Donasi

Buat yang punya rejeki berlebih dan merasa terhibur dengan Situs Cerita Silat Cersil Terbaik ini bisa mendonasikan bantuannya ke
No. Rekening BPD Jateng No. 2004084554
demi keberlangsungan dan keberadaan Blog Cersil Cerita Silat yang sama-sama kita cintai ini. Kritik dan Saran hub No HP.083837358519. Atas Bantuannya disampaikan Terimakasih.

Selasa, 24 April 2018

Cersil Terbaru Terbit Pendekar Pedang Pelangi 2

----
"Keributan,..?" Gui Ciangkun berdesah kaget.
"Apakah rombonganmu juga diganggu orang-orang
dari Rimba Persilatan?"
Lim Kok Liang, Su Hiat Hong dan Tong Tai-su
saling berpandangan dengan mata terbelalak.
"Mengapa Ciang-kun berkata demikian? Apakah
"Ciang-kun sudah lebih dulu mengetahuinya?" Lim
Kok Liang bertanya.
"Hmm... benar, bukan? Nah, tadi aku hanya
menduga-duga saja, karena rombongan yang lain-lain
juga mengalami hal yang sama. Sampai sekarang
perahuku masih kosong, karena rombongan dari Saohing
yang dipimpin oleh Kwa Ciang-kun diserbu
penjahat di tengah jalan. Semuanya mati terbunuh^
kecuali Kwa Ciangkun, dia terluka parah dan kini ada
di dalam perahu. Kwa Ciangkun mengatakan, bahwa
selain rombongannya, rombongan Ong Ci Kin dari
kota Cia-sing juga telah disergap pengacau. Bahkan
Ong Ci Kin dan seluruh anak buahnya ikut terbunuh
pula."
"Gila...! Ternyata benar juga hasil penyelidikan
Tong Tai-su." Lim Kok Liang menggeram marah
sambil menoleh ke arah temannya yang berambut
panjang itu.
"Aku sudah memberi peringatan kepada Lim
Ciang-kun pagi tadi. Kita harus berhati-hati karena
194
ada sebuah kekuatan rahasia yang besar jumlahnya
sedang mengintai kita. Bahkan sekarang pun hatiku
merasa kurang enak, jangan-jangan tempat ini juga
telah mereka ketahui pula...." Tong Tai-su menyahut
dengan suara berat.
Diam-diam Siau In menjadi tegang sendiri.
Rombongan pemenang sayembara dari kota Hang-ciu
itu berkumpul tidak jauh dari tempat
persembunyiannya. Bahkan Tong Tai-su dan Lim Kok
Liang berdiri di dekat perahu yang ditimbuni ilalang
tadi. Dan di dalam ketegangannya itu Siau In hampir
saja berteriak memperingatkan mereka akan bahaya
yang sedang mengintai.
"Tai-su tak perlu khawatir. Hanya kalangan kita
sendiri saja yang mengetahui tempat ini." tiba-tiba
Gui Ciang-kun membesarkan hati Tong Tai-su.
"Tapi... kalau rahasia tempat ini memang sudah bocor
ke telinga mereka, kita pun tidak perlu takut. Aku
membawa tiga puluh enam prajurit pilihan untuk
melaksanakan tugasku ini."
Tong Tai-su menjura dengan hormatnya. Namun
sebelum pendeta berambut panjang itu mengutarakan
pendapatnya, sekonyong-konyong terdengar suara
orang tertawa dingin. Suara tersebut demikian
dekatnya sehingga semuanya merasa seolah-olah
orang yang sedang tertawa itu berada di antara
mereka.
"Hahahaha...! Hahaha...! Ciang-kun, kau jangan
terlalu menyombongkan prajurit-prajuritmu yang
195
tiada gunanya itu. Berpalinglah...! Coba kaulihat lagi
prajurit-prajurit kebanggaanmu itu! Adakah mereka
itu bisa diandalkan? Hahaha...!"
Otomatis semuanya berpaling ke perahu besar milik
Gui Ciang-kun. Dan semuanya segera terbelalak
kaget! Belasan prajurit yang tadi kelihatan di atas
geladak, kini tampak bergelimpangan di mana-mana.
Ada yang tergolek di atas anjungan, ada yang
terjungkal dt bawah tangga, dan ada pula yang
tersampir di pagar perahu. Semuanya telah meninggal.
Sedangkan sampan-sampan kecil tadi kini juga tidak
berpenumpang lagi. Penumpangnya telah pada
mengapung di dalam air. Mati.
"Haaah...???"
Semuanya menjerit kaget seolah tak percaya.
Mereka sama sekali tak mendengar suara apa-apa,
apalagi suara keributan ketika para perajurit itu
mendapatkan serangan. Para perajurit itu seperti
dengan mendadak mati sendiri secara berbareng.
"Gui Ciang-kun...?" Lim Kok Liang berseru dengan
suara serak.
"Kok Liang...? Ini...?" Gui Ciang-kun berdesah
pula dengan suara lirih.
"Hahaha, bagaimana Gui Ciang-kun? Benar,
bukan? Prajuritmu itu sama sekali tak berguna.
Mereka mati tanpa sedikit pun berkesempatan
menggerakkan senjatanya. Dan sebentar lagi engkau
dan kawan-kawanmu ini akan bernasib sama pula
196
seperti mereka. Hahihihaa... bersiap-siaplah!" suara
itu kembali menggema di telinga mereka.
Otomatis semuanya saling mendekatkan diri
membentuk lingkaran. Gui Ciang kun dan
pengawalnya, Lim Kok Liang, Su Hiat liong, Tong
Tai-su, serta tiga orang bersenjata golok yang dibawa
oleh Lim Kok Liang. Masing-masing telah
menggenggam senjata andalan mereka sendiri. Lim
Kok Liang dan Su Hiat Hong memegang pedang,
sedangkan Tong Tai-su juga telah mengeluarkan,
tasbehnya.
"Kok Liang! Apakah, orang ini yang mengganggu
perjalananmu?" dalam ketegangannya Gui Ciang-kun
masih sempat berbisik kepada Lim Kok Liang.
"Entahlah. Dia belum memperlihatkan batang
hidungnya...."
Sementara itu pemuda-pemuda pemenang
sayembara itu. menjadi ketakutan setengah mati,
termasuk pula A Liong di dalamnya. Hati yang
semula diliputi kebanggaan dan kegembiraan itu tibatiba
kini berubah menjadi ngeri dan ketakutan yang
amat sangat. Bahkan beberapa orang di antara mereka
telah menjadi lemas dan pingsan, sementara yang lain
seperti memperoleh kekuatan untuk lari dari tempat
tersebut.
Namun langkah mereka segera terhenti ketika enam
orang berseragam warna-warni sekonyong-konyong
muncul dari dalam kegelapan menghalangi mereka.
197
"Tolong! Tolong...!" mereka menjerit-jerit
ketakutan.
"Lok-kui-tin, bunuh mereka!" suara tanpa wujud itu
tiba-tiba memberi perintah.
"Jangan! Jangan bunuh aku...!" A Liong yang
berdiri di antara pemuda-pemuda itu merintih
ketakutan.
Tapi rintihan itu segera terbenam dalam teriakan
dan jeritan ngeri teman-temannya. Tubuhnya dan juga
tubuh kawan-kawannya sekonyong-konyong seperti
dihantam oleh badai yang maha dahsyat sehingga
terlempar ke sana ke mari. Dan tubuh A Liong
bersama dua orang temannya secara kebetulan
membentur batu karang di mana Siau In bersembunyi.
Semuanya berlangsung dengan cepat sehingga Gui
Ciangkun dan Lim Kok Liang terlambat memberi
pertolongan. Pemuda-pemuda itu telah terlanjur mati
dengan mengenaskan.
"Bunuh juga yang pingsan itu! Jangan biarkan
seorang pun lolos!" suara tanpa ujud itu kembali
memberi perintah lagi.
Keenam Hantu itu cepat menghampiri pemudapemuda
yang pingsan tadi. Tapi sebelum mereka
melepaskan serangan, Lim Kok Liang lebih dulu
berteriak.
"Tunggu...! Jangan bunuh mereka!"
Lim Kok Liang cepat melesat ke depan Lok-kui-tin,
kemudian diikuti pula oleh teman-temannya yang lain.
198
"Kalian ini sebenarnya siapa? Mengapa
membunuhi orang-orang yang tak berdosa?" Lim Kok
Liang menggeram penasaran.
"Bagaimana, Kok Liang? Benarkah mereka yang
telah mengganggu perjalananmu tadi?" Gui Ciangkun
yang telah berada di samping Lim Kok Liang berbisik
pelan.
Lim Kok Liang menghembuskan napasnya kuatkuat.
"Bukan, Ciangkun. Orang yang mengganggu
kami tadi adalah anak murid aliran Beng-kau. Orangorang
ini kelihatannya bukan dari aliran itu."
jawabnya kemudian dengan nada geram.
"Kalau begitu mereka ini tentulah kawanan
penjahat yang telah mencegat dan membasmi
rombongan Ong Ci Kin dan Kwa Sing." Gui Ciangkun
menggeram pula.
"Hahaha... dugaan Ciangkun memang tidak salah.
Memang kamilah yang telah menumpas seluruh
rombongan Ong Ciangkun dan Kwa Ciangkun. Dan
kami memang sengaja tidak membunuh mati Kwa
Ciangkun, agar kami bisa bertemu dengan rombongan
Gui Ciangkun, hehehee ..." suara tanpa ujud itu
kembali menertawakan kebodohan Gui Ciangkun.
"Kurang ajar...! Keluarlah kau! Dan... katakanlah
siapakah kalian ini sebenarnya? Mengapa kalian
membunuhi petugas-petugas kerajaan? Apakah
engkau ingin memberontak terhadap kerajaan?" Gui
Ciangkun berteriak lantang.
199
Tak terduga teriakan Gui Ciangkun itu disambut
dengan ketawa dingin oleh lawannya. Bahkan orang
itu kemudian menjawab dengan suara yang amat
menghina.
"Persetan dengan kerajaanmu! Kami orang-orang
Hun sama sekali tidak takut terhadap rajamu!"
"Ooooh?!?"
Gui Ciangkun, Lim Kok Liang dan Tong Tai-su
saling pandang dengan wajah kaget. Mereka sama
sekali tak menyangka bila lawan mereka itu ternyata
adalah orang-orang dari suku bangsa Hun di luar
Tembok Besar.
"Jadi kalian ini orang-orangnya Mo Tan? Tapi...
mengapa kalian sampai ke tempat yang jauh ini dan
membunuhi pemuda-pemuda yang hendak kami bawa
ke kota raja?" Tong Taisu yang sejak tadi belum
mengeluarkan suara tiba-tiba berseru keras.
"Karena kami benci terhadap Liu Pang dan
keluarganya!" orang yang belum mau menampakkan
diri itu menggeram dengan nada berang.
Sekali lagi Gui Ciangkun, Lim Kok Liang dan
Tong Taisu saling pandang dengan dahi berkerut.
"Benci dengan keluarga Kaisar? Mengapa? Dan ...
kalau kalian memang membenci keluarga Kaisar
kami, mengapa kalian justru membunuhi orang-orang
tak berdosa seperti pemuda-pemuda itu?" Lim Kok
Liang cepat menyela.
Tapi orang itu tampaknya menjadi kesal karena
diajak omong terus-menerus.
200
"Kurang ajar! Kenapa kalian masih berpura-pura
juga? Apa bedanya kami dengan kalian, heh?
Perempuan junjungan kalian itu (Permaisuri Li Liong
Hui) mengumpulkan anak-anak muda ini juga untuk
dibunuh pula! Apa bedanya...? Bukankah perbuatanku
ini justru membantu niatnya itu?" katanya berapi-api.
"Fitnah! Kau omong sembarangan Kau...?" Lim
Kok Liang berteriak pula dengan marah;
"Bagus! Kini kalian menjadi marah setelah
ketahuan belangnya! Tapi aku malah menjadi senang
melihatnya! Kalian akan mampus dengan hati
penasaran Hahahahahihihi...!" suara orang itu berubah
menjadi gembira sekali sekarang.
"Bangsat ! pengecut, keluarlah kau! Marilah kita
bertempur sampai mati!" Lim Kok Liang berteriak
garang.
"Tidak perlu! Para pengawalku itu sudah lebih dari
cukup untuk mengantarkan nyawamu ke akherat!
Lok-kui-tin, bunuh mereka pula! Cepaaaat!"
Enam Hantu itu tiba-tiba menggeram. Bersamasama
mereka menerjang rombongan Gui Ciang-kun.
Dari telapak tangan mereka segera menghembus
angin dingin yang mendahului langkah mereka.
Wuuuuushh! Dan tiba-tiba saja Gui Ciangkun
bersama teman-temannya merasa seperti diterjang
oleh air yang maha dahsyat!
"Aaah...!"
Semuanya menjadi gelagapan seperti anak ayam
tercebur di kolam. Dan otomatis masing-masing
201
berusaha menyelamatkan diri mereka dengan cara
mereka sendiri-sendiri. Gui Ciangkun bersama
pengawalnya segera menjatuhkan diri ke pasir dan
berguling-guling menjauhi arena. Sedangkan Lim
Kok Liang dan Su Hiat Hong cepat-cepat
menjejakkan kaki mereka ke tanah dan berjumpalitan
ke belakang. Hanya tiga orang kawan Lim Kok Liang
yang bersenjatakan golok itu saja yang berusaha
melawan hembusan angin dahsyat itu dengan
kekuatan mereka. Masing-masing memutar golok
mereka di depan dada, kemudian dengan nekad
menerjang ke depan menyerang lawan.
Namun apa yang dilakukan oleh jago-jago silat
kerajaan itu tetap sia-sia juga. Kepandaian Enam
Hantu dari luar Tembok Besar itu benar-benar jauh
dari jangkauan kepandaian mereka. Tanpa
mengendorkan langkah masing-masing, barisan Hantu
itu tiba-tiba memecah barisannya. Dua orang bergeser
ke kiri dan ke kanan menghindari terjangan tiga orang
bergolok itu, untuk kemudian meneruskan langkah
mereka memburu Gui Ciangkun dan pengawalnya.
Dua orang lagi segera melesat tinggi ke .udara,
melewati kepala tiga orang bergolok tadi, untuk
menangkap Lim Kok Liang dan Su Hiat Hong.
Sedangkan sisanya, yang dua orang, tetap
menyongsong kedatangan tiga orang bergolok itu
dengan tangan kosong.
"Sisakan salah seorang, dari mereka untuk memberi
laporan kepada Auyang Goanswe!" pimpinan orang202
orang Hun itu tiba-tiba berseru lagi memperingatkan
pengawal-pengawalnya.
Sementara itu di'tempat persembunyiannya Tio
Siau In belum juga bisa menemukan jalan terbaik
yang seharusnya ia lakukan. Sebenarnya dengan
kedatangan Tong Tai-su di antara para pengawalpemenang
perlombaan tersebut telah membuat gadis
itu menjadi lega. Tapi, ketika pada gebrakan pertama
tadi pendeta lihai itu sama sekali tak mampu
mencegah atau menghalangi Lok-kui-tin membunuhi
korban-korbannya, hati Siau In. menjadi goyah lagi.
Bahkan akhirnya gadis itu merasa yakin bahwa Tong
Tai-su takkan bisa menyelamatkan orang-orang yang
dilindunginya.
Dengan perasaan sedih dan kasihan Tio Siau In
menatap tiga sosok mayat pemuda-pemuda tak
berdosa yang berserakan di depan lobang
persembunyiannya. Pakaian yang menempel di badan
mayat-mayat itu nyaris hancur terkena pukulan tenaga
sakti gabungan dari Lok-kui-tin.
Kulit tubuh mereka tampak kehitam-hitaman
seperti bekas tersiram air panas.
Mendadak mata Tio Siau In terbelalak! Secara tak
sengaja dan tak terduga mata gadis itu melihat gambar
tatto naga di pangkal lengan salah satu dari tiga mayat
itu. Dan pikiran gadis itu segera melayang pada pesan
gurunya, bahwa ia dan kakak-kakak seperguruannya
ditugaskan untuk mencari seorang pemuda yang
memiliki gambar tatto di tubuhnya.
203
Sejenak Tio Siau In terpaku diam di tempatnya.
Betulkah pemuda ini yang dikehendaki oleh gurunya
itu? Kalau memang benar, lalu apa yang harus ia
kerjakan? Masakan ia harus membawa mayat itu ke
hadapan gurunya?
Tak terasa tangan Siau In terulur ke luar untuk
meraih mayat bertatto naga itu, seolah-olah ia ingin
meyakinkan sekali lagi bahwa orang itu telah mati.
Tapi karena mayat itu tertindih oleh mayat yang lain,
terpaksa Siau In menggeser mayat yang lain itu
terlebih dahulu.
Tapi sekail lagi mata Siau In terbeliak lebar! Untuk
yang kedua kalinya gadis itu melihat gambar tatto
naga pada tubuh mayat yang lain tersebut. Hanya
bedanya pada mayat yang pertama tadi gambar itu
berada di pangkal lengan, dan cuma berwujud sebuah
kepala naga yang sedang menganga, sementara pada
mayat yang kedua gambar naga itu berada di tengahtengah
dada dan lebih lengkap bentuknya. Bahkan
gambar pada mayat yang ke dua itu terdiri dari dua
ekor naga yang saling membelit satu sama lain.
Setelah hatinya menjadi tenang kembali Siau In
mencoba memperhatikan mayat yang ke tiga, yang
tergolek miring membelakangi lobang
persembunyiannya. Seperti mayat-mayat yang lain
mayat itu juga hampir telanjang sama sekali. Hanya
ada sedikit saja serpihan-serpihan kain yang masih
tersisa di badannya.
204
"Hmmmmm... jangan-jangan mayat itu juga
memiliki gambar tatto naga di tubuhnya." gadis itu
menduga-duga.
Tangan Siau In sedikit gemetar meraih tubuh mayat
yang ke tiga itu, lalu disentakkannya sehingga
terlentang. Dan ... benar juga dugaannya! Mayat yang
berdada bidang itu mempunyai gambar tatto naga pula
di atas dada yang sebelah kanan. Tidak begitu besar,
cuma sebesar jari tangan orang dewasa, tapi digores
dengan coretan yang kuat dan bagus sekali, sehingga
gambar naga itu tampak garang dan hidup.
"Nah, apa kataku? Banyak sekali orang yang
menggambari tubuhnya dengan lukisan naga di dunia
ini. Lalu bagaimana aku bisa menentukan orangnya
yang dikehendaki oleh Suhu?" gadis itu berkata di
dalam hatinya.
Beberapa saat lamanya Tio Siau In tercenung diam
memikirkan masalah yang dihadapinya. Kemarin
gadis itu masih merasa sulit untuk bisa melaksanakan
perintah gurunya. Namun sekarang sekali bertemu ia
malah bisa mendapatkan sekaligus tiga orang yang
memiliki gambar tatto naga di badannya, sehingga ia
justru menjadi bingung karenanya.
Dan sebuah bayangan yang mengerikan tiba-tiba
melintas di benak Tio Siau In. Mengapa tiga di antara
sepuluh orang pemenang perlombaan Mengangkat
Arca itu secara kebetulan memiliki gambar tatto naga
di badannya? Masakan semuanya itu cuma kebetulan
saja? Jangan-jangan para pemenang perlombaan yang
205
lain itu juga memiliki gambar tatto naga pula? Kalau
memang demikian halnya, persoalan pemuda bertatto
naga ini tampaknya memang bukan persoalan kecil.
Tentu ada sebuah misteri besar di balik semuanya ini.
Otomatis Tio Siau In teringat kembali akan katakata
Lo-jin-ong yang disampaikan melalui gurunya,
bahwa suatu saat seorang laki-laki bertatto naga akan
mengharumkan nama Aliran Im-yang-kau di
kemudian hari.
"Hemm, apakah para pejabat kerajaan juga sedang
mencari laki-laki bertato naga itu karena dia juga
dianggap bisa mengharumkan nama negeri ini? Lalu...
bagaimana dengan orang-orang Hun yang membunuhi
para rombongan pemenang perlombaan Mengangkat
Arca ini?
Apakah mereka juga mencari laki-laki bertatto naga
itu untuk dimusnahkan agar tidak membahayakan
negeri mereka di kelak kemudian hari?" bermacammacam
pikiran dan dugaan memenuhi kepala lio Siau
In.
Untuk membuktikan dugaannya gadis itu mencoba
mencari mayat pemuda pemenang perlombaan yang
lain. Akan tetapi ketika tangannya terjulur keluar
hendak meraih mayat yang berada agak jauh dari
lobang persembunyiannya, mendadak telinganya
mendengar suara keluhan.
Tio Siau In terkejut. Salah seorang dari tiga sosok
mayat tadi ternyata belum mati. Mayat berdada
206
bidang dengan gambar naga yang indah dan hidup itu
tampak berusaha menggerak-gerakkan tangannya.
"Hei, pemuda itu belum mati. Sungguh
mengherankan sekali. Tampaknya pukulan dahsyat
Enam Hantu tadi tidak benar-benar telak mengenai
tubuhnya. Aku harus menolongnya. Biarlah ia kuseret
ke dalam lobang ini agar tidak terlihat oleh
pembunuh-pembunuh itu."
Dengan hati-hati Tio Siang In menarik tubuh
pemuda yang masih hidup itu ke dalam lobang
persembunyiannya. Dan bertepatan dengan masuknya
tubuh tersebut ke dalam lobang, di arena pertempuran
terdengar jeritan ngeri saling susul menyusul. Enam
orang Hantu itu tampaknya telah merampungkan
tugasnya, membunuh mati semua lawannya.
Tempat itu menjadi lengang kembali. Tio Siau In
tidak berani bergerak. Angin malam yang berhembus
dari laut membawa butiran-butiran air bercampur
embun. Demikian dingin udaranya sehingga bulan
tipis yang tergantung di langit seperti terburu-buru
menyurukkan diri ke dalam pelukan awan. Malam
semakin menjadi gelap gulita.
Tio Siau In semakin menjadi ketakutan pula di
dalam lobang persembunyiannya. Sama sekali tidak
berani bergerak atau beringsut, apalagi berusaha
mengintip keadaan di luar. Gadis itu hanya bisa
membayangkan bahwa para petugas kerajaan itu tentu
telah bergelimpangan menjadi mayat, bercampur
207
dengan mayat-mayat para pemenang perlombaan
Mengangkat Arca.
Akan tetapi betapa kagetnya Tio Siau In ketika
terdengar suara geraman orang yang bersembunyi di
dalam perahu itu,
"Siapakah kalian..., he? Berani benar menghalangi
orang-orangku! Apakah kalian sudah bosan hidup?"
"Ada orang yang menghalang-halangi? Siapa...?"
Tio Siau In berdesah tak percaya. Hampir saja
kepalanya melongok ke luar, tapi segera ditariknya
kembali. Takut.
"Biarlah kami yang membereskannya, Kongcu. Tak
perlu Kongcu mengotori tangan untuk membunuh dua
orang tua ini." Ang-kui yang pernah didengar
suaranya oleh Tio Siau In tadi menggeram.
"Benar, Kongcu. Mereka telah menghalangi niat
kami untuk mencabut nyawa para anjing Kaisar Han
itu. Mereka harus dilumatkan untuk
mempertanggung-jawabkan kelancangannya ...!" Pekkui
Si Hantu Putih, yang tertua di antara Hantu-hantu
itu, berseru keras.
Hening sejenak. Kemudian terdengar suara napas
ditarik, panjang sekali.
"Maafkan kami.... Kami tak bermaksud
mencampuri urusan Tuan. Bukankah kami belum
mengenal Tuan-tuan semua? Kami hanya ingin
mencegah pertumpahan darah yang tak berguna ini."
terdengar suara serak.
208
"Kurang. ajar...! Enak saja berbicara! Siapa bilang
pertumpahan darah ini tak berguna? Mereka adalah
begundal-begundal Kaisar Han, dan keluarga kami
adalah musuh bebuyutan Kaisar itu! Nah, sudah
selayaknyalah kalau kami membasmi mereka!" orang
yang bersembunyi di dalam perahu itu membentak.
"Oooh, jadi Tuan-tuan ini bermusuhan dengan
mendiang Kaisar Liu Pang? Tetapi... mengapa Tuan
tidak berhadapan langsung saja dengan keluarganya?
Mengapa Tuan membunuhi orang-orangnya yang tak
tahu permusuhan itu?" tiba-tiba terdengar suara lain
yang membuat kaget Tio Siau In di tempat
persembunyiannya.
"Suhu...?!?" gadis itu hampir saja bersorak di dalam
hati.
Tio Siau In cepat-cepat melongokkan kepalanya ke
luar. Memang benar." Dilihatnya gurunya, Giam Pit
Seng, dengan tenang dan gagah berdiri tak jauh dari
perahu orang Hun itu. Di dekatnya berdiri Lo-jin-ong,
seorang kakek yang benar-benar sudah sangat tua,
sehingga tubuhnya, yang renta itu telah condong ke
depan seolah-olah tulang punggungnya sudah tak
kuasa lagi menyangganya. Sebatang tongkat
terpegang di tangan kirinya untuk menopang agar
tubuh reyot itu tidak tersungkur ke depan. Rambutnya
yang tipis berwarna putih meletak itu digelung ke atas
seperti layaknya seorang pendeta, sementara
jenggotnya yang panjang sampai ke perut itu
dibiarkan melambai-lambai ditiup angin pantai.
209
Dua orang tua itu telah dikepung oleh Lok-kui-tin,
sementara di belakang mereka berdiri menggerombol
rombongan Lim Kok Liang dan Gui Ciangkun. Para
abdi kerajaan itu tampak pucat kesakitan menahan
luka dalam yang parah akibat gempuran Lok-kui-tin
tadi. Bahkan Gui Ciangkun dan Su Hiat Hong yang
memiliki ilmu silat paling rendah di antara mereka
tampak menggeletak diam di atas pasir. Gui Ciangkun
masih tampak bergerak-gerak dalam rangkulan
pengawalnya, sementara Su Hiat Hong diam tak
bergerak seolah sudah mati.
Tiba-tiba terdengar suara mendengus dari dalam
perahu, dan mendadak pula Tio Siau ln melihat
sesosok bayangan berdiri di atas atap perahu tersebut.
Bayangan itu mengenakan baju berlengan pendek
yang ditutup oleh kulit rusa berbulu tebal. Rambutnya
yang gemuk hitam itu sebagian digelung ke atas dan
yang sebagian lagi dibiarkan terurai di atas bahunya.
Tiga butir mutiara berwarna merah, kuning, hijau,
tampak gemerlapan di atas tali pengikat rambutnya.
Cara berpakaian orang itu tampak sedikit aneh dan
tak seperti layaknya orang Han. Namun dari bahanbahan
yang dikenakan segera bisa diduga bahwa
orang itu bukanlah orang kebanyakan. Apalagi bila
dilihat sarung pedang yang tergantung di
pinggangnya. Sarung pedang itu tersalut emas serta
ditaburi perhiasan dari batu mulia yang mahal
harganya. Di dalam kegelapan sarung pedang itu
210
tampak gemerlapan seperti halnya tiga buah mutiara
yang terikat di atas rambutnya.
"Hei, Orang tua...! Enak saja kau bicara! Kalau
keluarga kaisarmu itu tidak selalu bersembunyi di
balik tembok istana yang dijaga oleh ribuan
pengawalnya, tentu telah kuhabisi dulu-dulu."
bayangan itu menggeram ke arah Giam Pit Seng.
"Ah, kukira mereka tidak bersembunyi. Sejak
dahulu keluarga raja atau kaisar memang tinggal di
dalam tembok istana yang kuat dan dijaga para
pengawal. Kalau Tuan memang berniat membuat
perhitungan dengan mereka, hmmm... mengapa Tuan
tidak menggempur saja tembok itu?" guru Tio Siau In
itu menjawab seolah tak tahu akan bahaya yang bisa
menimpanya.
"Kurang ajar....!" bayangan itu berseru marah.
Kemudian seperti kilat menyambar tubuh orang itu
melesat ke arah Giam Pit Seng. Demikian cepatnya
sehingga bayangannya saja hampir tak dapat diikuti
oleh mata Tio Siau ln. Hanya gemerlapannya mutiara
dan permata di sarung pedang orang itu yang
membantu mata Tio Siau In untuk melihatnya.
"Suhu...." gadis itu berdesah khawatir di dalam
hatinya.
"Pit Seng, awaaaas...!" Orang tua bongkok di
samping Giam Pit Seng itu berdesah dengan suara
khawatir pula. Tongkat yang ada di tangan kirinya
tiba-tiba beralih ke tangan kanan.
211
"Baik, Lo-jin-ong!" Ketua cabang Aliran Im-yangkau
yang kenyang asam garam pertempuran itu
menyahut keras sambil bergegas merogoh sepasang
pit atau pena yang menjadi senjata andalannya.
Akan tetapi gerakan orang itu benar-benar cepat
dan dahsyat tiada terkira, sehingga Giam Pit Seng
terbelalak seolah tak percaya. Belum juga senjatanya
siap di tangan, badai serangan itu keburu tiba.
Cepatnya bukan
main.
Traaaaaang!
Traaaaaang...!
Untunglah
orang tua
bongkok yang
disebut Lo-jinong
itu cepat
membantunya.
Ujung tongkat
yang telah
berpindah ke
tangan kanan
orang tua itu
tiba-tiba
melambung ke
atas, memotong
badai serangan
yang lewat di depannya. Benturan keras seperti
layaknya dua bilah pedang baja berdentang
212
memekakkan telinga ketika ujung tongkat itu beradu
dengan lengan Si Penyerang. Namun; demikian
bantuan tersebut ternyata tidak sepenuhnya bisa
menyelamatkan Giam Pit Seng. Lengan Si Penyerang
yang lain ternyata masih terjulur menyambar ke dada
Giam Pit Seng.
Namun hambatan yang cuma sedetik dari tongkat
Lo-jin-ong itu telah banyak artinya buat Giam Pit
Seng. Meski tergesa-gesa dan belum bisa bersiap
sepenuhnya, tapi setidak-tidaknya salah sebuah pitnya
telah terpegang di depan dadanya. Sehingga pada saat
serangan lawan tiba, pit itu sempat menangkis,
meskipun akhirnya harus terlepas dari pegangannya.
Ketika kemudian Lo-jin-ong dan Giam Pit Seng
meloncat mundur untuk bersiap sedia, bayangan yang
menyerang mereka itu telah kembali bertengger di
atas perahu.
"B-bu-bukan main!" Giam Pit Seng berdesah
dengan suara bergetar. Telapak tangannya yang
memegang pit tadi tampak terkelupas mengeluarkan
darah.
"Memang hebat sekali! Sungguh tak kusangka!
Usianya masih begitu muda, tapi ginkangnya dan lwekangnya
hampir^ hampir telah mencapai
kesempurnaan! Sungguh berbahaya...!" Lo-jin-ong
mengangguk-angguk sambil mengawasi ujung
tongkatnya yang somplak.
Sementara itu Lok-kui-tin telah mengepung
mereka, siap untuk menerjang.
213
"Lok-kui-tin, hati-hati dengan orang tua bongkok
itu! Kulit dan tulang-tulangnya ternyata masih alot
sekali." orang yang ada di atas perahu itu
memperingatkan pengawal-pengawalnya. "Kalian
bertiga atau berempat baru akan bisa
menghadapinya...."
"Kongcu...? Keenam orang yang tergabung dalam
barisan Hantu itu berdesah seperti orang penasaran.
Mereka yang selama ini ditakuti orang dan hampir tak
pernah menemukan lawan yang bisa menandingi ilmu
mereka tentu saja takkan percaya kalau orang tua
jompo itu harus dikeroyok tiga atau empat. Masa
orang tua itu memiliki kesaktian melebihi guru
mereka?
Tampaknya orang yang berada di atas perahu itu
merasakan keragu-raguan pengawalnya.
"Jangan bertindak bodoh! Lakukan seperti yang
kuperintahkan, nanti kalian akan mengerti! Nah, Pekkui,
Hek-kui, Cing-kui dan Ui-kui... kalian berempat
menghadapi orang tua bongkok itu! Gi-kui kau
melanjutkan pekerjaan kalian yang tertunda tadi!
Dan... Ang-kui, kau membereskan orang tua
bersenjata pit itu! Dia sebenarnya tidak ada apaapanya.
Paling paling dia cuma mampu bertahan lima
jurus menghadapimu! Kakek bongkok itulah yang
berbahaya...!"
Meskipun masih merasa penasaran, tapi Keenam
Hantu itu tak berani membantah lagi. Mereka segera
membagi diri untuk melaksanakan perintah itu.
214
Namun ketika mereka telah siap untuk bergerak, tibatiba
orang di atas perahu itu berseru lagi. Tapi tidak
kepada mereka. Orang itu mengacungkan jari
telunjuknya ke arah batu karang besar di mana Tio
Siau ln bersembunyi. "Kau siapa...?"
Lemas seluruh sendi-sendi tulang Tio Siau In.
Walaupun ia merasa tak menimbulkan suara gerakan
yang membuat dirinya diketahui lawan, tapi
tampaknya orang lihai itu telah mengetahui
persembunyiannya. Dengan wajah pucat dan tubuh
gemetaran Tio Siau In mengusap keringat dingin yang
membanjiri dahi dan lehernya.
"Cepat katakan! Siapakah kau...?" orang di atas
perahu itu membentak lagi.
Hampir saja Tio Siau In menjawab serta keluar dari
lobang persembunyiannya ketika tiba-tiba di atas batu,
karang itu terdengar suara jawaban yang amat
dikenalnya. Suara kakek gila, saudara seperguruan Si
Pemuda nakal yang dibencinya itu!
"Ho-ho-ho-ha-ha-ha...! Sungguh penasaran!
Penasaran...! Hei, Bocah Tampan kenapa kau
melupakan aku di sini? Semuanya kauberi lawan
bertanding, tapi... kenapa aku belum, hah? Lalu...
dengan siapa aku harus berkelahi? Apakah ...
apakah... ohh, ya... tahu aku sekarang, he-he-he-he!
Tampaknya kau sendiri yang hendak bertarung
denganku! Bagus! Bagus...! Ho-ho-ho-ha-ha-ha-ha!"
Tio Siau In tidak jadi keluar dari lobang
persembunyiannya. Entah mengapa, ada perasaan lega
215
di hatinya. Ternyata bukan dirinya yang dimaksud
oleh orang di atas perahu itu. Walaupun di dalam hati
ia juga merasa kaget karena ia tak tahu, sejak kapan
kakek gila itu bertengger di atas batu karang
persembunyiannya.
Di lain pihak kemunculan Put-pai-siu Hong-jin itu
juga amat melegakan hati Lo-jin-ong dan Giam Pit
Seng. Bagaimanapun juga kedua tokoh Aliran Imyang-
kau itu tidak dapat mengingkari kenyataan,
bahwa mereka menghadapi lawan yang amat berat,
sehingga kedatangan Put-pai-siu Hong-jin itu benarbenar
menambah semangat mereka.
"Iblis gila! Siapakah kau...? Lekas katakan!" orang
yang berdiri di atas perahu itu menghardik lagi.
"Percuma saja kau bicara apabila dia sedang sinting
seperti itu. Dia adalah Put-pai-siu Hong-jin dari aliran
Beng-kau, heh-heh...." Lo-jin-ong cepat-cepat
menyela perkataan lawannya.
"Put-pai-siu Hong-jin? Huh, aku belum pernah
mendengarnya." orang yang berdiri di atas perahu itu
mendengus dingin.
"Bagus! Bagus! Kau memang tidak perlu mengenal
nama itu! Aku pun benci kepadanya! Hahahaheheh...!
Buat apa mengingat-ingat nama? Hanya
membuang waktu saja! Lebih baik berkelahi! He-he...
itu baru asyik! Ayoh!" Si Gila dari Beng-kau itu tibatiba
berteriak kegirangan, kemudian meloncat turun
mendekati perahu. Gerakannya ketika melayang turun
dari atas batu karang berkesan santai dan ogah216
ogahan, bahkan seperti anak kecil yang sedang main
lompat tali saja. Tapi semuanya menjadi kaget dan
tercengang keheranan ketika tubuh Si Gila itu tidak
segera jatuh ke pasir, namun melayang-layang lebih
dulu ke kanan kiri, bagaikan daun kering yang terbang
tertiup angin. Jatuhnya pun tidak di atas kaki, tapi
menggelepar di atas punggungnya.
"Gila! Bocah itu memang semakin gila...!" Lo-jinong
berdecak kagum menyaksikan peragaan ilmu
mengentengkan tubuh yang tiada tara itu.
"Ginkangnya benar-benar telah mencapai
kesempurnaan, sehingga tubuhnya menjadi seringan
kapas." Giam Pit Seng berdesah pula dengan
kagumnya.
Ternyata demonstrasi gin-kang Put-pai-siu Hongjin
itu membuat keder juga di hati lawannya. Selama
ini, orang yang bertengger di atas perahu itu merasa,
bahwa ginkangnya tak ada yang bisa mengalahkan
selain gurunya, Pendeta Ulah Kili. Namun di tepi
pantai yang sepi ini ternyata ada seorang kakek gila,
yang ginkangnya bisa dikatakan setingkat dengan
gurunya.
"Hei! Kenapa masih diam saja di situ? Ayoh, cepat
kita berkelahi! Tangan dan kakiku sudah tak bisa
dikendalikan lagi! Mereka segera ingin berantem!"
Put-pai-siu Hong-jin yang sudah berdiri di dekat
perahu itu berseru keras.
"Baik! Jangan menyesal kalau nyawamu melayang
di tempat ini! Lihat pukulan...!" Orang yang
217
bertengger di atas perahu itu menyambar turun ke
arah Put-pai-siu Hong-jin.
"Ho-ho-ha-ha...! Sekali-sekali aku memang ingin
merasakan... bagaimana rasanya nyawaku ini keluar
sedikit demi sedikit dari dalam tubuhku, hehehe!
Kubiarkan dulu dia merangkak sampai ke ubun-ubun,
setelah itu cepat-cepat kutarik lagi ke dalam!
Hohoho... tentu asyik sekali!"
Sambil berceloteh Put-pai-siu Hong-jin melompat
ke kiri untuk menghindari serangan lawannya.
Kemudian dengan tangkas badannya berputar ke
kanan seperempat lingkaran, seraya melepaskan
pukulan tangan kiri ke pinggang lawan.
Wuuusssss! Gelombang udara dingin menerjang
pemimpin rombongan suku Hun itu! Tak ada
suaranya, namun terasa mengandung kekuatan yang
amat dahsyat!
"Bagus!" pemimpin rombongan Suku Hun itu
berseru. Tubuhnya berjumpalitan ke belakang untuk
mematahkan serangan itu, kemudian berdiri tegak
menghadapi Put-pai-siu Hong-jin kembali.
Masing-masing telah menyerang satu kali, sebagai
pembukaan dan sebagai penjajagan pertama atas
kekuatan lawan. Dan gebrakan tersebut seolah-olah
menjadi tengara atau tanda bagi Si Enam Hantu,
bahwa pertempuran telah dimulai! Seperti yang telah
diperintahkan pemimpin mereka tadi, maka mereka
memecah diri menjadi tiga rombongan. Rombongan
pertama terdiri dari Pek-kui, Hek-kui, Cing-kui dan
218
Ui-kui, menghadapi Lo-jin-ong. Rombongan kedua
hanya seorang, yaitu Ang-kui, mendapat jatah untuk
membunuh Giam Pit Seng. Sedangkan rombongan ke
tiga juga hanya seorang saja, Ci-kui, bertugas mencari
dan membasmi seluruh sisa-sisa lawan yang masih
hidup.
Demikianlah, dalam waktu yang hampir bersamaan,
pertempuran sengit tak dapat dielakkan lagi! Masingmasing
telah mendapatkan lawan!
Giam Pit Seng yang berhadapan Ang-kui sama
sekali tidak kelihatan gentar walaupun lawannya
sangat memandang rendah dirinya. Dua batang pit
(pena) terbuat dari baja tulen, berukuran panjang dan
pendek, tergenggam erat di tangannya. Dua batang pit
itu berkelebatan di sekeliling tubuhnya, baik untuk
menyerang maupun untuk mempertahankan diri,
sementara Ang-kui yang bertangan kosong itu masih
belum bersungguh-sungguh melayaninya. Sebentarsebentar
Iblis Merah itu menghentikan gerakannya
melihat-lihat pertempuran lainnya.
Seperti halnya Ang-kui, maka Ci-kui yang
mendapat tugas ringan, menghadapi sisa-sisa
kekuatan Lim Kok Liang, masih kelihatan santai pula.
Hanya dengan sebelah tangan Iblis Ungu itu
mempermainkan Lim Kok Liang, Tong Tai-su dan
pengawal Gui Ciang-kun. Pada saat segar bugar saja
mereka tak mampu melawan, apalagi dalam keadaan
luka dalam yang parah seperti sekarang. Mereka
219
bertiga hanya tinggal menunggu waktu saja, kapan
Iblis Ungu itu ingin menghabisi mereka.
Pertempuran yang seru, namun cukup konyol,
berlangsung antara Put-pai-siu Hong-jin melawan
pemimpin rombongan suku Hun itu. Kali ini
pemimpin rombongan suku Hun itu benar-benar
membentur musuh yang berat. Dia yang selama
perjalanannya ke selatan ini tak pernah mendapatkan
lawan tangguh, sehingga sikapnya menjadi congkak
dan takabur, kini benar-benar dibuat jengkel dan
berang oleh Put-pai-siu Hong-jin yang sinting dan
konyol! Si Gila dari aliran Beng-kau itu berkelahi
tanpa aturan. Selain gerakannya kadang-kadang kacau
tak keruan, mulutnya yang lebar tanpa gigi itu juga
nyerocos terus tanpa berhenti. Anehnya, dengan
gerakannya yang kacau itu bisa saja ia meloloskan diri
dari gempuran lawan! Bahkan dengan gayanya yang
tak beraturan itu sering membikin lawannya kalang
kabut!
"Lalat busuk! Ternyata kepandaianmu benar-benar
hebat! Tangan dan kakiku sampai... hwaduh!
Bangsat... keparat curang! Kau sepak bisulku!
Haduuuh! Aduuuh... Bocah tak tahu sopan-santun!
Lihat... nih, sampai keluar madunya!" Pu-pai-siu
Hong-jin berjingkrak-jingkrak kesakitan.
Tapi pemimpin rombongan suku Hun itu tidak
mempedulikan ulah Put-pai-siu Hong-jin. Dia
terlanjur kesal dan marah menghadapi tingkah-laku
Put-pai-siu Hong-jin yang menjengkelkan. Sedari tadi
220
ia telah mengerahkan beberapa macam ilmu silat
kebanggaannya, namun kakek gila yang wajahnya
lebih mirip monyet daripada manusia itu, ternyata
mampu melayaninya dengan baik. Meskipun
gerakannya kacau, kakek gila itu selalu bisa
menyelamatkan diri. Ginkangnya memang hebat
sekali!
Menurut ucapan gurunya, Ulan Kili, Ilmu
Meringankan Tubuh yang paling baik di dunia ini
adalah ilmu meringankan tubuh milik perguruan
mereka sendiri, perguruan Ui-soa-pai (Perguruan
Pasir Kuning) dari Gurun Gobi! Demikian
tersohornya ilmu itu sehingga dalam perkembangan
sejarahnya banyak tokoh-tokoh persilatan yang
berusaha memilikinya. Tapi perguruan Ui-soa-pai
sangat tertutup dan keras menjaga tradisi sehingga
sulit ditembus orang luar. Meskipun demikian ada
juga tokoh persilatan yang berhasil mencuri rahasia
ilmu meringankan tubuh tersebut dan menirunya.
Dianiaranya adalah Bu-eng Hwe-teng (Ilmu Terbang
di Atas Rumput) milik seorang tokoh iblis yang hidup
beberapa puluh tahun yang lalu. Ilmu tersebut
merupakan hasil tiruan dari ginkang perguruan Uisoa-
pai!
"Hmmh, apakah ginkang kakek gila ini yang
disebut Bu-eng Hwe-teng itu? Tapi... kulihat
gerakannya sama sekali tidak ada yang mirip dengan
ginkang Ui-soa-pai." sambil bertempur orang dari
suku Hun itu menduga-duga.
221
Buk!
Tak terduga sebuah tendangan Putpai-siu Hong-jin
nyelonong mengenai pantat pemimpin rombongan
suku Hun itu! Tidak terlalu keras, karena posisi Putpai
ski Hong-jin sendiri sebenarnya juga tidak
memungkinkan untuk melepas tendangan! Meskipun
demikian tendangan tersebut telah membuat
pemimpin rombongan suku Hun itu menjadi marah
dan mereka merasa terhina!
"Hehe-hoho... sekarang impas sudah! Kau tadi
menyepak bisulku, kini aku ganti menghajar
pantatmu! Hoho-hooo...! Sayang tidak punya bisul!"
mulut Put-pai-siu Hong-jin yang lebar itu tertawa
terbahak-bahak.
"Monyet Tua! Mulutmu memang harus gera
dibungkam agar tidak menggonggong terus menerus!
Nah, terimalah kematianmu sekarang ...!"
Tampaknya pemimpin rombongan suku Hun itu
telah merasa cukup menjajagi ilmu kepandaian Putpai-
siu Hong-in. Kini dia ingin mengakhiri
pertempuran itu. Ia berdiri tegak dengan tangan
tersilang di depan dada. Matanya yang mencorong
dingin itu menatap Put-pai-siu Hong-jin tanpa
berkedip. Dan sebentar kemudian tubuhnya diselimuti
. kabut tipis berwarna kebiruan.
Walaupun konyol dan sinting, tapi perasaan dan
otak Put-pai-siu Hong-jin sebenarnya tajam dan
cerdas luar biasa. Melihat lawannya mulai
mengeluarkan ilmu pamungkas, dia juga tak berani
222
main-main lagi. Diai pun segera bersiap sepenuhnya.
Seluruh urat-urat tubuhnya menggeletar, suatu tanda
ilmu silat andalan Aliran Beng-kau yang disebut Chou
mo-ciang (Ilmu Menangkap Setan), telah siap
dilontarkan pula!
-- o0d-w0o --
JILID VI
EMENTARA itu pertempuran yang
paling dahsyat dan paling brutal adalah
pertempuran Lo-jin-ong melawan Empat
Iblis itu. Karena merasa penasaran atas
sanjungan pemimpin rombongan mereka
terhadap tokoh Im-yang-kau itu, serta
keinginan untuk membuktikan bahwa mereka bisa
mengalahkannya, maka begitu bergebrak Empat
Hantu tersebut ingin segera bisa menyelesaikan
pertempuran mereka.
Seperti halnya Kongcu mereka, Enam Hantu itu
juga murid dari Pendeta Agung suku bangsa Hun,
Ulan Kili. Meskipun kepandaian mereka tidak
setinggi Kongcu mereka itu, tapi mereka justru
menjadi murid-murid utama, karena mereka telah
mengikuti guru mereka sejak di Perguruan Ui-soa-pai.
Terutama Hek-kui, Ui-kui, dan Pek-kui. Sebelum
menjadi pengawal ketiga hantu itu lebih dikenal
S
223
dengan sebutan Sam Eng (Tiga Garuda) di kalangan
persilatan.
Demikianlah, begitu menyerang mereka berempat
telah mengerahkan seluruh kemampuan mereka. Jagojago
ginkang itu bergerak cepat, berkelebatan
bagaikan kawanan lebah madu yang beterbangan
mengelilingi bunga. Sebentar-sebentar mereka
menyerang Lo-jin-ong dengan pukulan, tendangan,
sabetan, maupun sapuan kaki yang mematikan.
Gerakan mereka benar-benar seperti kawanan lebah
yang mematuk, menggigit dan menyengat korbannya!
Namun yang amat mengherankan adalah lawan
mereka. Lo-jin-ong yang sudah tua renta, bahkan bisa
dikatakan sudah jompo dan pikun itu, ternyata mampu
melayani serbuan mereka dengan gesit dan lincah.
Walaupun kadang-kadang harus mundur untuk
mengambil napas, tapi gerakannya masih amat cepat.
Tenaga sakti yang terlontar dari telapak tangannya
juga sangat menggiriskan hati lawan-lawannya.
Alhasil pertempuran mereka berjalan dengan sangat
cepat dan mendebarkan. Beberapa kali lengan dan
tangan mereka berlaga di udara, dan menimbulkan
suara nyaring yang memekakkan telinga.
"Gila! Orang tua ini memang masih alot sekali
kulitnya!" Hek-kui mengumpat tiada hentinya.
"Yah, tapi bagaimanapun juga dia sudah tua.
Tenaga dan pernapasannya tentu terbatas. Lama-lama
dia akan ambruk sendiri karena kelelahan, hehehe...!"
Pek-eng mengejek pula.
224
"Kalian benar, orang-orang muda! Sebentar lagi
aku tentu akan kehabisan napas! Tapi... lihat saja,
sebelum napasku benar-benar habis... beberapa orang
di antara kalian tentu akan lebih dulu putus
napasnya!"
"Kurang ajar! Orang tua tak tahu diri! Marilah kita
lihat, siapa yang lebih dulu terkapar di atas pasir ini!"
Hek-kui menjerit marah.
Wusssss...!
Hek-kui menghantam punggung Lo-jin-ong dengan
tenaga sepenuhnya. Tapi dengan tangkas orang tua itu
meliuk ke kanan, kemudian membalikkan badan
sambil balas memukul dengan tebasan tangan kiri.
Terdengar suara mencicit, suatu tanda bahwa serangan
tersebut didukung oleh tenaga sakti yang luar biasa
kuat.
Sementara itu Ui-kui, Cing-kui dan Pek-kui, tidak
tinggal diam. Bersama-sama mereka menerjang dari
sisi yang lain. Mereka juga menggunakan seluruh
tenaga kekuatan mereka, sehingga dalam gebrakan
tersebut mereka ingin menghancur-lumatkan Lo-jinong.
Apa boleh buat, Lo-jin-ong tak ingin menjadi
bulan-bulanan pukulan lawannya. Ia mengurungkan
tebasan tangannya yang mengarah kepada Hek-kui.
Sebagai gantinya ia menjejakkan kakinya dalam jurus
Burung Walet Meninggalkan Sarang. Tetapi Ui-kui
dan Cing-kui, yang berada di sebelah kanan dan kiri,
tidak mau memberi kesempatan keduanya juga
225
melenting ke atas, berjumpalitan di udara, dan
memotong gerakan Lo-jin-ong dengan jurus
Membajak Sawah Menabur Benih. Serangan mereka
menimbulkan suara gemuruh bagaikan benturan
ombak di atas batu karang!
Lo-jin-ong tak ingin membentur serangan mereka.
Selain tulang-tulangnya sudah terlalu rapuh, dia tak
ingin terjebak dalam kesulitan pada saat
menyongsong pukulan tersebut. Hek-kui dan Pek-kui
tentu telah menunggu pula di atas tanah. Jalan satusatunya
hanya menghindar lagi. Tapi hal itu benarbenar
sulit dilakukan dalam keadaan seperti itu!
"Tingkat kepandaian dari masing-masing orang ini
hanya setingkat atau dua tingkat di bawahku. Dua
orang atau tiga orang saja rasanya sudah sulit bagiku
untuk menghadapinya, apalagi empat orang sekaligus.
Tampaknya Giam Pit Seng juga akan mendapat
kesulitan pula kali ini. Aku harus segera menolongnya
keluar dari tempat ini." dalam keadaan terdesak Lojin-
ong masih memikirkan anak buahnya.
Apa yang dikhawatirkan orang tua itu memang
benar. Giam Pit Seng tak dapat berbuat banyak
melawan Ang-kui. Iblis Merah itu memang berada
jauh di atas kemampuan Giam Pit Seng. Walaupun
sudah berusaha sekuat tenaga mengerahkan Ilmu
Hok-hong Siang-pitnya, tapi Giam Pit Seng masih
juga di bawah angin. Bahkan satu demi satu pit-nya
terlepas dari tangan akibat gempuran Ang-kui.
Demikianlah, dalam waktu yang hampir bersamaan
226
Lo-jin-ong dan Giam Pit Seng berada dalam keadaan
terancam jiwanya!
Sementara itu di dalam lubang perlindungannya
Siau In tak bisa berbuat apa-apa. Dia tahu, apabila ia
keluar dari tempat itu, dia justru akan menambahi
beban dan mempersulit keadaan gurunya. Dia hanya
bisa menonton pertempuran berat sebelah itu dengan
perasaan tegang dan khawatir. Apalagi ketika ia
melihat Ci-kui (Si Iblis Ungu) bebar-benar membantai
Lim Kok Liang, Tong Tai-su dan pengawal Gui
Ciangkun. Bahkan Iblis kejam itu juga membunuh
Gui Ciangkun yang terluka, serta pemuda-pemuda
pemenang sayembara yang pingsan tadi. Sekarang
rombongan pemenang sayembara dan para perwira
kerajaan itu benar-benar tertumpas tanpa sisa.
"Hong-jin... tinggalkan tempat ini!" tiba-tiba
terdengar Lo-jin-ong berteriak ke arah Put-pai-siu
Hong-jin.
Sekejap kemudian terdengar suara berdentang keras
sekali, diikuti oleh berkelebatnya tubuh Lo-jin-ong ke
arah Giam Pit Seng! Dhieeeees! Tubuh orang tua itu
seolah-olah membentur Ang-kui, yang sudah siap
melepaskan pukulan terakhirnya kepada Giam Pit
Seng!
Ang-kui terpental, sementara Lo-jin-ong juga
terjatuh di samping Giam Pit Seng. "Pit Seng! Ayoh,
kita pergi dulu mencari bantuan! Kita tak bisa
menyelamatkan mereka!" Lo-jin-ong berteriak.
227
Giam Pit Seng menyambar lengan Lo-jin-ong, lalu
bergegas bersama-sama melesat pergi dari tempat itu.
"Bagaimana dengan Put-pai-siu Hong-jin...?"
"Jangan takut! Orang gila itu banyak akalnya!" Lojin-
ong menjawab sambil berkelebat menerobos
semak belukar yang gelap.
Hek-kui, Pek-kui, Cing-kui dan Ui-kui, yang tadi
mengeroyok Lo-jin-ong, datang menolong Ang-kui.
Ci-kui yang juga sudah menyelesaikan tugasnya, bergegas
menghampiri pula. Mereka melihat keadaan
Ang-kui.
"Aku tidak apa-apa. Aku terpental karena kalah
tenaga. Orang tua itu benar-benar kuat sekali!"
"Dia memang kuat dan cerdik luar biasa! Dalam
keadaan terjepit dia bisa mengecoh kami berempat
dan meloloskan diri! Lihat potongan tongkatnya ini!
Dia mengorbankan tongkatnya untuk menahan
serangan kami...!" Hek-kui menggeram marah.
"Ayoh kita kejar mereka!" Ui-kui berseru.
"Tidak perlu!" tiba-tiba pemimpin mereka yang
sedang bertempur dengan Put-pai-siu Hong-jin itu
berteriak. "Siapkan saja perahu kita! Kita segera
berangkat setelah monyet tua ini mati!"
"Mati...? Oh, enaknya! Sudah sepuluh tahun ini aku
ingin mati, tapi tak seorang pun bisa membunuh aku,
he-he-he! Apalagi hanya bocah ingusan seperti kau!
Oh-ho-ho-ho!"
Enam Hantu itu memandang ke arah pertempuran,
dan mereka segera terbeliak kaget. Dua orang yang
228
sedang berlaga itu mengadu kesaktian sambil
berbicara, seakan-akan mereka tidak bersungguhsungguh.
Padahal Enam Hantu itu melihat bagaimana
seru dan hebatnya pertempuran mereka. Kongcu
mereka yang berilmu sangat tinggi itu sudah
menggunakan ilmu silat Ui-soa-pai tingkat tertinggi,
campuran ilmu silat dan ilmu sihir! Ginkang yang
digunakan juga ginkang tingkat terakhir dari Ui-soapai,
yang disebut Hui-eng-cu-in (Bayangan Terbang
di Atas Awan)! Mereka berenam tidak bisa mengikuti
gerakan Kongcu mereka lagi, padahal mereka
berenam juga mempelajari ilmu tersebut!
Meskipun demikian ketika Enam Hantu itu
memperhatikan Put-pai-siu Hong-jin, wajah mereka
semua menjadi pucat pasi! Si Gila dari aliran Bengkau
itu bersilat dengan gerakan-gerakan yang aneh dan
mengerikan. Selain sikap dan bentuk gerakannya
kelihatan kacau dan tidak beraturan, tenaga sakti yang
mendukung gerakan tersebut juga tampak aneh dan
tidak terkendali. Sepintas lalu seperti ada kekuatan
lain yang menggerakkan kaki dan tangan itu selain
Put-pai-siu Hong-jin. Kadang-kadang kuat luar biasa,
sehingga Kongcu mereka seperti tak tahan
menghadapinya. Tapi juga sering tampak lemah atau
biasa-biasa saja, sehingga dengan mudah Kongcu
mereka mengatasinya.
Jika tokoh seperti Enam Hantu itu saja merasa
takjub, apalagi Tio Siau In! Pertempuran itu
berlangsung tidak jauh dari tempat
229
persembunyiannya. Meskipun demikian gadis itu tak
mampu membedakan, yang mana Put-pai-siu Hongjin
dan yang mana pula pemimpin rombongan suku
Hun itu. Mereka bertempur dengan cepat sekali,
seperti bayangan yang saling membelit, melesat, dan
berkelebatan ke sana ke mari. Bahkan menurut
penglihatan Siau In, bayangan itu semakin lama
menjadi semakin banyak. Rasa-rasanya tidak hanya
dua orang yang bertempur, tapi lebih dari lima orang!
Memang benar apa yang disaksikan oleh Tio Siau
In. Saat itu pemimpin rombongan dari suku Hun
tersebut telah mengeluarkan Pat-sian-ih-hoat (Delapan
Baju Dewa), sebuah ilmu silat andalan Ui-soa-pai
yang telah dicampur dengan ilmu sihir! Pemimpin
rombongan suku Hun itu seolah-olah telah memecah
diri menjadi enam orang, yang masing-masing dapat
bergerak sendiri untuk menyerang Put-pai-siu Hongjin!
Akibatnya Si Gila dari Aliran Beng-kau itu seperti
dikeroyok enam orang sekaligus!
Tapi hanya beberapa saat Put-pai-siu Hong-jin
terpengaruh dan terkecoh oleh ilmu sihir yang
mengerikan itu. Justru menghadapi manusia sinting,
yang jarang berpikir dengan otaknya seperti Put-paisiu
Hong-jin itu, segala ilmu sihir menjadi mentah dan
mati kutu! Melihat lawannya berubah menjadi banyak
dan sangat membingungkan matanya, Put-pai-siu
lantas berkelahi dengan mata terpejam. Karena Si Gila
ini memang tak pernah peduli akan kematian, maka
enak saja ia berbuat seperti itu. Ia hanya
230
mengandalkan perasaan, pendengaran, dan
penciumannya saja untuk bertempur. Maka akibatnya
bisa diduga, segala macam bentuk yang aneh-aneh
dari lawannya, sama sekali tak mempengaruhi pikiran
Put-pai-siu Hong-jin! Apalagi Si Gila dari Aliran
Beng-kau itu kini mengeluarkan ilmu baru, hasil
ciptaannya sendiri, yang ia beri nama Tiga Langkah
Bulu Angsa! Ilmu silat inilah yang dilihat oleh Enam
Hantu itu. Sebuah ilmu silat yang seolah-olah tidak
dilakukan atau digerakkan sendiri oleh pelakunya.
"Monyet Tua! Ayoh, kita berkelahi! Jangan hanya
menghindar ke sana ke mari!" pemimpin rombongan
suku Hun itu menjerit marah. Tangannya menghantam
ke depan, ke arah pinggang Put-pai-siu Hong-jin yang
sedang melayang turun ke tanah.
Tapi sebelum pukulan itu menyentuh sasaran, tubuh
Put-pai-siu Hong-jin telah lebih dulu melayang pergi,
bagaikan selembar bulu angsa yang tertiup angin!
"Hohoho-haha... ada hitam ada putih Ada
perempuan... ada lelaki! Ada lobang..... ada semut!
Hohahohaaaa! Anak muda, kau tahu arti
perkataanku?" mulut Put-pai-siu Hong-jin mengoceh.
"Artinya... segala sesuatu yang tercipta di dunia ini
tentu ada imbangannya. Contohnya...? Ilmu silatmu
tadi sangat aneh dan menakutkan. Aku percaya, kau
tentu bisa menciptakan. bentuk yang aneh-aneh
dengan ilmumu itu. Hehehe... tapi kalau lawanmu itu
buta atau... memejamkan matanya, oh-ho-ho... apakah
231
dia masih juga bisa melihat? Huuuaaah-hahahaha!
Konyol! Konyol! Sungguh sebuah ilmu yang konyol!"
"Kurang
ajar!
Kubunuh
kau, Monyet
tua!"
pemimpin
rombongan
dari suku
Hun itu
berteriak.
"Hei!
Hei! Nanti
dulu...!"
Mendadak
Put-pai-siu
Hong-jin
mengangkat
tangannya.
"Tampaknya kau benar-benar ingin mengadu nyawa!
Ho-ho-ho, kalau begitu... sebutkan dulu namamu!
Jadi, hehehe... aku bisa menyebutkan namamu kalau
su-teku nanti bertanya kepadaku."
"Maksudmu...?"
"Sebutkan dulu namamu! Apakah kau takut
namamu diketahui orang?"
"Bangsat! Putera Raja Mo Tan tidak mengenal
takut! Namaku Mo Hou! Sudah kaudengar, hei?"
232
"Kongcu...????" Enam Hantu itu berdesah kaget.
"Hohoho... jadi kau ini putera Raja suku bangsa
Hun itu? Hahaha, ketahuilah...! Ayahmu itu sudah
beberapa kali bertemu denganku, dan dia... takut
sekali kepadaku! Hohohahaaaaaa! Pada pertemuan
yang terakhir... ho-hoha-ha... Ayah mu telah
kukencingi punggungnya! Hoha-haaaha !!!". Put-paisiu
Hong-jin menutup ucapannya dengan tertawa
terbahak-bahak.
Saking marahnya Mo Hou justru tak bisa mengucap
apa-apa. Kabut kebiruan kembali menyelimuti
tubuhnya. Hanya ini lebih pekat, sehingga tubuh itu
cuma kelihatan samar-samar dalam kegelapan malam.
Wuuuuuus! Mo Hou menerjang Put-pai-siu Hongjin,
Gerakannya cepat bukan main! Dari dalam lobang
persembunyiannya Tio Siau In hanya melihat
segumpal asap pekat, berwarna kebiruan, melesat ke
arah Put-pai-siu Hong-jin! Dan dari gumpalan asap itu
berkelebat pula cahaya berwarna kekuningan!
Tampaknya kali ini Put-pai-siu Hong-jin ingin
menjajal kekuatan lawannya. Dia juga mengerahkan
segala kekuatannya dan menyongsong gempuran Mo
Hou.
Plak! Plaaak! Siiiiiing...! Dhieeeeeees!
Dua bayangan tampak berlaga di udara, lalu
masing-masing terpental ke belakang! Bluuk! Mou
Hou jatuh terlentang di atas pasir! Tangannya yang
memegang kipas berwarna kuning keemasan itu
menggeletar menahan sakit! Dah dari mulutnya
233
mengalir darah segar! Sebaliknya, Put-pai-siu Hongjin
yang membelakangi laut, terlempar ke udara, dan
jatuh ke dalam gelombang air yang kebetulan
menerjang pantai! Sebentar saja tubuhnya hilang
dibawa ombak!
"Kongcu...!" Enam Hantu itu bergegas
menghampiri Mo Hou.
"Cepat bawa aku pergi dari tempat ini! Aku terluka
dalam!"
Keenam Hantu itu tak banyak bicara pula. Cepatcepat
mereka menggotong tubuh Mo Hou ke dalam
perahu dan bergegas meninggalkan pantai itu.
Sementara itu Tio Siau In masih tetap berada di
lobang persembunyiannya. Meskipun perahu orang
Hun itu sudah pergi, ia tetap belum keluar. Ia masih
merasa khawatir kalau-kalau orang Hun itu kembali
lagi. Baru setelah beberapa waktu kemudian suasana
tetap lengang dan sepi, Siau In merangkak keluar dari
lubang batu karang itu.
Kemudian gadis itu menarik keluar pemuda yang
ditolongnya tadi dan membawanya ke tempat kering.
Sekilas tampak tatto gambar di dada pemuda itu.
"Oh, ya... akan kulihat! Apakah para pemenang
sayembara yang lain itu juga memiliki tatto naga?"
Siau In berkata di dalam hatinya.
Siau In lalu menghampiri mayat-mayat yang
bergelimpangan di pasir. Setiap menjumpai mayat
para pemenang sayembara, gadis itu memeriksanya
dengan teliti.
234
"Hah... benar! Pemuda ini juga memiliki gambar
naga di punggungnya!" gadis itu berdesah lirih ketika
membalikkan sebuah mayat yang mati terlentang.
"Ini juga...! Ah, itu juga!" desisnya kemudian
berkali-kali ketika meneliti mayat-mayat yang
lainnya.
Ternyata persis dengan yang telah diduga Tio Siau
In, semua pemuda yang memenangkan perlombaan
Mengangkat Arca itu mempunyai gambar tatto naga
di tubuh mereka. Hanya bentuk gambar dan
tempatnya saja yang berbeda-beda. Ada yang di
lengan, dada, perut, pinggang atau punggung.
Sementara bentuk gambarnya ada yang lengkap, ada
yang tidak. Ada yang hanya kepala naga saja, tapi ada
juga yang dilukis penuh dari kepala sampai ekor.
Bahkan ada yang tidak cuma satu ekor saja, tapi dua
ekor naga sekaligus.
"Tidak mungkin kalau hal ini hanya satu kebetulan
saja. Tampaknya pihak istana secara rahasia memang
bermaksud mengumpulkan para pemuda bertatto naga
di seluruh negeri dengan dalih Perlombaan
Mengangkat arca. Sebaliknya Raja suku bangsa Hun
tampaknya juga ikut ambil bagian pula di dalam
urusan ini. Namun dengan tujuan yang berbeda, yaitu
membasmi pemuda-pemuda bertatto naga itu.
Sementara itu di pihak yang lain lagi, Aliran Im-yangkau
juga memerintahkan seluruh cabang-cabangnya
untuk mencari pemuda bertatto naga itu pula. Aaah,
kalau memang demikian halnya, pemuda itu tentu
235
merupakan seorang yang hebat sekali. Siapakah dia
sebenarnya...?" sambil mengawasi mayat-mayat yang
berserakan itu Siau In mencoba menduga-duga dan
merangkai semua yang telah diketahuinya.
"Ooouugh...."
Tiba-tiba gadis itu dikejutkan oleh suara erang
kesakitan. Sesosok mayat yang ada di dekatnya
sekonyong-konyong menggerakkan kaki dan
tangannya. Malahan beberapa saat kemudian mayat
itu bangkit dengan perlahan-lahan.
Dengan agak takut-takut Tio Siau In mendekati.
Dengan seksama ditatapnya mayat yang kini telah
duduk bersimpuh itu lekat-lekat. Dan akhirnya Siau In
mengenali orang .itu sebagai pembantu dari Lim Kok
Liang, pemimpin pengawal rombongan pemenang
perlombaan tersebut.
Lelaki itu tidak lain adalah Su Hiat Hong, tahu
bahwa dia terluka dalam. Maka pertama-tama yang
dia lakukan adalah duduk bersila dan mengerahkan
tenaga sakti untuk mengobati luka-lukanya itu. Dan
usaha itu dilakukannya berulang-ulang.
Setelah rasa sakit itu hilang dan aliran darahnya
menjadi normal kembali, Su Hiat Hong membuka
matanya. Dan ia benar-benar kaget sekali melihat Siau
In di depannya.
"Nona... Nona siapa?" ujarnya dengan suara cemas.
Siau In mencoba tersenyum. "Tuan tidak usah
khawatir. Saya kebetulan lewat di tempat ini dan
melihat keributan yang baru saja berlalu. Tapi maaf,
236
saya sama sekali tak berani keluar untuk membantu.
Saya sadar bahwa saya tak mungkin bisa melawan
mereka. Ah, apakah Tuan sudah merasa baik
kembali?"
"Oooh...! Su Hiat Hong bernapas lega. "Terima
kasih. Kulitku memang tidak terluka, tapi bagian
dalam dari tubuhku rasanya hancur semua. Aku harus
lekas-lekas mencari tabib yang pandai untuk
menyembuhkannya. Nona, maukah kau menolong
aku?"
"Salah seorang dari rombongan Tuan juga masih
hidup walaupun terluka parah pula. Tapi... mana ada
tabib pandai di sekitar tempat ini?"
"Ohh, benarkah ada temanku yang lain yang masih
selamat?" Su Hiat Hong berdesah gembira.
"Ya! Pemuda itu saya tinggalkan di dekat batu
karang itu."
"Ooo...!" Su Hiat Hong berdesah kembali, tapi
sekarang dengan suara sedikit kecewa. Sebenarnya ia
berharap yang selamat itu adalah Lim Kok Liang,
sahabatnya, tapi ternyata bukan.
Namun demikian petugas dari istana kerajaan itu
cepat berkata lagi. "Bagaimana, Nona? Apakah kau
mau menolong kami? Dua lie dari tempat ini tinggal
seorang tabib yang sedang mengasingkan diri."
Siau In tidak segera menjawab. Sebenarnya ia ingin
cepat-cepat kembali ke kota untuk menemui kakak
dan suhengnya. Tapi orang-orang ini amat butuh
bantuannya pula.
237
"Baiklah...!" akhirnya ia menyanggupi. "Tapi
bagaimana cara kita pergi ke tabib itu? Bukankah
Tuan belum dapat berjalan? Lalu... bagaimana pula
dengan mayat-mayat ini?"
Wajah yang pucat itu tampak lega. "Nona tidak
usah khawatir. Aku mempunyai sampan kecil, yang
kusembunyikan di celah-celah batu karang besar itu!"
katanya sambil menunjuk ke arah yang ia maksudkan.
"Dan... tentang mayat-mayat ini, Nona juga tidak
perlu khawatir. Pagi nanti sepasukan prajurit kerajaan
akan meronda ke mari."
"Ooh...!" Siau In mengangguk lega pula. Tapi tibatiba
keningnya berkerut. "Tapi kalau kita bersampan...
bisa bertemu dengan orang-orang Hun itu!"
"Jangan khawatir, Nona. Lapat-lapat kudengar
mereka tadi menuju ke utara, sedang tujuan kita
adalah ke selatan." dengan cepat Su Hiat Hong
memberi keterangan.
"Baiklah, kalau begitu aku akan mengambil
sampannya...."
"Terima kasih, Nona. Terima kasih..." akan tetapi
sebelum berangkat mengambil sampan Tio Siau In
menengok pemuda yang ditolongnya tadi lebih
dahulu. Dilihatnya pemuda itu telah sadar pula,
meskipun keadaannya tampak lebih parah dari pada
Su Hiat Hong. Namun kelihatannya pemuda itu
memiliki ketahanan tubuh yang luar biasa. Pemuda itu
tidak terkejut melihat dirinya. Pemuda itu justru
238
tersenyum, walaupun senyumnya lebih menyerupai
seringai kesakitan daripada senyum kegembiraan.
"Siapa namamu...?" Tio Siau-In perlahan.
"A Liong...." pemuda itu menjawab singkat.
"Kau mau kubawa ke tabib?"
Lagi-lagi pemuda itu tersenyum, kemudian
menganggukkan kepalanya. Wajahnya yang pucat
pasi itu tampak pasrah.
"Kalau begitu tunggulah di sini sebentar. Aku akan
mengambil sampan untuk membawamu pergi. Nah...
kuatkanlah hatimu!" Tio Siau In menepuk lengan A
Liong, kemudian berlalu.
Dengan mengikuti arah yang telah ditunjukkan oleh
Su Hiat Hong,, Siau In mencoba mencari sampan
tersebut. Ternyata tidak sulit untuk mendapatkannya.
Sampan itu hanya tersuruk di antara celah-celah batu
karang yang banyak bertonjolan di tepi pantai.
Lengkap dengan dua batang kayu pendayungnya.
Su Hiat Hong semakin kelihatan bersemangat
melihat kedatangan Tio Siau ln bersama sampannya.
Dengan agak tertatih-tatih ia melangkah ke dalam
sampan, sementara Tio Siau ln membantu A Liong
yang tidak bisa berjalan sendiri. Pemuda tanggung itu
terpaksa berpegangan pada lengan Siau In. Dan gadis
cantik itu sama sekali tidak merasa risih.
Malam semakin larut, bahkan embun pagi sudah
mulai turun pula ke bumi. Semakin lama embun itu
semakin tebal sehingga dari jauh seperti awan tipis
yang turun perlahan-lahan menyelimuti bumi. Dengan
239
susah payah Tio Siau In mendayung sampan itu
menyusuri pantai. Dan dua lie kemudian ia sampai ke
sebuah ceruk atau teluk kecil yang dikelilingi tebing
pantai yang menjulang tinggi ke atas, sehingga ceruk
yang mempunyai dataran sempit itu seolah-olah
merupakan dasar jurang yang terbuka ke arah laut.
Tio Siau ln melihat sinar lampu minyak berkedipkedip
di tengah-tengah dataran sempit tersebut. Dan
ketika sampan itu datang semakin dekat, Tio Siau In
melihat sebuah rumah kecil di antara rimbunnya
pepohonan. Ternyata cahaya lampu yang dilihatnya
itu keluar dari salah sebuah jendelanya yang terbuka.
"Kita telah sampai ke rumahnya, Nona. Marilah
kita ke pinggir." Su Hiat Hong berkata lega.
Tio Siau In mendayung sampan itu ke pinggir.
Diam-diam perasaannya merinding juga. Rumah di
tempat yang sangat terasing itu kelihatan
menyeramkan di malam hari.
"Siapakah tabib itu sebenarnya...? Mengapa ia
memilih tempat yang sepi seperti ini?" tanyanya lirih
kepada Su Hiat Hong.
Petugas kerajaan itu menghela napas panjang. Raut
mukanya yang pucat itu tampak suram, sementara
matanya berkaca-kaca mengawasi rumah kecil di
tempat terasing itu.
"Dia sebenarnya seorang bekas prajurit kerajaan
pula. Bahkan antara dia dan aku bersahabat erat
sekali, meskipun tugas kami berbeda. Pertama kali
kami bertemu, dia bertugas di bagian kesehatan dan
240
perawatan prajurit yang terluka, sedangkan aku
bertugas di bawah bendera pasukan berkuda. Karena
luka-lukaku yang parah aku pernah dirawat oleh dia.
Tapi aku juga pernah menyelamatkan dia ketika
markas kami diserang musuh."
Mata Su Hiat Hong menerawang jauh, teringat akan
pengalamannya di masa lalu. Tapi mata itu segera
berkaca-kaca ketika bayangan seorang sahabatnya
yang lain, yaitu Lim Kok Liang, ikut berkelebat di
depan matanya.
"Alangkah malangnya dia. Seorang perwira yang
telah banyak berjasa kepada negara, tapi pada saat
kematiannya tak seorang pun yang merawat
jenazahnya." keluhnya dalam hati, menyesali
kematian Lim Kok Liang.
"Lalu... kenapa dia sekarang tinggal di tempat
seperti ini, Paman?" Siau In yang merasa kasihan
kepada Su Hiat Hong itu kini menyebutnya Paman.
Su Hiat Hong seperti disentakkan dari lamunannya
yang hanya sesaat itu.
"Aaaah... ya, dia... dia akhirnya dipindahkan ke
istana. Sementara aku juga dipindahkan ke Pasukan
Rahasia. Karena kepandaiannya mengobati orang,
sahabatku itu lalu diambil oleh mendiang Pangeran
Liu Yang Kun ke istana pribadinya. Dia diangkat
sebagai perwira dan ditunjuk sebagai tabib pribadi
dalam keluarga Pangeran Mahkota itu. Tapi...."
"Tapi... bagaimana, Paman?" kejar Tio Siau In.
241
"Yah... ternyata keberuntungannya itu tak
berlangsung lama. Seperti yang mungkin telah
kaudengar pula, Pangeran Liu Yang Kun itu
mendadak hilang setelah upacara pemakaman Kaisar
Liu selesai.
Bahkan tidak cuma itu. Ternyata keluarga Pangeran
Liu Yang Kun dan istana pribadi beliau, beberapa hari
kemudian juga ikut musnah pula dimakan api.
Sahabatku yang sudah terlanjur mengasihi keluarga
itu menjadi sedih dan kehilangan gairah hidup. Dia
yang memang tidak mempunyai keluarga lagi lalu
pergi menyepikan diri ke tempat sunyi ini. Hanya aku
yang diberi tahu Kepergiannya. Dan secara diam-diam
aku pernah mengunjunginya di tempat ini. tapi itu
telah bertahun-tahun yang lalu. Entahlah, sekarang
aku tak tahu bagaimana keadaannya...." Su Hiat Hong
dengan nada sedih mengakhiri ceritanya.
Tio Siau ln tidak bertanya lagi. Sambil mengayuh
dayungnya gadis itu juga sedang terbuai oleh
lamunannya. Entah mengapa cerita Su Hiat Hong itu
tiba-tiba juga mengingatkan keadaannya sendiri.
Gadis itu teringat kepada kakaknya, Tio Ciu In.
Kakaknya itu tentu sedang kebingungan mencari
dirinya.
"Aku tidak memiliki sanak saudara lagi selain Cici
Cui In. Saat ini dia tentu sangat sedih dan menangisi
kepergianku. Aaaah... aku harus cepat-cepat kembali
selesai mengantar orang-orang ini." katanya di dalam
hati.
242
Seperti ada seutas benang yang menghubungkan
dua pikiran mereka, ternyata pada saat yang sama di
kota Hang-ciu Tio Ciu In juga sedang memikirkan
Siau In pula. Semalam Ciu In bersama-sama dengan
Liu Wan telah berhasil memporak-porandakan
upacara yang diadakan oleh para pendeta Pek-hokbio.
Namun Ciu In menjadi kecewa dan cemas karena
gadis yang mereka bebaskan dari upacara korban itu
ternyata bukan Siau In. Untunglah Liu Wan pandai
menghiburnya. Pemuda itu mengajaknya ke kota
untuk beristirahat dulu.
Mereka menyewa kamar sendiri-sendiri di sebuah
penginapan. Dan Liu Wan yang kelelahan sehabis
bertempur dengan musuh-musuhnya itu segera
tertidur di kamarnya, sementara Ciu In sendiri tidak
bisa memicingkan matanya. Gadis itu melamun di
atas pembaringannya.
Tengah malam tadi, ketika di tepi pantai Siau In
menyaksikan pertempuran antara rombongan petugas
kerajaan dan orang-orang Hun, maka di Kuil Pek-hokbio
Ciu In justru sedang bertempur melawan para
pendeta Pek-hok-bio pula dengan sengitnya.
Seperti yang telah direncanakan, Liu Wan
mengajak Tio Ciu In ke Pek-hok-bio menjelang
tengah malam. Karena sore harinya mereka telah
didatangi anak buah Pek-hok-bio, maka Liu Wan
tidak berani sembarangan memasuki sarang macan
itu. Pemuda itu yakin bahwa kuil Pek hok-bio tentu
telah dijaga dengan ketatnya. Pagar, halaman, atap243
atap bangunan, pepohonan, tentu tidak luput dari
pengawasan mereka.
"Kita harus mencari jalan yang baik supaya mereka
tidak tahu kalau kita telah menyusup ke dalam sarang
mereka.
Tapi...
bagaimana
caranya?"
sebelum
sampai di
tempat
tujuan Liu
Wan
menjadi
bingung.
"Kita
lewat
melalui
pagar
belakang?"
Ciu In
mengusulka
n.
"Wah... tidak mungkin. Segala tempat tentu telah
dijaga. Kita tidak mungkin menerobosnya tanpa
ketahuan."
"Mengapa tidak kita dobrak saja sekalian pintu
halamannya?" Ciu In yang sangat mengkhawatirkan
keselamatan adiknya itu menjadi tidak sabar.
244
"Wah, itu lebih konyol lagi. Upacara korban yang
akan mereka laksanakan tentu menjadi batal, dan
mereka tentu akan menyembunyikan gadis korbannya.
Kita akan sulit mencarinya nanti."
"Lalu apa yang harus kita lakukan?" Tio Ciu In
menjadi gelisah dan hampir menangis.
Liu Wan tersenyum. Dengan sabar dan penuh
perhatian pemuda itu membesarkan hati Ciu In.
"Jangan cemas. Aku telah' mendapatkan akal yang
bagus." katanya halus.
Tio Ciu In mengerling dengan bibir cemberut.
"Twako memang suka menggoda aku. Kalau memang
sudah tahu jalannya, mengapa tidak dikatakan sejak
tadi?" sergahnya dengan kesal.
"Eeee, jangan keburu marah dulu Nona Cantik!
Aku tidak bermaksud menggoda. Aku hanya ingin
mengetahui pendapatmu. Yah, siapa tahu...!" Tibatiba
pandangan mata Liu Wan meredup sambil
menggeleng-gelengkan kepalanya.
Sebagai gadis yang telah menginjak dewasa, Ciu In
tahu arti pandangan pemuda itu. Pandangan kagum
seorang lelaki terhadap wanita.
"Jangan memandangku seperti itu, Twako. Ngeri
aku melihatnya." Gadis itu berdesah lirih sambil
menundukkan mukanya.
"Amboi...! Sungguh beruntung sekali Suhengmu
itu, bisa mendapatkan bidadari sedemikian cantiknya.
Aku benar-benar iri kepadanya. Bertahun-tahun aku
berkeliling ke seluruh pelosok negeri, naik gunung
245
turun gunung, keluar masuk dusun dan kota, namun
belum pernah juga bertemu bidadari. Tak tahunya
bidadari itu sudah ada yang punya. Maaf, Ciu-moi...
maafkan aku."
"Ngaco! Siapa bilang aku sudah ada yang punya?
Aku dengan Suheng..." tiba-tiba Ciu In menutup
mulutnya. Kulit mukanya yang putih mulus itu
mendadak berubah menjadi merah padam. "Kau... kau
memang suka menggoda aku!" akhirnya ia bersungutsungut
kesal sambil membuang mukanya.
"Ciu-moi...."
"Sudah! Aku tak mau bicara lagi denganmu!
Twako jahat!"
Selesai bicara Tio Ciu In berlari meninggalkan Liu
Wan.
"Eeee... Ciu-moi! Ciu-moi! Tunggu ...!" Liu Wan
berseru memanggil.
Tapi Ciu In tak ambil peduli lagi. Gadis cantik itu
tetap berlari terus, sehingga Liu Wan menjadi
khawatir juga akhirnya. Pemuda itu cepat mengejar.
"Tunggu Ciu-moi! Apakah kau tidak jadi menolong
Adikmu?" pemuda itu berseru.
"Biar. Aku akan menolongnya sendiri." Ciu In
menjawab ketus, tanpa mengendorkan langkahnya.
"Bagaimana engkau akan menolong Adikmu? Akan
menerobos penjagaan mereka? Atau kau akan nekad
mendobraknya dari pintu depan? Ingat, Ciu-moi!
Jangan gegabah! Sekali kau gagal, kau takkan dapat
246
menemukan Adikmu lagi!" Liu Wan
memperingatkan.
Sejenak Ciu In masih tetap berlari. Namun sesaat
kemudian gadis itu sekonyong-konyong berhenti.
Sambil menutupi mukanya gadis itu tersedu-sedu.
Tampaknya ucapan Liu Wan tadi amat mengena di
hatinya.
Dengan hati-hati Liu Wan mendekati. Disentuhnya
pundak Ciu In dengan halus, tapi gadis itu cepat
menghindarinya. Tapi Liu Wan tidak berputus asa.
Sekali lagi diraihnya pundak Ciu In sambil tak lupa
mulutnya menghibur. Dan kali ini gadis itu tidak
mengelak lagi.
"Maafkanlah aku kalau aku kesalahan omong, Ciumoi.
Aku tak bermaksud menggoda atau
mengganggumu. Aku hanya mengatakan apa yang
ada, yang tadi kebetulan terlintas di dalam hatiku.
Aku bukan seorang munafik. Bukankah aku sudah
pernah mengatakan bahwa aku seorang yang sangat
menyenangi keindahan? Dan aku memang tidak
bohong atau berpura-pura ketika mengatakan kau
sangat cantik bagai bidadari. Engkau memang benarbenar
seperti bunga pek-lian (teratai putih) yang
mekar segar di pagi hari. Indah, anggun, dan
mengandung perbawa yang memukau. Nah, Ciumoi...
tidak sadarkah kau akan karunia Thian yang
diberikan kepadamu itu? Bukankah setiap hari kau
juga melihatnya sendiri di dalam kaca?" dengan
247
panjang lebar pemuda yang mahir menyusun sajak itu
menghibur Ciu In.
Gadis mana yang tak suka disanjung dan dipuja di
dunia ini? Akhirnya luluh juga hati Tio Ciu In.
Bahkan diam-diam gadis itu merasa bangga juga
hatinya.
"Aku tahu, Twako. Tapi kau tak perlu mengatakan
semuanya itu kepadaku. Aku malu. Apalagi kau lalu
menghubung-hubungkannya dengan Suhengku. Aku
sama sekali tak mempunyai hubungan apa-apa dengan
Sin Lun Suheng selain hubungan sebagai saudara
seperguruan."
"Baiklah... baiklah, aku mohon maaf yang sebesarbesarnya
kepadamu. Aku berjanji takkan
mengulanginya lagi. Nah, kau puas Nona Cantik?"
"Itu... kau sudah mulai lagi!" Geram Ciu In dengan
suara tinggi.
Liu Wan terbelalak kaget seperti orang yang
terlanjur makan sayur kepanasan.
"Ah, benar... benar. Mulutku ini memang
keterlaluan!" serunya kemudian sambil menampari
sendiri mulutnya yang usil itu. Suaranya plak-plok
menggelikan.
"Sudah... sudah kauhentikan tanganmu itu! Kau
memang lelaki konyol dan menggemaskan! " akhirnya
tak tahan juga Ciu In melihatnya. "Sekarang lebih
baik kaujelaskan saja rencanamu untuk memasuki
Kuil Pek-hok-bio itu!"
248
Liu Wan mematuhi perintah Tio Ciu In. Telapak
tangannya yang semula menampari pipi dan mulutnya
sendiri itu kini ganti mengelus-elusnya. Ternyata pipi
itu telah berubah menjadi merah juga. Sambil
tersenyum malu pemuda itu memandang Ciu In.
Mereka berada di jalan setapak di mana keduanya
mulai berjumpa kemarin. Bahkan tempat di mana
mereka sekarang berdiri adalah di bawah pohon di
mana Ciu In kemarin menangis.
"Hei, jangan bengong saja! Lekas katakan,
bagaimana rencanamu?" Ciu In menghardik, sehingga
Liu Wan tersentak kaget untuk yang kedua kalinya.
Pemuda itu benar-benar sedang kesengsem melihat
kecantikan Ciu In.
"Gila...!" pemuda itu mengumpat di dalam hati.
"Mengapa aku begini pusing melihat kecantikannya?
Bukankah aku baru kenal kemarin siang? Bukan
main! Gadis ini sungguh memiliki daya tarik yang
luar biasa. Aku toh sebenarnya bukan anak dusun
yang masih ingusan, yang terkagum-kagum melihat
kecantikan gadis kota. Aku sudah terbiasa dikelilingi
gadis-gadis cantik. Bahkan kalau mau aku bisa
mengambil sebanyak aku suka. Tapi sekali ini benarbenar
lain. sungguh luar biasa.
"Hei...? Kau ini bagaimana, sih?" Sekali lagi Ciu In
membentak dengan suara yang sangat mendongkol.
"Eh, anu... ya-ya, aku akan menyamar seperti...
seperti bidadari! Lhoh!" Liu Wan yang masih
kehilangan semangat itu menjadi gugup sehingga
249
ucapannya jungkir-balik tidak keruan. Dan pemuda itu
menjadi kaget sendiri setelah menyadarinya.
Tio Ciu In tak bisa menahan senyumnya. Bahkan
gadis molek itu akhirnya tak kuasa menahan
ketawanya. Liu Wan memang benar-benar seperti
pemuda dusun yang baru pertama kalinya melihat
kecantikan gadis kota.
Akhirnya sadar juga pemuda itu dari belenggu
keindahan yang memukaunya.
"Maaf, Ciu-moi. Aku mempunyai rencana untuk
menyusup ke dalam upacara keagamaan mereka
dengan menyamar. Kita berdua berdandan sebagai
salah seorang dari penganut aliran mereka.".
"Apakah mereka tidak akan mengenal kita? Dalam
upacara penting seperti ini tentu hanya anggotaanggota
yang telah dikenal saja yang boleh hadir."
Ciu In menanggapi.
Liu Wan tersenyum, dan pemuda itu memang
ganteng sekali kalau tersenyum.
"Tentu saja, Ciu-moi. Kita pun harus memilih pula
dalam menyamar." katanya dengan nada yakin.
"Bagaimana caranya?"
Sekali lagi Liu Wan tersenyum. "Maaf, Ciu-moi.
Sebenarnya aku sudah mempersiapkan rencana itu
jauh sebelumnya. Aku sudah menyelidiki siapa-siapa
saja penduduk kota ini yang menjadi pengikut aliran
Pek-hok-bio. Nah, untuk melaksanakan rencana kita
ini aku telah menyuruh Lo Kang dan Lo Hai ke kota
sore tadi. Sekarang kita tinggal menantikan khabar
250
dari mereka. Marilah kita ke jalan raya menunggu
kedatangan mereka!"
Tio Ciu In merengut karena merasa dibohongi
"Huh, kau tadi mengatakan bahwa belum
mempunyai rencana apa-apa. Ternyata, kau sudah
mempersiapkannya jauh-jauh sebelumnya. Huh,
mengapa tak kau katakan sejak tadi?" sungut gadis itu
jengkel.
"Eeee... jangan marah dulu! Aku tidak bermaksud
mempermainkanmu." Liu Wan buru-buru memberi
keterangan. "Aku hanya ingin mengetahui
pendapatmu. Siapa tahu kau memiliki rencana yang
lebih bagus daripada rencanaku? Kalau aku buru-buru
mengatakan rencanaku, kau tentu tak mau
mengatakan pendapatmu. Kau tentu akan mengikut
saja apa perkataanku. Benar tidak?"
Tio Ciu In mengerlingkan matanya dengan gemas.
Pemuda di hadapannya itu memang pintar berbicara
dan mengambil hati wanita.
"Baiklah... baiklah, Tuan Muda. Kau memang baik.
Baik sekali. Nah, kalau begitu mau tunggu apalagi?
Ayoh, kita pergi...!" katanya gemas.
Mereka lalu berjalan berendeng di jalan setapak
yang cukup gelap itu. Sinar rembulan terhalang oleh
rimbunnya dedaunan yang memayungi jalan tersebut,
membuat bayangan-bayangan hitam di permukaan
tanah. Namun demikian kedua jago silat itu tidak
menjadi takut atau merasa kesulitan karenanya.
251
Dari jauh terdengar lonceng dua belas kali. Mereka
telah sampai di jalan raya yang menuju ke kuil Pekhok-
bio. Di tempat yang cukup terlindung mereka
berhenti.
"Kita tunggu saja di tempat ini. Mudah-mudahan
Lo Kang dan Lo Hai berhasil." Liu Wan berbisik di
telinga Ciu In, tapi buru-buru menjauhkan diri lagi
ketika hidungnya tiba-tiba membaui bau harum
rambut gadis itu.
"Kau suruh apa sebenarnya kedua pembantumu itu,
Twako?" Ciu In yang tidak menyadari kalau dirinya
baru saja membuat Liu Wan kembali kesengsem
kepadanya itu berbisik perlahan pula di dekat telinga
Liu Wan.
"Aku... aku suruh mereka mencegat kereta Cia
Wan-gwe yang tentu diundang pula dalam upacara
korban ini. Cia Wan-gwe adalah salah seorang
penganut Pek-hok-bio yang dihormati. Kalau Lo Kang
dan Lo Hai nanti berhasil, kita berdua akan menyamar
sebagai Cia Wan-gwe suami isteri. Wajahmu akan
kuperjelek sedikit agar seperti wajah bini muda Cia
Wangwe." Liu Wan menerangkan dengan suara
sedikit gemetar.
"Eh, mengapa justru diperjelek? Masakan seorang
hartawan kaya-raya seperti Cia Wan-gwe mencari
isteri muda yang wajahnya jelek?" Ciu In bertanya
bingung.
Liu Wan tersenyum kecut. "Yaaah, kata orang istri
muda Cia Wan-gwe itu memang cantik, karena dia
252
adalah penari termashur di kota Hang-ciu ini. Tapi...
kalau dibandingkan dengan wajahmu, yaaa...
ketinggalan jauh!" katanya kemudian dengan suara
agak takut-takut.
Hampir saja Tio Ciu- In merasa hendak
dipermainkan lagi. Tapi kemudian terpandang
olehnya wajah Liu Wan yang bersungguh-sungguh,
pipinya justru menjadi merah.
"Hei... itu suara kereta!" tiba-tiba Liu Wan berseru
perlahan.
Dari jauh tampak sebuah kereta kuda merayap
pelan-pelan menuju ke arah mereka. Sebuah kereta
yang cukup bagus dan terawat baik, ditarik oleh dua
ekor kuda besar-besar. Dua orang pengendara atau
sais tampak duduk di bagian depan mengendalikan
kuda-kuda itu. Dan meskipun dalam penyamaran, Liu
Wan segera mengenal dua sais kereta itu sebagai Lo
Kang dan Lo Hai.
"Ah... mereka berhasil menculik Cia Wan-gwe.
Nah, Ciu-moi... marilah kita songsong mereka. Kita
berdandan di dalam kereta saja nanti."
Selesai bicara Liu Wan Gwe segera bersiul untuk
memberi tanda kepada kedua pembantunya bahwa dia
berada di tempat itu. Dan ternyata kedua orang bisu
itu benar-benar amat setia dan terlatih sekali. Tanpa
menimbulkan kecurigaan kereta itu mereka hentikan
di bawah pohon siong yang rindang. Sambil turun dari
kereta dan seolah-olah memeriksa kendali kudanya,
kedua orang bisu itu memberi kesempatan kepada Liu
253
Wan dan Tio Ciu In untuk naik ke dalam kereta secara
diam-diam.
Setelah yakin majikan mereka telah berada di
dalam kereta, Lo Kang dan Lo Hai lalu berpura-pura
pula memeriksa roda-roda keretanya.
"Lo Kang... Lo Hai, berilah aku waktu barang
sekejap! Aku dan Nona Tio akan berdandan dulu...
sebagai Cia Wan-gwe." Liu Wan berpesan kepada
pembantunya.
"Ah... bagaimana... bagaimana aku harus
berdandan? Aku belum pernah melihat wajah bini
muda Cia Wan-gwe." Ciu In bertanya dengan air
muka kemerah-merahan.
Ternyata Liu Wan menjadi kikuk juga. Pemuda
yang sebenarnya sudah amat terbiasa berhubungan
dengan wanita itu kini ternyata bisa menjadi salah
tingkah pula menghadapi gadis ayu seperti Ciu In.
"Ciu-moi, aku... eh... kalau boleh... anu... biarlah
aku merias dan memoles sedikit wajahmu, agar mirip
dengan bini muda Cia Wan-gwe. Tentang bentuk
badan dan pakaiannya, kau nanti tinggal memberi
ganjal sedikit pada dada dan perut, kemudian
menutupnya dengan pakaian mewah yang telah
kusediakan. Kau akan kelihatan agak gemuk dan
pendek." dengan nada gemetar pemuda itu
memberikan keterangan. '
Seketika kulit yang putih halus itu menjadi merah
seperti udang direbus. Kalau mukanya dirias, hal itu
254
berarti membiarkan jari-jari tangan pemuda itu
memegang dan mengusap-usap wajahnya.
Untuk sesaat lamanya Tio Ciu In tak bisa
menjawab atau bersuara. Hatinya menjadi bimbang
dan bingung luar biasa. Namun ketika kemudian
terbayang wajah adiknya yang ia kasihi, hatinya pun
lalu menjadi bulat. Biarlah dirinya berkorban sedikit
demi keselamatan adiknya.
"Ba-baiklah...." katanya kemudian dengan suara
seret hampir-hampir tak terdengar.
Tampaknya Liu Wan tahu juga bahwa sebenarnya
Tio Ciu In agak merasa keberatan dirias wajahnya.
Oleh karena itu dengan cepat, bahkan dengan kesan
tergesa-gesa tangannya yang trampil itu merias wajah
Cui In. Meskipun demikian ketika jari-jarinya
menyentuh dagu Cui In yang mungil itu, keringat
dingin tiba-tiba seperti membanjiri tubuhnya. Apalagi
ketika mata yang bulat berpendar-pendar indah itu
untuk sesaat menatap dirinya, kontan jari-jarinya
menjadi gemetar sehingga alat riasnya nyaris jatuh
dari tangannya.
Ternyata kegugupan Liu Wan itu sedikit banyak
menular juga kepada Ciu In. Ketika ujung-ujung jari
Liu Wan yang penuh bedak itu menyentuh dan
mengusap pipinya, tiba-tiba Ciu In merasa jantungnya
berhenti berdetak. Kaki dan tangannya terasa dingin
sekali. Apalagi ketika hembusan napas pemuda itu
menerpa wajahnya, mendadak tubuhnya seperti
gemetaran dan seakan mau melayang ke udara.
255
"Se-selesai... Ciu-moi. Kau... kau sekarang boleh
mengenakan baju luar yang mewah ini. Kau... kau tak
perlu berganti pakaian." Akhirnya Liu Wan dapat juga
menyelesaikan tugasnya.
Kemudian sementara Tio Ciu In menyelesaikan
sendiri dandanannya, Liu Wan juga memolesi
wajahnya agar sesuai dengan wajah Cia Wan-gwe.
Begitu mahirnya pemuda itu menyamar sehingga
sebentar saja wajahnya telah berubah menjadi gemuk
dan tua seperti halnya Cia Wan-gwe.
"Nah, kita sekarang telah menjadi Cia Wan-gwe
suami isteri." pemuda itu berkelakar. Lalu serunya
kepada Lo Kang dan Lo Hai di luar, "Lo Kang... Lo
Hai, sekarang kita pergi ke Kuil Pek-hok-bio."
Tio Ciu In berdebar-debar juga hatinya. Baru
sekarang ini dia memperoleh pengalaman yang
mendebarkan, namun juga mengasyikkan pula.
Otomatis perasaannya menjadi tegang, takut kalau
penyamarannya tidak berhasil dan diketahui oleh
lawannya.
"Jangan takut! Tenang-tenang saja. Paling-paling
kita berkelahi, bukan? Apakah kau takut berkelahi?"
Liu Wan yang merasakan ketegangan Ciu In mencoba
mengendorkannya.
Dan ucapan Liu Wan itu memang mengenai
sasarannya. Semangat dan keberanian Ciu In seperti
terungkat kembali.
256
"Huh, mengapa mesti takut? Tadi pun aku sudah
mengajak Twako untuk menggebrak sarang mereka
dari pintu depan!" kata gadis ayu itu panas.
Liu Wan tertawa perlahan. Tapi suaranya segera
terhenti ketika pintu jendela kereta itu diketuk dari
luar.
"Ada apa Lo Kang... Lo Hai?" pemuda itu
membuka jendela kereta seraya bertanya kepada
pembantu-pembantunya.
Kedua orang bisu itu tak memberi jawaban, hanya
tangan Lo Kang yang menyodorkan sesobek kain
putih bertuliskan huhuf-huruf yang panjang. Liu Wan
cepat menyambar sobekan kain tersebut dan membaca
huruf-hurufnya.
Kalau Penjaga menanyakan undangan,
sebutkan saja sebuah angka ganjil.
Lo Kang - Lo Hai.
"Ada apa, Twako? Apa yang ditulis di situ?" Tio
Ciu In mendesak. Liu Wan menghela napas panjang
sambil tersenyum gembira. Sobekan kain itu dia
perlihatkan kepada Tio Ciu ln.
"Kode rahasia mereka. Nanti kalau penjaga pintu
menanyakan undangan, kita harus menjawab dengan
angka ganjil." pemuda itu menerangkan.
"Ah, sungguh teliti juga mereka...." Tio Ciu ln
berdesah.
257
Akhirnya kereta itu membelok ke kiri dan
memasuki halaman depan Kuil Pek hok-bio. Sepuluh
orang anggota Pek-hok-bio segera berjajar
menghalangi kereta. Mereka tidak kalah garang
dengan orang-orang yang datang di rumah Liu Wan
sore tadi. Semua memegang golok.
"Berhenti! Apakah Tuan membawa undangan?"
salah seorang di antara mereka berseru.
Liu Wan yang sudah menyamar sebagai Cia Wangwe
itu melongokkan kepalanya keluar jendela.
"Kami mendapat... lima buah undangan!" jawabnya
mantap.
"Oooh, Cia Wangwe rupanya! Silakan! Silakan...!"
orang itu berseru lagi, namun dengan suara yang lebih
ramah.
Dengan tenang Lo Kang dan Lo Hai membawa
kereta tersebut ke depan pendapa. Diam-diam mata
mereka melirik ke sana ke mari ketika Liu Wan dan
Tio Ciu In turun dari kereta dan melangkah menaiki
tangga pendapa itu. Belasan orang penjaga tampak
berdiri berderet-deret di kanan kiri pintu masuk. Dan
seorang pendeta berjubah kuning berdiri di depan
pintu untuk menyambut kedatangan para undangan.
"Nah... ini dia Cia Wan-gwe! Silakan masuk! Kami
kira Cia Wan-gwe berhalangan datang ...." pendeta itu
menyambut kedatangan Liu Wan.
Liu Wan tidak menjawab. Pemuda itu hanya
tersenyum sambil membungkukkan badannya untuk
membalas penghormatan Tuan rumah, sementara Tio
258
Ciu In dengan hati berdebar-debar mengikuti saja
langkah Liu Wan. Mereka segara diantar ke tempat
pertemuan, di mana para undangan yang lain telah
duduk berkumpul mengelilingi sebuah panggung kecil
yang dihiasi dengan kertas dan bunga-bungaan yang
indah dan meriah.
Sekejap wajah Tio Ciu In menjadi tegang. Matanya
yang lebar indah itu menatap tajam ke arah panggung.
Ia ingin mencari di mana adiknya itu ditempatkan.
Demikian tegangnya sehingga ia tak sempat
membalas anggukan kepala atau sapaan ramah dari
tamu-tamu yang lain.
Gadis itu baru sadar ketika Liu Wan meremas
pergelangan tangannya.
"Sabar sedikit, Ciu-moi. Ia baru dikeluarkan pada
upacara puncak nanti." pemuda itu berbisik halus
seperti tahu apa yang sedang dipikirkan oleh Ciu In.
Untunglah Liu Wan dan Tio Ciu In datang
terlambat, sehingga perhatian semua orang tertuju ke
arah panggung, di mana upacara keagamaan memang
telah dimulai sejak tadi. Delapan orang pendeta
dengan jubah beraneka-warna tampak memimpin
upacara di atas panggung, sementara dua orang di
antara mereka tampak berdiri diam di tengah-tengah
panggung. Yang seorang bertubuh tinggi kurus,
berusia sekitar lima puluhan tahun, sedangkan yang
seorang lagi berbadan besar tinggi seperti raksasa.
"Pendeta bertubuh tinggi besar itulah yang bernama
So Gu Tai atau Sogudai." Liu Wan membisiki Tio Ciu
259
In. "Dan... pendeta tinggi kurus itu pemimpin Pekhok-
bio ini. Kepandaiannya sangat tinggi dan
ginkangnya sangat bagus. Ilmu andalannya adalah
Tiat-poh-san (Baju Besi), yang membuat ia kebal
terhadap segala macam senjata;' tajam. Tanpa sinkang
yang tinggi jangan harap bisa melukai tubuhnya yang
kurus kering itu."
Tio Ciu in melirik ke arah Liu Wan. Diam-diam
hatinya merasa kagum terhadap pemuda itu. Selain
memiliki kepandaian yang bermacam-macam,
pemuda itu juga mempunyai pengetahuan yang luas
pula di dalam dunia persilatan.
"Gurunya yang tak mau dikenal orang itu tentu
seorang tokoh persilatan yang amat tersohor di masa
lalu." Gadis itu berkata di dalam hatinya.
Tiba-tiba terdengar suara pujaan yang menggelegar
memenuhi ruang pertemuan itu, sehingga suara doa
yang diucapkan secara berbareng oleh pendetapendeta
tersebut seperti hilang atau tertindih oleh
getaran suara itu. Para undangan yang berada di
tempat itu segera berdiri sambil mengangkat kedua
tangannya ke atas kepala. Semuanya lalu mengikuti
kata-kata yang diucapkan oleh suara yang
menggelegar itu. Liu Wan dan Tio In terpaksa
mengikuti pula apa yang mereka lakukan.
Suara yang menggelegar itu seperti meletup dari
mana-mana, sehingga Ciu In tidak bisa mencari siapa
yang telah mengeluarkan suara tersebut. Gadis itu
baru mengerti ketika Liu Wan memberitahukannya.
260
"Suara itu dikeluarkan oleh So Gu Tai dengan ilmu
Sai-cu Ho-kangnya (Auman Singa). Lwe-kangnya
memang sangat tinggi. Hmmh, mari kita tunggu!
Sebentar lagi upacara puncak, yaitu Upacara Korban
untuk Dewa Matahari dan Bulan, akan dimulai."
Diam-diam Tio Ciu In bergetar juga hatinya. Orang
yang bernama So Gu Tai itu ternyata memiliki tenaga
dalam yang begitu hebat. Terus terang kalau
diperbandingkan dengan orang itu, dirinya masih
kalah jauh. Oleh karena itu hatinya semakin kagum
kepada Liu Wan yang bisa mengalahkan orang itu.
Ketika Tio Ciu In memandang ke arah panggung
kembali, tiba-tiba secara tak sengaja matanya melihat
sesuatu yang mencurigakan pada seorang tamu
undangan. Orang itu berdiri tak jauh di depannya,
seorang laki-laki bongkok dengan rambut dan jenggot
yang penuh uban. Tadi secara tak sengaja Tio Ciu In
melihat orang tua itu membetulkan letak
punggungnya yang menonjol itu.
Sekejap Tio Ciu In tak habis mengerti, mengapa
punggung yang bongkok itu bisa melenceng ke kanan
dan ke kiri sehingga perlu dibetulkan kembali. Namun
di lain saat gadis itu menjadi berdebar-debar hatinya.
Jangan-jangan orang itu juga sedang menyamar
seperti dirinya. Tapi sebelum ia mengatakan
kecurigaannya itu kepada Liu Wan, sekonyongkonyong
lampu di ruangan tersebut padam. Dan
gantinya lilin-lilin besar yang telah disiapkan di atas
261
panggung itu kemudian dinyalakan oleh para pendeta
tadi.
Sementara itu penjagaan di sekitar ruangan dan
gedung tempat pertemuan itu semakin diperkuat lagi.
Puluhan orang penjaga tampak berpagar betis
mengelilingi setiap tempat yang dirasa berbahaya.
Bahkan pintu halaman juga telah ditutup, sedangkan
para anggota Pek-hok-bio yang garang-garang itu
kelihatan meronda di seluruh halaman.
Malam semakin terasa dingin. Bulan penuh yang
sejak sore tadi selalu terbungkus awan, mendadak
muncul pula di atas langit. Dan seperti mendapat abaaba,
tiba-tiba angin pun lalu bertiup pula dengan
derasnya.
"Ah, tampaknya Dewi Bulan benar-benar menerima
persembahan kita kali ini...!" salah seorang anggota
Pek-hok-bio yang bertugas di halaman depan itu
berkata kepada kawannya.
"Yah, sungguh mengherankan. Bersamaan dengan
akan dimulainya Upacara Korban ini, tiba-tiba
rembulan muncul dari peraduannya. Dewa angin
seakan-akan menjadi ikut bergembira pula." temannya
menyahut dengan suara bersungguh-sungguh.
"Hemmm, tetapi omong kosong... malam ini
rasanya hatiku seperti tidak tenteram. Sedari tadi
perasaanku selalu berdebar-debar saja. Jangan-jangan
...." yang seorang lagi tiba-tiba menyela.
"Ah, kau ini...!" Tampaknya kekalahanmu dalam
memainkan Barongsai di pendapa kabupaten tadi
262
masih membekas di hatimu, sehingga kau masih
dilanda kekhawatiran saja sampai sekarang!" orang
yang pertama tadi berkata kesal karena
kegembiraannya seperti diganggu oleh temannya
tersebut.
"Benar! Kau tampaknya memang masih
terpengaruh oleh kekalahanmu tadi. Sudahlah, jelekjelek,
kau dan Pang Un masih mendapatkan nomer
dua. Kau masih lebih unggul daripada pemain Hek-topai
itu." orang yang ke dua tadi juga ikut menghibur
pula.
"Ah, bukan hal itu yang membuat hatiku tidak
tenteram. Kekalahanku tadi memang wajar. Pemain
barongsai dari Ui-thian-cung itu memang cerdik dan
lihai, sehingga aku dan Pang Un selalu dibuat mati
langkah." anggota Pek-hok-bio yang selalu
berdebaran hatinya itu membela diri.
"Lalu... apa yang kaukhawatirkan? Apakah kau
mempunyai pikiran bahwa malam ini akan ada orang
yang berani datang ke mari untuk mengacaukan
jalannya upacara kita? Hehehehe, kau jangan terlalu
bodoh. Siapa yang akan berani memasuki sarang
macan seperti ini?"
"Bukan! Bukan itu! Upacara ini...?" sambil
menggeleng-gelengkan kepalanya pemain barongsai
Pek-hok-bio itu menolak tuduhan teman-temannya,
tapi untuk menerangkan kekhawatirannya itu ternyata
mulutnya mengalami kesulitan.
263
"Sudahlah...! Tampaknya kau hanya merasa tegang
karena upacara korban seperti ini memang baru sekali
ini kita selenggarakan. Mungkin kau juga terpengaruh
atau terlalu memikirkan gadis manis yang hendak kita
korbankan itu, hehehe...!" orang ke dua tadi segera
menengahi perselisihan kecil itu.
"Ayoh, kita meronda lagi...!" para anggota Pekhok-
bio yang lain segera berseru pula.
Demikianlah para anggota Pek-hok-bio yang
bertugas mengawasi halaman itu lalu menyebar
kembali. Dengan kewaspadaan tinggi mereka
mengawasi seluruh halaman kuil mereka. Upacara
yang sedang mereka selenggarakan sekarang ini
adalah upacara khusus yang tidak boleh diketahui oleh
orang luar, karena itu tak seorang pun diperbolehkan
masuk selain anggota-anggota kehormatan.
Ternyata tidak cuma para penjaga kuil saja yang
menjadi tegang, tapi tamu-tamu undangan yang
berada di dalam ruang pertemuan pun menjadi tegang
pula hatinya ketika gadis yang akan dikorbankan itu
telah dikeluarkan dari tempat penyimpanannya. Tak
terkecuali Tio Ciu In dan Liu Wan! Bahkan pemuda
itu sampai harus memegang lengan Ciu In agar tidak
bertindak sembrono.
Hampir-hampir semua mata tak berkedip
memandang ke arah altar yang ada di tengah-tengah
panggung di mana gadis itu dibaringkan. Seperti
terkena pengaruh sihir, gadis itu sama sekali tak
bergerak atau bersuara. Meskipun pelupuk matanya
264
itu terbuka lebar, namun sama sekali matanya tak
bereaksi melihat kerumunan orang di sekitarnya.
Liu Wan menggamit lengan Tio Ciu In.
"Bagaimana...? Apakah gadis itu benar Adikmu?"
bisiknya perlahan.
Tio Ciu In mengusap keringat yang mengalir di
lehernya. "Aku... aku agak sangsi, Twako. Potongan
tubuhnya memang seperti Siau In, adikku, tapi... tapi
wajahnya rasanya seperti bukan. Aku belum bisa
melihatnya dengan jelas. Twako, mari... marilah kita
mendekat saja!" jawabnya kemudian dengan suara
seperti tercekik karena ketegangan hatinya.
Liu Wan ingin mencegah, tapi Tio Ciu In sudah
terlanjur melangkah ke depan. Dan pada saat yang
sama orang tua bongkok di depan Tio Ciu In tadi juga
bergeser ke arah panggung pula, sehingga Tio Ciu In
seperti sedang membuntutinya.
Tentu saja Liu Wan juga takkan mem biarkan Tio
Ciu In menempuh bahaya sendirian. Dialah yang tadi
mengajak gadis itu ke mari. Apalagi di tempat
tersebut dia sebagai Cia Wan-gwe memang
seharusnya selalu mendampingi isterinya ke mana ia
pergi. Oleh karena itu dengan agak tergesa namun
juga jangan sampai menimbulkan kecurigaan Liu
Wan mengikuti langkah Tio Ciu In dari belakang.
Sementara itu di atas panggung, upacara benarbenar
telah mencapai puncaknya. Dengan diikuti
suara-suara pujian yang ditujukan kepada Dewi Bulan
dan Matahari, Ketua Kuil Pek-hok-bio yang tinggi
265
kurus itu mulai mencopoti pakaian yang dikenakan
oleh gadis korban mereka. Dan bersamaan itu pula
sebagian dari atap genteng yang menaungi ruangan
tersebut dibuka oleh petugas Pek-hok-bio, sehingga
sinar bulan yang putih pucat itu segera menerobos ke
dalam, persis di atas altar di mana gadis korban itu
tergeletak.
Suasana semakin mencekam. Di dalam keremangan
sinar lilin yang bergoyang-goyang, cahaya bulan yang
menerobos genting itu bagaikan tebaran jala yang
mengurung altar tempat gadis korban itu berbaring.
Semuanya diam terpaku di tempat masing-masing.
Hanya para pendeta itu saja yang masih tetap
melantunkan doa-doa pujaannya.
Ketua Kuil Pek-hok-bio telah selesai mencopoti
pakaian gadis korbannya. Tubuh mulus itu tampak
gilang gemilang ditimpa sinar bulan. Dan gadis itu
sendiri tetap seperti semula. Diam, pasrah, dengan
tatapan mata yang dingin kaku seolah tak bernyawa.
Ketika ketua Kuil Pek-hok-bio itu kemudian
mencabut pisau belati dari pinggangnya, dan siap
untuk dihunjamkan ke jantung gadis itu, sekonyongkonyong
berkelebat sebuah bayangan dari bawah
panggung, yang kemudian ternyata diikuti pula oleh
sebuah bayangan lainnya.
-- o0d-w0o --
266
JILID VII
AHAAAAAAN...!" bayangan yang
pertama yang tidak lain adalah orang
tua bongkok tadi berteriak seraya
menyerang punggung Ketua Kuil Pekhok-
bio.
"Hentikan...!" bayangan ke dua yang tidak lain
adalah bayangan Tio Ciu In berseru pula seraya
menerjang ke arah altar.
Semua orang terkejut. Kejadian itu benar-benar di
luar dugaan. Tak seorang pun berpikir bahwa tempat
yang terjaga kuat dan rapi itu akan bisa kemasukan
perusuh dari luar. Demikian pula halnya dengan para
pimpinan, pendeta dan para anggota Kuil Pek-hok-bio
itu.
Namun semua telah terjadi. Dua orang tamu
undangan telah meloncat menyerang ke arah
panggung. Dan penyerang itu ternyata sangat dikenal,
oleh para anggota Kuil Pek-hok-bio tersebut, karena
mereka adalah Gu Lam Si Kakek Penjaga Kamar
Buku, dan Nyonya Cia anggota kehormatan Kuil Pekhok-
bio sendiri.
"Gu Lam! Apa yang kaulakukan?" Ketua Kuil Pekhok-
bio yang kurus kering itu membentak sambil
mengelak ke samping.
"Cia Hu-jin (Nyonya Cia), tahaaaaaan ...!" para
pendeta yang mengelilingi altar itu berteriak seraya
menghadang langkah Tio Ciu In.
T
267
Melihat serangan tangannya gagal, kakek bongkok
itu segera berputar pula ke samping untuk mengejar
lawannya, tapi dua orang pendeta berjubah merah itu
telah memotong langkahnya. Bahkan kedua orang itu
telah menyabetkan dua pasang ujung lengan baju atau
jubah mereka yang panjang ke arah dada dan
kepalanya. Begitu kuat tenaga dalam yang mereka
pergunakan sehingga angin pukulannya telah lebih
dulu datang daripada ujung lengan bajunya.
"Gu Lam! Apakah kau sudah gila, menyerang
Ketua sendiri?" sambil menyerang salah seorang dari
pendeta itu menghardik.
Wuuuuus! Wuuuuus!
Plak! Plak!
Kakek bongkok itu tidak berusaha untuk mengelak,
sebaliknya ia mengerahkan tenaga ke lengannya untuk
menangkis serangan tersebut. Dan akibatnya sungguh
di luar dugaan masing-masing.
Kedua pendeta berjubah merah itu merupakan
tokoh tingkat dua di Kuil Pek-hok-bio, dan
merupakan orang-orang ke dua setelah ketuanya.
Sedangkan Gu Lam hanyalah penjaga Kamar Buku.
Maka tidaklah aneh kalau kedua pendeta berjubah
merah tersebut tidak bersungguh-sungguh dalam
serangan mereka. Mereka hanya mengerahkan
separuh bagian dari tenaga dalam mereka, dan semua
itu sudah lebih dari cukup untuk menghentikan
amukan Gu Lam. Dan keduanya yakin betul akan hal
itu.
268
Akan tetapi hasilnya sungguh mengejutkan!
Bukannya Gu Lam yang jatuh tunggang langgang
akibat bentrokan kekuatan itu, tapi sebaliknya justru
mereka berdualah yang terdorong ke belakang dengan
kuatnya! Untunglah dalam kekagetan mereka, mereka
masih bisa bertahan untuk tidak jatuh terjengkang ke
atas panggung, sehingga untuk sementara mereka
masih dapat menyelamatkan diri dari rasa malu yang
lebih besar!
Tentu saja kedua pendeta itu menjadi marah bukan
main. Wajah mereka menjadi merah padam saking
malu dan gusarnya. Namun ketika mereka berdua
sudah bersiap sedia untuk menghukum Kakek Gu
Lam, tiba-tiba mereka terbelalak! Kakek penjaga
kamar buku itu kini telah berubah bentuk maupun
wajahnya!
Kakek bongkok itu kini dapat berdiri dengan tegap.
Sebuah bantal kecil yang dipakai untuk mengganjal
punggungnya tadi tampak tergeletak di bawah
kakinya. Wajahnya yang berjenggot dan berkeriput
tadi kini kelihatan bersih dan gagah. Ternyata getaran
udara yang diakibatkan oleh bentrokan tenaga tadi
telah merontokkan tempelan-tempelan bedak kering
yang dipakai untuk menyamar sebagai Gu Lam.
Sementara itu nasib lio Ciu In ternyata juga tidak
jauh bedanya dengan Gu Lam palsu! Di dalam
ketergesaannya tadi ternyata Ciu In juga telah
melupakan pula penyamarannya sendiri. Ketika empat
orang pendeta yang berada di sekeliling altar tadi
269
mencegatnya, ia tidak peduli. Ciu In nekad saja
menjenguk ke arah altar untuk melihat gadis korban
itu. Gadis itu hanya mengelak saja secara reflek ketika
dua orang di antara pendeta itu mendorongnya.
Akibatnya dorongan itu mengenai bantal yang
mengganjal perut dan dadanya, sehingga bantal itu
tersembul ke luar dari tempatnya. Tentu saja bentuk
tubuhnya menjadi lucu dan aneh!
"Hah, kau bukan Cia Hu-jin!" kedua pendeta itu
segera berteriak.
"Hei? Siapa kau...?" dua orang pendeta berjubah
merah itu juga berteriak pula ke arah Gu Lam palsu.
Kejadian yang tak tersangka-sangka itu segera
merubah suasana yang semula tenang dan serius itu
menjadi ribut dan panik. Para tamu yang rata-rata tak
mengerti ilmu-ilmu silat itu menjadi ketakutan.
Mereka menyangka kuil itu telah kedatangan musuh
atau pasukan keamanan kota. Mereka segera berlarian
ke arah pintu, sehingga tak ayal lagi mereka saling
bertubrukan dan berdesak-desakan. Jerit dan tangis
para tamu wanita tak dapat dicegah lagi.
Namun keributan itu sama sekali tak
mempengaruhi keadaan di atas panggung. Lelaki yang
menyamar sebagai Gu Lam palsu dan masih tetap
berhadapan dengan pendeta berjubah merah. Lelaki
yang masih amat muda itu tidak segera menjawab
pertanyaan lawan-lawannya. Matanya yang tajam itu
justru melirik ke arah Tio Ciu In yang juga kedodoran
penyamarannya. Sekilas dahinya yang lebar itu
270
berkerut, agaknya ia merasa kaget atau heran, karena
ada orang lain yang sedang menyamar pula seperti
dirinya. Ada terbersit keinginannya untuk mengetahui
siapa gadis itu, tapi kedua lawannya tak memberi
kesempatan kepadanya.
Melihat perusuh yang menyaru sebagai Gu Lam
palsu itu tidak mempedulikan pertanyaan mereka,
kedua pendeta berjubah merah itu menjadi marah
bukan buatan. Berbareng mereka menerjang dari
kanan dan kiri. Masing-masing tetap mempergunakan
ujung lengan baju mereka yang lebar itu sebagai
senjata.
Whuuus! Whus! Whuuuss!
Hembusan angin yang amat kuat segera mengurung
Gu Lam palsu. Begitu kuatnya sehingga anak muda
itu tidak berani lagi adu kekuatan seperti tadi. Dan
untuk menyelamatkan diri dari kurungan tersebut,
pemuda itu cepat merendahkan tubuh serendahrendahnya,
kemudian bergeser mundur mengikuti
hembusan angin pukulan lawannya.
Sesaat dua pendeta berjubah merah itu terkesiap
melihat gerakan anak muda tersebut. Gerakan yang
dilakukan oleh anak muda itu terang sangat sulit dan
merupakan bagian dari sebuah jurus ilmu silat yang
sangat tinggi. Kelihatannya memang sederhana, tapi
tanpa dasar dan perhitungan yang matang tak
mungkin gerakan tersebut bisa dilaksanakan dengan
mulus. Jelas bagi kita sekarang, pemuda itu memiliki
ilmu silat yang amat tinggi. Cuma mereka berdua
271
tidak tahu, dari aliran atau perguruan mana lawan
mereka tersebut berasal. Yang terang mereka berdua
harus berhati-hati.
Sementara itu di dekat mereka Tio Ciu In juga
sedang menghadapi empat orang pendeta berjubah
kuning tingkat tiga di kuil Pek-hok-bio itu. Karena
penyamarannya sudah terlanjur kedodoran, maka Tio
Ciu In juga tak ingin direpotkan oleh dandanannya
lagi. Baju luar, sanggul, ganjal perut dan tempelantempelan
bedak yang menutup sebagian wajahnya
segera dibuangnya.
Melihat lawan mereka sekarang berubah menjadi
gadis yang lebih cantik lagi, empat pendeta berjubah
kuning itu terke jut. Apalagi ketika mereka lihat gadis
itu masih sangat muda sekali.
"Kau... kau siapa? Mengapa kau mengacau upacara
kami?" dalam gugupnya salah seorang dari pendeta
itu berseru.
Seperti halnya dengan Gu Lam palsu, sikap Tio Ciu
In sekarang juga tidak setegang tadi. Kenyataan
bahwa gadis yang terbaring di atas altar itu bukan
adiknya membuat hati Tio Ciu In menjadi tenang
kembali. Namun demikian Tio Ciu In tetap bertekad
untuk menolong gadis itu. Gadis yang tak berdosa itu
harus diselamatkan.
"Jangan kalian ributkan aku ini siapa! Lebih baik
kalian melepaskan gadis yang tak berdosa itu!"
272
"Kurang ajar! Kau bocah kecil ini memang sudah
bosan hidup! Pergi...!" Pendeta itu tersinggung dan
berteriak gusar.
Tanpa basa-basi lagi keempat pendeta berjubah
kuning itu lalu menyerang Tio Ciu In. Seperti temanteman
mereka yang berjubah merah, merekapun
mempergunakan lengan baju mereka yang lebar dan
panjang itu untuk senjata. Bagaikan gumpalan awan
yang bertebaran di udara, lengan baju mereka
bergulung-gulung menimpa ke arah dada Tio Ciu In.
Begitu dahsyatnya tenaga yang mereka kerahkan
sehingga Tio Ciu In merasa seperti ada ratusan batu
besar yang hendak menimpanya.
Dan kali ini Tio Ciu In tidak mau sembrono lagi
seperti tadi. Dengan tangkas kedua tangannya
mencabut pedang pendek yang terselip di lengannya.
Srrrt! Srrrt..! Pedang itu lalu diputarnya dengan
kencang mengelilingi tubuhnya, sehingga lawanlawannya
terpaksa menarik kembali serangan mereka
agar tidak terpotong oleh sabetan pedang tersebut.
Tapi para pendeta itu juga tak ingin melepaskan Tio
Ciu In. Untuk menanggulangi pedang tesebut mereka
terpaksa mengeluarkan senjata pula, yaitu kebutan
lalat yang gagangnya terbuat dari besi dan bulu
kebutannya dari ekor kuda pilihan. Dengan bulu
kebutan tersebut para pendeta itu ingin merampas
pedang pendek Tio Ciu In.
Demikianlah pertempuran seru pun tak bisa
dielakkan lagi, sehingga panggung yang sempit itu
273
menjadi terlalu sesak untuk pertempuran dua arena
tersebut. Terpaksa dalam sebuah kesempatan Tio Ciu
In meloncat turun ke bawah panggung. Tentu saja
lawan-lawannya tak ingin kehilangan dirinya. Mereka
melayang turun pula mengejar dia.
Sambil melayani kurungan lawannya Tio Ciu In
mencuri lihat ke sekelilingnya, ke ruang kosong yang
telah ditinggalkan tamu-tamunya. Gadis itu hanya
melihat belasan penjaga atau anggota Kuil Pek-hokbio
di tempat itu. Mereka bersiaga penuh dengan
senjata masing-masing mengurung ruangan tersebut.
Tapi ia tak melihat Liu Wan di antara mereka.
Kemanakah sebenarnya pemuda lihai itu?
Ternyata apa yang dilakukan oleh Liu Wan juga
tidak kalah sibuknya dengan Tio Ciu In maupun Gu
Lam palsu. Pemuda itu sekarang sedang bertempur
pula dengan hebatnya melawan So Gu Tai dan Ketua
Kuil Pek-hok-bio di atas genting. Jauh lebih dahsyat
dan lebih seru dari pada pertempuran di dalam
ruangan tersebut.
Tadi ketika seluruh perhatian orang tertuju ke arah
keributan di atas panggung, diam-diam Liu Wan
melihat musuh lamanya, So Gu Tai bersama Ketua
Kuil Pek-hok-bio berusaha meloloskan diri melalui
lobang genting yang terbuka. Tentu saja pemuda itu
tak mau melepaskannya, dengan tangkas ia mengejar
mereka.
Untuk beberapa saat kedua tokoh Pek-hok-bio itu
menjadi bingung melihat Cia Wan-gwe yang telah
274
mereka kenal itu bisa melompat ke atas genting
mengejar mereka. Tetapi setelah Liu Wan tertawa dan
mengejek tingkah laku mereka, So Gu Tai segera
mengenalnya.
"Bun-bu Siu-cai (Pelajar Serba Bisa), mengapa kau
selalu saja mengejar-ngejar aku? Apa salahku
kepadamu?"
peranakan suku
bangsa Monggol
dan Hun itu
bertanya jeri.
"Saudara So,
siapakah yang
menyamar seperti
Cia Wan-gwe
ini?" Ketua Pekhok-
bio bertanya
kepada So Gu Tai.
"Dialah pemuda
yang kuceritakan
dulu. Namanya
Liu Wan, digelari
orang Si Pelajar
Serba Bisa karena dia pandai ilmu silat, ilmu sastra,
ilmu-ilmu pengobatan, melukis dan menyamar."
"Oooh!" Ketua Kuil Pek-hok-bio yang kurus kering
itu terkejut.
"Benar, hahaha...! Kalian tak menyangka, bukan?
Aku pun tak menyangka pula bahwa tokoh-tokoh
275
terhormat seperti kalian berdua ini bisa berubah
menjadi pengecut yang meninggalkan anak buahnya
untuk menyelamatkan dirinya sendiri!" Liu Wan
tertawa mengejek sambil melepaskan alat-alat
penyamarannya.
"Bangsat! Kau benar-benar sombong! Kaukira aku
takut mendengar namamu, hah?" Ketua Kuil Pek-hokbio
itu tersinggung dan menjerit berang.
Selesai mencopoti semua alat yang ia pakai untuk
menyamar, Liu Wan bertolak pinggang. "Hehehe,
kalau kau memang tidak takut... mengapa kau harus
melarikan diri?"
"Kurang ajar! Bocah bermulut lancang! Lihat
kebutanku...!" sambil berteriak marah Ketua Kuil
Pek-hok-bio itu mengeluarkan kebutan dan
menyerang Liu Wan.
Bulu kebutan yang lemas itu mendadak menjadi
kaku seperti sikat baja dan menusuk ke uluhati. Tapi
dengan lincah Liu Wan menggeliat ke samping,
kemudian balas menyerang dengan tusukan jari
tangannya. Cuuuus! Jari itu melesat ke arah ketiak
lawannya.
Ketua Pek-hok-bio semakin gusar. Kebutan yang
gagal mengenai lawannya itu ia tarik ke atas,
kemudian ia sabetkan mendatar mengarah ke kepala
Liu Wan. Dan kali ini bulu kebutan itu telah berubah
menjadi lemas kembali seperti cambuk.
Taaaaar! Bulu kebutan itu melecut udara kosong,
karena Liu Wan telah lebih dulu menundukkan
276
tubuhnya. Bahkan sambil menundukkan tubuhnya
pemuda itu masih sempat membalas pula. Siku
kanannya terayun menghajar lutut lawannya.
Dengan tergesa-gesa Ketua Kuil Pek-hok-bio itu
membuang tubuhnya ke belakang! Praaak! Dua buah
genting hancur terijak kakinya. Dan tubuh yang kurus
kering itu terguling ke kiri hampir jatuh. Untunglah
So Gu Tai cepat menyambar ujung jubahnya.
"Bedebah! Kau memang harus dibunuh!" untuk
menutupi perasaan malunya Ketua Kuil Pek-hok-bio
itu mengumpat-umpat.
"Sudahlah! Mari kita lawan bersama-sama!"
akhirnya So Gu Tai yang lihai itu menawarkan diri.
"Baik! Marilah...!" ternyata Ketua Kuil Pek-hokbio
itu menyahut tanpa malu-malu lagi.
Namun sebelum pertempuran itu dilanjutkan
kembali, tiba-tiba di halaman depan terdengar suara
ribut-ribut pula. So Gu Tai dan Ketua Kuil Pek-hokbio
saling pandang dengan wajah kaget, lalu menatap
Liu Wan dengan curiga.
"Kau membawa teman?" So Gu Tai menggeram.
Liu Wan tercengang. Tapi di lain saat bibirnya
kembali tersenyum. "Kau jangan mengada-ada!
Bukankah itu suara para tamu yang lari ketakutan?
Kau jangan mencari-cari al«san untuk melarikan diri!"
ejeknya pedas.
"Bangsat sombong...!" Ketua Kuil Pek-hok-bio
mengumpat.
277
Tapi sebelum orang kurus kering itu melompat
menerjang Liu Wan, mendadak dari bawah genting
meloncat tiga orang berjubah kuning.
"Suhu! Kuil... kuil kita diserbu gerombolan
pengemis! Mereka telah masuk ke halaman!" dengan
suara gugup mereka bertiga melapor kepada Ketua
Kuil Pek hok-bio.
"Hah...? Gerombolan pengemis? Pengemis dari
mana?" So Gu Tai menyahut dengan suara geram.
"Tampaknya mereka dari perkumpulan Tiat-tung
Kai-pang!"
"Tiat-tung Kai-pang?" Ketua Kuil Pek-hok-bio
berdesah cemas." Hmmh, kalau begitu.... cepat kalian
siapkan saudara-saudara kalian untuk menghadapi
mereka! Sebentar lagi aku datang!"
Tak heran kalau Ketua Kuil Pek-hok-bio itu merasa
cemas. Perkumpulan Tiat-tung Kai-pang
(Perkumpulan Pengemis Bertongkat Besi) memang
sebuah perkumpulan yang amat disegani di daerah
selatan. Belasan tahun yang lalu ketika masih
dipimpin oleh Tiat-tung Lo-kai, perkumpulan
pengemis tersebut benar-benar mengalami
kejayaannya. Sedemikian kuat dan besar anggota
mereka waktu itu sehingga perkumpulan mereka
terpaksa dibagi menjadi dua daerah, yaitu daerah
selatan dan utara aliran Sungai Yang-tse. Daerah di
sebelah selatan Sungai Yang-tse dipimpin oleh Tiattung
Lo-kai, sedangkan di sebelah utara Sungai Yangtse
dipimpim oleh Tiat-tung Hong-kai (Pengemis Gila
278
Bertongkat Besi). Mereka berdua adalah saudara
seperguruan. Dan sekarang, meskipun perkumpulan
itu tidak sebesar dan sekuat dulu lagi, namun sisa-sisa
kebesarannya masih tetap melekat di hati kaum
persilatan.
Begitu pendeta-pendeta berjubah kuning itu pergi,
Ketua Kuil Pek-hok-bio kembali menghadapi Liu
Wan.
"Huh! Ternyata kau bersekongkol dengan
pengemis-pengemis busuk dari Tiat-tung Kai-pang!"
Liu Wan menjadi marah juga akhirnya. "Kau
jangan mencampur-adukkan urusanku dengan urusan
Tiat-tung Kai-pang! Aku tidak mengenal mereka, dan
mereka juga tidak mengenal aku! Kalau kebetulan
sekarang mereka datang ke sini bersamaan dengan
kedatanganku, hal itu berarti bahwa kuilmu ini
memang mempunyai banyak musuh!"
"Tutup mulutmu!" orang tua itu menjadi marah.
Demikianlah pertempuran tak bisa dielakkan lagi,
Liu Wan dikeroyok Ketua Kuil Pek-hok-bio dan So-
Gu Tai. Mereka bertempur di atas genting dengan ginkang
mereka yang tinggi. Di dalam cahaya bulan yang
gilang gemilang tubuh mereka berkelebatan ke sana
ke mari bagaikan burung malam yang sedang berebut
mangsa.
Ketua Kuil Pek-hok-bio tetap memegang
kebutannya, sementara So Gu Tai telah mengeluarkan
ruyungnya pula, tapi Liu Wan tetap mempergunakan
tangan kosong untuk melayani mereka. Meskipun
279
demikian pemuda itu tidak tampak di bawah angin.
Malahan sering kali pemuda itu bisa menindih
permainan senjata lawannya.
"Anak Setan! Anak Gila! Siapakah sebenarnya kau
ini? Siapakah Gurumu?" karena kesalnya Ketua Kuil
Pek-hok-bio itu mengumpat-umpat tiada habisnya.
Liu Wan tertawa lepas. "Kau ingin mengetahui
siapa aku dan siapa Guruku? Hahahaha, mudah
sekali! Desaklah aku! Paksalah aku untuk
mengeluarkan ilmu silatku yang sejati! Nanti kau akan
mengenalnya...!"
"Baik! Hati-hatilah...!"
Ketua Kuil Pek-hok-bio itu lalu memberi tanda
kepada So Gu Tai. Bersama-sama mereka menerjang
Liu Wan. Sambil mengibaskan kebutannya Ketua
Kuil Pek-hok-bio itu menebarkan tepung kuning
berbau wangi ke tubuh Liu Wan. Dan serangan
tersebut segera dibantu pula oleh So Gu Tai. Raksasa
Monggol itu menyabetkan ruyungnya ke bawah,
sementara tangannya yang lain mengayunkan belasan
batang paku kecil ke arah kepala, dada dan perut Liu
Wan. Tampaknya mereka berdua memang benarbenar
ingin mendesak pemuda itu.
Serangan yang bertubi-tubi itu memang membuat
Liu Wan kewalahan, tapi pemuda itu masih tetap
bertahan untuk tidak mengeluarkan ilmu andalannya.
Dengan berjungkir balik sambil berkali-kali
mengibaskan lengan bajunya, pemuda itu berusaha
280
mengelak dan menyingkirkan paku-paku serta tepung
beracun yang mengurung dirinya.
Tapi So Gu Tai dan Ketua Kuil Pek-hok-bio sudah
bertekad untuk memaksa Liu Wan mengeluarkan ilmu
andalannya. Belum juga pemuda itu mampu
membebaskan dirinya, mereka telah menyusulkan
pula serangan yang lain. Bulu kebutan Ketua Kuil
Pek-hok-bio itu tiba-tiba meledak ketika disabetkan,
dan sejumput bulu pada ujungnya mendadak putus,
lalu menebar ke arah Liu Wan. Sedangkan So Gu Tai
dengan tenaga dalamnya yang kuat memutar-mutar
ruyungnya sekuat tenaga.
Kini Liu Wan memang tidak memiliki kesempatan
untuk mengelak lagi. Dalam keadaan sibuk
menghindari serangan paku dan taburan tepung wangi
itu, dia tidak mungkin bisa mengelakkan dua serangan
tersebut. Apalagi putaran ruyung So Gu Tai itu benarbenar
ganas luar biasa.
Dalam keadaan seperti itu Liu Wan memang
dipaksa untuk mengeluarkan kesaktiannya. Tanpa
mempergunakan jurus-jurus silat tingkat tinggi tak
mungkin seseorang dapat melepaskan diri dari hujan
serangan seperti itu. Dan hal itu memang dilakukan
oleh Liu Wan!
Ketika akhirnya pemuda itu merasa tidak dapat
menghindar lagi, tiba-tiba ia memutar tubuhnya
seperti gasing. Dan pada saat itu pula sekonyongkonyong
dari telapak tangan Liu Wan meniup angin
pusaran yang amat kuat, berputar seperti puting
281
beliung, yang melanda dan melontarkan kembali
semua benda yang mendekati dirinya. Begitu
dahsyatnya hembusan angin yang keluar dari telapak
tangan pemuda itu, sehingga tidak cuma paku, tepung
wangi, dan bulu kebutan saja yang terpental balik, tapi
tubuh Ketua Pek-hok-bio dan So Gu Tai pun ikut
terdorong mundur pula dengan kuatnya. Bahkan
tumpukan genting yang terinjak oleh pemuda itu turut
tersibak dan terlempar ke mana-mana. Dan sebagian
di antaranya jatuh ke bawah menimpa panggung
upacara!
Semuanya terkejut. Tidak terkecuali Gu Lam palsu
yang masih bertempur seru melawan dua pendeta
berjubah merah itu. Pecahan-pecahan genting yang
berjatuhan dari atas itu memaksa dia berjumpalitan ke
arah altar untuk menyelamatkan gadis korban yang
masih terbujur diam di tempat tersebut. Sekali sambar
pemuda itu berhasil menyingkirkan tubuh telanjang
itu dari malapetaka.
Bergegas pemuda itu melepaskan baju luarnya dan
mengenakannya pada tubuh gadis itu. Kemudian
dengan geram pemuda itu menatap ke atas panggung
kembali. Tapi kedua lawannya tadi telah menghilang.
Demikianlah pula halnya dengan anggota-anggota
Pek-hok-bio lainnya. Ruangan itu telah kosong.
Tinggal gadis yang menyamar sebagai Cia Hujin
bersama lawan-lawannya saja yang masih berada di
sana.
282
Pemuda yang menyamar sebagai Gu Lam itu
menatap ke atas genting. Ia tidak tahu siapa yang
sedang berlaga di sana. Namun mendengar deru angin
dahsyat yang menggetarkan bangunan gedung itu ia
percaya tentu ada orang sakti di atas genting. Tak
terasa matanya menatap ke arah Tio Ciu In kembali.
"Tampaknya gadis itu juga membawa teman pula.
Mungkin gurunya. Dia juga bermaksud menolong Li
Cu. Eeem, siapakah dia...?" pemuda itu berkata di
dalam hatinya.
Pemuda itu lalu melangkah ke jendela dan
melongok ke halaman. Di dalam cerahnya sinar
rembulan ia melihat pertempuran yang kacau balau di
sana.
"Ah, teman-teman dari Tiat-tung Kai-pang benarbenar
telah datang. Aku tinggal merawat dan
mengurusi Li Cu saja sekarang." desisnya gembira.
Pemuda itu lalu kembali lagi ke dalam. Sambil
bersila di dekat gadis yang ditolongnya, pemuda itu
memusatkan seluruh pikiran dan perasaannya. Jari-jari
nya yang telah terisi tenaga sakti itu lalu menotok dan
mengurut beberapa jalan darah di tubuh gadis yang
baru saja ditolongnya tersebut. Peluh mengalir
membasahi dahi dan lehernya, tapi pemuda itu tak
mempedulikannya. Tangannya terus sibuk mengurut
di sana-sini.
Tubuh yang terpaku diam seperti patung itu tibatiba
bergerak. Mula-mula bola matanya melirik ke
kanan dan ke kiri, lalu kepalanya menoleh pula ke
283
kanan dan ke kiri. Demikian melihat pemuda yang
duduk di dekatnya, gadis itu tiba-tiba bangkit dengan
kaget. Tak terduga tangannya melayang menampar
pipi Gu Lam palsu beberapa kali.
Plaak! Plaaak! Plaaak!
Lalu dengan isak tertahan gadis itu melompat
berdiri hendak berlari meninggalkan tempat itu. Tapi
begitu sadar bagian tubuh bawahnya tak mengenakan
apa-apa gadis itu segera mendekam kembali dengan
tergesa-gesa. Dan tangisnya pun segera meledak pula
dengan hebatnya.
"Kau jelek...! Kau jahat...! Kau apakan aku tadi?
Uhu-huuuuu...!"
Pemuda yang menyamar sebagai Gu-Lam palsu itu
beringsut, namun tidak berani terlalu dekat. Dengan
sedih ia memandang gadis yang sedang menangis itu.
Tangannya mengusap-usap pipinya yang bengkak.
"Li Cu Sumoi...! Aku tidak berbuat apa-apa
kepadamu. Percayalah. Aku tahu kau membenciku.
Tapi apa daya, Suheng telah mengutus aku untuk
membawamu pulang. Maafkan aku...."
Tak terduga tangis perempuan itu malahan semakin
menjadi-jadi.
"Bohong! Kau bohong! Kau tentu telah menculik
aku! Kau tidak bisa mendapatkan aku secara wajar,
maka kau lalu menculik aku! Memperkosa aku!
Huuuuu...!"
"Tidak, Su-moi... aku tidak serendah itu! Aku justru
yang menolongmu dari cengkeraman pendeta-pendeta
284
Pek-hok-bio ini! Lihatlah...! Pertempuran antara
kawan-kawan kita kaum Kai-pang melawan
penculikmu masih berlangsung!"
Gadis yang bernama Li Cu itu tersentak kaget.
"Kai-pang...? Kaumaksudkan perkumpulan Tiat-tung
Kai-pang? Ada apa mereka itu di sini?" serunya tak
percaya. Otomatis tangisnya berhenti, dan tinggal
sedu-sedan saja.
Pemuda yang baru saja menyamar sebagai Gu Lam
palsu itu menghela napas panjang.
"Sumoi, ketahuilah...! Kau telah diculik oleh
pendeta Kuil Pek-hok-bio ini untuk dikorbankan
kepada Dewi Bulan. Untunglah aku dapat melacak
jejakmu, sehingga dengan pertolongan kawan-kawan
kita dari Tiat-tung Kai-pang aku bisa
membebaskanmu. Lihatlah di luar, kawan-kawan kita
masih bertempur melawan orang-orang Pek-hok-bio
ini!"
Gadis itu memandang ke jendela sebentar, lalu
menunduk kembali. Wajahnya yang cantik manis itu
masih tampak marah dan kesal.
"Kau jangan melihat aku saja! Carikan kembali
pakaianku!" bentaknya kaku.
"Eh... ba-baik, Su-moi!" dengan gugup pemuda itu
menjawab, lalu berlari ke atas panggung untuk
mencari pakaian su-moinya tadi.
Sekilas pemuda itu menoleh ke pertempuran yang
masih berlangsung antara Tio Ciu In dan empat orang
pengeroyoknya.
285
Dengan sepasang pedang pendeknya gadis itu
menghadapi lawan-lawannya yang garang. Pedangnya
berkelebatan mengelilingi tubuhnya, seakan-akan
sedang merangkai sebuah pagar besi yang menutup
dan melindungi seluruh bagian tubuhnya. Dan dalam
waktu dan kesempatan yang tepat, pagar besi itu tibatiba
terbuka untuk balas menyerang lawan-lawannya.
Permainan pedang gadis itu sangat rapi dan kuat, baik
pada saat menyerang maupun bertahan.
"Ilmu pedang gadis itu agak aneh. Biasanya orang
selalu mengandalkan kelincahan dan kecepatannya
dalam bermain pedang, tapi gadis ini ternyata tidak
demikian. Dia justru selalu bertumpu pada kudakudanya
yang kuat dan gerak pergelangan tangannya
yang luwes. Rasanya seperti tidak bermain pedang,
tapi sedang menulis atau menggambar saja."
Gerakan-gerakan pedang Tio Ciu In memang
sangat berlainan dengan gerakan ilmu pedang pada
umumnya. Selain tidak mengandalkan kecepatan
maupun kelincahan gerak, permainan pedang Tio Ciu
In juga tidak mengandalkan ketajaman mata pedang
pula seperti halnya ilmu-ilmu pedang umumnya. Ilmu
pedang Hok-hong Kiam-hiat milik Tio Ciu In justru
bertumpu pada kelihaian memainkan ujung
pedangnya. Dengan keluwesan serta ketrampilan
pergelangan tangannya, ujung pedang pendek itu
mampu menusuk, menoreh, mengungkit, mencongkel
dan mengukir tubuh lawan, tanpa membutuhkan
ancang-ancang.
286
Maka tidak mengherankan bila ke empat pendeta
berjubah kuning itu menjadi kebingungan melayani
Tio Ciu In. Semula mereka berempat sangat berbesar
hati karena merasa dengan kebutan mereka itu mereka
akan segera bisa menundukkan ilmu pedang gadis
tersebut. Senjata kebutan yang bergagang pendek
dengan juntai rambut panjang itu benar-benar sebuah
senjata yang cocok untuk menundukkan pedang.
Ketajaman mata pedang takkan berguna menghadapi
juntai rambut yang lemas. Sebaliknya juntai rambut
panjang itu akan dengan mudah membelit batang
pedang dan merampasnya.
Akan tetapi permainan pedang Tio Ciu In yang
aneh dan tidak umum itu ternyata sangat sulit untuk
ditundukkan. Bahkan sebaliknya mereka berempat
sendirilah yang menjadi kelabakan melayani ilmu
pedang gadis itu. Padahal kalau diukur, kepandaian
gadis itu terpaut banyak dengan mereka. Gadis itu
hanya menang sedikit bila dibandingkan dengan
masing-masing dari mereka. Tapi ilmu pedang aneh
itulah yang membuat gadis itu sulit dihadapi.
Demikianlah, pertempuran antara Tio Ciu In dan
empat orang pengeroyoknya semakin tampak seru dan
menegangkan. Untuk beberapa saat sulit untuk
menentukan siapa yang lebih unggul. Tio Ciu In
sendiri sangat sukar memecahkan kepungan lawanlawannya,
tapi sebaliknya ke empat pendeta tersebut
juga sulit menundukkan gadis yang masih muda belia
itu. Mungkin cuma daya tahan mereka berlimalah
287
yang akan menentukan akhir dari pertempuran
tersebut.
Sementara itu pecahan kayu dan genting yang
berjatuhan dari atas semakin lama semakin banyak
pula, sehingga atap ruangan itu lambat-laun tinggal
kerangkanya saja. Akibatnya orang yang sedang
berlaga di atas genting itu lalu menjadi kelihatan dari
bawah.
Tapi pertempuran mereka memang tinggal
menunggu saat-saat akhir saja. Setelah Liu Wan
mengeluarkan kesaktiannya. So Gu Tai dan Ketua
Kuil Pek-hok-bio itu sama sekali tak mampu melawan
lagi. Dengan ilmunya yang dahsyat, yang mampu
menimbulkan gejolak angin pusaran yang amat kuat,
pemuda itu sama sekali tak bisa didekati lagi. Bahkan
dengan pukulan-pukulan jarak jauhnya (pek-kongciang)
yang ampuh, pemuda itu dapat membunuh
lawan-lawannya setiap saat.
So Gu Tai menyadari bahaya tersebut. Oleh karena
itu pula, meskipun keadaannya sangat sulit, otaknya
selalu mencari kesempatan untuk meloloskan diri dari
tempat itu. Dan kesempatan itu akhirnya memang ia
dapatkan!
Suatu saat ketika rekannya, Si Ketua Kuil itu, tak
mampu mengelak lagi dari sambaran pukulan Liu
Wan, So Gu Tai pura-pura memberi pertolongan.
Tubuh kurus kering itu dipeluknya agar tidak
terbanting ke bawah. Tapi bersamaan dengan saat itu
juga tangan kirinya menghajar genting di bawahnya
288
hingga ambrol. Seperti tidak disengaja tubuhnya yang
besar itu terjeblos ke bawah. Namun ketika Liu Wan
mencoba mengejar dirinya, So Gu Tai cepat
melemparkan tubuh Ketua Kuil Pek-hok-bio yang ada
di dalam pelukannya itu ke arah Liu Wan.
Terpaksa Liu Wan menghantam sekali lagi tubuh
Ketua Kuil Pek-hok-bio itu dengan Pek-khongciangnya.
Bhuuk! Tubuh kurus kering itu terhempas
ke samping, membentur dinding dan terkulai di atas
genting. Darah segar tampak mengalir dari mulut
orang tua itu.
Liu Wan cepat melongok ke lobang genting di
mana So Gu Tai tadi meloncat turun, tapi buruannya
itu sudah hilang. Di bawah hanya terlihat pertempuran
antara Tio Ciu In melawan empat orang
pengeroyoknya. Ketika pemuda itu bermaksud
membantu gadis tersebut, sekonyong-konyong
terdengar suara menahannya.
"Liu Wan, tunggu...!"
Pemuda itu mengurungkan niatnya. Dilihatnya
Ketua Kuil Pek-hok-bio itu masih bisa bergerak. Mata
yang sudah hampir kehilangan cahayanya itu menatap
ke arah dirinya.
"Kau benar, Anak Muda.... Aku sekarang tahu siapa
dirimu. Kau... kauuu... huk-huk! Kau... huk...
ooough....!"
Ternyata orang tua itu tak kuasa meneruskan
perkataannya. Kepalanya terkulai, nyawanya
289
melayang. Liu Wan menghela napas, kemudian
melompat turun melalui lobang tadi.
Belum juga kakinya menyentuh lantai seseorang
telah membentaknya.
"Kau... siapa?"
Liu Wan cepat membalikkan tubuhnya. Di
depannya berdiri sepasang muda-mudi dalam sikap
siap sedia untuk berkelahi. Mereka adalah Gu Lam
palsu dan Li Cu, yang kini sudah mengenakan
pakaiannya kembali.
"Ooooh, Nona adalah gadis yang hendak
dikorbankan tadi...." begitu memandang Li Cu, Liu
Wan segera menyapa ramah.
Pemuda yang menyaru sebagai Gu Lam itu
mengerutkan keningnya. Hatinya sedikit cemburu
mendengar pemuda tampan itu menyapa sumoinya.
"Kau siapa...?" tanyanya kemudian dengan suara
kaku.
Liu Wan tersenyum. Dan pemuda itu memang
ganteng sekali kalau tersenyum, hingga Gu Lam palsu
itu semakin cemburu dibuatnya.
"Saudara tidak perlu khawatir kepada saya. Saya
adalah teman gadis yang sedang bertempur itu. Kami
berdua bermaksud menolong Nona ini dari
kebiadaban orang-orang Pek-hok-bio." Liu Wan
menerangkan maksudnya berada di tempat itu.
Pemuda yang menyaru sebagai Gu Lam itu
menyeringai malu. "Maaf, kalau begitu kami berdua
sangat berhutang budi kepada Tuan. Ehm, kami
290
berdua adalah kakak beradik seperguruan. Namaku
Ku Jing San, sedangkan Sumoiku ini bernama Song
Li Cu. Bolehkah kami mengetahui nama Tuan?"
katanya kemudian dengan suara lantang dan tegas.
Liu Wan membalas penghormatan Ku Jing San dan
Song Li Cu.
"Ah, jangan sungkan-sungkan. Aku, Liu Wan,
memang telah lama bermusuhan dengan pimpinan
Kuil Pek-hok-bio ini. Kebetulan saudara
perempuanku juga hilang, sehingga aku yang curiga
kepada pendeta jahat itu lalu mencarinya ke sini. Tapi
ternyata Nona Li Cu yang diculik oleh mereka, bukan
adikku...."
Ku Jing San dan Song Li Cu terkejut. "Jadi adik
Tuan juga diculik orang?" Ku Jing San bertanya
kaget.
Liu Wan mengangguk, lalu memandang keluar
jendela. "Apakah Saudara Ku yang membawa kaum
Kai-pang itu?" katanya mengalihkan pembicaraan.
"Benar. Antara kami dan perkumpulan Tiat-tung
Kai-pang memang bersahabat erat. Guru kami sangat
dekat dengan pimpinan mereka." Ku Jing San
menerangkan.
"Baiklah. Kalau begitu saya akan membantu
temanku itu dahulu. Silakan Saudara Ku dan Nona
Song melihat di luar, mungkin orang-orang Kai-pang
itu ingin bertemu dengan kalian!"
Setelah merangkapkan kedua tangannya di depan
dada Liu Wan lalu melangkah menghampiri arena
291
pertempuran Tio Ciu In. Dan gadis ayu itu segera
menyambutnya dengan dampratan.
"Twako, ke mana saja kau tadi? Aku sampai
kewalahan memecahkan kepungan pendeta-pendeta
jahat ini!"
Liu Wan berhenti di luar arena dan tidak segera
terjun membantu Tio Ciu In. Dengan tenang pemuda
itu menonton pertempuran sambil bersilang tangan di
atas dada. Akan tetapi sikap itu justru menggetarkan
hati empat orang pendeta berjubah kuning tersebut.
Apalagi ketika pemuda itu bercerita kepada Tio Ciu In
tentang kedatangan orang-orang Kai-pang dan
kematian Ketua Kuil Pek-hok-bio, empat orang
pendeta tak bisa lagi menguasai hatinya. Mereka
menjadi ketakutan dan putus asa.
"Kau... bohong! Kau berusaha mempengaruhi
kami!" salah seorang dari pendeta itu berteriak.
Liu Wan tertawa. "Kau tak percaya? Lihatlah di
atas genting! Kau akan melihat mayat ketuamu! Nah...
itu lihat! Tangan dan kaki yang terjulur keluar dari
lobang genting itu, bukankah tangan dan kaki
ketuamu? Atau... kalian ingin menyaksikan dulu
mayat-mayat kawan kalian yang dibantai oleh orangorang
Kai-pang di luar sana?"
Ucapan yang bernada ejekan dan ancaman itu
ternyata besar sekali pengaruhnya. Suasana ruangan
yang sepi, keributan di luar gedung, dan hancurnya
sebagian besar atap dan genting ruangan itu, benarbenar
membuat empat pendeta itu percaya akan
292
ucapan Liu Wan tersebut. Otomatis semangat dan
keberanian mereka menghilang. Tak ada keinginan
mereka untuk melawan lagi.
"Aku menyerah...!" orang yang paling tua di antara
mereka kemudian berseru sambil melompat mundur.
Senjatanya dibuang.
Ternyata yang lain pun mengikuti pula langkah
pendeta tertua tersebut. Mereka meloncat mundur dan
membuang kebutan mereka. Tio Ciu In juga tidak
mengejar mereka lagi. Dan gadis itu semakin kagum
pada kecerdikan Liu Wan. Tanpa turun tangan
pemuda itu ternyata bisa menundukkan perlawanan
mereka.
Liu Wan lalu mengumpulkan senjata-senjata
mereka, lalu menaruhnya di atas meja. "Coba dua
orang di antara kalian pergi ke atas genting untuk
mengambil mayat ketua Pek-hok-bio!" perintahnya
kepada pendeta yang tertua tadi.
"Baik...!"
Demikianlah pertempuran di dalam gedung itu
sudah selesai. Kini tinggal pertempuran seru di
halaman, antara anak buah Kuil Pek-hok-bio melawan
orang-orang dari Kai-pang. Ku Jing San dan Song Li
Cu yang telah turun di halaman depan tampak
mengamuk dengan hebatnya. Tak seorang pun anak
buah Kuil Pek-hok-bio yang mampu menahan
pukulan dan tendangan mereka. Mayat-mayat dari
kedua belah pihak telah bergelimpangan, terutama
orang-orang dari kuil Pek-hok-bio.
293
"Berhenti semua...!!!"
Seperti seorang panglima perang, Liu Wan berseru
sambil berkacak pinggang di atas tangga pendapa. Di
belakangnya tampak empat pendeta berjubah kuning,
di mana salah seorang di antaranya tampak membawa
mayat Ketua Kuil Pek-hok-bio. Tio Ciu In mengawasi
mereka dari samping dengan pedangnya.
Suara bentakan Liu Wan itu disertai oleh lwekangnya
yang tinggi, maka tidaklah mengherankan
bila suaranya dapat mengatasi gaduhnya suasana di
tempat tersebut. Bahkan demikian kuat getaran
suaranya sehingga mampu mengguncang jantung
setiap orang yang berada di halaman itu. Tak
terkecuali Ku Jing San dan Song Li Cu sendiri.
Pertempuran pun berhenti dengan tiba-tiba.
Semuanya memandang ke atas tangga pendapa seperti
terkesima. Dengan takjub mereka menatap Liu Wan
yang sangat berwibawa itu.
"Saya harap semuanya menghentikan pertumpahan
darah ini! Lihat...! Orang yang menjadi biang keladi
pertumpahan darah malam ini telah mati! Oleh karena
itu semua anggota Kuil Pek-hok-bio harap meletakkan
senjata masing-masing!" Liu Wan berteriak sekali
lagi.
Melihat tokoh-tokoh mereka telah menyerah,
bahkan ketua mereka juga sudah meninggal, maka
seluruh anggota Kuil Pek-hok-bio yang masih hidup
lalu membuang senjata mereka pula. Mereka diam
294
dan menurut saja ketika digiring lawan-lawan mereka
ke pendapa.
Beberapa saat kemudian terjadi kesibukan di ruang
pendapa yang luas itu. Ku Jing San dan beberapa
tokoh Kai-pang tampak mengatur tawanan dan
kawan-kawan mereka sendiri. Beberapa orang
ditugaskan untuk mengumpulkan orang-orang yang
terluka dan yang menjadi korban di dalam kemelut
tadi. Demikian sibuknya mereka sehingga mereka
seolah-olah melupakan Liu Wan dan Tio Ciu In yang
secara diam-diam meninggalkan tempat itu.
Dari kejauhan terdengar dentang suara lonceng dua
kali, pertanda waktu telah menunjukkan pukul dua
malam. Langit terang benderang, sehingga rembulan
penuh yang telah jauh bergulir ke arah barat itu bebas
menebarkan sinarnya ke seluruh permukaan bumi.
Semua jalan-jalan yang membelah kota Hang-ciu
tampak sepi, sama sekali tidak mencerminkan bahwa
seharian tadi orang baru saja bersuka ria menyambut
kedatangan Tahun Baru. Malam ini semua orang
tampaknya benar-benar ingin. mengaso setelah
seharian penuh mereka tak beristirahat.
Yang masih kelihatan hidup dan bergerak di jalanjalan
itu hanyalah hewan-hewan piaraan seperti
anjing, kucing dan lain sebagainya. Mereka masih
berkeliaran di jalan-jalan untuk mengais sisa-sisa
makanan yang dibuang orang di pinggir jalan.
Tampaknya penduduk kota itu benar-benar telah
dicekam oleh mimpi mereka masing-masing, sehingga
295
kedatangan kereta Liu Wan itu sama sekali tak
menggoyahkan tidur mereka, Lo Kang dan Lo Hai
yang amat setia itu membawa kereta tersebut ke
penginapan. Suara roda besinya yang geludakgeluduk
itu terdengar amat nyaring dan
berkumandang memenuhi jalanan. Dari jauh suaranya
seperti genderang perang yang ditabuh di malam hari,
nikmat namun juga menggetarkan hati.
Kereta itu berhenti di depan penginapan. Lo Hai
turun membukakan pintu dan mempersilakan Liu
Wan dan Tio Ciu In untuk menemui pemilik
penginapan itu sendiri.
"Ciu-moi, malam ini kita beristirahat dulu di
penginapan ini. Besok pagi kita lanjutkan usaha kita
untuk mencari Adikmu. Marilah... kau tidak usah
curiga atau ragu-ragu. Aku telah mengenal dengan
baik pemilik penginapan ini. Lo Kang dan Lo Hai
telah memesan dua kamar untuk kita berdua. Ayo...!"
Sesaat Tio Ciu In masih merasa ragu. Tapi di lain
saat melihat kesungguhan hati Liu Wan, hatinya
menjadi tenteram pula.
"Baiklah, Twako...." desahnya pelan tanpa berani
memandang Liu Wan.
"Bagus. Nah, Lo Kang dan Lo Hai, kalian
kembalilah ke pondok kita di tengah empang itu!
Tunggulah aku di sana!" pemuda itu memberi
perintah kepada pembantunya.
-- o0d-w0o --
296
Demikianlah, seperti yang telah diceritakan di
bagian depan, malam itu Tio Ciu In sama sekali tak
bisa memejamkan matanya. Bayangan wajah Siau In
yang lincah dan bandel itu selalu melintas dan
menggoda hatinya. Adiknya itu memang nakal dan
usil sehingga seringkali sangat menjengkelkan
hatinya. Tapi bagaimanapun juga gadis itu adalah
satu-satunya keluarga yang dimilikinya di dunia ini.
Untuk kesekian kalinya Tio Ciu In menarik napas
panjang. Panjang sekali, Ia mengenang nasibnya.
Nasib perjalanan hidupnya dengan Siau In, adiknya.
Sejak kecil mereka diasuh oleh gurunya, Giam Pit
Seng, seorang tokoh aliran Im-yang-kau.
Menurut cerita gurunya, dia dan adiknya dulu
diambil dari dekapan seorang nelayan tua yang mati
akibat kebiadaban bajak laut yang menjarah rayah
kampungnya. Nelayan she Tio itu menitipkan dia dan
adiknya kepada Giam Pit Seng agar dirawat seperti
anaknya sendiri.
Kebetulan Giam Pit Seng juga tidak memiliki anak
isteri pula, sehingga kedatangan dia dan adiknya itu
benar-benar sangat membahagiakan hati pendekar pit
(pena) tersebut. Dia dan Siau In benar-benar dianggap
sebagai anak sendiri, diasuh dan diberi pelajaran ilmu
silat tinggi. Waktu itu dia sudah berusia enam tahun,
sementara Siau In berumur tiga tahun.
Menurut Giam Pit Seng, dia dan Siau In adalah
anak-anak yang cerdas dan cerdik, sehingga semua
297
pelajaran ilmu silat dan ilmu sastra yang diberikan
oleh gurunya itu cepat sekali diserap dan diterima.
Namun demikian sesekali gurunya itu masih
mengeluh karena mereka berdua adalah wanita.
Gurunya juga menginginkan seorang murid lelaki,
yang akan diwarisi ilmunya Hok-hong Pit-hoat.
Dan keinginan Giam Pit Seng itu akhirnya terkabul
juga. Setelah mengasuh dia dan Siau In selama empat
tahun, suatu hari Giam Pit Seng membawa seorang
anak lelaki berusia dua belas tahun ke rumah. Anak
yang lebih tua dua tahun dari dia itu bernama Tan Sin
Lun, putera seorang kepala desa, sahabat Giam Pit
Seng.
Meskipun lebih dulu berguru kepada Giam Pit
Seng, tetapi dia dan Siau In memanggil suheng
kepada Tan Sin Lun. Hubungan mereka bertiga sangat
baik dan rukun seperti saudara sekandung saja. Hal itu
berlangsung hingga mereka menjadi dewasa.
Setelah menjadi dewasa itulah lambat laun tali
hubungan mereka semakin berubah. Kata orang, dia
dan adiknya memiliki wajah yang sangat cantik
sehingga orang orang selalu memandang kagum
kepada mereka. Dan anggapan seperti itu akhirnya
menular pula kepada Tan Sin Lun, suhengnya. Tanpa
disadarinya suhengnya itu jatuh cinta kepadanya. Dan
rasa cinta itu selalu diperlihatkan oleh suheng-nya
apabila tiada seorang pun di dekat mereka.
Selama ini dia memang belum paham akan
perasaannya sendiri. Ia memang menyukai Tan Sin
298
Lun, karena sejak kecil mereka selalu bersama-sama.
Tapi ia tidak tahu, rasa sukanya itu berdasarkan rasa
cinta atau cuma rasa sayang saja. Ia memang senang
selalu berdekatan dengan suhengnya itu, tapi selama
ini ia tak pernah berpikir atau membayangkan bahwa
ia akan menjadi suami isteri dengan Tan Sin Lun.
Selama ini ia hanya berpikir bahwa Tan Sin Lun
adalah pemuda yang baik hati dan berjiwa ksatriya.
Itu saja. Lain tidak. Itulah sebabnya ketika kemarin
siang Tan Sin Lun mencium pipinya, ia menjadi
tersinggung dan marah.
Sekali lagi Tio Ciu In menghela napas panjang.
Tiba-tiba saja bayangan Liu Wan berkelebat di depan
matanya. Pemuda yang baru dijumpainya kemarin
siang itu seperti telah dikenalnya bertahun-tahun.
Wajahnya, kepandaiannya, sikapnya serta semua
tindakannya, rasanya selalu mengundang kagum di
hatinya.
Tiba-tiba Tio Ciu In menjadi jengah sendiri.
Belum-belum ia telah memperbandingkan Liu Wan
dengan Tan Sin Lun.
Tok! Tok! Tok!
Tio Ciu In terkejut. Pintu kamarnya diketuk orang.
Bergegas turun dari pembaringan dan mengenakan
baju luarnya. Sebelum membuka pintu ia merapikan
dulu rambutnya.
"Selamat pagi, gadis ayu...!" Liu Wan memberi
salam.
299
"Eh-oh... pukul berapa sekarang?" Tio Ciu In
menjawab gugup.
Tiba-tiba berhadapan dengan orang yang baru saja
dilamunkan membuat gadis itu gugup tidak keruan.
Untunglah Liu Wan seorang pemuda yang pandai
bicara, sehingga rasa kikuk dan malu yang mengharu
biru di hati Tio Ciu In segera menghilang pula.
"Hei, kau jadi mencari adikmu tidak? Hari sudah
siang. Lihatlah, matahari telah berada di atas atap!
Mengapa kau belum bangun juga? Apakah mimpimu
indah sekali? Ahaa, tahulah aku! Kau tentu bermimpi
jadi pengantin, sehingga kau menjadi segan untuk
bangun. Pengantin lelakinya tentu... tentu...."
"Apaaa...? Coba, siapa...? Siapa sebutkan! Sekali
kau kesalahan omong, aku akan pergi dan tak mau
kenal kau lagi!" serui Tio Ciu In gemas. Matanya
membelalak, pipinya merah.
Liu Wan meringis dan tak berani menggoda lagi.
"Maaf, Ciu-moi.... Jangan marah. Aku cuma ingin
bercanda denganmu. Entah mengapa, pagi ini hatiku
merasa gembira bukan main, sehingga rasanya aku
jadi ingin menggoda siapa saja yang kutemui."
Tio Ciu In mencibirkan mulutnya. "Huh! Dasar...!
Kalau mau bercanda lihat-lihat dulu orangnya! Jangan
asal sambar saja! Huh, coba katakan terus terang!
Siapa yang hendak kausebutkan sebagai... pengantin
lelaki? Suhengku, bukan?" sergahnya kemudian
dengan nada tetap marah-marah.
"Haaah...?" Liu Wan berdesah kaget.
300
Mulutnya ternganga, matanya melotot. "Sungguh
mati aku tak bermaksud mengatakan seperti itu!
Sumpah!"
Kini giliran Tio Ciu In yang tercengang keheranan.
"Kau tidak; bermaksud mengatakan seperti itu? Lalu...
lalu apa yang hendak kaukatakan?" suara Tio Ciu In
merendah. Wajahnya menjadi pucat.
Mendadak air muka Liu Wan menjadi merah
padam. Sikapnya menjadi kikuk dan kemalu-maluan,
persis seperti pengantin yang sedang dipertemukan di
depan tamu.
"Apa...? Apa yang hendak kaukatakan tadi?" Tio
Ciu In mendesak penasaran.
Sambil cengar-cengir Liu Wan memandang Tio Ciu
In. Masih kelihatan rasa takutnya kalau-kalau gadis
itu akan menjadi marah lagi.
"Aku tadi ingin mengatakan bahwa... pengantin
prianya adalah aku sendiri!" akhirnya pemuda itu
berani juga mengatakannya.
Wajah yang putih mulus itu tiba-tiba berubah
menjadi merah seperti udang direbus. Tanpa
mengatakan apa-apa lagi pintu kamarnya dibanting.
"Ciu-moi... Ciu-moi! Maafkanlah aku!" Liu Wan
berseru sambil berusaha membuka pintu itu dari luar,
tapi tidak bisa. Tio Ciu In menguncinya dari dalam.
"Wah, gawat...! Dia benar-benar marah sekarang!
Huh... inilah akibatnya kalau orang suka bergurau!"
Liu Wan menggerutu sambil menggaruk-garuk
kepalanya yang tidak gatal.
301
Dengan lesu pemuda itu melangkah meninggalkan
kamar Tio Ciu In. Wajahnya yang semula cerah dan
gembira itu kini kelihatan susah dan sedih. Hatinya
sungguh-sungguh amat menyesal telah menggoda Tio
Ciu In tadi. Seharusnya dia tidak omong sembarangan
di depan Tio Ciu In yang sedang bersusah hati karena
kehilangan adiknya itu.
"Tapi apa hendak dikata, nasi telah menjadi bubur.
Mulutku ini kadang-kadang memang terlalu ceriwis,
sehingga sering membuat gara-gara."
Liu Wan lalu melangkah ke ruang makan. Di
ruangan yang luas itu sudah banyak orang, sebagian
besar adalah tamu-tamu yang menginap di rumah
penginapan itu sendiri. Rata-rata mereka telah
bersiap-siap untuk meninggalkan penginapan itu. Ada
yang hendak meneruskan perjalanannya, ada pula
yang akan pulang ke kampung setelah menyaksikan
perayaan Tahun Baru yang sangat meriah kemarin.
"Tuan Liu...! Ah, hampir saja kami kehilangan
jejak Tuan tadi malam. Untunglah ada seorang teman
kami yang melihat Tuan masuk ke penginapan ini."
tiba-tiba terdengar suara orang menegur.
Liu Wan menoleh. Seorang pemuda gagah bangkit
dari kursinya dan bergegas menghampiri dirinya. Liu
Wan segera mengenalnya sebagai Ku Jing San,
pemuda yang ditemuinya tadi malam di Kuil Pek-hokbio.
302
"Oh, Saudara Ku Jing San rupanya. Bagaimana
Saudara Ku tahu aku menginap di sini?" Liu Wan
menyambut teguran pemuda itu dengan ramah pula.
"Ah, mudah saja. Bukankah di kota ini banyak
anggota Kai-pang yang berkeliaran? Tuan Liu marilah
kita duduk semeja saja di sana. Nanti kuperkenalkan
dengan suhengku. Dia baru saja datang di kota ini
beberapa saat yang lalu. Dia ingin sekali berkenalan
dengan Tuan Liu, sekalian mengucapkan rasa terima
kasih atas bantuan Tuan membebaskan Sumoi kami."
Liu Wan memandang ke meja yang ditunjuk oleh
Ku Jing San. Di sana telah berdiri seorang pemuda
tampan bertubuh tinggi tegap bersama Song Li Cu.
Mereka berdua tampak tersenyum menantikan
kedatangannya. Liu Wan menjadi kikuk dan tidak
enak hati.
"Wah, Saudara Ku terlalu membesar-besarkan
masalah sepele seperti itu. Aku malah menjadi
malu...." Liu Wan menggerutu, tapi terpaksa menurut
saja ketika lengannya ditarik Ku Jing San ke mejanya.
Pemuda bertubuh tinggi tegap itu memberi hormat
kepada Liu Wan dan mempersilakan Liu Wan untuk
duduk di depannya. Dengan berat hati Liu Wan
terpaksa mengikuti saja kemauan mereka.
"Maaf, kami telah mengganggu Saudara Liu Wan
pagi ini." Pemuda tinggi tegap itu membuka
pembicaraan. "Perkenalkan, aku yang rendah adalah
saudara seperguruan tertua dari Ku Jing San dan Song
Li Cu ini. Namaku Kwe Tek Hun. Atas nama adik303
adikku ini aku mengucapkan banyak terima kasih atas
bantuan Saudara Liu Wan tadi malam."
Liu Wan tersenyum dan melirik ke arah Song Li
Cu, tapi yang dilirik sedang asyik mengawasi toasuhengnya
yang gagah ganteng itu.
"Ah, Saudara Kwe... kau keliru! Aku sama sekali
tidak merasa telah membantu Saudara Ku Jing San
dalam membebaskan Nona Song Li Cu. Dia sendirilah
yang sebenarnya telah membebaskan su-moinya. Aku
hanya kebetulan saja di sana, karena aku juga sedang
mencari adik ku yang hilang." Liu Wan cepat
menyanggah perkataan Kwe Tek Hun.
Sambil berkata Liu Wan menepuk pundak Ku Jing
San, seakan-akan hendak mengatakan bahwa yang
sebenarnya sangat berjasa di dalam pembebasan Song
Li Cu itu adalah Ku Jing San sendiri.
Bukan dirinya.
Ku Jing San tampak tersipu, namun kilatan
matanya menunjukkan bahwa ia sangat senang dan
bangga mendengar perkataan tersebut. Berkali-kali
matanya yang polos jujur itu menatap ke arah sumoinya,
walaupun Song Li Cu sendiri tampak acuh
tak acuh terhadapnya. Gadis cantik itu masih tetap
memandangi Kwe Tek Hun yang tampan dan gagah.
Diam-diam Liu Wan menghela napas. Ia melihat
sesuatu yang kurang serasi di antara mereka.
Tampaknya ada jalinan cinta segitiga yang ruwet di
antara tiga saudara seperguruan itu.
304
"Cinta... cinta. Kau memang aneh. Kadang-kadang
kau bisa membuat orang merasa sangat berbahagia.
Namun sering kali pula kau membikin orang menjadi
sangat menderita. Hemmmmmmmmm...!" Liu Wan
mengeluh di dalam hati.
Melihat tamunya termenung diam seperti sedang
memikirkan sesuatu, Kwe Tek Hun cepat menghibur.
"Saudara Liu, bagaimanapun juga kami tetap
menganggap bahwa kau telah membantu kami
membebaskan Song Li Cu. Dan untuk membalas
kebaikan Saudara Liu itu kami telah berjanji pula
akan membantu mencari adik Saudara Liu yang
hilang. Bahkan kami juga akan meminta pertolongan
orang-orang Tiat-tung Kai-pang untuk mencarinya."
Wajah Liu Wan menjadi cerah dengan tiba-tiba.
Usul Kwe Tek Hun itu benar-benar amat bagus dan
menggembirakan hatinya. Dengan pertolongan orangorang
Kai-pang, jejak Tio Siau In tentu akan mudah
diketahui. Bukankah ratusan anggota Tiat-tung Kaipang
yang ada di daerah itu setiap harinya selalu
tersebar di segala tempat? Bukan mustahil salah
seorang di antaranya pernah melihat kepergian Tio
Siau In.
"Terima kasih, Saudara Kwee... terima kasih. Aku
sungguh-sungguh sangat gembira dan berterima kasih
sekali bila Saudara Kwe dan kawan-kawan dari Tiattung
Kai-pang mau membantu aku mencari adikku."
Kwe Tek Hun tersenyum puas. "Bagus. Kalau
begitu mau tunggu apa lagi?
305
Marilah kita sekarang menemui Jeng-bin Lo-kai
(Pengemis Tua Bermuka Seribu) yang kebetulan
berada di kota ini. Nanti aku yang akan berbicara
kepadanya."
"Jeng-bin Lo-kai...? Siapakah dia?" Liu Wan
bertanya pelan.
"Dia adalah Hu-pangcu (Wakil Ketua) Tiat-tung
Kai-pang. Kepandaiannya amat tinggi, terutama di
bidang berdandan dan menyamar, sehingga ia dijuluki
orang Jeng-bin Lo-kai. Dia pulalah yang telah
mendandani Ku Jing San tadi malam."
"Apakah dia juga ikut datang di kuil Pek-hok-bio
tadi malam?"
"Benar. Dia memang ikut memimpin anak buahnya
di halaman kuil itu. Bahkan dia sempat mengutarakan
kekagumannya ketika Tuan Liu dengan amat
berwibawa menghentikan pertempuran dari atas
pendapa. Namun ketika dia ingin bersua dan
berkenalan, ternyata Tuan Liu sudah pergi." Ku Jing
San yang sejak duduk di kursi tadi hanya berdiam diri
saja, tiba-tiba menjawab pertanyaan Liu Wan.
"Ah, maaf... aku memang segera meninggalkan
tempat itu tadi malam. Aku tidak ingin
mengganggu...."
Suara Liu Wan sekonyong-konyong me rendah.
Begitu pula halnya dengan tamu-tamu yang lain.
Suara percakapan dan obrolan yang ramai di dalam
ruangan itu mendadak menurun, bahkan hampir
terhenti sama sekali. Semua mata memandang keluar,
306
ke pintu yang menghubungkan ruang makan tersebut
dengan pendapa depan.
Seorang gadis remaja yang cantik sekali, berusia
antara enam belas atau tujuh belas tahun, dengan
pakaian dan perhiasan mahal, tampak melangkah
lincah ke dalam ruangan itu. Tubuhnya yang kecil
namun berbentuk indah itu melenggang sedikit genit
ke arah meja yang kosong. Sikapnya sangat tenang
dan berani, bahkan terasa agak dingin dan penuh
percaya diri,
sehingga orangorang
yang ada di
dalam ruangan itu
tak ada yang
berani bersikap
kurang ajar.
Apalagi ketika
gadis cantik itu
meletakkan
kipasnya di atas
meja. Sebuah
kipas yang sangat
aneh karena kipas
tersebut terbuat
dari lembaran
baja tipis bermata
tajam.
Seorang pelayan bergegas menghampiri dan
menanyakan keinginan gadis itu.
307
"Kau siapkan masakan apa saja yang paling enak di
rumah makanmu ini untuk lima orang lelaki dan
seorang wanita, lalu hidangkan di atas meja ini! Nih,
kau bawa sekalian uang pembayarannya!" gadis itu
berkata nyaring seraya memberikan uang dua tail
perak. Suaranya terdengar bening dan merdu sehingga
pelayan itu menjadi bengong seperti orang yang
kesengsem mendengarkan suara buluh perindu.
Pelayan itu menjadi gugup dan salah tingkah
melihat uang sebanyak itu.
"Ini...ini, eh... ini terlalu banyak, Sio-cia. Satu tail
pun sudah lebih dari cukup untuk memenuhi meja
ini...."
"Sudahlah! Kaubawa saja uang ini! Aku memang
sengaja membayar dua kali lipat. Tapi ingat...! Kalau
masakanmu tidak bisa memenuhi seleraku, nasibmu
dan nasib rumah makanmu ini benar-benar akan
menjadi jelek sekali! Nah, pergilah...!"
Mata yang bulat indah itu menatap dingin seperti
mengandung ancaman, membuat pelayan itu
meremang bulu kuduknya. Entah mengapa sikap gadis
cantik itu benar-benar amat berwibawa dan
menggiriskan hati.
"Ba-baik, Sio-cia...."
Hampir serentak para pengunjung restoran itu
menghela napas panjang. Dalam waktu yang cuma
sesaat tadi mereka seperti disuguhi sebuah
pemandangan yang menegangkan. Demikian pula
halnya dengan Liu Wan dan Kwe Tek Hun
308
bersaudara. Tak terasa sikap dan tingkah laku gadis
cantik itu telah mampu merampas dan mempengaruhi
perhatian mereka berempat.
"Saudara Kwe mengenal dia?" Liu Wan bertanya
perlahan kepada Kwe Tek Hun.
Pemuda tinggi tegap itu menggelengkan kepalanya.
"Tidak. Aku belum pernah melihat dia. Tapi kipasnya
itu...?" tiba-tiba pemuda itu menghentikan katakatanya.
Matanya memandang ke arah pintu yang
menghubungkan ruangan itu dengan ruang dalam.
Semua pengunjung yang sudah mulai mengobrol
lagi itu sekonyong-konyong menghentikan pula
obrolan mereka seperti halnya Kwe Tek Hun.
Pandangan mereka juga tertuju pula ke pintu dalam,
ke arah Tio Ciu In yang mendadak keluar menuju
ruang makan tersebut.
Tidak seperti biasanya, kali ini Tio Ciu In memang
berdandan sedikit luar biasa. Tubuhnya yang tinggi
lentur itu dibalut pakaian berwarna hijau muda,
sehingga kulitnya yang putih halus itu tampak
semakin cerah dan segar dipandang mata. Rambutnya
yang biasanya cuma dikepang dan dibiarkan terurai di
belakang punggungnya itu sekarang disanggul ke atas
seperti layaknya gadis-gadis pingitan. Maka tidaklah
mengherankan bila wajahnya yang sudah ayu itu
menjadi semakin cantik seperti bidadari.
"Gila! Rasanya seperti bermimpi saja... melihat dua
bidadari di pagi hari!" seorang tamu yang duduk di
sebelah meja Liu Wan berdesah tak terasa.
309
Ternyata kali ini Kwe Tek Hun juga tak bisa
menyembunyikan kekagumannya.
Matanya menatap tak berkedip ke arah Tio Ciu In
yang melenggang lembut mendekati mereka
berempat. Dan matanya mungkin akan terus melotot
kalau Song Li Cu tidak segera menggamit lengannya
dengan perasaan tak senang.
"Huh...!" Song Li Cu yang mendadak merasa
seperti kehilangan kecantikannya di depan gadis-gadis
ayu yang baru saja datang itu bersungut-sungut kesal.
-- o0d-w0o --
JILID VIII
UH!" gadis cantik bermata dingin
itu merasa tak senang pula melihat
kedatangan Tio Ciu In yang mampu
menyaingi kecantikannya.
Di depan meja Kwe Tek Hun, Tio
Ciu In menegur Liu Wan yang ternyata juga ikut
terbengong-bengong pula menyaksikan kecantikan
gadis itu.
"Twako, mari kita berangkat sekarang...!"
"Ini... ini... eh, ke mana kita akan pergi?" Liu Wan
menjawab gugup, sehingga Ciu In menjadi geli
melihatnya.
H
310
"Hei, bukankah kita akan mencari Siau In?
Mengapa kau sudah lupa lagi?" dengan gemas Tio Ciu
In menggerutu.
"Eh-oh... ya benar. Mari... mari...!"
Bagaikan orang bingung Liu Wan lalu berdiri dan
hendak beranjak pergi dari tempat itu. Untunglah
dengan sigap Kwe Tek Hun menahan lengannya.
"Sebentar, Saudara Liu...! Kau hendak pergi ke
mana? Bagaimana dengan rencana kita untuk
menemui Jeng-bin Lo-kai?" pemuda itu
mengingatkan.
"Hah?" Liu Wan tersentak kaget dan tersadar dari
linglungnya.
Kemudian dengan tergesa-gesa pemuda itu
mempersilakan Tio Ciu In duduk di kursi dan
memperkenalkannya kepada Kwe Tek Hun
bersaudara. Tak lupa dengan wajah kemerah-merahan
Liu Wan meminta maaf atas kekilafannya. Lalu
pemuda itu juga bercerita kepada Tio Ciu In tentang
rencana mereka untuk minta pertolongan orang-orang
Tiat-tung Kai-pang, agar jejak Tio Siau In cepat
ditemukan.
"Terserah kepada Twako. Pokoknya Adikku segera
diketemukan." Tio Ciu In menyahut perlahan.
"Nah, kalau begitu kita berangkat saja sekarang!"
Kwe Tek Hun menggeram dengan suara bersemangat.
"Aih... nanti dulu! Bagaimana dengan makan pagi
kita? Bukankah perut kita belum terisi?" Namun
311
dengan cepat Song Li Cu menahan keinginan kakak
seperguruannya itu.
"Ah, kau benar Nona Song. Kita tak perlu tergesagesa.
Kita memang harus mengisi perut kita dulu."
Sambil tertawa Liu Wan menyambut usul gadis manis
itu.
Demikianlah seraya menyantap bubur ayam hangat
mereka lalu melanjutkan obrolan mereka kembali.
Dan Kwe Tek Hun yang merasa dirinya sebagai pihak
tuan rumah lalu bercerita tentang pengalamanpengalamannya
yang mengesankan selama ia
berkelana di dunia persilatan. Pengalaman Kwe Tek
Hun memang sangat banyak, pengetahuannya juga
luas karena sejak kecil sampai menginjak remaja
sering diajak oleh gurunya yang juga orang tuanya
sendiri, mengembara ke seluruh pelosok negeri.
Semuanya asyik mendengarkan. Sambil makan
perhatian mereka hampir tak pernah lepas dari bibir
Kwe Tek Hun. Bahkan Liu Wan yang sudah bertahuntahun
bertualang di dunia kang-ouw pun masih tetap
merasa kagum pula mendengar kisah-kisah yang
diutarakan oleh Kwe Tek Hun. Apalagi Tio Ciu In
yang masih hijau itu, kisah cerita yang baru pertama
kali didengarnya itu benar-benar amat menarik
hatinya. Namun yang sungguh amat menyolok adalah
perhatian yang dibenarkan oleh Song Li Cu. Dengan
pandang mata mesra, kagum serta bangga, gadis itu
selalu mengawasi wajah kakak seperguruannya yang
gagah tampan itu. Gadis cantik itu hanya mau
312
melepaskan pandangannya apabila sedang melayani
tambahan makanan atau minuman Kwe Tek Hun.
Walaupun sedang asyik makan dan mendengarkan
cerita Kwe Tek Hun, tetapi Liu Wan sempat juga
melihat kemesraan yang diberikan oleh gadis itu.
Sesaat Liu Wan merasa terharu juga. Namun apabila
kemudian dilihatnya wajah Ku Jing San yang sayu,
hatinya ikut merasa sedih pula.
"Secara diam-diam tampaknya Ku Jing San telah
mencintai Song Li Cu, akan tetapi gadis itu sendiri
kelihatannya lebih mengagumi Twa-suhengnya.
Sementara Kwe Tek Hun sendiri tak bisa diduga
hatinya, apakah ia membalas cinta Song Li Cu atau
tidak...."
Tak terasa Liu Wan berdesah panjang. Pikirannya
lantas terhunjam pada keadaannya sendiri. Dalam
usianya yang sudah dua puluh lima tahun ini ia telah
banyak mengenal dan berhubungan dengan wanita,
namun tak seorang pun di antaranya yang mampu
menarik dan menggugah perasaan cintanya. Bahkan
sudah berulang kali ia mencoba menyelusuri keadaan
diri pribadinya seridiri, untuk mengetahui mengapa ia
merasa sulit mencintai wanita. Tapi sampai sekarang
ia belum pernah mendapatkan jawabannya. Padahal ia
tak memiliki impian yang muluk-muluk. Sama sekali
ia tak bercita-cita untuk kawin dengan seorang putri
raja yang cantik bagai bidadari.
Diam-diam Liu Wan melirik Tio Ciu In yang duduk
di sampingnya. Gadis yang lembut dan ayu itu benar313
benar lain daripada yang lain. Gadis itu mampu meng
goncangkan batinnya, meruntuhkan- dinding hatinya,
sehingga beberapa kali membuatnya gugup, linglung
dan salah tingkah. Namun demikian dia juga belum
tahu, apakah dirinya telah jatuh cinta atau tidak,
karena menurut pengalaman, perasaannya yang panas
membara dan menggebu-gebu itu akan segera padam
apabila wanita itu mulai bertingkah ingin menguasai
dirinya.
"Liu Twako...?" tiba-tiba terdengar suara Tio Ciu In
memanggilnya.
"Ha? Yaa... apa?"
Bagaikan disengat lebah Liu Wan tersentak kaget,
bahkan hampir terjengkang dari kursinya. Sesaat
kemudian pemuda itu menjadi gugup. Tapi hanya
sesaat saja, karena dengan cepat pemuda itu bisa
menguasai dirinya kembali.
"He, Twako... kau melamun, ya?" Tio Ciu In
menegur sambil tertawa.
"Tidak. Aku sedang asyik mendengarkan cerita
Saudara Kwe...." Liu Wan mencoba membela diri.
Tak terduga Tio Ciu In dan yang lain justru tertawa
semakin keras. "Nah ... nah... kebohonganmu justru
ketahuan malah. Apa yang hendak kau dengarkan lagi
kalau cerita itu sudah selesai sejak tadi?" Dengan
suara riang Tio Ciu In semakin menggoda.
"Benarkah...? Wah, ini... ini...." Liu Wan tersenyum
malu.
314
"Sudahlah, tampaknya Saudara Liu Wan menyukai
ceritaku sehingga tertidur." Kwe Tek Hun bergurau.
"Oleh karena itu sebaiknya kita segera berangkat
saja."
Semuanya tertawa. Liu Wan terpaksa ikut tertawa
pula, meskipun tertawa kecut. Namun suara tertawa
mereka terpaksa terhenti ketika mendadak gadis ayu
yang baru saja datang tadi menggebrak mejanya.
"Brengsek! Pelayan...!" gadis ayu itu berteriak
memanggil pelayan.
"Ya. Sio-cia...? Apakah Sio-cia menghendaki
sesuatu? Apakah ..... apakah...? Anu ... eh, hidangan
yang Sio-cia pesan be-be belum selesai!" Tergopohgopoh
pelayan yang melayani gadis itu tadi datang
dan bertanya gugup.
"Persetan! Aku tidak menanyakan masakanmu!
Aku hanya tidak menyukai suara berisik di ruangan
ini! Hmmmh! Apakah kau tidak mempunyai tempat
yang lain, yang terpisah dari tempat ini, agar aku bisa
tenang menikmati hidanganmu?" Gadis itu
membentak sambil bertolak pinggang. Suaranya
nyaring dan beberapa kali matanya yang bulat indah
itu melirik ke arah meja Kwe Tek Hun.
Pipi Song Li Cu menjadi merah karena jelas yang
dimaksudkan oleh gadis itu adalah rombongannya.
Namun sebelum Song Li Cu bertindak lebih jauh,
Kwe Tek Hun telah lebih dahulu menahannya.
Dengan sabar dan tenang pemuda gagah itu menjura
ke arah tetangganya yang sedang marah tersebut.
315
"Maafkanlah kami, Nona. Kami sampai lupa bahwa
kami bukan berada di tempat kami sendiri. Biarlah
kami pergi. Nona tak perlu mencari tempat yang lain
lagi."
Kwe Tek Hun lalu mengajak Liu Wan, Tio Ciu In,
dan adik-adik seperguruannya meninggalkan tempat
itu. Liu Wan, sebagai pemuda matang yang telah
kenyang pengalaman, dapat menerima dan memahami
sikap Kwe Tek Hun yang sabar dan mau mengalah
itu. Tapi bagi Tio Ciu In, Ku Jing San dan Song Li
Cu, sikap Kwe Tek Hun yang terlalu mengalah itu
benar-benar tidak bisa mereka terima. Bukankah
tempat itu tempat umum? Bukan rumah pribadi?
Seharusnyalah setiap orang yang berada di tempat itu
menyadari bahwa ia tidak berada di rumahnya sendiri.
Tetapi karena Kwe Tek Hun sebagai wakil dari
rombongan itu telah mengutarakan sikapnya, maka
meskipun menahan berang Ku Jing San, Song Li Cu
dan Tio Ciu In terpaksa menahan dirinya. Dengan
perasaan kesal dan penasaran mereka mengikuti saja
langkah Kwe Tek Hun dan Liu Wan, keluar dari
ruangan tersebut. Namun demikian tetap saja Ku Jing
San dan Song Li Cu yang agak berangasan itu tak bisa
menyembunyikan kedongkolan hatinya ketika lewat
di dekat meja gadis itu. Kedua saudara seperguruan
itu menatap dengan mata melotot seakan-akan hendak
menelan tubuh gadis itu.
Tak terduga gadis yang rewel dan cerewet itu
ternyata pemarah pula. Sikap yang ditunjukkan Ku
316
Jing San dan Song Li Cu itu ternyata telah menyulut
api kemarahannya juga. Persis pada saat Ku Jing San
dan Song Li Cu berjalan di dekat mejanya, gadis ayu
itu dengan sengaja menumpahkan minumannya.
Tentu saja air teh itu muncrat mengenai pakaian Ku
Jing San dan Song Li Cu.
Song Li Cu tak bisa mengekang kemarahannya
lagi. Dengan cepat tangannya meraup tumpahan air
teh yang ada di atas meja untuk disiramkan kembali
ke wajah gadis ayu itu. Namun sebelum tangannya
mampu meraih ke atas meja, ujung sepatu gadis ayu
itu ternyata telah lebih dulu menghantam lututnya.
Duukk! Seketika itu juga Song Li Cu kehilangan
keseimbangan tubuhnya. Badannya terjungkal ke
depan menghantam meja!
Ku Jing San yang sedikit terlambat menyadari
keadaan sumoinya, cepat bertindak. Tangannya
menyambar tubuh gadis yang dicintanya itu!
Braaaaaak! Tubuh Song Li Cu menghajar meja
sehingga tumpahan air teh tadi justru membasahi
pakaiannya lagi. Untunglah sebelum tubuh Song Li
Cu itu terjerembab ke lantai dan mencium kaki gadis
ayu tersebut, lengan Ku Jing San yang kokoh itu telah
berhasil menyambarnya, sehingga Song Li Cu
terhindar dari penghinaan yang lebih besar lagi.
Ku Jing San benar-benar tak mampu
mengendalikan dirinya lagi. Apalagi ketika tubuh
Song Li Cu yang ada di dalam pelukannya itu ternyata
317
telah tertotok lemas tak bisa bergerak. Kemarahannya
benar-benar meledak.
Dengan cepat pemuda itu meletakkan tubuh Song
Li Cu di atas kursi yang terdekat, lalu tanpa bicara
apa-apa lagi kaki kanannya terayun deras ke depan,
mengarah ke kaki meja, dengan maksud untuk
melontarkannya ke tubuh lawan. Dengan kekuatan
dan ketangkasan kakinya Ku Jing San yakin ia dapat
membalas penghinaan yang menimpa sumoinya.
Gadis ayu itu tentu akan jatuh tunggang langgang
tertimpa meja. Tapi sedetik kemudian mata Ku Jing
San terbelalak! Hampir tak dipercayainya gadis ayu
yang kelihatan amat lemah itu ternyata mampu
bergerak lebih cepat! Jauh lebih cepat dari gerakannya
malah!
Seperti main sulap saja gadis ayu itu membawa
kursinya meluncur ke depan meja, lalu kakinya yang
terbungkus sepatu mungil itu diangkat ke atas,
menyongsong kaki Ku Jing San. Maka tak dapat
dihindarkan lagi kedua kaki yang berlawanan arah itu
bertemu satu sama lain.
Sekejap Ku Jing San agak menyesal. Pemuda itu
khawatir tenaganya akan terlalu besar sehingga kaki
lawannya yang cantik itu dapat menjadi patah
karenanya. Mati-matian Ki Jing San mencoba
mengurangi tenaganya!
Tapi untuk yang kedua kalinya Ku Jing San telah
terkecoh oleh lawannya. Kebaikan hatinya itu ternyata
justru telah mencelakakan dirinya sendiri. Ketika
318
kedua kaki yang berlawanan arah itu saling
berbenturan satu sama lain, bukannya kaki mungil itu
yang patah, tetapi justru sebaliknya kaki Ku Jing San
yang kokoh kuat itulah yang berderak mau patah.
Dhueees!
"Uuugh!" Ku Jing San mengeluh pendek.
Tubuhnya yang besar itu terlempar ke belakang
menabrak meja yang lain.
Namun demikian dengan tangkas pemuda itu
bangkit kembali. Hanya saja ketika akan melangkah,
tiba-tiba saja kakinya terasa sakit bukan main.
Terpaksa dengan hanya bertumpu pada kaki kirinya
pemuda itu meloncat ke depan lawannya kembali.
Tangan kirinya meluncur dengan kekuatan penuh ke
arah muka gadis ayu itu. Dan kali ini pemuda itu
benar-benar tidak mau sembrono lagi. Pukulannya itu
benar-benar dilandasi dengan seluruh tenaga
dalamnya yang dahsyat.
Akan tetapi untuk yang ke sekian kalinya Ku Jing
San telah salah perhitungan pula. Lawannya kali ini
ternyata memiliki watak, sifat dan kesaktian yang
tidak lumrah manusia. Gadis ayu yang kelihatan
lemah gemulai itu ternyata sama sekali tidak
mempunyai rasa belas kasihan dan kebajikan.
Bagaikan iblis wanita yang haus darah gadis ayu itu
juga mengayunkan tangan kanannya, dan belasan amgi
(senjata rahasia) berbentuk bintang segera menebar
menyongsong kedatangan Ku Jing San. Begitu
banyaknya senjata rahasia itu tersebar dari telapak
319
tangannya, seolah-olah gadis ayu itu hendak
membunuh seekor gajah hanya dengan sekali timpuk.
Wajah Ku Jing San menjadi pucat pasi. Pemuda itu
merasa ajalnya telah sampai. Tak mungkin ia dapat
menghindari semua senjata rahasia yang tertuju ke
arah bagian-bagian tubuhnya yang mematikan itu.
Seluruh kejadian, sejak Song Li Cu mendapat
musibah sampai dengan Ku Jing San terancam
jiwanya, berlangsung dalam waktu yang singkat,
sehingga orang-orang yang berada di dalam ruang
makan itu hampir sama sekali belum menyadari apa
yang telah terjadi. Baru sesaat kemudian semuanya
sadar bahwa telah terjadi keributan yang bisa
mengancam jiwa mereka. Otomatis semuanya bubar
dan lari menghindar.
Ternyata Liu Wan dan Kwe Tek Hun yang berjalan
mendahului rombongan itu juga terlambat mengetahui
kejadian yang menimpa Song Li Cu dan Ku Jing San
tersebut. Mereka berdua baru sadar ketika keadaan Ku
Jing San sudah diambang maut!
Demikianlah, di dalam situasi yang amat mendesak
dan berbahaya bagi keselamatan Ku Jing San itu, tiada
lain yang bisa dilakukan oleh Kwe Tek Hun dan Liu
Wan selain berusaha menolong dengan ilmunya yang
paling tinggi. Hampir berbareng keduanya bergerak!
Liu Wan berbalik sambil merendahkan badannya.
Dari bawah pinggangnya pemuda itu menggerakkan
kedua tangannya ke depan, ke arah taburan am-gi
yang meluncur dari tangan gadis ayu itu. Terdengar
320
suara mendesing tajam dari telapak tangannya itu
ketika hembusan angin yang kuat menyambar ke arah
taburan am-gi.
Siiiiiiing!!!
Dan pada saat yang bersamaan Kwe Tek Hun
menjejakkan kakinya ke lantai. Tubuh pemuda itu
melesat seperti kilat ke depan dengan gaya dan
gerakan yang sangat aneh serta mentakjubkan. Badan
pemuda itu selalu berputar setengah lingkaran setiap
menjejakkan kakinya ke lantai. Dan hanya dalam dua
kali gerakan saja pemuda itu telah mampu menyambar
tubuh Ku Jing San. Jauh lebih cepat daripada luncuran
am-gi lawannya. Pada detik itu pula tiba-tiba
terdengar suara ledakan yang keras bagaikan petir.
Duuuuuuuaaar!
Belasan senjata rahasia yang meluncur dari tangan
gadis itu tadi tampak berhamburan ke lantai terkena
pukulan udara kosong yang melesat dari tangan Liu
Wan! Akan tetapi secara tak terduga salah sebuah di
antaranya mendadak meledak ketika jatuh menimpa
lantai! Dan ledakan itu ternyata disertai semburan api
kecil berwarna kehijauan! Celakanya semburan api itu
persis mengenai tumit Ku Jing San yang terseret
ketika diselamatkan Kwe Tek Hun!
"Auuuugh...!" sekali lagi Ku Jing San mengeluh
kesakitan karena semburan api panas itu kebetulan
mengenai bagian tulangnya yang nyeri tadi.
321
Ku Jing San lolos dari maut berkat pertolongan
Kwe Tek Hun dan Liu Wan. Tetapi gadis ayu itu
justru tertawa menyakitkan.
"Hihihi... hebat sekali! Sungguh hebat sekali!
Selama keluar dari rumah baru sekarang aku melihat
ilmu silat yang bermutu! Dan kalian berdua ternyata
memiliki ilmu silat yang berbeda. Yang satu
mempunyai Thian-lui-khong-ciang (Pukulan Petir
Membelah Langit) dari keluarga Yap, sedangkan yang
lain memiliki Ban-seng-po Lian-hoan (Langkah
Selaksa Bintang Berantai) dari Keluarga Kwe yang
tersohor! Nah, coba kalian sebutkan... apa hubungan
kalian dengan keluarga-keluarga tokoh persilatan
yang kusebutkan tadi?"
Kalau pada saat itu ada halilintar yang menyambar
di dalam ruangan tersebut, mungkin Liu Wan maupun
Kwe Tek Hun tidak akan sekaget seperti sekarang.
Rasanya benar-benar tak masuk akal, hanya dengan
melihat sebuah gerakan saja dari ilmu silat mereka,
gadis ayu yang masih berusia sangat muda itu mampu
menebak dengan tepat asal-usul ilmu silat Liu Wan
maupun Kwe Tek Hun!
"Nona...? Sebutkan dulu, kau siapa ...?" dengan
suara serak Liu Wan bertanya.
"Benar, Nona... sebutkanlah namamu dan nama
perguruanmu!" Kwe Tek Hun turut menandaskan
pertanyaan Liu Wan.
322
Gadis ayu itu tertawa geli, namun kali ini nadanya
terasa dingin dan kaku. Suaranya pun terdengar
congkak dan ketus ketika memberi jawaban.
"Kalian mau tahu namaku? Huh, boleh saja! Setiap
saat kalian boleh saja mencari aku untuk membuat
perhitungan! Dengar, namaku... Mo Goat! Aku datang
jauh dari utara Tembok Besar, dari Gurun Gobi!
Cukup jelas?"
"Gurun Gobi...?" Liu Wan dan Kwe Tek Hun
berdesah sambil berusaha mengingat-ingat tokohtokoh
persilatan yang bertempat tinggal di Gurun
Gobi, yang mungkin mempunyai hubungan dengan
gadis di depan mereka itu.
Tetapi sampai beberapa saat mereka berdua tetap
tak mampu menemukan tokoh yang mereka kenal.
Sebaliknya dengan tatapan matanya yang semakin
mengancam, gadis ayu yang bernama Mo Goat itu
mendesak mereka.
"Ayoh, sekarang lekaslah kalian katakan! Apa
hubungan kalian dengan tokoh-tokoh tua yang telah
kusebutkan tadi?"
Liu Wan dan Kwe Tek Hun saling pandang satu
sama lain. Sebenarnya mereka tak ingin membawabawa
nama guru atau perguruan mereka. Akan tetapi
gadis itu telah menyebutkan nama dan asal-usul
perguruannya, sehingga tak enak rasanya kalau
mereka tetap menyembunyikan diri mereka. Salahsalah
mereka dikira takut terhadap gadis itu.
323
Sementara itu Tio Ciu In telah membawa Song Li
Cu dan Ku Jing San ke tempat yang aman. Song Li
Cu masih tetap lemas kena totokan tadi, sedangkan
Ku Jing San juga masih merasakan kesakitan pada
kaki kanannya. Karena tidak bisa mengobati mereka,
maka Tio Ciu In memutuskan untuk menantikan saja
petunjuk dari Kwe Tek Hun dan Liu Wan.
Dan Tio Ciu In segera memasang telinga ketika
gadis yang bernama Mo Goat itu bertanya tentang
asal-usul Liu Wan dan Kwe Tek Hun. Di dalam
hatinya gadis ayu itu juga ingin tahu siapa sebenarnya
Liu Wan yang baru saja dikenalnya itu.
"Baiklah. Dugaan Nona memang benar. Aku
memang mempunyai hubungan perguruan dengan
keluarga Yap, karena salah seorang dari anggota
keluarga itu adalah Guruku. Dan namaku sendiri
adalah Liu Wan...." akhirnya Liu Wan mengaku juga.
"Nah, dugaanku benar bukan? Thian-lui-khongciang
hanya ada satu di dunia ini, dan ilmu sakti itu
hanya dimiliki oleh keluarga Yap di kota raja. Melihat
kesempurnaan ilmu yang kau keluarkan tadi, aku
berani memastikan bahwa kau adalah murid Hong-luikun
Yap Kiong Lee yang terkenal itu. Benar tidak?"
dengan suara tetap kaku Mo Goat berkata lantang.
Liu Wan yang biasanya tangkas berbicara itu
terdiam. Wajahnya kelihatan kaku menahan geram.
"Dan dugaanku tentang engkau juga benar, bukan?"
Mo Goat mengalihkan ucapannya kepada Kwe Tek
324
Hun. "Kau tentu anak murid Keluarga Kwe yang
bertempat tinggal di Pulau Meng-to itu."
Kwe Tek Hun berdesah pendek. Hatinya juga
merasa geram terhadap gadis itu, tapi seperti halnya
Liu Wan dia juga merasa sulit untuk
mengungkapkannya. Gadis itu memang pintar
mempermainkan orang.
"Ya! Aku memang putera tunggal pendekar Kwe
Tiong Li, pemilik Pulau Meng-to."
Sekejap mata yang bulat indah itu terbelalak. "Oh,
jadi kau putera pendekar yang disebut orang Keh-sim
Tai-hiap itu? Sungguh tak kusangka sama sekali.
Pantaslah kalau Ban-seng-po Lian-hoan yang kau
keluarkan tadi mampu mengungguli kecepatan senjata
rahasiaku. Ban-seng-po Lian-hoan memang hebat
sekali. Mungkin sejajar dengan Bu-eng Hwe-teng
milik Bit-bo-ong jaman dahulu."
Diam-diam Liu Wan dan Kwe Tek Hun merasa
tergetar juga hatinya. Gadis remaja itu ternyata luas
sekali pengetahuannya. Sungguh tak sebanding
dengan usianya.
"Wah, jangan-jangan ilmu silat gadis ini juga hebat
pula...." Liu Wan mulai menduga-duga di dalam hati.
Semantara itu melihat kedua adik seperguruannya
masih menderita akibat perbuatan lawannya, Kwe Tek
Hun menjadi penasaran.
"Nona...! Kami hanya tertawa secara tidak sengaja.
Itu pun aku sudah berusaha mengalah dengan
meminta maaf kepadamu. Tetapi mengapa kau tetap
325
saja menganiaya dan mempermainkan Adik-adikku?
Apakah engkau benar-benar tidak memiliki
perasaan?"
Mata itu tiba-tiba berkilat marah. "Apa katamu?
Kau anggap aku tak berperasaan? Huh! justru
kalianlah yang tak memiliki perasaan! Semua orang
Han berhati culas dan kejam! Mengapa aku harus
berbelas kasihan kepada kalian?" sekonyong-konyong
Mo Goat menjerit.
Semua orang terperanjat. Ucapan yang baru saja
keluar dari mulut gadis itu seperti melantur, namun
juga seperti mengandung arti yang dalam, seolah-olah
gadis itu sangat kecewa dan amat membenci bangsa
Han.
"Eh, ucapan Nona sungguh sangat mengherankan
sekali. Mengapa Nona menyeret-nyeret bangsa Han
dalam pertengkaran kita ini? Mengapa pula Nona
mengatakan orang Han itu culas dan kejam? Apa
hubungannya?" Liu Wan bertanya penasaran.
Tak terduga kemarahan Mo Goat semakin
berkobar. Gadis itu mengembangkan kipasnya di
depan dada. Matanya yang indah itu menjadi beringas.
"Jangan banyak tanya! Pokoknya setiap orang Han
yang mengganggu aku takkan kuberi ampun! Harus
dibunuh! Termasuk... temanmu yang telah berani
menyerangku itu!" serunya nyaring seraya menuding
ke arah Ku Jing San.
Kwe Tek Hun mendengus melalui hidungnya. "Kau
takkan bisa membunuhnya. Dia adalah adik
326
seperguruanku. Selama aku masih ada di sini, dia
takkan bisa kauapa-apakan!" pemuda gagah itu
menggeram.
"Hihihihi...! Kau katakan aku tak bisa
membunuhnya? Oooo, kau benar-benar buta dan
bodoh! Apa kau tak menyadari bahwa Sutemu itu
sebentar lagi akan mati? Coba kaulihat kakinya yang
sakit itu...!" mendadak gadis itu tertawa mengejek.
Kwe Tek Hun menoleh. Dipandangnya Ku Jing San
lekat-lekat. Hatinya merasa was-was juga.
"Jing San...! Bagaimana kakimu?" tanyanya
khawatir.
Ku Jing San yang kesakitan itu cepat membuka
sepatunya. Tiba-tiba matanya terbeliak. Kaki yang
terbungkus sepatu itu ternyata sudah busuk dan
berwarna kehijauan! Dan ketika pemuda itu
menaikkan pipa celananya, warna kehijauan itu
ternyata telah merembes ke atas sampai di bawah
lututnya!
"Suheng...!" Ku Jing San berteriak gemetar ke arah
Kwe Tek Hun.
Bagai berlomba Kwe Tek Hun dan Liu Wan
melesat mendekati Ku Jing San. Keduanya bergegas
memeriksa kaki anak muda itu. Kwe Tek Hun
mencoba menekan bekas luka bakar akibat ledakan
senjata rahasia tadi. Tapi betapa kagetnya dia ketika
daging itu mendadak terlepas dan jatuh tergumpal di
atas lantai. Daging di atas tumit itu sekarang
327
menganga, namun anehnya tak setetes pun darah
keluar.
Kwe Tek Hun meloncat mundur dengan muka
pucat. Liu Wan menatap pendekar muda itu sambil
menggeleng-gelengkan kepalanya. Sebagai seorang
tabib yang mengerti ilmu pengobatan ia tahu bahwa
kaki itu tak bisa dipertahankan lagi.
"Saudara Kwe! Potong saja kaki itu sebelum
racunnya naik ke atas! Cepat!" Liu Wan berseru
tegang.
"Apaaaa...? Kakiku dipotong?" Ku Jing San
menjerit hampir pingsan.
"Saudara Liu? Apa maksudmu...?" Kwe Tek Hun
menegaskan pula dengan suara menggeletar.
"Daging itu sudah mati dan busuk! Tak mungkin
bisa dihidupkan lagi walau dengan obat dewa
sekalipun! Satu-satunya jalan hanya dibuang, sebelum
menjalar ke bagian lain!" Liu Wan menerangkan.
"Ooouuh...!" Ku Jing San berdesah ketakutan.
Wajahnya menjadi putih pucat seperti tak berdarah.
"Saudara Kwe, cepat...! Lakukan apa yang
dikatakan Liu Twako! Dia seorang tabib yang tak
mungkin berdusta!" dalam ketegangannya Tio Ciu In
ikut berteriak.
"Hihihihi...! Mengapa kalian semua menjadi
cemas? Biarkan saja dia mati! Racun api itu memang
tidak ada obat pemunahnya! Sekali kena tak mungkin
bisa hidup lagi!" Mo Goat tertawa puas.
328
Melihat pertunjukkan kekejaman yang sangat
mengerikan itu para tamu yang masih tersisa di
tempat tersebut segera bubar menyelamatkan diri.
Ruang makan itu lantas menjadi sepi.
"Iblis keji! Kau memang bukan manusia...!"
akhirnya Kwe Tek Hun memekik, lalu mencabut
pedang yang terselip di pinggangnya dan menabas
kaki Ku Jing San, persis pada lututnya.
Darah segar mengucur deras dari kaki yang
terpotong itu. Dan pukulan batin tersebut benar-benar
tak dapat dipikul oleh Ku Jing San. Pemuda itu
terkapar di lantai tak sadarkan diri.
Liu Wan yang kemudian bergerak menolongnya.
Pemuda yang mahir ilmu pengobatan itu segera
memungut bungkusan obatnya. Paha Ku Jing San
cepat diikatnya erat-erat, kemudian lukanya yang
menganga lebar itu ditaburinya dengan obat sampai
rata. Setelah itu semuanya dibalut dengan kain bersih,
sehingga sebentar kemudian kaki yang buntung
tersebut telah terbungkus dengan rapi.
Melihat sutenya telah dirawat Liu Wan, Kwe Tek
Hun segera kembali menghadapi Mo Goat. Wajah
pemuda gagah itu tampak suram. Bagaimanapun
sabarnya pemuda itu, namun usia Kwe Tek Hun tetap
masih muda. Darahnya masih mudah bergejolak pula
seperti halnya pemuda lain. Apalagi tindakan
sewenang-wenang itu menimpa adik seperguruannya
sendiri. Maka tidaklah mengherankan bila akhirnya
pemuda itu tak bisa menahan dirinya lagi.
329
Terdengar suara berkerotokan ketika Kwe Tek Hun
mengerahkan tenaga saktinya. Matanya tampak
mencorong seperti mata harimau di dalam kegelapan.
"Nona! Sebetulnya aku tidak suka berkelahi dengan
wanita. Tetapi perlakuanmu yang amat kejam itu dan
tak berperikemanusiaan itu membuat aku terpaksa
menghadapimu."
Lagi-lagi Mo Goat tertawa dingin. Nada suaranya
semakin terasa mengerikan, seperti suara hantu cantik
di malam sunyi.
"Kau mau melawanku? Baiklah! Tapi jangan
menyesal bila nasibmu sama seperti kawanmu itu.
Hihihi, majulah...!"
Kwe Tek Hun mencabut kembali pedangnya.
Pemuda itu tidak ingin bernasib malang seperti halnya
Ku Jing San dan Song Li Cu, terjungkal pada
gebrakan pertama. Apalagi gadis cantik itu sekarang
membawa kipas bajanya yang aneh.
"Lihat pedang!" Kwe Tek Hun tiba-tiba berseru dan
menyerang. .
Mula-mula pedang Kwe Tek Hun menghunjam ke
bawah, menuju ke perut Mo Goat. Tapi sebelum
ujung pedang itu menyentuh sasaran, Kwe Tek Hun
mengangkatnya ke atas seperti layaknya orang
mencongkel sebuah benda dengan ujung pedang.
Terdengar suara mengaung takkala ujung pedang
yang tipis itu bergetar dengan hebat.
Mo Goat terkesiap. Walaupun serangan yang
sesungguhnya belum datang, namun getaran ujung
330
pedang yang menggiriskan itu seperti memberi
bisikan padanya agar berhati-hati. Oleh karena itu
sama sekali ia tak berusaha menangkis atau
menyentuh ujung pedang pedang tersebut. Gadis itu
memilih jalan yang lebih aman, yaitu menghindar
sambil balas menyerang.
Dengan gesit Mo Goat menggeliatkan tubuhnya ke
kanan, sehingga pinggangnya yang kecil pipih itu
seolah-olah terlipat mau patah. Dan gerakannya yang
indah itu segera
diikuti dengan
meluncurnya
ujung kaki kirinya
ke atas, ke dagu
Kwe Tek Hun.
Untuk sesaat
Kwe Tek Hun
mengagumi
kecerdikan lawan
yang tak mau
membentur ujung
pedangnya,
sehingga jebakan
yang telah dia
persiapkan
menjadi batal untuk dilakukan. Bahkan sekarang
dagunya balik diserang dengan ujung sepatu lawan.
Kwe Tek Hun menarik tubuhnya ke belakang
sambil mengayunkan pedangnya mendatar. Sambil
331
mengelak pemuda itu bermaksud menabas kaki Mo
Goat. Kali ini Kwe Tek Hun benar-benar
mengerahkan kelincahan dan kecepatan geraknya agar
mampu memotong kaki gadis itu, sehingga dendam
Ku Jing San dapat terbalas.
Tapi keinginan itu memang sulit terlaksana.
Jangankan memotong kaki lawan, menyentuh kainnya
pun ternyata tak bisa. Gerakan Kwe Tek Hun yang
dilandasi tenaga dalam sepenuhnya itu memang cepat
bukan main, namun ternyata gerakan Mo Goat jauh
lebih cepat lagi. Hanya dengan jalan melemparkan
badannya ke belakang, gadis ayu itu sudah bisa
meloloskan diri dari tabasan pedang Kwe Tek Hun.
Meskipun demikian beberapa gebrakan tadi sudah
cukup bagi mereka untuk men jajaki ilmu masingmasing.
Ternyata mereka sama-sama memiliki
kegesitan dan ilmu meringankan tubuh yang luar
biasa. Ban-seng-po Lian-hoan dari keluarga Kwe yang
sangat dikagumi orang itu ternyata sekarang bisa
dilayani dengan baik oleh Mo Goat. Ginkang gadis itu
benar-benar hebat tiada terkira.
Dan pertarungan selanjutnya lebih tepat disebut
pertandingan ilmu meringankan tubuh daripada
bertempur mengadu ilmu silat. Mereka berdua
bagaikan sepasang burung walet yang berlaga di
udara. Tubuh mereka berkelebatan ke sana ke mari, di
antara meja dan kursi. Kadang-kadang terdengar suara
nyaring apa bila kedua senjata mereka beradu satu
sama lain.
332
Traaaaaang! Traaaaaang! Tiiing!
Tak terasa peluh dingin membasahi punggung
tangan Liu Wan. Pertarungan itu sungguh dahsyat dan
menegangkan. Masing-masing ternyata memiliki
modal ilmu silat yang sulit dicari tandingannya. Mo
Goat yang cantik itu mempunyai ilmu silat yang aneh
dan mengerikan. Sepintas lalu gaya dan gerakannya
seperti campur aduk antara beberapa ilmu silat yang
dimainkan bersama-sama. Namun apabila
diperhatikan benar-benar, maka akan tampak betapa
dalamnya arti dari setiap gerakan yang kelihatan
seperti campur aduk itu. Begitu dalam dan rumit
sehingga menyimpan kekuatan yang dahsyat tiada
terkira. Apalagi semuanya itu didukung oleh lwe-kang
dan ginkang gadis itu yang sukar diukur pula
tingginya.
Akan tetapi Kwe Tek Hun sendiri juga memiliki
ilmu yang hebat pula. Sebagai ahli waris Keh-sim Taihiap
(Pendekar Patah Hati), yang tersohor memiliki
beberapa macam ilmu kesaktian tinggi, seperti Pek-in
Ginkang (Ilmu Meringankan Tubuh Awan Putih),
Kim-hong-kun-hoat (Pukulan Burung Merak), Paihud-
sinkang (Tenaga Sakti Menyembah Budha) dan
Ban-seng-po Lian-hoan (Langkah Selaksa Bintang
Berantai), maka tak mengherankan bila pemuda gagah
itu juga tumbuh seperti ayahnya. Di dalam usianya
yang masih amat muda, kesaktian Kwe Tek Hun
benar-benar sulit dicari tandingannya.
333
Namun di kota Hang-ciu ini ternyata Kwe Tek Hun
mendapatkan lawan yang setimpal. Mo Goat, seorang
gadis remaja, yang usianya jauh lebih muda daripada
Kwe Tek Hun, ternyata mampu menandinginya.
Malahan kalau dikaji benar-benar, gadis cantik itu
justru memiliki beberapa kelebihan yang bisa
membahayakan jiwa Kwe Tek Hun. Apalagi gadis itu
tampaknya belum mengeluarkan seluruh ilmu
simpanannya.
Sebagai seorang yang juga memiliki ilmu silat
tinggi Liu Wan segera bisa membaca irama
pertempuran mereka. Setelah pertempuran
berlangsung lebih dari lima puluhan jurus, terlihat
permainan pedang Kwe Tek Hun mulai tampak
kesulitan menghadapi kelincahan kipas Mo Goat.
Meskipun permainan pedang Kwe Tek Hun tersebut
bukan merupakan ilmu andalan Keluarga Kwe, tapi
untuk memainkannya pemuda itu sudah menopangnya
dengan Pai-hud-sinkang dan Pek-in-ginkang, sehingga
kekuatan dan kecepatannya benar-benar telah menjadi
berlipat ganda. Akan tetapi kehebatan ilmu pedang itu
masih tetap saja di bawah bayang-bayang ilmu kipas
Mo Goat yang cepat dan kuat. Tampaknya lwekang
dan ginkang gadis cantik itu memang lebih tinggi
daripada Kwe Tek Hun.
Kenyataan itu benar-benar mengecutkan hati Liu
Wan. Pemuda sakti yang mahir bermacam-macam
ilmu itu merasa bahwa kepandaiannya tak lebih baik
daripada Kwe Tek Hun. Walaupun dia memiliki
334
Thian-lui-khong-ciang yang ampuh, rasanya juga sulit
mengalahkan Mo Goat. Gadis cantik itu memiliki
ilmu meringankan tubuh yang hebat, sehingga Pek-in
Ginkang keluarga Kwe yang sangat disegani orang itu
tak berdaya dibuatnya.
Thian-lui-khong-ciang memang dahsyat. Tapi ilmu
itu membutuhkan pengerahan lwekang yang berat
pula. Kalau lawan dengan ginkangnya yang tinggi
bisa selalu menghindari pukulannya, akhirnya ia
sendiri yang akan kehabisan tenaga.
"Bukan main...!" Liu Wan berdesah kagum.
Sebaliknya pertempuran tingkat tinggi itu semakin
membuka mata Tio Ciu In. Ternyata apa yang didapat
dari gurunya selama .ini belumlah apa-apa bila
dibandingkan dengan mereka. Jangankan harus
mengikuti jurus-jurus yang mereka keluarkan, melihat
gerakan-gerakan mereka yang cepat bagai kilat itu
saja sudah membuat pening kepalanya. Namun
kenyataan itu justru menggugah semangatnya. Ia
harus bisa seperti mereka. Ia harus lebih tekun
mempelajari ilmu silat Im-yang-kau, karena gurunya
pernah bercerita bahwa Aliran Im-yang-kau juga
memiliki sebuah ilmu yang amat dahsyat, yang
disebut Ilmu Silat Kulit Doma. Siapa tahu dirinya bisa
mempelajarinya kelak?
Traaaaaaang...!
Tiba-tiba Tio Ciu In dikejutkan oleh suara benturan
senjata yang amat nyaring. Ketika gadis ayu itu
memandang ke arena pertempuran, dilihatnya Kwe
335
Tek Hun dan Mo Goat telah berhenti bertempur.
Mereka tampak berdiri berhadapan dalam jarak lima
langkah. Sementara Liu Wan yang berdiri menonton
tadi telah berada di dekat Tek Hun.
Mo Goat berdiri tegak sambil mengibas-ngibaskan
kipasnya di depan dada. Bibirnya yang merah tipis itu
tersenyum mengejek. Sedangkan Kwe Tek Hun
tampak berdiri lesu memandangi pedang yang terlepas
jatuh dari tangannya.
"Kau memang hebat, Nona. Rasanya aku harus
belajar sepuluh tahun lagi untuk bisa menandingimu.
Baiklah, kami mengalah kali ini. Tapi suatu saat aku
akan mencarimu untuk membuat perhitungan lagi."
akhirnya pemuda itu menggeram perlahan.
Tak terduga gadis cantik itu mencibirkan bibirnya.
"Wah, enak benar...! Begitu kalah langsung pergi
sambil mengancam akan membalas dendam. Mana
ada peraturan begitu?" ujarnya lantang.
Kwe Tek Hun tersentak kaget. "Maksud Nona...?"
Crek! Gadis cantik itu menutup kipasnya dengan
tiba-tiba. Matanya yang mencorong dingin itu
menatap ganas. "Tinggalkan dulu kepalamu! Baru kau
boleh pergi meninggalkan tempat ini!" bentaknya
keras.
"Kurang ajar...!" Kwe Tek Hun menggeram dengan
wajah pucat pasi.
"Kau sungguh keterlaluan sekali, Nona! Apakah
kau benar-benar ingin membunuh kami semua?" Liu
Wan berseru penasaran.
336
"Tentu saja. Kalian telah berani mengusik
ketenanganku. Dan tadi sudah kukatakan, orang-orang
Han yang berani mengganggu aku akan kubunuh.
"Baik! Kalau begitu silakan kaubuktikan niatmu
itu!" Liu Wan menjadi marah juga akhirnya.
"Saudara Liu! Biarkan aku yang membuktikan
ucapannya itu!" tiba-tiba Kwe Tek Hun berteriak, lalu
menyerang lebih dulu ke arah Mo Goat.
Gadis cantik itu tertawa mengejek.
"Majulah sekalian semuanya, agar aku bisa
menghemat waktu!" serunya seraya mengelak ke
samping.
"Iblis...!" Liu Wan mengumpat keras.
Pemuda itu lalu merangkapkan kedua tangannya di
depan dada. Berbareng dengan kedua kakinya yang
ditarik merenggang, kedua belah telapak tangan yang
terbuka itu mendorong ke depan dengan kekuatan
penuh. Wuuus! Terdengar suara desir angin meluncur
dari kedua telapak tangan tersebut.
Mo Goat ingin mencoba kekuatan Thian-lui-khongciang
Liu Wan. Sambil merendahkan badannya, gadis
itu mengibaskan kipasnya ke depan.
Duaaaaar! Terdengar sebuah letupan yang amat
keras!
Gadis cantik itu terdorong mundur satu langkah,
sementara dua lembar daun kipasnya di bagian tengah
tampak melengkung. Sebaliknya tubuh Liu Wan
sendiri kelihatan bergoyang-goyang, meskipun kedua
kakinya tetap kokoh menghunjam lantai. Pemuda itu
337
merasakan betapa kuatnya sambaran kipas lawannya
tadi.
"Bagus, kalian berdua telah maju berbareng! Kali
ini aku pun tidak akan segan-segan lagi mengeluarkan
ilmuku! Nah, lihatlah...!" sekonyong-konyong Mo
Goat berseru nyaring.
Liu Wan bersiap kembali dengan pukulan Thianlui-
khong-ciangnya. Bahkan pemuda itu telah siap
untuk mengurung lawannya dengan ilmu silat andalan
perguruannya, Tai-khong Sin-kun (Pukulan Angin
Puyuh)! Sedangkan Kwe Tek Hun tampak
merapatkan ujung-ujung jari tangannya di depan
wajahnya, seolah-olah ingin membentuk dua buah
paruh burung merak dengan jari-jarinya itu.
Tapi mata mereka tiba-tiba terbeliak. Tubuh
lawannya yang ramping indah itu ,mendadak pecah
menjadi dua bagian, dan masing-masing bagian lalu
tumbuh menjadi tubuh Mo Goat yang utuh, sehingga
di dalam arena tersebut ada dua Mo Goat yang siap
bertarung dengan mereka.
"Gila! Tidak mungkin..." Kwe Tek Hun berdesis
ragu.
"Awas, Saudara Kwe, gadis ini pandai ilmu sihir!"
Liu Wan yang juga menjadi bingung itu
memperingatkan temannya.
"Hihihihi...! Ayolah, keluarkan seluruh
kepandaianmu!" sepasang Mo Goat kembar itu
menantang.
338
"Saudara Kwe, mari kita hadapi dia bersamasama!"
"Mari!"
Karena tak tahu mana Mo Goat yang aseli dan
mana Mo Goat yang palsu, maka Liu Wan dan Kwe
Tek Hun menyerang saja semuanya. Liu Wan segera
mengeluarkan Pukulan Angin Puyuhnya. Bergantian
kedua telapak tangannya menghantam tubuh Mo Goat
yang berdiri di depannya. Angin kencang terasa
bersiutan dari telapak tangannya, melanda tubuh gadis
itu.
Dan dalam waktu yang bersamaan Kwe Tek Hun
juga menerjang pula tubuh Mo Goat yang lain.
Pemuda gagah itu menyerang dengan jurus Kimhong-
pao-goat (Burung Merak Memeluk Bulan),
salah satu jurus Kim-hong-kun-hoat andalan Keluarga
Kwe. Gerakannya sangat indah, namun amat
berbahaya dan mematikan. Memang sebenarnyalah
bahwa ilmu silat Keluarga Kwe sangat hebat. Kalau
tadi Kwe Tek Hun dikalahkan, hal itu bukan karena
kepandaiannya yang rendah, tapi disebabkan karena
pemuda tersebut telah terlanjur mempergunakan
pedangnya. Padahal bukan itulah yang menjadi inti
kepandaiannya. Namun karena pedangnya terlanjur
dikalahkan, sebagai seorang ksatria pemuda itu
mengakui kekalahannya.
Kini tanpa pedang di tangannya Kwe Tek Hun
justru menjadi lebih berbahaya malah. Dengan ilmu
339
andalan keluarganya itu Kwe Tek Hun benar-benar
seperti seekor harimau ganas yang tumbuh sayapnya.
Demikianlah dalam waktu yang bersamaan Mo
Goat diserang dengan dua macam ilmu silat tinggi
yang jarang tampak di dunia persilatan. Meskipun
demikian gadis yang kini berubah menjadi dua orang
itu sama sekali tak menunjukkan perasaan takut.
Kedua tubuh kembarnya itu masing-masing cepat
mengelak dengan ginkangnya yang amat tinggi.
Bahkan beberapa saat kemudian tubuh kembar itu
ganti menyerang dengan gesitnya. Masing-masing
dari tubuh kembar itu berkelebatan mengurung Liu
Wan dan Kwe Tek Hun. Memang mentakjubkan,
masing-masing seperti memiliki nyawa sendirisendiri.
Maka terjadilah sebuah pertempuran seru, aneh,
dan membingungkan! Seru, karena ilmu-ilmu yang
mereka keluarkan adalah ilmu yang jarang ada duanya
di dunia persilatan. Tapi aneh dan membingungkan
karena salah seorang di antaranya cuma bentuk semu
atau bentuk tipuan yang sebenarnya tidak ada. Hanya
karena kehebatan ilmu sihir Mo Goat saja hal itu bisa
terjadi.
Yang benar-benar repot adalah Liu Wan. Tanpa
disadarinya pemuda itu berkelahi melawan bentuk Mo
Goat yang palsu. Maka ilmu silatnya yang dahsyat
dan menggiriskan itu menjadi percuma saja. Dia
seperti bertempur dengan sebuah bayangan yang bisa
dilihat, tapi tak dapat disentuhnya. Thian-lui-khong340
ciang-nya yang meledak-ledak seperti halilintar itu
tidak bisa menghancurkan tubuh lawannya. Palingpaling
tubuh lawannya itu seperti bergoyang-goyang
mau hilang bila terkena pukulannya.
Sementara itu Kwe Tek Hun yang kebetulan
berhadapan dengan Mo Goat asli, benar-benar harus
mengerahkan segala kemampuannya. Lawannya yang
masih amat muda itu ternyata menyimpan ilmu yang
luar biasa tingginya. Ilmu silat keluarganya yang
selama ini tak pernah memperoleh lawan, sekarang
benar-benar ketemu batunya. Tenaga sakti Pai-hudsinkang
dan ilmu meringankan tubuh Pek-in-ginkang,
yang selama ini ditakuti orang, sama sekali tak
berdaya mengungguli tenaga dalam dan kelincahan
lawannya. Dalam segala hal gadis cantik itu ternyata
berada di atasnya. Hanya langkah ajaib Ban-seng-po
Lian-hoan saja yang akhirnya masih bisa menolong
Kwe Tek Hun dari kehancuran. Dalam keadaan
terpojok, langkah ajaib itu ternyata masih mampu
menyelamatkan nyawanya.
Akan tetapi dengan demikian akhir dari
pertempuran itu sudah bisa diduga. Cepat atau lambat
Kwe Tek Hun maupun Liu Wan mesti mengakui
keunggulan lawannya. Dan hal itu berarti saat
kematian mereka telah tiba Mo Goat yang kejam dan
amat benci kepada orang Han itu tentu akan
membunuh mereka.
Walaupun tidak dapat mengikuti irama
pertempuran tersebut, namun Tio Ciu In dapat juga
341
merasakan kesulitan kawan-kawannya. Tapi karena
kepandaian sendiri masih terlampau rendah, maka tak
mungkin bisa menolong mereka.
MATAHARI belum terlampau tinggi. Sinarnya
yang hangat masih menerobos lobang jendela,
menebarkan kehangatan di udara pagi yang dingin itu.
Tio Ciu In memang tidak merasa kedinginan karena
pertempuran itu justru membuatnya gerah dan cemas.
Lain halnya dengan Tio Siau In, yang pada saat itu
sedang duduk merenung sendirian di rumah tabib di
tepi laut itu. Walau di depan perapian, gadis itu masih
kedinginan.
Matahari memang bersinar terang di tepi laut itu.
Tapi karena angin laut berhembus sangat kencang,
maka panasnya seolah-olah selalu terguncang pergi
terbawa angin. Bahkan hembusan angin yang amat
kuat itu justru melemparkan butiran-butiran air ke
daratan. Dinginnya bukan alang kepalang.
Tio Siau In melipat kakinya yang dingin di depan
perapian. Gadis centil yang biasanya selalu bersikap
lincah itu kini hanya merenung diam tak bergerak.
Matanya yang berbulu lentik itu menatap kosong ke
dalam api, seakan-akan lidah api yang menjilat-jilat
ke atas itu amat mengasyikkannya.
Tio Siau In memang sedang melamun. Berbagai
peristiwa menegangkan yang dialaminya sejak dia
meninggalkan rumah berkelebat satu persatu di depan
matanya. Semenjak gurunya memerintahkan dia dan
342
kakaknya ke kota Hang-ciu untuk mencari pemuda
bertatto "naga" di badannya, hingga peristiwa
menegangkan yang terjadi di dalam rumah makan itu
tadi malam.
Semula Tio Siau In memang tidak menyukai tugas
itu. Tugas yang dianggapnya terlalu mengada-ada dan
kurang masuk akal. Tugas yang diberikan atas dasar
ramalan-ramalan yang belum tentu benar. Tapi
kejadian demi kejadian yang secara tak sengaja
dilihatnya, membuat Tio Siau In berbalik pikiran.
Sekarang gadis itu berubah menjadi ingin tahu, apa
sebenarnya yang ada di balik cerita tentang pemuda
bertatto naga itu? Mengapa kelihatannya setiap orang
mempunyai kepentingan dengan pemuda bertatto naga
tersebut?
Bahkan sekarang di dekat Tio Siau In sendiri ada
seorang pemuda yang juga memiliki tatto naga di
dadanya. Mungkinkah pemuda ini yang dimaksudkan
oleh gurunya itu?
Tak terasa Tio Siau In melirik ke pintu kamar yang
ada di belakangnya. Di dalam kamar itu A Liong
beristirahat. Sejak meminum obat penyembah luka
dalam, pemuda itu langsung tertidur dengan
nyenyaknya.
Tio Siau rn menarik napas panjang. Matanya
kembali terhunjam ke dalam perapian. Kejadian yang
mendebarkan hatinya semalam kembali di pelupuk
matanya. Kejadian yang sangat membekas di dalam
hatinya, yang membuka mata batinnya akan sifat-sifat
343
manusia. Keculasan, keserakahan, kekejaman, dan
tipu daya demi kepentingan pribadi.
Tadi malam, ketika mereka memasuki perairan
teluk kecil itu, Su Hiat Hong meminta kepada Tio
Siau In untuk meminggirkan sampannya. Berbeda
dengan pantai di sekitarnya, pantai di teluk kecil
tersebut memiliki hamparan pasir yang landai,
sehingga Tio Siau In mudah membawanya ke daratan.
Rumah bekas tabib kerajaan itu didirikan di atas
tiang-tiang yang cukup tinggi dari tanah. Mungkin
dimaksudkan untuk menghindari air pasang atau
binatang-binatang melata yang banyak berada di
tempat itu. Setiap pintu keluar dipasangi tangga ke
bawah. Sementara di kanan kiri bangunan tersebut
ditanami pohon-pohon besar untuk melindungi rumah
itu dari angin laut dan terik matahari.
Rumah itu tidak begitu besar. Mungkin hanya
terdiri dari tiga atau empat kamar saja. Dan dinding
bagian belakang rumah itu menempel pada tebing
curam yang memagari ceruk sempit tersebut, sungguh
sebuah rumah yang aneh dan antik.
"Rupanya Tong Kiat Teng belum tidur Mungkin
dia masih bekerja di kamar obatnya, atau mungkin dia
sedang membaca di kamar tidurnya. Kita jangan
sampai mengagetkannya." Su Hiat Hong berkata
pelan ketika melihat jendela rumah itu terbuka lebar.
Sinar lampu dari dalam ruang panggung itu menyorot
keluar.
344
"Lalu... apa yang harus kulakukan, Paman? Apakah
aku harus naik dan mengetuk pintunya?" Tio Siau In
bertanya.
"Ya! Tapi lebih baik kita pergi ke sana bersamasama.
Coba, kautolong pemuda ini agar bisa berjalan
ke rumah itu!" Su Hiat Hong yang masih lemah itu
meminta kepada Tio Siau In.
Tio Siau In lalu memapah A Liong turun dari
sampan, kemudian membantunya berjalan melewati
hamparan pasir di tepian pantai tersebut. Su Hiat
Hong sambil mendekap dadanya yang sakit
melangkah di belakang mereka.
"He, Paman... lihatlah! Di sana ada perahu!" tibatiba
Tio Siau In yang secara tak sengaja memandang
ke laut berdesah perlahan. Tangannya menuding ke
sebuah perahu yang ditambat di antara bongkalan batu
karang besar di luar pantai.
"Haaah...? Nanti dulu, Nona! Jangan-jangan itu
perahu orang-orang Hun tadi! Awas...! Mari kita
mencari tempat persembunyian yang aman!"
"Bagaimana dengan sampan kita?"
"Biarkan saja. Takkan kelihatan dari rumah itu.
Kalau pun diketemukan oleh orang-orang itu, palingpaling
juga dikira kepunyaan Tong Kiat Teng. Ayoh,
cepat!"
A Liong sama sekali tak berkata apa-apa ketika
dibawa bersembunyi di semak-semak yang tumbuh di
pinggiran tebing ceruk itu. Pemuda yang masih
345
tampak kesakitan itu menurut saja ketika dituntun Tio
Siau In ke balik perdu.
Beberapa saat lamanya mereka menunggu di
tempat itu. Tapi tak seorang pun tampak keluar atau
terdengar suaranya. Rumah itu kelihatan sepi-sepi
saja, Su Hiat Hong menjadi curiga. Benarkah yang
datang itu rombongan orang-orang Hun? Kalau benar
mereka, apa maksud mereka datang ke rumah Tong
Kiat Teng ini? Mengapa rumah itu tampak tenangtenang
saja? Apakah mereka sudah saling mengenal?
"Nona...?" Akhirnya Su Hiat Hong tak tahan lagi
menunggu lebih lama. "Mari kita mendekat ke rumah
itu! Kita bergeser perlahan-lahan melalui semaksemak
ini, lalu kita mendekam di bawah kolong
rumah. Beranikah kau?"
Tio Siau In tersenyum. "Seharusnya aku yang
bertanya kepada Paman. Dengan keadaan Paman dan
A Liong ini, apakah bisa merangkak sampai ke sana?"
"A Liong...? Bagaimana? Kau tinggal di sini atau
ikut kami ke rumah itu...?" Su Hiat Hong bertanya
kepada A Liong.
Pemuda itu menengadah kepalanya. Meskipun
pucat namun pandangannya kelihatan tegar dan
bersemangat.
"Aku ikut!" jawab pemuda itu tegas.
"Baiklah! Tapi kita harus berhati-hati benar!
Langkah kita tidak boleh mengeluarkan suara sama
sekali. Sekali kita ketahuan oleh orang-orang Hun itu,
matilah kita! Bagaimana, Nona?"
346
Tio Siau In mengangguk. Bagaimanapun juga gadis
cantik itu sudah membulatkan tekadnya untuk
menyelidiki masalah pemuda bertatto naga ini.
Apalagi dia juga sudah bersedia untuk memberi
pertolongan kepada Su Hiat Hong dan A Liong. Tidak
enak rasanya membiarkan mereka menempuh bahaya
sendirian.
Mereka lalu merangkak perlahan-lahan mendekati
rumah panggung itu. Su Hiat Hong paling depan, A
Liong di tengah, dan Tio Siau In di belakang sendiri.
Semakin dekat dengan rumah itu perasaan mereka
menjadi semakin tegang. Apalagi lapat-lapat mereka
mulai mendengar suara percakapan orang di dalam
rumah itu.
Dua puluh langkah dari bangunan rumah itu Su
Hiat Hong berhenti. Perwira kerajaan itu teringat akan
kebiasaan pimpinan orang Hun yang bersembunyi di
dalam gelap. Ditelitinya lebih dulu tempat di
sekeliling rumah tersebut, kalau-kalau ada orang di
sana. Setelah yakin tak ada bahaya yang mengancam
mereka, Su Hiat Hong baru merangkak lagi.
Suara percakapan itu semakin jelas terdengar.
Apalagi ketika mereka telah sampai di bawah kolong
rumah tersebut. Mereka mencari tempat yang
terlindung di antara bebatuan yang berserakan di
bawah bangunan itu.
"Nah, sudah habis waktu yang kita berikan kepada
Tabib Tua itu! Bawa dia ke sini!" tiba-tiba terdengar
suara menggeledek di dalam rumah itu.
347
"Baik, Goanswe! Prajurit, bawa orang tua itu ke
mari!"
Hampir saja Su Hiat Hong berseru kaget.
Untunglah telapak tangannya cepat membungkam
mulutnya sendiri. Tentu saja Tio Siau In menjadi
terheran-heran melihat ulahnya. Gadis itu
mendekatkan mulutnya ke telinga Su Hiat Hong.
"Ada apa, Paman? Mengapa kau tampak kaget'
sekali? Apakah Paman mengenal suara itu?"
Su Hiat Hong mengangguk. Namun ia menaruh jari
telunjuknya di depan bibirnya.
Terdengar suara langkah kaki dari bagian depan ke
bagian belakang di atas lantai papan rumah itu.
Terdengar suara ribut sebentar. Kemudian terdengar
suara langkah lagi, namun kali ini terdiri dari dua
orang, di mana yang seorang langkahnya terdengar
lemah dan agak diseret.
"Inilah dia, Goanswe!"
"Bagus! Nah, Tong Kiat Teng... waktu berpikir
yang kami berikan telah habis. Bagaimanakah
pendapatmu? Apakah kau sudah mau berterus terang
kepadaku?"
"Maaf, Goanswe... aku sudah mengatakan yang
sebenarnya. Aku tidak tahu di mana anak-anak itu
sekarang."
"Bangsat! Kau menang keras kepala! Apakah kau
sudah tak ingin hidup lagi?"
"Goanswe...? Apa lagi yang harus kukatakan
kepadamu? Aku sudah mengatakan semuanya.
348
Memang akulah yang menyelamatkan anak-anak itu
dari kobaran yang mengamuk di istana Pangeran Liu
Yang Kun. Dan aku pulalah yang membawa mereka
keluar dari kota raja. Tapi luka-lukaku ketika aku
menerobos kobaran api itu selalu mengganggu
perjalananku. Aku tak tahan lagi, sehingga di tengah
jalan aku terpaksa menitipkan mereka pada seseorang.
Celakanya, karena saat itu aku dalam keadaan sakit
dan kalut pikiran, maka aku telah lupa kepada siapa
aku telah menitipkan anak-anak itu."
"Bohong...! Kau memang keras kepala! Kau tak
mau berterus terang kepadaku! Kau tentu telah
menyembunyikan mereka di suatu tempat...! Hmmh!"
"Aku tidak membohong, Goanswe. Selama lima
belas tahun ini aku juga sia-sia mencari jejak anakanak
itu. Bagaikan orang gila aku mencari mereka ke
mana-mana. Seluruh negeri ini hampir telah kujelajahi
semuanya, tapi aku tetap tidak menemukan mereka.
Aku sudah berputus asa. Aku merasa berdosa kepada
Pangeran Liu Yang Kun. Itulah sebabnya aku
mengasingkan diri di tempat ini."
"Huh, kau memang benar-benar keras kepala, Kiat
Teng! Rupanya kau memang sudah tidak menyayangi
jiwamu lagi. Baiklah, tanpa bantuanmu pun aku tentu
dapat menemukan anak-anak itu. Masih banyak jalan
untuk menemukan mereka, walaupun untuk itu akan
jatuh korban jiwa. Aku tidak peduli. Jangankan cuma
ribuan jiwa, kalau aku harus membantai setiap anak
yang seusia mereka pun akan aku laksanakan juga!"
349
Ucapan Au-yang Goanswe itu benar-benar
mengejutkan Tong Kiat Teng. Bahkan juga
mengagetkan Su Hiat Hong yang bersembunyi di
kolong rumah itu. sungguh keji sekali hati Jenderal
Au-yang yang telah diselimuti dendam itu. Tak terasa
Su Hiat Hong menoleh ke belakang, mencari Tio Siau
In dan A Liong. Tapi yang tampak cuma Siau In saja.
A Liong tidak berada di tempatnya. Tentu saja
keduanya semakin kaget.
Tio Siau In menjadi cemas sekali. Hampir saja
mulutnya berteriak memanggil. Untung tidak jadi,
karena tiba-tiba saja pemuda itu muncul dari celahcelah
besar di sampingnya.
"Batu besar ini dapat bergeser. Ada lubang di
bawahnya. Aku tadi menemukannya secara tak
sengaja. Nona, marilah kita bersembunyi di sini. Di
dalam ada ruangan yang lebar." pemuda itu memberi
keterangan dengan kalimat pendek-pendek seperti
orang yang terengah-engah. Lupa bahwa mereka
sedang bersembunyi.
"Hei, siapa di luar...? Beng Ciang-kun tangkap
orang yang bersembunyi di luar itu!" sekonyongkonyong
Goanswe yang ada di dalam rumah itu
berseru keras sekali.
Muka Su Hiat Hong menjadi pucat seperti kapur.
Kehadiran mereka bertiga telah diketahui orang itu.
Satu-satunya jalan hanya menyelamatkan anak-anak
muda itu.
350
"Nona, cepatlah kau ikut A Liong masuk ke dalam
lubang itu! Biarlah kutemui mereka sendirian.
Cepat...!" Su Hiat Hong cepat berbisik di telinga Tio
Siau In.
"Paman sendiri bagaimana?" Tio Siau In ragu-ragu.
"Jangan khawatir aku kenal mereka! Cepat!"
Bersamaan dengan melompatnya Tio Siau In ke
dalam lobang batu, yang kemudian menutup perlahanlahan,
beberapa orang perajurit kerajaan tampak
berloncatan keluar dari dalam rumah panggung
tersebut. Seorang perwira setengah baya cepat
mendekati persembunyian Su Hiat Hong. Empat
orang perajurit mengikuti di belakangnya.
"Selamat bertemu, Beng Ciang-kun ...!" Su Hiat
Hong menyapa perwira itu dengan ramah.
"Kau...? Ah, Su Ciang-kun rupanya! Bagaimana
kau bisa sampai berada di tempat ini? Di mana Lim
Ciang-kun?" orang yang disebut Beng Ciang-kun
tersebut berseru kaget. Suaranya bernada curiga dan
berkesan menyelidik. Sama sekali tidak terasa ramah
atau gembira.
"Beng Ciangkun, siapa dia° Mengapa tidak segera
kaubawa ke dalam?"
"Su Ciangkun, mari kita masuk...! Au-yang
Goanswe memanggilmu!" Beng Ciangkun berkata
pelan.
Su Hiat Hong tak berani menolak. Beng Ciangkun
yang bernama Beng Cun itu memiliki kepandaian
yang tinggi, karena dia adalah tangan kanan Au-yang
351
Goanswe. Perlahan-lahan, dengan menahan rasa sakit
Su Hiat Hong menaiki tangga rumah.
"Apakah kau sakit, Su Ciangkun?" Beng Cun
bertanya keheranan.
"Ya...! Nanti kuceritakan semuanya..."
Begitu memasuki ruangan Su Hiat Hong
terperanjat. Tong Kiat Teng, sahabatnya itu, benarbenar
mengenaskan sekali keadaannya. Tubuh yang
kurus itu tidak mengenakan baju sama sekali.
Wajahnya, kulit punggungnya, lengannya, semuanya
terdapat bekas luka siksaan.
"Tong Kiat Teng, kau kenapa? Siapakah yang telah
menyiksamu?"
"Ah, Su Hiat Hong... kau?" Tong Kiat Teng
menyapa lemah.
Su Hiat Hong cepat melangkah maju, namun
dengan cepat Au-yang Goanswe yang bertubuh tinggi
besar dan berusia lima puluhan tahun itu
menghadangnya. Sama sekali tidak ada kesan ramah
atau bersahabat dari jenderal yang menjadi atasannya
itu. Bahkan jenderal itu seperti memusuhinya, suatu
hal yang benar-benar tidak dipahami oleh Su Hiat
Hong.
Bahkan Su Hiat Hong menjadi kaget ketika
pimpinannya itu membentak marah!
"Su Hiat Hong! Di mana Lim Kok Liang dan yang
lain-lainnya? Mengapa engkau tiba-tiba berada di
tempat yang terasing ini? Apakah kau memata-matai
aku?"
352
Su Hiat Hong menjadi gugup. Meskipun dia telah
mencium sesuatu yang tidak beres pada pimpinannya
itu, tapi ia juga belum bisa mengetahuinya dengan
pasti. Dan terus terang hatinya juga tidak berani
menduga-duga atau berprasangka yang bukan-bukan
terhadap atasannya itu. Dia memang menjadi kaget
ketika mendengar niat jenderal itu untuk membasmi
semua anak keturunan Pangeran Liu Yang Kun, tetapi
karena ia tidak memahami apa sebenarnya yang
terselip di balik maksud dan tujuan Au-yang Goan
swe itu, ia tidak berani menanyakannya.
"Goanswe...! Tugas yang Goanswe berikan kepada
kami itu ternyata penuh aral dan rintangan. Tek
seorang pun di antara kami yang mampu
melaksanakan tugas itu dengan baik. Bahkan mereka
telah menjadi korban. Semuanya telah tewas di tangan
para pengacau yang tidak menyetujui diadakannya
Perlombaan Mengangkat Arca itu. Tinggal aku
seorang yang masih hidup. Lim Kok Liang, Ong Ci
Kin. Kwa Sing, Gui ciangkun, semuanya telah gugur
di tangan gerombolan saku bangsa Hun..." Su Hiat
Hong melapor seolah-olah tidak memiliki prasangka
apa-apa terhadap pimpinannya.
Namun Au-yang Goanswe seperti tidak
mengacuhkan laporan Su Hiat Hong. Bahkan jenderal
itu juga seperti tidak mempedulikan kematiankematian
anak buahnya.
"Persetan dengan kematian teman-temanmu! Aku
tidak peduli! Sekarang katakan terus terang kepadaku!
353
Mengapa kau sampai di tempat ini? Bukankah kau
kutugaskan di kota Hang-ciu? Lekas jawab!" jenderal
itu menggeram keras.
"Goanswe, aku sungguh tidak mengerti apa yang
Goanswe maksudkan...."
"Bohong! Kau tidak perlu bersandiwara lagi di
depanku. Kau tentu sudah tahu, atau setidak-tidaknya
telah bercuriga kepadaku, sehingga kau tidak pergi
melaksanakan perintahku, tapi selalu menguntit dan
memata-matai semua kegiatanku. Benar tidak....?"
-- o0d-w0o --
JILID IX
U HIAT HONG tidak menjawab. Ia
memang pernah mengutarakan
kecurigaannya kepada Lim Kok Liang,
bahwa pihak kerajaan menangani
masalah Perlombaan Mengangkat Arca
benar-benar terasa aneh baginya. Tapi karena waktu
itu Lim Kok Liang juga tidak bisa menebak apa yang
terselip di balik keanehan tersebut, maka mereka
terpaksa melakukan saja apa yang ditugaskan kepada
mereka. Dan kini secara kebetulan ia mulai bisa
melihat rahasia keanehan itu. Namun tampaknya dia
pun tak bisa melihatnya sampai tuntas. Au-yang
Goan-swe, yang kelihatannya merupakan tokoh utama
354
di balik tabir keanehan tersebut, tentu tidak akan
melepaskan dirinya. Au-yang Goanswe tentu tidak
ingin rahasianya diketahui orang luar.
"Nah, Su Hiat Hong! Ternyata kau tidak berani
menjawab pertanyaanku! Itu berarti kau memang
telah mengetahui rahasia sepak terjangku selama ini!
Dan kau tampaknya hampir berhasil
mengungkapkannya! Hmm, tapi jangan berharap kau
bisa menggagalkan rencanaku! Aku akan
membunuhmu! Aku tidak peduli, apakah sudah
memberi laporan kepada Kong-sun Goanswe atau
belum, karena aku yakin kau belum bisa memperoleh
bukti yang kuat untuk menjatuhkan aku...!"
Su Hiat Hong menarik napas panjang. Hatinya
semakin tergelitik untuk mengetahui rahasia
keterlibatan Au-yang Goanswe di dalam masalah
Perlombaan Mengangkat Arca yang aneh itu. Begitu
inginnya perwira itu menguak tabir rahasia tersebut,
sehingga ia tidak peduli pula akan tuduhan Au-yang
Goanswe tentang dirinya.
"Sebentar lagi tentu aku akan dibunuhnya untuk
menutupi rahasianya. Namun demikian aku sungguh
akan merasa puas apabila telah mengetahui rahasia
Perlombaan Mengangkat Arca itu." perwira itu
berkata di dalam hatinya.
Oleh karena itu dengan perasaan yang semakin
tabah dan pasrah, Su Hiat Hong menentang
pandangan mata Au-yang Goanswe.
355
"Baiklah, Goanswe. Aku memang sudah bercuriga
dengan tugas-tugas yang kau berikan selama ini.
Banyak keanehan dan kejanggalan yang kulihat di
dalam melaksanakan tugas itu. Akan tetapi secara
jujur juga kukatakan bahwa aku belum dapat menebak
apa yang terselip di balik kejanggalan-kejanggalan itu.
Aku baru mulai memahami setelah mendengar
ucapan-ucapan Goanswe kepada Tong Kiat Teng tadi.
Walaupun demikian aku tetap belum bisa menguak
maksud dan tujuan Goanswe yang sebenarnya di
dalam masalah ini. Nah, Goanswe... sebentar lagi kau
akan membunuhku, dan aku ... sama sekali tidak akan
melawan. Namun sebelum aku mati, bolehkah aku
mengetahui serba sedikit semua rahasia itu? Biarlah
aku mati dengan tenang dan tidak membawa rasa
penasaran ke alam baka...."
"Hahahaha...! Boleh! Boleh! Kau boleh
mendengarnya agar arwahmu tidak penasaran nanti."
Au-yang Goanswe tertawa gembira sambil mengawasi
para pembantunya yang berdiri mengelilinginya.
Semuanya juga ikut tertawa puas. Termasuk Beng
Ciangkun yang menangkap Su Hiat Hong tadi.
Sementara itu di dalam lubang persembunyiannya
A Liong dan Tio Siau In meraba-raba di dalam gelap.
Lubang sempit seperti liang tikus itu ternyata terus
memanjang dan berbelok ke sana ke mari, sehingga
akhirnya mencapai sebuah tangga yang menuju ke
atas.
356
"Nah, kita sudah hampir sampai di tempat itu." A
Liong berbisik. "Tangga ini akan membawa kita ke
ruangan belakang dari rumah itu tadi."
"Hei, mengapa bisa demikian? Bukankah lubang
terowongan ini berada di dalam tanah? Bagaimana
bisa berhubungan dengan ruangan yang ada di dalam
rumah itu?" Tio Siau In berbisik pula dengan heran.
"Mudah saja, Cici. Bukankah bagian belakang
rumah itu menempel pada dinding tebing? Nah, tentu
saja lubang rahasia ini dibuat seperti liang tikus yang
melubangi tanah, kemudian terus naik ke atas tebing,
sampai di dinding bagian belakang rumah yang
menempel tebing tersebut." A Liong yang tadi tampak
lemah tak bertenaga itu kini sudah kelihatan lebih
kuat dan sehat. Memang sungguh mengagumkan
sekali ketahanan tubuh pemuda itu. Benar-benar
sesuai dengan perawakannya yang kekar.
Tio Siau In mengangguk-angguk sambil tersenyum.
Sayang liang itu. gelap sekali keadaannya. Kalau
tidak, tentu akan tampak betapa cantiknya gadis itu
bila tersenyum.
Mereka lalu menaiki tangga kecil dan sempit itu.
Dan benar juga ucapan A Liong tadi, mereka tiba di
sebuah ruangan yang lebih lega. Tapi tempat yang
disebut ruangan oleh A Liong itu sebenarnya tak lebih
dari sebuah gua kecil dan sempit.
"A Liong...!" Tio Siau In berbisik.
"Bagaimana kau bisa mengatakan gua sempit ini
sebagai ruangan belakang rumah itu?"
357
Pemuda itu tidak menjawab, tapi segera bergeser ke
dinding gua yang berada di depan mereka. Tangannya
meraba-raba kesana-kemari, seakan-akan pemuda itu
sudah paham keadaan gua tersebut dan kini sedang
mencari sesuatu di tempat itu.
Tiba-tiba sebuah lubang sebesar perut kerbau
terbuka di depan mereka. A Liong masuk ke dalam,
diikuti oleh Tio Siau In. Pemuda itu memberi isyarat
agar Tio Siau In berhati-hati.
"Ci-ci, lihatlah...! Bukankah ruang sempit ini
berada di bagian belakang rumah itu? Coba kauintip
melalui celah-celah kayu ini!" A Liong berbisik
perlahan.
Tio Siau In mengedarkan pandangannya ke
sekelilingnya. Ruang sebesar kandang ayam itu
memang berdindingkan kayu seperti halnya dinding
rumah tabib itu. Lantainyapun juga terbuat dari balokbalok
kayu besar. Berkas-berkas sinar lampu masuk
dari sela-sela dindingnya, sehingga ruang sempit itu
tidak gelap lagi.
Lapat-lapat terdengar suara orang bercakap-cakap
di luar ruang sempit tersebut. A Liong mengintip
melalui sela-sela kayu, sehingga Tio Siau In pun
menjadi ikut-ikutan pula untuk mengintip.
Betapa kagetnya Tio Siau In. Di sebelah luar dari
ruang sempit tersebut ternyata adalah ruang tengah
milik Tong Kiat Teng. Di dalam ruangan itu tampak
beberapa orang prajurit berjaga-jaga. Mereka
mengelilingi seorang lelaki tua berseragam perwira
358
tinggi, yang saat itu sedang membentak-bentak Su
Hiat Hong!
"Hiat Hong...! Kau tahu siapa sebenarnya Beng
Ciangkun di sebelahku ini? Ketahuilah, dia adalah
keponakan Beng Tian almarhum. Hmm, kau ingat
tidak nama Jendral Beng Tian, Panglima Besar tangan
kanan Chin Si Hong-te itu?"
Su Hiat Hong tampak merenung sebentar,
kemudian mengangguk. "Ya, aku ingat. Dia adalah
Panglima Besar Kerajaan pada zaman Dinasti Chin,
pada saat Kaisar Chin Si Hong-te berkuasa. Dia gugur
ketika menghadapi pasukan pemberontak yang
dipimpin oleh mendiang Kaisar Liu Pang."
"Bagus ternyata otakmu masih encer. Nah, apakah
kau juga tahu siapa yang telah membunuh jenderal
besar itu?" Au-yang Goanswe mendesak lagi.
Su Hiat Hong menghela napas pendek. Ia tak tahu
ke mana arah tujuan pertanyaan itu.
"Aku tidak mengetahuinya, Goanswe. Bagaimana
orang bisa memastikan siapa yang membunuh di
dalam peperangan besar seperti itu? Aku memang
pernah mendengar beberapa cerita tentang jenderal
besar itu, tapi belum yakin tentang kebenarannya."
"Kau tidak usah ragu-ragu. Cerita yang tersebar di
antara kita itu memang benar. Jenderal Beng Tian
terbunuh oleh tangan Liu Pang dan para
pembantunya!" dengan suara geram Au-yang
Goanswe menggertak.
359
Su Hiat Hong terdiam. "Lalu... apa hubungannya
antara Jenderal Beng Tian itu dengan peristiwa yang
terjadi sekarang ini?" sesaat kemudian Su Hiat Hong
mengajukan pertanyaan.
Au-yang Goanswe tertawa dingin lagi. "Banyak
sekali hubungannya! Kau tahu siapa aku
sebenarnya...? Aku sebenarnya bukan bermarga Auyang
seperti kalian kenal selama ini. Namaku yang
sesungguhnya adalah Beng Han. Aku adalah putera
bungsu Jenderal Beng Tian itu. Nah, Hiat Hong...
sekarang kau tentu sudah mulai dapat meraba, apa
yang sedang kukerjakan saat ini!"
Su Hiat Hong benar-benar terperanjat mendengar
pengakuan Au-yang Goanswe tersebut. Dan otomatis
ia menjadi sadar bahwa selama ini ia dan Lim Kok
Liang, bahkan juga para perwira yang lain, telah
terperangkap dalam jebakan Au-yang Goanswe.
Putera bungsu Jenderal Beng Tian itu tampaknya telah
menyimpan dendam di dalam hatinya, dan sekarang
bangkit untuk melampiaskan dendam kesumatnya itu.
Dan tentu saja yang dituju adalah anak keturunan
Kaisar Liu Pang.
Bergidik hati Su Hiat Hong memikirkan hal itu.
"Jangan-jangan lenyapnya Pangeran Liu Yang Kun
dan terbakar musnahnya istana Putera Mahkota itu
juga hasil perbuatan Au-yang Goanswe pula." perwira
pasukan rahasia itu bergumam di dalam hatinya.
360
"Tampaknya Au-yang Goanswe ingin menuntut
balas atas kematian Jendral Beng Tian itu...." Su Hiat
Hong akhirnya mengatakan juga dugaannya itu.
Au-yang Goanswe tersenyum puas. Kepalanya
yang besar dan berambut tebal itu juga menganggukangguk.
"Otakmu memang encer sekali. Aku memang
hendak menuntut balas atas kematian orang tuaku.
Dan untuk melaksanakan niatku itu aku sudah
merencanakannya sejak dulu. Sejak aku masih berusia
dua puluh tahun...."
"Aaah....!" Su Hiat Hong berdesah panjang.
"Jangan kaget! Aku memang tidak ingin gagal.
Oleh karena itu aku selalu menyabarkan diri, dan
merencanakan niatku itu dengan rapi." Au-yang
Goanswe berhenti sejenak untuk memperbaiki
duduknya. Kemudian lanjutnya lagi. "Mula-mula aku
mengubah nama margaku, agar orang tak
menghubungkan aku lagi dengan almarhum ayahku.
Lalu aku memasuki bidang keprajuritan seperti Ayah
ku, dengan harapan suatu hari kelak aku akan
memperoleh kedudukan seperti halnya Ayahku pula.
Sebab hanya dengan kekuasaan dan kekuatan aku
akan mampu menuntut balas kepada Liu Pang."
Su Hiat Hong menatap wajah Au-yang Goanswe
sebentar, lalu menunduk kembali dengan perasaan
sedih dan kecewa. Sedih karena sebentar lagi, setelah
Au-yang Goanswe itu membeberkan rahasianya, ia
tentu akan dibunuh mati agar tidak bisa bercerita
361
kepada siapa-siapa lagi. Dan kecewa, karena dengan
kematiannya itu ia tak akan mempunyai kesempatan
lagi untuk memberitahukan rencana Au-yang
Goanswe tersebut kepada Kong-sun Goanswe,
atasannya.
"Akhirnya dengan kepandaianku dan kecerdikanku
aku bisa juga memperoleh kedudukan yang tinggi.
Setelah itu dengan berbagai cara aku mendekati
keluarga istana. Dan jerih payahku itu akhirnya
berhasil pula. Aku mendapatkan kedudukan sebagai
Komandan Pasukan Pengawal Istana. Saat itu aku
benar-benar sudah merasa bahwa cita-citaku tinggal
melangkah satu tindak lagi. Sebagai Komandan
Pasukan Pengawal Istana rasa-rasanya sangat mudah
untuk melenyapkan jiwa setiap keluarga Liu Pang."
"Tapi Goanswe juga tidak berani melakukannya,
karena di antara keluarga kaisar itu ada seorang yang
kesaktiannya sangat ditakuti di seluruh pelosok negeri
ini. Maka sebelum melaksanakan rencana itu,
Goanswe lebih dulu berusaha dengan segala macam
cara untuk menyingkirkan Pangeran Liu Yang Kun
terlebih dahulu. Bukankah demikian, Goanswe?"
Entahlah darimana datangnya keberanian itu,
mendadak Su Hiat Hong menyela cerita Au-yang
Goanswe tersebut.
Ternyata jenderal itu juga tidak menjadi marah
karenanya. Bahkan Au-yang Goanswe kelihatan
senang dan puas menyaksikan Su Hiat Hong bisa
mengikuti ceriteranya.
362
"Hahaha, Hiat Hong... kau memang benar-benar
cerdik. Sayang kau berada di pihak lawan, sehingga
kau harus mati karenanya. Dugaanmu memang benar.
Untuk berhadapan muka melawan Pangeran Liu Yang
Kun, rasanya tak seorang pun yang mampu
melakukannya di dunia ini. Tetapi jangan lupa, bahwa
kesaktian itu masih bisa dikalahkan dengan
kecerdikan. Aku lalu menyusup ke dalam puri istana.
Aku berusaha mengadu domba dan memecah-belah
keutuhan keluarga Liu Pang itu dari dalam. Heheh,
akhirnya Pangeran Liu Yang Kun yang maha sakti itu
pergi juga dari istana dengan sendirinya. Bahkan aku
telah membuatnya menderita seumur hidupnya.
Hohoho... aku sungguh-sungguh puas melihatnya."
Su Hiat Hong mengerutkan dahinya. Matanya tajam
memandang kepada Au-yang Goanswe yang sedang
tertawa puas menikmati keberhasilan rencananya. Su
Hiat Hong tidak tahu apa yang telah diperbuat oleh
jenderal itu terhadap Pangeran Liu Yang Kun,
sehingga Pangeran Mahkota tersebut bisa pergi dari
istananya.
"Dan selanjutnya Goanswe lalu membakar istana
pribadi Pangeran Liu Yang Kun, bukan?" dengan
berani pula Su Hiat Hong lalu melontarkan
dugaannya.
Tiba-tiba Au-yang Goanswe menghentikan
ketawanya. Dengan nada geram ia berkata lantang.
"Tidak. Aku memang ingin menumpas keluarga Liu.
Tapi tak sekalipun terlintas di dalam benakku untuk
363
membakar istananya. Namun demikian kejadian itu
membuat hatiku terhibur juga, karena aku
menganggap mereka telah musnah dimakan api."
"Tapi dugaan Goanswe ternyata keliru. Anak-anak
Pangeran Liu Yang Kun ternyata masih hidup." Su
Hiat Hong yang tadi mendengar pembicaraan Tong
Kiat Teng dengan Au-yang Goanswe segera menyela.
Jendral itu menggeram kembali. "Ya! Semua itu
karena perbuatan monyet tua ini!" katanya gemas
sambil menunjuk ke arah Tong Kiat Teng.
"Monyet ini ternyata membawa anak-anak Liu
Yang Kun itu keluar istana, sehingga mereka
terhindar dari kobaran api. Aku baru mengetahui hal
itu setelah beberapa tahun kemudian."
"Goanswe lalu berusaha mencari anak anak itu?"
"Tentu saja. Aku tak ingin melepaskan seorang pun
di antara mereka. Aku tidak ingin menanam kesulitan
di kemudian hari. Semuanya harus dimusnahkan."
"Tapi sampai sekarang Goanswe belum juga
menemukan mereka."
"Siapa bilang? Hahahaha...!" tiba-tiba Au-yang
Goanswe tertawa keras. "Sebentar juga Tong Kiat
Teng akan mengatakannya...!"
Diam sejenak.
"Goanswe memang hebat...." akhirnya Su Hiat
Hong memuji. "Tetapi setelah dapat menyingkirkan
keluarga Pangeran Liu Yang Kun, mengapa
kelihatannya Goanswe berhenti dan tidak melanjutkan
rencana itu? Bukankah di istana masih ada keluarga
364
Liu yang lain? Adik-adik Pangeran Liu Yang Kun
misalnya."
"Pangeran Liu Wan Ti maksudmu?"
"Ya, bukankah dia yang ditunjuk oleh Ibu Suri
untuk menggantikan Kakaknya?"
Lagi-lagi Au-yang Goanswe menggeram. "Benar!
Aku memang telah gagal melenyapkan Pangeran kecil
itu. Dia keburu menghilang dari istana sebelum aku
bertindak terhadapnya. Aku curiga kepada Panglima
Yap Khim. Tentu dia yang menyembunyikannya...."
"Dan... sampai sekarang Goanswe masih tetap
penasaran karena belum menemukan anak keturunan
Pangeran Liu Yang Kun maupun Pangeran Liu Wan
Ti."
"Ya! Aku memang sangat penasaran. Aku harus
bisa menemukan mereka dan memusnahkannya."
"Lalu bagaimana dengan dua orang adik Pangeran
Liu Wan Ti yang kini masih berada di istana?
Mengapa Goanswe tidak menyingkirkannya
sekalian?"
"Anak-anak cacad itu? Hehehehe...! Mengapa aku
harus mengkhawatirkan anak-anak tidak berguna itu?
Tak seorang pun di dunia ini yang mau diperintah
oleh manusia tidak waras."
"Kalau begitu mengapa Goanswe tidak lekas-lekas
mengambil alih kekuasaan? Belum waktunya?
Apakah Goanswe masih takut kepada Panglima Yap
Khim?"
365
"Kurang ajar...! Tutup mulutmu!" hardik Au-yang
Goanswe berang.
"Maaf, Goanswe."
"Hmmh...! Waktunya memang belum tiba!
Panglima keparat itu memang masih memiliki
kekuatan yang besar di antara anak buahnya! Dia
harus dicarikan lawan yang setimpal lebih dahulu!"
"Dan Goanswe telah mendapatkannya, meskipun
cara yang Goanswe tempuh amat hina. Goanswe telah
mengkhianati negeri sendiri. Goanswe mengundang
kekuatan asing, bersekongkol dengan Mo Tan, raja
suku bangsa Hun itu untuk mengacau negeri kita.
Bukankah begitu, Goanswe?" Su Hiat Hong semakin
berani mengungkapkan kecurigaannya di depan Auyang
Goanswe, dan sama sekali tak mempedulikan
lagi keselamatannya sendiri.
Benar juga. Ucapan Su Hiat Hong itu benar-benar
menyinggung perasaan Au-yang Goanswe. Wajah
jendral bertubuh tinggi besar itu menjadi merah
padam. Kemarahannya tak bisa dikekang lagi. Tibatiba
tangannya mencabut golok yang terselip di
pinggangnya, lalu mengayunkannya ke leher Su Hiat
Hong!
Su Hiat Hong berusaha sekuat tenaga untuk
mengelak, namun karena luka dalamnya kembali
menyengat, maka gerakannya menjadi lamban dan
kaku. Golok itu tak jadi mengenai leher Su Hiat Hong,
tapi menerjang bahu kanannya. Segumpal daging dan
sepotong tulang bahu perwira pasukan rahasia itu
366
terlepas dari tempatnya. Begitu tajamnya golok
tersebut sehingga Su Hiat Hong hampir-hampir tak
merasakannya. Baru sesaat kemudian ketika rasa nyeri
terasa menggigit di tempat yang terluka itu, Su Hiat
Hong menjadi sadar bahwa lengan kanannya sudah
tidak bisa digerakkan lagi.
Kejadian tersebut berlangsung cepat sekali,
sehingga semua orang yang berada di dalam ruangan
itu baru sadar ketika semuanya telah terjadi. Tong
Kiat Teng yang keadaannya juga sudah payah itu baru
menjerit kaget ketika sahabat-baiknya itu
menggelepar di atas lantai.
"Su Hiante (Saudara Su)...?" Tabib is tana itu
merintih sedih.
"Ah!" Tak terasa Tio Siau In juga menjerit lirih di
tempat persembunyiannya.
Walau cuma lirih, akan tetapi telinga Au-yang
Goanswe yang tajam itu dapat juga menangkapnya.
Hanya saja jendral yang telah haus dendam tersebut
tidak bisa memastikan, dari mana jerit kecil Tio Siau
In itu berasal. Akan tetapi yang jelas suara asing
tersebut membuat pikirannya menjadi panik.
"Bangsat busuk! Ternyata kau membawa kawan ke
tempat ini, Hiat Hong...! Beng Ciang-kun, cari orang
yang mengeluarkan suara tadi!" jendral itu berseru
cemas sambil mengayunkan kembali goloknya. Kali
ini tak mungkin lagi dielakkan oleh Su Hiat Hong.
"Goanswe, jangan...!" Tong Kiat Teng melompat
ke depan, berusaha menolong sahabatnya.
367
Namun usaha Tong Kiat Teng itu justru
membahayakan dirinya sendiri. Au-yang Goanswe
yang sudah terlanjur mengayunkan goloknya itu tak
mungkin menariknya kembali. Maka di lain saat
bukan Su Hiat Hong yang terkena tabasan golok tajam
itu, tapi justru tubuh Tong Kiat Teng yang menjadi
korbannya. Craaaaaak!
"Aaauggh!" Tabib tua itu mengeluh pendek.
Tubuhnya terjerembab menimpa badan Su Hiat Hong.
Punggungnya terbelah lebar, sehingga darah segar
seperti membanjir ke luar.
"Tong-heng (Saudara Tong)...?" Su Hiat Hong yang
masih sadar itu terpekik kaget. Otomatis lengannya
memeluk sahabatnya itu.
Akan tetapi iblis tampaknya memang sudah
merasuk ke dalam jiwa Au-yang Goanswe. Bukannya
terharu menyaksikan kedua orang sahabat itu saling
berangkulan, tapi sebaliknya justru keganasanlah yang
timbul di dalam hati Au-yang Goanswe. Sekali lagi
golok yang haus darah itu berkelebat, dan kali ini
benar-benar mengenai leher Su Hiat Hong! Dan
kepala Su Hiat Hong, perwira pasukan rahasia
kerajaan yang telah banyak jasanya kepada negara itu
menggelinding di atas lantai, terpisah dari tubuhnya!
Kekejaman itu sungguh amat menggoncangkan
pikiran Tio Siau In yang masih polos. Hampir saja
gadis itu menerjang dinding pemisah tersebut dan
bertarung melawan Au-yang Goanswe. Untunglah A
Liong cepat memeluknya dari belakang, kemudian
368
dengan paksa menariknya masuk ke dalam lubang gua
kembali. Dan untuk mengamankan tempat itu A
Liong lalu menutup kembali pintu rahasia lubang
tersebut.
"Sabar, Cici.... Kita takkan menang melawan
mereka. Mereka berjumlah banyak serta lihai-lihai.
Kita harus mempergunakan akal bila ingin
menghadapi mereka...." A Liong membujuk dengan
suara pelan.
Sementara itu Beng Ciangkun beserta prajuritprajuritnya
mengobrak-abrik seluruh dataran sempit
itu, namun usaha mereka sia-sia saja. Tak seorang
manusia pun yang mereka dapatkan di tempat itu.
Mereka hanya menemukan sampan yang ditinggalkan
oleh Tio Siau In tadi.
"Heran...! Aku tadi juga mendengar suara itu.
Tapi... di mana dia? Masakan ada hantu sepagi ini?"
Beng Ciangkun menggerutu kesal.
Fajar memang mulai tampak menyorot di ufuk
timur. Sinarnya yang merah kekuning-kuningan itu
seakan-akan menembus dari bawah permukaan air
laut, sehingga air laut pun lalu ikut-ikutan berubah
pula warnanya menjadi merah seperti darah.
"Bagaimana, Beng Ciangkun? Kautemukan orang
itu?" Au-yang Goanswe yang kemudian ikut
menyusul keluar, bertanya kepada Beng Ciangkun.
"Sungguh mengherankan sekali, Goanswe. Sudah
kami periksa setiap jengkal tanah di tempat ini, tapi
kami tak menemukan seorang manusia pun di sini.
369
Kami memang menemukan sampan kecil di tepian
sana, tapi jejak-jejaknya sudah terhapus oleh air
pasang."
"Gila! Seharusnya tidak kubunuh dulu Su Hiat
Hong itu! Disiksa dulu agar mau mengatakan, berapa
teman yang dibawa nya ke tempat ini. Hhhh...! Jika
dia memang benar-benar membawa teman, dan orang
itu juga ikut mendengarkan pula ceritaku tadi,
kedudukanku menjadi sangat berbahaya. Sewaktuwaktu
orang itu bisa menghadap Yap Tai Ciangkun
(Panglima Besar Yap) di kota raja untuk melaporkan
kegiatan kita."
Beng Ciangkun melangkah maju ke depan Au-yang
Goanswe. "Kita tak perlu berkecil hati, Goanswe.
Mungkin kita tadi salah dengar, sehingga menyangka
ada orang lain di tempat ini. Nyatanya tidak ada.
Kalau pun memang benar tadi ada orang yang
mengintip dengar pembicaraan kita, dan orang itu
keburu bisa menyelamatkan diri, kita juga tidak perlu
takut kepadanya. Dimisalkan ia melapor kepada Yap
Tai Ciangkun pun kita juga tak perlu
mengkhawatirkannya. Bukankah Au-yang Goanswe
mempunyai hubungan yang lebih baik dengan Ibu
Suri daripada hubungan Yap Tai-ciang-kun? Aku
percaya bahwa Ibu Suri akan lebih mendengarkan
perkataan Goanswe daripada ucapan Yap Tai
Ciangkun."
Tiba-tiba wajah Au-yang Goanswe yang cemas itu
menjadi cerah kembali.
370
"Benar, kau memang benar, Beng Ciangkun!
Hahaha, kau memang seorang perwiraku yang baik.
Sungguh beruntung aku memiliki pembantu seperti
kau." Jendral itu berseru dengan gembira. Kemudian
katanya pula kepara para prajurit yang berkumpul di
sekelilingnya. "Dan... kalian semua adalah prajuritprajurit
pilihan, yang sengaja kupilih serta
kukumpulkan karena kalian semua sebenarnya adalah
anak keturunan marga Beng yang besar. Meskipun di
kehidupan sehari-hari kalian telah menyembunyikan
marga kalian seperti halnya aku, tapi jiwa kita tetap
mendambakan kejayaan marga kita seperti dahulu.
Oleh karena itu kita semua harus berusaha sekuat
tenaga, agar cita-cita kita itu bisa terwujud. Kalian
harus tetap mentaati sumpah kita bersama, untuk tetap
merahasiakan gerakan-gerakan yang telah kita
lakukan sehingga rencana dan cita-cita kita itu
berhasil. Mengerti?"
"Kami mengerti, Goanswe...!" prajurit-prajurit itu
menjawab serentak.
"Nah, hari sudah siang. Mari kita pergi...!"
"Bagaimana dengan mayat Su Hiat Hong dan Tong
Kiat Teng, Goanswe?" Beng Ciangkun bertanya.
"Ah, biarkan saja mereka di sana. Tempat ini tak
mungkin didatangi orang. Biarlah mayat mereka
membusuk dengan sendirinya."
Demikianlah, sebentar kemudian prajurit-prajurit
kerajaan itu telah pergi meninggalkan teluk kecil
tersebut. Mereka berlayar dengan perahu mereka ke
371
selatan, menuju ke kota Hang-ciu. Ternyata di tengah
lautan mereka sudah dinantikan tiga buah perahu
besar yang sarat dengan prajurit beserta
perlengkapannya. Au-yang Goanswe yang sangat
dipercaya serta mempunyai hubungan erat dengan Ibu
Suri itu memang banyak mendapatkan kekuasaan
istimewa di kalangan keprajuritan.
Setelah yakin bahwa Au-yang Goanswe dan anak
buahnya telah pergi,
A Liong dan Tio Siau In lalu keluar dari lubang
persembunyian mereka. Bergegas mereka naik ke
rumah Tong Kiat Teng untuk -menjenguk mayat Su
Hiat Hong yang mengenaskan.
"Ah, Paman... kematianmu sungguh menyedihkan.
Dibunuh oleh atasanmu sendiri yang tamak dan tak
berperi-kemanusiaan. Alangkah malangnya nasibmu
...." Tio Siau In menyesali kematian perwira yang
baru dikenalnya itu.
"Sudahlah, Cici. Marilah kita kuburkan jenazah
mereka...!" A Liong berkata perlahan.
Tio Siau ln menoleh. Matanya menatap pemuda
tanggung yang bertubuh tinggi dan kekar itu. Hampir
saja gadis itu menjerit. Setelah berada di tempat
terang, barulah terlihat betapa pakaian yang dikenakan
A Liong itu telah compang-camping. Bahkan bajunya
nyaris hancur sama sekali.
"liih! A Liong, carilah pakaian seadanya di rumah
ini! Jangan telanjang begitu...!" gadis itu memekik
lirih. Mukanya agak merah.
372
A Liong tertawa. Bagi pemuda itu tanpa baju sudah
biasa baginya. Sebagai gelandangan yang kadangkadang
cuma hidup dari belas kasihan orang, A Liong
sudah terbiasa mengenakan pakaian yang tidak utuh.
Tapi karena sekarang sedang berdekatan dengan gadis
terhormat seperti Tio Siau In, maka A Liong menurut
saja ketika disuruh mencari pakaian yang pantas.
Sebentar saja pemuda itu sudah kembali lagi
dengan pakaian yang utuh dan bersih. Namun karena
pakaian yang dikenakan itu milik Tong Kiat Teng
yang kurus, maka baju dan celana tersebut menjadi
kelihatan kekecilan untuk A Liong.
"Nah, aku sudah berpakaian sekarang. Tampan
juga, ya... Cici?" Dengan senyum riang A Liong
melucu di depan Tio Siau I n.
Tio Siau In tersenyum pula melihat kepolosan sikap
pemuda tanggung itu.
"Ya, kau memang cukup tampan. Sayang terlalu
lemah." Tio Siau In menggoda.
"Ah, belum tentu. Sekarang aku memang masih
lemah. Tapi lihat lima tahun lagi, aku akan menjadi
seorang pendekar yang gagah perkasa."
Tio Siau In terpaksa tidak bisa menahan senyumnya
yang lebar. Pemuda tanggung di depannya itu benarbenar
sangat menggelikan.
"Lima tahun...? Wah, cepat benar! Lalu di mana
kau akan belajar silat secepat itu?"
Tiba-tiba pemuda itu bersikap serius. "Uh, apa Cici
lupa... bahwa untuk menuntut kesaktian ada tiga
373
tempat untuk dipilih. Coba Cici dengarkan pantun
ini...."
Menjadi pendekar gagah perkasa,
Ada tiga jalan untuk mencapainya!
Pertama di Puncak Gunung Hoa-san!
Ke dua di tengah Gurun Gobi!
Dan terakhir di Lembah Tak berwarna!
"Nah, Cici tentu pernah mendengar pantun itu,
bukan?" A Liong mengakhiri pantunnya dengan nada
yakin dan bersemangat.
"Oh... itu! Lalu kau hendak belajar ke mana? Ke
Gunung Hoa-san, ke Gurun Gobi, atau ke Lembah
Tak Berwarna?" dengan suara menggoda Tio Siau In
bertanya.
Tapi A Liong tak mempedulikan godaan Tio Siau
In. Dengan suara tetap bersemangat pemuda itu
menjawab lantang.
"Aku tidak ingin yang nomer dua atau nomer tiga,
Cici. Aku ingin menjadi pendekar nomer satu. Oleh
karena itu aku akan ke Puncak Gunung Hoa-san!"
"Apakah kau kuat mendaki gunung yang tinggi itu?
Bukankah kau sedang terluka dalam?"
"Ah, aku sudah sembuh sekarang! Lihat...!" A
Liong berseru gembira sambil memperagakan otototot
lengannya yang membengkak kencang. Namun
tiba-tiba mulutnya meringis. Tangannya yang bergaya
itu segera turun memegangi dadanya.
374
Tio Siau In terkejut. "Eh, kenapa kau...?" tanyanya
cemas.
"Wah, Cici... dadaku sakit lagi." dengan suara
kikuk dan malu A Liong menjawab.
Tio Siau In tertawa kecil, "Nah... apa kataku tadi?
Kau belum sembuh benar dari luka dalammu.
Keadaanmu memang cepat menjadi baik karena
tubuhmu sangat kuat dan sehat. Tapi kau belum boleh
mempergunakan tenaga terlalu berat. Sekarang
beristirahat sajalah, biar aku yang menguburkan
mayat-mayat ini!"
"Wah, tidak bisa! Mana boleh aku membiarkan Cici
bekerja sendirian! Aku harus membantumu! Ayoh...!"
A Liong tetap memaksa juga.
Terpaksa Tio Siau In tak tega untuk melarang lagi.
"Baiklah! Tapi setelah selesai menguburkan mayatmayat
ini, kau harus minum obat! Nanti kita
mencarinya di almari obat Tong Kiat Teng. Dia tentu
banyak menyimpan obat-obatan...."
"Tapi bagaimana kita bisa memilih obat yang cocok
untuk penyakitku? Jangan-jangan kita malah salah
obat nanti?" A Liong kurang setuju.
Tio Siau In mencibirkan bibirnya yang tipis
kemerah-merahan. "Nah, ketahuan satu lagi! Ternyata
selain lemah kau juga bodoh pula! Huh!"
Tiba-tiba wajah A Liong menjadi cemberut. "Wah,
jangan menghina...Cici! Mengapa aku kaukatakan
bodoh pula?" katanya penasaran.
375
Tio Siau In membalikkan tubuhnya. Sambil
bertolak pinggang gadis lincah itu mengawasi A
Liong. "Habis, soal begitu saja kau sudah bingung.
Bagaimana aku tidak mengatakan kau bodoh?
Ketahuilah, di manapun juga setiap tabib atau tukang
obat tentu memberi tanda atau keterangan pada setiap
jenis obat yang disimpannya. Mereka itu juga tak
ingin salah ambil obat. Tahu...?" sergahnya dengan
nada menggurui.
Raut muka A Liong yang kokoh keras itu perlahanlahan
menunduk.
"Ya, kau benar... Cici. Dalam hal tulis menulis aku
memang tak mengerti." pemuda itu berdesah sedih.
Sekonyong-konyong Tio Siau In tertawa. "Hei, A
Liong! Ke mana semangatmu tadi? Mengapa
mendadak kau menjadi loyo begitu? Mengapa kau
tidak mengeluarkan pantunmu lagi? Ayoh,
bersemangat! Ilmu membaca dan menulis juga bisa
dipelajari...!" gadis itu meledek untuk menggugah
semangat A Liong.
Benar juga. Air muka pemuda kekar itu menjadi
cerah kembali.
"Wah, kau sungguh hebat sekali, Cici! Aku senang
kepadamu! Kau pintar, ceria, dan selalu percaya diri!
Eh, siapakah namamu, Cici? Kau tadi sudah
mengatakan nya belum? Aku sampai lupa lagi...."
Tio Siau In memonyongkan mulutnya yang lancip.
"Uh, enak saja tanya-tanya nama orang. Memangnya
hendak kau bawa ke mana namaku?"
376
A Liong menggaruk-garuk kepalanya yang tidak
gatal. "Ya... tidak dibawa ke mana-mana. Cici, kau ini
bagaimana, sih...? Ditanya namanya saja, marah."
"Habis, caramu bertanya juga ngawur!"
"Ngawur? Ngawur bagaimana...?" A Liong
semakin bingung.
"Sudahlah! Tak usah tanya-tanya nama segala!" Tio
Siau In cemberut, lalu membalikkan tubuh
membelakangi A Liong.
"Baiklah...! Biarlah aku tak usah tahu nama Cici."
akhirnya A Liong mengalah. Tapi kemudian
disambungnya pula dengan senyum dikulum. "Biarlah
kalau nanti bertemu di jalanan aku akan berteriak
memanggilmu, hei... Cici Kikir! Cici Pemarah!"
Tubuh mungil itu kontan berbalik menghadapi A
Liong. Tapi sekarang mata itu tidak berpendar-pendar
indah lagi. Mata itu berubah seperti mata harimau
betina yang sedang kehilangan anaknya.
"Apa katamu...? Kausebut aku... Kikir? Pemarah?
Begitu...?"
A Liong meringis, pura-pura ketakutan. "Habis, aku
harus memanggil apa? Bukankah CiCi memang kikir
dan pemarah? Buktinya, ditanya namanya saja tidak
boleh. Bahkan marah-marah pula. Yaaa, sudah...! Aku
akan berteriak memanggilmu, hei... Cici Ayu! Cici
Ayu! Begitu! Nah, boleh tidak...?"
"Panggil aku... Siau In! Bodoh!" Akhirnya Tio Siau
In menjadi kesal sendiri menghadapi pemuda konyol
seperti A Liong itu.
377
Selesai berkata gadis itu berbalik dan tidak
memperdulikan A Liong lagi. Tanpa rasa takut atau
pun jijik gadis itu membenahi mayat Su Hiat Hong
dan Tong Ki at Teng. Kepala yang terpisah itu
diambilnya, kemudian dijadikan satu dengan
badannya. Lalu kedua mayat itu masing-masing
dibungkus dengan kain seadanya yang ada di dalam
rumah itu, agar darah atau anggota tubuh lainnya tidak
berceceran ke mana-mana.
"Sungguh kejam! Orang itu benar-benar berhati
iblis!" gadis itu bergumam di dalam hati.
Sementara itu seperti orang gendeng (linglung), A
Liong masih termangu-mangu di tempatnya. Matanya
tak lepas dari wajah Tio Siau In yang sedang sibuk
membenahi mayat-mayat itu, tapi pikirannya tampak
melayang-layang entah ke mana.
"Siau In, hemm... Cici Siau In?" gumamnya tak
jelas. "Akan kuukir nama ini di dalam otakku, agar
tidak sampai lupa...."
Selesai membungkus mayat-mayat itu, Tio Siau In
bermaksud membawa keluar. Tapi serentak
mendengar igauan A Liong, hatinya menjadi tergelitik
lagi.
"Dasar bodoh, ya tetap bodoh! Masa mengukir
nama di dalam otak? Mengukir nama itu di dalam
hati! Tahu?" semprotnya lantang.
A Liong tersentak kaget. Tapi selanjutnya dengan
tenang pemuda itu menjawab seenaknya. Bahkan nada
omongannya masih tampak kekanak-kanakan.
378
"Wah, Cici ini bagaimana... sih? Kalau sepasang
kekasih yang sedang bercintaan, nama itu memang
diukir di dalam hati. Tapi kalau hanya teman biasa
seperti kita ini, nama itu cuma diukir di dalam otak."
"Hush, omonganmu semakin melantur ...!" Tio Siau
In membentak.
"Hei aku tidak melantur. Aku memang benar-benar
mengukir nama Cici di dalam otakku. Besuk kalau
aku sudah dewasa dan menjadi pendekar gagah
perkasa, aku akan benar-benar mencari Cici Siau In."
"Mau apa kau mencariku?" Tio Siau In bertanya
heran.
Tapi dengan wajah ketolol-tololan A Liong
menggelengkan kepalanya. "Wah, mana aku tahu?
Bukankah waktunya masih lama? Tentu saja aku tak
bisa memikirkannya sekarang, dong...."
"Ah, sudahlah! Bicaramu semakin menjengkelkan!
Ayoh, kita kuburkan mayat ini!" Tio Siau In
memotong perkataan A Liong dengan kesal.
A Liong tertawa. Dengan gesit pemuda itu
membantu Tio Siau In mengeluarkan kedua mayat itu
ke halaman. Sama sekali tidak kelihatan kalau dia
masih menderita luka dalam. Sambil bekerja masih
saja pemuda itu mengganggu Tio Siau In dengan
ucapan-ucapannya yang polos dan menggelikan.
"Cici, kau jangan marah, ya...? Kasihanilah aku.
Sejak kecil aku menjadi gelandangan. Hidup terluntalunta,
dari kota ke kota mencari sesuap nasi dan belas
kasihan orang. Tampaknya saja selalu berkeliaran di
379
tempat ramai, namun hatiku selalu merasa kesepian
dan sunyi. Tak seorang pun selama ini yang
memperhatikanku. Rasanya aku ini seperti sampah,
yang selalu dihindari dan disingkirkan. Oleh karena
itu hatiku benar-benar tersentuh melihat perhatianmu
padaku tadi malam. Cici seorang gadis dari kalangan
baik-baik dan terhormat, ternyata mau menolong aku,
menuntun aku, bahkan mau memapah aku, seorang
pemuda gelandangan yang kotor dan hina. Aku
keenakan. Padahal sebenarnya sakitku sudah tidak
begitu terasa lagi. Sudah sembuh. Malah... sudah bisa
berjalan sendiri. Tetapi aku tidak ingin kehilangan
rasa haru dan nikmat itu...."
"Huh, jadi malam tadi kau menipuku, ya? Ih,
enaknya...!"
"Habis aku tak mempunyai... orang tua atau kakak
yang bisa menggandeng tanganku, menuntun
langkahku, atau mengajakku bercanda. Maka
kesempatan yang membahagiakan itu tentu saja
takkan kulewatkan, hehe. Bahkan kalau tidak merasa
kasihan kepada Cici, rasanya aku ingin menjadi
lumpuh saja biar kaugendong."
"Ih, enaknya...!" Tio Siau In mencibir.
Mereka bercakap-cakap sambil bekerja. Untunglah
tanah di tempat itu sangat empuk sehingga sebentar
saja mereka telah selesai menguburkan mayat Su Hiat
Hong dan Tong Kiat Teng.
Setelah membersihkan tangan dan kaki, mereka lalu
mencari obat yang cocok untuk A Liong. Benar saja,
380
semua obat yang tersimpan di dalam almari obat Tong
Kiat Teng dibubuhi tulisan dan keterangan, sehingga
dengan mudah Tio Siau In memilihnya. Semula A
Liong masih tetap ragu-ragu, tapi karena didesak terus
oleh Tio Siau In, terpaksa pemuda itu meminumnya.
Ternyata habis meminum obat A Liong merasa
mengantuk sekali.
"Uuuuuuuhh...?!"
Tiba-tiba Tio Siau In tersentak dari lamunannya.
Bergegas gadis cantik itu menjenguk ke dalam kamar
A Liong. Hampir saja mereka bertabrakan di depan
pintu, karena pemuda itu dengan tergesa-gesa juga
berlari keluar.
"Cici Siau In, aah...! Kukira kau telah pergi
meninggalkan aku. Hmm, aku ketiduran, dan
bermimpi... indah sekali."
"Bermimpi? Nah, begitu bangun kau sudah akan
mulai mengoceh lagi. Sudahlah, aku tak mau
mendengarkannya lagi. Ayoh sekarang kita kembali
ke kota!"
A Liong kelihatan kecewa karena Tio Siau In tak
mau mendengarkan ceritanya.
"Ke kota? Kota mana...?" tanyanya kurang
bersemangat.
"Ya... ke kota Hang-ciu! Mau ke mana lagi? Aku
akan menemui kakakku di sana. Dia tentu telah
menanti-nanti kedatanganku. Ayoh!"
"Menemui Kakakmu?" A Liong semakin tak
bergairah. Hatinya terasa menjadi sepi kembali seperti
381
hari-hari yang lalu. Kalau Tio Siau In sudah
berkumpul dengan saudaranya, otomatis tentu akan
melupakan dirinya. "Ah, aku tak ingin kembali ke
kota Hang-ciu lagi. Kota itu terlalu rusuh. Aku ingin
pergi ke tempat lain saja, yang sepi dan jauh dari
keramaian kota."
"Hei? Kau mau ke mana? Apakah kau benar-benar
ingin mendaki puncak Gunung Hoa-san?" Tio Siau In
tersentak. Tiba-tiba gadis itu teringat akan tugas yang
diberikan suhunya. Siapa tahu pemuda ini yang
dimaksudkan dalam ramalan itu?
A Liong memandang Tio Siau In sebentar, lalu
mengangguk lemah.
Tentu saja Tio Siau In menjadi bingung, bagaimana
harus membujuk A Liong supaya ikut dengannya.
"Wah, repot benar. Masakan aku harus menotoknya
lemas, kemudian menggendongnya ke Han-ciu? Iiih,
keenakan dia nanti..." gadis itu berpikir keras.
"Nah, kalau begitu aku akan berangkat lebih
dahulu, Cici." Tiba-tiba A Liong pergi sambil
meminta diri. Wajahnya tampak kuyu dan tak
bersemangat.
"Eh, nanti dulu...!" Tio Siau In berseru kelabakan.
Gadis itu mengejar langkah A Liong.
Ternyata A Liong benar-benar sangat sedih,
sehingga ia tak mau berlama-lama tinggal di situ.
Suara panggilan Siau In sama sekali tak
dihiraukannya.
382
"Hei! Hei! A Liong...! Mau ke mana kau?
Bukankah sampan kita cuma satu? Bagaimana aku
dapat meninggalkan tempat ini nanti?"
Tanpa mengendurkan langkahnya A Liong
berdesah pendek. "Aku akan berjalan melewati
pinggiran pantai. Silakan Cici menggunakan sampan
itu...."
Karena A Liong tetap tidak mau menghentikan
langkahnya, terpaksa Tio Siau In menarik lengannya.
"Eh, berhenti dulu....! Sebenarnya kenapa kau ini?
Mari kita berbicara dulu secara baik. Masakan kita
berpisah begitu saja tanpa kesan apa-apa?" gadis itu
mencoba membujuk dengan suara manis.
Benar saja. A Liong berhenti melangkah. Sambil
menghela napas panjang pemuda itu menundukkan
mukanya di depan Tio Siau In. Sama sekali hilang
kesan kegarangan tubuhnya yang kokoh kekar itu.
"Apa yang hendak kita bicarakan lagi, Cici?"
ucapnya lemah.
Mereka saling berhadapan dekat sekali. Bahkan
tangan Tio Siau In masih memegang lengan A Liong
yang kokoh itu. Namun gadis itu tetap saja belum tahu
apa yang sebenarnya berkecamuk di dalam dada A
Liong. Sebagai gadis yang juga baru mulai menginjak
remaja, Tio Siau In juga belum bisa meraba pula apa
yang menyebabkan pemuda itu secara mendadak
bersikap aneh seperti itu.
Tio Siau In cuma bisa melihat, tiba-tiba A Liong
kelihatan sedih dan tak bersemangat begitu diajak
383
kembali ke Hang-ciu. Malah akhirnya pemuda itu
memutuskan untuk tidak kembali ke kota tersebut.
Pemuda itu ingin pergi ke puncak Gunung Hoa-san.
Tio Siau In mengangkat wajahnya. Dipandangnya
pemuda tanggung bertubuh tinggi kekar di depannya
sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
"A Liong, mengapa kau kelihatan bersedih?
Apakah kau mempunyai persoalan di kota Hang-ciu?"
bujuknya kemudian dengan suara lemah lembut.
A Liong melirik sekejap kemudian menggeleng.
"Lalu... mengapa kau tak mau kembali ke sana?"
"Cici sudah kukatakan aku ini anak gelandangan
yang tak mempunyai tempat tinggal tetap. Aku juga
tak punya sanak-saudara. Bahkan aku ini juga tak tahu
pula dari mana asalku, dan siapa orang tuaku. Sejak
kecil aku hidup di antara bocah-bocah gelandangan,
yang mengembara dari kota ke kota untuk meminta
belas kasihan orang. Maka sekarang pun aku berniat
untuk meneruskan perjalananku pula. Aku sudah
terlalu lama tinggal di Hang-ciu."
Tio Siau In mengerutkan keningnya. Sudah dua kali
A Liong bercerita tentang keadaan dirinya yang papa
dan yatim piatu. Semula Tio Siau In memang tidak
begitu ambil pusing mendengar cerita itu, tapi setelah
kini A Liong menceritakannya kembali, entah
mengapa hatinya tersentuh.
"Benarkah kau tak tahu siapa orang tuamu?" Tio
Siau In yang mendadak juga ingat pula keadaan
dirinya yang yatim piatu bertanya tak percaya.
384
A Liong mengangguk lesu.
"Sama sekali tak tahu siapa orang tuamu? Lalu
siapa yang merawatmu ketika masil kecil?"
"Entahlah. Mungkin para gelandangan atau
pengemis lain yang lebih besar dari pada aku. Sebab
yang kutahu sejak aku bisa berpikir, aku telah berada
di antara gerombolan anak-anak gelandangan. Kami
tidur di mana saja dan pergi ke mana saja sambil
meminta-minta belas kasihan orang. Di dalam
kelompok itu kami biasa saling berbagi rejeki dan
makanan. Jadi kemungkinan besar aku dulu ditinggal
mati orang tuaku yang juga seorang gelandangan,
kemudian aku dirawat dan diberi makan oleh para
gelandangan lainnya yang satu kelompok dengan
orang tuaku itu...."
"Oooooh...."
Tio Siau In berdesah panjang. Ia benar-benar tidak
menyangka kalau sejarah hidup A Liong itu
sedemikian menyedihkan. Lebih memilukan daripada
sejarah hidupnya sendiri yang ia anggap sudah sangat
menyedihkan. Ia dan kakaknya,
Tio Ciu In, juga yatim piatu pula, namun mereka
masih bisa mengenal serba sedikit ayah mereka. Tidak
seperti A Liong yang sama sekali tak tahu siapa orang
tuanya. Sejak kematian ayahnya pun dia dan
kakaknya langsung dirawat dan dibesarkan oleh
gurunya, tidak seperti A Liong yang harus bertarung
dengan kekerasan hidup bersama anak-anak
gelandangan lainnya.
385
"Hemm, kasihan benar kau A Liong." Tio Siau In
bergumam perlahan sambil melepaskan pegangan
tangannya. "Hanya yang mengherankan, hidupnya
serba susah dan kekurangan, tapi mengapa tubuhmu
bisa sedemikian subur dan kuat seperti ini?"
"Aku memang hidup serba susah dan kekurangan,
tapi aku punya tekad dan semangat hidup yang besar,
Cici. Sejak aku bisa mempergunakan tenagaku, aku
tidak mau mengemis lagi. Aku bekerja apa saja untuk
mencari makan. Bahkan pekerjaan-pekerjaan berat
yang biasanya hanya dilakukan oleh orang dewasa
aku kerjakan juga. Aku pernah bekerja di pabrik
penggilingan tahu, perusahaan pemotongan kayu,
pengangkutan garam, pandai besi, dan pekerjaanpekerjaan
berat lainnya. Makanku banyak, sesuai
dengan bidang pekerjaanku, sehingga tulang dan
ototku pun tumbuh dengan keras pula." A Liong
menerangkan.
"Bukan main...!" Tio Siau In berdecak kagum.
"Kulihat usiamu tidak lebih banyak dari usiaku. Tapi
badanmu membengkak hampir dua kali lipat dari
tubuhku. Penuh otot lagi!"
A Liong tersenyum kecut. "Aku memang seperti
kerbau liar yang hidup di alam belantara yang keras.
Tentu saja berbeda dengan Cici yang selalu hidup
teratur di antara keluarga yang penuh kedamaian."
Tiba-tiba Tio Siau In tersenyum. Gadis itu seperti
mendapatkan jalan untuk membujuk A Liong.
386
"Nah, kalau begitu... apakah kau tidak ingin hidup
yang serba teratur dan penuh kedamaian seperti itu?"
A Liong menghembuskan napasnya keras-keras.
"Ah, tentu saja aku juga ingin hidup seperti itu
pula, Cici. Aku juga sudah bosan menjadi
gelandangan terus-terusan. Tapi untuk hidup wajar
seperti itu perlu modal pula agar bisa hidup tenang
dan dihormati orang."
"Modal? Modal apa?" Tio Siau In berseru heran.
A Liong tertawa kecut. "Ah, Cici... kau ini seperti
tidak tahu saja. Modal hidup agar dihormati orang
hanyalah harta, kekuasaan, dan kepandaian. Dapat
memiliki salah satu saja dari ketiga modal utama itu,
kita akan dihormati dan dijunjung tinggi oleh
masyarakat di sekitar kita. Padahal aku sama sekali
tak memiliki modal itu. Oleh karena itu aku harus bisa
mendapatkannya lebih dahulu agar bisa hidup tenang
dan damai seperti Cici."
"Wah, lalu... modal mana yang akan kaucari itu?"
Tio Siau In pura-pura bertanya.
Sekali lagi A Liong menghembuskan napasnya
kuat-kuat.
"Orang seperti aku jelas tidak mungkin untuk
mencari harta maupun kekuasaan. Tapi kalau hanya
untuk mencari kepandaian, rasanya aku bisa. Oleh
karena itu aku akan tetap melaksanakan niatku, yaitu
belajar silat di puncak Gunung Hoa-san. Kalau aku
nanti benar-benar pandai ilmu silat, berarti aku sudah
387
memiliki sebuah modal. Modal untuk bisa hidup
tenang dan dihormati orang."
Tio Siau In terdiam untuk beberapa saat lamanya.
Gadis itu merasa bahwa ia tak mungkin bisa
mempengaruhi keinginan A Liong lagi. Satu-satunya
jalan hanyalah memaksa» pemuda itu dengan
kekerasan untuk dibawa ke hadapan gurunya. Tapi
untuk melakukan hal itu Tio Siau In tidak sampai hati.
"Tampaknya memang akulah yang harus mengalah.
Biarlah kuikuti saja kemauannya itu. Nanti sedikit
demi sedikit akan kubelokkan perhatiannya." gadis itu
berkata di dalam hatinya.
"Nah, Cici... kau tak usah menghalangi niatku.
Tekadku sudah bulat. Aku akan mendaki Gunung
Hoa-san." A Liong mengulangi keinginannya yang
teguh.
"Baiklah. Terserah kalau tekadmu memang
demikian. Tapi... apakah kau sudah mengetahui jalan
ke Gunung Hoa-san?"
A Liong menggeleng lemah.
"Hmmm, kalau begitu untuk sementara kita bisa
berjalan bersama. Aku tidak jadi pergi ke Hang-ciu.
Aku akan langsung ke Sin-yang. Maukah kau berjalan
bersamaku?"
Tiba-tiba A Liong berteriak gembira. Lengannya
yang penuh otot itu secara reflek menyambar
pinggang Tio Siau In, lalu mengangkatnya tinggitinggi
ke udara. Tentu saja gadis itu menjerit kaget.
388
Otomatis tubuh gadis itu menggeliat melepaskan diri,
sedang kakinya menjejak dada A Liong.
Buuuk!
"Aduuuuh...!" A Liong memekik kesakitan.
Bagaikan pohon tumbang, badan A Liong yang
tinggi kekar itu terbanting ke tanah. Karena tidak bisa
ilmu silat, maka jatuhnya pun juga sangat keras pula.
Untunglah mereka telah berada di atas pasir, sehingga
pemuda itu tidak begitu menderita karenanya. Namun
demikian tetap saja A Liong meringis kesakitan.
Tio Siau In sendiri menjadi kaget begitu sadar apa
yang dilakukannya. Sebagai jago silat semuanya tadi
memang ia lakukan secara reflek. Dan celakanya,
dalam keadaan seperti itu ia tak bisa mengontrol
tenaganya. Maka tidak mengherankan bila badan A
Liong yang kokoh kukar itu terbanting keras terkena
tendangannya.
Akan tetapi yang tak kalah mengherankan adalah
kesudahan dari kejadian tersebut. Tio Siau In yang
kemudian merasa menyesal sekali, bahkan agak
ketakutan, karena tendangan kakinya itu bisa
memecahkan batu gunung, tiba-tiba ternganga
mulutnya. Dengan heran gadis itu melihat A Liong
bangkit kembali tanpa kurang suatu apa. Malahan
bibir pemuda itu mencoba tersenyum, walaupun
akhirnya cuma bisa meringis.
"Maaf, Cici. Aku memang benar-benar seperti
kerbau liar yang tak mengenal aturan dan sopan
santun. Begitu melonjak kegembiraanku mendengar
389
Cici hendak berjalan bersama aku, sehingga aku
meluapkannya dengan mengangkat tingi-tinggi badan
Cici seperti kebiasaan yang kami lakukan di antara
kawan gelandangan." pemuda itu meminta maaf
dengan halus.
"Eh-oh, anu... kau tidak apa-apa, A Liong?" Tio
Siau In menjadi gugup malah.
"Ah, tidak apa-apa, Cici. Badanku ini sudah
terbiasa mendapat kecelakaan. Pernah tertimpa pohon
kayu yang tumbang ketika bekerja di perusahaan
pemotongan kayu. Juga pernah tergencet batu besar
penggilingan tahu ketika berada di penggilingan tahu.
Bahkan aku pernah tertimbun belasan karung garam
ketika berada di perusahaan pengangkutan garam.
Tapi seperti yang Cici lihat sekarang, badanku tetap
sehat tidak kurang suatu apa."
Sekali lagi Tio Siau In menggeleng-gelengkan
kepalanya. Gadis itu benar-benar heran melihat
ketahanan tubuh A Liong yang tidak sewajarnya itu.
Padahal pemuda itu sama sekali tak mengerti ilmu
silat.
"Pukulan Lok-kui-tin itu mampu menewaskan jagojago
silat kelas satu seperti Lim Kok Liang, Tong Taisu
dan yang lain-lainnya. Tapi pukulan itu ternyata tak
banyak berarti terhadap tubuh A Liong. Badan yang
kokoh kekar itu seperti terbuat dari besi saja." Tio
Siau In bergumam di dalam hatinya.
"Jadi.... Cici benar-benar hendak berjalan bersama
aku?" A Liong menegaskan lagi.
390
Tio Siau In tergagap kaget, lalu mengangguk. "Aku
hendak menghadapi Kau-cu Im-yang-kau di kuil
Agung Sin-yang. Karena jurusan yang akan kita
tempuh sama, maka kita dapat berjalan bersama-sama.
Tapi... maukah kau nanti singgah sebentar di Kuil
Agung Im-yang-kau itu?" dengan cerdik gadis itu
membujuk.
A Liong tertawa gembira. "Tentu saja, Cici.
Jangankan cuma singgah, menginap beberapa hari pun
aku bersedia..."
"Bagus. Kalau begitu mari kita berangkat
sekarang!" ajak Tio Siau In riang.
"Ayoh, Cici!"
Demikianlah kedua remaja tanggung itu lalu pergi
meninggalkan rumah Tong Kiat Teng. Mereka
mengayuh sampan mereka ke utara, mencari pantai
yang landai, yang sekiranya bisa mereka darati, untuk
selanjutnya berjalan ke arah barat, melalui kota-kota
di sepanjang Sungai Yang-tse.
Langit sangat cerah, hanya beberapa gumpal awan
saja yang kelihatan bergerak dari timur ke barat.
Angin juga sudah reda, tidak sederas dan sekencang
tadi. Sementara kabut pun telah terusir pergi pula
bersama sinar matahari yang semakin menyengat.
Udara pagi itu sungguh-sungguh nyaman.
A Liong mendayung sampan seenaknya. Tidak
tergesa-gesa atau pun terburu-buru. Ia bersama Tio
Siau In memang sengaja menikmati keindahan pantai
yang dilaluinya. Burung camar yang beterbangan di
391
atas kepala mereka, kadang-kadang menukik
mengelilingi sampan kecil itu, kemudian terbang
pergi. Burung-burung itu seakan-akan merasa heran
melihat kedatangan mereka. Berbondong-bondong
burung itu mendekati, mengitari sampan, lalu
bergegas pergi bila A Liong dan Tio Siau In berusaha
menangkapnya.
"Aaah, kehidupan burung-burung itu tidak jauh
berbeda dengan kehidupanku. Setiap hari terbang
melayang ke mana saja, tanpa tujuan, tanpa
kepastian." A Liong berkata perlahan sambil
menengadahkan kepalanya.
Tio Siau In melirik. "Tapi burung-burung itu
kelihatan amat riang bermandikan sinar matahari
pagi." tukasnya sambil tersenyum.
"Ya, Cici... mereka memang kelihatan riang, karena
mereka cuma binatang yang tak memiliki akal budi
seperti kita kaum manusia."
"Hemmm...." Tio Siau In bergumam tak jelas.
Mereka lalu berdiam diri kembali. Masing-masing
mengembara dengan jalan pikirannya sendiri-sendiri.
A Liong dengan lamunannya untuk menjadi pendekar
gagah perkasa, sedangkan Tio Siau In dengan
rencananya membawa pemuda itu ke hadapan Kau-cu
Aliran Im-yang-kau. Siapa tahu pemuda itu benarbenar
pemuda bertatto naga yang dikehendaki Kau-cu
Im-yang-kau?
Mereka mengemudikan sampan itu tidak terlalu
jauh dari garis pantai. Sambil mendayung A Liong
392
bernyanyi-nyanyi gembira. Sekali-sekali dayungnya
dipakai untuk memukul burung camar yang terlalu
bandel mendekati dirinya.
Tio Siau In akhirnya terseret juga oleh arus
kegembiraan A Liong. Gadis itu ikut-ikutan
mengganggu burung-burung camar itu. Bedanya kalau
A Liong tak pernah bisa memukul burung tersebut,
sebaliknya Tio Siau In selalu berhasil menyambarnya
dengan tangan kosong. Tapi karena memang hanya
ingin bercanda, burung tersebut segera dilepaskan
lagi.
A Liong menjadi heran. "Wah, Cici... ajari aku!.
Mudah benar kau menangkapnya."
A Liong mencoba ikut menangkap pula dengan
kedua tangannya, tapi tak pernah berhasil. Bahkan
tubuhnya yang besar itu membuat sampan mereka
menjadi oleng ke sana ke mari.
"Hei-hei! Jangan banyak bergerak! Sampan ini bisa
terguling nanti!"
A Liong menghentikan gerakannya. Mulutnya
cemberut. Hatinya kesal karena tak bisa menangkap
burung yang amat lincah itu.
Tio Siau In tersenyum melihat kekesalan A Liong.
"Memang tak mudah menangkap burung camar itu.
Kau baru bisa menangkapnya apabila gerakanmu
dapat lebih cepat dari gerakan mereka."
"Lebih cepat? Wah... mana bisa? Burung itu
terbang secepat angin, mana mungkin manusia bisa
melebihi kecepatannya?"
393
"Mengapa tidak bisa? Nih, lihat...!"
Sekonyong-konyong Tio Siau In menjejakkan
kakinya ke lantai sampan, sehingga tubuhnya
melenting ke atas dengan ringannya. Di udara tubuh
Tio Siau In yang ramping kecil itu berjumpalitan
beberapa kali, lalu mendarat kembali di bibir sampan,
tanpa membuat banyak goncangan pada sampan yang
kecil itu. Dan ketika tangannya terbuka, ada empat
ekor burung camar yang menggelepar lepas dari selasela
jarinya.
A Liong melongo melihatnya.
"Ah, Cici... bukan main! Ternyata kau pandai ilmu
silat! Ilmu meringankan tubuh Cici benar-benar
hebat!" pemuda itu memuji setinggi langit.
"Kau ingin mempelajarinya?"
"Ya... ya... ya, aku ingin sekali belajar seperti itu!"
dengan gembira sekali A Liong menjawab sambil
mengangguk-angguk.
Namun Tio Siau In cepat menyambungnya. "Tapi
aku tak bisa mengajarimu. Ilmuku sendiri belum
seberapa tinggi. Kau harus belajar kepada Guruku,
atau kepada tokoh Im-yang-kau yang lebih tinggi.
Syukur kalau Kau-cu sendiri yang membimbingmu..."
A Liong terdiam. Sekejap pemuda itu tampak
kecewa karena ia menyangka Tio Siau In sendiri yang
akan mengajarinya, tapi ternyata tidak.
"Ah, kalau begitu... biarlah aku belajar saja sekalian
ke puncak Gunung Hoa-san!" akhirnya pemuda itu
berkata tegas.
394
Kini ganti Tio Siau In yang menjadi kecewa.
Semula dengan muslihatnya tadi Tio Siau In berharap
A Liong mau menjadi anggota aliran Im-yang-kau
seperti dirinya. Tapi ternyata pemuda itu mempunyai
tekad yang kukuh untuk mendaki puncak Gunung
Hoasan.
"Eh, Cici... mengapa kau lalu diam saja? Apa yang
sedang kaupikirkan?" mendadak pemuda itu
mengagetkan Tio Siau In.
"Ah-eh, anu... aku tidak memikirkan apa-apa. Aku
cuma merasa heran padamu. Kau mengatakan tidak
bisa ilmu silat, tapi kenapa tubuhmu tahan terhadap
pukulan seorang jago silat berkepandaian tinggi?"
untuk menutupi perasaan kagetnya Tio Siau In
menjawab sekenanya.
"Pukulan jago silat berkepandaian tinggi? Ah,
kapan aku berkelahi dengan seseorang? Ooooh, itu....!
Kejadian malam tadi, ketika rombonganku dicegat
penjahat-penjahat kejam itu? Ah, rasanya pukulan
mereka juga biasa-biasa saja. Tidak lebih sakit
daripada ketika aku tertimpa batang pohon di
perusahaan pemotongan kayu itu. Apalagi bila
dibandingkan dengan ketika aku tergencet batu
penggilingan tahu atau tertimbun belasan karung
garam itu...."
Sekali lagi Tio Siau In ternganga keheranan.
Bagaimana mungkin semuanya itu bisa terjadi? Lim
Kok Liang, Tong Tai-su dan tiga orang bergolok itu
bukan jago-jago silat biasa, meskipun demikian
395
mereka itu tetap tidak kuat menahan pukulan Lok-kuitin.
Lantas bagaimana mungkin A Liong yang tak
mengerti silat itu bisa menahan pukulan sakti mereka?
Apakah pemuda itu memiliki kulit besi bertulang
baja?
Diam-diam Tio Siau In semakin tertarik untuk
mengetahui lebih banyak tentang diri A Liong.
Keadaan pemuda itu benar-benar amat aneh, demikian
pula sejarah hidupnya. Tio Siau In semakin curiga,
jangan-jangan pemuda itu memang benar-benar
"manusia pilihan" yang yang dimaksudkan oleh
sesepuh Aliran Im-yang-kau itu.
Sekali lagi Tio Siau In menghela napas panjang.
Penilaiannya tentang ramalan Lo-jin-ong, sesepuh
Aliran Im-yang-kau, mulai berubah. Tampaknya
ramalan tentang pemuda bertatto naga itu memang
dapat dipercaya.
"Eh, A Liong...? Bolehkah aku bertanya sedikit
kepadamu?"
"Ah, tentu saja, Cici! Banyak juga boleh."
Tio Siau In tersenyum. "Anu, eemm... kau tadi
mengatakan bahwa kau tidak mengenal orang tuamu.
Lalu siapa yang memberi nama A Liong itu
kepadamu? Apakah teman-temanmu pula?"
Tak terduga A Liong mengangguk. "Benar, Cici.
Aku semula memang tidak mempunyai nama, apalagi
nama keluarga. Nama A Liong ini memang kuperoleh
dari kawan-kawan sekelompokku, karena aku
396
memiliki gambar tatto naga di dadaku. Nih, lihat...!"
pemuda itu menjawab sambil membuka bajunya.
"Ooooh...!" Tio Siau In pura-pura terkejut. "Siapa
yang membuat gambar itu? Kau sendiri?"
A Liong tertawa. "Ah... yang benar saja, Cici.
Masakan aku bisa melukis sebagus ini?"
"Lalu... siapa? Kawanmu lagi?"
Tiba-tiba A Liong menghentikan tawanya.
"Entahlah, Cici. Aku juga tidak tahu. Mungkin
mendiang orang tuaku, atau mungkin teman ayahku.
Kata kawan-kawan sekelompokku, sejak aku
bergabung dengan mereka gambar ini telah ada. Itulah
sebabnya mereka memanggilku A Liong. Apalagi
kulit tubuhku juga liat dan kuat seperti kulit naga."
pemuda itu menjawab serius.
"Kulit naga...?" Sekarang ganti Tio Siau In yang
tertawa. "Bukankah kulit naga itu ada sisiknya?
Sisiknya yang keras yang membuat dia kuat dan liat.
Kau tidak memiliki sisik-sisik itu, lalu bagaimana
mungkin kulitmu bisa kuat seperti naga?"
"Cici tidak percaya? Boleh kaucoba! Pukullah aku!
Atau... hantamlah aku dengan dayung ini! Tanggung
tidak apa-apa!" pemuda itu berkata penasaran.
Tio Siau In tertawa semakin keras. Namun untuk
menyenangkan hati A Liong, gadis itu benar-benar
mengambil dayung dari tangan A Liong.
A Liong tersenyum gembira seperti layaknya
seorang anak yang ingin memperlihatkan atau
membanggakan kebolehannya. Dengan cekatan ia
397
membuka bajunya dan membusungkan dadanya yang
bidang dan penuh otot itu.
"Silakan...!" ucapnya mantap.
-- o0d-w0o --
JILID X
IO SIAU IN tertegun. "Kau benar-benar
ingin dicoba juga?"
"Hei, tentu saja!" pemuda itu menirukan
kata-kata Tio Siau In. "Mengapa harus
batal? A Liong tak pernah menjilat
ludahnya sendiri! Ayoh, Cici... " cobalah! Pukullah
aku dengan dayung itu!"
Tentu saja kesungguhan hati A Liong itu benarbenar
membuat Tio Siau In menjadi kelabakan malah.
Sejak semula gadis itu kurang begitu menanggapi
bualan A Liong, sehingga dia pun hanya main-main
pula ketika ingin mencoba kekebalan A Liong. Akan
tetapi tak diduganya pemuda itu benar-benar melayani
sikapnya dan ingin membuktikan sesumbarnya. Tentu
saja Tio Siau In menjadi kebingungan. Bagaimana
kalau dayung itu melukainya?
Tampaknya keragu-raguan Tio Siau In itu semakin
membuat penasaran hati A Liong. Tiba-tiba pemuda
itu merebut dayung yang ada di tangan Tio Siau In,
T
398
kemudian dengan sekuat tenaga kayu keras itu
dipukulkan sendiri ke arah kepalanya. Tidak hanya
sekali, tapi berkali-kali. Terdengar suara berdentangan
yang keras seperti layaknya suara orang membelah
batu cadas.
Tag:cersil cersil indo cersil mandarin full cerita silat mandarin online cersil langka cersil mandarin lepas cerita silat pendekar matahari kumpulan cerita silat jawa cersil mandarin beruang salju. cerita silat pendekar mataharicerita silat indonesia cerita silat kho ping hoo cerita silat mandarin online cerita silat mandarin full cerita silat jawa kumpulan cerita silat cerita silat jawa pdf cerita silat indonesia gratis cerita silat jadul indonesia cerita silat indonesia pendekar rajawali sakti cersil indonesia pendekar mabuk cersil langka cersil dewa arak cerita silat jaman dulu cersil jawa download cerita silat mandarin full cerita silat mandarin online cersil mandarin lepas cerita silat mandarin pendekar matahari cerita silat jawa pdf cersil indonesia pdf cersil mandarin beruang salju kumpulan cerita silat pdf
kumpulan cerita silat cersil online
Share:
cersil...
Comments
0 Comments

Arsip Cersil

Best Cersil

Pecinta Cersil