa aku tak dapat hidup di dalam lingkungan istana seperti
itu. Aku akan minta ijin untuk meneruskan niatku semula,
yaitu hidup bertapa seorang diri di tempat sunyi." pemuda itu
berkata di dalam hatinya.
Sementara itu Kaisar Han sama sekali tidak tahu apa yang
sedang bergejolak di dalam hati puteranya itu. Kaisar Han
benar-benar sedang diliputi kegembiraan di dalam hatinya.
"Anakku...! Kita harus merayakan pertemuan kita ini
semeriah mungkin. Dan aku akan memanggil semua menteri
serta kepala daerah di seluruh negeri untuk menyaksikan
pengukuhanmu sebagai Putera Mahkota. Tapi sekarang
marilah kita berdoa lebih dulu untuk keberuntungan kita ini !”
"Tapi.... bukankah Hong-siang sedang sakit? Apakah Hongsiang
tidak beristirahat saja biar lekas sembuh?" Chin Yang
Kun berusaha membujuk Kaisar Han.
“Jangan pikirkan aku ! Rasa sakitku sudah tidak terasa lagi
begitu melihat engkau.......Ayolah!”
Begitu berlutut di atas altar, tiba-tiba Chin Yang Kun
tergetar hatinya. Bayangan sinar kuning keemasan yang dulu
pernah dilihatnya di bawah altar itu kembali menggoda
hatinya. Dan hatinya semakin tergelitik ketika angan-angannya
seperti melihat benda bersinar itu kembali. Namun pemuda itu
menjadi kecewa tatkala ia tak bisa menemukan lobang itu lagi.
"Hong-siang......." akhirnya Chin Yang Kun memberanikan
dirinya untuk melaporkan hal itu kepada Hong-siang. "Hamba
merasa seperti ada sesuatu di bawah altar ini. Bolehkah
hamba membongkar altar ini sebentar saja.....?”
"Apa? Kau hendak membongkar altar ini?" Kaisar Han
berseru dan menatap Chin Yang Kun dengan dahi berkerut.
Tapi melihat kesungguhan hati puteranya itu Kaisar Han lantas
mengendorkan lagi sikapnya. "Baiklah ! Terserah kepadamu.
Tapi....... omong-omong, apa sih sebenarnya maksudmu?"
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Entahlah, Hong-siang....... Hamba seperti melihat sesuatu
di bawah altar ini, tapi hamba tak tahu macam apa benda itu.
Maka dari itu hamba hendak membongkarnya........."
"Hmm....... tapi altar dari batu giok ini beratnya tentu lebih
dari seribu kati. Bagaimana kau hendak mengangkatnya?
Apakah kau perlu bantuan para pengawal itu ?"
"Nanti saja, Hong-siang. Biarkanlah hamba mencobanya
sendiri dahulu. Jikalau nanti hamba memang tak kuat
mengangkatnya, barulah hamba akan memanggil mereka."
"Hmmmm, baiklah....... kau boleh mencobanya! Tapi kau
harus berhati-hati !" Kaisar Han memberi peringatan.
Chin Yang Kun lalu mempersiapkan dirinya. Dipegangnya
pinggiran altar itu dengan kedua belah tangannya. Kemudian
dengan kuda-kuda yang sangat rendah pemuda itu
mengerahkan seluruh tenaga sakti Liong-cu-i-kangnya. Maka
sesaat kemudian seluruh urat-urat di dalam tubuh pemuda ini
pun lantas menegang dan mengembang sepenuhnya.
Brrrrt....... sssssss !
Seketika udara dingin terasa menghembus ke seluruh
ruangan. Sekejap Kaisar Han menggigil dengan mata
terbelalak kaget, namun rasa kaget tersebut segera lenyap
manakala dilihatnya altar yang besar itu mulai terangkat naik !
Malahan rasa kaget itu segera berganti dengan rasa takjub
luar biasa !
Suara derak altar tersebut ternyata juga menarik perhatian
Yap Tai ciangkun dan para pengawal yang sedang menunggu
di luar ruangan. Mereka bergegas masuk. Tapi seperti halnya
Kaisar Han, merekapun segera ternganga kagum menyaksikan
kekuatan Iweekang Chin Yang Kun yang maha dahsyat itu.
Semuanya baru sadar kembali tatkala altar tersebut telah
bersandar di tiang kuil.
"Bukan main........!" mereka berdesah hampir berbareng.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Namun Chin Yang Kun tidak mempedulikan pujian mereka.
Pemuda itu bergegas mencari lobang yang pernah dilihatnya
di bawah altar dulu. Dan begitu lobang itu telah ia dapatkan
pemuda itu segera memasukkan tangannya.
Tentu saja perbuatan itu menimbulkan berbagai macam
pertanyaan di dalam hati orang-orang yang melihatnya.
Semuanya bertanya-tanya di dalam hati, apa sebenarnya yang
sedang dilakukan oleh Pangeran itu?
Tapi semuanya segera menjadi kaget sekali ketika melihat
pangeran itu mengeluarkan sebuah benda kekuning-kuningan
dari dalam lobang tersebut. Dan benda sebesar buah persik itu
tampak bercahaya dan bergetaran, seakan-akan
memancarkan wibawa yang sangat besar.
Dan semuanya saja, tak terkecuali Kaisar Han dan Yap Taiciangkun,
merasakan getaran itu, sehingga tiba-tiba saja
mereka menundukkan kepala mereka dengan perasaan segan
dan hormat.
"Cap Kerajaan.......!" mulut mereka berbisik hampir tak
terdengar.
Sebaliknya, Chin Yang Kun sendiri juga menjadi kaget pula
menyaksikan sikap orang-orang itu. Sambil mendekati
ayahandanya, pemuda itu berulang-ulang membolak-balikkan
benda yang berada di tangannya tersebut.
"Cap Kerajaan ? Tapi mendiang ayah mengatakan barang
ini berada di dalam Goa Harimau. Hm........ masakan lobang
sekecil itu disebut Goa Harimau? Tapi... tapi .... bagaimana
dengan perintah untuk bersembahyang di waktu tengah
malam, ketika bulan tepat di atas kepala itu ? Aku menemukan
lobang itu juga karena aku bersembahyang pada waktu bulan
tepat berada di atas kepala. Aaah…. kalau begitu... kalau
begitu, apakah perkataan GOA HARIMAU itu cuma merupakan
kata-kata sandi atau kiasan saja? Yaa….. ya, agaknya memang
demikian. Agaknya yang dimaksudkan dengan Goa Harimau
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
itu adalah sarang lawan yang sangat berbahaya, yaitu istana
ini.,... oh !" sambil melangkah pemuda itu berpikir keras.
Oleh Chin Yang Kun Cap Kerajaan itu dia serahkan kepada
Kaisar Han, dan saking gembiranya kaisar itu memeluk Chin
Yang Kun dengan eratnya.
"Anakku.....! Penemuanmu ini semakin meyakinkan aku
bahwa engkau memang berjodoh dengan tahta kita. Oleh
karena itu hatiku juga semakin mantap untuk lekas-lekas
mengukuhkanmu sebagai calon penggantiku kelak. Nah, Yang
Kun.... ayahmu sungguh-sungguh merasa sangat berbahagia
sekali hari ini. Oleh karena itu kau boleh mengajukan sebuah
permintaan kepadaku. Dan sebagai seorang raja aku akan
mengabulkan permintaanmu itu sepanjang yang kauminta
tidak bertentangan dengan peraturan hukum dan
keadilan......." Kaisar Han berkata dengan suara keras.
Chin Yang Kun yang sedang gugup dan kebingungan itu
tiba-tiba tertegun mendengar tawaran tersebut. Sekilas
pemuda itu melihat setitik kesempatan untuk melepaskan diri
dari cengkeraman istana itu tanpa harus melukai hati ayahnya.
Tapi pemuda itu tidak tahu bagaimana ia harus
mengatakannya kepada ayahnya.
"Ini....... ini benar-benar sebuah kesempatan yang tak
mungkin kudapatkan lagi di kelak kemudian hari, apa lagi
kalau aku telah dikukuhkan sebagai Putera Mahkota nanti!
Tapi........ tapi.... bagaimana aku harus mengatakannya?"
pemuda itu berpikir.
"Pangeran.........! Hong-siang telah berkenan untuk
memberikan sebuah hadiah yang tak ternilai kepada
Pangeran. Pangeran bebas untuk menyebutkannya. Apakah
Pangeran menginginkan sebuah istana yang bagus? Ataukah
Pangeran sudah menghendaki seorang puteri sebagai
pendamping Pangeran nanti? Silakan Pangeran
menyebutkannya, Hong-siang tentu akan
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
meluluskannya........!" Yap Tai-ciangkun yang melihat Chin
Yang Kun cuma diam saja itu ikut pula mendesak.
"Ya...,., ya, anakku ! Apa yang dikatakan oleh Yap Taiciangkun
itu memang betul. Katakan saja, aku tentu akan
memberikannya!" Kaisar Han berkata pula sambil tersenyum.
Chin Yang Kun menatap wajah ayahandanya, kemudian
perlahan-lahan berlutut di depannya.
"Hong-siang.......! Hamba sama sekali tak menginginkan
apa-apa. Yang terpikir di dalam hati hamba selama ini
hanyalah.., bagaimana hamba bisa membalas budi kepada
orang-orang yang pernah melepas kebajikan kepada hamba."
“Maksudmu..........?"
"Hong-siang, masih banyak yang harus hamba lakukan
sebelum hamba menerima anugerah itu. Diantaranya adalah
memindahkan abu jenazah Nenek Hoa ke dusun Ho-ma-cun
dan menghilangkan pengaruh racun yang selama ini masih
mengalir di dalam tubuh hamba ..."
"Hmm........ kalau itu permintaanmu, lalu berapa hari kau
akan pergi?"
"Inilah yang memberatkan hati hamba. Hamba tak tahu
berapa lama hamba akan dapat menyelesaikan tugas itu.”
Kaisar Han menundukkan kepalanya seraya menarik napas
dalam-dalam. Sekilas tampak rasa sesal di wajah baginda
karena telah terlanjur memberi janji kepada puteranya itu.
"Baiklah ! Karena aku tadi telah menjanjikan sebuah
permintaan kepadamu, maka aku akan memenuhi juga
permintaanmu itu. Tapi ingatlah! Akupun akan berjanji kepada
diriku sendiri, yaitu selama kau pergi aku akan tinggal di kuil
ini ! Selain mengerjakan tugas-tugasku sehari-hari, aku akan
tidur, makan dan minum di tempat ini. Aku akan terus berdoa
sambil menantikan kedatanganmu di sini ! Nah, anakku, kau
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
boleh pergi sekarang....! Yap Tai ciangkun, antarkan puteraku
ini keluar istana!" akhirnya Hong-siang bersabda.
"Hong-siang.......!” Chin Yang Kun, Yap Tai-ciangkun dan
para pengawal itu buru-buru berlutut dan menengadahkan
wajah mereka yang gemetaran.
Namun Hong-siang sudah tidak berkata apa-apa lagi.
Dengan pandang mata sayu seakan-akan tiada mempunyai
semangat lagi Hong-siang melangkah meninggalkan mereka,
menuju ke ruangan belakang dari kuil itu. Sekejap saja
semuanya sudah dapat menduga bahwa Hong-siang sangat
kecewa dan merasa sedih sekali. Tapi apa daya, semuanya
sudah terjadi, dan tak mungkin seorang kaisar menjilat
Iudahnya kembali.
Hampir semua mata di dalam ruangan itu menyalahkan
Chin Yang Kun. Mereka seperti menyayangkan sikap Chin
Yang Kun yang kurang memiliki perasaan kasih sayang
terhadap ayahandanya sendiri itu.
Demikianlah, dengan kepala tertunduk Chin Yang Kun
keluar dari pintu gerbang istana. Wajahnya murung.
Pakaiannya sudah berganti dengan pakaian yang amat
sederhana pula. Dan kakinya melangkah satu-satu, menyusuri
tepian jalan raya, menuntun Si Cahaya Biru yang polos pula,
tanpa seorangpun tahu bahwa dialah pangeran mahkota yang
dielu-elukan orang tadi.
Seorang penjaja kue dengan mata mendelik mengumpatumpat
Chin Yang Kun ketika Si Cahaya Biru hampir saja
menyenggol dagangannya. Dan seorang puteri hartawan
buru-buru menyingkir ketika hendak berpapasan dengan Chin
Yang Kun, seolah-olah pemuda itu seorang pengemis dekil
yang memuakkan. Padahal kedua orang itu, baik si Penjaja
Kue maupun si Nona Hartawan adalah orang-orang yang
sangat getol dan bersemangat ketika menyambut kedatangan
Chin Yang Kun tadi.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Chin Yang Kun tidak mempedulikan mereka. Dengan
langkah gontai, sambil tetap menuntun kendati kudanya, ia
berjalan menerobos keramaian kota dan keluar melalui pintu
gerbang selatan.
"Hidup ini rasanya seperti sebuah impian saja..............!"
pemuda itu menarik napas panjang.
TAMAT
Yogyakarta, 2 Desember 1982
Tag:cersil cersil indo cersil mandarin full cerita silat mandarin online cersil langka cersil mandarin lepas cerita silat pendekar matahari kumpulan cerita silat jawa cersil mandarin beruang salju. cerita silat pendekar mataharicerita silat indonesia cerita silat kho ping hoo cerita silat mandarin online cerita silat mandarin full cerita silat jawa kumpulan cerita silat cerita silat jawa pdf cerita silat indonesia gratis cerita silat jadul indonesia cerita silat indonesia pendekar rajawali sakti cersil indonesia pendekar mabuk cersil langka cersil dewa arak cerita silat jaman dulu cersil jawa download cerita silat mandarin full cerita silat mandarin online cersil mandarin lepas cerita silat mandarin pendekar matahari cerita silat jawa pdf cersil indonesia pdf cersil mandarin beruang salju kumpulan cerita silat pdf
kumpulan cerita silat cersil online
Share:
cersil...
Comments
0 Comments

Arsip Cersil

Best Cersil

Pecinta Cersil