Donasi

Buat yang punya rejeki berlebih dan merasa terhibur dengan Situs Cerita Silat Cersil Terbaik ini bisa mendonasikan bantuannya ke
No. Rekening BPD Jateng No. 2004084554
demi keberlangsungan dan keberadaan Blog Cersil Cerita Silat yang sama-sama kita cintai ini. Kritik dan Saran hub No HP.083837358519. Atas Bantuannya disampaikan Terimakasih.

Selasa, 24 April 2018

Dewi Ular 3 Full Tamat Komplit Baca Online disini

------
"Tunggu, kataku! Sekarang aku sama sekali belum memikirkan soal perjodohan!"
"Akan tetapi kita telah berjodoh, Tek-ko! Bukankah aku telah menjadi isterimu walaupun belum resmi? Aku telah menyerahkan segalanya kepadamu, dan sampai sekarang, hampir setahun aku melayani semua kehendakmu, dan belum pernah engkau memperkenalkan aku kepada orang tuamu dan engkau selalu menolak kalau kuajak menghadap orang tuaku. Sebetulnya, apa sih kehendakmu atas diriku, Tek-ko?"
Siangkoan Tek mengerutkan alisnya. Memang tidak ada sedikitpun juga keinginannya untuk memperisteri Hwe Li. Ia hanya ingin mendapatkan Hwe Li, bersenang-senang dengannya tanpa harus menikahinya. Kalau dia hendak menikah tentu dia akan memilih seorang wanita yang benar-benar pantas untuk menjadi isterinya, yang selain cantik tentu juga yang memiliki ilmu silat tinggi dan seorang wanita yang tidak begitu mudah menyerahkan kehormatannya seperti yang dilakukan Hwe Li. Dia tidak mau mempunyai seorang isteri gadis murahan.
DewiKZ 348
"Apa kehendakku, Li-moi? Engkau sudah tahu akan kehendakku dan kehendakmu. Kita saling mencinta, bukan? Aku tidak pernah memaksamu untuk ikut dengan aku.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Engkau menyerahkan diri dengan sukarela. Mengapa sekarang banyak menuntut? Kalau engkau sudah bosan denganku dan hendak pulang ke Pao-ting, pulanglah, aku tidak akan menahanmu."
Sepasang mata yang indah itu terbelalak dan muka yang cantik itu menjadi pucat. "Apa..... apa maksudmu.....?"
"Maksudku sudah jelas. Selama ini, kita saling mencinta dan saling memberi kenikmatan, engkau mau apa lagi? Hubungan antara kita adalah hubungan yang sukarela, tidak ada yang dipaksa atau memaksa. Karena itu, kalau seorang di antara kita menghendaki perpisahan, ia boleh melakukan sesuka hatinya. Kalau engkau sudah tidak suka lagi padaku, pergilah tinggalkan aku."
"Siangkoan Tek, omongan apa yang kau keluarkan ini? Selama setahun aku menyerahkan diri dengan segala kerelaan kepadamu, dan sekarang, setelah engkau puas mempermainkan aku, engkau hendak mengusir aku? Jadi engkau tidak mau bertanggung jawab dan tidak mau mengawini aku?"
"Aku tidak pernah bicara tentang perkawinan, tidak pernah menjanjikan apa-apa padamu. Ingat ini! Dan sekarang diamlah, jangan ribut. Engkau tinggal pilih satu antara dua. Kita tetap berkumpul seperti ini, atau kita menghambil jalan masing-masing. Kalau engkau masih ribut, aku bisa kehilangan kesabaran dan engkau akan kupukul!"
DewiKZ 349
Bukan main terkejut dan marahnya hati Hwe Li. Ia merasa hatinya seperti ditusuk-tusuk. Selama hampir setahun ini ia telah melayani segala keinginan Siangkoan Tek, sebagai seorang kekasih, bahkan sebagai seorang isteri, dengan penuh cinta kasih. Sekarang, setelah hampir setahun ia dipermainkan, bagaikan setangkai bunga yang
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
dihisap madunya oleh seekor lebah, tiba-tiba akan ditinggalkan begitu saja melayu oleh lebah yang sudah kekenyangan madu! Ia meninggalkan ayah ibunya, keluarganya untuk mengikuti pria ini dan sekarang ia hendak dicampakkan begitu saja.
"Siangkoan Tek, keparat kau!!" teriaknya dan ia pun melompat ke depan sambil menusukkan pedangnya yang ia cabut dari pinggangnya. Akan tetapi, sekali tangkis pedang itu terlepas dari pegangan Hwe Li dan di lain saat Hwe Li sudah terjatuh ke dalam pelukannya tanpa dapat meronta lagi!
Setelah dibelai dan dicumbu Siangkoan Tek, Hwe Li tidak berkutik lagi! Telah beberapa kali ia membujuk kekasihnya untuk pergi menghadap orang tuanya, akan tetapi selalu berakhir dengan kekalahannya, berakhir di dalam dekapan pemuda itu dan telah menjadi lemah lunglai semua syaraf dan semangatnya.
DewiKZ 350
Akan tetapi mulai mengertilah ia betapa dirinya telah terjatuh ke dalam cengkeraman pemuda yang berhati iblis. Ia sama sekali tidak berdaya dan ia maklum bahwa pemuda itu tidak pernah mau berjodoh dengannya. Hal ini mulai ia rasakan dan hatinya menjadi panik dan gelisah. Bagaimana kalau tiba-tiba Siangkoan Tek meninggalkannya begitu saja? Ke mana ia harus mencarinya, dan andaikata ia dapat mencarinya, apa yang dapat ia lakukan? Ia telah menyerahkan diri dan ia sama sekali tidak dapat memaksa pemuda itu untuk menikahinya. Ia hanya dijadikan benda permainan dan pemuas nafsu belaka. Teringat akan semua ini, barulah Hwe Li sadar akan semua kesalahannya. Barulah ia menyesal, akan tetapi penyesalannya tidak akan menolongnya. Sedikit demi sedikit rasa sakit hati memenuhi hatinya. Akan tetapi apa yang dapat ia lakukan? Kepandaiannya kalah jauh sehingga ia tidak mampu
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
berbuat apa-apa untuk memaksa pemuda itu menikahinya. Beberapa kali timbul niat di hatinya untuk membunuh Siangkoan Tek. Akan tetapi, niat itu selalu gagal. Pertama, ia memang telah tergila-gila kepada pemuda itu dan ke dua, apa keuntungannya kalau ia membunuhnya? Ia telah ternoda dan jalan satu-satunya baginya hanyalah bahwa ia harus menikah dengan Siangkoan Tek. Akan tetapi Siangkoan Tek selalu mengingkarinya dan ia juga selalu tunduk kepada pemuda itu. Sikap dan tindakan pemuda itu membuatnya selalu merasa lemah, walaupun kalau diingat amat menyakitkan hatinya.
Hati Hwe Li sakit dan menyesal sekali. Agaknya sudah tidak ada pilihan lain baginya kecuali menuruti semua kehendak Siangkoan Tek. Kalau ia meninggalkan pemuda itu, ke mana ia hendak pergi? Pulang ke rumah orang tuanya seorang diri dengan membawa noda. Ia merasa malu sekali. Terpaksa ia harus menuruti segala kehendak pemuda itu kepada siapa ia kini menumpangkan dirinya. Ia hanya dapat menangis. Akan tetapi ia tahan sedu-sedannya dan hanya air matanya yang mengalir turun di sepanjang kedua pipinya. Ia bangkit duduk dan memandang wajah Siangkoan Tek yang tertidur pulas di sampingnya. Wajah yang tampan dan gagah, namun wataknya tidak setampan wajahnya.
DewiKZ 351
Kalau ia mengamati wajah itu, hatinya luluh dan harus ia akui bahwa ia amat mencinta Siangkoan Tek. Akan tetapi kalau mengingat betapa ia dipermainkan, dijadikan pemuas nafsu tanpa pemuda itu mau bertanggung jawab, hatinya seperti ditusuk-tusuk pedang beracun. Ingin sekali ia tusuk dada Siangkoan Tek untuk membalas sakit hatinya. Tangannya sudah dijulurkan ke atas meja dekat pembaringan di mana pedangnya berada. Pada saat itu, ingin ia membunuh Siangkoan Tek lalu nekat pulang ke
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Pao-ting. Kota itu tidak begitu jauh dari rumah tinggal sementara mereka. Siangkoan Tek membeli pondok itu dan sudah selama dua bulan mereka tinggal di pondok sunyi di lereng bukit itu. Ia tahu bahwa kota Pao-ting tidak jauh lagi, hanya perjalanan sehari saja dari situ.
Tangannya sudah dijulurkan, akan tetapi jari-jari tangannya gemetar, menggigil karena perasaannya yang tegang dan serba salah. Rasa cinta dan benci membuatnya bingung, ditambah rasa takut karena pemuda itu lihai bukan main. Ia tidak dapat menentukan apakah pemuda itu pulas ataukah masih sadar.
Suara angin di luar rumah berdesir seolah berbisik-bisik agar ia cepat melaksanakan kehendaknya. Rumah itu sunyi sekali, jauh dari tetangga, bahkan di siang hari itu suasana amat sunyi. Hwe Li masih menjulurkan tangannya tanpa menyentuh gagang pedangnya. Tidak, ia menarik kembali tangannya. Ia tidak tega membunuh pria yang sesungguhnya telah membuat tergila-gila ini, akan tetapi yang sekaligus membuat hatinya tersiksa. Saking jengkelnya terhadap diri sendiri, ia lalu memukuli kepala Siangkoan Tek dengan kedua tangannya!
Siangkoan Tek terkejut dan terbangun dari tidurnya. Melihat Hwe Li sambil menangis memukuli kepalanya, dia melompat dan cepat menangkap kedua pergelangan tangan Hwe Li sambil membentak, "Apa engkau sudah gila?"
DewiKZ 352
"Engkau laki-laki jahanam, berhati palsu Hwe Li meronta-ronta dan memaki-maki seperti gila. Siangkoan Tek lalu melepaskan tangan kanannya, menyambar rambut Hwe Li dan menyeret gadis itu keluar dari pondok. Dengan menjambak rambut yang panjang itu, dia setengah mengangkat setengah menyeret tubuh gadis itu sampai agak jauh dari pintu pondok, lalu dihempaskan tubuh itu ke atas tanah.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Huh, engkau seperti seekor kelenci dan aku seekor garuda! Apa yang dapat kau lakukan padaku? Akan tetapi, garuda ini sudah kekenyangan, maka engkau boleh pergi ke mana pun engkau suka. Pergi, tinggalkan aku! Aku sudah muak padamu!" Setelah berkata demikian, Siangkoan Tek dengan marah membalikkan tubuhnya hendak kembali ke pondok.
Hwe Li bangkit merangkak lalu mengejar, terhuyung-huyung. "Tek-ko, jangan tinggalkan aku......! Aku tidak dapat hidup tanpa engkau......!" Ia dapat menyusul Siangkoan Tek lalu memegang tangan pemuda itu. Siangkoan Tek membalik lalu mendorong tubuh Hwe Li sehingga terjengkang dan roboh kembali.
"Tek-ko......!" Hwe Li kembali merangkak dan mengejar.
Siangkoan Tek menggerakkan kakinya menendang. "Desss......!" Bagaikan sebuah bola tubuh Hwe Li kembali terguling-guling.
"Tek-ko, bunuhlah aku...... akan tetapi jangan usir aku......" Hwe Li bangkit, menghapus darah dari tepi bibirnya dan menangis.
Sepasang mata yang tajam berapi seperti mata seekor rajawali melihat semua peristiwa di luar pondok itu. Ketika memperhatikan wajah Hwe Li, mata itu terbelalak dan mengeluarkan sinar kilat.
-oo0dw0oo-
Jilid: 11
"HWE LI……!" bisiknya.
DewiKZ 353
Pemilik mata yang tajam berapi itu adalah seorang gadis cantik yang berpakaian sederhana. Dan ia bukan lain
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
adalah Lui Ceng atau Ceng Ceng! Seperti telah kita ketahui, Ceng Ceng pernah tertawan oleh Ouw Kwan Lok yang tertarik kepadanya dan hendak memaksa gadis itu menjadi kekasihnya. Dalam keadaan yang gawat terancam itu, muncul Thian-tok Gu Kiat Seng, datuk besar dari barat itu yang menolongnya dan berhasil mengusir Ouw Kwan Lok. Dan semenjak saat itu, Ceng Ceng menjadi murid Thian-tok Gu Kiat Seng, datuk yang berusia lima puluh dua tahun itu, Biarpun baru digembleng selama setahun, akan tetapi karena Ceng Ceng sudah memiliki dasar gemblengan pamannya, Souw Can, dan karena gadis itu berbakat baik dan bersemangat besar tekun berlatih, maka dalam waktu sependek itu ia telah memperoleh kemajuan pesat sekali, terutama mengenai sin-kang yang amat kuat dan gin-kang yang membuat ia mampu bergerak cepat. Ia masih merantau bersama gurunya ketika pada hari itu secara kebetulan ia tiba di bukit itu dalam perjalanannya menuju ke Pao-ting untuk menjenguk keadaan pamannya. Ketika mendengar suara ribut-ribut di dalam pondok, ia tertarik dan cepat mendekati lalu bersembunyi di balik semak-semak. Ketika Siangkoan Tek menjambak rambut Hwe Li dan menyeretnya keluar, ia melihatnya dan pandang matanya tak pernah melepaskan kedua orang itu sehingga ia melihat apa yang dilakukan Siangkoati Tek kepada gadis itu. Akan tetapi baru setelah ia mengamati wajah gadis itu dan mengenalnya sebagai Hwe Li, ia terkejut sekali dan cepat ia meloncat dari tempat sembunyi-nya dan membentak nyaring,
DewiKZ 354
"Keparat busuk, berani engkau menghina saudaraku Hwe Li?" sambil membentak Ceng Ceng menggerakkan kebutannya, senjata yang dipelajarinya dari Thian Tok. Kebutan berbulu merah ini menyambar dengan dahsyat, mengeluarkan suara bersuitan ketika menyambar ke arah kepala Siangkoan Tek.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Suiiit……!" Siangkoan Tek terkejut juga melihat serangan yang dahsyat itu. Dia cepat melompat ke belakang untuk melihat dengan jelas siapa orangnya yang menyerangnya. Dia melihat seorang gadis yang berwajah manis sekali, memegang sebatang kebutan dan memandang dengan mata yang tajam bersinar. Dia tersenyum dan segera berkata dengan suara lembut,
"Wahai nona manis, mengapa engkau menyerangku tanpa sebab? Rasanya aku belum pernah mendapatkan kebahagiaan untuk berkenalan denganmu. Siapakah namamu, nona manis, dan mengapa engkau menyerangku?"
Hwe Li yang terkejut melihat munculnya Ceng Ceng merasa khawatir akan keselamatan saudara misannya itu, maka cepat berseru, "Ceng Ceng, jangan hiraukan dial Cepat engkau pergi dari sini!"
Ceng Ceng tidak merasa heran mendengar ucapan itu. Ia sudah terbiasa diperintah dan dibentak-bentak saudara misannya. Akan tetapi sekali ini ia melihat sendiri betapa Hwe Li dijambak, dihina, dipukul dan ditendang. Bagaimana mungkin ia dapat tinggal diam saja?
"Aha, namamu Ceng Ceng, Nona? Nama yang indah, seindah orangnya!" kata Siangkoan Tek merayu.
"Hwe Li, jangan khawatir, aku akan membantumu bebas dari manusia keparat ini!" Ceng Ceng sudah membentak dan kembali ia menyerang dengan kebutannya.
DewiKZ 355
Siangkoan Tek terpaksa cepat mengelak dan harus ia akui bahwa gadis bernama Ceng Ceng ini memiliki gerakan yang sangat cepat dan dari suara angin sambaran kebutan itu dia pun dapat menilai bahwa gadis itu memiliki tenaga sin-kang yang kuat.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Ceng Ceng menyerang terus bertubitubi akan tetapi semua serangannya dapat dielakkan oleh Siangkoan Tek. Pemuda ini maklum bahwa gadis ini harus dapat ditundukkan, karena ilmunya lebih tinggi daripada tingkat Hwe Li. Akan tetapi dia pun mengalami kesulitan untuk dapat menundukkan Ceng Ceng dengan cepat. Kebutan itu lihai bukan main.
Dengan gerakan cepat sekali, tangan kanan Siangkoan Tek berhasil menangkap ujung kebutan. Selagi dia hendak menariknya untuk merampas kebutan itu, tiba-tiba Ceng Ceng menotokkan gagang kebutan ke arah pergelangan tangannya.
"Hyaaat......!" Kebutan yang ujung bulunya sudah ditangkap tangan kanan Siangkoan Tek itu, tiba-tiba meluncur dengan cepat menotok pergelangan tangan pemuda itu. Tentu saja Siangkoan Tek menjadi terkejut sekali.
"Ehhh……!!" Terpaksa dia melepaskan pegangannya dan memutar lengannya untuk menangkis totokan gagang kebutan itu.
"Dukk......!" Pertemuan lengan dengan gagang kebutan membuat Siangkoan Tek terhuyung dan tangannya tergetar, sebaliknya Ceng Ceng juga terdorong ke belakang. Maklumlah keduanya bahwa lawan memiliki tenaga sin-kang yang kuat.
DewiKZ 356
Ilmu kepandaian Ceng Ceng memang sudah maju pesat sekali selama satu tahun ini, namun dibandingkan dengan Siangkoan Tek, ia masih kalah. Apalagi ketika Siangkoan Tek yang mengetahui akan kelihaian kebutan itu kini mencabut pedangnya. Terjadilah pertandingan yang hebat sekali namun setelah lewat tiga puluh jurus, mulailah Ceng Ceng terdesak hebat. Pedang Siangkoan Tek berubah
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
menjadi sinar yang menyilaukan mata, bergulung-gulung dan menyambar-nyambar. Ceng Ceng mencoba untuk mengimbanginya dengan gerakan kebutannya yang menjadi gulungan sinar merah. Akan tetapi perlahan-lahan sinar nnerah itu menjadi semakin kecil dan gerakannya hanya untuk melindungi diri saja.
"Nona manis, menyerahlah sebelum pedangku melukaimu! Sayang kalau kulitmu yang halus itu sampai tergores pedangku!" Siangkoan Tek mengejek sambil merayu.
"Ceng Ceng, larilah!" kata lagi Hwe Li dan dengan nekat ia menubruk ke arah Siangkoan Tek. Pemuda itu menyambutnya dengan sebuah tendangan yang membuat Hwe Li terjengkang dan terbanting ke atas tanah. Maklum bahwa ia tidak akan menang, Ceng Ceng meloncat jauh ke belakang dan melarikan diri. Ia harus mencari bala-bantuan kalau ingin berhasil menolong Hwe Li.
Gurunya berada di puncak bukit itu menunggunya. Ia berpamit dari gurunya untuk berkunjung ke Pao-ting sebentar dan gurunya akan menunggu sampai tiga hari di sana. Tempat gurunya itu tidak berapa jauh dari lereng itu, akan tetapi watak gurunya amat aneh. Belum tentu gurunya mau membantu untuk menolong gadis yang sama sekali tidak dikenalnya. Kalau gurunya menolak, siapa pun tidak dapat memaksanya. Maka sebaiknya kalau ia minta bantuan ke Pao-ting saja. Dengan pikiran ini, Ceng Ceng lalu berlari cepat menuju ke kota Pao-ting. Demikian cepat ia berlari sehingga menjelang sore ia sudah tiba di pekarangan rumah pamannya, yaitu Souw Can Ketua Kim-liong-pang. DewiKZ 357
Beberapa orang anggauta Kim-liong-pang yang berada di pekarangan itu menyambut kedatangan Ceng Ceng dengan gembira. Mereka semua sudah mendengar bahwa Nona Liu
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Ceng telah menjadi murid seorang datuk besar, maka kini kedatangan Ceng Ceng setelah setahun rnereka meninggalkan rumah pamannya, disambut dengan gembira.
"Nona Liu datang!" teriak mereka dan segera berita ini sampai ke dalam rumah induk.
Dari dalam muncul Souw Can dan isterinya, juga Lai Siong Ek. Mereka bertiga muncul dan dapat dilihat betapa wajah ketiganya murung. Tentu ini ada hubungannya dengan keadaan Hwe Li.
"Paman dan Bibi!" Ceng Ceng berseru lirih sambil memandang wajah mereka.
"Ceng Ceng engkau baru kembali?" tanya pula Lai Siong Ek sarnbil memandang gadis itu dengan sinar mata kagum. Dalam pandangannya, sikap gadis itu berubah, tidak lagi merendahkan diri seperti dulu, melainkan ada sikap tegak dan anggun seperti penuh kepercayaan kepada diri sendiri.
"Ceng Ceng, tahukah engkau bahwa Hwe Li !" kata Nyonya Souw sambil menangis.
Ceng Ceng merangkul tubuh bibinya dan berkata menghibur, "Aku sudah tahu, mari kita bicara di dalam, Paman." Ia menuntun bibinya memasuki rumah itu, diikuti oleh Souw Can dan Lai Siong Ek.
Setelah mereka tiba di ruangan dalam, Souw Can bertanya, "Ceng Ceng, engkau sudah tahu akan keadaan Hwe Li? Di manakah ia sekarang?"
DewiKZ 358
"Aku justeru datang untuk bicara tentang Hwe Li. Aku hendak minta bantuan Paman untuk merampas kembali Hwe Li dari tangan pemuda jahat itu."
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Merampas Hwe Li dari tangan pemuda jahat itu? Apa yang telah terjadi dengan Hwe Li? Cepat ceritakan!" teriak Lai Siong Ek dengan gelisah.
"Ceritakan, Ceng Ceng. Apa yang telah terjadi dengan Hwe Li dan di mana ia sekarang?"
"Tidak begitu jauh dari sini, Paman. Harap persiapkan bala bantuan karena Hwe Li berada di tangan seorang pemuda yang sangat lihai. Aku telah mencoba untuk membebaskan Hwe Li, akan tetapi aku tidak dapat menandingi pemuda itu?"
"Pemuda yang menculiknya itu? Di mana dia dan Hwe Li? Biar aku menyiapkan pasukan!" kata Lai Siong Ek.
"Tenanglah, Siong Ek. Engkau pergilah cepat untuk mempersiapkan pasukan, lalu bawa ke sini agar kita dapat mengikuti Ceng Ceng yang akan menunjukkan tempatnya," kata Souw Can dengan tenang walaupun hatinya juga gelisah dan tegang. Sudah hampir setahun Hwe Li lenyap diculik orang dan tidak pernah ada kabar berita darinya. Sekarang, tiba-tiba muncul Ceng Ceng yang tahu di mana puterinya itu berada, tentu saja dia menjadi tegang dan gelisah.
Siong Ek cepat keluar, melapor kepada ayahnya dan minta disediakan pasukan seratus orang. Dulu ketika membawa pasukan dan mengejar pemuda yang menculik Hwe Li, pemuda itu dapat membebaskan diri dari kepungan sambil melarikan gadis itu dan sejak itu, tidak ada lagi beritanya tentang Hwe Li walaupun ayahnya sudah mengirim banyak anak buah pasukan untuk mencari.
DewiKZ 359
Selagi Siong Ek keluar dan mereka menanti datangnya pasukan, Souw Can minta kepada Ceng Ceng untuk menceritakan tentang Hwe Li. Ceng Ceng tidak tega untuk menceritakan seluruhnya, betapa Hwe Li disiksa oleh
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
pemuda liha itu. Ia hanya menceritakan bahwa ia melihat Hwe Li dikeram dalam sebuah pondokan di lereng bukit oleh seorang pemuda yang amat lihai.
"Karena aku tidak mampu menandinginya, maka terpaksa aku melarikan diri ke sini untuk minta bala bantuan," demikian Ceng Ceng menutup ceritanya.
Tak lama kemudian, Lai Siong Ek muncul kembali membawa seratus orang perajurit berkuda, dipimpin oleh seorang perwira tinggi. Setelah membuat persiapan, berangkatlah seratus orang perajurit itu dipimpin oleh Sang Perwira, Souw Can, Lai Siong Ek, dan Ceng Ceng sendiri. Mereka semua menunggang kuda dan sore hari itu juga mereka melakukan perjalanan menuju ke bukit di mana Hwe Li dikeram oleh Siangkoan Tek.
Menjelang pagi, rombongan tiba di kaki bukit itu dan Ceng Ceng memberi keterangan agar pasukan dibagi empat dan mereka menghampiri pondok di lereng itu dari empat jurusan. Setelah tiba dekat pondok, para perajurit itu ber-sembunyi dan menanti perintah selanjut-nya. Kuda mereka ditinggalkan di kaki bukit dan dijaga selosin orang perajurit.
Ceng Ceng yang tidak ingin pemuda yang menawan Hwe Li itu dapat meloloskan diri, menanti sampai terang tanah, barulah ia memberi isyarat kepada Souw Can untuk mengikutinya. Lai Siong Ek juga mengikuti untuk membantu dan per-wira memimpin pasukan yang sudah siap.
Setelah cuaca terang benar dan tidak ada suara atau gerakan apa pun di dalam pondok itu, Ceng Ceng berseru sambil mengerahkan khi-kangnya sehingga suara-nya terdengar melengking tinggi dan terdengar sampai jauh.
DewiKZ 360
"Penculik keparat! Menyerahlah, pondokmu telah dikepung ketat dan engkau tidak dapat meloloskan diri!"
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Terdengar gerakan di dalam pondok dan ini dapat didengar karena semua pengepung berdiam diri dan memperhatikan suara dari pondok yang mereka kepung. Terdengar jerit lirih dan tak lama kemudian pintu pondok terbuka lebar dan muncullah Hwe Li yang sebelah tangannya dipegang oleh Siangkoan Tek dan dengan tangan yang lain pemuda itu menempelkan pedangnya di leher gadis itu. Dia sama sekali tidak kelihatan takut, bahkan tersenyum dan berkata lantang,
"Kalian buka jalan untuk aku keluar dari kepungan, atau Nona Souw Hwe Li ini akan kubunuh di depan kalian sebelum aku mengamuk dan membunuh kalian semua!"
Melihat wajah puterinya yang pucat dan rambut serta pakaiannya yang awuta: awutan hati Souw Can seperti diremas. Dia lalu berteriak lantang, "Orang muda, siapakah engkat. Di antara kita tidak ada permusuhan, mengapa engkau menculik anak kami?"
Siangkoan Tek hanya menyeringai dan mengulangi permintaannya,
"Hayo, buka kepungan kalau tidak ingin melihat gadis ini kusembelih di depan kalian!"
Mendengar ini dan melihat sikap pemuda yang tersenyum mengerikan itu, Souw Can minta kepada perwira komandan pasukan untuk membuka kepungan.
"Kami membuka kepungan, akan tetapi engkau harus melepaskan Hwe Li!"
DewiKZ 361
Siangkoan Tek mendorong Hwe Li sampai tiba di tempat di mana kepungan itu terbuka, dan dia lalu berkata, "Hwe Li, engkau boleh pergi sekarang, aku sudah bosan denganmu!" Dan dia mendorong Hwe Li sehingga gadis itu
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
terpelanting. Siangkoan Tek lalu melompat jauh dan melarikan diri.
"Kejar! Kejar jahanam itu!" teriak Ceng Ceng dan ia sendiri ikut mengejar bersama para perajurit. Akan tetapi Siangkoan Tek telah menghilang ke dalam hutan di lereng bukit.
Souw Can lari menghampiri puterinya. Dia membantu puterinya bangkit sambil memeluknya.
"Hwe Li......!"
"Ayah…. Ayah......!" Hwe Li merangkul ayahnya dan menangis tersedu-sedu. Demikian sedih hatinya, demikian hancur perasaannya sehingga ia menangis mengguguk kemudian pingsan dalam rangkulan ayahnya.
Souw Can memondong tubuh puterinya dan membawa masuk ke dalam pondok yang sudah ditinggalkan pemiliknya itu. Dia merebahkan tubuh puterinya di atas pembaringan dan dia sendiri duduk di tepi pembaringan, menunggu puterinya siuman dari pingsannya. Dia tahu bahwa Hwe Li pingsan karena kedukaan, maka dia mendiamkannya saja karena tangis dan pingsan merupakan pencurahan dan kesedihan yang mendalam.
Akhirnya, setelah lama Souw Can menunggui puterinya yang kelihatan kurus dan agak pucat itu, Hwe Li siuman dari pingsannya. Bagaikan baru bangun tidur ia mengeluh, "Jangan tinggalkan aku......!" Ayahnya lalu memegang kedua pundaknya dan mengguncangnya perlahan.
"Hwe Li, ingat, ini ayahmu."
DewiKZ 362
Hwe Li membuka matanya dan ketika ia melihat ayahnya, ia lalu bangkit duduk. "Ayah….. Ayah…..!" Ia menangis lagi, mengguguk.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Hwe Li, tenanglah, diamlah jangan menangis. Semua itu telah lewat dan engkau telah kembali kepadaku."
Akan tetapi Hwe Li teringat betapa dirinya sudah ternoda, selama setahun ia telah menjadi benda permainan dan pemuas nafsu Siangkoan Tek. Hal itu dianggapnya bukan siksaan kalau saja Siangkoan Tek mau mengawininya karena ia pun tergila-gila kepada pemuda itu. Akan tetapi kenyataannya, Siangkoan Tek membuangnya sebagai barang bekas yang tidak dibutuhkannya lagi! Teringat demikian, ia merasa tidak berharga lagi untuk kembali menjadi puteri ayahnya. Melihat pedangnya menggeletak di atas meja, ia cepat meloncat dan menyambar pedangnya.
"Hwe Li, jangan……!" Souw Can berteriak nyaring sarnbil berusaha merebut pedang itu dari tangan puterinya. Pada saat itu, Lai Siang Ek dan Ceng Ceng memasuki pondok dan melihat Hwe Li sudah mengayun pedang untuk menyerang lehernya sendiri, Ceng Ceng meloncat bagaikan burung terbang dan sekali sambar ia telah berhasil merampas pedang dari tangan Hwe Li.
Melihat ulah Hwe Li yang hendak membunuh diri, Lai Siong Ek lupa keadaan saking haru dan sedihnya. Dia langsung merangkul Hwe Li dan berkata, "Sumoi, jangan engkau membunuh diri….. aku….. aku cinta padamu, Sumoi."
DewiKZ 363
Hwe Li dengan mata sayu memandang wajah suhengnya. Sejak dahulu ia tahu bahwa suhengnya ini amat mencintanya, akan tetapi selama itu tidak ditanggapi. "Suheng, aku bukan sumoimu yang dulu lagi….. aku….. aku telah ternoda….. aku tidak berharga untukmu dan tidak berharga menjadi puteri Ayah......" Gadis itu rnenangis lagi.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Tidak peduli, Sumoi. Engkau tetap Sumoi Souw Hwe Li untukku dan aku ingin engkau menjadi isteriku. Betapa selama setahun ini hatiku tersiksa dan sekarang setelah kami dapat menemukan engkau, jangan..... jangan putus asa seperti itu, Sumoi."
Hwe Li merasa betapa tulus cinta kasih dari suhengnya itu. Biarpun sudah mendengar pengakuan bahwa ia telah ternoda, tetap saja suhengnya ingin memperisterinya!
"Suheng......!" Ia menangis dalam rangkulan Lai Siong Ek yang merasa bahagia bagaikan menemukan kembali sebuah mustika yang hilang.
Setelah tangis puterinya reda dan agaknya Hwe Li sudah tenang kembali, Souw Can bertanya kepada puterinya, "Sebetulnya siapakah jahanam itu?"
"Dia bernama Siangkoan Tek, dia adalah putera dari datuk besar Siangkoan Bhok, majikan Pulau Naga yang berjuluk Tung-hai-ong, datuk besar timur," kata Hwe Li lirih.
"Ah, pantas dia lihai sekali!" kata Ceng Ceng. "Akan tetapi aku akan tekun memperdalam ilmu silatku dan kelak kalau bertemu dengannya aku pasti akan membalas sakit hatimu, Hwe Li."
"Terima kasih, engkau telah berbuat banyak untukku, Ceng Ceng," kata Hwe Li dan baru ia menyadari betapa dulu, ia dan Siong Ek telah terlalu memandang rendah kepada gadis itu. Ternyata sekarang, yang menyelamatkannya adalah Ceng Ceng. Kalau tidak ada gadis itu, tentu sekarang ia masih menjadi tawanan Siangkoan Tek dan diperlakukan sebagai budak belian!
DewiKZ 364
Setelah Hwe Li tenang kembali, mereka lalu pergi dikawal pasukan kembali ke Pao-ting, di mana Hwe Li
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
disambut dengan rangkulan dan tangisan ibunya. Juga Ceng Ceng diterima dengan baik, apalagi kalau keluarga itu mengingat akan jasanya yang amat besar.
Akan tetapi Ceng Ceng hanya tinggal semalam di rumah pamannya.
"Suhu menanti di puncak bukit, aku harus cepat ke sana seperti yang kujanjikan," kata Ceng Ceng ketika keluarga itu hendak menahannya.
"Ah, mengapa engkau tidak mengajak suhumu datang ke sini, Ceng Ceng? Kami ingin sekali bertemu dan memberi hormat kepadanya," kata Souw Can.
"Suhu berwatak aneh, Paman. Dia tidak ingin bertemu dan berkenalan dengan siapa pun. Nah, Paman dan Bibi, aku mohon diri sekarang, Hwe Li dan Lai-suheng, selamat tinggal."
Hwe Li merangkul Ceng Ceng dan berbisik, "Maafkanlah sikapku yang dahulu amat buruk kepadamu, Ceng Ceng."
Ceng Ceng balas merangkul dan mencium pipi saudara misannya. "Aku sudah melupakan segala masa laluku, Hwe Li. Kuharap engkau juga sudah melupakan semua masa lalumu dan hidup baru dengan penuh kebahagiaan."
Kemudian Ceng Ceng meninggalkan pamannya, melakukan perjalanan secepatnya menuju ke bukit di mana Thian-tok Gu Kiat Seng menunggunya selama tiga hari. Setelah bertemu gurunya, ia menceritakan semua pengalaman yang telah dialaminya dan betapa ia masih kalah dalam menandingi Siangkoan Tek, putera datuk besar Siangkoan Bhok yang berjuluk Tung-hai-ong. DewiKZ 365
Thian-tok tersenyum. "Tingkat kepandaian Siangkoang Bhok seimbang dengan tingkatku, maka aku disebut Datuk
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Barat dan dia disebut Datuk Timur. Karena engkau baru setahun menjadi muridku, tentu saja tingkatmu masih kalah dibandingkan tingkat puteranya. Akan tetapi kalau engkau tekun berlatih, aku akan menurunkan ilmu-ilmu simpananku kepadamu dan kalau engkau sudah menguasai ilmu-ilmu itu, kiranya tidak akan mudah putera Siangkoan Bhok itu mengalahkanmu."
Ceng Ceng menjadi gembira dan ia lalu melanjutkan perantauannya bersama gurunya sampai mereka menemukan sebuah bukit yang cocok untuk mereka jadikan sebagai tempat tinggal sementara.
oood0wooo
DewiKZ 366
Panglima Song Thian Lee segera menghadap Kaisar Kian Liong ketika Kaisar mengundangnya untuk menghadap ke istana. Setelah tiba di ruangan sidang di istana itu, dia melihat bahwa dua orang panglima lain, yaitu Panglima Tua Bouw Kin Sek dan wakilnya yang bernama Coa Kun telah hadir pula menghadap Kaisar. Kiranya bukan hanya dia seorang yang diundang, akan tetapi dua orang panglima besar lainnya sehingga mudah diduga bahwa Kaisar tentu akan membicarakan soal keamanan. Panglima Tua Bouw Kin Sek adalah seorang Mancu, akan tetapi seperti juga Kaisar Kian Liong, dia telah menyesuaikan diri dengan kehidupan rakyat dijajahnya sehingga sampai ke dalam keluarganya di rumah mereka hidup seperti keluarga bangsawan bangsa Han saja. Panglima Tua Bouw Kin Sek selain pandai mengatur pasukan dan cerdik dalam siasat perang, juga dia lihai dalam ilmu silat bercampur ilmu gulat bangsa Mancu. Tenaganya besar sekali dan biarpun usianya sudah lima puluh tahun, namun sukar dicari orang yang mampu menandinginya. Tubuhnya tinggi besar dan wajahnya
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
penuh brewok membuat penampilannya penuh wibawa dan membuat lawan-lawannya menjadi gentar. Wakilnya, Panglima Coa Kun adalah seorang peranakan Han Mancu yang berusia empat puluh tahun, tubuhnya tinggi kurus dan mukanya agak kepucatan. Biarpun penampilannya tidak mengesankan, namun sesungguhnya Panglima Coa Kun ini seorang yang amat cerdik. Siasatnya dalam perang banyak yang berhasil sehingga Kaisar Kian Liong menghargainya dan mengangkatnya menjadi wakil dari Panglima Bouw Kin Sek. Juga Panglima Coa Kun ini lihai ilmu silatnya, biarpun tidak selihai tingkat Panglima Bouw Kin Sek, akan tetapi dia terkenal sebagai seorang yang memiliki lwee-kang (tenaga dalam) yang kuat sekali.
Setelah memberi hormat kepada Kaisar Kian Liong dan dipersilakan duduk, Panglima Song Thian Lee yang masih amat muda, baru berusia dua puluh tiga tahun, mengambil tempat duduk di sebelah kiri Panglima Bouw Kin Sek. Dia adalah panglima muda yang kedudukannya sebagai panglima besar, walaupun jauh lebih muda dari Panglima Bouw Kin Sek, akan tetapi kedudukannya lebih tinggi.
"Bagus, engkau sudah datang, Song-ciangkun." kata Kaisar Kian Liong sambil memandang kepada panglimanya ini dengan sinar mata gembira.
"Hamba siap siaga untuk melaksanakan segala perintah Paduka," kata Song Thian Lee dengan sikap hormat.
DewiKZ 367
"Kami mengundangmu untuk mengajak bicara tentang pergolakan yang terdapat di daerah pantai timur. Kami mendapat keterangan dari Bouw-ciangkun bahwa keadaan di sana sudah gawat dan sewaktu-waktu dapat timbul pemberontakan besar. Biarlah Bouw-ciangkun sendiri yang menceritakan kepadamu tentang berita yang didapatkannya itu."
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Thian Lee menoleh dan memandang kepada Bouw Kin Sek dengan pandang mata bertanya. Dalam kedudukan mereka, kekuasaan mereka terbagi. Bouw-ciangkun menguasai pasukan yang melakukan penjagaan di timur sampai ke laut, sedangkan Thian Lee mengepalai sisa pasukan yang terpencar di utara, barat dan selatan yang tentu saja dipimpin oleh masing-masing panglimanya sebagai pembantu-pembantu Thian Lee. Karena bagian timur bukan bagian kekuasaannya, maka dia tidak mendengar akan pergolakan yang dimaksudkan Kaisar itu.
DewiKZ 368
"Begini, Souw-ciangkun." Panglima Bouw mulai memberi keterangan. "Kami menerima berita dari Un-ciangkun yang bertugas di timur dan bertempat tinggal di kota Hui-cu bahwa ada gerak-gerik rahasia yang menjurus ke arah pemberontakan. Beberapa kali ada usaha gelap untuk membunuhnya setelah dia tidak pernah menghiraukan surat-surat gelap yang diterimanya dan mengajaknya untuk memberontak. Un-ciangkun adalah seorang perwira yang setia maka tentu saja dia tidak menanggapi ajakan itu. Akan tetapi dia melihat banyak mata-mata berbangsa Jepang berkeliaran di sepanjang pantai timur. Orang-orang Jepang itu rata-rata berkepandaian tinggi sehingga tidak pernah ada yang dapat tertangkap. Kami khawatir sekali bahwa di antara para perwira pembantu kami ada yang melakukan hubungan dengan orang-orang Jepang itu, dan ini berbahaya sekali. Melihat gerak-gerik mereka, menurut Un-ciangkun, terdapat banyak orang pandai di antara mereka dan dia merasa seolah selalu dibayangi orang sehingga ia harus melindungi dirinya dengan pasukan pengawal yang menjaga ketat keselamatannya. Karena itulah, dia memberi kabar kepada kami dan kami melapor kepada Sri Baginda Kaisar."
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Song Thian Lee mengerutkan alisnya. Dia teringat akan pemberontakan yang pernah dilakukan Pangeran Tua Tang Gi Lok yang dibantu oleh tokoh-tokoh sesat dunia kang-ouw dan perkumpulan-perkumpulan jahat. Ketika pemberontakan itu terjadi tiga tahun yang lalu, dia membantu pemerintah untuk menghancurkan pemberontakan itu sehingga dia berjasa besar dan diberi kedudukan panglima besar oleh Kaisar. Kini dia dihadapkan dengan gejala-gejala pemberontakan yang lain lagi. Setiap pemberontakan hanya merugikan rakyat dan mengacaukan keadaan. Pemberontakan-pemberontak itu bermaksud mengambilalih kekuasaan untuk mengangkat diri sendiri menjadi penguasa, tidak seperti gerakan perjuangan rakyat yang memang membenci pemerintah penjajah.
"Nah, demikianlah keadaannya. Karena gejala pemberontakan itu memperlihatkan gerakan banyak orang-orang lihai, maka tidak ada jalan lain kecuali menyelidiki keadaan mereka yang sesungguhnya. Dan untuk melakukan penyelidikan, harus dilakukan orang yang berkepandaian tinggi. Maka kami ingat padamu, Song-ciangkun. Agaknya hanya engkaulah orangnya yang tepat untuk melaksanakan penyelidikan itu, kemudian mengambil tindakan kalau terdapat bukti bahwa mereka hendak memberontak. Engkau boleh mengerahkan pasukan berapa pun yang kau butuhkan." DewiKZ 369
Song Thian Lee berpikir. Dia harus rnenyelidiki lebih dulu siapakah yang berada balik gejala-gejala pemberontakan itu, melihat apakah itu hanya pemberontakan biasa ataukah perjuangan para patriot. Kalau hanya perjuangan kecil-kecil saja dia akan berusaha untuk memperingatkan para patriot bahwa usaha mereka akan sia-sia dan hanya mengorbankan nyawa anak buah
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
saja dan mengacaukan kehidupan rakyat jelata. Kalau itu merupakan gerakan bawah tanah dari mereka yang hendak memberontak, dia harus menumpasnya.
"Hamba siap melakukan tugas itu, Yang Mulia."
"Engkau boleh membawa pasukan untuk menyertaimu."
"Hamba kira hal itu tidak perlu, Yang Mulia. Untuk melakukan penyelidikan, harus hamba lakukan sendiri dan menyamar sehingga mereka tidak tahu bahwa ada penyelidikan dari kota raja. Kalau hamba membutuhkan bantuan pasukan, tentu hamba dapat menghubungi Un-ciangkun di Hui-cu."
Kaisar mengangguk-angguk, lalu menoleh kepada Bouw-ciangkun. "Bagaimana pendapatmu, Bouw-ciangkun?"
"Hamba kira pendapat Song-ciangkun itu benar sekali. Dan hamba juga akan mengirim penyelidik, yaitu Coa-ciangkun, hamba akan memberi sebuah surat untuk Un-ciangkun sehingga sewaktu-waktu dia membutuhkan bantuan, akan mendapatkan bantuan itu dengan mudah."
Kaisar mengangguk-angguk setuju. "Baiklah, sekarang juga engkau harus bersiap dan berangkat ke timur, Song-ciangkun."
"Hamba siap, Yang Mulia."
Persidangan itu dibubarkan dan Panglima Bouw Kin Sek segera menulis sesampul surat untuk Panglima Un di Huicu dan memberikan surat itu kepada Thian Lee. Setelah memesan agar Thian Lee berhati-hati dan panglima muda itu pergi meninggalkannya, Panglima Bouw Kian Sek lalu memanggil wakilnya, yaitu Coa-ciangkun.
DewiKZ 370
"Coa-ciangkun. Sri Baginda Kaisar telah mengutus Thian Lee untuk melakukan penyelidikan di timur. Akan tetapi
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
hatiku masih kurang puas. Aku menghendaki agar engkau pun diam-diam melakukan penyelidikan ke sana, siapa tahu engkau dapat berhasil lebih baik daripada Song-ciangkun."
Perwira yang menjadi wakilnya itu bernama Coa Kun dan dia seorang laki-laki berusia empat puluh tahun yang cerdik sekali. Biarpun atasannya hanya berkata demikian, namun Coa Kun sudah dapat menduga apa isi hati atasannya itu. Dia tahu bahwa atasannya itu, sebagai Panglima tua, tentu merasa iri kepada Song-ciangkun yang disebut Panglima Muda akan tetapi yang kedudukannya lebih tinggi darinya. Daerah timur sampai ke pantai adalah daerah kekuasaannya, di mana dia yang bertanggung jawab. Akan tetapi kini Kaisar mengutus Thian Lee untuk melakukan penyelidikan, seolah tidak percaya kepadanya! Maka, Coa Kun tersenyum dan mengangguk.
"Baiklah, Ciangkun. Akan saya usahakan agar saya dapat mendahului Song-ciangkun dalam membongkar pemberontakan ini dan memadamkannya."
"Bagus. Song-ciangkun akan mendapat bantuan anak buah dari Un-ciangkun secara terbatas, akan tetapi engkau sebagai atasan Un-ciangkun dapat menggunakan pasukannya, berapa saja yang kau kehendaki. Juga kalau perlu engkau dapat menggerakkan pasukan pesisir yang dipimpin oleh Phoa-ciangkun. Kedua perwira itu adalah bawahanmu langsung, maka engkau tentu akan lebih mereka taati daripada Song-ciangkun."
DewiKZ 371
Setelah menerima banyak pesan dan nasihat, Coa Kun lalu berangkat seorang diri menuju ke timur. Dia menanggalkan pakaiannya sebagai seorang perwira tinggi dan menyamar sebagai penduduk biasa. Dengan menggunakan seekor kuda yang baik, Coa-ciangkun ini mendahului Song Thian Lee menuju ke timur.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Sementara itu, Song Thian Lee segera pulang ke gedungnya. Setibanya di rumah, dia langsung membuka pakaian dinasnya dan mengenakan pakaian biasa. Baru saja dia selesai berganti pakaian, isterinya memasuki ruangan itu.
Dengan senyum cerah dan sikap lembut penuh kasih sayang Tang Cin Lan, isterinya, berkata, "Lee-ko, kenapa engkau nampak tergesa-gesa berganti pakaianmu?" Wanita cantik jelita itu mengamati wajah suaminya dengan penuh perhatian. "Ada berita apakah dari Sri Baginda Kaisar?" Biarpun Kaisar Kian Liong masih saudara misan ayahnya, Cin Lan selalu menyebutnya dengan Sri Baginda Kaisar seperti orang lain untuk menghormati Kaisar itu.
Thian Lee balas memandang, lalu memegang pundak isterinya dengan penuh kasih sayang. "Aku mendapatkan tugas yang teramat penting. Di mana Hong San?" Dia menanyakan putera mereka yang kini sudah berusia dua tahun dan sedang lucu-lucunya.
"Dia baru saja tidur siang di kamarnya, dijaga oleh pengasuh," jawab Cin Lan yang disambung pertanyaan, "Tugas apakah yang begitu penting, Lee-ko?"
"Agaknya kita harus berpisah, aku harus meninggalkan rumah beberapa waktu lamanya, entah berapa lama dan mudah-mudahan saja segera tugas itu dapat kuselesaikan sehingga aku dapat segera pulang."
Mereka duduk di ruangan dalam, berhadapan. Cin Lan menatap wajah suaminya dan alisnya yang hitam melengkung indah itu berkerut. "Pergi ke manakah dan apakah tugas itu?"
DewiKZ 372
"Sri Baginda Kaisar mendengar berita bahwa di pantai timur dan daerahnya terdapat gejala-gejala pemberontakan, bahkan mungkin para pemberontak itu bersekutu dengan
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
orang-orang Jepang yang biasanya menjadi bajak laut dan merampok di sepanjang pantai. Karena kabarnya orang-orang Jepang itu banyak yang pandai, bahkan sudah ada usaha pembunuhan terhadap Panglima Un di sana, maka Baginda Kaisar mengutus aku sendiri untuk melakukan penyelidikan ke sana dan memadamkan pemberontakan."
"Kau membawa pasukan?"
"Tidak. Bagaimana aku akan dapat melakukan penyelidikan kalau aku berangkat membawa pasukan? Kita belum tahu siapa yang hendak memberontak, siapa yang terlibat dan siapa yang memimpin. Nanti, kalau aku sudah berhasil dengan penyelidikanku dan bahwa di sana benar-benar terjadi usaha pemberontakan, baru aku akan minta bantuan Un-ciangkun untuk memberi pasukannya guna membasmi pemberontak itu."
"Jadi engkau hendak melakukan penyelidikan seorang diri saja, Lee-ko?" Cin Lan memandang dengan khawatir.
Thian Lee tersenyum dan memegang tangan isterinya di atas meja. "Kenapa, Lan-moi? Bukankah sudah biasa bagiku untuk melakukan tugas seorang diri saja? Menempuh bahaya dalam tugas adalah biasa, tidak perlu dirisaukan."
"Bukan begitu, Lee-ko. Dahulu engkau adalah seorang biasa, seorang pendekar yang merantau dan malang-melintang di dunia kang-ouw. Akan tetapi sekarang engkau adalah seorang penglima besar yang mengepalai banyak sekali pasukan, kenapa pergi seorang diri? Bukankah banyak anak buahmu yang cakap untuk melaksanakan tugas itu? Engkau dapat menyebar ratusan orang mata-mata untuk menyelidiki keadaan di pantai timur saja."
DewiKZ 373
"Tidak mungkin hal itu kulakukan, isteriku. Itu berarti bahwa aku kurang bertanggung jawab terhadap tugas ini.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Sri Baginda Kaisar mengutus aku sendiri untuk menyelidiki karena di sana terdapat banyak orang pandai, bagaimana aku dapat tinggal diam di rumah dan menyuruh para pembantuku melakukan tugas yang panting ini?"
"Akan tetapi engkau adalah seorang panglima besar, Lee-ko. Aku khawatir bahwa banyak orang diam-diam memusuhimu karena iri. Kalau engkau nekat untuk pergi seorang diri, biarlah aku akan menemanimu!"
Thian Lee bangkit dari tempat duduknya, menghampiri isterinya dan merangkulnya. "Cin Lan, mengapa engkau begini? Aku adalah suamimu yang akan melaksanakan tugas, bagaimana engkau dapat ikut denganku? Engkau seharusnya berada di rumah, menjaga dan merawat Hong San, anak kita yang baru dua tahun usianya. Kalau dia mencari ayah ibunya yang keduanya tidak ada, apakah hal itu tidak akan membuat dia bersedih dan rewel?"
"Akan tetapi aku mengkhawatirkan keselamatanmu, Lee-ko!"
"Sejak kapan isteriku yang tercinta meragukan kemampuanku? Aku tidak akan mudah tertimpa malapetaka, Lan-moi. Engkau tahu benar bahwa aku dapat menjaga dan membela diri dari marabahaya. Apa akan kata orang kalau mereka mengetahui bahwa isteri seorang panglima besar mengkhawatirkan keselamatan suaminya dan mengawal suaminya yang sedang bertugas? Tentu kita akan menjadi bahan olok-olok. Jangan khawatir. Aku pasti akan kembali membawa kemenangan. Kau tahu, di Hui-cu sana terdapat pasukan kerajaan sehingga aku dapat memperoleh bantuan mereka."
DewiKZ 374
Akhirnya Cin Lan menyadari kesalahan dan ia tidak mampu membantah lagi. Bagaimanapun juga, perintah
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Kaisar tidak boleh dianggap ringan begitu saja. Ia telah bersikap sebagai seorang isteri yang cengeng dan penakut!
"Baiklah, Lee-ko. Engkau boleh pergi seorang diri, akan tetapi dengan janji bahwa setelah seratus hari engkau sudah harus pulang atau setidaknya memberi kabar. Kalau lewat seratus hari engkau belum pulang, aku pasti akan menyusul dan membantumu."
Terpaksa Thian Lee berjanji kepada isterinya. "Mudah-mudahan saja sebelum lewat seratus hari akan selesailah tugasku itu. Jangan khawatir, Lan-moi."
"Dan kapan engkau akan berangkat?"
"Besok, pagi-pagi sekali karena aku akan pergi dengan menyamar, agar jangan ada orang mengenalku."
Demikianlah, semalam itu Cin Lan tidak pernah mau melepaskan rangkulannya, dan pada keesokan harinya, pagi-pagi sekali sebelum sinar matahari menerangi bumi, Thian Lee sudah berangkat, memakai pakaian seperti seorang pemuda pelajar biasa dan membawa buntalan pakaian, tidak lupa membawa Jit-goat-kiam (Pedang Matahari dan Bulan) yang disembunyikan dalam buntalan pakaiannya. Dia membiarkan kuncir rambutnya tergantung lepas di punggungnya dan kepalanya memakai sebuah topi lebar. Tak seorang pun tahu bahwa pemuda sederhana ini adalah Panglima Besar Kerajaan.
oood0wooo
DewiKZ 375
Un-ciangkun atau Un Kiong, panglima yang tinggal di kota Hui-cu sudah beberapa kali didatangi penjahat yang hendak membunuhnya. Dia tahu bahwa ada persekutuan rahasia di daerahnya. Dia mendengar bahwa sering kali kelihatan orang Jepang berkeliaran di kota Hui-cu dan
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
sekitarnya. Karena itu, dia pun menaruh curiga dan menyebar mata-mata untuk mengamati gerak-gerik orang-orang Jepang itu. Bahkan dia mengutus beberapa orang perwira memimpin seregu perajurit mengadakan perondaan di sekeliling kota Hui-cu dan menangkap kalau ada orang Jepang yang mencurigakan, bahkan memeriksa orang-orang asing yang lewat di daerah itu.
Pada saat pagi, serombongan perajurit yang dipimpin perwiranya mengadakan perjalanan di bukit di sebelah timur Hui-cu. Mereka berjumlah dua losin orang perajurit dan seorang perwira ini adalah satu di antara regu-regu pasukan yang dikirim, oleh Un-ciangkun untuk melakukan perondaan di sekitar wilayah Hui-cu. Para perajurit yang menjadi anggauta regu ini, seperti juga regu-regu yang lain, merupakan perajurit pilihan yang pandai ilmu silat dan bertubuh kuat.
Bukit di mana regu ini meronda nampak sunyi sekali. Pagi itu udara cerah dan para perajurit berjalan sambil bicara. dengan gembira. Kecerahan udara pagi itu membuat hati mereka cerah gembira pula. Mereka semua berjalan kaki, meninggalkan kuda mereka di kaki bukit karena di bukit itu sempit dan berjalan kaki lebih leluasa daripada naik kuda.
Tiba-tiba dari arah depan datang seorang pemuda yang menarik perhatian mereka. Pemuda itu bertubuh tegap dan mengenakan pakaian serba putih, wajahnya tampan dan mulutnya terhias senyum dingin.
DewiKZ 376
Perwira yang memimpin pasukan itu memandang dengan curiga. Memang aneh dan mencurigakan melihat seorang pemuda berpakaian sebagai seorang tuan muda berkeliaran di tempat sunyi seperti itu. Apalagi melihat gagang sepasang pedang berada di punggungnya.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Sobat, berhenti dulu!" perwira itu menegur ketika mereka berhadapan. Pemuda itu adalah Ouw Kwan Lok. Hatinya sedang tidak senang karena dia mengenang dua peristiwa yang amat membuatnya penasaran dan kecewa. Pertama ketika dia menawan Ceng Ceng untuk dijadikan kekasihnya akan tetapi terpaksa dia melepaskan korbannya ketika datang Thian-tok yang datang menolong gadis itu. Peristiwa itu terjadi setahun yang lalu, akan tetapi kalau dia teringat masih saja hatinya merasa penasaran dan kecewa. Kedua kalinya ketika dia bertemu dengan Souw Lee Cin. Dengan bantuan dua orang perarnpok dia berhasil menjebak Lee Cin sehingga gadis itu terbius dan pingsan, lalu oleh dua orang pembantunya gadis yang pingsan itu dibawa kepadanya. Bagaikan daging sudah berada di bibir, tiba-tiba daging itu terlepas ketika Lee Cin ternyata hanya pura-pura pingsan dan bahkan hampir mengalahkan dalam perkelahian. Kalau teringat akan kedua peristiwa itu, hati Kwan Lok menjadi tidak senang, penasaran dan kecewa. Di pagi hari itu, dia sedang teringat akan kegagalan-kegagalan itu dan biarpun mulutnya tersenyum, sebenarnya hatinya sedang mengkal.
Itulah sebabnya ketika perwira kepala regu itu menegur dan menyuruhnya berhenti, hati yang sedang mengkal itu menjadi semakin marah. Biarpun suaranya masih lembut dan mulutnya masih tersenyum, namun di dalam ucapannya terkandung kemarahan.
"Aku tidak ada urusan dengan kalian, mengapa kalian menyuruhku berhenti?" DewiKZ 377
Komandan regu itu menjadi marah karena dia menganggap pemuda itu congkak, walaupun ucapannya lembut. "Hayo katakan siapa engkau dan apa keperluanmu berkeliaran di sini, di mana tempat tinggalmu dan mau apa engkau membawa-bawa pedang!" bentaknya.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Kwan Lok tersenyum lebar dengan pandang mata mengejek. "Namaku Ouw Kwan Lok, tempat tinggalku tidak tetap maka aku merantau dan sampai di tempat ini. Pedang ini kubawa untuk mengusir anjing-anjing yang hendak mengganggu aku dalam perjalananku!"
Komandan regu itu menjadi semakin marah karena dia menganggap bahwa dia bersama anak buahnya yang dimaki anjing-anjing! "Tidak tahukah engkau akan aturan kami bahwa orang biasa tidak diperbolehkan membawa senjata? Hayo berikan sepasang pedang itu kepadaku dan engkau boleh melanjutkan perjalanan."
"Ini adalah sepasang pedangku sendiri, mengapa engkau minta?"
"Kami harus merampas senjata tajam siapa pun, siapa tahu senjata tajam itu akan kau pergunakan untuk merampok!"
"Perwira bermata buta! Apakah engkau tidak dapat membedakan antara perampok dan orang baik-baik? Aku bukan perampok dan sepasang pedang ini tidak akan kuberikan kepada siapa pun."
"Engkau akan melawan pasukan pemerintah?"
"Kau kira aku takut menghadapi serombongan anjing yang hanya pandai menyalak?" jawab Kwan Lok dengan pertanyaan yang menghina.
Perwira itu menjadi marah dan dia memberi aba-aba kepada anak buahnya untuk menyerang pemuda berpakaian serba putih yang berani dan kurang ajar itu.
DewiKZ 378
Para perajurit yang juga sudah marah melihat sikap Kwan Lok yang menantang dan menghina, sudah mencabut golok masing-masing dan mengeroyok pemuda itu. Serangan mereka bagaikan gelombang datangnya,
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
bertubi-tubi banyak golok menyambar ke arah tubuh Kwan Lok. Pemuda ini cepat menggerakkan tubuhnya mengelak dan berloncatan ke sana sini. Karena pengeroyoknya berjumlah dua puluh lima orang dan rata-rata mereka memiliki ilmu golok yang lumayan, maka Kwan Lok terpaksa mencabut sepasang pedangnya dan mengamuk.
Akan tetapi, perwira itu pun memiliki ilmu pedang yang lumayan dan dibantu pengeroyokan dua losin perajurit, mereka mendesak Kwan Lok. Pemuda ini menjadi marah. Tangan kirinya berkali-kali bergerak dan ada sinar menyambar dari tangan kirinya, merobohkan empat orang perajurit yang terkena sambitan pisau terbangnya. Kemudian dia memutar sepasang pedangnya dan mengamuk. Pedangnya bergerak demikian hebatnya sehingga kembali empat operajurit roboh oleh sambaran sepasang pedangnya.
Tiba-tiba datang pula dua losin perajurit. Mereka adalah regu lain yang mengadakan perondaan di bawah bukit dan mereka melihat betapa rekan-rekan mereka sedang bertempur di lereng bukit itu. Maka, komandan regu mereka cepat memimpin mereka mengejar ke lereng bukit dan melihat betapa regu pertama mengeroyok seorang pemuda .berpakaian putih yang amat lihai, regu dua tanpa diminta segera menyerbu dan ikut pula mengeroyok!
DewiKZ 379
Betapa lihainya Kwan Lok, dikeroyok oleh empat puluh orang lebih itu dia menjadi terdesak. Dua orang perwira itu memberi perintah kepada anak buah mereka sehingga mereka mengepung ketat dan menyerang dari semua jurusan. Kwan Lok terpaksa memutar kedua pedangnya untuk menyelimuti tubuhnya agar terlindung dari hujan bacokan golok. Untuk melarikan diri, sukar baginya karena perajurit yang banyak jumlahnya itu telah mengepungnya secara berlapis-lapis.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Pada saat itu, muncul seorang pemuda lain yang juga tampan dan gagah, berpakaian mewah. Dia muncul bersama seorang yang bertubuh pendek kokoh berusia sekitar empat puluh tahun dan ada sebatang pedang bengkok tergantung di punggungnya. Pemuda tampan berpakaian mewah itu bukan lain Siangkoan Tek, sedangkan orang katai itu adalah Yasuki, orang Jepang yang ahli bermain pedang samurai itu. Ketika Yasuki bertemu dengan Siangkoan Tek di jalan, Yasuki segera mengenal pemuda itu. Memang Siangkoan Bhok, majikan Pulau Naga itu amat dikenal oleh semua bajak laut, terutama lagi oleh para bajak laut Jepang yang harus mengakui kehebatan orang-orang Pulau Naga, maka para bajak laut Jepang itu dengan cerdik bersikap sebagai sahabat dengan Pulau Naga, bahkan mereka selalu mengirim barang berharga sebagai tanda persahabatan dan sebagai bagi hasil bajakan mereka. Demikianlah, begitu bertemu Siangkoan Tek, Yasuki mengenalnya dan menghormatinya. Mereka becakap-cakap dan Yasuki mulai membujuk Siangkoan Tek untuk membantu persekutuan mereka untuk menentang pemerintah Mancu.
Siangkoan Tek segera menyatakan persetujuan. Ayahnya sendiri pun tidak suka kepada Pemerintah Mancu, dan mereka sudah sering bentrok dengan pasukan Mancu. Bahkan ketika dia menawan Hwe Li, dia diserbu pasukan kerajaan dan dia sendiri menganggap kerajaan Mancu sebagai pihak pihak yang harus ditentang dan dimusuhi.
DewiKZ 380
Yasuki lalu mengajak Siangkoan Tek untuk pergi ke Hui-cu dan dalam perjalanan itu mereka melihat Ouw Kwan Lok dikeroyok empat puluh lebih perajurit kerajaan. Mereka berdua kagum melihat sepak terjang Ouw Kwan Lok yang menghadapi pengeroyokan itu.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Pemuda itu lihai sekali," kata Yasuki, "dan dia dikeroyok oleh pasukan pemerintah. Kalau dia dapat ditarik menjadi sekutu, tentu akan baik sekali dan memperkuat keadaan kita. Mari kita bantu dia, Siangkoan-kongcu."
Siangkoan Tek setuju karena dia pun tertarik kepada pemuda berpakaian putih yang tampan dan juga lihai itu. Mereka berdua lalu menerjang dari luar kepungan. Dengan terjunnya dua orang ini dalam pertempuran, pihak pasukan menjadi kocar-kacir. Kekuatan mereka terpecah-pecah untuk mengeroyok tiga orang lihai itu.
Akan tetapi ketika pihak pasukan sedang terdesak, muncul Lee Cin! Gadis perkasa ini segera mengenal tiga orang yang dikeroyok para perajurit itu. Ouw Kwan Lok pernah menawannya sampai dua kali dengan cara curang sekali. Pemuda berpakaian putih itu tentu saja menjadi musuh besarnya, Siangkoan Tek juga bukan pemuda baik-baik, ia mengenal putera datuk besar majikan Pulau Naga itu. Adapun orang ke tiga adalah Yasuki yang pernah bertanding dengannya di rumah keluarga Cia. Maka, melihat mereka bertiga dikeroyok pasukan, mudah saja ia mengambil keputusan untuk membantu pihak mana.
"Tiga orang itu penjahat-penjahat besar, jangan sampai lobos!" teriaknya dan dia sudah mencabut Ang-coa-kiam dan menerjang ke dalam pertempuran, langsung saja ia menyerang Ouw Kwan Lok yang paling dibencinya di antara tiga orang itu.
DewiKZ 381
Ouw Kwan Lok terkejut sekali melihat sinar merah menyambarnya, apalagi ketika melihat bahwa yang menyerangnya adalah Souw Lee Cin yang kelihaiannya sudah dia rasakan. Dia cepat menangkis dengan pedang kanannya, sedangkan pedang kiri menahan senjata para pasukan yang mengeroyoknya.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Keryok yang lain, biar yang satu ini aku yang menghajarnya!" teriak Lee Cin kepada para perajurit. Maklum bahwa mereka mendapat bantuan seorang gadis cantik yang amat lihai, para perajurit yang tadinya mengeroyok Kwan Lok segera berbalik dan membantu teman-teman yang mengeroyok Siangkoan Tek den Yasuki. Bantuan Lee Cin membuat keadaan berimbang kembali, bahkan ia sendiri sudah mendesak Ouw Kwan Lok yang sudah jerih terhadapnya.
Karena Lee Cin maklum bahwa dua orang yang lain itu juga lihai dan belum tentu pengeroyokan para perajurit dapat mengalahkan mereka, dikerahkan tenaganya dapat segera mengalahkan Kwan Lok. Ia bukan saja memainkan Ang-coa-kiamsut yang dahsyat, akan tetapi juga menggunakan tangan kirinya untuk menyelingi serangan serangan dengan totokan It-yang-ci yang amat hebat itu.
Yasuki terkejut juga melihat munculnya Lee Cin karena ia pun pernah dirobohkan oleh pendekar wanita yang cantik itu. Niatnya bukan untuk mengalahkan pasukan itu, melainkan lebih untuk menarik hati Kwan Lok agar mau dibujuk untuk bersekutu dengan pihaknya. Maka karena khawatir kalau Kwan Lok akan celaka di tangan Lee Cin, dia pun berteriak dengan keras,
"Kita lari! Tiada gunanya dilanjutkan!"
DewiKZ 382
Agaknya Siangkoan Tek dan Ouw Kwan Lok juga mengerti bahwa pihak mereka akan menderita kerugian kalau pertempuran itu dilanjutkan, terutama sekali Kwan Lok. Maka mendengar seruan ini, dia lalu membalik dan menyerang para pengeroyok untuk membuka jaian. Demikian pula Siangkoan Tek. Akhirnya, dalam keadaan para pengeroyok menjadi kacau sehingga Lee Cin juga terhalang oleh gerakan mereka, tiga orang itu meloncat dan melarikan diri.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Lee Cin merasa penasaran sekali. Ia sudah hampir dapat merobohkan dan membunuh Ouw Kwan Lok yang jahat, akan tetapi pemuda itu dapat membebaskan diri melalui kekacauan para pengeroyok. Karena merasa bahwa ia mampu mengengejar, ia lalu meloncat dan melakukan pengejaran dengan cepat sambil berseru, "Penjahat cabul, engkau hendak lari ke mana?"
Tiga orang itu berlari cepat, akan tetapi gerakan Lee Cin lebih cepat lagi. Para perajurit lalu melakukan pengejaran, akan tetapi mereka tertinggal jauh. Hanya Lee Cin sendiri yang masih terus mengejar ketika tiga orang itu menyusup ke dalam hutan kecil.
Ketika Lee Cin meloncat pula ke hutan dan melakukan pengejaran sampai ke tengah hutan, tiba-tiba tiga orang yang dikejarnya itu berhenti dan membalikkan tubuh, langsung menyambut Lee Cin dengan serangan mereka! Lee Cin menggerakkan pedangnya dan ia lalu dikeroyok tiga. Barulah dara perkasa ini terkejut setelah menghadapi pengeroyokan tiga orang itu. Ia telah masuk perangkap! Akan tetapi sama sekali ia tidak menjadi jerih dan dengan cepat menggerakkan pedangnya melawan mereka.
Dibandingkan dengan Ouw Kwan Lok atau Siangkoan Tek, ilmu kepandaian Lee Cin lebih menang sedikit. Melawan seorang di antara mereka saja, biarpun mampu menang akan tetapi akan makan waktu cukup banyak. Kini ia harus menghadapi pengeroyokan mereka, masih ditambah lagi dengan Yasuki yang menggunakan pedang samurainya! Tentu saja Lee Cin segera terdesak. Akan tetapi ia tidak menyesal dan tak takut sedikit pun juga. Ia akan melawan sampai mati!
DewiKZ 383
"Tangkap ia, jangan bunuh!" teriak Ouw Kwan Lok kepada dua orang yang membantunya.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Ya, jangan bunuh!" kata pula Siangkoan Tek yang sejak lama telah tergila-gila kepada Lee Cin. Bahkan di dalam hatinya dia sudah mengambil keputusan untuk memperisteri Lee Cin. Hanya gadis inilah yang dipilih, yang dirasa cocok untuk menjadi isterinya.
Mendengar teriakan mereka, Yasuki ingin menyenangkan hati kedua orang pemuda yang diharapkan membantu gerakannya itu. Dia lalu mengambil sebuah benda bulat sebesar telur ayam dari saku bajunya dan membantingnya di depan Lee Cin. Terdengar ledakan keras dan asap tebal bergulung-gulung di depan Lee Cin dan membuat gadis itu tidak dapat melihat dengan jelas. Kesempatan itu dipergunakan oleh tiga orang pengeroyoknya untuk menerjang dan mengirim serangan dengan tangan kosong agar tidak melukainya.
"Dukkkk!!" Lee Cin mencoba untuk mengelak, akan tetapi sebuah totokan dari tangan Siangkoan Tek mengenai pundaknya dan ia pun roboh terpelanting dan pedangnya terlepas dari tangannya.
Siangkoan Tek menyambar tubuh gadis itu dan segera dipondongnya, sedangkan Ouw Kwan Lok mengambil pedang ular merah yang terlepas dari tangan gadis itu.
"Yasuki, kelak saja kita bicara, sekarang aku hendak pergi dulu!" kata Siangkoan Tek sambil melangkah hendak membawa pergi Lee Cin yang sudah tak berdaya dan dipondongnya. Akan tetapi sesosok bayangan berkelebat dan tahu-tahu Ouw Kwan Lok sudah berada di depannya dengan alis berkerut.
"Hendak kau bawa ke mana gadis itu?" bentak Ouw Kwan Lok. DewiKZ 384
"Ia calon isteriku!" jawab Siangkoan Tek.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Enak saja kau bicara. Gadis itu adalah musuh besarku. Tidak boleh engkau membawanya pergi. Serahkan kepadaku!"
"Serahkan kepadamu? Apakah engkau gila, sobat?" kata Siangkoan Tek sambil mengerutkan alisnya.
"Gadis itu adalah Souw Lee Cin, ia milikku!" kata pula Ouw Kwan Lok sambil menatap tajam wajah Siangkoan Tek.
"Siapa bilang ia milikmu? Ia calon isteriku!"
Melihat kedua orang pemuda itu sudah saling melotot dengan marah, Yasuki segera melompat ke depan. "Aih, kenapa kalian saling berebutan? Melihat gadis ini menyerang kita, jelas ia bukan sahabat siapa pun di antara kita. Karena itu, daripada kalian berebutan, sebaiknya diambil jalan yang ditempuh orang-orang gagah. Biar kalian bertanding dengan taruhan gadis ini. Siapa yang menang boleh memilikinya, dan yang kalah tidak boleh menuntut. Beranikah kalian bertanding dan saling mengalahkan untuk mendapatkan gadis ini?"
"Tentu saja aku berani!" kata Ouw Kwan Lok.
"Siapa yang takut?" kata pula Siangkoan Tek.
DewiKZ 385
"Bagus, biar aku yang menjaga agar gadis itu tidak kabur." Setelah berkata demikian, Yasuki mengambil tubuh Lee Cin dari pondongan Siangkoan Tek dan merebahkan tubuh yang lemas tak berdaya itu ke atas tanah. "Akan tetapi sebelum bertanding, sebaiknya kalau engkau memperkenalkan dirimu terlebih dulu, sobat!" kata lagi Yasuki sambil memandang kepada Ouw Kwan Lok. "Kita sudah bekerja sama melawan pasukan tadi, berarti kita sudah sepatutnya menjadi sahabat. Namaku sendiri adalah Yasuki, dan Kongcu ini adalah Kongcu Siangkoan Tek,
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
putera dari majikan Pulau Naga." Dia memperkenalkan dirinya dan juga Siangkoan Tek.
Mendengar nama majikan Pulau Naga, Kwan Lok diam-diam terkejut dan memandang Siangkoan Tek penuh perhatian. Pemuda itu lebih muda dua tahun darinya, pakaiannya mewah, gerak-geriknya lembut, wajahnya amat tampan dan sinar matanya menunjukkan kecerdikan. Dia terkejut akan tetapi tidak takut, dan dia pun memperkenalkan dirinya, mengaku siapa guru-gurunya karena dia tahu bahwa di depannya adalah seorang putera datuk sesat.
"Namaku Ouw Kwan Lok. Guruku yang pertama adalah mendiang Pak-thian-ong dan guruku ke dua adalah Mo-ong." Sengaja dia menyebut nama kedua orang gurunya yang keduanya juga datuk-datuk besar untuk mengimbangi kebesaran nama datuk Siangkoan Bhok majikan Pulau Naga!
DewiKZ 386
Benar saja dugaannya. Mendengar nama-nama kedua orang guru itu, Siangkoan Tek tampak kaget. Dia bertemu dengan orang segolongan! Akan tetapi bagaimana mungkin dia mau mengalah kalau itu mengenai diri Lee Cin, gadis yang membuatnya tergila-gila sejak lama? Dia benar-benar hendak memperisteri Lee Cin, bukan sekedar mempermainkannya seperti para wanita lain yang pernah didapatkannya. Dia merasa bahwa ada dua orang wanita yang cocok dan pantas menjadi isterinya, yaitu Tang Cin Lan telah menjadi isteri Song Thian Lee, maka tinggal Souw Lee Cin inilah yang harus menjadi isterinya! Maka, siapa pun yang akan menghalanginya, akan dianggap musuhnya. Akan tetapi dia pun maklum bahwa pemuda seperti Ouw Kwan Lok ini amat menguntungkan kalau dijadikan sekutu, persekutuan untuk menggulingkan Kerajaan Ceng. Siapa tahu usaha itu berhasil dan kelak dia
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
akan mendapat kesempatan untuk menjadi raja baru! Atau setidaknya menjadi bangsawan tinggi. Hal ini tidak kalah pentingnya Souw Lee Cin yang akan dia peristeri.
"Ah, kiranya engkau adalah murid kedua datuk itu! Pantas engkau lihai dan pemberani. Akan tetapi sekali lagi kuberitahukan kepadamu, sobat bahwa Souw Lee Cin ini adalah wanita yang sudah lama kuidam-idamkan menjadi isteriku."
"Saudara Siangkoan Tek, aku pun mengenal nama besar ayahmu. Maafkanlah kalau terpaksa aku tidak mau mengalah karena aku pun tergila-gila kepada Souw Lee Cin, di samping ia adalah musuh besar guru-guruku yang harus kubalaskan dendamnya kepadanya."
"Kalau begitu kita bertanding untuk memperebutkan gadis ini?" tanya Siangkoan Tek.
Ouw Kwan Lok menghela napas panjang. "Aku menyesal sekali. Akan tetapi agaknya tidak ada lain jalan bagi kita kecuali mengadu kepandaian untuk menentukan siapa yang lebih berhak memilikinya."
"Karena kalian bertanding bukan karena permusuhan, aku mengusulkan agar diadakan pertandingan dengan tangan kosong saja," kata Yasuki.
Dua orang pemuda itu saling pandang lalu menganggukkan kepala tanda setuju. Siangkoan Tek memasang kuda-kuda yang gagah sebagai pembukaan ilmu silatnya. Dia hendak memainkan ilmu silat Kui-liong-kun (Silat Naga Iblis) yang diajarkan ayahnya, lalu berkata, "Silakan, saudara Ouw, aku sudah siap!"
DewiKZ 387
Ouw Kwan Lok juga segera memasang kuda-kuda ilmu silat Hek-wan-kun (Silat Lutung Hitam) yang merupakan ilmu silat utara yang bercampur dengan ilmu gulat. Ilmu ini
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
dia pelajari dari mendiang Pak-thian-ong Dorhai, datuk besar dari utara itu.
"Lihat serangan!" bentak Ouw Kwan Lok dan kedua tangannya bergantian mencengkeram dan memukul ke depan dengan dahsyat, bertenaga besar dan cepat sekali. Akan tetapi Siangkoan Tek sudah siap dengan ilmu silat Kui-liong-kun. Dia membuat gerakan melebar ke kiri menghindarkan dua serangan kedua tangan itu dan membalas dengan sodokan tangan ke arah lambung lawan. Akan tetapi Kwan Lok juga dapat mengelak dengan cepat, kemudian kembali dia menyerang, sekali ini kaki kanannya menendang dan ketika tubuh lawan condong ke kanan untuk mengelak, tangan kirinya menyambar untuk menangkap pundak lawan. Kalau tangan kiri itu dapat menangkap pundak, tentu akan dilanjutkan dengan tarikan dan bantingan. Akan tetapi, kembali Siangkoan Tek merendahkan pundaknya untuk mengelak dan tangan kanannya sudah menghantam ke arah kepala lawan. Pukulan ini cepat sekali datangnya sehingga terpaksa Kwan Lok yang tidak keburu mengelak itu memutar lengan kirinya dan menangkis pukulan itu.
"Dessss......!!" Dua lengan bertemu dan keduanya terhuyung ke belakang. Keduanya terkejut karena mendapat kenyataan bahwa tenaga mereka seimbang. Karena maklum bahwa tenaga lawannya tidak kalah kuatnya, Siangkoan Tek mengubah caranya bersilat. Kini dia bersilat dengan lembut gemulai seperti seorang wanita menari dan inilah Ban-tok-ciang (Tangan Selaksa Racun) yang amat hebat dari Siangkoan Bhok!
DewiKZ 388
Ketika merasakan betapa kedua tangan lawannya menyambar-nyambar dan mendatangkan hawa panas, maklumlah Ouw Kwan Liok bahwa lawannya menggunakan pukulan beracun. Dia pun mengubah
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
silatnya, kini dia bersilat dengan ilmu silat Pek-swat-tok-ciang (Tangan Beracun Salju Putih). Kedua tangannya berubah pucat seperti tangan mayat dan dari kedua tangannya menyambar hawa dingin sekali. Perkelahian itu semakin seru dan Yasuki yang menonton dari samping itu merasa bulu tengkuknya meremang menyaksikan betapa kedua orang muda itu menggunakan pukulan yang demikian dahsyatnya. Yang satu mengeluarkan hawa panas dan yang lain mengeluarkan hawa dingin.
-oo0dw0oo-
Jilid: 12
SAMPAI seratus jurus mereka saling serang namun belum tampak siapa yang lebih unggul. Sementara itu, Lee Cin yang melihat kedua orang muda itu bertanding merasa mendapat kesempatan. Diam-diam ia mencoba untuk mengerahkan tenaganya agar totokannya terbuka Namun, ia belum berhasil sehingga dahinya penuh keringat, hanya kedua kakinya saja yang dapat bergerak-gerak sedikit. Sebelum ia berhasil membuat seluruh tubuhnya bergerak, Yasuki menoleh kepadanya. Orang Jepang ini melihat gadis itu menggerak-gerakkan kakinya. Dia segera meloncat mendekati, melolos sabuknya yang berwarna merah dan segera mengikat kedua kaki tangan Lee Cin agar gadis itu tidak dapat meloloskan diri. Yasuki tidak pandai ilmu totok, akan tetapi dia mengerti bahwa kalau totokan itu sudah punah, gadis lihai itu tentu dapat bergerak kembali. Maka sebelum totokan itu punah, dia mengikat kaki tangannya sehingga gadis itu benar-benar tak berdaya!
DewiKZ 389
Lee Cin benar-benar merasa tidak berdaya sekarang. Totokannya saja belum berhasil ia buka, kini kaki tangannya malah diikat dengan tali sutera yang amat kuat.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Akan tetapi biarpun ia tidak berdaya bukan berarti bahwa ia putus asa. Gadis perkasa ini tidak akan putus asa selagi ia masih bernapas! Pedangnya dirampas Ouw Kwan Lok. Yang ada hanya sulingnya yang terselip di pinggang. Akan tetapi ia pun tidak dapat mengambil sulingnya karena kedua tangannya diikat ke belakang tubuhnya. Andaikata dapat juga, untuk apa? Memanggil ular? Kedatangan banyak ular tidak akan mampu membebaskannya, apalagi tiga orang itu amat lihai, tentu tidak takut akan ular. Bahkan andaikata ia dapat memegang sulingnya, benda itu tidak dapat ia pergunakan untuk melepaskan tali yang mengikat kaki tangannya. Ia maklum bahwa siapapun juga yang menang dalam pertandingan itu, tetap saja ia akan celaka. Hanya agaknya malapetaka yang akan menimpa dirinya apabila terjatuh ke tangan Ouw Kwan Lok akan lebih mengerikan. Ia tahu akan niat pemuda itu. Pemuda itu hendak membalaskan sakit hati guru-gurunya, tentu akan menyiksa dan membunuhnya setelah mempermainkannya sebagai pemuas nafsunya. Mengerikan! Kalau terjatuh ke dalam tangan Siangkoan Tek mungkin masih ada harapan untuk lolos, karena pemuda itu menghendaki ia menjadi isterinya, dan tentu akan senang kalau ia menyerahkan diri dengan sukarela daripada dengan paksaan. Ia melirik ke arah mereka.
Lebih dari seratus jurus mereka bertanding akan tetapi belum ada yang menang dan kalah. Siangkoan Tek melompat ke belakang sambil berseru, "Tahan dulu!"
Ouw Kwan Lok menghentikan gerakannya. Keduanya sudah berkeringat. Pertandingan yang seimbang itu menguras tenaga. "Mengapa berhenti?" tanya Kwan Lok.
DewiKZ 390
"Kita sudah bertanding lebih dari seratus jurus dan tidak ada yang mendesak atau terdesak. Kita seimbang dalam
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
ilmu silat tangan kosong. Untuk menentukan kemenangan, bagaimana kalau kita menggunakan senjata?"
"Bagus, aku pun pikir lebih baik begitu!" kata Ouw Kwan Lok. Dia lalu mencabut pedang Ang-coa-kiam yang terselip di ikat pinggang, lalu menyerahkan pedang itu kepada Yasuki. "Biarlah pedang ini menjadi tambahan taruhan pertandingan ini!" Setelah Yasuki menerima Ang-coa-kiam dan meletakkannya di dekat Lee Cin seolah-olah gadis dan pedang itu yang menjadi taruhan di antara kedua orang pemuda itu, Ouw Kwan Lok lalu mencabut sepasang pedangnya dan memasang kuda-kuda di depan Siangkoan Tek.
Pemuda itu juga mencabut pedang tunggalnya dan kembali mereka berhadapan sambil memasang kuda-kuda dan saling pandang dengan sinar mata tajam, seolah dua ekor ayam jantan yang siap berlagak dan bertanding. Diam-diam Yasuki yang mengerutkan alis dan merasa khawatir, maka kembali dia memperingatkan karena dia tidak ingin kehilangan seorang di antara dua pemuda itu.
"Harap kalian ingat bahwa ini hanya pertandingan adu silat, bukan permusuhan. Kita berada di antara orang-orang sendiri!"
Siangkoan Tek tersenyum. Ouw Kwan Lok juga tersenyum. Keduanya mengerti dan tidak merasa khawatir karena mereka yang telah menguasai ilmu pedang dengan baik, tentu saja dapat menguasai gerakan pedang mereka dan dapat menahan kalau pedang akan melukai atau membunuh lawan.
DewiKZ 391
"Silakan, Saudara Ouw!" Tantang Siangkoan Tek dan Ouw Kwan Lok juga tidak ragu-ragu lagi, menggerakkan sepasang pedangnya di atas kepala dan di depan dada.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Lihat serangan pedangku!" dia berteriak dan cepat sekali sepasang pedangnya bergerak dan menyerang. Namun Siangkoan Te k juga sudah siap, dengan mudah dia mengelak dan pedangnya membalas dengan sambaran ke arah leher lawan.
"Tranggg....!" Dua batang pedang bertemu dan bunga api berpijar. Keduanya mundur untuk memeriksa pedang masing-masing. Ternyata pedang mereka tidak rusak, maka mereka menerjang maju lagi dan terjadilah pertandingan yang lebih hebat daripada tadi karena kini yang menyambar-nyambar dahsyat adalah tiga batang pedang yang membentuk lingkaran-lingkaran sinar yang menyilaukan mata.
Lee Cin masih berusaha untuk memunahkan totokan yang membuat ia tidak mampu bergerak. Kalau tadi ia mengharapkan bahwa kedua orang itu akan saling serang dan saling bunuh, harapannya itu menghilang ketika dara ini melihat cara mereka bertanding. Baik tadi maupun sekarang menggunakan pedang, ia tahu bahwa mereka tidak akan saling melukai atau membunuh. Dengan demikian, harapan untuk dapat lolos dari bahaya makin jauh lagi darinya. Betapapun juga, kalau saja ia dapat membebaskan diri dari totokan dan ikatan sabuk sutera itu, tentu ia dapat berusaha untuk meloloskan diri dari ancaman bahaya.
DewiKZ 392
Yasuki yang amat tertarik oleh pertandingan pedang antara kedua orang pemuda itu yang kini terlibat dalam pertandingan yang amat seru. Jago dari Jepang ini kagum sekali dan dia tahu benar bahwa dia sendiri tidak akan mampu menandingi seorang di antara kedua orang pemuda itu. Saking tertarik dan asyiknya dia menonton pertandingan, sampai dia tidak menyadari bahwa ada bayangan orang mengintai tak jauh di belakangnya, di balik
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
sebatang pohon. Akan tetapi Lee Cin yang menghadap ke arah itu, dapat melihat ini dan jantungnya berdebar penuh harapan. Ia tidak tahu siapa bayangan itu dan apa maunya, akan tetapi ia seperti dapat firasat bahwa orang itu tentu akan menolongnya.
Debar jantungnya makin menguat dan harapannya semakin menebal ketika akhirnya ia melihat bahwa bayangan itu adalah seorang berpakaian serba hitam dan memakai kedok hitam yang hanya memperlihatkan sepasang mata yang mencorong tajam. Si Kedok Hitam! Kembali orang aneh itu akan menolongnya!
Si Kedok Hitam menyelinap dari pohon ke pohon dan akhirnya tiba dekat sekali dengan tempat itu. Tiba-tiba dia meloncat ke dekat Lee Cin, tangan kirinya menotok jalan darah membebaskan Lee Cin dari totokan yang membikin ia tak mampu bergerak dan sekali pedangnya berkelebat, ikatan kaki tangan pada tubuh Lee Cin juga putus. Gadis itu cepat menggulingkan tubuhnya ke arah pedangnya dan menyambar pedang itu lalu melompat berdiri.
Setelah Lee Cin bebas, agaknya baru Yasuki mendengar gerakannya. Dia menoleh dan kaget bukan main melihat Lee Cin sudah berdiri dengan Ang-coa-kiam di tangan dan di sebelahnya terdapat seorang berkedok hitam yang matanya mencorong bersinar-sinar!
DewiKZ 393
"Celaka! Ada musuh datang!" teriaknya kepada dua orang pemuda yang sedang bertanding sambil cepat mencabut samurainya dan menyerang ke arah Si Kedok Hitam karena untuk menyerang Lee Cin, dia merasa jetih. Akan tetapi, Si Kedok Hitam dengan amat mudahnya mengelak dari sambaran samurai dan biarpun samurai itu terus mengejarnya, dia tetap mengandalkan kelincahan tubuhnya untuk mengelak ke sana-sini. Kemudian, ketika dia mendapat kesempatan, kakinya menendang dengan
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
cepat seperti kilat menyambar dan tubuh Yasuki terlempar ke belakang bagaikan daun kering ditiup angin. Yasuki terkejut sekali dan dadanya terasa nyeri ketika dia terbanting kemudian mencoba untuk cepat berdiri lagi, akan tetapi dia menyeringai karena dadanya terasa sesak.
Pada saat itu, Ouw Kwan Lok dan Siangkoan Tek berlompatan ke belakang dan memutar tubuh. Mereka kaget bukan main melihat Yasuki terlempar dan terbanting, sedangkan Lee Cin sudah berdiri bebas dengan pedang di tangan di samping seorang berkedok hitam. Yang lebih terkejut adalah Kwan Lok karena dia pernah bertemu dengan Si Kedok Hitam dan mengenal kelihaiannya.
Lee Cin tidak membuang waktu lagi. Cepat ia melompat ke depan dan menyerang Kwan Lok dengan Ang-coa-kiam yang bersinar merah. Di antara kedua orang pemuda itu, Kwan Lok yang paling dibencinya, maka langsung ia menyerang pemuda itu dengan pedangnya. Terpaksa Kwan Lok menangkis dan segera keduanya bertanding dengan seru.
DewiKZ 394
Siangkoan Tek juga kaget melihat Lee Cin sudah bebas. Melihat Si Kedok Hitam, maklumlah dia bahwa orang ini yang telah menolong Lee Cin. Maka dia pun cepat menyerang Si Kedok Hitam dengan pedangnya dan segera kedua orang ini pun terlibat dalam perkelahian yang seru. Ketika Si Kedok Hitam menangkis pedangnya, barulah Siangkoan Tek terkejut karena tangannya yang memegang pedang tergetar hebat, tanda bahwa Si Kedok Hitam itu memiliki tenaga sakti yang kuat sekali. Dia mempercepat serangannya dan kini mengerahkan seluruh tenaganya dan mengeluarkan jurus-jurus terampuh dari Kui-liong-kiam-sut (Ilmu Pedang Naga Iblis). Namun, Si Kedok Hitam dapat mengimbanginya dengan ilmu pedangnya yang cepat dan mengandung tenaga.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Yasuki menjadi gelisah sekali. Dia tahu bahwa Si Kedok Hitam juga memiliki kepandaian tinggi sehingga belum tentu Siangkoan Tek dapat menang. Terutama sekali dia melihat betapa Lee Cin mengamuk dan mendesak terus kepada Kwan Lok sehingga biarpun pemuda itu menggunakan sepasang pedang, dia terpaksa banyak main mundur.
Melihat keadaan yang tidak menguntungkan ini, Yasuki mengambil dua buah benda seperti bola dari saku bajunya dan berseru kepada dua orang pemuda itu. "Mari, cepat kita pergi!" Dan dia lalu membanting kedua buah bola itu. Terdengar dua kali suara ledakan dan tampak asap putih mengepul tebal. Melihat ini, Lee Cin teringat betapa tadi dia dapat tertawan juga karena Si Jepang itu mempergunakan alat peledak. Maka ia cepat berseru kepada Si Kedok Hitam.
"Cepat menghindar ke belakang!" Ia sendiri melompat dengan cepat menjauhi asap tebal yang mengaburkan pandangan mata itu. Ternyata Si Kedok Hitam juga sudah melompat ke belakang. Ketika kemudian mereka mencari-cari tiga orang itu sudah tidak berada di situ lagi, telah melarikan diri dengan bantuan asap tebal sehingga tidak tampak oleh Lee Cin dan Si Kedok Hitam.
Lee Cin membanting-banting kaki dengan hati kesal. "Mereka dapat melarikan diri lagi!"
"Mereka sudah pergi, tidak dapat dikejar lagi. Dua orang itu memang lihai sekali."
DewiKZ 395
"Sobat, kembali engkau telah menyelamatkan aku dari malapetaka yang hebat. Dua kali engkau menolongku. Akan tetapi bagaimana mungkin aku akan dapat membalas budi kebaikanmu itu kalau aku tidak tahu engkau ini siapa?
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Karena itu, kumohon kepadamu, perkenalkanlah wajah dan namamu kepadaku."
Si Kedok Hitam menghela napas panjang. "Aku mempunyai alasan yang kuat untuk menyembunyikan wajahku di balik kedok ini, Nona. Karena itu maafkan kalau aku belum dapat memperkenalkan diri kepadamu. Dan tentang pertolongan itu, tidak perlu dipikir apalagi dibalas. Semua itu kulakukan sebagai kewajibanku dan aku yakin engkaupun juga akan menolong siapa saja tanpa pamrih sedikit pun untuk diingat atau dibalas."
Khawatir kalau Si Kedok Hitam segera meninggalkannya, cepat Lee Cin berkata, "Baiklah, kalau engkau tidak mau memperkenalkan diri, aku pun tidak dapat memaksamu. Akan tetapi perlu kuperingatkan kepadamu bahwa keluarga Cia berada dalam bahaya besar."
Si Kedok Hitam memandang dan sinar matanya yang tajam itu penuh selidik. "Apa maksudmu, Nona?"
"Aku tahu bahwa keluarga Cia mengadakan hubungan persekutuan dengan orang Jepang bernama Yasuki itu. Kini Yasuki berada bersama dua orang pemuda itu, maka hal itu berarti bahwa ke luarga Cia juga mengadakan hubungan dengan mereka. Inilah sebabnya kukatakan bahwa keluarga Cia berada dalam bahaya besar."
"Siapakah kedua orang muda yang lihai itu, Nona?"
DewiKZ 396
"Engkau tidak mengenal mereka? Yang bertanding denganrnu tadi adalah Siangkoan Tek, putera dari majikan Pulau Naga Siangkoan Bhok yang juga berjuluk Tung-hai-ong, datuk besar dari timur. Adapun orang ke dua yang bertanding denganku tadi bernama Ouw Kang Lok dan dia adalah murid mendiang Pak-thian-ong dan Thian-te Mo-ong, datuk dari utara dan selatan."
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Ah, pantas saja ilmu silat mereka demikian lihail" kata Si Kedok Hitam.
"Itulah sebabnya mengapa kukatakan bahwa keluarga Cia terancam bahaya besar kalau mereka mengadakan hubungan dengan dua orang dari golongan sesat itu. Tentu keluarga Cia akan dimusuhi oleh pemerintah dan juga oleh para pendekar."
"Akan tetapi mengapa engkau ceritakan hal itu kepadaku?"
"Karena aku harap engkau akan dapat memperingatkan keluarga Cia. Karena aku yakin bahwa engkau tentulah seorang anggauta keluarga itu. Akan tetapi mengapa engkau memusuhi Yasuki, padahal orang Jepang itu adalah sekutu keluarga Cia. Sobat, engkau membingungkan aku. Setidaknya katakanlah apakah dugaanku benar, bahwa engkau anggauta keluarga Cia?"
DewiKZ 397
"Tidak dapat kukatakan, Nona, dan selamat tinggal!" Si Kedok Hitam berkelebat cepat sekali dan lenyap dari situ. Lee Cin hendak mengejar, akan tetapi ia merasa tidak ada gunanya membujuk Si Kedok Hitam itu untuk membuka rahasia siapa dirinya. Terpaksa ia pun meninggalkan hutan di bukit itu dan di sepanjang perjalanan, kenangan akan Si Kedok Hitam tak pernah dapat ia lupakan. Ada dua hal yang berlawanan mengenai diri orang aneh itu. Ia mengira bahwa Si Kedok Hitarn tentulah anggauta keluarga Cia, mungkin Cia Tin Siong yang juga berilmu tinggi, tampan dan lemah lembut namun gagah perkasa. Mungkin dia tidak menggunakan suling peraknya karena hal itu tentu akan membuka rahasia penyamarannya dan dia mempergunakan sebatang pedang. Akan tetapi andaikata benar, dia itu Cia Tin Siong, kenapa memusuhi Yasuki yang ia tahu sendiri bersekutu dengan keluarga Cia?
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Lee Cin menjadi bingung. Hatinya tertarik dan terkesan sekali dengan kepribadian Si Kedok Hitam yang telah dua kali membebaskannya dari ancaman bahaya yang lebih mengerikan daripada maut. Ingin rasanya selalu berdekatan dan bercakap-cakap dengan Si Kedok Hitam. Akan tetapi ia tidak dapat membayangkan bagaimana wajahnya. Mungkin Cia Tin Siong, atau mungkin orang lain sama sekali yang tidak ada hubungannya dengan keluarga Cia. Yang jelas, dia memiliki bentuk tubuh yang sedang dan lembut namun kokoh seperti tubuh Tin Siong. Lee Cin menjadi bimbang dan penasaran.
Oood-wooO
Karena merasa penasaran dan ingin sekali mengetahui siapa adanya Si Kedok Hitam, Lee Cin lalu mengambil lain jalan. Si Kedok Hitam pernah berkunjung ke rumah Ji-taijin, agaknya mempunyai niat untuk membunuh pembesar yang setia kepada kerajaan itu. Sudah jelas bahwa pembesar itu dimusuhi oleh keluarga Cia dan Yasuki serta panglima yang disebut Phoa-ciangkun seperti yang pernah ia dengar dari percakapan mereka di taman keluarga Cia. Kalau Ji-taijin dimusuhi, besar kemungkinan Ji-taijin mengetahui siapa Si Kedok Hitam yang memusuhi itu. Pikiran ini membuat Lee Cin kembali lagi ke kota Hui-cu.
DewiKZ 398
Hari masih pagi ketika Lee Cin mengunjungi gedung besar tempat tinggal Ji-taijin, kepala daerah Hui. Para perajurit yang berjaga di gardu depan, memandang kepadanya dengan heran. Jarang atau bahkan hampir tak pernah terjadi ada seorang gadis cantik berkunjung dan minta bertemu dengan Ji-taijin. Melihat pakaian gadis cantik itu yang serba ringkas dan suling yang terselip di pinggang, para penjaga itu dapat menduga bahwa Lee Cin
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
tentu seorang gadis kang-ouw, maka timbul kecurigaan mereka.
"Siapakah namamu, Nona dan dari mana engkau datang?" tanya kepala jaga.
"Namaku Souw Lee Cin dan aku datang dari pegunungan Hong-san. Aku ingin bertemu dan bicara dengan Ji-taijin untuk sesuatu urusan yang penting sekali."
Para perajurit itu semakin curiga. "Nona harus memberitahukan lebih dulu urusan apakah yang hendak Nona bicarakan dengan Tai-taijin," kata pula kepala jaga yang mukanya brewok dan tubuhnya tinggi besar.
Lee Cin menjadi hilang kesabarannya. Akan tetapi ia teringat betapa pembesar itu sudah siap siaga untuk menghadapi kunjungan Si Kedok Hitam, maka tentu peraturan ini untuk menjumpainya diperketat karena para penjaga harus berhati-hati menjaga keselamatannya.
"Apakah itu merupakan suatu keharusan dan kenapa?" Lee Gin berbalik tanya kepada kepala jaga itu.
"Tentu saja, Nona. Kalau kami melapor ke dalam tentu kami akan ditanya dengan sejelasnya. Tanpa dapat memberi keterangan yang jelas tentang orang yang ingin bertemu, kami tentu akan dipersalahkan."
Lee Cin berpikir bahwa alasan itu benar juga. Yang hendak dikunjungi adalah seorang pembesar, orang terpenting di Hui-cu karena Ji-taijin adalah kepala daerah, maka tentu saja sebelum menemuinya, pembesar itu tentu ingin tahu lebih dulu apa yang menjadi maksud kunjungannya.
DewiKZ 399
"Katakan bahwa aku datang untuk bicara dengannya tentang Si Kedok Hitam yang pernah mengganggunya."
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Benar saja. Ketika mendengar ini, semua penjaga yang jumlahnya kurang lebih lima belas orang itu terbelalak dan segera mengepung Lee Cin!
"Nona Souw, apa yang kau ketahui tentang Si Kedok Hitam? Tahukah engkau di mana dia sekarang bersembunyi? Kami harus menangkapnya!"
"Aku tidak tahu di mana dia bersembunyi. Akan tetapi ketika malam itu dia berkunjung ke gedung ini, di atas atapnya aku pernah bertemu dengannya dan kami sampai bertanding. Akan tetapi dia dapat meloloskan diri dan lari. Karena itulah hari ini aku ingin bicara dengan Ji-taijin tentang dia. Nah, sudah jelaskah? Jangan mengira bahwa aku bermaksud buruk terhadap Ji-taijin. Aku tahu bahwa beliau adalah seorang pembesar yang bijaksana, aku bahkan hendak melindunginya!"
"Kalau begitu, duduklah dulu, Nona Souw. Akan kami kabarkan ke dalam dan kalau Ji-taijin sudah menyatakan bersedia bertemu denganmu, tentu engkau akan kami hadapkan beliau."
Lee Cin mengangguk lalu duduk di atas bangku dalam gardu itu. Para penjaga memandangnya dari luar gardu dengan sinar mata kagum mendengar bahwa gadis itu pernah bertanding dengan Si Kedok Hitam! Kepala jaga itu lalu pergi ke gedung untuk melaporkan maksud kunjungan Lee Cin kepada para pengawal di dalam gedung untuk disampaikan kepada Ji-taijin.
DewiKZ 400
Pembesar kepala daerah Hui-cu itu bernama Ji Kian, berusia empat puluh lima tahun dan dia seorang pejabat pemerintah yang bijaksana dan mencinta rakyatnya. Karena itu semua rakyat di Hui-cu, terutama kaum miskinnya, amat menghormatinya dan menyukainya. Dia seorang dermawan yang dengan gigih berjuang di waktu daerahnya
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
sedang dilanda musim kering berkepanjangan. Dia mengatur penggalian sungai-sungai kecil sehingga saluran air di Hui-cu berjalan lancar, tidak lagi terdapat bajir di kala hujan lebat. Gudang berasnya selalu terbuka bagi mereka yang kekurangan makan. Di waktu hari-hari besar, terutama di hari tahun baru Imlek, dia membagi-bagikan hadiah kepada fakir miskin. Karena Ji-taijin seorang pejabat yang baik dan tidak korup, juga bersikap tegas kepada bawahannya, maka rata-rata para petugas pernerintah di Hui-cu juga bekerja dengan jujur dan baik. Tidak ada bawahan berani melakukan korupsi jika atasannya jujur dan anti korupsi. Sebaliknya, apabila pemimpin tertinggi melakukan korupsi, dengan sendirinya bawahannya tentu akan mencontoh atau setidaknya tidak takut untuk melakukan korupsi karena atasan mereka juga berbuat hal yang sama.
Ketika Ji-taijin mendengar bahwa ada seorang gadis cantik yang diduga seorang gadis kang-ouw ingin bertemu dan bicara dengannya mengenai urusan Si Kedok Hitam, dia terkejut dan terheran. Akan tetapi dia yakin bahwa gadis ini tidak mempunyai niat buruk. Orang yang berniat buruk tidak akan terang-terangan menghadapnya seperti itu, melainkan berusaha masuk seperti maling. Maka, dia pun siap menerima Lee Cin di dalam ruangan tamu yang besar dan tentu saja dia mempersiapkan pengawal-pengawalnya yang berjaga mengepung ruangan itu dan ada pula enam orang yang berjaga di dalam ruangan.
DewiKZ 401
Lee Cin mengetahui bahwa ruangan itu terjaga keras, maka ia tersenyum ketika diantar penjaga memasuki ruangan tamu itu, di mana sudah duduk Ji-taijin yang menantinya. Begitu melihat seorang setengah tua duduk di ruangan itu dengan sikap santai dan dengan senyum di
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
bibir, Lee On segera memberi hormat dengan mengangkat kedua tangannya ke depan dada.
"Harap Taijin suka maafkan kalau saya mengganggu waktu Taijin yang berharga," katanya.
Ji-taijin tersenyum lebar dan menggerakkan tangannya ke arah sebuah kursi di depannya, terhalang meja besar. "Silakan duduk, Nona Souw, dan jangan sungkan-sungkan."
"Terima kasih," kata Lee Cin lalu duduk di atas kursi itu. Ia melirik ke arah enam orang pengawal yang berdiri di belakang pembesar itu dan tersenyum.
"Jangan salah sangka, Nona. Semenjak rumah ini diganggu penjahat, terpaksa kami bersikap hati-hati dan pengawal selalu menemaniku. Akan tetapi mereka adalah pengawal-pengawal pribadi yang dapat dipercaya, maka kalau Nona hendak menceritakan sesuatu kepada kami, silakan dan jangan ragu-ragu. Nah, ceritakan siapa diri Nona dan apa yang mendorong Nona datang menemui kami."
DewiKZ 402
"Taijin, saya bermana Souw Lee Cin dan saya datang jauh dari Pegunungan Hong-san. Saya melakukan perantauan dan kebetulan saja saya lewat di sini. Beberapa hari yang lalu, pada suatu malam saya melihat bayangan orang berkelebat di atas gedung ini. Karena saya mendengar bahwa Ji-taijin adalah seorang pembesar yang bijaksana, aku menyangka buruk dan segera mengejar bayangan itu. Ternyata dia seorang yang berkedok hitam dan saya menyerangnya. Terjadi perkelahian di antara kami dan dia melarikan diri. Nah, kedatangan saya ini untuk menyelidiki siapa adanya Si Kedok Hitam itu, Taijin, karena saya tertarik hendak menangkapnya. Taijin yang menjadi sasaran penyerangannya tentu mengerti mengapa hal itu
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
terjadi dan mungkin Taijin dapat menduga siapa adanya Si Kedok Hitam itu."
Pembesar itu mengangguk-angguk setelah mendengarkan Lee Cin sambil menatap tajam wajah gadis itu penuh selidik. "Kami tertarik sekali mendengar laporan penjaga luar tadi, maka kami bergegas hendak menemuimu, Nona Souw. Kami sendiri sudah menyebar banyak penyelidik untuk mencari orang itu, akan tetapi semua usaha kami tidak berhasil. Setelah kami melakukan penjagaan ketat, penjahat berkedok hitam itu tidak pernah tampak lagi. Dan kemarin, pengawal mendapatkan sepucuk surat tertancap di dinding dengan pisau belati. Karena Nona bermaksud membantu kami menangkap Si Kedok Hitam, maka bolehlah Nona ikut membaca isi surat itu." Ji-taijin mengambil sehelai kertas dari saku bajunya dan memberikannya kepada Lee Cin. Dengan sikap tenang dan hormat Lee Cin menerima surat itu dan membacanya,
Ji-taijin yang terhormat,
Karena engkau dikenal sebagai seorang pejabat yang bijaksana, maka aku tidak akan membunuh atau menyakitimu. Akan tetapi ingatlah bahwa engkau adalah seorang Han, maka jangan membiarkan dirimu menjadi antek penjajah Mancu yang memeras rakyat jelata.
Si Kedok Hitam.
Membaca surat yang ditulis dengan huruf-huruf indah dan rapi itu, Lee Cin termangu dan kagum. Dilihat dari tulisannya, jelas dapat diketahui bahwa Si Kedok Hitam adalah seorang terpelajar baik. Kata-katanya hormat dan halus, tulisannya gagah dan lembut. Ia mengembalikan surat itu kepada Ji-taijin yang menyimpannya kembali.
DewiKZ 403
"Kalau menurut bunyi suratnya, dia tidak bermaksud buruk terhadap diri Taijin. Akan tetapi dapatkah Taijin
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
menduga siapa kira-kira orang yang menggunakan nama Si Kedok Hitam itu?"'
"Sudah kami katakan bahwa kami belum mengetahuinya, Nona. Akan tetapi melihat isi suratnya, mudah diduga bahwa dia tentulah seorang di antara golongan yang menamakan diri mereka patriot pejuang rakyat. Akhir-akhir ini memang kami telah mengetahui bahwa ada gerakan para patriot itu di daerah ini. Akan tetapi karena tidak tampak bukti mereka melakukan hal-hal yang mengacaukan atau merugikan, kami pun tidak melihat bukti dan tidak dapat berbuat sesuatu kecuali berjaga-jaga."
"Hemm, saya mendengar berita di dunia persilatan bahwa keluarga Cia yang tinggal di kota ini adalah keluarga patriot. Benarkah itu, Taijin?"
Pembesar itu memandang kagum dan mengangguk-angguk. "Agaknya pengetahuan Nona cukup luas. Kami juga mendengar demikian. Akan tetapi keluarga itu tidak pernah memperlihatkan sikap bermusuhan dengan para pejabat, bahkan mereka terkenal sebagai keluarga pendekar yang menentang para penjahat, maka kami pun tidak dapat berbuat apa-apa. Patriot atau bukan, selama mereka itu bersikap baik, menentang kejahatan dan menjaga ketenteraman kehidupan rakyat, pasti tidak akan kami tentang."
DewiKZ 404
"Bagaimana dengan berita bahwa ada orang-orang asing dari Jepang yang berkeliaran di daerah ini, Taijin? Saya mendengar bahwa orang-orang Jepang itu bersikap mencurigakan, bukan sebangsa pedagang biasa. Siapa tahu mereka itu mata-mata yang dikirim orang-orang Jepang untuk menyelidiki keadaan di Hui-cu."
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Pejabat itu menggeleng kepalanya. "Nona, kami adalah pegawai yang mengurus pemerintahan sipil. Mengenai hal itu, ada pejabat lain yang mengurusinya."
"Misalnya Panglima Un?" Lee Cin bertanya.
"Agaknya pengetahuan Nona memang luas. Dugaanmu benar. Mengenai keamanan pemerintahan, yang bertugas di daerah ini adalah Un-ciangkun. Mungkin dia lebih mengetahui tentang orang-orang Jepang yang kau tanyakan itu."
Lee Cin menganggguk-angguk. Mungkin Un-ciangkun juga lebih tahu tentang Si Kedok Hitam daripada kepala daerah ini. Ia lalu bangkit berdiri dan berkata, "Banyak terima kasih atas kesediaan Taijin menerima saya dan atas semua keterangan yang saya dapatkan. Saya mohon diri, Taijin, dan mudah-mudahan Si Kedok Hitam tidak akan mengganggu Taijin lagi. Selamat tinggal."
Ji-taijin membalas penghormatan itu karena dia dapat menduga bahwa gadis itu bukan orang sembarangan dan berkata ramah, "Selamat jalan, Nona."
DewiKZ 405
Biarpun ia tidak mendapat keterangan siapa adanya Si Kedok Hitam, setidaknya ia tahu banyak tentang orang aneh itu, bahkan melihat tulisannya yang indah. Sekarang ia dapat sedikit menyelami watak Si Kedok Hitam. Agaknya orang itu bukan termasuk segolongan orang seperti Cia Hok dan Cia Bhok yang menentang pemerintah dan suka bersekutu dengan orang Jepang dan panglima yang memberontak. Membaca tulisan suratnya, Lee Cin dapat mengambil kesimpulan bahwa Si Kedok Hitam berwatak patriot dan pendekar yang biarpun menentang pemerintah penjajah, namun tidak berniat jahat terhadap pejabat pemerintah yang bijaksana. Sikap ini mengingatkannya kepada Cia Tin Han. Pemuda lemah
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
lembut itu juga bercita-cita mengumpulkan orang-orang yang berjiwa patriot murni, bukan sekedar pemberontak yang menganggap semua pejabat pemerintah adalah antek penjajah. Teringat ini Lee Cin terkejut sendiri dan alisnya berkerut. Si Kedok Hitam itu Cia Tin Han? Ah, sama sekali tidak mungkin. Tin Han adalah seorang terpelajar yang lemah dan tidak suka belajar ilmu silat. Pula, pendirian Si kedok Hitam seperti yang tersirat dalam suratnya kepada Ji-taijin sama sekali berbeda dengan pendirian keluarga Cia. Mana mungkin Tin Han menentang pendirian keluarganya sendiri?
Pagi itu Lee Cin langsung mengunjungi rumah besar Un-ciangkun di sudut kota karena ia mengharapkan akan mendapatkan keterangan yang lebih banyak dari panglima ini tentang Si Kedok Hitam dan tentang orang-orang Jepang. Ia tertarik untuk menyelidiki orang Jepang setelah melihat betapa Yasuki bergabung dengan pemuda-pemuda golongan sesat seperti Siangkoan Tek dan Ouw Kwan Lok.
Oood_woooO
DewiKZ 406
Un-ciangkun yang bernama Un Kiong adalah seorang pembesar militer yang bertubuh tinggi besar dan gagah perkasa. Pakaian panglimanya selalu rapi dan sikapnya terus terang dan terbuka mencerminkan watak yang jujur dan tidak suka berbelit-belit. Di Hui-cu dia amat terkenal sebagai seorang panglima yang bersikap menyayang dan lembut terhadap anak buahnya, akan tetapi kalau ada anak buah yang berbuat kesalahan, dia dapat bersikap keras dan penuh disiplin. Setelah dia memimpin pasukan di Hui-cu, daerah itu menjadi aman dari perampok dan penindas rakyat. Kalau ada orang mempergunakan kekuatan dan kekuasaan bersikap sewenang-wenang dan rakyat yang ditindas itu melapor kepadanya, langsung akan dia tangani
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
dan dia hukum mereka yang bertindak sewenang-wenang mengandalkan kekuatan dan kekuasaan itu. Karena ini, dia amat dibenci oleh bangsa perampok dan pencuri, akan tetapi disayang oleh rakyat. Rakyat di daerah Hui-cu merasa bahagia mempunyai seorang pembesar seperti Ji-taijin dan seorang panglima seperti Un-ciangkun. Mereka dapat tidur nyenyak dengan penuh keyakinan bahwa tidak ada orang jahat berani mengganggu mereka. Mereka si rakyat kecil merasa terlindung, karenanya rakyat akrab dan menyayang perajurit. Di bawah bimbingan Un-ciangkun, para perajurit bersikap seperti sanak kadang rakyat jelata, dan ke manapun mereka pergi, selalu disambut dengan wajah cerah gembira oleh rakyat di dusun-dusun, seperti orang-orang dikunjungi para penolong dan penyelamat mereka. Un-ciangkun tahu bahwa negara baru kuat kalau pasukannya dan rakyatnya bersatu padu. Rakyat yang merasa dilindungi akan membalasnya dengan rasa setia-kawan dan tentu dengan senang hati akan membantu petugas pasukan untuk menentang kejahatan dan menjaga keamanan. Sebaliknya kalau tentaranya menimbulkan perasaan takut dan benci di hati rakyatnya, maka negara tidak akan menjadi kuat, tidak akan mendapat dukungan rakyat.
DewiKZ 407
Pangllima Un Kiong tinggal bersama isterinya, berdua saja karena biarpun usianya sudah empat puluh lima tahun, dia belum mempunyai seorang pun anak. Rumahnya di Hui-cu adalah sebuah bangunan kuno, dan markas pasukannya berada di luar kota, tidak jauh dari pintu gerbang sebelah selatan kota Hui-cu. Dia memimpin sepuluh ribu orang pasukan di daerah ini, dan rumahnya yang kuno, dan besar selalu dijaga oleh seregu pasukan secara bergilir siang malam.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Pada pagi hari itu, dua losin perajurit yang berjaga di gardu depan rumah gedung itu dibikin terkejut dan heran dengan munculnya Lee Cin di depan mereka. Tidak seperti kebiasaan para perajurit yang suka menggoda apabila melihat seorang gadis cantik, para perajurit itu hanya menyimpan kekagumannya dalam hati dan hanya memperlihatkan kekaguman itu dalam pandang matanya saja. Satu di antara pantangan besar bagi panglima Un adalah kalau anak buahnya rnenggoda dan menghina wanita. Dilarang keras mengganggu wanita, akan tetapi para perajurit itu diijinkan kalau mau menikah secara baik-baik. Untuk keluarga perajurit disediakan tangsi sebagai tempat tinggal mereka.
Dua losin orang perajurit itu memandang kepada Lee Cin dan kepala regu segera maju menghadapi gadis yang berhenti di depan gardu mereka itu.
"Nona mencari siapakah? Dapatkah kami membantumu, Nona?"
Kepala regu itu tinggi besar bermuka hitam, akan tetapi sikapnya yang sopan dan ramah menyenangkan hati Lee Cin. Gadis itu tersenyum dan wajahnya lebih cerah lagi melihat betapa para perajurit lainnya hanya memandang kepadanya, tidak ada yang membuat gerakan atau mengeluarkan kata-kata tidak sopan. Dari sikap para perajurit ini saja Lee Cin dapat menduga bahwa panglimanya tentu seorang yang bijaksana dan berdisiplin.
"Terima kasih. Aku ingin bertemu dengan Un-ciangkun. Dapatkah Saudara melaporkan kedatanganku kepadanya?"
DewiKZ 408
Kepala regu itu mengamati Lee Cin dengan penuh perhatian. Dia melihat suling yang terselip di pinggang itu dan matanya yang tajam juga melihat lingkaran berwarna keemasan di pinggang itu. Sebagai seorang yang
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
berpengalaman tahulah dia bahwa benda yang melibat pinggang ramping gadis itu adalah sebatang pedang yang lentur dan baik. Dia mengerutkan alisnya.
"Nona, beritahukan dulu namamu dan apa keperluanmu."
"Namaku Souw Lee Cin dan aku ingin bicara dengan Un-ciangkun mengenai Si Kedok Hitam dan orang-orang Jepang."
Kepala regu itu membelalakkan matanya dan pandang matanya menjadi waspada. "Nona, menurut penuturan di sini, siapa yang hendak menghadap Un-ciangkun tidak diperbolehkan membawa senjata. Karena itu, lepaskan pedangmu itu dan tinggal di sini."
Lee Cin tersenyum dan meraba pinggangnya. "Aku tidak dapat dipisahkan dari pedangku ini. Akan tetapi aku hendak menghadap Un-ciangkun dengan niat baik, tidak mempunyai niat untuk menyerangnya. Katakanlah kepada Un-ciangkun bahwa aku membawa berita yang penting baginya."
Kepala regu itu merasa ragu, akhirnya dia berkata, "Nona tunggulah di sini sebentar, biar aku melaporkan ke dalam untuk bertanya apakah Un-ciangkun bersedia menerimamu ataukah tidak."
DewiKZ 409
Lee Cin mengangguk lalu duduk di atas sebuah bangku di dalam gardu. Sikapnya tenang sekali membuat para perajurit memandang semakin kagum. Mereka dapat menduga bahwa gadis itu tentulah seorang gadis kang-ouw, karena kalau gadis biasa, tidak mungkin dapat bersikap setenang itu berada di gardu di tengah-tengah dua losin orang perajurit.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Kepala regu melapor ke dalam dan menceritakan keadaan Lee Cin dengan jelas kepada Un-ciangkun. Panglima yang tinggi besar ini adalah seorang yang berani dan banyak pengalaman. Mengapa mesti khawatir menerima kunjungan seorang gadis kang-ouw? Bagaimanapun juga, dia dapat menjaga diri dan pula di tempat itu terdapa banyak pengawalnya. Maka dia menyuruh kepala regu membawa gadis itu kepadanya.
Lee Cin melangkah dengan tegap ketika kepala regu itu membawanya menghadap Un-ciangkun. Setelah gadis itu memasuki sebuah pintu, kepala regu lalu meninggalkannya. Lee Cin melangkah masuk ke dalam ruangan itu dan melihat seorang panglima tinggi besar berdiri di dekat jendela. Biarpun dia hanya seorang diri saja, namun Lee Cin merasa bahwa tempat itu telah dikepung banyak orang dan panglima itu sedikit pun tidak merasa khawatir. Mendengar langkah kaki Lee Cin, Un-ciangkun membalikkan tubuhnya dan Lee Cin melihat wajah yang gagah dengan sepasang mata yang tajam bersinar. Lee Cin segera mengangkat kedua tangannya memberi hormat kepada panglima itu.
Un-ciangkun melangkah maju. "Nona yang bernama Souw Lee Cin?"
"Benar, Ciangkun. Terima kasih atas kesediaan Ciangkun menerima saya menghadap."
"Hemm, duduklah, Nona. Tentu ada keperluan penting maka Nona demikiar berani untuk menghadap kami seorang diri. Duduklah!"
DewiKZ 410
Lee Cin duduk menghadapi meja besar dan panglima itu duduk di seberang meja. Seorang panglima yang gagah, pikir Lee Cin setelah mengamatinya. Pakaiannya rapi dan
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
bersih, pedang panjang tergantung di pinggang kirinya dan panglima ini tampak kokoh kuat.
"Kedatangan saya ini memang membawa berita penting sekali kepada Ciangkun. Akan tetapi sebelum saya menceritakan berita itu, lebih dulu saya minta imbalan."
Sepasang mata itu terbelalak, lalu sepadang alis yang tebal itu berkerut. "Imbalan? Kami tidak mengutus Nona memberikan berita apa pun, mengapa Nona minta imbalan? Kalau tidak ingin menceritakan, sudahlah, Nona boleh pergi. Kami tidak bersedia memberi imbalan!"
Sikap yang tegas dan jujur, pikir Lee Cin. Sikap yang menunjukkan bahwa panglima tinggi besar ini seorang jujur dan jantan, tidak suka akan hal yang berliku-liku.
"Imbalannya juga sebuah keterangan atau penjelasan darimu, Ciangkun. Saya ingin bertanya kepada Ciangkun tentang seorang yang selalu memakai kedok hitam. Tahukah Ciangkun siapa sebenarnya Si Kedok Hitam itu?"
Mendengar disebutnya Si Kedok Hitam, panglima itu menatap wajah Lee Cin dengan tajam penuh selidik, kemudian berbalik bertanya, "Apa hubungan Nona dengan Si Kedok Hitam? Mengapa Nona menanyakannya?"
DewiKZ 411
Lee Cin maklum dari ucapan panglima itu bahwa dia tentu sedikit banyak mengetahui tentang Si Kedok Hitam, maka ia pun berterus terang, "Ciangkun, pada beberapa malam yang lalu saya melihat bayangan bekelebat di atas gedung tempat tinggal Ji-taijin. Saya mengejar bayangan itu dan kami sempat bertanding akan tetapi bayangan itu melarikan diri. Bayangan itu memakai kedok hitam maka selanjutnya saya menamakan dia Si Kedok Hitam. Ilmu silatnya lihai sekali dan saya ingin sekali menyelidiki siapa sebenarnya dia. Saya telah mengunjungi Ji-taijin, akan tetapi dia pun tidak tahu siapa Si Kedok Hitam itu. Karena
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
itu saya datang menghadap Ciangkun dengan harapan Ciangkun mengetahui tentang Si Kedok Hitam itu."
Ketika Lee Cin bicara, sepasang mata panglima itu mengamatinya dengan penuh perhatian. Setelah Lee Cin berhenti bicara, dia bertanya, "Nona hendak mengatakan bahwa Nona telah bertanding melawan Si Kedok Hitam dan berhasil mengusir dan mengalahkannya?"
"Bukan begitu, Ciangkun. Kami memang bertanding, akan tetapi sebelum ada yang kalah atau menang, dia sudah melarikan diri menghilang dalam kegelapan malam."
"Nona mencari dia, apakah maksudmu?"
"Kalau saya dapat mengetahui siapa dia, saya akan menemuinya dan menantangnya untuk bertanding kembali menentukan siapa yang lebih unggul, juga saya akan menegurnya karena dia berani mengancam dan membikin ribut dalam tempat tinggal Ji-taijin, seorang pembesar yang bijaksana dan baik."
"Hemm, agaknya Nona ini seorang pendekar?" kini panglima itu bertanya sambil tersenyum.
"Saya adalah seorang yang menentang kejahatan, Ciangkun. Dan saya akan membela kalau ada seorang baik-baik diganggu seperti halnya Ji-taijin. Nah, sekarang saya harap Ciangkun suka menceritakan tentang Si Kedok Hitam dan nanti saya akan menyampaikan berita yang amat penting kepada Ciangkun tentang orang Jepang."
Panglima itu mendadak bangkit berdiri dan tertarik sekali. "Orang Jepang?"
DewiKZ 412
"Harap Ciangkun tenang dan bersabar dulu. Saya masih menanti keterangan Ciangkun tentang Si Kedok Hitam."
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Panglima itu menghela napas panjang. "Nona tunggulah sebentar, aku akan mengambil sesuatu," setelah berkata demikian, dia meninggalkan ruangan itu dan masuk ke dalam. Tak lama lagi dia muncul kembali dan duduk di kursinya yang tadi.
"Terus terang saja, kami juga tidak tahu siapa Si Kedok Hitam walaupun pada suatu malam bayangan orang berkedok hitam sempat membikin gempar markas ini. Beberapa orang penjaga melihat berkelebatnya bayangan orang dan melihat seorang berkedok hitam di atas rumah kami, akan tetapi ketika bayangan itu dikejar, dia lenyap dan hanya meninggalkan surat ini yang ditusuk pisau yang menancap di daun pintu. Inilah suratnya, Nona."
Lee Cin menerima surat itu dan ia tidak ragu lagi bahwa penulis surat itu juga penulis surat yang diterima Ji-ciangkun. Bahkan isinya pun hampir sama.
Un-clangkun,
Engkau adalah seorang yang pandai dan gagah bijaksana, akan tetapi mengapa merendahkan diri menjadi perwira pasukan kerajaan penjajah? Sepatutnya orang seperti engkau ini menggunakan kepandaian untuk menentang penjajah Mancu. Akan tetapi karena engkau bertindak baik terhadap rakyat jelata, kami masih mengampunimu. Akan tetapi awas kalau engkau sampai menjadi antek penjajah yang menindas rakyat jelata, kami pasti akan membikin perhitungan denganmu.
Si Kedok Hitam.
DewiKZ 413
Setelah membaca dan mengembalikan surat itu kepada Un-ciangkun, Lee Cin berkata, "Tulisan dan nadanya sama dengan surat yang diterima Ji-taijin."
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Un-ciangkun mengangguk. "Kami telah menerima pelaporan Ji-taijin dan kami sudah saling memperlihatkan surat itu."
"Menurut pendapat Ciangkun, siapakah kiranya Si Kedok Hitam ini?"
"Kami juga sudah menyebar penyelidik mencarinya, namun sejauh ini belum berhasil. Kami sungguh tidak dapat menduga siapa adanya Si Kedok Hitam itu."
"Menurut Ciangkun, dia itu orang macam apakah dan dari golongan mana?"
"Melihat isi suratnya, tak dapat disangsikan lagi dia tentu seorang yang berjiwa patriot, yang membenci pemerintah Kerajaan Mancu yang berkuasa di tanah air. Nah, sekarang kita telah bicara panjang lebar mengenai Si Kedok Hitam, bahkan kami telah memberi tahu kepada Nona segala yang kami ketahui mengenai dia. Lalu apakah berita penting yang hendak Nona sampaikan kepada kami?"
"Apa yang hendak saya sampaikan kepada Ciangkun adalah berita amat penting bagi Ciangkun. Belum lama ini saya melihat seorang Jepang bernama Yasuki, bahkan sudah bertanding melawannya. Dan orang Jepang bernama Yasuki itu telah bersekongkol dengan Phoa-ciangkun yang agaknya hendak melakukan pemberontakan. Saya mendengar sendiri percakapan mereka dan mereka bahkan merencanakan pembunuhan atas diri Ciangkun dan Ji-ciangkun. Hanya itulah berita yang dapat saya sampaikan kepada Ciangkun."
DewiKZ 414
Un-ciangkun mengangguk-angguk. "Berita itu amat penting dan terima kasih atas pemberitahuan Nona. Memang kami telah menaruh curiga kepada Phoa-ciangkun karena selama ini agaknya dia bersikap longgar terhadap para bajak laut dan perampok Jepang, akan tetapi tidak
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
pernah menduga bahwa dia bersekongkol dengan orang Jepang. Akan kami awasi dia dengan ketat."
"Apakah kalau menurut Ciangkun, Si Kedok Hitam tidak ada hubungannya dengan komplotan itu?"
Un-ciangkun menggeleng kepala. "Kami rasa tidak, Nona. Kalau Si Kedok Hitam mempunyai hubungan dengan mereka, tentu dia akan melakukan penyerangan terhadap kami atau Ji-taijin, bukan memberi surat peringatan seperti itu. Tidak, kami yakin bahwa Si Kedok Hitam itu seorang patriot yang gagah perkasa, tidak mungkin melakukan persekutuan dengan orang Jepang. Patriot sejati tidak akan sembarangan memberontak, melainkan lebih condong untuk membela rakyat dari gangguan penjahat dan dari penindasan para pembesar. Kalau ada pembesar yang menindas rakyat, atau penjahat yang mengganggu ketenteraman hidup rakyat, mungkin akan mereka tentang dan mereka bunuh."
"Aku teringat akan keluarga Cia. Apakah Ciangkun maksudkan para patriot itu seperti keluarga Cia?"
Un-ciangkun mengamati wajah Lee Cin dengan sinar mata tajam dan kagum. "Nona juga tahu tentang hal itu? Memang, Nona. Kami juga mengenal keluarga Cia yang patriotik, akan tetapi kami tidak melihat gejala bahwa mereka itu berkomplot dengan para pemberontak. Keluarga Cia ini sejak dulu terkenal sebagai keluarga pendekar yang setia kepada Pemerintah Beng, tidak heran kalau mereka membenci pemerintah yang sekarang. Mereka selalu menentang para penjahat dan mungkin sekali mereka akan bertindak keras terhadap pembesar yang menindas rakyat jelata."
DewiKZ 415
Lee Cin menahan diri untuk membuka rahasia keluarga Cia. Kalau saja Un-ciangkun tahu bahwa Cia Hok dan Cia
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Bhok juga bersekutu dengan orang Jepang dan Phoa-ciangkun, tentu akibatnya hebat. Un-ciangkun tentu akan mengerahkan pasukan untuk menangkap keluarga itu. Lee Cin tidak tega membuka rahasia keluarga Cia karena ia teringat akan kebaikan Tin Siong dan Tin Han, terutama Tin Han.
Lee Cin lalu berpamit dan diantar oleh Un-ciangkun sampai di luar. Perwira tinggi itu berterima kasih sekali kepada Lee Cin yang membawa berita penting tentang persekutuan orang Jepang dan Phoa-ciangkun.
"Terima kasih atas semua keteranganmu, Nona Souw," katanya sebagai ucapan selamat jalan.
"Saya juga berterima kasih atas keterangan Ciangkun mengenai Si Kedok Hitam," kata Lee Cin dan setelah memberi hormat, ia pun segera meninggalkan markas itu.
ooo0dw0ooo
Malam itu hujan turun dengan derasnya membasahi kota Hui-cu. Suasana di jalan-jalan sepi sekali. Orang lebih suka berlindung di dalam rumah daripada keluar di malam hujan yang amat dingin itu. Para penjaga di depan markas dan terutama di depan gedung tempat tinggal Un-ciangkun bermalas-malasan. Malam terlalu dingin untuk berjaga di luar. Pula, penjahat mana yang berani mengganggu tempat tinggal Un-ciangkun yang dijaga para pengawal? Juga dalam malam hujan seperti itu, orang-orang jahat tentu malas untuk keluar.
DewiKZ 416
Karena penjagaan kurang kuat, maka beberapa bayangan hitam dengan cepat sekali dapat memasuki pekarangan gedung itu tanpa ketahuan oleh para penjaga. Mereka berjumlah belasan orang dan melihat gerakan mereka yang
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
ringan dan gesit, mudah diduga bahwa mereka terdiri dari orang-orang yang memiliki kepandaian tinggi. Setelah belasan orang itu bersembunyi di seputar gedung itu, tiba-tiba di luar terjadi keributan. Puluhan orang telah menyerang gardu penjagaan dan segera terdengar teriakan-teriakan orang bertempur. Mendengar keributan ini, para pengawal dan penjaga yang berada di dalam gedung lari berserabutan keluar untuk membantu para penjaga dan beberapa orang penjaga lari ke markas untuk minta bantuan setelah dilihat bahwa pihak penyerang ada puluhan orang banyaknya.
Hiruk-pikuk perkelahian di luar itu menarik pula perhatian Un-ciangkun. Dia segera terbangun dari tidurnya dan mendengar laporan seorang pengawal bahwa rumah itu diserbu puluhan orang, Un-ciangkun segera mengenakan pakaian komandan dan keluar sambil membawa pedangnya. Akan tetapi baru saja dia tiba di ruangan depan, belasan orang berpakaian hitam sudah menyerangnya. Un-ciangkun melawan dengan pedangnya dan enam orang pengawal yang selalu melindunginya juga melakukan perlawanan. Akan tetapi belasan orang penyerang itu ternyata memiliki ilmu silat yang tangguh. Enam orang pengawal yang melawan mati-matian roboh satu demi satu sehingga tinggal Un-ciangkun seorang yang masih membela diri dengan marah. Perwira tinggi besar ini memang tangguh sekali dan dia sudah merobohkan dua orang pengeroyok.
DewiKZ 417
Akan tetapi keroyokan belasan orang itu terlampau kuat baginya sehingga lewat puluhan jurus, dia mulai terkena senjata para pengeroyok. Un-ciangkun masih terus mengamuk, namun akhirnya dia roboh juga dan menjadi korban amukan belasan buah senjata tajam para pengeroyok. Setelah Un-ciangkun roboh dan tewas,
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
beberapa orang di antara mereka lalu membunyikan sempritan yang nyaring. Ternyata ini merupakan tanda bagi puluhan orang yang berkelahi di luar untuk mengundurkan diri. Mereka melarikan diri cerai berai dan menghilang di dalam kegelapan malam, membawa teman-teman yang terluka.
Gegerlah pasukan pengawal. Bala bantuan dari markas datang dengan lima ratus orang, akan tetapi ketika mereka tiba di tempat itu, para penyerbu telah melarikan diri. Pasukan lalu mengejar, namun puluhan orang pengacau itu telah lenyap dan tidak diketahui ke mana larinya. Pasukan melakukan penggeledahan dari rumah ke rumah, namun tidak menemukan apa-apa sehingga diperkirakan bahwa puluhan orang pengacau itu telah melarikan diri keluar kota Hui-cu.
Tewasnya Un-ciangkun menggemparkan pasukan. Yang repot adalah Lai-ciangkun (Perwira Lai) yang menjadi wakil dari Un-ciangkun. Lai-ciangkun ini bernama Lai Kin, merupakan wakil Un-ciangkun yang bertubuh jangkung kurus. Melihat tewasnya Un-ciangkun, Lai-ciangkun segera mengambil alih kedudukan komandan pasukan dan dia segera mengirim laporan kepada Kaisar di kota raja dan menjabat komandan pasukan untuk sementara sambil menanti keputusan Kaisar sehubungan dengan tewasnya Un-ciangkun di tangan para pengacau dan pemberontak. Segera panglima ini memerintahkan anak buahnya untuk melakukan penjagaan ketat dan dia pun menyebar banyak penyelidik untuk mencari dan menyelidiki para penyerbu itu. Dia sendiri lalu tinggal di rumah induk yang tadinya menjadi tempat tinggal Un-ciangkun. Sementara itu, keluarga Un-ciangkun segera pulang ke kota raja.
DewiKZ 418
Kurang lebih seminggu sejak peristiwa pembunuhan Un-ciangkun itu, pada suatu pagi muncul seorang pemuda di
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
depan markas pasukan di Hui-cu itu. Pemuda itu bertubuh sedang dan nampak kuat, wajahnya tampan dan gagah, pakaiannya sederhana. Mukanya bulat dengan kulit putih. Alisnya tebal dengan sepasang mata yang mencorong. Hidungnya mancung dan mulutnya selalu tersenyum ramah. Telinganya lebar dan bahunya bidang dan kokoh.
Kedua pemuda itu berdiri di depan gardu penjagaan sambil matanya memandang ke arah gedung dengan penuh selidik, para penjaga menjadi curiga melihatnya. Kepala jaga segera melangkah keluar diikuti beberapa orang anak buahnya, menghampiri pemuda itu dan bertanya dengan suara membentak,
"Hei, orang muda! Siapakah engkau dan apa maumu berdiri di sini sambil memperhatikan ke gedung itu?"
Pemuda itu memandang kepada kepala jaga dengan sikap acuh tak acuh. Lalu terdengar jawabannya yang menantang, "Aku berdiri di sini, apa salahnya, bukankah ini jalan umum? Dan aku memandang dengan mataku sendiri, kemana pun aku memandang, apa urusannya denganmu?"
Mendengar jawaban yang berani itu, Si Kepala Jaga menjadi merah mukanya. Dia dan kawan-kawannya selama ini memang diharuskan bersikap lembut dan sopan kepada rakyat jelata dan siapa yang melanggar akan dijatuhi hukuman berat. Akan tetapi pemuda itu demikian menantang, tentu saja membuat Si Kepala Jaga menjadi marah yang ditahantahannya. Dia pun memaksa diri bersikap ramah kepada pemuda itu.
DewiKZ 419
"Sobat, engkau tahu bahwa gedung ini tempat tinggal komandan kami dan orang luar tidak boleh berada di sini terlalu lama. Kalau sudah cukup engkau memandang, tinggalkanlah tempat ini. Kami tidak ingin bersikap keras dan kasar kepadamu."
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Aku tidak akan meninggalkan tempat ini sebelum aku dapat bertemu dengan Un-ciangkun, komandan pasukan di sini. Aku perlu bertemu dan bicara dengan Un-ciangkun. Karena itu, cepat laporkan kepada Un-ciangkun bahwa aku ingin bertemu dengannya."
Para penjaga itu menjadi semakin curiga. Seminggu yang lalu Un-ciangkun tewas dikeroyok pengacau dan pemuda ini sekarang minta bertemu dengan perwira yang telah tewas itu. Tentu saja hal ini amat mencurigakan.
"Hemm, apakah engkau tidak tahu apa yang telah terjadi di sini seminggu yang lalu?"
"Aku baru masuk kota ini pagi tadi, aku tidak mendengar apa-apa. Ada apakah?"
"Sudahlah, pendeknya pada saat ini Un-ciangkun tidak dapat bertemu denganmu. Pergilah atau kami akan menangkapmu dengan tuduhan engkau mempunyai niat buruk terhadap komandan kami."
"Eh, eh! Kalian hendak menangkap aku? Coba saja kalau bisa!" pemuda itu menantang.
Tentu saja kepala jaga menjadi semakin marah. Dia lalu memberi isyarat kepada anak buahnya dan berkata nyaring, "Tangkap pengacau ini!"
DewiKZ 420
Empat orang perajurit menubruk ke depan untuk menangkap pemuda yang berani menentang itu, akan tetapi tubrukan mereka luput dan pemuda itu dengan sigapnya telah dapat mengelak. Para penjaga menjadi penasaran sekali dan belasan orang serentak maju mengepung pemuda itu dan mereka menyerang dari segala jurusan untuk menangkapnya. Namun, pemuda itu ternyata gesit sekali dan begitu kaki tangannya menyambar, empat orang penjaga terpelanting terkena tamparan dan ditendangnya.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Para perajurit menjadi makin penasaran dan mereka mengeroyok, kini mereka menyerang bukan saja untuk menangkap, bahkan untuk memukulnya. Akan tetapi kembali empat orang terpelanting. Kepala jaga terkejut dan menduga bahwa pemuda itu memang datang untuk membikin kacau, maka dia pun mencabut goloknya dan memberi aba-aba kepada teman-temannya untuk menggunakan senjata. Tampak sinar mengkilap ketika semua penjaga mencabut golok masing-masing dan kini mereka menyerang lagi mempergunakan senjata tajam mereka.
Akan tetapi pemuda itu benar-benar tangguh sekali. Tubuhnya berkelebatan di antara sinar golok dan setiap tangannya atau kakinya menyambar pasti ada seorang pengeroyok yang roboh, golok mereka terlempar dan mereka terpelanting. Melihat keadaan ini, seorang di antara para perajurit itu segera berlari ke dalam untuk membuat laporan.
Para pengeroyok berpelantingan, namun anehnya, tidak seorang pun di antara mereka yang terluka parah, hanya benjol-benjol dan babak belur saja, tidak ada yang terluka berat.
"Hentikan semua serangan!" tiba-tiba terdengar bentakan nyaring dan Lai-ciangkun telah berada di situ dengan pedang di tangan. Perwira ini mengamati wajah pemuda itu dengan penuh perhatian, lalu dia melangkah maju menghadapi pemuda itu.
"Orang muda, engkau siapakah dan mengapa engkau membikin ribut di sini?" tanya Lai-ciangkun sambil melintangkan pedangnya di depan dada.
DewiKZ 421
Pemuda itu tertawa, "Ha-ha-ha, kalau penjagaan hanya dilakukan oleh orang-orang lemah, bagaimana dapat
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
melindungi Sang Komandan? Para perajurit yang berjaga di sini lemah sekali, buktinya aku dapat membuat mereka jatuh bangun. Seharusnya penjagaan di sini diperkuat dengan orang-orang yang memiliki ilmu silat yang cukup tinggi, dan jangan lupa, harus disediakan sedikitnya selosin perajurit ahli panah sehingga akan dapat menguasai dan menundukkan orang yang hendak membikin kacau!"
Lai-ciangkun menjadi marah mendengar ini. "Orang muda, engkau sombong sekali! Katakan, siapa engkau dan apa kehendakmu datang ke sini membikin ribut?"
"Apakah engkau Un-ciangkun?" tanya pemuda itu sambil mengamati wajah orang. Lai-ciangkun mengerutkan alisnya dan menggeleng kepalanya.
"Aku bukan Un-ciangkun," jawabnya singkat.
"Ah, kalau begitu, tolong panggilkan Un-ciangkun. Aku ingin bertemu dan bicara dengan Un-ciangkun."
"Un-ciangkun tidak ada, yang ada aku, wakilnya, aku bernama Lai Kin. Siapakan engkau, orang muda?"
"Aku bernama Song Thian Lee dan aku tidak ingin bicara dengan orang lain kecuali Un-ciangkun karena yang akan kubicarakan adalah urusan yang harus ditangani oleh Un-ciangkun sendiri." Pemuda itu memang Song Thian Lee. Seperti kita ketahui, Panglima Song ini diutus oleh Kaisar sendiri untuk melakukan penyelidikan ke wilayah timur dan untuk itu, Thian Lee sengaja menanggalkan pakaian panglima dan mengenakan pakaian rakyat biasa. DewiKZ 422
Mendengar nama itu, Lai-ciangkun terkejut bukan main. Tentu saja dia mengenal nama panglima besar ini, akan tetapi dia masih ragu-ragu karena dia sendiri belum pernah bertemu muka dengan Song-ciangkun.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Bagaimana kami dapat tahu bahwa engkau bernama Song Thian Lee?" tanyanya ragu.
Thian Lee lalu mengambil surat kuasa dari Kaisar dan memperlihatkannya kepada Lai-ciangkun. Melihat ini, Lai-ciangkun lalu berlutut dengan kaki kanan dan memberi hormat seperti penghormatan kepada Kaisar sendiri. Thian Lee menyimpan kembali surat kuasanya dan dia berkata dengan lembut, "Nah, sekarang harap panggilkan Un-ciangkun untuk menghadapku."
Lai-ciangkun segera bangkit dan berkata lirih, "Un-ciangkun telah terbunuh, mari silakan masuk ke dalam, Song-ciangkun dan kita bicara di dalam."
Thian Lee terkejut sekali mendengar ini dan dia pun segera mengikuti perwira itu masuk ke dalam. Lai-ciangkun mempersilakan Thian Lee duduk dan setelah memberi hormat dia pun duduk berhadapan dengan pemuda itu.
"Sekarang ceritakan apa yang telah terjadi sehingga Un-ciangkun terbunuh, Lai-ciangkun," kata Thian Lee dengan suara memerintah dan berwibawa.
Lai-ciangkun lalu menceritakan tentang peristiwa malam itu. "Semua terjadi begitu tiba-tiba, Ciangkun," dia mengakhiri ceritanya. "Sebelum penyerbuan itu terjadi, tidak terlihat tanda-tanda bahwa akan terjadi penyerangan. Malam gelap dan hujan, maka para penjaga menjadi terkejut ketika tiba-tiba diserbu oleh puluhan orang banyaknya. Para penyerbu itu rata-rata memiliki ilmu silat tinggi dan Un-ciangkun dikeroyok belasan orang yang lihai. Biarpun dia dibantu oleh beberapa orang pengawalnya, namun akhirnya dia roboh juga dan terbunuh bersama semua pengawalnya."
DewiKZ 423
Thian Lee mengerutkan alisnya yang tebal. "Akan tetapi, bagaimana sampai ada belasan orang penjahat yang dapat
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
masuk, padahal penyerangan puluhan orang itu telah dilawan oleh pasukan yang bertugas jaga, bukan?"
"Memang demikianlah. Tidak ada yang melihat ada yang dapat menyerbu masuk. Tahu-tahu telah ada belasan orang itu yang menyerbu ke dalam, tentu mereka itu sudah dapat memasuki gedung sebelum penyerangan dilakukan. Mereka tentu telah menyelundup masuk tanpa diketahui penjaga."
"Hemm, memang aku melihat sendiri betapa penjagaan di sini kurang ketat dan sebaiknya para penjaga itu diganti oleh orang-orang yang lebih tangguh. Apakah sebelum peristiwa pembunuhan atas diri Un-ciangkun itu terjadi, tidak ada tanda-tanda bahwa di daerah ini terdapat gejala-gejala pemberontakan?"
-oo0dw0oo-
Jilid: 13
LAI-CIANGKUN menggeleng kepalanya. "Sepanjang yang kami ketahui, tidak ada Ciangkun. Suasana tenteram saja."
"Aku mendengar bahwa kadang terjadi perampokan di pesisir, dilakukan oleh bajak-bajak laut Jepang," kata Thian Lee sambil menatap tajam wajah kurus Lai-ciangkun yang memiliki mata yang tampak cerdik itu.
DewiKZ 424
"Hal itu tidak dapat dibantah, Ciangkun. Memang ada terjadi perampokan kecil-kecilan oleh bajak laut, akan tetapi itu jarang atau kadang-kadang saja. Para perampok itu lalu melarikan diri dengan perahu mereka. Mereka berani mengganggu rakyat di tempat-tempat yang kebetulan tidak ada penjaganya."
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Apakah tidak ada orang-orang Jepang yang berkeliaran di kota ini dan sekitarnya?"
"Tidak ada, Ciangkun."
"Baru seminggu Un-ciangkun tewas. Bagaimana kini engkau dapat menjadi komandan di sini, Ciangkun?" tanya Thian Lee sambil memandang wajah Lai Kin dengan tajam penuh selidik.
Wajah perwira itu menjadi merah. "Ah, saya sama sekali tidak nnenjadi komandan di sini, Ciangkun, hanya sementara saja menggantikan Un-ciangkun sambil menanti keputusan Sri Baginda Kaisar atas laporan saya bahwa Un-ciangkun telah tewas terbunuh."
Thian Lee mengangguk-angguk. Memang tidak ada jalan lain. Pasukan di situ harus memiliki eorang komandan dan selain Lai Kin tidak ada orang lain yang lebih tepat untuk menjadi komandan sementara. Dia mengambil keputusan untuk nnelakukan penyelidikan sendiri di daerah yang menurut berita yang diperoleh Kaisar merupakan daerah rawan itu.
"Bagaimana keadaan Phoa-ciangkun yang memimpin pasukan di sepanjang pantai timur?" tiba-tiba dia bertanya.
"Ah, dia? Saya kira…... menurut pengetahuan saya, dia baik-baik saja, Ciang-kun," jawab Lai Kin agak tersendat. Akan tetapi Thian Lee berpura-pura tidak tahu akan sikap itu, hanya mencatat dalam hati bahwa perwira she Lai ini terkejut ketika ditanya tentang Phoa-ciangkun yang memimpin pasukan di sepanjang pantai.
DewiKZ 425
Malam itu Thian Lee berrnalam di markas, memperoleh sebuah kamar yang besar sebagai seorang tamu kehormatan. Setelah dijamu makan malam, Thian Lee lalu beristirahat, memasuki kamarnya di mana dia duduk bersila
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
di atas pembaringan untuk mengumpulkan hawa murni, mengusir kelelahan tubuhnya dan merenungkan hasil percakapan tadi.
Thian Lee termenung. Di timur ini yang menjadi komandan dua pasukan adalah Un-ciangkun dan Phoa-ciangkun. Kalau ada perwira yang hendak berkhianat, tentu seorang di antara keduanya itu. Akan tetapi, Un-ciangkun terbunuh oleh orang-orang yang tidak diketahui siapa. Apakah Phoa-ciangkun yang membunuhnya setelah Un-ciangkun mengetahui bahwa dia hendak berkhianat dan bersekutu dengan orang Jepang? Atau barangkali Un-ciangkun sendiri yang berkhianat? Juga Lai-ciangkun itu patut dicurigai. Siapa tahu dia dalang pembunuhan karena kalau Un-ciangkun tewas, besar kemungkinan dia yang akan diangkat men jadi komandan. Atau semua dugaannya itu keliru dan ada orang-orang tersembunyi yang mendalangi itu semua? Dia harus melakukan penyelidikan kepada Phoaciangkun dan meninjau daerah pantai. Dengan pikiran ini Thian Lee tertidur. Akan tetapi sebagai seorang ahli silat yang sakti, dalam keadaan itu Thian Lee akan dapat terbangun oleh sedikit saja suara atau gerakan yang mencurigakan.
ooo0d-w0ooo
DewiKZ 426
Dua orang berpakaian serba hitam itu bergerak cepat sekali. Hanya bayangan mereka yang berkelebatan di atas atap genteng dan sebentar kemudian bayangan mereka sudah melayang turun. Mereka adalah dua orang yang mengenakan pakaian serba hitam dan muka mereka pun tertutup kain hitam, hanya memperlihatkan kedua mata mereka saja yang tajam bersinar seperti mata kucing.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Tanpa mengeluarkan suara sedikit pun mereka kini telah mendekam di luar jendela kamar di mana Thian Lee bermalam. Seorang di antara mereka mengeluarkan sebuah tabung kecil seperti suling, memasukkan bubuk putih ke dalam tabung dan setelah orang kedua membuat lubang di jendela dengan jarinya, pemegang tabung lalu meniup melalui tabung itu sambil memasukkan ujung tabung ke dalam kamar melalui lubang. Sampai lima kali dia melakukan ini dan dia meniup dengan tenaga khi-kang, mengerahkan bubuk yang ditiupkannya ke arah pembaringan. Terdengar suara orang terbatuk-batuk. Di dalam kamar itu, lalu suara batuk itu sendiri terhenti dan suasana rnenjadi sunyi kembali.
Dua orang bertopeng hitam itu saling pandang, lalu mengangguk dan seorang di antara rnereka menggunakan pedangnya untuk mencokel daun jendela. Setelah daun jendela terbuka, bagaikan dua ekor kucing mereka berlornpatan masuk ke kamar itu tanpa mengeluarkan suara. Kamar itu remang-remang, hanya mendapat penerangan dari luar kamar, akan tetapi dua orang itu dapat melihat bentuk tubuh manusia tertidur di atas pembaringan. Mereka mengelebatkan pedang dan dengan gerakan cepat pedang mereka dibacokkan ke arah tubuh manusia itu.
“Crok! Crokk!” Mereka terkejut sekali ketika mendapat kenyataan bahwa yang mereka bacok itu hanya guling yang diselimuti kain. Maklum bahwa usaha mereka gagal, cepat berloncatan keluar lagi dari jendela yang terbuka itu.
DewiKZ 427
Akan teiapi, di depan mereka berdiri seorang yang bertolak pinggang memandang mereka, tubuhnya tinggi tegap dan orang ini bukan lain adalah Song Thian Lee! Biarpun tadinya dia tidur pulas, namun sedikit gerakan kaki di atas atap cukup untuk membangunkannya. Dia segera maklum bahwa ada dua orang mempergunakan gin-kang
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
yang cukup tinggi sedang menuju ke kamarnya, maka dia cepat membuka pintu, keluar lalu menutupkan lagi pintu kamarnya, mengintai dari balik pot bunga besar yang berada di luar kamar. Dia dapat melihat apa yang dilakukan dua orang itu dan tersenyum sendiri. Setelah dua orang meloncat ke dalam karnar, dia pun menghampiri daun jendela sehingga ketika dua orang itu keluar lagi, mereka sudah berhadapan dengan dia.
Dua orang itu terkejut dan juga penasaran. Dengan gerakan cepat dan kuat sekali, mereka menggerakkan pedang menyerang Thian Lee. Akan tetapi mereka merasa seperti menyerang bayangan saja karena Thian Lee bergerak jauh lebih cepat daripada mereka, mengelak ke sana-sini dan berloncatan di antara dua gulungan sinar pedang. Dia menggunakan Hui-tiauw-kun (Silat Rajawali Terbang), dengan mudah menghindarkan diri dari semua sambaran pedang, kemudian membalas dengan tamparan-tamparan yang mendatangkan angin berciutan.
Kedua orang itu tidak melihat kesempatan untuk melarikan diri, maka dengan nekat mereka menyerang terus. Akan tetapi setelah lewat tiga puluh jurus, mereka terdesak hebat oleh kedua tangan Thian Lee yang menyambar-nyam bar. Dua orang yang merasa bahwa mereka adalah jagoan-jagoan lihai sekali itu benar-benar terkejut, penasaran dan menjadi nekat. Mereka terus menyerang karena memang tidak mendapat kesempatan untuk melarikan diri lagi. Kalau mereka membalikkan tubuh, mereka khawatir akan terkena pukulan ampuh yang mengeluarkan angin amat dahsyat itu.
DewiKZ 428
Biarpun kedua orang itu memiliki ilmu meringankan tubuh yang tinggi dan memiliki ilmu pedang yang ampuh, namun menghadapi Panglima Besar Song, Thian Lee, semua serangan mereka sia-sia beiaka. Akhirnya, dengan
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
sebuah tendangan kaki kiri dan tamparan tangan kanan, Thian Lee dapat merobohkan kedua orang pengeroyoknya. Mereka terlempar ke kanan kiri dan selagi Thian Lee yang sengaja merobohkan mereka tanpa membunuh hendak menghampiri, dia melihat dua sinar berkelebat ke arah kedua orang itu. Dengan terkejut Thian Lee menghampiri, akan tetapi mereka berdua sudah berkelojotan dan tewas tanpa dapat mengeluarkan suara lagi, masing-masing tertusuk sebatang pisau belati pada ulu hati mereka. Thian Lee menoleh ke kanan kiri, akan tetapi tidak nampak bayangan manusia dan dia pun dapat menduga bahwa Si Pelempar Belati adalah seorang yang amat lihai.
Suara ribut-ribut itu menarik perhatian beberapa orang penjaga dan mereka berlarian ke situ. Tak lama kemudian, Lai-ciangkun juga tiba di situ.
“Ada apakah, Ciangkun?” tanya Lai-ciangkun dengan kaget.
“Dua orang ini berusaha untuk membunuhku,” jawab Thian Lee singkat dan pandang matanya mencari-cari di antara para pengawal itu dengan sinar mata penuh selidik, membuat para pengawal menundukkan muka karena pandang mata itu tajam sekali menusuk sampai ke hati. Sementara itu, Lai-ciangkun berjongkok dan memeriksa kedua orang itu, merenggut lepas kain hitam yang menutupi muka mereka.
DewiKZ 429
“Bagaimana, Lai-ciangkun? Apakah engkau mengenal mereka?” tanya Thian Lee akan tetapi dia sudah menduga bahwa perwira itu tentu tidak mengenal mereka. Lai-ciangkun menggeleng kepalanya dan memanggil belasan orang pengawal itu untuk melihat kalau-kalau di antara mereka yang mengenal kedua orang itu.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Seorang di antara pengawal berseru, “Hei, bukankah mereka ini adalah Siang-hui-houw (Sepasang Harimau Terbang), kakak beradik she Kam yang tinggal di Hui-lam? Ah, benar mereka, saya pernah bertemu dengan mereka, Ciangkun.”
“ Apa? Bukankah Siang-hui-houw itu sepasang pendekar dari Hui-lam?” tanya pula Lai ciangkun.
“Benar, Ciangkun. Mereka ini kakak beradik yang terkenal sebagai pendekar di Hui-lam.”
“Akan tetapi, mengapa mereka berusaha membunuhmu, Song-ciangkun? Sepanjang yang kudengar, mereka adalah sepasang pendekar yang budiman dan menentang kejahatan. Dan mereka tewas oleh pisau di ulu hati mereka. Maaf, apakah engkau mempergunakan pisau terbang, Ciangkun?” Lai-ciangkun bangkit berdiri dan menghadapi Thian Lee.
Thian Lee menggeleng kepalanya. “Bukan aku yang membunuh mereka. Mereka membongkar jendela kamarku, hendak membunuhku, akan tetapi aku sudah keluar dan aku hanya merobohkan mereka. Sebelum aku dapat memeriksa mereka, ada yang menyambitkan pisau-pisau itu dan menewaskan mereka. Tentu hal itu dilakukan orang agar mereka tidak mernbocorkan rahasia komplotan ini.” DewiKZ 430
Dua mayat itu lalu digotong pergi dan Thian Lee kembali ke kamarnya, setelah bantal guling yang berantakan dihajar pedang itu diganti dengan bantal guling baru oleh pelayan. Dia duduk bersila di atas pembaringannya dan memutar pikirannya untuk memecahkan teka-teki itu. Dua orang pendekar hendak membunuhnya dan mereka terbunuh oleh orang lain. Tentu orang lain itu komplotan mereka, merupakan orang yang lebih penting atau bahkan mungkin pemimpin mereka.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Akan tetapi, dua orang itu dikenal sebagai pendekar-pendekar gagah, lalu apa maksudnya hendak membunuhnya?
Thian Lee mengerutkan alisnya. Siapakah yang berkepentingan untuk membunuhnya? Tentu orang yang memusuhinya, dan karena dia seorang panglima besar, maka musuhnya itu tentulah golongan pemberontak! Jadi, dua orang pendekar itu telah menjadi komplotan pemberontak, dan hal ini mungkin terjadi. Banyak pendekar yang tertarik untuk membantu pemberontak yang mereka anggap sebagai perjuangan melawan penjajah.
Setelah membolak-balik pikirannya, Thian Lee lalu mendapat kesimpulan bahwa pertama: kedua orang pembunuh itu pasti dibantu orang dalam sehingga mereka mampu bergerak dengan. Leluasa mendekati kamarnya dan orang dalam itu tentu saja satu atau lebih di antara anak buah Lai-ciangkun. Ada pengkhianat dalam pasukan yang dipimpin Lai-ciangkun. Dan ke dua: kalau dua pendekar itu berkomplot dengan pemberontak, tentu ada pendekar-pendekar lainnya di daerah ini yang juga sudah dapat ditarik menjadi komplotan para pemberontak. Atau setidaknya, para pendekar lain tentu mengetahui tentang gerak-gerik pemberontak di daerah itu. Maka yang harus dikerjakan adalah mencari pengkhianat dalam pasukan Lai-ciangkun, dan ke dua menyelidiki para pendekar yang berada di Hui-cu dan sekitarnya.
DewiKZ 431
Pada keesokan harinya, pagi-pagi dia sudah menemui Lai-ciangkun dan menyatakan pendapatnya, “Lai-ciangkun, semalam aku sudah berpikir bahwa dua orang pembunuh itu tentu dibantu orang dalam sehingga mereka dapat masuk ke sini dengan mudah dan tidak diketahui oleh para penjaga. Karena itu, aku minta kepada Lai-ciangkun untuk bersikap waspada dan diam-diam melakukan penyelidikan
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
dan pemeriksaan ke dalam untuk menangkap pengkhianat itu. Agaknya di antara orang-orang bawahanmu ada yang bersekongkol dengan orang luar, mungkin dengan para pemberontak.”
Mendengar ucapan itu, Lai Kin tampak terkejut sekali. “Ada pengkhianat di dalam? Akan tetapi....”
“Tidak perlu ragu lagi, Ciangkun. Selain dua orang itu tidak mungkin masuk tanpa diketahui kalau tidak mendapat bantuan dari dalam, juga ingat akan orang yang membunuh kedua orang bertopeng hitam itu. Bagaimana dia dapat melakukan pembunuhan lalu menghilang begitu saja? Mungkin pembunuh itu adalah orangmu sendiri. Maka berhati-hatilah dan lakukan penyelidikan dengan teliti.”
“Baik, baik, Thai-ciangkun,” kata Lai-ciangkun dengan sikap taat dan hormat.
“Nah, kuserahkan penyelidikan itu kepadamu. Aku hendak melakukan penyelidikan keluar dan mungkin dalam beberapa hari ini aku tidak akan kembali ke sini.”
“Apakah Ciangkun membutuhkan bantuan? Saya dapat menyediakan seregu perajurit pilihan untuk membantuku.”
Thian Lee menggeleng kepalanya. “Tidak usah, Lai-ciangkun. Melakukan penyelidikan beramai-ramai sukar mendapatkan hasil yang kuinginkan.”
Song Thian Lee lalu berkemas, mengenakan pakaian biasa dan membawa buntalan pakaian di mana terdapat pedangnya, digendongnya buntalan itu di punggung. Kemudian dia keluar dari markas itu melalui pintu belakang yang menembus kebun sehingga tidak akan tampak oleh orang lain.
DewiKZ 432
Siang hari itu Thian Lee melakukan penyelidikan dengan mendengar keterangan dari penduduk di Hui-cu. Dia
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
bertanya kepada beberapa orang tentang para pendekar yang terdapat di Hui-cu. Seorang laki-laki setengah tua yang berjualan tahu ketika ditanya memandang kepada Thian Lee dengan mata disipitkan.
“Untuk apa engkau menanyakan itu, orang muda?”
“Saya seorang perantau, Paman, dan saya senang sekali berkenalan dengan para pendekar. Tahukah Paman, siapakah pendekar-pendekar yang paling terkemuka di sini, paling dikenal rakyat sebagai pendekar yang budiman dan gagah perkasa?” Thian Lee bertanya seperti sambil lalu dan membeli beberapa potong tahu yang sudah matang dan memaksanya untuk sarapan pagi.
“Di Hui-cu dan sekitarnya terdapat banyak orang gagah. Agaknya setelah Un-ciangkun menjadi komandan di sini, tidak ada orang yang melakukan kejahatan. Mereka yang kuat tidak ada yang berani bertindak sewenang-wenang, bahkan condong untuk menentang kejahatan. Akan tetapi di antara mereka semua itu, yang paling dikenal dan dihormati rakyat adalah keluarga Cia yang tinggal di ujung kota, di kaki bukit itu. Keluarga itu terdiri dari orang-orang gagah yang sudah sering kali menghajar orang-orang jahat sehingga tidak ada lagl orang jahat berani mengacau di sini. Ya, keluarga Cia itulah keluarga pendekar besar yang paling dikenal di sini.”
DewiKZ 433
Diam-diam Thian Lee membenarkan ucapan itu. Nama keluarga Cia memang terkenal, bukan hanya di daerah itu, dlpergunakandunia kang-ouw juga membicarakan. Sebuah keluarga tua yang sudah lama terkenal, menniliki pendekar-pendekar turun-temurun dan kabarnya ilrnu silat mereka amat lihai. Dia sudah lama tahu bahwa di Hui-cu tinggal keluarga Cia. Kalau dia mela.kukan penyelidikan untuk mengetahui pendekar-pendekar lainnya, hal AO adalah untuk memperlengkap penyelidikannya. Dia tidak percaya
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
kalau keluarga Cia yang demikian ternama mau bersekutu dengan pemberontak, apalagi dengan para peratnpok bangsa Jepang. Akan tetapi, dia harus menyelidiki. Siapa tahu mereka itu termasuk patriot yang membenci Kerajaan Mancu. Banyak patriot yang seperti itu rnudah dibujuk oleh kaum pemberontak untuk “berjuang” menentang pemerintah penjajah sehingga mereka tidak segan-segan bersekutu dengan perkumpulan-perkumpulan sesat yang memberontak seperti Pek-lian-pai, Pat-kwa-pai dan beberapa perkumpulan sesat lainnya. Saking besar semangatnya memusuhi pemerintah pemberontak mereka sampai lupa bahwa mereka itu dipergunakan oleh perkumpulan sesat yang “berjuang” demi kepentingan dan keuntungan mereka sendiri.
DewiKZ 434
Thian Lee melakukan penyelidikan sampai sehari penuh. Menjelang senja, selagi dia berjaian perlahan-lahan untuk menyusun tindakan apa yang akan dilakukan malam nanti, tiba-tiba dia melihat dua orang berjalan dari arah depan dan begitu melihat mereka, Thian Lee segera menundukkan mukanya dan melihat dari bawah ke arah muka mereka. Dia mengenal dua orang ini, walaupun baru satu kali dia ber temu dengan mereka, akan tetapi mereka tidak mengenalnya. Yang seorang bertubuh tinggi besar, perutnya gendut dan kulitnya hitam. Bahkan mukanya amat menarik perhatian saking hitarnnya. Di pinggang kirinya tergantung sebatang ruyung besar yang berduri. Laki-laki ini berusia kurang lebih lima puluh tahun dan Thian Lee mengenalnya sebagai orang yang berjuluk Hek-bin Moko (Setan Berwajah Hitam). Orang ke dua berusia sebaya dan tubuhnya tinggi kurus, mukanya kuning seperti orang berpenyakitan, matanya sipit dan dia memegang sebatang tongkat hitam. Dia pun terkenal dengan julukannya Sin-ciang Mo-kai (Pengemis Iblis Tangan Sakti). Kedua orang itu adalah dua orang tokoh sesat yang lihai.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Thian Lee membiarkan kedua orang itu lewat. Setelah mereka jauh, barulah dia menghentikan langkahnya dan memutar tubuhnya, lalu membayangi kedua orang itu dari jauh. Dia merasa heran mengapa dua orang tokoh kang-ouw itu berkeliaran di kota Hui-cu. Tidak mungkin kalau hal ini kebetulan saja. Dan dia tahu betul betapa lihai dua orang ini. Agaknya kalau seorang di antara mereka yang melakukan pembunuhan secara gelap kepada dua orang bertopeng malam tadi, hal itu tidaklah aneh. Andaikata bukan mereka yang melakukannya, namun mereka berdua datang ke tempat itu pasti mengandung makna yang amat penting. Mereka jelas bukan sebangsa pendekar, melainkan tokoh sesat yang tidak segan melakukan perbuatan jahat.
Dua orang itu berjalan dengan santai menuju ke sebelah utara, kemudian keluar dari pintu gerbang kota Hui-cu sebelah utara. Bagian utara kota itu merupakan daerah perbukitan yang sunyi, tidak ada dusun di situ karena daerah itu masih liar dan bukit-bukitnya penuh dengan hutan belukar.
DewiKZ 435
Hek-bin Mo-ko dan Sin-ciang Mo-kai memang dua orang yang amat terkenal di dunia kang-ouw sebagai orang-orang yang suka bertindak sewenang-wenang mengandalkan kehebatan ilmu kepandaian mereka. Di mana pun mereka berada mereka pasti akan menguasai dunia hitam daerah itu dan menjadi pemimpinnya. Sin-ciang Mo-kai (Pengemis Iblis Tangan Sakti) itu tentu segera merampas kedudukan sebagai ketua partai pengemis yang berkuasa di daerah itu dan selanjutnya menjadi raja kecil yang menerima penghormatan dan pelayanan para pengemis. Sedangkan Hek-bin Mo-ko tentu akan menguasai semua penjahat seperti para maling dan copet, juga merampas kedudukan para kepala gerombolan yang menguasai rumah-rumah judi dan rumah pelacuran.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Akan tetapi agaknya dua orang tokoh sesat itu baru saja tiba di kota Hui-cu dan mereka belum sampai rnerampas kedudukan-kedudukan itu, karena kalau mereka berdua sudah berkuasa di situ, tentu Thian Lee akan mendengar nama mereka ketika dia melakukan penyelidikan tadi.
Dengan hati tegang Thian Lee terus membayangi mereka keluar dari kota dan mendaki bukit pertama di luar kota itu. Malam sudah hampir tiba dan cuaca sudah remang-remang. Dia melihat mereka memasuki sebuah hutan di bukit itu. Tanpa ragu Thiw Lee juga membayangi mereka memasul hutan itu dari jarak lebih dekat karena dia tidak mau kehilangan mereka. Dia merasa yakin bahwa kedua prang itu tentu berkunjung ke tempat persembunyian mereka atau mungkin juga masuk ke hutan itu untuk menemui orang yang ada hubungannya dengan pernberontakan. Hati Thian Lee menjadi tegang penuh harapan.
Akan tetapi ketika dia membayangi sampai ke tengah hutan yang mulai gelap, tiba-tiba dia mendengar gerakan banyak orang dan tahu-tahu dari empat penjuru berloncatan banyak orang dan dirinya sudah dikepung oleh kurang lebih tiga puluh orang! Mereka semua memegang golok dan senjata tajam lainnya. Dia berhenti dan bersikap waspada. Kemudian muncullah dua orang yang dibayanginya tadi di antara orang banyak dan mereka berdua tertawa bergetak menghadapi Thian Lee,
“Ha-ha-ha, sekarang engkau akan dapat berbuat apa, Panglima Besar Song Thian Lee?” Hek-bin Mo-ko tertawa sambil mencabut ruyung berduri dari pinggangnya.
DewiKZ 436
“Heh-heh-heh, seorang panglima besar antek Mancu berkeliaran di sini seperti seekor ular mencari penggebuk. Hari ini engkau akan mampus, Song Thian Lee!” kata Sin-ciang Mo-kai dan dia pun sudah mengangkat tongkat hitamnya. Tongkat hitam itu berbahaya sekali karena
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
ujungnya direndam racun dan sekali saja tergores atau tertusuk tongkat itu cukup untuk membunuh orang.
Thian Lee maklum bahwa dirinya terancam bahaya, namun dia tetap tersenyum tenang. Dua orang itu telah mengenalnya! Hal ini sungguh tidak mungkin karena biarpun dia pernah melihat mereka, namun mereka itu tentu tidak mengenalnya. Kini tahu-tahu mereka. Telah mengenalnya, bukan hanya mengenal namanya, bahkan tahu bahwa dia adalah panglima besar! Ini tidak mungkin terjadi kecuali kalau mereka berdua memang sudah ada yang memberi tahu! Dan siapakah yang mengetahui bahwa Panglima Besar Song berada di Hui-cu? Lai-ciang-kun? Ah, masa Lai-ciangkun mempunyai hubungan dengan dua orang tokoh sesat itu? Tentu seorang di antara anak buah Lai-ciangkun, rnungkin tokoh yang telah membunuh dua orang bertopeng itu.
Thian Lee merasa tidak perlu untuk berpura-pura lagi. “Hek-bin Mo-ko dan Sin-ciang Mo-kai! Apa maksud kalian mengepungku dan mengancamku? Sepanjang ingatanku, belum pernah aku bermusuhan dengan kalian berdua!”
“Kalau belum pernah bermusuhan, mengapa engkau membayangi kami berdua?” Tanya Hek-bin Mo-ko.
“Engkau membayangi kami berdua tentu bukan dengan maksud mengajak kami beramah-tamah, bukan?” ejek Sinciang Mo-kai.
“Karena aku merasa heran dan ingin tahu mengapa dua orang seperti kalian berkeliaran di kota Hui-cu!” jawab Thian Lee.
DewiKZ 437
“Sudahlah, Mo-ko, mengapa mengajak calon mayat ini bercakap-cakap? Cepat habisi nyawanya!” kata pula Sin-ciang Mo-kai dengan marah dan ia pun sudah melompat ke depan dan tongkatnya menyambar ke arah leher Thian Lee.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Pendekar ini cepat miringkan tubuhnya mengelak dan dari samping dia sudah menampar ke arah pundak Si Pengemis Iblis. Hawa pukulan yang amat dahsyat membuat Sin-ciang Mo-kai terdorong mundur biarpun dia sudah mengelak sehingga dia terkejut sekali. Akan tetapi pada saat itu, ruyung berduri di tangan Hek-bin Mo-ko sudah menyambar dengan hantaman yang amat kuat ke arah dada Thian Lee.
“Mampuslah!” bentak Mo-ko, akan tetapi dengan mudah saja Thian Lee menghindarkan diri dari sambaran ruyung itu. Ketika Sin-ciang Mo-kai dan anak buahnya menyerbu, dia sudah mengambil pedangnya dari dalam buntalan pakaiannya dan dari situ pedang Jit-goat-sin-kiam telah berada di tangannya. Ketika dia memutar, pedangnya menangkis hujan senjata tajam itu, terdengarlah suara nyaring berdenting-denting. Para pengeroyok hanya melihat sinar terang bergulung-gulung menyilaukan mata dan banyak di antara mereka yang menjadi kaget karena senjata mereka telah patah menjadi dua potong ketika bertemu dengan sinar terang itu! Thian Lee menggerakkan kakinya dan nnenendangi mereka yang masih terkejut itu sehingga empat orang pengeroyok terpental sampai tiga meter dan jatuh berpelantingan seperti daun-daun kering tertiup angin! Tentu saja para pengeroyok menjadi terkejut bukan main, akan tetapi mereka mengandalkan banyak teman dan semakin ketat, bersikap hati-hati agar senjata mereka tidak bertemu dengan pedang yang mengeluarkan sinar gemilang itu.
DewiKZ 438
Hek-bin Mo-ko dan Sin-ciang Mo-kai juga terkejut. Mereka hanya pernah mendengar bahwa Panglima Besar Song Thian Lee adalah seorang yang sakti, akan tetapi mereka belum pernah membuktikannya sendiri. Kini, mengandalkan pengeroyokan banyak kawan, mereka berdua maju dan menerjang dengan berani dan dahsyat,
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
dibantu oleh seorang yang bertubuh katai dan yang memainkan sebatang pedang samurai yang panjang dan melengkung. Orang ini juga lihai sekali permainan pedangnya. Melihat gerakan pedang samurai itu, Song Thian Lee da-pat menduga .bahwa dia tentu seorang bangsa Jepang yang sering didengarnya. Jagoan-jagoan Jepang memang mahir menggunakan pedang panjang melengkung yang dimainkan dengan nnemegangi tangkai pedang dengan kedua tangannya.
Thian Lee menjadi sernakin besar kecurigaannya. Agaknya dapat dipastikan bahwa dua orang tokoh sesat ini telah bersekongkol dengan orang Jepang. Dan anak buah mereka itu tentulah anak buah pemberontak. Dia pun mengamuk dengan Jit-goat-sin-kiamnya sehingga robohlah beberapa orang lagi terkena sambaran sinar pedangnya.
Melihat betapa tangguhnya Thian Lee, kedua orang tokoh sesat itu menjadi terkejut dan juga penasaran sekali. Juga orang Jepang yang rnemainkan samurai itu. Ketika suatu saat samurai itu berkelebat ke arah pinggang. Thian Lee, pendekar ini menangkis dengan pedangnya dari atas ke bawah dan membarengi melepas dengan sebuah tendangan yang dengan tepat rnengenai dada Si Jepang itu sehingga terlempar dan jatuh terguling-guling. Akan tetapi agaknya dia cukup tangguh dan cepat dia sudah bangkit berdiri lagi dan agaknya dia mengerti bahwa kalau dilanjutkan, pihaknya tentu akan menderita kerugian besar. Apalagi cuaca sudah mulai gelap, maka dia pun berseru, “Lari......!”
DewiKZ 439
Agaknya seruan Si Jepang ini berpengaruh karena para pengeroyok segera melarikan ke dalam gelap sambil menarik teman-teman mereka yang terluka. Thian Lee meloncat hendak mengejar karena dia ingin menangkap seorang di antara mereka untuk ditanyai, akan tetapi tiba-tiba terdengar ledakan nyaring dan tampak asap tebal
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
sehingga terpaksa Thian Lee menghentikan pengejarannya karena dia khawatir kalau-kalau asap itu mengandung racun. Terpaksa dia kembali lagi keluar dari hutan yang mulai gelap itu.
Pengalaman di dalam hutan itu membuat Thian Lee semakin bersemangat untuk melakukan penyelidikan. Sudah jelas sekarang bahwa memang ada komplotan yang menentang pemerintah dan yang berusaha untuk membunuh orang orang berpangkat. Buktinya Un-ciangkun tewas terbunuh dan dia dua kali terancam bahaya maut. Bagaimana dengan pembesar yang lain? Dia sudah menyelidiki dan mendengar bahwa Ji-taijin yang menjadi kepala daerah itu adalah seorang yang bijaksana dan mencintai rakyatnya. Pembesar seperti itu tentu dimusuhi juga oleh komplotan pemberontak. Dia lalu langsung saja menunjukkan langkah kakinya ke rumah tempat tinggal Ji-taijin.
Ketika dia tiba di depan gardu di mana para perajurit berjaga didepan rumah gedung tempat tinggal Ji-taijin dia dihentikan oleh belasan orang penjaga.
“Orang muda, engkau siapakah dan apa maksudmu datang ke sini?” tanya kepala jaga sambil memandang penuh kecurigaan. Bahkan semua penjaga sudah mengepungnya dan bersiap-siaga dengan senjata mereka. Melihat ini, Thian Lee menduga bahwa pernah ada ancaman atas diri pembesa itu sehingga penjagaan diperketat.
DewiKZ 440
“Aku bukan musuh dan datang dengan maksud baik. Harap kalian laporkan kepada Ji-taijin bahwa aku adalah Song Thian Lee, datang dari kota raja membawa berita penting bagi Ji-taijin.”
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Melihat sikap ramah dan lunak dari Thian Lee, kepala jaga juga bersikap lembut dan dia menyuruh Thian Lee menunggu setentar sedangkan dia pergi melapor ke dalam.
Tak lama kemudian dia keluar lagi berkata kepada Thian Lee. “Engkau dipersilakan masuk, Saudara Song. Akan tetapi karena kami belum mengenalmu dan tidak tahu apa keperluanmu dengan kunjungan ini, demi keselamatan Ji-taijin, terpaksa engkau harus meninggalkan buntalan itu di sini dan masuk ke dalam gedung dengan pengawalan.”
Thian Lee mengangguk. Cukup teliti para penjaga ini, pikirnya. Dia lalu menyerahkan buntalan pakaiannya yang juga terisi pedangnya, kemudian dia melangkah memasuki gedung dikawal oleh enam orang penjaga yang bertubuh kokoh dan yang telah rnencabut pedang mereka. Dia membawa masuk ke ruangan tamu, disuruh duduk dengan enam orang itu berjaga di kanan kirinya.
Pintu dari dalam terbuka dan seorang laki-laki setengah tua muncul dalam ruangan itu. Dia adalah Ji Kian atau Ji-taijin yang bertubuh tinggi kurus dengan sepasang mata tajam namun sikapnya lembut dan sinar rnatanya ramah. Sejenak Ji-taijin mengamati wajah Thian Lee yang cepat bangkit berdiri dan memberi hormat, kemudian pembesar yang diikuti oleh enam orang pengawal yang berdiri di belakangnya itu memberi isyarat kepada enam orang pengawalnya dan enam orang penjaga yang mengawal Thian Lee agar mereka meninggalkan mereka berdua. Sekali pandang saja tahulah Ji-taijin bahwa Thian Lee seorang baik-baik yang tidak mengandung niat jahat terhadap dirinya dan dia pun tahu bahwa para pengawal itu tidak pergi begitu saja melainkan berjaga di luar kamar tamu, siap untuk setiap saat menyerbu ke dalam kamar.
DewiKZ 441
Setelah semua pengawal pergi, Ji-taijin lalu mempersilakan Thian Lee duduk. “Engkau bernama Song
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Thian Lee dan datang dari kota raja? Harap perkenalkan siapa dirimu dan apa maksud kedatanganmu berkunjung kepadaku?”
Thian Lee mengeluarkan surat kuasa dari saku dalam bajunya, lalu memperlihatkan kepada Ji-taijin. Ketika membaca surat kuasa dan mengetahui bahwa Song Thian Lee yang kini menghadapnya bukan lain adalah Song-thai-ciangkun yang amat terkenal, Ji-taijin terkejut sekali. Dia mengembalikan surat kuasa dan segera memberi hormat dengan membungkuk dalam.
“Tidak tahu bahwa Song-ciangkun yang datang berkunjung, harap maafkan bahwa kami menyambut kurang hormat,” katanya dengan hormat.
Thian Lee cepat membalas penghormatan itu., “Jangan terlalu sungkan, taijin, mari kita duduk dan bicara secara terbuka. Kedatanganku di Hui-cu ini untuk melaksanakan tugas yang diberikan Sri Baginda kepadaku, yaitu untuk menyelidiki gejala-gejala pemberontakan yang tampak di daerah ini. Apa yang dapat Taijin beri tahu kepadaku mengenai gejala ini?”
Setelah berpikir sejenak, Ji-taijin lalu menjawab, “Kami di sini tidak melihat adanya gejala pemberontakan. Yang kami ketahui adalah adanya gejala permusuhan terhadap para pejabat pemerintah. Kami sendiri sudah dua kali kedatangan seorang berkedok hitam. Entah apa yang dikehendakinya, akan tetapi yang terakhir kali muncul adalah untuk meninggalkan surat ini.”
DewiKZ 442
Ji-taijin menyerahkan surat peringatan yang diterimanya dari Si Kedok Hitam, seperti dia perlihatkan kepada Souw Lee Cin dahulu. Thian Lee menerima surat itu dan membacanya dengan teliti. Dia lalu mengembalikan surat itu kepada Ji-taijin.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
“Bagaimana pendapat Ji-taijin mengenai surat ini? Siapa kira-kira yang mengirim surat peringatan ini?”
“Kami tidak tahu, Ciangkun. Karena para petugas pun hanya melihat sekelebatan saja orang berkedok hitam itu. Yang jelas, ilmu kepandaiannya amat tinggi. Dan agaknya Un-ciangkun juga terbunuh oleh orang yang sama. Semenjak itu kami selalu mengadakan penjagaan ketat, kalau-kalau dia juga menghendaki nyawa kami, Ciangkun.”
“Apakah Ji-taijin kira ini ada hubungannya dengan gerakan pemberontakan?”
“Kami kira tidak begitu, Ciangkun. Kami lebih condong mengira bahwa orang berkedok itu adalah sebangsa pendekar patriot yang membenci semua orang Han yang menjadi pejabat pemerintah.”
“Ji-taijin, engkau sebagai kepala daerah Hui-cu tentu lebih mengetahui, siapa pendekar-pendekar patriot yang tinggal di daerah Hui-cu.”
“Yang paling terkenal adalah keluarga Cia, namun kami menyangsikan apakah mereka yang mengirim Si Kedok Hitam itu. Selama ini mereka tidak pernah melakukan hal-hal yang jahat, bahkan sebaliknya, keluarga Cia selalu menentang kejahatan.”
“Hemm, akan tetapi mereka membenci pejabat yang berbangsa Han, berarti mereka membenci engkau, Ji-taijin.”
“Tidak tahulah, akan tetapi melihat kenyataan bahwa mereka tidak menyerangku, hanya memperingatkan, memang ada kecenderungan menuduh mereka. Akan tetapi, tanpa bukti, bagaimana kita dapat menuduh mereka, Ciangkun?” DewiKZ 443
“Apakah Taijin pernah mendengar dari para penyelidik Taijin bahwa akhir-akhir ini terdapat orang Jepang yang
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
berkeliaran di Hui-cu?” tanya Thian Lee sambil memandang tajam penuh selidik ke arah wajah pembesar itu. Akan tetapi dia melihat bahwa wajah pembesar itu tidak mernperlihatkan sesuatu yang mencurigakan dan wajar-wajar saja.
“Memang pernah kami mendengarnya, Ciangkun. Akan tetapi karena orang Jepang itu tidak melakukan gangguan, maka dia pun tidak terlalu diperhatikan.”
“Menurut Taijin, bagaimana dengan sikap mendiang Un-ciangkun? Apakah dia itu dapat dipercaya dan tidak memperlihatkan tanda-tanda bahwa dia berhubungan dengan pemberontak?”
“Ah, kami berani menanggung bahwa mendiang Un-ciangkun bersih dari sangkaan seperti itu. Dia seorang panglima yang tegas dan adil, berwibawa dan bijaksana. Tidak mungkin dia hendak memberontak! Kami berhubungan dekat sekali sehingga kalau dia akan melakukan penyelewengan, kami tentu akan mengetahui, Ciangkun.”
Thian Lee mengangguk-angguk. “Bagaimana pendapat Ciangkun mengenai diri Lai-ciangkun? Apakah dia pun sama seperti Un-ciangkun?”
“Wakil komandan itu? Kami tidak mengetahui dengan jelas, Ciangkun. Hubungan antara kami dan Un-ciangkun adalah lebih hubungan pribadi antara sahabat, maka kami tidak begitu dekat dengan Lai-ciangkun.”
DewiKZ 444
Thian Lee mengangguk-angguk. Kecurigaannya terhadap keluarga Cia mengendur dengan keterangan yang bersungguh-sungguh dari Ji-taijin ini dan agaknya Ji-taijin seorang yang dapat dipercaya dan meyakinkan.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
“Baiklah, terima kasih atas semua keteranganmu, Ji-taijin. Aku mohon pamit untuk meneruskan penyelidikanku.”
“Apakah Ciangkun tidak akan beristirahat? Harap bermalam di sini saja!”
“Terima kasih, Taijin. Aku belum mau beristirahat dan harus melanjutkan penyelidikanku,” kata Thian Lee sambil bangkit dari tempat duduknya.
“Apakah Ciangkun membutuhkan bantuan? Kami mempunyai beberapa orang yang lumayan ilmu silatnya. Kalau engkau membutuhkan…...”
“Tidak, terima kasih. Aku lebih leluasa bekerja sendiri.” Thian Lee lalu berpamit dan keluar dari gedung itu. Tak lama kemudian dia pun menghilang ke dalam bayangan pohon-pohon yang gelap.
Ooo0-dw-0ooO
Lee Cin masih beada di kota Hui-cu dan ia mendengar tentang pembunuhan atas dir Un-ciangkun. Hatinya merasa penasaran sekali. Besar dugaannya bahwa keluarga Cia tentu ada hubungannya dengan pembunuhan itu. Bukankah dua orang saudara itu, Cia Hok dan Cia Bhok, pernah mengadakan pertemuan dengan Yasuki dan Phoa-ciangkun? Dan mereka merencanakan untuk membunuh Un-ciangkun dan Ji-taijin! Jelas ada hubungan antara keluarga Cia dan para pemberontak termasuk orang Jepang. Bukankah ia melihat sendiri betapa Yasuki dijamu oleh Nenek Cia? DewiKZ 445
Ia harus menyelidiki keluarga Cia! Timbul pula dugaan yang meyakinkan di hatinya bahwa Kedok Hitam tentu anggauta keluarga Cia, mungkin sekali Tin Siong karena
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
kepandaian pemuda itu juga hebat. Atau setidaknya, andaikata Si Kedok Hitam bukan anggauta keluarga mereka, keluarga Cia tersangkut pula dalam pembunuhan terhadap diri Un-ciangkun. Akan tetapi ia teringat kepada Tin Han. Mungkinkah pemuda itu tersangkut dalam persekutuan itu? Rasanya tidak mungkin!
Tiba-tiba timbul kecurigaannya. Mungkin yang tersangkut itu hanya beberapa orang saja dari mereka. Jelas Cia Hok dan Cia Bhok tersangkut, akan tetapi belum tentu Nenek Cia, Tin Siong dan Tin Han ada hubungannya dengan mereka. Bahkan keadaan mereka ini berbahaya kalau hendak menghalangi sepak terjang para pennberontak itu. Jangan-jangan mereka malah dimusuhi sendiri oleh komplotan itu. Pikirannya menjadi bingung dan malam itu, setengah iseng setengah mengharapkan akan memperoleh petunjuk, ia pun meninggalkan rurnah penginapan dan pergi menuju ke gedung tempat tinggal keluarga Cia secara bersembunyi.
Malam itu gelap. Sesosok bayangan yang amat ringan dan gesit gerakannya rnelompati pagar tembok rumah kediaman keluarga Cia, menyelinap di antara pohon-pohon dalam taman dan terus menghampiri gedung itu. Akan tetapi setelah dia tiba di pekarangan rumah yang berada di samping di mana tergantung sebuah lampu yang cukup besar dan terang, tiba-tiba dua orang laki-laki melompat menghadangnya. Dua orang ini adalah Cia Hok dan Cia Bhok yang tadi melihat gerak-gerik bayangan itu. Bayangan itu adalah Song Thian Lee. Pemuda itu terkejut juga melihat munculnya dua orang itu dan tahulah bahwa rumah keluarga itu terjaga dan dua orang ini memiliki ilmu kepandaian yang lumayan tingginya.
DewiKZ 446
Tanpa banyak cakap lagi Cia Hok dan Cia Bhok sudah mencabut pedang mereka dan langsung menyerang Thian
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Lee dengan dahsyat. Namun Thian Lee dapat mengelak dengan mudah dan dia pun membalas serangan mereka dengan tamparan tangannya. Dia melawan dengan tangan kosong saja karena dia tidak berniat melukai dua orang itu. Maksudnya hanya untuk mengukur sampai di mana kelihaian keluarga Cia sebelum dia mengajak mereka bicara. Melihat lawan tidak mencabut pedang yang berada di punggungnya, Cia Hok dan Cia Bhok menjadi penasaran sekali. Mereka berdua yang berpedang hanya dilawan tangan kosong belaka oleh laki-laki yang tidak dikenal ini. Maka mereka lalu menyerang dengan lebih dahsyat lagi. Namun semua serangan mereka sia-sia belaka. Dengan kelincahan tubuh yang luar biasa cepat gerakannya, orang itu selalu dapat mengelak. Bahkan adakalanya dia menangkis pedang itu dengan telapak tangannya dari samping! Tahulah mereka bahwa mereka bukan menghadapi seorang maling biasa, melainkan seorang yang memiliki ilmu kepandaian yang amat tinggi.
Setelah puas menyelidiki ilmu pedang mereka, ketika pedang Cia Hok membacok dari atas ke arah kepalanya, Thian Lee miringkan tubuhnya dan ketika pedang itu meluncur dari atas ke bawah di samping tubuhnya, cepat dia memukul dengan tangan miring ke arah pergelangan tangan Cia Hok yang memegang pedang.
DewiKZ 447
"Dukk!" Tanpa dapat dihindarkan lagi pedang itu terpental lepas dari tangan Cia Hok yang terasa lumpuh seketika dan sebelum Cia Hok dapat menghindar sebuah tendangan mengenai pahanya dan dia pun terpelanting jatuh. Walaupun tidak terluka parah, Cia Hok terkejut bukan main melihat kenyataan betapa dia begitu mudah dikalahkan. Cia Bhok marah dan cepat menusukkan pedangnya ke arah ulu hati Thian Lee. Pemuda itu menerima pedang itu dengan kedua tangannya. Kedua
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
telapak tangan menjepit ujung pedang dan Cia Bhok tidak dapat menggerakkan pedangnya lagi! Dia mengerahkan seluruh tenaganya untuk mendorong pedangnya agar rnengenai ulu hati lawan, namun pedangnya seperti telah melekat dengan kedua telapak tangan lawan, sama sekali tidak dapat didorong atau dicabut. Dengan penasaran dia lalu mengerahkan Hek-tok-ciang di tangan kirinya, lalu memukul dengan tiba-tiba ke arah pundak Thian Lee. Thian Lee maklum akan datangnya pukulan ampuh, akan tetapi dia nnengerahkan sin-kangnya ke pundak dan menerima hantaman telapak tangan kiri itu.
"Plak.... trakkk!" Pundak terpukul, akan tetapi sedikit pun tidak tergoyangkan, sedangkan ketika dia mengerahkan tenaga pada kedua tangannya, pedang itu patah menjadi dua potong! Cia Bhok yang tadi memukul dengan tangan kiri, merasa seolah menghantam papan baja yang amat kuat, tenaganya membalik dan karena pada saat itu pedangnya patah maka dia pun terhuyung ke belakang!
Selagi Thian Lee hendak membuka mulut dan minta maaf, tiba-tiba ada bayangan orang berkelebat dan terdengar suara melengking. Sebatang suling perak telah menotok ke arah lehernya dengan gerakan cepat dan dahsyat sekali!
Thian Lee menarik tubuh atasnya ke belakang dan kakinya menyapu ke arah kedua kaki orang yang baru saja melayang turun sehingga orang itu melompat lagi ke atas untuk menghindarkan sapuan kaki Thian Lee. Kemudian dia menyerang lagi dengan suling peraknya. Suling itu berubah menjadi gulungan sinar perak yang menyilaukan mata, mengepung dan mendesak Thian Lee dengan serangan bertubi-tubi.
DewiKZ 448
Thian Lee merasa kagum. Tingkat kepandaian pemuda tampan yang memegang suling perak ini ternyata lebih
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
tinggi daripada tingkat kedua orang setengah tua itu. Bangkit kegembiraannya untuk menguji kepandaian pemuda tampan yang lihai ini dan dia pun mencabut Jit-goat-kiam yang tergantung di punggungnya. Thian Lee mengambil sikap bertahan. Dia membiarkan dirinya dihujani serangan dengan suling perak oleh lawannya tanpa membalas. Dia menangkis dan mengelak dengan kecepatan yang luar biasa sehingga penyerangnya yang bukan lain adalah Cia Tin Siong itu menjadi pening. Dia merasa seolah menyerang sebuah bayangan saja. Ke mana pun sulingnya menyambar, selalu bertemu pedang atau hanya mengenai udara kosong belaka. Hal ini membuat Tin Siong menjadi penasaran sekali. Rasanya selama dia menguasai ilmu-ilmu silat dari ayah dan neneknya, belum pernah dia bertemu dengan seorang lawan yang begini pandai. Dia mengerahkan seluruh tenaga dan mengeluarkan semua ilmunya melalui suling peraknya, namun suling itu selalu gagal mengenai tubuh lawan.
Setelah membiarkan lawannya menyerang terus selama tiga puluh jurus lebih, dan menghabiskan semua jurusnya, barulah puas rasa hati Thian Lee. Dia melihat bahwa suling perak itu dimainkan dengan ilmu pedang bercampur dengan ilmu menotok jalan darah, maka ilmu yang dimainkan dengan suling perak itu menjadi berbahaya bukan main. Dia merasa kagum dan maklum bahwa keluarga Cia memiliki anggauta keluarga yang pandai dan berjumlah banyak. Dia ingin tahu apakah masih ada anggauta keluarga yang lebih lihai daripada pemuda bersuling ini.
DewiKZ 449
Setelah mulai membalas, Tin Siang menjadi terkejut melihat serangan balasan yang amat dahsyat dari lawannya. Dia sudah berusaha memutar sulingnya melindungi seluruh tubuhnya, akan tetapi ketika suling peraknya menangkis,
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
tiba-tiba sulingnya itu tidak dapat ditarik lepas dari pedang lawan, seolah telah menempel dengan pedang. Dia mengerahkan tenaga membetot suling, lalu mendorong dan sekaligus tangan kirinya memukul dengan pengerahan ilmu pukulan Hek-tok-ciang (Tangan Racun Hitam). Thian Lee melihat telapak tangan menghitam memukul ke arah dadanya. Dia pun mendorongkan tangan kirinya menyambut serangan itu.
"Plakk......!" Tubuh Tin Siong terpental sampai empat meter sedangkan Thian Lee yang merasakan pukulan panas hanya bergoyang sedikit, tanda bahwa tenaga sin-kangnya masih menang jauh.
Tiga orang anggauta keluarga Cia itu terkejut bukan main, juga merasa khawatir karena lawan ini ternyata bukan main lihainya. Pada saat itu, sesosok bayangan menyambar dan sebatang pedang bersinar merah menyambar dengan tusukan dahsyat ke arah dada Thian Lee. Thian Lee cepat menangkis dengan pedangnya.
"Tranggg......!!" Thian Lee terdorong ke belakang akan tetapi penyerang itu juga hampir terpelanting, akan tetapi dapat membuat gerakan jungkir balik sehingga tubuhnya turun ke atas tanah dengan pedang bersinar merah itu melintang di depan dada. Dua pasang mata yang mencorong saling pandang.
"Engkau....??" Lee Cin yang tadi menyerang itu berseru kaget dan heran.
DewiKZ 450
"Eh, engkau ini..... Cin-moi....??" Thian Lee juga berseru heran melihat gadis perkasa yang sudah dikenalnya dengan amat akrabnya itu berada di situ. Mereka kembali saling pandang dan otomatis tangan mereka menyimpan lagi pedang yang tadi terpegang.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Lee-ko, kenapa engkau berada di sini? Dan mengapa berkelahi dengan keluarga Cia?"
Thian Lee tersenyum. "Hanya untuk rnenguji kepandaian mereka karena aku telah lama mendengar akan kelihaian keluarga Cia."
Lee Cin lalu memutar tubuhnya menghadapi Tin Siong, Cia Hok dan Cia Bhok. Ia membungkuk dan berkata, "Harap maafkan dia. Dia adalah sahabat baikku bernama Song Thian Lee, bukan orang jahat."
Thian Lee tersenyum dan mengangkat kedua tangan depan dada, mernberi hormat kepada tiga orang itu lalu berkata, "Maafkan saya. Mari, Cin-moi, kita pergi dari sini. Banyak yang harus kita saling bicarakan."
"Baik, Lee-ko." Lee Cin kembali memberi hormat kepada tiga orang itu dan bersama Thian Lee ia berlebat lenyap dari depan tiga orang itu.
"Bukan main! Hebat sekali kepandaiannyal" kata Cia Bhok sambil menghela napas panjang.
"Siapa orang itu?" tanya Cia Tin Siong dengan alis berkerut. Tidak senang hatinya melihat keakraban di antara Lee Cin dan pemuda itu.
"Namanya Song Thian Lee?" kata Cia Hok. "Ah, aku teringat sekarang! Song Thian Lee adalah pemuda perkasa yang dahulu ikut menghancurkan persekutuan pejuang yang dipimpin oleh Pangeran Tang Gi Lok! Dialah pendekar muda yang kemudian diangkat menjadi Panglima Besar oleh Kaisar Mancu!"
DewiKZ 451
"Ah, sayang sekali dia menghambakan diri kepada Kaisar Mancu!" kata Cia Bhok sambil menarik napas panjang.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Cia Tin Siong mengepal tinjunya. "Kalau begitu dia harus disingkirkan. Orang itu berbahaya sekali!" Mereka bertiga lalu kembali memasuki rumah untuk melaporkan peristima itu kepada Nenek Cia.
ooo0d_w0ooo
"Lee-ko, bagaimana keadaanmu, Le-ko? Bagaimana pula kabarnya dengan Enci Cin Lan? Sudahkah kalian mempunyai keturunan?" Lee Cin menghujani Thian Lee dengan pertanyaan yang bertubi. Ia merasa gembira bukan main dapat bertemu dengan Song Thian Lee, pria yang pernah merebut hatinya, yang pernah dicintanya sepenuh hatinya. Memang selama ini ia sudah dapat melupakan Thian Lee, dapat menerima kenyataan bahwa cinta sepihak tidak dapat dilanjutkan dalam pernikahan. Ia sudah rela bahwa Thian Lee menikah dengan Tang Cin Lan yang dicinta pemuda itu. Akan tetapi tetap saja pertemuan ini mendatangkan perasaan girang dalam hatinya, segar sejuk rasanya seperti setangkai bunga yang terkena siraman embun pagi. Udara mendadak cerah, awan tersapu angin sehingga tampaklah bulan sepotong yang tadi tertutup awan. Cuaca menjadi remang-remang dan mereka duduk di jalan yang sunyi, di atas batu-batu besar yang terdapat di tempat itu. Thian Lee tersenyum menerima pertanyaan bertubi itu. Dia sendiri pun merasa sangat gembira dengan pertemuan yang tidak terduga-duga ini.
DewiKZ 452
"Keadaanku baik-baik saja, Cin-moi. Juga isteriku berada dalam keadaan sehat dan selamat. Kami telah mempunyai seorang anak laki-laki bernama Song Hong San yang kini telah berusia dua tahun. Dan bagaimana dengan keadaanmu selama ini, Lee-moi? Apakah engkau masih tinggal bersama ayahmu, Paman Souw Tek Bun di Hong-son?"
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Aku pun baik-baik saja, Lee-ko. Benar, aku tinggal di Hong-san bersama ayahku. Akan tetapi, apa yang membawamu datang ke tempat ini, dan mengapa pula engkau bertanding dengan keluarga Cia? Aku tidak percaya bahwa engkau hanya menguji kepandaian mereka. Dan lagi, engkau seorang panglima besar mengapa melakukan perjalanan dengan pakaian rakyat biasa? Apa yang telah terjadi?"
"Aku pun terkejut dan heran sekali melihat engkau membantu mereka. Akan tetapi biarlah aku bercerita lebih dulu. Aku diutus oleh Kaisar untuk melakukan penyelidikan di daerah timur ini, karena terdengar berita bahwa di daerah ini ada gejala-gejala pemberontakan. Engkau pun tentu sudah mendengar betapa Un-ciang-kun terbunuh orang-orang yang menyerang rumahnya. Nah, aku melakukan penyelidikan dan mengambil kesimpulan bahwa Un-ciangkun tentu terbunuh oleh orang-orang yang mempunyai niat untuk memberontak. Aku pun sudah mengunjungi Ji-taijin yang juga pernah didatangi orang dengan niat tidak baik pula. Menurut perhitunganku, di sini bergerak pendekar-pendekar patriot yang membenci orang-orang Han. yang menjadi pembesar. Karena aku mendengar bahwa keluarga Cia juga merupakan pendekar-pendekar patriot, maka aku datang untuk menyelidiki mereka. Aku ketahuan dan terjadilah perkelahian itu. Akan tetapi aku hanya ingin mengukur kepandaian mereka, tidak bermaksud mencelakai mereka. Nah, sekarang tiba giliranmu untuk bercerita mengapa engkau berada di sini dan agaknya engkau mengenal pula keluarga Cia."
DewiKZ 453
Mendengar pertanyaan ini Lee Cin tertawa. Thian Lee tersenyum melihat dan mendengar gadis ini tertawa. Tawa Lee Cin masih seperti dulu, riang jenaka dan bebas.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Hemm, kenapa engkau tertawa, Cin-moi? Ada yang lucu dalam ceritaku tadi?"
"Lucu sekali! Ternyata keberadaanmu di sini sama benar dengan kedatanganku di Hui-cu. Pengalaman kita juga hampir sama! Aku pun telah menyelidiki keluarga Cia dan aku sudah mendengar semua akan kematian Un-ciangkun dan akan Ji-taijin yang memperoleh surat ancaman. Semua yang kau ketahui, sudah kuketahui dan mungkin aku banyak tahu tentang semua itu. Hanya bedanya, kalau engkau datang menjadi penyelidik utusan Kaisar, aku datang ke sini untuk mencari orang yang melukai ayahku."
"Ayahmu dilukai orang? Mengapa dan siapa yang melakukannya?"
DewiKZ 454
"Orang itu berkedok dan ketika aku sedang tidak berada di rumah, dia mendatangi Ayah, menegur Ayah dan mengatakan Ayah sebagai antek Mancu, kemudian menyerang Ayah. Terjadi perkelahian dan Ayah terluka oleh pukulan yang mendatangkan bekas telapak tangan hitam. Ayah telah dapat disembuhkan dan karena panasaran aku lalu mencari Si Kedok Hitam itu. Ketika aku mendengar bahwa keluarga Cia memiliki ilmu pukulan Hek-tok-ciang, aku lalu menyelidiki ke sini. Dan kebetulan sekali aku bertemu sendiri dengan Si Kedok Hitam yang ketika itu mendatangi rumah Ji-taijin. Kami sempat bertanding. Dia memang lihai akan tetapi sebelum seorang di antara kami kalah atau menang, dia sudah melarikan diri, Aku sudah menyelidiki di keluarga Cia, akan tetapi tidak menemukan Si Kedok Hitam. Kurasa dia bukan anggauta keluarga Cia yang sudah kucoba pula ilmu kepandaian mereka. Dalam penyelidikanku terhadap Si Kedok Hitam itulah aku sempat menemui Ji-taijin dan juga mendiang Un-ciangkun. Mereka berdua hanya tahu bahwa mereka didatangi Si Kedok Hitam, akan tetapi tidak dapat
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
menduga siapa orangnya. Malam ini, karena masih penasaran aku datang lagi kepada keluarga Cia untuk mengintai dan menyelidiki. Melihat ada orang bertanding dengan mereka dan mereka terdesak, aku segera membantu karena aku telah berkenalan cukup baik dengan mereka. Nah, demikian ceritaku, Lee-ko. Bukankah pengalaman kita mirip sekali?"
Thian Lee mengangguk-angguk. "Sungguh suatu kebetulan yang mengherankan, akan tetapi menguntungkan aku, Cin-moi. Dengan semua keteranganmu itu, aku dapat memperoleh tambahan pengetahuan dan tentu saja setelah kita bertemu di sini, aku boleh mengharapkan bantuanmu dalam penyelidikan ini."
"Masih ada lagi keteranganku yang tentu amat penting bagimu, Lee-ko. Ketahuilah bahwa dua orang di antara keluarga Cia, yaitu dua orang setengah tua yang tadi berada di sana, bernama Cia Hok dan Cia Bhok, mereka mengadakan persekutuan dengan orang Jepang bernama Yasuki dan juga dengan seorang perwira bernama Phoa-ciangkun."
Thian Lee terkejut sekali dan juga girang mendengar berita ini. "Benarkah itu, Cin-moi? Beritamu ini sungguh teramat penting bagiku. Bagaimana engkau dapat mengetahui akan hal itu?"
DewiKZ 455
"Aku mengetahuinya secara kebetulan saja, Lee-ko. Ketika itu aku menjadi tamu keluarga Cia dan pada suatu malam, secara kebetulan sekali ketika aku berada di dalam taman, aku melihat rnereka berdua bercakap-cakap dengan Yasuki dan Phoa-ciangkun. Dalam pembicaraan singkat yang kudengar ketika mereka berjalan di taman itu, mereka merencanakan pembunuhan terhadap Ji-taijin dan Un-ciangkun."
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Bagus! Kini jelaslah sudah bahwa keluarga Cia terlibat dalam usaha pemberontakan dan bergabung dengan orang jepang. Adapun panglima yang hendak berkhianat adalah Phoa-ciangkun yang memimpin pasukan di sepanjang pantai timur. Kesaksianmu ini sudah cukup untuk menangkap keluarga Cia dan Panglima Phoa, Cin-moi."
"Masih ada berita yang tentu akan mengejutkanmu, Lee-ko. Engkau tentu masih ingat akan orang yang bernanna Siangkoan Tek, bukan?"
"Siangkoan Tek, putera dari Siangkoan Bhok majikan Pulau Naga, datuk dari timur itu?"
"Benar, dia juga bersekutu dengan orang Jepang. Pernah mereka mengeroyok dan menawan aku, dan aku nyaris celaka kalau tidak ditolong oleh Si Kedok Hitam."
"Si Kedok Hitam yang mengirim surat peringatan kepada Ji-taijin?"
"Ya, dialah orangnya yang sudah dua kali menolongku. Dan selain Siangkoan Tek, masih ada seorang pemuda lain, bernama Ouw K wan Lok yang juga bersekongkol dengan orang Jepang. Pemuda ini adalah murid mendiang Pak-thian-ong dan Thian-te Mo-ong."
"Thian-te Mo-ong? Ah, datuk sesat itu dapat meloloskan diri ketika dikirim ke tempat pembuangan. Kiranya dia mempunyai murid yang bersekongkol dengan pemberontak dan Jepang."
"Ouw Kwan Lok itu lihai juga, Lee-ko. Kita harus waspada menghadapi Ouw Kwan Lok dan Siangkoan Tek."
DewiKZ 456
"Hemm, kalau putera dan murid para datuk sesat itu ditarik pula oleh pemberontak untuk bergabung, maka keadaannya menjadi semakin gawat. Apalagi aku juga menaruh curiga terhadap Lai-ciangkun, pengganti Un-
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
ciangkun. Ketika bermalam di rumahnya, aku diserang orang bertopeng. Aku merobohkan mereka, akan tetapi sebelum aku dapat memeriksa mereka, ada orang menyambitkan pisau dan keduanya tewas. Ini tentu perbuatan orang dalam markas itu, maka aku menaruh curiga kepada Lai-ciangkun."
"Sekarang, apa yang akan kaulakukan, Lee-ko?"
"Aku akan menangkapi mereka semua yang mencurigakan. Keluarga Cia akan kutangkap dulu."
"Nanti dulu, Lee-ko. Aku percaya bahwa tidak semua anggauta keluarga Cia bersekongkol dengan pemberontak. Aku melihat dua orang putera mereka bukanlah orang jahat. Yang bernama Cia Tin Siong itu seorang berjiwa patriot yang gagah perkasa dan aku sudah mengenalnya dengan baik, dan terutama sekali adiknya yang bernama Cia Tin Han, biarpun dia seorang pemuda yang lemah dan tidak mengerti ilmu silat, namun jiwanya patriotis, bahkan dia bercita-cita menjadi seorang patriot sejati yang tidak sudi bersekutu dengan perkumpulan jahat apalagi orang Jepang. Aku khawatir kalau mereka akan tersangkut karena mereka adalah dua orang anggauta keluarga Cia."
"Engkau mengenal keluarga Cia lebih baik, Cin-moi. Kalau menurut pendapatmu, siapa saja yang bersekutu dengan orang Jepang dan pemberontak?"
"Yang sudah jelas kudengarkan sendiri ketika berembuk adalah Cia Hok dan Cia Bhok. Yang kucurigai adalah Nenek Cia yang menjamu orang Jepang itu. Entah kalau ayah ibu kedua orang pemuda itu, aku belum dapat menilainya."
DewiKZ 457
"Kalau begitu, aku akan menangkap Cia Hok dan Cia Bhok lebih dulu. Kalau nanti dalam pemeriksaan ada lagi
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
anggauta keluarga mereka yang terlibat, mudah dilakukan penangkapan kembali."
"Akan tetapi biarpun engkau seorang panglima besar, engkau tidak membawa pasukan, bagaimana hendak menangkap orang, Lee-ko?"
0oo0dw0oo0
Jilid: 14
THIAN LEE tersenyum. "Biarpun aku tidak membawa pasukan, akan tetapi aku membawa surat perintah dari Sri Baginda Kaisar. Dengan surat itu, mudah bagiku untuk memerintahkan Panglima Lai menyediakan pasukan untukku."
"Akan tetapi, bukankah engkau mencurigai Lai-ciangkun? Bagaimana kalau kecurigaanmu itu benar dan dia bersekongkol dengan orang Jepang dan Phoa-ciangkun? Tentu dia akan mengkhianatimu dan tidak akan memberi bantuan pasukan."
Thian Lee mengangguk-angguk. "Engkau hebat, Cin-moi. Kulihat selama beberapa tahun ini semakin cerdik dan kekhawatiranmu itu memang beralasan. Karena itu, aku akan lebih dulu menguasai pasukan, mengambil alih kekuasaan dari tangan Lai-ciangkun sebelum aku bergerak."
"Kalau begitu......"
DewiKZ 458
"Sssssttt……!" Tiba-tiba Thian Lee memotong dan menempelkan telunjuknya pada bibirnya memberi isyarat agar Lee Cin tidak bersuara. Telinganya yang memiliki pendengaran tajam dan peka sekali itu mendengar sesuatu yang tidak wajar, seperti langkah-langkah kaki orang.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Lee Cin segera dapat menangkap isyarat itu dan ia pun mengerahkan pendengarannya untuk menangkap suara yang tidak wajar. Ia mengangguk-angguk, karena ia pun dapat menangkap suara langkah-langkah kaki yang mendatangi dari jauh!
Tiba-tiba nampak obor yang banyak jumlahnya bernyala dan mereka telah dikepung oleh orang-orang yang memegang obor. Keadaan menjadi terang benderang dan dua orang muda itu melihat puluhan orang telah mengepung mereka! Mereka tidak menjadi gugup, akan tetapi segera berlompatan dari batu yang mereka duduki dan berdiri tegak dan siap siaga.
Ketika Lee Cin memandang, ternyata orang-orang itu dipimpin oleh lima orang yang sudah dikenalnya. Mereka adalah dua orang bersaudara Cia, yaitu Cia Hok dan Cia Bhok, lalu orang Jepang Yasuki, dan yang dua orang lagi adalah Siang-koan Tek dan Ouw Kwan Lok. Masih ada lagi dua orang berusia lima puluh tahun yang berdiri di belakang lima orang ini, yang tidak ia kenal.
DewiKZ 459
Akan tetapi Thian Lee mengenal mereka berdua yang bukan lain adalah Hek-bin Mo-kai dan Sin-ciang Mo-kai. Kiranya dua orang tokoh sesat itu telah bergabung dengan persekutuan pemberontak. Dan sekarang dia melihat bukti bahwa dua orang bersaudara Cia itu benar-benar bersekutu dengan pemberontak dan tokoh-tokoh jahat. Hanya keterlibatan Panglima Phoa yang belum tampak buktinya, akan tetapi dia mengira bahwa tentu puluhan orang anak buah itu merupakan anak buah Phoa-ciangkun, dan melihat golok besar di pinggang para anak buah itu, dugaannya semakin keras karena dia mengenal pasukan golok besar yang merupakan pasukan inti yang ditempatkan di perbatasan-perbatasan. Pasukan golok besar adalah pasukan
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
yang terkenal kuat karena para anggautanya memiliki ilmu golok yang sudah lumayan tangguhnya.
Sebagai seorang yang berpengalaman, melihat sepintas lalu saja tahulah Thian Lee bahwa mereka berdua berada dalam bahaya besar. Dia tahu bahwa lima orang di depan itu, ditambah dua orang tokoh sesat merupakan lawan yang tangguh. Tentu saja dia mampu mengalahkan mereka satu demi satu, akan tetapi kalau mereka maju bertujuh, ditambah lagi dengan barisan golok besar yang jumlahnya paling sedikit tiga puluh orang itu, mereka merupakan pengeroyok yang amat kuat. Dia mengkhawatirkan keselamatan Lee Cin maka sambil mengeluarkan pedang Jit-goat-kiam dia berseru, "Cin-moi, larilah cepat!"
Akan tetapi bagaimana gadis perkasa itu mau melarikan diri meninggalkan sahabatnya yang terancam bahaya maut? Ia pun mengeluarkan Ang-coa-kiam yang tadinya melibat pinggangnya dan berkata, "Lee-ko, kita hajar semua anjing srigala ini!"
"Tidak, larilah dari sini, Cin-moi. Biar aku yang menahan para pemberontak ini!" Thian Lee berseru lagi.
Akan tetapi Lee Cin tetap tidak mau beranjak dari situ. "Kita lawan bersama, Lee-ko. Aku tidak dapat meninggalkanmu!" katanya gagah.
Siangkoan Tek tertawa bergelak, merasa menang karena dua orang itu sudah terkepung erat. "Ha-ha-ha, Song Thian Lee. Dalam keadaan terjepit engkau masih berlagak! Nona Souw Lee Cin, lebih baik engkau menyerah. Aku yang menanggung bahwa engkau tidak akan diganggu karena aku masih mengharapkan engkau menjadi isteriku."
DewiKZ 460
"Siangkoan Tek jahanam busuk! Daripada menjadi isterimu aku lebih baik mati!" jawab Lee Cin sambil menudingkan pedangnya ke arah muka pemuda itu,
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
kemudian gadis ini pun menyerang dan menerjang ke depan, pedangnya berkelebat menusuk ke arah dada Siangkoan Tek. Pemuda tampan ini lalu menggerakkan pedangnya menangkis dan mereka segera bertanding dengan serunya. Pedang Lee Cin berkelebatan dan menyambar-nyambar bagaikan kilat, namun Siangkoan Tek yang merupakan lawan yang tangguh sudah menghadang ke arah mana pedang gadis bergerak sehingga semua serangan Lee Cin dapat ditangkisnya.
Sementara itu, Ouw K wan Lok yang mendengar bahwa pemuda itu adalah Thian Lee, musuh utama kedua gurunya, cepat menerjang maju dengan sepasang pedangnya. Gerakannya diikuti oleh kedua saudara Cia yang sudah tahu betapa lihainya Song Thian Lee yang juga mereka ketahui sebagai Panglima Besar Song itu. Melihat ini, Hek-bin Mo-ko dan Sin-ciang Mo-kai juga terjun ke dalam pertempuran membantu mereka mengeroyok sehingga Thian Lee kini dikeroyok oleh lima orang yang lihai! Namun Thian Lee tidak menjadi gentar. Yang membuatnya khawatir hanyalah Lee Cin yang sudah terlibat perkelahian seru dengan Siangkoan Tek. Dia memutar pedangnya melindungi tubuhnya dari penyerangan lima orang pengeroyoknya.
Sementara itu, Yasuki yang melihat Thian Lee sudah clikeroyok lima, segera menggerakkan samurainya untuk membantu Siangkoan Tek mengeroyok Lee Cin.
"Tranggg….. cringgg……!!" Bunga api berpijar-pijar ketika pedang Ang-coa-kiam menangkis samurai dan pedang di tangan Siangkoan Tek. Lee Cin mengamuk. Pedangnya berubah menjadi segulungan sinar merah yang menyambarnyambar ke arah kedua orang pengeroyoknya.
DewiKZ 461
Puluhan orang anak buah yang mengepung tempat itu sejenak memandang jalannya pertempuran dengan mata
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
kagum. Mereka kagum melihat sepak terjang Thian Lee yang biarpun dikeroyok lima masih dapat bergerak dengan gesit, berloncatan ke sana sini dan membalas serangan lima orang pengeroyoknya. Juga mereka kagum melihat gadis cantik itu yang biarpun dikeroyok dua masih juga memainkan pedangnya yang berubah menjadi sinar merah yang bergulung-gulung. Pemimpin mereka lalu bersuit panjang memberi aba-aba dan majulah puluhan orang itu terbagi menjadi dua. Sebagian mengepung Lee Cin dan sebagian lagi mengepung Thian Lee.
DewiKZ 462
Lee Cin yang dikeroyok dua oleh Siangkoan Tek dan Yasuki, mengamuk dan pedangnya menyambar-nyambar ganas sehingga kedua orang pengeroyoknya itu tidak mampu mendesaknya, bahkan beberapa kali mereka harus cepat mengelak karena sambaran pedang gadis itu amat berbahaya. Dalam keadaan itu, tiba-tiba sedikitnya lima belas orang telah maju membantu. Mereka memegang golok besar dan ada yang tangan kirinya menggunakan obor untuk menyerang Lee Cin! Gadis ini dikepung ketat dan hujan bacokan dan tusukan menyambar ke arah dirinya. Terpaksa ia harus memutar pedangnya melindungi dirinya dan kalau melihat kesempatan, kakinya atau tangan kirinya bergerak cepat merobohkan seorang pengeroyok. Tiba-tiba terdengar suitan pendek dua kali dan para pengepung yang lima belas orang banyaknya itu berlari berputaran mengubah kedudukan dan ketika mereka menyerang lagi, ternyata empat orang tetap memegang obor yang diangkat tinggi-tinggi sedangkan belasan orang yang lain kini memegang sehelai jala! Siangkoan Tek dan Yasuki masih mencoba untuk mendesak Lee Cin. Ketika gadis ini menyingkir dengan lompatan ke pinggir, tiba-tiba dua helai jala melayang dan menerkamnya! Ia terkejut sekali, menggunakan pedangnya untuk dibacokkan ke arah kedua helai jala itu, akan tetapi pedangnya hanya dapat membuat
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
jala itu gagal menerkamnya, tidak mampu merusak benang jala yang ternyata amat ulet dan kuat itu. Serangan Siangkoan Tek dan Yasuki sudah datang lagi dan Lee Cin terpaksa memutar pedangnya sambil melangkah mundur! Ia mulai terdesak. Tibatiba kembali ada jala menerkamnya dari belakang. Ia meloncat ke kanan, akan tetapi dari kanan juga menerkam sehalai jala. Ia melompat ke kiri, kini bahkan ada dua jala menyambutnya dengan terkaman. Ketika ia menangkis dengan pedangnya, dari segala penjuru ada jala menerkam sehingga ia tidak mampu menghindarkan diri lagi. Tubuhnya sudah diselimuti beberapa helai jala dan ia hanya dapat meronta seperti seekor ikan besar masuk ke dalam jala yang kuat. Pedangnya digerakkan ke kanan kiri, akan tetapi tidak dapat merobek jala itu. Siangkoan Tek melompat ke depan dan dari belakang dia menotok pundak Lee Cin, membuat gadis itu terkulai.
Siangkoan Tek lalu mengangkat gadis itu bangkit berdiri, merampas pedangnya, dan melihat betapa Thian Lee masih mengamuk merobohkan banyak anak buah, dia berteriak lantang,
"Song Thian Lee, lihat, aku telah menangkap Souw Lee Cin! Kalau engkau tidak menyerah, aku akan membunuh gadis ini lebih dulu!"
Mendengar seruan itu, Thian Lee terkejut, melompat ke belakang dan memandang. Dia melihat Lee Cin masih terselimuti jala, berdiri dan dipegangi oleh Siangkoan Tek yang menodongkan pedang milik gadis itu di leher Lee Cin! Terjadi pergumulan dalam hati Thian Lee. Kalau dia menyerah, berarti dia akan tewas! Akan tetapi bagaimana dia tega untuk membiarkan mereka membunuh Lee Cin?
DewiKZ 463
"Lee-ko, jangan mau menyerah, mereka tentu akan membunuhmu. Biarkan aku mati, aku tidak takut!" Lee Cin
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
masih sempat berseru sebelum Siangkoan Tek menotok lehernya dan membuat ia terdiam, tidak mampu mengeluarkan kata-kata.
"Song Thian Lee, kalau engkau menyerah, kami berjanji tidak akan membunuhmu sekarang, tergantung pimpinan kami!" kata pula Siangkoan Tek.
Akhirnya Thian Lee mengambil keputusan. Lebih baik mati bersama Lee Cin daripada membiarkan Lee Cin mati di depan matanya. Dia lalu berkata, "Baik, aku menyerah, jangan bunuh ia!"
Mendengar ini, Ouw Kwan Lok lalu menghampiri Thian Lee dan mengambil pedang Jit-goat-kiam dari tangan panglima itu. "Belenggu kedua tangannya!" perintah Siangkoan Tek.
"Biar kubunuh dia!" teriak Hek-bin Mo-ko dan ruyungnya menyambar ke arah kepala Thian Lee.
"Takk..... desss......!!" Pukulan ruyung itu tertangkis sepasang pedang Siangkoan Tek dan sebuah tendangan membuat Hek-bin Mo-ko terlempar dan terbanting ke atas tanah.
"Hek-bin Mo-ko, apakah engkau ingin mampus? Aku sudah berjanji tidak akan membunuhnya, tak seorang pun boleh melanggar janjiku!" bentak Siangkoan Tek sambil melotot kepada Hek-bin Mo-ko yang bangkit berdiri sambil menyeringai kesakitan.
"Maafkan aku !" katanya menerima salah.
DewiKZ 464
Malam itu juga kedua orang tawanan itu digiring naik ke sebuah bukit. Para pemegang obor menerangi jalan di depan dan belakang dan akhirnya, menjelang pagi, sampailah mereka di puncak bukit di mana mereka terdapat sebuah bangunan besar. Bangunan itu terjaga oleh puluhan
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
orang anak buah dan Thian Lee bersama Lee Cin digiring masuk ke dalam bangunan besar itu.
Mereka didorong masuk ke dalam sebuah ruangan yang luas. Ruangan itu kosong. Lee Cin dan Thian Lee dengan kedua tangan terbelenggu ke belakang, didorong duduk di atas bangku. Kedua orang muda ini saling pandang sejenak dan keduanya siap siaga menanti segala yang akan nnenimpa diri mereka. Mereka tidak putus asa. Selama mereka masih hidup, mereka tidak akan pernah putus asa dan selalu akan menggunakan segala kesempatan untuk menyelamatkan diri. Pandang mata Lee Cin terhadap Thian Lee mengandung keharuan dan juga teguran. Gadis ini menyesal mengapa Thian Lee mengorbankan diri untuknya, padahal dengan kepandaiannya, kalau dia mau, pemuda itu masih dapat meloloskan diri ketika dikepung. Akan tetapi ia pun merasa terharu sekali. Pemuda yang pernah dicintanya itu ternyata masih mau mengorbankan diri untuk keselamatannya! Thian Lee melihat apa yang terkandung dalam sinar mata Lee Cin, akan tetapi dia pura-pura tidak tahu.
Mereka semua juga duduk di atas kursi-kursi yang semua menghadap ke arah dinding di mana terdapat pula beberapa buah kursi merapat dinding. Ruangan itu kosong pada dinding tidak ada hiasan apa pun. Siangkoan Tek dan Ouw Kwan Lok duduk di depan, mengapit Thian Lee dan Lee Cin. Yasuki duduk di sebelah kiri Soangkoan Tek. Di belakang mereka duduk Cia Hok, Cia Bhok dan dua orang tokoh sesat itu, Hek-bin Mo-ko dan Sin-ciang Mo-kai. Adapun sernua anak buah tidak ikut masuk, mungkin menjaga di luar ruangan, siap untuk menyerbu kalau ada perintah dari dalam.
DewiKZ 465
Ruangan itu diterangi oleh empat buah lampu gantung sehingga keadaannya terang sekali dan semua orang kini
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
memandang ke arah pintu besar di sebelah dalam yang daun pintunya masih tertutup. Agaknya dari situlah para pimpinan akan muncul.
Thian Lee dan Lee Cin juga memandang ke arah pintu dengan jantung berdebar tegang. Siapakah pemimpin komplotan ini? Thian Lee sama sekali tidak takut bahwa dirinya menjadi tawanan. Dia hanya menyesal mengapa Lee Cin tidak menuruti nasihatnya untuk melarikan diri. Dia adalah seorang panglima yang melaksanakan tugasnya. Kalau dia harus mati dalam melaksanakan tugas, dia tidak merasa penasaran. Akan tetapi Lee Cin hanya terbawa-bawa olehnya. Gadis itu tidak terlibat sama sekali. Akan tetapi Thian Lee tidak pernah putus asa. Kedatangannya di Hui-cu sudah diketahui oleh Ji-taijin juga oleh Lai-ciangkun. Kiranya mereka berdua tidak akan berani membiarkan dia, seorang panglima besar, mendapat celaka di daerah mereka. Bukan tidak mungkin sebentar lagi ada pasukan dari Lai-ciangkun yang menyerbu tempat itu dan membebaskannya. Andaikata tidak, dia pun akan dapat membela diri sampai titik darah terakhir.
Akhirnya daun pintu terbuka dan Lee Cin terbelalak memandang kepada Nenek Cia yang memasuki ruangan itu, diikuti oleh Cia Kun. Nyonya Cia Kun dan Cia Tin Siong! Semua orang yang berada di situ bangkit untuk menghormati nenek itu. Nenek Cia memasuki ruangan dengan langkah tegap dan sikapnya angkuh. Ia memegang tongkat naga dan matanya tajam bersinar-sinar ketika ia memandang kepada Thian Lee dan Lee Cin. Di antara mereka, Thian Lee hanya mengenal Cia Tin Siong yang pernah dijumpai dan pernah bertanding dengannya. Yang lain belum pernah dilihatnya.
DewiKZ 466
Lee Cin benar-benar terkejut dan heran sekali. Tak disangkanya bahwa keluarga Cia benar-benar berkomplot
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
dengan para pemberontak dan orang Jepang bahkan agaknya Nenek Cia menjadi pemimpin mereka.
Akan tetapi ketika Tin Siong melihat Lee Cin duduk terbelenggu, dia terkejut sekali dan cepat menghampiri Lee Cin untuk melepaskan belenggunya. Akan tetapi. Nenek Cia menghardiknya.
"Tin Siong, mundur kau!"
"Akan tetapi, Nek. Nona Lee Cin tidak bersalah apa-apa. Bahkan ia pernah menjadi tamu kehormatan dan sahabat baik. Mengapa ia ditangkap? Aku tidak setuju, sama sekali tidak setuju kalau Nona Lee Cin diperlakukan seperti ini, Nek! Ia bukan mata-mata Mancu, ia bukan musuh kita!" Tin Siong membantah sambil menghadapi neneknya dengan berani. "Lupakah Nenek bahwa Nenek pernah mengusulkan agar aku menikah dengannya? Aku masih belum lupa, Nek!"
"Tin Siong, engkau hendak membantah aku? Aku tidak akan mengganggunya kalau ternyata ia tidak bersalah. Sekarang duduk dan diamlah, dengarkan saja!" kembali nenek itu menghardik dan Tin Siang duduk sannbil mengerutkan alisnya, memandang kepada Lee Cin dan dalam pandang matanya dia seperti hendak meyakinkan hati Lee Cin bahwa dia akan membela dan melindunginya.
Nenek Cia lalu duduk di kursi tengah yang mepet dinding, Cia Kun duduk di sebelah kanannya bersama Nyonya Cia Kun, dan Tin Siong dengan sikap masih menentang duduk di sebelah kiri nenek itu. Nenek itu memandang kepada Thian Lee dengan matanya yang bersinar tajam dan berapi-api, lalu bertanya, suaranya lantang dan meninggi,
DewiKZ 467
"Apakah engkau yang bernama Song Thian Lee?"
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Benar," jawab Thian Lee singkat. "Dan engkau menjadi Panglima Besar Kerajaan Mancu?"
"Benar pula."
"Hem, tidak malukah engkau, orang muda? Kami mendengar bahwa engkau seorang pendekar yang berilmu tinggi, akan tetapi mengapa engkau tidak menggunakan kepandaianmu untuk menentang penjajah yang menguasai tanah air kita, sebaliknya malah menjadi anteknya? Tidak malukah engkau, Song Thian Lee?"
"Nenek, aku menjadi panglima besar bukan untuk menjadi antek penjajah, melainkan untuk mencegah terjadinya keributan yang hanya akan menyengsarakan rakyat jelata. Dengan kedudukanku aku dapat mencegah para pembesar bertindak sewenang-wenang terhadap rakyat jelata. Memperjuangkan kemerdekaan saat ini tidaklah tepat, semua usaha itu akan gagal karena tidak didukung sepenuhnya oleh rakyat. Apalagi kalau perjuangan itu dikotori oleh komplotan orang sesat dan orang asing."
"Itu hanyalah alasan seorang pengkhianat bangsa. Melihat bangsa dan tanah air dijajah orang Mancu, bukannya menentang penjajah malah sebaliknya mengabdi dan menjadi anteknya. Di mana kegagahanmu, orang she Song? Kalau engkau suka insaf akan kegagahanmu, suka menyadari dan mau bergabung dengan kami, kami mungkin akan dapat memaafkanmu."
DewiKZ 468
"Bergabung dengan pemberontak yang bersekutu dengan tokoh-tokoh jahat dan dengan orang-orang Jepang, mendatangkan kerusuhan dan mengganggu ketenteraman kehidupan rakyat jelata? Tidak, Nek, hal itu tidak akan kulakukan. Dalam keadaan tanah air terjajah seperti sekarang ini, seorang pendekar harus memperhatikan keadaan rakyat jelata. Kalau ada pembesar atau orang
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
berkuasa menindas dan memeras rakyat, tidak peduli dia itu orang Han atau orang Mancu, akan ditentang oleh pendekar dan patriot sejati. Perjuangan seorang patriot sejati adalah murni dan bersih, tidak akan melibatkan diri bersekutu dengan golongan sesat, apalagi dengan penjahat-penjahat asing. Seorang pendekar patriot pada lahirnya menjadi pejabat pemerintah penjajah, namun sesungguhnya dia mengabdi demi kepentingan rakyat, mencegah terjadinya kejahatan yang meresahkan kehidupan rakyat. Pembesar seperti mendiang Un-ciangkun itulah patriot dan pendekar sejati yang bersih, akan tetapi kalian malah membunuhnya. Engkau telah bertindak sesat, Nek, bergabung dengan golongan sesat dan orang Jepang. Harap engkau dapat menginsafi kekeliruanmu itu."
"Jahanam keparat sombong! Engkau yang sudah tertawan hidup matimu di tanganku, masih berani membuka mulut besar! Kalau engkau tidak mau menyadari dan bergabung dengan kami, sekarang juga nyawamu akan kucabut!" Nenek Cia sudah mengangkat tongkatnya ke atas dan tongkat kepala naga itu tergetar dalam tangannya.
Akan tetapi pada saat itu, seorang pemuda muncul dari pintu dan menghampiri Nenek Cia. "Nanti dulu, Nek! Jangan bunuh dia!"
Lee Cin melihat bahwa yang muncul itu adalah Cia Tin Han! Pemuda lemah ini kelihatan gagah dan penuh keberanian menentang neneknya.
"Tin Han, pergi kau!" Tin Siong membentak marah.
DewiKZ 469
"Aku tidak akan pergi sebelum kalian semua mendengar omonganku. Dengar baik-baik, Nek. Apa yang diucapkan orang she Song ini benar sekali! Seorang pendekar patriot berjuang dengan bersih dan murni, satu-satunya pamrih hanya untuk membebaskan rakyat dari kesengsaraan,
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
membebaskan rakyat dari cengkeraman penjajah! Kalau pendekar patriot bergabung dengan golongan sesat dan dengan bajak laut Jepang, maka perjuangannya menjadi kotor. Golongan sesat dan bajak. Jepang itu tentu hanya mau bergerak demi keuntungan diri mereka sendiri, sama sekali bukan demi kepentingan rakyat. Bahkan mereka adalah orang-orang yang selalu meresahkan kehidupan rakyat jelata!"
"Anak bodoh! Dalarn perjuangan, kita tidak memilih teman. Siapa saja yang mau bergabung untuk menghantam penjajah, dia menjadi sahabat kita! Semua kekuatan harus dipersatukan untuk mengusir penjajah dari tanah air!" kata Nenek Cia penuh semangat.
"Engkau akan gagal, Nek. Benar ucapan orang ini! Engkau akan gagal kalau tidak mendapat dukungan rakyat dalam perjuanganmu. Engkau hanya akan menimbulkan kesengsaraan rakyat dengan gerakanmu ini, akan tetapi tidak akan berhasil. Tahukah engkau betapa besarnya kekuatan pasukan pemerintah? Engkau hanya akan mengorbankan banyak orang. Sekarang belum waktunya untuk berjuang mengenyahkan kaum penjajah Nek."
"Tin Han, engkau jangan banyak mulut. Menyingkirlah, aku harus membunuh panglima besar ini!" Nenek itu menggerakkan tongkatnya. Akan tetapi Tin Han menghadang di depan Thian Lee dan Lee Cin.
DewiKZ 470
"Nenek tidak boleh membunuhnya, juga tidak boleh menawan Cin-moi! Kalau Nenek memaksa, membunuh panglima ini dan mengganggu Cin-moi, aku yang akan melapor ke kota raja bahwa Nenek telah bersekutu dengan pemberontak dan keluarga kita akan terbasmi semua. Lebih baik begitu daripada keluarga kita membikin sengsara rakyat."
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Tin Han!" Kini Cia Kun bangkit berdiri dengan marah. "Berani engkau bersikap seperti ini?"
"Ayah, aku pun bukan seorang yang takut mati. Bagiku, lebih baik mati dalam membela kebenaran daripada hidup bergelimang kejahatan. Pendeknya aku menentang kalau kalian hendak membunuh mereka berdua ini, dan kalian boleh membunuhku lebih dulu!" Pemuda itu berdiri dengan gagahnya, menentang keluarganya.
Tin Han adalah cucu kesayangan Nenek Cia, maka tentu saja nenek itu tidak tega untuk membunuhnya. Bahkan pada saat itu, ketika Tin Siong melompat ke depan untuk memukul adiknya, Nenek Cia membentak,
"Tin Siong, mundur kau!"
Nenek Cia sejenak memandang kepada cucunya yang menentangnya. Pandang matanya bersinar kagum melihat cucunya yang lemah itu berdiri dengan gagahnya melindungi kedua orang itu. Sungguh sikap seorang keluarga Cia yang tulen, penuh keberanian, penuh kegagahan menentang maut.
"Baiklah, Tin Han. Aku belum mau membunuh mereka." Katanya dan ia memberi isyarat kepada kedua puteranya Cia Hok dan Cia Bhok. "Masukkan mereka ke tempat tahanan dan jaga dengan ketat jangan sampai mereka lobos!"
DewiKZ 471
Cia Hok dan Cia Bhok bangkit berdiri lalu mereka berdua menggiring Thian Lee dan Lee Cin yang masih terbelenggu kedua tangan mereka ke bagian belakang bangunan itu di mana terdapat kamarkamar kosong dan kamar ini agaknya memang sengaja dibuat untuk menawan orang, karena selain kosong juga dibuat kuat sekali, dengan pintu dari besi yang kokoh kuat. Bagian atas pintu itu beruji besi yang sebesar lengan tangan orang, arnat Ruatnya
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
sehingga jangan harap untuk dapat lolos dari kamar itu dengan menjebol pintu besi itu.
Pintu kamar tahanan ditutup dan dikunci dari luar. Cia Hok dan Cia Bhok lalu mengumpulkan sedikitnya tiga puluh orang anak buah dan mereka ditugaskan untuk menjaga agar kedua tawanan itu tidak sampai dapat meloloskan diri.
Setelah dua orang saudara Cia itu pergi meninggalkan mereka berdua saja, Lee Cin menyatakan penyesalannya kepada Thian Lee. "Lee-ko, kenapa engkau menyerah? Tidak semestinya engkau menyerah sehingga kini kita berdua ditawan. Kalau ada seorang di antara kita masih bebas, tentu akan dapat berbuat sesuatu untuk menolong yang lain."
"Sudahlah, Cin-moi. Aku menyerah dengan tiga alasan, Pertama, untuk mencegah mereka membunuhmu, ke dua dengan jalan menyerahkan diri aku akan dapat melihat komplotan itu yang ternyata kini dipimpin oleh Nenek Cia. Dan ke tiga, aku yakin mereka tidak begitu bodoh untuk membunuh seorang panglima besar karena kalau hal itu mereka lakukan, tentu pemerintah akan mengirim pasukan besar untuk membasmi mereka."
"Aku juga sama sekali tidak mengira bahwa keluarga Cia ternyata memegang peran penting dalam komplotan ini. Mereka begitu baik terhadap diriku selama aku menjadi tamu mereka. Sungguh menyesal sekali aku dapat mereka kelabui. Kiranya mereka semua terlibat, kecuali agaknya, Han-ko yang tidak."
DewiKZ 472
"Kau maksudkan pemuda yang menentang neneknya sendiri itu?"
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Benar, Lee-ko. Akan tetapi sayang bahwa dia seorang kutu buku yang tidak suka belajar ilmu silat. Dia seorang yang lemah walaupun jiwanya pendekar dan patriot tulen."
"Aku melihat pemuda itu bukan seorang pemuda biasa, Cin-moi. Dia memiliki keberanian besar dan aku juga melihat sesuatu hal yang akan menjamin keselamatanrnu, Cin-moi."
"Maksudmur tanya Lee Cin sambil menatap tajam wajah Thian Lee.
Thian Lee tersenyum. "Dua orang pemuda kakak beradik itu mencintamu, Cin-moi. Kakaknya yang bersenjata suling perak itu terang-terangan menyatakan cintanya kepadamu dan mengharapkan engkau menjadi jodohnya, sedangkan adiknya diam-diam mencintamu. Aku dapat melihat sinar matanya ketika dia membelamu dan memandangmu."
Lee Cin juga tersenyum dan mengangguk. "Aku juga sudah tahu akan hal itu. Lee-ko. Cia Tin Siong itu amat baik kepadaku dan aku berkenalan dengan keluarga Cia pertama kali karena mengenalnya. Akan tetapi aku melihat sesuatu yang keras dan mengerikan dalam pandang matanya yang membuat aku tidak suka kepadanya. Adapun Cia Tin Siong itu..... ah, dia hanya seorang pemuda sastrawan yang lembut, jauh berbeda dari kakaknya walaupun kuakui bahwa dia pemberani. Akan tetapi, mengapa kita membicarakan mereka, Lee-ko? Kita harus mencari jalan keluar dari tempat ini. Apakah engkau tidak mampu mele paskan dirimu dari belenggu itu, Lee-ko?"
DewiKZ 473
"Agaknya aku dapat mematahkan belenggu ini, akan tetapi apa gunanya? Kita tidak akan dapat membobol pintu yang sekuat itu. Pula, kalau mereka melihat kita mematahkan belenggu, tentu mereka akan datang semua ke
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
sini dan dalam kamar tahanan ini, bagaimana kita dapat membela diri?"
"Tepat dengan apa yang kupikirkan, Lee-ko. Aku pun kiranya akan sanggup mematahkan belenggu ini, akan tetapi kukira hal itu tidak mendatangkan keuntungan bagi kita. Kita lihat saja kalau ada kesempatan, begitu pintu dibuka dari luar, kita terjang mereka dan membuka jalan dengan nekat."
Akan tetapi apa yang mereka harapkan itu agaknya masih merupakan hal yang meragukan. Mereka hanya boleh berharap. Pihak lawan adalah orang-orang yang lihai dan pandai, tidak mungkin mereka bertindak secara sembrono."
Mereka berdua lalu duduk bersila dan menghimpun hawa murni untuk memulihkan tenaga mereka agar mereka dapat bersiap setiap saat. Sambil bersila mereka berdua dapat pula tidur, karena hal ini penting sekali untuk menjaga kesehatan dan kesegaran tubuh mereka.
DewiKZ 474
Dua orang muda gagah perkasa ini sedikitpun juga tidak merasa khawatir biarpun mereka sudah menjadi tawanan. Mati bagi mereka bukan hal yang mengkhawatirkan. Sejak kecil mereka sudah digembleng untuk menjadi orang gagah yang siap untuk mati apabila membela kebenaran. Mereka sama sekali tidak memikirkan waktu yang akan datang, hanya menghadang kenyataan penuh kewaspadaan. Sikap seperti inilah yang membuat orang bebas dari rasa takut, bebas dari rasa duka. Duka selalu timbul karena kita memikirkan dan membayangkan masa lalu yang telah lewat. Peristiwa-peristiwa yang telah lalu, yang merugikan kita, mendatangkan rasa suka karena mengenangkan semua peristiwa itu membuat kita menjadi iba diri dan merasa bahwa diri kita paling sengsara di dunia ini. Rasa iba diri ini menumpuk dan mendatangkan duka nestapa. Sebaliknya,
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
membayangkan hal-hal yang belum datang, membayangkan hari esok, hanya mendatangkan rasa takut. Membayangkan hari esok bagi orang-orang dalam keadaan seperti Thian Lee can Lee Cin tentu akan mendatangkan bayangan-bayangan yang menakutkan.
Kedua orang muda gagah itu sudah digembleng oleh pelajaran dan pengalaman. Mereka hanya mengenal saat ini. Mengenal apa yang mereka hadapi dan alami. Dengan kewaspadaan mereka rnenghadapi apa yang terjadi dan karenanya. menjadi awas dan selalu siap siaga, tidak was-was dan akan dapat bereaksi dengan cepat. Maka, mereka pun tetap tenang-tenang saja dan dalam kesempatan itu mereka dapat tidur sambil bersila, walaupun semua syaraf mereka siap siaga menghadapi segala kemungkinan.
oood_wooo
Malam telah berganti pagi. Sinar matahari pagi lembut menerobos masuk melalui jeruji besi di atas pintu. Akan tetapi di luar pintu kamar tahanan itu sepi sekali. Ketika Thian Lee dan Lee Cin terbangun dari tidur mereka, mereka tidak mendengar suara di luar pintu kamar tahanan, padahal semalam para penjaga ramai saling bercakap-cakap. Apakah mereka tertidur semua? Atau meka telah pergi?
Keheningan itu mencurigakan hati mereka. Tidak mungkin sedikitnya tiga puluh orang itu tidak ada yang bicara, atau mereka sedang hendak melakukan sesuatu?
DewiKZ 475
Kemudian terdengar suara gedebukan di luar kamar tahanan. Tak lama kemudian, Lee Cin dan Thian Lee melihat sebuah kepala yang memakai kedok hitam di luar jeruji besi. Melihat ini, Thian Lee terkejut akan tetapi Lee Cin tersenyum gembira. Seperti mendapat perintah saja,
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
keduanya lalu mengerahkan sin-kang mereka dan belenggu yang mengikat kedua tangan mereka itu patah-patah. Terdengar bunyi klak-klik dan daun pintu terbuka. Si Kedok Hitam masuk ke dalam dan melihat betapa dua orang tawanan itu telah dapat membebaskan dari belenggu, dia terbelalak kagum.
"Mari cepat, ikut aku!" bisiknya dia sudah mendahului keluar dari tempat tahanan itu. Lee Cin dan Thian Lee cepat mengikutinya, keluar dari pintu kamar tahanan. Setelah tiba di luar pintu, baru mereka melihat betapa tiga puluh orang yang tadinya berjaga di tempat itu, sudah roboh malang-melintang tidak bergerak lagi, agaknya terkena totokan yang lihai dari Si Kedok Hitam.
"Kembali engkau menolongku, sobat!" kata Lee Cin yang kini berada di belakang Si Kedok Hitam.
"Jangan bicarakan hal itu! Ikut aku!" bisik Si Kedok Hitam. Dia melompati pagar yang mengelilingi bangunan itu menjadi tempat persembunyian para pemberontak.
"Hayo lari cepat! Ikut aku!" katanya pula dan dia pun berlari cepat sekali, akan tetapi Lee Cin dan Thian Lee dapat mengimbanginya. Mendadak terdengar suara ribut-ribut di belakang mereka, suara orang-orang mengejar.
Si Kedok Hitam berhenti. "Mereka sudah tahu dan kalian dikejar. Ini, terimalah senjata kalian." Si Kedok Hitam mengeluarkan Jit-goat-sin-kiam milik Thian Lee dan menyerahkan Ang-coa-kiam milik Lee Cin. Kedua orang ini menerima dengan girang sekali. Akan tetapi para pengejar kini sudah dekat dan mereka tentulah orang-orang lihai yang juga memiliki ilmu berlari cepat.
DewiKZ 476
Thian Lee dan Lee Cin sudah bersiap dengan pedang mereka, akan tetapi Si Kedok Hitam berkata, "Jangan lawan mereka. Mereka terlalu banyak. Masuklah ke balik
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
semak belukar ini, aku akan memancing mereka agar mengejarku dan kalau mereka sudah lewat, harap kalian suka melanjutkan lari ke bawah bukit," katanya sambil menuding ke arah bawah bukit. Dua orang muda itu tidak ragu-ragu lagi mengikuti petunjuknya, mereka menyusup ke balik semak belukar. Si Kedok Hitam menanti sebentar sampai para pengejar itu kelihatan bayangannya. Dia lalu berteriak-teriak, "Lari, cepat lari!" dan dia pun lari ke depan dengan cepat. Teriakan dan gerakannya ini terlihat oleh para pengejar. Tentu saja mereka mempercepat lari mereka untuk mengejar karena mereka yakin bahwa kedua orang tawanan itu tentu diajak lari oleh Si Kedok Hitam. Tadi ketika Nenek Cia dan anak buahnya melihat para penjaga menggeletak malang-melintang dalam keadaan tertotok, ia cepat membebaskan totokan mereka dan mendapat keterangan mereka bahwa mereka ditotok oleh seorang yang berkedok hitam. Kini, dalam pengejaran itu tentu saja Nenek Cia yang lain-lain mengira bahwa Si Kedok Hitam itu yang mengajak dua orang tawanan melarikan diri. Mereka menjadi marah dan mengejar dengan secepatnya.
Sementara itu, ketika melihat para pengejar itu mengejar bayangan Si Kedok Hitam, Thian Lee dan Lee Cin cepat keluar dari tempat persembunyian mereka dan berlari ke jurusan lain menuruni bukit.
Thian Lee yang menjadi petunjuk jalan dan akhirnya mereka tiba di kaki bukit. Melihat Lee Cin sejak tadi diam saja, Thian Lee bertanya, "Cin-moi kenapa engkau diam saja seperti termenung?"
DewiKZ 477
"Aku sedang memikirkan Si Kedok Hitam, Lee-ko. Sudah tiga kali dia menolongku terlepas dari bahaya besar dan sekali ini aku yakin bahwa dia bukan anggauta keluarga Cia. Siapakah dia sebenarnya?"
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Aku pun tidak dapat menduganya, Cin-moi. Akan tetapi yang jelas, dia seorang laki-laki yang masih muda, matanya seperti mata naga, dan ilmu kepandaiannya tentu tinggi sekali. Akan tetapi mengapa dia memakai kedok, itu yang mengherankan hatiku."
Akan tetapi di dalam hatinya, Lee Cin terjadi suatu kebimbangan yang tidak ia ucapkan kepada Thian Lee. Si Kedok Hitam itu memiliki tubuh yang sedang, seperti tubuh Tin Han. Dan dia pun memiliki sikap yang sama dengan Tin Han, yaitu menentang Nenek Cia dan membelanya! Apakah Si Kedok Hitam itu Cia Tin Han? Akan tetapi mana mungkin Tin Han memiliki kepandaian yang tinggi? Tentu keluarganya akan mengetahuinya.
"Sekarang, apa yang akan kita lakukan, Lee-ko?" tanyanya sambil membuang pikiran yang penuh kebimbangan itu. Ia tidak akan pernah melupakan Si Kedok Hitam, yang diduganya penyerang ayahnya akan tetapi juga penolong besarnya.
"Aku harus bertindak secepatnya menguasai pasukan yang dipimpin Lai-ciangkun untuk membasmi komplotan pemberontak itu sebelum mereka melakukan sesuatu yang amat merugikan."
"Aku akan membantumu, Lee-ko."
"Baik, sekarang juga kita pergi ke markas Lai-ciangkun. Akan tetapi harus berhati-hati, siapa tahu Lai-ciangkun juga terlibat dan dia sudah memasang perangkap untuk kita."
Mereka lalu berlari cepat melanjutkan perjalanan ke kota Hui-cu. Ketika akan memasuki kota Hui-cu, Lee Cin berbisik, "Sssttt, Lee-ko, lihat siapa itu di depan sana."
DewiKZ 478
Thian Lee memandang ke arah yang ditunjuk Lee Cin dan dia melihat seorang laki-laki bertubuh pendek sedang
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
berjalan tergesa-gesa memasuki pintu gerbang kota. Thian Lee segera teringat. Orang itu seperti Yasuki!
"Cepat kita bayangi dia," bisiknya kembali.
Mereka membayangi Yasuki dari jarak jauh sehingga yang dibayangi tidak mengetahuinya. Dan yang membuat Thian Lee tercengang adalah ketika melihat orang Jepang itu memasuki markas pasukan yang dipimpin Lai-ciangkun dengan memperlihatkan sepucuk surat kepada para penjaga. Dia diperkenankan masuk begitu saja setelah para penjaga melihat surat itu.
"Ini mencurigakan," kata Thian Lee. "Kita masuk dari belakang untuk melihat apa yang dilakukan orang Jepang itu."
Mereka mengambil jalan memutar dan akhirnya berhasil menemukan bagian tembok dinding pagar di belakang yang menembus taman dan tempat ini tidak terjaga. Bagaikan dua ekor burung mereka melayang naik ke pagar tembok dan masuk ke dalam. Berindap-indap. mereka menyeberangi taman dan akhirnya mereka dapat melompat ke atas atap dan mengintai ke bawah di mana terdapat sebuah ruangan tamu, ketika mereka mendengar suara bercakap-cakap di bawah. Dan benar saja, di ruangan itu, Yasuki sedang bicara dengan Lai-ciangkun. Mereka mengintai dengan hati-hati.
"Apa kau bilang? Mereka tertawan dan dapat lolos kembali? Kalau begitu, Song-ciangkun sudah tahu akan persekutuan kita? Celaka, kita harus cepat bertindak!" kata Lai-ciangkun dengan muka pucat.
DewiKZ 479
Pada saat itulah Thian Lee melompat ke dalam, diikuti oleh Lee Cin. Melihat ini, Yasuki mencabut samurainya, akan tetapi dengan kecepatan kilat Lee Cin sudah menggerakkan pedangnya dan menodongkan pedang itu di
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
leher orang Jepang itu sehingga dia terkejut sekali dan tidak jadi mencabut samurainya. Lee Cin menggerakkan tangan kiri, menotok dan Yasuki terkulai lemas.
Sementara itu, Thian Lee menghadapi Lai-ciangkun yang menjadi sangat pucat wajahnja.
"Ah, Song-ciangkun, kami….. kami....." Dia tergagap.
"Cukuplah, Lai-ciangkun, kedokmu telah terbuka. Engkau bersekutu dengan orang Jepang, engkau pengkhianat rendah!" Thian Lee juga menodongkan pedangnya dan panglima itu tidak berani berkutik.
Thian Lee sambil menodong Lai-ciangkun membuka daun pintu kamar itu. Para pengawal yang berjaga di luar terkejut dan heran sekali melihat panglima mereka ditodong.
"Lai-ciangkun telah berkhianat, bersekutu dengan orang Jepang dan hendak memberontak. Kalau kalian mendukungnya, kalian akan kubasmi! Hayo cepat undang semua perwira untuk berkumpul di sini!" bentak Thian Lee.
Para pengawal itu menjadi jerih dan mereka lalu keluar dan memanggil para perwira. Tak lama kemudian belasan orang perwira berdatangan dan mereka juga heran sekali melihat Lai-ciangkun ditangkap.
DewiKZ 480
Thian Lee mengeluarkan surat perintah dari Kaisar dan memperlihatkannya kepada para perwira. "Aku adalah Panglima Besar Song Thian Lee. Mendiang Un-ciangkun adalah panglima yang setia dan baik, akan tetapi Lai-ciangkun ini seorang pengkhianat. Dia bersekutu dengan orang Jepang untuk mengadakan pemberontakan. Orang Jepang yang kami tangkap di sini adalah bukti dan saksinya. Mulai saat ini, pasukan di Hui-cu kuambilalih untuk sementara. Mengertikah kalian semua?"
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Para perwira sudah tunduk begitu melihat surat kuasa dari Kaisar. Di antara mereka memang ada yang terbujuk oleh Lai-ciangkun, akan tetapi mereka belum terlibat. Kini mereka semua mendukung Thian Lee dan Lai-ciangkun bersama Yasuki lalu dimasukkan ke dalam karnar tahanan untuk menanti pemeriksaan lebih lanjut.
Melihat tindakan Thian Lee yang demikian cepat dan bijaksana, Lee Cin menjadi kagum. Panglima muda itu sungguh berwibawa.
"Sekarang engkau tinggal mengerahkan pasukan untuk menangkapi mereka semua, Lee-ko. Menangkapi keluarga Cia dan juga menyerbu pasukan yang dipimpin oleh Phoa-ciangkun yang berkhianat. Akan tetapi kalau menangkapi keluarga Cia, kuharap engkau menaruh kasihan kepada Cia Tin Siong dan Cia Tin Han. Mereka itu sungguh merupakan kawan baikku dan mereka kukira tidaklah sejahat neneknya."
Thian Lee menghela napas panjang. "Keluarga Cia itu tidak ada yang jahat, Cin-moi. Bahkan Nenek Cia adalah seorang patriot yang gagah perkasa dan gigih. Banyak pendekar patriot seperti itu. Mereka demikian fanatik sehingga tidak memperhitungkan dan mempertimbangkan keadaan. Karena nafsu mereka untuk cepat meruntuhkan kerajaan penjajah Mancu, mereka tidak segan-segan bersekongkol dengan orang Jepang dan orang-orang sesat, dengan tujuan hanya satu, yaitu menggulingkan pemerintahan Mancu." DewiKZ 481
"Ya, mereka membenci semua orang yang bekerja untuk pemerintah. Mereka menganggap bahwa siapa saja yang bekerja untuk pemerintah berarti menjadi antek penjajah yang menindas rakyat dan karena itu harus dibunuh. Mereka tidak menyadari bahwa perbuatan mereka itu
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
merugikan rakyat jelata, apalagi kalau sampai terjadi perang pemberontakan, rakyat pula yang menjadi korban."
"Benar, Cin-moi. Mereka lupa bahwa dengan bersekongkol bersama orang Jepang perampok dan para tokoh sesat itu, mereka telah tersesat pula. Gerakannya mereka tidak didukung rakyat dan tidak akan berhasil, sebaliknya malah mengacaukan. Aku kasihan kepada mereka. Sebetulnya mereka itu merupakan pendekar patriot yang gagah perkasa, sayang tidak memakai perhitungan dan terburu nafsu."
"Sekarang apa yang hendak kau lakukan, Lee-ko?"
"Terpaksa harus kuserbu keluarga Cia malam ini juga. Yang melawan terpaksa akan kutundukkan dengan kekerasan, yang sudah menaluk akan kutahan untuk sementara. Kalau mereka kelak menyatakan penyesalan mereka dan menyadari akan kesalahan mereka, aku pasti tidak akan membawa mereka ke kota raja dan akan kubebaskan pula mereka."
"Ah, engkau sungguh bijaksana, Lee-ko!"
"Tidak, Cin-moi. Kurasa itu lebih mendidik dan lebih baik. Menyadarkan para patriot lebih baik dan berdaya guna daripada menindas mereka dengan kekerasan."
"Hemm, kalau begitu dipihak manakah engkau berdiri, Lee-ko? Sebagai seorang panglima, aku percaya bahwa engkau berpihak kepada pemerintah, akan tetapi mengapa sikapmu begitu longgar terhadap patriot yang hendak menentang pemerintah?"
DewiKZ 482
Thian Lee menghela napas. "Engkau sudah lama mengenalku, Cin-moi. Aku jelas bukan seorang antek penjajah yang menindas rakyat dan aku sama sekali bukan menjadi panglima untuk memperkaya diri dan mencari
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
kekuasaan. Hanya karena aku melihat betapa Kaisar Kian Liong seorang yang bijaksana maka aku suka menjadi panglima. Dengan kedudukanku ini aku dapat mencegah terjadinya penindasan terhadap rakyat. Akan tetapi aku sama sekali tidak menentang para patriot. Bahkan kalau para patriot itu berjuang dengan dukungan rakyat jelata, berusaha untuk memerdekakan tanah air dan bangsa, aku setuju sekali dan kalau saat itu tiba, aku akan mengundurkan diri dari kedudukanku sebagai panglima dan sangat boleh jadi aku akan membantu gerakan perjuangan seperti itu. Akan tetapi kalau seperti sekarang ini, bersekongkol dengan orang Jepang dan dengan golongan sesat, sungguh aku tidak setuju."
Lee Cin mengangguk-angguk. "Aku mengerti perasaanmu, Lee-ko. Kita dahulu membantu pemerintah menghancurkan pemberontak, karena pemberontakan itu bukan perjuangan para patriot yang didukung rakyat, melainkan usaha pemberontakan dari seorang pangeran untuk merebut tahta kerajaan. Bukan berarti kita memihak kepada pemerintah penjajah."
"Nah, sukur kalau engkau mengerti, Cin-moi. Aku masih membutuhkan bantuanmu kalau engkau mau, yaitu menghadapi keluarga Cia, membujuk mereka agar menyerahkan diri daripada terbasmi oleh pasukan."
"Baik, Lee-ko. Akan kubantu engkau."
DewiKZ 483
Demikianlah, Thian Lee mengadakan perundingan dengan para perwira pembantu, mengatur siasat untuk mengepung dan menundukkan keluarga Cia dan para anak buahnya. Dalam rapat perundingan itu, Lee Cin tidak ketinggalan, ikut pula. Kini semua perwira sudah percaya sepenuhnya kepada Thian Lee, apalagi setelah Thian Lee mengenakan pakaian panglima yang membuatnya nampak gagah dan berwibawa.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Siapkan tiga ratus orang perajurit yang siap untuk melakukan penyerbuan sewaktu-waktu. Lebih dulu aku membutuhkan lima puluh orang perajurit untuk melakukan penggerebekan kepada keluarga Cia. Hati-hati, jangan melakukan penyerbuan sebelum ada perintah dariku." Para perwira bekerja cepat dan malam itu terkumpullah lima puluh orang perajurit pilihan yang siap mengikuti Thian Lee. Dengan bantuan dua orang perwira dan Lee Cin, Thian Lee lalu memimpin mereka dan pergi ke rumah keluarga Cia.
Akan tetapi, dia kecelik ketika memasuki pekarangan gedung keluarga Cia. Ternyata di situ sudah tidak ada orang, kecuali hanya beberapa orang pelayan yang mengatakan bahwa para majikan mereka telah pergi sore tadi dan tak seorang pun di antara mereka tahu ke mana majikan mereka pergi.
Thian Lee maklum bahwa keluarga itu memang lihai. Agaknya mereka telah dapat menduga bahwa rumah mereka akan diserbu pasukan, maka sebelum itu mereka telah pergi lebih dulu. Karena, menduga bahwa mereka tentu pergi mengungsi ke tempat pertemuan rahasia di bukit itu, Thian Lee lalu memimpin dua ratus orang pasukan itu, mengejar ke bukit dan mengadakan pengepungan di puncak bukit itu.
Dugaannya tidak keliru. Rumah besar di puncak bukit itu penuh orang dan agaknya mereka telah bersiap-siap. Thian Lee bersama Lee Cin sudah melompat ke depan, tepat di depan pekarangan bangunan itu dan Thian Lee berseru dengan suara lantang,
DewiKZ 484
"Keluarga Cia! Tempat ini sudah terkepung! Harap kalian menyerah saja agar kami tidak perlu melakukan kekerasan!"
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Lee Cin juga ikut membujuk mereka dan ucapannya ditujukan kepada Tin Siong dan Tin Han, "Saudara Cia Tin Siong dan Han-ko! Mintalah kepada keluarga kalian agar menyerah saja. Yasuki dan Lai-ciangkun telah tertangkap. Tidak ada gunanya lagi kalian melakukan perlawanan!"
Akan tetapi, sebagai jawaban, puluhan anak panah meluncur dari dalam bangunan itu. Thian Lee memberi aba-aba kepada anak buahnya untuk menggunakan perisai dan menyerbu ke arah bangunan. Kurang lebih lima puluh orang anak buah pemberontak berserabutan ke luar dengan golok di tangan menyerbu ke arah para pengepung. Terjadilah pertempuran yang hebat.
Thian Lee dan Lee Cin berlompatan ke pekarangan bangunan dan mereka segera disambut oleh Nenek Cia, Cia Kun, Nyonya Cia Kun, Cia Hok dan Cia Bhok. Tidak terlihat Siangkoan Tek dan Ouw Kwan Lok. Nenek Cia tanpa banyak cakap sudah memutar tongkat kepala naga dan menyerang Thian Lee. Thian Lee mengelak dan melompat ke belakang.
"Sekali lagi kami harap kalian suka menyerah dan kami akan mempertimbangkan keadaan kalian!"
"Nenek Cia, Song-ciangkun berkata benar. Kalian menyerahlah dan hentikan perlawanan dan aku tanggung dia akan membebaskan kalian kelak!" teriak pula Lee Cin.
DewiKZ 485
"Kami tidak akan menyerah!" bentak nenek itu dan ia melanjutkan serangan kepada Thian Lee. Terpaksa Thian Lee mencabut pedangnya dan melawan karena dia melihat betapa lihainya nenek tua ini. Tongkatnya menyambar demikian dahsyatnya, penuh dengan tenaga lweekang yang membuat tongkatnya mengeluarkan bunyi bercuitan dan tongkat itu berubah menjadi gulungan sinar hitam yang lebar. Tanpa banyak cakap lagi Cia Hok dan Cia Bhok
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
meloncat dan membantu ibu mereka mengeroyok Thian Lee.
"Bocah tidak mengenal budi! Engkau pernah menjadi sahabat dan tamu karni tetapi ternyata sekarang memusuhi kami!" teriak Nyonya Cia Kun dan ia pun sudah menerjang maju dengan pedang di tangan. Suaminya, Cia Kun, juga menerjang maju sehingga Lee Gin dikeroyok oleh suami isteri ini. Dua orang perwira yang melihat pengeroyokan musuh, lalu maju membantu Thian Lee yang dikeroyok tiga.
Lee Cin mendapat kenyataan bahwa ilmu kepandaian Cia Kun masih lebih tinggi daripada kepandaian Cia Hok dan Cia Bhok, juga isterinya memiliki gerakan yang lumayan. Maka ia pun terpaksa harus memutar pedangnya untuk membuat perlawanan yang kuat. Ia merasa heran ke mana perginya Tin Siong, karena kalau Tin Siong maju mengeroyoknya pula, ia tentu tidak akan mampu bertahan. Ilmu silat pemuda yang bersenjata suling perak itu tidak kalah lihai dibandingkan ayahnya.
Tiga puluh orang anak buah pemberontak itu, biarpun rata-rata lihai dengan golok mereka, namun terdesak hebat oleh dua ratus orang perajurit. Banyak di antara mereka yang roboh dan sisanya membela diri dengan mati-matian.
Tiba-tiba muncul Tin Siong dan pemuda ini berseru nyaring, "Nenek, Ayah dan Ibu, lari! Cepat!" Pemuda itu lalu melemparkan beberapa bahan peledak yang meledak dan mengeluarkan asap tebal, kemudian Tin Siong menangkap tangan ibunya dan ditarik sambil diajak lari. Melihat ini, Nenek Cia, dan ketiga puteranya, Cia Kun, Cia Hok dan Cia Bhok, lalu berlompatan melarikan diri.
DewiKZ 486
Thian Lee memang bersikap lunak terhadap mereka. Kalau dia mau, tentu saja dia dapat merobohkan seorang di
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
antara mereka yang melarikan diri. Akan tetapi dia tidak melakukan hal ini, lalu melompat ke atas atap bangunan dan berteriak,
"Semua anak buah pemberontak, menyerahlah dan kalian tidak akan dibunuh. Pimpinan kalian sudah melarikan diri!"
Lima puluh orang itu memang sudah payah keadaannya. Belasan orang di antara mereka telah roboh dan melihat pimpinan mereka sudah melarikan diri semua, mereka akhirnya membuang golok dan berlutut menyerah.
Thian Lee dan Lee Cin kembali ke markas Hui-cu bersama pasukan yang menawan para perajurit pemberontak dan setelah dilakukan pemeriksaan, ternyata benar seperti dugaannya, lima puluh orang itu adalah perajurit-perajurit barisan golok dari pasukan yang dipimpin Phoa-ciangkun.
Thian Lee lalu mengadakan perundingan lagi dengan belasan orang perwira pembantu. Akan tetapi sekali ini Lee Cin tidak lagi ikut berunding. Setelah penyerbuan ke bukit di mana keluarga Cia melarikan diri, Lee Cin merasa tidak perlu lagi melibatkan diri dalam pembasmian para pemberontak itu. Kalau tadinya ia membantu Thian Lee adalah karena ada hubungannya dengan keluarga Cia. Kini Thian Lee hendak menyerbu ke timur, ke pasukan perbatasan yang dipimpin oleh Phoa-ciangkun, maka ia tidak merasa perlu untuk membantu. Itu sepenuhnya adalah urusan ketentaraan.
DewiKZ 487
"Maaf, Lee-ko, aku sekarang terpaksa minta diri dan tidak dapat menyertaimu dalam penyerbuan ke timur," demikian ia berkata kepada Thian Lee setelah mereka
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
kembali ke markas sambil menawan puluhan orang perajurit pemberontak itu.
Thian Lee maklum dia mengangguk. "Baiklah, Cin-moi. Engkau sudah membantu banyak kepadaku dan aku amat berterima kasih kepadamu. Mudah-mudahan saja keluarga Cia tidak mendendam kepadamu, dan berhati-hatilah engkau terhadap orang-orang seperti Siangkoan Tek dan Ouw Kwan Lok. Mereka adalah orang-orang lihai dan juga jahat sekali, terutama Ouw Kwan Lok yang agaknya hendak membalaskan dendam guru-gurunya kepadamu."
"Aku mengerti, Lee-ko. Semoga engkau akan berhasil dengan tugasmu dan dapat segera pulang ke keluargamu dengan selamat."
"Terima kasih, Cin-moi, dan engkau jangan lupa, kalau kebetulan lewat kota raja, harap mampir ke rumah kami. Cin Lan tentu akan girang sekali kalau engkau singgah ke rumah kami. Ia sering membicarakanmu dengan penuh kerinduan."
Lee Cin tersenyum. "Baiklah, Lee-ko. Kalau aku kebetulan lewat di kota raja pasti aku akan berkunjung ke rumah kalian."
DewiKZ 488
Setelah berpamit, Lee Cin lalu meninggalkan markas itu. Ketika tiba di jalan besar, ia teringat akan ke rumah keluarga Cia. Keluarga itu telah melarikan diri semua dan rumahnya tentu kini telah kosong. Rasa iba menyelubungi hatinya dan tanpa disadarinya, kakinya lalu melangkah menuju ke rumah besar bekas tempat tinggal keluarga Cia itu. Ia teringat akan Tin Han. Bagaimana nasib pemuda yang ramah dan jenaka itu? Tentu ikut pula pergi mengungsi menyelamatkan diri. Karena bagaimanapun juga, sebagai cucu Nenek Cia, tentu dia pun ikut dicurigai sebagai orang yang langsung terlibat dengan
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
pemberontakan. Lee Cin tidak dapat membayangkan pemuda yang jenaka dan gembira itu kini berada dalam pengasingan, menjadi buruan pemerintah. Ia menghela napas. Mengapa hanya kepada Tin Han ia merasa kasihan? Bukankah mereka semua, seluruh keluarga Cia mengalami nasib yang sama? Pikiran ini dibantahnya sendiri. Hanya Tin Han yang agaknya tidak terlibat dalam pemberontakan. Dan tiba-tiba timbul keinginan hatinya yang amat besar untuk dapat menolong Tin Han, untuk dapat bertemu dengan pemuda yang selalu bersikap jenaka dan membuatnya gembira itu. Akan tetapi ke mana ia akan mencari Tin Han? Dia tentu ikut dengan Nenek Cia.
oood_wooo
Dengan pikiran penuh kenangan akan keluarga Cia, Lee Cin melangkah terus sampai ia tiba di rumah keluarga itu. Rumah itu telah ditutup pintunya dan terdapat beberapa orang perajurit menjaga rumah itu. Jelas bahwa rumah itu kosong, telah ditinggalkan semua penghuninya dan para pelayan yang ditinggalkan di situ tentu telah ditangkapi.
DewiKZ 489
Ketika Lee Cin mengambil jalan memutar ke bagian belakang dari bangunan besar itu, ia melihat sesosok bayangan berkelebat, melompati pagar tembok dan melarikan diri. Orang itu baru saja meninggalkan bangunan itu! Tentu saja ia menjadi tertarik sekali. Seorang di antara keluarga Cia? Ataukah seorang pencuri yang memasuki bangunan yang kosong itu? Ia segera membayangi dan berlari cepat. Orang itu adalah seorang pemuda, akan tetapi dara ini belum melihat jelas muka orang itu. Tin Siongkah orang itu? Akan tetapi agaknya orang ini lebih tinggi daripada Tin Siong. Seorang pencurikah? Larinya cepat, akan tetapi Lee Cin dapat mengejarnya dan terus
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
membayangi, hendak diketahuinya siapa orang itu dan mengapa dia mendatangi rumah keluarga Cia.
Orang itu meninggalkan kota Hui-cu melalui pintu gerbang sebelah selatan. Lee Cin terus membayanginya dan setelah tiba di jalan yang sepi, ia mulai mempercepat larinya untuk mengejar dan menyusul orang itu. Ia hanya ingin melihat siapa orang itu dan bertanya apa maksudnya datang ke rumah keluarga Cia yang kosong itu.
Akan tetapi, alangkah terkejutnya ketika orang itu berlari lebih cepat dari pada tadi. Ia mengejar lebih cepat lagi dan mendapat kenyataan bahwa ilmu berlari cepat orang itu tidak banyak selisihnya dengan kecepatan larinya.
Mereka berkejar-kejaran dan Lee Gin maklum bahwa orang yang dikejarnya itu sudah tahu akan pengejarannya. Melihat orang itu berlari cepat, ia menjadi semakin penasaran dan curiga. Akhirnya, setelah tiba di dekat sebuah hutan di lereng bukit yang mereka daki dalam kejar-kejaran tadi, orang itu berhenti dan membalikkan tubuhnya menghadapi Lee Cin. Setelah gadis itu tiba di depannya, ia tertawa bergelak, "Ha-ha-ha, baru sekali ini calon mempelai wanita mengejar-ngejar calon mempelai prianya!"
Lee Cin terkejut dan marah sekali mendengar ucapan itu. Orang itu ternyata adalah Siangkoan Tek, musuh besarnya!
"Jahanam busuk, kiranya engkau yang menjadi pencuri di rumah keluarga Cia!" bentak Lee Cin sambil mencabut pedangnya. DewiKZ 490
"Ha-ha, siapa menjadi pencuri? Aku hanya mengambil barang-barangku yang tertinggal di sana. Setelah engkau mengejarku sampai di sini, tentu engkau bersedia menjadi isteriku, bukan, Adik Lee Cin yang manis?"
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Sebagai jawaban Lee Gin menerjang maju sambil menyerang dengan pedangnya sambil membentak, "Mampuslah engkau!"
Siangkoan Tek cepat mengelak dan dia pun sudah mencabut pedangnya untuk melindungi dirinya. Akan tetapi dia tidak banyak membalas karena dia pun tidak ingin melukai gadis yang telah menarik hatinya itu. Dia benar-benar mencinta Lee Cin dan mengharapkan gadis itu menjadi isterinya. Dia menganggap bahwa hanya Lee Cin yang pantas untuk menjadi isterinya. Tingkat ilmu kepandaian mereka. memang seimbang, mungkin Lee Cin menang sedikit karena dia diperkuat dengan ilmu totok It-yang-ci. Maka, kalau hanya mengalah terus tentu saja Siangkoan Tek menjadi terdesak hebat. Namun Lee Cin berhati-hati sekall. Ia tahu akan kelicikan pemuda itu dan ia tidak mau kalau ia sampai terjebak. Ia menyerang dan berhati-hati melindungi dirinya dari serangan gelap.
"Ayah, bantulah!" tiba-tiba Siangkoan Tek berseru setelah dia terdesak mundur mendekati hutan. Lee Cin terkejut karena kalau benar ayah pemuda itu, Siangkoan Bhok muncul, akan celakalah ia. Melawan Siangkoan Tek saja hanya berimbang, kalau ayah pemuda itu muncul, tentu ia akan kalah! Akan tetapi Siangkoan Bhok tidak muncul dan ia tahu bahwa pemuda itu hanya menggertak. Dengan gemas Lee Cin memperhebat serangannya sehingga Siangkoan Tek terus mundur kemudian pemuda itu lari memasuki hutan.
"Hendak lari ke mana engkau, keparat!" Lee Cin mengejar dan kembali mereka bertanding.
DewiKZ 491
Lee Cin hendak mempercepat pertandingan karena ia sudah marah sekali kepada pemuda ini yang beberapa kali hampir dapat memperkosanya. Ia harus cepat merobohkan dan membunuh pemuda jahat ini sebelum ayahnya atau
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
kawan-kawan lain pemuda itu muncul. Maka la lalu memainkan Ang-coa-kiam-sut dengan mengeluarkan jurus-jurus mautnya, dibarengi dengan tangan kiri yang melakukan totokan-totokan It-yang-ci yang lihai. Siangkoan Tek yang tidak ingin melukai gadis yang dicintanya itu tentu saja menjadi terdesak hebat.
"Ayah......!" Kembali dia berteriak,
"Ayahmu sudah mampus, tidak akan datang membantumu!" ejek Lee Cin yang mengira bahwa pemuda itu tentu hanya menggertak saja.
"Siapa bilang aku mampus?" tiba-tiba terdengar bentakan nyaring dan sebatang dayung baja menyambar ke arah kepala Lee Cin dengan suara bercuitan saking cepat dan kuatnya. Lee Cin terkejut dan cepat ia menundukkan kepalanya untuk mengelak, lalu membalik untuk menghadapi orang itu. Seorang kakek yang tinggi besar gagah bermuka merah telah berdiri di situ sambil memegang dayung bajanya. Siangkoan Bhok, majikan Pulau Naga! Ternyata pemuda itu bukan hanya menggertak saja. Siangkoan Bhok memang berada di hutan itu. Mengertilah dia bahwa Siangkoan Tek sengaja memancingnya ke hutan itu, berdekatan dengan ayahnya sehingga ayahnya dapat membantunya!
-oo-dw-oo-
Jilid: 15 (Tamat) DewiKZ 492
ENGKAULAH yang mampus!" Siangkoan Bhok kembali membentak dan dayung bajanya menyambar lagi, kini semakin dahsyat. Lee Cin mengelak dan ia menjadi nekat. Ia tidak mungkin dapat melarikan diri dari dua orang itu, maka jalan satu-satunya baginya hanya melawan
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
dengan nekat dan mati-matian. Ia lalu membalas serangan kakek itu dan mereka terlibat dalam pertandingan yang seru.
"Ayah, jangan bunuh ia, Ayah!" Siangkoan Tek berseru sambil berjaga kalau-kalau gadis itu akan melarikan diri.
Namun dayung baja itu menyambar-nyambar dengan ganasnya sehingga Lee Cin menjadi terdesak.
"Ayah, jangan sampai lukai ia, Ayah! Ia calon isteriku!" kembali Siangkoan Tek berseru dan kini dia pun ikut rnenyerang dengan totokan-totokan untuk mernbuat Lee Cin tidak berdaya.
Lee Chi rnengamuk dan membalas serangan kedua orang itu dengan mati-matian. Karena dilarang puteranya agar jangan melukai atau membunuh Lee Cin, maka agak sukarlah bagi Siangkoan Bhok untuk merobohkan gadis itu tanpa membunuhnya, bahkan tanpa melukainya! Akan tetapi dia amat sayang kepada puteranya dan dia pun memutar dayung bajanya dengan cepat sekali sehingga dayung itu berubah menjadi gulungan sinar kuning yang menyelimuti tubuh Lee Cin, menutup semua jalan keluar bagi gadis itu.. Lee Cin masih melawan dengan sekuat tenaga, akan tetapi tangannya terpukul ujung dayung sehingga pedangnya terlepas dari pegangan dan di saat itu, Siangkoan Tek telah berhasil menotoknya sehingga ia pun roboh terkulai dengan lemas.
DewiKZ 493
"Ha-ha, terima kasih atas bantuanmu, Ayah. Ayah, ia adalah calon isteriku. Kawinkan aku dengannya, Ayah!" Siangkoan Tek berkata dengan girang sekali. Dia tadi cepat menangkap tubuh Lee Cin sehingga gadis itu tidak sampai terpelanting dan kini dia masih memeluk tubuh Lee Cin.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Hemm, bilang kepada ibumu. Aku tidak tahu urusan kawin!" Kakek itu mendengus dan sama sekali tidak mempedulikan keadaan Lee Cin.
Pada saat itu terdengar suara orang tertawa. "Ha-ha-ha, ayahnya busuk, mana mungkin puteranya menjadi baik? Siangkoan Bhok, di mana-mana engkau selalu mengumbar nafsu burukmu!" Dan muncullah seorang kakek bersama seorang gadis cantik.
Siangkoan Bhok menoleh dan dia terkejut melihat kakek itu. Kakek yang pendek gendut serba bulat, dengan jubah pertapa, mulutnya terbuka lebar dalam senyumnya yang aneh. Kakek itu memegang sebuah kebutan berbulu putih. Dia bukan adalah Thian-tok (Racun Langit) Gu Kiat Seng, datuk dari barat. Adapun gadis itu bukan lain adalah Liu Ceng atau yang biasa dipanggil Ceng Ceng. Seperti telah kita ketahui di bagian depan, Ceng Ceng telah digembleng lagi oleh kakek sakti ini, mempelajari ilmu-ilmu pukulan yang ampuh. Kalau dulu Ceng Ceng hanya bersenjata sebatang pedang, kini ia mempergunakan sebatang pedang di tangan kanan dan sebatang kebutan berbulu merah di tangan kiri. Ceng Ceng telah menjadi seorang gadis yang lihai sekali!
Melihat Lee Cin dalam rangkulan Siangkoan Tek, Ceng Ceng sudah menjadi marah sekali dan tanpa banyak cakap lagi ia mencabut pedang dan kebutannya dan membentak, "Lepaskan gadis itu!" Ia sudah menerjang maju dan menyerang Siangkoan Tek dengan kebutan yang menotok ke arah leher pemuda itu disusul pedangnya yang membacok ke arah pinggang!
DewiKZ 494
"Haiiiitttt......!" Siangkoan Tek berseru dan cepat menghindar. Terpaksa dia melepaskan tubuh Lee Cin yang terpelanting ke atas tanah dan tidak mampu bergerak karena masih tertotok. Segera Siangkoan Tek balas
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
menyerang dengan pedangnya sehingga dia sudah bertanding melawan Ceng Ceng dengan serunya.
"Thian Tok!" Seru Siangkoan Bhok rnarah, "Urusan ini tak ada sangkut-pautnya denganmu, mengapa engkau mencampuri?"
"Ha-ha-ha, aku paling gatal kalau melihat orang mengganggu seorang wanita. Engkau membiarkan puteramu mengganggu wanita, apakah engkau tidak malu?"
Siangkoan Bhok menjadi marah. "Thian Tok, engkau selamanya memang seorang usil. Hari ini aku akan memecahkan kepalamu yang besar!" sambil berkata demikian Siangkoan Bhok menggerakkan dayung bajanya yang menyambar ke arah kepala bulat dari kakek itu. Thian-tok Gu Kiat Seng tertawa dan begitu menundukkan kepalanya, dayung baja itu bersuitar lewat di atas kepala. Dia lalu menggerakkan kebutannya yang menyambar ke arah dada Siangkoan Bhok. Biarpun yang menyerangnya hanya menggunakan sebuah kebutan yang ekornya lemas, akan tetapi Siangkoan Bhok maklum betapa lihainya kebutan itu, maka dia pun melompat ke belakang untuk mengelak.
Dengan marah akan tetapi juga waspada karena maklum akan kelihaian lawannya, Siangkoan Bhok menyerang lagi dengan amat dahsyatnya. Akan tetapi biarpun tubuhnya pendek gendut, gerakan Thian-tok ternyata amat gesitnya dan tubuh itu mengelak ke sana sini dengan lucu. Juga kebutannya menyambar-nyambar ke arah bagian tubuh yang berbahaya dengan totokan-totokan maut.
DewiKZ 495
Saking bernafsunya untuk merobohkan lawan, Siangkoan Bhok menyerang lagi dengan ganas, dayung bajanya menyambar ke arah dada lawan. Thian-tok menyambut dayung itu dengan kebutannya. Ekor kebutan
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
yang berwarna putih itu melibat dayung dan kakek gendut itu bergerak maju. Pada saat itu, Siangkoan Bhok melepaskan tangan kanannya dari dayungnya dan mengirim pukulan Ban-tok-ciang (Tangan Selaksa Racun) ke arah dada Thian-tok!
Sebagai seorang ahli racun yang dijuluki Racun Langit, tentu saja Thian-tok mengenal pukulan yang amat berbahaya itu. Dia tidak mengelak, kebutannya masih membelit dayung dan dia menggunakan tangan kirinya untuk memapaki pukulan tangan kosong itu sambil tubuhnya merendah setengah mendekam dan dari perutnya keluar suara kuk-kuk-kuk ketika tangan kirinya didorongkan dengan jari tangan terbuka ke arah tangan Siangkoan Bhok yang memukul.
"Wuuuuttt.... desss!" Kedua tangan yang mengandung hawa beracun yang amat ampuh itu bertemu di udara dan akhirnya, tubuh kedua orang datuk itu terjengkang.
Akan tetapi keduanya dapat berdiri lagi dan sudah saling terjang lagi dengan ganas. Ternyata dalam tenaga beracun keduanya juga seimbang sehingga mereka kini bertanding lebih hati-hati lagi.
DewiKZ 496
Sementara itu, pertandingan antara Siangkoan Tek dan Ceng Ceng juga berlangsung seru. Siangkoan Tek juga tidak berani main-main karena kebutan di tangan gadis itu dapat menyerangnya dengan totokan-totokan yang amat berbahaya. Dia memutar pedangnya dan mainkan ilmu pedang kui-liong-kiam-sut (Ilmu Pedang Naga Iblis). Setelah bertanding selama puluhan jurus mulailah Ceng Ceng terdesak. Biarpun dalam ilmu silat ia tidak kalah lihai, namun dibandingkan Siangkoan Tek ia masih kalah dalarn pengalaman bertanding dan perlahan-lahan ia mulai terdesak mundur.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Pada saat itu tiba-tiba sesosok bayangan hitam berkelebat ke arah tubuh Lee Cin yang masih menggeletak di situ, bayangan itu menyambar pedang Ang-coa-kiam milik Lee Cin yang tadi terpukul jatuh, kemudian dia memondong tubuh Lee Cin dan dibawa pergi dengan cepat sekali.
"Heiii......!" Siangkoan Tek yang melihat ini cepat mengejar, akan tetapi kebutan di tangan Ceng Ceng menyambar ke arah dadanya dan hampir saja dia tertotok. Terpaksa dia lalu rnenghadapi Ceng Ceng lagi, juga orang berkedok hitam yang membawa pergi Lee Cin sudah lenyap di antara pohon-pohon.
Kembali dia mengamuk dan Ceng Ceng terdesak mundur. Tiba-tiba nampak bayangan biru berkelebat dan terdengar bentakan, "Tahan!" Seorang pemuda berpakaian serba biru sudah muncul dan dengan pedangnya dia menahan pedang Siangkoan Tek yang mendesak Ceng Ceng.
"Tranggg......!" Kedua pedang bertemu dan Siangkoan Tek merasa tangannya tergetar, tanda bahwa pemuda baju biru itu memiliki tenaga sinkang yang kuat.
"Kenapa engkau menyerang nona ini?" tanya pemuda itu yang bukan lain adalah Thio Hui San, murid In-kong Taisu dari Siauw-lim-pai.
Siangkoan Tek sudah menjadi marah sekali. Pemuda ini mengandalkan ayahnya, maka dia tidak takut kepada pemuda itu. "Jahanam, perlu apa engkau mencampuri urusanku?" bentaknya.
DewiKZ 497
Thio Hui San yang dimaki tersenyum. "Dari makian ini saja aku dapat mengerti bahwa tentu engkau yang berada di pihak bersalah."
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Mampuslah kau!" Siangkoan Tek membentak dan pedangnya menyambar. Akan tetapi Hui San menangkis dan kedua orang pemuda itu sudah saling serang dengan seru. Melihat pemuda baju biru itu datang menolongnya, Ceng Ceng juga lalu membantunya mengeroyok Siangkoan Tek! Siangkoan Tek menjadi bingung. Baru menghadapi pemuda baju biru saja dia sudah harus mengerahkan seluruh tenaga dan kepandaiannya, kini dikeroyok oleh Ceng Ceng yang tidak boleh dipandang rendah. Dia segera terdesak ke belakang dan mulailah pemuda ini berteiak-teriak, "Ayah, Ayah….. bantu aku......!!"
Diam-diam Siangkoan Bhok kesal sekali melihat ulah puteranya yang sama sekali tidak menunjukkan kegagahan. Dia sendiri juga masih amat sukar untuk mengalahkan Thian-tok, bagaimana harus membantu puteranya yang jelas terdesak oleh dua orang lawannya? Jalan satu-satunya agar tidak kehilangan muka hanya melarikan diri.
"Thian-tok, cukup sekian dulu, lain kali kita lanjutkan. Siangkoan Tek mari kita pergi!" katanya. Mendengar ini, maklumlah Siangkoan Tek bahwa ayahnya tidak dapat membantunya dan menganjurkan agar melarikan diri. Maka dia pun rnenyerang dengan ganas sehingga dua orang pengeroyoknya melompat ke belakang dan rnenggunakan kesempatan ini, dia pun meloncat jauh mengejar ayahnya.
"Sudah, jangan kejar mereka, berbahaya," kata Thian-tok sambil tertawa rnelihat muridnya dan pemuda berpakaian biru itu hendak melakukan pengejaran. "Orang muda, siapakah engkau yang telah membantu muridku Ceng Ceng?"
DewiKZ 498
Thio Hui San cepat mernberi hormat kepada kakek gendut pendek itu. Tadi dia rnelihat kakek ini menandingi Siangkoan Bhok. Sebagai seorang pemuda yang sudah banyak pengalamannya, dia mengenal Siangkoan Bhok
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
akan tetapi tidak mengenal kakek ini. Dia mengingat-ingat siapa kiranya tokoh dunia kang-ouw yang bertubuh seperti ini. Akhirnya dia teringat. Kakek cebol gendut yang bersenjatakan kebutan bulu putih.
"Saya Thio Hui San memberi hormat kepada Locianpwe Thian-tok."
Thian-tok tertawa bergelak sambil memegangi perutnya yang terguncang.
"Ah, ternyata selain lihai engkau pun berpemandangan tajam. Aku memang Thian-tok Gu Kiat Seng. Kami bersukur bahwa engkau telah membantu muridku yang telah terdesak oleh Siangkoan Tek yang jahat. Akan tetapi, siapakah orang berkedok hitam yang tadi melarikan gadis itu? Apakah dia temanmu?"
"Orang berkedok hitam? Siapakah, Locianpwe? Saya tidak melihatnya," kata Hui San heran.
"Ah, celaka kalau begitu. Gadis itu telah dibawa lari orang yang tidak kita ketahui siapa. Akan tetapi kalau orang itu melarikannya, tidak membunuhnya, barang kali gadis itu masih dapat menyelamatkan diri. Ia seorang gadis pemberani yang lihai. Thio Hui San, aku melihat ilmu pedangmu tadi, bukankah engkau seorang murid Siauw-lim-pai?"
"Pandangan Locianpwe amat tajam, membuat saya kagum sekali. Memang sesungguhnyalah, Locianpwe, saya adalah seorang murid Siauw-lim-pai."
"Hemm, bagus. Siapakah gurumu, atau, tidak bolehkah aku mengetahuinya?"
DewiKZ 499
"Tidak ada rahasia dalam perguruan. kami, Locianpwe. Guru saya adalah In Kong Taisu."
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Siancai.....! Jadi engkau murid In Kong Taisu? Pantas ilmu pedangmu hebat. Akan tetapi, bagaimana engkau yang tidak kami kenal langsung saja membantu kami? Engkau tidak tahu siapa yang bersalah di antara kami tadi."
"Locianpwe, saya sudah mengenal Siangkoan Bhok dan orang macam apa adanya dia. Maka, saya langsung membantu Nona yang saya lihat sudah terdesak dan terancam." Hui San memandang kepada Ceng Ceng dan kebetulan gadis itu juga sedang memandang kepadanya. Dua mata bertemu pandang, dua buah hati berdetak lebih keras dari biasanya dan Ceng Ceng segera menundukkan mukanya dengan malu-malu.
Melihat ini Thian-tok tertawa bergelak, "Ha-ha-hay, Thio Hui San, perkenalkan, ini adalah muridku bernama Lui Ceng atau biasa dipanggil Ceng Ceng. Ceng Ceng, haturkan terima kasih kepada Thio Hui San. Kalau dia tidak segera datang menolong, entah bagaimana jadinya dengan kita."
Ceng Ceng mengangkat kedua tangan depan dada untuk memberi hormat, yang segera dibalas oleh Hui San. Sambil tersenyum malu Ceng Ceng berkata, "Taihiap, banyak terima kasih atas pertolonganmu tadi."
"Ah, Nona. Harap jangan menyebut aku taihiap (pendekar besar), membuat aku merasa malu saja."
Kembali Thian-tok tertawa, "Ha-ha-ha, kalian dua orang muda bicaralah aku harus memulihkan tenagaku. Siangkoan Bhok setan tua itu sungguh lihai dan menguras tenagaku." Setelah berkata demikian, Thian-tok lalu pergi ke sebuah batu besar tak jauh dari situ dan naik ke atas batu, lalu duduk bersila menghimpun hawa murni.
DewiKZ 500
"Nona Liu, sekali lagi, jangan menyebut aku dengan sebutan taihiap. Sebutan itu terlalu tingg bagiku, padahal
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
ilmu kepandaianku tidaklah ada artinya dibandingkan dengan kesaktian gurumu."
"Habis, aku harus menyebutmu apa, Thio-taihiap, sedangkan engkau juga menyebutku nona," jawab Ceng Ceng dengan kedua pipi kemerahan. Hui San terpesona. Pemuda ini tidak mudah tertarik oleh wanita. Selama hidupnya baru satu kali dia tertarik, bahkan jatuh cinta kepada wanita, yaitu kepada Lee Cin. Akan tetapi setelah tahu bahwa Lee Cin tidak menanggapi cintanya, dia pun mundur dan tidak begitu mengharapkan lagi. Kini, untuk kedua kalinya dia terpesona oleh budi halus dan kecantikan wanita. Dalam pandangannya, Ceng Ceng adalah seorang gadis yang gagah perkasa, akan tetapi yang memiliki sikap lemah lembut keibuan.
Mendengar jawaban Ceng Ceng, Hui San memandang tajam lalu tersenyum dan menjawab, "Kita telah bertemu dan berkenalan dan engkau bersama gurumu bersikap demikian baik dan bersahabat, apa salahnya kalau kita menjadi sahabat baik? Agar tidak canggung, bagaimana kalau selanjutnya aku menyebutmu moi-moi saja dan engkau menyebutku koko? Bagaimana juga, aku jauh lebih tua darimu. Bagaimana pendapatmu, Ceng-moi (Adik Ceng)?"
Ceng Ceng tersenyum. Pemuda yang dihadapinya itu demikian sopan clan halus, ucapannya demikian lembut dan sama sekali tidak ada kesan kurang ajar, melainkan bersahabat. Ia merasa senang sekali berkenalan dengan pemuda murid Siauw-lim-pai yang tangguh ini. DewiKZ 501
"Aku senang sekali, San-ko (Kakak San)," katanya dengan senyum malu-malu. Ceng Ceng adalah seorang gadis pingitan. Ketika ia masih ikut dengan pamannya, Souw Can, ia jarang keluar rumah dan tidak pernah
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
bergaul, apalagi dengan pria, maka ia merasa malu-malu. Satu-satunya pria yang pernah dikenalnya dengan baik adalah Lai Siong Ek, suhengnya. Akan tetapi Siong Ek sering kali bersikap tidak wajar kepadanya, bahkan kalau rnereka sedang berdua, Siong Ek suka menggodanya dengan kata-kata nakal." Maka, berlemu dengan Hui San yang sopan dan lembut, ia merasa tertarik sekali. Apalagi baru saja ia mendapat pertolongan pemuda itu. Kalau pemuda itu tidak datang menolong, entah apa yang akan terjadi dengan dirinya. Siangkoan Tek itu terlalu lihai baginya dan suhunya juga tidak dapat menolongnya karena suhunya sedang bertanding dengan seru melawan kakek bersenjata dayung baja itu.
"Ceng-moi, sebetulnya apakah yang terjadi. Kenapa engkau dapat bertanding dengan Siangkoan Tek itu, dan kenapa pula gurumu bertanding dengan Siangkoan Bhok?"
"Kebetulan saja Suhu dan aku lewat di sini ketika kami melihat mereka berdua menawan seorang gadis cantik. Begitu melihat pemuda itu, aku segera mengenalnya karena aku pernah bentrok dengan Siangkoan Tek itu. Maka aku segera berusaha menolong gadis itu dan menyerang Siangkoan Tek, sedangkan Suhu menyerang kakek berdayung baja yang ternyata adalah ayah dari Siangkoan Tek. Kami bertanding mati-matian dan sebelum engkau muncul, aku sudah terdesak hebat oleh Siangkoan Tek yang lihai dan jahat."
"Hemm, dan di mana gadis yang ditawan mereka itu? Apakah benar dia dibawa lari seorang yang berkedok hitam?"
DewiKZ 502
"Begitulah, aku terdesak hebat oleh Siangkoan Tek sehingga tidak begitu memperhatikan. Aku hanya melihat seorang yang berpakaian dan berkedok hitam, berkelebat cepat dan membawa pergi nona tawanan itu."
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Apakah engkau tahu siapa gadis itu, Ceng-moi7 Mengapa ia ditangkap Siangkoan Tek dan ayahnya? Dan siapa pula Si Kedok Hitam itu?"
"Aku tidak tahu, San-ko. Juga Suhu tidak tahu. Akan tetapi Suhu dan aku sempat melihat betapa gadis itu dikeroyok ayah dan anak yang jahat itu, kemudian tertawan oleh mereka. Gadis itu memiliki kepandaian hebat, akan tetapi karena dikeroyok dua, akhirnya ia tertawan."
Mereka berhenti bicara dan ketika keduanya saling pandang, kembali jantung mereka berdebar kencang dan Ceng Ceng segera menundukkan pandang matanya. Hui San juga menjadi salah tingkah dan untuk meredakan debar jantungnya, dia bertanya, '"Ceng-rnoi, kalau boleh aku bertanya, siapakah kedua orang tuamu dan di manakah engkau tinggal?"
Pertanyaan itu seperti mencairkan kebekuan yang timbul karena rasa malu dan canggung. Akan tetapi jawaban Ceng Ceng terdengar mengandung kedukaan, "Aku….. aku tidak mempunyai ayah dan ibu lagi, San-ko. Aku adalah seorang yatim piatu yang ditinggal mati kedua orang tuaku sejak aku masih kecil."
"Hemm, kalau begitu sejak kecil engkau ikut gurumu?"
"Tidak, San-ko. Baru dua tahun aku mengikuti guruku belajar ilmu, tadinya aku ikut menumpang di rumah pamanku yang tinggal di Pao-ting. Baru setelah bertemu dengan Suhu, aku memperdalam ilmu silat dan ikut Suhu merantau."
"Ah, kasihan sekali engkau, Ceng-moi. Riwayatmu penuh duka."
DewiKZ 503
Ceng Ceng tersenyum. "Akan tetapi aku tidak merasa berduka lagi, San-ko. Aku merasa bahagia dapat belajar
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
ilmu dari Suhu. Akan tetapi kenapa sejak tadi hanya bicara tentang diriku saja. Bagaimana dengan engkau, San-ko? Dari mana engkau berasal dan siapa orang tuamu?" Ceng Ceng bertanya sambil menatap tajam wajah pemuda yang jangkung, gagah dan tampan itu.
Hui San menarik napas panjang, akan tetapi dia masih tersenyum sambil menatap wajah yang cantik jelita itu. "Riwayatku tidak jauh bedanya dengan riwayatmu, Ceng-moi. Aku pun yatim piatu sejak kecil dan sejak aku masih kecil aku sudah tinggal di dalam kuil Siauw-lim-si dan akhirnya menjadi murid Suhu. Aku mempelajari ilmu silat dan juga sastra dari para suhu di Siauw-lim-pai dan aku sering melaksanakan tugas yang diberikan oleh Suhu."
"Ah, kasihan juga engkau, San-ko. Kenapa hidup ini hanya membawa duka saja. Di mana-mana aku bertemu dengan orang-orang yang tidak bahagia hidupnya. Jadi engkau bertempat tinggal di kuil Siauw-lim-si? Di manakah kuil Siauw-lim-si yang tersohor itu, San-ko?"
"Pusat kuil Siauw-lim-si berada di kaki Gunung Sung-san, di Propinsi Ho-nan. Akan tetapi aku tinggal di kuil yang berada di Kwi-cu, sebuah kuil yang merupakan cabang dari Siauw-lim-si dan guruku, In Kong Taisu, menjadi ketua di sana. Aku tinggal di sana, akan tetapi aku lebih banyak berada di luar kuil karena banyak melaksanakan tugas yang diberikan Suhu. Sekarang pun aku sedang melaksanakan tugas untuk menyebar undangan kepada para tokoh kang-ouw dan perkumpulan-perkumpulan persilatan yang ternama."
"Apakah Siauw-lim-pai hendak mengadakan pesta maka menyebar undangan, San-ko?"
DewiKZ 504
"Bukan Siauw-lim-pai yang mengadakan pesta, akan tetapi Siauw-lim-pai merupakan satu di antara pimpinan
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
bengcu kami. Kami mengundang para ahli silat di dunia kang-ouw untuk nanti pada tanggal satu bulan lima agar mereka berkunjung ke Hong-san di mana akan diadakan pertemuan besar dan penting untuk membicarakan urusan di dunia kang-ouw dan juga mengadakan pemilihan bengcu yang baru."
"Aih, menarik sekali!" kata Ceng Ceng. "Apakah Suhu juga diundang? Aku akan merasa girang sekali kalau dapat ikut Suhu pergi ke sana!" Ceng Ceng menoleh ke arah suhunya dan ia terbelalak. "Eh, di mana Suhu?"
Hui San juga menoleh dan melihat ke arah batu di mana tadi kakek itu duduk bersila. Akan tetapi kini kakek itu tidak tampak bayangannya lagi dan sudah pergi dari situ! Kedua orang muda itu menjadi heran dan terkejut. Mereka cepat melompat dan berlari ke arah batu itu dan di atas batu besar di mana Thian-tok tadi duduk terdapat coretan pada permukaan batu yang merupakan huruf-huruf yang cukup jelas.
Ceng Ceng,
Engkau sudah cukup belajar, kita berpisah sekarang. Jaga darimu baik-baik dan kalau engkau pergi ke Hong-san, mungkin kita dapat saling jumpa di sana."
Thian-tok.
DewiKZ 505
"Ah, Suhu meninggalkan aku!" kata Ceng Ceng dengan sedih. Ia tahu bahwa sekali waktu ia pasti akan harus berpisah dari gurunya, akan tetapi tidak seperti itu. Suhunya meninggalkannya tanpa pamit! Akan tetapi hatinya terhibur membaca kalimat terakhir. Bulan lima tidak lama lagi dan kalau ia pergi ke Hong-san, menghadiri rapat itu, mungkin ia akan dapat berjumpa dengan gurunya.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Suhumu seorang manusia yang luar biasa. Tidak mengherankan kalau dia memakai cara yang aneh untuk berpisah darimu, Ceng-moi."
"Aku..... aku merasa kehilangan sekali, San-ko. Aku tidak mempunyai siapa-siapa lagi dan selama ini aku menganggap Suhu sebagai pengganti orang tuaku. Kini dia pergi dan aku sebatang kara....."
"Bukankah suhumu mengatakan bahwa engkau akan dapat berjumpa dengannya di Hong-san? Kalau engkau pergi ke sana…..."
"Akan tetapi aku bukan seorang yang diundang menghadiri rapat yang penting itu, San-ko."
"Mengapa tidak? Aku yang mengundangmu, mewakili guruku. Memang Suhu berpesan agar aku mengundang siapa saja yang pantas disebut sebagai pendekar atau tokoh kang-ouw. Dan engkau sudah pantas menjadi seorang pendekar wanita yang lihai, Ceng-moi."
"Akan tetapi aku belum pernah melakukan perjalanan jauh seorang diri. Sebelum ikut Suhu, aku selalu tinggal di rumah dan selama ini aku hanya ikut Suhu. Aku tidak tahu di mana Hong-san itu."
Hui San adalah seorang pemuda yang berpengalaman. Tadinya dia pun merasa heran melihat cara Thian-tok meninggalkan muridnya begitu saja. Akan tetapi di dalam hatinya dia merasa girang. Thian-tok rneninggalkan murid perempuan itu setelah bertemu dengan dia. Bukankah ini berarti bahwa datuk itu mengharapkan agar dia dapat menemani Ceng Ceng? Kalau benar dugaannya, dia merasa bahagia sekali.
DewiKZ 506
"Aku juga sedang pergi menuju ke Hong-san. Bagaimana kalau kita pergi bersama, Ceng-moi? Maafkan aku, tentu
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
saja kalau engkau tidak merasa keberatan. Aku hanya mampir-mampir di sepanjang perjalanan ke Hong-san untuk memberikan undangan kepada para tokoh kang-ouw."
Ceng Ceng memandang dengan sinar mata menunjukkan kegembiraannya. Biarpun baru saja berjumpa dan berkenalan, akan tetapi ia merasa seolah sudah lama mengenal pemuda ini dan sudah mengetahui wataknya yang sopan dan baik.
"Terima kasih, San-ko. Aku senang sekali kalau dapat melakukan perjalanan bersamamu, dapat menimba banyak pengalaman di dunia kang-ouw."
"Kalau begitu, mari kita berangkat sekarang, Ceng-moi. Matahari mulai condong ke barat dan kita harus tiba di suatu dusun atau kota sebelum malam tiba."
"Baik, San-ko. Mari kita berangkat."
Kedua orang muda itu lalu pergi menuju ke utara. Entah siapa yang lebih bahagia di antara mereka. Belum pernah kedua orang muda itu merasakan kebahagiaan seperti ini. Bahkan Ceng Ceng sudah tidak lagi merasakan kepergian suhunya. Padahal andaikata ia berjalan seorang diri, tentu ia akan merasa kehilangan dan kesepian sekali.
DewiKZ 507
Memang besar sekali kekuasaan yang mencekam hati setiap orang manusia kalau dia sudah mulai tertarik kepada lawan jenisnya. Segala sesuatu nampak indah. Cuaca menjadi semakin cerah, pemandangan alam semakin indah, pohon-pohon tampak agung mengagumkan, terutama bunga-bunga tampak semakin jelita, kicau-kicau burung dan semua suara terdengar merdu. Hidup menjadi begitu berarti, penuh dengan segala yang menyenangkan hati, dan inikah yang disebut kebahagiaan? Kebahagiaan orang yang
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
sedang jatuh cinta, tentunya.
oood_wooo
Kita tinggalkan dua orang yang sedang berbunga-bunga hatinya itu dan kita ikuti perjalanan dua orang muda yang lain, yaitu Lee Cin dan Si Kedok Hitam yang memanggulnya dan membawanya pergi dari dalam hutan itu. Lee Cin yang belum dapat bergerak tahu bahwa ia dibawa pergi oleh Si Kedok Hitam. Berbagai perasaan memenuhi hatinya. Ia merasa girang sekali bahwa ia ditolong lagi oleh Si Kedok Hitam, akan tetapi ia pun merasa penasaran mengapa Si Kedok Hitam tidak membebaskan totokan dari tubuhnya saja. Ia perlu membantu gadis dan kakek pendek gendut yang menolongnya dan yang bertanding melawan Siangkoan Tek dan Siangkoan Bhok. Tadinya ia diam saja, akan tetapi kemudian hatinya memberontak.
"Lepaskan aku......! Lepaskan......!" Ia berseru.
Si Kedok Hitam sudah lari jauh dari tempat pertempuran tadi. Mereka tiba di sebuah padang rumput dan mendengar teriakan itu, dia lalu menurunkan tubuh Lee Cin ke atas rumput, kemudian beberapa kali menotok jalan darah Lee Cin sehingga gadis itu mampu bergerak lagi. Tanpa berkata-kata Si Kedok Hitam menjulurkan tangannya yang memegang pedang Ang-coa-kiam dan mengembalikannya kepada Lee Cin. Gadis itu menyambar pedangnya dan segera meloncat berdiri hendak berlari.
"Hendak ke mana, Nona?" Si Kedok Hitam bertanya.
DewiKZ 508
"Tentu saja ke tempat tadi, ke mama lagi? Aku harus membantu mereka yang bertanding nnelawan Siangkoan
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Tek dan ayahnya!" Setelah berkata demikian Lee Cin berlari cepat, diikuti oleh Si Kedok Hitam. Akan tetapi Lee Cin tidak tahu jalan dan ia berputar-putar di daerah itu dan akhirnya ia berhenti berlari, menanti Si Kedok Hitam yang masih mengikutinya.
"Di mana jalannya tunjukkanlah kepadaku!" Ia berkata.
"Nona, Thian-tok itu lihai sekali, dan tidak akan kalah menandingi Siangkoan Bhok, dan gadis itu pun lihai. Mereka tidak akan kalah dan tidak memerlukan bantuan." Suara Si Kedok Hitam itu dingin dan acuh tak acuh.
"Mereka telah menolongku, sekarang aku harus membantu mereka!" kata Lee Cin. "Mengapa engkau membawa aku pergi? Seharusnya engkau membebaskan totokanku agar aku dapat membantu mereka membunuh Siangkoan Tek si jahanam busuk itu dengan ayahnya!"
"Nona hendak kembali ke sana? Ikuti aku," kata Si Kedok Hitam tanpa banyak cakap lagi dan dia lalu berlari cepat menyusuri lapangan rumput itu. Lee Cin meloncat dan berlari mengikuti di belakangnya.
Tak lama kemudian sampailah mereka ke tempat tadi dan tempat itu ternyata telah sunyi. Tak tampak seorang pun di situ, Siangkoan Tek dan ayahnya tidak tampak batang hidungnya, juga kakek dan gadis yang menolongnya tidak ada lagi di situ. Lee Cin memandang ke kanan kiri, mencari-cari, kemudian duduk di atas batu dengan wajah murung.
"Aih, bagaimana kalau mereka mengalami celaka gara-gara menolongku?" katanya dengan khawatir.
DewiKZ 509
Si Kedok Hitam lalu meneliti bekas tempat pertempuran, memandang ke atas tanah dan akhirnya menghampiri Lee Cin. "Harap Nona tidak khawatir. Kalau dayung baja itu
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
menjatuhkan korban, tentu ada bekas darah di sini. Akan tetapi tempat ini bersih, tidak ada bekas tumpahan darah. Tidak mungkin seorang datuk seperti Thian-tok dikalahkan lawan tanpa ada darah yang menetes. Aku yakin mereka semua telah pergi dari sini dengan selamat."
Lee Cin turun dari atas batu dan meniru perbuatan Si Kedok Hitam tadi, memeriksa keadaan di tempat itu. Benar saja, tidak ada sedikit pun tanda darah. Baru hatinya lega dan baru ia teringat bahwa sudah ke empat kalinya ini Si Kedok Hitam menyelamatkannya. Dan baru ia teringat bahwa ia ingin sekali mengetahui siapa Si Kedok Hitam ini, dan apakah benar dia yang dahulu melukai ayahnya.
Seperti pada pertemuan terdahulu, Si Kedok Hitam sudah siap untuk pergi meninggalkan Lee Cin. "Sekarang aku harus cepat pergi, Nona. Selamat berpisah......!"
"Nanti dulu, sobat!" kata Lee Cin dan dalam suaranya terdengar tuntutan sehingga orang berkedok hitam itu menahan langkahnya dan memandang kepadanya. Lee Cin juga menatap penuh perhatian, sinar matanya seolah hendak menembus kedok itu dan menjenguk wajah orang aneh itu.
"Aku mempunyai beberapa pertanyaan yang harus kau jawab sejujurnya, sobat. Pertama, berulang kali engkau menyelamatkan aku dari bahaya, mengapa engkau melakukan hal ini kepadaku?"
DewiKZ 510
"Mengapa? Ah, mudah sekali dijawab, Nona. Kalau melihat orang melakukan perbuatan jahat, sudah menjadi kewajibanku untuk turun tangan menentang kejahatan dan menolong siapa saja yang menjadi korban kejahatan. Kebetulan saja Nona yang menjadi korban kejahatan ketika aku datang turun tangan."
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Jawabanmu ini menunjukkan bahwa engkau seorang pendekar. Akan tetapi mengapa seorang pendekar menyembunyikan dirinya di balik kedok hitam seolah takut diketahui siapa dirinya yang sebenarnya? Aku yang berulang kali menerima pertolonganmu, tentu saja ingin sekali mengenal siapa sebenarnya engkau. Nah, maukah engkau memperkenalkan diri kepadaku, tanpa kedok itu?"
"Maafkan aku, Nona. Aku tidak dapat melakukan hal itu. Aku tidak dapat memperkenalkan diriku yang sebenarnya kepada siapapun juga dan aku mempunyai alasanku sendiri yang pribadi. Aku pun tidak dapat memperkenalkan diriku kepadamu. Cukup kalau engkau mengenalku sebagai Si Kedok Hitam. Nah, sekarang......"
"Nanti dulu! Masih ada beberapa bertanyaan yang harap kau jawab sejujurnya. Aku dapat menerima alasanmu itu dan tidak akan memaksa engkau memperkenalkan dirimu yang sebenarnya kepadaku. Akan tetapi aku mempunyai suatu penasaran besar. Dulu aku menganggap seorang yang berkedok hitam sebagai musuh besarku. Dia adalah orang yang telah menyerang dan melukai ayahku di Hong-san. Ayahku adalah Bengcu Souw Tek Bun. Apakah engkau yang telah melakukan penyerangan itu dan melukainya?" Berkata demikian, Lee Cin menatap tajam sepasang mata yang mencorong itu sehingga mereka saling pandang. Pandang mata yang mencorong itu membalas pandang mata Lee Cin tanpa berkedip, walaupun tampak betapa sepasang mata itu sedikit melebar.
DewiKZ 511
"Engkau puteri Bengcu Souw Tek Bun? Ah, aku menyesal sekali, Nona. Aku tidak dapat menyangkal. Akulah yang telah bertanding dengan ayahmu, melukainya dengan pukulan akan tetapi dia pun melukai lenganku. Tentu engkau hendak bertanya mengapa aku menyerangnya? Apakah dia tidak menceritakan kepadamu?
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Aku menantangnya dan hendak memberi peringatan kepadanya karena dia menjadi bengcu atas dukungan kerajaan, berarti dia menjadi seorang bengcu yang condong memihak penjajah. Nah, itulah yang menjadi sebabnya. Aku tidak bermaksud mencelakainya dan aku melukainya karena dia pun melukai lenganku dengan ilmu pedangnya yang hebat. Apakah engkau mendendam, Nona. Nah, kalau engkau hendak membalas dendam, silakan, aku bersedia menanggung akibat perbuatanku itu."
Lee Cin merasa lega. Orang ini bukan pengecut, telah mengakui perbuatannya dan dia pun sudah mengerti akan sebab penyerangannya. Ayahnya telah menceritakan dan sebab itulah yang mendesak ayahnya untuk menyatakan bahwa dia mundur dari kedudukannya sebagai bengcu. Dia tidak mau dituduh sebagai bengcu pilihan penjajah! Orang ini telah mengaku dan buktinya dia tidak membunuh ayahnya, hanya saling melukai dan ini dilakukan untuk memperingatkan ayahnya. Dan orang ini sekarang mengaku. Apa yang akan dilakukannya? Membalas dendam? Akan tetapi orang ini telah berulang kali menolongnya dari ancaman bahaya yang lebih mengerikan daripada maut! Hutang dendamnya terlalu kecil kalau dibandingkan dengan budi pertolongan yang dilepaskannya. Empat kali nyawanya tertolong, maka sudah sepatutnya kalau ia menghilangkan dendam karena ayahnya saling melukai dengan pemuda berkedok hitam ini.
"Sebuah pertanyaan lagi!" katanya, ketika melihat Si Kedok Hitam kembali menggerakkan kaki hendak pergi. "Apakah engkau anggauta keluarga Cia?"
DewiKZ 512
"Maafkan, Nona Souw Lee Cin, aku tidak dapat menjawab pertanyaan itu. Tentang pribadiku merupakan rahasia yang tidak boleh kubuka kepada siapapun juga. Selamat tinggal!" Si Kedok Hitam lalu melompat jauh dan
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
menghilang di balik pohon-pohon, meninggalkan Lee Cin termenung seorang diri.
Tiba-tiba saja ia merasa kehilangan dan kesepian. Ah, alangkah bodohnya! Ia telah jatuh cinta kepada Si Kedok Hitam! Tiba-tiba ia merasa terkejut sendiri oleh penemuan ini. Ia jatuh cinta kepada seorang yang tidak diketahuinya siapa, bagaimana wajahnya. Mungkin karena berulang kali ditolong, ia merasa terharu dan tertarik. Akan tetapi ada sesuatu dalam sinar mata Si Kedok Hitam yang membuatnya tidak mampu melupakan sepasang mata yang mencorong itu. Pandang mata itu! Seolah mengelus perasaannya, mengandung seribu belaian dan rayuan, walaupun disembunyikan dalam sikap dan suara yang dingin. Ia rnencinta Si Kedok Hitam.
DewiKZ 513
"Bodoh kau……!" Ia ingin menampar kepalanya sendiri, menarik napas panjang lalu melanjutkan perjalanannya. Akan tetapi pertemuannya dengan Si Kedok Hitam tidak pernah meninggalkan kenangannya. Ia kini dapat memastikan bahwa Si Kedok Hitam itu seorang pendekar patriot. Buktinya dia menentang perbuatan jahat, itu sikap seorang pendekar. Dan dia memperingatkan orang-orang yang dekat dengan pemerintah penjajah, seperti yang dilakukan kepada ayahnya, kepada Un-ciangkun dan kepada Ji-taijin. Itu sikap seorang patriot! Dan apakah dia tersangkut dalam komplotan pemberontak yang bersekutu dengan orang Jepang dan dengan panglima pengkhianat? Tidak mungkin. Bukankah Si Kedok Hitam pernah meloloskan ia dan Thian Lee? Kalau dia bersekutu dengan para pemberontak, tidak mungkin dia menolong Thian Lee. Pendirian Si Kedok Hitam ini mirip dengan pendirian Cia Tin Han! Tin Han juga berpendirian sebagai seorang pendekar dan patriot sejati, walaupun pemuda itu tidak pandai silat. Kalau Tin Han pandai ilmu silat seperti
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
kakaknya, Lee Cin berani memastikan bahwa Si Kedok Hitam tentulah Si Pemuda itu. Akan tetapi mengingat bahwa pemuda itu tidak pandai silat, maka tidak mungkin kalau dia yang menyamar sebagai Si Kedok Hitam.
Teringat akan Tin Han, jantung Lee Cin berdebar aneh. Harus diakuinya bahwa ia amat tertarik kepada pemuda itu, gayanya, sikapnya, keberaniannya, ketampanannya. Kalau saja Tin Han pandai ilmu silat, sangat boleh jadi ia akan jatuh cinta kepadanya. Hal itu tidak dapat diingkarinya lagi. Mungkin juga ia tidak akan tertarik kepada Si Kedok Hitam. Ia mencinta Tin Han, akan tetapi kekagumannya dan hutang budinya membuat ia menoleh kepada Si Kedok Hitam!
Dengan pikiran kacau-balau seperti itu, terombang-ambing di antara Si Kedok Hitam dan Cia Tin Han, Lee Cin melanjutkan perjalanannya. Kemudian ia teringat kepada Siangkoan Tek dan wajahnya menjadi merah. Sialan, ia dicinta oleh pemuda macam itu! Ia amat membenci Siangkoan Tek yang berkeras hendak memperisterinya, kalau ia sempat bertemu lagi dengan Siangkoan Tek, sendirian saja tanpa ayahnya, tentu ia akan berusaha keras untuk membunuh pemuda jahat itu.
Selagi ia berjalan dan tiba di kaki bukit, tiba-tiba terdengar suara orang memanggilnya, "Adik Souw Lee Cin......!"
Lee Cin segera mengenal suara itu dan cepat ia menahan langkahnya dan memutar tubuhnya. Seorang pemuda berlari-lari mendatangi ketika sudah berhadapan dengannya, ia melihat Tin Han yang napasnya terengah-engah karena tadi berlari-lari itu.
DewiKZ 514
"Han-ko....! Engkau dari manakah?"
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Ah, Cin-moi, hampir putus napasku mengejarmu." Pemuda menggunakan sehelai saputangan untuk menghapus keringat dari leher dan dahinya.
"Han-ko, engkau dari manakah?" Ia teringat betapa ia dan Thian Lee menyerbu keluarga Cia dan pada waktu itu ia tidak melihat Tin Han. Rasa tidak enak menyelimuti hatinya. "Engkau tidak bersama keluargamu?" Ia memancing untuk mengetahui apakah pemuda ini telah tahu akan penyerbuan ke rumah keluarga Cia itu.
"Ah, keluargaku telah pergi semua. Ketika itu aku sedang tidak berada di rumah. Kabarnya keluargaku diserbu pasukan, para pelayan ditangkapi. Mereka semua melarikan diri dan aku tidak berani pulang."
"Aku sudah tahu, Han-ko," kata Lee Cin terus terang. "Bahkan aku ikut pula menyerbu ke rumah keluargamu membantu Song-ciangkun."
"Akan tetapi, kenapa, Cin-moi? Kenapa?" Pemuda itu nampak bingung.
Lee Cin merasa iba. Ia tahu bahwa pemuda ini sama sekali tidak bersalah dan tidak terlibat dalam pemberontakan.
"Keluargamu bersekutu dengan pemberontak, Han-ko. Bersekutu dengan Panglima Phoa yang berkhianat, bersekongkol pula dengan orang Jepang. Mereka merencanakan pembunuhan terhadap para pembesar, mereka hendak memberontak, karena itulah rumah keluargamu diserbu pasukan."
DewiKZ 515
"Dan engkau ikut pula menyerbu, Cin-moi? Kenapa?" Sepasang mata pemuda itu menatap wajah Lee Cin dengan sinar mata penuh pertanyaan dan penuh selidik. Hampir
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
tidak kuat rasanya Lee Cin menantang pandang mata itu dan ia pun menghela napas.
"Ketahuilah, Han-ko. Song-ciangkun adalah seorang sahabat lamaku, dan aku melihat bahwa dia benar. Pemberontakan seperti yang dilakukan keluargamu itu hanya akan mendatangkan malapetaka bagi rakyat jelata. Gerakannya itu bukan perjuangan yang didukung rakyat seperti yang dimaksudkan, melainkan pemberontakan yang melibatkan orang asing, kaum sesat dan juga pasukan pengkhianat."
Tin Han menghela napas dan menundukkan mukanya. "Aku tahu..... ah, betapa seringnya aku mengingatkan mereka, akan tetapi sia-sia belaka, bahkan aku dimaki-maki. Akan tetapi aku menyesal mengapa engkau ikut pula menyerbu keluargaku, Cin-moi, padahal mereka menganggapmu sebagai seorang keluargaku, Cin-moi, padahal mereka menganggapmu sebagai seorang sahabat. Terutama sekali Siong-ko......"
"Kenapa dengan Saudara Cia Tin Siong?" tanya Lee Cin tertarik.
"Tidak tahukah engkau bahwa kakakku itu tergila-gila kepadamu? Ia amat mencintamu, Cin-moi, dan tentu hatinya hancur melihat engkau ikut pula memusuhi keluarga kami."
DewiKZ 516
"Akan tetapi, aku tidak mencintanya, Han-ko," kata Lee Cin terus terang. Entah mengapa, ia tidak pernah tertarik kepada Tin Siong, walaupun pemuda itu pernah menolongnya dan pemuda itu tampan pandai dan lemah-lembut pula sikapnya. Dia lemah-lembut seperti Tin Han, akan tetapi entah apanya, Lee Cin melihat perbedaan yang besar sekali antara kedua saudara itu.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Kembali Tin Han menghela napas panjang. "Aku tahu bahwa engkau tidak mencintanya, akan tetapi dia mencintamu setengah mati. Aku tahu bahwa kami tidak berharga bagimu, hanya keluarga pemberontak yang nekat. Ahh, aku tahu bahwa perasaanku kepadamu juga sia-sia belaka, Cin-moi. Aku juga seorang yang tak tahu diri, seperti kakakku."
Lee Cin terbelalak memandang pemuda itu. "Eh, apa maksudmu, Han-ko?
"Maksudku sudah jelas. Aku memang seorang yang bodoh. Sedangkan kakakku saja yang pintar dan gagah perkasa tidak menarik hatimu, apalagi aku yang bodoh dan lemah. Biarlah aku berterus terang, Cin-moi. Aku yang bodoh dan tidak tahu diri ini telah berani jatuh hati kepadamu. Nah, sekarang sudah lega hatiku. Sudah kunyatakan perasaan cintaku kepadamu. Walaupun aku tahu bahwa engkau menolak, setidaknya perasaan itu tidak menyiksaku lagi, kutahan-tahan. Ha-ha-ha!" Pemuda itu tertawa dan kegembiraannya seperti muncul kembali. "Aku seperti Si Pungguk merindukan bulan. Kau tahu pungguk Cin-moi? Pungguk itu semacam burung hantu, buruk sekali rupanya, dan hidupnya di waktu malam. Dia terpesona dan tergila-gila kepada bulan, ingin terbang tinggi mencapai bulan, namun tak pernah berhasil, bahkan sayapnya patah-patah karena terbang terlalu lama dan terlalu tinggi. Tempatnya adalah di bawah, bersama burung hantu lain. Ha-ha, sekarang aku melihat betapa aku telah melamunkan hal yang terlalu jauh untuk kucapai. Aku, si pandir ini, anggauta keluarga pemberontak sesat yang tidak mampu berbuat apa-apa berani jatuh cinta kepada seorang pendekar wanita perkasa dan cantik jelita sepertimu."
DewiKZ 517
"Cukup, cukup, Han-ko!" Lee Cin cepat memotong. "Sudah terlalu tinggi engkau memuji dan menyanjungku,
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
terlalu rendah engkau menganggap dirimu sendiri. Aku tidak ingin mendengar lagi."
"Maafkan aku, Cin-moi." Tin Han lalu duduk di atas akar pohon yang menonjol di permukaan tanah. Melihat itu, Lee Cin juga duduk di atas sebuah batu, berhadapan dengan pemuda itu. Jantungnya berdebar keras. Pemuda ini terang-terangan menyatakan cinta kepadanya! "Benar kata Kakakku Tin Siong, bahwa engkau seorang gadis yang luar biasa. Berilmu tinggi akan tetapi tidak sombong. Kakak Tin Siong bilang bahwa engkaulah satu-satunya gadis yang ia inginkan menjadi isterinya, yang cocok dengannya. Nenek juga menyetujui kalau engkau menjadi isteri Siong-ko. Akan tetapi engkau tidak membalas cintanya. Apalagi orang seperti aku....."
"Han-ko, jangan engkau terlalu merendahkan diri. Terus terang saja, aku lebih menghargai engkau daripada kakakmu itu."
Tin Han menengok dengan gerakan kaget, memandang kepada wajah gadis itu dengan mata terbelalak dan alis terangkat. Lucu sekali wajahnya kalau begitu. "Aih, benarkah, Cin-moi? Mengapa engkau lebih menghargai aku yang bodoh daripada Kakak Siong yang pintar?"
"Engkau tidak bodoh, Han-ko. Soal engkau tidak suka belajar silat, itu adalah hakmu untuk menentukan. Akan tetapi engkau pandai dan berpikiran luas. Kakakmu itu patuh kepada nenekmu dan ikut pula terlibat dalam pemberontakan. Akan tetapi engkau lain. Engkau seorang patriot sejati yang memikirkan keadaan rakyat jelata. Orang seperti engkau inilah yang kelak akan berhasil memimpin rakyat mengusir penjajah. Aku kagum kepadamu, Han-ko!"
DewiKZ 518
"Aduh, dengar jantungku berdetak hampir pecah rasanya karena girang, Cin-moi! Kagum itu adalah sebuah di antara
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
kuncup-kuncup cinta! Siapa tahu kelak engkau pun akan ada rasa cinta kepadaku. Aih, betapa bahagianya aku memperoleh sinar harapan darimu, Cin-moi!"
Wajah Lee Cin berubah kemerahan. "Engkau seorang pemuda yang amat baik dan rendah hati, Han-ko. Kalau saja engkau pandai silat seperti kakakmu, ahhh….. sudahlah, tidak ada gunanya mengharapkan yang bukan-bukan......"
"Tin Han.....!!" Pada saat itu terdengar suara panggilan yang nyaring, suara teriakan dari jauh. Tin Han terkejut.
"Ah, itu suara panggilan nenekku! Aku harus pergi menemuinya, Cin-moi. Selamat berpisah, semoga kita akan cepat bertemu kembali." Tin Han tergesa-gesa meninggalkan gadis itu berlari ke arah suara yang datangnya dari dalam hutan di lereng bukit itu. Pemuda itu berlari mendaki lereng bukit, diikuti pandang mata haru oleh Lee Cin.
Tiba-tiba timbul keinginan hati Lee Cin untuk mengetahui di mana keluarga itu bersembunyi. Mereka adalah orang-orang buruan pemerintah, akan tetapi ia tidak berniat untuk membiarkan mereka ditangkapi. Bahkan ia merasa tidak enak kepada keluarga itu. Ia ingin sekali melihat mereka dan andaikata bertemu, ia akan minta maaf kepada mereka dan sekalian menyadarkan mereka bahwa apa yang mereka lakukan itu adalah tidak benar. Maka ia lalu meloncat dan mengikuti Tin Han dari jauh, membayangi pemuda itu yang mendaki lereng bukit.
DewiKZ 519
"Tin Haaaan......!" Kembali terdengar suara panggilan itu. Suaranya lengking tinggi dan bergema di lembah bawah, tanda bahwa suara itu diteriakkan dengan pengerahan tenaga khi-kang yang kuat. Pemuda itu kelihatan tergesa-gesa naik ke lereng itu, akan tetapi karena
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
jalan itu sukar, mendaki dan berbatu-batu, dia tidak dapat bergerak cepat. Lee Cin terus membayanginya dari jarak yang cukup jauh sehingga tidak akan tampak dari atas. Ia menyelip di balik batu-batu dan pohon-pohon.
Akhirnya Tin Han tiba di sebuah lereng dan tampaklah Nenek Cia yang berdiri sambil memegangi tongkat naga. Nenek itu tampak gagah berdiri di tempat tinggi itu seorang diri, memandang kepada cucunya yang dengan susah payah mendaki tempat itu dan menghampiri Nenek Cia.
"Nek……!" Tin Han menghampiri dan memanggil neneknya.
"Ke mana saja engkau selama ini? Tidak tahukah apa yang telah terjadi dengan kami?"
Lee Cin cepat menyelinap di balik batu besar sambil mengintai dan mendengarkan percakapan mereka.
"Aku telah mengetahui semuanya, Nek. Aku memang sedang pergi ketika penyerbuan itu terjadi. Aku mendengar dari orang-orang bahwa keluarga kita diserbu pasukan. Aku lalu bersembunyi dan tidak tahu ke mana kalian pergi. Kupikir engkau dan semua orang pergi ke pantai timur untuk mengungsi ke tempat Phoa-ciangkun, maka aku sedang bermaksud mengejar ke sana."
"Engkau sudah datang, itu baik sekali. Tidak semestinya engkau berkeliaran seorang diri. Mereka tentu akan menangkapmu kalau melihat engkau. Engkau tadi seorang diri ataukah ada temanmu?"
"Aku..... aku seorang diri saja, Nek."
DewiKZ 520
Lee Cin sedang mengintai dan mendengarkan itu semua. Ah, mereka akan mengungsi ke tempat markas pasukan di mana Phoa-ciangkun berada, pikirnya. Tiba-tiba ia mendengar suara di belakangnya dan ketika ia membalik, ia
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
melihat dirinya sudah dikepung orang banyak. Cia Kun, Nyonya Cia Kun, Cia Hok, Cia Bhok dan Cia Tin Siong sudah berada di belakangnya dengan senjata di tangan.
Tentu saja Lee Cin terkejut bukan main. Kiranya mereka sengaja menunggunya di situ. Pantas ia melihat Nenek Cia hanya seorang diri di sana. Agaknya memang mereka sudah melihatnya dari atas tadi dan sengaja memancingnya ke sini. Ia berpendapat bahwa bicara tidak ada gunanya lagi. Ia tidak gentar, akan tetapi mencoba juga untuk menyadarkan mereka itu dan segera mengangkat kedua tangannya memberi hormat kepada empat orang tua itu, sedangkan ia memandang kepada Tin Siong dengan sinar mata tajam.
"Para paman dan bibi, kebetulan sekali aku dapat bertemu dengan kalian di sini, memberi kesempatan kepadaku untuk bicara langsung kepada kalian."
"Hemm, Nona Souw. Engkau telah mengkhianati kami, membantu pasukan penjajah menyerbu tempat tinggal kami! Mau bicara apa lagi?" bentak Cia Kun sambil melintangkan pedangnya di depan dada.
"Justeru aku ingin bicara dengan kalian mengenai usaha pemberontakan yang kalian lakukan itu, Paman Cia. Siong-ciangkun sendiri memaklumi bahwa kalian adalah pendekar-pendekar patriot, bukan orang jahat. Akan tetapi sayangnya kalian mengadakan perjuangan sekutu dengan orang-orang Jepang dan orang-orang sesat di dunia kang-ouw. Karena itulah maka tempat tinggal kalian diserbu. Akan tetapi kalau kalian mengaku salah dan selanjutnya tidak akan mengulangi lagi perbuatan itu, Song-ciangkun tentu akan memaafkan kalian dan tidak akan menuntut." DewiKZ 521
"Kami tidak akan menyerah kepada segala panglima antek Mancu!" tiba-tiba terdengar suara Nenek Cia dan nenek itu sudah melompat ke depan Lee Cin dengan
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
tongkat kepala naga di tangan kanan. "Engkau pengkhianat, membalas kebaikan kami dengan racun. Menyerahlah atau kami akan menggunakan kekerasan!"
"Nek, aku memperingatkan kalian dengan niat baik, bukan untuk memusuhi kalian. Kalau kalian mulai saat ini memutuskan hubungan dengan pengkhianat Phoa-ciangkun dan tidak lagi berhubungan dengan orang-orang Jepang dan golongan sesat, kalian tidak akan dikejar-kejar lagi dan boleh hidup dengan aman di antara rakyat."
"Nek, ia berkata benar!" Tiba-tiba Tin Han berkata benar dengan suara lantang, "Ayah, Ibu, dan paman-paman, insaflah bahwa kalian telah tersesat jalan. Sudah berulang kali aku memperingatkan bahwa bersekutu dengan para penjahat dan orang Jepang tidak akan mendatangkan kebaikan bagi kita. Phoa-ciangkun telah bersekutu dengan orang-orang Pek-lian-pai dan Pat-kwa-pai, dan dibantu oleh tokoh-tokoh sesat dunia kang-ouw. Harap kalian suka menyudahi dan mengundurkan diri jangan sampai diperalat oleh kaum pemberontak."
"Tin Han, tutup mulutmu! Kau anak kemarin sore, tahu apa urusan perjuangan?" bentak Nenek Cia.
"Nenek, kita yang bersalah. Nona Souw Lee Cin ini hanya memperingatkan kita, ia datang dengan niat baik, maka lepaskan ia, biarkan ia pergi," kembali Tin Han berseru kepada neneknya.
"Tidak, ia harus ditangkap untuk dijadikan sandera!" bentak Nenek Cia sambil menggerakkan tongkatnya untuk menyerang Lee Cin. Akan tetapi Tin Han melompat ke depan Lee Cin menghalangi neneknya.
DewiKZ 522
"Tin Han, minggir kau!" bentak Nenek Cia.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Tidak, Nenek tidak boleh menyerangnya!" Tin Han menantang.
"Anak bodoh!" Nenek Cia menggerakkan kakinya menendang dan Tin Han terlempar dan jatuh terbanting.
Nenek Cia lalu menodongkan senjatanya kepada Lee Cin, akan tetapi Lee Cin sudah melompat ke dekat Tin Han dan membantu pemuda itu untuk bangkit kembali.
"Engkau tidak apa-apa?" tanyanya khawatir. Akan tetapi ternyata pemuda yang berani itu tidak menderita cidera.
Nenek Cia sudah melompat ke dekat dua orang muda itu dan menodongkan tongkatnya. "Engkau hendak melawan?" bentaknya kepada Lee Cin.
Lee Cin tidak mencabut pedangnya dan berkata dengan tenang, "Aku tidak akan melawan," katanya sambil memandang kepada mereka semua. Ia tahu bahwa kalau melawan pun ia tidak akan mampu menandingi nenek yang dibantu oleh tiga orang puteranya, seorang mantunya dan seorang cucunya, walaupun ia sangsi apakah Tin Siong juga akan mengeroyoknya kalau terjadi perkelahian.
"Menyerahlah saja, Nona Souw, agar Nenek tidak perlu menggunakan kekerasan," kata Tin Siong sambil mengerutkan alisnya melihat betapa gadis itu menolong adiknya dengan sikap demikian akrab.
"Nek, apa yang akan kau lakukan denganku?" bertanya Lee Cin.
DewiKZ 523
Nenek itu tidak menjawab, melainkan mendekati Lee Cin dan merampas pedang yang tergantung di pinggang gadis itu. Lee Cin tidak berusaha mencegah karena ia maklum bahwa menggunakan kekerasan tidak akan ada gunanya baginya. Ia masih yakin bahwa keluarga Cia tidak akan mengganggunya. Andaikata ia melihat Siangkoan Tek
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
atau Ouw Kwan Lok di situ, tentu ia akan melawan mati-matian karena ia tidak percaya kepada kedua orang pemuda itu. Akan tetapi ia percaya bahwa keluarga Cia bukan keluarga orang jahat, maka ia pun menyerah dan tidak melawan. Bahkan ia ingin melihat sampai di mana dan bagaimana Tin Han akan membelanya.
"Kami akan menawanmu sampai Panglima Song Thian Lee itu muncul untuk menolongmu," kata Nenek Cia.
"Nenek, cara yang kau gunakan untuk memancing Panglima Song ini sungguh memalukan dan tidak gagah. Cepat bebaskan Cin-moi agar kita tidak dicela seluruh orang gagah di bawah langit."
"Tutup mulutmu atau aku akan menghajarmu lebih keras lagi," kata Nenek Cia dan Tin Han hanya mengerutkan alisnya. Lee Cin lalu dipaksa naik ke puncak bukit itu di bawah todongan pedang di tangan Cia Hok dan Cia Bhok. Lee Cin melangkah dengan sikap tenang.
Ternyata di puncak bukit itu terdapat sebuah pondok yang cukup besar. Puncak itu dikelilingi jurang yang amat curam dan jalan satu-satunya menuju ke atas hanya jalan yang mereka lalui, jalan setapak yang berbahaya karena di kanan kirinya merupakan jurang menganga yang tidak terukur dalamnya. Mudah menjaga tempat seperti itu dari serbuan orang luar karena orang itu pasti akan melalui jalan ini juga. Diam-diam Lee Cin merasa khawatir juga. Tempat yang amat baik untuk bersembunyi dan mempertahankan diri dari serangan dari luar. Tidak akan ada orang dari luar dapat datang menolongnya tanpa diketahui mereka.
DewiKZ 524
Setelah tiba di tempat itu, Lee Cin dimasukkan ke dalam sebuah kamar seperti gudang yang tidak ada jendela. Pintunya juga amat kuat dan setelah ia didorong masuk,
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
pintu itu dikunci dari luar. Biarpun tidak dapat melihat keadaan di luar kamar, ia tahu bahwa tempat itu pasti dijaga ketat. Dan melihat keadaan tempat itu ketika ia tiba tadi, ia tidak melihat adanya anak buah seorang pun. Agaknya yang berada di situ hanya seluruh, keluarga Cia saja.
DewiKZ 525
Di dalam kamar itu Lee Cin duduk di lantai dan berpikir bagaimana caranya untuk dapat meloloskan diri dari tangan keluarga Cia. Menggunakan kekerasan seorang diri agaknya tidak mungkin. Ia tidak akan mampu menandingi pengeroyokan mereka semua. Dan andaikata ia mampu keluar dari tempat ini pun, satu-satunya jalan untuk melarikan diri adalah jalan setapak tadi dan tentu mereka akan menjaga jalan itu. Mengharapkan bantuan orang lain? Siapa yang akan mampu menolongnya dalam keadaan ini? Thian Lee tentu sedang sibuk mengatur pasukan untuk menggempur kekuatan pasukan Phoa-ciangkun di sepanjang pantai. Tidak bisa mengharapkan bantuan darinya. Lalu siapa? Tin Han? Pemuda itu akan senang sekali menolong dan membebaskannya dari situ, akan tetapi apa daya pemuda lemah itu? Tidak, ia tidak akan bisa mendapatkan pertolongan dari Tin Han. Lalu ia teringat akan seseorang dan jantungnya berdebar. Si Kedok Hitam! Biasanya orang ini muncul dalam keadaan tidak tersangka-sangka dan menolongnya. Apakah sekali ini Si Kedok Hitam akan muncul menolongnya? Ah, rasanya tidak mungkin. Kalau Si Kedok Hitam datang menolongnya, tentu dia akan datang melalui jalan setapak itu dan sebelum tiba di rumah itu sudah akan ketahuan dan dikeroyok. Rasanya, biar Si Kedok Hitam juga tidak akan mampu menandingi pengeroyokan mereka. Agaknya, tidak dapat diharapkan bantuan dari luar. Akan tetapi Lee Cin tidak merasa gentar. Ia akan mempergunakan setiap kesempatan untuk meloloskan diri dan ia tidak takut karena yakin
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
bahwa keluarga Cia bukan penjahat yang akan membunuhnya begitu saja. Ia hanya dipergunakan sebagai sandera, tentu untuk menyelamatkan mereka sendiri. Mereka agaknya takut kepada Song Thian Lee, dan dengan menyanderanya mereka menganggap diri kuat dan dapat mempergunakan ia sebagai perisai penyelamatan diri.
Malam itu pintu dibuka dan benar saja seperti dugaannya, seluruh keluarga itu kecuali Tin Han berada di luar pintu! Sama sekali tidak ada kesempatan baginya untuk meloloskan diri. Mereka memasukkan makanan dan minuman untuknya, lalu daun pintu ditutup lagi dari luar dan dikunci.
Lee Cin menerima makanan dan minuman itu, lalu makan minum tanpa curiga. Ia sudah tertawan, untuk apa orang meracuninya lagi? Pula, tubuhnya kebal terhadap racun sehingga dengan berani ia makan makanan itu sampai kenyang. Ia harus menjaga agar tubuhnya tetap sehat dan kuat, agar sewaktu-waktu kalau saatnya tiba, tubuhnya kuat menghadapi segala macam tantangan.
DewiKZ 526
Malam itu Lee Cin tidur di atas lantai yang bertilamkan kasur. Ia tidur nyenyak tanpa mimpi karena hatinya tidak mengkhawatirkan sesuatu. Pada keesokan harinya, pagi-pagi sekali ia mendengar suara kunci pintu dibuka orang dari luar. Apakah sepagi itu orang sudah mengantar makanan atau minuman untuknya? Ia mendekati daun pintu. Kalau yang membuka pintu itu hanya seorang saja, ia akan menerjangnya dan mencoba untuk melarikan diri. Daun pintu terbuka dan sebatang pedang menodongnya. Pedang itu bukan lain adalah Ang-coa-kiam, pedangnya! Dan ia terbelalak ketika melihat bahwa pedang itu dipegang oleh seorang yang berkedok hitam!
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Terimalah pedangmu ini dan mari cepat ikut aku!" bisik Si Kedok Hitam. Lee Cin merasa gembira sekali. Tak tersangka-sangka Si Kedok Hitam kembali menolongnya.
"Terima kasih, aku girang sekali melihat engkau muncul," kata Lee Cin lirih sambil menerima pedang itu, kemudian mengikuti Si Kedok Hitam keluar dari kamar tahanan. Tak jauh dari situ ia melihat Cia Hok dan Cia Bhok rebah di atas lantai, agaknya tertotok oleh Si Kedok Hitam! Si Kedok Hitam memberi isyarat dan Lee Cin cepat mengikutinya menuju keluar rumah melalui pintu dapur.
Setelah tiba di jalan setapak, terdengar bentakan-bentakan di belakang mereka dan beberapa batang pisau menyambar ke arah mereka. Si Kedok Hitam dan Lee Cin menggerakkan pedang dan pisau-pisau itu runtuh.
"Berhenti! Hendak lari ke mana kalian!" bentakan itu semakin dekat dan muncullah Nenek Cia, ketiga puteranya, mantunya dan juga Tin Siong. Mereka mengejar sambil membawa senjata masing-masing.
"Nona, cepat kau lari dari sini, biar aku yang menahan mereka!" kata Si Kedok Hitam.
Akan tetapi Lee Cin tidak mau. "Tidak, aku akan membantumu melawan mereka."
"Nona, jangan membantah. Pergilah! Jangan khawatirkan aku, akan tetapi kalau engkau tidak lari sekarang, akan terlambat. Demi Tuhan, larilah, Lee Cin. Aku perintahkan ini, larilah."
Lee Cin terkejut. Ada nada yang amat kuat dan tegas dalam suara itu. "Akan tetapi kau....."
DewiKZ 527
"Jangan khawatirkan aku. Larilah cepat, aku cinta padamu!" kata pula Si Kedok Hitam dan yang terakhir itu
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
diucapkan lirih, lalu dia membalikkan tubuh dan menerjang para pengeroyok.
Sebetulnya Lee Cin merasa tidak tega untuk meninggalkan penolongnya, akan tetapi ia teringat akan perintah itu dan jantungnya masih berdebar tegang dan aneh mendengar pengakuan Si Kedok Hitam tadi, dan ia pun menaati perintah itu lalu melarikan diri dengan cepat melalui jalan setapak itu ke bawah. Setelah melewati jalan setapak dan tiba di lereng yang penuh hutan, ia berhenti lalu memandang ke atas. Dilihatnya betapa Si Kedok Hitam masih berkelahi melawan pengeroyokan keluarga Cia! Ia lalu bersembunyi di batik semak dan mengintai ke atas. Perkelahian itu tampak jelas dari situ.
Begitu Si Kedok Hitam membalikkan tubuh dan menyerang para pengeroyok untuk menahan mereka agar tidak mengejar Lee Cin, keluarga itu lalu mengeroyok! Nenek Cia memutar tongkat kepala naganya, ketiga puteranya dan mantunya menggerakkan pedang, sedangkan Cia Tin Siong juga mengeroyok dengan suling peraknya! Si Kedok Hitam memutar pedangnya dengan cepat dan menyambut serangan mereka dengan cepat dan kuat. Pedangnya membikin tangan mereka yang memegang pedang tergetar ketika senjata mereka bertemu dengan senjatanya. Akan tetapi kepungan itu ketat sekali dan para pengeroyoknya rata-rata memiliki ilmu silat yang tinggi. Terutama nenek itu membuat Si Kedok Hitam beberapa kali hampir terkena ujung tongkat kepala naga yang berat itu. Namun dia masih terus melawan dengan nekat. Pedangnya menyambar-nyambar dengan cepatnya dan membentuk segulung sinar pedang yang berkilauan tertimpa sinar matahari pagi.
DewiKZ 528
Sebagai seorang yang berilmu tinggi, Nenek Cia mendapat kenyataan yang mengejutkan. Si Kedok Hitam
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
itu memiliki dasar ilmu pedang yang sama dengan ilmu pedang keluarga Cia, dan yang lebih mengherankan lagi, Si Kedok Hitam itu tidak pernah membalas dengan serangan mematikan. Dia lebih banyak mengelak dan menangkis saja, jarang melakukan serangan dan kalau hal ini dilakukan pun hanya dalam rangka bertahan, untuk menghalau serangan lawan.
Kenyataan ini membuat Nenek Cia ragu untuk mengirim serangan mautnya, dan ia ingin sekali mengetahui siapa adanya Si Kedok Hitam yang sudah berulang kali menolong Lee Cin, bahkan pernah pula membebaskan Panglima Song dari tawanan mereka. Dengan cepat tongkat naganya menyambar ketika Si Kedok Hitam sedang terdesak oleh empat pedang dan sebuah suling perak, akan tetapi tongkat itu tidak menyerang, melainkan dengan cepat sekali menyambar ke arah muka dan mengenai kedok hitam yang menutupi muka itu.
" Brettt.....!!" Kedok itu pecah dan terbuka sehingga mereka semua dapat melihat muka Si Kedok Hitam. Tiba-tiba semua serangan terhenti karena keluarga itu menjadi terkejut sekali melihat siapa orangnya yang tadi memakai kedok. Orang itu bukan lain adalah Cia Tin Han! Bahkan Lee Cin yang menonton semua itu dari balik semak-semak, dapat mengenal Tin Han dan hampir saja gadis ini berseru saking heran dan khawatirnya. Ternyata Si Kedok Hitam adalah Cia Tin Han!
DewiKZ 529
"Tin Han, kiranya engkau yang menjadi Kedok Hitam? Keparat kau, Tin Han. Engkau mengkhianati kami!" bentak Tin Siong dengan marah. Juga Nenek Cia marah sekali. Tin Han adalah cucu kesayangannya. Siapa kira bahwa pemuda itu kini malah menentang keluarga mereka dan menjadi pengkhianat!
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Tin Han, kenapa engkau lakukan ini?" Ibunya, Nyonya Cia Kun juga berseru dengan nada sedih.
"Coba kulihat, apakah engkau berani melawanku!" kata Nenek Cia dan ia sudah menyerang dengan hebat sekali. Tongkatnya menyambar dengan dahsyat menyerang kepala Tin Han, mendatangkan angin bersuitan. Tin Han mengelak dan ketika tongkat menyambar lagi, dia menangkis dengan pedangnya.
"Trangg......!!" Pedang Tin Han terpental lepas dari tangannya dan ketika Nenek Cia menendang, dia yang tidak melawan dengan sungguh-sungguh itu melompat ke belakang, lupa bahwa di belakangnya adalah jurang yang menganga lebar. Tanpa dapat dicegah lagi, tubuh pemuda itu melayang turun ke bawah jurang yang tidak dapat diukur saking dalamnya.
"Tin Han……!" Terdengar semua mulut keluarga Cia berseru kaget.
"Han-ko......!!" Lee Cin juga berseru, akan tetapi seruannya tertelan oleh seruan mereka. Gadis ini memandang ke bawah jurang dan tak terasa lagi air matanya bercucuran. Tak mungkin manusia dapat hidup lagi setelah jatuh ke dalam jurang yang demikian dalam, yang tidak tampak dasarnya tertutup kabut. Lee Cin menangis terisak-isak, mengguguk seperti anak kecil sambil menutupi muka dengan kedua tangannya.
DewiKZ 530
"Han-ko...... hu-hu-huuuh, Han-ko......!" Ia merintih dan menangis. Hatinya seperti ditusuk-tusuk rasanya, apalagi kalau ia teringat akan ucapan Si Kedok Hitam yang terakhir tadi. "Larilah cepat, aku cinta padamu!" demikian ucapan Si Kedok Hitam dan sekarang ia melihat pemuda itu terjatuh ke dalam jurang tanpa ia dapat berdaya untuk menolongnya sama sekali! Si Kedok Hitam telah tewas! Cia
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Tin Han telah mati. Padahal, baik Cia Tin Han, maupun Si Kedok Hitam, telah menyatakan cintanya kepadanya, dan baru sekarang Lee Cin tahu bahwa ia pun mencinta mereka berdua! Ia mencinta Tin Han dan kagum kepada Si Kedok Hitam, berarti ia juga mencinta Si Kedok Hitam yang bukan lain juga Tin Han. Dan sekarang keduanya telah tiada.
"Han-ko…..." Ia melanjutkan larinya, terhuyung-huyung menuruni lereng sambil menangis. Ia masih dapat mendengar teriakan-teriakan di atas, mereka tidak lagi mengejarnya melainkan berseru-seru memanggil nama Tin Han dan ia mendengar ibu pemuda itu menangis. Mendengar pula suara Nenek Cia yang tegas.
"Dia sudah mengkhianati kita. Agaknya begitu lebih baik., Sudah, tidak perlu ditangisi lagi. Kita harus cepat melarikan diri dari tempat ini sebelum diserbu musuh!"
Lee Cin terus melarikan diri memasuki kota Hui-cu. Ia yakin bahwa keluarga Cia tidak akan berani kembali ke Hui-cu. ia menyewa sebuah kamar di rumah penginapan dan sehari itu ia berdiam di kamarnya saja sambil menangisi Tin Han sepuasnya. Ia lupa makan dan lupa segalanya. Yang teringat hanya bayangan Si Kedok Hitam clan bayangan Tin Han muncul silih berganti.
DewiKZ 531
Untuk kedua kalinya dalam hidupnya ia kehilangan orang yang ia cinta. Pertama, ia kehilangan Song Thian Lee yang ternyata tidak membalas cintanya karena pemuda itu sudah mencinta Tan Cin Lan. Biarpun rasanya berat, namun ia masih terhibur membayangkan betapa Thian Lee yang dicintanya hidup berbahagia dengan isterinya. Akan tetapi yang kedua kali ini jauh lebih berat. Orang yang dikasihinya, tewas dalam menolong dan membelanya. Tewas dalam keadaan begitu menyedihkan, terjatuh ke dalam jurang yang tidak tampak dasarnya.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Han-ko….. aku cinta padamu, Hanko Ia mengeluh dan makin dikenang, makin banyak air matanya membanjir membasahi bantalnya. Ia merasa begitu kehilangan, merasa ditinggalkan, merasa begitu kesepian, seolah hidup ini tidak ada artinya lagi baginya. Ia merasa sebagai seorang yang paling sengsara, betapa pahit getirnya hidup ini baginya, betapa menyakitkan.
Duka pasti timbul kalau pikiran kita mengenang hal-hal yang telah lalu, hal yang merugikan dirinya maupun batin. Pikiran suka mengunyah hal-hal itu sehingga mengaduk hati dan mendatangkan perasaan iba hati terhadap diri sendiri. Perasaan iba diri inilah yang menimbulkan duka dan tangis, hati meratap-ratap merasa diri sebagai orang yang patut dikasihani, sebag seorang yang paling sengsara hidup di dunia ini. Dan duka ini kadang membuat orang tidak mau menerima kenyataan, bahkan mencela akan kekuasaan Yang Mengatur mati dan hidup manusia. Kalau orang tidak dapat menerima apa adanya, menghadapi apa saja yang datang dan menimpa dirinya sebagai suatu kenyataan yang tidak dapat diubah lagi, maka orang itu tentu akan berulang-ulang mengalami duka yang mendalam dan menganggap bahwa hidup adalah duka!
DewiKZ 532
Akan tetapi seorang yang beriman kepada Tuhan Yang Maha Kuasa, yang mengerti sepenuhnya bahwa segala sesuatu berada dalam kekuasaanNya, bahwa tidak ada hal dapat terjadi di luar kehendak-Nya, orang yang menyerah terhadap kekuasaanNya, maka orang demikian itu tidak akan hanyut oleh duka. Duka hanya akan menyentuhnya sedikit dan sejenak seperti awan yang lalu kemudian hilang lagi. Ia akan menyerah dengan penuh keikhlasan akan kekuasaan Tuhan, tunduk kepada apa yang dihendaki Tuhan betapa berat pun hal itu akan menyentuh perasaannya, dehgan penuh keyakinan bahwa segala yang
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
ditentukan oleh Tuhan adalah baik dan benar. Dan kalaupun dia tenggelam ke dalam duka, hatinya akan meraih dan memegang Tangan Tuhan yang selalu diulurkan untuk menghibur dan membebaskannya dari duka Tuhan Maha Kasih dan segala kehendak-Nya pun terjadilah!
Demikian pula dengan Lee Gin. Gadis ini merasa hatinya hancur lebur dan perih seperti ditusuk-tusuk pedang berkarat, membuat ia tenggelam ke dalam duka dan cucuran air mata, membuatnya meratap menangis menyesali nasibnya, membuat ia sehari semalam tidak makan dan tidak tidur. Akan tetapi ia lalu teringat akan semua nasihat ayahnya kepadanya akan sikap seorang gagah terha dap malapetaka yang menimpanya. Ia tidak harus kehilangan kepribadiannya dan menyerahkan segalanya kepada Tuhan Yang Maha Kuasa. Akhirnya, pada keesokan paginya, ia dapat melepaskan semua beban yang berat menekan hatinya itu, menyerah kepada Tuhan dan ia pun dapat tertidur pula. Dan begitu ia tertidur, begitu pikiran dan ingatannya tidak bekerja, tidak dapat mengingat-ingat hal yang terjadi, namun kedukaan lenyap bagaikan awan ditiup angin.
Lahir mati adalah peristiwa yang ditentukan oleh Tuhan, tak seorang pun manusia dapat mengubahnya. Kehilangan pun pasti akan menyusul kemilikan. Yang memiliki akan kehilangan, akan berpisah dari yang dimiliki.
DewiKZ 533
Kalau sudah yakin akan hal ini, maka manusia hanya dapat menyerah kepada Tuhan apa yang berada di luar jangkauan kekuasaan-Nya. Sam pai di sini kisah Si Dewi Ular ini selesai. Pembaca yang ingin bertemu kembali dengan Lee Cin dan tokoh-tokoh lain dalam kisah ini, dipersilakan membaca serial "RAJAWALI HITAM" yang
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
DewiKZ 534
merupakan sambungan dari kisah Si Dewi Ular. Semoga kisah ini ada manfaatnya bagi para pembaca.
TAMAT
Tag:cersil cersil indo cersil mandarin full cerita silat mandarin online cersil langka cersil mandarin lepas cerita silat pendekar matahari kumpulan cerita silat jawa cersil mandarin beruang salju. cerita silat pendekar mataharicerita silat indonesia cerita silat kho ping hoo cerita silat mandarin online cerita silat mandarin full cerita silat jawa kumpulan cerita silat cerita silat jawa pdf cerita silat indonesia gratis cerita silat jadul indonesia cerita silat indonesia pendekar rajawali sakti cersil indonesia pendekar mabuk cersil langka cersil dewa arak cerita silat jaman dulu cersil jawa download cerita silat mandarin full cerita silat mandarin online cersil mandarin lepas cerita silat mandarin pendekar matahari cerita silat jawa pdf cersil indonesia pdf cersil mandarin beruang salju kumpulan cerita silat pdf
kumpulan cerita silat cersil online
Share:
cersil...
Comments
0 Comments

Arsip Cersil

Best Cersil

Pecinta Cersil