Donasi

Buat yang punya rejeki berlebih dan merasa terhibur dengan Situs Cerita Silat Cersil Terbaik ini bisa mendonasikan bantuannya ke
No. Rekening BPD Jateng No. 2004084554
demi keberlangsungan dan keberadaan Blog Cersil Cerita Silat yang sama-sama kita cintai ini. Kritik dan Saran hub No HP.083837358519. Atas Bantuannya disampaikan Terimakasih.

Rabu, 18 April 2018

Cerita Si Raja Pedang 2

Cerita Si Raja Pedang 2
baca juga


Apa sukarnya kalau dia melarikan diri dari situ? Baik kakek Phoa Ti mau pun kakek The Bok Nam takkan dapat
lagi menghalanginya. Kedua orang tua itu sudah terlampau lemah karena luka-luka mereka yang amat parah.
Akan tetapi aneh, sekali ini tak ada keinginan di hati Beng San untuk melarikan diri. Malah dia ingin sekali
melanjutkan tugasnya sebagai penguji, karena dia mulai merasa tertarik dengan ilmu silat. Apa lagi karena
hasrat hatinya telah dibangkitkan oleh cerita suhu-nya tentang kitab Im-yang Sin-kiam-sut yang kini
diperebutkan oleh semua ahli silat, termasuk empat besar itu.
Ketika menuruni jurang di mana The Bok Nam berada, dia melihat kakek ini keadaannya tidak lebih baik dari
pada kakek Phoa Ti. Kakek itu menyambut kedatangan Beng San dengan mata terbelalak, lalu dia memaksa
tertawa.
“Ha-ha-ha, tua bangka Phoa Ti sudah tak bertenaga lagi untuk melemparmu ke sini, Beng San?” biar pun
mulutnya tertawa, namun diam-diam dia bersyukur juga.
Andai kata kakek Phoa Ti masih sanggup melemparkan Beng San, kiranya dia sendiri yang takkan kuat
menerima tubuh itu. Kemarin saja ketika dia menerima Beng San, kedua tangannya terasa pegal dan sakitsakit
karena terlampau banyak dia memakai tenaganya yang sebenarnya sudah hampir habis.
“Bukan dia tidak bertenaga,” kata Beng San membela suhu-nya, “Hanya aku sendiri yang mau memanjat, tak
suka aku dilempar-lemparkan ke sana ke mari seperti bola.”
Kembali The Bok Nam tertawa dan dari sikap ini saja Beng San bisa mengetahui bahwa keadaan suhu-nya
lebih buruk dari pada kakek tinggi besar ini.
“Nah, ilmu cakar bebek apa lagi yang kau bawa sekali ini? Lebih baik Phoa Ti mengaku kalah dan memberikan
kitabnya kepadaku.”
Pada saat itu terdengar suara Phoa Ti, suara yang parau sekali seperti babi mengorok, “The Bok Nam,
seorang gagah sejati takkan menarik kembali janjinya. Kalau engkau tidak bisa memecahkan jurusku, kau
harus memberikan kitab itu...” Tiba-tiba suara itu berhenti seakan-akan yang bicara dicekik lehernya.
The Bok Nam menjadi pucat. “Celaka,” katanya. “Kakek Phoa Ti diserang...” Tiba-tiba dia mengeluh dan
tubuhnya yang tadinya duduk bersimpuh terguling roboh.
Beng San terkejut sekali karena tadi samar-samar dia melihat cahaya putih berkelebat. Sekarang tahu-tahu di
situ telah berdiri seorang laki-laki tua bertubuh kecil kurus seperti tengkorak hidup. Orang ini usianya sudah
enam puluhan tahun, mukanya pucat bagaikan mayat sedangkan pakaiannya pun putih semua seperti orang
sedang berkabung. Orang itu tertawa-tawa seperti orang gendeng.
Beng San benar-benar heran sekali karena dia tadi tidak melihat orang itu melayang masuk, bagaimana tahutahu
bisa berdiri di situ? Ketika dia melirik ke arah The Bok Nam, kakek tinggi besar ini memandang dengan
mata terbelalak kepada mayat hidup itu.
“Song... bun kwi (Setan Berkabung), kau... kau curang... menyerang orang yang terluka...”
Akan tetapi The Bok Nam tak dapat melanjutkan kata-katanya lagi karena tiba-tiba orang tinggi kurus yang
bermuka mayat itu sekali bergerak sudah sampai di dekatnya, langsung mengguling-gulingkan tubuh The Bok
Nam, dan kedua tangannya mencari-cari.
dunia-kangouw.blogspot.com
Sebentar saja tangannya mencari-cari, dia sudah mendapatkan apa yang dicarinya dan mencabut keluar
sebuah kitab kecil dari dalam saku baju orang she The yang sudah tak berdaya itu. Semua ini berjalan cepat
sekali hingga Beng San hampir tak dapat mengikuti dengan matanya.
Melihat betapa secara kejam dan kurang ajar sekali si muka mayat itu mempermainkan The Bok Nam, timbul
kemarahan dalam hati Beng San. Dengan mata berkilat ia melompat maju dan menudingkan telunjuknya ke
hidung si muka mayat.
“Menyerang dan merampas barang orang yang sedang sakit, tindakan begitu mana bisa disebut perbuatan
gagah? Sungguh tidak tahu malu sekali engkau, Song-bun-kwi!” Sikap dan kata-kata Beng San seperti sikap
seorang tua memarahi orang muda, maka tampak lucu sekali.
Akan tetapi Song-bun-kwi terbelalak dan nampak mengerikan sekali. Matanya mendadak hanya kelihatan
putihnya saja bagaikan mata iblis! Beng San sampai bergidik ketakutan menyaksikan muka yang bukan seperti
muka manusia lagi itu.
Tiba-tiba setan berkabung itu tertawa, disusul suara orang seperti orang menangis dan akhirnya dia benarbenar
menangis! Namun hanya sebentar saja. Tangisnya lalu terhenti dan dia berkata kepada Beng San, “Dua
puluh tahun lebih tidak mendengar orang memaki dan memarahiku, tidak mendengar orang mencelaku. Ha,
anak baik. Orang seperti kau inilah baru patut disebut orang.” Setelah berkata demikian, dia menggerakkan
dua kakinya dan melesatlah sinar putih keluar dari jurang itu.
Beng San melongo. Gerakan yang demikian cepat sampai seperti menghilang ini segera mengingatkan dia
kepada Hek-hwa Kui-bo. Diam-diam dia bergidik. Mengapa di dunia ini ada orang-orang berkepandaian
sehebat itu sampai seperti iblis-iblis saja?
Beng San mendengar The Bok Nam mengeluh. Ketika menengok, dia melihat orang tua itu napasnya empasempis.
Tersentuh perasaan welas asihnya.
Beng San segera berlutut, mengeluarkan daun obat yang sering kali dia dapatkan dari suhu-nya, memeras
daun itu dan memasukkannya ke dalam mulut The Bok Nam. Kakek itu nampak heran, akan tetapi makan
daun itu dan warna merah menjalar ke pipinya yang sudah pucat. Kemudian dia menghela napas panjang.
“Dua puluh tahun berkukuh tak mau memperlihatkan kepada sahabatku Phoa Ti, dan kini terampas oleh Songbun-
kwi... Hemmm, ini namanya hukuman bagi si orang yang tidak ingat kepada sahabat baiknya...”
Ia terengah-engah dan dari kedua matanya bercucuran air mata. Baru kali ini Beng San melihat kakek yang
keras hati ini menangis dan dia menjadi terharu.
“Orang tua, dua puluh tahun kitab itu berada di tanganmu, tentu sudah kau pelajari semua isinya. Terampas
orang lain apa ruginya?”
Tiba-tiba kakek itu tampak bersemangat, matanya bercahaya. “Kau betul... ehhh, Beng San, kau betul... bantu
aku duduk... ehh, pukulan Setan Berkabung itu hebat...”
Beng San membantu kakek itu duduk bersila seperti tadi sebelum dia roboh terguling oleh pukulan jarak jauh
Song-bun-kwi.
“Lekaslah kau berlutut, kau sekarang menjadi muridku. Kau akan kuwarisi seluruh isi kitab Yang-sin-kiam.”
Karena merasa kasihan kepada kakek ini yang dia tahu dari perasaannya tak akan dapat hidup lebih lama lagi,
Beng San lalu berlutut dan menyebut.
“Suhu…!”
“Dengar baik-baik. Yang-sin-kiam hanya terdiri dari delapan belas pokok gerakan yang lalu dapat dipecah
menjadi ratusan jurus menurut bakat dan daya cipta orang yang telah mempelajarinya. Nah, kauhafalkan satu
demi satu.”
dunia-kangouw.blogspot.com
“Nanti dulu, The-suhu. Teecu hendak melihat dulu keadaan Phoa Ti suhu di sana…”
The Bok Nam tercengang. “Kau menjadi muridnya...? Ahhh, betul sekali sahabatku she Phoa itu. Engkau harus
pula mewarisi Im-sin-kiam, begitu baru lengkap sehingga kelak si Setan Berkabung ada tandingannya...”
Setelah mendapat persetujuan kakek itu, Beng San lalu memanjat ke atas untuk melihat kakek Phoa Ti. Akan
tetapi dia mendengar suara aneh yang melengking-lengking seperti suara orang menangis. Ketika dia tiba di
atas dia melihat dua bayangan berkelebat di atas jalan kecil. Ternyata bahwa Song-bun-kwi sedang bertanding
melawan Hek-hwa Kui-bo!
Song-bun-kwi bersenjata sebuah suling yang mengeluarkan suara seperti menangis itu, sedangkan Hek-hwa
Kui-bo bersenjata sapu tangan suteranya. Pertempuran itu berjalan seru seperti dua ekor kupu-kupu
beterbangan. Meski pun gerakan mereka begitu ringan seperti terbang saja, tapi angin dari pukulan mereka
menyambar-nyambar sehingga Beng San tak kuat menahan. Anak ini terguling dan dengan ketakutan dia
bersembunyi di balik sebuah batu besar sambil mengintai.
Pertandingan itu berlangsung tidak lama karena keduanya berkelahi sambil berlari-lari dan sebentar saja
lenyaplah dari pandangan mata. Hanya suara tangis suling itu lapat-lapat masih terdengar dari jauh.
Setelah suara suling itu lenyap, barulah Beng San berani muncul dan berlari-lari menuruni jurang. Hatinya
berdebar penuh kegelisahan ketika dia melihat Phoa Ti telah menggeletak dengan napas senin kemis. Ia cepat
menubruk dan menolong, tetapi ternyata keadaan kakek ini sama dengan keadaan The Bok Nam, telah terluka
hebat oleh pukulan Hek-hwa Kui-bo.
“Bagaimana, suhu...?” Beng San berbisik ketika melihat suhu-nya membuka mata.
“Ahhh, celaka... celaka... Kitab Im-sin-kiam dirampas Hek-hwa Kui-bo...” Phoa Ti berkata lemah sambil
meramkan mata, mukanya berduka sekali, “Beng San, nyawaku tidak akan dapat tinggal lebih lama lagi di
tubuhku yang rusak dan terluka berat. Lekas kau bersiap, hendak kuturunkan padamu seluruh isi Im-sin-kiam
yang terdiri dari delapan belas pokok gerakan...”
Beng San tak mau banyak membantah. Melihat bahwa keadaan Phoa Ti lebih payah, dia cepat-cepat
mempelajari ilmu silat pedang yang diturunkan kakek itu kepadanya. Tentu saja dia hanya dapat
menghafalnya, tidak dapat melatih secara baik karena tidak ada waktu baginya. Namun dengan mudah dia
dapat mempelajari inti sarinya.
Hal ini bukan hanya karena Beng San memang seorang anak yang cerdas, akan tetapi terutama sekali karena
dia pernah mempelajari jurus-jurus Khong-ji-ciang yang inti sarinya memang bersumber kepada Im-sin-kiam
sehingga mudahlah baginya untuk menghafal pokok-pokok gerakan yang inti sarinya sudah dikenalnya itu.
Betapa pun juga, untuk menghafal delapan belas pokok gerakan itu dengan baik, ia harus mempergunakan
waktu setengah bulan. Setelah tamat, keadaan suhu-nya sudah payah sekali.
Sebetulnya Beng San tidak tega meninggalkan suhu-nya ini. Maka setelah tamat, biar pun hatinya ingin sekali
pergi ke The Bok Nam untuk menerima warisan Yang-sin-kiam, namun dia tidak mau pergi, melainkan terus
menjaga dan merawat suhu-nya.
“Ahh... Puas hatiku... Im-sin-kiam telah kau hafalkan semua... sayang… alangkah baiknya kalau kau pun dapat
menghafal Yang-sin-kiam.”
“Suhu, sebetulnya suhu The Bok Nam juga sudah mengangkat teecu sebagai murid dan hendak menurunkan
Yang-sin-kiam, akan tetapi... teecu tidak tega meninggalkan suhu seorang diri...”
“Bagus! Anak bodoh, mengapa tidak bilang dari kemarin? Hayo kau lekas pergi ke sana. Lekas...!” Beng San
tidak dapat membantah lagi dan ketika dia dengan gerakan ringan memanjat tebing, dia mendengar di bawah
suhu-nya itu tertawa-tawa gembira.
dunia-kangouw.blogspot.com
The Bok Nam menerima kedatangan Beng San dengan merengut. “Hemmm, murid apa kau ini? Kenapa begitu
lama tidak muncul?”
Beng San menjatuhkan diri berlutut. “The-suhu, harap ampunkan teecu yang lama tidak datang karena teecu
harus menghafalkan Im-sin-kiam dari Phoa Ti suhu.”
Wajah yang muram itu menjadi terang. “Aha, kiranya sahabatku Phoa Ti juga sudah sadar dan insyaf. Siapa
yang merampas kitabnya?”
Diam-diam Beng San merasa kagum. Tanpa melihat kakek ini sudah tahu bahwa Phoa Ti diserang orang dan
dirampas kitabnya. “Hek-hwa Kui-bo yang merampasnya, suhu.”
Lalu dia menceritakan secara singkat apa yang dilihatnya ketika dia keluar dari jurang ini setengah bulan yang
lalu.
The Bok Nam menghela napas panjang. “Dunia kang-ouw akan geger akibat terampasnya kitab-kitab itu.
Lekas, Beng San, kau pelajari Yang-sin-kiam..., aku sudah hampir tak kuat lagi.”
Demikianlah, sekali ini Beng San mempelajari Yang-sin-kiam dari gurunya yang kedua. Mungkin karena dia
sudah menghafal Im-sin-kiam, kali ini dia mempelajari ilmu itu secara lebih mudah. Baru sepuluh hari dia sudah
dapat menghafal delapan belas pokok gerakan Yang-sin-kiam.
Sementara itu, pada hari kesebelasnya dia mendapati The Bok Nam sudah kaku dalam keadaan duduk
bersila, sudah tidak bernyawa lagi! Beng San kaget dan terharu sekali, dia menangis dengan sedihnya.
Segera dia menggali lubang di jurang itu dengan kedua tangannya. Baiknya dia sudah melatih silat dan
gerakan-gerakan itu menambah besar tenaga di tubuhnya, sudah dapat mempersatukan hawa Yang dan Im di
tubuhnya, maka tak begitu sukarlah baginya untuk menggali lubang di tanah dasar jurang yang tidak keras itu.
Setelah mengubur jenazah The Bok Nam dan berlutut beberapa lama, anak itu kemudian meninggalkan
jurang, lalu menuruni jurang di seberang untuk menghadap gurunya yang seorang lagi. Ia melihat orang tua itu
rebah miring seperti biasa.
“Phoa-suhu, teecu sudah berhasil mempelajari...” ia menghentikan kata-katanya karena melihat keadaan suhunya
yang diam tidak bergerak. Cepat dia melompat mendekatinya dan...
“Suhu...!” untuk kedua kalinya Beng San menangisi kematian seorang lagi yang sangat disayang dan
dihormatinya. Phoa Ti ternyata sudah meninggal dunia pula, agaknya belum lama dia mati karena tubuhnya
masih baik.
Seperti yang dia lakukan pada jenazah The Bok Nam, Beng San juga mengubur jenazah Phoa Ti di dasar
jurang itu. Dia memberi hormat di depan makam suhu-nya itu, lalu dia memanjat jurang keluar dari situ.
Diambilnya sebuah batu besar dan diletakkannya di tepi jalan sebagai tanda pengenal. Tanpa tanda ini akan
sukar sekali mencari di mana adanya jurang yang menjadi kuburan kedua orang tua itu.
Barulah anak ini sadar bahwa dia tadi telah mengangkat sebuah batu yang amat besar dengan mudah saja! Ia
pun kaget berbareng girang bukan main. Karena maklum bahwa pelajaran-pelajaran yang dia dapatkan dari
kedua orang kakek itulah yang mendatangkan tenaga besar dalam tubuhnya, dia lalu mengingat-ingat semua
pelajaran itu dengan baik.
Sambil berjalan meninggalkan tempat itu dia berjanji kepada diri sendiri untuk melatih diri dengan semua jurus
itu setiap kali ada kesempatan baginya…..
********************
Pada malam hari terang bulan, seorang gadis cantik yang bepakaian sederhana duduk seorang diri di
belakang sebuah losmen. Taman bunga kecil milik losmen itu lumayan juga dan keadaan tentu akan amat
dunia-kangouw.blogspot.com
menyenangkan dan indah apa bila orang tidak mendengar isak tangis perlahan, isak tangis yang tertahantahan.
Gadis yang menangis perlahan itu bukan lain adalah Liem Sian Hwa, orang termuda dari empat orang gagah
dari Hoa-san-pai. Memang aneh apa bila melihat gadis perkasa ini menangis. Sebagai seorang pendekar
wanita yang sangat terkenal namanya, walau pun seorang wanita, tangis merupakan sebuah hal yang
dipantangnya, yang amat memalukan baginya.
Oleh karena itu, semua kedukaan hatinya ditahan-tahan selama ia melakukan perjalanan bersama twasuheng-
nya, yaitu Kwa Tin Siong. Baru pada malam hari ini, ketika mereka bermalam di losmen kecil di kota
Leng-ki ini, ia mendapat kesempatan pada malam hari itu untuk keluar losmen, duduk di taman bunga yang
sunyi meratapi nasibnya yang buruk.
Siapakah orang yang takkan merasa berduka? Ayahnya telah dibunuh orang dan menurut bukti-bukti,
pembunuhnya itu bukan lain adalah tunangannya sendiri, bersama seorang perempuan kekasih tunangannya
itu!
Tunangannya itu adalah pilihan gurunya dan sudah disetujui ayahnya, maka tentu saja ia sudah
menganggapnya sebagai seorang yang akan menjadi pelindung atau kawan hidup selamanya. Siapa duga,
orang itu pula yang membunuh ayahnya. Sekaligus ia kehilangan ayah dan calon suami, dan sebagai gantinya
ia mendapatkan seorang musuh besar yang lihai, yaitu Kwee Sin jago muda dari Kun-lun-pai itu.
Ia tidak gentar menghadapi Kwee Sin atau siapa pun juga untuk membalas sakit hatinya. Akan tetapi
mengingat betapa justru tunangannya sendiri yang menjadi musuh besarnya, yang membunuh ayahnya,
sekaligus berantakanlah mimpi muluk-muluk yang selama ini memenuhi tidurnya. Hancur hati gadis cantik itu
dan di dalam taman yang sunyi ia dapat menuangkan semua kesedihannya melalui air matanya yang
bercucuran deras seperti air sungai yang meluap-luap.
Sunyi di sekeliling tempat itu. Sian Hwa begitu terbenam dalam tangis dan kesedihannya sehingga ia tidak
melihat atau mendengar datangnya Kwa Tin Siong ke dalam taman.
Pendekar ini mendekati sumoi-nya dan menegur halus.
“Sumoi, harap kau suka menenangkan pikiranmu. Tiada gunanya ditangisi dan disedihi, paling perlu engkau
harus dapat menjernihkan kekeruhan itu. Dan percayalah, sumoi. Aku senantiasa menyediakan tenaga dan
nyawa untuk membantumu. Pasti kita berdua akan dapat membongkar rahasia kematian ayahmu dan
membalas dendam ini.”
Sian Hwa terisak-isak, hatinya makin perih dan terharu. Dengan sedu-sedan ia menubruk kakak
seperguruannya.
“Twa-suheng..., ahhh..., alangkah buruk nasibku, suheng...” Sian Hwa menangis sedih di dada Kwa Tin Siong
yang memeluk pundaknya dan menghiburnya.
“Sudahlah sumoi, mari kita masuk ke dalam. Kalau terlihat orang lain engkau menangis seorang diri di sini,
nanti bisa menimbulkan dugaan yang bukan-bukan.”
Tiba-tiba Kwa Tin Siong mendorong tubuh adik seperguruannya ke samping dan pada lain saat tangannya
menyambar ke depan.
“Keparat pengecut!” bentaknya sambil melompat ke depan.
Sian Hwa yang tadi dikuasai kesedihannya kurang waspada. Dia tidak mendengar dan tak melihat
menyambarnya benda itu. Sekarang ia maklum bahwa ada orang jahat, maka ia cepat melompat mengejar
suheng-nya.
Akan tetapi Kwa Tin Siong sudah kembali lagi. “Dia menghilang di dalam gelap,” katanya. “Mari kita masuk,
sumoi. Entah benda apa yang dilemparkan ke arah kita tadi.”
dunia-kangouw.blogspot.com
Di dalam ruangan losmen, di bawah penerangan lampu, mereka berdua melihat benda itu. Sian Hwa
mengeluarkan seruan kaget. Benda itu adalah sebuah sisir rambut dari perak. Sisir rambutnya sendiri yang
dahulu dipergunakan sebagai tanda pengikat perjodohannya dengan Kwee Sin! Sekarang sisir rambut itu
dikembalikan kepadanya dengan tambahan sedikit tulisan pada kertas yang membungkus sisir.
‘Putus karena berlaku serong’.
Wajah Sian Hwa menjadi merah sekali, merah karena jengah dan kemarahannya yang memuncak. Sudah
jelas sekarang bahwa yang menyambit dengan sisir peraknya tadi adalah Kwee Sin, tunangannya yang
melihat dia menangis dalam pelukan Kwa Tin Siong! Dan tunangannya itu, yang membunuh ayahnya, yang
bermain gila dengan perempuan Pek-lian-kauw, sekarang malah menuduh dia bermain gila dengan suhengnya
sendiri.
Dengan isak ditahan-tahan Sian Hwa lari masuk ke dalam kamarnya, meninggalkan Kwa Tin Siong yang
berdiri terlongong di ruangan itu. Pendekar ini menarik napas berulang kali, hatinya berdebar-debar tidak
karuan, pikirannya kusut. Baru kali ini semenjak dia ditinggal mati isterinya, hati dan pikirannya digoda oleh
persoalan wanita, dan wanita itu adalah sumoi-nya sendiri.
Kemudian dia teringat akan puterinya, Kwa Hong. Diam-diam di dalam hati ayah ini pun timbul kekhawatiran
besar, bukan hanya kekhawatiran memikirkan anaknya itu sekarang pergi bersama seorang aneh seperti Koai
Atong, juga khawatir akan nasib anaknya itu kelak.
Sebenarnya, di dalam hatinya sudah ada rencana untuk mengikat tali perjodohan antara Kwa Hong dengan
putera sulung sute-nya, Thio Wan It. Akan tetapi setelah sekarang dia menghadapi kenyataan pahit dalam
ikatan jodoh sumoi-nya, dia pun merasa berkhawatir. Khawatir kalau-kalau kelak anaknya juga menghadapi
kekecewaan dalam pertunangan seperti apa yang dialami oleh sumoi-nya itu.
Semalam itu Kwa Tin Siong tak dapat tidur dan ketika pada keesokan harinya dia bertemu dengan Sian Hwa,
dia melihat sumoi-nya itu pun merah sepasang matanya, tanda bahwa sumoi-nya ini pun tidak tidur dan
banyak menangis. Mereka tidak dapat mengeluarkan kata-kata lagi karena peristiwa malam tadi masih
menggores hati dan perasaan mereka. Setelah sarapan, dengan cepat mereka melanjutkan perjalanan ke
Hoa-san yang tak jauh lagi letaknya, hanya perjalanan setengah hari.
Lian Bu Tojin, ketua Hoa-san-pai yang kini sudah berusia enam puluh tahun ini, seorang kakek tinggi kurus,
berjenggot panjang, bertongkat bambu, duduk di atas bangku sambil mengusap-usap jenggotnya dan
memandang murid bungsunya yang berlutut di depan kakinya. Beberapa lama dia membiarkan muridnya itu
menangis tersedu-sedu. Sesudah melihat tangis Sian Hwa agak reda barulah dia berkata dengan suaranya
yang halus dan sabar.
“Sian Hwa, kau tenangkanlah hatimu dan pergunakanlah pikiranmu. Dalam menghadapi segala macam
peristiwa, baik yang menyenangkan mau pun yang menyedihkan, kau harus dapat menggunakan pikiranmu.
Terlampau menuruti perasaan dapat menggelapkan pikiran. Hati boleh sepanas-panasnya, akan tetapi kepala
harus dingin sehingga pikiran tidak dikuasai hati dan dapat mempertimbangkan segala sesuatu dengan
sebaiknya.”
“Teecu menurut petuah suhu, akan tetapi, suhu... manusia she Kwee itu betul-betul keji. Hanya karena ayah
teecu melihat perbuatannya yang tidak tahu malu itu, mengapa dia sampai hati membunuh ayah? Ahh..., teecu
mohon perkenan suhu untuk mencarinya dan membalas dendam ini.”
Lian Bu Tojin tersenyum dan mengangguk-angguk. “Darah muda..., darah muda…! Sian Hwa, persoalanmu ini
mengandung rahasia yang meragukan. Lagi pula, tak percuma kau menjadi muridku. Bukankah dahulu sudah
sering kuajarkan padamu bahwa di balik segala peristiwa yang terjadi di dunia ini, terdapat kekuasaan tertinggi
yang mengatur segalanya? Apa yang terjadi pada diri ayahmu sekali pun adalah hal yang sudah semestinya
begitu, tepat menurut kehendak kekuasaan itu. Manusia yang melakukannya hanyalah menjadi lantaran
belaka. Karena itu tugasmu memang harus memegang kebenaran, menegakkan keadilan, memberantas
kejahatan dan penyelewengan, akan tetapi jangan sekali-kali kau dipengaruhi dan ditunggangi oleh nafsu
kebencian, nafsu membalas dendam, karena jika terjadi hal demikian, namanya sudah bukan penegak
dunia-kangouw.blogspot.com
keadilan dan pemberantas kejahatan lagi, melainkan menjadi budak nafsu sendiri yang termasuk kejahatan
pula.”
“Teecu menyerahkan urusan ini kepada suhu...,” Sian Hwa berkata lemah, terpukul oleh petuah suhu-nya yang
tentu saja sudah dimengertinya baik-baik itu.
“Sekarang biarlah suheng-mu yang menuturkan semua apa yang telah terjadi.”
Kwa Tin Siong lalu menceritakan kepada suhu-nya tentang semua pengalamannya sejak dia berniat
membantu Pek-lian-pai untuk menentang pemerintah penjajah, juga betapa dia bertemu dengan Koai Atong
yang membawa pergi anaknya dan mengenai penyerangan orang-orang yang mengaku anggota Pek-liankauw
terhadap dia dan Sian Hwa.
Sebagai penutup dia mengemukakan bahwa keadaan Kwee Sin memang mencurigakan sekali, dan sangat
boleh jadi Kun-lun Sam-hengte, yaitu Bun Si Teng, Bun Si Liong, dan Kwee Sin sudah pula mengadakan
hubungan dengan kaum Pek lian pai.
“Hanya sebuah hal yang teecu tidak mengerti, yaitu mengenai hubungan antara saudara Kwee Sin dengan
wanita Pek-lian-pai yang sangat mencurigakan itu, benar-benar teecu tidak mengerti...” Demikian Kwa Tin
Siong menutup penuturannya.
Dalam penuturannya tadi, ia sengaja tidak menceritakan tentang kejadian di taman bunga belakang losmen.
Kwa Tin Siong adalah seorang gagah yang sudah banyak pengalaman, maka mendengar bahwa tadi sumoinya
pun tidak bercerita tentang hal ini, dia tidak mau menyebut-nyebutnya pula karena dia tidak ingin
menyinggung perasaan Sian Hwa.
Ketua Hoa-san-pai mengangguk-angguk, lalu dia berkata. “Memang keadaan Kwee Sin itu mencurigakan
sekali. Sekarang begini saja baiknya, Kwa Tin Siong dan Sian Hwa. Segala urusan yang menyangkut diri
sahabat-sahabat, harus diselesaikan secara musyawarah, secara damai dan seadil-adilnya. Tunggulah sampai
Wan It dan Kui Keng datang. Kalian juga boleh pergi mengunjungi Kun-lun Sam-hengte untuk minta penjelasan
langsung dari Kwee Sin. Dengan demikian, maka segala hal akan dapat diselesaikan.”
Setelah berkata demikian, ketua Hoa-san-pai ini bertanya lebih lanjut tentang Kwa Hong yang pergi bersama
Koai Atong.
“Itulah yang sangat menggelisahkan hati teecu, Suhu. Koai Atong adalah seorang yang amat aneh
kelakuannya, seperti anak kecil atau seperti orang yang miring otaknya. Teecu tidak tahu ke mana anak teecu
itu dibawa pergi."
Lian Bu Tojin tersenyum. "Tak usah khawatir. Kalau Koai Atong sudah berkeliaran di sini, berarti bahwa
gurunya, Ban-tok-sian Giam Kong juga sudah meninggalkan Tibet dan kini berada di sini pula. Asal saja
anakmu itu mengaku bahwa dia cucu murid Hoa-san-pai, kiranya dia tidak akan mendapat kesukaran karena
Ban-tok-sim Giam Kong tentunya akan memandang muka pinto."
Tidak lama Kwa Tin Siong dan Sian Hwa menanti di Hoa-san. Hanya empat hari kemudian berturut-turut
datanglah Bu-eng-kiam Thio Wan It bersama dua orang anaknya, yaitu yang sulung Thio Ki, anak laki-laki
berusia dua belas tahun dan yang ke dua Thio Bwee, anak perempuan berusia sepuluh tahun. Toat-beng-kiam
Kui Keng yang juga datang bersama anaknya laki-laki bernama Kui Lok Si, berusia sebelas tahun.
Dua orang pendekar Hoa-san ini sengaja datang bersama-sama anak-anak mereka untuk menghadap Lian Bu
Tojin, sekalian mengenalkan anak-anak itu dan memberi tambahan pengalaman kepada anak-anak itu yang
mereka harapkan kelak akan menjadi pendekar-pendekar Hoa-san pengganti mereka.
Pertemuan antara empat Hoa-san Sie-eng itu tentu akan menggembirakan sekali kalau saja yang baru datang
tidak mendengar tentang peristiwa kemalangan yang menimpa diri Liem Sian Hwa dan Kwa Tin Siong. Tin
Siong kehilangan anak perempuannya dan Sian Hwa kematian ayahnya.
dunia-kangouw.blogspot.com
Dua orang pendekar Hoa-san itu, Thio Wan It dan Kui Keng, menyambut berita duka ini sesuai dengan watak
mereka masing-masing. Thio Wan It yang julukannya Bu-eng-kiam (Pedang Tanpa Bayangan) ini berwatak
pendiam dan berangasan mudah marah, akan tetapi jujur dan keras, berlawanan dengan perawakannya yang
pendek dan gemuk, muka bundar, bajunya selalu serba hitam.
Dengan kedua tangan terkepal dia berkata. "Mari kita pergi mencari Kwee Sin, ingin aku menghajar bocah
kejam yang kurang ajar itu!"
Kui Keng si Pedang Pencabut Nyawa, wajahnya tampan tubuhnya kecil, sikapnya selalu gembira dan
pakaiannya serba putih. Dia menyambut berita itu sambil tertawa.
"Urusan Sumoi perlahan-lahan dapat diurus, kurasa yang lebih penting adalah mencari puterinya Twa-suheng,
siapa tahu anak nakal gila itu akan mengganggu Hong-ji. Urusan dengan Kwee Sin itu berbelit-belit, mungkin
ada hubungannya dengan Pek-lian-pai, harus diselidiki dengan seksama.”
Sian Hwa yang mencoba untuk menghibur kesedihannya, menyerahkan perundingan itu kepada tiga orang
suheng-nya, dia sendiri lalu menggandeng Thio Bwee, Thio Ki, dan Kui Lok diajak ke lian-bu-thia (ruangan
belajar silat) sambil berkata,
"Mari anak-anak, hendak Bibi lihat sampai di mana kemajuan kalian di bawah asuhan ayah-ayah kalian."
Memang terhibur juga hati Sian Hwa bertemu dengan keponakan-keponakannya yang menyenangkan itu. Thio
Ki berwajah bundar seperti ayahnya, tampan dan sikapnya sudah membayangkan kegagahan walau pun dia
baru berusia dua belas tahun, pendiam dan dadanya selalu terangkat.
Thio Bwee yang berusia sepuluh tahun itu mewarisi kecantikan ibunya, juga pendiam dan manis sekali.
Sepasang matanya tajam serius, dagu di bawah bibirnya yang manis itu membayangkan kekerasan hatinya.
Segera ia senang sekali dekat dengan bibinya yang sering kali dipuji-puji ayahnya sebagai seorang pendekar
wanita Hoa-san-pai yang hebat iimu pedangnya.
Ada pun Kui Lok, anak tunggal Kui Keng, berusia sebelas tahun, memiliki watak seperti ayahnya, gembira dan
agak nakal, akan tetapi juga bersifat angkuh, hal ini mudah dilihat dari bentuk mulut dan matanya. Ketiga orang
anak Ini nampak gagah-gagah, cocok benar menjadi keturunan dari Hoa-san Sie-eng, empat orang gagah dari
Hoa-san-pai.
"Sayang," katanya kepada tiga orang anak itu, "kalau Hong-ji tidak dibawa pergi oleh Koai Atong dan berada di
sini bersama kalian, alangkah akan gembiranya.”
“Bibi, sebagai anak Twa-supek, tentu kepandaian adik Hong hebat sekali, bukan?" Thio Bwee bertanya kepada
bibi gurunya.
Sian Hwa mengangguk. "Tentu saja, akan tetapi kau pun tentu sudah banyak mempelajari ilmu silat dari
ayahmu. Coba, Bwee-ji, kau perlihatkan padaku."
Thio Ki sangat sayang kepada adiknya dan pemuda pendiam ini dapat mengerti isi hati adiknya, maka dia lalu
berkata kepada Sian Hwa sambil memandang ke arah Kui Lok,
"Sukouw, tentu adikku malu karena menurut sepatutnya, saudara Kui Lok ini yang harus memperlihatkan
kepandaiannya lebih dulu."
Dengan kata-kata ini, Thio Ki yang baru berusia dua belas tahun itu telah memperlihatkan sikapnya yang
sungguh-sungguh dan memegang aturan. Kui Lok adalah putera dari orang ketiga Hoa-san Sie-eng, maka
kalau dihitung urutan atau tingkatnya, masih lebih rendah dari pada mereka yang menjadi putera-puteri Thio
Wan It, yaitu orang kedua dari Hoa-san Sie-eng.
Diam-diam Sian Hwa tidak senang menyaksikan sikap yang angkuh ini, akan tetapi karena dia pun mengenal
watak ji-suheng-nya yang keras dan jujur, ia anggap saja bahwa sikap Thio Ki ini adalah warisan ayahnya.
dunia-kangouw.blogspot.com
"Betul juga, Lok-Ji. Hayo kau yang mendahului, lekas kau perlihatkan apa yang sudah kau pelajari dari
ayahmu," katanya sambil tersenyum.
Kui Lok tersenyum dan berkata merendah, tapi nada suaranya mengandung kebanggaan, "Kepandaianku
masih amat dangkal mana dapat disamakan dengan pewaris kepandaian ji-supek (Uwak Guru ke Dua)?"
Meski pun mulutnya berkata demikian, akan tetapi tangan kirinya lantas bergerak dan tahu-tahu dia sudah
mencabut sebatang pedang pendek dari pinggangnya.
Memang tiga orang anak pendekar Hoa-san-pai ini ke semuanya membawa pedang pada punggung masingmasing.
Itulah kiranya yang membuat mereka nampak gagah sekali.
Melihat gerakan ini, Sian Hwa tersenyum dan bertanya heran. "Kau menggunakan tangan kiri untuk bermain
pedang?"
Agak merah kedua pipi Kui Lok yang tadinya putih itu. "Betul, Sukouw, semenjak kecil saya lebih enak
menggunakan tangan kiri dari pada kanan, maka ayah sengaja melatih ilmu pedang dengan tangan kiri."
"Kidal...," Thio Bwee berkata mencemooh karena gadis ini agak mendongkol juga melihat lagak anak itu.
"Akan tetapi, Sukouw...," sambung Kui Lok cepat-cepat untuk menjawab cemoohan gadis cilik itu, "meski pun
tangan kiri, kiranya tidak akan kalah dengan tangan kanan..., ehhh, maksudku, tangan kananku sendiri,
tentunya."
Sian Hwa kembali tersenyum. Gadis ini maklum akan ejekan-ejekan itu, dan diam-diam ia menyesal mengapa
para suheng-nya itu hanya melatih ilmu silat, namun agaknya kurang memperhatikan pendidikan watak
sehingga anak-anak ini tak pandai menguasai perasaan dan mudah tersinggung.
"Kau mainlah, biar kami melihatnya."
Setelah memberi hormat kepada Sian Hwa dan mengerling penuh tantangan kepada Thio Ki dan Thio Bwee,
Kui Lok mulai bersilat dengan pedangnya. la mainkan pedang tunggal dan caranya memainkan pedang itu
memang hebat, apa lagi karena dia menggunakan tangan kiri sehingga menjadi kebalikan dari ilmu pedang
yang aslinya.
Diam-diam Sian Hwa memperhatikan dan kagum juga akan kecepatan gerakan anak ini. Memang permainan
pedang Hoa-san-pai sangat mengutamakan kecepatan. Yang paling mengagumkan hatinya adalah kekuatan
yang digunakan dalam setiap serangan, demikian sungguh-sungguh dan selalu mematikan. Tidak percuma
anak ini menjadi putera tunggal suheng-nya, Toat-beng-kiam si Pedang Pencabut Nyawa!
Setelah Kui Lok menghentikan permainan pedangnya, Sian Hwa berseru, "Bagus sekali, Lok-ji, kau tidak
memalukan ayahmu!"
Gadis ini bertepuk tangan sambil memberi pujian. Akan tetapi Thio Bwee dan Thio Ki diam saja, tidak mau
memberi pujian.
Tentu saja Kui Lok maklum akan hal ini, maka sambil menyarungkan pedangnya dia pun berkata, “Harap saja
sekarang saudara Thio Ki dan nona Thio Bwee tidak pelit-pelit lagi mengeluarkan kepandaian mereka."
"Mana aku bisa melawan engkau? Kau hanya menggunakan tangan kiri, dan kalau aku pun menggunakan
tangan kiri, aku tak dapat bersilat, sebaliknya kalau aku menggunakan tangan kanan, berarti aku licik, tentu
saja tangan kanan lebih baik dari pada tangan kiri," Thio Bwee menjawab sambil merengut.
Sian Hwa tertawa. "Hi-hi-hi, Bwee-ji, jangan kau bicara begitu. Lok-ji menggunakan tangan kiri karena memang
semenjak kecil dia melatih dirinya dengan tangan kiri. Tangan kirinya sama dengan tangan kananmu,
sebaliknya tangan kanannya sama dengan tangan kirimu. Hayo lekas kau memperlihatkan kepandaianmu
kepada bibimu, anak manis."
dunia-kangouw.blogspot.com
Thio Bwee tidak berani membantah bibi gurunya. Gadis cilik ini pun kemudian mencabut pedangnya dan
bersilat secepat ia bisa untuk memamerkan kelincahannya di depan bibi gurunya, terutama sekali di depan Kui
Lok! Dan dia berhasil!
Memang, dalam hal kelincahan, yakni dalam hal ilmu ginkang (meringankan tubuh), gadis ini menang setingkat
kalau dibandingkan dengan Kui Lok. Hal ini pun tidak aneh karena sebagai puteri Bu-eng-kiam (Pedang Tanpa
Bayangan) yang mengandalkan ilmu ginkang, tentu saja ayahnya juga telah menggembleng kedua anaknya itu
dalam ilmu ini.
Ilmu Pedang Hoa-san Kiam-hoat memang tepat sekali jika dimainkan secepatnya. Tubuh gadis cilik ini
berloncatan ke sana ke mari bagaikan seekor burung walet saja, dan pedang diputar sedemikian cepatnya
sampai hampir tidak kelihatan.
Setelah Thio Bwee berhenti bersilat, kembali Sian Hwa bersorak memuji. Tetapi sebagai seorang ahli silat
Hoa-san-pai, tentu saja gadis ini cukup maklum bahwa kepandaian gadis cilik ini masih tidak mampu melawan
ilmu pedang yang dimainkan dengan tangan kiri oleh Kui Lok. Gerakan Kui Lok lebih matang, pula tenaga
bocah ini jauh lebih besar.
"Sekarang kau, Ki-ji, kau mainlah beberapa jurus agar puas hatiku."
Thio Ki orangnya pendiam dan serius sekali. la memberi hormat kepada Sian Hwa dan berkata, "Jika ada
kekeliruan, mohon Sukouw memberi petunjuk."
Terang bahwa kata-kata ini hanya sebagai basa-basi atau sopan-santun belaka karena tanpa menanti jawaban
anak ini pun sudah mencabut pedangnya dan di lain saat dia pun sudah bermain pedang dengan kecepatan
yang sama dengan adiknya tadi. Hanya kali ini Sian Hwa melihat bahwa kepandaian Thio Ki lebih unggul dari
pada adiknya, juga kalau dibandingkan dengan Kui Lok, Thio Ki menang kecepatan biar pun tenaganya
seimbang, maka kalau ditarik kesimpulannya, di antara tiga orang anak itu, Thio Ki yang paling tinggi
tingkatnya.
"Bagus, bagus! Wah, kalian memang hebat!" Sian Hwa memuji setelah Thio Ki berhenti bersilat pedang.
"Ahhh, Sumoi! Kalau kau pun terlalu tinggi memuji anak-anak itu, mereka bisa menjadi besar kepala."
Mendadak terdengar Kui Keng berseru gembira sambil tertawa-tawa. Kui Keng memasuki ruangan itu bersama
Thio Wan It dan Kwa Tin Siong.
"Kui-susiok (Paman Guru Kui), saudara Lok puteramu ini memandang rendah aku dan kakak Ti!" tiba-tiba Thio
Bwee berseru.
Semua orang terkejut, termasuk Thio Wan It, akan tetapi Kui Keng hanya tersenyum, dan sepasang matanya
berseri. "Memandang rendah bagaimana?"
"Habis, dia sengaja memamerkan kepandaian dan bermain pedang dengan tangan kiri, bukankah itu menghina
sekali?" kata gadis cilik itu.
"Ha-ha-ha-ha-ha! Dia bermain dengan tangan kirinya karena memang dia itu kede (kidal)! Ha-ha-ha!"
Semua orang di situ tertawa dan Thio Bwee sengaja memperlihatkan muka heran.
"Aaah, jadi dia ini kidal? Habis kalau makan, apakah juga menggunakan tangan kiri juga, Susiok?" tanya pula
Thio Bwee.
“Ha-ha-ha, tentu saja tidak. Kalau makan tangan kanan dan kalau... membersihkan tubuh pakai tangan kiri."
Kui Keng tertawa-tawa lagi, karena memang orang ini sifatnya gembira sekali. Kui Lok yang tadinya
mendongkol karena ejekan Thio Bwee, sekarang ikut tertawa-tawa seperti ayahnya dan kalau anak perempuan
itu memandang kepadanya, secara diam-diam dia menjulurkan lidahnya mengejek!
dunia-kangouw.blogspot.com
"Sudahlah, anak-anak semua supaya pergi menghadap Sukong (Kakek Guru)," kata Thio Wan It. "Ki-ji, kau
yang paling tua, kau harus dapat memimpin dua orang adikmu. Kalian bertiga tinggal baik-baik di Hoa-san, dan
taati setiap petunjuk serta perintah Sukong. Kami orang-orang tua akan turun gunung untuk waktu kurang lebih
dua bulan."
"Lok-ji, kau harus yang akur bermain-main dengan kedua saudaramu, jangan nakal," Kui Keng memesan
kepada puteranya pula.
Setelah berpamit kepada Lian Bu Tojin, empat orang pendekar Hoa-san-pai ini lalu turun gunung,
meninggalkan ketiga orang anak itu di bawah pengawasan ketua Hoa-san-pai. Pada waktu turun gunung, Kwa
Tin Siong menjelaskan kepada Liem Sian Hwa tentang keputusan perundingan mereka tadi, yaitu bahwa untuk
membereskan urusan Sian Hwa dengan Kwee Sin yang gerak-geriknya amat mencurigakan, mereka akan
langsung pergi mendatangi orang tertua dari Kun-lun Sam-hengte, yaitu Bun Si Teng yang kini menjadi
pedagang kuda dan tinggal di Sin-yang.
"Sesuai dengan pesan suhu," demikian Kwa Tin Siong menutup penjelasannya, "kita tidak boleh bertindak
sembrono terhadap Kun-lun Sam-hengte yang selama ini sudah memiliki nama baik sebagai pendekarpendekar
gagah dari Kun-lun. Oleh karena itu, sebelum kita mengambil tindakan terhadap Kwee Sin, kita harus
terlebih dahulu rnemberi tahu kepada kedua saudara Bun Si Teng dan Bun Si Liong tentang kesesatan sute
mereka Kwee Sin. Dengan cara demikian berarti kita sudah cukup menghormat dan memandang muka pada
Kun-lun-pai."
Sian Hwa hanya mengangguk-angguk saja. Di dalam hati gadis ini merasa tidak cocok, karena dia merasa
gemas dan sakit hati sekali kepada bekas tunangannya yang selain sudah membunuh ayahnya, juga sudah
amat menghinanya itu. Kalau bisa, ingin ia sekali berjumpa terus menyerang dan mencincang tubuh Kwee
Sin…..
********************
Kita tunda dulu perjalanan Hoa-san Sie-eng yang hendak menjumpai Kun-lun Sam-hengte itu dan mari kita
mengikuti perjalanan Kwa Hong, bocah perempuan yang berwatak lincah dan gembira, yang dibawa pergi oleh
Koai Atong, orang lihai aneh seperti telah dituturkan di bagian depan.
Sambil tertawa-tawa Koai Atong menggandeng tangan Kwa Hong diajak pergi dari Kwa Tin Siong dan Liem
Sian Hwa yang tidak dapat mengejarnya. Kwa Hong merasa betapa tubuhnya melayang-layang, kedua
kakinya tidak menginjak tanah biar pun kelihatannya ia berjalan digandeng orang aneh itu. Mula-mula ia
merasa takut, akan tetapi karena Koai Atong tertawa-tawa sambil berkata bahwa mereka akan bermain-main di
sebuah telaga yang indah, ia akhirnya menjadi tertarik juga.
Kemudian ternyata oleh Kwa Hong bahwa orang aneh itu memang tidak berdusta. Tidak lama kemudian
tibalah mereka di tepi sebuah telaga yang amat indah, telaga kecil yang pinggirnya penuh ditumbuhi bungabunga
liar yang beraneka warna.
Di puncak pohon-pohon banyak burung menari-nari dan bernyanyi-nyanyi, sedangkan di dalam air telaga yang
penuh bayangan bunga dan pohon itu berloncatan ikan-ikan besar kecil. Bukan main indahnya tempat itu,
membuat Kwa Hong lupa akan kekhawatirannya bahwa ia telah berpisah dari ayahnya.
"Bagus sekali... nyaman sekali tempat ini...," ia berkata.
"Bagus, ya? Aku pun senang bermain-main di sini," kata Koai Atong berjingkrak-jingkrak.
"Hayo kita main kejar-kejaran, kau boleh kejar aku, tapi yang dikejar tidak boleh pergi dari sekitar telaga ini!"
Kwa Hong seorang anak yang sangat cerdik. Tadi dia sudah digandeng Koai Atong yang mempergunakan ilmu
lari cepat yang luar biasa sekali. Sebagai seorang anak pendekar, tentu saja dia mengerti bahwa orang aneh
ini mempunyai kepandaian ilmu lari cepat yang tinggi, mana bisa dia mampu mengejarnya?
dunia-kangouw.blogspot.com
Kwa Hong tertawa dan berkata nakal. “Koai Atong, kau mau mengakali aku? Ihhh, apa kau kira aku ini
sebodoh orang lain? Dari pada kau mencoba mengakali aku, lebih baik kau mengajarkan ilmu lari cepat tadi
kepadaku."
"Ilmu lari cepat? Apa itu? Aku tidak bisa... aku tidak boleh mengajarkan apa-apa...," Koai Atong cepat-cepat
berkata dengan muka ketakutan ketika mendengar Kwa Hong minta diajari ilmu lari cepat. "Lebih baik kau
minta yang lain... ehh, kau mau burung itu? Katakan saja mana yang kau sukai, aku akan menangkapnya
untukmu...!" Dia tertawa-tawa sambil menunjuk ke atas, ke arah burung-burung yang berloncatan di cabangcabang
pohon.
"Yang kecil sekali itu, yang berbulu kuning!"
Kwa Hong menunjuk ke arah seekor burung yang tampak paling lincah dan gesit di antara burung-burung yang
lainnya. Bukannya karena ia suka kepada burung kecil ini, melainkan karena anak yang cerdik ini memang
sengaja memilih burung yang paling gesit supaya Koai Atong tidak dapat menangkapnya.
"Baik, kau lihat, dia takkan bisa lari dariku."
Koai Atong segera menggenjot tubuhnya yang tinggi besar itu, melayang ke arah puncak pohon. Semua
burung buyar pergi beterbangan karena takut, termasuk burung kecil yang sudah terbang lebih dulu dengan
amat cepatnya.
Kwa Hong sudah hampir bersorak mengejek kegagalan Koai Atong. Akan tetapi tiba-tiba Koai Atong tertawa
keras dan tangan kirinya digerak-gerakkan ke depan. Dan aneh sekali, tiba-tiba burung kuning kecil itu seperti
ditarik benang yang diikatkan pada kakinya karena binatang ini terbang kembali ke arah Koai Atong dengan
gerakan lemah!
Dengan enak dan mudahnya orang aneh itu menangkap burung kuning tadi, lalu meloncat turun dan
menyodorkan burung kuning itu pada Kwa Hong. Hebatnya burung itu berdiri di atas telapak tangannya, diam
saja hanya menggerak-gerakkan sayap tanpa dapat terbang pergi!
Kwa Hong sampai melongo menghadapi pertunjukan ilmu tinggi yang seperti main sulap ini. Akan tetapi dasar
dia amat cerdik, dia tak mau memperlihatkan keheranannya, malah tertawa-tawa dan mengambil burung itu
yang berdiri di telapak tangan Koai Atong.
la mengira bahwa burung itu memang sudah tidak dapat terbang lagi, maka ia memegang perlahan sekali.
Siapa kira, begitu terlepas dari telapak tangan Koai Atong dan berada dalam genggaman Kwa Hong, burung
itu meronta dan...
“Brrrttt...!” burung itu terbang pergi, cepat sekali!
Koai Atong tertawa terbahak-bahak. Kwa Hong merengut.
"Koai Atong, kau telah menipuku! Di tanganmu burung itu tidak bisa terbang, tapi kenapa setelah kugenggam
dia lalu terbang?"
"Ha-ha-ha, mana bisa burung terbang tanpa pancalan kaki? Telapak tangan yang dibikin lunak, disertai hawa
menyedot, tentu membikin dia tak mampu terbang, apa anehnya...? Ha-ha-ha!"
"Ahhh, kau nakal! Mengapa kau tidak memberi tahu dari tadi?" Kwa Hong cemberut dan marah-marah.
Melihat temannya marah-marah, Koai Atong cepat berkata, "Sudahlah, biar kutangkapkan lagi dia untukmu..."
la sudah bangkit berdiri.
Akan tetapi Kwa Hong berkata, "Tidak, aku sudah tidak suka lagi. Tidak suka main-main denganmu, aku
hendak kembali kepada ayah."
dunia-kangouw.blogspot.com
"Waaah, jangan marah. Belum puas kita bermain-main di sini. Mari kita pergi ke tempat lain yang lebih indah.
Kau mau ke puncak gunung bermain dengan awan? Atau ke dalam hutan yang penuh binatang buas? Aku
tahu banyak tempat indah...”
"Tidak," jawab Kwa Hong yang mendapatkan pikiran untuk pergi meninggalkan orang ini. la mulai mendapat
perasaan tak enak, takut kalau-kalau si gila ini tak mau melepaskannya kembali. "Kalau kau bisa mencarikan
ikan bersisik kuning emas dari telaga ini, baru aku mau main main lagi.”
Koai Atong memandang ke arah telaga. Banyak ikan-ikan kecil besar berloncatan, malah kadang-kadang
keluar jauh dari permukaan air, akan tetapi tidak ada yang bersisik kuning emas, kesemuanya putih atau hitam.
"Mana ada ikan bersisik kuning emas?" tanyanya ketolol-tololan.
"Tentu saja ada, di dalam telaga. Ataukah barang kali kau tidak becus menangkapnya? Kalau kau tidak becus,
kau tidak berharga merijadi temanku bermain-main."
Koai Atong nampak gugup. "Baik, baik... akan aku tangkapkan untukmu. Kau tunggu dan lihatlah."
Tiba-tiba tubuhnya yang tinggi besar itu berkelebat ke arah telaga dan...
“Byurrrrr…!” Koai Atong telah terjun ke dalam air itu!
Wajah Kwa Hong berubah. Celaka, kiranya dia pun setan air yang pandai bermain di air. Inilah kesempatan
baik, aku harus cepat pergi meninggalkan tempat ini.
Akan tetapi sebelum kakinya bergerak, timbul perasaan malu dan kasihan di hatinya. Malu kepada diri sendiri
yang seakan-akan hendak menipu Koai Atong dan kasihan kepada si gila itu. Dia amat baik kepadaku, sampaisampai
mau menyelami telaga untuk mencarikan ikan, masa aku begitu rendah hati untuk menipu dan
meninggalkannya?
Kwa Hong menjadi ragu-ragu. Anak ini sudah banyak dijejali filsafat tentang kebajikan dan terutama mengenai
kegagahan serta keadilan oleh ayahnya, maka dia menjadi ragu-ragu untuk meninggalkan Koai Atong yang
sengaja dia suruh menyelam di telaga.
Selagi ia ragu-ragu, tiba-tiba terdengar suara orang, "Nah, ini dia anak Hoa-san It-kiam!"
Dan muncullah seorang laki-laki yang membuat Kwa Hong menjadi pucat mukanya karena mengenal orang ini
sebagai orang yang pernah menculiknya. Lalu muncul dua orang lain yang berpakaian sebagai pendetapendeta
Agama To (tosu), akan tetapi tak seperti para tosu biasanya, di atas rambut mereka terdapat hiasan
bunga teratai.
"Mana bocah nakal yang gila itu?" tanya seorang di antara dua orang tosu tadi sambil memandang ke kanan
kiri.
“Susiok berdua menjaga kalau dia muncul, biar teecu melarikan anak ini lebih dulu!" kata si penculik itu sambil
menubruk Kwa Hong.
"Koai Atong, lekaslah kau keluar...! Tolong aku...!" Kwa Hong berteriak-teriak sambil loncat mengelak dan lari
mendekati telaga. Penculik itu sambil tertawa lebar mengejar.
"Hendak lari ke mana kau?"
Tiba-tiba muncul kepala Koai Atong dari permukaan air dengan kedua tangan memegang dua ekor ikan.
Melihat Kwa Hong dikejar orang, kedua tangannya bergerak dan dua ekor ikan itu dengan kecepatan luar
biasa menyambar ke arah penculik yang sudah tak keburu mengelak lagi.
“Aduhh...! Auuuwww... aaaapppp!”
dunia-kangouw.blogspot.com
Ikan pertama dengan tepat mengenai hidungnya dan entah karena kesakitan atau apa, ikan itu lalu membuka
mulut dan... menggigit hidung si penculik dan ketika si penculik mengaduh-aduh, ikan ke dua melayang tepat
ke... mulutnya yang celangap, terus masuk sampai ke kerongkongannya.
Tentu saja dia menjadi kebingungan seperti kakek kebakaran jenggotnya. Dengan susah payah dia dapat
melepaskan ikan yang menggigit hidungnya dan menarik keluar ikan ke dua dari tenggorokannya. Hidungnya
berdarah dan si penculik menyumpah-nyumpah, apa lagi ketika melihat Kwa Hong tertawa cekikikan
menyaksikan pemandangan yang lucu itu.
Akan tetapi melihat Koai Atong sudah meloncat naik dan kini orang aneh itu ikut tertawa berdiri di dekat Kwa
Hong, si penculik tidak berani maju lagi dan malah berlari ke belakang dua orang tosu yang menjadi susiok-nya
(paman gurunya).
Dua orang tosu itu melangkah maju menghadapi Koai Atong.
"Koai Atong," kata seorang di antara mereka yang mempunyai andeng-andeng (tahi lalat) besar di pipi
kanannya, "harap kau jangan ikut campur dan berikan anak ini kepada kami."
Koai Atong masih tertawa-tawa dengan Kwa Hong, sama sekali tidak mau melayani dua orang tosu itu. Akan
tetapi Kwa Hong yang maklum bahwa kedua orang tosu itu pun tidak mempunyai maksud baik, dan agaknya
teman dari si penculik tadi, segera berkata, "Koai Atong, jangan dengarkan mereka. Ganyang saja!"
Koai Atong tertawa lagi dan menggerak-gerakkan tubuhnya yang basah kuyup itu. Air dari pakaiannya
memercik-mercik dan menyambar ke arah dua orang tosu itu. Tanpa dapat dicegah lagi pakaian tosu itu pun
terkena air, malah muka mereka menjadi basah dan terasa sakit karena sambaran titik-titik air itu terasa seperti
jarum-jarum menusuk kulit. Mereka menjadi marah dan membentak.
"Orang gila, kau mencari mampus?"
Serentak kedua tosu itu mencabut keluar ikat pinggang mereka yang ternyata merupakan joan-pian (cambuk
lemas) berduri, nampaknya menakutkan sekali.
Akan tetapi Koai Atong hanya tertawa saja dan begitu kedua orang menyerang, dia telah memegang anak
panahnya yang berujung kehijauan. Entah dari mana dia mengeluarkan senjatanya ini.
Terdengarlah suara yang keras. Dua orang tosu itu mengeluarkan seruan tertahan karena joan-pian mereka
yang diserangkan tadi telah bertemu dengan anak panah dan membuat tangan mereka tergetar. Namun
karena mereka percaya akan kepandaian sendiri, apa lagi karena mereka maju berdua, dua orang tosu ini
tidak gentar dan segera mengurung, menghujankan sambaran joan-pian ke arah tubuh Koai Atong.
Orang aneh ini menggerakkan anak panahnya sambil tertawa-tawa dan kadang-kadang ia menggerakkan
tubuhnya yang basah dan mengirim titik-titik air yang menyambar ke arah kedua orang lawannya. Kwa Hong
bertepuk tangan memberi hati kepada temannya.
"Hayo, Koai Atong. Gasak mereka. Sikat saja!"
Pertempuran berjalan seru sekali. Ternyata kepandaian dua orang tosu itu pun lihai bukan main. Gerakan joanpian
mereka amat hebat, seperti dua ekor ular yang menggeliat-geliat dan menyambar-nyambar.
Akan tetapi semua serangan mereka dapat dihindarkan oleh Koai Atong dengan mudah. Sebaliknya, dengan
anak panahnya itu pun Koai Atong tidak mampu mendesak dua orang lawannya, malah nampaknya Koai
Atong dalam gerakan-gerakannya terlampau lemah sedangkan dua orang lawannya itu makin cepat dan kuat
daya serangannya.
Hal ini tidak aneh karena dua orang itu rnenggunakan ilmu silat yang mengandung tenaga Yang, sebaliknya
Koai Atong memang memiliki kepandaian yang berdasarkan tenaga Im yang lebih halus dan lemas. Akan
tetapi hanya tampaknya saja dia kalah cepat dan kalah kuat, padahal sesungguhnya tidak demikian karena
dengan tenaga lemas dia dapat pula menggunakan tenaga lawan untuk balas menyerang.
dunia-kangouw.blogspot.com
Pada jurus ke lima puluh, mendadak dua orang tosu itu mengeluarkan bunyi melengking tinggi yang aneh dan
serempak mereka menggerakkan tangan kirinya ke depan. Hanya tampak sinar beraneka warna menyambar
ke arah Koai Atong.
Orang aneh ini nampak kebingungan. Cepat-cepat dia memutar anak panahnya sambil mengibaskan tangan
kirinya seperti orang menghadapi sambaran banyak senjata rahasia yang kecil. Akan tetapi tetap saja dia
mengaduh ketika terasa pundak kirinya gatal-gatal.
“Aduh, curang... auhh, curang...!”
Dan orang tinggi besar yang berjiwa kanak-kanak ini lalu menangis! Akan tetapi sambil menangis dia lalu
menyerang lebih hebat sehingga kedua lawannya terpaksa lebih banyak main mundur saja karena memang
bukan main berbahayanya sepak terjang Koai Atong yang seperti seorang anak-anak sedang marah itu.
Kwa Hong khawatir sekali melihat bahwa temannya menangis dan agaknya kesakitan.
"Tosu-tosu bau! Kakek-kakek mau mampus! Tidak tahu malu, cih, tidak tahu malu. Sudah main keroyokan
masih berlaku curang!" Kwa Hong memaki-maki sehingga kedua orang tosu itu menjadi merah mukanya.
"Diam, anak setan!" bentak kakek yang bertahi lalat pipinya
“Kau yang diam, tosu bau! Ahhh, kalau aku sudah besar, kucongkel tahi lalatmu di pipi itu dan kuganti dengan
tahi kerbau!" Kwa Hong memaki dan makian ini membuat Koai Atong yang tadinya menangis menjadi tertawa
terbahak-bahak.
"Ha-ha-ha, betul-betul! Ganti dengan tahi orang, lebih bau lagi!"
Akan tetapi setelah dia tertawa, penyerangannya menjadi kurang kuat sehingga dia kena didesak mundur lagi.
Kwa Hong melihat ini menjadi makin khawatir. Koai Atong boleh jadi lihai, akan tetapi dia kurang siasat dan
seperti anak kecil saja, pula kedua orang lawannya itu ternyata amat lihai.
Pada saat itu, si penculik diam-diam mendekati Kwa Hong. la menganggap anak ini amat mengganggu kedua
orang susiok-nya. Lagi pula, ketika melihat orang aneh itu terdesak, dia mendapat kesempatan untuk
menangkap Kwa Hong. Setelah cukup dekat, dia lantas menubruk anak itu.
Kwa Hong yang sudah banyak belajar ilmu silat, cepat-cepat membanting diri ke belakang sehingga tubrukan
itu meleset dan... mendadak Koai Atong menggerakkan tangan kirinya dari jauh dengan cara mendorong.
Tanpa dapat dicegah lagi tubuh penculik itu terlempar masuk ke dalam air telaga!
Koai Atong tertawa cekakakan, dan Kwa Hong mau tidak mau tertawa geli juga melihat betapa si penculik yang
sial itu sekali lagi menyumpah-nyumpah sambil berenang ke tepi dan merayap naik dengan pakaian basah
kuyup. Akan tetapi Kwa Hong yang agaknya lebih cerdik dari pada Koai Atong, segera teringat akan gerakan
tangan kiri orang aneh itu.
"Koai Atong, gunakan tangan kirimu, putar-putar dan pukul..."
la ingat betapa lihainya tangan kiri Koai Atong yang pernah memukul mundur rombongan penculik, juga tadi
baru saja diperlihatkan lagi pada waktu mendorong tubuh si penculik ke dalam telaga.
Seperti orang baru teringat, Koai Atong menghentikan suara ketawanya dan berkata, "Wah, iya, aku sampai
lupa. Ehhh, ini rasakan pukulanku, tosu-tosu hidung kerbau!"
la memutar-mutar tangan kirinya dengan gerakan lucu seperti orang... menyelinger mobil, lalu mendorong dua
kali ke depan.
dunia-kangouw.blogspot.com
Dua orang tosu itu masih belum menduga bahwa gerakan yang aneh dan lucu ini adalah gerakan pukulan
Jing-tok-ciang, maka begitu mereka terdorong, mereka mengeluarkan teriakan kaget, mundur terhuyunghuyung
dengan muka pucat dan napas sesak.
"Celaka...!" Mereka berteriak.
Kemudian mereka cepat-cepat melarikan diri bagai dikejar setan. Padahal yang mengejar mereka bukan lain
adalah si penculik yang lebih ketakutan lagi melihat susiok-susiok-nya sudah lebih dulu melarikan diri.
"Kejar, Koai Atong. Tangkap!" seru Kwa Hong berkali-kali.
Akan tetapi Koai Atong hanya tertawa-tawa, lalu berjingkrak sambil bertepuk-tepuk tangan kegirangan, seperti
seorang anak-anak bergirang karena menang dalam permainan.
"Bagus, ya? Bagus, ya?" katanya kepada Kwa Hong. "Sayang ikan-ikan itu telah dimakan monyet tadi. Ikanikan
sisik kuning emas tulen tadi."
"Sudahlah, aku sudah bosan. Aku mau kembali kepada ayah. Hayo, antarkan aku.”
“Kenapa kembali? Habis aku bagaimana? Ehh, Enci... siapa namamu?"
Geli juga hati Kwa Hong mendengar orang itu menyebut dirinya enci (kakak perempuan). Orang setua ayahnya
kok menyebut enci. Benar-benar gila!
"Namaku Hong, she Kwa."
"Jangan kembali dulu, Enci Hong. Aku masih senang bermain-main dengan kau. Mari aku perlihatkan puncak
yang ada bunga cengger ayam. Bagus sekali." Koai Atong masih saja terus membujuk-bujuk seperti anak
merengek-rengek.
"Tidak, aku sudah lama pergi, takut ayah mengharap-harap kembaliku."
"Kau takut dimarahi ayahmu? Jangan takut. Kalau dia berani marah, kupukul dia!"
Tiba-tiba Kwa Hong memandang kepada Koai Atong dengan muka beringas dan mata berapi. "Apa katamu?!
Kau mau pukul ayah? Kau berani pukul dia? Kubunuh kau!"
Koai Atong nampak kaget dan cepat dia berkata halus, "Ah, tidak..., tidak, Enci Hong... aku tidak berani..."
Meski masih kecil, sekarang Kwa Hong mengerti bahwa orang ini memang tidak normal, merasa seperti
seorang anak yang kecil, lebih kecil dari dia sendiri. Maka ia lalu berkata dengan suara marah, menakut-nakuti.
"Kalau begitu, lekas antar aku kembali kepada ayah. Kalau kau tidak mau, aku tidak suka lagi menjadi
temanmu."
“Oh, baik, baik, Enci Hong, baik. Marilah..."
Koai Atong memegang lengan tangan Kwa Hong dan seperti tadi, dia berlari cepat sekali kembali ke dalam
hutan di mana tadi mereka meninggalkan Kwa Tin Siong dan Sian Hwa. Akan tetapi, setelah tiba di tempat itu,
mereka ttdak dapat menemui dua orang itu yang sudah lama pergi. Hari telah menjadi senja dan Kwa Hong
gelisah bukan main.
"Kau yang salah! Kenapa kau ajak aku pergi? Sekarang bagaimana? Ke mana aku harus mencari ayah?"
Gadis cilik ini rnembanting-banting kakinya sehingga Koai Atong juga ikut bingung dan ketakutan.
"Habis bagaimana baiknya? Salahnya ayahmu yang tidak mau menunggu di sini," Koai Atong membela diri.
dunia-kangouw.blogspot.com
"Kau persalahkan ayah? Lekas sekarang kita menyusul. Kau harus dapat membawa aku bertemu dengan
ayah, kalau tidak, awas kau...!"
Koai Atong mengangguk-angguk. "Baiklah... mari kita susul ayahmu."
Mereka keluar dari hutan itu, akan tetapi terpaksa mereka berhenti karena malam telah tiba. Kwa Hong merasa
bingung dan amat gelisah, ingin menangis. Akan tetapi ia maklum bahwa kalau dia menangis, maka hal itu
bahkan akan membuat Koai Atong ikut menjadi bingung. Dia lalu menahan perasaannya dan bersikap seolaholah
ia menjadi kakak yang memimpin sedangkan Koai Atong seperti adiknya.
"Aku mau mengaso dan tidur di bawah pohon sini, kau buatkan api unggun dan menjaga di sini," katanya.
Akan tetapi Koai Atong begitu bodohnya, sehingga membuat api unggun saja tidak becus. Kwa Hong terpaksa
memberi petunjuk caranya membuat api dari dua kayu yang digosok secara keras. Tentu saja dengan tenaga
Iweekang-nya yang tinggi, beberapa kali gosok saja Koai Atong sudah berhasil menimbulkan api.
Orang aneh ini bersorak-sorak girang melihat api dan sekiranya dia tidak sedang bersama Kwa Hong yang
mencegahnya, tentu dia akan membuat api yang amat besar yang akan membakar seluruh hutan! Dengan
Koai Atong menjaga di dekatnya Kwa Hong merasa aman dan anak ini segera tertidur.
Pada keesokan harinya, pagi-pagi sekali Kwa Hong sudah sadar karena merasa dingin sekali. Ketika dia
menengok, ternyata orang aneh itu pun sudah tertidur mengorok sambil duduk bersandar pohon. Seketika Kwa
Hong merasa ketakutan karena di dalam tidurnya, lenyaplah sifat kanak-kanak pada diri orang aneh itu,
kelihatan seperti seorang laki-laki yang setengah tua dan menakutkan.
Rasa takut membuat Kwa Hong segera bangkit lalu berjalan perlahan meninggalkan Koai Atong yang masih
tertidur. Bagaimana pun juga, dia belum mengenal bagaimana watak orang aneh ini sebenarnya dan makin
lama kelakuan Koai Atong makin aneh menakutkan. Siapa tahu kalau-kalau akan timbul sifat jahatnya,
demikian Kwa Hong berpikir sambil pergi meninggalkan orang itu dengan maksud mencari sendiri ayahnya.
Lama dia berjalan sampai dia tiba di luar sebuah dusun ketika matahari telah mulai naik. Kwa Hong mulai
rnerasa lapar perutnya. Aduh, bagaimana ia harus mencari makan? Rasa lapar hampir tidak tertahankan pada
waktu pagi itu, perutnya melilit-lilit dan terasa perih. Hampir ia menangis. Mulailah ia merasa menyesal
mengapa ia meninggalkan Koai Atong. Sekiranya ada orang aneh itu, tentu dapat ia suruh mencari makanan.
Tiba-tiba Kwa Hong terkejut ketika mendengar suara tinggi melengking yang amat aneh. la menoleh ketakutan
ke kanan kiri, akan tetapi tidak melihat sesuatu. Suara melengking itu makin lama makin dekat dan akhirnya ia
melihat seorang anak laki-laki berwajah putih pucat datang berjalan perlahan sambil meniup sebuah suling
yang bentuknya seperti ular.
Anak itu pakaiannya berwarna kuning. Bajunya terlalu panjang pada lengannya, bahkan belakangnya sampai
hampir menyentuh tanah. Wajahnya tampan, matanya berkilat, dan alisnya hitam, menambah wajah yang
pucat itu menjadi makin pucat.
Kwa Hong tertegun melihat anak yang aneh itu. Tadinya ia tidak melihat sesuatu ketika anak itu masih jauh,
akan tetapi setelah anak itu datang makin dekat, Kwa Hong hampir menjerit karena ngerinya.
Di belakang anak itu berjalan ratusan ekor ular besar kecil yang agaknya teratur sekali. Tidak seekor pun
menyeleweng jalannya, semua mengikuti jejak pemuda itu, ada yang kepalanya menyusur tanah, ada yang
mengangkat kepala dan berlenggang-lenggok, akan tetapi kesemuanya mengikuti pemuda yang menyuling
tadi seakan-akan dikomandani oleh suara suling!
Kwa Hong merasa ngeri bukan hanya karena melihat ular sedemikian banyaknya, akan tetapi terutama sekali
karena ia melihat betapa pemuda itu seakan-akan tidak tahu bahwa di belakangnya ada ratusan ular yang
mengikutinya, masih terus melangkah enak-enakan sambil menyuling.
"Lari...! Lekas kau lari... di belakangmu banyak ular...!" Kwa Hong berteriak-teriak.
dunia-kangouw.blogspot.com
Anak ini sendiri lalu meloncat ke arah sebatang pohon besar dan memanjat pohon dengan ketakutan. Di atas
pohon ia masih berteriak-teriak menyuruh anak laki-laki itu segera lari.
Akan tetapi anak itu bukannya lari, malah dengan perlahan sekarang ia memutar arahnya menuju ke arah
pohon itu! Ular-ular itu pun terus mengikutinya dan kini semua binatang yang menjijikkan ini telah berkumpul di
bawah pohon.
Dari atas pohon Kwa Hong dapat melihat dengan jelas sekali gerakan-gerakan semua ular itu dan hampir saja
ia menjerit-jerit saking geli dan jijiknya. Tubuh Kwa Hong gemetar. Selama hidupnya belum pernah anak yang
tabah ini menderita ketakutan seperti di saat itu. Baru sekarang dia melihat bahwa anak laki-laki yang usianya
hanya satu dua tahun lebih tua dari padanya itu sama sekali tidak dikejar oleh ular-ular itu, juga sama sekali
tak diganggu, malah lebih patut dikatakan bahwa ular-ular itu adalah binatang peliharaannya. Buktinya,
sekarang anak laki-laki itu berdiri dikelilingi ular-ular dalam jarak satu meter.
Tiba-tiba anak laki-laki itu berhenti menyuling. Dia menengok ke atas dan tertawa nakal melihat Kwa Hong
bersembunyi di situ. Kemudian dia mulai meniup sulingnya lagi dan... ular-ular itu kini merayap ke arah pohon
dan berebutan mereka mencoba untuk merayap naik! Bukan main takut, geli dan jijiknya hati Kwa Hong.
"Heeeiiiii!" teriaknya kepada anak laki-laki itu. "Suruh mereka pergi...! Usir mereka, jangan perbolehkan naik ke
pohon...!"
Akan tetapi anak itu dengan sepasang mata memancarkan sinar kenakalan, malah makin memperkeras bunyi
sulingnya dan ular-ular itu seperti gila dalam usahanya merayap naik ke atas pohon. Beberapa ekor di
antaranya yang agaknya biasa menaiki pohon, sudah berhasil naik, mengeliat-geliat makin mendekati Kwa
Hong.
Hampir saja Kwa Hong pingsan saking jijiknya. Tubuhnya terasa kaku-kaku dan tangan kakinya serasa
lumpuh. la memeluk erat cabang pohon dan memandang ke arah ular-ular yang merayap naik itu dengan
wajah pucat.
Tapi dasar Kwa Hong berhati keras seperti baja, dia tidak menangis, padahal rasa jijik dan takut membuat ia
ingin sekali menjerit-jerit. Apa lagi ketika ada seekor ular yang bersisik kehitaman dan agak panjang sudah
berhasil merayap dekat dan kini, ular itu menjilat-jilat ke arah kakinya.
Kwa Hong meramkan matanya yang berkunang-kunang dan menjejakkan kakinya ke arah ular itu. Akan tetapi
ular itu malah merayap ke arah kakinya, lalu naik melibat betisnya. Terasa dingin dan menggeliat-geliat di betis
kiri! Tanpa tertahankan pula saking ngeri dan jijiknya, Kwa Hong menjerit dan... roboh terguling dari atas
cabang pohon!
Pada saat itu, berkelebat bayangan orang dan tahu-tahu tubuh Kwa Hong sudah berada dalam pondongan
Koai Atong! Orang aneh ini dengan ginkang-nya yang tinggi melompat dan sudah melampaui kumpulan ular,
kemudian dia hendak membawa lari Kwa Hong.
"He, tunggu dulu, jangan lari!" terdengar anak laki-laki itu membentak dan... aneh sekali, Koai Atong berhenti
dan membungkuk dengan hormat kepada anak itu.
"Orang gendeng, kenapa kau berani lancang tangan? Apa kau kira aku sendiri tidak bisa menolongnya ketika
dia jatuh dari pohon?" Anak laki-laki itu nampak marah dan menegur Koai Atong.
"Maaf, Tuan Muda, maaf. Dia ini adalah sahabatku, kukira tadi akan celaka, maka aku pun menolongnya.
Maaf..."
Koai Atong nampaknya takut-takut dan menghormati sekali, bagaikan seorang anak kecil bertemu dengan
anak lain yang lebih jagoan.
Anak laki-laki bermuka putih itu tersenyum mengejek. "Apa kau ingin dihajar lagi oleh suhu (guru)?"
dunia-kangouw.blogspot.com
Kwa Hong tak dapat menahan kesabarannya lagi. Setelah sekarang Koai Atong berada di situ bersama dia,
dia tidak takut lagi untuk menghadapi ular-ular itu. Apa lagi ia merasa mendongkol bukan main karena selain
anak itu sudah mengganggunya, juga sikap anak itu terhadap Koai Atong benar-benar keterlaluan sekali, di
samping keheranannya melihat betapa Koai Atong agaknya amat takut dan menghormat kepada bocah
bermuka puth.
"Keparat tak kenal mampus!" teriaknya sambil menudingkan telunjuknya ke muka anak itu. "Penjahat macam
engkau harus dibasmi!" Sambil berkata demikian Kwa Hong menyerang dengan kedua tangannya karena
pedangnya sudah patah ketika ia menyerang Hek-hwa Kui-bo dahulu itu.
"Enci Hong, jangan...!” Koai Atong mencegah dan memegang lengan Kwa Hong.
Hal ini membuat Kwa Hong menjadi makin naik darah. la merenggutkan lengannya dan membentak.
"Kau boleh takut kepadanya, akan tetapi aku tidak!" Dan ia terus meloncat maju, memukul ke arah dada anak
itu.
Bocah yang bermuka pucat itu hanya tersenyum mengejek. Sulingnya yang berbentuk ular itu bergerak ke
depan dan tahu-tahu tubuh Kwa Hong telah menjadi kaku tidak dapat bergerak lagi. Dalam segebrakan saja,
dan dengan gerakan yang tak terduga cepatnya, bocah muka putih itu telah menotoknya!
Koai Atong melangkah maju dan sekali tepuk pada pundak Kwa Hong, orang aneh ini telah membebaskan
totokannya.
"Enci Hong, jangan lawan Tuan Muda...," orang aneh itu mencegah lagi.
Akan tetapi anak yang berwatak keras seperti Kwa Hong, mana mau sudah begitu saja setelah ia merasa
diperhina orang? la menjadi marah sekali dan dengan nekat ia lalu maju menyerang lagi.
"Ehh, budak perempuan, kau masih belum kapok?" Anak laki-laki yang bermuka pucat itu kembali
menggerakkan sulingnya.
Akan tetapi mendadak suling itu menyeleweng ke kiri dan tubuh Kwa Hong juga terdorong mundur, seakanakan
ia tadi didorong oleh tenaga yang tidak kelihatan. Anak laki-laki itu melangkah mundur dan berkata.
"Suhu... dia yang menyerang teecu..."
Ketika Kwa Hong sudah berdiri tegak, dia melihat seorang laki-laki tua bertubuh sedang, berpakaian
sederhana seperti petani dengan baju yang berlengan panjang, sudah berdiri di situ sambil tersenyum-senyum.
Sepasang mata orang tua ini bergerak-gerak liar ke sana ke mari.
Yang mengherankan hati Kwa Hong adalah sikap Koai Atong yang tiba-tiba menjatuhkan diri berlutut,
sedangkan anak laki-laki tadi pun berdiri membungkuk-bungkuk. Kakek itu seakan-akan tidak melihat orang
lain. Dia menoleh ke arah rombongan ular di belakang anak itu, lalu tangan kirinya bergerak.
Kwa Hong tidak tahu bagaimana terjadinya, demikian cepat gerakan ujung lengan baju orang tua itu, akan
tetapi tahu-tahu seekor ular besar telah dibelit ujung lengan baju itu, kepala ular dipegangnya, kemudian...
dengan lahapnya orang tua itu menggigit tubuh ular, mengambil dagingnya dan makan daging berdarah itu
dengan enak sekali! Ular itu hanya berkelojotan di tangannya, menggeliat-geliat tanpa dapat melawan.
Pemandangan ini amat mengerikan hati Kwa Hong yang berdiri memandang dengan mata terbelalak. Setelah
menghabiskan tiga gumpalan daging, kakek itu lalu melemparkan ular yang tadi berkelejotan dan mencoba
untuk lari dari situ.
Ular-ular yang lain diam tidak ada yang berani bergerak. Sekali lagi dengan cara seperti tadi, yaitu dengan
ujung lengan bajunya, kakek itu menangkap seekor ular berkulit hijau yang tampaknya berbisa sekali, lalu
makan daging ular hidup ini seperti tadi pula.
dunia-kangouw.blogspot.com
Setelah melemparkan sisa ular itu barulah kakek ini berpaling kepada Koai Atong, dan dia pun bertanya, "Anak
besar gila, mana gurumu?"
"Hamba... hamba tidak tahu di mana, Locianpwe. Hamba sedang hendak kembali mencari suhu...”
Kakek itu tidak peduli lagi kepada Koai Atong, lalu memandang kepada Kwa Hong dengan matanya yang
tajam dan bergerak-gerak liar. Kwa Hong merasa ngeri, akan tetapi anak yang tabah ini balas memandang
dengan matanya yang bening.
"Anak bernyali besar, siapa ayahmu?"
"Ayah bernama Kwa Tin Siong, berjuluk Hoa-san It-kiam," jawab Kwa Hong.
Kakek itu mendengus. "Huh, anak murid Hoa-san-pai. Apa becusnya? Akan tetapi nyalimu besar, tulangmu
pun baik."
Tiba-tiba dia membalik kepada anak muka putih tadi.
"Kin-ji, lain kali kau tidak boleh mengganggu anak yang bernyali besar ini. Tak tahu malu, kau!"
"Ampun, Suhu..."
"Hayo usir semua cacing ini!"
Anak bermuka putih yang bernama Kin itu segera meniup sulingnya dan semua ular itu merayap pergi.
Sebentar saja bersihlah tempat itu, bahkan dua ekor ular yang sudah hilang sebagian dagingnya tadi pun kini
sudah merayap pergi memasuki semak-semak.
"Koai Atong, mengapa kau membawa-bawa anak ini?" bentak lagi kakek itu kepada Koai Atong.
Koai Atong mengangguk-anggukkan kepalanya. "Enci Hong ini... dia sahabat baik teecu, hendak teecu
susulkan kepada ayahnya di Hoa-san..."
"Baik, kau tidak lekas pergi menanti apa lagi?"
Koai Atong memberi hormat berkali-kali dan berkata, "Terima kasih, Locianpwe... terima kasih..." la lalu berdiri,
menyambar lengan Kwa Hong dan membawanya lari dari tempat itu.
Kwa Hong berkali-kali bertanya tentang kakek aneh itu, akan tetapi Koai Atong tidak mau menjawab. Setelah
mereka lari sepuluh li lebih jauhnya, barulah Koai Atong melepaskan tangan Kwa Hong dan berhenti,
napasnya terengah-engah.
"Aduh... hampir saja... hampir saja celaka..."
Mungkin karena rasa takut dan ngerinya yang sangat besar, orang aneh yang biasanya bersikap seperti
kanak-kanak ini sekarang agak lebih normal sikapnya.
"Ada apa, Koai Atong? Siapakah kakek itu? Siapa pula bocah yang memelihara ular itu?" Kwa Hong bertanya.
Koai Atong berkali-kali menarik napas panjang, lalu dia duduk di atas tanah. "Dia adalah Siauw-ong-kwi, tokoh
terbesar dari utara, amat lihai dan ganas. Kau lihat tadi makanannya saja ular hidup. Bocah itu muridnya, lihai
sekali, biar pun masih kecil tapi kepandaiannya tidak kalah olehku! Namanya Giam Kin. Hati-hatilah kau kalau
bertemu dengan dua orang itu."
Setelah perasaan takutnya agak reda, timbul kembali sifat kanak-kanak dari Koai Atong. Ia mulai tertawa-tawa
dan berkata, "Menyenangkan sekali ular-ular itu, ya? Kalau kita bisa menyuling seperti dia, waaah,
senangnya!"
dunia-kangouw.blogspot.com
Kwa Hong bergidik. "Menyenangkan apa? Menjijikkan. Hih, hanya anak setan yang suka bermain-main dengan
segala macam ular. Eh, Koai Atong, sekarang hayo lekas antar aku ke Hoa-san. Kalau kau tidak mau, aku pun
tidak sudi lagi menjadi temanmu."
"He-he-heh, Enci Hong. Tentu saja kuantar. Biarlah kalau suhu akan marah karena lama aku tidak kembali,
palihg-paling akan digebuk pantatku. Hayo, mari kugendong kau!"
Dengan cepat sekali Koai Atong menggendong Kwa Hong di punggungnya dan orang aneh ini lalu
menggunakan kepandaiannya untuk cepat berlari menuju ke Hoa-san.
Diam-diam Kwa Hong makin ngeri kalau mengenangkan peristiwa tadi. Kalau Koai Atong yang sudah begini
lihai masih takut pada orang tua itu, sampai berapa hebat kepandaian Siauw-ong-kwi? Dan anak bermuka
putih itu, benarkah lebih lihai dari pada Koai Atong?
Tentu saja dia tidak tahu bahwa tak mungkin anak bernama Giam Kin itu lebih lihai dari pada Koai Atong.
Hanya karena Koai Atong amat takut kepada Siauw-ong-kwi, maka dia berkata demikian…..
********************
Pada masa itu, kekuasaan bangsa Mongol yang sedang menjajah daratan Tiongkok mulai menyuram. Di
mana-mana timbul kekacauan serta pemberontakan-pemberontakan kecil yang merongrong kekuasaan dan
kewibawaan pemerintah Goan.
Sungai-sungai besar seperti Sungai Yang-ce atau Sungai Huang-ho, yang tadinya adalah pusat pengangkutan
dan perdagangan, kini penuh dengan perampok-perampok dan para bajak sungai. Bajak dan perampok ini
demikian beraninya sehingga, kalau dulu mereka hanya mengganggu perahu kecil yang tidak terjaga kuat,
tetapi sekarang mereka ini tidak segan-segan untuk membajak perahu besar yang dijaga, bahkan mereka ini
berani pula mengganggu perahu-perahu pembesar Goan.
Kota dan dusun yang terdapat di sepanjang Sungai Yang-ce, tidak luput dari gangguan para bajak dan rampok
ini. Oleh karena itu, maka keadaannya sekarang menjadi sepi. Para pedagang tidak berani lagi melakukan
perjalanan seorang diri, para pengiring barang tidak berani lagi kalau tidak terjaga oleh serombongan piauwsu
(pengawal barang) yang kuat. Bahkan para pembesar yang melakukan perjalanan, selalu membawa pasukan
yang bersenjata lengkap.
Dusun Kui-lin di tepi Sungai Yang-ce termasuk Propinsi Hu-pek, tadinya merupakan dusun yang ramai dan
makmur, terkenal akan ikannya yang besar-besar dan banyak serta hasil hutannya yang amat kaya. Biasanya
di dusun ini banyak dikunjungi pedagang-pedagang dari lain daerah sehingga di pinggir sungai banyak diikat
perahu-perahu besar dan di darat banyak terdapat kuda dan kereta.
Akan tetapi akhir-akhir ini dusun Kui-lin juga ikut menjadi sunyi sekali. Tak ada pedagang luar daerah yang
berani datang melakukan perjalanan yang berbahaya. Para pedagang di Kui-lin sendiri selain mengalami
perdagangan yang sepi, juga sering mendapat gangguan dari para penjahat sehingga mereka yang
mempunyai cukup modal berbondong-bondong berpindahan ke kota-kota besar. Banyak pula yang menderita
gulung tikar sehingga dusun Kui-lin sekarang menjadi dusun yang sunyi, hanya ditinggali para nelayan dan
petani yang tidak punya apa-apa untuk dirampok lagi.
Maka agak mengherankan kalau orang melihat adanya sebuah warung arak yang menjual bermacam-macam
makanan setiap hari dibuka di pinggir sungai di dusun itu. Akan tetapi sebetulnya tidak aneh karena yang
memiliki warung itu adalah Phang Kwi si mata satu, seorang tokoh yang terkenal dalam dunia penjahat
sehingga sebagai orang segolongan dia tidak pernah diganggu oleh para perampok dan bajak yang menjadi
kawannya sendiri. Malah hampir semua langganan warung arak ini terdiri dari penjahat-penjahat belaka.
Suatu pagi yang sunyi, Phang Kwi masih enak-enak tidur mendengkur, warungnya belum dibuka. Hari baru
pukul enam. Biasanya kalau belum jam delapan lewat, setelah matahari naik tinggi, Phang Kwi belum mau
membuka warungnya.
dunia-kangouw.blogspot.com
Sudah setengah tahun dia membuka warung di tempat ini dan tak pernah ada orang yang berani
mengganggunya. Tidak hanya takut akan kepalan tangan yang keras dari si mata satu, akan tetapi juga takut
kalau si mata satu itu melaporkan kepada kepala mereka yang kesemuanya sudah dikenal baik oleh Phang
Kwi.
Pernah ada tiga orang anggota bajak tidak mau membayar setelah makan dan minum di warung itu. Phang
Kwi tidak mau melayani mereka, hanya melaporkan kepada kepala bajak yang dikenalnya baik. Tiga orang
anggota bajak itu dihajar oleh kepalanya sendiri dan Phang Kwi mendapatkan uangnya. Semenjak itu, Para
bajak dan rampok tidak berani lagi mengganggunya.
Akan tetapi pada pagi hari ini, selagi Phang Kwi masih tidur, pintu warungnya digedor orang! Enam orang
penunggang kuda yang bersikap kasar-kasar turun dari kuda mereka masing-masing di depan warung. Dari
mulut mereka terlontar sumpah serapah mengutuk buruknya jalan dan dinginnya hawa.
Seorang di antara mereka, yaitu pemimpinnya, adalah seorang bermuka merah, bertubuh tinggi besar dan di
pinggangnya tergantung sebatang golok besar dan sekantong piauw. Dia inilah yang disebut Ang-bin Piauw-to
(Golok Piauw Muka Merah), seorang kepala perampok yang terkenal kejam dan lihai ilmu silatnya.
"Dar-dar-dar-dar!”
“Buka pintu, Phang Kwi, kura-kura yang malas!" seorang di antara anggota rombongan ini menggendor pintu
sambil memaki-maki.
Phang Kwi amat kaget di dalam kamarnya. Setelah terbangun dan mendengarkan dengan penuh perhatian,
tukang warung ini mengomel panjang pendek.
"Bedebah... setan alas... Sepagi ini mengganggu orang yang sedang enak tidur. Minta dihancurkan kepalanya
setan itu!"
Dengan langkah lebar dan muka merengut, Phang Kwi menuju ke pintu warungnya dan membuka daun
pintunya. Akan tetapi mukanya yang merengut itu disambut gelak tawa oleh enam orang itu.
"Ha-ha-ha, kura-kura malas she Phang baru munculkan kepalanya!"
"Hei, Phang tua, ada tuan-tuan besar datang kau tidak lekas sambut, orang macam apa kau ini?"
"Phang Kwi, kau cuci muka dulu dan cuci tangan, baru keluarkan arak hangat."
Phang Kwi mulai hilang kerut mukanya, apa lagi ketika dia melihat pimpinan rombongan yang bermuka merah.
Segera dia menjura dan berkata, "Ahai, kiranya Ang-twako yang datang berkunjung. Silakan masuk dan duduk.
He, teman-teman, kalian baik-baik saja? Mana oleh-olehnya untuk aku?"
"Oleh-oleh apa? Jaman sedang sukar begini. Tapi nanti sebentar..."
"Sssttt, Lo-tan, tutup mulutmu!" Si muka merah membentak dan pembicara itu pun tidak melanjutkan katakatanya.
Beramai-ramai mereka memasuki warung arak dan Phang Kwi sibuk melayani mereka, menghangatkan arak
dan menghangatkan beberapa macam kue. Tentu saja dia tidak jadi marah sebab mereka ini adalah temanteman
baiknya, teman-teman ‘seperjuangan’ ketika dia dahulu masih menjadi anak buah dan pembantu Angbin
Piauw-to di dalam hutan.
Memang Phang Kwi ini dulunya juga bukan orang baik-baik. Selain pernah menjadi anak buah Ang-bin Piauwto
menjadi perampok, pernah pula dia menjadi anggota bajak sungai.
"Mana daging ikan?" Si muka merah bertanya pada saat melihat bahwa hidangan yang dikeluarkan hanya roti
kering dan beberapa macam kue saja. "Aku mendengar daerahmu ini mengeluarkan ikan yang enak."
dunia-kangouw.blogspot.com
“Wah, sukar sekarang ini, Twako. Para nelayan hanya mencari ikan untuk perut mereka sendiri saja. Aku pun
hanya bisa membeli kalau memesan lebih dulu."
“Masa begitu? Biar kami mencari di pinggir sungai!"
Tiga orang anggota perampok segera pergi keluar. Tidak lama kemudian terdengar suara ribut-ribut di pinggir
sungai ketika secara kasar para perampok ini merampas ikan-ikan yang baru saja didapatkan oleh beberapa
orang nelayan.
Seorang nelayan muda yang berusaha untuk membela haknya mendapat hadiah bacokan sehingga dia rebah
mandi darah. Nelayan-nelayan lain menjadi ketakutan dan mereka ini hanya bisa menarik napas panjang dan
mengertak gigi sambil menolong kawan mereka ketika tiga orang ini pergi membawa ikan-ikan besar sambil
tertawa-tawa.
Sementara itu, Phang Kwi mendekati Ang-bin Piauw-to sambil berbisik, "Ang-twako, apa yang dimaksudkan
oleh Lo-tan tadi?"
Ang-bin Piauw-to tersenyum. "Sebetulnya bukan rahasia, hanya tak enak jika dibicarakan di luar warungmu.
Kami sedang menanti lewatnya rombongan pedagang yang membawa barang dua kereta banyaknya. Mereka
akan lewat di dusun ini, entah siang nanti entah sore hari.”
Berseri Phang Kwi. "Hebat. Akan tetapi mengapa mereka itu berani bepergian di waktu begini? Benar-benar
aneh. Tentu ada pengawal-pengawal yang kuat..."
Ang-bin Piauw-to mengeluarkan suara mengejek. "Hah, apa artinya pengawalan dari lima orang piauwsu
(pengawal) Pek-coa Piauwkok?"
"Bagaimana pun juga, harap Twako berhati-hati. Apa bila orang sudah berani melakukan perjalanan di saat
seperti sekarang ini, tentu mereka itu mempunyai andalan."
"Sudahlah, kalau kau takut jangan ikut-ikut. Kalau kau mau membantu tentu kau akan mendapat bagian."
"Siapa takut? Dengan Twako di sini siapa yang takut lagi? Ha-ha-ha!"
Tiga orang perampok yang sudah mendapatkan ikan tadi datang, dan makin gembiralah kawanan perampok
ini. Mereka makan minum sambil menikmati daging ikan yang empuk dan gurih.
Pada saat itu terdengar bunyi derap kaki kuda dan tampak seorang tua bongkok bermuka lucu turun dari
seekor keledai yang tua pula. Keledai itu sudah tua, tidak ada rambutnya lagi karena dimakan gudig. Telinga
kirinya tinggal sepotong, telinga kanan panjang sekali, punggungnya juga bongkok seperti penunggangnya itu.
Di dekat keledai berdiri seorang pemuda yang bertubuh tinggi besar seperti raksasa, bermuka bodoh dan
bermata sayu.
"Heh-heh-heh, sedap sekali baunya Gurih, enak...!"
Kakek itu terbongkok-bongkok berjalan lebih dulu memasuki warung arak, dengan wajah tampak gembira.
Akan tetapi pemuda tadi nampaknya tidak segembira kakek itu. Melihat bahwa di antara tujuh orang yang
sedang makan minum itu ada seorang yang berdiri menyambutnya, kakek itu tahu bahwa yang berdiri itu
tentulah pemilik warung, maka dia segera berkata.
"Hei, sahabat. Lekas kau sediakan ikan yang gemuk, dimasak seperti yang sedang kalian makan itu. Wah,
baunya gurih sekali. Cepatan, untuk dua orang!"
Phang Kwi memandang dengan muka mendongkol. Melihat pakaian mereka, sudah jelas bahwa kakek dan
pemuda itu adalah orang-orang miskin, apa lagi jika dilihat bahwa yang ditunggangi kakek itu hanya seekor
keledai tua, tanpa muatan apa-apa di punggungnya. Sekarang Phang Kwi sedang menjamu makan temanteman
lamanya, dan dia pun sudah minum banyak arak, tentu saja keberaniannya bertambah dan
kegalakannya memuncak.
dunia-kangouw.blogspot.com
"Jangan mengemis di sini, aku tak punya apa-apa untuk diberikan kepada kalian!" katanya sambil bertolak
pinggang.
Pemuda yang bermuka bodoh dan bermata sayu itu tiba-tiba melempar sebuah kantong di atas meja,
suaranya gemerincing. Kakek itu sambil tertawa-tawa membuka kantong.
"Kami tidak mengemis. Heh-heh-heh, kami membeli, sahabat."
Bukan hanya mata Phang Kwi yang melotot lebar, enam pasang mata Ang-bin Piauw-to dan kawan-kawannya
juga melebar. Kantong yang dibuka oleh kakek itu ternyata berisi potongan-potongan emas dan perak!
"Orang tua, ikan tidak ada lagi," kata Phang Kwi, masih terheran-heran.
"Sahabat tua, kalau tidak menjadi celaan marilah duduk makan bersama kami. Ikan di sini cukup banyak."
Tiba-tiba Ang-bin Piauw-to berkata dengan ramah kepada kakek itu.
Si kakek menutup lagi kantongnya, memasukkannya dalam saku baju pemuda tadi dan sambil tertawa-tawa,
dia lalu maju menghampiri meja para perampok dan duduk di dekat Ang-bin Piauw-to. Pemuda tinggi besar itu
duduk di sampingnya.
"He-heh-heh, kalian orang-orang mengerti aturan. Memang bertemu di jalan harus saling menyalam, tapi
bertemu di meja makan harus saling menawarkan makanan. Ha-ha-ha!"
Tanpa malu-malu lagi kakek itu lalu ‘menyikat’ masakan ikan dan arak yang dihidangkan. Juga pemuda itu
dengan gembulnya, seakan-akan dia tak pernah makan masakan yang sesedap itu, mencontoh perbuatan
kakek tadi.
Para perampok saling melirik. Diam-diam mereka mendongkol sekali karena dua orang itu, meski pun yang
satu tua bangka dan kurus bongkok sedangkan satunya lagi pemuda tinggi besar, akan tetapi takaran
makannya ternyata tidak berbeda, keduanya gembul luar biasa.
"Silakan minum lagi, sahabat tua." Ang-bin Piauw-to terus mengisi cawan arak di depan kakek itu.
Phang Kwi maklum akan maksud kawannya ini. Sambil tersenyum ia juga mengisi cawan arak di depan
pemuda itu, sehingga kakek dan pemuda itu tanpa mereka ketahui telah ‘diloloh’ oleh kawanan perampok.
Makin banyak minum arak, kakek itu makin gembira dan terus tertawa-tawa. Akan tetapi sebaliknya, pemuda
raksasa itu semakin pendiam. Sementara itu, para perampok makin sering saling lirik dan tersenyum-senyum
karena maklum bahwa dengan ‘umpan’ ikan dan arak mereka akan mendapatkan ‘ikan besar’.
Yang membuat mereka mendongkol adalah kekuatan minum arak dua orang itu. Biar pun telah cukup banyak
menenggak arak, mereka belum juga roboh atau mabuk. Akan tetapi, Ang-bin Piauw-to bersikap sabar dan
mengajak kakek itu mengobrol.
"Kek, kau dan orang muda ini datang dari mana dan hendak ke manakah? Kiranya sudah sepatutnya kita
berkenalan."
"He-heh-heh, tentu saja, tentu saja. Sudah makan bersama belum saling mengenal. Aku she Tan bernama
Sam, dan dia ini pembantuku bernama Hok, tidak punya she (nama keturunan) maka kuberi saja she-ku
kepadanya, maka dia kini bernama Tan Hok. Kami tidak punya tempat tinggal tertentu, langit biru atap kami,
bumi lantai kami, he-heh-heh..."
Semua perampok tertawa. Dalam hal tempat tinggal kakek dan pembantunya itu ternyata senasib dengan
mereka.
"Apa pekerjaanmu, Kek?" Ang-bin Piauw-to bertanya lagi.
dunia-kangouw.blogspot.com
Kakek yang bernama Tan Sam itu tertawa lagi. "He-heh-heh, tukang pancing... ya benar, kami tukang pancing.
Kalau bukan tukang pancing, mana dapat menikmati ikan gemuk?"
Berubah wajah Ang-bin Piauw-to yang merah, kini menjadi agak pucat. Timbul dugaannya bahwa mungkin
juga kakek dan pembantunya ini adalah tokoh bajak sungai yang terkenal. Siapa tahu? Akan tetapi dia raguragu,
karena andai kata betul bajak sungai, tak mungkin Phang Kwi tidak mengenalnya. Akan tetapi kalau betul
seorang bajak sungai, mau apakah dia beraksi di darat?
"Tan-lopek, kalau begitu, kau mencari rejeki di sepanjang Sungai Yang-ce?" Dia mencoba untuk menyelidik.
Kakek itu mengangguk-angguk. "Tidak hanya di Yang-ce, di Huang-ho, atau pun di lautan, di darat, di mana
saja ada ikan besar, tentu akan kudatangi untuk kupancing. Bukankah begitu Hok-ji (anak Hok)?" Kakek itu
menepuk-nepuk pundak pembantunya sambil tertawa terkekeh-kekeh. Tan Hok, pemuda raksasa itu, hanya
mengangguk diam.
"Jika begitu," sambung Ang-bin Piauw-to dengan bernafsu sedangkan para anak buahnya mendengarkan
penuh perhatian karena maklum apa yang dipikirkan oleh kepala mereka, "tentu kau sudah kenal baik dengan
Lui Cai si Bajul Besi, dan dengan Kiang Hun si Naga Sungai, juga Thio Ek Sui si Cucut Mata Merah?"
Tiga nama kepala bajak yang paling terkenal disebut oleh kepala rampok ini.
Akan tetapi kakek itu memandangnya dengan matanya yang sipit berseri seakan-akan mendengarkan orang
melawak. "Mereka itu betul-betul manusia ataukah badut-badut? Kok namanya aneh sekali. Bajul Besi? Wah,
belum pernah aku melihatnya, mendengar pun belum. Kalau bajul biasa yang panjangnya tiga kali orang saja
aku pernah melihatnya, malah bajul buntung (buaya tak berekor = penjahat) sering kali aku lihat, tapi bajul
besi? Belum, belum pernah setua ini aku melihatnya. Lalu yang ke dua, Naga Sungai? Heran sekali, tentang
naga-naga ini kiranya belum pernah ada orang melihat aslinya. Pernah aku melihat gambar-gambarnya
beserta patung-patungnya, akan tetapi kalau bertemu kiranya hanya dalam... mimpi! Sepanjang
pendengaranku, naga itu adanya hanya di laut, kalau ada naga sungai, agaknya hanya... belut saja!" Kakek itu
tertawa-tawa, akan tetapi para perampok itu mana berani mentertawakan Kiang Hun Si Naga Sungai?
"Kemudian apa lagi tadi? Cucut Mata Merah? Ha-ha-ha-ha, tentu selamanya ikan itu tak pernah mendapatkan
mangsa, terlalu lapar dan menangis sehingga matanya merah. Atau boleh jadi semalam suntuk dia pelesir di
rumahnya naga sungai, tidak tidur maka matanya merah. He-heh-heh... ehh, Hok-ji, apakah kau pernah
mendengar pula tentang bajul besi dan lain-lain itu?"
Tan Hok, yang semenjak datangnya belum pernah mengeluarkan kata-kata itu, sekarang memandang ke
langit-langit ruangan dan menuding sambil berkata, "Itu... buaya kecil."
Semua orang memandang dan meledaklah ketawa mereka. Yang disebut buaya kecil itu bukan lain adalah
seekor cecak yang merayap di atas. Tiba-tiba cecak itu, mungkin akibat kaget karena mendengar orang-orang
tertawa riuh, melepaskan kotoran dan... kebetulan sekali tahi cecak jatuh ke dalam cawan arak Ang-bin Piauwto!
"Keparat...!" Ang-bin Piauw-to memaki marah.
"Ha-ha-he-heh, sobat muka merah, buaya kecil memberi hadiah kepadamu. He-heh-heh! Tan Sam tertawa
terpingkal-pingkal sampai keluar air matanya.
Tiba-tiba terdengar suara ketawa keras sekali, suara ketawa Tan Hok yang semenjak tadi muram saja.
Ketawanya keras dan mendadak, akan tetapi matanya tetap sayu.
"Yang kecil memberi hadiah yang besar, aneh…”
Ang-bin Piauw-to dengan sangat marah mengambil sebatang senjata piauw. Senjata ini kecil saja, panjangnya
satu dim, ujungnya runcing, kepalanya bundar dengan ronce-ronce merah. Begitu tangannya digerakkan,
senjata ini melayang ke atas ke arah cecak.
dunia-kangouw.blogspot.com
“Aduh bagusnya, barang apa yang melayang itu?" Si kakek menunjuk dengan jarinya ke arah piauw yang
melayang menyambar cecak.
"Cappp…!"
Senjata runcing itu menancap, bukan di badan cecak melainkan di pian, hanya beberapa sentimeter jauhnya
dari binatang yang amat ketakutan dan kaget itu.
"Ha-ha-ha, tidak kena... tidak kena...!"
Semua orang terheran, lebih lagi Ang-bin Piauw-to. Jarak antara tempat dia duduk dan cecak itu takkan lebih
dari pada lima meter, mengapa sambitannya tidak kena? Biasanya, dalam jarak seratus langkah, belum
pernah piauw-nya tidak mengenai sasaran, apa lagi sasaran tak bergerak seperti cecak itu.
Kawan-kawannya mengira bahwa dia terlalu banyak minum. Akan tetapi Ang-bin Piauw-to sendiri tidak merasa
demikian. Mungkin aku terlalu marah, pikirnya. la mengambil piauw ke dua dan….
"Serrrrr... cappp!"
Kembali piauw-nya menancap pian dan kali ini ekor cecak itu terbawa piauw tertancap pada papan, sedangkan
cecaknya sendiri yang sudah buntung lari dan lenyap.
"Ha-ha-ha-ha!" Tan Sam tertawa sambil tiada hentinya sejak tadi dia menudingi cecak itu. "Buaya kecil menjadi
bajul buntung kecil, Ha-ha-ha, cocok benar. Sayangnya dia masih berlari dengan empat kaki, kalau dengan
dua kaki pasti lebih lucu lagi!"
"Buaya kecil dicaplok buntutnya oleh yang besar, sudah biasa!" berkata Tan Hok seperti bicara pada diri
sendiri, wajahnya tetap bodoh dan matanya sayu.
Dua orang perampok marah bukan main. Terang bahwa si kakek itu mengejek, dan bocah itu malahan
menghina. Seorang perampok yang bertubuh pendek kecil mencengkeram ke arah pundak Tan Sam,
sedangkan perampok lain yang bertubuh tiriggi besar, tapi tidak sebesar tubuh Tan Hok raksasa muda itu,
mengangkat kepalan tangannya yang besar untuk memukul kepala Tan Hok.
Kakek dan pemuda itu agaknya tidak berdaya. Mereka tentu akan celaka kalau terkena serangan-serangan
tadi. Akan tetapi Ang-bin Piauw-to membentak.
"Mundur kalian!"
Sesudah dua orang anak buahnya mundur, dengan senyum mengejek Ang-bin Piauw-to berkata, "Dua orang
ini adalah tamu agung kita, jangan diganggu dulu." Dalam kata-kata ini terkandung ejekan atau sindiran bahwa
belum tiba saatnya untuk ‘turun tangan’.
Kemudian dia berpaling kepada Tan Hok sambil bertanya. "Orang muda, kau tadi hendak maksudkan bahwa
aku adalah buaya besar? Begitukah?"
Hening sejenak. Para kawanan perampok mendelik ke arah Tan Hok yang memandang bodoh, sedangkan
Tan Sam hanya tersenyum-senyum sambil mainkan matanya.
Jawaban Tan Hok sungguh tidak disangka-sangka orang yang tentu saja mengharapkan jawaban ‘ya’ atau
‘tidak’. Akan tetapi dengan suaranya yang lantang pemuda raksasa itu menjawab, "Tuan bermuka merah, kau
ini merasa menjadi buaya ataukah bukan?"
"Tentu saja bukan!"
"Kalau bukan ya sudah, kenapa masih ribut-ribut lagi?"
dunia-kangouw.blogspot.com
Phang Kwi si pemilik warung tak dapat menahan ledakan ketawanya, akan tetapi seketika dia berhenti tertawa
seperti jangkerik terinjak ketika Ang-bin Piauw-to melotot kepadanya. Kepala perampok ini menoleh ke arah
Tan Sam dan berkata.
"Kakek Tan Sam, tadi kau mentertawakan perbuatanku menyambit cecak dengan piauw, mengapa?"
Tan Sam tertawa lagi, tertawa bebas dan lepas. "Selain cecak itu menjadi lucu kehilangan buntutnya, juga aku
heran kenapa kau tidak mengarah kepalanya, melainkan buntutnya!"
Diam-diam Ang-bin Piauw-to menjadi malu sekali sampai mukanya menjadi makin merah. Orang lain tidak ada
yang tahu bahwa sambitannya yang kedua kalinya tadi sebenarnya memang gagal. Tadi dia mengarah kepala
binatang itu, aneh sekali entah mengapa kali ini dia selalu gagal. Bukan kepala yang terkena, melainkan
buntutnya.
"Orang tua she Tan, apakah kau juga pandai menyambit dengan piauw?"
Kakek itu longang-longok, nampak bingung. "Piauw itu apa sih?"
Semua perampok tertawa besar.
Ang-bin Piauw-to mengeluarkan dua batang piauw-nya dari kantong. "Inilah yang disebut piauw. Ketahuilah,
nama julukanku adalah Ang-bin Piauw-to, karena aku sangat pandai menyambit piauw dan main silat dengan
golok."
Kakek dan pemuda itu mengambil piauw tadi seorang satu, melihat-lihat dan nampaknya kagum.
"Hok-ji, apa kau bisa menyambitkan piauw ini?" tanya kakek itu kepada pembantunya.
"Apa sukarnya menyambit? Tinggal melempar saja!" katanya.
Kembali perampok tertawa lebar.
"Bertaruh... bertaruh...!” kata beberapa orang serentak.
“Boleh sekali...!" Tan Sam terkekeh. “Mari bertaruh menyambit dengan piauw ini. Berapa taruhannya?"
Ang-bin Piauw-to hendak mempermainkan dua orang itu, maka sambil tersenyum dia lalu mengeluarkan
seadanya perak yang disimpan di dalam kantongnya, lalu menaruhnya di atas meja. "Hanya ini milikku, hayo
keluarkan perakmu. Biar aku kalian keroyok berdua."
"Baik." Kakek itu mengeluarkan sejumlah perak yang sama banyaknya, menaruh di atas meja, lalu
memandang kepala rampok itu. "Mengeroyok bagaimana maksudmu?"
"Kita pasang sehelai daun pada dinding itu, kemudian dalam jarak lima puluh langkah kita masing-masing
melempar sebatang piauw ke arah daun yang dijadikan sasaran. Kau dan pembantumu masing-masing
menyambit satu kali, andai kata ada seorang di antara kalian yang bisa mengenai daun, dianggap kena, meski
pun yang seorang lagi menyeleweng sambitannya. Aku hanya menyambit satu kali saja."
"Akur!" Kakek itu nampak gembira bukan main dan mengedip-ngedipkan matanya kepada pemuda raksasa
dengan muka yang jelas memperlihatkan keyakinan akan memenangkan pertandingan ini. "Kau sambitlah
lebih dulu."
Daun sebesar telapak tangan ditempelkan pada dinding warung itu dan jarak lima puluh langkah diukur. Para
perampok dan pemilik warung dengan gembira berdiri di kanan kiri, agak jauh dari tempat sasaran. Sesudah
mengeluarkan piauw-nya, kepala perampok itu sambil tersenyum-senyum lalu berkata.
"Lihat sambitanku!"
dunia-kangouw.blogspot.com
Tangan kanannya bergerak dan piauw itu lalu meluncur seperti anak panah, cepat sekali sampai hampir tidak
kelihatan, tahu-tahu telah menancap di tengah daun. Tepuk tangan kawan-kawannya menyambut keahlian ini.
Tan Sam mulai plonga-plongo, saling pandang dengan pembantunya.
"Waaah, kok bisa kebetulan kena di tengah-tengahnya...," ia mengeluh.
Para perampok tertawa.
"Kakek bodoh, mana ada ucapan kebetulan? Memang Twako berjuluk Ang-bin Piauw-to, seratus kali sambit
pasti seratus kali kena!" kata seorang anggota perampok. "Hayo lekas kau sambitkan piauw-mu, dan kau juga,
badut muda!"
Tan Sam memandang pada pembantunya. "Wah, cialat (celaka). Sambitannya kebetulan sekali kena di
tengah-tengahnya. Hok-ji, marilah kita menyambit berbarengan saja, secara untung-untungan, tidak kena daun
juga tidak apa-apa asal bisa kena kaki bajul buntung!" Kakek ini tertawa lagi, lalu menghitung, "Satu... dua..."
Sikapnya lucu sekali, menyambit dengan tangan kanan tapi kaki kanan di depan, demikian pula orang muda
raksasa itu.
"... tiga...!"
Dua buah piauw meluncur ke depan. Akan tetapi terdengar suara gelak terbahak ketika para perampok melihat
bahwa dua buah piauw itu meluncur dengan berputar, tidak lurus dan mengenai dinding, jauh di kanan kiri
daun.
"Aduh...!"
"Aaauuuuuhhh...!"
Terdengar dua orang yang berdiri di kanan kiri tempat itu mengaduh-aduh dan keduanya meloncat-loncat
dengan sebelah kaki karena kaki yang sebelah lagi ternyata telah terkena hantaman piauw yang membalik!
Untungnya hanya terkena kepala piauw sehingga hanya menjendul saja, namun cukup mendatangkan rasa
nyeri.
Anehnya, yang terkena hantaman piauw ini ialah dua orang yang tadi hendak menyerang Tan Sam dan Tan
Hok! Dua orang itu marah-marah, akan tetapi karena teman-temannya mentertawakannya dan menganggap
bahwa kejadian itu hanya karena kebodohan Tan Sam dan pembantunya yang tidak becus melempar piauw,
mereka terpaksa menahan kesakitan dan menahan kemarahan.
Ang-bin Piauw-to tertawa terpingkal pingkal sambil menyimpan uang di atas meja.
"Nanti dulu!" kata kakek Tan Sam "Mari kita bertaruh lagi. Penasaran hatiku kalau belum bisa menang!"
Kepala perampok itu memandangnya dengan heran. Apakah otak kakek ini sudah miring, pikirnya, "Boleh,
berapa taruhannya?”
"Semua perak di atas meja itu,” tantang Tan Sam.
"Bagus, perlu ditambah?"
"Sesukamu, kalau masih ada padamu, keluarkan semua."
Sekarang para perampok itu sibuk mengeluarkan perak dari saku masing-masing karena mereka ingin
mendapat bagian dalam pertaruhan ini sehingga sebentar saja di atas meja terkumpul banyak perak. Malah
Phang Kwi juga menguras semua peraknya.
Melihat perak yang amat banyak itu, Tan Sam terpaksa mengeluarkan sebagian potongan emasnya karena
peraknya sendiri tidak cukup banyak.
dunia-kangouw.blogspot.com
"Bagaimana cara pertandingan?" tanya Tan Sam. "Apakah masih seperti tadi!"
“Boleh saja,” jawab Ang-bin Piauw-to yang merasa yakin akan kemenangannya.
"Akan tetapi, orang tua, apakah kau tidak akan menyesal? Kau sama sekali tidak pandai menyambitkan
piauw."
"Siapa bilang? Piauw-mu yang buruk sekali, tapi aku sudah tahu rahasianya sekarang. Disambitkan ke arah
sasaran, menyeleweng ke kiri. Kalau mau mengenai sasaran dengan tepat, tinggal menyambit ke arah
kanannya dengan ukuran jarak tertentu, masa tidak akan kena?"
Para perampok tertawa lagi mendengar teori yang aneh ini.
"Nah, kau lihat. Aku mulai!" kata Ang-bin Piauw-to sambil mengayun tangannya.
"Nanti dulu!" Tan Sam mencegahnya.
"Aku mau melihat dulu piauw-mu, apakah sama dengan piauw yang kau berikan padaku ini."
"Tentu saja sama!" jawab kepala rampok itu marah sambil menunjukkan piauw-nya yang beronce merah.
"Ahh, tidak boleh sama, nanti kau bisa akui sambitanku sebagai piauw-mu, kan celaka." Sambil berkata
demikian kakek itu mencabuti ronce-ronce benang merah pada piauw-nya sehingga piauw itu berubah gundul
dan buruk.
Tentu saja para perampok terheran-heran dan tertawa geli. Piauw yang digunakan kepala rampok itu tidak
mempunyai sirip, maka untuk meluruskan jalannya diberi ronce-ronce itu sebagai imbangan. Sekarang kakek
itu malah mencopoti ronce-roncenya, bagaimana bisa menyambit dengan baik?
"Bagus, kau pintar, orang tua," kata Ang-bin Piauw-to mengejek. "Sekarang sudah jelas, piauw yang beronce
punyaku, yang gundul punyamu. Nah, siapa menyambit lebih dulu? Dan apakah pembantumu juga ikut?”
"Tidak usah, cukup aku sendiri. Menyambitnya harus berbareng, kau dan aku, baru adil namanya."
Karena yakin akan kemenangannya dan mengira bahwa dia berhadapan dengan seorang tua goblok yang
berkepala batu, Ang-bin Piauw-to tidak banyak membantah.
"Berbareng pun baik," katanya mengejek sambil bersiap-siap.
Daun baru sudah dipasang pada dinding dan kedua orang itu sudah siap. Anehnya, kalau Ang-bin Piauw-to
mengincar sasaran daun, adalah kakek itu tidak menghadapi daun, bahkan tidak melihatnya sama sekali,
melainkan sebelah kanan daun yang diincar. Sambil
tertawa-tawa para perampok menyingkirkan diri jauh-jauh supaya jangan terkena piauw kakek yang kesasar
lagi.
"Aku menghitung sampai tiga, baru lepas," kata kakek itu. Lawannya mengangguk sambil tersenyum
mengejek.
"Satu... dua... tiga...!!"
“Serrr…!"
Piauw meluncur dari tangan Ang-bin Piauw-to, cepat dan lurus ke arah daun yang telah ditempel pada dinding.
Di samping ini, juga piauw di tangan kakek itu telah dilemparkan, berputaran dan berjungkir-balik seperti lagak
badut di panggung.
Piauw ini berjungkir-balik dan berputar-putar. Mula-mula menuju arah kanan, akan tetapi piauw yang tidak ada
ronce-roncenya ini makin mengacau jalannya, tiba-tiba membelok ke kanan dan makin cepat saja jalannya.
dunia-kangouw.blogspot.com
Di dekat daun, kedua piauw itu bersilang, lalu terdengar suara nyaring dan dua piauw itu menancap pada
dinding, sebuah tepat di tengah-tengah daun dan yang sebuah lagi jauh dari daun!
Semua orang bersorak tertawa, akan tetapi wajah Ang-bin Piauw-to yang merah, tiba-tiba menjadi pucat dan
semua temannya juga serentak menghentikan suara ketawa mereka setelah memandang jelas ke arah daun
yang sekarang terpaku oleh piauw itu. Apa yang mereka lihat?
Ternyata piauw yang menancap pada dinding menembus daun itu adalah piauw yang tidak beronce merah,
sedangkan piauw yang menyeleweng ke sisi adalah piauw beronce! Tegasnya, yang tepat mengenai daun
adalah yang terlepas dari tangan kakek Tan Sam!
"Ha, bagus sekali! Sambitan yang bagus dan tepat. Kita menang!" Tan Hok memuji dan tangannya yang besar
segera diulur untuk mengambil tumpukan perak di atas meja yang tadi dipertaruhkan.
Para perampok hanya berdiri bengong, bingung tak tahu harus berbuat atau berkata apa.
"Sraaattt!"
Tiba-tiba nampak sinar berkilauan dan tahu-tahu Ang-bin Piauw-to sudah mencabut golok besar dari
pinggangnya. Golok ini amat tajam sehingga sinarnya nampak berkilauan pada waktu dikelebatkan.
"Jangan ambil!" seru kepala rampok itu dan sinar goloknya menyambar ke arah tangan Tan Hok yang diulur
untuk mengambil perak tadi.
Nampaknya pemuda raksasa itu kaget dan menarik tangannya. Untung baginya, karena golok itu meluncur
terus dan…
"Crakk!" meja itu terbabat putus menjadi dua, tumpukan perak berserakan jatuh ke atas lantai.
Tan Hok dan Tan Sam berdiri bengong, akan tetapi para perampok tertawa bergelak.
"Twako, untuk bereskan budak ini, cukup serahkan padaku," kata anggota perarnpok yang tadi hendak
menyerang Tan Sam. "Aku harus membalasnya untuk kakiku."
"Betul, Twako, anjing tua ini pun bagianku!" berkata pula perampok yang kakinya terkena hantaman piauw Tan
Sam tadi. Ang-bin Piauw-to hanya tersenyum, kemudian melangkah mundur dan mengambil perak yang
tersebar di lantai.
"Ahhh, jangan... jangan bunuh mereka di sini. Warungku tak akan laku lagi,” Phang Kwi mencegah khawatir.
"Diam!" bentak kepala perampok dan Phang Kwi mundur ketakutan.
Dengan mulut menyeringai dua orang perampok itu telah menghampiri Tan Sam dan Tan Hok dengan sikap
amat mengancam. Tan Hok tampak tenang saja karena kebodohannya, agaknya tidak mengerti bahwa dirinya
terancam. Akan tetapi Tan Sam nampak ketakutan.
"He, kalian ini mau apa? Dan perak-perak itu... aku yang menang mengapa diambil...?"
"Kau dan pembantumu akan kami bunuh!" bentak perampok yang menghadapinya.
"Aduh... kenapa begitu? Jangan...!" si tua mengeluh, lalu menengok kepada Tan Hok.
"Celaka, Hok-ji, belum sampai ke neraka sudah bertemu setan-setan pencabut nyawa di bumi..."
Melihat sikap ketakutan ini, dua orang itu makin gembira dan sombong.
“Kau takut? Hayo lekas minta ampun!"
dunia-kangouw.blogspot.com
Tan Sam melirik ke arah pembantunya. "Hok-ji, tidak ada lain jalan, biarlah kita memberi hormat minta ampun."
Ia lalu menjura dan mengangkat kedua kepalan tangan ke depan dada, diikuti oleh Tan Hok.
Terjadilah hal aneh. Dua orang perampok yang menghadapi kakek dan pembantunya ini tiba-tiba terhuyung
mundur, seakan-akan tubuh mereka ditiup angin keras dari depan! Semua orang terheran-heran dan dua
orang perampok itu makin marah.
Memang, di dunia ini hanya orang-orang bodoh saja yang berani bersikap sombong dan membanggakan
kepandaiannya sendiri. Makin sombong dia, sebenarnya makin bodohlah dia. Bodoh karena mengira bahwa di
dunia ini hanya merekalah orang-orang pandai.
Andai kata dua orang ini tidak begitu sombong, agaknya kebodohan mereka tidak akan membutakan mata
mereka.
"Keparat, jangan main-main. Sekali tangan kami bergerak, pecah kepala kalian!" bentak perampok yang
mengancam Tan Hok. "Hayo kalian berlutut minta ampun, baru kami akan pikir-pikir untuk meringankan
hukuman kalian!"
Kembali Tan Sam melirik ke arah Tan Hok. "Apa boleh buat, Hok-ji, mari berlutut."
Keduanya lalu berlutut di depan dua orang itu dan menyoja.
"Aduhhh...!"
“Ahhhhh...!"
Rasa ulu hati dua orang perampok itu seperti disodok toya baja saja. Mereka terjengkang ke belakang, roboh
dan memuntahkan darah segar.
"Celaka!"
Ang-bin Piauw-to baru sadar bahwa dua orang aneh itu sebetulnya memiliki kepandaian dan cara mereka
menjura kemudian berlutut sambil mengirim serangan itu merupakan bukti bahwa mereka memiliki sinkang dan
Iweekang yang tinggi!
Akan tetapi, juga karena kesombongannya, dan hendak mengandalkan jumlah kawan yang banyak, kepala
perampok ini lalu mencabut goloknya sambil memberi aba-aba.
"Keroyok! Bunuh dua ekor anjing ini!"
Kawan-kawannya, juga dibantu oleh Phang Kwi, mencabut senjata masing-masing dan dikepunglah kakek dan
pembantunya itu. Kini Tan Sam tidak mau berpura-pura lagi. Dia tertawa dan berseru.
"Perampok-perampok jahat pengganggu rakyat, kalau bukan anggota Pek-lian-pai seperti aku, siapa lagi yang
akan membasminya?"
Kedua tangannya segera bergerak dan sinar-sinar putih berkelebatan. Terdengar jerit-jerit kesakitan ketika
para perampok itu terkena oleh sambaran Pek-lian-ting (Paku Teratai Putih), kecuali Ang-bin Piauw-to dan
Phang Kwi yang dapat mengelak.
Makin terkejut hati Ang-bin Piauw-to mendengar disebutnya perkumpulan Pek-lian-pai yang sedang
memberontak untuk meruntuhkan pemerintah penjajah Mongol itu. Namun dia mengandalkan kepandaian
sendiri, goloknya diputar cepat dan dia menyerang kakek Tan Sam. Ada pun Phang Kwi maju dengan
ruyungnya menyerbu Tan Hok.
dunia-kangouw.blogspot.com
Sungguh-sungguh amat mengagumkan dan mengherankan keadaan pemuda itu. Semua gerakannya tidak
seperti orang yang pandai silat, hanya mempunyai langkah-langkah kaki berdasarkan ilmu silat rendahan saja.
Akan tetapi tenaga pemuda ini sungguh luar biasa sekali, baik tenaga luar mau pun tenaga dalamnya.
Ruyung di tangan Phang Kwi yang menyambarnya, dia tangkis dengan tangan kiri sekuat tenaga dan... ruyung
itu patah! Saking kaget dan herannya, Phang Kwi yang lebih tinggi ilmu silatnya itu kurang cepat mengelak
sehingga pukulan tangan Tan Hok yang keras bagaikan serudukan gajah itu menyerempet pundaknya sampai
tulangnya patah-patah. Phang Kwi terlempar dan mengaduh-aduh, meringis-ringis kesakitan.
Berbeda dengan Tan Hok, kakek itu ternyata memiliki gerakan yang luar biasa gesitnya. Lebih cepat dari pada
sambaran golok. Sampai lenyap bayangan kakek itu dikejar sinar golok. Serangan kepala perampok itu baru
berlangsung dua puluh jurus, terdengar suara keras, goloknya terlempar menancap dinding dan tubuh kepala
perampok itu terjengkang ke belakang. Mukanya pucat sebab dia telah menderita luka pada dadanya oleh
tamparan kakek yang lihai ini.
Pada saat itu, tiba-tiba bertiup angin dari luar warung dan berkelebatlah bayangan yang membawa bau yang
amat harum. Pada lain saat Tan Sam dan Tan Hok telah berhadapan dengan seorang perempuan yang amat
cantik.
Mukanya putih halus dengan sepasang pipi kemerahan. Mata yang mengeluarkan cahaya bening akan tetapi
tajam, membayangkan pengertian yang mendalam. Bibir yang merah, kadang-kadang membayangkan
kekerasan penuh wibawa, tetapi lebih sering tersenyum penuh pikatan. Pendeknya seorang wanita cantik
dengan bentuk tubuh yang indah.
Sukar menaksir berapa usianya. Melihat wajahnya yang segar dan bentuk tubuhnya yang padat, kiranya patut
kalau dia ini berusia delapan belas tahun. Akan tetapi melihat sinar matanya, agaknya ia jauh lebih tua dari
pada itu.
Pakaian yang menutup tubuhnya terbuat dari sutera halus berwarna merah kuning hijau biru diselang-seling
indah sekali. Sepatunya yang sangat kecil berwarna merah dengan dasar dilapisi besi. Sebatang golok kecil
dan tipis tergantung di punggungnya, dari depan hanya tampak gagangnya tersembul di belakang pundak
kanan, sedangkan tangan kirinya memegang sehelai selendang merah dari sutera pula.
Kedatangan wanita ini amat cepatnya dan ini saja sudah menunjukkan bahwa dia adalah seorang yang
berkepandaian amat tinggi. Tan Hok dan Tan Sam bengong terheran-heran ketika tiba-tiba wanita cantik itu
menudingkan telunjuknya yang runcing halus ke muka mereka sambil membentak.
”Orang-orang Pek-lian-pai benar sombong, mengandalkan kepandaian sendiri menghina golongan lain.
Hemmm, kalau tidak diberi hajaran akan menjadi makin besar kepala!"
Baru saja suaranya yang halus merdu berhenti, tubuhnya yang langsing sudah berkelebat ke arah Tan Sam.
Dalam sejurus saja dia telah mengirim tiga macam serangan kepada kakek itu, yakni tusukan ke arah mata
dengan dua jari tangan kiri disusul totokan dengan tangan kanan ke arah dada dan tendangan kaki kiri
melayang pula!
Tan Sam tidak berani main-main seperti ketika menghadapi para perampok kasar tadi. Dari gerakan wanita ini
maklumlah bahwa dia kini bertemu dengan lawan tangguh yang memiliki jurus-jurus ilmu silat yang aneh dan
keji.
Cepat dia bergerak mengelak dan menangkis, membuyarkan tiga macam serangan itu. Alangkah kagetnya
ketika dia merasa lengan tangannya terasa pedas dan gatal ketika dia menangkis totokan tangan kanan wanita
itu. Di lain pihak, wanita cantik itu sendiri pun kaget dan terheran-heran melihat tiga serangannya dapat
dibuyarkan kakek ini.
"Nona, tahan dulu. Mengapa kau memusuhi orang Pek-lian-pai?" bertanya Tan Sam yang merasa penasaran.
dunia-kangouw.blogspot.com
Akan tetapi mukanya berubah pucat ketika melihat wanita itu sudah mengeluarkan sebuah benda yang
ternyata adalah lima bunga teratai dengan lima warna di atas satu tangkai. Lima macam teratai ini terbuat dari
logam yang keras dan tangkainya merupakan gagang senjata.
"Ehh... kiranya... Ngo-lian Kauwcu (ketua Agama Lima Teratai)...," hanya sampai di sini Tan Sam dapat
berkata karena senjata aneh berupa lima teratai itu telah digerakkan ke arahnya.
Tan Sam mencoba untuk mengelak, akan tetapi tiba-tiba saja kepalanya menjadi pening, matanya silau dan
pundaknya sudah terpukul sebuah di antara lima teratai itu. Kakek ini mengeluh dan roboh terlentang,
mukanya berubah hitam dan napasnya berhenti.
Melihat gurunya tewas, Tan Hok pemuda tinggi besar itu menjadi kaget sekali.
“Siluman betina... Kau membunuh orang?”
Wanita itu tersenyum dan berkilatlah deretan giginya yang putih seperti mutiara teratur. Matanya yang bening
tajam itu mengerling dan bergerak cepat menjelajahi tubuh Tan Hok yang tinggi besar dan kuat berotot,
kelihatan membayangkan kekaguman.
"Ehh, bocah raksasa, siapa namamu?” pertanyaan ini diajukan dengan suara halus dan sikap genit.
"Namaku Tan Hok dan aku harus membalas kematian..."
"Sudahlah, kau ikut aku saja menjadi muridku. Tentu kelak kau akan menjadi jagoan besar yang tak ada
bandingannya...”
“Siluman kau!" Tan Hok menerjang dengan kemarahan meluap, kepalan tangannya yang besar itu
menghantam ke arah kepala wanita itu.
Akan tetapi dengan sikap tenang wanita cantik itu mengangkat tangan kirinya menangkis. Sepasang lengan
bertemu dan aneh sekali jika dilihat. Lengan wanita itu kecil dan berkulit tipis halus, namun begitu bertemu
dengan lengan Tan Hok yang besar dan kuat berotot seakan-akan terus menempel.
Tan Hok merasa tenaganya lenyap. Dia mencoba untuk menarik kembali lengannya, tapi tanpa hasil.
Sebaliknya tangan wanita itu meraba dagunya yang keras, kemudian tangan kanan ini meluncur terus ke
bawah. Di lain saat tubuh Tan Hok sudah roboh lemas karena jalan darahnya tertotok secara halus, akan tetapi
luar biasa akibatnya.
Tan Hok berusaha menggerakan tubuh, akan tetapi semua urat di tubuhnya tidak mau menuruti kehendaknya,
dia tetap lemas tak berdaya. Akan tetapi mata dan mulutnya dapat dia gerakkan, maka dia lalu memaki-maki
tidak karuan.
Ada pun para perampok ketika tadi mendengar kakek Tan Sam menyebut nama Ngo-lian Kauwcu, tiba-tiba
menjadi kaget dan juga girang. Ang-bin Piauw-to segera memimpin para anak buahnya yang sudah terluka
untuk berlutut di depan wanita cantik itu.
"Ah, kiranya Kim-thouw Thian-li (Bidadari Kepala Emas) yang menolong nyawa kami yang rendah dan bodoh.
Siauwte bertujuh menghaturkan terima kasih kepada Thian-li..."
"Sudahlah, cukup! Jangan banyak mengobrol," wanita itu mencegah sambil melambaikan tangan.
Wanita ini memang Kim-thouw Thian-li, ketua dari perkumpulan Ngo-lian-kauw, seorang wanita yang
berkepandaian amat tinggi. Usianya sudah tiga puluhan, akan tetapi ia masih nampak seperti seorang gadis
remaja. Sebagai murid tunggal dari Hek-hwa Kui-bo, tentu saja kepandaiannya amat hebat.
"Lebih baik kau merangket si mulut kasar ini supaya dia jangan memaki-maki seperti itu," katanya sambil
menuding ke arah Tan Hok yang masih memaki-maki kepadanya.
dunia-kangouw.blogspot.com
"Baik Thian-li. Biar kubunuh si keparat ini!" kata Ang-bin Piauw-to yang cepat mencabut goloknya yang
menancap pada dinding.
"Tak usah dibunuh, dirangket saja biar tidak memaki lagi. Paksa dia supaya mau menjadi muridku."
Ang-bin Piauw-to terheran, akan tetapi tentu saja dia tak berani membantah. Diambilnya sebatang cambuk dan
mulailah dia mencambuki tubuh tinggi besar yang rebah miring itu.
Sementara itu Kim-thouw Thian-li kemudian mengambili paku-paku itu, tanpa ada yang ketinggalan, malah dia
merampas pula kantong paku Pek-lian-ting dari mayat Tan Sam. Sambil tersenyum puas ia menyimpan pakupaku
dalam kantong itu di balik bajunya, lalu ia kembali kepada Tan Hok yang sedang digebuki.
Makin kagumlah ketua Ngo-lian-kauw ketika melihat kepala perampok itu terengah-engah mengeluarkan
keringat sedangkan cambuk itu sudah hancur, akan tetapi tubuh orang itu tidak terluka sama sekali, hanya
bajunya yang hancur rusak memperlihatkan tubuh yang amat kuat.
"Hemmm, tebal kulitnya, ya? Coba biarkan aku yang mencambukinya!"
Kim-thouw Thian-li menerima cambuk yang tinggal gagangnya itu dari tangan Ang-bin Piauw-to, kemudian
memukulkan gagang itu perlahan ke arah punggung Tan Hok. Kali ini pemuda tinggi besar itu mengaduh-aduh
kesakitan.
"Jika kau tidak mau menerima menjadi muridku, kau akan kupukul lagi sampai tidak dapat kau tahan lagi
sakitnya," kata Kim-thouw Thian-li, sedangkan para perampok itu melihat dengan heran.
"Lebih baik kau bunuh. Mau bunuh lekas bunuh, kenapa masih cerewet lagi?" Tan Hok memaki dengan suara
lemah karena dia merasakan nyeri yang sangat hebat, akan tetapi matanya masih melotot berani.
"Kurang ajar kau, minta dibunuh apa susahnya?"
Ang-bin Piauw-to yang sudah menjadi marah sekali telah mengangkat goloknya hendak dibacokkan ke leher
Tan Hok. Akan tetapi Kim-thouw mengibaskan selendangnya dan... golok itu terlempar dari tangan kepala
rampok.
"Jangan lancang!" Kim-thouw Thian-li membentak, matanya yang bening mengeluarkan cahaya berkilat.
Kagetlah kepala rampok itu dan cepat dia berlutut.
"Kau dan teman-temanmu harus mentaati perintahku.”
"Kami mentaati, Thian-li," jawab kepala rampok itu. "Mulai sekarang, anggaplah kami telah menjadi anak buah
Thian-li.”
Kim-thouw Thian-li tertawa manis. "Baik, aku ingin melihat apakah kalian cukup setia. Tak jauh dari sini, di
puncak Gunung Hek-niauw-san, ada sebuah kelenteng. Semua hwesio di kelenteng itu adalah anak murid
Siauw-lim-pai. Kau ke sanalah dan lakukan ini..."
Wanita ini kemudian mengajak kepala rampok menjauhi Tan Hok dan berbisik-bisik sambil menyerahkan
beberapa buah Pek-lian-ting yang tadi ia kumpulkan. Kepala rampok hanya mengangguk-angguk, kemudian
bersama kawan-kawannya dia meninggalkan warung itu. Phang Kwi tidak ikut karena dia memang bukan anak
buah Ang-bin Piauw-to lagi.
Kim-thouw Thian-li melirik ke arah tukang warung itu. "Kenapa kau masih belum pergi ikut yang lain?"
Phang Kwi cepat memberi hormat "Maaf, Thian-li, saya adalah pemilik warung ini, bukan anak buah Ang-bintwako..."
"Hemmm, kalau begitu lekas singkirkan mayat kakek itu. Kubur dia jauh-jauh."
dunia-kangouw.blogspot.com
Phang Kwi mendongkol sekali, akan tetapi dia tidak berani membantah. Baiknya mayat kakek itu tidak besar
dan tak berapa berat, maka dia segera memanggulnya dan dibawa ke belakang. Setelah Phang Kwi pergi,
wanita itu berlutut mendekati Tan Hok. Senyumnya makin manis dan matanya bersinar-sinar aneh. Dirabanya
dada Tan Hok yang bidang dan kuat.
"Orang yang kuat dan gagah," katanya perlahan setengah berbisik." Tan Hok, kenapa kau berkeras kepala ?
Kau ikutlah aku dan kau akan hidup penuh kesenangan. Aku kasihan kepadamu..."
Tan Hok adalah seorang pemuda yang selain masih hijau, juga jujur dan bodoh. Dia tidak dapat mengerti akan
maksud yang tersembunyi di balik kata-kata dan sikap wanita itu. Dia menganggap bahwa orang itu betul-betul
kasihan padanya. Hal ini mengingatkan dia akan keadaannya, bahwa gurunya, yaitu satu-satunya orang di
dunia ini yang ada hubungan dengan dia telah mati. Maka matanya lalu basah dan dia menangis!
Kim-thouw Thian-li mengusap-usap pipi pemuda itu, dan berkata, "Jangan berduka, anak manis. Biar
kusembuhkan kau dan kau ikutlah aku."
Jari tangannya yang halus itu menotok pundak dan punggung, dan di lain saat Tan Hok sudah pulih kembali
tenaganya dan dapat bergerak seperti biasa. Akan tetapi ketika dia melihat wanita itu merangkulnya dan
hendak membantunya berdiri dengan sikap yang mesra, dia merasa juga bahwa hal ini tidak sewajarnya dan
bukan sepatutnya. Maka dia meronta dan melepaskan diri.
"Tan Hok, mari kau ikut pergi ke tempatku. Mulai detik ini kau selain menjadi muridku, juga menjadi... teman
baikku," kata Kim-thouw Thian-li dengan senyum dan lirikan mata yang genit memikat.
Tan Hok tidak mengerti maksudnya, "Aku tidak bisa ikut denganmu, juga aku tidak mau ikut. Kau sudah
membunuh guruku, mana bisa aku menjadi muridmu? Apa lagi menjadi teman baik. Mulai sekarang, kau
adalah musuhku."
Kim-thouw Thian-li kaget dan kecewa. "Orang goblok! Aku kasihan dan suka kepadamu, ingin menolongmu.
Masa kau tidak mau terima?"
Tan Hok berulang kali menggeleng-geleng kepalanya. "Tidak bisa... tidak bisa..., sekarang aku kalah olehmu,
tapi lain kali mungkin aku bisa menang untuk membalas perbuatanmu terhadap suhu...”
Dari kecewa wanita itu menjadi marah. "Keparat, kau memang lebih suka mampus. Kalau kau memberatkan
gurumu, nah, kau ikutlah dia ke neraka!" Setelah berkata demikian, Kim-thouw Thian-li menyerang dengan
totokan maut.
Tan Hok yang menganggap wanita ini musuh besarnya, sudah bersiap-siap dan cepat menangkis. Kim-thouw
Thian-li penasaran dan melakukan serangan bertubi-tubi. Tingkat kepandaian wanita ini sudah lebih tinggi dari
pada Tan Sam, mana mungkin Tan Hok bisa melawannya? Baru tiga jurus saja pemuda ini sudah terjungkal
oleh sebuah tendangan. Kim-thouw Thian-li melangkah maju, ia menggerakkan selendangnya hendak
memukul ke arah kepala Tan Hok.
"Kim Li, tahan...! Jangan bunuh orang...!" tiba-tiba terdengar suara keras dari luar warung dan seorang
pemuda yang tampan dan gagah melompat masuk.
Kim-thouw Thian-li menahan serangannya. Cepat sekali muka yang beringas itu kembali penuh senyum dan
lirikan manis. la segera berpaling, kemudian menyambut kedatangan pemuda itu dengan girang.
"Kwee-koko (Kakak Kwee), kau sudah menyusul ke sini? Ahhh, aku sedang menghajar seorang jahat!"
Dengan langkah terayun menarik wanita itu menghampiri pemuda muka putih itu sambil tersenyum-senyum,
lalu memegang lengannya.
Pemuda itu menoleh ke arah Tan Hok, mukanya memperlihatkan rasa malu karena sikap mencinta wanita itu
diperlihatkan di depan orang lain.
"Pergilah dan ubah jalan hidupmu, jadilah orang baik-baik," kata pemuda itu kepada Tan Hok.
dunia-kangouw.blogspot.com
Dengan mata masih melotot penuh kemarahan, Tan Hok lalu pergi meninggalkan warung. Hatinya panas dan
mendongkol sekali kepada wanita itu yang selain sudah membunuh gurunya, melukainya, juga melakukan
fitnah kepada dirinya terhadap pemuda muka putih yang menolongnya itu. Sebaliknya, meski dia menganggap
pemuda tampan itu pun bukan orang baik-baik, namun Tan Hok seorang yang jujur dan tahu akan budi orang,
maka dia merasa berhutang nyawa kepada pemuda yang dia tahu bernama keturunan Kwee itu.
Setelah bayangan Tan Hok lenyap, Kim-thouw Thian-li menggandeng tangan pemuda itu sambil
menyandarkan tubuhnya. Diajaknya pemuda itu duduk menghadapi meja.
"Kwee-koko, kenapa kau menyusul ke sini? Dan janganlah muram selalu, bukankah ada Siauw-moi (Adinda) di
sisimu? He, tukang warung! Lekas sediakan arak yang terbaik dan masaklah daging apa saja yang ada.
Cepat!"
Pemuda itu seperti orang kehilangan semangat, dia menurut saja ditarik dan diajak duduk bersanding di atas
kursi menghadapi meja. Wajahnya yang tampan nampak muram, akan tetapi matanya agak bersinar ketika dia
menghadapi pelayanan Kim-thouw Thian-li yang ramah dan penuh cinta kasih mesra.
Siapakah pemuda yang bermuka putih tampan ini? Bukan lain orang, dia ini adalah orang termuda dari Kun-lun
Sam-hengte yang bernama Kwee Sin berjuluk Pek-lek-jiu (Tangan Geledek)! Dia inilah tunangan Kim-eng-cu
Liem Sian Hwa, anak murid Hoa-san itu.
Biar pun yang termuda di antara murid Pek Gan Siansu, ketua Kun-lun-pai, namun Kwee Sin memiliki ilmu
kepandaian yang tinggi. Dia sudah mewarisi ilmu pedang Kun-lun yang terkenal di dunia persilatan. Kini
usianya baru dua puluh dua tahun.
Semenjak kecilnya Kwee Sin yang sudah tak berayah ibu itu tinggal di puncak Kun-lun melayani suhu-nya
Karena inilah maka dia menjadi murid terkasih dari ketua Kun-lun-pai. Hanya kadang-kadang gurunya yang
sudah tua dan menganggap Kwee Sin seperti putera sendiri itu memberikan kesempatan kepada Kwee Sin
untuk turun gunung dan meluaskan pengalaman di dunia ramai.
Perkenalan Kwee Sin dengan ketua Ngo-lian-kauw itu belum lama. Terjadi baru beberapa bulan yang lalu
ketika Kwee Sin sedang turun gunung memenuhi tugas yang diserahkan padanya oleh suhu-nya, yaitu
mencari tahu keadaan dunia ramai tentang pemberontakan terhadap pemerintah Mongol…..
********************
Pek Gan Siansu, ketua Kun-lun-pai, pada waktu mudanya juga seorang pejuang, seorang patriot. Maka
sekarang mendengar tentang adanya pergerakan orang-orang gagah yang menentang kekuasaan
pemerintahan penjajah, semangatnya lalu terbangun, dia menjadi gembira sekali.
Akan tetapi dia sudah terlalu tua untuk turun gunung sendiri. Usianya sudah tujuh puluh tahun lebih. Karena
itulah dia lalu menyuruh muridnya itu untuk turun gunung melakukan penyelidikan.
"Setelah kau turun gunung melakukan penyelidikan, jangan lupa untuk singgah di rumah calon mertuamu di
dusun Lam-bi-chung," pesan ketua Kun-lun-pai ini kepada muridnya. "Aku sudah tua, ingin melihat kau
menikah tahun ini juga."
Kwee Sin menjadi merah mukanya. Selalu mukanya yang putih tampan itu menjadi merah sekali setiap kali
orang bicara atau mengingatkan dia akan tunangannya, Liem Sian Hwa. Merah karena jengah, jengah
disebabkan bahagia setiap kali dia terbayang akan wajah tunangannya itu, yang cantik sederhana,
bersemangat dan gagah perkasa.
Dia sendiri seorang yang berjiwa pendekar, maka memiliki tunangan yang namanya amat terkenal sebagai
seorang lihiap (pendekar wanita), orang terkemuka dari Hoa-san Sie-eng yang dikagumi dan disegani, tentu
saja dia merasa amat bahagia. la telah membayangkan betapa kelak dengan Sian Hwa di sisinya, mereka
akan merupakan sepasang pendekar yang akan menjadi pembela kebenaran dan keadilan serta menjunjung
dunia-kangouw.blogspot.com
tinggi nama baik Hoa-san-pai dan Kun-lun-pai. Anak-anak mereka tentu akan menjadi pendekar-pendekar
besar pula.
Setelah bersiap-siap, dan tidak lupa membawa pedangnya yang selama ini membuat dia terkenal, pemuda ini
kemudian turun gunung dengan penuh kegembiraan. la terus menuju ke arah selatan dan timur, menjelajahi
kota-kota besar, mendengar-dengar dan mencari keterangan.
Ia banyak mendengar tentang pergerakan patriotik dari perkumpulan-perkumpulan rahasia yang timbul
bagaikan jamur di musim hujan, terutama sekali tentang sepak terjang orang Pek-lian-pai yang paling gigih
melakukan perlawanan kepada pemerintah penjajah. Maka tidak mengherankan apa bila dia merasa simpati
terhadap perkumpulan itu dan ingin dia mengadakan hubungan. Namun, perkumpulan Pek-lian-pai ini ternyata
amat rahasia, tidak mudah diketahui siapa pemimpinnya dan di mana dia dapat menemui anggotanya.
Pada suatu hari Kwe Sin tiba di Sin-yang dan dia pun mengunjungi tempat tinggal kedua suheng-nya, yaitu
Bun Si Teng dan Bun Si Liong, orang pertama dan ke dua dari Kun-lun Sam-hengte. Selagi dia enak-enak
berjalan dan tiba di jalan perempatan di luar kampung tempat tinggal kedua suheng-nya, dari jauh ia melihat
seekor kuda hitam yang ditunggangi seorang laki-laki setengah tua berbaju putih datang membalap dari
jurusan timur. Pada saat itu juga, dari sebelah utara datang pula berlari cepat seekor kuda yang ditunggangi
seorang anak laki-laki berusia belasan tahun, antara tiga belas atau empat belas tahun yang bertubuh kekar
dan gagah.
Kwee Sin terkejut sekali melihat datangnya dua ekor kuda yang berlari seperti terbang ini pada saat yang
sama. Tikungan jalan perempatan dari timur dan utara itu tertutup oleh segerombolan pohon sehingga kedua
penunggang kuda itu tentu saja tidak dapat melihat kedatangan masing-masing, dan mungkin juga tidak dapat
mendengar derap kaki kuda yang lain karena berisik oleh derap kaki kuda sendiri. Kwee Sin yang datang dari
selatan melihat dengan jelas akan hal ini dan timbul kekhawatiran hatinya kalau-kalau dua ekor kuda itu akan
bertemu dan beradu di perempatan.
Hal yang dia khawatirkan terjadi. Dua ekor kuda itu berlari cepat sekali dan sebentar saja telah mendekati
perempatan. Setelah berada dalam jarak dekat sekali, Kwee Sin berseru, "Awas...!“
Dua ekor kuda itu sudah dekat dan tak mungkin dapat dicegah lagi terjadinya tabrakan yang mengerikan. Dua
orang penunggang kuda itu, lelaki setengah tua berpakaian putih dan pemuda remaja yang berkuda putih,
melihat pula akan ancaman bahaya ini.
"Ouw-ma (kuda hitam), naik...!” Laki-laki setengah tua itu berseru.
Mendadak kudanya mengeluarkan ringkikan keras dan tubuhnya melompat tinggi sekali melangkahi kuda putih
yang berlari cepat. Namun setinggi-tingginya lompatan kuda yang mendadak itu, biar pun dapat melangkahi
seekor kuda, agaknya di antara empat kakinya tentu akan rnenendang penunggang kuda putih, anak laki-laki
tadi.
Kwee Sin merasa ngeri dan tidak berdaya untuk menolong. Matanya terbuka lebar dan jantungnya berdebar.
Hanya sedetik kejadian itu. Kuda hitam itu melompati kuda putih, keempat kakinya hampir menyentuh
punggung kuda putih, akan tetapi masih selamat melompati kuda putih yang menerobos di bawahnya. Debu
mengebul tinggi dan... Kwee Sin tidak melihat lagi anak laki-laki yang tadi duduk di atas punggung kuda putih.
"Celaka...!" serunya, mengira bahwa anak tadi tentu sudah terkena tendangan kuda dan terlempar dalam
keadaan tewas atau sedikitnya terluka hebat.
Akan tetapi dia segera melongo saking kagum dan herannya setelah melihat bahwa anak itu ternyata secara
lihai sekali, ketika kudanya dilompati kuda lain, telah menggantungkan dirinya di bawah perut kuda dan
sekarang dalam keadaan selamat dia telah membalikkan tubuhnya duduk kembali di atas punggung kuda.
Namun anak itu agaknya kaget juga. Dia menahan kendali kudanya dan menghentikan kuda itu wajahnya agak
pucat. Akan tetapi laki-laki setengah tua itu hanya menoleh sambil tertawa bergelak, terus mencambuk
kudanya, membalap makin cepat.
dunia-kangouw.blogspot.com
"Kurang ajar, berhenti kau!" Kwee Sin langsung melompat hendak mengejar penunggang kuda hitam.
"Kwee-susiok (Paman Guru Kwee), jangan kejar dia!" Tiba-tiba anak laki-laki tadi berseru.
Kwee Sin kaget dan menghentikan larinya. Dia menoleh dan memandang anak itu lebih teliti.
"Ehh, kiranya kaukah ini, Lim Kwi?" Dia berlari menghampiri dengan girang. "Pantas saja begini lihai
menunggang kuda, kiranya kau."
Anak itu melompat turun dan memberi hormat. Dia memang Bun Lim Kwi, putera tunggal Bun Si Teng, jago
pertama dari Kun-lun Sam-hengte! Sebagai seorang pedagang kuda, tentu saja Bun Si Teng dan adiknya, Bun
Si Liong, selain memiliki ilmu silat tinggi sebagai keturunan Kun-lun-pai, juga telah mempelajari ilmu
memelihara kuda sekaligus juga ilmu menunggang kuda. Bun Lim kwi tentu saja juga mempelajari ilmu ini,
maka tadi berkat ilmunya menunggang kuda, dia terluput dari maut yang mengerikan.
"Lim Kwi, kau dari mana dan kenapa kau nampak amat berduka? Pula, kenapa kau tadi mencegah aku
mengejar bangsat itu?" Kwee Sin mengajukan pertanyaan bertubi-tubi.
"Kwee-susiok, memang ada pertaliannya antara pertanyaan-pertanyaanmu tadi. Paman Bun Si Liong terluka
parah oleh seorang anggota Pek-lian-pai, dan saya sedang pergi ke Twi-ciu membeli obat untuk paman. Dan
orang tadi... melihat kepandaian dan pakaiannya yang serba putih, dia itu pun agaknya salah seorang anggota
Pek-lian-pai yang memusuhi kami..."
"Ahhh..." Kwee Sin berkata penasaran. "Jika betul dia itu memusuhi keluargamu, kenapa engkau malah
mencegah aku mengejar untuk memberi hajaran kepadanya? Apakah luka ji-suheng (kakak seperguruan ke
dua) amat parah?"
"Kwee-susiok, anggota-anggota Pek-Lian-pai lihai sekali dan selagi pamanku terluka, tidak baik kiranya
memperluas permusuhan dengan mereka."
Jawaban anak berusia belasan tahun ini diam-diam membuat Kwee Sin kagum bukan main. Benar-benar
seorang anak yang sudah memiliki pandangan luas, pikirnya.
"Bagaimana lukanya, ji-suheng?"
Bun Lim Kwi menarik napas panjang. "Berat juga, syukur dapat tertolong oleh tabib yang pandai. Biarlah nanti
Susiok mendengar sendiri tentang persoalannya dari ayah..."
"Benar juga kau, hayo kita lekas pergi ke rumahmu, ingin aku menengok Ji-suheng."
Keduanya lalu cepat memasuki kampung di mana Bun Lim Kwi dan ayahnya tinggal. Rumah keluarga Bun
cukup besar, malah memiliki pekarangan belakang yang amat luas, karena di situ dibangun kandang-kandang
besar untuk binatang peliharaan dan dagangan mereka, yaitu kuda.
Sebagai seorang pedagang kuda, Bun Si Teng telah berhasil dan makin lama kudanya makin banyak. Hampir
semua orang gagah yang membutuhkan kuda, atau para saudagar kuda dari lain daerah, selalu datang
menemuinya karena selain keluarga Bun jujur dan tidak pernah menghargai kuda mereka terlalu tinggi, juga
kuda mereka selalu adalah kuda-kuda pilihan saking pandainya Bun Si Teng memilih kuda.
Di depan gedung yang cukup besar itu terdapat beberapa batang pohon yang rindang dan mendatangkan
suasana yang teduh dan enak di halaman rumah itu. Beberapa ekor ayam yang gemuk-gemuk sibuk mematuki
gabah serta dedak yang berceceran di halaman itu hingga suasana di tempat yang teduh itu aman dan damai,
tidak membayangkan sesuatu yang menyedihkan.
Hanya sejenak saja Kwee Sin dapat merasakan ketenteraman suasana ini. Ketika teringat akan keadaan jisuheng-
nya seperti yang ia dengar dari Lim Kwi, ia segera tergesa-gesa memasuki gedung.
dunia-kangouw.blogspot.com
Kedatangan Kwee Sin dan Lim Kwi disambut oleh nyonya Bun Si Teng, ibu Lim Kwi yang tergesa-gesa
bertanya, "Bagaimana Kwi-ji (anak Kwi), sudah dapatkah obatnya?"
Lim Kwi mengangguk, dan saat itulah nyonya ini melihat kehadiran Kwee Sin di belakang anaknya. la segera
menyambutnya dengan muka sedih, dan Kwee Sin lantas menyatakan keinginannya untuk menengok Bun Si
Liong yang terluka. Beramai-ramai mereka bertiga masuk ke ruangan dalam.
Di dalam kamar Bun Si Liong, orang gagah ini tengah rebah telentang dengan muka pucat sedangkan Bun Si
Teng, kakaknya, duduk di dekat pembaringan dengan wajah muram.
"Ah, kau datang, Kwee-sute? Kebetulan sekali!" kata Bun Si Teng, agak berseri wajahnya seperti mendapat
pengharapan baru.
"Siauwte mendengar tentang terlukanya Ji-suheng, bagaimana keadaannya?" Kwee Sin menghampiri
pembaringan.
Bun Si Liong membuka mata dan memandang kepada Kwee Sin, tersenyum duka.
"Kita kecewa, Sute... ternyata Pek-lian-pai bukan orang-orang baik..."
"Soal itu biarlah nanti kita berhitungan dengan mereka, Ji-suheng. Yang perlu sekarang kau berobatlah dulu
agar segera sembuh," menghibur adik seperguruan ini.
Dia mendapat kenyataan bahwa selain menderita pukulan yang melukai sebelah dalam dada, suheng-nya ini
pun menderita luka parah pada pundak dan lambungnya akibat kena senjata rahasia paku yang terkenal sering
digunakan oleh perkumpulan Pek-lian-pai, yaitu Pek-lian-ting.
Nyonya Bun Si Teng sibuk memasak obat untuk adik iparnya, sedangkan Bun Si Teng lalu menceritakan
dengan singkat kepada Kwee Sin tentang terjadinya peristiwa itu.
"Beberapa pekan yang lalu di sini datang seseorang yang mengaku sebagai utusan dari Pek-lian-pai yang
membutuhkan dua puluh ekor kuda yang baik. Karena merasa simpati mendengar nama baik Pek-lian-pai
sebagai perkumpulan para patriot, aku dan Liong-te (adik Liong) dengan senang hati memilihkan dua puluh
ekor kuda terbaik dengan harga serendah-rendahnya. Malah orang yang mengaku bernama Thio Sian itu,
pada waktu itu menyatakan sangat kagum melihat kuda tungganganku sendiri. Aku pun dengan rela hati
menyerahkan kuda itu kepadanya sebagai tanda persahabatan. Orang she Thio itu minta kepada kami berdua
supaya suka mengantarkan kuda ke dalam hutan yang tiga puluh li jauhnya dari sini. Karena ingin berkenalan
dengan tokoh-tokoh Pek-lian-pai, aku sendiri bersama Liong-te berangkat pada tiga hari yang lalu untuk
mengantar kuda-kuda itu ke sana. Tetapi celaka sekali..."
Bun Si Teng yang bertubuh tinggi besar seperti pahlawan Kwan In Tiang di jaman dahulu ini mengepalkan
tinjunya yang besar dan mengertak gigi. Kwee Sin mendengarkan penuh perhatian.
"Baru saja kami memasuki hutan menggiring dua puluh ekor kuda, tiba-tiba muncul lima orang berpakaian
putih-putih dan mereka langsung menyerang kami dengan paku-paku Pek-lian-ting. Tentu saja kami dapat
menyelamatkan diri dari serangan gelap ini. Namun sebelum kami dapat bertanya mengapa mereka
melakukan hal itu, mereka sudah maju mengeroyok. Terpaksa kami berdua melakukan perlawanan. Kelima
orang itu bersenjata golok dan ilmu silat mereka cukup lihai, akan tetapi aku dan Liong-te tidak gentar. Kami
dapat melayani mereka dengan baik, malah dapat mendesak mereka dengan gabungan ilmu pedang kami."
Kwee Sin mengepal tinju dan amat tertarik. la cukup maklum akan kelihaian kedua orang suheng-nya, apa lagi
kalau mereka menggabungkan ilmu pedang mereka, kiranya takkan mudah dikalahkan orang, biar pun dengan
pengeroyokan. Twa-suheng-nya, Bun Si Teng, amat pandai bersilat pedang dan ditambah lagi dengan
permainan sebatang busur besar di tangan kiri merupakan seorang gagah yang sukar dicari bandingnya.
Ada pun Bun Si Liong yang bertubuh tegap serta bermuka hitam itu, tangan kanannya memegang pedang
sedangkan di tangan kiri memegang golok. Ilmu pedangnya dicampur dengan ilmu golok sehingga gerakangerakannya
sangat sukar diduga lawan. Kalau dua orang ini bergabung menjadi satu, bukan main kuatnya.
dunia-kangouw.blogspot.com
"Lalu bagaimana, Twa-suheng? Bagaimana Ji-suheng sampai bisa terluka ?" tanya Kwee Sin penasaran.
"Menyakitkan hati benar!" Bun Si Teng menggebrak meja. "Orang-orang Pek-lian-pai itu memang pengecut
dan jahat. Setelah kami mulai mendesak, mendadak terdengar suara ketawa seorang wanita. Ketawanya
nyaring dan merdu, akan tetapi sama sekali tidak kelihatan orangnya. Kau tahu sendiri, Ji-suheng-mu biar pun
gagah perkasa, selalu amat takut dan gugup kalau berhadapan dengan wanita. Mendengar suara ketawa ini
agaknya dia gugup sekali, maka ketika dari tempat yang tak diketahui datang menyambar banyak paku-paku
Pek-lian-ting, dia kurang cepat dan terluka oleh sebatang paku."
"Ahhh...!" Kwee Sin berseru, penasaran dan juga heran.
"Paku-paku yang menyambar kali ini dilepas oleh orang yang berilmu tinggi," kata Bun Si Teng menjelaskan.
"Pada waktu aku menangkis paku-paku itu dengan pedangku, telapak tanganku sampai tergetar. Melihat
adikku terluka, aku memutar senjata dan mengamuk dengan nekat. Untuk sementara mereka itu tak dapat
mengganggu Liongte. Akan tetapi... lagi-lagi terdengar suara wanita itu yang berseru agar supaya lima orang
pengeroyok itu mendesak aku, kemudian wanita yang bersembunyi itu juga menyuruh para pengeroyok itu
agar mendesak dari satu jurusan, dari depan saja dan jangan mengepung. Kemudian agaknya dia sendiri yang
menghujankan paku-paku Pek-lian-ting kepadaku. Aku menjadi terdesak hebat, malah berada dalam keadaan
yang berbahaya. Ketika itulah seorang di antara para pengeroyok mendapat kesempatan untuk menyerang
Adik Liong yang sudah terluka. Liong-te masih dapat melawan, akan tetapi lagi-lagi sebatang paku melukainya,
kini di bagian lambungnya dan yang pertama tadi melukai pundaknya. Luka-luka ini yang ternyata kemudian
mengandung racun, membuat dia seperti lumpuh sehingga dia kena pukulan pada dadanya."
"Keparat...!" Kwee Sin berkata gemas.
"Melihat keadaan adikku terancam, aku kemudian menyerbu ke arah adikku dan berhasil merobohkan
penyerangnya itu dengan busurku. Entah dia mampus atau tidak, akan tetapi setidaknya kepalanya tentu
retak!" kata Bun Si Teng gemas. "Kemudian aku mengambil keputusan untuk menyelamatkan Liong-te, karena
musuh terlampau kuat. Aku berhasil menyambar tubuh Liong-te dan kubawa lari pulang. Kuda-kuda itu mereka
rampas dan ketika pada keesokan harinya aku membawa beberapa orang murid mengunjungi hutan, di situ
sudah tidak ada seorang pun anggota Pek-lian-pai."
Kwee Sin menepuk pahanya dengan marah. "Ahh, kalau tahu begitu, si kurang ajar tadi tidak akan kulepaskan
begitu saja!"
Bun Si Teng memandang heran. "Siapa yang kau maksudkan, Sute?"
Kwee Sin lalu menceritakan tentang penunggang kuda yang tadi hampir saja mencelakai Bun Lim Kwi.
Mendengar ini berkerut alis Bun Si Teng.
"Hemmm, kalau begitu, selain bermaksud merampas kuda, mereka juga sengaja hendak memusuhi
keluargaku. Ah, kebetulan kau datang, Sute. Aku telah melakukan penyelidikan dan mendengar bahwa
manusia bernama Thio Sian itu berada di dusun Hek-siong-san, tak jauh dari sini. Aku tadinya hendak
mencarinya di sana untuk membuat perhitungan. Sekarang kebetulan kau datang sehingga hatiku agak lega
meninggalkan rumah. Siapa tahu selagi aku pergi, mereka datang membikin kacau sedangkan Liong-te masih
belum sembuh. Kau bisa mewakili aku menjaga di rumah."
"Twa-suheng, kurasa Twa-suheng saja yang menjaga rumah, biarlah aku yang mewakili Suheng mencari
jahanam Thio Sian itu di Hek-siong-san. Sekarang sudah terang bahwa Pek-lian-pai amat curang. Jika Suheng
sendiri yang pergi ke sana, jangan-jangan mereka akan mengatur jebakan karena mereka sudah mengenalmu.
Akan tetapi kalau aku yang pergi, mereka belum mengenalku, maka kiranya akan lebih leluasa bagiku untuk
bergerak. Hanya saja, harap Suheng memberi gambaran yang jelas tentang rupa orang she Thio itu."
Mendengar kata-kata Kwee Sin ini, Bun Si Teng lalu mengangguk-angguk. Tidak dapat disangkal pula, ucapan
Kwee Sin ini memang benar sekali. Selain itu, dia sudah percaya akan kepandaian sute-nya ini yang tidak
berbeda jauh dengan kepandaiannya sendiri. Betapa pun juga, menjaga di rumah kiranya merupakan
dunia-kangouw.blogspot.com
kewajiban yang tidak kalah pentingnya, pula amat berbahaya karena selain harus melindungi anak isterinya,
dia harus pula melindungi adiknya yang sedang sakit.
"Baiklah, Kwee-sute. Akan tetapi kau harus hati-hati benar karena biar pun mengenai kepandaian silat kiranya
kau tak usah khawatir menghadapi mereka, namun mereka itu licik dan curang sekali. Untuk mengenal orang
she Thio itu mudah saja. Perawakannya kurus tinggi, kumisnya kecil panjang dan di atas pipi kanannya
terdapat sebuah tahi lalat merah. la bicara dengan lidah utara."
Setelah mendapat penjelasan dari suheng-nya, Kwee Sin lalu pergi melakukan tugasnya, mencari musuh
besar suheng-nya itu ke dusun Hek-siong-san. Dusun itu kecil saja, akan tetapi ternyata tidak mudah bagi
Kwee Sin untuk mencari Thio Sian. Agaknya tidak ada yang mengenal orang ini di Hek-siong-san.
Akhirnya ia pun mendapat keterangan tentang orang ini dari seorang pemilik warung arak. "Orang tinggi kurus
berkumis kecil dan ada tahi lalatnya merah di pipi kanan? Ahh, benar, dia pernah membeli arak di sini, malah
tadi aku lihat dia lewat di sini menuju ke timur."
Mendengar keterangan ini, Kwee Sin mengucapkan terima kasihnya dan cepat-cepat dia melakukan
pengejaran ke timur. Di sebelah timur dusun ini terdapat sebuah hutan kecil. Tanpa ragu-ragu Kwee Sin
memasuki hutan ini, biar pun hari sudah mulai senja.
Hutan pohon siong yang menghitam kulitnya itu nampak gelap. Ia melihat hutan itu sunyi saja, bahkan tak
nampak seekor pun binatang hutan. Tiba-tiba ia mencium bau asap dan melihat asap membumbung tinggi dari
sebelah kiri.
Berindap-indap dia mendekati dan dengan girang dia melihat seorang lelaki menghadapi api unggun. Laki-laki
ini cocok dengan gambaran diri Thio Sian dan hatinya lebih girang lagi karena melihat laki-laki ini seorang diri
saja, tidak ada orang lain di situ. Dengan berani dan gagah Kwee Sin lalu meloncat mendekati dan berdiri
dengan tangan bertolak pinggang.
"Orang she Thio, bersiaplah membuat perhitungan atas perbuatanmu yang pengecut dan curang!" bentaknya
sambil mencabut keluar pedangnya.
Orang tinggi kurus itu tersenyum, lalu bangkit berdiri dengan tenang.
"Susah payah kau mencari-cari aku di Hek-siong-san, kemudian mengejar ke sini atas keterangan tukang
penjual arak. Dapat bertemu setelah aku membakar daun-daun kering ini. Ehh, orang muda yang gagah, apa
perlunya kau mencari aku Thio Sian?"
Kwee Sin kaget sekali. Kiranya orang yang dicari-carinya ini telah lebih dulu tahu akan kedatangannya. Benar
berbahaya. Diam-diam dia mengerling ke kanan kiri untuk mencari kalau-kalau orang ini sudah memasang
jebakan. Ia merasa gentar juga, namun sebagai seorang pendekar dia tidak mau memperlihatkan ini.
"Jangan kau bersikap pura-pura," katanya mengejek. "Kau sudah berani menipu Kun-lun Sam-hengte, menipu
dua suheng-ku, malah melukai ji-suheng-ku dengan pengeroyokan pengecut. Ketahuilah, aku Kwee Sin takkan
membiarkan orang macam engkau menghina ji-suheng begitu saja!"
Orang itu sambil tersenyum lalu menjura. "Eh, kiranya Pek-lek-jiu Kwee-enghiong yang datang. Sudah lama
mendengar nama besar Kwee-enghiong, dan aku yang bodoh Thio Sian juga sudah beruntung sekali
berkenalan dengan kedua saudara Bun yang gagah..."
Mendongkol sekali hati Kwee Sin. "Orang she Thio, jangan berpura-pura menjual mulut manis. Awas
pedangku!"
Kwee Sin merasa dipermainkan dan khawatir kalau-kalau sedang dijebak, maka cepat ia mengirim serangan.
"Ehh, ehh, benar-benar berdarah panas!" Orang itu dengan mudahnya mengelak.
dunia-kangouw.blogspot.com
Kwee Sin mendesak lagi dengan pedangnya sehingga mau tak mau Thio Sian mencabut goloknya dan
menangkis.
"Kau hendak menguji kepandaian? Baiklah, tak ada halangannya di tempat sunyi ini kita bermain-main, biar
kita penuhi syarat perkenalan dengan bertanding lebih dulu.”
Di lain saat kedua orang itu sudah bertanding seru. Diam-diam Kwee Sin harus mengakui kehebatan lawannya
yang memiliki ilmu golok yang amat cepat dan kuat. Susah payah dia mengerahkan seluruh tenaga dan
kepandaiannya, akan tetapi tetap saja dia tidak mampu mendesak lawannya.
Dia mulai gelisah. Kalau ada seorang lagi saja teman lawannya, dia tentu celaka dan takkan dapat menang.
Oleh karena itu dia mulai melakukan pukulan-pukulan tangan kiri, yaitu pukulan Pek-lek-jiu yang amat ampuh.
"Ayaaa... kau benar-benar hendak mengambil nyawa orang yang tak berdosa?" Thio Sian nampak terkejut dan
cepat mengelak. "Mari kita bicara dulu."
Tapi Kwee Sin mana mau berhenti? Malah menyerang makin gencar dengan pedang dan pukulan-pukulannya.
Tiba-tiba Thio Sian juga melakukan serangan dengan tangan kirinya. Dia melakukan pukulan-pukulan jarak
jauh untuk menandingi Pek-lek-jiu dari jago muda Kun-lun-pai itu.
Pada saat itu cuaca sudah mulai gelap. Pertempuran sudah berlangsung hampir seratus jurus. Berkali-kali
Thio Sian minta dihentikan, namun Kwee Sin tidak mau peduli. Tiba-tiba berkelebat bayangan kecil berwarna
merah ke arah Thio Sian.
Thio San terkejut, cepat menangkis dengan goloknya. Bayangan itu ternyata sehelai sapu tangan yang
membuat Thio Sian mengeluarkan seruan kaget, dan tahu-tahu tubuhnya terhuyung-huyung ke belakang.
"Aahhhhh... kau... kau bersekutu dengan dia...?" la mengeluh dan tiba-tiba tangan kirinya melayangkan
beberapa buah Pek-lian-ting ke arah Kwee Sin.
Penyerangan ini tiba-tiba datangnya. Kwee Sin sudah berusaha menghindarkan diri, tapi sebatang paku Peklian-
ting dengan tepat sekali menancap di jalan darah dekat lehernya. Pandang matanya gelap dan Kwee Sin
mengeluh perlahan, lalu roboh pingsan!
Ketika Kwee Sin membuka matanya sambil mengeluh kesakitan, dia menjadi heran dan kaget sebab
mendapatkan dirinya sudah rebah di atas pembaringan dalam sebuah kamar yang berbau harum. Lehernya
terasa panas dan sakit sekali, sampai terasa berdenyut kepalanya. Namun dia memaksa diri bangun duduk.
Terdengar suara pintu kamar berderit terbuka, lalu tertutup lagi. Kwee Sin menoleh dan... matanya terbelalak
lebar ketika dia melihat seorang wanita muda cantik sekali memasuki kamar itu sambil tersenyum manis.
"Kau... kau siapakah...?" Kwee Sin hendak melompat turun.
Wanita itu melangkah ringan dan cepat, tahu-tahu sudah berada di pinggir pembaringan, lalu menjura dan
berkata, dengan kata-kata yang sopan dan merdu.
"Harap Taihiap tenang dan jangan kaget, biarlah Siauw-moi memberi penjelasan...”
“Tapi... tapi tak pantas sekali kita... berada di sini..."
"Sssssttt..." Manis sekali ketika wanita itu menaruh telunjuk di depan mulut dan bibirnya mengeluarkan suara
ini untuk mencegah pemuda itu membuat berisik.
"Taihiap, jangan ribut-ribut, bila terdengar para pelayan losmen dan para tamu, kita malah akan mendapat
malu. Dengarlah Siauw-moi bicara..." Wanita itu dengan sikap sopan tapi amat manis menarik lalu duduk di
atas bangku di depan pembaringan sambil memberi isyarat dengan tangannya supaya Kwee Sin berbaring
kembali. "Kau berbaringlah, lukamu masih belum sembuh dan perlu beristirahat."
dunia-kangouw.blogspot.com
Karena memang kepalanya berdenyut-denyut dan pening, Kwee Sin terpaksa menurut dan membaringkan
badan, biar pun hatinya merasa tidak enak sekali. Dia seorang gagah, bagaimana sekarang bisa berada
sekamar dengan seorang gadis cantik jelita? Sungguh memalukan dan mencemarkan namanya!
"Taihiap, secara terpaksa sekali aku membawamu ke dalam losmen ini. Kau terluka hebat oleh paku Pek-lianting.
Kau pingsan, lukamu parah, tepat mengenai jalan darah besar di leher. Tanpa mendapat pengobatan
yang cepat dan tepat, keadaanmu akan berbahaya sekali. Di dalam hutan yang sunyi, bagaimana aku dapat
menolongmu? Karena itu secara terpaksa sekali aku membawamu ke losmen ini, menyewa sebuah kamar."
"Tapi... tapi...," Kwee Sin memprotes, "kenapa hanya sekamar? Padahal, kau dan aku... laki-laki dan wanita,
sungguh tak patut..."
Wajah wanita itu menjadi merah sekali, terutama di kedua pipinya, membuat ia nampak makin jelita.
"Maaf, Taihiap. Aku... aku terpaksa mengaku bahwa kita... kita ini suami isteri..."
"Ahhh!" Kwee Sin terkejut dan hendak bangun, tetapi lehernya sakit sekali dan dia rebah kembali.
"Terpaksa, Taihiap. Kalau aku tidak mengaku demikian, sudah tentu akan menimbulkan kecurigaan. Aku
mengaku suami isteri yang berpesiar, lalu kau mendapat kecelakaan jatuh dari kuda. Setelah aku mengaku
bahwa kita adalah suami isteri, tidak ada seorang pun yang memperhatikan atau menaruh curiga.”
Kwee Sin diam saja. la merasai kebenaran omongan wanita ini. la melirik dan melihat wanita itu menyusuti
dahi dengan sehelai sapu tangan merah. Tiba-tiba dia teringat dan dia memaksa diri duduk.
“Kau... kaukah yang menyerang dan merobohkan Thio Sian dan yang rnenolongku?" la memandang tajam,
ragu-ragu.
Kedua pipi wanita itu merah lagi ketika mengangguk, tersenyum dan berkata perlahan, "Sudah sepatutnya kita
saling tolong-menolong, apa lagi menghadapi seorang penjahat besar seperti tokoh Pek-lian-pai itu. Ketika aku
melihat seorang Pek-lian-pai bertempur melawanmu, tanpa ragu-ragu lagi aku memihak padamu, Taihiap.
Tidak tahu, siapakah nama Taihiap yang mulia?"
Sambil duduk Kwee Sin cepat-cepat mengangkat kedua tangan memberi hormat. "Ahh, kiranya Nona adalah
penolongku. Terima kasih banyak bahwa Nona sudah menolong dan menyelamatkan nyawaku. Aku yang
bodoh ini bernama Kwee Sin, dan apakah aku boleh mengetahui nama besar Lihiap (Nona Pendekar)?"
"Aku bernama Kim Li, she (nama keluarga) Cou. Kwee-taihiap, karena aku sudah terlanjur mengaku sebagai
suami isteri, untuk melenyapkan kecurigaan orang, kuharap kau jangan menyebut lihiap... sebut saja namaku,
dan... dan kalau boleh aku lebih suka menyebutmu Kwee-koko (Kakanda Kwee)..."
Berdebar jantung Kwee Sin, tetapi pada saat itu juga lehernya terasa nyeri bukan main sampai kepalanya
berdenyut-denyut. la meramkan matanya dan mengeluh perlahan.
Wanita itu yang bukan lain adalah Kim-thouw Thian-li atau Ngo-lian Kauwcu, ketua dari Ngo-lian-pai, segera
menghampiri. Dengan mesra dan halus ia menaruh tapak tangannya di atas kening Kwee Sin dan berkata
merdu.
"Kau mulai terserang demam, Kwee-koko. Akan tetapi tidak apa-apa, kau tidurlah, biarlah kumasakkan obat
untukmu."
Dengan sangat teliti wanita ini merawat Kwee Sin. Sikapnya penuh kasih dan mesra, selama dua hari dua
malam tak pernah meninggalkan kamar itu, tak pernah tidur.
Biar pun sedang menderita demam, Kwee Sin masih ingat akan semua ini dan diam-diam dia merasa amat
terharu dan berterima kasih sekali. Belum pernah selama hidupnya dia mempunyai seorang yang begini baik
terhadap dirinya, bahkan tunangannya sendiri, nona Liem Sian Hwa, belum pernah bersikap sedemikian manis
dan penuh kasih.
dunia-kangouw.blogspot.com
Kwee Sin adalah seorang pemuda yang masih hijau dalam menghadapi godaan wanita. la belum dapat
membedakan antara kasih sayang yang murni dengan kasih sayang seperti yang dikandung dalam hati
seorang wanita seperti Kim-thouw Thian li.
Tak dapat disangkal bahwa meski pun masih muda, pengalaman Kwee Sin dalam dunia kang-ouw sudah
banyak sekali. Namun tentang cinta kasih, dia benar-benar masih hijau dan hatinya masih bersih sehingga dia
menganggap sikap wanita itu sebagai cinta yang benar-benar murni.
Betapa pun juga, ternyata Kim-thouw Thian-li benar-benar jatuh hati kepada pemuda jago Kun-lun-pai ini.
Melihat sikap Kwee Sin yang bersih dan jujur, yang selalu sopan dan tidak sekali-kali mau melanggar
kesusilaan, wanita ini merasa malu dan takut sendiri untuk bersikap terlalu genit.
Namun dengan kepandaiannya membujuk rayu, ia berhasil juga mendatangkan rasa haru di dalam hati Kwee
Sin. Mulailah di dalam hati pemuda ini timbul penyesalan, kenapa dia tidak diikatkan jodoh dengan seorang
gadis seperti Coa Kim Li ini!
Pada hari ke tiga, Kwee Sin sudah sembuh kembali. Dia lalu menghaturkan terima kasih kepada Coa Kim Li
atau yang sesungguhnya berjuluk Kim-thouw thian-li itu.
"Adik Kim Li," katanya terharu, "aku merasa berhutang budi kepadamu. Apa bila aku Kwee Sin tak mampu
membalas budimu, biarlah Thian yang akan membalasnya. Sekarang kita harus berpisah, aku akan
melanjutkan perjalananku dan aku tak berani mengganggu kau lagi."
Kim-thouw Thian-li tersenyum manis, akan tetapi sinar matanya menunjukkan kedukaan hatinya. "Kwee-koko,
kenapa kita harus berpisah? Apakah salahnya jika kita melakukan perjalanan bersama-sama? Koko, aku...
entah kenapa, selama hidupku belum pernah aku mempunyai seorang... sahabat seperti kau. Aku... agaknya
akan sukar sekali bagiku untuk berpisah dari sampingmu."
Kwee Sin makin terharu, apa lagi ketika dia melihat dua butir air mata jernih turun dari sepasang mata yang
indah itu. Dipegangnya kedua tangan Kim Li, dan dengan suaranya yang menggetar dia berkata, "Kim Li,
percayalah, aku pun mempunyai perasaan seperti yang kau rasakan itu. Kau satu-satunya wanita yang selama
hidupku amat baik kepadaku. Akan tetapi... kurasa tidak sepatutnya kalau kau seorang gadis gagah perkasa
melakukan perjalanan bersama seorang laki-laki. Akan tercemar nama baikmu. Ke dua..."
"Kwee-koko, peduli apa dengan anggapan umum? Apakah kita orang-orang gagah masih perlu mendengarkan
gonggongan anjing-anjing di tepi jalan?"
Kwee Sin tersenyum pahit. "Benar kata-katamu, akan tetapi mau tidak mau kita harus menghindarkan dugaan
yang bukan-bukan. Selain itu, yang ke dua... aku harus berterus terang kepadamu. Kim Li moi-moi, aku... aku
sebenarnya sudah... sudah bertunangan..."
Aneh, sama sekali wanita itu tidak nampak kaget atau pun kecewa. Memang, bagi orang seperti Kim-thouw
Thian-li, laki-laki yang disukainya tetap laki-laki, tak peduli dia itu belum bertunangan mau pun sudah beristeri
atau sudah menjadi ayah. Akan tetapi, dengan ilmu kepandaiannya, ia bisa membuat kedua pipinya menjadi
kemerahan.
"Siapa... siapa dia itu, Koko? Tentu gadis yang cantik jelita dan gagah perkasa?"
"Tentang kecantikannya, aku tidak dapat bilang dia amat cantik, setidaknya... ehhh, tidak secantik engkau.
Tentang kepandaiannya, tentu saja dia lihai karena dia itu adalah orang termuda dari Hoa-san Sie-eng."
"Ahhh, dia Kim-eng-cu Liem Sian Hwa...?"
"Kau sudah mengenalnya, Kim Li?"
"Siapa yang tidak tahu bahwa orang termuda dari Hoa-san Sie-eng adalah Kiam-eng-cu?" Bibir yang merah itu
berjebi. "Hemmm, kukira bidadari dan kahyangan yang sakti!"
dunia-kangouw.blogspot.com
Merah muka Kwee Sin. Dia teringat bahwa Kim Li memiliki ilmu kepandaian yang sangat tinggi, mungkin tidak
kalah oleh Liem Sian Hwa dan yang sudah jelas tidak kalah olehnya sendiri. Buktinya, Thio Sian yang lihai itu
juga roboh oleh wanita ini. Menurut pengakuan Kim Li, Thio Sian dapat dibunuhnya di dalam hutan itu dan
ditinggalkan begitu saja.
"Dia memang seorang gadis sederhana saja..." akhirnya dia berkata untuk mengusir rasa jengahnya.
“Jadi kau sekarang hendak pergi ke sana? Di mana sih rumah tunanganmu itu, Koko?"
"Di Lam-bi-chung. Terpaksa aku harus singgah ke sana memenuhi pesan suhu. Setelah singgah sebentar aku
akan kembali ke Kun-lun."
"Bagus! Tujuan perjalananku juga melalui Lam-bi-chung. Kita bisa melakukan perjalanan bersama, Koko.
Dekat sana ada Telaga Pok-yang, amat indah apa lagi pada awal musim chun (semi) seperti sekarang ini.
Kwee-koko, kalau begitu, marilah kita berangkat. Aku tak akan mengganggumu, jika kau singgah di Lam-bi
chung, aku akan menjauhkan diri!"
Sikap yang amat gembira dari Kim Li ini rnembuat Kwee Sin tak dapat menolak lagi. Apa lagi kalau diingat
bahwa dia memang akan senang sekali melakukan perjalanan bersama gadis ini. Kalau tadi dia mengajukan
keberatan, itu hanya karena dia hendak menjaga nama baik gadis itu. Maka, sekarang mendengar bahwa
gadis itu pun hendak melakukan perjalanan sejurusan dengannya, dia menjadi girang bukan main.
"Li-moi, kau sebetulnya hendak pergi ke manakah?" tanyanya serius.
Akan tetapi gadis itu hanya tertawa saja, tertawa manis sambil menampar lengan Kwee Sin. "Banyak tanya
mau apa sih? Lebih baik lekas berkemas dan segera berangkat!"
Kwee Sin tertawa senang melihat gadis itu berlari-lari ke belakang untuk mencari pelayan dan memberi tahu
bahwa mereka hendak pergi meninggalkan losmen.
Dan memang benar dugaan Kwee Sin. Perjalanan yang dia lakukan bersama Coa Kim Li benar-benar sangat
menggembirakan hatinya. Alangkah jauh bedanya dengan perjalanan yang dia lakukan seorang diri sebelum
dia bertemu dengan gadis ini.
Sebelum mereka meninggalkan dusun itu, lebih dahulu Kwee Sin singgah di Sin-yang, ke rumah Bun Si Teng
dan Bun Si Liong. Kim Li tidak mau turut dan hendak menanti di luar kampung. Hal ini malah dianggap suatu
kebetulan oleh Kwee Sin, karena dia sendiri juga merasa sungkan dan malu terhadap kedua suheng-nya kalau
mereka ini tahu bahwa dia hendak melanjutkan perjalanan bersama seorang gadis cantik.
Bun Si Teng dan Bun Si Liong yang sudah sembuh, merasa gembira dan lega melihat munculnya Kwee Sin.
Tadinya dua orang suheng ini merasa amat khawatir karena sudah beberapa hari sute ini tidak muncul.
Bun Si Teng malah sudah menyusul ke dalam hutan dan dapat dibayangkan betapa kaget dan herannya ketika
di tengah hutan itu dia mendapatkan mayat Thio Sian ditangisi oleh seorang anak perempuan berusia
sembilan atau sepuluh tahun! Selagi dia terlongong dan heran karena tidak melihat sute-nya di dekat tempat
itu, terdengar suara keras, disusul berkelebatnya bayangan tinggi besar dan di lain saat, mayat bersama gadis
cilik itu telah lenyap dari situ.
Bun Sin Teng kaget dan berlari mengejar ke arah berkelebatnya bayangan. Akan tetapi dia hanya melihat dari
jauh seorang hwesio tinggi besar memondong gadis kecil itu sambil mengempit mayat Thio Sian, berjalan
dengan langkah lebar akan tetapi cepat bagaikan terbang!
Melihat tangan kiri hwesio itu memanggul sebatang dayung, Bu Si Teng menjadi pucat karena dia pernah
mendengar tentang seorang sakti yang menjadi orang nomor satu di dunia timur, yaitu Tai-lek-sin Swi Lek
Hosiang. Apa betul pertapa yang puluhan tahun tak pernah turun gunung itu sekarang tiba-tiba muncul di situ?
dunia-kangouw.blogspot.com
Setelah mendengar cerita Kwee Sin yang sudah berhasil merobohkan Thio Sian dengan pertolongan seorang
nona pendekar yang bernama Coa Kim Li, dua orang saudara Bun itu menarik napas lega.
"Sungguh sayang sekali bahwa kita dihadapkan dengan kenyataan yang mengecewakan dan amat pahit. Peklian-
pai yang tadinya kita anggap sebagai perkumpulan orang-orang gagah yang berjiwa patriotik, kini ternyata
hanyalah merupakan perkumpulan orang-orang jahat belaka. Sute, kau harus memberi laporan yang jelas
kepada suhu, agar orang tua itu tenang hatinya dan tidak akan menyalahkan kita kalau kita tidak membantu
Pek lian-pai," kata Bun Si Teng kepada sute-nya.
Setelah menyatakan bahwa dia hendak lekas-lekas kembali Kun-lun-pai sesudah singgah di Lam-bi-chung
seperti yang dipesankan suhu-nya, Kwee Sin pergi meninggalkan dusun Sin-yang, berjalan cepat sekali keluar
kampung untuk menjumpai sahabat barunya, nona Coa Kim Li. Akan tetapi dia menjadi kaget dan kecewa,
juga gelisah karena tidak melihat nona itu yang tadi duduk menantinya di bawah sebatang pohon.
"Aduh, celaka ke mana dia? Jangan-jangan aku sudah dia tinggalkan. Jangan-jangan dia kesal karena aku tadi
terlalu lama di rumah suheng..."
la duduk di bawah pohon itu dengan kening berkerut. Mendadak terdengar suara ketawa dari belakang pohon.
Kwee Sin cepat melompat dan menengok, wajahnya lantas berseri dan matanya bersinar-sinar.
“Kim Li...!" Saking girangnya melihat nona itu ternyata tidak pergi meninggalkannya, Kwee Sin memegang
kedua lengannya dan hampir saja dia merangkulnya.
Kim Li tersenyum dan matanya bersinar-sinar.
"Kwee-koko, kenapa kau tadi bermuram di bawah pohon?" Kim Li menggoda.
"Kukira kau telah pergi meninggalkan aku."
“Ehh, jadi kau sedih kalau kutinggalkan?”
"Sedih...? Tentu saja... ehh, aku... aku..." Kwee Sin baru merasa bahwa tanpa disadarinya dia telah kena
umpan sehingga perasaan hatinya sudah dipancing keluar.
Kim Li tertawa, menarik lengan Kwee Sin dan berkata, "Sudahlah, hayo kita melanjutkan perjalanan."
Kwee Sin tersenyum-senyum, membiarkan saja tangannya digandeng sehingga mereka berdua berjalan
sambil bergandengan tangan, bagai sepasang kekasih. Tanpa dia sadari, Kwee Sin sudah mulai roboh, masuk
ke dalam perangkap yang dipasang gadis cantik itu. Terlalu pandai Kim-thouw Thian-li memikat dengan
wajahnya yang cantik ataukah terlalu hijau Kwee Sin dalam menghadapi kelihaian siasat wanita cantik?
Dengan melalui perjalanan yang penuh kegembiraan bagi Kwee Sin, kegembiraan hidup yang baru kali ini dia
rasakan, akhirnya mereka tiba di Telaga Pok-yang. Mereka berdua, seperti sepasang pengantin baru,
berpesiar naik perahu di telaga ini.
Sering kali Kwee Sin terheran-heran melihat bahwa gadis ini ternyata memiliki pengaruh besar di mana-mana.
Pada waktu hendak memasuki daerah telaga, tampak serombongan tentara yang mencegat para pelancong,
lalu memeriksa dengan teliti. Memang daerah ini terkenal sebagai daerah para tokoh pemberontak, maka
pemerintah Mongol mengadakan penjagaan yang teliti. Akan tetapi ketika mereka ini melihat Coa Kim Li,
mereka memberi hormat dan tidak mengganggu gadis itu bersama Kwee Sin.
Dalam keheranannya, Kwee Sin bertanya apa sebabnya gadis ini seakan-akan memiliki kekuasaan. Namun
Kim Li hanya tersenyum dan berkata, "Cacing-cacing tanah macam mereka masih dapat mengenal orang baikbaik,
itu masih untung. Andai kata tadi mereka berani mengganggu kita berdua, apakah mereka akan dapat
hidup terus dengan kepala menempel di leher?"
Karena pandainya Kim Li menjawab dan menyimpan pertanyaan, pandainya ia merayu, Kwee Sin tidak
mendesak lebih jauh. Mereka berpesiar sampai puas di Telaga Pok-yang yang amat indah itu. Sama sekali
dunia-kangouw.blogspot.com
Kwee Sin tidak tahu bahwa gerak-geriknya di telaga ini diketahui oleh calon mertuanya, Liem Ta ayah Liem
Sian Hwa!
Dan seperti sudah dituturkan di bagian depan, Liem Ta pulang sambil marah-marah dan menyatakan di depan
puterinya bahwa pertunangan dengan Kwee Sin diputuskan!
Pada saat Kwee Sin menyatakan keinginannya kepada Kim Li untuk menengok ke dusun Lam-bi-chung, ke
rumah calon isterinya, Kim Li tersenyum pahit dan berkata, "Guru adalah setingkat dengan ayah, kata-katanya
harus ditaati. Engkau hendak mentaati pesan gurumu, pergilah kau singgah ke rumah keluarga Liem. Akan
tetapi aku tidak bisa ikut pergi ke sana. Selamat berpisah, Kwee-koko. Harap engkau tidak melupakan Coa
Kim Li!" Setelah berkata demikian, sekali meloncat gadis itu lenyap dari depan Kwee Sin.
Pemuda ini menyesal sekali dan hendak mengejar, akan tetapi dia maklum bahwa tidak mungkin dia mengejar
Coa Kim Li yang berkepandaian lebih tinggi dari padanya. Dengan kecewa, kehilangan kegembiraan dan
malas-malasan, kemudian dia pergi seorang diri ke Lam-bi-chung.
Karena masih mengharapkan untuk dapat melihat Kim Li kembali ke Po-yang, dia tidak meninggalkan telaga
itu sebelum menanti sampai tiga hari. Ia baru pergi ke Lam-bi-chung setelah pada hari ke empat dia masih
belum melihat kembali Kim Li. Dengan hati berat dia berjalan ke dusun Lam-bi-chung untuk menengok rumah
Liem Sian Hwa.
Akan tetapi, apa yang dia dapatkan di rumah itu? Rumah yang tertutup dan tidak ada penghuninya. Masih ada
tanda-tanda berkabung di depan pintu rumah kosong itu. Dapat dibayangkan betapa terkejut hatinya ketika dia
mendapat keterangan dari para tetangga bahwa calon mertuanya, Liem Ta, telah didatangi penjahat dan
terbunuh ketika Liem Sian Hwa sedang pergi!
Sudah dituturkan di bagian depan bahwa Liem Sian Hwa menyusul ke Pok-yang untuk membuktikan dengan
mata kepalanya sendiri penuturan ayahnya tentang Kwee Sin dan seorang wanita. Sayang bahwa dia tidak
bertemu dengan dua orang itu dan ketika dia pulang, ayahnya sudah terluka dan tewas.
Kita kembali kepada Kwee Sin yang menjadi kaget dan berduka sekali. Dia mendapat keterangan lagi bahwa
sesudah kematian ayahnya, Liem Sian Hwa lalu pergi bersama seorang laki-laki gagah perkasa yang disebut
suheng-nya. Kwee Sin dapat menduga bahwa Liem Sian Hwa tentulah pergi bersama seorang di antara tiga
orang suheng-nya, yakni orang-orang dari Hoa-san Sie-eng.
"Betapa pun juga, aku harus mencarinya," pikir Kwee Sin. "Kasihan sekali Sian Hwa, aku harus menyatakan
penyesalanku dan menghiburnya."
Dalam berpikir demikian ini dia membayangkan wajah Sian Hwa. Akan tetapi heran sekali wajah gadis itu
berangsur-angsur berubah menjadi wajah Kim Li yang tersenyum-senyum dan membujuk rayu! Cepat dia
mengerahkan tenaga mengusir wajah Kim Li dan pipinya menjadi kemerahan.
“Ahh, kalau saja tidak berlambat-lambat dengan Kim Li dalam perjalanan, kalau aku dapat datang di Lam-bichung
beberapa pekan lebih dulu, kiranya aku akan dapat mencegah terjadinya pembunuhan atas diri calon
mertuaku!” pikirnya.
Makin berat rasa hati Kwee Sin ketika dia melanjutkan perjalanan meninggalkan Lam-bi-chung. Tadinya dia
sudah merasa kecewa dan murung karena Kim Li meninggalkannya secara demikian saja tanpa memberi tahu
di mana dan kapan dia dapat bertemu kembali dengan gadis itu. Sekarang di tambah lagi dengan peristiwa
menyedihkan yang menimpa keluarga calon isterinya, hati Kwee Sin menjadi sedih dan dia lalu mengambil
keputusan untuk kembali saja ke Kun-lun-san.
Pada suatu senja dia sampai di luar kota Leng-ki. Di jalan itu sunyi sekali, tidak tampak seorang pun manusia.
Kwee Sin berjalan dengan kepala tunduk. Dalam beberapa hari ini wajahnya nampak kurus dan agak pucat.
Tiba-tiba dia mendengar ada benda menyambar ke arahnya. Sebagai seorang jago muda yang berkepandaian
tinggi, keadaan tubuh pemuda ini selalu dalam keadaan siap siaga. Cepat dia miringkan tubuhnya dan
tangannya otomatis menangkis, menyampok sambaran benda itu.
dunia-kangouw.blogspot.com
Sebelum melihat ke arah benda yang dapat dia pukul jatuh, dia trengginas melompat ke arah dari mana benda
tadi menyambar, matanya tajam mencari-cari. Akan tetapi tidak terlihat seorang pun manusia di sekitar tempat
itu yang sudah mulai gelap itu.
Kini perhatiannya ditujukan ke arah benda yang menyambarnya tadi. Benda itu segumpal kertas. Ketika dia
memungutnya, ternyata kertas yang digumpal-gumpal itu berisi tulisan singkat, tulisan tangan yang halus dan
berbunyi:
PERGILAH KE LOSMEN KECIL MALAM INI.
Tak ada tanda-tanda yang dapat dia kenal pada kertas itu, entah siapa yang menulisnya. Akan tetapi ketika
hidungnya mencium wangi harum pada kertas itu, hatinya berdebar penuh harapan. Harum kertas itu
mengingatkan dia akan diri Coa Kim Li! Pergi ke losmen kecil? Losmen manakah?
Kwee Sin memandang ke depan. Di depan itu terdapat sebuah kota kecil, tentu di situlah yang dimaksudkan
adanya losmen kecil. Mengapa ke situ? Menemui siapa? Timbul pula harapannya.
Tentu Coa Kim Li berada di losmen itu. Akan tetapi kenapa meninggalkan pesan supaya dia malam ini juga
harus pergi ke sana? Kalau gadis itu betul-betul berada di sini, kenapa tidak langsung menemuinya?
Akan tetapi, jawaban atas semua pertanyaan ini yang merupakan kenyataan apa yang dia dapatkan di losmen
kecil dalam kota Leng-ki, benar-benar di luar dari pada dugaannya semula. Dia mendengar bahwa
tunangannya, Liem Sian Hwa, bersama Kwa Tin Siong orang tertua dari Hoa-san Sie-eng sedang berada di
losmen itu!
Timbul juga kegembiraannya untuk menjumpai tunangannya dan pendekar Hoa-san-pai ini, akan tetapi diamdiam
dia menaruh hati curiga. Apa maksudnya surat yang dia terima secara aneh di tengah jalan tadi?
Siapakah si pengirim surat itu? Apakah Kwa Tin Siong dan Liem Sian Hwa? Kalau memang mereka ini, tidak
aneh karena dia maklum bahwa jago-jago Hoa-san-pai memiliki kepandaian tinggi. Akan tetapi apa
maksudnya? Dengan cara yang penuh rahasia itu tentu mereka bermaksud supaya dia mengunjungi mereka
secara diam-diam dan rahasia pula.
Oleh karena pikiran ini, Kwee Sin menunggu sampai datangnya malam yang sunyi dan secara rahasia dia
mendatangi losmen, langsung mencari jalan melalui taman bunganya. Akan tetapi, dapat dibayangkan betapa
kaget, heran, marah dan malunya pada saat dia menyaksikan adegan yang membuat darahnya mendidih.
la melihat Liem Sian Hwa terisak-isak berada dalam pelukan Kwa Tin Siong. Api cemburu membakar jantung
Kwee Sin. Tanpa berpikir panjang lagi dia langsung mengeluarkan sisir perak yang menjadi tanda pengikat
perjodohannya dengan Liem Sian Hwa, kemudian dia melemparkan sisir perak itu ke arah dua orang yang
sedang berpelukan di taman. Setelah itu dia meloncat dan pergi menghilang di dalam gelap.
Dengan hati makin berat dan penuh kedukaan, penuh kekecewaan, Kwee Sin pada saat itu juga meninggalkan
kota Leng-ki, melanjutkan perjalanannya menuju ke Kun-lun-san. la tidak beristirahat malam itu, semalam
penuh dia terus saja berjalan, dalam hatinya penuh penyesalan.
Selagi dia berjalan sambil melamun di atas jalan raya yang sunyi, di waktu malam mulai berganti fajar, dia
mendengar suara kaki banyak kuda berlari cepat dari arah belakang. la cepat minggir dan berdiri memandang.
Tujuh ekor kuda dengan para penunggangnya berlari cepat sekali dan sebentar saja telah melewatinya.
Mereka adalah orang-orang yang kelihatan gagah, yang tiga orang berbaju putih. Seorang yang melarikan
kuda paling depan adalah seorang wanita cantik dan juga gagah. Hanya sekejap saja mereka melewati jalan
itu, akan tetapi di dalam cuaca yang remang-remang itu Kwee Sin masih dapat mengenal wanita tadi.
"Kim Li...!" teriaknya. Akan tetapi teriakannya tertelan oleh derap kaki kuda.
Betapa pun juga dia masih sempat melihat wanita itu menoleh dan tersenyum ke arahnya, lalu makin
membalapkan kudanya tanpa memberi isyarat sesuatu.
dunia-kangouw.blogspot.com
Kwee Sin penasaran. Tidak mungkin salah lagi, wanita itu tentulah Kim Li. Tidak saja dia mengenal wajah yang
cantik itu, mata yang tajam bersinar, akan tetapi ia pun mengenal baik-baik senyum manis Kim Li, senyum
yang selama ini menjatuhkan hatinya. la lantas melupakan kelelahan dan kesedihannya, mempercepat larinya
dan mengejar ke arah para penunggang kuda yang makin lama semakin jauh itu.
Sepertl telah dituturkan di bagian depan, Kwee Sin akhirnya memasuki dusun Kui-lin di tepi Sungai Yang-ce,
dan dia sempat mencegah Coa Kim Li atau Kim-thouw Thian-li yang hendak membunuh Tan Hok.
Demikianlah keadaan Kwee Sin, jago termuda dari Kun-lun Sam-heng te, dan bagaimana dia sampai dapat
berkenalan dengan Kim-thouw Thian-li yang dia kenal sebagai gadis Coa Kim Li yang gagah perkasa, cantik
jelita, dan menarik hatinya…..
********************
Kita kembali ke warung arak Phang Kwi di mana Kwee Sin bertemu kembali dengan Kim Li. Setelah mencegah
Kim Li membunuh Tan Hok, Kwee Sin bagai seekor kerbau menurut saja dituntun oleh Kim Li duduk
menghadapi meja dan menerima hidangan dari Phang Kwi yang nampaknya takut sekali terhadap Kim Li.
"Minumlah, Koko, minumlah arak ini dan bergembiralah. Setelah aku kembali berada di sampingmu, tak perlu
kau bermuram durja lagi. Wanita tidak setia seperti dia itu lebih baik kau lupakan saja." Kim Li membujuk
sambil mengisi penuh cawan arak di depan Kwee Sin, lalu mengangkat cawan itu diberikannya kepada Kwee
Sin. Sikapnya amat menarik, matanya memandang penuh kasih dan mulutnya tersenyum-senyum manis.
Kwee Sin melengak. “Kau sudah tahu...?”
Kim Li mengangguk dan baru ia melihat bahwa gadis itu sekarang membawa golok tipis kecil yang terselip di
punggungnya, selendang merah yang harum indah itu tergantung di ikat pinggang. Bajunya berkembang
terbuat dari sutera mahal yang indah dan mencetak tubuhnya. Rambutnya yang panjang hitam digelung rapi,
dihiasi setangkai bunga teratai yang sangat aneh warnanya, karena ada merahnya, ada putihnya, ada biru,
kuning dan kehijauan, terbuat dari mutiara-mutiara pilihan. Nampak cantik jelita dengan pipinya yang merah.
"Kalau begitu... kau pula agaknya yang mengirim surat kepadaku...?"
Kembali Kim Li mengangguk. "Melihat bahwa wanita pilihan gurumu itu tidak patut menjadi pendampingmu
selama hidup, aku tidak tega mendiamkan begitu saja. Aku merasa kau perlu mengetahui dengan mata kepala
sendiri."
"Kenapa kau berlaku secara rahasia, tidak langsung menjumpai aku?"
Kim Li memegang lengan Kwee Sin dengan sentuhan mesra. "Aku khawatir kalau aku muncul, kau mengira
aku cemburu."
Kwee Sin menarik napas panjang dan Kim Li kembali membujuk, "Sudahlah, Koko, kau lupakan saja dia.
Setelah kita berkumpul lagi, mengapa susah-susah? Mari minum!"
Karena hiburan serta sikap manis dari gadis ini, Kwee Sin terhibur juga dan tidak lama kemudian dua orang itu
sudah minum sepuas-puasnya sambil bertukar pandang penuh cinta kasih, malah Kwee Sin telah bangkit
kembali kegembiraannya, mau melayani senda gurau wanita itu.
Baik Kwee Sin mau pun Kim Li sama sekali tak pernah mengira bahwa semua perbuatan mereka semenjak
tadi sudah diintai orang. Setelah mendapat pertolongan dari Kwee Sin, dan walau pun kelihatannya tadi sudah
pergi, akan tetapi diam-diam Tan Hok merayap datang kembali secara diam-diam.
Dia amat sakit hati terhadap Kim-thouw Thian-li yang sudah membunuh Tan Sam, akan tetapi ia juga amat
berterima kasih kepada Kwee Sin yang telah menolongnya. Alangkah kecewa, marah, dan menyesalnya ketika
dia melihat betapa Kwee Sin yang sekarang dia tahu dari namanya ternyata seorang jago muda gagah
perkasa dari Kun-lun-pai itu, jatuh hati kepada Kim-thouw Thian-li.
dunia-kangouw.blogspot.com
Pemandangan yang dia lihat di dalam warung arak itu membuat hatinya menjadi jemu dan kesedihannya
timbul. Tadinya dia hendak mengharapkan bantuan dari Kwee Sin, kiranya pemuda Kun-lun-pai itu sudah
bertekuk lutut di bawah kaki Kim-thouw Thian-li, tak kuasa menentang kecantikan wanita berbahaya itu!
Dengan hati sedih Tan Hok malam-malam pergi dari tempat itu. Matanya yang biasanya sayu itu kini menjadi
basah air mata.
Sejak kecil Tan Hok tidak pernah mengenal orang tuanya, hidup sebatang kara. Setelah Tan Sam
memungutnya, barulah dia mengenal sedikit kesenangan hidup. Sekarang Tan Sam tewas dan dia tidak
berdaya membalas dendam. Meski pun Tan Hok menjadi murid dan kawan Tan Sam yang menjadi tokoh Peklian-
pai dan luas pengalamannya, namun pemuda ini memang pada dasarnya bodoh dan jujur, malah hatinya
penuh oleh kedukaan yang dideritanya semenjak kecil.
Bagaikan sebuah layangan putus talinya, tanpa pegangan tanpa tujuan, Tan Hok berjalan ke mana saja
kakinya bergerak. Kadang-kadang dia menangis tanpa suara, kadang kala dia menangis menggerung-gerung
seperti anak kecil…..
********************
-----
Tag:cersil cersil indo cersil mandarin full cerita silat mandarin online cersil langka cersil mandarin lepas cerita silat pendekar matahari kumpulan cerita silat jawa cersil mandarin beruang salju. cerita silat pendekar mataharicerita silat indonesia cerita silat kho ping hoo cerita silat mandarin online cerita silat mandarin full cerita silat jawa kumpulan cerita silat cerita silat jawa pdf cerita silat indonesia gratis cerita silat jadul indonesia cerita silat indonesia pendekar rajawali sakti cersil indonesia pendekar mabuk cersil langka cersil dewa arak cerita silat jaman dulu cersil jawa download cerita silat mandarin full cerita silat mandarin online cersil mandarin lepas cerita silat mandarin pendekar matahari cerita silat jawa pdf cersil indonesia pdf cersil mandarin beruang salju kumpulan cerita silat pdf
kumpulan cerita silat cersil online
Share:
cersil...
Comments
0 Comments

Arsip Cersil

Best Cersil

Pecinta Cersil