Donasi

Buat yang punya rejeki berlebih dan merasa terhibur dengan Situs Cerita Silat Cersil Terbaik ini bisa mendonasikan bantuannya ke
No. Rekening BPD Jateng No. 2004084554 a.n Ali Afif
demi keberlangsungan dan keberadaan Blog Cersil Cerita Silat yang sama-sama kita cintai ini. Kritik dan Saran hub No HP.083837358519. Atas Bantuannya disampaikan Terimakasih.

Selasa, 24 April 2018

Cersil Tangan Geledek 3 KPH

-------
Tiang Bu hendak melompat keluar pula, te tapi tiba-tiba
Cui Lin dan Cui Kim lari masuk dan memeluknya.
"Koko yang baik, jangan bunuh dia….” Cui Lin membujuk
sedangkan Cui Kim memeluknya erat-erat. Begitu dua orang
gadis itu berada di dekatnya, lemaslah seluruh tubuh Tiang
Bu, lenyap kemarahannya.
“Akan te tapi...... kenapa dia...... hendak membunuhku ?”
tanyanya, keningnya berkarut matanya bersinar penasaran.
“Duduklah ...... biar kuterangkan kepadamu ...... " kata
Cui Lin dan bersama adiknya ia menyeret Tiang Bu untuk
duduk di atas ranjang.
"Sesungguhnya, te rus terang s aja, dia mempunyai hati
kepadaku, akan tetapi aku tidak membalas cintanya dan
...... dan cinta padamu. Ini agaknya membuat iri dan
cemburu dan tanpa tanya lagi dia menyerangmu. Akan
tetapi dia sudah mendapat bagiannya dan tentu kapok. Biar
dia pergi dari sini, jangan kita perdulikan dia."
'Koko, kau ...... kau gagah parkasa hebat ...... !I" Cui Kim
memuji dan nampak bangga sekali.
Untuk kedua kalinya Tiang Bu roboh. Racun katak sudah
menjalar memasuki darahya membuat ia lupa daratan dan
tidak tahu bahwa dua orang wanita cantik ini mengatur
siasat untuk mencelakakannya. Namun, Cui Kim dan Cui
Lin agaknya jerih menghadapi kelihaian ilmu silat Tiang Bu,
18
sehingga sampai sebulan lebih mereka mengajak Tiang Bu
bersenang-senang di tempat itu. Segala keperluan
disediakan oleh dua orang pelayan itu dan anehnya, di
tempat sesunyi itu apa saja yang dikehendaki mereka akan
tersedia, makanan-makanan yang mahal atau minumanminuman
yang lezat. Dalam maboknya, hal inipun tidak
menarik perhatian Tiang Bu, apalagi menimbulkan
kecurigaannya.
Di luar pengetahuannya, makin lama tubuh Tiang Bu
makin lemas. Racun katak itu memang hebat. Kalau yang
dirangsang tidak melayaninya, racun itu takkan ada
gunanya dan akan mati sendiri. Sebaliknya, apabila orang
yang dirangsang menuruti dorongan nafsu yang timbul dari
rangsangan racun ini, racun itu akan bekerja makin hebat,
mengeram dalam jalan-jalan darah dan menyerang jantung.
Kalau bukan Tiang Bu. dalam waktu dua pekan saja orang
yang menuruti nafsu akibat rangsangan racun ini akan
kehabisan semua tenaganya dan darahnya akan keracunan
sedemikian hebat yang akan merenggut nyawa. Baiknya
Tiang Bu memang memiliki sinkang luar biasa, juga ia
pernah mempelijari kitab Seng-thian-to dan melatih
semacam yoga yang tertinggi, maka pengaruh racun itu
dalam waktu sebulan lebih hanya membuat ia lemas saja
dan tenaga sinkangnya banyak yang lolos ke -luar !
Empat puluh hari sudah lamanya Tiang Bu
dipermainkan oleh kakak beradik Cui Lin dan Cui Kim dan
masih tetap saja dua orang gadis ini jerih dan tidak berani
sembarangan turun tangan terhadap Tiang Bu. Pada suatu
pagi, Tiang Bu yang makin lemas tubuhnya dan masih
belum bangun dari tidurnya, akan tetapi dua orang wanita
itu sudah berhias dan sedang mengatur hidangan pagi di
atas meja. Tiba-tiba terdengar suara. "kok kok kok kok !"
yang nyaring. Cui Lin dan Cui Kimsampai tersentak
mendengar suara ini di dalam kamar. Mereka melihat Tiang
Bu masih tidur dan ketika mereka mercari-cari, terlihatlah
kotak hitam berukir di bawah bantal Tiang Bu. Dengan hati19
hati Cui Kim mengamhil kotak ini dan kembali terdengar
suara nyaring seperti tadi. Cui Kim membuka perlahan
tutupnya dan…... seekor katak hijau melompat keluar, terus
ia menycrbu ke atas meja dan ...... makan makanan buah
yang berada di situ. Agaknya katak ini paling doyan manisan
atau makanan yang manis- manis maka tadi ketika
mencium bau manis-manis yang baru dihidangkan pagi ini,
ia memberontak dan berbunyi di dalam kotaknya. Katak
aneh itu memang luar biasa biarpun tidak diberi makan
sampai berbulan-bulan ia tidak apa-apa.
"Aneh sekali!" kata Cui Kim. 'Untuk apakah dia
menyimpan seekor katak?'
"Hush, jangan keras keras. Kukira katak ini semacam
katak ajaib yang besar kasiatnya. Biar kupegang dia," Cepat
sekali tangan Cui Lin menyambar, namun sekali
menggerakkan pinggul saja katak itu sudah dapat mengelak.
Tiga kali Cui Lin menubruk, selalu katak itu dapat mengelak
di atas meja, mengelilingi piring berisi manisan itu.
"Pancing dengan manisan." kata Cui Kim yang segera
mengambil semua manisan, disukkan ke dalam kotak. Benar
saja, katak segera melompat dan sekali melompat tahu-tahu
ia telah berada di dalam kotak. Demikian cepat
lompatannya. Cui Kimcepat menutup kotak itu dan
memasukkannya ke dalam sakunya.
Suara ribut-ribut ini membuat Tiang Bu bangun dari
tidurnya. Dengan lemah dan ogah-ogahan ia membuka mata
lalu bangkit duduk, memutar pinggang ke kanan kiri lalu
bersila untuk bersamalhi seperti yang ia lakukan tiap malam
dan pagi. Begitu panca indranya terkumpul dan
pernapasannya jalan dengan sempurna, mendadak ia
merasa sesuatu yaig aneh sekali. Ia tidak rindu dan mencaricari
Cui Lin dan Cui Kim seperti biasa ia rasakan setiap saat
kalau ia tidak tidur dan semangatnya perlahan-lahan datang
kembali. Tiba-tiba saja pikirannya seperti dibuka dari
selubungan tirai hitam gelap, membuat ia teringat segala
20
kehinaan yang ia lakukan selama puluhan hari ini. Dan ia
tiba-tiba menjadi malu dan terkejut sekali. Cepat ia
membuka matanya dan melihat dua orang wanita cantik itu
tengah memandangnya sambil tersenyum-senyum. Senyum
mereka yang biasanya mendatangkan rasa nikmat pada
perasaan Tiang Bu, kini me rupakan ejekan yang menikam
kalbu, seperti mentertawakan kelemahan dan
kedunguannya. Tak tertahan lagi Tiang Bu menutupi
mukanya dengan kedua tangan untuk mengusir bayang
wajah dua orang suhunya yang seakan-akan
memandangnya dengan bengis. Ia menggeleng-gelengkan
kepalanya keras-keras untuk mengusir kata kata Tiong Sin
Hwesio yang bergema di telinganya pada saat ia “sadar" itu.
"Tiang Bu muridku, syarat untuk menjadi seorang gagah
adalah sama dengan syarat untuk menjadi seorang kuncu
(budiman), karena seorang gagah itulah seorang budiman
dan demikian sebaliknya. Kalau kau dapat mengalahkan
seratus orang musuh, itu masih belum gagah. Sebaliknya
kalau kau dapat mengalahkan iblis yang selalu datang dan
hendak menguasai hati dan pikiran setiap orang, dapat
mengalahkan iblis yang mengeram dalam dirimu sendiri,
barulah kau patut mengaku sebagai murid Ome i-san! Hatihati
bahwa iblis menguasai batinmu adalah kalau kau
menghindari menyakiti hati, atau mencelakai lain orang yang
tidak berdosa hanya untuk memuaskan nafsu dan benci,
kau merugikan lain orang hanya untuk kepentingan dan
keuntunganmu sendiri, kalau kau melakukan perbuatan
hina dan kotor untuk memuaskan nafsu, terutama sekali
kalau kau berjina…….”
Kata-kata ini semua berdengung di telinga Tiang Bu dan
akhirnya tak dapat tertahan lagi Tiang Bu menangis.
“Ampun suhu ...... ampunkan teecu…” katanya, masih
menutup muka dan air matanya jatuh be rderai.
"Melakukan perbuatan salah itu sebuah kesesatan, akan
tetapi tidak menghentikan perbuatan yang salah itu sebuah
21
kesesatan lain yang lebih besar." suara Tiong Jin Hwesio
bergema di telinganya, membuat semangat Tiang Bu bangkit
dan ia menurunkan kedua tangannya, membuka matanya
yang menjadi merah dan basah.
“Koko, kau kenapakah ?" kata Cui Lin.
“Agaknya kau mimpi buruk...... " kata Cui Kim sambil
tertawa dan bersama encinya ia maju menghampiri Tiang
Bu.
Akan tetapi Tiang Bu mengebutkan selimut ke arah
mereka. 'Pergi kalian!" bentaknya keras. Selimut itu
menyambar ke arah dua gadis ini yang tidak mampu
mengelak. Akan te tapi sambaran selimut itu hanya
mendatangkan rasa pedas sedikit pada kulit. Maklumlah
dua orang gadis ini bahwa Tiang Bu telah kehilangan banyak
tenaganya sehingga pukulannya tidak berbahaya lagi.
“Twako ...... bantu kami........,!” tiba-tiba Cui Lin be rteriak
sambil mencabut pedang diturut oleh Cui Kim. Me reka
serentak nyerang Tiang Bu !
Dapat dibayangkan betapa kaget hati Tiang Bu atas
serangan yang sama sekali tak pernah disangkanya ini. Ia
melompat dari atas perbaringan sambil mengelak dan
dengan kecewa ia mendapat kenyataan betapa gerakannya
tidak begitu gesit lagi. Namun berkat ilmunya yang tinggi,
masih dapat ia menghindar sambaran-sambaran pedang dua
orang kakak beradik yang malam tadi masih menjadi
kekasih-kekasihnya yang kelihatannya mencintainya.
"Kerbau itu sudah cukup gemuk untuk disembelih?”
Terdengar suara orang dan muncullah Cui Kong dengan
huncwenya di tangan.
Selama puluhan hari ini, Cui Kong bersembunyi tak jauh
dari situ, sambi l mengobati luka-lukanya dan menyambung
tulang-tulang pahanya yang remuk oleh pukulan Tiang Bu,
sementara dua orang wanita itu me rayu dan menyeret Tiang
Bu ke lembah kehinaan mempergunakan kecantikan mereka
22
dan di luar tahu semua orang, mereka mendapat bantuan
dari katak pembangkit asmara!
Melihat pemuda ini muncul, pikiran Tiang Bu yang
selama ini gelap dia tidak ingat apa-apa seperti dibuka.
Dapatlah ia menduga bahwa selama ini ia memang sengaja
dibikin mabok oleh dua orang.gadis itu dengan rayuan dan
cumbuan mereka. Karena tidak dapat menangkan dia
dengan ilmu silat, mereka telah menggunakan
kecantikannya dan agaknya s emua ini diatur oleh Cui Kong
yang menjadi dalang di belakang layar! Marahlah Tiang Bu
melihat pemuda itu dan cepat ia menubruk mengirim
pukulan ke arah dada Cui Kong. Akan tetapi, dua orang
"kekasihnya" yang selama puluhan hari dari malam berlaku
amat manis kepadanya, kini merupakan lawan yang haus
darah dan pedang mereka menyambar dari kanan kiri secara
kilat. Terpaksa Tiang Bu menarik kembali serangannya
terhadap Cui Kong untuk menge!ak dan menggunakan jari
tangannya menyentil pedang dua nona itu. Akan tetapi
alangkah kagetnya ketika hampir saja jari-jari tangannya
tcrbabat putus ketika bertemu dengan pedang! Mas ih baik ia
cepat me lompat ke samping sambil menarik tanganya.
Ternyata bahwa tenaga sentilannyapun hilang kekuatannya.
Pada saat itu, ujung huncwe di tangan Cui Kong sudah
menyambar. Tiang Bu mencoba untuk mengelak, akan tetapi
kedua kakinya lemas dan ia hanya sempat miringkan tubuh.
Namun ujung huncwe terus mengejar dan lrhrr belakangnya
ditotok !
Tian Bu mengeluh. Kalau biasanya, totokan seperti itu
saja takkan mengakibatkan apa- apa karena hawa -
sinkangnya tentu akan me lawannya, akan tetapi sekarang ia
tidak kuat menolak sehingga jalan darahnya terkena totokan
lihai, membuat ia lemas dan roboh terpelanting ketika Cui
Kong menendang lututnya. Di lain saat, ujung dua pedang
dan sebuah huncwe telah menodong jalan jalan darah
kematian, membuat ia tak berdaya sama sekali.
23
"Ha ha ha tikus buruk. Kau mau apa sekarang?" bentak
Cui Kong, menusuk- nusuk kulit dada Tiang Bu memancing
pemuda itu mengaduh. Akan tetapi biarpun kesakitan, Tiang
Bu diam saja, sama sekali tidakmengeluh. Ia lebih banyak
merasa hanteur hatinya mengingat akan kesesatannya dari
pada merasa takut.
Dua orang nona itupun tertawa cekikikan. “Twako, kalau
tidak ada kami dua orang wanita lemah, tak mungkin hari
ini berhasil membekuknya," kata Cui Kim.
"Memang kalian anak anak baik dan pintar sekali, telah
menjalankan s iasatku secara sempurna. Tunggulah, kelak
aku akan menyatakan terima kasihku kepada kalian," jawab
Cui Kong sambil tertawa-tawa.
Mendengar ini, hati Tiang Bu makin hancur dan ia ingin
memukuli diri sendiri karena kebodohannya. Mataku telah
buta, pikiranku penuh penyesalan.
“Cui Kong, hayo kau bunuh saja aku. Orang macam aku
memang layak dibunuh, tidak ada gunanya hidup!' kata
Tiang Bu sambil memandang kepada Cui Kong dengan mata
mendelik.
"Ha-ha ha ha, .Tiang Bu. Kau merengek-rengek ingin
minta kas ihan? Apa kau mau mengingatkan aku bahwa kita
masih saudara angkat?”
"Tidak, kaubunuhlah aku. Siapa sudi punya saudara
angkat macammu? Juga aku bukan anak ayah angkatmu.
Lebih baik mati !” jawab Tiang Bu gemas.
“Twako, tusuk saja jantungnya biar lekas beres . Sebal
hatiku melihat monyet ini,” kata Cui Kim sambtl menekan
ujung pedangnya sehingga ujung pedang itu masuk ke
dalam daging di pundak Tiang Bu sampai mengenai tulang
pundaknya. Dapat dibayangkan betapa nyerinya, namun
Tiang Bu sama sekali tidak memperlihatkan rasa sakit.
Jangankan mengeluh berkedippun tidak !
24
“Biarkan aku yang memenggal lehernya, dia sudah
terlalu banyak mempermainkan diriku. Aku ingin membalas
sakit hati dan penghinaan itu!" kata Cui Lan dan nona ini
mengayun pedangnya ke arah leher Tiang Bu yang menanti
datangnya pedang dengan mata menantang berani.
"Traaangeg....,...... !. Pedang itu te rpental oleh tangkisan
huncwe di tangan Cui Kong.
“Eh, twako...... apa kau tiba-tiba menjadi lemah hati dan
penyayang ?"
"Lin-moi. jangan lupa akan pesan ayah? Dia boleh
ditawan, boleh dibikin tak berdaya dan dihilangkan
kepandaiannya, akan tetapi tidak boleh dibunuh. Dia
berbahaya dan aku masih meninggalkan hutang kepadanya,
biar sekarang kusurun dia membayarnya.” Setelah berkata
demikian huncwenya bcrgcrak cepat sekali dan, .....
"krak...... krak.....!" tulang-tulang kaki Tiang Bu patah-patah
oleh pukulan huncwe.
Rasa nyeri menyusup ke tulang-tulang seluruh tubuh
Tiang Bu, membuat wajah menjadi pucat seperti mayat dan
bibirnya tang tebal itu mengeluarkan darah karena
digigitnya sendiri dalam menahan rasa s akit akan tetapi
berkat kekerasan hatinya, ia masih sadar ketika ia diseret
oleh Cui Kong dan dua orang nona itu, diseret keluar dari
dalam pondok kemudian dilempar ke dalam jurang yang
dalam di pantai sungai!
Dalam keadaan setengah sadar setengah pingsan, Tiang
Bu mempergunakan kesempatan terakhirmenolong nyawa
dari maut dengan cara membentangkan kedua lengannya
mencari pegangan sesuatu penahan tubuhnya yang
meluncur ke bawah, bergulingan di atas batu-batu yang
tajam. Akhirnya ia tertolong, tangan kanannya dapat
memeluk sebatang pohoa yang tumbuh di lereng jurang.
Mempergunakan sisa tenaganya Tiang Bu memeluk batang
pohon itu dan ia bcrhenti bergulingan. Agaknya Thian masih
menghendaki supaya ia hidup.
25
Setelah dapat menempatkan diri, duduk di atas batu di
dekat pobon sambil memeluk batang pohon yang menjadi
penolongnya itu, Tiang Bu pingsan. Tubuhnya
menggelantung di pohon, matanya me ram dan napasnya
lemah sekali.
-oo(mch)oo-
Biar kita tinggalkan dulu Tiang Bu yang berada dalam
keadaan mati tidak hiduppun payah itu dan mari kita
menengok keadaan dunia luar jurang itu di mana terjadi halhal
yang tidak kalah hebatnja.
Pemimpin bangsa Mongol, Temu Cin yang pandai
meminpin itu, makin lama makin terkenal di antara para
suku bangsa yang tinggal di daerah utara. Suku bingsa demi
suku bangsa ia taklukkan, bahkan suku bangsa Kerait yang
amat kuat dan yang tadinya selalu mengalahkan orang -
orang Mangol, dapat ia tundukkan. Oleh karena semua
orangmenganggap Temu Cin sebagai pemimpin besar yang
amat boleh diandalkan, pada tahun l206 semua suku
bangsa mengadakan rapat besar di hulu Sungai Onon dan
dalam kesempatan inilah Temu Cin diangkat menjadi raja
besar dari seluruh Mongolia dan diberi gelar Jengis Khan
yang kemudian menjadi tokoh besar yang amat termasyhur
di dalam sejarah.
Nama besar Jengis Khan ditakuti oleh semua suku
bangsa dan banyak sekali suku bangsa yang takluk tanpa
diserang, Sepak terjang barisan Jengis Khan yang gagah
berani dan ganas kejam terkenal di mana-mana. Memang di
dalam barisan Jengis Khan terdapat banyak sekali orangorang
pandai, bahkan banyak pula orang Han dan orang
orang se latan, ahli- ahli silat yang pandai, terkena
bujukannya dan masuk menjadi pembantu.
Di antara suku-suku bangsa di daerah perbatasan di
utara, hanya suku bangsa Han Hsia yang masih belum mau
26
tunduk. Jengis Khan mulai memimpin tentaranya ke sana
dan dalam waktu dua tiga tahun saja berturut-turut
diserangnya suku bangsa ini hancurlah balatentara Hsi-
Hsia. Setelah itu Jengis Khan mulailah dengan rencananya
yang besar, rencana yang sudah lama ia idam-idamkan dan
sudah lama ia mengatur siasat untuk rencana ini, yaitu
menyerbu ke selatan. Di se rangnya Kerajaan Kin. Pada
tahun l2ll ia mulai menyerbu Shensi dais Hopei, mambakar
rumah-rumah rakyat, merampok, membinasakan,
mengganas dan menghancurkan segala apa yang
menghalangi tentaranya. Rakyat di daerah utara melakukan
perlawanan mati matian. Di mana-mana Jengis Khan
menemui perlawanan. Namun bala tentara Mongol
terlampau kuat. Biarpun dengan adanya perlawanan rakyat
ini pergerakan bala tentara Mongol agak terhalang, namun
dalamwaktu dua tahun saja bala tentaranya sudah berhasil
menyerbu Yenking atnu Peking, kota raja Kerajaan Kin!
Hebat sekali pertempuran-pertempuran yang terjadi
sebelum bala tentara musuh berhasil menyerbu ibukota ini.
Pihak Kerajaan Kin melakukan perlawanan gagah perkasa
dan mati-matian. Pangeran Wanyen Ci Lun yang berhasil
mengumpulkan banyak orang gagah, apa lagi akhir-akhir ini
setelah ia mengutus Kwan Kok Sun untuk mercari bantuan
ke selatan, melakukan perlawanan mati-matian. Oleh usaha
Pangeran Wanyen Ci Lun yang melakukan segala daya upaya
untuk menghalau musuh inilah maka tidak mudah bagi
balatentara Mongol untuk memasuki atau membobolkan
kota raja. Juga bukan sedikit tentara dan perwira Mongol
yang tewas dalam perrempuran ini.
Beberapa kali pertempuran terpaksa ditunda karena
kedua fihak sudah banyak mengalami kerusakan. Mereka
menunda pertempuran untuk memberi nafas kepada
balatentera masing-masing. di fihak Mongol untuk dapat
berunding guna mengatur slaw peoyerbuao baru, saw nye di
fibak Kin untuk dapat berunding guna mengatur siasat
pertahanan yang kokoh kuat.
27
Sudah untuk kedua belas kalinya kedua pihak menunda
perang. Kembali masing-masing fihak mengatur siasat. Di
fihak istana kaisar, Pangeran Wanyen Ci Lun mengadakan
perundingan dengan para panglima perang. Pangeran ini
nampak jauh lebih tua dari pada usianya yang sebenarnya,
hal ini karena ia terlalu banyak menderira selama negaranya
diserang oleh orang Mongol. Keningnya berkerut
cambangnya panjang, menambah keangkeran wajahnya
yang tampan. Di dalam ruangan sidang itu. selain sepuluh
orang panglima besar Kerajaan Kin, juga di sampingnya
duduk berapa orang tokoh-tokoh kang-ouw yang sudah
datang untuk membantu Kerajaan menghadapi serbuan
bala-tentara Mongol. Nampak di situ Tee-tok Kwan Kok Sun
yang berpakaian panglima dan be rkepala gundul, Hwa Thian
Hwesio tukang dapur Kelenteng Kwan twe bio di selatan kota
raja, hwesio gemuk bundar yang amat lucu akan tetapi
kepandaiannya tinggi , dan banyak lagi tokoh kangouw yang
datang ke situ karena tertarik oleh hadiah-hadiah besar !
Bahkan disitu hadir pula Coa Hong Kin dan Go Hui Lian,
sepasang suami isteri pendekar yang gagah perkasa, yang
baru datang dari Kim-bun-to beberapa hari yang lalu.
Kedatangan sepasang suami-isteri ini bersama puteri
mereka Coa Lee Goat yang sudah remaja puteri dan selain
cantik jelita juga gagah perkasa murid Wan Sin Hong.
Mereka ini datang untuk menjemput Gak Soan Li dan anakanakmereka
karena dahulu Pangeran Wanyen Ci Lun sudah
minta pertolongan mereka agar supaya memboyong anak
isterinya ke Kim-bun-to apabila perang dengan orang-orang
Mongol pecah.
Akan tetapi, Gak Soan Li juga dua orang anaknya, Wan
Sun dan Wan Bi Li, be rkeras idak mau mengungsi pergi
meninggalkan Pangeran Wanyen Ci Lun. 0leh karena itu,
biar pun tidak tertarik oleh perang, sepasang suami isteri ini
menjadi tidak enak hati kalau buru-buru pergi seakan-akan
mereka takut menghadapi perang. Terpaksa mereka
memutuskan untuk tinggal beberapa lama, selain
28
mengawani Gak Soan Li, juga melihat-lihat apakah mereka
dapat membantu sahabat mereka, Pangeran Wanyen Ci Lun
yang sedang berjuang membela negaranya. Pangeran
Wanyen Ci Lun merasa kecewa dan berduka karena Wan Sin
Hong tisak datang membantunya.
“Wan-taihiap tak mungkin mau datang,” kata Coa Hung
Kin yang sudah tahu akan pendirian pendekar besar itu.
"Tentu siauw ongya dapat menyelami perasaannya. Dia
adalah seorang patriot Han tulen dan terus terang saja dia
tidak mau mencampuri urusan dua kerajaan bukan
bangsanya." Memang Hong Kin suka berterus terang dan
hubungannya dengan Pangeran Wanyen Ci Lun sudah amat
erat, tanpa sungkan-sungkan lagi.
"Dan pendirianmu sendiri bagaimana, kawan?" tanya
Wanyen Ci Lun, memandang tajam dan penuh harap kepada
suami isteri itu.
Coa Hang Kin tersenyum pahit dan menarik napas
panjang. 'Tentu saja kami berdua siap sedia membantumu
dan akan re la mengorbankan nyawa untuk menolongmu.
Akan tetapi ini hanya kesetiaan seorang terhadap sahabat
baiknya, bukan kesetiaan seorang warga negara terhadap
negaranya."
Wanyen Ci Len menarik napas panjang. "Sayang aku
bukan orang Han. Aku akan senang sekali berjuang
membela tanah air bahu membahu dengan kalian dan
dengan orang-orang seperti Wan Sin Hong. Tidak, sobatsobatku
yang baik, aku takkan minta pengorban jiwa
sahabat-sahabat baik untuk kepentinganku semata. Aku
hanya minta apabila keadaan terlalu mendesak dan anakanak
serta isteriku terancam bahaya kalian suka
membawanya mengungsi dan menyelamatkan diri ke
selatan."
Demikianlah percakapan antara mereka sebelum rapat
penundaan perang itu diadakan. Dengan kagum Hong Kin
dan Hui Lian mendengar sahabatnya itu mengatur siasat,
29
akan tetapi mereka juga berduka mendengar be tapa keadaan
sahabatnya itu sudah terdesak hebat seperti terbukti dalam
ucapan Pangeran Wanyen Ci Lun kepada orang-orang gagah
dan para panglima yang hadir di situ.
"Barisan musuh menggunakan siasat meme cah belah
pusat kekuatan kita. Maka mereka menyerang dari empat
penjuru secara bergantian agar payah kita memusatkan
tcnaga pertahanan secara berpindah-pindah. Memang
pertahanan kita cukup kuat, benteng cukup tebal dan
terjaga kuat. Akan tetapi tentara kita jauh kalah banyak
jumlahnya. bahkan kini makin lama makin kecil karena
jatuhnya korban tanpa dapat ditampung tenaga baru karena
kota raja sudah terkurung. Makin berkurangnya anggauta
barisan, berarti makin lemahnya pertahanan kita. Memang
dengan cara baihok (barisan bersembunyi) kita dapat
melakukan pertempuran gerilya dan mendatangkan
kerugian lebih besar pada mereka. Namun, biarpun kita
andaikata dapat merobohkan s eratus orang musuh hanya
dengan mengorbankan sepuluh orang, yang sepuluh ini bagi
kita amat besar artinya, karena tidak ada penggantinya
sedangkan musuh mudah saja mendatangkan bala bantuan
atau mengganti tentaranya yang luka- luka dan lelah. Juga,
amat sukar bagi kita untuk mendatangkan rangsum dari
luar tanpa menghadapi bahaya besar dirampas musuh." Ia
be rhenti sebentar untuk melihat reaksi pada muka para
pendengarnya.
"Celakanya, semua hal yang tidak menguntungkan kita
itu diketahui belaka dengan baiknya oleh pihak musuh !"
kata Tee-tok Kwan Kok Sun dengan muka muram.
"Akan tetapi keadaan kita sebetulnya tidak amat buruk,"
kata Pangeran Wanyen Ci Lun cepat-cepat untuk mengusir
kelemahan semangat para pembantunya, "memang harus
diakui bahwa pihak musuh amat kuat. Akan tetapi selama
semangat orang-orang kita berkobar seperti sekarang,
jangan harap mereka dapat membobolkan pertahanan. Di
30
samping pertahanan kita yang kuat juga aku sudah
mengirim permintaan bala bantuan dari saudara saudara
bangsa Hsi-Hsia yang menaruh dendam terhadap orangorang
Mongol. Kepala barisan mereka yang masih
bersembunyi di hutan, Tiku Tami telah berjanji untuk
memperkuat pertahanan kita dan memukul dari luar.
Berita ini menggirangkan semua orang. Kwan Kok Sun
mangangguk-angguk dan berkata, "Memang baik sekali, dan
pula, dapat diharapkan kehadiran scorang tokoh besar yang
kepandaiannya amat tinggi. Tokoh besar inilah yang dapat
diharapkan untuk merobohkan pentolan-pentolan Mongol
seperti Thian-te Basek-Tai-hiap Liok Kong Ji. Bu-tek Sin
ciang Bouw Gan dan yang lain-lain."
Kaget semua orang mendengar ini. Siapakah yang dapat
mengalahkan pentolan Mongol yang disebutkan tadi? Kwan
Kok Sun tertawa cara ketawanya masih menyeramksn
biarpun sudah memakai pakaian panglima besar.
"Dia itu adalah Toat beng Kui-bo dari Banmo-tong !"
Baru saja nama ini disebut, tiba-tiba dari luar ruangan
terdeagar suara ketawa cekikikan terbawa angin yang
bertiup masuk, kemudian terdengar suara, "Hi-hi -hi -hi.
Pangeran Wan-yen, aku datang membawa hadiah!”
Dua buah benda melayang masuk, jatuh berdebuk di
atas meja yang dike lilingi mereka yang sedang berunding.
Ketika dua benda itu berhenti menggelinding dan semua
orang memandang, ternyata bahwa dua benda itu adalah
dua buah kepala manusia yang agaknya baru saja dipenggal
lehernya karena darah segar masih menetes netes dari leher!
Melihat bahwa dua kepala itu memakai topi panglima
Mongol, Kwan Kok Sun tertawa senang dan berkata ramah.
"Locianpwe Toat -beng Toanio, silahkan masuk!”
Akan tetapi belum habis kata-kata ini, orang yang
diundang itu telah berdiri di dekat meja sambil tertawa
cekikikan. Mereka yang belum pernah melihat rupa Toat
31
beng Kui-bo, menjadi pucat dan bergidik penuh kengerian
hati. Apalagi ketika melihat bahwa nenek itu memondong
seorang anak perempuan kecil yang usianya baru dua tiga
tahun, anak yang mungil sekali, pipinya kemerahan dan
bibirnya merah tersenyum-senyum. Akan tetapi , baju dan
jidat anak ini bernoda darah, agaknya darah dari dua buah
kepala yang dipenggal oleh nenek mengerikan itu!
"PangeranWanyen, aku memenuhi janji datang untuk
memberi hajaran kepala anjing-anjiug Mongol yang
melampaui perbatasan dan mengacau di bumi Tiongkok!
Ke tika hendak masuk kota raja tadi, aku dihadang oleh
pasukan tentara Mongol Ketika mengamuk aku teringat
bahwa seorang tamu harus bawa oleh-oleh, maka kusambar
kepala dua orang panglima pemimpin pasukan itu dan
kubawa kemari untuk dipersembahkan kepadamu. Hi-hi hi
!"
Tadi Pangeran Wanyen Ci Lun bengong dengan kagum
dan ngeri. Sekarang ia cepat berdiri memberi hormat dan
berkata. "Kedatangan locianpwe bagi kami adalah seperti
datangnya air hujan di musim kening! Terima kasih atas
pemberian hadiah locianpwe. Dalam masa seperti ini tidak
ada hadiah yang lebih be rharga dari pada kepala musuh !"
Pangeran itu mempersilakan nenek buruk rupa itu duduk
dan memberi perintah kepada pelayan untuk membawa
pergi dua buah kepala dan membersihkan bekas darah.
Kemudian ia sendiri menuangkan arak ke dalam cawan
emas untuk Toat-beng Kui-bo. Nenek itu menerima sambil
tertawa-tawa senang.
Kwan Kok Sun mengatur siasatnya. Orang seperti nenek
ini sukar diurus dan kalau tidak memakai akal, biarpun
nenek ini kepandaiannya tinggi sekali, takkan ada gunanya
karena tentu takkan mau mentaati perintah.
"Locianpwe, tadinya kami sudah kegiranaan sekali
karena mengira bahwa dua buah kepala itu adalah kepala
dari Liok Kong Ji dan Bouw Gun. Eh, tidak tahunya hanya
32
kepala dua perwi ra-perwira yang tidak ada nilainya. Akan
tetapi aku tidak berani menyalahkan locianpwe oleh karena
siapakah orangnya bisa memenggal kepala Thian.te Bu-tek
Taihiap Liok kong Ji dan Bu.tek Sin-ciang Bouw Gun yang
lihai sekali. Apalagi mereka berada di markas tentara
musuh. Sukar...... sukar…….!”
Kwan Kok Sun terpaksa berhenti bicara karena arak dari
cawan Toat-beng Kui.bo menyiram mukanya dan terasa
pedas, bukan main sampai -sampai ia tidak bisa membuka
matanya.
"Gundul pacul! Kau terlalu memandang rendah padaku.
Kaukira aku tidak becus mencabut kepala tikus-tikus
macam mereka?'
Kwan Kok Sun cepat memberi hormat pada nenek galak
itu dan berkata sambil memaksa tersenyum di mulut
padahal hatinya memaki marah. "Harap locianpwe tidak
marah, tentu saja aku percaya penuh akan kemampuan
locianpwe. Soalnya, kami sudah terlalu awat dibikin pusing
oleh orang orang seperti Thian-te Bu-tek Taihiap dan Bu-tek
Sin ciang, tanpa mampu berbuat apa-apa. Kalau kiranya
locianpwe sanggup mencabut kepala mereka dan dibawa ke
sini. benar benar kami akan berterima kasih besar sekali
kepada locianpwe.”
Semua orang, termasuk Pangeran Wanyen Ci Lun, diamdiam
memuji kecerdikan Kwa Kok Sun yang mula-mula
“membakar" hati nenek sakti itu untuk kemudian didorong
kearah perbuatan yang akan banyak membantu pergerakan
mereka melawan musuh. Hanya Toat-beng Kui-bo seorang
yang tidak tahu, buta oleh kesombongannya. Toat beng Kuibo
menoleh kepada Wanyen Ci Lun, lalu tiba- tiba
melontarkan anak kecil yang dipondongnya itu ke arah
Pangeran Wanyen.
“Pangeran, aku titip bocah ini kepadamu. Nanti kalau
sudah kubawa datang dua kepala tikus itu, aku ambil
kembali anak itu !”
33
Wanyen Ci Lun sudah menangkap bocah perempuan
yang menjadi kaget karena dilemparkan dan menangis itu.
Sebelum ia sempat menjawab, angin mendesir dan nenek
yang seperti siluman itu sudah lenyap dari ruangan itu.
Semua orang menjadi bengong. Bahkan Hong Kin dan Hui
Lian sendiri yang sudah banyak bertemu dengan orangorang
pandai, harus mengaku bahwa nenek itu memiliki
kepandaian yang hebat sekali. Yang paling gembira adalah
Pangeran Wanyen Ci Lun oleh karena kalau benar-benar
nenek itu bisa membunuh dua orang yang disebutkan tadi
berarti pihak musuh akan kehilangan dua orang panglima
yang kuat dan pandai.
Toat-beng Kui-bo memang luar biasa sekali. Ketika ia
berlari seperti terbang keluar dari kota raja, sukar bagi orang
biasa untuk dapat melihatnya. Yang nampak hanya
bayangan hitam berkelebat cepat, atau kalau orang me lihat
ke atas akan terlihat tiga titik hitam terbang cepat ke utara
dan tiga titik hitamini kalau diperhatikan adalah tiga ekor
kelelawar besar.
Ketika Toat-beng Kui -bo memasuki kota-raja, ia sudah
dihadang dan bertempur, maka para pasukan Mongol yang
bertugas mengurung kota raja, tahu bahwa kini nenek itu
sudah keluar lagi dari kota raja. Akan tetapi pengalaman
tadi masih membuat mereka gentar, pengalaman hebat di
mana sepasukan Mongol habis dibunuh oleh nenek itu dan
dua orang panglimanya lenyap kepalanya dibawanya pergi.
Kini me lihat kelelawar dan bayangan hitam, me reka
sebagian besar hanya pura-pura tidak melihat! Bahkan
perwira yang memimpin pasukan kecil cepat-cepat
menyimpangkan pasukannya ke arah lain agar jangan
bertemu dengan nenek itu. '
Toat-beng Kui bo juga tidak memperdulikan mereka.
Tujuannya kini hanya mendatangi kemah para panglima
Mongol dan berusaha mencari Liok Kong Ji dan Bouw Gun
untuk dipenggal batang lehernya dan dibawa kepalanya ke
34
istana Pangeran Wanyen Ci Lun sebagai bukti bahwa ia
bukan hanya omong kosong. Kelelawar-kelelawar yang
terbang di atas selalu mengikuti ke mana nenek itu menuju.
Pada saat itn kaisar Jangis Khan juga sedang
mengadakan perundingan dengan para panglimanya,
merundingkan s iasat untuk mcmbobolkan benteng
pertahanan Kora Raja Kin yang kokoh kuat itu. Di antara
para pangliwa besar, nampak pula di situl Liok Kong Ji,
Bouw Gun, Pak-kek Sam kui. Dan orang-orang akan merasa
terkejut, heran dan juga malu kalau saja mereka melihat
siapa-siapa yang hadir pula dalam ruangan kemah Raja
Mongol itu. Tokoh-tokoh besar dari selatan, orang-orang
yang menamakan dirinya orang gagah di dunia kang.ouw
banyak yang hadir di situ, menjadi pengkhianat-penghianat
penjual negara, menjadi kaki tangan orang Mongol! Di antara
mereka rampak Le Thong Hosiang ketua Tatyun-pai, Nam
Kong Hosiang dan Nam-Siang Hosiang dua orang tokoh
Kaolikung-pai, Heng-tuan Lojin, hwesio pe rantau dari
Hengtuan-s an dan masih banyak lagi.
“Jalan terbaik menurut pendapat hamba, Kota Raja Kin
itu harus dikurung rapat. Jalan ke selatan harus dipotong,
dan pembantu-pembantu yang berada di dalam kota raja
dan mendapat kedudukan penting supaya mulai dengan
gerakan mereka pada sast kita mengadakan penyerbuan
besar-besaran, bukan dari satu pintu melainkan dari empat
jurusan,' demikian usul Liok Kong Ji kepada Jengis Khan.
Kaisar yang sekarang bertubuh kekar menganggukangguk.
“Taihiap berkata benar, cocok dengan rencanaku.
Memang kita tidak ada banyak waktu untuk dibuang-buang
di sini, hanya untuk mengepung sebuah kota saja. Aku
sudah mendatangkan bala bantuan dari utara, tiga puluh
laksa banyaknya, begitu mereka datang setelah diberi waktu
mengaso sehari, malamnya kita serbu kota Kin dari empat
penjuru. Kita habiskan dan ratakan kota itu dengan bumi.
35
Setelah memberi keputusan terakhir dalam pertemuan itu,
Jengis Khan memberi tanda bahwa persidangan ditutup dan
ia masuk ruangan dalam.
Pada saat kaisar sudah masuk ke dalam dan para
panglitna mulai berjalan keluar, tiba-tiba terjadi ribut-ribut
yang datangnya dari arah kiri. Nampak para penjaga berlarilarian.
Melihat ini Bu-tek Sin ciang Bouw Gun panglima Mongol
tua yang tinggi besar berewokan itu menjadi marah. Memang
dia terkenal berwatak keras dan berdisiplin sekali. Rata-rata
panglima Mongol amat berdisiplin sehingga, barisan-barisan
mereka terkenal sebagai barisan yang amat teratur dan kuat.
Melihat para penjaga cerai-berai, Bouw Gun cepat lari ke
arah tempat itu sambil beteriak-teriak memaki para penjaga.
“Anjing-anjing kekanyangan tak tahu malu. Begitukah
caranya berjaga? Seorang penjaga kebetulan lari ke
tempatnya tiba-tiba terlempar dengan kaki patah patah
karena ditendang oleh Bauw Gun. Penjaga itu kesakitan
hebat akan tetapi, masih dapat me lapor dengan suara
mrintih-rintih,
'Ampun, taiciangkun. ..... . di sana….. ada ...... ada
siluman mengamuk hebat ...... banyak kawan binasa...... “
"Setan pengecut, di mana dia?”
"Di sana ...... " penjaga itu menudingkan jarinya, "dia tadi
masuk ke dalam kemah tai-ciangkun...... “
Bouw Gun marah sekali mendengar ada siluman
mengamuk dan memasuki ke kemahnya, cepat ia melompat
dan lari ke kemahnya. Alanglah kaget dan marahnya ketika
ia melihat di sepanjang jalan menuju ke kemahnya penuh
penjaga-penjaga yang menggeletak dalam keadaan mati atau
terluka berat. Ada yang kepalanya pecah, lehernya patah,
perutnya pecah berantakan, kaki tangan patah-patah.
36
Juga di depan kemahnya bergelimpangan mayat penjaga.
Bouw Gun berlari cepat dan menyerbu ke dalam kemahnya
sendiri, begitu ia membuka pintu, ia melihat seorang
perwira, kepala penjaga kemahnya sedang bertempur
melawan seorang nenek yang mengerikan.
Perwira itu kepandaiannya cukup tinggi, akan tetapi pada
saat itu ia kena dicengkeram oleh nenek itu yang
menggerakkan tangan kanan mencengkeram kepalanya.
Perwira itu menjerit keras dan mengerikan sekali sebelum
muka dan kepalanya hancur oleh cengkeraman kuku
panjang nenek itu. Darah dan otaknya berceceran, tubuhnya
roboh tak bernyawa lagi.
"Hi hi hi. hi, otak udang macam ini melawanku? Mana
tikus likus besar Liok Kong Ji dan Bauw Gun, suruh keluar
jangan sembunyi di kosong ranjang!" nenek itu bersumbar.
Bouw Gun sudah pernah mendengar nama besar Toatbeng
Kui.bo, bahkan di puncak Omei-san pernah ia bertemu
dengan nenek itu. Biarpun. maklum akan kelihatan nenek
ini namun sakingmarahnya ia tidak gentar. Apa lagi ia
berada dalam kandang sendiri,
"Siluman betina kau ingin mampus!” bentaknya marah
sambil menyerbu maju. Sesuai dengan julukannya, Bu tek
Sin-ciang atau Tangan Sakti Tanpa Tandinganya Bouw Gun
adalah ahli tangan kosong yang mengandalkan ilmu silat
tangan kosong dan kekuatan kedua lengannya yang hebat.
Selain ilmu silatnya juga orang tinggi besar ini mahir ilmu
gulat dari Mongol yang sudah terkenal dan berbahaya. Sekali
saja orang tertangkap oleh tangannya, jangan harap akan
dapat terlepas sebelum ada yang patah-patah tulangnya.
Oleh karena itu, kali inipun ia menyerbu Toat-beng Kui bo
dungan tangan kosong saja, menubruk sambil mengirim
pukulan yang disusul oleh cengkeraman.
Akan tetapi kali ini ia menghadapi Toat-beng Kui bo
seorang tokoh yang memiliki kepandaian jauh lebih tinggi
dari padarya, baik dalam ilmu silat maupun dalam hal
37
tenaga lweekang. Melihat orang tinggi besar itu, Toat-beng
Kui-bo tertawa cekikikan.
"Ah! Kiranya kau? Mari cucuku, mari maju untuk
kucabut kepalamu dari tubuhmu yang tak terharga itu!"
Tongkatnya menyambar cepat memapaki serbuan Bouw
Gun, langsung menyambar ke arah leher dengan kekuatan
yang dahsyat dan kalau mengenai leher, bisa copot lepala itu
dari tubuhnya. Bouw Gun kaget sekali. Hawa pukulannya
biasanya amat kuat din dengan hawa pukulannya saja ia
dapat membunuh orang. Akan tetapi nenek ini sama sekali
tidak memperdulikan pukulannya, bahkan dengan tak
terduga sudah mendahuluinya dengan serangan maut.
Terpaksa ia mengelak mendekari untuk menyerang dari
jarak dekat. Tangan kirinya menyambar tongkat untuk
ditangkapnya, tangan kanan memukul dada.
"Hihi, kau lihai juga !" Toat beng Kui-bo mengejek. Ia
hanya menarik tongkatnya agar jangan sampai terampas
lawan sedangkan pukulan pada dadanya tidak dihiraukan
sama sekali. Bouw Gun kaget dan orang Mongol ini dapat
menduga bahwa tentu nenek itu mengandalkan sinkangnya
yang tinggi untuk menahan pukulannya, maka setelah
kepalannya menyambar dekat dada, ia merubahnya menjadi
cengkeraman. Akan tetapi, alangkah kaget dan herannya
ketika tangannya bertemu dengan permukaan yang rata dan
keras seperti papan baja. Nenek itu sama sekali dadanya
sudah tidak ada daging maupun kulit yang dapat
dicengkeram. Agaknya kulitnya sudah mangeras dan rata
dengan tulang sehingga kuat sekali.
Bouw Gun dalam kagetnya cepat hendak menarik
kembali tangannya, akan tetapi terlambat. Toat beng Kui-bo
sudah menggerakkan tongkatnya dan terdengar suara “buk”
yang keras ketika tongkat itu mendorong dadanya. Tubuh
orang Mongol itu terjengkang darah tersembur dari
mulutnya. Dalam keadaan sekarat ia tidak berdaya ketika
kembali tongkat menyambar, kini mengenai lehernya.
38
"Krak..!” leher itu remuk sama sekali dan ..... . putus. Kepala
Bauw Gun sudah terpisah dari badannya.
“Hi hi-hi-hi .........! Toat-beng Kui-bo tertawa-tawa ketika
ia menyambar kepala dan diangkat untuk mengamat -amati
muka Bouw Gun yang masih meringis dan masih marah.
"Iblis betina jangan kau menjual lagak!" Berturut-turut
beberapa orang yang memiliki gerakan gesit sekali melompat
masuk. Mereka ini adalah Liok Kong Ji yang diikuti oleh
tokoh-tokoh lain. Melibat betapa kepala Bouw Gun sudah
dicopot oleh nenek itu, karuan saja Liok Kong Ji dan kawan
kawannya marah sekali.
Di lain saat, melihat datangnya Liok Kong Ji, Toat-beng
Kui-bo juga menjadi girang. "Aha, kau datang pula, cucuku?
Mari..... mari sini, kawanmu ini sudah lama menanti.
Berikan kepalamu kepada nenekmu ini, hi hi-hi!"
Marah sekali Kong Ji mendengar ini. Tangannya bergerak
dan dari tengan kirinya menyambar sinar hitam, yaitu Hektok-
ciam (Jarum-jarum Racun Hitam) dan tangan kanannya
mengeluarkan hawa pukulan Hek-tok-ciang yang amat
berbahaya.
Toat-berg Kui bo yang terlalu memandang rendah kepada
Kong Ji, berlaku sembrono dan tidak mengelak atau
menangkis, hanya mangerahkan sinkangnya. Ketika jarumjarum
mengenai tubuhnya, jarum jarum itu runtuh, akan
tetapi pukulan Hek-tok-ciang membuat tubuh nenek itu
terhuyung ke belakang.
"Ayaao...... !” Setan, kau berani memukulku…!” bentak
nenek itu marah sekali dan, tiba-tiba dari atas udara
menyambar turun benda hitam yang cepat menyambar Kong
Ji. Tentu saja Liok Kong Ji kaget dan menankis dengan
tangannya. Sebuah benda hitam terlempar dan yang dua
berhasil menyambar pundaknya. Baiknya Liok Kong Ji
berkepandaian tinggi sehingga ia cepat miringkan tubuh dan
kelelawar itu hanya merobek baju saja. Namun cukup
39
membuat ia bergidik karena maklum bahwa terluka oleh
kelelawar itu sukar sekali mengobatinya.
“Serbu, bunuh siluman ini!” Kong Ji berteriak- teriak
marah sekali sambil menyerbu diikuti oleh kawankawannya.
Kini tahulah Toat-beng Kui-bo bahwa nama besar Liok
Kong Ji bukan kosong belaka dan bahwa ia telah dikurung
oleh banyak orang pandai. Sambil tertawa-tawa ia melempar
kepala Bouw Gun ke depan. "Makaulah kepala sahabat
baikmu !"
Liok Kong Ji dan kawan-kawannya terpaksa mengelak
agar jangan sampai terkena sambitan dengan kepala ini.
Kong Ji mengulur tangannya menyambar kepala itu dan
memberikan kepada seorang pengawal untuk merawatnya.
Sementara itu Toat-beng Kui-bo mempergunakan
kesempatan ini untuk melompat keluar dari kemah. Akan
tetapi Kong Ji dan kawan-kawannya mana mau
melepaskannya ? Cepat mereka mengejar. Akan te tapi dalam
kegaduhan ini, sambil tertawa cekikikan, kembali tongkat di
tangan nerek itu sudah me robohkan tiga orang pengeroyok.
Pcngepungan rapat sekali dan nenek itupun berlaku
nekad, mengamuk bagaikan siluman terjepit. Tongkatnya
sampai mcnjadi merah karena darah para korban yang
dirobohkannya. Keadaan menjadi gempar. Baru kali ini
orang-orang Mongol itu menghadapi lawan sehebat ini.
Bahkan ketika Ang jiu Mo-li mcngamuk dikeroyok oleh
panglima-panglima Mongol tidak sclihai nenek ini. Selain
lihai nenek inipun ganas sekali, setiap kali tongkatnya
menyambar tentu ada lawan roboh binasa. Akhirnya hanya
yang pandai-pandai saja berani mengeroyok, di antaranya
Liok Kong Ji sendiri, Pak Kek Sam-kui, dan para ketua
partai yang membantunya.
Selagi mereka repot mengeroyok nenek yang benar-benar
kosen sekali itu, tiba-tiba terdengar suitan panjang dan
tinggi. Suitan ini memekakkan telinga.
40
“Lo thian-tung Cun Gi Toting datang….,” seru Liok Kong
Ji dengan suara girang sekali. "Totiang yang mulia, bantulah
kami !" Kemudian disambungnya dengan suara memerintah.
"Cui Kong, lekas bantu kami !"
Yang datang adalah seorang tosu tua yang buntung kaki
kanannya, namun biar kakinya hanya sebelah saja yang ki ri,
jalannya tidah pincang. Sebuah tongkat panjang menjadi
pengganti kaki kanannya, gerakannya cepat sekali. Ia datang
bersama seorang pemuda yang memegang huncwe. Liok Cui
Kong yang sudah kita kenal kelihaiannya.
"Silakans emua minggir, biar kami berdua menangkap
siluman ini." kata tosu buntung itu, yang bukan lain adalah
Lo-thian-tung Can Gi Tosu. Seperti dapat diduga dari
julukannya Lo Thian-tung atau Tongkat Pengacau Langit,
kakek ini adalah seorang ahli bermain tongkat yang jarang
bandingannya. Dia adalah se orang tosu pengembara dari
barat yang dapat diperalat oleh Liok Kong Ji, bahkan ia
akhirnya mendapat kepercayaan dari Kong Ji untuk melatih
ilmu silat kepada anak-anak angkatnya, yaitu putera
angkatnya, yaitu Liok Cui Kong, dan dua orang puteri angkat
sejak kecil Cui Lin dan Cui Kim. Melihat bakat yang amat
baik dan luar biasa dalam diri Cui Kong, Liok Kong Ji
menjadi amat sayang kepada putra angkat ini dan
menurunkan semua kepandaiannya, maka ditambah oleh
gemblengan dari tosu buntung itu, kepandaian Cui Kong
menjadi hebat sekali.
Begitu Can Gi Totiang menggerakkan tongkatnya dan Cui
Kongmenye rang dengan huncwenya, Toat beng Kui-bo
sudah maklum bahwa kali ini ia menghadapi lawan yang
amat tangguh. Ia memutar tongkatnya dan sekal igus
menangkis serangan dua orang lawannya itu. Terdengar
suara keras, bunga api berpijar dan tiga orang itu melompat
mundur untuk memeriks a senjata masing-masing. Setelah
dengan lega melihat bahwa senjata masing-masing tidak
rusak mereka maju bertempur lagi dengan seru. Ttga ekor
41
kelelawarmenyambir ke bawah hendak membantu Toat beng
Kui-bo, akan tetapi, Liok Kong Ji mengayun jarum-jarum
Hek-tok-ciamnya sehingga binatang binatang itu jatuh ke
bawah mengeliarkan pekik nyaring.
Toat -‘beng Kui-bo berlaku nekad. Ia tadi sudah
menghadapi pengeroyokan banyak orang pandai dan sudah
merasa lelah sekali. Kini ia dikeroyok oleh dua orang guru
dan murid yang kepandaiannya tinggi, apa lagi Liok Kong Ji
yang juga lihai sekal i itu mulai maju mendes ak membantu
dua orang pengeroyok, maka Toat-beng Kui-bo merasa
makin terdesak hebat. Sambil mengeluarkan seruan-seruan
seperti harimau terjepit, nenek yang sudah tua sekali ini
mengerahkan seluruh kepandaian dan tenaga terakhir
untuk membela diri dan membalas menyerang. Namun tiga
orang lawannya terlampau kuat dan setelah beberepat kali
terkena pukulan, akhirnya Toat bong Kui-bo terpaksa harus
mengakui keunggulan lawan.
Tongkat dari Lo thian tung Cun Gi Tosu berhasil
menyerampang kakinya, menibuat ia roboh dan pada saat
itu, pukulan Tin san-kang dilancarkan oleh Liok Kong Ji,
membuat nenek itu muntah darah, ditambab totokan huncwe
di tangan Cui Kong yang mengenai jalan darah kematian
pada lehernya membuat nyawa Toat -beng Kui-bo melayang
meninggalkan raganya.
Liok Kong Ji tertawa bergelak saking gi rangnya. Dengan
kasar ia membalik tubuh nenek itu terlentang lalu
menggerayangi saku-saku jubah nenek itu. Sebuah kitab
keluar dari saku dan sektlas pandang saja Liok Kong Ji
maklumbahwa itu adalah kitab wasiat dari Omeisan.
Judulnya DELAPAN JALAN UAMA. Cepat-cepat kitab itu
menghilang di dalam bajunya sendiri.
(Bersambung jilid ke XVI.)
.
1
(PEK LUI ENG)
Karya: Asmaraman S. Kho
Ping Hoo Scan djvu :
syauqy_arr
Convert & edit : MCH
Jilid XVI
“KURANG ajar sekali, ini tentulah perbuatan Pangeran
Wanyen Ci Lun yang berhasil menarik bantuan nenek
siluman ini untuk mengacau kita. Kita kehilangan banyak
tenaga, di antaranya Bu tek Sin-ciang Bouw Gun sampai
tewas. Kalau kita tidak membalas, benar-benar
merendahkan nama besar kita semua,” kata Liok Kong Ji.
"Liok-sicu, biarlah pinto yang akan menyelinap ke kota
raja dan mengantarkan kepala nenek ini,” kata Lo-thiantung
Cun Gi Tosu dengan suara tenang.
"Perkenankan aku ikut dengan Con Gi To-tiong, ayah,"
kata Cui Kong cepat cepat karena pemuda ini ingin sekali
mengalami hal-hal baru. Di samping gurunya yang lihai, ia
tidak usah merasa takut.
Liok Kong Ji cukup percaya akan kelihaian tosu itu dan
tahu pula bahwa tingkat kepandaian Cui Kong sekarang
sudah demikian tinggi sehingga tidak berselisih banyak
dengan kepandaiannya sendiri. Dua orang ini tentu dengan
mudah dapat melampaui penjaga dan pengawal. Ia memberi
perkenan dan berangkatlah dua orang itu menjelang senja
2
membawa kepala Toat-beng Kui-bo yang dibungkus kain
kuning.
Memang dugaan Liok Kong Ji tepat. Tosu itu bersama
muridnya dengan mudah dapat melampaui para penjaga dan
berhasil memasuki lingkungan istana pada malam hari itu.
Akan tetapi beda dengan sepak terjang Toat -bong Kui-bo
yangmasuk sambil mengamuk dan membuh musuh, dua
orang ini berlaku hati-hati sekali dan masuk tanpa diketahui
orang. Cun Gi Tosu maklum betul bahwa kalau sampai
ketahuan, keadaan mereka amat berbahaya karena di istana
banyak terdapat orang pandai. Bahkan ia memesan kepada
Cui Kong agar supaya hati -hati dan tidak boleh membunuh
orang secara sembarangan saja.
"Kita harus menghemat tenaga dan hanya turun tangan
kalau bertemu dengan orang penting. Setidaknya harus
keluarga Pangeran Wanyen yang kita bunuh atau culik.
Membunuh penjaga-penjaga dari perwira biasa saja tidak
akan menggemparkan dan tidak mengangkat nama kita,”
demikian kata tosu itu kepada Cui Kong yang maklumakan
maksud gurunya.
“Demikianlah, menjelang tengah malam tosu ini bersama
muridnya berhasil memasuki istana Pangeran Wanyen Ci
Lun. akan tetapi mereka terkejut melihat penjagaan yang
amat kuat. Apalagi tempat di mana pangeran itu berada,
yaitu di kamarnya. terjaga kuat sekali sehingga mereka tidak
mungkin menyerbu.
Tiba tiba terdengar suara anak kecil menangis dari kamar
itu. Cun Gi Tosu dan Cui Kong yang mendekam di tempat
mengintai. Terdengar suara Wanyen Ci Lun memberi
perintah kepada para penjaga supaya menjaga lebih teliti,
dan kepada seorang pelayan wanita setengah tua pangeran
itu berkata. “Anak ini menangis saja, bawa keluar dan biar
dia tidur denganmu!"
Tak lama kemudian, pelayan pengasuh itu keluar
memondong seorang anak perempnan berusia dua tahun
3
lebih yang menangis terus. Beberapi orang penjaga bergerakgerak
di tempat gelap dan nampak berkilaunya pedang dan
golok terhunus dari para penjuga istana itu.
Pintu kamar tertutup kembali. akan tetapi segera
terdengar jerit wanita pemondong anak tadi yang roboh dan
anak ke cil itu kini sudah berada dalam pondongan seorang
tosu yang berkaki buntung.
"Penjahat ! Penculik !” teriak para penjaga menggema di
malam gelap. Beberapa s osok bayangan para penjaga ini
be rkelebat mengejar, akan tetapi empat orang penjaga
menjerit roboh terkena pukulan dari belakang yang ternyata
dilakukan oleh Cui Kong dengan hun-cwe. Banyak penjaga
datang berlari ke tempat itu, di antaranya banyak panglima
yang berkepandaian tinggi.
Teriakan "tangkap penjahat” makin gencar terdengar dari
empat penjuru. Akan tetapi dengan gerakan kilat Cun Gi
Tosu melemparkan bungkusan kuning ke arah para penjaga.
Seorang panglima menyampok bungkusan itu yang jatuh
menggelinding ke arah lantai. Bungkusan terbuka dan.......
para pengejar untuk sejenak te rkesiap melihat kepala Toat
beng Kui-bo yang nampak lebih menyeramkan dari pada
ketika masih hidup.
"Celaka......,... !” teriak seorang panglima. "Kejar matamata
Mongol itu !”
Akan tetapi Cun Gi Tosu dan Cui Kong sudah menghilang
di dalam gelap, berlari cepat keluar dari lingkungan istana.
Mereka menuju ke pintu gerbang kota raja sebelah utara.
Tanda bahaya dari istana itu dengan cepat sudah terdengar
oleh seluruh penjaga di pintu-pintu gerbang kota raja dan
semua orang menjaga dengan teliti.
Oleh karena inilah maka tidak begitu mudah bagi Cun Gi
Tosu dan Cui Kong untuk keluar, tidak seperti masuknya
tadi.
4
"Kita harus menggunakan, kekerasan!” kata Cun Gi Tosu
yang mengikat anak itu di pungungnya dan menyumpal
mulut yang kecil itu dengan saputangan sehingga tidak
dapat menangis lagi. Dengan hati -hati mereka berlari
menuju pintu gerbang. Cun Gi Tosu menyeret tongkatnya,
Cui Kong memegang huncwenya.
*Berhenti ! Siapa itu”?” bentak dua orang penjaga yang
berdiri terdepan ketika melihat bayangan dua orang
mendatangi. Akan tetapi jawaban pertanyaan ini adalah
berkelebatnya sinar hitam dan di lain saat dua orang
penjaga itu roboh dengan kepala pecah dan nyawa melayang
!
“Mata-mata Mongol jangan lari!" terdengar bentakan dari
belakang dan sebatang pedang sang digerakkan secara cepat
bukan main menyambar ke arah leher Cui Kong. Pemuda ini
kaget sekali, cepat memutar tubuh sambil mainkan
huncwenya menangkis. ternyata yang menyerang adalah
seorang gadis cant ik dan gagah yang datang bersama Wan Bi
Li dan Wan Sun yang sudah pernah dijumpainya. Gadis
gagah ini bukan lain adalah Coa Lee Goat. Usianya paling
banyak baru enam belas tahun, akan tetapi dara remaja ini
sudah mewarisi ilmu pedang dari Wan Sin Hong gurunya,
maka ia lihai sekali. Sementara itu, Wan Bi Li dan Wan Sun
juga menyerbu mengeroyok Cu Gi Tosu. Setelah dekat
dengan ayahnya yang mengaku sebagai ayah angkatnya,
kepandaian Bi Li makin meningkat. Apalagi dalam hal
memelihara ular, ia malah mendapat julukan atau cuma
poyokan Dewi Ular karena jarang orang melihat dia tidak
membawa ular. Dalam pertempuran inipun ia
mempergunakan senjata aneh yaitu ular hidup yang
dimainkannya sebagai orang bermain senjata joanpian
(cambuk). Inilah permainan ilmu silat joanpian dengan ular
hidup yang ia pelajari dari gihu (ayah angkatnya). Di
sampingnya, Wan Sun mainkan pedangnya yang juga amat
lihat karena pemuda ini sudah mewarisi kepandaian Ang-jiu
Mo-li bahkan sudah mulai memperdalam ilmu Silat Kwan Im
5
Cam-mo (Dewi Kwan Im Menaklukkan Iblis) yang
terkandung dalam kttab Omei-san yang terjatuh ke dalam
tangan Ang-jiu Mo-li.
Sebetulnya Cun Gi Tosu tidak usah takut menghadapi
keroyokan putera dan puteri Pange ran Wanyen Ci Lun ini
karena tingkat kepadaiannya masih jauh lebih tinggi, juga
Cui Kong masih lebih lihai dari pada Lee Goat. Akan tetapi
guru dan murid ini maklum bahwa mengalahkan tiga orang
pengejar muda ini bukan hal yang dapat dilakukan dalam
waktu singkat, sedangkan di dalam kota raja masih banyak
terdapat orang-orang pandai yang se tiap saat pasti akan
datang mengeroyok.
"Cui Kong, mari kita pergi ! Buka jalan darah !” seru Lothian
tung Cun Gi Tosu kepada muridnya.
Cui Kong terpaksa mentaati perintah suhunya karena
iapun maklum akan bahayanya tempat itu. "Totiang, apa
kita tidak bisa membawa Nona Ular itu bersama kita pulang
?" tanyanya, karena melihat Bi Li kembali timbul gairah dan
cintanya.
"Hush, jangan main-main. Lekas kita pergi......!”. bentak
tosu itu.
Keduanya memutar senjata lalu membalikkan tubuh dan
menyerbu penjaga yang menghadang di depan pintu gerbang
yang tertutup. Sebentar saja lima-enam orang penjaga roboh
terkena terjangan dua orang lihai ini dan sebelum Bi Li, Wan
Sun dan Lee Goat sempat menghalangi, dua orang itu sudah
melayang naik ke atas pagar tembok. Beberapa orang
penjaga di atas pagar tembok melepas anak panah, akan
tetapi hujan anak panah ini sia-sia saja. Runtuh semua
ketika tiba di depan dua orang yang sedang melompat, kena
disampok oleh putaran senjata mereka. Ketika para penjaga
itu bendak menyerang, kembali beberapa orang roboh dan
terus terjungkal ke bawah benteng mengeluarkan pekik
mengerikan. Bagaikan dua ekor ular, Cui Kong dan gurunya
melayang turun keluar pagar tembok dan sebentar saja
6
mereka sudah selamat tiba di barisan mereka sendiri. Tentu
saja hal ini menggirangkan hati Jengis Khan yang tadinya
marah sekali karena kehilangan beberapa orang penglima
termasuk Bouw Gu yang se tia. Kini hinaan dari fihak Kin
sudah terbalas dan nama kehormatan orang Mongol sudah
terangkat lagi olek sepak tcrjang Cu Gi Tosu dan Cui Kong.
Dua orang ini diberi hadiah besar. Pesta gembira diadakan
untuk menyambut mereka dan Kong Ji merasa puas melihat
tosu itu berhasil menculik seorang anak dari Wanyen Ci
Lun.
"Totiang, hendak diapakan anak perempuan dari
Pangeran Wanyen Ci Lun ini?" tanyanya kepada Cun Gi
Tosu.
Tosu kaki bunting itu tersenyum. "Tidak kusengaja dapat
menculik puteri Pangeran Wanyen dan kebetulan sekali
anak ini bertubuh baik. Sayang kalau dibiarkan tersia-sia.”
"Kita bawa saja ke Ui-tok-lim, totiang.” kata Cui Kong.
Tosu itu mengangguk.angguk. "Betul, memang dia patut
menjadi panghuni Ui-tok-lim.”
-oo(mch)oo-
Sementara itu, di dalam istana Pangeran Wanyen Ci Lun
menjadi gempar. Pangeran ini marah sekali, bukan saja
melihat kepala Toat-beng Kui-bo yang berarti panghinaan
besar bagi istana Kin, akan tetapi juga me rasa mendongkol
sekali karena bocah itu kena diculik. Dia tidak tahu
sinpakah anak itu yang oleh Toat -beng Kui-bo dititipkan
kepadanya, akan tetapi dia dan is terinya merasa suka sekali
melihat bocah yang mungil itu. Biarpun sekarang Toat-beng
Kui bo sudah tewas dan tidak ada orang yang akan
menuntutnya karena hilangnya bocah itu, namun di dalam
hatinya pangeran ini merasa be rdosa dan bersalah. Masih
baik kalau anak yang terculik itu mendapat perlakuan baik
7
dari orang-orang Mongol, Kalau sebaliknya, bukankah itu
kesalahannya?
Pada keeaokan harinva, Pangeran Wanyen Ci Lun duduk
di dalam kebun belakang istananya bersama Gak Soan Li.
Juga di situ hadir. Wan Bi Li dan Wan Sun yang
menceritakan pengalamanoya malam tadi ketika mangejar
penjahat.
"Pemuda yangmemegang huncwe itu mengaku bernama
Liok Cui Kong, putera Liok Kong Ji. Dia memang lihai dan
jahat.” kata Wan Bi Li menutup penuturunnya. Memang
sudah terdengar berita oleh Pangeran Wanyen Ci Lun dan
isterinya bahwa Liok Kong Ji masih hidup dan kini
membantu pergerakan orang-orang Mongol. Kini Gak Soan Li
yang menjadi agak pucat mendengar penuturan Bi Li, tak
tertahan lagi mengutarakan keheranannya yang terpendam
sekian lama.
“Tidak salahkah bahwa si jahat Liok Kong Ji masihb
hidup? Pedang di tanganku sendiri yang mencabut
nyawanya, kutusuk dadanya sampai tembus ke punggung.
Bangkainya sudah di kubur, bagaimana sekarang dia bisa
muncul d antara orang Mongol, Benar-benar aku masih
belum percaya.”
"Banyak orang yang mehhat dia itu betul-betul Liok Kong
Ji. Memang aku sendiri juga merasa heran seperi yang
kaupiktrkan. Benar-benar manusia itu selalu membawa
bencana. Kurasa hanya seorang di dunia ini dapat
menerangkan rahasia aneh ini,” kata Pangera Wanyen Ci
Lun perlahan.
“......Wan Sin Hong.......?” terdengar Gak Soan Li
bertanya, suaranya lemah.
Wanyen Ci Lun mengangguk. Di antara suami isteri ini
terdapat rahasia besar. Di dalam cerita indah PEDANG
PENAKLUK IBLIS diceritakan betapa sebelum menjadi isteri
Pangeran Wanyen Ci Lun, Gak Soan Li telah menjadi kurban
8
kebiadaban Liok Kong Ji sehingga Gak Soan Li melahirkan
seorang putera yang bukan lain adalah Tiang Bu. Akan
tetapi semua hal ini terjadi ketika Soan Li berada dalam
keadaan kehilangan ingatan. Jauh sebelum itu, sebelum
menjadi korban Liok Kong Ji, Soan Li telah berjumpa dengan
seorang pemuda yang dianggapnya seorang pemuda bodoh
sederhana bernama Gong Lam dan gadis yang gagah itu
telah jatuh cinta kepada Gong Lam. Lalu oleh kekejian Kong
Ji, Gak Soan Li kehilangan ingatannya. Setelah sadar, ia
hanya ingat dua orang. Wan Sin Hong yang dibencinya
karena ketika melakukan kekejiannya, Kong Ji mengaku
bernama Wan Sin Hong. Dan orang ke dua adalah Gong Lam
yang tetap dicintanya dan kembali Liok Kong Ji yang
mengaku sebagai Gong Lam, crimper. mempergunakan
kesempatan selagi Soan Li masih kehilangan ingatan.
Padahal Gong Lam itu bukan lain adalah Wan Sin Hong.
Untuk mengetahui peristiwa ruwet dan menarik ini lebh
jelas, silakan baca cerita PEDANG PENAKLUK lBLIS.
Sampai sekarang Soan Li masih belumsadar betul akan
duduknya perkara. Dia hanya mengira babwa Gong Lam itu
acbetulnya tidak ada, yang ada ialah Pangeran Wanyen Ci
Lun yang semenjak dahulu ia cinta, memang wajah Gong
Lam alias Wan Sin Hong itu serupa benar dengan wajah
Pangeran Wanyen Ci Lun, seperti pinang dibelah dua.
Memang mereka ini sesungguhnya masih saudara mis an.
Perlahan-lahan Pangeran Wanyen Ci Lun suka menceritakan
kepada isterinya tentangWan Sin Hong yang dianggap
saudaranya dan seorang ggah perkasa yang amat ia cinta
dan hormati.
Sete lah mendengarkan penuturan Wan Bi Li dan Wan
Sun tentang penyerbuan dua orang mata-mata Mongol itu.
Wanyen Ci Lun menarik napas panjang dan berkata kepada
Soan Li. "Isreriku, bagi seorang panglima yang penuh
tanggung jawab terhadap negaranya, aku sama sekali tidak
tahut atau khawatir terhadap musuh. Kau tahu bahwa aku
siap sedia mengurbankan nyawa demi membela negara.
9
Akan tetapi kalau aku melihat engkau dan anak-anak kita,
be rat juga rasa hatiku. Memang akupun tahu bahwa kau
cukup pandai menjaga diri, demikian pula Bi Li dan Sun-ji .
Akan tetapi. menghadapi balatentara Mongol yang begitu
banyaknya. bagaimana kelak kita bisa s aling membantu ?
Aku tetap akan merasa khawatir kalau kau dan anak-anak
kita tidak mengungsi ke selalan. Ikutlah dengan Hong Kin
dan isterinya ke Kim-bun to. Kelak kalau aku dapat lolos
dengan selamat dari perang ini. pasti aku akan menyusul ke
sana. Andaikata aku gugur,. kau dan anak-anak pun,
berada di tempat aman dan aku akan mati dengan mata
meram.”
"Tidak, tempat kami di sini, di sampingmu. Dalam suka
maupun duka," jawab Soan-Li dengan suara tetap.
"Bukankah be gitu, anak-anak?”
"Betul, ibu. Ayah, akupun harus membantn ayah
berjuang melawan iblis-iblis Mongol!" kata Wan Sun.
"Kalausaja ayah tidak menghadapi musuh dan negara
sedang aman, aku akan suka sekali pe lesir ke Kim bun-to.
Akan tetapi dalam kedaan seperti ini, bicara tentang pelesir
sungguh bukan pada tempatnya. Ayah, kita masih belum
kalah oleh tikus-tikus Mongol, mengapa ayah nampak
berkhawatir?" kata Wan Bi Li sambil mendekati ayahnya
dengan sikapnya yang manja.
“Kalian tidak tahu....... balatentara Mongol luar biasa
kuatnya, me reka beberapa kali lipat banyak dari pada kira.
Kota raja sudah terkurung rapat, tidak ada ransum dapat di
datangkan dari luar. Berpuluh-puluh gerohak ransumyang
datang dari selatan juga sudah dirampas mereka. Bukan aka
takut akan tetapi benar-benar harapan kita tipis sekali,
sekarang kiranya masih mungkin bagi kalian untuk
menerobos keluar dari kepungan, mengungsi ke selatan
seperti dilakukan oleh kaisar dan pembesar tinggi dan....... “
10
“Akan tetapi mengapa kau sendiri tidak pergi mengungsi?
Kau mendesak kami menyelamatkan diri, mengapa kau
sendiri tidak ikut pergi?" Soan Li menegur suaminya.
"Aku lain lagi. Aku seorang pangeran kerajaan Kin, aku
harus membela negara dan kerajaan sebagai seorang
panglima yang setia. Akan tetapi lain lagi dengan kau dan
anak-anak. lnilah sebab-sebabnya mengapa aku memberi
she Wan kepada anak anak kita, aku ingin mereka tetap
menjadi orang Han, bercampur dengan rakyat jelata di
Tiongkok, jangan dicap bangsa penjajah."
Pada saat itu muncul Coa Hong Kin dan Go Hui Lian.
Nyonya ini sambil tertawa berseru keras, "Coba lihat, siapa
yang datang bersama kami?”.
Pange ran Wanyen Ci Lun mengeluarkan suara girang,
melompat dari kursinya, berlari maju dan di lain saat ia
sudah berpelukan dengan Wan Sin Hong ! Gak Soan Li
duduk seperti patung di atas kursinya, wajahnya dan
matanya terbelalak memandang ke Wan Sin Hong dan
Pangeran Wanyen Ci Lun. Dua orang laki-laki setengah tua
yang serupa benar wajahnya, tampan dan gagah, hanya
pakaian saja yang berbeda. Pangeran Wanyen berpakaian
seperti seorang panglima sedangkan Wan Sin Hong
berpakaian sederhana. "Aku pernah bertemu dengan dia
....... aku pernah bertemu dengan diaa. ..... “ demikian kata
hati nyonya ini dan dadanya berdebar aneh, keningnya yang
masih halus itu berkerut-kerut seakan-akan ia sedang
mengerahkan tenaga otaknya untuk mengingat-ingat. Di
belakang Sin Hong muncul Siok Li Hwa yang masih cantik
gagah, akan tetapi kelihatan lesu dan berduka..Nyonya ini
digandeng oleh Coa Lee Goat, murid suaminya juga
muridnya.
"Saudaraku yang baik....... ... ! Tentu Thian yang
menuntunmu mengunjungi kami yang sedang amat
mengharap-harapkan kedatanganmu. Silakan duduk di
dalam. kita bicara ...,.."
11
Wan Sin Hong menjadi terharu dan matanya bas ah
ketika ia memandang kepada pangeran itu dan kepada Gak
Soan Li yang masih duduk mematung, kemudian ketika ia
melirik dan melihat Wan Bi Li sudah bergandeng tangan
dengan Lee Goat dan dua orang gadis itu berbis ik-bis ik
agaknya membicarakan. mereka yang baru datang,
wajahnya yang tadinya muram menjadi agak berseri
"Ah, sekarang kalian sudah menjadi sahabat baik,
bukan? Memang semua adalah orang sendi ri. dulu di Omeisan
kalian berkelahi !”
"Suhu, dulu teecu tidak tahu bahwa Bi Li adalah puteri
dari bibi guru sendiri. Kalau tahu masa bertempur ? jawab
Lee Goat tertawa.
Sin Hong memperkenalkan isterinya kepada Pangeran
Wanyen Ci Lun dan mereka memberi hormat sebagaimana
mestinya. Sin Hong menghadapi Soan Li dengan wajah tidak
memperlihatkan perubahan apa-apa, ia menjura s ambil
berkata sopan, “Harap hujin banyak bailk....... “
Soal Li hanya menjura kepada Sin Hong dan isterinya,
bibirnya bergerak tanpa mengeluarkan suara, akan tetapi
hatinya berbisik. “Aku pernah mengenalnya, pernah
mengenalnya……..”
Pangeran Wanyen Ci Lun mengajak tamu-tamunya
masuk ke ruangan dalam untuk bercakap-cakap dan tak
lama kemudian Pangeran Wanyen Ci Lun duduk
menghadapi Wan Sin Hong dan Coa Hong Kin, sedangkan di
ruangan belakang Gak Soan Li bercakap-cakap gembira
dengan Go Hui Lian dan Siok Li Hwa.
Baik penuturan Li Hwa kepada Soan Li dan Hui Lian,
maupun penuturan Sin Hong pada PangeranWanyen Ci Lun
dan Hong Kin, amat mengejutkan para pendengarnya. Hati
siapa yang takkan terkejut dan menyesal mendengar bahwa
anak perempuan yang tadinya dibawa oleh Toat -beng Kui-bo
dan yang baru kemarin siculik oleh mata-mata Mongol ,
12
bukan lain adalah onak tunggal dari Wan Sin Hong dan Siok
Li Hwa!
Pangeran Wanyen Ci Lun menggebrak meja. "Celaka !
Kalau tahu demikian. tentu anak itu takkan pernah
kubiarkan terpisah dari sampingku. Pantas saja kami amat
suka kepadanya, kiranya dia Itu anakmu.....?” Cepat ia
mence ritakan semua peristiwa yang terjadi malamtadi di
mana anak itu telah terculik oleh seorang tosu buntung dan
seorang pemuda putera Liok Kong Ji.
Wan Sin Hong menjadi pucat mendengar ini. “Putera Liok
Kong Ji ? Sampai sekarang iblis itu masih tetap
menggangguku. Tunggu saja kau. Kong Ji. lain kali kita
bikin perhitungan. Awas, kau kalau sampai anakku
terganggu,” kata Sin Hong mendengar penuturan itu.
Kemudian atas permintaan Pangeran Wanyen Ci Lun, ia lalu
menuturkan pengalamannya secara singkat selama ini.
Seperti te lah kita ketahui, kurang lebih tiga tahun yang
lalu ketika Tiang Bu mengunjungi Toat-beng Kui-bo di Banmo-
tong, Wan Sin Hong berada di sana bersama istertnya
yang ketika itu sedang mengandung. Tadinya Wan Sin Hong
mengejar Toat berg Kuibo yang membawa Siok Li Hwa, akan
tetapi ketika tiba di Ban-mo-tong, ia mendengar hal yang
amat mengherankan hasinyat, yaitu bahwa Toat beng Kui-bo
sesungguhnya adalah ibu sendiri dari Li Hwa ! Li Hwa amat
percaya kepada keterangan Toat-beng Kui-bo yang dapat
menceritakan segala hal tentang Pat-jiu Nio-nio gurunya
dahulu ketika ia masih berada di perkumpulan Hui-eng-pai.
Juga Li Hwa amut kasihan melihat nenek itu maka nyonya
yang memang sejak kecil rindu sekali untuk bertemu dengan
ibunya, menjadi tidak tega meninggalkan Toat-beng Kui-bo
dan membujuk suaminya untuk mengawan "ibunya" di
tempat yang menyeramkan itu.
Pada waktu itu Sin Hong sedang menghadapi hal-hal
yang tidak menyenangkan terutama sekali karena sikap
bermusuh dari tokoh-tokoh kang-ouw setelah mereka
13
mendengar bahwa dia masih keturunan keluarg pangeran
Kin. Inilah sebabnya mengapa Sin Hong menuruti
permintaan isterinya dan suami isteri ini tinggal di tempat
itu seperti mengasingkan diri sambil melayani keperluan
Toat-beng Kui -bo dan mengawasi nenek itu. Betapapun juga,
di dalam lubuk hatinya Sin Hong masih ragu-ragu dan
curiga, belum sepenuh hati dapat menerima bahwa isterinya
adalah anak kandung dari nenek yang mangerikan itu.
Waktu berjalan cepat sekali, Li Hwa melahirkan seorang
anak perempuan, Toat-beag Kui-bo kelihatan sayang sekali
kepada “cucunya" ini dan seringkali nenek itu datang
menimang-nimang bayi itu. Sin Hong sudah mulai bosan
tinggal di tempat itu, akan tetapi Li Hwa selalu
membujuknya agar supaya mereka tinggal di situ dan
mengawani ibunya sudah sangat tua.
"Ibu sudah berusia tua sekali, bagaimana kalau kita
tinggalkan seorang diri lalu jatuh sakit? Siapa yang akan
merawatnya? Kau harus tahu bahwa semenjak kecil aku
tidak pernah dekat dengan dia, kalau tidak sekarang pada
saat dia sudah sangat tua aku melakukan kewajiban dan
baktiku sebagai anak, mau tunggu kapan lagi?” demikian
isteri ini membantah dan terpaksa Sin Hong menahan sabar.
Memang kesabaran Sin Hong luar biasa sekali, hasil
latihannya ketika ia berada di Luliangsan. Kembali dua
tahun lebih lewat dan Wan Leng atau yang biasa mereka
panggil Leng Leng anak itu sudah berusia dua tahun dan
menjadi seorang anak yang mungil.
Pada suatu hari ketika Sin Hong sedang duduk di lereng
memandang ke tempat jauh, agaknya rindu untuk berkelana
turun dari tempat itu. bertemu dengan sahabat-sahabat baik
dan orang-orang gagah di dunia kangouw, tiba-tiba
terdengar suara ketawa merdu, ia kaget sekali karena
maklumbahwa orang yang dapat datang di dekatnya tanpa
ia dengar, banyalah orang yang sudah memiliki kepamdaian
tinggi sekali. Ketika ia melompat berdiri dan memutar tubuh,
14
ternyata yang berdiri di depannya adalah Ang-jiu Mo-li,
masih tetap cantik seperti dulu biarpun usia sudah empat
puluh tahun lebih, hampir lima puluh tahun.
“Ang-jiu Mo-li mengejutkan orang. Ada keperluan apakah
kau sampai datang ke tempat ini ?”
“Wan Sin Hong manusia pelamun ! Makin tua kau makin
tidak ada tidak ada guna!” Ang Jiu Mo-li mengejek.
"Hmmm, mungkin…..” jawab Sin Hong sebal karena
memang sudah sering kali ia merasa bahwa ia makin tiada
guna, maka ejek orang amat mengenai hatinya. "Akan tetapi
mengapa kau berkata demikian ?”
"Di utara api peperangan sudah bernyala- nyala. Orangorang
gagah mempergunakan kesempatan untuk
mengeluarkan kepandaian agar tidak sia-sia. Akan tetapi
kau, yang katanya be rdarah bangsawan Kin, yang terkenal
sebagai pangeran bangsa Kin berpakaian Han. kau memeluk
lutut melamun di sini bersenang-senang dan berbulan madu
yang tiada berkesudahan dengan isterimu, menjadi kaki
tangan dari siluman tua Toat-beng Kui-bo. Cihh, tak tahu
malu dan betul betul seorang pengecut besar."
"Ang jiu Mo-li , kau datang-datang memaki aku apakah
maksudmu? Mau apa kau datang ke sini?"
"Lupakah kau akan pertemuan kita yang lalu ketika aku
menampar muka wanita yang sekarang menjadi isterimu?
Aku datang untuk membuktikan sampai di mana
kepandaianmu, orang pemalas dan pelamun yang sudah
pernah berani mengagulkan diri sebagai seorang bengcu !
Bersiaplah kau !”
Sin Hong melihat betapa kedua tangan wanita itu
perlahan-lahan berubah warnanya, menjadi merah muda
menjadi merah tua. Ia makum apa artinya. Memang Ang-jiu
Mo-li amat terkenal namanya oleh kedua tangan ini yang
mengandung sinkang beracun luar biasa kuat dan
be rbahaya. Ia menarik napas panjang.
15
"Ang-jiu Mo-li, sebetulnya aku merasa enggan untuk
bertempur dengan seorang wanita tanpa sebab-sebab yang
kuat. Akan tetapi karena kau tadi sudah memaki aku
seorang pengecut, terpaksa aku harus membe la diri dan
membuktikan bahwa makianmu tidak berdasar. Aku sudah
siap. Ang-jiu Mo-li.”
"Bagus, jaga s eranganku !" seru wanita itu gembira.
Sudah lama sekali ia rindu untuk mengukur kepandaian
pendekar yang terkenal ini dan baru sekarang ia mendapat
kesempatan. Selain itu, semenjak ia bertemu dengan Sin
Hong dahulu, diam-diam Ang-jiu Mo-li sering kali duduk
termenung dan melamun. Belum pernah selama hidupnya ia
tertarik oleh laki-laki, akan tetapi bengcu muda ini benarbenar
telah merebut hatinya. Maka dapat dibayangkan
betapa sakit hatinya dan betapa kecewanya ketika ia
mendengar bahwa kini Wan Sin Hongsudah menjadi suami
Hui-eng Niocu Siok Li Hwa.
Wan Sin Hong berlaku hati-hati sekali dalam menghadapi
serangan Ang-jiu Mo-li. Ia maklum bahwa wantia ini
bukanlah lawan biasa, sama sekali tidak boleh dipandang
ringan karena memiliki kepandaian yang tingkatnya sudah
amat tinggi. Dengan penuh perhatian ia menghadapi
serangan lawan, mengerahkan kepandaian dan tenaganya
untuk mempertahankan diri dan balas menyerang.
Kepandaian Ang-jiu Mo-li memang sudah setingkat dengan
Sin Hong. Wanita sakti ini ketika menjelajah di utara, sudah
mengemparkan tokoh-tokoh utara, bahkan sudah
menggegerkan tokoh-tokoh Mongol dengan kepandaiannya
yang tinggi. Liok Kong Ji sendiri di utara hampir menjadi
korban tangannya ketika Liok Kong Ji yang mata ke ranjang
tertarik oleh kecantikannya dan mencoba mengganggunya.
Kalau saja tidak dikeroyok oleh banyak tokoh Mongol yang
tinggi kepandaiannya, tentu Ang-jiu Mo-li tidak akan
melarikan diri dan Kong Ji dapat se lamat terlepas dari
tangannya.
16
Sebaliknya Wan Sin Hong yang sudah bertahun-tahun
tak pernah bertempur melawan orang-orang pandai, juga
tidak merosot kepandaiannya, bahkan selama ini ilmu
lweekangnya meningkat. Dalam pertempuran menghadapi
lawan ini ia berlaku tenang sehingga biarpun Ang jiu Mo-li
mengeluarkan semua kepandaian dan menyerang dengan
cepat dan gencar, Sin Hong dapat mengimbanginya. Jarang
ada pertempuran tangan kosong demikian ramainya, di
mana tipu dilawan tipu dan kegesitan dilawan ketangkasan.
Bayangan dua orang ini sampai sukar dikenal lagi, sepeti
sudah menjadi satu.
Kegagahan Sin Hong ini makin menggerakkan hat i Ang:
jiu Mo-li yang mencinta Sin Hong. Dahulu ketika masih
muda wanita ini selalu bersumpah bahwa ia takkan mau
menikah dengan orang yang tidak dapat melawan
kepandaiannya, dan benar saja. Tak pernah ia menemui
laki- laki yang wajahnya mencocoki hatinya dan
kepandaiannya dapat mengimbangi kepandaiannya. Kini
menghadapi Sin Hong yang memang sudah menarik hatinya
ia menjadi kagum bukan main sehingga wajahnya menjadi
merah napasnya memburu dan matanya bersinar-sinar.
"Wan Sin Hong, tahan dulu!” katanya.
Sin Hong pun menghentikan serangannya dan
memandang heran. "Kau mau bicara?" tanyanya tenang.
Diam-diam ia harus mengakui bahwa kecuali Toat-beng Kuibo,
belumpernah selama hidupnya ia bertemu dengan
seorang wanita sehebat ini kepandaian silatnya.
“Sin Hong, kepandaian kita seimbang. ...... tidak
melihatkah kau betapa cocoknya kalau kita be rdampingan,
kau dan aku berdua akan dapat menguasai dunia ! Pekthouw-
tiauw-ong dan isterinya yang terkenal bukan apa-apa
kalau dibandingkan dengan kita berdua! Sin Hong, di dunia
ini tidak ada jodoh yang lebih setimpal dari pada kita !"
Kalau pipinyu ditampar, kiranya Sin Hong takkan
semerah itu mukanya.
17
"Ang-jiu Mo-li, bagaimana kau bisa mengeluarkan katakata
seperti itu? Kau tahu aku sudah berisieri. Kau memang
patut ditampar seperti yang diminta oleh isteriku!” bentak
Sin Hong sambil melompat maju dan mengirim tamparan ke
arah pipi Aug-jiu Mo-li. Memang Sin Hong tidak pernah lupa
akan hinaan yang dilakukan oleh Ang-jiu Mo-li terhadap
Siok Li Hwa ketika belum menjadi isterinya.
Pipi Li Hwa ditampar s ampai merah oleh Ang jiu Mo-li
dan Li Hwa menjadi sakit hati sekali, bahkan menuntut agar
supaya Sin Hong berjanji untuk membalaskannya. Namun
tadinya Sin Hong sama sekali tidak ingin menanam
permusuhan dan tidak mau menghina Ang-ji Mo-li dengan
menampar pipinya. Hanya setelah mengeluarkan kata-kata
yang dianggapnya terlalu dan tak tahu malu, Sin Hong
menjadi marah dan menamparnya.
Ang-jiu Mo-li mana mau membiarkan dirinya ditampar ?
Dengan marah ia mengelak dan memaki. "Manusia sombong
! Aku akan mcmbunuh binimu itu ! Lebih dulu aku akan
membunuhmu pelamun tiada guna!” Kembali Ang jiu Mo li
menyerang dan begitu ia bergerak, Sin Hong mengeluarkan
seruan kaget. Serangan-seranyan Ang-jiu Mo-li sekarang ini
benar-benar hebat dan sama sekali berbeda dengan tadi.
Dalam gebrakan pertama saja sudah hampir saja lehernya
terkena totokan, dan selanjutnya ia terdesak terus dan
terpaksa hanya bisa menjaga diri dan main mundur
menghadapi gclombang serangan yang dahsyat itu. Ia tidak
tahu, bahwa inilah Ilmu Silat Kwan-im-cam-mo yang
dipelajari oleh Ang jiu Mo li dari kitab Omei-san yang dulu
te rjatuh ke dalam tangannya. Tidak heran apabila Sin Hong
sendiri tidak mengenal ilmu ini dan menjadi terdesak
olehnya.
Sin Hong adalah seorang pendekar besar yang berjiwa
gagah perkasa. Biarpun sudah amat terdesak oleh pukulanpukulan
aneh dan sakti dari lawannya, tetap ia tidak sudi
mengeluarkan Pak-kek sin-kiam untuk melawan seorang
18
wanita yang bertangan kosong. Ang-jiu Mo-li tadi sudah
menyatakan bahwa kedatangannya hendak menguji
kepandaian. Setelah sekarang me reka bertempur dan wanita
itu me lawannya dengan tangan kosong, bagai mana ia ada
muka untuk mempergunakan pedangnya ? Ia lebih suka
kalah dan roboh dari pada menurunkan kehormatannya
dengan bersikap curang atau licik.
Pada saat itu. muncul Siok Li Hwa yang berlari-lari
sambil memondong anaknya, Leng Leng. Melihat bahwa
suaminya sedang bertempur melawan Ang-jiu Mo-li , Li Hwa
menjadi marah sekali dan berseru, "Suamiku, balaskan sakit
hatiku. kautampar pipinya biar bengkak-bengkak !"
Akan tetapi Ang-jiu Mo-li yang menjawab sambil
mengejek dan mendesak Sin Hong. “Bagus. perempuan tiada
guna kau sudah datang. Tunggu sebentar aku membereskan
dulu lakimu ini, baru aku akan mencabut nyawamu berikut
nyawa anakmu!”
Saking marahnya. Li Hwa menurunkan anaknya di
bawah pohon dan siap membantu suaminya mengeroyok
Wanita Tangan Merah yang lihai itu. Melihat gerakan
isterinya, Sin Hong cepat berseru.
"Li Hwa, jangan....... ! Lebih baik kau bawa Leng Leng
kepada gakbo (ibu mertua) agar terlindung dari ancamn
perempuan ini."
"Kita robohkan dia bersama!” Li Hwa membantah.
"Jangan. Isteriku! Ini pertandingan pibu, tidak boleh
main keroyokan !" kata pula Sin Hong yang te tap hendak
menjaga namanya.
"Huh, terhadap seorang siluman tangan me rah mana
perlu menggunakan aturan lagi? Dia jahat dan sudah biasa
tidak pakai aturan, perempuan hina macam itu saja
meagapa kita harus sungkan-sungkan ?”
19
Mendengarmakian ini, kemarahan Ang-jiu Mo li tak
dapat ditahan lagi. Sambil berteriak nyaring tubuhnya
melayang meninggalkan Sin Hong, langsung ia menerjang Li
Hwa !
"Ang-jiu Mo-li, jangan serang isteriku !” bentak Sin Hong
mengejar, “Li Hwa, jangan lawan dia. Lari !”
Akan tetapi mana Li Hwa mau lari? Dia sendiri berilmu
tinggi dan bukan menjadi wataknya untuk lari menghadapi
lawan yang ba gaimana tangguhpun. Me lihat serangan Angjiu
Mo-li, ia cepat menggerakkan kedua tangan menangkis.
"Plak !" dua lengan tangan bertemu dan Li Hwa terlempar
te rus muntah darah.
"Hai, berani melukai anakku ?" terdengar bentakan dan
sekaligus sebatang tongkat melayang ke arah kepala Ang-jiu
Mo-li dan dua ekor kelelawar menyerangnya dari kanan kiri.
Ang-jiu Mo-li maklum siapa yang datang maka ia cepat
melompat ke belakang menghindarkan diri dari serangan
hebat itu.
“Gakbo, dia datang hendak berpibu dengan aku, biarkan
aku melayaninya !" kata Sin Hong yang melihat isterinya
menelan sebuah pil putih, ia lalu melompat lagi mendekati
dua orang wanita sakti yang kini sudah bertempur.
“Anak mantu, kau diamlah, sudah tentu kau suka
melayaninya karena dia ini masih cantik dan terkenal gila
laki-laki. Biar aku mengambil jantungnya untuk makanan
ke lelawar-kelelawarku. Hi hi -hi !"
Tongkatnya mendesak terus dan diam-diam Ang-jiu Mo-li
terkejut sekali. Tadinya ia tidak gentar terhadap nenek ini
karena biarpun dulu kepandaiannya masih kalah setengah
tingkat, namun bertambahnya kepandaiannya dengan ilmu
Silat Kwan im-cam-mo dari Omei-san, ia kira akan cukup
untuk menghadapi nenek itu. Akan te tapi kiranya melihat
gerakan tongkat, kepandaian nenek itupun meningkat
20
banyak! Dan Ang-jiu Mo-li ingat bahwa ketika terjadi
keributan di Omei-san nenek inipun melarikan sebuah kitab.
Tentu nenek inipun sudah mendapatkan semacam ilmu
silat yang lihai. Mengingat ini, Ang-jiu Mo-li menjadi gentar
juga. Menghadapi Sin Hong andaikata ia kalah, ia masih bisa
mengharapkan selamat. Akan tetapi nenek ini seperti bukan
manusia lagi dan kekejamannya sudah terkenal di seluruh
dunia kang-ouw. Di samping ini, Ang-jiu Mo-li juga merasa
gelisah mendengar sebutan-sebutan antara Sin Hong dan
Toat-beng Kuibo. Mantu dan mertua? Gila ia tahu betul
bahwa Toat -beng Kui-bo tak pernah punya anak ! Otak di
dalam kepala Ang-jiu Mo-li memang cerdik sekali. Ia melihat
keuntungan dalam keganjilan itu, Tiba-tiba ia tertawa keras.
dengan nada mengejek.
"Toat-beng Kui-bo, manusia tak tahu malu. Apa kau
berani mendengarkan kata-kataku sebentar?”
"Bocah ingusan, mengapa aku takut ? Cepat atau lambat,
jantungmu pasti akan menjadi mangsa kelelawarkelelawarku.
Syyyyt. Anak-anak baik, nanti dulu, dia mau
bicara." katanya kemudian pada dua ekor kelelawar yang
anehnya seperti menge rti, menunda serangan dan hinggap di
atas pundak itu.
Ang pu Mo-li bergidik, akan tetapi ia tetap tertawa. "Toatbeng
Kui-bo, kau ini sudah tua bangka apakah masih mau
membadut? Kau menyebut Wan Sin Hong anak mantumu
apa-apaan sih ini? Siok Li Hwa adalah Hue-eng Niocu,
bagaimana bisa menjadi anakmu Apakah kau mengangkat
anak kepadanya? Ha ha, siluman macam engkau ini, yang
sejak muda tidak ada laki-laki yang sudi mengerlingmu
sebentarpun juga, bagaimana bisa punya anak dan mantu?
Ha. Toat - beng Kui-bo, jangan bikin aku mati tertawa geli !"
“Iblis 1 Dia memang anakku. Li Hwa me mang
anakku.....” bentak Toat-beng Kui bo dan tongkatnya
bergerak pula.
21
"Nanti dulu, jangan kau menipuku. Ketika aku masih
kecil sebelum orang-orang seperti Li Hwa ini lahir, aku
sudah mendengar dari ayah bahwa kau adalah seorang
wanita bermuka siluman yang amat buruk dan orang malah
menyangsikan apakah kau ini laki-laki atau wanita.
Mungkin kau banci! Sejak kapan kau menikah dan kapan
pula kau punya anak? Menurut perhitunganku, ketika aku
masih kecil kau sudah berusia lima puluh atau enam
pulunan, jadi sekarang kau tidak kurang dari seratus tahun.
Sedangkan Li Hwa ini paling banya berusia empat puluh
tahun. Dalam usia berapakah kau melahirkan dia? Dalam
usia tujuh puluh tahun, barungkali? Ha-ha.ha, Toat-beng
Kui-bo, seorang anak kecilpun akan tahu bahwa kau
membohong."
Terdengar jerit te rtahan dari Li Hwa ketika mendengar
kata-kata ini dan Toat-beng Kui-bo dengan marah sudah
memutar tongkatnya pula menyerang Ang-jiu Mo-li Si
Tangan Merah cepat mengelak lalu melarikan diri sambil
tertawa.
"Mulut jahat , kau mau lari ke mana?" Toat beng Kui -bo
mengejar, akan tetapi Ang-jiu Mo-li menyebar Pat-kwa-ci
yang dipukul runtuh oleh tangan baju nenek itu yang terus
mengejar.
Tiba-tiba Sin Hong melompat dan menghadang di depan
Toat-beng Kui -bo. "Biarkan dia lari, tak perlu membunuh
orang."
Dalam kemarahannya yang luar biasa, Toat-beng Kui-bo
membentak." Kau...... mau membela dia ?” Dan tongkatnya
menghantam Sin Hong. Sin Hong sudah siap sedia karena)
memang selama ini ia merasa curiga terhadap nenek yang
aneh itu. Dengan sigap ia melompat ke samping. Ketika
Toat-beng Kui -bo memandang ke depan, ternyata Any-jiu
Mo-li sudah menghilang. Marahlah dia, kemarahannya kini
tertuju kepada Sin Hong dan tongkatnya melayang lagi
22
menyerang Sin Hong. Kembali Sin Hong mengelak dan kali
ini mencabut Pak-kek-sin kiam.
"Ibu mengapa kau hendak membunuh mantumu
sendiri.....?” tiba-tiba Li Hwa berseru sambil mendekati
dengan Leng Leng dalam pondongannya.
Mendengar ini tiba-tiba Toat-bang Kui- bo menghentikan
gerakannya. Matanya yang mengerikan itu menatap wajah Li
Hwa penuh selidik, lalu ia berkata,
“Kau tidak percaya akan obrolan siluman tadi, bukan?
Kau masih percaya dan mengaku aku sebagai ibumu?"
Dengan air muka tidak berubah Li Hwa menjawab.
"Tentusaja, tentu saja."
Toat-beng Kui-bo mengampit tongkatnya, "Kesinikan
cucuku, aku ingin menggendongnya."
Sesungguhnya, di dalam hatinya Li Hwa sudah
te rpengaruh oleh ucapan Ang-jiu Mo-li tadi dan kini iapun
merasa yakin bahwa tidak mungkin kalau Toat-beng Kui-bo
ini ibunya. Akan tetapi ia maklum betapa lihai adanya nenek
ini dan kalau ia tidak mengambil hatinya lalu nenek ini
mengamuk, berabe juga. Suaminya belum tentu sanggup
mengalahkan nenek ini, apalagi dia sendiri masih terluka.
Kini nenek itu minta Leng Leng untuk digendong. Sungguh
berat ujian ini. Namun, dengan senyum penuh kepercayaan,
ia menyerahkan Leng Leng yang segera dipondong oleh Toatbeng
Kui-bo, Nenek ini lalu terhuyung-huyung pergi s ambil
memondong cucunya. Terdengar ia bersungut -sungut,
"Kalau kau tidak percaya lagi bahwa aku ibumu, hmm,
kubunuh kalian semua, kubunuh ....... !”
Setelah Toat-beng Kui bo pergi jauh membawa Leng Leng,
barulah Li Hwa memperlihatkan kecemasannya. Ia
memandang kepada suaminya, mereka saling pandang
penuh pengertian dan Li Hwa lalu menubruk Sin Hong
sambil menangis.
23
"Kau betul...... dia bukan ibuku ..... " katanya, "kalau saja
aku percaya akan keraguanmu dahulu ....... sekarang dia
membawa pergi Leng Leng, bagaimana baiknya ....... ?”
"Tenanglah. Memang kau tadi bersikap tepat sekali.
menghilangkan kecurigaannya dengan memperlihatkan
kepercayaan. Kalau kau bersikap lain, aku khawatir kita
takkan dapat menolong diri.Nenek itu lihai bukan main.
Dalam keadaan biasa. kiranya aku masih akan dapat
menahannya. Akan tetapi kulihat ilmu toogkatnya tadi luar
biasa sekali ketika ia menghadapi Ang-jiu Mo-li. Tak salah
lagi dugpaanku bahwa kitab DELAPAN JALAN UTAMA itu
mengandung sari pelajaran ilmu silat tinggi tentu betul
adanya. Tiang Bu telah ditipunya. Aku sudah
mengkhawatirkan hal itu. Tak mungkin orang-orang sakti di
Omei -san menyimpan kitab pelajaran Agama Budha biasa
saja, tentu di situ tersembunyi sari pe lajaran Ilmu silat . Dan
nenek itu agaknya sudah mulai mempelajarinya. Ilmu
tongkat yang dimainkannya tadi benar-benar luar biasa dan
aku takkan dapat melawannya, biarpun dengan Pak kek sinkiamsut.”
"Sekarang bagaimana caranya untuk minta kembali Leng
Leng?"
“Ki ta harus menggunakan akal. Kau tetap bersikap
seperti tadi, penuh kepercayaan. Seperti biasa ia akan
mengembalikan Leng Leng kalau kau menyusul ke sana.
Kemudian secara diam diam kita akan pergi dari sini."
Dengan hati berdebar gelisan mereka menanti-nanti,
akan tetapi sampai keesokan harinya, Toat-beng Kui-bo tak
kunjung datang. Terpaksa Li Hwa lalu naik menyusul ke
tempat tinggal nenek itu, sedangkan San Hong menanti dari
tempat yang tidak begitu jauh sambil mengintai. Tak lama
kemudian ia melihat Li Hwa berlari kembal i sambil
menangis.
"Celaka....... dia ....... dia sudah pergi membawa Leng
Leng!" katanya.
24
Sin Hong menjadi pucat dan berlaku nekad. Ia cepat lari
ke arah tujuh buah gua besar dan mencari, bersiap untuk
menempur Toat beng Kui-bo. Akan tetapi betul seperti katakata
isterinya, nenek itu tidak kelihatan bayangannya lagi.
Agaknya nenek itu dapat menduga bahwa Li Hwa takkan
mau mengaku dia sebagai ibu lagi dan dengan marah lalu
pergi membawa Leng Leng.
"Sudahlah, jangan kau menangis." Sin Hong menghibur
isterinya. "Bagaimanapun juga dia amat sayang kepada Leng
Leng. Dia pergi tentu karena takut kalau kita membawa
anak itu pergi meninggalkamnya, maka ia mendahului dan
membawa anak kita."
"Ke mana kita harus mengejar dan mencarinya?”
"Kalau tidak salah dugaanku, dia tentu pergi mencari
Ang-jiu Mo-li. Tentu dia marah sekal i kepada Ang. jiu Mo-li
karena Si Tangan Merah itulah yang membuka rahasianya.
Maka kita harus mencari di utara, di kota raja Kerajaan Kin,
karena aku mendengar bahwa Ang-jiu Mo-li pernah menjadi
guru dari anak-anak Pangeran Wanyen Ci Lun dan kiranya
tidak terlalu salah kalau kita mencari dia di sana."
Tanpa membuang waktu lagi, suami isteri ini menyusul
ke kota raja dan seperti telah diceritakan di bagian depan,
mereka bertemu dengan Pangeran Wanyen Ci Lun setelah
berhasil mcmasuki kora raja, hal yang tidak mudah karena
kota raja itu sudah terkurung oleh bala tentara Mongol.
-oo(mch)oo-
"Demikianlah, kita menyusul ke sini. ternyata terlambat
dan baru kemarin anakku diculik oleh kaki tangan Liok
Kong Ji.” Sin Hong inengakhiri penuturannya sambil
membanting kaki.
Dari ruangan datang Li Hwa berlari sambil menangis.
Nyonya inipun mendengar Gak Soan Li tentang penculikan
25
atas diri Leng Leng pada malam tadi oleh orang-orang
Mongol. Sambil menangis ia berlari mencari suaminya.
"Kita harus mengejar ke s ana. sekarang juga!" Nyonya ini
berteriak marah. "Biar kita mengadu jiwa dengan iblis jahat
Liok Kong Ji !”
Sin Hongmenyabarkan isterinya. “Mari kita berunding
dulu dan mengatur siasat jangan terburu nafsu."
Gak Soan Li dan Go Hui Lian juga menyusul ke situ
untuk menghibur Li Hwa dan sekarang merekapun
dipersilahkan duduk di ruangan itu. Mendengar disebutnya
nama Liok Ko Ji oleh Li Hwa tadi, tak tertahan lagi Soan Li
bertanya, "He ran sekali, bukankah iblis yang namanya Liok
Kong Ji itu dahulu sudah mampus kubunuh dengan
pedangku? Bagaimana sekarang bisa muncul di antara
orang-orang Mongol?" ia bertanya demikian sambil
memandang kepada suaminya, padahal Pangeran Wanyen
jugu maklum kepada siapa pertanyaan ini ditujukan. Maka
ia lalu berkata kepada Sin Hong.
"Saudara Sin Hong hanya kaulah yang dapat menjawab
pertanyaan isteriku tadi. Sudah lama kami terganggu oleh
pertanyaan yang tak terjawab ini."
Sin Hong menarik napas panjang. "Memang yang
terbunuh dahulu itu bukan Liok Kong Ji. Dia terlalu licin
dan siang-siang sudah menyediakan orang ke dua yang
mukanya memang serupa dengan dia. Orang itulah yang
terbunuh sedangkan dia sendiri melarikan diri ka utara dan
menggabung kepada orang-orang Mongol.”
"Dan sejak dulu kau sudah tahu akan ini?" tanya
Pangeran Wanyen.
Sin Hong mengangguk. "Sengaja aku diam saja agar
jangan menggelisahkan hati banyak orang, iblis itu memang
jahat sekali dan sampai sekarang ia masih saja
mendatangkan kesusahan kepadaku. Akan tetapi sekarang
26
aku akan menyusul ke sana dan sekali ini perhitungan
terakhir harus dibuat. Dia atau aku yang mati."
"Adik Li Hwa. jangan khawatir, kami akan ikut
membantumu," tiba-tiba Hui Lian berkata yang disetujui
oleh Hong Kin dan Lee Giok.
Sin Hongmenggeleng kepala. "Untukmemasuki
perkemahan orang orang Mongol se cara sembunyi, lebih
baik dilakukan oleh seorang saja. Makin banyak makin
berbahaya karena ketahuan seorang saja bearti akan
menggagalkan urusan. Bahkan Li Hwa sendiri harus
menanti di sini dan akuslah yang akan pergi ke sana. Kalau
aku berhasil merampas kembali Leng Leng tanpa
pertempuran, itulah paling baik. Kalau tidak, terpaksa aku
harus mengadu nyawa dengan Liok Kong Ji. Malam nanti
aku berangkat dan terima kasih atas kesediaan kalian
membantu dan berkorban.”
Percakapan dilanjutkan dan mereka menuturkan riwayat
masing-mas ing selama berpisah. Dengan girang akan tetapi
juga terharu sekali Hong Kin dan Hui Lian mendengar
penuturan Sin Hong tentang diri Tian Bu yang menurut Sin
Hong kini sudah memiliki kepandaian yang sangat tinggi dan
betapa pemuda itu disiksa oleh keraguan karena pengakuan
Liok Kong Ji kepadanya sebagai anaknya. Tentu saja ketika
menceritakan hal Tiang Bu, Sin Hong sengaja agar jangan
sampai terdengar oleh Soan Li yang sedang bercakap-cakap
dengan Li Hwa. Juga Lee Goat, Wan Sun dan Wan Bi Li
sudah ikut bercakap-cakan dengan gembira. Dalam
kesempatan ini terdorong oleh kegembiraan bertemu dengan
sababat baik Sin Hong melupakan kedudukannya dan
timbul niat yang amat baik. Ia menghampiri Pangeran
Wanyen Ci Lun dan membisikkan sesuatu, kemudian iapun
memberi tahu dengan suara perlahan kepada Coa Hong Kin.
Dua orang ini saling pandang, tersenyum dan kemudian
mengangguk setuju.
27
Tak lama kemudian larilah Lee Goat keluar sari ruangan
itu dengan muka merah ketika Pangeran Wanyen Ci Lun dan
Coa Hong Kin mengumumkan pertunangan antara Wan Sun
dan Coa Lee Goat! Adapun Wun Sun yang mendengar ini,
juga menjadi merah sekali mukanya, akan tetapi lirikan
matanya sekilas ke arah Bi Li membayangkan kehancuran
hatinya. Pemudaa ini semenjak mendengar bahwa Bi Li
bukan adik kandungnya, yaitu ketika ia mendengarkan
percakapan antara ayah bundanya dan Kwan Kok Sun,
berubahlah pandangannya terhadap gadis yang selama ini ia
sayang sebagai adik sendiri itu.
Diam-diam bersemi cinta kasih yang lain dalam hatinya
terhadap Wan Bi Li. Maka dapat dibayangkan betapa hancur
hatinya mendengar keputusan ayahnya bahwa ia dijodohkan
dengan Coa Lee Goat, sungguhpun harus akui bahwa Lee
Goat bukan gadis sembarangan dan tidak tercela sedikitpun
juga. Setelah mengerling sekilas ke arah Bi Li dengan hati
hancur, iapun mengerling ke arah Wan Sin Hong dengan
hati menaruh dendam.
Tadinya tiap kali memandang kepada Wan Sin Hong,
pemuda ini me rasa kagum dan juga bangga karena pendekar
itu masih satu she dengan dia dan masih terhitung paman.
Akan tetapi setelah Sin Hong mengusulkan perjodohan itu,
diam-diam Wan Sun menjadi marah dan sakit hati kepada
Sin Hong,
Malam tiba. Sin Hong sudah berkemas menyiapkan
pedangnya dan berpakaian serba ringkas, Li Hwa tadinya
merengek hendak ikut karena ia mengkhawati rkan
keselamat suaminya, akan tetapi setelah Sin Hong
menjelaskan bahwa pergi dua orang akan lebih berbahaya, ia
mengalah.
Tiba-tiba terdengar suara menggelegar berkali-kali
disusul sorak-sorai menggegap- gempita.
"Musuh menye rbu……!!”
28
"Mereka membobol dari empat jurusan..!"
“Siap… ! Lawan ....... !!"
Teriakan ini simpang siur. Sin Hong dan Li Hwa menjadi
pucat karena suara ledakan tadi hebat luar bias a membuat
kamar mereka seperti hendak roboh. Cepat mereka
melompat keluar dan hampir mereka bertumbukan dengan
Coa Hong Kin dan isterinya yang juga berlari keluar.
“Tantara Mongol melakukan serbuan besar-besaran,"
kata Hong Kin.
"Mari kita cari Pangeran Wanyen Ci Lun. Kita bantu dia!"
kata Sin Hong dengan hati tetap dan suara tenang. Tadinya
memang pendekar ini tidak ada nafsu untuk mencampuri
urusan perang, akan tetapi karena Kong Ji berada di pihak
sana dan puterinya sekarang diculik pula oleh orang-orang
Mongol, ia tidak bisa tinggal diam saja. Datang pula Lee Goat
dan be rlima me reka lari ke ruangan besar di mana Pangeran
Wanyen Ci Lun sudah berkumpul dengan para panglima,
membagi-bagi perintah.
Juga Kwan Kok Sun, Wan Sun. dan Wan Bi Li sudah
berada di situ, semua berpakaian dinas, Gak Soan Li tidak
setinggalan.Nyonya ini dulu mendampingi suaminya,
sedetikpun tak mau ditinggal. Pedang tajam be rkilauan
berada di tangan kanannya dan pakaiannya ringkas,
membuat ia nampak gagah biarpun wajahnya agak pucat.
Setelah selesai membagi-bagi tugas dan semua panglima
sudah pergi me lakukan penjagaan sekuatnya. Wanyen Ci
Lun berpaling kepada Sin Hong dan memegang kedua
tangannya.
"Saudaraku yang baik, sayang sekali sebelum kau
merampas kembali anakmu, setan-setan itu sudah datang
menyerbu. Seperti sudah kukhawatirkan, mereka kini
agaknya mengerahkan seluruh kekuatan, menycrbu dari
empat penjuru. Kaudengar tembok bagian utara sudah bobol
dan agaknya malam ini kita harus menyerah kalah. Akan
29
jatuh banyak korban......” suara pangeran itu menggetar,
“akan tetapi aku akan mempertahankannya dengan titik
darah penghabisan! Aku hanya minta kepadamu, Wan Sin
Hong saudaraku, kauselamatkan dua orang anakku. Jangan
mereka ikut berkorban seperti aku dan ...... dan istcritu yang
setia ini."
"Jangan khawatir, kami akan membantumu menghadapi
iblis-iblis Mongol itu apabila mereka betul-betul menyerbu
ke sini,” jawab Sin Hong terharu.
"Jangan....... kaujaga saja Bi Li dan Wan Sun. Jangan
biarkan mereka membuang nyawa sia-sia.... nah, selamat
tinggal, aku harus pimpin sendiri anak buahku !" Wanyen Ci
Lun bersama isterinya keluar, akan tetapi sebelumnya
mereka menghampiri Bi Li dan Wan Sun. Pangeran itu
dengan suara mamerintah berkata, "Kalian kutugaskan
menjaga rumah kita agar jangan dimasuki orang-orang jahat
dalam keadaan sekacau ini !”
“Baik, ayah!” jawab mereka bcrbareng, nampak bangga
karena mendapat bagian tugas.
Perang hrbat terjadi pada malam itu. Darah membanjiri
kota raja. Tentara Mongol mengamuk laksana iblis-iblis
neraka mencari kurban. Rumah-rumah dirampok dan
dibakar orang-orang dibunuh, wanita-wanita cantik diculik.
Jerit tangis bercampur aduk dengan pekik marah dan
kesakitan. Api mengaamuk membakari rumah. Perlawanan
fihak tentara Kin juga patut dipuji pantang mundur. Namun
mereka kalah banyak dan makin lama makin terdesak
mundur. Balatentara Kin makin mendekati lingkungan
Istana yang sudah hampir kosong karena ditinggalkan oleh
para pembesar yang sudah mengungsi lama sebelum
penyerbuan terjadi.
Dalamkekecauan seperti itu balatentara Mongol tak
dapat ditahan lagi. Sebagian, mereka yang jahat dan
memang tadinya orang-orang jahat seperti perampok dan
lain-lain yang menggabungkan diri hanya dengan maksud
30
mencari kesempatan, menyerbu ke dalam istana untuk
mencari benda-benda berharga. Akan tetapi beberapa orang
yang “kesasar” ke istana Pangeran Wanyen Ci Lun, hanya
mengantarkan nyawa karena di sana mereka disambut oleh
orang-orang gagah!
Sin Hong dan isterinya juga keluar. Di sana sini mereka
merobohkan beberapa orang musuh yang sedang menyeret
wanita atau sedang membakari rumah. Melihat keadaan
yang tak tertahankan lagi , Sin Hong maklum bahwa
melakukan perlawanan akan sia-sia belaka. Ia mengajak Li
Hwa kembali ke istana Pangeran Wanyen Ci Lun. Ternyaia di
situ pun sudah terjdi pertempuran. Wan Sun, Wan Bi Li
dibantu oleh Hui Lian dan Hong Kin serta Lee Goat sedang
mengamuk, dikeroyok oleh belasan orang tentara Mongol
yang buas. Sin Hong marah sekali. Pedangnya berkelebatan
dan para pengeroyok itu sebentar saja terbasmi habis.
"Wan Sun, Bi Li, tak mungkin dapat dipertahankan lagi.
Pertahanan sudah bobol, pe rlawanan hampir tidak ada lagi.
Sebentar lagi mereka semua pasti akan menye rbu ke mari
dan kita takkan dapat mempertahankan lagi. Mari kita
keluar dari sini dengan jalan darah dapat kita keluar dari
kepungan." kata Sin Hong.
"Tidak….! Kita harus mencari ayah, Bi Li.” Wan Sun
menyambar lengan adiknya, "Mari ...... !" Dan tanpa dapat
dicegah lagi kakak beradik itu berlari keluar mercari ayah
mereka.
Sin Hong hanya manggeleng kepala, akan tetapi diamdiam
ia merasa kagum. Kalau ia mau, tentu saja ia dapat
mencegah mereka pergi dan memaksa mcreka itu ikut
dengan dia menyelamatkan diri. Akan tetapi ia tak tega
berbuat demikian. Ia tidak mau menghalangi sikap mereka
yang gagah perkasa yang hendak membela ayah dan
membela negara.
"Biarkan mcreka, mereka memang berhak. Kalau Thian
manghendaki, mereka akan dapat lolos dengan selamat."
31
kata Sin. Hong. Kemudian ia bersama isterinya, Hong Kin.
Hui Lian dan Lee Goat inenyerbu keluar dan membuka jalan
darah ke selatan. Pekerjaan ini bukan mudah karena di
mana-mana mereka dihalangi oleh tentara Mongol yang
tentu saja tidak mau melepaskan rombongan di mana ada
tiga orang wanitanya yang cantik-cantik. Akan tetapi mereka
ini bukan lawan berat bagi Sin Hong dan kawan-kawannya.
Akhirnya Sin Hong berhasil membawa rombongannya
melalui pintu selatan yang sudah tak terjaga lagi. Kota raja
menjadi lautan api di s ana-s ini bertumpukan mayat-mayat
dan orang-orang terluka. Jeri t wanita-wanita diseret, orangorang
dibunuh, memenuhi udara.
"Kalian pulang dulu ke Kim-bun-to, aku akan be rusaha
mencari Kong Ji dan membuat perhitungan !" kata Sin Hong.
Li Hwa maklum bahwa suaminya lebih bebas kalau bergerak
sendiri menghadapi lawan-lawan yang amat berbahaya
seperti Kong Ji dan tokoh-tokoh Mongol, maka ia tidak
membantah dan melanjutkan parjalanan cepat ke selatan.
Sedangkan Sin Hong barkelebat kembali ke kota raja yang
geger itu. Di mana-mana masih terdapat pertempuran matimatian,
yaitu perlawanan dari sisa-sisa pengawal dan
panglima yang tidak mau menyearah kalah.
Dengan tubuh penuh luka-luka dan mandi darah,
Pangeran Wanyen Ci Lun berlari terhuyung-huyung menuju
ke istana sambil memondong tubuh Gak Soan Li yang juga
penuh luka dan sudah pingsan. Pangeran ini bersama anak
buahnya melakukan perlawanan juga Soan Li
membantunya.
Ketika memasuki istananya, beberapa orang serdadu
menyerbunya. Namun dalam keadaan terluka. Pangeran
Wanyen Ci Lun masih gagah dan setelah serdadu perampok
kena dirobohkan, yang lain pada lari. Istana itu sudah awutawutan,
barang-barang berharga sudah menjadi rebutan.
Akan tetapi Wanyen Ci Lun merasa lega karena tidak melihat
anak-anaknya menjadi korban. Ia hanya mengharapkan
32
anak-anaknya sudah pergi bersama Sin Hong. Setelah tiba di
ruang tengah, ia tidak kuat lagi. Darah sudah te rlalu banyak
keluar dari tubuhnya. Ia roboh terguling dengan Soan Li
masih dalam pelukannya.
Soan Li membuka matanya, nampaknya kaget dan takut.
Akan tetapi menjadi tenang lagi kelika melihat bahwa ia
berada dalam pelukan suaminya yang duduk menyandar
tembok.
"Kau....... kau gagah sekali......." ia memuji suaminya
yang mandi darah. Tadi ia mengamuk tanpa memperdulikan
keselamatan nyawa sendiri, pada hal para pangeran dan
para pembesar yang lain sudah siang-s iang lari mengungsi,
tak lupa membawa harta mereka.
Wanyen Ci Lun meraba pipi isterinya dengan sentuhan
mesra. "Kaupun gagah perkasa dan kau isteriku yang
setia.......”
Di luar suara peperangan masih ramai. Sorak-sorai suara
serdadu-serdadu Mongol membuktikan bahwa pertahanan
tentara Kin makin runtuh. Pangeran Wanyen Ci Lun
menghela napas. "Runtuhlah kekuasaan Kin dan sebentar
lagi kalau iblis -iblis itu masuk ke sini, kita akan mati."
Akan tetapi Soan Li tidak me rasa gentar. "Tidak apa mati
disampingmu." jawabnya. "Suamiku, dalam saat terakhir ini,
aku ingin sekali keraguanku lenyap. Jawablah, siapakah
sebenarnya Wan Sin Hong itu? Begitu bertemu muka, aku
merasa bahwa dahulu aku pernah bertemu dengan dia.......
dan....... dia serupa benar dengan....... dengan......" I a tak
berani, melanjutkan kata-katanya dan memandang wajah
suaminya.
Wanyen Ci Lun tersenyum dan mengangguk "Sama
dengan Gong Lam ...... ?"
Kini Soan Li yang mengangguk.
33
"Memang dia itu Gong Lam, isteriku. Mula-mula kau
bertemu dengan dia. dengan Win Sin Hong yang mengaku
bernama Gong Lam. Kemudian muncul iblis busuk Kong Ji
yang mengaku bernama Wan Sin Hong dan kemudian
mengaku bernama Gong Lam. Kau diberinya minum racun
yang merampas ingatanmu. Kemudian muncullah aku yang
begitu melihatmu terus jatuh cinta. Atas kehendak Wan Sin
Hong, aku terpaksa mengaku sebagai Gong Lam pula untuk
membantu ingatanmu yang ketika itu belumsadar betul.”
Soan Li merangkul suaminya."Kau memang mulia ......
dan bagaimana dengan.. ...., dengan anak si keparat itu?
Betul-betulkah ketika Hui Lian menyatakan bahwa anak itu
sudah …… sudah matt?"
Pada seat itu, dari luar menerobos seorang pemuda.
Gerakannya ringan dan ges it sekali. Ternyata dia ini adalah
Liok Cui Kong yang malamkemarin datang di istana ini
bersama gurunya dan berhasil menculik Leng Leng. Pemuda
ini tentu saja ikut menyerbu kota raja dan begitu tentara
Mongol berhasil menguasai istana, pertama-tama yang ia
lakukan adalah lari ke istana Pangeran Wanyen Ci Lun,
karena ia teringat akan Wan Bi Li gadis jelita yang membuat
ia rindu dan gandrung itu. Melihat Pangetan Wanyen Ci Lun
duduk bersandar tembok sambil memeluk tubuh isterinya,
keduanya bermandi darah dan sudah lemah sekali. Cui Kong
tertawa mengejek.
"PangeranWanyen Ci Lun, mana kegagahanmu? Ha-haha
ha, akhirnya Kerajaan Kin harus bertekuk lutut juga.
Kemarin kau masih kaya raya dan menikmati kemul iaan,
sekarang akan habislah semua harta benda berikut nyawa
keluargamu. Ha-ha-ha!"
Gak Soan Li dan Pange ran Wanyen Ci Lun heran sekali
mellhat persamaan pemuda ini dengan Liok Kong Ji, yaitu
persamaan dalam gerak-gerik dan kekejamannya. Dalam hal
rupa memang berbeda, Cui Kong bahkan lebih tampan. Akan
34
tetapi pemuda ini benar-benar mewarisi sifat-sifat jahat dari
Liok Kong Ji.
"Iblis kecil!, kami mati sebagai orang-orang gagah,
sebagai patriot bangsa, matipun tidak menyesal, sebaliknya
kau dan kawan-kawanmu hidup sebagai manusia-manusia
hina. dina, sebagai orang orang Han yang tak tahu malu,
panjual negara penjilat bangsa Mongol!"
"Bangsat!" Cui song marah sekal i dan melompat maju.
Huncwe digerakkan ke atas siap memukul kepala pangeran
itu yang memandangnya dengan mata tak berkedip, sama
sekali tidak gentar menghadapi maut. Dia dan is terinya
sudah tidak berdaya tidak ada tenaga untuk menggerakkan
badan melakukan perlawanan.
Akan tetepi Cui Kong menahan huncwenya ketika
teringat akan gadis jelita yang tidak ia lihat di situ.
"Bagaimanapun juga, kalau teringat akan puterimu aku jadi
tidak tega membunuhmu. Eh, Pangeran Wanyen, di mana
puterimu? Biarkan aku menolongnya dari bahaya. Katakan
di mana dia dan puterimu itu akan hidup, te rlepas dari
bahaya maut dan hidup menikmati kebahagiaan dengan
aku.....”
“Keparat !” Soan Li mempergunakan tenaga terakhir,
melompat bangun dan menubruk dengan pedangnya. Akan
tetapi sekali sampok saja pedang itu terlepas dari pegangan
dan tubuh nyonya itu terpelanting ke atas lanyai.
"Huh huh, kalian memang tidak patut dibaiki.
Mampuslah!” Sambil berkata demikian, Cui Kong kembali
menggerakkan huncwenya, kali ini hendak memukul kopala
Soan Li. Akan tetapi ....... “traangg......!” huncwe itu terpental
entah ke mana dan di lain detik di depan Cui Kong yang
kaget sekali itu telah berdiri....... Tiang Bu !
“....... kau.....??” Cui Kong menjadi pucat seperti me lihat
setan. Dua tahun lebih telah lewat dan ia tahu betul bahwa
pemuda di depannya ini sudah mati ketika terguling ke
35
dalam jurang. Sekarang tiba-tiba dan dengan pukulan
tangan saja mampu membikin huncwenya te rlempar.
Setankah dia ? Apakah ini arwah Tiang Bu yang muncul?
Tiang Bu tersenyum dingin. "Ya, aku Tiang Bu. Masih
ingatkah kau? Cui Kongmanusia jahanam, di mana-mana
kau menyebar kejahatan. Benar-benar iblis seperti kau ini
harus diberi hajaran ketas !”
Cui Kong yang mcngingat bahwa ia berada di tempat itu
sebagai pemenang dan di seluruh kota terdapat barisan
Mongol dan kawan-kawannya, tiba-tiba menjadi berani dan
sombong. "Kaukita aku takut kepadamu? Terimalah ini !"
Cui Kong memukul dengan keras ke arah dada Tiang Bu.
"Blekkk.,....... !" bukan Tiang Bu yang roboh, melainkan
Cui Kong yang terhe ran heran tercampur kesakitan
terbayang pada mukanya. Memang tak masuk di akal kalau
ada orang dengan dada terbuka menerima pukulanaya tadi,
bukan saja orang ini tidak rubuh, bahkan kepalan
tangannya kini lengket pada dada tak dapat ditarik kembali.
Sebelum lenyap kagetnya, Tiang Bu menggerakkan kedua
tangannya menangkap kaki dan lehernya lalu ....... tubuh
Cui Kong dilemparkan jauh, nabrak me ja bangku sampai
bergulingan. Baru saja Cui Kong merangkak bangun, ia
sudah ditangkap lagi, dilontarkan ke atas sampai mengenai
langit-langit dan jatuh menimpa meja.
"Braakkk !" Meja itu remuk. Baiknya Cui Kong bukan
orang sembarangan sehingga biarpun tubuhnya dibikin
"main bal" oleh Tiang Bu. namun ia hanya merasa sakitsakit
dan lece t-lece t, tidak menderita luka dalam. Cui Kong
berusaha menggunakan tenaganya memukul lagi ketika
Tiang Bu dengan langkah lebar menghampirinya, akan tetapi
seperti seorang dewasa melawan anak kecil, tahu-tahu
pundaknya sudah dicengkeram lagi dan kembali ia dilempar.
"Buuuk ...... kraak !" kembali beberapa bangku
bergulingan dan tubub Cui Kong menjadi makin lemas.
36
"Tiang Bu....... tahan.......!” teriaknya terengah-engah.
"Apa kau mau membunuh saudara sendiri? ingat, ayah Liok
Kong Ji adalah ayahku dan ayahmu pula, biarpun aku
pernah bersalah padamu, kau tentu bisa memandang muka
ayah dan mengampuninya…..”
"Aku tidak perduli.... kembali tubuh Cui Kong ditangkap
dan dilempar, saking gemasnya dilempar keras sehingga
keluar pintu.
Benar-benar Cui Kong merasa penasaran dan juga
mendongkol sekali bagaimana ia diperlakukan orang seperti
seekor kirik (anjing kecil) saja, ditangkap dan dilempar
seperti benda mati saja.
Tiang Bu hendak menghajar lagi, akan tetapi jerit
menyayat hati di dekatnya. Ternyata Soan Li sudah bangun
dan duduk dengan mata terbelalak, muka yang berlepotan
darah itu pucat sekali.
“Kau ...... kau anak Liok Kong Ji.....? Kau....... kau....... ! "
Soan Li tak dapat melanjutkan kata-katanya karena ia
sudab roboh pings an lagi.
Tiang Bu melompat mendekati dan kecepatan pemuda ini
luar biasa sekali sehingga ia masih dapat meme gang kepala
Soan Li sehingga tidak terbanting pada lantai. Dengan
lembut ia me rebahkan kepala itu dan memandang wajah
Soan Li dengan kasihan,
"Apa kau yang bernama Tiang Bu dan dulu ketika kecil
kau ikut Coa Hong Kin dan Go Hui Lian sebagai anak
mereka?" pertanyaan yang dikeluarkan dengan lembut ini
mengejutkan Tiang Bu. I a menoleh dan menghampiri
Pangeran Wanyen Ci Lun yang juga sudah bangun dan
dengan terhuyung-huyung menghampiri isternya.
Tiang Bu sekali lompat sudah berada di dekat mereka.
"Maaf aku datang terlambatWanyen Taijin,” kata Tiang Bu.
"Seharusnya dua tahun lebih yang lalu aku sudah datang
mengahadap, membawa surat dari Wan Sin Hong siok-siok."
37
Akan tetapi Winyen Ci Lun sudah payah keadaannya dan
tidak begitu memperhatikan kata-kata anak muda itu. Juga
Soan Li yang sudah siuman kembali dan kini menyandarkan
kepala pada suaminya, sudah terengah-engah napasnya.
Kedua suami isteri ini memandang kepada Tiang Bu.
"Soan Li, isteriku yang baik, inilah dia Tiang Bu, anakmu
yang kaudapat secara paksa dari jahanam Liok Kong Ji itu.
.....”. kata Pangeran Wanyen Ci Lun perlahan dan suaranya
mengandung penuh kasih sayang.
Soan Li tersedu "Dia .......dia....... aku tidak sudi
mengakuinya sebagai anak....... aku dahulu ingin
membunuhnya....... tapi ah……… dia tidak berdosa.. Tiang
Bu....... kau....... anakku....... “
Tiang Bu menjadi pucat sekali wajahnya Sin Hong pernah
berpes an kepadanya bahwa kalau ia ingin mengetahui
rahasia kelahirannya ia harus datang kepada Pangeran
Wanyen Ci Lun dan apa yang sekarang ia dengar dan
saksikan adalah hal-hal di luar dugaannya sama sekali.
Bagaimana nyonya pangeran ini mengakuinya sebagai anak
pula? Apakah karena terluka hebat dan dalamsakratul
maut nyonya ini bicara tidak karuan?
"Wanyen Taijin, kau orang yang dipercaya penuh oleh
Wan siok-siok, katakanlah apa artinya semua ini?”
tanyanya, suaranya penuh keharuan dan tubuhnya
menggigil
"Tiang Bu, dia inilah ibumu ! Is teriku inilah ibumu yang
sejati sebelum dia menjadi Isteriku."
Tiang Bu ....... anak yang tadinya hendak kubunuh
sendiri........ kau tidak berdosa, nak. Ampunkan ibumu.......”
"Ibu....... " Tiang Bu menubruk kaki Soan Li dan
membentur-benturkan jidatnya pada lantai di depan ibunya.
Air matanya bercucuran. Kemudian kelihatan beringas. "Ibu,
siapa yang melukaimu seperti ini? Apakah jahanam Cui
Kong tadi ? Biar kuseret dia ke sini.......!” Ia sudah melompat
38
keluar dengan gerakan yang cepat sekali, akan tetapi tentu
saja ia sudah tak dapat menemukan Cui Kong di luar.
Pemuda itu sudah menjadi gentar sekali terhadap Tiang Bu
dan siang-siang sudah menyeret kakinya lari dari situ.
"Tiang Bu....... bukan....... bukan ...... dia…..! " kata Soan
Li lemah. Mendengar kata-kata ini, Tiang Bu berlari cepat
kembali ke dalam dan berlutut lagi di depan ibunya "Aku
terluka karena membela suamiku me lawan orang-orang
Mongol. Sudah sepatutnya kami berkorban nyawa demi
negara. Aku ..... aku girang sekali kau menjadi seorang
pandai....... syukur dulu aku tidak membunuhmu ...... kau
anak........ anakku....... " sampai di sini Soan Li tidak kuat
lagi dan menghembuskan napas terakhir dalam pelukan
suaminya yang juga sudah lemah sekali kehabisan darah.
“Taijin, katakan siapa sebenarnya ayahku,…..” Tiang Bu
mengeraskan hatinya supaya tidak menangis menghadapi
ibunya yang telah tewas. Baru saja ia ditemukan dengan ibu
kandungnya, ia telah ditinggal lagi untuk selamanya.
"Ayahmu ....... ayahmu....... “ Pangeran Wanyen Ci Lun
tak dapat melanjutkan kata-katanya karena saking scdihnya
melihat isterinya mendahuluinya, pangeran ini menjadi
lemas dan tidak ingat diri!
“Taijin ....... Taijin....... !”
Alan terapi pada saat itu dari liar terdengar suara hiruk
pikuk dan menyerbulah sepasukan tentara Mongol, dua
puluh orang banyaknya. Mereka adalah sebagian dari pada
tentara Mongol yang mulai merampoki habis istana-istana di
lingkungan istana kaisar itu. Gedung Pangeraa Wanyen
amat besar dan indah, maka saking gembira mereka
bersorak- sorak. sama sekali tidak mengira bahwa masih ada
orang berani berada di gedung itu.
"Setan-setan keji, kalian mau apa ? Mundur !" bentak
Tiang Bu dengan suara menyeramkan. Akan tetapi seorang
pemuda seperti Tiang Bu ini, mana ditakuti oleh mereka?
39
Sambil tertawa-tawa seakan-akan sikap pemuda itu lucu
sekali, mereka menyerbu. Akan tetapi suara ketawa mereka
itu segera berubah menjadi jerit dan pekik kesakitan,
bahkan pekik kematian ketika sekali pemuda itu berkelebat,
mereka menjadi sungsang sumbel dan terlempar dengan
kepala remuk, kaki tangan patah atau dada pecah! Setelah
merobohkan lima orang sekaligus, Tiang Bu melompat ke
dekat Wanyen Ci Lun lagi, takut kalau-kalau pangeran ini
akan tewas sebelum memberi keterangan kepadanya.
Melihat pengeran itu sudah empas-empis ia bertanya di
dekat telinganya. “Wan Taijin. ini aku Tiang Bu bertanya
kepadamu. Siapakah s ebetulnya ayahku ?”
BibirWanyen Ci Lun begerak-gerak. akan tetapi pada
saat itu, enam orang serdadu Mongol menyerbu dengan
golok mereka. Tiang Bu menggerakkan kedua kakinya dan
empat orang roboh. Yang dua nekad membacok terus akan
tetapi tangan Tiang Bu bergerak mereka roboh dengan leher
hampir putus terbacok oleh golok sendiri.
"Taijin, siapakah ayahku ...... ?"
Dengan pengerahan tenaga terakhir. Wan-yen Ci Lun
menjawab berbisik.
"Ayahmu ..... Liok Kong Ji ...... ibumu Gak Soan Li ini
....... ketika masih gadis .....menjadi,....,. korban kakejian
Liok Kong Ji.... kaulah keturunannya....... " Tiba tiba wajah
Wanyen Ci Lun berubah beringas dan ia memaki-maki
dengan suara keras. "Kong Ji iblis bermuka manusia!
Kejahatanmu sudah bertumpuk-tumpuk. dosamu akan
menyere tmu ke neraka jahanam .......!” Pangeran itu menjadi
lemas dan menghambuskan nafas terakhir di samping tubuh
isterinya.
Tiang Bu menjadi makin pucat. Tak terasa lagi kedua
kakinya lemah dan seperti lumpuh. Tubuhnya menggigit, air
mata membanjir turun. Jantungnya se rasa ditusuk-tusuk.
Dia putera seorang penjahat besar, anak seorang yang
berwatak iblis, keji dan kejam. Dia terlahir dari perhubungan
40
yang tidak sah, bahkan dari penumpahan nafsu binatang
yang serendah-rendahnya di mana manusia iblis itu
mempermalukan ibunya yang tidak berdosa.
"Aka bunuh dia....... ! Aku akan bunuh dia ......!
Ahhhh....... dia ...... ayahku....... Thian Yang Maha Kuasa,
apa yang harus kulakukan……..??” Dengan bimbang dan
sedih Tiang Bu menangis di dekat janazah ibunya. Teringat
ia akan peristiwa yang menimpa dirinya dilempar ke dalam
jurang oleh Cui Kong yang jahat, putera angkat Liok Kong Ji.
Seperti telah dituturkan di bagian depan. Tiang Bu yang
di luar tahunya terpengaruh oleh hawa beracun katak
pembangkit asmara, ditambah pula oleh dorongan yang
sudah mengeram di dalam darahnya roboh di bawah
kekuatan Cui Lin dan Cut Kim, dua gadis jalita yang
mempergunakan kecantikan mereka untuk
mengalahkannya. Kemudian, dalam keadaan lemas dan
tubuh penuh hawa racun katak itu Tiang Bu tidak berda ya
sama sekali, kedua kalinya dirusak oleb Cui Kong yang
mematahkan tulang-tulang kaki itu kemudian dilempar ke
dalam jurang. Kalau saja tidak kebetulan ada pohon yang
menahannya dan dapat dipeluknya, tentu, tubuh pemuda
itu akan terbanting ke dasar jurang dan hancur binasa.
Sampai tiga hari tiga malam Tiang Bu tidak mampu
bergerak. Tubuhnya sakit dan panas. Tenaga dari hawa
sinkangnya sudah hampir habis sehingga tubuhnya lemah
sekali. Baiknya ia teringat akan bekal obat-obatan yang
masih disimpan di saku bajunya. Obat-obat pemberian dari
Wan Sin Hong. Dengan pengetahuannya tentang ilmu
pengobatan, Tiang Bu yang kini sudah sudar akan keadaan
dirinya itu mengambil beberapa buah pel dan ditelannya pelpel
itu secara berturut-turut dalam tiga hari. Keadaannya
banyak baik. Setelah kedua tangannya bertenaga lagi, ia
mulai membenarkan tulang kakinya yang patah oleh
pukulan huncwe Lui Kong. Ia telah mendapat pelajaran kilat
dari Sin Hong tentang cara menyambung tulang patah,
41
kepandaian khusus dan istimewa ini adalah warisan dari
Raja Obat Kwa Siucai guru Sin Hong, maka berbeda dengan
cara penyambungan tulang biasa.
Dalamwaktu sembilan hari saja tulang-tulang itu sudah
tersambung sendiri berkat dan cara penyambungan yang
istimewa ini. Selama beberapa hari itu, Tiang Bu hanya
mengisi perutnya dengan daun-daun dan rumput kemudian
denpan girang sekali ia mendapat kenyataan bahwa pohon
yang telah menolong nyawanya itu adalah pohon yang
berbuah dan buahnya enak dimakan pula. Makin
terjaminlah perutnya dan ia kembali tertolong oleh pohon itu
dari bahaya kelaparan.
Akan tetapi orang tidak nungkin dapat hidup dari daundaun,
rumput, dan sedikit buah melulu, maka setelah kedua
kakinya dapat digerakken mulailah Tiang Bu menyelidiki
tempat itu, mencari jalan ke luar. Sebelum ia pergi jauh,
tiba-tiba terdengar suara orang memanggil dari atas jurang,
dan muncul kepala seorang laki.laki. Tiang Bu memandang
dan merasa kaget serta heran sekali karena orang itu bukan
lain adalah Liok Kong Ji!
"Tiang Bu, kau di situ.. ......?” terdengar Kong Ji berseru
sambil melongok ke bawah.
"Kau mau apa mencariku ?” jawab Tiang Bu ketus. Ia
benci kepada orang yang mengaku sebagai ayahnya ini, apa
lagi ia moderita celaka karena tiga orang muda yang menjadi
kaki tangan Liok Kong Ji.
“Syukur kau math hidup ! Kalau kau dibunuhnya aku
tidak akan mengampuni Cui Kong." Setelah berkata
demikian. dengan gerakan lincah dan gesit Liok Kong Ji
melompat-lompat, terus turun ke dalamjurang menghampiri
Tiang Bu yang memandang dengan penuh perhatian.
Ginkang orang ini hebat juga, pikirnya.
42
Mereka berhadapan. Ayah dan anak. Kong Ji memandang
penuh perhatian dan tertarik. Tiang Bu memandang dan
merasa sebal.
"Kau mau apa datang ke sini? Mau bunuh aku ? Cobalah
!” kata Tiang Bu, biarpun tubuhnya masih belumsehat
benar ia sudah siap menghadapi pertempuran terakhir.
Kong Ji tersenyum dan menatap sepasang mata pemuda
yang tajam sekali itu dengan matanya yang juga sama
tajamnya. Wajah dua orang ini jauh sekali perbedaannya,
akan tetapi kalau orang memperhatikan sinar mata mereka
akan nampaklah persamaan yang luar biasa. Mata yang
tajamsinarnya, tajamgesit membayangkan kece rdasan otak
luar biasa. Hanya bedanya. kalau mata Kong Ji
membayangkan kekejaman, adalah mata Tiang Bu
membayangkan kehalusan budi.
(Bersambung....... ke XVII.)
1
(PEK LUI ENG)
Karya: Asmaraman S. Kho
Ping Hoo Scan djvu :
syauqy_arr
Convert & edit : MCH
Jilid XVII
“TIANG BU, agaknya kau masih belum mau mengaku
bahwa aku ini ayahmu yang sejati. Padahal kau memang
betul anakku bukankah kau sudah mendengar sendiri dari
Wan Sin Hong yang tidak menyangkal bahwa kau adalah
puteraku? Anak yang baik, kau tidak percaya padaku
memang pantas karena kita tidak pernah bertemu, akan
tetapi apakah keterangan Wan Sin Hong masih belum
kaupercayai? Tiang Bu, kau hanya mempunyai seorang
akulah orangnya. Dan puteraku di dunia ini hanya seorang,
kaulah orangnya !"
“Hmm, setahuku anakmu banyak. Ada Cui Kong, ada
...... ada yang lain-lain." Tiang Bu tidak dapat menyebut
nama Cui Lin dan Cui Kim. Jangankan menyebut nama dua
orang gadis itu, teringat kepada mereka saja sudah
mendatangkan rasa malu yang luar biasa besarnya. Kalau
bisa ia ingin melupakan dua orang gadis itu selama
hidupnva, ingin malenyapkan mereka dari ingatannya.
"Aah, mereka itu hanya anak-anak angkat atau muridmurid.
Cui Kong menjadi anak angkatku baru beberapa
tahun ini. Dia anak yatim piatu yang berbakat baik maka
2
kuangkat menjadi puteraku. Ini terjadi sebelum aku tahu
bahwa kau masih hidup. Akan tetapi sekarang ada kau,
yang lain-lain tidak masuk hitungan. Tentang Cui Lin dan
Cui Kim ..... mereka itu biarpun kuangkat menjadi anakanakku,
sebetulnya mereka itu akan menjadi bini-bini
mudaku. Akan tetapi sekarang aku tahu bahwa kau cinta
kepada mereka. Tidak apa, aku mengalah. Dua orang gadis
cantik itu biar kuberikan kepadamu. Mari kau ikut dengan
aku, Tiang Bu. dan dua orang gadis itu, Cui Lin dan Cui
Kim, biar melayanimu untuk selamanya atau selama kau
masih suka kepada mereka ....... “
“Tutup mulut dan pergilah!" Tiang Bu membentak marah.
mukanya berubah marah sekali. Ucapan yang keluar dari
mulut orang ini benar-benar membuat ia merasa muak
perutnya. “Aku tidak percaya bahwa aku anakmu. Aku tidak
sudi punya ayah seperti engkau !"
Kong Ji tersenyum getir. "Kausudah terlalu lama hidup
di antara orang-orang yang memusuhiku, sehingga tertanam
kebencian terhadapku di dalam dadamu. Baik juga kau
merasai hukuman di sini agar dapat merubah pendirianmu
yang keliru itu. Mana ada anak membenci bapaknya ? Kalau
aku mempunyai anak lain, tentu sekali pukul aku dapat
bikin mampus kau. Akan tetapi anakku hanya kau seorang
sedapat mungkin hendak kuperbaiki watakmu. Biar kau
bertapa di sini sampai kau mengakui aku sebagai ayahmu,
ikut dengan aku sebagai anak berbakti. hidup mulia dan
bahagia di Ur-liok-lim seperti seorang pangeran. Sebelum
kau mau mengaku, jangan harap kau bisa keluar dari sini.”
Setelah berkata demikian, Kong Ji melompat lagi dan ke luar
diri jurang itu. Ketika Tiang Bu yang mengikuti gerakangerakannya
melihat Kong Ji sudah keluar dari jurang, ia
melihat belasan orang berpakaian serdadu menjaga di
pinggir jurang siap untuk menghalangi ia keluar ! Memang
mudah saja kalau orang mau mencegah ia keluar. Dengan
melemparkan batu ke bawah, biarpun kepandaiannya tinggi
takkan mungkin ia dapat keluar dari jurang yang terjal itu.
3
Akan tetapi Tiang Bu tidak kehilangan akal. Ia mulai
menyelidiki keadaan lereng jurang yang seperti anak gunung
tingginya itu. Akhirnya penyelidikannya berhasil. Di antara
batu-batu karang yang terjal. ia melihat sebuah gua yang
lebarnya hanya paling banyak satu mete r segi empat. Ia
merayap dan dengan susah payah akhirnya ia dapat masuk
dan duduk di dalam gua melepaskan kele lahannya. Kini
mendapatkan tempat terlindung dari hujan dan angin atau
panas matahari.
Diraba-rabanya saku bajunya. Bagus, kitab-kitabnya dari
Omei-san ternyata masih ada berikut ohat -obatnya. Agaknya
dua orang gadis tidak berani mengambil kitab-kitabnya
selama mereka masih menjadi “kekasihnya”. Hanya peti kecil
berisi katak itu saja yang terampas. Juga kiranya dalam
keadaan tergesa-gesa, Cui Kong tidak memeriksa isi
sakunya. kalau kitab-kitab Omei-san itu sampai terjatuh ke
dalam tangan Cui Kong, celaka !
Setelah lelahnya berkurang, Tiang Bu merayap makin
dalam. Ternyata gua kecil itu adalah sebuah terowongan. I a
merayap terus di dalam gelap membawa setangkai kayu
untuk dipakai melindungi diri, kalau-kalau di depan ada
sesuatu yang menyerangnya. Terowongan itu panjang dan
berliku-liku, sukar diukur berapa panjangnya, hanya Tiang
Bu merayap sudah cukup lama ketika ia tiba di sebuah jalan
buntu. Terowongan itu berhenti di tepi sebuah sumur !
Sumur ini hanya dapat ia ketahui atau duga-duga dengan
meraba-raba saja karena keadaan gelap Melihat jari tangan
di depan mata sendiri saja tidak kelihatan. Tiang Bu makin
tertarik dia ingin tahu.
Dengan pengerahan tenaga yang masih ada padanya. ia
mencabut batu kecil dari dinding karang dan melempar ke
bawah. Tidak ada air di bawah, juga tidak terlalu dalam.
Hanya lima kali ia menghitung, batu kecil itu sudah
mengenai dasar sumur berdebuk seperti jatuh di atas tanah
yang lunak. Tiang Bu berlaku nekad, mengerahkan
4
sinkangnya dan meros ot turun. Ia meluncur ke bawah dan
tepat seperti sangkaannya. Sumur itu tidak dalam dan
dasarnya bukan batu karang melainkan tanah lempung.
Ketika ia meraba-raba di sebelah kiri kembali ada lubang,
bentuknya bundar, bergaris tengah satu meter. Dan yang
membuat hati Tiang Bu berdebar tegang, adalah sinar terang
yang samar samar ia lihat di ujung s ana ketika ia melongok
ke dalam terowongan baru ini.
Akan tetapi hanya kelihatan samar samar saja. Cepat ia
merayap lagi melalui lubang ini. Ia tertipu sinar samarsamar
yang dilihatnya itu cahaya yang datang dari jauh,
karena kembali ia tiba di tikungan. Terowongan ini tidak saja
berliku-liku akan tetapi juga naik turun dan dua kali
panjang terowongan pertama. Tanpa mengenal lelah Tiang
Bu merayap terus. Keadaan terowongan makin lama makin
terang dan akhirnya, dengan napas terengab-engah, tibalah
ia di sebuah ruangan dalam tanah yang lebar dan lega
seperti sebuah kamar. Di atas terdapat lubang-lubang di
antara batu-batu karang dari mana sinar matahari masuk.
Dan di bawah terdapat lubang me rupakan sungai-sungai
kecil di mana air hujan yang masuk dari alas terus mengalir
ke bawah, tidak sampai membanjiri ruangan.
Melihat bentuk dinding ruangan, tak salah lagi bahwa
tempat ini adalah buatan alam dan sama sekali belum
pernah dijamah tangan manusia atau diinjak kaki manusia.
Ketika Tiang Bu merayap naik melalui dinding sebelah ki ri
yang agak mendoyong, melalui sebuah lubang yang cukup
besar ia keluar atas ruangan itu dan ternyata tiba di sebuah
lereng gunung yang penuh dengan tetumbuhan segar.
Bukan main girangnya dan diam-diam ia menertawai Liok
Kong Ji yang menyuruh orang menjaga di pinggir jurang.
Di dalam ruangan itu Tiang Bu menggembleng dirinya
lagi. Untuk mengembalikan sinkang yang sudah
meninggalkan tubuhnya selama ia bermain gila dengan dua
orang gadis cabul itu, ia harus melatih diri keras -keras dan
5
tanpa mengenal lelah. Siang malam bersamadhi mengatur
napas, dan melatih ilmu dari kitab-kitabnya, Seng.thian-to,
Thian te-Shi-keng, dan Kiang-liong-kun-hwat. Ia melatih diri
sungguh-sungguh dan dengan tekun sekali, bahkan
menghafal semua isinya di luar kepala. Ia ingin
memindahkan semua kitab ke dalam kepala kemudian
hendak membakar kitab-kitab itu agar jangan sampai
terjatuh ke tangan orang-orang jahat.
Oleh karena belajar seoring diri dengan tekun kadangkadang
mendatangkan keisengan, dan pula membalik-balik
lembaran buku untuk mempelajari tiap jurus merupakan hal
yang melelahkan juga, tanpa disengaja Tiang Bu
menggunakan jari telunjuknya untuk melukiskan tiap
gerakan di atas dinding ruangan batu itu. Setelah melatih
diri dengan amat tekun dan prihatin, pemuda ini mendapat
kembali kekuatannya, bahkan setelah ilmu Seng-thian-to
dan Thian-te Si -keng ia pelajari sampai tamat tenaga
lweekangnya meningkat cepat dan sinkang di tubuhnya
bertumbuh cepat.
Ia memerlukan waktu setahun lebih untuk menghafal
tiga kitab itu, lalu dibakarnya sampai menjadi abu semua.
Akan tetapi sebagai penggantinya di dinding gua itu terdapat
lukisan-lukisan tiap jurus dari ilmu silat tinggi dan luar
biasa. Thian-te Si keng dan Seng-thian-to sama sekali tidak
mengajarkan ilmu silat. Akan tetapi di dalam tiap sajak itu
bersembunyi gerakan yang harus dimengerti sendiri. Tiang
Bu yang selain memiliki dasar ilmu silat tinggi dari Omeisan,
juga memiliki bakat dan kecerdikan luar biasa, dapat
menangkap maksud-maksud tersembunyi dalam sajak ini
dan dapat menciptakan gerakan silat jurus-jurus ilmu silat
yang tiada bandingannya di dunia ini. Girangnya bukan
main karena baru sekarang terbuka matanya dan ia betulbetul
dapat mengisap sari pelajaran dari dua macam kitab
itu.
6
Inilah sebabnya mengapa ia terlambat datang di kota raja
dan ketika ia akhirnya meninggalkan gua itu pergi ke kota
raja, ia melihat kota raja sudah diserbu oleh balatentara
Mongol. Dengan amat kaget pemuda ini ikut menyerbu
masuk, morobohkan setiap orang serdadu Mongol yang
hendak menghalanginya. Cepat ia menyelidiki dan akhirnya
ia berhasil menemukan istana Pangeran Wanyen Ci Lun.
Akan tetapi kedatangannya terlambat, pangeran itu bersania
isterinya sudah tewas. Namun masih belum terlambat bagi
Tiang Bu untuk bertemu dengan ibunya, Gak Soan Li, dan
mendengar keterangan yang menusuk hatinya dari Pangeran
Wanyen Ci Lun bahwa memang betul dia adalah anak dari
Liok Kong Ji.
Dewikianlah perjalanan Tiang Bu semenjak dia
terjerumus ke dalam jurang sampai ia muncul di kota raja
yang sedang geger itu. Kemudian, di antara asap dan api
yang membakar kota raja dan di artara pertempuranpertempuran
yang masih juga be lum padam, berkelebat
bayangan seorang pemuda yang memondong tubuh seorang
wanita yang sudah mati. Gerakan pemuda ini luar biasa
cepatnya dan sebentar saja ia sudah keluar dari kota raja
yang menjadi neraka itu, terus lari ke selatan sambil
memondong mayat itu. Pemuda ini adalah Tiang Bu yang
memondong jenazah ibunya, Gak Soan Li.
Sementara itu, di lain bagian dari lingkungan istana, Wan
Sun dan Wan Bi Li mengamuk dikoroyok oleh banyak
panglima Mongol, Wan Sun menggerakkan pedangnya
dengan ganas, akan tetapi, lebih ganas lagi adalah Wan Bi Li
yang tangan kanan mainkan pedang tangan kiri mainkan
seekor ular ! Sudah banyak pengeroyok yang roboh binasa
oleh dua orang muda murid Ang-jiu Mo-li ini.
Sementara itu, tidak jauh dari mereka Kwan Kok Sun
dan beberapa orang panglima lain mengamuk secara nekad
dan mati-matian. Lawan juga amat kuat karena di antara
mereka terdapat Pak-kek Sam-kui yang berkepandaian
7
tinggi. Kwan Kok Sun sudah terdesak hebat dan terluka
pundaknya, sedangkan Bi Li dan Wan Sun yang
kepandaiannya lebih tinggi juga tak dapat membantunya
karena dua orang muda ini sendiri terkurung oleh musuh
yang banyak jumlahnya.
Beberapa jurus kemudian, setelah dengan nekad
merohohkan dua orang pengeroyok dengan pululan Hek-tokciang
yang lihai. Kwan Kok Sun juga roboh terkena pukulan
tangan Giam-lo-ong Ci Kui sehingga ia terbanting pingsan
dengan kepala luka-luka berat.
“Semua minggir, biarkan kami bertiga menangkap dua
orang muda liar ini,” seru Sin-sai-kong Ang Louw yang
merasa penasaran melihat orang-otangnya tidak mampu
merobohkan Bi Li dan Wan Sun. Tentu saja perintah ini
diterima dengan girang oleh para panglima Mongol. Mereka
segera mengundurkan diri dan diam-diam pergi dari situ
untuk meIakukan pekerjaan yang lebih menguntungkan dan
menggembirakan, yaitu merampok istana. Tak lama
kemudian tinggal Pak-kek Sam-kui yang bertempur melawan
Bi Li dan Wan Sun.
Pak-kek Sam-kui adalah tokoh-tokoh dari utara yang
memiliki kepandaian tinggi. Akan tetapi menghadapi dua
orang muda ini, mereka tidak dapat mengalahkan dengan
mudah. Bi Li dan Wan Sun adalah murtd-murid; Ang-jiu Moli
dan Wan Sun sudah mewarisi ilmu dari Omei-san pula,
yaitu Kwan-im cam-mo biarpun belum sempurna betul,
demikian pula Bi Li. Bahkan akhir-akhir ini Bi Li mewarisi
ilmu-ilmu yang lihai dari Kwan Kok Sun.
Maka dapat dibayangkan betapa hebat dan serunya
pertempuran itu yang hanya disaksikan oleh mayat -mayat
bergelimpangan di sekitar tempat itu. Malam telah mulai
surut dan fajar sudah menjelang datang. Perlawanan pihak
Kin sudah mulai habis, sebagian besar terbunuh, ada yang
tertawan, dan hanya sebagian kecil saja berhasil melarikan
diri menerobos pintu belakang.
8
Akhirnya Bi Li dan Wan Sun terdesak juga oleh Pak-kek
Sam-kui yang lihai. Kalau hanya seorang lawan seorang,
kiranya dua orang muda ini takkan kalah. Akan tetapi
sekarang mereka berdua menghadapi tiga orang lawan yang
sudah ada kerja sama yang amat kompak, maka perlahan
akan tetapi tentu mereka berdua terdesak mundur dan
terkurung rapat.
"Pak-kek Sam kui jangan menghina orang-orang muda!"
terdengar seruan keras dan sinar pedang yang gemilang
menyambar, membuat tiga orang itu kaget sekali. Ketika Ci
Kui melihat bahwa yang datang itu adalah Wan Sin Hong
yang memegang Pak-kek-sin-kiam, ia menjadi gentar.
Apalagi ketika menengok ke sana ke mari tidak melihat
seorangpun kawan kecuali mereka bertiga. Sin Hong tidak
membuang banyak waktu dan menggerakkan pedang
menyerang Pak-kek Sam-kui.
Sementara itu ketika melihat bahwa yang datang adalah
Wan Sin Hong yang gagah perkasa, Wan Sun menjadi lega
dan segera mengajak Bi Li melihat keadaan Kwan Kok Sun
yang sudah menggeletakmandi darah.
Wan Sun berlutut dan melihat Kwan Kok Sun sudah
empas empis napasnya dan matanya memandang ke arah Bi
Li penuh peraaaan, cepat bertanya,
“Suhu, harap suhu suka membuka rahasia Li-moi…….!”
Sebagai seorang tua, Kwan Kok Sun tentu saja menjadi
maklumdan gerak-gerik Wan Sun selama ini. Pemuda ini
mencinta puterinya, tak salah lagi. Dan sekarang tentu Wan
Sun ingin Bi Li mendengar bahwa mereka bukan saudara
kandung.
"Bi Li, datanglab dekat. Ayahmu takkan lama lagi ......”
Bi Li mempunyai perasaan sayang yang yang ia mengerti
terhadap ayah angkatnya ini. Mungkin karena sikap Kwan
Kok Sun amat sayang kepadanya maka gadis ini
membalasnya.
9
“Gihu, (ayah angkat), mari kutolong kau keluar dari
tempat ini dan berobat, kau akan sembuh…….,” katanya
terharu.
"Bi Li, anakku sayang ........” Kwan Kok-Sun memegang
tangan anaknya, "dengar baik-baik. Aku tertuka berat,
hanya untuk meninggalkan pesan ini aku menguatkan diri.
Kau..... kau adalah anakku yang sesungguhnya....... Ibumu
telah meninggal dunia ...... ketika kau masih kecil sekali,
aku ....... aku menitipkan kau pada Pangeran Wanyen Ci
Lun. Mereka itu adalah orang tua pungut, akulah
sebenarnya ayahmu…….”
Dapat dibayangkan betapa kagetnya hati Bi Li, kaget dan
kecewa. Ia tadinya mengira senang puteri bangsawan, tidak
tahunya dia adalah anak Kwan Kok Sun yang ia tahu
dahulunya adalah orang jahat. Dengan muka pucat ia
memandang ayahnya yang makin pucat dan lemah dan
dengan mengeluarkan jerit tertahan Kwan Kok Sun
menghembuskan nafas terakhir dengan tangan Bi Li masih
dalam genggamannya.
Bi Li merenggutkan tangannya, berdiri dengan kaki
gametar, lalu ...... ia lari cepat pergi dari situ!
“Li-moi ....... kau mau ke mana…..??”
Wan Sun mengejar, akan tetapi enam orang panglima
Mongol yang kebetulan lewat di situ se gera menyerangnya
dengan hebat sehingga terpaksa ia melawan. Sementara itu,
Bi Li sudah lenyap dari pandangan mata.
Enamorang panglima Mongol ini memiliki kepandaian
yang lumayan juga sehingga dengan susah payah setelah
bertempur lama baru Wan Sun dapat merobohkan seorang
lawan. Akan tetapi hampir saja pahanya kesetempet golok,
baiknya pada saat itu muncul Wan Sin Hong lagi. Ternyata
bahwa Pak-kek Sam-kui tidak kuat melawan Sin Hong dan
larilah mereka sambil membawa luka pada pangkal lengan
10
Giam-lo-ong Ci Kui. Sin Hong juga tidak mengejar karena ia
melihat Wan Sun dikeroyok dan cepat ia membantunya.
Tiga orang pengeroyok roboh pula oleh Sin Hong. Yang
lain cepat lari.
"Wan Sun. mari kita pergi. Di mann Bi Li?”
"Dia sudah lari, entah ke mana. ...... ." jawab Wan Sun
sedih.
Dari luar terdengar kaki banyak orang mendatangi.
"Wan Sun. cepat pergi!" Sin Hong menyambar lengan
orang dan di lain saat ia telah membawa pemuda itu
melompat ke atas genteng. Wan Sun kagum sekali melihat
kehebatan kepandaian pamannya ini, maka tanpa banyak
cakap lagi iapun mengikuti Sin Hong melarikan diri. Di atas
genteng tidak terdapat banyak rintangan karena para
serdadu Mongol sedang senang-senang merampoki istana di
bawah. Juga di pintu gerbang sebelah barat tidak terdapat
banyak rintangan sehingga Sin Hong dan Wan Sun dapat
melarikan diri dengan mudah.
Karena tidak tahu ke mana perginya Bi Li dan Sin Hong
berjanj i ketak akan bantu mencari, akhirnya dengan hati
berat dan sedih karena berita tentang kematian ayah
burdanya, pemuda ini ikut dengan Sin Hong ke Kim-bun to.
Memang Sin Hong tadinya datang ke istanu Pangeran
Wanyen Ci Lun, akan tetapi ia terlambat. Yang dilihatnya
hanyalah jenazah pangeran itu saja, sedangkan Gak Soan Li
tidak melihat ke mana perginya. Namun, kalau Wanyen Ci
Lun tewas, kecil sekali kemungkinannya Soan Li akan
selamat. Ia tadinya hendak membawa pergi jenazah Wanyen
Ci Lun, akan tetapi kemudian is teringat akan kata-kata
pangeran itu bahwa mati hidup ia akan tinggal di kota raja.
Akhhirnya ia meletakkan jenazah itu di atas bangku dan
menutupinya dengan sehelai kain hijau yang dirobeknya dari
dekat pintu besar. Kemudian ia pergi. Kepada Wan Sun ia
menceritakan bahwa Pangeran Wnnyen Ci Lun sudah gugur
11
sebagai orang gagah dan ibunya entah pergi ke mana, akan
tetapi sedikit harapan selamat melihat keadaan di istana
yang sudah rusak itu.
Dapat dibayangkan betapa sedihnya hati Wan Sun.
Ayahnya meninggal dunia tanpa ada yang dapat merawat
jenazahnya. Ibunya lenyap tidak ketahuab bagaimana
nasibnya, Bi Li juga entah ke mana. Di sepanjang perjalanan
ke Kim-bun to. Wan Sun hanya menundukkan kepala saja
mendengarkan kata hiburan Wan Sin Hong. Kadang-kadang
ia menarik napas panjang dan kadang-kadang jarang sekali
ia mengusap airmata yang jatuh berderai di atas pipinya.
-oo(mch)oo-
Di mana-mana pergerakan Jengis Khan ke selatan
menemui perlawanan rakyat yang gigih. Orang-orang gagah
di seluruh penjuru bangkit memimpin rakyat melakukan
perang gerilya. Karena orang-orang seperti Liok Kong Ji dan
lain-lain meninggalkannya dan merasa bosan menghadapi
rong-rongan rakyat, perhatian Jengis Khan beralih ke barat.
Ia menarik semua pasukannya, mengumpulkan kekuatan
dan bagaikan gelombang banjir yang dahsyat dan tak
terbendung bala tentara Mongol mulai menyerbu ke barat.
Mula-mula Sin-kiang diserbu, lalu terus menaklukkan Iran,
Afghanistan, bahkan dari Iran Utara mereka menyerbi Rusia
Selatan melalui Peguuungan Kaukasia. Puluhan laksa orang
dibunuh, kota-kota dibakar, dihancurkan oleh bala tentara
yang maha hebat ini.
Sementara itu, kerajaan Kin yang tiba-tiba ditinggal pergi
musuhnya ini mulai lagi membangun kota yang sudah
rusak. Akan tetapi semangat mereka sudah patah-patah dan
Karajaan Kin sudah tidak semakur dahulu. Apalagi karena
orang-orang besar seperti Pangeran Wanyen Ci Lun sudah
tidak ada lagi.
12
Betapapun juga, setelah tidak ada gangguan dari bala
tentara Mongol keadaan di dalam negeri menjadi aman
kembali. Orang berdagang seperti biasa dan scbentar saja
keramaian menjadi pulih kembali. Orang sudah hampir
melupakan perang kalau saja di sana sini tidak nampak
sisa-sisa tumpukan puing, tanda bahwa belum lama ini
perang mengganas.
Pada suatu pagi yang ce rah di kota Si -yang yang terletak
di perbatasan Propinsi Shensi dan Honan, di sebelah selatan
Sungai Kuning yang membelok dari utara ke timur. Kota Siyang
adalah kota ramai, karena adanya Sungai Kuning
membuat lalu lintas perdagangan hidup. Apa lagi di situ
adalah kota di perbatasan antara dua propinsi, mika orangorang
dari ke dua wilayah pada datang untuk berdagang.
membuat kota itu makin lama menjadi makin besar penuh
dengan hotel-hotel dan restoran-retoran untuk melayani
para tamu pedagang dari luar kota.
Semenjak orang-orang Mongol menyerbu dari utara dan
orang-orang gagah dari hutan dan gunung bermunculan,
orang-orang tidak merasa heran dan aneh lagi melihat
orang-orang kang-ouw yang ganjil, baik roman muka,
pakaian maupun sikap mereka. Akan tetapi apa yang dilihat
orang pada pagi hari itu di dalamsebuab restoran terbesar
di kota Si-yang, benar-benar membuat para tamu restoran
lari cerai. berai dan para pelayan restoran berdiri melongo
dengan muka pucat dan kaki gametar ketakutan.
Mula-mula orang ini tidak mendatangkan rasa takut
sama sekali bahkan banyak mata diarahkan kepadanya
dengan kagum dan penuh gairah. Dia seorang gadis muda
yang cantik sekali, cantik manis wajahnya, dengan bentuk
tubuh yang indah tercetak oleh pakaiannya yang ketat.
Lekuk lengkung tubuh yang menunjukkan kedewasaan,
bagaikan se tangkai bunga cilan yang baru mulai mekar.
Namun tak seorangpun berani mempe rlihatkan sikap atau
mengeluarkan kata-kata sembrono oleh karena sikap si
13
cantik ini amat gagcah, apalagi gagang pedang yang
tersembul di balik bajunya membis ikkan bahwa gadis jel ita
ini-pun adalah seorang gadis kang-ouw yang gagah perkasa
dan berbahaya. Mula-mula gadis ini hanya duduk dan minta
pesanan arak dan bakmi serta beberapa macam kueh basah.
Akan tetapi, ketika arak dihidangkan dan ia mulai
minum, sedangkan semua mata di kerlingkan ke arahnya,
tiba-tiba muncul ular-ular berbisa yang galak dan
mengerikan, keluar merayap dari dalam baju gadis itu.
Makin lama makin banyak ular ke luar, ada yangmerayap
dan mengalungi leher si cantik, ada yang membelit-belit
kaki, ada yang membelit tangan dan ular-ular itu menjilatjilat
arak dari cawan yang dipegang olehnya! Ular-ular itu
biarpun nampat jinak, akan tetapi maras mendesis -desis
dan kelihatan galak sekali ketika melihat orang lain.
Mclihat ini, para tamu merasa ngeri dan larilah mereka
keluar dan restoran itu, berbisik pada orang-orang yang
berada di luar restoran. "Ada siluman ular ..... !”
Para pelayan tidak berani mendekat, karena ular-ular itu
nampaknya siap menyerang siapa saja yang mendekati gadis
itu dan semua orang dapat melihat bahwa ular-ular itu
adalah binatang-binatang berbisa yang paling berbahaya.
Pada saat itu, dari luar restoran terdengar suara laki-laki
yang tenang dan lembut, "Aah, kalian mengingau. Mana ada
siluman muncul di pagi hari?” Tak lama kemudian dari luar
masuklah seorang pemuda dengan langkah tenang. Begitu ia
memandang dan melihat gadis itu, ia mengeluarkan seruan
girang,
"Aah, kiranya kau, nona Wanyen ......!”
Pemuda itu bukan lain adalah Tiang Bu. Tadi ketika ia
sedang berjalan, ia mendengar bisikan-bisikan mereka yang
lari keluar dari restoran. Tentu saja ia merasa tertarik sekali
mendengar ada "siluman ular” di dalam restoran, maka
cepat ia memasuki restoran itu dan melihat bahwa ying
14
disebut “siluman ular” itu bukan lain adalah Wan Bi Li.
Maka dengan girang ia mene gur dan dalam
kesederhanaannya tanpa banyak sungkan lagi Tiang Bu lalu
menyeret sebuah bangku duduk menghadapi nona itu.
Melihat pemuda ini duduk menghadapi nona aneh itu dan
sama sekali tidak kelihatan takut akan empat ekor ular yang
kini semua mengulurkan kepala kepadanya dengan garang,
para tamu yang tadinya masih ragu-ragu sekarang pergi
semua, Bahkan para pelayan juga menjauhkan diri, berdiri
berkelompok sambil berbis ik-bisik.
Dengan tenang Bi Li memandang kepada Tiang Bu,
cawan arak masih di tangan kirinya, dan ia berkata dingin.
"Aku bukan nona Wanyen!”
"Aah, harap jangan main-main nona Wan-yen. Aku
mengenalmu, bahkan dulu di Omni-san kita sudah pernah
bertemu. Aku Tiang Bu dan....... dan sesungguhnya diantara
kita masih ada tali persaudaraan. Kita ini masih saudara tiri
nona satu ibu lain ayah."
"Sudah kukatakan, aku bukan keluarga Winyen. Ayahku
Kwan Kok Sun yang berjuIuk Tee-tok (Racun Bumi),
kongkongku yang berjuluk See-thian Tok-ong ( Raja Racun
dari barat ). Apa kau tidak lekas lari minggir ketakutan
seperti orang-orang itu ?" Bi Li bersikap angker, hendak
mematut diri dengan sebutan-sebutan menyeramkan dari
ayah dan kongkongnya itu.
Biarpun Tiang Bu merasa heran mendengar ini namun ia
tidak takut. Ia bahkan tersenyum. "Bctulkah itu?" tanyanya
ragu-ragu.
"Siapa membohong padamu? Wanyen Ci Lun dan
isterinya bukan orang tuaku, hanya semenjak kccil ayah
menitipkan aku kepada mereka…….. eh, kau ini orang
apakah yang mengajakku bercakap-cakap? Setan, pergi kau
!”
15
Tiang Bu tersenyum, nampak girang dan geli melihat
sikap nona ini. Nona yang cantik jel ita, tak pernah ia
be rtemu dengan yang secantik ini, akan tetapi yang
berusaha sekerasnya supaya kelihatan menyeramkan.
"Kalau kita bukan saudara, lebih baik lagi, nona Kwan. Kau
memang dari keluarga yang cukup menakutkan. Akan tetapi
jangan kira bahwa akupun dari keluarga biasa saja. Siapa
yang tidakmengenal ayahku, Liok Kong Ji yang dijuluki
manusia manusia iblis karena jahat, keji dan kejamnya ?
Akulah puteranya! Nah, bukankah kita sama-sama
keturunan orang-orang jahat belaka?”
Akan tetapi, mendengar kelakar ini, Bi Li tidak tertawa.
bahkan membanting cawan araknya di atas mejat sampai
ambles ke dalam lalu me lompat berdiri dan pedangnya
sudah berada di tangan. Empat ekor ular itu otomatis sudah
melingkar di kedua tangannya, s iap untuk membantunya.
Nona ini benar-benar kelihatan menyeramkan sekarang,
dengan senjata pedang dan ular-ularnya itu. Bau semerbak
harum yang keluar dari tubuhnya makin keras menyengat
hidung.
Akan tetapi Tiang Bu tetap duduk memeluk lutut,
menggoyang-goyangkan kaki dan tersenyum, seakan-akan
melihat pemandangan yang lucu sekali.
“Bagus, anak dari bangsat keji Liok Kong Ji? Dengar aku
hendak membunuh keparat Liok Kong Ji dan kau ini
anaknya, boleh sekarang juga membela ayahmu !"
SenyumTiang Bu melebar. "Baik sekali kalau begitu, kita
setujuan. Akupun hendak membunuhnya kalau bertemu
dengan Liok Kong Ji."
Bi Li kelihatan kaget dan terheran-heran. "Kau....... ?
Kalau kau anaknya....... kau hendak membunuh ayahmu
sendiri ...... ?” ia nampak tidak percaya dan pedannya masih
siap di tangan.
16
“Biar dia ayahku namun aku tak shdi mengakunya. Dia
telah berdosa besar kepada ibuku Gak Soan Li yang menjadi
Nyonya Wanyen Ci Lun. Aku sudah bersumpab di depan
jenazah ibuku untuk membunuhnya."
Padang itu menurun, lalu kembali ke tempat di punggung
gadis itu. Bi Li duduk lagi, kini pandang matanya kepada
Tiang Bu agak ramah. Garis garis duka membayang di
jidatnya.
"Ibu ...... eh, Nyonya Wanyen sudah....... sudah tewas
.......?” tanyanya, jelas sekali ia menahan isak tangisnya.
Tiang Bu menelan ludah menekan keharuan hati. "Betul,
juga Pangeran Wanyen Ci Lun, mereka tewas sebagai orangorang
gagah. Aku hanya sempat merawat dan mengubur
jenazah ibuku, terpaksa meninggalkan jenazah Pangetan
Wanyen di istananya. Nona Wanyen....... oh, nonae
Kwan....... “
"Namaku Bi Li !”
"Baiklah, Bi Li, mana kakakmu, Wan Sun? Dia itulah
saudara tiriku yang satu-satunya, aku ingin sekali bertemu
dengan saudaraku itu."
"Entahlah, aku pergi meninggaIkannya. Dia bukan
kakakku lagi, kami adalah orang lain yang secara kebetulan
saja sejak kecil mengaku saudara kandung. Aku kini seorang
yatim piatu sebatang kara di dunia ini, hanya dengan ularularku
yang setia.”
“Sama dengan aku. Biarpun ayahku, mas ih hidup, aku
sudah menganggapnya tidak ada. Akupun yattm piatu
seperti kau. Bi Li, kau sekarang hendak ke manakah ?”
"Mencari Liok Kong Ji untuk kubunuh, karena dia sudah
terlalu banyak membikin susah orang-orang yang
kusayang.”
“Kau tahu ke mana harus mencarinya?”
"Ke mana saja. Biar ke neraka sekalipun akan kususul.”
17
"Tidak usah bergitu jauh. Aku tahu tempat sembunyinya,
dan akupun hendak ke sana. Mau kau ikut? Dia bukan
orang sembarangan, kaki tangannya banyak, kedudukannya
amat kuat. Kau bergerak seorang diri amat berbahaya, kalau
kita menyerbu bersama, baru ada harapan. Bagaimana?"
“Di mina tempatnya ?”
“Di tempat berbahaya yang dinamai Un-tiok-lim, tempat
yang penuh rahasia dan kabarnya tak seorangpun,
bagaimana gagahnya mampu masuk ke sana. Di sana Liok
Kong Ji tinggal bersama kaki tangannya. Bagaimana kau
suka?”
”Boleh sekali ! Kau orang baik, Tiang Bu."
Pemuda itu tertawa girang. Gadis ini benar-benar
berwatak polos dan jujur, dan ini, menggirangkan hatinya,
sesungguhnya baru sekarang ia bertemu dengan gadis yang
menarik hati dan menyenangkan hatinya, di samping Ceng
Ceng dan Pek Lian.
"Kalau begitu, sesudah kita menjadi sahabat, mengapa
kau tidak menawarkan minum?” Bi Li tersenyum dan hati
Tiang Bu berdebar keras. Hebat sekali. Bukan main
manisnya gadis ini kalau tersenyum, pikirnya. Kalah Ceng
Ceng.
"Agaknya watak nenek moyangku yang buruk sudah
menurun padaku. Duduklah di sini menghadapi meja dan
mari minum arak bersamaku, Tiang Bu."
"Terima kasih, Bi Li. Heei, pelayan, tambah araknya
seguci lagi. Dan bakmi semangkok besar, bakpauw sepiring.
Cepat....... !!"
"Ba ...... baik, siauwya .......!” Seorang pelayan cepat
mengerjakan pesanan ini, akan tetapi setelah siap dan
hendak mengantarkan, ia berdiri ketakutan di tempat agak
jauh, memegangi mangkok dan piring itu, tidak berani
mendekat.
18
“Kenapa kau?” tanya Tiang Bu.
"Maaf, siauwya .......maaf, siocia…….. itu……. itu ularular…"
Bi Li tersenyum dan mengeluarkan suara mendesis
perlahan dengan bibirnya yang me rah. Cepat sekali empat
ekor ular itu manyelinap dan lenyap ke dalamsaku bajunya
setelah mendengar desis perintah ini.
"Nah, mereka sudah sembunyi, takut apa lagi?" kata
Tiang Bu dan pelayan itu dengan masih takut-takut
sekarang berani mendekat untuk menaruh bakmi, arak dan
bakpauw di atas meja. Ia hendak berlaku hormat den
membuka tutup guci menuangkan arak untuk Tiang Bu ke
dalam cawan. Akan tetapi ketika hendak menuangkan arak
untuk Bi Li dan melihat cawan melesak ke dalam meja,
menjadi pucat.
“Tuangkan arak untuk siocia,” kata Tiang Bu sambil
menekan meja dan....... seperti tercabut oleh tangan yang
tidak kelihatan tahu-tahu cawan yang tadinya melesak ke
dalam meja itu mumbul kembali. Melihat ini, pelayan itu
makin kaget dan kagum, di dalam hatinya menduga bahwa
hari ini restorannya betul-betul kedatangan siluman-siluman
yang pandai ilmu sihir ! Setelah menuangkan arak untuk Bi
Li, ia cepat mengundurkan diri dengan sikap hormat. Akan
tetapi begitu ia masuk ke dalam ia cepat lari ke luar dari
pintu belakang.
Di kota Si-yang terdapat tikoan the Thio. Dia adalah
tikoan baru. yang diangkat semenjak perang selesai. Tikoan
she Thio ini sebetulnya adalah bekas guru silat yang
sombong. Setelah perang selesai, entah bagaimana Thiokauwsu
ini menjadi kaya raya. Padahal menurut
pengakuannya sendiri, ketika terjadi penyerbuan orangorang
Mongol ia bcrjuang di kota raja dan berjasa besar
dalam "memukul mundur" bala tentara Mongol! Dia kembali
ke Si-yang dengan harta benda banyak dan membual akan
jasa-jasanya. Dengan alasan jasa-jasa terhadap negara inilah
19
terutama sekali dengan pengaruh sogokan-sogokan yang
secara royal ia sebarkan kepada pembesar. pembesar tinggi,
akhirnya ia berhasil merebut kedudukan pembesar tikoan di
kota Si-yang. Memang sudah lajim di dunia ini, sesudah
perjuangan selesai, cecunguk-cecunguk rendah
bermunculan dan berebut penonjolan jasa-jasa.
Contohnya Thio-kauwsu ini. Ketika perang berkobar dan
orang-orang gagah berjuang untuk membela negara, dia
menyelundup ke kota raja, bukan untuk berjuang melawan
musuh melainkan untuk “berjuang" mengumpulkan harta
yang ditinggalkan begitu saja oleh orang-orang bangsawan,
bekerja sebagai maling atau rampok. Kemudian, di Si-yang,
ia menonjolkan jasa-jasanya sebagai pejuang dan
menggunakan harta curiannya untuk menyuap dan
menyogok sana-sini sehingga akhirnya ia dapat menduduki
tempat sebagai pembesar. Dapat dibayangkan betapa
bobroknya keadaan masyarakat dengan "pembesarpembesar"
macam ini sebagai orang-orang berkuasa yang
"memimpin” rakyat !
Cara Thio-kauwsu, atau sekarang disebut Thio-tikoan,
mempertahankan dan membela kedudukannya adalah cata
lama yaitu mengumpulkan tukang-tukang pukul yang
merupakan pasukan istimewa, pada lahirnya disebut
pasukan pengawal keselamatan tikoan, pada hal sebetulnya
adalah pasukan yang harus mempertahankan isi gudang
kekayaannya dan mempertahankan pangkatnya. Selain ini,
Thio-tikoan juga berusaha mengambil hati rakyat. Dengan
jalan melidungi rakyat dari gangguan orang jahat. Tentu saja
sebutan rakyat dalam mata tikoan ini berbeda dengan rakyat
dalam pandangan mata kita.
Bukan rakyat kalau orang itu tidak dapat memberi "apaapa"
kepadanya ! Yang dimaksudkan rakyat olehnya, rakyat
yang perlu dilindungi dan dibela, adalah orang yang dapat
memberi "apa-apa" untuk menambah penuh isi gedungnya.
Petani -petani miskin ? Ooo, mereka itu bukan rakyat,
20
melainkan tenaga-tenaga yang harus tunduk kepada
“rakyat”, pemil ik tanah seperti kerbau-kerbau bermuka
manusia. Si jembel? Apalagi. Mereka itu bukan rakyat
melainkan penjahat penjahat yang perlu diawasi.
Restoran-restoran pada waktu menghasilkan untung
besar, maka menjadi "langganan" baik Thio-tikoan dan
terlindung. Maka ketika pelayan itu dengan terengah
melaporkan bahwa restorannya didatangi dua "siluman"
aneh yang mencurigakan. Thio-tikoan lalu memberi perintah
kepada serombongan tukang pukulnya untuk
"membereskan" perkara ini.
Demikianlah, ketika Tiang Bu dan Bi Li sedang enakenak
makan bakmi dan bakpauw sambil minum arak, tibatiba
serombongan orang terdiri dari tujuh orang yang
kelihatan kuat-kuat dan galak memasuki restoran itu.
Tadinya Tiang Bu dan Bi Li tidak ambil perduli, akan tetapi
ketika melihat betapa mata ke tujuh orang itu diarahkan
kepada mereka, Bi Li berkata nyaring.
"Kaulihat restoran ini jorok sekali, lalat hijau yang kotor
dibiarkan masuk. Mari kita habiskan arak dan lekas pergi ! ”
Sambil berkata demikian, Bi Li mengangkat hidungnya yang
kecil mancung dengan sikap menghina.
Tujuh orang tukang pukul itu saling pandang, lalu
pemimpinnya seorang laki-laki berusia tiga puluh tahunan
dengan kedua lengan baju disingsingkan ke atas sehingpa
nampak otot-otot melingkar di sepasang lengannya berkata
kepada pelayan yang kepalanya menongol dari balik daun
pintu di belakang restoran, “Memang cantik jelita, akan
tetapi mana ularnya? Jangan-jangan kau yang khilaf,
bidadari disangka siluman. Ha ha ha !"
Pelayan itu diamsaja karena ia takut. Akan tetapi
pemimpin rombongan yang mempunyai tahi lalat di ujung
hidungnya ini, dengan langkah lebar menghampiri Bi Li dan
Tiang Bu, lalu berkata sambil menunjuk hidungnya sendiri.
21
“Nona manis, kau memaki lalat hijau padaku, memang
aku lalat yang ingin sekali hinggap di pipimu yang licin. Ha
ha ha. Kalian tidak tahu, aku adalah Ban-Ek Si Kepalan
Besi, komandan polisi kota ini . Apa kalian masih berani
kurang hormat ?" Ban-Ek SiKepalan Besi itu mengamangkan
tinjunya untuk memperkuat julukannya: “Kepalan Besi"
Tiang Bu yang tidak ingin mencari perkara mendahului
Bi Li yang sudah me rah padam pipinya. Pemuda ini
mengedipkan mata kepada gadis lalu menengok kepada Ban
Ek. "Kau datang-datang kok ribut-ribut, mau apa sih?”
Dada Ban Ek hampir meledak s aking marahnya.
Biasanya nama bes ar Ban Ek Si Kepalan Besi sudah cukup
untuk membikin seorang liok-lim bertekuk lutut ketakutan,
atau se tidaknya seorang kang ouw bersikap lebih hormat
dan bersahabat. Akan tetapi pemuda yang sederhana ini
sama sekali tidak mengacuhkannya.
"Pemuda tahu ! Kau dan nona ini mencurigakan, harus
kami pe riksa. Kalian berani makan di restoran, hayo
keluarkan uang pembayarannya di depan kami !"
"Apa kau yang tadi mengaku komandan polisi sudah
merangkap pekerjaan pelayan restoran? Kami tentu akan
bayar makanan, akan tetapi hanya kepada pelayan restoran.
Siapa tahu kalau kau bukan perampok yang Ingin membawa
lari uang kami ?"
“Setan alas kelaparan! Kau berani menghina Ban Ek Si
Kepalan Besi ? Jangan menantang kesabaranku. Hayo lekas
perlihatkan bahwa kau bukan tukang tipu makanan dan
bahwa kau memang betul akan membayar. Kalau tidak,
sebelum makananmu habis, mukamu akan lebih dulu habis
oleh kepalan besiku !”
Kini Tiang Bu yang tedinya sabar menjadi marah. Terlalu
sekali, pikirnya. Biasanya orang-orang yang menamakan
dirinya penjaga-penjaga keamanan kota atau polisi itu
adalah orang-orang terpelajar, orang-orang sopan yang
22
betul-betul menjadi pelindung menjadi penegak keadilan,
menjadi bapak-rakyat yang mendatangkan rasa cinta dan
terima kasih rakyat atas jasa-jasa mereka. Akan tetapi, sikap
yang diperlihatkan oleh Ban Ek Si KepaIan Besi ini s ama
sekali bukan sikap penjaga keamanan, bahkan sebaliknya,
sikap pengacau keamanan, bukan sikap bapak atau
palindung rakyat, sebaliknya sikap musuh rakyat yang
harus diganyang habis-habisan.
"Bi Li, ke luarkan uangmu dan perlihatkan kepada
monyet ini," katanya menahan marah. Memang Tiang Bu
tidak punya uang. Kalau tadi ia berani masuk dan makan,
adalah karena ia percaya bahwa Bi Li tentu punya uang. Bi
Li semenjak kecil hidup di dalam gedung pangeran, mustahil
kalau gadis itu tidak bawa uang...... “
Memang betul dugaannya. Gadis seperti Br Li puteri
pangeran, tak mungkin berkantong kosong. Biarpun
uangnya yang tadinya berada di saku sudah habis, namun
gadis ini sudah menjual perhiasannya satu demi satu dan
selalu ia membawa uang. Akan tetapi sejak tadi Bi Li sudah
naik darah dan kalau tidak ada Tiang Bu di situ yang se lalu
main sabar, tentu dia sudah memberi hajaran kepada orang
yang mengaku diri komandan polisi itu. Sekarang
mendengar kata-kata Tiang Bu, ia sengaja berkata.
"Aku tidak punya uang, yang ada hanya sepas ang
kepalan tahu. Kau ini anjing kudisan minta bayaran. Nah,
terimalah kepalan tahu ini untuk kawan kepalan besimu!"
Setelah berkata demikian, t iba-tiba tubuh yang tadinya
duduk di kursi itu tahu-tahu telah berkelebat di depan Ban
Ek dan....... “plak! plak !" Dua kali te lapak tangan gadis
"mampir" di sepasang pipi Ban Ek. Pukulan itu kelihatannya
tidak keras, juga terasa sendiri oleh Ban Ek sendiri tidak
ke ras. Maka komandan ini bertolak pinggang dan tertawa
bergelak.
"Ha ha haaaeeekkk !” Suara ketawanya berubah secara
mengagetkan karena tiba-tiba ia muntah darah segar diikuti
23
gigi- giginya yang ternyata sudah copot semua seperti
dicabuti. Ternyata bahwa tamparan Bi Li tadi hanya
kelihatannya saja perlahan, namun dilakukan dengan
pengerahan lwekang tinggi sehingga melukai jantung dan
mencopotkan semua gigi.
Ban Ek terhuyung-huyung. baru terasa mulutnya sakitsakit
dan dadanya sesak. Ia hendak marah-marah, akan
tetapi dadanya menjadi sesak dan di lain saat ia roboh
te rlentang dalam keadaan pingsan.
Gegerlah di situ. Enam orang tukang pukul yang lain
menjadi marah dan mencabut golok mereka, akan tetapi
hanya tiga orang yang berani menyerbu. Yang tiga takuttakut
dan hanya berdiri dengan golok di tangan. Begitu
menyerbu tiga orang ini menjerit dan roboh tak bernyawa
lagi. Masing-masing tergigit oleh tiga ekor ular yang tahutahu
sudah menyambar ke luar. dan kini merayap masuk
lagi ke dalamsaku baju Bi Li.
"Tahan....... ! Tahan ........ ! Celaka dua belas dia itu
adalah Wanyen Siocia ! Apa mata kalian sudah buta ??” Dari
luar datang Thio-tikoan berlari-lari dan pembesar itu serta
merta menjatuhkan diri berlutut di depan Bi Li.
Melihat lagak pembes ar yang berlutut itu kemarahan Bi
Li seperti api disiram minyak. Ia sudah memegang seekor
ularnya untuk menyerang pembesar itu, akan tetapi Tiang
Bu yang sejak tadi sudah mengerutkan kening tak senang
melihat gadis itu menyebar maut cepat melangkah maju dan
menendang. Sekali tendang saja tubuh Thio-tikoan
terlempar keluar dari rumah makan, bergulingan seperti
bola.
“Pergilah ! dan jangan mengganggu kami !” Tiang Bu
berseru dengan suara keras berpengaruh.
Thio-tikoan kaget sekali. Di dalam hati ia marah sekali
dan kalau tidak melihat bahwa gadis itu adalah puteri
Pangeran Wanyen Ci Lun yang te rkenal di kota raja, tentu ia
24
akan mengerahkan tukang pukulnya untuk mengeroyok dan
mencelakai dua orang muda itu. Apa lagi karena sebagai ahli
silat ia tahu bahwa pemuda yang menendangnya tidak
memiliki kepandaian hanya bertenaga kuat, buktinya ia yang
ditendang sampai mencelat jauh itu tidak menderita luka
dalam tubuh. Tentu saja sebetulnya ia tidak terluka karena
memang Tiang Bu sengaja tidak mau melukainya.
Bi Li sudah mengeluarkan uangnya dan membayar harga
makanan dan minuman kepada pelayan yang berdiri
gemetaran saking takutnya. Kemudian orang muda itu pergi
meninggalkan tumah makan.
“Bi Li, kenapa kau begitu kejam? Memang tukang-tukang
pukul itu menjemukan sekali, akan tetapi kurasa belum
patut dibunuh,” di tengah jalan Tiang Bu mencela gadis itu.
Celaan ini tidak memarahkan Bi Li, bahkan ia tersenyum
meras a dipuji.
"Aku sudah cukup kejam, Tiang Bu? Bagus, aku sudah
takut kalau-kalau kelihatan tarlampau lemah. Ingat, aku
keturunan See-thian Tok ong dan Tee-tok, dua orang yang
sudab amat terkenal sebagai manusia-manusia paling kejam
di dunia ini. Mengapa aku tak boleh kejam dan jahat? Hai,
aku orang yang kejam di dunia ini, patut menjadi cucu See
thian Tok-ong. Awas, Tiang Bu, kalau datang se leraku
kaupun dapat kubunuh!”
Tiang Bu tersenyum pahit. Ia maklum akan gejolak hati
gadis cantik ini. Agaknya kenyataan bahwa ia adalah puteri
Tee-tok Kwan Kok Sun, menghancurkan hatinya dan ia
menjadi nekad, sengaja berlaku jahat dan kejam karena
tentu orang-orang akan memandang rendah dan hina
kepada keturunan See thian Tok ong yang jahat. Dari pada
disangka kejam dan jahat, lebih baik sekalian menjadi orang
jahat dan kejamagar cocok menjadi keturunan orang yang
terkenal paling jahat di dunia. Tentu demikian jalan pikiran
gadis ini . Diam-diam Tiang Bu berpikir dan ke tidaksenangan
hatinya menipis, terganti oleh perasaan kasihan yang besar.
25
“Ingat, Bi Li. Bukan kau saja keturunan orang jahat.
Orang tuaku jauh lebih jahat dart pada orang tuamu. Kalau
tidak percaya kau boleh tanya-tanya di dunia kang-ouw,
siapa yang lebih jahat antara Kwan Kok Sun dan Liok Kong
Ji. Tidak ada orang lebih jahat dari Liok Kong Ji yang
disebut manusia iblis. Tapi, apa kaukira kalau keturunan
orang jahat itupun harus jahat pula ? Kau keliru! Pohonnya
boleh bongkrek batangnya, akan tetapi belum tentu kalau
buahnya buruk."
Bi Li tertawa mendengar perumpamaan ini. Memang
pada dasarnya Bi Li seorang gadis lincah gembira mudah
tertawa. Hanya semenlak ia mendengar bahwa dia anak
orang jahat membuat wajahnya diliputi kebengisan
mengerikan.
“Kau bicara seperti kakek-kakek. Nenek-moyang kita
jahat, siapa yang akan percaya kita baik? Nenek moyang kita
jahat, kalau ki ta lebih jahat dari mereka, bukankah itu
artinya melanjutkan garis hidup mereka? Katanya seorang
anak harus berbakti. kalau kita pura-pura menjadi orang
baik, selain tak seorangpun di dunia ini percaya, juga
saolah-olah kita mengejek dan merendahkan orang tua
sendiri, manyeleweng dari jalan hidup mereka. Aku tidak
sudi menjadi anak orang jahat yang pura-pura baik,
ditertawai oleh orang kang-ouw dan dikutuk oleh arwah
nenek moyang sendiri !”
Hebat, pikir Tiang Bu. Celakalah kalau jalan pikiran
macam ini tidak dirubah. "Bi Li ! Kau keliru! Diumpamakan
ayah kita itu sebatang pobon yang bongkrek dan buruk tiada
guna, akan tetapi kita sebagai buah-buah pohon bongtkrek
itu ternyata manis dan berguna, tentu pohonnya akan
dihargai orang dan tidak dirusak. Sebaliknya, kalau
pohonnya buruk buahnya masam, dua-duanya tiada guna
bukankah pohonnya akan ditebang dan dijadikan umpan
api. Nama buruk orang tua kita hanya dapat dicuci dan
dibersihkan oleh perbuatan baik kita, bukan makin
26
dicemarkan dan dikotori oleh perbuatan jahat kita. Kau tahu
betapa sakit dan hancur hatiku memusuhi ayah sendiri,
akan tetapi biarpun harus meramkan mata, kalau bertemu
dengan Liok Kong Ji yang di luar kehendakku ternyata
adalah ayahku itu, pasti akan kubunuh !”
Bt Li memandang dengan matanya yang indah seperti
mata burung Hong. Kemudian tertawa geli sambil menutupi
mulutnya yang berbibir merah segar dan bergigi putih
seperti mutiara itu. "Kau....... kau orang lucu benar! Kau
bilang mau berbuat baik menebus kedosaan ayah, akan
tetapi kau bermaksud membunuh ayah sendiri! Hei, Tiang
Bu, tidak tahukah kau bahwa tidak ada kejahatan yang
lebih besar dari pada membunuh ayah sendiri? Andaikata
aku dapat membunuh seratus orang tidak berdosa, aku
masih kalah hebat olehmu yang membunuh ayah sendiri !"
Mendengar ucapan ini, Tiang Bu melongo dan untuk
sesaat tak dapat menjawab. Akhirnya ia hanya dapat berkata
lirih, terputus-putus, “Dia jahat ...... dia jahat sekali ..... aku
harus bunuh dia......” Bimbang hatinya mendengar ucapan
Bi Li yang langsung menusuk hatinya itu. Ucapan sederhana
namun mengandung sari filsafat hidup tentang "hauw" atau
berbakti. Sari pelajaran dari Guru Besar Khong Hu Cu
tentang hauw ini banyak disalahgunakan orang. khususnya
para pengikut atau para penganut pelajaran-pelajaran guru
besar yang tiada keduanya di dunia itu. Sebagian besar
orang tua mempergunakan ujar-ujar Khong Hu Cu tentang
hauw ini demi kepentingan dan keuntungan diri sendiri.
Anak-anak diajar atau bahkan hampir dapat dikatakan
dipaksa untuk berbakti secara membuta, untuk menurut
apa yang dikehendaki oleh orang tua bukan demi
kepentingan anak itu sendiri melainkan demi keuntungan si
orang tua. Anak-anak hendak dijadikan alat-alat untuk
menyenangkan hat i orang tua dan agar anak-anak itu
melakukannya dengan senang hati den membuta, maka si
orang tua menyalahgunakan hauw, pelajaran yang suci dari
Guru Besar Khong Hu Cu! Karena penyalah gunakan
27
pelajaran tentang hauw inilah maka di Tiongkok dahulu
banyak terjadi hal-hal yang tidak adil, hanya karena orang
hendak mengikuti pelajaran tentang hauw secara membabi
buta. Mtsalnya, anak harus menikah dengan orang yang tak
disukainya karena orang tuanya sudah suka, dan anak itu
dihadiahi sebutan u-hauw (berbakti) . Anak harus membantu
orang tuanya biarpun orang tuannya melakukan pekerjaan
jahat dan biarpun si anak di dalam hati tidak menyetujui
pekerjaan itu dan anak itu juga anak u-hauw ! Masih
banyak hal-hal yang rendah terjadi akibat orang tua
menyalahgunakan sari pelajaran ini demi kesenangan dan
kepentingan sendiri.
"Kau keliru, Bi Li," kata Tiang Bu dengan suara tegas.
"Kalau sampai aku membunuh Liok Kong Ji, aku
membunuhnya sebagai orang pembela keadilan membunuh
seorang penjahat besar, seorang pcngkhianat bangsa dan
seorang pengganggu keamanan rakyat. Bukan sekali-kali
sebagai seorang anak membunuh ayahnya."
Untuk beberapa detik sinar mata gadis menatap wajah
Tiang Bu penuh kekaguman akan tetapi hanya sebentar
karena gadis segera tertawa lagi dengan nada mengejek
kemudian berkata,
"Kau tadi telah bilang sudah tahu tempat tinggal
ayahmu....... eh, jahanam she Liok itu. Jauhkah dari sini ?"
"Tidak begitu jauh. Ui-tiok-lim berada di lembah Sungai
Luan-ho, di luar tembok Kota Raja Kin di utara. Di sanalah
Liok Kong Ji tinggal, menyembunyikan diri dengan anakanak
angkat dan kaki tangannya semenjak dia
mengundurkan diri dari bala tentara Mongol."
"Judi dia tidak membantu Jengis Khan lagi?”
“Sepanjang yang kudengar tidak. Bala tentara Mongol
menyerhu ke barat dan hampir semua orang Han yang
tadinya membantu, merasa enggan untuk menyerbu ke
negara orang lain dan meninggalkan bala tentara Mongol.
28
Akan tetapi mereka ini agaknya meras a malu kepada bangsa
sendiri, juga Liok Kong Ji menyembunyikan diri di Ui-tioklim,
tak pernah muncul lagi di dunia, kang-ouw. Yang
muncul hanya anak-anak angkatnya yang dalam kejahatan
kiranya tidak kalah oleh Liok Kong Ji.” Tiang Bu menarik
napas panjang, teringat akan Liok Cui Lin dan Liok Cui Kim,
dan tiba-tiba mukanya menjadi merah.
"Kalau begitu mari kita segera berangkat ke sana!" ajak
Bi Li dengan nada gembira.
"Baiklah, hanya pesanku jangan kau semberono. Aku
mendengar sudah ada beberapa orang gagah mencoba
memasuki Ui-tiok-lim, akan tetapi mereka itu gagal di tengab
jalan dan dan tewas sebelum mereka dapat bertemu muka
dengan Liok Kong Ji atau anak-anak angkatnya."
"Mengapa begitu? Demikian berbahayakah Hutan Bambu
Kuning” itu?”
Tiang Bu mengantguk-angguk “Kabarnya begitu. Bambubambu
di hutan itu sengaja di tanam merupalan barisanbarisan
dalam bentuk yang ganjil, dipasangi alat-alat rahasia
yang berbahaya. Kubarnya memasuki Ui-tiok-lim tempat
tinggal Liok Kong Ji itu bahkan lebih sulit dari pada
memasukt Kuil Siauw-Limsi yang te rkenal kuat."
DIam-diam Bt Li kaget sekali. ia pernah mendengar dari
gurunya, Ang jiu Mo-li bahw Kuil Siauw-lim-si amat
kuatnya. Bahkan gurunya itu, Ang-Jiu Mo li yang lihai,
pernah mencoba-coba memasuki Siauw lim-si untuk
memcuri kitab, akan tetapi te rpaksa keluar lagi dan hampir
saja tewas ! Kalau Siauw-lim-si saja sudah begitu lihat dan
tempat ini katanya lebih lihai lagi. dapat dibayangkan betapa
sukarnya memasuki Ui tok-lim.
Tanpa kenal lelah, Bi Li dan Tiang Bu melakukan
perjalanan bersama menuju ke utara melalui tembok besar.
Di sepanjang perjalanan tiada hentinya Tiang Bu
mengulurkan tangan menolong rakyat jelata yang
29
keadaannya amat menyedihkan. Bekas tangan bala tentara
Mongol kelihatan nyata, mendirikan bulu roma, mengerikan
sekali. tumpukan puing menghitam sisa api, bau busuk dari
mayat manusia yang lambat dikubur dan darah-darah
manusia yang berceceran di atas tanah, ditambah pula
dengan manusia-manusia hidup setengah mati, kurus kering
sepetti rangka hidup terhuyung-huyung atau berjongkok
dan bergelimpangan di antara tumpukan puing, suara anakanak
menangis minta makan, semua ini menggugah hati
Tiang Bu untuk bertindak, didatanginya rumah-rumah
pembes ar setempat, digunakannya kekerasan agar para
pembes ar lalim ini suka menggulung lengan baju dan
melakukan tugasnya sebagai bapak rakyat, menolong
mereka yang patut ditolong dan mengatur mana yang patut
diatur. Berkat kekerasan tangan Tiang Bu, banyak orang
desa tertolcong, tidak s aja yang kelaparan mundapat
makanan, juga yang kepanasan mendapat tempat berteduh
dan yang menganggur mendapat pekerjaan. Semua dijamin
oleh para pembesar yang dipaksa oleh tangan keras Tiang
Bu.
Mula-mula Bi Li tidak sabar bahkan mendongkol melihat
betapa pemuda itu melakukan usaha ini. Dianggapnya
membuang waktu dan tenaga, hanya memperlambat
pe rjalanan. Akan tetapi ketika ia melihat betapa rakyat yang
sengsara itu berterima kasih, betapa anak-anak yang
menangis menjadi tertawa, tergugah pula batin gadis yang
memang bukan pada dasarnya jahat ini. Bi Li sengaja
be rlaku jahat dan kejam untuk "menyesuaikan diri" dengan
darah keturunannya yang mengalir di tubuhnya. Setelah
rakyat memberi julukan PEK LUl ENG (Ksatria Iangan
Geledeg.) kepada Tiang Bu. Bi Li juga mulai aktip membantu
pemuda itu. Tiang Bu diberi julukan demikian karena selalu
ia bertindak tanpa mempergunakan senjata, hanya
mengandalkan kedua tangannya yang cepat dan ban bahaya
seperti geledek menyambar. Setelah Bi Li turun tangan pula.
mempergunakbn pedangnya untuk menabas buntung
30
hidung atau batang telinga pembesar lalim dan korup,
mempergunakan ular-ularnya untuk menakut nakuti
mereka yang menindas rakyat, maktn berhasil lah usaha
Tiang Bu. Makin banyak pulae desa-desa tertolong dari
kelaparan dan kebinasaan. Akan tetapi perjalanan dua orang
muda itu menjadi makin lambat sehingga tiga bulan lewat
tak terasa ketika mereka akhirnya tiba di daerah lembab
Sungai Luan-ho. Mereka terus menyusur tepi sungai yang
mengalir dari utara,
Pada pekan ke dua terpaksa bermalam di sebuah hutan.
Belasan li di sekeliling tempat ini tidak ada pedusunan
sehingga mereka terpaksa bermalam di bawah pohon. Malam
itu bulan bersinar terang sekali, mendatangkan suasana
romantis di dalam butan itu. Mereka memilih sebuah tempat
yang bersih, dibayangi pohon-pobon yangliu yang tinggi dan
be rbatang ramping seperti pinggang gadis-gadis ayu. Di atas
pohon, langit bersih, biru putih kekuning-kuningan penuh
sinar bulan yang mendatangkan hawa dingin sejuk
menyegarkan.
Bi Li sepera menjatuhkan diri. duduk di atas rumput
lunak menyandarkan tubuh pada sebatang pohon sambil
menarik napas penuh nikmat melemaskan anggauta tubuh
yang kaku-kaku kelelahan.
"Aaahhh, enaknya di sini ....... nyaman sekali .......!"
katanya perlahan, senyumnya menambah cemerlang sinar
bulan.
Tiang Bu juga merebahkan tubuhnya yang lelab di dekat
batang pohon yang sudah tumbang melintang tak jauh dari
tempat Bi Li duduk. Mendengar ucapan gadis itu, Tiang Bu
memandang dan hatinya berdebar aneh. Bukan main
indahnya pemandangan itu. Seorang bidadari mandi cahaya
bulan. Alangkah cantik jelitanya Bi Li ketika bersandar pada
pohon dengan muka sepenuhnya disinari cahaya bulan
purnama. Matanya tertutup dan bulu matanya yang lentik
31
panjang itu menimbulkan bayang-bayang di bawah matanya,
manis sekali.
Bi Li membuka matanya, "Kau di mana, Tiang Bu ?"
tanyanya tanpa menoleh, dengan mata berkedip-kedip
jarang.
"Di sini - ..... !” jawab pemuda itu. "Lebih enak di sini,
dapat tidur."
Mendengar jawaban ini, Bi Li menengadah dan
memandang. Ia melihat Tiang Bu melonjorkan kakinya ke
depan, pungaung dan kepalanya disandarkan pada batang
pohon melintang, seperti memakai bantal. Nampaknya
memang enak sekali, tidak seperti bersandar pada batang
pohon berdiri, terlalu lurus dan hanya dapat duduk, tak
dapat berbaring.
"Minggirlah, akupun ingin t idur ! Jangan borong semus
tempat itu !” Bi Li meloncat lincah jenaka.
Tiang Bu mengguling-gulingkan tubuhnya sampai ia
berada di ujung batang pohon lalu berbaring miring sambil
tersenyum memandang kawannya yang jenaka itu. Bi Li
merebahkan diri terlentang di ujung batang pohon yang lain,
kurang lebih lima belas kaki jauhnya dari Tiang Bu sehingga
pemuda ini dapat melihat dengan nyata. Bahkan ia dapat
mencium bau harum yang selalu selalu semerbak
menghambur dari tubuh gadis itu, bau harum yang ganjil
sekali. Makin berdebar hati Tiang Bu melihat keindahan
wajah dan tubuh gadis remaja yang kini berbaring tak jauh
dari tempatnya. Teringat ia akan semua pengalamannya
dengan Cui Lin dan Cui Kim dan tiba tiba ingin ia menampar
mukanya sendiri. Bi Li seorang gadis terhormat, tak patut
seorang rendah budi dan hina dina semacam dia
memikirkan dan merindukannya ! Cepat ia membuang muka
ke lain jurusan agar jangan matanya manatapi mahluk
indah di depannya itu dan agar jangan sampai hatinya
tergoda. Akan tetapi makin dijauhi makin menggoda. Ke
manapun juga ia melempar pandang, bayangan gadis
32
telentang dengan, dada dan kepala terganjal batang pohon
sehingga dada itu membusung padat dan leher yang putih
kekuningan itu berlawanan sekali dengan batang pohon
yang berwarna coklat, selalu nampak di depan mata.
Seakan-akan bayangan gadis itu berpindah-pindah selalu ke
depan matanya, atau seakan-akan sepasang matanya yang
pindah ke belakang keplanya, tidak mau meninggalkan
pemandangan yang indah itu
Akhirnya Tiang Bu berbaring miring lagi menghadapi Bi
Li! Aku tidak berhak mengganggunya. aku tidak berharga
mcncintainya. tidak patut mengenangkannya, s ama sekali
tidak boleh mendekatinya. Akan tetapi kalau hanya pandang
mata saja apa salahnya? Aku tidak akan merugikannya
dengan hanya pandang mata. Dengan pikiran ini, Tiang Bu
memuaskan rindunya dengan sepasang matanya. Bi Li
agaknya le lah sekali karena gadis itusudah tertidur,
napasnya lambat dan halus, bibirnya agak terbuka sehingga
gigi yang berdere t rata dan putih itu terkena cahaya bulan
bersinar-sinar seperti mutiara. Oleh karena gadis itu sudah
tidur, Tiang Bu dapat leluasa memandangnya. Dengan sinar
mutanya ia mencumbu rayu Bi Li dibelai-belainya rambut
yang agak kusut itu, penuh kasih sayang. Heran sekali,
terhadap Bi Li ia tidak mengalami rangsangan seperti ketika
ia digoda oleh kakak beradik Cui Lin dan Cui Kim. Tidak
timbul nafsu binatangnya, yang ada hanya kasih sayang,
kasihan dan ingin melindunginya, ingin berkorban untuknya
dan ingin hidup berdua yang lain-lain tidak ada artinya lagi
baginya.
"Bi Li mengapa perasaanku terhadap kamu seperti ini
...... . ?" Tiang Bu menge luh di dalam hatinya dan tak terasa
ia merasa berduka sekali. Teringat ia akan keadaannya yang
sama sekali tidak patut dijejerkan dengan gadis itu. Bi Li
cantik jelita. lebih cantik daripada Ceng Ceng, lebih cantik
dari pada Cui Lin dan Cui Kim, lebih cant ik dari pada Lai
Fei, pendeknya lebih cantik dari pada semua wanita yang
pernah ia jumpai. Dan dia sendiri, ah, Tiang Bu cukup
33
maklumdan insaf akan keburukan rupanya. Ia tahu bahwa
dia tidak boleh dibilang tampan, apa lagi ganteng. Olok-olok
dan ejekan yang dulu dilontarkan ke mukanya oleh Ceng
Ceng, sudah cukup jelas. Hidungnya pesek, bibitnya tebal,
mukanya kehitaman, gerak-geriknya canggung. Selain itu, ia
seorang yatim pialu, seorang pemuda terlantar yang miskin,
tidak punya apa-apa. Dia sama sekali tidak memikirkan Bi
Li, apalagi mengharapkan dapat mencintai gadis itu.
Bermalam di tempat seperti ini bersama saja sebetulnya dia
sudah tidak berhak! Apa lagi kalau diingat akan
perbuatannya yang terkutuk dengan Cui Lin dan Cui Kim.
Auhh, dia seorang bermoral bejat. seorang rendah budi. Tak
terasa pula dua titik air mata turun dari sepasang matanya.
Cepat-cepat Tiang Bu menghapusnya dengan tangan.
Mengapa putus asa ? Aku sudah cukup menyesal akan
penyelewengan itu. bahkan sudah cukup terhukum di dalam
jurang, sudah cutup terhina karena perbuatan kotor itu.
Aku sudah bertobat dan takkan mengulangi perbuatan keji
itu. Ia akan mengerahkan seluruh tenaga batinnya untuk
melawan rangsangan nafsu jahat yang agaknya sudah
mengalir ke dalam darahnya. Aku harus kuat. Aku seorang
jantan.
“Tiang Bu kau melamun apa........ ?”
Tiang Bu kaget sekali. Begitu jauh ia melamun sehingga
tidak tahu bahwa gadis itu sudah bergerak dalam tidurya,
kini juga miring menghadapinva dan membuka mata
perlahan. Pertanyaan itu biarpun diucapkaa dengnan
perlahan dan lembut, tetap saja membuat Tiang Bu kaget
dan hampir pemuda int melompat. Baiknya ia dapat
menekan perasaannya dan hanya bangkit lalu duduk
menyandarkan punggung di batang pohon.
“Aku....... aku hanya memtkirkan nasib kita yang
buruk.....,” akhirnya dapat juga ia menjawab.
"Mengapa kau bilang buruk?” Kini suara Bi Li
menyatakan bahwa ia sudah sadar betul dan sepasang
34
matanya juga terbuka lebih lebar. Ia nampak ingin tahu
sekali.
"Betapa tidak buruk ? Nasibmu sudah tak usah ditanya
lagi. Dari seorang puteri bangsawan yang semenjak kecil
hidup se rba mewah dan mulia, sekarang kau berada di
tempat sepeti ini, di udara terbuka, bertilam rumput beratap
langit berkelambu hutan berlampu bulan.......”
Bi Li tertawa geli. “Kauseperti bersajak ! Tiang Bu, di
tengah malam buta kau bersajak. Benat-benar lucu!”
Tiang Bu menarik napas panjang sehingga terdergar oleh
gadis itu. Bi Li juga bangkit dan duduk seperti Tiang Bu.
“Tiang Bu, susah benarkah hatimu? Kenapa?"
“Aku menghela napas bukan menyusahkan nasib sendiri
melainkan ...... aku kasihan kepadamu kalau kukenang
perubahan nasib hidupmu, Bi Li.”
"Aaah, aku yang mengalami sendiri tidak apa-apa kok
kau yang susah ! Lebih baik kau ceritakan mengapa kau
melamun tentang nasibmu. Buruk benarkah nasibmu?”
"Semenjak kecil ketika berada dengan keluarga Coa. aku
memang merasa bahagia, akan tetapi selalu timbul keraguan
dan keheranan kalau meIihat sikap para pelayan yang aneh
terhadapku. Kemudian aku terculik dan semenjak itu tak
pernah kembali ke Kim-bun-to, dan mengalami hal -hal yang
selalu tidak menyenangkan hati. Makin tua nasibku menjadi
semakin buruk jua……”
Kembali Bi Li tertawa geli, mengangkat muka ke atas
memandang bulan lalu berkata. “Bulan, kaudengarlah
keluh-kesah kakek ini! Sudah tua nasibnya buruk. Bulan,
tak dapatkah kau monolong kakek ini?”
Kebetulan tegumpal awan putih lewat di bawah bulan,
untuk sajenak menutupi ratu malam itu.
"Tiang Bu, kaulihat. Kesusahan hatimu membuat bulan
sendiri ikut meras a sedih dan bermuram muka."
35
Tiang Bu menghadapi kejenakaan gadis ini dan hatinya
terbuka, ia menjadi ikut gembira. “Bi Li, kukatakan tadi
bahwa nasibku sejak dulu sampai sekarang sialan, akan
tetapi hanya berhent i sampai sekarang., Mulai aku berjumpa
dengan kau sinar terang mengusir semua kegelapan dan.......
"
"Apa maksudmu !?" Bi Li tersentak dari duduk te gak,
sepasang matanya memandang penuh selidik dan tajam
sekali.
Tiang Bu sadar bahwa ia mengeluarkan ucapan yang
janggal dan patut menimbulkan curiga. "Aku tidak
bermaksud buruk, Bi Li. Kumaksudkan bahwa semenjak
bertemu dengan kau, aku mendapat seorang kawan baru
yang kiranya akan dapat bekerja sama dengan aku
membasmi orang-orang jahat. Bukankah hal ini
menggirangkan hati benar dan mengusir semua kesunyian?
Aku... aku tidak bermaksud kurang ajar. Bi Li,... jangan kau
marah.....”
Sikap terang yang diperlihatkan Bi Li menjadi kendur
kembali dan gadis itu kembali merebahkan diri seperti tadi
sebelum terjaga berbaring terlentang berbantal batang pohon
ia mengeluarkan seekor ularnya yang berkulit putih lalu
main-main dengan ular ini yang melingkar-lingkar diantara
jari-jari tangannya.
"Siapa marah ? Hanya kau yang canggung dan bodoh,
ucapanmu kadang kadang membingungkan orang."
“Memang aku bodoh, Bi Li. Bodoh dan dungu.” kata
Tiang Bu perlahan, hatinya gondok. Kalau ia masih kecil,
tentu ia akan menangis.
"Pemuda yang merasa seperti kakek-kakek padahal
masih hijau, orang berilmu tinggi tapi lemah, yang mau
pura-pura jadi orang baik memang kau bodoh ! Pek Coa
(Ular Putih) ini lebih pintar dari padamu....... !"
36
Tiang Bu makin mendongkol, akan tetapi tidak
membantah atau menjawab, takut kalau-kalau jawabannya
akan lebih menonjolkan kecanggungan dan kebodohannya.
Padahal ia sendiri tidak tahu dalam hal apakah ia disebut
bodoh, sedangkan dalam persoalan apapun juga ia merasa
tidak kalah pintar oleh dara ini. Ia hanya mengerling tanpa
menoleh, berbuat se olah-olah tidak mengindahkan dan tidak
memperdulikan Bi Li, pada hal matanya sampai terasa
hampir juling karena selalu mengerling ke kanan ! Dari
sudut matanya ia melihat gadis itu makin lama makin lemas
dan napasnya makin lembut tak lama kamudian Bi Li
kembali tidur pulas. Ular putih itu merayap-rayap di antara
jari-jari tangan Bi Li dan diam-diam Tiang Bu menyumpahi
ular itu.
"Bedebah kau ! Masa macammu lebih pintar dari pada
aku ? Ular setan, ular siluman! Dan kau boleh sesuka
hatimu merayap-rayap membelai-belai dia, disayang dan
dicintai!”
Dengan hati gemas dan kepala penuh cemburu dan iri
hati ia melihat betapa ular putih merayap-rayap terus di
antara dada Bi Li, kepalanya yang berlidah merah itu
dijulur-julurkan, merayap melalui leher yang berkulit putih
kekuningan itu, beberapa kali terpeleset di atas rambut
hitam halus yang jatuh di pundak. Beberapa kali Tiang Bu
mene lan ludah memaki-maki ular itu dengan mata penuh
kebencian. Tangannya sudah gatal-gatal untuk meraih ular
itu dan membantingnya hancur di atas batu untuk
melampiaskan rasa marah, cemburu dan iri hatinya.
Kemudian gangguan ular itu sampai pada puncaknya ketika
ular itu merayap melalui dagu Bi Li dan Iidahnya menjilatjilat
pipi dan bibir gadis itu.
"Jahanamjangan menghina dia.....!” bentaknya dan
sekali tangannya bergerak sebuah batu kecil menyambar
dan di lain saat ular itu Sudah menggeletak di dekat tubuh
37
Bi Li dengan kepala remuk dilanggar batu tadi, mati tak
berkutik lagi !
Bi Li ters entak kaget. Ketika matanya yang tajam itu
melihat Pek Coa sudah menggeletak dengan kepala hancur
di dekat, ia melompat bangun dan sudah mencabut
pedangnya.
"Siapa berani membunuh Pek coa ?" bentaknya marah.
Melihat sikap Bi Li ini, baru Tiang Bu sadar akan
perbuatannya tadi dan merasa menyesal. Iapun bangkit
berditi dan berkata dengan suara lemah.
"Maaf, Bi Li. Akulah yang membunuhnya.”
Pedang itu dengan perlahan memasuki kembali
sarangnya. Untuk sebentar mata Bi Li terbelalak heran,
kemudian membayangkan kekhawatiran ketIka ia
melangkah menghampiri Tiang Bu untuk menatap wajah
pemuda itu lebih dekat.
"Kau ...... ? Kau membunuh Pek Coa......?” Aneh sekali,
Tiang Bu, kau kenapakah dan mengapa Pek Coa yang kau
tahu menjadi kesayanganku itu kaubunuh ?”
“Aku....... aku tidak sengaja……”
"Tadinya akupun tidak ada niat itu, akan tetapi ......
melihat dia menjalar ke atas dada-mu, me rayap ke leher dan
dagumu ...... melihat dia secara kurang ajar sekali
menjilat..... pipimu ...... bibirmu .....”
"Lalu timbul bencimu?" Heran sekali hati Tiang Bu.
Bagaimana gadis itu tahu belaka akan perasaannya?
“Ya.... eh, aku takut kalau kalau ........ kau digigitnya, dia
ular berbisa dan kau sedang tidur pulas ....... aku lalu.......
lalu lupa diri dan...... membunuhnya.! Bi Li, maafkan aku.
Kelak aku akan mencarikan ular putih berapa hanyak kau
suka untuk menjadi penggantinya.”
38
Kalau saja ia tidak bicara sambil menundukkan muka,
tentu Tiang Bu akan melihat perobahan luar biasa pada
wajah gadis itu. Seluruh muka Bi Li menjadi merah sekali
dan gadis ini membuang muka, lalu duduk di tempatnya
yang tadi. Sekali cokel ia telah membuang bangkai ular putih
itu.
"Dia toh hanya seekor binatang ular ....” katanya
perlahan. "Tiang Bu, kau memang laki-laki bodoh. Jangan
ganggu, aku ingin tidur, besok harus melanjutkan
perjalanan jauh .....” Gadis itu membaringkan tubuhnya,
miring membelakangi Tiang Bu dan tak lama kemudian ia
sudah pulas lagi. Tinggal Tiang Bu yang gulak-gulik tak
dapat pulas, hatirqa tidak karuan rasanya, merasa berdosa
terhadap Bi Li. Ularnya kubunuh dan dia tidak marah !
Bagaimana dia tahu bahwa aku menjadi benci melihat ular
itu menciummya? Heran, sampai berapa jauh dia
mengetahui isi hatiku ?
Menjelang pagi, ketika Tiang Bu baru layap-layap
tertidur, ia mendengar suara orang. Seperti kebiasaan.
seorang ahli silat tinggi, Tiang Bu segera sadar dan
menengok. Dilihatnya Bi Li tersenyum-senyum dalam
tidurnya dan mengigau dengan suara yang belum pernah ia
dengar keluar dari mulut gadis itu, demikian merdu bagikan
lagu indah memasuki telinganya. "Tiang Bu ....... kau.......
baik sekali……..”
Dengan wajah berseri Tiang Bu pulas lagi, hatinya girang
bukan main, Alangkah lucu dan bodohnya manusia kalau
lagi diamuk asmara !
-oo(mch)oo-
Beberapa pekan kemudian tibalah Tiang Bui dan Bi Li di
daerah lembah Sungai Luan ho yang menikung. Daerah ini
terdapat banyak pegunungan dan kaya akan hutan.
Tanahnya subur sekali akan tetapi sayangnya, di sana-sani
39
terdapat rawa yang amat berhahaya. Bahkan ada bagian lain
yang disebut rawa-rawa maut, karena di sini terdapat rawa
yang tertutup rumput-rumput hijau tebal. Padahal di bawah
rumput tebal ini bukanlah tanah keras, me lainkan lumpur
yang amat dalam dan yang mempunyai hawa menyedot.
Sekali orang terpeleset ke dalamnya, kalau tidak mendapat
pertolongan orang lain. akan sukarlah ia menolong diri
sendiri, karena begitu kedua kaki terperosok ke dalam
lumpur yang sembunyi di bawah rumput, kaki itu akan
terhisap dan sukar dibetot keluar lagi. Makin lama makin
dalam sampai akhirnya seluruh tubuh dihisap masuk.
Kebetulan sekali ketika Tiang Bu dan Bi Li tiba di daerah
ini, mereka menjadi saksi akan kengerian ini. Mula-mula
mereka mendengar suara binatang menguak keras berkalikali.
Mereka merasa tertarik dan berlari cepat ke arah suara
itu.
Mula-mula mereka tidak tahu mengapa kijang besar itu
meronta-ronta di tengah padang rumput hijau itu sambil
menguak-nguak ketakutan. Seakan-akan binatang itu patah
kakinya dan tidak bisa lari lagi, atau seakan-akan kedua
kakinya terikat sesuatu.
Jangan-jangan ia dimangsa ular !" kata Tiang Bu.
Bi Li mengerutkan kening, bidungnya yang mancung
kecil itu berkembang-kempis.
“Tidak ada ular di sini. Akan tetapi kasihan sekali kijang
itu, agaknya ketakutan. Coba kulihat dekat !” Sebelum Tiang
Bu sempat mencegah karena pemuda ini sudah merasa
curiga melihat padang rumput yang nampaknya mtin sunyi
dan menyeramkan itu. Bi Li sudah melompat dan berlari
mendekati tempat binatang itu yang meronta-ronta dan
momekik-mekik ketakutan. Tiba-tiba Bi Li menjerit dan
kedua kakinya amblas ke dalam lumpur yang tertutup
rumput hijau. Baiknya gadis ini telah memiliki kepandaian
tinggi sehingga tubuhnya tak sampai roboh. Ia mengerahkan
ginkangnya untuk menahan keseimbangan badan, tetapt
40
ketika ia mencoba untuk mencabut kedua kakinya, makin
dalam ia terjerumus ! Baru sekarang Bi Li mengerti apa yang
menyebabkan binatang itu meronta-ronta dan memekikmekik
ketakutan. Ia merasa seperti ada sesuatu yang hidup,
yang amat kuat menghisap kedua kakinya, terasa dingindingin
dan betapapun kuat ia bertahan. tubuhnya makin
tersedot ke bawah. Tiba-tiba ia menjadi pucat dan baru kali
ini selama hidupnya Bi Li ketakutan dan ...... menjerit !
“Tiang Bu……tolong.......!”
Tiang Bu sudah tiba di situ. Pemuda yang cerdik ini
sebentar saja dapat menduga apa yang telah terjedi. Dengan
hati-hati ia melangkahkan kakinya mcnjaga jangan sampai
terjerumus pula. Kalau demikian halnya mereka takkan
tertolong lagi.
"Tenang, Bi Li. Kau tertangkap oleh apa yang dinamai
lumpur maut atau rawa maut. Jangan banyak bergerak,
tunggu aku membetotmu keluar. Diam jangan bergerak, Bi
Li.......“
Benar saja, setelah Bi Li berhenti bergerak sedotan yang
terasa pada kedua kakinya berhenti pula, akan tetapi
lumpur itu sudah menghisapnya sampai ia amblas sebatas
paha ! Ia mandi keringat dingin saking ngeri dan takutnya,
dan kini dengan penuh harapan ia me lihat betapa Tiang Bu
menghampirinya dengan kedua kaki diraba-rabakan ke
depan, sambil tangannya mencabuti rumput untuk memilih
tanah ke ras. Akan tetapi, tanah yang tadinya kelihatan
keras, begitu diinjaknya lalu Iongsor dan di bawahnya tanah
ke ras itu hanya tipis s aja, dan di bawahnya adalah lumpur
belaka.
Celaka, pikir Tiang Bu dengan jantung terhenti
berdenyut. Kalau begini, tak mungkin Bi Li dapat tertolong.
Begitu ia menarik tubuh gadis itu, tentu tanah yang
diinjaknya amblas pula dan mereka berdua akan te rjerumus
dimakan lautan lumpur!
41
“Tiang Bu, mengapa kau be rhenti.... Apakah ……. apakah
aku tak dapat ditolong lagi…….!” Sebagai jawaban, terdengar
kijang itu menguak penuh kengerian. Terpaksa Bi Li
menengok ke belakang, ke arah kijang yang hanya terpisah
lima enam meter dari padanya dan me lihat keadaan itu, Bi
Li menjerit, "Tiang Bu ...... !"
Pemuda itupun menengok‹ dan menjadi pucat. Kijang itu
kini telah terhisap s ampai melewati lehernya, yang kelihatan
hanya sapasang mata yang terbelalak ketakutan lebar,
hidung yang mendengus -dengus mengeluarkan uap putih
dan mulut yang menguak-nguak panjang dan nyaring.
Binatang itu tidak merasa sakit hanya takut....... takut luar
biasa melihat maut berjoge t di depan mukanya. Dan Bi Li
yang merasa ngeri lupa diri dan bergerak membuat ia
amblas lagi sampai sebatas pinggang.
"Tiang Bu....... demi Thian ....... tolonglah aku ...... aku
tidak mau mati begini, t idak mau!” teriak Bi l,i ketakutan
dan sepasang matanya melebar seperti mata kijang itu.
Nguak terdengar terus, makin lama makin lemah dan yang
terakhir suara itu terdengar aneh seperti parau kemudian
be rhenti tiba-tiba seperti tercekik. Mulut atau moncong
kijang itu tidak kelihatan lagi, hanya rumput di mana tadi ia
be rada bergcrak-gerak, seperti ada ular besar lewat di
bawahnya.
"Bi Li. kautunggu sebentar. Kau tenanglah jangan
bergerak. Ingat ini . jangan be rgerak kalau kau ingin
tertolong. Demi Thian, aku akan menolongmu, biarpun aku
harus berkorban nyawa. Akan tetapi kau tenanglah,
pergunakan lweekang untuk mematikan semua pergerakan
tubuh. Hanya kalau kau diamseperti barang mati lumpur
itu takkan dapat menyedotmu. Aku akan mencari bambu
untuk menolongmu. Tenang..... !"
Tiang Bu melompat dan berlari ke arah hutan kecil di
mana ia me lihat batang batang bambu berkelompok dengan
daun daunnya yang indah. Setelah tiba di tempat itu,
42
pemuda yang tidak mcmbekal senjata tajam ini lalu
menggunakan kedua tangan, mencabuti bambu yang amat
kuat itu sampai terlcpas akarnya.
Tak lama kemudian ia sudah menyeret tiga batang
bambu yang sudah ia patah-patahkan cabang-cabangnya.
Dengan bambu ini dipasang melintang, dapat
menghampiti Bi Li yang betul saja tidak be rge rak sama
sekali sehingga ia terbenam hanya sampai di pinggang, tidak
lebih. Akan tetapi matanya berlinang air mata, mukanta
pucat dan bibirnya gemetar. Berdiri di atas tiga batang
bambu itu, Tiang Bu dapat berjalan dengan mudahnya,
karena bambu-bambu yang panjang itu tidak tenggelam,
seperti sebuah perahu rakit.
(Bersambung jilid XVIII.)
1
(PEK LUI ENG)
Karya: Asmaraman S. Kho
Ping Hoo Scan djvu :
syauqy_arr
Convert & edit : MCH
Jilid XVIII
ALANGKAH girang hati Tiang Bu dan juga Bi Li ketika
mereka dapat bertemu tangan. Tiang Bu membetot,
mengerahkan tenaganya dan....... terangkatlah Bi Li dari
dalam lumpur maut yang hampir saja menjadikan gadis ini
mangsanya. Saking girangnya Tiang Bu lupa diri dan
memeluk gadis itu, tidak perduli pakaiannya sendiri menjadi
kotor terkena lumpur yang menyelimut i tubuh dari pakaian
Bi Li sebatas pinggang kebawah, Juga Bi Li yang baru saja
terlepas dari cengkeraman maut, yang amat mengerikan dan
menakutkan, saking terharunya tidak merasa lagi akan
pelukan pemuda itu, bahkan ia menyandarkan kepalanya di
atas dada Tiang Bu sambil terisak-isak. Bi Li bukan seorang
gadis penakut, jauh dari pada itu. Sebaliknya, dia memiliki
kepandaian tinggi dan nyalinya besar sekali. Menghadapi
kematian dalam pertempuran kiranya akan dilakukan
dengan senyum di bibir. Akan tetapi ancaman maut yang
baru saja dialaminya tadi terlalu mengerikan. Dihisap oleh
lumpur perlahan-lahan, sama sekali tidak berdaya seakanakan
maut merenggut nyawa sekerat demi sekerat, ditambah
lagi pandangan mengerikan dari kijang yang di hisap sampai
lenyap perlahan-lahan tadi, benar-benar luar biasa sekali.
2
Orang yang paling tabah juga akan merasa ngeri. Jauh
bedanya dengan menghadapi lawan, biarpun lawan itu kuat
bagaimanapun juga, kita dapat melawan dapat berdaya
upaya mempertahankan diri.
Sementara itu, biarpun tadinya ia memeluk tubuh Bi Li
karena terharu dan girang dalam usahanya yang berhasil
menolong gadis itu terlepas dari cengkeraman maut, setelan
pikirannya tenang kembali dan merasa betapa kepala
dengan rambut yang hitam halus dan harum itu terletak di
dadanya, ketika melihat kulit leher putih kekuningan yang
hangat itu demikian dekat dengan mukanya. Tiang Bu
teringat akan pengalaman membunuh Pek Coa malamitu.
Tiba-tiba dadanva tergetar, berdebar-debar tidak karuan,
kedua lengan yang meme luk juga menggigil dan tubuhnya
menjadi panas dingin.
Bi Li agaknya juga tersadar atau terjalar oleh rangsang
yang mulai menguasai Tiang Bu, karena ia tersentak kaget
dan tiba-tiba merenggutkan tubuhnya dari pelukan Tiang
Bu. Pemuda itu sendiri menundukkan mukanya, kedua
pipinya merah sekali dan wajahnva nampak sedih,
keningnya berkerut. Tiba-tiba tangan kanannya diangkat
dan "plakl plak !!” ditamparnya pipinya sendiri dengan
kerasnya sampai bibirnya sebelah kanan pecah dan
berdarah.
“Tiang Bu, kau kenapakah ?!" Bi Li bertanya, terheranheran
dan lupa akan perasaan malu dan jengah yang tadi
membuat ia merenggutkan tubuhnya dan menjauhi pemuda
itu.
"Aku seorang jahat.... aku telah menggunakan
kesempatan selagi kau terharu untuk ...... untuk
memelukmu. Sebenarnya tidak boleh ....... aku memang
amat jabat. Bi Li....... !”
Bi Li melangkah maju, sepasang matanya kini bersinar
dan wajahnya barseri. Dipegangnya kedua tangan Tiang Bu
dan ia berkata, "Tidak, Tiang Bu. Kau seorang yang baik
3
sekali, amat baik aku berterima kasih kepadamu. Kalau saja
kau tidak capat mendapatkan akal dengan bambu-bambu
itu, aahh ......” Bi Li melepaskan kedua tangan Tiang Bu dan
menengok memandang ke arah rawa lumpur itu dan
bergidik.
Sikap dan kata-kata gadis ini mengusir kesedihan Tiang
Bu yang tadi merasa betapa kembali ia dikuasai oleh
rangsang yang jahat dan berbahaya, yang timbul dari dalam
tubuhnya. Rangsang yang amat kuat dan kalau kurang
waspada, akan dapat manguasai seluruh hati dan
pikirannya. akan melumpuhkan pertimbangannya dan
melenyapkan sifat kegagahannya seperti dulu dengan Cui
Lin dan Cui Kim. Karena itulah ia bersedih. Akan tetapi
kata-kala Bi Li menghiburnya, dan pula bukankah tadi
iapun belum dikuasai benar-benar dan masih ingat,
buktinya ia masih dapat merasa bersedih dan marah kepada
diri sendiri?
“Bi Li, kita harus mencari air untuk mencuci lumpurlumpur
ini. Lihat. pakaianmu sudah tidak karuan
macamnya, kotor semua.”
Bi Li memandang. “Apa kau juga bersih? Lihat saja,
lumpur sudah mengotori muka dan rambutmu," Gadis ini
tertawa geli, agaknya baru sekarang ia melihat betapa pipi
dan kepala pemuda itu penuh lumpur hitam.
Dengan gembira kembali dua orang muda ini berlari-lari
menjauhi rawa itu dan mncari air. Untuk ini mudah saja.
karena Sungai Luan-ho mangalir dekat saja dan mereka
segera turun ke dalamsungai. Bi Li berganti pakaian kering
dari buntalan yang tadi digendongnya. Akan tetapi Tiang Bu
yang tidak mempunyai bekal pakaian, terpaksa, hanya
mencuci bagian yang terkena lumpur dan masih terus
memakainya. Tentu saja mereka mencuci pakaian di tempat
terpisah yang tidak kelihatan dari tempat masing-masing.
Tak lama kemudian mereka sudah melanjutkan
perjalanan, menjelajah daerah pegunungan itu, mencari-cari
4
di mana Hutan Bambu Kuning. Biarpun Tiang Bu sudah
menyelidiki dan mendengar bahwa tempat tanggal Liok Kong
Ji berada di sekitar tempat ini, namun ia sendiri belum
pernah mendatangi tempat ini dan belum tahu di mana
sebetulnya letak Hutan Bambu Kuning yang menjadi sarang
Liok Kong Ji. Mereka berputaran sampai beberapa hari di
tempat ini, naik turun gunung. masuk keluar hutan hutan
besar. namun belum juga mereka melihat Hutan Bambu
Kuning.
Bi Li sudah mulai hilang sabar ketika pada hari ke tujuh,
pada pagi hari selagi dua orang muda ini berada di sebuah
daerah berbatu karang, tiba-tiba mereka mendengar suara
orang. Suara ini adalah suara laki laki dan wanita yang
agaknya bertengkar, karena suara mereka keras dan
terdengar marab-marah. Bi Li dan Tiang Bu menuju ke
tempat itu, dan dari balik pohon-pobon dan batu karang
mereka mengintai.
Bi Li melihat seorang pemuda tampan berhadapan
dengan dua orang gadis cantik. Melihat pemuda itu,
teringatlah Bi Li bahwa itulah pemuda yang dulu ikut
menyerbu ke kota raja, pemuda yang tadinya datang
bersama tosu kaki buntung sebagai utusan Kaisar Mongol,
pemuda lihai yang pernah ia keroyok dengan Wan Sun
dahulu di tepi Sungai Hoan ho, pemuda kurang ajar dan
ceriwis, Liok Cui Kong. Akan tetapi dua orang gadis cantik
itu belum pernah dilihatnya. Tidak demikian dengan Tiang
Bu. Begitu melihat dua orang gadis itu, wajahnya berubah
sebentar pucat sebentar merah, matanya menyinarkan
cahaya aneh, seperti marah dan malu. Ini tidak
mengherankan oleh karena dua orang gadis itu bukan lain
adalah Cui Lin den Cui Kim! Dua orang kakak beradik ini
masih secantik dulu, tahi lalat kecil di dagu Cui Lin masih
amat manis menarik hati, sepasang mata yang genit dan
berbentuk indah itu masih membuat Cui Kimseorang gadis
cantik yang jarang ada keduanya. Akan tetapi kecantikan
mereka sekarang menjadi racun bagi mata Tiang Bu,
5
bagaikan duri menusuk hatinya, membangkitkan marah dan
sakit hatinya. Akan tetapi ia tidak mau rahasianya diketahui
Bi Li dan ia dapat mengendalikan perasaannya dan tinggal
diam, mengintai di samping Bi Li. Ular-ular yang berada di
dalam saku baju Bi Li mulai keluar, tanda bahwa gadis itu
bersiap-siap manghadapi pertempuran. Dua orang muda ini
masih tidak mau bergerak lebih dulu, hanya mendengarkan
pertengkaran antara Cui Kong dan dua orang gadis itu.
"Kalian masih kukuh tidak mau memberikan katak itu
kepadaku?" Cui Kong berkata marah. "Kalian ini orang-orang
perempuan sungguh tak tahu malu. Untuk apa kalian
menyimpan katak itu? Binatang ajaib itu hanya untuk lakilaki,
tidak ada artinya kalian membawanya. Lekas berikan
kepadaku !"
"Kong ko, bukan kami yang tidak tahu malu, sebaliknya
engkau yang keterlaluan," bantah Cui Lin berani. “Binatang
ajaib katak pembangkit asmara ini kami dapatkan dari Tiang
Bu dan kami simpan sebagai kenang-kenangan. Kami yang
berhak memilikinya, setidaknya menjadi hadiah kami
sebagai balas jasa kami ketika kita merobohkan Tiang Bu.
Mengapa kau mau memaksa kami minta katak ini? Aku tahu
kau hendak main gila, kau akan menjadi makin binal dan
mata keranjang. Sudah cukup kau menyakiti hati kami !"
“Setan! Kau bilang apa? Cui Lin, kau dan adikmu ini
menjadi berbeda benar sikap kalian setelah menjadi kekasihkekasih
Tiang Bu. Agaknya kalian sudah jatuh cinta benarboner
kepadanya, he? Cinta kepada monyet busuk itu,
bukan ? Ha-ha ha, sungguh menggelikan !”
"Cui Kong, kau bicara apa !?" Cui Kim membentak marah
sampai lupa menyebut Cui Kong dengan kakak. “Jangan
terlalu menghina kami !”
"Cui Kim, di mana kesopananmu ?! Aku adalah
kakakmu, lupakah kau? Atau kau sudah tidak mau
mengaku aku sebagai kakakmu lagi ?" bentak Cui Kong
marah.
6
"Kakakmacam apa kau ini ?!" Cui Kim berkata dengan
nada mengejek. `Mana di dunia ini ada kakak yang
memperlakukan kami seperti yang kaulakukan? Kami!
menurut saja karena kami memang bukan adik-adik
kandungmu, kita masing-masing adalah orang lain, dan
kami melayani segala kehendakmu membantu dalam segala
hal yang kaulakukan. Attie tetapi mana terima kasihmu ?
Sekarangmalah hendak merampas barang yang menjadi hak
milik kami. Cuh, tak tahu malu !”
"Bedebah !" Cui Kong memukul dada Cui Kim. Gadis ini
mengelak cepat, akan tetapi sebuah tendangan mengenai
perutnya, membuat ia terlempar dan roboh. Sambil meringis
kesakitan Cui Kim duduk dan menekan perutnya yang
tertendang.
"Cui Kong, kau terlalu sekali !” seru Cui Lin marah.
"Untuk kepentinganmu kami sering kali berkorban. Untuk
kemenanganmu dan membalasmu kami sampai rela menjadi
kekasih Tiang Bu. Sampai sebulan lebih, rela meterima
hinaan dari padanya. Sekararg kau bertindak sewenangwenang
melukai adikku. Kau dan kami sama-saina anak
angkat dari ayah, adakah apa kau bersikap sebagai atasan
kami ?”
Cui Kong tertawa mengejek. "Hak tingkat kepandaian,
bodoh ! Pula, jangan kira ayah akan terlalu membela kalian
kalau kalian tidak menurut perintahku. Ayah masih belum
tahu bahwa anak-anak angkatnya yang manis-manis, caloncalon
penghiburnya yang dirawat sejak kecil sampai menjadi
gadis-gadis jelita, ternyata telah menjadi kekasih Tiang Bu.
Ha ha ha...... !"
Pada saat itu, sebelum dua orang yang sodah siap
bertempur ini saling se rang, terdengar seruan orang dan dari
balik gunung batu karang muncul dua orang, satu dari
kanan kedua dari kiri.
"Hayaa, kami mencari kalian di mana……!" teriak seorang
di antara mereka. Melihat kedatangan dua orang ini,
7
otomatis Cui Kong dan Cui Lin merubah sikap menjadi biasa
tidak seperti orarg mau be rtempur. Bahkan Cui Kim sudah
berdiri lagi menahan sakit.
Sementara itu, mendengar percakapan itu, muka Bi Li
juga berubah merah sekali. Ia merasa muak mendengar isi
percakapan yang kotor itu, dan beberapa kali ia mengerling
ke arah Tiang Bu, bibirnya yang manis ditarik sedemikian
rupa untuk mengejek pemuda itu.
“Aha, kiranya kau mempunyai banyak kekasih ! Sekali
bertemu saja sudah ada dua orang. Mengapa kau tidak lekas
keluar menemui dua orang kekasihmu itu ?” katanya
perlahan.
"Ssstt!, diamlah, Bi Li." kata Tiang sambil menyentuh
tangin gadis itu, akan te tapi Bi Li menarik tangannya sambil
be rkata ketus.
"Jangan pegang tanganku !"
Tiang Bu kaget dan khawatir. Belum pernah gadis itu
bersikap segalak ini, dan agaknya seperti orang marahmarah.
Heran ! Akan tetapi ia tidak berkata-kata lagi,
sebaliknya memperhatikan ke depan seperti Bi Li yang juga
sudah memandang ke depan penuh perhatian.
Yang baru datang adalah seorang laki-laki tinggi besar
bermuka hitam, kelihatannya kuat sekali, usianya setara
empat puluh tahun. Orang ke dua sebaliknya adalah seorang
yang kecil pendek, mukanya kuning pucat seperti
berpenyakitan. Akan tetapi baik Bi Li maupun Tiang Bu
maklum bahwa orang berpenyakitan ini adalah se orang ahli
lweekeh yang tak boleh dipandang ringan.
”Liok-kongcu, kau membuat beberapa orang kawan sibuk
mencarimu ke sana ke mari. Tidak tahunya sedang
bersenang-senang dengan jiwi siocia ini di sini," kata si
muka hitam.
8
”Jiwi-siokhu (kedua paman) menyusul ke sini ada
keperluan apakah gerangan ?” tanya Cui Kong,
menyembunyikan kemendongkolannya.
"Kami disuruh menyusulmu karena ayahmu yang mulia
bendak membicarakan urusan penting denganmu. Agaknya
Ui-tiok-lim akan kedatangan tamu tamu penting."
Mendengar bahwa ia dipanggil ayahnya, Cui Kong tidak
berani membantah. Setelah melempar karling penuh
ancaman kepada Cui Lin, ia lalu menyatakan baik dan
be rlari cepat meninggalkan tempat itu, berlari ke balik
Pegunungan Batu Karang Putih. Si muka hitam juga lari di
belakang Cui Kong. Akan tetapi orang yang kurus kering dan
pucat itu tersenyum-senyum di depan Cui Lin lalu berkata.
"Nona tadi agaknya ribut mulut dengan Liok kongcu. Di
antara saudara ribut-ribut ada urusan apakah. Aku adalah
saudara angkat Liok-taihiap, aku akan merasa girang sekali
kalau dapat mendamaikan urusan kalian."
Mendengar ini, dua orang gadis itu diam-diam memuji
akan kelihaian si muka pucat ini. Juga Tiang Bu diam-diam
kaget karena hal itu saja membuktikan bahwa si muka
pucat ini benar-benar lihai.
"Ah, Cong-susiok agaknya main-main. Di antara saudara
serdiri, mana kami bertengkar! Hanya sedikit ribut mulut
urusan kecil," kata Cui Lin.
Si muka pucat she Cong itu tertawa bergelak, suaranya
tinggi kecil mengiris telinga rasanya, "Ha ha,ha-ha, nona.
Aku terhitung pamanmu sendiri. mengapa hendak
membohong? Kulihat adikmu ini menderita luka dalam
akibat tendangan, apakah ketika menendang Liok-kongcu
juga main-main ? Lebih baik lekas minumobat ini, agar luka
itu tidak menjalar makin hebat? Setelah berkata demikian, ia
melemparkan sebutir pel merah kepada Cui Kim yang
menerimanya lalu menelannya.
9
"Teriima kasih, Cong-sustok. Kau baik sekali. Memang
saudaraku Cui Kong itu keterlaluan." kata Cui Kim, "Coba
saja pikir, kami merampas sebuah benda dari musuh kami
dan benda itu sudah menjadi hak milik kami. Masa Kong-ko
datang-datang hendak merampasnya dari kami? Mena ada
aturan demikian?”
"Memang tidak ada aturan seperti itu, apalagi kalau
benda itu sebuah pusaka seperti katak pembangkit asmara."
kata si pucat yang bernama Cong Lung itu.
”Bagaimana kau bisa tahu, Cong-susiok?” Cui Lin
bertanya kaget, juga Cui Kim memandang dengan heran.
"Tentusaja aku tahu. Juga aku tahu bahwa katak di
tanganmu itu tidak ada gunanya bagimu, sebaliknya katak
yang berada di tanganku juga tidak ada gunanya bagiku.
Kaiau kita bertukar katak, barulah ada gunanya."
“ ..... Apa maksudmu, Cong-susiok?" tanya Cui Lie.
"Kalian mendapatkan katak betina yang tidak ada
gunanya bagi orang-orang wanita. sebaliknya aku
mendapatkan katak jantan yang sama sekali tidak ada
artinya dan tidak lebih baik dan pada katakmampus bagi
orang laki-laki. Sebaliknya kalau kita bertukar katak,
barulah dua benda ajaib itu akau banyak gunanya bagi
kita." Ia tertawa menyeringai.
"Bagaimana kami bisa mempercayai omonganmu, Congsusiok.
»
“Bukankah katakmu itu berwarna hijau ? Katakku
berwarna merah dan kalau kalian mau buktinya, mari kita
keluarkan katak masing-mas ing." Sambil berkata demikian,
Cong Lungmengeluarkan sebuah kotak yang sama dengan
katak yang dibawa oleh Cui Lin. Ia membuka sedikit kotak
itu dan terdengarlah bunyi nyaring tinggi. ”Kok ! Kok I Kok !"
Pada s aat itu, Cui Lin mengeluarkan seruan kaget karena
kotak di dalamsaku bajunya bergerak. Cepat ia
10
mengeluarkan kotak itu dan membuka sedikit tutupnya.
"Kok- kok-kok !” terdengar suara keras dan besar dari dalam
kotak itu dan tutup kotak bergerak-gerak karena binatang
itu meronta-ronta.
"Nan, mereka sudah saling mengenal suara. Bagaimana
maukah kau bertukar, nona? Aku bersumpan bahwa aku
tidak menipumu."
Cui Lin yang memang tidak mendapat untung apa-apa
dari katak hijau yang ia rampas dari Tiang Bu, segera
menukarkan kotak berisi binatang aneh itu. Dan belumlama
begitu ia memegangi kotak berisi katak jantan, tiba-tiba
mukanya be rubah merah dan tak lama kemudian ia tertawa
cekikikan sambil meme luk adiknya dan membisikkan
sesuatu di telinga adiknya. Juga Cui Kin tertawa cekikikan.
Agaknya dua orang gadis bermoral bejat ini sudah mulai
merasai pengaruh dari katak ajaib itu yang membuat mereka
terkekeh sambi l berpelukan mereka hendak lari pergi dari
situ, akan tetapi Con Lun berkata.
"Nanti dulu, nona-nona manis . Ceritakan dari mana
mendapatkan katak ini ?"
"Dari dalam saku orang bernama Tiang Bu musuh kami.
Karena dia membawa katak itulah kami dapat me robohkan
dia, dan kami merampas kataknya setelah itu tak berdaya
lagi," jawab Cui Kim yang tertawa-tawa genit dengan mata
liar dan pipi kemerahan. Kemudian dia dan kakaknya
berlari-larian pergi, kelihatannya girang sekali.
“Perempuan cabul jangan lari ......!” Tiba-tiba Bi Li
melompat keluar dengan marah. Sekarang tahulah Bi Li
bahwa Tiang Bu roboh di bawah kekuasaan dua orang
wanita itu karena pangaruh katak ajaib. Hal ini
menimbulkan kemarahan yang luar biasa padanya, maka
tanpa menanti isyarat dari Tiang Bu lagi ia sudah melompat
ke luar dan beberapa kali lompatan sudah berhadapan
dengan Cui Lin dan Cui Kim yang berhenti dan membalikkan
tubuh dengan heran. Dua orang gadis ini terheran-heran
11
melihat Tiang Bu yang mereka sangka sudah tewas. Cui
Kong tidak pernah bercerita tertang Tiang Bu kepada
siapapun juga, karena pemuda itu tentu saja malu bahwa
dirinya dibikin seperti bola mati oleh Tiang Bu. Akan tetapi,
ketika melihat Bi Li menyerang dengan ular di tangan kiri
dan pedang di tangan kanan, Cui Lin dan Cui Kim kaget.
Cepat merekapun mencabut pedang dan sebentar saja
mereka bertempur ramai.
Melihat Bi Li sudah turun tangan, Tiang Bu terpaksa
melompat ke luar pula. Ia memang ingin menawan seorang
di antara mereka untuk menjadi penunjuk jalan. Ia tidak
mengkhawatirkan Bi Li yang kiranya cukup tangguh untuk
menghadapi pengeroyoknya dua orang gadis cabul itu maka
ia segera menghampiri Cong Lun dengan tenang.
Sementara Cong Lun yang melihat munculnya seorang
gadis cantik jelita bersenjata ular dan nampak gagah sekali
kini sudah bertempur dikeroyok oleh Cui Lin dan Cui Kim,
maklum bahwa inilah agaknya dua di antara tamu-tamu
penting" yang dikatakan oleh Liok Kong Ji yaitu musuhmusuh
yang datangmenyerbu Ui-tiok lim yang harus
dilawan. Maka melihat munculnya seorang pemuda tangan
kosong bersikap tenang, tanpa banyak cakap lagi ia lalu
memapaki dengan tangan kanan diulur untuk menangkap
Tiang Bu. Justeru pada saat itu, Tiang Bu juga mengulur
tangan untuk menangkapnya. Dua tangan bertemu, dua
tangan yang dibentangkan sehingga telapak tangan kanan
mereka saling bertumbukan.
“Plakk……” Tiang Bu merasa betapa ada semacam tenaga
mesedot yang luar biasa sekali keluar dari telapak tangan
lawan dan menjalar ke dalamtangannya sendiri membuat
tangannya terasa pegal -pegal dan kaku. Ia kagum bukan
main, tidak mengira bahwa lawannya memiliki tenaga
kweekang setinggi itu, maka tadi ia tidak mengerahkan
seluruh tenaga karena ia memang tidak berniat membunuh
orang.
12
Baiknya pemuda ini sudah melatih diri secara hebat
sekali di dalam gua yang ia sebut sendiri Gua Siluman di
dalam jurang di daerah lembah Sungai Huang-ho itu. Ia
telah mempelajari semua isi kitab Seng thian-to yang luar
biasa sekali, ilmu keturunan yang hanya menjadi rahasia,
diturunkan oleh Tat Mo Couwsu sendiri dan hanya dua
orang kakek Omei-san yang pernah me lihat dan
mempelajarinya. Bedanya kalau kakek 0mei-san itu terlalu
banyak mempelujari ilmu silat dari kitab kitab itu, adalah
Tiang Bu dapat mempelajari Song-thian-to secara khusus
karena karena terkurung dalam jurang, maka kalau
dibandingkan dengan dua orang gurunya itu. Tiang Bu lebih
sempurna ilmunya yang ia pelajari dari kitab Song-thiau-to.
Hasilnya, ia memiliki sinkang yang luar biaya sekali, bahkan
lebih hebat dari pada ketika ia mewarisi sin-kang dari dua
orang gurunya, kemudian tenaga atau hawa sakti dalam
tubuhnya itu lenyap ke tika ia tergoda oleh Cui Lin dan Cui
Kim.
Begiitu merasa ada tenaga menyedot luar biasa dari
telapak tangan lawannya, Tiang Bu mengerahkan sedikit
tenaga membetot dan dengan mudah saja ia dapat menarik
kembali tangannya. Cong Lung yang mendapat julukan Bankin
liong (Naga Bertenaga Selaksa Kati) di daerah utara
mengeluarkan se ruan kaget. Ia sudah terkenal akan
tenaganya yang hebat luar biasa sehingga diumpamakan
seekor naga yang bertenaga selaksa kati. Se tiap pukulannya
akan menghancurkan batu karang, tiap kali tangannya
menggunakan tenaga menyedot, tak seorangpun di dunia ini
dapat me lepaskan diri dengan mudah. Akan tetapi bocah ini,
yang kelihatannya sederhana dan masih hijau, setelah kena
ditempel telapak tangannya, sekali be tot sudah terlepas !
Apakah dia sudah kehilangan tenaganya ataukah bocah ini
yang menggunakan ilmu sihir? Dengan malu dan penasaran
sekali Cong Lung menyerang lagi, kini mengerahkan se luruh
Iweekangnya memberondong dada Tiang Bu dengan pukulan
tangan kanan kiri. Untuk menebus malu tadi Si Naga
13
Bertenaga Selaksa Kati ini rupa-rupanya hendak membunuh
Tiung Bu dalam sekali serangan. Akan tetapi, justeru inilah
kesalahannya, kalau ia mempergunakan ilmu serangan
biasa, dengan ilmu silatnya yang tinggi kiranya mereka
berdua masih akan dapat bertempur ramai untuk beberapa
babak lamanya. Celakanya, dia mengandalkan lweekangnya,
tidak tahu bahwa dalam hal ilmu ini menghadapi Tiang Bu
ia sama dengan berjumpa gurunya! Serangannya yang hebat
dan dilakukan dengan maksud membunuh ini memukul
dirinya sendiri. Tiang Bu menghadapi pukulan dahsyat ini
dengan tenang, hanya melakukan gerakan mendorong
dengan tangan kirinya ke depan untuk menghadapi
gelombang serangan dahsyat itu.
Ketika dua tenaga raksasa ini bertemu tubuh Tiang Bu
hanya bergerak sedikit ke belakang, akan tetapi yang hebat
adalah Cong Lung. Ia menjerit kesakitan, tubuhnya
terjengkang ke belakang dan jatuh telentang tak bergerak
lagi, pingsan. Dari mulutnya keluar darah segar. Masih
untung baginya bahwa Tiang Bu tadi tidak mengerahkan
tenaga untuk menyerangnya, hanya melakukan pertahanan
saja sehingga tenaga serangannya membalik dan
memukulnya sendiri. Kalau tenaga yang membalik ini
ditambah oleh tenaga serangan Tiang Bu sedikit saja, Cong
Lung tidak hanya akan roboh pingsan, akan tetapi tentu
akan mati seketika itu juga.
Sementara Cui Lin dan Cui Kim yang sedang mengeroyok
Bi Li merasa kewalahan juga. Gadis yang baru datang ini
lihai bukan main ilmu pedangnya, terutama sekali ular di
tangan kirinya itu merupakan senjata yang amat berbahaya
dan sukar dilawan. Tadinya dua orang gadis ini masih bes ar
hati karena di situ ada Cong Lung, akan tetapi ketika
melihat bahwa Cong Lung roboh pingsan, mereka kaget
bukan main dan cepat melompat ke belakang terus
melarikan diri.
14
"Siluman-s iluman betina hendak lari kemana ?” Bi Li
membentak sambil mengejar dua orang lawannya yang
melarikan diri ke arah batu karang putih ke mana tadi Cui
Kong, juga pergi. Sambil mengejar, B Li menggerakkan
tangan dan beberapa buah senjata rahasia pat-kwa-ci
menyambar ke arah dua oran gadis yang melarikan diri itu.
Senjata rahasi yang dipergunakan oleh Bi Li ini adalah
senjata rahasia Ang-jiu Mo-li, hebatnya buka main. Biarpun
Cui Lin dan Cui Kim sudah memiliki kepandaian tinggi juga,
namun mereika terpaksa membalikkan tubuh dan
menggunakan pedang menyampok semua senjata rahasia
ini, tidak berani mereka berlaku semberono. Sementara
mereka membalik ini Bi Li sudah dekat lagi dan langsung
menyerang. Akan tetapi Cui Lin dan Cui Kim tidak mau
melayaninya, setelah sekali menangkis, mereka kembali lari,
Bi Li hendak melepas senjata rahasia lagi akan tetapi dua
orang lawannya sudah melompat ke belakang batu karang
dan terus lari sehingga untuk sesaat gunung batu karang
menjadi penghalang baginya.
“Bi Li, jangan kejar ...........!” seru Tiang Bu, tahu bahwa
Bi Li bukanlah serang gadis yang mudah tunduk menurut,
ia melompat mencegat. Dapat dibayangkan betapa
mendongkol hati Bi Li ketika tahu tangannya dipegang dan
ditarik dari belakang oleh Tiang Bu.
"Kau ..... kau begitu sayang kepada mereka sehingga
tidak ingin melihat aku membunuh mereka? Kau membela
kekasih-kekasihmu itu ...... ?” bentaknya marah sambit
membanting-banting kaki karena ia tidak berdaya
melepaskan pegangan tangan Tiang Bu.
"Bi Li, kau selalu salah mengerti. Dua orang wanita itu
amat eurang dan licin kau harus ingat bahwa agaknya kita
sudah s ampai di daerah Ui-tiok-lim, siapa tahu mereka itu
sengaja memancingmu untuk mangejar kemudian
menjebakmu! Pula, aku sudah berhasil menangkap yang
seorang itu dia bisa menjadi penunjuk jalan ke Ui tiok-lim.
15
Mendengar ini, dan melihat bahwa dua orang gadis tadi
sudah lenyap dari situ, Bi Li mengalah. Akan tetapi pandang
matanya kepada Tiang Bu masih membayangkao ke-tidak
senangan hatinya. Tiang Bu merasa hal ini ia tahu pula
bahwa tentu gadis ini memandang rendah kepadanya setelah
mendengar percakapan antara Cui Lin, Cui Kimdan Cong
Lung tadi.
Bi Li menghampiri Cong Lung yang masih pingsan. Ia
metihat saku baju orang itu dan teringatlah ia akan katak
ajaib yang berada di dalam peti. Tanpa banyak cakap lalu
mengambil peti kecil itu dari dalam saku baju Cong Lung.
"Bi Li, jangan ...... sentuh binatang itu!” Tiang Bu berseru
dan mengulur tangan hendak merampasnya.
Bi Li mengelak dan mengejek, matanya bersinar marah.
"Manusia rendah kau hendak merampasnya dan mengulangi
perbuatan rendah seperti dulu dengan dua orang pelacur
tadi?"
Tiang Bu tersentak kaget. Sungguh diluar dugaannya
gadis ini akan begitu marah. Benar-benar sukar dimengerti
watak wanira. "Tidak, Bi Li. Aku....... aku hendak
membunuh binatang berbahaya itu!”
"Bukan kau, akan tetapi aku yang akan membunuhnya.
Binatang menyebalkan, menjijikkan!" Dengan gemas ia
membuka peti kecil itu dan...... katak hijau itu melompat ke
luar cepat bukan main dan di lain saat ular di lengan Bi Li
sudah putus lehernya tergigit oleh kaiak itu! Anehnya, tiga
ekor ular lain yang tadinya bersembunyi di saku baju Bi Li,
kini meruyap ke luar semua, nampak ketakukan dan hendak
melarikan diri. Akan te tapi, cepat seperti bersuyap, katak itu
sudah melayang lagi dan dalam sekejap mata saja, dua ekor
ular lain sudah putus lehernya dan mati . Tinggal seekor lagi
ular kecil bersisik putih yang dengan ketakutan mencoba
bersembunyi di balik lipatan baju Bi Li. Katak hijau itu
mengejar terus dengan buasnya. Melihat ketiga ekor ularnya
16
mati digigit katak yang dibencinya ini, Bi Li menjadi makin
marah.
“Katak siluman mampuslah !” Tangannya mencengkeram
ke arah katak, akan tetapi katak itu bukan main cepat
gerakannya karena sudah dapat mengelak lagi melompat ke
bawah dan cepat menyambar ke belakang tubuh Bi Li untuk
mengejar ular bersembunyi di balik punggung. Dengan
mulut terpentang lebar katak itu menyerang dari luar baju,
tercium olehnya agaknya bau ular yang bersembunyi di balik
pungung. Sebelum Bi Li dapat mengelak, katak itu ternyata
sudah menempel di punggungnya, menggigit kulit daging
punggungnya dan tidak dapat teelepas lagi. Bi Li menjerit
dan roboh terguling, pingsan. Te rnyata bahwa ketika katak
itu menyambar ke arah ular yang bersembunyi di balik
bajunya, katak ini mencium bau harum luar biasa yang
sumbernya berada di punggung Bi Li, maka mengira kalau
ular tadi berada di situ, ia lalu menggigit sekuat tenaga.
Akan tetapi, begitu menggigit, katak itu bertemu dengan
racun yang dulu dipasang oleh Tee-tok Kwan Kok Sun di
bawah kulit punggung anaknya ini dan gigitan itu tak dapat
terlepas lagi karena katak ajaib ini telah tewas. Di lain fihak,
racun yang keluar dari mulut kataksudah menjalar ke
tubuh Bi Li, bertemu dengan racun penarik ular, terjadi
perang hebat menimbulkan hawa panas membakar tubuh
gadis itu sehingga Bi Li roboh pingsan.
Tiang Bu kaget dan cepat mameluk tubuh gadis itu
sehingga tidak terbanting. Ia lebih kaget lagi merasa betapa
tubuh itu panas membakar. Pertama-tama in melihat katak
itu yang ternyata sudah mati akan tetapi masih lengket pada
punggung Bi Li. Dan ular itu sudah bersembunyi di tempat
aman, di dalam lipatan baju. Tiang Bu menjadi bingung.
Biarpan sudah pernah mempelajari ilmu pengobatal dari
Wan Sin Hong tentang luka-luka dan akibat racun, namun
belumpernah ia mendengar tentang racun katak hijau,
katak pembangkit asmara! Malah baru sekarang ia tahu
bahwa ”gilanya" dia dulu ketika ia tergoda oleh Cui Lin dan
17
Cui Kim juga karena hawa beracun dari katak hijau ini.
Berita yang ia dengar dari percakapan tadi tentang khasiat
katak hijau terhadap pria, membuat ia terhibur sedikit.
Setidaknya ia mempunyai alasan kini mengapa ia dahulu
sampai melakukan pe rbuatan rendah itu. Kiranya ia berada
di bawah pengaruh katak pembangkit asmara.
Tiang Bu tidak berani sembarangan mempergunakan
obat-obatnya untuk menolong Bi Li sebelum ia tahu betul
obat apa yang harus diberikannya. Ia menarik bangkai katak
itu, tanpa ragu-ragu lagi merobek baju Bi Li bagian
punggung setelah miringkan tubuh gadis itu. Tampak kulit
punggung yang putih halus dan bekas gigitan katak itu
meninggalkan bekas kehijauan. Anehnya, ia melihat bintik
merah di punggung itu. bintik yang agaknya sudah lama ada
dan yang mengeluarkan bau harum ke ras sekali. Kini bintik
merah itu dilingkari bekas gigitan katak yang berwarna
hijau. Tiang Bu mengambil pedang Bi Li yang terlempar di
atas tanah menggunakan ujung pedang untuk melukai
sedikit pada punggung Bi Li dan melihat darah yang keluar
diri luka. Darah yang keracunan selalu mendatangkan
warna yang akan dapat memastikan obatnya. Keluarlah
darah merah segar dari luka itu, darah merah biasa seperti
darah orang sehat. Aneh sekali, pikir Tiang Bu. Saking
penasaran ia menusuk lagi di dekat luka gigttan katak itu.
Kembali mengal ir darah merah segar, sama sekali tidak ada
tanda-tanda racun. Tiang Bu menjadi makin bingung. Hanya
dengan melihat warna darah orang yang tergigit binatang
berbisa, ia akan dapat menentukan obat yang mana harus ia
pakai. Akan tetapi darah Bi Li ternyata darah sehat yang
sama sekali tidak memperlihatkau tanda keracunan.
Tiang Bu mengeluarkan buku catatannya tentang
pengobatan ketika ia belajar dari Wan Sin Hong. ia membaca
dan membalik-balik lembaran catatannya itu namun sia-sta
belaka. Dia masih terlalu hijau dalam hal ini. Kalau Wan Sin
Hong berada di situ pendekar ini akan tahu sebabnya dan
akan tertawa, karena sesungguhnya, racun dari katak hijau
18
itu lenyap kekuatannya oleh racun me rah yang berada di
tubuh Bi Li, racun merah yang dahulu dimasukkan ke
punggungnya oleh Tee-tok Kwan Kok Sun. Racun merah
inilah yang mengeluarkan bau harum dan yang menarik
semua ular-ular berbisa yang segera menjadi j inak kalau
berdekatan dengan Bi Li. Kini dua macam racun itu saling
serang dan kedua-duanya menjadi habis kekuatannya.
Perlahan-lahan dan racun yang bertawanan itu menjadi
musnah lenyap di dalam darah yang segar, yang mempunyai
daya sendiri untuk melebur dua macam racun yang sudah
tidak ada gunanya itu. Racun katak lenyap juga racun
merah yang menimbulkan bau harum itu musnah. Bau
harum dari tubuh Bi Li makin lama makin menghilang dan
ia menjadi seorang menusia biasa lagi.
Karena kehabisan akal dan tidak tahu harus
mempergunakan obat apa, Tiang Bu hanya bisa mengambil
obat tempel untuk mengobati luka-luka bekas gigitan katak
dan bekas tusukan ujung pedang, ditempelkau di punggung
gadis itu. Kemudian ia membereskan lagi baju di bagian
punggung yang trrbuka dan mengangkat Bi Li ke tempat
bersih, di atas rumput yang tumbuh di bawah pobon. Baru
saja ia menurunkan Bi Li di atas rumput, gadis itu siuman,
mengeluh perlahan, disambung seruan yang menyenangkan
hati Tiang Bu.
•Aduh nyamannya....... .....!” Ketika pemuda itu meraba
jidat Bi Li, ternyata hawa panas tadi sudah hilang dan
keadaan Bi Li sudah normal kembali. Gadis itu bangkit
duduk dan teringatkah dia akan katak hijau yang
menyerangnya tadi.
“Mana binatang itu ?” katanya gemas.
“Dia sudah mati sete lah menggigit punggungmu. syukur
kau tidak apa-apa,” kata Tiang Bu yang menceritakan
dengan singkat kejadian tadi. Bi Li menyesal bukan main
kehilangan tiga ekor ularnya. Kini ia hanya tinggal
mempunyai seekor ular kecil bersisik putih itu, akan tetapi
19
ular ini cukup berbahaya. Ia sendiri masih belum insyaf
bahwa sekarang pengaruhnya terhadap ular telah lenyap,
bau harum yang aneh itu telah meninggalkan tubuhnya.
Ular kecil putih yang tinggal satu satunya itu masih jinak
kepadanya karena sudah lama ia pelihara.
Terdengar keluhan orang dan Cong Lung bergerak lalu
duduk sambil meringis kesakitan.
“Kau benar-benar orang lihai, orang muda,” katanya
sambil memandang ke arah Tiang Bu dengan kagum,
"Kau sudah mengaku kalah?" desak Tiang Bu.
Cong Lung mengangguk. "Belum pernah aku bertemu
dengan lawan seperti engkau akan tetapi kalau lukaku
sudah sembuh, aku masih ingin minta petunjuk darimu
dalam ilmu silat. Sispakah namamu ?”
"Namaku Tiang Bu dan kalau kau sudah mengaku kalah,
sekarang kau harus menjadi petunjuk jalan kami memaauki
Ui-tok-lim.
Mendengar nama itu, Cong Lung agak terkejut. “Kau
bernama Tiang Bu ? Aku pernah mendengar tentang Putera
Liok-taihiap yang bernama Tiang Bu .....”
”Bukan aku ! Aku musuh besar Liok Kong Ji. Bawa aku
ke sana."
Tiba-tiba Cong Lung bergelak, kelihatannya geli.
“Kau....... ? Kau hendak memasuki Ui-tiok-lim untuk
mencari Liok-taihiap? Benar-benar sukar dipercaya. Akan
tetapi kalau demikian kehendakmu, marilah kuantar kalian
ke Ui tiok-lim!” Ia melompat berdiri dan tiba-tiba ia merabaraba
saku bajunya, keningnya berkerut.
“Katak hijau yang kotor itu telah mampus, tak porlu
kaucari lagi,” kata Tiang Bu s ambil menunjuk ke arah
bangkai katak yang sudah kering.
Cong Lung menarik napas panjang berulang-ulang,
kelihatannya menyesal bukan main. Ia mengerling ke arah
20
wajah Bi Li yang amat jelita itu, lalu berkata, "Sayang....... !"
Akan tetapi ia segera berjalan cepat dan berkata, “Marilah !"
Dengan hati-hati sekali Tiang Bu mengikutinya, memberi
isyarat kepada Bi Li untuk berjalan di belakangnya. Gadis
itupun bersiap-siap; berjalan di belakang Tiang Bu dengan
pedang di tangan kanan dan ular putih melingkar di
pergelangan tangan kiri.
Cong Lung berlarl mengitari Pegunungan Batu Karang
Putih, lalu memnbelok ke kiri menuju ke pegunungan yang
penuh dengan batu karang dan sebatang pohonpun tidak
kelihatan dari bawah. Orang yang hendak mencari Ui tiok
lim *Hutan Bambu Kuning) tidak nanti akan mengambil
jalan ini karena siapakah orangnya mau mencari sebuah
hutan di atas pegunungan yang be gitu kering penuh batu
melulu ? Inikah keistimewaan Ui-liok-lim yang amat sukar
dicari orang. Tidak saja letaknya di tempat yang tak
semestinya, yitu di atas pegunungan batu karang, akan
tetapi juga amat sukar mencari jalan di antara batu karang
itu. batu-batu yang berada di situ menjulang tinggi
menutupi pandangan sehingga orang mudah tersesat tidak
mengenal daerah ini.
Cong Lung adalah seorang di antara kaki tangan Liok
Kong Ji. Liok Kong Ji satelah mengundurkan dari bala
tentara Mongol dan berhasil mengumpulkan harta kekayaan
besar sekali dari harta rampas an di istana Kerajaan Kin dan
hadiah hadiah diri Jengis Khan, lalu hidup sebagai raja
muda di Ui tiok lim. Di tengah Rimba Bambu Kuning ini
mendirikan gedung besar seperti istana yang mempunyai
hampir seratus buah kamar. Kini Kong Ji tinggal bersama
selir-selirnya yang jumlahnya ada enam belas orang muda
muda, ayu-ayu, didampingi pula oleh tiga orang “anak
angkatnya" yaitu Liok Cui Kong, Cui Lin dan Cui Kim.
Tadinya Cui Kim juga menjadi calon selirnya akan te tapi
semenjak ia mendengar bahwa dua orang "anak” ini sudah
melayani Tiang Bu, ia tidak mau menganggu mereka. Dasar
21
manusia berwatak bejat biarpun di depan matanya ia
melihat betapa Cui Lin dan Cui Kim dua orang gadis cabul
itu bermain gila dengan “kakaknya” sendiri Cui Kong,
namun Kong Ji sengaja menutup mata. Dapat dibayangkan
betapa rusak dan bejat moral orang-orang yang tinggal di Uitiok-
lim.
Karena maklum bahwa ia mempunyai banyak musuh,
terutama sekali ia merasa jerih terhadap Wan Sin Hong,
Kong Ji telah memilih lima orang jagoan yang memiliki
kepandaian tinggi. Lima orang ini adalah kawan-kawannya
yang ia kenal di dalam perantauannya, bahkan mereka telah
pula membantu pergerakan tentara Mongol. Dengan lima
orang ini Kong Ji yang cerdik mengangkat saudara dan dia
diangkat menjadi saudara tua. Bukan karena usia,
melainkan karena kepandaiannya, kedudukannya dan
te rutama sekali karena hartabendanya. Dua di antara lima
orang “adik angkat” ini adalah si muka pucat Cong Lung ahli
lweekeh itu dan orang tinggi basar muka Imam yang muncul
bernama Cong Lung, bernama Ma It Sun. Seperti juga Cong
Lung, Ma It Sun ini adalah seorang tokoh besar di
perbatasan utara yang sudah lama malang melintang
sebagai seorang penyamun tunggal yang disegani karena
golok besarnya. Maka ia mempunyai julukan Twa-to (Si
Golok Besar). Tiga orang yang lain juga bukab orang-orang
biasa, melainkan tokoh-tokoh besar dunia kang-ouw yang
sudah terkenal memilih kepandaian tinggi. It -ci-san Kwa Lo
It Dewa Jari Tunggal adalah seorang ahl i totok dari barat,
berwajah gagah penuh brewok berusia lima puluh tahun.
Orang ke empat tak lain adatah Lee Bok Wi, seorang kate
kecil, berusia belumempat puluh tahun namun sudah
membuat nama besar karena kepandaian meneopetnya yang
luar biasa sehingga ia mendapat julukan Koai- jiu Sin-touw
(Malaikat Copet). Yang ke lima adalah seorang hwesio
murtad dari Siauw lim-si, ahlit toya bernama Hok Lun
Hosiang. Dengan adanya lima orang ini di sampingnya. Liok
Kong Ji me rasa aman. Dia dan anak-anak angkatnya sudah
22
merupakan barisan yang amat kuat dan sukar terkalahkan,
apa lagi para selirnya juga rata-rata memiliki kepandaian
silat karena ia beri latihan, lalu para pelayan yang puluhan
jumlahnya juga bukan orang-orang sembarangan. Keluarga
besar berikut kaki tangannya ini selain amat kuat, juga
mereka tinggal di Ui-tiok-lim, sebuah hutan rahasia yang
penuh jebakan- jebakan, penuh perangkap- perangkap
berbahaya juga bambu yang tumbuh di situ diatur menurut
tin ( barisan ) tertentu sehingga belum pernah ada musuh
dapat masuk. Sekali masuk, orang akan tersesat dan
menghadapi pasangan perangkap yang aneh-aneh dan
menyeramkan dan jaranglah ada orang masuk dapat keluar
kembali dalam keadaan hidup !
Akan tetapi sekarang Cong Lung te lah terjatuh ke dalam
tangau Tiang Bu, pendekar muda yang baru muncul dan
memaksanya menjadi petunjuk jalan memasuki Ui-tiok-lim.
Sudah tentu saja Cong Lung dan kawan-kawanrya dapat
memasuki Ui-tiok-lim melalui jalan satu-satunya, jalan
rahasia yang tidak diketahui orang luar. Cong Lung berlari -
lari di antara batu-batu karang yang sulit untuk dikenal
karena semua hampir sama dan jalan yang dilaluinya ini
benar benar sukar untuk diingat. Tiang Bu sendiri yang
biasanya amat cerdik, menjadi bingung ketika untuk
kesembilan kalinya Cong Lung menikung pada tikungan
yang kelihatannya sama saja dengan yang tadi, seolah-oleh
mereka menikung pada belokan yang itu-itu juga.
Cong Lung tentu tidakakan termasuk seorang diantara
"lima besar” yang sudah mendapat kehormatan diangkat
saudara oleh Liok Kong Ji kalau dia seorang bodoh. Seperti
juga Liok Kong Ji dan semua kaki tangannya, Cong Lung ini
juga selain lihai ilmu silatnya, lihai pula otaknya. Ia cerdik
sekali. Melihat kehebatan ilmu kepandaian pemuda yang
menawannya ini, ia maklumbahwa melawan takkan ada
gunanya. Oleh karena itu ia sengaja mengalah dan takluk,
lalu bersedia mangantar Tiang Bu dan Bi Li ke Ui tiok-lim.
23
Akan tetapi ini hanya pancingan belaka. Hal ini diketahui
oleh Tiang Bu sebelah terlambat.
Ketika menikung untuk kesebelas kalinya tiba-tiba Cong
Lung mendorong sebuah gunung-gunungan di sebelah
kirinya. Batu karang yang berbentuk bukit kecil itu tentu
beratnva laksaan kati, akan tetapi anehnya ketika didorong
oleh Cong Lung lalu bergeser dan terbukalah sebuah lubang
seperti sumur. Cong Lung sudah mendesak masuk dan
tubuhnya terguling ke dalam sumur di balik batu karang itu.
Terdengar ia menjerit ngeri !
Tentu saja Tiang Bu dan Bi Li kaget bukan main dan
sempat menahan kaki tidak mengikuti jejak Cong Lung.
Kalau demikian halnya tentu mereka juga akan terjerumus
ke dalam sumur itu pula. Akan tetapi, ketika mereka
menahan kaki dan beidiri tegak dan ngeri di depan batu
karang itu tiba-tiba saja tanah yang mereka injak nyeplos ke
bawah! Untuk melompat tiada kesempatan lagi karena kiri
tebing gunung batu karang, di depan menghalang batu
karang yang ada sumur di belakang itu.
“Celaka ......!!” seru Tiang Bu yang cepat menyambar
lengan tangan Bi Li sehingga mereka dapat melayang turun
bersama ke bawah. Ketika kaki mereka menyentuh tanah,
ternyata mereka telah terjerumus ke dalamsumur yang
dalamnya ada lima tombak lebih gelapnya bukan main dan
di sekeliling mereka adalah dinding batu karang yang keras
dan licin belaka. Terdengat suara ketawa dari atas dan
alangkah heran dan mendongkolnya hati Tiang Bu dan Bi Li
ketika mendatpat kenyataan bahwa yang menertawakan
mereka itu alalah Cong Lung yang tadi dikira mati tersuling
ke dalam sumur. Tidak tahunya itu hanya akal belaka dari si
muka pucat yang lihai.
"Ha-ha ha, Tiang Bu. Biarpun kau menghadapi kematian
di dalam jurang maut itu, kau tidak penasaran karena di
sampingmu ada bidadari cantik Ha-ha, puaskanlah hatimu
sebelum mampus orang muda!" Kemudian keadaan sunyi
24
sekali karena si muka pucat ituse gera pergi meninggalkan
tempat itu. Tiang Bu berusaha melompat ke atas, akan
tetapi kedua tangannya te rbentur batu karang yang telah
menutup lagi lubang itu dari atas, agaknya semua itu tadi
digerakkan oleh alat-alat tersembunyi yang sengaja dipasang
di situ untuk menjebak musuh.
"Tidak ada jalan ke luar ?” tanya Bi Li, suaranya tenang
saja karena gadis ini tidak takut menghadapi bahaya. Di
dalam gelap Bi Li tidak tinggal diam, iapun meraba-raba
dinding mencari -cari jalan ke luar.
"Tiang Bu, di sini ada lobang besar !" se runya dari arah
kiri. Tiang Bu eepat menghampiri ke arah suara gadis ini
dan karena keadaan di situ amat gelap, hampir saja beradu
muka dengan Bi Li.
"Hugh, kau gila. Main tubruk saja !” gadis itu menegur.
"Maaf tidak kusengaja, Bi Li. Mana lubang itu ?"
"Ini rabalah. Nah, bukankah ini merupakan jalan
terowongan ?”
Tiang Bit meraba-raba. Memang betul, pada dinding
sebelah kiri itu terdapat lubang, antara satu tombak
tingginya dari dasar sumur. Telowongan batu karang yang
cukup besar untuk orang merayap masuk, basah dan licin.
Memang ada bahayanya tempat seperti itu dipergunakan
oleh binatang buas seperti ular untuk bersembunyi, akan
tetapni dari pada mat i konyol di dalamsumur, lebih baik
berusaha mencari jalan. keluar.
"Bi Li, mari kau ikut di belakangku. Kita memeriksa
terowongan ini akan membawa kita sampai ke mana."
“Aku di depan, aku yang membawa pedang,” kata Bi Li.
”Tidak, kau di belakang. Biar aku yang menghadapi
bahaya lebih dulu”
"Kalau begitu, bawalah pedangku, Kalau kau tidak mau,
akupun tidak mau di belakang.” Bi Li berkeras. Akhirnya
25
Tiang Bu mengalah dan menerima pedang gadis itu, lalu ia
melompat ke dalamlubang terowongan diikuti oleh Bi Li.
Dua orang muda ini merayap terus. Terowongan itu panjang
sekali dan di dalam gelap itu rasanya ada setengah hari
mereka merangkak sampai kaki tangan terasa s akit akhirnya
mereka tiba di sebuah ruangan bawah tanah yang cukup
besar seperti sebuah kamar tidur atau sebuah kamar
tahanan. Ini lebih baik, setidaknya lebih lebar dan ada sinar
masuk dari atas membuat mereka dapat saling me lihat,
biarpun hanya remang-remang seperti orang melihat
bayangan. Kembali mereka benar-benar terkurung oleh
empat dinding batu karang yang amat kuat.
"Bagaimana Tiang Bu? apakah kita harus mati konyol di
tempat ini?"
Tiang Bu tak segera menjawab, hatinya tertusuk. Setelah
memeriksa agak lama, iapun habis harapan. Perjalanan
melalui terowongan tadi sama dengan perjalanan mencari
kuburan me reka sendiri. Tidak ada jalan keluar lagi dan
bicara tentang pertolongin sama dengan mimpi kosong.
”Agaknya begitulah, Bi Li. Bagi aku.... seorang rendah
budi dan kotor. masih tidak apa ..... akan tetapi kau ...... .”
Suaranya tertahan haru.
"Akupun tidak lebih baik dari pada kau. Tak perlu kita
bersedih menghadapi saat terakhir. Lebih baik kita saling
menceritakan riwayat masing-masing. Nah, kaumulailah
Tiang Bu.”
”Keadaanku sudah kuceritakan kepadamu walaupun
singkat. Apa sih yang menarik dari diriku yang tak berharga
ini?”
“Belum semua kauceritakan, misalnya tentang.-.......
mengenai....... dua orang gadis kakak beradik itu. Aku ingin
sekali mendengar ceritamu tentang mereka. Manis, benarkah
sikap mereka terhadaprau. Tiang Bu?" Biarpun kata-kata ini
diucapkan lemah-lembut, namun terasa oleh Tiang Bu
26
betapa di dalamnya mengandung hawa marah dan tak
senang. Heran !
"Bi Li, tentu kau mendapat kesan buruk sekali setelah
kau mendengar pe rcakapan antara mereka itu. Aku tidak
menyalahkan kau memang sudah sepatutnya kau
memandang hina kepadaku. Aku orang lemah iman dan
berberwatak kotor dan cabul. Kau mau mendengar
riwayatnya? Baik, dengarlah. Ketika aku bertemu dengan
mereka, Cui Kong dan dua orang gadis itu, Cui Kim dan Cui
Lin, di dalam pertempuran aku dapat mengalahkan mereka.
Akan tetapi mereka membujuk dan mengatakan bahwa
sebapai anak-anak dari Liok Kong Ji tidak selayaknya kita
bermusuhan. Mereka membawaku ke rumah di lembah
Sungai Huang-ho dan di sana mereka mulai menipuku. Dua
orang grdis itu sengaja membujuk rayu. mempergunakan
kecantikan mereka dan di luar tahuku, katak hijau yang
kubawa dan kurampas dari tangan isteri Pek thouw-tiauwong
itu membantu usaha keji mereka. Dan aku terjeblos, tak
berdaya di dalampermainan mereka. Akhirnya setelah aku
tidak berdaya lagi, mereka melemparku ke dalam jurang di
mana seharusnya aku mampus sebagai hukuman atas dosadosaku.
Akan tetapi agaknya Thian belummenghendaki
orang macam aku ini mampus, agaknya aku harus bertemu
dengan orang-orang agar aku menderita malu. Setelah
terkurung hampir tiga tahun, aku dapat meloloskan diri dari
tempat itu kembali ke dunia ramai. Nah, demikianlah cerita
tentang dua orang gadis itu. Kau tentu akan makin jemu,
bukan ?”
Bi Li tidak menjawab, takut kalau suaranya akan
tergetar. Diam-diam ia merasa terharu, kasihan dan kagum
sekali kepada Tiang Bu yang dianggapnya amat jujur dan
berbudi mulia. Ia dapat mengerti bahwa perbuatan Tiang Bu
itu tentu karena pengaruh hawa racun dari katak hijau yang
dari namanya saja katak pembangkit asmara, sudah dapat
diduga bagaimana pengaruhnya terhadap seorang pria.
Kesalahan Tiang Bu pantas dimaafkan.
27
Sebaliknya Tiang Bu mengira bahwa gadis itu tentu
muak dan jemu mendengar penuturannya tadi maka diam
saja. Untuk melenyapkan suasana muram ini, ia lalu
bertanya dengan suara dibikin gembira. "Bi Li, tahukah
kamu di mana adanya Wan Sun kakakmu itu? Aku angin
sekali bertemu dengan dia." Sebetulnya ucapan ini kosong.
karena dalam keadaan seperti itu, menghadapi maut karena
tidak ada jalan keluar, bagaimana bicara tentang ingin
bertemu dengan Wan Sun?
"Dia bukan kakakku," bantah Bi Li sambil duduk di
pojok kamar batu itu melepaskan lelah. "Dan aku tidak tahu
ke mana perginya. Mungkin pergi bersama Wan Sin Hong
taihiap yang datang menolong kami pada saat kami
terdesak." Lalu gadis ini menceritakan pengalamannya pada
saat kota raja diserbu bala tentara Mongol dan pada saat itu
ia mendengar pengakuan Kwan Kok Sun sehingga ia pergi
meninggalkan Wan Sun.
Tiang Bu menarik napas panjang. "Memang aneh, dia
bukan kakakmu padahal semenjak keci l berdekatan, akan
tetapi dia adalah adik kandungku berlainan ayah, biarpun
kami tak saling mengenal. Aku ingin sekali bertemu dengan
adikku itu. Ingin aku berbuat sesuatu untuknya, berkorban
sesuatu untuknya demi baktiku kepada ibu yang tentu amat
mencintanya....... ”
Bi Li menjadi terharu. Mulia benar hati pemuda ini.
"Memang,....... ibu....... eh. Nyonya Wanyen amat sayang
kepadanya. juga kepadaku. Dan San-ko sudah ditunangkan
dengan Coa Lee Goat, puteri Coa Hong Kin..."
"Betulkah ?” Tiang Bu berjingkrak sepe rti hendak menari
kegirangan. "Dengan Lee Goat adikku? Ha-ha-ha. Lee Goat
adikku manis yang suka menangis ! Ahh, alangkah baiknya
...... alangkah bahagiannya kalau saja aku dapat
menyaksikan pernikahan itu....... !” Tiba-tiba ia berhenti
bicara karena segera teringat akan keadaannya bersama Bi
Li yang agaknya sudah tidak ada harapan lagi itu.
28
“Kau seorang yang baik sekali, Tiang Bu.......” kata Bi Li
lirih terharu.
"Ah, hanya kau yang memujiku, Bi Li. Kaulah orang baik,
adapun aku....... aku orang lemah .......”
"Tidak, kaulah satu-satunya orang yang mendatangkan
kagum dalam hatiku."
Mendengar kata-kata yang jujur ini Tiang Bu melengak.
”Bi Li..,.. kau tidak berolok-olok ? Kau ..... betulkah katakatamu
itu ?”
Bi Li mengangguk.
“Terima kasih Bi Li, terima kasih.” menyentuh tangan
gadis itu. "Sekarang aku bersiap untuk mati dengan hati
senang. Setidaknya ada orang yang...... suka kepadaku. Kau
suka kepadaku, Bi Li? Betulkah ini ?”
“Aku..... aku suka kepadamu, Tiang Bu.”
”Luar biasa ! Hampir tak dapat aku percaya ! Bi Li, kau ..
gadis perkasa yang begini cantik jelita, bekas puteri
pangeran....... bisa jadikah kau suka kepada laki-laki
semacam aku ini yang buruk rupa, miskin, dan hina? Bi Li,
jangan kau mempermainkan aku dengan ini ! Jangan....... .."
Suara Bi Li terdengar ke ras dan marah ketika ia
menjawab, "Tiang Bu. apa kaukira aku menjual hatiku
begitu murah, suka kepada laki-laki hanya oleh wajah
tampan dan budi bahasa halus belaka ? Kau memang tidak
tampan, juga tidak pandai mengambil hati akan tetapi,
watakmu gagah perkas a, budimu mulia dan kau benarbenar
seorang jantan sejati. Itulah yang kusuka .....”
Saking girang dan herannya. Tiang Bu hanya berdiri
seperti patung, mengerahkan selurub tenaga urat-urat
matanya untuk menembus kegelapan agar ia dapat menatap
pandang mata gadis itu membaea isi hatinya. Akan tetapi
kegelapan menghalanginya. Bi Li tetap merupakan bayangan
yang duduk tersardar pada dinding batu karang.
29
Tiba-tiba keduanya tersentak kaget ketika mendengar
seruan-seruan tertahan disusul oleh makian dan teriakan
kesakitan, tepat di balik dinding sebelah kanan. Agaknya di
balik dinding sebelah kanan itu terdapat "kamar tahanan"
pula dan baru saja ada orang orang. wanita dilempar masuk,
karena segera ada suara dua orang wanita di balik dinding
itu. Alangkah heran dan kagetnya hati Tiang Bu dan Bi Li
ketika mereka mengenal suara-suara itu sebagai suara Cui
Lin dan Cui Kim !
"Benar-benar manus ia berhati binatang Cui-Kong itu”
terdengar Cui Kim memaki marah. Dahulu dia bemanis
muka, membujuk bujuk kita dan menyatakan cintanya,
semua itu palsu belaka....... !" terdengar gadis ini menangis.
“Memang hati laki-laki semua palsu, mana yang bis a
dipercaya?” kata Cui Lin, suaranya mengandung kemarahan.
"Apa lagi Cui Kong, dia malah lebih jahat dari semua lakilaki
yang pernah kita jumpai. Kurang apa kita membantu
dia? Sampai-sampai kita mengorbankan diri beberapa kali
kepada musuh yang terlalu berat untuk ditawan dengan
kekerasan, terpaksa kita mempergunakan kecantikan untuk
mengalahkan musuh. Sekarang melupakan kita, malah
memusuhi kita. Benar-benar anjing biadab !”
“Agaknya ini hukuman bagi dosa-dosa kita, enci Lin.
kalau aku mengingat akan Tiang Bu yang dulu kita goda,
benar-benar aku masih merasa malu. Dia itulah laki-laki
sejati dan kita harus mengaku bahwa tanpa bantuan katak
hijau kiranya tak mungkin kita dapat menjatuhkannya.
Kalau aku tahu Cui Kong akan menyia-nyiakan kita dan
menyiksa seperti ini, lebih baik aku dulu turut dan
membantu Tiang Bu. Dia laki-laki gagah betilmu tinggi......”
"Hush, adik Kim, bagaimana kau bisa me lamun yang
tidak-tidak? Cui Kong sudah menipu kita dan melempar kita
ke tempat ini. Kita sudah tertotok hiat-to kita sehingga tidak
berdaya keluar dari tempat ini. Kalau ayah tidak lekas-lekas
mencari kita dan Cui Kong mendiamkan saja apakah kita
30
tidak akan mati kelaparan......?” Kedua orang gadis ini lalu
menangis terisak-isak.
Sementara itu, di balik dinding batu itu, Tiang Bu
memegang tangan Bi Li dengan hati girang. “Bi Li,
kesempatan baik untuk lolos dari sini, bahkan untuk
menyerbu masuk mencari manusia Liok Kong Ji." Tanpa
menanti Bi Li menjawab, Tiang Bu mengetuk- ngetuk
dinding batu itu dan berkata dengan suara nyaring.
"Cui Lin dan Cui Kim. Aku Tiang Bu berada di sini,
terjebak oleh Cong Lung. Kalau kalian bisa menolongku
keluar, tentu akupun dapat menolong kalian !"
Suara tangis di sebelah terhenti seketika dan agaknya
dua orang gadis itu terheran dan kaget. "Kau di situ. Tiang
Bu ? terdengar Cui Lin berkata, hati-hati sekali. "Bagaimana
kau bisa menotong kami yang pernah mencelakaimu?”
"Tolonglah aku keluar dari sini, tentu aku akan
melupakan perbuatan kalian yang dulu dan aku akan
berusaha menolongmu ke luar pula serta membebaskan
hiat-totmu yang tertotok."
Beberapa lama tidak terdengar jawaban, agaknya emci
dan adik itu berunding. Kemudian terdengar lagi suara Cui
Lin melalui celah-celah kecil di tembok batu karang itu.
”Tiang Bu kau cari sebuah batu berbentuk tengkorak di
ujung kanan bagian ini, putar hulu tengkorak itu tiga kali ke
kiri, akan terbuka pintu rahasia."
Bukan main girangaya hati Tiang Bu mendengar ini.
Cepat tangannya meraba-raba akhirnya ia mendapatkan
batu tengkorak itu. Hatinya berdebar tegang ketika
tangannya mengerahkan tenaga memutar batu tengkorak ke
kiri.
“Kriiittt ....... !" Perlahan-lahan terbukalah pintu rahasia
yang tidak kelihatan di ujung itu. Tiang Bu dan Bi Li
menerohos ke luar. Baiknya Tiang Bu selalu waspada dan
sudah curiga kepada Bi Li yang sejak tadit diam saja. Begitu
31
melihat pedang berkelebat ia menangkap pergelangan tangan
Bi Li.
"Bi Li, demi Thian....... kau hendak berbuat apa ?"
“Tiang Bu, dua ekor siluman seperti dia patut dibunuh !
Apa kau hendak melindungi mereka ini, due ekor siluman
jahat bekas...... bekas...... kekasihmu.... ?"
Ruangan di mana Cui Lin dan Cui Kimberada ini cukup
te rang sehingga mereka dapat saling melihat wajah masingmasing.
Dua orang gadis itu menggeletak dalam keadaan
setengah lumpuh dan tidak berdaya karena sudah tertotok
hiat -to (jalan darah) mereka. Bi Li nampak marah sekali,
sepasang matanya mengeluarkan sinar berapi-api ke tika ia
memandang kepada dua orang gadis itu.
”Sabarlah, Bi Li. bukan perbuatan gagah untuk menarik
kembali janji kita. Aku tadi telah berjanji akan balas
menolong mereka ini yang sudah menolong kita."
"Kau yang berjanji, akan tetapi aku tidak !" Bi Li
membantah.
"Akan tetapi aku sudah berjanji akan bebaskan mereka."
sambil berkata demikian, Tiang Bu cepat melepaskan
pegangannya, lalu dengan gerakan yang luar biasa cepatnya
ia menepuk punggung Cu Lin dan Cui Kim yang segera
menjadi bebas kembali.
"Tiang Bu, kau mau bertemu dengan ayah?mari
kuantar," kata Cui Lin tanpa banyak cakap lagi, juga tidak
mau memandang kepada Bi Li yang galak.
Tiang Bu mengangguk, lalu dengan ramah menggandeng
tangan Bi Li yang masih marah, karena mendengar bahwa
dua orang gadis itu hendak mengantarnya ke tempat Liok
Koug Ji, maka Bl Li menurut dan tidak banyak cakap. Tentu
saja berhadapan dengan Kong Ji lebih penting dari pada
mengurus dua orang gadis yang amat dibencinya itu.
32
Segera setelah empat orang ini melompat ke luar dari
sumur dangkal di mana Cui Lin dun Cui Kim berada tadi,
kelihatan sebuah Hutan Bambu Kuning di depan.
Nampaknya seperti hutan biasa, dengan bambu kuning yang
amat indah berkelompok di sana sini. Akan tetapi
sesungguhnya kelompok-ketompok bambu kuning itu
teratur menurut kedudukan bintang dan amat sulit
dimasuki orang. Kali ini Cui Lin dan Cui Kim tidak berani
be rlaku curang lagi. Memang mereka ingin membalas
dendam, terutama kepada Cui Kong, maka dengen sengaja
mereka mengantar Tiang Bu memasuki sarang Ui-tiok-lim
ini.
Di dalam gedungnya yang indah seperti Istana, Liok Kong
Ji dan saudara angkatnya sedang duduk menghadapi meja
perjamuan. Mereka sedang mendengarkan penututan Cong
Lung tentang Tiang Bu dan seorang gadis jelita yang telah
dijebaknya masuk ke dalamsumurmaut.
"Siauwte tidak berani lancang membunuh karena harus
menanti keputusan Liok-toako tentang puteranya itu. Harus
diakui bahwa pemuda itu lihai bukan main dan agaknya
tidak menaruh hormat sama sekal i terhadap Liok toako.”
Cong Lung mengakhiri penuturannya.
Pada saat mereka sedang bercakap-cakap muncullah
orang yang menjadi bahan percakapan mereka. Tiang Bu
memasuki pintu ruangan yang luas itu bersama Bi Li
sedangkan dua orang gadis yang mengantarnya tentu saja
tidak berani masuk den sudah dari tadi pergi.
”Tiang Bu, akhirnya kau datang juga di sini!” Liok Kong
Ji melompat berdiri dari bangkunya dengan wajah
tersenyum girang sekali, padahal dadanya berdebar keras.
Memang pandai sekali Kong Ji menyembunyikan
perasaannya. “Ayahmu telah amat mengharapkan
kedatanganmu, syukur kau datang, nak ! Dan ini siapakah?
Calon istetimu? Bagus, Kau boleh tinggal di sini sebagai
33
puteraku bersama isterimu yang jelita ini. Mari, mari
duduklah di sini, kuperkenalkan dengan susiok-susiokmu.”
Tiang Bu memandang dengan hati tidak keruan rasa. Ia
berhadapan dengan orang yang sejahat-jahatnya, akan tetapi
orang ini adalah ayahnya sendiri, hal ini sekarang ia tidak
dapat membantah atau menyangkal pula. Inilah Liok Kong
Ji, ayahnya yang dengan keji melebihi binatang telah
merusak hidup ibunya. Gak Soan Li sehingga terlahirlah ia,
anak yang tidak diakui ibunya sendiri!
Tiang Bu memandang penuh perhatian dan harus ia akui
bahwa Liok Kong Ji tidak patut menjadi ayahnya. Liok Kong
Ji yang sudah berusia empat puluh tahun lebih itu
kelihatannya masih muda, pakaiannya terbuat dari pada
sutera yang halus dan mahal, wajahnya tampan berseri-seri
dan terawat baik, rambulnya yang masih hi tamitu
mengkilap oleh minyak, digelung ke atas dan diikat dengan
sutera halus pula. Pedang yang indah gagangnya te rgantung
di punggung, kelihatan tanpan dan gagah sekali.
"Liok Kong Ji manusia iblis ! Jangan kau bicara tak
karuan. Siapa itu puteramu ! Aku, Tiang Bu datang untuk
mengambil kepalamu agar rohmu dapat menebus dosamu
yang sudah bertumpuk,” kata Tiang Bu, suaranya terang
saja namun mengandung ancaman hebat.
Terdengar suara tertawa bergelak dan empat orang
saudara angkat Kong Ji bangkit dari kursi mereka. Cong
Lung dan Cui Kong yang berada di situ tidak berani
sembarang berkutik karena dua orang ini sudah mengenal
kelihaian Tiang Bu, akan tetapi empat orang jagoan yang
lain merasa amat lucu melihat se orang pemuda sederhana
tanpa memegang senjaia apa-apa berani datang di Ui tioklim
dan mengancam hendak mengambil kepala Thian te Butek
Taihiap Liok Kong Ji begitu saja. Ini benar-benar
keterlaluan sekali.
"Bocah ingusan jangan kau kurang ajar! Twa-ko, kalau
kau memberi ijin, biar siauwte menangkap puteramu yang
34
puthauw (tidak berbakti ) ini !" kata Koat -jiu Sin-touw Lee-
Bok-Wi Si Malaikat Copet.
Kong Ji yang menjadi merah mukanya mendengar
dampratan Tiang Bu tadi, menganguk sambil berkata,
“Bocah ini memang mendapat pelajaran dari orang-orang
tidak benar. Perlu digembleng di sini. Kautangkaplah, akan
tetapi hati-hati, Lee.sute."
Begitu mendapat perkenan Kong Ji, Lee Bok Wi
melompat dan bukan main cepatnya gerakannya ket ika
melompat karena tahu-tahu ia sudah berada di depan Tiang
Bu, terus kedua tangannya dipukulkan ke depan bertubitubi.
Melihat gerakan orang kate yang amat cepal ini, diamdiam
Tiang Bu kagum dan tahu bahwa ia berhadapan
dengan orang pandai yang ahti dalam ilmu ginkang. Akan
tetapi karena tujuan kedatangannya ini untuk membunuh
Liok Kong Ji, ia tidak mau membuang banyak waktu.
Pukulan Lee Bok Wi ia hadapi dengan pukulan pula sambil
mengerahkan s in-kangnya. Akan tetapi Si Malaikat Copet
ternyata cepat sekali. Dari sambaran angin pukulan Tiang
Bu, dengan kaget sekali ia dapat menge tahui bahwa pemuda
sederhana ini ternyata memiliki tenaga yang luar biasa,
cepat ia menarik kembali tangannya dan sekali
menggerakkan kaki, tubuhnya sudah berkelebat ke belakang
Tiang Bu dan mengirim totokan dari belakang ke arah
punggung pemuda itu. Akan tetapi bukan Tiang Bu yang
roboh, melainkan dia sendiri yang mencelat dan membentur
tembok. Tanpa menoleh Tiang Bu tadi sudah menggerakkan
tangan ke belakang dan sekali dorong ia telah dapat
membuat tubuh si kate itu terlempar.
"Dia lihai , mari beramai tangkap!” se ru Cui Kong tak
sabar. Pemuda ini sudah maklum akan kelihaian Tiang Bu,
maka begitu tubuh Lee Bok Wi terlempar, ia menjadi
khawatir dan menganjurkan supaya dilakukan
pengeroyokan.
35
"Betul , mari keroyok!” seru Cong Lung yang sudah tahu
pula bahwa maju seorang demi seorang takkan ada
gunanya. Demikianlah, Twa-in Ma It Sun memutar golok
besarnya, It-ci-sian Kwa Lo juga melompat maju dan
mengirimserangan totokannya yang lihai , Hok Lun Hosiang
juga memutar toyanya. Ditambah lagi dengan Cong Lung
dan Cui Kong serta Lee Bok Wi yang sudab maju lagi,
sebentar saja Tiang Bu dikeroyok oleh enam orang ahli silat
tinggi yang mempunyai kepandaian lihai.
"Majulah. majulah semua kalau sudah bosan hidup!"
Tiang Bu membentak garang, sedikitpun tidak takut. Kaki
tangannya be rgerak cepat dan semua serangan lawan dapat
digagalkannya. dielak atau ditangkis. Pemuda ini benarbenar
mengagetkan para lawannya, karena hanya dengan
sentilan jari tangan ia berani menangkis serangan senjata
tajam.
Sementara itu, melihat betapa Tiang Bu dikeroyok, Bi Li
menjadi marah sekali. Ia menggerakkan pedangnya dan
menyerang Liok Kong Ji sambil membentak marah.
"Manusia keji Liok Kong Ji, rasakan pembalasanku!” Pedang
itu menyambar ke arah leher Liok Kong Ji sedangkan ular di
tangan kirinya juga ia gerakkan dalam serangan susulan.
“Hem, kau cantik sekali akan tetapi ganas !" seru Liok
Kong Ji sambil tersenyum mengejek. Akan te tapi senyum
ejekannya segera lenyap ketika hampir saja lehernya tergigit
oleh ular kecil yang melingkar di pergelangan tangan Bi Li
karena gadis ini menggerakkan tangan kirinya dengan cepat
bukan main, Inilah ilmu serangan yang khusus dengan
senjata ular hidup. yang ia pelajari dari ayahnya, Kwan Kok
Sun.
"Keji sekali !” seru Liok Kong Ji dan pedangnya sudah
tercabut pula. Dengan mainkan pedangnya secara tenang
dan lambat, Kong Ji dapat mempertahankan diri dengan
mudah. Memang kalau dibandingkan, ilmu kepandaian Liok
Kong Ji jauh lebih tinggi dari pada kepandaian Bi Li, maka
36
dengan mudah saja Kong Ji mempermainkanrya. Kadangkadang
pedangnya mengancam dada Bi Li, akan tetapi tidak
te rus ditusukkannya, melainkan sedikit colekannya
membuat baju gadis itu bolong sedikit !
"Kau jeli ta sekali, kau cantik dan gagah. Ahh ..... . kalau
belummenjadi milik dia, hemm....... kau akan membikin
gedungku lebih menyenangkan lagi.... !” dengan kata- kata
yang kotor Kong Ji memuji-muji kecantikan Bi Li, setengah
mempermainkan dan setengah kagum betul-betul karena
memang gadis ini memiliki kecantikan yang luar bias a.
Bahkan di antara belasan orang selirnya yang cantik-cantik,
di antaranya terdapat pula puteri-puteri dari istana hasil
rampasan, tidak ada yang memiliki kecantikan asli seperti Bi
Li. Mendengar ini dan melihat betapa ia dipermainkan, Bi Li
menjadi makin marah bertempur dengan nekat.
Sementara itu, dengan kegagahannya yang luar biasa
Tiang Bu mengamuk. Apa lagi melihat Bi Li bertempur
dengan Kong Ji ia me rasa khawatir karena ia sudah
mendengar akan kepandaian Kong Ji yang tinggi dan
wataknya yang kejam. Karena ingin cepat cepat membantu
Bi Li, Tiang Bu segera mengeluarkan kepaundaiannya yang
istimewa. Tubuhnya seakan-akan lenyap dari pandangan
mata orang-orang pengeroyoknya dan dalam segebrak saja
tubuh Cui Kong sudah terlempur berikut huncwenya, juga
Ban-kin-liong Cong Lung bergulingan roboh tak dapat
bangun pula. Cui Kong terkena tendangan kilat sehingga
menderita luka di dalam perut, sedangkan Cong Lung
terkena pukulan hawa lweekangnya yang membalik ketika
tadi ia memukul punggung pemuda itu, didiamkan saja oleh
Tiang Bu akan terapi sinkangnya bekerja sehingga tangan
yang memukulnya itu terpukul sendiri oleh tenaga lweekang
yang membalik, membuat Cong Lung merasa tangannya
seperti dibakar dan ditusuk-tusuk dan ia bergulingan seperti
cacing terkena abu panas .
37
It-ci-sian Kwa Lo menjadi kaget dan penasaran sekali. Ia
mengerjakan jari-jari tangannya berganti-ganti untuk
mengirim totokan sehingga tulang-tulangnya berkerotokan
tanda bahwa setiap totokannya dilakukan dengan
pengerahan tenaga dalam dan sekali saja mengenai sasaran
tentu tak perlu diulang pula. Namun Tiang Bu yang sudah
marah itu mengangkat tangannya, membuka telapak tangan
menerima sebuah totokan jari satu dengan telunjuk kanan.
Kwa Lo sudah girang sekali. Pemuda ini goblok, pikirnya,
mengira bahwa totokanku seperti totokan bias a yang dapat
dipunahkan dengan telapak tangan yang penuh tenaga
sinkang. Dia tidak tahu bahwa aku sudah melatih jari jariku
dengan bubuk baja putih, jangankan telapak tangan dari
kulit daging, biarpun besi akan dapat tembus oleh jari
telunjukku, demikian Kwa Lo berpikir dan me lanjutkan
totokannya dengan sepenuh tenaga.
"Trakk.......!!” Jari telunjuk menotok tengah tengah
telapak tangan kiri Tiang Bu dan akibatnya tubuh Tiang Bu
tergetar sedikit akan tetapi Dewa Jari Satu itu menjerit
kesakitan sambi l me lompat mundur terus memegangi
tangan kanannya. Jari telunjuknya sudah bongkak bengkok
tidak karuan karena tulang jarinya sudah patah-patah.
Melihat ini, Twa-to Ma It Sun yang melihat gelagat buruk
cepat berseru.
"Liok-twako, lekas bereskan bocah itu dan bantu kami!”
Liok Kong Ji sudah tahu bahwa dengan mudah Tiang Bu
sudah merobohkan tiga orang dan tinggal tiga orang lagi
yangmengeroyoknya. I a mendapatkan akal. Cepat ia
manggerakkan tangan kiri, dengan Ilmu Lokoai-sin-kiam
(Iblis Tua Menyambut Pedang) ia be rhasil menggunakan jarijari
tangannya menjepit pedang Bi Li dan pada saat gadis itu
berkutetan hendak mencabut pedaog, pedang Kong Ji
menyambar bagaikan kilat.
"Capp ....!” Bi Li mengeluh, darah menyembur dan gndis
itu roboh pingsan dengan lengan kiri terbabat putus oleh
38
pedang Kong Ji ! Ular putih yang masih melingkar di
pergelangan tangan kiri ini misih menggeliat-geliat di tangan
yang kini menggetetak di atas terpisah dari tubuh Bi Li.
"Bi Li...!" Tiang Bu memekik nyaring sekali dan berdiri
bagai patung mel ihat ke arah gadis yang sudah buntung
lengan kirinya itu. Ia tidak perdulikan lagi Iawan-lawannya,
mukanya pucat matanya terbelalak.
“Bi Li ...... . ! Tiang Bu malompat dan menubruk gadis itu
yang masih pingsan dan darah bercucuran keluar dari
pangkal lengan yang buntung. Dipondongnya tubuh gadis
itu, sama sekali tidak perduli akan Twa-to Ma It un yang
mempergunakan saat baik itu untuk mengerakkan goloknya
dari belakang menyambar kepala Tiang Bu !
Namun kepandaian Tiang Bu sudah mencapai tingkat
yang sukar diukur tingkatnya, biarpun perhatiannya
tercurah kepada Bi Li dan pikirannya bingung sekali melihat
gadis ini buntung tangannya, namun perasaannya yang
sudah otomatis dalam menghadapi serangan lawan dapat
menangkap adanya golok yang menyambar dari be lakang.
Secara otomatis pula tubuhnya miring dan kakinya
menyambar. Terdengar pekik kesakitan, golok terlepas dan
tubuh Ma It Sun yang tinggi besar itu terjengkang mengukur
tanah.
Tiang Bu memandang kepada Kong Ji, pandang matanya
be ringas penuh ancaman.
"Kau....... kau ....... manusia keji.......!” Cepat laksana
kilat, dengan Bi Li masih dalam pondongannya. Tiang Bu
menyerang ke depan, tangan kanan memondong Bi Li,
tangan kiri melakukan pukulan dengan pangerahan tenaga
sinking sepenuhnya ke arah dada Liok Kong Ji. Pukulan ini
hebat sekali karena mengandung hawa sinkang yang sakti.
Inilah pukulan berdasarkan gerakan sajak yang berkepala
"Ya tertembut menembus yang terkeras di kolong langit"
yaitu sebait sajak dari kitab To-tikkeng yang termuat dalam
kitab pelajaran Thian-te Si-kong dan di dalam pukulan
39
"terlembut ” ini bersembunyi kekuatan maha dahsyat yang
sudah dapat ia kumpulkan berdasarkan latihan dari kitab
Seng thian to.
Seperti diketahui. Liok Kong Ji adalah se orang ahli silat
yang sakti yang memiliki i lmu-ilmu sakti seperti Hek tok
ciang (Tangan Racun Hitam ), Tin-san-kang (Tenaga
Mandorong Gunung) dan lain-lain ilmu silat tinggi yang
serba lihai. Kepandaiannya pada waktu itu sudah amat
jarang tandingannya maka ia berani memakai julukan
Thian-te Bu-tek. (di Dunia Tidak Ada Lawannya) !
Menghadapi serangan anaknya yang sesungguhnya ini, ia
cepat menggerakkan dua tangan menangkis, mengerahkan
tenaga untuk melumpuhkan Tiang Bu dan menawannya.
Betapapun juga hasrat hati Kong Ji terhadap Tiang Bu
hanya untuk menaklukkan pemuda itu, untuk menarik
Tiang Bu sebagai anaknya yang tidak memusuhinya untuk
memberi penghidupan mulia dan bahagia kepadanya. Sama
sekali tidak ingin melihat Tiang Bu tewas, maka ia sengaja
menangkis dengan pengerahan tenaga untuk kemudian
menangkap anaknya ini.
Akan tetapi belumjuga ia dapat manangkap lengan Tiang
Bu, hawa pukulan pemuda ini sudah menyambar,
mendobrak hawa tangan Kong Ji dan terus memukul ke
arah dada. Bukan main kagetnya hati Kong It. Sungguh di
luar dugaannya bahwa pukulan pemuda akan sedemikian
hebatnya, pukulan yang selama dia hidup belum pernah
mengalaminya. Cepat ia merendahkan tubuhnya dan dengan
kedua tangan ia mendorong, melakukan pukulan Tin san
kang sehebat-hebatnya karena maklumbahwa pukulan
pemuda itu merupakan pukulan maut.
Dua tenaga tidak kelihatan bertemu di udara, dan.......
Liok Kong Ji terlempar kebelakang sepeti rumput kering
ditiup angin menubruk dinding sehingga dinding itu jebol!
Untung baginya, tubuhnya sudah kebal dan se tidaknya
hawa pukulan Tin-san-kang tadi sudah mengurangi atau
40
menghambat daya se rangan pukulan Tiang Bu sehingga ia
tidak terluka hebat, hanya muntahkan darah segar karena
getaran yang amat hebat. Dengan sepasang mata terbelalak
lebar saking kagum, kaget, heran, dan takut Kong Ji berdiri
lagi, siap- siap menghadapi pemuda yang lihai ini.
Tiang Bu sudah mendesak maju lagi dengan muka
beringas, sedangkan Hok Lun Hosiang sudah mendekati
Kong Ji untuk membantu "twako" ini. Juga para jagoan yang
tidak terluka berat seperti Lee Bok Wi dan Ma It Sun sudah
bangkit lagi dan bersiap-siap membantu Kong Ji.
Akan tetapi Kong Ji yang maklum bahwa biarpun
dtkeroyok kiranya mereka takkan mampu menahan amukan
pemuda yang memiliki kepandaian luar biasa ini, cepat ia
berkata. "Tiang Bu, kalau tidak lekas diobati, gadis itu akan
mati kehabisan darah!"
Memang Kong Ji cerdik bukan main. Sekilas pandang
saja ia sudah dapat menduga bahwa Tiang Bu mencinta
gadis itu sepenuh hatinya, maka ia sengaja berkata
demikian untuk menahan amukan pemuda itu. Dan katakatanya
ini memang tidak bohong. Tiang Bu kaget
mendengar ini dan baru ia sadar dan melihat betapa darah
te rus menerus mengucur dari pangkal lengan Bi Li.
"Bi Li...........!” serunya tercampur isak. Cepat ia menekan
jalan darah Bi Li di pundak dan untuk menghentikan darah
yang mengucur ini perhatiannya tercurah kembali kepada Bi
Li dan ia tahu, bahwa yang terpenting di antara segalanya
adalah merawat Bi Li lebih dulu. Cepat is melompat pergi
dari tempat itu me lalui para penjaga yang sudah datang
mengepung sambil berseru, *Bangsat Liok Kong Ji, lain kali
aku datangmengambil kepalamu!”
Beberapa orang penjaga roboh dan kocar-kacir ketika
mencoba untuk menghadang larinya. "Biarkan dia pergi”"
seru Kong Ji kepada para penjaga, maklum bahwa mereka
ini sama sekali bukan tandingan Tiang Bu dan ia masih
41
mengharapkan untuk dapat menawan pemuda perkasa itu
mengandalkan alat- alat rahasia di dalam Ui-tiok-lim.
Siapakah yang dapat ke luar dari Ui-tiok-lim? Hutan
Bambu Kuning ini sudah terkenal sebagai tempat yang tak
mungkin dimasuki orang kalau toh orang itu dapat masuk,
tak mungkin akan dapat ke luar. Lebih sulit dan berbahaya
dari pada Kuil Siauw-lim-si yang te rmasyhur.
Tanpa mendapat rintangan lagi dari kaki tangan Liok
Kong Ji, Tiang Bu berlari cepat ke luar ruangan itu dengan
maksud ke luar dari istana besar dan membawa Bi Li ke
tempat aman. Begitu melompat ke luar ruangan itu, lebih
dulu ia mengeluarkan obat dari saku bajunya, yaitu obat
tempel yang ia tempelkan pada luka atau ujung lengan yang
buntung dan dibalutnya ujung itu depan robekan bajunya
sendiri. Kemudian ia menotok beberapa jalan darah penting,
selain untuk menghentikan darah yang mengalir ke bagian
yang buntung, juga untuk mematikan ras a nyeri yang tentu
akan menyiksa gadis itu apabila siuman.
(Bersambung jilid ke XIX)
1
(PEK LUI ENG)
Karya: Asmaraman S. Kho
Ping Hoo Scan djvu :
syauqy_arr
Convert & edit : MCH
Jilid XIX
DILIHATNYA wajah Bi Li pucat sekali seperti mayat.
Tiang Bu makin bingung. Inilah tanda bahwa gadis itu telah
kehilangan banyak sekali darah maka perlu cepat-cepat
diberi obat dan makanan penambah darah. I a perlu cepatcepat
pergi dari tempat ini. Segera ia memondong lagi tubuh
Bi Li dan be rlari ke luar. Akan tetapi, manakah jalan ke
luar? Tadi ket ika ia memasuki gedung ini, jalan masuk
mudah saja, dari pekarangan depan melalui ruangan depan
dan gang kecil panjang sampai di ruangan belakang di mana
Liok Kong Ji dan kawan-kawannya berada.
Akan tetapi sekarang keadaannya lain sekali. Setelah
mecari-cari, akhirnya dengan hati lega Tiang Bu
mendapatkan lorong atau ruang kecil tadi yang cepat
dimasukinya. Akan tetapi, setelah lari beberapa lama. ia
menjadi makin bingung. Lorong kee il ini ternyata bercabangcabang
banyak sekali dan sudah lebih dari sepuluh cabang
ia masuki akan tetapi se laln tiba di jalan buntu.
Celaka, pikirnya, ini tentu bukan yang tadi. Ia lari
kembali akan tetapi anehnya, ia sudah tidak bisa sampai ke
tempat semula. Lorong ini mati di sebuah, kamar buntu,
2
lorong itupun demikian, benar-benar membingungkan
sekali.
Setelah lebih dari tiga jam ia berputar di lorong-lorong
yang tidak ada jalan keluarnya dan ruwet seperti benang ini,
tiba-tiba terdengar suara orang ketawa. suara ketawa Liok
Kong Ji yang tidak kelihatan orangnya.
"Ha ha-ha, Tiang Bu. Baru mengenal kel ihaian ayahmu!
Inilah yang disebut Gua Seribu Lorong. Menyesatkan. Kau
takkan bisa ke luar dari ini. Kau menakluklah, anakku. Aku
takkan mencelakaimu, aku ........ aku ayahmu dan sayang
kepadamu. Lihat, gadis itu sudah amat payah, banyak
kehilangan darah dia akan mati lemas. Kau menaluklah dan
akan menyuruh orang merawatnya sampai sembuh.
Kauterimalah menjadi anakku yang terkasih dan kalau
perlu, gadis itu boleh menjadi mantuku."
"Lionk Kong Ji manusia Iblis. Siapa percaya omonganmu
yang berbisa? Kau sendiri baru saja membuntungkan
lengannya !"
"Karena terpaksa, puteraku. Karena terpaksa, kalau tidak
kulakukan siasat itu, bagaimana dapat mengundurkan kau
yang begitu gagah perkasa? Oo anakku, aku bangga bukan
main melihat pureraku demikian sakti ....... !
Tiang Bu, sebetulnya permusuhan apakah yang ada
antara anak dan ayah, antara kau dan aku? Bisa jadi
banyak orang yang merasa menjadi musuhku, akan tetapi
mengapa kau? Aku tak pernah mengganggumu....... ”
"Kau, setan! Kau telah menghina ibuku, kau telah
mencelakai banyak orang baik baik !”
"Tiang Bu, kau keliru. Kapankah aku menghina ibumu?”“
"Jahanam, kau masih hendak menyangkal?" Tiang Bu
membentak ke arah suara yang bersembunyi di balik
dinding itu. ”Kau telah mempermainkan ibuku,
menghinanya ketika dia masih gadis."
3
Liok Kong Ji yang bicara dari balik pintu rahasia itu
tertawa bergelak.
”Ha ha ha, Tiang Bu, kau bicara apa ini? Ingatkah kau
kalau tidak ada aku yang kau bilang menghina Soan Li,
bagaimana bisa terlahir kau ? Kau adalah putera Soan Li
dan aku, bagaimana kau bisa bilang begitu?"
Tiang Bu merasa sepe ti ditampar mukanya. Ia menjadi
pucat sekali ketika ia meletakkan tubuh Bi Li di alas lantai
dan ia berlari mengepal tinju ke arah suara itu. "Memang,
aku memang anak haram ! Aku anak hina dina yang terlahir
dari perbuatanmu yang keji terkutuk! Akulah bukt i hidup
tentang kejahatanmu yang tak berampun. Dan bukan orang
lain aku sendiri yang akan mencabut nyawamu. Hampir ia
menangis saking sakit hatinya kalau teringat akan keadaan
dirinya yang berayah sedmikian jahat dan hinanya.
"Hemmm, kau terlalu terpengaruh oleh hasutan manusia
macam Wan Sin Hong. Mana ada anak bijaks ana melawan
ayah sendiri. Kau belum insyaf Tiang Bu belum insyaf. .....”
Setelah mengeluarkan ucapan dengan nada sedih ini, Liok
Kong Ji menghilang.
Tiang Bu kembali memperhatikan Bi Li. Gadis itu
mengeluh dan bergerak perlahan. Ia cepat berlutut dan
menyangga leher Bi Li. "Uuhhh. lenganku....... ah, Tiang
Bu....... aduuuhhh......” Setelah membuka mata sebentar, Bi
Li pingsan lagi, lemas dalam pelukan Tiang Bu. Tentu saja
pemuda ini menjadi makin bingung. Ia mencoba lagi untuk
mencari jalan ke luar, berlari-larian di sepanjang lorong yang
panjang berputar-putar itu. Se lagi ia kebingungan, tiba-tiba
terdengar suara perlahan dari jauh, suara wanita.
"Dari Gu-seng (Bintang Kerbau) membelok ujung tanduk
melalui Liu-seng (Bintang Pohon Cemara) ada pintu ke luar!”
Tiang Bu girang sekali. Tidak perduli itu suara siapa ia
lalu berlari terus, membelok menurutkan gambar Bintang
Kerbau. Pantas saja tadi ia berputaran tak dapat ke luar.
4
Tidak tahunya yang dimaksudkan dengan ujung tanduk
kanan itu bukanlah lorong, hanya sebuah lobang yang
hanya dapat dilalui dengan merangkak. Sambil memeluk
tubuh Bi Li, ia memasuki lubang ini, merangkak ke depan
dan tak lama kemudian betul saja ia tiba di sebuah lorong
lain, dari sini ia berlari terus mengambil tikungan sesuai
dengan kedudukan bintang Liu-seng. Di dalam ilmu silat
memang terdapat langkah- langkah kaki menurutkan
beutuk bintang yang dua puluh tujuh buah banyaknya.
Setiap bintang mempunyai bentuk-bentuk tertentu, dari
dua titik sampai tujuh titik banyaknya. Ini merupakan
bentuk langkah-langkah ilmu silat tinggi yang tentu saja
dikenal oleh setiap orang ahli silat ke las tinggi. Tiang Bu
juga sudah mempelajari titik ini, maka begitu mendengar
seruan dari luar tadi. ia dapat menurut dan membuat
belokan sesuai dengan gambar atau titik Gu-seng dan Liuseng.
Alangkah girangnya ketika ia mendapatkan lorong
terakhir itu membawanya ke luar ke sebuah hutan bambu
kuning. Akan tetapi baru saja ia berlari belasan langkah,
kaki kirinya, sudah terjeblos ke dalam lumpur yang tertutup
pasir dan rumput ! Baiknya Tiang Bu selalu waspada dan
cepat ia dapat menahan keseimbangan tubuhnya sehingga
yang terjeblos hanya kaki kirinya, sedangkan kaki kanan
masih di atas tanah keras. Dengan mencabut kaki kirinya
yang sudah me lesak ke dalam lumpur selutut lebih
dalamnya.
Ia bergidik. Kalau kaki kanannya tadi juga terjeblos,
kiranya sukar baginya untuk menyelamatkan diri.
Pengalaman mendebarkan ini membuat pemuda itu ragu
ragu untuk berlari terus. Tempat ini benar- benar luar biasa
sekali, penuh bahaya yang tak disangka-sangka. Baru keluar
dari gedung saja tadi sudah sukar bukan main, sekarang
masih harus keluar dari Ui tiok-lim, hutan Bambu Kuning
yan agaknya bahkan lebih sukar dari pada jalan rahasia di
5
gedung besar itu. Padahal Bi Li perlu cepat-cepat dibawa ke
luar untuk diobati.
"Tiang Bu ....., kau di situ ............. Lekas ke sini.......
turutkan jalan itu, akan tetapi jangan menginjak jaln, ambil
jalan di sebelah kiri deretan bambu di atas rumput!" Kembali
terdengar suara wanita yang tadi memberitahukan rahasia
loronig, kini suara itu te rdengar lemah dan Tiang Bu
mengenal suara Cui Lin !
Tiang Bu menurut petunjuk ini. Segera ia melangkah dari
jalan itu ke sebelah kiri di mana tumbuh rumput liar.
Kemudian ia me langkah maju menurut sepanjang lorong
yang pinggirnya ditumbuhi bambu-bambu kuning. Benar
saja, di bawah rumput itu terdapat tanah keras dan sama
sekali tidak dipasangi perangkap. Memang siapakah
orangnya akan mengambil jalan ini kalau di sampingnya
terdapat jalan yang bersih rata dan baik ?
Serelah berjalan hati-hati beberapa puluh tindak, jalanan
terhalang serumpun bambu kuning muda yang tumbuh di
tanah yang bundar.
”Hati-hati, jangan terlalu dekat rumpun bambu muda !”
kembali terdengar suara Cui Lin di depan, tak jauh lagi.
Tiang Bu kaget dan cepat melompat ke kiri menjauhi. Akan
tetapi karena ingin tahu ia mengambil batu dan
melemparkannya ke dekat rumpun bambu dan ”........
sssshhh ....... ssssttt....... !” Tujuh ekor ular berbisa yang
mokrok lehernya menyambar ke sekeliling rumpun. Ularular
ini ternyata ekornya diikat pada rumpun dan selalu
bersembunyi. Hanya pada saat ada korban melewat dekat,
ular-ular kelaparan ini tentu serentak menyerangnya. Tentu
saja Tiang Bu tidak takut menghadapi serangan binatangbinatang
ini, akan tetapi kalau dia tadi amat dekat tentu ia
akan kaget dan mungkin melompat ke kanan di mana
dipasangi macam-macam alat rahasia jebakan.
Tergesa-gesa Tiang Bu maju terus ke arah suara tadi..
Tak lama kemudian ia melihat pemandangan yang membuat
6
jantungnya serasa berhenti berdetak! I a melihal Cui Lin dan
Cui Kim terbenam di lumpur maut, terhisap lumpur sampai
ke Ieher. Bahkan Cui Kim sudah tak bergerak lagi, hanya
matanya yang besar dan indah itu terbelalak ketakutan,
tidak bers inar lagi seperti mata orang yang kehilangan
ingatannya. Agaknya saking takutnya menghadapi kematian
mengerikan ini, Cui Kim telah hilang ingatannya. Cui Lin
dengan air mata bercucuran memandang ke arah Tiang Bu.
Pemuda ini bingung bukan main. Dua orang gadis itu
berada di tengah-tengah kolam lumpur jauhnya ada empat
tombak dari tempat ia berdiri. Tanpa membuang waktu lagi,
Tiang Bu meletakkan tubuh Bi Li di atas rumput dengan
cekatan menggunakan kekuatan tangannya mencabut dua
batang bambu kuning.
"Jangan, Tiang Bu ...... tak ada gunanya ..........kami .......
kami....... ”
Akan tetapi mana Tiang Bu mau mendengarkannya?
Seorang berjiwa kesatriya seperti dia tentu saja tidak bisa
tinggal berpeluk tangan melihat dua orang gadis terancam
bahaya maut seperti itu.
Cepat ia memasang dua batang bambu itu sampai dekat
mereka, lalu berjalan di atas bambu-bambu yang melintang
mendekati Cui Lin dan Cui Kim. Dengan cepat ia menyambar
tangan Cui Lin dan menariknya. Akan tetapi ia melepaskan
kembali karena Cui Lin menjerit kesakitan.
"Jangan, Tiang Bu........ kau hanya akan menyiksaku
....... ketahuilah, tadi kami berusaha menolongmu ketahuan
oleh ..... . oleh si keji Liok Kong Ji dan Cui Kong ...... kedua
kaki kami dihancurkan tulang-tulangnya, kami diloloh
racun....... kemudian dilempar ke sini. Tempat ini akan
menjadi kuburan kami...... aduuh ...... percuma saja kau
menolong kami, tak mungkin lagi, mana bisa kau menolong
nyawa kami?! Lihat........ aduh, adikku dia sudah .......
sudah....... " Cui Lin menangis dan gerakannya ini membuat
7
tubuhnya makin melesak ke bawah. Hanya dagu yang
bertahi lalat keeil itu kelihatan.
Tiang Bu terharu bukan main. Dalam keadaan hampir
mati gadis ini masih berusaha menolongnya. Teringat ia
akan kenang-kenangan lama, dahulu ia menganggap tahi
lalat di dagu ini manis bukan main.
"Cui Lin....... " katanya bingung. "Apa yang harus
kulakukan untuk menolong kal ian. Lekas katakan !"
Cui Lin tersenyum di antara tangisan "Kau harus ke luar
dari sini dengan selamat. Dengar baik-baik, dari sini kau
mengambil jalan di antara rumpun-rumpun bambu itu
dengan hati-hati menurutkan letak titik bintang Pin-seng
(Bintang Purnama). lalu Ni-seng (Bintang Wanita),
selanjutnya Bi-seng (Bintang Ekor) kemudian yang terakhir
Sin-seng (Bintang Hati). Nah, dengan demikian kau akan
tiba di bukit batu- bats karang di mana kau bertemu dengan
aku ....... aduuhh ...... Tiang Bu, kalau kau mau menolong
aku dan adikku....... kelak balaskan sakit hati kami kepada
mereka berdua ....... aaahh, pergilah ...... "
"Tidak, aku harus menankmu ke luar dari sini !" Tiang
Bu berseru, marah dan penuh keharuan. Marah kepada
Kong Ji dan Cui Kong, terharu melihat keadaan dua gadis
yang mengenaskan ini.
"Aduuhhh, jangan ! Aku akan mati karena nyeri ! Kakiku
sudah patah patah, rusak sakit sekali. Enak begini, hangathangat
d dalam lumpur....... selamat jalan, Tiang Bu ......
Pergilah, kalau mereka datang mengejar, sukar bagimu
untuk ke luar.”
Tiang Bu ragu-ragu, akan tetapi tiba-tiba terdengar
keluhan Bi Li, "Tiang Bu ...... kau di mana ..... .? Apakah aku
sudah mati.......?” ternyata Bi Li siuman dan mendapatkan
dirinya rebah di atas rumput, ia segera memangil-manggil
Tiang Bu. Untuk bangun berdiri tidak ada tenaga lagi.
8
Terpaksa Tiang Bu berdiri. Sekali lagi ia memandang
kepada Cui Lin den Cui Kim. ”Selamat tinggal.......” katanya,
suaranya tersendat di tenggorokan.
”Pergilah....... eh, nanti dulu ...... Tiang Bu, coba kau
....... kaupeluk kepalaku untuk penghabisan kali ...... kaulah
orang termulia ....... bayanganmu hendak kubawa ke sana
..... "
Dengan isak tertahan Tiang Bu berlutut di atas batangbatang
bambu, mendekap kepala yang hampir terbenam itu
lalu menciumjidat Cui Lin. Juga ia menciumjidat Cui Kim
yang segera menangis meraung-raung,
”Aku harus menolong kalian....... . harus......!” kata Tiang
Bau setengah berteriak.
”Tiang Bu.......!” terdengar pula suara Bi Li memanggil
lemah,
”Terima kasih, Tiang Bu, selamat berpisah....... " kata Cui
Lin ketika Tiang Bu menoleh ke belakang untuk melihat Bi
Li. Ketika pemuda ini memandang lagi ke lumpur, ia hanya
melihat hawa keluar dari dua tempat menerbitkan suara
perlahan. Dua kepala gadis itu sudah tidak kelihatan lagi,
ternyata Cui Lin telah menggerakkan tubuhnya sekerasnya
agar kepalanya lekas terbenam dan kematian lekas
menyambut nyawanya. Cui Kim yang menangis menggerunggerung
juga segera terhisap oleh lumpur karena tubuhnya
bergerak-gerak. Sunyi di situ....... .sunyi mengerikan.
Tiang Bu memutar tubuh, memandang arah hutan
bambu kuning yang ditinggalkan di belakang. Gunung itu
tidak kelihatan lagi. Ia mengepal tinju dan terdengar giginya
ke rot-ke rotan. Memang tadinya ia membenci dua orang gadis
ini yang sudah pernah memperdayainya. Akan tetapi melihat
betapa dua orang gadis ini tersiksa sedemikian hebat apa
pula dua orang gadis itu akhir-akhir ini berdaya
menolongnya, ia menjadi sakit hati sekali terhadap Kong Ji
dan Cui Kong.
9
Akan tetapl ketika Bi Li memanggil lagi ia tersadar dan
cepat lari menghampiri Bi Li. Melihat pemuda ini, gadis yang
rebah terlentang itu tersenyum lembut.
"“Tiang Bu, apakah kita sudah berada sorga....... ?"
Tiang Bu membungkuk, mengangkat dan memondoug
tubuh Bi Li dengan hati hati. Bisiknya di dekat telinga gadis
itu. "Belum, Bi Li. Kita sedang berusaha keluar dari neraka
ini.......!” Copat Tiang Bu maju ke depan, mengambil jalan
menurut petunjuk Cui Lin. Setelah berbelok-belok
menurutkan titik empat bintang yang kesemuanya ada dua
puluh satu titik atau dua puluh tikungau, benar saja tiba di
bukit batu-batu karang di mana ia pernah bertemu dengan
dua orang gadis yang sekarang telah tewas itu. Makin
terharu hati Tiang Bu. Sampai dekat kematiannya, Cui Lin
masih menolongnya. Lunaslah sudah kedosaan gadis itu
terhadapnya.
Akan tetapi, ketika hendak melanjutkan perjalanannya,
ia menjadi bingung sekali. ketika dulu di tempat ini, ia
mengikuti Cong Lung yang menjadi petunjuk jalan. Kini ia
tidak tahu lagi mana jalan itu dan maklum bahwa tempat ini
amat berbahaya, sekali keliru melangkah kaki....... terjeblos
ke dalamperangkap.
Bi Li yang masih setengah pingsan itu berbisik, "Tiang
Bu, mengapa berhenti?”
"Aku ...... lupa lagi jalannya, Bi Li."
"Kaucari saja....... dulu aku sudah memberi tanda.......
ketika mengikuti Cong Lung kupotong-potong sabuk merah,
kusebar di sepanjang jalan ....... " BI Li terlalu banyak
bicara, napasnya memburu dan ia memejamkan lagi
matanya untuk mengaso. I a merasa tubuhnya lemas bukan
main, demikian lemasnya sampai -sampai ia lupa agaknya
bahwa lengannya sudah buntung.
Tiang Bu girang mendengar ucapan gadis itu. Ketika
matanya mencari-cari, benar s aja melihat sepotong kain
10
merah di sebelah sana. Ia menghampiri kain merah itu dan
selanjutnya ia mencari jalan dengan bantuan potonganpotongan
kain me rah yang disebar di atas tanah setiap
sepuluh langkah. Diam-diam Tiang Bu memuji kecerdikan Bi
Li, gadis ya dikasihinya itu. Akan tetapi kalau ia teringat
akan lengan Bi Li, ia menjadi berduka sekali. Cepat ia lari
lagi ke luar dari bukit batu karang dan akhirnya terlepaslah
mereka dari daerah Ui- tiok-lim yang amat berbahaya. Akn
tetapi sekarang Tiang Bu sudah mengingat baik- baik semua
jalan yang dilaluinya tadi, baik jalan masuk maupun jalan
ke luarnya.
Hari telah menjelang senja, Bi Li rebah telentang di atas
rumput, Mukanya pucat, matanya yang seperti mata burung
Hong itu menatap wajah Tiang Bu yang duduk di sisinya.
Tiang Bu sudah merawat Bi Li, memberi pencegah
keracunan juga obat penambab darah. Sekarang keadaan
gadis itu tidak menghawatirkan lagi. Juga pundak yang
sudah tak be rlengan lagi itu telah dibalutnya baik-baik.
"Tidurlah, Bi Li, agar enak badanmu. Biar aku
menjagamu di sini. Kubuatkan api unggun, ya?” kata Tiang
Bu sengaja bersikap gembira karena pandang mata Bi Li tadi
seperti pandang menikam hatinya karena ia tak tahan
menyembunyikan rasa iba dan harunya.
Bi Li tidak menjawab, menggigit bibir menahan tangis,
lalu menggerakkan kepala mengangguk. Setelah itu
membuang muka ke sisi agar jangan melihat lagi pemuda
itu, karena sekali saja ia beradu pandang dengan Tiang Bu
yang sinar matanya penuh haru dan iba itu, ia dapat
menangis menjerit-jerit.
Tiang Bu mengumpulkan kayu kering lalu membuat api
unggun agar hawa malam yang dingin dan nyamuk dapat
terusir pergi dan Bi Li dapat tidur nyenyak. Setelah selesai
membuat api unggun, ia mendengar isak tangis dan ketika
ditengoknya ternyata Bi Li telah bangkit duduk dan
menangis sedih. Tangan kanannya menutupi muka, air mata
11
menetes turun melalui celah-celah jari tangan, pundak yang
buntung sebelah kiri itu bergoyang.goyang.
Tiang Bu maklum akan kesedihan hati gadis itu. Akan
tetapi ia pura-pura tidak tahu dan duduk di dekatnya,
menyentuh lengannya sambil berkata lembut. "Bi Li,
mengapa kau menangis. Kita sudah terlepas dari bahaya
maut....... ”
”Tiang Bu ...... ah....... lenganku.........”
Bi Li tak dapat melanjutkan kata-kata karena tangisnya
makin sedih.
Tiang Bu memegang e rat e rat tangan kanan gadis itu IaIu
berkata menggigit gigi.
“Aku tahu, Bi Li aku tahu ....... aku bersumpah untuk
membalas dendam ini, tunggulah saja....... !”
Akan tetapi Bi Li rupanya tidak memikir tentang sakit
hati. yang lebih dipikir adalah keadaan pundak kirinya yang
buntung.
“Aku menjadi orang..... buntung... aduh Tiang Bu ......
aku menjadi seorang jelek penderita cacat selama hidup.......
menjadi buah tertawaan orang ....... aku akan terhina
selama-lamanya....... ”
Tiang Bu maklumapa yang dipikirkan gadis ini. Sebagai
seorang gadis muda, cantik jelita, tentu saja cacat ini amat
menghancurkan hati.
"Tidak, Bi Li. Siapa yang berani mentertawakanmu akan
kutampar mulutnya s ampai copot-copot giginya, siapa berani
menghina akan kubuntungi lengannya. Tidak ! Dalam
pandanganku kau tidak menjadi buruk, aku.. tetap sayang
kepadamu, Bi Li. Jangankan baru hilang sebelah lengamu
yang tidak ada artinya karena kau masih tetap cantik dan
baik bagiku, andaikata kau menjadi bercacad lebih hebat
lagi, pada mukamu atau di mana saja aku tetap akan.......
akan....... mencintaimu seperti biasa, bahkan lebih lagi. Bi
12
Li, kaulah satu-satunya wanita yang telah me rampas hatiku
..."
Rupanya terkejut Bi Li mendengar ini. Jari tangan yang
menutupi mukanya diturunan dan muka yang pucat dan
basah air mata ini menghadapi muka Tiang Bu, sepasang
mata yang gelap indah tetapi penuh linangan air mata itu
menatap mata Tiang Bu. Sejenak mereka berpandangan tak
bergerak. Kemudian Bi Li menundukkan mukanya,
menangis makin sedih. Sambil terisak ia berkata terputus.
“Tak mungkin ...... tak mungkin, aku orang cacat ....... kau
akan ditertawai orang...... ah, lebih baik aku mati saja, Tiang
Bu......”
Tiang Bu merangkul pundaknya, menghiburnya sedapat
mungkln, bahkan menjanjikan untuk kelak memberi
pe lajaran ilmu silat tinggi sehingga biarpun lengannya
buntung sebelah tidak akan kalah menghadapi musuh
bagaimana tangguhpun.
Akhirnya Bi Li terhibur dan sambil merebahkan
tubuhnya yang lemas itu terlentang di atas rumput ia
mendengarkan kata-kata hiburan Tiang Bu yang mulukmuluk.
Pemuda ini berusaha sedapat mungkin menghibur
hati Bi Li, bahkan bersumpah dengan kesungguhan hat i. Bi
Li mendengarkan sambil meramkan mata, akhirnya gadis itu
jatuh pulas.
Baru legalab hati Tiang Bu. Tadinya amat berkhawatir Bi
Li tak dapat menahan kesedihannya dan melakukan
perbuatan nekadmembunuh diri. Baru setelab melihat gadis
itu tertidur dan pipinya menjadi agak kemerahan, pemuda
ini merasa betapa tubuhnya lelah bukan main. Ia telah
melakukan pertempuran hebat, dan menderita goncangan
batin yang berat, baru sekarang terasa tubuhnya seakan -
akan tidak bertenapa lagi. Ia menyadarkan tubuh di batang
pohon dekat api unggun dan tak lama kemudian iapun
tertidur.
13
Menjelang pagi Tiang Bu terkejut mendengar suara ayam
hutan berkokok nyaring. melompat bangun dan baru ia tahu
bahwa tanpa terasa ia telah jatuh pulas di luar
kehendaknya. Bagaimana ia bisa jatuh pulas selagi menjaga
Bi Li. Cepat ia menengok dan jantungnya berhenti berdetak
ketika ia melihat tempat yang tadinya ditiduri Bi Li sekarang
telah kosong. Ia menengok ke sana ke mari, sinar matanya
cemas mencari-cari, namun orang yang dicari tidak
kelihatan lagi. Bi Li telah pergi dari situ tanpa memberi tahu
padanya.
"Bi Li......!” Tiang Bu berseru memanggil mengerahkan
tenaga lweekangnya sehingga auarnya bergema di hutan itu
dan terdengar sampai jauh sekali.......” Bi Li! Kau di mana
...... ?"
Namun tidak ada jawaban kecuali kokok ayam hutan
yang terkejut ketakutan dan gema suaranya sendiri. Tiang
Bu menjadi gelisah sekali. Sekali melompat ia telah berada di
bekas tanah berumput yang tadinya ditiduri Bi Li untuk
melihat kalau-kalau di situ terdapat tanda-tanda
mencurigakan. Benar saja, di atas tanah yang rumputnya
sudah dicabuti, ia melihat huruf-huruf yang halus
bentuknya tanda tertulis seorang wanita terpelajar. Memang
Bi Li semenjak kecil hidup di istana pangeran, tentu saja is
mahir sekali menulis huruf-huruf indah. Huruf-huruf itu
be rbunyi demikian.
"Adawaktu suka, adawaktu duka.
Sekali bertemu pasti akan berpisah,
Badan cacat, tidak patut menerima cinta.
Tak perlu menyeret enghiong ( orang gagah ) ke lembah
hina)."
"Bi Li kau terlalu merendahkan diri...." Tiang Bu
mengeluh setelah membaca "surat" di atas tanah itu berkali -
kali dengan hati ter-haru. "Biarpun lengan kirimu buntung,
Kau masih seratus kali lebih berharga dari pada aku."
14
Ia bangkit bardiri, teringat akan keadaan Bi Li yang
masih belumsembuh lukanya dan badannya masih lemah,
teringat betapa akan sengsaranya gadis i tu merantau
seorang di ri dalam keadaan bercacat tanpa kawan yang
menghibur dan melindunginya, ia memekik "Bi Li ..... !
Jangan tinggalkan aku....... !”
Seperti orang gila Tiang Bu memanggil- manggil nama
gadis itu sambil berlari cepat sekali keluar masuk hutan.
Namun jangan orangnya, bayangannya sekalipun tidak
nampak seakan-akan Bi Li sudah lenyap ditelan bumi.
Akhirnya setelah setengah hari berlari-larian ke sana ke
mari tanpa tujuan, kembali ke tempat semula dan pemuda
menjatuhkan dirinya di atas rumput bekas tempat tidur Bi
Li.
”Bi Li....... Bi Li....... aku cinta padamu. Walaupun
lenganmu buntung...........”
Tiba-tiba ia bangkit berdiri, wajahnya menye ramkan.
kedua tangannya terkepal dan ia memandang ke arah Uitiok-
lim lalu mengacung-acungkan tinju sambil berseru
keras "Liok Kong Ji, jahanam besar! Akan kubunuh kau.......
kubunuh kau dan kaki tanganmu .....!” Larilah pemuda ini
ke arah s arang ayahnya itu dengan hati panas. Sekarang ia
telah tahu jalan ke Ui tiok-lim didorongnya batu karang
basar dan ia melompat ke bawah ketika tanah tiba-tiba
terbuka, melompat ke dalamsumur di mana ia pada
kemarin harinya terjerumus bersama Bi Li. Melalui
terowongan yang ke. marin, ia terus merayap sampai di
tempat tahanan Cui Lin dan Cui Kim. Dari sini ia sampai di
sumur dangkal, di tengah-tengah hutan bambu.
Dengan hati-hati Tiang Bu melompat naik dan duduk di
pinggir sumur, matanya memandang ke sekelilingnya, penuh
selidik. Kedatangannya kali ini berbesa dengan kemarin.
Selain ia telah tahu betul akan jalan rahasia di s ini, juga ia
datang dengan nafsu membunuh terbayang pada matanya
yang tajam slnarnya, pada mulutnya yang cemberut, pada
15
gerak tangannya yang tangkas dan kuat. Tiang Bu datang ke
Ui-tiok-lim untuk mengamuk, untuk membunuh.
Kebenciannya terhadap ayahnya yang ganas itu meluapluap.
Berkat petunjuk Cui Lin tentang rahasia memasuki Uitiok
lim, dan karena kepandaianya yang tinggi, tanpa banyak
susah Tiang Bu berhasil memasuki gedung besar Liok Kong
Ji, ayahnya yang amat dibencinya. terutama sekali karena
orang itu ayahnya! Memang kebencian Tiang Bu te rhadap
Liok Kong Ji adalah terutama sekali karena orang itu
ayahnya yang sejati. Sekiranva Liok Kong Ji bukan ayahnya,
kebencian Tiang Bu takkan demikian hebat. Dalam hati
pemuda ini timbul penasaran dan kekecewaan besar sekali.
Alangkah akan bahagia hatinya bertemu dengan ayahnya
kalau saja ayahnya bukan seorang demikian jahat dan keji.
Sebagai protes mengapa berayah sedemikian jahat maka
Tiang Bu membenci ayahnya.
Liok Kong Ji sedang berkumpul dengan saudara-saudara
angkatnya. Sebagian pada mereka telah merasai kelihaian
Tiang Bu dan bekas tangan pemuda lihai ini masih terasa.
Biarpun dengan kepandaian mereka yang tinggi mereka
sudah dapat menguasai diri dan menyembuhtan lukalukanya,
namun mas ih terasa sakit, terutama sekali It-ci-s an
Kwa Lo yang telunjuknya patah-patah masih nampak pucat.
Telunjuk kanannya dibalut dan membengkak, akan tetapi
tulang-tulangnya sudah disambung kembali.
"Sungguh tidak mengira dua setan betina itu
mengkhianatiku!" Demikian ucapan terakhir Liok Kong Ji
yang nampak bersungut-sungut. Mereka baru saja
membicarakan tentang Cui Lin dan Cui Kim yang dihukum
secara keji. Ketika mengetahui bahwa dua orang gadis itu
yang membawa datang Tiang Bu kemudian bahkan
menolongnya keluar dari Ui tiok-lim, Kong Ji marah bukan
main. Bersama Cui Kong ia menangkap dua orang gadis itu
menyiksa mereka, memukul hancur tulang-tulang kaki
16
mereka dan melemparkan mereka ke dalam rawa lumpur
maut.
Kini mereka membicarakan kehebatan sepak terjang
Tiang Bu. Di dalam hatinya Kong Ji me rasa keperihan hebat.
Sebetulnya ia amat bangga bahwa putera satu-satunya
ternyata demikian lihai. lebih pandai dari pada Wan Sin
Hong yang ditakutinya. Ah, kalau saja Tiang Bu puteranya
itu mau berbaik dengan dia. mau mengakuinya sebagai ayah
dan be rada di sampingnya, ia takkan takut kepada Wan Sin
Hong, takkan takut kepada siapa-pun juga dan tidak perlu
bersembunyi di tempat seperti Ui tiok-lim. Ia akan dapat
merajai dunia! Ia merasa kecewa sekali. Putera tunggalnya
bahkan memusuhinya, agaknya amat membencinva.
Sekarang tentu akan makin benci lagi setelah ia
membuntungi lengan gadis cantik itu. Sayang! Ia terpaksa
membuntungi lengan gadis itu, kalau tidak, kiranya tidak
ada jalan lain untuk menahan amukan Tiang Bu kemarin.
Apa boleh buat, keadaan sudah demikian. dan terpaksa ia
harus menghadapi permusuhan dengan puteranya sendiri.
"Kita harus memperkuat penjagaan. Siapa tahu kalaukalau
anak bengal itu datang mengacau lagi. Kalau perlu,
Lo-thian-tung Cun Gi Tosu akan kupanggil untuk
memperkuat kedudukan kita,” katanya dengan muka
murung. ”Benar-benar aku tidak mengerti bagaimana ia
memperoleh kepandaian sehebat itu dan....... ”
Kata-katanya terhenti oleh pekik mengerikan. Kong Ji
dan kawan-kawannya tersentak kaget. Memang hati mereka
selalu dag-dig dug, sekarang mendengar pekik ini tentu saja
wajah mereka menjadi pucat. Apa lagi ket ika pekik itu
disusul oleh melayangnya tubuh seorang penjaga pintu yang
dilemparkan orang ke arah Kong Ji. Cepat Kong Ji
menggunakan tangan kiri menyampok dan....... penjaga
pintu itu terlempar ke atas lantai di pojok ruangan. Telah
tewas tanpa kelihatan te rluka.
17
Menyusul ini, tubuh Tiang Bu berketebat dan tahu-tahu
ia sudah berdiri di depan pintu ruanpan. Dengan langkah
tenang perlahan berjalan masuk, matanya menyapu orangorang
di dalam ruangan itu bagaikan petirmenyambarnyambar.
Kong Ji menjadi maka pucat, akan tetapi karena ia
bersama banyak kawan, ia memberanikan hati dan berkata
lantang,
“Tiang Bu, anakku yang baik. Bagus sekali kau datang
kembali. Akhirnya seorang anak pasti akan kembali kepada
ayahnya."
Berkata demiktan. Korg Ji melangkah maju dengan
kedua tangan terjulur ke depan, seakan-akan se orang ayah
hendak memeluk puteranya. Melihat sambutan seperti ini,
biarpun hatinya amat panas dan marah, ingin hatinya
segera menyerang orang ini, namun Tiang Bu meras a tidak
enak kalau terus menyerang tanpa bicara dulu. Akan tetapi,
sebelum ia sempat membuka mulut, tiba-tiba ia merasa
be tapa dari dua tangan Liok Kong Ji yang diulur ke depan
itu, menyambar tenaga pukulan yang amat dahsyat. Sekali
lirik melihat kedudukan tubuh Kong Ji agak merendah,
terkejutlah Tiang Bu. Itulah pukulan Tin san-kang yang
maha hebat.
Memang bukan Liok Kong Ji si manusia iblis kalau tidak
securang dan selicik itu. Kong Ji pandai membaca sinar
mata dan wajah orang. Begitu melihat Tiang Bu, ia maklum
bahwa perbuda ini datang untuk membalas dendam, bahkan
tak ada gunanya berunding secara damai dengan pemuda
yang sedang marah. Oleh karena itu, pada luarnya ia
kelihatan ramah tamah dan baik, namun diam-diam ia telah
mengerahkan tenaga, bersiap untuk menyerang secara tibatiba
dengan ilmu pukulan Tin-san-kang yang lihai. Inilah
serangan gelap yang sama sekal i tidak diduga oleh Tiang Bu,
biarpun pemuda ini sudah maklum akan kejahatan orang
yang mengaku menjadi ayahnya.
18
Cepat Tiang Bu mengerahkan tenaga sinkang pada
dadanya karena untuk mengelak sudah tidak mungkin.
Semacam tenaga dorong yang luar biasa kuatnya
menyambarn ya dan dadanya tentu akan remuk kalau saja
tenaga sinkangnya tidak hebat. Dada itu sekarang terisi
hawa, menjadi seperti bola karet padat dengan angin,
pukulan itu terpental da membuat tubuhnya terlempar ke
belakang namun tidak terluka. Bagaikan dilempar oleh
tenaga raksasa, Tiang Bu terlempar membentur dinding.
Baiknya ia sudah bersiap-siap sehingga cepat dapat
mengerahkaa ginkagnya dan tubuhnya tertahan dinding lalu
jatuh dalam keadaan berdi ri. Orang lain tentu akan
membuat tembok itu bobol dan menderita luka-luka.
Bagaikan harimau terluka Tiang Bu membalikkan tubuh,
akan tetapi lagi-lagi ia dihadapi serangan gelap dari Kong Ji.
Beberapa sinar menyambar ke arah jalan darahnya, tidak
kurang dari tujuh bagian ! Sinar hitam itu adalah Hek-tok
ciam (JarumRacun Hitam) yang amat lembut dan datangnya
tanpa mengeluarkan suara. Tiang Bu tidak menjadi gugup.
Ia telah menggerak-gerakkan kedua tangannya memancing
ke luar tenaga lwee -kangnya dan begitu kedua tangannya
menyambar ke depan, tanpa mengelak ia telah dapat
menghindarkan se rangan gelap ini.
Semua jarum hitam tersampok runtuh oleh angin
pukulannya. Tiang Bu marah sekali dan hendak memaki
akan kecurangan orang. akan tetapi lagi-lagi Kong Ji sudah
mendesaknya dengan pukulan Hek-tok-ciang (Tangan Racun
Hitam), semacam pukulan warisan See-thian Tok-ong yang
luar biasa jahatnya. Jangankan terkena tangan yang
melakukan pukulan ini baru terkena hawa pukulan saja
lawan akan roboh dengan tubuh menghitam dan nyawa
melayang !
"Setan, kau curang !” bentak Tiang Bu sambil
menggerakkan kedua tangan memukul ke depan. Akibat dari
adu tenaga dari jauh ini, Liok Kong Ji mundur tiga tindak
19
dengan muka pucat, sedangkan Tiang Bu hanya menahan
napas saja.
"Bagus. kepandaianmu memang hebat, dan kau cukup
berharga untuk bicara. Kau datang kalau bukan hendak
berbakti kepada ayahmu, habis mau apakah....?” tanya Kong
Ji, biarpun ia juga marah, tak dapat ia menyembunyikan
kekagumannya terhadap pemuda lihai ini.
"Kau masih hendak bertanya lagi ? Aku datang untuk
menamatkan riwayatmu, untuk membunuhmu !" jawab
Tiang Bu sambil melangkah maju, tidak perduli betapa Cui
Kong, Ban kin-liong Cong Lung, Twa-to Ma-It Su, It-ci-san
Kwa Lo, Koai-jiu Sin-touw Lee BokWi dan Hok Lun Hosiang
sudah bangkit dan mengeluarkan senjata masing-masing,
mengambil tempat untuk mengeroyoknya.
Liok Kong Ji menyeringai. "Tiang Bu, Tiang Bu ! Di
manakah ada di dunia ini ada seorang anak membunuh
bapaknya? Apa kau tidak takut akan terkutuk oleh Langit
Bumi ?"
"Banyak cerewet yang tidak ada gunanya. Aku datang
bukan untuk membunuh ayahku melainkan untuk
membunuh seorang penjahat sekeji-kejinya di dunia ini !"
“Lho, aku ini ayahmu, Tiang Bu! Aku Liok Kong Ji
ayahmu, dan ibumu Gak Soan Li...!”
"Cukup ! Ibuku sudah mati, demikian ayahku sudah mati
dalam hati dan ingatanku. Kau bukan ayahku, kau seorang
iblis yang harus dibasmi dari muka bumi. Kau... kau...
jahanam besar !" Tiang Bu melangkah maju, sinar matanya
mengandung penuh ancaman sehingga Liok Kong Ji yang
biasanya amat pemberani dan keji itu bergidik.
”Ayah, mengapa banyak mengalah terhadap orang
kurang ajar semacam ini? Hantam saja !” kata Cui Kong
mempersiapkan huncwenya.
20
"Saudara-saudara, sekarang aku tidak sayang lagi,
ke royok dan bunuh bedebah ini !”
Kong Ji kini marah betul-betul dan semua kasih
sayangnya sebagai ayah terhadap anak lenyap, terganti oleh
kebencian besar. Tiang Bu bukan dianggap anaknya lagi,
melainkan musuh besar yang berbahaya dan yang harus
dilenyapkan dari muka bumi kalau dia mau hidup aman.
Cepat Kong Ji mencabut pedangnya dan menyerang Tiang
Bu. Pedangnya berputar secara luar biasa, berkembang ke
depan sampai lebar membundar, mengeluarkan s inar putih
berkilau dan mendatangkan hawa dingin menyusup tulang
kepada yang diserangnya.
Tiang Bu mengeluarkau teriakan kaget menghadapi
serangan ini. Pernah ia melihat Tiong Jin Hwesio memainkan
ilmu pedang ini maka tahulah ia bahwa yang dimainkan oleh
Liok Kong Ji secara hebat untuk menyerangnya adalah ilmu
pedang warisan Hoat Hian Couwsu yang lihainya bukan
kepalang.
“Se tan ! Kau sudah mencuri pula Ilmu Pedang Swat-Tiankiam-
sut ( Ilmu Pedang Teratai Salju ) dari Omei-s an,"
toriaknya sambil cepat mengelak dan mengibaskan
tangannya dengan pengerahan tenaga lweekang untuk
melawan hawa dingin yang keluar dari se rangan pedang itu.
Merasa betapa pedangnya terdorong ke s amping oleh
kibasan tangan ini, Kong Ji diam-diam terkejut sekali, apa
lagi pemuda itu sekali melihat sudah mengenal ilmu
pedangnya. Memang dahulu ketika beramai-ramai menyerbu
ke Omei-san, Liok Kong Ji sudah berhasil mendapatkan
sebuah kitab ilmu pedang yaitu Swat-lian-kiam-coansi yang
dilatihnya secra rahasia dengan amat tekunnya. Orang lain
tidak ada yang tahu bahwa ia mendapatkan kitab itu dan
mempelajarinya, akan tetapi sekarang baru sejurus saja ia
keluarkan, pemuda ini sudah lantas mengenalnya.
21
"Ha ha, kaukira hanya kau saja yang pandai? Hari ini
kau akan mampus di depan kakiku, boeah jahanam tak
tahu diri!” bentaknya untuk menutupi kekagetannya.
Kembali ia menyerang dengan ilmu pedangnya yang
tinggi tingkatnya digerakkan dengan pengerahan tenaga
sepenuhnya karena nafsu membunuh sudah memenuhi
dirinya. Terpaksa Tiang Bu mengelak. Serangan-serangan
“ayahnya” kali ini dilakukan dengan sungguh-sungguh dan
benar-benar bukan serangan yang tidak berbahaya. Ia harus
hati-hati. Agaknya Liok Kong Ji kali ini mengeluarkan
kepandaiannya betul-betul untuk menghadapinya.
"Kau memamerkan kepandaianmu ? Bagus. Akulah
lawanmu." kata Tiang Bu dengan gerakan indah melakukan
jurus Sam hoan-bu sehingga kembali serangan Kong Ji
mengnai tempat kosong.
”Bunuh keparat ini!” Teriak Cui Kong yang cepat
menyerbu membantu ayah angkatnya, menyerang dengan
huncwenya yang juga amat lihai.
Biarpun tadinya merasa gentar, kini melihat sang twako
Liok Kong Ji sudah bergerak dan agaknya betul-betul
hendak membunuh pemuda itu, lima orang saudara angkat
Kong Ji menjadi besar hati dan berturut-turut mereka
melompat maju, menyerang dengan keistimewaan
masing.masing. Ban-kin-liong Cong Lung menyerang dengan
tangan kosong, namun pukulan-pukulannya mendatangkan
angin yang sudah cukup untuk merobohkan lawan karena
dia memang seorang ahli lweekeh yang tanggub tenaga
lweekangnya. Twa-to Ma it Sun memutar-mutar golok
besarnya. It-ci-san Kwa Lo biarpun jari telunjuknya kini
dibungkus dan tak dapat dipergunakan, namun jari-jari
tangannya yang lain masih ampuh. Si jari lihai Kwa Lo ini
adalah ahli totok nomor satu di daerahnya, memiliki
kepandaian Tiam-hiat -hoat (Ilmu Menotok Jalan Darah) yang
istimewa dilakukan dengan satu jari dan betapa tingi
22
kepandaian Kwa Lo dapat dilihat dari kepandaiannya
mempergunakan jari tangan yang manapun juga.
Babkan ibu jari yang besar tumpul dapat pula ia
pergunakan! Koai-jiu Sin-touw Lee Bok Wi Si Malaikat Copet
juga merangsek maju, kini mengeluarkan senjatanya yang
istimewa berupa besi kaitan kecil alat yang biasa dibawa
oleh ahli-ahli copet untuk menyambar barang orang. Akan
tetapi kini kaitan besi ini bukan dipergunakan untuk
menyambar benda berharga yang dipakai orang, melainkan
dikerjakan secara hebat untuk menyambar nyawa Tiang Bu.
Akhi rnya Hok Lun Hosisng, orang yang memiliki Ilmu toya
Siauw lim-si, lihai dan amat hati-hati toyanya menyambarnyambar
mengeluarkan angin.
Untuk kedua kalinya Tiang Bu menghadapi
pengeroyokan tujuh orang yang amat lihai, yang
kesemuanya merupakan jago-jago kelas satu. Akan tetapi
sekarang ia seorang diri, tidak melindungi Bi Li, juga tidak
memondong orang sepertI kemarin. Di samping ini, hatinya
marah dan sakit hati, maka Tiang Bu hebat sekali
gerakannya, seperti seekor naga mengamuk. Dengan
pengerahan sinkang yang ia miliki dari latihan Ilmu Seng
thian-to, jari jari tangannya demikian kuat dan kebal untuk
mengibas dan menangkis setiap sambaran senjata lawan.
Cukup dengan angin pukulannya saja dapat menahan dan
setiap orang lawan tidak berani datang terlampau dekat,
karena sambaran angin pukulannya cukup membuat lawan
menderita luka dalam yang hebat, tidak kalah berbahayanya
dari pada senjata yang paling tajam.
Namun tujuh orang lawannya juga bukan ahli silat
sembarangan, mereka bertempur dengan hati-hati, maklum
akan kelihatan pemuda sakti itu. Senjata datang menerjang
seperti hujan, semua dilakukan dengan teratur dan hatihati.
Terutama sekali pedang di tangan Liok Kong Ji benar
benar hebat gerakannya. Kalau saja pemuda itu bukan
murid Ome i-san dan kebetulan sakali pernah melihat Ilmu
23
Padang Soat hoat-kiam-sut dimainkan oleh guru ke dua
Hong Jin Hwesio di Omei-san, tentu ia akan payah melawan
Ilmu pedang yang mendatangkan hawa dingin ini.
Pertempuran itu hebat sekali, cepat dan seru s ampaisampai
sukar membedakan satu dari yang lain. Di sekeli ling
tempat pertempuran, angin pukulan menyambar-nyambar
membuat meja kursi beterbangan dan suara angin bersiutan
sungguhpun di luar gedung pada saat itu tidak ada angin.
Benar-benar sebuah pertempuran ahli-ahli silat tingkat
tinggi.
Seratus jurus lewat sudah. Belum dapat tujuh orang itu
mendesak Tiang Bu, bahkan sebaliknya perlahan akan te tapi
tentu Tiang Bu mulai dapat mengacau pertahanan mereka.
Dengan pukulan pukulan yang ia mainkan dari Ilmu
Pukulan Sakti Thian-te Si-kong ia menolak semua serangan
lawan, kemudian dengan ilmu silat bersegi delapan, ia
dengan mudah menghadapi tujuh orang pengeroyoknya dan
dapat secara bergiliran membagi se rangan.
Kong Ji yang merasa penasaran bukan main menggerung
seperti singa. Pedangnya meluncur sepe rti kitat menyambar
ke arah tenggorokan Tiang Bu. Ketika pemuda ini yang
sedang menangkis serangan toya Hok Lun Hosiang dengan
tendangan kaki cepat mengelak ke kiri, Kong Ji
memapakinya dengan pukulan Hek tok ciangnya.
Keadaan Tiang Bu terjepit sekali. Pada saat pukulan Hektok-
ciang ini mengancam lambungnya, masih ada dua
serangan lawan yang tidak kalah berbahaya. Pertama-tama
huncwe di tangan Cui Kong melakukan totokan ke arah
jalan darah di punggungnya, sedangk golok besar Ma It Sun
membabat lehernya. Jadi sekaligus tiga macamserangan
yang merupakan tangan-tangan maut mengancam
nyawanya.
Baiknya Tiang Bu adalah murid Omni -san dan sudah
memiliki kepandaian, ketenangan dan parhitungan yang
tepat. sekilas pandang tahulah ia bahwa dari tiga serangan
24
ini pukulan Hek-tok-ciang dari Kong Ji ke arah lambungnya
datang paling akhir, juga baginya yang sudah memiliki hawa
sinkang untuk mengebalkan badan, pukulan Hek-tok-ciang
ini paling kecil artinya. Huncwe yang menotok jalan darah di
Thai-hut-hiat dan golok yang membabat leher lebih
be rbahaya.
Jalan darah Thai-hut-hiat adalah jalan darah paling
lemah bagi ahli-ahli silat dan ahli lwee-keh, sedangkan
penotokan dilakukan oleh Cui Kong dengan Huncwe
mautnya, bahayanya besar sekali. Adapun babatan golok ke
arah lehernya juga tak boleh dipandang ringan, sebelum
golok tiba angin sudah menyambar, tanda bahwa si tinggi
besar hitam Ma It Sun itu bertenaga besar dan goloknya
sendiripun berat.
Tiang Bu membagi tenaga. Sebagian yang mengandung
hawa murni dari sinkang ia salurkan ke arah lambung
untuk menerima pukulan Hek-tok-ciang, sedangkan
sebagian pula ia pergunakan di kedua tangannya yang
be rge rak cepat sekali.
Dengan Ilmu Twi-san-siu-po (Tolak Gunung Menyambut
Mustika) ia menggunakan tangan kiri yang dimiringkan
menolak atau menangkis tusukan huncwe berbareng dengan
tangan kanannya secepat kilat menyambut datangnya golok
dari samping. Betapapun cepatnya golok melayang, tangaa
kanan Tiang Bu lebih cepat lagi menempel golok dari
tamping dan mendorongnya sekuat tenaga ke belakang.
“Celaka.....!” seru Cui Kong melihat golok yang tadinya
menyambar leher Tiang Bu sekarang menyeleweng dan
sebaliknya malah menyambar kepadanya! Twa to Ma It Sun
tentu saja maklum akan hal ini, namun ia tidak dapat
mengendurkan tangannya yang sudah terdorong oleh tenaga
Tiang Bu. Untuk membersihkan diri agar jangan sampai
dianggap menyerang Cui Kong, Si golok besar terpaksa
melepaskan gagang goloknya. Senjata itu terus meluncur ke
arah Cui Kong. Pemuda ini dapat menggerakkan huncwenya
25
menangkis. Terdengar suara keras, tangannya tergetar
hebat, namun ia selamat, Golok dapat terpukul jatuh hanya
mengalami kekagetan luar biasa. Sungguh berbahaya
ke adaan tadi.
Sebaliknya Ma It Sun lebih sialan. Begitu ia melepaskan
goloknya, baru ia meras a ada angin panas menyambar. Ia
berusaha mengelak namun tidak sempat lagi. Tadi ia
terlampau kaget melihat goloknya hendak minum darah
kawan sendiri maka perhatiannya tarpecah. Pantangan
besar bagi ahli silat ke las tinggi untuk membagi perhatian
selagi menghadapi lawan tangguh. Sedangkan pukulan yang
dilakukan oleh Tiang Bu ini bukan pukulan biasa,
melainkan pukulan tangan miring yang menganduog tenaga
lweekang kuat sekali.
"Kekkk!" Seperti disambar petir Ma It Sun meme gangi
kepala dengan perut ditekuk. Perutnya telah kena pukulan,
namun kepalanya yarg terasa panas seperti hendak meledak,
napasnya putus. Ia terjungkal kedepan, tergelimpang dan
roboh telungkup, tak bernapas lagi.
Enamoraug yang lain melihat ini menjadi marah, tetapi
juga gentar. It ci-sian Kwa Lo yang masih merasa penasaran
dan sakit hati karena telunjuknya patah-patah, diam-diam
melakukan serangan gelap dari belakang, sekaligus kedua
tangannya bekerja. Tangan kiri menotok ke arah tulang
belakang sedangkan tangan kanan yang telunjuknya
terbungkus itu menggunakan jari kelingking menotok jalan
darah Siauw-hu hiat, jalan darah terke cil di punggung, akan
tetapi paling be rbahaya kalau sampai terkena.
Yang lain-lain membantu Kwa Lo. Si Malaikat Copet Lee
Bok Wi juga mengerjakaa besi kaitannya, dari depan. Ia
dengan bes i kaitannya ke arah muka Tiang Bu, hendak
mengait biji mata atau hidung. Juga Ban-kin liong Cong
Lungmemukul dari samping dibantu oleh Hok Lun Hosiang
yang menyodokkan toyanya ke arah perut lawan. Kong Ji
dan Cui Kong tidak mau ketinggalan. Setelah Kong Ji
26
menendangmayat Ma It Sun sehingga terlempar ke pinggir
dan tidak akan terinjak-injak ia lalu mengerjakan lagi
pedangnya, demikian pula Cui Kong maju, biarpun kini amat
hati-hati karena tadi hampir celaka.
Sekarang Tiang Bu sudah tidak sabar lagi. Kalau tadi
nafsu membunuhnya hanya ditujukan kepada Kong Ji dan
Cui Kong. sekarang ia mulai marah kepada yang lain-lain
pula. Pengeroyokan ini menghalangi atausetidaknya
memperlambat terlaksananya keinginan hatinys
menewaskan ayah anak yang jahat itu. Tiba-tiba ia
mengeluarkan pekik keras sekali.
Inilah lweekang yang setinggi-tingginya, disalurkan dalam
suara yang mengge tar. Biarpun Tiang Bu tidak pernah
mempelajari Ilmu Sai -ciu Hokang (Ilmu Auman Singa),
namun sinkang dan lweekangnya sudah lebih dari kuat
untuk melakukan pekik yang mengandung tenaga hebat ini.
Kitab Sang thian-to yang sudah dipelajarinya telah
mengumpulkan tenaga sinkang baginya, tenaga yang
sehebat-hebatnya namun masih kurang ia sadari.
Kini Tiang Bu terserang kemarahan besar ia gemas
melihat pengoroyokan mereka, maka untuk melampiaskan
hawa marah yang mendesak di dada, ia mengeluarkin
pekikan ini. Tadinya ia hanya ingin memuaskan hawa
marah, ingin menantang. Siapa kira pekikannya ini
merupakan serangan yang luar biasa hebatnya.
"Eeeiiiikkk ...... !” Pekik ini lebih menyerupai suara
garuda dari pada suara singa mengaum. Yang paling rendah
Iweekangnya antara para pengeroyok adalah Koai jiu in-touw
Lee Bok Wi Si Malaikat Copet. Begitu mendengar pekik ini
wajahnva menjadi pucat sekali dan tubuhnya menggigil.
senjata kaitan terlempar dan kedua tangannya ia
pergunakan menutupi kedua te linganya. Namun tetap saja
ia terguling roboh, muntah-muntah darah, kejang lalu ......
mati! Hawa serangan yang te rkandung dalam pekik itu telah
27
merusak dan menghancurkan seluruh latihan lweekang
dalam dirinya.
Lima orang yang lain juga mengalami goncangan hebat
sekali. Bahkan Hok Lun Hosiang hwesio Siauw-lin si yang
murtad itu, telah melempar toyanya dan duduk bersila
mengatur napas, karena ia telah menderita luka dalam yang
tidak ringan. It ci-sian Kwa Lo terhuyung-huyung mundur
dengan wajah pucat seperti mayat, kedua kakinya menggigil.
Cui Kong yang tadi merasa jantungnya seperti copot
mendengar gerengan cepat mengerahkan tenaga lweekang
melindungi telinga dengan tangan.
”Iblis ...........!” Kong Ji berbisik dengan muka pucat pula.
Hanya dia yang dapat menahan serangan pekik yang
dahsyat ini, biarpun merasa dadanya berdebar-debar dan
telinganya mendengar suara gema mengiang.
Akan tetapi Tiang Bu yang tadinya juga kejut melihat
akibat pekikannya, tidak mau banyak membuang waktu.
Kedua tangannva bergerak ke kanan kiri dan pertama-tama.
Hok Lun Hosiang te rge limpaag tewas, disusul robohnya Ban
kin lions Cong Lung dan yang terakhir It-ci-sian Kwa Lo!
Tewaslah lima orang jago Ui-tiok-lim, saudara-saudara
angkat dan tangan kanan Liok Kong Ji.
Tiang Bu bersiap menghadapi Kong Ji dan Cui Kong.
Akan tetapi, sekali melompat orang itu telah lenyap dari situ!
"Jahanampengecut Liok Kong Ji kau hendak !ari ke
mana?” Tiang Bu lari meagejar ke depan, akan tetapi ke
mana ia harus mencari. Tempat di situ penuh rahasia dan
perginya Liok Kong Ji dan Liok Cui Kong tadi saja pun sudah
aneh sekali. Tahu-tahu hilang begitu saja.
Tiang Bu ragu-ragu dan bingung, juga amat penasaran
dan gemas. Biarpun ia sudah berhasil menewaskan lima
orang kaki tangan Kong Ji yang paling diandalkan dan
karena itu berarti sudah menewaskan lima orang jahat yang
28
mengotorkan dunia, namun ia mas ih belum dapat
membunuh Kong Ji.
”Liok Kong Ji dan Liok Cui Kong ! Majulah kalau kalian
jantan!!” Kembali Tiang Bu memaki-maki dan berteriak –
teriak memanggil keluar ayah dan anak itu. Namun keadaan
sunyi saja, tidak terdapat seorangpun manusia. Biarpun
tadinya di dalam gedung itu penuh dengan pelayan dan para
selir Kong Ji, namun sekarang entah bagaimana mereka
sudah pada menghilang semua.
"Percuma......." pikirnya. "Aku mencari-cari tak mungkin
dapat menemukan mereka, salah-salah aku bisa terjebak.
Lebih baik kutunggu mereka di bawah bukit.”
Setelah berpikir demikian. Tiang Bu lalu lari
meninggalkan daerah Ui tiok lim, mengikuti jalan yang
pe rnah dilaluinya ketika ia memondong Bi Li keluar.
Akhirnya ia selamat sampai di bawah bukit. Di sini ia
bersembunyi sambil mangaso untuk mencegat keluarnya
Liok Kong Ji dan Liok Cui Kong.
Sehari ia berjaga di situ, namun tak seorangpun muncul.
Menjelang senja, barulah ia melihat rombongan orang turun
gunung. Hatinya berdebar te gang, tak salah lagi, tentu itulah
rombongan Liok Kong Ji, pikirnya. Diam-diam ia
mentertawakan Liok Kong Ji yang dianggap goblok sekali,
mengungsikan keluarganya demikian tergesa-ges a.
Rombongan itu terdiri dari belasan joli yang dipikul oleh
para pelayan, ada pula yangmembawa buntalan-buntalan
besar, agaknya membawa harta benda dari Ui-tiok-lim.
Tiang Bu melompat ke luar. "Berhenti!” bentaknya. "Liok
Kong Ji, keluarlah untuk terima binasa !"
Melihat munculnya pemuda ini, para pelayan menjadi
kaget dan ketakutan. Mereka berkumpul, menutunkan jol i
lalu berlutut dengan tubuh gemetar.
29
"Siauw-ya, ampunkan kami....... " yang berani membuka
mulut berkata lemah.
"Di mana majikan kalian? Surub Liok Kong Ji ke luar
menemuiku !’
"Liok-loya tidak....... tidak ada....... kami tidak tahu......
hanya disuruh pergi meninggalkan gunung ...... " jawab
seorang pelayan.
“Bohong......!” Tiang Bu tidak sabar lagi. Dengan
menggerakkan sedikit kaki kirinya, pelayan itu tergulingguling
dan Tiang Bu maju menghampiri joli-joli itu.
Disingkapnya joli diperiksanya dalamjoli. Terdebgar pekik
dan jerit wanita.
"Laki-laki kurang ajar !”
”Cih. tak tahu malu !"
"Kau mau apa....... !”
”Hee....... ada pemuda kurang ajar. Jangan buka buka
joli...... !”
Tiang Bu kewalahan. Ternyata joli-joli terisi wanitawanita
muda cantik yang menjadi selir Kong Ji. Sudah
dipe riksa seluruh joli , juga diperiksa semua anggauta
rombongan tidak terdapat Kong Ji maupun Cui Kong.
Sakingmarahnya Tiang Bu membanting-banting kaki.
Kemudian ia mendapat akal. Dihampirinya sebuah joli,
disingkapnya joli itu tanpa memperdulikan jerit tangis orang
di dalamnya. Bahkan ia lalu mengulurkan tangan ke dalam
joli, menangkap lengan wanita di dalam joli, dan ditariknya
ke luar. Seorang wanita muda yang cantik akan tetapi
berbedak tebal sekali meronta-ronta dalam pegangannya.
"Hayo kau mengaku, di mana adanya Liok Kong Ji !”
bentaknya marah. ”Kalau tidak mau mengaku, akan
kulempar kau ke dalam jurang itu !” Ia menuding ke arah
sebuah jurang yang curam.
30
“Aaiiihhh, ampun....... taihiap....... . ampun.
Sesungguhnya kami tidak tahu ...... ke mana dia......,”
wanita itu menangis dan meratap. ”Kami hanya diberi
perintah supaya pergi mengungsi turun gunung, tidak
diperbolehkan kembali lagi ......”
Tiang Bu membentak bentak dan menakut-nakuti
sampai wanita itu terkencing-kencing ketakutan dan Tiang
Bu dengan jongah dan mendongkol melepaskan tangannya.
Dengan pakaian bawah basah wanita itu merayap kembali
ke dalam joli. Tiang Bu menyeret keluar wanita dari jol i ke
dua. Akan tetapi sama saja. biarpun ia sudah mengancam,
wanita itu tidak dapat menceritakan di mana adanya Liok
Kong Ji.
Tiba-tiba muncul seorang wanita berpakaian hijau muda,
datang-datang membentak marah, "Begal tak tahu malu!
Kau berani menghina kaum wanita?"
Tiang Bu memutar tubuh dan dua sinar berkilauan
menyambarnya. Cepat ia mengelak dan mengulur tangan
menangkap pergelangan dua tangan gadis baju hijau itu
yang telah menyerangnya dengan sepasang kapak kecil
secara hebat sekali.
"Fei Lan,......!” katanya tertegun ketika mengenal gadis
puteri penebang kayu yang pernah ditemuinya ketika ia
melakukan perjalanan ke selalan mencari Toat-beng Kui-bo.
Gadis cantik berbaju hijau itu terkejut mendengar
namanya dipanggil, juga ia tidak sanggup menarik kedua
tangannya yang terpegang oleh pemuda itu. ia memandang,
memperhatikan dan mengingat-ingat. Kemudian pecahlah
senyumnya,....... seruannya.
"Tiang Bu koko ..... ..! Akhirnya aku dapat berjumpa
denganmu!"
Tiang Bu melepaskan pegangannya dan gadis itu
bertanya, keningnya berkerut penuh curiga dan penasaran.
31
"Tiang Bu koko, hendak berbuat apakah terhadap wanitawanita
ini ?”
Melihat sikap dan pandang mata gadis ini me rah muka
Tiang Bu. Celaka, ia tentu dis angka hendak berbuat yang
tidak patut terhadap rombongan itu.
”Fei Lan, jangan salah sangka. Rombongan ini adalah
keluarga musuh besarku, aku sedang memaksa mereka
mengaku di mana adanya musuh besarku yang
menyembunyikan diri itu.”
"Begitukah?" Tiba-tiba sikap Fei Lin berubah cepat sekali.
Ia menghampiri jol i terdekat menendang jol i itu sehingga
wani ta yang ada di dalamnnya menjerit dan terlempar jatuh
bergulingan.
"Kau tidak mau mengaku? Hayo katakan di mana adanya
musuh besar
tunanganku ini!”
"A....... am.......
ampun...... aku tidak
tahu .......” wanita itu
masih mencoba
menjawab dan inilah
kesalahannya. Sepasang
kapak bergerak dan .......
tubuh wanita itu
terpotong menjadi tiga!
Putus pada leher dan
pinggangnya,
"Fei Lan. ...... !" Tiang
Bu berteriak tidak kuasa
mencegah pembunuhan
yang sama sekali tak
pernah disangka-dangka
itu.
32
Fe i Lan berpaling kepadanya, tersenyumsemanismanisnya.
“Koko. musuhmu adalah musuhku, anjing-anjing
be tina ini harus dipaksa, kalau perlu dibunuh !"
"Tidak, jangan !" tegur Tiang Bu sambil melompat
mendekati Fai Lan untuk mencegah gadis ini menyebar
kematian. Biarpun amat benci kepada Kong Ji dan Cui Kong,
namun Tiang Bu tidak menghendaki rombongan yang terdiri
dari para selir dan pelayan ini dibunuh. Mereka ini adalah
orang-orang biasa yang tidak mempunyai dosa, bahkan
harus dikasihani berada di bawah kekuasaan se orang jahat
macamKong Ji. "Kalian pergilah dari sini." katanya kepada
mereka. Bagaikan dikejar setan, rombongan itu lalu berlarilari
turun dan cepat -cepat pergi dari tempat itu.
"Fei Lan, bagaimana kau bisa berada di sini?" tanya Tiang
Bu setelah rombongan itu pergi sambil membawa mayat
wanita yang sudah terpotong menjadi tiga itu.
"Tiang Bu koko, kau benar-benar lelaki yang tidak tahu
kasihan kepada tunangan. Sudah dua tahun aku mencaricarimu,
hidup terlunta-lunta. Baru sekarang kebetulan
sekali kita bertemu dan kau masih tanya bagaimana aku
bisa berada di sini? Kau benar-benar terlalu !" Fe i Lan
menyelipkan sepasang kapaknya di pinggang, menutupi
muka dengan kedua tangan, menangis.
Tiang Bu melongo. Untuk beberapa lama ia sampai tidak
dapat mengeluarkan sepatah katapun. Teringat ia akan
peristiwa yang dahulu, ketika ia bertemu dengan Fai Lan
dan ayahnya. Ayah gadis ini secara begitu menetapkan
perjodohan antara dia dan gadis ini dan Fel Lan juga
menerimanya. Tanpa bertanya tentang pendapatnya, ayah
dan anah ini sudah menganggap otomatis perjodohan itu
terikat. Benar-benar gila.
"Fai Lan, di mana ayahmu ?” akhirnya dapat juga
membuka suara.
33
Akan tetapi mendengar pertanyaan ini, Fei Lan
memperhebat tangisnya. Tiang Bu menjadi makin bingung.
ia paling bingung menghadapi wanita menangis. Tak tahu
apa yang harus dilakukan atau diucapkannya, ia banyak
berdiri mematung memandaog gadis yang menangis tersedusedu
itu.
“Fei Lan, jangan menangis dan bicaralah!” Akhirnya ia
membentak saking tidak sabar lagi. Aneh.
Fel Len tiba tiba saja berhenti menangis dan memandang
kepadanya dengan heran dan mendongkol. "Koko, kau
keterlaluan sekali. Bertahun-tahun tidak muncul, setelah
kucarari sampai dua tahun lebih, sekarang bertemu kau
membentak-bentak."
Kembali Tiang Bu yang melengak. Celaka, pikirnya,
sudah bertahun-tahun gadis ini masih belum insyaf dan
belumsembuh, bahkan penyakitnya ”mengaku-aku jodoh"
makin menggila.
"Katakanlah mengapa kau datang ke sini dan mana
ayahmu. Jangan bicara tidak karuan, aku tidak ada waktu,
hendak mengejarmusuh-musuhku”
"Ayah telah tewas. pembunuhnya kakek buntung. Koko,
sekarang aku sebatang kara. Aku ingat jenjimu. Bukankah
kau menyuruh aku menanti lima tahun? Nah, sekarang
sudah lima tahun, aku mau ikut kau !”
Akan tetapi Tiang Bu tidak memperhatikan kata-kata
terakhir ini, yang ia perhatikan adalah tentang kakek
buntung yang membunuh Lim-bong Lai Fu Fat si penebang
kayu yang lihai.
"Kakek buntung lihai? Kau tahu nemanya?”
”Namanya Lothian tung Cun Gi Tosu, dia membawa
seorang bocah perempuan dan ......”
34
"Dia lari ke mana? Tahukah kau, Fei Lan, Dia lari ke
mana ?" Tiang Bu bertanya s ambil memegang lengan gadis
itu.
Fe i Lan memandang heran. Ia tidak mengerti mengapa
”tunangannya" ini demikian memperhatikan Lo-thian-tung
Cun Gi Tosu.
"Kakek buntung itu naik peruhu ke selatan. Karena aku
tidak kuat melawannya akan tetapi aku mendendam atas
kematian ayah, aku mengikutinya terus diam-diam. Ternyata
te rus ke laut, menuju ke pulan-pulau selatan. Aku tidak
dapat mengejar te rus. Mengapa kau bertanya, koko ?"
Tiang Bu memegang lengan gadis itu erat-eral dan
suaranya mengandung kasihan sungguh-sungguh ketika ia
berkata, "Fei Lan, aku tidak bisa menjadi jodohmu. Kau
cantik, gagah, tentu mudah mendapat pasangan. Kau
carilah pemuda lain, jangan mengharapkan aku. Jangan
khawatir, kematian ayahmu kelak aku yang akan
membalaskan kepada kakek buntung itu. Nah, selamat
tinggal dan jangan mencari aku lagi !"
Fei Lan hendak merangkul, akan tetapi Tiang Bu lebih
cepat. Sekali berkelebat pemuda itu lenyap dari depannya.
Fei Lan bengong terlongong-longong, lalu menangis dan
berkata seorang diri,
"Mencari pemuda lain........? Mana ada seperti dia....... ?
Ah, ayah....... nasib anakmu buruk sekali...... " Gadis itupun
berjalan sambil menangis, pundaknya bergoyang-goyang dan
jalannya limbung.
-oo(mch)oo-
Wan Sin Hong meninggalkan isterinya, Siok Li Hwa, di
Kim-bun-to dan dia sendiri merantau untuk mencari
puterinya yang diculik oleh tosu buntung Lo-thian-tung Cun
Gi Tosu. Sebagaimana telah dituturkan di bagian depan, di
35
dalampeperangan hebat di kota raja ketika bala tentara
Mongol menyerbu, Sin Hong berhasil menolong Bi Li dan
Wan Sun dari kepungan tentara musuh. Akan tetapi Bi Li
melarikan diri ketika mendengar dia bukan putera Wanyen
Ci Lun, dan Wan Sun diajak pergi oleh Sin Hong ke Kim
bun-to pula. Di pulau ini, Wan Sun seringkali bertemu
dengan Coa Lee Goat yang menjadi calon isterinya.
Bersemilah cinta kas ih di dalam hati dua orang muda ini,
dan mereka memang merupakan pasangan cocok, sama
muda, sama elok dan sama gagah.
Akan tetapi hati Wan Sun selalu berduka kalau ia
teringat akan Bi Li. Diam-diam ia harus mengaku dalam hati
bahwa cintanya yang pertama jatuh kepala Bi Li, semenjak
ia tahu bahwa dara jelita itu bukanlah adik kandungnya.
Akan tetapi, dia telah dicalonkan menjadi jodoh Lee Goat
dan setelah ia bertemu dengan gadis tunangannya itu,
timbul juga rasa suka.
Karena orang tua Wan Sun sudah meninggal dunia dan
walinya yang paling berhak menjadi pengganti orang tuanya
adalah Wan Sin Hong. maka sesuai dengan kehendak
pendekar ini, taklama sesudah tinggal di Kim-bun-to,
dilangsungkanlah pernikahan antara Wan Sun dan Coa Lee
Goat. Pernikahan ini dilangsungkan dengan meriah dan agak
tergesa-gesa karena Wan Sin Hong hendak segera pergi
melakukan perantauannya mencari anaknya yang hilang.
Beberapa bulan setelah menikah. Wan Sun juga
mengajak isterinya pergi untuk menyelidiki perihal Bi Li
yang sekarang setelah menikah, kembali timbul perasaan
cinta saudara terhadap gadis itu. Tentu saja Coa Lee Goat
tidak keberatan. bahkan merasa gembira pergi merantau
mencari adik iparnya. Anak-anak orang gagah selalu merasa
gembira apabila melakukan perantauan, karena hanya dalam
perantauan inilah kepandaian silat yang dipelajari semenjak
kecil, kelihatan kegunaannya. Perjalanan sepasang suami
isteri ini tidak menemui banyak rintangan. Siapakah
36
yang berani mati mengganggu mereka ? Kepandaian Lee
Goat dalamilmu silat sudah termasuk tingkat tinggi, dia
adalah puteri dari Go Hui Lian terutama sekali dia murid
Wan Sin Hong! Selain dia, suaminya, Wan Sun juga bukan
seorang biasa saja. Wan Sun adalah murid Ang jiu Mo-li,
tokoh utara yang disegani kawan ditakuti lawan itu.
Dibandingkan dengan isterinya, Wan Sun tidak kalah lihai.
Kasihan bagi sepasang suami isteri yangmeninggalkan
Kim-bun-to ini, juga bagi Wan Sin Hong, mereka ini tidak
mengetahui bahwa beberapa bulan semenjak mereka pergi
meninggalkan Kim-bun-to, peristiwa besar terjadi di pulau
itu.
Yang kini tinggal di rumah besar Coa Hong Kin adalah
dia sendiri bersama isterinya Go Hui Lien, kemudian Siok Li
Hwa yang merasa agak kecewa tidak diajak pergi bersama
oleh suaminya. Win Sin Hong memberi alasan bahwa
perjalanan kali ini sungguh amat berbahaya. Penculik puteri
mereka adalah Lothian tung Cun Gi Tosu seorang tokoh
besar yang memiliki kepandaian tinggi sekali.
Wan Sin Hong merasa lebih aman meninggalkan Li Hwa
di Kim-bun-to. Memang pendapat Sin Hong ini ttdak keliru.
Dalam menghadapi Cun Gu Tosu, dia lebih leluasa bergerak
seorang diri, tak usah melindungi isterinya. Dan isterinya
tinggal di Kim bun-to bersama Coa Hong Kin dan Go Hui
Lian, tempat aman dan di antara sahabat -s ahabat baik yang
gagah perkasa pula.
Disamping tiga orang pendekar ini, di rumah itu masih
ada lagi dua orang penjaga rumah yang mempunyai
kepandaian lumayan karena mereka sudah mendapat
petunjuk dari Coa Hong Kin. Hong Kin yang maklum bahwa
banyak sekali musuh dan orang jahat selalu berlaku hatihati
dan menaruh penjaga- penjaga malam yang mempunyai
kepandaian, sehingga dia sekeluarga di waktu malamtak
melakukan penjagaan sendiri dan dapat tidur tanpa
terganggu.
37
Pada suatu hari, ketika Hong Kin, Hui Lian dan Li Hwa
sedang duduk bercakap- cakap di ruang depan, penjaga
memberi tahu bahwa Hwa Thian Hwesio dari Kwan-te-bio
datang ingin bertemu, bersama seorang laki-laki setengah
tua. Girang hati tiga orang ini cepat mereka, menyambut.
Hwa Thian adalah kenalan lama. Hwesio ini adalah tukang
dapur atau tukang masak dari Kuil Kwan-te-bio yang sudah
berusia lima puluh tahun, berkepala gundul pelontos
bertubuh gemuk, lucu dan ilmu silatnya tinggi. Dahulu
hwesio ini banyak membantu Pangeran Wanyen Ci Lun dan
karenanya dia adalah s ahabat karib Coa Hong Kin yang
dahulupun merupakan tangan kanan Wanyen Ci Lun.
Dengan mulut tersenyum-senyum hwesio gemuk itu
memasuki ruangan, di sampingnya berjalan seorang laki laki
setengah tua berkumis panjang yang sikapnya keren dan di
punggung terselip sebatang pedang. Sungguh berbeda sekali
sikap dua orang ini. Hwesio itu mulutnya melengeh
(tersenyum lebar) terus sedang kawannya keren dan
mendekati cemberut.
"Hwa Thian suhu, angin apakah yang membawamu ke
sini? Kau makin gemuk dan makin muda saja! ” sambut Coa
Hong Kin yang memang sudah biasa berkelakar dengan
hwesio ini.
Hwesio itu tertawa terbahak. "Kalau angin tentu angin
Nirwana yang meniup pinceng ke sini. Pinceng makin gemuk
dan muda karena apakah yang harus disusahkan? Hidup di
dunia bukan untuk berduka, melainkan untuk
menghilangkan sengsara. Ha ha-ha, tepat sekali ujar-ujar
kuno bahwa bertemu dengan sahabat kental yang terpisah
jauh benar-benar merupakan yang menggembi rakan. Coasicu,
melihat kau dan jiwi hujin ini, pinceng merasa seperti
memasuki sarang harimau dan naga !"
Hui Lian dan Li Hwa memberi hormat dan Hui Lian yang
masih memiliki wataknya yang lincah gambira, berkata,
"Hwa Thian suhu bergurau saja. Kalau hendak bicara
38
tentang naga, kau adalah Kiang Lions (Naga Tangguh)
sedangkan kami hanyalah Tee-couw-coa (Ular Biasa) saja."
Hwa Thian Hwosio tertawa bergelak sambil memegangi
perutnya yang gendut, tongkatnya digoyang-goyangkan,
sampai keluar air matanya ia tertawa.
“Ha-ha-ha-ha. Coa-hujin benar-benar pandai
merendahkan diri. Mana gundul seperti pinceng patut
disebut Kiang Liong ! Kak Ouw-sicu ini kiranya masih
pantas." Berkata demikian, hwesio itu menunjuk kepada
kawannya Kemudian disambungnya. "Inilah Ouw sicu yang
bernama Ouw Beng Sin, berjuluk Huangho kiamsian (Dewa
Pedang dari Huangho)
Ouw Beng Sin cepat cepat menjura kepada Hong Kip
bertiga sambil berkata,
"Hwa Thian Losuhu terlalu memuji, aku orang she Ouw
hanya bisa main sejurus dua jurus. Kawan-kawan yang
terlalu mengambil hati memberi julukan Kiamsian, apa
boleh buat, sesungguhnya tidak berani di depan samwi -
enghiong aku menggunakan nama julukan itu.”
Sikap orang ini setengah merendah setengah
mengagulkan diri. Dunia persilatan, jarang ada orang yang
menggunakan nama juluka Kiam-s ian (Dewa Pedang) atau
Kiam-ong (Raja Pedang) kalau dia tidak memiliki kepandaian
bahwa ilmu pedangnya tidak ada yang melawan di dunia ini.
Orang ini berani memakai julukan seperti itu, tentu
mempunyai kepandaian berarti.
Di samping dugaan ini, juga timbul perasaan tidak puas
dan penasaran, apa lagi bagi Siok Li Hwa yang memang
wataknya agak keras dan tidak suka mengalah. Nyonya ini
menganggap bahwa di dunia ini tak ada yang melebihi
suaminya. Wan Sin Hoog, dalam permainan pedang.
Masa orang macam ini saja berani memakai gelar Dewa
Pedang ? Akan te tapi sebagai seorang wanita, pula sebagai
fihak tuan rumah, ia diamsaja hanya mata yang bening itu
39
menyambar laksana kilat. Kebetulan sekali Ouw Beng Sin
juga sedang melirik ke arahnya. Orang berkumis yang
mengaku Dewa Pedang ini terkejut melihat sinar mata ini
dan ia mulai percaya akan kata-kata Hwa Thian Hwesio
bahwa ia telah memasuki gua harimau dan naga.
Sete lah semua dipersilakan duduk dan arak telah
dikeluarkan biarpun menjadi hwesio, Hwa Thian Hwesio
tidak pantang arak Hwa Thian Hwesia mulai menceritakan
maksud kedatangannya.
"Selain hendak menengok Coa-sicu dan juga Wan sicu
yang sayang sekali tidak berada di rumah. pinceng juga
memenuhi permintaan yang amat sangat dari Ouw sicu ini.
Dia ini adalah kenalan lama, seorang gagah yang malang
melintang di Sungai Huangho dan seperti juga kita semua,
dia amat suka akan ilmu silat, terutama ilmu pedang dan
suka pula meluaskan pengalaman dan persabatan. Sudah
lama Ouw-sicu mendengar nama besar Wan-taihiap, dan
tahu pula bahwa Kim-bun-to adalah sarang ahli-ahli ilmu
pedang. Sudah bertahun-tahun Ouw-sicu rindu untuk
mencoba ilmu pedangnya di Kim-bun-to, akan tetapi belum
juga dilaksanakan dan sekarang....” Hwa Thian Hwesto
berhenti dan nampaknya sukar untuk me lanjutkan katakatanya
ketika sinar matanya bertemu dengan pandang
mata Li Hwa yang tajam menusuk.
"Harap Ouw-sicu suka melanjutkan menyampaikan
sendiri maksud hatinya," katanya kemudian dengan tertawa
tawa untul menghilangkan kebingungannya.
Orang she Ouw itu bangkit berdiri dari kursinya, menjura
kepada tga orang yang menjadi tuan rumah, lalu batukbatuk
tiga kali untuk membersihkan kerongkongannya baru
ia berkata,
"Apa yang diucapkan oleh Hwa Thian Hwesio yang
terhormat tadi memang betul sekali,” ia mulai berkata dan
diam-diam Hong Kin harus mengaku bahwa tamunya ini
pandai mengatur kata-kata, seorang ahli pidato agaknya.
40
"Telah bertahun-tahun siauwte rindu sekali akan
kesempatan berkunjung ke Kim-bun-to dan menerima
sedikit petunjuk dalamhal ilmu pedang, Sampai bermimpimimpi
oleh siauwte pertemuan dengan Wan Sin Hong Taikiam-
hiap (Pendekar Pedang Bes ar) dan mendapat petunjuk
ilmu pedang barang dua puluh jurus sebelumsiauwte
mengakui keunggulannya.
Selain Wan-taitiap, kiranya di dunia ini tidak ada lagi
yang dapat memberi petunjuk kepada siauwte. Sekarang
berkat kemurahan hati Hwa Thian Losuhu yang terhormat,
siauwte mendapat kurnia dan kehormatan menginjakan kaki
di Kim-bun-to, akan tetapt sayang seribu kali sayang. Wantaihiap
tidak berada di sini. Ah, memang nasib siauwte yang
sial, dahulu siauwte mana berani lancang datang ke sini!?
Sekarang ada perantaran. kiranya tidak berjumpa dengan
orangnya .....!”
Hong Kin hanya saling pandang dengan isterinya, akan
tetapi Li Hwa mendongkol bukan main. Besar kepala benar
orang ini, pikirnya. Di dalam pidatonya tadi jelas ia
menonjolkan kesombongannya sungguhpun diatur dengan
rangkaian kata yang berliku-liku. Dengan sombong orang
she Ouw ini membayangkan bahwa sebelum kalah oleh Wan
Sin Hong, sedikitnya ia sanggup melawan sampai dua puluh
jurus, dan lebih-lebih lagi sombongnya dengan kata-kata
bahwa di dunia ini selain Wan Sin Hong tidak ada yang
dapat memberi petunjuk atau dengan lain kata-kata, selain
Wan Sin Hong tidak ada orang mampu menandingi ilmu
pedangnya !
Dengan mata berapi Li Hwa juga bangkit berdiri, lalu
berkata dengan suara nyaring "Sungguh tidak baik
mengecewakan tamu yang sudah payah datang dari tempat
jauh. Menilik dari ucapan saudara Ouw, tentu memiliki
kiamhoat (ilmu pedang) jempolan, apa lagi julukannya Dewa
Pedang. Mana suamiku mampu menandingi ? Biarpun
suamiku sedang pergi dan tidak dapat melayani kehendak
41
tamu, namun aku isterinya dengan ilmu pedang pasaran
sanggup mewakil i suami sebagai tanda setia. Silakan!”
Setelah berkata demikian tangan kanannya bergerak dan
"srattt...!” pedang Cheng-liong-kiam tercabut, mengeluarkan
cahaya hijau menyilaukan mata.
Boleb jadi 0uw Bong Sin agak sombong akin tetapi ia
seorang jujur. Kalau tidak miliki sifat baik di samping
kosombongannya mana orang seperti Hwa Thian Hwesio
mau menjadi sahabatnya? Melihat sikap Li Hwa dan
mendengar bahwa nyonya ini isteri Wan Sin Hong, ia cepatcepat
menjura dan berkata,
"Ah, kiranya hujin ini Wan-toanio? Maaf seribu kali maaf.
siauwte bermata tak dapat mengenal ! Harap toanio jangan
salah duga dan tidak manjadi marah, maafkanlah kala
siauwte tadi berlancang mulut. Sesungguhnya dari lubuk
hati siauwte tidak ada maksud buruk, siauwte ingin sekali
menerima petunjuk dari Wan-taihiap. Mana siauwte berani
kurang ajar terhadap toanio? Maaf, maaf !" I a menjura
berulang ulang sebingga kemarahan Li Hwa lenyap sebagian
besar. Akan tetapi pedang sudah dicabut, amat tidak enak
kalau harus disimpan kembali sebelum dimainkan.
“Saudara” Ouw, Kim-bun-to memang tempat orang-orang
yang suka akan ilmu silat. Setelah tiba di sini dan sengaja
hendak main-main ilmu pedang, apa sih susahnya memberi
petunjuk kepada kami? Hitung-hi tung memberi pelajaran
kepada kami yang masih bodoh.....”
"Ah, mana berani ...... mana berani ....!”
"Kalau begitu, biarlah. Hitung-hitung kita saling menukar
dan menambah ilmu, bagai mana ?" kata pula Li Hwa.
"Bagus sekali !" Hwa Thian Hwesio bertepuk tangan
gembira "Usul Wan-hujin ini memang tepat. Di antara
golongan sendiri, di antara ahli-ahli silat, mengapa banyak
sungkan-sungkan ? Ouw-sicu bertanding pedang dengan
Wan-hujin hampir sama dengan berhadapan dengan Wan42
taihiap sendiri. Mari beri kesempatan kepada piceng untuk
melihat keindahan sinar pedang."
Dengan kata katanya yang mengandung kegembiraan ini
Hwa Thian Hwesio sudah mengubah keadaan, dari panas
menjadi dingin dan memancing suasana baik sehingga kalau
toh terjadi pibu (mengadu kepandaian) akan dilakukan
dengan maksud baik, tidak disertai hati meradang dan
kepala panas.
"Baiklah, kalau berdasarkan menukar dan menambah
ilmu tentu saja siauwte tidak keberatan. Maafkan
kelancangan siauwte !” sambil berkata demikian, ia menjura
kepada semua orang dengan tubuh membungkuk, ketika
tubuhnya tegak kembali, kelihatan sinar merah dan
sebatang pedang yang kemerah-merahan telah tercabut,
melintang di depan dadanya.
(Bersambung jilid ke XX)
1
(PEK LUI ENG)
Karya: Asmaraman S. Kho
Ping Hoo Scan djvu :
syauqy_arr
Convert & edit : MCH
Jilid XX
GERAKANNYA ini sudah menunjukkan bahwa
kesombongan orang she Ouw ini memang berisi. Namun Li
Hwa sama sekali tidak gentar. Dengan tenang ia melangkah
ke tengah ruangan yang luas, berdiri melintangkan pedang
di dada sambil berkata, “Saudara Ouw, silakan !"
Ouw Beng Sin melangkah maju menghampiri,
membungkuk-bungkuk dan menjawab, “Wan toanio, siauwte
menanti. Mulailah."
"Aku pihak nyonya rumah, kaumulailah dulu." Li Hwa
menjawab, sesuai dengan kesopanan ahl i silat.
"Akan tatapi siauwte seorang pria, tidak patut kurang
ajar. Toanio jangan banyak sungkan, harap membuka
serangan."
Memang LI Hwa bukan seorang yang biasa sungkansungkan,
maka ia mulai memutar pedangnya dan berkata,
“Saudara Ouw, lihat pedang !" Tangannya menggerakkan
pedang dan sinar hijau manyambar ke arah dada Ouw Beng
Sin.
2
Ouw Beng Sin cepat menangkis sambil mengerahkan
tenaga untuk mengukur sampai di mana tenaga nyonya
pendekar itu. Akan tetapi ia kecele karena bagaikan seekor
belut yang cepat gerakannya, pedang Cheng-liong kiam
sudah ditarik mundur untuk melakukan serangan ke dua
membabat leher.
Terkejutlah sekarang Ouw Beng Sin. Dia sudah banyak
berhadapan dengan ahli pedang namun belum pernah
bertemu ilmu pedang secepat ini. Ia berlaku hati-hati,
mengelak dan menangkis sambil mencari lowongan
membalas serangan. Akan tetapi, Li Hwa tidak
memungkinkan adanya lowongan itu. Pedangnya terus
menerjang secara berantai, tidak dapat diselingi sebuah
tusukan maupun bacokan dari lawan. Demikian cepatnya
gerak pedangnya sehingga yang kelihatan hanya sinar hijau
dan Ouw Beng Sin merasa diserang oleh ratusan buah
pedang !
"Hebat .....! Kim-hoat bagus....... ! berkali-kali Ouw Bwng
Sin berseru kagum. Baru sekarang ia merasa takluk betulbetul.
Baru isteri Wan Sin Hong saja kiam hoatnya sudah
begini luar biasa, apa lagi ilmu pedang pendekar sakti itu !
Sebentar saja sinar pedangnya yang kemerahan sudah
lenyap cahayanya, terbungkus oleh berkelebatnya sinar
hijau, pedang di tangan Li Hwa.
Kalau ia mau, Li Hwa dapat melukai Ouw Beng Sin. Akan
tetapi tentu saja Li Hwa tidak mau membikin malu seorang
tamu yang dibawa datang oleh Hwa Thian Hwesio. Bukannya
karena ilmu kepandaian orang she Ouw itu amat rendah.
Sebetulnya ilmu pedang Ouw Beng Sin juga lihai dan pantas
kalau jarang ada orang kangouw dapat menandinginya.
Kalau hanya Coa Hong Kin atau Go Hui Lian saja kiranya
hanya bisa mengimbangi permainan pedang Ouw Beng Sin
dan tentu akan makan waktu ratusan jurus baru bisa
mangalahkannya.
3
Kepandaian mereka setingkat. Akan tetapi harus
diketahui bahwa sebelumnya Li Hwa memang sudah lebih
tinggi tingkat kepandaiannya. Kemudian ditambah lagi oleh
latihan dari Toat beng Kui-bo dan akhir-akhir ini mendapat
petunjuk dari suaminya sendiri. Tentu saja kiam-hoatnya
luar biasa sekali.
Li Hwa hanya menyerang sampai dua puluh jurus.
Sengaja ia menanti sampai dua puluh jurus dan pada jurus
terakhir ujung pedangnya menotol bajunya di bagian dada
kiri Ouw Beng Sin, kemudian ia melompat mundur sambi l
berkata
"Saudara Ouw memang memiliki kiam hoat bagus !"
Merah sekali muka Ouw Beng Sin. Gerakan Li Hwa tadi
selain indah juga amat cepat sehingga "tusukannya" tidak
terlihat oleh orang lain keceuali Ouw Beng Sin yang cepat
melirik ke arah bajunya yang sudah bolong kecil .
"Wan-toanio benar-benar lihai sekali ihmu pedangnya." ia
berkata sambil menjura berkali-kali. Hwa Thian Hwesio
tertawa bergelak dan berkata nyaring.
"Bagus, pinceng telah menyaksikan kiam-hoat indah dan
kali ini Ouw-sicu tidak penasaran. Ha-ha-ha !”
Tiba-tiba terdengar suara keras dan tubuh seorang
penjaga melayang ke dalam ruangan itu. Muka penjaga itu
pucat sekali. Agaknya menderita luka bebat. Dengan susah
payah ia bangun kembali dan Hong Kin cepat menolongnya,
mendudukkannya di atas bangku.
"A Liok, kau kenapakah?” tanyanya.
"Di luar..... ada penjahat ...... Ting twako dibunuh.......
dan....... dan....... uaaah!" Penjaga itu muntahkan darah
segar dan tubuhnya menjadi lemas, kepalanya lunglai dan
terbanting ke atas meja. Bagaikan orang tertidur saja ia tak
bergerak.
4
Semua orang menjadi terkejut dan cepat memandang ke
luar. Sunyi saja di luar. Akan tetapi tiba-tiba berkelebat
bayangan yang gerakannya cepat bukan main sehingga
tahu-tahu kelihatan orangnya di dalam ruangan itu,
tersenyum-senyum mengejek dan matanya menyapu-nyapu
lima orang yang berdiri memandangnya. Dia masih muda,
seorang pemuda tampan yang membawa dua s enjata aneh
sekali.
Tangan kanannya memegang sebuah lengan manusia
yang sudah tidak ada dagingnya, tinggal kulit yang
membungkus tulang dan di dekat pergelangan tangan
terdapat seekor ular putih berbisa. Tangan kirinya
memegang sebatang huncwe bambu. Ia memandang sambil
tersenyum, kadang-kadang mengisap ujung huncwe yang
sudah diisi tembakau dan menyala, akan tetapi anehnya,
asap yang diisapnya tak pernah keluar dari mulutnya.
Lima orang yang berada di ruangan itu adalah ahli-ahli
silat tinggi. Melihat cara pemuda tampan ini mengisap
huncwa yang terus disedot ke dalam akan tetapi tidak
dike luarkan lagi, menjadi terkejut. Hanya dengan lweekang
yang amat tinggi orang dapat melakukan hal ini dan secara
diam-diam pemuda ini datang-datang telah
mendemonstrasikan kesaktiannya.
"Kau siapakah dan apakah kau yang membunuh, dan
melukai dua orang panjaga rumah kami?" tanya Coa Hong
Kin yang sudah melangkah maju.
Pemuda itu bukan lain adalah Liok Cui Kong! Senyumnya
melebar dan harus diakui bahwa pemuda ini berwajah
tampan. Dengan sikap kurang ajar ia melirik ke arah Hui
Lian dan Li Hwa, kemudian menjawab.
"Kusangka penjaga-penjaga Kim bun-to lihai, tidak
tahunya hanya gentong-gentong kosong! Ada tamu agung
tidak disambut, bukankah mereka itu kurang ajar dan patut
dibunuh?’
5
Mendengar ucapan ini, Hui Lian naik darah. Ia
melangkah maju dan berdiri dekat suaminya, lalu
menudingkan telunjuknya ke arah pemuda itu.
"Tikus busuk ! Siapa namamu dan dengan maksud apa
kau datang-datang mengacau? Apa kau sudah bosan
hidup?” Sambil berkata demikian Hui Lian sudah mencabut
pedangnya juga Hong Kin meraba gagang pedang karena
maklum bahwa pemuda itu datang bukan dengan maksud
baik.
"Hmmm, kalau tidak salah lihat, pernah pinceng melihat
muka orang muda ini, dia bersama bangsat besar Liok Kong
Ji.....” Hwa Thian Hwesio menghentikan kata-katanya ketika
sepasang mata pemuda itu memandang dengan tajam penuh
ancaman seperti mata setan.
"Aku bernama Liok Cui Kong dan siapakah di antara
kalian yang bernama Coa Hong Kin dan Go Hui Lian?”
"Kami yang bernama Coa Hong Kin dan Go Hui Lian. Kau
mau apa?” Kini Hong Kin juga sudah mencabut pedang.
Cui Kong tertawa mengejek. "Apakah Tiang Bu itu anak
kalian ?”
Mendengar pertanyaan ini, Hong Kin melengak. Akan
tetapi Hui Lian segera menjawab. "Betul, Tiang Bu anak
kami. Kau mau apa ?"
Kembali Cui Kong tertawa dan tiba-tiba menyemburkan
asap putih bergumpal-gumpal ke arah muka Hong Kin dan
Hui Lian. "Bagus! Aku datang hendak membunuh kalian.
Ha-ha ha!” Makin banyak asap ke luar dari mulut pemuda
ini. agaknya asap dari huncwe yang tadi diisapnya dan baru
sekarang ia keluarkan. Hong Kin dan Hui Lian kaget sekali,
hendak mengelak namun tidak keburu,. Mata mereka terasa
pedas tak dapat dibuka dan bau yang amat keras
menyesakkan pernapasan mereka.
6
“Asap beracun, awas !” seru Hwa Thian Hwesio yang
cepat mendekap hidung dan mulutnya, sedangkan tangan
kirinya menggerakkan tongkat. Juga Li Hwa sudah
mencabut pedang sambil mengeluarkan dua butir pil merah.
Sebutir ia masukkan ke dalam mulut, yang sebutir lagi ia
berikan kepada Hwa Thian Hwesio.
“Hwa Thian suhu, simpan ini di mulut dan mari kita
gempur iblis cilik ini !”
Akan tetapi, Cui Kong benar benar hebat. Ia
menyemburkan terus asap putih itu memenuhi ruangan dan
lengan manusia dengan ularnya itu mulai ia gerakkan
menyerang Hwa Thian Hwesio yang berada di mukanya.
Ouw Beng Sin berseru, “Pemuda jahat sekali, kau
mampus di tanganku orang she Ouw.” Pedangnya diayun
dan karena kebetulan berdiri di belakang Cui Kong ia
langsung menyabetkan pedang ke arah kepala pemuda itu
sekuat tenaga. Akan tetapi. tanpa menoleh Cui Kong
menyabetkan tangan kering itu ke belakang untuk
menangkis dan ...... Ouw Beng Sin memekik nyaring lalu
roboh, tewas tergigit ular putih yang amat berbisa!
Sementara itu, Hui Lian dan Hong Kin masih terhuyung
huyung dan mundur sambil batuk-batuk. Baiknya ada Hwa
Thian Hwesio dan Li Hwa yang sudah memutar senjata
menyerang Cui Kong sehingga pemuda ini terhambat
gerakannya. Kalau tidak ada pertolongan ini, tentu dengan
mudah Cui Kong dapat menyerang suami isteri yang sedang
repot ini.
Asap yang disemburkan oleh Cui Kong memang asap
berbisa yang amat berbahaya. Mata hanya terasa pedas saja
kalau terkena akan tetapi siapa yang menyedot asap ini,
paru-parunya akan keracunan dan keadaannya berbahaya
sekali. Cui Kong seridiri sudah mempergunakan obat
penawar maka ia tidak terpengaruh oleh asap ini. Selain
asapnya yang berbisa, juga huncwe di tangan pemuda itu
7
adalah sebuah senjata yang luar biasa lihainya
dipergunakan untuk menotok jalan darah.
Kepandaian Cui Kong dalam mempergunakan senjata
istimewa ini amat tinggi. Ditambah lagi dengan senjata aneh
berupa lengan manusia dengan ular berbisa, benar-benar
Cui Kong merupakan lawan yang amat tangguh. Bahkan
pengeroyokan Li Hwa dan Hwa Thian Hwesio tak dapat
mendesaknya. Sebaliknya. Cui Kong tidak mau
menghabiskan seluruh perhatiannya untuk dua orang lihai
ini. Kedatangannya untuk membunuh ayah ibu Tiang Bu
sebagai perbuatan balasan dari serbuan Tiang Bu ke Ui tioklim.
la tahu bahwa setelah Tiang Bu tidak mau mengaku
Kong Ji sebagai ayah bahkan memusuhinya, tentu Tiang Bu
amat sayang kepada ayah bunda angkatnya ini. Dan
menghadapi Tiang Bu sendiri adalah berbahaya dan sukar
karena Tiang Bu amat
lihai, jalan satu-satunya
yang paling mudah dan
terbaik untuk membalas
dendam hanyalah
mencelakai ayah bunda
angkat Tiang Bu yang
berada di Kim-bun-to ini.
Oleh karena itulah, ia
menangkis seranganserangan
Li Hwa dan Hwa
Thian Hwesio sambil
menghambur-hamburkan
asap beracun, kemudian
berusaha keras untuk
menyerang dan mendesak
Hong Kin dap Hui Lian
yang masih belum dapat
membuka mata dan masih
8
kebigungan di pojok ruangan. Li Hwa maklumakan maksud
ini, demikian pula Hwa Thian Hwesio.
Maka dua orang ini yang merasa amat khawatir akan
keselamatan suami isteri terus mendesak Cui Kong sambil
melindungi mereka, sungguhpun amat sukar bagi mereka
usaha ini karena mata mereka sendiri terasa pedas-pedas
dan sudah mengeluarkan air mata karena pengaruh asap
beracun. Cui Kong mempercepat gerakan lengan manusia
dan huncwenya. Kepandaiannya memang masih lebih tinggi
dari pada kepandaian Li Hwa dan Hwa Thian Hwesio, maka
sedikit demi sedikit ia mulai dapat mendekati Hong Kin dan
Hui Lian! Keselamatan suami isteri Kim-bun-to ini benarbenar
terancam bahaya maut!
Asap beracun yang keluar dari huncwe Cui Kong itu
benar-benar amat berbahaya. Karena Hong Kin dan Hui Lian
tadi berdiri di depannya, maka asap yang disemburkan itu
tepat memasuki mata suami-isteri ini dan membuat mereka
sukar membuka mata yang amat pedas rasanya.
Hwa Thian Hwesio sudah mempunyai pengalaman luas.
Ia dapat menduga atau mengira-ngira bahwa tentu Tiang Bu
telah membuat sakit hati Kong Ji dan Cui Kong maka
sekarang pemuda ini datang hendak membalas dendam
kepada ayah bunda Tiang Bu. Maka sambil menggereng
kakek gundul ini mengayun tongkatnya menyerang pemuda
itu agar jangan sampai mencelakai Hong Kin dan isterinya.
Akan tetapi dengan enak saja Cui Kong meloncat maju,
huncwenya menangkis tongkat dan lengan kering yang
dipegangnya menyambar.
“Krakk!” Jari-jari tangan lengan kering itu tepat
menghantam leher Hwa Thian Hwesio. Dunia menjadi gelap
di depan mata hwesio semua kesadarannya masih membuat
ia lekas-lekas melempar diri ke belakang. Ia bergulingan di
atas lantai dan pingsan Baiknya ia tadi melempar diri ke
belakang kalau tidak, tentu ular putih yang melingkar di
9
lengan itu akan menggigitnya dan kalau hal ini terjadi,
nyawanya tentu sudah melayang.
"Iblis keji, rasakan pembalasanku!" Li Hwa menjerit
marah dan pedangnya yang berubah menjadi segunduk
sinar hijau menyambar-nyambar bagaikan naga mengamuk.
Cui Kong kewalahan juga menghadapi ilmu pedang yang
lihai ini, maka terpaksa untuk sementara meninggalkan
Hong Kin dan Hui Lian, mencurahkan perhatiannya
menghadapi serangan Li Hwa. Setelah ia melawan dengan
sepenuh tenaga, baru ia dapat membendung gelombang
serangan sinar hijau itu.
Sementara itu, biarpun matanya sukar di buka lamalama,
Hui Liao dan Hong Kin dapat menangkap suara
pertempuran itu dan tahu bahwa Ouw Beng Sin dan Hwa
Thian Hwesio sudah roboh oleh pemuda lihai itu. Mereka
menjadi nekat. Dengan mata dipaksa terbuka, Hui Lian
menerjang dengan pedangnya. Hong Kin juga demikian,
menyerang mati-matian membantu Li Hwa.
“Adik Hui Lian, jangan dekat …..!’ seru Li Hwa. "Biar aku
menghadapi setan ini !” Nyonya ini maklum bahwa
kedatangan Cui Long adalah hendak membunuh suami isteri
ini dan melihat keadaan mereka, sukar untuk mengalahkan
Cui Kong. Kalau saja mata suami isteri ini tidak terpengaruh
asap beracun, tentu mereka bertiga dapat menandinginya,
akan tetapi keadaan sekarang lain. Amat berbahaya kalau
Hong Kin dan Hui Lian maju. Akan tetapi mana suami isteri
yang berjiwa gagah itu mau mundur membiarkan Li Hwa
seorang diri menghadapi musuh yang tangguh? LI Hwa
hendak menolong mereka tampa memperdulikan
keselamatan nyawa sendiri, mereka juga tidak akan
mundur, tidak takut mati dalam menghadapi musuh
membantu Li Hwa.
“Ha-ha.ha, ayah bunda Tiang Bu, si keparat ternyata
tidak seberapa! Ha-ha!” Cui Kong mengejek sambil memutar
dua senjatanya yang aneh.
10
Sebetulnya ilmu kepandaian Hong Kin tidak rendah. Apa
lagi Hui Lian. Nyonya ini adalah adik seperguruan dari Liok
Kong Ji sendiri. Ilmu pedangnya lihai bukan main. Akan
tetapi, kini mereka tidak dapat bergerak leluasa karena mata
terasa sukar sekali dibuka terus. Dan yang mereka hadapi
adalah Liok Cui Kong, seorang pemuda gemblengan yang
amat luar biasa ilmu kepandaiannya. Selain mendapat
petunjuk dari Liok Kong Ji sendiri, juga pemuda ini adalah
murid dari Lothian-tung Cun Gi Tosu.
Hui Lian marah bukan main. Sambil menggertak gigi ia
membuka matanya yang pedas itu lebar-lebar. kemudian ia
menggerakkan pedangnya dari atas ke bawah lalu membalik
dengan mendadak dimiringkan dengan gerakan menyerong
dan ujungnya membuat lingkaran- lingkaran.
Inilah gerakan yang disebut Hui-in-ci-tian (Awan
Mengeluarkau Kilat ), sebuah gerakan tipu dalam ilmu
Pedang Pak-kek Kiam-sut. Hebatnya bukan kepalang ! Tidak
percuma Hui Liang menjadi puteri pendekar besar Go Ciang
Lee.
Cui Kong benar-benar terkejut. Baru terbuka matanya
bahwa dua orang suami isteri yang secara menggelap telah
ia serang dengan asap ini adalah ahli-ahli pedang yang lihai.
Cepat ia meninggalkan Li Hwa, menggunakan tongkatnya
menangkis sinar pedang yang menyambar-nyambar leher
dan kepalanya.
“Plaak !” Tongkatnya menempel pada pedang dan tak
dapat ditarik kembali karena tiba-tiba pedang nyonya itu
diputar cepat sehingga tongkatnya turut berputaran.
"Mampuslah kau, bedebah!” Hui Lian membentak sambil
memukul dengan tangan kirinya ke arah pusar lawannya.
Pukulan ini juga bukan serangan biasa, melainkan gerakan
Hai ti lap-liong (Menyelam ke Laut Mengejar Naga) dari Ilmu
silat Thian-hong cianghwat peninggalan ayahnya.
Keistimewaan pukulan ini yalah dilakukan dalam keadaan
tak tersangka-sangka dan luar biasa cepat datangnya.
11
SebelumCui Kong sempat mengelak atau menangkis,
pukulan sudah sampai di pusarnya ! Pemuda itu pasti akan
terjungkal mampus kalau saja tenaga lweeeang dari Hui Lian
lebih besar lagi. Sayangnya, tenaga dalam nyonya itu masih
kalah jauh oleh Cui Kong, pemuda ini dengan muka pucat
cepat merendahkan diri sehingga pukulan itu tidak
mangenai pusarnya, melainkan mengenai dada. Ia
mengerahkan sinkangnya menyambut datangnya pukulan,
akan tetapi berbareng mengerjakan lengan kirinya ke arah
leher Hui Lian.
Dada Cui Kong terpukul dan pemuda itu terhuyung
mundur dengan muka pucat, akan tetapi Hui Lian mengeluh
perlahan dan roboh dengan pedang masih di tangan.
Ternyata bahwa leher nyonya perkasa ini telah terpagut ular
putih yang melingkar di pergelangan lengan kering itu dan
dalam sekejap saja racun ular telah menjalar ke seluruh
tubuhnya. Sungguh sayang nyonya yang perkasa ini
terpaksa harus melepaskan napas terakhir dalam tangan
Liok Cui Kong.
Hong Kin mengeluarkan seruan kaget dan marah bukan
main. Ia menubruk maju dan menukan pedangnya secepat
kilat. Gerakannya ini sudah bukan gerakan menurut ilmu
pedang lagi yang selain mengandung sifat menyerang selalu
ada sifat melindungi diri. Serangan Hong Kin kali ini sama
sekali tidak mengandung unsur penjagaan diri, seratus
prosen menyerang dengan nekat dan cepat sekali.
Menghadapi kenekatan seorang ahli pedang seperti Hong
Kin, betapapun lihai adanya Cui Kong tetap saja ia tidak
keburu mengelak. Hampir saja lehernya tertembus pedaug
kalau saja ia tidak sempat membuang diri ke kanan
sehingga hanya kulit leher dan pundaknya yang terkena
pedang sampai mengeluarkan darah banyak sekali.
Marahlah Cui Kong, dengan sepenuh tenaga lengan
kering itu di sabetkan kepada Li Hwa yang sudah
mendesaknya lagi, sedangkan huncwenya ia pukulkan ke
12
depan menghantam kepala Hong Kin. Hong Kin mencoba
untuk menangkis pukulan ini dengan pedangnya, namun ia
kalah tenaga. Benar huncwe dapat tertangkis, akan tetapi
melesat dan dengan tepat mengenai pinggir kepala di atas
telinga.
"Prakk !" Tanpa mengeluarkan keluhan. Tubuh Hong Kin
terguling dan bergelimpangan di dekat jenazah isterinya, tak
bernyawa lagi !
"Iblis terkutut ! Mari kita mengadu jiwa !” seru Li Hwa
marah sekali dan kedua matanya bercucuran air mata
melihat nasib dua orang sahabat baiknya itu. Pedangnya
mendesak dan kemarahannya membuat gerakannya lebih
hebat daripada biasanya. Juga kini tangan kirinya sudah
mengeluarkan Cheng-jouw-cian ( Jarum Rumput Hijau) siap
untuk menyerang lawan tangguh itu dengan senjata
rahasianya yang sudah amat terkenal itu.
Cui Kong tertawa bergelak. Girang sekali hatinya dapat
menewaskan Coa Hong Kin dan Go Hui Lian. Himpas sudah
sakit hatinya terhadap Tiang Bu yang dalam penyerbuan Uiliok-
lim telah menewaskan banyak kawan dan merusak
bangunan itu semau-maunya.
"Ha-ha-ha, Tiang Bu ! Aku ingin melihat mukamu kalau
kau melihat ayah ibumu menggeletak tak bernyawa oleh
tanganku. Ha ha ha !" Sambil tertawa-tawa Cui Kong
melawan Li Hwa. Memang ilmu kepandaian pemuda ini
hebat sekali, bahkan Li Hwa masih bukan tandingannya.
Ular di lengan kering itu terus menerus mengancam,
membuat Li Hwa tak dapat mendesaknya. Sebaliknya,
nyonya yang terkenal dengan julukan Hui eng Niocu ini
sekarang terpaksa mundur selalu untuk menghindarkan
sepasang senjata aneh dari lawannya yang masih muda.
"Ha ha ha, nyonya manis, kepandaiannya boleh juga.
Akan tetapi tuan mudamu tak boleh kaupandang rendah !
Nah, terima seranganku !” Huncwe mautnya bekerja cepat
sekali. Li Hwa masih menangkis dengan pedangnya dengan
13
maksudmematahkan huncwe itu dengan Cheng-liong-kiam.
Namun, huncwe di tangan Cui Kong itu terbuat dari bahan
yang amat keras. Huncwe terpental, akan tetapi bukan
terpental membalik, melainkan menyerong ke atas dan tahutahu
huncwe itu telah berhasil mengetuk pundak kiri Li Hwa
! Nyonya ini terhuyung sambil memegangi pundaknya.
Cui Kong tertawa terbahak-bahak sumbil melompat
keluar karena pada saat itu di luar rumah terdengar amat
banyak orang. 0rang-orang penduduk Pulau Kim-ban-yo
yang datang tertarik oleh ribut-ribut di dalam. Li Hwa
menggigit bibirnya, melepaskan pedang dan tangan
kanannya yang masih dapat sigerakkan lalu menghujankan
Cheng-jouw-ciam ke arah bayangan Cui Kong.
Namun percuma saja. Cui Kong gesit sekali gerakannya
dan sebentar sudah menghilang melalui atas genteng. Hanya
suara ketawanya yang bergema menyeramkan. Ketika
penduduk datang menyerbu ke dalam. mereka hanya dapat
menolong para korban keganasan Liok Cui Kong. pute ra
angkat Liok Kong Ji yang telah mewarisi kekejaman ayah
angkatnya.
-oo(mch)oo-
Pada suatu pagi yang indah di kaki Pegunungan Tapiesan,
matahati sudah naik tinggi dan pagi hari itu benarbenar
indah. Di pinggir jalan, para pe tani sibuk beke rja di
sawah ladang di mana batang-batang padi sudah satu kaki
tingginya, hijau segar bergoyang- goyang tertiup angin
seperti penari penari bergerak lincah. Para petani bekerja
riang, dan digembirakan oleh harapan panen baik.
Burung-burung beterbangan, diteriaki dan disoraki,
ditakut-takuti oleh para petani yang amat membenci mereka.
Biarpun barang padi belum berbuah, namun para petani
sudah benci melihat kedatangan burung-burung ini.
Sebagian besar para petani mencabut-cabuti rumput liar
14
yang tumbuh di sekitar padi. Sebagian pula mengatur
perairan agar sawah mereka tidak kekurangan air.
Dari arah utara kelihatan seorang gadis menuntun seekor
kuda tinggi besar. Gadis ini sampai turun dan kudanya dan
berjalan kaki agar dapat lebih menikmati pemandangan alam
indah di pagi cerah itu. Pakaian gadis ini sederhana saja,
rambutnya yang hitam dibiarkan tergantung ke belakang
punggung, diikat pita di tengah-tengah. Namun
kesederhanaannya tidak menyembunyikan kecantikannya
yang menawan hati. Gadis ini manis benar, usianya paling
banyak sembilan belas tahun. Pada wajahnya yang manis
dan halus itu terbayang kegagahan, terutama sekali
terpancar dari pasang matanya yang tajam. Memang tidak
sukar menduga bahwa dia adalah seorang gadis kangouw
yang memilliki kepandaian ilmu silat. Seorang gadis muda
melakukan perjalanan seorang diri, membawa seekor kuda
yang kelihatan liar dan tinggi besar. sudah barang tentu
gadis itu bukan sembarang wanita. Tanpa memiliki
kepandaian, mana seorang gadis seperti dia berani
menunggang kuda setinggi itu.
Dara manis ini bukan lain adalah Lie Ceng, puteri Pektouw
tiauw ong Lie Kong. Usianya delapan belas tahun dan
semerjak Ceng Ceng dikalahkan oleh Tiang Bu dahulu ketika
ia berusia lima belas tahun, gadis ini melatih diri dengan
tekun sehingga ia mewarisi kepandaian ayah bundanya, juga
ia kini telah dapat mewarisi isi kitab Pat-sian-jut-hun yang
didapat oleh ayahnya dari Omei-san. Kepandaiannya sudah
meningkat tinggi sekali, akan tetapi wataknya masih tetap
seperti dulu gembira, lincah dan galak!
Seperti telah dituturkan di bagian depan, tiga tahun yang
lalu pernah ia bertemu dengan Tiang Bu dan kedua orang
tuanya malah sudah menetapkan untuk menjodohkan dia
dengan Tiang Bu. Akan tetapi Ceng Ceng dengan tegas
menolak perjodohan itu,
15
Berkali-kali kedua orang tuanya mendesaknya, namun
tetap saja Ceng Ceng tidak mau. Akhir-akhir ini, ayah
bundanya mengalah dan ayahnya berkata gemas.
"Ceng Ceng, kau sekarang sudah berusia delapan belas
tahun dan ayah bundamu sudah ingin sekali mempunyai
anak mantu. Dalam pandangan kami selin Tiang Bu di mana
lagi ada pemuda yang patut menjadi sisianmu diukur dari
kepandaiannya? Apakah kau tidak kecewa kalau
medapatkan pemuda yang kepandaiannya rendah? Kalau
kau selalu menolak untuk menikah, habis kau. Hendak
hendak menanti sampai berusia berapa?”
"Biar aku berusia sampai seratus tahun tak menikah,
apa sih salahnya, ayah? Apakah pernikahan itu suatu
keharusan hidup?”
“Sudah tentu, Ceng Ceng !” kata ibunya marah.
"Bagaimana kau masih bertanya lagi ?”
“Ehm, begini, ibu. Kalau memang betul ini suatu
keharusan, siapakah gerangan yang mengharuskan ?”
Memang Ceng Ceng sebagai anak tunggal semenjak kecil
dimanjakan dan sudah biasa berdebat dengan ayah
bundanya.
“Yangmengharuskan siapa....... ?" bentak ibunya gemas.
“Kau..... kau memang anak terlalu manja…..” karena tidak
bisa menjawab, nyonya Lie Kong hanya bisa menunjuknunjuk
muka anaknya dengan telunjuknya.
“Ceng Ceng. seorang manusia harus mengalami tiga
kejadian. Pertama Lahir, ke dua kawin, ke tiga mati. Orang
terlahir pasti akan mati dan matinya itu baru sempurna
kalau dia meninggalkan keturunan. Kalau tidak kawin,
bagaimana bisa meninggalkan keturunan ? Salah satu di
antara sifat-sifat tidak berbakti yang paling penting adalah
tidak punya keturunan. Kalau kau tidak ingin disebut anak
puthauw (anak durhaka), kau harus memilih jodohmu agar
16
ayah bundamu dapat menikmati kebahagiaan menimang
cucu.”
Merah wajah Ceng Ceng mendengar kata-kata ayahnya
yang diucapkan dengan tenang namun sungguh-sungguh
ini. “Akan tetapi, ayah,” bantahnya berkepala batu, "kalau
aku tidak suka, masa aku harus dipaksa ?"
"Akan datang saatnya timbul rasa suka kalau kau sudah
bertemu dengan jodohmu. Kau menolak seorang pemuda
seperti Tiang Bu, yang kau cari orang macam apakah?"
Dengan kepala tunduk Ceng Ceng menjawab perlahan,
"Dia harus memiliki kepandaian labih tinggi dari pada
kepandaianku, dia harus gagah perkasa, harus berbudi
mulia, dan dia harus berwajah tampan.......”
lbunya menggeleng-geleng kepala, akan tetapi Lie Kong
tertawa. “Semua wanita tentu saja mencari suami begitu !
Akan tetapi kau lupa sedikit, Ceng Ceng anakku yang manja.
Yang harus diutamakan adalah sifat jujur dan setia ! Tiang
Bu memiliki kejujuran, juga dia seorang yang memiliki
kegagahan dan kesetiaan. Memang harus aku nyatakan
bahwa dia tidak tampan. Akan tetapi jangan kau ngukur
watak manusia dari tampangnya. Banyak sekali laki-laki
yang kelihatan gagah, tampan dan mulia, padahal semua itu
palsu belaka. Aku amat khawatir kau akan terpikat oleh
macam itu. Ceng Ceng. Sekali lagi kunasehatkan, jangan
kau terlalu percaya kepada wajah tampan."
Ceng Ceng diamsaja, akan tetapi di dalam hatinya ia
tetap berkeras bahwa dia hanya kawin dengan seorang
pemuda yang tampan, ganteng dan mendatangkien rasa
suka di dalam hatinys, Tidak seperti Tiang Bu yang
berhidung pesek berbibir tebal!
Semenjak kecil Ceng Ceng memang suka pergi bermainmain
sampai jauh. Setelah dewasa dan kepandaiannya tinggi
dia sering kali pergi jauh ke kota lain sampai berhari- hari.
Ayah bundanya membolehkannya saja. Pertama agar gadis
17
itu bertambah pengalaman serta pengetahuannya, ke dua
siapa tahu kalau di kota lain bertemu jodohnya.
Demikianlah, pada pagi hari itu Ceng Ceng juga sedang
melakukan perantauannya. Ia mendaki Bukit Tapie-san dan
kini sedang berada dalam perjalanan pulang. Tertarik oleh
keindahan alam dan kesibukan para petani, gadis ini
melompat turun dari kuda, lalu berjalan perlahan menuntun
kudanya yang besar dan bagus itu. Ceng Ceng memang
semenjak kecil suka akan keindahan. Kepada orang tuanya
ia selalu minta apa-apa yang serba indah. Pakaian
sederhana yang dipakainya itu hanya untuk menutupi
pakaian indah dan mewah yang tersembunyi di dalamnya. Ia
selalu menutupi pakaiannya yang indah apabila melakukan
perjalanan, pertama tama untuk menjaga agar pakaiannya
yang indah tidak menjadi kotor terkena debu, kedua kalinya
agar jangan menarik perhatian orang-orang jahat. Kudanya
pun kuda mahal, kuda pilihan yang amat kuat.
Ceng Ceng berdiri di pinggir sawah dan tersenyum
gembira melihat dua orang anak laki-laki berusia enam
tujuh tahun mengejar-ngejar burung. Memang amat nakal
burung-burung kecil berdada kuning itu. Digebah dari sini
turun di sana, diusir dari sane hinggap di sini. Burung yang
berkelompok itu seakan-akan tahu bahwa yang mengusir
mereka hanya dua orang bocah maka sengaja menggoda dan
mengejek. Dipermainkan oleh burung kecil ini, dua orang
bocah cilik itu marah-marah. Mereka berteriak-teriak dan
menyambitkan batu.
“Awas kalian, perampok perampok kecil. Kalau terjatuh
ke dalam tanganku, kau tentu akan kucabuti bulumu,
kupuntir batang lehermu, kupanggang sampai kuning !” kata
seorang anak.
“Setan-setan kelaparan !” memaki anak kedua. "Kami
bersusah payah bekerja, ayah dan kerbau meluku, Ibu
menanam, aku membersihkan rumput, kami menunggu
18
panen dan kalian ini setan setan selalu mengganggu. Enyah
keparat !”
Bocah-bocah itu lari ke sana ke mari sambil memakimaki.
"Kami makan tak pernah memakai daging, kalau kami
dapat menangkapmu, kami makan kepalamu !"
Melihat bocah-bocah ini dan para petani yang sepagi itu
sudah bekerja keras dan rajin di sawah ladang, timbul
pikiran di dalam kepala Ceng Ceng betapa sukarnya orang
bekerja untuk menghasilkan bahan makanan. Dia setiap
hari makan nasi akan tetapi belum pernah bekerja di ladang
untuk manuai padi, apa lagi meluku dan mencangkul.
Alangkah senangnya orang kota, hidup mewah dan setiap
hari makan nasi dari padi terbaik. Sebaliknya para petani
yang setiap hari semenjak pagi buta sampai malam gelap
bekerja membanting tulang memeras keringat di sawahnya,
hidup serba kurang dan miskin.
Ceng Ceng membungkuk, mengambil segenggam pasir,
menanti sampai kelompok burung dada kuning itu terbang
lewat. tangannya digerakkan, pasir menyambar mekar jala
dan....... belasan ekor burung runtuh ke atas tanah, sisanya
terkejut dan terbang jauh-jauh.
Dua orang bocah itu memandang dengan mata terbelalak
lebar dan mulut bengong, kemudian mel ihat burung-burung
be rgeletakan di atas tanah, mereka bersorak-sorak girang
dan berlari-lari menghampiri untuk mengambil bangkai
burung-burung itu.
"Hebat, timpukan yang lihai sekali……!” dengan suara
halus memuji.
Ceng Ceng cepat menengok dan melihat seorang pemuda
tampan lewat di atas jalan itu. Pemuda ini berpakaian
seperti seorang ahli silat, akan tetapi sikap dan gerakgeriknya
halus seperti seorang pelajar. Ketika Ceng Ceng
menengok, pemuda itu mempercapat langkahnya dan
sebentar saja sudah jauh.
19
Ceng Ceng tertarik. Sikap pemuda itu gagah bukan main,
juga wajahnya amat tampan, agaknya seorang pendekar
perantau. Di pinggangnya terselip sebatang bambu kecil,
bukan pedang. Biarpun amat tertarik dan ingin tahu
siapakah gerangan pemuda itu dan sampai di mana
kelihaiannya, namun sebagai seorang wanita tentu saja Ceng
Ceng tidak berani menegur. Apa lagi pemuda itu sudah pergi
jauh dan sebentar saja bayangannya lenyap di tikungan
jalan sebelah selatan.
Gadis itu lalu melanjutkan perjalanannya, melompat ke
atas kuda yang dilarikan ke selatan. Ia hendak mencari ayah
bundanya yang berada di kota Kiu-kiang yang terletak di
dekat Telaga Poyang. Perjalanan masih jauh, makan waktu
dua hari lagi.
Malamhari itu Ceng Ceng tiba di sebuah dusun yang
cukup ramai. Ia bermalam di rumah perginapan,
memberikan kudanya kepada pelayan sambil memesan.
"Beri makan dan minum secukupnya pada kudaku ini
dan masukkan dalam kandang yang baik dan terlindung dari
angin malam. Jaga dia baik-baik. besok kuberi hadiah."
Pelayan itu mengangguk-angguk lalu menuntun kuda
besar itu ke samping hotel. Lewat tengah malam, Ceng Ceng
terkejut bangun dari tidurnya ketika pintu kamarnya digedor
orang.
"Siocia....... siocia....... bangunlah ! Kuda itu dilarikan
orang !"
Ceng Ceng mendengar suara kaki kuda berderap lewat di
depan hotel. Dengan cepat ia melompat turun, menyambar
pedangnya lalu menerjang pintu luar. Begitu mendadak dan
cepat ia membuka pintu sehingga pelayan yang melaporkan
tentang kehilangan kuda dan tadinya berdiri di luar pintu,
terjengkang tunggang-langgang ketika pinta dibuka. Akan
tetapi Ceng Ceng tidak memperdulikannya lagi, terus saja
melompat keluar dan lari mengejar ke arah suara kuda
20
melarikan diri ke barat. Malam itu baiknya terang bulan,
dan ternyata malamsudah larut sekali dan sudah menjelang
fajar.
Ceng Ceng memiliki ginkang yang tinggi warisan dari
ayah bundanya. Kalau hanya kuda biasa saja yang dilarikan
orang, kiranya ia masih akan sanggup menyusulnya, akan
tetapi kudanya yang dieuri ini bukanlah kuda biasa,
melainkan kuda pilihan dari utara yang sanggup lari seribu
li sehari semalam.
"Maling kuda pengecut jahanam! Berhentilah kalau kau
memang jantan l° teriak Ceng Ceng sambil mengerahkan
tenaga dalamnya agar suaranya terdengar jauh. Akan tetapi
pencuri kuda itu bahkan membalapkan kudanya dan hanya
suara ketawanya terdengar dari jauh. Diam-diam Ceng Ceng
terkejut. maklum bahwa pencuri kudanya itu bukanlah
pencuri biasa. Orang yang suara ketawanya dari tempat
sejauh itu dapat terdengar, tentu memiliki Iweekang tinggi.
Ia mempereepat larinya, akan tetapi percuma saja. Makin
lama derap kaki kuda makin menghilang berikut bayangan
kuda. Ceng Ceng membanting banting kakinya dengan
gemas ketika ia berdiri di luar sebuah hutan. Ia tidak tahu
kemana pencuri itu melarikan kudanya.
Dengan hati mendongkol sekali Ceng Ceng berjalan terus
sampai pagi. Ia keluar dari hutan dan mengambil keputusan
untuk mencari terus kudanya yang hilang sebelum pergi
menyusul ayah bundanya. ia merasa penasaran sekali kalau
belum mendapatkan kembali kudanya, terutama sekali
kalau belum mamberi hajaran kepada pencuri kuda yang
kurang ajar itu.
Tiba-tiba ia mendengar ringkikan kuda dari arah kiri.
Girangnya bukan main karena ia segera mengenal suara
kudanya ! Biarpun sudah letih karena bangun pada tengah
malam tidak tidur lagi, ia segera lari ke arah kiri dengan
cepat. Dan betul saja. ia melihat kudanya sedang makan
rumput di bawah pohon dilepas begitu saja ! Dengan
21
beberapa kali lompatan Ceng Ceng sudah tiba di dekat
kudanya dan segera ia memegang kendalinya. Dan pada saat
itu baru ia melihat bahwa tidak jauh dari situ, di atas barubaru
besar, duduk seorang pemuda tampan yang bersila dan
sedang bersamadhi ! Pemuda ini bukan lain adalah pemuda
yang memujinya kemarin ketika ia menyambit burtingburung
dengan pasir. Peniuda Itu meramkan mata. bibirnya
agak tersenyum, tampan sekali, kedua tangan di depan dada
dan sebatang bambu yang ternyata adalah huncwe terselip
di pinggangnya.
Sampai lama Ceng Ceng berdiri memandang, kemudian
ia menjadi marah. Tentu pemuda ini yang telah mencuri
kudanya ! Ia melepaskan kendali kudanya, melangkah maju
mendekati pemuda itu sambil membentak.
"Pencuri kuda kurang ajar ! Turunlah kau menerima
hajaran!"
Pemuda itu membuka matanya memandang kepada Ceng
Ceng dengan mata bersinar dan bibir tersenyum. "Nona, kau
memaki siapa ?" tanyanya, suaranya halus, sikapnya sopan.
“Memaki kau, siapa lagi ? Kau pencuri kuda hina,
turunlah kalau kau mempunyai kepandaian !” Dilolosnya
pedang dari pinggangnya dan gadcis ini siap untuk
menyerang. Pemuda itu tersenyum tenang. "Nona, aku Cui
Kong selamanya tidak pernah mencuri kuda. Harap kau
dapat memperbedakan antara pencuri kuda dan orang baikbalk.”
Memang pemuda ini bukan lain adalah Liok Cui Kong.
Setelah berhasil membunuh Coa Hong Kin dan Go Hui Lian,
pemuda ini lalu melakukan perjalanan ke selatan menuju ke
tempat tinggal ayah angkatnya yang baru, yaitu di sebuah
pulau di pantai selatan, mendekati Lo thian-tung Cun Gi
Tosu yang juga melarikan diri ke selatan setelah di utara ia
tidak diterima baik oleh Jengis Khan.
Kobetulan sekali di tengah jalan ia melihat Ceng Ceng.
Sebagai seorang pemuda mata kerarjang yang bejat
moralnya, tentu saja melihat seorang dara cantik seperti
22
Ceng Ceng. hati Cui Kong tergorcang hebat. Akan tetapi,
melihat sikap dan gerak gerik Ceng Ceng, pula menyaksikan
kepandaian gadis ini, timbul perasaan aneh dalam diri Cui
Kong. Berbeda dengan perasaan kalau melihat gadis-gadis
lain. ia amat tertarik dan timbul kasih sayang. Inilah
agaknya cinta yang bersemi di dalam hatinya, oleh karena
manusia bagaimana jahatpun sekali waktu akan jatuh hati
kepada seorang tertentu.
Ini pula sebabnya maka Cui Kong tidak mau bermain
kasar. Ia sengaja mencari kuda nona itu dan sekarang
menanti di sini, siap mencari alasan baik untuk berkenalan.
Ceng Ceng mengerutkan alisnya mendengar jawaban
pemuda itu. Ia tidak mengenal nama Cui Kong, dan ia raguragu
apakah ucapan itu betul.
"Bagaimana kau bisn bilang bukan pencuri kuda kalau
kudaku hilang dari rumah penginapan, dibawa orang pada
tengah malam, terus kukejar di sini dan kudapatkan kuda
itu berada di sini bersamamu? Bagaimana kau bisa
menyangkal ?”
Cui Koug mengangguk-angguk berkata, masih tersenyum
memikat hati. “Memang ada kulihat tadi seorang laki-laki
membalapkan kuda lewat dekat ini. Karena curiga melihat
orang pagi-pagi membalapkan kuda yang besar dan indah,
aku menegurnya. Akan tetapi orang itu malah mengayun
pecut menyerangku. Aku menangkap pecutnya dan
membetotnya sehingga orang tidak punya guna itu roboh
terjungkal. Dua kali ia menyerangku lagi akan tetapi dua
kali ia terjungkal lalu melarikan diri. Kuda itu ia tinggalkan
dan kuda baik ini ternyata tidak mau pergi. Nah, aku sudah
memberi keterangan, apakah kau masih hendak memaki
aku sebagai maling kuda?"
Ceng Ceng memang seorang gadis lincah pandai
berdebat. Mendengar penuturan ini ia menjawab, "Enak saja
kau mendongeng! Apa buktinya kebenaran dongenganmu itu
dan siapa bisa bilang kalau kau tidak membohong?"
23
“Nona, ada dua sebab kuat yang menjelaskan bahwa aku
bukan pencuri kuda. Aku sudah menyaksikan
kepandaianmu, kalau aku yang mencuri, perlu apa aku
masih melarikan diri ? Kedua, andaikata aku yang mencuri
lalu lari ketakutan, perlu apa aku sekarang musti
menantimu di sini? Coba kau pikir baik-baik."
Memang beralasan sekali ucapan ini, akan tetapi perut
Ceng Ceng sudah menjadi panas. Kalau saja Cui Kong
memberi alasan yang ke dua saja, ia sudah akan meras a
puas dan percaya. Akan tetapi, alasan pertama dari pemuda
itu menyatakan bahwa pemuda itu memandang rendah
kepadaianya ! Cui Kong bilang bahwa dia sudah
menyaksikan kepandaian Ceng Ceng dan andaikata dia yang
mencuri kuda, ia takkam lari. Bukankah itu berarti bahwa
pemuda ini menganggap kepandaian Ceng Ceng tidak berapa
?
"Bagus, tidak tahunya kau selihai itukah ? Boleh, boleh
kita coba-coba. Kalau kau betul sudah dapat mengalabkan
pencuri kuda, tentu kepandaianmu lebih tinggi dari pada
aku. Turunlah ¡" Setelah berkata demikian, Ceng Ceng
menggunakan kakinya mendorong baru besar yang diduduki
oleh Cui Kong. Hebat sekali lweekang nona ini. Batu yang
be ratnya ada seribu kali ini menjadi miring !
"Ayaaa, kiranya kau sekuat ini!” Seru Cui Kong, benarbenar
terkejut. Tadinya ia hanya mel ihat gadis itu
menimpukkan pasir merobohkan banyak burung sekaligus.
Kepandaian ini indah, akan tetapi belum menunjukkan
bahwa gadis itu seorang ahli silat tinggi. Melihat usianya
yang bogitu muda, Cui Kong menganggap gadis itu tentu
tidak sedemikiah hebat. Akan tetapi dorongan kaki pada
batu besar tadi benar-benar mendemonstrasikan tenaga
yang hebat dan kepandaian yang tinggi !
Sementara itu, Ceng Ceng juga kagum melihat tubuh
yang tadinya bersila di atas batu, kini, "melayang” turun
dalam kedudukan masih bersila seakan-akan pemuda itu
24
pandai terbang. Padahal inipun demonstrast ginkang yang
hebat dari Cui Kong, yang mempergunakan ujung-ujung jari
kakinya menotol batu di bawahnya sehingga tubuhnya dapat
mencelat turun. Ketika tiba di tanah, kedua kakinya dilepas
sehingga ia jatuh be rdiri dengan ringan dan tenang.
Ceng Ceng bersiap-siap, ia mengandalkan Ilmu silatnya
Pat-sian-jut-bun, sama sekali tidak mengira bahwa pemuda
di depannya inipun ahli dalamilmu silat itu ! Soalnya begini.
Seperti telah diceritakan dahulu, kitab Pat-sian-jut -bun yang
tadinya terjatuh ke dalam tangan Pek-thouw tiauw ong Lie
Kong dan diberikan Ceng Ceng, telah dirampas oleh Cui Lin
dan Cui Kim dan akhirnya terjatuh ke dalam tangan Liok
Kong Ji. Akan tetapi sebelum terjatuh ke dalamtangan Liok
Kong Ji, Cui Kong sudah mencuri lihat dan otaknya yang
cerdas dapat menghafal isinya dan diam-diam iapun
mempelajari ilmu silat ini. Oleh Liok Kong Ji kitab itu
bahkan dijadikan bahan untuk mengatur barisan bambu di
Ui tiok-lim, yang makin disempurnakan ilmu dari kitab ini.
Demikianlah Ceng Ceng sama sekali tidak pernah
menyangka bahwa ia berhadapan dengan tokoh Ui-tiok lim
atau kakak angkat dari dua orang gadis yang mencuri
kitabnya dan yang sekarang masih dicarinya itu.
"Nona, kau betul-betul hendak mengujiku ? Boleh, boleh,
akupun ingin sekali tahusampai di mana tingginya
kepandaianmu. Akan tetapi harap kauingat bahwa aku
betul-betul bukan pencuri kudamu dan kita bertempur
hanya sebagai pibu persahabatan saja."
"Jangan banyak cingcong ! Keluarkan senjatamu !" seru
Ceng Ceng. Gadis ini belum tahu sampai di mana tingkat
kepandaian pemuda ini. Biarpun ia tertarik akan
ketampanan wajah pemuda ini dan sifat-sifainya yang gagah,
namun sebelum mengukur tinggi rendah kepandaiannya,
mana bisa ia menarh penghargaan ?
Cui Kong mencabut keluar huncwenya menjawab, “Aku
masih muda dan tidak doyan menghisap tembakau, akan
25
te tapi huncwe ini sudah menjadi kawau lama yang selalu
melindungiku, inilah senjataku nona. Kau majulah!”
Diam-diam Ceng Ceng menjadi agak gembira. Seorang
yang mempergunakan senjata begitu aneh, tentu memiliki
kepandaian tinggi dan ia ingin sekali tahu sampai
bagaimana tingginya.
"Lihat pedang !” serunya dan dengan ge rakan manis
sekali ia menusuk ke arah tenggorokan lawannya, kemudian
pedang diteruskan dengan gerakan memutar ke atas ke
bawah sedangkan tangan kirinya ditekuk di depan dada.
Sekaligus ujung pedang itu menyerang tiga bagian tubuh
yang berbahaya. Melihat gerakan ini, Cui Kong terkejut
sekali. Itulah gerakan Cui sian-sia-ciok ( Dewa Arak
Mamanah Batu) sebuah gerak tipu dari Ilmu Silat Pat sianjut-
bun! Ia cepat memutar huncwenya ke depan tubuh
sambil melompat mundur dan berkata.
"Nanti dulu, nona. Seranganmu be gituIihai dan ganas,
kalau sampai mengenai aku, bukankah nyawaku akan
menghadap Giam-kun (Dawa Maut)?" ia berkelakar.
Ceng Ceng cemberut. "Kalau takut pedang jangan bicara
sombong !"
"Aku seorang jantan tulen tidak takut mati, nona. Hanya
aku khawatir akan mati dengan mata melek karena
penasaran sebelum aku tahu siapa orangnya yang akan.
membunuhku. Pedang tidak bermata, nona. Sebelum ada
kemungkinan dada ini tergores pedang aku harus tahu siapa
gerangan nona yang gagah perksa ini? Kau sudah tahu,
namaku Cui Kong. Akan tetapi siapa nona dan dari ali ran
manakah ?”
"Namaku Lie Ceng, bukan dari aliran mana-mana.
Ayahku Pek-thouw-tiauw-ong Lie Kong.”
Cui Kong pura-pura terkejut girang, padahal di dalam
hatinya ia benar-benar terkejut dan cemas. Ia merasa punya
dosa terhadap Pek-thouw-tiauw-ong Lie Kong karena
26
bukankah Cui Lin dan Cui Kimtelah mencuri kitab gadis
ini? Dengan air muka kelihatan tercengang girang ia berseru
sambil merangkapkan kedua tangan memberi hormat,
"Aduh, kiranya li-hiap (pendekar wanita) adalah puteri
dari Lie-locianpwe yang mulia. Maaf, maaf, aku yang bodoh
tidak tahu dan berlaku kurang hormat. Memang li-hiap
tentu saja tidak mengenal namaku yang terpendam ke dalam
lumpur, akan tetapi sebaliknya dari bawah lumpur aku
sudah melihat rajawali kepala putih terbang melayang di
angkasa raya."
Mendengar pujian yang muluk ini tentu saja hati Ceng
Ceng merasa senang, akan tetapi ia mas ih penasaran.
Seranga n pertamanya tadi ternyata dengan mudah dapat
ditangkis oleh Cui Kong, apakah pemuda ini betul-betul
akan dapat menangkan dia....... ? Kalau betul demikian .....
hemmm, pemuda seperti ini lah kiranya yang patut.......
menjadi jodohnya! Merah muka Ceng Ceng dengan
sendirinya ketika ia berpikir sampai di situ.
"Sudahlah, tak perlu banyak peradatan ini. Hayo kita
selesaikan pibu kita !”
Cui Kong merasa girang mendengar nona itu menyebut
“pi-bu", bukan pertandingan sungguh-sungguh, maka ia
segera bersiap dan berkata, "Aku yang bodoh sudah s iap
menerima petunjuk dari li-hiap."
Ceng Ceng tidak mau berlaku sungkan lagi. Pedangnya
digerakkan amat cepatnya, menyambar-nyambar bagaikan
seekor burung rajawali mengamuk. Sinar putih seperti perak
bergulung-gulung mengurung diri Cui Kong yang berlaku
tenang tenang saja. Pemuda yang sudah tahu akan kelihaian
ilmu Pak-sian-jut -bun ini, tidak mau berlaku gugup dan
tidakmau mengikuti pergerakan pedang lawan. Kalan ia
mengikutinya, akan celakalah dia. Inilah kehebatan ilmu
pedang itu yang harus dilawan dengan tenang. Ia hanya
memperhatikan sinar pedang menyambar ke arahnya untuk
ditangkis dengan huncwenya. ilmu silat Cui Kong masih
27
setingkat lebih tinggi dari pada gadis ini, juga tenaganya
lebih besar. Oleh karena itu ia dapat melayani Ceng Ceng
dengan baik. Andaikata ia belum mencuri baca kitab Patsian-
jut -bun, kiranya dia takkan depat menghadapi gadis ini
demikian enak, sedikitnya dia harus mengerakkan seluruh
kepandaiannya untuk mengimbangi.
Sebaliknva, Ceng Ceng merasa seakan-akan menghadapi
tembok baja yang amat kuat. Biarpun pemuda itu berge rak
lambat dan tenang namun ke mana saja pedangnya
menyerang di situ sudah ada huncwe yang menangkis. Dan
setiap tangkisan huncwe membuat telapak tangan tergetar.
Hati Ceng Ceog ikut tergetar pemuda itu benar-benar lihai.
Kiranya tidak kalah lihai oleh Tiang Bu.
Akan tetapi dia pernah dikalahkan oleh Tiang Bu dan ia
merasa penasaran apakah pemuds tampan yang lihai inipun
dapat mengalahkannya.
"Hayo kaubalas menye rang !" bentaknya berulang-ulang
melihat pemuda itu hanya menjaga diri saja.
"Mana aku berani !" jawab Cui Kong mengambil hati.
Tentu saja pemuda ini tidak tahu akan suara hati gadis ini.
Dia tertarik kepada Ceng Ceng dan berusaha mengambil
hatinya, ia takut kalau kalau gadis itu akan merasa terhina
dan marah kalau sampai ia mengalahkannya, maka ia hanya
mempertahankan diri saja. Tidak tahunya gadis ini bahkan
menghendaki sebaliknya.
“Bagaimana tidak berani ini pi-bu namanya ! Hayo
kaubalas, hendak kulihat apa kau mampu mengalahkan
aku."
"Aku tidak berani melukaimu. nona. Aku tidak mau kau
menjadi sakit hati dan marah,” jawab Cui Kong halus sambil
menangkis tusukan pedang sehingga lagi lagi terdengar
bunyi "tringg" yang amat nyaring dibarengi bunga api
berpijar.
28
“Bodoh ! Kalau pedangku terlepas dari tangan aku
menyerah kalah," kata pula Ceng Ceng.
Mendengar ini, Cui Kong cepat menggerakkan
huncwenya, kini membalas dengan totokan-totokan
berbahaya. Gerakannya cepat sekali karena ia telah mainkan
ilmu pedang yang ia pelajari dari gurunya, mengambil dari
kitab Omei-san yang terjatub ke dalamtangan Lo. Tniantung
Cun Gi Tosu, yaitu kitab Soanhong-kiam-coan-si (Kitab
Ilmu Pedang Angin Puyuh). Pedang ini sekarang diganti
dengan huncwe dan diputar sampai mengeluarkan angin
dingin. Sebetulnya, sama-sama kitab dari Omei-san
kehebatan ilmu yang dimainkan oleh Cui Kong dengan Patsian
jut-bun yang dimainkan Ceng Ceng itu mempunyai
keistimewaan sendiri-sendi ri. Namun karena Cui Kong
memangnya menang setingkat, tentu saja permainannya
juga lebih lihai dan Ceng Ceng sebentar saja merasa pening.
Ia mencoba menangkis dengan pedangnya, akan tetapi
pedang itu tertempel huncwe dan ikut be rputaran dan
te rlepas dari pegangannya, berpindab ke tangan kiri Cui
Kong !
Dengan sikap manis budi dan merendah Cui Kong
memutar pedang itu dan memegang ujungnya. Gagangnya ia
angsurkan kepada Ceng Ceng sambil berkata.
"Karena kurang hati-hati pedangmu terlepas, nona.
Terimalah kembal i dan maafkan aku, kiam-hoatmu benarbenar
hebat sekali aku merasa kagum."
Ucapan ini dikeluarkan dengan sikap sungguh-sungguh
sehingga sama sekali Ceng Ceng tidak merasa diejek. Akan
tetapi, te tap s aja mukanya menjadi me rah sekali ketika ia
nerima kembali pedangnya dan memasukannya kedalam
sarung pedang.
"Dalamilmu pedang aku telah kalah, akan tetapi aku
masih hendak menecoba ilmu silat tangan kosong!" kata
Ceng Ceng. I a tahu bahwa sikapnya ini kete rlaluan. Sudah
je las bahwa ia kalah lihai, tantangannya ini benar-benar
29
bocengli (tidak pakai aturan). Akan tetapi gadis ini memang
ke ras kepala dan pada saat itu ia memang ingin sekali tahu
apakah benar-benar pemuda tampan ini lebih lihai dari
padanya dalam sagala macam ilmu silat.
Cui Kong tersenyum. Gadis ini cantik jelita dan keras
hati, puteri Pak-thouw-tiauw-ong pula. Hemm, aku harus
dapat menundukkannya. Jarang di dunia ini bisa
kudapatkan gadis sehebat ini.
“Baiklah, nona. Aku yang bodoh hanya menurut saja atas
segala kehendakmu, dan tentu saja aku girang mendapat
petunjuk-petunjuk dari puteri Pek-thouw-tiauw-ong yang
te rnama."
”Lihat pukulan !" Ceng Ceng terus saja menyerang tanpa
mau membuang waktu lagi. Begitu menyerang ia
mempergunakan ilmu silat ciptaan ayahnya, yaitu Pektiauw-
kun-hwat (Ilmu Silat Rajawali Putih). Ayahnya
mencipta ilmu silat ini dari gerak-gerak pek-thouw-tiauw
(rajawali kepala putih) peliharaannya. Ketika dua ekor
rajawali itu pertama kali dipeliharanya dan masih liar, sering
kali Lie Kong sengaja mengajaknya bertempur atau ia
menyuruh isterinya melayani mereka dan diam-diam ia
memperhatikan ge rak gerik mereka. Cara mereka mengelak,
menangkis dan menyerang. Dari ”latihan” inilah pendekar
pantai timur ini akhirnya berhasil mencipta Pek-tiauw-kunhwat
yang merupakan gabungan dari gerak gerak rajawali
dicampur gerak-gerak tipu ilmu silat tinggi yang sudah ia
pelajari semenjak kecil.
Gerakan Ceng Ceng amat lincah. Kedua tangannya
bergerak-gerak, kadang-kadang mekar seperti sayap
rajawali, kadang-kadang menotok seperti paruh rajawali,
tubuhnya menyambar ke atas ke bawah, kedua kakinya
kadang-kadang berjungkit, kadang-kadang merendah atau
meloncat loncat tinggi. Pendeknya amat indah dipandang
akan tetapi amat berbahaya dihadapi lawan.
30
“Bagus sekali ! Kau hebat, nona,” berkali-kali Cui Kong
mengeluarkan suara pujian bukan hanya sekedar untuk
mengambil hati akan tetapi memang ia me rasa kagum
sekali. Sifat gadis yang lincah jenaka ini memang cocok
sekali dengan ilmu silat ini. Dan Cui Kong girang mendapat
kesempatan “main-main" dengan gadis seperti ini,
sungguhpun main-main ini dapat membahayakan
keselamatannya karena pukulan-pukulan gadis itu ternyata
bukan main-main. Tingkat kepandaian Cui Kong memang
masih menang setingkat, akan tetapi ia harus berlaku hatihati
sekali kalau tidak mau terkena pukulan yang
berbahaya.
Seratus jurus lewat dan belum juga Ceng Ceng dapat
mendesak Cui Kong. Sebenarnya kalau Cui Kong mau, ia
tentu akan dapat robohkan lawannya ini dalamseratus
jurus, dia sudah banyak mempunyai ilmu pukulan yang
aneh-aneh dan beracun. Namun menghadapi Ceng Ceng ia
menjadi lemah, tidak tega mencelakainya. Ia ingin me rebut
hati gadis ini tanpa kekerasan, melainkan dengan kehalusan
dan cinta kasih.
Di lain pihak, Ceng Ceng makin lama makin kagum
terhadap pemuda ini. Belum pernah ia bertemu dengan
seorang pemuda demikian pandainya, kecuali Tiang Bu. Ia
sudah mengerahkan seluruh kepandaiannya, tetap saja
tidak mampu ia mendesak. Pertahanan pemuda itu kuat
seperti baja sehingga semua serangannya membalik.
Cui Kong berpikir bahwa kalau dalam pertandingan
tangan kosong ini ia mengalahkin gadis itu, mungkin gadis
itu akan menjadi tersinggung hatinya dan berbalik
membencinya. Harus kuberi kesempatan kepadanya supaya
kali ini dia menang, pikirnya. Cepat ia menyerang akan
tetapi berbalik memberi kesempatan dan lowongan. Sebagai
seorang ahli silat ia tentu saja Ceng Ceng dapat mel ihat
lowongan ini dan tidak menyia-nyiakan kesempatan baik.
Tangan kirinya menyambar ke arah dada yang terbuka
31
dengan pukulan keras, akan tetapi segera kepalannya
dibuka dan hanya telapak tanganuya yang mendorong
sekuat tenaga.
"Bukk !” Cui Kong terjengkaog dan berjungkir balik ke
belakang, Sedangkan Ceng Ceng me rasa tangannya
kesemutan dan kaku. Bukan main kagetnya dan diam-diam
ia menjadi makin kagum karena hal itu membuktikan bahwa
tenaga lweekang pemuda itu tinggi.
"Nona lihai sekali. Aku Cui Kong mengaku kalah," kata
Cui Kong sambil mengebut-ngebutkan bajunya.
Akan tetapi Ceng Ceng bukan anak kecil. Kini ia maklum
bahwa pemuda itu sengaja mengalah dan merahlah
mukanya. Makin tertatarik hatinva, pemuda ini selain gagah
perkasa, juga berbudi manis dan pandai merendah. Di lain
fihak, Cui Kong hampir menari kegirangan karena ketika
merubah pukulan menjadi dorongan tadi. Ia dapat menduga
bahwa sedikitnya gadis itu mempunyai pandangan baik
te rhadap dirinya dan tidak mempunyai sikap bermusuh lagi
!
"Ah, kau terlalu memuji. Sebetulnya akulah yang kalah
dan terus terang saja aku mengakui kelihaianmu, saudara....
saudara,....”
“Cui Kong namaku, nona. Kau selalu merendah, nona
Lie. Sebetulnya saja kepandaian kita setingkat, mungkin aku
sodikit lebih kuat, ini tidak aneh karena kau seorang wanita,
Akan tetapi, dibandingkan dengan ayahmu tentu aku kalah
jauh sekali. Sudahlah, tertang kepandaian memang tidak
ada batasnya, nona. Bolehkah aku bertanya, nona hendak
pergi kemanakah?"
"Aku pergi merantau meluaskan pengalaman," jawab
Ceng Ceng s ingkat.”
Wajah Cui Kong berseri. "Aah, tentu saja begitu. Puteri
seorang pendekar tentu ingin pula mengetahui bagaimana
keadaan dunia kang-ouw. Akupun mempunyai keinginan
32
seperti itu, nona. Hanya bedanya, kalau ayah bundamu
terkenal sebagai pendekar-pendekar besar, adalah aku
seorang yatim piatu yang hidup sebatangkara di dunia ini,
hanya mempunyai seorang ayah angkat. Akan tetapi .....”
Cui Kong menarik napas panjang, “Ayah angkat inipun
hanya menambah beban hidupku. Aku ...... aku terpaksa lari
dari rumahnya.....”
Mendengar ucapan terputus-putus dan tidak jelas ini,
hati Ceng Ceng tertarik. Kepribadian pemuda itu memang
telah menarik hatinya. ingin sekali ia mengetahui keadaan
pemuda ini.
"Mengapa ...... ? Mengapa kau....... lari?"
Diam-diam Cui Kong makin gembira. Jelas bahwa nona
ini menaruh perhatian kepada dirinya. Ia harus berlaku hatihati.
Nona ini bukan nona sembarangan, melainkan puteri
dari Pek.thouw-tiauw-ong Lie Kong. Ia harus menggunakan
akal dan siasat untuk mendapatkan gadis yang benar-benar
yang benar-benar telah membetot semangatnya ini.
"Ahh, kepada orang lain biar mati aku takkan mau
menceritakan urusan keluargaku, nona. Akan te tapi
terhadapmu....... entah mengapa biarpun baru sekarang
bertemu, aku merasa ...... seakan-akan kita sudah menjadi
sahabat baik puluhan tahun lamanya.......” Ia berhenti
sebentar untuk melihat bagaimana reaksi kata-katanya yang
berani ini, apakah gadis ini akan marah? Tidak, Ceng Ceng
malah menundukkan mukanya yang menjadi kemerahan. Ia
menjadi makin berani dan melanjutkan kata-katanya,
"Sebenarnya, ayah angkatku hendak memaksa aku untuk
menikah dengan seorang gadis kampungku. Maka aku .....
lari pergi !”
Tanpa disengaja Ceng Ceng tertawa kecil mendengar ini.
Ia memandang muka pemuda itu dan bertanya jenaka sudah
timbul sifatnya yang jenaka dan lincah. `Mengapa lari? Apa
dia itu buruk rupa?”
33
“Tidak buruk, bahkan cantik menjadi kembang
kampungku. Akan tetapi, nona Lie yang baik, bukan seorang
gadis cantik yang lemah menjadi idam-idaman hatiku. Gadis
itu benar cantik, akan tetapi dia lemah dan bodoh. Kakinya
sebesar kepalan tangan .....”
”Eh. bukankah itu baik sekali? Kata orang kaki wanita
harus kecil, makin kecil makin baik.” Diam-diam ia melirik
ke arah kakinya yang biarpun tidak besar dan mungiL
namun tidak bisa dibilang kecil seperti kaki wanita dusun
yang semenjak bayi dibungkus dan diikat.
"Mana bisa dibilang baik? Kaki kecil bengkok, jalannya
terpincang-pincang. Ah, tak sudi aku dekat wanita demikian.
lemah berpenyakitan. Idaman hatiku, kalau orang buruk
rupa dan bodoh semacam aku ini laku kawin, calon isteriku
harus seorang wanita yang gagah perkasa. Tak usah dibilang
lagi kalau gagahnya seperti engkau, nona, baru memiliki
kegagahan setengah kepandaianmu saja, aku sudah akan
merasa bahagia sekali. Kalau ......... andaikata....... dia itu
seperti engkau baik rupa maupun kepandaian....... ah.
aku....... aku mau berlutut di depannya, nona!” Sambil
berkata demikian, Cui Kong betul betul menjatuhkan diri
berlutut di depan Ceng Ceng. Deikian pandainya Cui Kong
mengambil hati ! Ceng Ceng cepat membalikkan tubuh tidak
mau menerima penghormatan itu s ambil berkata, "Jangan
begitu! Tidak patut orang-orang muda seperti kita bicara
tertang perjodohan. “Itu urusan orang tua. Berdirilah agar
kita bisa bicara dengan baik.” Diam-diam gadis ini me rasa
girang sekali hatinya. Sudah lama ia mengidamkaa seorang
calon suami yang tidak saja tampan dan halus budinya,
akan tetapi juga memiliki kepandaian yang melebihi
kepandaiannya. Dan pemuda ini tidak saja sudah memenuhi
semua syarat, bahkan terang-terangan sudah menyatakan
cinta kepadanya !
34
"Kau tidak marah ? Terima kasih, nona. Agaknya hari ini
Thian menuntunku ke jalan babagia." Cui Kong berdiri dan
nona itu kembali menghadapinya.
“Seperti juga kau. aku dipaksa oleh ayah untuk menikah
dengan seorang pemuda yang tidak kusetujui. Aku tadinya
hendak dipaksa menjadi jodoh seorang pemuda bernama .....
Tiang Bu."
Kalau Cui Kong tidak mempunyai kepandaian menguasai
diri, tentu ia akan tersentak kaget mendengar disebutnya
nama ini. Hendak dijodohkan dengan Tiang Bu pemuda sakti
nu, Hatinya berdebar keras. Alangkab kebetulan. Kalau ia
bisa mendapatkan gadis ini , tidak saja hatinya akan puas
karena memang ia tartarik dan cinta kepada Ceng Ceng,
Akan tetapi juga sekaligus itu merupakan pukulan terhadap
Tiang Bu, merupakan sebagian dari pada balas dendam
kepada pemuda yang dibencinya itu.
"Mengapa kau tidak setuiu, nona ? Apakah Tiang Bu itu
seorang pemuda yang tidak memiliki kepandaian silat?” ia
pura.pura bertanya.
Ceng Ceng tersenyum. “Tentang kepandaian silat aku
sama sekali tidak dapat menang melawan dia, mungkin kau
dapat mengalahkannya. Hemm, aku ingin sekali melihat kan
dan dia bertempur.”
Diam-diam Cui Kong mengeluh di dalam hatinya. Kalau
saja Ceng Ceng tahu betapa Tiang Bu sudah membikin
kocar.kacir Ui-tiok-lim ! Dikeroyok tujuh saja masih tidak
kalah, bagaimana Cui Kong harus menghadapi Tiang Bu
seorang diri? memikirkan hal ini saja bulu tengkuknya
sudah berdiri saking ngerinya.
"Ah, kalau begitu dia seorang yang berkepandaian tingi?
Mengapa kau menolaknya. nona?" tanyanya
menyimpangkan pembicaraan tentang kepandaian silat.
Kemudian disambungnya cepat agar dianggap sopan. "Ah,
35
maaf beribu maaf, sebetulnya tidak patut aku be rlancang
mulut. Malutku patut digampar!"
Cenga Ceng yang tadinya hendak marah menjadi
tersenyum, "Apakah kepandaian tinggi saja cukup menjadi
syarat perjodohan? Kalau hati tidak suka, siapa bisa
memaksaku?”
Cui Kong bertepuk tangan, wajahnya berseri. "Bagus!
Barus! Memang menjadi orang muda barus demikian. Aku
girang sekali bahwa ternyata pendirianku ada yang
menyamai, keadaanku dan keadaanmu cocok sekali, nona."
Kembali Ceng Ceng menjadi merah mukanya, akan tetapi
dia memang bukan gadis pemalu. Ditatapnya wajah pemuda
itu penuh selidik, lalu bertanya.
“Kau telah mempe rkenalkan nama, akan tetapi siapa she
( nama keturunan ) mu ? Dan kemana kau hendak pergi ?”
“Aku she Kwe dan seperti juga kau, aku pergi merantau
menjauhkan diri dari paksaan ayah angkatku." Kemudian ia
berkata dengan sikap sungguh-sungguh. “Nona Lie Ceng,
aku Kwee Cui Kong biasa bicara jujur dan terbuka, sesuai
dengan sikap orang gagah yang tidak suka menyimpan
perasaan sendiri sebagai rahasia. Terus terang nona. Begitu
bertemu dengan nona, apa lagi setelah mengadu
kepandaian, aku meras a cocok sekali denganmu, dan.......
apa bila nona setuju….. maafkan kelancanganku karena aku
suka berterus terang menyatakan isi hatiku, apabila nona
setuju, aku ingin ikut nona menemui orang tua nona
untuk........ untuk mengajukan pinangan atas diri nona."
Dapat dibayangkan betapa likat dan malu rasa hati Ceng
Ceng sebagai seorang dara mendengar kata-kata yang terus
terang seperti ini. Akan tetapi diam-diam ia memuji
keberanian pemuda ini dan sama sekali ia tidak bisa marah
karena memang pemuda ini tidak bisa dibilang kurang ajar.
Bahkan ucapan itu membuktikan betapa jujur dan gagah
sikapnya ! Memang Ceng Ceng hanya pandai ilmu silat akan
36
tetapi pengalamannya masih hijau sekali. Tentu saja
menghadapi seorang "buaya " seperti Cui Kong, ia terpikat !
Sampai lama Cang Ceng tidak bisa bicara, akhirnya
sambil menundukkan muka ia berkata, "Urusan jodoh
urusan orang tua, bagaimana jika kau hendak bertemu
sendiri dengan ayah bundaku ?"
Sudah menang setengah bagian, pikir Cui Kong! Terang
gadis ini setuju, kalau tidak masa bertanya demikian, tentu
marah. Kalau gadis ini marah dan menolaknya, tentu Cui
Kong hendak menggunakan kekerasan menculiknya, akan
tetapi ia lebih senang mengambil jalan halus karena memang
kali ini ia bersungguh-sungguh, begitu berjumpa dengan
Ceng Ceng ia tertatik sekali. Apa lagi kalau diingat bahwa
dara ini puteri Pek-tbouw-tiauw-ong, dia harus berhati-hati.
"Ucapanmu itu memang tepat sekali, nona, dan akupun
tentu akan mematuhi peraturan dan kesopanan. Akan tetapi
apa mau dikata, seperti tadi telah kuceritakan, aku adalah
seorang anak yatim piatu, tiada ayah bunda lagi........”
Sampai di sini dengan pandai sekali sepasang mata Cui
Kongmenjadi basah oleh air mata ! "Ayah angkatku
memaksaku menikah dengan seorang gadis kampungku
puteri seorang hartawan, kalau kuceritakan kepadanya
tentang niatku ini sudah past i ia akan marah-marah dan
menolak. Oleh karena itu, lebih baik aku datang sendiri
kepada ayah bundamu dan menyatakan bahwa di dunia ini
tidak ada lagi waliku sehingga terpaksa aku mengajukan
pinangan sendiri. Nona Lie yang mulia. sudikah kau
menyetujui permohonanku ini ?”
Ceng Ceng menjadi terharu. Hatinya sudah jatuh betulbetul.
akan tetapi sebagai seorang gadis terhormat,
bagaimana dia bisa menjawabnya ¿ Tiba-tiba kudanya
meringkik dan menggaruk-garuk tanah dengan kaki depan.
Kuda itu sudah tidak sabar dan minta diberi kesempatan
lari.
37
"Aku memang hendak manyusul ayah di kota Kiu-kiang.
Kalau kau hendak mencari kami, datang saja di Telaga Poyang,
di sana ayah mempunyai perahu besar tempat kami
pelesir. Nah, aku pergi dulu !” Dengan gerak ringan sekali
Ceng Ceng melompat ke atas punggung kudanya. Sekali
menarik kendali kuda itu meringkik dan melompat jauh
terus berlari cepat.
“Nona, bagaimana aku tahu yang mana perahu ayahmu?”
Cui Kong berteriak keras.
“Carl saja burung pek-thouw-tiauw, tentu ketemu!” jawab
Ceng Ceng sambil menoleh dan melambaikan tangannya.
Kemudian kuda itu membalap cepat, sebentar saja lenyap di
sebuah tikungan jalan. Cui Kong berdiri bengong, meras a
hatinya dan semangatnya terbawa lari oleh kuda itu.
Akhirnya ia menghela napas panjung dan berkata heran,
"Cui Kong ......Cui Kong....... mengapa hatimu seaneh ini?
Hemm, banyak sekali wani ta cantik, akan tetapi tak
seorangpun dapat menandingi Ceng Ceng. Dia itulah calon
isteriku ! Aku harus mendapatkan dia !” Kemudian iapun lari
cepat menuju ke Kiu-kiang.
-oo(mch)oo-
Telaga Poyang adalah sebuah telaga besar di Propinsi
Kiang-si. telaga yang indah dan juga ramai. Telaga ini
menjadi pusat ke ramaian dan tempat orang berpelesir,
terutama sekali oleh karena letaknya di dekat kota-kota
besar seperti Nan ciang dan lain-lain. Para saudagar tidak
ada yang tidak melewatkan waktu untuk mengunjungi telaga
ini apa bila maraka kebetulan lewat di daerah ini, juga para
pembesar setempat selalu menghibur hati di telaga dengan
perahu-perahu mereka yang se rba mewah dan indah. Telaga
ini menjadi pusat para seniman di mana mereka menvari
ilham di tempat sunyi indah ini untuk menghasiIkan karyakarya
besar. Hanya rakyat kecil, kaum petani dan nelayan
yang agaknya tidak menaruh perhatian atas segala
38
keindahan alam ini, pandangan mata mereka jauh sekali
bedanya dengan orang-orang kota itu.
Mengapa demikian ? Oleh karena rakyat kecil yang
selamanya tinggal di dusun-dusun ini sudah biasa dengan
segala keindahan alamsemenjak mereka ke cil. Mereka te lah
menjadi satu dengan keindahan tamasya alamsehingga para
pe lukis dan penyajak tidak pernah lupa menyebut mereka
ini dalam lukisan atau sajak mereka. Memang sagala
keindahan itu akan kehilangan rasanya apabila telah
dimiliki.
Di antara puluhan buah perahu indah millik para
pembes ar dan saudagar, terdapat sebuah perahu cat putih
yang sedang saja besarnya. Akan tetapi tentu saja sudah
termasuk besar dan mewah apa bila dibandingkan dengan
perahu-perahu butut milik para seniman dan nelayan yang
banyak be rkeliaran di permukaan telaga. Perahu bercat
putih ini sudah tiga bulan berada di situ, dimiliki oleh
sepasang suami isteri pendekar yang amat ternama, yaitu
Pek-thouw tiauw ong Lie Kong dan isterinya Souw Cui Eng.
Bagi orang-orang yang sudah biasa merantau di dunia
kangouw, melihat dua ekor burung pak-thouw-tiauw yang
sering kali hinggap di atas pe rahu atau terbang berputaran
di atasnya, tentu akan mengenal siapa pemilik perahu itu.
Pada suatu pagi, ketika matahari mulal memancarkan
sinarnya di permukaan telaga suami isteri pendekar ini
sudah kelihatan duduk di atas dek perahu mereka. Sudah
jadi kebiasaan mereka untuk "mandi cahaya matahari" di
waktu pagi yang me rupakan sebagian dari pada latihan
mereka sehingga tubuh selalu sehat dan awet muda. Inilah
saatnya mereka be rcakap cakap dengan asyik, si isteri
melayani suami minum teh hangat dan sekedar santapan
pagi.
"Heran mengapa Ceng Ceng masih juga belum kembali ?
Apa dia lupa bahwa dalam bulan ini kita akan meninggalkan
39
Po-yang ?” terdengar Lie Kong berkata sambi l menghirup teh
panasnya.
"Anak ini kalau sudah bertamasya lupa waktu." jawab
Souw Cui Eng. ”Akan tetapi pada saatnya ia tentu akan
datang. Biarpun suka pelesir, Ceng Ceng selalu ingat akan
pesan ki ta. Kurasa sebelum lewat bulan ini tentu ia akan
pulang."
Lie Kong menarik napas panjang, "Tabun ini Ceng Ceng
sudah berusia delapan belas lebih, dan kita belum
mendapatkan calon jodohnya.......”
Isterinya juga menarik napas panjang. "Anak itu agak
bandel. Akupun sudah setuju sekali kalau dia menjadi isteri
Tiang Bu pemuda yang sakti itu. Akan tetapi, aahhh,
memang Ceng Ceng amat bandel…..”
"Tunggu saja sampai kita bertemu dengan keluarga di
Kim-bun-to, tentu hal perjodohan ini akan kujadikan,” kata
Lie Kong,
Tiba-tiba terdengar pekik nyaring. Suami isteri itu
menoleh ke darat sebelah timur s ambil mengerutkan kening.
Sekali lagi pekik terdengar dan tak lama kemudian seekor
buruag rajawali berkepala putih datang beterbangan di alas
perahu, berputar-putar sambil cecowetan.
“Hemm, betinanya ke mana?” tanya Lie Kong sambil
memandang burungnya itu.
“Celaka, tentu terkena bencana. Hayo kita lihat !” kata
isterinya yang amat sayang kepada separang burungnya.
Suami isteri ini cepat minggirkan pe rahu, diikuti oleh pokthouw-
tiauw dari atas. Dengan sigap mereka me lompat ke
darat meninggalkan perahu lalu berlari mengikuti burung
mereka yang menjadi penunjuk jalan.
Burung itu terbang terus ke sebuah hutan keci l di
sebelah timur telaga. Setelah memaauki hutan, mereka
melihat enam orang laki-laki aneh yang berdiri saling
40
berhadapan. Lie Kong dan isterinya berdiri bengong seperti
patung! Apa yang mereka lihat memang luar biasa anehnya.
Tiga di antara enam orang itu pernah mereka lihat, yaitu
bukan lain adalah Pak-kek Sam-kui (Tiga Iblis Kutub Utara)
yang bernama Giam lo-ong Ci Kui, Liok-to Mo-ko Ang Bouw,
dan Sin sai-kong Ang Louw.
Akan tetapi, tiga orang ini sekarang berdiri berhadapan
dengan tiga orang Pak kek Sam-kui pula! Tegasnya pada
saat itu terdapat dua orang Ci Kui, dua orang Ang Bouw,
dan dua orang Ang Louw. tiga pasang manusia kembar yang
sukar sekali dibedakan mana aseli mana palsu! Hanya
bentuk pakaian mereka yang agak berbeda, selebihnya
mereka serupa benar. Saking heran dan terkejut
menyaksikan pemandangan ganjil ini, Lie Kong dan isterinya
sampai tak dapat mengeluarkan suara. Burung pek-thouwtiauw
betina sedang dipe gang sayapnya oleh seorarg Ci Kui
dan burung itu sama sekall tak dapat berkutik. Memegang
burung besar yang amat kuat seperti itu menunjukkan
keahlian sipemegangnyaa.
“Ha, pemilik pek thouw tiauw sudah datang kau masih
juga belum melepaskannya!" kata Ci Kui kedua kepada Ci
Kui pertama. Ci Kui yang memegang burung mengeluarkan
ketawa sambil memandang kepada Lie Kong, agaknya ia
jerih dan sekali menggerakkan tangan, burung pek thouw
tiauw betina itu sudah terbang tinggi mengeluarkan pekik
marah.
Ci Kui kedua yang menyuruh Ci Kui pertama tadi lalu
menjura kepada Lie Kong. "Si-cu harap sudi memaafkan
kami. tiga orang adik kakak ini membuat kesalahan
terhadadap sicu, kami yang mintakan maaf. Sekarang kami
enam orang kakak beradik masih mempunyai urusan
panting sekali, harap sicu mengalah dan mundur."
Lie Kong cepat -cepat mengerahkan tenaganya ketika dari
sepasang kepalan itu menyambar angin yang amat kuatnya.
Ia membari penghormatan itu dengan merangkap kedua
41
tangan ke dada dan digerakkan ke depan. Dua tenaga
dahsyat saling bertemu dan Lie Kong tergeser sedikit kaki
kirinya, tanda bahwa orang tinggi kurus itu benar-benar
lihai sekal i. Hal ini mengejutkan hati Lie Kong. Ia tahu
bahwa tiga orang Pak kek Sam kui lihai, akan tetapi tidak
mungkin seorang saja dari mereka dapat menandinginya.
Akan tetapi karena orang bicara dengan cengli (menurut
aturan), iapun tidak mau banyak cakap. Burungnya tidak
terganggu, mengapa ia harus banyak ribut? Ia mengangguk
kepada isterinya, lalu mengundurkan diri.
Akan tetapi oleh karena hutan itu tempat umum, ia
berani dengan isterinya duduk di bawah pohon agak jauh
dari situ untukmelihat apa yang selanjutnya akan terjadi
antara tiga pasang manusia kembar yang aneh-aneh seperti
siluman itu.
Dua pasang Pak-kek Sam kui selanjutnya tidak
memperdulikan lagi akan hadirnya Lie Kong dan isterinya
dan mereka saling be rhadapan, sikapPak-kek Sam kui
pertama menantang dan Pak-kek Sam -kui kedua sikapnya
tenang, sabar membujuk.
"Bagaimana, apakah kalian masih berkeras kepala tidak
mau ikut kami pulang ke utara?” terdengar Ci Kui kedua
be rtanya.
Ci Kui pertama menjawab, "Tidak! Kami bebas
melakukan apa saja yang kami sukai dan kalian tak perlu
mencampuri urusan kami!" Agaknya seperti juga Ci Kui
kedua, yang pertama inipun mewakili kawan-kawannya.
"Hemmm, kalian ini benar-benar tak tahu diri. Kami
sebagai saudara-s audara tua masih bersikap sabar sekali.
Kalian patut dilenyapkan dari muka bumi. Kalian se cara tak
tahu malu sekali mencemarkan nama saudara tua,
membantu manusia manusia jahat dan pengkhianat
semacam Liok Koug Ji dan Lo-thian-tung Cun Gi Tosu. Di
mana sifat kegagahanmu? Raja besar kami sedang sibuk
memukul ke barat , kalian anak-enak hedak mengikuti Liok
42
Kong Ji yang bersembunyi di Pulau Pek-houw-to (Pulau
Harimau Putih) di laut selatan. Sudah banyak kejahatan
kalian lakukan sebagai kaki tangan Liok Kong Ji sudah
banyak kalian membuat permusuhan dengan orang-orang
gagah di dunia selatan. Dari pada kelak kalian mampus di
tangan orang-orang gagah, lebih baik sekarang kalian roboh
oleb tangan kami sendiri .
(Bersambung jilid ke XXI)
1
(PEK LUI ENG)
Karya: Asmaraman S. Kho
Ping Hoo Scan djvu :
syauqy_arr
Convert & edit : MCH
Jilid XXI
MENDENGAR ini, Pak-kek Sam-kui pertama menggereng
marah dan mereka mulai menyerang. Ci Kui pertama
menyerang kakaknya, demikian pula Ang Bouw dan Ang
Louw. Pertempuran hebat terjadi, pertempuran aneh antara
orang-orang kembar yang aneh !
Memang membingungkan sekali melihat pertempuran
antara orang-orang ganjil itu. Sabenarnya, tiga orang yang
biasa disebut Pak-kek sam-kui yaitu yang sekarang menjadi
Pak-kek Sam-kui pertama, adalah adik-adik kembar dari Pak
kek Sam kui ke dua. Mereka adalah tiga pasang orang
kembar dari daerah Mongol yang semenjak ke cil menjadi
sahabat.
Kemudian setelah mereka dewasa, mereka te rpisah,
merupakan dua kolompok. Yang tua melanjutkan ilmu
mereka, menyembunyikan diri di gunung sedangkan yang
muda. yaitu Pak-kek Sam-kui yang sudah banyak dikenal,
membantu perjuangan Temu Cin atau Jengis Khan. Seperti
telah dituturkan di bagian depan, Pak-kek Sam-kui ini
terpikat oleh Li Kong Ji dan menjadi kaki tangannya.
2
Ketika saudara saudara tua mereka mendengar akan
penyelewengan adik-adiknya ini mereka turun gunung,
membantu Jengis Khan kemudian mereka menuju ke
selatan untuk mencari adik-adik mereka yang mengikuti Li
Kong Ji. Tidak mengherankan apabila kepandaian mereka
lebih tinggi dari pada Pak kek Sam-kui yang sudah dikenal
Lie Kong.
Sekarang dapat menduga pula akan hal itu setelah
mendengar percakapan tadi. Yang menggirangkan hatinya
adalah berita tentang tempat tinggal Liok Kong Ji, akan
tetapi berbareng juga membuatnya tidak mengerti. Ia sedang
berusaha mencari Ui tiok lim tempat tinggal Liok Kong Ji
untuk mencari kembali kitab Ome i-san yang dirampas oleh
dua orang gadis Ui -tiok-lim dari tangan Ceng Ceng. Mengapa
sekarang Liok Kong Ji sudah ke Pek-houw-to?
Ketika ia memandang ke arah pertempuran, mudah saja
ia menduga bahwa tak lama lagi Pak kek Sam-kui yang
muda akan kalah. Pertempuran itu memang hebat,
dilakukan dengan tangan kosong saja akan tetapi angin
pukulan mereka membuat batang pohon bergoyang-goyang
dan daun-daun rontok semua seperti ada enam ekor gajah
mengamuk.
Betul saja dugaannya, hampir berbareng tiga orang Pakkek
Sam-kui yang muda terpukul roboh dan pingsan.
Masing-masing mengangkat adik sendiri, memanggulnya dan
tanpa menoleh lalu lari pergi dari situ.
“Sam-bengcu, tunggu!" teriak Lie Kong sambil melompat
mengejar. "Hendak kutanya sedikit, bukankah Liok Kong Ji
berada di Ui tiok-lim ? Mengapa sam-wi tadi mengatakan dia
sudah pindah ke Pek-houw to ?”
Si jangkung gundul yang memanggul tubuh Ci Kui
menengok dan berkata, “Kami juga tadinya menyusul ke Uitiok-
lim, ternyata di sana sudah rusak, dihancurkan oleh
seorang pemuda perkasa bernama Tiang Bu. Sekarang Liok
Kong Ji dan Cun Gi Tosu berada di Pek-houw-to, kedudukan
3
mereka lebih kuat lagi !" Setelah berkata demikian, bersama
kawan-kawannya ia lari cepat sekali, sebentar saja sudah
lenyap dari situ.
Lie Kong menarik napas panjang dan berkata kepada
isterinya, "Benar benar banyak sekali orang pandai di dunia
ini. Baiknya tiga orang saudara tua Pak-kek Sam kui itu
tergolong orang orang baik, kalau mereka jahat seperti adikadiknya,
entag siapa yang dapat menghadapi mereka.
Sekarang kita sudah tahu bahwa Liok Kong Ji berada di Pek
houw to, tentu kitab Pat-sian-jut -bun juga ia bawa ke sana.
Kita menanti kembalinya Ceng Ceng, kemudian kita harus
mengejar ke Pek-houw to."
Suami isteri ini lalu kembali ke perahu mereka di Telaga
Po-yang. Alangkah kaget dan girang hati mereka me lihat
Ceng Ceng sudah tiba di situ, kudanya ditambatkan di
pinggir telaga dan gadis itu sendiri duduk melamun di atas
dek perahu.
"Ceng Ceng....... !” ibunya berseru girang.
“Ayah ....... ! Ibu....... !" seru gadis itu, sadar dari
lamunannya.
Setelah bertemu dengan ayah bundanya, Ceng Ceng
mendapatkan kembali kelincahannya dan sebentar saja ia
sudah s ibuk manceritakan pengalaman perjalanannya
kepada ayah bundanya. Diceritakannya keindahan alam
yang dilihatnya di Tapie-san, tentang para petani dan
tentang bagaimana ia membantu anak pe tani menangkap
burung. Akhirnya ia berkata tentang Cui Kong setelah bicara
tentang hal yang sepele-sepele, "Ayah, Aku bertemu dengan
seorang pemuda dan aku....... aku kalah bertanding ilmu
silat olehnya."
"Mengapa kau bertempur dengan orang ?” kontan
ayahnya menegur.
“Dia mengalahkanmu! Waah, tentu dia lihai sekali”. Siapa
pemuda itu ? Agaknya kau kagum padanya," komentar
4
Ibunya. Memang wanita lebih tajam perasaannya dalam hal
ini.
Ceng Ceng sekaligus menjawab pertanyaan ayah dan
ibunya, “Aku salah kira, tadinya ia kusangka pencuri
kudaku, tidak tahunya dia malah yang merampas kembali
kudaku dari tangan pencuri. Dengan singkat dia
menceri takan pengalamannya tentang kuda yang dicuri
orang pada malam hari, lalu tentang pertemuannya dengan
Cui Kong.
"Kami bertempur, mula-mula dengan senjata lalu
bertangan kosong. Akan tetapi dua kali aku kalah. Dia she
Kwee seorang yatim piatu. .....”
“Eh. eh. alangkah tak patutnya kau sampai berkenalan
dengan orang asing !” tegur Lie Kong.
“Habis dia memperkenalkan diri, masa aku harus
menutupi kedua telingaku," bantah Ceng Ceng manja. "Dia
...... dia bilang mau datang ke sini...... mau berjumpa dengan
ayah ibu.....” Sampai di sini muka gadis itu menjadi merah
sekali dan ia berlari memasuki kamarnya sambil berkata,
“Ayah, aku lelah sekali hendak mengaso."
Lie Kong saling pandang dengan isterinya, lalu keduanya
mengangguk-angguk maklum. "Bagaimanapun juga, kita
harus berlaku hati-hali dalam memilih calon jodohnya," kata
Lie Kong dan untuk ini isterinya setuju.
Pada keesokan harinya, Cui Kong sudah tiba di tepi
Telaga Po-yang karena ia telah me lakukan perjalanan cepat
sekali. Banyak terdapat perahu-perahu besar di telaga yang
luas itu. Akan tetapi tidak sukar untuk mencari perahu yang
dimaksudkan oleh Ceng Ceng. Dari tepi pantai ia sudah
melihat dua ekor burung, yang seekor hinggap di atap
perahu, yang seekor lagi beterbangan di atap perahu,
berputaran. Burung-burung yang indah dan besar.
Berdebar hati Cui Kong. Ia sudah mendengar nama besar
Pek-thouw-tiauw-ong Lie Kong, yang berilmu tinggi, juga
5
kabarnya Lie adalah seorang pendekar wanita yang lihai. Ia
tahu pula bahwa ayahnya tidak cocok dengan suami isteri
pendekar ini dan bahwa dahulu ketika beramai-ramai
menyerbu ke Omei-san suami isteri inipun mendapatkan
sebuah kitab yang akhirnya terjatuh ke tangan ayah
angkatnya. Ia harus berlaku hati-hati dan pandai beraksi.
Disewanya sebuah perahu kecil dan didayungnya perahu
itu ke tengah telaga, mehampiri perahu cat putih yang
kelihatannya tidak ada penghuninya. Akan tetapi setelah
perahu kecilnya mendekati perahu besar cat putih itu, tibatiba
terdengar suara bersuit dan burung pek thouw tiauw
yang yadinya enak enak melengut di atas atap perahu
mengulur kepala dan memandang ke arah perahu kecil
kemudian ia terbang menyambar menyerang Cui Kong
dengan ganasnya!
Cui Kong adalah seorang ce rdik. ia dapat menduga
bahwa perbuatan burung ini tentu ada yang mengaturnya.
Kalau burung itu memang liar dan menyerang semua orang
asing, sudah tentu telaga itu takkan aman. Setiap orang
tentu akan diserang burung ini dan sebentar saja telaga itu
akan kosong ditinggal pergi para pengunjung. Jadi jelas
bahwa burung ini tentu ada yang meme rintah maka
menyerangnya. Dan justeru dia yang diserang! Pasti orang
yang menyuruhnya itu hendak nenguji sepandaiannya. Dia
tadi sudah mendengar suitan nyaring sebagai tanda, Ceng
Cengkah gerangan yang menyuruh burung itu
menyerangnya ? Tak mungkin.
Gadis itu "ada hati" kepadanya, tak mungkin hendak
mencelakainya dan untuk coba-coba, gedis itu sudah cukup
tahu akan kepandaiannya. Tak bisa salah lagi, pikirnya,
tentu pemilik burung itu, Pek-thouw-tiauw-ong sendiri atau
isterinya yang menyuruh burung rajawali ini menyerangnya.
Dan ini-pun tidak mungkin kalau tidak ada sebabnya. Pekthouw.
tiauw-ong dan isterinya belum mengenalnya,
mengapa turun tangen ? Jawaban satu satunya, cukup
6
mudah, tentu Ceng Ceng sudah menceritakan hal dirinya
kepada ayah bundanya dan sekarang be gitu tiba ia diuji oleh
ayah gadis itu yang ingin melihat sendiri sampai di mana
ke lihaian pemuda yang dibicarakan oleh anaknya !
Cui Kong memikirkan ini semua sambil mengelak. Sedikit
saja miringkan tubuh patukan dan cakaran burung itu
mengenai tempat kosong. Lewatnya tubuh burung besar itu
membawa angin yang cukup santer, membuat ikat kepala
Cui Kong berkibar-kibar.
Memang dugaan Cui Kong tepat sekali. Da balik dinding
balik perahu, Lie Kong, isterinya dan Ceng Ceng mengintai
ke luar dan tad Lie Kong yang memberi aba-aba kepada
burung rajawalinya untuk "mencoba” kepandaia pemuda
yang ditunjuk oleh puterinya. Melihat betapa mudahnya Cui
Kong menghindarkan sambaran burungnya, kembali Lie
Kong bersuit lebih keras. Sekarang tidak saja burung betina
yang tadi menyerang pula, bahkan burung jantan yang
beterbangan di atas ikut pula menyambar dan mengepung
Cui Kong.
Cui Kong terkejut. Ia maklum bahwa burung itu kuat
bukan main dan sekali kena disamhar, buarpun ia depat
mengebalkan diri dan tidak terluka, akan tetapi ada
bahayanya, ia akan terlempar dari perahu dan jatuh ke
dalam air telagu ! Tentu saja dengan pukulan tin-san-kang
ia dapat memukul mampus dua burung itu, akan tetapi
inipun tidak baik. Kalau ia membikin mati burung-burung
kesayangan orang tua Ceng Ceng. bukankah berarti ia akan
mengecewakan dan membikin marah Pek.thouw tiauw ong
Lie Kong? Kalau terjadi demikian, mana ada harapan
baginya untuk meminang gadis itu ?
Pada saat yang kritis ini, Cui Kong mendapt pikiran baik.
Perahu itu adalah perahu nelayan dan di pojok perahu
terdapat sebuah jala ikao. Cepat ia menyambar jala itu dan
begitu dua ekor burung menyambar dekat, ia menggetakkan
jala ikan ke atas memapaki. Jala itu milik seorang nelayan
7
miskin, sudah robes-robek dan butut. Alan tetapi di dalam
tangan Cui Kong yang memiliki lweekang tinggi, jala itu
rupakan senjata hebat. Sekali lempar saja ia telah berhasil
menangkap dua ekor burung itu ia dalam jala. Cepat ia
memutar-mutar jala itu sehingga tubuh dan kaki dua pekthouw-
tiauw itu tergubat sama sekali. Dua ekor burung itu
meronta kuat, namun Cui Kong lebih kuat lagi. Dengan
tenang Cui Kong lalu menggenjot tubuhnya dan melompat ke
atas dek, jala terbuka dan dua ekor burung tadi terbang
tinggi sambil berteriakteriak
ketakutan !
Lie Kong dan isterinya
kagum sekali. Kini
mereka percaya bahwa
pemuda ini memiliki
kepandaian yang lebih
tinggi dari pada Ceng
Ceng. Cara yang
dipergunakan untuk
menghadapi dua ekor
burung pek thouw-tiauw
tadi saja sekaligus telah
membuktikan adanya
kecerdikan, kegesitan dan
tenaga lweekang yang
mengagumkan.
Muncullah Lie Kong
den Souw Cui Eng dari
dalam bilik perahu,
diikuti oleh Ceng Ceng
yangmenundukkan muka kemalu-maluan dan mengerling
dengan ekor matanya ke arah Cui Kong.
Pemuda itu cepat -cepat menjatuhkan berlutut di depan
Pek thouw-tiauw ong Lie Kong dan isterinya sambil berkata,
"Mohon locianpwe yang budiman sudi memaafkan boanpwe
8
yang berlaku lancang. Tanpa diundang boanpwe Kwee Cui
Kong berani lancang naik ke perabu locianpwe, tidak lain
oleh karena di tengah jalan boanpwe mendapat kehormatan
bertemu dengan puteri locianpwe yang terhormat. Boanpwe
sudah berjanji hendak datang ke sini menghadap locianpwe
berdua."
Sow Cui Eng berseri girang mel ihat sikap yang amat
sopan santun dan merendah dari pemuda ini. Benar-benar
seorang pemuda yang pandai membawa diri, tepat sekali
menjadi mantuku, pikirnya. Akan telapi Lie Kong
mengerutkan alisnya. Hatinya tak senang melihat sikap
berlebih-lebihan dan agak menjilat dari pemuda ini. Bukan
sikap seorang gagah, piki rnya. Akan tetapi oleh karena orang
sudah berlutut, tidak baik kalau tidak disambut. Ia lalu
membungkuk dan berkata. "Orang muda, jangan terlalu
sungkan, bangunlah." Dipegangnya kedua pundak Cui Kong
untuk ditarik baneun tambil dikerahkan sedikit tenaganya.
Merasa betapa dua tangan itu mengenai pundaknya
seperti bukit karang menindihnya, Cui Kong cepat -cepat
mengerahkan lweekangnya menahan sehingga Lie Kong
memegang pundak yang lunak seperti tidak bertulang. Pekthouw-
tiauw-ong mengangpuk-angguk. Diam-diam ia agak
terkejut karena dari sentuhan ini ia dapat menaksir babwa
tenaga lweekang pemuda ini sudah hampir mengimbanginya.
"Bangunlah, aku sudab tahu akan kepandaianma yang
tinggi.”
Setelah Cui Kong bangkit berdiri, kembali Lie Kong
mengerutkan keningnya. Sepasang mata pemuda ini benarbenar
tidak menyenagkan perasaan batinya. Mata yang
tajam liar, mengsndung sesuatu yang mangerikan seperti
bukan mata manusia. Mata Ibl is! Sabaliknya, Souw Cui Eng
memandang kagum kepada pemuda ini. Dia juga tahu
betapa suaminya telah mencoba tenaga pemuda yang
agaknya menjadi pilihan hati puterinya.
9
"Sekarang katakan apa kehendakmu mengunjungi kami,"
tanya Lie Kong, suaranya dingin dan tenang. Hati Cui Kong
berdebar. Suara ini nadanya tidak memberi banyak harapan,
akan tetapi ia dapat menenteramkan hatinya, menarik napas
panjang lalu berkata,
"Maafkan, boanseng yang berani mati menghadap
locianpwe mengandung maksud hati. Bososeng sudah
bertemu dengan puteri locianpwe, tak disengaja mencoba
kepandaian dan boanseng menganggap di dunia ini tidak
ada gadis yang lebih sampurna dari pada puteri loeianpwe.
Oleh karena itu, melupakan kerendahan diri sendiri,
bounseng datang untuk mohon tangan puteri locianpwe.......

"Hemm, orang muda berani mati! Mana ada aturan orang
meminang sendiri?” bentak Lie Kong.
“Boanpwe seorang yatim piatu, hidup sebatangkara di
atas.dunia tiada sanak kadang. siapa yang sudi menjadi wali
boanpwe?”
“Menilik gerakanmu tadi, kau seorang ahli waris
kepandaian dari utara, siapa -gurumu dan mengapa gurumu
tidak mewakilimu mengajukan pinangan?"
Cui Kong terkejut. Alangkah tajam pemandangan
pendekar ini. Ketika ia mainkan dua ekor pek thouw tiauw
tadi, ternyata pendekar ini sudah dapat melihatnya bahwa ia
mewarisi ilmu silat utara.
“Memang sesungguhnya boanpwe adalah murid seorang
tosu perantau di perbatasan utara dan sekarang suhu telah
meninggal dunia. Oleh karena tidak mempunyai wali lain,
terpnaksa boanpwe memberanikan diri menghadap
locianpwe,” jawabnya sedih sekali. Ia dapat mengatur
suaranya demikian berduka sehingga Ceng Ceng dan ibunya
merasa terharu.
Akan tetapi Lie Kong memandang tajam penuh selidik ke
arah pemuda di depannya itu, kemudian ia berkata,
10
suaranya tetap tenang akan tetapi dingin dan berpengaruh,
“Orang muda, tidak gampang mendapatkan tangan puteri
tunggal kami secara begitu saja. Kepandaianmu memang
memenuhi syarat, cukup tinggi. Akan tetapi kepandaian
tidak akan ada artinya kalau orang tidak dapat
mempergunakannya untuk maksud baik. Sekarang
dangarlah syarat kami. Kami telah kehilangan sebuah kitab
pelajaran ilmu Silat Pat-s iat -jut bun. Kitab itu dicuri oleh
dua orang perempuan jahat dari Ui-tiok-lim, sarang penjahat
iblis Liok Kong Ji. Kalau kau bisa merampas kembali kitab
itu dan membe rikannya kepada kami, nah, permintaanmu
akan dapat kami pertimbangkan."
Mendengar ini, berseri wajah Cui Kong. Kalau hanya itu
syaratnya, apa sih sukarnya? Kitab pe lajaran Pat sian-jutbun
telah berada di tangan ayahnya, dan bukan hal yang
sukar baginya untuk mencurinya,
“Baiklah, locianpwe. Boanpwe sanggup dan paling lama
dalam waktu satu bulan kitab itu pasti akan boanpwe
haturkan di depan locianpwe. Selamat tinggal, boanpwe
be rmohon diri.” Setelah berkata demikian, Cui Kong
memberi hormat kepada Lie Kong suami isteri, mengerling
diiringi senyum manis kepada Ceng Ceng, kemudian dengan
sigapnya ia meloncat ke atas perahu kecilnya yang masih
tarapung-apung tak jauh dari situ. Ini saja sudah
membuktikan kelihaiannya. Perahu kecilnya terpisah empat
tombak lebih dan meloncat ke atas perahu kecil ringan yang
bergoyang-goyang. Itu merupakan kepandaian ginkang yang
tinggi.
Karena terlampau girang mendengar syarat yang amat
mudah baginya itu, Cui Kong berlaku kurang hati-hat i. Ia
tidak tahu betapa Lie Kong makin menaruh curiga
kepadanya. Permintaan Lie Kong ini sebetulnya sama sekali
tak boleb dibilang ringan. Bagi orang lain, merampas
kembali kitab dari tangan Lie Kong Ji di Ui-tiok-lim, bukan
hal semudah itu. Akan tetapi pemuda ini bahkan dengan
11
muka berseri berani memastikan akan berhasil dalam satu
bulan.
Hal ini sudah merupakan jawaban yang amat
mencurigakan Pertama, kalau pemuda itu tidak pas ti akan
berhasil, tak mungkin dia begitu bergembira. Ke dua. Ulan
dia berani memastikan dapat berhasil dalam satu bulan, itu
berarti bahwa pemuda ini sudah tahu akan kepindahan Liok
Kong Ji ke laut selatan. Karena, andaikata mencari kitab itu
ke Ui-tiok-lim, perjalanan pulang pergi saja ke Ui tiok-lim
akan mamakan waktu berbulan-bulan !
“Pemuda itu mencurigakan sekali,” kata pendekar yang
cerdik dan waspada ini, "s iapa tahu kalau-kalau dia itu
mempunyai hubungan dengan penjahat iblis Liok Kong Ji."
"Akan tetapi sikapnya demikian sopan santun juga
kepandaiannya demikian tinggi,” bantah isterinya.
“Kau tabu apa?” kata Lie Kong mencela. "Dahulu di
waktu mudanya Liok Kong Ji si Iblis juga seorang pemuda
sopan dan berkepandaian tinggi.”
"Ayah menurut pendapatku. dia bukan orang jahat
Buktinya dia telah merampaskan kembali kudaku dari
tangan pencuri se la Ceng Ceng berani.
“Hem hem, apa kau melihat sendiri ? Betul dia berkata
demikian, akan tetapi kau tidak melihat sendiri ia bettempur
melawan pencuri kuda.”
“Kau memang terlalu curiga,” mencela Souw Cui Eng
kepada suaminya.
"Kita lihat saja. Mudah-mudahan kecurigaanku keliru."
-oo(mch)oo-
Apa yang didengar oleh Pek-thouw- tiauw-ong Lie Kong
dari percakapan Pek-kek Sam-kwi tentang Liok Kong Ji
memang betul. Orang yang licin sekali itu setelah terlepas
12
dari tangan Tiang Bu dapat menyelamatkan diri dan pindah
ke selatan. I a merasa tidak aman. Tadinya hanya Wan Sin
Hong seorang yang ia takuti. Malah belakangan ini ia tidak
begitu jerih lagi terhadap Sin Hong setelah ia tinggal di Ui
tiok-lim dan selain kepandaiannya sendiri sudah banyak
maju, juga ia dilindungi oleh lima orang saudara angkatnya.
Akan tetapi, sungguh tidak nyana sekali lima orang
pembantunya itu tewas semua oleh Tiang Bu puteranya
sendiri, putera keturunannya yang hanya satu-satunya.
Malah ia sendiri hanya dengan kecerdikannya saja dapat
meloloskan diri. Sekarang merasa makin tidak aman lagi,
tahu bahwa Tiang Bu takkan mau berhenti mencarinya
untuk membalas dendam, untuk membunuhnya. Kalau
Kong Ji teringat betapa putera keturunannya sendiri hendak
membunuhnya, mau tak man hatinya menjadi perih sekali.
Ia takut melawan Tiang Bu, maklum bahwa kesaktian
pemuda itu sekarang bahkan jauh melebihi kepandaian Sin
Hong atau kepandaian tokoh yang manapun juga yang
pernah ia ketahui.
Kemudian ia teringat kepada Lo-thian tung Cun Gi Tosu,
kakek buntung yang amat lihai. Hanya kakek buntung ini
yang akan dapat membantunya. Dan kebetulan sekali, kakek
itu sekarang sudah pindah ke selatan, tempat yang amat
terpencil, di sebuah pulau kosong yang disebut Pek houw-to
(Pulau Macan putih), Andaikata kakek itu masih berada di
utara masih ada bahaya lain. Di utara adalah tempat
pasukan-pasukan Mongol, ia tahu bahwa diam-diam Jengis
Khan tidak suka kepadanya. Raja besar itu memberi hadiah
kepadanya karena memang tadinya ia membantu, akan
tetapi setelah ia mengundurkan diri tidak mau membantu
penyerbuan orang Mongol ke barat, Jengis Khan menjadi
curiga dan tentu akan mencelakainya.
Demikian, Liok Kong Ji lalu pergi menyusul Cun Gi Tosu
ke Pulau Pek-houw to. I a diterima baik oleh kawannya ini
yang maklum bahwa kedatangan Kong Ji berarti memperkut
13
kedudukannya. Kong Ji diam-diam lalu mendatangkan selirselirnya
yang ia sayang, lima orang jumlahnya dan sebentar
saja pulau kosong itu berubah menjadi ramai dan indah,
be rkat pembiayaan Kong Ji yang masih mempunyai harta
simpanan. Hanya Cui Kong yang tidak betah tinggat lamalama
di pulau itu dan pemuda ini se ring kali pergi merantau
ke luar pulau.
Di atas pulau ini, Liok King Ji memperdalam ilmu
silatnya. Dengan tekun ia mempelari kitab-kitab dari Omeisan
yang terjatuh ke dalam tangannya. Dia sendiri
mendapatkan kitab Swat lian-kiam-coan-si yang sudah
dilatih dengan baik, kemudian kitab silay Pat-sian-jut-bun
yang didapatkan oteh Cui Lin din Cui Kim juga telah
dipelajari sampai hafal benar. Akhirnya ia membuka-buka
kitab Delapan Jalan Utama yang ia ambil dari mayat Toatbeng
Kui bo. Tadinya Cun Gi Tosu yang mempelajari kitab
ini, akan tetapi tosu ini terlalu bodoh sehingga mengira
bahwa kitab ini hanya kitab pelajaran Buddha biasa saja.
Akan tetapi begitu Kong Ji melihatnya dengan girang ia
dapat memecahkan rahasia kitab itu. Sama sekali bukan
hanya sekedar pelajaran kebatinan dari Agama Buddha,
melainkan pelajaran ilmu silat yang amat hebat. Akan tetapi
di samping kehebatannya, juga sukarnya bukan main
sehingga payah Kong Ji mempelajarinya. Isi kitab ini
mengandung delapan sari pelajaran lweekang dan penyatur
hawa dalam tubuh, setiap pelajaran mempunyai pecahan -
pecahan yang amat banyak.
Setiap huruf mengandung pelajaran tinggi dan Kong Ji
bukanlah seorang ahli dalam ilmu sastera, maka dapat
dibayangkan betapa ia memeras otaknya dan dalam waktu
setengah tahun ia baru dapat memetik buahnya dua saja di
antara delapan mata pelajaran itu. Sungguhpun begitu, yang
dua ini sudah mendatangkan kepandaian yang mujijat,
tenaga lweekangnyat meningkat tinggi dan sinkang (bawa
sakti) di dalam tubuh dapat ia salurkan sampai ke ujung
14
pedang. Semua ini ia lat ih se cara diam-diam. Cun Gi Tosu
sendiri sampai tidak mengetahuinya.
Demikianlah, sekali lagi Kong Ji mengalami hidup
tenteram dan aman. Ia pikir, tak mungkin Sin Hong atau
Tiang Bu dapat mencarinya. Andaikata mereka dapat
mencarinya, ia juga tidak takut. Selain di sampingnya ada
Cui Kong dan Cui Gi Tosu yang lihai, juga dia sendiri
sanggup menghadapi mereka. Ia malah ingin sekali mencoba
kepandaian barunya dengan Sin Hong atau Tiang Bu.
Sementara itu, Wan Leng. puteri Sin Hong yang diculik
oleh Cun Gi Tosu juga hidup di Pulau Pek Houw-to, ia
dirawat oleh para selir Liok Kong Ji yang rata-rata sayang
kepada bocah mungil ini. Juga Cun Gi Tosu kelihatan
sayang kepada calon muridnya.
Kita ikuti perjalanan Pendekar Sakti Wan Sin Hong yang
mencari jejak Can Gi Tosu, penculik puterinya. Seperti telah
dituturkan di bagian depan, setelah mengurus pernikahan
antara Wan Sun dan Coa Lee Goat. Wan Sin Hong lalu
meninggalkan Kim bun-to untuk pergi mencari puterinya
yang diculik oleh Lethian-tung Cun Gi Tosu. Ia sudah
mendengar bahwa bala tentara Mongol kini menghentikan
serangannya ke selatan dan mengalihkan perahatiannya ke
barat.
Dan ia tahu bahwa musuh besarnya itu ialah pembantu
orang Mongol, di samping Liok Kong Ji. Oleh karena itu,
walaupun perjalanan ke utara amat berbahaya dan tidak
sembarang orang berani ke sana, Sin Hong me lupakan
bahaya, merantau ke utara lewat perbatasan Tiongkok utara
untuk mencari jejak musuh besar yang melarikan puterinya
itu.
Tepat sekali keputusan yang diambil Sin Hong untuk
melakukan perantauan seorang diri tampa membawa
isterinya, karena perjalanan yang ditempuhnya ini memang
amat berbahaya. Sungguhpun isterinya juga gagah perkasa
dan jarang ada orang yang mampu menandinginya, namun
15
memasuki wilayah Mongol yang rakyatnya sedang bergolak
itu, apa lagi menghadapi Cun Gi Tosu dan Liok Kong Ji,
benar-benar merupakan hal yang amat berbahaya. Baru saja
memasuki wilayah Mongol, selagi enak berjalan di dalam
hutan belukar, tiba-tiba dari kanan kiri menyambar belasan
batang anak panah yang cepat sekali datangnya!
Baiknya Sin Hong bukan pendekar basa saja, melainkan
seorang yang telah memiliki kepandaian tinggi dan
kewaspadaan yang mengagumkan. Begitu mendengar
bersiutnya anak panah dan melihat sinar berkelebat dari
kanan kiri, cepat ia telah menggerakkan kedua tangannya ke
kanan kiri dan ujung lengan bajunya dengan tepat mengibas
runtuh belasan anak panah itu.
Melihat bentuknya anak panah yang bergerak lalu,
tahulah Sin Hong bahwa dia dikepung orang Mongol.
Memang anak panah Mongol amat terkenal dan di dalam
perang di selatan yang lalu, tentara Tiong-goan kewalahan
menghadapi serangan anak panah ya amat kuat dan laju ini.
Benar saja dugaannya tempat yang tadinya sunyi itu tibatiba
menjadi ramai dengan munculnya dua puluh orang
Mongol dan terdengar suara kuda meringkik. Heran hati Sin
Hong bagaimana kuda dapat dilatih sampai berdiam diri
tanpa mengeluarkan suara apa-apa dalam pemasangan bai
hok (barisan pendam) itu.
Sambil berteriak-teriak menyeramkan, dua puluh orang
Mongol seorang di antaranya berpakaian sebagai perwira,
menerjang dan mengeroyoknya tanpa bertanya lagi. Ini tidak
aneh karena dalam masa seperti itu, kedatangan seorang
berpakaian seperti orang Han tentu dianggap musuh atau
mata-mata. Senjata senjata bermacam macam, ada pedang,
golok dan tombak. Bagaikan hujan sekalian sanjata itu
menyambar ke arah tubuh Wan Sin Hong dan kalau
semuanya mengenai tubuh, tentu tubuh itu akan menjadi
hancur.
16
Sin Hong tidak sudi hanyak bersoal jawab. Walaupun dia
tidak perdulikan urusan negara dan perang, akan tetapi
orang-orang Mongol sudah banyak merampok, membunuh
dan membakari rumah rakyat, dengan demikian mereka
menjadi juga musuhnya. Tampak sinar menyilaukan mata
berkelebatan ke sana kemari, disusul jerit dan keluh
kesakitan. Sebentar saja sembilan be las orang serdadu
Mongol telah bergeletakan mandi darah di atas tanah dan
perwira tadipun sudah kehilangan pedangnya dan sekali
totok perwira itu menjadi lemas.
Sin Hong sengaja tidak mau membunuh perwira itu.
"Katakan di mana adanya thian-tung Cun Gi Tosu dan Liok
Kong Ji.” Sin Hong mengancam dengan ujung pedangnya.
Semua perwira Mongol mempunyai ke gagajan yang luar
biasa. Mereka itu rata-rata tidak takut mati dan melakukan
perjuangan sampai titik darah penghabisan. Inilah sebuah di
antara rahasia kekuatan balatentara Mongol, setia dan
berdisiplin. Demikian pula perwira yang sudah terjatuh ke
dalam tangan Wan Sin Hong ini. Dia sudah tertotok dan
tubuhnya tak dapat bergerak pula. Akan tetapi ia masih
dapat bicara dan mendengar pertanyaan serta ancaman
musuhnya ini, ia tertawa besar.
"Aku seorang perajurit sejati, sudah terjatuh ke dalam
tangan musuh, mau bunuh mau siksa, silahkan. Kaukira
aku takut mati?” jawabnya gagah.
Diam-diam Sin Hong kagum sekali. Tadi pun ketika ia
mengamuk, tak se orangpun antara para perajurit Mongol itu
ke lakutan atau melarikan diri, sungguhpun kawan-kawan
mereka roboh seorang demi seorang oleh pedang pendekar
sakti itu. Kalau saja bala tentara Kin demikian setia dan
gagah berani tidak nanti Kerajaan Kin demikian mudah
dibikin kocar kacir oleh Jangis Khan, pikir Sin Hong.
"Kau benar-benar seorang tai -tiang-bu (seorang gagah
setia) tulen. Aku suka benar akan orang yang berhati jujur
dan setia. Akan tetapi ketahuilah bahwa aku datang ke utara
17
ini sama sekali tidak ada hubungannya dengan perang,
melainkan untuk urusan pribadi. Salahmu sendiri kau
datang-datang menyerangku dengan anak buahmu sehingga
terpaksa aku harus membela diri. Juga sedikitnya
merupakan hukuman akan perbuatan terkutuk anak
buahmu ketika menyerbu ke se latan. Aku menanyakan dua
orang itu, terutama Lo-thian-tung Cun Gi Tosu, adalah
karena urusan pribadi.
Kau sdalnh pecundangku dan sudah menjadi hak yang
menang untuk mengambil nyawa yang kalah. Akan tetapi
melihat keset iaan dan kegagahanmu, aku mau menukar
nyawamu dengan keterangan di mana adanya dua orang itu,
atau terutama sekali Lo-thian-tung Cun Gi Tosu. Agar kau
tidak ragu-ragu, baik kau ketahui bahwa aku sedang
mencarinya untuk merampas kembali puteriku yang ia
culik.” Sin Hong yang sudah banyak pengalaman dan amat
cerdik itu tahu bahwa berhadapan dengan orang yang jujur
dan setia seperti ini, lebih baik ia berterus terang.
"Mata-mata selatan memang pandai menipu dan
membohong," jawab Perwira Mongol itu berkeras.
"Aku bukan mata-mata. Kalau aku mata-mata masa aku
memasuki wilayah Mongol secara berterang begini?”Wan Sin
Hong menjawab sabar.
"Bagaimana aku bisa yakin sebelum tahu betul siapa kau
? Siapa namamu ?"
Wan Sin Hong mulai jengkel. Dia menang dia yang
menawan, akan tetapi sebaliknya dia malah "diperiksa" oleh
tawanannya ini. Akan tetapi karena membutuhkaa
keterangan di mana adanya musuh besarnya, ia menahan
sabar dan menjawab,
"Namaku Wan Sin Hong”
Perwira itu membelalakkan matanya. "Kau ....... Wan Sin
Hong yang disebut Wan-bengcu ? Raja besar kami sering kali
menyebut-nyebut namamu sebagai seorang pendekar besar
18
yang sakti, bukan pembela kerajaan selatan akan tetapi
sayang tidak mau membantu pergerakan kami yang suci.
Pantas saja aku dan sembilan be las orangku kalah ! Ah, jadi
kau Wan-bangcu....... ?"
“Apa kau sekarang mau menolongku ?”
"Tentu saja! Manusia-manusia macam Cun Gi Tosu dan
Liok Kong Ji itu mana ada harga kulindungi namanya !”
Sin Hong cepat membuka totokannya, membebaskan
kembali orang itu.
"Nah, ceritakanlah di mana me reka."
"Mereka tidak membantu kami lagi. Malah mereka itu
diancam oleh raja besar kami karena mereka mengingkari
janji, tidak mau membantu penyerbuan ke barat. Kalau kami
mendapat kesempatan menyerbu ke wilayah selatan lagi,
manusia-manusia macam itu past i akan kami binasakan !
Menurut kete rangan para penyelidik kami, Liok Kong Ji
sekarang bersembunyi di Ui-tiok-lim di lembah Sungai Luanho
di luar tembok Kota Raja Kin, sedangkan Cun Gi Tosu
katanya melarikan diri ke selatan dan kabarnya tinggal di
sebuah pulau kosong di laut se latan, namanya Pulau
Harimau Putih.
Wan Sin Hong percaya penuh. Keterangan seorang setia
seperti ini tak mungkin bohong. Ia mengangguk-angguk lalu
berkata, "Terima kasih aku harus kembali ke selatan.”
Perwira itu memandang kepadanya dengan mulut
celangap, “Kau ..... kau membebaskan aku ? Tidak
membunuhku ?”
"Mengapa harus kubunub ? Kita t idak bermusuhan."
"Akan tetapi ..... kalau aku menjadi engkau, setiap orang
musuhku tentu akan kubunuh. Negara kita kan sedang
saling berperang.” Saking jujurnya perwira itu malah
menyatakan keheranannya mengapa ia tidak dibunuh !
19
Sin Hong tersenyum. Ia memang kagum sekali kepada
orang ini, maka ia suka membuang waktu untuk memberi
sedikit kuliah, "Perang adalah perjuangan bunuh
membunuh di antara sesama manusia yang sama sekali
tidak punya urusan pribadi, bahkan saling tidak mengenal!
Memang seorang perajurit harus membunuh musuhnya
selagi negara dalam perang bukan sekali-kali membunuh
karena rasa benci perseorangan, melainkan membunuh agar
jangan dibunuh dan membunuh untuk memenuhi kewajiban
sebagai perajurit terhadap negara. Memang perjuangan
dalamperang untuk membela nusa bangsa adalah tugas
suci setiap orang gagah."
"Akan tetapi sekali saja kau membunuh tentara lawan
dengan hati mengandung kebencian pribadi, maka sifat
membunuh itu menjadi keji dan hina ! Kau boleh
membunuh seribu orang tentara lawan tanpa
memperdulikan s iapa lawan itu, tanpa rasa benci kepada
orangnya, dengan pegangan bahwa dia itu musuh negara
dan harus dibunuh. Akan tetapi, sekal i-kali kau tidak boleh
membunuh dengan rasa benci perseorangan.
Kalau aku membunuhmu, apa alasanku? Aku tidak ada
parmusuhan dengan kau, juga aku bukan tentara lawanmu.
Kalau tadi aku membunuh anak buahmu adalah karena aku
dikeroyok dan aku diserang lebih dulu sehingga aku harus
membela diri. Dengan kau lain lagi, kau seorang gagah dan
setia, kau telah memberi keterangan penting kepadaku, Nah,
selamat tinggal.”
Setelah berkata demikian, sekali berkelebat Sin Hong
sudah lenyap dari depan mata perwira itu yang mula-mula
melongo, kemudian ia berjingkrak seperti orang kemasukan
setan.
“Ha ha. Aku sudah bertemu dengan Wan Sin Hong ! Aku
mengalami hal luar biasa yang dapat kudongengkan kepada
anak cucuku ! Baru kali ini aku mengalami kekalahan
terhormat dari orang besar seperti Wan-bengcu!” Orang itu
20
tertawa-tawa kemudian lari ke utara untuk mencari kawankawan
guna merawat para korban pedang Wan Sin Hong.
Wan Sin Hong memutar perjalanannya sembilan puluh
derajat. Ia kini memutar ke selatan. Ada keinginan hatinya
untuk mencari Liok Kong Ji di Ui-tiok-lim. untuk membuat
perhitungan terakhir dengan musuh lama ini. Akan tetapi ia
menekan keinginan ini karena perhatiannya tercurah kepada
puterinya.
la harus mencari dan menolong dulu puterinya, baru
kelak membereskan perhitungan dangan Kong Ji. Oleh
karena itu ia tidak mencari ke Ui-tiok-lim, melainkan terus
melakukan perjalanan ke selatan yang luar biasa jauhnya.
Di dalam perjalanan ini, Wan Sin Hong teringat akan
perjalanannya, ketika ia mencari Tiang Bu yang terculik oleh
Hui-eng Niocu yang sekarang sudah menjadi isterinya.
Kalau saja ia lebih dulu pergi ke Ui-tiok- lim, ada
kemunngkinan ia akan menjadi saksi betapa Tiang Bu
mengobrak-abrik tempat persembunyian Liok Kong Ji ini.
Dalam melaksanakan perjalanan ke selatan, Wan Sin Hong
menuju ke barat lebih dulu sampai ia bertemu dengan
Sungai Huang-ho, kemudian ia nyambung perjalanannya
dengan sebuah perahu setelah lebih dulu ia singgah di
Luliang san untuk mengunjungi makam suhunya.
Pe rjalanan dengan perahu amat cepat karena selain perahu
dibawa aliran sungai, juga Sin Hong menambah dengan
dayungnya yang digerakkan dengan tenaga.
Terjadi pertemuan dan peristiwa yang menarik hati ketika
ia tiba di dekat kota Lok yang, di mana air Sungai Huang-ho
dari utara itu membelok ke timur. Memang Sin Hong hendak
mendarat dan melanjutkan perjalanan darat lagi terus ke
selatan. Akan tetapi sebelum ia mendarat, ketika perahunya
tiba di daerah berhutan yang liar, tiba-tiba di depannya
menghadang lima buah perahu kecil yang diatur berjajar,
sengaja menghalangi perahunya.
21
Dari pengalamannya. Wan Sin Hong tahu bahwa
penghadangnya tentulah golongan bajak. Akan tetapi ia
tidak menjadi gentar. Empat buah perahu masing-masing
hanya ditumpangi dua orang berpakaian hitam yang
memegang golok, sedangkan perahu ke lima diduduki tiga
orang, yaitu seorang kakek, seorang pemuda tampan dan
seorang gadis cant ik. Tiga orang ini lebih menarik perhatian
Sin Hong karena mereka memperlihatkan sifat-sifat gagah.
Selagi Sin Hong hendak menegur mengapa ia dihadang, tiba
tiba ia mendengar suara khim (alat musik) ditabuh oleh
pemuda itu dan si gadis cantik bernyanyi, sedangkan kakek
itu mengambil irama dengan ketokan dayungnya pada air,
Sin Hong memasang telinga memperhatikan isi nyanyian.
"Serigala utara pergi menghilang
Datang banjir dan belalang
Tinggalkan uang dan barang
Baru perahu takkan terhalang !
Hati siapa takkan risau?
Siapa pula akan hirau?
Membuka yangan membantu petani ,
Kalau bukan bangsa sendiri.
Suara gadis itu halus dan merdu, akan tetapi
mengandung kekuatan dapat menembus angin dan
mencapai telinga Sin Hong, demikian pula permainan khim.
Ini semua selain merupakan pernyataan “minta barang dan
uang", juga merupakan demonstrast lweekang yang tinggi
dari pemuda dan gadis itu. Akan tetapi, sudah tentu saja
demonstrasi pemuda dan gadis itu merupakan permainan
biasa bagi Sin Hong. Yang amat menarik perhatian Sin Hong
adalah kakek yans memukul-mukulkan dayungnya ke air
untuk menerbitkan suara berirama.
Dayung itu dipukul-pukulkan biasa saja akan tetapi
perahu sedikitpun tidak bergoyang dan air sedikitpun tidak
22
memercik ke atas .Nainun, setiap kali dayung mengenai air
terdengar bunyi “plak" yang keras dan air tertekan ke dalam
sedangkan di sekitarnya menaik ke atas ! demonstrasi
tenaga lwrekang yang benar-benar tak boleh dipandang
ringan. Melihat betapa tiga orang itu mendemonstrasikan
kepandaian, timbul sifat gembira dalam hati Wan Sin Hong.
Iapun berdiri di kepala perahunya, dayungnya digerakgerakkan
perlahan menahan majunya perahu dan ia
bersajak.
"Serigala suara pergi menghilang
Datang banjir dan belalang.
Memang merisaukan hati kawan !
Sudah barang tentu bangsa sendiri membantu,
Akan tetapi membajak, apakah itu perlu?
Apa lagi yang dihadapi adalah seorang dungu,
Yang t idak mempunyaI sepeser di dalams aku !”
Terdengar kakek itu tertawa, lalu ia berdiri sehingga
kelihatan tubuhnya yang jangkung. Sajak Sin Hong tadi
biasa saja, akan tetapi cara Sin Hong menahan majunya
parahu dengan menggerak gerakkan dayung perlahan di
atas air sungguh bukan perbuatan biasa.
"Tamu yang lewat bilang tidak punya sepeser, mana bisa
melakukan perjalanan? Pedang bagus dis impan di dalam
baju, siapa tahu kalau tidak digunakan menambah sengsara
rakyat? Jaman ini banyak sekali anjing busuk, Aah, Harus
diselidiki betul-betul.”
Wan Sin Hong te rcengang mendengar kata-kata kakek
pemimpin bajak sungai itu. Alanglah tajam pandang mata
kakek itu yang dari jarak jauh dapat melihat pedang Pakkek.
sin-kiam yang ia sembunyikan di balik baju. Juga katakata
kakek itu menunjukkan bahwa kakek ini bukanlah
bajak sungai bias a saja. Hatinya timbul ingin mencoba
kepandaian kakek itu dan belajar kenal. Dengan tenang Sin
Hong lalu menggerakkan perahu ke pinggir sambil be rkata,
23
“Aku bukan termasuk golongan buaya bicara di atas air
sungguh tidak leluasa, Kalausahabat tua ingin bicara, mari
ke darat !” Dongan sekali melompat Sin Hong telah tiba di
darat dan berdiri menanti sambil tersenyum tenang.
Memang Sin Hong seorang pendekar yang hati-hati sekali.
Biarpun ia tidak gentar menghadapi bajak sungai itu, akan
tetapi kalau sampai terjadi perkelahian di atas perahu, ia
bisa menderita rugi. Sekali saja perahunya digulingkan, ia
akan berada di fihak lemah. Oleh karena itu ia mendahului
menantang sambil mendarat.
Kakek itu melihat cara Sin Hong melompat, berseru
gembira. "Aha. kiranya memiliki sedikit kepandaian. Aku
akan manyelidiki di atas darat. Kalau kawan boleh terus
kalau lawan baru meninggalkan barang!” Sambil berkata
demikian, iapun melompat dari perahunya ke atas darat
dengan gerakan yang ringan sekali. Berturut-turut pemuda
dan pemudi yang duduk seperahu dengan kakek itupun
melompat dengan gerakan yang menunjukkan ilmu ginkang
yang sudah tinggi.
"Bagus!" kata Sin Hong sambil tersenyum. "Sudah
kuduga bahwa kalian tentu bukan bajak-bajak sungai biasa.
Sekarang dengan cara bagaimana kalian hendak memeriksa
dan menyelidik apakah aku seorang baik atau busuk
menurut ukuranmu?"
Kakek itu mengurut urut jenggotnya yang panjang dan
matanya memandang penuh selidik, “Hemm. sikapmu
mengingatkan aku akan seorang yang sudah sering kali
kudengar namanya disebut-sebut orang. Akan tetapi tak
mungkin kau orang itu. Mau tahu bagaimana cara kami
menyelidik ? Bersiaplah dengan pedang yang
kausembunyikan itu. Kalau kau bisa mempertahankan
pedang itu dari rampasan kami, kami mengaku kalah dan
kau boleh melanjutkan perjalanan diiringi hormatku." Sin
Hong tersenyum. "Hemm, begitukah cara seorang bajak
24
bertindak ? Benar-benar sombong! Siapa di antara kalian
yang hendak maju?”
"Thia-thia (ayah), biarlah aku memberi hajaran kepada
orang yang banyak lagak ini," kata gadis cantik yang tadi
bernyanyi sambil mecabut pedangnya. Sikapnya galak dan
pipinya kemerahan menambah ke cantikannya. Kakek itu
hendak mencegah akan tetapi gadis yang lincah dan galak
itu telah menikam dada Sin Hong dengan pedangnya.
Wan Sin Hong adalah seorang pendekar besar dan sudah
berusia setengah tua. kesabarannya tebal bukan main. Mana
ia mau me layani seorang dagis remaja yang bertingkah?
Dengan tenang ia mengulur tangan dan di lain saat ia telah
mencengkeram pedang itu. dibetot dan pedang telah
terampas olehnya!
"Ang Lian, mundur kau!" seru si pemuda s ambil
menyerang dengan pedangnya tanpa minta perkenan kakek
itu.
Sin Hong nienggerakkan pedana rampasan yang dipegang
pada bagian tajamnya, dengan sekali ia memapaki ujung
pedang pemuda menggoyangkan gagang pedang yang dia
pegang dan..... benang ronce hiasan gagang pedang
rampasan itu melibat pedang pemuda itu tak dapat ditarik
pula. Sekali Sin Hong membetot, pedang pemuda itu terlepas
dari pe gangan dan sudah be rpindah ke tangan pendekar
besar ini !
"Pek Lian, kau telah sombrono!” mence la kakek itu
sambil tertawa.
Sin Hong memandang kepada Ang Lian dan “pemuda”
yang ternyata seorang gadis berpakaian pria bernama Pek
Lian itu. tersenyum dan menyerahkan pedang-pedang
rampasannya kembali. Ang Lian dan Pek Lian bermerah
muka, malu untuk menerima kembali pedang yang sudah
terampas.
25
"Pek Lian, Ang Lian, terima kembali pedang kalian dan
haturkan terima kasih!" kata kakek itu yang bukan lain
adatah Huang-ho Sian-jin, “datuk" bajak sungai di sepanjang
sungai Huang-ho. Dua orang gadis itu melangkah maju
menerima pedang masing-mas ing dan bibir mereka berbisik
menyatakan terima kasih. Mereka merasa heran dan kagum
bukan main. Dahulu mereka dibikin kagum dan tidak
berdeya terhadap seorang pemuda bernama Tiang Bu,
sekarang kembali mereka be rtemu "guru” yang lihai bukan
main. Mas a dalamsegebrakan saja pedang mereka sudah
terampas secara aneh!
Sementara itu, Huang-ho Sian-jin menghadapi Wan Sin
Hong dengan mata bersinar-sinar. Ia merasa gembira sekali
dapat bertemu dengan orang selihai ini. Ia sudah dapat
menduga siapa orang ini, Akan tetapi dia bukan ayah Ang
Lian yang keras kepala kalau dia sendiri tidak kepala batu!
“Orang gagah, aku tidak memparkenalkan nama dan
tidak akan menanyakan namamu sebelum kita mengukur
kepandaian. Kepandaianmu hebat sekali, ingin aku
mencobanya. Cabut pedangmu itu dan mari kita main-main
sebentar”!” Setelah berkata demikian, ia menyambar dayung
perahunya. Dayung itu terbuat dari pada baja panjaog dan
berat berwarna hitam. Wan Sin Hong adalah seorang
pendekar sakti. Tidak saja ilmu silaynya tinggi sekali, juga ia
memiliki kecerdikan melebihi orang banyak. Orang
kebanyakan menilai kepandaian murid dari kepandaian
gurunya, akan tetapi Sin Hong dapat menilai kepandaian
guru terlihat dari kepandaian muridnya. Ia tahu bahwa dua
orang gadis itu adalah puteri kakek ini, tentu mendapat
warisan ilmu silat sebanyaknya. Dan ia sudah dapat menilai
bakat dua orang gadis tadi. Dari perhitungan ini ia sudah
dapat menduga sampai di mana tingkat ilmu kepandaian
kakek itu dan ia tahu bahwa ia akan dapat
mengalabkannya.
26
"Pedangku sudah kusembunyikan di balik baju, biarlah
ia tinggal bersembunyi di sana karena aku tidak bisa
mempergunakan kalau bukan berhadapan dengan musuh
jahat . Sahabat tua hendak main-main, biarlah aku minta
bantuan anakmu meminjam pedang.” Baru ucapannya
habis. Pek Lian yang berdiri dekat, kurang lebih tujuh
langkah dari Sin Hong, tiba-tiba meras a ada angin
menyambar dan di lain saat pedangnya sudah terambil lagi,
terpegang oleh orang sakti itu.
"Maaf anak yang baik. Aku pinjam sebentar pedangmu,"
kata Sin Hong, suaranya halus dan ramah sehingga Pek Lian
tidak bisa marah. Sin Hong tahu bahwa kalau ia mencabut
pedangnya, s elain mungkin sekali, kakek itu akan mengenal
Pak-kek-sin kiam. juga kemenangannya takkan ada artinya.
Pedang pusakanya amat tajam dan kalau sekali tangkis
dayung lawannya putus , berarti ia akan menang
mengandalkan ketajaman pedang pusaka maka ia sengaja
meminjam pedang biasa kepunyaan Pek Lian.
Perbuatan dan sikap Sin Hong ini memang boleh
dipandang sebagai suatu kesombongan atau sikap
memandang rendah lawan, biarpun Huang-ho Sian-jin
seorang kakek yang banyak pengalaman dan memiliki
kesabaran besar, ia menjadi mendongkol juga. Tanpa
sungkan-sungan sebagai imbalan atau imbangan sikap Sin
Hong itu, ia menggerakkan dayungnya, diputar di atas
kepala lalu berseru.
"Awas, lihat senjata !"
Bagaikan seekor ikan besar menyambar mangsanya,
dayung itu bergerak miring dan sekaligus melancarkan
serangan yangmempunyai pecahan lima macam banyaknya.
Lima macam pukulan susul-menyusul dan bertubi-tubi
dilakukan dengan kedua ujung dayung, dalam cara dan
gerak yang berbeda sifatnya, bergantian mengandung tenaga
ke ras dan lemas! Inilah serangan hebat sekali yang amat
sukar dihindari. Dayung itu panjang dan berat , digerakkan
27
oleh seorang yang memiliki lweekang tinggi, datangnya
cepat, tidak terduga dan kuat sekali.
Akan tetapi, datuk bajak itu menghadapi Wan Sin Hong,
seorang pendekar s akti yang tinggi ilmu silatnya bahkan
yang pernah di pilih menjadi beng-cu dari para orang gagah.
Biarpun harus ia mengakui bahwa serangan kakek itu benar
luar biasa dahsyatnya dan berbahaya, namun ia bersikap
tenang sekali. Dari sambaran angin pukulan ia dapat
membeda-bedakan tenaga yang dipergunakan kakek itu.
Harus diketahui bahwa selama "bertapa” di Luliang-san.
Wan Sin Hong telah dengan amat tekun melatih diri dan
mempelajari serta memperkuat tenaga lweekang sehingga ia
boleh dibilang seorang ahli Yang-kang dan Im-kang. Maka
dari itu, sekali lihat saja ia tahu bagaimana harus melayani
lawannya. Pedang pinjaman di tangannya digerakkan
parlahan namun mengandung dua macam tenaga yang tepat
menghadapi tenaga dayung lawan. Lima kali dayung itu
dapat disambut pedang, di waktu mempergunakan tenaga
Yang-kang, terdengar suara nyaring dan bunga api berpijar
di waktu bertemu tenaga Im-kang, tidak ada suaranya
seperti dua barang lunak akan tetapi setiap kali membuat
Huang-ho Sin.jin menderita pukulan hebat. Pertemuan
tenaga Yang-kang membuat ia me rasa panas seluruh
tubuhnya dan tergetar mundur, sedangkan pertemuan
tenaga Im-kang mombuti kakek itu mengstigil kedinginan
dan kedua kakinya lemas. Ini menandakan bahwa dalam hal
tenaga, Sin Hong yang lebih muda itu masih jauh
mengatasinya.
Sin Hong yang selalu inenghormati orang lebih tua,
membiarkan kakek itu menyerangnya sampai tiga puluh
jurus, ia hanya mempergunakan kelincahannya mengelak
dan kadang-kadang menangkis tanpa balas menyerang.
Setelah tiga putuh jurus lewat, ia meras a bahwa sudah
cukup ia mengalah, lalu katanya, “Sahabat, maafkan
pedangku !"
28
Tiba tiba pedang itu berubah menjadi segulung sinar
menyilaukan mata dan Huang-ho Sian.jin sampai be rseru
kaget. Baru sekarang ia menyaksikan ilmu pedang yang luar
biasa sekali, Ilmu Padang Pak-kek Kiam sut yang tiada
taranya di dunia ini. Lebih dari tujuh belas pucuk sinar
pedang seperti api bernyala menjilat-jilatnya, sukar
ditentukan dari mana arah penyerangannya, kelihatan
kacau balau Namun teratur sekali demikian baik teraturnya
hingga tiap serangan menuju ke arah jalan darah yang
penting !
Sebentar saja Huang-ho Sian jin sudah tak berdaya lagi.
Ia menjadi pening, dayungnya hanya diputar-putar tidak
karuan dalam usahanya melindungi tubuhnya, lalu ia
berte riak-teriak.
"Hebat...... cukup ....... cukup. Kalau ini bukan Wan
taihiap, bengcu yang tersohor, aku si bodoh tidak tahu lagi
kau siapa !"
Wan Sin Hong menahan pedangnya, mengembalikannya
kepada Pek Lian sambil mengucapkan terima kasih
kemudian berkata pada Huang-ho Sian-jin.
"Nama besar Huang-ho Sian-jin bukan kosong belaka,
aku Wan Sin Hong merasa girang dapat berkenalan." Ia lalu
mengangkat tangan memberi hormat.
Huang-ho Sian-jin tertawa bergelak, "Ha-ha-ha! Kalau
tidak bertempur mana bisa saling mengenal? Sekarang aku
tahu mengapa Wan taihiap tidak menge luarkan pedangnya
Pak-kek-s in-kiam yang tersohor. Karena, hendak
menyembunyikan keadaan diri sendiri. Ha-ha-ha......!” Kakek
itu lalu menoleh kepada dua orang anaknya, Ang Lian dan
Pek Lian gadis berpakaian pria sambil berkata, "Hayo kalian
memberi hormat kepada Wan Sin Hong taihiap yang dulu
terkenal dengan sebuta Wan-bengcu.”
Dua orang anak dara itu memang ce rdik. Sudah lama
mereka mendengar nama besar Wan Sin Hong disebut ayah
29
mereka, kini setelah be rhadapan mereka segera
menjatuhkan diri berlutut dan Pek Lian berkata, "Kami
kakak beradik mohon petunjuk dari taihiap.”
Sin Hong tersanyum dan juga tercengang karena baru
sekarang ia mendapat kenyataan bahwa "pemuda" yang ia
pinjam pedangnya itu ternyata se orang gadis pula.
“Kalian sudah memiIiki kiam-hoat bagus, belajar apa lagi
?”
Terdengar Huang-ho Sian-jin berkata sambil menarik
napas panjang dan berkata dengan suara sungguh-sungguh,
"Kiam hoat apakah yang bagus? Kalau bukan Wan –taihiap
yang menaruh kasihan dan bermurah hati memberi
pe tunjuk, habis siapa lagi ? Harap saja Wan taihiap tidak
terlalu pelit." Ia mengangkat kedua tangan menjura dungan
hormat,
Menghadapi permintaan yang sungguh-sugguh dari ayah
dan anak ini, Wan Sin Hong merasa tidak enak kalau tidak
menuruti. Tangan kanannya bergerak, sinar terang
menyilaukan mata ketika Pak-kek-s in-kiam berada di
tangan.
“Kim-hoat dimiliki karena jodoh. Entah nona-nona
berjodoh atau tidak, silakan melihat baik-baik !" sete lah
be rkata demikian, Sin Hong menggerakkan pedangnya dan
dengan perlahan ia mainkan Soan-houg-kiam-hoat (Ilmu
Pedang Anglo Puyuh) yang dulu ia pelajari dari Luliang
Ciangkun. Tentu saja ia tak mau menurunkan Ilmu Pedang
Pak kek kiam-sut karena selain ilmu pedang ini tidak boleh
diturunkan pada sembarang orang, juga untuk mempelajari
ilmu pedang ini membutuhkan dasar-dasar yang amat kuat
dan amat sukar dipelajari!
Sampai tiga kali Sin Hong mengulang permainannya di
depan dua orang gadis Huang-ho Sian jin yang tahu aturan
kang-ouw. memerintahkan anak buah bajak untuk berdiri
30
membelakangi tempat latihan itu, bahkan dia sendiri juga
tidak mau melihat.
Setelah mainkan pedangnya tiga kali ditonton penuh
perhatian oleh Pek Lian dan Ang Lian, Sin Hong berhenti
bermain berkata,
"Cukup sekian dan selanjutnva tergantung dari jodoh
dan bakat."
Dua orang gadis itu berlutut menghaturkan terima kasih
lalu pergi dari situ mencari tempat sunyi untuk mengingat
dan mempelajari ilmu pedang yang terdiri dari tujuh belas
jurus itu. Sedangkan Huang-ho Sian-jin dengan wajah
girang berseri mempersilakan Sin Hong untuk singgah di
tempat kediamannya, yaitu di sebuah perabu besar untuk
menerima penghormatan dan jamuan. Akan tetapi Sin Hong
menolak dan menyatakan bahwa ia masih mempunyai
banyak urusan. Kemudian ia teringat akan kedudukan
Huang-ho Sian-jin sebagai bajak sungai yang malang
melintang sepanjang Sungai Huang-ho dan tentunya juga ia
pernah keluar berlayar di lautan dan mengenal keadaan
pulau-pulau di sebelah selatan.
“Siauw-te ada sebuah urus an dan mengharapkan
bantuan lo enghiong," katanya.
Wajah Huang-ho Sian jin be rseri. "Tentu saja lo-hu suka
sekali membantumu. Wan-taihiap. Entah urusan apakah
gerangan dan bantuan apa yang dapat kuberikan?"
"Hanya sebuah keterangan dari lo-enghiong. Aku sedang
mencari sebuah pulau di laut selatan, pulau yang bernama
Pek-houw to (Pulau Hariman Patih), entah lo enghiong
mengenal atau tidak?”
Wajah yang berseri dari kakek itu segera berubah,
keningnya berkerut dan untuk sejenak ia memandang
kepada Sin Hong dengan mata tajam.
31
"Kiranya taihiap juga mengalami gangguan me reka? Iblisiblis
itu belum lama tinggal di Pe houw to, akan tetapi sudah
membikin kacau banyak orang. Terutama sekali penduduk
di sekitar pantai selatan. Aku sendiri sedang bersiap-siap
untuk nekat menyerbu ke sana, biarpun aku tahu bahwa
mereka terdiri dari orang-orang berhati iblis yang amat ke ji
dan berkepandaian tinggi sekali.
"Aku tidak tahu siapa yang kaumaksudkan dengan
mereka itu, lo enghiong. Akan tetapi terus terang saja, aku
mercari seorang tosu kaki buntung bernama Lo-thian-tung
Cun Gi Tosu......”
“Celaka......!” Huang-ho Sian-jin berseru kaget
mendenpar nama ini. “Jadi diakah gerangan orangnya?
Sudah kudengar bahwa pemimpin iblis itu adalah seorang
kakek buntung kaki kanannya akan tetapi siapa kira adalah
Lo-thian-tung Cun Gi Tosu. Pantas saja banyak anak
buahku tewas !”
Huang-ho Sian jin lalu bercerita bahwa memang di pulau
itu tinggal banyak orang di dipimpin oleh seorang kakek
buntung. Kakek itu sendiri jarang sekali kelihatan keluar
dari Pulau Pek-houw-to, akan tetapi banyak anak buahnya
melakukan gangguan gangguan kepada rakyat dan nelayan
di sekitar daerah itu terutama di pantai daratan Tiongkok.
“Beberapa kal i anak buahku mencoba untuk menegur
mereka,” Huang-ho Sianjin melanjutkan penuturannya.
"Kami biarpun tergolong kaum bajak, namun kami
melakukan parampasan bukan semata menggendutkan
perut sendiri. Di samping untuk makan anak buah kami
yang hanyak jumlahnya, semua sisa hasil pembajakan selalu
kupergunakan untuk menolong rakyat yang sedang
menderita kekurangan. Maka sepak terjang pebghuni Pek
houw-to itu memarahkan hati anak buah dan mereka
mene gur. Celakanya, mereka tidak suka ditegur sehingga
terjadi pertempuran dan selalu pihak anak buahku yang
menderita kekalahan. Selama ini aku bersabar saja sampai
32
akhirnya kumendengar mereka itu banyak melakukan
penculikan anak-anak gadis di pantai. Ini melewati batas
dan aku sudah merencana persiapan untuk menyerbu ke
sana dan merobohkan pemimpinnya. Tidak tahunya,
pemimpinnya adalah Lo thian-tung Cun Gi Tosu! Aku bisa
apakah terhadap dia ?”
"Lo-enghiong jangan khawatir. Biarkan aku menghadapi
kakek buntung yang telah menculik dan aku hanya minta
bantuan lo enghiong untuk mengantarku ke sana sebagai
petunjuk jalan," kata Sin Hong.
"Mana bisa begitu? Aku akan mengawani taihiap dan
mari kuantar taihiap mendarat di sana. Akupun tidak takut
menghadapi Lo-thian-tung Cun Gi Tosu, sungguhpun dia
terkenal sakti !”
Cepat Huang-ho Sian-jin memberi perintah kepada anak
buahnya untuk menyediakan sebuwh pe rahu terbaik dan
menyuruh pergi. Kemudian ia bersama Sin Hong mulai
melakukan pelayaran, keluar dari Sungai Huang ho
memasuki perairan laut dan terus berlayar ke selatan. Tidak
mengecewakan Huang-ho Sian jin dianggap datuk para
bajak, kepandaiannya mengemudi perahu dan berlajar
memang hebat sekali. Perahu berlayar cepat dan dalam tiga
hari mereka sudah tiba di tempat tujuan.
Pek-houw-to terletak tak jauh dari pantai di antara
sekumpulan pulau-pulau lain. Pulau ini tidak kelihatan
istimewa, hanya kalau dilihat dari jauh memang agak
keputihan bentuknya seperti binatang harimau mendekam.
Oleh karena bentuk dan warna inilah maka disebut Pek
houw to atau Pulau Harimau Putih.
Hari telah menjadi senja ketika perahu dua orang
pendekar itu tiba di kepulauan Itu. Keadaan di situ benarbenar
sunyi, tidak kelihatan sebuahpun perahu nelayan.
Padahal dae rah ini terkenal banyak ikannya.
33
"Kaulihat sendiri, taihiap. Tak seorangpun nelayan berani
mencari ikan di sini, pada dahulu di s ini amat ramai. lni
tandanya betapa ganas orang-orang jahat itu mengganggu
ketenteraman para nelayan"
Sin Hong hanya mengangguk dan minta kepada kakek
itu untuk melanjutkan palayaran ke pulau itu. Perahu terus
didayung mendekati pulau dan setelah dekat nampak bahwa
di antara pulau-pulau itu, hanya Pek houw-to yang kelihatan
ada rumah-rutnahnya. Wuwungan rumah nampak
menjulang tinggi di antara batu-batu karang dan pohonpohon.
Perahu didaratkan dan mereka melompat ke darat
dengan hati-hati . Setelah perahu ditambatkan pada batang
pohon, Sin Hong berkata, “Harap lo-enghiong suka menanti
di saja. Aku akan naik dan menyelidiki ke tengah pulau.”
Maklumbahwa kepandaiannya memang tdak dapat
mengimbangi Sin Hong. Huang- ho Sin-jin mengangguk dan
mene rima pesan ini tanpa membantah. Akan tetapi setelah
ia me lihat bayangan Sin Hong berkelebat lenyap menuju ke
jurusan kiri, iapun lalu menyusup di antara tetumbunan
menuju ke kanan, untuk melakukan penyelidikan sendiri.
Tentu saja seorang gagah perkasa seperti kakek ini yang
disegani di antara para bajak, merasa tidak enak sekali
kalau hanya dijadikan tukang turggu atau tukang perahu.
Biarpun kepandaiannya tidak setinggi Wan Sin Hong,
namun ia tidak takut menghadapi kakek buntung dan
kawan-kawannya !
Belum lama Huang ho Sian-jin berjalan mengendap di
antara pohon-pohon, berindap-indap ia mengintai dengan
hati- hati, ia mendengarmakian orang dan angin pukulan,
tanda bahwa ada dua orang pandai bertempur. Cepat ia
manyelinap di balik pohon dan menghampiri tempat itu,
mengintai. Dilihatnya dua orang pemuda tengah bertempur
seru. Mereka ini adalah se orang pemuda yang berenjata
sepasang ranting kayu dan pemuda ke dua senjatanya
34
mengerikan yaitu sebuah tulang Iengan kering di tangan kiri
dan seekor ular kecil putih di tangan kanan ! Pemuda
bersenjata ranting itu terus terdesak mundur oleh Iawannya
yang ternyata lebih lihai.Namun ia melawan dengan nekat
sekali, ia tidak memperdulikan ejekan dan sikap lawan yang
tertawa-tawa.
“Ha ha-ba, Wan Sun bocah tolol. Apakah kau masih tidak
mau menyerah? Isterimu sudah tertawan dan kau sendiri
sudah tak berdaya. Dengan pedangmu saja kau tidak
mampu melawanku. Apa lagi dengan ranting? Ha ha jangan
kau bersikap goblok. Ayah masih berlaku murah dan
melarang kau dibunuh. Kalau tidak begitu, apa kaukira
sekarang kau tidak akan menjadi setan tak berkepala dan
isterimu sudah menjadi milikku ?”
"Keparat jahanam Liok Cui Kong! Kau sudah membunuh
ayah dan ibu mertuaku, secara keji menyebar maut di Kimbun
to, kau kira aku sudi mendengar omonganmu ? Mari
kita mengadu nyawa, aku tidak takut !” Setelah berkata
demikian, Wan Sun menyerang makin hebat. Dia adalah
murid Ang jiu Mo Ii, tentu saja kepandaiannya tidak rendah.
Biarpun pedangnya sudah terampas oleh Cui Kong dan
sekarang ia hanya mempergunakab dua ranting kayu,
namun ini masih merupaken senjata yang berbaya bagi
lawan.
Bagaimana Wan Sun bisa berada di pulau itu dan
bertempur melawan Cui Kong? Seperti pernah diceritakan,
setelah melangsungkan pernikahannya dengan Coa Lee
Goat, Wan Sun mengajak isterinya untuk pergi ke utara dan
mencari adiknya, Wan Bi Li. Setelah menikah, tentu saja
cinta kas ih Wan Sun terhadap Bi Li berubah menjadi cinta
kasih kakak terhadap adiknya. karena memang dia tidak
beradik dan Bi Li selain tidak bersauaara, juga telah menjadi
anak yatim piatu seperti juga dia sendiri. Kalau teringat
akan keadaan Bi Li, sedihlah hati Wan Sun. Ia ingin bertemu
dengan adik angkatnya itu, ingin menarik Bi Li tinggal
35
bersama dia dan kelak mencarikan pasangan yang setimpal
untuk adiknya itu. Lee Goat maklum akan perasaan sayang
adik dari suaminya ini, maka ia setuju untuk pergi mencari
Bi Li. sekalian berbulan madu sebagai pengantin baru.
Akan tetapi, setelah berbulan-bulan merantau di utara
dan mencati-cari, usaha Wan Sun sia-sia belaka. Tak
seorangpun manusia tahu ke mana perginya Bi Li. Gadis itu
lenyap tanpa meninggalkan jejak. Wan Sun menjadi berduka
sekali. Lee Goat yang melihat kedukaan suaminya, lalu
menghiburnya dan mengajaknya pulang saja ke Kim-bun to.
“Biar nanti ayah membantumu. Jika ia memberi surat
kepada para ketua partai besar minta bantuan mereka,
mustahil adik Bi li tidak dapat ditemukan? Ayah mempunyai
hubungan dengan semua orang kangouw di empat penjuru
dan kalau semua orang kang-ouw membantu mengamatamati
tentu segera akan ada berita di mana adanya adik Bi
Li," kata Lee Goat dengan suara menghibur. Wan Sun
menganggap kata-kata isterinya ini tepat juga, maka dia pun
menurut.
Akan tetapi, sipa kira, sesampainya si Kim-bun-no,
bukannya menerima hiburan bahkan mendengar berita yang
hebat menghancurkan hati mereka. Yang menyambut
kedatangan mereka hanya Hwa Thian Hwesio. Melihat
sepasang suami isteri ini datang, Hwa Thian Hwesio
menyambutnya dengan air mata bercucuran. Tentu saja Lee
Goat dan Wan Sun terkejut sekali.
"Lo.suhu. ..... mengapa lo-suhu menangis. Mana ayah
dan ibu, mana bibi Li Hwa dimana semua orang? Mengapa
begini sunyi……?” Lee Goat menoleh ke sana ke mari dan
merasa berdebar hatinya, tidak melihat siapa-siapa di situ.
Juga Wan Sun mendapat firasat tak enak, wajahnya sudah
menjadi pucat ketika ia melihat hwesio itu menangis terisakisak
seperti anak kecil.
“Hwa Thian lo-suhu, harap suka berce rita trus terang.
Apakah yang telah terjadi ?”
36
Hwesio itu akhirnya dapat menenangkan diri. Ia
menyusuti air mata dengan ujung lengan bajunya yang
lebar, lalu memandang kepada Lee Goat sambil berkata
kepada Wan Sun.
“Kongcu, jagalah isterimu baik-baik sementara
mendengar ceritaku."
Wan Sun segera menggandeng lengan isterinya, hatinya
berdebar karena ia maklum bahwa tentu telah terjadi
malapetaka hebat di Kim-bun to. Adapun Lee Goat seketika
menjadi pucat sekali dan suaranya serak ketika ia bertanya,
“Lo-suhu, ceritakanlah, ada apa…?”
“Beberapa bulan yang lalu, pinceng kebetulan sekali
datang berkunjung ke sini bersama sahabatku Ouw Beng
Sin, tiba-tiba datang Liok Cui Kong putera Liok Kong Ji.
Pemuda jahat itu mengamuk dan dia lihai bukan main.
Biarpun dia dikeroyok, tetap tetap saja menyebar maut.
Selain Ouw Beng din dan seorang pelayan tewas, pinceng
dan Hui-eng Niocu Siok Li Hwa terluka hebat, juga Coe-sicu
dan isterinya tewas....... “
Lee Goat menjerit. Wan Sun cepat memeluknya dan
nyonya muda ini pingsan dalam pelukan suaminya. Air mata
bercucuran dari sepasang mata Wan Sun, giginya berkerotkerot,
akan tetapi tak sedikitpun suara keluar dari
mulutnya. Dengan menekan goncangan dalam dada sendiri,
ia memondong isterinya dan membawanya ke dalam kamar,
di mana Lee Goat dibaringkan dan dirawat.
Menjelang tengah malam baru Lee Goat siuman dari
pingsannya, menjerit-jerit nyaring "Liok Cui Kong bajingan
besar! Aku harus bunuh kau! Aku akan mencabut
jantungmu dipakai sembahyang !" berkali-kali ia menjerit
menangis sedih. Baiknya Wan Sun pandai sekali
menghiburnya, dan menjanjikan untuk segera mencari
musuh besar itu dan membalas dendam. Akhirnya Lee Goat
terhibur juga. Segera setelah melakukan sembahyang di
depan makamayah bundanya sambil menangis
37
menggerung-gerung, Lee Goat mengajak suaminya pergi lagi
mencari jejak Cui Kong!
Akhirnya mereka mendenger bahwa orang yang dicari itu
be rada di selatan, di Pulau Pek-houw-to. Tanpa mengenaI
lelah dan bahaya, kedua suami isteri ini menyusul ke sana
menyeberang dan dengan nekat lalu menyerbu.
Penyerbuan dua orang muda ini mendatangkan rasa geli
dalam hati Cui Kong, kagum dalam hati Cun Gi Tosu, dan
girang dalam hati Liok Kong Ji. Cui Kong merasa geli karena
melihat dua orang muda yang kepadaiannya belum berapa
tinggi berani main-main di depan mulut gua harimau, Cun
Gi Tosu kagummenyaksikan keberanian suami isteri muda
ini dan Liok Kong Ji merasa girang oleh karena munculnya
dua orang muda ini memberi kesempatan baginya untuk
menghadapi musuh-musuh besarnya yang ia takuti yaitu
Sin Hong dan Tiang Bu. Kalau saja ia dapat menawan dua
orang ini, tentu ia dapat menebus keselamatannya dengan
jiwa mereka ! Demikianlah, tanpa banyak cakap lagi Kong Ji
memberi perintah kepada Cui Kong untuk menangkap dua
orang muda itu hidup-hidup.
Lee Goat sendiri biarpun kepandaiannya tinggi dan kiamhoatnya
lihai karena ia murid Wan Sin Hong, namun tentu
saja berhadapan dengan Liok Kong Ji ia marupakan
makanan lunak. Belum sampai tiga puluh jurus, nyonya
muda ini sudah terkena totokan yang lihai , jatuh lemas dan
menjadi tawanan.
Wan Sun didesak mundur terus oleb Cui Kong. Biarpun
kepandalan Wan Sun tadinya sudah hampir setingkat
dengan Cui Kong, akan tetapi akhir-akhir ini Cui Kong
mendapat kemajuan hebat dan kini Wan Sun masih kalah
sedikitnya dua tingkat ! Dengan senjatanya yang aneh, Cui
Kongmendes ak Wan Sun yang masih melakukan
perlawanan mati-matian.
Ketika Wan Sun mengge rakkan pedangnya dengan hebat
untuk mamatahkan lengan ke ring yang mengerikan itu, Cui
38
Kong berkata sambil tertawa, “Awas, hati-hati sedikit. Kalau
tidak, pedangmu akan mematahkan lengan tangan adikmu
sendiri. Lihat baik-baik, ini lengan tangan Wan Bi Li, apa
kau tidak mengenal lagi ?"
Dapat dibayangkan betapa kagetnya Wan Sun mendengar
ini dan tanpa terasa gerakannya menjadi lambat dan tahutahu
ia kehilangan pedangnya yang kena dirampas oleh Cui
Kong. Namun Wan Sun bukan orang penakut. Ia melawan
terus dengan sepasang ranting pohon yang ia pungut dari
bawah pohon, lalu melawan mati-matian.
Pada saat itulah Huang-ho Sian-jin muncul dan
mengintai. Mendengar ucapan Cui Kong yang ditujukan
kepada Wan Sun tadi, tahulah kakek ini siapa yang harus ia
tolong. Tadinya ia ragu-ragu karena ia tidak mengenaI dua
orang muda yang sedang bertempur itu. Akan tetapi, ucapan
Cui Kong cukup meyakinkan bahwa dia harus membantu
pemuda bersenjata sepasang ranting itu.
“Orang muda, jangan takut, lo-hu datang membantumu!”
seru kakek itu dan dayungnya sudah datang menyambar
kepala Cui Kong dengan kemplangan yang mematikan.
Cui Kong terkejut sekali dan cepat me lompat ke belakang
menghindarkan diri dari sambaran dayung yang bukan main
kuatnya itu.
“Eh... eh, kau ini orang tua gila dari mana datang-datang
menyeraog orang ? Kau siapa dan ada permusuhan apa
dengan aku?” teriak Cui Kong, mendongkol dan kaget.
Huang-ho Sian-jin penasaran sekali. Kepandaiannya
tinggi, serangannya tadi adalah serangan maut yang sukar
dihindarkan, namun pemuda yang membawa lengan kering
dan ular itu sekali melompat telah dapat menyelamatkan
diri.
"Pemuda jahat, tentu kau yang selama ini menyebar
kejahatan! Aku Huang-ho Sian-jin datang untuk membalas
kematian beberapa orang anak buahku." Setelah berkata
39
demikian, kembali kakek ini menyerang dengan dayungnya.
Melihat datangnya bala bantuan, Wan Sun timbul kembali
semangatnya dan ikut mendesak.
Sibuklah sekarang Cui Kong menghadapi gelombang
serangan dua orang lawannya yang tak boleh dipandang
ringan ini. Ia sama sekali tak boleh berlaku gegabah.
Terutama sekali menghadapi dayung Huang-ho Sian-jin, Cui
Kong tak dapat menangkis, hanya mengelak jauh ke sana ke
mari menghindarkan diri dari jangkauan dayung yang
panjang dan be rat itu. Kalau ia berusaha bertempur merapat
datok bajak itu Wan Sun manyambutnya, kalau manjauh,
kakek itu menggempurnya.
Cui Kong tahu bahaya. Ia cepat bersuit keras melepas
suara isyarat bahaya kepada kawan-kawannya. Untung
baginya, pada saat itu Kong Ji berada di tempat yang tidak
berapa jauh. Beberapa menit kemudian muncullah Liok
Kong Ji di gelaoggang pertempuran.
"Anak bodoh, kalau masih belum mampu membekuk
Wan Sun?” Kong Ji mengomel.
“Kakek bajak Huang-ho ini datang mengacau, ayah," Cui
Kongmembela diri.
Kong Ji melompat ke tengah dengan tangan kosong. Tiga
kali tangannya bergerak dan dilain saat Wan Sun sudah
roboh tertotok dan ditawan oleh Liok Kong Ji yang sekarang
memiliki kepandaian amat lihai itu.
"Jadi kau ini orang tua yang disebut Huan-ho Sian jin ?”
tanya Kong Ji penuh perhatian.
Huang- ho Sian j in sudah mendengar dari Sin Hong
tentang Liok Kong Ji dan Cui Kong. Tentang Liok Kong Ji,
memang sudah lama ia mendengar nama busuknya. Ia
menunda dayungnya, memandang tajam lalu
membentak."Hemm kau tentu Liok Kong Ji si Manusia Iblis!
Pantas saja daerah ini menjadi kacau dan tidak aman tidak
40
tahunya di samping manusia manusia jahat ada kau iblis,
yang bersembunyi!"
Liok Kong Ji tersenyum. Kakek ini ilmu dayungnya boleh
juga, pikirnya. Tidak ada salahnya untuk menguji Cui Kong.
"Cui Kong, gempur dia!"
Cui Kong memang sudah merasa gemas sekali. Kalau
tidak datang kakek itu tentu ia tak mendapat tegoran
ayahnya dan sekarang setelah Wan Sun tertawan, ia dapat
melayani kakek itu dengan leluasa. Ia mengeluarkan suara
keras dan tubuhnya melayang, ular dan tangan itu
bergantian berge rak menyerang. Dua macam senjata ini ada
keistimewaan masing-masing. Ular itu amat berbahaya
karena sekali saja manggigit akan merobobkan lawan
dengan bisanya yang lihat. Tangan kering yang tadinya
menjadi lengan Bi Li itupun tidak kalah hebatnya. Selain
dipergunakan untuk mengemplang dan menotok, juga
terutama sekali lengan kering ini mendatangkan hawa yang
menyeramkan pada lawan yang kurang kuat batinnya.
Namun Huang-ho Sian-jin seorang tokoh kang.onw yang
sudah banyak makan asam garam dunia dan sudah banyak
sekali menghadapi banyak pertempuran besar, tidak menjadi
gentar. Dayungnya menyambar-nyambar bagai naga hitam
mengamuk, sedtkitpun tidak mau memberi kesempatan
kepada lawannya untuk mendekatinya. Sebaliknya, Cui
Kongmempergunakan kelibcahannya untuk bertempur dari
jarak dekat, karena hanya dengan pertempuran jarak dekat
saja ia akan peroleh kemenangan dan kakek yang
kepandaiannya sudah menginibangi tingkatnya sendiri itu.
Pertempuran berjalan seru, seorang menjaga supaya
pertempuran terjadi dengan jauh, yang seorang lagi
berusaha merobah kedudukan menjadi pertempuran jarak
dekat. Kalau kadang-kadang Cui Kong berhasil, Huang- ho
Sian-jin merobah permainan dayungnya, dipegang di tengahtengab
sehingga rupakan toya atau sepasang senjata
pendek, akan tetapi ia segera mendesak lagi supaya dapat
41
menggunakan dayungnya sebagai senjata panjang yang
dipakai menyerang dari jauh. Mereka mempe rebutkan
kedudukan dan pertempuran berjalan seru, ramai dan lama.
Puluhan jurus berlalu tak terasa.
Kong Ji mendongkol sekali. Semenjak melihat kelihaian
Tiang Bu puteranya yang sejak itu ia menjadi tidak sabar
melihat Cui Kong dianggapnya amat bodoh. Tentu saja kalau
menghendaki pute ra angkatnya ini sebagai Tiang Bu, ia
mengimpi jauh. Untuk melampiaskan kekecewaannya
melihat Tiang Bu yang saat itu menolak untuk menjadi
puteranya, ia menumpahkan kemendongkolan hatinya
kepada Cui Kong. Sering kali pemuda ini dimaki-maki goblok
dan bodoh, akan tetapi terus ia menurunkan kepandaiannya
kepada Cui Kong. Sekarang melihat Cui Kong tak dapat
merobohkan Huang-ho Sian-jin, kembali Kong Ji memakimaki
sambil memberi petunjuk.
“Totol, jangan bilarkan ujung dayungnya menggertakmu.
Pergunakan Soat lian dan barengi Hok- te-twi !"
Cui Kong cepat bergerak menurut petunjuk ayahnya.
Gerakan Soat-lian adalah dari Soat-te kiam hoat (Ilmu
Pedang Teratai Salju) yang didapat dari kitab Omei-san,
gerakannya lembut namun merupakan inti ilmu ginkang
sehingga tubuh menjadi ringan dan cepat, adapun Hok totwi
berarti tendangan mendekam. Dengan dua ilmu ini Cui
Kong menghindarkan diri dari kurungan ujung dayung dan
mengirim tendangan-tendangan tak tersangka ke arah
dayung dan tangan lawan- Memang hebat rantai serangan
ini. Huang-ho Sian-jin sampai mundur-mundur terdesak
untuk menyelamatkan dayungnya, sementara itu dua
macamsenjata di tangan Cui Kong menggantikan
kedudukan pedang dalam gerakan Soat-sian tadi, hebatnya
bukan main.
Bagaimanapnn juga, tidak mudah merobohkan seorang
tokoh besar seperti Huang-ho Sian-jin, kalau yang
42
merobohkan itu hanya seorang dengan tingkat yang dimiliki
Cui Kong.
Pertemputan hebat itn berjalan terus sampai seratus
jurus dan masih belum dapat dibilang Cui Kong menang di
atas angin walaupun selalu diberi petunjuk oleh Kong Ji.
Tiba tiba dari jurusan tengah pulau terdengar suitan lain
seperti Cui Kong tadi.
"Gurumu menghadapi musuh lain !" Kong Ji kaget karena
tidak menyangka bahwa masih ada musuh lain yang malah
sudah masuk ke dalam pulau. Ia segera menurunkan tubuh
Wan Sun yang tadi dikempitnya dan dengan beberapa kali
lompatan ia sudah memasuki gelanggang pertempuran.
Kedua tangannya bergerak memukul dengan tenaga Tin-sankang
secara hebat.
(Bersambung jilid ke XXII)
1
(PEK LUI ENG)
Karya: Asmaraman S. Kho
Ping Hoo Scan djvu :
syauqy_arr
Convert & edit : MCH
Jilid XXII
“BRAKK!" Dayung patah menjadi dua dan tubuh kakek
itu terlempar, roboh tak sadarkan diri lagi karena hebatnya
pukulan Tin-san-kang. Kong Ji tak memperdulikan lagi
kakek itu, menyambar tubuh Wan Sun dan mengajak putera
angkatnya cepat kembali ke sarang untuk membantu Lothian-
tung Cun Gi Tosu menghadapi musuh.
Suitan tadi memang datangnya dari Lothian-tung Cun Gi
Tosu yang sedang berhantamdengan Wan Sin Hong!
Wan Sin Hong yang meninggalkan Huang-ho Sian-jin,
dengan gerakan cepat sekali menghampiri kelompok rumah
di tengah pulau itu dari arah kiri. Ia tidak berani bertindak
secara sembrono. Ia tahu bahwa dengan beradanya Leng
Leng di tangan musuh, ia menjadi tak berdaya. Musuh dapat
mempergunakan anak itu untuk melawannya. Oleh karena
itu, yang paling penting adalah merampas kembali anaknya,
baru setelah anaknya ditemukan ia akan memberi hajaran
kepada Lothian tung Cun Gi Tosu si kakek buntung.
Ia sudah merasa heran melihat tidak adanya penjagaan
kuat di dalam pulau itu lebih-lebih herannya ketika ia
2
melihat banyal wanita cantik berada di dalam rumah
terbesar yang berada di tengah-tengah kelompok rumahrumah
itu. Tentu di sini tempat tinggal Cun Gi Tosu,
pikirnya. Akan tetapi siapakah wanita-wanita muda cantik
genit yang pakaiannya mewah itu? Apakah kakek buntung
seorang gila perempuan dan mempunyai banyak selir? Panas
muka Sin Hong s aking jemu dan marahnya.
Dengan kepandaiannya yang tinggi tak seorangpun di
antara anak buah yang tinggal di rumah-rumah kecil itu
mengetahui kedatangannya. Bagaikan bayangan setan Sin
Hong berhasil memasuki rumah besar. Tidak terlihat lakilaki
di situ, hanya sedikitnya ada tujuh orang wanita cantik
dilayani oleh banyak sekali pelayan, lebih sepuluh orang. Ia
tidak berani bertindak sembrono. Kalau sampai ia terlihat
dan wanita-wanita itu menjerit, tentu akan gagal uaahanya
merampas kembali anaknya.
Dengan sabar Sin Hong menanti sampai melihat seorang
di antara wanita-wanita cantik itu pergi ke taman belakang
diikuti dua orang pelayannya, wanita ini cantik sekali,
usianya paling banyak tiga puluhan tahun, pakaiannya
mewah dan bicaranya halus. Ragu.ragu hati Sin Hong untuk
menyerang seorang wanita, apa lagi sang wanita yang
demikian cantik dan halus gerak-geriknya. Akan tetapi demi
untuk menolong anaknya, ia menekan perasaannya dan
secepat kilat ia muncul. Sebelum tiga orang wanita itu
sempat menjerit dua orang pelayan sudah tertotok pingsan
dan wanita cantik itu berdiri ditotok urat gagunta.
"Jangan takut, aku hanya ingin bertanya. Kalau kau
bicara terus terang, kau akan kubebaskan," bisik Sin Hong.
Wanita itu membelalakan matanya yang lebar dan
mengangguk. Sin Hong membuka totokannya dan menarik
wanita itu ke tempat gelap. Memang taman itusudah mulai
gelap dengan bayangan-bayangan pohon.
"Katakan, siapa tinggal di rumah besar ini ?”
3
"Yang tinggal di s ini suami kami, Liok- taihiap yang
berjuluk Tbian-te Bu-tek Tai-hiap," wanita itu balas beibisik
dengan sikap menakut-nakuti Sin Hong dan dia sendiri
agaknya tidak takut sama sekali, malah kini memandang ke
wajah Sin Hong yang gagah itu dengan senyum-senyum
genit.
Berdebar jantung Sin
Hong. “Liok Kong Ji di
sini.......... ?”
Wanita itu
mengangguk dengan
sinar mata senang. Sin
Hong menjadi bingung,
girang dan cemas. Dengas
adanya Kong Ji, berarti
makin sukarlah untuk
merampas kembali
anaknya, tetapi juga
memberi kesempatan
kapadanya untuk
mengadu nyawa dengan
musuh besarnya itu.
"Siapa lagi ?"
"Kautanyakan selirselirnya..........
?" wanita
itu mengerling penuh
gaya.
“Siapa perduli selir ?” bentak Sin Hong, gemas melihat
kegenitan wanita yang tadinya disangka halus dan sopan itu.
“Siapa lagi selain Kong Ji?"
Melihat kegalakan Sin Hong, wanita itu agak takut.
"Masih ada Liok-kongcu........”
"Cui Kong...... ?"
4
Wanita itu memandang heran. "Bagaimana kau bisa tahu
?"
"Diam! Kau menjawab, aku yang bertanya. Masih ada
lagikah ? Kakek buntung Cun Gi Tosu itu di mana?"
"Dia juga ada. Nah, kau tahu di sini banyak terdapat
orang pandai. Lebih baik kaubebaskan aku den lekas
menyingkir..........”
“Diam ! Kaulihat seorang anak perempuan yang dibawa
oleh Cun Gi Tosu ..... ?”
"Ohhhh kaau datang untuk mencari Leng ji (anak Leng)?"
“Ya, Leng-ji , anakku ...... di mana sekarang ?” Sakiog
tegangnya Sin Hong sampai lupa diri dan mencengkeram
pundak wanita itu,
Tiba- tiba wanita itu menjadi pucat dan tubuhnya
menggigil, "Ampun.......... ampunkan aku. taihiap ..... aku
tidak tahu apa-apa ..... !"
Sin Hongs adar bahwa wanita ini sekarang tahu siapa dia
dan menjadi ketakutan. Tentu saja namanya diketahui oleh
seli r Kong Ji.
"Aku takkan menggangggumu asal kauce ritakan di mana
adanya Leng Leng dan di mana adanya Cun Gi Tosu."
katanya pe rlahan dan tenang.
"Tadi serelah ada dua orang datang mendarat, siangsiang
Cun Gi totiang telah membawa diri Leng-ji dibawa ke
pantai timur untuk bersembunyi. Selalu apabila pulau
kedatangan orang yang dicurigainya, ia se gera
menyembunyikan Leng-ji."
"Ke pantai timur katamu? Betulkah?"
"Untuk apa aku membohong ?”
Sin Hong menyangsikan ucapan wanita ini maka sekali
menotok wanira itu roboh pingsan. Kemudian dengan
mudah ia mengempit tubuh tiga orang wanita itu dan
5
membawa melompat keluar dari tempat itu. ia meninggalkan
tiga orang wanita yang pingsan itu di tempat sepi. Ia pe rlu
melakukan hal ini agar perbuatannya jangan diketahui
orang sebelum ia berhasil merampas kembali anaknya.
Setelah meninggalkan tiga orang wanita pingsan itu, Sin
Hong cepat berlari ke timur, menuju ke pantai sebelah timur
pulau itu. Akan tetapi di tengah jalan ia berhenti, berpikir
berfikir sebentar lalu berlari kembali ke tempat ia
meninggalkan tiga orang wanita tadi. Disambamya tubuh
sorang pelayan dan ditotoknya hingga siuman kembali.
Pelayan ini ketakutan, akan tetapi Sin Hong berkata
perlahan.
"Kau akan kubawa ke tempat persembunyian Cun Gi
Tosu dan di sana nanti kau harus berteriak memanggil
namanya, bilang bahwa Cun Gi Tosu dipanggil oleh Liok
Kong Ji. Awas, kalau kau tidak menuruti aku akan memukul
remuk kepalamu dari belakang !”
Dengan tubuh menggigil pelayan itu mengangguk. Sin
Hong lalu mengempitnya dan membawanya lari ke pantai
timur. Pulau itu tidak berapa besar maka sebentar saja Sin
Hong sudah tiba di pantai timur yang ternyata marupakan
daerah batu karang yang banyak terdapat gua-gua besarnya.
Ia merasa puas telah membawa pelayan itu karena kalau
tidak demikian, kiranya tidak mudah mencari tempat
persembunyian kakek buntung itu.
Sin Hong bersembunyi di balik batu karang dan pelayan
itu muli t berteriak-te riak.
"Totiang.......... ! Liok-taihiap.......... menyeruh totiang
datang segera! Ada musuh menyerbu…..,” pelayan itu
berteriak memanggil, tiba-tiba sebuah di antara gua-gua itu
terdengar suara nyaring, “Mengapa kau pelayan wanita
disuruhnya? Ke mana para penjaga dan pelayan laki-laki?”
Pertanyaan ini memang sudah diduga dulu oleh Sin
Hong, maka tadipun dia sudah menyiapkan jawaban.
Pelayan itu menjawab cepat.
6
“Semua penjaga dan pelayan sudah bertempur. Bantuan
totiang amat diharapkan. Lekaslah, musuh kuat sekali !”
Akhirnya tosu kaki buntung itu muncul juga dan
berdebar hati Sin Hong melihat Leng Leng berada dalam
pondongan tangan kiri kakek itu ! Sekali melompat kakek itu
sudah berada, di depan pelayan tadi.
"Aku tidak mendengar suara apa-apa, siapa yang
bertempur ?”
Pada s aat itu Sin Hong muncul cepat.
"Cun Gi totiang, serahkan kembali puteriku. Kalau kau
hendak mengadu kepandaian, kulayani se cara laki-laki,
jangan mengganggu bocah yang tidak tahu apa-apa !”
Alangkah kagetnya hati tosu buntung itu melihat tibatiba
Sin Hong berdiri di depannya. Sekali tongkatnya
be rgerak, tubuh pelayan wanita itu terlempar jauh ke dalam
jurang, meninggalkan pekik mengerikan.
“Kalau pinto berniat mengganggu bocah ini, kaukira dia
masih hidup." jawabnya.
Sementara itu, ketika Leng Leng melihat Sin Hong, segera
mengenalnya dan berteriak nyaring, "Ayah.......!" Akan tetapi
anak itu tidak menangis, agaknya merasa senang dalam
pondongan kakek itu!
Mata Sin Hong yang tajam dapat melihat hal itu dan ia
meras a lega. Tak dapat disangsi pula, Leng Leng kelihatan
sehat montok dan kel ihatan tidak takut kepada kakek itu.
Ini hanya menandakan bahwa Leng Lang mendapat
perawatan baik, dan kakek itu sayang kepadanya, agaknya
hendak dijadikan muridnya!
"Cun Gi tosu, kau telah menculik anakku. Apakah kau
tidak malu dengan perbuatan rendah itu? Anak kecil jangan
dibawa-bawa, kita sama-sama tua kalau hendak bertempur
mengadu nyawa, sampai seribu jurus kulayani. Lepaskn
Leng Leng!"
7
"Tidak, lebih baik kau pergilah dari sini, Wan Sin Hong.
Bocab ini akan menjadi muridku, kelak kalau sudah jadi
tentu akan pulang sendiri."
Muka Sin Hong nulai merah, tanda kemarahan hatinya.
“Cun Gi Tosu, apa benar-benar kau menghendaki aku
menggunakan kekerasan?”
Tosu kaki buntung itu tertawa terkekeh- kekeh "Hehheh-
heh heh, orang lain takut kepadamu, akan tetapi pinto
tidak. Ada berapa sih kepandaianmu maka berani bersikap
somhong selama ini? Mengangkat diri sebagai benbcu,
menjagoi dunia kang-ouw! Hemm, ketahuilah, Wan Sin
Hong. Justeru untuk memberi rasa kepadamu agar kau
jangan sombong, maka aku mengambil Leng Leng sebagai
murid.”
"Pendeta berhati kotor! Siapa tidak tahu bahwa kau
pembantu musuh negara dan pembantu penjahat iblis Liok
Kong Ji? Kau menghendaki kekerasan, baiklah. Lihat
seranganku.”
Wan Sin Hong sudah mulai melangkah maju dan
menggerakkan tangan memukul pundak kanan kakek yang
tangan kanannya membawa tongkat itu. Lihai sekali kakek
ini, biarpun, kakinya hanya sebelah, menghadapi pukulan
Sin Hong yang luar biasa lihainya itu ia melompat ke atas
dan tertawa mengejek, tongkatnya menyambar dalam
serangan yang tak kurang dahsyatnya !
Perlu diketahui bahwa ilmu kepandaian kakek buntung
ini memang tinggi sekali. Ia memiliki permainan tongkat
yang tiada tara sehingga mendapat julukan Lo thian tung
(Tongkat Pengacau Langit). Apa lagi setelah berhasil
mendapatkan kitab dari Omei-san yaitu Soan-hong-kiam-si,
ilmunya bertambah dan ia merupakan orang lihai yang
setingkat dengan Liok Kong Ji.
Akan tetapi, menghadapi Wan Sin Hong kiranya ia
takkan dapat banyak berlagak atau paling-paling ia hanya
8
bisa mengimbangi ke lihaian pendekar itu, kalau saja ia tidak
mempunyai “jimat” berupa Leng Leng dalam pondongannya.
Dengan adanya bocah ini di gendongannya, memang Sin
Hong tak dapat berbuat banyak. Ini pula sebabnya maka ia
tidak mencabut Pak-kek sin-kiam, me lainkan dua tangan
kosong untuk menghadapi kakek buntung itu. Jika ia
menggunakan pedang, tentu ada bahayanya ia melukai
puterinya sendiri.
Betapapun juga, dengan kepandaian yang ia terima dari
Pak Kek Siansu. kedua lengan tangannya cukup hebat
untuk mendesak lawannya. apa lagi Sin Hong sekarang telah
menjadi seorang ahli Yang-kang dan Im-kang. Ia tidak jerih
menghadapi tongkat Cun Gi Tosu, bahkan dapat membalas
dengan angin pakulan yang selalu menyambar ke arah kaki
lawan yang tinggal sebelah. Memang Sin Hong seorang
cerdik. Setelab lawannya memondong Leng Leng, maka satu
satunya bagian yang lemah dan mudah diserang adalah
kakinya yang tinggal satu itu. Sekali saja ia berhasil
memukul kaki itu dan membuat Iawannya terguling tidak
begitu sukar kiranya untuk merampas anaknya.
Diserang terus-menerus bagian kakinya, Cun GI Tosu
menjadi marah sekali, biarpun kakinya tinggal sebelah,
namun ia dapat melompat tinggi dan jauh. Ia melompat ke
belakang. berdi ri dengan satu kaki dan tongkatnya diputar
bagaikan kitiran cepatnya. Sayang bahwa tangannya
memondong Leng Leng, kalau tidak tentu ia dapat
menambah susulan dengan tangan kirinya. Ternyata bahwa
adanya "jimat” berupa bocah itu dalam gendongannya, tidak
hanya mendatangkan keuntungan baginya karena Sin Hong
tidak berani menggunakan pedang, akan tetapi juga
mendatangkan kerugian yaitu pergerakannya jadi terhalang.
Pertempuran dilanjutkan dengan hebat. Kalau dua orang
pandai bertempur, hanya angin pukulan mereka saja yang
menyambar-nyambar dan biarpun jarak diantara merasa
kadang kadang jauh, masih mereka s aling pukul untuk
9
menyerang lawan dengan angin pukulan yang tak kalah
dahsyatnya dari pada tusukan pedang atau hantaman golok.
Melihat kelihaian lawannya, Lo-thian-tung Cun Gi Tosu
mulai khawatir. Jangan-jangan masih ada kawan-kawannya,
pikirnya. Maka ia lalu bersuit untuk memberi tahu kepada
Liok Kong Ji dan yang lain-lainnya. Kalau mereka datang
dan membawa dulu Leng Leng. tentu ia akan mencoba lagi
menghadapi Sin Hong dengan mati-matian, dapat
menggunakan seluruh perhatian dan kepandaiannya. Kakek
ini masih belum mau tunduk dan tidak merasa kalah.
Seperti telah diceritakan di bagian depan, mendengar
suitan ini Liok Kong Ji dan Cui Kpng segera lari
meninggalkan Huang-ho Sian-jin yang pingsan dan
membawa pergi, Wan Sun yang tertawan. Liok Kong Ji lebih
dulu melempar Wan Sun pada seorang penjaga, menyuruh
penjaga memasukkan orang muda itu dalam kamar tawanan
bersama Coa Lee Goat yang sudah tertawan lebih dulu dan
supaya dijaga kuat-kuat. Kemudian bersama Cui Kong ia lari
ke timur untuk membantu Cun Gi Tosu.
Ketika Kong Ji melihat siapa yang be rtempur melawan
Cun Gi Tosu, ia terkejut sekali. Tak disangka-sangka bahwa
Sin Hong yang penye rang kakek itu.
“Aha, kiranya kau mengantar nyawamu ke sini? Ha-haha
!” Kong Ji menutupi kekagetannya dan tertawa bergelak
sambil mencabut pedangnya.
“Cui Kong, kaubawa pulang dulu Leng Leng!” kata Cun Gi
Tosu kepada muridnya, C ui Kong menerima Leng Leng yang
tetap tidak menangis biarpun sejak tadi melihat ayahnya
bertempur melawan “suhunya”. Bocah masih terlalu kecil
untuk mengetahui urusan itu. Gurunya, juga "paman Liok"
baik sekali terhadap dia, tentu saja dia tidak bisa membenci
mereka. Akan tetapi sekarang mereka ini bertempur dengan
ayahnya. Hal yang lalu ruwet dan sul it dimengerti oleh anak
sekecil dia.
10
Melihat datangnya Liok Kong Ji dan Cui Kong,
kemarahan Sin Hong memuncak. Juga ia gelisah sekali.
Harapan untuk dapat menolong puterinya makin menipis.
Tentu saja ia tidak takut menghadapi Kong Ji dan Cun Gi
Tosu, akan tetapi sekarang anaknya berada di tangan Cui
Kong dan Kong Ji yang jahat. Ia cukup mengenaI siasat Kong
Ji yang tentu takkan ragu-ragu untuk mempergunakan
anaknya sebagaI perisai apa bila kalah. Memikirkan hal ini
ia menjadi bingung. Kalau tidak ada urusan Leng Leng,
tentu tanpa ragu-ragu tentu ia akan menyerang dua orang
ini dan akan mengajak Kong Ji musuh busar itu bertempur
mati-matian menentukan siapa yang menang dan siapa yang
kalah. Akan tetapi pada saat itu, semua urusan pribadinya
ia lupakan dan yang ia pentingkan lebih dulu adalah
keselamatan Leng Leng. Oleb karena itulah Sin Hong
pendekar sakti itu menjadi bingung dan ragu ragu. Tadipun
ia menyerang Cun Gi Tosu hanya dengan maksud merampas
Leng Leng.
Pada saat itu terdengar pekik burung dari arah darat.
Orang-orang yang lain tidak tahu bahwa itulah tanda
rahasia dari Huang-ho Tian-jin, hanya Sin Hong yang tahu
bahwa kalau kakek itu memanggilnya. Tentu ada urusan
penting. Lebih baik ia pergi dulu dan kelak datang lagi. Dia
toh sudah tahu di mana letak Pek-houw to dan tahu pula
bahwa Leng Leng puterinya berada dalamkeadaan selamat.
Ini saja sudah melegakan hatinya dan sudah berarti bahwa
kedatangannya kali ini tidak sia-sia.
"Kong Ji, biar lain kali kita bertemu!” katanya dan tanpa
menanti jawaban, tubuhnya berkelebat lenyap di antara
batu-batu karang dan puhon-pohon.
"Kejar.......... !” Cui Kong berseru.
Akan tetapi Kong Ji mengangkat tangannya mencegah.
"Ha ba-ha, selama hidupku baru aku ini melihat Wan Sin
Hong melarikan diri terbirit-birit seperti anjing dirukul !”
katanya keras-keras dengan sengaja mengerahkan lweekang
11
supaya didengar oleh Sin Hong. “Untuk apa mende sak anjing
yang sudah lan? Birlah, kelak kalau dia berani datang lagi,
baru aku sediakan pedang untuk memenggal lehernya !"
Memang disamping kelihaian dan kelicikannya, Kong Ji
berwatak sombong. Tadi sudah disaksikannya bahwa
biarpun menggendong Leng Leng, Cun Gi Tosu sanggup
menghadapi Sin Hong. Dengan adanya Cun Gi Tosu yang
lihai, juga Cui Kong yang sudah maju dan ditambah dia
sendiri yang sekarang sudah mulai melatih ilmu-ilmu
kesaktian dari kitab-kitab Omei-s an, siapa yang ia takuti lagi
?
Pekik burung tadi memang tanda rarsia dari Huang-ho
Sian-jin ditujukan kepada Sin Hong. Ketika ditinggalkan oleh
Kong Ji dan Cui Kong, kakek ini sudah siuman. Ia hanya
sebentar saja pingsan terkena sambaran angin pukulan Tinsan-
kang yang hebat dari Kong Ji. Orang lain tentu akan
remuk remuk isi dadanya, dan demikian pula disangka Liok
Kong Ji maka tanpa curiga lagi Kong Ji meninggalkan tubuh
kakek itu.Namun Huang-ho Sian-jin bukanlah orang biasa.
Tubuhnya sudah memiliki kekebalan, dan pukulan ini
biarpun mengguncang isi perut dan dada membuatnya
pingsan sebentar, namun tidak mendatangkan luka maut.
Kalau saja Ko Ji tidak begitu sombong dan mau memeriksa,
tentu akan membunuh Huang ho Sian-jin lebih dulu
sebelummeninggalkannya.
Melihat Kong Ji dan Cui Kong pergi membawa Wan Sun,
Huang ho Sian-jin merayap bangun dan di dalam gelap ia
menyelinap mengikuti dari belakang. Ia mendengar betapa
Wan Sun diserahkan kepada seorang penjaga. Biarpun tadi
sudah terpukul, Huang ho Sian-jin masih memiliki
keberanian besar. Ia mengikuti sampai Kong Ji dan Cui Kong
yang tergesa- gesa itu pergi lari ke timur,. kemudian ia
muncul dan sekali ketok saja pada kepala penjaga itu, ia
telah dapat membuat orang roboh..
12
Cepat ia membebaskan totokan Wan Sun bersama orang
muda ini ia maju te rus mencari tempat ditahannya Coa Lee
Goat. Hal ini tidak sukar dilakukan. Berbeda dengan Ui tioklim,
pulau ini tidak sukar dimasuki rumah-tumah di situ
tidak berapa banyak. Sebentar saja dua orang gagah ini
dapat menemukan tempat tahanan di mana Lee Goat
ditawan, yaitu sebuah rumah kecil dan enam orang penjaga
menjaga rumah itu dengan tombak di tangan.
Akan tetapi apa artinya enam orang penjaga yang hanya
kuat tubuhnya dan memiliki ilmu silat biasa saja bagi Wan
Sun dan Huang-ho Tian-jin? Sekali serbu enam orang itu
sudah roboh malang melintang dan Wan Sun mendobrak
pintu, menyerbu ke dalam.
Lee Goat berada di dalam kamar, tangan kakinya terikat
kuat-kuat sehingga ia tidak berdaya lagi. Wan Sun cepat
menolong isterinya, kemudian be rsama isterinya ia lari
mengikuti Huang-ho Sian-jin ke pantai barat di mana tadi
kakek itu meninggalkan perahu.
Tahu bahwa keadann pulau itu kuat sekali dengan
adanya orang-orang seperti Liok Kong Ji, Liok Cui Kong, dan
Lo-thian-tung Cun Gi Tosu, maka Huang-ho Sian-jin lalu
mengeluarkan pekik burung untuk memanggil Sin Hong. Ia
sudah merasa khawatir akan keselamatan Sin Hong yang
begitu lama meninggalkannya belum juga kembali.
Akan tetapi dengan girang mereka melihat berkelebatnya
bayangan dan Sin Hong telah be rdiri di depan mereka.
"Cepat, kita pargi dulu dari sini !" bisik Sin Hong sambil
mengajak mereka melompat dalam perahu. Sin Hongmerasa
girang sekali melihat Wan Sun dan Lee Goat di situ.
"Bagaimana kalian bisa berada di Pek-houw to?" tanya
Sin Hong setelah perahu bargerak cepat meninggalkan pulau
itu.
Sebelum ada yang menjawab, Lee Goat menjatuhkan diri
berlutut di depan kaki gurunya dan menangis tersedu-sedu,
13
tak dapat bicara apa-apa. Sin Hong kaget sekali dan
mengelus-elus kepala muridnya.
"Lee Goat, tenangkan hatimu. Apakah yang telah terjadi
?”
Dengan air mata bercucuran Wan Sun yang juga berlutut
di sebelah isterinya lalu bercerita bagaimana dia dan
isterinya menye rbu pek-houw-to dan tentu mengalami
bencana kalau tidak ditolong oleh Huang-ho Sian-jin,
kemudian dengan suara terputus -putus ia menceritakan
be tapa Cui Kong telah menyerang Kim-bun-to dan
mebewaskan banyak orang, diantaranya ayah bunda Lee
Goat dan melukai Li Hwa.
Kalau ada geledek menyambarnya, belum tentu Sin Hong
begitu terkejut seperti ketika mendengar penuturan ini. Ia
mengepal-ngepal tinjunya, wajahnya pucat dan matanya
memancarkan sinar yang menakutkan, giginya
mengeluarkan bunyi karena saling beradu.
"Kong Ji, sampai sekarang kau masih menyebar
kejahatan," kutanya dengan suara mendesis. "Cui Kong si
keparat itu adalah bentukanmu. Aku hersumpah takkan
berhenti sebelum dapat membasmi kalian ......."
Huang-ho Sian-jin menarik napas panjang. “Bagi
manusia yang rendah budinya melakukan kejahatan
merupakan kesenangan. Berbuat keji terhadap sesama
manuais ia anggap perbuatan gagah perkasa, membuat
matanya buta dan mengira bahwa dengan merajalela itu ia
menjadi seorang yang tidak te rlawan. Kong Ji seorang
manusia iblis yang bertindak hanya menurutkan nafsu iblia
tanpa mengingat akan perikemanusian. Memang iblis-iblis
berwajah manusia macam dia dan Cui Kong harus dibasmi
dari muka bumi. Sukarnya, mereka mereka memiliki
kepandaian tinggi, apa lagi di sana masih ada Lo thian-tung
Cun Gi Tosu yang lihai sekali....... " Kembali kakek itu
menghela napas.
14
Sin Hong menjadi panas mendengar itu. "Lo-enghiong,
sungguhpun mereka itu lihai, sekali-kali aku tidak takut
menghadapi mereka. Sayangnya Leng-ji berada di tangan
mereka dan inilah yang menghalangi sepak terjangku. Kalau
aku memaks a dan menyerbu, aku takut kalau-kalau me reka
menggunakan Leng-ji untuk malawanku dan sebelum aku
turun tangan mereka dapat mengganggu anakku. Orang
macam Kong Ji takkan segan-segan melakukan pe rbuatan
keji itu untuk mencapai maksud hatinya." Tiba tiba Sin
Hongmenghentikan kata-katanya karena kebetulan sekali
sinar bulan yang sudah mulai keluar itu menerangi muka
Huang-ho Sian-jin !
"Lo.enghiong, kau terluka dalam!"
Datuk bajak itu tersenyum. "Pukulan Kong Ji betul
hebat, sekali pukul saja hawa pukulannya telah
mematahkan dayungku dan melukai dadaku."
Sin Hong adalah seorang ahli pengobatan. Cepat ia
mengeluarkan sebuah pil putih dan memberikan obat itu
kepada Huang-ho Sian-jin. Ia memeriksa nadi tangan kakek
itu, lalu berkata, "Untung kau cukup kuat sehingga tidak
menderita luka hebat." Betul saja, sete lah menelan pil itu,
rasa sakit pada dadanya lenyap.
"Habis sekarang bagaimana baiknya, suhu?" akhirnya
Lee Goat dapat mengeluarkan kata-kata dengan suara sayu.
"Apakah kematian ayah ibuku takkan dapat terbalas?"
"Sabar, Lee Goat. Aku sudah bersumpah takkan berhenti
sebelum dapat membasmi Liok Kong Ji dan kaki tangannya.
Akan tetapi kita harus berhati-hati dan menggunakan sias at
karena adikmu Leng Leng berada di tangan mereka. Akan
kucari kawan-kawan sehingga keadaan kita cukup kuat.
Selagi kawan-kawan menye rbu, diam diam aku akan
berusaha merampas Leng-ji lebih dulu dari tangan mereka."
Demikianlah, dengan hati kecewa tak dapat menolong
puterinya, akan tetapi juga girang dapat menolong Lee Goat
15
dan Wan Sun, Sin Hong mengajak mereka kembali ke
daratan Tiongkok untuk mempersiapkan penyerbuan besarbesaran.
-oo(mch)oo-
Setelah mengalami serbuan Sin Hong, sedikit banyak
timbul kekhawatiran dalam hati Kong Ji, sungguhpun Lo
thian-tung Con Gi Tosu dengan sombong menyatakan bahwa
sanggup mengus ir Sin Hong kalau berani muncul lagi.
"Kalausaja Lang Leng tidak menghalangi pergerakanku,
pada waktu itu juga orang she Wan itu tentu sudah
kuhancurkan kepalanya,” ia menyombong.
Pada lahirnya Liok Kong Ji tertawa memuji kelihaian si
kakek buntung, akan tetapi dalam hatinya ia tersenyum dan
tidak percaya. Ia tahu bahwa kepandaian Sin Hong amat
tinggi dan kiranya dia dan kakek buntung itu baru dapat
mengimbangi saja, untuk menang masih merupakan
pertanyaan yang harus dibuktikan kebenarannya. Apa lagi
kalau ia teringat Tiang Bu, bulu tengkak Liok Kong Ji yang
terkenal pembe rani itu bisa berdiri meremang. Lima orang
pembantu pembantunya yang amat diandalkan ketika ia
tinagaI di Ui-tiok-lim telah ditewaskan semua oleh Tiang Bu.
Maka setelah Sin Hong pergi, Liok Kong Ji se gera keluar dari
pulau dan mendarat, mencari kawan-kawan untuk dijadikan
pembantu-bantunya. Kong Ji pernah menjelajah menjelajah
daerah selatan, maka orang orang dari kalangan liok-lim
hampir semua mengenalnya. Dengan mudah ia dapat
mencari orang.orang yang berilmu tinggi untuk jadi
pembantunya. Siapakah yang tidak suka hidup mewah di
Pulau Pek-houw-to ? Akan tetapi Kong Ji tidak sembarangan
memilih orang, setelah mencari-cari, akhirnya pilihan jatuh
pada tujuh orang saudara seperguruan yang terkenal di
daerah se latan. Mereka disebut Lam-thiam-chit-ong (Tujuh
Raja Dunia Selatan) ! Sebutan raja sudah lajim diberikan
kepada kepala perampok dan memangmereka ini adalah
16
kepala-kepala perampok yang amat terkenal di daerah
Kwang-tung dan Kwang-s i. Mereka selalu melakukan operasi
bersama dan yang amat hebat adalah ilmu bertempur
mereka yang disebut Chit-seng-tin )Barisan Tujuh Bintang).
Kalau hanya maju serang demi seorang, kepandaian mereka
biarpun tinggi tidak akan menggegerkan daerah selatan.
Akan tetapi ketika dicoba, Liok Kong Ji sendiri tak dapat
membobolkan barisan Chip-seng-tin dari tujuh orang raja
hutan ini !
Dengan adanya Lam thian-chit -ong di PulauPek-houwto,
kedudukan Liok Kong Ji semakin kuat, akan tetapi
daerah pantai timur menjadi makin rusak dan kacau! Dasar
kepala rampok, tujuh orang ini selalu mangadakan
pengacauan, pembunuhan dan penculikan.
Sementara itu, Cui Kong sudah berterus terang di depan
ayah angkatnya tentang hubungannya dengan Ceng Ceng.
"Ayah, diantara semua dara yang pernah kujumpai, tidak
ada yang sehebat Lie Ceng, puteri Pak- thouw- tiauw ong Lie
Kong,” ia menuturkan pertemuannya dengan Cong dan
betapa ia sudah mengajukan lamaran. Kemudian ia
mengemukakan syarat diajukan oleh Lie Kong.
"Calon ayah mertuaku itu mengajukan syarat supaya aku
dapat mengembalikan Pat- siau-jut-bun yang dulu diambil
dari tangan Ceng Ceng oleh Cui Lin dan Cui Kim. Oleh
karena itu, aku mohon ayah suka berikan kitab itu untuk
kukembalikan kepada me reka sehingga aku dengan mudah
dapat menikah dengan Ceng Ceng."
Diam-diam Kong Ji terkejut mendengar nama Pek thouwtiauw-
ong Lie Kong disebut sebagai calon besannya. Ia
mengerutkan alis dan meraba-raba jenggotnya ketika
menjawab. “Anak bodoh. Di antara jutaan anak dara di
dunia ini, mengapa justeru kau memilih anak raja burung
tiauw itu?”
17
"Ayah, anak rasa hal itu malah lebih baik lagi," kata Cui
Kong membujuk karena memang takut sekali kepada Kong
Ji dan tak pernah membantah. "Kalau Ceng Ceng menjadi
isteriku, berarti ia menjadi sekutu yang kuat bagi kita.
Selain kepandaiannya sendiri lumayan, juga di sana mas ih
ada ayah bundanya, andaikata kita diserang orang dan Ceng
Ceng sampai tertimpa bencana, bukankah itu berarti kita
menarik Pek-thouw-tiauw-ong sebagai kawan untuk
menghadapi musuh? Ayah, Ceng Ceng akan me rupakan
sumber bantuan yang kuat untuk kita semua!"
Sepasang mata Kong Ji berkilat kilat dan bergerak ke
kanan kiri cepat sekali, tanda bahwa di balik sepas ang mata
itu, otaknya sedang berpikir-pikir, kemudian ia berkata.
“Bagus sekali! Kiranya kau tidak sobodoh yabg kusangka.
Kau boleh bawa kitab Pet-sian jut -bun ke tempat Pek thouwtiauw
ong Lie Kong untuk menyambut isteritmu, akan tetapi
tetap kausembunyikan keadaan dirimu sebenarnya. Kalau
kau sudah kawin, bawa isterimu dan kitab Pat-sian-jut -bun
itu ke sini di luar tahu mertuamu. Dengan demikian, selain
istrrimu bisa membantu memperkuat kedudukan kita,
mertuamu tidak tahu ke mana anaknya pergi. Andaikata dia
kelak mengetahui juga, ia bisa be rbuat apa? Malah kita bisa
menariknya sekalian memperkuat kedudukan Pulau Pek
houw-to."
Cui Kong girang bukan main. Setelah menerima kitab itu
dari Kong Ji, ia cepat melakukan perjalanan ke Telaga Poyang
di mana Pek-thouw.tiauw-ong Lie Kong seanak isteri
tinggal untuk sementara waktu. Memang sepert i su
dijanjikan, Lie Kong dan anak isterinya perpanjang
tinggalnya di Telaga Po-yang untuk menanti Cui Kong
selama satu bulan. Tentu saja bagi Lie Kong, syarat
mengambil kembali kitab Pat-sian.jut-bun hanya untuk
alas an s aja agar puterinya jangan menikah dengan pemuda
tampan yang ia tidak suka itu. Ia tidak percaya bahwa dalam
waktu sebulan pemuda itu akan sanggup mengambil
18
kembali kitab Pat-sian-jut -bun. Kitab itu sudah jarub ke
dalam tangan Liok Kong Ji yang lihai, mana bocah ini dapat
merampasnva kembali?
Akan tetapi alangkah herannya ketika dua puluh lima
bahi kemudian Cui Kong muncul di situ dengan wajah
tampan berseri-seri.
“Apa kau berhasil?" tanya Lie Kong dengan suara ingin
tahu dan tidak percaya, sedangkan Ceng Ceng dan ibunya
inemandang penuh harapan.
“Berkat doa restu dari gakhu (ayah mertua), anak
berhasil merampas kembali kitab Pat-Sian-jut-bun,” kata
Cui Kong dengan suara merendah dan mengeluarkan kitab
itu dari bajunya.
"Itu kitabnya....l" tak
terasa pula Ceng-Ceng
berseru girang mengenal
kitab yang pernah
dipelajarinya itu.
Lie Kong diam.diam
terkejut karena juga
mengenaI kitab itu. Tak
salah lagi. Itulah kitab
pelajaran Ilmu Silat Patsian.
jut-bun dari Omeisan.
“Hemmm, bagus
sekali. Bagaimana kau
bisa mendapatkannya!"
tanyanya sambil
memandang tajam. Untuk
pe rtanyaan ini, sianasiang
Cui Kong sudah
mempersiapkan
jawabannya maklum bahwa orang seperti Pek-thouw-tiauw19
ong ini tidak mudah dibohongi begitu saja. Tentu Lie Kong
sudah tahu akan kelihaian Liok Kong Ji, maka kalau ia
dapat me rampasnya dari Liok Kong Ji, tentu tentu akan
kentara kebohongannya.
"Sesungguhnya tidak mudah anak mendapatkan kitab
ini. Anak menyelidiki dulu dan mendengar bahwa Liok Kong
Ji yang mencuri kitab ini memiliki kepandaian amat tinggi,
juga di sana masih ada Lo-thian to Cun Gi Tosu yang lihai
ilmu silatnya. Dan orang itu sama sekali bukan lawan anak
yang masih bodoh. Mereka tinggal di sebuah pulau di
selatan dan hanya dengan jalan mencuri anak akhirnya
berhasil mendapatkan kitab ini. Anak menyamar sebagat
pedagang ikan, beke rja sama dengan seorang nelayan.
Akhirnya anak berhasil menjual ikan ke pulau itu dan anak
pada malamhari memasuki pulau, menangkap seorang
penjaga dan mamaksa mengaku disimpannya kitab-kitab
pus aka. Demikianlah, memang sudah masib anak yang
sedang baik dan sudah jodoh anak dengan Ceng-moi,
akhirnya dengan susah payah anak dapat mengambilnya.
Hampir anak tewas ketika dikejar oleh Liok Kong Ji dan Cun
Gi Tosu.”
Mendengar penuturan ini, Lie Kong timbul
kepercayaannya. Memang iapun sudah mendengar bahwa
Liok Kong Ji sudah pindah dari Ui tiok-lim ke sebuah pulau
di selatan.
Karena sudah berjanji dan memang ia mulai suka
melihat ke cerdikan Cui Kong yang berhasil mendapatkan
kembali kitab itu, Lie Kong menetapkan perjodohan
puterinya dengan Cui Kong dan dirayakan pada waktu itu
juga secara sederhana. Inipun atas pamintaan Cui Kong
sendiri yang menyatakan bahwa tentu Liok Kong Ji dan Cun
Gi Tosu mengejarnya. Kalau pernikahan itu diadakan secara
bes ar- bes aran dan dua orang itu datang, tentu akan jadi
keributan hebat.
20
Maka hanya penduduk di sekitar Telaga Po-yang yang
menjadi tamu untuk menyaksikan perayaan pernikahan itu.
Dapat dibayangkan betapa bahagianya hati Cui Kong
mendapatkan dara pujaannya. Juga Ceng Ceng meras a
bahagia karena ia mengira mendapatkan seorang suami
yang selain tampan, juga berkepandaian tinggi dan dapat
memegang janji. TIdak seperti Tiang Bu yang baruk rupa,
pikirnya puas.
Malamharinya diam-diam Cui Kong menyatakan
kekhawatirannya kepada isterinya. "Liok Kong Ji itu lihai
bukan main." ia ngarang cerita, “ketika ia mengejarku,
dalam sepuluh jurus saja aku sudah hampir celaka. Apa lagi
Cun Gi Tosu, kabarnya lebih lihai dari Liok Kong Ji . Kiranya
gakhu dan gakbo (ayah dan ibu mertua) sendiri belum dapat
menangkan mereka. Aku khawatirme reka itu segera dapat
menyusul ke sini. Lebih baik kita malam ini pergi saja secara
diam-diam, selain menyembunyikan diri sekalian berbulan
madu. Bukankah akan senang sekali ki ta pergi berdua
saja?"
Dirayu oleh bujukan-bujukan halus ini hati Ceng Ceng
tertarik. Akan tetapi dia adalah puteri seorang pendekar
besar, keberaniannya luar biasa. Mendengar suaminya
hendak melarikan diri, ia merasa tak puas.
“Mengapa kita begitu takut-takut? Apakah tidak lebih
baik bertanya dulu kepada ayah bagaimana baiknya?
Mustahil kita berempat tak dapat menghadapi mereka."
“Sss t, jangan. Tentu saja gakhu dan gakbo tidak setuju
dan mereka tentu tidak gentar menghadapi Liok Kong Ji dan
Cun Gi Tosu. Akan tetapi aku yang sudah menyaksikan
kelihaian mereka, Iebih tahu. Pula, Liok Kong Ji mempunyai
banyak sekali kawan-kawan yang lihai dan kalau me reka
datang dengan membawa kawan-kewannya, bukankah
kebabagiaan kita sebagai pengantin baru akan terganggu
dan ada kemungkinan aku tewas. Apa kau suka menjadi
janda?”
21
“Tidak...... tidak ! Habis, bagaimana baiknya ?” Ceng
Ceng bingung juga, terpengaruh oleh ucapan suaminya yang
sedang menjalankan siasatnya.
"Kaupercayalah kepadaku, isteriku sayang. Aku suamimu
masa hendak mencelakakan kau dan me rtuaku? Aku sudah
mempunyai rencana baik sekali. Mereka itu kalau datang
takkan mengganggu ayah ibumu, karena yang mencuri kitab
adalah aku dan mereka hanya mencari aku seorang. Oleh
karena itu, agar jangan sampai ayah ibumu tertimpa dakwa,
lebih baik kita diam-diam pergi dan kitab itu kita bawa serta.
Kelak kalau sudah aman keadaannya, kita kembali. Tentu
ayah bundamu akan memaafkan buatanku yang hanya kita
lakukan demi menjaga keselamatan dan menjauhi
ke ributan. Sungguh menyedihkan kalau sepasang pengantin
baru seperti kita yang seharusnya bersenang-senang, sudah
harus menghadapi ancaman musuh-musuh berat.”
Dengan bujukan-bujukan halus dan alasan-alasan kuat,
akhirnya Ceng Ceng tunduk menuruti kehendak suaminya,
biarpun air matanya bercucuran ketika pada tengah malam
ia pergi meninggalkan ayah-bundanya untuk mengikuti
suaminya !
Pek thouw-tiauw-ong Lie Kong timbul kembali
kecurigaannya ketika pada keesokan harinya ia
mendapatkan puterinya minggat bersama suaminya,
membawa serta kitab Pat-Sian-jut-bun.
"Hemm, memang aku selalu masih menaruh hati curiga
kepada Cui Kong itu ....” omelnya.
“Jangan berpikir yang bukan-bukan. Dia sudah menjadi
mantu kita dan Ceng Ceng juga mencintainya. Kalau mereka
pergi tanpa pamit, tentu ada alasan mereka yang kuat. Aku
dapat menyelami perasaan mantu kita itu. Bukankah dia
selalu kelihatan ketakutan karena sudah mencuri kitab dari
tangan Liok Kong Ji ? Tentu kepergiannya ada hubungannya
dengan hal itu. Mungkin sekali dia tak mau kebahagiaannya
sebagai pengantin terganggu oleh kejaran Liok Kong Ji dan
22
kawan-kawannya maka ia pergi bersama isterinya
manyembunyikan diri.”
"Mengapa kttab itu dibawa dan tidak minta ijin dulu dari
kita?” Lie Kong tetap penasaran.
"Ceng Ceng cerdik dan tentu dia tahu bahwa kalau minta
ijin, kau takkan menyetujui kepergian mereka, maka mereka
te rpaksa pergi diam-diam. Adapun tentang kitab itu,
bukankah itu kitab Ceng Ceng karena kau sudah
memberikannya kepada Ceng Ceng?"
"Aku harus mengembalikannya kepada Tiang Bu ..... ."
"Ala, kau masih teringat terus kepada bocah itu,”
isterinya mengomel, kemudian ibu yang selalu melindungi
anaknya ini berkata, "Kukira mantu kira sengaja membawa
kitab agar Liok Kong Ji tidak tahu bahwa ia mencuri kitab
itu atas parintahmu."
Betapapun juga Lie Kong berkeras mengajak isterinya
mencari jejak anak dan mantunya. Isterinya setuju karena
mereka amat sayang kepada Ceng Ceng dan takut kalau
anak tunggal mereka itu menghadapi bahaya.
-oo(mch)oo-
Ceng Ceng melakukan perjalanan penuh kebahagiaan
dengan Cui Kong. Memang Cui Kong seorang yang pandai
sekali merayu hati wanita sehingga Ceng Ceng merasa
bahwa ia te lah mendapatkan seorang suami yang betul-betul
tepat dan menyenangkan hati. Selama dua bulan Iebih, Cui
Kong mengajak isterinya berpesiar dan sepasang suami iste ri
ini kelihatan rukun dan salingmencinta. Hari-hari di lewati
penuh madu oleh Ceng Ceng yang tidak tahu sama sekali
bahwa ia sedang dituntun oleh suaminya ke Pulau Pekhouw-
to.
Ia hanya merasa heran ketika suaminya mengajaknya ke
pantai selatan dan kemudian membawanya ke pantai yang
23
sunyi. Di sana telah menanti dua orang dengan perahu yang
siap hendak membawa suami isteri ini ke Pek-houw-to.
“Kira tendak pergi ke manakah ? Dan siapa mereka itu
yang sudah menyediakan perahu untuk kita?” tanyanya
terheran-heran.
"Bergembiralah, niocu. Kau akan kuajakmenghadap
ayah angkatku.”
“Ayah angkatmu….? Jadi kau mempunyai ayah angkat?
Siapa dia dan mengapa dulu tidak menguruskan
pernikahanmu ?”
Akan tetapi Cui Kong tidak menjawab karena mereka
sudah tiba di dekat dua orang yang menanti dengan perahu.
“Kongcu sudah pulang dengan isterinya. Selamt datang,
selamat datang !” dua orang itu menyambut. Mata mereka
memandang pada Ceng Ceng dengan cara yang membuat
Cang Ceng mendongkol.
Cui Kong tersenyum kepada dua orang itu lalu berkata,
`Kalian pergilah, kami hendak menggunakan perahu ini
berdua.”
Dua orang itu tersenyum maklum dan pergi sambil
tertawa-tawa. Ceng Ceng makin heran melihat sikap Cui
Kong ini. Orang macam apakah ayah angkatnya ? Mengapa
sikap Cui Kong seperti seorang pangeran saja dan dua orang
tadi lagaknya lebih pantas kalau menjadi anak buah ..........
perampok!
"Kita ke manakah? Siapa itu ayah angkatmu ?”tanyanya,
hatinya tak enak.
Cui Kong menggandeng tangan isterinya diajak melompat
ke dalam perahu, lalu mendayung perabu itu ke tengah dan
memasang layar. Setelah perahu melaju ke arah timur
barulah ia berkata sambi l tersenyum dan memegang kedua
tangan isterinya,
24
“Niocu. belutn lama aku mendapatkan ayah angkat ini,
kerenanya dulu belum kuceritakan padamu. Baru ketika
aku mencuri kitab itu aku bertemu dengan dia, bahkan
hanya karena pertolongan ayah angkatku maka kita dapat
menikah.”
Tag:cersil cersil indo cersil mandarin full cerita silat mandarin online cersil langka cersil mandarin lepas cerita silat pendekar matahari kumpulan cerita silat jawa cersil mandarin beruang salju. cerita silat pendekar mataharicerita silat indonesia cerita silat kho ping hoo cerita silat mandarin online cerita silat mandarin full cerita silat jawa kumpulan cerita silat cerita silat jawa pdf cerita silat indonesia gratis cerita silat jadul indonesia cerita silat indonesia pendekar rajawali sakti cersil indonesia pendekar mabuk cersil langka cersil dewa arak cerita silat jaman dulu cersil jawa download cerita silat mandarin full cerita silat mandarin online cersil mandarin lepas cerita silat mandarin pendekar matahari cerita silat jawa pdf cersil indonesia pdf cersil mandarin beruang salju kumpulan cerita silat pdf
kumpulan cerita silat cersil online
Share:
cersil...
Comments
0 Comments

Arsip Cersil

Best Cersil

Pecinta Cersil