Donasi

Buat yang punya rejeki berlebih dan merasa terhibur dengan Situs Cerita Silat Cersil Terbaik ini bisa mendonasikan bantuannya ke
No. Rekening BPD Jateng No. 2004084554
demi keberlangsungan dan keberadaan Blog Cersil Cerita Silat yang sama-sama kita cintai ini. Kritik dan Saran hub No HP.083837358519. Atas Bantuannya disampaikan Terimakasih.

Kamis, 19 April 2018

Cersil Pendekar Buta 2

-------
Akan tetapi mulutnya berkata bangga. "Hwesio tua, masih baik kau mengetahui nama mendiang kakek
guruku. Dengan mengingat nama besar beliau yang kau kenal, biarlah nona kecilmu mengampunimu satu
kali ini."
Souw Bu Lai tertawa bergelak menyaksikan sikap gadis ini dan hatinya yang memang berwatak mata
keranjang sejak tadi sudah berdebar penuh birahi.
Tetapi alangkah kagetnya hati Loan Ki ketika dia melihat berkelebatnya senjata-senjata yang menyilaukan
mata, membuatnya berkejap beberapa kali. Ketika ia membuka mata, kiranya Ching-toanio, Bouw Si Ma
dan Ang Hwa Sam-cimoi tiga wanita itu sudah berdiri di depannya dengan senjata masing-masing di
tangan, sikap mereka penuh ancaman.
"Budak liar! Hayo lekas katakan, kau ini apanya ketua Thai-san-pai?" bentak Ching-toanio, suaranya
mengandung ancaman maut.
Biar pun lincah jenaka, Loan Ki bukanlah seorang anak bodoh, malah ia tergolong cerdik dan otaknya
tajam. Dia sering kali mendengar dari ayahnya tentang pamannya Tan Beng San yang menjadi ketua Thaisan-
pai itu, tahu pula bahwa ketua Thai-san-pai itu banyak dimusuhi orang-orang kangouw, apa lagi dari
golongan hitam.
Setelah berpikir beberapa detik lamanya, dia lantas tertawa dengan nada sombong sekali.
"Hi-hi-hik, biar pun nama Raja Pedang Tan Beng San ketua Thai-san-pai membuat kalian ketakutan
setengah mampus, aku tidak sudi mempergunakan namanya untuk menakut-nakuti kalian dengan
namanya. Dengarlah baik-baik, aku sama sekali tidak ada sangkut pautnya dengan dia, malah dia masih
hutang beberapa jurus serangan dengan pedangku. Belum tiba saatnya aku akan berhadapan dengan dia
mengadu nyawa di ujung pedang. Kenapa kalian ini menodongkan senjata kepada seorang muda
sepertiku? Apakah kalian hendak mengeroyokku? Cih, tidak tahu malu!"
Kembali Ka Chong Hoatsu yang tertawa bergelak dan Souw Bu Lai tersenyum-senyum, makin tertarik
kepada dara lincah yang tabah dan cantik ini.
"He, bocah nakal! Kalau begitu tentu kau ada hubungan dengan Sin-kiam-eng Tan Beng Kui?" Tanya Ka
Chong Hoatsu.
"Hemm, hwesio tua. Kaulah seorang di antara mereka ini yang paling cerdik. Majikan yang menjadi raja di
pantai Po-hai, si Pendekar Pedang Sakti Tan Beng Kui adalah ayahku, dan nonamu Tan Loan Ki ini adalah
puteri tunggalnya. Hayo, siapa yang berani menentang ayahku?"
"Ha-ha-ha, Ching-toanio dan saudara-saudara yang lain, simpan senjata kalian. Kiranya nona cilik ini
adalah orang segolongan sendiri. Ha-ha-ha!" kata hwesio tua itu dan semua orang yang berada di situ
memang sudah mengenal Tan Beng Kui.
Mereka menarik napas lega kemudian menyimpan senjata masing-masing sambil mundur. Ching-toanio
mengerutkan alisnya karena ia masih marah dan penasaran, akan tetapi ia juga tidak mau memusuhi puteri
Sin-kiam-eng Tan Beng Kui. Tentu saja ia tidak mau bukan karena takut, melainkan karena pada waktu itu
ia membutuhkan orang-orang kosen yang sehaluan dan boleh dibilang Tan Beng Kui mempunyai
kepentingan serupa dengan dia.
Pertama, dia tahu persis bahwa Tan Beng Kui menaruh dendam sakit hati terhadap adik kandungnya
sendiri, Tan Beng San yang juga menjadi musuh besarnya. Ke dua, dalam urusan usaha merebut
kekuasaan, kiranya Tan Beng Kui boleh diakui bersekutu.
Sebagai seorang yang amat cerdik, ia segera dapat menangkap maksud hati Ka Chong Hoatsu, maka ia
segera memaksa senyum manis kepada Loan Ki sambil berkata, "Nona cantik, hampir saja kita saling
bentrok. Akan tetapi tidak mengapa, bukankah orang bilang bahwa kalau tidak bertempur dulu takkan
saling mengenal? Ayahmu dengan kami adalah segolongan, karena itu tidak bisa kami memusuhimu. Soal
dunia-kangouw.blogspot.com
makanan dan minuman boleh dihabiskan sampai di sini saja. Nona Tan, bagaimana kau bisa mendapatkan
mahkota kuno itu?"
Loan Ki tidak goblok untuk mempertahankan sikap bermusuhan. Ia pun tersenyum ramah dan berkata,
"Wah, ayah tentunya girang sekali kalau mendengar bahwa anaknya sudah berkenalan dengan orangorang
gagah di dunia kang-ouw. Bagus, dan karena cuwi (tuan sekalian) adalah orang-orang sendiri, maka
biarlah aku mengaku terus terang. Mahkota ini telah dirampas oleh Hui-houw-pang dari tangan si
pembesar yang mencurinya dari istana, kemudian aku merampasnya dari Hui-houw-pang untuk kuberikan
kepada ayah yang suka mengumpulkan barang-barang kuno seperti ini. Mereka itu beramai-ramai
mengeroyokku dan mengejar, tapi mana mereka mampu merampas kembali dari tanganku? Hemm, biar
jumlah mereka ditambah sepuluh kali, tidak akan sanggup mereka itu! Aku lari sampai di daerah sini dan
karena sudah kesalahan merampas makanan, maka aku akhirnya masuk ke Ching-coa-to."
Bagai lagak seorang anak kecil Loan Ki menyombongkan hal yang sebetulnya tak pernah terjadi, yaitu
tentang pengeroyokan. Padahal kalau tak ada Kun Hong, mana mungkin ia bisa mendapatkan mahkota
itu?
"Ho-ho, memang tidak mudah, tapi bolehkah pinceng melihat sebentar?" Tongkat hwesio itu menyelonong
ke depan.
Loan Ki kaget sekali dan cepat miringkan tubuhnya. Celaka, tahu-tahu tangan kiri hwesio itu diulur maju
dan di lain detik buntalan pakaian sudah berpindah tangan!
"Ha-ha-ha, tenanglah, Nona. Pinceng hanya ingin melihat sebentar, untuk membuktikan apakah benarbenar
ini mahkota yang asli."
Dengan enak hwesio itu mengambil mahkota, lalu melihat-lihat dan bergantian dengan orang-orang yang
berada di situ, mengagumi keindahan mahkota kuno ini.
Loan Ki hanya berdiri dengan muka merah dan mata berapi-api penuh kemendongkolan hati. Akan tetapi
diam-diam ia pun kaget sekali karena ternyata hwesio tua itu sepuluh kali lipat lebih lihai dari padanya.
Setelah semua orang melihat, buntalan dan mahkota dikembalikan kepada Loan Ki oleh hwesio itu. Loan
Ki menerimanya, mengikatkan buntalan kembali ke punggungnya dengan muka cemberut.
"Orang tua mengakali anak muda, awas kau hwesio, lain kali aku balas!"
Ka Chong Hoatsu hanya tertawa bergelak. Souw Bu Lai sambil cengar-cengir mendekati Loan Ki,
sepasang matanya yang lebar itu seakan-akan hendak menelan bulat-bulat gadis ini. Loan Ki mengerutkan
kening menyaksikan mata seperti mata harimau kelaparan itu.
"Kau mau apa?" tanya Loan Ki dengan alis berkerut.
Souw Bu Lai tersenyum, giginya yang putih berkilat di balik kumis panjang, kumis model Mongol. "Nona
manis namanya pun manis. Aku tidak akan menyusahkanmu, sudah lama kudengar nama besar ayahmu.
Perkenalkan aku..."
"...kau Sublai, mengaku-aku Pangeran Mongol, ya? Tapi aku masih belum mau percaya!" tukas Loan Ki
galak.
Souw Bu Lai tertawa. "Ha-ha-ha, kiranya kau tadi sudah mengintai cukup lama? Memang, aku bernama
Souw Bu Lai, seorang pangeran yang berasal dari Mongol. Ayahmu adalah seorang pendekar yang gagah
perkasa, pantas puterinya seperti kau, Nona."
"Wah, sudahlah, aku tak ingin mendengar pidatomu. Toanio, aku pamit hendak pergi dari sini, mencari
sahabatku kemudian kuharap kau suka memberi pinjam sebuah perahumu untuk mengantar kami berdua
menyeberang, pulang kembali ke darat."
"Kau datang tanpa diundang, pulang pun tidak usah minta diantar," jawab Ching-toanio cemberut.
"Hi-hi-hik, kalau begitu biar aku pergi sendiri. Kalau butuh perahu, tak boleh pinjam, curi pun masih bisa."
dunia-kangouw.blogspot.com
Dengan lagak seperti kanak-kanak Loan Ki melambaikan tangan ke arah orang-orang itu lalu kakinya
melangkah hendak keluar dari pondok itu.
Hampir saja ia bertumbukan dengan seorang yang berlari-lari dari luar dan yang sangat cepat gerakannya.
Loan Ki meliukkan tubuhnya ke kiri sedangkan orang yang lari itu pun tiba-tiba berhenti, begitu mendadak
dan cepat berhentinya sehingga Loan Ki memandang heran dan kagum karena cara berhenti seperti itu
hanya sanggup dilakukan oleh orang pandai.
Keduanya berpandangan sejenak dan tanpa terasa lagi mulut Loan Ki berseru memuji, "Aduh cantiknya..."
Orang yang berlari itu bukan lain adalah Giam Hui Siang, gadis cantik jelita yang usianya sebaya dengan
Loan Ki, yaitu antara tujuh belas dan delapan belas tahun.
Memang Hui Siang luar biasa cantik jelitanya, ditambah orangnya pesolek lagi. Wajahnya terawat baik atas
bantuan pelayan-pelayan ahli. Pakaiannya selalu mentereng sehingga biar pun ia puteri seorang pemilik
pulau, akan tetapi sekali melihat orang akan menyangka bahwa ia tentulah seorang puteri keluarga kaisar
di istana!
Maka tidaklah heran apa bila Loan Ki segera memujinya, sungguh pun dia sendiri adalah seorang gadis
lincah yang cantik manis pula. Mungkin Loan Ki sendiri tak akan kalah baik bentuk wajah mau pun bentuk
tubuhnya jika dibandingkan dengan Hui Siang. Akan tetapi oleh karena Loan Ki adalah seorang dara
pendekar yang suka merantau sehingga kurang memperhatikan perawatan badannya, tentu saja kulitnya
kalah putih dan kalah halus, juga pakaiannya kalah baik.
Hui Siang adalah seorang dara manja dan wataknya sangat galak dan sombong. Karena hampir saja
bertumbukan dengan Loan Ki, ia amat marah dan segera memaki,
"Budak hina! Apakah matamu buta? Ehhh, apakah kau pelayan baru? Belum pernah aku melihatmu.
Minggir kau, aku ada urusan penting!"
Loan Ki mendongkol sekali. Ia meloncat ke pinggir akan tetapi mulutnya sudah siap untuk balas memaki.
Pada saat itu Hui Siang sudah lari ke depan dan berkata, "Ibu, celaka sekali, Ibu. Enci Hui Kauw sudah
membikin malu kita, sekali ini kalau Ibu tidak turun tangan, bisa-bisa nama keluarga kita terseret ke dalam
lumpur!" Gadis ini mengerling ke kanan kiri seakan-akan tidak mempedulikan orang-orang yang berada di
situ.
Sekali lagi sepasang mata Souw Bu Lai berkilat-kilat ketika dia melihat Hui Siang.
"Hui Siang, kau bicara apa? Apa yang telah terjadi?" Ching-toanio berkata, kemarahannya terhadap Hui
Kauw yang tadi belum padam sekarang bangkit dan bernyala kembali.
"Ibu ingat tentang dua orang asing yang memasuki pulau ini? Nah, yang seorang kudapati berada di
taman, dia seorang laki-laki jembel buta, akan tetapi celakanya... ia berpacaran dengan enci Hui Kauw!"
"Hui Siang! Jangan sembarangan bicara! Bohong kau!" ibunya membentak marah.
Biar pun di dalam hatinya ia tidak suka kepada anak pungutnya itu, akan tetapi ia cukup mengenal tabiat
Hui Kauw dan ia rasa tak mungkin Hui Kauw berpacaran dengan seorang jembel buta.
Hui Siang cemberut dan mendengus, agaknya ngambek karena dikata-katai kasar oleh ibunya yang
biasanya memanjakan. "Ibu, apakah anakmu ini biasa membohong? Biar aku mampus kalau aku bohong.
Enci Hui Kauw memberikan sapu tangan suteranya kepada si jembel buta itu, dan kulihat dengan kedua
mataku sendiri si jembel menciumi sapu tangan itu. Aku marah dan menyerangnya, ehhh... kiranya dia
pandai dan dapat menghindarkan seranganku. Kemudian muncul enci Hui Kauw, dan enci Hui Kauw malah
membela jembel buta itu. Coba, apakah ini bukan merupakan bukti-bukti yang cukup jelas...?"
"Waahhh, mata keranjang! Tidak punya mata tetapi bisa mata keranjang, apa yang lebih aneh dari pada
ini? Dasar laki-laki!" Yang berkata demikian adalah Loan Ki yang segera melompat keluar hendak mencari
Kun Hong.
dunia-kangouw.blogspot.com
Hatinya mendongkol sekali mendengar penuturan nona cantik tadi dan ia sendiri pun tidak mengerti
mengapa ia merasa iri, gemas, dan marah sekali mendengar betapa Kun Hong berpacaran dengan
seorang gadis di dalam taman. Menciumi sapu tangan sutera?
Terbayanglah di depan mata Loan Ki semua pengalamannya dengan Kun Hong di dalam sumur, teringat
betapa dalam keadaan bahaya maut dan setengah pingsan ia dipeluk oleh pemuda buta itu, dihibur, dieluselus
rambutnya, diciumi rambutnya...
"Dasar tukang cium...!" Terloncat kata-kata ini keluar langsung dari hatinya yang mengkal.
Tiba-tiba ada angin berkesiur di sebelahnya, tahu-tahu di depannya sudah menghadang tubuh laki-laki
tinggi besar. Kiranya Souw Bu Lai Pangeran Mongol itu yang memandang dirinya sambil tersenyum
menyeringai memperlihatkan deretan gigi yang putih dan besar.
"Nona, kau tak boleh pergi. Kau harus bersama kami untuk membicarakan hal yang amat penting," katanya
sambil mendekat.
Loan Ki yang sedang jengkel terhadap Kun Hong itu sudah hendak menyerangnya. Akan tetapi ketika ia
melirik, ia melihat betapa semua orang tadi kini sudah keluar dan berada di belakangnya.
"Aku tidak sudi!" katanya setengah membentak. "Biarkan aku jalan sendiri!"
"Tidak bisa, Nona. Kami sudah mengambil keputusan untuk menahanmu karena kau yang akan
menghubungkan kami dengan ayahmu," kata pula Souw Bu Lai.
Sebelum Loan Ki menjawab, tiba-tiba dia mendengar sambaran angin dari belakangnya. Cepat ia
miringkan tubuh membalik, kiranya tongkat Ka Chong Hoatsu yang menyambar dan menyerangnya. Ia
kaget sekali, menggerakkan kaki meloncat, akan tetapi tiba-tiba saja kedua lengannya sudah ditangkap
orang dan ditelikung ke belakang lalu dibelenggu!
Gerakan Souw Bu Lai dan Ka Chong Hoatsu yang melakukan penangkapan ini cepat dan hebat luar biasa,
membuat seorang gadis berkepandaian hebat seperti Loan Ki sekali pun sama sekali tidak berdaya, seperti
anak kecil di tangan seorang dewasa.
"Monyet-monyet tua muda, kalian ini mau apa membelenggu dan menangkap aku? Kalian curang,
pengecut, tak tahu malu! Kalau berani, hayo bertempur sampai seribu jurus!" dia memaki-maki.
"Cih, budak hina macam ini kenapa tidak dilempar ke dalam sumur untuk makan ular-ular kita, Ibu?" Hui
Siang berkata sambil memandang Loan Ki dengan mata mendelik.
Bergidik juga Loan Ki mendengar ini. Ia memang tidak takut mati, akan tetapi kalau harus dijadikan umpan
atau kurban di dalam sumur dikeroyok oleh ratusan ular, dia benar-benar merasa ngeri. Kali ini ia tidak
berani banyak bicara lagi, takut kalau-kalau ia benar-benar dilempar ke dalam sumur penuh ular yang amat
menjijikkan!
"Ha-ha-ha-ha, dia puteri Sin-kiam-eng, mana boleh dibunuh?" Ka Chong Hoatsu berkata. "Pinceng sangat
curiga terhadap sahabat yang buta itu, karena itu sementara ini pinceng membelenggunya agar nanti dia
tidak menimbulkan kerewelan. Ching-toanio, mari kita ke taman menemui orang buta itu."
Beramai mereka lari ke taman bunga, mengambil jalan rahasia yang berliku-liku. Loan Ki tadinya
membandel tidak mau turut, akan tetapi ketika ujung tali pengikat dua tangannya diseret oleh Souw Bu Lai,
terpaksa ia ikut lari juga sambil mengomel dan menyumpah-nyumpah Pangeran Mongol itu yang hanya
tertawa saja. Diam-diam gadis ini mengagumi jalan rahasia di pulau ini, akan tetapi karena hatinya lagi
jengkel sekali, ia hanya ikut lari tanpa memperhatikan kanan kiri.
Kejengkelan bertumpuk di hati Loan Ki. Pertama karena mendengar berita bahwa Kun Hong berpacaran
dan menciumi sapu tangan seorang gadis bernama Hui Kauw. Ke dua kalinya karena dia merasa kecil tak
berdaya menghadapi orang-orang di dalam pulau ini, dan ke tiga kalinya sekarang dia menjadi seorang
tawanan, dibelenggu layaknya seekor domba!
Awas kalian semua, demikian ia menyumpah-nyumpah, sekali ayahku kuberi tahu tentang penghinaan ini,
pulau ini akan diobrak-abrik, dihancurkan, dan dibasmi oleh ayah! Kalian semua berikut ular-ular laknat
dunia-kangouw.blogspot.com
akan dibasmi habis, pulau ini dibumi hanguskan, tidak ada seorang pun manusia atau seekor pun makhluk
yang dibiarkan hidup! Akan tetapi, di balik ancamannya ini, dia sendiri ragu-ragu apakah ayahnya akan
sanggup menang melawan musuh-musuh yang begini tangguh, terutama sekali hwesio tua itu.
Akhirnya mereka tiba di taman bunga itu dan begitu melihat Kun Hong berdiri berhadapan dengan seorang
gadis bermuka hitam, Loan Ki tidak dapat menahan mulutnya lagi yang lantas berteriak-teriak! Seperti telah
dituturkan di bagian depan, Loan Ki berseru menegur Kun Hong,
"Haaiii, Hong-ko! Benarkah kata orang bahwa kau berpacaran dengan nona muka hitam ini? Kau benarbenar
mata keranjang, akan tetapi kali ini kau salah pilih, Hong-ko!"
Tentu saja Kun Hong menjadi girang dan lega bukan main hatinya mendengar suara Loan Ki ini. Ia tidak
pedulikan ocehan dara nakal itu tentang mata keranjang, melainkan segera melangkah maju dan berkata
dengan wajah berseri-seri,
"Ki-moi! Kau selamat? Syukurlah!"
"Hong-ko, kau benar-benar tak punya liangsim (pribudi)! Aku terjerumus ke dalam jurang, hampir mampus,
menerima hinaan orang, akan tetapi kau... kau malah berpacaran dan enak-enak senang-senang di sini.
Wah, sahabat macam apa kau ini?"
Muka Kun Hong merah sekali sampai ke telinganya. "Ki-moi, jangan kau percaya akan fitnah orang. Tidak
ada yang berpacaran di sini! Dan kau, siapakah orangnya yang berani menghinamu?"
Sebelum Loan Ki dan Kun Hong dapat melanjutkan percakapan mereka, terdengar suara bentakan marah
dari Ching-toanio yang mengagetkan mereka hingga memaksa mereka mengalihkan perhatian. Chingtoanio
ternyata telah memaki-maki Hui Kauw dengan suara penuh kemarahan.
"Bocah keparat! Semenjak kecil aku bersusah-payah memeliharamu, beginikah sekarang balasanmu
terhadapku? Berjinah dengan seorang jembel buta, mengotorkan taman dan mencemarkan nama baik
keluargaku? Keparat, perempuan hina!"
"Plak-plak-plak!"
Terdengar oleh Kun Hong suara tiga kali, diikuti keluhan perlahan. Meski pun tidak dapat melihat, dia dapat
menduga bahwa muka dara bersuara bidadari itu sudah ditampar tiga kali oleh si ibu yang galak.
"Ibu... maafkan. Aku tidak akan melupakan budi kebaikanmu dan... dan aku sama sekali tidak melakukan
perbuatan yang tidak sopan. Hanya kebetulan saja saudara yang buta ini telah memasuki taman dan
menemukan sapu tanganku yang tertinggal di sini. Harap ibu jangan mempercayai segala fitnah keji..."
"Setan, kau malah balik menuduh Hui Siang membohong? Perempuan tak bermalu kau! Adik sendiri
bertempur dengan si buta ini, kenapa kau malah membela si buta memusuhi adikmu? Hui Kauw, aku tidak
terima! Hari ini kau akan membayar lunas hutang-hutangmu kepadaku, hutang budi yang hanya dapat kau
bayar dengan nyawamu!"
"Srrrrrttt! Singgggg!"
Bunyi pedang berdesing memecah angin, menyambar ganas dan menimbulkan cahaya berkilauan. Tak
seorang pun di antara para tamu berani mencampuri urusan antara ibu dan anak.
Loan Ki membelalakkan matanya yang lebar, ngeri betapa pedang di tangan nyonya yang galak dan lihai
itu meluncur bagaikan kilat menyambar ke arah leher si nona muka hitam yang hanya menundukkan muka,
sedikit pun tak bergerak seakan-akan sudah rela untuk menerima hukuman itu dan menanti datangnya
pedang yang akan memenggal lehernya serta maut yang akan merenggut nyawanya.
Pada detik berbahaya bagi keselamatan nyawa Hui Kauw itu, tiba-tiba sinar kemerahan berkelebat.
"Criinggggg!"
Pedang di tangan Ching-toanio tahu-tahu sudah buntung, ujung pedang melayang ke atas entah ke mana
sedangkan sisanya masih terpegang oleh Ching-toanio, menggetar dan mengeluarkan bunyi!
dunia-kangouw.blogspot.com
Ching-toanio berdiri laksana patung, terbelalak kaget, juga orang-orang yang berada di situ, kecuali Loan
Ki yang memandang marah, mengeluarkan seruan heran dan terkejut.
"Wah, kau betul-betul membelanya, Hong-ko! Celaka, kau telah tergila-gila oleh seorang gadis muka
hitam!" Loan Ki berteriak-teriak penuh kegemasan.
Akan tetapi Kun Hong yang sudah mendekati Hui Kauw, tidak mempedulikan teriakan Loan Ki ini,
melainkan dia berkata halus kepada gadis yang masih berdiri menundukkan mukanya itu. "Nona, kenapa
kau diam saja membiarkan orang sewenang-wenang hendak membunuhmu?"
Ucapan Kun Hong selain mengandung perasaan kasihan, sekaligus merupakan teguran. Memang jantung
Kun Hong masih berdebar kalau teringat betapa gadis bersuara bidadari ini hampir saja tewas. Ngeri dia
memikirkan ini. Baiknya tadi dia bertindak cepat.
"Saudara Kwa, dia... dia ibuku..." jawab nona itu dengan suara lemah mengandung isak tertahan.
Kagum hati Kun Hong. Nona ini sekuat tenaga menahan tangisnya. Nona berbudi mulia, berhati baja. Tapi
dia penasaran, mengapa ibunya seperti itu?
"Dia bukan ibumu!" Suaranya ketus dan tiba-tiba karena meluapnya perasaan hatinya.
"Heeee? Saudara Kwa... bagaimana kau bisa tahu akan hal ini...?"
"Dia tidak mungkin ibumu! Seekor harimau atau binatang yang paling liar sekali pun tak akan mungkin
membunuh anaknya, apa lagi seorang ibu. Akan tetapi ia tadi benar-benar hampir membunuhmu. Ia bukan
ibumu!" suara Kun Hong lantang.
Sementara itu, cara Kun Hong menangkis dan sekaligus mematahkan pedang di tangan Ching-toanio
dengan tongkatnya, benar-benar membuat semua orang melongo. Bahkan Ka Chong Hoatsu sendiri
terheran-heran.
Kakek ini maklum sampai di mana kelihaian ilmu pedang Ching-toanio yang sudah jarang dapat ditandingi
oleh kebanyakan ahli silat ternama. Akan tetapi orang muda itu yang buta matanya lagi, dengan sekali
tangkis dapat mematahkan pedang Ching-toanio, sungguh hal ini membuat hwesio tua ini benar-benar
tidak mengerti.
Padahal yang dipakai untuk menangkis tadi hanyalah sebatang tongkat, dan gerakannya ketika menangkis
tadi pun hanya cepat saja, tidak ada yang terlalu luar biasa. Akan tetapi kekagetan mereka hanya sebentar.
Ching-toanio sudah dapat menguasai kekagetannya dan mukanya berubah merah saking malu dan
marahnya. Dibuntungkannya pedang di tangannya dengan sekali tangkis oleh orang muda buta itu, benarbenar
merupakan penghinaan yang tiada taranya bagi nyonya jagoan ini. Masa ia kalah oleh seorang
muda yang buta? Benar-benar tak masuk di akal.
Ia tidak tahu bagaimana caranya pedangnya sampai patah tadi. Akan tetapi ia tidak peduli dan mengira hal
itu hanya kebetulan saja, atau mungkin sekali memang pedangnya yang sudah bercacat di luar
pengetahuannya.
Dengan mata mendelik ia membentak dan melangkah maju, "Jembel buta, kau siapakah berani
mencampuri urusanku?"
Kun Hong menarik napas panjang. Dia maklum bahwa wanita ini adalah seorang tokoh besar yang
berkepandaian tinggi, bahkan kalau dia tidak keliru, menurut pendengarannya, orang-orang yang ikut
datang bersama nyonya ini juga orang-orang yang berkepandaian tinggi. Dengan hormat dia menjura ke
depan, lalu berkata halus,
"Harap Toanio dan Cu-wi sekalian sudi memaafkan. Aku sama sekali tidak berani turut mencampuri urusan
orang lain, hanya saja, sebagai seorang manusia biasa, mana bisa aku membiarkan seorang ibu
membunuh anaknya sendiri? Toanio harap insyaf sebelum bertindak gegabah. Sesungguhnya nona Hui
Kauw ini sama sekali tak pernah melakukan perbuatan seperti yang difitnahkan tadi."
dunia-kangouw.blogspot.com
"Ching-moi (adik Ching), kenapa banyak memberi hati kepada seorang buta macam ini? Biarlah kuwakili
kau membereskannya!" bentak Bouw Si Ma yang juga ikut marah sekali karena wanita bekas kekasih sutenya
ini tadi mengalami penghinaan.
Dia adalah seorang Mancu yang berangasan. Dia pun seorang yang memiliki kepandaian tinggi, malah
lebih tinggi dari pada Ching-toanio, dan dia murid dari Pak-thian Lo-cu, tentu saja dia memandang rendah
kepada Kun Hong seorang muda buta.
"Bocah buta, kau benar-benar tak tahu diri, sudah lancang memasuki tempat tinggal orang masih berani
bertingkah dan menjual lagak. Hayo kau mengaku siapa kau dan siapa pula ayah atau gurumu sebelum
aku Bouw Si Ma Si Tangan Maut mengambil nyawamu!"
Kun Hong cepat menjura. Gerakan orang ini mengandung tenaga berat dan dia maklum bahwa orang ini
tentu lebih lihai dari pada Ching-toanio, maka dia berhati-hati.
"Bouw-enghiong harap suka bersabar. Siauwte (aku yang muda) bernama Kwa Kun Hong, tentang orang
tua dan guru tak usah dibawa-bawa dalam urusan ini. Aku mengakui bahwa aku telah lancang memasuki
Ching-coa-to, akan tetapi aku menyangkal kalau dianggap bertingkah atau menjual lagak. Sesungguhnya,
aku tidak mempunyai niat yang tidak baik dan apa bila kalian sudi memaafkan, biarlah sekarang juga aku
pergi dan tidak akan lagi mencampuri urusan orang lain."
Ucapan ini amat merendah, dan oleh Bouw Si Ma dianggap bahwa orang buta itu menjadi jeri dan
ketakutan mendengar namanya dengan julukan Si Tangan Maut. Dia lalu tertawa menyeringai dan
membentak lagi, "Kau memperlihatkan kepandaian tadi, apa kau kira di sini tidak ada orang yang mampu
memberi hajaran kepadamu? Nah, kau rasakan pukulan Si Tangan Maut merenggut nyawamu!"
Serta merta Bouw Si Ma menerjang. Pukulannya lambat dan perlahan saja, akan tetapi angin pukulan
menderu menyerang ke arah dada Kun Hong.
Orang muda ini sudah siap, maklum akan kehebatan pukulan itu. Hal ini tidak membuat dia jeri atau
bingung. Yang membuat dia bingung adalah bahwa dia kini sudah terlibat dalam urusan besar,
mendatangkan permusuhan pada orang-orang lihai penghuni Pulau Ching-coa-to. Inilah yang
membingungkannya, karena sesungguhnya tiada niat di hatinya meski sedikit juga untuk bermusuhan
dengan siapa pun juga. Sekarang karena menuruti Loan Ki, memasuki pulau ini dia bertemu dengan Hui
Kauw yang menarik hatinya dan karena dia ingin melindungi nona bidadari itu, dia terseret dalam
pertempuran.
Dengan hati sedih ia menggunakan langkah-langkah rahasia dari Kim-tiauw-kun sehingga lima kali pukulan
bertubi dari Bouw Si Ma hanya mengenai angin belaka. Bouw Si Ma berhenti sebentar sambil melongo.
Pukulan-pukulannya tadi bertingkat, makin lama makin berat dan hebat. Akan tetapi, orang yang
diserangnya itu bergerak aneh dan dia merasa seakan-akan menyerang bayangan sendiri saja, sudah
tentu tidak berhasil.
"Bouw-loenghiong, aku tidak ingin berkelahi..."
Terpaksa Kun Hong mengelak lagi karena belum juga dia habis bicara, lawannya sudah mengirim
penyerangan lagi sebanyak tujuh jurus menggunakan pukulan-pukulan tangan serta tendangan-tendangan
kaki yang lebih gencar dan berat lagi. Setiap pukulan atau tendangan ini mengandung tenaga lweekang
tersembunyi dan cukup kuat untuk mengirim nyawa lawannya ke akhirat.
Kun Hong mengerutkan keningnya. Kejam sekali orang ini. Untuk urusan kecil saja sudah menurunkan
tangan maut, menghendaki nyawa orang. Untuk memberi peringatan, pada jurus ke tujuh selagi kepalan
tangan Bouw Si Ma berkelebat ke dekat lehernya, Kun Hong menyentil dengan telunjuk kanannya ke arah
belakang atau punggung kepalan kiri orang Mancu itu.
"Aduh... keparat...!"
Orang-orang yang berada di situ, kecuali Ka Chong Hoatsu, terheran-heran karena tidak ada yang dapat
melihat perbuatan Kun Hong ini. Mereka hanya melihat pemuda buta itu terhuyung ke sana ke mari dengan
kedua tangannya bergerak-gerak seperti mengimbangi badan agar tidak jatuh. Kenapa Bouw Si Ma yang
penuh semangat menyerang membabi buta itu malah mengaduh-aduh sendiri dan tubuhnya mendadak
menggigil seperti orang terserang demam malaria?
dunia-kangouw.blogspot.com
Akan tetapi karena Bouw Si Ma memang seorang ahli silat tingkat tinggi, hanya sebentar saja dia
menggigil. Segera dia bisa menguasai dirinya kembali dengan jalan menyalurkan lweekang untuk melawan
getaran hebat akibat sentilan si buta yang tepat menyinggung jalan darahnya itu.
"Bocah buta she Kwa, kau sudah bosan hidup!" teriaknya sambil mencabut pedangnya yang berwarna
hitam, terus saja menyerang hebat.
Kun Hong kaget sekali. Desing pedang ketika dicabut dan desir angin serangan senjata itu membuat dia
maklum bahwa ternyata dalam hal ilmu pedang, orang Mancu ini jauh lebih lihai dari pada ilmu silat tangan
kosongnya. Pedang yang digunakannya pun sebatang pedang yang ampuh, sedangkan tenaga lweekang
yang terkandung di dalam gerakan pedang amat kuat dan matang.
Kiranya orang Mancu ini seorang ahli pedang, pikirnya. Dia tidak berani gegabah, tidak mau memandang
rendah dan sambil memiringkan tubuh dan menekuk lutut ke belakang, cepat tongkatnya dia gerakkan
untuk menghalau serangan lawan. Benar saja dugaannya, ketika tongkatnya terbentur dengan pedang
lawan, pedang itu tergetar dan dari getaran ini langsung menyeleweng menjadi serangan lanjutan yang
lebih ganas!
Kun Hong berlaku hati-hati sekali. Gerakan lawan ini selain cepat dan bertenaga, juga sangat aneh, belum
dikenalnya karena merupakan ilmu pedang dari utara yang beraneka ragam. Dengan Kim-tiauw-kiam-hoat,
yaitu Ilmu Pedang Rajawali Emas yang gerakannya amat gesit dan kelihatan aneh pula, dia selalu berhasil
menghindarkan diri menggunakan langkah-langkah rahasia sambil menggerakkan tongkat untuk
membentur pedang lawan.
Orang-orang di situ menjadi makin terheran-heran. Pemuda buta ini terhuyung ke sana ke mari seperti
orang mabuk, cara dia menghadapi serangan-serangan Bouw Si Ma amat aneh dan kacau, tidak seperti
ilmu silat, akan tetapi mengapa semua serangan Bouw Si Ma selalu mengenai tempat kosong belaka?
Lebih heran lagi adalah Ka Chong Hoatsu, karena hwesio tua ini melongo menyaksikan Kim-tiauw-kun, lalu
terdengar dia berbisik, "Apa setan tua Bu Beng Cu sudah menurunkan ilmunya kepada bocah buta ini?"
Pikirannya melayang-layang ke masa lampau. Ketika masih muda dia pernah bertempur melawan kakek
Bu Beng Cu sampai ribuan jurus, namun akhirnya dia harus menerima kekalahan dengan tulang pundak
patah saat Bu Beng Cu menggunakan ilmu silat seperti gerakan burung yang amat aneh.
Semenjak itu dia tak pernah bertemu pula dengan kakek Bu Beng Cu, bahkan selama berpuluh tahun
merantau, belum pernah dia melihat ilmu silat aneh itu dimainkan orang. Kenapa sekarang tiba-tiba bocah
buta ini bisa mainkan ilmu membela diri yang tampaknya sama benar dengan gerakan-gerakan Bu Beng
Cu dahulu?
Sementara itu, ketika melihat betapa Bouw Si Ma masih belum juga mampu menjatuhkan si buta, Souw Bu
Lai si Pangeran Mongol mengeluarkan gerengan keras dan menerjang maju sambil membentak, "Setan
buta, kau benar-benar hendak menjual lagak di sini!"
Sekaligus Pengeran Mongol ini menggerakkan senjatanya yang paling dia andalkan, yaitu sehelai sabuk
baja yang digandeng-gandeng serta saling mengait dan setiap mata kaitan mengandung duri-duri
meruncing. Inilah senjata semacam joan-pian baja yang berbahaya sekali karena lawan yang terkena
ujungnya saja tentu akan terluka hebat!
Sambaran senjata mengerikan itu lewat di atas kepala Kun Hong ketika pemuda buta itu mengelak sambil
merendahkan tubuh. Dari suara desir anginnya Kun Hong tahu bahwa penyerangnya yang baru ini memiliki
tenaga gajah sehingga sekali lagi hatinya mengeluh. Dia kini harus menghadapi pengeroyokan dua orang
lawan tangguh, dan siapa tahu kalau pertempuran ini tidak akan menjadi makin hebat jika yang lain-lain
maju pula.
"Aku tidak ingin berkelahi... ahhh, kenapa kalian berdua mendesakku?"
"Sublai, gunakan Liok-coa-kun!" tiba-tiba Ka Chong Hoatsu berkata kepada muridnya.
Souw Bu Lai menyanggupi dan segera ruyung lemas di tangannya bergerak cepat sekali, menyambarnyambar
seperti enam ekor ular yang mengeroyok seekor katak.
dunia-kangouw.blogspot.com
Liok-coa-Kun atau Ilmu Silat Enam Ekor Ular adalah ciptaan Ka Chong Hoatsu sendiri yang berdasarkan
penyerangan dan mempertahankan dari enam penjuru, yaitu dari kanan kiri muka belakang dan atas
bawah. Gerakan-gerakannya meniru gaya gerakan ular yang sukar sekali diduga oleh lawan, maka dapat
dibayangkan betapa hebatnya ilmu silat ini.
Ka Chong Hoatsu yang merasa curiga menyaksikan gerakan permainan silat Kun Hong sengaja menyuruh
muridnya menggunakan ilmu simpanan itu sebab dia hendak memaksa Kun Hong mengeluarkan
kepandaiannya sehingga dia dapat mengenal betul dari aliran manakah bocah buta yang amat lihai dan
masih muda sudah memiliki ilmu kesaktian ini.
Tingkat kepandaian Pangeran Souw Bu Lai sebetulnya tidak lebih tinggi dari pada tingkat kepandaian
Bouw Si Ma. Malah boleh dibilang orang Mancu murid Pak-thian Lo-cu ini lebih matang dan lebih banyak
pengalamannya karena memang lebih tua. Akan tetapi karena senjata yang dipergunakan oleh pangeran
itu lebih jahat dan amat ganas, maka bantuannya ini memiliki daya penyerangan yang tidak kalah hebatnya
sehingga Kun Hong terpaksa harus mengeluarkan kepandaiannya.
Kini lebih banyak lagi jurus-jurus Kim-tiauw-kun harus ia keluarkan untuk menyelamatkan dirinya, sebab
dua orang ini benar-benar mengarah nyawanya. Tongkatnya berkelebatan, kadang-kadang tampak cahaya
kemerahan dari pedang Ang-hong-kiam yang tersembunyi di dalam tongkat.
Sementara itu, Ching-toanio menjadi makin marah melihat betapa dua orang tamu yang amat diandalkan
itu tetap juga belum dapat merobohkan si buta yang telah mendatangkan kekacauan di pulau. Ia menoleh
ke arah Hui Kauw dan makin panas hatinya melihat anak pungutnya ini memandang penuh kagum dan
kekhawatiran pada Kun Hong yang sedang dikeroyok. Malah ia mendengar suara gadis itu perlahan.
"Curang... curang... matanya sudah buta masih dikeroyok..."
Ching-toanio meloncat ke depan Hui Kauw, matanya menyinarkan cahaya bengis. "Hui Kauw, betulbetulkah
kau tidak main gila dan berjinah dengan bocah buta itu?"
"Tidak, Ibu."
"Kalau begitu, hayo kau bantu Pangeran Souw dan pamanmu Bouw untuk merobohkan dan membikin
mampus setan buta itu!"
Hening sejenak, kecuali suara beradunya senjata-senjata mereka yang tengah bertempur. Lalu lirih
terdengar "tapi... dua orang yang begitu lihai masih tak mampu mengalahkan dia, apa lagi aku, Ibu?
Kepandaianku amat rendah, mana bisa menangkan dia..."
"Peduli amat dengan kepandaianmu! Aku hanya ingin melihat apakah kau ini benar-benar pacarnya atau
bukan. Apa bila kau berani mengeroyoknya dan kemudian membunuhnya dengan pedangmu, aku baru
mau percaya bahwa kau bukan pacar si buta itu!"
Dapat dibayangkan betapa hancur hati Hui Kauw mendengar ini. Sebetulnya, di luar tahu ibunya, ia telah
mempunyai ilmu silat yang amat tinggi yang ia pelajari secara rahasia. Ia dapat mengira-ngira bahwa apa
bila dibandingkan dengan ibunya sendiri, bahkan dengan Pangeran Sublai atau malah dengan Bouw Si Ma
kiranya ia tak akan kalah!
Dan melihat ilmu silat aneh dari Kun Hong, biar pun amat lihai akan tetapi kalau ia maju lagi mengeroyok,
orang buta itu takkan mampu menahan lagi. Akan tetapi, orang buta itu tak mempunyai dosa. Malah ialah
orangnya yang berdosa, karena si buta ini menghadapi bahaya maut karena dia!
"Tidak, Ibu," jawabnya dengan suara tetap, "Dia tidak bersalah apa-apa, aku tidak mau mengeroyoknya.
Malah kuharap Ibu suka membebaskan saja dia dan gadis temannya itu agar keluar dari pulau dengan
aman. Mereka berdua itu tidak mempunyai kesalahan apa pun."
"Anak setan kau! Kau malah memihak musuh?"
"Mereka bukan musuh..."
"Kalau begitu kau ingin mampus!"
dunia-kangouw.blogspot.com
"Terlalu besar budi yang dilimpahkan Ibu sejak aku kecil, kalau Ibu kehendaki, nyawaku boleh untuk
membalas budi itu..."
"Keparat...!"
Terdengar oleh Kun Hong yang sejak tadi mendengarkan suara bidadari itu, suara yang sangat
mengejutkan hatinya. Suara pukulan-pukulan yang dilakukan bertubi-tubi kepada tubuh Hui Kauw yang
agaknya tidak mau membalas atau mengelak, hanya mengeluh lirih menahan nyeri.
Meluap amarah di hati Kun Hong dan gerakan tongkatnya serentak berubah. Segulung sinar merah
berkelebat disusul teriakan kaget Pangeran Souw Bu Lai dan Bouw Si Ma yang terhuyung mundur sambil
memegangi lengan kanan yang luka-luka berdarah. Saat itu dipergunakan oleh Kun Hong untuk mencelat
ke arah Hui Kauw, kakinya menendang dan... tubuh Ching-toanio terlempar sampai lima meter jauhnya!
Kun Hong meraba-raba dengan tangannya, membungkuk kemudian memondong tubuh Hui Kauw yang
sudah lemas dan pingsan. Terkejut sekali hati Kun Hong ketika rabaan tangannya mendapat kenyataan
betapa nona itu terluka hebat sekali, tubuhnya terserang pukulan beracun dengan beberapa tulang
rusuknya patah! Saking marahnya Kun Hong merasa betapa mukanya menjadi panas sekali.
"Ching-toanio...!" Dia berteriak dengan suara agak gemetar. "Alangkah kejamnya hatimu! Kau mengaku
bahwa nona ini adalah puterimu, akan tetapi perbuatanmu terhadap dia sama sekali bukan sikap seorang
ibu sejati. Perbuatanmu biadab dan tak patut dilakukan oleh seorang wanita kepada anaknya. Sebab itu,
jelaslah bahwa nona ini bukan anakmu! Seekor harimau betina yang bagaimana liar dan ganas sekali pun
takkan makan anaknya sendiri, betapa seorang manusia bisa membunuh anaknya?"
"Jembel buta setan alas!" Ching-toanio memekik dan memaki-maki.
Malunya bukan main bahwa ia seorang tokoh dunia kangouw, majikan dari Ching-coa-to yang tersohor, kini
hanya dengan sekali tendang saja telah dibikin terlempar oleh seorang pengemis muda dan buta lagi!
"Keparat tak bermalu, urusan antara ibu dan anak, kau orang luar berani mencampuri?"
Kun Hong tersenyum pahit, lalu terdengar suaranya dingin, "Alasan seorang iblis di dalam tubuh seorang
ibu. Meski pun mataku buta, hatiku tidak sebuta hatimu. Aku masih dapat membedakan siapa yang berhak
ditolong dan siapa pula yang wajib diberantas! Nona ini terang tak berdosa, kalian menjatuhkan fitnah
hanya untuk dalih agar dapat menyiksanya, dapat membunuhnya! Tapi, selama Kwa Kun Hong masih
hidup dan berada di sini, jangan harap kau akan dapat mengganggu selembar rambutnya!"
Dengan tangan kirinya mengempit tubuh Hui Kauw yang pingsan, Kun Hong berdiri sambil melintangkan
tongkatnya, bersiap menanti serbuan orang-orang itu. Dia bertekad untuk melindungi nona itu.
"Hong-ko, mengapa engkau mencampuri urusan orang lain?" Mendadak suara Loan Ki mencelanya dan
gadis ini sudah meloncat ke depannya. "Hong-ko, kau sudah membikin ribut dan kacau di sini, membikin
urusan menjadi makin besar saja. Kau lepaskan si muka hitam itu dan mari kita ke luar dari pulau ini."
"Ki-moi, mana bisa aku membiarkan saja orang membunuh dia yang sama sekali tidak bersalah atas dasar
fitnah yang begitu keji?"
"Hong-ko, kau sudah mati-matian membelanya... apakah... apakah kau sudah jatuh cinta kepadanya...?"
"Hushh, jangan bicara yang bukan-bukan, aku... aku..." Tiba-tiba tubuh Kun Hong menjadi lemas dan dia
roboh.
Kiranya Loan Ki yang tadi memegang-megang tangannya itu secara mendadak menotok jalan darah di
punggungnya yang membuat Kun Hong menjadi lemas kehilangan tenaga. Dia masih berusaha
memulihkan kekuatan, akan tetapi yang mampu dia lakukan hanya mencengkeram tongkatnya saja, malah
tubuh Hui Kauw dalam kempitannya juga terlepas dan jatuh bergulingan, saling tindih dengan tubuhnya
sendiri.
Bagaimana Loan Ki yang tadinya dibelenggu bisa mendekati Kun Hong dan melakukan pengkhianatan ini?
Gadis ini tadinya memang dibelenggu, akan tetapi ia dilepaskan oleh Souw Bu Lai ketika pangeran ini maju
dunia-kangouw.blogspot.com
menyerang Kun Hong. Karena ujung tali itu tidak dipegangi orang, dengan mudah Loan Ki dapat sedikit
demi sedikit meloloskan kedua tangannya sehingga ia menjadi bebas.
Tidak ada orang yang memperhatikannya, apa lagi dia merupakan tawanan yang tidak penting karena tadi
orang mengikatnya hanya untuk menjaga kalau-kalau sahabatnya yang buta itu benar-benar amat lihai dan
mengamuk, maka ia dibelenggu untuk dijadikan jaminan. Siapa kira si buta itu benar-benar mengamuk,
tetapi bukan karena tertawannya Loan Ki, melainkan karena soal lain, yaitu soal nona Hui Kauw.
Ada pun Loan Ki sendiri sejak tadi hatinya telah panas dan iri menyaksikan betapa Kun Hong membela Hui
Kauw secara mati-matian. Gadis ini masih terlalu muda untuk dapat menafsirkan tentang cinta kasih. Ia
tidak ingat bahwa untuk dirinya sendiri pun Kun Hong membela mati-matian.
Sekarang, melihat Kun Hong membela seorang gadis lain, ia pun menjadi iri hati, bukan cemburu karena
pada saat itu ia tidak tahu apakah ia mencinta si buta ini ataukah tidak. Pendeknya, hatinya tidak senang
melihat Kun Hong membela Hui Kauw, apa lagi melihat betapa si buta itu memondong tubuh nona yang
sudah pingsan itu.
Oleh karena itu ia lalu mendekati, menegur dan menotok roboh Kun Hong dengan maksud menghentikan
usaha Kun Hong membela Hui Kauw. Tentu saja Kun Hong terkejut bukan main. Sama sekali dia tidak
pernah mengira bahwa Loan Ki akan berbuat seperti itu dan inilah sebabnya pula dia mudah dirobohkan.
Dia sama sekali tidak pernah menduga dan karena itu tidak berjaga diri terhadap Loan Ki. Kini setelah
roboh dan tidak berhasil memulihkan tenaga, dia terkejut dan terheran-heran, namun tidak khawatir karena
maklum bahwa tidak akan ada hal yang lebih hebat dari pada kematian, sedangkan kematian itu baginya
bukan apa-apa, seperti air sungai yang mengalir kembali ke laut di mana dia akan bersatu dengan Cui Bi!
Ternyata Ching-toanio yang ditendang sampai mencelat lima meter oleh Kun Hong tadi tidak terluka berat,
hanya mendapat luka ringan berupa benjol-benjol dan barut-barut saja. Hal ini adalah karena Kun Hong
memang sengaja tidak mengarah nyawa orang, hanya melakukan tendangan tanpa disertai tenaga dalam
yang dapat mengakibatkan luka hebat. Malah kedua orang pengeroyoknya tadi, Souw Bu Lai dan Bouw Si
Ma, hanya terluka di lengan kanannya dengan goresan-goresan yang tidak dalam, hanya mengeluarkan
darah akan tetapi ternyata merupakan luka kulit belaka.
Sekarang ketika melihat betapa Kun Hong sudah roboh, Ching-toanio masih tak mampu mempertahankan
kemarahannya. Ia segera mencabut pedang dan melompat maju untuk membacok putus leher pemuda
buta yang sudah banyak membikin malu kepadanya itu.
"Tranggg!"
Bunga api berpijar saking kerasnya bentrokan pedang ini.
"Ching-toanio, tak boleh kau membunuh Hong-ko!" teriak Loan Ki yang menangkis pedang Ching-toanio
dengan pedangnya sendiri. "Kau boleh membunuh mampus anakmu si muka hitam, tapi Hong-ko tidak
bersalah, kau tidak boleh membunuhnya."
Ching-toanio memandang dengan mata mendelik. "Dia berani mencemarkan nama baik Ching-coa-to,
tampan dan berkepandaian tinggi, tidak tahu malu merayu dan melakukan perbuatan jinah, masih kau
bilang dia tidak berdosa?"
"Ihh, kau keliru besar toanio. Hong-ko adalah seorang buta, mana dia bisa melihat tentang cantik tidaknya
wanita? Mana bisa dia mampu menarik hati wanita? Tentu anakmu yang tak tahu malu itu yang sengaja
menarik hati dan memikatnya dengan kata-kata halus. Hong-ko memang seorang muda yang tampan dan
berkepandaian tinggi, tidak heran anakmu itu jatuh cinta. Hong-ko sendiri karena buta mudah saja dipikat,
coba dia dapat melihat, apa dia sudi melayani seorang gadis yang mukanya seperti pantat kuali?"
"Keduanya harus mampus!" Ching-toanio kembali menggerakkan pedangnya.
Akan tetapi kembali Loan Ki menangkis, biar pun dua kali tangkisan itu sudah membuat telapak tangannya
lecet-lecet.
"Ching-toanio, apa kau sebagai golongan lebih tua tidak malu? Kau berani turun tangan karena Hong-ko
sudah kurobohkan. Hemm, andai kata aku tidak merobohkannya dengan totokan tanpa dia menduga, apa
dunia-kangouw.blogspot.com
kau kira kau akan mampu bersikap segalak ini terhadap dia? Hi-hi-hik, benar-benar orang di Ching-coa-to
tidak punya sopan santun persilatan!"
Bukan main tajamnya ucapan ini, melebihi tajamnya ujung seribu pedang. Ching-toanio menjadi pucat
mukanya dan menahan pedangnya, matanya mendelik dan muka yang pucat itu berubah merah. Ia adalah
seorang kang-ouw yang sudah memiliki nama besar, tentu saja sekarang mendengar ucapan ini, ia tidak
ada muka untuk nekat menyerang Kun Hong yang sudah tak berdaya itu.
Semua orang di situ tahu belaka bahwa robohnya Kun Hong si buta itu adalah karena serangan gelap yang
dilakukan Loan Ki, sama sekali bukan roboh oleh Ching-toanio atau yang lain. Kemarahannya meluap-luap
akan tetapi tertahan sehingga kini kemarahannya ini ditumpahkan kepada Hui Kauw seorang!
Hanya gadis inilah yang dapat menjadi bulan-bulanan kemarahannya tanpa ada seekor setan pun yang
berani menghalanginya. Tadi pun hanya si buta itu yang membelanya dan sekarang setelah si buta roboh,
siapa lagi akan membela anak angkat yang menimbulkan kemarahan dan kebencian ini?
"Anak keparat, kaulah gara-garanya!"
Ia menggerakkan pedangnya sambil melompat ke dekat Hui Kauw yang ternyata sudah sadar dari
pingsannya, akan tetapi karena tubuhnya terluka hebat oleh pukulan-pukulan ibu angkatnya tadi, dia masih
belum sanggup bangun. Kini melihat betapa Kun Hong tak berdaya, rebah dalam keadaan tertotok, hatinya
terkejut bukan main.
Timbul kekhawatirannya untuk keselamatan si buta ini, dan sekaligus timbul ingatannya untuk menolong
Kun Hong. Maka begitu melihat sambaran pedang di tangan ibunya ke arah leher, Hui Kauw
menggulingkan tubuhnya. Pedang itu meluncur menghantam tanah dan gadis itu dengan pengerahan
tenaga yang luar biasa telah dapat bangun dan duduk.
Pedang itu, yang dikendalikan tangan Ching-toanio yang marah mengejar dan menyerang lagi, namun kini
dalam keadaan duduk Hui Kauw lebih mudah mengelak. Semua orang terheran-heran, terutama sekali
Ching-toanio dan Hui Siang.
Bagaimana mendadak Hui Kauw yang sudah terluka hebat itu memiliki gerakan-gerakan aneh sehingga
dalam keadaan seperti itu bisa menghindarkan serangan pedang? Dengan penuh keheranan yang berubah
menjadi penasaran dan malu, Ching-toanio memperhebat serangannya, bertubi-tubi mengirim tusukan dan
bacokan ke arah tubuh anak angkatnya.
Akan tetapi, kemudian benar-benar terjadi keanehan bagi nyonya galak ini. Hanya dengan menggerakgerakkan
tubuhnya secara aneh, kadang rebah dan ada kalanya meloncat ke atas dan duduk kembali, Hui
Kauw dapat menyelamatkan diri dari semua serangan itu, sungguh pun makin lama gerakannya makin
lemah dan lambat karena memang luka-luka di tubuhnya sudah parah. Kalau saja tidak sedemikian parah
luka-luka di tubuhnya, tentu dengan kepandaiannya yang masih dirahasiakan itu ia dapat menyelamatkan
diri dengan mudah.
Sementara itu, Kun Hong yang tadinya terkejut dan heran, juga maklum bahwa dia telah dikhianati Loan Ki
dan tinggal menanti datangnya maut ketika dia roboh tertotok oleh Loan Ki tanpa dia dapat mencegahnya
karena sebelumnya dia tidak berjaga lebih dahulu dan tidak pernah menduga akan mendapat penyerangan
gelap dari gadis ini.
Tetapi dasar memang di tubuhnya sudah terisi hawa murni yang amat kuat, sedangkan tenaga dalamnya
adalah tenaga dalam yang dilatih menurut ilmu silat tinggi yang bersih, maka pengaruh totokan Loan Ki
yang bagi orang lain tentu akan dapat melumpuhkan sampai berjam-jam itu, ternyata bagi Kun Hong hanya
melumpuhkannya beberapa menit saja! Dengan mengerahkan tenaga berulang-ulang, akhirnya Kun Hong
dapat membobol kemacetan jalan darahnya dan tenaganya pulih kembali seperti sebelum tertotok.
Kun Hong tidak marah kepada Loan Ki, hanya heran karena dia masih belum mengerti mengapa gadis
lincah itu merobohkan dirinya. Makin besar keheranannya pada saat dia mendengar betapa secara matimatian
Loan Ki menolong dirinya dari serangan-serangan Ching-toanio, malah membelanya dengan
omongan-omongan pedas.
dunia-kangouw.blogspot.com
Tentu saja keheranan ke dua ini disertai kegirangan hati bahwa terbukti Loan Ki tidak memusuhinya, malah
melindunginya. Akan tetapi mengapa tadi menotoknya roboh? Dan bagaimana pula setelah menotok roboh
dengan serangan gelap, sekarang membela dan melindunginya mati-matian pula?
Benar-benar aneh sekali gadis lincah ini. Kun Hong merasa seperti menghadapi sebuah teka-teki yang
sangat kuat. Dia sengaja berpura-pura tak berdaya dan membiarkan saja Loan Ki bersitegang dengan
Ching-toanio, tetapi ketika mendengar betapa Ching-toanio menyerang Hui Kauw secara hebat dan
membabi buta, dia tidak dapat mengendalikan dirinya lagi. Tiba-tiba dia meloncat bangun, sekali mengenjot
tubuh dia telah menyambar ke arah Ching-toanio.
Ching-toanio mendengar seruan kaget dari semua orang yang tiba-tiba melihat gerakan Kun Hong yang
tadinya lumpuh itu. Pada saat ia melihat betapa si buta itu menerjang ke arahnya, ia menjadi marah sekali
dan pedangnya memapaki dengan sebuah tusukan kilat ke arah ulu hati. Dalam penyerangan ini, Chingtoanio
menggunakan semua tenaganya karena ia memang marah sekali dan ingin menebus kekalahan dan
semua penghinaan yang dia alami tadi.
Sinar pedang di tangan Ching-toanio berkelebat menusuk. Kun Hong miringkan tubuhnya dan... pedang itu
lantas ambles di bagian dada sampai menembus punggung si buta itu. Terdengar jeritan-jeritan keluar dari
mulut Hui Kauw dan Loan Ki sekaligus. Akan tetapi kedua orang nona ini yang merasa ngeri dan terkejut
sekali, tidak berusaha untuk maju menolong karena mereka kini, seperti yang lain-lain, berdiri bengong
penuh keheranan.
Biasanya kalau orang terkena tusukan pedang, apa lagi sampai menembus punggung, tentu akan
mengeluh, atau roboh, setidak-tidaknya darah tentu akan mengalir ke luar. Akan tetapi si buta ini lain lagi
reaksinya. Dia berdiri tegak dengan pedang lawan masih menancap di bagian pinggir dada, mulutnya
tersenyum, sikapnya tenang dan tidak ada setetes pun darah mengalir ke luar.
Ching-toanio mengerahkan tenaganya menarik ke luar pedangnya dan... tiba-tiba saja ia terhuyung ke
belakang dan mukanya menjadi pucat. Pedang itu tinggal gagangnya saja, selebihnya masih ‘menancap’ di
dada Kun Hong.
Ketika pemuda buta itu menggerakkan lengan kanan, terdengar suara…
"Krekk!" dan jatuhlah sebatang pedang tanpa gagang, sudah patah menjadi tiga potong!
Kiranya pemuda itu bukan tertusuk pedang, melainkan senjata itu ketika tadi menusuk ulu hatinya dia
miringkan tubuh dan secara cepat dan lihai sekali sampai dapat mengelabui mata banyak orang-orang
pandai, dia berhasil menjepit pedang itu di bawah ketiaknya!
Kun Hong tidak pedulikan lagi Ching-toanio yang masih bengong keheranan, dia malah menghampiri Hui
Kauw, membungkuk dan sekali bergerak gadis itu sudah dipondongnya lagi.
"Saudara Kwa... jangan... kau lepaskanlah aku...," Hui Kauw berkata lemah.
Hatinya tidak karuan rasanya dan dia merasa amat malu dipondong oleh seorang laki-laki muda, biar pun
buta, di depan banyak orang itu.
"Sshhh, diamlah, Nona. Kau tidak boleh banyak bergerak, kau tidak boleh mengeluarkan suara dan
tenaga... lukamu amat hebat... kurasa sedikitnya sebuah tulang rusukmu patah, jantungmu tergoncang,
hawa beracun telah memasuki darahmu, aku harus mengobatimu, jangan kau banyak bergerak, kau
menurutlah saja..."
Pada waktu itu ada angin menyambar dari arah depan dan suara yang hampir tak dapat ditangkap
pendengaran Kun Hong menunjukkan betapa orang yang meloncat dan turun di depan Kun Hong benarbenar
memiliki kepandaian yang amat tinggi tingkatnya. Kun Hong maklum akan hal ini, dia bersiap-siap
sambil memondong Hui Kauw, keningnya berkerut karena dia benar-benar merasa serba susah bagaimana
harus melindungi gadis ini dari ancaman sekian banyaknya orang pandai.
Pada saat itu terdengar suara Hui Kauw mengeluh panjang dan tubuh gadis itu menjadi lemas. Kiranya
gadis ini kembali jatuh pingsan setelah tadi mengeluarkan banyak tenaga dalam menghadapi ibu
angkatnya untuk mengelak dari bahaya maut.
dunia-kangouw.blogspot.com
Kun Hong merasa lega. Dengan pingsannya gadis ini, akan lebih leluasa baginya untuk bergerak.
Sekarang dia dapat mengempit tubuh itu tanpa sungkan-sungkan dan tak akan mendatangkan rasa malu
kepada gadis itu.
Dia cepat mengubah caranya memondong tubuh Hui Kauw, kini dia menggunakan lengan kirinya memeluk
pinggang gadis yang pingsan itu dan mengempitnya. Tangan kanannya yang memegang tongkat siap
menghadapi serbuan lawan.
Terdengar oleh Kun Hong suara yang tenang dan berat, suara yang mengandung tenaga dalam yang amat
hebat.
"Omitohud, pinceng sebetulnya harus malu menghadapi seorang pemuda yang tak dapat melihat lagi.
Orang muda, kau benar-benar hebat sekali. Kelihaianmu telah mengalahkan banyak orang pandai
membuat pinceng mengesampingkan rasa malu dan ingin pinceng mencoba kehebatan kepandaianmu
yang sangat aneh. Akan tetapi sebelumnya pinceng ingin sekali tahu, siapakah gurumu yang mewariskan
ilmu-ilmu aneh ini kepadamu?"
Kun Hong kaget dan maklum bahwa yang berada di depannya adalah seorang hwesio yang berilmu tinggi.
Cepat dia menjura dan menjawab, "Syukurlah bahwa di sini terdapat Losuhu yang saya percaya
mempunyai pertimbangan adil dan pemandangan yang luas. Losuhu, tentang riwayat saya bukanlah hal
penting, malah tidak berharga untuk didengar oleh orang lain. Losuhu, kedatangan saya ini sesungguhnya
sama sekali bukan ingin bermusuhan atau berkelahi, oleh karena itu harap Losuhu sudi melimpahkan
kemurahan hati dan dapat menghentikan perkelahian-perkelahian yang tidak saya kehendaki ini. Terhadap
seorang suci seperti Losuhu, mana berani saya yang muda dan bodoh berlaku kurang ajar?"
Pendeta itu tertawa bergelak. Kun Hong tentu saja tidak tahu betapa hwesio ini dengan kedipan matanya
memberi isyarat kepada orang-orang yang berada di sana. Kemudian bertanya, "Orang muda, meski pun
matamu buta tapi hatimu melek. Tentu saja pinceng tidak mau memaksa kalau kau tidak menghendaki
perkelahian. Akan tetapi kau datang di sini menimbulkan keributan, apa sih yang kau inginkan sekarang?"
"Maaf, Losuhu. Sama sekali saya tidak bermaksud mengadakan keributan. Semua yang dilontarkan
kepada saya dan nona Hui Kauw ini hanyalah fitnah belaka. Tidak ada yang saya kehendaki kecuali agar
orang tidak membunuh nona Hui Kauw, membiarkan saya mengobatinya sampai sembuh kemudian
memberi kebebasan kepada saya beserta nona Loan Ki untuk meninggalkan pulau ini dengan aman."
Kembali Ka Chong Hoatsu mengedipkan matanya kepada Ching-toanio dan yang lain-lain, kemudian dia
tertawa lagi. "Omitohud, kiranya sahabat muda yang lihai pandai pula ilmu pengobatan. Nona itu kulihat
menderita luka-luka amat berat akibat pukulan, sanggupkah kau menyembuhkannya?"
"Jika Thian menghendaki, tentu dapat. Saya yang buta sedikit banyak paham akan ilmu pengobatan."
"Hwesio tua, jangan kau memandang rendah kepadanya. Orang sakit apa pun juga asal belum mampus
tentu dapat dia sembuhkan. Dia adalah murid Toat-beng Yok-mo, masa tidak bisa mengobati?"
Ucapan Loan Ki ini membuat Kun Hong mengerutkan kening dan dia tidak tahu bahwa gadis nakal itu tentu
pernah mendengar dia menyebut nama Toat-beng Yok-mo, kalau tidak salah ketika dia mengobati orangorang
Hui-houw-pang di mana gadis itu diam-diam sudah lama bersembunyi dan mengintai.
Tidak hanya Kun Hong yang mengerutkan kening, bahkan semua orang di situ, terutama sekali Ka Chong
Hoatsu, menjadi heran dan kaget sekali. Tentu saja semua orang pernah mendengar nama Toat-beng Yokmo
(Setan Obat Pencabut Nyawa), siapa orangnya yang belum pernah mendengar nama tabib iblis yang
luar biasa pandai mengobati, akan tetapi selalu membunuh orang yang telah diobatinya sampai sembuh
itu? (baca Raja Pedang dan Rajawali Emas)
Seketika pandangan mereka terhadap Kun Hong berubah, karena boleh dibilang bahwa Toat-beng Yok-mo
adalah orang ‘segolongan’ dengan mereka.
"Omitohud! Betulkah kau adalah murid Yok-mo, orang muda?" Ka Chong Hoatsu akhirnya bertanya.
Kun Hong adalah seorang yang jujur dan tak suka membohong, maka dengan suara biasa dia menjawab,
"Diangkat murid sih tidak, akan tetapi mendiang Yok-mo pernah memberi ijin kepadaku untuk membaca
dunia-kangouw.blogspot.com
kitab-kitabnya tentang ilmu pengobatan, entah hal ini boleh dianggap saya sebagai muridnya ataukah tidak
terserah."
"Oho!" Ka Chong Hoatsu kembali memberi isyarat kepada yang lain, maju ke depan dan menyentuh
pundak Kun Hong. "Kiranya kau masih orang sendiri! Kwa-sicu, kalau begitu tidak ada urusan lagi di antara
kita dan soal pertempuran tadi kita anggap saja sebagai kunci perkenalan. Ching-toanio, pinceng harap
kau sudi menghabiskan urusan dan biarlah diberi tempat untuk Kwa-sicu mengobati puterimu."
Kun Hong menjadi melengak ketika urusan berbalik secara demikian. Semua orang, termasuk juga Hui
Siang gadis yang galak itu, mengucapkan maaf kepadanya, juga Bouw Si Ma, Pangeran Souw Bu Lai, dan
Ching-toanio. Malah terdengar suara Ngo Kui Ciau, orang pertama dari Ang Hwa Sam-cimoi yang bersuara
kecil melengking,
"Pantas saja lihai, kiranya murid si tua bangka Yok-mo. Hi-hi-hik, tak perlu ribut-ribut, biar buta tapi amat
tampan dan gagah, lagi lihai dan murid Yok-mo. Toanio, kurasa pantas dia menjadi mantumu, hi-hi-hik!"
Mendongkol sekali Kun Hong, akan tetapi juga wajahnya berubah merah tanpa dapat dia cegah, karena
mendengar ucapan seperti itu, entah mengapa, jantungnya berdebar tidak karuan. Dia tidak banyak bicara
dan menurut saja ketika dia diajak ke dalam bangunan itu yang untuk sementara diserahkan kepadanya
sebagai tempat untuk mengobati Hui Kauw.
"Tidak lama... tidak lama..." katanya gugup. "Sebentar saja akan kupulihkan kedudukan urat-uratnya,
kusambung tulangnya dan kubersihkan hawa beracun yang menyerangnya. Besok ia sudah pulih kembali,
hanya tinggal memperkuat pertumbuhan tulang-tulang yang disambung. Aku tidak bisa lama-lama tinggal
di sini dan akan segera keluar dari pulau ini bersama nona Loan Ki."
Dia merasa heran sekali mengapa Loan Ki diam saja, tidak ada suaranya sama sekali. Dia tidak melihat
betapa nona ini biar pun berada pula di situ, mukanya murung dan cemberut terus. Pangeran Souw Bu Lai
yang beberapa kali berusaha untuk memikatnya dengan omongan-omongan manis, tidak diacuhkannya
sama sekali. Akhirnya pangeran itu bosan sendiri dan nampak mendekati Hui Siang, bercakap-cakap
gembira dan disambut manis oleh nona cantik jelita yang galak itu.
Orang-orang menjadi kagum menyaksikan cara Kun Hong mengobati Hui Kauw. Dengan tusukan-tusukan
jarum perak dia dapat memulihkan kesehatan nona ini, mengusir ke luar hawa beracun akibat pukulanpukulan
Ching-toanio yang ampuh.
Kemudian dia meminta semua orang laki-laki keluar dari kamar karena dia hendak mulai menyambung
tulang, dan untuk keperluan ini terpaksa baju nona Hui Kauw harus dibuka. Hanya Ching-toanio, Loan Ki,
Ang Hwa Sam-cimoi, Hui Siang dan tiga orang pelayan wanita yang masih berada di kamar. Biar pun
maklum di situ terdapat banyak orang pula yang menyaksikan, tangan Kun Hong sedikit gemetar juga
ketika dia meraba kulit dada dan punggung yang halus pada waktu dia menyambung tulang iga yang
patah!
Setengah hari dia bekerja keras dan akhirnya dia selesai, kemudian duduk bersila dan menempelkan dua
tangannya ke pundak Hui Kauw dekat leher untuk menyalurkan hawa murni ke dalam tubuh nona itu dan
membantunya sekuat tenaga. Sejam dia melakukan ini dan mulailah pernapasan nona itu normal kembali
dan mukanya menjadi merah sehat.
Pada saat itu Ching-toanio memberi isyarat kepada semua orang untuk meninggalkan kamar itu. Loan Ki
tadinya hendak tinggal di situ, akan tetapi Ching-toanio berkata lirih,
"Nona Tan, setelah sekarang kita menjadi sahabat, perlu kita bicara tentang urusan yang juga menyangkut
ayahmu. Marilah, biar Kwa-sicu mengaso dulu, kulihat Hui Kauw sudah sembuh kembali."
Tak enak juga hati Loan Ki untuk membandel. Ia mengerling dengan mata ragu ke arah Kun Hong yang
masih duduk bersila, lalu sinar matanya menyambar seperti kilat ke arah muka Hui Kauw yang hitam,
setelah itu ia mendengus marah dan ikut keluar pula.
Kamar itu sunyi. Suara orang-orang di luar bercakap-cakap tidak dapat terdengar jelas oleh karena daun
pintu kamar itu ditutup dari luar. Kun Hong melepaskan kedua telapak tangannya dari pundak nona itu,
kemudian dengan perlahan dia mengurut jalan darah di punggung dan belakang leher. Terdengar nona ini
dunia-kangouw.blogspot.com
mengerang perlahan. Kun Hong cepat menarik kembali tangannya dan melompat turun dari pembaringan,
berdiri menanti.
"Uuuhhh, panas...," nona itu merintih.
"Tidak apa-apa, Nona. Hawa panas itu kau perlukan untuk mendorong peredaran darah di tubuhmu
sehingga engkau akan menjadi sembuh benar-benar."
Hui Kauw membuka matanya, kaget melihat betapa tubuhnya bagian atas tidak berbaju, apa lagi melihat
Kun Hong berdiri di situ dengan kepala tunduk. Dia cepat bangun dan menyambar bajunya yang berada di
dekatnya, terus digunakan untuk menutupi tubuhnya.
"Bagaimana ini... apa yang terjadi... kau mengapa berada di sini...?" pertanyaan yang terputus-putus ini
diajukan dengan suara gemetar.
Kun Hong dapat menangkap perasaan sedih, malu dan terhina dalam suara itu, maka dia membungkuk
dengan hormat, kemudian berkata, "Kau menderita luka-luka, aku berusaha mengobatimu, disaksikan oleh
keluargamu, Nona. Kini kau sudah selamat, perkenankan aku keluar dari tempat ini."
Tanpa menanti jawaban, dengan cepat Kun Hong lalu melangkah ke arah pintu, membuka daun pintu dan
keluar dari situ.
Ka Chong Hoatsu sendiri menyambutnya. "Bagaimana Kwa-sicu, berhasilkan usahamu?"
"Dengan berkah Thian ia dapat pulih kembali kesehatannya," jawab Kun Hong sederhana.
Ching-toanio lantas berlari memasuki kamar dan Kun Hong masih mendengar suaranya, "Aduh, kasihan
anakku..."
Kun Hong mengerutkan kening. Suara Ching-toanio ini adalah suara palsu. Hemm, akan berbuat apa
lagikah wanita majikan pulau ini yang jahat dan palsunya sama saja dengan ular-ular hijaunya yang
berbisa? Bukan urusanku, pikirnya, aku harus segera pergi dari tempat ini.
"Ki-moi, hayo kita pergi..."
Tidak ada jawaban.
"Di mana nona Loan Ki?" tanyanya kepada Ka Chong Hoatsu.
Hwesio tua itu tertawa. "Semua orang termasuk sahabatmu itu lagi berkumpul di ruangan sembahyang.
Mari, Kwa-sicu, oleh karena pada saat ini kau pun menjadi seorang tamu terhormat, kau pun dipersilakan
untuk ikut berpesta sambil ikut pula merayakan pelepasan perkabungan keluarga Ching-toanio."
"Pesta apa? Sembahyangan apa?" Kun Hong tak mengerti.
"Suaminya meninggal tiga setengah tahun yang lalu. Hari ini kebetulan sedang diadakan sembahyangan
lalu diadakan sedikit pesta untuk merayakan pelepasan perkabungan ibu dan kedua anak."
"Maaf, Losuhu, aku... aku akan pergi saja. Tolong kau panggilkan nona Tan Loan Ki..."
"Ha-ha-ha, Kwa-sicu, apakah kau sebagai seorang yang sudah banyak merantau di dunia kangouw, tidak
mau mengindahkan peraturan? Kau dianggap tamu terhormat, keluarga Ching-toanio hendak
menyampaikan terima kasih, dan di sini sedang dilakukan upacara sembahyangan pula. Masa kau akan
pergi begitu saja?"
Kun Hong menarik napas panjang. Memang betul juga ucapan hwesio itu. Apa lagi Loan Ki agaknya juga
sudah berbaik dengan orang-orang itu, maka dia terpaksa mengangguk lemah.
"Baiklah, setelah sembahyang aku akan mengajak Loan Ki segera pergi. Tidak usah ikut berpesta,
makanan dan arak yang dicuri Loan Ki dari sini sudah cukup mengakibatkan heboh!"
dunia-kangouw.blogspot.com
Hwesio itu tertawa lalu berjalan, sengaja memberatkan kakinya agar mudah diikuti oleh Kun Hong yang
berjalan di belakangnya sambil meraba jalan dengan tongkatnya. Kiranya tidak jauh dari situ mereka sudah
sampai di tempat yang dimaksudkan. Sebuah bangunan yang agak besar.
Telinga Kun Hong menangkap suara banyak sekali orang di situ, banyak suara wanita dan agaknya orangorang
pada sibuk bekerja, mungkin mengatur meja sembahyangan karena dia mendengar suara mangkukmangkuk
ditaruh di atas meja dan tercium bau lilin besar dinyalakan di samping dupa harum memenuhi
ruangan itu. Ia segera duduk pada sebuah kursi yang sudah disediakan untuknya.
Karena tempat itu ramai dengar suara orang, dia tidak dapat tahu apakah Loan Ki berada di situ ataukah
tidak, untuk bertanya dia merasa kurang enak. Tentu saja dia tidak dapat melihat betapa di sudut ruangan
itu Loan Ki duduk menyendiri dengan muka pucat dan sepasang mata gadis itu memandang ke arahnya
dengan melotot penuh kemarahan!
Dugaannya memang benar. Di tempat itu selain orang-orang kosen yang telah disebutkan tadi berkumpul,
makan minum sambil tertawa-tawa di ruangan itu bagian tengah, juga di sana terdapat belasan orang
pelayan wanita berpakaian serba indah sedang mengatur meja sembahyang yang besar dan megah. Dua
batang lilin naga warna merah dinyalakan di atas meja sembahyang yang dihias seperti meja sembahyang
pengantin saja!
Kemudian terdengar suara Ka Chong Hoatsu berkata kepadanya, "Kwa-sicu, silakan kau melakukan
sembahyang untuk menghormat abu jenazah mendiang suami Ching-toanio."
Pendeta itu menyerahkan beberapa batang hio (dupa batang) kepada Kun Hong. Pemuda buta ini bingung,
akan tetapi merasa tidak enak untuk menolak. Penghormatan kepada abu jenazah merupakan syarat
kesopanan yang tidak mungkin ditolak. Dia menurut saja ketika dituntun ke depan meja sembahyang.
"Bersembahyang di depan abu jenazah seorang yang tinggi tingkatnya, harus berlutut,"' Ka Chong Hoatsu
berbisik.
Kun Hong yang pada dasarnya berwatak sopan dan suka merendahkan diri, kali ini juga tidak membantah,
lalu berlutut, menyelipkan tongkat di pinggang dan memegangi batang-batang hio itu di antara tangannya.
Pada saat itu dia mendengar suara banyak kaki secara halus melangkah datang. Di sana sini lalu
terdengar suara wanita tertawa tertahan, kemudian dia mendengar suara orang berlutut di samping kirinya.
Lalu kagetlah dia ketika dia mencium bau harum yang sudah amat dikenalnya, keharuman yang sama
benar dengan ganda yang diciumnya ketika dia mengobati Hui Kauw di dalam kamar tadi.
Tidak dapat diragukan lagi, Hui Kauw tentu orangnya yang sekarang berlutut di sebelah kirinya! Apa artinya
semua ini? Kenapa ia harus bersembahyang di depan abu jenazah itu berdampingan dengan Hui Kauw?
Dia menjadi ragu-ragu dan menahan diri, tidak segera bersembahyang.
Pada saat itu, di antara suara hiruk-pikuk para pelayan, dia mendengar suara Loan Ki, penuh ejekan,
penuh kebencian. "Hah, yang lelaki buta, yang perempuan bermuka hitam. Belum pernah selama hidupku
melihat sepasang pengantin begini buruk!"
Kun Hong terkejut setengah mati. Tangan kirinya bergerak meraba dan... dia mendapat kenyataan bahwa
Hui Kauw memakai pakaian pengantin, dengan muka berkerudung!
"Apa artinya ini?" Dia berseru dan bangkit berdiri membuang hio-nya ke samping.
Tiba-tiba sebuah tangan yang kuat menekan pundaknya, jari-jari tangan yang amat kuat itu mencengkeram
jalan darahnya di pundak yang mengancam, karena begitu diremas dia akan menjadi lumpuh! Lalu
terdengar bisikan suara Ka Chong Hoatsu,
"Orang she Kwa, jangan menolak! Kau sudah mencemarkan nama baik nona Giam Hui Kauw, kau malah
sudah mengobatinya sampai sembuh. Untuk membalas budimu, dan untuk membersihkan namanya, kau
sudah dipilih untuk menjadi suami yang sah. Nona Hui Kauw sendiri sudah setuju. Bagaimana kau dapat
menolaknya?"
Muka Kun Hong sebentar merah sebentar pucat. Dia tidak mengerti bagaimana urusan berbalik menjadi
begini. Dia memang suka kepada Hui Kauw, suka dan menaruh simpati besar, juga sangat berkasihan
dunia-kangouw.blogspot.com
menghadapi nasib buruk nona bersuara bidadari ini. Baru suaranya saja sudah mampu merampas rasa
kasih sayangnya.
Akan tetapi tentu saja dia tidak mau dijodohkan secara begini, secara paksa dan tiba-tiba. Juga, di lubuk
hatinya tidak ada sedikit pun niat untuk menikah dengan wanita lain setelah dia kehilangan Cui Bi. Orang
buta seperti dia mana mampu mendatangkan kebahagiaan bagi seorang isteri?
"Tidak... tidak...! Aku bukan boneka yang boleh kalian permainkan begitu saja! Aku adalah seorang
manusia!" bantahnya, tidak peduli betapa tekanan pada pundaknya terasa makin menghebat yang berarti
hwesio itu memperhebat pula ancamannya.
"Orang she Kwa, kau tidak boleh menolak! Tidak ada pilihan lain bagimu, menerima dan menjadi mantu
Ching-toanio untuk membersihkan nama baik nona Hui Kauw yang kau cemarkan kemudian membantu
semua usaha kita bersama, atau sekarang juga kau harus mati!" Kemudian dengan suara lebih perlahan di
dekat telinga Kun Hong, "Bocah tolol, tak usah kau berpura-pura. Kau mencinta dia, bukan? Nah, apa lagi
soalnya?"
"Tidak! Sekali lagi tidak. Tak sudi aku dijadikan begini...!" Kun Hong berteriak lagi dengan marah sekali,
seluruh urat-urat di tubuhnya telah menegang untuk melakukan perlawanan. Akan tetapi terpaksa dia
menahan kemarahannya karena ancaman pada jalan darah di pundaknya itu benar-benar berbahaya
sekali.
Tiba-tiba Hui Kauw yang berlutut di sampingnya itu terisak-isak menangis, lalu terdengar gadis itu menjerit
tinggi satu kali, disusul kata-kata yang memilukan, "Ya Tuhan... apa dosaku sehingga kalian menghina aku
begini rupa?"
Setelah itu, cepat laksana kilat gadis ini menerjang ke kanan dan menyerang Ka Chong Hoatsu dengan
pedangnya yang tadi dia sembunyikan di balik pakaian pengantin yang longgar. Kini kerudung kepalanya
sudah dibuka dan wajahnya yang berkulit hitam itu jelas nampak agak pucat dan basah air mata. Serangan
ini hebat bukan main karena Hui Kauw mempergunakan jurus dari pada ilmu pedangnya yang ia
rahasiakan.
Ka Chong Hoatsu adalah seorang tokoh besar yang amat lihai, namun dia terkesiap juga menghadapi
serangan luar biasa ini, yang seperti halilintar menyambar ke arah dadanya. Terpaksa dia melepaskan
cengkeramannya pada pundak Kun Hong dan berjungkir balik ke belakang sambil mengibaskan ujung
lengan bajunya yang panjang.
Hampir terpental lepas pedang di tangan Hui Kauw ketika dikebut oleh ujung lengan baju ini. Akan tetapi
Hui Kauw tidak menyerang terus, melainkan terisak-isak dan meloncat jauh, berlari sambil menangis
lenyap dalam gerombolan pohon di hutan. Dari jauh masih terdengar suara tangisnya yang kian
menghilang.
Kun Hong merasa amat bersyukur. Ia maklum bahwa tadi gadis itu menyerang Ka Chong Hoatsu dengan
maksud menolongnya terlepas dari pada cengkeraman yang membuat ia tidak berdaya.
Pada saat itu terdengar Loan Ki berseru. "Bagus, Hong-ko. Jangan takut, aku bantu kau!" Dan gadis ini pun
sudah meloncat ke tengah ruangan itu, di depan meja sembahyang, berdiri tegak dengan pedang di tangan
di sebelah Kun Hong!
Kembali Kun Hong melengak heran. Bagaimana sih gadis lincah ini? Sebentar membantu dirinya, sejenak
kemudian mencelakainya, kadang-kadang membelanya, tapi ada kalanya mengkhianatinya. Tadi baru saja
dia mencemooh dan dengan ucapan mengandung suara menghina telah mengejeknya, tetapi sekarang
suaranya berbeda sekali ketika menyebut ‘Hong-ko’ dan sekarang malah siap membantunya.
Dia benar-benar bingung, apa lagi mengingat perbuatan Hui Kauw tadi. Mengapa gadis yang sudah bisa
dia kenal watak perangainya yang halus dan murni itu mau saja disuruh bersembahyang sebagai
pengantin dengannya, kemudian kenapa pula gadis itu menangis sedih dan malah menerjang Ka Chong
Hoatsu untuk menolongnya, tapi setelah itu malah melarikan diri? Benar-benar dia tidak mengerti akan
sikap gadis-gadis ini.
Akan tetapi dia juga merasa khawatir sekali. Dia maklum betapa lihainya orang-orang di pulau ini dan
kepandaian Loan Ki masih jauh dari pada cukup untuk menghadapi mereka. Dia sendiri pun belum tentu
dunia-kangouw.blogspot.com
akan dapat menangkan mereka yang lihai-lihai itu, apa lagi Ka Chong Hoatsu si hwesio tua yang tadi
mencengkeram pundaknya. Andai kata Hui Kauw tidak lari dan mau membantunya, gadis bersuara
bidadari itu memiliki kepandaian hebat dan boleh diandalkan. Tadi saja dengan sekali gebrakan, sejurus
serangan saja, gadis itu telah mampu memaksa Ka Chong Hoatsu melepaskan cengkeramannya.
"Orang muda, kau benar-benar sombong. Orang telah memperlakukan kau dengan baik, sungguh pun kau
telah menimbulkan keributan. Kau dimaafkan, bahkan kelakuanmu yang merusak dan mencemarkan nama
baik seorang gadis sudah dimaafkan, sebaliknya dari pada dihukum, kau malah diangkat pula menjadi
mantu. Akan tetapi dengan sombong kau menolak, ini bukan saja merupakan penghinaan terhadap nyonya
rumah, akan tetapi juga kau telah menghancurkan perasaan seorang gadis dan kau telah menghina
pinceng (aku) pula yang bertindak sebagai perantara! Dosamu bertumpuk dan sekarang pinceng takkan
sudi lagi memandang kebutaan matamu atau wajah mendiang gurumu, Yok-mo."
Kun Hong melangkah maju, sengaja agar Loan Ki berada di belakangnya untuk menjaga kalau hwesio
yang lihai itu mengirim serangan, jangan sampai Loan Ki menjadi korban. Kemudian dia tersenyum sinis
dan menegur,
"Losuhu, kalau aku tidak salah menduga, kau adalah seorang hwesio, pemeluk Agama Buddha yang luhur
serta mulia. Losuhu, apakah kau lupa akan ajaran-ajaran suci dalam kitab-kitab Buddha? Lupakah engkau
akan ayat-ayat dalam kitab misalnya Dhammapada yang mengingatkan manusia sewaktu hidup akan
segala maksiat yang akan merugikan diri sendiri?"
Sampai di sini Kun Hong lalu mendongak. Suaranya yang nyaring itu melagukan nyanyian yang
merupakan doa dari kitab Agama Buddha.
Dia yang dapat menahan kemarahan,
seperti seorang menahan kaburnya kereta,
dialah patut disebut seorang kusir sejati.
Kalahkan amarah dengan kasih,
tundukkan kejahatan dengan kebajikan,
kerakusan dengan kerelaan,
dan kebohongan dengan kebenaran.
Sampai di sini Ka Chong Hoatsu sudah tertawa bergelak sehingga Kun Hong cepat-cepat menghentikan
nyanyiannya. "Ha-ha-ha, bocah buta masih ingusan, kau berani mengajari pinceng tentang ayat kitab
Dhammapada? Ha-ha-ha, seperti orang mengajar ikan tentang caranya berenang!"
"Kalau perlu boleh saja, Losuhu, Sungguh pun ikan pandai berenang, kadang-kadang dia akan tersesat
karena tertarik oleh kemilaunya kotoran-kotoran di permukaan air sehingga tanpa disadari ikan itu akan
berenang menentang arus dan menemui kehancurannya."
"Huh, bocah she Kwa. Agaknya kau mengandalkan kepandaianmu untuk bersikap kurang ajar dan
sombong di depan pinceng. Hemm, bocah buta, Yok-mo sendiri yang kau sebut sebagai gurumu masih
tidak berani memandang rendah terhadap pinceng. Majulah dan coba perlihatkan kepandaianmu!"
Akan tetapi Kun Hong tidak bergerak. "Losuhu, aku tak ingin berkelahi dengan siapa pun juga..."
"Ha, kau jeri kepada Ka Chong Hoatsu?" hwesio itu mengejek.
"Aku pun tidak jeri atau takut kepada siapa pun juga."
"Kalau begitu majulah, hayo perlihatkan kepandaianmu!"
"Losuhu, aku tidak ingin berkelahi, hanya ingin supaya aku dan nona ini dibolehkan pergi dengan aman.
Kami tidak bermaksud mengganggu kalian penghuni pulau ini..."
"Taisu, mengapa berdebat dengan setan kurang ajar itu? Tolong kau tangkap dia untukku, biar puas aku
memberi hukuman kepadanya!" kata Ching-toanio dengan suara gemas.
"Bocah Kwa, lihat tongkat!" bentak Ka Chong Hoatsu.
dunia-kangouw.blogspot.com
Kun Hong cepat-cepat mendorong Loan Ki ke belakang agak jauh karena dia mendengar ada sambaran
angin yang dahsyat sekali menyambar ke arahnya. Bukan main hebatnya serangan ini dan Kun Hong
memusatkan pikiran dan perasaannya, mengumpulkan hawa murni dan tenaga dalam di tubuhnya.
Dia tahu bahwa angin dahsyat itu menyembunyikan tongkat yang menyambar ke arah pinggangnya.
Sengaja dia melambatkan gerakannya. Begitu tongkat itu telah menyambar dekat, dengan pengerahan
ginkang (ilmu meringankan tubuh) dia lalu meloncat ke atas.
Tongkat itu mendesing di bawah kakinya, tidak lebih dari sepuluh senti jaraknya, namun angin pukulan
tongkat itu telah membuat Kun Hong seperti didorong dari bawah sehingga tubuhnya mumbul lagi belasan
senti tingginya. Dia makin kagum dan maklum bahwa kali ini dia menghadapi seorang lawan yang luar
biasa tangguhnya, malah mungkin tak kalah lihai kalau dibandingkan dengan lawan yang paling ampuh
yang pernah dihadapinya, yaitu pada tiga tahun yang lalu di puncak Thai-san, si tua bangka Pak-thian Locu,
guru dari Si Tangan Maut Bouw Si Ma, orang Mancu yang sekarang hadir di sini.
Kekaguman tidak hanya berada di pihak Kun Hong. Juga Ka Chong Hoatsu kagum bukan main. Cara
pemuda buta itu menghadapi serangannya tadi betul-betul di luar dugaannya, dan cara ini sekaligus
membingungkannya karena sama sekali bukan ilmu silat seperti yang pernah dia lihat dimainkan oleh Bu
Beng Cu.
Memang, Kun Hong tadi tidak menggunakan jurus dari Kim-tiauw-kun dalam menghadapi penyerangan ini,
akan tetapi dia mempergunakan sebuah jurus pertahanan dari Ilmu Silat Im-yang Kun-hoat yang dia terima
dari Si Raja Pedang Tan Beng San.
Jurus tadi lewat cepat sekali seperti menyambarnya halilintar. Kini Kun Hong sudah berdiri tegak, kaki
kanannya ditekuk dengan ujung berdiri dan tumit menempel di kaki kiri, tangan kanan yang memegang
tongkat ditaruh di depan dada dan tongkatnya tegak lurus ke atas menempel ujung hidung, tangan kiri
dengan jari-jari terbuka lurus ke depan seperti sedang menunjuk. Seluruh tubuh tak bergerak, semua urat
dalam tubuh menegang serta segenap perhatian dicurahkan ke depan dan sekelilingnya dalam sikap
menjaga diri.
Ka Chong Hoatsu juga memasang kuda-kuda, akan tetapi dia meragu dan tidak segera menjatuhkan
serangannya. Betapa pun juga, dia masih sungkan untuk menyerang secara sungguh-sungguh.
Dia adalah seorang yang memiliki kedudukan besar dan dipandang tinggi di utara, sejajar dengan Pak
Thian Lo-cu, hanya kalau Pak-thian Lo-cu menganut aliran Agama To adalah dia merupakan wakil dari
golongan Buddha. Sudah jauh dia merantau, bahkan belasan tahun dia berada di India. Sejak pulang dari
India, dia makin dipandang dan merupakan orang yang paling berkuasa di samping kepala suku di antara
bangsanya, yaitu Bangsa Mongol yang sudah kalah perang dan kehilangan kedudukan itu.
Bahkan dia merupakan orang yang dipilih untuk mendidik Pangeran Souw Bu Lai yang dipandang menjadi
seorang bangsawan yang memiliki harapan untuk merampas kembali kerajaan yang hilang. Kedudukannya
demikian besar dan tinggi, masa sekarang dia harus menggunakan kepandaiannya untuk bertempur
sungguh-sungguh melawan pemuda yang usianya dua puluh lima tahun paling banyak, yang buta kedua
matanya lagi?
Inilah yang membuat Ka Chong Hoatsu ragu-ragu karena dalam pertempuran ini, kalau dia menang takkan
berarti apa-apa akan tetapi kalau sampai kalah namanya akan hancur luluh sekaligus! Dia pun maklum
bahwa pemuda buta ini benar-benar memiliki simpanan rahasia ilmu yang tak boleh dipandang ringan.
Dua jagoan ini sudah saling berhadapan memasang kuda-kuda, seperti dua buah patung tak bergerak
sama sekali. Ka Chong Hoatsu biar pun sudah tua namun tubuhnya tinggi besar dan kuda-kudanya gagah,
kedua kaki terpentang, tubuh agak direndahkan, tongkat yang panjang dan amat berat itu melintang di
depan dada, kedudukannya membayangkan tenaga yang dahsyat sekali. Kun Hong sebaliknya tenang,
namun kokoh kuat seperti batu karang menghadapi serbuan ombak samudera.
"Bun-taihiap dari Kun-lun-pai yang terhormat sudah tiba untuk bertemu dengan toanio...!" terdengar seruan
wanita penjaga dari jauh.
Belum lenyap gema suara itu, berkelebat bayangan putih dan seperti sehelai daun kering yang tertiup
angin, melayanglah turun seorang pemuda yang berwajah tampan dan gagah sekali, berpakaian serba
putih dan pada punggungnya tergantung sebatang pedang yang tertutup sarung pedang terukir indah.
dunia-kangouw.blogspot.com
Begitu tiba di situ pemuda ini melihat keadaan Ka Chong Hoatsu, memandang heran lalu mengerling ke
arah Kun Hong yang buta.
"Ah, kiranya Ka Chong Hoatsu sedang memberi pelajaran, sungguh kedatanganku sangat kebetulan!" kata
pemuda itu.
Ka Chong Hoatsu sudah semenjak tadi membatalkan serangannya, lalu dia mengetukkan tongkatnya di
atas tanah dan tertawa bergelak.
"Sungguh tidak tahu malu pinceng yang sudah tua bangka mau melayani seorang bocah buta, menjadikan
buah tertawaan Bun-sicu dari Kun-lun-pai saja. Ha-ha-ha!"
Akan tetapi pemuda baju putih itu tidak memperhatikan Ka Chong Hoatsu karena pada saat itu dia sedang
memandang ke arah Kun Hong dengan bengong, malah dia segera melangkah mendekati dan mengamatamati
wajah Kun Hong dengan pandang matanya yang penuh selidik. Suaranya berubah ketika dia
bertanya.
"Ka Chong Hoatsu, mau apakah dia datang ke sini dan kenapa pula hendak bertempur melawanmu?"
Ka Chong Hoatsu tertawa lagi. Dia pernah beberapa kali datang ke Kun-lun-san dan dia mengenal pemuda
Kun-lun yang lihai ini, yang selalu bersikap terbuka serta bersahaja terhadapnya, tidak menjilat-jilat akan
tetapi amat jujur.
"Ha-ha, Bun-sicu, sebetulnya pinceng malu karena harus turun tangan terhadap seorang bocah buta. Tapi
dia ini memang menjemukan, bermain gila dengan nona Hui Kauw..."
Pemuda baju putih itu mengeluarkan suara mendengus penuh ejekan. "Hemmm, kiranya sesudah kedua
matanya buta, Kwa Kung Hong masih sama saja merupakan seorang pemuda hidung belang yang suka
merayu dan menundukkan hati wanita. Lucu sekali! Kwa Kun Hong, apakah kau tidak kenal padaku?"
Tentu saja Kun Hong mengenalnya. Biar pun dahulu belum mendapat kesempatan untuk berkenalan
secara mendalam, namun mana bisa dia melupakan pemuda putera ketua Kun-lun-pai yang dahulu
menjadi tunangan dari kekasihnya, Tan Cui Bi? (baca Rajawali Emas)
Dia tahu bahwa pemuda ini adalah Bun Wan, putera dari ketua Kun-lun-pai yang biar pun dahulu lantas
pulang dengan marah bersama ayahnya dari puncak Thai-san, dan tidak menjadi saksi atas peristiwa
mengerikan yang mengakibatkan kematian Cui Bi dan kebutaan matanya namun agaknya pemuda ini
sudah mendengar tentang kebutaannya. (baca Rajawali Emas)
Dia menjura dengan hormat, mengangkat kedua tangan yang memegang gagang tongkat ke depan dada.
"Tentu saja aku ingat dan mengenal suara Bun-enghiong dari Kun-lun-pai. Tetapi sayang sekali semenjak
bertahun-tahun ini pandanganmu masih sesempit dulu, terutama dalam menilai watak seseorang.
Sayang..."
Kembali Bun Wan, pemuda itu, mendengus mencemooh atas ucapan ini. Kemudian dia menoleh ke arah
Ching-toanio dan berkata, "Toanio, karena aku telah datang di sini, aku harap Toanio suka mengampuni
dia dan membebaskannya. Harap Toanio ketahui bahwa antara ayahnya dan ayahku ada hubungan
persahabatan di waktu muda, oleh karena itu amatlah tidak enak kalau dia ini menerima hukuman di mana
aku hadir. Tentu ayah akan menegurku."
Ching-toanio menggerutu, "Dia ini terlalu kurang ajar, terlalu menghina kami, mana bisa aku memberi
ampun?"
Akan tetapi Ka Chong Hoatsu cepat-cepat berkata, "Ching-toanio, biarlah, melihat muka Bun-sicu yang
terhormat, biarlah kita mengampuninya dan membiarkan si buta ini pergi dari pulau. Apa lagi bila
mengingat akan nama besar Ciang-bun-jin dari Kun-lun-pai, ayah Bun-sicu yang kita hormati."
Melihat kesempatan yang baik ini, Loan Ki segera menggandeng tangan Kun Hong dan berkata, "Hayo,
Hong-ko, kita pergi dari tempat terkutuk ini!" Ia lalu menarik tangan Kun Hong dari situ sambil menjebirkan
bibir dan melerok ke sana ke mari kepada orang-orang yang berada di situ!
dunia-kangouw.blogspot.com
"He-he-he-he, bocah nakal. Kau tidak boleh pergi! Masih ada urusan yang akan pinceng bicarakan
denganmu sebagai wakil ayahmu, urusan penting sekali. Si buta ini boleh pergi sekarang juga, tapi kau
tidak. Kembalilah!" kata Ka Chong Hoatsu.
Mendengar ini Ching-toanio tersenyum dan tahulah ia sekarang mengapa hwesio yang menjadi tamu
agung dan orang andalannya ini tadi membiarkan Kun Hong dibebaskan. Kiranya hwesio itu bermaksud
supaya si buta itu mencari jalan ke luar dari pulau itu seorang diri dan hal ini terang tidak mungkin dan
akhirnya tentu akan membuat pemuda buta itu terjeblos ke dalam perangkap-perangkap rahasia dan tak
akan terlepas dari pada hukuman dan pembalasannya juga!
"Betul, Nona. Setelah menjadi tamu kami, kau tak boleh pergi dulu dari sini. Kami hendak mengadakan
hubungan dengan ayahmu melalui kau!" katanya.
Loan Ki memutar otaknya. Dia maklum bahwa jumlah lawan yang banyak ini amat sukar dilawan, biar oleh
Kun Hong sekali pun. Dia melepaskan tangan Kun Hong dan berjalan dengan langkah lebar ke dekat Ka
Chong Hoatsu, langsung ia menegur,
"Hwesio tua, kau benar-benar mau mempermainkan aku seorang bocah perempuan? Aku tidak suka
berada di sini, di dekat kalian ini, dan aku mau pergi sekarang juga. Apa bila nonamu ini mau pergi, siapa
yang sanggup melarang? Aku berani bertaruh, kalau aku sungguh-sungguh menghendaki pergi, tongkatmu
yang panjang dan tiada gunanya ini tak akan mampu menghalangiku, Hwesio tua!"
Ka Chong Hoatsu tertawa, juga orang-orang yang berada di situ semua tertawa mengejek mendengar
kata-kata itu. Sebaliknya Kun Hong diam-diam mengeluh. Benar-benar Loan Ki adalah seorang bocah
yang tidak genah (normal), pikirnya, tak mengerti tingginya langit dalamnya lautan. Sudah terang bahwa
tingkat kepandaiannya masih kepalang tanggung, matang tidak mentah pun tidak, jika dibandingkan
dengan kepandaian Ka Chong Hoatsu masih tertinggal jauh sekali. Bagaimana sekarang berani
mengucapkan tantangan yang begitu menggelikan? Seperti katak dalam tempurung!
"Ha-ha-ha-ha, pinceng kagum akan ketabahannmu, Nona cilik. Betulkah tongkat pinceng yang butut ini
tidak akan mampu menghalangi kau pergi?"
"Tentu saja tidak mampu. Berani aku bertaruh! Kau boleh jadi lebih kuat dan lebih matang ilmu silatmu
dibandingkan dengan aku karena kau sudah tua, akan tetapi aku menang muda sehingga aku lebih cepat
dari padamu. Kalau aku berlari cepat, mana kau mampu mengejarku?"
Kembali ucapan ini menggelikan dan Ka Chong Hoatsu juga tertawa bergelak. Dia merasa malu untuk
berdebat dengan seorang bocah, apa lagi dalam soal kepandaian silat, maka biar pun hatinya mendongkol,
dirinya tertawa dan diam-diam ingin mengalahkan bocah ini biar kapok dan tidak membuka mulut besar.
"Tentu saja, pinceng sudah tua mana dapat berlari cepat? Akan tetapi, agaknya kau ini seorang bocah
perempuan cilik, juga tidak akan dapat melangkah lebar seperti pinceng, ha-ha-ha!"
"Ehh, Hwesio tua, jangan pandang rendah padaku, ya? Berani kau bertaruh dengan aku berlomba lari
cepat? Mana kau berani. Huh, kau hanya berani menghina seorang bocah perempuan mengandalkan
kepandaian dan usia tua. Hayo, kalau kau berani berlomba lari cepat, biar kita bertaruh. Bila kau kalah, kau
dan semua orang ini tak boleh menghalangi aku pergi dari pulau ini, kalau aku yang kalah, terserah
kepadamu. Berani tidak?"
Sekali lagi Kun Hong mengeluh. Mengapa Loan Ki begitu goblok? Kalau tadi tidak usah banyak cakap,
tetap berada di dekatnya, tentu dia kan dapat melindungi nona cilik nakal itu. Sekarang nona itu malah
mencari penyakit sendiri. Mana mungkin menang berlomba lari cepat melawan hwesio yang sakti itu?
"Ha-ha-ha, kau lucu sekali, Nona cilik. Masa orang tua diajak balap lari. Tapi biarlah, kalau tidak dituruti
kehendakmu, aku khawatir kau akan rewel dan ngambek, bisa gagal maksud pinceng menghubungi
ayahmu. Ha-ha-ha!"
"Bagus, kau lihat bunga bwee yang tumbuh di sana itu?"
Ka Chong Hoatsu mengangguk sambil tersenyum lebar. Pohon bunga bwee itu tumbuh di sebelah kiri
bangunan, kurang lebih dua ratus meter jaraknya dari tempat itu. Bagi kakek ini, beberapa belas kali
lompatan saja di sudah akan sampai di sana!
dunia-kangouw.blogspot.com
"Nah, kita berlomba lari cepat sampai di tempat itu. Siapa yang dapat memegang bunga bwee itu lebih
dulu, dia menang. Setuju?"
"Ha-ha-ha setuju, setuju!" jawab hwesio tua.
"Nah, kau bersiaplah, Hwesio. Aku akan menghitung sampai tiga, dan sebelum hitungan sampai tiga kau
tidak boleh mulai lari. Jangan curang!"
"Ha-ha-ha, boleh... boleh..." Ka Chong Hoatsu menjawab, gembira juga dia menyaksikan permainan
kanak-kanak ini.
Akan tetapi Loan Ki tidak segera menghitung, melainkan berdiri saja sambil mengerutkan keningnya yang
bagus.
"Hayo lekas mulai!" tegur Ka Chong Hoatsu.
Loan Ki menggeleng kepalanya. "Percuma... aku masih belum percaya benar kepadamu, jangan-jangan
setelah kalah kau masih curang dan menjilati janji sendiri. Kau benar-benar berjanji akan membebaskan
kami berdua tanpa mengganggu pula kalau kalah balapan lari denganku?"
Ka Chong Hoatsu memandang dengan mata melotot besar. "Bocah kurang ajar, pinceng Ka Chong Hoatsu
mana sudi menjilat ludah sendiri? Hayo mulai!"
"Orang gagah lebih baik mati dari pada menjilat ludah sendiri tidak menepati janji. He, Ka Chong Hoatsu,
kau berjanji akan membebaskan kami dan membiarkan kami pergi dari pulau ini kalau kau kalah balapan
lari dengan aku?"
"Pinceng berjanji, gadis liar!"
Loan Ki tersenyum, manis sekali. "Dan kau berjanji takkan berlaku curang dalam balapan lari ini, tidak akan
mulai lari sebelum aku menghitung sampai tiga?"
"Setan cilik, siapa sudi bermain curang? Tak usah bermain curang, lebih baik pinceng tak akan lari
selamanya kalau kalah cepat lariku dari pada larimu. Hayo mulai!"
"Betulkah itu? Hi-hik, coba kita lihat dan saksikan bersama."
Gadis ini memasang kuda-kuda, siap untuk balapan lari, seperti orang hendak merangkak, berdiri dengan
kaki dan tangan di atas tanah, tubuh belakangnya sengaja ditonjolkan ke atas sehingga ia nampak lucu
sekali.
"Ha-ha-ha, kau seperti seekor kuda betina tanpa ekor!" Ka Chong Hoatsu tertawa geli.
Loan Ki tidak peduli, malah bicara dengan nyaring kepada semua orang yang berada di sana, "Kalian
semua mendengar janji hwesio tua bangka ini! Sebelum aku menghitung sampai tiga, dia tidak boleh mulai
lari!"
Kemudian ia mulai menghitung dengan suara lantang, "Satu..."
Suasana menjadi tegang dan sunyi karena biar pun semua orang yakin bahwa gadis itu tentunya akan
kalah, akan tetapi menyaksikan sikap bersungguh-sungguh dari Loan Ki, mereka menduga-duga dengan
ilmu apa gadis ini akan menghadapi kecepatan Ka Chong Hoatsu. Juga hwesio itu yang tadinya
menganggap ringan dan sudah merasa yakin akan menang, melihat sikap ini dan mendengar suara abaaba,
menjadi tegang juga dan tanpa disadarinya dia sendiri pun sudah siap memasang kuda-kuda untuk
segera ‘tancap gas’ kalau hitungan itu sudah sampai tiga.
"Dua..."
Urat-urat di tubuh Ka Chong Hoatsu semakin menegang, tumitnya sudah diangkat untuk segera melompat.
Akan tetapi hitungan ‘tiga’ tidak keluar-keluar dari mulut Loan Ki, malah sekarang gadis itu berdiri dan
berjalan cepat ke depan tanpa melanjutkan hitungannya. Semua orang terheran, juga Ka Chong Hoatsu
dunia-kangouw.blogspot.com
yang mengira bahwa gadis itu tentu akan mengatur sesuatu maka berjalan ke depan ke arah bunga bwee
itu.
Akan tetapi setelah berada dekat sekali, kurang lebih dua meter dari pohon bunga bwee itu, tiba-tiba saja
Loan Ki berteriak nyaring sekali, "... tiga...!" dan dia pun berlari maju memegang kembang itu sambil
tertawa-tawa dan bersorak-sorak ''Aku menang...! Hi-hik hwesio tua, kau kalah!"
Ka Chong Hoatsu melengak. Tentu saja tadi dia tidak sudi lari, karena kalau lari pun tak mungkin dapat
menangkan Loan Ki yang sudah berada di dekat pohon itu, hanya tinggal mengulur tangan saja. Dari heran
dia menjadi marah sekali.
"Gadis liar! Kau curang! Mana ada aturan begitu?" bentaknya.
Loan Ki meloncat dengan gerakan ringan cepat sekali, tahu-tahu ia sudah berada di depan Ka Chong
Hoatsu, menudingkan telunjuknya dengan marah.
"Ka Chong Hoatsu, kau seorang hwesio tua, seorang yang namanya sudah terkenal di seluruh kolong
langit, apakah hari ini engkau hendak menjilat ludah sendiri dan berlaku curang? Ingat baik-baik
bagaimana janji kita tadi. Bukankah kau sudah setuju dan berjanji takkan lari sebelum aku menghitung
sampai tiga? Perjanjian menunggu sampai hitungan ke tiga ini tadi hanya dikenakan kepadamu, tidak
kepadaku. Siapa yang berjanji bahwa aku juga harus menanti sampai hitungan ke tiga? Aku tidak
melanggar janji siapa-siapa, juga aku tidak curang, dan kau sudah kalah, kalah mutlak. Coba katakan apa
kau berani melanggar janjimu sendiri?"
Ka Chong Hoatsu terkesima. Untuk beberapa lama dia tidak mampu bicara. Kemudian dia membantingbanting
tongkatnya hingga tanah yang bercampur batu di depannya menjadi bolong-bolong seperti agaragar
ditusuki biting saja.
"Bocah liar, kau memang menang, akan tetapi bukan menang karena kecepatan berlari, melainkan
menang karena akal bulus!"
Loan Ki tersenyum manis dan menjura sampai dahinya hampir menyentuh tanah. "Terima kasih, Ka Chong
Hoatsu hwesio tua yang manis! Kau telah menyatakan sendiri sekarang bahwa aku menang. Nah, memang
aku menang dalam balapan ini dan karenanya juga aku menang dalam taruhan, bukan? Soal menang
menggunakan akal bulus atau pun akal udang, itu tidak diadakan larangan dalam perjanjian tadi. Nah,
selamat tinggal, Hoatsu."
Dengan langkah manja gadis ini lalu berjalan menghampiri Kun Hong.
Mendadak Loan Ki mendengar angin berdesir di belakangnya. Cepat dia menengok dan membalikkan
tubuh, siap menanti penyerangan gelap. Akan tetapi tidak ada apa-apa dan ia melihat Ka Chong Hoatsu
berdiri sambil tertawa bergelak. Ia memandang ke kanan kiri, semua orang yang berada di situ tertawa
belaka.
Loan Ki mengangkat kedua pundaknya, kemudian membalikkan tubuh lagi terus berjalan menghampiri Kun
Hong, menggandeng lengan pemuda buta itu dan berbisik, "Mari kita pergi, Hong-ko." Ditariknya pemuda
itu.
"Ki-moi, kau tadi dipermainkan Ka Chong Hoatsu, buntalanmu di punggung apakah masih ada?" bisik Kun
Hong.
Loan Ki terkejut, cepat meraba punggung dan... ternyata mahkota kuno yang berada di dalam buntalan itu
telah lenyap! Ia cepat membalikkan tubuhnya memandang. Eh, kiranya mahkota itu kini sudah berada di
tangan kiri Ka Chong Hoatsu yang masih tertawa-tawa.
"Hwesio tua, kau curi benda itu dari buntalanku, ya?" Loan Ki membentak sambil melotot.
Ka Chong Hoatsu semakin gembira tertawa. "Ha-ha-ha, pinceng tak akan melanggar janji nona cilik, tapi
perlu membuktikan bahwa pinceng jauh lebih cepat dari padamu, sehingga benda ini kuambil tanpa kau
dapat tahu atau merasa. Ke dua kalinya, benda ini kami tahan di sini sebagai undangan kepada ayahmu."
"Bagus! Ayah pasti akan datang untuk merampasnya dari tanganmu, hwesio sombong!"
dunia-kangouw.blogspot.com
Setelah berkata demikian, Loan Ki memperlihatkan muka marah dan menarik Kun Hong pergi dari situ,
menuju ke pantai yang kini sudah dia ketahui jalannya. Setelah pergi jauh dan tidak terdengar lagi suara
mereka di belakang, Loan Ki lalu berkata lirih, "Hayaaaa, sungguh berbahaya! Baiknya aku mendapat akal
dan bisa menang berlomba lari"
"Kau memang cerdik, nakal dan... aneh...," kata Kun Hong.
"Bila tidak menggunakan kecerdikan, mana bisa kita ke luar dari tempat ini? He, Hong-ko, kau sudah kenal
pemuda baju putih yang gagah tadi? Wah, dia kelihatan lihai sekali, ya? Dan dia telah menolongmu."
Kun Hong tersenyum. Terbayang dalam benaknya wajah Bun Wan yang memang gagah, dan terbayang
pula wajah Cui Bi, maka bangkitlah perasaan bangga dan terharu, juga sedih. Cui Bi sudah mempunyai
tunangan segagah Bun Wan, kenapa memberatkan dia? Padahal wajah dan bentuk tubuh Bun Wan benarbenar
dapat menjatuhkan hati setiap orang wanita, dan buktinya Loan Ki gadis lincah yang berhati angkuh
ini sekali berjumpa terus memuji-muji.
"Dia putera tunggal ketua Kun-lun-pai, tentu saja gagah dan lihai."
Hening sejenak. Kun Hong heran, merasa betapa gadis di sebelahnya yang sekarang menggandeng
tangannya ini agaknya berpikir dan menimbang-nimbang, entah apa yang dipikirkannya.
"Tapi aku tidak suka kepadanya, Hong-ko," katanya tiba-tiba.
"Heee? Apa maksudmu? Kenapa tidak suka?" tanya Kun Hong heran karena pertanyaan yang tiba-tiba itu
memang tak diduganya sama sekali. Tadi memuji sekarang tidak suka, bagaimana ini?
"Aku malah benci padanya! Dia tadi datang-datang memakimu sebagai seorang pemuda hidung belang
yang senang merayu hati wanita. Sungguh pun pernyataan itu memang betul!"
"Ehh, kau juga menganggap aku begitu? Tidak betul itu..."
"Sudahlah, kau memang hidung belang! Jangan bantah lagi. Kulihat tadi gadis cantik jelita puteri Chingtoanio
bermain mata dengan orang she Bun dari Kun-lun-pai itu. Hemmm, memang Hui Siang itu cantik
jelita sekali, Hong-ko, cantik bagaikan bidadari. Heran aku mengapa kau tidak jatuh hati kepadanya,
sebaliknya malah tergila-gila kepada Hui Kauw yang buruk rupa."
Kun Hong menarik napas panjang. "Aku tidak tergila-gila kepada siapa pun juga, Ki-moi... kau tidak tahu..."
Tiba-tiba Loan Ki berhenti melangkah dan Kun Hong juga terkejut ketika mendengar suara mendesis-desis.
Mereka mencium bau yang amis. Ular! Banyak sekali ular menggeleser datang dari empat penjuru dan
sebentar saja mereka terkurung ular yang amat banyak.
"Heeeiii, Ka Chong Hoatsu, tua bangka bau! Apakah kau begini tidak tahu malu untuk melanggar janjimu
sendiri?" Loan Ki berteriak nyaring ke arah belakang
Tidak terdengar jawaban dari belakang, akan tetapi dari depan sana terdengar lapat-lapat suara wanita
tertawa disusul kata-kata mengejek, "Ular-ular bukan manusia, tak termasuk dalam perjanjian. Yang ingin
meninggalkan Ching-coa-to harus dapat melalui barisan ular hijau." Walau pun hanya lapat-lapat, jelas
bahwa itu adalah suara Hui Siang gadis cantik jelita yang galak itu.
"Hui Siang budak genit!" Loan Ki berteriak marah. "Kau kira kami berdua tidak mampu membubarkan
barisan anak-anakmu yang sial ini?"
Kun Hong sudah siap dengan tongkatnya untuk menghajar setiap ular yang berani maju mendekat. Akan
tetapi Loan Ki menggandeng tangannya diajak maju terus.
"Hati-hati," bisik Kun Hong. "Siapkan senjatamu. Wah, sayang sekali mahkota kuno itu dirampas oleh Ka
Chong Hoatsu."
Loan Ki mengikik tertawa. "Kau kira aku begitu bodoh? Hayo maju terus, Hong-ko, jangan takut ular-ular
itu. Mainan kanak-kanak!" dia menyombong dan menarik tangan Kun Hong untuk maju terus.
dunia-kangouw.blogspot.com
Kun Hong merasa heran dan kaget ketika mendengar betapa barisan ular itu menyimpang di kala mereka
lewat, seakan-akan binatang-binatang itu takut kepada mereka.
"Ehh, bagaimana ini... Ki-moi, mengapa ular-ular itu..." tiba-tiba dia tersenyum, "Ha, kau benar-benar bocah
nakal dan cerdik. Tentu mutiara-mutiara mustika itu sudah kau ambil dari mahkota."
"Hussh, diam saja, Hong-ko. Kau biar pun buta memang cerdik. Mari kita maju terus, itu pantai sudah
tampak dari sini."
Dari jauh Loan Ki melihat bayangan Hui Siang berkelebat cepat disusul suara kecewa nona cantik itu yang
agaknya terheran-heran dan kecewa melihat mereka berdua ternyata dapat lolos dari kurungan barisan
ular secara mudah.
Sementara itu, Kun Hong dan Loan Ki sudah tiba di pinggiran telaga. Di sana tidak ada perahu, akan tetapi
Loan Ki yang cerdik tidak menjadi bingung. Dengan pedangnya dia menebang pohon besar dua batang,
mengikat dua batang pohon menjadi satu dijadikan rakit atau perahu. Dengan kepandaian dan tenaga
mereka mudah saja bagi mereka untuk menggunakan perahu istimewa ini dan mendayungnya ke pantai
seberang.
Sebentar saja mereka telah menurunkan perahu ke dalam air, Kun Hong duduk di depan sedangkan gadis
itu di belakang. Keduanya sudah memegang sebuah dayung terbuat dari pada cabang pohon yang besar
dan kuat.
"Ahooi...! Orang-orang Ching-coa-to...!" Loan Ki mengeluarkan suaranya sebelum perahu itu didayung ke
tengah. "Aku sudah menerima penyambutan di Ching-coa-to, kalau kalian memang punya nyali, lain waktu
kutunggu kunjungan balasan kalian di Pek-tiok-lim pantai Pohai."
Namun tidak ada jawaban. Loan Ki mendayung perahunya ke tengah menuju ke pantai yang tampak di
seberang sana. Gadis ini tersenyum-senyum dan terlihat gembira sekali. Ditepuknya pundak Kun Hong.
"He, Hong-ko, kenapa kau diam saja? Hayo nyanyi lagi seperti ketika kita berangkat."
Melihat betapa Kun Hong tersenyum pahit, gadis itu mengerutkan keningnya dan berkata mengejek, "Aha,
agaknya hatimu tertinggal di pulau itu, ya? Waah, memang kasihan Hui Kauw, dia amat mencintamu,
Hong-ko!"
Ucapan ini mendebarkan jantung Kun Hong. "Ki-moi, kau terlalu mudah menuduh orang. Siapa sudi
mencinta seorang tak bermata? Ki-moi, bagaimana kau bisa bilang begitu?"
"Ehh, siapa bohong? Kalau ia tidak mencintamu, tak mungkin ia sudi menjalani upacara pernikahan
denganmu"
Kun Hong jadi semakin tertarik, karena memang hal yang amat aneh baginya itu sangat membingungkan.
"Loan Ki moi-moi yang baik, apa bila kau tahu akan persoalan itu, kau ceritakanlah kepadaku. Sampai
sekarang aku benar-benar masih bingung sekali. Aku tak mengerti kenapa tiba-tiba mereka hendak
mengawinkan aku dan kenapa pula ia tadinya suka melakukan upacara itu."
Loan Ki tertawa. "Semua gara-gara Ka Chong Hoatsu itulah. Karena tadinya aku dianggap oleh mereka
‘orang sendiri’ maka aku boleh mendengarkan semua perundingan mereka, hi-hi-hik. Sesudah kau
menyembuhkan Hui Kauw, ibunya itu mendatangi Hui Kauw dan membujuknya agar suka menikah
denganmu. Ibunya, si toanio yang jahat itu mengatakan kepada Hui Kauw bahwa kau juga sudah setuju
menjadi suaminya, bahwa pernikahan itu sudah seharusnya karena perhubungan kau dengan Hui Kauw
sudah menjadi buah bibir para pelayan dan kalau sampai bocor ke luar tentu akan mencemarkan nama Hui
Kauw. Pula bahwa kau sudah menyembuhkan luka-lukanya dengan cara yang sebetulnya tidak boleh
dilakukan oleh orang lain, yaitu menelanjangi tubuh bagian atas. Akhirnya Hui Kauw setuju. Biar pun dia
tidak bilang apa-apa, buktinya dia tidak menolak ketika dirias seperti pengantin. Hi-hik aku geli dan juga
muak melihat semua itu. Benar-benar tak tahu malu!"
Kun Hong mengerutkan keningnya. Dia merasa sangat berkasihan kepada Hui Kauw si nona bersuara
bidadari itu. Sekarang dia dapat menerka apa yang sudah terjadi, dapat menyelami perasaan nona itu dan
dapat menduga betapa hancur hatinya.
dunia-kangouw.blogspot.com
Sebelumnya dia sempat mendengar percakapan antara Hui Kauw dengan ibunya yang hendak memaksa
anaknya itu berjodoh dengan Pangeran Mongol dan hal ini ditolak tegas oleh Hui Kauw. Lalu terjadilah
kehebohan fitnah ketika dia muncul, disusul dengan terluka dan hampir tewasnya nona itu dan akhirnya
pengobatan yang dia lakukan.
Agaknya karena keadaan amat terdesak Hui Kauw menerima saja keputusan dijodohkan dengan dia,
ataukah di sana ada lain dasar? Cinta kasih? Tak mungkin! Mungkinkah kalau seorang gadis bidadari
seperti Hui Kauw sampai jatuh cinta kepada seorang buta macam dia?
Tak mungkin, bantah hatinya. Betapa pun juga, karena dia tidak menyangka akan hal-hal ini sebelumnya,
ketika mengetahui bahwa dia sedang melakukan upacara sembahyangan pengantin, dia sudah
menolaknya. Tentu saja, dia dapat membayangkan ini dengan hati perih, tentu saja Hui Kauw amat
tersinggung, bahkan terhina oleh penolakannya itu.
Gadis itu menjalani upacara hanya karena terhasut, dibohongi dan mengira bahwa dia pun sudah setuju.
Siapa tahu gadis itu mendengar betapa dia menolaknya. Seorang gadis ditolak oleh mempelai pria!
Alangkah hebat penderitaan batin gadis itu. Dapatkah gadis itu memaafkannya? Mungkinkah ada maaf
untuk penghinaan sehebat itu?
"Tak mungkin!" kini jawaban hati Kun Hong disertai suara bibirnya yang bergerak.
"Apa yang tak mungkin, Hong-Ko?" Loan Ki bertanya.
Kun Hong kaget dan baru sadar bahwa dia terlalu dalam tenggelam dalam lamunannya. "Tidak apa-apa,
Ki-moi. Aku hanya merasa heran akan sikapmu ketika berada di pulau. Pada saat aku menghadapi mereka
kenapa kau malah merobohkan aku dengan totokan? Kenapa kau menyerangku secara menggelap?
Bukankah perbuatan itu benar-benar aneh sekali, Ki-moi?"
Gadis itu cemberut. "Aneh apa? Habis melihat kau mati-matian melindungi dan membela Hui Kauw, siapa
orangnya tidak menjadi dongkol hatinya!"
Kun Hong semakin heran. Mungkinkah gadis lincah ini timbul rasa cemburu dan iri hati terhadap Hui
Kauw? Heran, tanpa adanya cinta mana bisa timbul cemburu dan iri hati? Apakah gadis ini... cinta
kepadanya? Kun Hong menggeleng kepalanya keras-keras. Tak mungkin lagi ini!
"Ki-moi, kau benar-benar orang aneh. Mula-mula kau menotokku roboh, di lain detik kau malah membelaku
ketika Ching-toanio hendak menghabisi nyawaku, lalu kau bersekutu dengan mereka, membiarkan aku
dijadikan bahan permainan dan disuruh sembahyang. Kau diam saja malah juga ikut mentertawakan."
"Tentu saja. Biar pun mendongkol aku belum ingin melihat kau mampus. Tapi kau... kau kembali membela
Hui Kauw mati-matian. Kau mencinta Hui Kauw seperti juga kau cinta Lauw Swat-ji si gadis genit puterinya
Hui-houw Pangcu itu dan seperti kau cinta si janda muda pula. Cih, orang mata keranjang macammu mana
patut dibantu?"
"Hemmm, lidahmu tajam luar biasa, adik Loan Ki. Akan tetapi mengapa kau tadi kembali membantu aku
secara tiba-tiba dan mengajakku ke luar dari pulau itu?"
Suara Loan Ki terdengar kaku membayangkan kemengkalan hatinya, "Habis, ternyata kau tidak suka
menikah dengan Hui Kauw, masa yang begini saja kau tanya?"
Makin heranlah Kun Hong. Mendengar ini semua, jawabannya hanya satu, yaitu bahwa gadis ini cinta
kepadanya. Akan tetapi sikapnya sama sekali bukan seperti orang yang mencinta.
"Kau melongo seperti orang bingung. Benar-benar bodoh sekali. Masa yang begini saja tidak mengerti,
Hong-ko? Kalau kau tergila-gila kepada seorang gadis masa aku harus berbaik kepadamu? Tidak sudi!"
"Ki-moi..." suara Kun Hong agak gemetar sebab ia amat khawatir kalau-kalau dugaannya betul, bahwa
gadis ini cinta kepadanya. "Tentang hal itu... andai kata aku tergila-gila pada seorang gadis lain, ada
sangkutan apakah dengan dirimu?"
dunia-kangouw.blogspot.com
"Sangkutan apa? Tentu saja aku tidak ada sangkut paut apa-apa! Akan tetapi, di depanku kau tidak
semestinya tergila-gila kepada lain gadis, hemmm... pendeknya aku tidak suka, dan habis perkara!"
Kun Hong semakin tak mengerti. Gadis aneh. Akan tetapi lega juga dia karena didengar dari ucapan ini,
agaknya dugaannya tidak betul, bahwa gadis ini tak mungkin jatuh cinta kepadanya.
"Sudah sampaikah ke tepi daratan, Ki-moi?"
Perahu batang pohon itu berhenti, menabrak karang.
"Sudah, mari kita melompat!" Dengan menggandeng tangan Kun Hong, Loan Ki mengajak pemuda itu
melompat ke depan dan benar saja, mereka telah tiba di daratan.
Tapi begitu mendarat, serta merta Loan Ki menangis tersedu-sedu sambil mendeprok di atas tanah,
menutupi mukanya dengan sapu tangan. Kun Hong heran dan kaget sekali.
"Ehh..., kenapa kau menangis?"
Sampai lama Loan Ki tidak dapat menjawab karena isak tangisnya membuat ia tak dapat berkata-kata. Kun
Hong terpaksa berlutut di hadapannya dan berkali-kali mengajukan pertanyaan dengan hati cemas.
"Kau kenapakah? Sakitkah kau?" Dipegangnya nadi lengan gadis itu, ternyata tidak ada gangguan
kesehatannya. "Kau tidak apa-apa, kenapa menangis?"
"Tidak apa-apa katamu? Enak saja kau bicara. Dasar kau tidak punya liangsim (pribudi), melihat orang
terhina serendah-rendahnya malah kau berpura-pura tidak tahu dan masih bertanya-tanya segala!"
"Terhina? Kau? Oleh siapa dan bagaimana?" Kun Hong benar-benar bingung.
Tiba-tiba gadis itu meloncat bangun dan membanting-banting kaki, menangis lagi. Kun Hong juga bangun,
menggeleng-geleng kepala dan makin bingung. Benar-benar dia tidak mengerti dan tidak dapat menduga
apa yang menyebabkan gadis ini berhal seperti itu.
"Ki-moi, aku mengaku bodoh, kau katakanlah, siapa yang menghinamu dan dengan cara bagaimana aku
benar-benar tidak mengerti!"
"Berkali-kali aku dikalahkan orang di pulau Ching-coa-to, aku tidak berdaya, bukankah itu berarti
penghinaan-penghinaan yang paling rendah? Kau masih pura-pura bertanya lagi?" Ia membentak marah.
Kun Hong tersenyum, "Ah, itukah yang kau anggap penghinaan? Ki-moi, menang atau kalah dalam
pertempuran merupakan hal yang lumrah di dunia persilatan, mengapa kau merasa terhina? Biar kalah
dalam pertempuran asalkan tidak salah. Orang yang berada di pihak benar boleh kalah bertempur namun
di dalam batin senantiasa merasa menang."
"Enak saja! Aku puteri tunggal dari Pek-tiok-lim, selama hidupku tak pernah kalah dalam pertempuran.
Sekarang di pulau terkutuk itu berkali-kali dikalahkan orang, sedangkan kau seorang buta saja tidak pernah
kalah. Bukankah ini memalukan sekali? Ahhh, celaka... celaka..." dan ia menangis lagi dengan amat
sedihnya.
Kun Hong merasa kasihan. Dia akan berpisah dengan gadis ini dan kalau dia tinggalkan dalam keadaan
begitu, kecewa dan berduka, sungguh dia tidak tega.
"Ki-moi, mari kuajari kau beberapa langkah yang akan membikin kau tidak mudah untuk dikalahkan orang
lagi."
Seketika suara tangis gadis itu berhenti seperti seekor jangkerik terpijak. Malah suaranya mengandung
kegembiraan besar, "Benarkah, Hong-ko? Kau hendak memberi pelajaran ilmu pukulan kepadaku?"
"Bukan ilmu pukulan, melainkan ilmu langkah rahasia. Kau lihat dan perhatikan baik-baik, semua ada dua
puluh empat langkah rahasia. Lihat dan ingat baik-baik, aku mulai!" Kun Hong lalu memasang kuda-kuda
dan mulailah dia menjalankan langkah-langkah rahasia berdasarkan Kim-tiauw-kun (Ilmu Silat Rajawali
Emas).
dunia-kangouw.blogspot.com
Melihat betapa Kun Hong melangkah dengan cara aneh, terhuyung-huyung, membongkok kadang-kadang
jinjit (berdiri di atas ujung kaki), Loan Ki merasa kecewa. Agaknya tarikan nafasnya tidak terlepas dari
pendengaran Kun Hong yang tertawa sambil berkata,
"Ki-moi, jangan kau pandang rendah ilmu langkah ini, kau cabutlah pedangmu dan kau boleh mencoba
untuk menyerangku. Dengan langkah-langkah ini semua seranganmu akan gagal."
Dasar seorang gadis jujur, tanpa bai-sengki (sungkan) lagi Loan Ki mencabut pedangnya dan menyerang
kalang-kabut. Akan tetapi ia merasa seperti menyerang bayangan saja. Kilatan pedangnya yang seakanakan
sudah akan mengenai Kun Hong sampai ia menjadi kaget sendiri, ternyata hanya lewat di samping
tubuh pemuda itu yang terus melangkah dengan cara aneh itu. Lewat tiga puluh jurus ia pun berhenti
menyerang dan menyimpan pedangnya.
"Wah, Hong-ko, hebat ilmu langkah itu. Mari kupelajari baik-baik. Kau melangkahlah, tapi jangan cepatcepat!"
katanya gembira sekali.
Maka belajarlah gadis itu dengan tekun dan penuh perhatian. Dasar ia berbakat baik dan memang sudah
memiliki dasar-dasar yang kuat, setelah berlatih beberapa hari lamanya ia sudah hafal dan dapat
melangkah dengan cukup baik. Saking girangnya gadis ini sambil menari-nari lalu memeluk Kun Hong!
"Hong-ko, terima kasih. Ilmu langkah ini apa namanya, Hong-ko?"
Kun Hong bingung. Pada waktu dia mempelajari ilmu langkah ini, dia sendiri tidak tahu namanya.
Pikirannya bekerja, kemudian dengan cerdik dia berkata, "Inilah Ilmu Langkah Hui-thian Jip-te (Terbang ke
Langit Amblas ke Bumi) sebanyak dua puluh empat langkah. Dengan ilmu ini setelah kau latih dengan
sempurna, tidak mudah kau dirobohkan orang."
Dengan cerdik Kun Hong mengatakan ‘dirobohkan orang’ karena tentu saja dengan ilmu itu masih mungkin
gadis yang lincah ini dikalahkan orang. Akan tetapi untuk dirobohkan, kiranya tidaklah mudah.
Loan Ki masih kegirangan, menari-nari dan melatih ilmu langkah yang baru ia pelajari itu. Memang pada
dasarnya dia gesit dan lincah, tentu saja kini mendapatkan ilmu langkah yang ajaib itu, ia bagaikan seekor
anak kijang tumbuh sayap! Saking asyiknya melatih diri, Loan Ki sampai tidak memperhatikan atau
menengok lagi kepada Kun Hong.
"Nah, selamat berpisah, Ki-moi. Semoga Thian akan selalu memberkahimu dan terutama sekali,
menuntunmu ke jalan benar."
Baru kaget hati Loan Ki ketika mendengar kata-kata ini. Ia berhenti dan menoleh. "Kau... hendak ke mana,
Hong-ko?"
Kun Hong tersenyum, "Tiada pertemuan tanpa akhir di dunia ini, Ki-moi. Kini kita harus berpisah
melanjutkan perjalanan masing-masing. Kau pulanglah ke rumah orang tuamu yang tentu sudah
mengharap-harap pulangmu sedangkan aku... aku akan pergi ke mana saja nasib membawaku."
"Ihh, jangan begitu, Hong-ko. Mari kau ikut saja dengan aku ke Pek-tiok-lim, ayah tentu senang bertemu
denganmu."
Kun Hong menggeleng kepala. "Terima kasih, Ki-moi. Biarlah lain kali kalau kebetulan aku lewat di sana,
aku akan singgah menyampaikan hormatku kepada orang tuamu. Sekarang belum waktunya. Nah, selamat
tinggal, adikku. Jangan lupa, janganlah kau terlalu mudah membunuh orang. Kepandaian memang untuk
menjaga diri dan membela kebenaran dan keadilan, akan tetapi sekali-sekali bukanlah untuk mendahului
Tuhan mencabut nyawa orang. Selamat tinggal." Kun Hong melangkah sambil meraba-raba dengan
tongkatnya.
"Hong-ko...!"
Akan tetapi Kun Hong tidak mau banyak rewel lagi. Dia tahu bahwa kalau dia melayani gadis ini, akan
sukar baginya untuk dapat berpisah. Maka dengan nekat Kun Hong lalu menggunakan kepandaiannya
berlari bagaikan terbang cepatnya sehingga sebentar saja lenyap dari pandangan mata Loan Ki yang
berdiri bengong ketika tak mampu mengejar, kemudian mengusap-usap kedua matanya.
dunia-kangouw.blogspot.com
Kun Hong tidak berani terlalu lama berlari cepat seperti itu. Dia telah berlaku nekat untuk cepat-cepat
meninggalkan Loan Ki. Kalau nasibnya sedang sial, mudah saja dia terjeblos ke dalam lubang atau
terguling ke selokan ketika berlari cepat seperti itu tanpa dapat mengetahui apa yang berada di depannya.
Setidaknya kepalanya bisa benjol terbentur sesuatu yang keras tanpa dapat dia elakkan. Baiknya dia
ternyata mujur karena kebetulan sekali dia berlari cepat di atas tanah yang rata.
Segera dia memperlambat larinya ketika tidak mendengar suara Loan Ki mengejar dan pada detik
selanjutnya dia hanya berjalan biasa, meraba-raba dengan tongkatnya dan menggerutu seorang diri. Dia
marah kepada diri sendiri mengapa sekarang hatinya berhal lain dari pada biasanya.
Biasanya, semua pengalaman dan peristiwa yang menimpa kepadanya, sesudah berlalu tak akan dia
kenangkan lagi, malah sebagian besar terlupa sudah. Akan tetapi mengapa sekarang benaknya penuh
dengan kenangan di pulau Ular Hijau dan pendengarannya masih penuh suara yang halus seperti suara
bidadari? Kenapa dia tidak dapat melupakan Hui Kauw?
Banyak pertanyaan mengaduk-aduk pikirannya. Kemana Hui Kauw sekarang? Bagaimana keadaannya?
Mengapa gadis bidadari itu agaknya amat dibenci oleh ibunya dan adiknya? Kenapa pula beberapa kali
Loan Ki menyebut nona bersuara bidadari itu sebagai ‘nona muka buruk’ atau ‘nona muka hitam’?
Benar-benar dia tidak dapat menjawab. Juga dia tidak mengerti mengapa suara nona itu menggores
dalam-dalam di hatinya dan kesan satu-satunya di dalam hati adalah bahwa nona Hui Kauw adalah
seorang nona seperti bidadari!
"Cui Bi... ahhh, Bi-moi... kau bantulah aku... mengapa hatiku begini lemah?" gerutunya beberapa kali dan
sesudah dia mengerahkan kenangannya kepada mendiang kekasihnya itu, perlahan-lahan terusirlah
kenangan mengenai Hui Kauw dan kegembiraannya bangkit kembali.
Sejam kemudian orang sudah dapat melihat orang muda buta ini berjalan keluar masuk hutan sambil
berdendang dengan suara nyaring.
"Wahai kasih, aku di sini..."
Pada saat kebetulan dia memasuki sebuah dusun, maka nyanyiannya terhenti dan diganti teriakan-teriakan
nyaring, "Usir penyakit... sembuhkan penyakit...! Jika di antara saudara ada yang sakit, cobalah beri
kesempatan kepada saya untuk memeriksa dan mengobati! Biaya sesukanya, serelanya, cuma-cuma bagi
si miskin!" Ucapan ini terus dia ulangi dan dengan cara inilah Kun Hong tidak sampai kehabisan bekal di
perjalanan.
Banyak orang-orang kaya yang membalas budinya dengan hadiah banyak uang emas dan perak, akan
tetapi banyak pula yang hanya membalas dengan ucapan terima kasih, malah tidak kurang jumlahnya
mereka yang tidak saja menerima pemeriksaan cuma-cuma malah yang obatnya pun dibelikan oleh Kun
Hong!
Hari ketiga semenjak dia meninggalkan Loan Ki, Kun Hong berjalan memasuki sebuah dusun di kaki
gunung. Begitu telinganya mendengar suara orang-orang dusun, dia segera meneriakkan penawarannya
untuk mengobati orang-orang yang sakit. Seperti biasa di setiap tempat yang dia datangi, teriakan ini selalu
disambut ejekan dan cemooh dan selalu orang tidak mau percaya kepadanya sampai ada bukti dia
menyembuhkan seorang sakit.
Wah, mana bisa orang buta menyembuhkan orang sakit, ejek mereka. Masih begitu muda lagi. Tentu
hanya tukang menipu, kata yang lain pula. Malah ada yang secara mengejek menyakitkan hati berkata,
"Mata sampai buta tidak bisa menyembuhkan, masih tak tahu malu hendak mengobati orang lain!"
Sekarang juga di dalam dusun itu, tak seorang pun menghiraukannya kecuali beberapa orang anak nakal
yang mengikutinya sambil tertawa-tawa menggoda, bahkan ada yang meniru teriakan-teriakannya. Namun,
seperti biasanya Kun Hong hanya tersenyum sabar, semenjak dia kehilangan Cui Bi dan kedua biji
matanya, kesabarannya menebal.
Memang luar biasa sekali besarnya kesabaran Kun Hong, dan sangatlah mengharukan ketika ada
beberapa orang anak nakal menggunakan batu-batu kerikil menyambitinya. Dia berhenti berjalan,
menengok ke arah anak-anak itu dan berkata dengan suara halus tapi penuh peringatan.
dunia-kangouw.blogspot.com
"Anak-anak, senangkah hati kalian bisa mengganggu seorang buta? Kalian senang, akan tetapi yang
kalian ganggu belum tentu senang. Anak-anak, coba kalian meramkan mata sejenak dan bayangkan
keadaan seorang buta. Andai kata kalian tiba-tiba menjadi buta, tidak bisa memandang wajah ayah bunda
kalian... kemudian kalian... kalian diganggu oleh anak-anak seperti sekarang ini, bagaimana rasa hati
kalian?"
Ucapan ini halus dan sama sekali tidak mengandung kemarahan, akan tetapi langsung menusuk jantung
anak-anak dusun itu. Memang bocah dusun amat jauh bedanya dengan bocah kota. Bocah dusun
belumlah terlalu rusak oleh keduniawian, batinnya masih cukup bersih dan mudah mereka menerima halhal
yang langsung menyinggung perasaan. Oleh karena ini, ucapan halus ini membuat mereka sejenak
berdiam. Malah di antara mereka mulai saling menyalahkan karena mengganggu seorang buta.
Kun Hong gembira sekali, tertawa dan mengeluarkan beberapa keping uang tembaga, "Anak-anak baik,
aku si orang buta tidak punya apa-apa, hanya ada uang kecil ini. Nah, bagi-bagilah rata di antara kalian."
Anak-anak itu semua adalah anak-anak dusun yang miskin. Tentu saja mereka menjadi girang sekali dan
bersorak-sorak menerima hadiah yang sama sekali tidak tersangka-sangka itu. Yang paling besar maju
menerima uang dari Kun Hong dan dibagi-bagilah uang itu merata.
Diam-diam Kun Hong kagum dan girang. Biar pun nakal seperti lajimnya anak-anak lelaki tanggung, namun
ternyata bahwa mereka itu rukun dan jujur, terbukti ketika uang-uang dibagi tidak terjadi keributan.
"Paman buta ini baik sekali!" berteriak seorang anak kecil.
"Hari ini hari baik!" berkata yang lain. "Kita bertemu dengan kakek tua hampir mati di kuil rusak, kemudian
dengan paman buta ini. Apa bila banyak orang seperti mereka berdua, alangkah senangnya hidup kita!"
Kun Hong tertarik lalu mendekat. "Anak-anak yang baik, siapakah kakek tua hampir mati?"
"Dia seorang kakek tua, tinggi besar seperti raksasa, tapi dia menderita sakit dan hampir mati. Biar pun
hampir mati, dia amat baik, membagi-bagikan barang dan uangnya kepada kami!" kata seorang anak.
"Apakah dia tidak punya keluarga? Kenapa tinggal di kuil rusak?" Kun Hong mendesak, hatinya terharu.
"Dia bilang tidak punya keluarga, sebatang kara dan kuil rusak itu memang sudah tidak digunakan lagi. Dia
luka-luka, yang paling hebat luka di tengkuknya, ihhh banyak sekali darahnya keluar."
Kun Hong segera memegang tangan anak itu, begitu cepat sehingga bocah itu kaget. Tak seorang pun di
antara mereka ingat betapa anehnya seorang buta sanggup menangkap tangan anak itu seperti dapat
melihat saja.
"Anak baik, hayo kau antarkan aku ke kuil itu," katanya.
"Mau apa kau ke sana? Dia berpesan supaya orang jangan mengganggunya," anak itu ragu-ragu.
"Aku bisa mengobati luka-lukanya, siapa tahu bisa menyembuhkannya."
"Wah, baik sekali ini!" Anak-anak itu bersorak. "Bawa dia ke sana, dua orang yang baik hati bertemu dan
berkumpul. Paman buta kalau betul bisa menyembuhkannya, tentu dia senang hati!"
Beramai-ramai tujuh orang anak itu mengantarkan Kun Hong ke sebuah kuil rusak yang berada di luar
dusun. Tempat yang sunyi, yang tidak pernah didatangi orang kecuali anak yang suka bermain-main di
tempat sunyi seperti itu. Anak-anak itu mengajak Kun Hong memasuki kuil, akan tetapi mereka menjadi
kecewa ketika tiba di dalam.
"Ah, dia sudah pergi...!" kata anak-anak itu setelah mencari ke sana ke mari tidak melihat kakek yang
mereka ceritakan tadi.
Akan tetapi Kun Hong dengan pendengarannya dapat menangkap adanya orang itu yang bersembunyi di
atas! Hemmm, mengapa orang itu bersembunyi? Agaknya dia tidak suka bertemu dengan orang lain, pikir
Kun Hong.
dunia-kangouw.blogspot.com
"Anak-anak, kakek itu sudah pergi. Biarlah, dan sekarang tempat ini untuk sementara akan kupergunakan
untuk mengaso. Kalian pergilah sana main-main, jangan ganggu aku yang hendak mengaso di sini.
Tentang kakek itu, seperti yang dia sudah pesan kepada kalian, jangan kalian ceritakan kepada siapa pun
juga, ya?"
Seperti burung-burung di waktu pagi anak-anak itu menjawab, lalu berserabutan mereka lari keluar dari kuil
itu. Kun Hong lalu meraba dengan tangannya membersihkan lantai yang penuh debu, kemudian duduk
bersandar dinding yang retak-retak saking tua dan tak terpelihara.
Dengan pendengarannya yang luar biasa Kun Hong dapat menangkap tarikan napas yang berat, tanda
bahwa orang itu terluka parah. Namun masih mampu bersembunyi di atas membuktikan bahwa orang itu
bukanlah orang sembarangan.
"Bertemu dengan seorang buta tidak ada bahayanya karena dia tidak pandai mengenal muka orang. Loenghiong
(orang tua gagah) silakan turun, siapa tahu siauwte (aku yang muda) dapat membantu lukalukamu,"
katanya perlahan.
Terdengar napas ditahan, agaknya orang itu terkejut. Kemudian menyambar turun tubuh seseorang, akan
tetapi kakinya menimbulkan suara berat ketika dia sudah meloncat turun ke bawah, terang bahwa selain
ilmu ginkang-nya kurang hebat, mungkin juga dikarenakan luka-lukanya yang berat. Kun Hong tahu bahwa
orang itu sudah berdiri di depannya, maka dia bersiap-siap menghadapi segala kemungkinan.
"Kau... kau... bukankah kau Kwa Kun Hong dari Hoa-san-pai?" tiba-tiba orang itu berkata, suaranya besar.
Kun Hong cepat bangkit berdiri, lalu menjura penuh penghormatan. "Ah, kiranya Tan-taijin (pembesar Tan)
yang berada di sini, cocok dengan dugaanku. Benar, Tan-taijin, aku si buta adalah Kwa Kun Hong..."
Belum habis Kun Hong bicara, orang itu sudah menubruk dan memeluknya sambil berkata dengan suara
terharu, "Ahh, anakku... kasihan sekali kau... siapa kira kau akan menjadi begini."
Kun Hong menggigit bibirnya dan dia maklum akan keharuan kakek gagah perkasa ini. Dahulu dia pernah
bertemu dengan Tan Hok ini ketika Tan Hok masih menjadi pembesar kepercayaan kaisar di kota raja.
Kemudian untuk kedua kalinya bertemu lagi di puncak Thai-san, malah kakek ini menjadi saksi pula akan
peristiwa hebat di puncak Thai-san yang mengakibatkan kematian Cui Bi dan kebutaan matanya (baca
Rajawali Emas).
Sekarang, agaknya karena teringat akan peristiwa itu dan melihat keadaan dirinya seperti seorang
pengemis buta ini, maka kakek itu mengeluarkan ucapan seperti itu. Kun Hong memaksa diri tersenyum
dan balas memeluk.
"Tan-taijin... kau benar-benar seorang yang berbudi mulia. Dirimu sendiri sedang terluka parah, menderita
akibat menjadi korban perampokan, akan tetapi kau masih bisa menaruh kasihan kepada seorang seperti
aku..."
Tan Hok melepaskan pelukannya, agaknya terkejut dan heran.
"Kun Hong... bagaimana kau bisa tahu akan keadaanku?"
"Tan-taijin..."
"Hushh, jangan sebut aku taijin lagi, aku bukan lagi pembesar. Aku lebih patut menjadi pamanmu!" tukas
bekas pembesar itu.
"Maaf, Paman Tan Hok, memang benar ucapanmu itu. Mari duduklah dan sebelum kita bicara biarlah aku
memeriksa dan berusaha mengobati luka-lukamu."
Kakek tinggi besar itu memang Tan Hok adanya. Dia adalah bekas pejuang yang dahulu namanya amat
terkenal sebagai salah seorang di antara pemimpin pasukan Pek-lian-pai, berjuang bahu membahu dengan
para patriot lain dalam usaha mereka menumbangkan kekuasaan Mongol. Setelah usaha ini berhasil dan
Ciu Goan Ciang mendirikan Kerajaan Beng dan menjadi kaisar, karena jasanya yang amat besar, Tan Hok
dunia-kangouw.blogspot.com
lalu diangkat menjadi pembesar di kota raja. Ketika dalam perjuangannya itu, Tan Hok malah mengangkat
tali persaudaraan dengan Si Raja Pedang Tan Beng San, sekarang ketua Thai-san-pai.
Sekarang bekas pembesar itu malah menjadi buronan, tinggal di dalam sebuah kuil rusak dalam keadaan
terluka parah sekali. Sungguh nasib manusia tak dapat disangka-sangka sebelumnya.
Cepat Kun Hong melakukan pemeriksaan. Tan Hok menderita banyak luka-luka, akan tetapi yang paling
hebat adalah luka di tengkuk dan di punggung bekas bacokan senjata tajam. Oleh karena tidak segera
mendapat pengobatan, kini luka-luka itu keracunan dan membengkak, mendatangkan demam hebat. Kun
Hong segera mengeluarkan sebatang jarum perak, membuka luka-luka membengkak itu, mengeluarkan
darah yang menghitam, lalu menaruh obat bubuk yang selalu tersedia di dalam buntalannya, bahkan
memberikan sebungkus obat lainnya untuk diminum.
"Syukur keadaan luka-lukamu belum terlalu lama," katanya menghibur. "Sesudah minum obat dalam tiga
hari tentu akan pulih kembali tenaga paman. Biarlah aku mencari seorang anak untuk disuruh membeli
obat."
"Tidak usah, hiante. Di dusun ini mana ada toko obat? Kau katakan saja nama obat-obat itu, aku akan
mencarinya di kota. Sekarang pun rasanya sudah banyak enakan, terima kasih. Kwa-hiante, sekarang kau
ceritakanlah bagaimana kau tahu bahwa aku mengalami perampokan?"
Kun Hong tersenyum. "Aku malah sudah pernah memegang mahkota kuno yang dirampas perampokperampok
Hui-houw-pang dari tanganmu, Paman Tan Hok."
Dengan tangan gemetar Tan Hok mendadak memegang lengan Kun Hong. "Betulkah itu? Kun Hong, betulbetul
kau pernah melihat mahkota itu..."
"Melihat sih tak mungkin Paman..."
"Ah, maafkan, sampai lupa aku... tapi, tahukah kau di mana sekarang mahkota itu?"
Suara yang penuh gairah ini menimbulkan keheranan di hati Kun Hong. Masa orang yang sudah dia
ketahui sebagai seorang gagah yang berbudi ini sekarang begini serakah dan begini loba akan harta
benda?
Pula, kalau betul apa yang dia dengar, bukankah semua harta itu termasuk mahkota kuno adalah benda
simpanan kerajaan yang dicuri dan dilarikan oleh Tan Hok? Dan kenapa dia melarikan diri membawa harta
curian, bagaimana pula keadaan keluarganya? Mengapa dia tidak menceritakan keadaannya, tidak
menyusahkan keadaannya malah seperti tidak peduli akan luka-lukanya sebaliknya serta merta
menanyakan mahkota itu?
Kun Hong merasa tidak puas dan tidak ingin menceritakan apa yang dia ketahui tentang mahkota itu
sebelum dia mendengar jelas duduknya perkara.
"Paman Tan Hok, mengapa benda itu agaknya amat penting untukmu. Milik Pamankah benda itu?"
Mendengar nada suara kecewa dari pemuda ini Tan Hok lantas menarik napas panjang. “Memang
kedengarannya bodoh pertanyaanku tadi, seakan-akan tiada yang lebih penting dari pada benda berharga
itu. Memang sesungguhnya demikian, Kwa-hiante. Keluargaku binasa, isteriku tewas, hampir aku sendiri
tewas, namun bagiku mahkota itu lebih penting. Kau dengarkan baik-baik penuturanku."
Tan Hok lalu bercerita…..
Seperti telah diketahui, ketika kaisar pertama Kerajaan Beng-tiauw sudah tua dan mulai berpenyakitan,
maka terjadilah perebutan kekuasaan di kota raja. Akan tetapi karena para pangeran atau mereka yang
telah berjasa dalam menumbangkan Kerajaan Mongol masih merasa segan dan takut kepada kaisar
sebagai pendiri Kerajaan Beng, sewaktu kaisar masih hidup, mereka tidak berani berterang. Diam-diam
terjadi persaingan hebat, malah didesas-desuskan bahwa putera mahkota kaisar juga diam-diam terbunuh
oleh seorang di antara saingannya, terbunuh dengan racun. Kemudian cucu kaisar, yaitu putera pangeran
mahkota yang meninggal, bernama Pangeran Kian Bun Ti, diangkat menjadi calon kaisar.
dunia-kangouw.blogspot.com
Hal ini tentu saja mendatangkan rasa iri hati dan dendam yang disembunyikan. Namun sebaliknya,
Pangeran Kian Bun Ti yang pandai mengambil hati kakeknya, memperkuat kedudukan dan pengaruhnya.
Bahkan akhirnya ketika kaisar yang tua itu berpenyakitan dan semakin lemah, boleh dibilang segala
keputusan kaisar tua tergantung dari pengaruh Pangeran Kian Bun Ti inilah.
Sayang sekali bahwa pangeran ini sangat terkenal sebagai seorang pemuda pemogoran, pemuda hidung
belang, dan pemuda yang gampang sekali dipermainkan dan dipengaruhi oleh para penjilat. Pendeknya,
seorang muda yang dangkal sekali pikirannya dan tidak bijaksana. Orang-orang yang mengelilinginya
adalah orang-orang dari golongan hitam.
Tentu hal ini amat mengkhawatirkan hati para pembesar yang setia kepada kaisar tua dan Pemerintah
Beng yang baru. Di antaranya terdapat Tan Hok yang menjadi kepercayaan Kaisar Thai Cu, yaitu pejuang
Ciu Goan Ciang yang berhasil merobohkan kekuasaan Mongol. Diam-diam mereka ini memberi ingat
kepada kaisar, akan tetapi ternyata kaisar itu selain sudah terkena pengaruh dan amat mencinta cucunya,
juga karena kekuasaan Pangeran Kian Bun Ti sudah amat kuat, tidak mempercayainya.
Akan tetapi Kaisar Thai Cu akhirnya terbuka juga pikirannya dan melihat gejala tidak baik dalam watak
cucunya. Namun segala sesuatu telah terlambat, dia telah menjadi lemah berpenyakitan, sedangkan
pembesar-pembesar tinggi dan berkuasa sudah jatuh di bawah pengaruh pangeran mahkota. Andai kata
kaisar tua ini akan mengambil tindakan, dia pun khawatir kalau-kalau terjadi pemberontakan dan alangkah
akan malu hatinya kalau dalam keadaan tua menghadapi kematian itu dia harus menghadapi
pemberontakan cucunya sendiri. Dia tidak berdaya dan kesehatannya makin mundur karena hatinya
tertekan.
"Demikianlah, Kwa-hiante, keadaan akan kota raja. Keadaannya panas seperti api dalam sekam. Para
setiawan terhadap kaisar tua merasa hidup di atas ujung pedang dan kami maklum bahwa setiap saat bila
kaisar tiada, tentu kami akan dihalau, bahkan nyawa kami terancam. Kalau pangeran mahkota belum
berani terang-terangan memusuhi kami adalah karena dia masih sungkan terhadap kaisar." Tan Hok
mengaso sebentar untuk bernapas panjang, nampaknya patriot tua ini merasa berduka sekali akan
keadaan negaranya.
"Beberapa pekan sebelum kaisar meninggal dunia, aku dipanggil menghadap dan kaisar mengusir semua
orang ke luar dari kamarnya. Kaisar kemudian menyerahkan sebuah surat perintah di mana kaisar
memerintahkan puteranya yang menjadi raja muda di utara, yaitu Pangeran Yung Lo, untuk bertindak dan
menggantikan kedudukan kaisar apa bila kelak ternyata Pangeran Kian Bun Ti tidak benar dalam
menjalankan tugas sebagai kaisar baru. Pendeknya, dalam surat perintah itu, mendiang kaisar memberi
kekuasaan kepada puteranya itu untuk menjadi penghukum atas diri keponakannya, yaitu Pangeran Kian
Bun Ti. Surat itu dipercayakan kepadaku untuk kelak disampaikan kepada Pangeran Yung Lo pada waktu
keadaan memerlukannya."
Kun Hong sebetulnya tidak peduli akan keadaan pemerintah, karena memang dia tidak menaruh perhatian
atas kehidupan kaisar dan para pembesar. Akan tetapi mendengar penuturan ini, dia tertarik.
"Kemudian bagaimana, Paman Tan?" Tan Hok menarik napas panjang.
"Tugasku itu berat sekali karena aku termasuk orang yang dianggap musuh oleh Kian Bun Ti. Banyak hal
yang membikin dia tidak senang kepadaku, di antaranya peristiwa dengan dua orang keponakanmu dahulu
itu dan peristiwa di puncak Thai-san. Karena tahu akan ancaman bahaya ini, maka surat penting itu lalu
kusembunyikan, tidak di dalam rumahku. Kemudian kekhawatiranku menjadi kenyataan, beberapa bulan
setelah kaisar wafat. Kian Bun Ti yang sudah mengangkat diri menjadi kaisar itu melakukan pembersihan
terhadap pembesar-pembesar setiawan, di antaranya termasuk pula aku. Rumahku disita, isteriku sampai
tewas dalam keributan, aku dapat melawan dan melarikan diri dengan pertolongan anak buahku yang
setia. Tidak lupa aku membawa surat rahasia itu bersamaku. Namun celaka sekali, nasib sedang buruk, di
dalam perjalananku melarikan diri itu, aku diserang oleh perampok-perampok Hui-houw-pang sehingga
menderita luka-luka. Ini masih belum apa-apa, yang membuat aku putus asa adalah surat itu kena
terampas juga sungguh pun tidak ada orang yang mengetahui di mana tempatnya." (baca Rajawali Emas)
"Hemm, agaknya surat itu Paman sembunyikan di dalam mahkota kuno itu, bukan?"
"Betul, Hiante! Inilah sebabnya mengapa aku ingin tahu di mana adanya mahkota itu sekarang. Benda itu
jauh lebih berharga dari pada nyawaku!"
dunia-kangouw.blogspot.com
Mendengar ucapan yang bersemangat ini, Kun Hong mengerutkan keningnya.
"Paman Tan Hok, surat itu hanyalah surat yang menyangkut urusan perebutan warisan mahkota dan
kedudukan kaisar, urusan keluarga kaisar belaka. Bagaimana kau anggap lebih berharga dari pada
nyawamu? Keadaanmu sendiri amat sengsara, isteri meninggal, rumah tangga berantakan, bahkan diri
sendiri menderita begini hebat. Mengapa kau lebih mementingkan urusan kaisar? Apakah karena Paman
mempunyai harapan bahwa kelak kalau Pangeran Yung Lo berhasil merebut kekuasaan, lalu Paman akan
diberi kedudukan tinggi?"
Sejenak Tan Hok tak berkata apa-apa. Kun Hong tidak tahu betapa orang tua tinggi besar itu memandang
kepadanya dengan mata mendelik alis berdiri, bukan main marahnya!
"Hiante... Hiante... kalau aku tidak ingat kau sudah buta, kalau aku tidak ingat bahwa kau putera Kwa Tin
Siong, kalau aku tidak tahu bahwa kau seorang pendekar gagah perkasa dan bahwa ucapanmu ini hanya
karena tidak mengerti, telah kujatuhkan kedua tanganku untuk memukulmu sampai mati!"
Kun Hong kaget setengah mati sampai dia meloncat ke atas dalam keadaan masih duduk bersila.
Perbuatan ini tidak dia sengaja saking kagetnya, namun Tan Hok menjadi kagum bukan main. Sedikit
banyak orang she Tan ini adalah seorang pejuang kawakan, seorang yang mengerti akan ilmu silat tinggi,
akan tetapi ilmu meringankan tubuh seperti ini baru sekarang dia melihatnya.
Kun Hong yang sudah duduk kembali cepat berkata sambil mengangkat kedua tangannya di depan dada.
"Maaf, Paman. Aku benar-benar kaget. Kuanggap kaulah yang keliru dan terlalu mementingkan harta dan
kedudukan, siapa kira kau anggap aku yang keliru. Harap jelaskan, kekeliruan bagaimana yang kulakukan
dengan ucapanku tadi, agar terbuka mata hatiku."
Tan Hok memegang lengan Kun Hong. "Anak muda, kau pandai ilmu silat, kau ahli filsafat, kau pun
seorang yang berbudi dan penuh welas asih, akan tetapi agaknya ayahmu tidak menurunkan pengetahuan
tentang jiwa kepahlawanan padamu. Ketahuilah bahwa semua usahaku ini kulakukan bukan sekali-kali
untuk mencari kedudukan, bukan sekali-kali untuk membela kaisar semata-mata, melainkan demi
kepentingan negara dan bangsa!"
Kun Hong kaget. "Bagaimana penjelasannya, Paman? Aku tidak mengerti."
"Ketahuilah bahwa jatuh bangunnya kebangsaan adalah dalam tangan pemerintah yang memegang
tampuk pimpinan. Demikian pula dengan kesejahteraan rakyat, kemakmuran, kemajuan, ketenteraman
hidup, semuanya berada di tangan pemerintah yang berkuasa. Kalau orang-orang yang memegang
tampuk kekuasaan terdiri dari orang-orang yang tidak bersih batinnya, yang tidak baik martabat dan
wataknya, pemerintah akan menjadi lemah, kacau-balau dan rakyat akan hidup sengsara. Walau pun kita
telah berhasil menghalau pemerintah penjajah dan menjadi merdeka, namun bahaya masih selalu
mengancam dari segenap penjuru. Bajak-bajak laut Jepang selalu merongrong keamanan di pantai timur,
terutama sekali orang-orang Mongol yang hendak membalas dendam atas kekalahannya selalu berusaha
menyerang dari utara. Juga suku-suku bangsa di sekitar perbatasan barat mengincar kedudukan di pusat
sehingga jika pemegang pemerintahan lemah, ada bahaya besar mengancam negara dan bangsa. Aku
melihat sendiri betapa lemah Pangeran Kian Bun Ti, betapa buruk wataknya dan dia hanya mementingkan
kesenangan diri pribadinya tanpa mempedulikan bangsanya dan tugasnya sebagai pemimpin. Oleh karena
inilah aku sebagai seorang pencinta bangsa dan negara, harus ikut bertindak, kalau perlu membantu
Pangeran Yung Lo menjatuhkan Pangeran Kian Bun Ti sehingga keadaan pemerintahan kuat, negara dan
bangsa menjadi makmur. Itulah cita-citaku, sama sekali bukan untuk kepentingan diriku sendiri dan inilah
cita-cita semua patriot yang mencintai bangsanya."
Inilah pelajaran baru bagi Kun Hong. Semenjak kecil, ketika dia dahulu masih gemar membaca kitab-kitab,
dia selalu membaca kitab-kitab filsafat, kebatinan dan kesasteraan. Belum pernah dia mempelajari tentang
tata negara, tentang politik, mau pun sifat-sifat pahlawan yang berjiwa patriot. Akan tetapi oleh karena
dasar dari pada sifat kepahlawanan ini pun sama, yaitu sifat yang mementingkan kemakmuran rakyat dari
pada diri sendiri, yaitu sifat yang sangat indah dan baik, maka dengan mudah dia dapat menerimanya.
"Terima kasih, Paman. Sekarang aku telah mengerti dan maafkan atas prasangkaku yang bukan-bukan
akan usahamu yang ternyata suci murni dan gagah perkasa itu. Nah, kini giliranku untuk bercerita tentang
mahkota kuno itu."
dunia-kangouw.blogspot.com
Dengan singkat, Kun Hong menceritakan tentang mahkota itu kepada Tan Hok. Bahwa mahkota itu
dijadikan rebutan antara Hui-houw-pang dan Kiang-liong-pang yang hendak menggunakan benda itu untuk
mencari kedudukan serta mencari muka di depan kaisar baru. Bahwa kemudian mahkota itu terjatuh ke
dalam tangan Tiat-jiu Souw Ki akan tetapi terampas kembali oleh seorang gadis pendekar bernama Loan
Ki, tapi kemudian dalam kunjungan ke pulau Ular Hijau bersama dia, mahkota itu akhirnya terampas oleh
majikan pulau Ular Hijau yang dibantu banyak orang pandai.
Mendengar ini, Tan Hok menjadi sangat gembira. "Memang bukan hal menggembirakan mendengar benda
itu terjatuh ke dalam tangan orang-orang jahat yang lihai, akan tetapi masih tidak begitu buruk. Celakalah
kalau mahkota itu sampai terjatuh ke tangan kaisar baru, tentu akan musnah pula surat rahasia itu. Kun
Hong, bagaimanakah keadaan Pulau Ching-coa-to di telaga itu? Adakah harapan andai kata aku diamdiam
menyelidik ke sana dan mencari kesempatan untuk merampasnya kembali? Aku sudah menghubungi
banyak teman, bekas anak buahku di Pek-lian-pai dahulu dan aku bisa mengumpulkan tenaga-tenaga
yang dapat dipercaya."
Kun Hong menggeleng kepala. "Berbahaya, Paman. Majikan pulau itu, Ching-toanio dan anak
perempuannya, adalah dua orang yang berilmu tinggi, sukar dikalahkan. Pulau itu sendiri penuh jebakan
dan perangkap yang sangat berbahaya. Ini semua masih belum hebat, yang paling sulit adalah kenyataan
bahwa Ching-toa-nio sudah mendapat bantuan orang-orang pandai dan benar-benar lihai. Apa lagi Ka
Chong Hoatsu, dia benar-benar merupakan tokoh yang sukar dilawan. Harap kau jangan sembrono
menyerbu ke sana, sebaiknya dicari jalan yang baik."
Berkali-kali Tan Hok mengeluh. "Aku sudah tahu hingga di mana hebatnya kepandaianmu, Hiante, akan
tetapi kau sendiri masih memuji penghuni Ching-coa-to, berarti tentu mereka benar-benar lihai. Kalau
begini, tidak ada lain jalan bagiku kecuali pergi ke Thai-san dan minta bantuan adikku Beng San, Thai-san
Ciang-bun-jin (ketua Thai-san-pai)."
Kun Hong mengangguk-angguk. "Kiranya memang hanya paman Beng San yang akan sanggup merampas
kembali mahkota itu."
Tan Hok memegang pundak Kun Hong. "Terima kasih atas pertolonganmu dan terutama atas keterangan
tentang mahkota itu, Hiante. Sekarang juga aku akan berangkat menuju ke Thai-san agar tidak terlambat.
Tolong kau beri tahukan kepadaku resep obat itu."
Kun Hong lalu menyebutkan nama bahan-bahan obat. Dia sengaja memilih ramuan yang tidak banyak
macamnya tetapi yang paling manjur. Kemudian mereka berpisah dan Kun Hong tidak mencegah perginya
kakek itu karena dia maklum akan pentingnya tugas kakek patriot ini.
Setelah kakek raksasa Tan Hok itu pergi, Kun Hong termenung di dalam kuil rusak. Cerita kakek itu luar
biasa mempengaruhi hatinya. Bangkit jiwa kepahlawanannya. Memang, apa artinya hidup ini apa bila tidak
mampu berbuat kemanfaatan bagi sesama manusia? Dan kiranya kemanfaatan yang paling utama adalah
kebaktian terhadap nusa dan bangsa, kebaktian yang tak kenal batas, kebaktian berdasarkan rela
berkorban, baik harta benda, badan, mau pun nyawa. Betapa mulianya, betapa besarnya. Dan Tan Hok
adalah seorang pahlawan, seorang patriot seperti itu.
Tetapi dia adalah seorang buta. Apa yang dapat dia lakukan untuk ikut-ikutan berdarma bakti terhadap
tanah air dan bangsa? Kepandaiannya hanya dapat dia pergunakan untuk membela diri, atau melindungi
orang-orang tertindas yang kebetulan bertemu dengannya. Terbatas dan sempit sekali. Bagaimana dia
akan dapat ikut membantu perjuangan seperti yang dilakukan kakek Tan Hok?
Kun Hong termenung sedih. Keadaan negara sedang kacau balau. Orang-orang besar berebutan pangkat,
saling serang saling menjatuhkan, untuk membantu golongan masing-masing, untuk mengangkat kaisar
pilihan masing-masing.
Kun Hong seorang ahli filsafat. Dia dapat menduga apa akan jadinya kalau orang-orang yang memiliki
bakat dan kepandaian memimpin rakyat, sibuk maunya sendiri berebutan kedudukan. Lupa bahwa mereka
itu menjadi pembesar dan pemimpin untuk mengatur kehidupan rakyat, untuk mendatangkan
kesejahteraan dan kemakmuran bagi rakyat.
Kalau para pembesar dan yang menyebut dirinya sendiri atau disebut orang pemimpin-pemimpin itu bisa
saling bekerja sama mencurahkan pikiran dan tenaga demi kepentingan rakyat, sudah tentu negara akan
menjadi aman dan baik, kesejahteraan rakyat terjamin, kesukaran-kesukaran teratasi. Akan tetapi
dunia-kangouw.blogspot.com
sebaliknya kalau orang-orang besar ini saling cakar untuk berebutan kedudukan, agaknya kesejahteraan
atau kemakmuran hanya akan terasa oleh mereka sendiri, negara menjadi kacau, keamanan rusak, hukum
dan keadilan tidak berlaku, hukum liar atau hukum rimba merajalela, siapa kuat dia menang dan siapa
menang dia benar selalu.
Semua renungan ini membuat Kun Hong berduka karena dia tidak berdaya untuk turut menggulung lengan
baju dan membantu usaha para patriot. Kemudian dia teringat akan mahkota itu. Mahkota yang
menyimpan sehelai surat rahasia dari mendiang kaisar. Surat itu penting sekali, karena siapa tahu
kekuasaan dan pengaruh surat peninggalan kaisar itu akan dapat mengakhiri kedudukan Kaisar Muda Kian
Bun Ti tanpa harus terjadi banyak pertumpahan darah.
Ah, mengapa dia tidak berusaha mendapatkan surat itu? Ini pun akan merupakan sebuah usaha
perjuangan untuk membantu para patriot! Dia harus kembali ke Ching-coa-to dan berusaha mendapatkan
mahkota itu! Akan tetapi bagaimana? Selain dia buta, juga pulau itu amat berbahaya, penuh rahasia,
bagaimana dia bisa mencari mahkota itu? Belum lagi diingat bahwa penghuni pulau amat lihai sehingga
merampas mahkota merupakan hal yang amat tak mungkin baginya. Akan berbeda kiranya kalau dia tidak
buta.
"Duhai Cui Bi..." keluhnya sedih, "...ternyata pengorbananku membutakan mata ini sama sekali tidak hanya
merugikan aku, sebaliknya malah merugikan cita-cita baik, merugikan perjuangan dan menambah dosaku
belaka..."
Kita tinggalkan dulu Kun Hong yang berkeluh kesah dan mari kita menjenguk keadaan di puncak Thaisan…..
********************
Pegunungan Thai-san dengan banyak puncaknya merupakan pegunungan yang terkenal dengan
pemandangan alamnya yang amat indah dan sebagian besar masih liar, belum terjamah tangan dan
terinjak kaki manusia. Beberapa tahun akhir-akhir ini, nama Thai-san muncul menjadi nama terkenal di
dunia persilatan dengan berdirinya Partai Persilatan Thai-san-pai.
Biar pun baru beberapa tahun berdirinya, namun para partai persilatan memandang partai baru ini dengan
segan dan hormat karena mereka mengenal siapa orang yang menjadi pendiri dan tulang punggung partai
baru ini. Siapakah di antara orang-orang kang-ouw tak pernah mendengar nama Raja Pedang Tan Beng
San?
Inilah ketua Thai-san-pai, bahkan pendiri Thai-san-pai, seorang pendekar gagah perkasa yang memiliki
ilmu pedang tinggi sehingga mendapat julukan Raja Pedang yang baru. Ada pun raja pedang lama adalah
ayah mertuanya yang sudah meninggal, yaitu Raja Pedang Cia Hui Gan yang berjuluk Bu-tek Kiam-ong
(Raja Pedang Tiada Bandingan).
Tentu saja isteri ketua Thai-san-pai ini, puteri Bu-tek-kiam-ong, juga seorang ahli pedang yang sulit dicari
bandingannya. Memang demikianlah, nyonya ketua Thai-san-pai ini amat pandai dalam ilmu pedang, apa
lagi Ilmu Pedang Sian-li Kiam-hoat (Ilmu Pedang Bidadari) yang menjadi kepandaian warisan.
Seperti dituturkan jelas dalam cerita Rajawali Emas, ketua Thai-san-pai ini mempunyai tiga orang anak.
Pertama adalah Tan Sin Lee, puteranya yang terlahir dari mendiang Kwa Hong, yang sejak kecil dididik
oleh ibunya itu sangat lihai. Yang ke dua adalah Tan Kong Bu, puteranya yang terlahir dari mendiang Kwee
Bi Goat dan putera ke dua ini sejak kecil dirawat dan dididik oleh kakeknya, Song-bun-kwi Kwee Lun Si
Iblis Berkabung. Anaknya yang ketiga, terlahir dari Cia Li Cu isterinya terakhir, adalah mendiang Tan Cui
Bi. Semua ini telah dituturkan dengan jelas dan hebat di dalam cerita Rajawali Emas.
Seperti sudah diceritakan dalam Rajawali Emas, di Thai-san dirayakan pernikahan antara Tan Sin Lee
dengan Thio Hui Cu dan Tan Kong Bu dengan Kui Li Eng. Perayaan itu amat meriah dan sekaligus ketua
Thai-san-pai ini berbesan dengan tokoh-tokoh Hoa-san-pai karena dua orang gadis itu, Hui Cu dan Li Eng
adalah anak murid Hoa-san-pai.
Beberapa bulan sesudah menikah. Tan Sin Lee lalu membawa isterinya ke Pegunungan Lu-liang-san
tempat tinggal mendiang ibunya. Di tempat ini dia mempunyai sebuah rumah gedung yang lengkap dan
mewah, juga mempunyai sawah ladang yang cukup luas. Bersama isterinya dia hidup dengan penuh
dunia-kangouw.blogspot.com
kebahagiaan di tempat dingin ini, disegani dan dihormati oleh para penduduk di sekitar pegunungan itu
karena sikap kedermawanan dan keramahan mereka.
Ada pun Tan Kong Bu lain lagi kesukaannya. Dia membawa isterinya dan juga diikuti oleh kakeknya ke
Pegunungan Min-san di mana dia bercita-cita mendirikan partai seperti yang dilakukan ayahnya, untuk
memperkembangkan ilmu silat yang dia miliki. Juga isterinya merupakan seorang pendekar wanita yang
sangat tinggi ilmu silatnya, ilmu silat Hoa-san yang asli.
Suami isteri muda ini bercita-cita untuk menggabungkan ilmu silat mereka yang berlainan ragamnya ini
menjadi ilmu silat partai mereka. Song-bun-kwi yang sudah tua tentu saja menjadi pelindung dan
penasehat. Di dalam masa tuanya kakek ini dapat juga mengecap kebahagiaan dengan menyaksikan
kerukunan cucunya itu.
Demikianlah, walau pun tadinya bergembira ria dalam merayakan pernikahan Sin Lee dan Kong Bu,
setelah anak-anak itu pergi membawa isteri masing-masing, ketua Thai-san-pai serta isterinya merasa
kesunyian. Puteri mereka satu-satunya, gadis lincah jenaka yang amat mereka sayang, sudah meninggal
dunia dalam keadaan mengenaskan, membunuh diri karena patah hati dalam cinta kasihnya dengan Kwa
Kun Hong. Sekarang, dua orang putera yang baru saja muncul mengakui ayah mereka setelah mereka itu
dewasa, telah pergi pula. (baca Rajawali Emas)
Baiknya tak lama setelah pernikahan-pernikahan itu dilangsungkan, Cia Li Cu melahirkan anak perempuan.
Bayi ini merupakan sinar terang di dalam cuaca gelap, menerangi hati suami isteri yang sedang diliputi
kegelapan itu karena puteri mereka, Cui Bi, telah mati. Akan tetapi sekarang lahir seorang anak
perempuan, pengganti Cui Bi! Anak itu mungil, montok sehat dan tangisnya nyaring.
Dengan muka berseri-seri ketua Thai-san-pai itu memondong bayinya, mengamat-amati muka bayi itu
sambil tertawa-tawa senang.
"Aha, kau Cui Bi cilik! Ha-ha-ha, serupa benar, cuma bibirnya lebih runcing, tentu lebih suka mengoceh dari
pada mendiang cici-nya, ha-ha!"
Li Cu yang masih rebah di pembaringan memandang terharu. Dua titik air mata menghias bulu matanya.
"Siapa... siapa namanya...?" tanyanya lirih.
Mendengar suara ini Beng San menengok dan dia pun menggigit bibir melihat dua titik air mata itu. Dengan
hati-hati dia meletakkan puterinya di dekat Li Cu, dan mengusap dahi isterinya penuh kasih sayang lalu
berkata, "Cui Sian namanya, ya... dia Cui Sian..."
Setelah mencium dahi isterinya perlahan, Beng San cepat keluar dari kamar itu agar tidak terlihat oleh
isterinya betapa dia pun menitikkan dua butir air mata. Akan tetapi Li Cu tahu akan hal ini karena air mata
itu tertinggal di dahinya ketika suami itu tadi menciumnya. Bayangan mendiang Cui Bi lah yang mendorong
keluarnya air mata dari mata pasangan suami isteri ini.
Kehadiran Cui Sian dalam rumah tangga ketua Thai-san-pai benar-benar mendatangkan kegembiraan. Hal
ini tentu saja amat menggirangkan hati para anak murid Thai-san-pai karena sekarang guru mereka mulai
rajin kembali melatih ilmu silat. Tadinya, semenjak peristiwa hebat di puncak Thai-san-pai itu, semenjak
kematian Cui Bi, ketua Thai-san-pai ini selalu tampak murung dan malas mengajar sehingga para anak
murid menjadi khawatir karena hal ini berarti akan melemahkan partai persilatan itu.
Akan tetapi kelahiran Cui Sian benar-benar mengubah segalanya. Bahkan nyonya ketua sendiri berkenan
turun tangan dan kadang-kadang memberi petunjuk kepada murid-murid pilihan.
Cui Sian sendiri ternyata makin besar menjadi semakin mungil. Ia menjadi kesayangan semua orang di
Thai-san-pai, bahkan disayang pula oleh anak-anak para penduduk di sekitar pegunungan itu. Biar pun dia
menjadi ketua partai persilatan, namun Beng San dan isterinya tidak mengasingkan diri. Sering kali mereka
mengajak puterinya ini turun dari puncak untuk mengunjungi para penduduk kampung dan beramah tamah,
membiarkan Cui Sian bermain-main dengan anak-anak kampung.
Tiga tahun berlalu cepat. Thai-san-pai berkembang pesat dan tampak tanda-tanda bahwa perkumpulan ini
nanti akan menjadi sebuah partai persilatan yang besar dan berpengaruh. Hal ini terjadi karena Beng San
dunia-kangouw.blogspot.com
memang pandai memilih murid yang memiliki bakat dan dasar yang baik. Dia tak mengutamakan jumlah
yang banyak, melainkan mengutamakan mutu.
Anak murid Thai-san-pai kurang lebih lima puluh orang laki perempuan, sebagian besar tinggal di bawah
gunung dan hanya beberapa hari sekali naik ke puncak untuk menerima petunjuk dan untuk
memperlihatkan hasil latihan di depan kedua guru mereka. Ada pula sebagian orang anak murid, yaitu
mereka yang datang dari jauh dan terutama sekali yang tidak mempunyai keluarga lagi, juga tinggal di
Thai-san-pai, di bawah puncak, mendirikan pondok-pondok kayu yang makin lama semakin banyak dan
merupakan perkampungan tersendiri. Mereka yang bertempat tinggal di situlah yang mengerjakan sawah
dan ladang sebagai sumber penghasilan Thai-san-pai, di samping pemberian para anak murid yang
memiliki tempat tinggal sendiri dan yang mampu menyumbang.
Pada hari itu, saat menjelang senja, serombongan orang mendaki Pegunungan Thai-san. Rombongan ini
besar juga, lebih dari dua puluh orang berkuda, dan mereka menghentikan kuda di bagian lereng bukit
yang tidak mungkin dapat dilalui kuda. Seorang kakek tinggi besar setelah melompat turun dari atas
punggung kudanya dan menambatkan kendali kuda pada batang pohon, berkata kepada teman-temannya,
"Tidak patut kalau kita semua naik ke puncak. Biar pun ketuanya adalah terhitung saudara angkat yang
lebih muda, tapi dia adalah seorang ketua partai besar yang harus dihormati. Saudara-saudara tinggallah
menanti di sini, juga ji-wi-enghiong (saudara gagah berdua) dan ji-wi-loenghiong (orang tua gagah berdua),
biarlah saya sendiri yang naik ke puncak menemui Thai-san-paicu (ketua Thai-san-pai). Setelah
mendapatkan perkenan dari pihak tuan rumah, barulah saudara-saudara naik."
Yang bicara ini bukan lain adalah Tan Hok, dan sebagian besar di antara para temannya adalah bekasbekas
anggota dan tokoh Pek-lian-pai. Dua orang laki-laki yang berusia tiga puluhan tahun dan berwajah
tampan dengan tubuh tegap itu adalah Kam-hengte (dua saudara Kam) dari Lok-yang, sepasang kakak
beradik gagah perkasa yang terkenal dengan julukan Lok-yang Siang-houw (Sepasang Harimau Lok-yang)
dan terkenal pula sebagai pendekar-pendekar perkasa anak murid Kong-thong-pai.
Yang tua bernama Kam Bok, yang muda bernama Kam Siok. Mereka ini adalah jago-jago Kong-thong-pai,
murid Yang Ki Cu, tokoh Kong-thong-pai yang dahulu menjadi seorang pejuang juga. Agaknya darah
patriot menurun kepada sepasang anak murid ini sehingga dalam banyak hal kedua orang saudara Kam ini
suka membantu Pek-lian-pai dan Tan Hok. Mereka terkenal dengan keahlian bermain golok, tentu saja
mengandalkan pada Ilmu Golok Kong-thong To-hoat.
Ada pun dua orang kakek tua yang ikut dalam rombongan itu dan yang disebut sebagai locianpwe (orang
tua gagah) oleh Tan Hok adalah dua orang pendeta beragama To yang jelas dapat dilihat dari pakaian
mereka yang berwarna kuning polos dan rambut putih mereka yang diikatkan ke atas. Seorang yang
punggungnya agak bongkok dan tubuhnya kurus kering adalah seorang tokoh Bu-tong-pai, seorang ahli
pedang bernama Seng Tek Cu.
Orang ke dua ialah sahabat baiknya, seorang tosu (pendeta To) perantauan, penggemar permainan catur
yang namanya tidak banyak dikenal orang namun sesungguhnya adalah seorang ahli silat tinggi yang
sangat lihai. Dia tidak membawa senjata apa-apa kecuali sebatang cambuk biasa seperti cambuk
penggembala kerbau yang terbuat dari pada bambu dengan ujung tali.
Pada punggungnya tergantung sebuah papan catur, sedangkan di pinggangnya terdapat sebuah kantung
berisi biji-biji catur. Tubuhnya tinggi kurus, mukanya selalu tersenyum ramah. Inilah Koai Tojin, nama yang
selalu dia pakai. Tentu saja ini adalah nama samaran belaka karena Koai Tojin berarti Pendeta To Aneh.
Dua orang tosu ini sedikitnya tentu ada enam puluh tahun usianya.
Seperti sudah dituturkan di bagian depan, setelah dirinya kehilangan mahkota kuno yang mengandung
rahasia itu sehingga menderita luka-luka, Tan Hok mengadakan hubungan dengan bekas anak-anak
buahnya yaitu para orang gagah dari Pek-lian-pai, kebetulan dia dapat bertemu pula dengan Kun Hong
sehingga mendapat pertolongan dan disembuhkan.
Kemudian Tan Hok lalu mengumpulkan teman-temannya yang sementara itu juga sudah mencari bala
bantuan, bahkan berhasil mendapat bantuan Kam-hengte dan kedua orang tosu lihai itu. Mendengar
penuturan Tan Hok mengenai mahkota yang terjatuh ke tangan penghuni Pulau Ching-coa-to, dua orang
tosu itu kaget karena mereka sudah mendengar kehebatan pulau ini. Maka serta merta mereka
menyatakan kegembiraan dan persetujuan ketika Tan Hok menyatakan hendak minta bantuan ketua Thaidunia-
kangouw.blogspot.com
san-pai Si Raja Pedang. Berangkatlah rombongan itu sampai berpekan-pekan lamanya dan menjelang
senja itu mereka tiba di lereng Thai-san.
Mendengar permintaan Tan Hok agar mereka menanti di situ, Koai Tojin tertawa bergelak, lalu
menurunkan papan catur dan membuka kantong biji catur sambil berkata,
"Ha-ha-ha, Tan-sicu baik sekali, memberi kesempatan kepada pinto (aku) untuk mengaso dan bermain
catur dengan Seng Tek Cu. Hayo, sobat, kita main catur sampai kenyang, siapa tahu kita akan segera
menghadapi urusan penting sehingga tak akan sempat main catur lagi!"
Dalam sekejap mata saja papan catur telah diletakkan di atas tanah dan biji-bijinya diatur di atas papan.
Seng Tek Cu tertawa pula dan menyambut tantangan ini.
Tak Hok tertawa, kemudian berpamit lagi lalu segera mendaki puncak karena khawatir kalau-kalau malam
segera tiba sehingga membuat pendakian itu sukar. Teman-temannya memandang dan melihat punggung
orang gagah yang bertubuh raksasa itu lenyap di balik sebuah batu karang besar. Kemudian karena tidak
ada pekerjaan lain, sebagian di antara mereka asyik menonton dua orang tosu yang sedang mengadu otak
bermain catur, dan sebagian lagi duduk bercakap-cakap.
Kita ikuti Tan Hok yang dengan sigapnya berloncatan menuju ke puncak Thai-san-pai. Mendadak dengan
kaget dia melihat tujuh orang berloncatan ke luar dari balik batu-batu gunung dan pohon, langsung
menghadangnya dengan pedang di tangan dan sikap penuh ancaman.
Tan Hok tersenyum dan menegur, "Sahabat-sahabat di depan bukankah para enghiong (orang gagah) dari
Thai-san-pai?"
"Tentu saja kami adalah anak-anak murid Thai-san-pai. Kau ini siapakah berani lancang memasuki wilayah
Thai-san-pai tanpa ijin?" jawab salah seorang di antara mereka dengan suara keras dan sikap yang
angkuh.
Diam-diam Tan Hok merasa heran sekali. Sangat boleh jadi kalau anak-anak Thai-san-pai ada yang belum
pernah melihatnya karena tiga tahun yang lalu adalah waktu yang cukup lama dan mungkin orang-orang ini
adalah anak-anak murid baru. Akan tetapi melihat sikap yang begini kasar, benar-benar sangat
mengherankan hatinya karena tidak sesuai dengan watak Beng San, ketua mereka. Akan tetapi
menghadapi orang-orang muda dia berlaku sabar dan tersenyum, lalu memberi hormat.
"Ahh, harap kalian memaafkan aku karena tergesa-gesa sehingga tidak sempat memberi kabar
kedatanganku. Aku adalah Tan Hok, kakak angkat dari ketua kalian..."
"He kiranya kau pelarian itu? Saudara-saudara, kebetulan sekali penjahat besar yang lari sambil mencuri
barang-barang berharga dari istana itu datang ke sini. Ular mencari gebuk, Hayo serang!"
Dan serta merta tujuh orang itu menyerang Tan Hok dengan pedang mereka. Bukan main kagetnya Tan
Hok. Cepat dia mengelak dan masih sempat berseru,
"Saudara-saudara, jangan serang aku...! Beri tahukan kedatanganku kepada Beng San, ketua kalian. Aku
bukan musuh...!"
Akan tetapi mana mungkin dia dapat menghadapi serangan-serangan itu sambil bicara? Pundaknya sudah
termakan ujung pedang sehingga terpaksa Tan Hok juga mencabut pedangnya melakukan perlawanan
sedapatnya.
Tan Hok adalah seorang pejuang yang memiliki kepandaian bukan rendah, akan tetapi ternyata tujuh orang
itu rata-rata lihai sekali ilmu pedangnya. Selain itu, kesehatannya belum pulih benar, masih lemas. Kiranya
melawan seorang di antara mereka saja belum tentu dia akan dapat menang, apa lagi sekarang dikeroyok
tujuh. Tan Hok bingung dan bangkitlah rasa penasaran dan marah.
Dia mengamuk. Tetapi sia-sia saja, karena berkali-kali tubuhnya termakan senjata lawan sehingga dia
menderita luka-luka parah. Terpaksa Tan Hok lalu memutar pedang sekuat tenaga dan selagi tujuh orang
pengeroyoknya itu mundur menjaga diri, dia meloncat ke belakang dan lari turun dari lereng itu untuk minta
bantuan teman-temannya. Tujuh orang itu mengejarnya dan... dari balik-balik pohon dan batu muncul
banyak orang yang ikut pula melakukan pengejaran.
dunia-kangouw.blogspot.com
Cuaca sudah mulai gelap ketika Tan Hok dengan napas terengah-engah tiba di tempat teman-temannya
mengaso. Semua orang kaget sekali melihat datangnya kakek raksasa ini, pakaiannya cabik-cabik dan
tubuhnya mandi darah.
"Salah mengerti... aku... aku dikeroyok orang-orang Thai-san-pai...," kata Tan Hok yang langsung roboh
dengan tubuh lemas.
Teman-temannya marah sekali. Dua orang tosu tua itu pun sudah meloncat berdiri dan siap dengan
senjata mereka. Beberapa menit kemudian dari atas turunlah banyak orang, dua puluh lebih, laki-laki dan
wanita, semua memegang pedang. Di dalam gelap itu sukar mengenal wajah mereka, malah ada beberapa
orang wanita yang menutupi muka dengan sehelai sapu tangan hitam.
Tanpa banyak cakap lagi orang-orang ini menyerbu teman-teman Tan Hok dan terjadilah pertempuran
hebat di tempat gelap itu! Hiruk-pikuk suara senjata beradu, bunyi dencing pedang bertemu pedang,
mendesir-desir angin senjata yang digerakkan oleh tangan yang terlatih kuat.
Seng Tek Cu mainkan pedangnya dengan cepat sehingga di mana dia bersilat tampak cahaya pedangnya
berkelebatan seperti kilat menyambar-nyambar mencari mangsa. Ahli pedang Bu-tong-pai ini kaget bukan
main karena rata-rata musuh-musuh yang menyerbu ini memiliki kepandaian tinggi, apa lagi tiga orang
wanita yang menutupi muka dengan sapu tangan.
Dia dikeroyok oleh lima orang, di antaranya dua dari tiga wanita berkedok itu. Sama sekali dia tidak dapat
mengenal ilmu pedang mereka, akan tetapi benar-benar pengeroyokan lima orang ini membuat dia
kewalahan sekali dan dalam tiga puluh jurus saja dia sudah menderita luka bacokan pada pangkal lengan
kirinya.
Keadaan Koai Tojin juga tidak menyenangkan. Tosu aneh ini mengamuk dan memainkan senjatanya yang
aneh, yaitu pecut di tangan kanan dan papan catur di tangan kiri. Papan itu terbuat dari pada baja dan dia
pergunakan seperti sebuah perisai, sedangkan pecutnya menyambar-nyambar ganas mengeluarkan suara
nyaring. Hebat kepandaian Koai Tojin ini.
Akan tetapi pada saat itu dia pun kerepotan menghadapi pengeroyokan tiga orang, yaitu seorang adalah
wanita berkedok sapu tangan hitam, dan dua adalah orang-orang tinggi besar yang bertenaga besar dan
mainkan golok besar serta ruyung. Dia terdesak hebat sekali dan hampir saja papan caturnya terlepas
ketika berkali-kali bertemu dengan ruyung, malah kemudian terdengar suara keras dan papan caturnya
pecah menjadi dua!
Akan tetapi, Koai Tojin tidak menjadi gugup. Dia mengeluarkan suara gerengan keras dan pecutnya
menyambar-nyambar mengeluarkan suara nyaring, mencegah para pengeroyok mendesak terlampau
dekat.
Betapa pun para orang gagah Pek-lian-pai itu melawan dengan nekat, akan tetapi pihak pengeroyok
ternyata jauh lebih kuat. Apa lagi karena teman-teman Tan Hok ini bertempur dengan hati penuh keraguan
dan kebimbangan, serta kacau balau kehilangan pemimpin karena Tan Hok sendiri sudah tidak berdaya.
Mereka, seperti juga Tan Hok, merasa ragu dan bingung kenapa orang-orang Thai-san-pai malah
menyerang dan memusuhi mereka.
Tiba-tiba terdengar bentakan mengguntur di dalam gelap itu dan sesosok bayangan kakek tinggi besar
mengamuk. Kakek ini tidak mempergunakan senjata, kedua lengan bajunya yang lebar dan panjang
berkibar-kibar ke sana ke mari dan setiap orang Pek-lian-pai yang tersambar ujung lengan baju, pasti
terlempar dan tak dapat melawan lagi! Kakek ini sekali melompat sudah tiba di depan Tan Hok, sambil
tertawa-tawa tangan kanannya memukul ke arah dada Tan Hok yang sudah duduk di atas tanah.
Tan Hok kaget setengah mati. Ia berusaha menangkis dan berseru penuh keheranan dan kemarahan,
"Song-bun-kwi...!"
Akan tetapi suaranya terhenti, tubuhnya terlempar dan kakek patriot ini menggeletak tak bernyawa lagi oleh
pukulan hebat yang meremukkan isi dadanya!
dunia-kangouw.blogspot.com
Kacau balaulah rombongan Tan Hok. Tak kuat mereka melawan lagi. Seng Tek Cu dan Koai Tojin maklum
bahwa kalau mereka melawan terus, agaknya akan berakibat tak enak bagi pihak mereka. Lawan
terlampau kuat, apa lagi dibantu kakek luar biasa itu.
Lebih-lebih kekagetan mereka mendengar saat Tan Hok sebelum tewas menyebut nama Song-bun-kwi.
Kalau benar kakek ini Song-bun-kwi, celakalah mereka. Sudah terlampau sering mereka mendengar nama
besar Song-bun-kwi yang selama bertahun-tahun ini tak pernah terdengar lagi muncul di dunia kang-ouw.
"Saudara-saudara, mundur...! Lari turun gunung...!" Seng Tek Cu berseru keras.
Orang-orang Pek-lian-pai adalah bekas pejuang yang sudah biasa bertempur, maklum bahwa kemunduran
mereka kali ini bukanlah mundur untuk seterusnya, namun mundur karena menghadapi lawan terlampau
kuat dan mundur untuk mengatur siasat. Apa lagi setelah Tan Hok tewas, mereka perlu mengadakan
perundingan bersama lebih dulu untuk menghadapi orang-orang Thai-san-pai yang secara tiba-tiba
berubah menjadi musuh ini.
Sambil menyeret dan menyambar tubuh teman-teman yang terluka atau tewas, mereka beramai
mengundurkan diri dan lari turun gunung. Namun sepasang orang muda murid Kong-thong-pai tidak sudi
meninggalkan gelanggang pertempuran.
Mereka berdua ini, Kam Bok dan Kam Siok, adalah orang-orang muda yang baru saja turun ke dalam
gelanggang perjuangan. Darah muda mereka, sifat kesatria mereka yang menjunjung tinggi kegagahan,
yang beranggapan bahwa bagi orang-orang gagah pantang meninggalkan gelanggang pertempuran
dengan nyawa masih di tubuh, membuat mereka berkeras kepala tak mau ikut teman-teman mereka lagi.
Lok-yang Siang-houw, sepasang harimau dari Lok-yang ini malah mengeluarkan bentakan-bentakan keras,
mainkan golok di tangan mereka dan merobohkan beberapa orang pengeroyok.
"Mundur semua, biar pinceng (aku) bereskan bocah-bocah sombong ini!"
Mendengar kata-kata kakek tinggi besar ini semua pengeroyok segera mundur sehingga berhadapanlah
dua orang saudara Kam ini dengan kakek yang tadi membunuh Tan Hok ini. Lok-yang Siang-houw maklum
bahwa kakek ini sangat sakti, maka mereka segera menyerang berbareng dengan Ilmu Golok Kong-thongpai
yang amat cepat. Dua batang golok di tangan mereka berkelebatan seperti sepasang naga menyambar
korban.
"He-he, bocah-bocah Kong-thong-pai masih ingusan sudah berani menjual lagak di sini? Ha-ha-ha!"
Hwesio tinggi besar ini menggerakkan kedua lengannya. Ujung lengan baju seperti hidup bergerak ke
depan memapaki sinar golok, ketika bertemu dengan golok lalu melibat bagai ular. Dua orang saudara
Kam itu kaget sekali, berusaha mencabut golok masing-masing namun ternyata golok mereka seperti telah
berakar di lengan baju itu, tidak dapat dicabut kembali.
Sambil tertawa-tawa kakek itu menghentakkan kedua lengannya dan... dua orang saudara Kam itu
terhuyung ke depan. Terpaksa dengan kaget sekali mereka melepaskan gagang golok.
Akan tetapi dengan nekat mereka kembali menerjang dengan kepalan tangan, menyerang kakek tinggi
besar itu dengan pukulan-pukulan keras. Kakek itu kini menggunakan pinggir telapak tangan menangkis
dua kali.
"Krekk! Krekk!"
Tubuh dua orang saudara Kam terpental dan lengan tangan mereka patah-patah oleh tangkisan yang
mengandung pukulan ini.
"Ha-ha-ha, bocah-bocah macam kalian mana mampu melawan Song-bun-kwi?" Kakek itu tertawa bergelak.
Kam Bok dan Kam Siok menggigit bibir menahan sakit lalu bangun berdiri dengan muka pucat.
"Hwesio jahat, kau bukan Song-bun-kwi...!" bentak Kam Bok.
dunia-kangouw.blogspot.com
Dia sudah pernah mendengar bahwa Song-bun-kwi meski pun juga seorang tinggi besar akan tetapi
bukanlah seorang hwesio dan tokoh besar itu tak pernah bertempur secara keroyokan melainkan selalu
turun tangan seorang diri tanpa teman.
"Kalian semua bukan orang-orang Thai-san-pai!" seru Kam Siok sambil memandang ke sekeliling. "Orangorang
Thai-san-pai tak akan berbuat curang seperti pengecut-pengecut macam kalian!"
Ucapan dua orang saudara Kam ini membangkitkan kemarahan. Terdengar suara wanita memberi aba-aba
dan segera orang-orang itu menyerbu ke depan mengeroyok Kam Bok dan Kam Siok.
Kasihan sekali dua orang saudara dari Lok-yang ini. Mereka berusaha melawan sedapat mungkin dengan
tangan kiri, namun mana bisa tangan kiri dipergunakan untuk menangkis sekian banyaknya senjata tajam
yang datang menyerang bertubi-tubi?
Lengan tangan mereka sebentar saja remuk penuh luka, kemudian tubuh mereka dihujani senjata tajam.
Tetapi hebatnya, dua orang saudara Kam yang masih muda ini tak pernah mengeluarkan rintihan sedikit
pun sampai tubuh mereka roboh dan masih saja dijadikan bulan-bulanan senjata sehingga terpotongpotong
dan rusak mengerikan!
Setelah pertempuran berhenti, orang-orang yang mengaku orang-orang Thai-san-pai ini menghilang ke
dalam kegelapan malam. Keadaan sunyi kembali di tempat itu, sunyi yang menyeramkan. Apa lagi ketika
bintang-bintang di langit sudah muncul, memberi sedikit penerangan di tempat pertempuran tadi, keadaan
makin menyeramkan dan mengerikan.
Beberapa ekor binatang hutan yang dalam keadaan remang-remang itu tak diketahui jelas bentuknya, hatihati
dan perlahan berdatangan di tempat itu. Terjadilah pesta pora ketika binatang-binatang ini menjilati
darah yang berceceran di atas rumput…..
********************
Berpekan-pekan lamanya Beng San serta isterinya merasa gelisah. Peristiwa pada tiga pekan yang
lampau benar-benar menggegerkan Thai-san-pai. Dia dan isterinya turun dan memeriksa sendiri ketika ada
seorang anak murid melapor bahwa di lereng sebelah barat terdapat dua buah mayat manusia yang
keadaannya rusak teraniaya.
Ketua Thai-san-pai ini dan isterinya lalu melakukan pemeriksaan. Alangkah gelisah hati mereka melihat
betapa di samping mayat dua orang laki-laki muda yang mengerikan itu, juga tampak bekas-bekas
pertempuran besar di tempat itu.
"Apakah artinya ini?" Dengan muka berubah khawatir, Cia Li Cu bertanya pada suaminya, Tan Beng San
ketua Thai-san-pai. Yang ditanya mengerutkan kening, menggeleng-geleng kepala perlahan.
"Dua orang yang menjadi mayat itu sukar dikenali mukanya, dan agaknya pertempuran yang terjadi di sini
baru malam tadi terjadi. Sayang kita tidak mendengarnya sama sekali sehingga tidak dapat mengetahui
siapa yang telah bertempur dan apa sebabnya. Tetapi, dengan adanya dua mayat di tempat ini, dan
kenyataan bahwa pertempuran dilakukan di wilayah Thai-san-pai, terang bahwa hal-hal yang tidak baik
sedang terjadi dan hal itu tentu menyangkut Thai-san-pai."
Sejak hari itu pula, Beng San memberi perintah kepada para muridnya yang mondok di Thai-san-pai, untuk
berjaga-jaga dan meronda setiap malam. Namun hatinya selalu terasa tidak tenteram.
Juga Li Cu merasa tak enak hatinya semenjak terjadi hal yang penuh rahasia di lereng barat itu.
Kekhawatirannya yang hendak disembunyikan dapat diketahui bahwa dia tidak memperbolehkan lagi Cui
Sian bermain-main di luar pondok di puncak. Anak perempuan yang baru berusia empat tahun kurang itu
selalu harus berada di dekatnya, tidak boleh berpisah sebentar pun.
Beng San maklum akan perasaan isterinya, maka pada suatu hari dia menghiburnya.
"Isteriku, tak perlu kau terlalu gelisah. Bukan baru sekarang kita tahu bahwa banyak sekali orang-orang
jahat di dunia kang-ouw selalu menaruh dendam dan memusuhi kita. Mereka itu mau apa? Kita bisa
melawan, tentang mati hidup berada di tangan Thian Yang Maha Kuasa. Kenapa harus gelisah?"
dunia-kangouw.blogspot.com
Li Cu menarik napas panjang. Semenjak kematian puterinya, Cui Bi, nyonya ini nampak lebih kurus.
Kehadiran Cui San sebagai pengganti Cui Bi, memang juga membawa serta kekhawatiran besar, khawatir
kalau-kalau nantinya Cui Sian akan mengalami nasib seperti cici-nya (kakak perempuannya). Karena
anaknya inilah maka ia berkhawatir sekarang ini.
"Suamiku, kiranya engkau sudah cukup mengenal watakku. Akan menjadi buah tertawaan dunia agaknya
apa bila aku sampai ketakutan menghadapi ancaman orang jahat. Tidak, Suamiku, semenjak kecil aku
sudah dididik oleh mendiang ayah untuk menjunjung tinggi akan kegagahan dan tidak takut akan kematian.
Akan tetapi, kau lihat puteri kita ini... Cui Sian masih begini kecil. Hanya kalau teringat kepadanya maka
hatiku menciut, nyaliku mengecil dan perasaanku diliputi kekhawatiran."
"Sudahlah, kita serahkan saja kepada Thian Yang Maha Kuasa. Sampai pucat mukamu, agaknya kau
kurang tidur dalam beberapa hari ini."
"Memang demikian, hatiku tidak enak saja..."
Enam pekan kemudian semenjak terjadinya peristiwa di lereng barat itu. Malam itu amat indah. Bulan
bersinar tenang sejuk. Pohon-pohon dan rumput bermandikan cahaya bulan nampak segar. Dari puncak
Bukit Thai-san, bulan seakan-akan mengambang di antara mega, begitu dekat seperti mudah dijangkau
tangan.
Para anak murid Thai-san-pai, setelah sebulan lebih bekerja keras melakukan penjagaan, malam itu pun
mulai malas untuk meronda. Malam ini terlalu indah untuk memikirkan hal yang bukan-bukan, untuk
menguatirkan hal yang tidak-tidak. Tidak mungkin rasanya pada malam seindah itu akan terjadi hal-hai
yang tidak baik. Kata orang, cahaya bulan purnama membangkitkan kasih sayang di hati manusia
sehingga pada malam seperti itu, sukarlah untuk menaruh hati benci kepada orang lain.
Cui Sian bersama ayah bundanya juga bergembira di pekarangan depan pondok mereka. Tak ada
habisnya anak itu bertanya kepada ibunya tentang puteri di bulan, tentang kakek bulan seperti yang
didongengkan ibunya kepadanya.
"Ibu, apakah cici Cui Bi juga di bulan?” dengan kata-kata lucu dan tidak jelas anak itu bertanya sambil
merebahkan kepalanya di atas pangkuan ibunya dan matanya yang lebar bening itu terbelalak memandang
bulan.
Sejenak Li Cu bertukar pandang dengan suaminya. "Betul, nak, cici-mu juga di bulan." Li Cu memeluk dan
menciumi dahi puterinya itu.
"Ibu, aku juga ingin terbang ke bulan..." Cui Sian merengek.
Ibunya menghibur dan memelukinya, diam-diam berdoa mohon kepada kakek bulan agar supaya kelak Cui
Sian lebih bahagia dalam cinta kasihnya, tidak seperti Cui Bi.
Pada saat itu tangan Beng San menyentuh lengannya penuh arti. Li Cu menengok dan memandang ke
arah pandangan suaminya. Hatinya berdebar tegang.
Terang sekali, di udara sebelah barat kelihatan meluncur ke atas sepucuk sinar merah, berulang-ulang
sampai tiga kali. Tidak salah lagi, itulah panah api yang sengaja dilepas orang sebagai tanda rahasia.
Belum hilang kagetnya, di sebelah utara meluncur lain sinar, kini kehijauan, lebih terang dari pada tadi.
"Bawa dia masuk...," kata Beng San perlahan kepada isterinya, nada suaranya tenang.
Li Cu bangkit, memondong anaknya. Cui Sian tidak mau dan menangis ingin menonton bulan.
"Mari masuk, Sian-ji, di luar banyak angin," ibunya menghibur dan membawanya masuk ke rumah, lalu
menyerahkan anak itu kepada inang pengasuh, bibi Cang.
Cui Sian tetap menangis dan rewel, akan tetapi Li Cu memaksa anak itu dibawa masuk dan dihibur bibi
Cang serta para pelayan yang berada di pondok itu. Ia sendiri setelah mengambil pedangnya, lalu kembali
keluar. Dia melihat suaminya sedang berdiri sambil memandang ke arah barat. Ia segera berdiri di sisi
suaminya, melayangkan pandang ke arah barat dan utara di mana tadi tampak panah-panah api berwarna
merah dan hijau.
dunia-kangouw.blogspot.com
"Siapakah yang datang? Apa maksud mereka?" bisiknya.
Beng San menggeleng kepala, mengerutkan kening. "Entah, belum pernah mendengar tokoh
menggunakan panah api. Biasanya panah-panah api dipergunakan oleh rombongan yang memberi tanda
rahasia..."
Mendadak terdengar suara tinggi melengking dari arah barat, disusul suara hampir sama dari arah utara.
Tubuh suami isteri itu menegang.
"Li Cu, aku harus segara turun dari sini untuk melakukan pemeriksaan ke bawah. Siapa tahu murid-murid
kita menghadapi musuh."
Tanpa menanti persetujuan Li Cu, Beng San menggerakkan kaki hendak lari turun. Akan tetapi tiba-tiba
tangannya dipegang Li Cu yang menahannya. Dia heran, dan menoleh.
"Kau di sini saja, menjaga Cui Sian, biarkan aku sendiri."
"Jangan...!" pinta Li Cu.
Beng San terheran-heran. Baru kali ini selama menjadi isterinya, Li Cu memperlihatkan keraguan yang
amat mengherankan ini. Dia memegang kedua pundak isterinya, pandang matanya mencari-cari ke dalam
mata isterinya, lalu tanyanya heran,
"Li Cu...! Jangan bilang bahwa kau... takut?"
Wanita itu menarik napas panjang, mengandung isak. "Entahlah... aku... tak enak sekali hatiku. Kau di
sinilah saja bersamaku, menjaga keselamatan Cui Sian."
Beng San memandang dengan mata terbelalak. Hampir-hampir dia tidak percaya akan pendengarannya
sendiri. Kemudian dia tertawa bergelak.
"Ha-ha-ha, isteriku, kau seperti anak kecil merengek-rengek! Alangkah lucunya! Siapakah berani
mengganggu anak kita? Pula, biar aku turun puncak, kau berada di sini dan siapa yang dapat mengganggu
Cui Sian bila kau berada di sini? Huh, cacing busuk dari mana berani menghadapi isteriku! Pedangmu
akan mampu membasmi seratus orang lawan, lagi pula, jalan ke puncak ini tidak mudah, tidak
sembarangan orang mampu melewati jalan rahasia kita."
"Tidak, suamiku... sekali ini saja... kau bersamaku menjaga Cui Sian."
Beng San mencabut pedangnya dan tampak sinar berkilat ketika Liong-cu-kiam tercabut. Sekali berkelebat
pedang itu sudah membelah sebuah batu besar di depannya, hampir tanpa bersuara!
"Li Cu!" Suara Beng San terdengar tegas dan kereng. "Baiknya tadi hanya batu ini yang mendengar
ucapanmu. Karena sudah mendengarkan suara isteriku, maka kubinasakan dia! Bagaimana kalau ada
manusia yang mendengar isteri ketua Thai-san-pai berbicara seperti itu? Kau jelas tahu, aku adalah ketua
Thai-san-pai, dan perkumpulan ini harus kupertahankan dengan nyawaku kalau perlu! Mana mungkin jika
Thai-san-pai kedatangan musuh, ketuanya bersembunyi saja di sini membiarkan anak-anak murid Thaisan-
pai menghadapi bahaya tanpa pimpinan? Li Cu, insyaflah, tak mungkin kita berubah menjadi
pengecut!"
Ucapan suaminya ini agaknya merupakan air dingin yang menyadarkan Li Cu. Ia terisak, menundukkan
kepalanya, lalu berkata perlahan, "Maafkan aku... kau pergilah, kau benar. Tapi... hatiku tidak enak... aku
khawatir anakku, bukan keselamatan kita..."
"Li Cu, perlihatkanlah keberanianmu sebagai seorang gagah!" Beng San menuntut.
"Srattt!"
Kembali selarik sinar berkelebat ketika pedang Liong-cu-kiam yang pendek tercabut. Sinar pedang
menyambar dan batu yang tadi terbabat menjadi dua potong kini terbabat menjadi empat potong oleh
pedang Li Cu, hanya sedikit menimbulkan suara dan bunga api!
dunia-kangouw.blogspot.com
"Aku siap menjaga puncak ini dengan taruhan nyawa!"
Beng San tersenyum, mendekatkan muka mencium pipi isterinya, lalu sekali berkelebat dia sudah
melompat jauh dan berlari turun puncak, dipandang oleh isterinya yang tanpa terasa menitikkan dua butir
air mata. Li Cu lalu menjaga di depan pondok, menyesali diri sendiri yang hampir saja kehilangan
pegangan, kehilangan kepercayaan pada diri sendiri.
Ini semua karena kekhawatirannya kehilangan Cui Sian. Ia menjadi penakut setelah satu kali ia kehilangan
Cui Bi…..
********************
Melalui jalan rahasia, Beng San cepat tiba di lereng gunung, di mana dia melihat dari jauh banyak obor
menyala dan bahkan terdengar pula suara senjata beradu. Kagetnya bukan kepalang dan cepat dia
mengerahkan ilmu lari cepat menuju ke tempat itu.
Diam-diam dia menyesal mengapa dia datang terlambat. Baiknya pertempuran itu baru saja dimulai,
buktinya di kedua belah pihak belum jatuh korban. Dia melihat belasan orang muridnya menghadapi
serbuan puluhan orang, bahkan masih banyak terdapat kelompok orang-orang yang berjajar di sebelah
barat dan sekelompok lagi di sebelah utara.
Matanya menyapu cepat. Ia melihat bahwa kelompok di utara itu adalah orang-orang dari Kong-thong-pai
yang dipimpin oleh seorang tosu tua. Ada pun di sebelah barat dengan kaget dia mengenal beberapa
orang dari Pek-lian-pai.
Hatinya berubah lega. Orang-orang sendiri, pikirnya. Tapi mengapa terjadi pertempuran? Tentu salah
paham! Cepat dia berseru keras,
"Saudara-saudara, harap suka menahan senjata dulu!"
Para anak murid Thai-san-pai dengan girang mengenal suara guru mereka. Cepat mereka melompat
mundur dan menahan pedang masing-masing, lalu berkumpul dan berdiri di belakang Beng San. Dari
pihak lawan terdengar pula tosu Kong-thong-pai menyuruh anak muridnya berhenti, juga di pihak Pek-lianpai
yang dipimpin oleh dua orang tosu pula.
"Bagus! Ketua Thai-san-pai sendiri keluar. Urusan ini harus diselesaikan!" kata seorang tosu tua yang
kurus kering, bongkok, dan memegang pedang.
Melihat tosu ini, kembali Beng San terkejut dan cepat-cepat menjura. "Ah, kiranya totiang Seng Tek Cu
yang datang berkunjung. Juga kalau tidak keliru sangka, totiang yang lain ini tentulah seorang tokoh Kongthong-
pai yang terhormat. Bahkan aku mengenal beberapa saudara dari Pek-lian-pai di sini. Maaf-maaf...
tamu-tamu terhormat datang, aku tidak tahu dan tidak mengadakan penyambutan."
Kemudian Beng San menoleh pada para anak muridnya dan membentak kereng. "Kalian ini bagaimana
tidak bisa membedakan siapa kawan siapa lawan? Mengapa berani berlaku kurang ajar terhadap tamutamu
terhormat? Kau... Ki Han! Jawablah, kau yang memimpin saudara-saudaramu melakukan penjagaan.
Bagaimana bisa terjadi hal ini?"
Su Ki Han merupakan murid tertua dari Thai-san-pai, seorang laki-laki berusia tiga puluh tahun, seorang
gagah yang sudah dipercaya oleh Beng San. Dia cepat berlutut di depan Beng San dan menjawab,
"Mana teecu (murid) berani tidak mentaati aturan suhu? Sama sekali murid dan para adik seperguruan
tidak berani bersikap kurang hormat terhadap tamu. Akan tetapi orang-orang ini sama sekali tak mau
memberi kesempatan kepada kami untuk bicara. Datang-datang mereka menyerang kami dan sudah tentu
saja kami terpaksa mempertahankan diri dan mempertahankan nama besar Thai-san-pai. Harap suhu sudi
menyelidiki dan kalau teecu dan adik-adik seperguruan salah, kami sanggup menerima hukumannya."
Lega hati Beng San dan dia percaya penuh kepada murid-muridnya ini. Dia lalu menoleh kembali kepada
Seng Tek Cu, memandang penuh kekhawatiran dan pertanyaan sambil berkata. "Totiang mendengar
sendiri ucapan muridku. Sebetulnya apakah yang terjadi dan mengapa Totiang membawa serta pasukan
dunia-kangouw.blogspot.com
yang terdiri dari saudara-saudara Pek-lian-pai, malah ada rombongan Kong-thong-pai, lalu datang-datang
menyerang murid-muridku?"
Seng Tek Cu, tosu kurus kering bongkok dari Bu-tong-pai ini, mendengar sambil tertawa mengejek.
"Huh, alangkah lucunya kenyataan yang tidak lucu! Pinto dan semua murid Bu-tong-pai, semua orang
gagah yang selama hidup menjunjung kegagahan, kebenaran dan keadilan. Semua tokoh dunia kang-ouw
memandang tinggi pada ketua Thai-san-pai yang dianggap seorang berilmu yang berjiwa pendekar.
Sebulan lewat yang lalu, kalau ada orang bilang bahwa ketua Thai-san-pai seorang pengecut yang tak
mengenal pribudi, pasti pinto (aku) akan turun tangan memukul rusak mulut orang yang bilang demikian itu.
Sekarang pinto menyaksikan sendiri betapa kabar orang tentang kehebatan ketua Thai-san-pai ternyata
bohong belaka!"
Diam-diam Beng San kaget sekali, tetapi dia tidak heran. Jawabnya dengan suara masih tenang, "Totiang,
dunia ini memang makin lama semakin kotor oleh perbuatan manusia-manusia yang tidak benar. Banyak
kejahatan dilakukan orang, akan tetapi kejahatan yang paling keji adalah fitnah. Dalam urusan ini pun saya
rasa ada pihak yang melakukan fitnah terhadap Thai-san-pai, harap Totiang suka berhati-hati menghadapi
fitnah dan menyelidiki terlebih dulu dengan seksama sebelum menjatuhkan keputusan."
"Ho-ho-ho, ketua Thai-san-pai! Mata pinto masih belum buta! Tidak hanya pinto melihat dengan kedua
mata sendiri, bahkan pinto juga ikut merasai pukulan-pukulan anak murid Thai-san-pai yang gagah
perkasa, he-he-he, terlalu gagah sehingga sombong dan galak. Kejadian satu setengah bulan yang lalu di
lereng ini bukanlah impian buruk, melainkan kenyataan yang pinto alami sendiri. Maka tak perlu kau
berpura-pura tidak tahu. Apakah kau begitu pengecut untuk menyangkal kejadian yang disaksikan oleh
puluhan pasang mata? Mayat-mayat masih belum hancur di dalam kuburannya, orang-orang yang terluka
masih belum sembuh, semua akibat sepak terjang Thai-san-pai, dan kau masih ada muka untuk
menyangkal?"
Berubah wajah Beng San. Inilah hebat! Teringat dia akan keadaan di lereng barat, di mana terdapat mayat
dua orang tak dikenal dan bekas-bekas pertempuran besar.
"Totiang, dan cu-wi (tuan-tuan sekalian), harap dengarkan keteranganku! Dalam hal ini pasti terjadi salah
pengertian yang besar! Memang pada satu setengah bulan yang lalu, aku dan para murid Thai-san-pai
melihat bekas pertempuran di lereng barat, kemudian menemukan dua mayat yang tidak kami kenal, dalam
keadaan rusak teraniaya. Kami sendiri masih bingung memikirkan siapa adanya dua mayat yang sudah
kami kubur itu, tapi..."
"Jahanam! Itulah dua orang murid pinto, Lok-yang Siang-houw Kam-heng-te! Hayo kau ganti nyawa dua
orang murid pinto!" tiba-tiba saja tosu tua yang memimpin rombongan Kong-thong-pai berseru sambil
mencabut sebatang golok tipis dari pinggangnya.
Tosu ini bukan lain adalah Yang Ki Cu, seorang tosu tokoh Kong-thong-pai yang terkenal dengan ilmu
goloknya, seorang bekas pejuang. Golok di tangannya ini istimewa sekali, tipis dan mudah melengkung,
akan tetapi jangan dipandang rendah karena golok tipis ini sangat kuat dan tajam sehingga mampu
membabat putus senjata lain yang terbuat dari pada baja. Semua anak murid Kong-thong-pai juga
mencabut golok mereka dan sikap mereka sudah mengancam sekali.
Beng San makin kaget. Kiranya mayat-mayat itu adalah mayat Lok-yang Siang-houw yang sudah dia kenal
nama harumnya. Dia cepat mengangkat tangan mencegah terjadinya pertempuran karena murid-muridnya
juga menjadi panas menghadapi fitnah keji terhadap Thai-san-pai ini.
"Ji-wi Totiang dan saudara semua, harap suka bicara lebih dahulu sebelum turun tangan! Sebetulnya,
apakah yang telah terjadi di sini satu setengah bulan yang lalu?"
Sekarang Seng Tek Cu yang bicara, "Ketua Thai-san-pai, sebetulnya tidak perlu diulang lagi karena
buktinya sudah cukup kuat. Akan tetapi karena pada waktu itu engkau tidak muncul, biarlah kau sekarang
mempertanggung jawabkan perbuatan murid-muridmu yang biadab, dibantu oleh mertuamu si iblis Songbun-
kwi. Dengar! Waktu itu pinto dan Koai Tojin ini, juga beberapa saudara dari Pek-lian-pai, dibantu oleh
Lok-yang Siang-houw, mengantar saudara Tan Hok untuk menemuimu dan minta bantuanmu tentang
perkara perjuangan yang penting. Akan tetapi, ketika saudara Tan Hok naik ke puncak seorang diri, ia
bertemu dengan murid-murid Thai-san-pai yang langsung memaki dan menyerang dia. Siapa tahu Thaisan-
pai telah dijadikan kaki tangan kaisar baru sehingga begitu tega mengkhianati perjuangan orang yang
dunia-kangouw.blogspot.com
tadinya kau akui sebagai kakak angkatmu. Saudara Tan Hok lalu turun dikejar murid-muridmu yang jahat,
tentu saja kami lalu menghadapi murid-muridmu, terjadi pertempuran mati-matian dan muncullah
mertuamu si iblis laknat itu membuat kami menderita kekalahan. Saudara Tan Hok tewas di tangan Songbun-
kwi, dan kedua saudara Kam juga tewas, di samping banyak saudara Pek-lian-pai yang gugur. Nah,
sekarang kau mau bilang apa lagi?"
Kalau ada kilat menyambar dirinya di saat itu, kiranya Beng San tidak akan sekaget ketika mendengar
kata-kata ini. Mukanya berubah pucat kehijauan dan dia pun menoleh kepada murid-muridnya.
Serentak para muridnya berseru, "Bohong! Fitnah belaka! Bohong semua itu, Suhu. Teecu sekalian tidak
pernah bertempur dengan mereka ini!"
Beng San merasa seperti dalam sebuah mimpi buruk sekali. Kakak angkatnya, Tan Hok, tewas di
tempatnya ini dalam perjalanan hendak menemuinya? Dan yang membunuh Tan Hok adalah kakek Songbun-
kwi?
"Tak mungkin ini...," dia berkata keras-keras akan tetapi tidak ditujukan kepada siapa pun karena katakatanya
ini adalah suara hatinya yang keluar melalui mulutnya, "...terang tak mungkin murid-muridku malah
mengeroyok Tan-twako! Andai kata gak-hu (ayah mertua) Song-bun-kwi membunuh Tan-twako dan Lokyang
Siang-houw, tentu di sana telah terjadi kesalah pahaman di antara mereka."
"Ketua Thai-san-pai! Setelah kau mendengar semuanya, bagaimana tanggung jawabmu? Atau kau akan
membela murid-muridmu dan memaksa kami turun tangan menghancurkan Thai-san-pai?"
Suara Seng Tek Cu ini menyadarkan Beng San dari pada lamunannya. Dia mengerutkan kening dan
mukanya yang kehijauan sudah pulih kembali karena keyakinannya bahwa murid-muridnya pasti tidak
melakukan perbuatan seperti difitnahkan orang itu.
"Totiang dan cu-wi sekalian. Sudah terang bahwa terjadi hal hebat dan curang di sini. Agaknya ada pihakpihak
yang ingin merusakkan nama baikku dan Thai-san-pai. Karena anak muridku bukanlah orang-orang
jahat, apa lagi memusuhi Tan-twako yang menjadi kakak angkatku yang kukasihi. Pertanggungan jawab
bagaimana yang cu-wi kehendaki?"
"Kau harus menghukum pembunuh-pembunuh itu, kau harus membunuh murid-muridmu yang pada malam
hari itu mengeroyok kami, membunuh mereka sekarang juga di depan kami. Kalau kau mau melakukan hal
itu, barulah pinto dan saudara-saudara di sini suka menghabiskan perkara ini dan menganggap bahwa kau
tetap seorang pendekar besar yang tidak tahu-menahu akan perbuatan keji murid-muridmu di waktu itu,"
jawab Seng Tek Cu yang diiringi anggukan kepala para anggota Pek-lian-pai.
"Thai-san Ciang-bun-jin, kau harus dapat pula mengantarkan kepala si iblis Song-bun-kwi kepadaku
sebagai pembalasan atas kematian dua orang muridku yang tidak berdosa, barulah pinto mau menyudahi
perkara ini!" kata pula Yang Ki Cu, tosu tua Kong-thong-pai yang suaranya tinggi melengking.
Beng San tertegun. Betul-betul pertanggungan jawab yang hebat dan gila. Mana mungkin dia menghukum
mati murid-muridnya yang sama sekali tidak bersalah, yang dia yakin sama sekali tidak tahu-menahu
dengan peristiwa di lereng barat itu? Apa lagi permintaan tosu Kong-thong-pai itu, mana mungkin bisa dia
mengantarkan kepala ayah mertuanya, Song-bun-kwi, kepada tosu ini?
"Gila!" bentaknya marah karena merasa tersinggung kehormatan serta kewibawaannya. "Kalian mau
menetapkan sendiri syarat-syarat yang tak mungkin! Mana bisa ini dianggap sebagai keputusan orangorang
gagah? Pertanggungan jawab yang kalian ajukan itu gila dan sewenang-wenang, mana bisa dibilang
adil?"
"Hemmm, kalau menurut pikiranmu, bagaimana seharusnya pertanggungan jawab itu?" tanya Seng Tek Cu
menahan marah.
"Totiang, sebetulnya aku sama sekali tidak tahu-menahu mengenai peristiwa di lereng sebelah barat itu.
Akan tetapi karena peristiwa itu terjadi di wilayah Thai-san, apa lagi karena mala petaka itu menimpa diri
Tan-twako dan Lok-yang Siang-houw, juga saudara-saudara Pek-lian-pai, maka sudah menjadi
kewajibanku untuk membersihkan nama baik Thai-san-pai, membalaskan penasaran Tan-twako dengan
jalan mencari sampai dapat pembunuh-pembunuh yang sebenarnya. Tentang gak-hu Song-bun-kwi,
dunia-kangouw.blogspot.com
biarlah aku akan mencarinya dan menanyakan hal itu, karena aku masih ragu-ragu apakah benar-benar
beliau yang melakukannya."
"Ketua Thai-san-pai! Telingaku sendiri mendengar betapa Tan Hok sicu menyebut-nyebut nama Song-bunkwi
sebelum tewas, dan kedua mataku sendiri melihat iblis tua itu ketika mengamuk. Dan sekarang kau
masih hendak menyangkal lagi?!" bentak Seng Tek Cu.
"Pinto juga minta pertanggungan jawab sekarang juga! Kematian murid-murid pinto harus dibalas!" Yang Ki
Cu juga berseru marah.
"Ganyang penjahat-penjahat Thai-san-pai! Balaskan saudara-saudara kita!" teriak para anggota Pek-lianpai
yang masih mendendam karena kematian banyak saudara mereka.
Beng San masih bersabar, akan tetapi murid-muridnya yang tidak dapat menahan diri lagi. "Suhu, orang
menghina Thai-san-pai semaunya. Kesabaran ada batasnya. Teecu tidak takut melayani mereka!" kata Su
Ki Han dengan tangan di gagang pedangnya.
Beng San mengangkat tangannya mencegah. "Nanti dulu, Ki Han. Mereka itu bukanlah musuh, ada orangorang
jahat yang sengaja hendak mengadu domba antara kita dengan mereka..." Akan tetapi Beng San tak
dapat melanjutkan kata-katanya.
Tiba-tiba saja terdengar jerit-jerit mengerikan dan robohlah tiga orang dalam rombongan Pek-lian-pai
dibarengi robohnya dua orang dirombongan Kong-thong-pai. Ribut keadaan di situ, apa lagi ketika mereka
mendapat kenyataan bahwa kelima orang itu telah tewas dengan leher atau ulu hati tertusuk pisau-pisau
kecil yang agaknya sudah disambitkan orang-orang secara menggelap.
"Thai-san-pai curang! Serbu dan ganyang Thai-san-pai!"
Orang-orang di kedua rombongan itu berteriak-teriak dan tanpa menunggu komando lagi orang-orang
Kong-thong-pai dan Pek-lian-pai lalu menyerbu ke arah Beng San dengan senjata di tangan!
Akan tetapi dengan gerakan yang cepat laksana burung terbang, ketua Thai-san-pai ini sudah lenyap dari
tempatnya berdiri sehingga penyerangan orang-orang itu disambut oleh murid-murid Thai-san-pai yang
sudah marah.
Terjadilah pertempuran hebat di antara mereka. Murid-murid Thai-san-pai yang pada saat itu berada di situ
hanya ada delapan belas orang, tetapi mereka ini adalah murid-murid yang bertempat tinggal di Thai-sanpai
dan mereka sudah berada di situ semenjak Thai-san-pai berdiri empat tahun yang lalu. Oleh karena itu
mereka ini rata-rata sudah memiliki ilmu silat yang tinggi sehingga permainan pedang mereka pun lihai.
Su Ki Han murid kepala Thai-san-pai menyambut golok tosu Yang Ki Cu, oleh karena dia melihat tosu ini
hebat betul permainan goloknya. Murid Thai-san-pai ke dua yang bernama Liok Sui menyambut pedang
Seng Tek Cu tosu Bu-tong-pai sedangkan murid ke tiga yang bernama Coa Bu Heng menghadapi Koai
Tojin yang amat berbahaya cambuk dan papan caturnya.
Ada pun lima belas orang anak murid Thai-san-pai yang lain menghadapi pengeroyokan puluhan orang
musuh sehingga rata-rata setiap orang harus menghadapi empat atau lima orang lawan! Benar-benar
keadaan Thai-san-pai terancam sekali karena segera kelihatan betapa pihak mereka terdesak hebat. Tiga
orang murid kepala itu pun terdesak oleh tiga orang tosu lihai yang tingkatnya jauh melebihi mereka.
Kenapa Beng San malah melenyapkan diri? Kiranya pendekar ini tadi dengan amat kaget melihat
berkelebatnya pisau-pisau terbang yang merobohkan lima orang. Dia pun maklum bahwa hal ini dilakukan
oleh orang-orang yang hendak mengadu domba, maka secepat kilat dia melompat kemudian menerobos
gerombolan pohon dari mana pisau-pisau itu beterbangan dan hanya terlihat olehnya.
Di bawah sinar bulan purnama dia melihat ada bayangan tiga orang yang bertubuh kecil langsing.
Bayangan-bayangan itu gesit sekali dan sedang berlari meninggalkan tempat itu.
"Perlahan dulu...!" dia membentak sambil melompat, mengulur tangan hendak menangkap salah seorang
di antara mereka.
Tiba-tiba terdengar suara mengejek. Bayangan itu melejit dan cengkeraman Beng San menangkap angin!
dunia-kangouw.blogspot.com
Ketua Thai-san-pai ini terkejut bukan main. Tidak sembarang orang dapat menghindarkan
cengkeramannya tadi, maka dari gebrakan ini saja dapat diduga bahwa orang-orang ini memiliki ilmu
kepandaian tinggi. Dia segera menerjang lagi dengan pukulan tangan kiri, sedangkan tangan kanannya
menyambar orang ke dua yang datang hendak membantu orang pertama. Orang ke tiga menggerakkan
tangan dan angin berciutan ke arahnya.
Beng San terkejut bukan main. Pukulannya tertangkis lengan kecil berkulit halus namun memiliki tenaga
lweekang yang hebat. Biar pun dia dapat membuat lawan itu terhuyung karena peraduan lengan itu, dia
merasa betapa lengannya sendiri panas, tanda bahwa tenaga lawan ini benar-benar tak boleh dipandang
ringan.
Cengkeramannya pada orang ke dua juga meleset, malah orang itu mengirim tendangan yang aneh
gerakannya ke arah bawah pusarnya. Serangan yang singkat tapi mematikan. Dan pada saat itu, orang ke
tiga mengirim serangan dengan telunjuk menuding dan yang mengeluarkan angin berciutan ke arah
lehernya.
Cepat Beng San menggerakkan tangan kiri berusaha menangkap kaki yang menendang. Dia berhasil
menangkapnya, tetapi cepat-cepat melepaskannya kembali ketika tangannya merasa memegang sebuah
kaki bersepatu yang kecil, kaki seorang wanita! Sedangkan pukulan aneh yang mendatangkan angin
berciutan itu, dia sampok dengan tangan sambil mengerahkan hawa pukulan Pek-in Hoat-sut. Karena dia
tidak mengira akan kehebatan pukulan ini, dia mendiamkan saja ketika pukulan meleset mengenai ujung
lengan bajunya.
"Brettt!" Ujung lengan baju itu robek seperti ditusuk pedang!
"Hebat...!" serunya kagum, maklumlah dia bahwa tiga orang ini agaknya tiga wanita yang sakti.
"Siapakah kalian? Kenapa datang-datang memusuhi aku?" Dia berusaha untuk mengenal muka mereka,
akan tetapi ternyata muka mereka tertutup sutera hitam, hanya pakaian mereka berwarna merah
berkembang.
"Hi-hi-hik!" tiga orang wanita itu hanya tertawa. Tampak gigi-gigi putih mengkilap tertimpa cahaya bulan,
disusul berkilatnya tiga batang pedang yang mereka cabut berbareng.
Beng San berseru keras ketika tiga batang pedang itu seperti terbang menyerangnya dari tiga jurusan. Dia
mengerti bahwa tiga orang lawan sakti ini tak mungkin dihadapi dengan tangan kosong, maka dia cepat
menggerakkan tangan dan tampaklah sinar menyilaukan mata ketika Liong-cu-kiam dihunus.
Dia harus sanggup merobohkan mereka, atau setidaknya menangkap seorang di antara mereka. Mereka
inilah yang tahu akan fitnah yang menimpa Thai-san-pai. Akan tetapi merobohkan tiga orang ini benarbenar
tidak mudah. Ilmu pedang mereka amat aneh dan lihai, malah pedang di tangan mereka berani
membentur Liong-cu-kiam tanpa rusak.
Beng San penasaran. Diputarnya pedangnya sedemikian rupa dan mulailah dia mainkan Im-yang Sin-kiam.
Beberapa kali terdengar ketiga orang wanita itu berteriak kaget dan menjerit. Im-yang-sin kiam benar-benar
terlampau sakti bagi mereka.
Tiba-tiba terdengar mereka bersuit aneh dan sinar-sinar putih berkelebatan menyambar dari tubuh mereka
ke arah Beng San. Hebat sekali senjata ini dan agaknya ini adalah pisau-pisau kecil yang tadi sudah
merobohkan lima orang. Beng San memutar pedang menyampok, terdengar suara nyaring berkali-kali dan
pisau-pisau itu beterbangan ke kanan kiri.
Akan tetapi ketika dia memandang ke depan, tiga orang wanita itu sudah lenyap ditelan bayanganbayangan
gelap. Dia hendak meloncat dan mengejar, akan tetapi niat itu lantas diurungkan ketika dia
mendengar teriakan-teriakan dan senjata beradu dari arah sebelah belakangnya.
Teringatlah dia akan anak-anak murid Thai-san-pai yang tentunya sedang menghadapi serbuan mereka
itu, maka hatinya menjadi amat gelisah. Mana mungkin murid-muridnya yang hanya delapan belas orang
itu dapat mengatasi bahaya yang mengancam?
dunia-kangouw.blogspot.com
Dia tahu pula bahwa tiga orang tosu itu saja takkan bisa dilawan, baik oleh murid kepala Thai-san-pai
sekali pun. Jika dia terus mengejar tiga orang wanita aneh tadi, tentu para muridnya akan terancam bahaya
maut. Tapi bila membiarkan tiga orang itu lari, dia akan kehilangan bukti akan kebersihan Thai-san-pai. Dia
merasa serba salah.
Akhirnya dia mengambil keputusan membantu murid-muridnya yang terancam bahaya. Kalau memang
Thai-san-pai bersih, tidak usah takut menghadapi fitnah, pikirnya. Mudah kelak mencari rahasia dan
mengejar orang-orang jahat yang menimbulkan fitnah.
Pada waktu dia berlari dan melompat ke tempat pertempuran, hatinya berduka sekali dan perasaannya
amat terpukul. Banyak di antara para penyerbu menggeletak tak bernyawa terkena bacokan pedang muridmuridnya,
juga beberapa orang muridnya menggeletak tak bernyawa. Yang masih bertempur telah lukaluka
hebat pula.
Su Ki Han melawan Yang Ki Cu dengan mati-matian akan tetapi terdesak hebat, pundak kirinya sudah
robek berdarah. Coa Bu Heng muridnya ke tiga yang berusia dua puluh lima tahun, murid yang amat
berbakat, didesak hebat oleh Koai Tojin dan pakaiannya sudah compang-camping berikut kulit tubuhnya
pecah-pecah terhajar cambuk. Liok Sui muridnya yang sebaya dengan Su Ki Han juga sudah payah, darah
mengalir dari pahanya yang terluka oleh pedang Seng Tek Gu tosu Bu-tong-pai. Sebentar lagi, tiga orang
muridnya ini tentu akan roboh berikut murid-murid yang lain.
"Tahan semua...!" Dia membentak. "Kita terhasut fitnah! Orang-orang yang jahat berada di sini..."
Tetapi pihak penyerbu yang sudah marah dan merasa berada di ambang kemenangan itu sama sekali
tidak mau berhenti. Beng San menjadi marah sekali. Sambil berseru keras tubuhnya berkelebat, berubah
menjadi segulung sinar yang menerjang ke sana ke mari.
Terdengar teriakan kaget berturut-turut ketika Koai Tojin terhuyung ke belakang, papan caturnya pecah
dua dan cambuknya putus disusul Seng Tek Cu yang pedangnya terputus dan Yang Ki Cu yang goloknya
terbang entah ke mana. Mereka berundur dengan muka pucat, memandang orang-orangnya yang kacau
balau akibat diterjang gulungan sinar itu. Pedang dan golok beterbangan, orang-orang terlempar karena
dorongan atau tendangan.
"Hayo, siapa tidak mau berhenti? Manusia-manusia tolol kalian! Berhenti! Siapa yang tak berhenti akan
kurobohkan!" Beng San berteriak sambit menerjang ke sana ke mari.
Sebentar saja orang-orang itu mundur dengan jeri. Bukan main hebatnya sepak terjang Beng San sang
ketua Thai-san-pai ini. Sekarang dia tampak berdiri tegak dengan pedang Liong-cu-kiam di tangan,
menghadapi mereka dengan mata berapi-api.
"Siapa masih berkepala batu? Majulah!" tantangnya penuh kemarahan.
Seng Tek Cu melangkah maju dan tersenyum pahit. "Ketua Thai-san-pai, hebat memang kepandaianmu.
Kami tak mampu melawanmu. Akan tetapi, jangan kira bahwa kami akan menerima begini saja dan..."
"Tutup mulut! Sudah banyak jatuh korban sia-sia. Kukatakan tadi bahwa kalian kena hasut fitnah dan
orang-orang yang mengakibatkan itu berada di sini, merekalah tadi yang secara diam-diam menyerang
lima orang-orangmu secara menggelap. Kalian benar-benar bodoh dan tidak mau mendengarkan
alasanku!"
Kaget sekali Seng Tek Cu. Mulai dia meragu. Juga Yang Ki Cu yang segera bertanya.
"Mana mereka? Siapa mereka itu? Buktikan!"
"Mereka orang-orang lihai. Tadi hampir saja tertangkap, tapi gagal. Ahh... akibat ketololan kalian banyak
jatuh korban..." Beng San sedih bukan main melihat mayat bergelimpangan di sana-sini.
Tiba-tiba Su Ki Han mengeluh, "...Suhu... di sana... apa itu...?"
Suara murid kepala ini membuat tengkuk Beng San meremang. Cepat dia menoleh dan... wajahnya
langsung berubah pucat kehijauan pada waktu dia melihat api menyala-nyala di puncak, didahului asap
hitam mengebul tinggi.
dunia-kangouw.blogspot.com
"Celaka...!" Dia memekik keras dan tubuhnya berkelebat lenyap dari situ.
Tahu-tahu dia sudah jauh lari ke puncak, diikuti semua murid yang masih dapat berjalan. Sambil
terpincang-pincang dan terhuyung-huyung murid-murid yang terluka ikut berlari ke puncak.
Koai Tojin, Seng Tek Cu, beserta Yang Ki Cu ikut pula mengejar, mengikuti para murid Thai-san-pai.
Wajah mereka pucat, jantung pun berdebar keras. Murid-murid Thai-san-pai yang rata-rata gugup dan
gelisah itu membiarkan mereka bertiga mengikuti ke puncak melalui jalan rahasia.
Orang-orang Pek-lian-pai dan Kong-thong-pai berdiri kebingungan, tidak berani turut ke puncak tanpa
diperintah. Mereka lalu mulai menolong orang-orang yang terluka, termasuk orang-orang Thai-san-pai.
Banyak jatuh korban. Sembilan orang murid Thai-san-pai tewas, empat luka-luka berat, sisanya ikut naik ke
puncak. Pihak Kong-thong-pai termasuk dua orang yang tewas oleh senjata rahasia, menderita kerugian
enam orang tewas dan lima luka-luka berat. Pihak Pek-lian-pai tewas tujuh orang yang terkena senjata
rahasia, dua belas luka-luka!
Dengan hati berdebar tidak karuan Beng San lari secepat terbang ke puncak. Ketika tiba di puncak, ngeri
hatinya menyaksikan betapa semua pondoknya telah terbakar. Api bagai menjilat-jilat langit dan atap
rumah itu sudah menyala seluruhnya.
Tapi hanya sedetik dia memandang ke arah api, matanya kelihatan mencari ke sana ke mari. Akhirnya dia
dapat mendengar suara isterinya di sebelah belakang pondok. Cepat dia meloncat ke sana, dilihatnya
isterinya dengan pedang di tangan, muka pucat, rambut awut-awutan dan mata terbelalak sedang menjeritjerit,
"Cui Sian...! Cui Sian...!"
Seakan terhenti detak jantung Beng San. Tanpa bertanya lagi dia lalu meloncat ke depan, menerjang
dinding pondoknya. Sekali terjang bobollah dinding itu. Tanpa mempedulikan panasnya api dan bahaya
keruntuhan atap rumahnya, dia mencari-cari. Dilihatnya empat orang sudah menggeletak tak bernyawa
dengan luka pada dada.
Dia mencari terus, tapi tidak melihat bayangan Cui San. Tiba-tiba atap rumah ambruk ke bawah dan hanya
dengan kecepatan luar biasa saja Beng San dapat meloncat ke luar rumah. Ketika dia tiba di luar, muridmurid
dan tiga orang tosu sudah tiba pula di situ. Mereka memandang bengong ke arah Beng San yang
pada saat itu mukanya mengerikan sekali.
Muka pendekar ini hitam, pakaiannya hangus di sana-sini, sepasang matanya menyaingi panasnya api itu
sendiri. Isterinya seperti orang tak sadar masih menjerit-jerit memanggil nama Cui Sian.
Seng Tek Cu terharu bukan main. Dia cepat melangkah maju, menjura dalam sekali dan berkata, "Sicu,
maafkan pinto... maafkan pinto..."
Beng San tidak peduli, melainkan menghampiri isterinya. Li Cu yang dipegang pundaknya oleh Beng San
seperti baru sadar. Matanya tetap terbelalak dan begitu melihat suaminya memegang pundaknya, dia
cepat menjerit pergi dan menudingkan pedangnya ke muka suaminya.
"Kau...! Kalau tidak pergi... takkan terjadi begini... kau... kau...!” Dan wanita ini menangis tersedu-sedu
sambil berdiri tegak, tidak berusaha mengusap air matanya, hanya menatap wajah Beng San penuh
kebencian!
Ucapan ini makin menusuk hati Seng Tek Cu, Koai Tojin, dan juga Yang Ki Gu. Tahulah mereka sekarang
bahwa semua ini adalah jebakan musuh yang sengaja mengadu domba dan akhirnya, karena kebodohan
mereka, Beng San terpaksa turun puncak dan agaknya inilah yang dimaksudkan oleh para penjahat gelap
itu. Memancing harimau ke luar sarang, kemudian selagi Beng San bersitegang dengan mereka, penjahatpenjahat
itu langsung mengobrak-abrik sarang!
"Taihiap, maafkan pinto... pinto semua bodoh sekali... pinto semua yang menyebabkan mala petaka ini..."
kata pula Seng Tek Cu.
Pedang Beng San berkelebat dan sebuah batu besar di dekat tiga orang tosu itu menjadi bulan-bulanan.
Beberapa kali pedang berkelebat dan batu itu berubah seperti tahu yang dicacah-cacah!
dunia-kangouw.blogspot.com
"Pergi...! Pergi kalian dari sini...! Demi Tuhan... lekas pergi sebelum kubunuh...!" Telunjuk tangan kiri Beng
San menuding ke luar.
Tiga orang tosu itu menunduk, lalu berjalan pergi dengan langkah-langkah gontai.
"Antar mereka ke luar, urus jenazah adik-adikmu," kata Beng San kepada Su Ki Han yang cepat
menjalankan perintah suhunya, mendahului tiga orang tosu menjadi penunjuk jalan.
Hati Ki Han gelisah. Murid ini sama sekali tak merasakan lukanya. Murid-murid yang lain tanpa diperintah
juga pergi mengikuti twa-suheng mereka, maklum bahwa guru dan ibu guru mereka tak mau diganggu
orang lain.
Setelah semua orang pergi, Beng San menengok ke arah isterinya. Jantungnya merasa ditusuk pedang
oleh pandangan mata isterinya yang penuh penyesalan, penuh dengan penderitaan dan penuh kebencian.
Seakan-akan dari pandang mata Beng San terungkap seribu satu macam pertanyaan dan otomatis Li Cu
berkata, suaranya lirih seperti suara orang menangis,
"Mereka datang... lima orang mengeroyokku... yang lain membakar rumah... kulihat Cui Sian dibawa lari..."
Tiba-tiba dia menangis menggerung-gerung. "Anakku...! Cui Sian terus berteriak-teriak memanggilku...
anakku... Cui Sian... Cui Sian...!"
Beng San makin hancur hatinya, dia melangkah maju, hendak memeluk isterinya. "Li Cu... kenalkah kau
siapa mereka? Biar kucari mereka, kurampas kembali anak kita..."
"Jangan sentuh aku!" Pedangnya berkelebat dan hampir saja lengan tangan Beng San terbabat putus
kalau dia tidak cepat-cepat menariknya. "Aku tidak kenal mereka. Peduli apa dengan kau! Kau lebih
mementingkan Thai-san-pai! Nah, uruslah Thai-san-pai-mu itu. Aku akan pergi mencari anakku!" Setelah
berkata demikian, Li Cu berlari pergi menuruni puncak.
"Li Cu...! Tunggu dulu...!"
Beng San melompat melampaui isterinya, menghadangnya. "Kau maafkanlah aku... mari kita bicara baikbaik..."
"Jangan mendekat!" Kembali pedang Li Cu berkelebat. "Kau uruslah Thai-san-pai, jangan pedulikan aku
dan anakku. Aku bersumpah... dengarlah Beng San, aku bersumpah takkan sudi melihat mukamu lagi
tanpa adanya Cui Sian!"
Pedangnya membabat ke depan dan selagi Beng San meloncat minggir, dia berlari terus meninggalkan
suaminya.
Beng San menggigit bibir, menahan suaranya yang hendak menjerit-jerit. Hampir tak kuat ia menahan
gelora hatinya yang kalang kabut menghadapi mala petaka hebat ini. Seluruh batinnya diliputi kemarahan
luar biasa. Kemudian kakinya menendang. Sebuah batu besar terlempar bergulingan. Pedangnya
dikerjakan. Pohon-pohon roboh malang melintang.
Beng San terus menyerbu pondoknya yang masih terbakar. Ditendangnya, dihantamnya, dibabatnya
sehingga hiruk-pikuk suara pondok itu roboh. Batu-batu beterbangan, tidak ada sebatang pun pohon utuh,
semua dibabat rata dengan tanah!
Ia mengamuk terus, dari kerongkongannya terdengar suara menggereng-gereng, matanya liar dan
semalam itu dia membuat puncak yang tadinya indah menjadi tempat yang rusak binasa. Tanam-tanaman
bunga ludes, pondok habis, pohon-pohon ambruk, batu-batu pun malang melintang, banyak yang hancur.
Dalam keadaan seperti inilah tiga orang murid kepala mendapatkan gurunya. Beng San masih berdiri
seperti patung, pedang di tangan, muka beringas mata liar.
"Suhu...!" tiga orang murid itu menjatuhkan diri berlutut dan terdengar mereka menangis terisak.
Beng San menoleh, menunduk, matanya dikejap-kejapkan mengusir dua butir air mata yang sejak tadi
menggantung tak mau jatuh. Seperti orang baru sadar dari mimpi buruk dia lalu menengok ke kanan kiri,
dunia-kangouw.blogspot.com
melihat kerusakan yang diakibatkan oleh kemarahannya. Diam-diam dia bersyukur bahwa tidak ada
seorang pun manusia di situ malam tadi. Kalau ada, entah apa akan jadinya.
Dia menarik napas panjang, terasa sakit di dada. Tahu bahwa dia terluka oleh hawa amarahnya sendiri!
Cepat dia menyalurkan hawa murni ke dada, bernapas panjang-panjang memulihkan tenaga dan
kesehatan. Dia insyaf akan kegilaannya. Boleh jadi Li Cu pun tak dapat menahan hantaman nasib seperti
ini.
Dia tidak menyalahkan isterinya. Seorang wanita bagaimana pun juga lebih lemah daya tahan batinnya.
Apa lagi pernah kehilangan Cui Bi, kini kehilangan Cui San. Amat berat tentu.
Tapi dia seorang laki-laki. Hampir lima puluh tahun hidupnya. Banyak sudah pengalaman. Masa belum
juga matang jiwanya oleh gemblengan pengalaman hidup yang pahit getir? Kesadaran tidak boleh tertutup
kegelapan nafsu. Dia harus tetap berpendirian. Seorang gagah tak akan mudah goyah imannya. Sekali lagi
dia menarik napas panjang.
"Ki Han, siapa saja di antara adikmu yang tewas dan berapa yang terluka?" tanyanya, suaranya sudah
biasa kembali. Beng San sudah pulih menjadi ketua Thai-san-pai yang berwibawa.
Sambil menangis Ki Han menyebutkan nama sembilan orang adik seperguruannya yang tewas dan empat
orang yang luka-luka. Kembali Beng San menarik napas panjang untuk menyedot hawa murni guna
menguatkan batinnya yang kembali terpukul kedukaan.
"Murid-muridku, kuharap kalian suka mengubur jenazah adik-adikmu baik-baik. Kemudian bubarlah kalian,
pulang ke rumah masing-masing. Mereka yang tidak mempunyai rumah boleh saja tinggal di pegunungan
ini. Akan tetapi ingat, mulai saat ini Thai-san-pai tidak ada lagi..."
"Suhu...!" Ki Han terisak. "Di mana subo (ibu guru) dan adik Cui Sian?"
"Adikmu diculik orang. Subo-mu pergi mengejar. Aku pun akan turun gunung menyusul mereka. Ingat,
Thai-san-pai tidak ada lagi..."
"Suhu...!" Kini terdengar seruan mereka serentak menyatakan keberatan hati.
"Atau... biarlah untuk sementara ini Thai-san-pai dibekukan. Tunggu sampai aku pulang. Kalau aku tidak
pulang selamanya, berarti Thai-san-pai tidak akan bangun lagi. Beri tahu kepada semua adikmu yang tidak
tinggal di sini. Terserah cara kalian mencari jalan hidup masing-masing. Aku tidak akan mengurus sepak
terjang kalian selama kalian juga tidak menggunakan nama Thai-san-pai. Akan tetapi, percayalah akan
kemurahan Thian. Kalau Thian menghendaki, aku akan kembali membangun lagi Thai-san-pai yang rusak
binasa di hari ini. Nah, selamat tinggal, murid-muridku..." Suara terakhir ini mengandung isak dan semua
murid menangis.
Akan tetapi mereka hanya melihat bayangan suhu mereka berkelebat pergi dan lenyap. Murid-murid itu
saling rangkul dan bertangisan. Keadaan pada pagi hari itu menyedihkan sekali. Thai-san-pai yang
dibangun selama empat tahun dan tadinya terkenal sebagai partai baru yang kuat dan disegani, dalam
semalam runtuh dan hancur binasa…..
********************
Kita tinggalkan dulu keadaan Thai-san-pai yang rusak binasa dan ketuanya yang rusak pula ketenteraman
rumah tangganya. Mari kita menengok keadaan di puncak Min-san. Telah dituturkan di bagian depan
bahwa Tan Kong Bu putera Tan Beng San bersama isterinya, Kui Li Eng dan kakeknya, Song-bun-kwi
Kwee Lun, setelah menikah lalu pindah ke Min-san di mana dia dibantu oleh isterinya menerima muridmurid
yang berbakat dan berusaha mendirikan sebuah perkumpulan baru, yaitu Min-san-pai.
Belum banyak murid yang diterima oleh suami isteri ini karena mereka masih muda, lagi pula mereka tidak
mau menerima sembarangan murid. Kalau ada anak yang benar-benar berbakat barulah mereka mau
menurunkan ilmu silat sehingga dalam waktu empat tahun, baru mempunyai murid sebanyak dua belas
orang saja, terdiri dari anak-anak muda laki perempuan berusia antara sepuluh sampai lima belas tahun.
Suami isteri ini hidup rukun saling mencinta. Di samping mengajar silat kepada para murid cilik ini mereka
hidup sebagai petani, bercocok tanam sayur-sayur dan buah-buahan yang dapat hidup subur di Min-san.
dunia-kangouw.blogspot.com
Song-bun-kwi juga hidup tenang tenteram di Min-san. Kakek ini sekarang menjadi gemuk dan sehat. Akan
tetapi lewat empat tahun, dia mulai mengeluh dan menjadi malas karena kerjanya hanya makan tidur
belaka. Berkali-kali dia mengeluh dan menyatakan ketidak puasan dan kebosanan hatinya di depan
cucunya dan cucu mantunya.
Pagi hari itu dia nampak marah-marah dan gelisah. Semenjak subuh tadi Kong Bu dan isterinya melihat
dengan cemas betapa kakek itu tidak hentinya berlatih silat di kebun belakang. Dan tidak seperti biasanya,
terdengar suara keras.
Ketika mereka lari menengok, kiranya dua batang pohon besar sudah roboh dipukul dan ditendang kakek
itu! Masih saja Song-bun-kwi bersilat. Angin pukulannya mendesir-desir dan dia sama sekali tidak
mempedulikan munculnya cucu dan cucu mantunya. Wajahnya cemberut dan matanya sayu.
Kong Bu saling pandang dengan Li Eng. Dia menarik napas panjang, lalu menggandeng tangan isterinya
diajak masuk rumah. Dia masgul sekali, duduk bertopang dagu, teringat akan percekcokan dengan kakek
itu semalam.
Seperti biasa, malam tadi Song-bun-kwi makan bersama Kong Bu dan Li Eng yang juga melayani suami
dan kakeknya. Song-bun-kwi sudah berbeda dari pada biasanya, banyak menenggak arak dan selalu minta
tambah.
Dan akhirnya, selesai makan Song-bun-kwi menggebrak meja sampai mangkok-mangkok menari-nari di
atas meja.
"Kau anak sial! Tidak becus!" dia memaki Kong Bu.
Tidak heran Kong Bu melihat kakeknya seperti itu. Sudah semenjak kecil dia tahu akan keanehan watak
kakek ini yang mudah marah dan mudah gembira, kadang-kadang bagi yang tidak tahu tentu disangka gila.
Dengan tenang dia tersenyum dan bertanya,
"Apa lagi yang tak menyenangkan hatimu, Kongkong (kakek)? Kesalahan apakah kali ini yang kulakukan?"
"Kesalahan apa? Bocah tolol! Aku ingin punya buyut, kau dengar? Aku ingin punya buyut dan kau tidak
becus!"
Mendengar omongan ini seketika wajah Li Eng menjadi merah dan dengan berpura-pura membawa
mangkok-mangkok kotor dia cepat-cepat lari ke belakang, namun telinga kakek dan cucu yang lihai itu
masih dapat mendengar isaknya tertahan-tahan.
Kong Bu mengerutkan heningnya. Terlalu kakeknya ini. Sudah melewati batas sekarang. Sudah berkali-kali
kakeknya ini marah-marah kepadanya, memakinya tidak becus, tidak mampu segala macam, hanya
karena dia dan Li Eng sampai sekarang belum juga punya keturunan, belum punya anak!
Kakeknya memang orang aneh, ini dia tahu. Akan tetapi kalau sudah mencelanya tentang tak punya anak
di depan Li Eng, tentu saja isterinya merasa tersinggung sekali.
"Kakek, lagi-lagi kau ribut-ribut soal cucu buyut!" tegurnya dengan suara agak kasar. "Soal keturunan
adalah soal yang ditentukan oleh Thian. Manusia mana dapat menentukan? Mengapa kakek ribut-ribut saja
urusan buyut? Apakah tidak tahu bahwa ucapanmu tadi amat menyakiti hati Li Eng?"
"Aaahh, dasar kau yang tidak becus! Laki-laki goblok kau, sudah menikah empat tahun belum juga punya
anak. Uuhhh!" kakek itu mencak-mencak dengan amat berangnya.
Kong Bu tak dapat menahan kesabarannya. Suara kakeknya terlalu keras sehingga biar pun Li Eng berada
di belakang, tentu isterinya itu dapat mendengar jelas.
"Kongkong, kau terlalu sekali! Kau ingin punya cucu buyut untuk apa sih?"
"Wah, untuk apa katanya? Tentu saja untuk kuwarisi kepandaian yang kulatih puluhan tahun ini. Untuk apa
lagi? Aku tidak akan mati meram sebelum kepandaianku kuwariskan kepada buyutku. Tahu kau?"
dunia-kangouw.blogspot.com
Kong Bu tertawa, berusaha mendinginkan hati kakeknya. "Ahh, kalau hanya untuk itu saja, mengapa
Kongkong harus susah-susah menanti buyut yang tak tentu kapan datangnya? Bukankah cucu muridmu
ada dua belas orang di sini, boleh kau pilih mana yang kau sukai untuk dijadikan murid-muridmu. Bukankah
ini baik sekali, Kongkong?"
"Murid-murid tahi kerbau!" Kakek itu makin marah. "Kalau memang mau cari murid, aku bisa cari sendiri.
Ahh, sudahlah, dasar kau yang tolol dan tidak becus!"
Demikianlah keributan malam tadi, keributan berdasarkan soal yang itu-itu juga dan yang membuat Songbun-
kwi Kwee Lun murung. Pagi itu sejak subuh dia sudah bersilat dan dengan pukulan saktinya
merobohkan pohon besar. Biasanya, sesudah matahari terbit, kakek ini tentu akan masuk ke ruangan
depan, berjemur sinar matahari melalui jendela ruangan itu sambil menghadapi minuman hangat yang
disediakan oleh Li Eng. Dia akan duduk di bangku panjang dan berbaring, meram melek nikmat seperti
seekor singa tua bermalasan.
Akan tetapi pagi itu dia tidak masuk ke ruangan. Sampai matahari naik tinggi, kakek itu tidak nampak
pulang. Kong Bu merasa heran dan mencari ke belakang. Tidak ada. Ke depan lalu ke sekeliling tempat itu.
Tidak ada. Kakek itu tidak nampak bayangannya lagi.
Isterinya ikut mencari dan memanggil-manggil. Namun kakek itu tidak kelihatan lagi mata hidungnya. Kong
Bu mendekati isterinya. Mereka saling pandang.
"Dia kumat penyakitnya, dasar berdarah perantauan!" kata Kong Bu.
Li Eng mengerutkan kening, menunduk. "Karena aku..."
Kong Bu kaget, memandang isterinya. Dilihatnya dua titik air mata membasahi pipi Li Eng. Dia
merangkulnya. "Hushh, siapa bilang karena kau? Tentang itu, tak perlu kita pikirkan, isteriku. Kita serahkan
saja kepada Thian Yang Maha Kuasa."
Li Eng memang bukan seorang pemurung. Semenjak gadisnya, dia amat periang, kocak dan jenaka.
Sekarang pun hanya sebentar ia digerumuti rasa kecewa dan duka. Di lain saat sambil tersenyum manis
dia berkata, "Hemm, dunia kang-ouw tentu bakal geger dan heboh karena munculnya kakek!"
Kong Bu juga tersenyum. "Tentu saja, boleh kita pastikan itu! Kita dengar-dengar saja, tentu terjadi
keonaran. Memang kakekku itu tukang mencari geger. Ha-ha-ha!" Mereka tertawa-tawa dan seketika
lenyaplah awan mendung yang mengancam sinar kebahagiaan mereka.
Benar dugaan Kong Bu. Kakeknya, Song-bun-kwi Kwee Lun memang sudah pergi dari Min-san. Kekesalan
hatinya karena belum juga dia dapat menimang seorang buyut yang dinanti-nantikan, membangkitkan
rindunya akan dunia ramai, membuat penyakitnya suka merantau kambuh kembali. Seperti telah menjadi
wataknya semenjak dahulu, dia selalu pergi tanpa pamit dan pulang tanpa memberi tahukan.
Akan tetapi, tidak seperti dugaan Kong Bu bahwa di dunia ramai kakeknya tentu akan menimbulkan
kegemparan, kali ini Song-bun-kwi melakukan perjalanan dengan tenteram, tidak mempunyai nafsu untuk
mencari perkara.
Hal ini adalah karena hatinya sudah menjadi dingin karena mengingat bahwa tokoh-tokoh setingkat
dengannya seperti Siauw-ong-kui, Pak-thian Lo-cu, atau Hek-hwa Kui-bo dan Toat-beng Yok-mo, semua
sudah mati. Kalau ada mereka, terutama Siauw-ong-kui, tentu dia akan mencarinya dan diajak berkelahi
sampai tiga hari tiga malam!
Hanya tinggal seorang tokoh yang setingkat dengannya, atau setidaknya hampir setingkat dengannya,
yaitu Tai-lek-sin Swi Lek Hosiang, itu tokoh besar dari pantai timur. Karena teringat akan orang tua inilah
maka kini Song-bun-kwi melakukan perjalanan ke timur, ke pantai timur untuk mencari Tai-lek-sin.
Keperluannya hanya satu, mencari orang tua itu dan kalau sudah berjumpa, hendak diajak berkelahi
mengadu ilmu…..
********************
dunia-kangouw.blogspot.com
Pada suatu hari kakek ini memasuki sebuah kota pelabuhan di pantai timur yang cukup ramai, karena kota
ini selain menjadi pusat perdagangan para pedagang laut yang datang dari selatan dan utara, juga terkenal
sebagai pintu keluar hasil-hasil bumi dan akar-akar obat. Sayangnya sering kali kota ini diganggu bajak laut
Jepang sehingga sebagian besar pedagangnya datang dari lain kota dan jarang yang mendirikan
bangunan di situ.
Sudah menjadi kebiasaan setiap orang pedagang keliling yang membawa banyak barang berharga, mesti
ada saja pengawalnya yang terdiri dari jagoan-jagoan pengawal bayaran yang lajim disebut piauwsu.
Pengawal-pengawal bayaran dan para pedagang inilah yang meramaikan restoran-restoran yang banyak
dibuka di situ sehingga begitu memasuki kota ini, Song-bun-kwi segera mengembang kempiskan
hidungnya karena mencium bau harum masakan yang sedap dan gurih.
"Gurih... gurih... wah betapa sedapnya...!" dia menggerutu berkali-kali.
Matanya kemudian mencari-cari hingga akhirnya dia melangkah lebar memasuki sebuah restoran yang
paling besar dan berada di pinggir jalan besar dekat tempat pemberhentian perahu-perahu. Bau amis
perahu-perahu yang membawa muatan ikan malah menambah sedap.
Kehadiran kakek ini menarik perhatian orang. Betapa tidak. Seorang kakek yang usianya kurang lebih tujuh
puluh tahun, rambutnya jarang-jarang dan pendek setengah gundul, kumis dan jenggot pendek-pendek
pula dan kaku, sebagian besar sudah putih. Pantasnya kepala seperti ini dimiliki seorang pendeta, akan
tetapi pakaiannya sama sekali bukan pakaian pendeta. Pakaian yang membungkus tubuh tinggi besar
kokoh kuat itu adalah pakaian petani yang kumal dan longgar. Lengan bajunya lebar sekali seperti lengan
baju tukang-tukang main sulap yang menyembunyikan benda-benda di dalamnya.
"Heee, pelayan!" suaranya menggeledek dan menggetarkan ruangan restoran itu. "Bawa ke sini cepat
seguci besar arak baik, tiga kati mi, dua kati daging babi panggang dan tiga empat macam masakanmu
yang paling terkenal. Lekas kataku, perutku lapar nih!"
Sambil menarik napas panjang dengan nikmat kakek ini menjatuhkan diri ke atas sebuah bangku yang
lantas mengeluarkan bunyi mengenaskan karena hampir tak kuat menadahi tubuhnya yang besar dan
berat itu, lalu jari-jari tangan kanannya mengetruk-ngetruk meja di depannya sampai meja itu bergoyanggoyang.
Semua tamu yang duduk di situ menoleh dan memandang heran. Di mana di dunia ini ada orang yang
begitu gembul? Tiga kati mi dan dua kati daging ditambah lagi tiga macam masakan, masih didorong
masuk oleh seguci besar arak, bukankah itu jumlahnya lebih sepuluh kati? Perut manusia biasa mana kuat
dimasuki sepuluh kati makanan sekaligus?
Juga pelayan-pelayan saling pandang, tak ada yang menyanggupi karena mereka merasa ragu-ragu.
Selain aneh, juga harga masakan-masakan yang dipesan itu bukanlah sedikit uangnya!
Kakek itu merasa juga akan keraguan muka pelayan ini. Dia menggereng dan tangannya menekan meja di
hadapannya yang tiba-tiba ambles ke bumi sampai setengahnya lebih! "Heh, pelayan-pelayan. Kalian ini
manusia-manusia ataukah patung? Kalau patung tunggu kublesekkan kalian ke dalam tanah seperti meja
ini!"
Kagetlah semua orang, kaget dan jeri. Juga para pelayan berseliweran dan separuh lari menyediakan
pesanan kakek itu. Mereka tak peduli lagi apakah kakek itu nanti bisa bayar atau tidak, itu urusan pengurus
restoran. Paling perlu cepat-cepat sediakan pesanannya agar mereka selamat!
Dengan senyum manis dibuat-buat sehingga senyuman itu pringas-pringis mengandung perasaan takut,
para pelayan lalu antri mengantarkan makanan-makanan yang dipesan Song-bun-kwi dan mengaturnya di
atas meja yang rendah itu.
Begitu selesai mereka terbirit-birit menjauhkan diri. Juga para tamu yang nyalinya kurang besar, cepatcepat
menghabiskan makanan, membayar dan pergi meninggalkan tempat di mana terdapat kakek yang
menyeramkan itu.
Akan tetapi yang nyalinya besar, malah menjadi girang dan diam-diam ingin menyaksikan perkembangan
lebih lanjut dan menikmati keanehan yang jarang mereka lihat. Di antara mereka itu terdapat seorang lakidunia-
kangouw.blogspot.com
laki berusia tiga puluhan tahun yang duduk seorang diri di sudut restoran, laki-laki yang bermata tajam
berhidung betet berpakaian mentereng.
Mencium bau arak dari sebuah guci besar yang berada di atas sebuah meja di depannya, sepasang mata
Song-bun-kwi bersinar-sinar. Dia telah amat rindu melihat arak, kini begitu bertemu dia segera menyambar
guci, mengangkatnya ke atas maka terdengarlah suara bergelogok seperti suara air pancuran jatuh di
kolam. Tak setetes pun terbuang.
Setelah agak lama mulut-mulut orang yang menyaksikan ini melongo, baru Song-bun-kwi meletakkan guci
itu kembali ke atas meja dan setengah isinya sudah ia pindah ke dalam perutnya. Tanpa mempedulikan
mata orang-orang yang berada di situ, dia menyambar sumpitnya dan segera menyikat masakan-masakan
di depannya.
Seperti mesin saja sumpit-sumpitnya bergerak. Seperti disulap, mi, daging dan masakan-masakan itu
terbang ke dalam mulutnya, dikunyah sebentar lalu masuk ke dalam lubang di kerongkongannya. Kadangkadang
masakan itu menyesakkan kerongkongan karena terlalu dijejal, dan terpaksa harus didorong arak
menggelogok.
Tiba-tiba terdengar suara ribut-ribut di luar, disusul orang lari berserabutan ke sana ke mari. Ramai orang
berteriak-teriak, "Bajak laut...! Bajak laut!"
Di dalam restoran itu sendiri terjadi keributan luar biasa. Para tamu lari berserabutan ke luar, pelayanpelayan
lari pula sambil membawa barang-barang yang dianggap berharga, pengurus restoran membawa
lari uang. Semua lari berserabutan meninggalkan tempat itu.
Nelayan-nelayan, pedagang-pedagang dan mereka yang merasa memiliki barang-barang berharga cepatcepat
berlarian meninggalkan tempat itu. Hanya mereka yang merasa tak mempunyai apa-apa, tidak lari,
hanya bersembunyi dengan muka pucat ketakutan.
Sejenak Song-bung-kwi menengok, lalu makan terus tanpa mempedulikan kegaduhan di sekelilingnya.
Restoran itu sekarang kosong, kecuali laki-laki yang berpakaian mentereng tadi. Tapi laki-laki ini pun
nampak tegang dan beberapa kali meraba gagang golok yang tersembunyi di balik jubah panjangnya.
Matanya memandang ke luar, ke arah laut.
Dengan kecepatan luar biasa, beberapa buah perahu kecil runcing berlayar ke pantai. Perahu-perahu ini
agaknya diturunkan dari sebuah perahu besar yang berlabuh beberapa li dari pantai dan di setiap kepala
perahu kecil ini berkibar bendera putih dengan gambar tengkorak hitam. Itulah perahu-perahu bajak laut
yang datang menyerbu kota pelabuhan ini.
Jumlah perahu kecil ada sembilan buah, masing-masing ditumpangi lima orang anak buah bajak. Seorang
lelaki gemuk pendek tampak berdiri di kepala perahu terdepan, tangannya memegang sebatang pedang
yang besar dan panjang, pedang bengkok model Jepang.
"Bajak laut Jepang...!"
"Si Tengkorak Hitam...!"
Demikian telinga Song-bun-kwi mendengar teriakan mereka yang lari ketakutan. Namun dia pura-pura
tidak mendengar dan makan terus.
Para pedagang besar yang membawa banyak barang dagangan dan dikawal oleh jagoan-jagoan
pengawal, sibuk mengumpulkan para jagoannya untuk melindungi barang mereka. Yang berani menjaga
barang yang dipercayakan mereka hanya pengawal-pengawal yang merasa dirinya berkepandaian dan
memiliki banyak teman saja, sedikitnya belasan orang anak buah.
Begitu bajak-bajak itu mendarat, terdengar teriakan-teriakan mereka yang menyeramkan. Golok dan
pedang mereka angkat tinggi-tinggi dan dengan pekik serta sorak-sorai, para bajak ini menyerbu ke darat.
Segera terjadi pertempuran dengan para jagoan pengawal yang jumlah semuanya tidak kurang dari tiga
puluh orang. Hiruk-pikuk suara yang bertempur. Bunyi senjata tajam yang beradu mendencing-dencing,
diiringi dengan pekik kesakitan dan sorak kemenangan yang mulai terdengar bersama muncratnya darah
dan robohnya tubuh manusia.
dunia-kangouw.blogspot.com
Lima orang anak buah bajak lari ke dalam restoran besar. Mereka berteriak-teriak girang karena
membayangkan pesta pora. Alangkah heran hati mereka ketika melihat betapa di dalam restoran besar itu
terdapat dua orang tamu yang masih belum pergi.
Seorang kakek gundul berusia lanjut enak-enakan saja makan, sedikit pun tidak melirik kepada lima orang
bajak yang memasuki restoran. Malah ketika seorang bajak memekik sambil menendang meja hingga
terguling, ia malah mengangkat guci araknya dan minum seenaknya. Orang ke dua adalah laki-laki
berpakaian mewah yang duduk tenang-tenang saja, dengan tangan di gagang goloknya.
Para bajak itu memang sudah terlalu lama berada di tengah lautan dan kini melihat kakek itu makan
minum, mereka lantas menjadi mengilar. Maka berebutanlah empat orang lari menghampiri Song-bun-kwi,
sedangkan seorang di antara mereka tertarik dengan pakaian mewah laki-laki yang duduk di pojok, maka
dia lari kepada orang itu.
Sambil mengeluarkan kata-kata yang sama sekali tidak dimengerti oleh Song-bun-kwi, empat orang bajak
itu menyerbu. Ada yang menghantam kepala gundul kakek itu, ada yang membacok lehernya dengan
golok, dan ada pula yang menyambar guci arak untuk merampasnya. Kesudahannya hebat sekali.
Kakek itu tanpa menoleh barang sedikit, menggerakkan tangan yang memegang sumpit, perlahan saja
namun cepat seperti kilat menyambar. Empat orang bajak seketika seperti orang terlongong, kemudian
membalikkan tubuh dan berjalan terhuyung-huyung ke pintu restoran, mulut mereka bergerak-gerak
hendak memekik akan tetapi yang keluar hanya suara mengorok bagai babi disembelih! Dan sebelum
mereka tiba di tempat teman-teman mereka di luar, robohlah mereka, terkulai satu demi satu, dan hampir
berbareng mereka mengeluarkan suara jeritan ngeri!
Kepala bajak yang gemuk pendek itu hebat sekali. Pedangnya yang panjang dan bengkok menyambarnyambar
dan banyaklah jagoan pengawal roboh dengan leher putus atau pun dada robek oleh pedangnya.
Akan tetapi selagi enak dia mengamuk, seorang temannya berteriak sambil menuding ke arah empat orang
anak buah yang roboh tanpa diserang lawan itu.
Si kepala bajak sekali melompat sudah tiba di situ. Dengan kaki kirinya dia membalik-balikkan tubuh empat
orang anak buahnya dan... ternyata mereka telah putus nyawanya dengan mata mendelik, mulut berdarah
sedangkan leher mereka nampak bolong sebesar jari tangan!
Mata kepala bajak itu menjadi merah saking marahnya. Dia juga merasa heran sebab tak melihat ada
lawan di dekat empat orang anak buahnya ini. Matanya lalu mencari-cari dan terlihatlah olehnya cucurancucuran
darah merah yang tercecer sepanjang jalan mulai dari tempat itu ke pintu restoran.
Dilihatnya seorang kakek duduk di dalam restoran. Tampak pula seorang anak buahnya tengah bertempur
dengan seorang lelaki yang mainkan golok. Jelas bahwa anak buahnya itu terdesak hebat.
Sambil memekik dengan suara yang keluar dari dasar perut, kepala bajak yang berjuluk Tengkorak Hitam
ini kemudian berlari, pedangnya teracung ke depan, mulutnya memekik panjang.
"Yaaaaaaa…!!"
Dua orang jagoan pengawal mengira bahwa kepala bajak itu hendak menerjang mereka, berbareng dua
orang ini memapakinya dengan pedang mereka. Akan tetapi bukan main hebatnya kepala bajak ini. Tanpa
menghentikan larinya ke arah restoran, pedang panjang di tangannya berkelebat dan... dua orang jagoan
pengawal itu rebah dengan perut robek dan isi perutnya berantakan ke luar!
Kepala bajak terus berlari tanpa menghentikan pekiknya yang panjang menyeramkan itu. Akan tetapi
begitu sampai di ambang pintu restoran, tiba-tiba dari dalam ada bayangan menubruknya. Si Tengkorak
Hitam yang baru saja berhenti memekik panjang, sekarang membentak.
"Yaaaaattt…!" pedangnya yang bengkok panjang itu bergerak ke depan dan berkelebat menyilaukan mata.
"Craaaatttt!"
Pedang yang amat tajam itu membabat pinggang bayangan itu yang... putus menjadi dua. Darah
menyembur-nyembur mengerikan dibarengi suara terbahak-bahak si kepala bajak yang tertawa girang.
dunia-kangouw.blogspot.com
Tiba-tiba suara ketawanya berhenti ketika dia mendengar suara mendengus penuh ejekan di dalam
restoran. Ketika dia menundukkan muka memandang, tiba-tiba muka Tengkorak Hitam menjadi pucat.
Kiranya bayangan yang dibacoknya putus menjadi dua tadi adalah anak buahnya sendiri yang agaknya
telah dilemparkan lawan.
Dia mengarahkan pandang matanya yang berapi-api ke dalam restoran. Kakek itu masih duduk makan
minum sedangkan laki-laki bergolok yang tadi bertempur melawan anak buahnya sekarang berdiri dengan
golok melintang di depan dada.
Tengkorak Hitam tak dapat menahan kemarahannya lagi. Sekali lagi dia memekik panjang dan lari
menyerbu ke dalam restoran, langsung menerjang si pemegang golok. Biasanya, setiap sabetan
pedangnya tidak pernah gagal, kalau tidak merobohkan lawan, sedikitnya melukai atau mematahkan
senjatanya. Akan tetapi sekali ini dia salah duga.
Pedangnya bertemu dengan sebuah golok yang kuat hingga terdengar suara berdencing nyaring yang
dibarengi muncratnya bunga api berhamburan. Cepat-cepat kedua lawan ini menarik senjata masingmasing,
memeriksa sebentar, lega mendapat kenyataan bahwa senjata masing-masing tidak rusak.
Tengkorak Hitam lagi-lagi menerjang, sekali ini gerakannya lebih kuat dan cepat sekali. Pedangnya
berkelebat tiada henti, membobat-babit dari kanan kembali ke kiri, dari atas ke bawah seperti seorang
akrobat mainkan dua obor api. Laki-laki bergolok itu beberapa kali mengeluarkan seruan kaget karena
hampir saja pertahanannya bobol, akan tetapi dia terus melawan sedapat mungkin dengan permainan
goloknya.
Song-bun-kwi tidak pedulikan itu semua, masih saja makan minum. Melirik pun tidak dia. Akan tetapi ketika
araknya habis, dia melingukan ke sana ke mari, kemudian mulutnya mendamprat, "Pelayan keparat! Ke
mana kalian? Hayo tambah lagi arak seguci penuh!"
Tentu saja tidak ada setan yang menjawabnya karena semua pelayan sudah melarikan diri jauh dari
tempat itu. Song-bun-kwi marah-marah, digebraknya meja sampai mangkok-mangkok yang kosong
bergulingan. "Pelayan ke mana kalian pergi?"
Tiba-tiba si pemegang golok yang menjawab, "Locianpwe, semua pelayan lari ketakutan karena bajak ini!"
Baru sekarang Song-bun-kwi menengok dan melihat pertempuran itu. Dia melihat seorang laki-laki pendek
gemuk berkepala botak kelimis tetapi di sebelah pinggir dan belakangnya berambut gemuk hitam. Laki-laki
pendek gemuk ini tidak berbaju, hanya memakai celana panjang yang komprang (kebesaran). Tubuhnya
kelihatan kuat sekali, ada pun permainan pedangnya aneh bukan main, namun tak boleh dibilang lemah.
Sepintas lalu Song-bun-kwi dapat menilai si pemegang golok memainkan ilmu golok dari selatan.
Kepandaian orang ini tidak lemah, akan tetapi agaknya tidak kuat menandingi ilmu pedang aneh bajak
pendek itu.
Timbul kemarahan Song-bun-kwi kepada bajak itu. Benar-benar tidak memandang mata kepadanya.
Sedang enak-enak makan berani datang mengacau sampai semua pelayan lari. Dengan langkah lebar dia
menghampiri tempat pertempuran.
"Heh, babi buntung! Berani kau membikin kacau sampai semua pelayan pergi, ya? Hayo kau gantikan
pekerjaan mereka, layani aku baik-baik!"
Si pemegang golok yang sempat melihat cara Song-bun-kwi mengalahkan empat orang bajak tadi, dapat
mengerti bahwa kakek itu adalah seorang sakti. Maka sekarang melihat kakek itu mau turun tangan, dia
pun cepat memutar goloknya lalu melompat ke samping menjauhi kepala bajak yang lihai.
Tengkorak Hitam terkejut mendengar bentakan Song-bun-kwi. Agaknya dia sudah sering kali menjelajah
pantai timur ini sehingga dia mengerti juga bahasa daerah itu. Dengan kaku dia membentak sambil
mengangkat pedangnya tinggi-tinggi.
"Iblis tua bangka, kau memaki siapa?!"
"Memaki kau, siapa lagi? Hayo lekas ambilkan arak seguci!" Song-bun-kwi membentak.
dunia-kangouw.blogspot.com
Bukan main marahnya Tengkorak Hitam. Dia adalah seorang kepala bajak yang sudah terkenal. Hanya di
seberang sini saja dia menjadi kepala bajak, kalau sudah pulang ke seberang sana membawa barangbarang
rampasan, dia adalah seorang yang mempunyai gedung indah dan dihormati semua orang.
Sekarang dia dihina oleh seorang tua bangka, padahal biasanya di seberang sana dia amat ditakuti orang,
tentu saja dia marah sekali. Pedangnya diobat-abitkan di atas kepala, kata-katanya tidak jelas dan
tercampur bahasa Jepang,
"Bakeiroo...! Kau mau mampus, ya?"
Pedang itu menyambar ke arah leher Song-bun-kwi, agaknya hanya dengan sekali tebas saja Si
Tengkorak Hitam hendak menjadikan kakek itu setan tanpa kepala. Song-bun-kwi mendengus sambil
bangkit berdiri, lalu tangan kirinya membabat dari samping memapaki pedang.
"Krekkk!"
Pedang itu patah-patah menjadi tiga potong saking hebatnya gempuran tangan kakek ini. Si kepala bajak
seketika pucat, terbelalak memandang pedang yang tinggal gagangnya saja itu.
Namun dia adalah seorang bajak laut yang buas dan tak kenal takut. Sambil menyumpah-nyumpah dia
membanting gagang pedangnya dan segera kaki tangannya bergerak-gerak mempergunakan ilmu gulat
yang sangat dia andalkan. Jari-jari tangannya terbuka seperti cengkeraman, siap untuk menangkap lawan
dan diangkat serta dibantingkan.
Biasanya dia tidak pernah gagal dalam membanting lawan menggunakan ilmu ini. Malah lawan yang jauh
lebih muda dan lebih tinggi besar dari pada kakek itu juga pernah dia permainkan, dia banting-banting
seperti penatu membanting cuciannya.
Song-bun-kwi tidak mengenal ilmu berkelahi semacam ini, tetapi melihat kuda-kuda yang diberatkan ke
bawah dan melihat pula kedua tangan yang siap mencengkeram, dia dapat menduga bahwa ilmu ini
tentulah semacam Ilmu Kim-na-chiu, yaitu ilmu tangkap atau ilmu gulat. Dia terkekeh lalu mengulurkan
tangan kirinya, sengaja dia berikan untuk ditangkap lawan!
Seorang ahli silat tentunya akan ragu-ragu dan tidak berani menerima umpan selunak ini. Namun
Tengkorak Hitam agaknya tidak mengenal istilah umpan dalam ilmunya berkelahi, atau memang dia terlalu
mengandalkan kepandaiannya sendiri sehingga umpan itu pun dia caplok mentah-mentah.
Cepat laksana bintang jatuh dia menerkam maju dan di lain saat lengan kiri Song-bun-kwi sudah
ditangkapnya, diputar dengan gaya selicin belut, kemudian tubuhnya menyelinap dan membalik sehingga
kedudukan lengan Song-bun-kwi terbalik dan dilandaskan di atas pundaknya. Dia lalu mengerahkan
tenaga dari perut sambil memekik keras, menggentak lengan kiri kakek itu dengan gaya melemparkan
tubuh si kakek ke atas melewati pundak dan punggungnya.
Tubuh itu terlempar ke atas sampai membentur langit-langit rumah, lalu jatuh menimpa meja makan yang
belum keburu dibereskan sehingga kuah masakan di dalam mangkok memercik ke atas menyiram muka
orang yang jatuh itu. Tapi bukan tubuh Song-bun-kwi yang terlempar, melainkan tubuh Tengkorak Hitam
sendiri!
Kepala bajak ini gelagapan, cepat menyusuti mukanya, terengah-engah meloncat turun dari kursi.
Kepalanya digoyang-goyang keras seperti laku seekor anjing habis kecemplung kolam, matanya terbeliak
memandang kakek itu seakan-akan dia tidak percaya bahwa yang baru saja dia alami bukanlah mimpi
buruk.
Sambil menahan rasa nyeri di seluruh tubuhnya kembali dia menggereng dan menubruk. Kali ini ia
menangkap kaki Song-bun-kwi. Kakek itu hanya berdiri dan tunduk memandang orang pendek yang nekat
itu.
Tengkorak Hitam berkutetan, mengerahkan tenaga untuk mengangkat kaki itu supaya dia mendapat
peluang untuk melontarkan si kakek. Namun kaki itu tak bergeming sedikit pun juga. Sampai payah dia
mengerahkan semua tenaga perut, mulutnya terengah-engah.
dunia-kangouw.blogspot.com
Mendadak kaki itu terangkat sedikit. Girang hatinya. Mampus kau sekarang tua bangka, pikirnya. Tubuhnya
menyelinap ke bawah selakangan kakek itu, kaki itu di pundaknya dan kini dia mengerahkan seluruh
tenaganya sambil menggentak.
"Bulllll!"
Seperti layang-layang putus talinya tubuh itu mumbul ke atas, sekali lagi menghantam langit-langit sampai
jebol kemudian terbanting ke bawah membikin remuk bangku yang ditimpanya. Juga kali ini tubuh
Tengkorak Hitamlah yang melayang-layang, bukan tubuh si kakek kosen.
Sakit, marah, dan malu memenuhi benak Tengkorak Hitam, apa lagi ketika dia melihat betapa mulai
berdatangan orang menonton. Dia pun menjadi nekat dan sekarang hendak menggunakan ilmu pukulan.
Dia menerjang lagi dengan tangan terkepal.
Tiba-tiba tubuhnya yang merunduk dengan kepala di depan seperti laku seekor domba hendak menanduk
ayam, berhenti di tengah jalan, tepat di muka kakek itu. Kepalanya tertahan sesuatu. Matanya melirik dan
alangkah marahnya melihat bahwa kakek itulah yang menahan kepalanya dengan telapak tangan. Dia
mengumpat caci, kedua tangannya menghantam bergantian, disusul kakinya yang juga mengirim
tendangan-tendangan maut.
Akan tetapi, serangan-serangannya mengenai tempat kosong belaka, atau tegasnya, tak dapat mencapai
ke tubuh si kakek. Seperti diketahui, bajak laut ini bertubuh pendek, dua lengannya pun pendek-pendek
sekali, demikian pula kedua kakinya. Tentu saja setelah kakek itu yang bertubuh tinggi besar dan
berlengan panjang menahan kepalanya dengan lengan diluruskan, semua pukulan dan tendangannya
gagal, tidak sampai ke sasarannya.
Terdengar suara ketawa di sana-sini. Bajak itu marah sekali, kini ia menghantam lengan yang menahan
kepalanya. Namun sia-sia saja, malah kedua tangannya sakit-sakit seperti menghantam baja layaknya.
Tiba-tiba dia merasa betapa telapak tangan yang menahan kepalanya itu menjadi panas sekali. Dia
berusaha menarik kepalanya yang botak, namun alangkah kagetnya ketika merasa betapa botaknya itu
lengket pada telapak tangan lawan. Dan panasnya tak dapat dia menahannya lebih lama, seakan-akan
botaknya ditempel arang merah!
Dia mulai mengerling ke luar restoran dan tanpa malu-malu lagi mulutnya berteriak-teriak memanggil anakanak
buahnya agar membantunya melawan kakek yang aneh ini. Akan tetapi, begitu matanya mengerling
ke luar, seketika wajahnya pucat. Apa yang dilihatnya?
Satu pun batang hidung anak buahnya sudah tidak kelihatan, bahkan sebuah perahunya pun tidak tampak
lagi. Pantas saja banyak orang berdatangan menonton pertunjukan di dalam restoran, kiranya sekarang di
luar restoran sudah tidak ada bajak laut lagi!
Apakah sebetulnya yang telah terjadi di luar restoran? Seperti telah kita ketahui, pada saat kepala bajak itu
beraksi di depan Song-bun-kwi, para bajak laut itu sedang bertempur menyerbu para jagoan pengawal
yang melawan mati-matian. Namun karena kalah banyak jumlahnya, para pengawal itu kena desak dan
mulai mundur tak teratur. Mulai banyaklah berjatuhan korban di kedua pihak, terutama sekali di pihak para
pengawal.
Pada saat itu terdengar bentakan mengguntur, disusul suara nyaring, "Keparat jahanam! Beginikah
perbuatan kalian di sini? Dari rumah mengaku berdagang, kiranya melakukan perampokan. Bajak-bajak
keparat, membikin malu saja kalian ini. Hayo pergi!"
Yang membentak ini adalah seorang laki-laki muda yang bertubuh tegap dan kokoh kuat. Wajahnya
membayangkan kegagahan, bajunya terbuat dari kain tipis sehingga terbayang dadanya yang bidang.
Rambutnya hitam panjang dan gemuk, digelung ke atas dengan model yang asing, dijepit di bagian atas
dengan hiasan rambut perak.
Sebatang pedang yang panjang sekali dan bentuknya agak melengkung tergantung pada pinggangnya.
Pedang ini sarung dan gagangnya berukir kembang-kembang indah, merah warnanya, dengan ronceronce
merah pula, gagangnya agak panjang.
dunia-kangouw.blogspot.com
Para bajak laut kaget sekali mendengar suara bangsanya sendiri, karena pemuda itu tadi menggunakan
bahasa Jepang. Sesudah menengok, mereka lebih kaget lagi karena dari dandanan, sikap, dan pedang
pemuda itu, amat mudah diterka bahwa pemuda itu adalah seorang pendekar Samurai, yaitu kaum
pendekar pedang yang amat terkenal di Jepang.
Akan tetapi karena pendekar itu masih amat muda, paling banyak baru dua puluh tahun usianya, apa lagi
karena bajak laut itu mengandalkan banyak teman dan bukan berada di daratan sendiri, mereka tidak
takut.
"Berhenti dan pulang semua kataku!" Pendekar Samurai muda itu berseru lagi, suaranya benar-benar
nyaring dan wibawa.
Ketika para bajak itu tidak mempedulikannya, tiba-tiba dia menggerakkan kedua tangan, sinar kemerahan
berkelebat-kelebat menyambar bagaikan kilat di musim hujan. Terdengar pekik dan jerit di sana-sini dan di
mana sinar kemerahan itu tiba, tentu ada bajak yang roboh dengan senjata mereka terlempar atau patah!
"Hayo siapa tidak menurut, akan kubasmi di sini juga. Memalukan orang-orang macam kalian ini!" lagi-lagi
si pemuda berteriak. "Samurai Merah tak mengijinkan kalian merusak nama kehormatan bangsa!"
Melihat sepak terjang pemuda itu dan mendengar nama sebutan Samurai Merah, para bajak menjadi kaget
dan ketakutan bukan main. Itulah nama pendekar yang amat terkenal kebengisannya terhadap kaum
penjahat. Kawanan bajak itu segera membuang senjata masing-masing, menyambar tubuh teman-teman
yang luka atau tewas, lalu berserabutan lari ke perahu masing-masing.
Dalam sekejap mata saja bajak-bajak itu sudah berlayar pergi, tidak merampok apa-apa hanya
meninggalkan korban-korban di pihak pengawal dan saking bingung serta takutnya mereka tadi lupa
bahwa pemimpin mereka, si Tengkorak Hitam masih tertinggal di dalam restoran!
Para pengawal kagum dan berterima kasih kepada pendekar Jepang itu. Akan tetapi berbareng dengan
kaburnya para bajak laut, pendekar muda Jepang itu pun lenyap dari situ. Apakah dia ikut dengan perahuperahu
bajak atau tidak, tak seorang pun mengetahui karena tadi keadaannya kacau-balau.
Akan tetapi ketika orang-orang ini mendengar adanya pertempuran lain di dalam restoran, segera mereka
mendatangi tempat ini. Ternyata mereka menjadi saksi akan pertandingan yang lebih menarik lagi karena
lucu sekali. Juga para jagoan pengawal itu diam-diam kaget dan kagum ketika mengenal bahwa yang
sedang dipermainkan kakek tua itu bukan lain adalah Tengkorak Hitam, si kepala bajak yang terkenal akan
kekejaman, keganasan dan juga kesaktiannya.
Pertempuran di dalam restoran itu memang lucu sekali, terutama bagi para penonton yang semuanya
membenci si kepala bajak. Tengkorak Hitam seperti seekor cecak terjepit pintu. Kepalanya yang botak
menempel di telapak tangan kakek itu yang diluruskan ke depan.
Pukulan dan tendangannya gagal semua tidak mengenai sasaran, bahkan dia sekarang mulai meringisringis
dan keluar air mata dari kedua matanya tanpa dia sengaja. Air mata ini keluar akibat saking nyerinya
ketika dari telapak tangan itu keluar hawa panas seperti api yang membakar kepalanya yang botak.
Akhirnya dia tak tahan lagi, menjerit-jerit dan melolong-lolong minta ampun dengan suaranya yang pelo
(cedal).
"Ampun, orang tua gagah... ampun..."
Song-bun-kwi mendengus. Dia pun tidak suka dijadikan tontonan. "Aku sedang makan kau membikin ribut
saja, menyebalkan sekali! Hayo lekas kau ambilkan tambahan arak!" Sekali dia mendorongkan lengannya,
kepala bajak itu terlempar ke belakang menabrak bangku.
Dengan muka pucat serta tubuh menggigil kepala bajak yang biasanya ditakuti orang ini merangkak
bangun, ada pun Song-bun-kwi dengan tenang duduk kembali ke bangkunya menghadapi meja makan.
Dengan kening berkerut dia mengomel panjang pendek.
"Menyebalkan! Makanan ini sudah dingin semua, araknya sudah habis!"
Tiba-tiba saja para pelayan berdatangan membawakan arak dan masakan-masakan baru. Seperti main
sulap saja tukang-tukang masak itu berlomba membuatkan masakan untuk kakek yang gagah perkasa ini.
dunia-kangouw.blogspot.com
Ada pun kepala bajak Si Tengkorak Hitam tadi sudah menjadi bulan-bulanan kemarahan para penduduk
dan para jagoan pengawal. Dia diseret keluar kemudian digebuki sampai terkencing-kencing dan orangorang
baru menyudahi penyiksaan mereka setelah kepala bajak yang sudah membunuh ribuan itu tak
bernapas lagi. Setelah itu barulah ramai-ramai mereka mengubur para korban dan merawat para pengawal
yang terluka.
Sebentar saja kota pelabuhan itu menjadi ramai kembali seperti biasa. Kali ini memang sepatutnya mereka
bergembira karena bukankah bajak laut-bajak laut yang menyerbu itu selain dapat dihancurkan, juga
kepalanya sudah dapat ditewaskan? Jarang terjadi hal ini sehingga patut mereka bergembira.
Song-bun-kwi menoleh ke arah laki-laki yang tadi merupakan orang satu-satunya yang tidak lari dari
restoran. Kebetulan laki-laki itu juga memandang kepadanya dan laki-laki itu cepat berdiri membungkuk
dengan hormat lalu berkata,
"Saya merasa tunduk dan kagum sekali atas kegagahan locianpwe."
Song-bun-kwi mengerutkan keningnya yang mulai beruban, lalu dia melambaikan tangan, "Hayo kau ikut
makan dengan aku. Meski pun kepandaianmu tidak seberapa, akan tetapi keberanianmu membikin kau
cukup berharga untuk makan bersamaku."
Laki-laki itu tidak merasa tersinggung atau tak senang mendengar kata-kata yang angkuh ini. Cepat dia
datang sambil membungkuk-bungkuk menyatakan terima kasihnya. Dengan lagak amat sopan dia lalu
menarik bangku dan duduk di depan Song-bun-kwi.
Menyaksikan sikap merendah-rendah ini diam-diam Song-bun-kwi mendapat kesan tidak baik dan
menganggap laki-laki ini sikapnya terlalu menjilat-jilat. Akan tetapi karena sudah terlanjur, dia lalu
menyilakan laki-laki itu menikmati minuman dan masakan yang sudah disediakan oleh para pelayan yang
merasa amat berterima kasih kepada dua orang itu karena sesungguhnya apa bila tidak ada dua orang
tamu itu, tentu restoran mereka sudah habis dan rusak oleh para bajak.
Akhirnya Song-bun-kwi merasa kenyang juga. Dengan lengan bajunya yang lebar dia mengusapi mulutnya
dan tangan kirinya mengelus-elus perut. Laki-laki di depannya itu membungkuk sambil tersenyum dan
berkata,
"Locianpwe yang gagah perkasa, nama saya Teng Cun Le dari kota raja, hanya seorang pelancong biasa.
Bolehkah kiranya saya mengetahui nama Locianpwe yang mulia?"
Sebal hati Song-bun-kwi mendengar ini. Dia sudah menyesal dan kecewa mengapa dia tadi mengundang
orang ini yang kiranya hanya mendatangkan kesebalan di hatinya dan mengganggu ketenteramannya
seorang diri. Dengan gerakan tangan seakan tidak sabar dia menjawab, "Aku she Kwee... sudahlah."
Tiba-tiba dia teringat sesuatu dan cepat berkata, "Kau tentu tahu akan semua bajingan di daerah pantai
timur ini, bukan?"
Orang itu terkejut, gugup bagaimana harus menjawab. Tapi segera dia dapat menguasai hatinya. "Apakah
yang Locianpwe maksudkan? Jika yang dimaksudkan bangsat-bangsat cilik tiada nama, tentu saja saya
tidak kenal. Akan tetapi tokoh-tokoh besar di pantai timur ini banyak juga yang saya ketahui."
Wajah Song-bun-kwi yang biasanya laksana kedok itu kini membayangkan kegirangan, "Bagus, kalau
begitu, hayo lekas kau tunjukkan di mana tempat tinggal si iblis bangkotan Thai-lek-sin Swi Lek Hosiang?"
"Tentu saja aku tahu, Locianpwe. Akan tetapi pada saat ini hwesio tua itu tidak berada di kelentengnya.
Saya mendengar dari teman-teman bahwa dia sering kali berkunjung dan tinggal di tempat lain..."
"Sayang sekali!" Song-bun-kwi membanting kakinya sehingga tanah dalam rumah makan itu tergetar.
Kembali laki-laki yang mengaku bernama Teng Cun Le itu tercengang kagum.
"Jauh-jauh kucari iblis bangkotan itu, hendak kuajak dia bertanding selama tiga malam, kiranya dia malah
minggat dan kabur! Huh, Thai-lek-sin iblis tua bangka, apa kau sudah menduga akan kunjunganku ke sini
dunia-kangouw.blogspot.com
lalu kabur? Sayang...!" Sesudah berkata demikian, Song-bun-kwi bangkit dari bangkunya, kemudian tanpa
pamit kepada siapa pun juga pergi meninggalkan restoran itu!
Para pelayan berikut para pengurus semua mengantar sambil membungkuk-bungkuk dan mulut mereka
berdendang, "Selamat jalan, pendekar tua yang gagah perkasa!"
Namun Song-bun-kwi tidak mempedulikan mereka dan tidak peduli pula bahwa dia tidak membayar
makanan, tidak peduli betapa orang-orang memandangnya dengan kagum dan penuh hormat. Dia terus
saja melangkah lebar keluar dari restoran, tidak mau tahu biar pun dia bisa melihat betapa lelaki yang
mengajaknya bicara tadi melemparkan beberapa keping uang perak ke atas meja makan, dan betapa para
pengurus restoran berusaha menolak pembayaran yang royal ini.
Namun sebal juga hati Song-bun-kwi ketika mendapat kenyataan bahwa Teng Cun Le itu mengejarnya
sambil berlari-lari cepat! Setibanya di luar kota pelabuhan itu, Song-bun-kwi membalikkan tubuh,
tangannya mendorong dan... Teng Cun Le roboh terjungkal!
Baiknya, meski marah Song-bun-kwi yang berwatak aneh itu masih ingat akan kegagahan orang ini ketika
melawan para bajak tadi, maka tidak bermaksud mengambil nyawanya. Maka dia hanya merasa terdorong
oleh tenaga raksasa sehingga orang itu tidak mampu mempertahankan diri lagi dan roboh.
Dengan rasa kaget dan muka pucat Teng Cun Le merangkak bangun karena seketika dia merasa
tubuhnya lemas dan kakinya menjadi lumpuh. Tahu-tahu kakek itu sudah berdiri di depannya dengan muka
merah.
"Cacing busuk! Kau berani mengikuti dan mengganggu aku?" bentak Song-bun-kwi.
Melihat kemarahan kakek itu, Teng Cun Le tidak jadi berdiri, malah terus saja berlutut dan menganggukangguk.
"Mohon beribu ampun, Locianpwe. Bukan sekali-kali maksud saya untuk mengikuti apa lagi
mengganggu Locianpwe, hanya saya amat terdorong oleh rasa kagum… dan pula, teringat bahwa
Locianpwe jauh-jauh datang mencari Thai-lek-sin Swi Lek Hosiang, agaknya saya dapat menunjukkan di
mana adanya hwesio itu sekarang ini agaknya..."
"Hemm, kenapa tidak dari tadi kau bilang? Kalau tadi-tadi kau bilang, aku takkan curiga padamu dan
takkan membikin kau roboh. Orang she Teng, mari tunjukkan aku di mana adanya hwesio bangkotan itu
dan kau boleh ikut denganku untuk menonton pertempuran menarik antara aku dan dia."
Song-bun-kwi benar-benar gembira mendengar ada orang bisa mengantar dia kepada Thai-lek-sin. Bagus
untungnya, baru saja makan lezat sekenyangnya dan sedikit ‘berlatih’ dengan Tengkorak Hitam bajak
Jepang, dan sekarang dapat pula berkelahi sepuasnya melawan seorang tokoh setingkat!
Teng Cun Le dengan wajah berseri-seri segera bangkit dan berkata gembira, "Wah, kalau Locianpwe
hanya ingin mencari lawan tangguh, kiraku kali ini Locianpwe akan mendapat kepuasan. Menurut
pendengaran saya, sering kali Thai-lek-sin Swi Lek Hosiang datang mengunjungi Pek-tiok-lim, tempat
tinggal sahabatnya."
"Pek-tiok-lim (Hutan Bambu Putih)? Di mana itu? Tempat tinggal siapa?" Song-bun-kwi mendesak gembira.
"Heran sekali bahwa Locianpwe belum mendengar tentang Pek-tiok-lim! Di sana adalah tempat tinggal
seorang tokoh besar yang tak kalah terkenalnya bila dibandingkan dengan Thai-lek-sin. Dia itu adalah Sinkiam-
eng (Si Pendekar Pedang Sakti), ilmu pedangnya amat hebat dan anak perempuannya juga bukan
main. Pendeknya, bila Locianpwe dapat bertanding melawan dia, tentu akan puas betul. Akan tetapi, saya
benar-benar merasa ragu-ragu apakah saya akan mampu membawa Locianpwe ke sana."
"Kenapa?" Song-bun-kwi bertanya penasaran. Hatinya sudah panas mendengar orang ini memuji-muji
majikan dari Pek-tiok-lim itu.
"Pek-tiok-lim adalah daerah yang penuh dengan rahasia. Jalan-jalannya sangat sukar dan kabarnya, orang
yang memasukinya berarti mengantar nyawa karena jangan harap akan dapat keluar kembali dengan
nyawa masih di badan."
Song-bun-kwi tak menjawab, tangan kanannya bergerak memukul dan kakinya menyapu. Serangan ini dia
tujukan pada sebatang pohon besar, sebesar tubuh manusia batangnya dan sekali kena dihajar tangan
dunia-kangouw.blogspot.com
dan kaki kakek itu, terdengar suara keras dan pohon itu seketika tumbang berikut akar-akarnya terjebol
dari tanah. Dengan suara hiruk-pikuk luar biasa pohon itu roboh dan orang she Teng itu buru-buru
melompat jauh karena khawatir tertimpa cabang-cabang pohon itu.
"Ha-ha-ha, apakah pohon-pohon bambu putih itu kuatnya melebihi pohon ini?"
Song-bun-kwi tertawa bergelak melihat orang itu ketakutan sampai mukanya pucat dan lidahnya terjulur
keluar.
"Hebat... luar biasa... Locianpwe seperti malaikat...!" Teng Cun Le memuji.
Benar-benar baru sekali ini selama hidupnya dia melihat manusia kosen ini. Diam-diam dia merasa girang.
"Saya percaya bahwa Locianpwe pasti akan sanggup menggempur Pek-tiok-lim!"
Teng Cun Le dengan girang lalu mengajak kakek itu berlari cepat menyusuri pantai timur itu menuju ke
utara. Pek-tiok-lim itu terletak di dekat pantai Laut Po-hai, dan memang tempat ini sudah bertahun-tahun
dijadikan tempat tinggal seorang tokoh ilmu pedang yang terkenal, yaitu murid pertama dari mendiang Raja
Pedang Bu-tek-kiam-ong Cia Hui Gan.
Nama tokoh ini adalah Tan Beng Kui dan mempunyai julukan Sin-kiam-eng. Seperti telah disebut di bagian
depan dari cerita ini, Tan Beng Kui ini merupakan kakak kandung dari ketua Thai-san-pai, dan bukan lain
adalah ayah dari pada si dara lincah Tan Loan Ki yang sudah kita kenal baik itu.
Benarkah Thai-lek-sin Swi Lek Hosiang sering kali datang ke Pek-tiok-lim? Kenyataannya tidak demikian!
Sebetulnya tanpa disadarinya, Song-bun-kwi si tokoh yang ditakuti dunia kang-ouw puluhan tahun yang
lalu itu terkena bujukan halus. Apakah kehendak Teng Cun Le dan mengapa dia melakukan hal ini?
Teng Cun Le sebenarnya adalah seorang mata-mata dari istana. Dia adalah seorang di antara banyak
kepercayaan kaisar baru untuk melakukan penyelidikan ke daerah-daerah melihat reaksi para tokoh
daerah atas pengangkatan diri Pangeran Kian Bun Ti menjadi kaisar, menggantikan kaisar tua yang
meninggal dunia. Teng Cun Le ini mendapat tugas memata-matai daerah pantai timur.
Tentu saja seorang yang sudah dipercayai tugas seperti ini mempunyai kepandaian yang cukup tinggi dan
hal ini sudah terbukti ketika dia menyaksikan penyerbuan para bajak laut. Selain berkepandaian silat, juga
orang yang diangkat menjadi mata-mata tentu saja orang yang cerdik dan memang Teng Cun Le ini cerdik
sekali orangnya.
Beberapa hari yang lalu dia bertemu dengan seorang dara lincah yang sangat menarik perhatiannya. Dara
itu bukan lain adalah Loan Ki. Melihat seorang gadis muda seorang diri melakukan perjalanan, Teng Cun
Le maklum bahwa gadis ini tentulah seorang gadis kang-ouw yang mempunyai kepandaian. Dia menjadi
curiga dan diam-diam melakukan pengintaian.
Sama sekali dia tidak menduga bahwa gadis itu benar-benar amat lihai sehingga Loan Ki diam-diam tahu
bahwa dirinya diintai orang! Dasar ia seorang anak yang memiliki watak nakal dan suka mempermainkan
orang, maka sengaja gadis ini di dalam kamarnya membuka buntalannya, memamerkan bekal uang dan
tiga buah mutiara Ya-beng-cu yang mengeluarkan cahaya di dalam gelap! Ia lakukan ini karena tahu
bahwa di luar kamar ada orang itu yang selalu mengintainya selama ini!
Teng Cun Le menjadi terkejut dan gembira bukan main melihat tiga butir mutiara ini. Sebagai seorang kaki
tangan kaisar, tentu saja dia mengenal mutiara itu yang tadinya menjadi penghias mahkota kuno yang
telah hilang. Memang termasuk tugasnya untuk mencari jejak bekas pembesar Tan Hok karena menurut
perintah rahasia yang dia terima, mahkota itu mengandung rahasia hebat dan harus dirampas kembali ke
istana.
Sekarang dia melihat mutiara-mutiara itu, tentu saja girangnya bukan kepalang. Jika ada mutiara itu tentu
ada pula mahkotanya, dan kalau ada mahkotanya tentu pengkhianat Tan Hok ada pula.
Loan Ki yang nakal itu pura-pura tidak tahu bahwa ia selalu diikuti. Dengan enak-enakan ia malah berjalan
pulang ke Pek-tiok-lim seperti sengaja menunjukkan kepada orang itu di mana tempat tinggalnya. Melihat
betapa dengan berani mati orang itu menguntitnya terus memasuki Pek-tiok-lim, diam-diam dia tertawa geli
dan sebentar saja dia lenyap di jalan rahasia dalam hutan wilayah ayahnya itu.
dunia-kangouw.blogspot.com
Celakalah Teng Cun Le. Hampir saja binasa di dalam hutan ini. Untungnya dia sudah mulai curiga dan
sebelumnya sudah mencari keterangan mengenai keadaan di situ. Dia sudah mendengar tentang Pek-tioklim,
tempat kediaman tokoh besar Sin-kiam-eng dan puterinya. Maka melihat keadaan hutan yang penuh
bambu putih ini, dia segera sadar dengan tengkuk meremang bahwa yang dia ikuti selama ini adalah puteri
Sin-kiam-eng. Hal inilah yang menolongnya karena dia segera meninggalkan hutan itu dan kabur tanpa
berani menoleh lagi.
Demikianlah pengalaman Teng Cun Le. Hatinya masih merasa penasaran. Segera dia mengadakan
hubungan dengan kurir yang berkuda cepat ke kota raja. Alangkah kagetnya pada saat dia mendengar
berita bahwa memang mahkota kuno itu yang tadinya sudah terampas oleh panglima istana Souw Ki,
sudah dirampas kembali oleh seorang gadis liar puteri Sin-kiam-eng.
Dia girang bercampur bingung. Girang karena tahu betul bahwa mahkota itu tentu berada di Pek-tiok-lim,
namun bingung bagaimana dia dapat merampasnya kembali.
Dia hendak mengirim utusan ke istana, mengusulkan agar secara resmi kaisar mengutus rombongan
meminta kembali mahkota itu secara baik-baik dari Sin-kiam-eng. Kalau kaisar yang meminta, sudah tentu
akan dikembalikan dan tidak akan terjadi sesuatu keributan. Andai kata Sin-kiam-eng berani menolak,
berarti dia telah memberontak dan boleh saja digempur menggunakan pasukan.
Sambil menunggu keputusan, Teng Cun Le iseng-iseng mendatangi kota pelabuhan dan secara tidak
disengaja bertemu dengan Song-bun-kwi. Dia masih belum dapat menduga siapa adanya kakek yang
hebat ini, akan tetapi segera otaknya yang cerdik bekerja ketika mendapat kenyataan betapa kakek sakti
ini seperti gatal-gatal tangannya hendak mencari lawan yang setingkat.
Maka, dia kini hendak mempergunakan kesaktian kakek ini untuk memasuki Pek-tiok-lim, menggunakan
kesaktian kakek ini untuk merampas kembali mahkota itu. Dengan cara ini, selain lebih cepat juga semua
pahala akan terjatuh ke dalam tangannya…..
********************
"Heh, keparat! Tua bangka gila dari mana yang berani mati merusak bambu peliharaan di Pek-tiok-lim...?!"
bentak dua orang penjaga yang bertubuh tinggi besar dan bersenjata pedang.
Tentu saja mereka ini marah sekali melihat betapa seorang kakek tinggi besar, sambil tertawa-tawa
mencabut, menendang, serta melempar-lemparkan bambu-bambu putih di hutan itu begitu mudah seperti
seorang mencabuti dan membuang-buang rumput kering saja!
Semenjak Pek-tiok-lim dimiliki oleh majikan mereka, jangankan manusia, malah setan pun kiranya tak akan
berani merusak tanaman di situ. Ehh, tahu-tahu sekarang ada seorang kakek tua ini seperti seorang gila
merusak tanaman dan di belakang kakek itu berdiri seorang laki-laki berpakaian mentereng yang tertawatawa
juga.
Kakek itu bukan lain adalah Song-bun-kwi. Dia sudah mulai merusak bambu-bambu yang berada di luar
hutan, dalam usahanya menyerbu Pek-tiok-lim untuk mencari Thai-lek-sin, menantangnya dan sekalian
menantang pemilik hutan ini, yang menurut orang she Teng itu adalah seorang tokoh besar berjulukan Sinkiam-
eng. Sengaja Song-bun-kwi mencari perkara. Hatinya yang masih mengkal terbawa dari Min-san
belum mencair dan dia mesti mendapatkan sesuatu untuk melampiaskan kemendongkolan hatinya.
Melihat munculnya dua orang penjaga yang memakinya, kakek itu diam saja seperti tak mendengar dan
tetap melanjutkan pekerjaannya merusak tanaman di situ. Tentu saja dua orang penjaga itu marah sekali.
Sambil membentak dan memaki mereka menerjang kakek itu dengan kepalan tangan.
Akan tetapi biar pun tak kompak kakek itu bergerak menangkis atau memukul, tahu-tahu dua orang itu
sendirilah yang terjengkang ke belakang dengan kepala benjol-benjol akibat terbanting ke atas tanah yang
berbatu! Mereka kaget, heran berbareng marah. Sambil mengutuk keras mereka mencabut pedang.
"Kakek gila, kau sudah bosan hidup!" teriak mereka sambil menerjang, kini dua batang pedang itu
menyambar dari kanan kiri.
dunia-kangouw.blogspot.com
Namun Song-bun-kwi terus saja merobohkan dan mencabuti bambu-bambu putih tanpa mempedulikan
sambaran kedua pedang. Seperti juga tadi, dia tidak kelihatan bergerak menangkis atau mengelak apa lagi
memukul, tapi tahu-tahu dua orang itu terjengkang ke kanan kiri dan pedang mereka terlepas dari tangan.
Celakanya, kini mereka jatuh menyusup ke tumpukan bambu yang telah dicabut sehingga pakaian mereka
menjadi robek semua. Tubuh mereka juga babak-bundas berdarah akibat tertusuk batang-batang bambu.
"Ha-ha-ha, anjing-anjing rendah. Apa mata kalian buta berani menyerang locianpwe ini? Lebih baik lekas
panggil ke sini majikan kalian untuk bicara." Teng Cun Le menggunakan kesempatan ini untuk memancing
keluar Sin-kiam-eng.
Dua orang itu merangkak bangun lalu tiba-tiba seorang di antara mereka meniup sebuah terompet kecil
yang berbunyi nyaring. Song-bun-kwi terus saja melangkah maju sambil merusak pohon-pohon bambu di
kanan kirinya. Teng Cun Le mengikuti jejak langkahnya, sama sekali tidak berani menyeleweng karena
tahu bahwa di situ banyak tempat rahasia. Sebentar saja mereka telah memasuki hutan.
Tiba-tiba terdengar suara keras, tanah yang diinjak Song-bun-kwi melesak ke bawah dan tubuh kakek itu
tergelincir masuk! Teng Cun Le menjadi pucat wajahnya. Baiknya tanah yang melesak ke bawah itu belum
diinjaknya dan tepinya tepat berada di depan kakinya sehingga dia dapat menyaksikan betapa tubuh kakek
tinggi besar itu tergelincir.
Hebat dan ngerinya, dari bawah tanah lantas menyambar puluhan batang bambu runcing seolah-olah
dilontarkan ke atas. Tentu saja tubuh kakek yang sedang tergelincir itu seperti dihujani bambu runcing dari
bawah!
Akan tetapi Song-bun-kwi sama sekali tidak kaget, malah mengeluarkan suara ketawa mengejek. Kedua
kakinya menendang ke kanan kiri, lengan bajunya juga mengebut ke sekeliling tubuhnya. Ketika empat
buah bambu runcing yang tepat menyambar di bawah tubuhnya sudah mendekati kaki, dia malah...
menerima ujung bambu runcing itu dengan kedua kakinya!
Teng Cun Le hampir meramkan mata saking ngerinya karena apa bila kakek ini tewas, bukankah berarti
dia sendiri juga terancam mala petaka? Akan tetapi, anehnya, bambu runcing empat buah itu sama sekali
tidak menembus kaki si kakek, malah seperti tangan-tangan orang mendorong kakek itu mencelat kembali
ke atas dan di lain saat kakek itu sudah melompati sumur besar yang terjadi karena tanah ambles itu!
Dari tepi lain, kakek itu menoleh kepadanya dan memberi isyarat supaya dia melompat. Teng Cun Le cepat
menggunakan ginkang melompati sumur itu dan bergidiklah dia pada saat melihat betapa ujung-ujung
bambu runcing itu tampak hitam kehijauan, tanda bahwa ujungnya sudah diberi racun!
Kini makin tebal kepercayaannya akan kelihaian si kakek. Dia kini dapat menduga bahwa kakek itu tadi
sudah mempergunakan ginkang yang sangat luar biasa untuk menerima serangan bambu runcing,
kemudian menggunakannya sebagai landasan untuk melompat ke atas. Betapa hebatnya! Menggunakan
landasan benda runcing untuk mengenjot tubuh ke atas hanya dapat dilakukan oleh ahli-ahli silat kelas
tertinggi.
Diam-diam Teng Cun Le mulai menduga-duga siapa adanya kakek yang sangat sakti ini dan kadangkadang
dia merasa bulu tengkuknya berdiri. Dia maklum bahwa kini dia telah memasuki pintu perjalanan
yang amat berbahaya.
Belum seratus langkah mereka maju, dari depan dan kanan kiri muncullah belasan orang bersenjata
pedang atau tombak. Mereka segera mengurung dan salah seorang di antara mereka membentak,
"Kalian berdua menyerah saja untuk kami bawa menghadap majikan kami."
Teng Cun Le melirik dan melihat betapa orang-orang itu semakin banyak saja, juga kini beberapa orang
muncul di belakangnya sehingga sekejap saja mereka telah dikurung oleh lebih dari tiga puluh orang yang
dikepalai oleh empat orang yang kelihatannya gagah dan kuat. Diam-diam dia bersiap sedia dan meraba
gagang goloknya.
Song-bun-kwi tertawa bergelak, lalu menoleh kepada Teng Cun Le sambil berkata, "Kau bilang majikan
Pek-tok-lim tokoh yang gagah? Huh, agaknya dia hanya orang kaya yang memelihara banyak anjing-anjing
pemakan tahi belaka!"
dunia-kangouw.blogspot.com
Hebat hinaan ini. Empat orang penjaga tanpa diperintah pemimpinnya lantas membentak marah dan
mengerjakan tombak mereka. Mereka adalah pemain tombak yang kuat sebab mereka menerima latihan
dari majikan mereka sendiri. Ujung tombak-tombak itu tergetar saking besarnya tenaga yang
menggerakkan ketika menusuk ke arah Song-bun-kwi dari empat jurusan.
"Tua bangka mau mampus masih amat sombong!" bentak seorang di antara mereka.
Melihat cara mereka menerjang dengan tombak, Teng Cun Le masih berdebar gelisah karena benar-benar
kali ini puluhan orang yang mengurung mereka adalah orang-orang yang kuat dan tidak boleh dipandang
rendah seperti halnya dua orang penyerang pertama tadi. Melihat getaran ujung tombak itu dia sendiri
merasa sangsi apakah dia akan dapat menangkan empat orang lawan ini sekaligus.
Akan tetapi dengan amat tenang sambil mengeluarkan suara mendengus, Song-bun-kwi menggerakkan
kedua lengan bajunya. Hebat kesudahannya.
Terdengar suara pletak-pletak terpatahkannya gagang-gagang tombak itu. Mata tombak secara aneh dan
cepat sekali menyambar ke arah tuan masing-masing. Empat orang itu memekik ngeri dan tak ada seorang
pun di antara mereka yang dapat membebaskan diri dari serangan mata tombak mereka sendiri itu yang
menancap ke dada atau perut mereka sampai tak nampak lagi. Keempatnya lalu roboh terjengkang,
berkelojotan dan sebentar kemudian tak bergerak lagi untuk selamanya.
Hebat akibat sepak terjang kakek ini. Teng Cun Le sendiri sampai mengkirik ngeri dan memandang dengan
mata terbelalak. Celaka, pikirnya, tidak dinyana sama sekali bahwa kakek ini begini ganas, sekali turun
tangan lantas membunuh empat orang.
Maksudnya memancing kakek itu ke Pek-tiok-lim sebetulnya hanya hendak dia ‘boncengi’ saja, dan
kepandaian kakek ini hendak dia gunakan untuk memaksa Sin-kiam-eng agar mengembalikan mahkota
kuno. Siapa kira sekarang kakek itu agaknya hendak berpesta seperti tadi di restoran, kalau tadi berpesta
makan minum, sekarang hendak berpesta membunuhi orang. Kalau begini caranya, kecil harapannya
untuk minta kembali mahkota, karena perkelahian ini akan mengakibatkan permusuhan hebat dan dia mau
tak mau akan terlibat di dalamnya. Celaka sekali!
Memang benar apa yang dikhawatirkan oleh Cun Le itu. Para anak buah Sin-kiam-eng menjadi kaget dan
marah bukan main ketika menyaksikan tewasnya empat orang teman mereka. Sambil berteriak-teriak
mereka lalu serentak menyerbu dan di lain saat terjadilah pertempuran hebat.
Song-bun-kwi dikeroyok oleh puluhan orang, dipimpin oleh empat orang gagah itu yang hebat pula ilmu
pedangnya. Akan tetapi, Song-bun-kwi melayani meraka sambil tertawa bergelak-gelak seperti seorang
anak kecil mendapat permainan bagus.
Harus diketahui bahwa Song-bun-kwi ini dahulu merupakan manusia berwatak iblis yang amat jahat dan
kejam di samping perangainya yang aneh. Kesukaannya hanya satu, yaitu berkelahi dan mengalahkan
orang lain. Maka tidak aneh kalau kini, dalam kemarahannya terhadap cucunya, dia pergi dengan tangan
dan hati gatal-gatal untuk sengaja mencari permusuhan dengan siapa pun juga.
Tentu saja dia merasa kurang gembira kalau bertemu dengan lawan yang rendah tingkat kepandaiannya,
dan barulah hatinya bergembira kalau bertanding melawan jagoan yang setingkat. Makin kosen lawannya,
makin gembiralah hatinya. Oleh karena sifat yang aneh ini pula maka dia mati-matian mencari Thai-lek-sin.
Kasihan sekali para pengeroyok itu. Mereka seperti serombongan nyamuk menyerang api. Siapa dekat
dengan kakek itu pasti roboh, kalau tidak terus tewas tentu luka-luka. Siapa yang sudah roboh tidak akan
dapat bangun untuk mengeroyok kembali karena luka yang dideritanya tentu patah tulang!
Sambil dengan enaknya membabati para pengeroyoknya bagai orang membabat rumput, kakek itu berseru
berulang kali, "Panggil si tua bangka Thai-lek-sin ke sini, ha-ha-ha-ha, dialah lawanku, panggil dia ke
sini...!"
Sementara itu, Teng Cun Le hanya berdiri di belakang Song-bun-kwi, siap dengan golok di tangannya tapi
dia tidak menggerakkan golok kalau tidak diserang orang. Akan tetapi para pengeroyok juga tidak ada yang
menyerangnya karena melihat betapa orang ini tidak mengamuk seperti kakek itu.
dunia-kangouw.blogspot.com
Pada saat anak buah Pek-tiok-lim itu kocar-kacir dihajar kedua lengan baju Song-bun-kwi yang amat lihat,
tiba-tiba tampak berkelebat bayangan orang yang amat cepat dan ringan gerakannya, kemudian segulung
sinar pedang menyambar ke arah Song-bun-kwi.
"Ha-ha-ha, bagus!" Kakek itu yang terkejut sedetik, tertawa sambil cepat berjungkir balik ke belakang untuk
menghindarkan diri dari pada ancaman pedang yang gerakannya amat kuat ini. Girang sekali hatinya
bahwa akhirnya muncul seorang lawan yang tangguh ilmu pedangnya.
Ketika dia sudah turun lagi ke atas tanah, dia memandang dan melihat seorang laki-laki berusia kurang
lebih lima puluh tahun, bertubuh tegap bermuka tampan dan gagah, berdiri di depannya dengan sebatang
pedang di tangan. Sikap laki-laki ini gagah dan berwibawa. Sepasang matanya mencorong laksana mata
harimau, tarikan mulutnya membayangkan kekerasan dan keangkuhan hati. Pakaiannya berbentuk
sederhana tapi terbuat dari pada sutera halus. Sungguh seorang yang nampak gagah perkasa dan mudah
diketahui bahwa orang dengan sikap seperti ini sudah pasti memiliki ilmu silat yang tinggi.
Sebaliknya, laki-laki itu ketika melihat wajah Song-bun-kwi, segera kelihatan terkejut dan cepat menegur,
"Kiranya Song-bun-kwi Kwee lo-enghiong yang datang! Kwee lo-enghiong, apa artinya ini semua?
Mengapa kau orang tua datang-datang mengamuk dan membunuh banyak anak buah dan muridku?"
Song-bun-kwi juga kaget saat mengenal majikan Hutan Bambu Putih ini. Tak disangkanya sama sekali
bahwa yang berjuluk Sin-kiam-eng itu kiranya adalah Tan Beng Kui, kakak kandung Tan Beng San ketua
Thai-san-pai. Akan tetapi sebagai seorang tokoh aneh yang tak mau kalah dan selalu membawa kehendak
sendiri, dia tertawa bergelak dan berkata,
"Ha-ha-ha, kaukah majikan Pek-tiok-lim? Sungguh kebetulan sekali bertemu denganmu di sini. Hayo kau
suruh Thai-lek-sim si tua bangka itu keluar, biar melayani aku bertanding seribu jurus. Atau kau juga gatal
tangan hendak memamerkan ilmu pedangmu? Ha-ha-ha, kalau begitu biar aku mewakili Beng San
memberi hajaran kepadamu!"
Yang amat sangat kaget hatinya adalah Teng Cun Le. Ketika mendengar bahwa kakek itu adalah Songbun-
kwi, dia merasa semangatnya seakan terbang melayang meninggalkan raganya.
Tentu saja dia sudah pernah, bahkan sering kali, mendengar nama Song-bun-kwi sebagai iblis yang ganas.
Siapa kira sekarang dia telah main-main dengan iblis itu! Meremang bulu tengkuknya seketika karena
maklum bahwa main-main dengan seorang terkenal sebagai iblis ini sama artinya dengan main-main
dengan nyawanya sendiri!
Tapi ketika mendengar betapa iblis tua itu malah menantang Sin-kiam-eng Tan Beng Kui, hatinya lega
juga. Sudah terlanjur dia main-main, biarlah dia lanjutkan dan membonceng kesaktian kakek iblis itu demi
keuntungannya. Sejak tadi ia berdiam diri, ini penting sekali.
Andai kata Song-bun-kwi kalah, dia akan mudah mencari alasan agar tidak dipersalahkan oleh Sin-kiameng
berdasarkan tidak ikutnya mengamuk melawan anak buah Pek-tiok-lim. Sebaliknya kalau Song-bunkwi
menang, dia akan menggunakan kemenangan kakek itu untuk minta kembali mahkota kuno dari tangan
orang gagah itu.
Sementara itu, Sin-kiam-eng sudah menjadi marah sekali begitu dia mendengar jawaban Song-bun-kwi
tadi. Dengan sikap kereng dan mata berapi dia membentak.
"Tua bangka she Kwee, kau benar-benar iblis yang tidak aturan. Kalau hendak mencari Thai-lek-sin yang
tidak berada di sini, atau hendak menantang aku mengadu kepandaian, kenapa mesti pakai membunuhbunuhi
orang-orangku yang tidak tahu apa-apa? Apakah ini perbuatan orang gagah?"
"Ha-ha-ha-ha, Tan Beng Kui bocah sombong. Kalau mereka tidak mengeroyok aku si tua bangka, apakah
mereka itu bisa mampus sendiri? Hayo lekas keluarkan ilmu pedangmu, ha-ha-ha, sudah lama benar aku
merindukan Ilmu Pedang Sian-li Kiam-sut, ilmu pedang yang berhasil dipakai oleh murid untuk membunuh
gurunya sendiri itu, ha-ha-ha!"
Ucapan Song-bun-kwi benar-benar menusuk ulu hati Beng Kui. Seperti dikisahkan dalam cerita Rajawali
Emas, Sin-kiam-eng Tan Beng Kui ini dulu adalah murid kepala dari Raja Pedang Cia Hui Gan dan raja
dunia-kangouw.blogspot.com
pedang ini tewas karena pengeroyokan beberapa orang tokoh tinggi, di antaranya juga Song-bun-kwi Kwee
Lun sendiri. Dan yang paling hebat, murid kepala itu juga ikut mengeroyok gurunya!
Seketika wajah Beng Kui menjadi pucat bukan main. Dengan mata berapi dia membentak, "Song-bun-kwi
iblis laknat! Kaulah seorang pengeroyok guruku itu dan biarlah sekarang aku menebus dosa terhadap guru
dengan membalaskan sakit hatinya kepadamu." Sinar berkilauan menyambar dan tahu-tahu pedang di
tangan Sin-kiam-eng Tan Beng Kui telah menyerbu ke arah Song-bun-kwi.
Kaget juga iblis tua ini menyaksikan kehebatan ilmu pedang lawannya. Dalam beberapa tahun ini agaknya
Tan Beng Kui tidak menganggur saja, akan tetapi memperdalam ilmu pedangnya sehingga makin cepat
dan kuat, mengandung hawa serangan yang dahsyat. Song-bun-kwi cepat mengibaskan ujung lengan
bajunya menangkis sinar pedang yang demikian cepat mengancam dadanya.
"Brettt!"
Ujung lengan baju itu terbabat putus, akan tetapi Sin-kiam-eng sendiri terhuyung mundur dua langkah. Dari
keadaan ini saja dapat dibayangkan betapa hebatnya dua orang yang kini sedang berhadapan ini.
Keduanya merupakan jago-jago tua yang tak boleh dipandang ringan.
Kaget hati Song-bun-kwi. Akan tetapi segera dia kegirangan sekali karena walau pun dia tidak bertemu
dengan Thai-lek-sin, kiranya jago pedang ini cukup tangguh untuk dia ajak berlatih. Memang bagi seorang
tokoh bangkotan seperti Song-bun-kwi, bertempur hanya merupakan latihan belaka dan luka atau pun
tewas dalam latihan ini bukanlah apa-apa baginya, lumrah saja!
Terbabat putus ujung lengan bajunya, Song-bun-kwi malah tertawa bergelak. Tahu-tahu sebatang pedang
sudah berada pada tangannya dan segera terjadilah pertandingan yang hebat bukan main.
Ilmu pedang yang dimainkan oleh Tan Beng Kui merupakan ilmu pedang keturunan yang bersumber pada
Ilmu Pedang Im-yang Sin-kiam pula, yaitu ilmu Pedang Sian-li Kiam-sut (ilmu Pedang Bidadari). Akan
tetapi karena ilmu pedang ini dahulunya khusus diciptakan untuk pemain wanita, maka oleh Beng Kui telah
diubah dan ditambah sedemikian rupa sehingga ketika dia yang mainkan, dari sebuah ilmu pedang seperti
tari-tarian yang amat indah, ilmu pedang ini berubah menjadi sebuah ilmu pedang yang sifatnya ganas
serta sukar diikuti perubahan dan perkembangannya.
Pedangnya berubah menjadi segulung sinar pedang yang pecah ke sana ke mari seperti bunga api. Akan
tetapi bagaikan bunga api, setiap pecahan atau letupan bunga api juga merupakan penyerangan ujung
pedang yang akan dapat merobohkan lawan karena yang diserang selalu bagian-bagian tubuh yang
lemah. Apa lagi kini menghadapi seorang tokoh besar seperti Song-bun-kwi, tentu saja Sin-kiam-eng Tan
Beng Kui tak berani main-main. Dia sengaja mengerahkan seluruh tenaganya dan mengeluarkan seluruh
ilmu simpanan yang dimilikinya.
Di lain pihak, Song-bun-kwi bukan seorang jagoan baru. Siapa yang tidak mengenai Si Setan Berkabung
ini? Namanya dahulu menggegerkan kolong langit, dikenal oleh semua jagoan sejagat. Selain ilmu
kepandaiannya beraneka macam dan hebat-hebat, juga pada akhir-akhir ini dia telah menemukan kitab
yang mengandung inti pelajaran Yang-sin-kiam sehingga kalau dia boleh diumpamakan sebagai seekor
singa, dengan mendapatkan ilmu Yang-sin-kiam ini dia seakan-akan mendapat sepasang sayap menjadi
singa bersayap!
Begitu hebat kepandaian kakek ini sehingga amat jarang orang di dunia persilatan melihat dia bertempur
menggunakan pedangnya. Biasanya, hanya dengan menggunakan senjata berupa sepasang ujung lengan
bajunya saja, sukarlah lawan mengalahkan kakek sakti ini.
Akan tetapi, menghadapi Ilmu Pedang Sian-li Kiam-sut yang dimainkan oleh Tan Beng Kui sekarang ini,
tidak mungkin kakek sakti ini hanya melawan dengan kedua ujung lengan bajunya. Sin-kiam-eng terlampau
kuat untuk itu, dan Sian-li Kiam-sut adalah ilmu pedang pilihan di seluruh muka bumi ini, masih merupakan
pemecahan dari ilmu sakti Im-yang Sin-kiam, karenanya tidak boleh dibuat main-main. Inilah sebabnya
kenapa terpaksa kali ini Song-bun-kwi mengeluarkan pedangnya dan segera pula mainkan Yang-sin Kiamsut
untuk menghadapi ilmu pedang lawan.
Sesungguhnya, Ilmu Pedang Sian-li Kiam-sut masih satu sumber dengan Ilmu Pedang Yang-sin Kiam-sut.
Keduanya bersumber dari inti sari Ilmu Im-yang Sin-hoat yang ratusan tahun yang lampau dimiliki oleh
Pendekar Sakti Bu Pun Su. Hanya saja Sian-li Kiam-sut adalah ciptaan Pendekar Wanita Ang I Niocu
dunia-kangouw.blogspot.com
menurut sumber itu, sedangkan Yang-sin Kiam-sut langsung datang dari Pendekar Sakti Bu Pun Su. (baca
cerita Pendekar Bodoh)
Sayangnya, Yang-sin Kiam-sut merupakan ilmu pedang tidak lengkap, karena lengkapnya adalah Im-yang
Sin-kiam yang merupakan ilmu pedang gabungan dari Im-sin-kiam dan Yang-sin-kiam, yang berdasarkan
pada dua jenis tenaga dalam tubuh, yaitu tenaga halus dan tenaga kasar, hawa dingin dan hawa panas.
Seperti diketahui, ilmu pedang Im-yang Sin-kiam sekarang ini hanya dimiliki oleh ketua Thai-san-pai, yaitu
Tan Beng San, dan malah sudah diturunkan oleh pendekar ini kepada Kwa Kun Hong setelah pemuda ini
menjadi buta kedua matanya (baca Rajawali Emas).
Agaknya karena satu sumber inilah, maka pertandingan yang terjadi antara Sin-kiam-eng Tan Beng Kui
dengan Song-bung-kwi Kwee Lun hebat luar biasa. Memang harus diakui bahwa menurut pertimbangan
umum, tingkat kakek ini lebih tinggi dari pada tingkat Tan Beng Kui.
Namun selama beberapa tahun menyembunyikan diri setelah kalah oleh adik kandungnya sendiri, Tan
Beng San, Tan Beng Kui tidak tinggal diam dan tekun memperdalam ilmu kepandaiannya sehingga
sekarang dalam menghadapi Song-bun-kwi, dia tidak kalah jauh dalam hal tenaga lweekang. Ia hanya
masih kalah dalam pengalaman dan keuletan sebab jika kakek iblis ini diumpamakan daging adalah daging
gerotan yang tidak akan menjadi empuk biar digodog selama tiga tahun juga! (baca Raja Pedang)
Jurus demi jurus dikeluarkan oleh kedua orang jago kawakan itu, akan tetapi setiap jurus serangan selalu
dapat dipunahkan oleh jurus pertahanan lawan. Pada mulanya Beng Kui berusaha mendobrak pertahanan
lawan dengan mengandalkan tenaganya, menggunakan kekerasan untuk mencapai kemenangan. Pikirnya
bahwa dia yang lebih muda tentu lebih bertenaga.
Akan tetapi melesetlah perkiraannya karena kakek itu benar-benar makin tua makin kuat tenaganya, atau
setidaknya tak pernah tenaganya berkurang sehingga pada saat pedang mereka bertemu, keduanya lantas
tergetar, bunga api berpijar menyambar ke sana sini, dan telapak tangan mereka terasa sakit-sakit.
Cepat mereka memeriksa pedang masing-masing. Mereka baru menjadi lega dan saling menyerang lagi
setelah mendapat kenyataan bahwa pedang mereka tidak rusak karena benturan hebat itu.
Sesudah beberapa kali tenaga besarnya membentur karang, Beng Kui tidak mau lagi menggunakan
kekerasan. Dia mulai main halus mengandalkan kelincahan dan keindahan Sian-li Kiam-sut sambil mencari
kesempatan serta lowongan. Namun, hebat pertahanan Song-bun-kwi dengan Yang-sin Kiam-sut-nya,
malah kakek ini dapat balas menyerang tak kalah hebatnya.
Setelah lewat lima ratus jurus, terasalah bagi Beng Kui bahwa betapa pun juga, ia takkan mampu
menangkan kakek sakti ini. Dia berseru keras dan tiba-tiba pedangnya berubah menjadi segulung sinar
yang memusat dan terbang lurus menyerang ke arah dada lawan.
Hebat sekali serangan ini yang merupakan jurus inti dari Sian-li Kiam-sut. Seakan-akan semua kehebatan
dari ilmu pedang itu, semua kelincahan dan kekuatan, dipusatkan pada gerakan ini dan pedang didorong
oleh tenaga serta semangat sepenuhnya, maka dapat dibayangkan betapa hebatnya!
"Bagus!" Song-bun-kui mau tak mau memuji lawannya karena memang jurus serangan ini hebat bukan
main, hawa pedang mendahului dan terasa sangat dingin menusuk tulang sedangkan matanya sampai
silau oleh sinar pedang lawan.
Untuk menyelamatkan dirinya, dia memutar pedangnya melindungi dada. Namun betapa kagetnya ketika
gulungan sinar itu masih mampu menerobos perisai yang tercipta oleh pemutaran pedang itu, tahu-tahu
hampir saja mencium dadanya. Cepat bagaikan kilat Song-bun-kwi membuang diri ke belakang sambil
berseru keras dan mengibaskan lengan baju kiri.
"Brettttt!"
Lagi-lagi ujung lengan bajunya terbabat buntung, akan tetapi dia selamat dan mukanya berubah merah
saking marahnya. Tiba-tiba saja dia mengeluarkan lengking tinggi seperti orang menangis dan tahu-tahu
tangan kirinya sudah mengeluarkan senjata jimatnya yang puluhan tahun tidak pernah dikeluarkan, yaitu
sebatang suling. Inilah ‘suling tangis’ yang dahulu setiap kali terdengar suaranya membuat penjahatpenjahat
bagaikan setan jatuh bangun dan iblis tunggang langgang.
dunia-kangouw.blogspot.com
Kini Song-bun-kwi mengamuk seperti iblis itu sendiri. Pedang dan sulingnya menyambar-nyambar
merupakan dua gulungan cahaya yang kadang-kadang berkumpul menjadi satu menyelubungi Beng Kui
dari segala penjuru. Makin lama penyerangannya semakin hebat dan dahsyat dan makin lemahlah
pertahanan Tan Beng Kui yang merasa terkejut bukan main.
Beng Kui tak menyangka bahwa suling di tangan kiri kakek itu tak kalah hebatnya dengan pedang yang
berada di tangan kanan. Dia merasa seakan-akan dikeroyok oleh dua orang lawan. Seorang Song-bun-kwi
masih mampu dia hadapi, tapi dua orang Song-bun-kwi...? Terlalu banyak dan terlalu kuat baginya. Dia
pun mengeluh dan maklum bahwa terhadap seorang lawan seperti kakek ini tidak ada kata ampun, tidak
ada istilah mundur, yang ada hanya menang atau mati.
Tiba-tiba berkelebat bayangan yang amat ringan gerak-geriknya, disusul bentakan yang nyaring merdu,
"Berhenti dulu! Tangan senjata!"
Tahu-tahu di situ sudah muncul seorang gadis muda dengan pedang di tangan, seorang gadis yang cantik
manis, lincah, tabah. Dara lincah ini bukan lain adalah Loan Ki.
Namun terhadap bentakan seorang dara muda seperti Loan Ki ini, Song-bun-kwi mana mau peduli? Tentu
saja Tan Beng Kui tidak dapat menahan senjata sepihak, karena hal ini berarti dia akan celaka. Kalau
kakek itu tidak menghendaki berhenti, bagaimana dia bisa menghentikan pertempuran yang mati-matian
itu? Memang dia ingin sekali menghentikan pertandingan, karena dia merasa lelah setelah bertanding
selama lima ratus jurus lebih!
"Ihh, Kakek Song-bun-kwi ternyata namanya saja yang besar. Orangnya sih begitu-begitu saja, malah
curang dan pengecut! Kalau tidak begitu masa menggunakan kesempatan menghina orang lain? Agaknya
kalau berhenti sebentar saja lalu khawatir kalah. Hi-hi-hik, inikah tokoh nomor satu dari barat?"
Tan Beng Kui terkejut, juga para anak buahnya yang mendengar ucapan ini. Alangkah nekatnya Loan Ki,
alangkah beraninya menghina seperti itu terhadap seorang iblis seperti Song-bun-kwi. Tentu saja kakek itu
sendiri pun mendengar semua ucapan Loan Ki.
Mendadak dia mengeluarkan suara gerengan laksana harimau, tubuhnya melayang cepat sekali ke arah
Loan Ki. Gadis itu kaget sekali, menggerakkan pedangnya, tapi tahu-tahu pedangnya terpental jauh dan
kakek itu sudah berdiri di hadapannya sambil menodong batang lehernya dengan pedang!
"Bocah bermulut busuk!" Song-bun-kwi memaki. "Apa kau bilang tadi?"
Beng Kui pucat mukanya. Dia merasa takkan mampu melindungi puterinya yang ditodong sedemikian rupa
oleh kakek yang lihai ini. Dia hanya bisa berteriak, "Song-bun-kwi, jangan layani bocah. Lepaskan anakku
dan hayo kita lanjutkan pertempuran seribu jurus lagi!"
Ucapan ini benar saja membuat Song-bun-kwi meragu dan menurunkan pedang yang tadi ujungnya
menodong leher Loan Ki. "Anakmu terlalu lancang mulut..." dia mengomel.
Loan Ki mencebirkan bibirnya yang kecil merah, lalu berkata, "Biarlah Ayah, biar saja dia ini mendengarkan
ucapanku lebih dulu. Setelah mendengar ucapanku, baru aku tantang dia bertempur sampai sepuluh ribu
jurus. Ehh, tua bangka, kau berani tidak?"
"Setan cilik! Tidak berani padamu lebih baik mampus!"
"Nah, kalau begitu mampuslah, sebab kau tidak berani mendengarkan kata-kataku. Berani tidak
mendengarkan kata-kataku?"
Song-bun-kwi membanting-banting kaki. Tangannya gatal-gatal untuk sekali menggaplok menghancurkan
kepala cantik yang memanaskan hatinya ini.
"Buka bacotmu, lekas kau mau bilang apa jangan banyak tingkah!"
Loan Ki tersenyum dan memainkan matanya yang jeli, mengerling ke arah Teng Cun Le yang menjadi tidak
enak hatinya ketika mengenal gadis yang mempunyai mutiara-mutiara hiasan mahkota kuno itu.
dunia-kangouw.blogspot.com
"Kakek Song-bun-kwi, seorang tokoh tua macam kau ini mana pantas menurunkan tangan kepada seorang
bocah seperti aku? Nah, dengarlah omonganku. Jika kau tidak menjawab dengan semestinya, mulai saat
ini aku yang masih kanak-kanak akan menganggap bahwa semua nama besarmu kosong melompong
belaka, bahwa mungkin kau Song-bun-kwi palsu karena yang tulen bukan macam begini tingkahnya..."
"Cukup, lekas bicara! Setan!" Song-bun-kwi membentak.
Loan Ki meleletkan lidahnya. "Waduh galaknya, kalau begitu kau agaknya yang tulen, bukan pengecut,
bukan iblis curang. Kakek Song-bun-kwi, kau katanya seorang pendekar gagah segala jaman, kenapa hari
ini melakukan perbuatan begini memalukan, menyerbu tempat tinggal ayahku dan membunuhi orang-orang
kami tanpa alasan? Memusuhi orang tanpa punya alasan hanyalah perbuatan manusia rendah dan
sepanjang pendengaranku, Song-bun-kwi si iblis tua sama sekali bukanlah orang rendah! Nah, jawab,
mengapa kau melakukan semua ini, memusuhi ayahku tanpa sebab?"
Dengan cemberut Song-bun-kwi terpaksa menjawab karena kalau dia tidak menjawab, sama saja artinya
dengan mengakui bahwa dia seorang pengecut, curang dan manusia rendah! Dia boleh jadi lihai sekali
dalam ilmu silat, namun dalam hal silat kata-kata mana dia becus melawan Loan Ki si dara lincah yang
amat cerdik dan nakal ini?
"Bocah setan jangan coba bicara pokrol-pokrolan kepadaku. Aku datang ke sini hendak mencari si tua
bangka Thai-lek-sin, tapi orang-orangmu tidak tahu aturan mengeroyokku. Mereka mampus karena tak ada
kepandaian, kenapa salahkan aku? Ayahmu merupakan lawan yang lumayan, kenapa selagi kami berdua
sedang enak-enak saling gebuk untuk menentukan siapa lebih kuat, kau datang-datang mengacau? Heh,
Tan Beng Kui, apa kau tidak bisa jewer telinga anakmu yang cerewet ini? Jewer dan usir ia, mari kita
bertempur terus!"
Akan tetapi Loan Ki mana mau habis sampai di situ saja? Anak ini terlalu cerdik hingga ia tahu betul bahwa
kalau pertandingan dilanjutkan, ayahnya tentu akan celaka. Sebelum ayahnya yang juga gemar bertanding
itu terbujuk oleh lawan, ia mendahului dengan suara nyaring,
"Kakek tua, kau benar-benar pandai mencari alasan! Selama hidupku belum pernah aku melihat tua
bangka berjuluk Thai-lek-sin di tempat ayah ini, dan sekarang kau menyebut namanya untuk alasan
perbuatanmu mengacau di sini! Huh, siapa sudi untuk kau akali? Benar-benar tak kusangka bahwa jagoan
tua tenar Song-bun-kwi ternyata hanya seorang tukang bohong belaka!"
"Bocah, jangan sembarangan menuduh yang bukan-bukan! Aku tak menggunakan alasan kosong. Orang
she Teng ini yang bilang bahwa aku akan dapat menemukan Thai-lek-sin di sini. Betul tidak, orang she
Teng?!" bentaknya sambil menoleh ke arah Teng Cun Le yang menjadi pucat dan kedua kakinya
menggigil. Akan tetapi terpaksa dia menjawab dengan kepalanya mengangguk-angguk dan bibirnya
berkata lirih.
"...aku mendengar di luaran begitu... ehh... Thai-lek-sin sering ke sini..."
Tiba-tiba Loan Ki tertawa nyaring dan menudingkan telunjuknya kepada Teng Cun Le, lalu berkata kepada
Song-bun-kwi, "Wah, kakek tua goblok Song-bun-kwi, kau kena dipedayai orang! Nanti dulu, aku hendak
bertanya, pernahkah kau mendengar adanya anjing-anjing penjilat? Nah, manusia ini adalah seekor di
antara anjing-anjing penjilat. Dia orang dari kota raja, mudah diduga. Ia selalu mengikuti aku karena tertarik
akan mutiara Ya-beng-cu yang kubawa. Dan dia telah menggunakan kau orang tua goblok untuk menyerbu
ke sini karena dia sendiri mana mampu? He-he, Song-bun-kwi kakek bodoh, kau diperalat anjing ini masih
tidak tahu."
Teng Cun Le bukan seorang bodoh. Dia tadinya kaget setengah mati mendengar semua kata-kata Loan Ki
dan diam-diam dia mengeluh. Gadis ini benar-benar pandai bicara dan kakek yang sudah setengah pikun
itu kalau sampai kena diakali oleh gadis ini, dialah yang akan celaka. Cepat dia bicara,
"Locianpwe, harap Locianpwe jangan mendengarkan ocehan gadis ini. Jelas ia berusaha menolong
ayahnya yang tadi hampir kalah oleh Locianpwe dan sengaja hendak mengadu domba kita. Locianpwe,
mari kita gempur orang-orang ini, Locianpwe lanjutkan menghajar Sin-kiam-eng dan serahkanlah gadis itu
kepada saya, saya sanggup menghajar kekurang ajarannya."
Sambil berkata demikian, Teng Cun Le menggerakkan goloknya hendak menyerang Loan Ki.
dunia-kangouw.blogspot.com
"Tunggu dulu dan dengar kata-kataku sampai habis!" Loan Ki menjerit. "Kalau tidak mau mendengarkan,
itu tandanya kau sengaja memperalat Song-bun-kwi!"
Terpaksa Teng Cun Le menahan goloknya karena kalau dia teruskan khawatir kalau-kalau kakek itu kena
diakali omongan pancingan ini.
"He, orang she Teng. Kau seorang laki-laki, hayo jawab betul tidak kau sudah mengikuti aku sejak
beberapa hari yang lalu dan bahwa kau mengincar tiga butir mutiaraku atau... mungkin juga kau ingin
mengetahui tentang sebuah mahkota? Jawab!"
Teng Cun Le sudah tak bisa mundur lagi, terutama karena dia melihat Song-bun-kwi amat memperhatikan
percakapan itu.
"Memang betul. Kau telah membawa tiga butir mutiara yang tadinya menghias mahkota yang dicuri dari
istana kaisar. Sudah semestinya kau mengembalikan mahkota itu padaku untuk kubawa kembali ke kota
raja!"
"Bagus, manusia she Teng! Kau hendak merampas mahkota dari kami? Apa kau berani melawan ayah dan
aku?" tantangnya.
Tentu saja Teng Cun Le menjadi sibuk sekali. Tak disangkanya gadis itu akan memutar mutar omongan
sedemikian rupa sehingga dia selalu terdesak. Akan tetapi dia pun bukan bodoh, maka dia pun segera
menjawab berani. "Tentu saja berani karena Kwee-locianpwe tentu akan membantuku menghadapi
ayahmu yang memang patut menjadi lawannya."
"Uhu-hu, sekarang mengertikah kau, kakek Song-bun-kwi? Kau dengar sendiri bahwa dia ini adalah seekor
anjing penjilat kaisar dan kau telah dibodohinya, diperalat olehnya. Agar kau mau diperalat dan mau
menyerbu ke sini, dia membohongimu dengan pernyataan bahwa Thai-lek-sin berada di sini. Padahal tua
bangka Thai-lek-sin itu melihat pun aku belum pernah. Nah, tidak benarkah aku apa bila aku bilang bahwa
Song-bun-kwi si jago kawakan itu ternyata sekarang mudah saja dikempongi oleh seekor anjing penjiiat
kaisar? Hi-hik!" Dengan gaya nakal sekali Loan Ki menyambung hidungnya yang kecil mancung itu dengan
jari-jari tangannya untuk mengejek Song-bun-kwi.
Song-bun-kwi menjadi merah sekali mukanya. Racun yang disebar oleh Loan Ki melalui kata-katanya
barusan telah mengenai hatinya. Dia seorang tokoh besar dari dunia bagian barat, dapat dengan mudah
dikempongi oleh seorang anjing penjilat kaisar dan diperalat di luar kesadarannya. Benar-benar
memalukan sekali. Dia menoleh dengan mata melotot kepada Teng Cun Le sambil memaki,
"Kau berani membawa aku untuk bantu menjadi perampok? Setan alas!"
"Tidak... Locianpwe... tidak...!"
Akan tetapi tangan Song-bun-kwi sudah bergerak. Teng Cun Le dalam takutnya nekat menangkis dengan
goloknya, tapi akibatnya golok itu patah-patah dan tubuhnya melayang sampai sejauh lima meter lebih dan
dia tak dapat bangun kembali karena dadanya sudah remuk tulang-tulangnya!
Hebat kejadian ini, namun Loan Ki memandang dengan senyum simpul saja sedangkan Tan Beng Kui
yang memang wataknya angkuh tidak mau memandang siapa pun juga. Sejak tadi hanya berdiri tegak
dengan pedang siap di tangan dan diam-diam dia mengatur napas serta memulihkan tenaga di dalam
tubuhnya, siap menghadapi pertempuran lagi kalau perlu.
Setelah membunuh orang yang mempermainkannya dengan sekali gempur, kakek itu menoleh pada Loan
Ki, sepasang matanya memancarkan ancaman yang menyeramkan. Bulu tengkuk dara lincah itu
meremang, akan tetapi dengan memberanikan hati ia tetap tersenyum-senyum seakan-akan kejadian
mengerikan itu ‘bukan apa-apa’ baginya.
Beginilah sikap seorang cabang atas, pikirnya, dan dia tidak mau kalah dalam berlagak. Pandang matanya
pada kakek itu seolah-olah menyuarakan tantangan, "kau mau apa?"
"Bocah, jangan kau ketawa-tawa dahulu. Memang bangsat she Teng itu sudah menipuku, maka dia layak
mampus. Akan tetapi kau pun telah mempermainkan aku, jangan kira aku takut untuk memberi hajaran
kepadamu di depan ayahmu!"
dunia-kangouw.blogspot.com
Gadis itu tertawa mengejek. "Kakek Song-bun-kwi, kau terlalu sombong. Agaknya kau tidak mau melihat
tingginya langit dalamnya lautan. Ayah adalah seorang gagah yang tak mau begitu saja menanam
permusuhan, kau tahu? Ayah sudah mendengar bahwa kau adalah seorang tokoh besar kawakan, maka
tadi ayah telah menjaga muka dan namamu, kau tahu? Kalau ayah mau sungguh-sungguh melawanmu,
dengan mudah dia akan dapat merobohkanmu, kau tahu?"
"Loan Ki! Omongan apa yang kau keluarkan ini?" Ayahnya menegur marah karena dia merasa betapa
sekali ini gadisnya benar-benar keterlaluan. Masa seorang tokoh setingkat Song-bun-kwi mau di-‘kecap’-i
seperti itu?
Benar saja, Song-bun-kwi sudah tak sanggup menguasai kemarahan hatinya lagi. Sambil menggerakgerakkan
pedang dan sulingnya, dia berkaok-kaok,
"Siluman! Setan! Iblis jejadian, neraka jahanam! Ayo kalian ayah dan anak maju bersama, biar kalian
buktikan macam apa adanya Song-bun-kwi Kwee Lun!" Muka kakek itu merah sekali, sepasang matanya
melotot, alisnya yang sudah putih itu bergerak-gerak terangkat tinggi. Marah betul-betul dia.
"Song-bun-kwi, jangan kira aku Sin-kiam-eng takut kepadamu. Hayoh!"
Beng Kui menantang sambil melintangkan pedangnya di depan dada. Dalam pertempuran tadi dia belum
kalah. Memang dia agak kehabisan tenaga karena kalah ulet, akan tetapi setelah beristirahat tadi,
tenaganya pulih kembali dan dia merasa sanggup menghadapi kakek yang sakti itu. Dia maklum bahwa
memang sukar mencapai kemenangan, namun keangkuhannya melarang dia mengalah terhadap si kakek.
"Bagus! Mari bertanding sampai salah seorang di antara kita menggeletak!" Song-bun-kwi tertawa
bergelak. "Kita berdua adalah lelaki sejati, mana sudi cerewet seperti perempuan tukang celoteh?" Dia
mengejek Loan Ki dan membalikkan tubuh untuk menghampiri Tan Beng Kui.
Tetapi tiba-tiba bayangan gadis itu berkelebat dan tahu-tahu sudah berada di depannya. Sampai kaget
Song-bun-kwi menyaksikan kegesitan gadis ini.
"Kakek tua bangka pikun Song-bun-kwi! Kau benar-benar tidak bermalu! Takut melawan aku kau mau
meninggalkan aku begitu saja dan menantang ayah. Huh, tak tahu diri. Ayah tadi mengalah dan kau masih
tidak tahu? Kau tidak cukup pandai, tidak berharga menjadi lawan ayahku. Siapa orangnya yang sudah
bisa mengalahkan aku, baru cukup berharga untuk bertanding sungguh-sungguh melawan ayah. Songbun-
kwi, apakah engkau berani melawan aku?"
"Loan Ki...!" mau tidak mau Beng Kui menegur puterinya.
Memang dia merasa bangga menyaksikan keberanian dan ketabahan Loan Ki, akan tetapi mendengar
gadisnya itu menantang Song-bun-kwi, benar-benar keterlaluan! Apanya yang akan dibuat menang? Dia
sendiri setengah mampus melawannya, masa sekarang Loan Ki hendak melawan kakek itu? Huh, biar
dikeroyok sepuluh orang Loan Ki juga masih bukan lawan Song-bun-kwi!
Anaknya yang baru tiga hari pulang dari perantauannya ini memang benar-benar bersikap aneh, sama
persis anehnya seperti ketika kemarin dia menegur karena gadis itu duduk termenung seperti orang
kehilangan semangat!
"Biarlah, Ayah, aku tanggung kakek yang sudah dekat lubang kubur ini tak akan mampu mengalahkan aku.
Hei, dengar tidak kau Song-bun-kwi kakek tua renta? Atau barang kali kau sudah agak tuli? Perlu kuulangi
kembalikah? Aku tadi menantangmu, beranikah kau melawan aku?"
Memang amat pandai Loan Ki bersilat lidah. Kali ini ia benar-benar berhasil memancing Song-bun-kwi
sehingga kakek ini menjadi marah bukan main. Siapa orangnya yang tidak akan dongkol dan marah sekali,
seorang kakek tokoh besar seperti dia mentah-mentah ditantang oleh seorang bocah perempuan?
Dengan gemas dia menyimpan kedua senjatanya dan membentak. "Bocah neraka! Kau patut menjadi
cucuku, berani menantang seorang tua seperti aku? Apa kau sudah bosan hidup? Kalau aku tidak dapat
membantingmu dalam sepuluh jurus, biar aku orang tua mengaku kalah!"
Song-bun-kwi siap menubruk gadis yang memanaskan hatinya itu.
dunia-kangouw.blogspot.com
"Hee, nanti dulu!" Loan Ki menyetop dengan isyarat tangannya. "Kenapa kau menyimpan pedangmu?
Kalau dalam sepuluh jurus kau tak mampu mengalahkan aku, tentu kau kelak memakai alasan bahwa kau
bertangan kosong. Tak mau aku! Hayo kakek tua renta, kau boleh gunakan pedangmu dan aku akan
menandingimu, bukan sepuluh jurus melainkan tiga puluh jurus. Tiga puluh jurus, kau dengar?"
"Iblis cilik, mulutmu benar jahat!" Song-bun-kwi membentak.
"Tapi kau yang menyebut diri tokoh besar dari barat, awas jangan kau menjilat ludahmu sendiri, ya? Kalau
kau tidak bisa menangkan aku dalam tiga puluh jurus, kau harus pergi dari sini dan jangan mengganggu
kami lagi. Ayah tidak mau bermusuh denganmu. Kalau tangan dan kepalamu merasa gatal-gatal ingin
menerima gebukan, kau pergilah saja ke Ching-coa-to, nah, di sana banyak sekali setan-setan bangkotan
yang sama kwalitetnya denganmu. Tetapi kau tentu tidak berani ya, memasuki Ching-coa-to. Huh, mana
kau berani?"
"Cukup, jangan pentang mulut lagi, lihat seranganku!" Song-bun-kwi berseru dan mulai menyerang dengan
tangan kosong.
Dia pikir sekali bergerak tentu akan berhasil menangkap gadis ini. Biar pun membunuh bagi Song-bun-kwi
bukan apa-apa, namun dia tidak sudi membunuh seorang dara cilik seperti Loan Ki. Niatnya hendak
menangkap gadis itu dan membantingnya di depan Tan Beng Kui sampai kelenger (pingsan) agar tidak
banyak mengoceh lagi sehingga dia dapat melanjutkan pertandingannya melawan Sin-kiam-eng.
Maka, begitu menyerang dia mencengkeram dengan tangan kiri ke arah pundak gadis itu sedangkan
tangan kanannya mendahului membuat gertakan memukul ke arah pusar. Pukulan ini mendatangkan angin
dan tentu akan membuat gadis yang masih pelonco itu kebingungan sehingga memudahkan tangan kirinya
mencengkeram pundak.
Agaknya kalau penyerangan kakek sakti ini terjadi beberapa hari yang lalu saja, kiranya akan berhasil.
Akan tetapi dia tidak tahu bahwa gadis lincah ini beberapa hari yang lalu telah mewarisi ilmu mukjijat dari
Kwa Kun Hong, yaitu yang diberi nama dua puluh empat langkah Hui-thian Jip-te (Terbang ke Langit
Ambles ke Bumi). Maka melihat datangnya serangan yang hebat ini, tubuh Loan Ki terhuyung-huyung ke
belakang seperti orang kena pukul.
Tan Beng Kui kaget sekali dan siap melompat untuk melindungi anaknya. Akan tetapi dia sangat heran
mendengar seruan aneh kakek Song-bun-kwi karena ternyata bahwa kedua pukulannya itu hanyalah
mengenai angin belaka! Dalam terhuyung ini ternyata gadis itu sudah berhasil menghindarkan diri secara
aneh sekali.
Kembali kakek Song-bun-kwi menerjang maju, kali ini malah sekaligus mengembangkan kedua lengannya
hendak menerkam pinggang yang ramping itu untuk diangkat kemudian dibanting. Tapi aneh bin ajaib.
Gadis yang masih terhuyung-huyung itu malah melangkah maju memapakinya. Pada saat kedua
lengannya hampir berhasil menyingkap pinggang, tahu-tahu tubuh gadis itu miring seperti akan jatuh dan...
sekali lagi berhasil lolos!
"Kakek tua bangka, sudah dua jurus. Hi-hik-hik!" berkata Loan Ki yang ternyata sudah melangkah ke kiri
dan... berjongkok.
Kemarahan Song-bun-kwi menjadi-jadi. Dia mengira bahwa gadis itu tadi menggunakan kegesitannya dan
sekarang mengejek. Mana ada orang berkelahi memasang kuda-kuda dengan berjongkok? Dia tidak
mengerti bahwa memang sebetulnya begitulah kedudukan sebuah langkah dari Hui-thian Jip-te yang
dipelajari Loan Ki dari Kwa Kun Hong.
Ilmu langkah ini bukan lain merupakan sebagian dari ilmu langkah ajaib Kim-tiauw-kun, maka sama sekali
tak dikenal oleh Song-bun-kwi. Sambil mengeluarkan bentakan hebat dia menyerang Loan Ki yang masih
berjongkok seperti orang mau buang air itu, kedua tangannya kini bergerak menjambak rambut.
Dengan tubuh masih berjongkok, kedua kaki Loan Ki main dengan gesitnya, sett-sett-sett dan... kembali
Song-bun-kwi yang menerjangnya hanya dapat menjambak bau harum dari rambut hitam panjang itu.
"Jurus ke tiga, Kakek!" Loan Ki mengejek sambil tersenyum.
dunia-kangouw.blogspot.com
Kini dia sudah berdiri dengan tubuh membelakangi Song-bun-kwi, kaki kanan diangkat dengan tumit
menempel paha kaki kiri, leher menoleh ke belakang dan berkedip-kediplah matanya kepada kakek itu,
kedua tangannya dikembangkan, persis seperti seekor burung kuntul hendak terbang.
Tan Beng Kui kaget dan heran bukan main melihat kejadian yang berlangsung di depan matanya. Dia
sendirilah yang menjadi guru anaknya ini dan dia tahu betul bahwa tidak pernah dia mengajari gerakangerakan
menggila seperti yang sedang dilakukan anaknya sekarang ini. Mana bisa dia mengajari kalau dia
sendiri tidak mengenal dan tidak tahu akan gerakan-gerakan gila itu?
Siapakah yang main gila ini, Loan Ki ataukah Song-bun-kwi? Dia tidak percaya bahwa dengan gerakangerakan
gila itu anaknya bisa menghindarkan serangan kakek itu hingga tiga kali dan sudah tentu si kakek
yang main gila, pura-pura tidak dapat mengenai tubuh Loan Ki. Kalau memang main gila, apa pula
kehendaknya? Ahh, jangan-jangan kakek itu sengaja berbuat demikian sambil menanti sampai sepuluh
jurus atau tiga puluh jurus, kemudian merobohkan Loan Ki untuk membuat malu.
"Loan Ki, jangan kurang ajar! Kuda-kuda jurus apa itu pakai angkat-angkat sebelah kaki segala?" Tan Beng
Kui membentak keras dengan maksud supaya Song-bun-kwi mengerti bahwa bukan dia yang mengajari
gadisnya menggila seperti itu, karena betapa pun juga hatinya malu menyaksikan aksi anak gadisnya yang
dianggapnya kosong melompong ini.
"Ayah, memang jurus ini mesti mengangkat sebelah kaki. Habis, apa yang bisa kulakukan untuk
merubahnya? Kalau kedua kakiku kuangkat semua, tentu aku akan jatuh." Terang bahwa ucapan ini hanya
kelakar saja untuk lebih memanaskan hati Song-bun-kwi. "Ini namanya burung bangau tidur, tapi
sebetulnya tidak tidur, melainkan sedang memancing katak tua di belakangnya."
Song-bun-kwi menggereng seperti seekor beruang. Sekarang dia betul-betul menyerang Loan Ki, tidak
seperti tadi lagi. Tadi dia hanya hendak menangkap dan membantingnya kelenger di depan Tan Beng Kui,
tetapi sekarang dia menyerang untuk merobohkannya dengan pukulan berbahaya. Dia menyerang dari
belakang dengan sangat hebatnya dan merasa yakin bahwa kali ini dia akan berhasil merobohkan Loan Ki.
"Ki-ji (anak Ki), awas...!" Tan Beng Kui terpaksa berseru saking kaget dan khawatirnya menyaksikan
penyerangan dahsyat itu.
"Tidak usah khawatir, Ayah!" Gadis itu masih sempat membuka mulut, padahal ia kaget setengah mati.
Cepat-cepat ia mengeluarkan ilmu langkah mukjijat seperti yang ia pelajari dari Kun Hong. Hebat
penyerangan Song-bun-kwi kali ini sehingga Loan Ki masih merasa angin pukulan menyerempet
pundaknya, membuat kulit pundak di bawah pakaian itu terasa panas. Dia sampai mengeluarkan keringat
dingin, namun dasar dia nakal, masih saja dia mengejek setelah pukulan itu gagal.
"Sudah empat jurus!"
Sekarang Song-bun-kwi tak mau berlaku sungkan-sungkan lagi. Dia menerjang terus dan mengirim
pukulan bertubi-tubi, malah mengisi pukulan-pukulannya dengan lweekang-nya yang dahsyat sehingga
rambut dan pakaian Loan Ki berkibar-kibar seperti diserang angin besar.
Loan Ki juga tidak berani main gila lagi. Ia cukup maklum akan kesaktian kakek ini, maka ia mengerahkan
seluruh perhatiannya untuk menjalankan langkah-langkah Hui-thian Jip-te guna menyelamatkan dirinya.
Tan Beng Kui melongo sampai mulutnya terbuka lebar dan lupa ditutupnya kembali. Hebat terjanganterjangan
Song-bun-kwi yang kini benar-benar berusaha sekuat tenaga untuk merobohkan Loan Ki. Akan
tetapi lebih hebat pula gerakan-gerakan Loan Ki yang tetap aneh bagaikan orang mabuk atau orang
menari-nari menggila namun satu kali pun juga pukulan-pukulan kakek itu tak pernah menyinggung
kulitnya!
"He, kakek Song-bun-kwi! Sudah empat puluh jurus lebih kau menyerangku dan masih tak mampu
merobohkan, apakah engkau tidak mau berhenti juga? Seorang kakek tua bangka mengejar-ngejar
seorang gadis cilik, mau apa sih? Cih, tak tahu malu benar!"
Seketika Song-bun-kwi menghentikan serangannya. Matanya mendelik saking marahnya. Dia tahu bahwa
gadis ini tak mampu menyerang kembali karena agaknya hanya memiliki ilmu mengelak yang luar biasa
sekali itu.
dunia-kangouw.blogspot.com
Diam-diam dia kagum bukan main dan teringatlah dia kepada Kwa Kun Hong. Dahulu Kun Hong juga
pernah membuat heran semua orang di Thai-san dengan ilmunya mengelak yang ajaib. Apakah sama
dengan ilmu yang dipergunakan gadis ini? Tetapi dia malu untuk bertanya. Sambil bersungut-sungut dia
membentak.
"Aku kalah janji, siapa kejar-kejar iblis cilik macammu? Tan Beng Kui, biarlah kali ini aku mengaku kalah
bertaruh karena diakali anakmu si setan neraka. Tetapi lain kali aku akan mencari kesempatan untuk
melanjutkan pertandingan kita sampai puas tanpa gangguan setan ini!" Dia lalu mengibaskan lengan
bajunya yang buntung dan melangkah pergi dari tempat itu.
"Hee, Song-bun-kwi kakek tukang pukul! Kalau gatal-gatal kepalamu minta dijotosi orang, kau pergilah ke
Ching-coa-to, tentu kau akan berubah matang biru dan bengkak-bengkak sampai puas!" teriak Loan Ki.
Song-bun-kwi tidak menoleh tidak menjawab, akan tetapi diam-diam dia mencatat nama tempat ini. Ada
apa sih di Ching-coa-to, pikirnya. Agaknya gadis itu hendak memamerkan kehebatan orang-orang tertentu
di pulau itu.
Hemmm, pikirnya sambil memperlebar langkahnya. Kalau aku tidak bisa mengobrak-abrik Ching-coa-to,
bocah itu tentu makin memandang rendah kepadaku. Kalau yang tinggal di sana itu orang-orang yang ia
andalkan, biar kuhancurkan tempat itu, baru ia tahu rasa dan mengenal kehebatanku.
Dengan pikiran ini kakek itu lalu melanjutkan perjalanannya sambil berlari cepat dan mulai mencari
keterangan tentang letaknya Ching-coa-to…..
********************
Telah terlalu lama kita meninggalkan Kwa Kun Hong, pendekar kita yang buta itu. Seperti sudah dituturkan
pada bagian depan, sesudah pertemuannya dengan Tan Hok kemudian mendengar keteranganketerangan
tentang kepahlawanan, bangkit semangat Kun Hong. Dia ingin sekali berdarma bakti terhadap
nusa bangsa. Ingin sekali dia menyumbangkan tenaganya untuk tanah air.
Dia tahu betapa pentingnya arti mahkota kuno yang menyimpan rahasia besar itu dan alangkah akan
baiknya kalau dia dapat merampas kembali benda itu dan memberikannya kepada Tan Hok. Akan tetapi
apa dayanya. Dia seorang buta, bagaimana mungkin dapat pergi seorang diri ke pulau itu? Selain pulau itu
penuh dengan rahasia-rahasia yang amat berbahaya, ular-ular yang berbisa, juga di sana terdapat orangorang
yang amat lihai.
Sepeninggal Tan Hok, Kun Hong duduk termenung di dalam kuil rusak itu, dia menyesali keadaannya yang
buta, bingung tak tahu apa yang harus dia lakukan mengenai niatnya hendak merampas kembali mahkota.
Baru pertama kali ini semenjak dia buta, dia merasa menyesal bukan main. Teringat dia akan Cui Bi
sehingga berkali-kali dia menarik napas panjang sambil di dalam hati menyebut nama kekasihnya yang
telah tiada.
Siapa pun juga yang melihat keadaan Kun Hong di saat itu tentu akan merasa kasihan. Seorang pemuda
buta yang pakaiannya kotor dan kumal, rambutnya juga awut-awutan karena pembungkusnya tidak rapi
lagi, sepatunya penuh lumpur dan sudah bolong-bolong pula, duduk bersandar dalam sebuah kuil rusak
yang juga kumal dan kotor seperti dirinya, menarik napas berkali-kali, kelihatan susah sekali. Dia
merupakan seorang jembel muda buta yang amat miskin.
Padahal bukanlah demikian sifat Kun Hong. Dia amat benci akan keadaan yang kotor dan walau pun
pakaiannya sederhana, biasanya amat bersih. Sekali ini, karena keributan dan pengalamannya di Pulau
Chin-coa-to, maka pakaiannya menjadi seperti itu dan dia belum mendapat kesempatan untuk mencari
pengganti pakaiannya.
Agaknya pada saat itu memang ada orang yang menaruh kasihan kepadanya, buktinya orang itu semenjak
tadi berdiri memandangi wajah orang buta yang duduk menarik napas panjang berkali-kali sambil
menunduk itu. Orang ini menggeleng kepala dan mendesislah helaan napasnya.
Helaan napas yang halus panjang, namun cukup bagi Kun Hong untuk mengetahui bahwa ada orang yang
secara diam-diam mengintainya. Tanpa bangkit dari tempat duduknya di lantai yang kotor itu, dia menoleh
dan menegur lirih,
dunia-kangouw.blogspot.com
"Sahabat di luar, kalau ada keperluan dengan aku si buta, masuklah saja."
Pendengaran Kun Hong yang tajam menangkap bunyi napas tertahan, lalu ada sambaran angin meliuk
masuk lewat jendela dan sepasang kaki yang amat ringan gerakannya turun di atas lantai dalam ruangan
itu, di depannya. Dia kaget karena dapat menduga bahwa yang datang ini adalah seorang yang
berkepandaian tinggi.
Akan tetapi segera jantungnya berdebar tidak karuan ketika alat penggandanya bekerja. Lubang hidungnya
kembang-kempis dan dia melompat bangun.
"Nona Hui Kauw...!"
Kedua kakinya gemetar pada saat dia berdiri dengan tubuh agak membungkuk memberi hormat. Orang
yang baru masuk itu memang Hui Kauw adanya.
Tentu saja Hui Kauw kaget dan heran bagaimana pemuda buta ini dapat mengenalinya sebelum ia
membuka suara. Akan tetapi ia tidak peduli akan hal ini dan suaranya yang halus merdu itu terdengar
penuh sesal,
"Kwa Kun Hong, aku datang untuk perhitungan. Mari ke luar dan pedang kita yang akan menentukan siapa
yang harus mati menebus hinaan."
Perih rasa hati Kun Hong. Dia menunduk, dahinya berkerut dan dia berkata, "Aku tahu, Nona, tanpa
kusadari, aku sudah melukai hati serta perasaanmu, aku telah menimpakan hinaan besar pada dirimu. Aku
tak hendak menyangkal lagi. Kau maafkanlah aku, Nona."
Hui Kauw memandang tajam. "Apa maksudmu? Kau... kau... tahukah kau apa yang telah menyakitkan
hatiku?"
Dengan kepala masih tunduk Kun Hong menjawab, suaranya lirih dan lambat, satu-satu seakan-akan amat
sukar keluar dari lubuk hatinya.
"Aku tahu, Nona, atau setidak-tidaknya aku dapat menduga. Karena bujukan dan tipuan, kau mau
menjalani upacara sembahyangan perkawinan dengan aku, mengira bahwa aku pun sudah tahu dan sudah
setuju akan hal itu. Kemudian, di depan banyak orang, aku seakan-akan menolakmu. Inilah hinaan yang
tiada taranya, yang paling besar yang dapat menimpa diri seorang gadis seperti Nona."
Mendadak Hui Kauw menjatuhkan diri berlutut di atas lantai, pedangnya berkerontangan jatuh dan ia
menangis terisak-isak. Sedih sekali tangis ini dan Kun Hong maklum betapa perasaan gadis itu amat sakit,
dendam dan penuh rasa malu, tertahan-tahan dalam dada bagaikan api dalam sekam.
Hal ini berbahaya sekali bagi kesehatan, dan cara terbaik untuk memberikan jalan keluar adalah melalui
tangis dan air mata. Karena itu, meski pun dia amat terharu dan berduka mendengar tangis ini, dia diam
saja tak bergerak, hanya perlahan dia duduk bersila dan tunduk mendengarkan dengan kerut merut di
antara kedua matanya yang buta.
Lama nona itu menangis. Derita dan sakit hati yang selama bertahun-tahun sengaja dia tahan di dalam
dadanya, sekarang seperti gunung berapi meletus dan hawa panas dapat mengalir keluar melalui
tangisnya itu. Tiada hentinya air matanya bercucuran, terisak-isak dan sesenggukan sampai napasnya
terasa sesak. Akhirnya reda juga desakan hawa dari dada melalui tangisnya ini. Dadanya terasa ringan
kosong, dan seluruh tubuhnya menjadi lelah sekali.
Tangisnya terhenti, tinggal isak kecil-kecil dan jarang. Ia mengangkat muka memandang laki-laki yang
sedang duduk bersila dengan tubuh diam tak bergerak bagaikan patung. Di muka dengan mata meram itu
kelihatan kerut merut, amat menyedihkan.
"Siapa orangnya dapat menahan semua ini?" dia berkata lirih seperti kepada diri sendiri, suaranya sudah
tenang tapi masih terputus-putus menahan isak. "Perbuatanmu yang kau lakukan tanpa maksud menyakiti
hatiku itu hanyalah merupakan pukulan terakhir yang mematikan kesabaranku dan membangkitkan
perlawanan dalam hatiku. Tadinya aku telah putus asa. Ibu memaksa aku supaya menikah dengan
pangeran Mongol yang kubenci itu. Kemudian muncul engkau yang mengakibatkan serangkaian peristiwa
dunia-kangouw.blogspot.com
di pulau. Hampir aku mati disiksa ibu, kau melupakan keselamatan sendiri membela dan melindungi aku.
Bahkan akhirnya kau pula yang memulihkan kesehatanku. Sesudah apa yang terjadi di dalam kamar pada
saat kau mengobatiku, aku tak dapat menolak ketika ibu membujukku untuk menikah denganmu. Kata ibu
kau pun sudah setuju, dan semua ini dilakukan demi menjaga nama baikku serta nama keluarga ibu. Tidak
ada pilihan lain bagiku. Dari pada menjadi isteri pangeran Mongol yang kubenci, dan pula... kau amat baik
kepadaku, dan seorang pendekar sejati... maka aku pun menurut. Tetapi siapa tahu..." kembali gadis itu
menangis.
"Aku sudah dapat menduga semua itu, Nona. Memang terlalu sekali ibumu, anak sendiri dibujuk dan ditipu,
dibantu oleh orang-orang seperti Ka Chong Hoatsu. Benar-benar aneh sekali. Kenapa pula ibumu mau
mengambil aku sebagai... ehh, sebagai mantu, padahal aku seorang buta tiada guna dan malah
mendatangkan keributan di pulaunya?"
"Kau pandai, ilmu silatmu tinggi dan luar biasa. Ibu dapat mempergunakan tenaga dan kepandaianmu..."
"Hemmm, benar-benar jahat, demi kepentingan diri sendiri sampai hati mengorbankan anaknya. Nona, aku
tidak percaya seorang ibu sejahat itu dapat mempunyai anak seperti kau."
Hening sejenak, kemudian terdengar suara nona itu amat lirih, "Memang dia bukanlah ibu kandungku..." Ia
menahan isak lalu melanjutkan. "Meski pun kau orang luar, kau adalah penolongku dan kuanggap orang
sendiri, maka biarlah rahasia ini kubuka padamu. Dahulu ketika aku masih kecil, ibu menculikku dari rumah
ayah bundaku yang asli dan semenjak itu aku dijadikan anaknya. Dia amat kasih dan sayang kepadaku...
sampai Hui Siang lahir. Memang mereka itu baik kepadaku, namun kadang-kadang... ahhh, entah
mengapa, aku tersiksa batin... tak perlu kuceritakan sejelasnya. Sampai kau muncul dan... penolakanmu itu
merupakan pukulan terakhir. Aku tak kuat lagi, lalu aku lari. Aku hendak mencari orang tuaku. Menurut
penuturan seorang pelayan tua, orang tuaku seorang hartawan di kota raja, she Kwee!"
"Sungguh baik niatmu itu, Nona, kuharap saja kau akan dapat berjumpa dan berkumpul kembali dengan
orang tuamu," kata Kun Hong sejujurnya, suaranya mengandung iba.
"Tapi masih ada ganjalan di hatiku..." gadis itu melanjutkan, suaranya gemetar, “ganjalan terhadap kau.
Aku merasa sangat terhina oleh penolakanmu... betapa tidak... karena itu, menurutkan nafsu hati dan
amarah, aku sengaja menantimu untuk membuat perhitungan. Maksudku, lebih baik salah seorang di
antara kita tewas... takkan menjadi kenangan yang memalukan lagi..."
Kun Hong bangkit berdiri, wajahnya membayangkan kedukaan.
"Kau keliru, Nona. Kita berdua menjadi korban fitnah. Kau sekarang tahu, bahwa sama sekali tiada niat
dalam hatiku untuk menghinamu, juga kau tidak pernah menghinaku. Kita hanya menjadi korban. Akan
tetapi kalau kau memang merasa terhina olehku, nah, kau tancapkan pedangmu itu di dadaku, aku Kwa
Kun Hong sanggup menerima kematian di tanganmu!"
"Tidak... tidak... sekarang aku sudah insyaf. Kau sama sekali bukan menghina atau ingin mempermainkan,
akan tetapi karena... kau memang... ahhh, siapa sih yang akan tertarik hatinya... inilah yang meragukan
hatiku, ayah ibu sendiri andai kata melihat, belum tentu sudi mengakui..."
"Apa maksudmu, Nona?" tanya Kun Hong kaget mendengar betapa suara yang halus itu menggetar-getar
penuh kesedihan.
"Tidak apa-apa. Nah, selamat tinggal saudara Kwa Kun Hong, aku hendak pergi mencari orang tuaku di
kota raja." Terdengar gadis itu menggeser kaki hendak ke luar dari kuil itu.
Mendengar disebutnya ‘kota raja’ ini, teringatlah Kun Kong akan urusan mahkota kuno, maka cepat sekali
dia berseru memanggil, "Nona Hui Kauw, tunggu dulu...!"
Gadis itu serentak berhenti dan cepat sekali sudah kembali lagi ke hadapan Kun Hong, seakan-akan
memang ia mengharapkan pemuda buta itu memanggilnya kembali.
"Ada apakah?" tanya Hui Kauw, suaranya penuh harapan aneh.
"Nona, aku hendak mohon sesuatu darimu, mohon bantuanmu, sekiranya kau tidak akan keberatan."
dunia-kangouw.blogspot.com
"Tentu saja aku tidak keberatan! Beberapa kali kau telah menolong dan menyelamatkan nyawaku dari
pada maut, tentu saja aku siap sedia membantumu!"
Tak enak hati Kun Hong ketika nona itu menyebut-nyebut tentang pertolongannya, karena itu cepat-cepat
dia berkata untuk menghabisi hal itu, "Aku hanya ingin kau memberikan petunjuk kepadaku, menjadi
penunjuk jalan ke Ching-coa-to, Nona."
Hui Kauw kaget bukan main dan memandang dengan mata melebar. "Apa? Kau minta aku mengantarkan
kau kembali ke pulau?" lalu dia menghapus kebimbangannya dengan pertanyaan, "Kun Hong, apa
kehendakmu hendak kembali ke sana?"
Berdebar-debar hati Kun Hong mendengar betapa nona itu memanggil namanya begitu saja seakan-akan
seorang sahabat lama yang sudah biasa saling menyebut nama tanpa banyak peraturan lagi.
"Aku harus kembali ke sana untuk mengambil mahkota yang dirampas mereka dari tangan Loan Ki,"
katanya dengan suara biasa.
"Tapi mahkota kuno itu dirampas oleh Ka Chong Hoatsu! Dia lihai sekali, belum lagi yang lain-lain. Meski
aku suka membantumu, agaknya kita berdua takkan menangkan mereka, mana bisa mengambil kembali
mahkota?" Kemudian gadis itu menyambung cepat-cepat, "Jangan salah duga bahwa aku takut, sama
sekali tidak, aku suka membantumu. Akan tetapi, aku hanya mengkhawatirkan bahwa usahamu tidak akan
berhasil dan malah kau akan tertimpa mala petaka."
Kun Hong menjura, penuh rasa terima kasih. "Meski menghadapi bahaya, akan kutempuh karena hal ini
penting sekali, lebih penting dari pada nyawaku." Ucapan ini keluar begitu saja sebagai gema dari ucapan
Tan Hok.
"Aku tidak berani mengharapkan tenagamu untuk melawan mereka, Nona. Dan andai kata aku dapat pergi
ke sana sendiri, sudah tentu aku pun tidak akan berani minta bantuanmu karena aku maklum betapa berat
memintamu kembali ke tempat yang telah menimpakan banyak kesengsaraan padamu itu. Namun apa
dayaku, aku seorang buta, tidak mungkin dapat masuk ke pulau itu tanpa bantuanmu." Dia berhenti
sebentar, tersenyum-senyum dan memukul-mukulkan tongkatnya di atas lantai di depannya. "Sebelum
sampai di sana mungkin aku sudah terjungkal ke dalam selokan!"
Akan tetapi kelakar ini diterima oleh Hui Kauw dengan alis berkerut, sama sekali tak lucu baginya.
"Marilah, Kun Hong, mari kuantarkan kau ke Pulau Ching-coa-to!" katanya dan seketika hati Kun Hong
berdebar tidak karuan ketika tangannya dipegang oleh gadis itu dan ditarik keluar dari kuil. Telapak tangan
yang halus itu seakan-akan menyalurkan getaran yang membuat jantungnya meloncat-loncat seperti katak
kepanasan.
Segera dia menekan perasaannya dan diam-diam dia memaki-maki diri sendiri, "Kau betul mata keranjang,
hidung belang seperti yang dikatakan Loan Ki padamu! Gadis ini dengan hati jujur dan bersih menuntun
tanganmu karena mengingat kebutaanmu, kenapa hatimu jadi geger tidak karuan?"
Tidaklah aneh bila dengan bantuan Hui Kauw, Kun Hong dengan mudah dapat memasuki Pulau Chingcoa-
to. Hui Kauw dikenal oleh para anak buah dan penjaga sebagai puteri Ching-toanio. Memang mereka
sudah mendengar desas-desus mengenai keributan yang terjadi antara nona ini dengan ibunya, tetapi
tetap saja mereka tak berani memperlihatkan sikap berbeda terhadap Hui Kauw.
Apa lagi mereka tahu betul betapa lihai nona ini. Bahkan selain amat lihai, juga nona ini merupakan satusatunya
orang Ching-coa-to yang disegani oleh semua anak buah karena sikapnya yang selalu baik, sabar,
dan suka menolong. Seperti bumi dan langit bedanya antara nona ini dengan ibu dan saudaranya yang
kejam dan mudah saja membunuhi anak buah yang bersalah.
Hui Kauw mudah mendapatkan perahu dan bersama Kun Hong ia mendayung perahu itu cepat-cepat ke
darat. Ia tidak mempedulikan pandang mata para anak buah ibunya yang terheran-heran melihat ia datang
bersama Kun Hong, orang buta yang tadinya dianggap musuh yang datang mengacau Ching-coa-to.
Akan tetapi keheranan ini pun hanya sebentar saja. Para anak buah Ching-coa-to sudah terlalu sering
menyaksikan keanehan-keanehan di antara para tamu pulau itu, keanehan orang-orang kang-ouw
sehingga mereka juga tidak begitu mempedulikan kejadian kali ini di pulau.
dunia-kangouw.blogspot.com
Setelah menyeberangi telaga dan tiba di pulau, Hui Kauw mengajak Kun Hong mendarat. Tegang juga hati
Kun Hong pada waktu kakinya sudah menginjak daratan pulau itu dan hidungnya segera mencium bau
aneka bunga.
"Apakah kita tiba di taman...?" tanyanya perlahan.
"Betul, inilah tempat terbaik untuk mendarat dan dari sini mudah kita pergi menyelidiki tentang benda itu."
"Hui Kauw…," Kun Hong memegang tangan gadis itu tanpa ragu-ragu lagi karena dia merasa berterima
kasih sekali dan pula sikap gadis itu yang amat ramah dan sewajarnya membuat dia tidak menjadi sungkan
atau malu lagi, "Kau tunggulah saja di sini, jangan sampai ada yang melihatmu. Biar aku sendiri yang akan
mencari Ka Chong Hoatsu dan terang-terangan meminta kembali mahkota itu. Apa bila sudah berhasil,
baru aku minta bantuanmu lagi untuk mengajak aku menyeberangi telaga."
Kali ini mau tidak mau Hui Kauw tersenyum dan menarik tangannya. "Kun Hong, kau benar-benar berlaku
sungkan kepadaku. Jangan kau kira bahwa aku demikian pengecut, membiarkan kau sendirian
menghadapi mereka yang lihai. Tidak, Kun Hong. Aku sudah sanggup dan hanya ada dua pilihan bagiku.
Berhasil merampas kembali mahkota dan dengan selamat bersamamu meninggalkan pulau ini, atau kita
gagal dan mati bersama di sini."
Terharu hati Kun Hong. Dia menjura sampai dalam dan berkata lirih, "Kau baik sekali, kau benar-benar
bidadari lahir batin. Aku berterima kasih kepadamu..."
"Hushhh, diam, ada orang-orang datang," Hui Kauw cepat menarik tangan Kun Hong dan diajak menyusup
ke dalam gerombolan pohon kembang.
Tentu saja Kun Hong dapat mendengar pula suara orang, hanya tadi karena dia terharu, maka dia kurang
perhatian dan kalah dulu oleh nona itu yang selain mampu mendengar juga dapat melihat.
Yang datang adalah dua orang, mereka berjalan perlahan-lahan sambil bercakap-cakap. Setelah jarak
antara mereka dengan tempat persembunyian Kun Hong tinggal sepuluh meter kurang lebih, Kun Hong
mengenal suara mereka yang bukan lain adalah Hui Siang dan Bun Wan, putera ketua Kun-lun-pai.
Tadinya dia sama sekali tidak merasa heran karena dia memang sudah tahu bahwa putera Kun-lun-pai itu
menjadi tamu di Ching-coa-to. Akan tetapi setelah dia mendengar percakapan dua orang muda yang kini
berhenti dan duduk di atas rumput tebal tak jauh dari situ, dia kaget dan tiba-tiba mukanya menjadi merah.
Dia merasa segan dan sungkan sekali terpaksa harus mencuri dengar percakapan antara dua orang muda
yang agaknya sedang bercumbu berkasih mesra!
Terdengar suara Hui Siang yang merdu merayu, suaranya mengandung kegenitan serta penuh kemanjaan.
"Kanda Bun Wan, kau sudah tahu dan tentu sudah yakin akan cintaku yang suci murni terhadapmu. Akan
tetapi, sebaliknya... mana dapat aku tahu akan isi hatimu? Mana bisa aku yakin bahwa cintamu kepadaku
pun sama sucinya? Kanda Bun Wan, kalau sekarang kau tinggalkan pulau ini... ahh, bagaimana kalau kau
tidak akan kembali kepadaku?"
Kun Hong mendengar ini merasa bulu tengkuknya meremang dan dia sudah bergerak hendak pergi diamdiam
dari tempat itu, menjauhi mereka dan tidak sudi mencuri dengar percakapan semacam itu. Akan
tetapi tiba-tiba tangannya dipegang oleh tangan Hui Kauw yang mencengkeram erat-erat, diguncangguncang
sedikit seperti memberi isyarat supaya dia jangan bergerak.
Kun Hong merasa heran sekali mengapa tangan nona itu dingin dan gemetar. Tentu saja dia tidak tahu
betapa dengan muka pucat gadis ini melihat betapa adiknya itu membujuk rayu, memeluk-meluk dengan
sikap yang tidak tahu malu.
Tiba-tiba Kun Hong merasa dadanya sakit. Teringatlah dia ketika dahulu mencuri dengar percakapan
antara Hui Kauw dan ibu angkatnya. Ching-toanio pernah memaki Hui Kauw bahwa dia tergila-gila kepada
Bun Wan! Hemmm, apakah sekarang Hui Kauw menjadi cemburu dan iri hati melihat pemuda Kun-lun
yang digilainya itu bercumbu rayu dengan Hui Siang?
dunia-kangouw.blogspot.com
Aneh sekali, pikiran ini yang menimbulkan rasa perih di hatinya, sekaligus membuat dia mengambil
keputusan untuk mendengarkan terus dan melihat Hui Kauw tersiksa karena cemburu dan iri! Memang
aneh sekali watak orang muda kalau sudah terbius asmara!
"Hui Siang, kau begini manis, begini cantik jelita. Mana mungkin aku tidak cinta padamu dengan seluruh
hatiku?" terdengar oleh Kun Hong suara Bun Wan, namun aneh baginya, dia menangkap nada suara agak
mengkal.
"Ahhh, kanda Bun Wan, mana aku bisa percaya begitu saja? Cinta kasihku sudah aku buktikan, aku sudah
menyerahkan raga dan kesucianku kepadamu. Tapi kau? Wan-koko, kau bersumpahlah..."
Suara Bun Wan menghibur, tetapi tetap saja kemengkalan yang tadi masih tertangkap oleh pendengaran
Kun Hong yang amat tajam.
"Hui Siang... yang sudah-sudah mengapa kau tonjol-tonjolkan kembali? Kau tahu benar bahwa bukan
salahku semata, tapi kau... ah, kenapa kau begini cantik dan kau pula yang mendorongku dengan
sikapmu? Aku cinta padamu, tak perlu bersumpah."
"Aku percaya, kau seorang laki-laki gagah, tentu takkan menjilat ludah sendiri. Tapi... kau tentu segera
mengajak orang tuamu datang untuk melamarku kepada ibu, bukan? Betul ya, Koko? Jangan terlalu lama,
ya?"
"Hemm... soal itu... aku belum berani memastikan, kekasihku. Ayahku amat keras hati..."
Terdengar isak tangis tertahan. "Kau harus dapat membujuknya, Koko... kau harus bisa... kalau kau tidak
lekas-lekas datang kembali, aku akan menyusulmu ke Kun-lun, aku tidak peduli...!"
"Baiklah... kau tenang dan sabarlah. Dan jangan menangis, sayang pipimu yang halus menjadi basah.
Sekarang, buktikan bahwa kau benar-benar cinta padaku. Malam tadi kau berjanji hendak mengambil
benda itu dan memberikan kepadaku. Mana?"
Suara Hui Siang tiba-tiba berubah manja ketika ia menjawab sambil memeluk leher Bun Wan, "Koko yang
nakal, kau masih tak percaya setelah semua yang kulakukan padamu? Badan dan nyawa sudah
kuserahkan, apa lagi hanya benda macam ini. Sudah sejak tadi kubawa."
Kiranya gadis itu mengeluarkan sebuah benda yang bukan lain adalah mahkota kuno itu dan diberikannya
kepada Bun Wan! Pemuda itu menerimanya, memandangi dan menarik napas panjang.
"Heran sekali, benda macam ini saja diperebutkan orang. Hui Siang, andai kata ibumu dan orang-orang
lain tidak sedang pergi meninggalkan pulau, kiraku kau tidak akan berani mengambilkan benda ini
untukku."
"Ihh, siapa bilang? Sebaliknya, mana kau berani datang dan malam-malam mencari aku? Hi-hik, agaknya
kau sudah amat rindu kepadaku, ya? Dapat kulihat dari pandang matamu ketika kau datang dahulu..."
"Hemmm, sebaliknya kau pun selalu mengharapkan kedatanganku. Hayo sangkal kalau berani!" Dua orang
itu kini tertawa-tawa, diselingi cumbu rayu yang memanaskan telinga Kun Hong dan membuatnya tidak
betah tinggal di tempat persembunyiannya itu.
"Hui Siang, kalau aku sudah membawa pergi mahkota ini dan ibumu kembali, bagaimana kalau dia
bertanya tentang mahkota ini padamu?" Mendengar pertanyaan Bun Wan ini, seketika Kun Hong menaruh
perhatian penuh.
Eh, kiranya mahkota yang dia cari-cari itukah yang tadi disebut-sebut sebagai benda oleh mereka? Baru
sekarang dia tahu dan perhatiannya tertarik pula.
Hui Siang yang tadi baru menangis sekarang tertawa-tawa genit. "Apa sukarnya mencari jawaban itu? Aku
bilang saja bahwa enci Hui Kauw yang datang dan memaksaku minta mahkota itu. Habis perkara!"
"Enak saja kau membohong, apa ibumu bisa percaya? Kalau hanya ia yang datang, apa kau tidak bisa
melawan? Paling sedikitnya kepandaianmu tidak berada di sebelah bawah tingkatnya," bantah Bun Wan.
"Ibumu tentu tidak percaya."
dunia-kangouw.blogspot.com
"Koko yang tampan tapi bodoh. Kalau aku bilang bahwa enci Hui Kauw datang bersama si setan buta yang
membantunya, tentu ibu percaya."
Tiba-tiba Kun Hong merasa betapa tubuh Hui Kauw menggigil, napasnya agak memburu, tanda bahwa
gadis itu sedang marah bukan main. Benar saja dugaannya, karena Hui Kauw segera meloncat keluar dari
tempat sembunyinya dan membentak,
"Hui Siang apa yang kau lakukan ini? Ke mana harga dirimu sebagai seorang wanita? Kau membiarkan
dirimu dipermainkan nafsu dan tiada hentinya kau hendak melakukan fitnah! Dan kau manusia Bun,
sungguh kurang ajar berani kau melanggar susila di sini, keparat!"
Dapat dibayangkan betapa kagetnya hati dua orang muda yang sedang tenggelam dalam permainan
nafsu, ketika tiba-tiba Hui Kauw muncul sambil membentak marah itu. Lebih lagi Hui Siang yang merasa
sangat malu, terkejut dan heran. Perasaan-perasaan itu lalu berkumpul menjadi satu dan berubah menjadi
kemarahan besar.
"Budak hitam, tutup mulutmu! Ibu sudah tidak mengakui lagi kau sebagai anak angkatnya, kau bukan apaapa
denganku, mau apa kau mencampuri urusanku? Hayo minggat, kau hanya mengotori pulau ini dengan
telapak kakimu!" Sambil berkata demikian Hui Siang sudah mencabut pedang dan serta menyerang bekas
enci angkatnya itu dengan tusukan kilat.
Hui Kauw tenang saja. Dia menghindar sambil berkata, "Hui Siang, betapa pun juga, aku masih mengingat
hubungan antara kita semenjak kecil. Kau sudah tersesat...," suaranya mengandung kedukaan besar.
"Siapa sudi nasihatmu? Tengok dirimu sendiri, berjinah dengan jembel buta masih hendak rnengganggu
orang bercinta. Wan-koko, kau bantu aku bunuh mampus setan betina ini!"
Kembali Hui Siang menyerang, kini lebih hebat lagi. Dasar dia memang mempunyai ilmu pedang yang
ganas dan gerakan yang lincah, maka serangan ini tidak boleh dipandang ringan.
Hui Kauw maklum pula betapa lihainya adik angkat ini, maka sambil melompat menjauhi ia pun mencabut
pedangnya. Ia tidak berlaku sungkan lagi dan segera mengeluarkan ilmu pedang simpanannya yang
selama ini dirahasiakan.
Kaget bukan main Hui Siang karena tiba-tiba lawannya itu menggerakkan pedang secara aneh dan
membingungkan, sama sekali tak dikenalnya. Hebatnya, semua serangannya tenggelam tanpa bekas
menghadapi sinar pedang Hui Kauw yang aneh itu. Malah tidak demikian saja, selewatnya sepuluh jurus
gulungan sinar pedang Hui Kauw sudah sangat rapat menyelimuti dirinya, menghadang semua jalan keluar
dan ia terkurung rapat tanpa dapat balas menyerang lagi.
Tiada habis keheranan menekan hati Hui Siang. Selama ini, walau pun dia tidak berani menyatakan bahwa
tingkat kepandaiannya lebih tinggi dari pada Hui Kauw yang pendiam dan tidak suka pamer, akan tetapi
jika dibilang ia lebih rendah juga tidak mungkin. Sering kali mereka berlatih dan dalam latihan ini tak pernah
ia terdesak, biar pun mereka sudah berlatih pedang sampai seratus jurus lebih.
Akan tetapi mengapa baru belasan jurus saja ia sudah tidak berdaya oleh jurus-jurus yang amat aneh ini?
Mungkinkah ibu menurunkan ilmu istimewa kepadanya tanpa kuketahui? Tak mungkin, pikirnya. Malah
beberapa macam ilmu warisan ayahnya telah ia pelajari, di antaranya ilmu menguasai ular-ular, sedangkan
Hui Kauw tidak suka mempelajari ilmu ini kecuali ilmu untuk menolak ular.
"Wan-koko... kau bantulah aku...!" Tanpa malu-malu lagi Hui Siang berseru minta tolong kepada
kekasihnya.
Sementara itu, Bun Wan tadi berdiri terlongong dengan muka merah padam. Sama sekali dia tidak pernah
menyangka bahwa adegan antara dia dengan Hui Siang disaksikan oleh orang lain. Malunya bukan main,
apa lagi terhadap Hui Kauw yang sudah dia ketahui wataknya yang halus dan budi pekertinya yang jauh
berbeda kalau dibandingkan dengan Hui Siang atau ibunya.
Sudah beberapa kali dia datang berkunjung ke pulau ini dan diam-diam dia selalu merasa kagum kepada
Hui Kauw, nona bermuka hitam itu. Siapa kira nona yang dia segani dan kagumi ini sekarang menjadi saksi
hidup akan perbuatan dirinya bersama Hui Siang yang melanggar susila.
dunia-kangouw.blogspot.com
"Bun Wan koko, hayo kau bantu aku!" kembali Hui Siang berseru, kini suaranya penuh penyesalan
mengapa kekasihnya itu masih saja bengong dan tidak segera turun tangan membantunya yang sudah
sangat terdesak oleh gelombang sinar pedang Hui Kauw yang amat aneh.
Bun Wan sadar dari lamunannya dan ketika dia memandang, dia kaget menyaksikan betapa Hui Siang
yang ilmu pedangnya sudah amat lihai itu tidak berdaya menghadapi gempuran-gempuran Hui Kauw.
Cepat dia mencabut pedangnya dan pada saat tubuhnya berkelebat ke depan, sinar pedangnya yang
sangat kuat itu bergulung bagaikan naga mengamuk.
"Nona Hui Kauw harap mundur!" bentaknya dengan suara nyaring.
Dua gulungan sinar pedang bertemu dan keduanya lalu melompat mundur tiga langkah dengan kaget.
Masing-masing mengagumi getaran hebat yang keluar dari pedang lawan.
Ilmu pedang Bun Wan adalah Kun-lun Kiam-sut yang sudah terkenal sekali di seluruh permukaan bumi
akan kehebatannya. Juga pemuda ini adalah putera tunggal dari ketua Kun-lun-pai, tentu saja dapat
diketahui betapa hebat kepandaiannya apa lagi kalau diingat bahwa semenjak kecil memang pemuda ini
sangat gemar berlatih silat dan memang dia memiliki bakat yang baik.
Tadi ketika dia menerjang maju untuk mengundurkan Hui Kauw dan menolong kekasihnya yang terdesak,
dia hanya mengeluarkan jurus sederhana dengan penggunaan setengah bagian tenaga saja. Akan tetapi,
kagetlah dia ketika dia merasa betapa pedangnya telah membentur hawa pedang yang amat ampuh dan
luar biasa sehingga memaksa dia harus melompat mundur tiga langkah.
Sebaliknya, Hui Kauw kaget dan kagum sekali ketika ia dipaksa mundur oleh sinar pedang pemuda Kunlun
ini dalam satu gebrakan saja. Masing-masing berdiri dalam jarak enam tujuh langkah dan saling
memandang seperti hendak mengukur keadaan dan kekuatan masing-masing.
Akan tetapi Hui Siang yang sudah amat marah itu segera menerjang lagi, menyerang Hui Kauw dengan
besar hati karena ia kini mengandalkan bantuan kekasihnya.
"Hui Siang, kedatanganku ini bukan untuk bertempur denganmu, juga tidak ada urusanku dengan orang
Kun-lun ini. Akan tetapi menyaksikan perbuatan kalian yang tak tahu malu, benar-benar aku prihatin. Hui
Siang, kau dengarkan kata-kataku...!" Hui Kauw mencoba menyabarkan adiknya dan menghindarkan diri
dari beberapa tusukan.
"Tutup mulut, budak hitam. Kau harus mampus! Wan-koko, hayo kita binasakan budak hitam kurang ajar
ini!" Hui Siang memaki sambil menerjang terus. Dengan terpaksa Hui Kauw mengangkat pedangnya dan
kembali dua orang gadis itu bertempur hebat.
Bun Wan sudah menggerakkan pedang hendak membantu, akan tetapi tiba-tiba berkesiur angin dari
belakang tubuhnya. Cepat dia membabitkan pedangnya ke belakang, kemudian membalikkan tubuh dan
mengganti kedudukan kaki sekaligus melakukan tusukan ke arah belakang dengan lengan diputar.
Hebat gerakan ini dan seorang lawan yang membokongnya pasti akan dapat dirobohkan dengan jurus
yang hebat ini karena tidak akan menduganya. Akan tetapi, matanya hanya melihat bayangan berkelebat
lenyap. Begitu cepat gerakan bayangan ini. Tahu-tahu dia merasa punggungnya dilanggar tangan.
Cepat bagaikan kilat Bun Wan membalikkan tubuh dan kakinya mendahului dengan satu tendangan maut
ke bawah pusar dan pedangnya berkelebat dari atas pundak menyambar ke arah leher. Dia merasa yakin
bahwa serangannya kali ini pasti berhasil. Memang hebat bukan main gerakan pemuda Kun-lun ini.
"Bagus...!" terdengar suara orang memuji dan bayangan itu melompat mundur lima atau enam langkah
menghindarkan jurus dahsyat dari Bun Wan ini.
Kiranya bayangan itu adalah Kun Hong yang kini berdiri dengan tongkat di tangan kanan dan... mahkota
kuno di tangan kiri, tersenyum-senyum dan matanya yang buta tak berbiji itu menggetar.
Berdetak hati Bun Wan ketika melihat siapa orangnya yang tadi diserangnya itu, apa lagi saat melihat
mahkota itu. Otomatis tangan kirinya meraba punggung di mana buntalannya tersimpan. Mahkota kuno
dunia-kangouw.blogspot.com
yang dia terima dari Hui Siang tadi telah disimpannya di dalam buntalan pakaiannya. Tangan kirinya
meraba-raba dan hatinya mengeluh.
Mahkota itu sudah lenyap dan terang bahwa yang dipegang Kun Hong itulah mahkota tadi. Wajahnya
seketika menjadi pucat. Dia cukup maklum akan kesaktian Kun Hong yang pernah dia saksikan beberapa
tahun yang lalu di puncak Thai-san, akan tetapi setelah orang ini menjadi buta, bagaimana agaknya malah
lebih lihai dari pada dahulu?
Betapa pun juga, Bun Wan tidak takut dan dia melangkah maju sambil membentak, "Kwa Kun Hong!
Berkali-kali kau menghinaku dan agaknya sengaja hendak menjadi perintang jalan hidupku."
Kun Hong tersenyum pahit dan menggelengkan kepala sambil menarik napas. "Saudara Bun Wan.
Memang hidup ini ada kalanya aneh sekali. Agaknya jalan hidup kita sudah ditakdirkan oleh Thian selalu
saling memotong. Dahulu aku bersalah padamu, akan tetapi kesalahan yang tidak aku sengaja sama
sekali, dan untuk kesalahan itu pun aku sudah mengorbankan banyak sekali. Nyawa orang yang paling
kusayang di dunia ini beserta anggota badan yang paling kusayang pula kukorbankan. Akan tetapi
sekarang lain lagi, saudara Bun Wan. Aku berdiri di depanmu dan menentangmu bukan tidak sengaja
malah, karena kau yang berada di jalan sesat!"
Wajah yang pucat itu menjadi merah lagi, merah padam. Ucapan ini merupakan ujung pedang yang
seakan-akan menancap dl ulu hatinya.
"Kwa Kun Hong, agaknya kau memang seorang laki-laki yang tidak suka melihat orang lain bahagia. Aku
berbaik dengan seorang gadis cantik, ada hubungan apakah urusan ini denganmu? Apakah kau iri hati dan
berusaha hendak merampas lagi seperti dulu? Ho-ho, belum tentu bisa sekarang, sahabat, karena matamu
yang buta itu tidak menarik lagi untuk dipandang!"
Kun Hong menggeleng kepala, suaranya terdengar kereng, "Bun Wan, biar pun urusanmu dengan orangorang
wanita tidak ada sangkut-pautnya dengan aku, tetapi aku mengingat akan hubungan antara orangorang
tua kita, maka sudah sepatutnya pula apa bila aku menegur sikapmu yang tidak baik. Bukanlah
seorang gagah kalau suka mempermainkan wanita secara rendah! Meminang dan berjodoh sudah ada
aturan-aturannya sendiri dan kau maklum bahwa siapa yang melakukan hubungan di luar nikah, dia adalah
manusia berwatak rendah seperti binatang! Akan tetapi, kali ini aku tidak ada waktu mengurus hal itu. Yang
kumaksudkan tadi adalah mengenai mahkota ini. Benda ini bukan milikmu, juga bukan milik penghuni
Ching-coa-to. Aku tahu siapa yang berhak memiliki mahkota ini, oleh karena itu harus kuambil kembali."
"Kun Hong, kau terlalu menghinaku! Kembalikan mahkota itu!" bentak Bun Wan sambil menerjang dengan
pedangnya.
Kun Hong cepat mengelak dan diam-diam dia mengagumi gerakan pedang yang hebat ini. Terpaksa dia
pun menggunakan tongkatnya untuk menghadapi lawan tangguh ini. Tiga belas kali berturut-turut dia
menangkis sambil berkata,
"Bun Wan, aku tidak ingin bertempur denganmu, juga tidak ingin bermusuhan denganmu. Percayalah,
mahkota ini akan kuserahkan kepada yang berhak menerima. Kau biarkan aku pergi dengan aman dari
pulau ini."
Akan tetapi mana Bun Wan mau mengalah begitu saja? Dia menghendaki mahkota itu bukan semata-mata
karena ingin memilikinya atau untuk dijadikan tanda cinta kasih Hui Siang, sama sekali bukan. Ada alasan
yang lebih kuat baginya untuk memiliki mahkota itu, maka dia sekarang menjadi nekat dan melawan.
Pedang di tangan Bun Wan meluncur dengan gerakan miring dari samping kiri, menjurus ke arah tubuh
bagian bawah lengan atau iga kanan Kun Hong. Gerakan ini selain miring juga agak diputar sehingga
sekelebatan hawa tusukannya akan terasa datang mengarah punggung, sedangkan kaki kanan Bun Wan
dibanting ke depan untuk disusul tendangan kaki kiri ke arah sambungan lutut lawan. Inilah gerak tipu
dalam jurus Sin-seng Kan-goat (Bintang Sakti Mengejar Bulan) dari Ilmu Pedang Kun-lun Kiam-sut. Cepat
dan kuatnya bukan kepalang!
Kun Hong yang hanya mengandalkan pendengaran dan perasaannya, terkejut juga akan perubahan angin
tusukan pedang yang berubah-ubah itu. Cepat-cepat dia menekuk lutut mendoyongkan tubuh ke belakang,
mencokel dengan tongkatnya ke arah ujung pedang lawan. Kemudian, maklum akan gerak susulan
tendangan itu, siku lengannya memapaki untuk menotok pergelangan kaki lawan dengan ujung siku.
dunia-kangouw.blogspot.com
Aneh dan cepat gerakannya Kun Hong ini dan hampir saja kaki Bun Wan kena dihajar. Pemuda Kun-lun ini
mengeluarkan seruan kaget dan heran, cepat dia menahan kakinya dan menggeser kaki itu ke kanan untuk
meluputkan diri dari serangan susulan lawannya. Akan tetapi ternyata Kun Hong tidak menyerangnya.
Orang buta ini hanya diam tidak bergerak, siap sedia menanti penyerangan berikutnya.
Bun Wan mengeluarkan bentakan nyaring, mengumpulkan seluruh tenaga dalam, lantas pedangnya
berputaran cepat berubah menjadi gulungan sinar seperti payung. Kemudian, dari gulungan sinar itu
menyambar cahaya tiga kali berturut-turut, sekali mengarah ke tenggorokan, kedua kali mengarah ulu hati
dan ketiga kalinya mengarah pusar.
Kiranya pemuda Kun-lun itu dalam penasarannya telah mempergunakan beberapa jurus simpanannya.
Gerakan pertama tadi adalah jurus yang disebut Kim-mo Sam-bu (Payung Emas Menari Tiga Kali) disusul
gerakan menyerang Lian-cu Sam-kiam (Tiga Kali Tikaman Berantai).
"Hebat...!" Kun Hong memuji.
Terpaksa dia pun mengeluarkan kepandaian simpanannya untuk menghadapi serangan yang amat
dahsyat ini. Dari angin serangan saja dia maklum bahwa jangankan ujung pedang, baru angin yang datang
karena gerakan menikam ini saja mengandung bahaya besar karena mampu membolongi baju menembus
kulit daging.
Dia berseru keras dan tongkat di tangannya berubah menjadi kemerahan yang bergulung-gulung dan
mengeluarkan hawa dingin. Tidak terdengar suara benturan senjata, namun tahu-tahu pedang di tangan
Bun Wan tiga kali terpental balik, bahkan yang ketiga kalinya hampir saja melanggar pundak pemuda itu
sendiri. Hampir saja senjata makan tuan jika Bun Wan tidak segera melepaskan pegangannya dan
membiarkan pedangnya terpukul runtuh!
Dia berdiri dengan muka pucat, memandang pedangnya di atas tanah dan bergantian memandang
pemuda buta yang kini berdiri tegak di depannya dengan tongkat melintang di depan dada. Dada Bun Wan
serasa akan meledak. Dahulu pernah dia terhina oleh Kun Hong dalam urusan tunangannya, Cui Bi, yang
‘diserobot’ pemuda ini. Sekarang, untuk kedua kalinya dia menerima penghinaan, malah lebih hebat lagi.
Sementara itu, Hui Siang juga mati kutunya menghadapi Hui Kauw. Kalau Hui Kauw mau sudah sejak tadi
dia dapat merobohkan adiknya. Akan tetapi dia tidak tega dan sekarang melihat betapa Bun Wan sudah
kalah ia pun berseru nyaring, terdengar suara keras dan pedang di tangan Hui Siang mencelat dan terbang
entah ke mana!
Gadis cantik jelita yang galak itu, seperti juga Bun Wan, telah dilucuti. Kini ia pun berdiri tegak di depan Hui
Kauw dengan mata mendelik penuh kebencian. Akan tetapi Hui Kauw tidak peduli kepadanya, melainkan
bergerak melangkah ke depan Bun Wan.
Matanya mengeluarkan sinar berapi-api yang membuat Bun Wan bergidik. Ada sesuatu dalam sikap nona
muka hitam ini yang membuat dia tunduk dan bergidik.
"Orang she Bun! Tanpa sengaja aku tadi sudah mendengar semua perbuatanmu yang tak senonoh dan
sangat merusak kehormatan nama penghuni Ching-coa-to. Ingat baik-baik ucapanku ini. Biar pun mulai
sekarang aku tidak menjadi penghuni Ching-coa-to lagi, akan tetapi kalau kelak aku mendengar bahwa kau
tidak mau bertanggung jawab dan tidak mau menikah dengan adikku Hui Siang secara sah, aku
bersumpah akan mencarimu sampai dapat, dan mengadu nyawa!"
"Saudara Bun Wan, ucapan nona Hui Kauw ini memang betul. Sebagai laki-laki sudah berani berbuat
harus berani bertanggung jawab," kata pula Kun Hong.
Bun Wan tidak menjawab, hanya menarik napas panjang menekan perasaannya, ada pun Hui Siang yang
mendengar betapa saudara angkat yang dibencinya itu juga si mata buta bicara untuk kepentingannya, ia
hanya bisa terisak menangis.
"Kun Hong, mari kita pergi!"
dunia-kangouw.blogspot.com
Hui Kauw menyambar tangan Kun Hong dan keduanya dengan gerakan cepat laksana burung-burung
terbang, pergi dari pulau itu menuju pantai. Mereka tidak bicara sesuatu, tenggelam dalam perasaan
masing-masing ketika menyeberangi telaga.
Baru setelah mereka berdua meloncat ke daratan, Kun Hong berkata, "Nona..."
"Kun Hong, kuharap kau tidak menggunakan sebutan itu," potong Hui Kauw cepat-cepat.
"Hui Kauw, budi pertolonganmu kali ini besar sekali artinya. Aku sangat berterima kasih kepadamu dan
takkan melupakan bantuan ini selamanya. Kau benar seorang yang amat berbudi dan berhati mulia."
Sampai lama Hui Kauw tidak menjawab, membuat Kun Hong heran dan menduga-duga sambil memasang
telinga. Akan tetapi dia menjadi kaget ketika mendengar betapa gadis itu mengeluarkan suara keluhan lirih
seperti orang mengerang atau merintih.
"Hui Kauw, kau kenapakah...?" tanyanya sambil melangkah maju. "Apakah kau sakit? Kau terluka...?"
Mendengar suara yang mengandung penuh kekuatiran ini dan melihat wajah pemuda buta itu kerut merut,
Hui Kauw terisak perlahan tapi lalu ditahannya.
"Memang sakit, tak terperikan nyerinya... memang terluka, perih dan seperti ditusuk-tusuk jarum beracun
rasanya..."
Kun Hong seperti kena pukul, tunduk dan kerut di antara kedua matanya makin jelas. Dia lalu menarik
napas panjang, maklum apa yang dimaksud oleh gadis itu. Yang sakit adalah perasaannya, yang terluka
adalah hatinya. Dia maklum akan keadaan gadis itu. Dengan suara menggetar penuh keharuan dia
berkata, mukanya tetap tunduk,
"Hui Kauw, akulah orangnya yang membuat kau menjadi begini. Dosaku telah bertumpuk terhadapmu,
sebaliknya budimu amat besar bagiku sehingga tidak mungkin aku sanggup membalasnya. Kiranya tidak
mungkin selama hidupku aku akan dapat membalas budimu, biarlah kelak di penjelmaan lain aku terlahir
sebagai anjingmu atau kudamu..."
"Kun Hong... jangan kau bilang begitu...," suara Hui Kauw mengandung tangis.
"Hui Kauw, ucapanku tidak berlebihan. Tadinya kau hidup sebagai seorang nona majikan Ching-coa-to,
hidup aman tenteram dan berbahagia di pulau itu bersama ibu dan adikmu. Setelah aku datang, terjadi
mala petaka hebat menimpa dirimu. Malah paling akhir aku melakukan penghinaan, menolakmu di depan
umum. Hebat sekali penghinaan ini. Dan apa balasmu? Kau malah tadi membantuku untuk mendapatkan
kembali mahkota yang amat penting ini. Dengan pengorbanan terakhir lagi, yaitu permusuhan antara kau
dan Hui Siang. Aku tahu, peristiwa itu tidak memungkinkan kau kembali ke pulau lagi. Padahal kau hidup
sebatang kara... ahhh, Hui Kauw, bagaimana aku dapat balas menolongmu?"
Tiba-tiba Hui Kauw melangkah maju dan memegang kedua lengan Kun Hong. Pemuda buta ini merasa
betapa tangan itu agak dingin menggigil dan mencengkeram tangannya erat-erat. Dia pun balas
menggenggam sehingga dua puluh jari-jemari tangan itu saling genggam, menyalurkan perasaan hati
masing-masing yang menggelora.
"Kun Hong... Kun Hong... di samping perasaan iba di hatimu terhadapku, tidak adakah... rasa kasih sayang
sedikit saja?"
Suara hati Kun Hong meluap melalui mulutnya tanpa dia sadari lagi. "Demi Tuhan Yang Maha kasih, Hui
Kauw, aku... aku amat sayang kepadamu, aku amat kasih kepadamu semenjak pertama kali aku
mendengar suaramu..."
Hui Kauw mengeluarkan suara perlahan seperti orang merintih, lalu ia tiba-tiba merangkul leher Kun Hong
dan menangis di dada pemuda itu. Kun Hong menepuk-nepuk pundak serta mengelus-elus rambut yang
halus dan berbau harum itu sambil menghela napas berkali-kali.
"Terima kasih, Kun Hong. Kalau begitu... biarlah aku ikut denganmu ke mana saja kau pergi."
dunia-kangouw.blogspot.com
Sampai lama Kun Hong tak dapat menjawab. Kesadarannya kembali. Kemudian tergetar suaranya ketika
berkata, "Tidak mungkin, Hui Kauw... tidak mungkin... biar pun aku amat cinta kepadamu, tak mungkin aku
melakukan itu..."
"Mengapa tidak, Kun Hong? Bukankah kita berdua sudah pernah berlutut bersama-sama di depan meja
sembahyang biar pun kau kemudian menolaknya? Kun Hong, aku... aku... menganggap bahwa aku… aku
sudah menjadi... isterimu... apa pun yang terjadi... aku telah berhutang nyawa kepadamu dan aku... ahhh...
aku cinta kepadamu, Kun Hong..."
Kun Hong merasa betapa hatinya seperti ditusuk-tusuk. Dia lalu menggelengkan kepala keras-keras
karena terbayang dia akan wajah Cui Bi.
"Tidak, Hui Kauw, jangan begitu. Aku seorang buta, aku tidak berharga... tak berani aku membawa kau
turut menderita. Kau mulia dan agung, kau adalah seorang gadis cantik jelita seperti bidadari, kau patut
bersuamikan seorang pemuda yang berbudi dan gagah perkasa, menjadi isteri seorang pria yang
terhormat, bukan seorang jembel buta macam aku..."
"Tidak, tidak...! Kun Hong, engkau selalu merendahkan diri sendiri. Kau semulia-mulianya orang dalam
pandanganku. Walau pun kau buta, hatimu tidak buta. Tentang aku... ahhh, alangkah indahnya katakatamu
yang memujiku seperti bidadari. Sebenarnya aku buruk rupa, Kun Hong."
"Siapa bilang? Kau secantik-cantiknya orang, kaulah bidadari!" pemuda itu membantah dengan suara
keras.
Hui Kauw mengeluarkan suara ketawa aneh, pahit dan perih, kemudian ia melepaskan rangkulannya. "Kun
Hong, bagaimana kau begini yakin akan kecantikanku? Bukankah kau tak pandai… melihat?"
"Cukup dengan mendengar suaramu, Hui Kauw. Kalau aku... ehh, andai kata aku dapat meraba mukamu,
tentu aku akan lebih yakin lagi... tapi maaf, ini hanya seandainya..."
"Nah, kau rabalah! Kau rabalah biar kau tahu betapa mukaku hitam dan buruk."
"Aku tidak berani, Hui Kauw... aku tak berani kurang ajar padamu..." Kun Hong menolak akan tetapi
suaranya gemetar karena betapa pun juga, amat sangat inginnya dia meraba muka gadis itu untuk dapat
membayangkan bentuk mukanya.
"Kun Hong, aku telah dapat melihat mukamu sepuas hatiku, tapi kau... ahhh, kau rabalah supaya kau dapat
mengenalku, dapat mengenal seorang wanita yang selama hidup akan selalu mengenangmu, akan
mencintaimu selama hayat di kandung badan, biar kau telah menolaknya, biar kau tidak mau
menerimanya..." Sampai di sini Hui Kauw menangis.
"Hui Kauw...! Jangan bilang begitu."
Akan tetapi sambil menangis terisak-isak Hui Kauw menyambar kedua tangan Kun Hong, ditariknya ke
arah mukanya sambil tersendat-sendat berkata, "Rabalah... rabalah..."
Sepuluh jari tangan yang amat halus perasaannya itu meraba muka Hui Kauw yang basah air mata.
Seperti dalam mimpi Kun Hong meraba dahi yang halus tertutup rambut sinom berurai ke bawah, bergerak
ke bawah meraba alis yang panjang melengkung, pelupuk mata tipis terhiasi dengan bulu mata panjang,
sepasang pipi yang halus dengan bentuk sempurna, hidung yang kecil mancung, bibir yang lunak, dagu
meruncing, telinga, leher... lalu kembali lagi ke atas. Bibirnya bergerak-gerak mengeluarkan bisikan berkalikali,
"Kau cantik jelita... kau cantik jelita... ahhh, Hui Kauw... alangkah cantiknya engkau..."
Kata-kata ini memperhebat tangis gadis itu yang kembali memeluknya dan menempelkan muka ke
dadanya.
"Aduh, Kun Hong... selama aku hidup, baru sekali ini ada orang memuji kecantikanku... semua orang
mengejekku, mengatakan aku si muka hitam, si muka buruk... Kun Hong, kau kasihanilah aku, kalau betul
kau mencintaku seperti aku mencintamu, kau bawalah aku, biarlah aku ikut denganmu..."
dunia-kangouw.blogspot.com
Tiba-tiba Kun Hong sadar lagi. Dia memegang pundak gadis itu, didorong menjauhinya, lalu dia berkata,
suaranya tegas, "Hui Kauw, cukup semuanya ini! Kau adalah seorang gadis perkasa, tidak seharusnya
bersikap lemah. Aku pun harus malu akan kelemahan hatiku sendiri. Hui Kauw, mukamu tidak apa-apa.
Warna hitam itu hanya karena racun dan aku sanggup untuk mengobatimu, membuat kulit mukamu
kembali putih bersih. Biarlah aku mengobatimu agar kau mendapatkan kecantikanmu kembali, agar kau
dapat bertemu dengan jodoh yang terhormat, yang gagah, yang baik dan..."
"Diam!" Tiba-tiba Hui Kauw berteriak keras, agaknya marah sekali. "Kun Hong, jangan kau kira aku
seorang wanita semacam itu! Sekali aku sudah menyerahkan hatiku kepadamu, sampai mati aku akan
tetap bersetia. Meski pun kau tidak suka menerimaku, aku tetap menganggap diriku telah menjadi isterimu
dan selama hidup aku takkan menikah dengan orang lain. Biarlah mukaku tetap begini karena aku tidak
berniat menarik hati orang lain. Tapi, setidaknya, kau katakanlah mengapa hatimu sekeras ini. Aku dapat
merasa betapa kau pun benar-benar membalas cintaku, akan tetapi mengapa kau menolakku? Mengapa?
Aku bisa mati penasaran kalau kau tidak memberi tahu sebabnya."
Tak terasa lagi dua titik air mata membasahi pipi pemuda buta itu. Hui Kauw perih hatinya melihat pemuda
buta ini bisa pula menitikkan air mata. Ingin dia memeluknya, ingin dia menghapus air mata di muka si buta
itu, tapi dia tetap berdiri, menanti penjelasan.
"Hui Kauw, ketahuilah. Aku pun seorang manusia yang sudah menyerahkan hati kepada seseorang dan
berniat tetap bersetia kepadanya, biar pun ia sudah tiada lagi di dunia. Ia... ia mati karena aku, Hui Kauw..."
Kemudian dengan suara terputus-putus saking terharu, Kun Hong menceritakan kepada gadis itu tentang
Cui Bi, sekaligus mengenai kebutaan matanya.
Hui Kauw mendengarkan dengan mulut ternganga dan mata terbelalak, dan dari pelupuk matanya
mengucurlah air mata di sepanjang kedua pipinya. Dia demikian terpesona dan terharu oleh cerita itu
sehingga ia seperti tak merasa akan membanjirnya air matanya ini dan ia tidak mengusapnya. Makin lama
ia mendengarkan cerita Kun Hong, semakin tidak tahanlah ia dan akhirnya ia terisak-isak menangis ketika
Kun Hong menceritakan peristiwa yang terjadi di puncak Thai-san-pai.
"Aduh, Kun Hong...!" Hui Kauw akhirnya menubruk pemuda itu dan memeluknya. "Kau… kasihan sekali
kau... laki-laki yang berhati mulia, semulia-mulianya orang. Cinta kasihmu demikian suci murni... ah,
alangkah bahagianya Cui Bi. Aku iri kepadanya, Kun Hong. Aku pun mau mati seribu kali kalau bisa
mendapatkan cinta kasihmu seperti itu besarnya. Kasihan kau..."
Menghadapi gadis ini, tak dapat menahan pula Kun Hong akan jatuhnya dua titik air mata lagi di atas
pipinya. Lalu dia mengerahkan kekuatan batin menekan perasaannya.
"Sudahlah, Hui Kauw. Tiada gunanya bertangis-tangisan seperti ini. Sekarang kau tahu sendiri betapa tidak
mungkin aku memenuhi dorongan hatiku yang mengandung kasih sayang kepadamu. Kau maafkanlah
aku."
Hui Kauw melangkah mundur, mengusap air matanya. Kedua matanya kini memandang penuh
kekaguman, penuh perasaan kasih dan penuh iba. "Kau benar, Kun Hong. Biarlah aku mengalah dan
memang sudah nasib hidupku harus banyak menderita. Biarlah aku tak akan mengganggumu lagi. Akan
tetapi aku tetap bersumpah bahwa peristiwa di Pulau Ching-coa-to, di mana kau dan aku sudah berlutut di
depan meja sembahyang, tak akan dapat terhapus dari hatiku. Sampai mati aku akan menganggap bahwa
aku sudah menjadi milikmu lahir batin dan aku tidak akan menikah dengan orang lain. Selamat tinggal, Kun
Hong, kita akan bertemu kembali kelak, kalau tidak di dunia tentu di akhirat. Di sana aku akan minta
kepada Cui Bi agar ia rela membiarkan kau membagi cinta kasihmu sebagian untukku..." Gadis itu terisak
dan melompat pergi jauh meninggalkan tempat itu.
"Hui Kauw...! Biarkan aku mengobati mukamu...!" Kun Hong berteriak memanggil.
Akan tetapi Hui Kauw tidak berhenti hanya menjawab sambil berlari cepat, "Biarlah, Kun Hong. Apa
gunanya bagiku...?"
Dalam kalimat terakhir ini terkandung kepatahan hati yang membuat Kun Hong terduduk di atas tanah
saking perihnya hati dan perasaannya. Sampai lama dia duduk bersila di atas tanah di pinggir telaga itu
dan terbayanglah wajah Hui Kauw yang cantik jelita.
dunia-kangouw.blogspot.com
Sekarang dia sudah mengenal Hui Kauw, tidak hanya mengenal suaranya, juga mengenal bentuk
mukanya. Berkali-kali dia mengeluh panjang pendek, bukan main penderitaan hati yang penuh rindu
dendam. Dia merasa seakan-akan semangatnya sudah terbawa pergi oleh gadis itu. Dia berdongak dan
mulutnya berkemak-kemik.
"Cui Bi... Cui Bi... bantulah aku, perkuatlah hatiku..."
Dengan bisikan-bisikan ini dia merasa mendapat kekuatan baru dan wajah Cui Bi yang riang jenaka itu
perlahan-lahan mengusir bayangan Hui Kauw, dan memulihkan kembali ketenangan di dalam dadanya.
Entah beberapa jam lamanya dia duduk seperti itu, seperti seorang pertapa di tepi telaga. Tiba-tiba
terdengar suara orang, suara yang besar dan dalam, mengandung tenaga hebat.
"Waahhhhh, mimpikah aku atau betul-betul bertemu dengan Kun Hong di sini?"
Karena tadinya dalam keadaan melamun, Kun Hong kaget dan tidak mendengar suara ini dengan segera.
Akan tetapi dia merasa seperti telah mengenal suara ini, maka cepat dia bangun berdiri dan membalikkan
tubuhnya ke arah suara itu.
"Locianpwe (orang tua gagah) siapakah?" tanyanya sambil membungkuk dengan hormat.
"Ha-ha-ha! Hebat sekali! Matanya buta akan tetapi begitu aku membuka suara segera tahu bahwa aku
seorang tua bangka bangkotan. Ha-ha-ha!"
"Kakek Kwee...!" Kun Hong berseru girang sekali.
Song-bun-kwi Kwee Lun tertawa bergelak-gelak dan maju merangkul Kun Hong, memeluk pemuda buta
itu.
"Kun Hong, kau sudah tak pandai melihat tetapi bisa berkeliaran sampai di sini! Apa saja yang kau kerjakan
di sini? Wah tongkatmu itu entah sudah berapa banyak mengirim orang ke Giam-lo-ong (Raja Maut)?"
Kun Hong tertawa. "Locianpwe, mana saya berani menggunakan tongkat hadiahmu ini untuk membunuh
orang? Locianpwe hendak ke manakah?"
"Ha-ha-ha-ha, bagus, kau masih menghargai pemberian seorang tua bangka. Kun Hong, tahukah kau di
mana adanya Ching-coa-to?"
Kun Hong kaget. "Di seberang itulah Ching-coa-to. Locianpwe apakah mempunyai urusan dengan
penghuni Ching-coa-to?"
Bingung Song-bun-kwi bagaimana harus menjawab pertanyaan ini. Seperti kita ketahui, dia pergi mencari
Ching-coa-to hanya karena hatinya terkena ‘dibakar’ oleh si gadis nakal Loan Ki yang mengatakan bahwa
kalau kakek itu ingin dijotosi orang sampai mukanya matang biru, harus pergi ke Ching-coa-to. Hanya
karena kata-kata Loan Ki itu saja dia nekat mencari Ching-coa-to sampai dapat.
Bagaimana dia bisa mengatakan kepada Kun Hong bahwa dia mencari Ching-coa-to hanya karena itu?
Terhadap lain orang kakek ini bersikap tidak peduli dan mau membawa kehendak sendiri, mau menang
sendiri. Akan tetapi terhadap Kun Hong lain lagi sikapnya. Dia merasa kagum kepada pemuda ini dan tidak
menganggap pemuda buta ini sebagai seorang muda yang dipandang rendah.
"Tidak ada urusan apa-apa, hanya aku mendengar di sana banyak orang pandai. Ingin aku menyaksikan
dengan kedua mata dan kedua tanganku sendiri, ha-ha-ha!"
Kun Hong maklum akan watak kakek ini, juga tahu akan kesukaan kakek ini berkelahi mengadu
kepandaian. "Locianpwe terlambat. Memang banyak orang pandai di pulau itu, akan tetapi pada waktu ini
mereka semua sudah pergi meninggalkan pulau. Saya baru saja keluar dari sana."
"Kau? Ke sana? Wah-wah, agaknya banyak pengalaman hebat yang kau alami. Sayang, aku bermalasmalasan
di gunung, kalau aku ikut pergi bersamamu, sedikitnya aku akan ikut menikmati pengalamanpengalaman
itu. Apa yang kau cari di sana?"
dunia-kangouw.blogspot.com
Dengan singkat tanpa menyebut-nyebut soal Loan Ki serta Hui Kauw, Kun Hong lalu bercerita mengenai
mahkota yang dirampas dari tangan Tan Hok sampai mahkota itu terjatuh ke tangan orang-orang Chingcoa-
to dan bagaimana dia berhasil merampasnya kembali. Akhirnya dia menutup penuturannya,
"Mahkota ini biar pun benda kuno, akan tetapi amat penting, Locianpwe. Karena itu saya mati-matian
merampasnya kembali dan sekarang hendak saya antarkan kepada paman Tan Hok."
"Di mana adanya Tan Hok?"
"Tadinya paman Tan Hok pergi ke Thai-san-pai untuk minta bantuan paman Tan Beng San dalam hal
merebut kembali mahkota ini. Karena itu saya pikir, lebih baik saya susul ke Thai-san-pai untuk
menyerahkan mahkota ini kepadanya."
"Ke Thai-san-pai? Bagus sekali memang aku pun sudah lama kangen, hendak melancong ke Thai-san.
Kebetulan pula, aku pun ingin bertemu dengan ketua Thai-san-pai, mantuku yang pintar itu agar dia
memberi hajaran kepada anaknya yang goblok!"
Kun Hong melengak, tidak tahu apa maksud kata-kata ini. "Bagaimana dengan keadaan saudara Kong Bu
dan isterinya? Ahh, mereka selamat-selamat saja, bukan?"
Kun Hong tersenyum karena dia teringat akan keponakannya, Kui Li Eng yang sekarang sudah menjadi
nyonya Tan Kong Bu, ingat betapa keponakannya itu lincah jenaka, nakal seperti Loan Ki!
"Itulah. Mereka itulah yang menyakitkan hatiku dan hendak kuadukan kepada Beng San. Sialan betul aku
mempunyai cucu goblok!"
"Ehhh, mengapa, Locianpwe? Apa kesalahan saudara Kong Bu dan isterinya? Kalau ada kesalahan,
sayalah yang mintakan maaf dan ampun kepada Locianpwe..."
"Siapa orangnya yang tidak mendongkol. Di sini menanti-nanti, di sana enak-enak dan menganggap sepi
saja. Masa sampai empat tahun aku mengharap-harap, belum juga mereka mempunyai anak! Coba pikir,
apa ini tidak menjengkelkan?"
Mulut Kun Hong ternganga heran. "Anak...?"
"Ya, anak! Aku sampai mimpi setiap malam memondong cucu buyut. Dasar Kong Bu tidak becus!"
Hampir saja Kun Hong tak dapat menahan ledakan tawanya. Akan tetapi dia menekan perasaannya dan
tidak tertawa, maklum bahwa yang dia anggap lucu itu bagi kakek ini agaknya merupakan sebuah soal
yang amat gawat. Maka dia malah menghibur,
"Harap Locianpwe bersabar. Saya merasa yakin bahwa seorang gagah perkasa seperti Locianpwe ini,
kelak pasti dikurniai cucu buyut yang banyak!"
Benar saja. Omongan ini bagaikan segelas air es untuk seorang kehausan di tengah hari. Mendinginkan
perasaan. Kakek itu tertawa-tawa lagi dan berkata, "Kun Hong, kau harus lekas-lekas kawin! Orang seperti
kau ini tentu jauh lebih berharga dari pada cucuku Kong Bu. Aku tanggung bahwa kau kawin setahun aku
sudah akan dapat memondong anakmu yang pasti akan kuanggap cucuku sendiri. Ha-ha-ha, alangkah
senangnya kalau aku bisa menyaksikan anakmu dan menurunkan semua ilmuku padanya. Ha-ha-ha,
Song-bun-kwi si setan bangkotan akan mati dengan mata meram!"
Merah muka Kun Hong. Dia merasa jengah, akan tetapi juga terharu sekali karena di dalam kekasarannya,
kakek ini membayangkan kasih sayang yang sangat besar dan rasa kekeluargaan yang mendalam. Dia
berterima kasih sekali, akan tetapi untuk mencegah kakek ini melantur dan berkepanjangan mengenai
kawin, dia segera mengajak kakek itu berangkat ke Thai-san.
Akan tetapi, dia tidak dapat mencegah kakek itu menggali-gali soal lama ketika berkata, "Kun Hong, kau
tidak boleh selalu mengenang Cui Bi. Yang sudah mati sudahlah. Kau masih hidup dan kau harus mencari
gantinya. Seorang yang tidak berketurunan adalah orang yang paling puthauw (murtad) di dunia ini! Kau
tirulah pamanmu Beng San. Dahulu dia sampai menjadi gila ditinggal mati oleh anakku, akan tetapi
kemudian dia toh dapat berbahagia dengan Li Cu dan punya anak lagi!"
dunia-kangouw.blogspot.com
Kun Hong berdebar keras jantungnya, akan tetapi dia diam saja tidak menjawab, hanya hatinya berdoa
supaya kakek itu tidak berkepanjangan bicara tentang hal yang amat tidak enak baginya itu.
Mendapat penunjuk jalan seperti Song-bun-kwi, tentu saja Kun Hong dapat melakukan perjalanan yang
amat cepat. Di sepanjang jalan, tiada hentinya Song-bun-kwi mengobrol dan hanya pada pemuda inilah dia
dapat mencurahkan semua isi hatinya.
Beberapa hari kemudian sampailah mereka di lereng Thai-san. Keduanya lantas merasa terheran-heran
melihat kesunyian daerah sekitar puncak. Kalau jantung Kun Hong merasa berdebar-debar karena teringat
akan Cui Bi dan semua peristiwa yang terjadi di puncak ini empat tahun yang lalu, adalah Song-bun-kwi
yang terheran-heran dan mulai merasa tidak enak hatinya.
"Kun Hong, mengapa begini sunyi di sini? Biasanya tentu ada anak murid Thai-san-pai yang hilir mudik.
Mengapa Thai-san-pai sekarang begini sepi?"
"Locianpwe, lebih baik kita langsung naik ke puncak saja, agaknya para anak murid sedang dikumpulkan di
puncak oleh paman Tan Beng San. Siapa tahu datangnya paman Tan Hok mendatangkan perubahan di
Thai-san-pai karena menghadapi urusan penting."
"Huh, orang-orang muda itu selalu ribut-ribut saja tentang urusan negara. Huh, bosan aku! Kaisar dan para
pembesar istana itu orang-orang apa sih? Mereka juga manusia biasa seperti kita! Akan tetapi mengapa
untuk segelintir dua gelintir manusia seperti itu, untuk jatuh bangunnya seorang dua orang kaisar, selalu
rakyat yang laksaan banyaknya harus dijadikan korban?"
Kalau saja Kun Hong belum mendengar filsafat dari mulut Tan Hok, tentu dia akan setuju seratus prosen
terhadap pendapat kakek itu. Akan tetapi sekarang, berdasarkan filsafat dari Tan Hok, dia sudah
mempunyai pendapat yang lebih jelas tentang urusan negara. Tanpa pemimpin yang menentukan hukumhukum
negara, tak akan ada kehidupan yang tenteram, tidak akan ada tata-tertib karena rakyat hanya akan
mengenal hukum rimba, hukumnya dunia persilatan.
Bayangkan saja kalau yang berkuasa adalah orang macam kakek ini, yang tidak pedulian, yang aneh,
kadang-kadang amat kejam, akan jadi apakah penghidupan ini? Negara harus ada pengaturnya, rakyat
harus ada pemimpinnya, mencontoh keadaan alam semesta.
Alam semesta ini pun membutuhkan pimpinan dan penguasa yang mengatur segalanya. Bayangkan saja,
tanpa adanya Tuhan Seru Sekalian Alam, tanpa ada kekuasaan Tuhan Yang Maha Kuasa, alangkah akan
kacau-balaunya alam semesta ini. Mungkin matahari akan kehilangan panasnya, bintang-bintang akan
saling bertubrukan, akhirnya segalanya akan hancur lebur!
Demikianlah, rakyat dan negara harus mempunyai pimpinan. Dan segala keributan terjadi, segala perang
saudara pecah, disebabkan masing-masing golongan, masing-masing fihak menghendaki calon pimpinan
pilihan hati masing-masing. Tentu saja ini karena menurut keyakinan masing-masing, pilihan hati itu adalah
orang-orang yang mereka percaya akan mampu menjadi pemimpin yang baik.
Sekarang terjadi perebutan tahta kerajaan, tentu saja bagi para pembesar itu karena mereka
memperebutkan kedudukan yang akan menjamin hidup kaya raya dan terhormat. Tetapi bagi rakyat yang
mati-matian membela mereka, dasarnya hanyalah ingin memiliki para pemimpin yang benar-benar akan
dapat membawa kesejahteraan dan kebahagiaan bagi kehidupan rakyat.
Karena mempunyai dasar filsafat ini, maka Kun Hong hanya tersenyum saja mendengar ucapan Song-bunkwi
tadi. Ia tak menjawab melainkan mengajak kakek itu terus mendaki puncak. Kalau bukan Song-bun-kwi
yang menjadi penunjuk jalannya, Kun Hong tak akan berani mengajak naik ke puncak karena dia maklum
bahwa menaiki puncak Thai-san merupakan perjalanan yang jauh lebih sulit dan berbahaya dari pada
memasuki Pulau Ching-coa-to! Akan tetapi, kakek itu pernah tinggal di situ dan karenanya hafal benar akan
semua rahasia di puncak Thai-san.
Setelah melalui jalan rahasia yang berakhir dengan sebuah terowongan, akhirnya mereka sampailah di
puncak Thai-san. Mereka meloncat ke luar dari mulut terowongan yang juga merupakan sebuah goa
rahasia.
Kagetlah Kun Hong ketika dia mendengar Song-bun-kwi berseru keras, "Celaka...!"
dunia-kangouw.blogspot.com
Hidung dan telinga Kun Hong meneliti penuh perhatian, namun tidak ada sesuatu yang aneh bagi
penciuman serta pendengarannya. Terpaksa dia bertanya kuatir, "Locianpwe, ada apakah?"
Kakek itu melangkah maju, terus maju, diikuti dari belakang oleh Kun Hong yang mulai merasa gelisah
karena tempat ini benar-benar sunyi. Setelah tiba di puncak, kenapa Beng San dan isterinya, juga muridmurid
Thai-san-pai tidak ada yang keluar menyambut?
"Locianpwe, kenapa begini sunyi?" Ada apakah? Di mana mereka, mengapa tidak ada orang menyambut
kita?"
Masih saja Song-bun-kwi berjalan ke sana ke mari, berputar-putaran di sekitar puncak. Kemudian dia
membanting-banting kaki dan berkata, "Celaka... agaknya belum lama ini Thai-san-pai tertimpa mala
petaka. Wah, hebat...! Kun Hong, Thai-san-pai telah dibakar orang, dibasmi sampai semua pohonpohonnya
habis dan rusak binasa."
"Apa...?!" Kun Hong berteriak, lalu melangkah ke sana ke mari, tangan yang memegang tongkat merabaraba
tanah yang sudah rata dan tidak ada sebatang pun pohon tumbuh lagi di sana. "Bagaimana hal ini
bisa terjadi...?" pertanyaan ini keluar dari hatinya yang penuh kegelisahan, terdengar agak gemetar.
"Bagaimana kita bisa tahu? Tidak ada seorang pun tinggal di sini. Agaknya mereka semua sudah..." Songbun-
kwi sendiri yang biasanya tidak pedulian itu, kini sikap dan bicaranya tidak bisa percaya kalau Thaisan-
pai dapat dibakar dan dibasmi orang dan semua penghuni puncak Thai-san sampai lenyap semua.
"Tidak mungkin, Locianpwe! Tak mungkin paman Beng San beserta bibi dan semua anak murid dapat
dibasmi begitu saja! Aku tidak percaya!"
"Tuh di sana ada bayangan orang bergerak, mari kita ke sana!" tiba-tiba kakek itu berseru dan menarik
tangan Kun Hong diajak lari menuruni puncak, lalu mendaki sebuah puncak yang lebih kecil.
Setelah tiba di situ, dia melihat bayangan orang tadi ternyata adalah seorang laki-laki yang kini sedang
duduk bersila di sebuah kuburan yang puluhan jumlahnya. Kuburan-kuburan yang masih baru mengelilingi
orang yang berpakaian putih itu, rambutnya awut-awutan seperti orang kurang waras.
Meremang bulu tengkuk Song-bun-kwi melihat kuburan-kuburan ini. Bukan karena merasa seram, karena
dia sendiri adalah seorang iblis yang tidak takut akan sesuatu, apa lagi hanya kuburan dan orang aneh itu.
Akan tetapi yang membuat dia merasa seram dan ngeri adalah dugaan yang timbul pada waktu melihat
kuburan-kuburan itu. Siapa tahu di antaranya adalah kuburan Beng San dan Li Cu!
Segera dia melompat ke depan dan sekali sambar saja sudah berhasil mencengkeram leher laki-laki itu
sambil membentak dengan suara menyeramkan, "Siapa kau dan apa yang kau lakukan di sini?!"
Tubuh itu sudah dia angkat tinggi-tinggi dan siap dibantingkan ke atas batu-batu besar yang banyak
terdapat di tanah kuburan itu. Akan tetapi dengan gerakan yang tangkas dan cekatan sekali, orang itu
menggoyang tubuh dan...
"Brettttt!" leher bajunya robek akan tetapi dia berhasil melepaskan diri dari cengkeraman Song-bun-kwi!
Kakek ini kaget dan kagum. Jarang ada orang, apa lagi semuda itu, dapat melepaskan diri dari pada
cengkeraman tangannya. Dia sudah siap untuk menerjang lagi karena sekaligus timbul rasa penasaran,
juga kegembiraannya sebab akan mendapat lawan yang lumayan.
Akan tetapi tiba-tiba orang itu berseru, "Kwee-locianpwe...!"
Lalu dia menjatuhkan diri berlutut dan menangis menggerung-gerung. Di antara tangisnya, dia menyebut
nama Kun Hong.
"Kwa-taihiap... celaka...!" Sangat sukar dia bicara karena tangisnya terus menyesakkan kerongkongannya.
Bukan main kagetnya hati Song-bun-kwi ketika mengenal bahwa orang yang mukanya pucat seperti mayat,
matanya cekung dan tubuhnya kurus dengan rambut awut-awutan dan pakaian putih seperti orang gila ini
ternyata bukan lain ialah Su Ki Han, murid kepala Thai-san-pai!
dunia-kangouw.blogspot.com
"Ki Han, bukankah kau ini? Apakah yang terjadi? Hayo cepat ceritakan!" Sepasang mata Song-bun-kwi liar
memandang ke arah tanah-tanah kuburan yang masih baru itu.
Ada pun Kun Hong yang mendadak merasa kedua kakinya lemas saking gelisahnya, lalu duduk di atas
sebuah batu besar, telinganya mendengarkan penuh perhatian. Jantungnya berdebar-debar, karena
kebutaannya membuat dia tidak dapat melihat sesuatu dan hal ini menambah kegelisahannya.
Alangkah besar keinginan hatinya untuk dapat menyaksikan dengan mata kepala sendiri bagaimana
keadaan puncak Thai-san yang dikatakan telah rusak binasa dan terbasmi itu. Hampir-hampir saja tak
dapat dia percaya bahwa tempat tinggal pamannya yang demikian saktinya itu dapat dihancurkan oleh
musuh.
"Ahhh, Kwee-locianpwe... celaka sekali... mala petaka hebat menimpa Thai-san-pai, dua pekan yang
lalu..."
"Ki Han, bukankah kau murid kepala Thai-san-pai? Mengapa sekarang menangis seperti anak kecil? Huh,
mana jiwa pendekarmu? Memalukan sekali. Hayo, bangun kau bicara yang betul kalau tidak mau
kutendang mampus!" bentak Song-bun-kwi.
Su Ki Han, murid Thai-san-pai yang hancur luluh perasaan hatinya oleh kedukaan itu jadi terbangun
semangatnya. Dia segera bangkit berdiri, menunduk dan berkata, "Maafkan saya, Locianpwe, maafkan
kelemahan hati saya yang tidak kuat menderita kedukaan ini. Siapa orangnya yang tidak akan hancur
hatinya. Thai-san-pai hancur binasa, siauw-sumoi (adik seperguruan kecil) diculik orang, subo pun lenyap
melakukan pengejaran, kemudian suhu juga turun gunung mengejar, bahkan menyatakan bahwa Thai-sanpai
dibubarkan untuk sementara waktu. Sembilan orang sute-ku tewas, sisanya sekarang tersebar tidak
karuan. Kwee-locianpwe, hati siapa takkan menjadi sedih?"
Terdengar teriakan menyeramkan keluar dari kerongkongan Kun Hong yang telah bangkit berdiri dengan
muka pucat.
"Iblis jahanam! Siapa berani melakukan hal itu terhadap Thai-san-pai? Su Ki Han, hayo kau ceritakan
sebenarnya apa yang telah terjadi!" Suara Kun Hong menggeledek, tanda bahwa dia dalam keadaan
marah besar sehingga mendatangkan rasa kaget dan heran pada Song-bun-kwi yang biasanya mengenal
pemuda itu sebagai seorang yang sangat lemah lembut dan penyabar.
Sebetulnya hal ini tidaklah aneh. Kun Hong cukup maklum betapa hancur luluh hati ibu Cui Bi ketika gadis
kekasihnya itu tewas secara menyedihkan. Sekarang, setelah memiliki seorang anak perempuan lagi
sebagai pengganti diri Cui Bi, ternyata hilang diculik orang. Thai-san-pai dibasmi dan dibumi-hanguskan,
anak-anak murid Thai-san-pai banyak yang tewas. Sungguh-sungguh ini merupakan mala petaka yang
maha hebat dan inilah yang menyakitkan hatinya.
Dengan suara tersendat-sendat saking sedihnya, Ki Han kemudian bercerita, bagaimana orang-orang Peklian-
pai dan Kong-thong-pai yang marah sekali datang menyerbu hingga terjadi pertempuran yang amat tak
dikehendaki ketua Thai-san-pai, karena maklum bahwa bentrokan di antara mereka yang sehaluan itu
adalah karena hasutan dan fitnah musuh rahasia. Diceritakan pula betapa kemarahan Pek-lian-pai dan
Kong-thong-pai itu adalah karena kematian Tan Hok dan murid-murid Kong-thong-pai yang terjadi di lereng
Thai-san dan yang mereka katakan dilakukan oleh anak-anak murid Thai-san-pai.
Lalu bagaimana pada saat pertempuran berlangsung, puncak Thai-san-pai diserbu musuh yang tidak
diketahui siapa. Nyonya ketua Thai-san-pai dengan gagah berani masih dapat menghalau pihak musuh,
akan tetapi tidak dapat mencegah penculikan terhadap Cui Sian puterinya dan pembunuhan terhadap para
pelayan.
Dengan air mata bercucuran Ki Han menutup ceritanya, "Kwee-locianpwe... Kwa-taihiap... alangkah hancur
hati saya melihat suhu seperti itu. Suhu lalu mengamuk setelah subo (ibu guru) pergi melarikan diri untuk
mencari puterinya... Suhu menghancurkan segala yang ada di puncak... lalu menyatakan pembubaran
Thai-san-pai..."
"Iblis neraka!" Song-bun-kwi membanting kakinya saking marahnya. "Keparat Pek-lian-pai dan Kong-thongpai!
Awas kalian, Song-bun-kwi akan melakukan pembalasan, membasmi semua orang Kong-thong-pai
dari muka bumi."
dunia-kangouw.blogspot.com
Tiba-tiba Su Ki Han memandang terbelalak ke depan, lalu dia menjadi pucat dan berkata, "Kwa-taihiap..."
Song-bun-kwi cepat memutar tubuh memandang ke arah Kwa Kun Hong dan dia sendiri pun terbelalak.
Bukan main keadaan Kun Hong pada waktu itu. Berdiri tegak dengan alis mata seolah-olah berdiri,
sepasang mata yang buta itu terbuka lebar dan memperlihatkan rongga dalamnya yang kosong
menghitam.
Mukanya berubah merah bagai terbakar, tubuhnya menggigil hingga mengeluarkan hawa getaran,
hidungnya kembang-kempis, mulutnya terbuka berkali-kali tanpa mengeluarkan suara. Tangan kanannya
memegang tongkat dan tangan kirinya bergerak-gerak perlahan dengan jari-jari terbuka tertutup seperti
cakar harimau hendak mencengkeram.
Mendadak kedua tangannya membuat gerakan berbareng yang sangat aneh, tangan kiri mencengkeram
ke depan dengan gerakan melengkung dari bawah ke atas miring ke kanan, sedangkan tangan kanan yang
memegang tongkat membuat gerakan membabat dari kanan ke kiri, menyerong dari atas ke bawah.
Gerakan yang berlawanan dari kedua tangan itu menimbulkan suara angin bersiut keras dibarengi
bentakannya yang bukan main hebatnya.
"Haaiiiittttttt…!"
Hebat akibatnya. Batu besar berwarna hitam, sejenis batu gunung yang amat keras, yang tadi dia duduki,
terkena serangan ini. Batu itu sama sekali tidak bergerak, seakan-akan tangan kiri dan tongkat tadi lewat
begitu saja menembus batu, sedangkan kedua kaki Kun Hong membuat gerakan ke depan, langkah ajaib.
Ketika tubuhnya menggeser lewat meninggalkan batu itu, mendadak batu itu bergoyang dan runtuh bagian
atasnya, sapat di tengah-tengah seperti agar-agar teriris pisau tajam, belah menjadi dua dan bagian atas
yang terkena cengkeraman tangan kiri tadi, perlahan-lahan runtuh hancur seperti tepung!
Song-bun-kwi memandang dengan dua mata terbelalak dan mulut ternganga. Dia melihat betapa dari
ubun-ubun kepala Kun Hong mengepul uap berwarna putih, betapa muka yang kini menjadi sangat
menyeramkan itu mengeluarkan keringat besar-besar seperti kacang kedele, dan betapa dada pemuda
buta itu melembung seperti hendak meletus.
Sekali lagi Kun Hong yang meraba-raba dengan tongkatnya mendapatkan batu besar dan langsung
diserangnya seperti tadi. Sekali serang dengan gerakan aneh tadi, batu itu pun hancur lebur tanpa
mengeluarkan suara!
Sekarang dia melangkah lagi dan mulutnya berbisik-bisik. "Keji... keji... manusia-manusia iblis... keji...!"
Tiba-tiba Song-bun-kwi melayang ke depan sambil berseru, "Kun Hong, ingat! Kau bisa mencelakakan
dirimu sendiri. Ingatlah dan tekan perasaanmu...!"
Tubuh kakek itu menyambar ke depan dengan maksud hendak memegang pundak Kun Hong dan
menyadarkannya. Akan tetapi alangkah kaget dan ngeri hatinya ketika tiba-tiba Kun Hong memapakinya
dengan gerakan persis seperti tadi, tangan kiri mencengkeram dan tongkat membabat.
"Ayaaa... celaka...!" Kakek itu memekik.
Cepat dia mengerahkan segenap tenaganya, melejit merendahkan tubuh untuk mengelak dari pada
sambaran maut tongkat itu sedangkan kedua tangannya dia pergunakan untuk menghantam lengan kiri
Kun Hong yang bercuitan bunyinya mengarah iganya.
Juga kali ini tak terdengar suara ketika lengan kiri Kun Hong bertemu dengan dua lengan kakek itu. Akan
tetapi akibatnya hebat bukan main.
Tubuh kakek itu terlempar seperti selembar layang-layang putus talinya, kemudian jatuh berdebuk dalam
jarak enam tujuh meter jauhnya. Sedangkan tubuh Kun Hong dengan kedudukan kaki masih tetap seperti
tadi, tergeser mundur sampai satu meter lebih, kedua kakinya membuat guratan dalam tanah sedalam
sepuluh senti!
Song-bun-kwi tertawa bergelak dengan suara aneh menyeramkan, lalu dia merangkak bangun dan... darah
segar tersembur ke luar dari mulutnya!
dunia-kangouw.blogspot.com
"Hebat... hebat... bukan main...!" Dia mengomel lalu menjatuhkan diri duduk bersila, sekali lagi muntahkan
darah segar. Dia lalu meramkan mata mengatur napas karena benturan tadi telah mendatangkan sakit di
dalam dadanya, tanda bahwa ia telah terluka dalam!
Ada pun Kun Hong yang tadinya seperti orang kemasukan setan, sekarang agaknya baru sadar. Dia
melongo, menoleh ke sana ke mari, lalu... menangis terisak-isak, menyebut-nyebut nama Cui Bi. Kiranya
pemuda ini karena sangat hancur hatinya mengingat akan nasib paman dan bibinya, sekaligus teringat
kepada Cui Bi.
Ki Han tidak berani bergerak dari tempat dia berdiri. Dia tadi melihat kejadian yang amat hebat. Belum
pernah selama hidupnya dia menyaksikan ilmu kesaktian seperti tadi. Dia merasa seram dan ngeri, juga
merasa sedih karena kedukaan Kun Hong itu seperti pisau yang merobek kembali luka dalam hatinya. Dia
hanya berdiri dengan air mata bercucuran.
Berkat hawa murni dan tenaga dalam yang sudah amat kuat, benturan pukulan sakti tadi tidak
mengakibatkan luka parah di dalam dada Song-bun-kwi. Beberapa menit kemudian dia telah dapat
menyembuhkan akibat yang menimbulkan rasa nyeri di dada. Dia segera membuka mata, memandang
Kun Hong yang sedang terisak-isak menangis. Cepat kakek ini melompat bangun dan dengan langkahlangkah
lebar ia menghampiri Kun Hong, terus merangkulnya.
"Uhh, dengan jurus sakti yang kau miliki tadi, tidak patut kau mengeluarkan air mata, Kun Hong. Hebat
sekali gerakanmu tadi dan hampir nyawaku yang sudah tua ini melayang kalau aku tadi tidak cepat-cepat
mengelak. Bukan main!" Dia memuji dengan muka berseri gembira sekali.
"Kwee-locianpwe, aku akan membalas dendam ini! Aku tidak terima paman Beng San dan bibi dihina dan
diperlakukan seperti ini. Aku akan mencari Cui Sian sampai dapat dan aku bersumpah takkan mau hidup
lagi kalau tidak dapat membalas kejahatan orang-orang itu!"
"Ha-ha-ha, ini baru ucapan seorang jantan! Benar, Kun Hong, kejahatan harus ditumpas habis. Dan
dengan jurus yang kau miliki tadi, tak akan ada tokoh di dunia ini yang akan mampu melawanmu. Ha-haha!"
Kun Hong yang sudah berhenti menangis itu terheran. "Locianpwe, jurus apa yang kau maksudkan? Aku
tadi hampir pingsan oleh kemarahan yang menyesakkan dada, aku tidak sadar lagi yang kulakukan."
"Ha-ha-ha, hampir kau memukul mampus padaku, masa kau tidak ingat?"
Bukan main kaget hati Kun Hong. Disangkanya kakek yang biasanya memang berwatak aneh dan gilagilaan
ini main-main dengannya.
"Saudara Su Ki Han, betulkah kata-kata Kwee-locianpwe ini?"
Murid kepala Thai-san-pai itu sudah cukup memiliki dasar ilmu silat tinggi sehingga dia maklum apa yang
telah terjadi tadi. Dia menjawab, "Saya tidak mengerti apa yang telah terjadi, Taihiap. Hanya tadi saya
melihat Taihiap memukul hancur dua buah batu besar, kemudian ketika locianpwe mendekat, Taihiap
menyerangnya sehingga terjadi benturan yang mengakibatkan..." Dia tidak berani melanjutkan.
Song-bun-kwi tertawa. "Ha-ha-ha, akibatnya aku terlempar dengan nyawa hampir putus! Hebat sekali, Kun
Hong."
Pemuda itu bingung. "Tetapi... benar-benar saya tidak tahu dengan jurus apa saya telah berlancang tangan
menyerang Locianpwe."
Song-bun-kwi adalah seorang tokoh besar dunia persilatan. Tentu saja pengetahuannya dalam hal ilmu
silat amatlah mendalam dan luas. Dia dapat menduga bahwa kemarahan dalam batin si buta itu membuat
dia melakukan gerakan otomatis yang timbul dari pada dasar tenaga sakti di dalam tubuhnya. Dengan
demikian terciptalah sejurus pukulan yang luar biasa hebat tanpa disadari oleh pemuda itu sendiri. Dia tahu
pula bahwa Kun Hong memiliki pendengaran yang amat tajam sebagai pengganti mata, maka dia lalu
berkata,
"Kau pinjamkan sebentar tongkatmu kepadaku, biar kucoba tiru gerakanmu tadi. Nah, kau tadi membabat
dengan tongkat begini!"
dunia-kangouw.blogspot.com
Song-bun-kwi seberapa dapat dan seingatnya melakukan gerakan seperti yang dilakukan Kun Hong tadi
dengan tongkat itu, membabat dari kanan ke kiri miring dari atas ke bawah.
Kagetlah Kun Hong. Itulah sebagian dari pada jurus Pedang Im-yang Sin-kiam yang dulu dia dapatkan dari
Tan Beng San.
"Dan berbareng tangan kirimu mencengkeram dari kiri ke kanan mengarah iga, bergerak dari bawah
seperti ini, tetapi mengeluarkan suara bercuitan." Kembali kakek itu meniru pukulan atau cengkeraman dari
tangan kiri Kun Hong tadi.
Sekali lagi Kun Hong terkejut. Itulah ilmu pukulan dari Kim-tiauw-kun yang paling hebat, seperti juga
gerakan pedang tadi merupakan jurus simpanan yang rahasia dari Im-yang Sin-kiam.
"Kau melakukan dua gerakan ini sekaligus menjadi sebuah jurus yang sakti, tentu saja aku tidak mampu
melakukannya, karena tampaknya berlawanan sekali gerakan itu, juga sambaran tenaga dari kedua
tanganmu berlawanan. Benar-benar aneh dan hebat sekali. Kun Hong coba kau mainkan lagi jurus ini,
dengan kedua tanganmu, ingin sekali aku menyaksikan sekali lagi!" Dia mengembalikan tongkatnya.
Kun Hong ragu-ragu. Menurut teori, tidak mungkin kedua macam pukulan itu disatukan, sungguh pun
keduanya dia faham benar. Ilmu Silat Im-yang Sin-hoat biar pun terdiri dari penggunaan dua macam
tenaga, tetapi tenaga Im-kang dan Yang-kang selalu digunakan secara bergantian untuk membingungkan
lawan. Karena pergantian-pergantian yang tidak terduga-duga inilah maka ilmu itu merupakan ilmu yang
selama ini dapat merajai dunia persilatan. Akan tetapi bagaimana mungkin mempergunakan dua macam
tenaga dalam satu gerakan? Namun demikian, mendengar kesungguhan suara kakek itu, dia merasa tidak
enak kalau tidak mau mencobanya.
"Baiklah, akan kucoba, Locianpwe. Mengharap petunjuk Locianpwe yang berharga..."
Setelah berkata demikian, Kun Hong memasang kuda-kuda dari Ilmu Silat Kim-tiauw-kun, kemudian dia
mengerahkan tenaga karena dia ingin bergerak sungguh-sungguh. Tangan kirinya menyambar dibarengi
sambaran tongkatnya dari kanan. Terdengar suara bercuitan seperti tadi, akan tetapi tiba-tiba Kun Hong
mengeluh, tubuhnya limbung dan... dia roboh pingsan dengan muka pucat!
"Ah-ahh... sudah kuduga... waah, tua bangka goblok." Song-bun-kwi memukuli kepalanya sendiri lalu cepat
dia berlutut mendekati Kun Hong dan memeriksanya.
Napas pemuda buta itu empas-empis, tubuhnya sebentar panas dan sebentar dingin, mukanya sebentar
pucat sebentar merah. Kakek itu setelah memeriksa jalan darahnya, kaget mendapat kenyataan bahwa di
dalam tubuh itu, dua kekuatan yang berlawanan sedang saling desak untuk menguasai tubuh itu.
Inilah berbahaya, pikirnya, karena gempuran-gempuran yang terjadi antara dua macam hawa sakti ini akan
dapat merusak jantung Kun Hong. Dia sendiri adalah seorang yang ahli dalam tenaga sakti Yang-kang,
maka segera dia menempelkan telapak tangannya pada dada Kun Hong, mengerahkan tenaga Yang-kang
untuk membantu tenaga di dalam tubuh pemuda itu menindih tenaga Im.
Dengan penambahan tenaga Yang-kang yang amat kuat dari kakek ini, ternyata tenaga Im di tubuh Kun
Hong yang meliar itu dapat ditundukkan. Muka pemuda buta ini sekarang lebih lama merahnya dari pada
pucatnya, juga napasnya mulai kuat akan tetapi tubuhnya semakin panas saja. Hal ini adalah karena dia
masih pingsan sehingga tidak mampu mengendalikan hawa Yang-kang di tubuhnya yang sekarang sudah
mulai bisa menguasai tubuhnya.
Setengah jam kemudian Kun Hong sadar. Dia mengeluh dan cepat-cepat mengerahkan tenaga yang
hampir saja membuat tubuhnya meledak saking panasnya itu berputaran di seluruh tubuh sehingga dia
normal kembali.
Song-bun-kwi melepaskan tangannya, keringat membasahi seluruh tubuh dan setelah mengumpulkan
tenaganya dia berkata, "Waahh, berbahaya sekali. Jurusmu itu memang hebat bukan main, Kun Hong,
hebat dan amat berbahaya bagi lawan. Akan tetapi juga berbahaya bagi dirimu sendiri."
Kun Hong maklum bahwa dia telah ditolong, maka dia pun berlutut menghaturkan terima kasih. "Mohon
petunjuk Locianpwe," katanya sederhana.
dunia-kangouw.blogspot.com
Song-bun-kwi menoleh kepada Su Ki Han yang menyaksikan semua itu dengan melongo penuh keheranan
dan kekaguman. Lalu kakek itu meloncat berdiri, menarik tangan Kun Hong supaya berdiri.
"Marilah kita turun gunung, biar nanti kujelaskan kepadamu. Ki Han, kau adalah murid Thai-san-pai yang
setia dan jujur, mudah-mudahan kejadian semua ini akan menambah pengertianmu dan memperdalam
ilmumu. Kau berjagalah di sini, menunggu kembalinya gurumu. Kami berdua tentu takkan tinggal diam,
akan kubantu gurumu mencari puterinya. Hayo, Kun Hong, kita pergi!"
Kakek itu mengandeng tangan Kun Hong. Keduanya melesat lenyap dari puncak itu. Di kaki gunung itu, di
bawah pohon yang besar, Song-bun-kwi dan Kun Hong berhenti dan duduk di atas akar pohon yang
menonjol ke luar dari tanah.
"Jurusmu tadi benar-benar luar biasa sekali, kelak kalau kau sudah dapat melakukannya dengan
sempurna, kiraku tidak akan ada orang yang mampu menahannya," Song-bun-kwi mulai bicara.
"Akan tetapi, Locianpwe. Ketika pertama kali saya menggunakan jurus itu, saya berada dalam keadaan
tidak sadar sehingga tidak ingat sama sekali tentang gerakan itu. Menurut permintaan Locianpwe, saya tadi
melakukannya sungguh pun saya tahu bahwa jurus itu keduanya mengandung hawa pukulan yang
bertentangan, sehingga akibatnya saya tidak kuat menahan dan roboh pingsan. Bagaimana bisa dibilang
jurus lihai?"
Kakek itu tertawa. "Tadinya aku pun bingung dan heran sekali. Akan tetapi sekarang aku mengerti. Kau
berhasil menggunakan jurus itu, justru karena kau sedang dalam keadaan sedih dan marah. Dalam
kesedihan luar biasa, hawa Im di tubuhmu bergolak, sebaliknya ketika kau marah dan sakit hati, hawa
Yang bergolak. Oleh karena inilah maka ketika kau melakukan pukulan-pukulan yang dua macam dan
bertentangan itu, kedua hawa itu dapat kau pergunakan lewat pukulanmu dan dalam kemarahan serta
kesedihan tadi kau dapat mendorong dua macam hawa yang berlawanan itu keluar tubuh. Itulah sebabnya
kenapa pukulan-pukulan itu hebat bukan main sehingga aku sendiri hampir mampus karenanya. Ada pun
ketika kau mencoba untuk melakukannya kembali, kau sudah dapat menguasai kesedihan dan
kemarahanmu, karena kau tidak berniat menyerang orang, maka kau tidak mendorong keluar kedua hawa
itu. Akibatnya kedua hawa berlawanan itu mengamuk di dalam tubuhmu dan saling gempur sendiri. Tentu
saja kau tidak kuat menahan. Masih baik kau tidak mati tadi, ha-ha-ha!"
"Wah, kalau begitu jurus tadi jahat sifatnya, Locianpwe."
"Di dunia ini tidak ada sesuatu yang jahat atau baik. Tergantung dari orangnya sendiri yang
mempergunakannya. Ilmu tetap ilmu, jurus tetap jurus dan jurus yang kau temukan secara tidak sengaja
tadi merupakan anugerah yang harus kau pelajari baik-baik. Dengar baik-baik, Kun Hong. Dalam keadaan
terdesak dan terpaksa ketika menghadapi ancaman lawan tangguh yang hendak mencelakakan dirimu,
kau boleh mempergunakan jurus itu. Akan tetapi kau harus betul-betul berniat merobohkan lawan,
sehingga dua macam hawa itu dapat kau salurkan dan dorong keluar menghantam lawan. Hanya kau
seorang yang dapat mainkan jurus itu, karena kedua gerakan itu berdasarkan ilmu silat sakti yang telah
kau pelajari. Nah, kau cobalah sekarang dan kau serang pohon ini dengan jurusmu tadi. Jangan kuatir,
asal kau dapat menganggap pohon itu sebagai musuh besar yang sangat tangguh dan yang harus kau
robohkan, pasti kau tidak akan mengalami hal seperti tadi."
Di dalam hatinya, Kun Hong tak suka dengan jurus yang dianggapnya keji dan ganas ini. Akan tetapi
mendengar getaran penuh gairah, penuh kegembiraan dalam suara kakek itu, dia tidak tega dan merasa
tidak enak apa bila harus menolak. Tidak apalah untuk berlatih dengan pohon saja, akan tetapi dia yakin
bahwa akan sukar baginya untuk memaksa hati menggunakan jurus pukulan ini terhadap seorang
manusia.
Dia bangkit berdiri, mengingat-ingat gerakan tadi, memasang kuda-kuda ajaib dengan kaki kanan di depan,
ujungnya diangkat berjungkit dan kaki belakang ditekuk lututnya. Tangan kanan yang memegang tongkat
agak diangkat ke atas dengan tongkat melintang, tangan kiri dibuka jari-jari tangannya, ditekuk ke bawah
seperti orang hendak mengambil sesuatu dari tanah.
Song-bun-kwi memandang dengan mata bersinar-sinar saking kagum dan girang hatinya. Matanya sampai
dipaksa supaya jangan berkedip agar dia bisa mengikuti semua gerakan pemuda itu dengan baik.
dunia-kangouw.blogspot.com
Kun Hong mengumpulkan seluruh tenaganya, namun merasa betapa dua macam tenaga yang berlawanan
berkumpul dan berputaran di dada, membuat dadanya sesak. Dia ingin memaksa tenaga itu keluar melalui
kedua lengannya, akan tetapi sulit sekali dan akhirnya dia menarik kembali tenaganya, menurunkan kedua
tangan, tidak jadi menyerang ke arah depan.
Tag:cersil cersil indo cersil mandarin full cerita silat mandarin online cersil langka cersil mandarin lepas cerita silat pendekar matahari kumpulan cerita silat jawa cersil mandarin beruang salju. cerita silat pendekar mataharicerita silat indonesia cerita silat kho ping hoo cerita silat mandarin online cerita silat mandarin full cerita silat jawa kumpulan cerita silat cerita silat jawa pdf cerita silat indonesia gratis cerita silat jadul indonesia cerita silat indonesia pendekar rajawali sakti cersil indonesia pendekar mabuk cersil langka cersil dewa arak cerita silat jaman dulu cersil jawa download cerita silat mandarin full cerita silat mandarin online cersil mandarin lepas cerita silat mandarin pendekar matahari cerita silat jawa pdf cersil indonesia pdf cersil mandarin beruang salju kumpulan cerita silat pdf
kumpulan cerita silat cersil online
Share:
cersil...
Comments
0 Comments

Arsip Cersil

Best Cersil

Pecinta Cersil