Donasi

Buat yang punya rejeki berlebih dan merasa terhibur dengan Situs Cerita Silat Cersil Terbaik ini bisa mendonasikan bantuannya ke
No. Rekening BPD Jateng No. 2004084554
demi keberlangsungan dan keberadaan Blog Cersil Cerita Silat yang sama-sama kita cintai ini. Kritik dan Saran hub No HP.083837358519. Atas Bantuannya disampaikan Terimakasih.

Kamis, 26 April 2018

Cersil Sejarah : Kemelut Kerajaan Manchu China Lanjutan Dewi Sungai Kuning

-----

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Seri Huang Ho Sianli 2
Kemelut Kerajaan Mancu
Karya : Asmaraman S Kho Ping Hoo
Sumber djvu :
Tiraikasih http://kangzusi.com
Convert & Edit by : Dewi KZ
Ebook oleh : Dewi KZ
TIRAIKASIH WEBSITE
http://kangzusi.com/ http://dewi-kz.info/
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
KEMELUT KERAJAAN MANCU
Karya:
ASMARAMAN S. KHO PING HOO
Pelukis: YOHANES H.
Percetakan & Penerbit CV GEMA Mertokusuman 761 RT 02
RW VII Telp./Faks. (0271) 635801 Surakarta 57122
Hak cipta dari cerita ini sepenuhnya berada pada CV
GEMA di bawah lindungan Undang - Undang. Dilarang
mengutip / menyalin / menggubah tanpa ijin tertulis dari CV
GEMA.
CV. GEMA
Jilid I
MATAHARI memuntahkan panasnya melalui cahayanya
yang membakar seluruh permukaan bumi. Hari menjadi amat
cerah, langit bersih seolah semua awan ketakutan menyingkir
dari cahaya matahari. Namun Sungai Kuning (Huang-ho)
seolah tidak merasakan teriknya matahari. Di sepanjang
sungai dan kedua tepinya yang dihias pohon-pohon dan
tumbuh-tumbuhan subur itu tampak hijau dan sejuk. Seolah
sungai yang lebar itu menyerap semua hawa panas yang
mengandung kehidupan itu. Burung-burung dan binatang
lain mencari perlindungan di bawah pohon-pohon dan di
antara daun-daun yang sejuk. Bahkan para nelayan yang
biasanya menjala atau memancing ikan, pada siang hari yang
terik itu pergi mengaso, tidak kuat menahan panasnya sinar
matahari. Huang-ho (Sungai Kuning) tampak sepi pada siang
hari itu.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Tiba-tiba dari jauh tampak meluncur seorang, wanita di
atas air sungai. Kalau ada yang melihatnya pada saat itu,
tentu dia akan tercengang keheranan, mungkin lari ketakutan
dan mengira bahwa wanita itu adalah setan yang dapat
berjalan di atas air! Akan tetapi kalau dilihat dari jarak agak
dekat, tentu dia akan mengira bahwa yang meluncur di atas
aif itu adalah seorang Dewi atau Bidadari.
Ia memang cantik jelita. Rambutnya yang digelung ke atas
itu agak terurai karena hembusan angin sehingga beberapa
gumpalan anak rambut bermain-main di dahi dan pipinya.
Rambut yang hitam lembut panjang dan agak berikal.
Mukanya berbentuk bulat telur, sepasang matanya mencorong
tajam dan memiliki daya tarik yang memikat, hidungnya
mancung dan mulutnya bersaing indah dengan matanya,
memiliki daya pikat yang akan menimbulkan gairah dalam hati
setiap orang pria yang melihatnya. Apalagi di kanan kiri
mulutnya terdapat lesung pipi yang amat manis. Kulitrfya
putih bersih dan kini kedua pipinya kemerahan karena panas
matahari.
Ia bukanlah seorang dewi apalagi setan penunggu sungai.
Ia seorang gadis yang usianya sekitar dua puluh tahun,
bertubuh sintal denok dan berwajah cantik jelita. Pakaiannya
dari sutera putih dan kalau ia tampak seperti orang berjalan di
atas air sesungguhnya ia sedang meluncur dengan cepat di
atas air! Bukan berdiri di atas kedua kakinya, melainkan ia
menggunakan terompah papan selancar. Dengan ilmu ginkang
(meringankan tubuh) yang sudah tinggi tingkatnya, ia
dapat berdiri di atas papan lalu dengan pengerahan khi-kang
ia dapat mendorong kedua kaki yang menginjak papan itu
sehingga ia meluncur dengan cepat di atas air!
Gadis itu bernama Ciu Thian Hwa, seorang pendekar wanita
yang selain cantik jelita juga amat lihai. Ia malang melintang
di dunia kang-ouw, membela kebenaran dan keadilan,
menentang kejahatan dengan keras sehingga ia terkenal
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
dengan julukan Huang-ho Sian-li (Dewi Sungai Kuning).
Setelah mengalami banyak hal yang menimbulkan kepahitan
dan kekecewaan hati yang membuat hatinya terasa sedih,
akhirnya ia mengambil keputusan untuk mencari gurunya
yang juga menjadi kakek angkatnya. Gurunya adalah Thian
Bong Sianjin yang dulu sebelum bertobat menjadi pendeta
berjuluk Huang-ho Sui-mo (Setan Air Sungai Kuning).
Thian Hwa makin mempercepat luncuran papan
selancarnya di atas air. Setelah berada di atas Sungai Huangho
kembali, ia merasa gembira dan sedikit demi sedikit
lenyaplah segala kekecewaan dan kepahitan yang dideritanya.
Ia merasa telah kembali ke tempat yang sesuai dan cocok
baginya, yaitu Sungai Huang-ho dan karena ia tahu bahwa ia
seolah kembali di sungai itu, dan ibu kandungnya lenyap pula
di situ, maka ia merasa seolah-olah kini ia berada dekat
dengan ibunya. Ia merasa seakan-akan ia telah mendapatkan
kembali ibunya, yakni sungai dengan airnya yang luas itu! Ia
meluncur dan memandang permukaan air dengan hati
terharu, dan dengan cekatan ia membungkuk untuk
menggunakan tangannya menyendok air lalu air ia siramkan
ke mukanya! Angin Sungai Huang-ho meniup mukanya yang
menjadi segar dan nyaman. Lenyaplah segala kesedihannya!
Ketika air Sungai Huang-ho mulai sukar ditempuh karena
banyak terdapat air terjun dan terkadang penuh dengan batubatuan
Thian Hwa lalu mendarat dan berlari cepat menyusuri
Lembah Sungai Huang-ho. Setiap kali bertemu dusun nelayan
ia bertanya-tanya barangkali ada yang melihat Thian Bong
Slari-jin. Beberapa kali ia mendapat keterangan bahwa kakek
itu menuju ke hulu Sungai Huang-ho, ke arah barat. Maka ia
pun melanjutkan perjalanan menyusuri pantai ke hulu, daerah
yang belum pernah ia jelajahi.
Setelah melakukan perjalanan selama sebulan lebih, pada
suatu hari tibalah la disebuah dusun di tepi sungai. Dusun Itu
cukup ramai dihuni oleh para petani dan nelayan sebanyak
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
sekitar lima puluh rumah atau keluarga. Di dusun ini Thian
Hwa mendengar bahwa tiga hari yang lalu seorang kakek
membasmi gerombolan perampok yang mengganggu dusun
itu. Hatinya girang bukan main mendengar bahwa kakek itu
berusia sekitar lima puluh enam tahun, berpakaian serba
putih, pakaian pendeta To dan mukanya tanpa kumis atau
jenggot dan di punggungnya tergantung sebatang pedang.
Gambaran itu adalah gambaran kong-kongnya! Ia lalu mencari
keterangan ke mana kakek itu pergi dan seorang penduduk
dusun menceritakan bahwa dia melihat kakek penolong
mereka itu tinggal di sebuah, kuil tua yang tidak terpakai lagi,
di puncak sebuah bukit kecil di tepi sungai.
Thian Hwa cepat mendaki bukit itu dan kagum melihat
keindahan pemandangan alam di atas bukit itu. Melihat
keadaan bukit yang tanahnya subur dan hawanya sejuk itu ia
merasa betah dan senang sekali. Apalagi ketika ia menemukan
kuil kosong di puncak bukit dan melihat Thian Bong Sianjin
duduk bersila di atas sebuah batu depan kuil!
"Kong-kong....!" Ia berseru dan berlari cepat menghampiri.
Thian Bong Sianjin memandang gadis itu dan tersenyum
dengan wajah berseri.
"Aha, Thian Hwa, akhirnya engkau datang juga! Bagaimana
hasilnya dengan penyelidikan selama beberapa bulan ini?"
Ditanya demikian, Thian Hwa teringat akan semua
pengalamannya dan ia lalu menjatuhkan diri berlutut di atas
tanah depan kakek itu dan tak dapat menahan diri lagi
menangis terisak-isak!
"Aih, inikah cucuku yang biasanya gembira, pemberani,
keras hati dan jujur itu? Mengapa kini menjadi cengeng?"
Kakek itu lalu turun dari atas batu dan membungkuk,
mengelus rambut kepala Thian Hwa. Gadis itu bangkit berdiri
dan merangkul, menangis di atas dada kakek yang selama ini
ia anggap sebagai pengganti orang tuanya itu. Thian Bong
Sianjin membiarkan gadis itu menangis sehingga air matanya
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
membasahi jubah bagian dadanya, hanya mengelus kepala
gadis yang amat dikasihinya itu. Dia maklum bahwa cara
terbaik bagi seorang untuk melepaskan himpitan duka dalam
hati adalah melalui cucuran air matanya.
Setelah tangis Thian Hwa mereda, kakek itu berkata halus.
"Tenangkan hatimu, Cucuku. Duduklah di atas batu di
depanku ini dan ceritakan semuanya kepadaku. Tidak ada
perkara apa pun di dunia ini yang tidak dapat kita atasi,
asalkan kita menerimanya sebagai suatu kenyataan yang
wajar. Tidak ada masalah dalam hidup ini kecuali kalau kita
menerima suatu peristiwa sebagai masalah. Kita sendiri yang
membuat masalah dan kita pula yang mengakhiri masalah
itu."
Thian Hwa sudah menumpahkan semua ganjalan hati
melalui air matanya. Kini dadanya terasa lapang dan ia
memperoleh kembali ketenangannya. Ia menggunakan sehelai
saputangan untuk mengusap sisa air mata dari mata dan
mukanya sampai kering, baru ia menaati ucapan kakeknya
dan duduk bersila di atas sebuah batu di depan kakek itu
yang kini sudah duduk kembaii di tempat semula.
"Nanti dulu, Kong-kong," katanya dan kini suaranya sudah
tenang dan biasa kembali. "Sebelum aku menceritakan semua
pengalamanku, aku ingin tahu lebih dulu apa maksud Kongkong
ketika mengatakan bahwa tidak ada masalah dalam
hidup ini. Bagaimana mungkin tidak ada masalah kalau dalam
kehidupan ini banyak terjadi peristiwa menimpa kita yang
mendatangkan kekecewaan, penasaran, dan kedukaan?"
Kakek itu tersenyum ramah, matanya yang bersinar tajam
namun lembut itu menatap wajah cucunya dengan penuh
pengertian. "Hidup ini sendiri akan menjadi masalah kalau kita
menerimanya sebagai masalah. Peristiwa apa pun yang terjadi
para diri kita merupakan suatu kenyataan yang tidak dapat
diubah pula. Kenyataan apa adanya itu adalah suatu
kewajaran. Biasanya, nafsu yang mengaku-aku dan selalu
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
mementingkan diri sendiri, mengejar kesenangan sendiri itulah
yang menimbulkan penilaian terhadap apa yang terjadi, lalu
timbul apa yang disebut menyenangkan atau menyusahkan.
Kalau merugikan, lalu dianggap sebagai suatu masalah yang
menimbulkan rasa khawatir, takut, penasaran, kecewa, benci
atau duka."
Thian Hwa mengerutkan alisnya, merasa bingung. "Kongkong,
tolong diberi contoh agar aku tidak menjadi bingung."
"Misalnya hujan lebat turun. Peristiwa yang menimpa kita
ini adalah satu kenyataan yang tak dapat diubah oleh siapa
pun juga. Baikkah atau burukkah peristiwa ini? Menjadi
masalah ataukah suatu kewajaran? Tergantung bagaimana
kita menerimanya. Kalau kita terima sebagai hal yang
merugikan kita, timbullah kekecewaan dan kedukaan. Kalau
kita terima sebagai kenyataan apa adanya, suatu kewajaran,
maka akan timbullah kebijaksanaan dalam batin kita sehingga
kita dapat mengatasinya, misalnya dengan ber-teduh, bahkan
dapat memanfaatkan peristiwa itu membuat bendungan
menyalurkan airnya dan sebagainya. Demikian sebaliknya
kalau hari panas sekali. Kita dapat berlindung dari sengatan
sinar matahari dan dapat memanfaatkan sinar yang panas itu
untuk menjemur dan se-bagainya, bukan menerimanya
sebagai suatu masalah yang menimbulkan nafsu marah,
kecewa, penasaran, takut yang mendatangkan duka.
Mengertikah engkau, Thian Hwa?"
Thian Hwa diam sejenak, lalu mengangguk-angguk
perlahan. "Ah, aku mulai mengerti, Kong-kong. Jadi, apa pun
yang menimpa diri kita, dari yang paling menyenangkan
sampai yang paling tidak menyenangkan, seperti penyakit dan
ke-matiah, adalah suatu hal yang wajar dan tidak dapat
diubah lagi, suatu kenyataan sehingga kita harus
menerimanya tanpa menjadikannya suatu masalah.
Begitukah? Akan tetapi bagaimana mungkin manusia dapat
hidup tanpa dipengaruhi segala macam perasaan, terutama
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
susah senang itu? Manusia hidup tanpa perasaan menjadi
seperti mati!"
"Bukan demikian, Cucuku. Manusia hidup memang tidak
mungkin mematikan atau menghilangkan nafsu. Nafsu
menjadi peserta manusia dalam hidupnya di alam fana ini.
Yang terpenting adalah keseimbangan, menjaga agar nafsu
jangan memperhamba kita, melainkan menjadi peserta dan
pembantu kita. Ada pelajaran dari Guru Besar Khong Cu yang
bijaksana dalam Kitab Tiong Yong, begini bunyinya: HI HOU Al
LOK CI BI HOAT, WI Cl TIONG. HOAT JI KAI TIONG CIAT, WI
CI HO. Artinya: Sebelum perasaan Girang Marah Duka dan
Suka timbul, batin berada dalam keadaan Tegak Lurus.
Apabila berbagai perasaan itu timbul namun mengenal batas
(dapat mengendalikan), batin berada dalam keadaan selaras
(seimbang)."
Gadis itu mengangguk-angguk. "Sekarang aku mengerti,
Kong-kong."
"Nah, sekarang ceritakanlah apa saja yang kaualami
sehingga engkau hampir kehilangan keseimbanganmu."
Dengan lancar dan tabah Thian Hwa menceritakan semua
pengalamannya. Betapa ia bertemu dengan Cui Sam atau
yang sebutannya Lo Sam, kakeknya atau ayah dari ibunya
yang kini bekerja sebagai pelayan Pangeran Cu Kiong. Dari
kakeknya ini ia mengetahui" bahwa ibunya bernama Cui Eng
yang menjadi selir Pangeran Ciu Wan Kong, kemudian ketika
melahirkan anak perempuan, yaitu dirinya, ibunya itu diusir
oleh keluarga Pangeran Ciu Wan Kong. Menurut cerita
kakeknya, Kakek Cui Sam dan Cui Eng hendak kembali ke
kampung halaman mereka di selatan, akan tetapi ketika
menyeberangi Sungai Huang-ho, perahu mereka terbalik dan
Cui Sam, Cui Eng dan bayinya hanyut.
"Kakek Cui Sam dapat menyelamatkan diri, akan tetapi dia
kehilangan ibu dan aku yang dia kira tentu tewas tenggelam."
kata Thian Hwa melanjutkan ceritanya. "Aku merasa sakit hati
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
sekali kepada Pangeran Ciu Wan Kong dan pada suatu malam
kudatangi gedungnya, akan kubunuh untuk membalaskan
kematian Ibu kandungku. Akan tetapi ketika tiba di kamarnya
dan melihat dia berduka cita mengamati gambar Ibuku, aku
menjadi tidak tega. Apalagi dia ketika melihat aku mengira
bahwa aku adalah Ibuku, dan dia... dia... tertawa menangis
seperti orang gila!"
"Siancai....! Kekuasaan Thian (Tuhan) Yang Maha Adil tak
pernah berhenti bekerja. Setiap orang manusia takkan
terhindar dari akibat perbuatannya sendiri. Siapa menanam,
dia akan memetik buahnya. Hukum ini berlaku di seluruh alam
semesta dan sudah wajar dan adil! Lanjutkan ceritamu, Thian
Hwa."
Thian Hwa melanjutkan ceritanya, betapa sebelumnya, ia
juga telah menolong Pangeran Ciu Wan Kong yang ternyata
ayah kandungnya sendiri itu dari serangan ular air. Kemudian
betapa ia terlibat perkara dengan Pangeran Leng Kok Cun
yang merencanakan pemberontakan. Akhirnya ia ketahuan
bahwa ia hanya seorang penyelundup dan dikeroyok para
jagoan dan ia melarikan diri berlindung ke gedung Pangeran
Cu Kiong yang dianggap saingan Pangeran Leng Kok Cun.
"Hemm, ternyata terjadi perebutan kekuasaan di antara
para pangeran! Ha-ha-ha, penyakit lama itu selalu terdapat
dalam setiap pemerintahan kerajaan. Agaknya Kerajaan
Mancu tidak terkecuali, diam-diam terjadi perebutan
kekuasaan di antara mereka sendiri. Lalu bagaimana, Thian
Hwa?"
"Setelah aku mengalami guncangan akibat pertemuanku
dengan Ayah kandungku, aku mengalami guncangan kedua
yang amat menyakitkan hati, Kong-kong. Pangeran Cu Kiong
yang masih muda, tampan dan halus budi bahasanya itu amat
baik kepadaku, bahkan dia mengaku cinta kepadaku dan
hendak memperisteri aku. Aku bodoh sekali, Kong-kong, aku
terpikat dan tertarik kepadanya. Aku percaya padanya. Baru
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
kemudian aku mendengar dia bicara dengan tujuh orang
pengawalnya, yaitu Kam-keng Chit-sian, dan baru aku ketahui
bahwa dia hanya ingin mempergunakan tenagaku. Dia
bermaksud mengambil aku sebagai seorang selirnya dan
memanfaatkan tenagaku untuk membantu dia dalam
perebutan kekuasaan itu. Aih, Kong-kong, perasaan ku sakit
sekali. Bahkan ketika aku hendak pergi meninggalkan dia,
Pangeran Cu Kiong hendak menahanku dengan paksa,
mengerahkan tujuh orang pengawalnya untuk mengeroyok
dan menangkap aku. Aku melawan akan tetapi nyaris aku
celaka di tangan tujuh orang yang cukup tangguh itu kalau
tidak muncul Bun-ko yang membantuku."
"Ah, jadi Yan Bun menyusulmu dan dapat menolongmu?"
"Benar, Kong-kong. Dengan bantuan Bun-ko akhirnya kami
dapat merobohkan empat dari tujuh orang Kam-keng Chit-sian
itu. Kemudian kami meninggalkan gedung Pangeran Cu Kiong
dan aku lalu pergi mencarimu, Kong-kong."
"Hemm, lalu bagaimana dengan Pangeran Cu Kiong?
Engkau tidak melakukan apa-apa terhadap dirinya?"
Thian Hwa menghela napas panjang dan menggeleng
kepalanya.
"Aku tidak tega membunuhnya."
"Hemm, engkau masih mencintanya, Thian Hwa?" Tanya
kakek itu dengan alis berkerut.
Thian Hwa menghela napas lagi. "Aku memang
mencintanya, Kong-kong, akan tetapi aku juga membencinya!"
"Siancai....! Kasihan, Cucuku mulai menjadi permainan
cinta. Dan bagaimana dengan Yan Bun? Setelah dia
menolongmu, lalu di mana dia?"
"Kami berpisah, Kong-kong dan Bun-ko... dia pun berterus
terang bahwa dia dan Paman Ui Hauw mengharapkan agar
aku menjadi jodohnya. Akan tetapi aku menolak, Kong-kong,
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
karena selain aku sama sekali tidak mempunyai perasaan lain
terhadap Bun-ko kecuali merasa dia sebaga kakakku, juga aku
merasa muak kepada laki-laki yang cintanya palsu seperti
kutemui pada diri Ayah kandungku sendiri dan pada Pangeran
Cu Kiong! Aku merasa jera untuk jatuh cinta lagi, Kong-kong!"
Kakek itu mengangguk-angguk. "Aku dapat memahami
perasaanmu, Thian Hwa. Dikecewakan dalam hubungan cinta
memang menyakitkan sekali dan membuat kita merasa jera.
Akan tetapi, perasaan itu sama sekali tidak benar, T hian Hwa.
Aku sendiri sudah merasakan. Karena jera akibat cinta gagal,
aku membujang selama hidup dan akibatnya, aku tidak
mempunyai keturunan. Untung aku menemukan engkau,
kalau tidak, di masa tuaku ini aku akan hidup sebatang kara
dan bukan tidak mungkin matiku nanti akan terlantar karena
tidak ada keluarga yang merawat."
"Kong-kong! Jadi Kong-kong juga pernah gagal dalam
cinta? Bagaimana riwayatnya, Kong-kong? Siapa wanita yang
pernah engkau cinta?"
Kakek itu menghela napas panjang. "Sesungguhnya cerita
lama itu sudah tak pernah kuingat lagi, Thian Hwa. Akan
tetapi agar dapat engkau jadikan bahan pertimbangan, boleh
juga kau ketahui. Dua puluh tahun lebih yang lalu aku pernah
saling mencinta dengan seorang pendekar wanita yang lihai.
Ilmu silatnya setingkat denganku dan kami sudah saling
berjanji untuk menjadi suami isteri."
"Siapakah nama pendekar wanita itu, Kong-kong?"
"Namanya? Aih, mengapa engkau menanyakan namanya
segala? Baiklah, namanya Souw Lan Hui, murid Bu-tongpai
dan di dunia kang-ouw ia mendapat julukan Sin Hong-cu
(Burung Hong Sakti)."
"Uih! Tentu ia secantik burung Hong!"
Thian Bong Sianjin menghela napas. 'Siancai! Ia memang
cantik dan pada waktu itu aku merasa bangga dan bahagia
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
sekali. Akan tetapi segala sesuatu tidaklah abadi. Pada suatu
hari kami bertemu dengan seorang pangeran muda. Begitu
bertemu, mereka saling tergila-gila dan kami pun berpisah. Ia
menikah dengan pangeran itu!"
"Ihh! Kenapa begitu? Cintanya kepada Kong-kong hanya
palsu!" seru Thian Hwa penasaran. "Siapa sih pangeran itu?
Hemm, tidak urung dia akan disia-siakan seperti halnya Ibu
kandungku!"
"Tak perlu diketahui siapa pangeran itu. Dugaanmu keliru.
Siapa orangnya berani mempermainkan Si Burung Hong Sakti?
Kalau pangeran itu berani mengambil seorang selir saja, pasti
dia akan menjadi korban siang-kiam (sepasang pedang) Souw
Lan Hui! Apalagi sampai berani menyia-nyiakan! Dan tentang
kepalsuan cinta, Cucuku, semua cinta yang dimiliki manusia
dan yang didorong nafsu semuanya berpamrih, semuanya
palsu. Engkau tahu sekarang, bukan hanya laki-laki saja yang
suka mempermainkan cinta, wanita pun ada. Jadi, jangan
menganggap semua laki-laki itu tukang mempermainkan cinta
dan wanita! Sudahlah, sekarang engkau masih amat muda,
baru delapan belas tahun. Kelak engkau akan mengerti
sendiri. Sekarang kita membicarakan orang tuamu. Pangeran
Ciu Wan Kong itu jelas adalah Ayah kandungmu dan engkau
bermarga Ciu, keturunan seorang pangeran!"
"Aku tidak sudi menggunakan marga pangeran yang jahat
dan yang mengusir Ibu kandungku, menyebabkan kematian
Ibuku!" Thian Hwa berkata ketus.
"Nanti dulu, Thian Hwa. Melihat dia masih berduka dan
mengingat Ibumu, berarti dia mencinta Ibumu. Perlu
kauketahui dulu mengapa Ibumu dulu diusir dan siapa yang
mengusirnya. Mungkin Cui Sam, Kakekmu itu dapat
menceritakannya. Selain itu, belum tentu pula kalau Ibumu
sudah mati."
"Eh? Apa maksudmu, Kong-kong?"
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Dulu, ketika aku menemukan engkau yang masih bayi,
kupikir tentu ada orang-orang dewasa yang hanyut pula.
Mungkin orang tuamu. Maka aku sudah berusaha mencari,
akan tetapi tidak menemukan sebuah pun mayat terapung.
Bukan mustahil kalau Ibumu juga dapat menyelamatkan diri
seperti Kakekmu itu, atau mungkin juga diselamatkan orang,
seperti engkau kuselamatkan."
"Ahh....!" Wajah gadis itu berseri, matanya bersinar-sinar
penuh harapan. "Kalau begitu, aku akan mencarinya, Kongkong!"
"Tenang dulu, Thian Hwa. Agaknya, untuk menyelidiki
tentang Ibumu, engkau harus mulai dari kota raja, menemui
Kakekmu. Dan mengingat akan pengalamanmu di kota raja, di
sana sedang terjadi pertentangan dan persaingan dalam
memperebutkan kekuasaan dan di sana terdapat orang-orang
pandai yang mungkin akan mengancam keselamatanmu. Oleh
karena itu, sebelum engkau pergi lagi, perlu sekali engkau
memperdalam ilmu kepandaianmu. Akan kuajarkan semua
ilmu yang kukuasai agar kepandaianmu meningkat dan tidak
mudah engkau tertimpa bencana."
Thian Hwa tidak berani membantah dan ia memang
maklum bahwa di kota raja banyak terdapat orang pandai
yang jahat, maka perlu ia membekali diri dengan kepandaian
yang tinggi. Maka mulai hari itu, ia tekun memperdalam
ilmunya dibawah gemblengan Thian Bong Sianjin yang amat
mengasihinya.
Sejak jaman kuno sekali, Cina memang memiliki
kebudayaan yang sangat tinggi. Maka tidaklah mengherankan
apabila bangsa-bangsa yang pernah menjajah Cina, seperti
bangsa Kin dan bangsa Mongol dahulu, setelah menjajah Cina
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
mereka itu malah terseret oleh kebudayaan Cina. Para
penjajah itu tidak mungkin dapat mengubah kebudayaan dan
dari rakyat Cina yang jumlahnya berpuluh kali lipat lebih
banyak dari pada jumlah rakyat penjajah. Karena kebudayaan
Cina memang lebih tinggi, pula untuk dapat menyesuaikan diri
sehingga cepat menarik hati dan menguasai rakat Cina
dengan baik, para penjajah itu mengubah diri menjadi Cina,
baik budayanya, adat istiadat, sastra dan bahasanya, bahkan
namanya!
Demikian pula dengan bangsa Mancu. Biarpun bangsa
Mancu telah menguasai sebagian besar daratan Cina bagian
utara, yaitu dengan perbatasan Sungai Yang-ce ke utara,
sedangkan bagian selatan Surgai Yang-ce masih dikuasai sisa
pendukung Kerajaan Beng yang dipimpin oleh Wu Sam Kwi di
barat daya dengan ibu kota Yunnan-hu dan dua orang
pemimpin rakyat lain yang tidak begitu besar kekuatannya,
namun tetap saja penjajah Mancu juga menyesuaikan diri
dengan tata-cara hidup bangsa pribumi Han. Bahkan terkenal
ejekan di antara para pendekar pejuang pribumi Han bahwa
para pangeran, bangsawan dan pembesar tinggi penjajah
Mancu itu menjadi "lebih Cina daripada pribumi Cina sendiri"!
Namun, siasat penjajah Mancu ini memang berhasil, karena
dengan membaurkan diri dengan pribumi Han, Kerajaan Ceng
(Mancu) ini menarik simpati orang-orang Han. Kerajaan Ceng
menghargai orang-orang pribumi yang memiliki kepandaian
tinggi, memberi mereka kedudukan penting. Pemerintah
Mancu memang mengharuskan rakyat yang laki-laki
memelihara rambut yang dikuncir, akan tetapi mereka sendiri,
para pangeran dan bangsawan, juga menggunakan kebiasaan
ini sehingga rakyat Han tidak merasa terhina. Pula, para
bangsawan itu sengaja mengubah nama Mancu menjadi nama
Cina sehingga sukarlah diketahui apakah seorang pembesar
itu berdarah Mancu ataukah Han, apalagi karena orang-orang
Mancu itu juga memakai bahasa Han dan tata-cara hidup dan
kebudayaan Han!
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Pada waktu kisah ini terjadi, yang menjadi kaisar Kerajaan
Ceng (Mancu) adalah Kaisar Shun Chi (1644-1661). Ketika
Thian Hwa memperdalam ilmu-ilmunya di atas bukit di
Lembah Huang-ho, pada waktu itu Kaisar Shun Chi sudah tua.
Kaisar ini memang berwatak lemah sehingga dia mudah
dipengaruhi oleh para Thaikam (Sida-sida, orang kebiri), yang
menjadi pengurus terpercaya dalam istana. Kaisar Shun Chi
bagaikan boneka dan jalannya pemerintahan seolah
dikendalikan para Thaikam. Pada waktu itu, Kepala Thaikam
yang menjadi penasehat utama kaisar adalah seorang Sidasida
bernama Boan Kit yang berusia lima puluh tahun. Boan
Kit yang biasa disebut Boan Thaijin (Pembesar Boan) adalah
seorang yang amat cerdik. Dia pandai membawa diri, bersikap
merendah dan menjilat di depan Kaisar Shun Chi akan tetapi
bersikap agung dan berwibawa di depan para pembesar
sehingga mereka semua segan dan tunduk padanya. Selain
pandai dan cerdik, juga Boan Kit yang peranakan Mancu/Han
ini adalah seorang ahli silat yang amat lihai dan juga dia
memiliki kemampuan ilmu sihir.
Karena pengaruh sihirnya itulah maka Kaisar Shun Chi
semakin tunduk dan percaya padanya.
Kaisar Shun Chi menjadi semakin lemah dan tidak
mengacuhkan urusan pemerintahan ketika dia semakin tertarik
dengan pelajaran Agama Buddha. Dia menganggap bahwa
semua urusan duniawi hanya menyeretnya ke dalam
pertentangan, kemelekatan dan duka nestapa. Yang lebih
sering dilakukan hanyalah berdoa dan bermeditasi.
Inilah sebab utama terjadinya persaingan di antara para
pangeran untuk memperebutkan tahta kerajaan itu. Kaisar
Shun Chi lemah dan tidak mempedulikan, bahkan agaknya
pernah mengatakan siapa yang akan menggantikannya.
Kekuasaan berada di tangan para Thai-kam, atau lebih tepat
lagi, di tangan Thaikam Boan atau Boan Thaijin!
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Thaikam Boan Kit bukan seorang bodoh. Tidak, dia cerdik
bukan main. Tentu saja dia maklum bahwa, sebagai seorang
Thaikam, tidak mungkin dia akan dapat menggantikan
kedudukan Kaisar.
Kalau dia merampas kedudukan Kaisar, semua pangeran
pasti akan mengeroyok dan menumpasnya. Maka dia harus
mengadakan pilihan, kiranya siapa yang patut dijagokan
sebagai pengganti kaisar yang sudah tua itu, tentu saja
seorang kaisar baru yang akan dapat dia kuasai pula! Dan
sudah sejak beberapa bulan dia menjatuhkan pilihannya
kepada Pangeran Leng Kok Cun! Pangeran Leng Kok Cun yang
berusia empat puluh tahun itu adalah putera seorang selir
kaisar yang ke tujuh. Menurut urut-urutan para pangeran,
tidak mungkin dia yang akan diberi hak menggantikan
ayahandanya kelak. Pangeran Leng Kok Cun berambisi besar
untuk kelak menggantikan kedudukan kaisar dan tentu saja
dia menjadi semakin bersemangat ketika Thaikam Boan Kit
mengulurkan tangan untuk mengadakan kerja sama. Tentu
saja dengan perjanjian kelak Thaikam Boan Kit yang akan
menjadi penasehat utama atau istilahnya Kok-su (Guru
Negara) yang akan mengatur semua politik yang dikeluarkan
kaisar yang berkuasa! Dengan penuh semangat,
Pangeran Leng Kok Cun lalu mengerahkan segala daya
untuk memperkuat diri. Dia bahkan mengundang orang-orang
yang sakti untuk membantunya, dan menyerahkan kepada
Pat-chiu Lo-mo untuk menghubungi para jagoan itu.
Selain Pangeran Leng Kok Cun, yang ingin sekali dapat
mewarisi tahta kerajaan adalah Pangeran Cu Kiong, putera
dari selir ke tiga dari Kaisar Shun Chi. Tidak seperti Pangeran
Leng Kok Cun yang tidak mempunyai harapan untuk menjadi
kaisar kecuali dia melakukan pemberontakan atau merebut
dengan kekerasan, Pangeran Cu Klong lebih banyak harapan.
Saingannya hanya seorang saja, yaitu Pangeran Kang Shi,
putera Kaisar Shun Chi dari permaisuri. Akan tetapi saingan
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
utamanya ini, yang tentu saja berhak menjadi putera
mahkota, baru berusia sembilan tahun! Dan selir ke dua hanya
mempunyai seorang puteri. Maka, dia mempunyai harapan
besar, setidaknya menjadi penjabat kaisar atau untuk
sementara mewakili kaisar yang - masih belum cukup umur!
Karena itu, Pangeran Cu Kiong berusaha sedapat mungkin
untuk menyenangkan hati ayahandanya Kaisar Shun Chi dan
tentu saja dia menentang gerakan Pangeran Leng Kok Cun!
Adapun Pangeran Kang Shi yang berusia sembilan tahun itu
sejak berusia lima tahun oleh Kaisar Shun Chi telah diserahkan
kepada adiknya untuk mendidiknya. Kaisar mengenal adiknya,
Pangeran Bouw Hun Ki yang kini berusia sekitar lima puluh
dua tahun, sebagal seorang pangeran yang jujur, ahli sastra
dan tata-negara, juga saling mengasihi dengan dia. Selain itu,
Pangeran Bouw Hun Ki memiliki seorang putera yang terkenal
sebagai seorang ahli silat yang amat tangguh sehingga tidak
pernah ada orang-orang jahat berani mengganggu Pangeran
Bouw Hun Ki sekeluarga. Putera Pangeran Bouw Hun Ki ini
bernama Bouw Kun Liong, berusia sekitar dua puluh tiga
tahun dan orang-orang mengenalnya sebagai Bouw Kongcu
(Tuan Muda Bouw) dan semua orang segan dan
menghormatinya karena pemuda ini biarpun terkenal lihai,
sikapnya ramah dan lembut.
Biarpun dia sendiri lemah dan tidak mengacuhkan
pemerintahan, agaknya Kaisar Shun Chi merasa bahwa di
antara para pangeran terjadi pertentangan secara diam-diam.
Sebagai seorang ayah dia dapat merasakan hal ini. Untuk
urusan pemerintahan dia memang lebih condong menuruti
nasehat Thaikam Boan Kit. Akan tetapi untuk urusan keluarga
dia lebih percaya kepada adiknya, yaitu Pangeran Bouw Han
Ki. Pada suatu malam diam-diam dia mengundang Pangeran
Bouw Hun Ki datang ke istana dan diajak bicara empat mata
dalam kamarnya. Dalam kamar itu, tanpa didengar atau dilihat
orang lain, Kaisar Shun Chi memesan wanti-wanti kepada
adiknya itu agar membimbing, melindungi dan membela
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Pangeran Kang Shi sebagai putera mahkota yang kelak berhak
penuh untuk menggantikan dia sebagai kaisar. Dalam
kesempatan ini, Pangeran Bouw Hun Ki bersumpah setia untuk
menaati perintah kaisar. Setelah meninggalkan pesan ini,
barulah hati Kaisar Shun Chi menjadi tenang.
Pangeran Ciu Wan Kong adalah adik Kaisar Shun Chi dan
adik Pangeran Bouw Hun Ki pula. Biarpun kini Pangeran Ciu
Wan Kong tidak mau memegang jabatan dan tampak lemah,
namun dia juga seorang pangeran yang setia-kepada Kaisar
Shun Chi. Beberapa kali Pangeran Leng Kok Cun mencoba
untuk membujuknya agar pamannya itu suka menjadi
pendukungnya seperti beberapa orang pangeran dan
bangsawan lain yang dapat dia pengaruhi. Dukungan
Pangeran Ciu Wan Kong tentu saja amat penting karena
sebagai adik kaisar, tentu saja suara pangeran ini mempunyai
pengaruh yang cukup kuat. Namun Pangeran Ciu Wan Kong
bukan saja menolak keras bujukan itu, bahkan dia sering
menegur keponakannya yang ambisius itu. Tentu saja hal ini
membuat Pangeran Leng Kok Cun membenci pamannya itu
dan menganggap bahwa Pangeran Ciu Wan Kong merupakan
seorang di antara mereka yang menjadi penghalang
ambisinya.
Sang Waktu lewat seperti biasa, wajar dan sesungguhnya
cepat atau lambat tergantung kepada kita yang merasakan
dan menilainya. Akan tampak lama sekali kalau kita tergesagesa
menantikan sesatu dan memperhatikan waktu,
sebaliknya akan tampak cepat bukan main kalau kita tidak
memperhatikannya.
Karena tidak diperhatikan, Sang Waktu melesat dengan
cepatnya sehingga tahu-tahu setahun telah lewat semenjak
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Thian Hwa tinggal bersama Thian Bong Sianjin di bukit kecil di
Lembah Huang-ho. Bukit itu dinamai Yang-liu-san (Bukit
Pohon Cemara) karena di situ banyak ditumbuhi pohon
cemara beraneka macam. Karena memang sesungguhnya
Thian Hwa telah mencapai tingkat tinggi dalam ilmu silatnya,
maka yang masih dapat diajarkan Thian Bong Sianjin hanya
sedikit, namun yang sedikit itu menyempurnakan ilmu
kepandaian Thian Hwa. Kini, setelah selama setahun ia
digembleng dan berlatih dengan tekun tak mengenal jenuh
dan lelah, akhirnya tingkat kepandaian gadis yang kini berusia
sembilan belas tahun itu sudah seimbang dengan tingkat yang
dikuasai Thian Bong Sianjin sendiri! Ilmu pedang Kwan-im
Kiam-hoat yang dikuasainya semakin dahsyat, juga ilmu
pedang Huang-ho Kiam-hoat yang merupakan hasil gubahan
Thian Bong Sianjin sendiri, telah dikuasai dengan amat
baiknya. Selain kedua ilmu pedang andalannya ini, juga ilmu
silat tangan kosong Kauw-jiu Kwan Im (Dewi Kwan Im
Berlengan Sembilan) merupakan ilmu yang amat cepat
gerakannya sehingga kalau ia mainkan, seolah-olah ia memiliki
sembilan buah lengan! Di samping itu semua, Sin-kang
(Tenaga Sakti), Khi-kang (Tenaga Hawa Murni), Lwee-kang
(Tenaga Dalam), dan Gin-kang (Ilmu Meringankan Tubuh)
telah diperkuat dengan latihan yang tekun siang malam. Masih
ada sebuah ilmu andalannya, yaitu menggunakan Pek-hwaciam
(Jarum Bunga Putih), yang berupa senjata rahasia jarum
dengan kepala bunga putih kecil.
Pada hari itu, Thian Bong Sianjin dihadap murid yang juga
cucu angkatnya ini. Mereka duduk bersila berhadapan di atas
bangku di ruangan depan kuil yang kini menjadi tempat
tinggal Thian Bong Sianjin. Thian Hwa mengenakan pakaian
putih sehingga ia tampak bersih dan cantik segar, dengan
pedang tergantung di punggungnya dan sebuah buntalan
pakaian berada di atas meja. Kiranya gadis ini sudah siap
untuk melakukan perjalanan dan kini ia menerima pesan dan
nasehat gurunya atau juga kakek angkatnya.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Thian Hwa, kiranya semua pesan dan nasehatku yang lalu
masih engkau ingat semua. Yang perlu kuulangi lagi agar tidak
akan kaulupakan ialah agar engkau selalu bertindak sebagai
seorang pendekar sejati. Ingat baik-baik, Thian Hwa.
Sekarang bukan waktunya lagi untuk memperjuangkan tanah
air dari tangan penjajah. Pemerintah Kerajaan Ceng (Mancu)
terlalu kuat dan agaknya, pemberontakan tidak akan berhasil.
Lihat saja betapa kini kekuatan Wu Sam Kwi makin melemah
dan dia, seperti juga para raja kecil di selatan, bukan lagi
memperjuangkan kemerdekaan tanah air, melainkan
memperjuangkan kekuasaan dan kesenangan diri masingmasing.
Aku mendengar bahwa bangsa Mancu menghargai
kebudayaan Han, bahkan mereka seolah melebur diri menjadi
sama dengan bangsa pribumi. Ini pertanda yang baik. Kalau
memang mereka merupakan penguasa yang adil dan mencinta
rakyat, juga suka mempergunakan tenaga pribu.ni untuk
mengatur negara, maka kita tidak perlu menentang mereka.
Ergkau bertindak saja seperti seorang pendekar pembela
keadilan dan kebenaran. Siapa yang jahat, tidak peduli dia
bangsa dan golongan apa, sepatutnya engkau tentang.
Sebaliknya, belalah mereka yang lemah tertindas, tidak peduli
dia bangsa apa. Ingat, engkau sendiri pun mempunyai darah
Mancu, bahkan Ayah kandungmu seorang Pangeran Mancu,
akan tetapi Ibumu seorang wanita Han. Maka, jangan biarkan
dirimu terseret ke dalam pertentangan antar bangsa,
melainkan tempatkanlah dirimu di pihak kebenaran. Dan ingat,
Cucuku, bagaimanapun juga, Pangeran Ciu Wan Kong adalah
Ayah kandungmu. Bersikaplah bijaksana terhadap Ayah
kandungmu. Kalau dia ternyata seorang yang baik budi,
andaikata dia dulu bersalah terhadap Ibumu, bersikaplah
untuk memaafkannya. Sebaliknya kalau dia terperosok ke
dalam kejahatan, sudah menjadi kewajibanmu sebagai anak
yang berbakti, engkau harus menyadarkan dan
mengingatkannya. Jangan lupakan pesanku ini, Thian Hwa."
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Baik, Kong-kong. Aku akan selalu menaati semua
pesanmu. Selama aku pergi, harap Kong-kong suka menjaga
diri baik-baik."
"Jangan khawatir, Thian Hwa. Tanah di sini subur dan
sungainya mengandung banyak ikan. Aku tidak akan
kekurangan. Agaknya, aku sudah bosan merantau dan akan
menetap di Bukit Cemara ini. Aku akan selalu berada di sini
kalau engkau ingat padaku dan ingin menemuiku."
Setelah berpamit dari kakeknya, Thian Hwa menuruni Bukit
Cemara. Pagi itu cerah dan pemandangan dari atas bukit itu
amat indahnya. Dari puncak tampak Sungai Huang-ho yang
amat lebar. Airnya memantulkan s inar matahari pagi sehingga
menyilaukan mata. Thian Hwa kini berusia sembilan belas
tahun.- Pakaiannya tetap serba putih, dari sutera. Rambutnya
disanggul secara sederhana, diikat tali sanggul berwarna
merah muda. Ikat pinggangnya seperti akan membelah
pinggangnya yang ramping. Menaati pesan Thian Bong
Sianjin, kini disembunyikan nya pedangnya dalam buntalan
pakaian. Memang pada jaman itu, Pemerintah Kerajaan Ceng
(Mancu) melarang orang membawa senjata tajam, maka
untuk menjaga agar jangan memancing keributan, Thian Hwa
oleh gurunya dipesan agar tidak membawa pedangnya secara
mencolok. Buntalan pakaiannya itu digendong di belakang
punggung dan ia tampak cantik jelita ketika menuruni puncak
Yang-liu-san. Bagaikan setangkai bunga sedang mekar, Thian
Hwa memang cantik menarik. Wajahnya berbentuk bulat telur
berkulit putih mulus, di sana sini kemerahan tanda sehat.
Rambutnya hitam lebat dan panjang, halus seperti benang
sutera dan terawat bersih. Anak rambut halus berjuntai di atas
dahinya dan melingkar di kedua pelipisnya, membuat
sepasang telinga yang bentuknya indah itu tampak semakin
manis. Alisnya hitam kecil melengkung seperti dilukis hasil
lukisan alam yang sewajarnya tidak dibuat tangan manusia
namun amat indahnya. Sepasang matanya bening dan jeli,
sinarnya tajam dan terkadang mencorong membayangkan
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
keberanian dan wibawa yang kuat. Bulu matanya panjang
lentik membuat bayang-bayang di bawah matanya.
Hidungnya kecil mancung dengan ujungnya agak menjungat
ke atas berkesan agung. Mulutnya merupakan bagian yang
paling menarik. Mulutnya menggairahkan, dengan sepasang
bibir yang lembut dan penuh, kulitnya tipis bagaikan buah
yang masak, merah tanpa gincu. Kalau tersenyum tampak
kilatan gigi yang berderet rapi dan putih seperti mutiara.
Lebih manis lagi mulut itu karena ada lesung pipi di kanan
kirinya dan dagunya agak meruncing. Bentuk tubuh dara ini
menambah daya tarik yang menggairahkan. Ramping padat
dengan lekuk lengkung sempurna seorang wanita yang
sedang tumbuh dewasa!
Seperti terbang cepatnya ia lari menuruni Bukit Cemara dan
tak lama kemudian ia telah berdiri di tepi Sungai Huang-ho.
Beberapa lamanya ia berdiri di tepi sungai yang sunyi itu,
menanti kalau-kalau ada perahu lewat. Akan tetapi setelah
cukup lama menanti dan tidak ada perahu yang dapat
ditumpanginya ke hilir, Thian Hwa lalu memotong batang
pohon cemara yang cukup besar, membuat sepasang kayu
papan peluncur dan sebatang ranting panjang untuk dayung.
Setelah terompah peluncur itu selesai dibuatnya, ia lalu
melanjutkan perjalanan dengan bersilancar di atas air dengan
amat cepatnya. Karena kini ia melakukan perjalanan
bersilancar mengikuti arus sungai ke hilir, maka tentu saja ia
tidak perlu menggunakan banyak tenaga.
Beberapa hari kemudian Thian Hwa tiba di Terusan Besar
yang menghubungkan Sungai Huang-ho ke utara. Ia lalu
melanjutkan perjalanan melalui daratan, menyusuri sepanjang
Terusan ke utara karena di Terusan itu terdapat banyak
perahu dan ia tidak ingin menarik perhatian orang dengan
bersilancar.
Pada suatu pagi, setelah melewatkan malam di sebuah
dusun, Thian Hwa melanjutkan perjalanan dan kota besar
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Thian-cin sudah tinggal belasan mil lagi. Ia melalui jalan yang
sunyi dan tiba-tiba ia mendengar suara ribut-ribut di depan
ketika ia memasuki daerah berhutan. Karena suara ribut-ribut
itu seperti suara orang berkelahi, Thian Hwa mempercepat
langkahnya menuju ke arah suara.
Setelah tiba di tempat perkelahian yang agak jauh dari
jalan sepanjang Terusan, Thian Hwa mengintai dari balik
pohon besar, dan melihat seorang pemuda berpakaian serba
kuning dikeroyok oleh dua orang dan ada dua belas orang
berpakaian tentara Mancu berjaga-jaga dan mengepung
dalam lingkaran besar. Pemuda itu berusia sekitar dua puluh
empat tahun, bertubuh sedang dan wajahnya tampan.
Dengan memegang senjata siang-kek (sepasang tombak
cagak) pendek pemuda itu menghadapi pengeroyokan dua
orang dan gerakannya mantap dan kokoh. Dari kedudukan
kuda-kuda kaki dan gerakan silatnya, Thian Hwa yang sudah
mendapat banyak petunjuk dari Thian Bong Sianjin segera
mengenal bahwa pemuda gagah itu tentu seorang murid
Siauw-pim-pai yang tangguh.
Akan tetapi ketika ia memandang kepada dua orang yang
mengeroyok pemuda itu, ia mengerutkan alisnya. Ia segera
mengenal dua orang itu. Yang seorang berusia sekitar empat
puluh dua tahun, bertubuh gemuk pendek dan berwajah
sombong, yang bukan lain adalah Phang Houw yang berjuluk
Hui-eng-to (Si Goiok Elang Terbang) orang yang pernah
bertempur dengannya ketika mengunjungi Perkumpulan
Liong-bu-pang di kota Tui-lok sekitar satu setengah tahun
yang lalu. Adapun orang ke dua yang mengeroyok pemuda
Siauw-lim-pai itu adalah Louw Cin, Ketua Liong-bu-pang! Ia
tahu betul bahwa dua orang itu adalah kaki tangan atau para
pendukung Pangeran Leng Kok Cun dan melihat selosin orang
tentara Mancu mengepung tempat perkelahian itu, tahulah ia
bahwa pemuda Siauw-lim-pai itu tentu dianggap musuh pula
oleh mereka.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Kagum juga hati Thian Hwa melihat sepak terjang pemuda
Siauw-lim-pai itu. Dengan gagahnya dia melawan dua orang
pengeroyoknya. Phang Houw yang bersenjata golok besar dan
berat itu ia anggap tidak berbahaya, hanya sombong saja.
Akan tetapi Ketua Liong-bu-pang, yaitu Louw Cin yang tinggi
kurus dan berusia empat puluh tahun lebih itu merupakan
lawan yang cukup berbahaya. Ketua Liong-bu-pang ini
memegang senjata sebatang ruyung yang berduri dan terbuat
dari baja sehingga tampak berat dan menyeramkan. Akan
tetapi pemuda Siauw-lim-pai itu melakukan perlawanan gigih.
Sepasang tombak cagaknya yang hanya sepanjang lengan
digerakkan dengan mantap sekali. Setiap kali dia menangkis
serangan lawan, terdengar suara berdentang nyaring dan
bunga api berpijar berhamburan. Phang Houw selalu tampak
tergetar setiap kali goloknya tertangkis tombak cagak,
menunjukkan bahwa dia kalah kuat. Akan tetapi Louw Cin
dapat mengimbangi tenaga pemuda Siauw-lim-pai itu.
Pertandingan satu lawan dua itu berlangsung amat serunya
dan setiap serangan kedua pihak merupakan ancaman maut.
Biarpun di dalam hatinya Tl.ian Hwa tentu saja berpihak
kepada pemuda Siauw-lim-pai karena ia memang tidak suka
kepada para pendukung Pangeran Leng Kok Cun yang hendak
membentak itu, namun melihat betapa pemuda Siauw-lim-pai
itu cukup tangguh, untuk membela diri, maka Thian Hwa juga
tidak turun tangan membantu pemuda itu.
Akan tetapi, tiba-tiba Louw Cin memberi komando kepada
pasukan Mancu yang terdiri dari selosin perajurit itu dan
segera pasukan itu maju mengeroyok Si Pemuda! Melihat ini,
tentu saja Thian Hwa merasa penasaran dan ia sudah siap
untuk terjun ke dalam pertempuran membantu pemuda
Siauw-lim-pai yang kini dikeroyok empat belas orang itu.
Akan tetapi tiba-tiba terdengar suara melengking nyaring
dan tampak sesosok bayangan berkelebat didahului sinar
merah. Thian Hwa menahan diri tidak jadi turun tangan
membantu dan ia melihat betapa sinar merah bergulungTiraikasih
Website http://kangzusi.com/
gulung dan menyambar-nyambar, mengamuk di antara para
perajurlt Mancu. Ke mana pun sinar merah menyambar, tentu
ada seorang perajurit yang roboh! Ketika ia memperhatikan,
Thian Hwa melihat bahwa bayangan dengan sinar merah itu
adalah seorang wanita muda cantik jelita yang memegang
sebuah payung berwarna merah. Hebat bukan main wanita
itu, payung merahnya yang indah itu setiap kali menyambar,
tentu merobohkan seorang perajurit dan ternyata bahwa
gagang payung merah itu merupakan sebatang pedang yang
ujungnya menonjol di
atas payung!
Wanita itu usianya
sekitar dua puluh satu
atau dua puluh dua
tahun, tampak masih
muda dan cantik
sekali walaupun sikap,
pandang mata dan
senyumnya yang
mengandung ejekan
itu menunjukkan
bahwa ia seorang
yang telah matang
dalam pengalaman
hidup. Tubuhnya
ramping dan
menggairahkan, agak
tinggi. Rambutnya
digelung ke atas
model rambut puteri bangsawan. Pakaiannya juga indah
mewah, dengan perhiasan lengkap, anting-anting, tusuk
sanggul emas permata, kalung, gelang kemala, cincin
permata, pendeknya serba lengkap, mewah dan indah. Akan
tetapi Thian Hwa harus mengakui bahwa wanita itu lihai bukan
main. Senjatanya berupa payung pedang itu dapat dipakai
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
sebagai pelindung sinar matahari dan hujan, juga sebagai
pelengkap dandanannya karena payung itu merah dan
berbentuk indah, dapat pula dipergunakan sebagai senjata
yang ampuh sekali. Payung itu dapat dipergunakan sebagai
perisai merangkap pedang dan amat berbahaya bagi lawan.
Dengan lincahnya gadis berpayung merah itu mengamuk
dan dua belas orang perajurit Mancu itu kocar-kacir! Sebentar
saja sudah enam orang perajurit roboh oleh gadis itu. Melihat
ini, para perajurit yang tinggal enam orang lagi menjadi jerih.
Juga Louw Cin dan Phang Houw agaknya menjadi gentar juga.
Baru mengeroyok pemuda Siauw-lim-pai itu saja sudah sukar
untuk mengalahkannya, sekarang muncul gadis yang aneh
dan lihai bukan main itu! Maka, maklum akan bahaya yang
mengancam mereka, Louw Cin dan Phang Houw lalu
berloncatan jauh meninggalkan lawannya. Enam orang tentara
Mancu juga mengambil langkah seribu mengikuti dua orang
pemimpin mereka. Tak lama kemudian terdengar derap kaki
kuda. Agaknya mereka menambatkan kuda mereka tak jauh
dari situ ketika menghadang dan menyerang pemuda Siauwlim-
pai tadi dan kini mereka kabur menunggang kuda,
meninggalkan enam orang anggauta pasukan yang telah
tewas di tangan wanita bersenjata payung itu!
Pemuda Siauw-lim-pai itu kini berdiri berhadapan dengan
penolongnya. Dia menggantungkan kembali siang-kek di
punggungnya dan mengangkat kedua tangannya menjura
kepada gadis berpayung itu.
"Bantuan Nona yang amat berharga telah menyelamatkan
nyawaku dan aku Bu Kong Liang mengucapkan banyak terima
kasih."
Gadis berpakaian sutera hijau berkembang merah itu
tersenyum dan senyumnya amat manis, matanya yang jeli
seperti mata Burung Hong itu mengerling dengan agak genit.
"Bu-enghiong (Pendekar Bu), tidak enak bicara di depan
mayat-mayat ini, mari kita mencari tempat yang bersih di
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
mana kita bicara dengan nyaman." kata gadis itu sambil
memanggul payungnya untuk melindungi wajah dan lehernya
dari sinar matahari yang mulai menghangat. Kemudian ia
berjalan cepat meninggalkan hutan itu ke utara. Pemuda itu
mengikutinya.
Thian Hwa juga membayangi dari jauh. Ia sendiri juga
sedang menuju ke utara, maka perjalanan mereka searah dan
ia. memang ingin sekali mengetahui siapa pemuda dan gadis
itu dan mengapa mereka bertentangan dengan anak buah
Pangeran Leng Kok Cun.
Ketika melihat dua orang, itu berhenti di tepi Sungai
Terusan, di tempat yang sunyi, Thian Hwa juga berhenti dan
bersembunyi di balik sebuah batu besar. Mereka telah
meninggalkan tempat tadi sejauh sekitar dua mil. Pemuda itu
duduk di atas batu di tepi sungai, akan tetapi wanita cantik itu
masih berdiri, menutup payungnya karena tempat itu cukup
teduh, sinar matahari terhalang daun-daun pohon. Tiba-tiba
gadis itu menggerakkan kakinya mencokel sebuah batu
sebesar kepalan tangan dan batu itu dengan amat cepatnya
meluncur ke arah kepala Thian Hwa yang keluar dari balik
batu besar!
"Wuuuuuttt... plakk!" Batu itu kini berada di tangan kiri
Thian Hwa yang menyambut sambitan itu. Wanita itu tertawa,
tawanya merdu, terkekeh seperti mengandung ejekan.
"Adik yang manis, mengapa mengikuti kami sejak tadi?
Kalau ingin bicara, keluarlah menemui kami!" katanya.
Thian Hwa merasa malu karena ternyata perbuatannya
membayangi sejak tadi telah ketahuan. Mungkin sejak tadi
wanita itu juga mengetahui ketika ia mengintai pemuda
Siauw-iim-pai yang dikeroyok orang. Ia pun keluar dan
sengaja ia meremas hancur batu yang di-sambitkan tadi,
Diremas dalam tangannya yang mungil, batu itu hancur dan
Thian Hwa menyebarkan debunya ke atas tanah. Lalu ia
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
melangkah dengan dada terangkat dan kepala ditegakkan,
menghampiri dua orang itu.
Gadis berpakaian sutera hijau berkembang-kembang merah
itu tersenyum dan mengangguk-angguk. "Bagusi Adik yang
manis, gin-kangmu (ilmu meringankan tubuh) ketika
membayangi kami cukup hebat dan sin-kangmu (tenaga
saktimu) ketika meremas hancur batu juga hebat. Tidak tahu
di pihak manakah engkau berdiri? Kalau engkau kawan antekantek
Mancu tadi, jangan buang waktu lagi, seranglah aku!"
Ditantang begitu, Thian Hwa membalas senyuman gadis
itu. Tentu saja ia tidak sudi berpihak kepada orang-orang nya
Pangeran Leng Kok Cun.
"Aku tidak berpihak siapa pun. Aku kebetulan lewat dan
menonton pertempuran. Karena tertarik kepada kalian maka
aku mengikuti kalian." katanya, jujur dan bersahaja.
""Bagus, kalau begitu mari kita bertiga saling berkenalan.
Silakan duduk, Adik manis." Gadis itu duduk di atas batu di
depan pemuda Siauw-lim-pai dan Thian Hwa juga mengambil
tempat duduk di atas batu depan mereka. Biarpun ia
berhadapan dengan seorang gadis cantik yang tampaknya
seperti bangsawan, dan dengan seorang pemuda pendekar
Siauw-lim-pai, namun Thian Hwa tidak mau bersikap rendah
diri. Gurunya atau kakeknya sering memesan kepadanya agar
menjadi seorang gagah ia jangan sekali-kali bersikap tinggi
hati, akan tetapi juga jangan sekali-kali merasa rendah diri.
Tinggi hati mendatangkan kesombongan dan suka sewenangwenang
terhadap orang lain yang direndahkan, sebaliknya
rendah diri mendatangkan rasa takut dan menjadi penjilat
yang di atas. Ia harus selalu rendah hati akan tetapi harus
pula menjaga tinggi harga dirinya.
Maka, berhadapan dengan dua orang muda itu, ia bersikap
tenang dan biasa saja, tidak menganggap mereka lebih tinggi
atau lebih rendah.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Sejenak mereka bertiga hanya duduk diam dan saling
pandang. T hian Hwa kini dapat melihat jelas wajah dan sikap
pemuda itu. Seorang pemuda yang sikapnya gagah perkasa
namun sederhana, baik pakaian maupun sikapnya. Matanya
membayangkan keteguhan hati, dan biarpun jarang
tersenyum namun wajahnya cerah. Usianya sekitar dua puluh
empat tahun. Pakaiannya berwarna kuning, dari kain kasar
sederhana, namun bersih. Gadis cantik itu sebaliknya, memiliki
wajah yang penuh senyum dan gembira, dengan sinar mata
yang tajam dan nakal, mulut dengan senyumnya itu seolah
mengejek. Namun harus diakui bahwa gadis itu memiliki daya
tarik yang kuat.
"Nah, sekarang kita berkenalan dan memberitahukan nama
masing-masing. Twako (Kakak) ini bernama Bu Kong Liang
seperti yang tadi dia akui, dan aku hanya dikenal sebagai
Ang-mo Niocu (Nona Berpayung Merah) dan engkau, Adik
manis, siapakah namamu?"
Karena gadis itu tidak memperkenalkan nama, hanya
memperkenalkan julukannya, maka ia pun menirunya.
"Aku biasa disebut Huang-ho Sian-li."
"Hemm, dengan julukan Dewi Sungai Huang-ho, engkau
tentu memiliki kepandaian yang hebat, Nona." kata pemuda
murid Siauw-lim-pai yang bernama Bu Kong Liang itu,
ucapannya jujur dan tidak mengandung maksud lain.
Ang-mo Niocu terkekeh. "Hi-hik, bagus sekali julukanmu,
Sian-li. Sebaiknya aku menyebutmu Sian-li saja, engkau
setuju?"
Thian Hwa mengangguk, "Boleh, dan aku akan
menyebutmu Niocu saja."
"He-he-heh! Bagus, engkau terbuka dan jujur, seperti juga
Bu-twako ini, aku suka itu! Nah, sekarang setelah kita
berkenalan, perlu kita menceritakan keadaan kita masingmasing,
bukan? Apa artinya mempunyai kenalan tanpa
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
mengetahui keadaannya? Bisa menimbulkan salah paham dan
pertentangan. Hayo, engkau yang laki-laki sepatutnya
mengalah dan ceritakan dulu keadaan dirimu, Bu-twako!"
Bu Kong Liang tersenyum. "Baiklah, memang tidak ada
rahasia tentang diriku. Namaku Bu Kong Liang, sebatang kara
di dunia ini, yatim piatu sejak kecil. Sejak berusia lima tahun
aku telah menjadi kacung dan murid di Siauw-lim-si (Kuil
Siauw-lim). Setelah tamat belajar, para Suhu di Siauw-lim-pai
mengutus aku untuk pergi ke kota raja, menyelidiki keadaan
kota raja setelah pemerintahan dipegang Kerajaan Ceng. Dan
tadi, ketika aku sedang berjalan menyusuri Terusan, tiba-tiba
saja aku dihadang pasukan Kerajaan Ceng (Mancu) yang
hendak menangkap aku dengan tuduhan hendak melakukan
pemberontakan. Sungguh aneh! Mungkin mereka tahu dari
para penyelidik bahwa aku murid Siauw-lim-pai dan mereka
mencurigai aku."
"Bagus! Biarpun riwayat itu pendek saja, namun sudah
dapat menjelaskan bahwa Bu-twako adalah seorang pendekar
Siauw-lim-pai yang tentu saja tidak akan merendahkan diri
menjadi antek penjajah Mancu! Sekarang, bagaimana dengan
engkau, Sian-li? Tiba giliranmu untuk menceritakan
keadaanmu agar kami dapat lebih mengenalmu dengan baik.
Aku percaya bahwa engkau pasti murid seorang yang amat
pandai sehingga semuda ini engkau telah memiliki gin-kang
dan sin-kang sedemikian hebatnya,"
Thian Hwa menjawab dengan tegas. "Niocu, engkau tadi
minta agar Bu-twako yang pertama memperkenalkan diri dan
keadaannya, itu sudah tepat karena memang dia yang paling
tua dan sudah sepatutnya mengalah. Sekarang, karena
engkau lebih tua daripada aku, Niocu, sebaiknya engkau yang
lebih dulu menceritakan keadaanmu."
"He-he-heh, engkau ini anak yang cerdik, Sian-li. Tentu
engkau belum percaya benar padaku karena belum
mengetahui siapa aku dan bagaimana latar belakangku.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Baiklah, aku akan menceritakan keadaanku dengan sejujurnya
karena aku yakin bahwa Bu-twako dan engkau sendiri
bukanlah antek-antek penjajah Mancu, bukan orang-orang di
pihak musuhku. Aku datang dari Barat-daya, dari kota raja
Yunnan-hu, dan aku adalah seorang puteri kepala suku
bangsa Yao. Sejak kecil aku suka mempelajari ilmu silat dan
guruku yang terakhir adalah Suhu Lam Hai Cinjin yang di
selatan terkenal sebagai Datuk Selatan dan kini menjabat
sebagai Koksu (Guru Negara) yang membantu usaha gerakan
pasukan Jenderal Wu menentang penjajah Mancu."
"Hemm, kalau begitu engkau adalah seorang pejuang dari
selatan, Niocu?" tanya Bu Kong Liang sambil memandang
kagum. Pada waktu itu, bagi para pendekar, terutama yang
datang dari selatan nama Wu Sam Kwi merupakan nama
seorang pemimpin pejuang yang patriotik, menentang
penjajah Mancu.
Ang-mo Niocu tersenyum girang dan mengangguk. "Dapat
dianggap demikian, Twako. Aku diutus oleh Jenderal Wu
untuk melihat-lihat keadaan pemerintah Kerajaan Ceng
(Mancu). Maka, ketika tadi aku melihat seorang pemuda
dikeroyok tentara Mancu, tanpa ragu lagi aku membantumu.
Nah, demikianlah riwayat diriku, agar kalian berdua
mengetahui bahwa aku adalah orang yang bekerja untuk
jenderal Wu Sam Kwi yang dengan gigih hendak
mempertahankan sebagiar tanah air daerah Baratdaya dan
bercita-cita membebaskan seluruh tanah air dari cengkeraman
penjajah Mancu. Sekarang tiba giliranmu, Sian-li. Cerita
tentang dirimu tentu jauh lebih menarik daripada riwayat Butwako
dan riwayatku."
"Nanti dulu, Niocu, engkau belum menceritakan apakah
Ayah Ibumu masih ada dan tinggal di mana?" tanya Thian
Hwa.
Ang-mo Niocu terkekeh. "Hi-hik! Tadi sudah kuceritakan
bahwa Ayahku adalah seorang kepala suku bangsa Yao. Ayah
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
dan Ibu masih ada dan tinggal di Yunnan-hu. Mengapa
engkau menanyakan orang tuaku, Sian-li?"
Thian Hwa menghela napas panjang. Tentu saja ia tidak
dapat menceritakan keadaan dirinya yang sesungguhnya. Dua
orang ini agaknya adalah pendekar-pendekar pejuang rakyat
yang anti penjajah Mancu. Ia sendiri keturunan seorang
Pangeran Mancu, ayahnya, Pangeran Ciu Wan Kong, adalah
adik Kaisar Shun Chi yang sekarang masih berkuasa.
Walaupun ibunya seorang wanita Han pribumi akan tetapi
kalau ia mengaku ayah kandungnya seorang Pangeran Mancu,
dua orang ini pasti akan mencurigainya, bahkan mungkin
sekali akan memandangnya seperti seorang musuh!
"Niocu, riwayatku lebih tidak menarik lagi. Engkau masih
beruntung karena mempunyai orang tua. Aku, seperti Bu
Twako, juga hidup seorang diri, sebatang kara. Sejak kecil aku
menjadi murid Suhu Thian Beng Sianjin dan hidup di
sepanjang Sungai Kuning (Huang-ho), menentang kejahatan
dan membela yang lemah tertindas sehingga orang-orang
menyebut aku Huang-ho Sian-li." Thian Hwa merasa lega
karena agaknya dua orang sahabat barunya itu tidak
mengenal nama gurunya.
Bu Kong Liang bertanya, "Sian-li, tadi aku sudah
menceritakan bahwa aku diutus para Suhu di Siauw-lim-pai
untuk menyelidiki keadaan di kota raja setelah pemerintahan
dipegang Kerajaan Ceng (Mancu). Juga Niocu sudah
menceritakan bahwa ia menjadi utusan Jenderal Wu Sam Kwi
untuk menyelidiki keadaan Kerajaan Ceng di kota raja. Nah,
sekarang engkau sendiri hendak ke manakah? Dan apa yang
hendak kaulakukan?"
Thian Hwa menjawab dengan tegas, tanpa ragu. "Aku
meninggalkan Lembah Huang-ho untuk merantau ke tempattempat
ramai untuk mencari pengalaman kini sedang menuju
ke kota Thian-cin."
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Kalau begitu, Sian-li, mari kita melakukan perjalanan
bersama! Engkau dapat membantu aku karena aku percaya
engkau tentu seorang pendekar wanita yang menentang
penjajah Mancu!" kata Ang-mo Niocu.
Thian Hwa menggelengkan kepalanya. "Tidak, Niocu. Aku
tidak ingin melibatkan diri dalam perang. Aku hanya akan
menentang mereka yang melakukan kejahatan dan membela
yang lemah tertindas, tidak peduli siapa atau golongan mana.
Sekarang tidak ada perang lagi dan yang terpenting bagiku
adalah membela dan menegakkan kebenaran dan keadilan di
antara rakyat."
Ang-mo Niocu mengerutkan alisnya, tampak tak senang
mendengar ucapan Thian Hwa. "Mengapa begitu, Sian-li?
Sudah jelas bahwa bangsa Mancu itu jahat sekali, menjajah
tanah air kita. Setiap orang pendekar seharusnya menentang
Kerajaan Ceng yang menjajah!"
"Tidak, Niocu. Sekarang belum saatnya bagi rakyat untuk
bangkit melawan Kerajaan Ceng. Nanti kalau muncul seorang
pemimpin patriot sejati yang menghimpun pasukan rakyat
untuk menentang dan memerangi penjajah, barulah mungkin
aku akan membantunya. Sekarang aku hanya menjadi
penentang kejahatan, bukan penentang pemerintah Kerajaan
Ceng, seperti yang dipesan Guruku."
"Ah!. Bukankah Jenderal Wu Sam Kwi merupakan
pemimpin patriot sejati? Setiap orang gagah harus
membantunya untuk membebaskan tanah air dari penjajah
Mancu." Ang-mo Niocu. bicara penuh semangat. "Kalau tidak,
maka orang gagah itu membiarkan dirinya menjadi
pengkhianat!"
"Sesukamulah engkau hendak bicara apa saja, Niocu! Akan
tetapi bagiku, terus terang saja aku sekarang belum melihat
adanya seorang pemimpin sejati yang patut menghimpun
kekuatan rakyat!"
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Kalau begitu engkau menghina Jenderal Besar Wu Sam
Kwi, Sian-li! Sikapmu ini dapat menimbulkan permusuhan
antara kita berdua!"
"Terserah kepadamu, Niocu. Pendirianku sudah tetap dan
tidak dapat diubah lagi. Aku tidak mencari permusuhan
dengan siapa pun, akan tetapi juga tidak akan menolak kalau
ada yang memusuhi aku!" Kata-kata Thian Hwa juga
mengandung kekerasan karena ia pun sudah marah
mendengar ucapan Ang-mo Niocu yang nadanya menentang
tadi.
Melihat dua orang gadis cantik itu berdiri dengan sikap
seperti dua ekor singa betina siap untuk saling serang, Bu
Kong Liang cepat menengahi.
"Aih, bagaimana sih kalian ini? Baru saja saling berkenalan
sekarang sudah ribut dan bertengkar? Niocu, kukira orang
bebas untuk menentukan jalan pikiran dan pendapatnya
masing-masing. Yang penting kita mempunyai satu sasaran,
yaitu menentang kejahatan. Engkau tidak boleh memaksakan
kehendakmu agar orang lain menyetujui dan mengikuti
pendapatmu sendiri."
JILID II
ANG-MO NIOCU yang tadinya bersikap manis dan ramah
sekali kepada pemuda itu, kini memandang kepadanya dengan
muka merah dan mata bersinar marah. “Bagus, Bu Kong
Liang! Baru saja aku membantumu menghadapi pengeroyokan
pasukan Mancu, dan sekarang engkau malah menentangku
dan membela gadis ini?” bentaknya.
“Niocu, yang kubela adalah kebenaran. Dalam urusan ini,
Huang-ho Sian-li mempertahankan pendiriannya dan ia tidak
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
salah, akan tetapi hendak memaksakan kehendakmu agar
diikuti orang lain, maka engkaulah yang bersalah, Niocu.”
“Biarlah Bu-twako, agaknya Niocu yang tadi membantumu
tanpa kau undang bukan menolongmu, melainkan memberi
hutang dan kini menagih! Kalau ia hendak memaksakan
kehendaknya, aku tetap menolak, dan apa pun akibatnya,
akan kuhadapi! Aku tidak menentang siapa pun, akan tetapi
kalau ada yang menantangku, aku tidak akan mundur
selangkah pun!” Thian Hwa yang memang pada dasarnya
memiliki watak pemberani, jujur dan keras itu berkata dengan
nada tegas, matanya mencorong memandang kepada Ang-mo
Niocu.
“Kau...! Kau...!” Ang-mo Niocu marah sekali dan agaknya
kedua orang gadis itu segera akan saling serang.
Melihat ini, Bu Kong Liang melangkah maju menghadapi
Ang-mo Niocu dan berkata, “Niocu, kuharap engkau
menyadari bahwa kedatanganmu dari selatan ke sini bukan
untuk memusuhi para pendekar yang tidak sehaluan
denganmu.”
Mendengar ucapan pemuda itu, Ang-mo Niocu menekan
kemarahannya. “Huh, kalian menjemukan!” Setelah berkata
demikian, ia memutar tubuhnya dan berkelebat pergi dengan
gerakan cepat, sebentar saja menghilang dari situ.
Kini Thian Hwa berhadapan dengan Bu Kong Liang dan ia
berkata, “Bu-twako, sekarang aku hendak melanjutkan
perjalananku.”
“Nanti dulu, Sian-li. Engkau hendak ke Thian-cin, bukan?
Aku pun hendak ke sana, karena tujuanku ke kota raja. Kalau
engkau tidak merasa keberatan, bagaimana kalau kita
melakukan perjalanan bersama? Aku ingin membicarakan
denganmu tentang banyak hal, tentu saja kalau engkau suka,
karena aku tidak ingin memaksakan kehendakku padamu
seperti yang dilakukan Ang-mo Niocu tadi.”
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Karena sikap pemuda itu sopan dan kata-katanya
mengandung kejujuran, Thian Hwa tidak merasa keberatan
untuk melakukan perjalanan bersama. Mereka lalu
melanjutkan perjalanan ke utara, menyusuri tepi Terusan
menuju ke Thian-cin sambil bercakap-cakap. Mereka berjalan
seenaknya, tidak tergesa-gesa.
“Sian-li, aku tertarik sekali ketika engkau mengatakan
kepada Ang-mo Niocu, bahwa sekarang belum muncul
pemimpin rakyat yang sejati untuk memimpin rakyat melawan
pasukan penjajah Mancu. Padahal, semua orang mengetahui
bahwa sekarang, pemimpin yang dengan terang-terangan
menentang Kerajaan Ceng (Mancu), hanyalah Jenderal Wu
Sam Kwi. Mengapa engkau tidak menganggap jenderal itu
sebagai pemimpin perjuangan yang sejati?”
Thian Hwa menghela napas. Ia sudah banyak mendengar
dari Thian Bong Sianjin tentang perlawanan terhadap bangsa
Mancu yang dulu dilakukan oleh Pemimpin Laskar Rakyat Li Cu
Seng dan Wu Sam Kwi yang jenderal.
“Aku mendengar dari guruku, bahwa sejarah merupakan
saksi betapa orang-orang yang tadinya memimpin rakyat
untuk menggulingkan sebuah pemerintahan, setelah
perjuangan itu berhasil dan dia diangkat menjadi kaisar, lalu
luntur kepemimpinannya, dan dia hanya menggunakan
kekuasaannya untuk memakmurkan dirinya dan keluarganya
saja. Mereka lalu menjadi gila kekuasaan dan lupa akan rakyat
yang sejak dulu mendukung perjuangannya, lupa bahwa
rakyatlah yang memungkinkan dia menjadi kaisar. Hidup dia
dan keluarganya makin mewah berlebihan, kekayaan
ditumpuk sebanyaknya dan tidak mengenal puas, sementara
itu rakyat atau lebih tepat sebagian besar dari rakyat hidup
serba kekurangan. Hanya segerombolan orang yang dekat
dengan kaisar, yang mau menjilat dan mencari muka saja
yang kebagian hidup makmur.”
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
“Aduh, keras sekali penilaianmu terhadap para pemimpin
pejuang, Sian-li!” Bu Kong Liang berseru sambil menahan
senyum. “Pemimpin-pemimpin yang terakhir menentang
masuknya pasukan Mancu adalah Li Cu Seng dan Jenderal Wu
Sam Kwi. Nah, mengapa sekarang engkau menganggap
mereka berdua itu bukan pemimpin sejati?”
“Aku sendiri tidak mengenal mereka, akan tetapi aku
mendengar banyak, tentang mereka, dari guruku. Dahulunya,
Li Cu Seng merupakan pemimpin Laskar Rakyat yang
bijaksana dan cita-citanya besar. Dia memulai sebagai seorang
pahlawan bangsa, seorang patriot sejati. Akan tetapi setelah
dia berhasil memimpin rakyat menduduki Peking dan
mengakhiri Kerajaan Beng yang ketika itu dipimpin para
penguasa yang lalim dan korup, dia juga menjadi gila
kekuasaan, sehingga banyak di antara para pendukungnya
yang terdiri dari para pendekar yang gagah perkasa
meninggalkannya. Kemudian, dia pun diserbu oleh Jenderal
Wu Sam Kwi yang bekerja sama dengan bangsa Mancu,
terusir dan mati dalam pelarian. Jelas Li Cu Seng tidak dapat
mempertahankan kemurniannya sebagai seorang pemimpin
sejati. Dia bahkan pernah tergila-gila kepada seorang wanita
yang tadinya menjadi selir tercinta Jenderal Wu Sam Kwi.
Kemudian ketahuan bahwa Jenderal Wu Sam Kwi menyerang
Li Cu Seng karena terdorong untuk membalas dendam dan
merampas kembali selirnya itu. Jenderal Wu Sam Kwi
merampas Peking atas bantuan bangsa Mancu yang kemudian
mempertahankan kota raja itu sebagai milik mereka. Jenderal
Wu melarikan diri ke Barat Daya, akan tetapi di sana pun dia
hidup sebagai raja kecil. Mereka semua bukanlah pemimpin
sejati yang benar-benar berjuang demi rakyat dan tidak
menjadi gila kekuasaan lalu menggendutkan perut sendiri
sebagai hasil kemenangannya yang sesungguhnya merupakan
kemenangan rakyat jelata.”
Mendengar Thian Hwa bicara panjang lebar, Bu Kong Liang
memandang penuh kagum, lalu menghela napas panjang dan
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
berkata. “Ah, tidak kusangka engkau akan dapat
mengemukakan pandangan yang demikian luas, Sian-li.
Memang kukira pendapatmu itu tidak menyimpang terlalu jauh
dari kenyataannya. Para suhu di Siauw-lim-pai juga sering kali
mengatakan bahwa betapa pun gagah perkasanya seorang
laki-laki, dia harus berhati-hati terhadap tiga hal yang akan
mempengaruhi wataknya, yaitu Kekuasaan, Kekayaan, dan
Wanita. Tiga kekuatan ini dapat menyelewengkan seorang
yang gagah perkasa dan patriotik menjadi lalim dan mengejar
kesenangan diri pribadi.”
“Ah, jangan memujiku, Twako. Sesungguhnya aku hanya
mengetahuinya dari keterangan guruku.”
“Kalau begitu aku yakin bahwa gurumu pasti seorang yang
selain sakti, juga amat bijaksana. Sian-Ii, tadi sudah
kuceritakan bahwa aku hendak pergi ke kota raja untuk
memenuhi perintah para suhu di Siauw-lim-pai, yaitu melihat
keadaan hidupnya rakyat di desa sampai di kota raja, setelah
kini pemerintahan dipegang Kerajaan Ceng (Mancu). Kalau
boleh aku mengetahui, apakah engkau mempunyai tujuan
dalam perjalananmu ini?”
“Sebelum aku menjawab pertanyaanmu itu, Twako, aku
ingin bertanya lebih dulu. Apakah engkau juga anti Kerajaan
Mancu dan menentangnya seperti halnya Ang-mo Niocu?”
“Ah, tidak, Sian-li. Keadaanku tiada bedanya denganmu.
Para suhu di Siauw-lim-pai juga tidak ingin mengadakan
permusuhan secara terbuka menentang Kerajaan Ceng,
karena hal itu akan sia-sia belaka. Tidak mungkin Siauw-limpai
yang hanya memiliki beberapa ratus anggota mampu
menandingi pasukan Mancu yang ratusan ribu jumlahnya.
Tidak, aku hanya disuruh menyelidiki dan melakukan tugas
sebagai murid Siauw-lim-pai, yaitu menentang kejahatan dan
membela yang lemah tertindas.”
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
“Kalau begitu, mengapa tadi engkau diserang pasukan
Mancu yang dipimpin oleh Hui-eng-to Phang Houw dan Liongbu
Pangcu Louw Cin?”
“Eh? Engkau mengenal dua orang yang memimpin pasukan
itu, Sian-li?”
“Aku mengenal mereka, akan tetapi jawab dulu
pertanyaanku tadi, Bu-twako.”
“Seperti sudah kuceritakan tadi, aku sendiri tidak tahu
mengapa aku diserang pasukan Mancu. Dengan tiba-tiba saja
mereka menyerangku. Ini menguatkan dugaan para pimpinan
Siauw-lim-pai bahwa Pemerintah Mancu diam-diam mencurigai
para perkumpulan persilatan besar, terutama sekali Siauw-limpai.
Karena ketika terjadi perlawanan terhadap balatentara
Mancu, banyak terdapat ahli-ahli silat, pendekar-pendekar, di
antaranya banyak pendekar Siauw-lim-pai berada di pihak
Kerajaan Beng. Mungkin saja ada mata-mata mereka yang
mengetahui bahwa aku seorang murid Siauw-lim-pai, maka
mereka langsung mengeroyokku.”
Thian Hwa mulai percaya kepada pemuda itu, akan tetapi
untuk mengaku sebenarnya tentang dirinya, bahwa ia adalah
puteri seorang pangeran, ia masih belum mau. Maka untuk
menjawab pertanyaan pemuda itu tadi, ia lalu memberitahu
sebagian saja. “Bu-twako, engkau tadi menanyakan tujuan
perjalananku. Aku juga hendak pergi ke kota raja, akan
mencari kakekku yang dulu berada di kota raja, bekerja
sebagai pelayan pada sebuah keluarga pangeran. Dan
mengenai dua orang yang memimpin pasukan yang
menyerangmu, memang aku mengenal mereka, bahkan aku
pernah bentrok dengan mereka. Hui-eng-to Phang Houw dan
Louw Cin Ketua Liong-bu-pang itu adalah kaki tangan seorang
pangeran lain yang agaknya mempunyai ambisi hendak
merampas kedudukan Kaisar yang sudah tua. Begitulah, Butwako,
apa yang dapat kuterangkan kepadamu sementara ini
dan harap engkau tidak bertanya lagi tentang itu.”
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Bu Kong Liang mengangguk-angguk. Diam-diam pemuda
itu merasa kagum kepada Thian Hwa dan dia menduga bahwa
tentu ada sesuatu yang dirahasiakan oleh gadis itu. Gadis
yang begini cantik jelita, sederhana, memiliki ilmu yang tinggi
akan tetapi seperti ada rahasia yang menyelubungi dirinya.
Gadis ini agaknya mengenal keadaan para pangeran di kota
raja sehingga mengetahui akan adanya pangeran yang hendak
ingin merampas tahta kerajaan yang berarti pemberontakan
dan pernah bentrok dengan kaki tangan pemberontak itu.
Gadis aneh yang agaknya menyembunyikan pula namanya,
hanya memperkenalkan diri dengan julukannya, Huang-ho
Sian-li! Akan tetapi dia menahan keinginan tahunya, khawatir
kalau-kalau akan menyinggung gadis itu dan membuatnya
marah. Dia ingin mengenal gadis itu lebih baik lagi yang dia
percaya tentu seorang gadis pribumi Han mengingat akan
keterangannya tadi bahwa ia cucu seorang yang bekerja
sebagai pelayan di sebuah keluarga pangeran. Pada waktu itu,
yang bekerja sebagai pelayan keluarga bangsawan Mancu
pastilah seorang pribumi Han!
“Terima kasih, Sian-li. Keteranganmu itu sudah cukup dan
terima kasih atas kepercayaanmu padaku. Aku senang sekali
dapat melakukan perjalanan bersamamu ke kota raja karena
engkau tentu sudah mengenal kota raja, sedangkan aku
belum pernah melihatnya.”
“Aku pun baru satu kali berkunjung ke sana, hampir dua
tahun yang lalu,” kata Thian Hwa, merasa lega bahwa pemuda
itu tidak mendesak dan bertanya lebih jauh tentang riwayat
dirinya. Ia merasa semakin suka kepada Bu Kong Liang yang
agak pendiam, berwibawa, sopan dan bersikap hormat itu.
Mereka melanjutkan perjalanan ke utara, menuju kota
Thian-cin.
0odw-jTno0
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Dusun Kia-jung terletak di dekat Terusan, hanya sekitar
dua puluh mil jauhnya dari kota Thian-cin. Karena letaknya di
tepi Terusan dan dekat kota besar, maka dusun itu ramai dan
menjadi pusat pengumpulan hasil bumi yang akan dikirim ke
Thian-cin, bahkan ada yang dikirim ke Peking. Penduduknya
memiliki kehidupan yang cukup makmur dan biarpun di dusun
itu tidak terdapat pasukan keamanan yang besar, hanya
terjaga keamanannya oleh belasan orang pemuda penduduk
dusun itu sendiri, namun selama ini keamanannya cukup baik.
Tidak pernah terjadi gangguan keamanan yang besar. Yang
pernah ada hanyalah pencurian kecil-kecilan.
Sore hari itu, keadaan dusun Kia-jung sudah mulai sepi.
Kesibukan perdagangan hasil bumi terjadi dari pagi sampai
siang tadi, dan pada sore hari ini orang-orang sudah mengaso
setelah lelah bekerja pada pagi dan siang harinya. Dua belas
orang pemuda malas-malasan berada di gardu penjagaan
yang berada di pintu gerbang dusun sebelah selatan. Mereka
bercakap-cakap dengan seorang laki-laki tua. Laki-laki tua itu
berusia sekitar enam puluh enam tahun, pakaiannya biarpun
sederhana, namun lebih rapi dan bersih dibandingkan pakaian
seorang kakek dusun. Juga ketika dia bicara, cara bicaranya
juga menunjukkan bahwa dia sudah biasa bicara halus dan
sopan. Akan tetapi dia ramah sekali dan agaknya disuka oleh
para pemuda itu yang menghujani pertanyaan kepadanya
tentang segala hal yang belum mereka ketahui. Ternyata
kakek itu pandai sekali bercerita, terutama cerita mengenai
kehidupan di kota raja. Agaknya dia tahu benar keadaan di
kota raja, bahkan dia dapat menceritakan keadaan di istanaistana
para pangeran. Ketika dia bercerita betapa dia pernah
mengiringkan seorang pangeran berkunjung ke istana kaisar,
para pemuda itu mendengarkan dengan penuh kekaguman.
Kakek itu pandai sekali menggambarkan keadaan dan
kemewahan istana kaisar yang belum pernah mereka
bayangkan dalam mimpi sekalipun!
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
“Sam Lopek (Paman Tua Sam), benarkah para puteri istana
itu memiliki kecantikan seperti bidadari dari langit?” seorang di
antara mereka bertanya dan pertanyaan ini disambut tawa ria
para pemuda itu.
“Tolong gambarkan kecantikan mereka, Lopek!” kata yang
lain, dan riuh rendahlah para pemuda itu minta agar kakek itu
suka menggambarkan kecantikan para puteri istana yang
sudah mereka dengar namun belum pernah mereka saksikan.
Kakek yang dipanggil Sam Lopek itu tersenyum dan tampak
deretan giginya yang tidak utuh lagi, sudah terdapat ompong
di sana-sini sehingga wajahnya yang masih memiliki bekas
ketampanan itu tampak lucu.
“Heh-heh, para pemuda itu di mana-mana sama saja. Di
kota maupun desa, yang tinggal di istana maupun yang
tinggal gubuk, semua sama. Selalu bersemangat kalau
mendengar tentang wanita cantik!” katanya, dan ucapan ini
disambut sorak dan tawa para pemuda itu.
Kembali kakek itu tersenyum. “Wah, puteri-puteri istana
memang cantik jelita seperti bidadari, akan tetapi bagi aku,
para dayang istana, gadis-gadis yang menjadi pelayan istana
bahkan lebih cantik manis dibandingkan para puterinya.”
“Eh, benarkah itu, Lopek? Masa pelayannya lebih cantik
daripada majikannya?” seorang pemuda bertanya tak percaya.
“Sebetulnya mereka itu sama-sama cantiknya, hanya
bedanya, kalau puteri-puteri istana yang menjadi majikan itu
memakai bedak terlalu tebal, gincu terlalu merah dan celak
terlalu hitam, sehingga kecantikan mereka seperti topeng,
sebaliknya para gadis dayang atau pelayan itu, yang tidak
diperbolehkan berias terlampau tebal, malah tampak
kecantikan aselinya. Kalau boleh diumpamakan bunga, para
puteri itu adalah bunga kertas, sedangkan para pelayan itu
bunga murni!”
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Para pemuda itu kembali tertawa riuh. Tiba-tiba mereka
dikejutkan oleh munculnya belasan orang yang bertubuh
tinggi besar dan berwajah seram. Usia mereka antara tiga
puluh sampai empat puluh tahun, dan di pinggang mereka
tergantung senjata tajam seperti pedang atau golok atau
ruyung. Melihat ini, dua belas orang pemuda itu berlompatan
dengan kaget, akan tetapi mereka siap, biarpun para pemuda
yang melakukan penjagaan itu hanya mempunyai sebatang
tongkat di tangan masing-masing. Akan tetapi kakek itu
memberi isyarat kepada para pemuda untuk mundur. Dia
melihat bahwa belasan orang bertampang seram itu
berbahaya sekali kalau dihadapi dengan kekerasan, maka dia
pun melangkah maju dan mengangkat tangan depan dada
memberi hormat kepada seorang di antara mereka yang jelas
menunjukkan diri sebagai pemimpin. Orang ini bermuka
hitam, bertubuh tinggi besar dan pakaiannya berbeda dengan
yang lain. Pakaiannya lebih mentereng dan di pinggangnya
tergantung sepasang golok besar. Kumisnya panjang
melingkar, tanpa jenggot dan sepasang matanya lebar,
memandang bengis.
“Selamat datang di dusun Kia-jung kami! Apakah yang
dapat kami bantu untuk Cu-wi (Anda Sekalian)?”
Tiba-tiba Si Muka Hitam itu menggerakkan tangan kirinya
dan tahu-tahu dia sudah mencengkeram baju kakek itu, dan
sekali angkat, tubuh kakek itu pun terangkat ke atas!
“Kamu ini anjing tua antek para pangeran penjajah Mancu!
Orang-orang di s ini tentu sudah engkau pengaruhi!”
Melihat kakek itu diangkat, beberapa orang pemuda maju
hendak menolong. Akan tetapi kakek itu dibanting ke atas
tanah sedemikian kerasnya sehingga seketika pingsan di
depan kaki Si Muka Hitam yang galak itu. Si Muka Hitam lalu
mencabut sebuah golok, menempelkan golok pada leher kakek
yang pingsan itu sambil membentak.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
“Kalian berani melawan kami? Kakek ini akan kubunuh dulu
sebelum kami membunuh kalian dan seisi dusun kalau berani
melawan kami!”
Mendengar ini, belasan orang pemuda itu terkejut dan
menjadi jerih. Mereka bukanlah jagoan-jagoan dan kini
berhadapan dengan sekitar tujuh belas orang yang tinggi
besar, berwajah bengis menyeramkan dan semua membawa
senjata tajam, tentu saja mendengar gertakan itu, hilang
keberanian mereka. Baru melihat mereka itu membawa
senjata tajam dengan terang-terangan saja mereka sudah
jerih. Pada waktu itu, Pemerintah Mancu melarang orang
membawa senjata tajam di tempat umum, dan sekitar tujuh
belas orang ini demikian terang-terangan membawa senjata
tajam, padahal dusun Kia-jung letaknya dekat kota raja Thiancin
dan tidak begitu jauh dari kota raja Peking. Ini saja
menunjukkan bahwa mereka pasti bangsa perampok atau
segerombolan penjahat.
Melihat para pemuda itu mundur-mundur ketakutan, kepala
gerombolan itu lalu berseru kepada anak buahnya. “Hayo
cepat kumpulkan sumbangan dari para penduduk dusun ini.
Kalau mereka tidak mau menyerahkan sumbangan yang cukup
demi perjuangan kita, berarti mereka itu antek Mancu dan
kalian bunuh saja!”
Belasan orang itu mulai bergerak memasuki rumah-rumah
penduduk. Akan tetapi mereka memilih dan hanya rumah
yang kelihatan besar dan kelihatan sebagai tempat tinggal
keluarga kaya saja yang mereka masuki. Segera terdengar
jerit ketakutan dari rumah-rumah itu dan para anggota
gerombolan itu keluar dari rumah sambil membawa kantungkantung
yang sudah diduga tentu berisi uang atau benda
berharga yang lain.
Akan tetapi baru enam rumah mereka jarah rayah, tiba-tiba
pemimpin gerombolan bermuka hitam itu berteriak memanggil
mereka. Enam belas orang anak buahnya sambil membawa
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
kantung-kantung jarahan berlari-lari kembali ke pintu gerbang
selatan itu.
Apa yang terjadi sehingga kepala gerombolan yang
bermuka hitam itu memanggil anak buahnya? Kiranya ketika
enam belas orang anak buah gerombolan itu sedang sibuk
merampasi barang-barang berharga dari beberapa buah
rumah besar di sepanjang jalan raya, dan kepala gerombolan
bermuka hitam itu masih berdiri dengan sikap sombong di
sana, tak jauh dari tubuh kakek yang masih pingsan,
sedangkan belasan orang pemuda dusun itu berdiri agak jauh
dengan penasaran akan tetapi juga ketakutan, datang ke
tempat itu seorang pemuda dan seorang gadis yang bukan
lain adalah Bu Kong Liang dan Thian Hwa!
Begitu melihat beberapa orang pemuda dusun berdiri
ketakutan dan melihat pula seorang laki-laki tinggi besar
bermuka hitam dan bengis berdiri dengan kedua kaki
terpentang lebar dan lagaknya sombong, sedangkan seorang
kakek rebah menelungkup pingsan tak jauh dari kaki laki-laki
muka hitam itu, Bu Kong Liang segera bertanya kepada para
pemuda itu.
“Apa yang terjadi?”
Seorang di antara pemuda itu menggerakkan muka ke arah
laki-laki muka hitam sambil berbisik, “Dia dan anak buahnya
sedang merampok rumah-rumah penduduk kita.”
Mendengar ini, tanpa banyak cakap lagi Thian Hwa lalu
menghampiri laki-laki muka hitam dan Bu Kong Liang cepat
mengikutinya. Laki-laki muka hitam itu dengan alis berkerut
dan sikap memandang rendah melotot kepada gadis dan
pemuda yang berani menghampirinya itu.
“Kalian mau apa? Apakah kalian hendak membela para
antek Mancu?” tanyanya dengan suara membentak galak.
Mendengar ini, Bu Kong Liang merasa heran. Sebelum
Thian Hwa berkata atau berbuat sesuatu, dia cepat bertanya.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
“Sobat, kami tidak ingin membela antek Mancu. Siapakah
engkau?” Pertanyaan Bu Kong Liang dilakukan dengan sikap
dan suara lembut, dan Si Muka Hitam itu membusungkan
dadanya yang lebar dan tebal.
“Hemm, mau mengenal aku? Aku adalah Tiat-thou Hek-go
(Buaya Hitam Kepala Besi) yang memimpin seregu pejuang
yang gagah perkasa!”
“Hemm, apa yang terjadi dengan orang tua itu?” Thian
Hwa menuding ke arah tubuh kakek yang telungkup di atas
tanah.
“Huah-ha-ha, dia adalah antek Mancu. Ketika tadi kami
datang, dia menceritakan kepada para pemuda itu tentang
pangeran dan istana. Aku menamparnya!”
“Dan apa yang dilakukan anak buahmu itu?” tanya Bu Kong
Liang, menahan kemarahannya.
“Kami minta sumbangan kepada penduduk. Yang tidak mau
menyumbang berarti mereka itu antek Mancu dan akan kami
basmi semua! Kami pejuang rakyat, patriot-patriot bangsa
yang menentang penjajah Mancu dan semua anteknya!” Si
Muka Hitam itu semakin berlagak, apalagi dihadapi Thian Hwa
yang cantik jelita, aksinya makin hebat, mulutnya senyumsenyum,
matanya melirik-lirik dan dadanya diangkat
membusung. Thian Hwa merasa muak melihat betapa orang
itu melirik-lirik sambil cengar-cengir kepadanya.
Bu Kong Liang tak dapat menahan kemarahannya lagi. Dia
menudingkan telunjuk kirinya ke arah hidung Si Muka Hitam
lalu berkata dengan nyaring.
“Beginikah macamnya pejuang rakyat? Kamu ini bukan lain
hanyalah perampok yang bertopeng pejuang! Orang macam
kamu ini yang mengotorkan dan menodai nama pejuang dan
patriot! Manusia tak bermalu!”
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Si Muka Hitam terbelalak dan matanya yang melotot
menjadi merah saking marahnya. Akan tetapi sebelum dia
mampu membuka mulut atau bergerak, Thian Hwa sudah
menyambung dengan ucapan yang lebih ketus lagi.
“Yang macam begini bukan manusia lagi, melainkan buaya
yang kotor dan jahat, yang tidak patut dibiarkan hidup. Kamu
buaya kepala besi? Aku
berani bertaruh,
kepalamu tidak sekeras
besi melainkan selunak
tahu, sekali pukul juga
hancur!”
Sepasang mata itu
semakin melotot seperti
mau melompat keluar
dari kelopaknya, hidung
dan mulutnya seolah
mengeluarkan asap
panas saking marahnya
dan sambil
mengeluarkan gerengan
seperti seekor biruang,
raksasa muka hitam
yang berjuluk Buaya
Hitam Berkepala Besi itu menerkam ke arah Thian Hwa. Kedua
lengannya yang panjang dan besar itu hendak merangkul dari
kanan kiri dan agaknya gadis itu tidak akan dapat
menghindarkan diri lagi.
Akan tetapi menghadapi serangan kasar yang hanya
mengandalkan kekuatan otot itu tentu saja merupakan
ancaman kecil sekali bagi Thian Hwa. Dengan kedua tangan
terbuka, ia menyambut dua lengan itu dengan pukulan tangan
miring untuk menangkis dan pada saat itu juga, kaki kirinya
mencuat ke arah perut lawan.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
“Plak-plak, bukk...!” Tubuh kepala rombongan itu
terjengkang dan terbanting roboh. Rasa kepalanya seperti
tujuh keliling karena kedua lengannya terasa nyeri seperti
ditangkis besi, perutnya mulas dicium ujung sepatu kaki kiri
Thian Hwa, ditambah lagi belakang kepalanya terbanting ke
atas tanah. Akan tetapi saking marahnya, dia tidak mau
merasakan semua kenyerian itu dan cepat bangkit berdiri lalu
memanggil anak buahnya!
Kini tujuh belas orang laki-laki tinggi besar itu mengepung
Thian Hwa dan Bu Kong Liang dan mereka sudah mencabut
senjata mereka, pedang, golok, atau ruyung. Kini yang
menonton tak jauh dari situ bukan hanya dua belas orang
pemuda dusun Kia-jung, akan tetapi bertambah menjadi dua
puluh orang lebih, semuanya laki-laki tua muda yang tertarik
dan berdatangan ke situ. Akan tetapi mereka semua tidak
berani menentang tujuh belas orang yang tampak kuat dan
bengis itu, dan kini mereka memandang dengan penuh
kekhawatiran akan nasib gadis cantik dan pemuda tampan
yang tidak mereka kenal itu. Kakek Sam telah mereka angkat
dan kini direbahkan di tepi jalan, masih dalam keadaan
pingsan.
Akan tetapi dua orang yang amat dikhawatirkan penduduk
dusun itu, Thian Hwa dan Bu Kong Liang, tenang-tenang saja
walaupun dikepung dan diancam tujuh belas orang yang
tampaknya buas dan kejam itu.
“Bagaimana, Twako. Akan kita apakah para pejuang
patriotik ini?” tanya Thian Hwa.
“Pejuang? Huh, gerombolan perampok mengaku patriot
pejuang! Kita hajar mereka baru tahu rasa!” kata Bu Kong
Liang.
Thian Hwa mengangguk setuju, dan tiba-tiba tujuh belas
orang itu menerjang maju, menyerang dengan senjata
mereka. Akan tetapi Thian Hwa dan Bu Kong Liang maklum
dari gerakan mereka bahwa mereka itu hanya bertenaga kuat
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
saja, sama sekali tidak memiliki ilmu silat yang berarti. Maka
tubuh gadis dan pemuda ini berkelebatan cepat dan para
pengeroyok menjadi kacau! Mereka merasa kehilangan dua
orang yang mereka keroyok, yang tiba-tiba berubah menjadi
bayangan yang berkelebatan dan semua serangan mereka
tidak pernah mengenai sasaran. Bahkan kini terdengar
teriakan-teriakan mereka, dan senjata di tangan mereka
terlepas dari pegangan dan terlempar ke sana-sini.
Melihat ini, para penduduk, terutama pemudanya, tidak
merasa takut lagi. Timbul semangat mereka dan mereka pun
datang menyerbu. Celakalah tujuh belas orang perampok itu.
Setiap ada yang roboh oleh tendangan atau tamparan Thian
Hwa atau Kong Liang, penduduk menyerbu, membawa
pentungan atau senjata-senjata tajam memukul dan
membacok para perampok yang berserakan dan habislah
tubuh perampok yang roboh itu, hancur dihujani bacokan dan
pukulan. Dalam waktu singkat saja tujuh belas orang
perampok bertopeng pejuang itu pun mati semua dikeroyok
penduduk!
Ketika para penduduk mencari dua orang yang telah
menyelamatkan mereka itu, mereka tidak menemukan gadis
dan pemuda tadi! Juga Kakek Sam tidak tampak di s itu. Kakek
yang tadinya masih pingsan itu kini lenyap!
Akan tetapi para penduduk tidak sempat memikirkan ke
mana perginya gadis dan pemuda gagah perkasa itu, juga
mengira bahwa Kakek Sam sudah siuman dan pulang ke
rumahnya. Mereka kini sibuk menyambut sepasukan tentara
Mancu yang kebetulan lewat di dusun Kia-jung, datang dari
Thian-cin dan tadi dilapori seorang penduduk. Akan tetapi
ketika pasukan yang terdiri dari dua losin prajurit itu tiba di
tempat pertempuran, tujuh belas orang gerombolan perampok
itu telah mati semua! Karena gerombolan perampok itu
mengaku sebagai pejuang yang menentang Pemerintah
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Kerajaan Ceng, tentu saja penduduk Kia-jung mendapat pujian
dari komandan pasukan.
Ke manakah perginya Thian Hwa dan Kong Liang? Dan ke
mana pula menghilangnya Kakek Sam? Tadi, setelah
merobohkan semua penjahat dan penduduk membantai para
penjahat yang sudah roboh terluka oleh tamparan dan
tendangan Thian Hwa dan Kong Liang, tiba-tiba Thian Hwa
mendengar suara panggilan.
“Cucuku Thian Hwa...!”
Thian Hwa terkejut dan cepat memandang. Kiranya Kakek
Sam yang tadinya roboh pingsan terpukul kepala gerombolan,
telah siuman dan ketika dia melihat Thian Hwa, dia segera
mengenalnya sebagai cucunya! Kiranya kakek itu adalah Cui
Sam yang ketika menjadi pengawal Pangeran Cu Kiong
disebut Lo Sam. Thian Hwa juga segera mengenal kakeknya,
maka ia cepat menghampiri dan karena ia tidak ingin dirinya
dikenal banyak orang, ia lalu mengajak Cui Sam pergi dari
situ. Bu Kong Liang mengikuti dari belakang. Thian Hwa
menggandeng tangan kakeknya dan karena ia
mempergunakan ilmu berlari cepat, kakek itu merasa dirinya
seolah dibawa terbang!
Setelah tiba jauh di luar dusun Kia-jung, Thian Hwa
menghentikan larinya. Kong Liang juga berhenti dan dia
memandang kepada gadis itu dengan heran, lalu menoleh
kepada kakek itu. Kakek Cui Sam menghela napas panjang
dan karena masih merasa pening setelah baru saja siuman
dari pingsan diajak “terbang” oleh cucunya, dia lalu duduk di
atas sebuah batu yang banyak terdapat di tepi jalan itu.
Thian Hwa melihat betapa Kong Liang memandangnya
dengan mata mengandung pertanyaan dan keheranan, maka
setelah tadi ia menyaksikan sepak terjang Kong Liang
menghadapi para perampok yang mengaku pejuang, ia tidak
ragu lagi untuk memperkenalkan diri sebenarnya. Selama
beberapa hari melakukan perjalanan bersama pemuda itu, ia
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
mendapat kenyataan bahwa Kong Liang seorang pemuda
yang selain gagah perkasa dan ramah, juga jujur dan sopan.
“Perkenalkan, Twako, ini adalah kakekku, ayah dari ibuku,
bernama Cui Sam.” Lalu gadis itu berkata kepada kakeknya.
“Kong-kong (Kakek), ini adalah Twako (Kakak) Bu Kong Liang,
seorang pendekar dari Siauw-lim-pai, sahabatku.”
Ciu Sam cepat membalas penghormatan Bu Kong Liang dan
dia berkata, “Terima kasih kepada Bu Thaihiap (Pendekar
Besar Bu) yang telah menolong penduduk Kia-jung membasmi
para perampok tadi.”
“Ah, Paman Cui Sam, yang banyak merobohkan para
perampok adalah Sian-li ini.”
“Sian-li? Ah, engkau maksudkan cucuku ini? Aih, kalau tidak
melihat sendiri setelah saya siuman tadi, saya tidak dapat
percaya bahwa cucu saya sekarang telah menjadi seorang
pendekar wanita yang berilmu tinggi!”
“Wah, bukan tinggi lagi, Paman. Ia malah terkenal sebagai
Huang-ho Sian-li!” kata Kong Liang sambil tersenyum senang
melihat kebanggaan kakek itu akan kehebatan cucunya.
“Sudahlah, Twako, jangan terlalu memuji. Sekarang hari
sudah hampir gelap, kita harus mencari tempat penginapan.
Kong-kong kelelahan dan perlu beristirahat. Kota Thian-cin
tidak jauh lagi, mari kita cepat melanjutkan perjalanan ke sana
agar jangan terlalu malam tiba di Thian-cin.”
“Biar Paman Cui Sam kugendong saja agar perjalanan
dapat dilakukan lebih cepat,” kata Kong Liang.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Thian Hwa menyetujui dan kini kakek itu digendong di
punggung Kong Liang, dan mereka berdua menggunakan ilmu
berlari cepat sehingga yang tampak hanya berkelebatnya dua
bayangan. Apa lagi cuaca mulai remang, maka andaikata ada
orang melihat mereka, tentu hanya mengira bayangan pohon
atau burung yang lewat. Yang menjadi terkagum-kagum
bercampur takut adalah Cui Sam. Biarpun dia mengetahui
bahwa terdapat banyak ahli silat yang pandai dan memiliki
ilmu kepandaian yang menakjubkan, namun baru tadi ketika
digandeng Thian Hwa dia
merasakan, apalagi
sekarang dengan
digendong, pemuda itu
dapat berlari secepatnya
sehingga dia merasa
seolah-olah dibawa
terbang ke angkasa!
Setibanya di Thian-cin,
mereka menyewa tiga
buah kamar, dan melihat
kakeknya kelelahan,
Thian Hwa tidak mau
mengganggunya. Setelah
mereka makan malam,
Kakek Cui Sam lalu
memasuki kamarnya dan
tidur.
“Besok saja kita bicara,” kata Thian Hwa dan biarpun Kong
Liang ingin benar mengetahui lebih banyak tentang kakek itu,
dia maklum bahwa dia harus bersabar sampai besok.
0odw-jTno0
Pada keesokan harinya, pagi-pagi sekali setelah mandi,
Thian Hwa memasuki kamar kakeknya. Cui Sam juga telah
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
membersihkan diri dan setelah menutupkan daun pintu kamar
itu, mereka lalu duduk bercakap-cakap.
“Kong-kong, aku ingin sekali mendengar ceritamu tentang
ibu dan ayah kandungku.”
Kakek itu mengangguk-angguk. “Memang, Thian Hwa,
ketika kita bicara dulu, baru sedikit kuceritakan kepadamu
tentang mereka karena Pangeran Cu Kiong muncul.”
“Sekarang lebih dulu beritahukan, mengapa Kong-kong
berada di dusun itu? Bukankah engkau bekerja di gedung
Pangeran Cu?”
“Aku dikeluarkan setelah terjadi keributan denganmu
dahulu itu, Thian Hwa. Masih baik dia tidak menggangguku,
hanya memecat dan mengusirku. Setelah pergi dari kota raja,
aku kembali ke dusun Kia-jung yang menjadi kampung
halamanku ketika aku masih muda.”
“Nah, sekarang ceritakan dari permulaan sejak ibu
kandungku menjadi isteri Pangeran Ciu Wan Kong. Aku ingin
sekali mendengar semuanya tentang kehidupan ibu dan
ayahku.”
Kakek Cui Sam lalu bercerita. Di waktu mudanya, Cui Sam
adalah penduduk dusun Kia-jung. Dia hidup dengan isterinya
dan mereka mempunyai seorang anak perempuan yang
mereka namakan Cui Eng. Akan tetapi keluarga ini tertimpa
malapetaka ketika terjadi perang yang berkecamuk di daerah
Cina terutama di bagian utara pada waktu Kerajaan Ceng
mulai berdiri sebagai kejayaan jaman Mancu yang semakin
berkembang. Dalam keributan perang, isteri Cui Sam saking
terkejut dan ketakutan karena harus berlari mengungsi dari
satu ke lain tempat, jatuh sakit sampai meninggal dunia.
Tinggal Cui Sam seorang diri bersama puterinya, Cui Eng yang
baru berusia sepuluh tahun.
Cui Sam lalu mengembara ke utara dan sampai ke Peking.
Dia lalu menghambakan diri, menjadi pelayan di gedung
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Pangeran Ciu Wan Kong dan keluarganya. Ketika dia diterima
menjadi pelayan, Pangeran Ciu Wan Kong berusia dua puluh
tahun. Pangeran tua Ciu, ayah Pangeran Ciu Wan Kong dan
semua keluarga itu suka kepada Cui Sam yang rajin dan
pandai membawa diri sehingga mereka memperkenankan Cui
Sam membawa Cui Eng tinggal di kamar-kamar pelayan dari
gedung itu.
Setelah Cui Eng menjadi dewasa, ia amat cantik jelita dan
ia pun ikut bekerja sebagai pelayan bagian dalam,
membersihkan kamar-kamar, melayani makan dan
sebagainya. Akhirnya terjalin perasaan saling mencinta antara
Pangeran Ciu Wan Kong yang tampan dengan Cui Eng. Niat
Cui Sam untuk menjodohkan puterinya, selalu ditentang
Pangeran Ciu Wan Kong. Bahkan diam-diam pangeran muda
dan gadis pelayan itu mengadakan hubungan. Ketika Cui Eng
berusia dua puluh satu tahun, Pangeran Ciu Wan Kong
memberitahu ayah ibunya bahwa dia ingin mengangkat Cui
Eng menjadi isterinya. Tentu saja Pangeran Tua Ciu dan
isterinya tidak menyetujui niat putera mereka! Bahkan ketika
Pangeran Ciu Wan Kong mohon agar diperbolehkan
mengambil Cui Eng sebagai selirnya, orang tuanya, terutama
ibunya menyatakan tidak setuju.
“Wan Kong, bagaimana engkau dapat melakukan hal yang
memalukan itu? Seorang pangeran mengambil pelayan yang
rendah derajatnya, pelayan keluarga sendiri lagi? Ah, nama
kita akan tercemar dan menjadi bahan gunjingan para
bangsawan. Tidak, aku tidak setuju! Banyak wanita yang
dapat kauambil menjadi selirmu, akan tetapi jangan pelayan
sendiri!”
Akan tetapi, ketika Ciu Wan Kong memberitahu bahwa Cui
Eng sedang mengandung hasil hubungannya dengan dia,
orang tuanya terpaksa tidak dapat menolak lagi. Akan tetapi
ibunya yang amat menjaga nama dan kehormatan
kebangsawanan mereka, mengajukan sebuah syarat.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
“Baik, engkau boleh mengambil Cui Eng sebagai selir, akan
tetapi setelah ia melahirkan seorang anak laki-laki! Kalau nanti
ia melahirkan seorang anak perempuan, engkau tidak boleh
mengakuinya dan ia harus minggat dari s ini!”
Keputusan ibunya itu tidak dapat diganggu-gugat lagi.
Bahkan ayahnya juga tidak berdaya. Akhirnya Cui Eng
melahirkan dan... yang terlahir adalah seorang anak
perempuan! Tanpa ampun lagi, dan tanpa mempedulikan
puteranya yang menangis, ibu Pangeran Ciu Wan Kong
mengusir Cui Sam dan Cui Eng dari gedung itu dengan
memberi uang pesangon sekadarnya. Diam-diam Pangeran
Ciu Wan Kong yang tidak berdaya itu memberi bekal uang
yang cukup banyak kepada Cui Sam.
Demikianlah, Cui Sam membawa anaknya, Cui Eng, dan
cucunya, pergi dari kota raja. Akan tetapi ketika mereka
menyeberangi Sungai Huang-ho, datang badai mengamuk dan
perahu mereka terbalik.
“Aku tidak melihat lagi anakku Cui Eng dan bayinya.
Kuanggap mereka itu telah hanyut atau tenggelam dan tewas.
Sungguh tak kusangka, ketika engkau menjadi tamu Pangeran
Cu Kiong, yang menjadi majikanku setelah aku hidup sendiri
dan kembali ke kota raja, engkau menceritakan riwayatmu
dan aku yakin bahwa engkau adalah cucuku, anak Cui Eng
karena wajahmu persis wajah ibumu!”
“Kong-kong, kalau engkau dapat menyelamatkan diri dari
Sungai Kuning (Huang-ho), dan aku yang masih bayi saja
dapat ditolong orang yang kemudian menjadi guruku, juga
kakek angkatku, apakah tidak mungkin ibuku itu dapat
diselamatkan orang dan sekarang masih hidup?”
Kakek itu menghela napas panjang. “Bertahun-tahun aku
mengharapkan hal itu terjadi, akan tetapi setelah hampir dua
puluh tahun ini tidak ada kabar darinya, aku sudah putus asa
dan menganggap bahwa anakku Cui Eng sudah meninggal
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
dunia. Kalau ia dapat terbebas dari kematian, tidak mungkin
selama ini ia tidak memberi kabar kepadaku.”
Thian Hwa merasa kecewa, akan tetapi ia tidak putus asa
tentang ibunya. Sebelum ia mendapat bukti atau mendengar
saksi akan kematian ibunya, ia masih mempunyai harapan.
“Kong-kong, sebetulnya siapakah namaku? Nama yang
diberi Ibu padaku?”
Kakek itu menghela napas panjang. “Ketika itu, kami pergi
meninggalkan kota raja dalam keadaan tenggelam ke dalam
duka. Sampai beberapa kali aku menyinggung tentang
pemberian nama padamu, namun ibumu hanya menangis dan
mengatakan belum memikirkan hal itu. Maka, sampai
terjadinya kecelakaan yang mengakibatkan engkau hilang,
engkau belum diberi nama oleh ibumu. Oleh karena itu,
pakailah nama pemberian gurumu, Thian Hwa. Nama itu
sudah bagus sekali.”
“Akan tetapi aku adalah keturunan marga Ciu, sedangkan
marga Thian adalah marga suhuku.”
“Hemm, kalau begitu pakai saja keduanya dan namamu
menjadi Ciu Thian Hwa. Bagus, bukan?”
“Baiklah, Kong-kong. Aku mulai sekarang bernama Ciu
Thian Hwa. Kong-kong, benarkah wajah ibuku sama dengan
aku?”
“Serupa benar, seperti kembar. Hanya bedanya, di atas
bibir ujung kiri terdapat sebuah tahi lalat hitam.”
Thian Hwa tertegun. Dan gurunya dahulu bermimpi melihat
wanita bertahi lalat seperti itu yang menitipkan anaknya
kepadanya. Ia merasa khawatir sekali. Bukankah yang dapat
menampakkan diri dalam mimpi itu arwah seorang yang sudah
mati?
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
“Kong-kong, sekarang ceritakan tentang Ayah kandungku
itu. Bagaimanakah watak Pangeran Ciu Wan Kong itu? Apakah
dia jahat seperti para pangeran yang pernah kukenal?”
“Ah, sama sekali tidak, Cucuku! Pangeran Ciu Wan Kong
sejak mudanya adalah seorang yang baik budi, hanya agak
lemah terhadap orang tuanya, terutama terhadap ibunya yang
keras. Dan dia amat mencinta ibumu, Thian Hwa. Setelah
ibumu diusir ibunya, dia sering termenung dan berduka.
Bahkan sampai sekarang tidak mau menikah, tidak
mempunyai isteri yang resmi, bahkan kabarnya dia
memulangkan semua selirnya. Dia juga tidak mau memegang
jabatan walaupun dia amat setia kepada Sribaginda Kaisar.
Hidupnya kesepian, seringkali melancong seorang diri, mabokmabokan
dan yang paling akhir... aku mendengar bahwa dia
terkadang kelihatan seperti orang... sinting....”
Tak terasa lagi kedua mata Thian Hwa menjadi basah. Ia
merasa terharu dan iba sekali kepada ayah kandungnya, juga
senang mendengar bahwa ayah kandungnya tidak jahat
seperti para pangeran lain.
“Setelah sekarang ayah ibunya meninggal dunia, Pangeran
Ciu Wan Kong hidup seorang diri di gedungnya, hanya
dikelilingi para pelayan. Bahkan dia tidak mempunyai pasukan
pengawal seperti halnya para pangeran lain.”
Thian Hwa mengangguk-angguk. “Dan bagaimana dengan
Pangeran Cu Kiong itu, Kong-kong?”
“Pangeran muda Cu Kiong? Hemm, dia juga termasuk
seorang pangeran yang baik. Kalau dia jahat, mana mungkin
aku menghambakan diri padanya? Pangeran Cu Kiong itu
adalah putera Sribaginda dari selir ke tiga. Sesudah Putera
Mahkota, Pangeran Kang Shi yang masih kecil, maka Pangeran
Cu Kiong merupakan orang pertama yang berhak
menggantikan kedudukan Kaisar.”
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
“Hemm, kalau dia orang baik-baik, mengapa dia
menghinaku, merendahkan aku yang hanya akan diambil
sebagai selirnya?”
“Hal itu karena dia tidak tahu bahwa engkau keturunan
Pangeran Ciu Wan Kong, Cucuku. Kalau dia tahu, aku yakin
dia mau menjadikan engkau isterinya, bukan sekadar selirnya.
Akan tetapi sesungguhnya dia sendiri telah ditunangkan sejak
kecil dengan seorang puteri dari keluarga Pangeran Bouw.
Itulah sebab-sebabnya mengapa dia tidak dapat
mengangkatmu sebagai isterinya.”
“Hemm, dia hendak memperalat aku untuk memusuhi
Pangeran Leng Kok Cun, hendak menggunakan aku untuk
dapat mencapai cita-citanya. Apakah dia bukan bermaksud
merampas kekuasaan di istana Kaisar?”
“Kukira tidak, Thian Hwa. Dia memang mengharapkan
kedudukan Kaisar, akan tetapi hanya sebagai wakil, atau
sementara adiknya Pangeran Kang Shi yang putera mahkota
itu masih kecil. Dia memang memusuhi Pangeran Leng Kok
Cun, karena Pangeran Leng agaknya mengumpulkan banyak
orang pandai dan dicurigai akan merebut tahta dengan
kekerasan.”
“Hemm, betapapun juga, aku benci Pangeran Cu Kiong. Dia
bahkan hendak membunuhku dengan mengerahkan
pengawal-pengawalnya, yaitu Kim-keng Chit-sian.”
“Mungkin hal itu dia lakukan karena engkau memusuhinya
dan karena dia khawatir engkau kelak akan menjadi pembantu
Pangeran Leng.”
“Apa pun alasannya, aku benci padanya, Kong-kong.
Sekarang setelah aku mendengar akan riwayat Ibu dan Ayah
darimu, kuharap engkau pulang dulu ke Kia-jung. Aku hendak
melanjutkan perjalananku ke kota raja. Akan kuselidiki
keadaan ayah kandungku itu.”
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
“Akan tetapi, Thian Hwa. Kapan engkau akan datang ke
Kia-jung, menjenguk kakekmu yang kini hidup sebatang kara
ini?”
“Jangan khawatir, Kong-kong. Kelak aku pasti akan datang
menengokmu. Nah, berangkatlah, Kong-kong, selagi hari
masih pagi. Ini sedikit uang boleh Kong-kong bawa untuk
bekal.”
Thian Hwa menyerahkan beberapa potong uang, akan
tetapi Cui Sam menolak dan berkata, “Aku tidak memerlukan
uang, Thian Hwa. Ketahuilah bahwa ketika dulu, Pangeran Ciu
memberi banyak emas kepada aku dan ibumu sehingga
sampai sekarang aku tidak pernah kekurangan. O ya, aku
ingat. Ibumu dulu, sebelum perahu kami terbalik,
menyerahkan perhiasan-perhiasannya padaku. Ada sebuah
perhiasan yang dulu amat disayang ibumu, dan barang itu
pemberian ayah kandungmu sebagai tanda kasih. Barang itu
tidak pernah berpisah dariku, sebagai kenangan akan ibumu,
ke mana-mana kubawa. Mari, Thian Hwa, terimalah barang
ini, barang peninggalan ibumu yang paling ia sayang.”
Kakek itu mengeluarkan sebuah hiasan rambut berbentuk
burung Hong kecil dari emas dan bermata intan. Ukiran hiasan
rambut itu halus dan indah bukan main. Thian Hwa menerima
dengan terharu, lalu mencium benda itu.
“Terima kasih, Kong-kong.”
Cui Sam lalu meninggalkan rumah penginapan itu,
langsung keluar dari kota Thian-cin menuju ke selatan, ke
dusun Kia-jung. Hati kakek itu gembira bukan main. Dia
merasa berbahagia sekali telah bertemu lagi dengan cucunya
dan tentu saja dia merasa amat bangga melihat cucunya,
puteri Cui Eng, kini menjadi seorang gadis pendekar yang
sakti! Bahkan yang telah menolong penduduk Kia-jung
kemarin!
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Sementara itu, Thian Hwa juga merasa lega. Ternyata ayah
kandungnya bukan orang jahat, bukan seburuk yang tadinya
ia duga. Yang jahat dan mengusir ibunya adalah orang tua
Pangeran Ciu Wan Kong, terutama ibu pangeran itu. Akan
tetapi kedua orang tua itu telah wafat dan kini ayah
kandungnya hidup kesepian seorang diri, bahkan saking
sedihnya kehilangan ibunya, sampai sekarang, walaupun telah
lewat hampir dua puluh tahun, ayah kandungnya itu masih
merasa berduka! Diam-diam ia merasa bangga akan kasih
sayang yang sedemikian besar dari ayahnya terhadap ibunya
dan ia merasa iba sekali kepada pangeran yang menjadi ayah
kandungnya itu.
“Selamat pagi, Sian-li!” kata Kong Liang ketika dia melihat
gadis itu duduk termenung di atas bangku yang berada di
depan kamarnya.
Thian Hwa memandang. Pemuda itu sudah mandi dan
berganti pakaian kuning yang baru. “Selamat pagi, Twako.”
“Sian-li, mana Paman Cui Sam? Apakah dia belum bangun
dari tidurnya?”
“Dia sudah pergi, Twako. Pagi sekali tadi Kong-kong telah
berangkat, pulang ke dusun Kia-jung.”
“Ah, mengapa begitu tergesa-gesa? Sebetulnya aku ingin
berkenalan lebih baik dengan kakekmu, Sian-li.”
“Dia ingin segera kembali ke Kia-jung untuk mengurus
sawah ladangnya, Twako. Dan aku sendiri pagi ini hendak
melanjutkan perjalananku ke kota raja.”
“Ah, kalau begitu mari kita berangkat. Akan tetapi
sebaiknya kita sarapan lebih dulu, Sian-li. Tadi aku sudah
pesan kepada pelayan untuk menyediakan makan pagi untuk
kita bertiga. Akan tetapi karena Paman Cui Sam sudah pergi,
mari kita makan berdua saja.”
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Thian Hwa tidak dapat menolak, maka mereka lalu pergi ke
ruangan depan di mana memang dibuka sebuah rumah makan
untuk melayani keperluan makan para tamu rumah
penginapan itu. Setelah makan bersama, Thian Hwa dan Kong
Liang segera meninggalkan rumah penginapan itu untuk
melanjutkan perjalanan mereka menuju Peking.
0odw-jTno0
Mereka berdua melakukan perjalanan dengan santai. Dua
hari kemudian, pada suatu pagi mereka meninggalkan kota
Gu-an yang terletak di sebelah selatan sungai.
“Bagaimana kalau kita melanjutkan perjalanan dengan
menggunakan perahu?” Bu Kong Liang mengajukan usul. Usul
ini bagaikan penawaran kepada seekor domba untuk
mengambil jalan melalui padang rumput bagi Thian Hwa. Ia
memang sudah rindu untuk melakukan perjalanan di atas air
yang mudah, tidak melelahkan, lancar dan ia dapat menikmati
suara gemerciknya air dan pemandangan yang amat
dikenalnya di sepanjang tepi sungai.
Setelah tiba di tepi sungai mereka hendak mencari perahu.
Bu Kong Liang ingin menyewa perahu, akan tetapi Thian Hwa
mencegahnya. “Twako, lebih baik membeli saja sebuah
perahu. Tidak leluasa kalau mengajak tukang perahu, bahkan
kalau ada apa-apa malah merepotkan.”
“Wah, membeli sebuah perahu? Tentu mahal harganya,
Sian-li!”
“Tidak mahal, Twako. Kita membeli perahu tua yang buruk
dan sederhana saja. Itu di sana ada perahu tua, tentu tidak
mahal kalau kita beli.”
Kong Liang memandang yang ditunjuk dan dia melihat
seorang kakek sedang membetulkan perahunya yang tua dan
agaknya bocor.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
“Wah, perahu seperti ini jangan-jangan akan terbalik di
sungai dan kita akan hanyut atau tenggelam! Aku sama sekali
tidak pernah mendayung perahu, Sian-li, dan berenang pun
aku hanya bisa sedikit sekali, sekedar tidak tenggelam!”
Thian Hwa tersenyum. “Twako, agaknya engkau lupa
bahwa aku dijuluki Huang-ho Sian-li. Aku dibesarkan di Sungai
Kuning (Huang-ho) dan sejak kecil sudah biasa bermain-main
di air yang dalam. Aku dapat mendayung dan jangan
khawatir.”
Kong Liang diam saja dan menurut. Dia khawatir kalau dia
membantah, mungkin Thian Hwa akan nekat melanjutkan
perjalanan dengan perahu dan meninggalkannya! Setelah
melakukan perjalanan bersama gadis itu, Bu Kong Liang
merasa bahwa akan berat sekali baginya untuk berpisah dari
gadis itu. Dia mengalami perasaan yang belum pernah
dirasakan sebelumnya.
Benar saja, kakek pemilik perahu butut itu menyerahkan
perahunya dengan harga murah. Mereka berdua lalu
melanjutkan perjalanan dengan perahu. Perahu itu kecil dan
begitu melangkah ke atas perahu, Kong Liang menjadi agak
cemas karena perahu itu terayun-ayun ke kanan kiri. Perahu
itu biasanya dipergunakan kakek pemiliknya untuk mencari
ikan dengan jalan mengail. Keadaannya sederhana sekali dan
butut. Ada dua buah dayung butut di situ. Ada pula batu besar
yang diikat tali yang dipergunakan untuk menghentikan
perahu, pengganti jangkar, kalau kakek itu ingin berhenti di
suatu tempat di tengah sungai untuk memancing ikan. Tempat
duduk di bagian depan dan belakang, untuk dua orang saja,
hanya terbuat dari papan yang dipasang melintang di atas
perahu. Masih baik bahwa perahu itu dilengkapi atap anyaman
bambu di bagian tengahnya sehingga penumpangnya dapat
berlindung di bawahnya kalau panas amat terik dan kalau
turun hujan.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Dengan petunjuk Thian Hwa, Kong Liang membantu
dengan sebatang dayung, mendayung di bagian belakang
perahu. Thian Hwa mendayung di kepala perahu, sekalian
mengemudikan perahu dengan dayungnya. Saking
gembiranya bertemu perahu dan air sungai, Thian Hwa
mendayung dengan kuat sehingga perahu meluncur cepat.
Biarpun dia seorang murid Siauw-lim-pai yang gagah perkasa,
tidak pernah gentar menghadapi lawan yang kuat dan banyak,
namun kali ini Kong Liang mengerutkan alisnya dan
memandang ke air yang agak bergelombang dengan jantung
berdebar. Kalau perahu butut ini terbalik, dia masih
meragukan kemampuannya apakah dia akan dapat berenang
ke tepi menyelamatkan diri dari ancaman maut di dalam air!
Namun melihat betapa tangkasnya Thian Hwa menguasai
perahu dengan dayungnya, lambat laun hati Kong Liang
menjadi tenang. Bahkan dia mulai mempelajari dari gadis itu
cara mendayung yang benar dan cara menguasai dan
mengemudikan perahu itu.
Perahu kini meluncur dengan mulus dan hati Kong Liang
mulai merasa tenang, bahkan mulai timbul kegembiraannya
karena dia mulai merasakan betapa lancar, tidak melelahkan,
dan amat menyenangkan melakukan perjalanan dengan
perahu. Mereka meluncur terus sampai matahari naik tinggi
dan perahu mereka tiba di daerah yang sunyi dan di kanan
kirinya tumbuh hutan lebat.
Tiba-tiba terdengar bentakan-bentakan dari belakang
mereka.
“Minggir! Minggir!”
“Hayo minggir! Apa kalian sudah bosan hidup?”
“Kena ditabrak perahu kami mampus kamu!”
Mendengar bentakan-bentakan ini, Kong Liang dan Thian
Hwa menoleh ke belakang. Kiranya dari belakang datang
meluncur sebuah perahu besar yang dihias indah, diikuti oleh
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
dua belas buah perahu kecil yang masing-masing ditumpangi
dua orang prajurit Mancu! Di atas perahu besar itu berdiri pula
enam prajurit, masing-masing memegang tombak dan mereka
berdiri menjaga, tiga di kanan dan tiga di kiri perahu.
Thian Hwa tidak ingin mencari keributan. Pula, tidak ada
alasannya untuk bermusuhan dengan para prajurit Mancu itu.
Maka, ia lalu cepat mendayung perahunya ke sisi agar tidak
menghalangi perahu besar dan dua belas perahu kecil yang
mengawalnya itu. Akan tetapi, ketika perahu besar mendekat,
Thian Hwa mendengar tangis wanita. Ia bangkit berdiri untuk
dapat menjenguk ke atas perahu besar yang mewah itu. Dan
setelah ia berdiri, ia melihat ada suami isteri setengah tua
duduk dengan kaki tangan terikat di atas dek, dan muka lakilaki
setengah tua itu bengkak-bengkak. Tangis wanita itu
terdengar dari balik perahu yang pintunya tertutup.
Melihat ini, bangkit jiwa kependekaran Si Dewi Huang-ho!
Ia mengambil batu besar pengganti jangkar, lalu
menurunkannya ke dalam air. Perahu segera berhenti, tidak
hanyut terbawa air karena tertahan tali yang diikatkan pada
batu besar yang kini sudah tiba di dasar sungai.
“Hai, mengapa berlabuh di s ini, Sian-li?”
“Tenanglah, Twako. Engkau tunggu saja di sini, aku harus
tolong mereka yang agaknya ditangkap di perahu itu,” kata
Thian Hwa sambil sibuk mematahkan papan tempat duduk
perahu itu, lalu cepat mengikatkan dua batang papan itu di
bawah telapak kakinya yang bersepatu kulit. Karena tidak tahu
apa artinya semua itu, Kong Liang hanya memandang dengan
heran.
Setelah papan yang dipergunakan sebagai terompah
peluncur itu terikat kuat-kuat di bawah sepatunya, Thian Hwa
mengambil pedang dari buntalan pakaian dan menyelipkannya
di bawah jubahnya.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
“Tunggu saja di sini, Bu Twako!” kata Thian Hwa dan ia
langsung melompat keluar dari perahu.
Kong Liang terbelalak memandang tubuh gadis itu yang
berdiri tegak di atas air, kemudian gadis itu menggerakkan
dayung yang dibawanya dan tubuhnya meluncur ke
permukaan air, mengejar perahu-perahu itu! Hampir dia tidak
percaya kepada penglihatannya sendiri. Benarkah gadis itu
meluncur di atas air seperti seekor angsa saja? Akan tetapi
Kong Liang kini merasa khawatir akan keselamatan gadis itu.
Dia tadi melihat bahwa perahu besar itu terjaga enam orang
prajurit sedangkan yang mengawalnya ada dua losin orang
prajurit. Bagaimana mungkin Huang-ho Sian-li yang seorang
diri, hanya menggunakan sepasang papan untuk dapat
mengapung di atas air, akan mampu menandingi mereka yang
berada di perahu-perahu itu? Tanpa ragu lagi, Bu Kong Liang
menarik batu penahan perahu itu ke atas, kemudian dia
mendayung perahu itu melakukan pengejaran.
Thian Hwa bersilancar dengan cepat sekali sehingga
sebentar saja ia sudah dapat menyusul perahu-perahu itu.
Dua losin prajurit dalam selosin perahu yang mengawal di
belakang perahu besar memandang heran melihat seorang
gadis cantik seolah berdiri di atas air dan meluncur dengan
cepatnya sambil mendorong air dengan sebatang dayung!
Mereka belum pernah menyaksikan hal seperti itu, maka
mereka terheran-heran dan menjadi kurang waspada sehingga
mereka diam saja tidak mencoba menghalangi, mungkin
karena selain kagum dan heran mereka juga sama sekali tidak
menduga bahwa gadis itu akan menghampiri perahu besar.
Baru setelah tubuh Thian Hwa melompat ke atas perahu
besar, dua losin prajurit pengawal itu menjadi gempar dan
mereka mendekatkan perahu kecil mereka mengepung perahu
besar.
Begitu melompat ke atas perahu dan tiba di dek, Thian
Hwa cepat melepaskan kakinya dari ikatan pada dua buah
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
papan. Enam orang pengawal yang tadi berdiri di atas kanan
kiri perahu, kini lari menghampiri dan mengepung Thian Hwa.
Akan tetapi karena gadis itu tidak melakukan gerakan
menyerang, maka mereka pun hanya mengepung saja. Tibatiba
pintu bilik perahu besar itu terbuka dan muncul dua orang
laki-laki. Dari pintu yang terbuka Thian Hwa dapat melihat
seorang gadis berusia sekitar enam belas tahun sedang
menangis di sudut ruangan itu. Ia lalu mencurahkan
perhatiannya kepada dua orang yang muncul itu.
Yang seorang adalah seorang laki-laki berusia sekitar
empat puluh lima tahun, mukanya gemuk perutnya besar
sekali. Mukanya bulat kekanak-kanakan, hidung pesek mata
sipit sehingga mukanya seperti muka babi. Akan tetapi
pakaiannya mewah sekali, tanda bahwa dia adalah seorang
pembesar. Yang muncul bersama dia adalah seorang laki-laki
tinggi besar, mukanya brewok sehingga tampak bengis dan
tangannya memegang senjata Long-ge-pang (Toya Bergigi
Srigala). Begitu membuka pintu, pembesar gendut itu berseru,
suaranya terdengar marah.
“Heii... ada apa ini ribut-ribut menggangguku saja....” Akan
tetapi kata-katanya terhenti dan matanya yang sipit dilebarlebarkan
agaknya agar dapat melihat lebih jelas gadis cantik
jelita yang berdiri di perahunya, dikepung enam orang prajurit
pengawal. “Ehh... Nona cantik seperti bidadari... siapakah
engkau dan apa yang dapat kubantu untukmu, Nona manis?”
Mendengar ucapan dan melihat sikap ceriwis ini sudah
cukup membuat Thian Hwa marah dan ingin ia menampar Si
Muka Babi itu. Akan tetap ia menahan sabar dan sambil
memandang kepada laki-laki dan perempuan setengah tua
yang terikat kaki tangannya, yang laki-laki bengkak-bengkak
mukanya dan menunduk lemas sedangkan yang perempuan
sesenggukan menangis tanpa berani mengeluarkan suara, lalu
ia memandang ke dalam kamar di mana gadis remaja itu
duduk menangis di sudut bilik, lalu ia bertanya.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
“Tidak penting aku siapa, aku hanya ingin tahu mengapa
dua orang ini diikat di sini, dan mengapa pula gadis itu
menangis di dalam bilik?”
“Ha-ha-ha, jangan salah sangka, Nona manis. Mari kenallah
dulu siapa aku. Aku adalah Jaksa Bong Sun Kok yang bertugas
di Thian-cin. Suami isteri ini adalah pemberontak-pemberontak
yang seharusnya kujatuhi hukuman mati. Akan tetapi karena
aku seorang yang baik hati, aku hendak membawa mereka ke
kota raja berikut anak perempuan mereka. Aku percaya
Pangeran Leng Kok Cun akan suka memaafkan mereka dan
mengambil mereka berikut anak perempuan mereka menjadi
pelayannya.”
Thian Hwa mengerutkan alisnya dan kini ia pun mengenal
laki-laki berpakaian sebagai perwira yang bertubuh tinggi
besar dan memegang senjata Long-ge-pang itu. Ia tidak
mengenal namanya, akan tetapi ia ingat bahwa orang itu
adalah seorang di antara Kam-keng Chit-sian (Tujuh Dewa
dari Kam-keng) yang dulu menjadi pengawal Pangeran Cu
Kiong! Empat orang di antara mereka yang berjumlah tujuh itu
dapat roboh tewas di tangan ia dan Ui Yan Bun, sedangkan
yang tiga orang, termasuk orang ini, dapat melarikan diri.
Jilid III
DENGAN sinar mata tajam menusuk, Thian Hwa berkata,
suaranya lantang dan ketus. "Aku tahu sekarang, engkau
adalah manusia rendah yang bertindak sewenang-wenang
terhadap orang-orang sederhana ini dengan tuduhan
memberontak karena engkau hendak menyenangkan hari
Pangeran Leng dengan menyerahkan gadis itu kepadanya!
Orang macam engkau yang menjilat kepada orang atasan
patut untuk diberi hajaran!"
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Mendengar ini, Bong Su Kok terbelalak, marah bukan main.
Belum pernah sejak dia memegang . jabatannya ada orang,
apalagi seorang wanita muda, berani mengeluarkan ucapan
yang demikian menghina kepadanya.
"Tangkap perempuan kurang ajar ini!" bentaknya.
Begitu mendengar suara Thian Hwa dan melihat sikap yang
galak, perwira tinggi besar bermuka brewok itu teringat bahwa
gadis itu adalah gadis lihai yang pernah mengamuk di istana
Pangeran Cu Kiong dan yang bersama seorang pemuda telah
membunuh empat orang rekannya. Orang ini bernama Ciang
Sun, orang pertama dari Kam-keng Chit-sian yang kini
mengambil jalan sendiri-sendiri dengan dua orang rekannya
yang masih hidup. Setelah melarikan diri dari istana Pangeran
Cu Kiong karena gagal melawan Thian hwa dan UI Yan Bun,
Clang Sun pergi ke Thian-cln dan dia kini menjadi pengawal
pribadi dari jaksa Bong Sun Kok. Dia merasa lebih cocok
bekerja pada. seorang pembesar yang berasal dari bangsa
Pribumi Han, bukan bangsa Man-cu. Sungguh sama sekali
tidak disangkanya bahya pada hari itu dia bertemu lagi dengan
Thian Hwa. Tentu saja dia sudah merasa jerih karena maklum
akan kelihaian gadis itu, maka dia segera berteriak memberi
aba-aba kepada anak buahnya, baik enam orang perajurit
pengawal yang berada di atas perahu maupun dua losin
perajurit pengawal yang berada di perahu-perahu kecil untuk
mengeroyok Thian Hwa. Ciang Sun ini setelah diterima
menjadi pengawal pribadi Bong Taijin (Pembesar Bong),
segera diberi pangkat perwira yang menjadi komandan dari
pasukan pengawal pembesar itu. Setelah menjadi kaki tangan
penjajah Mancu, Bong Sun Kok merasa bahwa para pendekar
patriot pasti membenci dirinya, maka dia mempunyai pasukan
pengawal yang tidak kurang dari lima puluh orang jumlahnya,
mengalahkan jumlah, pengawai para pembesar atasannya!
Begitu mendengar perintah Bong taijin tadi, para pengawal
sudah siap siaga. Kini mendengar aba-aba dari komandan
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
mereka Ciang Sun, enam orang pengawal yang berada di atas
perahu segera menggerakkan tombak di tangan mereka untuk
menyerang Thian Hwa. Akan tetapi Thian Hwa yang sudah
siap sejak tadi, begitu menggeraikan tangan, tampak sinarsinar
putih menyambar-nyambar dan enam orang perajurit
pengawal itu berteriak dan terjengkang jatuh semua! Mereka
telah menjadi korban senjata rahasia Pek-hwa-ciam (Jarum
Bunga Putih) yang amat dahsyat dari gadis itu. Tentu saja
Bong Taijin dan juga Perwira Ciang Sun terkejut bukan main.
Bong Taijin sudah cepat berlari memasuki pintu bilik yang
segera ditutup dan dipalang dari dalam, lalu dia naik ke atas
dipan rebah meringkuk dengan tubuh menggigil seperti orang
terserang demam!
Ciang Sun terkejut dan gentar menghadapi gadis yang
sekali menggunakan senjata rahasia telah dapat merobohkan
enam orang anak buahnya itu. Dia lalu nekat, menggerakkan
senjata Long-ge-pang itu menyerang sambil mengerahkan
seluruh tenaganya. Toya Gigi Srigala itu menyeramkan, selain
berat juga terbuat dari baja dan di ujungnya menyerupai gigi
dan taring srigala. Ketika menyambar, terdengar bunyi
mengiuk. Namun, kurang lebih dua tahun yang lalu saja Ciang
Sun ini tidak mampu menandingi Thian Hwa. Apalagi sekarang
setelah gadis itu memperdaiam ilmunya di bawah gemblengan
Thian Bong Sianjin. Dengan mudah ia mengelak dari
sambaran toya dan balas menyerang dengan tamparan dan
tendangan. Karena yakin bahwa ia tidak perlu menggunakan
pedang untuk mengalahkan musuh lama ini, Thian Hwa
menghadapi senjata lawan itu dengan tangan kosong saja!
Sementara itu, dua belas buah perahu kecil yang
ditumpangi dua puluh empat orang perajurit pengawal itu kini
menempel pada perahu besar dan perahu-perahu kecil yang
masing-masing ditumpangi dua orang itu mulai sibuk. Dari
setiap perahu kecil dilemparkan tali berujung kaitan ke pinggir
perahu besar dan mereka sudah mulai merayap melalui tali
untuk naik ke perahu besar mengeroyok Thian Hwa.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Akan tetapi tiba-tiba meluncur sebuah perahu kecil lain dan
perahu ini ditumpangi Bu Kong Liang. Mulailah dia melompat
dari perahunya ke atas perahu kecil terdekat dan begitu kaki
tangannya bergerak, dua orang penumpang perahu itu
terpelanting dan terlempar ke dalam air! Sebelas perahu lain
segera mengalihkan perhatian mereka. Mereka mencoba
untuk mengepung Bu Kong Liang yang berada di perahu kecil
setelah dua orang perajurit penumpangnya terlempar ke
dalam air.
Begitu dikepung sebelas buah perahu dengan dua puluh
dua orang perajurit, Kong Liang menjadi repot juga. Dia bzrdiri
di atas perahu, yang terayun-ayun ketika dia bergebrak
menyambut pengeroyokan banyak perajurit itu. Dia
mengeluarkan senjatanya sepasang tombak pendek
bercabang dan berloncatan dari perahu ke perahu lain. Begitu
tubuhnya melayang dan menerjang, dua orang perajurit di
atas perahu mereka pasti terjungkal ke dalam air. Kalau saja
pengeroyokan itu dilakukan di atas daratan, kiranya dua losin
perajurit itu akan dapat dia robohkan dalam waktu yang tidak
terlalu lama. Akan tetapi gerakan Kong Liang kurang mantap,
bahkan terkadang dia harus mengatur keseimbangan
tubuhnya agar tidak sampai terguling dan jatuh ke air!
Sementara itu, Ciang Sun yang mengamuk dengan senjata
Long-ge-pang dan menghujani Thian Hwa dengan serangan
kilat, menjadi pening karena tiba-tiba gadis yang diserangnya
itu berkelebatan seperti telah berubah menjadi bayangbayang.
Ke mana pun senjatanya menyambar, selalu
mengenai tempat kosong dan dia dapat menghindarkan
serangan balasan berupa tamparan atau tendangan hanya
mengandalkan perasaannya saja. Serangan gadis itu tentu
mendatangkan hawa pukulan yang dahsyat sehingga dia
dapat mengetahui dan cepat melompat menghindar atau
menggerakkan senjatanya untuk melindungi dirinya.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Bagaimanapun juga, tingkat kepandaian Thian Hwa jauh
lebih tinggi daripada tingkat Perwira Ciang itu, maka setelah
lewat belasan jurus, sebuah tendangan gadis itu tak sempat
dihindarkan Ciang Sun.
"Wuut... desss....!!" Tubuh Ciang Sun terlempar keluar
perahu dan jatuh tercebur ke sungai. Air muncrat tinggi dan
Thian hwa tidak mempedulikan lagi lawan yang sudah
dikalahkannya. Ia cepat menghampiri pintu dan menendang
daun pintu,
”Braakkk....!”
Daun pintu bilik perahu itu Jebol dan ketika ia melompatmasuk,
ia melihat gadis tadi masih bersimpuh di sudut kamar
sambil menutupi mukanya dengan kedua: tangan dan
menangis. Adapun Jaksa Bong Sun Kok yang gendut itu
meringkuk di atas dipan nenarik kedua lutut ke perut sehingga
dia tampak seperti seekor babi kekenyangan mendekam
bermalas-malasan! Thian Hwa melihat sebatang pedang
tergantung di dinding. Tentu pedang tanda kebesaran atau
pelengkap tanda pangkat Jaksa. Bong. Ia cepat mencabut
pedang. Itu dan sekali tangan kirinya bergerak, sebatang
Jarum bunga putih meluncur dan menancap di pinggul yang
besar itu.
”Adauuww..!" Jaksa Bong menjerit dan tubuhnya terlompat
ke atas lalu merosot keluar dari dipan, jatuh berdebuk di atas
lantai bilik perahu, kedua tangan meraba pinggul yang terkena
serangan Pek-hwa-ciam, akan tetapi melihat gadis itu sudah
berdiri di situ, dia berlutut menangis sambil membenturbenturkan
dahinya ke atas lantai seperti sedang memberi
hormat kepada kaisar!
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Manusia hina yang rendah budi! Sepatutnya engkau
mampu!" setelah membentak begitu, tangan kanan Thian Hwa
bergerak, pedang itu berkelebat dan Jaksa Bong menjerit-jerit
sambil kedua
tangannya sibuk
meraba ke hidung,
kedua telinganya dan
pinggulnya karena di
empat tempat itu
terasa nyeri bukan
main. Hidungnya
telah terbabat putus,
demikian pula kedua
daun telinganya.
Darah membasahi
muka dan lehernya
dan akhirnya dia
bergulingan sambil
menangis!
Thian Hwa
menghampiri gadis
yang menangis itu.
"Adik, bangkitlah. Engkau dan Ayah Ibumu harus cepat pergi
dari Sini!"
Gadis itu melepaskan kedua tangan dari mukanya,
terbelalak ngeri melihat Jaksa Gong mandi darah dan
bergulingan menguik-nguik seperti babi, dan dengan kedua
kaki gemetar ia bangkit dan mengikuti Thian Hwa keluar dari
bilik perahu. Cepat Thian Hwa memutuskan tali pengikat kaki
tangan suami isteri setengah tua itu. Gadis itu kini
berangkulan dengan ibunya sambil menangis. Thian Hwa lalu
melompat lagi ke dalam bilik dan setelah menggeledah
sebentar, ia menemukan sebuah peti kecil berisi potongan
emas yang tidak kurang dari lima tail beratnya. Ia lalu keluar
lagi dan menyerahkan emas itu kepada ayah gadis itu.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Paman, cepat engkau ajak isteri dan Anakmu pergi dari
sini. Ini uang untuk bekal. Cari tempat lain, jangan tinggal,
lagi di tempatmu yang lama. pergi jauh-jauh ke dusun. Akan
kucarikan perahu untuk kalian!"
Thian Hwa melihat betapa Bu Kong Liang masih dikeroyok
pada perajurit. Ia melihat sebuah perahu kecil milik para
perajurit yang telah kosong, tentu dua orang perajuritnya
telah dirobohkan Kong Liang. Perahu itu masih terkait pada
perahu besar.
"Mari kubawa kalian ke perahu!" kata
Thian Hwa dan cepat ia menyambar tubuh tiga orang itu
satu demi satu, dibawanya melompat ke perahu kecil. Setelah
itu, ia melepaskan kaitannya dan menyuruh anak gadis itu
mendayung perahu, pergi dari situ. Ayah, ibu dan. anak Itu
terkait di atas perahu kecil menghadap ke arah Thian Hwa
yang masih berada di perahu besar, mengucapkan terima
kasih
"Cepat pergi....!” Seru Thian Hwa dan ia melihat betapa
sebuah perahu dengan dua orang perajurit meluncur
menghampiri perahu yang ditumpangi tiga orang itu. Dengan
cepat ia menyambiikan dua batang Pek-hwa-ciam dan dua
orang perajurit. itu mengaduh, tubuh mereka terguling keluar
dari dalam perahu
Thian Hwa melihat betapa ayah gadis itu sudah mendayung
perahunya menjauh. Maka ia segera memperhatikan keadaan
Konjg Liang. Kini tinggal lima buah perahu yang mengepung
Kong Liang. Sepuluh orang perajurit itu kini menggunakan
anak panah untuk menyerang Kong Liang. Karena musuh
menggunakan anak panah menyerang dari jarak jauh tentu
saja Kong Liang tidak dapat menyerang mereka. Dia hanya
dapat memutar senjatanya untuk menangkis semua anak
panah. Akan tetapi tiba-tiba ada dua orang perajurit yang
muncul dari dalam air dekat perahu di mana Kong Liang
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
berdiri. Dua orang itu menyelam dan menggulingkan perahu
dari bawah.
Menghadapi serangan licik ini, tentu saja Kong Liang tidak
berdaya mempertahankan diri, dengan tergulingnya perahu,
otomatis tubuh Kong Liang juga terpelanting dan dia jatuh ke
dalam air sungai!
Melihat pemuda itu terjatuh ke air, sepuluh orang prajurit
dalam lima buah perahu itu lalu mendekatkan perahu mereka
dan anak panah mereka kini diarahkan kepada pemuda yang
bergerak-gerak dengan kaku dalam air agar tidak tenggelam!
Melihat ini, Thian Hwa cepat melompat dari atas perahu
besar dan bagaikan seekor ikan ia berenang ke arah tempat
dikurungnya Kong Liang. Setelah ia tiba dekat, ia melihat Kong
Liang dengan gerakan kaku karena harus menjaga agar
tubuhnya tidak tenggelam, memutar siang-kek (sepasang
tombak pendek bercabang) untuk melindungi tubuhnya dari
sambaran anak panah. Akan tetapi karena gerakannya tidak
leluasa, maka sebatang anak panah menancap di belakang
pundak kirinya dan Kong Liang gelagapan!
Thian Hwa yang sudah tiba di situ, menggerakkan kedua
tangannya. Jarum-jarum bunga putih meluncur menjadi sinar
putih dan dua orang prajurit yang berhasil memanah Kong
Liang, berteriak dan terjungkal ke air. Thian Hwa yang dapat
bergerak seperti ikan, melompat ke perahu kosong itu dan
dari situ, ia menyebar jarum-jarumnya. Beberapa orang
prajurit terkena sambaran jarum dan terpelanting ke air.
Tinggal empat orang lagi dalam dua buah perahu. Mereka
agaknya gentar menghadapi kehebatan sepak terjang Thian
Hwa, maka mereka berusaha untuk lari dengan mendayung
perahu mereka. Akan tetapi, Thian Hwa mendayung perahu
demikian cepatnya sehingga sebentar saja dara perkasa ini
dapat menyusul mereka. Kini pedang Thian Hwa bergerak
empat kali dan empat orang itu pun roboh keluar dari perahu,
tubuh mereka terbawa hanyut arus air!
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Thian Hwa menoleh dan melihat Bu Kong Liang gelagapan,
agaknya sukar baginya yang sudah terluka itu untuk
mempertahankan diri agar tidak tenggelam. Thian Hwa
melompat dan terjun ke air, lalu berenang secepatnya
menghampiri Kong Liang. Ketika ia dapat memegang tangan
pemuda itu, Kong Liang terkulai pingsan! Dengan
mencengkeram leher baju pemuda itu dan menariknya ke atas
dan menelentangkannya sehingga muka Kong Liang tidak
terbenam air, Thian Hwa berenang dan menyeret tubuh
pemuda itu menuju ke perahu mereka. Baiknya tadi sebelum
melakukan serangan terhadap para prajurit di perahu-perahu
kecil, Kong Liang sudah melepas jangkar batu sehingga
perahu kecil mereka tidak hanyut terbawa air sungai.
Thian Hwa mengangkat tubuh Kong Liang dan
merebahkannya dalam perahu, kemudian ia menarik jangkar
batu dan cepat mendayung perahu pergi dari s itu. Ada bahaya
datangnya bala bantuan pasukan, maka Thian Hwa lalu cepat
mendayung perahunya dan setelah melihat bagian yang sunyi
dan di tepi sebelah selatan terdapat hutan yang lebat, ia lalu
mendayung perahu ke tepi.
Setelah perahu menepi dan talinya ia ikatkan pada batang
pohon, Thian Hwa lalu memondong tubuh Kong Liang,
membawanya masuk hutan dan merebahkannya di atas
rumput. Kemudian ia memeriksa tubuh pemuda itu. Anak
panah itu menancap, untungnya tidak terlalu dalam di
belakang pundak kiri. Ia harus berhati-hati mencabut anak
panah agar ujung anak panah jangan sampai patah dan
tertinggal dalam daging. Dengan pengerahan sin-kang, ia
berhasil mencabut anak panah. Ia merasa lega melihat bahwa
ujung anak panah itu tidak mengandung racun. Cepat
ditotoknya jalan darah di sekitar luka agar jangan terlalu
banyak darah keluar.
Kong Liang mengeluh lalu membuka matanya. Ia seperti
bingung dan nanar, akan tetapi ketika mengenal muka Thian
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Hwa, dia bernapas lega dan menggerakkan tubuhnya untuk
bangkit duduk.
“Jangan banyak bergerak dulu, Twako. Engkau terluka,”
kata Thian Hwa yang membantunya bangkit duduk.
Kong Liang mengumpulkan ingatannya. Dia memandang ke
kanan kiri, lalu kepada pakaian dan rambut Thian Hwa yang
basah, juga kepada celananya sendiri yang basah dan bajunya
yang sudah ditanggalkan dari badannya, juga anak panah
yang terletak di atas tanah.
“Ah, aku tadi terkena anak panah dan nyawaku terancam.
Hemm, pasti engkau yang telah menyelamatkan nyawaku,
Sian-Ii. Aku melihat engkau meluncur di atas permukaan air!
Bukan main! Kiranya engkau memang pantas dijuluki Huangho
Sian-li. Aku berhutang nyawa kepadamu, Sian-li!”
“Aih, sudahlah, jangan banyak bicara dulu, Twako. Aku
harus mengobati lukamu.” Gadis itu lalu mengambil
bungkusan obat dari buntalan pakaiannya. Buntalan itu berisi
bubuk putih. Dari gurunya, Thian Hwa memang dibekali
beberapa macam obat untuk luka dan gadis ini sudah
mempelajari bagaimana mengobati luka-luka, bahkan yang
mengandung racun sekalipun! Sedikit bubuk putih ia taburkan
ke dalam luka anak panah itu, lalu ia mengambilkan pengganti
baju dan membantu pemuda itu mengenakan bajunya.
“Sekarang, paling penting adalah mengganti pakaian kita
yang basah, Twako, agar kita tidak terserang penyakit.”
Gadis itu mengambilkan pakaian dalam dan celana untuk
Kong Liang, kemudian ia sendiri mengambil seperangkat
pakaian dan mengganti pakaiannya yang basah sambil
bersembunyi di balik semak belukar.
Setelah selesai berpakaian dan Kong Liang merasa betapa
luka di belakang pundaknya tidak nyeri lagi, mereka duduk
bercakap-cakap di bawah pohon besar.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
“Bu-twako, mengapa engkau tadi membantu aku sehingga
membahayakan dirimu sendiri?”
“Aih, Sian-li. Melihat betapa jumlah prajurit demikian
banyaknya, mana mungkin aku membiarkan engkau
menghadapi mereka seorang diri? Bahaya yang menimpaku
tadi adalah karena kesalahanku sendiri. Aku tidak mahir
bermain di air, maka aku sampai terkena anak panah. Apakah
yang terjadi di perahu besar itu, Sian-li?”
“Melihat suami isteri setengah tua yang terikat di perahu
besar dan mendengar suara tangis wanita, aku menjadi
curiga, dan setelah aku melompat ke perahu besar, ternyata
suami isteri setengah tua itu difitnah sebagai pemberontak
dan anak gadis mereka ditawan. Kata Pembesar Bong itu,
orang tua dan gadis itu akan diserahkan kepada Pangeran
Leng di kota raja! Aku membebaskan mereka, menyuruh
mereka naik perahu dan melarikan diri, dan aku memberi
hajaran keras kepada Jaksa Bong itu. Seorang pribumi Han
yang diangkat menjadi pembesar oleh Kerajaan Mancu malah
bertindak jahat terhadap bangsa sendiri! Menyebalkan!”
“Memang demikianlah, Sian-li. Kedudukan mendatangkan
kekuasaan yang membuat manusia menjadi lalim, suka
bertindak sewenang-wenang mengandalkan kekuasaannya.”
“Akan tetapi tidak semuanya begitu, Twako!”
“Tentu saja, tentu ada pengecualian. Ada juga pembesar
yang bijaksana, jujur, setia, tidak suka korupsi, tidak suka
menindas bawahan menjilat atasan. Akan tetapi beberapa
gelintir yang seperti itu? Sebagian besar ya seperti jaksa
itulah, tidak peduli bangsa apa orangnya! Akan tetapi
sekelebatan aku tadi melihat engkau melawan seorang yang
bersenjata Long-ge-pang, dan agaknya dia lihai juga. Aku tadi
khawatir melihat engkau dikeroyok dan melawan laki-laki
tinggi besar bersenjata Long-ge-pang itu.”
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
“Dia adalah seorang di antara Kam-keng Chit-sian yang
dulu menjadi pengawal dari Pangeran Cu Kiong di kota raja.”
“Wah, Sian-li, sungguh engkau membuat aku semakin
kagum dan heran. Sama sekali tidak kusangka, engkau
ternyata memiliki kepandaian yang luar biasa di dalam air dan
engkau mengenal pula, bahkan pernah bertanding melawan
jagoan-jagoan yang menjadi pengawal para pangeran di kota
raja! Sian-li, agaknya engkau tidak asing dengan keadaan di
kota raja!”
Thian Hwa memandang wajah pemuda itu dengan sinar
mata tajam penuh selidik, lalu ia bertanya, “Bu-twako, setelah
beberapa kali engkau bentrok dengan pasukan Mancu,
katakanlah terus terang, apakah engkau membenci orangorang
Mancu seperti Ang-mo Niocu?”
Pemuda itu menggelengkan kepala dengan pasti. “Tidak,
Sian-li. Aku hanya membenci orang yang jahat dan akan
membela yang benar tidak peduli bangsa apa dan apa pula
kedudukannya.”
Thian Hwa senang mendengar ini, akan tetapi ia masih
memancing, “Akan tetapi, bukankah engkau seorang pribumi
Han dan menentang penjajahan Mancu?”
Kong Liang menghela napas. “Perjuangan untuk itu sudah
banyak dilakukan dan sia-sia saja hasilnya, bahkan
mengorbankan banyak jiwa. Kalau kelak ada gerakan besarbesaran
yang menggerakkan rakyat untuk menentang
penjajah, aku pasti akan membantu mereka. Akan tetapi
untuk saat ini, aku akan bertindak seperti para pendekar
Siauw-lim-pai pada umumnya, yaitu membela kebenaran dan
keadilan, demi melindungi rakyat kecil yang hidup sengsara
dan tertindas. Biarpun dia seorang pembesar Mancu, kalau dia
bijaksana dan baik terhadap rakyat, aku pasti akan
membelanya.”
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Thian Hwa merasa senang. Pemuda ini ketika menghadapi
gerombolan yang mengaku sebagai pejuang yang menentang
Pemerintah Penjajah Mancu, langsung membasminya. Kini,
berhadapan dengan pasukan yang mengawal pembesar yang
bertindak sewenang-wenang, juga membantunya untuk
membasmi pasukan pengawal itu. Kong Liang telah
membuktikan bahwa dia tidak menentang Pemerintah Mancu
karena merasa belum saatnya, juga dia bukan seorang yang
mengabdi kepada Kerajaan Goan lalu bertindak sewenangwenang
terhadap bangsa sendiri seperti yang dilakukan oleh
Jaksa Bong. Maka ia tahu bahwa Kong Liang dapat dipercaya
dan sudah saatnya ia menceritakan dirinya. Ia perlu
mendapatkan seorang sahabat yang dapat dipercaya untuk
diajak bertukar pikiran.
“Twako Bu Kong Liang, aku memang pernah ke kota raja
dan terlibat dalam urusan dengan beberapa pangeran dan
sempat bertanding dengan para pengawal mereka, seperti
Hui-eng-to Phang Houw dan Liong-bu-pangcu Louw Cin yang
dulu memimpin pasukan menyerangmu, dan juga seorang dari
Kam-keng Chit-sian pengawal yang bersenjata Long-ge-pang
di atas perahu besar itu. Karena aku percaya padamu, akan
kuceritakan riwayatku dengan syarat bahwa engkau tidak
akan menceritakan kepada siapapun juga. Kepada orang lain
aku hanya ingin dikenal dengan sebutan Huang-ho Sian-li
saja. Maukah engkau berjanji, Twako?”
Kong Liang memandang wajah gadis itu dengan sikap
serius dan suaranya juga tegas. “Tentu saja, Sian-li. Aku
berjanji tidak akan menceritakan tentang dirimu kepada
siapapun juga!”
“Baiklah, Twako, dan terima kasih. Akan kuceritakan
dengan singkat saja. Sesungguhnya, aku tidak pernah
mengenal orang tuaku, karena ketika masih bayi aku
ditemukan dan diselamatkan oleh Suhu Thian Bong Sianjin,
hanyut dibawa arus air Huang-ho (Sungai Kuning). Aku
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
diambil murid dan diaku sebagai cucu angkatnya. Setelah aku
dewasa dan mendengar keterangan Suhu, aku lalu pergi
mencari keterangan tentang orang tuaku. Suhu pernah
bermimpi bertemu seorang wanita berpakaian bangsawan
yang menitipkan anaknya kepadanya. Karena itu, aku pergi ke
kota raja untuk mencari keterangan tentang ayah bundaku,
karena kami menduga bahwa ibuku adalah seorang wanita
bangsawan.”
Thian Hwa lalu menceritakan pengalamannya ketika ia
terlibat dalam urusan Pangeran Leng Kok Cun yang
mengumpulkan orang-orang sakti dengan maksud merampas
tahta kerajaan. Ketika ia dikeroyok para jagoan pembantu
Pangeran Leng, ia lari dan ditolong oleh Pangeran Cu Kiong,
dan di gedung Pangeran Cu Kiong ini ia bertemu dengan
kakeknya, yaitu ayah kandung ibunya.
“Ah, maksudmu Kakek Cui Sam dari dusun Kia-jung itu?”
“Benar, Twako. Ketika aku bercerita tentang keinginanku,
mencari orang tuaku kepada Pangeran Cu Kiong yang
menolongku, Kong-kong (Kakek) Cui Sam mendengarkan. Dia
ketika itu bekerja sebagai pelayan kepada Pangeran Cu
Kiong.”
Thian Hwa melanjutkan ceritanya. Ia tidak menceritakan
hubungan batin yang timbul antara ia dan Pangeran Cu Kiong.
Ia hanya menceritakan betapa Pangeran Cu Kiong hendak
memperalatnya untuk membantunya dalam perebutan
kekuasaan, maka ia lalu meninggalkannya. Pangeran Cu lalu
mengerahkan tujuh orang pengawalnya, yaitu Kam-keng Chitsian
untuk menangkapnya. Ia melawan mati-matian dan
dalam keadaan terkepung dan terancam bahaya, muncul Ui
Yan Bun membantunya.
“Siapakah Ui Yan Bun itu, Sian-li?”
“Dia adalah seorang sahabatku, boleh juga dianggap
suhengku (Kakak Seperguruanku) karena dia pernah diberi
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
pelajaran silat oleh Kong-kong atau Suhu Thian Bong Sianjin.
Nah, berdua kami dapat membunuh empat dari ketujuh orang
jagoan itu. Orang bersenjata Long-ge-pang di perahu itu
adalah seorang di antara mereka yang lolos, yaitu ada tiga
orang.”
Thian Hwa lalu melanjutkan ceritanya betapa sebelum
pertempurannya melawan para pengawal Pangeran Cu Kiong,
ia dapat mendengar dari Kakek Cui Sam tentang ayah ibunya.
“Wah, beruntung sekali engkau, Sian-li. Jadi engkau dapat
berjumpa dengan orang tuamu?”
Thian Hwa menghela napas. “Dari Cui Kong-kong (Kakek
Cui) aku mendengar akan riwayat yang menyedihkan dari ibu
kandungku. Ketika dulu, Kakek Cui bekerja sebagai kepala
pelayan pada keluarga Pangeran Tua Ciu di kota raja. Dia
sudah menduda dan dia membawa anaknya perempuan yang
belum dewasa. Kemudian anak perempuannya yang bernama
Cui Eng juga bekerja di situ sebagai pelayan. Setelah Cui Eng
dewasa, ia saling jatuh cinta dengan Pangeran Ciu Wan Kong,
putera dari Pangeran Tua Ciu. Akan tetapi orang tua Pangeran
Ciu Wan Kong, terutama ibunya, tidak menyetujui kalau
puteranya mengambil seorang pelayan sebagai selir, apalagi
sebagai isterinya. Akan tetapi... pada waktu itu, Cui Eng sudah
mengandung sebagai hasil hubungannya dengan Pangeran Ciu
Wan Kong.” Thian Hwa berhenti dan menatap wajah pemuda
itu. Akan tetapi Kong Liang tidak memperlihatkan perasaan
apa pun pada wajahnya, dia tetap tenang mendengarkan.
“Ketika mendengar bahwa Cui Eng sudah mengandung, ibu
dari Pangeran Ciu Wan Kong memutuskan bahwa kalau Cui
Eng melahirkan seorang anak laki-laki, ia akan diterima
menjadi selir Pangeran Ciu Wan Kong, akan tetapi kalau yang
terlahir anak perempuan, ia akan diusir dari gedung Pangeran
Ciu. Ternyata Cui Eng melahirkan seorang anak perempuan. Ia
diusir dari gedung itu dan dibawa ayahnya keluar dari kota
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
raja. Akan tetapi ketika mereka menggunakan perahu berlayar
di Sungai Kuning, perahu itu diserang badai dan tenggelam!”
Melihat Thian Hwa menghentikan ceritanya dan tampak
terharu dan berduka, Kong Liang berkata. “Ah, kejadian
seperti itu sudah sering kudengar, terjadi sejak jaman dahulu.
Kaum bangsawan suka sewenang-wenang menyia-nyiakan
selirnya, dan mereka pada umumnya tidak suka kalau
mempunyai keturunan wanita. Sungguh tidak adil! Sian-li, aku
dapat menduga sekarang. Tentu engkaulah anak itu, dan
ternyata engkau diselamatkan Locianpwe (Orang Tua Gagah)
Thian Bong Sianjin. Juga Kakekmu, Cui Sam, ternyata juga
telah dapat menyelamatkan diri dan masih hidup sampai
sekarang. Akan tetapi, apa yang terjadi dengan ibumu yang
bernama Cui Eng itu?”
Thian Hwa menggelengkan kepalanya dan menarik napas
panjang.
“Tidak ada kabar ceritanya lagi tentang ibuku. Cui Kongkong
juga tidak tahu dan hanya mengira bahwa ibuku tentu
telah tewas, tenggelam dalam Sungai Huang-ho. Ketika Suhu
Thian Bong Sianjin menemukan aku, dia memberi nama Thian
Hwa kepadaku, menggunakan marga Thian, yaitu marga dari
Suhu sendiri. Sebetulnya, ayah kandungku adalah Pangeran
Ciu Wan Kong yang sekarang masih hidup, maka aku akan
menggunakan nama Ciu Thian Hwa, dua marga itu kupakai
dan namaku Hwa (Kembang) saja! Akan tetapi untuk umum,
aku lebih suka dikenal sebagai Huang-ho Sian-li.”
Bu Kong Liang menghela napas panjang. “Aih, riwayatmu
sungguh menyedihkan sekali, Sian-li. Terima kasih bahwa
engkau sudah mempercayai aku dan menceritakan riwayatmu
kepadaku.”
“Bu-twako, setelah engkau mengetahui namaku, jangan
engkau sebut aku Sian-li (Dewi) lagi. Panggil saja aku Hwa
(Bunga)!”
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Kong Liang tersenyum. “Baiklah, Hwa-moi (Adik Hwa).
Sekarang, apa yang hendak kaulakukan? Apakah engkau
hendak ke kota raja untuk menemui ayah kandungmu,
Pangeran Ciu Wan Kong itu?”
“Dulu, sekitar dua tahun yang lalu, aku pernah
mengunjunginya. Ingin aku membalas penghinaannya
terhadap ibuku, betapa tega hatinya mengusir Ibu yang telah
mengandung puteri keturunannya sendiri. Ingin aku
membunuhnya. Akan tetapi ketika aku memasuki kamar
Pangeran Ciu Wan Kong, aku melihat dia dengan sedih
merenung dan memandang lukisan wajah ibu kandungku Cui
Eng, dan dia memperlihatkan tanda-tanda seorang yang tidak
waras pikirannya. Aku menjadi tidak tega dan
meninggalkannya. Kemudian, malam tadi... aku mendengar
keterangan yang rinci dari Kakek Cui Sam bahwa sebetulnya,
ayah kandungku Pangeran Ciu Wan Kong amat mencinta ibu
kandungku Cui Eng dan yang memaksa untuk mengusir ibuku
adalah orang tuanya, terutama ibunya. Sayang kedua orang
tua Ayah Ciu Wan Kong telah meninggal dunia sehingga aku
tidak dapat membalas sakit hati ibuku. Menurut Kakek Cui
Sam, bahkan sampai sekarang ayah kandungku itu tidak mau
mempunyai seorang selir pun dan mengurung dalam
kesedihan.”
“Hemm, kalau begitu sungguh malang nasib ayah dan
ibumu, Hwa-moi. Akan tetapi... maafkan pendapatku ini kalau
tidak cocok dengan pendapatmu. Niatmu dulu untuk
membalas sakit hati ibumu terhadap ayah ibu Pangeran Ciu
Wan Kong itu sungguh tidak benar, Hwa-moi. Pangeran Tua
Ciu itu adalah kakekmu sendiri yang menurunkan ayahmu,
dan isterinya adalah nenekmu sendiri yang melahirkan ayah
kandungmu. Memang kejam sekali mengusir ibumu dari
gedung mereka, akan tetapi jangan lupa bahwa tidak
menyukai anak perempuan merupakan penyakit yang turun
menurun. Nah, sekarang apa yang hendak engkau lakukan,
Hwa-moi?”
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
“Pendapatmu itu memang ada benarnya, Bu-twako. Akan
tetapi bagaimanapun juga, Kakek dan Nenek Ciu telah
meninggal dunia, maka urusannya dengan ibu kandungku itu
pun tidak perlu dibicarakan lagi. Sekarang aku hendak
menyelidiki apakah benar ibu kandungku telah meninggal
dunia. Kalau sudah wafat mana kuburnya dan seandainya
masih hidup di mana tempat tinggalnya. Aku akan mulai
mencari keterangan itu dari rumah ayahku. Setelah
mendengar keterangan Kakek Cui Sam, aku ingin dekat
ayahku, ingin menghiburnya dan membantu padanya. Tentu
saja kalau dia berada di pihak yang benar. Agaknya di antara
kalangan pangeran di kota raja terdapat semacam persaingan
dan perebutan pengaruh.”
“Nah, keadaan itulah yang harus kuselidiki di kota raja,
Hwa-moi. Para suhu menghendaki aku selain menyelidiki
keadaan kehidupan rakyat, juga bagaimana keadaan
pemerintahan penjajah di kota raja,” kata Kong Liang.
“Akan tetapi berhati-hatilah, Bu-twako. Setelah bentrokan
dengan Pembesar Bong yang jahat itu, tentu engkau akan
dicari!”
“Hemm, engkau juga harus berhati-hati, Hwa-moi. Engkau
seharusnya membunuh pembesar jahat macam Jaksa Bong
agar dia tidak akan menyusahkan lagi. Dia tentu akan
membalas dendam kepadamu.”
“Hemm, aku masih mengampuninya dan hanya memotong
kedua daun telinga dan hidungnya. Kalau dia masih berani
membuat ulah, lehernya yang akan kubuntungi!” kata gadis
itu gemas.
Mereka berhenti bicara dan melanjutkan perjalanan mereka
ke kota raja. Dalam perjalanan itu, Thian Hwa
membandingkan Bu Kong Liang dengan Ui Yan Bun. Dua
orang pemuda sama-sama gagah perkasa dan baik budi. Akan
tetapi ia harus mengakui bahwa di dalam hatinya hanya ada
rasa kagum dan suka terhadap dua orang pemuda ini, tidak
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
ada perasaan mesra seperti yang pernah dirasakan hatinya
terhadap Pangeran Cu Kiong! Dan naluri kewanitaannya
membuat ia dapat merasakan bahwa Bu Kong Liang, seperti
juga Ui Yan Bun, mencinta dirinya. Ada perasaan bangga
dalam hatinya bahwa ia dicinta dua orang pendekar budiman
seperti dua orang pemuda itu, akan tetapi juga ada rasa sedih
karena ia tidak, atau belum dapat membalas cinta mereka.
***
Untuk menjaga keamanan, Thian Hwa dan Bu Kong Liang
menanti sampai senja tiba dan cuaca sudah mulai gelap untuk
memasuki pintu gerbang kota raja. Sebelum tiba di situ,
mereka memang sudah bersepakat untuk berpisah mencari
jalan masing-masing.
“Sekarang kita harus mengambil jalan masing-masing, Butwako.
Terima kasih atas semua kebaikanmu,” kata Thian
Hwa.
“Hwa-moi, akulah yang berterima kasih kepadamu. Engkau
telah menolongku. Kalau tidak ada engkau, mungkin aku
sudah mati tenggelam ke dalam sungai. Jaga dirimu baik-baik,
Hwa-moi. Dan semoga kita akan dapat bertemu kembali.”
“Selamat berpisah, Twako.”
Thian Hwa langsung menuju ke gedung Pangeran Ciu Wan
Kong, sedangkan Bu Kong Liang yang merasa berat harus
berpisah dari gadis yang dikaguminya itu, pergi mencari Gui
Tiong, murid Siauw-lim-pai yang membuka perguruan silat
“Bangau Putih” di kota raja.
Gui Tiong adalah seorang murid Siauw-lim-pai yang sejak
muda tinggal di kota raja dan membuka perguruan silat
“Bangau Putih”. Dia menikah dengan seorang gadis puteri
seorang pedagang di kota raja dan mempunyai seorang puteri
bernama Gui Siang Lin. Gadis ini tentu saja mewarisi ilmu silat
ayahnya sehingga ia dikenal sebagai seorang gadis cantik
yang lihai. Sebagai seorang wanita gagah, ia tidak pemalu
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
seperti gadis lain dan ia bahkan membantu ayahnya untuk
melatih silat kepada para murid Pek-ho Bukoan (Perguruan
Silat Bangau Putih). Sayang bahwa isteri Gui Tiong meninggal
dunia sejak Siang Lin berusia sepuluh tahun. Nyonya Gui
Tiong meninggal dunia karena wabah yang pernah mengamuk
di kota raja yang menimbulkan banyak korban. Kini Gui Tiong
yang berusia empat puluh lima tahun itu hidup sebagai
seorang duda, bersama puterinya.
Gui Tiong yang kini berusia empat puluh lima tahun dan
tetap menduda adalah seorang laki-laki yang perawakannya
sedang namun tegap. Wajahnya cukup gagah dengan jenggot
pendek dan sinar matanya tajam. Gui Tiong terkenal dengan
Pek-ho-kun (Silat Bangau Putih) yang dia ajarkan dan dia pun
seorang ahli memainkan senjatanya, yaitu siang-to (sepasang
golok). Puterinya, Gui Siang Lin, yang berusia sembilan belas
tahun, adalah seorang gadis yang berwajah bundar, berkulit
putih mulus, matanya lebar, senyumnya manis dihias lesung di
kedua pipinya. Rambutnya hitam panjang dikuncir dua dan
sebagian digelung ke atas. Gadis yang cantik manis ini agak
pendiam dan lembut, namun sikapnya tegas dan ia dapat
memainkan siang-kiam (sepasang pedang) dengan indah dan
kuatnya.
Sesuai dengan pendirian Siauw-lim-pai, Gui Tiong tidak
pernah memperlihatkan sikap permusuhan terhadap
Pemerintah Mancu, maka dia pun tidak pernah mendapat
gangguan. Apalagi banyak pemuda putera para pembesar
yang belajar di perguruan itu. Akan tetapi, biarpun dia tidak
pernah memperlihatkan sikap menentang penjajah Mancu,
dalam hatinya, Gui Tiong tetap tidak sudi diperalat oleh
penjajah, bahkan pelajaran s ilat yang dia berikan kepada para
pemuda Mancu hanya kulit dan kembangannya saja. Intinya
hanya ia ajarkan kepada puterinya.
Bu Kong Liang tidak menemui kesukaran untuk mencari
guru silat yang masih terhitung susiok-nya (Paman Gurunya)
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
itu. Gui Tiong pernah belajar silat di Siauw-lim-pai walaupun
tidak mencapai tingkat terakhir, dan Bu Kong Liang adalah
murid Thian Beng Hwesio yang merupakan murid Siauw-limpai
seangkatan dengan Gui Tiong. Hanya bedanya, Thian
Beng Hwesio terus memperdalam ilmu silatnya sehingga kini
menjadi pelatih ilmu silat di kuil Siauw-lim. Karena itu, biarpun
Gui Tiong merupakan susiok dari Kong Liang, namun dalam
hal tingkat ilmu silat, sang murid keponakan ini lebih tinggi.
Setelah menemukan rumah susioknya, Bu Kong Liang pada
suatu pagi berdiri di depan rumah yang cukup besar dan
memandang ke arah papan nama perguruan silat “PEK-HO
BUKOAN”.
Dengan gembira akan tetapi juga tegang karena selama
hidupnya belum pernah dia bertemu dengan Gui Tiong, hanya
mendengar namanya saja dari Thian Beng Hwesio, Kong Liang
menghampiri pintu depan rumah itu. Dia mengetuk pintu,
akan tetapi agaknya tidak ada yang mendengarnya karena
pada saat itu terdengar bentakan suara dan hentakan kaki
orang-orang yang sedang berlatih silat, sehingga suara
ketukannya tidak terdengar.
Kong Liang membuka daun pintu dan ternyata tidak
terpalang dari dalam. Dia melihat belasan orang laki-laki, tua
muda sedang berlatih silat dan dia mengenal gerakan kaki
tangan mereka itu sebagai ilmu silat Siauw-lim-pai, walaupun
gerakan mereka kaku karena tidak berbakat. Yang membuat
dia merasa heran, di antara belasan orang murid yang
tingkatnya masih rendah dan gerakannya hanya
mengandalkan kekuatan otot itu adalah seorang gadis yang
amat manis!
Gadis itu adalah Gui Siang Lin. Seperti biasa, ia mewakili
ayahnya memberi petunjuk kepada para murid itu dan ia pun
mengerti bahwa ayahnya hanya mengajarkan dasar dan
kembangan saja. Para murid itu mempelajari ilmu silat hanya
untuk gagah-gagahan saja. Mereka cukup puas kalau sudah
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
dapat melakukan gerakan yang tampak indah dan gagah dan
sudah merasa dirinya hebat.
Melihat Kong Liang yang berdiri di ambang pintu yang
sudah terbuka itu, Siang Lin memandang heran karena ia tidak
mengenal pemuda itu. Ia lalu memesan para murid untuk
melanjutkan latihan mereka, dan melangkah keluar
menghampiri tamu itu.
Melihat gadis itu menghampirinya, Bu Kong Liang segera
mengangkat kedua tangan depan dada memberi hormat yang
dibalas oleh Siang Lin yang sudah biasa berhadapan dengan
tamu laki-laki yang hendak belajar silat. Ia mengira bahwa
pemuda ini tentu datang untuk belajar ilmu silat seperti yang
lain.
“Maaf, Nona, kalau kunjunganku ini mengganggu
kesibukanmu,” kata Kong Liang.
Siang Lin tersenyum. Begitu bertemu, ia melihat bahwa
pemuda ini berbeda dengan para murid ayahnya. Ia melihat
sikap sopan pemuda ini wajar dan keluar dari dalam. Hal ini
dapat ia ketahui dari pandang mata pemuda ini. Pemudapemuda
lain kalau bicara dengannya, sikap sopannya hanya
dibuat-buat akan tetapi ia dapat melihat pandang mata yang
penuh berahi kepadanya. Pemuda ini memandangnya dengan
jujur, bahkan sinar matanya demikian tajam berwibawa.
“Engkau tidak mengganggu. Siapakah engkau dan apakah
engkau datang berkunjung untuk belajar ilmu silat?”
“Tidak, Nona. Aku datang bukan untuk belajar ilmu silat,
melainkan untuk bertemu dengan pemimpin Pek-Ho Bu-koan.
Bukankah yang menjadi pemimpin perguruan ini bernama Gui
Tiong?”
Siang Lin memandang tajam penuh selidik dan mulai
merasa curiga. Hal ini tidak aneh karena ia tahu bahwa
sebagai seorang murid Siauw-lim-pai yang menentang
kejahatan, ayahnya tentu saja dimusuhi oleh orang-orang
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
golongan sesat dari dunia kang-ouw (sungai telaga /
persilatan).
“Kalau tidak untuk belajar ilmu silat, lalu apa keperluanmu
hendak menemui ayahku? Kauwsu (Guru Silat) perguruan ini
memang Gui Tiong, ayahku.”
“Ah, maafkan aku. Aku adalah Bu Kong Liang dan aku
datang untuk bertemu dengan susiok (Paman Guru) Gui
Tiong.”
“Susiok...? Kalau begitu, engkau ini... murid Siauw-lim-pai?”
“Benar, Nona. Aku datang dari Siauw-lim-pai dan Suhu
Thian Beng Hwesio yang memberitahu agar aku menemui
Susiok Gui Tiong di s ini.”
“Ah, kalau begitu, kita masih seperguruan! Namaku Gui
Siang Lin, Bu Suheng (Kakak Seperguruan Bu). Mari kuantar
menemui Ayah di dalam!”
“Terima kasih, Sumoi (Adik Seperguruan)!” kata Kong Liang
dengan girang. Dia lalu mengikuti Siang Lin memasuki rumah
dan melewati para murid yang masih berlatih silat di halaman
depan rumah itu.
“Kalian boleh istirahat dulu, nanti latihannya kita lanjutkan
lagi,” kata Siang Lin kepada belasan orang yang belajar ilmu
silat itu.
Para murid itu berhenti lalu mengaso di bawah pohon yang
tumbuh di tepi halaman. Dua orang dari mereka berbisik-bisik
membicarakan tamu yang baru datang.
“Kau dengar tadi? Pemuda itu murid Siauw-lim-pai, murid
keponakan Suhu Gui Tiong. Hemm, mencurigakan sekali. Mau
apa Siauw-lim-pai menghubungi Suhu Gui Tiong?” kata
seorang dari mereka yang usianya sekitar empat puluh tahun
dan bertubuh kurus kering seperti orang berpenyakitan.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
“Hemm, perlu kita laporkan. Pergilah, aku akan
memberitahu Nona Gui bahwa engkau merasa sakit perut dan
pamit pulang lebih dulu,” bisik orang ke dua yang bertubuh
gemuk dan usianya sekitar tiga puluh tahun.
Si Kurus Kering mengangguk, lalu bangkit berdiri, menekan
perut dan menyeringai, dipapah keluar oleh Si Gendut yang
berkata kepada para murid lain bahwa Si Kurus itu sakit perut
dan hendak pulang lebih dulu.
Sementara itu, Kong Liang bersama Siang Lin memasuki
ruangan samping rumah itu dan Gui Tiong yang sedang duduk
di situ, memandang heran melihat puterinya masuk bersama
seorang pemuda.
“Ayah, ini adalah Suheng Bu Kong Liang, murid Supek (Uwa
Guru) Thian Beng Hwesio datang hendak bertemu Ayah,” kata
Siang Lin. Kong Liang segera merangkap kedua tangan dan
memberi hormat kepada laki-laki setengah tua itu.
Mendengar ucapan puterinya, Gui Tiong cepat bangkit dan
membalas penghormatan Kong Liang. “Ah, kiranya murid
Suheng Thian Beng Hwesio? Kalau begitu, engkau datang dari
Siauw-lim-si (Kui Siauw-lim)?”
“Benar, Susiok. Suhu mengirim salam untuk Susiok.”
“Ah, duduklah, Kong Liang! Gembira sekali aku mendapat
kunjungan seorang keponakan murid yang datang dari Siauwlim-
si! Siang Lin, cepat ambilkan minuman untuk suhengmu!”
“Tidak perlu repot, Sumoi!”
“Ah, minuman tinggal ambil saja, Suheng!” kata Siang Lin
dan segera gadis ini keluar dari ruangan dan tak lama kembali
lagi membawa minuman air teh.
“Suheng, silakan duduk dan bicara dengan Ayah. Aku harus
mengurus latihan para murid tadi.” Setelah berkata demikian
Siang Lin keluar lagi.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
“Nah, Kong Liang, coba ceritakan bagaimana keadaan
Siauw-lim-pai sekarang. Sudah belasan tahun aku tidak
pernah mendengar beritanya semenjak aku meninggalkan Kuil
Siauw-lim.”
Dengan singkat Kong Liang menceritakan tentang kuil
Siauw-lim, dan memberitahu bahwa kini yang bertugas
melatih para murid tingkat akhir adalah gurunya, yaitu Thian
Beng Hwesio.
Gui Tiong mengangguk-angguk. “Sudah kuduga, memang
Suheng Thian Beng itu memiliki bakat yang jauh melampaui
aku dan tentu dia telah memperoleh kemajuan pesat karena
dia begitu tekun berlatih memperdalam ilmunya.”
“Setelah saya tamat belajar, Suhu dan para pimpinan
Siauw-lim-pai mengutus saya untuk pergi merantau sampai ke
kota raja untuk melihat bagaimana keadaan rakyat setelah
pemerintah dikuasai oleh bangsa Mancu. Suhu memesan agar
kalau sampai di kota raja saya mencari Susiok dan minta
keterangan kepada Susiok tentang keadaan di kota raja.”
Gui Tiong memberitahukan bahwa keadaan di kota raja
baik saja dan bahwa pemerintah Kerajaan Ceng (Mancu)
menyesuaikan diri dengan kebudayaan bangsa pribumi Han,
sehingga banyak orang Han diangkat menjadi pejabat
pemerintah. Juga bahwa pemerintah Mancu bersikap baik
terhadap perkumpulan-perkumpulan. Kerajaan Ceng hanya
bersikap keras dan tegas terhadap mereka yang menunjukkan
sikap memberontak.
“Karena itu, sikap yang diambil Siauw-lim-pai agar tidak
memancing permusuhan dan tidak melawan pemerintah Ceng,
cukup bijaksana. Buktinya, biarpun semua orang mengetahui
bahwa aku adalah murid Siauw-lim-pai, namun aku tidak
pernah diganggu, bahkan boleh membuka perguruan silat dan
yang datang belajar silat bahkan banyak kaum bangsawan
dan hartawan.”
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
“Suhu juga memesan begitu, Susiok. Para murid Siauw-limpai
diharuskan menjaga diri agar jangan menentang
pemerintah, melainkan bersikap sebagai pendekar yang
menentang kejahatan dan membela yang benar. Kalau ada
yang ingin menentang Pemerintah Mancu, dipersilakan pergi
ke Secuan dan membantu pemerintah Raja Muda Wu Sam
Kwi. Akan tetapi, biarpun saya tidak pernah menentang, tanpa
sebab saya dihadang dan dikeroyok seregu prajurit Mancu.
Beruntung saya dapat meloloskan diri, Susiok.”
“Ah, mengapa tanpa sebab engkau dihadang dan dikeroyok
pasukan kerajaan?” Gui Tiong bertanya heran dan khawatir.
“Mereka hanya mengatakan bahwa aku murid Siauw-limpai
dan menjadi pemberontak.”
“Hemm, aneh sekali ini. Padahal, mereka tahu aku murid
Siauw-lim-pai, akan tetapi aku tidak pernah diganggu.”
Mereka lalu bercakap-cakap dengan asyik. Sementara itu
Gui Siang Ling yang keluar lalu menemui para murid yang
sedang berlatih. Mereka tampak sudah kelelahan karena
memang sudah sejak pagi sekali mereka berlatih. Karena ia
ingin sekali ikut bercakap-cakap dengan Bu Kong Liang, Siang
Lin lalu menghentikan latihan itu dan menyuruh para murid
pulang.
Akan tetapi, seorang murid, pribumi Han dan usianya
sekitar tiga puluh tahun, sengaja membiarkan dirinya
tertinggal dan setelah tidak ada murid lain, dia menghampiri
Siang Lin dan berkata dengan suara berbisik.
“Siocia (Nona), aku tadi mendengar Ma Kui bicara dengan
Lui Hok tentang Suheng Nona tadi dan Ma Kiu meninggalkan
tempat latihan dengan alasan sakit perut, sebetulnya dia
hendak melaporkan kedatangannya, dan agaknya mereka
berdua mencurigai Suheng Nona.”
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Tentu saja Siang Lin menjadi terkejut bukan main. “Ma Kiu?
Orang setengah tua yang mengaku sebagai pembantu kantor
Jaksa Ji, yang tubuhnya kurus kering itu?”
“Benar, Siocia.”
“Dia hendak melaporkan tentang apa? Suhengku tidak
melakukan suatu pelanggaran, dan kepada siapa dia hendak
melaporkan?”
“Mereka tidak mengatakan kepada siapa, Siocia. Saya
hanya ingin memberi-tahu agar Gui Kauwsu (Guru Silat Gui)
dan Nona mengetahui dan berhati-hati.”
“Terima kasih, dan sekarang pulanglah.”
Setelah murid itu keluar, Siang Lin lalu menutupkan pintu
gerbang di depan halaman, memanggil seorang pelayan lakilaki
setengah tua yang membersihkan halaman bekas tempat
latihan itu dan memesan agar menjaga di situ dan melaporkan
kalau ada yang datang bertamu. Setelah itu, Siang Lin
bergegas memasuki rumah dan langsung menemui ayahnya
yang sedang bercakap-cakap dengan Bu Kong Liang.
“Ayah, ada sesuatu yang mencurigakan dan agaknya gawat
terjadi di luar,” katanya melaporkan. “Menurut seorang murid,
Ma Kui mencurigai Bu Suheng dan akan melaporkan kepada
atasannya yang tidak diketahui entah siapa.”
Gui Tiong mengerutkan alisnya. “Ma Kiu? Pekerja di kantor
Jaksa Ji itu? Hemm, sejak dia menjadi murid di sini, setahun
yang lalu, aku sudah mencurigainya. Aku yakin dia itu hanya
pura-pura saja belajar silat. Dari sinar matanya aku dapat
menduga bahwa dia adalah seorang ahli silat yang memiliki
tenaga dalam cukup kuat. Tentu dia menjadi murid di sini
untuk memata-matai, akan tetapi karena perguruan ini
memang tidak mempunyai niat menentang pemerintah, aku
juga diam dan tenang saja.”
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
“Ah, kalau begitu kedatangan saya ini hanya menimbulkan
masalah dan kesulitan bagi Susiok!” kata Bu Kong Liang
dengan suara menyesal. “Lebih baik saya pergi secepatnya
agar jangan mendatangkan kesulitan bagi Susiok.”
“Tidak, Kong Liang. Jangan khawatir, para pejabat tidak
akan mengganggu kita. Aku mengenal banyak pejabat dan
selama belasan tahun ini mereka tentu yakin bahwa aku sama
sekali tidak pernah menentang pemerintah. Biar saja kita
dicurigai dan kita pura-pura tidak tahu saja. Kalau engkau
pergi dari sini lalu mereka datang bertanya, tentu kecurigaan
mereka bertambah melihat engkau telah pergi tanpa aku
dapat memberitahu ke mana pergimu. Tenang sajalah, kita
hadapi bersama.”
“Benar, Suheng. Kalau kita tidak bersalah apa pun, untuk
apa melarikan diri seperti orang yang bersalah?”
“Susiok dan Sumoi memang benar, akan tetapi hendaknya
Susiok ingat bahwa seperti yang saya ceritakan tadi, saya
pernah dihadang dan dikeroyok oleh seregu prajurit yang
dipimpin oleh Hui-eng-to Phang Houw dan Liong-bu-pangcu
Louw Cin karena dituduh sebagai pemberontak. Pada waktu
itu muncul Ang-mo Niocu, seorang penyelidik utusan Raja
Muda Wu Sam Kwi di Secuan dan ia telah membunuh enam
orang prajurit. Dengan adanya peristiwa itu, tentu saya
dianggap sebagai pemberontak dan kalau saya tidak
meninggalkan rumah ini, Susiok dan Sumoi pasti akan
terbawa-bawa.”
“Hal itu juga dapat kita jelaskan. Engkau tanpa sebab
dihadang dan diserang, tentu saja engkau berhak membela
diri. Kalau di antara para pengeroyok itu ada yang tewas, itu
pun bukan kesalahanmu, apalagi seperti kauceritakan tadi,
yang membunuh adalah Ang-mo Niocu, bukan engkau.
Tenanglah, di kota raja ini banyak pejabat yang adil, aku pasti
akan membelamu.”
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
“Hui-eng-to Phang Houw dan Liong-bu-pangcu Louw Cin,
seperti pernah aku mendengar nama itu, Ayah!”
“Tentu saja. Mereka cukup terkenal di sini. Mereka adalah
dua orang di antara para jagoan yang menjadi anak buah
Pangeran Leng Kok Cun.”
Kong Liang mengangguk. “Saya pun sudah mendengar
keterangan itu dari seorang pendekar wanita bernama Thian
Hwa yang pernah bentrok dengan mereka.”
“Wah, Bu Suheng mempunyai banyak teman pendekar
wanita, ya? Tadi Ang-mo Niocu, sekarang Thian Hwa! Tentu
mereka itu lihai dan cantik!”
Wajah Kong Liang berubah merah. “Bukan teman, hanya
kebetulan bertemu dan berkenalan saja, Sumoi.”
“Sudahlah, Kong Liang. Menurut aku sebaiknya engkau
diam saja di sini. Kalau engkau pergi malah mungkin akan
menyusahkan kami. Kalau ada petugas pemerintah datang,
kita hadapi berdua, akan tetapi kuperingatkan lebih dulu,
jangan sekali-kali menggunakan kekerasan untuk melawan.
Hal itu bahkan akan memperuncing keadaan dan menambah
kecurigaan mereka.”
Akhirnya Kong Liang terpaksa menyetujui walaupun dia
merasa tidak enak kepada paman gurunya. Dia tidak
menceritakan betapa dia dan Thian Hwa juga menghajar
seorang jaksa berikut para prajurit pengawalnya. Dia merasa
serba salah. Kalau dia pergi, akibatnya Gui Tiong dan Gui
Siang Lin dicurigai dan ditekan pemerintah, hal itu akan
tampak bahwa dia seorang pengecut yang tidak bertanggung
jawab! Akan tetapi kalau dia tinggal di situ, susiok dan
sumoinya itu akan terseret atau terlibat urusannya dengan
pasukan kerajaan! Di antara dua pilihan itu, dia memilih yang
pertama. Dia akan tinggal di situ dan menghadapi segala
kemungkinan bersama Gui Tiong agar kalau sampai ada
bahaya mengancam paman gurunya, dia dapat membantu.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Apa yang mereka khawatirkan itu ternyata terjadi pada
siang hari itu juga. Seorang perwira dengan dua losin orang
prajurit keamanan datang membawa surat perintah Jaksa Ji
untuk memanggil Gui Tiong dan pemuda yang menjadi
tamunya menghadap.
“Harap Gui Kauwsu dan tamunya suka ikut dengan baik
dan tidak melakukan perlawanan agar kami tidak perlu
menggunakan kekerasan,” kata perwira itu yang sudah
mengenal Gui Tiong.
Bu Kong Liang
mengerutkan alisnya,
akan tetapi Gui Tiong
memberi isyarat dengan
pandang matanya agar
pemuda itu tidak
mengeluarkan bantahan.
“Aih, Ciangkun
(Perwira), mengapa harus
melawan? Kami tidak
merasa bersalah, maka
tentu saja kami akan
menaati panggilan Ji
Thaijin.” Ketika Gui Siang
Lin keluar, ayahnya
berkata kepadanya.
“Siang Lin, engkau
menjaga rumah dan sebaiknya liburkan dulu para murid. Aku
dan Kong Liang hendak pergi ke kantor Jaksa Ji memenuhi
panggilannya.”
“Kenapa Ayah dipanggil Jaksa Ji?” Siang Lin bertanya.
“Ah, mungkin ada urusan yang hendak beliau tanyakan.
Jangan khawatir, Siang Lin. Jaksa Ji orangnya baik, pasti tidak
ada apa-apa.”
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
“Baiklah, Ayah,” kata gadis itu.
Diam-diam Bu Kong Liang kagum kepada ayah dan anak
ini. Kalau mereka melakukan perlawanan tentu Siang Lin juga
akan ditangkap. Akan tetapi karena Gui Tiong bersikap lunak,
maka pasukan itu pun tidak bertindak kasar sehingga mereka
berdua kini hanya dikawal saja tanpa dibelenggu menuju ke
kantor Jaksa Ji.
Setelah tiba di kantor itu, Jaksa Ji sudah menunggu dengan
mengenakan pakaian kebesarannya. Dengan sikap angkuh dia
duduk di atas kursi dan belasan orang prajurit pengawal
berjaga di situ dengan senjata pedang di tangan.
Gui Tiong dan Kong Liang dikawal masuk dan setelah tiba
di ruangan itu dan berhadapan dengan Jaksa Ji, Gui Tiong
memberi hormat dengan mengangkat kedua tangan depan
dada sambil membungkuk, ditiru oleh Kong Liang. Akan tetapi
perwira pengawal di belakang mereka membentak.
“Hayo kalian berdua berlutut memberi hormat kepada Ji
Thaijin!”
Mendengar bentakan ini, Gui Tiong segera berlutut, dan
biarpun hatinya mengkal, terpaksa Kong Liang juga berlutut.
Gui Tiong maklum bahwa dia diperlakukan sebagai seorang
terdakwa, maka diharuskan berlutut. Padahal biasanya dia
bersikap biasa saja terhadap jaksa yang sudah dikenalnya ini.
“Ji Thaijin, saya Gui Tiong dan ini keponakan murid saya
bernama Bu Kong Liang, memberi hormat memenuhi
panggilan Thaijin,” kata Gui Tiong sambil berlutut.
“Gui Tiong!” kata Jaksa Ji dengan suara keren. “Sudah
tahukah engkau akan dosamu?”
“Ji Thaijin, sesungguhnya saya masih merasa heran dan
tidak tahu mengapa Thaijin memanggil kami, maka mohon
Thaijin jelaskan apakah maksud Thaijin mengatakan bahwa
saya berdosa? Dosa apakah yang telah saya lakukan?”
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
“Hemm, kura-kura dalam perahu, pura-pura tidak tahu!”
Jaksa Ji mengejek. “Kami mendapatkan kabar dari Pangeran
Lu bahwa pemuda ini adalah murid Siauw-lim-pai yang
memberontak. Karena dia berada di rumahmu, berarti engkau
menyembunyikan seorang pemberontak! Oleh karena itu,
sambil menanti keputusan pengadilan, kalian harus ditahan
dalam penjara!”
“Maaf, Thaijin, saya memprotes! Saya murid Siauw-lim-pai
dan tidak pernah memberontak. Andaikata saya yang dituduh
memberontak mengapa Susiok Gui Tiong ikut ditahan? Dia
dan puterinya sama sekali tidak mempunyai hubungan dengan
saya. Bahkan baru pagi tadi saya mengunjungi paman guru
saya ini. Maka, mohon Thaijin membebaskan Susiok Gui
Tiong!” kata Bu Kong Liang dengan lantang.
“Ssstt, Kong Liang, jangan berkata begitu. Aku yakin
penangkapan ini hanya akibat fitnah. Biarlah di pengadilan
nanti kita bicara membela diri kita yang tidak bersalah.”
“Diam kalian!” bentak jaksa itu memandang kepada para
prajurit pengawal. “Masukkan mereka dalam penjara!”
Andaikata Kong Liang seorang diri dan tidak melibatkan
paman gurunya, tentu dia tidak sudi ditawan, mengamuk dan
meloloskan diri. Akan tetapi dia maklum bahwa kalau dia
berbuat demikian, dia malah membahayakan keselamatan
guru dan adik seperguruannya. Tentu saja dia tidak mau hal
ini terjadi dan dia pun menurut saja ketika dia dan Gui Tiong
digiring belasan orang prajurit ke rumah penjara di mana
mereka berdua dimasukkan sebuah kamar tahanan yang
kokoh dan berterali besi amat kuatnya. Rumah tahanan itu
dijaga banyak prajurit, bahkan di luar sel mereka tampak lima
orang prajurit duduk berjaga.
Mereka tadi datang menghadap Jaksa Ji tanpa membawa
senjata. Gui Tiong yang melarang keponakan muridnya
membawa senjata. Guru silat ini mengetahui bahwa pada
masa itu, sudah dikeluarkan pengumuman bahwa rakyat yang
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
bukan petugas pemerintah, dilarang membawa senjata.
Setelah mereka berdua dimasukkan dalam sel, mereka duduk
bersila di atas lantai batu yang keras dan dingin.
“Susiok, ini tidak adil!” Kong Liang berkata lirih penuh
penyesalan. “Kalau saya yang dituduh sebagai pemberontak,
mengapa Susiok ikut ditahan? Maka, dalam persidangan
pengadilan, harap Susiok jangan membela saya. Katakan saja
terus terang bahwa saya datang berkunjung sebagai sesama
murid Siauw-lim-pai, dan Susiok tidak tahu menahu tentang
semua perbuatan saya. Kalau hanya saya yang dihukum, saya
akan mudah berusaha untuk meloloskan diri. Sebaliknya
Susiok tidak mungkin melakukan perlawanan karena itu akan
membahayakan diri Sumoi Siang Lin.”
Gui Tiong tersenyum, sikapnya tenang. “Jangan khawatir,
Kong Liang. Aku percaya bahwa Jaksa Ji tidak berniat buruk.
Seperti katanya, dia hanya memenuhi perintah Pangeran Lu.
Kita akan bersikap dan bertindak bagaimana, kita tunggu saja
sampai nanti di pengadilan. Jangan risau. Dalam keadaan
begini kita harus tetap tenang dan mengumpulkan tenaga
untuk menghadapi segala kemungkinan.”
Sore harinya, seorang penjaga mengantar makan dan
minum untuk mereka, dimasukkan di sela-sela terali. Prajurit
itu yang mengenal Gui Tiong berkata ramah. “Gui Kauwsu,
kalau membutuhkan sesuatu, beritahu saja kepada kami.”
“Terima kasih,” kata Gui Tiong. Mereka lalu makan minum
dan makanan yang diberikan ternyata cukup baik. Gui Tiong
memberitahu Kong Liang bahwa makanan yang mereka terima
itu saja sudah membedakan mereka dengan tahanan biasa.
Agaknya mereka diperlakukan dengan baik dan kenyataan ini
menunjukkan bahwa pembesar yang menyuruh menangkap
mereka tentu mempunyai maksud lain.
Malam itu, para penjaga penjara tampak sibuk. Bahkan
prajurit yang berjaga di depan sel yang ditempati Gui Tiong
dan Bu Kong Liang, kini dijaga belasan orang prajurit yang
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
sudah siap dengan senjata di tangan. Akan tetapi mereka
berdiri tegap dengan sikap hormat, tidak mengeluarkan suara.
Gui Tiong dan Kong Liang memandang kesibukan itu dari
belakang terali. Tak lama kemudian tampak seorang kakek
berusia sekitar enam puluh tiga tahun, tubuhnya bongkok dan
mukanya buruk. Akan tetapi orang tua yang tampak ringkih
(lemah) ini berpakaian mewah sekali dan tangan kirinya
memegang sebuah tongkat hitam, tangan kanan memegang
sebuah kipas dan di ikat pinggangnya terselip tujuh buah
belati sehingga dia tampak aneh dan lucu sekali tidak tampak
garang menakutkan. Akan tetapi kalau orang mendengar
namanya, dia tentu akan terkejut dan juga takut.
Jilid IV
KAKEK itu adalah Pat-chiu Lo-mo (Iblis Tua Tangan
Delapan) yang namanya di dunia kang-ouw terkenal sebagal
seorang yang sakti. Selain ilmu tongkatnya yang hebat, dia
pandai memainkan kipas yang kini dia pakai mengebut!
badannya, sebagai senjata yang ampuh. Kipasnya itu disebut
Yangliu-san (Kipas Cemara) karena bentuknya seperti pohon
cemara. Selain itu, juga ilmunya menyambit dengan hui-to
(belati terbang) amat dahsyat. Dia selalu membekali dirinya
dengan tujuh batang belati yang dapat dia terbangkan
menyerang lawan. Pada waktu itu, Pat-chiu Lo-mo merupakan
seorang di antara para pembantu utama Pangeran Leng Kok
Cun!
Di belakang kakek itu berjalan lima orang yang usianya
antara tiga puluh lima sampai empat puluh lima tahun.
Lima orang ini bertubuh tinggi besar dan tegap, tampak
gagah. Mereka adalah saudara seperguruan yang terkenal
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
dengan julukan Twa-to Ngo-liong (Lima Naga Bergolok Besar).
Aneh kalau dilihat betapa kakek bongkok yang tampak
berpenyakitan itu malah menjadi pimpinan lima orang yang
tampak kokoh kuat itu!
Setelah tiba di luar sel mereka berhenti dan kakek itu
memandang ke arah Gui Tiong dan Bu Kong Liang.
"Kalian yang bernama Gui Tiong dan Bu Kong Liang*'
"Betul." jawab Gui Tiong yang belum pernah bertemu
dengan kakek itu karena memang Pat-chiu Lo-mo tidak
pernah keluar dari istana Pangeran Leng Kok Cun.
"Nah, ketahuilah kalian berdua bahwa kami datang sebagai
utusan Pangeran Leng Kok Cun untuk bertanya kepada kalian.
Kalian dipersilakan memilih satu di antara dua pilihan.
Pertama, kalian akan diadili sebagai pemberontakpemberontak
dan pasti akan dihukum mati. Ada pun yang ke
dua, kalian akan bebas dari tuduhan kalau kalian mau
membantu Pangeran Leng dan melaksanakan segala
perintahnya, dan kalian menerima imbalan yang amat
berharga. Nah, kalian memilih yang mana? Menolak, berarti
diadili dan dihukum mati, kalau menerima, mari menghadap
Pangeran Leng malam ini juga!"
Melihat sikap kakek, bongkok ini, Kong Liang sudah merasa
tak senang. Dia bertanya dengan suara tegas. "Kalau kami
mau, lalu disuruh melakukan apa?"
"Hai itu akan ditentukan oleh Pangeran sendiri! Bagaimana
jawabanmu Gui Tiong? Engkau menerima atau menolak
tawaran Pangeran Leng?" tanya Pat-chiu Lo-mo.
"Kalau benar Pangeran Leng Kok Cun yang ingin agar kami
menbantunya, mengapa beliau tidak langsung saja menemui
kami? Mengapa kami harus ditangkap lebih dulu dengan
tuduhan yang bohong? Pula, bagaimana kami tahu bahwa
engkau diutus oleh Pangeran Leng? Kami tidak mengenalmu,
sobat." kata Gui Tiong yang bersikap hati-hati.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Hemm, bagaimana mungkin Pangeran Leng merendahkan
diri berkunjung ke rumahmu, Gui Kauwsu? Tuduhan itu bukan
fitnah. Engkau telah menyembunyikan pemuda ini yang
memberontak dan membunuh banyak perajurit kerajaan. Dan
engkau belum mengenai aku? Aku dikenal sebagai Pat-chiu
Lo-mo, yang bekerja membantu Pangeran Leng. Cukuplah,
cepat beri keputusan. Engkau menolak atau mau kubawa
menghadap Pangeran Leng sekarang juga?"
Kini Gui Tiong dapat menduga bahwa penangkapan ini.
tentu atas perintah Pangeran Leng yang besar kekuasaannya.
Teringatlah dia akan cerita Bu Kong Liang betapa pemuda itu
pernah bentrok dengan dua orang jagoan kaki tangan
Pangeran Leng, yaitu Hui-eng-to Phang Houw dan Liong-bupangcu
Louw Cin. Tentu karena itulah Kong Liang dianggap
sebagai pemberontak. Akan tetapi sesungguhnya pemuda itu
bukan pemberontak, melainkan tanpa alasan dihadang dan
diserang pasukan yang dipimpin dua orang jagoan itu. Dia
mengerti bahwa kalau menolak, nyawa mereka pasti tidak
akan tertolong lagi. Akan tetapi kalau menyerah, apakah dia
dan keponakan muridnya harus membantu Pangeran Leng
yang bersaing dengan para pangeran lain untuk menjadi
pengganti Kaisar?
Melihat Paman gurunya bimbang dan ragu, Kong Liang
menyentuh pinggangnya sebagai isarat dan berkata, "Susiok,
kita terima sajalah dan menghadap Pangeran Leng”
Gui Tiong maklum bahwa penyerahan diri Kong Liang ini
mungkin hanya siasat pemuda itu. Akan tetapi, kakek itu
adalah seorang yang cerdik. Dia pun maklum dan dapat
menduga bahwa mungkin setelah keluar dari situ dan dibawa
ke istana Pangeran Leng, dua orang ini akan melawan dan
melarikan diri. Dia sudah mendengar akan kelihaian para
murid Siauw-lim-pai ini, maka kalau benar seperti yang dia
duga, berarti dia membahayakan diri sendiri. Kalau mereka
sampai lolos, tentu dia mendapat marah besar dari
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
majikannya! Biarpun dia sudah mengajak Toa-to Ngo-liong
dan di luar masih ada dua losin perajurit yang akan mengawal
dua orang tawanan ini menuju istana Pangeran Leng, namun
kalau dua orang ini mengamuk, tetap saja ada bahayanya
mereka atau seorang dari mereka dapat lolos! Akan tetapi,
kakek bongkok ini tidak merasa khawatir, malah tertawa
terkekeh-kekeh.
"Heh-heh-heh, jangan kalian berniat yang bukan-bukan.
Cepatlah karena puterimu juga sudah menanti di sana, Gui
Kauwsu!"
Wajah Gui Tiong berubah pucat. "Apa? Anakku Siang Lin
juga kalian tawan? Apa salahnya? Awas kalau ada yang berani
mengganggu anakku!" teriaknya marah. Kong Liang juga
terkejut mendengar ini dan dia mengepal tinju. Memang tadi
dia memberi isarat kepada paman gurunya dengan maksud
untuk mengajak paman gurunya memberontak dan melawan
di tengah perjalanan menuju istana Pangeran Leng dan
melarikan diri. Akan tetapi mendengar bahwa Siang Lin telah
berada di tangan mereka, tentu saja dia pun merasa tidak
berdaya!
"Heh-heh-heh, jangan marah dan jangan khawatir, Gui
Kauwsu. Puterimu hanya diundang ke sana untuk meyakinkan
kalian bahwa Pangeran Leng berniat baik. Kalau kalian
bersedia menjadi pembantunya dan menaati semua
perintahnya, pasti semua berjalan dengan baik. Mari kita
berangkat karena beliau sudah menunggumu! Bagaimana,
engkau bersedia, Gui Kauwsu?"
Gui Tiong merasa tidak berdaya sama, sekali. Kini puterinya
disandera, maka tidak ada pilihan lain kecuali menyerah.
"Baiklah, Lo-mo, aku siap menghadap Pangeran Leng. Akan
tetapi pemuda ini tidak ada urusannya denganku, maka harap
dia segera dibebaskan. Aku yang siap membantu Pangeran
Leng!"
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Tidak!" Bu Kong Liang berseru. "Aku yang menyebabkan
semua ini maka aku harus ikut bertanggung jawab!"
"Bagus!" kata Pat-chiu Lo-mo. "Memang Pangeran Leng
menghendaki kalian berdua yang ikut menghadap beliau!"
Kakek bongkok itu lalu memberi tanda kepada kepala penjara
yang segera membuka pintu sel tahanan itu. Gui Tiong dan Bu
Kong Liang keluar dan dibawa keluar. Di luar sudah menanti
dua losiri perajurit dan kedua orang murid Siauw-lim-pai itu
lalu dikawal menuju istana Pangeran Leng. Kalau saja Siang
Lin tidak berada di tangan Pangeran Leng, sudah pasti dua
orang murid Siauw-lim-pai itu akan memberontak dan
melarikan diri. Mereka tidak gentar menghadapi enam orang
jagoan dan dua losin perajurit itu. Akan tetapi ditawannya
Siang Lin membuat mereka tidak berdaya, tidak dapat berbuat
lain kecuali menyerah dan menurut.
Setelah tiba di gedung berupa istana megah itu, Gui Tiong
dan Kong Liang dibawa masuk ke dalam sebuah ruangan yang
diterangi banyak lampu besar dan ruangan itu luas dan terhias
prabot rumah yang serba indah. Di s itu telah duduk Pangeran
Leng Kok Cun. Di luar ruangan itu berjaga banyak perajurit
pengawal dan di belakang Sang Pangeran duduk pula berjajar
belasan orang yang tampaknya gagah dan menyeramkan.
Gui Tiong sudah pernah melihat Pangeran Leng Kok Cun.
Akan tetapi Bu Kong Liang baru sekarang melihatnya dan dia
memandang penuh perhatian. Pangeran itu mengenakan
pakaian yang indah gemerlapan. Usianya sekitar empat puluh
tiga tahun. Tubuhnya tinggi kurus dan tampaknya lemah, akan
tetapi matanya yang lincah dan tajam itu membayangkan
kecerdikan, wibawa, dan kekuatan. Tidak mungkin orang yang
memiliki pandang mata seperti itu adalah seorang yang lemah,
pikir Kong Liang.
"Kalian berdua duduklah!" kata Sang Pangeran
mempersilakan dua orang itu duduk di atas kursi-kursi yang
terdapat di situ.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Terima kasih, Pangeran." Mereka berkata dan keduanya
duduk berhadapan dengan Sang Pangeran. Melihat betapa
pangeran itu mempersilakan mereka duduk di atas kursi
berhadapan dengannya, tidak harus berlutut di atas lantai, Gui
Tiong diam-diam memuji pangeran ini sebagai orang yang
pandai mengambil hati orang. Dia menjadi semakin hati-hati
karena sikap ini saja sudah membayangkan bahwa dia
berhadapan dengan seorang yang cerdik sekali.
"Apakah kalian berdua sudah mendengar keterangan
Locianpwe Pat-chiu Lo-mo tentang mengapa kalian kini
dihadapkan kepadaku di sini?" tanya pangeran itu, suaranya
lembut dan manis.
"Saya sudah mendengar dan mengerti, Pangeran. Akan
tetapi sebelum kita bicara lebih lanjut, saya mohon dapat
diperbolehkan melihat apakah benar anak perempuan saya
berada di sini."
"Hemm, ternyata engkau seorang yang cerdik dan tidak
mudah dibohongi, Gui Kauwsu. Hal ini semakin memperkuat
harga dirimu sebagai pembantu kami yang dapat dipercaya.
Ketahuilah bahwa kami bukan tukang berbohong. Tentu saja
engkau boleh melihat puterimu agar yakin bahwa puterimu
berada di tangan kami yang menanggung keselamatannya."
Pangeran Leng memberi isarat kepada seorang pengawal yang
duduk di belakang. Orang itu, yang bermuka hitam dan
bertubuh tinggi besar, memberi hormat lalu keluar dari
ruangan itu. Tak lama kemudian, daun pintu yang menembus
ruangan itu terbuka dan di ambang pintu muncul Gui Siang Lin
dengan kedua kakinya memakai gelang rantai baja yang
panjang dan di belakang gadis itu terdapat lima orang
menodongkan pedang mereka ke arah gadis itu!
"Siang Lin....!" Gui Tiong berseru, khawatir.
"Tenanglah, Ayah!" kata gadis itu dengan suara lantang
dan berani. "Dan jangan Ayah menurut saja kalau disuruh
melakukan hal yang berlawanan dengan suara hati Ayah.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Lebih baik aku mati daripada Ayah harus melakukan
perbuatan yang jahat. Aku tidak takut mati, Ayah!" Mendengar
ini, Pangeran Leng cepat memberi isarat dan daun pintu itu
ditutup kembali. Gui Tiong hanya mendengar rantai yang
tergantung di kaki puterinya itu diseret ketika gadis itu
meninggalkan ruangan itu.
"Ha-ha-ha, ayahnya naga puterinya juga naga! Sungguh
mengagumkan sekali! Akan tetapi kalau engkau tidak mau
membantu kami, terpaksa dengan hati berat aku akan
menyerahkan puterimu kepada puluhan orang perajurit yang
boleh berbuat apa saja terhadap dirinya, bahkan sampai mati!
Ia akan tersiksa lahir batin sampai mati, dan kalian berdua
juga tidak akan terbebas dari hukuman mati!"
Ancaman ini hebat sekali. Kong Liang sendiri biarpun tidak
takut mati, menjadi ragu apakah dia akan melawan dengan
kekerasan kalau keselamatan Gui Tiong dan Gui Siang Lin
terancam. Terutama sekali ancaman terhadap Siang Lin
membuat dia bergidik ngeri dan juga membuat mukanya
menjadi merah saking marahnya.
"Baiklah, demi keselamatan anak saya, saya menyerah dan
bersedia membantu Pangeran. Akan tetapi, pekerjaan apakah
yang harus saya lakukan?" tanya Gui Tiong.
"Nanti dulu, yang kami kehendaki adalah agar kalian
berdua yang menyerah dan membantu kami, taat akan
perintah kami. Sekarang, engkau belum menyatakan
kesediaanmu membantu kami, Bu Kong Liang. Ingatlah,
engkau pernah membunuh perajurit kerajaan. Kalau engkau
menolak untuk membantu kami, berarti engkau memang
seorang pemberontak yang menentang kerajaan kami. Kalau
engkau bukan pemberontak, tentu engkau akan dengan
senang membantu kami!"
Bu Kong Liang mengerutkan alisnya dan merasa tidak
berdaya. Dia tahu sekarang bahwa tentu dua orang anak buah
pangeran ini, Phang Houw dan Louw Cin yang pernah
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
mengerahkan perajurit mengeroyoknya, tentu melaporkan
kepada Pangeran Leng. Boleh saja dia menyangkal bahwa
yang membunuh perajurit bukan dia melainkan Ang-mo Niocu,
akan tetapi apa gunanya? Tetap saja dia harus menyerah dan
menurut, kalau tidak, tentu Gui Tiong dan Gui Siang Lin akan
celaka. Maka, dia pun diam saja dan menyerahkan percakapan
itu kepada su-sioknya.
Setelah menghela napas panjang, Gui Tiong berkata.
"Baiklah, Pangeran, untuk membuktikan bahwa kami sama
sekali bukan pemberontak, kami menyerah dan akan menaati
perintah Paduka dan bersedia untuk membantu."
"Ha-ha-ha, bagus! Kalau begitu, akulah yang akan
melindungi kalian dan tidak ada yang berani menuduh kalian
pemberontak. Kalian adalah pembantu-pembantuku, tidak
mungkin memberontak!"
"Terima kasih, Pangeran. Harap Paduka jelaskan, perintah
apa yang harus kami lakukan?" tanya Gui Tiong dengan
perasaan amat tidak enak.
"Jangan tergesa-gesa. Malam ini kalian beristirahatlah.
Besok baru akan kami beritahukan, apa yang harus kalian
lakukan untuk kami." Pangeran Leng lalu berkata kepada Patchiu
Lo-mo untuk membawa dua orang murid Siauw-lim-pai
itu ke kamar mereka.
Gui Tiong dan Bu Kong Liang lalu dikawal Pat-chiu Lo-mo,
Twa-to Ngo-liong dan ditambah empat orang pengawal lain
dari mereka yang duduk di belakang Pangeran Leng, masuk
ke dalam dan ternyata mereka mendapatkan kamar yang
terpisah. Mereka terkejut dan kecewa akan tetapi tidak dapat
menolak dan begitu memasuki kamar masing-masing, kamar
yang tidak berapa besar namun cukup bersih dan prabotnya
serba mewah, mereka berdua lalu duduk bersila di atas
pembaringan untuk mengendalikan perasaan dan
mengumpulkan tenaga. Dalam keadaan seperti itu, mereka
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
harus selalu tenang dan sehat agar kalau sewaktu-waktu
harus bertanding, mereka sudah siap.
Agak sukar bagi kedua orang itu untuk dapat tidur pulas.
Gui Tiong lalu membayangkan puterinya dan hatinya merasa
khawatir bukan main. Sedangkan Bu Kong Liang memikirkan
nasib ayah dan anak itu. Mereka tertimpa malapetaka karena
kunjungannya ke rumah mereka. Andaikata dia tidak datang
berkunjung, tentu Gui Tiong dan puterinya masih berada di
rumah mereka dalam keadaan selamat. Dia merasa menyesal
bukan main dan mengambil keputusan dalam hatinya untuk
membela ayah dan anak itu sekuat tenaga.
Pada keesokan harinya juga mereka belum ditemui
Pangeran Leng. Mereka diperlakukan dengan baik, bahkan
diberi kesempatan bertemu dengan Gui Siang Lin. Gadis itu
berada dalam sebuah kamar lain yang pintunya berterali
kokoh kuat. Dari luar pintu, mereka dapat melihat keadaan
dalam kamar itu yang indah dan bersih. Gui Tiong dapat
bicara dengan puterinya melalui daun pintu itu dan diberi
waktu beberapa lamanya oleh para perajurit yang mengawal
mereka. Lega hatinya ketika Gui Tiong melihat betapa
puterinya berada dalam keadaan sehat.
"Engkau baik-baik saja, Siang Lin?" tanya Gui Tiong.
Gadis itu mengangguk. "Mereka memperlakukan aku
dengan baik dan sopan sebagai seorang tamu, Ayah.
Bagaimana dengan Ayah dan Bu Suheng?"
"Kami pun baik-baik saja." kata Gui Tiong dan Kong Liang
mengangguk kepada gadis itu ketika mereka saling
berpandangan.
"Ayah, apakah artinya penangkapan ini? Apakah rencana
Pangeran Leng terhadap kita bertiga?"
Gui Tiong menghela napas panjang. "Kami diminta untuk
menyerah dan mau menjadi pembantu Pangeran Leng dan
menaati semua perintahnya."
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Perintah apa yang diberikan kepada Ayah dan Suheng
yang harus kalian lakukan?"
"Kami belum tahu, belum menerima perintah melakukan
sesuatu untuk Pangeran Leng."
Pada saat itu, Gui Tiong merasa betapa lengannya disentuh
Kong Liang. Dia menengok dan melihat pemuda itu
menujukan pandang matanya ke arah kaki Siang Lin. Cepat
Gui Tiong memandang dan melihat betapa kedua kaki
puterinya tidak dibelenggu lagi, dia maklum isarat apa yang
diberikan pemuda itu. Setelah Siang Lin bebas tidak
terbelenggu, tentu Kong Liang berpikir bahwa kini mereka
bertiga dapat melawan dan melarikan diri dari s itu.
Akan tetapi sejak tadi Gui Tiong telah melihat
sesuatu dan kini dia memberi isarat kepada Kong Liang
dengan matanya mengerling ke atas» Pemuda itu memandang
ke atas dan dia terkejut karena di atap kamar itu terdapat
lubang-lubang dan tidak kurang dari enam batang anak panah
tampak sudah siap diluncurkan ke bawah! Ini berarti bahwa di
atas atap itu terdapat enam orang pemanah yang selalu siap
menyerang Siang Lin. Dan agaknya, betapa pun lihainya gadis
itu, kalau berada dalam kamar dan diserang enam batang
anak panah dan tentu saja dapat disusul anak panah
berikutnya, sukar baginya untuk dapat menyelamatkan diri.
Apalagi Kong Liang melihat betapa mata anak panah itu hijau
kehitaman, tanda bahwa mata anak panah itu beracun!
Maklumlah Kong Liang bahwa Pangeran Leng yang cerdik
telah mempersiapkan segala-galanya. Tidak mungkin bagi dia
dan Gui Tiong untuk melawan karena akibatnya yang pertama
adalah matinya Siang Lin dihujani anak panah beracun!
Agaknya tidak ada jalan lain kecuali untuk sementara ini
menyerah dan melaksanakan perintah Pangeran Leng!
Waktu yang diberikan kepala pengawal bagi mereka yang
berbicara dengan Siang Lin habis dan mereka diminta untuk
kembali ke kamar masing-masing. Sehari itu mereka
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
mendapat makan minum yang cukup mewah, diantar ke
kamar masing-masing. Bahkan mereka diberi kesempatan
untuk mandi dan pakaian Gui Tiong dan puterinya telah
diambil dari rumah mereka dan diberikan Kepada mereka.
Juga buntalan pakaian Kong Liang diambil dari rumah Gui
Tiong dan diberikan pemuda itu. Uang yang terdapat di
buntalan itu dan juga senjata mereka berdua diserahkan juga!
Gui Tiong menerima sepasang goloknya dan Bu Kong Liang
sepasang siang-kek (senjata tombak pendek bercabang)
miliknya. Mereka berdua maklum bahwa Pangeran Leng yakin
akan ketidak berdayaan mereka berdua dan memang
perhitungan pangeran itu tepat. Selama Siang Lin disandera,
tentu saja mereka tidak berani melawan karena hal itu berarti
tewasnya Siang Lin!
Malam itu mereka diundang makan malam oleh Pangeran
Leng. Setelah mereka tiba di kamar makan yang luas, di sana
telah duduk Pangeran Leng di kepala meja makan dan di situ
hadir pula Pat-chiu Lo-mo yang bongkok, lima orang Twa-to
Ngo-liong yang tinggi besar dan dua orang lain yang membuat
Bu Kong Liang menjadi merah mukanya karena marah. Dua
orang itu bukan lain adalah Hui-eng-to Phang Houw yang
gemuk pendek dan Ketua Liong-bu-pang Louw Cin yang tinggi
kurus! Mereka berdua itu hanya tersenyum ketika melihat
Kong Liang memasuki ruangan bersama Gui Tiong.
"Ha, Gui Kauwsu (Guru Silat Gui) dan Bu Enghiong
(Pendekar Bu), silakan duduk dan mari makan bersama kami!
Oh ya, perkenalkan ini Hui-eng-to Phang Houw dan Ketua
Liong-bu-pang Louw Cin."
Gui Tiong dan Kong Liang mengangguk dan mereka lalu
mengambil tempat duduk di atas dua buah kursi yang
agaknya memang disediakan untuk mereka.
"Kita makan dulu baru nanti membicarakan hal penting!"
kata Sang Pangeran dan dia lalu bertepuk tangan. Sepuluh
orang gadis pelayan yang muda dan cantik datang bagaikan
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
sepuluh ekor kupu-kupu terbang dan mereka agaknya sudah
diatur karena tanpa ragu mereka lalu masing-masing
menghampiri seorang dengan gaya yang manis dan lembut
sopan mereka menuangkan arak ke dalam cawan sepuluh
orang itu. Mereka lalu makan minum, dilayani masing-masing
oleh seorang pelayan yang membuat Cu Kong Liang merasa
tidak tenang. Dia merasa canggung dan malu dilayani seorang
gadis, hai yang belum pernah dia alami sepanjang hidupnya!
Setelah selesai makan minum, Pangeran Leng mengajak
sepuluh orang itu ke sebuah kamar yang biasa dipergunakan
untuk mengadakan rapat tertutup dan rahasia. Sekarang Gui
Tiong dan Kong Liang melihat betapa ruangan-ruangan di
mana mereka berdua berada tidak lagi terjaga pasukan
pengawal dengan ketat. Mereka berdua maklum bahwa
memang hal ini tidak perlu lagi. Pangeran Leng tentu yakin
bahwa selama Siang Lin menjadi sandera, dua orang itu tidak
akan berbuat sesuatu untuk menentangnya!
Setelah semua orang duduk mengitari sebuah meja besar
dan daun-daun pintu dan jendela tertutup rapat, Pangeran
Leng lalu berkata kepada dua orang "pembantu" baru itu.
"Gui Kauwsu dan Bu Enghiong, malam inilah saatnya kalian
berdua membuktikan bahwa kalian benar-benar menjadi pembantuku
dan menaati semua perintahku. Kalian berdua akan
dibantu oleh lima saudara Ngo-liong (Lima Naga) ini dan
kalian kami serahi tugas untuk membunuh seseorang."
Pangeran Leng menghentikan ucapannya dan sepasang
matanya menatap wajah dua orang itu dengan penuh selidik,
ingin melihat bagaimana tanggapan mereka. Akan tetapi baik
Gui Tiong maupun Kong Liang tidak memperlihatkan perasaan
apa pun pada wajah mereka, sungguhpun hati mereka
terkejut mendapat tugas untuk membunuh orang!
Mereka juga tidak bertanya siapa yang harus mereka
bunuh itu.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Yang kalian berdua harus bunuh adalah seorang anak lakilaki
berusia sepuluh tahun yang kini berada di dalam gedung
Pangeran Bouw Hun Ki."
Bu Kong Liang tidak tahu siapa yang dimaksudkan
Pangeran Leng, akan tetapi Gui Tiong terkejut dan cepat
bertanya. "Siapa anak laki-laki itu, Pangeran?"
"Dia adalah pangeran yang dititipkan kepada Pangeran
Bouw Hun Ki untuk dididik, yaitu Pangeran Kang Shi...."
"Ah! Dia... dia... Putera Mahkota....??" seru Gui Tiong kaget
sekali.
"Benar, Putera Mahkota Kang Shi yang berusia sepuluh
tahun. Tugas yang mudah sekali, bukan?"
"Akan tetapi... mengapa harus membunuh Thai-cu
(Pangeran Putera Mahkota)?" kata Gui Tiong dengan muka
pucat. Tugas itu kalau dilaksanakan merupakan dosa yang
teramat besar dan tidak dapat diampuni. Dia dan Bu Kong
Liang akan diburu oleh seluruh pasukan Kerajaan Ceng
(Mancu)!
Pangeran Leng tersenyum. "Sekarang belum saatnya
engkau mengetahui sebabnya. Gui Kauwsu. Kelak engkau
akan kami beritahu dan akan mengerti. Sekarang yang
penting laksanakan dulu perintahku dan jangan khawatir,
akulah yang akan menanggung akibatnya. Aku akan
melindungi dan membelamu. Nah, kalian berdua berangkatlah
ditemani Twa-to Ngo-liong. Ingat bahwa puterimu berada di
sini dalam keadaan sehat dan selamat. Kalau kalian berdua
berhasil, bukan saja puterimu akan mendapat kebebasan, juga
kalian berdua akan kami beri kedudukan tinggi. Kalau engkau
gagal, puterimu juga akan kami bebaskan asalkan kalian tidak
mengaku kepada siapapun juga bahwa kami yang mengutus
kalian membunuh Pangeran Mahkota. Kalau kalian
membocorkan rahasia ini, berarti puterimu juga tidak akan
selamat."
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Twa-to Ngo-liong sudah bangkit dan yang tertua bermuka
penuh brewok berkata kepada Gui Tiong. "Mari kita berangkat
sekarang, Pangeran sudah memerintahkan."
Ketika dua orang itu memandang. kepada Pangeran Leng,
Sang Pangeran memberi isarat dengan pandang mata dan
gerakan tangannya agar mereka segera berangkat.
"Jangan lupa bawa senjata kalian!" pesannya dan pangeran
itu lalu bangkit berdiri dan masuk ke sebelah dalam istananya
yang besar dan megah.
"Kami hendak mengambil senjata kami dulu!" kata Gui
Tiong dan bersama Bu Kong Liang dia lalu pergi ke kamar
mereka. Dalam perjalanan ini, sebelum mereka berpisah
memasuki kamar masing-masing, Gui Tiong berkata lirih, "Kau
perhatikan isaratku nanti kalau tiba di atas istana Pangeran
Bouw Hun Ki." Setelah berkata demikian dengan suara
berbisik, Gui Tiong dan Kong Liang memasuki kamar masingmasing,
Twa-to Ngo-liong yang bertugas menemani dan juga
diam-diam harus mengawasi mereka berdua, segera mengejar
cepat, akan tetapi mereka masih kurang cepat sehingga tidak
mendengar bisikan Gui Tiong kepada Kong Liang tadi. Melihat
dua orang murid Siauw-lim-pai itu memasuki kamar masingmasing
lima orang Twa-to Ngo-liong itu menanti di luar
kamar. Tak lama kemudian Gui Tiong dan Kong Liang sudah
mengenakan pakaian ringkas dan membawa senjata masingmasing.
Kemudian Twa-to Ngo-liong mengajak keluar melalui
pintu rahasia yang berada di taman bunga di belakang istana
pangeran itu.
Setelah berada di luar pagar tembok yang mengelilingi
istana Gui Tiong berkata kepada Twa-to Ngo-liong. "Sesuai
dengan perintah Pangeran Leng Kok Cun tadi. yang diberi
tugas membunuh adalah kami berdua dan kalian berlima
hanya menemani dan membantu kami oleh karena itu. aku
yang memimpin tugas ini dan kalian berlima harus menaati
petunjukku karena aku yang bertanggung jawab."
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Twa-to Ngo-liong yang dikatakan menemani dan
membantu mereka itu sesungguhnya ditugaskan mengawasi
dua orang itu. maka mendengar ini mereka berlima hanya
mengangguk. Tubuh tujuh orang ini berkelebat di dalam
kegelapan bayang-bayang pohon yang disinari cahaya bulan
yang hampir purnama.
0odwo0
Gedung Pangeran Bouw Hun Ki tidaklah semegah gedung
tempat tinggal Pangeran Leng Kok Cun yang seperti istana.
Prabot rumahnya juga tidak terlalu mewah walaupun gedung
itu tetap besar dan luas.
Pangeran Bouw Hun Ki adalah seorang sastrawan, usianya
sekitar lima puluh tiga tahun, rambutnya sudah dihiasi uban
namun wajahnya masih tampan dan sikapnya gagah
sungguhpun pangeran ini tidak pernah mempelajari ilmu silat.
Dia adalah adik Kaisar Shun Chi yang juga seorang sastrawan
dan amat tekun mempelajari Agama Buddha, filsafat Guru
Besar Khong Cu dan Lo Cu. Akan tetapi dia termasuk pemeluk
Agama Buddha yang amat tekun dan mempelajari ajarannya
sampai mendalam. Kaisar Shun Chi amat percaya akan
kebaikan budi dan kesetiaan adiknya itu, maka dia
menyerahkan Pangeran Kang Shi, yang merupakan Thai-cu
(Putera Mahkota) sejak berusia tujuh tahun kepada Pangeran
Bouw untuk dididik dalam ilmu tatane-gara, sastra, agama dan
bahkan di rumah itu pula pangeran kecil itu mendapat
pendidikan dasar ilmu silat dari isteri Pangeran Bouw Hun Ki.
Kini Pangeran Kang Shi telah berusia sepuluh tahun dan
pangeran kecil ini senang sekali tinggal di rumah pamannya.
Di istana dia harus menghadapi banyak peraturan dan
peradatan yang membuat anak ini merasa terikat dan tidak
bebas. Akan tetapi setelah dia berada di rumah pamannya,
Pangeran Bouw Hun Ki, dia merasa bebas dan setelah tinggal
selama tiga tahun di rumah itu, dia merasa akrab dan sayang
kepada penghuni rumah itu.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Pangeran Bouw Hun Ki tidak mempunyai seorang pun selir.
Dia amat mencinta isterinya yang dinikahinya ketika dia
berusia dua puluh tahun dan isterinya berusia delapan belas
tahun. Kini isteri-nya yang dahulu ketika menikah bernama
Souw Lan Hui telah berusia lima puluh satu tahun. Akan tetapi
Souw Lan Hui atau Nyonya Pangeran Bouw ini masih tampak
cantik, tubuhnya masih tampak seperti orang muda. Hal ini
tidaklah aneh karena wanita itu sejak masa kanak-kanak telah
mempelajari ilmu silat sehingga ketika masih gadis ia telah
menjadi seorang pendekar wanita sakti yang dijuluki Sin-hongcu
(Si Burung Hong Sakti)! Ia adalah seorang murid yang
pandai dari Bu-tong-pai. Maka tidak mengherankan kalau
Pangeran Mahkota Kang Shi dapat memperoleh pendidikan
silat pula di keluarga Bouw.
Pangeran Bouw dan isterinya mempunyai dua orang anak.
Yang pertama adalah seorang anak laki-laki yang diberi nama
Bouw Kun Liong, kini telah berusia dua puluh empat tahun,
belum menikah dan Bouw Kun Liong ini tentu saja mendapat
pendidikan sastra dari ayahnya dan ilmu silat tinggi dari
ibunya. Wajahnya tampan seperti wajah ayahnya dan dia
gagah perkasa seperti ibunya. Pakaiannya selalu rapi, bersih,
dan indah sehingga pemuda bangsawan yang tidak
mempunyai selir seperti para pemuda bangsawan lainnya,
amat menarik hati banyak orang, terutama para gadis yang
pernah melihatnya. Mungkin karena ayahnya adik kaisar dan
ibunya seorang pendekar wanita sakti dan keduanya amat
sayang kepadanya, Bouw Kun Liong agak tinggi hati dan
angkuh walaupun belum sampai dapat disebut sombong.
Anak mereka yang ke dua adalah perempuan yang kini
berusia sekitar delapan belas tahun. Anak ini bernama Bouw
Hwi Siang, cantik jelita seperti ibunya dan walaupun ia juga
mendapatkan pendidikan ilmu silat walaupun tidak setinggi
tingkat kakaknya, namun sikapnya lembut halus seperti sikap
ayahnya. Wajah Bouw Hwi Siang ini mirip ibunya. Kakak
beradik ini belum memiliki tunangan karena keduanya selalu
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
menolak kalau ayah ibunya bicara tentang perjodohan
mereka.
Pangeran cilik Kang Shi disayang keluarga Bouw dan dia
pun amat sayang kepada mereka, terutama sekali kepada
Bouw Kun Liong dan Bouw Hwi Siang, kedua orang kakak
misannya itu. Pemuda dan gadis itu pun merasa amat sayang
kepada Kang Shi yang termasuk seorang anak yang cerdas.
Malam itu biarpun terang bulan, hampir bulan purnama,
karena hawa udara amat dinginnya, maka sebelum tengah
malam keadaan sudah mulai sunyi. Tidak ada orang berlaluloJang
di jalan raya. Rumah-rumah sudah menutup pintu dan
jendela. Bahkan di gedung-gedung para bangsawan juga
sudah tampak sunyi. Hanya para penjaga malam, perajuritperajurit
pengawal yang masih berada di luar. Akan tetapi
mereka pun lebih suka tinggal di dalam gardu penjagaan di
mana tidak begitu dingin seperti kalau berada di luar.
Bayangan tujuh orang yang berkelebat di antara pohonpohon
itu sedemikian cepatnya sehingga para penjaga di luar
gedung-gedung itu pun tidak ada yang melihatnya. Mereka
adalah Gui Tiong, Bu
Kong Liang, dan lima orang Twa-to Ngo-liong. Mereka
menuju ke gedung keluarga Pangeran Bouw Hun Ki. Setelah
berada di belakang bangunan besar itu, Gui Tiong memberi
isarat kepada enam orang temannya untuk melompat ke atas
pagar tembok. Akan tetapi dia sengaja melompat lebih dulu
besama Bu Kong Liang dan sebelum lima orang Twa-to Ngoliong
menyusul, Gui Tiong cepat berbisik kepada pemuda itu.
"Setibanya di atas, kita turun tangan dan bunuh mereka,
jangan ada yang sampai lolos!"
Kong Liang terkejut, akan tetapi dia segera dapat mengerti
mengapa Gui Tiong mengambil keputusan nekat itu. Kalau
mereka berdua menyerang Twa-to Ngo-liong di luar gedung,
di jalan raya, besar kemungkinan perbuatan mereka akan
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
terlihat orang. Hal ini berbahaya karena kalau sampai
ketahuan Pangeran Leng, mereka pasti dikeroyok dan lebih
parah lagi, Gui Siang Lin terancam bahaya yang lebih
mengerikan daripada maut. Kalau lima orang kaki tangan
Pangeran Leng ini tidak dubunuh, mereka harus melaksanakan
tugas membunuh Putera Mahkota, dan hal ini agaknya tidak
mau dilakukan Gui Tiong. Maka dia mengangguk dan setelah
lima orang itu menyusul, mereka segera melompat ke atas
wuwungan gedung besar itu, didahului oleh Gui Tiong sebagai
pimpinan.
Tujuh orang itu memiliki ilmu meringankan tubuh yang
sudah mencapai tingkat tinggi. Tubuh mereka seolah menjadi
bayangan hitam yang berlompatan di atas wuwungan,
diterangi sinar bulan yang cerah. Hawa dingin tidak terasa
oleh mereka yang berada dalam ketegangan. Twa-to Ngo-
Iiong merasa tegang karena sebagai anak buah Pangeran
Leng tentu saja mereka mengerti betapa kuatnya penjagaan
untuk melindungi Putera Mahkota di gedung itu. Mereka pun
sudah mendengar bahwa biarpun Pangeran Bouw Hun Ki
adalah seorang sastrawan yang bertubuh lemah, namun
isterinya adalah seorang wanita yang lihai sekali karena
Nyonya Pangeran Bouw itu dahulunya seorang pendekar
wanita yang pernah malang melintang di dunia persilatan
dengan julukan Sin-hong-cu.
Kuatnya penjagaan atas diri Putera Mahkota Kang Shi inilah
yang membuat Pangeran Leng sampai lama tidak berani
melakukan usaha untuk membunuh pangeran kecil yang telah
ditetapkan menjadi putera mahkota yang akan menggantikan
kedudukan Kaisar Shun Chi kelak. Berarti pangeran kecil itu
menjadi penghalang utama bagi Pangeran Leng yang
berambisi untuk menggantikan ayahnya kelak!
Kemudian, ketika dua orang pembantunya, Phang Houw
dan Louw Cin melaporkan tentang kegagalan penyerangan
mereka terhadap murid Siauw-lim-pai Bu Kong Liang,
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Pangeran Leng yang cerdik memesan kepada' para anak
buahnya untuk waspada dan menyelidiki kalau-kalau pemuda
murid Siauw-lim-pai itu masuk ke kota raja. Hal itu benar saja
terjadi. Mendengar bahwa Bu Kong Liang berada di Pek-ho
Bukoan (Perguruan Silat Bangau Putih), dia segera mengatur
siasat untuk menangkap Gui Tiong dan Bu Kong Liang.
Dengan perantaraan Jaksa Ji, seorang di antara para pejabat
yang menjadi anak buahnya, dua orang murid Siauw-lim-pai
itu ditangkap. Dan untuk menyempurnakan siasatnya untuk
memaksa dua orang itu, Pangeran Leng juga menyuruh
orang-orangnya
menangkap Gui Siang
Lin dan menawannya
di gedungnya. Kini dia
berani mencoba untuk
membunuh Putera
Mahkota Kang Shi,
menggunakan tenaga
dua orang murid
Siauw-lim-pai yang
sudah menyerah dan
taat untuk melindungi
keselamatan Gui Siang
Lin. Dengan cara ini,
andaikata usaha itu
gagal, yang akan
dipersalahkan adalah
Siauw-lim-pai! Mudah
saja dia mengelak dari
tuduhan andaikata dua
orang Siauw-lim-pai itu mengaku dia yang menyuruh mereka.
Bahkan dia dapat membuktikan bahwa dirinya juga diserang
oleh puteri Gui Tiong yang dapat dia tangkap. Dia sendiri
dimusuhi murid Siauw-lim-pai, bagaimana mungkin dia
menggunakan murid-murid Siauw-lim-pai untuk membunuh
Pangeran Mahkota Kang Shi yang adik tirinya sendiri? Karena
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
itu, Twa-to Ngo-liong yang diutus menemani dua orang murid
Siauw-lim-pai itu sesungguhnya ditugaskan untuk mengawasi
mereka!
Setelah mereka tiba di atas wuwungan rumah induk yang
cukup luas, Gui Tiong memberi isarat kepada Bu Kong Liang
dan mereka berdua cepat mencabut senjata mereka, Gui
Tiong mencabut sepasang goloknya dan Bu Kong Liang
mencabut sepasang tombak bercabang, lalu menyerang lima
orang Twa-to Ngo-liong!
Serangan yang dilakukan Kong Liang sedemikian cepatnya
sehingga seorang dari Twa-to Ngo-liong yang sama sekali
tidak pernah menduga, tak mampu menghindarkan diri dan
dia pun roboh mandi darah karena lehernya tertusuk tombak
cagak! Orang ke dua yang diserang Gui Tiong, masih dapat
mengelak walaupun pundak kirinya tergores golok sehingga
baju dan kulit pundaknya terobek dan berdarah.
Twa-to Ngo-liong tentu saja terkejut bukan main. Mereka
waspada mengikuti dua orang itu untuk melihat apakah
mereka benar-benar melaksanakan tugas yang diperintahkan
Pangeran Leng. Andaikata mereka berdua ketahuan dan
terjadi perkelahian, mereka berlima tidak akan membantu,
bahkan akan melarikan diri. Mereka dipesan oleh Pangeran
Leng agar tidak melibatkan diri kalau terjadi pertempuran
sehingga nama Pangeran Leng tetap bersih. Maka ketika tibatiba
dua orang murid Siauw-lim-pai itu menyerang mereka dan
sudah merobohkan seorang dari mereka, tentu saja mereka
terkejut bukan main. Akan tetapi sebagai ahli-ahli silat
berpengalaman, tentu saja mereka dapat bertindak cepat.
Mereka sudah mencabut golok masing-masing dan terjadilah
perkelahian seru di atas wuwungan gedung tempat tinggal
Pangeran Bouw!
Gui Tiong yang dikeroyok dua memutar sepasang goloknya
dan pertandingaan antara dia dan dua orang pengeroyok itu
terjadi amat serunya. Agaknya dua orang pengeroyok itu pun
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
telah memiliki ilmu golok yang amat tangguh sehingga
perkelahian itu seru dan seimbang.
Akan tetapi, dua orang lain dari Twa-to Ngo-liong yang
mengeroyok Kong Liang, begitu saling serang, menjadi
terkejut karena pemuda ini memiliki tenaga yang amat kuat
dan gerakannya juga lebih cepat daripada mereka. Mereka
berdua berusaha untuk membela diri mati-matian, akan tetapi
setelah bertahan selama belasan jurus, begitu Kong Liang
memperhebat tekanannya, dua orang pengeroyok itu berturutturut
roboh, yang seorang tertusuk lehernya, yang ke dua
tertusuk dadanya oleh siang-kek di kedua tangan Kong Liang.
Mereka roboh dan tewas di atas wuwungan.
Kong Liang cepat menoleh untuk melihat keadaan Gui
Tiong yang juga dikeroyok dua orang lawan. Dia melihat
betapa keadaan mereka seimbang. Pada saat itu, sebelum dia
dapat melompat untuk membantu Gui Tiong, terdengar bunyi
berdesing nyaring tinggi menusuk pendengaran dan tampak
tiga sinar putih berkeredepan secara berturut-turut
menyambar dari bawah ke arah tiga orang yang sedang
bertanding itu.
Begitu Kong Liang memperhebat tekanannya, dua orang
pengeroyok itu berturut-turut roboh, yang seorang tertusuk
lehernya.
Kong Liang membelalakkan matanya ketika melihat Gui
Tiong roboh bersama dua orang pengeroyoknya!
"Tangkap yang seorang! Jangan bunuh, dia harus dapat
memberi keterangan!" terdengar bentakan suara wanita dan
tiba-tiba ada tiga bayangan hitam berkelebat dan melayang ke
atas wuwungan! Kong Liang cepat menghampiri tubuh Gui
Tiong dan berjongkok memeriksanya. Ternyata keadaan Gui
Tiong parah sekali. Dadanya mengeluarkan banyak darah dan
ternyata sebuah senjata rahasia berbentuk bintang yang putih
mengkilap telah masuk ke dalam dadanya. Kong Liang terkejut
sekali melihat paman gurunya dalam keadaan sekarat dan dia
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
pun mengenai senjata rahasia itu sebagai Gin-seng-piauw
(Senjata Rahasia Bintang Perak).
"Susiok....!" Dia mengeluh dan menggunakan jari
tangannya menotok beberapa jalan darah untuk mengurangi
rasa nyeri, akan tetapi dia maklum bahwa nyawa paman
gurunya tidak mungkin dapat tertolong.
"Kong Liang... jaga... jaga Siang... Lin....!" Tubuh itu
terkulai dan Gui Tiong telah menghembuskan napas terakhir
setelah meninggalkan pesan itu.
"Susiok.... ah, ampunkan saya, Susiok! Sayalah yang
menyebabkan semua ini....!" Kong Liang meratap penuh
penyesalan.
"Orang muda, menyerahlah engkau!" terdengar bentakan
di belakangnya. Kong Liang melompat ke depan sambil
memutar tubuhnya. Dia melihat seorang wanita bertubuh
ramping, namun wajahnya yang cantik menunjukkan bahwa
wanita itu tentu sudah setengah tua, berusia sekitar lima
puluh tahun, pakaiannya indah seperti pakaian wanita
bangsawan. Di punggung wanita itu tampak sepasang pedang
dan di pinggang depan tergantung sebuah kantung merah
yang biasanya untuk menyimpan senjata rahasia. Maklumlah
Kong Liang bahwa tentu wanita ini yang telah membunuh
susioknya.
"Engkau telah membunuh Susiok!" bentaknya dan Kong
Liang cepat menyerang dengan sepasang siang kek di
tangannya. Akan tetapi wanita itu bergerak cepat bukan main
dan serangannya yang bertubi-tubi itu mengenai tempat
kosong! Karena penasaran, Kong Liang menyerang lebih
gencar lagi, mengeluarkan jurus-jurus yang paling ampuh.
Namun lawannya berkelebatan dan semua serangannya
gagal.
"Heii! Bukankah engkau murid Siauw-lim-pai?" bentak
wanita itu. Kong Liang tidak peduli dan menyerang terus
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
dengan hati semakin penasaran, akan tetapi kini wanita itu
mencabut sepasang pedangnya dan begitu ia menggerakkan
sepasang pedang itu dengan gerakan yang indah dan cepat,
Kong Liang terkejut dan terdesak!
"Bu-tong Kiam-sut (Ilmu Pedang Bu-tong-pai)?" katanya
kaget dan mendengar ini, wanita itu mempercepat
gerakannya.
"Trang-tranggg....!!" Bunga api berpijar dan Kong Liang
terhuyung ke belakang. Dia melihat bahwa tak jauh dari situ
terdapat seorang pemuda dan seorang gadis berdiri menonton
perkelahian itu. Mereka tidak membantu lawannya, dan
memang lawannya tidak perlu dibantu karena dialah yang
terdesak hebat.
Tiba-tiba wanita itu mengeluarkan bentakan dan Kong
Liang terhuyung ketika wanita itu dapat menotok pundaknya
dengan gagang pedang. Sebelum Kong Liang dapat
memulihkan kuda-kudanya, kembali pundaknya tertotok dan
dia pun lemas, sepasang siang-kek itu terlepas dari pegangan
tangannya.
"Kun Liong, jangan bunuh dia!" bentak wanita yang telah
merobohkan Kong Liang ketika pemuda yang tadi hanya
menonton kini melompat dan menodongkan sebatang pedang
ke dada Kong Liang yang roboh telentang dalam keadaan
lemas. Pemuda itu tidak berani menusukkan pedangnya.
"Kun Liong, bawa dia ke bawah! Hwi Siang, cepat
perintahkan pengawal untuk menurunkan mayat-mayat itu!"
Setelah berkata demikian, wanita yang amat lihai itu melayang
turun dari atas wuwungan.
Wanita itu bukan lain adalah Nyonya Pangeran Bouw Hun
Ki atau Souw Lan Hui yang dulu ketika masih gadis terkenal di
dunia kang-ouw sebagai Sin-hongcu (Burung Hong Sakti).
Tadi ketika bayangan tujuh orang itu berlompatan ke atas
wuwungan, ia sudah mengetahui dan cepat ia memberi isarat
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
kepada para penjaga agar menjaga kamar suaminya dan
kamar Putera Mahkota dengan ketat, sedangkan ia sendiri
mengajak puteranya, Bouw Kun Liong, dan puterinya. Bouw
Hwi Siang, untuk naik ke atas wuwungan. Dalam keadaan
remang-remang itu Nyonya Bouw tidak mengenal orang, tidak
tahu mengapa ada yang bertanding di atas wuwungan
gedungnya. Baginya, orang-orang yang berada di atas
wuwungan gedungnya pastilah bukan orang baik. Maka ia pun
tidak ragu lagi untuk menyerang mereka dengan Gin-sengpiauw
(Senjata Rahasia Bintang Perak) yang merobohkan Gui
Tiong dan dua orang pengeroyoknya. Melihat bahwa mereka
yang berada di wuwungan telah roboh semua dan hanya
tinggal seorang pemuda, maka Nyonya Bouw lalu melarang
anak-anaknya untuk menyerangnya dan dengan cepat ia
sendiri menghampiri Kong Liang dan membentaknya
agar menyerah.
Kini Kong Liang telah diikat kaki tangannya dibawa
meloncat turun oleh Bouw Kun Liong. Nyonya Bouw dan Bouw
Hwi Siang juga sudah berada di ruangan tamu yang luas dan
terang benderang. Enam orang mayat juga oleh para perajurit
pengawal telah diturunkan dibawa ke dalam ruangan itu
pula, direbahkan berjajar di atas lantai.
"Ah, bukankah ini... Gui Kauwsu guru di Pek-ho Bukoan
itu....?" kata Bouw Kun Liong ketika melihat mayat Gui Tiong.
"Betulkah?" kata Nyonya Bouw dengan suara heran, lalu ia
memandang kepada Kong Liang yang dibiarkan duduk di atas
lantai dengan kaki tangan terbelenggu "Akan tetapi, mengapa
murid-murid Siauw-lim-pai memusuhi kita?"
Kong Liang sudah pulih dari totokan tadi. Tubuhnya terlalu
kuat sehingga totokan tadi tidak dapat lama
mempengaruhinya. Kini dia sudah mampu bergerak, akan
tetapi tentu saja tidak dapat menggerakkan kaki tangan yang
terbelenggu. Dan dia pun tidak ingin memaksa diri
mematahkan belenggu karena dia tahu bahwa menghadapi
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
wanita setengah tua itu saja dia tidak menang, apalagi di situ
terdapat pemuda dan gadis itu ditambah lagi beberapa orang
perajurit pengawal. Kini Kong Liang memandang kepada tiga
orang yang berada di depannya, duduk di atas kursi dengan
penuh perhatian. Nyonya setengah tua ternyata seorang
wanita bangsawan, tampak dari pakaian dan gaya gelung
rambutnya, berusia sekitar lima puluh tahun. Pemuda itu
berusia sekitar dua puluh empat tahun, gagah dan tampan,
sedangkan gadis itu berusia sekitar delapan belas tahun,
cantik seperti wanita setengah tua sehingga mudah menduga
bahwa ia tentu puterinya. Mendengar seruan pemuda itu yang
mengenal, susioknya, Kong Liang lalu berkata dengan suara
tenang dan tegas.
"Gui Kauwsu adalah Susiok saya dan kami berdua sama
sekali tidak memusuhi penghuni gedung ini, bahkan kami
berdua berusaha untuk mencegah niat buruk lima orang itu
terhadap Thai-cu yang berada di gedung ini."
Nyonya Bouw terkejut sekali. "Hemm, mereka hendak
berbuat apa terhadap Thai-cu?" tanyanya lantang.
"Mereka ditugaskan untuk membunuh Pangeran Kang Shi!"
"Siapa yang hendak membunuh Thai-cu?" Semua orang
menengok ke arah pintu. Kong Liang melihat seorang laki-laki
berusia sekitar lima puluh tiga tahun, tampan dan gagah, sinar
matanya begitu lembut namun tajam sekali.
"Ayah, mereka ini datang dengan rencana membunuh
Pangeran Kang Shi. Enam orang telah dapat ditewaskan dan
yang seorang ini ditangkap." kata Bouw Kun Liong.
Pangeran Bouw Hun Ki mengerutkan alisnya. "Siapakah
kalian? Orang muda, tidak sadarkah engkau bahwa perbuatan
kalian ini merupakan dosa yang amat besar dan dapat
membuat engkau dihukum mati?" tanyanya kepada Bu Kong
Liang. Lalu ketika dia melihat mayat Gui Tiong, dia berseru
kaget. "Ah, bukankah ini Guru Silat Gui Tiong yang membuka
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Pek-ho Bu-koan? Bagaimana mungkin dia melakukan ini?
Bukankah dia itu orang Siauw-lim-pai?"
"Orang muda, hayo ceritakan semua dengan jelas! Tidak
ada gunanya engkau menyangkal atau berbohong!" bentak
Nyonya Bouw dan pandang matanya membuat Kong Liang
menundukkan mukanya. Begitu tajam pandang mata itu,
seperti menembus jantungnya. Akan tetapi dia segera teringat
bahwa dia dan Gui Tiong tidak bersalah, maka dia
mengangkat lagi mukanya dan berkata dengan suara tenang
dan tegas.
"Seperti saya akui
tadi, saya bernama
Bu Kong Liang dan
ini adalah jenazah
Susiok (Paman Guru)
Gui Tiong. Kami
adalah murid-murid
Siauw-lim-pai dan
tidak mungkin kami
memusuhi
pemerintah, apalagi
berniat membunuh
Pangeran Mahkota!"
"Ceritakan saja
dengan jelas, orang
muda, apa yang
sebetulnya terjadi?"
tanya Pangeran
Bouw Hun Ki.
Melihat sikap halus pangeran itu, Bu Kong Liang maklum
bahwa dia berhadapan dengan orang yang dapat diajak bicara
dan bijaksana, maka dia pun menceritakan dengan sejujurnya.
"Saya mau menceritakan yang sejujurnya, akan tetapi saya
juga ingin mengetahui kepada siapa saya akan bercerita."
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Bouw Kun Liong yang biasanya disebut Bouw Kongcu (Tuan
Muda Bong) menghardik. "Kamu ini penjahat yang tertawan
dan menjadi pesakitan, masih lancang bertanya lagi! Hayo
ceritakan dengan sebenarnya!"
Pangeran Bouw Hun Ki mengangkat tangan kanan ke atas
sambil memandang puteranya, lalu berkata kepadanya.
"Biarlah, Kun Liong, agar dia mengetahui siapa kita. Bu Kong
Liang, aku adalah Pangeran Bouw Hun Ki, adik Sribaginda
Kaisar dan ini adalah isteriku. Pemuda ini puteraku Bouw Kun
Liong dan gadis ini puteriku Bouw Hwi Siang."
Mendengar ini, Kong Liang yang duduk di atas lantai
membungkukkan badan untuk memberi hormat.
"Pangeran, saya datang dari Kuil Siauw-Iim di kaki Gunung
Sung-san dan menuju ke kota raja untuk meluaskan
pengalaman dan untuk mengunjungi Susiok Gui Tiong dan
keiuarganya. Akan tetapi di tengah perjalanan, saya dihadang
dan diserang oleh Hui-eng-to Phang Houw dan Ketua Liongbu-
pang Louw Cin yang membawa sepasukan perajurit. Saya
berhamil selamat dan kedua orang itu melarikan diri. Agaknya
itulah sumber malapetaka. Ketika saya datang, dan
mengunjungi Perguruan Pek-ho Bu-koan yang dipimpin Susiok
Gui Tiong, datang utusan Jaksa Ji memanggil Susiok Gui Tiong
dan saya untuk menghadap. Setelah kami menghadap, kami
langsung ditangkap dan dipenjarakan, dengan tuduhan
memberontak. Kemudian, malamnya datang para pembantu
Pangeran Leng Kok Cun yang mengambil kami dari rumah
tahanan dan kami dihadapkan kepada Pangeran Leng Kok
Cun. Ternyata yang mengatur penangkapan saya dan Susiok
Gui Tiong adalah Pangeran Leng itu."
Pangeran Bouw Hun Ki saling pandang dengan isterinya
lalu mengangguk-angguk.
"Saya tidak pernah memberontak, demikian pula Susiok Gui
Tiong, maka di depan Pangeran Leng kami juga menolak
tuduhan memberontak itu. Pangeran Leng lalu memaksa kami
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
berdua untuk menyerah dan menaati semua perintahnya,
kalau tidak dia akan menyeret kami ke pengadilan dengan
tuduhan memberontak agar kami dijatuhi hukuman mati.
Pangeran Leng lalu memperlihatkan puteri Susiok Gui Tiong,
yaitu Sumoi Gui Slang Lin yang ternyata juga sudah
ditawannya kepada kami. Melihat ini, kami berdua merasa
tidak berdaya. Kalau kami melawan dan melarikan diri, tentu
Sumoi Gui Siang Lin akan dibunuhnya. Dengan gadis itu
menjadi sandera, untuk sementara kami terpaksa tunduk
kepada Pangeran Leng." .
"Lalu apa hubungannya semua itu dengan kedatangan
kalian bertujuh ke atas wuwungan rumah kami?" tanya Bouw
Hujin (Nyonya Bouw) sambil menatap tajam.
"Malam itu Susiok Gui Tiong dan saya ditugaskan oleh
Pangeran Leng Kok Cun untuk datang ke sini dan membunuh
'Putera Mahkota yang katanya berada di sini."
"Huh! Dan engkau menaati perintah itu, ya? Hendak
membunuh Thai-cu?" bentak Bouw Kun Liong tidak sabar.
Agaknya sudah gatal rasa tangan pemuda ini untuk
membunuh Kong Liang, saking marahnya mendengar murid
Siauw-lim-pai itu hendak membunuh Pangeran Kang Shi!
"Tidak, kami menaati hanya untuk mencegah dia
membunuh Sumoi Siang Lin. Kami berdua diikuti Twa-to Ngoliong,
lima orang jagoan pembantu Pangeran Leng. Diam-diam
kami berdua bersepakat untuk turun tangan membunuh Twato
Ngo-liong setelah tiba di s ini, kemudian kami akan berusaha
membebaskan Sumoi. Setelah tiba di atas wuwungan, kami
bertindak. Saya berhasil membunuh tiga dari lima orang Twato
Ngo-liong dan pada saat itu Susiok Gui Tiong dikeroyok dua
orang. Tiba-tiba saya melihat Susiok Gui Tiong dan dua orang
pengeroyoknya roboh."
"Akan tetapi mengapa engkau menyerangku ketika aku
minta engkau menyerahkan diri?" tanya Nyonya Bouw sambil
mengerutkan alisnya. Kalau cerita pemuda itu benar, dan
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
agaknya tidak dapat diragukan lagi kebenarannya, berarti ia
telah salah tangan membunuh Kauwsu Gui Tiong yang tidak
berdosa!
"Begini soalnya, Hujin. Karena saya melihat Paduka
menyerang Susiok Gui Tiong dengan Gin-seng-piauw, maka
saya mengira bahwa Paduka tentu seorang dari musuh-musuh
kami, maka ketika Paduka menyuruh saya menyerah, saya
menyerang Paduka." Ucapan Bu Kong Liang dengan suara
yang tenang dan tegas sehingga tidak dapat diragukan
kebenarannya.
"Hemm, kalau benar begitu, sungguh aku merasa menyesal
sekali. Aku menyerang tiga orang yang sedang bertanding di
atas wuwungan, tidak tahu siapa kawan siapa lawan, maka
sangat menyesal aku telah kesalahan tangan membunuh Gui
Kauwsu yang tidak berdosa. Sekarang sebuah pertanyaan lagi,
Bu Kong Liang! Mengapa engkau dan Gui Kauwsu tidak
menaati perintah Pangeran Leng untuk membunuh Putera
Mahkota, bahkan berbalik menyerang dan membunuh lima
orang anak buahnya?"
"Hujin yang mulia, Susiok Gui Tiong sudah bertahun-tahun
tinggal di kota raja. Pernahkah dia melakukan
pemberontakan? Saya sendiri baru keluar dari kuil Siauw-lim
dan para Suhu di sana melarang saya mencampuri urusan
mereka yang menentang pemerintah Kerajaan Ceng.
Bagaimana mungkin kami berdua mau melakukan tugas
membunuh Putera Mahkota yang sama sekali tidak saya kenal
dan sama sekali tidak ada urusan dengan kami berdua. Kalau
kami pura-pura menaati perintah Pangeran Leng, hal itu
karena hanya kami ingin menyelamatkan Sumoi Gui Siang Lin
yang disandera."
Tiba-tiba Pangeran Bouw Hun Ki berkata kepada puteranya.
"Kun Liong, buka ikatan tangan dan kakinya!"
Setelah mendengar cerita Kong Liang, Bouw Kun Liong juga
menyadari bahwa pemuda Siauw-lim-pai ini tidak bersalah,
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
maka mendengar perintah ayahnya, dia lalu melepaskan
ikatan kaki dan tangan Kong Liang.
"Duduklah." kata Pangeran Bouw Hun Ki. Kong Liang
mengucapkan terima kasih lalu duduk di atas sebuah kursi.
Pangeran Bouw Hun Ki lalu menyuruh para penjaga untuk
mengurus enam mayat itu. Lima buah mayat Ngo-liong itu
dimasukkan ke dalam peti, akan tetapi jenazah Gui Tiong
dirawat baik-baik dimasukkan peti mati yang tebal dan diatur
meja sembahyang di depan peti.
Kong Liang bersembahyang dengan sedih di depan peti
mati susioknya. Bukan hanya dia yang melakukan
sembahyang, bahkan Nyonya Bouw juga bersembahyang dan
mengucapkan permintaan maaf karena ia telah salah mengerti
dan membunuh Gui Tiong yang tidak berdosa. Tadinya,
dengan marah Pangeran Bouw Hun Ki ingin mengirim lima
jenazah Twa-to Ngo-liong kepada Pangeran Leng Kok Cun.
Akan tetapi Kong Liang mencegah dengan ucapan penuh
hormat.
"Saya harap Paduka suka mempertimbangkan kembali
pengiriman lima jenazah Twa-to Ngo-liong itu kepada
Pangeran Leng, karena kalau hal itu dilakukan, sudah pasti
Sumoi Gui Siang Lin akan dibunuh."
"Hemm, memang pengiriman itu sebaiknya ditunda lebih
dulu, biar aku dan Bu Kong Liang malam ini juga
membebaskan gadis itu!" kata Nyonya Bouw. Malam itu juga,
Bouw Hujin dengan pakaian ringkas berwarna hitam, bersama
Kong Liang menuju ke gedung tempat tinggal Pangeran Leng.
Dalam perjalanan ini, Bouw Hujin sudah berunding dengan
Kong Liang, mengatur siasat bagaimana untuk membebaskan
Gui Siang Lin. Setelah tiba di belakang gedung tempat tinggal
Pangeran Leng Kok Cun yang megah seperti istana, sesuai
dengan rencana siasat mereka, Bouw Hujin menanti dalam
kebun belakang dan Kong Liang langsung saja memasuki
gedung lewat pintu depan. Beberapa orang petugas yang
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
menjaga di situ, segera menyambut dan mengenalnya. Maka
Kong Liang diantar masuk menuju ruangan dalam di mana
telah menanti Pangeran Leng Kok Cun yang didampingi Patchiu
Lo-mo, Hui-eng-to Phang Houw, Liong-bu-p angcu Louw
Cin dan lima orang lain yang berpakaian sebagai perwira
tinggi. Agaknya mereka itu adalah perwira-perwira yang
mendukung Pangeran Leng.
Begitu Kong Liang memasuki ruangan itu dan perajurit
yang mengawalnya meninggalkan ruangan, Pangeran Leng
Kok Cun segera menyambut Kong Liang dengan pertanyaan
penuh harapan.
"Bagaimana hasilnya tugasmu, Bu Kong Liang? Dan mana
Gui Tiong dan Twa-to Ngo-liong?"
"Pangeran, saya harap Gui Siang Lin dibebaskan karena
saya telah melaksanakan perintah Paduka." kata Kong Liang.
"Nanti dulu, jangan tergesa-gesa. Ceritakanlah dulu kepada
kami bagaimana hasil tugasmu itu!" kata Pat-chiu Lo-mo dan
Pangeran Leng Kok Cun yang mendengar ini mengangguk.
"Saya telah berhasil membunuh Pangeran Mahkota."
"Akan tetapi di mana enam orang lainnya?" tanya pula
Pangeran Leng.
"Mereka semua tewas. Kami mendapat perlawanan yang
kuat. Saya berhasil masuk dan membunuh pangeran itu
seperti yang Paduka perintahkan. Akan tetapi Susiok Gui Tiong
dan Twa-to Ngo-liong tewas." Pemuda itu lalu menoleh ke
arah dalam di mana Siang Lin ditahan. "Saya mohon Paduka
sekarang membebaskan Nona Gui Siang Lin. Ayahnya telah
melaksanakan perintah Paduka sampai mengorbankan
nyawanya."
"Bagus!" Pangeran Leng Kok Cun tersenyum gembira sekali
mendengar bahwa Pangeran Kang Shi yang masih kanakkanak
itu berhasil dibunuh. Dia sama sekali tidak peduli
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
mendengar betapa Gui Tiong dan Twa-to Ngo-liong yang
membantunya itu tewas. "Bebaskan gadis itu!" perintahnya
kepada Phang Houw dan Louw Cin. "Bawa ia ke sini!"
"Nanti dulu!" Pat-chiu Lo-mo berseru menahan dua orang
yang hendak melaksanakan perintah Pangeran Leng itu
sehingga mereka berhenti melangkah.
"Pangeran, sungguh tidak bijaksana kalau membebaskan
gadis itu sekarang. Sebaiknya Paduka tunggu sampai berita
tentang kematian Pangeran Mahkora Kang Shi disiarkan besok
sehingga keterangan Bu Kong Liang ini benar!"
"Engkau benar, Lo-mo! Kita tunggu sampai besok pagi!"
kata Pangeran Leng sambil memberi isarat kepada dua orang
pembantunya agar membatalkan perintahnya. Mereka pun
duduk kembali.
Tahulah Kong Liang bahwa siasatnya untuk membebaskan
Gui Siang Lin yang pertama telah gagal dan dia harus
menggunakan siasatnya yang ke dua. Dia mencabut sepasang
tombak bercabang dan berseru kepada Pat-chiu Lo-mo.
"Kakek busuk! Engkau tidak percaya kepadaku berarti engkau
menghinaku!" Setelah berkata demikian, dia menyerang
dengan siang-kek di kedua tangannya.
Pat-chiu Lo-mo cepat melompat ke belakang sambil
menggerakkan tongkatnya.
"Kalau engkau laki-laki, mari keluar! Kita bertanding di luar
gedung!" Kong Liang berseru lagi sambil melompat ke luar.
"Kejar dia!" Pat-chiu Lo-mo berseru sambil mengejar.
"Pangeran, dia menipu kita!" Mendengar ini, Hui-eng-to Phang
Houw, Liong-bu-pang Louw Cin dan lima orang perwira tinggi
itu mencabut senjata masing-masing dan mengejar keluar.
Pangeran Leng Kok Cun yang mulai curiga kepada Kong
Liang cepat memberi tanda kepada para penjaga di istananya
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
untuk membantu Pat-chiu Lo-mo, bahkan dia sendiri juga
keluar karena pangeran ini pun bukan orang lemah.
Kong Liang sudah bertanding melawan Pat-chiu Lo-mo dan
tak lama kemudian dia sudah dikeroyok banyak orang. Akan
tetapi pemuda itu dengan amat gagahnya membela diri.
Sepasang tombak pendek itu digerakkan sedemikian rupa
sehingga membentuk dua gulungan sinar yang mengurung
tubuhnya sehingga semua serangan banyak pengeroyok itu
dapat tertangkis. Pengeroyok yang tidak begitu kuat, begitu
senjatanya tertangkis, terhuyung atau bahkan ada yang
senjatanya terpental dan terlepas dari pegangannya karena
jago muda Siauw-lim-pai" ini mengerahkan tenaga saktinya.
Sementara itu, Bouw Hujin yang berada di atas genteng,
mendapat kesempatan baik. Selagi semua penjaga lari keluar
untuk ikut mengeroyok Kong Liang, yang menjaga Gui Siang
Lin hanya enam orang pemanah yang berada di atas atap dan
yang siap membunuh gadis itu dengan anak panah mereka
kalau ada isarat Pangeran Leng Kok Cun seperti yang
diperintahkannya.
JILID V
BOUW HUJIN yang ketika mudanya menjadi pendekar
wanita yang berjuluk Sin-hong-cu (Burung Hong Sakti) yang
mengintai dari atas, begitu melihat Kong Liang dikeroyok
banyak orang di luar gedung, segera turun tangan. Beberapa
kali kedua tangannya bergerak dan sinar-sinar perak
menyambar ke arah enam orang yang memegang busur dan
anak panah itu. Mereka roboh dan tubuh mereka terguling
dari atap ke bawah. Bouw Hujin cepat membobol atap yang
sudah dilubangi bagi para pemanah itu dan dengan ringan
tubuhnya melayang ke dalam kamar.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
“Engkau Gui Siang Lin?” tanyanya kepada gadis yang duduk
bersila di atas pembaringan. Siang Lin mengangguk.
“Hayo cepat, kita bantu Bu Kong Liang!” Bouw Hujin
berkata dan ia sudah memegang tangan Siang Lin lalu
keduanya melompat ke atas melalui lubang di atas.
Cepat mereka berloncatan di atas genteng istana itu dan
setelah tiba di depan, kembali Bouw Hujin menyambitkan Ginseng-
piauw (Senjata Rahasia Bintang Perak). Dalam waktu
singkat saja delapan orang pengeroyok roboh. Hanya mereka
yang berilmu cukup tangguh seperti Phang Houw dan Louw
Cin, juga Pat-chiu Lo-mo yang dapat menghindarkan diri dari
serangan senjata rahasia itu dengan menangkis sinar perak
dengan senjata mereka. Akan tetapi melihat betapa para
perwira dan penjaga roboh dan dalam waktu singkat delapan
orang sudah roboh, mereka juga terkejut dan berlompatan
mundur. Kesempatan ini dipergunakan oleh Kong Liang untuk
melompat dan menghilang dalam kegelapan malam. Memang
sebelumnya sudah dia atur bersama Bouw Hujin. Dia
memancing Pangeran Leng Kok Cun dan para pembantunya
keluar sehingga Bouw Hujin dapat bergerak dengan leluasa
meloloskan Siang Lin, kemudian setelah beberapa orang
pengeroyok roboh oleh senjata rahasia Nyonya Pangeran yang
amat lihai itu, dia tahu bahwa Siang Lin telah dibebaskan,
maka dia lalu melompat dan melarikan diri!
“Kejar...!” Teriak Pat-chiu Lo-mo.
Akan tetapi karena malam itu gelap dan para pengejar
merasa gentar terhadap serangan senjata rahasia yang ampuh
itu, mereka tidak dapat menemukan Bu Kong Liang.
Pangeran Leng Kok Cun marah sekali ketika melihat betapa
Gui Siang Lin lolos dan enam orang prajurit yang menodong di
atas atap telah tewas semua. Lebih hebat lagi kemarahannya
ketika pada pagi harinya ada yang mengantar lima buah peti
mati yang berisi mayat Twa-to Ngo-liong! Dia tahu bahwa dia
telah ditipu Bu Kong Liang dan bahwa Pangeran Mahkota
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Kang Shi sama sekali belum terbunuh! Akan tetapi, dia tidak
berdaya dan belum begitu nekat untuk menyerang Pangeran
Bouw Hun Ki yang dekat dengan Kaisar. Sebaliknya, Pangeran
Bouw Hun Ki juga tidak dapat menuduh Pangeran Leng Kok
Cun hendak membunuh Pangeran Mahkota karena tidak ada
bukti nyata. Twa-to Ngo-liong telah tewas, dan Bu Kong Liang
tentu saja tidak dapat dijadikan saksi karena dia bukan anak
buah Pangeran Leng.
Maka urusan itu hanya diketahui kedua pihak. Kaisar sendiri
tidak diberitahu karena selain hal itu akan membuat Kaisar
khawatir akan keselamatan Putera Mahkota, juga belum dapat
dibuktikan bahwa Pangeran Leng Kok Cun mengirim orangorang
untuk membunuh Pangeran Kang Shi. Maka, diam-diam
terdapat permusuhan hebat antara Pangeran Leng Kok Cun
dan Pangeran Bouw Hun Ki, atau lebih tepat Nyonya Bouw,
karena wanita inilah yang berani menentang Pangeran Leng.
Mulai saat itu, Bouw Hujin melakukan penjagaan amat ketat.
Bahkan ia membuat bangunan rahasia bawah tanah agar
kalau sewaktu-waktu ada bahaya, Pangeran Kang Shi dapat
bersembunyi di situ.
Setelah Gui Siang Lin yang dibawa Bouw Hujin tiba di
istana Pangeran Bouw, dan mendengar bahwa ayahnya telah
tewas, ia menangis tersedu-sedu di depan peti mati ayahnya.
Bu Kong Liang yang sudah tiba di sana pula, segera
memberi penjelasan kepada gadis itu. Dia menceritakan
betapa dia dan Gui Tiong terpaksa berpura-pura menurut
perintah Pangeran Leng untuk membunuh Pangeran Mahkota,
karena mereka berdua melihat Siang Lin ditawan, dan kalau
mereka tidak menaati perintah Pangeran Leng, Siang Lin tentu
dibunuh.
“Aih, mengapa Ayah dan engkau mau melakukan perintah
Pangeran Leng yang jahat itu, Suheng? Biar aku dibunuhnya,
aku tidak takut dan tidak semestinya kita tunduk kepadanya!”
Siang Lin mencela sambil terisak-isak.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
“Sumoi, kami menuruti perintah Pangeran Leng hanya
siasat belaka. Kami bermaksud kalau sudah meninggalkan
istana Pangeran Leng dan tiba di atas gedung Pangeran Bouw,
kami akan bunuh Twa-to Ngo-liong yang menemani dan
mengawasi kami. Aku sudah berhasil membunuh tiga orang di
antara mereka, akan tetapi sayang, pada saat itu, Bouw Hujin
keluar dan karena mengira bahwa ayahmu seorang di antara
penjahat, beliau lalu menyerang dua orang di antara Twa-to
Ngo-liong dan ayahmu sehingga mereka bertiga tewas.”
“Benar, Gui Siang Lin. Akulah yang salah duga, membunuh
tiga orang yang berada di atas genteng gedung kami. Kalau
saja aku tahu bahwa yang seorang adalah Gui Kauwsu dari
Pek-ho Bukoan, tentu tidak kuserang dia. Akan tetapi malammalam
begitu di atas genteng, tentu saja aku tidak melihat
jelas mukanya. Nah, biarpun karena salah duga, aku telah
kesalahan tangan membunuh ayahmu. Kalau engkau
mendendam sakit hati kepadaku, aku tidak akan
menyalahkanmu!” kata Bouw Hujin dengan lembut namun
gagah.
“Sumoi, Bouw Hujin tidak dapat disalahkan. Aku sendiri
tadinya mengira beliau musuh karena beliau merobohkan
Susiok, aku menyerangnya dan aku tertotok dan ditawan.
Barulah aku mengerti duduknya persoalan setelah aku
mendapat kesempatan bicara dengan keluarga Pangeran
Bouw. Kami yang bersalah, Sumoi. Semestinya sebelum tiba di
sini, kami turun tangan membunuh Twa-to Ngo-liong, baru
kemudian menolongmu. Akan tetapi semua telah terjadi, dan
kematian Susiok sudah merupakan takdir, kita tidak mungkin
dapat menyalahkan Bouw Hujin. Beliau tidak bersalah, bahkan
beliau membebaskan engkau dari tawanan Pangeran Leng.”
Hati Siang Lin seperti ditusuk, perih dan sakit. Dengan
kedua mata bercucuran air mata, ia memandang kepada
nyonya itu. Bouw Hujin tampak begitu cantik dan gagah,
begitu penuh wibawa yang kuat. Wanita setengah tua itu tadi
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
telah menolongnya keluar dari tahanan Pangeran Leng Kok
Cun. Ia tidak dapat membayangkan apa yang akan diderita
kalau Pangeran Leng tahu bahwa ayahnya mengkhianatinya.
Ia bukan hanya akan dibunuh, melainkan disiksa dengan
penghinaan yang lebih hebat daripada maut. Ia tidak boleh
mendendam kepada Bouw Hujin.
“Ayaaahhh...!” Gui Siang Lin menjatuhkan diri berlutut di
depan peti mati ayahnya, menangis sesenggukan, membuat
semua orang yang berada di situ merasa terharu.
“Nona, hentikanlah tangismu. Ayahmu tewas sebagai
seorang gagah sejati menentang kekuasaan yang jahat. Tidak
ada gunanya ditangisi lagi. Bahkan arwahnya tidak akan
tenang melihat engkau membenamkan diri dalam kesedihan,”
kata Bouw Kun Liong.
“Akan tetapi saya... saya... yatim piatu... sekarang hidup
sebatang kara...!” Gadis itu menutupi mukanya dengan kedua
tangan, tidak menyadari siapa yang bicara menghiburnya tadi.
“Nona, kami merasa bertanggung jawab terhadap nasibmu.
Ibuku telah salah sangka dan salah tangan membunuh
ayahmu, maka anggaplah kami sebagai keluargamu. Ayah dan
ibuku pasti akan menerimamu dengan hati dan tangan
terbuka. Bukankah begitu, Ibu?” kata Bouw Kun Liong kepada
ibunya.
Pangeran Bouw Hun Ki dan Nyonya Bouw saling pandang
dan kedua orang tua ini maklum bahwa putera mereka itu
agaknya telah jatuh cinta kepada Gui Siang Lin! Suaranya
ketika menghibur menggetar penuh perasaan iba, itulah tanda
mulai berseminya cinta!
“Apa yang dikatakan Liong-ko (Kakak Liong) itu benar, Enci
Siang Lin!” kata Bouw Hwi Siang sambil memegang tangan
gadis yang menangis itu. “Mulai sekarang, engkau tinggallah
di s ini bersama kami. Ayah Ibu pasti menyetujui sepenuhnya!”
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Kini barulah Siang Lin menyadari bahwa yang
menghiburnya tadi adalah Bouw Kun Liong, pemuda yang
tampan gagah itu. Ia mengusap air mata dengan kedua
tangannya, lalu mengangkat muka memandang ke arah
Pangeran Bouw dan Nyonya Bouw dengan hati ragu.
Bouw Hujin menatap wajah gadis itu dengan senyum, lalu
mengangguk dan berkata. “Kedua anakku berkata benar,
Siang Lin. Kami dengan senang hati menerimamu dan
anggaplah kami sebagai pengganti orang tuamu. Kami akan
menganggap engkau sebagai anak angkat kami!”
“Benar, Gui Siang Lin, kami senang kalau engkau menjadi
anggota keluarga kami,” kata pula Pangeran Bouw Hun Ki.
Mendengar ini, Siang Lin segera menjatuhkan diri berlutut
di depan suami isteri itu tanpa dapat mengucapkan kata-kata
saking terharu hatinya. Kalau tidak ada suami isteri
bangsawan ini yang menerimanya, bagaimana ia dapat hidup
menjadi buruan kaki tangan Pangeran Leng yang pasti akan
membalas dendam?
“Aih, Ibu bagaimana sih? Bukan menjadi anak angkat, akan
tetapi menjadi anak mantu, begitu!”
“Husss, Siang-moi!” Bouw Kun Liong membentak adiknya,
lalu dengan muka berubah kemerahan pemuda itu
meninggalkan ruangan, diikuti tawa adiknya.
Pangeran Bouw Hun Ki lalu berkata kepada Kong Liang, “Bu
Kong Liang, engkau telah memperlihatkan kebijaksanaanmu
dengan menentang perbuatan Pangeran Leng yang jahat.
Engkau juga sudah mengetahui bahwa Pangeran Mahkota
dititipkan kepada kami. Ini merupakan tugas yang berat dan
berbahaya dengan adanya orang-orang yang bersaing
memperebutkan kekuasaan. Oleh karena itu, jika kiranya
engkau tidak keberatan, kami minta agar engkau membantu
kami melindungi keselamatan Pangeran Kang Shi di sini.
Bagaimana pendapatmu?”
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
“Bu-enghiong (Pendekar Bu) adalah seorang pendekar
Siauw-lim-pai yang selalu membela kebenaran dan keadilan,
juga menentang kejahatan. Sudah sepatutnya kalau dia
membantu kami melindungi Pangeran Mahkota dari ancaman
para pengkhianat,” kata Bouw Hwi Siang yang memang
merupakan seorang gadis lincah dan tidak malu-malu seperti
gadis lain. Ia memang berwatak gagah seperti ibunya.
“Hwi Siang!” tegur Nyonya Bouw, akan tetapi sambil
tersenyum. “Jangan lancang, biarkan Bu Kong Liang
memutuskannya sendiri!”
Bouw Hwi Siang cemberut manja. Bu Kong Liang yang tadi
menundukkan mukanya, kini memandang Pangeran Bouw dan
Nyonya Bouw, lalu menjawab, “Mengingat bahwa Pangeran
Leng mengumpulkan orang-orang pandai dan merencanakan
perbuatan jahat terhadap Pangeran Mahkota, maka saya siap
untuk membantu Paduka melindungi beliau. Terima kasih atas
kepercayaan Paduka kepada saya.”
Suami isteri itu girang sekali. Mereka sama sekali tidak
menduga bahwa kesediaan pemuda murid Siauw-lim-pai itu
membantu mereka melindungi keselamatan Pangeran Kang
Shi, terutama sekali karena adanya Bouw Hwi Siang di situ!
Hanya Bu Kong Liang sendiri yang merasakan betapa hatinya
terpikat oleh gadis bangsawan itu!
Bouw Hujin lalu berkata kepada Hwi Siang. “Hwi Siang,
engkau ajaklah Siang Lin ke dalam dan suruh pelayan siapkan
sebuah kamar untuknya. Juga berikan pakaian pengganti
untuknya sebelum pakaiannya diambil dari rumahnya.”
“Ah, Ibu. Mengapa susah-susah menyiapkan kamar lain?
Biar Enci Siang Lin tidur bersamaku saja!” kata Hwi Siang dan
ia lalu menggandeng Siang Lin, diajak masuk ke bagian
belakang, ke kamarnya dan ia memberikan pakaiannya yang
baru untuk dipakai Siang Lin.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Pangeran Bouw memanggil pelayan dan menyuruh pelayan
menyiapkan sebuah kamar untuk Bu Kong Liang. Mulai saat
itu, Gui Siang Lin dan Bu Kong Liang tinggal di gedung
Pangeran Bouw Hun Ki yang besar.
***
Berdebar rasa jantung Thian Hwa ketika ia tiba di depan
gedung besar tempat tinggal Pangeran Ciu Wan Kong. Tidak
seperti gedung tempat tinggal para bangsawan lain yang
masih kerabat kaisar, rumah Pangeran Ciu Wan Kong tidak
tampak angker, tidak terjaga banyak prajurit. Hanya ada dua
orang penjaga yang tidak berpakaian prajurit, melainkan
sebagai pengawal biasa. Hal ini memang mengherankan kalau
diingat bahwa Pangeran Ciu Wan Kong adalah adik dari Kaisar
Shun Chi.
Sejak ditinggalkan Cui Eng, wanita yang amat dicintanya
karena wanita itu diusir oleh orang tuanya, Pangeran Ciu Wan
Kong seolah kehilangan semangat hidupnya. Penghidupannya
berubah sama sekali. Dia lebih banyak berdiam di dalam
kamarnya, atau pergi pesiar dikawal beberapa orang pelayan
yang juga menjadi pengawalnya. Dia bahkan tidak pernah
mempunyai isteri atau selir, hidup membujang dan tidak
mempedulikan urusan dunia.
Ketika Thian Hwa memasuki pintu gerbang rumah itu, dua
orang penjaga segera menyambutnya.
“Maaf, Nona, Siapakah Nona dan apakah keperluan Nona
memasuki pintu gerbang gedung ini?” tanya seorang dari
mereka dengan sikap sopan.
Melihat sikap dua orang penjaga ini hati Thian Hwa merasa
senang. Dari sikap petugas yang paling rendah pangkatnya
dapat diketahui watak majikannya yang tingkatnya paling
tinggi. Dua orang penjaga ini bersikap sopan, tentu mereka
takut untuk bersikap kurang ajar karena atasan mereka yang
susilawan pasti akan menegur bahkan menghukum mereka.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
“Tolong laporkan kepada Pangeran Ciu Wan Kong bahwa
aku, Thian Hwa, mohon menghadap karena urusan yang
teramat penting.”
“Maafkan kami, Nona. Beliau sudah lama tidak mau
menerima kunjungan siapa pun. Saya akan melapor, akan
tetapi sebaiknya Nona memberitahu urusan apa yang hendak
Nona sampaikan agar beliau dapat mempertimbangkan untuk
menemui Nona atau tidak.”
“Hemm, katakan bahwa aku membawa berita tentang diri
seorang wanita bernama Cui Eng. Aku yakin beliau pasti akan
menerimaku.”
“Baik, harap tunggu sebentar, Nona,” kata penjaga itu, lalu
seorang dari mereka menyeberangi pekarangan yang luas
menuju gedung yang besar dan tampak sunyi itu.
Thian Hwa menunggu dengan hati tegang. Biasanya, gadis
yang amat tabah ini menghadapi apa pun tidak merasa gentar
atau tegang, akan tetapi sekarang, menghadapi
pertemuannya dengan ayah kandungnya, hatinya berdebar
penuh ketegangan. Bagaimana nanti ayah kandungnya itu
akan menyambutnya? Apakah Pangeran Ciu akan ketakutan
dan melarikan diri seperti dulu? Lalu apa yang akan ia
lakukan?
Tak lama kemudian, penjaga yang tadi keluar dari dalam
gedung berlari keluar menemui Thian Hwa. “Nona, Pangeran
tidak mengenal nama Thian Hwa, akan tetapi mendengar
bahwa Nona membawa berita tentang wanita bernama Cui
Eng, Nona diperkenankan masuk menghadap beliau. Mari saya
antarkan, Nona.”
Dengan jantung berdebar keras, Thian Hwa mengikuti
penjaga itu memasuki gedung yang besar. Ternyata di
ruangan depan juga tidak tampak pengawal bersenjata seperti
lazimnya rumah para bangsawan tinggi. Hanya ada beberapa
orang pembantu rumah tangga sedang membersihkan perabot
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
di situ dan menyapu lantai. Thian Hwa dibawa ke ruangan
tamu dan ketika tiba di pintu ruangan itu, penjaga tadi
berkata.
“Beliau menanti di dalam, Nona. Silakan masuk.” Dia lalu
keluar lagi.
Thian Hwa memasuki pintu ruangan itu dan ia melihat
Pangeran Ciu Wan Kong yang pernah dikenalnya dua kali,
yaitu pertama kali ketika ia menyelamatkan pangeran itu dari
serangan ular, kedua kalinya ketika ia datang ke gedung ini
dengan niat membunuhnya. Pangeran yang usianya baru
sekitar lima puluh dua tahun itu sudah tampak tua karena
mukanya kurus dan rupanya sudah putih semua. Ketika Thian
Hwa melangkah masuk, Pangeran Ciu Wan Kong yang tadinya
menundukkan muka, mengangkat mukanya dan memandang.
Thian Hwa lega melihat wajah orang tua itu tidak liar
ketakutan seperti dulu, melainkan terheran-heran. Matanya
terbelalak, mulutnya ternganga dan dia bangkit perlahan dari
kursinya ketika Thian Hwa melangkah menghampirinya.
Thian Hwa berdiri di depannya dalam jarak sekitar sepuluh
langkah. Pangeran Ciu Wan Kong menggosok-gosok kedua
matanya dengan tangan, lalu menggelengkan kepala.
“Tidak mungkin... tidak mungkin... kau... kau Dinda Cui
Eng...!” Suaranya gemetar.
Thian Hwa menggelengkan kepalanya. “Bukan, saya bukan
Cui Eng....”
“Ah, Dinda Cui Eng, isteriku... kekasihku... jangan engkau
membenciku. Aku... ampunkan aku, Cui Eng... engkau sampai
terusir dari s ini dan aku, tidak dapat melindungimu. Ampunkan
aku... ampunkan aku yang berdosa padamu....”
Pangeran Ciu Wan Kong memandang dengan air mata
menetes membasahi kedua pipinya yang kurus.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Thian Hwa merasa terharu sekali dan ia khawatir kalaukalau
pangeran itu akan berubah ingatan karena kejutan ini.
“Bukan, saya bukan Cui Eng. Cui Eng mempunyai tahi lalat
di atas bibirnya, ingat? Saya tidak mempunyai tahi lalat itu!”
Thian Hwa melangkah mendekat agar pangeran itu dapat
melihat wajahnya lebih jelas. “Dan Cui Eng sekarang tentu
tidak semuda saya, bukan?”
Sepasang mata yang basah itu berkejap-kejap. “Ahh...
engkau benar... engkau masih muda walaupun wajahmu
persis Cui Eng-ku... dan tidak ada tahi lalat yang manis itu di
atas bibirmu... Engkau bukan Cui Eng, lalu engkau... engkau
siapa?”
“Saya yang dulu menyelamatkan Paduka dari serangan
ular,” Thian Hwa mengingatkan.
Agaknya Pangeran Ciu mulai ingat. “Ya... ya... engkau gadis
yang menyelamatkan aku dari serangan ular dan... rasanya
aku pernah bertemu lagi... engkau pernah ke sini malammalam
itu, bukan?”
“Benar, saya pernah ke sini,” kata pula Thian Hwa, merasa
lega karena pangeran itu agaknya kini sudah dapat
mengingatnya.
“Tapi siapakah engkau yang begini mirip dengan Cui Eng?
Dan engkau membawa kabar tentang isteriku Cui Eng? Di
mana sekarang isteriku yang tercinta itu?”
“Hemm, kalau Paduka memang mencinta Cui Eng,
mengapa Paduka begitu tega untuk mengusirnya, membawa
anaknya yang masih bayi? Apakah Paduka tidak merasa
kasihan kepada ibu dan anak itu?”
Wajah yang kurus itu berkerut penuh perasaan duka. “Ah,
jangan kauingatkan itu, aku... aku tidak berdaya... mendiang
orang tuaku yang dulu memaksaku. Aih, anak yang baik,
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
cepat ceritakan bagaimana keadaan Cui Eng sekarang? Di
mana ia?”
“Cui Eng sudah tewas ketika diusir pergi dan naik perahu.
Perahunya terbalik di Sungai Huang-ho dan ia lenyap ditelan
air!” kata Thian Hwa dengan suara tegas, mengandung
teguran.
“Aduh... Cui Eng... ampunkan aku, Cui Eng...! Kalau engkau
sudah tewas, bawalah aku. Tidak ada gunanya lagi aku hidup
menanggung dosa dan penyesalan...” Pangeran itu kini
menangis tersedu-sedu.
Hati Thian Hwa yang tadinya mengeras dan membeku itu
kini mencair melihat laki-laki setengah tua itu menangis
seperti anak kecil. Akan tetapi ia mengeraskan hatinya,
teringat akan ibunya. Ia dapat membayangkan betapa
sengsara ibunya ketika diusir bersama anaknya yang masih
bayi.
“Pangeran Ciu Wan Kong, Paduka seorang pangeran
berbangsa Mancu, begitu tega dan memandang rendah
seorang wanita Han yang katanya engkau cinta. Di manakah
prikemanusiaanmu?”
“Aku bersalah, aku berdosa... ah, Nona, siapakah engkau
yang begini mirip Cui Eng, yang berani datang untuk
menghancurkan hatiku seperti ini...?”
“Akulah bayi yang dilahirkan Cui Eng kemudian yang
engkau usir dari s ini!”
Pangeran Ciu Wan Kong terbelalak, matanya masih merah
dan basah karena tangis, tubuhnya gemetar seperti mendadak
terserang demam.
“Engkau... engkau anak Cui Eng... ya, ya... engkau sama
benar dengan Cui Eng... engkau... engkau anakku...?”
Thian Hwa tidak dapat menahan keharuan hatinya. Ia
menubruk kaki ayahnya, berlutut dan menangis. “Ayah...
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
aku... Ciu Thian Hwa... aku... anakmu...!” katanya tersendatsendat.
Pangeran Ciu Wan Kong juga berlutut dan merangkul gadis
itu, mendekap kepala gadis itu ke dadanya erat sekali, seolah
dia menemukan kembali sebuah mustika yang hilang dan dia
ingin membenamkan mustika dalam hatinya agar tidak hilang
lagi.
“Anakku...! Ah, Cui Eng, terima kasih... engkau agaknya
telah mengampuniku dan memberiku anak ini... Thian
(Tuhan)... terima kasih bahwa Engkau telah melindungi
anakku ini sehingga dapat bertemu denganku...!” Ayah dan
anak itu berangkulan dan bertangisan.
Sampai lama mereka bertangisan. Akhirnya Thian Hwa
yang lebih dulu dapat menenangkan hatinya yang tadinya pilu
penuh haru. Ia bangkit berdiri membimbing tangan ayahnya,
mengusap air matanya dan berkata.
“Ayah, mengapa kita bertangisan? Bukankah sepatutnya
kita bergembira oleh pertemuan ini?”
Pangeran Ciu Wan Kong tertawa! Entah sudah berapa
lamanya dia tidak pernah tertawa sehingga dia sendiri merasa
aneh. Akan tetapi wajahnya kini berseri dan mulutnya
tersenyum, matanya yang basah bersinar menemukan kembali
gairah hidupnya.
“Ha-ha-ha, engkau benar, Anakku! Mengapa kita menjadi
orang-orang cengeng? Padahal engkau, anakku Ciu Thian
Hwa, engkau telah menjadi seorang pendekar wanita! Ya,
pendekar wanita yang gagah perkasa. Aku bangga sekali!
Sepatutnya kita bergembira. Kita rayakan pertemuan ini!”
Pangeran itu bertepuk tangan dan muncullah dua orang
pelayan wanita setengah tua. Mereka berdiri terlongong
memandang majikan mereka yang tampak begitu gembira.
Hal ini sungguh amat mengherankan hati mereka karena
selama bekerja di situ belum pernah mereka melihat pangeran
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
itu bergembira. Kini pangeran itu berdiri, menggandeng
tangan seorang gadis cantik dan tampak begitu gembira!
“Hayo cepat siapkan pesta! Kami akan merayakan
kembalinya anakku! Ini puteriku, Ciu Thian Hwa. Kalian harus
menyebutnya Ciu Siocia (Nona Ciu)!”
Dua orang pelayan itu terkejut, heran, akan tetapi juga
girang sekali. Mereka memberi hormat kepada Thian Hwa dan
menyebut “Ciu Siocia” lalu mereka cepat pergi untuk
melaksanakan perintah majikan mereka.
Pangeran Ciu lalu membawa Thian Hwa ke ruangan dalam
dan mereka duduk bercakap-cakap.
“Anakku, sekarang ceritakanlah semuanya kepadaku.
Benarkah Ibumu, Cui Eng isteriku yang kucinta dan yang
bernasib malang, telah meninggal dunia?”
Thian Hwa menghela napas panjang. “Agaknya begitu,
Ayah, walaupun belum ada buktinya bahwa Ibuku telah
meninggal dunia. Semua hal tentang diriku juga kudengar dari
guruku.”
“Ceritakanlah, ceritakan semuanya, Anakku!”
“Guruku, Thian Bong Sianjin bercerita kepadaku bahwa
sembilan belas tahun yang lalu dia menolong aku yang masih
bayi dari air Sungai Huang-ho. Dia tidak melihat orang lain
biarpun dia sudah berusia mencari di sungai itu. Maka dia
berkesimpulan bahwa kalau aku pergi dibawa ibuku, tentu
ibuku telah meninggal dunia. Aku lalu dipelihara dan dididik
oleh guruku itu sebagai muridnya, bahkan diangkat sebagai
cucunya. Kong-kong Thian Bong Sianjin memberiku nama
Thian Hwa. Dia amat sayang kepadaku dan menurunkan
semua ilmu silatnya kepadaku.”
“Ah, sungguh besar budi kebaikan Thian Bong Sianjin.
Ingin sekali aku dapat bertemu dengan dia untuk
mengucapkan terima kasihku yang tak terhingga. Akan tetapi,
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
kalau engkau dan Thian Bong Sianjin tidak pernah melihat Cui
Eng, bagaimana engkau tadi dapat mengatakan bahwa Cui
Eng mempunyai ciri tahi lalat di atas bibirnya?”
“Begini, Ayah. Setelah menolongku dari sungai, Kong-kong
bermimpi, katanya dia melihat seorang wanita cantik dengan
tahi lalat di atas bibir, mohon kepadanya untuk merawat
anaknya. Maka Kong-kong berpendapat bahwa wanita cantik
itu tentu ibuku.”
“Aih, Cui Eng... kalau engkau sudah muncul dalam mimpi...
benar-benar engkau telah mati, kekasihku?”
Melihat ayahnya tampak sedih kembali, Thian Hwa berkata
menghibur. “Ayah, tenanglah. Menurut perkiraan Kong-kong,
ibuku tentu selamat karena dia tidak menemukan jenazahnya.
Masih ada harapan Ibu masih hidup, entah di mana.”
“Mudah-mudahan begitu, Anakku. Sekarang lanjutkan
ceritamu. Bagaimana malam itu engkau dapat datang di sini
dan agaknya engkau... engkau ketika itu seperti
mengancamku.”
“Memang benar, Ayah. Ketika itu aku datang ke sini dengan
niat untuk... membunuhmu!”
“Ah, Thian Hwa anakku, kalau engkau hendak
membunuhku untuk membalas sakit hati ibumu, silakan.
Sekarang juga aku akan menerimanya dengan rela. Memang
aku patut mati karena dosaku terhadap Cui Eng!”
“Tidak, Ayah. Buktinya aku tidak jadi membunuhmu. Aku
tidak tega dan bahkan merasa kasihan kepadamu. Aku tahu
bahwa engkau adalah ayahku setelah aku bertemu dengan
kakekku, Kong-kong Cui Sam.”
“Ah, Lo Sam! Pembantu keluarga di sini yang amat setia
dan juga menjadi ayah mertuaku! Di mana dia, Anakku? Aku
pun ingin bertemu dan minta maaf kepadanya!”
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
“Aku bertemu dengan Kong-kong Cui Sam di istana
Pangeran Cu Kiong dan dia yang bercerita tentang riwayat
ibuku. Mendengar betapa ibuku diusir setelah melahirkan aku,
aku merasa sakit hati dan hendak membunuhmu, Ayah. Akan
tetapi melihat Ayah begitu berduka dan menangisi Ibu, aku
menjadi tidak tega.”
“Hemm, tentu engkau yang mengambil gambar ibumu itu!”
kata Pangeran Ciu. “Akan tetapi bagaimana engkau sampai
berada di istana Pangeran Cu Kiong sehingga dapat bertemu
dengan kakekmu?”
Thian Hwa lalu menceritakan semua pengalamannya, dan
bagian terakhir ia menceritakan bahwa kakeknya, Cui Sam,
kini tinggal di dusun Kia-jung dekat kota Thian-cin.
“Ah, biarlah aku akan mengirim pasukan menjemput Ayah
mertuaku Cui Sam. Dia harus tinggal di sini bersama kita, dia
sudah banyak menderita sengsara. Kasihan dia. Akan tetapi
ceritamu tentang para pangeran itu sungguh mengejutkan
hatiku, Anakku. Apalagi tentang niat Pangeran Leng Kok Cun
yang hendak merebut tahta kerajaan! Ini gawat sekali, dan
biarpun selama ini aku juga sudah menaruh curiga kepadanya,
namun tidak ada bukti akan maksud pengkhianatannya.
Sekarang, kita harus segera mengabarkan hal ini kepada
Sribaginda agar dapat dilakukan tindakan sebelum dia dapat
melaksanakan pemberontakannya itu.”
Karena menganggap berita yang dibawa puterinya itu
penting sekali, Pangeran Ciu Wan Kong mengajak puterinya
makan hidangan yang sudah disiapkan, kemudian bertukar
pakaian dan mereka pun berangkat ke istana. Hal ini
merupakan peristiwa yang amat luar biasa bagi para pelayan
Pangeran Ciu. Sudah bertahun-tahun pangeran itu hidup
terbenam kesedihan, tidak pernah tampak senyum apalagi
tawa di bibirnya, dan selalu tampak lesu dan muram. Akan
tetapi mendadak saja, setelah gadis yang diperkenalkan
sebagai puterinya itu datang, Pangeran itu tampak berwajah
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
cerah gembira, matanya bersinar penuh semangat dan gerakgeriknya
gesit, tidak loyo seperti biasanya. Dia bahkan
tersenyum kepada setiap pelayan yang ditemuinya ketika dia
memegang tangan Thian Hwa dan mereka berdua keluar dari
gedung besar.
Para pengawal istana tentu saja mengenal baik Pangeran
Ciu Wan Kong, maka komandan pasukan pengawal segera
melaporkan ke dalam akan kunjungan Pangeran Ciu.
Laporannya diterima oleh para Thaikam (Orang Kebiri) yang
menyampaikan kepada Boan Thaijin, Thaikam yang menjadi
penasihat utama Kaisar Shun Chi. Boan Kit yang sebutannya
Boan Thaikam atau Boan Thaijin ini mengerutkan alisnya
mendengar bahwa Pangeran Ciu Wan Kong minta menghadap
Sribaginda Kaisar. Biarpun Boan Thaijin tidak suka kepada
Pangeran Ciu yang amat setia kepada kakaknya yang menjadi
kaisar, namun dia tidak berani menolak kunjungan ini. Apalagi
dia menganggap Pangeran Ciu sama sekali tidak berbahaya.
Akan tetapi ketika Pangeran Ciu dan Thian Hwa disambut
Thaikam Boan Kit, penasihat kaisar ini menatap wajah Thian
Hwa dengan tajam penuh selidik. Pangeran Ciu sudah tahu
orang macam apa adanya Thaikam Boan Kit, maka melihat
pandang matanya dia segera memperkenalkan.
“Boan Thaikam, ini adalah puteriku bernama Ciu Thian
Hwa. Karena Kakanda Kaisar belum mengenal keponakan ini,
maka kami hendak menghadap Sribaginda Kaisar agar dapat
mengenal keponakan beliau.”
Boan Thaikam mengangguk dan merasa lega. Kalau hanya
pertemuan keluarga saja, dia tidak perlu curiga dan khawatir.
“Sebaiknya Pangeran tunggu sebentar. Saya akan
melaporkan kepada Sribaginda yang kini sedang berada di
dalam ruangan meditasi. Kalau Beliau sudah selesai
bermeditasi, tentu Pangeran berdua dapat menghadap, akan
tetapi kalau masih bermeditasi, tentu saja Paduka tidak akan
mengganggu Beliau.”
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
“Tentu saja, kami akan menunggu di sini,” kata Pangeran
Ciu.
Diam-diam Boan Thaikam merasa heran bukan main
melihat Pangeran Ciu. Dia sudah melakukan penyelidikan dan
mengenal betul keadaan para pangeran. Menurut laporan para
penyelidiknya, Pangeran Ciu adalah seorang yang lemah dan
bahkan jiwanya agak terganggu, selalu mengasingkan diri dan
tenggelam dalam duka. Akan tetapi hari ini dia melihat
Pangeran Ciu demikian gembira, wajahnya berseri, sinar
matanya penuh semangat!
Tak lama kemudian, Thaikam Boan Kit sudah datang
menemui Pangeran Ciu dan berkata, “Pangeran, kebetulan
sekali Sribaginda Kaisar sudah selesai samadhinya dan
mendengar bahwa Paduka hendak menghadap, Beliau
gembira dan memperkenankan Paduka berdua memasuki
Ruangan Meditasi.”
“Terima kasih, Boan Thaikam,” kata Pangeran Ciu. Tentu
saja dia sudah mengenal keadaan dalam istana, maka tanpa
ragu lagi dia mengajak Thian Hwa menuju ruangan itu.
Ruangan itu luas, akan tetapi tidak terisi banyak perabot
yang serba mewah seperti yang terdapat di lorong-lorong dan
ruangan lain dalam istana itu. Bahkan ruangan luas ini
sederhana bagi ukuran istana. Hanya terdapat sebuah meja
bundar dengan enam buah kursi, sebuah almari besar dan
sebuah dipan ukuran sedang. Tentu saja ruangan itu
terlampau luas untuk perabot yang sedikit itu.
Begitu melangkah ambang pintu, Thian Hwa melihat
seorang laki-laki sekitar enam puluh tahun lebih, duduk bersila
dan atas dipan, menghadap ke arah pintu. Wajahnya bersih
dari jenggot dan kumis, bahkan rambutnya dipotong pendek.
Jubahnya berwarna kuning seperti yang biasa dipakai para
pendeta Buddha. Kalau saja kepala itu gundul, maka laki-laki
itu jelas seorang hwesio (pendeta Buddha)! Thian Hwa
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
memandang heran. Inikah Sribaginda Kaisar? Seorang
pendeta seorang hwesio?
Pangeran Ciu Wan Kong sudah menjatuhkan diri berlutut
begitu melangkah masuk dan tentu saja Thian Hwa segera
ikut pula berlutut.
“Ban-swe, ban-ban-swe...!”
“Semoga Sribaginda Kaisar panjang umur!” kata Pangeran
Ciu dan ucapan ini pun diikuti oleh Thian Hwa. Secara harfiah
penghormatan umum bagi kaisar itu berarti “panjang umur
selaksa tahun” dan Thian Hwa yang meniru ayahnya
meneriakkan salam penghormatan itu diam-diam merasa geli.
Laksaan tahun? Bagaimana kalau harapan itu dikabulkan?
Bagaimana rupa kaisar itu nanti kalau usianya mencapai
laksaan tahun? Baru enam puluh tahun lebih saja sudah
tampak tua! Maka, ia tidak dapat menahan geli hatinya dan
sambil menggigit bibir ia menahan tawanya dan tampak
tersenyum aneh.
Terdengar suara Kaisar Shun Chi yang lembut, suara yang
penuh kesabaran seperti suara seorang hwesio. “Adinda
Pangeran Ciu Wan Kong, adikku yang baik! Menurut
keterangan Boan Thaikam, engkau berkunjung bersama
puterimu. Ah, ini merupakan pertemuan keluarga, bukan
persidangan resmi, maka jangan memakai banyak peraturan
yang kaku. Tidak enak antara keluarga berbincang-bincang
dengan kaku begini. Ciu Wan Kong, dan engkau keponakanku,
kalian bangkit dan duduklah di atas kursi.”
Pangeran Ciu Wan Kong yang merupakan adik misan Kaisar
Shun Chi yang di waktu mudanya akrab dengan kakaknya,
mengenal betul watak kaisar itu yang lembut dan bahkan
ramah. Dia segera bangkit berdiri, diikuti oleh Thian Hwa.
“Banyak terima kasih, Kakanda Kaisar,” katanya dengan
akrab. Mereka lalu duduk di atas kursi menghadap ke arah
Kaisar Shun Chi.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
“Ciu Wan Kong, sudah bertahun-tahun kami mendengar
bahwa engkau berada dalam kedukaan dan bahkan seperti
mengasingkan diri. Sudah lama sekali kami tidak bertemu
denganmu, akan tetapi hari ini kami melihat engkau berwajah
ceria. Sukurlah kalau engkau sudah dapat mengatasi
kedukaanmu. Dan kami mempunyai keponakan sudah begini
besar, mengapa selama ini tidak pernah diajak menghadap ke
sini?”
“Maafkan saya, Kakanda Kaisar. Sesungguhnya saya sendiri
baru saja menemukan kembali puteri saya yang hilang sejak ia
masih bayi.”
“Omitohud! Menarik sekali itu, kenapa kami tidak pernah
mendengarnya? Ceritakanlah apa yang terjadi dengan engkau
dan anakmu ini, Dinda,” kata Kaisar dan kembali Thian Hwa
merasa heran. Mendengar ucapan Kaisar, ia merasa seolah
berhadapan dengan seorang hwesio!
Pangeran Ciu Wan Kong lalu menceritakan kepada Kaisar
Shun Chi tentang Cui Eng yang diusir orang tuanya sejak
melahirkan seorang anak perempuan. Kemudian menceritakan
tentang pertemuannya kembali dengan Thian Hwa yang
setelah menjadi seorang gadis pendekar yang lihai lalu
mencari ayah ibunya.
“Hemm, kami masih ingat bahwa ibumu, adik ayahku,
adalah seorang yang berwatak keras. Akan tetapi sungguh tak
kusangka ia akan tega terhadap cucunya sendiri. Beginilah
kalau manusia membiarkan dirinya terikat kepada derajat dan
kehormatan. Ikatan menjadi sumber kesengsaraan,” kata
Sribaginda Kaisar. “Akan tetapi sekarang engkau dapat
berkumpul kembali dengan puterimu, kami ikut merasa
gembira dan bahagia!”
“Terima kasih, Kakanda Kaisar. Akan tetapi saya
menghadap Kakanda ini, selain untuk memperkenalkan puteri
saya, juga untuk melaporkan keadaan yang teramat gawat,
yang didapatkan oleh Thian Hwa.”
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Kaisar Shun Chi tersenyum. “Hal gawat apakah itu?”
“Thian Hwa, ceritakanlah kepada Sribaginda Kaisar,” kata
Pangeran Ciu kepada puterinya.
Thian Hwa lalu menceritakan pengalamannya ketika ia
bertemu dengan Pangeran Leng Kok Cun, tentang apa yang ia
ketahui tentang pangeran yang hendak merampas tahta
kerajaan dengan mengumpulkan banyak tokoh sesat dunia
kang-ouw dan mengadakan persekutuan dengan para pejabat
yang sehaluan.
“Mohon beribu ampun, Yang Mulia. Sebetulnya hamba tidak
berani menyusahkan perasaan Paduka dengan cerita ini, akan
tetapi menaati perintah Ayah, hamba menceritakan juga.”
Thian Hwa menutup ceritanya ketika melihat betapa wajah
yang penuh kesabaran itu diselimuti kedukaan setelah
mendengar ceritanya.
Kaisar Shun Chi menghela napas panjang. “Baik sekali
engkau menceritakan hal itu, Thian Hwa. Sesungguhnya, hal
seperti itu sudah lama kukhawatirkan, Dinda Ciu Wan Kong.
Perebutan kekuasaan, seolah kekuasaan harta benda itu dapat
mendatangkan kebahagiaan! Padahal semua itu bahkan
mendatangkan ikatan dengan dunia yang lebih kuat lagi. Jelas
bahwa Pangeran Leng Kok Cun menuruti hawa nafsu angkara
murka. Memang dia yang paling tua di antara puteraputeraku,
akan tetapi dia lahir dari selir sehingga tidak berhak
menggantikan aku. Orang pertama yang berhak adalah
puteraku bungsu Pangeran Mahkota Kang Shi. Ah, kedudukan
dan harta hanya mendatangkan pertengkaran dan perebutan.
Keadaan inilah yang membuat aku ingin melepaskan
semuanya itu. Bebas dari pengaruh dunia yang hanya
mendatangkan kesenangan palsu yang berakhir dengan
kesengsaraan. Bebas dari segala persoalan yang hanya
menimbulkan kebencian dan permusuhan.” Kaisar itu
menghela napas lagi dan duduk diam seperti orang melamun.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
“Maafkan saya, Kakanda Kaisar. Menurut cerita Thian Hwa
tadi, bahaya dan keributan itu baru merupakan ancaman saja
dan sebaiknya ancaman itu disingkirkan agar jangan terjadi
malapetaka. Ampunkan saya karena saya usulkan ini hanya
demi menjaga kejayaan Kerajaan Ceng.”
Kembali Kaisar Shun Chi menghela napas panjang. “Adikku
Ciu Wan Kong, bagaimanapun juga, Pangeran Leng Kok Cun
adalah puteraku sendiri. Aku akan menasihatinya agar dia
insaf dan menyadari kekeliruannya sehingga tidak melanjutkan
niatnya yang tidak baik itu.”
Tiba-tiba terdengar gerakan orang di pintu. Thian Hwa
yang memiliki kepekaan terhadap ancaman bahaya, cepat
menengok dan ia melihat lima orang prajurit pengawal masuk
ke ruangan itu. Tiba-tiba mereka berlima mengayun tangan
dan terdengar suara bersiutan ketika lima sinar meluncur ke
arah Kaisar!
Dengan gerakan cepat sekali Thian Hwa menyambar kursi
yang tadi didudukinya, melompat ke depan Kaisar dan
menangkis lima batang piauw (senjata gelap) yang
menyambar itu sehingga terdengar suara berdentingan ketika
lima batang piauw itu terlempar ke atas lantai.
Sementara itu, Pangeran Ciu Wan Kong cepat melompat
dan memegang tangan Kaisar Shun Chi, menariknya ke
belakang almari besar untuk berlindung.
Melihat serangan mereka digagalkan gadis cantik yang
berada di situ, lima orang prajurit pengawal itu berlompatan
sambil mencabut pedang mereka. Thian Hwa tidak membawa
senjata karena hal itu dilarang oleh ayahnya. Menghadap
Kaisar memang dilarang keras membawa senjata. Melihat lima
orang itu bergerak demikian gesit, Thian Hwa dapat menduga
bahwa mereka itu pasti bukan prajurit pengawal biasa.
Mungkin orang-orang kang-ouw yang pandai ilmu silat yang
menyamar sebagai prajurit pengawal. Ia tahu bahwa
keselamatan Kaisar terancam, maka ia cepat mengambil
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
jarum-jarum kecil yang disembunyikan di saku bajunya. Kursi
yang tadi dipakai menangkis lima batang piauw itu ia
lontarkan ke arah lima orang pengawal yang menyerbu
masuk.
Tepat seperti dugaannya, lima orang itu dengan mudah
menghindarkan diri dari sambaran kursi, bahkan seorang dari
mereka menggunakan pedangnya membacok kursi sehingga
patah-patah. Akan tetapi, serangan dengan lemparan kursi itu
dilakukan Thian Hwa hanya untuk mengalihkan perhatian
mereka. Segera sinar-sinar putih menyusul kursi itu dan itulah
jarum-jarum Pek-hwa-ciam (Jarum Bunga Putih) yang
menyambar dengan kecepatan kilat ke arah lima orang itu.
Terdengar teriakan mengaduh dan dua orang dari mereka
terpelanting roboh terkena jarum yang menyambar dengan
amat cepatnya itu. Tiga orang yang lain masih sempat
menghindarkan diri dari sambaran jarum-jarum lembut itu.
Thian Hwa melompat ke depan, disambut serangan tiga orang
itu. Memang jelas bahwa mereka itu bukan prajurit biasa
karena serangan pedang mereka cukup lihai dan ganas.
Karena Thian Hwa harus melindungi Kaisar, maka ia
mengambil tempat melindungi Kaisar yang berada di
belakangnya agar dia dapat mencegah tiga orang itu
melakukan serangan kepada Kaisar Shun Chi dan Pangeran
Ciu Wan Kong yang berlindung di balik almari. Thian Hwa
bergerak dengan ilmu silat tangan kosong Kauw-jiu Kwan Im
(Dewi Kwan Im Berlengan Sembilan). Gerakannya ringan dan
gesit seperti seekor burung, berkelebatan di antara tiga
gulungan sinar pedang pengeroyoknya.
Tiga orang itu memang memiliki ilmu pedang yang cukup
lihai, terutama sekali yang seorang, yang bertubuh tinggi
kurus. Dialah yang paling lihai dan agaknya orang ini mencari
kesempatan untuk menerobos lewat Thian Hwa agar dapat
membunuh Kaisar!
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Pangeran Ciu Wan Kong beberapa kali membujuk Kaisar
untuk memberi tanda memanggil para pengawal. Akan tetapi
Kaisar Shun Chi yang bersikap tenang sekali itu
menggelengkan kepalanya dan berkata dengan suara tegas.
“Tidak, Dinda. Aku ingin sekali mengetahui sampai di mana
kelihaian puterimu. Kita lihat saja. Aku yakin ia akan dapat
mengalahkan mereka.”
Tentu saja hati Pangeran Ciu Wan Kong gelisah sekali
melihat puterinya kini dikeroyok tiga orang yang bersenjata
pedang, sedangkan puterinya bertangan kosong! Akan tetapi
dia tidak berani membantah ucapan Kaisar dan hanya
menonton dengan jantung berdebar.
Dugaan Kaisar memang benar. Tingkat kepandaian Thian
Hwa jauh lebih tinggi daripada tingkat tiga orang
pengeroyoknya, atau lebih tepat yang dua orang, karena yang
seorang itu memang benar lebih tangguh daripada yang lain.
Setelah bertanding belasan jurus, dengan tendangan kakinya,
Thian Hwa berhasil merobohkan dua orang pengeroyok. Akan
tetapi ia sempat terkejut melihat lawannya yang tinggal
seorang itu, tiba-tiba saja menyerang ke arah kawankawannya
sendiri! Empat kali pedangnya menyambar ke arah
empat orang yang sudah roboh terluka itu dan mereka pun
tewas seketika.
“Jahanam!” Thian Hwa membentak marah dan ia cepat
menyerang dengan pengerahan tenaga sakti. Orang tinggi
kurus itu mencoba untuk memapaki serangan ini dengan
bacokan pedangnya.
“Trakkk...!” Pedang itu terpental dan terlepas dari
pegangan tangannya ketika terpukul oleh tangan Thian Hwa
yang terisi penuh tenaga sakti yang amat kuat. Kaki Thian
Hwa menyusul dengan tendangan dan tubuh orang itu
terlempar, menabrak dinding ruangan itu dan jatuh terkulai.
Thian Hwa melompat untuk menangkapnya karena ia perlu
mengorek keterangan dari satu-satunya lawan yang masih
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
hidup itu agar diketahui siapa yang mendalangi penyerangan
itu. Akan tetapi, orang itu memasukkan sesuatu ke dalam
mulutnya dan tubuhnya menggelepar lalu tewas!
“Keparat! Dia telah menelan racun!” Thian Hwa berseru
marah.
Setelah lima orang penyerang itu tewas semua, barulah
Kaisar Shun Chi membunyikan kelenengan sebagai tanda
memanggil para pengawal. Belasan orang prajurit pengawal
berlari masuk, dipimpin oleh Boan Thaikam sendiri yang
datang dengan pedang di tangan! Boan Thaikam ini adalah
seorang yang memiliki ilmu silat tinggi. Dia terbelalak
memandang mayat lima orang prajurit pengawal itu dan cepat
dia memandang kepada Kaisar Shun Chi yang masih
bergandeng tangan dengan Pangeran Ciu Wan Kong dan kini
sudah keluar dari balik almari besar.
“Ya Tuhan...!” Thaikam itu berseru sambil memandangi
mayat-mayat itu dan menyembah kepada Kaisar dengan
membalikkan pedang di bawah lengannya. “Sribaginda,
apakah yang telah terjadi? Siapa lima orang yang berpakaian
seperti pengawal ini dan mengapa mereka mati di s ini...?”
Dengan sikap tenang saja Kaisar berkata. “Mereka
berusaha untuk membunuhku, namun keponakanku yang
gagah perkasa ini telah menggagalkan niat jahat mereka.
Boan Thaikam, cepat perintahkan anak buahmu untuk
menyingkirkan mayat-mayat itu dari sini dan membersihkan
lantai ruangan ini!”
“Baik, Sribaginda.” Thaikam itu lalu sibuk mengatur orangorangnya
untuk menyingkirkan lima mayat itu, membawanya
keluar.
Kaisar Sun Chi lalu berkata kepada Pangeran Ciu Wan Kong
dan Thian Hwa. “Mari kita melanjutkan pembicaraan kita di
ruangan lain.” Setelah berkata demikian, dia menekan tombol
yang tersembunyi di balik almari dan... terbukalah sebuah
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
pintu di dekat almari itu! Thian Hwa dan ayahnya lalu
mengikuti Kaisar masuk ke ruangan lain melalui pintu rahasia
itu. Setelah mereka masuk, pintu itu segera tertutup kembali
dan dinding itu tampak utuh.
Ruangan itu lain dari ruangan tadi. Tidak seluas tadi dan
perabotnya seperti di ruangan lain, indah dan mewah. Jelas
bukan merupakan kamar tidur karena tidak ada
pembaringannya. Hanya ada meja kursi dan perabot hiasan.
Setelah mereka duduk, Pangeran Ciu Wan Kong tidak dapat
menahan keinginannya.
“Maaf, Kakanda Kaisar, saya sungguh merasa heran dan
ingin tahu sekali. Tadi ketika Kakanda terancam lima orang
pembunuh itu dan kita berada di balik almari, mengapa
Kakanda tidak menggunakan pintu rahasia itu untuk
menyelamatkan diri?”
Kaisar Shun Chi tersenyum lebar. “Dan tidak menyaksikan
keponakanku yang gagah perkasa ini bagaimana gagahnya ia
menggagalkan usaha mereka? Omitohud! Aku tidak begitu
bodoh, Dinda Pangeran. Aku ingin melihat buktinya lebih dulu
bahwa Thian Hwa adalah seorang pendekar wanita yang
pantas kuserahi tugas melindungi Pangeran Mahkota, dan
pantas kuberi sebuah Tek-pai.”
Pangeran Ciu terbelalak memandang Kaisar. “Melindungi
Pangeran Mahkota? Dan diberi Tek-pai (Bambu Tanda Kuasa
Kaisar)? Akan tetapi bukankah Pangeran Mahkota sudah
dilindungi oleh Kakanda Pangeran Bouw Hun Ki dan
keluarganya? Dan puteri saya ini... ia... ia... masih amat muda,
sudah pantaskah ia menerima sebuah Tek-pai? Saya mohon
Kakanda mempertimbangkan kembali.”
Tentu saja Pangeran Ciu Wan Kong merasa amat khawatir
mendengar ucapan Kaisar itu. Melindungi Pangeran Mahkota
merupakan sebuah tugas besar yang teramat penting dan
melihat betapa para pangeran agaknya merasa iri dan ingin
mendapatkan tahta kerajaan menggantikan Sang Kaisar, maka
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
pekerjaan melindungi Pangeran Kang Shi itu penuh bahaya.
Dan diberi Tek-pai, yaitu sepotong bambu yang ada cap dan
tanda tangan Kaisar dengan tulisan bahwa pemegangnya
diberi kekuasaan oleh Kaisar, juga berarti memberi tanggung
jawab yang amat berat di atas pundak puterinya, seorang
gadis muda! Biasanya yang diberi Tek-pai adalah mereka yang
sudah benar-benar dipercaya oleh Kaisar, seorang pejabat
tinggi yang setia dan sudah banyak jasanya!
Kembali Kaisar Shun Chi tersenyum. “Adinda Ciu, aku selalu
berhati-hati dalam mengambil keputusan. Telah
kupertimbangkan dengan baik ketika aku mengangkat Thian
Hwa menjadi pelindung Pangeran Mahkota Kang Shi. Thian
Hwa, engkau akan membantu Pangeran Bouw Hun Ki yang
sudah kuserahi tugas mendidik dan menjaga Pangeran
Mahkota. Engkau bertugas menjaga keselamatannya dan
menentang mereka yang berniat jahat terhadap Pangeran
Kang Shi. Untuk itu, engkau akan kuberi Tek-pai agar ke mana
pun engkau minta bantuan, semua pejabat pemerintah pasti
akan menerimamu dan membantumu. Nah, Thian Hwa,
keponakanku yang gagah, sanggupkah engkau menerima
tugas ini?”
Thian Hwa lalu bangkit dari kursinya dan menjatuhkan diri
berlutut menghadap Kaisar.
“Hamba menaati semua perintah Paduka Sribaginda!”
Kaisar Shun Chi tertawa senang. “Ha-ha-ha, engkau pantas
menjadi puteri Dinda Ciu Wan Kong yang merupakan adikku
yang paling bijaksana dan setia!” Kaisar tertawa lagi. Akan
tetapi dia lalu bersikap serius, senyumnya lenyap dan dia
berkata lirih.
“Dengar baik-baik kalian berdua yang kupercaya.
Sesungguhnya aku sudah menduga akan semua yang kalian
ceritakan itu. Aku pun sudah tahu akan niat puteraku
Pangeran Leng Kok Cun yang tidak sehat itu. Akan tetapi
bagaimanapun juga, dia adalah puteraku. Aku akan seperti
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
mencoreng arang di mukaku sendiri kalau bertindak terhadap
puteraku sendiri. Oleh karena itu, aku sudah mengambil
keputusan yang sudah sejak lama kurencanakan.” Kaisar Shun
Chi lalu dengan suara berbisik memberitahu kepada Pangeran
Ciu Wan Kong dan Thian Hwa tentang rencananya.
Keputusan yang diambil Kaisar Shun Chi memang luar biasa
dan hebat. Kaisar yang telah lama menekuni Agama Buddha
itu sehingga dia tidak acuh terhadap urusan kerajaan, ingin
meniru apa yang dilakukan Pangeran Sidharta Gautama yang
meninggalkan istana dengan semua kesenangan dan
kemewahannya untuk mencari jalan kebenaran sehingga
akhirnya menjadi Buddha. Kaisar Shun Chi juga ingin
meninggalkan istana secara diam-diam agar jangan
menggegerkan rakyat, menjadi pendeta Buddha dan
menghabiskan hidupnya untuk melepaskan diri dari semua
ikatan. Agar tidak sampai menimbulkan kekacauan, mereka
yang dekat dengannya dan dipercaya akan mengabarkan
bahwa Kaisar Shun Chi telah wafat!
“Akan tetapi, Kakanda...!” Pangeran Ciu Wan Kong berseru
kaget dan heran.
Kaisar Shun Chi mengangkat tangan kanannya ke atas.
“Cukup, Dinda Ciu, keputusan ini tidak dapat diubah oleh
siapapun juga, sudah menjadi keputusanku. Aku akan
meninggalkan surat wasiat bahwa penggantiku haruslah
Pangeran Kang Shi. Dinda Ciu Wan Kong, terutama engkau
Thian Hwa, sangat kuharapkan untuk membantu Pangeran
Bouw Hun Ki dan para menteri dan panglima yang setia agar
penobatan Pangeran Kang Shi sebagai kaisar penggantiku
berjalan dengan lancar dan tidak ada hambatan atau
halangan. Ini merupakan perintahku yang terakhir! Maukah
engkau berjanji, Ciu Thian Hwa?”
Thian Hwa juga terkejut dan heran mendengar rencana
Kaisar yang diucapkan dengan suara tenang namun tegas itu.
Ia pun menjawab tanpa ragu.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
“Hamba siap melaksanakan semua perintah Paduka,
Sribaginda!”
“Bagus, sekarang hatiku menjadi tenang. Biarpun aku
sudah menyerahkan semua harapan dan kepercayaan kepada
Pangeran Bouw Hun Ki yang didukung oleh isterinya yang
bijaksana dan tinggi ilmunya, namun mereka masih
memerlukan bantuan seorang seperti engkau, Thian Hwa.
Surat wasiat itu telah kutulis, akan tetapi masih kubawa.
Sekarang, tugas pertamamu adalah membawa surat wasiat ini
kepada Pangeran Bouw Hun Ki dan menyerahkan surat wasiat
ini kepadanya.”
“Maaf, Kakanda Pangeran, apakah Kakanda Pangeran Bouw
Hun Ki sudah mengetahui akan rencana Kakanda membuat
surat wasiat ini?”
“Sudah, mereka sudah mengetahui semua rencanaku.
Berikan saja surat wasiat ini kepadanya dan dia akan
mengerti.” Kaisar lalu mengambil surat wasiat itu dari balik
jubahnya dan menyerahkannya kepada Thian Hwa.
Gadis itu menerimanya dan menyimpannya baik-baik di
balik bajunya sehingga tidak tampak dari luar.
“Nah, sekarang kalian boleh pergi dari s ini.”
“Akan tetapi, Kakanda. Ke manakah saya harus mencari
kalau saya ingin berjumpa dengan Kakanda?” tanya Pangeran
Ciu Wan Kong dengan hati pilu.
“Dinda Ciu Wan Kong! Kalau nanti ada berita tentang Kaisar
Shun Chi wafat, berarti aku sudah tidak berada di s ini. Jangan
tanya lagi ke mana aku pergi dan jangan mengharap akan
bertemu dengan aku lagi. Anggap saja aku benar-benar sudah
mati.”
“Kakanda....”
“Cukup, jangan lemah dan cengeng, Dinda Ciu Wan Kong.
Lihat puterimu begitu tegar dan gagah! Laksanakan saja
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
pesanku dengan baik dan aku yakin Kerajaan Ceng akan tetap
jaya! Pergilah, kalau terlalu lama kalian berada di sini akan
menimbulkan kecurigaan.”
Setelah menerima Tek-pai dan surat wasiat dari Kaisar
Shun Chi, Thian Hwa dan ayahnya lalu meninggalkan istana
dengan hati berat. Terutama sekali Pangeran Ciu Wan Kong.
Pertemuannya dengan Kaisar tadi mungkin merupakan
pertemuan terakhir!
Akan tetapi dengan adanya Thian Hwa di sampingnya,
Pangeran Ciu Wan Kong dapat terhibur. Penghidupannya
berubah sepenuhnya setelah puterinya itu tinggal
bersamanya. Dia lalu cepat menyuruh orang menjemput Lo
Sam yang tinggal di dusun Kia-jung untuk datang, dan tinggal
di gedungnya, bukan lagi sebagai seorang pelayan seperti
dahulu, melainkan sebagai ayah mertua yang dihormati!
***
Kita tinggalkan dulu Thian Hwa yang kini tinggal bersama
ayahnya di kota raja dan mengemban tugas yang penting dan
berat dari Kaisar, dan kita ikuti pengalaman Ui Yan Bun yang
telah hampir dua tahun kita tinggalkan.
Seperti telah diceritakan di bagian depan, Yan Bun
membantu Thian Hwa yang dikeroyok oleh Kam-keng Chitsian
(Tujuh Dewa dari Kam-keng), para pengawal Pangeran
Cu Kiong. Thian Hwa yang tadinya terdesak hebat, dengan
bantuan Yan Bun berbalik dapat merobohkan empat orang
pengeroyok hingga tewas. Tiga yang lain melarikan diri. Ketika
Yan Bun hendak mengejar dan membunuh Pangeran Cu
Kiong, Thian Hwa melarangnya. Kemudian gadis itu
meninggalkan Yan Bun yang ketika itu hendak mencari kakek
angkat atau gurunya, yaitu Thian Bong Sianjin.
Sebagai seorang yang berperasaan peka, ketika Thian Hwa
mencegah dia membunuh Pangeran Cu Kiong yang tampan
gagah itu, Yan Bun sudah dapat menduga akan isi hati Thian
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Hwa. Gadis itu agaknya jatuh cinta kepada Sang Pangeran!
Tentu saja hal ini menusuk hatinya. Dia yang sejak dahulu
amat mencinta Thian Hwa kini mendapat kenyataan betapa
gadis itu tidak membalas cintanya, bahkan mencinta laki-laki
lain, yaitu Pangeran Cu Kiong!
Dengan hati kecewa dan sedih karena dia harus berpisah
dari gadis yang dicintanya, Yan Bun lalu meninggalkan kota
raja dan menuju ke Lam-hu di selatan. Dia hendak
mengunjungi Ui Tiong, pamannya yang juga menjadi gurunya
yang pertama, yang tinggal di sana. Pek-hunya (Paman
Tuanya) itu membuka sebuah toko obat di Lam-hu karena
selain ahli silat yang cukup pandai, Ui Tiong juga pandai
tentang ilmu pengobatan.
Kota Lam-hu merupakan kota yang cukup ramai. Letaknya
di dekat sebuah telaga yang besar. Kota itu dinamakan Lamhu
yang sebetulnya nama dari telaga itu, yakni Lam-hu
(Telaga Selatan). Kota Lam-hu berseberangan dengan
sederetan bukit-bukit yang rimbun dengan hutan.
Ketika matahari sudah mulai panas dan orang-orang mulai
bekerja, menggarap sawah ladang, mencari ikan di telaga, ada
pula yang mengumpulkan hasil hutan di pegunungan itu,
masuklah Ui Yan Bun ke kota Lam-hu. Dia mengenal benar
kota ini karena selama tidak kurang dari tujuh tahun, dia
dahulu tinggal di rumah pamannya, membantu pekerjaan Ui
Tiong yang berdagang obat dan belajar silat dari pamannya
itu. Ui Tiong dan isterinya amat sayang kepada Yan Bun
karena mereka sendiri tidak mempunyai anak.
Ketika memasuki kota Lam-hu, Yan Bun merasa gembira.
Seolah tidak ada perubahan sama sekali setelah dia
meninggalkannya selama beberapa tahun ini. Dia
membayangkan betapa akan senangnya paman dan bibinya
menyambut kedatangannya. Ketika lewat di jalan yang berada
di dekat telaga, dia berhenti sebentar dan memandang ke
permukaan telaga dengan wajah berseri. Teringatlah dia
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
betapa dulu dia sering main-main naik perahu atau berenang
dengan kawan-kawan di telaga itu. Indah sekali pemandangan
di telaga. Dari tempat dia berdiri, dia melihat pegunungan
yang hijau itu membayang di permukaan air di seberang.
Perahu-perahu nelayan hilir mudik perlahan dan tampak para
nelayan menyebar jala, dan banyak pula yang memegang
tangkai kail untuk memancing ikan di bagian yang airnya
tenang.
Yan Bun yang berpakaian serba biru, berwajah tampan dan
bertubuh tegap, melanjutkan langkahnya dengan hati merasa
gembira. Dia telah dapat melupakan kekecewaan dan
kesedihannya memikirkan Thian Hwa, yang seolah tidak
mempedulikannya. Kini dia ingin segera bertemu Ui Tiong dan
isterinya.
Akan tetapi ketika dia tiba di rumah Ui Tiong, dia segera
melihat keanehan itu. Matahari telah naik tinggi, akan tetapi
toko obat itu belum dibuka! Ini aneh sekali, karena biasanya,
paman dan bibinya itu amat rajin dan selama dia berada di
situ dulu, tidak sehari pun toko itu ditutup. Maka dia segera
mengetuk daun pintu rumah yang berada disamping toko.
Ketika pelayan membuka daun pintu, dia disambut tangis
memilukan oleh isteri Ui Tiong!
“Bibi, apa yang terjadi?” Yan Bun bertanya.
“Pamanmu... Pamanmu....” Nyonya itu menangis semakin
sedih.
“Pek-hu (Paman Tua) kenapa? Di mana dia?”
Wanita itu tak dapat bicara dan menangis sesenggukan.
Yan Bun menghiburnya dan setelah tangisnya mereda, barulah
wanita itu dapat menceritakan apa yang telah terjadi dan
menimpa Ui Tiong, suaminya.
Nyonya Ui Tiong lalu menceritakan apa yang menimpa
suaminya. Terjadinya baru tadi malam. Ketika itu, toko obat
sudah ditutup dan Ui Tiong bersama isterinya sedang makan
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
malam ketika tiba-tiba saja pintu rumah mereka terbuka dan
muncul seorang gadis cantik.
“Hei, siapa engkau dan apa keperluanmu, Nona?” Ui Tiong
yang sudah selesai makan menegur dengan alis berkerut
karena perbuatan gadis itu memang tidak sewajarnya dan
kurang ajar memasuki rumah orang begitu saja dan tahu-tahu
berada di dalam. Akan tetapi dia masih bersabar karena
mengira bahwa gadis itu tentu sedang resah karena ada
keluarganya yang sedang sakit parah dan kini datang hendak
minta tolong atau mencari obat. Yang membuat Ui Tiong dan
isterinya merasa heran adalah karena melihat bahwa gadis itu
seorang yang sama sekali tidak mereka kenal. Padahal, suami
isteri ini sudah tinggal di kota Lam-hu selama belasan tahun
dan dapat dikatakan bahwa mereka mengenal semua
penduduk kota itu.
Gadis itu berusia sekitar sembilan belas tahun, tubuhnya
tinggi semampai, pinggangnya ramping dan wajahnya cantik
manis dengan setitik tahi lalat hitam di dagu sebelah kiri.
Pakaiannya mewah seperti pakaian seorang puteri bangsawan.
Dengan sinar matanya yang tajam ia menatap Ui Tiong dan
isterinya, lalu bertanya dengan sikap angkuh, ditujukan
kepada Ui Tiong.
JILID VI
“APAKAH engkau yang bernama Ui Tiong, pemilik rumah
obat ini?”
“Benar, Nona,” jawab Ui Tiong singkat. “Silakan duduk,
Nona.”
“Tidak perlu duduk. Apakah engkau juga memiliki
kepandaian mengobati orang sakit?”
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
“Sedikit-sedikit aku mengerti tentang pengobatan.”
“Bagus, kalau begitu marilah ikut denganku untuk
mengobati orang sakit,” ajak gadis itu dengan suara
mendesak.
“Nona, sebaiknya si sakit itu engkau bawa ke s ini, aku akan
memeriksanya dan kalau aku mampu, akan kuobati dia.”
“Tidak bisa! Engkau harus ikut denganku dan
memeriksanya di rumah kami!”
Ui Tiong mengerutkan alisnya. Gadis ini bersikap demikian
angkuh dan hendak memaksanya! Akan tetapi sebagai
seorang yang berpengalaman, dia mampu menahan
kesabarannya.
“Nona, maafkan saja. Kalau malam ini aku tidak dapat ikut.
Besok pagi saja aku akan datang ke rumahmu. Di manakah
rumahmu, Nona?”
“Tidak, harus sekarang! Rumahku di seberang telaga,
kuberitahu juga engkau tidak akan menemukannya. Marilah Ui
Sinshe (Tabib Ui), engkau ikut denganku sekarang. Aku sudah
menyediakan seekor kuda untukmu!”
Ui Tiong menggelengkan kepalanya. “Tidak bisa, Nona.
Kalau dibawa ke sini malam ini juga akan kuperiksa dia, kalau
aku yang harus pergi ke sana, besok pagi baru dapat
kulakukan.”
“Engkau harus pergi bersamaku sekarang juga!” gadis itu
berkata dengan suara tegas sehingga Ui Tiong mengerutkan
alisnya. Dia adalah seorang murid Thai-san-pai yang cukup
lihai, bahkan ilmu silatnya lebih mendalam dibandingkan ilmu
pengobatannya. Kini ada seorang gadis muda seolah hendak
memaksa pergi, tentu saja dia merasa penasaran sekali dan
yakin bahwa gadis ini tentu bukan penduduk Lam-hu maka
tidak mengenal dia sebagai seorang ahli s ilat.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
“Hemm, siapa yang berhak mengharuskan aku pergi
bersamamu, Nona?” tanyanya dengan senyum seorang tua
menghadapi seorang anak yang nakal.
Gadis itu pun mengerutkan alisnya dan pandang matanya
mencorong. “Aku yang mengharuskan! Tabib Ui Tiong, engkau
harus pergi bersamaku, kalau perlu kuseret engkau!”
“Heh, bocah kurang ajar! Jaga sikap dan bicaramu!” Ui
Tiong membentak marah.
Kini Nyonya Ui mencampuri. “Nona yang baik, harap jangan
memaksa. Sebaiknya cepat bawa si sakit ke sini, siapa tahu
suamiku dapat menyembuhkannya.” Nyonya itu melangkah
maju untuk mencegah terjadinya keributan antara suaminya
dan gadis itu.
“Pergi kau, jangan mencampuri!” Tiba-tiba gadis itu
membentak dan sekali tangan kirinya bergerak, ia telah
mendorong Nyonya Ui sehingga terjengkang jatuh!
“Gadis jahat!” Ui Tiong berseru marah dan dia pun cepat
menggerakkan tangan untuk mendorong pundak gadis itu.
Akan tetapi gadis itu menggerakkan tangan menangkis.
“Dukk!” Tubuh Ui Tiong terdorong ke belakang. Tentu saja
murid Thai-san-pai ini terkejut dan semakin penasaran, akan
tetapi dia juga menyadari bahwa gadis itu bukan orang
sembarangan. Ketika dorongannya ditangkis tadi, terbukti
bahwa gadis itu memiliki tenaga sakti yang amat kuat! Melihat
kelihaian dan sikapnya yang demikian angkuh, Ui Tiong dapat
menduga bahwa gadis itu tentu seorang gadis kang-ouw
(sungai telaga atau dunia persilatan) golongan sesat. Di dunia
persilatan memang terdapat orang-orang dari berbagai
golongan. Yang pertama tentu saja golongan pendekar yang
mempergunakan kepandaian silatnya selain untuk menjaga,
membela dan melindungi diri sendiri dan orang lain dari
gangguan orang jahat, juga untuk menentang kejahatan dan
membela kebenaran dan keadilan. Golongan ke dua adalah
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
yang disebut golongan hitam atau golongan sesat, yaitu
mereka yang mempergunakan kepandaian silatnya untuk
menjadi jagoan dan memaksakan keinginan mereka sendiri
kepada orang lain, suka mengganggu, menindas, dan
melakukan kejahatan-kejahatan seperti perampok, bajak, atau
tukang-tukang pukul bayaran. Adapun golongan ke tiga adalah
mereka yang menggunakan kepandaian silatnya untuk
memperoleh pekerjaan sebagai prajurit atau penjaga
keamanan seperti piauwsu (pengawal kiriman barang) atau
pengawal-pengawal para bangsawan atau hartawan. Masih
ada satu golongan lain, yaitu mereka yang menjadi pendeta
atau pertapa, yang jarang mencampuri urusan dunia namun
memiliki ilmu kepandaian silat yang tinggi sehingga mereka ini
banyak dicari orang muda untuk dijadikan guru mereka.
Menduga bahwa gadis itu hendak memaksakan
kehendaknya secara kasar, Ui Tiong menjadi marah sekali dan
dia membentak,
“Gadis liar, pergilah!” Ui Tiong menyerang dengan jurus
Lim-houw-to-yo (Harimau Rimba Menyambar Kambing).
Sebagai murid Thai-san-pai, tentu saja Ui Tiong bukan
seorang yang lemah. Ilmu silatnya cukup lihai, juga dia
memiliki tenaga murni yang kuat karena hidupnya bersih dan
dia seorang ahli pengobatan. Serangannya itu biarpun tidak
dilakukan dengan niat melukai atau membunuh, cukup kuat.
“Wuuutt... takk!” Kembali tubuh Ui Tiong tergetar dan
terdorong ke samping ketika gadis itu menggunakan jurus Sinho-
liang-ci (Bangau Sakti Pentang Sayap), gerakannya amat
ringan, cepat dan mengandung tenaga sakti yang kuat ketika
ia memutar tubuh dengan merentangkan kedua lengannya
menangkis serangan Ui Tiong. Kemudian dengan cepat pula ia
balas menyerang. Maklum bahwa gadis itu lihai dan juga liar
dan ganas, Ui Tiong mengerahkan seluruh tenaga untuk
melawan. Terjadilah perkelahian di depan toko obat itu dan Ui
Tiong terkejut bukan main ketika mendapat kenyataan betapa
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
gadis itu sungguh amat lihai. Biarpun dia sudah mengeluarkan
semua kepandaiannya, tetap saja dia terdesak terus. Ui Tiong
masih mampu bertahan sampai lima puluh jurus. Itu juga
karena gadis itu agaknya tidak ingin melukai atau
membunuhnya. Andaikata demikian halnya, kiranya dia tidak
akan mampu bertahan sampai sekian lamanya.
“Haaiiitt, robohlah!” tiba-tiba gadis itu yang sudah
mendesak sejak tadi, berhasil menyarangkan totokan jari
tangannya ke pundak Ui Tiong dan laki-laki ini terpelanting
roboh dan lemas tidak mampu bergerak lagi!
Gadis itu menoleh ke belakang dan ternyata ia tadi
diiringkan oleh empat orang pengikut, semua laki-laki yang
berusia sekitar empat puluh tahun dan bertubuh tegap. Ia
memberi isyarat dan empat orang itu datang menuntun lima
ekor kuda. Tanpa banyak cakap lagi mereka mengangkat
tubuh Ui Tiong di atas punggung seekor kuda dan seorang
duduk di belakangnya. Kemudian mereka semua, juga gadis
itu, meloncat ke atas punggung kuda masing-masing dan
mereka membalapkan kuda pergi meninggalkan kota Lam-hu.
Nyonya Ui hanya dapat menangis. Ia adalah isteri seorang
laki-laki gagah, maka biarpun ia merasa khawatir akan
keselamatan suaminya, ia tidak berteriak minta tolong melihat
suaminya dibawa pergi. Pertama, karena ia tahu benar bahwa
para tetangganya tidak ada yang akan mampu menolong
suaminya, dan ia pun khawatir bahwa kalau ia menjerit, gadis
liar itu mungkin malah akan menjadi marah dan mencelakai
suaminya. Selain itu ia pun tahu bahwa gadis itu hanya ingin
minta pertolongan suaminya untuk mengobati orang sakit,
walaupun caranya minta tolong dengan paksaan dan
kekerasan.
Ia hanya dapat mengingat betul keadaan gadis itu, agar
kelak ia dapat mengenalnya. Ketika Ui Yan Bun, keponakan
suaminya datang, Nyonya Ui Tiong menceritakan semua
peristiwa itu.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Yan Bun mengerutkan alisnya, merasa penasaran sekali
bagaimana seorang gadis muda dapat bersikap demikian
kasar, memaksa pamannya untuk pergi memeriksa orang
sakit.
“Bibi, apakah gadis itu tidak memberitahu siapa namanya
dan ke mana ia membawa Pek-hu Ui Tiong?”
“Ia tidak memperkenalkan namanya hanya mengatakan
bahwa rumahnya berada di seberang telaga. Yan Bun,
tolonglah Paman tuamu, susullah, carilah dia. Aku khawatir
akan keselamatannya karena gadis itu demikian liar, ganas
dan berkepandaian tinggi.” Nyonya itu berkata sambil
menyusut air matanya.
“Tentu aku akan mencarinya, Bibi. Akan tetapi, ke mana
aku harus mencari? Di seberang telaga, sebelah mana? Telaga
itu demikian luas dan di sana terdapat daerah perbukitan.
Tanpa ada petunjuk yang jelas, tentu akan sulit menemukan
tempat kemana Pek-hu mereka bawa.”
Yan Bun malam itu tinggal di rumah Ui Tiong. Maksudnya,
besok pagi baru dia akan mencoba untuk mencari pamannya
yang diculik gadis liar itu.
Akan tetapi pada keesokan harinya, baru saja dia selesai
mandi lalu sarapan yang disediakan bibinya, tiba-tiba pintu
toko yang tertutup itu diketuk keras dari luar. Nyonya Ui
terkejut dan tampak takut, maka Yan Bun lalu bangkit dan
membuka pintu depan. Yang mengetuk pintu itu adalah
seorang laki-laki tinggi besar yang berpakaian ringkas dan di
punggungnya terdapat sebuah golok besar.
Melihat wajah yang membayangkan kekerasan dengan
sepasang mata lebar melotot itu, Yan Bun mengerutkan
alisnya. Akan tetapi dia menahan kesabarannya dan bertanya
dengan lembut.
“Saudara siapakah dan ada keperluan apakah engkau
mengetuk pintu kami?”
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Laki-laki itu memandang ke arah Nyonya Ui yang muncul di
belakang Yan Bun. “Aku datang untuk membeli obat!” Dia
menyodorkan sehelai kertas bertuliskan resep obat, bukan
kepada Yan Bun, melainkan kepada Nyonya Ui. Yan Bun
hendak menegur sikap kasar itu, akan tetapi Nyonya Ui segera
menerima resep obat itu dan Yan Bun hanya melihat betapa
bibinya mulai melayani permintaan itu, mengumpulkan
rempah-rempah yang tertulis di resep dengan jari-jari tangan
gemetar. Setelah lengkap, ia membungkusnya dan
menyerahkannya kepada laki-laki itu. Laki-laki itu menerima
bungkusan obat lalu mengambil sepotong uang perak dari
kantungnya, menyerahkannya kepada Nyonya Ui. Wanita itu
menolak dan berkata dengan suara agak gemetar.
“Tidak perlu bayar, obat ini saya beri cuma-cuma,
bawalah,” katanya.
“Harus diterima!” bentak laki-laki itu. “Aku diharuskan
menyerahkan uang ini dan harus engkau terima!”
“Ini terlalu banyak....” Nyonya Ui membantah, akan tetapi
laki-laki itu sudah melempar potongan perak ke atas meja lalu
melangkah keluar, melompat ke atas punggung kudanya dan
melarikan kuda dari situ.
“Dia seorang dari mereka....” bisik Nyonya Ui kepada Yan
Bun.
Mendengar ini, Yan Bun segera mengejar keluar.
“Jangan khawatir, Bibi. Aku akan mencari dan membawa
pulang Pek-hu!”
Dengan menggunakan gin-kangnya yang tinggi, Yan Bun
lalu mengejar penunggang kuda itu dan membayangi dari
jauh. Dia yakin bahwa orang itulah yang akan menjadi
penunjuk jalan ke tempat di mana pamannya dilarikan para
penculik itu. Biarpun pembeli obat tadi kini membalapkan
kudanya menuju ke Telaga Lam-hu, kemudian setibanya di
tepi telaga dia mengambil jalan menyusuri tepi telaga dan
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
agaknya hendak mengitarinya, Yan Bun dapat terus
membayanginya dengan menggunakan ilmu berlari cepat
Hong-yang-liap-in (Tiupan Angin Mengejar Awan).
***
Kita tinggalkan dulu Ui Yan Bun yang membayangi pembeli
obat itu dan mari kita melihat keadaan Ui Tiong yang dalam
keadaan tertotok dilarikan oleh gadis liar bersama para
pembantunya.
Gadis liar itu bernama Wan Kim Hui, berusia sembilan belas
tahun. Ia berwajah manis dengan tahi lalat kecil di dagunya.
Pakaiannya mewah seperti yang biasa dipakai para puteri
bangsawan. Ia merupakan puteri dari seorang tokoh besar
kang-ouw daerah selatan yang bernama Wan Cun dan di
dunia kang-ouw dikenal sebagai Lam-ong (Raja Selatan). Di
Propinsi Se-cuan di selatan, namanya amat terkenal. Juga ibu
dari Wan Kim Hui, Nyonya Wan, adalah seorang tokoh kangouw
yang terkenal lihai. Maka tidaklah mengherankan kalau
Wan Kim Hui yang digembleng oleh ayah ibunya menjadi
seorang yang amat lihai pula. Mungkin karena terlalu dimanja
oleh ayahnya, Wan Kim Hui menjadi seorang gadis yang
berwatak liar, galak, nakal dan agak tinggi hati, selalu
menuntut agar keinginannya dipenuhi. Akan tetapi
sesungguhnya ia mewarisi juga watak ayahnya yang gagah
dan patriotik, juga watak ibunya yang adil dan menentang
kejahatan.
Seperti tercatat dalam sejarah, ketika bangsa Mancu mulai
membangun kekuatan besar di utara, di luar Tembok Besar
yang menjadi pertahanan, Kerajaan Beng mulai lemah dengan
adanya pemberontakan-pemberontakan. Bahkan akhirnya
Kerajaan Beng tamat riwayatnya, kaisarnya yang terakhir
menggantung diri ketika Peking diserbu dan diduduki oleh
pemberontak Li Cu Seng. Mendengar ini, Jenderal Wu Sam
Kwi yang menjadi panglima pasukan yang menjaga tapal
batas kerajaan di sebelah utara Peking, mengadakan
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
persekutuan dengan Pangeran Dorgan yang menjadi raja atau
wakil raja bangsa Mancu yang sudah mendirikan Kerajaan
Ceng dan menguasai seluruh Mancuria, dan persekutuan ini
menyerbu Peking. Li Cu Seng melarikan diri ke barat, dikejarkejar
Wu Sam Kwi dan akhirnya Li Cu Seng tewas dibunuh
sendiri oleh para petani yang menjadi pengikutnya.
Setelah Kerajaan Beng, kerajaan terakhir yang dikuasai
pemerintah pribumi jatuh dan Kerajaan Ceng yang dikuasai
bangsa Mancu mulai menjajah Cina, Jenderal Wu Sam Kwi
tentu saja menentang bangsa Mancu yang tadinya menjadi
sekutunya. Akan tetapi dia kalah dan terpaksa melarikan diri
ke daerah Se-cuan, di mana dia mempertahankan diri matimatian
dari serangan Pemerintah Ceng (Mancu). Di Se-cuan,
Wu Sam Kwi menjadi Raja Muda dan masih banyak orangorang
pandai mendukungnya sehingga tidak mudah bagi
Pemerintah Mancu untuk menaklukkannya.
Kisah ini terjadi sekitar tahun 1660 dan ketika itu, yang
menjadi Kaisar Kerajaan Ceng (Mancu) adalah Kaisar Shun Chi
(1644-1661) dan putera mahkotanya adalah Pangeran Kang
Chi yang baru berusia sepuluh tahun. Sementara itu Jenderal
Wu Sam Kwi yang kini menjadi Raja Muda di Se-cuan, masih
belum dapat ditundukkan.
Kita kembali kepada keluarga Wan. Wan Cun bersama isteri
dan puterinya Wan Kim Hui, juga sejak dulu tinggal di Secuan.
Akan tetapi dia sama sekali tidak mau mencampuri
urusan politik, tidak mau ikut dalam perebutan kekuasaan.
Maka dia pun tidak mau ketika Jenderal Wu Sam Kwi
menawarkan kedudukan kepadanya. Wan Cun yang berjuluk
Lam-ong itu lebih suka bebas. Hal ini membuat dia tidak
disuka oleh para datuk kang-ouw lainnya yang mendukung
Wu Sam Kwi. Bahkan seorang datuk yang terkenal bernama
Lam Hai Cin-jin, yang dulunya menjadi sahabat baiknya, kini
menjauhinya. Lam-hai Cin-jin, Datuk Selatan itu pun menjabat
pangkat tinggi dalam pemerintahan Jenderal Wu Sam Kwi. Dia
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
diangkat menjadi Koksu (Guru Negara) yang bekerja sebagai
penasehat Raja Muda Wu Sam Kwi.
Wan Kim Hui yang cantik manis dan pandai ilmu silat
membuat banyak pemuda tergila-gila. Akan tetapi sebagian
besar dari mereka yang tidak pandai ilmu silat dan bukan
merupakan putera hartawan atau bangsawan, hanya berani
memandang dan mengaguminya dari jauh. Hanya beberapa
orang pemuda putera bangsawan yang berkedudukan tinggi
saja yang berani mendekati Kim Hui. Akan tetapi selama ini
gadis itu menghadapi mereka dengan sikap acuh tak acuh.
Belum ada seorang pun di antara mereka yang menarik
perhatian gadis ini.
Seorang dari mereka yang paling berani mendekati Wan
Kim Hui adalah Wu Kongcu, seorang di antara putera-putera
Raja Muda Wu Sam Kwi. Wu Kongcu (Tuan Muda Wu) ini
bernama Wu Kan, seorang pemuda yang tampan akan tetapi
terkenal sebagai seorang kongcu hidung belang dan tukang
pelesir. Usianya dua puluh lima tahun dan biarpun dia belum
menikah, namun selirnya sudah ada belasan orang!
Wu Kan tergila-gila kepada Wan Kim Hui. Dia ingin sekali
mendapatkan Kim Hui sebagai isterinya. Selain Kim Hui cantik
manis, juga gadis itu lihai, pandai ilmu silat, sehingga kalau
menjadi isterinya berarti dia memiliki pelindung yang boleh
diandalkan. Wu Kan sendiri memiliki kepandaian silat, namun
dibandingkan Wan Kim Hui, dia tertinggal jauh.
Ketika Wu Kan memberitahukan ayahnya bahwa dia ingin
berjodoh dengan Wan Kim Hui, Raja Muda Wu Sam Kwi
merasa setuju karena kalau gadis itu menjadi mantunya,
dapat diharapkan ayah gadis itu, Wan Cun yang sakti, bisa
membantunya. Pinangan lalu diajukan, akan tetapi sungguh
membuat Raja Muda Wu Sam Kwi dan puteranya penasaran
karena lamaran itu dengan halus ditolak oleh keluarga Wan!
Penolakan ini tentu saja berdasarkan penolakan Wan Kim Hui,
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
dan orang tuanya tidak mau memaksa puteri tunggal mereka
menikah dengan laki-laki yang tidak disukainya.
Wu Kan marah sekali mendengar pinangannya ditolak.
Semua gadis di seluruh Se-cuan, siapa yang akan menolak
pinangannya? Semua tentu akan senang menjadi isterinya,
menjadi mantu Raja Muda Wu Sam Kwi! Akan tetapi ternyata
pinangannya terhadap Wan Kim Hui ditolak mentah-mentah!
Dalam keadaan mabok, dikawal belasan orang jagoannya,
Wu Kan lalu mendatangi rumah keluarga Wan. Pada saat itu
kebetulan suami isteri Wan Cun tidak berada di rumah dan
yang ada hanyalah Wan Kim Hui.
Gadis itu cepat keluar ketika melihat Wu Kan datang
dikawal dua belas orang. Karena orang tuanya tidak berada di
rumah, ia tidak ingin pemuda itu memasuki rumahnya, maka
ia langsung keluar dan menyambut pemuda itu di pekarangan
rumahnya.
“Wu Kongcu, mau apa engkau datang berkunjung? Ayah
Ibuku sedang tidak berada di rumah,” kata Kim Hui, suaranya
mengandung perasaan tidak senang mengingat bahwa
beberapa hari yang lalu pemuda itu “berani” mengirim orang
untuk meminangnya.
Wu Kan yang sedang mabok dan memang merasa marah
dan penasaran atas penolakan pinangannya, segera
menudingkan telunjuknya ke arah muka gadis itu.
“Wan Kim Hui, gadis yang sombong dan bodoh! Engkau
berani menolak pinanganku! Kalau engkau tidak mau menjadi
isteriku, lalu ingin menjadi isteri laki-laki macam apa? Apakah
engkau ingin menjadi isteri seorang laki-laki kang-ouw yang
tidak punya kedudukan tidak punya harta, seorang
gelandangan dan pengemis?”
Muka yang manis itu berubah merah. Dengan suara galak
ia berseru, “Wu Kan, tidak ada yang mengundang kamu
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
datang ke sini! Pergilah dan jangan lanjutkan mengeluarkan
kata-kata busuk atau terpaksa aku akan menghajarmu!”
Wu Kan menjadi semakin marah. Sejak kecil belum pernah
ada orang yang bicara seperti itu kepadanya. Kalau dia tidak
sedang mabok, kiranya dia masih berpikir-pikir dulu untuk
bersikap kasar terhadap Wan Kim Hui. Akan tetapi dalam
keadaan mabok dan sakit hati karena lamarannya ditolak, Wu
Kan lupa diri dan membentak marah.
“Gadis brengsek! Engkau ini siapa sih? Apa yang kau
andalkan berani mengancam aku, putera Pangeran Muda Wu
Sam Kwi, pahlawan bangsa yang gagah berani dan dihormati
seluruh bangsa? Engkau perempuan rendah berani hendak
menghajar aku....”
Belum habis dia bicara, tubuh Wan Kim Hui berkelebat
cepat sekali dan tangannya menyambar seperti kilat.
“Plak! Plak!” Kedua pipi pemuda itu telah ditamparnya.
Demikian kuat tamparannya sehingga tubuh Wu Kan
terpelanting dan dia roboh pingsan dengan kedua pipi
bengkak dan kedua ujung bibir berdarah karena giginya
banyak yang copot!
Dua belas orang pengawal itu terkejut. Mereka pun tadi
minum-minum sehingga setengah mabok dan keadaan ini
membuat mereka lebih berani. Melihat majikan mereka
dipukul roboh, mereka mencabut golok dan menyerang Wan
Kim Hui. Akan tetapi bagaikan seekor burung rajawali marah,
tubuh gadis itu berkelebatan menyambar-nyambar, membagi
pukulan dan tendangan. Dalam waktu singkat saja, dua belas
orang itu telah terpelanting roboh. Mereka menjadi ketakutan,
bangkit dan tertatih-tatih mereka menolong Wu Kongcu dan
membawanya pergi dari s itu!
Ketika Wan Cun dan isterinya pulang dan mendengar
keterangan Kim Hui tentang apa yang terjadi, Wan Cun
mengerutkan alisnya dan menegur puterinya.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
“Ah, Kim Hui, engkau telah membuat gara-gara. Biarpun
kita tidak takut, akan tetapi perkara ini tentu akan berekor
panjang dan akhirnya akan mencelakakan kita semua. Tidak
mungkin kita melawan Jenderal Wu Sam Kwi yang mempunyai
pasukan besar. Mari, kita menghadap Jenderal Wu Sam Kwi.
Kalau kita laporkan apa yang terjadi sesungguhnya, tentu dia
mempunyai cukup keadilan untuk melihat bahwa puteranya
yang mencari gara-gara dan menghabiskan urusan itu sampai
di s ini saja.”
Wan Cun mengajak puterinya untuk pergi menghadap Raja
Muda Wu Sam Kwi. Kim Hui yang menyadari bahwa ia telah
bertindak agak terlalu keras kepada Wu Kan yang sedang
mabok, bersedia ikut ayahnya dan minta maaf kepada Raja
Muda Wu Sam Kwi. Mereka berdua berangkat, meninggalkan
Nyonya Wan Cun di rumah.
Akan tetapi ketika mereka tiba di istana, para pengawal
istana memberi-tahu mereka bahwa Raja Muda sedang
mengadakan persidangan dengan para panglimanya sehingga
tentu saja tidak dapat menerima kunjungan mereka yang
hendak menghadap. Wan Cun dan Wan Kim Hui terpaksa
menunda niat mereka menghadap lalu pulang ke rumah
mereka.
Alangkah terkejut hati mereka ketika mereka melihat
banyak prajurit mengepung rumah mereka dan di depan
rumah tampak Nyonya Wan Cun sedang berkelahi melawan
seorang kakek pendek gendut yang lihai sekali. Pada saat Wan
Cun dan Wan Kim Hui berlari cepat seperti terbang ke rumah
mereka, mereka melihat lawan Nyonya Wan Cun berjongkok
dan menyerang dengan pukulan jarak jauh dan dia
mengeluarkan suara kok-kok-kok seperti seekor katak buduk.
Nyonya Wan Cun terjengkang roboh!
“Lam-hai Cin-jin, apa yang kaulakukan itu?!” Wan Cun
membentak dan sekali melompat dia sudah melompati kepala
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
para prajurit dan langsung dia menyerang kakek pendek
gendut itu dengan dahsyat.
Kakek pendek itu menyambut serangan dengan
tangkisannya.
“Wuuuttt... dukkk...!” Tubuh kedua orang laki-laki itu
terdorong ke belakang sampai lima langkah!
Wan Kim Hui juga melompat, tetapi ayahnya cepat berseru,
“Kim Hui, cepat selamatkan dan bawa pergi ibumu!”
Kim Hui cepat tanggap apa yang dimaksudkan ayahnya. Ia
mengenal siapa adanya kakek pendek gendut itu yang bukan
lain adalah Lam-hai Cin-jin, datuk yang terkenal di selatan dan
yang kini menjadi Koksu kerajaan kecil Raja Muda Wu Sam
Kwi. Ia tahu betapa lihainya orang itu dan dibantu demikian
banyaknya prajurit, sungguh bukan merupakan lawan sepadan
bagi ia dan ayahnya. Ia pun dapat menduga bahwa
penyerangan itu tentu akibat pukulannya terhadap Wu Kan,
putera Raja Muda Wu Sam Kwi. Yang penting sekarang
memang menyelamatkan ibunya yang terluka oleh pukulan
Lam-hai Cin-jin yang lihai. Cepat ia lari dan memondong
ibunya yang pingsan, lalu membawa ibunya lari dari situ.
Dengan mudah Kim Hui merobohkan para prajurit yang
mencoba menghadangnya dengan pedangnya. Tangan kiri
memanggul tubuh ibunya di atas pundak dan tangan kanan ia
pergunakan untuk mengamuk dengan pedangnya. Para
prajurit yang berani menghadangnya roboh mandi darah dan
sebentar saja sudah ada belasan orang prajurit roboh. Hal ini
membuat prajurit lain ketakutan dan Kim Hui cepat melompat
dan berlari cepat keluar dari kota.
Lam-hai Cin-jin tidak dapat mencegah gadis itu melarikan
ibunya karena dia sendiri sibuk menghadapi Wan Cun yang
menyerang dengan ganas. Sebetulnya dia diperintah oleh Wu
Kongcu untuk menangkap dan menyeret Wan Kim Hui
kepadanya. Akan tetapi ketika dia datang bersama tiga losin
prajuritnya, Kim Hui dan ayahnya tidak berada di rumah.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Karena dia hendak memaksa menggeledah ke dalam rumah,
Nyonya Wan Cun melarangnya dan mereka berdua pun
berkelahi. Namun, ilmu kepandaian Nyonya Wan masih belum
cukup tangguh untuk melawan Lam-hai Cin-jin. Biarpun ia
melawan mati-matian, akhirnya ia terkena pukulan Hek-tokciang
dari lawannya sehingga roboh dan pingsan.
Lam-ong Wan Cun masih mengamuk, dikeroyok oleh Lamhai
Cin-jin dan para prajurit. Raja Selatan ini menggunakan
sebuah pedang yang besar panjang dengan ujung pedang
bercabang dua. Dengan pedang ini dia mampu dengan mudah
merampas senjata lawan. Kalau senjata lawan dapat
tertangkap di tengah ujung yang bercabang itu lalu
pedangnya diputar dengan tenaga sentakan, maka senjata
lawan tentu akan patah atau terlepas dari pegangan lawan.
Beberapa orang prajurit sudah kehilangan golok atau roboh
oleh sabetan pedang di tangan Wan Cun. Akan tetapi karena
dia harus menghadapi serangan Lam-hai Cin-jin yang
menggunakan sebuah ruyung baja berduri diselingi pukulan
Hek-tok-ciang, maka tentu saja Wan Cun mulai terdesak
hebat. Untuk melarikan diri, sukar juga baginya karena dia
telah dikepung banyak prajurit dan Lam-hai Cin-jin merupakan
seorang lawan tangguh yang tingkat kepandaiannya seimbang
dengan tingkatnya sendiri.
Tiba-tiba tampak bayangan berkelebat dan terdengar
seruan lantang. “Ayah, mari kita basmi anjing-anjing busuk
ini!” Dan Wan Kim Hui telah berada di s itu, mengamuk dengan
pedangnya. Begitu ia bergerak, empat orang prajurit
terjengkang mandi darah dan gadis itu lalu membantu
ayahnya menghadapi Lam-hai Cin-jin yang dibantu banyak
prajurit. Munculnya gadis yang lihai itu membuat Lam-hai Cinjin
menjadi jerih. Dia tahu bahwa gadis itu memiliki ilmu silat
yang hampir menyamai tingkat ayahnya!
Akan tetapi melihat puterinya datang membantu, Wan Cun
menjadi khawatir akan keselamatan isterinya. “Kim Hui, mari
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
kita pergi!” katanya sambil menggerakkan pedangnya
menyerang Lam-hai Cin-jin yang segera melompat ke
belakang. Kesempatan ini dipergunakan ayah dan anak itu
untuk melompat keluar dari kepungan dan mereka lalu
melarikan diri keluar kota.
Setelah tiba di luar kota, Wan Cun bertanya. “Di mana
ibumu?”
“Ibu selamat walaupun terluka, Ayah. Kutitipkan di rumah
seorang petani di sana.”
Mereka lalu berlari menuju ke dusun kecil itu. Wan Cun
menemukan isterinya rebah dalam rumah sederhana seorang
petani dalam keadaan masih pingsan. Dia cepat memeriksa
keadaannya. Ternyata isterinya terkena pukulan Hek-tok-ciang
dari Lam-hai Cin-jin. Pada lambungnya terdapat tanda tapak
jari hitam. Dia cepat membantu isterinya dengan penyaluran
tenaga sin-kang untuk mencegah menjalarnya hawa beracun
pukulan itu. Isterinya siuman namun keadaannya lemah.
“Ayah, mari kita kembali dan bunuh jahanam Lam-hai Cinjin
itu!” Kim Hui berkata sambil mengepal tinju.
Ayahnya menggelengkan kepalanya. “Tidak mudah
membunuhnya. Dia dilindungi Raja Muda Wu Sam Kwi dan
kita akan berhadapan dengan pasukan yang besar jumlahnya.
Lagi pula, sekarang yang terpenting bukan membalas
dendam, melainkan mencarikan obat untuk menyembuhkan
ibumu.”
Demikianlah, untuk menjaga agar pasukan Raja Muda Wu
Sam Kwi tidak dapat menemukan mereka, Wan Cun dan Wan
Kim Hui membawa lari Nyonya Wan keluar dari daerah Secuan
dan akhirnya mereka tiba di sebuah bukit tak jauh dari
Telaga Lam-hu. Bukit itu dikenal sebagai Bukit Siluman dan
tidak ada penduduk yang tinggal di sekitar Lam-hu berani
mendaki bukit itu karena dikabarkan bahwa bukit itu menjadi
tempat tinggal para setan dan siluman! Mendengar ini, Wan
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Cun menganggap bahwa bukit itu tempat yang baik untuk
menyembunyikan diri.
Akan tetapi ketika mereka bertiga mendaki bukit itu,
mereka dihadang oleh sekitar dua puluh orang. Mereka adalah
gerombolan penjahat di bukit itu yang dipimpin oleh seorang
laki-laki tinggi besar bermuka penuh brewok yang mengaku
berjuluk Tiat-thouw-ciang (Kepalan Besi). Terjadilah
perkelahian dan dengan mudah saja Wan Cun dan Kim Hui
membunuh Tiat-thouw-ciang dan lima orang anak buah yang
menjadi pembantunya. Lima belas orang anak buah lain
melihat pemimpin mereka tewas, segera berlutut minta ampun
dan takluk.
Karena dia membutuhkan anak buah untuk membangun
rumah tinggal di situ, maka Wan Cun menerima lima belas
orang ini menjadi anak buahnya dan menggunakan rumah
bekas tempat tinggal Tiat-thouw-ciang sebagai tempat
tinggalnya.
Akan tetapi luka dalam yang diderita Nyonya Wan semakin
parah. Usaha pengobatan Wan Cun tidak mampu
menyembuhkannya, hanya dapat mencegah luka itu menjalar
semakin parah. Melalui anak buahnya, Wan Cun mendengar
bahwa di kota Lam-hu terdapat sebuah ahli pengobatan yang
membuka toko obat bernama Ui Tiong. Maka, dia lalu
mengutus puterinya untuk mengundang Ui Tiong ke Bukit
Siluman untuk memeriksa dan mengobati isterinya.
Demikianlah, seperti diceritakan di bagian depan, Wan Kim
Hui mengajak lima orang anak buahnya, menunggang kuda
pergi ke kota Lam-hu. Karena Ui Tiong tidak mau diundang
dan minta agar yang sakit dibawa ke tokonya, Wan Kim Hui
yang menjadi semakin galak karena mengkhawatirkan
keadaan ibunya, lalu memaksanya, menotoknya dan
menculiknya, dibawa ke Bukit Siluman!
Setelah tiba di rumah perkampungan kecil di puncak bukit,
Ui Tiong dibebaskan dari totokan. Dia memeriksa si sakit dan
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
terkejut. Ternyata luka dalam yang diderita Nyonya Wan
sungguh hebat.
“Hemm, lukanya sungguh berat. Aku hanya dapat memberi
obat pencegah rasa nyeri dan pembersih darah agar darahnya
jangan sampai dikotori hawa beracun itu.” Dia lalu menulis
resep obat dan seorang anak buah Bukit Siluman segera
diutus untuk membeli obat di rumah Ui Tiong.
Ketika utusan itu membeli obat lalu pergi naik kuda,
kesempatan itu dipergunakan Ui Yan Bun yang datang
berkunjung ke rumah pamannya untuk membayanginya.
Pemuda itu merasa penasaran dan marah sekali mendengar
cerita bibinya betapa seorang gadis liar menculik pamannya
dan memaksanya untuk mengobati orang sakit.
Penunggang kuda itu sama sekali tidak tahu bahwa dia
dibayangi Yan Bun. Setelah tiba di perkampungan itu, dia
langsung menyerahkan bungkusan obat itu kepada Ui Tiong
yang segera memasaknya dan meminumkannya kepada
Nyonya Wan. Obat itu agaknya manjur karena setelah minum
obat itu, rasa nyeri tidak lagi begitu menyiksa Nyonya Wan
Cun.
Pada saat itu tiba-tiba terdengar suara ribut-ribut di luar
rumah. Mendengar ini, Wan Kim Hui cepat berlari keluar dan
ia melihat lima orang anak buahnya sedang mengeroyok
seorang pemuda.
Sambil menghindarkan diri dari serangan lima orang itu
dengan gerakan mengelak yang ringan dan cepat, pemuda itu
berseru, “Aku tidak ingin mencari permusuhan! Aku hanya
ingin melihat apakah Paman Ui Tiong dalam keadaan selamat
dan ingin mengajak dia pulang!”
Setelah berkata demikian, dengan gerakan yang cepat dia
balas menyerang. Kedua tangan dan kakinya bergerak dan
berturut-turut lima orang itu berteriak dan golok yang mereka
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
pegang terlepas karena pergelangan tangan mereka kena
pukul atau tendang.
“Kalian mundur semua!” bentak Kim Hui.
Mendengar bentakan gadis itu, lima orang anak buah cepat
mundur dan para anak buah lain yang berdatangan juga tidak
berani mendekat. Kini Wan Kim Hui berhadapan dengan Ui
Yan Bun. Mereka saling pandang, dan sepasang alis pemuda
itu berkerut. Yan Bun teringat akan cerita bibinya tentang
seorang gadis cantik yang menculik pamannya dan
mendorong roboh bibinya. Gadis liar dan kasar!
“Nona, engkaukah yang telah menculik pamanku Ui Tiong?”
tanyanya dengan suara ketus. Diam-diam kemarahannya
bercampur dengan rasa heran. Gadis itu cantik manis dan
pakaiannya mewah, sama sekali tidak tampak liar. Mengapa
gadis seperti ini dapat memaksa dan menculik pamannya?
Wan Kim Hui juga tertegun ketika berhadapan dengan Yan
Bun. Ia melihat seorang pemuda yang berpakaian serba biru,
usianya sekitar dua puluh dua tahun bertubuh tegap,
wajahnya tampan gagah dan sinar mata dan sikapnya lembut.
Akan tetapi pertanyaan yang agak ketus itu membuat ia
mendongkol juga. Ia tersenyum manis sekali walaupun
senyum itu dibarengi pandang mata yang mengejek.
“Kalau benar, engkau mau apa? Siapa sih engkau ini?”
“Aku bernama Ui Yan Bun dan yang kauculik adalah
pamanku Ui Tiong! Siapakah engkau ini seorang wanita muda
berani melakukan kekerasan memaksa pamanku ikut
denganmu?”
“Aku bernama Wan Kim Hui dan aku memaksa pamanmu
karena dia tidak mau pergi dengan suka rela.”
“Aku datang untuk menjemput pamanku. Di mana dia?
Bebaskan dia atau....”
“Atau apa?” Kim Hui tertawa.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
“Atau terpaksa aku akan menggunakan kekerasan!”
Senyum Kim Hui melebar. “Engkau? Hendak menggunakan
kekerasan? Hemm, ingin kulihat bagaimana engkau akan
melakukannya.”
“Nona, kuharap engkau suka membebaskan pamanku
untuk kuajak pulang. Aku datang bukan hendak mencari
permusuhan. Akan tetapi kalau engkau menolak, terpaksa aku
mengimbangi perbuatanmu. Engkau memaksa pamanku ikut
denganmu dan kini terpaksa aku pun hendak memaksa
mengajaknya pulang!”
“Tidak perlu banyak cakap! Perlihatkan kepandaianmu
kalau memang engkau mempunyainya!”
Tentu saja Yan Bun tidak mau menyerang seorang gadis.
Dia lalu menggunakan gin-kangnya untuk berkelebat cepat
menuju ke pintu rumah itu, dengan niat untuk masuk ke
dalam mencari pamannya.
Akan tetapi tiba-tiba tubuh gadis itu pun sudah berkelebat
dan sebelum Yan Bun tiba di depan pintu, gadis itu telah
menghadangnya dan begitu dekat, tangan Kim Hui menyerang
dengan tamparan ke pundak pemuda itu.
Yan Bun kagum juga melihat betapa gadis itu mampu
mendahuluinya, dan melihat tamparan yang mendatangkan
angin pukulan kuat itu dia cepat mengelak dan balas
menyerang dengan tamparan pula. Kim Hui menangkis
dengan cepat.
“Dukk!” Keduanya terdorong ke belakang tiga langkah,
menandakan bahwa tenaga mereka seimbang. Hal ini
mengejutkan keduanya karena mereka tidak mengira bahwa
lawan masing-masing sedemikian kuatnya!
Kim Hui merasa penasaran dan ia menyerang lebih ganas.
Yan Bun harus bersikap hati-hati karena kini dia pun dapat
mengerti mengapa pamannya dapat ditawan gadis ini yang
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
ternyata amat lihai. Perkelahian tangan kosong berjalan seru.
Biarpun keduanya membawa pedang di punggung mereka,
akan tetapi keduanya tidak mencabut pedang, hanya saling
serang dengan tangan kosong. Yan Bun memang hanya ingin
menjemput pamannya, sama sekali tidak ingin bermusuhan
dengan gadis itu, maka dia tidak mau menggunakan senjata
tajam. Sebaliknya, Kim Hui yang biasanya ganas dan galak itu,
sekali ini juga tidak menggunakan pedangnya karena ia ingin
menguji sampai di mana hebatnya ilmu silat tangan kosong
pemuda yang diam-diam amat menarik hatinya itu. Baru
pertama kali ini ia merasa tertarik oleh seorang pemuda!
Setelah bertanding sekitar empat puluh jurus, diam-diam
Yan Bun menjadi semakin kaget. Lawannya benar-benar
hebat. Semua serangannya mampu dipatahkan dengan mudah
dan sebaliknya, kadang-kadang serangan gadis itu membuat
dia terdesak dan terpaksa mundur!
Tiba-tiba terdengar bentakan suara yang parau dan dalam.
“Kim Hui, minggir kau!”
Sesosok bayangan menyambar dan Yan Bun terkejut sekali.
Dia cepat menangkis sebuah tangan yang mencengkeram ke
arah pundaknya.
“Dukkk!” Tubuhnya tergetar dan terhuyung ke belakang!
Kini di depannya berdiri seorang laki-laki bertubuh tinggi
besar, mukanya brewok dan mirip muka singa, sepasang
matanya mencorong. Kini laki-laki itu yang bukan lain adalah
Wan Cun sudah menerjang lagi tanpa mengeluarkan katakata.
Yan Bun membela diri sedapat mungkin, namun dia
hanya dapat bertahan sepuluh jurus saja karena tanpa dapat
dia hindarkan, pundaknya terkena totokan yang ampuh dan
dia pun terguling roboh dengan tubuh lemas lunglai.
Wan Cun lalu mencengkeram punggung baju pemuda itu
dan menjinjingnya, membawanya masuk ke dalam rumah,
diikuti oleh Kim Hui yang mengambil pedang dari punggung
Yan Bun.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Setelah tiba di ruangan dalam di mana Ui Tiong sedang
menunggu si sakit sambil duduk di atas kursi, Wan Cun
melepaskan tubuh Yan Bun sehingga pemuda itu terkulai dan
rebah telentang di atas lantai.
“Yan Bun...! Engkau di sini...?” Ui Tiong memandang
dengan mata terbelalak heran dan khawatir.
Melihat Pek-hu (Paman Tua) itu dalam keadaan selamat,
Yan Bun yang tidak mampu menggerakkan kedua kaki
tangannya akan tetapi masih dapat mengeluarkan suara,
berkata lega, “Sukurlah Pek-hu dalam keadaan selamat.”
Tiba-tiba Nyonya Wan terbatuk-batuk, lalu muntah-muntah.
Wan Cun, Ui Tiong dan juga Kim Hui cepat menghampiri si
sakit. Setelah muntah-muntah, nyonya itu tampak lelah dan
napasnya terengah-engah. Ui Tiong cepat memeriksa denyut
nadi dan pernapasan Nyonya Wan, lalu dia menggelenggelengkan
kepalanya dan menghela napas panjang. Melihat
ini, Wan Cun cepat bertanya.
“Bagaimana keadaan isteriku?”
“Ah, terpaksa sekali saya katakan bahwa keadaan nyonya
ini berat sekali. Hawa beracun dalam dadanya sukar untuk
dibersihkan, bahkan kalian dapat lihat, obat yang
diminumkannya tadi banyak yang dimuntahkan kembali. Hawa
beracun itu sungguh ganas dan jahat sekali.”
Tentu saja keterangan ini membuat ayah dan anak itu
menjadi gelisah sekali. “Engkau harus dapat sembuhkan dia!
Harus dapat sembuhkan dia!” bentak Wan Kim Hui dan kedua
mata yang bersinar tajam itu menjadi basah dengan air mata.
Melihat sikap dan mendengar ucapan gadis yang liar dan
galak itu, Ui Tiong mengerutkan alisnya dan sambil
memandang keponakannya yang masih menggeletak
telentang di atas lantai, dia berkata dengan hati kesal.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
“Hemm, kalian ini orang-orang kang-ouw akan tetapi sama
sekali tidak menghargai sopan santun dan peraturan orangorang
dunia kang-ouw. Kalian telah memaksa aku ke sini, dan
kini kalian malah menangkap keponakanku. Apa sih kehendak
kalian ini?”
Wan Cun menghela napas dan berkata, “Kami bukan tidak
tahu aturan, akan tetapi keadaan yang memaksa kami berbuat
begini. Isteriku terluka, keluarga kami terusir dan anakku
karena khawatir akan keselamatan ibunya, telah bersikap
kasar kepadamu. Keponakanmu ini datang dengan maksud
memaksamu pulang, maka terpaksa pula aku tangkap dia agar
jangan membikin kacau. Kami hanya menghendaki agar
isteriku sembuh.”
Ui Tiong menggelengkan lagi kepalanya. “Sulit, Lam-ong,”
katanya. Wan Cun memang sudah memperkenalkan nama dan
julukannya kepadanya sebelum dia mengobati, maka dia
mengetahui bahwa ayah dari gadis yang menculiknya adalah
seorang datuk persilatan dari Selatan. “Terus terang saja, aku
sendiri tidak ada kemampuan untuk menyembuhkan isterimu.
Dan kukira di seluruh daerah ini, tidak ada orang yang akan
mampu menyembuhkannya. Satu-satunya orang yang kukira
akan dapat memberi obat yang dapat menyembuhkannya
hanyalah Bu Beng Kiam-sian (Dewa Pedang Tanpa Nama)
yang berada di Beng-san. Dia saja yang dapat menyembuhkan
segala luka dari pukulan beracun yang amat jahat seperti Hektok-
ciang yang hawa beracunnya berasal dari katak hitam
raksasa ini.”
Mendengar ini, ayah dan anak tampak semakin bingung,
bahkan Kim Hui mulai menangis sambil memeluk ibunya.
Timbul rasa iba di hati Yan Bun melihat ini. Ayah dan anak ini
lihai bukan main, terutama ayah yang berjuluk Lam-ong (Raja
Selatan) itu. Kalau mereka bertindak kasar dan tampak
sewenang-wenang hanya karena mereka berdua gelisah dan
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
bingung. Keinginan satu-satunya bagi mereka hanyalah
menyembuhkan ibu dari gadis itu.
“Aku sanggup menghadap Bu Beng Kiam-sian mencarikan
obat itu,” katanya.
Mendengar ini, Lam-ong cepat menghampiri pemuda yang
masih rebah telentang di atas lantai itu dan sekali ia menekan
punggung Yan Bun, pemuda itu terbebas dari totokan. Dia lalu
bangkit berdiri dan Kim Hui dengan tak sabar cepat bertanya.
“Benarkah engkau dapat mencarikan obat untuk ibuku?”
tanyanya sambil menatap wajah Yan Bun dengan pandang
mata penuh harapan, sepasang mata yang masih basah.
“Orang muda, benarkah kata-katamu bahwa engkau
sanggup mintakan obat untuk isteriku kepada Bu Beng Kiamsian
di Beng-san?” tanya Wan Cun pula.
“Yan Bun, bagaimana engkau menyanggupi semudah itu?
Beng-san merupakan gunung yang tinggi dan sukar didaki,
juga Bu Beng Kiam-sian adalah seorang manusia aneh yang
tidak mudah berhubungan dengan manusia lain,” kata Ui
Tiong.
“Pek-hu, saya sanggup karena saya pernah diajak oleh
Suhu Thian Bong Sianjin berkunjung ke sana. Karena saya
pernah berjumpa dengan Bu Beng Kiam-sian, maka saya
berani menyanggupi pekerjaan itu.”
“Bagus! Orang muda, siapakah namamu?” tanya Wan Cun
dengan suara gembira karena dia mendapatkan harapan baru.
“Nama saya Yan Bun, Locianpwe (sebutan hormat orang
tua).”
“Nah, Ui Yan Bun, kalau memang sanggup untuk
mencarikan obat untuk menyembuhkan isteriku, minta kepada
Bu Beng Kiam-sian di Beng-san, kami sekeluarga akan
berterima kasih sekali kepadamu, dan kami akan mohon maaf
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
atas pemaksaan kami terhadap pamanmu, juga terhadap
dirimu yang telah kutangkap tadi,” kata Wan Cun.
“Tidak mengapa, Locianpwe. Setelah saya mengetahui apa
yang menyebabkan puterimu memaksa Pek-hu untuk ikut ke
sini, maka hal itu hanya merupakan salah paham saja. Akan
tetapi, saya akan berusaha mencarikan obat itu kalau
Locianpwe suka memenuhi permintaan saya.”
“Hei, Ui Yan Bun, engkau mengajukan syarat, ataukah
hendak memeras ayahku?” Wan Kim Hui bertanya penasaran.
“Aku hanya ingin mendapatkan imbalan untuk tugas yang
berat ini, demi kesembuhan ibumu, Nona,” kata Yan Bun.
“Katakanlah, orang muda. Apa yang kauminta dariku kalau
engkau telah berhasil mendapatkan obat dari Bu Beng Kiamsian?”
Wan Cun bertanya, penuh harapan.
“Saya hanya minta agar Locianpwe suka mengajarkan ilmu
silat kepada saya.”
“Boleh! Aku berjanji kalau engkau berhasil mendapatkan
obat dan isteriku sembuh, engkau akan menjadi muridku dan
akan kuberikan semua ilmuku kepadamu!”
Wan Kim Hui lalu menyerahkan pedang Yan Bun yang
tadinya ia rampas, tanpa mengeluarkan ucapan apa pun. Akan
tetapi ketika pandang mata mereka bertemu, Yan Bun melihat
bahwa s inar mata gadis itu kini tidak galak lagi, bahkan kedua
pipi Kim Hui kemerahan!
Untuk membuktikan niat baiknya, Wan Cun memberi
kebebasan kepada Ui Tiong. Tabib ini boleh pulang ke Lamhu,
dengan janji bahwa setiap hari dia akan datang
menjenguk dan memeriksa keadaan Nyonya Wan.
Ui Yan Bun segera berangkat pada hari itu juga, membawa
buntalan pakaian dan pedangnya. Dia melakukan perjalanan
cepat karena ingin segera sampai di Beng-san. Nyonya Wan
Cun harus dapat disembuhkan, bukan hanya karena dia ingin
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
menerima pelajaran ilmu silat tinggi dari Lam-ong Wan Cun,
melainkan terutama sekali agar pamannya bebas dari
ancaman dan agar hati Wan Kim Hui senang melihat ibunya
dapat disembuhkan!
Akan tetapi, ketika dia meninggalkan Bukit Siluman sejauh
belasan kilometer, tiba-tiba ada bayangan berkelebat
melewatinya dan tahu-tahu Wan Kim Hui telah berdiri di
depannya! Gadis itu menggendong sebuah buntalan pakaian
dan pedangnya juga tergantung di punggungnya, tanda
bahwa gadis itu hendak melakukan perjalanan jauh.
“Eh, engkaukah ini, Nona Wan...?” Yan Bun menegur
heran.
“Tidak usah nona-nonaan, Ui Yan Bun! Namaku Kim Hui,
sebut saja namaku!” gadis itu memotong cepat.
Yan Bun tersenyum dan menghela napas panjang. Gadis ini
benar-benar bersikap terbuka, polos dan agak liar.
“Baiklah, Kim Hui. Ke manakah engkau hendak pergi, kalau
aku boleh bertanya? Atau... engkau memang mengejarku dan
kalau begitu, ada kepentingan apakah?” Tiba-tiba dia merasa
betapa jantungnya berdebar tegang karena terpikir olehnya
bahwa jangan-jangan ibu gadis itu meninggal!
“Aku hendak ikut denganmu ke Beng-san!” kata Kim Hui
singkat.
Yan Bun terkejut. “Eh? Kenapa? Aku yang akan mencarikan
obat itu, Kim Hui, dan aku tidak memerlukan bantuan.”
Kim Hui cemberut dan sinar matanya menyambar marah.
“Yan Bun, yang sakit adalah ibuku, ibu kandungku! Aku lebih
berhak mencari obat untuknya daripada engkau! Dan lagi, aku
tidak ingin membantumu, aku ingin cari sendiri kalau engkau
tidak suka melakukan perjalanan bersamaku!”
Melihat betapa gadis itu marah sekali, Yan Bun cepat
berkata, “Sama sekali bukannya aku tidak ingin melakukan
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
perjalanan bersamamu, Kim Hui. Aku malah senang sekali
karena engkau lihai dan dapat diandalkan, akan tetapi....”
“Akan tetapi apa lagi? Kalau engkau tidak keberatan
melakukan perjalanan bersamaku, sudahlah jangan banyak
cakap. Mari kita lanjutkan perjalanan agar dapat cepat
memperoleh obat itu!”
Yan Bun harus mengakui bahwa gadis ini dapat merupakan
bantuan besar sekali baginya karena kelihaian gadis ini bahkan
melampauinya sehingga kalau dia bertemu penghalang di
jalan, gadis ini dapat membantu mengatasinya. Pula, memang
tentu saja gadis ini berhak dan berkewajiban untuk berusaha
mencarikan obat bagi ibunya. Dia khawatir kalau-kalau Kim
Hui akan menjadi semakin marah jika dia membantah lagi,
maka dia lalu berkata.
“Baiklah, mari kita pergi.”
Mereka lalu melanjutkan perjalanan dengan cepat mereka
berlomba lari!
***
Beng-san merupakan pegunungan yang panjang, terdiri
dari banyak bukit-bukit dan puncaknya menjulang tinggi
menembus awan. Di atas puncak sebuah di antara bukit-bukit
itu, yaitu Bukit Kera, tinggal seorang pertapa wanita berjuluk
Im Yang Sian-kouw. Wanita ini berusia sekitar empat puluh
satu tahun, masih tampak cantik dan lembut, berpakaian
jubah pendeta yang longgar berwarna putih. Di puncak itu ia
mempunyai sebuah pondok kayu yang cukup besar dan ia
mempunyai seorang pelayan wanita setengah baya berusia
lima puluh tahun. Selain itu, ia mempunyai pula seorang murid
laki-laki, seorang pemuda berusia dua puluh dua tahun
bernama Si Han Bu yang merupakan murid tunggalnya.
Pada suatu pagi yang cerah, walaupun matahari masih
tampak merah dan bulat besar di ufuk timur, seorang pemuda
sedang berlatih silat di lapangan yang datar di puncak Bukit
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Kera. Dia berlatih silat di antara tanaman bunga-bunga yang
merupakan taman itu belakang pondok, dan di tengah taman
itu memang sengaja dibuat sebuah lapangan untuk berlatih
silat.
Pemuda itu berusia dua puluh dua tahun, bertubuh tinggi
tegap dan wajahnya yang berkulit putih itu tampan. Sepasang
matanya bersinar-sinar terang membayangkan semangat
hidup dan kegembiraan, mulutnya mengandung senyum
nakal. Akan tetapi wajahnya membuat orang yang
memandangnya sukar untuk menjadi marah karena wajah itu
tampak ramah sekali. Pakaiannya sederhana dan baik celana
maupun bajunya terbuat dari kain berwarna putih bersih.
Pada saat itu, pemuda yang bernama Si Han Bu ini sedang
berlatih silat. Tangan kanannya memegang sebatang pedang
dan dengan gerakan indah dia mainkan pedang itu, mula-mula
lambat saja, kemudian semakin cepat sehingga pedangnya
berubah menjadi gulungan sinar putih.
Tiba-tiba dari dalam pondok itu muncul seorang wanita
yang berpakaian serba putih pula. Wanita ini adalah Im-yang
Sian-kouw, biarpun usianya sudah empat puluh satu tahun
lebih, namun ia masih tampak cantik dengan wajahnya yang
lembut, sepasang matanya yang sinarnya lembut namun
terkadang mencorong penuh wibawa, kulitnya yang putih
mulus, rambutnya yang panjang hitam dan mulutnya yang
selalu tersenyum ramah walaupun ada garis-garis kedukaan
membekas di kedua ujung mulutnya. Tubuhnya juga masih
tampak ramping padat. Dengan langkah perlahan Im-yang
Sian-kouw keluar dari pintu belakang menuju ke dalam taman
di mana murid tunggalnya, Si Han Bu, sedang berlatih silat
pedang. Ia duduk di atas bangku tak jauh dari lapangan
berlatih silat itu, menonton dengan penuh perhatian lalu
mengangguk-anggukkan kepalanya.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
“Begitulah seharusnya Im-yang Kiam-sut (Ilmu Pedang Im
Yang) dimainkan, Han Bu. Coba sekarang imbangi dengan Imyang
Po-san (Kipas Im Yang)!”
Tanpa menghentikan gerakan pedangnya, Si Han Bu
mencabut sebuah kipas lebar yang mukanya berwarna putih
akan tetapi belakangnya berwarna hitam, lalu tangan kiri yang
memegang kipas itu membuat gerakan silat melengkapi
gerakan pedangnya sehingga tampak dua buah senjata yang
paling menunjang dan saling melindungi. Indah dan juga
berbahaya sekali bagi lawan permainan kombinasi pedang dan
kipas itu!
Setelah pemuda itu berhenti berlatih dan berdiri di depan
gurunya, Im-yang Sian-kouw berkata lembut namun dengan
nada suara bersungguh-sungguh. “Han Bu, kalau ilmu
pedangmu sudah baik sekali, permainan kipasmu masih terlalu
lemah. Kipasmu itu hanya mengambil bagian pertahanan saja,
padahal kalau engkau selingi dengan serangan tiba-tiba, akan
membuat lawan terkejut dan bingung. Engkau mainkan
kipasmu seperti sedang menari saja, hanya menekankan segi
keindahannya daripada kegunaannya dalam pertandingan.”
Pemuda itu tersenyum lebar. “Maaf, Subo (Ibu Guru), teecu
(murid) tadi memang lebih banyak menggunakan kipas untuk
mengipasi tubuh teecu yang panas berkeringat. Maklum sudah
sejak pagi sekali tadi teecu berlatih sehingga teecu merasa
gerah sekali. Maaf, Subo.” Dia kini menggunakan ujung lengan
bajunya untuk mengusap keringat yang membasahi muka dan
lehernya. Melihat lagak muridnya yang lucu itu, Im-yang Siankouw
tersenyum. Ia sangat menyayang muridnya itu dan
menganggapnya seperti puteranya sendiri.
Sesungguhnya, yang menemukan Si Han Bu adalah
gurunya, yaitu Bu Beng Kiam-sian yang kini telah meninggal
dunia sekitar setahun yang lalu. Bu Beng Kiam-sian
menemukan Si Han Bu yang sudah yatim piatu, ketika anak
yang baru berusia sepuluh tahun itu bersama ayah ibunya
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
meninggalkan dusun karena pergi mengungsi setelah terjadi
perang. Dalam pengungsian mereka, di kaki pegunungan
Beng-san, mereka bertemu pasukan pengikut Jenderal Wu
Sam Kwi dan melihat ibu Si Han Bu yang cantik, mereka
hendak mengganggunya. Ayah ibu Si Han Bu melawan sampai
akhirnya mati dikeroyok dan Han Bu yang berusia sepuluh
tahun melarikan diri dikejar beberapa orang prajurit. Untung
pada saat yang gawat dan berbahaya bagi keselamatan anak
itu, muncul Bu Beng Kiam-sian yang segera menghajar para
prajurit dan menolong anak itu. Bu Beng Kiam-sian lalu
mengubur jenazah ayah ibu Han Bu dan membawa anak itu ke
Bukit Kera. Nah, sejak berusia sepuluh tahun Han Bu menjadi
murid Im-yang Sian-kouw atau cucu murid Bu Beng Kiam-sian.
Setelah Bu Beng Kiam-sian meninggal, maka di puncak Bukit
Kera itu tinggal Im-yang Sian-kouw, Si Han Bu, dan nenek
pelayan yang menempati pondok itu.
“Han Bu, ingatlah bahwa engkau tidak boleh jumawa,
jangan dikira bahwa kepandaianmu sudah paling hebat. Tidak
ada batas bagi tingkat kepandaian manusia. Yang pandai ada
yang lebih pandai lagi, yang tinggi ada yang lebih tinggi lagi.
Engkau harus selalu rendah hati karena orang yang rendah
hati sajalah yang memiliki kesempatan besar untuk
meningkatkan kepandaiannya. Sebaliknya orang yang merasa
dirinya paling hebat tidak akan maju, bahkan
kesombongannya sendiri yang akan menjatuhkannya. Engkau
harus terus belajar, tidak ada kata akhir bagi orang belajar,
bahkan sampai mati pun kita harus tetap belajar.”
Han Bu menggaruk-garuk bagian belakang telinganya
biarpun tidak terasa gatal, “Waduh, alangkah akan lelahnya
kalau harus belajar terus selama hidup, Subo!”
Im-yang Sian-kouw tertawa. “Hush, bukan hanya belajar
silat terus menerus. Hidup bukan hanya sekadar belajar silat,
Han Bu. Hidup ini sendiri merupakan proses belajar, sejak lahir
sampai akhir usia. Belajar dari kehidupan ini agar engkau
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
bukan hanya mahir mainkan pedang dan kipas untuk
melindungi diri sendiri dan orang lain, untuk mempertahankan
dan membela kebenaran dan keadilan, akan tetapi banyak hal
yang perlu kaupelajari sehingga engkau mengerti benar apa
artinya hidup ini dan apa kewajibanmu dalam kehidupan.
Jangan sekali-kali merasa dirimu pandai.”
Han Bu tertawa. “He-he, sudah sering Subo mengatakan
bahwa tidak ada orang pandai di dunia ini! Tadinya teecu
bingung. Masa tidak ada orang pandai? Bukankah mendiang
Sukong (Kakek Guru) dan Subo sendiri juga orang-orang
pandai? Akan tetapi sekarang teecu sudah mendapatkan
jawabannya mengapa Subo mengatakan bahwa di dunia ini
tidak ada orang pandai.”
Sambil tersenyum melihat cara muridnya bicara yang lucu,
Im-yang Sian-kouw berkata, “Hemm, benarkah engkau sudah
mengerti mengapa? Coba katakan pendapatmu.”
“Memang tidak ada orang pandai di dunia ini, Subo.
Sepandai-pandainya orang, dia masih amat bodoh. Buktinya,
orang yang bagaimana pandai pun, tidak dapat mengatur apa
yang menempel di tubuhnya sendiri. Tidak dapat
menghentikan tumbuhnya rambut, tidak dapat mencegah
kuku menjadi panjang, apalagi menghitung rambutnya sendiri.
Maaf, Subo, teecu berani bertaruh bahwa Subo sendiri juga
tidak dapat menghitung berapa banyaknya rambut yang
berada di kepala Subo. Maka, benarlah kalau Subo
mengatakan bahwa tidak ada orang pandai di dunia ini!”
Im-yang Sian-kouw tertawa dan menutupi mulutnya.
“Karena itu, jangan sekali-kali engkau menjadi sombong dan
merasa dirimu pandai. Kepandaian manusia itu terbatas sekali.
Yang Maha Pandai hanyalah Thian Yang Maha Kuasa. Apa
yang dapat dilakukan manusia hanyalah karunia yang
diberikan oleh Thian, bukan karena si manusia sendiri yang
pandai. Nah, sudahlah, Han Bu, kalau bicara denganmu aku
selalu menjadi geli dan ingin tertawa. Berlatihlah lagi sampai
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Im-yang Po-san dapat kaumainkan dengan sebaik-baiknya.
Aku akan bersamadhi dan kalau engkau ingin sarapan lagi,
minta saja kepada Sun-ma (Ibu Sun) di dapur, tidak perlu
menunggu aku karena aku tidak ingin makan pagi ini.”
“Wah, Subo tentu selalu memegang prinsip Subo, yaitu:
Tidak makan kalau tidak lapar, tidak minum kalau tidak haus,
tidak tidur kalau tidak mengantuk!”
“Tentu saja, anak bodoh. Melakukan lebih dari apa yang
dibutuhkan badan merupakan pemborosan tenaga dan
pengrusakan diri sendiri.” Setelah berkata demikian, Im-yang
Sian-kouw meninggalkan tempat itu, kembali memasuki
pondok dengan mulut masih menahan senyum. Hidup dekat
pemuda itu orang tidak mungkin dapat menahan tawa dan
gembira. Ia bersukur kepada Tuhan bahwa terdapat seorang
murid seperti Han Bu yang dianggapnya putera sendiri yang
selalu mendatangkan seri gembira dalam hidupnya,
menghiburnya dari duka nestapa yang pernah ia alami di masa
mudanya.
Han Bu memandang gurunya yang berjalan santai menuju
pondok sampai gurunya itu lenyap di balik pintu belakang
pondok. Dia tersenyum dan merasa bangga sekali kepada ibu
gurunya yang dia anggap sebagai ibunya sendiri. Betapa
bahagianya dia! Biarpun sejak kecil kehilangan ayah ibunya
yang terbunuh oleh para prajurit dari Selatan, namun dia
memperoleh pengganti. Sebelum meninggal, Bu Beng Kiamsian
juga amat baik kepadanya. Biarpun kini kakek itu sudah
meninggal, namun dia mendapatkan pengganti ayah ibunya
dalam diri Im-yang Sian-kouw! Dia amat menyayang ibu
gurunya, menyayangnya seperti ibunya sendiri. Dia selalu
menyanjung gurunya, mengagumi kecantikannya,
kelembutannya, kebijaksanaannya, dan kepandaiannya.
Terkadang dia juga dapat merasakan betapa ada sesuatu
yang membuat gurunya itu menderita batin yang selalu
ditahan-tahannya. Tentu ada hubungannya dengan riwayat
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
subonya ketika masih muda. Akan tetapi subonya tidak pernah
menceritakan riwayat hidupnya dan dia pun tidak berani
bertanya.
Si Han Bu mulai berlatih lagi. Kini dia hanya melatih ilmu
silat kipasnya saja. Setelah dia berlatih dengan gaya yang
indah namun lucu sampai puluhan jurus dan mulai merasa
gerah, tiba-tiba berkelebat dua sosok bayangan orang. Han Bu
cepat menghentikan permainan silat kipasnya dan ketika dia
memandang, di situ telah berdiri seorang pemuda berpakaian
serba biru yang berwajah tampan gagah dan seorang gadis
berpakaian mewah seperti puteri bangsawan yang berwajah
manis dengan tahi lalat hitam kecil di dagu kirinya. Melihat
mereka berdua membawa pedang di punggung, Han Bu dapat
menduga bahwa mereka tentulah orang-orang kang-ouw yang
pandai ilmu silat.
Melihat gadis cantik manis yang sikapnya angkuh, berdiri
dengan menegakkan kepala dan membusungkan dada yang
sudah mulai dewasa itu, timbul kenakalan Han Bu. Dia
tersenyum cengar-cengir mengamati dua orang itu, terutama
gadis yang manis itu, tanpa mengeluarkan sepatah kata pun.
JILID VII
MEREKA adalah Ui Yan Bun dan Wan Kim Hui. Melihat
pemuda yang cengar-cengir dengan senyum yang seperti
menertawakan itu, Kim Hui sudah naik darah. Ia cemberut dan
alisnya berkerut, sinar matanya berkilat. Tadi ia sempat
melihat pemuda yang cengar-cengir itu bersilat dengan kipas,
gayanya seperti seorang badut menari.
“Hei, kamu tukang kebun, ya?” tegurnya.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Han Bu tidak marah melihat orang demikian galak dan
memandang rendah. “Benar, Nona yang cantik manis. Aku
tukang kebun di sini.”
“Heh, lancang mulut kamu! Berani menyebut aku Nona
yang cantik manis! Kamu hendak kurang ajar, ya?” bentak Kim
Hui, sedangkan Yan Bun hanya melihat saja karena dia
merasa betapa Kim Hui terlalu kasar bertanya. Selama
melakukan perjalanan bersama Kim Hui, Yan Bun dapat
mengenal watak gadis itu. Gagah berani dan terbuka, juga
memiliki perasaan adil dan menentang yang jahat, akan tetapi
galaknya bukan main!
Si Han Bu membelalakkan matanya dan mulutnya terbuka,
lalu bibirnya dimonyongkan meruncing.
“Maafkanlah aku, Nona yang jelek dan pahit,” katanya
sambil membungkuk dengan sikap hormat.
Sikap dan ucapan Han Bu ini bagaikan minyak disiramkan
kepada api. Mukanya menjadi merah, matanya berapi, kedua
tangannya dikepal lalu ia menudingkan telunjuk kirinya ke
arah muka pemuda itu.
“Monyet kurang ajar! Pantas bukit ini disebut Bukit Kera,
tentu karena monyet busuk seperti kamu berada di sini!
Keparat busuk kamu, berani mengatakan aku jelek dan pahit!”
Kim Hui membanting kakinya lalu mencabut pedangnya.
“Eiitt, tenang dulu, Nona. Engkau ini bagaimana sih? Aku
jadi bingung. Tadi kusebut Nona yang cantik dan manis,
engkau marah. Lalu aku mengubah sebutan menjadi Nona
yang jelek dan pahit, engkau malah semakin marah. Lalu aku
harus menyebutmu bagaimana?”
“Cerewet! Engkau memang kurang ajar, pantas dihajar.
Biar kurobek mulutmu yang lancang itu!” Gadis itu menerjang
dan menyerang Han Bu dengan pedangnya. Pedang meluncur
ke arah mulut pemuda itu.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
“Kim Hui, jangan...!” Yan Bun berteriak mencegah, akan
tetapi serangan sudah dilakukan.
“Tranggg...!” Cepat sekali Han Bu sudah mencabut pedang
dan menangkis serangan itu. Keduanya melangkah mundur
karena pertemuan dua batang pedang itu terasa
menggetarkan tangan mereka. Kim Hui memandang kepada
pemuda di depannya itu dengan marah.
Han Bu berdiri dengan pedang di tangan kanan dan tangan
kirinya masih memegang kipasnya yang kini dia pergunakan
untuk mengipasi tubuhnya. Dia tersenyum dan
menggelengkan kepalanya.
“Aduh-aduh, baru kali ini aku bertemu orang segalak ini!
Datang-datang mengamuk seperti kerbau kehilangan
tanduk....”
“Engkau yang anjing! Engkau yang kerbau, babi, monyet,
kadal busuk!” Kim Hui memaki-maki marah. “Kau maki aku
kerbau, ya? Mampuslah!” Kim Hui menyerang dengan marah,
kini menyerang untuk membunuh.
“Kim Hui, jangan...!” Yan Bun kembali berseru.
Akan tetapi dalam keadaan marah seperti itu, Kim Hui tidak
mempedulikan siapapun juga. Ia menyerang dengan
mengerahkan tenaga dan menggunakan jurus-jurus
terampuhnya. Akan tetapi, ia semakin penasaran karena
ternyata Han Bu dapat mengelak atau menangkis semua
serangannya! Akan tetapi diam-diam Han Bu terkejut bukan
main karena gadis yang galak dan dianggapnya sombong itu
ternyata bukan lawan yang ringan! Dia harus berhati-hati dan
menggunakan pedang dan kipasnya untuk membela diri!
Bahkan dia harus balas menyerang karena kalau dia terus
membela diri saja, akhirnya dia pasti akan terluka. Gadis itu
memiliki tingkat kepandaian yang tidak berada di bawah
tingkatnya sendiri!
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Perkelahian itu seru sekali dan Yan Bun sudah menjadi
bingung. Sukarlah untuk melarang seorang gadis seperti Kim
Hui yang keras hati dan kalau dia turun tangan melerai, dia
khawatir kalau-kalau pemuda yang suka bergurau dan nakal
itu akan salah sangka dan mengira dia mengeroyoknya. Maka
dia hanya dapat berseru berulang kali.
“Kim Hui, berhentilah! Berhentilah kalian berkelahi!”
Akan tetapi karena Kim Hui yang merasa penasaran terus
saja menyerang, terpaksa Han Bu membela diri sehingga
perkelahian itu tidak dapat dihentikan.
Tiba-tiba tampak bayangan putih berkelebat.
“Tarrr-tarrr...!” Segulung sinar putih menyambar. Kim Hui
berseru kaget dan pedangnya hampir terlepas dari tangannya
ketika bertemu sinar putih. Ia melompat ke belakang dan Han
Bu segera menyimpan kedua senjatanya dan memberi hormat
kepada Im-yang Sian-kouw yang sudah berdiri di antara dua
orang yang tadi berkelahi.
“Subo, teecu terpaksa membela diri dan tidak dapat
berhenti karena ia yang amat galak itu terus mendesak teecu
dan tidak mau berhenti menyerang.”
“Tentu saja aku menyerangmu, engkau laki-laki kurang
ajar! Engkau memaki aku kerbau!” teriak Kim Hui. Ia
memandang kepada wanita berpakaian serba putih yang kini
memandangnya. Wanita itu tadi telah melerai perkelahian
menggunakan sehelai pita putih dan ia merasa terkejut sekali
betapa pita sutera putih itu demikian kuatnya sehingga hampir
saja pedangnya terlepas ketika terbentur pita yang berubah
menjadi sinar putih. Tahulah ia bahwa ia berhadapan dengan
seorang wanita yang memiliki tingkat kepandaian tinggi sekali.
Ui Yan Bun juga maklum bahwa ia berhadapan dengan
seorang yang amat lihai, dan diam-diam ia merasa heran
sekali. Mengapa dia merasa seolah pernah bertemu dengan
wanita ini? Bahkan dia merasa seolah dia telah mengenalnya
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
dengan baik. Akan tetapi dia tidak ingat lagi di mana dan
kapan pernah bertemu dengannya. Cepat dia memberi hormat
kepada wanita itu.
“Locianpwe, saya mohon maaf atas kelancangan kami
berdua, telah mengganggu ketenangan di sini.”
Im-yang Sian-kouw memutar tubuh menghadapi pemuda
itu dan ia tersenyum. Begitu wanita itu tersenyum, jantung
Yan Bun berdebar aneh. Dia merasa yakin pernah bertemu
dengan wanita ini, akan tetapi tetap saja dia tidak ingat di
mana dan kapan.
“Baik, orang muda. Aku yakin bahwa kalian berdua
bukanlah orang-orang sesat yang hendak membuat kacau di
tempat ini. Apa yang terjadi dengan muridku tadi tentu hanya
merupakan kesalah-pahaman belaka. Maklumlah, muridku Si
Han Bu ini memang nakal dan suka bergurau! Nona muda,
kaumaafkan muridku,” katanya sambil menoleh kepada Kim
Hui.
Wan Kim Hui memang seorang gadis yang liar dan galak,
namun ia memiliki keadilan dan kalau berhadapan dengan
orang yang lembut dan ramah, kekerasan hatinya mencair
seperti salju dibakar.
“Bibi yang baik, aku juga minta maaf, akan tetapi harap
engkau suka mengajar muridmu itu agar dia bersikap sopan
kepada seorang gadis.”
Mendengar suara gadis itu kini lembut dan sama sekali
tidak tampak marah atau mendongkol, Si Han Bu tersenyum.
“Aku yang bersalah, Nona yang... baik dan lihai sekali,
maafkan aku.”
Kim Hui tersenyum dan semua orang tersenyum. Im-yang
Sian-kouw kini berkata kepada Yan Bun. “Orang muda,
siapakah kalian dan apa maksud kalian datang berkunjung ke
rumah kami?”
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
“Locianpwe, saya bernama Ui Yan Bun dan Nona ini
bernama Wan Kim Hui. Kami datang dari Lam-hu dan
sebetulnya jauh-jauh kami berkunjung ke Beng-san ini adalah
untuk menghadap Locianpwe Bu Beng Kiam-sian.”
“Aih, sungguh sayang, kedatangan kalian berdua sia-sia
karena Suhu Bu Beng Kiam-sian sudah wafat sekitar setahun
yang lalu,” kata Im-yang Sian-kouw dengan suara menyesal
karena ia merasa kasihan kepada dua orang muda yang
datang dari jauh dengan sia-sia itu.
“Aduh, celaka... Yan Bun...!” Tiba-tiba Kim Hui berseru dan
ia pun menangis.
Hampir saja Si Han Bu berseru saking herannya, akan
tetapi ditahan ketika ingat betapa galaknya gadis itu. Yang
membuat dia bengong terheran-heran adalah melihat gadis
yang demikian galaknya kini dapat menangis tersedu-sedu!
“Ui Yan Bun, apakah yang terjadi? Mengapa kalian mencari
mendiang Suhu Bu Beng Kiam-sian dan mengapa pula Kim Hui
ini menangis sedih ketika mendengar beliau telah tiada?”
“Locianpwe, kami berdua dari Lam-hu berkunjung ke sini
untuk menghadap Locianpwe Bu Beng Kiam-sian dan mohon
pertolongan beliau untuk menyelamatkan nyawa ibu dari Adik
Wan Kim Hui ini. Akan tetapi, beliau ternyata telah wafat,
maka habislah harapan kami untuk mendapatkan obat itu...,”
kata Yan Bun dengan nada sedih.
“Ah, mengapa putus harapan? Nona Wan Kim Hui, hentikan
tangismu. Biarpun Kakek Guru Bu Beng Kiam-sian telah wafat
setahun yang lalu, akan tetapi masih ada yang dapat
mengobati ibumu!” kata Si Han Bu dengan suara lantang
mengandung hiburan.
Mendengar ini, seketika Kim Hui menghentikan tangisnya
dan Yan Bun juga memandang pemuda yang riang itu dengan
penuh harapan baru.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
“Benarkah? Engkau dapat mengobati ibuku?” Kim Hui
bertanya dan ia melangkah maju menghadapi pemuda itu.
Si Han Bu tersenyum. “Tenanglah, Nona dan jangan
khawatir. Bukan aku yang dapat mengobati ibumu, akan tetapi
Subo Im-yang Sian-kouw adalah murid mendiang Sukong Bu
Beng Kiam-sian dan Subo telah mewarisi semua kepandaian
mendiang Su-kong. Beliau ini yang akan mampu
menyembuhkan ibumu.”
“Si Han Bu! Engkau sudah lupa akan pesanku agar engkau
tidak menyombongkan diri?” tegur Im-yang Sian-kouw kepada
muridnya.
Han Bu tersenyum dan memberi hormat kepada gurunya.
“Maaf, Subo, akan tetapi teecu bukan menyombongkan diri,
hanya membanggakan Subo. Apa itu tidak boleh?”
Sulitlah untuk marah kepada seorang seperti Han Bu. Imyang
Sian-kouw tersenyum lalu berkata kepada Yan Bun dan
Kim Hui.
“Kalian hendak bertemu dengan mendiang guruku, biarlah
aku mewakilinya. Mari, silakan masuk dan kita bicara di dalam
pondok.”
Setelah berkata demikian Im-yang Sian-kouw memasuki
pondoknya. Ketika Yan Bun dan Kim Hui tampak ragu-ragu,
Han Bu memberi isyarat agar mereka berdua ikut masuk. Dia
mengiringkan dari belakang.
Setelah berada di dalam pondok, mereka berempat duduk
mengelilingi meja dan Sun-ma, pelayan tua itu,
menghidangkan air teh.
“Nah, sekarang ceritakanlah apa yang telah terjadi dengan
ibumu, Wan Kim Hui,” kata wanita cantik berpakaian pendeta
itu kepada Kim Hui.
Kim Hui memandang kepada Yan Bun lalu kepada nyonya
rumah dan berkata, “Bibi, biarlah Ui Yan Bun yang
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
menceritakannya karena dia yang bertugas mencari obat. Aku
hanya menemaninya saja. Yan Bun, ceritakanlah kepada Bibi
Im-yang Sian-kouw seperti yang pernah kuceritakan
kepadamu tentang keluargaku.”
Yan Bun memang sudah mendengar dari gadis itu tentang
semua peristiwa yang menimpa keluarga Wan Cun. Maka dia
lalu menceritakan kepada Im-yang Sian-kouw apa yang terjadi
di daerah Se-cuan, yang menimpa keluarga Wan sehingga
Nyonya Wan Cun mengalami luka dalam yang parah dan
mereka bertiga terpaksa melarikan diri dari daerah yang
dikuasai pemerintahan Raja Muda Wu Sam Kwi.
Im-yang Sian-kouw dan Si Han Bu mendengarkan dengan
penuh perhatian sampai Yan Bun mengakhiri ceritanya.
Setelah pemuda itu selesai bercerita, Im-yang Sian-kouw
memandang kepada Kim Hui dan bertanya.
“Kim Hui, ayahmu bernama Wan Cun. Bukankah dia yang
berjuluk Lam-ong?”
“Benar, Bibi. Ibuku terluka oleh pukulan Hek-tok-ciang dari
Lam-hai Cin-jin, harap engkau suka memberi obat untuk
menyembuhkannya.”
Im-yang Sian-kouw mengangguk-angguk. “Aku pernah
mendengar nama Lam-ong dan juga Lam-hai Cin-jin.
Kabarnya Lam-hai Cin-jin menjadi Koksu (Guru Negara) dari
Raja Muda Wu Sam Kwi. Hemm, keluargamu dimusuhi karena
engkau memukul putera Raja Muda Wu Sam Kwi?”
“Pemuda itu kurang ajar, hendak memaksa aku menerima
lamarannya, Bibi. Kalau aku tahu akan berekor panjang
sehingga ibuku terluka, tentu bukan hanya kuhajar pemuda
she Wan itu, melainkan sudah kubunuh dia!”
Im-yang Sian-kouw menghela napas panjang. “Dan
engkau, Yan Bun, mengapa engkau yang mencarikan obat
untuk Nyonya Wan? Ada hubungan apakah antara engkau dan
keluarga Wan?” Wanita itu mengerling ke arah Kim Hui karena
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
muncul dugaan bahwa tentu ada hubungan antara gadis
cantik itu dengan pemuda she Ui ini.
Kim Hui sudah mengerutkan alisnya, khawatir kalau-kalau
Yan Bun akan menceritakan tentang ia yang menculik Ui Tiong
untuk dipaksa mengobati ibunya. Yan Bun memandang
kepadanya dan mengerti akan kegelisahan hati Kim Hui, maka
dia tersenyum dan berkata kepada Im-yang Sian-kouw.
“Begini, Locianpwe. Saya tidak mempunyai hubungan
dengan keluarga Wan, bahkan saya bukan penduduk Lam-hu.
Ketika saya mengunjungi Paman saya Ui Tiong di Lam-hu,
Paman sedang mencoba untuk mengobati Nyonya Wan. Akan
tetapi luka beracun yang diderita Nyonya Wan itu amat parah
dan Paman Ui Tiong tidak mampu menyembuhkannya. Paman
saya mengatakan bahwa yang dapat mengobati hanyalah
Locianpwe Bu Beng Kiam-sian. Karena itu saya yang pernah
bertemu dengan Locianpwe Bu Beng Kiam-sian memberanikan
diri untuk membantu keluarga Wan.”
“Ah, engkau pernah bertemu dengan mendiang Suhu?” Imyang
Sian-kouw bertanya. “Kenapa aku tidak pernah
melihatmu?”
“Saya pernah diajak Suhu Thian Bong Sianjin berkunjung
ke sini, Locianpwe, ketika Locianpwe Bu Beng Kiam-sian masih
hidup. Ketika itu, sekitar lima tahun yang lalu, beliau tinggal
seorang diri di pondok ini.”
“Lima tahun yang lalu? Ah, ketika itu aku dan muridku Si
Han Bu ini memang masih tinggal di lereng bukit. Aku
mengenal nama Thian Bong Sianjin. Jadi engkau muridnya?
Baiklah, Yan Bun dan Kim Hui, aku suka menolong Nyonya
Wan. Keterangan Han Bu tadi memang bukan membual, aku
mewarisi ilmu pengobatan dari mendiang Suhu dan kebetulan
sekali aku menyimpan obat yang amat langka untuk
menyembuhkan luka beracun berbahaya seperti akibat
pukulan Hek-tok-ciang itu.” Wanita itu lalu menghampiri almari
kayu dan mengambil sebuah bungkusan, menyerahkan
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
kepada Yan Bun. “Ini adalah Jamur Salju Putih. Masak dengan
air tiga mangkok, biarkan mendidih dan tinggal satu mangkok,
minumkan kepada si sakit. Kemudian ampasnya boleh diulang,
masak dengan dua mangkok air disisakan semangkok, diulang
pagi dan sore sampai tiga hari. Kalau Thian menghendaki,
hawa beracun itu pasti dapat terusir bersih!”
Yan Bun dan Kim Hui merasa girang sekali. Mereka
mengucapkan terima kasih dan pamit. Han Bu mengantar
mereka sampai menuruni puncak dan tiba di lereng paling
bawah. Yan Bun menghentikan langkahnya dan berkata
kepada Han Bu.
“Saudara Si Han Bu, kami kira cukuplah engkau mengantar
kami. Banyak terima kasih atas kebaikanmu dan sampaikan
terima kasih kami yang sedalam-dalamnya kepada gurumu.”
“Ah, Yan Bun dan Kim Hui, setelah aku bertanding dengan
Kim Hui kemudian kalian bertemu dengan Subo dan diberi
obat, bukankah kita bertiga telah menjadi sahabat? Setelah
menjadi sahabat, di antara kita tidak perlu ada sungkansungkanan
lagi, bukan?”
Melihat wajah yang cerah dan ramah itu, Yan Bun tertawa.
“Ah, tentu saja, Han Bu. Aku senang dan bangga menjadi
sahabatmu!”
Han Bu memandang kepada Kim Hui. “Lho, kenapa engkau
cemberut, Kim Hui? Apakah engkau tidak suka menjadi
sahabatku? Apakah engkau masih saja menganggap aku
seorang pemuda kurang ajar?”
“Selama engkau menganggap aku galak, aku akan
menganggap engkau kurang ajar,” jawab Kim Hui tanpa
senyum.
“Aih, Kim Hui, engkau masih belum dapat memaafkan aku?
Sekarang aku tidak menganggap engkau galak lagi. Engkau
manis.... budi, maksudku baik hati dan aku bangga sekali
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
menjadi sahabatmu! Sekali lagi maafkan aku dan jangan
engkau benci padaku, Kim Hui.”
“Siapa yang benci? Aku tidak benci padamu!” kata Kim Hui,
kini tidak lagi cemberut.
“Bagus! Kalau begitu engkau sayang padaku?”
“Apa?! Sayang...?”
“Maksudku, sayang sebagai sahabat. Kalau tidak benci
berarti sayang, bukan? Wah, jangan marah lagi, sobat.”
Kim Hui tersenyum. Memang harus ia akui bahwa sukarlah
untuk marah kepada pemuda yang riang ini. “Aku tidak benci,
itu saja sudah cukup dan aku menganggap engkau sahabatku.
Nah, sekarang, selamat berpisah dan jangan ikuti kami lagi.”
“Baiklah, aku berhenti mengantar sampai di sini. Yan Bun,
selamat berpisah dan selamat jalan. Kim Hui, selamat jalan
dan mudah-mudahan kita akan saling berjumpa lagi. Jaga
dirimu baik-baik, sahabatku tersayang.” Han Bu melambaikan
tangan kepada mereka berdua yang melanjutkan perjalanan.
Yan Bun juga melambaikan tangan dan Han Bu menanti-nanti,
akan tetapi Kim Hui berjalan terus, tidak menengok. Dia
mengerutkan alisnya, benar-benarkah gadis itu sama sekali
tidak mempedulikannya? Tiba-tiba, sebelum mereka
membelok, gadis itu membalikkan tubuhnya, tersenyum dan
melambaikan tangan sambil berseru.
“Han Bu, sampai jumpa dan jaga dirimu baik-baik!”
Setelah mereka berdua menghilang di belokan, Han Bu
meloncat-loncat kegirangan. “Ha-ha, ia suka padaku! Suka
padaku!” Dia lalu berlari cepat mendaki Bukit Kera.
Sementara itu, Ui Yan Bun dan Wan Kim Hui melakukan
perjalanan secepatnya kembali ke Bukit Siluman di dekat Lamhu.
Ketika mereka tiba di tempat tinggal keluarga Wan,
mereka melihat betapa penyakit yang diderita Nyonya Wan
semakin parah. Kebetulan sekali hari itu Ui Tiong juga datang
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
menengok dan memeriksa si sakit. Kedatangan dua orang
muda itu disambut dengan gembira dan muncul kembali
harapan dalam hati Wan Cun.
Kim Hui segera memasak obat itu seperti yang dipesankan
Im-yang Sian-kouw, kemudian setelah bersisa satu mangkok
dan agak dingin, obat itu diminumkan kepada ibunya. Setelah
minum obat itu, benar saja wajah Nyonya Wan menjadi agak
merah dan ia pun siuman dari pingsannya. Setelah siuman, ia
mengatakan bahwa dadanya tidak terasa terlalu nyeri dan
sesak lagi. Semua orang bergembira dan setelah obat itu
diminum pagi sore sampai tiga hari, nyonya itu sembuh sama
sekali. Tanda telapak tangan menghitam itu pun lenyap dan
suami isteri itu mengucapkan terima kasih kepada Ui Yan Bun.
Setelah Nyonya Wan sembuh, mulailah Yan Bun dilatih ilmu
silat oleh Lam-ong Wan Cun dan Yan Bun tinggal di Bukit
Siluman sampai selama satu tahun.
(Oo-dwkz-oO)
Pangeran Bouw Hun Ki adalah adik kaisar yang setia
mendukung Kaisar Shun Chi. Dia sendiri seorang sastrawan
yang berwatak gagah berani menentang kelaliman biarpun dia
tidak pernah mempelajari ilmu silat tinggi. Akan tetapi dia
mempunyai seorang isteri yang amat lihai. Isterinya atau
Bouw Hujin (Nyonya Bouw) dahulu bernama Souw Lan Hui
dan di dunia kang-ouw ia terkenal sebagai seorang pendekar
wanita yang berjuluk Sin-hong-cu (Burung Hong Sakti).
Memang agak aneh kalau dua orang yang berlainan keahlian
ini, yang laki-laki ahli sastra yang wanita ahli s ilat, dapat saling
jatuh cinta lalu menikah.
Pangeran Bouw Hun Ki kini berusia lima puluh empat
tahun, masih tampan dan gagah dengan rambut bercampur
uban. Isterinya, Bouw Hujin, berusia sekitar lima puluh satu
tahun, masih cantik dan tubuhnya ramping padat dan biarpun
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
gerak-gerik dan suaranya lembut seperti seorang wanita
bangsawan karena ia isteri seorang pangeran, namun sinar
matanya terkadang mencorong penuh wibawa dan kekuatan.
Suami isteri ini mempunyai dua orang anak, yaitu yang
pertama bernama Bouw Kun Liong, kini berusia dua puluh
empat tahun, wajahnya tampan mirip ayahnya dan
pakaiannya indah, sikapnya agak galak namun dia menghargai
kejujuran dan kegagahan, yang ke dua seorang gadis berusia
sekitar delapan belas tahun bernama Bouw Hwi Siang, cantik
seperti ibunya. Dua orang anak ini juga menerima
gemblengan ilmu silat ibu mereka dan juga mempelajari sastra
dari ayah mereka.
Karena maklum bahwa di antara para pangeran banyak
yang hendak memperebutkan tahta, maka Kaisar Shun Chi
merasa khawatir akan keselamatan putera mahkota, yaitu
putera dari permaisuri, Pangeran Kang Shi yang ketika itu
baru berusia sekitar sebelas tahun. Karena dia percaya
sepenuhnya kepada Pangeran Bouw Hun Ki, terutama sekali
karena dia maklum bahwa Panglima Bouw Hun Ki memiliki
isteri dan dua orang anak yang amat lihai dan boleh
diandalkan, maka Kaisar Shun Chi menitipkan Pangeran
Mahkota Kang Shi pada keluarga Pangeran Bouw agar dididik
dan dilindungi.
Bouw Hujin amat berhati-hati menjaga keamanan Pangeran
Mahkota. Ia membuat sebuah ruangan rahasia di bawah lantai
gedung sehingga kalau sewaktu-waktu ada bahaya
mengancam, ia dapat mengungsikan dan menyembunyikan
pangeran itu ke dalam ruangan rahasia.
Kini, setelah terjadi percobaan pembunuhan terhadap
kaisar, dan percobaan pembunuhan terhadap Pangeran
Mahkota seperti yang dilakukan Pangeran Leng Kok Cun yang
mengutus Gui Tiong dan Bu Kong Liang yang dibayangi Twato
Ngo-liong, maka keluarga Bouw menjadi semakin waspada
dan berhati-hati. Kini penjagaan dilakukan dengan ketat.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Apalagi kini mereka mendapat bantuan dari Bu Kong Liang
dan Gui Siang Lin yang diminta tinggal untuk sementara di
gedung keluarga Bouw untuk ikut menjaga keselamatan
Pangeran Kang Shi.
Setelah Kong Liang dan Gui Siang Lin yang masih adik
seperguruannya itu tinggal kurang lebih satu bulan di gedung
keluarga Bouw, mereka menjadi akrab dengan putera dan
puteri Pangeran Bouw. Bouw Hwi Siang tertarik sekali kepada
Bu Kong Liang yang gagah perkasa, sopan, jujur dan tegas
penuh kejantanan itu. Adapun Bouw Kun Liong juga jatuh
cinta kepada Gui Siang Lin, sebaliknya gadis yatim piatu itu
pun tertarik kepada pemuda bangsawan yang tampan dan
gagah itu.
Pada suatu pagi, Pangeran Bouw Hun Ki bercakap-cakap
dengan isterinya di serambi sambil minum teh. Mereka berdua
tadi melihat putera dan puteri mereka bersama Bu Kong Liang
dan Gui Siang Lin dengan wajah gembira pergi ke lian-bu-thia
(ruangan berlatih silat). Empat orang muda itu setiap pagi
berlatih ilmu silat dan mereka saling menguji dan saling
memberi petunjuk sehingga mereka dapat saling mengisi dan
saling melengkapi. Kong Liang dan Siang Lin adalah muridmurid
Siauw-lim-pai, adapun Kun Liong dan Hwi Siang
keduanya menerima pelajaran silat Bu-tong-pai dari ibu
mereka. Padahal, ilmu silat Bu-tong-pai dahulunya juga
bersumber kepada ilmu silat Siauw-lim-pai, maka kedua aliran
itu memang dapat saling mengisi dan melengkapi.
“Lihatlah, Pangeran, keakraban anak-anak kita dengan
pemuda dan gadis itu!” kata Bouw Hujin kepada suaminya.
Pangeran Bouw mengangkat muka, memandang ke arah
ruangan belajar silat, lalu memandang isterinya. “Kalau
mereka akrab, lalu apa salahnya?”
Bouw Hujin tersenyum dan untuk ke sekian kalinya
Pangeran Bouw merasa kagum dan heran bahwa sampai
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
sekarang setiap kali isterinya tersenyum, jantungnya bergetar
penuh kasih sayang.
“Tentu saja tidak salah, bahkan saya akan merasa senang
sekali kalau Kun Liong dapat berjodoh dengan Siang Lin dan
Hwi Siang dapat berjodoh dengan Kong Liang. Bukankah
gagasan ini baik sekali, Pangeran?”
Akan tetapi Pangeran Bouw menggelengkan kepalanya dan
mengerutkan alisnya. “Hemm, gagasan itu sungguh tidak
tepat!”
Pandang mata Bouw Hujin menjadi tajam ketika ia menatap
wajah suaminya. Ia pun mengerutkan alisnya dan suaranya
biarpun tetap halus mengandung teguran, “Pangeran, apakah
engkau tidak setuju karena mengingat bahwa pemuda dan
pemudi itu bukan berdarah bangsawan? Apakah mereka itu
dianggap terlalu rendah untuk menjadi jodoh anak-anak kita?”
Pangeran Bouw balas memandang isterinya dan dia
tersenyum lebar. “Isteriku yang baik, engkau tahu benar
bahwa aku bukan orang yang mempersoalkan keturunan.
Buktinya aku menikah denganmu dan kita menjadi suami isteri
yang berbahagia sampai sekarang.”
“Kalau begitu, mengapa gagasan saya tadi dikatakan tidak
tepat?”
Kembali pangeran itu tersenyum lebar. “Karena mendahului
mereka, isteriku yang baik! Apakah engkau ingin menjodohkan
anak-anak kita tanpa persetujuan mereka lebih dahulu? Kalau
begitu, aku tidak setuju. Mereka harus menentukan sendiri
dengan siapa mereka akan berjodoh.”
Nyonya Bouw atau Souw Lan Hui tertawa dengan perasaan
lega. “Aih, tentu saja, Pangeran! Yang saya maksudkan tadi,
saya akan senang kalau kedua orang anak kita dapat berjodoh
dengan Bu Kong Liang dan Gui Siang Lin. Tentu saja yang
menentukan adalah mereka sendiri.”
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
“Yah, mudah-mudahan anak kita akan melakukan pilihan
yang tepat sehingga mereka akan dapat hidup berbahagia
dengan jodoh masing-masing,” kata Pangeran Bouw.
“Ya, seperti kita,” kata isterinya.
Tiba-tiba seorang prajurit pengawal yang bertugas menjaga
di gapura depan, datang memasuki serambi itu dan memberi
hormat kepada Pangeran Bouw dan isterinya. Dengan sikap
hormat dia melapor bahwa di luar terdapat Pangeran Ciu Wan
Kong yang datang berkunjung.
Sejak Pangeran Mahkota berada di gedung keluarga
Pangeran Bouw, tempat itu memang selalu dijaga oleh
pasukan pengawal. Hal ini untuk menambah penjagaan agar
keselamatan Pangeran Mahkota dapat terjamin. Mendengar
bahwa yang datang berkunjung adalah adik tirinya, Pangeran
Ciu Wan Kong, Pangeran Bouw segera memerintahkan agar
para penjaga mempersilakan tamu itu memasuki ruangan
tamu yang berada di sebelah kiri gedung. Mereka berdua
sendiri lalu meninggalkan serambi menuju ke ruangan tamu
untuk menyambut tamu.
Belum lama suami isteri itu duduk di ruangan tamu,
Pangeran Ciu Wan Kong memasuki ruangan itu bersama
puterinya, Ciu Thian Hwa. Pangeran Bouw Hun Ki bangkit dan
menyambut Pangeran Ciu Wan Kong dengan gembira.
“Aih, Dinda Pangeran Ciu Wan Kong! Sungguh berbahagia
sekali hati kami menerima kunjunganmu. Selamat datang,
Dinda, engkau tampak sehat dan gembira!” kata Pangeran
Bouw yang menyambut bersama isterinya dengan perasaan
heran dan gembira karena selama ini dia tahu bahwa adik
tirinya ini selama bertahun-tahun hidup tidak wajar, selalu
tenggelam dalam kesedihan, tidak pernah tersenyum, tidak
pernah keluar dari gedungnya, bahkan ada yang mendesasdesuskan
bahwa Pangeran Ciu Wan Kong telah menjadi
seorang ling-lung yang miring otaknya. Akan tetapi sekarang
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
pangeran itu muncul bersama seorang gadis cantik dan
tampak demikian cerah gembira penuh semangat!
Pangeran Ciu Wan Kong memberi hormat kepada kakak
tirinya dan kakak iparnya, dan setelah mereka semua duduk
mengelilingi meja, Pangeran Ciu berkata, “Maafkan saya,
Kanda Pangeran Bouw Hun Ki, sudah lama saya tidak pernah
datang menghadap. Hari ini saya sengaja datang, selain sudah
merasa rindu, juga untuk memperkenalkan anak saya ini, Ciu
Thian Hwa.”
Thian Hwa cepat memberi hormat dan Pangeran Bouw
beserta isterinya memandang dengan hati tertarik, akan tetapi
juga dengan perasaan heran. Mereka tahu bahwa Pangeran
Ciu tidak pernah menikah, bahkan selir pun tidak punya,
bagaimana sekarang tahu-tahu telah mempunyai seorang
anak perempuan yang sudah dewasa? Melihat sikap dan
pandang mata kakak tirinya yang terheran-heran, Pangeran
Ciu Wan Kong berkata.
“Maaf, Kanda Pangeran, saya akui bahwa selama ini saya
hidup dalam keadaan seperti dalam mimpi penuh penderitaan
dan menyimpan rahasia. Sesungguhnya, hidup ini tidak ada
artinya lagi bagi saya setelah wanita yang saya cinta, terpaksa
meninggalkan saya membawa anak kami. Kemudian secara
tiba-tiba anakku, anakku tersayang, Ciu Thian Hwa ini,
muncul! Ah, betapa bahagia rasa hati saya, Kakanda. Saya
seolah bangkit dari jurang kematian. Saya hidup lagi! Dan
anak saya ini telah menjadi seorang yang memiliki ilmu silat
yang amat tinggi! Baru saja kami berdua menghadap
Sribaginda untuk memberi laporan tentang hal-hal rahasia
yang diketahui anak saya, dan di sana, Thian Hwa ini telah
menyelamatkan Sribaginda Kaisar dari usaha pembunuhan
lima orang penjahat. Ia telah membunuh mereka!”
“Ah, lalu bagaimana dengan Kakanda Kaisar?” tanya
Pangeran Bouw.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
“Kakanda Kaisar selamat, kemudian beliau memberi tugas
yang amat penting kepada Thian Hwa, dan mengutus kami
menyerahkan surat ini kepada Kanda.”
Pangeran Ciu Wan Kong mengeluarkan surat dari kaisar
dan menyerahkannya kepada Pangeran Bouw Hun Ki yang
segera membacanya lalu menyerahkannya kepada isterinya
untuk dibaca. Dalam surat itu, Kaisar Shun Chi memberitahu
kepada mereka bahwa dia telah memberi Tek-pai (tanda
kuasa) kepada Ciu Thian Hwa dan memerintahkan gadis
perkasa itu untuk membantu Pangeran Bouw Hun Ki
melindungi Pangeran Mahkota dan menjaga agar penobatan
Putera Mahkota Kang Shi sebagai kaisar baru berjalan lancar.
Setelah membaca surat itu, suami isteri itu memandang
kepada Thian Hwa dengan kagum. “Ciu Thian Hwa, aku
merasa kagum dan bangga mempunyai seorang keponakan
sepertimu. Seorang gadis muda sepertimu ini sudah
mendapatkan Tek-pai dari Sribaginda Kaisar, sungguh luar
biasa,” kata Pangeran Bouw.
“Sekarang aku ingat,” kata Bouw Hujin. “Baru-baru ini aku
mendengar bahwa di dunia kang-ouw muncul seorang gadis
pendekar yang namanya amat terkenal sebagai Huang-ho
Sian-li (Dewi Sungai Kuning). Engkaukah Huang-ho Sian-li itu,
Ciu Thian Hwa?”
Thian Hwa yang sudah mendengar dari ayahnya bahwa
Nyonya Pangeran Bouw ini adalah seorang wanita sakti yang
memiliki ilmu silat tinggi sehingga memperoleh kepercayaan
kaisar untuk mendidik dan melindungi Pangeran Mahkota,
memberi hormat.
“Memang saya yang dimaksudkan, akan tetapi julukan yang
diberikan orang kepada saya itu terlalu dilebih-lebihkan.”
“Thian Hwa, coba ceritakan kepada kami rahasia penting
apa yang engkau sampaikan kepada Kakanda Kaisar,” kata
Pangeran Bouw.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Dengan singkat namun jelas Thian Hwa bercerita kepada
suami isteri itu tentang Pangeran Leng Kok Cun yang
mempunyai ambisi untuk memberontak dan merampas
kedudukan Kaisar dengan menyingkirkan saingan-saingannya
yaitu Pangeran Cu Kiong dan tentu saja Pangeran Mahkota
Kang Shi. Juga ambisi Pangeran Cu Kiong yang ingin merebut
kedudukan pengganti kaisar dari tangan Putera Mahkota Kang
Shi.
Mendengar keterangan Thian Hwa, Bouw Hujin
mengangguk-angguk dan berkata, “Dinda Pangeran Ciu dan
Thian Hwa, sebetulnya kami sendiri sudah lama mengetahui
tentang mereka yang tidak setia itu. Akan tetapi Kakanda
Kaisar selalu melarang untuk bertindak karena bagaimanapun
juga, mereka adalah putera-puteranya sendiri, dan kalau
mereka itu ditindak dan terdengar rakyat akan mencemarkan
nama keluarga kerajaan sendiri.”
Pangeran Bouw Hun Ki menyambung. “Benar, kami dan
juga Kakanda Kaisar sudah tahu bahwa Pangeran Leng Kok
Cun dan Pangeran Cu Kiong membujuk para pejabat tinggi
untuk mendukungnya. Pangeran Cu sendiri kabarnya diamdiam
mengadakan kontak dengan Jenderal Wu Sam Kwi di
selatan. Akan tetapi Kakanda Kaisar selalu menutup-nutupi
kesalahan para puteranya, bahkan sekarang beliau mengambil
keputusan yang luar biasa, yaitu hendak meninggalkan
kerajaan dan menghilang.”
“Hemm, Kakanda Pangeran Bouw agaknya sudah tahu pula
akan keinginan Kakanda Kaisar yang luar biasa itu.
Sesungguhnya, saya sendiri merasa tidak setuju. Bagaimana
Kakanda Kaisar yang masih hidup dan sehat dikabarkan mati?
Dan bagaimana mungkin beliau yang sudah tua akan
merantau sebagai seorang pendeta?” kata Pangeran Ciu Wan
Kong dengan terharu.
“Sebetulnya hal itu tidak aneh, Dinda Pangeran Ciu. Seperti
kita ketahui, beliau dalam kemuliaannya sebagai Kaisar, penuh
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
kekuasaan dan kemuliaan, ternyata malah jauh dari
kebahagiaan dengan adanya perebutan kekuasaan di antara
para puteranya. Beliau melihat kenyataan bahwa kekuasaan
dan harta benda, segala kesenangan duniawi tidak
mendatangkan kebahagiaan malah mendatangkan
penderitaan batin. Oleh karena itu, beliau memilih
meninggalkan semua itu dan mencapai kebahagiaan dan
ketenteraman. Dengan cara meninggal dan menunjuk
Pangeran Mahkota sebagai penggantinya, berarti
menghilangkan pula keraguan dan perebutan kekuasaan di
antara para pangeran lainnya.”
“Akan tetapi bagaimana kalau keputusan itu memancing
timbulnya pemberontakan dari para pangeran yang merasa
tidak puas melihat Putera Mahkota yang masih kecil diangkat
menjadi kaisar?” tanya Pangeran Ciu dengan khawatir.
“Kalau ada pemberontakan, maka pemerintah tentu akan
menumpasnya! Karena itulah Sribaginda telah memberi
kekuasaan kepada kami dan kini malah dibantu oleh Ciu Thian
Hwa. Kami telah menghubungi semua panglima dan mereka
semua sepakat mendukung Putera Mahkota kalau diangkat
menjadi kaisar. Setiap pemberontakan pasti akan dapat kita
hancurkan,” kata Pangeran Bouw.
“Jika ada penyerangan terhadap pribadi Pangeran Mahkota,
kami yang bertanggung jawab untuk melindunginya. Di sini
sudah kami persiapkan untuk melindungi beliau. Saya sendiri
dibantu oleh kedua orang anak kami kini siap dan kami malah
mendapat bantuan dua orang pendekar muda yang boleh
diandalkan. Mereka adalah murid-murid Siauw-lim-pai yang
lihai. Dan sekarang ada lagi Ciu Thian Hwa ini yang membuat
tenaga perlindungan Putera Mahkota menjadi semakin kuat.
Kita tidak perlu khawatir.”
“Dinda Pangeran Ciu dan Thian Hwa. Kalian berdua sudah
tahu bahwa rencana yang hendak dilakukan Sribaginda Kaisar
merupakan rahasia yang hanya boleh diketahui kita berempat
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
dan mereka yang diberi kepercayaan di istana oleh Sribaginda
saja. Oleh karena itu, kita berempat harus merahasiakannya,
bahkan kepada anak-anak kita tidak perlu kita ceritakan.
Biarlah rencana Sribaginda yang mulia itu menjadi rahasia
bagi orang lain,” kata Pangeran Bouw dan mendengar ini,
Pangeran Ciu mengangguk.
“O ya, biar kupanggil anak-anak itu ke sini. Mereka harus
berkenalan dengan Thian Hwa!” kata Bouw Hujin. Kemudian,
saking girangnya dan menghendaki anak-anaknya dan dua
orang murid Siauw-lim-pai itu segera datang ke situ, ia
mengerahkan tenaga saktinya dan berseru. “Anak-anak, kalian
berempat kesinilah, ke ruangan tamu, cepat!”
Suaranya lirih saja akan tetapi Thian Hwa terkejut karena
dalam suara itu terkandung getaran yang amat kuat sehingga
ia dapat menduga bahwa orang-orang yang dipanggil itu,
biarpun berada di tempat jauh, tentu dapat mendengarnya
dengan jelas.
Benar saja dugaannya. Tak lama kemudian berkelebat
empat bayangan orang dan di dalam ruangan tamu itu telah
berdiri dua orang pemuda dan dua orang gadis yang semua
masih berkeringat di leher dan muka mereka. Thian Hwa
terkejut, akan tetapi juga girang ketika mengenal seorang di
antara dua orang pemuda itu yang bukan lain adalah Bu Kong
Liang. Akan tetapi tentu saja ia hanya diam dan memandang
mereka.
“Anak-anak, perkenalkan, ini adalah paman kalian,
Pangeran Ciu Wan Kong, dan ini puterinya, Ciu Thian Hwa
yang terkenal dengan julukan Huang-ho Sian-li, Thian Hwa, ini
adalah anak-anak kami, Bouw Kun Liong dan Bouw Hwi Siang,
dan inilah dua orang murid Siauw-lim-pai yang membantu
kami, Bu Kong Liang dan Gui Siang Lin.”
Mereka yang diperkenalkan saling memberi hormat. Dalam
kesempatan ini Kong Liang menyapa Thian Hwa. “Hwa-moi,
aku girang dapat berjumpa kembali denganmu di s ini.”
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
“Aku juga tidak mengira akan bertemu denganmu di sini,
Liang-ko,” jawab Thian Hwa.
“Ah, kalian sudah saling mengenal?” kata Bouw Hujin
sambil tersenyum.
Kong Liang lalu bercerita kepada mereka tentang
pertemuan dan perkenalannya dengan Huang-ho Sian-li Ciu
Thian Hwa. Setelah bercakap-cakap, Thian Hwa segera dapat
akrab dengan kedua orang putera dan puteri Pangeran Bouw
dan juga dengan Gui Siang Lin.
Karena mereka semua merupakan orang-orang yang diberi
tugas penting yang sama, yaitu melindungi Pangeran Mahkota
Kang Shi dan menjaga terlaksananya pengangkatan Pangeran
Mahkota menjadi kaisar, maka mereka mengadakan
perundingan bagaimana baiknya tugas itu dapat dilaksanakan.
Lalu diambil keputusan bahwa untuk sementara, Bu Kong
Liang dan Gui Siang Lin tinggal di rumah keluarga Pangeran
Bouw sebagai tamu. Sedangkan Ciu Thian Hwa tetap tinggal di
rumah ayahnya, akan tetapi selalu mengadakan kontak
dengan keluarga Pangeran Bouw, bahkan setiap pagi datang
ke gedung keluarga itu. Pangeran Bouw Hun Ki juga
mengadakan hubungan dengan para panglima yang setia
kepada Kaisar.
Biarpun pada waktu itu, hampir seluruh Cina dijajah oleh
orang Mancu, dan hanya sedikit di daerah Barat Daya yang
masih dikuasai Jenderal Wu Sam Kwi, namun kebanyakan
kaum pendekar akhirnya mendukung Kerajaan Ceng. Hal ini
terutama sekali karena para pemimpin Mancu menggunakan
siasat yang amat pandai. Mereka melihat betapa kebudayaan
pribumi Cina (Han) amat tinggi dan luhur, dan satu-satunya
cara untuk menarik perhatian dan rasa suka rakyat adalah
dengan menghargai budaya dan adat istiadat mereka. Oleh
karena itu, para bangsawan Mancu itu lalu mengikuti adat dan
kebudayaan pribumi Han. Selain itu, mereka juga menerima
dan menghargai orang-orang pribumi yang mau bekerja
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
kepada pemerintah Kerajaan Mancu, memberi mereka
kedudukan-kedudukan penting bagian tatanegara dan urusan
sipil. Hanya kedudukan di kemiliteran yang tidak diberikan
kepada pribumi Han, melainkan dipegang oleh bangsa Mancu
sendiri.
Sebab lain yang membuat rakyat pribumi tidak banyak
menentang pemerintah penjajah Mancu adalah karena tidak
ada lagi yang menjadi penerus Dinasti atau Kerajaan Beng
(1368-1644) yang telah jatuh oleh pemberontak-pemberontak
bangsa pribumi sendiri sehingga akhirnya negara jatuh ke
tangan bangsa Mancu. Satu-satunya pihak yang menentang
Kerajaan Ceng (Mancu) sampai waktu itu hanyalah yang
dipimpin oleh Jenderal Wu Sam Kwi yang berpusat di Yunnanhu.
Akan tetapi Wu San Kwi bukanlah pewaris Kerajaan Beng,
bahkan dia adalah seorang panglima Kerajaan Beng yang
memberontak terhadap Kerajaan Beng sehingga dia boleh
dikata menjadi satu di antara penyebab jatuhnya Kerajaan
Beng. Karena itu, biarpun dia merupakan penentang Kerajaan
Mancu yang paling gigih dan bertahan lama, namun tetap saja
rakyat menganggapnya sebagai pemberontak dan tidak
mendapat banyak dukungan rakyat.
Dunia kang-ouw, yaitu dunia kaum persilatan, pada waktu
itu juga terpecah-pecah menjadi beberapa kelompok. Yang
terbesar adalah mereka yang mendukung tiga kelompok.
Pertama tentu saja mereka yang mendukung Kerajaan Ceng
(Mancu) atau yang setia kepada Kaisar Shun Chi, terdiri dari
para pendekar Han dan Mancu sendiri. Kedua adalah mereka
yang mendukung Pangeran Leng Kok Cun yang berambisi
untuk merebut tahta kerajaan, yang didukung oleh para tokoh
kang-ouw golongan sesat. Adapun yang ke tiga adalah mereka
yang mendukung dan bekerja sama dengan Jenderal Wu Sam
Kwi, termasuk Pangeran Cu Kiong dan sekutunya.
Demikianlah keadaannya pada waktu itu. Karena sedih dan
bingung melihat ada di antara putera-puteranya yang
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
mempunyai niat jahat memperebutkan tahta kerajaan, maka
Kaisar Shun Chi yang sudah tua dan yang menjadi pemeluk
Agama Buddha yang taat, mengambil keputusan untuk
berpura-pura mati dan mengundurkan diri secara rahasia,
meninggalkan surat wasiat dan pesan kepada Pangeran Bouw
Hun Ki dan para pendekar yang membantunya.
(Oo-dwkz-oO)
Beberapa malam kemudian. Malam itu bulan purnama
bersinar cemerlang karena tidak ada awan menghalanginya.
Akan tetapi hawa yang amat dingin membuat orang tidak
betah lama-lama di luar rumah. Sebelum tengah malam,
keadaan sudah sunyi sekali di kota raja.
Akan tetapi justru malam yang dingin sepi namun terang
dan indah itu Thian Hwa keluar dari gedung ayahnya. Tadi,
ketika ia bercakap-cakap dengan ayahnya, tanpa disengaja ia
membicarakan tentang Bouw Hujin yang memiliki ilmu silat
tinggi, yang membuat ia kagum.
“Aku merasa heran, Ayah. Pangeran Bouw Hun Ki itu....”
“Dia Pamanmu, Thian Hwa, Paman tuamu (Kakak
Ayahmu)!” tegur Pangeran Ciu Wan Kong.
“O ya, Paman Pangeran Bouw itu, bagaimana dapat
memiliki isteri yang demikian gagah perkasa dan tinggi ilmu
silatnya? Apakah Bibi Bouw itu juga seorang wanita
bangsawan Mancu?”
“Bukan, Thian Hwa. Ia seorang wanita pribumi Han, dan
memang sejak dulu ia seorang pendekar wanita yang amat
terkenal dengan julukan Burung Hong Sakti.”
Mendengar julukan ini, Thian Hwa memandang dengan
mata terbelalak. “Sin-hong-cu, Ayah? Julukannya Sin-hongcu?”
Kini Pangeran Ciu yang memandang anaknya dengan
heran. “Benar, julukannya Sin-hong-cu, kenapa, Thian Hwa?”
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Thian Hwa tidak ingin membuka rahasia gurunya, biar
kepada ayahnya sekalipun. Akan tetapi ia ingat benar bahwa
gurunya Thian Bong Sianjin, pernah bercerita kepadanya
bahwa gurunya itu dahulu saling mencinta dengan seorang
pendekar wanita berjuluk Sin-hong-cu, akan tetapi kemudian
pendekar wanita itu menikah dengan seorang pangeran! Kini
ia tidak sangsi lagi bahwa Bouw Hujin yang lihai itulah yang
dulu menjadi kekasih gurunya!
“Tidak apa-apa, Ayah. Aku hanya pernah mendengar nama
julukan itu.”
Ayahnya mengangguk. “Tidak aneh karena memang dahulu
namanya sebagai pendekar wanita terkenal sekali.”
Demikianlah, karena hatinya tertarik sekali mendengar
bahwa Bouw Hujin adalah Sin-hong-cu bekas pacar gurunya,
malam itu Thian Hwa keluar dari gedung ayahnya dengan niat
mengelilingi gedung keluarga Pangeran Bouw. Ia memang
merasa ikut bertanggung jawab akan keselamatan Pangeran
Mahkota yang berada di gedung itu dan setiap pagi ia pasti
datang ke gedung itu. Akan tetapi ada baiknya kalau sewaktuwaktu
ia berkunjung di waktu malam, menyelidiki dan
menjaga kalau-kalau ada bahaya mengancam di waktu
malam.
Sementara itu, di malam bulan purnama yang dingin itu,
Bouw Hujin keluar dari kamarnya dan menuju ke taman bunga
seorang diri. Pangeran Bouw Hun Ki, suaminya, sudah tidur
pulas. Ketika melihat sinar bulan melalui jendelanya, ia lalu
keluar dari dalam kamar, ingin menikmati malam yang amat
indah itu. Biarpun usianya sudah lima puluh satu tahun,
Nyonya Bouw atau Souw Lan Hui ini masih tampak cantik dan
tubuhnya masih ramping padat. Diterangi sinar bulan
purnama, berada di tengah taman bunga itu, ia seolah
seorang bidadari yang sedang menghibur diri di taman. Ia
berjalan-jalan sebentar lalu duduk di atas bangku dekat kolam
ikan, memandangi ikan-ikan yang berenang hilir mudik di
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
kolam air yang jernih itu. Terkadang ada ikan emas yang
membalikkan tubuh sekilas dan tampak perutnya mengkilap
terkena sinar bulan purnama.
Tiba-tiba kedua tangan Bouw Hujin bergerak menyambit ke
arah kiri dan dua sinar perak meluncur cepat sekali ke arah
bayangan seorang yang bersembunyi di balik semak-semak
pohon kembang. Akan tetapi, bayangan itu miringkan
tubuhnya dan dengan kedua tangannya dia menangkap Ginseng-
piauw (Senjata Rahasia Bintang Perak) yang menyambar
ke arah tubuhnya itu.
“Gin-seng-piauwmu sungguh masih hebat dan berbahaya
sekali!” seru bayangan itu yang ternyata seorang laki-laki
berpakaian serba putih bertubuh tinggi kurus, dan dari gelung
rambut serta pakaiannya dapat diketahui bahwa dia adalah
seorang tosu (Pendeta To), berusia sekitar lima puluh tujuh
tahun.
“Kui Thian Bong...!” Bouw Hujin berseru ketika melihat lakilaki
itu. Laki-laki itu ternyata adalah Thian Bong Sianjin yang
dahulu bernama Kui Thian Bong, guru Huang-ho Sian-li Ciu
Thian Hwa.
“Hui-moi (Adik Hui)... eh, maksudku Bouw Hujin, maafkan
kalau aku mengejutkan dan mengganggumu,” kata Thian
Bong Sianjin sambil memberi hormat.
“Bong-ko (Kakak Bong), aku sudah mendengar bahwa
engkau menjadi seorang tosu. Ah, aku memang terkejut
melihatmu, akan tetapi aku... aku senang melihat engkau
sehat. Tapi... tapi... mengapa engkau kini menjadi seorang
tosu?” kata Bouw Hujin sambil bangkit dari tempat duduknya.
Thian Bong Sianjin melangkah maju menghampiri dan mereka
kini berhadapan, dalam jarak sekitar dua tombak. Sejenak
mereka saling pandang dan dalam mata mereka terdapat
keharuan yang mendalam. Bagaimanapun juga, mereka
berdua dahulu adalah sepasang kekasih yang saling mencinta.
Akan tetapi, kemudian hati Souw Lan Hui tertarik oleh
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Pangeran Bouw Hun Ki yang biarpun tidak sangat lihai namun
terkenal sebagai seorang yang gagah berani. Akhirnya Souw
Lan Hui menikah dengan pangeran itu yang dianggapnya lebih
dapat menjamin kehidupannya kemudian, memberinya
kemuliaan dan kehormatan di samping cinta kasih yang
mendalam. Jauh lebih meyakinkan daripada keadaan Kui
Thian Bong yang hidup sebagai seorang pendekar yang keras
dan tidak tentu keadaan dan tempat tinggalnya. Dan ternyata
pilihannya itu benar karena ia hidup berbahagia di samping
suaminya dan kedua orang anaknya, hidup terhormat dan
mulia, juga amat dicinta suaminya yang biarpun seorang
pangeran namun tidak mengambil isteri atau selir lain. Biarpun
demikian, kini melihat bekas kekasihnya muncul secara tibatiba
dan telah menjadi seorang tosu, hati Souw Lan Hui
merasa terharu sekali.
Mendengar pertanyaan itu, Thian Bong Sianjin tersenyum.
“Siancai.... apa salahnya menjadi seorang tosu, Bouw Hujin?
Pinto sekarang bukan Kui Thian Bong yang dulu, melainkan
Thian Bong Sianjin, dan engkau adalah Nyonya Pangeran
Bouw Hun Ki yang terhormat.”
“Akan tetapi... mengapa engkau tidak... menikah dan
berumah tangga...?” Hati wanita itu merasa terharu karena
kini baru ia merasa betapa ia yang memutus cinta telah
membuat laki-laki ini tidak mau menikah dan bahkan menjadi
seorang pendeta! Mengingat begini, kedua mata wanita itu
menjadi basah. Ia merasa kasihan dan berdosa telah
menghancurkan kebahagiaan hidup bekas kekasihnya.
“Maafkanlah aku... Bong-ko...,” katanya dan wanita itu terisak.
“Siancai, tidak ada yang perlu dimaafkan, Bouw Hujin.
Bahkan pinto harus berterima kasih kepadamu karena
keputusanmu itu ternyata membuat kita menjadi orang-orang
bahagia. Pinto mendapatkan kebahagiaan sebagai seorang
tosu dan pinto mendengar bahwa engkau pun menjadi
seorang ibu yang berbahagia. Sungguh pinto patut
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
bersyukur.” Ucapan tulus dari Thian Bong Sianjin itu
memancing keluarnya air mata lebih banyak lagi sehingga
Bouw Hujin terisak.
Pada saat itu terdengar bentakan nyaring. “Keparat, berani
engkau mengganggu ibu kami!”
Tiba-tiba Bouw Kun Liong dan Bouw Hwi Siang sudah
melompat dekat dan menyerang Thian Bong Sianjin dengan
senjata siang-kiam (sepasang pedang) mereka! Serangan
mereka itu dahsyat sekali. Empat batang pedang menyambar
ke arah tubuh Thian Bong Sianjin! Tosu itu maklum akan
serangan yang cukup berbahaya itu maka sekali berkelebat
tubuhnya sudah melompat ke belakang sehingga serangan
dua orang muda itu tidak mengenai sasaran. Akan tetapi
pemuda dan gadis itu segera berlompatan mengejar dan
menyerang lagi dengan hebatnya. Karena serangan itu
memang berbahaya sekali, Thian Bong Sianjin terpaksa
mencabut pedangnya dan memutar pedang itu sehingga
berubah menjadi sinar pedang yang menggulung menyelimuti
dirinya.
“Trang-trang-trang-trang...!” Empat batang pedang yang
menyerang itu bertemu dengan sinar pedang Thian Bong
Sianjin dan tampak bunga api terpijar menyilaukan mata. Dua
orang muda itu terkejut karena sepasang pedang mereka
terpental oleh tangkisan yang amat kuat itu.
“Kun Liong! Hwi Siang! Berhenti dan mundur!” Tiba-tiba
Bouw Hujin membentak dan dua orang muda itu segera
menahan pedang mereka dan mundur ke dekat ibunya sambil
memandang dengan heran mengapa ibunya melarang mereka
menyerang penjahat itu.
“Siancai! Mereka ini tentu putera-puterimu. Hebat, mereka
gagah dan lihai seperti ibunya,” kata Thian Bong Sianjin
sambil menyimpan kembali pedangnya.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
“Benar, Totiang (Bapak Pendeta), ini adalah Bouw Kun
Liong dan Bouw Hwi Siang, kedua orang anakku. Kun Liong
dan Hwi Siang, tosu ini adalah Thian Bong Sianjin, bukan
musuh dan tidak boleh kalian menyerangnya.”
“Benar sekali, dia bukan penjahat, bukan musuh. Dia
adalah sahabat baik ibumu, sahabat baik kami!” Tiba-tiba
terdengar suara Pangeran Bouw Hun Ki dan dia pun muncul
dan menghampiri isterinya.
Thian Bong Sianjin menjadi merah mukanya dan cepat dia
memberi hormat kepada Pangeran Bouw Hun Ki. “Maafkan
pinto, Pangeran, kalau kehadiran pinto di tengah malam ini
tidak pantas dan mengganggu.”
“Ah, tidak mengapa, Totiang. Totiang adalah sahabat lama
kami yang baik dan kedatanganmu akan selalu kami sambut
dengan senang hati. Mari, silakan masuk ke dalam di mana
kita dapat bicara lebih leluasa,” kata Pangeran Bouw Hun Ki
dengan ramah.
Dalam hatinya, Thian Bong Sianjin merasa girang melihat
bahwa pangeran ini benar-benar berhati bersih dan berbudi
baik, sehingga dia yakin bahwa Souw Lan Hui pasti hidup
berbahagia di samping suami yang bijaksana itu. Pangeran itu
memang telah mengenalnya dahulu.
“Terima kasih, Pangeran. Pinto tidak dapat lama di sini.
Kedatangan pinto ini sesungguhnya hendak menyampaikan
hal yang amat penting, dan maafkan kalau terpaksa pinto
datang malam-malam begini dengan alasan agar tidak
diketahui oleh mereka yang akan pinto laporkan. Mereka itu
sangat lihai dan kalau mereka tahu pinto datang ke sini
melaporkan, tentu usaha pinto akan gagal dan keluarga di s ini
terancam bahaya besar.”
“Thian Bong Sianjin! Siapakah mereka itu dan apa yang
telah terjadi?” tanya Bouw Hujin yang terkejut sekali karena
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
tentu saja ia khawatir kalau-kalau ada bahaya mengancam
Pangeran Mahkota yang dilindunginya.
“Ketika pinto merantau ke daerah selatan, ke daerah Secuan
di mana Jenderal Wu Sam Kwi menjadi raja muda, pinto
mendengar akan persekutuan antara Jenderal Wu Sam Kwi
dengan seorang pangeran di sini yang merencanakan
perebutan kekuasaan Kerajaan Ceng dengan cara membunuh
Pangeran Mahkota. Pinto mendengar bahwa Pangeran
Mahkota yang masih kecil berada dalam perlindungan
keluarga Pangeran Bouw Hun Ki, maka pinto sengaja datang
ke sini untuk melaporkan ancaman bahaya itu. Jenderal Wu
Sam Kwi sudah mengirim dua orang yang amat lihai untuk
melaksanakan tugas pembunuhan itu, dan pinto khawatir
kalau mereka tahu bahwa pinto melaporkan ke sini, tentu
rencana mereka akan diubah dan kita tidak tahu lagi apa yang
akan mereka lakukan dan hal itu akan jauh lebih berbahaya
daripada kalau kita mengetahui lebih dulu apa yang hendak
mereka lakukan.”
“Hemm, mereka mau coba-coba membunuh Pangeran
Mahkota di sini? Boleh mereka coba!” kata Souw Lan Hui
dengan sikap gagah.
“Nanti dulu, Totiang, dapatkah engkau memberitahu kami,
siapakah pangeran yang bersekutu dengan Jenderal Wu Sam
Kwi itu?” tanya Pangeran Bouw Hun Ki.
“Dia adalah Pangeran Cu Kiong, Pangeran,” jawab Thian
Bong Sianjin yang lalu menjura dengan hormat kepada ayah
ibu dan dua orang anak mereka itu sambil berkata. “Nah,
semua sudah pinto laporkan, legalah hati pinto karena pinto
percaya bahwa Pangeran dan Bouw Hujin akan menjaga dan
melindungi Pangeran Mahkota dengan baik. Selamat tinggal!”
Setelah berkata demikian, tubuh tosu itu berkelebat dan
lenyap dari s itu.
“Bukan main! Dia lihai sekali!” kata Bouw Kun Liong melihat
gin-kang (ilmu meringankan tubuh) yang hebat itu.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
“Ibu, tadi saya melihat Ibu menangis, mengapa Ibu tadi
menangis terisak-isak ketika bertemu Thian Bong Sianjin
sehingga kami berdua mengira dia mengganggu Ibu dan
menyerangnya?” tanya Bouw Hwi Siang sambil menatap
wajah ibunya.
Mendengar pertanyaan ini wajah Bouw Hujin menjadi
kemerahan, akan tetapi sambil tersenyum ia menjawab. “Aku
terkejut sekali dan sama sekali tidak pernah bermimpi akan
bertemu dengan dia, Hwi Siang. Dia adalah seorang sahabat
baikku dan kami berdua dahulu bersama-sama berjuang
menegakkan kebenaran dan keadilan di dunia kang-ouw.
Melihat dia muncul dan sudah menjadi seorang pendeta,
hatiku terharu maka aku sampai menangis.”
“Ibumu benar, dahulu Thian Bong Sianjin adalah seorang
pendekar yang gagah perkasa dan menjadi sahabat baik
kami.” Pangeran Bouw yang bijaksana menolong isterinya. Dia
tahu benar bahwa dahulu, hubungan isterinya dengan
pendekar itu memang amat dekat, dan dia tahu bahwa Kui
Thian Bong amat mencinta isterinya ketika ia masih seorang
gadis pendekar. Akan tetapi Souw Lan Hui memilih dia sebagai
suaminya, hal yang amat membahagiakan hatinya. Kemudian
dia mengalihkan perhatiannya dan percakapan. “Keterangan
Thian Bong Sianjin tadi cukup mengejutkan. Kita mencurahkan
perhatian terhadap Pangeran Leng Kok Cun yang jelas berniat
memberontak, bahkan kita tidak syak lagi bahwa yang
mengirim lima orang pembunuh ke istana untuk membunuh
Sribaginda, tentu dia juga. Dia telah berniat membunuh
Pangeran Mahkota pula seperti yang diceritakan Kong Liang.
Siapa tahu, kini ternyata Pangeran Cu Kiong merupakan
ancaman bahaya yang lebih besar karena dia bersekutu
dengan Jenderal Wu Sam Kwi.”
“Sebaiknya mari kita bicara di dalam saja,” ajak Souw Lan
Hui atau Bouw Hujin yang merasa tidak enak berada di situ,
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
mengingatkan ia akan pertemuannya dengan bekas pacarnya
dulu.
Mereka semua lalu memasuki gedung dan setelah berada di
dalam, mereka melanjutkan percakapan, kini ditambah
dengan hadirnya Bu Kong Liang dan Gui Siang Lin yang
mendengar suara keluarga itu. Mereka duduk di ruangan
dalam, mengelilingi meja besar.
Ketika Bu Kong Liang mendengar keterangan Pangeran
Bouw Hun Ki akan laporan Thian Bong Sianjin bahwa
Pangeran Cu Kiong bersekutu dengan Jenderal Wu Sam Kwi
dan mengancam akan membunuh Pangeran Mahkota, dia
berseru.
“Ah, sekarang saya ingat, Paman Pangeran! Ketika baru
turun gunung, saya bertemu dengan seorang gadis yang lihai
ilmu silatnya. Ia adalah seorang gadis yang menjadi kaki
tangan Wu Sam Kwi dan ia menuju ke kota raja. Mungkin
sekali ia merupakan mata-mata dari Jenderal Wu Sam Kwi dan
kedatangannya di kota raja untuk menghubungi Pangeran Cu
Kiong!” Pemuda murid Siauw-lim-pai ini lalu menceritakan
pertemuannya dengan gadis yang dikenalnya sebagai Ang-mo
Niocu itu.
“Hemm, sangat boleh jadi,” kata Bouw Hujin. “Thian Bong
Sianjin menceritakan bahwa persekutuan itu mempunyai
rencana untuk membunuh Pangeran Mahkota, maka mulai
sekarang kita harus lebih berhati-hati dan waspada.”
“Ibu benar,” kata Bouw Kun Liong. “Penjagaan kita masih
kurang kuat. Kalau ada orang berilmu tinggi masuk, para
penjaga tidak dapat mengetahui, seperti ketika Thian Bong
Sianjin tadi masuk, tahu-tahu telah berada di taman!”
“Paman Pangeran,” kata Bu Kong Liang. “Kalau boleh saya
mengetahui, mengapa para pangeran itu mempunyai niat
yang demikian buruk? Padahal, mereka itu semua adalah
putera Sribaginda Kaisar. Akan tetapi mengapa seolah saling
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
bermusuhan dan bahkan hendak membunuh Pangeran
Mahkota yang masih kecil?”
Pangeran Bouw Hun Ki menghela napas panjang. “Hal ini
sungguh memalukan dan menyedihkan sekali. Aku yang
menjadi paman mereka pun merasa sedih. Sesungguhnya,
pewaris tahta kerajaan tentu saja adalah Pangeran Mahkota
Kang Shi. Akan tetapi dia masih kecil sehingga kalau dia tidak
menjadi pengganti kaisar atau sampai terbunuh mati, yang
berhak mewarisi tahta adalah Pangeran Cu Kiong yang
menjadi putera dari selir ke tiga karena selir ke dua hanya
mempunyai seorang puteri. Mungkin karena itulah maka
Pangeran Cu Kiong berniat jahat membunuh Pangeran Kang
Shi dan karena merasa kurang kuat, ia bersekutu dengan
Jenderal Wu Sam Kwi. Adapun Pangeran Leng Kok Cun,
biarpun dia itu putera dari selir ke tujuh namun dia merupakan
pangeran yang paling tua, maka dia agaknya merasa bahwa
dia yang paling berhak mewarisi tahta. Karena Sribaginda
Kaisar memutuskan mengangkat Pangeran Kang Shi yang
masih kecil menjadi Pangeran Mahkota, maka diam-diam dia
merasa penasaran dan berniat memberontak. Demikianlah
keadaan yang amat menyedihkan itu. Aku merasa kasihan
sekali kepada Kakanda Kaisar, karena beliau yang paling
menderita batin melihat keadaan para puteranya.”
Setelah bercakap-cakap, Bouw Hujin memerintahkan para
panglima yang setia kepada kaisar untuk memperketat
penjagaan dan memasang para perwira yang memiliki ilmu
kepandaian tinggi untuk bergiliran melakukan penjagaan.
Sementara itu, Thian Bong Sianjin dengan cepat
meninggalkan taman gedung Pangeran Bouw. Dengan
menggunakan gin-kang yang luar biasa sehingga tubuhnya
hanya berkelebat seperti bayang-bayang melompati pagar
tembok belakang, dia dapat keluar dari situ seperti masuknya
tadi, tanpa dapat terlihat oleh para penjaga yang melakukan
perondaan mengelilingi pagar tembok gedung besar itu.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
JILID VIII
AKAN tetapi sekali ini lain. Baru saja dia tiba di luar pagar
tembok, sesosok bayangan menghadangnya dan suara wanita
yang nyaring membentaknya.
“Berhenti!”
Thian Bong Sianjin melihat di bawah sinar bulan purnama
bahwa yang menghadangnya adalah seorang gadis jelita
dengan pedang di tangan.
“Thian Hwa...?!” Tosu itu berseru dengan girang.
“Kong-kong...?” Thian Hwa juga berseru, girang akan tetapi
juga kaget dan heran. “Kong-kong yang memasuki gedung
Pangeran Bouw? Akan tetapi... mengapa...? Apakah Kongkong
tahu bahwa... bahwa... Bouw Hujin adalah....”
“Ssst, mari kita pergi menjauh agar jangan kelihatan
petugas jaga yang meronda dan bicara di sana,” kata kakek
itu dan mereka berdua segera melompat dan dua sosok
bayangan berkelebat cepat meninggalkan tempat itu.
Setelah tiba di tempat sunyi, Thian Hwa berkata, “Kongkong,
mari kita ke rumah Ayah saja. Aku sekarang tinggal
bersama Ayah kandungku, Pangeran Ciu Wan Kong. Kakekku,
ayah dari ibuku, juga tinggal di sana. Mari, Kong-kong, marilah
kita ke sana dan bicara di sana.”
Thian Bong Sianjin tidak dapat menolak ajakan muridnya
yang dianggapnya seperti anak atau cucu sendiri itu. Dia amat
menyayang Thian Hwa dan dia ikut berbahagia bahwa gadis
itu kini telah bertemu dan tinggal bersama ayah kandungnya.
Setelah tiba di gedung ayahnya, Thian Hwa menyuruh petugas
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
jaga untuk membuka pintu dan begitu masuk, dia langsung
membangunkan ayahnya, juga Lo Sam atau Cui Sam, ayah
mertua Pangeran Ciu Wan Kong yang sekarang ikut tinggal di
gedung itu sebagai ayah mertua yang terhormat.
Ketika diperkenalkan, Pangeran Ciu Wan Kong segera
memberi hormat kepada tosu itu dan berkata terharu.
“Totiang yang bijaksana dan berbudi mulia, perkenankan saya
menghaturkan terima kasih yang sedalam-dalamnya kepada
Totiang!” Dia hendak berlutut di depan kaki Thian Bong
Sianjin, akan tetapi cepat tosu itu memegang kedua
pundaknya dan mengangkat bangkit kembali.
“Siancai, jangan begitu, Pangeran. Kalau hendak berterima
kasih, marilah kita berterima kasih kepada Yang Maha Kuasa.
Pinto hanya melakukan kewajiban pinto, lain tidak.”
“Totiang, bagaimana saya tidak berterima kasih kepada
Totiang? Totiang telah menyelamatkan anak perempuan saya,
dan kembalinya Thian Hwa kepada saya berarti memberi
kehidupan baru bagi saya. Totiang bukan hanya
menyelamatkannya, bahkan memelihara dan mendidiknya
sehingga ia menjadi seorang gadis yang dapat dibanggakan
orang tuanya. Terima kasih, Totiang.”
Melihat sikap pangeran ini, diam-diam Thian Bong Sianjin
bersukur. Kiranya ayah dari Thian Hwa adalah seorang lakilaki
yang halus dan baik budi, tidak seperti pangeran lain yang
biasanya bersikap congkak dan tinggi hati, memandang
rendah orang biasa yang bukan bangsawan atau hartawan.
Cui Sam juga mengucapkan terima kasih kepada Thian
Bong Sianjin yang telah menyelamatkan, memelihara dan
mendidik cucunya. Setelah itu, kakek yang tahu diri ini, yang
merasa tidak tahu mengenai urusan negara, lalu berpamit
mengundurkan diri. Kini tinggal Pangeran Ciu dan Thian Hwa
yang duduk bercakap-cakap dengan Thian Bong Sianjin.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
“Dan sekarang, katakan, Kong-kong. Apakah Kong-kong
sudah tahu siapa sebenarnya Nyonya Pangeran Bouw Hun Ki?”
tanya Thian Hwa sambil menatap wajah kakek angkatnya.
Melihat cara bicara dan sikap Thian Hwa terhadap tosu itu
yang demikian akrab bahkan manja, diam-diam Pangeran Ciu
Wan Kong merasa terharu dan semakin bersukur bahwa
puterinya ditolong seorang tosu yang demikian baik budi.
Thian Bong Sianjin tersenyum dan mengangguk. “Ia Souw
Lan Hui, bukan?”
“Ah, Kong-kong sudah tahu?”
“Tentu saja, Thian Hwa. Sejak dulu juga pinto sudah tahu
bahwa Souw Lan Hui menjadi Nyonya Pangeran Bouw Hun
Ki!”
“Akan tetapi kenapa engkau pada tengah malam memasuki
tempat keluarga Bouw secara menggelap? Apa yang Kongkong
lakukan di sana?” tanya Thian Hwa heran.
“Thian Hwa, bersikaplah sopan terhadap gurumu!” kata
Pangeran Ciu Wan Kong menegur puterinya.
Thian Bong Sianjin tertawa. “Ha-ha-ha...! Tidak mengapa,
Pangeran! Thian Hwa memang merupakan cucuku sendiri
maka ia sudah terbiasa manja dan bicara terbuka dan jujur.
Pertanyaan yang jujur itu perlu jawaban yang jujur pula.
Bukankah begitu, T hian Hwa?”
“Tentu saja, Kong-kong. Bukankah sejak dulu Kong-kong
mengajarkan agar aku terbuka dan jujur?”
“Akan tetapi urusan ini merupakan rahasia yang
menyangkut Kerajaan Ceng, menyangkut keselamatan
Pangeran Mahkota.”
“Ah, kalau begitu, lebih penting lagi aku harus tahu!
Ketahuilah, Kong-kong, aku adalah orang yang ditugaskan
Sribaginda Kaisar untuk melindungi Pangeran Mahkota,
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
membantu keluarga Pangeran Bouw, bahkan aku telah diberi
Tek-pai oleh Sribaginda Paman Kaisar.”
Diam-diam Thian Bong Sianjin terkejut, akan tetapi juga
bangga. “Engkau? Diberi kuasa oleh Sribaginda Kaisar?” Dia
menoleh dan memandang kepada Pangeran Ciu Wan Kong
seolah minta kesaksiannya.
“Benar, Totiang. Thian Hwa menyelamatkan Kakanda
Kaisar dari serangan lima orang penjahat dan ia lalu diberi
Tek-pai oleh Kakanda Kaisar dan diberi tugas membantu
keluarga Kakanda Pangeran Bouw Hun Ki untuk melindungi
Pangeran Mahkota.”
“Hebat! Engkau hebat, Thian Hwa dan pinto ikut bangga
mendengarnya. Sekarang memang tidak ada rahasia lagi,
tentu saja engkau boleh mendengar penjelasanku. Ketika aku
merantau ke selatan, ke daerah yang dikuasai Wu Sam Kwi, di
Yunnan-hu pinto mendengar bahwa Wu Sam Kwi mengadakan
persekutuan dengan Pangeran Cu Kiong di kota raja untuk
merebut tahta kerajaan dan rencana pertama mereka adalah
mengirim dua orang pembunuh yang amat sakti untuk
membunuh Pangeran Mahkota.”
“Ih! Pangeran keparat itu!” Thian Hwa berseru, demikian
marahnya sehingga ia memaki, membuat ayahnya
mengerutkan alisnya memandang kepada puterinya.
“Thian Hwa, perbuatan Pangeran Cu Kiong itu memang
tidak benar dan jahat sekali. Kita mengira bahwa Pangeran
Leng Kok Cun yang hendak memberontak dan membunuh
Pangeran Mahkota, tidak tahunya Pangeran Cu Kiong juga,
malah bersekutu dengan Jenderal Wu Sam Kwi! Akan tetapi
mengapa engkau membenci dan memakinya begitu kasar?”
Thian Hwa menghela napas panjang, teringat bahwa ia
memang tidak menceritakan persoalannya dengan Pangeran
Cu Kiong yang hendak memperalatnya dulu. Ia lupa pula
bahwa ia kini adalah seorang puteri bangsawan, puteri
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
seorang pangeran, keponakan kaisar, sehingga tidak
semestinya mengeluarkan kata makian.
“Maaf, Ayah. Aku benci mendengar orang berniat jahat,”
katanya.
Thian Bong Sianjin yang sudah mendengar cerita Thian
Hwa tentang persoalan gadis itu dengan Pangeran Cu Kong,
maklum bahwa gadis itu belum menceritakannya kepada
ayahnya. Maka dia pun tidak menanggapi dan melanjutkan
ceritanya.
“Nah, mendengar itu aku lalu pergi ke sini untuk
menceritakan kepada yang berwenang akan ancaman itu agar
Sang Pangeran tidak jadi terbunuh. Akan tetapi aku
mendengar bahwa Pangeran Mahkota berada dalam lindungan
Pangeran Bouw Hun Ki yang sudah kukenal. Karena itulah
maka aku lalu tadi berkunjung ke sana dan telah bertemu
dengan Pangeran Bouw, isterinya, dan dua orang anaknya.
Sudah kuberi laporan tentang ancaman bahaya itu. Sekarang
telah selesai kewajibanku, aku akan melanjutkan
perjalananku. Pangeran, maafkan, pinto akan melanjutkan
perjalanan pinto.”
“Aih, kenapa tergesa-gesa amat, Totiang? Tinggallah di
rumah kami agar kami dapat membuktikan rasa sukur dan
terima kasih kami kepada Totiang.”
“Terima kasih, Pangeran. Sudah pinto katakan tadi, tidak
perlu ada rasa terima kasih itu. Pinto sudah merasa bahagia
sekali melihat Thian Hwa dapat bertemu dan berkumpul
dengan ayah kandungnya dan kakeknya. Pinto akan pergi
sekarang juga.”


Tag:cersil cersil indo cersil mandarin full cerita silat mandarin online cersil langka cersil mandarin lepas cerita silat pendekar matahari kumpulan cerita silat jawa cersil mandarin beruang salju. cerita silat pendekar mataharicerita silat indonesia cerita silat kho ping hoo cerita silat mandarin online cerita silat mandarin full cerita silat jawa kumpulan cerita silat cerita silat jawa pdf cerita silat indonesia gratis cerita silat jadul indonesia cerita silat indonesia pendekar rajawali sakti cersil indonesia pendekar mabuk cersil langka cersil dewa arak cerita silat jaman dulu cersil jawa download cerita silat mandarin full cerita silat mandarin online cersil mandarin lepas cerita silat mandarin pendekar matahari cerita silat jawa pdf cersil indonesia pdf cersil mandarin beruang salju kumpulan cerita silat pdf
kumpulan cerita silat cersil online
Share:
cersil...
Comments
0 Comments

Arsip Cersil

Best Cersil

Pecinta Cersil