Donasi

Buat yang punya rejeki berlebih dan merasa terhibur dengan Situs Cerita Silat Cersil Terbaik ini bisa mendonasikan bantuannya ke
No. Rekening BPD Jateng No. 2004084554
demi keberlangsungan dan keberadaan Blog Cersil Cerita Silat yang sama-sama kita cintai ini. Kritik dan Saran hub No HP.083837358519. Atas Bantuannya disampaikan Terimakasih.

Kamis, 19 April 2018

Pendekar Buita 4 Tamat Full Komplit Baca Online disini

-----
"Ha-ha-ha, namanya sama jahatnya dengan jurusnya. Tepat, tepat!" dia terkekeh-kekeh geli. "Tahukah
engkau untuk apa gunanya orang mempelajari ilmu silat?"
"Untuk membela diri, menjaga diri dari pada serangan dari luar, dan untuk membela pihak yang tertindas,
kaum lemah yang membutuhkan pertolongan, juga untuk menundukkan pihak yang mempergunakan
kekuatan untuk berbuat sewenang-wenang, untuk membela kebenaran dan keadilan."
"Hemmm, kalau kau sudah tahu ini, kenapa menciptakan jurus yang khusus hanya untuk membunuh
orang?"
Suara kakek ini demikian bengis sehingga buru-buru Kun Hong berkata, "Teecu salah... selanjutnya tidak
akan berani menggunakan jurus sesat itu lagi..."
Suara kakek itu lunak kembali ketika berkata, "Bukan begitu maksudku. Kau juga berhak menggabungkan
Im-yang Sin-hoat dengan Kim-tiauw-kun, apa lagi kalau diingat bahwa kedua ilmu silat itu sumbernya
sama, yaitu peninggalan dari Sucouw Bu Pun Su. Tanpa dasar dendam dan sakit hati kau akan dapat
menciptakan jurus-jurus sakti dari kedua ilmu itu, malah tidak terbatas hanya satu jurus saja. Biarlah aku
menggunakan kesempatan sekarang ini untuk memberi petunjuk kepadamu. Nah, kau bersilatlah dengan
Im-yang Sin-kiam-sut kemudian Kim-tiauw-kun agar dapat kulihat kemungkinan dan letak rahasia
penggabungannya nanti."
Dengan girang Kun Hong lalu bersilat, mainkan tongkatnya dengan Ilmu Pedang Im-yang Sin-kiam-sut
yang telah dia pelajari dari Tan Beng San. Kemudian dia bersilat lagi dengan Kim-tiauw-kun, dengan
langkah-langkahnya yang ajaib beserta gerakan-gerakannya yang aneh.
Berkali-kali Sin-eng-cu Lui Bok berseru menyatakan kekagumannya dan pada akhirnya dia berkata, "Hebat
sekali! Aku tua bangka Lui Bok benar-benar berbahagia sekali, mata tua ini masih dapat menyaksikan
kedua ilmu silat sakti dimainkan olehmu begitu baiknya. Gurumu, mendiang Suheng Bu Beng Cu tentu
akan bangga sekali bila dapat melihatmu, malah Sucouw Bu Pun Su sendiri tentu tidak pernah mengira
bahwa ilmu ciptaannya akan dapat dimainkan sehebat ini oleh seorang cucu murid yang buta."
Selanjutnya kakek yang sakti ini, yang selama berdiam di puncak Liong-thouw-san sudah memperdalam
ilmunya, memberi petunjuk-petunjuk kepada Kun Hong bagaimana caranya menggabungkan kedua ilmu
kesaktian itu menjadi sebuah ilmu silat gabungan yang luar biasa.
Hebatnya, ilmu ini masih menggunakan tenaga yang bertentangan, yaitu tenaga Im dan tenaga Yang
seperti dalam ilmu sakti Im-yang Sin-hoat, akan tetapi gerakan-gerakannya dicampur dengan Kim-tiauwkun
sehingga boleh dikatakan bahwa kalau tangan kanan yang memegang tongkat pengganti pedang
mainkan Im-yang Sin-kiam-sut, adalah kedua kaki mainkan langkah ajaib dari Kim-tiauw-kun dan tangan
kiri juga mainkan jurus-jurus serangan Kim-tiauw-kun.
Malah jurus yang disebut jurus Sakit Hati dapat dimasukkan dalam ilmu silat gabungan ini, hanya kini lain
sifatnya, tidak seganas tadinya yang sekali bergerak tentu merupakan jurus maut. Biar pun daya
serangannya masih hebat, tapi sekarang gerakannya dilakukan dengan penuh kesadaran sehingga dapat
digunakan menurut ukuran, tidak seperti tadinya yang gerakannya dipengaruhi perasaan sakit hati dan
hawa amarah sehingga dilakukan secara membuta dengan tujuan membunuh untuk memuaskan nafsu
belaka.
Dengan amat tekun Kun Hong menerima petunjuk teori penggabungan itu dan diam-diam dia mencatat
semuanya dalam ingatan. Malah dia lalu bersilat dengan gerakan gabungan ini, disaksikan oleh Sin-eng-cu
Lui Bok yang memberi petunjuk-petunjuk di bagian yang kurang tepat.
Sementara itu, A Wan dan Cui Sian sudah kembali ke tempat ini dan dua orang bocah itu dengan bengong
duduk di atas tanah sambil menonton Kun Hong bersilat. Cui Sian adalah puteri suami isteri pendekar
besar sehingga semenjak kecil dia sudah sering kali melihat orang bersilat, maka tidak mengherankan apa
bila sekarang ia amat tertarik dan gembira menyaksikan Kun Hong bergerak-gerak seperti itu.
dunia-kangouw.blogspot.com
Yang mengherankan adalah A Wan. Bocah ini tak pernah melihat seorang bersilat, akan tetapi sekarang
amat tertarik hatinya dan hal ini saja menunjukkan bahwa dia memang berbakat dan berminat.
"Nah, sekarang kita harus berpisah, Kun Hong. Aku akan kembali ke Liong-thouw-san. A Wan akan
kubawa serta karena selama kau melanjutkan usahamu untuk menyelesaikan tugas-tugas yang sangat
penting dan berat itu, A Wan hanya akan menjadi penghalang bagimu. Lagi pula, kurang baik kalau anak
ini kau bawa menempuh bahaya-bahaya dan pertempuran, karena dia belum mempunyai dasar batin yang
kuat sehingga aku khawatir kalau-kalau kelak anak ini akan menjadi tukang pukul yang kerjanya hanya
memamerkan kepandaian untuk memukul orang. Juga Cui Sian kubawa, kelak kalau sudah tiba saatnya
akan kukembalikan kepada orang tuanya."
Kun Hong membungkam. Mendadak hatinya terasa sunyi mendengar ucapan ini. Semua akan
meninggalkannya, orang-orang yang dikasihinya ini. Apa lagi ketika terdengar suara burung rajawali emas
merintih perlahan. Makin sedih hatinya.
Tiba-tiba dia berkata, "Susiok, ijinkanlah kepada Kim-tiauw-ko (kakak rajawali emas) untuk menemani
teecu beberapa waktu lamanya. Teecu masih amat rindu kepadanya."
Sin-eng-cu Lui Bok tertawa. "Dia bebas, kalau dia mau boleh saja. Nah, selamat berpisah, Kun Hong."
Kakek itu menggandeng tangan kedua orang anak itu dan mengajak mereka pergi. A Wan beberapa kali
menengok kepada gurunya, hanya kedua matanya saja yang memandang sedih, akan tetapi dia tidak
berani membantah kehendak kakek itu.
Yang luar biasa sekali adalah burung rajawali emas. Agaknya dia dapat menangkap arti percakapan tadi.
Buktinya sesudah dia diberi kebebasan, agaknya dia suka memenuhi permintaan Kun Hong. Matanya
memandang ke arah Lui Bok yang pergi bersama kedua orang bocah itu, akan tetapi dia tidak kelihatan
bergerak hendak pergi.
Kun Hong bangkit berdiri dan merangkul lehernya. "Tiauw-ko, kau tentu suka menemani aku, bukan? Aku
kesepian sekali, Tiauw-Ko..."
Burung itu mengeluarkan suara perlahan, paruhnya yang besar mengkilap dan kokoh kuat itu membelai
jari-jari tangan Kun Hong. Tiba-tiba saja dia mengeluarkan suara aneh lalu mendorong Kun Hong dengan
sayapnya. Tubuh Kun Hong terpental dan burung itu sudah menyerbu dan menyerangnya!
"Ha-ha-ha-ha, Tiauw-ko, kau mengajak latihan?" Kun Hong tertawa-tawa gembira, teringat akan kebiasaan
mereka dahulu di puncak Bukit Kepala Naga.
Dahulu pun burung inilah yang menjadi teman berlatih, malah boleh dibilang burung inilah yang menjadi
guru pertama dalam ilmu silat! Dia sudah mengenal suara burung itu kalau mengajak berlatih dan dia tahu
pula bahwa burung ini kalau mengajak latihan berkelahi, selalu berkelahi seperti sungguh-sungguh dan
tidak boleh dipandang ringan sedikit pun juga!
Timbul kegembiraannya dan tiba-tiba dia teringat akan usahanya yang telah dibantu oleh Sin-eng-cu Lui
Bok tadi, yaitu menggabungkan kedua ilmu silat sakti. Segera dia bergerak menghadapi dengan ilmu silat
gabungan ini, menggunakan tongkatnya yang ampuh.
Kim-tiauw memang hebat luar biasa. Dari gerakan-gerakannya tahulah Kun Hong bahwa selama beberapa
tahun ini, kim-tiauw sudah mendapatkan kemajuan pesat dan hebat. Kini gerakan-gerakannya jauh lebih
cepat, lebih matang, sedang pancingan-pancingannya lebih bertambah.
Tetapi harus dia akui dengan hati iba bahwa dalam hal tenaga, burung ini sudah mundur banyak sekali,
tanda bahwa burung ini sudah mulai tua! Sebaliknya, kim-tiauw beberapa kali mengeluarkan seruan-seruan
yang bagi telinga Kun Hong terdengar seperti terkejut dan kadang-kadang kagum.
Memang baginya, dengan ilmu silat gabungan ini, amatlah mudah menghadapi kim-tiauw. Langkah
ajaibnya dapat mengimbangi gerakan kim-tiauw itu, tongkatnya bisa menandingi paruh dan tangan kirinya
dapat membalas semua serangan sayap. Malah, dengan amat mudahnya dapatlah dia berkali-kali
menampar burung itu sebagai pengganti tusukan atau hantaman maut.
dunia-kangouw.blogspot.com
Girang hatinya bahwa kini dia dapat mempergunakan jurus Sakit Hati dengan berhasil baik tanpa
membinasakan lawan. Hal ini adalah karena dia dapat menimbang tenaganya. Biar pun tenaga sakti yang
amat hebat dan dahsyat itu tersalur dari dalam melalui setiap pukulannya, tetapi dia dalam keadaan sadar
dan dapat mengurangi atau pun menambah tenaga, bahkan dapat menariknya kembali setiap saat dia
kehendaki. Karena inilah maka kini dengan mudah dia dapat mengganti pukulan maut dengan tepukan
atau tamparan tak berarti pada semua bagian tubuh rajawali emas itu tanpa melukainya.
Setelah berlatih ratusan jurus, akhirnya rajawali emas merintih perlahan lalu mendekam di atas tanah,
berkali-kali mulutnya mengeluarkan suara pujian.
Kun Hong merangkulnya dan tertawa-tawa gembira. "Wah, Tiauw-ko, dengan adanya kau di sampingku,
teringat aku akan masa lalu yang sangat menggembirakan. Dengan kau di sini aku tidak akan merasa
kesepian lagi!"
Sehari itu Kun Hong bermain-main dengan rajawali emas yang mencarikan buah-buahan untuknya.
Setelah beristirahat mereka lalu berlatih kembali. Burung itu selalu memenuhi permintaannya untuk berlatih
dan makin lama makin payahlah kim-tiauw melawannya.
Bukan main girangnya hati Kun Hong dan dia amat berterima kasih kepada Sin-eng-cu Lui Bok karena
berkat petunjuk kakek sakti itu, dia benar-benar telah menciptakan ilmu silat yang luar biasa, yang
kehebatannya setingkat dengan jurus Sakit Hati akan tetapi tidak sekeji itu. Sehari suntuk dia berlatih dan
menciptakan jurus-jurus baru yang sekiranya cocok, diambil dari pada gabungan dua ilmu silat sakti itu.
Malah sedikit banyak terdapat pula unsur saripati Ilmu Silat Hoa-san-pai yang juga dia masukkan ke dalam
ilmu silat ini bila mana terdapat kecocokan. Bagaimana pun juga, Hoa-san-pai adalah partai yang dipimpin
ayahnya, maka dia tidak mau meninggalkan ilmu silat partai ini.
Setelah malam tiba, Kun Hong yang sejak sore tadi beristirahat sambil bersemedhi, duduk bersila
mengheningkan cipta untuk menyempurnakan hasil ciptaan ilmu silat gabungan itu sambil memulihkan
tenaga dan sekalian menyembuhkan luka-lukanya, sekarang bangkit dari duduknya. Telinganya
mendengar suara mengiang-ngiang dan kiranya di tempat itu terdapat banyak sekali nyamuk yang mulai
beroperasi setelah sinar matahari menghilang.
Kun Hong membuat api dengan jalan mencetuskan ujung tongkatnya kepada batu hitam, membakar daundaun
kering dan sebentar kemudian di sana telah menyala api unggun. Kim-tiauw sudah biasa pula dengan
pekerjaan ini, maka tanpa diperintah burung sakti ini mengumpulkan kayu-kayu kering dengan paruhnya
dan menjajarkan dekat api unggun.
Setelah itu, dua orang makhluk yang bersahabat itu melayang ke atas pohon. Kun Hong duduk bersila di
atas sebuah cabang pohon besar, sedangkan kim-tiauw mendekam di dekatnya. Kehangatan bulu-bulu
burung itu membuat Kun Hong lebih cepat dapat terlena dalam semedhinya.
Tanpa terasa malam merayap cepat dan bulan purnama mulai muncul di ufuk timur. Api unggun masih
bernyala sambil mengeluarkan bunyi gemeretak memakan kayu-kayu dan daun-daun kering.
Nyanyian burung malam yang menyambut munculnya bulan purnama menyadarkan Kun Hong dari
semedhinya. Dia kemudian termenung dan diam-diam memikirkan keterangan Sin-eng-cu Lui Bok tentang
orang-orang yang menyerbu Thai-san-pai.
Jadi ternyata musuh-musuh Thai-san-pai itu adalah Ching-toanio dan teman-temannya? Pantas saja
mampu menyerbu Thai-san-pai, ternyata orang-orang sakti yang berada di Ching-coa-to itu adalah musuhmusuh
Thai-san-pai. Dia lalu mengingat-ingat.
Menurut keterangan Hui Kauw, memang ada permusuhan antara pihak mereka dengan Thai-san-pai.
Ching-toanio sendiri adalah kekasih Siauw-coa-ong Giam Kin yang tewas di Thai-san-pai, tentu nyonya
galak itu memusuhi Thai-san-pai, terutama memusuhi Tan Beng San.
Orang ke dua adalah Bouw Si Ma, murid Pak Thian Lo-cu yang juga tewas di Thai-san ketika bertanding
melawannya. Ada pun Ang Hwa Sam-cimoi, tiga orang wanita sakti yang juga menjadi tamu dan sahabat
Ching-toanio, adalah adik-adik seperguruan dari Hek-hwa Kui-bo yang merupakan musuh besar Tan Beng
San pula. (baca Rajawali Emas)
dunia-kangouw.blogspot.com
Hanya Ka Chong Hoatsu dan Pangeran Souw Bu Lai yang tidak mempunyai permusuhan secara langsung
dengan Thai-san-pai. Akan tetapi menilik hasil yang dicapai oleh para penyerbu, bukanlah hal yang dapat
disangsikan lagi bahwa kakek Mongol itu tentu ikut pula membantu.
Bagaimana dengan Bun Wan putera ketua Kun-lun-pai yang dulu juga berada di Ching-coa-to? Apakah ia
ikut pula membasmi Thai-san-pai? Tak mungkin dan Kun Hong menjadi lega hatinya ketika teringat bahwa
ketika dia merampas kembali mahkota di Pulau Ching-coa-to bersama Hui Kauw, pemuda Kun-lun-pai itu
berada di sana sedangkan Ching-toanio dan semua orang kosen tidak berada di pulau itu. Ini hanya berarti
bahwa mereka sedang pergi menyerbu ke Thai-san-pai dan pemuda Kun-lun itu tidak ikut.
"Hemmm, sewaktu-waktu aku akan membalaskan penasaran ini dan akan menghadapi mereka seorang
demi seorang."
Pikirannya mengingat tokoh-tokoh tadi, akan tetapi sekarang dia tak lagi dipanaskan oleh dendam dan
sakit hati. Kalau dia berniat melawan mereka, adalah karena dia yakin bahwa mereka itu bukanlah orang
baik-baik.
Hal ini dapat dibuktikan dari sepak terjang mereka terhadap dirinya ketika di Pulau Ching-coa-to, juga
mengingat akan tokoh-tokoh yang mereka balaskan sakit hatinya adalah tokoh-tokoh jahat seperti Hek-hwa
Kui-bo dan Siauw-coa-ong Giam Kin. Maka tak perlu diragukan lagi bahwa mereka tentu termasuk
golongan hitam yang selalu ditentang oleh para pendekar yang menjunjung tinggi kegagahan, kebenaran
dan keadilan.
Bulan purnama sudah mulai naik ke atas puncak pohon-pohon di sebelah timur dan hawa malam makin
dingin. Api unggun yang tadi masih bernyala gembira itu mendatangkan kehangatan yang nikmat selain
mengusir nyamuk.
Tiba-tiba rajawali emas mengeluarkan suara melengking. Kun Hong kaget dan biar pun dia masih duduk
bersila di atas cabang, namun seluruh perhatiannya dia tujukan kepada pendengarannya. Suara burung itu
menandakan bahwa dia marah dan curiga, dan hal ini hanya bisa terjadi kalau burung itu melihat orang
asing mendatangi tempat itu.
Anehnya, burung itu mendadak mengubah suaranya seperti merintih dan ragu-ragu, kini berdiri di atas
cabang, tidak mendekam lagi dan kedua sayapnya bergerak-gerak. Kun Hong juga sudah dapat
menangkap langkah-langkah kaki dua orang mendekati tempat itu, langkah-langkah dua orang yang
mempergunakan ilmu meringankan tubuh.
Burung rajawali makin aneh sikapnya, sebentar marah sebentar ragu-ragu, dan pada saat itu terdengar
seruan seorang wanita.
"Paman Hong...!"
Suara seorang laki-laki yang nyaring menyusul terdengar, "Betul, paman Kun Hong dan kim-tiauw...!"
Bukan main girang dan kagetnya hati Kun Hong. Dia mengenal baik suara dua orang itu. Sin Lee dan Hui
Cu! Saking girangnya Kun Hong lalu melompat turun diikuti melayangnya burung rajawali itu dari atas
cabang pohon.
Rajawali itu masih kelihatan curiga dan marah, akan tetapi dia tidak bergerak menyerang. Apa lagi melihat
betapa Kun Hong segera berangkulan dengan Sin Lee dan memegangi tangan Hui Cu dengan girang
sekali.
Tan Sin Lee, laki-laki yang tegap dan tampan ini adalah keponakannya sendiri, karena ibu Sin Lee adalah
mendiang Kwa Hong, kakak perempuan lain ibu tunggal ayah. Sin Lee adalah putera tunggal Kwa Hong
dan Tan Beng San.
Sedangkan Thio Hui Cu adalah puteri tunggal paman gurunya, Thio Ki dan bibi Lee Giok. Telah kurang
lebih lima tahun dia tak bertemu dengan mereka, semenjak dia menghadiri pernikahan mereka di Hoa-san
dahulu (baca Rajawali Emas).
dunia-kangouw.blogspot.com
Rajawali emas ketika melihat betapa Kun Hong bersikap ramah terhadap dua orang itu, segera
menghampiri Sin Lee dan mengeluarkan suara lirih sambil menggosok-gosokkan kepalanya pada pundak
orang gagah itu.
Sin Lee merangkulnya dan suaranya terharu ketika berkata, "Kim-tiauw-ko, ternyata kau tidak lupa
kepadaku..." Di dalam suaranya ini terkandung penyesalan besar mengingat akan sikapnya yang buruk
terhadap burung ini dahulu.
Dahulu, di waktu masih kecil, burung ini adalah teman bermain Sin Lee. Malah sebelum Kun Hong bertemu
dengan rajawali emas ini, lebih dahulu Sin Lee sudah menjadi teman bermain-main dan berlatih silat. Akan
tetapi karena Sin Lee bersikap keras, burung ini akhirnya pergi meninggalkannya (baca Rajawali Emas).
"Sin Lee, Hui Cu, benar-benar amat mengejutkan kedatangan kalian ini! Sama sekali tak pernah aku mimpi
bertemu dengan kalian di tempat seperti ini. Kalian hendak ke manakah dan dari mana? Dan sudah berapa
orangkah anak kalian?"
Sin Lee tertawa dan Hui Cu menjadi merah mukanya.
"Ahh... paman Hong...!" cela Hui Cu.
"Ha-ha-ha-ha, Hui Cu, kau masih seperti dahulu, pemalu sekali. Apa salahnya bertanya keturunan? Sudah
jamak sanak keluarga mau pun handai taulan, kalau saling bertemu setelah berpisah lama, tentulah anak
yang ditanyakan lebih dulu, bukannya harta benda. Anak-anaklah harta benda dunia akhirat yang paling
berharga. Bukahkah begitu?"
"Ha-ha-ha, paman Hong betul sekali. Anak kami hanya satu orang, baru berusia empat tahun, laki-laki dan
sehat."
"Wah, bagus! Tetapi mengapa masih begitu kecil sudah kalian tinggalkan?" Dia cepat menegur.
"Kami titipkan kepada para inang pengasuh yang sudah kami percaya penuh," jawab Hui Cu. "Terpaksa
anak itu ditinggalkan setelah kami mendengar berita buruk dari locianpwe Song-bun-kwi..."
Wajah Kun Hong menjadi sungguh-sungguh. "Hemmm, jadi kalian telah mendengar akan peristiwa di Thaisan
itu?"
"Betul, paman Hong. Setelah mendengar peristiwa yang menimpa keluarga ayah, kami segera
meninggalkan Lu-liang-san. Aku berpendapat bahwa yang melakukan perbuatan biadab itu adalah musuhmusuh
ayah dahulu dan agaknya untuk mencari jejak mereka, tempat yang paling baik adalah di kota raja.
Karena itu kami akan menuju ke kota raja. Sungguh tidak kami sangka akan bertemu dengan paman Hong
di sini."
"Berbesar hatilah kalian. Adikmu Cui San sudah tertolong, baru siang tadi aku bertemu dengannya."
"Benarkah? Di mana dia? Bersama siapa?" Sin Lee cepat mendesak.
Kun Hong lalu menceriterakan pertemuannya dengan kakek Sin-eng-cu Lui Bok dan Cui Sian. Dia hanya
menceriterakan yang penting saja, yaitu tentang diselamatkannya Cui Sian, tidak menceriterakan tentang
hal A Wan dan lain-lain.
"Cui Sian sudah selamat dan sekarang sementara dibawa pergi oleh Susiok. Kelak tentu akan
dikembalikan kepada ayahmu."
Lega rasa hati Sin Lee dan Hui Cu. Akan tetapi dengan amat penasaran Sin Lee bertanya, "Dan siapakah
orang-orang yang menyerbu ke Thai-san?"
Kun Hong mengerutkan kening. Dia maklum akan kepandaian dan watak Sin Lee. Orang ini
kepandaiannya cukup tinggi, akan tetapi agaknya akan berbahaya sekali kalau diberi tahu bahwa musuhmusuh
itu adalah orang-orang di Ching-coa-to, karena di tempat itu terdapat banyak sekali orang pandai.
Apa lagi Sin Lee pergi bersama Hui Cu yang dia tahu tingkat kepandaiannya tidak setinggi suaminya.
dunia-kangouw.blogspot.com
Watak Sin Lee amat keras, kalau sudah tahu tentu tidak akan mau sudah kalau belum dapat membalas
dendam. Maka dia segera berkata,
"Sin Lee dan Hui Cu, tentang itu, untuk sementara ini kiranya tidak perlu kalian ketahui. Serahkan saja hal
itu kepadaku karena aku pun tidak akan tinggal diam sebelum memberi hajaran pada mereka. Soalnya
memang berbelit-belit, berpangkal pada balas membalas urusan dahulu! Sekarang, ada tugas yang amat
penting yang hendak kuserahkan kepada kalian, tugas yang lebih penting dari pada urusan balas
membalas ini. Cui Sian sudah selamat, malah ayah dan ibumu sudah pergi meninggalkan Thai-san, tentu
akan mencari orang-orang jahat itu pula. Kebetulan sekali kalian datang sehingga dapat mewakili aku
melakukan tugas ini. Bersediakah kalian?"
Semenjak dahulu, Sin Lee sudah mempunyai hati kagum dan tunduk kepada Pendekar Buta ini. Dia
maklum bahwa Pendekar Buta ini biar pun sikapnya seperti orang lemah dan bodoh, akan tetapi memiliki
ilmu kepandaian yang amat tinggi, yang sudah dia saksikan dahulu ketika terjadi adu kepandaian di Thaisan.
Lagi pula, mereka meninggalkan Lu-liang-san terutama karena terdorong rasa khawatir akan keselamatan
Cui Sian. Sekarang setelah Cui Sian berada dalam keadaan selamat, memang tidak ada yang perlu
dikhawatirkan lagi.
"Baiklah, Paman Hong. Urusan apakah itu, lekas beri tahukan kepada kami, pasti akan kami laksanakan,"
jawabnya.
Dengan singkat akan tetapi jelas Kun Hong menceriterakan mengenai surat rahasia dari mendiang kaisar
untuk disampaikan kepada Raja Muda Yung Lo di utara, menceriterakan pula betapa surat rahasia ini
dijadikan perebutan karena amatlah penting artinya.
"Mengingat akan perjuangan Paman Tan Hok yang sampai mengorbankan nyawanya itu, aku telah
mengambil keputusan akan melindungi surat ini dan menyampaikannya kepada yang berhak, walau pun
untuk itu aku harus mempertaruhkan nyawaku. Akan tetapi aku seorang buta, agaknya lebih sukar bagiku
untuk dapat menyampaikannya kepada yang berhak. Oleh karena itu, aku minta bantuan kalian, bawalah
surat ini dan sampaikanlah kepada Raja Muda Yung Lo di utara. Tugasmu ini tidaklah ringan dan apa bila
sampai terpenuhi, jasamu untuk negara bukanlah kecil. Aku yakin surat wasiat ini akan banyak mengurangi
pertumpahan darah kalau sampai terjadi perang saudara, karena tentu para pembesar di selatan yang
masih setia kepada mendiang kaisar, akan tunduk terhadap seluruh isi surat wasiat ini dan tidak akan
membantu kaisar muda."
Sin Lee menerima surat itu, menyimpannya dan menyanggupi untuk melaksanakan tugas itu.
"Setelah selesai tugasmu, kalian kembalilah saja ke Lu-liang-san. Kasihan anak kalian ditinggal ayah
bundanya terlalu lama. Kelak aku pasti akan datang ke Lu-liang-san, ingin aku memondong anakmu itu!"
Malam itu mereka bermalam di hutan, semalam suntuk tidak dapat tidur karena mereka bercakap-cakap
menceriterakan pengalaman masing-masing. Terlebih lagi Hui Cu yang merasa amat kasihan kepada
pamannya ini, membujuk-bujuk agar Kun Hong kembali ke Hoa-san dan suka memilih jodoh.
Bujukan ini hanya disambut dengan senyum pahit oleh Kun Hong yang sama sekali tidak berani berceritera
tentang Hui Kauw. Sementara itu, Sin Lee melepaskan rindunya kepada rajawali emas dengan mengajak
burung itu bercakap-cakap seperti dulu ketika dia masih kecil. Banyak dia bicara dengan burung itu yang
mendengarkan dengan terharu. Karena memang sudah bertahun-tahun burung ini hidup di samping Sin
Lee, maka dia dapat mengerti banyak apa yang dibicarakan pendekar ini.
Pada keesokan harinya, pagi-pagi sekali Sin Lee dan Hui Cu berangkat meninggalkan Kun Hong. Tujuan
mereka adalah ibu kota di utara. Dengan terharu Hui Cu memegang tangan Kun Hong dan berkali-kali ia
berkata dengan suara penuh permohonan agar sang paman ini benar-benar akan segera datang
menjenguk anaknya di Lu-liang-san.
Akhirnya mereka berpisah, suami isteri itu pergi ke utara, sedangkan Kun Hong bersama rajawali berjalan
perlahan keluar dari hutan, hendak pergi ke Ching-coa-to, karena Kun Hong ingin menghadapi orang-orang
yang telah merusak Thai-san-pai…..
********************
dunia-kangouw.blogspot.com
Loan Ki dan Nagai Ici dengan mudah dapat memasuki kota raja. Gadis ini adalah seorang yang berwatak
jujur, juga memang sedikit banyak dia sangat membanggakan ayahnya, maka siapa yang bertanya, ia pun
akan mengaku terang-terangan bahwa ia adalah puteri tunggal Sin-kiam-eng Tan Beng Kui!
Justru sikapnya ini menguntungkannya, karena begitu para penjaga pintu gerbang kota raja mendengar
bahwa gadis itu puteri Sin-kiam-eng dan pemuda tampan itu seorang sahabat baiknya, tanpa banyak
cerewet lagi mereka mempersilakan mereka berdua masuk tanpa diperiksa lagi. Siapa orangnya di antara
para penjaga tidak mengenal tokoh besar yang sekarang sudah menjadi seorang di antara para tokoh
undangan The-kongcu itu?
Para mata-mata dan penyelidik pun sesudah tahu bahwa gadis ini adalah puteri tunggal Sin-kiam-eng,
otomatis tidak berani sembarangan melakukan pengintaian sehingga Loan Ki dan Nagai Ici menjadi bebas
dapat berkeliaran di kota raja tanpa ada yang mencurigai mereka.
Setelah melakukan perjalanan bersama Nagai Ici selama beberapa pekan ini, Loan Ki merasa makin
tertarik kepada pemuda perkasa dari Jepang itu. Memang harus diakui bahwa pemuda itu adalah seorang
ksatria Jepang yang berwatak gagah dan berperibudi luhur.
Meski pun seorang kesatria Samurai, akan tetapi Nagai Ici tidak seperti sebagian besar golongannya yang
suka menghambakan diri sebagai tukang-tukang pukul bayaran. Dia benar-benar seorang pemuda
berwatak pendekar pembela kebenaran dan keadilan.
Dia banyak berceritera kepada Loan Ki tentang negerinya sehingga gadis lincah ini tertarik sekali dan
beberapa kali menyatakan keinginan hatinya hendak menyeberangi lautan dan menyaksikan negeri aneh
itu dengan matanya sendiri. Tentu saja diam-diam Nagai Ici merasa berbahagia sekali. Dia sudah jatuh
cinta betul-betul kepada gadis yang demikian gagahnya, yang dapat mainkan pedang sedemikian
hebatnya, mampu melawan Samurai merahnya!
Juga di sepanjang perjalanan, di waktu beristirahat, keduanya bertukar ilmu dan saling mengisi sehingga
bagi Nagai Ici, mulailah dia melihat kehebatan ilmu silat yang tentu saja dapat dia jadikan bahan untuk
mempertinggi ilmu pedangnya.
Kedatangan Loan Ki di kota raja itu terutama sekali hendak mencari ayahnya karena ia bermaksud untuk
memperkenalkan Nagai Ici kepada ayahnya dan ingin minta kepada ayahnya agar supaya suka menerima
pemuda Jepang itu sebagai murid. Ketika pada hari itu ia tiba di kota raja dan mencari kamar di rumah
penginapan, pelayan yang menyambut mereka dengan manis budi menyuruh mereka mengisi nama pada
buku daftar tamu.
Dengan lagak gagah Loan Ki menuliskan namanya, ditambah ‘puteri Sin-kiam-eng dari Pek-tiok-lim’,
sedangkan nama Nagai Ici ia tuliskan sebagai nama Han, yaitu Na Gai It!
Girang hatinya karena pengurus rumah penginapan itu serta merta memberi hormat dan berkata manis
penuh hormat, "Ah, kiranya puteri dari Tan-taihiap (pendekar besar Tan)!"
Lalu pengurus ini membentak para pelayan, "He, mengapa kalian begini sembrono, tidak cepat-cepat
menyambut kedatangan Tan-lihiap (pendekar wanita Tan)? Hayo lekas antar lihiap ke kamar yang paling
besar! Totol kalian ini, apakah tidak tahu bahwa lihiap adalah puteri Tan-taihiap yang menjadi jagoan
undangan kaisar?"
Kalau tadinya hati Loan Ki merasa girang dan bangga sekali, adalah kalimat terakhir itu menimbulkan
penasaran dan tidak enak di hatinya. Ayahnya menjadi jagoan undangan kaisar. Menjadi hamba kaisar
yang begitu buruk wataknya?
Ia masih teringat betapa orang-orang jahat menangkap-nangkapi gadis-gadis cantik untuk dijadikan selir
kaisar baru. Malah ia bersama Nagai Ici telah membasmi orang-orang jahat yang menawan gadis-gadis itu.
Di dalam hatinya, ia sudah menjadi tidak senang kepada kaisar baru, kenapa sekarang ayahnya malah
membantu kaisar itu? Akan tetapi tentu saja ia tidak menyatakan sesuatu, hanya mengikuti para pelayan
dan ia minta disediakan dua buah kamar.
Malam harinya, ia bersama Nagai Ici melakukan perjalanan berkeliling kota raja. Setelah mendengar
bahwa ayahnya menjadi hamba kaisar, ia merasa ragu-ragu untuk menemui ayahnya di kota raja ini.
dunia-kangouw.blogspot.com
Kebetulan sekali malam hari itu dia mendengar tentang keributan yang terjadi pada hari kemarin, tentang
seorang penjahat buta yang dikejar-kejar kemudian dikeroyok oleh para pengawal istana. Hatinya menjadi
berdebar. Teringat ia akan Kun Hong. Kalau bukan Kun Hong, siapa lagi di dunia ini ada seorang buta
yang demikian perkasa sehingga dikeroyok oleh pengawal-pengawal istana?
"Wah, agaknya gawat di kota raja ini," bisiknya kepada Nagai Ici. "Kalau benar Hong-ko (kakak Hong)
orang buta yang dikeroyok itu, kita harus menyelidikinya dan kalau perlu menolongnya."
Dengan singkat dia lalu menuturkan kepada Nagai Ici tentang orang buta itu. Pemuda Jepang ini lalu
bangkit semangatnya mendengar tentang diri Pendekar Buta yang gagah perkasa itu, tidak hanya ingin
membantu, malah ingin bertemu dan bersahabat. Selama ini, baru sekali dia bertemu orang pandai, bukan
lain gadis lincah inilah.
Demikianlah, pada keesokan malamnya, kembali Loan Ki mengajak Nagai Ici menyelidiki sampai jauh
malam. Kemudian secara kebetulan dia mendengar ribut-ribut pertempuran di pondok janda Yo karena ia
dan Nagai Ici berada di dekat tempat itu.
Cepat dia bersama pemuda Jepang itu lari mendekati dan alangkah terkejut hati Loan Ki pada saat dia
melihat bahwa orang yang dikeroyok adalah benar-benar Kun Hong sendiri. Lebih kaget lagi hatinya ketika
dia melihat ayahnya adalah seorang di antara mereka yang mengeroyok Kun Hong.
"Kita bantu dia,... wah, dia hebat...!" bisik Nagai Ici.
"Sssttt..." Loan Ki menarik tangan pemuda itu dan mengajaknya menyelinap ke tempat gelap, "...jangan..."
Nagai Ici terheran-heran dan Loan Ki menjadi pucat wajahnya. Tentu saja tidak mungkin dia membantu
Kun Hong apa bila ayahnya pun berada di situ melawan Kun Hong. Mana mungkin dia melawan ayahnya
sendiri?
Lagi pula, dia dapat melihat betapa orang-orang yang mengeroyok Kun Hong terdiri dari orang-orang yang
luar biasa tinggi kepandaiannya. Pemuda berpedang itu, hwesio tinggi besar itu. Hebat mereka, tidak kalah
oleh ayahnya! Membantu Kun Hong pun tidak akan ada gunanya.
"Wah-wah... celaka...," katanya, wajahnya yang pucat itu tampak bingung.
"Kenapa? Nona, kenapa kita tidak cepat membantunya? Dia hebat... luar biasa, hampir tidak dapat aku
percaya seorang buta sehebat itu gerakannya..."
"Sssttttt... mari ikut aku..."
Loan Ki mengajak Nagai Ici menyelinap mengitari pondok itu. Ia adalah seorang gadis cerdik dan ia ingin
mencari kesempatan membantu secara menggelap. Kalau perlu, dari dalam pondok itu atau dari samping
pondok dia akan mempergunakan senjata rahasia menyerang orang-orang yang mengeroyok Kun Hong
biar pun ia tahu hal ini tidak akan banyak berarti karena musuh-musuh Kun Hong amat sakti, akan tetapi
sedikitnya dapat menganggu mereka dan dapat merupakan hiburan hatinya bahwa ia sudah menolong.
Kalau saja di situ tidak ada ayahnya, sudah pasti ia akan langsung menyerbu dan nekat serta mati-matian
mengajak Nagai Ici membantu Kun Hong. Dengan adanya ayahnya di situ, nyalinya kuncup dan ia tidak
berani lagi!
Ketika dia menyelinap di belakang pondok, dia melihat bayangan seorang laki-laki sedang merampas
sebuah benda dari tangan seorang anak laki-laki kecil yang mempertahankan benda itu sambil berteriakteriak,
"Lepaskan... ini punyaku, lepaskan!"
Loan Ki memandang penuh perhatian. Waktu itu fajar hampir menyingsing dan di dalam keadaan gelap,
Loan Ki serasa telah mengenal laki-laki yang sedang berusaha merampas benda di tangan anak itu.
Timbul amarahnya ketika orang itu mendorong si anak sampai terguling roboh.
"Serang dia, rampas benda itu!" katanya kepada Nagai Ici yang tidak menanti komando ke dua lagi, serta
merta memekik dan menyerbu.
dunia-kangouw.blogspot.com
Loan Ki sendiri meloncat ke dekat anak itu. Lega hatinya ketika melihat bahwa anak itu tak terluka, hanya
menderita lecet-lecet saja. Perhatiannya kembali kepada Nagai Ici yang menyerbu orang itu.
Dapat dibayangkan betapa kaget dan herannya ketika melihat betapa orang itu ternyata bukanlah orang
sembarangan. Buktinya Nagai Ici masih belum mampu merampas benda tadi. Jangankan merampas
benda, malah kini mereka sudah bertempur mempergunakan pedang dan Si Samurai Merah nampaknya
terdesak!
"Keparat, lihat pedangku!" Loan Ki marah dan serta merta mencabut pedangnya sambil menyerbu.
Orang itu kaget menyaksikan berkelebatnya pedang di tangan Loan Ki yang amat gesit. Dia bergerak
miring, menyambut pedang Loan Ki dengan tangkisan.
"Traaanggggg…!"
Loan Ki merasa tangannya tergetar dan lebih kagetlah ia pada saat mengenal muka orang itu setelah kini
berdekatan. Kiranya orang itu adalah Bun Wan, pemuda Kun-lun-pai yang pernah ia lihat ketika ia menjadi
tawanan di Ching-coa-to! Ia makin marah ketika sekarang mengenal pula bahwa benda yang dirampas
oleh Bun Wan dari tangan anak itu ternyata adalah mahkota kuno yang dahulu diperebutkan di Ching-coato.
"Ehh, kiranya kau, keparat! Kembalikan mahkota itu!"
Ia menerjang marah, pedangnya menjadi sinar bergulung-gulung. Nagai Ici juga memekik dengan
penasaran, menggerakkan pedang samurainya mengeroyok laki-laki itu.
Orang itu memang Bun Wan adanya, putera ketua Kun-lun-pai! Ketika dia mengenal Loan Ki dia terkejut
dan tanpa banyak cakap lagi dia lalu melompat ke belakang, menggunakan ginkang-nya terus melarikan
diri!
"Keparat, jangan lari!" Loan Ki membentak dan mengejar.
Nagai Ici ikut pula mengejar. Pemuda Jepang ini tertinggal jauh karena dalam hal ilmu lari cepat, dia kalah
jauh oleh Bun Wan mau pun Loan Ki. Hal ini menyulitkan Loan Ki karena ia tidak ingin meninggalkan Nagai
Ici di tempat asing dan berbahaya itu.
"Hayo, cepat kita kejar dia!" Loan Ki menunggu Nagai Ici, kemudian setelah temannya itu mendekat, ia
menyambar tangannya dan diajaknya membalap untuk mengejar Bun Wan.
"Wah, hebat bukan main larinya. Kau kejarlah dulu, Nona, biar aku mengejar di belakang. Jangan biarkan
dia minggat!"
Akan tetapi Loan Ki terpaksa memperlambat larinya. Memang ia harus mengejar Bun Wan dan merampas
kembali mahkota itu yang agaknya sangat penting bagi Kun Hong. Akan tetapi sekali-kali dia tidak mau
membiarkan Nagai Ici tertinggal di tempat ini, salah-salah bisa ditangkap dan didakwa mata-mata oleh para
pengawal istana!
Karena waktu itu sinar matahari pagi sudah mulai mengusir kegelapan malam, maka biar pun tertinggal
jauh, dapat juga Loan Ki melihat ke mana arah larinya Bun Wan. Ia terus mengajak Nagai Ici mengejar dan
dengan kagum ia melihat betapa Bun Wan secara nekat sudah menerjang para penjaga pintu gerbang.
Pemuda Kun-lun-pai yang berilmu pedang lihai sekali itu ternyata berhasil lolos dari pintu gerbang dan
kabur keluar kota raja dengan cepat!
Ketika Loan Ki dan Nagai Ici mengejar sampai di situ, gadis ini cepat berteriak membentak para penjaga
yang agaknya hendak menghalangi mereka berdua.
"Tolol kalian semua! Tidak tahu jika aku puteri Sin-kiam-eng? Aku dan temanku bertugas mengejar bangsat
yang kalian lepaskan tadi. Minggir, keparat!"
Di antara para penjaga ada yang mengenal gadis ini pada saat kemarin berjaga di pintu gerbang di mana
Loan Ki masuk, maka mereka segera memberi jalan Loan Ki bersama Nagai Ici mengejar terus.
dunia-kangouw.blogspot.com
Belum lama mereka mengejar, tampak bayangan berkelebat dari sebelah kanan. Loan Ki memandang dan
kagetlah dia melihat bahwa bayangan itu bukan lain adalah Hui Kauw, nona muka hitam yang pernah
dilihatnya di Ching-coa-to.
Wah, agaknya orang-orang Ching-coa-to sudah menyelundup ke kota raja, pikirnya. Tentu nona itu
bersekongkol dengan Bun Wan. Tanpa banyak cakap lagi ia lalu melompat dan menerjang dengan
pedangnya.
"Perempuan berhati palsu!" bentaknya karena ia lalu teringat akan semua pengalamannya ketika di Chingcoa-
to, di mana wanita ini hampir dijadikan pengantin dengan Kun Hong.
Hui Kauw memang sedang mengejar Bun Wan. Seperti telah dituturkan di bagian depan, gadis ini
meninggalkan Kun Hong untuk mencari A Wan yang sudah terlalu lama tak juga kembali.
Ketika mencari di belakang pondok, ia tidak dapat menemukan A Wan karena tidak tahu di mana anak itu
menyimpan mahkota kuno. Dia berputar-putar mencari, lalu mendengar suara ribut-ribut dan masih sempat
melihat A Wan dikurung beberapa orang pengawal. Hatinya kebat-kebit penuh kekhawatiran, kemudian
terjadilah hal yang amat luar biasa.
Seorang kakek entah dari mana datangnya, dengan gerakan ringan seolah-olah bayangan sehingga bukan
merupakan manusia lumrah lagi, tahu-tahu telah berada di tengah-tengah tempat itu. Sekali menggerakkan
tangan dan kaki, A Wan telah disambar dan dibawanya pergi seakan-akan melayang!
Para pengawal melongo menyaksikan hal ini, kemudian maklum bahwa kakek itu tentulah seorang sakti.
Mereka melakukan pengejaran, tapi kakek itu telah lenyap dari pandangan mata.
Hui Kauw mengerahkan kepandaiannya, berlari cepat mengejar pula. Ia dapat mendahului para pengawal
dan dengan cepatnya ia mengejar sampai ke luar pintu gerbang.
Kakek itu seperti bukan manusia, melarikan diri bukan melalui pintu gerbang, melainkan melayang naik ke
atas tembok kota yang luar biasa tinggi itu! Dia sendiri dengan mudah dibiarkan lewat pintu gerbang oleh
para penjaga. Akan tetapi sesampainya di luar tembok kota, ia tidak melihat lagi bayangan kakek aneh itu.
Selagi dia kebingungan, dia melihat seorang laki-laki berlari tergesa-gesa keluar dari pintu gerbang. Ketika
dia mengenal bahwa orang itu adalah Bun Wan dan gerak-geriknya amat mencurigakan, dia cepat-cepat
mengejar, tidak memperhatikan lagi dua orang yang sudah mengejar lebih dahulu. Maka dapat
dibayangkan betapa kagetnya ketika tahu-tahu Loan Ki memaki dan menerjangnya.
"Aiihhh, kiranya kau di sini?" tegurnya seraya mengelak.
"Kau dan manusia she Bun itu bersekongkol, ya? Awas, hari ini aku tak akan ampunkan kalian berdua!"
seru Loan Ki mendongkol.
Memang telah menjadi kebiasaannya untuk bersikap menang-menangan sendiri sehingga ucapannya pun
jumawa sekali, padahal ia tahu bahwa baik Bun Wan mau pun Hui Kauw ini memiliki kepandaian yang
melebihi dirinya!
"Hee, kau jangan sembarangan menuduh!" seru Hui Kauw mendongkol. "Siapa yang sudi bersekongkol
dengan dia itu? Aku pun hendak mengejarnya, karena dia kelihatan sangat mencurigakan."
Sambil berkata demikian, tanpa mempedulikan Loan Ki lagi, Hui Kauw cepat mengejar Bun Wan. Loan Ki
dan Nagai Ici juga mengejar.
Dalam ilmu lari cepat, ternyata Bun Wan masih kalah setingkat oleh Hui Kauw. Memang ibu angkat nona
ini, Ching-toanio, terkenal lihai ilmu lari cepatnya yang disebut Chouw-siang-hui (Terbang di Atas Rumput)
dan ilmu lari cepat yang luar biasa ini juga sudah diturunkan kepada Hui Kauw. Maka sesudah lewat
sepuluh li jauhnya, Hui Kauw sudah dapat menyusul Bun Wan. Sambil mencabut pedangnya Hui Kauw
berseru keras,
"Berhenti dulu!" Nona ini sudah melihat betapa tangan kiri Bun Wan memegang mahkota kuno itu.
"Kembalikan mahkota itu kepadaku!"
dunia-kangouw.blogspot.com
Bun Wan memandang heran dan penasaran. "Nona Hui Kauw, ketahuilah, aku merampas mahkota ini
untuk ibumu!"
"Tidak peduli, kau harus serahkan kepadaku dan pergilah dengan aman."
"Tapi... bagaimanakah kau ini? Mahkota ini hendak kuserahkan ke Ching-coa-to..."
"Berikan kepadaku!"
"Nona, apakah kau sekarang membalik dan memusuhi ibumu sendiri!"
"Tak usah banyak cakap, kembalikan kepadaku!"
Bangkit kemarahan Bun Wan. Kesempatan ketika berhenti lari ini dia pergunakan untuk memasukkan
mahkota kuno yang tidak besar itu ke dalam saku bajunya, kemudian dia menggerakkan pedang yang
sejak tadi sudah berada di tangan kanan.
"Heemmm, banyak sekali aku mengalah kepadamu. Sekarang terpaksa aku tidak dapat menyerahkan
mahkota itu kepadamu, apa yang hendak kau lakukan terhadapku?"
"Pedangku akan memaksamu!" Hui Kauw membentak dan pedangnya langsung bergerak melakukan
penyerangan kilat.
Bun Wan cepat menangkis dan pemuda ini maklum akan kepandaian nona yang ternyata lebih lihai dari
pada Hui Siang ini, maka dia pun mengerahkan tenaga dan mainkan Ilmu Pedang Kun-lun Kiam-sut yang
kuat. Dia maklum bahwa dirinya sedang menjadi kejaran para pengawal kerajaan, maka dia tidak mau
membuang banyak waktu lagi.
Semua jurus yang dimainkannya adalah jurus pilihan dari Kun-lun Kiam-sut sehingga lihainya bukan
kepalang. Dia mengira bahwa dalam beberapa jurus saja, paling banyak dalam sepuluh atau belasan jurus,
dia akan sudah mampu menundukkan lawannya ini.
Akan tetapi alangkah heran, kaget dan penasarannya ketika dia menghadapi ilmu pedang yang aneh dan
kuat bukan main, ilmu pedang yang jauh berbeda dengan ilmu pedang yang dia kenal dimiliki oleh Hui
Siang dan Ching-toanio. Hebat ilmu pedang gadis muka hitam ini, malah agaknya tidak kalah oleh
kepandaian Ching-toanio sendiri.
"Kau benar-benar tidak tahu orang mengalah!" bentak Bun Wan.
Pedangnya sekarang melakukan serangan kilat yang mematikan, karena dia tidak mau memberi hati lagi,
apa lagi setelah melihat betapa dari jauh datang berlarian dua orang yang tadi di kota raja sudah
mengeroyoknya, yaitu nona lincah galak yang dahulu pernah dia lihat di Ching-coa-to bersama Kun Hong,
dan seorang pemuda yang dia tidak kenal, akan tetapi yang mempunyai pedang panjang aneh serta ilmu
pedang yang ganjil pula.
Menghadapi kedua orang yang pernah mengeroyoknya tadi itu, dia tidak merasa gentar, akan tetapi ilmu
pedang milik Hui Kauw ini benar-benar membuat dia pusing. Hendak lari, selain malu, juga akan percuma
saja sebab tadi sudah ternyata olehnya betapa hebatnya ilmu lari cepat nona ini, sama dengan Hui Siang
hebatnya.
Dengan seluruh kepandaiannya Bun Wan menyerang Hui Kauw. Terasalah oleh nona ini betapa kuat ilmu
pedang pemuda Kun-lun-pai itu. Ia mulai terdesak, karena sungguh pun ilmu pedang rahasia yang dia
pelajari itu adalah ilmu pedang yang aneh dan luar biasa, namun selama ini ia hanya berlatih seorang diri
saja, tidak pernah ia pergunakan untuk bertempur sehingga sekarang kurang berhasil.
Tetapi betapa pun juga, daya pertahanan ilmu pedang ini jauh lebih kuat dari pada ilmu pedang yang dia
pelajari dari Ching-toanio. Sungguh pun sekarang ia mulai terdesak dan jarang dapat membalas serangan
lawan, namun untuk mengalahkan ilmu pedangnya ini, kiranya membutuhkan waktu yang tidak pendek.
Sementara itu, Loan Ki dan Nagai Ici yang mengejar cepat, sekarang telah tiba di tempat pertempuran.
Melihat betapa Hui Kauw benar-benar bertempur melawan Bun Wan, Loan Ki dapat cepat mengambil
dunia-kangouw.blogspot.com
pihak. Ia memberi tanda kepada Nagai Ici dan menyerbulah mereka berdua, langsung mengeroyok Bun
Wan!
Tentu saja pemuda Kun-lun-pai itu menjadi repot bukan main, apa lagi ilmu pedang Loan Ki terhitung ilmu
pedang yang tinggi juga, gayanya indah membingungkan karena ilmu pedang ini adalah Ilmu Pedang Sianli
Kiam-sut. Hanya saja nona ini belum matang betul kepandaiannya, karena memang dia anak manja yang
sering kali malas-malasan untuk berlatih.
Juga ilmu pedang pemuda tampan gagah yang sangat aneh itu membingungkan dirinya, karena ilmu
pedang pemuda itu mempunyai daya serang yang berbahaya dan luar biasa kuatnya. Walau pun jarang
sekali menyerang karena gayanya banyak diam menanti saat dan kesempatan, akan tetapi sekali
menyerang amat mengagetkan dan membahayakan.
Setiap ada kesempatan, pedang panjang itu lalu berkelebat seperti halilintar menyambar dan jika sekali
terkena sabetannya, tentu tubuh akan putus menjadi dua potong! Apa lagi pekiknya yang sangat nyaring
serta mengandung tenaga dalam, benar-benar menambah ampuhnya serangan itu.
Bun Wan mulai gelisah dan akhirnya dia dikurung rapat, menangkis kanan kiri, mengelak ke sana ke mari
tanpa sanggup balas menyerang. Akhirnya dia berkata dengan suara keras, "Kalian bertiga ini apakah
telah menjadi anjing-anjing istana pula? Nona Hui Kauw, apakah kau selain memusuhi ibu sendiri juga
menghambakan diri kepada kaisar?"
Marah sekali Loan Ki karena dia dibawa-bawa dalam tuduhan ini. "Tutup mulutmu yang rusak! Siapa
menjadi anjing istana? Kembalikan mahkota itu kepadaku. Benda itu dahulu milikku sebelum dirampas di
Ching-coa-to!"
"Hemm, manusia-manusia goblok yang hanya mengejar harta benda!" Sambil menangkis pedang Loan Ki,
Bun Wan kembali berteriak. "Kalau kalian menghendaki mahkota ini, aku pun tidak membutuhkan. Akan
tetapi tunggulah aku mencari sesuatu di dalamnya, setelah benda tersembunyi itu kuambil, biarlah mahkota
ini kuberikan kepadamu. Bagaimana?"
Memang yang dia perebutkan adalah surat rahasia, bukan mahkotanya, maka setelah dia terdesak hebat,
Bun Wan mencari akal dengan jalan damai. Kalau surat itu sudah dapat dia temukan, untuk apakah
baginya mahkota emas ini?
Loan Ki dan Nagai Ici tidak tahu-menahu mengenai surat rahasia, maka mendengar ini mereka meragu
dan mengendurkan penyerangan. Loan Ki masih ingat betapa di Ching-coa-to, pemuda Kun-lun-pai ini
telah menolong Kun Hong dan minta kepada orang-orang Ching-coa-to untuk membebaskan Kun Hong.
Oleh karena itu, ia pun tak pernah berniat membunuhnya dan kalau tidak terpaksa karena memperebutkan
mahkota emas, ia pun tidak akan memusuhi pemuda ini.
Akan tetapi tidak demikian dengan Hui Kauw. Mendengar omongan Bun Wan itu, ia pun terkejut sekali. Ia
mempertahankan mahkota kuno itu demi kepentingan Kun Hong dan ia telah mendengar dari Kun Hong
bahwa Pendekar Buta itu sama sekali tidak menginginkan mahkota, melainkan surat rahasia yang
tersembunyi di dalamnya. Apa pun juga jadinya, ia harus membantu Kun Hong, dan surat itu harus dapat ia
berikan kepada Kun Hong, kalau bisa tentu saja berikut mahkotanya.
"Tak usah banyak cakap, berikan mahkota itu kepadaku atau... mampuslah!" pedangnya menyambar hebat
sehingga terpaksa dengan gugup dan cepat Bun Wan lalu menangkis sekuatnya.
"Trannggggg...!"
Bunga api berpijar menyilaukan mata ketika kedua batang pedang itu bertemu dengan kerasnya. Alangkah
kagetnya hati Bun Wan ketika tiba-tiba pedang di tangan Hui Kauw itu begitu bertemu, terus saja
menyelinap dari samping dan langsung mengirim bacokan ke arah pundaknya.
Dia segera menjatuhkan diri ke kiri dan bergulingan, maksudnya hendak menggunakan cara ini untuk
menjauhkan diri, dan mencari kesempatan untuk meloncat dan melarikan diri. Akan tetapi tiba-tiba
menyambar angin disusul bersiutnya sambaran pedang bersinar merah.
dunia-kangouw.blogspot.com
Dia lebih kaget lagi, cepat melompat bangun sambil menggerakkan pedang menangkis. Itulah pedang
samurai merah dari Nagai Ici yang sudah menerjangnya, disusul pedang Loan Ki. Dalam sekejap mata saja
Bun Wan sudah dikurung dan dikeroyok tiga lagi.
"Baiklah, aku akan mengadu nyawa!" teriak Bun Wan dan dia menjadi nekat, membalas serangan tiga
orang pengeroyoknya dengan jurus-jurus terlihai.
Akan tetapi kenekatannya tiada guna, malah membahayakan karena memang tiga orang pengeroyoknya
itu berada di pihak yang jauh lebih kuat. Lewat belasan jurus, pedang Hui Kauw berhasil melukai
pundaknya yang sebelah kanan. Pada saat itu, pedang samurai merah di tangan Nagai Ici menyambar
ganas ke arah lehernya.
Bun Wan tidak sempat lagi mengelak. Pundaknya terasa sakit dan menghadapi samurai merah yang
berkelebat itu, dia menangkis dan pedangnya terlepas dari tangan. Tenaga Nagai Ici amat besar dan pada
saat itu, pundak kanan Bun Wan sudah terluka sehingga tenaga tangan kanannya berkurang dan ketika
menangkis, tanpa dapat dia pertahankan lagi pedangnya terlepas dari tangan.
Secepat kilat Hui Kauw menyambar dengan pedangnya. Terdengar kain robek dan di lain saat mahkota itu
sudah berada di tangan si nona muka hitam dan baju Bun Wan sudah terobek ujung pedang.
Loan Ki dan Nagai Ici berbareng mengirim tusukan. Bun Wan maklum bahwa tak mungkin dia dapat
menghindarkan dua tusukan ini, maka dia meramkan mata menanti maut.
"Traanggg! Traanggg!"
Loan Ki dan Nagai Ici cepat menarik pedang masing-masing dan merasa tangan mereka tergetar. Kiranya
Hui Kauw yang menangkis senjata mereka tadi.
"Jangan bunuh dia!" kata Hui Kauw, suaranya gemetar. "Dia calon suami Hui Siang..."
Loan Ki memandang tajam pada Hui Kauw, dapat mengerti perasaan nona ini dan tidak terus menyerang.
Hui Kauw melihat Bun Wan menundukkan kepala akan tetapi sepasang mata pemuda itu melirik dengan
penuh kekecewaan. Dia lalu berkata perlahan, "Pergilah!"
Bun Wan membanting kakinya. "Kalian tidak tahu apa yang kalian lakukan!"
Akan tetapi karena dia tidak berdaya lagi, dia memungut pedangnya lalu pergi dari tempat itu dengan
cepat.
"Berikan benda itu kepadaku!" Loan Ki berkata, kini menghadapi Hui Kauw dengan sikap mengancam.
Nagai Ici juga sudah berdiri di sampingnya, siap untuk membantu nona kekasih hatinya ini menghadapi
siapa pun juga. Hatinya mulai merasa kagum. Dalam waktu singkat dia telah menyaksikan banyak orang
yang memiliki kepandaian hebat.
Pemuda yang dikeroyok tadi juga sangat mengagumkan hatinya. Luar biasa sekali ilmu pedangnya. Lalu
nona muka hitam ini, bukan main. Apa lagi Si Pendekar Buta tadi yang dikeroyok oleh banyak orang
pandai. Mulai dia merasa girang, timbul harapannya untuk mendapatkan guru sakti seperti yang dicitacitakannya.
Melihat sikap Loan Ki, Hui Kauw tersenyum. Ia maklum bahwa Loan Ki ini adalah sahabat baik Kun Hong,
maka tentu saja ia tidak mau memusuhinya. Dengan halus ia berkata,
"Adik Loan Ki, ketahuilah, aku memperebutkan mahkota ini untuk kuserahkan kepada Kun Hong."
Mendadak mukanya yang menghitam itu menjadi gelap karena dia merasa jengah menyebutkan nama ini
di depan Loan Ki yang dahulu menyaksikan peristiwa pengantin gagal di Ching-coa-to.
"Kau bohong! Kulihat tadi Kun Hong dikeroyok dan hampir celaka oleh banyak orang pandai, kau tidak
membantunya malah ikut memperebutkan mahkota."
Kaget sekali hati Hui Kauw mendengar ini. "Betulkah itu? Siapa yang mengeroyoknya?"
dunia-kangouw.blogspot.com
"Kulihat ada seorang hwesio kosen, seorang laki-laki hitam, seorang pemuda berpedang dan... dan..."
Loan Ki lantas tergagap karena berat rasa lidahnya untuk menyebut nama ayahnya.
"Dan ayahmu juga?" Hui Kauw menegas dengan muka berubah pucat dan hati berdebar penuh
kecemasan.
Celaka kalau Kun Hong sudah dilihat musuh dan dikeroyok. Pantas saja A Wan juga diganggu, kiranya
para jagoan istana sudah datang. Ia tahu bahwa pasti ayah Loan Ki, Sin-kiam-eng Tan Beng Kui juga ikut
pula mengeroyok, biar pun Loan Ki diam saja namun sinar mata gadis lincah itu nampak gugup dan malu.
"Adik Loan Ki, kau berpihak kepada siapakah? Kun Hong atau ayahmu?" Mendadak Hui Kauw bertanya
dengan sungguh-sungguh.
Bingunglah Loan Ki saat ditanya begini oleh Hui Kauw, "Ahh... aku tak bisa memilih..." akhirnya dia
menjawab juga. "Kalau tadi aku tidak melihat ayah di sana, pasti temanku ini aku ajak membantu Kun
Hong..."
Hui Kauw segera mengambil keputusan cepat.
"Bagus, adikku." katanya sambil memegang tangan Loan Ki yang menjadi kaget melihat perubahan sikap
ini. "Kau terimalah mahkota ini dan kau wakililah Kun Hong. Kau tentu mau membantunya, bukan?"
Melihat Loan Ki mengangguk tanpa menjawab, Hui Kauw cepat menyambung, "Tidak ada banyak waktu
lagi. Mahkota ini mengandung sebuah surat rahasia yang menjadi rebutan. Kau wakili Kun Hong, bawa
mahkota ini ke utara dan berikan kepada Raja Muda Yung Lo. Dengan begini tidak akan sia-sia Kun Hong
mempunyai sahabat yang dia aku sebagai adik seperti kau ini, Maukah kau?"
Loan Ki adalah seorang yang jujur, dia percaya kepada Hui Kauw. "Dan kau sendiri?" tanyanya. "Kenapa
bukan kau sendiri yang mewakilinya?"
"Bodoh kau! Bukankah Kun Hong dikeroyok di sana? Aku harus membantunya, aku harus menolong...
suamiku...!" Berkata begini, Hui Kauw melepaskan mahkota di tangan Loan Ki, lalu melesat pergi dengan
kecepatan kilat.
Loan Ki melongo sampai lama. Dia baru sadar ketika Nagai Ici menegurnya. Cepat-cepat mahkota itu dia
simpan dalam buntalan pakaian.
"Jadi Pendekar Buta yang gagah itu adalah suami nona muka hitam ini, nona Loan Ki?"
"Bukan... ehh, tapi... ohhh,... begitulah agaknya...," jawabnya tidak karuan. Kemudian dia memandang
tajam kepada jago muda Jepang itu. "Nagai Ici, aku akan pergi memenuhi permintaannya. Aku akan
membawa mahkota ini ke utara dan akan kusampaikan kepada Raja Muda Yung Lo. Apakah kau suka ikut
denganku?"
Serta merta Nagai Ici mengangguk. "Tentu saja, Nona, Ke mana pun kau pergi, kalau kau menghendaki,
tentu aku menyertaimu. Malah... kalau kau mengijinkan, aku... aku akan membantumu dalam segala hal,
biar kupertaruhkan nyawaku, selamanya..."
Kaku dan tidak karuan kalimat yang keluar dari mulut Nagai Ici, karena sukar sekali dia mengeluarkan isi
hatinya yang berdebar-debar itu dengan bahasa yang belum betul-betul dikuasainya.
Sepasang mata yang jeli itu melebar, kemudian meledaklah suara tawa dari mulut yang berbibir manis
mungil dan merah segar itu, yang segera ditutupnya dengan tangan. "Kau lucu... hi-hik. Tetapi kau baik
sekali, Nagai Ici. Mulai sekarang, jangan sebut aku dengan nona-nonaan segala, cukup sebut namaku
saja."
Dengan hati penuh kebahagiaan, Nagai Ici mengangguk-angguk. Akan tetapi mukanya berubah ketika dia
melihat ke belakang Loan Ki dan cepat dia menuding. "Lihat, siapa mereka?"
Loan Ki cepat membalikkan tubuh dan melihat beberapa orang berlari cepat sekali dari arah kota raja. Ada
empat orang yang berlari cepat ini dan melihat cara mereka berlari, kagetlah Loan Ki.
dunia-kangouw.blogspot.com
"Cepat, kita harus segera pergi. Mereka itu jagoan-jagoan istana yang mengejar!"
Para pengejar itu masih terlalu jauh sehingga Loan Ki tidak dapat melihat siapa adanya mereka. Akan
tetapi dengan hati kebat-kebit ia menduga apakah ayahnya juga terdapat di antara mereka yang
mengejarnya itu. Tanpa banyak cakap lagi ia menyambar tangan Nagai Ici dan berlari-larilah kedua orang
muda itu menuju ke timur.
Celakanya, empat orang itu kini memutar arah dan jelas bahwa mereka itu mengejar dua orang muda ini.
Lebih payah lagi, jalan menuju ke timur ini melalui tegal rumput yang gundul, tidak ada pohonnya sama
sekali sehingga mereka berdua mudah tampak dari jauh.
Di depan, kurang lebih lima li dari situ, kelihatanlah sebuah hutan yang hijau tebal. Melihat hutan di depan
ini Loan Ki mengajak Nagai Ici mempergunakan seluruh kekuatan untuk berlari cepat karena jika sampai
mereka berdua dapat mencapai hutan sebelum tersusul, mereka akan mendapatkan tempat bersembunyi.
Sampai tersengal-sengal napas dua orang muda itu akibat mereka menggunakan tenaga melewati ukuran
dalam usaha mereka membalap ini.
Nagai Ici agaknya kurang setuju dan beberapa kali sambil terengah-engah dia berkata, "Kenapa kita harus
berlari-lari seperti dikejar setan? Empat orang itu kita lawan saja, takut apa?"
Memang, sebagai seorang pendekar, pantang baginya berlari-lari seperti ini, melarikan diri dari hanya
empat orang yang mengejar mereka.
Loan Ki tadi sudah menengok beberapa kali dan jantungnya serasa hampir copot ketika ia mengenal
bahwa seorang di antara keempat pengejar itu adalah... ayahnya! Mendengar ucapan Nagai Ici, dengan
tersengal-sengal dia menjawab, "Kau tahu apa...? Seorang di antara mereka adalah ayah!"
Nagai Ici terkejut, akan tetapi anehnya, dia malah mengendurkan larinya.
"Hee, hayo lari cepat. Bagaimana sih engkau ini?"
Nagai Ici tersenyum, tampan sekali. "Kau aneh, Nona... ehh, Loan Ki. Kalau dia ayahmu, mengapa takut
setengah mati? Bukankah kita pergi ke kota raja justru untuk mencari beliau?"
Dengan habis sabar Loan Ki menggoyang-goyang kepalanya sehingga rambutnya yang awut-awutan
karena dipakai berlari itu kini sebagian menutupi pipinya, manis sekali. Dia menyambar tangan Nagai Ici
lagi dan ditariknya untuk berlari lebih cepat.
"Kau tidak tahu...! Ayah membantu mereka, membantu kaisar..."
Nagai Ici tidak mengerti. "Biar pun begitu, masa hendak menyerang anak sendiri? Takut apa?"
"Iihhh, bodohnya! Aku tidak takut mereka menyerangku, tapi aku takut mereka merampas mahkota ini.
Hayo!"
Nagai Ici mulai mengerti dan dia mau berlari lebih cepat lagi. Diam-diam dia bingung juga. Benar-benar
kacau-balau. Sang ayah membantu kaisar, tapi si anak memusuhinya. Bagai mana ini? Mana yang benar?
Apa pun juga jadinya, dia akan membantu dan membela Loan Ki, salah atau benar!
"Heeeiiiii... Loan Ki...! Berhenti...!" Mendadak terdengar suara bentakan Sin-kiam-eng Tan Beng Kui.
Loan Ki pucat. Mereka sudah tiba di pinggir hutan, tetapi suara ayahnya sudah dekat di belakang. Ketika ia
menengok ternyata empat orang pengejar itu sudah dekat sekali. Tak mungkin dapat bersembunyi lagi,
biar pun sudah tiba di pinggir hutan.
Loan Ki putus asa dan terpaksa dia berhenti, membalikkan tubuh, tangan Nagai Ici dia lepaskan, sepasang
matanya yang jeli bersinar-sinar memandang ke depan. Nagai Ici juga berdiri tegak, dadanya yang bidang
turun naik karena napasnya memburu. Dia pun bersiap-siap membela nona itu, mempertaruhkan
segalanya.
dunia-kangouw.blogspot.com
Empat orang pengejar itu bukan lain adalah tokoh-tokoh istana, Sin-kiam-eng Tan Beng Kui, Lui-kong
Thian Te Cu, Bhok Hwesio dan It-to-kiam Cui Hwa! Cepat sekali gerakan mereka dan dalam beberapa
menit saja mereka sudah tiba di situ, dan tidak seorang pun di antara mereka yang terengah-engah seperti
halnya Loan Ki dan Nagai Ici.
Empat orang ini tadinya mengejar keluar kota raja ketika melihat rajawali emas membawa lari Kun Hong.
Sebelum keluar dari kota raja, mereka mendengar pula dari beberapa orang pengawal istana tentang
mahkota kuno yang katanya dirampas oleh seorang pria tidak dikenal dan yang dikejar oleh sepasang
orang muda, yaitu puteri Sin-kiam-eng dan temannya.
Mendengar ini, Tan Beng Kui terkejut. Tak disangkanya bahwa Loan Ki sudah berada di kota raja, bersama
seorang pemuda tampan yang gagah. Siapakah pemuda itu? Karena khawatir akan keadaan anaknya,
maka dia lalu mengejar, bersama tiga orang itu yang juga ingin mengejar Kun Hong.
"Loan Ki, kenapa engkau berlari-lari?" ayahnya bertanya, suaranya bengis dan matanya menatap wajah
puterinya dengan tajam.
Tan Beng Kui lalu mengerling penuh curiga kepada pemuda tampan di sebelah puterinya. Diam-diam dia
harus mengakui bahwa pemuda itu tampan dan gagah, dengan pedang panjang yang melengkung di
pinggang. Pemuda yang sama tidak dikenalnya.
"Ayah... aku... aku menyusul Ayah ke kota raja dan..."
"Omitohud, kiranya puteri Tan-sicu? Benar-benar hebat, ayah harimau anak pun harimau pula. Nona,
apakah kau sudah berhasil merampas mahkota kuno itu?" tanya Bhok-Hwesio sambil tertawa bergelak dan
matanya yang lebar memandang ke arah buntalan pakaian di punggung Loan Ki. Buntalan itu menjendol
dan mencurigakan.
Loan Ki tidak menjawab, pura-pura tidak mendengar pertanyaan ini, matanya menatap wajah ayahnya,
penuh permohonan dan pengharapan. Akan tetapi wajah Tan Beng Kui dengan bengis tidak memberi hati
kepadanya, malah terdengar orang tua itu bertanya,
"Loan Ki kau dengar pertanyaan Bhok Losuhu? Mana mahkota itu, apakah kau sudah merampasnya?"
Biar pun ia sudah biasa dimanja, akan tetapi Loan Ki selamanya tak pernah berbohong kepada ayahnya
karena ayahnya sangat benci kepada kebohongan dan semenjak kecil menanamkan dalam hati anaknya
agar tidak suka berbohong.
"Sudah, Ayah. Akan tetapi mahkota kuno ini adalah milikku. Dahulu akulah yang sudah merampasnya dari
tangan para perampok, dan kini sudah kembali kepadaku. Benda itu punyaku, Ayah. Sungguh, punyaku
dan tidak boleh diminta oleh orang lain!"
Sin-kiam-eng cukup mengenal watak puterinya. Jujur dan keras hati. Sekali berkata tidak boleh, tentu akan
mempertahankannya! Dia menjadi ragu-ragu dan berkata kepada Bhok Hwesio.
"Ada betulnya juga ucapan anak ini. Benda itu dahulu lenyap, lalu terjatuh ke tangan perampok dan anakku
yang merampasnya."
Bhok Hwesio tertawa pula. "Menurut The-kongcu, yang terpenting bukanlah mahkotanya, melainkan surat
yang tersimpan di dalamnya. Nona, biarkan pinceng (aku) memeriksa sebentar mahkota itu, untuk mencari
surat rahasia yang tersembunyi di dalam benda itu. Pinceng hanya membutuhkan surat itu, apa bila sudah
terdapat, biarlah benda emas itu pinceng berikan kepadamu untuk main-main. Ha-ha-ha!"
Loan Ki mengerutkan kerungnya. Ia pun bukan seorang bodoh. Ia tahu bahwa Kun Hong mempertahankan
mahkota itu bukan semata-mata karena emasnya, akan tetapi karena rahasia yang dikandungnya itulah.
Susah payah mahkota itu hendak disampaikan kepada Raja Muda Yung Lo, tentu saja bukan karena
benda itu terbuat dari pada emas berharga, melainkan karena hendak menyampaikan surat rahasia itulah.
Sekarang surat itu hendak diambil, habis untuk apa mahkota itu dibawa-bawa ke utara? Apa
kepentingannya lagi kalau suratnya sudah diambil?
"Siapa yang percaya omonganmu? Aku tak mengenalmu!" jawabnya sambil memandang hwesio itu
dengan sinar mata berapi, sedikit pun juga tidak memperlihatkan rasa takut.
dunia-kangouw.blogspot.com
"Ha-ha-ha, betul-betul anak harimau! Nona, pinceng adalah sahabat baik ayahmu, masa kau tidak
percaya?" kata hwesio itu.
"Loan Ki, kau berikan mahkota itu untuk diperiksa oleh Bhok-losuhu."
Loan Ki merengut kemudian ia menepuk-nepuk buntalan pada punggungnya. "Ayah, aku mendapatkan ini
dengan susah payah, dengan pedang dan dengan bahaya maut. Masa sekarang orang lain begini mudah
hendak menerimanya dariku? Aku mendapatkan benda ini dengan mengandalkan kepandaian, masa orang
lain tanpa mengandalkan kepandaian boleh mengambil begitu saja? Ayah, di mana kehormatan kita?"
"Omitohud, benar-benar cerdik dan gagah anakmu, Tan-sicu. Eh, saudara Lui-kong Thian Te Cu, maukah
kau mewakili kita dan memperlihatkan sedikit kepandaian kepada Nona ini untuk memindahkan mahkota
itu ke tangan kita?"
Lui-kong Thian Te Cu terkekeh ketawa, kemudian melangkah maju. Loan Ki memandang tajam. Kalau saja
keadaannya tidak begitu menegangkan hati, tentu ia sudah tertawa geli melihat orang ini. Seorang kakek
bertubuh pendek gemuk tetapi tangannya panjang sekali sampai hampir mencapai tanah, mukanya bulat
seperti muka kanak-kanak. Mau apakah badut ini, pikirnya.
"Nona, kepandaian manusia tiada batasnya, akan tetapi kau hendak main-main dengan kepandaian.
Jangan katakan aku orang tua keterlaluan terhadapmu kalau terpaksa aku mempergunakan kebodohan
untuk mengambil mahkota itu dari buntalan di punggungmu. Tan-sicu, maafkan aku, bukan maksudku
menghina puterimu. Nona, awas!"
Tiba-tiba tangannya yang kanan terulur panjang, tangan itu bergerak cepat dan tahu-tahu sudah melewati
kepala Loan Ki kemudian melengkung hendak merenggut buntalan dari punggung!
Loan Ki terkejut sekali dan cepat ia menggerakkan kaki mengelak. Berkat ilmu langkah ajaib yang dia
pelajari dari Kun Hong, dengan tiga kali gerakan kaki dia dapat berhasil membebaskan diri dari kurungan
lengan panjang itu.
"Ho-ho-ho, kau hebat, Nona!" kata Thian Te Cu yang kini tidak berani memandang rendah lagi. Tubuhnya
berkelebat dan seperti seekor burung menyambar-nyambar, dia berusaha merenggut buntalan dari
punggung Loan Ki.
"Jangan kurang ajar!" tiba-tiba Nagai Ici membentak dan sekali dia menggerakkan dua tangannya, dia
sudah berhasil menangkap kakek itu dan di lain saat kakek itu sudah terlempar ke udara oleh ilmu
gulatnya.
Hebat kejadian ini, sampai-sampai membuat Bhok Hwesio, Tan Beng Kui dan Gui Hwa melongo saking
kaget dan herannya, mengira bahwa pemuda teman Loan Ki itu begitu saktinya sehingga Thian Te Cu
yang demikian lihai itu dalam satu gebrakan saja dapat dilempar ke udara!
Padahal kejadian itu bisa timbul karena Thian Te Cu terlalu memandang rendah kepada pemuda ini dan
tidak mengenal keanehan ilmu gulat Jepang sehingga tanpa dapat dia pertahankan lagi, kakek gemuk
pendek ini melayang ke udara bagaikan sebuah peluru kendali. Akan tetapi segera Thian Te Cu dapat
menguasai kekagetannya dan dengan cekatan dia dapat melayang turun kembali lalu tiba-tiba dia
menyerang Nagai Ici.
Pemuda Jepang ini karena marah hendak melindungi Loan Ki, menyambut serangan si kakek dengan
kepalan tangannya. Akan tetapi kali ini dia kaget, karena begitu kepalan tangannya bertemu dengan
telapak tangan kakek itu, dia berteriak kesakitan dan menarik kembali tangannya yang sudah menjadi
bengkak. Sambil meringis kesakitan Nagai Ici memegangi kepalan tangan kiri itu dengan tangan kanannya.
"Kakek jahat, berani kau melukai temanku!" Loan Ki berseru dan kini ia sudah mencabut pedang, langsung
ia menerjang Thian Te Cu.
Namun kakek yang lihai ini sudah bersiap sekarang. Dengan gerakan aneh dia miringkan tubuhnya, tangan
kirinya diulur mencengkeram tangan Loan Ki yang memegang pedang.
dunia-kangouw.blogspot.com
Gadis itu kaget, cepat menarik kembali pedangnya, akan tetapi tiba-tiba ia merasa betapa buntalan pada
punggungnya sudah direnggut orang. Ketika ia menoleh, kiranya tangan kanan yang panjang dari Thian Te
Cu sudah berhasil merampas buntalan itu. Kini kakek itu sambil terkekeh-kekeh menyerahkan mahkota
kepada Bhok Hwesio dan melemparkan buntalan pakaian kembali kepada Loan Ki yang menyambutnya
dengan uring-uringan.
"Bagaimana tanganmu?" Ia menghampiri Nagai Ici yang memperlihatkan kepalan tangan kiri yang
membengkak.
Loan Ki mengurut pergelangan lengan itu beberapa kali dan sebentar saja bengkak itu mengempis.
Memang tangan Nagai Ici itu tidak terluka, hanya keseleo saja ketika bertemu dengan telapak tangan Thian
Te Cu yang mengandung tenaga lweekang amat kuat.
Diam-diam Sin-kiam-eng menyaksikan semua peristiwa itu. Jantungnya serasa tertikam ketika dia
menyaksikan sikap mesra Loan Ki terhadap pemuda itu, dan dia pun terharu menyaksikan betapa pemuda
aneh itu tadi tanpa mengukur kepandaian sendiri sudah berani membela Loan Ki mati-matian.
Sementara itu, Bhok Hwesio sudah mulai memeriksa mahkota. Diputar-putar ke sana ke mari, lalu
diperiksa sebelah dalamnya. Dipencet sana, pencet sini, akan tetapi tidak dapat dia menemukan sesuatu.
Dengan kening berkerut hwesio itu lalu menggunakan tenaga tangannya yang luar biasa. Sekali dia
berseru keras, kedua tangannya telah mematahkan mahkota menjadi dua! Dia memeriksa secara teliti dan
tampaklah olehnya tempat rahasia di dalam mahkota yang sudah kosong!
"Omitohud... orang muda hendak mengakali orang tua!"
Dia melemparkan potongan mahkota ke atas tanah dan kini memandang kepada Loan Ki dengan muka
merah. "Nona, di dalam mahkota ini terdapat surat rahasianya, tetapi kini ternyata sudah kosong. Harap
kau jangan main-main dan lekas serahkan surat itu kepada pinceng."
Loan Ki sendiri heran dan penasaran ketika melihat bahwa mahkota itu ternyata tidak mengandung
sesuatu. Hampir saja dia melakukan perjalanan jauh dengan sia-sia. Apa artinya dia membawa benda itu
jauh-jauh ke utara kalau ternyata tidak ada apa-apanya? Siapakah yang telah mengambil isi mahkota itu?
"Aku tidak tahu tentang surat-surat segala," katanya.
Bhok Hwesio menoleh kepada It-to-kiam Gui Hwa. "It-to-kiam lihiap, kau seorang wanita, maka
sepantasnya kaulah yang menggeledah Nona ini. Tentu surat itu telah diambil dan disimpannya."
It-to-kiam Gui Hwa adalah seorang wanita berusia lima puluh tahun lebih, tubuhnya kecil kurus, gerakgeriknya
gesit. Ia melangkah maju dan siap menggeledah tubuh Loan Ki.
Nona ini mengerutkan keningnya. "Jangan sentuh aku!" bentaknya.
"Nona cilik, harap kau jangan mempermainkan kami orang-orang tua. Serahkan saja surat itu dari pada aku
terpaksa harus menggunakan kekerasan," Gui Hwa mengancam.
"Ayah, apakah kau akan membiarkan saja anakmu dihina orang?" Loan Ki menjerit sambil memandang
ayahnya.
Sin-kiam-eng Tan Beng Kui bingung. Tentu saja dia pun tidak senang melihat puterinya didesak begitu
rupa dan diperlakukan dengan cara menghina.
"Loan Ki, kalau kau memang sudah mengambil surat itu, kau serahkan saja, jangan kau mencampuri
urusan negara ini," katanya dengan suara bengis dan berpengaruh.
"Aku tidak tahu menahu tentang surat, Ayah," kata Loan Ki, suaranya tegas karena dia memang tidak
membohong.
"Lebih baik jika kau berterus terang saja, Nona. Jangan main-main!" It-to-kiam Gui Hwa mengancam.
"Nenek buruk, aku sudah berterus terang, tidak tahu-menahu tentang surat itu. Kau mau apa?!" bentak
Loan Ki.
dunia-kangouw.blogspot.com
"Baik, kalau begitu jangan salahkan aku jika pedangku akan merobek-robek bajumu dan menelanjangimu
di sini." Gui Hwa berseru marah sambil mencabut pedangnya yang tipis dan panjang.
"Srattttt!"
Loan Ki juga mencabut pedangnya dan berkata kepada ayahnya dengan suara getir, "Ayah, bila kau tetap
membiarkan anakmu dihina orang, biarlah sekarang pedangku yang akan melindungiku, lihatlah betapa
anakmu tidak akan membiarkan begitu saja dihina lain orang!"
Tan Beng Kui bingung, akan tetapi tidak tahu harus berbuat apa. Sementara itu, Gui Hwa telah menerjang
maju menggerakkan pedangnya dengan maksud merobek-robek pakaian Loan Ki agar surat yang
disembunyikan dapat dirampas, karena kalau digeledah begitu saja gadis ini tentu tidak akan mau
menyerah.
Loan Ki dengan marah juga menggerakkan pedang sehingga dua orang wanita tua dan muda ini sudah
bertempur dengan hebat, seru dan mati-matian.
"Jangan menghina Loan Ki!" Nagai Ici yang sudah sembuh tangan kirinya, ternyata telah mencabut pedang
samurainya dan kini maju hendak membantu Loan Ki. Sikapnya garang dan bersemangat seperti seekor
singa muda.
"Ho-ho-ho-ho, pemuda sombong, jangan bergerak!" Lui-kong Thian Te Cu melompat ke depan,
menghadang gerakan Nagai Ici dan dia pun sudah mengeluarkan senjatanya yang aneh, yaitu sebatang
tanduk seperti tanduk rusa yang panjangnya kurang lebih empat kaki, runcing dan bengkok-bengkok.
Dengan gerakan cepat dia mendahului pemuda ini, mengirim pukulan dengan senjata aneh ini ke arah
pundak kanan untuk membuat tangan pemuda itu lumpuh. Dia pun sama sekali tidak berniat membunuh
pemuda ini, hanya untuk merobohkan dan mengalahkan pemuda ini.
"Traaanggg... singgg... Hiaaaaattttt!!"
Kaget bukan main Lui-kong Thian Te Cu. Seperti juga tadi, kali ini dia dibikin kaget oleh gerakan aneh
pemuda ini karena begitu menangkis, pedang panjang itu langsung saja menyambarnya dengan kecepatan
luar biasa dan tenaga yang amat kuat. Hampir saja dia celaka oleh serangan balasan yang otomatis dari
Nagai Ici ini, karena kalau dia tidak cepat-cepat membuang diri ke belakang dan lehernya terkena
sambaran pedang panjang itu, tentu sekarang dia sudah menjadi setan tanpa kepala.
"Wah-wah, ilmu pedang ganas seperti iblis mengamuk! Kau ini orang apakah?" bentak kakek itu yang
cepat menerjang kembali, kini dengan hati-hati sekali mainkan senjatanya yang aneh.
Karena memang tingkat kepandaian kakek ini jauh lebih tinggi dari pada Nagai Ici, maka sebentar saja jago
muda Jepang itu sudah menjadi repot sekali, terpaksa menggerakkan pedang samurainya ke sana sini
untuk menangkis tanduk rusa yang sepertinya sudah berubah menjadi puluhan batang banyaknya,
mengurung dirinya dari segala penjuru.
Juga Loan Ki amat repot menghadapi pedang It-to-kiam Gui Hwa. Nenek ini merupakan seorang tokoh
Kun-lun-pai dan dalam hal ilmu pedang, kepandaiannya bahkan lebih matang dari pada kepandaian Bun
Wan. Tentu saja tingkatnya jauh lebih tinggi dari pada Loan Ki.
Dengan mudah saja nenek ini mempermainkan Loan Ki yang terpaksa mempergunakan langkah ajaib
untuk menyelamatkan diri. Namun, mana bisa orang bertempur hanya main tangkis dan kelit saja? Kalau
diteruskan, akhirnya dia tentu akan celaka, akan terobek bajunya dan mengalami hinaan yang hebat.
Melihat keadaan itu, Tan Beng Kui menjadi lemas kaki tangannya, jantungnya berdebar dan
kerongkongannya terasa kering.
Tiba-tiba saja terdengar suara keras dan... pedang samurai di tangan Nagai Ici sudah terlempar ke atas
kemudian jatuh menancap tanah, sedangkan pangkal lengan kanan pemuda itu sendiri sudah terluka oleh
pukulan senjata Thian Te Cu. Pukulan keras yang membuat lengan itu serasa lumpuh dan pemuda ini
hanya berdiri memegangi lengannya, tidak mampu berdaya lagi menghadapi kakek yang lihai itu. Thian Te
Cu tertawa-tawa bergelak atas kemenangannya.
dunia-kangouw.blogspot.com
Akan tetapi, melihat betapa Loan Ki didesak hebat oleh Gui Hwa, Nagai Ici mengeluarkan pekik
menyeramkan dan dengan tangan kosong dia maju menyerbu, menerkam Gui Hwa tanpa mempedulikan
keselamatannya sendiri!
Gui Hwa terkejut sekali, cepat menghindar, namun ujung bajunya kena dipegang oleh Nagai Ici dan
terdengar suara keras ketika baju itu terobek oleh cengkeraman pemuda ini. Baju robek menjadi dua
sehingga tampaklah pakaian dalam nenek itu.
Dasar Loan Ki seorang yang nakal. Melihat ini, saking girangnya karena Nagai Ici ternyata berani mati
membelanya, ia mengejek, "Hi-hik, nenek buruk, baju siapakah yang robek?"
Gui Hwa menjerit marah, pedangnya cepat berkelebat ke arah dada Nagai Ici merupakan tusukan maut.
Kini ia tidak main-main lagi. Tadi sengaja ia tidak mau melukai Loan Ki, hanya berusaha mendesaknya dan
mencari kesempatan untuk merobek-robek pakaian gadis itu. Kini dalam kemarahannya, ia menggunakan
jurus mematikan untuk membalas perbuatan Nagai Ici yang ia anggap penghinaan besar itu.
Agaknya pemuda ini tidak akan mampu mempertahankan dirinya lagi. Baiknya Loan Ki yang melihat
bahaya ini, cepat menangkis pedang Gui Hwa sehingga Nagai Ici terlepas dari pada bahaya maut.
"Minggirlah, kau sudah terluka...," pinta Loan Ki sambil mendorong pemuda itu ke pinggir.
Ia sendiri menghadapi Gui Hwa yang kini menyerangnya tanpa sungkan-sungkan lagi. Semua jurus yang
dia lancarkan dalam penyerangan ini adalah jurus yang mengandung hawa maut, tidak main-main lagi
seperti tadi. Loan Ki berusaha mempertahankan diri, namun pada suatu saat ia kurang cepat dan…
"Breett!" ujung bajunya terbabat putus sebagai pengganti lengannya!
Ia menjadi pucat, tetapi tetap melawan terus, biar pun ia didesak hebat.
Kembali Nagai lci meloncat lantas menerkam Gui Hwa karena melihat betapa Loan Ki hampir kalah. Dia
khawatir sekali kalau-kalau gadis pujaan hatinya itu akan terluka hebat, maka dengan nekat dia menerjang
lagi tanpa mempedulikan larangan Loan Ki.
Gui Hwa sudah siap. Begitu melihat tubuh pemuda itu maju selagi pedangnya bertemu dengan pedang
Loan Ki, dia memapaki dengan tendangan.
"Bleeeggg!"
Tubuh Nagai Ici terjengkang dan pemuda ini muntahkan darah segar. Namun dia bangkit lagi, menekan
dada dan dengan nekat dia hendak maju menerjang lagi untuk membantu Loan Ki.
Sementara itu, melihat Nagai Ici tertendang, Loan Ki menjadi kaget dan marah sehingga perasaan ini
membuat langkah-langkah ajaibnya menjadi kacau balau. Ketika pedang Gui Hwa menyambar, tak dapat ia
mengelak lagi dan terpaksa menerima dengan pedangnya. Dua pedang menempel dan kedudukan Loan Ki
sudah terjepit. Gui Hwa sudah mengulur tangan kiri hendak merobek pakaian gadis itu.
"Tahan...!" terdengar bentakan mengguntur.
Mendadak Gui Hwa terjengkang ke belakang, terhuyung dan cepat menarik pedangnya lantas bersiap
sedia. Kiranya tadi Sin-kiam-eng Tan Beng Kui yang mendorongnya untuk menolong puterinya. Semua
orang memandang ke arah ayah dan anak yang kini sedang berhadapan muka.
"Ayah, kau membiarkan anakmu dihina orang, sekarang kau mau apa lagi? Aku tidak tahu menahu tentang
surat, dan aku pun tidak sudi digeledah, lebih baik mati!" Loan Ki berkata dengan sikap menantang,
lehernya tegak, kepala dikedikkan, kedua mata bersinar-sinar akan tetapi air mata mengalir turun ke atas
kedua pipinya, bibirnya pucat tetapi digigitnya sendiri untuk memperkuat kenekatan hatinya.
"Loan Ki, berani kau bersumpah bahwa kau tidak tahu menahu akan surat rahasia itu?" bentak ayahnya.
"Aku bersumpah, demi arwah Ibu!"
dunia-kangouw.blogspot.com
Terpukullah hati Beng Kui mendengar sumpah ini, seakan dia diingatkan bahwa puterinya ini semenjak
kecil tidak lagi ditunggui ibunya. Hatinya perih sekali. Tiba-tiba dia menoleh kepada Nagai Ici yang masih
berdiri tegak dengan muka pucat, tetapi dengan sikap nekat membela Loan Ki.
"Siapa dia?" tanya Sin-kiam-eng.
"Dia sahabat baikku, Ayah, tadinya hendak kubawa kepadamu agar menjadi muridmu. Dia bernama Nagai
Ici."
"Apa...? Seorang Jepang? Bajak laut...?" Tan Beng Kui kaget sekali, kaget dan kecewa.
"Siapa bilang dia bajak laut?" Loan Ki juga berteriak, tidak kalah nyaringnya dengan suara ayahnya. "Dia
adalah seorang pendekar, berjuluk Samurai Merah! Dia orang gagah yang datang ke sini dengan maksud
mencari guru yang pandai. Dia sahabatku, Ayah, buktinya tadi, kalau ayahku sendiri tidak peduli akan
keadaanku, dia membantuku mati-matian!"
Tan Beng Kui menundukkan kepala, menarik napas panjang, lalu berpaling kepada Bhok Hwesio. "Bhoklosuhu,
aku percaya bahwa anakku tidak membawa surat itu. Aku minta supaya dia dan sahabatnya
dilepas dan jangan diganggu lagi."
"Hemmm, mana mungkin begitu, Sicu? Pinceng pernah mendengar dari pengawal istana Tiat-jiu Souw Ki
bahwa yang merampas mahkota dahulu dari tangannya adalah puterimu inilah, dibantu oleh Kun Hong si
pemberontak buta. Jelas bahwa anakmu ini membantu para pemberontak. Mana bisa pinceng percaya
bahwa surat itu tidak berada padanya? Kalau memang sudah digeledah tidak ada, biarlah pinceng
memandang persahabatan di antara kita dan pinceng perbolehkan dia pergi."
"Bhok-losuhu, apakah kau tidak percaya kepadaku?"
Kembali hwesio itu tertawa dengan tenang. "Tan-sicu, memang biasanya, seorang gagah di dunia kangouw
paling memegang teguh kata-kata yang keluar dari mulutnya. Tetapi sekarang kedudukan kita lain
lagi. Kita bekerja demi keselamatan negara, dan karenanya peraturan yang berlaku juga peraturan negara,
bukan peraturan kang-ouw lagi. Sebagai petugas, mau tidak mau pinceng harus mendahulukan
kepentingan negara. Pinceng kira bagimu juga seharusnya demikian, kepentingan tugas lebih tinggi dari
pada kepentingan antara ayah dan anak. Biarkan It-to-kiam Gui Hwa memeriksanya, kalau memang dia
tidak membawa surat, itu, boleh dia pergi."
"Aku tidak sudi! Lebih baik mati dari pada menyerah di bawah penghinaan kalian!" Loan Ki berseru marah.
"Jangan takut, Loan Ki. Aku membantumu, kalau perlu kita mati bersama!" berkata pula Nagai Ici dengan
tabah dan gagah.
Sin-kiam-eng Tan Beng Kui kembali menghadapi puterinya, memandang tajam pada dua orang muda itu
sampai lama sekali, kemudian suaranya terdengar menggetar, "Nagai Ici, kau siap melindunginya dengan
jiwa ragamu?"
"Siap!" seru Nagai Ici dengan sikap tegak.
"Kau... kau mencinta Loan Ki dengan seluruh jiwa ragamu?"
"Ya!" jawab pemuda itu pula, tanpa ragu-ragu. "Aku siap mati untuk Loan Ki!"
Tan Beng Kui tersenyum getir, kemudian berkata kepada Loan Ki, "Anakku, kau merasa bahagiakah di
samping Nagai Ici?"
Merah muka yang pucat itu seketika dan air matanya deras mengalir.
"Ayah... dia baik sekali...," jawabnya perlahan.
"Cukup! Nagai Ici, mulai saat ini aku menyerahkan keselamatan anakku ke tanganmu. Nah, sekarang
pergilah jauh-jauh dan jangan mencampuri urusanku, jangan mencampuri urusan negara lagi. Pergilah!
Cepat!"
dunia-kangouw.blogspot.com
Agaknya Nagai Ici maklum akan isi hati pendekar pedang ini. Dia lalu menggandeng tangan Loan Ki dan
diajaknya gadis itu pergi dari tempat itu.
"He, jangan pergi dulu!" seru Lui-kong Thian Te Cu.
"Siinngggg…!"
Sinar pedang berkelebat dan tahu-tahu Sin-kiam-eng Tan Beng Kui sudah menghadang Thian Te Cu
dengan pedang di tangan serta sikap yang kereng dan gagah menantang. Sepasang matanya menyalanyala
ketika menatap tiga orang di depannya, Bhok Hwesio, Thian Te Cu dan Gui Hwa.
"Aku mengganti mereka dengan nyawaku! Siapa yang berniat mengejar mereka akan berhadapan dengan
pedangku." Suaranya nyaring sehingga bergema, terdengar pula oleh Loan Ki yang menoleh dan menoleh
lagi sambil terisak menangis, akan tetapi Nagai Ici terus menyeretnya pergi.
"Omitohud! Tan-sicu apakah hendak memberontak?"
"Bhok Hwesio, baru kali ini kau muncul dalam urusan negara, tetapi kau sudah hendak membuka mulut
besar bicara mengenai pemberontakan? Huh, kau mau bersikap sebagai pahlawan? Dengarlah kalian
bertiga! Di jamannya mendiang kaisar ketika masih menjadi pejuang Ciu Goan Ciang, aku Tan Beng Kui
sudah menjadi pejuang mengusir penjajah Mongol. Kalian bertiga tahu apa tentang perjuangan? Kalian
hanya datang dan enak-enak mendapatkan kedudukkan tinggi dan kemuliaan, sekarang sudah akan
bersikap sombong menganggap diri sendiri benar? Menjemukan sekali!"
"Tan Beng Kui, apa yang kau bicarakan ini?" Bhok Hwesio marah. "Kalau kau memang tidak mempunyai
hati memberontak terhadap kaisar seharusnya kau akan mementingkan urusan tugas, tidak memberatkan
anakmu. Kau telah membiarkan anakmu terlepas, apa kau kira pinceng tak dapat mengejarnya?"
"Harus melalui pedang beserta mayatku!" teriak Tan Beng Kui marah. "Anakku sudah bersumpah demi
arwah ibunya. Ini jauh lebih kuat, lebih penting dari pada segala urusan tetek-bengek. Selama aku masih
dapat menggerakkan pedang, jangan harap kalian akan dapat mengganggu Loan Ki!"
"Kau memang pemberontak! Dahulu pun pernah menjadi pemberontak, siapa tidak tahu?"' Lui-kong Thian
Te Cu berseru marah.
Dengan senjatanya tanduk rusa dia sudah bergerak menyerang. Juga It-to-kiam Gui Gwa sudah menerjang
dengan pedangnya.
Sambil memutar pedang, Sin-kiam-eng Tan Beng Kui maju menghadapi dua orang itu. Ilmu pedangnya
hebat bukan main. Ilmu Pedang Sin-li Kiam-sut yang sudah dikuasainya benar sehingga baik It-to-kiam Gui
Hwa mau-pun Lui-kong Thian Te Cu yang lihai merasa terkesiap dan terdesak oleh sinar pedang yang
bergulung-gulung itu.
"Omitohud, semua pemberontak harus dibasmi, baru aman negara!" Bhok Hwesio berseru sambil
melangkah maju.
Dia bertempur dengan tangan kosong saja, akan tetapi jangan dikira bahwa dia boleh dipandang ringan
karena tidak bersenjata. Sepasang ujung lengan bajunya merupakan sepasang senjata yang amat ampuh,
kalau digunakan memukul melebihi kerasnya ruyung baja dan kalau menotok tiada ubahnya senjata toya.
Juga kibasan kedua tangannya sama ampuhnya dengan tebasan pedang tajam. Jangan kata sampai kena
terpukul, baru angin pukulannya saja sudah mendatangkan angin dingin yang terasa tajam menusuk kulit.
Sesungguhnya ilmu pedang dari Tan Beng Kui sangat hebat. Hal ini tidaklah aneh kalau diingat bahwa dia
adalah murid tertua dari mendiang Raja Pedang Cia Hui Gan yang berjuluk Bu-tek Kiam-ong (Raja Pedang
Tanpa Tanding). Kalau mau bicara tentang ilmu pedang, kiranya tiga orang lawan yang mengeroyoknya ini
tidak akan ada yang mampu menandinginya, biar pun It-to-kiam Gui Hwa juga memiliki ilmu pedang tingkat
tinggi dari Kun-lun-pai.
Akan tetapi, ilmu pedang semata bukan merupakan ilmu yang mutlak dapat menentukan kemenangan,
sebab dalam banyak hal lain, dia kalah ampuh oleh ketiga orang lawannya.
dunia-kangouw.blogspot.com
It-to-kiam Gui Hwa memiliki ginkang (ilmu meringankan tubuh) yang luar biasa, setingkat lebih tinggi dari
pada ilmunya sendiri sehingga dengan keringanan tubuhnya itu, It-to-kiam Gui Hwa dapat menutupi
kekurangannya dalam hal ilmu pedang.
Lui-kong Thian Te Cu mempunyai khikang yang hebat, sehingga setiap kali mengeluarkan bentakan dalam
pertempuran, membuat jantung Sin-kiam-eng Tan Beng Kui tergetar dan mengacaukan permainan
pedangnya.
Lebih hebat lagi adalah Bhok Hwesio, karena hwesio ini benar-benar kosen dan gagah sekali. Hwesio
Siauw-lim ini memiliki tenaga dalam yang sangat hebat. Dorongan kedua tangannya mengeluarkan angin
pukulan yang selalu berhasil memukul miring pedang di tangan Tan Beng Kui.
Tan Beng Kui mempertahankan diri mati-matian. Dia pun maklum bahwa kalau dia terlalu cepat jatuh,
keselamatan Loan Ki masih terancam bahaya besar. Dia rela mengorbankan diri asal anaknya itu sudah
lari jauh dan tidak akan dapat dikejar lagi oleh tiga orang ini.
Dia tadi sudah menyaksikan kesetiaan dan kecintaan hati pemuda Jepang itu dan hatinya lega. Betapa pun
juga, dia merasa yakin bahwa sepeninggalnya, Loan Ki sudah terjamin hidupnya, sudah ada orang yang
menggantikan kedudukannya, bahkan yang agaknya lebih mencintainya dengan segenap jiwa raganya.
Kenyataan bahwa pemuda itu adalah seorang Jepang tidak mengecewakan hatinya. Dia sudah sering kali
mendengar betapa bangsa di seberang lautan itu pada jaman dahulunya juga serumpun dengan
bangsanya, malah dia mendengar bahwa bangsa itu mempunyai kecerdikan tinggi.
"Siaaattttt!"
Ujung lengan baju sebelah kiri dari Bhok Hwesio menghantamnya dari pinggir. Biar pun dia sudah berhasil
mengelak, tetapi angin pukulannya memanaskan telinga membuat dia agak nanar. Pada saat itu,
pedangnya beradu dengan pedang It-to-kiam Gui Hwa dan pada detik berikutnya, tanduk rusa di tangan
Thian Te Cu sudah menusuk ke arah perut.
"Siiiinggggg!"
Tarikan pedang Tan Beng Kui membuat It-to-kiam menjerit kesakitan karena pedangnya sendiri tergetar
hebat dan telapak tangannya terasa panas hingga dia terpaksa melompat mundur. Kesempatan ini
dipergunakan oleh Tan Beng Kui untuk membabat ke depan dan menangkis tanduk rusa, kemudian
mementalkan pedangnya ke kanan untuk mengirimkan tusukan maut ke arah leher Bhok Hwesio yang
sudah mendekatinya.
"Omitohud, kau bosan hidup...!" seru hwesio itu.
Ujung lengan bajunya yang kanan menyambar, bertemu dengan ujung pedang, membuat Tan Beng Kui
merasa kaget sekali karena tahu-tahu ujung lengan baju itu sudah melibat pedangnya, tak dapat dia tarik
kembaii. Dia masih mampu merendahkan tubuh mengelak dari pada sambaran pedang Gui Hwa yang
mengarah lehernya, juga serangan Thian Te Cu dia gagalkan dengan sebuah tendangan kilat ke
pergelangan tangan yang memegang tanduk rusa. Namun pada saat itu, tangan kiri dengan telapak tangan
yang besar lebar dari Bhok Hwe-sio sudah menyambar dan tidak dapat dia hindari lagi punggungnya kena
ditampar.
"Plaakkkk...!"
Tan Beng Kui mengaduh, tubuhnya terhuyung-huyung ke belakang dan pedangnya lepas dari tangan.
Mukanya pucat sekali. Ia telah menerima tamparan maut yang mengandung tenaga lweekang dan yang
telah merusak isi dadanya.
Akan tetapi dia benar-benar gagah perkasa karena begitu merasa bahwa dadanya terluka hebat sebelah
dalam, dengan nekat dia lantas menerjang maju, mengirim pukulan dengan tangan kanan ke arah Bhok
Hwesio sambil mengerahkan semua tenaganya. Bhok Hwesio tersenyum mengejek, menerima pukulan ini
dengan tangan yang dibuka.
dunia-kangouw.blogspot.com
Kedua tangan itu bertumbukan di udara. Akibatnya tubuh Tan Beng Kui kembali mental ke belakang, akan
tetapi Bhok Hwesio juga terhuyung-huyung ke belakang. Kagetlah hwesio ini. Tidak disangkanya sama
sekali bahwa dalam keadaan terluka hebat, lawan itu masih memiliki tenaga demikian besarnya.
Tan Beng Kui roboh dan bangkit lagi sambil muntahkan darah segar dari mulutnya, malah masih sempat
mengelak dari sambaran tanduk rusa dan membalas serangan Thian Te Cu ini dengan sebuah pukulan
tangan kiri. Namun tenaganya sudah hampir habis sehingga begitu Thian Te Cu menangkisnya, dia
kembali roboh. Pada saat itu It-to-kiam Gui Hwa sudah meloncat maju dan pedangnya berkelebat menusuk
dada.
"Criiiinggggg...!"
Gui Hwa menjerit sambil meloncat mundur ketika terlihat berkelebatnya sinar kilat disusul suara keras dan
patahnya pedang di tangannya. Tiga orang itu terkejut memandang dan tahu-tahu di situ sudah berjongkok
seorang laki-laki gagah perkasa yang memeluk leher Beng Kui dengan tangan kiri, sedangkan sebatang
pedang yang berkilauan terpegang di tangan kanan.
"Omitohud... bukankah yang datang ini adalah ciangbunjin (ketua) Thai-san-pai, Tan Beng San taihiap...?"
seru Bhok Hwesio terkejut ketika mengenal laki-laki itu.
Memang tidak salah. Laki-laki itu adalah Tan Beng San, ketua dari Thai-san-pai yang tadi menggunakan
pedang Liong-cu-kiam menyelamatkan Tan Beng Kui dari tusukan pedang It-to-kiam Gui Hwa sehingga
sekaligus mematahkan pedang nyonya itu.
Dia tidak menjawab kata-kata Bhok Hwesio, melainkan cepat mengangkat kepala Beng Kui dan
dipangkunya. Dengan sedih dia mendapat kenyataan bahwa keadaan kakaknya ini sudah tidak dapat
ditolong lagi karena menderita luka dalam yang amat parah.
Beng Kui membuka matanya, terbelalak seperti orang terheran-heran dan tidak percaya, kemudian dia
tersenyum dan mengedipkan mata lalu merangkul Beng San.
"Aduh, kau Beng San... adikku... siapa kira kau malah orangnya yang akan menunggui kematianku..."
Kemudian dia tertawa terbahak-bahak dan terpaksa berhenti ketawa sebab kembali dia muntahkan darah.
Beng San cepat mengurut dada kakak kandungnya serta menotok beberapa jalan darah untuk
menghentikan muntah darah ini dan mengurangi rasa nyeri. Mendadak Beng Kui mendapatkan kembali
tenaganya. Dia mendorong Beng San minggir, lalu berdiri dengan susah payah. Kembali dia tertawa
menghadapi tiga orang lawannya itu.
"Beng San, adikku, terima kasih... jangan kau mencampuri urusanku."
"Kui-koko, mereka ini orang-orang tak tahu malu, melakukan pengeroyokan atas dirimu..."
"Tidak! Mereka adalah orang-orangnya kaisar yang hanya melakukan tugas mereka dan aku... ha-ha-ha,
aku sekarang berani menentang mereka, demi anakku... ahh... Beng San, aku titip Loan Ki kepadamu... dia
dan sahabat baiknya, pemuda perkasa Jepang, Nagai... eh, Nagai Ici, ha-ha-ha! Hayo, Bhok Hwesio, Thian
Te Cu, dan It-to-kiam, aku bilang tadi, kalian baru dapat mengejar Loan Ki melalui mayatku. Aku belum
menjadi mayat dan... anakku sudah pergi jauh... tidak mungkin kalian kejar, ha-ha-ha!"
Mendadak Tan Beng Kui menubruk maju, mengirim pukulan kilat kepada tiga orang itu secara mengawur.
Melihat adegan itu, tiga orang tokoh ini sudah merasa tidak enak hati. Kini serangan Tan Beng Kui tentu
saja tidak mereka layani, berbereng mereka melompat mundur dan Beng Kui terjungkal dengan sendirinya,
tidak mampu bangun kembali.
Beng San cepat menghampirinya, berlutut.
"Beng San... kau melupakan semua kesalahanku dahulu... bagus, beginilah adikku sejati... huh... aku titip
Loan Ki... Loan... Ki..."
Pendekar pedang ini menghembuskan napas terakhir dalam rangkulan adik kandungnya yang sejak dahulu
dimusuhinya (baca cerita Raja Pedang dan Rajawali Emas).
dunia-kangouw.blogspot.com
Sambil menghela napas panjang Beng San meletakkan tubuh kakak kandungnya di atas tanah, kemudian
perlahan-lahan dia bangkit, berdiri sambil menatap wajah tiga orang itu berganti-ganti. Akhirnya terdengar
suaranya, sangat jelas, lambat-lambat, namun nyaring berwibawa.
"Aku mentaati permintaan terakhir kakakku, tidak akan mencampuri urusan kalian bertiga dengannya. Akan
tetapi, aku melarang kalian melanjutkan pengejaran terhadap Loan Ki puteri kakakku. Kalau kalian tidak
terima, hayo kalian maju mengeroyokku seperti yang kalian bertiga lakukan kepadanya!" Dengan pedang
melintang di depan dada, Beng San menantang, sikapnya garang, kemarahannya ditahan-tahan.
"Omitohud...!" Bhok Hwesio merangkapkan kedua tangannya di depan dada. "Selamanya Siauw-lim tidak
pernah bermusuhan dengan Thai-san..."
"Losuhu tidak usah membawa-bawa nama partai. Ini urusan pribadi antara Tan Beng San dan tiga orang
tokoh yang baru saja mengeroyok dan membunuh kakakku!"
Lui-kong Thian Te Cu dan It-to-kiam Gui Hwa nampak ragu-ragu, jelas bahwa mereka merasa jeri terhadap
ketua Thai-san-pai ini. Sudah sering kali mereka mendengar nama besar Raja Pedang ini, apa lagi tadi
dengan sekali gebrak saja Raja Pedang ini berhasil mematahkan pedang It-to-kiam Gui Hwa.
Hanya Bhok Hwesio yang masih tenang, lalu dia tersenyum tawar. "Tugas pinceng adalah mengamankan
negara, membasmi para pemberontak yang ingin membikin kacau negara, sama sekali bukan menanam
permusuhan dengan siapa pun juga, Tan-taihiap, selamat berpisah."
Dia lalu membalikkan tubuhnya, mengambil dua keping potongan mahkota lalu bergegas meninggalkan
tempat itu, diikuti oleh kedua temannya.
Beng San masih berdiri tegak dengan pedang melintang di dada. Besar keinginan hatinya untuk melompati
mereka, untuk menyerang mereka, mengajak mereka memperhitungkan kematian kakak kandungnya.
Biar pun kakak kandungnya ini selalu memusuhinya, banyak sudah mendatangkan derita dalam hidupnya,
namun dia tetap mengasihi kakak kandungnya. Akan tetapi perasaan itu dia tahan-tahan karena masih
berdengung di telinganya pesan terakhir kakaknya itu, pula, ia pun meragu apakah orang sakti seperti
Bhok Hwesio itu berada di pihak yang salah.
Setelah tiga orang itu tidak tampak bayangannya lagi, kembali ke jurusan kota raja, dia lalu berjongkok dan
dengan perasaan berat sekali dia lalu memondong jenazah kakaknya, mencarikan tempat yartg baik
tanahnya di dalam hutan sebelah timur kota raja, kemudian menguburnya dengan penuh hormat dan
khidmat.
Tubuh pendekar pedang ini tampak kurus dan agak pucat. Memang dia telah menderita tekanan batin yang
hebat sekali. Anaknya, Cui Sian, diculik orang, Thai-san-pai dirusak binasakan musuh, banyak anak murid
yang tewas, isterinya marah-marah dan melarikan diri mencari Cui Sian.
Dia sendiri sudah berkelana mencari jejak isterinya dan menyelidiki tentang musuh-musuh yang sudah
menyerbu Thai-san dan yang telah menculik anaknya. Dari beberapa orang kenalan di dunia kang-ouw, dia
dapat mendengar bahwa tiga orang wanita yang berilmu tinggi itu sangat boleh jadi adalah Ang Hwa Samcimoi
yang belum pernah dia dengar namanya karena ketiga orang tokoh ini baru beberapa tahun saja
memasuki pedalaman, datang dari See-thian.
Akan tetapi ketika mendengar bahwa tiga orang kakak beradik ini adalah para sumoi (adik seperguruan)
Hek-hwa Kui-bo, kecurigaannya menebal. Apa bila mereka itu sumoi-sumoi dari Hek-hwa Kui-bo, sangat
boleh jadi mereka melakukan perbuatan itu untuk membalas dendam terhadap suci (kakak seperguruan)
mereka. Akan tetapi, agaknya mereka tidak bekerja bertiga saja, tentu ada orang-orang lain. Sukarnya,
tidak seorang pun yang tahu di mana adanya Ang Hwa Sam-cimoi itu.
Dia seakan-akan meraba di dalam gelap dan perantauannya membawanya ke kota raja karena dia
berpendapat bahwa segala sesuatu mengenai keadaan orang-orang besar di dunia kang-ouw, lebih mudah
diselidiki di kota raja. Apa lagi karena urusan di Thai-san ini agaknya ada hubungannya dengan kematian
Tan Hok, berarti ada hubungannya dengan urusan kerajaan, karena semenjak dahulu Tan Hok adalah
seorang pejuang dan bahkan akhir-akhir ini menjadi pembesar yang dipercaya oleh kaisar pertama Ahala
Beng.
dunia-kangouw.blogspot.com
Demikianlah, secara kebetulan sekali, di luar kota raja dia melihat pengeroyokan atas diri Tan Beng Kui.
Sayang dia agak terlambat sehingga kakak kandungnya itu tewas dalam pertempuran. Setelah dia selesai
mengubur jenazah kakaknya, Beng San ragu-ragu untuk memasuki kota raja.
Dia lalu teringat akan Loan Ki. Setelah pertemuan terakhir dengan kakak kandungnya, timbullah secara
tiba-tiba kerinduan hatinya untuk bertemu dengan keturunan kakaknya ini, dengan keponakan tunggalnya.
Semenjak berpisah dengan kakaknya belasan tahun yang lalu, dia tidak pernah bertemu lagi dan tidak tahu
keadaan kakaknya itu. Sekarang pertemuan terakhir membangkitkan kembali kasih sayang lama.
Loan Ki, Tan Loan Ki, demikian nama keponakannya. Dengan pemuda Jepang? Pesan terakhir kakaknya
terngiang di telinganya. Lebih baik sekarang menyusul Loan Ki. Kenapa tidak? Selain dia dapat bertemu
dengan keponakannya itu dan dapat menjaganya serta memberi petunjuk, juga dari keponakannya itu dia
dapat mendengar banyak hal tentang kakaknya, tentang keadaan kota raja. Siapa tahu keponakannya itu
akan mendengar pula tentang Thai-san-pai. Maklumlah, puteri seorang pendekar seperti kakaknya tentu
tidak asing pula dengan keadaan dunia kang-ouw.
Berpikir demikian, Beng San kemudian melompat dan berlari cepat sekali, menyusul keponakannya yang
agaknya lari ke arah timur seperti yang tadi ditunjuk oleh kakaknya. Ilmu lari cepat yang digunakan oleh
Beng San ini adalah Ilmu Lari Cepat Liok-te Hui-teng Kang-hu, ilmu lari cepat yang dilakukan sambil
melompat-lompat dan kecepatannya seperti terbang saja. Wusssssss.....
********************
"Kanda Bun Wan...!"
Seruan girang ini mengagetkan Bun Wan yang sedang berjalan dengan kepala tunduk dan hati penuh
kekecewaan. Dia mengangkat mukanya dan kaget melihat bahwa yang memanggilnya dengan suara
merdu dan gembira itu bukan lain adalah Giam Hui Siang, gadis dari Pulau Ching-coa-to itu!
Pertemuan ini sama sekali tidak pernah diduga-duganya. Sekarang dia berada jauh dari Ching-coa-to, di
sebuah hutan di luar kota raja. Baru saja dia mengalami kekecewaan dan penyesalan karena dia kalah
dalam perebutan mahkota kuno.
"Hui Siang! Kau dari mana, bagaimana bisa berada di sini?" tanyanya, tersenyum sambil mengusap rambut
kepala gadis yang telah merangkulnya dengan sikap manja dan penuh cinta kasih itu.
"Kanda Bun Wan, kau benar-benar tidak tahu dicinta orang," Hui Siang berkata manja. "Kenapa kau
tinggalkan aku di Ching-coa-to? Kenapa kau pergi secara diam-diam? Aku kesepian di sana, Ibu belum
pulang dan karena kau bilang ingin pergi ke kota raja, aku lalu menyusulmu. Sungguh kebetulan sekali kita
bisa bertemu di sini, bukankah ini tanda bahwa kita benar-benar berjodoh, kanda Bun Wan?"
Bun Wan menggeleng-gelengkan kepalanya dan menarik napas panjang. "Hui Siang, kau seperti anak
kecil saja. Apakah kau tidak percaya bahwa aku akan datang kembali ke sana menjemputmu?"
Hui Siang merengut dan mukanya yang cantik itu kelihatan susah. "Wan-koko, banyak sudah kudengar
laki-laki yang tidak memegang teguh janjinya dalam hubungan mereka dengan wanita. Hanya bermanis
mulut menjual madu di bibir kalau berhadapan, akan tetapi begitu berpisah lalu bercabang hati dan lupa
akan sumpah dan janji. Banyak sudah contohnya. Ibu sendiri bertahun-tahun menderita karena Ayah. Kata
Ibu, di dunia ini tidak ada lelaki yang boleh dipercaya janjinya terhadap wanita."
"Hui Siang, kau kira aku ini laki-laki macam apa?" Bun Wan berseru keras dan penasaran. "Sungguh pun
hubungan kita ini tadinya kuanggap karena engkau yang membujuk, akan tetapi akhirnya aku insyaf bahwa
aku pun bersalah terlampau menuruti nafsu hati. Aku seorang laki-laki, keturunan tunggal dari Kun-lun-pai,
tidak mungkin aku menyia-nyiakan wanita yang sudah kujatuhi cinta, tidak mungkin aku mengingkari
pertanggungan jawabku. Hui Siang, sudah kukatakan kepadamu bahwa apa pun yang terjadi, kau tetap
akan menjadi isteriku, hanya aku harus menyelesaikan lebih dulu tugasku yang maha penting."
"Kanda Bun Wan, bukan sekali-kali aku tidak percaya kepadamu. Akan tetapi setelah kau meninggalkan
aku, aku kesepian dan amat khawatir. Biarkan aku ikut denganmu, Koko, dan biarlah aku membantu
tugasmu sampai selesai."
dunia-kangouw.blogspot.com
"Tugasku berat, mungkin mempertaruhkan nyawa, Moi-moi," kata Bun Wan halus karena dia terharu pula
menyaksikan besarnya cinta kasih gadis jelita ini.
"Apa lagi kalau harus mempertaruhkan nyawa, tidak boleh aku melepaskan kau, Koko. Biarlah
pertanggungan itu kita pikul berdua, akan lebih ringan."
Bun Wan menggandeng tangan Hui Siang, dituntunnya gadis itu dan diajaknya duduk di tempat teduh, di
bawah pohon yang tinggi dan besar. Mereka duduk bersanding di atas akar pohon itu dan dengan sikap
manja dan mesra Hui Siang tidak pernah melepaskan tangan kekasihnya.
"Hui Siang, lebih baik kau pulang ke Ching-coa-to dan kau tunggulah aku di sana. Hatiku akan lebih
tenteram mengingat bahwa kekasihku menanti di sana, dari pada harus melihat kau terancam bahaya
bersamaku."
"Tidak, aku tidak mau. Biar bahaya atau mati sekali pun asal bersamamu," kata gadis itu dengan nekat.
"Wah, repot kalau kau rewel begini," Bun Wan menggerutu, kemudian berkata lagi sambil memandang
wajah yang cantik itu, "Hui Siang, ketahuilah bahwa tugasku ini bertentangan sama sekali dengan ibumu,
malah mungkin sekali aku akan menjadi lawan ibumu."
Agak terkejut Hui Siang mendengar kata-kata ini. Dia balas memandang, agaknya tidak percaya, akan
tetapi melihat kesungguhan wajah Bun Wan, ia pun berkata dengan nada suara sungguh-sungguh, "Kalau
sampai Ibu memusuhimu, aku akan berada di pihakmu."
Kembali Bun Wan menarik napas panjang, "Kau mana tahu urusannya? Tak ada urusan pribadi yang
membuat ibumu mungkin memusuhiku. Akan tetapi, ini semata-mata urusan tugas. Ketahuilah, Hui Siang,
aku yang kau jadikan pilihan hatimu, aku adalah seorang utusan Raja Muda Yung Lo di utara." Sambil
berkata demikian, pemuda itu dengan penuh selidik menatap wajah kekasihnya.
Sejenak Hui Siang terpukul. Inilah hebat. Kalau begitu, kekasihnya ini merupakan seorang mata-mata
pemberontak! Alangkah beraninya, sudah menggabungkan diri pula dengan Ching-coa-to. Betapa berani,
pandai dan sama sekali tidak disangka-sangka. Akan tetapi ia segera menjawab mesra.
"Kau adalah laki-laki pilihanku, kau suamiku. Andai kata kau ternyata seorang utusan dari neraka sekali
pun, aku akan tetap menyertai dan membantumu. Aku tidak peduli urusan negara."
Bun Wan terharu dan merangkul leher Hui Siang. Hatinya mulai besar dan bangga. Tidak keliru dia
mencintai gadis ini. Kecantikan Hui Siang luar biasa dan jarang bandingannya. Kepandaiannya lumayan
dan ternyata sekarang memiliki kesetiaan pula.
"Hui Siang, aku girang mendengar pernyataanmu ini. Ketahuilah, sejak dahulu aku adalah keturunan
orang-orang pejuang. Kun-lun-pai terkenal sebagai sumber pahlawan-pahlawan pejuang dan dulu banyak
tokoh-tokoh Kun-lun-pai membantu perjuangan mendiang kaisar pendiri Kerajaan Beng. Karena itu, Raja
Muda Yung Lo yang menjadi keturunan kaisar menaruh kepercayaan penuh kepada Kun-lun-pai. Sekarang
sedang terjadi pergolakan sesudah kaisar tua meninggal dunia. Kaisar muda agaknya tidak benar dan Raja
Muda Yung Lo merasa lebih berhak menggantikan kedudukan kaisar dari pada keponakannya, kaisar
muda sekarang ini. Aku sudah dipiiih sebagai orang kepercayaan dan utusan untuk menyelidiki keadaan di
selatan serta mengadakan hubungan dengan paman Tan Hok. Sebetulnya aku harus mendapatkan surat
wasiat yang kabarnya oleh mendiang kaisar diberikan kepada paman Tan Hok yang sudah meninggal pula.
Kuduga surat itu berada di dalam mahkota kuno itu, maka aku ikut pula memperebutkan. Sayang gagal..."
Tiba-tiba pemuda ini berhenti bicara, menarik tangan Hui Siang dan cepat melompat dari tempat yang tadi
diduduki itu sambil mengangkat muka memandang ke atas. Hui Siang juga memandang dan... alangkah
kaget hati mereka melihat seorang laki-laki tua berkulit hitam seluruhnya, duduk di atas cabang pohon itu
dengan kedua kaki tergantung.
Kakek ini sudah tua sekali, wajahnya penuh keriput. Pakaiannya sederhana berwarna kuning sehingga
kehitaman kulitnya semakin nyata. Mukanya yang hitam itu hampir tidak kelihatan di antara daun-daun
pohon, yang tampak jelas hanyalah biji matanya. Kakek tua renta berkulit hitam itu kini terkekeh-kekeh dan
tiba-tiba tubuhnya melayang ke bawah.
dunia-kangouw.blogspot.com
Kagetlah hati Bun Wan dan Hui Siang pada waktu melihat betapa kakek itu jatuh seperti sebatang balok.
Terpelanting dan kaku dengan kepala lebih dahulu! Namun, kekagetan dalam hati mereka berubah kagum
dan terheran-heran ketika kepala itu menyentuh tanah dengan enaknya, sama sekali ttdak bersuara
seakan-akan kepala yang temyata gundul pacul itu terbuat dari pada karet yang lembek dan lunak.
Sejenak kakek itu berjungkir seperti itu, kemudian dia tertawa pula dan tubuhnya tiba-tiba mencelat ke atas
dan kini dia berdiri di atas kedua kakinya. Kiranya dia seorang yang tinggi dan kulitnya memang hitam
semua, memegang sebatang tongkat yang berwarna hitam pula, lucunya, biar pun usianya sudah ada tujuh
puluh tahun, akan tetapi mulutnya masih bergigi penuh, gigi yang putih berkilau di balik kulitnya yang
kehitaman ftu.
"Heh-heh-heh, orang-orang Kun-lun-pai memang semenjak dahulu pemberontak semua! Mendiang Pek
Gan Siansu juga pemberontak, cucu-cucu muridnya sekarang juga kaum pemberontak. Heh-heh-heh!"
Bun Wan cukup maklum bahwa kakek hitam ini adalah seorang yang memiliki kesaktian seorang yang
berilmu tinggi. Akan tetapi mendengar betapa Kun-lun-pai dicela, betapa kakek gurunya dimaki
pemberontak, dia menjadi penasaran dan mendongkol juga. Namun dia mempertahankan kesabarannya
dan dengan hormat dia menjura dan bertanya.
"Locianpwe ini siapa, dan apa dosanya hingga Locianpwe memaki Kun-lun-pai sebagai pemberontak?"
"Heh-heh-heh, bocah berlagak pahlawan, mana kau tahu namaku. Aku orang biasa saja, bukan pahlawan
macam orang-orang Kun-lun-pai, dan aku dipanggil orang Hek Lojin dari Go-bi-san. Heh-heh-heh, kau
penasaran karena kukatakan bahwa Pek Gan Siansu dan semua anak murid Kun-lun adalah pemberontak
hina? Hemmm, bocah berlagak patriot. Setiap orang yang melawan kekuatan pemerintah yang ada dialah
pemberontak! Dahulu melawan kekuasaan Pemerintah Goan (Mongol), kakek-kakekmu adalah
pemberontak. Kau sekarang hendak melawan kekuasaan kaisar yang berkuasa, kau pun pemberontak.
Dan aku adalah orang yang paling benci terhadap pemberontak. Hayo kalian dua orang pemberontak cilik
ini menyerah, menjadi tawananku dan kubawa ke kota raja."
Sekarang Bun Wan marah sekali. Dia memang tidak pernah mendengar nama Hek Lojin, karena memang
tokoh sakti dari Go-bi-san ini jarang muncul di dunia kang-ouw dan sudah mengasingkan diri. Biar pun dia
tahu bahwa yang dia hadapi adalah seorang sakti, mana dia sudi dijadikan tawanan?
Sementara itu, Hui Siang sudah tidak dapat menahan kemarahannya karena kekasihnya dimaki-maki. Ia
seorang gadis yang manja dan selalu mengandalkan kepandaian sendiri. Begitu melihat gelagat tidak baik,
diam-diam ia sudah menyiapkan jarum-jarum beracun, senjata rahasia yang amat dia andalkan karena
mengandung racun ular di Ching-coa-to. Jarum ini amat ganas dan jahat, sedikit saja mengenai kulit lawan
tentu akan mengancam keselamatan nyawanya.
"Kakek hitam sombong, makanlah ini!" bentaknya dan sekali kedua tangannya bergerak, puluhan batang
jarum melesat keluar dari kedua tangannya, menyerang tubuh kakek itu dari kepala sampai kakinya.
"Ihh, ilmu keji!"
Tiba-tiba kakek itu lenyap dari situ, kiranya dia tadi menggunakan tongkat hitamnya untuk menjejak tanah
sehingga tubuhnya melesat ke atas, tangan kirinya menyambar beberapa barang jarum dan dari tengah
udara dia berseru, "Nih, kau makan sendiri jarum-jarum racunmu!"
Bukan main kagetnya hati Hui Siang ketika serangkum hawa yang amat dahsyat datang menyambarnya. Ia
dapat menduga bahwa itulah pukulan jarak jauh yang amat kuat, pula disertai sambitan jarum-jarumnya
sendiri. Ia cepat menjatuhkan diri ke belakang, namun terlambat, masih ada tiga batang jarum dengan
tepat sekali menancap di atas dadanya. Gadis itu menjerit dan roboh, tak berkutik lagi karena seketika ia
menjadi pingsan.
Dapat dibayangkan alangkah terkejut dan gelisahnya hati Bun Wan. Dia mengira bahwa kekasihnya sudah
terpukul tewas, maka sambil mengeluarkan bentakan nyaring, dia pun menerjang kakek itu dengan
pedangnya.
Hek Lojin tertawa bergelak, melayani pedang Bun Wan dengan tongkat hitamnya yang ternyata amat kuat
dan setiap kali bertemu pedang, Bun Wan merasa betapa tangannya tergetar dan sakit-sakit. Akan tetapi
dunia-kangouw.blogspot.com
kemarahannya melihat Hui Siang roboh membuat dia menjadi nekat dan dengan kemarahan meluap-luap
dia memainkan Ilmu Pedang Kun-lun Kiam-sut dan menyerang sepenuh tenaga.
"Bagus! Kun-lun Kiam-sut ternyata masih ampuh. Akan tetapi melawan aku si tua bangka dari Go-bi, tiada
artinya, heh-heh-heh!"
Memang sesungguhnyalah, Bun Wan merasa betapa sinar pedangnya yang dia dorong dengan sepenuh
semangatnya, seakan-akan menghadapi benteng hitam dari tongkat itu, bahkan beberapa kali membalik
dengan keras sehingga pedang itu hampir terlepas dari pegangannya.
Setelah lewat tiga puluh jurus, dia menjadi pening. Benteng hitam itu makin melebar dan makin mendesak
sehingga akhirnya mengurungnya, membuat pandangan matanya gelap dan bayangan kakek itu sendiri
sudah lenyap tertelan gulungan sinar hitam. Akhirnya dia tidak tahu lagi di mana adanya kakek itu dan
tahu-tahu tengkuknya telah kena tampar tangan kiri kakek itu.
Perlahan saja tamparan itu, namun cukup membuat Bun Wan berteriak keras. Tubuhnya lantas terguling,
roboh pingsan di dekat tubuh Hui Siang yang juga belum dapat bergerak sama sekali.
"Heh-heh-heh, segala pemberontak hijau. Biarlah kalian mati di sini, tidak perlu kubawa lagi, membikin
repot saja." Sambil berkata demikian, Hek Lojin menyeret tongkat hitamnya yang panjang, hendak pergi
dari tempat itu.
Akan tetapi tiba-tiba saja terdengar lengking panjang yang memekakkan telinga, dari atas datangnya. Dia
merasa kaget bukan main dan cepat berdongak. Mulutnya yang hitam melongo terbuka, matanya
terbelalak ketika dia melihat seekor burung rajawali emas yang besar sekali menukik ke bawah,
ditungganggi oleh seorang laki-laki muda yang agaknya buta kedua matanya.
"Kim-tiauw-ko, jangan menyerang orang!" Kun Hong, pemuda yang menunggang rajawali emas itu, berseru
ketika mendengar gerakan kim-tiauw, dan dia pun melompat turun ke atas tanah.
Seperti kita ketahui, selama beberapa hari ini Kun Hong berada di dalam hutan bersama-sama kim-tiauw,
menghibur diri dan kadang-kadang dia menunggang punggung burung itu dan menyuruhnya terbang
berputaran di atas hutan.
Pagi hari itu, entah kenapa kim-tiauw menukik ke bawah dan kiranya hendak menyerang orang. Karena itu
cepat dia mencegahnya dan meloncat ke atas tanah karena hidungnya mencium bau daun dan tanah,
tanda bahwa burung itu sudah turun dan mendekati tanah.
Akan tetapi burung rajawali emas itu tetap saja marah-marah. Dia memekik-mekik dan mengeluarkan
suara melengking tinggi, bersiap untuk menyerang Hek Lojin yang sudah hilang kagetnya dan kini kakek
itulah yang berbalik menjadi marah.
Ia adalah seorang yang sakti, biasanya ditakuti orang. Melihat mukanya yang hitam saja, orang-orang
sudah pada takut, apa lagi menyaksikan sepak terjangnya yang sakti. Kini ada seorang bocah buta dan
burung rajawali datang-datang menimbulkan kekagetannya, tentu saja dia marah.
"Burung keparat, kau kira kau ini luar biasa gagahnya maka berani membikin kaget Hek Lojin. Apa kau
sudah bosan hidup? Keparat!"
Rajawali emas adalah seekor burung sakti, burung yang sudah banyak bergaul dengan orang-orang sakti.
Andai kata dia tidak dapat menangkap ucapan kakek itu, setidaknya, dia dapat merasa bahwa kakek itu
marah dan memaki-maki serta menantangnya. Maka dia pun lalu membuka sepasang sayapnya, matanya
memandang berapi-api, siap untuk menerjang. Mulutnya mengeluarkan pekik tantangan mengagetkan Kun
Hong.
"Kim-tiauw-ko, sabarlah. Locianpwe, harap suka mengalah kepada burung sahabat baikku ini..."
"Burung jahat ini harus dibunuh, kalau tidak dia hanya akan mendatangkan kekacauan belaka!"
Hek Lojin yang merasa ditantang oleh burung itu, sudah menggerakkan tongkatnya untuk memukul. Hebat
sekali pukulan ini, mendatangkan angin berdesir. Agaknya dia hendak menewaskan burung itu dengan
dunia-kangouw.blogspot.com
sekali pukul! Rajawali emas itu agaknya tahu pula akan kehebatan pukulan ini, maka dia cepat melejit dan
mengelak.
Kun Hong yang dapat menangkap angin pukulan, dia terkejut bukan main, maklum bahwa kakek yang
berangasan ini memiliki ilmu kepandaian tinggi, bukan lawan burungnya. Tahu pula bahwa kakek itu benarbenar
hendak membinasakan rajawali maka cepat-cepat dia menjura dan berkata,
"Locianpwe, sudahlah. Biarlah aku yang mintakan maaf apa bila burungku bersalah, dan biarlah kami pergi
tidak mengganggumu lagi."
Akan tetapi Hek Lojin sudah semakin panas perutnya. Dia seorang ahli silat kelas tinggi, seorang yang
kesaktiannya telah menggemparkan Go-bi-san, masa sekarang sekali pukul tak dapat mengenai tubuh
burung celaka itu? Apa lagi melihat kini kim-tiauw lincak-lincak (berloncatan) seakan-akan mengejek, hawa
amarah sudah naik ke ubun-ubunnya.
"Burung iblis, mampuslah!"
Sekarang tongkatnya diputar cepat dan sekali terjang dia sudah mengirim belasan jurus. Kagetlah Kun
Hong. Terlebih kaget lagi burung itu sendiri, karena meski pun dia sudah mengibaskan sayap, sudah
mengelak dan menangkis dengan cakarnya, namun tetap saja punggungnya terkena gebukan satu kali,
membuat dia terlempar beberapa meter dan banyak bulunya yang kuning emas rontok.
Akan tetapi dasar burung sakti. Walau pun pukulan itu mendatangkan rasa nyeri, namun tidak melukainya.
Hal ini membuat Hek Lojin kaget dan heran, akan tetapi malah makin marah.
Ketika dia menerjang lagi, ternyata Kun Hong sudah berdiri menghadangnya. Pemuda ini maklum bahwa
burungnya tidak mungkin dapat melawan kakek ini dan kalau dia diamkan saja, berbahayalah bagi kimtiauw.
"Locianpwe, sekali lagi, harap kau suka maafkan kami. Di antara kita tiada permusuhan, maka untuk
apakah urusan kecil ini dibesar-besarkan dan pertempuran yang tidak ada gunanya ini dilanjutkan?"
Melihat sikap pemuda buta ini, Hek Lojin menahan kemarahannya. Dia dapat menduga bahwa kalau
burungnya demikian hebat, pemiliknya tentu bukan orang lemah pula. Hanya saja orang ini masih sangat
muda, apa lagi buta, kepandaian apakah yang dimilikinya?
Maka dia memandang rendah dan berkata, "Kalau kau pemiliknya dan mintakan maaf, aku mau memberi
ampun asal kau bisa menyuruh dia berlutut dan mengangguk tujuh kali di depanku untuk minta ampun."
Kun Hong kaget dan bingung. Dia cukup mengenal watak kim-tiauw. Burung itu angkuh sekali, mana sudi
merendahkan diri dan berlutut minta ampun seperti itu? Tidak mungkin!
"Menyesal sekali, hal itu tidak mungkin dapat kulakukan, Locianpwe, karena burung itu tidak pernah diajar
berlutut, tentu tidak bisa dan tidak mengerti kalau kusuruh berlutut." Dalam hal ini Kun Hong membohong,
karena kalau dia mau, burung itu akan melakukan ini dengan amat mudahnya. Soalnya, burung itu tentu
tidak sudi berlutut di depan orang tua galak ini.
"Hemm, burungnya jahat dan sombong, pemiliknya amat baik," kakek itu menggerutu. "Sudahlah, kalau dia
tidak bisa disuruh berlutut, biar kau yang mewakili juga tidak apa."
Hebat kesombongan kakek ini. Akan tetapi, memang pada dasarnya Kun Hong adalah seorang yang
sangat penyabar dan luas pandangannya. Apa salahnya berlutut di depan seorang kakek yang memiliki
kepandaian tinggi ini, pikirnya.
Kalau dia tidak mau memenuhi permintaan ini tentulah terjadi pertempuran hebat yang sama sekali tidak
ada sebabnya, pertempuran yang tiada gunanya. Maka dia tersenyum dan segera menjatuhkan diri berlutut
sambil mengangguk-anggukkan kepala tujuh kali.
Kakek itu tampak girang sekali dan agaknya hendak menguji kelihaian Kun Hong. Karena itu dia segera
mengangkat sebelah kakinya dan dilayangkan ke atas kepala Kun Hong. Penghinaan yang hebat!
dunia-kangouw.blogspot.com
Kun Hong menggigit bibirnya karena biar pun matanya buta, tentu saja telinganya dapat menangkap
gerakan ini dan kalau dia mau, sekali menggerakkan tangan tentu dia mampu merobohkan kakek sombong
itu ketika si kakek melakukan gerakan yang menghina dan juga berbahaya bagi diri kakek itu sendiri. Dia
pura-pura tidak tahu dan kakek itu tertawa bergelak-gelak sambil menyeret tongkatnya, pergi dari situ.
Masih terdengar suaranya dari jauh terkekeh-kekeh sambil berkata, "Ajaib sekali, burung yang demikian
kuatnya memiliki majikan begitu lemah, heh-heh-heh!"
Sesudah suara kakek itu tidak terdengar lagi, Kun Hong baru bangkit sambil menggerutu, "Berbahaya
sekali..." Dia maksudkan berbahaya kalau dia tidak mampu mempertahankan kesabarannya tadi, tentu
akan terjadi pertempuran hebat karena dia pun dapat menduga bahwa ilmu kepandaian kakek itu memang
amat tinggi.
"Kim-tiauw-ko, kenapa kau mencari gara-gara?" Dia menegur burung itu.
Burung rajawali meloncat mendekatinya, menyambar ujung lengan bajunya dan dengan suara menggerang
panjang burung itu menariknya dari situ. Kun Hong amat heran dan mengikuti. Burung itu berhenti dan
menarik dia supaya berjongkok.
Dengan hati mengandung penuh pertanyaan Kun Hong berjongkok, tangannya meraba dan... jari-jari
tangannya menyentuh tubuh seorang laki-laki yang pingsan dan menderita luka dalam yang hebat.
Tangannya meraba lagi ke kiri dan... sekali ini menyentuh tubuh seorang wanita.
Dia berseru kaget karena wanita ini malah lebih hebat lagi keadaannya. Tubuhnya panas membara seperti
terbakar, napasnya sesak, tanda bahwa ia menderita luka yang hampir mencabut nyawanya.
"Celaka... ahhh, kim-tiauw-ko, kiranya aku benar-benar buta!" Dia menyumpahi diri sendiri karena sekarang
mengertilah dia bahwa burung itu tadi menyerang seorang kakek yang baru saja merobohkan dua orang
muda secara ganas dan keji!
Cepat dia memeriksa laki-laki itu. Segera dia tahu bahwa laki-laki itu menderita pukulan dengan tenaga
lweekang yang sangat hebat pada punggungnya. Dia cepat mengurut dan menotok beberapa jalan darah.
Hatinya menjadi lega sesudah dia mendapat kenyataan bahwa orang ini tidak berbahaya lagi sekarang
keadaannya.
Dia cepat mengalihkan perhatian pada wanita itu. Hatinya berdebar karena sungkan dan ragu ketika jarijari
tangannya meraba tubuh seorang wanita yang masih muda. Apa lagi setelah dia melakukan
pemeriksaan teliti, dia mendapat kenyataan bahwa wanita ini telah terkena senjata rahasia yang sangat
halus di dadanya dan berada dalam keadaan yang membahayakan keselamatan nyawanya. Dia bingung
dan ragu.
"Apa boleh buat, demi menolong nyawanya." Akhirnya dia menggerutu seorang diri.
Cepat dia menurunkan buntalannya dan digeledahnya saku-saku bajunya, kemudian dia mengeluarkan
sebatang jarum perak. Tanpa ragu-ragu lagi karena maklum bahwa kalau terlambat akan berbahaya bagi
wanita ini, dia segera merobek baju wanita itu di bagian dadanya. Rabaan jari-jari tangannya menyatakan
bahwa kulit dada itu telah ditembusi tiga batang jarum kecil yang rupanya mengandung bisa yang
mendatangkan hawa panas.
"Hemmm, agaknya racun ular," Kun Hong bergumam sendiri setelah dia memencet luka itu, mengeluarkan
sedikit darah dan diciumnya darah di jarinya.
Cepat dia mengerahkan kepandaiannya, menusuki beberapa jalan darah dengan jarum peraknya untuk
mencegah racun itu menjalar. Dari detak jantung dia mendapat kenyataan yang menimbulkan harapan
bahwa racun itu belum menjalar sampai ke dalam jantung. Pada tusukan terakhir di dekat leher, tubuh
wanita itu bergerak dan terdengar ia mengeluh perlahan sekali, akan tetapi disusul suaranya penuh
kekagetan.
"Aduhhhh... tua bangka keparat... ehh... heeeee, siapa kau, lepaskan aku...!"
Berdebar jantung Kun Hong karena telinganya serasa mengenal suara ini, akan tetapi dia lupa lagi siapa
dan di mana.
dunia-kangouw.blogspot.com
“Tenanglah, Nona, aku berusaha mengobatimu," katanya dengan suara dingin dan halus.
"Kau...? Ahh, kau... Kwa Kun Hong Pendekar buta..."
Kini teringatlah Kun Hong. Kiranya nona ini adalah Giam Hui Siang, ‘siocia’ yang amat galak dari Chingcoa-
to. Kalau begitu, apakah lelaki yang pingsan ini pemuda Kun-lun-pai, Bun Wan itu? Ah, apa bedanya?
Hal itu tak penting baginya, yang penting hanya bahwa dia harus mengobati dua orang yang terancam
bahaya maut ini, siapa pun juga mereka.
"Harap kau diam dan jangan bergerak, Nona. Dadamu telah terkena senjata rahasia yang mengandung
racun ular, biar kukeluarkan tiga batang jarum ini."
Hui Siang mengeluh, akan tetapi ia benar-benar tidak bergerak sekarang. Dua tangannya ia pergunakan
untuk menutupi mukanya karena biar pun ia tahu bahwa Kun Hong adalah seorang buta dan tidak dapat
melihatnya, akan tetapi sebagai seorang gadis tentu saja ia menjadi jengah dan malu sekali karena
bajunya terobek seperti itu dan Kun Hong sedang meraba-raba kulit tubuh bagian dada!
Karena maklum bahwa dia berlomba dengan waktu untuk menolong gadis ini, Kun Hong cepat-cepat
mengerahkan tenaga lweekang-nya, menggunakan hawa sinkang disalurkan ke telapak tangan, kemudian
telapak tangannya dia tempelkan ke atas luka-luka di dada itu dengan tenaga ‘menyedot’. Dia menekan
perasaan hatinya untuk melupakan perasaan tangannya yang meraba bagian tubuh yang dirahasiakan itu,
membekukan perasaan ini dengan keyakinan bahwa dia tidak memiliki kehendak lain kecuali sebagai ahli
obat yang hendak menolong nyawa seseorang.
Usahanya berhasil baik. Tiga batang jarum yang telah menancap sampai tidak kelihatan lagi di dalam dada
itu, kini tersembul dan dapatlah Kun Hong menjepit serta mencabuti keluar ketiganya. Akan tetapi tidak ada
darah mengucur keluar.
Kagetlah Kun Hong. Hal ini hanya menjadi bukti bahwa racun itu telah bekerja, darah telah membeku dan
tidak dapat keluar karena tertutup oleh gumpalan darah matang yang kotor oleh racun. Kalau saja dia bisa
mendapatkan beberapa macam daun obat yang memiliki sifat menghisap, nona ini akan cepat tertolong.
Akan tetapi dia tidak mempunyai daun itu dan untuk mencarinya, tidaklah mudah, apa lagi dia seorang
buta.
"Nona, kau maafkanlah aku, tidak ada jalan lain mengeluarkan racun dari dalam luka di dadamu kecuali
dihisap dengan mulut. Kau diam sajalah, tidak lama tentu sembuh."
Terpaksa sekali, tanpa mempedulikan apa-apa lagi karena khawatir kalau-kalau racun itu akan semakin
meresap ke dalam, Kun Hong menundukkan mukanya, dan menggunakan mulutnya menyedot luka-luka di
dada itu sambil mengerahkan tenaga sinkang.
Andai kata seorang biasa yang melakukan hal ini, kiranya akan makan waktu lama sekali. Akan tetapi Kun
Hong bukanlah orang biasa, tenaga sinkang-nya hebat sekali sehingga sekali sedot saja dia sudah
menghisap bersih racun pada satu luka. Setelah meludahkan darah mati yang dihisapnya, darah segar
sudah mulai keluar dari luka kecil pertama itu. Kun Hong lalu menyedot luka ke dua, kemudian ke tiga.
Dapat dibayangkan betapa jengah dan malunya Hui Siang. Tentu saja ia bisa mengenal kehebatan jarumjarumnya
sendiri dan andai kata ia membekal obat penawarnya, tentu ia tak sudi diobati secara demikian
oleh Kun Hong. Akan tetapi apa daya, ia lupa membawa obat bekalnya, dan ia pun tahu bahwa jalan satusatunya
untuk menolongnya memang seperti yang dilakukan Kun Hong itulah.
Teringat ia akan keadaan cici angkatnya dahulu ketika diobati oleh Kun Kong dan hatinya tertusuk.
Mulailah timbul penyesalannya akan sikap-sikapnya dahulu terhadap Hui Kauw dan Kun Hong. Pendekar
Buta ini ternyata benar-benar seorang manusia yang berbudi luhur, yang mengobati siapa saja tanpa
pamrih sesuatu. Buktinya, sebelum ia sadar, tentu si buta ini tidak mengenalnya siapa.
Betapa pun juga, merasa betapa muka dan mulut orang buta itu menempel di dadanya, Hui Siang tak
dapat menahan rasa malunya. Dia menutupi muka dengan kedua tangan, mukanya yang tadinya pucat
sekarang menjadi merah seperti udang rebus.
dunia-kangouw.blogspot.com
Ketika Kun Hong sedang menghisap luka ke tiga atau yang terakhir, dan tubuhnya sedang berlutut itu, tibatiba
terdengar bentakan keras dan...
“Desss…!”
Sebuah tendangan kilat yang sangat kuat membuat tubuh Kun Hong terlempar beberapa meter jauhnya
kemudian jatuh terguling-guling. Baiknya Kun Hong keburu mengerahkan lweekang-nya sehingga dia tidak
terluka, hanya terlempar dan bergulingan saja.
Tadi dia hanya mendengar bentakan itu, akan tetapi karena seluruh perhatian sedang ditujukan kepada
pengobatan, sedang sinkang-nya pun sedang disalurkan kepada mulut yang menyedot, dia tidak sempat
membela diri.
Ketika dia cepat melompat bangun, Kun Hong mendengar suara Bun Wan yang penuh kemarahan. "Kwa
Kun Hong jahanam besar! Dulu kau telah menghancurkan hubunganku dengan perbuatanmu yang tidak
tahu malu terhadap Cui Bi, kini kembali kau melakukan penghinaan terhadap diri Hui Siang! Kun Hong kau
benar-benar seorang berhati binatang, sampai matamu menjadi buta masih saja kau merupakan manusia
iblis. Kali ini aku tidak akan suka menerima penghinaan begitu saja. Keparat!"
"Wan-koko... jangan menuduh yang bukan-bukan...!" Suara Hui Siang sangat lemah dan tercampur isak.
Nona ini sudah dapat bangun dan tadi saking kagetnya dia tidak mampu bicara, hanya cepat-cepat
menutup bajunya yang robek. Dadanya masih terasa nyeri, akan tetapi tidak sesak lagi dan kekuatannya
sudah pulih. Dengan mata terbelalak dia melihat betapa Kun Hong terguling-guling dan begitu mendengar
suara Bun Wan, barulah dia sadar kembali bahwa kekasihnya itu telah salah duga.
Akan tetapi Bun Wan tidak mendengar ucapan Hui Siang ini karena pada saat itu dia sedang marah bukan
main. Siapa orangnya yang tidak akan marah kalau begitu dia sadar dari pingsannya melihat apa yang
dilakukan Kun Hong terhadap kekasihnya tadi? Dengan amarah meluap-luap dia sudah melompati Kun
Hong dan mengirim serangan mati-matian, tidak mempedulikan punggungnya yang masih terasa ngilu dan
nyeri.
Mendadak terdengar suara lengking tinggi dan rajawali emas sudah menerjang Bun Wan, menggantikan
Kun Hong yang masih berdiri termangu-mangu. Burung itu marah sekali.
Biar pun hanya seekor binatang, dia tadi mengerti bahwa sahabatnya sedang mengobati atau menolong
dua orang yang menjadi korban keganasan Hek Lojin, akan tetapi kenapa yang ditolong oleh sahabatnya
itu kini berbalik menyerang Kun Hong? Maka marahlah dia dan serta merta gerakan Bun Wan tadi segera
dia sambut dengan kepakan sayap dan cengkeraman kukunya yang runcing.
Bun Wan kaget sekali, namun dia tidak kehilangan akal. Melihat bahwa gerakan burung ini mengandung
kekuataan luar biasa besarnya, dia segera menjejak tanah dan tubuhnya melayang ke belakang, terluput
dari pada serbuan burung itu. Rajawali emas memekik lagi dan menerjang maju, lebih hebat dari pada tadi.
"Kim-tiauw-ko, jangan...!" Kun Hong berseru dan cepat tubuhnya mencelat ke arah burung rajawali.
Burung itu meragu ketika mendengar teriakan Kun Hong, menunda serbuannya dan di lain saat lehernya
telah dirangkul oleh Kun Hong.
"Jangan serang dia...," kata pula Kun Hong, suaranya sedih.
"Kun Hong, kau manusia tidak tahu malu!" kembali Bun Wan memaki dengan dada turun naik saking
marahnya. "Apakah kau tak bisa mendapatkan lain wanita kecuali calon-calon isteriku? Apakah karena
matamu menjadi buta maka tidak ada wanita sudi kepadamu? Kami sedang pingsan, namun engkau
hendak menggunakan kesempatan ini berlaku hina kepada Hui Siang. Benar-benar iblis berujud manusia,
jahanam! Kalau memang laki-laki, hayo kita mengadu nyawa, seorang di antara kita harus menggeletak
mampus di sini!"
Kun Hong hanya tersenyum sedih dan menundukkan mukanya. Sementara itu wajah Hui Siang menjadi
pucat sekali ketika mendengar ucapan kekasihnya ini. Cepat ia memegang lengan Bun Wan dan
diguncang-guncangkan seperti seorang membangunkan seseorang dari pada mimpi buruk.
dunia-kangouw.blogspot.com
"Wan-koko, diamlah...! Sudah, diamlah jangan bicara dulu...!" Setelah Bun Wan selesai memaki-maki Kun
Hong, baru dia berkata, "Wan-koko, kau salah duga... ahh, bagaimana kau bisa menjatuhkan tuduhan
sekeji itu kepadanya? Wan-koko, kau lihat ini..."
Ia membuka bajunya yang robek itu sehingga tampaklah luka bekas jarum-jarum itu pada kulit dadanya
yang putih halus. "Aku tadi terluka oleh tiga batang jarumku sendiri, aku pingsan dan pasti aku tidak akan
dapat berkumpul lagi dalam keadaan hidup denganmu kalau tidak ada dia yang menolongku. Dia tidak
berlaku kurang ajar, Koko... ahh, jangan salah duga... dia tadi berbuat begitu untuk menghisap keluar
darah yang sudah terkena racun. Tanpa usahanya itu, darah beracun akan menjalar terus dan merusak
jantungku. Wan-koko... kau sadarlah..."
Bun Wan merasa seakan-akan mendengar halilintar menyambar di hari terang. Ketika dia mendengar ini,
matanya berkedip-kedip dan mulutnya melongo sambil menatap Kun Hong yang membelai-belai leher kimtiauw.
Dia tadi merasa kepalanya nanar dan pening. Kini dia menggoyang-goyangkan kepalanya untuk mengusir
rasa pusing itu. Kemudian dia merangkul leher Hui Siang dan mendekap kepala gadis itu pada dadanya,
matanya dimeramkan dan ketika dibuka kembali tampak dua butir air mata menitik turun.
"Kun Hong..." suaranya serak, hampir tidak terdengar, "...Kun Hong... biar pun aku melek ternyata aku lebih
buta dari padamu. Maafkan aku, Kun Hong..."
Kun Hong tersenyum, bukan senyum sedih lagi, dia gembira dan juga terharu. Sekaligus dia melupakan
sikap Bun Wan yang menyakitkan hati tadi. Untuk melenyapkan suasana tidak enak, serta merta dia
bertanya,
"Bun Wan, siapakah kakek keji yang merobohkan kalian tadi?"
Bun Wan masih dalam keadaan terpukul dan terharu, maka suaranya masih menggetar ketika dia
menjawab, "...aku... aku tidak kenal, dia mengaku bernama Hek Lojin."
Diam-diam Kun Hong terkejut. Pernah dia mendengar ceritera Hui Kauw bahwa The Sun pemuda cerdik
dan sakti itu adalah murid Hek Lojin. Hemm, pantas begitu lihai, kiranya guru The Sun, pikirnya.
"Kenapa dia menyerang kalian dan merobohkan secara keji?"
Orang yang merasa sudah melakukan sesuatu yang salah, dan merasa amat menyesal akan
kesalahannya yang membuat dia nampak tidak baik itu, tentu akan selalu berusaha mengemukakan alasan
segi baiknya untuk menutupi kesalahannya tadi, atau setidaknya mengurangi kesan-kesan buruk akibat
kesalahannya. Apa lagi kalau orang itu memang memiliki watak yang angkuh.
Demikian pula dengan Bun Wan. Ia adalah seorang pemuda keturunan ketua Kun-lun-pai, selamanya
menjunjung tinggi kegagahan, merasa bahwa dia sebagai keturunan pendekar dan patriot, maka kesalahan
tadi amat memalukan dan membuatnya menyesal. Sekarang mendengar pertanyaan Kun Hong, terbukalah
kesempatan untuk menonjolkan diri, untuk menonjolkan segi-segi baik dari dirinya.
"Karena... agaknya dia berpihak kepada kaisar kemudian membenciku sebab mendengar bahwa aku
adalah utusan raja muda di utara. Dia menghina Kun-lun-pai, memaki-maki mendiang kakek guru dan para
tokoh Kun-lun yang dikatakannya para pemberontak. Aku marahi, tetapi dia lihai... bukan lawan aku dan
Hui Siang."
Berubah wajah Kun Hong mendengar ucapan ini, hatinya berdebar keras dan dia menjadi sangat terharu.
Alangkah jauh menyeleweng pikirannya terhadap Bun Wan selama ini. Kiranya pemuda ini adalah seorang
pejuang pula, malah seorang yang amat penting, yaitu utusan Raja Muda Yung Lo! Bahkan inilah orangnya
yang dimaksudkan untuk menerima surat rahasia itu.
Dalam sekelebatan saja otaknya mengingat-ingat dan bekerja. Ahh, tidak aneh, semenjak dulu memang
orang-orang Kun-lun-pai selalu membantu perjuangan dan sudah terkenal kecerdikan mereka melakukan
pekerjaan penyelidikan atau mata-mata. Masih teringat dia akan ceritera ayahnya mengenai diri Pek-lek-jiu
Kwee Sin, bekas tunangan ibunya, tokoh Kun-lun-pai yang juga menjadi seorang tokoh mata-mata amat
lihai dan cerdik (baca Raja Pedang).
dunia-kangouw.blogspot.com
Kiranya pemuda ini menyelundup ke Ching-coa-to hanya untuk mempelajari keadaan dan menyelidiki
keadaan para tokoh kang-ouw sampai kepada tokoh-tokoh jahatnya! Agaknya dalam menjalankan
tugasnya ini, pemuda gagah itu tersandung batu asmara dan terlibat tali-talinya yang ruwet dengan Hui
Siang! Dia menjadi terharu sekali, lalu cepat-cepat dia mengulurkan tangan memegang tangan Bun Wan.
"Wah, aku sampai lupa. Saudara Bun Wan, kau duduklah bersila. Kau harus mendapat pengobatan cepatcepat
karena lukamu di dalam akibat pukulan pada punggungmu cukup parah." Ucapannya kini terdengar
halus dan penuh sayang.
Bun Wan merasa akan hal ini, akan tetapi dia tidak membantah karena dia pun maklum akan bahayanya
luka oleh tamparan tangan kakek sakti tadi. Cepat dia duduk bersila dan membiarkan Kun Hong
mengobatinya.
Pendekar Buta itu bersila pula di belakangnya, menempelkan kedua telapak tangan pada punggung dan
leher Bun Wan sambil mengerahkan sinkang-nya. Bun Wan dapat merasa betapa dari kedua telapak
tangan itu menjalar hawa yang panas dan dingin, hawa panas dari telapak tangan kanan dan hawa dingin
dari yang kiri.
Diam-diam dia kagum bukan main dan menjadi terharu. Alangkah hebat dan baiknya hati Pendekar Buta ini
dan alangkah buruk nasibnya. Diam-diam dia melamun. Urusan dahulu dengan Cui Bi terbayang dalam
benaknya. Dan teringatlah dia akan urusannya sendiri dengan Hui Siang.
Seperti juga dia dan Hui Siang, Pendekar Buta ini dahulu terlibat oleh tali asmara dengan Cui Bi, tanpa dia
ketahui bahwa Cui Bi telah ditunangkan dengannya sehingga percintaan itu berakhir secara amat
menyedihkan. Sekarang, kembali dia tadi sudah mendatangkan penghinaan, menuduhnya yang bukanbukan.
Padahal Kun Hong hanya menolong Hui Siang, mungkin merenggut nyawa kekasihnya itu dari pada
tangan maut. Dan dia sudah menghinanya, menuduh yang bukan-bukan seperti yang pernah dia lakukan
beberapa tahun yang lalu di puncak Thai-san, seperti yang dia lakukan pula belum lama ini di Ching-coa-to,
menuduh Kun Hong mempermainkan Hui Kauw. Ternyata yang mendatangkan pikiran yang bukan-bukan
terhadap diri Pendekar Buta ini hanyalah akibat sakit hati karena urusan Cui Bi saja, membuat Pendekar
Buta ini selalu salah dalam pikirannya.
Ternyata semua itu tidak benar. Kun Hong benar-benar seorang pendekar yang bersih dan sekarang
ditambah lagi dengan bukti bahwa betapa pun sudah berkali-kali dihina olehnya kini Pendekar Buta itu
duduk bersila di belakangnya mengerahkan tenaga dalam untuk menyembuhkannya! Tidak terasa lagi
bebetapa butir air mata mengalir turun dari pelupuk mata Bun Wan.
Apa bila dia ingat sekarang, dengan pikiran baru karena kesadarannya, dialah orangnya yang tanpa
disengaja telah menggagalkan hubungan antara Kun Hong dan Cui Bi, dialah orangnya yang tanpa
disengaja telah menghancurkan kebahagiaan Kun Hong. Semua itu masih dia tambah dengan sengaja
untuk menghinanya, mendakwanya yang bukan-bukan, menanam bibit kebencian di dalam hatinya sendiri.
Dan kini Kun Hong membalasnya dengan kebaikan, dengan pertolongan besar, mungkin dengan
penyelamatan nyawa dia dan Hui Siang karena siapa tahu kalau-kalau dia dan kekasihnya tidak dibunuh
kakek sakti itu karena kedatangan Kun Hong! Dia akan segera bertanya tentang ini setelah selesai
pengobatan itu. Sekarang tidak mungkin Pendekar Buta itu diajaknya bicara karena dia tahu bahwa Kun
Hong tengah mengerahkan tenaga sinkang untuk menyembuhkannya.
Semakin lama hawa panas itu semakin membakar di samping hawa dingin yang terasa menusuk-nusuk.
Kedua hawa itu berputaran di sekitar punggungnya dan mendatangkan rasa nikmat luar biasa, mengusir
rasa pegal dan sesak di dadanya.
"Untung lweekang-mu sudah kuat sekali," akhirnya Kun Hong berkata sambil melepaskan kedua
tangannya, "sehingga pukulan itu dapat tertahan olehmu."
Kun Hong bangkit berdiri dan menarik napas panjang. Bun Wan juga berdiri dan selagi ia hendak
menghaturkan terima kasihnya sambil bertanya mengenai munculnya Kun Hong, Pendekar Buta itu sudah
mendahului berkata,
dunia-kangouw.blogspot.com
"Bun Wan, kaukah orang yang diutus Raja Muda Yung Lo untuk menerima surat rahasia peninggalan
mendiang kaisar tua?"
Bun Wan kaget. Sebelum pertemuannya dengan Kun Hong sekarang ini, kalau dia ditanya demikian,
sudah tentu dia akan menyangkal keras. Akan tetapi tadi dia sudah mengaku, maka dia menjawab tanpa
ragu lagi, "Betul!"
Kun Hong tersenyum.
"Lama sekali aku mencari-cari orangnya, mengharapkan kedatangannya, kiranya engkau malah orang itu.
Jangan kau khawatir, Bun Wan. Surat itu selama ini berada di tanganku dan sekarang sudah diantarkan
kepada Raja Muda Yung Lo."
Kaget dan herannya Bun Wan tidak kepalang besarnya sampai dia melongo.
"Apa kau bilang? Kau tahu surat wasiat itu?"
"Tentu saja aku tahu. Paman Tan Hok sendiri yang berkata kepadaku sebelum beliau meninggal. Surat itu
disimpan secara rahasia di dalam mahkota kuno dan..."
"Tetapi mahkota itu terampas oleh nona Loan Ki..."
"Heee? Kau bilang Loan Ki?" Kini Kun Hong yang terheran-heran.
Bun Wan lalu menceriterakan perebutan mahkota itu antara dia dan Loan Ki yang dibantu oleh seorang
pemuda aneh dan kemudian dibantu pula oleh Hui Kauw sehingga terpaksa dia meninggalkan mahkota itu
kepada mereka.
Kun Hong tersenyum girang, mengangguk-angguk. "Bagus, Loan Ki tidak seperti ayahnya, ada juga jiwa
pahlawan di dalam dadanya, ha-ha-ha! Lucunya, kau dan mereka itu telah memperebutkan mahkota
dengan tujuan yang sama, karena mereka pun tidak rela kalau surat itu terjatuh ke tangan kaisar yang
sekarang. Dan yang lebih lucu lagi, kalian semua memperebutkan mahkota yang kosong karena surat itu
sudah berada padaku. Sekarang telah dibawa oleh Sin Lee dan isterinya ke utara."
Bukan main girangnya hati Bun Wan dan di samping kegirangan yang luar biasa karena surat rahasia
penting itu sudah diselamatkan dan berhasil dikirimkan ke utara, juga dia menjadi kagum dan terharu
terhadap Kun Hong. Siapa kira, Kun Hong yang buta dan yang dahulu dia pandang rendah ini tidak saja
menjadi penolongnya, malah telah berjasa menyelamatkan surat wasiat itu!
Kekagumannya yang memuncak membuat dia lalu merasa betapa jahat dan rendahnya sikapnya kepada
Kun Hong, betapa besar dosanya terhadap orang buta itu. Penyesalan yang luar biasa menyelubungi hati
Bun Wan.
Dia berdiri tegak, tetesan air mata masih membasahi pipinya. Dengan perasaan menyesal dia memandang
Kun Hong yang masih saja tersenyum-senyum di depannya itu. Dalam pandangannya, senyum di wajah
yang tidak berbiji mata itu mendatangkan perasaan yang menusuk-nusuk jantungnya, menimbulkan iba
yang menjadi-jadi.
Dia teringat akan Kun Hong sebelum buta, seorang pemuda tampan dan halus, seorang pemuda yang
dengan gagah berani menghadapi lawan-lawan berat di puncak Thai-san. Dan karena dia tidak mau
mengalah, karena dia membeberkan rahasia di depan orang banyak, Kun Hong yang tampan dan bermata
tajam seperti mata burung rajawali emas itu kini menjadi buta! Bun Wan merasa betapa dadanya perih
laksana ditusuk pisau. (baca Rajawali Emas)
"Saudara Kun Hong, kiranya kau adalah seorang pendekar besar yang patut kusembah dan kujunjung
tinggi. Ah, selama ini aku benar-benar telah buta. Kedua mataku tidak ada gunanya sama sekali, tidak
dapat melihat siapa adanya engkau ini. Apa lagi kalau aku ingat bahwa kebutaan kedua matamu adalah
karena aku... ah, dan kau sudah menolong keselamatan nyawaku dan nyawa Hui Siang... dan kau pun
sudah menyelamatkan surat wasiat... benar-benar aku menyesal. Tidak patut aku menjadi keturunan Kunlun-
pai!"
Suara terakhir ini mengandung isak tertahan.
dunia-kangouw.blogspot.com
"Hushhh, kau jangan bicara seperti itu, Saudara Bun Wan. Tidak perlu kau membongkar-bongkar peristiwa
lama. Kebutaanku adalah sudah dikehendaki Thian Yang Maha Kuasa, tidak perlu siapa pun menyesalkan.
Kau seorang pendekar, seorang keturunan pahlawan, kau patut menjadi tokoh Kun-lun-pai."
"Ah, ucapanmu ini menunjukkan kebersihan hatimu, bahwa kau tidak pernah mendendam, dan aku selama
ini... ah, Saudara Kun Hong, selama hidupku aku akan terus menyesal dan penyesalanku tidak akan
pernah berakhir tanpa pengorbanan!"
"Saudara Bun Wan, jangan...!"
Kun Hong hanya dapat menduga dengan perasaannya yang halus saja bahwa pemuda Kun-lun yang
berhati keras itu akan melakukan sesuatu yang ‘gila’. Akan tetapi karena matanya buta, tidaklah dapat dia
melihat apa yang akan dilakukannya itu, maka dia hanya dapat mencegah dengan mulut.
Terdengar gerakan cepat disusul pekik Hui Siang, "Wan-koko...! Ah, Wan-koko... kenapa kau lakukan
ini...?" Gadis itu menangis.
Kun Hong hanya berdiri pucat, tidak tahu bahwa untuk menyatakan penyesalan hatinya, dengan nekat Bun
Wan sudah menggunakan jari tangannya mencokel keluar sebuah biji matanya sebelah kanan! Darah
keluar dari lubang mata kanannya itu, akan tetapi pemuda itu dengan tegak masih berdiri, ditangisi oleh Hui
Siang yang menjadi kebingungan tidak karuan.
"Ha-ha-ha-ha, Saudara Kun Hong. Puaslah hatiku kini. Untuk membutakan kedua mataku seperti yang
telah kau lakukan, aku tak sanggup karena ilmu kepandaianku tidak mungkin setinggi tingkatmu. Aku
masih membutuhkan mataku yang sebelah lagi demi... demi... Hui Siang..."
"Ahhh...!"
Pucat wajah Kun Hong dan sekali berkelebat dia sudah berada di hadapan Bun Wan. Tangannya meraba
muka pemuda Kun-lun-pai itu dan tahulah dia kini bahwa pemuda itu benar-benar telah melakukan
perbuatan gila, telah membutakan mata kanannya sendiri!
"Kau gila...! Bun Wan, mengapa kau lakukan ini?"
Dengan suara gemetar Bun Wan berkata, "Kau pun telah membutakan kedua matamu, karena aku! Dan
kau berani membutakan mata biar pun kau seorang yang tidak bersalah dan kau masih mampu menjalani
hidup ini dengan gagah perkasa, bahkan masih dapat menolong kami yang bermata! Kalau kau berani
sehebat itu, apa artinya aku yang hanya berani membutakan sebelah mata karena penyesalanku dan
karena dosa-dosaku...?"
"Gila...! Bocah gila...!"
Kun Hong cepat menotok jalan darah di tengkuk Bun Wan, kemudian dia menggunakan tongkatnya untuk
mencoret beberapa huruf di dekat kakinya sambil menahan keharuan hatinya. Dengan suara serak dia pun
berkata, "Kau carilah obat yang kutulis ini, kau pakai mengobati matamu... ahhh, tidak kusangka akan
begini... Bun Wan, Hui Siang, selamat tinggal..."
Cepat-cepat Kun Hong membalikkan tubuh dan pergi dari situ agar tak tampak oleh dua orang itu betapa
ada dua titik air mata menetes turun dari pelupuk matanya yang sudah kosong. Burung rajawali emas
mengeluarkan suara merintih panjang, terbang di atasnya dan mengikutinya pergi dari situ, dipandang oleh
Bun Wan yang masih berdiri tegak dan yang ditangisi Hui Siang yang memeluknya.
Di bawah, di depan kaki pemuda Kun-lun-pai itu, di atas batu yang sangat keras, terdapat huruf-huruf
coretan dalam, tadi dibuat oleh tongkat Kun Hong, menggores dalam seperti dipahat saja…..
********************
Sudah sebulan lebih Kong Bu beserta isterinya, Li Eng, meninggalkan puncak Min-san. Sebulan yang lalu,
secara tiba-tiba seperti juga pada saat perginya, kakek Song-bun-kwi muncul di Min-san.
dunia-kangouw.blogspot.com
Tadinya Kong Bu dan Li Eng menyambut kedatangannya dengan gembira sekali. Akan tetapi alangkah
kaget dan kecewa hati mereka ketika dengan muka cemberut kakek itu berkata pendek,
"Kalian dengar baik-baik. Thai-san-pai telah diserbu orang, dirusak binasakan, dan banyak muridnya yang
tewas. Adikmu Cui Sian diculik orang, sekarang ayahmu Tan Beng San dan isterinya meninggalkan Thaisan
untuk mencari jejak musuh dan Cui Sian. Kau, Kong Bu, sebagai putera ketua Thai-san-pai, apa bila
tidak cepat turun gunung membalas sakit hati ayahmu ini, kau akan menjadi dua kali puthauw (durhaka),
selain goblok tidak bisa mempunyai keturunan juga durhaka karena tidak tahu budi orang tua." Hanya
demikian saja kakek itu bicara, lalu membalikkan tubuh lari pula turun gunung.
Kong Bu dan isterinya saling pandang dengan muka pucat. Mereka tahu bahwa kakek itu masih saja
penasaran dan marah karena mereka tidak mempunyai keturunan. Sakit hati mereka dikata-katai seperti itu
oleh kakek mereka dan Li Eng yang biasanya tabah dan keras hati itu sudah menangis.
"Eng-moi," Kong Bu menghibur sambil memeluk isterinya, "sabarlah, sudah tidak aneh lagi kalau kakek
bersikap seperti itu. Memang beliau seorang yang berwatak keras dan aneh."
Li Eng menggelengkan kepala. "Bukan itu... bukan itu..." kata Li Eng menahan isak. "Aku bersumpah,
sebelum aku dapat melihat adik Cui Sian kembali kepada orang tuanya dan sebelum mampu membalas
musuh-musuh Thai-san-pai, aku tidak akan mau pulang ke Min-san."
Kong Bu mengangguk. "Baiklah, mari kita turun gunung dan membantu ayah mencari adik Cui Sian
sekalian membalas musuh-musuh itu."
Demikianlah, sepasang suami isteri ini lalu turun gunung, meninggalkan puncak Min-san dan mulai
melakukan penyelidikan di dunia kang-ouw. Semenjak mereka menikah empat tahun yang lalu, baru kali ini
mereka melakukan perjalanan berdua, turun gunung. Dengan heran mereka mendapatkan kenyataan
alangkah menyenangkan perjalanan ini, alangkah menggembirakan!
Perjalanan ini mengingatkan mereka akan pertemuan pertama mereka dahulu, pertemuan yang aneh, lucu
dan mesra. Pada pertemuan pertama itu keduanya juga masing-masing sedang merantau seperti sekarang
ini, begitu bertemu saling bermusuhan mengadu ilmu kepandaian sampai berjam-jam lamanya karena ilmu
silat mereka memang setingkat.
Akhirnya Li Eng dapat dikalahkan dan dijadikan tawanan oleh Kong Bu, ke mana-mana dipondong di luar
kemauan Li Eng. Kemudian, dengan menggunakan akal, Li Eng dapat merobohkan Kong Bu dan bertukar
peranan. Li Eng yang sekarang menawan Kong Bu dan karena tidak sudi memondong tawanannya, ia lalu
menyeretnya di sepanjang jalan (baca Rajawali Emas).
Semua peristiwa ini terbayang oleh sepasang suami isteri itu, menimbulkan kegembiraan besar dan kini
mereka saling pandang dengan amat mesra, dengan kasih sayang baru. Kenangan masa lalu itu
membangkitkan kembali kasih mesra di antara mereka.
Memang sesungguhnya sangatlah tidak baik kalau suami isteri melupakan hal-hal seperti ini. Tinggal di
rumah saja bertahun-tahun, hidup sebagai alat-alat mati, segalanya sudah teratur dan selalu begitu-begitu
tanpa perubahan, tiap hari terulang kembali tanpa muncul hal-hal baru, tanpa melihat hal-hal baru, akan
mudah mendatangkan rasa bosan.
Tanpa disadari akan membuat suami isteri itu merasa bahwa mereka terikat oleh beban rumah tangga
yang membuat mereka tunduk terbungkuk-bungkuk, menyeret mereka menjadi hamba dari pada
keseragaman yang mereka ciptakan sendiri, memaksa mereka menjadi sebagian dari pada bangunan
mesin rumah tangga yang mereka bentuk sendiri.
Tubuh ini milik dunia, dan sudah menjadi sifat dunia selalu menghendaki yang baru dan mengubur yang
lama. Oleh karena tubuh ini milik dunia maka tubuh ini pun seperti halnya dunia, menghendaki pula hal-hal
yang baru, selalu rindu dan mencari sesuatu yang baru.
Begitu pula dengan suami isteri. Karena mereka hanya manusia-manusia yang bertubuh, dengan
sendirinya mereka pun membutuhkan hal-hal yang baru untuk mempertahankan kebahagiaan rumah
tangganya. Mereka sendirilah yang harus menciptakan hal-hal baru ini, harus pandai mencari suasana
yang baru karena hal ini akan membangkitkan gairah hidup, akan menambah terang cahaya kebahagiaan
dunia-kangouw.blogspot.com
rumah tangga, akan memperbarui atau mempertebal kasih mesra di antara mereka sendiri (dalam bahasa
Jawa disebut ambangun trisno).
Suami isteri harus pandai memilih saat-saat di mana mereka dapat memisahkan diri dari pada
keseragaman tiap hari itu, berdua saja untuk sementara memisahkan diri dari pada suasana sehari-hari
yang selalu begitu-begitu saja sehingga membosankan.
Demikianlah, dengan kepergian mereka turun gunung, tanpa disengaja Kong Bu dan Li Eng sudah
menciptakan suasana baru. Tidak mengherankan apa bila mereka merasakan kebahagiaan dan
kegembiraan luar biasa dalam perjalanan ini, seakan-akan mereka kini memasuki hidup baru yang jauh
berbeda dari pada kehidupan mereka sehari-hari yang begitu-begitu saja di puncak Min-san.
Biasanya setiap hari mereka hanya mengenal hal-hal seperti ini, yaitu bangun pagi-pagi, melatih para
murid, bekerja di ladang, melatih murid-murid lagi, malamnya berlatih sendiri, mengaso, tidur. Demikianlah
acara tunggal mereka setiap hari. Pemandangan alam yang dilihat pun itu-itu juga. Kasihan, kan?
Sekarang, begitu keduanya turun gunung, mereka memasuki suasana baru. Hawa baru, pemandangan
baru, pendengaran baru dan semuanya ini menyiram bunga kebahagiaan yang tadinya agak melayu oleh
kebosanan. Bersinar-sinar mata mereka, bibir mereka pun tersenyum-senyum, kemerahan pipi Li Eng pada
saat memandang suaminya, amat mesra pandang mata Kong Bu pada saat menatap wajah isterinya, dan
keduanya mendapatkan kebagiaan baru dalam perjalanan ini.
Seperti juga yang telah dilakukan oleh kakek mereka, juga oleh suami isteri Thai-san-pai dan oleh Sin Lee
dan isterinya, suami isteri Min-san ini pun melakukan penyelidikan di dunia kang-ouw. Banyak sudah tokoh
kang-ouw yang mereka datangi untuk dimintakan keterangan, kalau-kalau ada di antara mereka yang
mendengar siapa-siapa yang telah menyerbu Thai-san. Akan tetapi tak ada seorang pun di antara mereka
yang mengetahui akan peristiwa itu dan karenanya juga tidak dapat menduga-duga siapa yang memusuhi
Thai-san.
Malah berita ini lalu mengejutkan dan menggegerkan dunia kang-ouw, karena kejadian itu sudah pasti
akan berekor panjang. Siapa mereka yang begitu berani mati mengganggu Thai-san-pai? Dengan hati
berdebar dan tegang, para tokoh kang-ouw kini menanti-nanti datangnya ledakan dahsyat akibat kejadian
ini, karena tentu saja tidak boleh tidak pihak Thai-san-pai akan melakukan pembalasan!
"Tidak ada lain jalan, isteriku," kata Kong Bu ketika mereka berdua sedang mengaso pada tengah hari
yang terik di bawah pohon besar, "kita harus mendatangi tempat tinggal para musuh Ayah. Penyerbuan di
Thai-san itu agaknya dilakukan penuh rahasia sehingga tidak ada yang tahu. Menurut pendapatku, mereka
yang menyerbu Thai-san-pai pasti keluarga atau pun handai-taulan dari musuh-musuh ayah. Tanpa dasar
dendam sakit hati, siapakah orangnya yang berani dan mau menyerbu Thai-san-pai sedangkan ayah
terkenal sebagai seorang pendekar besar?"
Li Eng sedang duduk melonjorkan kedua kakinya dan tubuhnya bersandar pada batang pohon itu, kedua
matanya dimeramkan. Agaknya ia nampak lelah sekali dan mengantuk. Mendengar ucapan suaminya, ia
menjawab,
"Memang agaknya begitu, akan tetapi yang lebih jelas lagi adalah bahwa mereka yang menyerbu itu tentu
orang-orang yang memiliki ilrnu kepandaian tinggi. Kalau tidak, mana mampu mereka mengganggu Thaisan-
pai?"
Kong Bu setuju dengan pendapat isterinya ini. Ayahnya adalah Raja Pedang yang sukar dicari
bandingannya di dunia kang-ouw, ibu tirinya juga seorang pendekar pedang wanita yang berilmu tinggi.
Kalau bukan orang-orang sakti, takkan mungkin berani mengganggu ke sana, apa lagi sampai berhasil
merusak binasakan dan menculik Cui Sian.
Ia mengingat-ingat mereka yang dahulu memusuhi ayahnya. Siauw-ong-kwi tokoh utama dari utara dan
muridnya, Siauw-coa-ong Giam Kin, keduanya sudah sama tewas dalam pertemuan di Thai-san. Toatbeng
Yok-mo juga sudah tewas, begitu pun Pak Thian Lo-cu dan Hek-hwa Kuibo.
Tokoh-tokoh utama dunia persilatan sudah banyak yang tewas dan di antara empat besar yaitu Song-bunkwi
dari barat, Swi Lek Hosiang dari timur, Siauw-ong-kwi dari utara dan Hek-hwa Kui-bo dari selatan, kini
yang masih hidup hanya kakeknya, Song-bun-kwi dan Swi Lek Hosiang.
dunia-kangouw.blogspot.com
Akan tetapi Tai-lek-sin Swi Lek Hosiang bukanlah orang yang termasuk menjadi musuh ayahnya. Ada pun
kakeknya, walau pun dahulu memusuhi ayahnya, akan tetapi sekarang tidak mungkin lagi, malah
membantu. Siapakah pula orang sakti yang dapat menyerbu ke Thai-san? Terbayanglah wajah Hek-hwa
Kui-bo yang jahat dan dia mengingat-ingat siapa sanak keluarga nenek iblis ini.
Tiba-tiba dia meloncat bangun dan menepuk-nepuk pahanya. "Wah, kalau bukan mereka siapa lagi?"
Mendengar suara suaminya ini, Li Eng lalu membuka kedua matanya yang mengantuk, terheran-heran
melihat sikap suaminya yang seperti keranjingan itu.
"Ehh, kau teringat siapakah?" tanyanya, terganggu karena tadi dia hampir pulas saking nikmatnya
mengaso di bawah pohon yang teduh dan dikipasi angin semilir.
"Ketemu sekarang, Eng-moi! Tentu mereka, wah, siapa lagi kalau bukan mereka?"
Li Eng kini melempangkan punggungnya, duduknya tidak bersandar lagi, matanya sudah terbuka lebar
menatap wajah suaminya. "Duduklah yang baik, bicara yang benar! Siapa yang kau maksudkan? Kau
seperti sedang teringat kepada kekasihmu yang dulu saja."
"Eh, ehh, tiada hujan tiada angin tiba-tiba saja kau cemburu?" Kong Bu segera duduk di dekat isterinya dan
merangkul lehernya. "Sejak dahulu kekasihku hanya kau, ada siapa lagi? Aku bukan sedang teringat akan
kekasih, melainkan teringat akan murid mendiang Hek-hwa Kui-bo, yaitu ketua Ngo-lian-kauw yang
berjuluk Kim-thouw Thian-li. Kau tentu masih ingat akan dia, bukan? Nah, dia sudah tewas tetapi Ngo-liankauw
masih berdiri, kabarnya malah makin kuat. Orang-orang Ngo-lian-kauw lihai, juga licin dan curang
sekali. Mereka patut dicurigai. Kurasa, setidak-tidaknya mereka tentu bercampur tangan dalam penyerbuan
Thai-san-pai."
Li Eng mengerutkan keningnya yang hitam panjang, lalu mengangguk-angguk. "Betul juga katamu, kalau
mengingat mereka, aku pun curiga. Perkumpulan iblis itu dapat melakukan kejahatan yang bagaimana pun
juga."
"Aku tahu sarangnya!" Kong Bu berkata cepat. "Ngo-lian-kauw (Perkumpulan Agama Lima Teratai)
berpusat di lembah Sungai Huai, di sebelah barat kota raja dan sebelah utara kota Ho-pei. Li Eng, hayo
kita berangkat sekarang juga."
Kong Bu melompat berdiri lagi, akan tetapi dia memandang heran kepada isterinya yang masih saja duduk
bermalas-malasan, malah sambil menguap dan mengulet isterinya kini kembali bersandar kepada batang
pohon. Kong Bu memegang tangan Li Eng, menarik-nariknya mengajak bangun. "Hayo, bangunlah...!"
Tetapi dia menjadi keheranan ketika melihat Li Eng sama sekali tidak mau bangun berdiri, malah
merenggut tangannya.
"Ihhh, kenapakah kau ini?" Kong Bu cepat berlutut lagi dekat isterinya. "Kenapa malas benar? Atau... tidak
enakkah badanmu?"
"Entahlah, aku malas... ngantuk. Kita mengaso dulu, biarlah aku tidur, hari masih amat panas, aku ogah
melakukan perjalanan. Di sini enak sekali, sejuk dan nyaman. Nanti saja kalau sudah teduh kita
melanjutkan perjalanan, mengapa sih buru-buru amat?”
Kong Bu memandang amat terheran-heran. Ini bukan watak Li Eng sehari-hari, pikirnya. Biasanya,
isterinya adalah seorang wanita yang lincah, yang selalu bergerak bagai burung walet, tak mau diam apa
lagi bermalas-malasan seperti ini. Apakah yang terjadi? Kenapa isterinya mengalami prerubahan watak
begini aneh?
"Eng-moi, sakitkah kau...?" Dengan penuh kasih sayang Kong Bu meraba jidat isterinya.
Akan tetapi Li Eng mengipatkan tangan itu dan berkata, suaranya agak kaku, "Jangan ganggu aku! Aku
mau tidur, aku tidak sakit apa-apa!" Dan ia tidak mau pedulikan lagi pada suaminya karena matanya sudah
meram dan ia benar-benar berusaha untuk tidur.
dunia-kangouw.blogspot.com
Kong Bu tercengang, lalu duduk termenung menatapi wajah isterinya. Benar-benar luar biasa. Kenapa Li
Eng jadi berangasan seperti ini? Tampaknya hendak marah-marah, akan tetapi anehnya, sebentar saja
isterinya itu telah pulas, dapat diketahui dari pernapasannya yang panjang.
Kong Bu terpaksa menahan sabar, menunda keberangkatannya ke sarang Ngo-lian-kauw untuk
menyelidiki perkumpulan itu yang dia duga tentu mempunyai saham besar dalam peristiwa penyerbuan
Thai-san-pai.
Memang panas hawa pada tengah hari yang amat terik itu. Biar pun sinarnya ditangkis oleh dahan-dahan
pohon, tapi sinar yang menerobos dari celah-celah daun menyilaukan mata. Nyaman berlindung di bawah
pohon itu, dan Kong Bu perlahan-lahan mengantuk juga setelah lama dia memandang wajah isterinya yang
sudah tidur pulas dengan aman tenteramnya.
Akan tetapi selagi dia layap-layap hendak pulas, dia terbangun lagi. Cepat dia duduk dan memperhatikan.
Tidak salah, ada orang bernyanyi-nyanyi di tengah hutan. Suara orang itu makin lama makin jelas, tanda
bahwa orang yang bernyanyi itu sedang berjalan menuju ke mari. Suaranya parau dan keras, akan tetapi
kata-kata dalam lagu yang dinyanyikan itu menarik perhatian Kong Bu.
Dia memperhatikan. Mendengar suara nyaring itu diam-diam dia dapat menduga bahwa orang yang lewat
di hutan dan bernyanyi ini tentulah seorang berkepandaian.
Kemenangan melahirkan kesombongan
menimbulkan benci permusuhan
hidup tak tenteram lagi.
Kekalahan melahirkan penasaran
menimbulkan dendam memupuk pembalasan
hidup tak tenteram lagi.
Yang melempar jauh-jauh kemenangan mau pun kekalahan
dialah orang bahagia.
Yang dikagumi dan dikehendaki para bijak budiman
adalah kemenangan batin!
Suara orang yang bernyanyi itu kini tidak semakin dekat, tanda bahwa orang itu agaknya juga berhenti,
akan tetapi terus bernyanyi. Sehabis bernyanyi dengan suara parau seperti kaleng diseret, terdengar dia
terbahak-bahak dan terkekeh-kekeh tertawa,
"Ha-ha-he-he-he, pendeta-pendeta palsu, hwesio-hwesio menggelikan! Indah-indah bunyi sajaknya, bagusbagus
pitutur dan ayat-ayat sucinya. Apa yang lebih suci di antara segala ayat dari pada yang terdapat
dalam kitab-kitabnya? Tetapi, ayat-ayatnya tetap suci, para pelakunya yang kotor, heh-heh-heh, mulut
menghambur ayat-ayat suci tangan melakukan perbuatan-perbuatan kotor!"
Diam-diam Kong Bu terkejut. Ingin sekali dia melihat macam apa orangnya yang dapat menyanyikan katakata
sehebat itu lalu bicara seorang diri yang agaknya ditujukan untuk mengejek para hwesio yang
biasanya melakukan sembahyang dan berdoa dengan lagu seperti itu. Tetapi dia menunda maksud hatinya
karena takut kalau-kalau akan membikin orang itu tidak senang, apa lagi pada saat itu dia bernyanyi pula
dengan suaranya yang parau dan kacau seperti suara katak buduk di hari hujan.
Mengenal keadaan orang lain memang bijaksana
mengenal diri sendiri barulah waspada.
Mengalahkan orang lain memang kuat badannya
mengalahkan diri sendiri barulah kuat batinnya.
"He-he-heh, segala tosu bau, bisa saja menyanyikan ayat-ayat To-tek-keng. Akan tetapi hanya mulut...
mulut...! Lidah tidak bertulang, orang nampak manis pada mulutnya, gigi nampak putih berkilat. Tetapi lihat
di baliknya! Kotor... kotor... palsu! Ha-ha-ha-he-he-he, hwesio-hwesio dan tosu-tosu sama saja, setali tiga
uang. Mulut dan hati bagaikan bumi dengan langit, kata-kata dan perbuatan seperti terang dengan gelap!"
Terdengar suara orang itu mendekat lagi. Entah bagaimana, Kong Bu mendapat perasaan aneh seperti
membisikinya bahwa terhadap orang ini dia tak boleh main-main. Lebih baik menjauhinya atau lebih baik
tidak mengenalnya.
dunia-kangouw.blogspot.com
Dia sudah banyak mengenal tokoh aneh, kakeknya sendiri pun seorang yang dijuluki iblis. Akan tetapi
orang ini mencaci dan mengejek para pendeta, baik pendeta hwesio (Buddha) mau pun pendeta tosu
(Agama To) sambil menyanyikan ayat-ayat suci mereka. Orang yang sudah membenci semua pendeta,
meski pun mengejek kepalsuan mereka, pastilah bukan orang sembarangan dan dia mendapat firasat
bahwa orang ini amatlah berbahaya.
Celakanya, agaknya orang itu melangkahkan kakinya menuju ke tempat dia dan isterinya mengaso. Kong
Bu bukanlah seorang penakut, jauh dari pada itu. Dia seorang pendekar gagah perkasa yang tidak pernah
mengenal arti takut. Dia seorang asuhan kakek iblis Song-bun-kwi.
Akan tetapi pada saat itu dia lalu membaringkan diri di dekat isterinya dan pura-pura tidur pulas ketika
orang yang bernyanyi-nyanyi itu sudah makin dekat. Dia sengaja berbaring miring, matanya mengintai dari
balik bulu mata.
Orang ini berhenti di dekat tempat suami isteri itu tidur. Dengan kaget Kong Bu melihat seorang kakek tua
yang berpakaian serba kuning, seorang kakek yang kepalanya gundul dan kulitnya hitam seluruhnya!
Sambil menyeret sebatang tongkat panjang berwarna hitam pula, kakek tadi melangkah datang dengan
langkah-langkah lebar, dengan kakinya yang telanjang dan hitam sampai ke telapak-telapaknya. Sejenak
kakek itu berdiri termangu, memandang suami isteri yang masih tidur pulas. Lama dia menatap wajah Li
Eng yang cantik jelita dan tampak manis dalam tidurnya. Kemudian dia tertawa berkakakan.
"He-he-he-heh! Wah, aku benar-benar sudah tua bangka, sudah hampir mati nafsu-nafsu badan yang reyot
ini. Kalau dulu, dua puluh tahun yang lalu, tentu takkan kulewatkan saja mereka ini. Yang jantan kubikin
mampus, yang betina kuambil. Ha-ha-ha!"
Dia mengamat-amati lagi sambil tertawa ha-ha-he-he, amat menyeramkan.
"Wah-wah, pakai bawa-bawa pedang segala. Jangan-jangan anggota pemberontak? Hee, bocah, enak
saja kalian tidur bermesra-mesraan, mabuk yang-yangan (bercintaan), hayo bangun!" ujung kakinya
bergerak mencongkel tanah.
Bukan main kagetnya hati Kong Bu ketika segumpal tanah melayang dengan kekuatan dahsyat ke arah
kepalanya! Tentu saja dia tidak mau dilukai, tidak sudi dihina seperti itu. Tubuhnya bergerak melejit dan
tahu-tahu dia telah berdiri dengan tubuh tegak dan gagah, gumpalan tanah itu sama sekali tidak
menyentuhnya.
"Ha-ha-he-heh, benar juga! Kiranya yang jantan ini mempunyai sedikit kepandaian. Entah bagaimana yang
betina!" Kembali ibu jari kaki kanannya mencokel tanah dan segumpal tanah melayang ke arah muka Li
Eng.
Kong Bu marah sekali, tubuhnya segera terayun dan dia hendak menyambar tanah yang mengancam
muka isterinya itu. Akan tetapi tiba-tiba Li Eng sudah pula mengulur tangan. Tanpa membuka matanya ia
telah dapat menangkap gumpalan tanah itu dengan tangan kanannya, kemudian seperti tidak sengaja
tangannya bergerak dan... gumpalan tanah itu melayang cepat ke arah muka kakek itu, senjata makan
tuan!
"Ah, lihai...!" Kakek itu berseru, kaget juga menyaksikan demonstrasi kepandaian wanita muda itu dan
cepat-cepat dia menundukkan muka untuk membiarkan tanah itu lewat di atas kepalanya.
Tentu saja kakek ini kaget dan heran karena dia tidak tahu bahwa Kui Li Eng adalah puteri tunggal Kui Lok
dan Thio Bwee, dua orang tokoh Hoa-san-pai yang sudah mewarisi ilmu kepandaian asli dari Hoa-san,
termasuk ilmu mempergunakan senjata rahasia!
Li Eng memang sudah sadar ketika mendengar suara kakek itu tadi, tetapi ia pura-pura masih tidur.
Sekarang dia melompat bangun dan berdiri di samping suaminya, matanya yang jeli dan tajam menatap
kakek itu, menaksir-naksir dan mengingat-ingat.
Akan tetapi, seperti juga suaminya, dia merasa belum pernah bertemu atau mendengar akan adanya
seorang tokoh kang-ouw seperti kakek ini. Ia juga tidak berani memandang rendah karena dari tenaga
cokelan ibu jari kaki kakek itu saja, tadi telah menggetarkan tangannya yang menerima tanah, tanda bahwa
kakek ini memiliki lweekang yang tinggi tingkatnya.
dunia-kangouw.blogspot.com
"Locianpwe ini siapa dan mengapa mengganggu kami berdua suami isteri yang sedang beristirahat?" Kong
Bu bertanya sambil menjura. Sikapnya cukup sopan akan tetapi tidak terlalu merendah.
Kakek itu tidak menjawab, malah matanya tak berkedip memandang pada Li Eng. Bukan memandang
wajahnya, melainkan memandang ke arah... perutnya! Tentu saja Li Eng merasa mendongkol bukan main
berbareng juga ngeri. Mata dengan manik mata yang kelihatan terlalu putih di balik wajah hitam itu seakanakan
menelanjangi dirinya dengan pandangannya itu.
"He, Kakek! Kau melihat apa?!" bentaknya marah.
"He-heh-heh, melihat perutmu. Ha-ha-ha, suami isteri yang aneh! Isteri lagi mengandung tetapi malah
diajak berkeliaran di hutan liar, apakah mengidam binatang hutan?"
"Kakek tua bangka, sudah tua semakin kurang ajar! Tutup mulutmu yang kotor itu!" Li Eng makin marah,
memaki-maki.
"He-heh-heh, memang begitulah. Kalau belum sebulan, hawanya ingin marah saja, tanda anak perempuan!
Ha-ha-ha!"
Li Eng sudah bergerak hendak menyerang kakek ini, akan tetapi Kong Bu memegang lengannya. Diamdiam
ada perasaan aneh menyelinap di hati Kong Bu. Memang sikap Li Eng aneh, aneh bukan main. Tadi
pun ia sudah terheran-heran menyaksikan perubahan pada sikap isterinya. Jadi inilah rahasianya?
Benar-benarkah isterinya mengidam, mulai mengandung? Wah, jika betul begitu, jangan kata harus
memarahi kakek itu, malah mau rasanya dia merangkul dan mencium muka tua yang hitam itu! Perasaan
girang luar biasa menyelubungi hati Kong Bu, tanpa terasa lagi dia sudah melingkarkan lengan kirinya
pada pinggang isterinya dengan mesra, lalu bertanya,
"Locianpwe, siapakah nama Locianpwe yang mulia? Dan Locianpwe ada keperluan apa dengan kami
suami isteri?"
"Kau beruntung, orang muda. Isterimu cantik jelita, kepandaiannya juga lumayan, lincah gembira dan
sekarang sudah dapat diharapkan akan menghadiahkanmu seorang bocah perempuan. Ha-ha-ha-ha, kau
mau tahu siapa aku? Tua bangka ini orang tidak terkenal, disebut Hek Lojin dari Go-bi."
Kong Bu belum pernah mendengar nama ini, akan tetapi dia segera menjura dengan hormat lalu
memperkenalkan diri. "Saya bernama Tan Kong Bu dan ini isteri saya. Tidak tahu ada keperluan apakah
Locianpwe menemui kami?"
"Tidak ada apa-apa... kebetulan saja... ahh, barang kali kau tadi melihat adanya seorang pemberontak
muda yang matanya buta. Aku sedang mencari-cari dia itu. Apakah kalian melihatnya?"
Diam-diam Kong Bu dan juga Li Eng terkejut. Tak bisa salah lagi, tentu Kun Hong yang dimaksudkan.
Tetapi mengapa pemberontak? Ahh, jangan-jangan orang lain, di dunia ini banyak orang muda yang buta.
Dengan menekan debaran jantungnya, Kong Bu bertanya lagi, "Kami tidak melihatnya. Siapakah dia itu,
Locianpwe? Mana ada orang muda buta bisa jadi pemberontak?"
Kakek itu terkekeh-kekeh, "Ha-ha-ha, memang lucu. Ini tanda bahwa mereka di kota raja tidak becus apaapa.
Katanya pemberontak buta itu mengacau kota raja, hampir tertawan lalu dapat lolos ditolong seekor
burung rajawali emas. Dasar goblok semua yang di kota raja. Termasuk hwesio gundul Siauw-lim itu hanya
lagaknya saja besar. Buktinya dengan mengeroyok pun tidak dapat menangkap seorang muda buta.
Padahal... he-he-heh-heh, ketika bertemu dengan aku, pemuda buta dan burungnya itu... ha-ha-heh-heheh,
dia berlutut dan mengangguk-angguk tujuh kali, di hadapanku, bahkan kulangkahi kepalanya dengan
sebelah kakiku. Hah, sayang sekali, kalau aku tahu dia itu seorang pemberontak, sudah tentu tidak akan
dapat kulepas dan kuampuni begitu saja!"
Sekarang yakinlah hati Kong Bu dan Li Eng bahwa yang dimaksudkan oleh kakek aneh ini tentulah Kun
Hong. Di dunia ini siapa lagi kalau bukan Kun Hong yang biar pun matanya buta dapat mengacau kota
raja? Siapa lagi kalau bukan Kun Hong yang ditolong oleh rajawali emas? Hati Li Eng sudah panas bukan
main, tetapi ia masih menekan suaranya ketika berkata,
dunia-kangouw.blogspot.com
"Kau mencari dia mau apakah, Kakek?" Tidak bisa ia harus mencontoh suaminya yang menyebut
Locianpwe kepada kakek hitam yang dianggapnya kurang ajar ini.
"Ha-ha-heh-heh, mau apa tanyamu? Matanya sudah buta, tinggal telinganya yang harus dibikin tuli,
hidungnya kuhancurkan, mulutnya kurobek, benci aku kepada pemberontak, benci..."
"Keparat jahanam!" Li Eng tidak dapat menahan kesabarannya lagi dan sekali bergerak, pedangnya sudah
berada di tangan. "Enak saja mulutmu yang busuk itu mengoceh tidak karuan. Bukankah orang yang kau
maksudkan itu bernama Kwa Kun Hong?"
"Heh, benar... kau tahu...?"
"Tentu saja, kakek jahanam! Dia adalah pamanku dan tidak usah kau mencari dia, pedang di tanganku
sudah sanggup mengirim kau pulang ke neraka jahanam!"
Li Eng tidak memberi kesempatan lagi, segera dia menerjang dengan pedangnya. Sinar putih bergulunggulung
melayang ke arah kakek itu.
"Ayaaaaaaa, kiranya kalian juga pemberontak-pemberontak, ha-ha-he-he-heh!" Kakek itu cepat mengelak
dan diam-diam dia terkesiap juga menyaksikan kilatan sinar pedang yang demikian hebatnya.
"Benar, isteriku! Kakek iblis ini harus dibasmi!" bentak pula Kong Bu dan kembali sinar pedang yang
panjang menyambar.
Kakek ini makin kaget dan tahulah dia bahwa dua orang ini biar pun masih muda-muda, namun ternyata
sudah memiliki ilmu pedang yang jempolan dan sama sekali tidak boleh dipandang ringan.
Kakek ini memang Hek Lojin adanya, orang tua lihai dari Go-bi, guru The-kongcu atau The Sun. Sudah kita
ketahui bahwa kakek ini pernah bertemu dengan Kun Hong dan rajawali emas, dan hampir terjadi peristiwa
kalau saja Kun Hong tidak bersabar dan mengalah.
Ketika Hek Lojin ini memasuki kota raja, dia disambut dengan segala kehormatan oleh The Sun. Akan
tetapi ketika kakek aneh ini mendengar tentang Kun Hong dan rajawali emas, dia mengejek kemudian
menceritakan pengalamannya menghina pemuda buta itu kepada The Sun dan para jagoan istana yang
ikut menyambutnya.
"Heh-heh-heh, A Sun, muridku, mengapa kalian begitu goblok? Menangkap pemberontak buta seperti dia
saja tidak becus, padahal di kota raja ini terdapat banyak orang. Heh-heh, percuma saja kalau begitu.
Habis, Thian Te Cu ini apa saja kerjanya?" Dia menuding adik seperguruannya yang hadir pula di situ, dan
mengerling kepada semua yang hadir.
"Suheng, biar pun dia masih muda, si buta itu benar-benar lihai sekali," bantah Thian Te Cu dengan muka
merah karena ditegur dan diketawai suhengnya di depan banyak orang.
"Uuaaah, lihai apanya? Kalau dia lihai kenapa mau berlutut dan mengangguk tujuh kali di depan kakiku,
saat kepalanya kulangkahi kaki dia juga tidak berani apa-apa. Dasar kalian yang tiada gunanya. Uhh!"
Kakek hitam ini memang sudah terlalu lama meninggalkan dunia ramai, bertapa di dalam hutan di atas
gunung sehingga wataknya sudah berubah seperti orang hutan saja. Dia tak peduli lagi akan sopan santun
dunia ramai, bicara asal membuka mulut saja, tidak peduli apakah kata-katanya menyinggung orang
ataukah tidak. Karena terlalu tua, agaknya dia sudah pikun atau sudah lupa akan tata susila atau tata cara
pergaulan.
Bhok Hwesio sebaliknya adalah seorang hwesio yang menjaga keras peraturan, seperti umumnya hwesiohwesio
dari Siauw-lim-pai. Semenjak tadi dia sudah mendelik-mendelik memandang kepada kakek hitam
itu. Akan tetapi karena dirinya tersinggung tidak secara langsung dan kakek hitam itu hanya menegur sutenya
sendiri, dia pun berusaha untuk menahan kesabaran dengan muka merah.
Sekarang, mendengar betapa kakek hitam itu berkali-kali menyebut ‘kalian’ goblok, tiada gunanya dan lainlain,
dia menjadi marah sekali. Terdengar dia mendengus satu kali dan tiba-tiba meja di depannya sudah
amblas ke bawah sampai dua puluh senti lebih. Empat kaki meja itu amblas menembus lantai yang keras
dunia-kangouw.blogspot.com
dari ruangan itu, amblas sama sekali tanpa mengeluarkan bunyi seakan-akan empat kaki meja itu
menembus agar-agar saja.
Dalam kemarahannya, hwesio Siauw-lim ini ternyata sudah menggunakan lweekang-nya yang memang
sangat mengagumkan dan sudah mencapai tingkat tinggi sekali. Semua orang kaget dan diam-diam
merasa tidak enak, maklum bahwa hwesio ini marah kepada kakek hitam itu.
"Hemmm, sudah pernah pinceng mendengar nama besar Hek Lojin dari Go-bi yang tinggi menyundul
langit. Dengan adanya Hek Lojin di sini, orang-orang macam pinceng ini apa gunanya lagi? Lebih baik
pergi dan membaca doa di kelenteng! Tetapi, biasanya kalau geledek menyambar-nyambar hebat, belum
tentu hujannya lebat."
Hek Lojin pelototkan matanya. Tentu saja kakek ini maklum apa artinya ucapan ‘geledek menyambarnyambar
hebat, belum tentu hujannya lebat’ itu yang boleh diartikan, bicara besar, belum tentu
kepandaiannya tinggi. Melihat hwesio Siauw-lim itu sudah bangkit dari tempat duduknya, dia pun berdiri
dan berkata, "He-heh-heh, hwesio tukang berdoa. Boleh kita coba-coba!"
"Omitohud, pinceng ingin sekali menerima petunjuk!"
The Sun menjadi sibuk. Cepat-cepat dia bangkit dan berdiri di antara kedua jago tua yang sudah hendak
saling terjang ini. "Suhu... Losuhu... harap ji-wi sudi duduk kembali. Harap suka melihat muka teecu... yang
dalam hal ini mewakili kaisar. Ji-wi dipersilakan datang untuk menghadapi para pemberontak, bukan untuk
saling bermusuhan. Harap suka ingat bahwa para pemberontak belum tertumpas."
Bhok Hwesio menarik napas panjang dan duduk kembali. "Maaf, pinceng sampai lupa diri, omitohud..."
Hek Lojin nampak uring-uringan. "Apa sih hebatnya si pemberontak buta? Kalian semua lihat saja, aku
akan pergi menangkapnya dan menyeretnya ke hadapan kalian!" Setelah berkata demikian, kakek hitam ini
melesat lenyap dari situ tanpa dapat dicegah lagi.
Demikianlah, dengan hati marah.Hek Lojin keluar dari kota raja untuk mengejar Kun Hong. Dia hendak
membuktikan kesanggupannya, hendak membuktikan omongannya. Dia yakin bahwa dengan mudah dia
akan dapat membunuh burung rajawali dan lebih mudah lagi menawan pemberontak buta yang sudah
amat takut terhadapnya itu.
Karena mendongkol kepada sute-nya yang menjadi tosu, mendongkol pula kepada Bhok Hwesio, maka di
sepanjang jalan dia menyanyikan sajak-sajak Agama To dan Buddha sambil mengejek, dan kebetulan
sekali dia bertemu dengan Kong Bu dan Li Eng.
Suami isteri muda itu menjadi amat marah setelah mendengar bahwa kakek ini memusuhi Kun Hong.
Sesudah mereka berdua serentak maju menyerang mempergunakan pedang mereka, barulah Hek Lojin
menjadi kaget. Sama sekali tidak pernah disangkanya bahwa ilmu pedang kedua orang muda ini begitu
hebat, menyambar-nyambar seperti sepasang burung garuda sakti.
Gaya permainan kedua suami isteri itu jauh berbeda dan inilah yang membuat dia kagum dan terheran.
Jelas bahwa suami isteri ini memiliki ilmu pedang dari dua macam sumber yang sama tingginya. Jika
tadinya Hek Lojin bersikap main-main dan bermaksud melayani kedua orang itu dengan memandang
rendah, kini dia bersungguh-sungguh. Cepat dia pun menggerakkan tongkat hitamnya yang panjang itu,
menangkis sekaligus balas menyerang dengan hebatnya.
Sekali bertemu senjata, baik Li Eng mau pun Kong Bu terkejut karena tenaga kakek hitam ini benar-benar
dahsyat bukan main. Hampir saja pedang mereka terlempar ketika beradu dengan tongkat hitam panjang.
Mereka berlaku hati-hati sekali karena maklum bahwa apa bila pertempuran dilakukan dengan
mengandalkan tenaga, mereka akan kalah jauh.
Di lain pihak, kakek itu pun kagum ketika pada pertemuan pertama antara senjata mereka tadi, dia masih
belum mampu memukul jatuh pedang-pedang lawan. Ini saja menjadi bukti bahwa kedua orang lawannya
yang masih amat muda-muda itu benar-benar murid-murid orang sakti. Kiranya dalam hal kepandaian,
suami isteri ini satu tingkat dengan muridnya, The Sun. Padahal, tadinya dia menyangka bahwa di dunia ini
belum tentu dapat dicari keduanya seorang muda dengan kepandaian setingkat muridnya itu.
dunia-kangouw.blogspot.com
Pertempuran itu berjalan cepat sekali. Dua puluh jurus telah lewat dan masih saja mereka bertempur
mempergunakan kecepatan. Suami isteri itu memang sengaja mengerahkan ginkang dan hendak mencari
kemenangan mempergunakan kelincahan. Siapa kira, kakek hitam itu pun ternyata merupakan seorang
ahli ginkang yang hebat sehingga ketika kakek ini menandingi mereka, maka bayangan tiga orang itu
lenyap terbungkus sinar senjata.
Tiba-tiba Hek Lojin tertawa. Setelah dua puluh jurus, barulah dia mengenal ilmu pedang Li Eng. Kiranya
ilmu pedang wanita muda ini adalah Ilmu Pedang Hoa-san Kiam-hoat.
Akan tetapi baru sekarang dia menghadapi ilmu pedang Hoa-san-pai yang sehebat ilmu pedang yang dulu
pernah dimainkan oleh mendiang Lian Ti Tojin tokoh Hoa-san-pai yang mengasingkan diri. Dia tidak tahu
bahwa memang orang tua Li Eng adalah murid Lian Ti Tojin yang sudah mewariskan ilmu pedangnya
kepada mereka.
"Wah, kau masih apanya Lian Ti Tojin dari Hoa-san-pai?" Kakek itu sempat pula menegur dengan gembira.
"Dan kau ini bocah, dari mana kau memperoleh ilmu pedang aneh ini!" tegurnya kepada Kong Bu.
Li Eng kaget juga mendengar disebutnya kakek gurunya yang memang menjadi pewaris ilmu pedangnya.
Ada pun Kong Bu yang ingin menggertak segera menjawab, "Kakekku Song-bun-kwi yang mengajar
kepadaku!"
"Wuuuuuttttt... tranggggg...!"
Tak dapat dihindarkan lagi, pedang Kong Bu bertemu dengan tongkat, sedangkan Li Eng dapat cepat
mengelak. Kong Bu merasa betapa telapak tangannya seperti dibakar, maka cepat-cepat dia mengerahkan
lweekang untuk melawan hawa itu. Kakek itu sudah berdiri tertawa dan tongkatnya berdiri pula di
depannya.
"Ha-ha-heh-heh, kiranya kau cucu setan bangkotan itu? Ha-ha-ha, ketika kakekmu masih muda, pernah dia
bertekuk lutut di depan kakiku, tahukah kau? Ha-ha-ha, Song-bun-kwi, dahulu kau kalah, sekarang kau
mewakilkan kepada cucumu untuk menderita kekalahan kedua kalinya. Dan Lian Ti Tojin, dahulu kau
belum sanggup mengalahkan aku, apa lagi sekarang bocah perempuan yang mengandung ini, heh-hehheh!"
"Sombong!" Li Eng dan Kong Bu berteriak hampir berbareng.
Mereka berdua marah sekali mendengar ejekan-ejekan dan hinaan ini. Betapa pun juga, tadi mereka
belum kalah, malah belum terdesak hanya baru kalah tenaga saja. Mereka tidak takut dan setelah berteriak
demikian, keduanya menyerbu lagi mengirimi serangan-serangan maut.
Akan tetapi kini kakek itu mengubah gerakannya. Tongkatnya yang panjang itu berputar seperti kitiran
angin, cepat dan mendatangkan angin pukulan yang amat kuat. Cara kakek itu menyerang bukan seperti
ilmu silat lagi, akan tetapi seperti sebuah kitiran angin besar yang tiada hentinya berputar dan menerjang
mereka dengan kekuatan yang dahsyat!
Kong Bu dan Li Eng adalah keturunan orang-orang pandai yang mempunyai kepandaian tinggi. Akan tetapi
mereka ini ketinggalan jauh kalau dibanding dengan kakek ini dalam hal pengalaman bertempur.
Menghadapi cara bertempur kakek ini, mereka menjadi repot dan bingung. Berusaha menangkis dengan
pedang, akan tetapi setiap kali bertemu tongkat, pedang mereka terpental dan mereka terpaksa meloncat
ke sana ke mari supaya jangan terkena sambaran tongkat yang luar biasa itu. Sama sekali mereka tak
pernah mendapat kesempatan untuk balas menyerang!
Tiba-tiba saja, seperti juga mulainya, kakek itu menghentikan pemutaran tongkatnya dan bersilat lagi,
malah seperti sengaja telah memberi lowongan-lowongan kepada dua orang lawannya. Girang hati Kong
Bu dan Li Eng melihat ini, menduga bahwa kakek itu tentu lelah memutar tongkat seperti itu dan sekarang
hendak beristirahat dan bersilat biasa. Kesempatan baik ini mereka pergunakan dan cepat mereka
menyerbu, membalas dengan serangan-serangan maut yang amat berbahaya.
Mendadak kakek itu berseru keras dan tongkatnya kembali diputar secara tiba-tiba dan tidak terduga.
“Trang-trang!” terdengar suara keras sekali.
dunia-kangouw.blogspot.com
Tanpa dapat dicegah lagi pedang Kong Bu dan Li Eng terpental, terlepas dari pegangan. Pedang Kong Bu
melesat ke kanan dan pedang Li Eng melesat ke kiri, menancap sampai amblas sebatas gagang pada
tanah beberapa meter jauhnya!
"Ha-ha-ha-he-he-he, baru kenal kelihaianku, ya?" Kakek itu mengejek.
Kembali tongkatnya berputaran menerjang suami isteri yang sudah tidak bersenjata lagi itu! Namun dua
orang muda itu bukanlah orang-orang lemah, biar pun mereka sudah tidak bersenjata lagi, tidaklah mudah
merobohkan mereka.
Biar pun tongkat itu berputar seperti kitiran, namun tubuh mereka melesat dan menyelinap di antara
bayangan tongkat. Ginkang mereka demikian hebatnya sehingga tubuh mereka seakan-akan bayangbayang
yang sukar dipukul tongkat.
"Bagus, bagus...! Orang-orang muda cukup mengagumkan... ha-ha-ha, tetapi harus roboh oleh Hek Lojin!"
Kakek itu menerjang terus, sekarang dia selingi dengan pukulan-pukulan tangan kiri yang mengandung
hawa pukulan jarak jauh. Memang ilmu tongkat kakek ini hebat bukan main. Tongkat yang diputar oleh dua
tangannya itu, kadang-kadang bisa dioper dengan tangan kanan saja, malah ada kalanya tongkat berputar
cepat mendesing ke atas, dilepas oleh kedua tangan yang melakukan pukulan-pukulan ke depan dan
tongkat itu tanpa dipegang lagi terus berputaran di atas kepala, dan disambut lagi dengan enaknya.
Payah juga Kong Bu dan Li Eng menghadapi penyerangan kakek kosen. Mereka sudah mengambil
keputusan untuk melarikan diri karena tak sanggup melawan lagi. Akan tetapi tiba-tiba kakek itu
membentak keras, tongkatnya melayang dan menyerang kedua orang muda itu tanpa dia pegang,
sedangkan tubuhnya mengikuti tongkatnya, kedua tangannya melakukan tamparan-tamparan disertai
tenaga lweekang.
Melihat Li Eng terpeleset ketika mengelak dari tongkat dan terdorong oleh angin pukulan lawan, Kong Bu
kaget. Cepat dia menghadang desakan kakek itu. dengan mengerahkan tenaga dia menangkis dengan
tangan kiri.
"Krakkk!"
Lengan kirinya patah ketika bertemu dengan tangan si kakek, dan sebuah tendangan membuat Li Eng
terjungkal!
Kong Bu marah bukan main. Dengan nekat dia lantas menggunakan tangan kanannya menerjang, akan
tetapi dia pun harus terjungkal ketika kakek itu mendorong dengan dua tangannya dari samping.
Kepalanya terasa pening sekali, namun Kong Bu masih dapat melompat ke tempat di mana isterinya
roboh. Dengan tubuhnya dia melindungi Li Eng, siap mengadu nyawa dengan kakek sakti itu.
Hek Lojin meringis, terkekeh-kekeh dan menghampiri kedua orang itu sambil menyeret tongkatnya. “Hehheh-
heh…!”
Tiba-tiba terdengar suara melengking panjang, suara seperti orang menangis terdengar dari jauh.
Mendengar ini, Kong Bu kaget dan juga girang, lalu dia mengerahkan khikang dan mengeluarkan teriakan
panjang pula yang bergema di seluruh hutan.
Kakek itu berhenti, menengadah lalu tertawa bergelak. "Ha-ha-heh-heh, itu si tua bangka Song-bun-kwi
agaknya! Ha-ha-ha, biar dia datang, sekalian kubereskan!"
Bayangan putih berkelebat dan benar saja, di situ telah berdiri Song-bun-kwi Kwee Lun dengan sikapnya
yang garang! Melihat betapa sepasang suami isteri itu rebah di bawah pohon, kemarahannya langsung
memuncak. Dengan sepasang mata laksana berapi-api dia memandang kakek hitam itu lalu memaki,
"Keparat jahanam si tua bangka Hek Lojin! Jadi kau belum mampus juga? Berpuluh tahun kucari, kau
mengumpet, bersembunyi. Sekarang sudah tua bangka mau mampus berani muncul mengantarkan
nyawa! Kenapa kau tidak langsung mencariku, biar tua sama tua, melainkan mengganggu anak-anak
muda? Tidak tahu malu!"
dunia-kangouw.blogspot.com
"Heh-heh-heh, Song-bun-kwi, bagus sekali kau sendiri datang, kau mbahnya (kakeknya) pemberontak! Kau
mengajar anak-anak menjadi pemberontak, ya? Dasar iblis! Bagus kau sudah datang, dahulu kau pernah
kalah tetapi belum mampus, biar sekarang kutamatkan riwayatmu!"
Kedua orang kakek itu sudah mulai bertempur sebelum ucapan ini habis. Song-bun-kwi sudah
mengeluarkan suling beserta pedangnya, menerjang dengan ilmu pedangnya yang paling dia andalkan,
yaitu Yang-sin Kiam-sut, sedangkan sulingnya juga memainkan ilmu silatnya sendiri yang luar biasa.
Hek Lojin maklum bahwa lawannya bukanlah orang sembarangan, maklum pula bahwa sejak
kekalahannya puluhan tahun yang lalu, tentu Song-bun-kwi sudah mempersiapkan diri dan telah
mendapatkan ilmu-ilmu baru. Begitu merasai hawa panas dari pedang kakek Song-bun-kwi, dia terkejut
dan cepat dia memutar tongkatnya.
Sebaliknya Song-bun-kwi juga cukup mengenal Hek Lojin. Empat puluh tahun yang lalu memang dia
pernah bertemu dengan kakek hitam itu dan dalam pertandingan yang hebat, dia sudah dilukai dan
terpaksa dia harus mengaku kalah. Semenjak itu, tidak pernah lagi dia bertemu dengan Hek Lojin yang
memang mengasingkan diri karena terlalu banyak musuh. Sekarang, tidak disangka-sangka dia bertemu
dengan musuh lamanya, tentu saja dia lalu berusaha sungguh-sungguh untuk membalas kekalahannya
pada puluhan tahun yang lalu.
Sebenarnya Hek Lojin masih belasan tahun lebih tua dari pada Song-bun-kwi, termasuk tokoh lama yang
sudah tua sekali. Akan tetapi karena kakek ini memang luar biasa dan hidup di alam terbuka jauh dari pada
dunia ramai, agaknya dia memiliki kekuatan yang lebih dari pada manusia biasa. Selain tenaganya tidak
normal, juga kepandaiannya aneh dan bersifat liar dan ganas.
Memang dia memiliki banyak ilmu silat yang dikenal di dunia kang-ouw sebagai ilmu-ilmu silat kelas tinggi,
seperti yang dia turunkan kepada The Sun. Akan tetapi di samping ini, dia masih mempunyai ilmu berkelahi
yang hanya dia miliki sendiri dan yang jarang dia pergunakan di dalam pertempuran dan tidak pernah dia
turunkan kepada siapa pun juga.
Ilmu ini merupakan ilmu berkelahi yang menyimpang dari pada ilmu silat yang timbul dari perasaan dan
naluri, seperti ilmu berkelahi yang dimiliki oleh para binatang buas di dalam hutan. Oleh karena itu, tadi
ketika dia memutar-mutar tongkatnya secara liar, Kong Bu dan Li Eng yang tidak biasa menghadapi ilmu
berkelahi seperti ini menjadi kebingungan dan mudah dikalahkan.
Sekarang, ketika menghadapi Song-bun-kwi, kakek hitam ini berlaku sangat hati-hati dan karenanya dia
malah tidak mau ngawur seperti tadi, melainkan menggunakan jurus-jurus ilmu silatnya yang beraneka
ragam dan rata-rata dari tingkat tinggi itu.
Hebat pertandingan ini. Tenaga Iweekang Hek Lojin sudah mencapai tingkat yang sukar diukur tingginya.
Akan tetapi sekali ini dia menemukan tandingan, karena Song-bun-kwi adalah seorang kakek yang dijuluki
iblis sedang nama julukan Song-bun-kwi saja artinya Setan Berkabung! Meski pun Song-bun-kwi diamdiam
harus mengakui bahwa dia masih belum dapat menandingi tenaga dalam kakek hitam itu, akan tetapi
setidaknya tingkatnya tidak kalah jauh seperti ketika tadi kakek itu menghadapi Kong Bu dan Li Eng.
Sebetulnya Hek Lojin adalah seorang ahli agama, oleh karena itulah maka tadi Kong Bu dan Li Eng sempat
mendengar nyanyian-nyanyian agama yang merupakan ayat-ayat suci dari Agama Buddha dan Agama To.
Akan tetapi, agama-agama pada waktu itu banyak disalah gunakan orang.
Banyaklah kaum persilatan yang mempelajari agama bukan karena pelajaran hidupnya yang baik, bukan
karena untuk mencari jalan pendekatan dengan Tuhan, namun mereka ini bermaksud untuk mengambil
bagian-bagian mistik dan gaib dari pada agama itu. Oleh karena inilah maka timbul banyak aliran yang
menggunakan agama itu untuk mempelajari segala macam ilmu gaib yang mereka gabungkan dengan ilmu
silat sehingga terkenallah ilmu-ilmu silat yang disebut ilmu silat hitam.
Demikian pula tenaga mukjijat yang dimiliki kakek hitam itu bukan semata-mata tenaga sinkang murni dari
dalam tubuh yang memang dimiliki oleh semua orang, akan tetapi juga diperkuat oleh tenaga dari ilmu
hitam yang dia dapatkan dengan cara bermacam-macam dan amat mengerikan.
Kong Bu dan Li Eng melihat pertempuran ini dengan hati amat khawatir. Apa lagi setelah pertandingan itu
berlangsung seratus jurus lebih, mereka merasa gelisah sekali karena kini tampak oleh mereka betapa
keadaan Song-bun-kwi mulai terdesak. Kong Bu ingin membantu kakeknya, tetapi tidak mungkin dia dapat
dunia-kangouw.blogspot.com
bertempur dengan tangan kiri patah tulangnya dan dadanya masih sesak oleh tenaga dorongan kakek itu.
Juga Li Eng sudah terluka, pahanya telah terkena tendangan dan terasa sakit sekali.
Tiba-tiba saja terdengar bentakan-bentakan hebat dan suara nyaring beradunya senjata-senjata kedua
kakek itu. Kiranya mereka sudah mempergunakan seluruh tenaga untuk mengadu senjata. Akibatnya,
suling remuk pedang patah, akan tetapi tongkat hitam itu pun terlempar jatuh sampai beberapa meter
jauhnya!
Kedua orang kakek itu tertawa saling mengejek, lalu pertandingan dilanjutkan dengan dua pasang tangan
kosong. Akan tetapi, sambaran angin pukulan kedua pihak membuktikan bahwa pertandingan tangan
kosong ini tidak kalah hebatnya dibandingkan pertandingan dengan senjata tadi.
Setiap pukulan yang dilancarkan adalah pukulan maut yang mengandung hawa pukulan dahsyat. Angin
pukulan bersiutan, membuat daun-daun pohon di sekelilingnya rontok dan debu berhamburan dari kedua
kaki mereka.
Dalam pertempuran ini, Song-bun-kwi lebih terdesak lagi. Dengan penggunaan senjata, dia masih dapat
mengimbangi lawannya, akan tetapi pertandingan dengan tangan kosong semata-mata hanya
mengandalkan kecepatan gerak dan besarnya tenaga dalam. Dalam kecepatan, Song-bun-kwi sebanding
dengan lawannya, namun dalam hal tenaga, karena lawannya mempunyai tenaga mukjijat, Song-bun-kwi
terpaksa harus mengakui bahwa tiap kali tangannya bertemu dengan tangan lawan, jantungnya terasa
sakit seperti ditusuk!
Namun, kakek ini tidak akan mendapat julukan iblis Song-bun-kwi kalau dia mau mengaku kalah. Dengan
semangat menyala-nyala, Song-bun-kwi nekat terus menerjang dengan pengerahan seluruh tenaga dan
gerakan-gerakannya semakin cepat saja. Kakek hitam tertawa-tawa melayani dan dalam sekejap mata
kedua kakek itu lenyap terbungkus debu yang mengebul dari bawah.
Hebat bukan main pertarungan ini, seperti pergumulan dua ekor naga, atau perkelahian dua ekor harimau
buas, pantang menyerah, pantang undur. Kong Bu dan Li Eng makin merasa khawatir, akan tetapi
keduanya tidak berdaya karena sebagai ahli-ahli silat tinggi, maklumlah mereka bahwa sekali mereka maju
belum tentu mereka dapat menguntungkan Song-bun-kwi akan tetapi yang pasti mereka akan celaka.
Hawa pukulan dengan tenaga dahsyat yang menyambar di sekeliling dua orang kakek itu tidak terlawan
oleh mereka.
Tiba-tiba kedua orang kakek itu berhenti bersilat dan tubuh mereka mencelat ke belakang, masing-masing
dua meter lebih, berdiri saling pandang dengan muka mengerikan. Hek Lojin sudah tidak tertawa lagi,
mukanya yang hitam itu berkilat-kilat penuh peluh, mulutnya menyeringai, matanya berseri-seri. Muka
Song-bun-kwi juga penuh keringat, agak pucat dia, matanya berapi-api penuh kemarahan.
Kemudian keduanya melompat ke depan, saling terjang dan terdengar suara berdebugan dua tiga kali dan
akibatnya, tubuh mereka terlempar ke belakang lagi. Kembali mereka saling terjang dan terdengar pukulanpukulan
yang mengakibatkan mereka terlempar lagi. Adegan seperti ini terulang sampai empat lima kali.
Muka Song-bun-kwi makin pucat, muka Hek Lojin semakin penuh dengan keringat.
Tiba-tiba kakek hitam itu bergelak. "Ha-ha-ha-heh-heh, Song-bun-kwi tua bangka iblis! Kau benar-benar
berkepala batu, sudah kalah tidak mau mengakui kekalahan. Ha-ha-ha, sudah puas hatiku dengan
perkelahian hari ini, aku sudah lelah. Kalau kau masih dapat hidup, lain hari kita lanjutkan, kalau kau
mampus karena perkelahian ini, mampuslah dan rasakan hukuman neraka. Ha-ha-ha!"
Kakek hitam itu melangkah mundur ke tempat tongkatnya, mengambil senjata itu dan menyeretnya pergi
dari situ. Masih terdengar suara ketawanya yang bergema dari jauh.
Song-bung-kwi masih berdiri tegak dengan kedua kaki dipentang seperti tadi, napasnya tersengal-sengal,
mukanya pucat dan hidungnya kembang-kempis. Tiba-tiba dia menekan ulu hatinya dan kakek kosen ini
pun muntah-muntah. Darah segar menyembur keluar dari mulutnya.
"Kakek...!" Kong Bu cepat-cepat melompat menghampiri, Li Eng juga terpincang-pincang lari menghampiri.
Seakan-akan telah kehabisan tenaga, Song-bun-kwi sudah jatuh terduduk. Dia berusaha menghapus
bibirnya dengan ujung lengan baju dan terdengar dia bergumam perlahan, "...hebat sekali... Hek Lojin
iblis..."
dunia-kangouw.blogspot.com
Kong Bu sudah berlutut di depannya, juga Li Eng. Kagetlah dua orang ini ketika melihat bahwa leher,
pundak, dada dan perut kakek itu terluka oleh pukulan yang meninggalkan bekas membiru Sedangkan baju
pada bagian terpukul itu pun berlubang besar seperti bekas terbakar.
Kiranya dalam gebrakan-gebrakan terakhir tadi, dua orang kakek sakti itu telah melakukan jurus-jurus yang
mematikan, jurus-jurus nekat yang berdasarkan mengadu tebalnya kulit kerasnya tulang dan ampuhnya
pukulan! Tadi empat kali Song-bun-kwi telah menerima pukulan maut Hek Lojin, sebaliknya Hek Lojin juga
sudah menerima empat kali pukulan Song-bun-kwi yang datangnya hampir pada saat yang sama itu.
Pukulan Song-bun-kwi dapat diterima oleh Hek Lojin, menimbulkan luka ringan yang tidak membahayakan
nyawanya. Sebaliknya pukulan-pukulan Hek Lojin sedemikian hebatnya sehingga membuat Song-bun-kwi
sekarang muntah-muntah darah dan sudah menderita luka yang amat parah.
Akan tetapi daya tahan Song-bun-kwi dan semangatnya memang luar biasa sekali. Kalau orang lain yang
menderita seperti dia, tentu tadi sudah roboh di bawah kaki lawannya. Namun Song-bun-kwi sanggup
menahan diri, menahan rasa nyeri dan dengan semangat pantang mundur dia menukar pukulan sampai
empat kali.
Hek Lojin tadi menjadi terkejut sekali dan diam-diam merasa jeri. Dia sendiri, meski pun ringan, sudah
merasa terluka oleh pukulan-pukulan Song-bun-kwi, akan tetapi mengapa Song-bun-kwi agaknya tidak
merasai pukulannya yang empat kali itu? Padahal pukulan-pukulannya tadi adalah pukulan maut yang
mengandung tenaga mukjijat!
Itulah sebabnya mengapa Hek Lojin tadi meninggalkan Song-bun-kwi, sama sekali bukan karena merasa
menang, melainkan karena jeri! Setelah lawannya pergi, barulah terasa oleh Song-bun-kwi akan kehebatan
bekas pukulan lawan dan sekarang dia terkulai tidak berdaya. Dia maklum bahwa dia telah menerima
pukulan-pukulan maut yang meremukkan isi dadanya, dan tahu bahwa dia tidak akan tertolong lagi.
Melihat Kong Bu dan Li Eng berlutut di dekatnya, timbul rasa kecewanya terhadap kedua orang ini. Sampai
mau mati pun dia masih kecewa karena belum mempunyai cucu buyut. Dasar kakek ini seorang yang amat
aneh wataknya. Dia menggunakan kedua tangannya untuk mendorong pergi dua orang itu sambil berkata,
"Pergi... pergi... biar aku tidak punya cucu juga tidak apa...!"
Suara kakek ini bernada penuh penyesalan, penuh kekecewaan karena merasa tertikam perasaannya
ketika teringat bahwa dalam menghadapi saat terakhir dalam hidupnya ini, dia masih dikecewakan oleh
Kong Bu yang dia kasihi, dikecewakan karena cucunya ini tidak mempunyai keturunan!
"Kongkong (kakek)...!" Kong Bu mendekati kakeknya lagi, suaranya penuh keharuan. Li Eng juga
mendekat lagi, air matanya mengalir.
"Sudahlah, meski sampai mati pun aku tetap kecewa padamu...!" kata pula Song-bun-kwi ketus sambil
bangkit berdiri dengan susah payah dan kakek ini sudah bersiap melangkah maju meninggalkan mereka.
Tiba-tiba Li Eng memegang lengannya. Dengan suara terisak-isak ia berkata, "Kongkong, aku... aku...
ahhh, kau sudah akan mempunyai cucu buyut..."
"Haaaaa?? Apa kau bilang...?!"
Mata dan mulut kakek itu terbuka selebar-lebarnya saat dia menatap wajah Li Eng yang sudah basah air
mata karena ia sudah mulai menangis tersedu-sedu, sambil merangkul dan mengganduli pundak kakek itu.
Melihat Li Eng tidak mungkin dapat menjawab karena menangis itu, Kong Bu yang menjawab dengan
muka berseri dan mata bersinar,
"Betul, Kongkong, Li Eng sudah mengandung. Cucu buyutmu pasti bakal terlahir!"
"Wah-wah! Betulkah ini? Li Eng, betulkah ini?" Kakek ini berteriak sambil memegang dua pundak Li Eng
dan mendorongnya untuk dapat melihat wajahnya.
Li Eng tersenyum dalam tangisnya, menahan air mata dengan memeramkan mata, dan hanya dapat
mengangguk dengan gerakan meyakinkan.
dunia-kangouw.blogspot.com
"Ha-ha-ha-ha-ha! Song-bun-kwi, kau tua bangka goblok, kau manusia tolol! Ha-ha-ha-ha, Li Eng, kau anak
baik!"
Serentak tubuh Li Eng yang dia pegang pada kedua pundaknya itu dia lontarkan ke atas. Tubuh Li Eng
melayang ke atas kurang lebih tiga meter tingginya, diterima dengan penuh kasih sayang lalu dilontarkan
lagi sampai tiga kali. Kemudian dia memeluk Li Eng dan menciumi rambutnya, membiarkan Li Eng terisakisak
bahagia di dadanya.
"Li Eng, mana dia? Mana cucu buyutku? Tidak bisakah kau lahirkan dia sekarang saja? Aku sudah ingin
memondongnya, menimangnya, ha-ha-ha!"
"Iihhh, Kakek ini...!" Li Eng menundukkan mukanya, jengah.
"Ha-ha-ha, Song-bun-kwi tolol, siapa bilang cucuku tidak becus dan goblok? Ha-ha-ha, Kong Bu, kau
hebat...!"
Dia sudah melepaskan Li Eng, lalu menghampiri Kong Bu dan menepuk-nepuk pundak cucunya itu. Kalau
saja bukan Kong Bu yang ditepuknya, tentu pundak itu akan remuk.
"Ha-ha-ha-ha, aku punya cucu buyut..." Kakek itu tertawa terus terbahak-bahak, makin lama makin aneh
suara ketawanya.
"Kongkong...!" Li Eng dan Kong Bu menjerit berbareng sambil menubruk maju.
Akan tetapi Song-bun-kwi sudah terguling roboh, terlentang dengan mata melek dan mulut terbuka,
wajahnya masih tertawa-tawa akan tetapi napasnya berhenti. Kakek itu sudah mati dalam keadaan tertawa
bahagia. Kiranya dalam kegirangannya yang melewati batas tadi, dia sudah banyak mengerahkan tenaga
dan hal ini memperhebat luka-lukanya yang memang sudah terlalu parah hingga akhirnya merenggut
nyawanya sebelum dia sempat menghabiskan ketawanya!
Li Eng dan Kong Bu memeluki tubuh kakek itu sambil menangis. Angin yang tadi bertiup dan bermain-main
di antara daun-daun pohon, sekarang berhenti. Sunyi senyap di dalam hutan itu, seakan-akan hutan, angin
dan penghuni hutan ikut menyatakan bela sungkawa atas kematian kakek sakti yang hidupnya sering
menggemparkan dunia kang-ouw itu…..
********************
"Kim-tiauw-ko, aku ingin sekali pergi ke Ching-coa-to. Ah, alangkah akan mudahnya kalau kau dapat
menerbangkan aku ke pulau itu, kita tak akan bingung menghadapi jalan-jalan rahasia. Ah, sayang, Tiauwko,
kau tak tahu di mana adanya pulau itu...," kata Kun Hong sambil mengelus-elus leher burung itu.
Betapa pun cerdik pandainya, seekor burung hanyalah seekor binatang biasa saja, tentu saja tidak memiliki
akal dan tidak mengerti apa yang dimaksudkan oleh Si Pendekar Buta. Dia hanya mengeluarkan suara
mencicit bingung melihat sahabatnya ini bersikap kecewa dan menyesal.
Mereka masih berada di dalam sebuah hutan, sudah beberapa hari mereka melakukan perjalanan keluar
hutan. Kun Hong bingung karena tidak bertemu manusia yang dapat dia tanyai jalan.
Sebetulnya sudah banyak hal yang menghilangkan kegelisahannya. Cui Sian telah berada di tangan orang
yang boleh dipercaya dan anak itu selamat. Surat wasiat juga sudah diantarkan ke utara, dan dia merasa
yakin bahwa Sin Lee dan Hui Cu pasti akan dapat melaksanakan tugas itu dengan baik. A Wan juga
berada bersama paman gurunya, aman dan selamat.
Tinggal dua lagi tugas yang harus dia selesaikan. Pertama mencari orang-orang Ching-coa-to dan
memberi hajaran atas kejahatan mereka terhadap Thai-san-pai. Ke dua... ya, yang ke dua inilah yang
membingungkan hatinya. Tentang Hui Kauw! Bagaimana baiknya dengan nona itu?
Harus dia akui bahwa dia betul-betul mencinta Hui Kauw. Cinta kasihnya terhadap Cui Bi sekarang
agaknya sudah berpindah kepada Hui Kauw seluruhnya. Dia merasa kesepian, rindu, dan merasa seakanakan
hidupnya tidak lengkap, kehilangan semangat hidup dan kegembiraan, akibat berpisah dari nona
dunia-kangouw.blogspot.com
bersuara bidadari itu. Dia tahu bahwa hidupnya selanjutnya akan merana, akan kosong hampa dan tidak
ada artinya tanpa Hui Kauw.
"Uhh, urusan besar belum selesai, sudah memikirkan yang bukan-bukan..." Dia menepuk kepala sendiri
dan rajawali emas itu menggereng perlahan.
"Kim-tiauw, betapa tidak enaknya menjadi manusia!" kembali Kun Hong mengeluh sambil duduk di atas
batu besar di dekat burung itu. "Tiada hentinya manusia terganggu dalam hidupnya yang terbelit-belit dan
terikat oleh segala macam kewajiban, dan terkacau oleh segala macam perasaan. Kau inilah makhluk
bahagia, kim-tiauw, karena selama hidupmu kau tidak pernah memusingkan sesuatu."
Burung itu mengeluarkan suara panjang seakan-akan membantah pendapat ini dan sama sekali tidak
menyetujuinya. Kun Hong merenung. Betulkah seperti yang dia katakan tadi? Apakah tidak sebaliknya dari
pada itu? Bukanlah segala ikatan dalam hidup itulah yang membuat hidup ini berisi dan pantas diderita?
Bukankah kehidupan burung dan segala macam makhluk selain manusia di dunia ini yang amat
menjemukan?
Bayangkan saja. Bila hidup tanpa adanya susah, senang, puas, kecewa, dan lain-lain perasaan yang saling
bertentangan, apakah tidak akan merupakan siksaan karena tiada perubahan, sunyi sepi dan seolah-olah
sudah mati saja? Bagaikan samudera, apa artinya tanpa gelombang membadai yang membuat samudera
nampak hidup? Apa artinya dunia ini tanpa angin, lelap lengang dan sunyi mati. Demikian pula hidup ini,
akan terasa sunyi membosankan apa bila tidak ada ikatan-ikatan yang mengakibatkan manusia merasakan
susah senang, jatuh bangun dan sebagainya.
Teringat dia akan filsafat-filsafat kuno dan dia tersenyum seorang diri. Memang hebat para budiman dan
bijaksana jaman dahulu, telah dapat meneropong isi dari pada hidup. Dia menepuk-nepuk leher kim-tiauw,
kini wajahnya berseri dan hatinya tenang,
"Kim-tiauw, alangkah bodohku, sampai lupa akan kenyataan yang tidak terbantah lagi itu. Siapa mencari
senang, dia sekali-kali tentu bertemu susah. Siapa mencari untung sekali-kali akan bertemu rugi. Siapa
mencari puas, sekali-kali akan ketemu kecewa. Memang sudah semestinya begitu. Kalau tidak ada atas,
mana bisa ada bawah? Kalau tidak ada senang, mana bisa bilang ada susah? Manusia adalah makhluk
yang paling berbahagia, kim-tiauw, sebab mengenal keduanya itu, mengenal dan merasakan akibat dari
kekuatan Im dan Yang (positive dan negative). Ha-ha-ha, kaulah yang patut dikasihani, kim-tiauw."
Kini kim-tiauw itu bersuara girang, sekan-akan dia ikut bergembira mendengar sahabatnya sudah bisa
tertawa-tawa kembali. Tiba-tiba mereka berdua serentak diam memperhatikan. Terdengar suara kaki orang
banyak menuju ke arah tempat itu. Rajawali emas sudah siap, bulu tengkuk burung itu sudah mulai berdiri,
tanda bahwa dia telah siap menyerang lawan.
"Sssttt, jangan sembrono kim-tiauw-ko, kita lihat dulu mereka itu kawan ataukah lawan."
Betapa pun juga, Kun Hong sudah siap pula berdiri di dekat burung itu, menanti dengan penuh
kewaspadaan. Dia taksir sedikitnya ada tujuh orang yang bergerak makin dekat itu. Maklum akan watak
burung rajawali yang mudah curiga itu. Kun Hong sengaja merangkul lehernya untuk mencegah burung itu
menerjang orang secara sembrono sebelum dia dapat mengetahui siapa mereka itu.
"Pangcu (ketua)... kami para anggota Hwa-i Kaipang datang menghadap..." tiba-tiba saja seorang di antara
mereka berseru dari jauh.
Kun Hong bernapas lega, "Kim-tiauw-ko, agaknya mereka itu teman-teman sendiri, jangan kau ganggu."
Tidak lama kemudian muncullah delapan orang yang serta merta berlutut di depan Kun Hong. Pendekar
muda ini teringat akan tipuan yang dilakukan The Sun yang pernah mendatangkan beberapa orang
anggota Hwa-i Kaipang yang palsu. Orang-orang ini pun juga tidak dia kenal, mana dia tahu kalau mereka
adalah betul-betul anggota perkumpulan pengemis itu?
"Apakah di antara kalian ada yang mengenal Coa-lokai?" dia memancing.
Terdengar jawaban dua orang yang berada di sebelah kanan, "Siauwte adalah murid suhu Coa-lokai."
dunia-kangouw.blogspot.com
Tiba-tiba Kun Hong bergerak dan tahu-tahu dia telah mengirim dua serangan kepada dua orang itu.
Sebagai ahli-ahli silat, dua orang itu otomatis menggerakkan tangan menangkis. Akan tetapi akibatnya,
keduanya terjungkal dan terlempar ke belakang sampai tiga meter jauhnya.
Kagetlah semua orang itu, juga rajawali emas sudah siap membantu sahabatnya dalam pertempuran. Akan
tetapi tiba-tiba Kun Hong tertawa bergelak, membuat orang-orang itu, terutama yang tadi dibikin tergulingguling,
makin keheranan.
"Ha-ha-ha, maafkan aku, Twako. Dulu aku pernah dihadapkan kepada orang-orang Hwa-i Kaipang yang
palsu, maka terpaksa aku menguji. Kiranya benar ji-wi adalah murid-murid Coa-lokai sehingga aku tidak
perlu ragu-ragu lagi. Maaf."
Semua anggota perkumpulan penggemis itu saling pandang dan makin kagumlah mereka. Tadinya mereka
ragu-ragu melihat betapa orang yang amat dipuji-puji oleh para pimpinan Hwa-i Kaipang hanya seorang
pemuda yang buta lagi. Akan tetapi, melihat gerakan Kun Hong tadi yang sekali bergerak tidak saja mampu
menjungkalkan dua orang, akan tetapi dari gerakan menangkis dua orang itu dia telah mengenal ilmu silat
dari Coa-lokai. Hebat!
Kembali mereka berlutut. "Pangcu, kami datang untuk melapor bahwa Lo-pangcu kami telah tewas dalam
pertempuran di kota raja."
Kun Hong mengangguk. Dia sudah mendengar akan hal ini dari Hui Kauw.
"Aku sudah tahu dan aku menyesal sekali mengapa Hwa-i Lokai sampai mengorbankan banyak nyawa
saudara-saudara Hwa-i Kaipang untuk membantuku."
"Bukan begitu, Pangcu. Persoalannya bukanlah semata urusan pribadi, melainkan urusan perjuangan.
Hwa-i Kaipang dalam hal ini bekerja sama dengan Pek-lian-pai, dan langsung menerima tugas-tugas dari
utara."
"Hemmm, begitukah? Sekarang siapa yang menggantikan Hwa-i Lokai, dan apa maksud kalian datang
menemuiku di sini?"
Orang yang tadi telah mengaku sebagai murid Coa-lokai menjawab, "Sementara ini yang memimpin kami
adalah suhu sendiri. Juga suhu yang menyuruh kami mencari Pangcu dan memberi tahu bahwa nona
Kwee Hui Kauw sekarang berada dalam bahaya."
Terkejut hati Kun Hong. "Ehh, siapakah namamu dan bagaimana kalian tahu bahwa nona Hui Kauw dalam
bahaya? Apa pula sebabnya hal itu kalian ceritakan kepadaku?"
"Maaf, Pangcu. Siauwte Lauw Kin, murid kepala suhu Coa-lokai. Siauwte beserta semua saudara memang
bertugas dalam pergerakan di dalam kota raja sehingga semua urusan kami ketahui belaka. Juga kami
tahu bahwa nona itu adalah sahabat baik Pangcu, karena itulah kami datang menyampaikan warta ini."
"Bagaimana urusannya? Hayo ceriterakan yang jelas!" Kun Hong tidak sabar lagi setelah dia mengerti
duduknya perkara dan menaruh kepercayaan kepada orang yang tadi sudah dia rasakan bahwa
gerakannya ketika menangkis memang betul-betul ilmu silat Coa-lokai. Dahulu pernah dia menghadapi
penyerangan Coa-lokai, maka dia pun mengenal gerakan muridnya ini.
"Kami sendiri tidak tahu sebabnya, akan tetapi kami melihat nona itu sudah ditawan oleh The Sun dan
Bhok Hwesio. Malah hebatnya, ayahnya sendiri, yakni pembesar Kwee itu, agaknya juga berpihak kepada
The Sun dan sama sekali tidak menolong puterinya."
Kun Hong merasa khawatir sekali. Akan tetapi dia menahan tekanan batinnya, kemudian bertanya tenang,
"Di mana nona itu ditahan? Memang aku harus menolongnya, apakah kalian melihat cara untuk
membebaskannya?"
"Harap Kwa-pangcu jangan khawatir. Kami sudah menyelidiki dengan teliti sekali dan kami yakin bahwa
sementara ini mereka tidak akan mengganggu nona Hui Kauw. Memang ada jalan untuk menolongnya,
akan tetapi hal ini membutuhkan tenaga ahli yang mempunyai ilmu tinggi. Agaknya, kecuali Pangcu sendiri
tidak mungkin ada yang akan mampu untuk menolongnya."
dunia-kangouw.blogspot.com
"Hemmm, lekas ceriterakan dengan jelas, apa yang kau maksudkan?"
"Begini, Kwa-pangcu. Kami mendengar kabar bahwa pihak The Sun sudah mengadakan hubungan dengan
Ching-toanio dan kawan-kawannya. Karena nona Hui Kauw ditangkap dengan tuduhan membantu
pemberontak, yaitu memberikan mahkota kepada puterinya Sin-kiam-eng untuk dibawa ke utara, maka
sudah semestinya dia dihukum mati. Baiknya mereka itu masih mengingat pada Ching-toanio yang sudah
mengadakan hubungan lebih dulu. Mereka merasa sungkan terhadap Ching-toanio karena nona Hui Kauw
adalah puteri angkatnya. Inilah yang menyelamatkan nona Hui Kauw. Pelaksanaan hukuman ditunda dan
malah dia akan dibawa dalam pertemuan yang diadakan antara jagoan-jagoan istana dengan pihak Chingcoa-
to. Mungkin dalam pertemuan itulah nona Hui Kauw akan diberi hukuman."
Kun Hong terkejut bukan main. Sama sekali tidak ada baiknya bila Hui Kauw dihadapkan dengan Chingtoanio,
karena dia tahu betapa nyonya itu sangat benci kepada Hui Kauw. Pertemuan itu tidak akan
memperingan hukuman Hui Kauw, malah mungkin nona pujaan hatinya itu akan mengalami siksaan yang
lebih hebat.
"Di manakah pertemuan itu diadakan dan kapan?" tanyanya cepat, hatinya kini tidak dapat menahan lagi
kegelisahannya.
"Masih tiga hari lagi, Kwa-pangcu. Pihak Ching-coa-to masih belum percaya kepada para jagoan istana
sehingga mereka tidak mau mengadakan pertemuan di kota raja, khawatir akan perangkap. Oleh karena
itu sudah diputuskan oleh kedua pihak untuk mengadakan pertemuan di luar kota raja, di lembah Sungai
Huai, tempat yang mereka pilih adalah..."
"Pusat perkumpulan Ngo-lian-kauw?" Kun Hong memotong, dia langsung teringat ketika lembah Sungai
Huai disebut-sebut.
"Ehhh, ternyata Kwa-pangcu juga sudah tahu...!" Lauw Kin, murid Coa-lokai itu berseru terkejut.
"Aku hanya menduga saja. Lanjutkan ceritamu dan apa maksud pertemuan itu."
"Memang, mereka memilih tempat Ngo-lian-kauw, karena meski pun pihak Ngo-lian-kauw selama ini tidak
ikut-ikut, akan tetapi mereka agaknya mempunyai hubungan pula dengan perkumpulan sesat itu dan
mempercayainya. Dan menurut hasil penyelidikan kami yang bekerja sama dengan Pek-lian-pai, maksud
pertemuan itu adalah hendak merundingkan kerja sama menghadapi serbuan Raja Muda Yung Lo. Dalam
hal ini, pihak Ching-coa-to minta jaminan dan janji-janji kedudukan yang akan diputuskan dan ditanda
tangani sendiri oleh kaisar."
"Hemmm, untuk menghadapi paman sendiri, menarik bantuan tenaga orang-orang Mongol dan Mancu."
Kun Hong memotong. "Kalau begitu, kedua pihak tentu akan datang dengan kekuatan besar, belum lagi
para anggota Ngo-lian-kauw yang tentu menjaga keamanan di sana sebagai tuan rumah."
"Memang betul, Kwa-pangcu. Akan tetapi kami dan pihak Pek-lian-pai sudah mengadakan persiapan pula,
malah kami sebelumnya telah menghubungi pasukan-pasukan Raja Muda Yung Lo serta mengerahkan
para saudara kita. Raja Muda Yung Lo sudah berjanji akan mengirimkan pasukan dan akan menyerbu,
karena orang-orang yang akan berkumpul itu merupakan inti kekuatan pertahanan di kota raja. Di dalam
keributan inilah maka Pangcu dapat menolong nona Hui Kauw yang sudah pasti akan dibawa serta ke
tempat itu."
Kun Hong berpikir keras. Kekuatan pihak istana dan Ching-coa-to kalau digabung menjadi satu,
merupakan kekuatan hebat yang sukar dilawan. Apa lagi mengingat bahwa di sana ada orang-orang
seperti Ka Chong Hoatsu, tiga orang Ang Hwa Sam-cimoi, Ching-toanio sendiri, Souw Bu Lai, dan Bouw Si
Ma ditambah pihak istana yang amat kuat dibantu oleh orang-orang berilmu tinggi seperti Bhok Hwesio,
Lui-kong Thian Te Cu, dan Hek Lojin.
Berat sekali lawan-lawan itu, akan tetapi demi keselamatan Hui Kauw, dia harus datang menolong. Di luar
istana memang lebih leluasa dan mudah menolong nona itu, dari pada di dalam istana yang dikurung pagar
tembok dan di mana terdapat puluhan ribu orang tentara yang menjaga. Di samping menolong Hui Kauw,
juga hitung-hitung dia membantu perjuangan mendiang pamannya Tan Hok yang membantu Raja Muda
Yung Lo.
dunia-kangouw.blogspot.com
"Kalau begitu, mari kita berangkat dan biarlah siasat selanjutnya kita atur di sana," kata Kun Hong. Dia lalu
menepuk-nepuk leher kim-tiauw dan berkata, "Kim-tiauw-ko, kau tidak boleh turut karena kehadiranmu
akan membuka rahasia pengepungan. Sekarang pergilah kau menyusul susiok, kelak kau boleh cari lagi
padaku. Pergilah!"
Dia mendorong tubuh burung itu yang mengeluarkan seruan panjang tanda kecewa. Akan tetapi agaknya
dia tidak berani membangkang, buktinya dia lalu melengking keras dan terbang ke angkasa raya, sebentar
saja lenyap dari situ. Para anak buah Hwa-i Kaipang kagum bukan main melihat burung sakti itu…..
********************
Memang benar apa yang diceriterakan oleh Lauw Kin anggota Hwa-i Kaipang itu. Pada waktu itu, memang
para anggota Hwa-i Kaipang ini bersama para anggota Pek-lian-pai, secara lihai sekali berhasil
menyelundup ke kota raja dan memasang banyak mata-mata untuk mengetahui gerak-gerik pemerintahan
kaisar baru. Mata-mata ini dipasang sampai menembus dinding istana yang tebal sehingga segala macam
peristiwa diketahui belaka oleh mereka.
Melalui para penyelidik, kaisar muda itu telah dapat mengetahui akan adanya persekutuan yang hendak
menjatuhkannya. Dia tahu pula bahwa persekutuan itu mengadakan kontak dengan Raja Muda Yung Lo,
pamannya. Betapa pun juga, dia hendak mempertahankan kekuasaannya dan ketika penobatannya
menjadi kaisar baru dilaksanakan, dia sengaja tidak mengundang pamannya itu.
Kini, setelah jelas olehnya bahwa diam-diam mendiang kakeknya (kaisar lama) menaruh harapan kepada
Raja Muda Yung Lo, dia bertekad untuk menumpas pamannya itu. Atas bantuan The Sun, kaisar lalu
mengundang orang-orang pandai dan mengulurkan tangan kepada orang-orang kang-ouw yang suka
membantunya.
Oleh karena itulah, ketika dia mendengar bahwa para tokoh dari Ching-coa-to bersama orang-orang sakti
menawarkan bantuan mereka, dia menjadi girang sekali. Akan tetapi di samping kegirangan ini juga
terdapat kecurigaan di pihak kaisar dan para jagoan istana.
Semenjak dulu Ching-coa-to tak pernah membantu kaisar dalam urusan negara, sungguh pun harus diakui
pula bahwa pihak ini sama sekali juga tidak ada hubungan dengan para pemberontak seperti Pek-lian-pai
dan Hwa-i Kaipang. The Sun dan jagoan-jagoan lainnya terlebih merasa curiga dan berhati-hati lagi
menghadapi Ching-coa-to, karena mendengar bahwa rombongan itu memiliki anggota tokoh-tokoh Mongol,
malah yang seorang adalah bekas pangeran Mongol pula. Jangan-jangan pangeran itu mempunyai niat
buruk hendak mengembalikan kekuasaan bangsanya yang telah terusir oleh perjuangan kaisar pertama
dari kerajaan Beng! Adanya orang Mancu dalam rombongan itu semakin menambahkan kecurigaan.
"Sukar diduga apa yang tersembunyi dalam maksud bantuan mereka itu," kata The Sun ketika para jagoan
diundang oleh kaisar untuk membicarakan masalah ini. "Akan tetapi, mereka terdiri dari orang-orang sakti
yang bantuannya amat diperlukan untuk menghadapi musuh-musuh kita."
"Hemmm," kata kaisar, "apakah tidak berbahaya kalau mengundang mereka ke kota raja? Jangan-jangan
itu berarti kita memasukkan serigala-serigala ke dalam rumah."
"Harap Paduka tidak khawatir," The Sun menghibur, "apa bila mereka itu mempunyai niat buruk, para
pengawal dipimpin oleh para Locianpwe yang berada di sini pasti akan dapat menghancurkan mereka.
Selain itu, apa bila suhu telah berhasil mengejar dan menangkap pemberontak Kwa Kun Hong, tentu suhu
akan datang lagi dan keadaan kita akan menjadi lebih kuat."
Bhok Hwesio mengerutkan kening. Hwesio ini suka kepada The Sun yang sangat pandai mengambil hati
dan bersikap halus, akan tetapi dia tidak suka terhadap guru pemuda itu yang dianggapnya sombong.
"Tanpa adanya Hek Lojin sekali pun pinceng masih sanggup mengusir perusuh-perusuh dari dalam kota
raja. Tapi sungguh amat tidak baik kalau sampai memanggil orang-orang yang masih mencurigakan ke
dalam kota raja, sama saja dengan memancing datangnya kekacauan yang akan melemahkan pertahanan.
Pertemuan dengan mereka lebih baik kita adakan di luar kota raja, sesudah melihat sikap mereka dan
mendengarkan kesanggupan mereka barulah kita menentukan langkah."
dunia-kangouw.blogspot.com
Setelah ditimbang-timbang oleh kaisar, usul Bhok Hwesio ini lalu diterima dan diambillah keputusan untuk
mengundang orang-orang Ching-coa-to itu mengadakan pertemuan. Ada pun tempat yang mereka pilih
adalah lembah Sungai Huai yang juga menjadi sarang dari perkumpulan Ngo-lian-kauw.
Tentu saja peristiwa penting ini tertangkap oleh telinga para mata-mata Pek-lian-pai dan Hwa-i Kaipang
yang segera mengadakan persiapan. Mereka mengirim surat kepada Raja Muda Yung Lo, bahkan ada
yang mencari Kun Hong dan mengabarkan hal ini.
Dalam pertemuan puncak itulah para penyelidik ini mendengar tentang nasib Hui Kauw yang akan
dijadikan tawanan dan dibawa ke pertemuan dengan orang-orang Ching-coa-to untuk dimintakan
keputusan hukumannya. Rahasia Hui Kauw terbongkar ketika gadis ini merampas mahkota dan
menyerahkannya kepada Loan Ki dan Nagai Ici tanpa ia sadari bahwa kejadian itu dilihat oleh seorang
mata-mata istana yang kebetulan berada di tempat itu dan bersembunyi.
Hui Kauw segera ditangkap. Dengan gagah berani nona ini mengaku bahwa dia sama sekali tidak peduli
akan urusan negara, tidak peduli siapa yang akan menjadi kaisar, akan tetapi bahwa ia melakukan itu
semata-mata untuk membantu Kwa Kun Hong, suaminya!
Ayahnya, bangsawan Kwee, marah-marah dan tidak mengakuinya sebagai puteri lagi. Ia lalu dijebloskan
ke dalam penjara menanti keputusan hukuman, dan akhirnya ia hendak dipergunakan oleh The Sun untuk
mengambil hati ibu angkatnya, Ching-toanio.
The Sun memang cerdik. Dia cukup mengerti bahwa Hui Kauw bukanlah pemberontak, namun seorang
yang mencinta Si Pendekar Buta dan perbuatannya itu hanya terdorong oleh cinta dan kesetiaan. Kalau
Hui Kauw dibunuh, bukan saja tidak ada artinya, bahkan mungkin sekali hal itu akan mematahkan
hubungan baik dengan Ching-coa-to. Tentu saja dia tidak tahu bahwa Ching-toanio sebetulnya membenci
Hui Kauw pula. Maka dia hendak ‘mengambil hati’ orang-orang Ching-coa-to dan menyerahkan Hui Kauw
kepada mereka, sebagai umpan!
Pada waktu itu, telah terjadi perubahan besar pada perkumpulan Ngo-lian-kauw. Dahulu, lima tahun yang
lalu, perkumpulan ini dipimpin oleh Kim-thouw Thian-li (Bidadari Kepala Emas) murid Hek-hwa Kui-bo. Di
bawah pimpinan Kim-thouw Thian-li yang direstui pula oleh iblis wanita Hek-hwa Kui-bo, perkumpulan itu
maju pesat.
Ngo-lian-kauw atau perkumpulan Agama Lima Teratai adalah semacam agama sesat atau agama klenik
yang memuja kekuasaan iblis dan mempelajari ilmu-ilmu hitam. Tidaklah mengherankan bila pada waktu
itu ketuanya terkenal sebagai seorang ahli racun kembang dan jahatnya malahan melebihi gurunya.
Setelah guru dan murid yang jahat itu tewas, perkumpulan Ngo-lian-kauw menjadi morat-marit. (baca
Rajawali Emas)
Terjadilah perebutan-perebutan kekuasaan, karena ketua Ngo-lian-kauw itu meninggalkan banyak harta
benda di samping kedudukan serta pengaruh. Para anggota Ngo-lian-kauw yang terdiri dari para pendetapendeta
Ngo-lian-kauw dan wanita-wanita, terpecah-pecah menjadi beberapa kelompok dan membela
pilihan masing-masing supaya dipilih menjadi ketua sehingga terjadilah pertempuran-pertempuran.
Tetapi kemudian muncullah tiga orang wanita sakti dari barat, yaitu Ang Hwa Sam-cimoi, tiga orang kakak
beradik Ngo Kui Ciau, Ngo Kui Biauw dan Ngo Kui Siauw yang selalu berpakaian serba merah. Tiga orang
wanita yang usianya baru tiga empat puluh tahun ini merupakan adik-adik seperguruan Hek Kwa Kui-bo,
jadi masih terhitung bibi-bibi guru dari pada mendiang Kim-thouw Thian-li bekas ketua Ngo-Lian-kauw.
Dengan kepandaian mereka, tentu saja dengan sangat mudah Ang Hwa Sam-cimoi ini menundukkan
semua anggota Ngo-lian-kauw. Sejak itu, kurang lebih empat tahun setelah ketua Ngo-lian-kauw tewas,
perkumpulan ini mengakui Ang-hwa Sam-cimoi sebagai ketua mereka.
Sesudah Ang-hwa Sam-cimoi menjadi ketua Ngo-lian-kauw, terjadilah perubahan hebat. Tiga orang wanita
ini tak suka akan ilmu klenik, tak suka akan ilmu sihir dan penggunaan racun. Mereka sudah mewarisi ilmu
silat dan ilmu pedang yang sangat lihai, kepandaian mereka semenjak mereka merantau ke barat telah
mengalami kemajuan yang amat hebat sehingga mereka tidak suka mengandalkan diri kepada segala
macam ilmu hitam.
dunia-kangouw.blogspot.com
Juga, melihat para pendeta laki-laki yang sudah tua-tua mereka tidak suka melihatnya dan membubarkan
para anggota pria dari Ngo-lian-kauw, tidak lagi mengakui mereka sebagai anggota. Sebaliknya, mereka
kemudian menerima anggota-anggota baru yang terdiri dari wanita-wanita muda dan cantik.
Dan semenjak dipimpin oleh Ang-hwa Sam-cimoi inilah perkumpulan itu terkenal sebagai perkumpulan
wanita cabul! Bila mana ada laki-laki terlihat di situ, sudah dapat dipastikan bahwa laki-laki ini adalah
seorang pemuda tampan yang telah diculik dan orang itu selama hidupnya tidak akan dapat melihat dunia
ramai lagi karena begitu dia sudah diapkir (tidak dibutuhkan lagi), maka dia akan dibunuh!
Ang-hwa Sam-cimoi memilih anggota-anggota yang berbakat dan mereka ini tidak banyak jumlahnya.
Kalau dulu anggota Ngo-lian-kauw ada ratusan orang, sekarang hanya tinggal kurang lebih lima puluh
orang lagi, semua wanita akan tetapi mereka ini rata-rata memiliki ilmu silat yang lumayan. Bahkan ketiga
orang ketua baru ini telah memperhebat barisan Ngo-lian-tin (Barisan Lima Teratai) yang dahulu diciptakan
oleh Kim-thouw Thian-li.
Semua anggota-anggota Ngo-lian-kauw adalah ahli-ahli barisan Ngo-lian-tin sehingga biar pun kini
anggotanya hanya lima puluh orang saja dan tidak sebanyak dahulu, dan wanita semua, namun apa bila
dibandingkan dengan dahulu, perkumpulan ini malah lebih kuat!
Seperti telah kita ketahui, Ang-hwa Sam-cimoi juga merupakan orang-orang yang memiliki ambisi untuk
bisa mendapatkan kemuliaan di kota raja di samping usaha mereka mencari teman-teman yang pandai
untuk membalaskan dendam mereka atas kematian Hek-hwa Kui-bo di Thai-san. Oleh karena itu tiga
orang saudara ini menjadi tamu-tamu terhormat dari Ching-toanio di Ching-coa-to. Seperti telah dapat kita
duga, adalah tiga orang wanita sakti ini yang banyak membantu Ching-toanio beserta teman-temannya
sehingga siasat mereka di Thai-san berhasil dengan baik hingga mengakibatkan hancurnya perkumpulan
Thai-san-pai yang mereka benci itu.
Dan tidak aneh pula kalau pihak Ching-coa-to mengajukan sarang Ngo-lian-kauw sebagai tempat
pertemuan dan perundingan antara pihak mereka dan pihak jagoan-jagoan istana. Seperti juga pihak
istana, mereka sendiri masih ragu-ragu dan sangsi apakah para jagoan istana itu benar-benar mau
menerima uluran tangan mereka dan mau memberikan janji kedudukan.
Demikianlah, pada hari yang sudah ditentukan, semua orang-orang Ngo-lian-kauw telah siap sedia.
Sebagai nyonya rumah, Ang-hwa Sam-cimoi sudah mengatur tempat mereka sebaik-baiknya agar dapat
menghormati para jagoan istana yang akan menjadi tamu-tamu agung.
Semua anggota Ngo-lian-kauw diberi tugas, ada yang mengatur penjagaan di sekeliling tempat itu untuk
menjaga keamanan, ada yang bertugas melayani para tamu. Akan tetapi pada hari itu, mereka semua
yang sebagian besar terdiri dari wanita-wanita muda yang cantik, berdandan dengan mewah, memakai
pakaian baru dengan muka mereka dilapisi bedak dan yanci (pemerah) lebih tebal dari pada biasanya.
Namun setiap orang anggota menggantungkan pedang pada punggung masing-masing, sehingga mereka
ini kelihatan cantik manis, centil genit, akan tetapi juga gagah.
Untuk menyenangkan hati jagoan-jagoan dari istana yang akan mewakili kaisar di dalam pertemuan dan
perundingan ini, bangunan besar yang biasanya menjadi tempat tinggal ketua Ngo-lian-kauw, sekarang
dikosongkan dan dihias menjadi tempat perundingan yang cukup luas dan menyenangkan.
Para pemasak sudah sejak pagi hari sibuk di dapur dan banyaklah itik dan ayam dipotong lehernya, di
samping dua ekor babi disembelih. Untuk keperluan ini bahkan didatangkan dua orang tukang masak pria
dari kota raja, dua orang laki-laki gemuk bermuka buruk akan tetapi yang sepasang tangannya pandai
sekali menyulap masakan-masakan lezat. Arak wangi juga tidak ketinggalan, sudah dipilihkan arak tua
yang baik. Pendeknya, pihak Ching-coa-to melalui Ngo-lian-kauw telah mempersiapkan penyambutan
secara hebat dan besar-besaran.
Semenjak kemarin, pihak Ching-coa-to dan teman-temannya telah hadir di situ. Mereka ini terdiri dari
belasan orang tokoh terkenal di dunia kang-ouw, tetapi yang penting disebut adalah Ching-toanio, Souw Bu
Lai si jago Mongol beserta gurunya, si pendeta Ka Chong Hoatsu pentolan Mongol yang terkenal sakti.
Tampak pula Bouw Si Ma, jagoan Mancu murid tunggal Pak Thian Lo-cu.
Bouw Si Ma ini terkenal dengan julukannya Si Tangan Maut dan tingkat kepandaiannya tidak kalah oleh
Souw Bu Lai mau pun Ching-toanio sendiri! Tentu saja patut pula disebut Ang-hwa Sam-cimoi, sebab tiga
orang wanita ini betul-betul sakti dan kepandaian mereka masing-masing jauh melampaui tingkat Chingdunia-
kangouw.blogspot.com
toanio dan kawan-kawannya, kecuali Ka Chong Hoatsu. Tiga orang sumoi (adik seperguruan) Hek-hwa
Kui-bo ini memang masing-masing tidak setinggi Ka Chong Hoatsu kesaktiannya, akan tetapi kalau mereka
itu maju bertiga, kiranya Ka Chong Hoatsu sendiri akan sukar menandingi mereka!
Sesungguhnya mereka ini tidaklah sejujurnya hendak membantu pemerintah Beng-tiauw. Seperti telah kita
ketahui, mereka ini terdiri dari orang-orang yang berambisi (berpamrih), terutama sekali Souw Bu Lai atau
Pangeran Sublai yang mengaku masih keturunan dari Jenghis Khan.
Kalau kali ini mereka mengulurkan tangan hendak membantu Kaisar Beng-tiauw dengan dalih mencari
kedudukan dan kemuliaan, sebetulnya adalah karena mereka kini merasa belum cukup kuat untuk
merampas kerajaan. Mereka hendak membaiki pemerintah dan menguasai kedudukan-kedudukan penting
sehingga kelak lebih mudah bagi mereka untuk menggulingkan Kerajaan Beng-tiauw dan membangun
kembali Kerajaan Mongol.
Ini termasuk cita-cita Souw Bu Lai yang didukung oleh gurunya, yaitu Ka Chong Hoatsu, dan juga Ang-hwa
Sam-cimoi. Akan tetapi cita-cita Bouw Si Ma si tokoh Mancu lain lagi. Tokoh ini bercita-cita
mempergunakan kekuatan bangsanya untuk mencoba menguasai kerajaan besar itu, karena
sesungguhnya sudah sangat lama Bangsa Mancu mengincar untuk berkuasa apa bila kesempatan baik
tiba. Cita-cita itu disetujui serta didukung oleh Ching-toanio yang diam-diam telah lama mengadakan
hubungan rahasia dengan Bouw Si Ma.
Pada hari yang ditentukan, pagi-pagi sekali rombongan dari kota raja sudah memasuki lembah Sungai
Huai. Lima puluh orang prajurit pilihan termasuk pula pasukan pengawal kerajaan, berbaris memanjang
dipimpin oleh dua orang pengawal istana, yaitu Ang Mo-ko dan Bhong-lokai, mengiringkan para tokoh
istana yang dikepalai oleh The Sun.
Para tokoh istana itu adalah Lui-tong Thian Te Cu yang berpakaian kuning, Bhok Hwesio dengan
pakaiannya tetap sederhana dengan bagian dada setengah terbuka, Bhewakala si jagoan dari Nepal yang
berkulit hitam dengan anting-antingnya yang besar bergantungan di kedua telinganya, It-to-kiam Gui Hwa
yang pendiam dan bersifat galak, dan The Sun sendiri. Di tengah rombongan berkuda ini, juga naik kuda
diapit oleh The Sun dan Lui-tong Thian Te Cu, kelihatan Hui Kauw si gadis muka hitam!
Gadis ini menunggang kuda dengan muka tunduk. Ia menjadi seorang tawanan yang biar pun ia tidak
dibelenggu dan naik kuda sendiri secara bebas, namun ia maklum bahwa di tengah orang-orang sakti ini ia
sama sekali tidak berdaya. Melawan tidak ada artinya.
Ia memang tak mengharapkan diampuni, tidak mengharapkan diberi hidup oleh mereka ini atau oleh ibu
angkatnya, akan tetapi ia sama sekali tidak sudi memperlihatkan rasa takut, tidak sudi pula minta ampun.
Hatinya malah berdebar penuh kebahagiaan kalau ia ingat bahwa semua penderitaan ini ia pikul demi
membantu usaha Kun Hong, suaminya. Mati baginya bukanlah apa-apa asalkan Kun Hong selamat dan
tugas yang dipikulnya berhasil terlaksana.
Gadis ini ketika ditangkap dan diperiksa, dengan terus terang mengaku bahwa ia sengaja memberikan
mahkota kepada Loan Ki untuk membantu tugas ‘suaminya’, Kwa Kun Hong, untuk menyampaikan
mahkota itu kepada Raja Muda Yung Lo di utara.
Memang sesungguhnya The Sun dan kawan-kawannya tentu saja tidak membutuhkan pengawalan karena
mereka terdiri dari orang-orang sakti. Tetapi pengawalan itu dilakukan bukan sekali-kali untuk menjaga
keselamatan mereka melainkan hanya untuk menambah keangkeran mereka sebagai utusan-utusan
kaisar.
Mereka semua datang berkuda dan sebetulnya malam tadi mereka sudah harus sampai di lembah Sungai
Huai, akan tetapi oleh karena musim hujan sudah tiba dan malam tadi hujan turun sangat lebat, mereka
terpaksa menunda perjalanan dalam sebuah hutan dan baru pada pagi hari itu mereka dapat melanjutkan
perjalanan ke lembah Sungai Huai.
Sesudah hujan semalam, pagi hari itu hawanya sangat nyaman dan sejuk, pemandangan segar
menyenangkan, akan tetapi sayang, tanah yang mereka lalui becek dan berlumpur. Pakaian seragam
indah barisan itu banyak yang terkena lumpur yang memercik-mercik dari kaki kuda.
Kedatangan rombongan ini lalu disambut penuh hormat dan manis budi oleh Ching-toanio sebagai wakil
dari rombongannya didampingi Ang-hwa Sam-cimoi sebagai nyonya-nyonya rumah. Para tokoh undangan
dunia-kangouw.blogspot.com
Ching-toanio yang sudah berkumpul juga keluar untuk turut menyambut. Tokoh berhadapan dengan tokoh,
jago dengan jago sehingga pertemuan itu amat menggembirakan, dipenuhi kata-kata saling memuji dan
saling merendahkan diri.
Rombongan itu lalu dipersilakan masuk ke dalam bangunan yang sudah disediakan. Ada pun para anggota
pasukan diperbolehkan beristirahat. Mereka ini pun tidak melewatkan kesempatan baik dan gembiralah
mereka melihat betapa para penyambut mereka adalah wanita-wanita cantik, yaitu para anggota Ngo-liankauw.
Suasana menjadi sangat meriah, baik di dalam bangunan di mana para tamu terhormat disambut,
atau di luar bangunan dan di tempat-tempat sekelilingnya di mana para anggota pasukan sudah dapat
mencari dan memilih pasangan masing-masing.
Oleh karena para anggota pasukan dari istana itu bersama para anggota Ngo-lian-kauw bersenang-senang
dalam kesempatan yang amat baik ini, maka mereka menjadi lalai dan penjagaan yang seharusnya
dilakukan menjadi kurang ketat. Keadaan ini menguntungkan Kun Hong dan ketiga orang pengantarnya,
yaitu Lauw Kin dan dua orang anggota Hwa-i Kaipang lain lagi.
Mereka ini adalah murid-murid Hwa-i Kaipang yang penuh semangat, gagah dan berani. Karena mereka
tahu bahwa tanpa diantar, sukarlah bagi seorang buta seperti Kun Hong untuk dapat menyelundup masuk
ke dalam sarang Ngo-lian-kauw, maka ketiga orang ini dengan nekat lalu menyediakan diri untuk menjadi
pengantar.
Lemahnya penjagaan memudahkan mereka untuk dapat menerobos masuk dan dengan kepandaian
mereka, empat orang ini dengan mudah membekuk empat anggota pasukan, merampas pakaian mereka
dan di lain saat Kun Hong dan tiga orang pengantarnya telah menyamar sebagai empat orang anggota
pasukan istana! Dalam pakaian ini, mereka lebih leluasa hingga akhirnya mereka berempat dapat
menyelinap ke dalam bangunan, mencari tempat untuk mengintai dan mendengarkan percakapan.
Di dalam ruangan yang luas itu, kedua pihak telah lengkap untuk mengelilingi meja yang diatur berjajar
berbentuk bundar. Hui Kauw berdiri di tengah-tengah, seolah-olah dijadikan barang tontonan. Sekarang
gadis itu tidak tunduk lagi seperti ketika naik kuda tadi. Dia berdiri tegak dengan pandang mata berapi-api
menyapu para tokoh yang sudah duduk di sekelilingnya. Dengan sikap gagah dan lantang ia berkata,
"Tak perlu banyak bicara lagi. Kalian adalah orang-orang terkenal di dunia kang-ouw dan kalau terjatuh ke
dalam tangan kalian, sampai mati pun aku tidak penasaran. Ibu angkatku atau penculikku membenciku,
ayah sendiri pun membenci, ibu kandung tak berdaya. Apa lagi artinya hidup? Mau hukum boleh hukum,
mau bunuh, siapa takut mati? Mau anggap aku pengkhianat mau pun pemberontak, terserah. Pokoknya
bagiku sama saja, aku sudah melakukan hal yang kuanggap membantu tugas suamiku, Kwa Kun Hong.
Habislah, aku tidak mau bicara lagi dan apa yang kalian hendak lakukan atas diriku, terserah!"
Hati Kun Hong terharu bukan main mendengar suara ini. Suara bidadari yang biasanya halus merdu penuh
getaran jiwa kini lantang dan nyaring penuh wibawa hingga keadaan di ruangan itu seketika hening.
Agaknya semua orang yang berada di dalam ruangan itu terpengaruh oleh sikap yang amat berani dari
gadis itu.
Kun Hong sedang memutar otak, menimbang-nimbang apa yang harus dia lakukan untuk dapat menolong
Hui Kauw. Dia cukup maklum bahwa keadaan amat berbahaya, bahwa di dalam ruangan itu terdapat
tokoh-tokoh sakti yang sukar dilawan dan bahwa dia seorang diri tidak mungkin sanggup menghadapi
pengeroyokan mereka. Akan tetapi dia pun tidak dapat membiarkan Hui Kauw terancam bahaya maut, dan
untuk menolong nona ini dia siap mempertaruhkan nyawanya sendiri.
Tiba-tiba kesunyian itu dipecahkan oleh suara ketawa terkekeh-kekeh. Semua orang di dalam ruangan itu
menengok dan tahu-tahu berkelebat bayangan orang yang setelah tiba di situ berubah menjadi seorang
kakek berkulit hitam, Hek Lojin.
"Ha-ha-ha-heh-heh-heh, The Sun, percuma saja kau membawa puluhan orang pengawal, Mereka itu
manusia-manusia tidak becus dan datang ke sini bukan melakukan penjagaan tetapi malah main gila
dengan perempuan-perempuan Ngo-lian-kauw yang tak tahu malu, malah ada yang mengintai ke sini
seperti mata-mata. Benar-benar tiada guna, ha-ha-ha, heh-heh-heh!" Sambil berkata demikian, tiba-tiba
tubuhnya berkelebat mendekati tempat persembunyian Kun Hong berempat.
Tongkat hitamnya menyambar empat kali. Terdengarlah suara keras tembok jebol disusul menjeritnya
Lauw Kin dan dua orang saudara seperguruannya yang roboh dengan kepala pecah berhamburan! Kun
dunia-kangouw.blogspot.com
Hong tadi pun amat terkejut sebab merasa betapa ujung tongkat menembus tembok menghantam
kepalanya, maka cepat dia miringkan kepala sehingga tongkat itu tidak mengenai sasaran.
"Iiihhh, mengapa yang seorang tidak roboh?" Hek Lojin berseru kaget dan heran sambil melompat mundur.
Kun Hong maklum bahwa tempat sembunyinya tak dapat dirahasiakan lagi. Dia menyesal bukan main
betapa tadi karena tidak menyangka-nyangka, dia tidak sempat menolong tiga orang anggota Hwa-i
Kaipang itu sehingga mereka tewas oleh tongkat Hek Lojin yang lihai dan ganas. Dengan cepat dia lalu
merenggut lepas pakaian pengawal yang tadi dirampas dan dipakai di luar bajunya sendiri, kemudian
sekali dorong dia telah mendobrak pintu dan melangkah masuk dengan sikap tenang.
Semua mata dalam ruangan itu sekarang ditujukan kepadanya. Beberapa orang di antara mereka yang
pernah merasakan kelihaian Si Pendekar Buta ini berdebar hatinya karena gentar. Apa lagi sikap Kun
Hong yang amat tenang dengan langkah-langkah lambat itu benar-benar amat mengecutkan hati, seakanakan
membawa ancaman maut yang hebat.
"Kun Hong...!" Hui Kauw berseru kaget dan heran bercampur khawatir ketika dia melihat munculnya orang
yang sama sekali tidak disangka-sangkanya itu.
Tentu saja di tempat dan pada saat lain dia akan merasa bahagia dan gembira sekali berjumpa dengan
orang yang dikasihi ini, akan tetapi saat itu dan tempat itu sama sekali tidak tepat untuk mereka saling
bertemu.
"Kun Hong, kenapa kau ke sini...?" Hui Kauw merangkul sambil bertanya dengan suara penuh kegelisahan,
sama sekali tidak merahasiakan perasaannya lagi.
Betapa jauh bedanya sikap gadis ini tadi dengan sekarang. Tadi, meski pun dia maklum bahwa dia sedang
menghadapi bahaya maut, dia tetap tenang dan tabah, malah sikapnya menantang. Sekarang, begitu Kun
Hong muncul, segera dia menjadi ketakutan, suaranya menggetar penuh kegelisahan.
Tentu saja hal ini tidak terlepas dari telinga Kun Hong yang tajam sehingga dia merasa tenggorokannya
seperti tersumbat. Alangkah besarnya cinta kasih gadis ini terhadapnya!
Dia melepaskan rangkulan Hui Kauw dan menggandeng tangan gadis itu sambil berkata lirih, "Hui Kauw,
biarlah kita mati bersama..."
Butiran-butiran air mata bening menetes turun dari sepasang mata gadis itu, akan tetapi bibirnya yang
manis tersenyum, dan jari-jemari tangannya saling meremas dengan jari-jari tangan Kun Hong. Dalam saat
menghadapi ancaman maut itu, benar-benar kedua orang muda ini merasa betapa teguhnya jalinan cinta
kasih murni mengikat hati masing-masing. Mereka rela berkorban, rela mati bersama.
"Kun Hong, kita melawan. Melawan mati-matian. Mari kita mati bersama, akan tetapi mati sebagai
sepasang harimau, bukan sebagai sepasang kelinci...," bisik Hui Kauw.
Ucapan ini seketika menggugah semangat Kun Hong, tongkat di tangan kanannya mulai menggigil.
“Jangan khawatir... aku akan melindungimu, Hui Kauw. Mereka itu tidak akan mampu mengganggu
selembar rambutmu tanpa melalui mayatku."
Hek Lojin tertawa nyaring. "Ha-ha-he-heh-heh! Betapa romantisnya! Ha-ha-ha, pasangan yang cocok. He,
orang buta, namamu Kwa Kun Hong? Ha-ha-ha, inikah yang membikin kecut hati para jagoan? Alangkah
lucunya, betul-betul memalukan sekali. He, orang buta, hayo kau berlutut lagi dan mengangguk-angguk
tujuh kali di depan kakiku seperti di dalam hutan itu, baru aku mau ampuni kau!"
Panas sekali rasanya telinga Kun Hong. Dengan tangan kirinya dia menarik Hui Kauw ke belakangnya
untuk melindunginya, kemudian dia berdiri tegak dengan tongkat di tangan kanan, siap menghadapi kakek
lihai ini.
"Hek Lojin, kau amat sombong, tak tahu orang mengalah karena mengingat usiamu yang sudah lanjut.
Kiranya kau hanyalah seorang kakek yang sudah pikun dan yang tidak patut dihormati oleh orang muda.
Tanpa alasan tak sudi aku berlutut dan minta ampun padamu atau kepada siapa pun juga."
dunia-kangouw.blogspot.com
"Hua-ha-he-he-heh! Benar-benar tabah anak ini. Pantas bikin heboh! The Sun, apakah di antara jagoanjagoanmu
tidak ada yang berani menangkap dia?"
The Sun dan teman-temannya tidak menjawab. Bhok Hwesio marah sekali, akan tetapi dia tidak begitu
bodoh untuk dapat diadu oleh kakek yang tidak disukainya itu, maka dia pun diam saja.
Akhirnya The Sun pun berkata, "Suhu, lebih baik kita segera turun tangan membunuhnya sebelum dia
membikin kacau pertemuan ini."
"Wah-wah-wah, jadi tidak ada yang berani? Nah, bagaimana dengan tokoh-tokoh yang katanya hendak
membantu pemerintah? Tentu ada yang berani menawan bocah buta ini. Ataukah memang tidak ada yang
berani?" Pandang matanya menyapu Ching-toanio dan teman-temannya.
Ka Chong Hoatsu dan Ang-hwa Sam-cimoi maklum akan kelihaian Kun Hong, akan tetapi mereka tidak
takut karena memang belum pernah secara sungguh-sungguh mengukur tenaga.
Mendengar semua itu, otak Kun Hong yang cerdik segera mendapat akal. Terang bahwa kakek yang
bernama Hek Lojin ini biar pun sombong dan aneh, ternyata mempunyai sikap yang cukup gagah, yaitu
agaknya enggan untuk mengeroyok lawan. Oleh karena itu Kun Hong cepat berkata,
"Hek Lojin, untuk apa banyak pidato? Jelas bahwa semua temanmu tidak ada yang berani maju satu lawan
satu. Dari pada capek mulutmu, apa tidak lebih baik kalian semua maju mengeroyokku. Ha-ha, tokoh-tokoh
dunia kang-ouw sekarang memang hanya namanya saja yang besar, menghadapi seorang muda buta saja
beraninya hanya main keroyokan!"
"Tentu saja, Kun Hong. Mana ada di antara mereka ini berani menghadapimu satu lawan satu? Aku berani
bertaruh potong kepalaku kalau di antara mereka ada yang sanggup menangkan kau!" Hui Kauw
menambahi ‘api’ yang dinyalakan Kun Hong.
Akal ini berhasil membikin panas hati para tokoh itu, terutama sekali The Sun, Lui-kong Thian Te Cu, Bhok
Hwesio, Ka Chong Hoatsu dan Ang-hwa Sam-cimoi. Yang lain-lain biar pun panas namun diam-diam
mengaku bahwa mereka tidak akan dapat menangkan Kun Hong kalau seorang lawan seorang.
Hek Lojin paling panas perutnya. "Heh, memalukan sekali! Kita adalah orang-orang yang mengaku gagah.
Masa harus keroyokan? Apa sih kepandaian bocah buta ini? Kita harus bersikap gagah dan tegas. Tadi
pun ada tiga orang pengawal, biar mereka itu anak buah muridku, sekali turun tangan kubunuh karena
mereka mengintai. Yang tidak dapat berlaku tegas dan gagah, percuma saja mengaku orang gagah
hendak membantu kaisar."
"Ha-ha-ha, Hek Lojin, percuma saja kau mendongkol kemudian uring-uringan seperti ini! Orang-orang dari
Ching-toa-to apa ada yang patut disebut sebagai orang gagah? Mereka itu merupakan pengecut-pengecut
tidak tahu malu, apa lagi Ching-toanio yang diam-diam mengajak teman-temannya menyerbu Thai-san-pai.
Tanpa main keroyokan, apa mereka berani berkelahi? Ha-ha-ha-ha, marilah Hui Kauw, kita keluar saja dari
ruangan ini. Terlalu banyak kutu busuk di sini, baunya tidak tertahan. Hek Lojin, aku menanti di luar, di
tempat lega kita boleh bertempur sampai mati!"
Sambil menggandeng tangan Hui Kauw, Kun Hong mengajak nona itu keluar dari ruang itu. Hui Kauw
maklum bahwa Pendekar Buta ini menghendaki tempat yang lega sehingga leluasa bergerak apa bila
terjadi pertempuran yang tidak dapat disangsikan lagi tentulah menjadi pengeroyokan.
Hati nona ini menjadi besar. Kalau tadi ia tidak takut mati, sekarang ia malah bergembira karena berada di
samping orang yang dikasihinya. Mati atau hidup, bersama Kun Hong ia rela. Maka dialah yang kini
menarik tangan Kun Hong diajak ke luar melalui pintu. Biar pun tidak memegang senjata, namun Hui Kauw
siap untuk bertempur dengan tangan kosong, melawan mati-matian.
Ching-toanio marah bukan main mendengar ucapan Kun Hong yang amat menghinanya tadi. Apa lagi
melihat Hui Kauw menuntun Kun Hong ke luar dengan sikap begitu mesra, hatinya seperti dibakar. Ingin
sekali bacok dia membikin mampus dua orang yang sangat dibencinya itu.
Betapa pun juga, ia adalah majikan Pulau Ching-coa-to yang sudah terkenal. Ilmu silatnya tinggi dan ia
adalah bekas kekasih Siauw-coa-ong Giam Kim! Mana ia sudi dihina begitu saja? Ia segera berkedip
memberi isyarat kepada Bouw Si Ma sambil melompat ke luar dan berseru,
dunia-kangouw.blogspot.com
"Iblis buta, kau jangan sombong! Hui Kauw perempuan hina, tanganku sendiri yang akan merenggut
nyawamu!"
Sambil tertawa-tawa Hek Lojin juga melangkah ke luar menyeret tongkat hitamnya, dikuti semua yang hadir
dalam ruangan itu. Ternyata Kun Hong sudah berdiri di luar bangunan, di tempat yang lega.
Akan tetapi pagi hari itu matahari tidak muncul karena tertutup mendung-mendung tebal. Agaknya alam
memberi tanda bahwa pada hari itu akan terjadi pertempuran hebat dan bumi akan bermandikan darah
manusia. Para anggota Ngo-lian-kauw dan para anggota pasukan istana tertarik oleh keadaan kacau ini
dan berdatangan. Kun Hong dan Hui Kauw tetap tenang walau pun maklum bahwa mereka telah terkurung
banyak orang lawan.
"Siapa berani maju?" Kun Hong bertanya, suaranya tetap ramah tapi mengandung ejekan. "Satu-satu
ataukah keroyokan? Terserah kepada kalian! Asal kalian ingat bahwa aku Kwa Kun Hong tidak pernah
mencari permusuhan dengan kalian, akan tetapi kalianlah yang memusuhi aku dan Hui Kauw. Kalau kalian
tidak mengganggu kami, kami pun akan pergi baik-baik tanpa mengganggu kalian. Akan tetapi kalau kalian
menyerang, sudah barang tentu kami akan membela diri."
"Kun Hong, enak saja kau bicara. Sudah jelas kau pengkhianat, kau pemberontak hendak melawan
pemerintah yang sah dan perempuan ini adalah pembantumu, kau masih pandai pura-pura suci!" The Sun
berkata lantang.
Kening Kun Hong berkerut mendengar suara The Sun. Dia benci orang ini dan biar pun dia bukan seorang
yang suka membunuh, rasanya dia akan suka membunuh pemuda ini mengingat akan perbuatannya yang
biadab terhadap mendiang janda Yo. Akan tetapi dia menahan kemarahannya. Dia takkan mencampur
adukkan urusan pribadi dengan urusan sekarang ini.
"The Sun, kau ular belang! Kau tahu dengan baik bahwa aku bukanlah seorang yang suka ikut campur
urusan negara. Memang aku mempertahankan mahkota kuno dan rahasianya karena aku ingin membantu
usaha mendiang paman Tan Hok, menyelesaikan tugasnya menyampaikan mahkota kuno dan rahasianya
kepada yang berhak. Sayang, paman Tan Hok yang gagah perkasa itu pun tewas oleh kecurangan orangorangnya
Ching-toanio. Memang pengecut dan curang sekali nenek Pulau Ching-coa-to itu!"
Ching-toanio menjerit marah. Dalam kemarahannya mengingat sikap wanita itu kepada Hui Kauw, Kun
Hong sudah menggunakan makian yang benar-benar menusuk perasaan dan keangkuhan Ching-toanio.
Andai kata ia dimaki iblis wanita sekali pun, kiranya Ching-toanio tidak akan semarah kalau dimaki nenek!
Dia memang sudah tua, namun hatinya melebihi gadis remaja mudanya!
"Kwa Kun Hong pengemis buta. Kau berani menghina nyonya besarmu?" sambil berteriak demikian Chingtoanio
sudah melompat maju dengan pedang terhunus. Gerakannya ini diikuti oleh Bouw Si Ma yang juga
sudah mencabut pedang yang hitam dan ampuh.
"Kwa Kun Hong, aku pun mesti menagih hutang nyawa guruku Pak-thian Lo-cu padamu!" kata tokoh
Mancu ini dengan suara berat.
Kun Hong terkejut. Kiranya Bouw Si Ma si orang Mancu yang pandai memainkan pedang dan memiliki
tenaga lweekang yang lihai ini adalah murid Pak-thian Lo-cu. Agaknya baru sekarang dia ini tahu bahwa
gurunya dahulu tewas dalam pertandingan menghadapinya. Tetapi dia tidak menjadi gentar karena sudah
pernah mengukur kepandaian orang Mancu ini, juga dia dahulu pernah bergebrak dengan Ching-toanio.
Tadi Hui Kauw sudah membisikinya bahwa dia harus berhati-hati menghadapi beberapa orang yang
berada di situ, terutama sekali Bhok Hwesio, Ka Chong Hoatsu, dan ketiga Ang-hwa Sam-cimoi. Lima
orang itulah yang merupakan lawan berat, sekarang ditambah lagi dengan Hek Lojin yang kiranya tidak
kalah lihainya dibandingkan dengan yang lima orang itu.
"Kalian akan maju berdua mengeroyokku? Silakan!" tantang Kun Hong yang mendengar gerakan Chingtoanio
dan Bouw Si Ma.
Tiba-tiba Hui Kauw berseru, "Ching-toanio, mengingat bahwa engkau pernah menjadi ibu angkatku, lebih
baik kau jangan melawan Kun Hong dan pulanglah saja ke Ching-coa-to dengan aman. Kau tidak akan
menang dan aku tidak ingin melihat kau tewas di tangan Kun Hong."
dunia-kangouw.blogspot.com
Ucapan Hui Kauw ini keluar dari hati sejujurnya. Biar pun ibu angkat ini kerap kali bersikap sewenangwenang
dan tidak baik kepadanya, namun ia masih ingat bahwa ketika kecil ia dirawat dan dididik oleh
nyonya galak ini. Akan tetapi dasar watak Ching-toanio memang sombong dan galak, ucapan ini
diterimanya salah dan ia malah menjadi marah sekali.
"Hui Kauw perempuan rendah! Tak usah banyak cerewet, lihat pedangku akan menembus jantungmu!"
Ucapan ini ditutupnya dengan sambaran sepasang pedangnya ke arah Hui Kauw. Sungguh sebuah
serangan maut karena sekaligus sepasang pedang itu menebas leher dan menusuk dada.
Tentu saja Hui Kauw yang sudah mengenal watak ibu angkatnya ini semenjak tadi sudah bersiaga. Maka
ketika melihat berkelebatnya sepasang pedang itu, segera dia mengelak dan melompat ke belakang.
Sebelum Ching-toanio sempat menyerang kembali, Kun Hong sudah menghadangnya sambil tersenyum.
"Siapa pun juga tidak boleh mengganggu Hui Kauw. Akulah lawanmu!"
"Bangsat buta, apamukah dia itu?" bentak Ching-toanio, suaranya menggetar penuh hawa kemarahan.
"Dia... isteriku! Hemmm, kau sendiri yang mengawinkan kami, Ching-toanio. Lupakah kau?"
Ching-toanio mengeluarkan seruan keras dan sepasang pedangnya langsung berkelebat menyambar,
dibarengi oleh pedang hitam di tangan Bouw Si Ma yang juga sudah ikut menerjang maju. Pendekar Buta
ini menyontekkan tongkatnya dua kali dan dua orang itu tergetar mundur karena pedang-pedang mereka
sekaligus sudah kena ditangkis dengan tepat. Namun mereka cepat menyerang lagi dan terjadilah
pertempuran mati-matian.
Girang hati Kun Hong ketika ternyata olehnya betapa mudah dan ringannya menghadapi kedua orang ini
sesudah dia memainkan ilmu silat gabungan Kim-tiauw-kun dan Im-yang Kiam-hoat yang dia ciptakan di
bawah petunjuk Sin-eng-cu Lui Bok. Ketika bertempur di Ching-coa-to dahulu, meski pun dia dapat juga
mengatasi dua orang ini, namun dia masih merasa agak berat.
Sebaliknya, sekarang telinganya dapat menangkap semua gerakan itu seperti menangkap gerakan yang
tidak asing lagi karena ilmu silatnya sendiri dapat memecahkan setiap daya serangan lawan. Dengan ilmu
silatnya yang baru ia merasa seolah-olah dirinya terlindung benteng baja dari pada serangan dari luar. Kilat
sinar pedang dalam tongkatnya cukup untuk menendang pergi semua ancaman pedang lawan dan dia
masih mempunyai waktu dan kesempatan banyak sekali untuk membobolkan pertahanan kedua lawannya
dengan jurus-jurus aneh dari tongkatnya ditambah hawa pukulan yang keluar dari tangan kirinya.
Kun Hong menguatkan hatinya, membuang jauh-jauh perasaan yang biasanya pantang membunuh
dengan pikiran bahwa kedua orang ini adalah orang-orang jahat yang sudah sepatutnya disingkirkan dari
dunia karena kalau mereka ini dibiarkan hidup, tentu kelak akan menimbulkan banyak mala petaka,
terutama sekali terhadap Hui Kauw. Di samping ini, dia harus pula berusaha mengurangi tenaga para
musuhnya yang begitu banyak dan yang tentu harus dia hadapi semua dalam pertempuran-pertempuran
berikutnya.
Karena pikiran inilah, tanpa banyak sungkan lagi tongkatnya lantas bergerak, menyambar-nyambar secara
aneh sekali, dibarengi oleh gerakan tangan kiri yang terbuka jari-jarinya dan melakukan pukulan-pukulan
yang mengundang hawa kadang-kadang panas kadang kala dingin. Tangan kirinya ini hebat sekali karena
mulai kelihatan uap putih yang keluar dari sela-sela jari tangannya.
Ching-toanio sebenarnya adalah seorang ahli pedang yang tidak boleh dipandang ringan. Gerakannya
lincah dan pedangnya memiliki gerakan seperti ular. Memang sesungguhnya ia telah mewarisi Ilmu
Pedang Ular dari mendiang Siauw-coa-ong Giam Kin si Raja Ular.
Selain sepasang pedangnya itu ujungnya mengandung racun ular yang amat berbahaya, juga nyonya
galak ini selalu siap mencari kesempatan untuk menyerang lawannya secara menggelap, menggunakan
jarum-jarum beracun yang juga telah direndam racun ular yang sekali mengenai sasaran sukar diharapkan
korban itu akan dapat tertolong.
Sedangkan Bouw Si Ma si tokoh Mancu adalah murid tunggal Pak-thian Lo-cu. Jadi dia masih terhitung
kakak seperguruan dari Giam Kin karena guru Giam Kin, yakni mendiang Siauw-ong-kwi adalah adik
seperguruan Pak-thian Lo-cu.
dunia-kangouw.blogspot.com
Memang harus diakui bahwa tingkat kepandaian Pak-thian Lo-cu masih lebih tinggi dari pada tingkat
Siauw-ong-kwi akan tetapi tidak dapat dikatakan bahwa Bouw Si Ma lebih lihai dari pada Giam Kin. Dalam
hal ilmu silat, mereka berdua ini memiliki keistimewaan masing-masing dan boleh dikata mereka setingkat.
Mungkin bisa dikatakan bahwa Bouw Si Ma lebih unggul sedikit dalam hal tenaga dalam, karena Gim Kin
sering kali menghambur-hamburkan tenaganya dalam mengumbar hawa nafsu. Akan tetapi Giam Kin jauh
lebih berbahaya karena orang ini merupakan iblis muda yang amat ganas dan keji, penuh akal dan tipu
muslihat.
Sebaliknya, Bouw Si Ma tidak selicin Giam Kin. Dalam setiap pertempuran orang Mancu ini sepenuhnya
mengandalkan kepandaian silatnya yang sudah cukup tinggi. Betapa pun juga, tingkatnya itu masih
melebihi tingkat Ching-toanio dan pedang hitam di tangannya merupakan pedang yang ampuh karena
terbuat dari pada baja hitam yang hanya terdapat di dekat kutub utara.
Tetapi kali ini kepandaian dua orang itu tidak banyak artinya ketika mereka mengeroyok Kun Hong. Dua
macam ilmu silat yang digabungkan menjadi satu itu seakan-akan hilang keampuhannya, lenyap
keganasannya seperti arus sungai banjir memasuki lautan.
Perlu diketahui bahwa ilmu kepandaian yang kini dimiliki Kun Hong adalah ilmu sakti yang bersumber pada
Ilmu Im-yang Bu-tek Cin-keng, peninggalan dari Pendekar Sakti Bu Pun Su. Ilmu silat ini berdasarkan Im
dan Yang, merupakan sepasang tenaga berlawanan atau bertentangan yang menggerakkan seluruh
kehidupan di dunia ini. Ilmu kesaktian ini sudah mencakup seluruh inti silat yang mana pun juga.
Maka tidaklah mengherankan apa bila kedua orang itu seolah-olah merasa bahwa mereka menghadapi
lawan yang mempunyai tenaga mukjijat dan ilmu silat ajaib. Pedang mereka seperti mental sendiri sebelum
terbentur tongkat dan serangan-serangan mereka sudah gagal dan buyar sebelum dilancarkan
sepenuhnya, seakan-akan tertahan atau terhalang di tengah jalan!
Baru beberapa jurus saja, baik Ching-toanio mau pun Bouw Si Ma sudah terdesak hebat. Pedang mereka
tidak mampu lagi melakukan serangan karena harus terus diputar untuk melindungi tubuh dari pada
sambaran cahaya kemerahan yang keluar dari tangan kanan Kun Hong.
Demikian cepat gerakan tiga orang ini sehingga tubuh mereka tidak tampak lagi oleh mata biasa, tertutup
oleh sinar pedang yang berkelebatan dan bergulung-gulung. Amatlah indah tampaknya bagi mata orang
biasa kalau menyaksikan pertempuran itu.
Tiga sinar pedang saling membelit, lalu sinar pedang merah bergulung-gulung makin lebar sehingga
akhirnya mengurung sinar pedang hitam dan cahaya sinar pedang putih. Sinar pedang hitam adalah
senjata Bouw Si Ma, sedangkan sepasang sinar yang putih adalah pedang-pedang Ching-toanio. Dua
macam sinar pedang ini terkurung sinar merah, makin lama makin ciut karena pergerakan senjata mereka
amat terbatas.
Mendadak Ching-toanio berseru keras dan pedangnya yang berada di tangan yang kanan dia sambitkan
ke depan. Pedang itu meluncur cepat bagaikan anak panah terlepas dari busurnya, menyambar ke arah
tenggorokan Kun Hong.
"Singgggg…!"
Pedang itu berdesing lewat di atas kepala Pendekar Buta itu ketika dia mengelak dengan merendahkan
tubuh.
"Weerrrr…!"
Serangkum angin halus lalu bertiup menyambar tiga bagian tubuh yang mematikan, yaitu leher, dada, dan
lambung.
Kun Hong kaget sekali, begitu halus suara dan angin itu sehingga hampir saja dia celaka. Namun
pendengaran dan perasaan Pendekar Buta ini sudah mencapai tingkat tinggi dan tidak lumrah, maka suara
sehalus itu dapat juga ditangkapnya. Dia marah sekali karena dapat menduga bahwa itu tentulah senjata
rahasia halus yang amat berbahaya.
dunia-kangouw.blogspot.com
Memang dugaan Kun Hong tidak salah karena setelah Ching-toanio tadi menyambitkan pedangnya, terus
saja menggunakan kesempatan itu untuk menyerang dengan melepas jarum-jarum halusnya yang
beracun. Sebenarnya, ilmu inilah yang membuat Ching-toanio disegani dan ditakuti.
Jarang ada lawan yang sanggup menyelamatkan diri menghadapi penyerangan hebat ini. Sambitan
pedangnya sangat kuat dan cepat. Andai kata pun lawan dapat mengelak atau menangkis dari pada
ancaman pedang terbang itu, dalam posisi berikutnya agaknya akan sulit sekali mampu menyelamatkan
diri ketika diancam jarum-jarum beracun yang malah lebih cepat dan lebih berbahaya datangnya dari pada
pedang tadi. Jarum-jarum ini amat kecil dan halus, baru ketahuan datangnya kalau sudah amat dekat
sehingga sukar untuk dapat dielakkan.
Keadaan Kun Hong lebih sulit lagi pada saat itu. Baru saja dia mengelak dari sambaran pedang terbang,
tubuhnya masih merendah dan pada detik itu pedang hitam Bouw Si Ma membabat ke arah kaki. Terpaksa
dia menangkis dengan pedangnya. Ketika dalam posisi merendahkan tubuh dan menangkis inilah
datangnya sambaran jarum-jarum halus yang hendak merenggut nyawanya itu!
"Keji...!" Kun Hong berseru keras.
Tangan kirinya dikibaskan dengan pengerahan tenaga mukjijat dan hampir pada detik itu juga, tongkatnya
yang tadi menangkis pedang hitam Bouw Si Ma telah berkelebat ke arah dada tokoh Mancu itu.
Terdengar jerit mengerikan dan tubuh Ching-toanio terjengkang ke belakang berbarengan dengan
robohnya Bouw Si Ma. Kiranya tokoh Mancu ini tidak dapat mengelak lagi karena sambaran tongkat Kun
Hong luar biasa cepatnya, tahu-tahu sudah menusuk dada dan tepat menembus jantung sehingga tokoh
Mancu ini memekik, pedang hitamnya terlepas dan dia roboh tidak bernyawa lagi.
Ada pun Ching-toanio sama sekali tidak pernah menyangka bahwa penyerangannya yang amat curang tadi
berakibat celakanya diri sendiri. Uap putih menyambar dari tangan kiri Kun Hong dan tenaga yang sangat
dahsyat seakan-akan meniup jarum-jarum halus yang menyambar balik ke arah Ching-toanio sendiri.
Wanita ini sama sekali tidak pernah menyangka akan dapat terjadi hal seperti itu, maka ia tidak sempat
menyelamatkan dirinya. Jarum-jarum itu lantas menembus pakaian, kulit dan langsung memasuki dada
dan lambungnya. Kali ini karena jarum-jarum itu digerakkan oleh tenaga dahsyat yang menyambar dari
tangan kiri Kun Hong, bukan main pesatnya sehingga jarum-jarum itu amblas dan lenyap ke dalam tubuh
Ching-toanio!
Jarum-jarum beracun itu baru melukai kulit saja sudah dapat merenggut nyawa, apa lagi sekarang
menembus kulit dan mengeram di dalam daging. Seketika itu juga Ching-toanio terjengkang dan pada detik
berikutnya dia telah tewas dengan mata mendelik dan muka membiru!
"Ohhh...!" Hui Kauw terisak dan menutupi muka dengan kedua tangannya.
Betapa pun juga, hatinya ngeri dan sedih melihat kematian Ching-toanio. Sudah terlalu lama dia
menganggap wanita itu sebagai ibunya, sejak dulu pada waktu dia masih kecil. Baru ia sadar dan
menurunkan kedua tangannya lagi ketika ia merasa betapa Kun Hong memegangnya sambil berkata,
"Hui Kauw, jangan lengah. Kau pergunakan pedang ini..."
Kiranya Kun Hong sudah mengambil pedang hitam milik Bouw Si Ma dan menyerahkan pedang itu kepada
Hui Kauw. Pendekar Buta ini sangat khawatir akan keselamatan Hui Kauw. Biar dia berada di situ dan siap
membela Hui Kauw dengan seluruh jiwa raganya, namun berhadapan dengan begitu banyak orang pandai,
keselamatan Hui Kauw masih saja tidak dapat terjamin. Maka lebih baik gadis itu memegang senjata dan
membantunya sehingga kedudukan mereka menjadi lebih kuat.
Setelah Hui Kauw menerima pedang hitam, Kun Hong sengaja berseru, suaranya amat keras dan bernada
menantang,
"Hayo, siapa lagi yang hendak merintangi aku bersama nona ini pergi dengan aman? Kalian adalah jagojago
dan tokoh-tokoh terkemuka, terkenal sebagai tokoh-tokoh sakti. Kalau sudah begitu tidak tahu malu,
boleh maju semua mengeroyok kami berdua. Hayo, majulah!"
dunia-kangouw.blogspot.com
Dengan tongkat melintang di depan dadanya, Kun Hong sengaja membakar hati mereka dengan maksud
menyinggung kehormatan mereka supaya mereka merasa segan untuk melakukan pengeroyokan. Biarlah
mereka maju seorang demi seorang, pikirnya, dan dia merasa sanggup untuk mengalahkan mereka.
Ka Chong Hoatsu kaget sekali melihat tewasnya Ching-toanio dan Bouw Si Ma. Juga dia merasa amat
menyesal atas kelancangan dua orang itu. Dia telah cukup dapat menduga bahwa orang muda buta itu
memiliki ilmu kepandaian tinggi. Kini dua orang kawan yang dapat diandalkan tewas begitu saja.
Ketika melihat The Sun berbisik-bisik dengan teman-temannya, Ka Chong Hoatsu segera berkata dengan
lantang, "Para sahabat dari kota raja! Penjahat buta ini adalah seorang pemberontak, demikian pula si
nona hitam. Kenapa tidak segera turun tangan membasmi dia sebelum dia menimbulkan lebih banyak
kekacauan? Kalau perlu, kami pun sanggup membantu."
"Aha, Ka Chong Hoatsu, kau tua bangka dari Mongol yang tidak tahu malu. Bukankah kepandaianmu
sendiri terkenal sangat tinggi? Kenapa tidak maju sendiri? Hayo, aku siap menghadapimu!" Kun Hong
sengaja membakar.
Akan tetapi Ka Chong Hoatsu hanya tersenyum mengejek dan berkata acuh tak acuh, "Belum saatnya...
belum saatnya..." setelah berkata demikian dia memberi isyarat kepada Ang-hwa Sam-cimoi untuk
memerintahkan anak buah Ngo-lian-kauw menyingkirkan dan merawat jenazah Ching-toanio dan Bouw Si
Ma.
Setelah mendapat perintah, delapan orang wanita anggota Ngo-lian-kauw maju cepat dan mengangkat
pergi mayat-mayat itu.
Sementara itu sejak tadi The Sun berunding dengan Hek Lojin yang mengangguk-angguk. Kemudian The
Sun tersenyum mengejek, dan sekali menggerakkan tubuhnya dia sudah melayang ke depan Kun Hong.
"Kwa Kun Hong, kau benar-benar sombong sekali. Kau kira tanpa mengeroyokmu tidak mungkin kami
menang? Hemmm, aku sendiri yang hendak maju melabrakmu, Kun Hong, kecuali kau suka menyerahkan
diri menjadi tawananku untuk diadili di kota raja."
Kun Hong melengak, terheran-heran. Sudah terang bahwa betapa pun lihainya, pemuda tokoh kota raja itu
tidak akan mampu mengalahkannya. Hal ini The Sun sendiri sudah cukup mengerti. Dia seorang yang
amat cerdik dan penuh tipu muslihat, kenapa sekarang nekat hendak menghadapinya seorang diri?
Diam-diam Kun Hong menjadi waspada, The Sun seorang yang cerdik dan curang sekali. Tak mungkin dia
maju hanya dengan mengandalkan kepandaian silatnya dan sudah pasti tindakannya ini diikuti tipu
muslihat licin.
"Hui Kauw, kau mundurlah dan jaga dirimu baik-baik. Berteriaklah kalau kau menghadapi bahaya, biar aku
membereskan manusia curang dan pengecut ini," demikian kata Kun Hong sambil mendorong Hui Kauw ke
belakang. Dia amat khawatir kalau The Sun akan mempergunakan siasat keji dan mencelakai Hui Kauw
dengan cara lain selagi bertempur melawannya.
"The Sun, kaulah orang pertama yang kuharapkan untuk bertanding denganku pada saat ini. Majulah."
The Sun tertawa mengejek dan…
"Srattt!" pedangnya telah dia cabut dengan gerakan indah.
Pada saat itu juga, seakan-akan pencabutan pedang tadi merupakan isyarat, terdengarlah suara tambur
dan gembreng dipukul orang, mula-mula lirih dan lambat, makin lama makin keras dan cepat. Itulah suara
tambur dan gembreng perang dan ternyata belasan orang anggota pasukan dari istana sudah berada di
situ membunyikan tambur dan gembreng. Suara itu amat bising memekakkan telinga.
"Wuuuttttt!"
Kun Hong cepat mengelak dan dia kaget setengah mati ketika angin pedang The Sun terus-menerus
menyerangnya bertubi-tubi dengan gerakan menyambar-nyambar laksana kilat dibarengi suara ketawa
pemuda yang cerdik itu. Kun Hong menggertak giginya dan terpaksa memutar tongkat sejadinya sambil
dunia-kangouw.blogspot.com
menggunakan langkah-langkah ajaib. Tahulah dia sekarang akal muslihat yang dipergunakan The Sun
dalam melawannya.
Memang dia seorang pemuda yang cerdik dan penuh akal. Kiranya pemuda ini maklum pula bahwa
kelihaian Kun Hong terletak pada pendengaran telinganya sebagai pengganti matanya yang buta.
Memang begitulah. Seorang buta hanya dapat mengandalkan pendengaran, penciuman dan rabaan untuk
mengetahui keadaan di sekitarnya. Terutama sekali pendengaran. Apa lagi dalam ilmu silat, tentu saja
keawasan mata yang terutama dipergunakan dan sebagai pengganti mata yang buta, pendengaranlah
yang diandalkan. Kini The Sun menggunakan suara bising untuk merusak pendengaran Kun Hong!
Hampir saja akal The Sun yang licin ini berhasil kalau saja Kun Hong tidak mewarisi ilmu silat yang betulbetul
sakti seperti Kim-tiauw-kun dan Im-yang Sin-hoat. Langkah-langkah ajaib dari Kim-tiauw-kun telah
menolongnya terhindar dari ancaman pedang The Sun yang ganas dan cepat.
Pada jurus-jurus pertama memang Kun Hong menjadi bingung. Dia tak dapat berbuat lain kecuali
mengelak, menangkis dan memutar tongkat sejadinya untuk melindungi diri. Akan tetapi lambat laun
telinganya mulai dapat menangkap perbedaan-perbedaan antara suara bising tambur gembreng dengan
suara bersiutan dan berdesingnya pedang di tangan The Sun. Diam-diam dia menjadi girang sekali.
Kun Hong sangat beruntung bahwa tingkat kepandaian The Sun masih belum mencapai puncaknya.
Seorang yang ilmu pedangnya sudah mencapai titik puncak, seperti misalnya pamannya, Tan Beng San
ketua Thai-san-pai, dapat memainkan pedang sedemikian rupa tanpa menimbulkan angin atau suara
mendesing dan bersiut.
Memang masih sulit bagi Kun Hong untuk dapat balas menyerang karena dia juga harus mencurahkan
seluruh perhatian untuk menjaga diri jangan sampai menjadi korban pedang The Sun yang cukup
berbahaya. Akan tetapi sedikitnya dengan mendengar suara angin pedang, dia dapat mencari kesempatan
baik untuk balas menyerang.
Tentu saja dia tak mau berlaku sembrono dengan serangan balasannya. Dia pun maklum bahwa sekali
serangannya luput, dia akan langsung terancam oleh pedang lawan karena dalam keadaan menyerang,
tentu kedudukan pertahanannya menjadi lemah dan lowong.
Mula-mula The Sun gembira sekali melihat betapa lawannya Si Pendekar Buta menjadi bingung dan kacau
gerakannya. Akalnya berhasil, lawannya menjadi kacau-balau setelah pendengarannya rusak oleh suara
bising! Hal inilah yang membuat dia tadi tertawa-tawa mengejek.
Akan tetapi tidak lama, karena dia segera berubah menjadi marah dan penasaran sekali. Si Buta ini
sekarang buta tuli, kenapa masih selalu dapat mengelak dari pada sambaran pedangnya? Kenapa
pedangnya belum juga dapat mengenai sasaran, padahal lawannya itu sama sekali tidak mampu, balas
menyerang?
Dia menjadi jengkel, sejengkel seorang anak kecil yang selalu gagal menepuk lalat yang gesit dengan
tangannya. Lima puluh jurus telah berlalu dan jangankan memenggal leher atau menusuk dada, membabat
ujung baju saja belum!
Hui Kauw berdiri dengan muka pucat. Ia sudah mengenal kelihaian pedang The Sun dan sebagai orang
yang cerdik, ia pun maklum apa artinya dibunyikan tambur dan gembreng yang sangat bising itu. Ia pun
maklum akan kelemahan Kun Hong. Maka melihat betapa kekasihnya itu hanya berloncatan, terhuyunghuyung,
jongkok berdiri dan terus-menerus diserang tanpa mampu membalas, hatinya sudah gelisah
bukan main.
Untuk menjaga martabat nama Kun Hong sebagai seorang pendekar, betapa pun gelisah hatinya, tidak
berani ia membantu. Akan tetapi hati kecilnya mengambil keputusan teguh bahwa begitu Kun Hong tewas
dalam pertandingan, ia hendak mengamuk dan tidak akan berhenti sebelum ia pun roboh binasa di medan
laga!
Pedang hitam telah terpegang erat-erat di tangannya dan ia sudah siap untuk melompat, menggantikan
Kun Hong. Namun ia tetap berdoa semoga kekasihnya itu menang dalam pertandingan yang berat sebelah
ini.
dunia-kangouw.blogspot.com
Kun Hong seakan-akan seorang yang buta tuli, melawan seorang yang ilmu pedangnya begitu tangkas dan
dahsyat seperti The Sun. Namun Kun Hong bukanlah orang dengan kepandaian biasa. Ilmu kesaktian
yang dia pelajari adalah ilmu yang tingkatnya tinggi luar biasa, dan kepandaian itu sudah mendarah daging
di tubuhnya. Setiap gerakannya adalah otomatis didorong oleh naluri yang bukan sewajarnya.
Apa lagi setelah dia menemukan ciptaannya terbaru yaitu penggabungan dari kedua ilmu silat yang dia
ambil inti sarinya saja, dia benar-benar telah memiliki ilmu yang sukar dicari keduanya di dunia persilatan.
Biar pun dia seakan-akan tuli karena bisingnya suara, tapi perasaannya masih menuntunnya dan
sambaran pedang lawannya masih bisa tertangkap olehnya sehingga dengan langkah ajaibnya dia dapat
menyelamatkan diri sambil mencari kesempatan baik.
Sukarnya, The Sun juga seorang yang amat lihai dan cerdik. Orang muda yang menjadi tokoh di kota raja
itu pun tak berani memandang ringan lawannya yang sudah dia ketahui memiliki ilmu silat yang amat luar
biasa. Oleh karena itu, biar pun dia dibantu suara bising yang membuat Kun Hong tidak berdaya, akan
tetapi dia tidak lengah sedetik pun juga, menyerang terus sambil menutup diri dalam pertahanan yang
ketat. Memang dia amat penasaran karena semua serangannya gagal, selalu mengenai tempat kosong,
namun dia tidak pernah mengurangi desakannya dan merasa yakin bahwa sewaktu-waktu tentu akan
berhasil.
Payah juga Kun Hong yang mencari kesempatan baik tapi tidak juga dapat menemukan kesempatan ini.
Diam-diam dia kagum dan memuji kecerdikan lawannya yang masih tetap berhati-hati meski pun sudah
menyerang dan mendesak terus. Lain orang tentu sudah akan menjadi sombong dan lengah.
Kemudian Pendekar Buta ini mendapatkan akal. Ketika untuk kesekian kalinya pedang The Sun
menyambar leher, dia mengelak dengan langkah ajaibnya, akan tetapi sengaja bergerak lambat sehingga
ujung pedang itu menyerempet pundaknya. Bajunya robek dan kulitnya terkelupas, darahnya pun mengalir.
Terdengar Hui Kauw ikut menjerit ketika Kun Hong berteriak kesakitan dan terhuyung-huyung.
Hasil yang dinanti-nanti oleh The Sun ini membuat hatinya girang bukan main. Dia tertawa terkekeh-kekeh
dengan nada mengejek sambil mendesak terus, menubruk untuk memberi tikaman terakhir ketika dia
melihat Kun Hong terhuyung dalam posisi yang buruk sekali. Pedangnya bergerak seperti kilat menyambar,
menusuk dada Kun Hong.
"Traanggg! Kraakkk!"
The Sun menjerit. Pedangnya terpental dan patah menjadi dua, tubuhnya pun terlempar seperti layanglayang
putus talinya.
Ternyata akal yang digunakan Kun Hong sudah berhasil baik sekali. Dengan membiarkan pundaknya
terluka dan sedikit darahnya mengalir, The Sun sudah dapat diakali sehingga kegirangan dan untuk
beberapa detik mengurangi kewaspadaannya. Ketika menyerang dengan tusukan maut tadi, dia lengah
tidak memperhatikan segi pertahanannya sehingga lowongan ini dipergunakan dengan baiknya oleh Kun
Hong.
Sambil mengerahkan tenaga, Pendekar Buta ini menangkis pedang, membuat pedang itu patah dua
kemudian tangan kirinya menampar ke arah pundak. Sekali tampar saja tulang pundak The Sun lantas
patah dan pemuda itu menderita luka dalam yang mengakibatkan dia roboh dan pingsan!
Kun Hong tidak mau berlaku kepalang tanggung. Tubuhnya sudah menyambar ke depan, tongkatnya
bergerak hendak menewaskan The Sun, orang yang amat dibencinya karena telah menyebabkan kematian
janda Yo.
Akan tetapi pada saat itu terdengar suara menggereng menyeramkan dan tongkatnya terbentur oleh
tangkisan tongkat hitam di tangan Hek Lojin. Kiranya kakek ini tadi sudah melompat maju untuk menolong
muridnya, kemudian sekaligus laksana badai mengamuk kakek ini menerjang Kun Hong.
"Kun Hong, awas...!" Hui Kauw menjerit ketika melihat betapa tongkat hitam di tangan kakek itu berubah
menjadi sinar hitam bergulung-gulung mengancam kepala Si Pendekar Buta.
Tanpa diperingatkan, Kun Hong sudah siap dan tahu akan datangnya ancaman bahaya maut. Cepat dia
menggunakan tongkatnya menangkis. Untung baginya bahwa kini suara tambur dan gembreng otomatis
dunia-kangouw.blogspot.com
berhenti setelah The Sun roboh. Dengan menghilangnya suara bising ini, dia dapat menghadapi Hek Lojin
dengan baiknya.
Dia maklum bahwa kepandaian kakek ini luar biasa tingginya. Karena itu dia pun segera menggerakkan
tongkatnya, memainkan ilmu silat gabungan yang baru saja dia ciptakan di bawah petunjuk Sin-eng-cu Lui
Bok.
Tongkat hitam itu menyambar lagi, mendatangkan suara seperti ada angin topan mulai mengamuk. Kun
Hong mengangkat tongkatnya menangkis.
"Dukkkkk!"
Dua tenaga mukjijat lewat tongkat bertemu tanding. Tubuh berkulit hitam tinggi besar itu tergetar. Kun
Hong merasakan tubuhnya kesemutan, maka cepat-cepat dia menggunakan langkah ajaib, tubuhnya
terhuyung-huyung sehingga lenyaplah pengaruh benturan tenaga dahsyat tadi. Diam-diam dia kagum dan
harus mengakui bahwa kakek hitam itu tidak hanya sombong, melainkan betul-betul hebat.
"Ha-ha-ha-heh-heh-heh, awas kepalamu!" Kakek itu terkekeh dan kembali tongkatnya menyambar.
Kun Hong maklum bahwa kalau terus menerus dia mengadu tenaga dia akan kalah oleh kakek sakti ini,
maka cepat dia mengelak dan kembali dia telah mempergunakan langkah ajaib. Akan tetapi, begitu
tongkatnya tidak mengenai sasaran, kakek itu langsung kembali menerjang dan sekarang tongkatnya
diobat abitkan bagai orang gila mengamuk, gerakan-gerakannya sama sekali tidak menurut aturan ilmu
silat!
Kun Hong kaget bukan main saat telinganya menangkap gerakan-gerakan ilmu berkelahi yang liar dan
dahsyat ini. Sukar sekali untuk mengikuti, apa lagi menduga perkembangan dari ilmu silat aneh yang
gerakan-gerakannya ada kalanya bahkan bertentangan dengan ilmu silat ini. Gerakan-gerakan kacau
balau akan tetapi justru kekacau balauannya itulah yang membuat serangan-serangannya menjadi hebat,
liar, dahsyat dan amat berbahaya, mengingatkan Kun Hong akan gerakan binatang-binatang liar termasuk
gerakan-gerakan kim-tiauw!
Maka dia pun cepat mengandalkan langkah-langkah ajaib untuk menghadapi serangan ini. Langkah ajaib
adalah ilmu langkah dalam persilatan yang tercipta berdasarkan gerak dan langkah rajawali emas, yang
tentu saja juga mengandalkan naluri yang tidak ada pada diri manusia, atau andai kata ada pun tidak akan
sekuat yang ada pada binatang liar seperti kim-tiauw.
Mereka yang menonton pertandingan itu memandang dengan kedua mata terbelalak dan bengong, malah
ada pula di antaranya yang diam-diam menahan ketawa karena merasa geli dan heran. Tak patut
pertempuran ini dikatakan pertempuran antara dua orang tokoh pandai atau jago-jago silat ulung, lebih
tepat dikatakan pertempuran antara dua orang yang miring otaknya atau dua orang hutan liar yang tidak
tahu ilmu berkelahi manusia.
Kakek hitam dengan tongkatnya itu mengamuk, memutar-mutar tongkat dan menghantam ke sana ke mari
secara ngawur belaka, kadang-kadang bahkan menghantam tempat yang berlawanan dengan adanya si
lawan. Kadang-kadang dia menghantam ke kiri selagi Kun Hong berada di kanan, menghantam ke
belakang selagi lawan berada di depan atau pun sebaliknya! Batu-batu hancur lebur begitu tersentuh ujung
tongkatnya, sedangkan debu berhamburan menggelapkan sekelilingnya. Ada pun Kun Hong tetap
berloncat-loncatan, terhuyung-huyung, kadang kala jongkok berdiri seperti seorang penari yang terlalu
banyak minum arak keras.
Kalau di bawah menjadi agak gelap karena debu berhamburan dari amukan tongkat hitam Hek Lojin,
adalah di angkasa gelap pula oleh berkumpulnya awan mendung menghitam. Makin lama keadaannya
menjadi semakin gelap dan beberapa kali keadaan ini bahkan menarik perhatian orang-orang yang berada
di sana, memaksa mereka memandang ke udara yang gelap. Jelas bahwa hujan akan turun membasahi
bumi.
Tiba-tiba terdengar bentakan nyaring, "Hayo tangkap dulu si pemberontak perempuan!"
Kun Hong terkejut dan gelisah sekali. Itulah suara The Sun. Kiranya pemuda ini sudah sadar dari
pingsannya dan melihat betapa Kun Hong sedang didesak secara gencar oleh gurunya, dia pun cepatdunia-
kangouw.blogspot.com
cepat mengeluarkan aba-aba karena dia maklum bahwa sekali Hui Kauw ditawan, Kun Hong tentu akan
tunduk.
Memang cerdik sekali The Sun. Biar pun dia sendiri terluka berat, namun kecerdikannya ini berhasil
membuat Kun Hong gelisah.
Hui Kauw juga memiliki ilmu silat tinggi, maka ia dapat mengerti akan kegelisahan Kun Hong yang
kelihatan dari gerakannya. Maka, sambil melintangkan pedang hitam di depan dada ia berseru, "Kun Hong,
jangan khawatir, aku mampu menjaga diri, berjuang sampai mati!"
Kata-kata ‘berjuang sampai mati’ ini segera menambah besar semangat Kun Hong. Dia tersenyum.
Ternyata gadis itu benar-benar telah mengambil keputusan nekat untuk terus melawan dan mati bersama
dia di tempat ini.
Tidak! Tidak boleh! Hui Kauw harus diselamatkan dan untuk itu dia pun harus hidup, harus menang.
Pikiran ini mendatangkan semangat baru yang hebat sekali. Tongkatnya bergerak hidup dan sinar merah
tahu-tahu telah menutup dan melingkari sinar hitam yang menjadi makin ciut. Dengan ilmunya yang baru,
Kun Hong ternyata berhasil menjinakkan keliaran tongkat lawannya dan sekarang sebaliknya Hek Lojin
yang menjadi kaget setengah mati.
Hek Lojin masih berusaha mengerahkan seluruh kepandaian agar lolos keluar dari ‘ikatan’ sinar merah,
namun sia-sia belaka, ke mana pun dia bergerak, ujung tongkat Pendekar Buta ini selalu mengikuti dan
mengancamnya. Dia tahu bahwa sekali dia kena disentuh, akan celakalah dia.
Maka dengan nekat pula dia menggereng-gereng bagai singa, kemudian sambil memutar tongkatnya
cepat-cepat yang dilepaskan tiba-tiba sehingga tongkat itu berputaran sendiri menerjang Kun Hong, kedua
tangannya yang kini bebas itu berbareng mengirim pukulan dengan tenaga sakti sepenuhnya, susul
menyusul cepat sekali!
Inilah serangan kilat dan maut yang luar biasa hebatnya. Kakek iblis Song-bun-kwi sendiri tidak kuat
menerima pukulan-pukulan Hek Lojin dan sekarang dia menggunakan pukulan-pukulan maut ini kepada
Kun Hong.
Tentu saja Kun Hong kaget sekali ketika mendengar betapa tongkat yang dilontarkan itu berputaran
menyambar. Sekali sampok tongkat itu melayang dan menyeleweng, akan tetapi kini dia menghadapi dua
pukulan tangan yang tidak kalah bahayanya dari pada sambaran tongkat hitam tadi.
Maklum bahwa untuk menghadapi serangan dahsyat ini amatlah sukar dan berbahaya, Kun Hong memekik
nyaring dan tahu-tahu dia sudah menggunakan jurus Sakit Hati yang dimasukkan pula ke dalam ilmu
silatnya yang baru. Tongkatnya berkelebat menjadi sinar merah, tangan kiri menampar dengan
pengerahan tenaga yang mengeluarkan uap putih.
"Crakkk... desssss!"
Tubuh Kun Hong langsung terlempar ke belakang sampai lima meter lebih, akan tetapi dia jatuh dalam
keadaan berdiri dan tongkatnya masih berada di tangan, hanya mukanya agak pucat dan napasnya
terengah.
Hui Kauw cepat berlari menghampirinya, menyentuh lengannya dan suaranya menggetar, "Kun Hong,
kau... terluka...?"
Kun Hong mencoba senyum, menggelengkan kepala dan menjawab lirih. "Hui Kauw, kau lihat dia... hatihatilah,
dia hebat..."
Karena tadi perhatian Hui Kauw sepenuhnya ditujukan kepada Kun Hong, maka ia tidak memperhatikan
orang lain. Sekarang melihat bahwa keadaan Kun Hong tidak berbahaya, dia menengok dan alangkah
bangga serta girang hatinya ketika melihat bahwa ternyata keadaan kakek hitam itu lebih parah lagi. Kakek
ini sedang berdiri tegak memandang ke arah lengan kirinya yang sudah buntung!
Ternyata tadi bahwa tangan kiri itu tanpa dapat dicegah lagi sudah terbabat oleh pedang Ang-hong-kiam
yang tersembunyi di dalam tongkat, sedangkan tangan kanan kakek itu beradu dengan tangan kiri Kun
dunia-kangouw.blogspot.com
Hong. Saking tajamnya Ang-hong-kiam dan juga saking hebatnya jurus yang dijalankan oleh Kun Hong,
lengan kiri itu lalu terbabat putus sampai sebatas siku tanpa terasa nyeri sama sekali. Sedangkan dalam
pertemuan tenaga tadi, tenaga mukjijat dan mengandung ilmu hitam dari kakek itu benar-benar
memperlihatkan keampuhannya, karena membuat Kun Hong terlempar dan biar pun tidak berbahaya, tapi
telah menderita luka dalam.
"Jahanam, kau berani melukai suhu?" Terdengar The Sun berseru keras dan tubuhnya melesat ke depan.
Kiranya The Sun yang biasanya cerdik itu kini tidak dapat menahan kemarahannya dan tadi dia telah
mendapatkan sebuah pedang lain. Biar pun tulang pundak kanannya patah, akan tetapi dengan tangan kiri
dia sekarang menerjang maju, tapi curangnya, bukan Kun Hong yang dia serang, melainkan Hui Kauw!
Hebat bukan main penyerangan ini, karena didorong nafsu membunuh.
Hui Kauw cepat menangkis dengan pedang hitamnya, namun tangannya tergetar oleh benturan pedang itu
dan sebelum dia sempat membalas, kembali pedang di tangan The Sun sudah menyambar. Memang
menghadapi The Sun, gadis ini masih kalah setingkat, apa lagi dia baru saja mengalami getaran batin yang
membuat seluruh anggota tubuhnya lemah.
Beberapa kali ia berhasil menangkis, namun pada jurus selanjutnya, ketika ia menangkis sebuah bacokan,
pedang The Sun menyelinap dan hendak memasuki bawah lengannya. Hui Kauw membalikkan pedang ke
bawah, namun terlambat dan ujung pedang The Sun berhasil menggurat lengan.
Hampir saja dia mengalami cidera kalau saja guratan itu mengenai urat nadinya. Untung bahwa guratan itu
memanjang, hanya merobek kulit melukai daging. Namun cukup untuk membuat lengannya lemah
sehingga sebuah benturan pedang lawan lagi cukup membuat pedang hitamnya terlepas.
"Pergi...!" terdengar Kun Hong berseru dan... tubuh The Sun terlempar ke arah gurunya. Kiranya tadi Kun
Hong yang maju dan mengirim tendangan kilat yang tak tertahankan oleh The Sun.
Agaknya baru sekarang Hek Lojin sadar bahwa lengan kirinya benar-benar telah buntung. Dia memekik
tinggi, memungut lengan yang buntung, melengking-lengking dan melihat tubuh muridnya melayang, dia
cepat menangkap dengan sambaran tangan kanan, lalu dia berlari secepat terbang pergi dari situ tanpa
mempedulikan tongkat hitamnya lagi. Dari jauh terdengar suara pekiknya, entah tertawa entah menangis,
tapi amat menyeramkan.
Memang Hek Lojin orangnya amat licik. Terbukti ketika dia melawan Song-bun-kwi karena mengira bahwa
Song-bun-kwi mempunyai kepandaian yang melebihi dirinya, dia segera mengundurkan diri mencari
selamat. Sekarang pun, melihat lengan kirinya buntung dan muridnya terluka, tahulah dia bahwa
keadaannya tidak menguntungkan.
Andai kata Kun Hong berhasil dikalahkan, tentu bukanlah oleh dia atau muridnya dan hal ini hanya akan
merendahkan namanya belaka. Oleh karena itu, jalan satu-satunya yang dia anggap paling baik adalah...
kabur!
Tempat itu menjadi geger setelah Hek Lojin membawa The Sun kabur. Terutama pihak jagoan-jagoan dari
istana menjadi marah bukan main kepada Kun Hong dan serentak mereka maju, juga Ka Chong Hoatsu,
Ang-hwa Sam-cimoi serta Souw Bu Lai sudah mencabut senjata masing-masing. Hanya Bhok Hwesio dari
pihak istana yang masih tenang berdiri di tempatnya. Hwesio ini sebagai tokoh dari Siauw-lim sama sekali
tidak sudi kalau harus mengeroyok seorang lawan yang masih muda dan buta lagi.
Sementara itu Kun Hong maklum bahwa banyak lawan yang sudah mulai bergerak hendak
mengeroyoknya. Dia sendiri masih belum terbebas dari pada pengaruh benturan tenaga dengan Hek Lojin
yang sakti, masih terasa sakit pada pangkal lengannya.
Dia tidak mengkhawatirkan dirinya sendiri, akan tetapi bagaimana ia akan bisa melindungi Hui Kauw kalau
dia dikeroyok oleh banyak orang pandai? Kalau Hui Kauw sampai terjatuh ke tangan mereka, apa artinya
semua perlawanannya? Tiba-tiba sebuah akal berkelebat dalam benaknya dan secepat itu pula tubuhnya
melompat ke belakang Hui Kauw.
Sambil menempelkan tangan pada tengkuk gadis itu dia berbisik, "Hui Kauw, kau jadilah mataku... kau
pergunakan matamu memandang mereka, di antara kedua mata mereka, pandang tajam dan pergunakan
dunia-kangouw.blogspot.com
tenaga yang kusalurkan kepadamu, dengar kata-kataku dan perkuat kata-kata itu dalam hati dan
pikiranmu... tak usah bingung, kau menurut saja, barang kali ini akan menolong kita..."
Hui Kauw tadinya bingung dan semua bulu di tubuhnya berdiri ketika ia merasa telapak tangan yang
hangat dari Kun Hong menempel di tengkuknya dan mengirim getaran-getaran kuat ke dalam tubuhnya.
Makin lama gelombang hawa yang menggetar-getar itu makin kuat, begitu kuatnya sehingga tak terasa
tergetar lagi seakan-akan sudah terbuka jalan saluran hawa sakti itu dari tubuh Kun Hong ke dalam
tubuhnya. Ia merasa betapa dadanya seakan-akan penuh hawa yang panas dan bergerak-gerak. Ia lalu
teringat akan pesan Kun Hong tadi, maka ia segera pusatkan perhatiannya untuk mengerahkan tenaga
sakti ini melalui matanya yang memandang tajam ke depan.
Sementara itu, para jagoan istana dan Ching-coa-to berhenti bergerak karena heran dan sangsi
menyaksikan tingkah laku Kun Hong yang sekarang merangkul Hui Kauw sambil menempelkan tangan di
tengkuk gadis itu. Apa kehendak si buta itu? Mereka ragu-ragu dan curiga.
"Dengarlah kata-kataku!" Kun Hong mulai bicara, suaranya tenang, dalam, lambat-lambat dan amat
berpengaruh. "Kalian adalah tokoh-tokoh kang-ouw yang bernama besar. Tentu kalian tidak sudi dan malu
untuk bertempur dengan cara mengeroyok, hal ini hanya akan merendahkan nama kalian, dan akan
menghancurkan nama besar yang bertahun-tahun kalian pupuk dengan perbuatan-perbuatan gagah
berani. Aku Kwa Kun Hong tidak pernah bermaksud memusuhi kalian, hanya hendak menolong nona Hui
Kauw pergi dari tempat ini. Dan sebagai orang-orang kang-ouw yang gagah, seharusnya kalian
membiarkan kami berdua pergi dengan aman."
Pada waktu Kun Hong berbicara itu, Hui Kauw mentaati perintah Kun Hong tadi. Sambil menyalurkan hawa
yang memenuhi dada melalui mata, ia pergunakan sepasang matanya memandang para lawan itu seorang
demi seorang, menatap tajam di antara kedua mata mereka. Dan karena Kun Hong sengaja
menyembunyikan mukanya di belakang kepala Hui Kauw, mau tidak mau mereka itu terpaksa bertemu
pandang dengan Hui Kauw.
Akibatnya aneh! Mereka itu saling pandang, tersenyum malu-malu dan seperti berlomba mereka lalu
melangkah mundur seperti hendak memberi jalan kepada Kun Hong dan Hui Kauw untuk pergi dengan
aman!
Sebetulnya hal ini sama sekali tidak aneh. Karena matanya sudah buta, tentu saja Kun Hong tidak dapat
lagi menggunakan ilmu sihir yang dahulu dia pelajari dari Sin-eng-cu Lui Bok. Akan tetapi karena dia masih
memiliki ilmu itu, tenaga batinnya masih amat kuat, bahkan lebih kuat dari pada dahulu, walau pun dengan
cara ‘meminjam’ mata Hui Kauw pengaruh sihirnya menjadi lemah karena gadis itu tidak dapat
menggunakannya dengan tepat, namun ternyata masih ada hasilnya juga.
Hal ini adalah karena apa yang dia ucapkan adalah hal yang menyinggung kehormatan dan perasaan
orang-orang gagah di situ. Tanpa menggunakan tenaga batin sekali pun, ucapan itu akan membuat
mereka bermerah muka, apa lagi sekarang disertai tenaga batin yang kuat, maka otomatis, di luar
kesadaran mereka sendiri, mereka itu serta merta memenuhi permintaan Kun Hong itu tanpa dipikir lagi!
Kun Hong tidak membuang kesempatan ini. Dia segera menarik tangan Hui Kauw pergi dari situ. "Mari kita
pergi...," bisiknya perlahan.
Akan tetapi, di antara orang-orang yang mengurungnya, ada dua orang yang tidak ikut melangkah mundur.
Mereka ini adalah Lui-kong Thian Te Cu dan Bhewakala si tokoh Nepal. Yang pertama karena sakit hatinya
melihat suheng-nya, Hek Lojin kalah sehingga kata-kata itu tidak mempengaruhi hatinya.
Ada pun yang ke dua, Bhewakala, adalah seorang tokoh barat yang sudah kenyang akan ilmu-ilmu sihir.
Maka begitu merasakan ada getaran aneh keluar dari ucapan Kun Hong disertai pandang mata Hui Kauw
yang tajam mengikat semangat dan kemauan, dia pun terkejut dan cepat dia membaca mentera sambil
mengerahkan tenaga batinnya untuk menolak pengaruh yang keluar dari pandang mata Hui Kauw dan
suara Kun Hong itu. Dua orang inilah yang mengejar ketika Kun Hong lari sambil menarik tangan Hui
Kauw.
Akan tetapi agaknya Thian melindungi Kun Hong yang terancam bahaya. Mendadak langit yang sudah
sejak tadi gelap oleh mendung tebal, kini menyiram permukaan bumi dengan air hujan disertai kilat dan
angin ribut. Mempergunakan kesempatan ini, Kun Hong dan Hui Kauw mempercepat larinya, sedangkan
dunia-kangouw.blogspot.com
Thian Te Cu dan Bhewakala yang maklum akan kelihaian Kun Hong, menjadi ragu-ragu untuk mengejar
terus karena yang lain-lain tidak turut mengejar.
"Ehh, cu-wi sekalian ini bagaimana? Kenapa tidak mengejar pemberontak itu?" Lui-kong Thian Te Cu
bertanya dengan nada penasaran.
Sesudah Kun Hong dan Hui Kauw lenyap dari pandangan mata serta hujan yang dingin menimpa kepala
dan tubuh mereka, barulah orang-orang itu seakan-akan sadar dari pada mimpi. Diam-diam mereka
merasa menyesal juga kenapa tadi mereka mendiamkan saja Kun Hong lari.
"Mereka tidak akan lari jauh," kata Kui Ciauw, orang tertua dari Ang-hwa Sam-cimoi, "sekeliling lembah ini
kalau turun hujan amat berbahaya, banyak timbul rawa berlumpur. Juga sampai beberapa li jauhnya telah
terjaga oleh anak buah kami. Kalau sekarang kita kejar masih belum terlambat."
"Ha-ha-ha, baru menghadapi seorang bocah buta saja sekian banyaknya orang sudah kewalahan,
bagaimana bila harus menghadapi pasukan musuh yang kuat? Bhok Hwesio, bagaimana pendapatmu?
Apakah kita tak terlalu banyak menimbulkan kehebohan hanya untuk menangkap seorang bocah buta?"
Mendengar ucapan Ka Chong Hoatsu ini, Bhok Hwesio tertawa juga.
"Omitohud, omongan Hoatsu memang tidak keliru. Marilah kita mengejar dengan cara kita masing-masing
dan kita berlomba, siapa yang lebih dahulu membekuk bocah itu, dialah yang terhitung jago."
"Bagus! Memang aku juga sudah lama mendengar nama besar Bhok Hwesio tokoh dari Siauw-lim-si. Mari!"
Ka Chong Hoatsu menggerakkan tongkat pendeta di tangannya, lalu sambil tertawa-tawa dia berkelebat
lenyap dari situ.
Pada saat orang-orang menengok ke arah Bhok Hwesio, ternyata hwesio ini pun sudah lenyap dari situ.
Agaknya dua orang ini dengan hati panas hendak menguji kepandaian masing-masing dengan cara aneh,
yaitu berlomba mengejar dan menangkap Kun Hong!
Melihat dua orang tokoh itu sudah pergi, yang lain beramai-ramai melakukan pengejaran pula, mengambil
cara dan jalan masing-masing. Terjadilah perlombaan mengejar di dalam hujan ribut itu. Para anggota
pasukan dan anggota Ngo-lian-kauw juga sibuk sendiri, ada yang berlindung dari air hujan yang turun
seperti ditumpahkan dari langit, ada yang ikut mengejar pula. Keadaan menjadi ramai seperti para
pemburu mengejar seekor harimau di dalam hutan.
Memang betul apa yang diucapkan oleh orang tertua dari Ang-hwa Sam-cimoi tadi. Kun Hong dan Hui
Kauw menemui kesukaran dalam usaha mereka melarikan diri. Air hujan secara mendadak mengubah
semua tempat sekeliling lembah itu menjadi rawa-rawa yang berbahaya.
Hampir saja Hui Kauw terjerumus ketika kakinya menginjak air yang nampaknya dangkal itu, namun
kiranya di bawahnya mengandung lumpur yang mempunyai daya menghisap sehingga kakinya seakanakan
tersedot ke bawah. Baiknya Kun Hong cepat menariknya ketika gadis ini menjerit.
Mereka kini berdiri di pinggir rawa, terengah-engah dan sukar bernapas karena serangan air hujan pada
muka mereka. Air hujan itu turun dengan derasnya sehingga titik-titik air itu seperti batu-batu kecil
menghantam muka.
"Kun Hong... mengapa kita harus lari? Perlu apa takut...? Bukankah kalau tewas pun kita berdua?"
"Hui Kauw, siapa ingin mati? Aku tidak takut mati, akan tetapi, apa bila ada kesempatan menyelamatkan
diri, apa perlunya kita mengadu nyawa? Hui Kauw, masa depan menanti untuk kita."
Suara Kun Hong terdengar nyaring penuh harapan dan kebahagiaan, jauh sekali bedanya dengan dulu.
Agaknya pemuda ini sekarang merasa amat berbahagia dapat hidup berdua dengan Hui Kauw. Gadis ini
dapat merasa hal ini dan dengan terharu ia mencengkeram tangan Kun Hong.
"Sesukamulah... Kun Hong, aku menurut saja...," katanya lirih. "Akan tetapi, ke mana kita akan lari?"
Pada saat itu pula, di antara suara angin dan hujan, terdengarlah suara mereka yang sedang mengejar.
dunia-kangouw.blogspot.com
"Wah, mereka mengejar dan sudah dekat!" Kun Hong berkata dan sambil menarik tangan Hui Kauw untuk
lari lagi.
Hui Kauw menjadi penunjuk jalan, akan tetapi ia setengah diangkat oleh Kun Hong yang menggunakan
ilmu lari cepat. Lebih lima li mereka lari meninggalkan tempat pertempuran tadi. Namun karena tidak
mengenal jalan dan selalu terhalang oleh rawa, mereka hanya berputaran saja di sekitar lembah tanpa
mereka sadari.
Mendadak Hui Kauw berkata, "Kun Hong, di sana ada sebuah pondok kecil menyendiri. Mari kita
berlindung ke sana." Suara Hui Kauw hampir tak dapat terdengar karena terbawa angin yang makin keras
bertiup dan air hujan makin deras menyiram tubuh mereka.
Dengan susah payah akhirnya sampai juga mereka di pondok kecil yang sudah tua dan berdiri miring di
luar hutan lebat. Mereka cepat memasuki pondok yang ternyata kosong. Agak lega hati mereka karena
sekarang tidak lagi diserang hujan dan angin.
"Kita berada di mana?" tanya Kun Hong.
Hui Kauw memandang ke luar, bergidik melihat hutan yang tampak amat menyeramkan karena pohonpohonnya
bergoyang-goyang seperti mengamuk diserang angin ribut. Amat berbahaya memasuki hutan di
waktu demikian itu. Sewaktu-waktu akan ada pohon yang tumbang. Saking kerasnya angin, banyak pohon
kelihatan gundul karena daun-daunnya rontok oleh tiupan angin.
"Di luar sebuah hutan lebat. Kurasa untuk sementara kita bersembunyi di sini, menunggu sampai hujan dan
angin berhenti," katanya sambil mengusap air dari mukanya.
"Hui Kauw..."
Tiba-tiba Kun Hong memeluk mesra dan mendekap kepala gadis itu di dadanya. Gadis itu pun balas
memeluk dan sampai beberapa lama mereka berdiam diri.
Mendadak Kun Hong mendorong tubuh Hui Kauw perlahan ke belakang sambil berkata, "Kau larilah. Kau
masuklah ke hutan itu, larilah ke utara dan carilah perlindungan di sana. Carilah Sin Lee dan Hui Cu, atau
menggabunglah dengan pasukan dari utara. Kau akan selamat. Aku akan menanti mereka di sini!"
"Tidak! Sekali lagi, tidak!" Hui Kauw berkata nyaring. "Aku hanya mau pergi dan lari kalau bersama kau!"
"Jangan Hui Kauw. Percuma kita lari, pasti akan tersusul oleh mereka. Di antara mereka terdapat banyak
orang sakti. Kalau kau lari sendiri, aku dapat menghalangi mereka di sini dan mencegah mereka
mengejarmu. Bukan kau yang mereka kehendaki, melainkan aku. Kau harus selamat."
"Tidak mau! Kun Hong, tidak tahukah kau bahwa mati hidup aku harus bersamamu? Lebih baik mati di
sampingmu dari pada hidup jauh dari padamu. Aku... aku isterimu, bukan? Seorang isteri harus menyertai
suaminya, di mana pun suaminya berada."
Kun Hong amat terharu, membalikkan tubuh membelakangi Hui Kauw, "Hui Kauw, jangan kau hancurkan
kebahagiaanku. Aku merasa bahagia sekali bahwa pada saat terakhir aku masih sempat melindungimu,
membelamu. Akan sia-sia pengorbananku kalau kau akan tewas juga. Pergilah.”
"Tidak, Kun Hong. Aku tidak mau. Kau... kau sudah terluka! Aku tahu itu... sebaiknya kau saja yang
bersembunyi di hutan itu, biar aku yang menghadang mereka!" Suaranya tinggi dan bernada gagah. Kun
Hong makin terharu dan kembali mereka berpelukan.
Tiba-tiba Kun Hong melepaskan pelukannya.
"Trang-trang...!"
Dua batang pedang terlempar. Tongkat itu terus bergerak dan... ada dua orang anggota pasukan istana
jatuh tersungkur, tak bernapas lagi. Kiranya dua orang ini sudah berhasil mengejar sampai ke dalam
pondok dan langsung menyerang, akan tetapi hal ini hanya menyebabkan mereka mati konyol.
dunia-kangouw.blogspot.com
Karena larinya terhalang rawa-rawa dan hanya berputaran saja, maka dua orang sakti seperti Bhok Hwesio
dan Ka Chong Hoatsu malah tidak dapat menemukan Kun Hong dan Hui Kauw. Dua orang ini malah lewat
jauh dan mencari-cari di dalam hutan itu.
Sebaliknya, ada dua orang anggota pasukan yang merasa payah dan melihat pondok itu, hendak
mengaso, akan tetapi malah mereka yang dapat menemukan Kun Hong dan Hui Kauw tanpa mereka
sengaja dan mengakibatkan kematian mereka.
Kun Hong kembali siap dengan tongkatnya. Hui Kauw memungut sebatang pedang yang tadi terpental
jatuh. Mereka kini memasuki pondok dan Hui Kauw mengintai ke luar dari jendela yang tidak berdaun lagi.
Keduanya menanti dengan tegang. Hujan mulai berhenti, angin sudah tidak mengamuk lagi dan lapat-lapat
terdengar suara mereka yang mengejar, makin lama semakin dekat.
"Ada dua orang yang menuju ke sini...," bisik Hui Kauw kepada Kun Hong, suaranya agak gemetar karena
tegang, "mereka itu adalah Bhewakala dan yang seorang lagi It-to-kiam Gui Hwa."
Kun Hong mengangguk. "Kau berdiam saja di sini, jangan bantu kalau tidak amat perlu. Biar aku
menyergap mereka di depan."
Memang betul, It-to-kiam Gui Hwa yang mengejar berbareng dengan Bhewakala, tampak berlari-lari
menuju pondok itu. Bhewakala yang mengajak tokoh Kun-lun itu, mengatakan bahwa pondok itu mungkin
sekali dipergunakan untuk tempat sembunyi.
"Mereka melarikan diri, mana bisa berhenti di tempat itu?" bantah Gui Hwa.
"Siapa tahu? Semua orang sudah mengejar ke dalam hutan, tak seorang pun ingat untuk menengok
pondok itu. Biar kita menengok sebentar," kata Bhewakala dan demikianlah, dengan ilmu lari cepat
mereka, kedua orang tokoh ini menuju ke pondok.
"Awas...!" Bhewakala berseru sambil menuding ke arah dua mayat yang menggeletak di depan pondok itu.
"Ahh, mereka tentu di sini!" seru It-to-kiam Gui Hwa sambil mencabut pedangnya.
"Memang aku berada di sini!"
Dua orang itu terkejut dan cepat menengok. Ehh, tahu-tahu Kun Hong sudah berdiri di belakang mereka
dengan tongkat melintang di depan dada!
Sejenak Bhewakala dan It-to-kiam Gui Hwa meremang bulu tengkuknya. Bhewakala telah merasakan
kelihaian Pendekar Buta itu, benar-benar amat sakti, maka kini ketika secara tiba-tiba saja orang yang
dikejarnya itu berada di depan mereka, mereka menjadi terkejut setengah mati.
Namun, sebagai tokoh-tokoh kang-ouw yang memiliki kepandaian tinggi, hanya sebentar saja mereka
terkejut. Bhewakala sudah mengeluarkan senjatanya yang lihai, yaitu sebuah cambuk hitam yang kecil dan
sekali cambuk itu digerakkan, sudah terulur panjang sampai tiga meter.
Dahulu pernah di kota raja dia kehilangan cambuknya karena hancur bertemu dengan pedang Kun Hong.
Sekarang dia telah mengeluarkan cambuk simpanannya, terbuat dari pada bulu binatang aneh di
Pegunungan Himalaya.
"Pemberontak muda, lebih baik kau menyerah. Kau tidak akan dapat melarikan diri!" Gui Hwa mencoba
untuk membujuk karena betapa pun juga dia merasa jeri juga.
"It-to-kiam, hayo kita tangkap dia!"
Bhewakala yang pernah dikalahkan oleh Kun Hong, sebaliknya menjadi penasaran dan marah. Ingin dia
membalas kekalahannya dengan bantuan It-to-kiam Gui Hwa. Karena itu, sambil berkata demikian
cambuknya sudah dia putar-putar di atas kepalanya sehingga mengeluarkan bunyi mengaung-aung
laksana sirene. Melihat temannya sudah mendesak maju, dengan sikap apa boleh buat It-to-kiam Gui Kwa
juga menerjang dengan pedangnya yang mengeluarkan sinar berkilat.
dunia-kangouw.blogspot.com
Kun Hong sudah siap. Dia maklum bahwa dia menghadapi dua orang lawan yang amat kuat. Pernah dia
menghadapi Bhewakala dan karenanya dia maklum bahwa orang Nepal ini benar-benar memiliki ilmu yang
luar biasa.
Jika dulu itu dalam beberapa gebrakan saja dia mampu mengalahkan Bhewakala, adalah karena orang
Nepal ini tadinya memandang rendah kepadanya. Sekarang, setelah pernah dikalahkan, tentu dia akan
berlaku hati-hati dan tidak begitu mudah dikalahkan. Apa lagi di samping orang Nepal ini terdapat seorang
ahli pedang seperti It-to-kiam Gui Hwa yang dia tahu memiliki Ilmu Pedang Kun-lun Kiam-sut yang cukup
tinggi.
Dia harus hati-hati, maka begitu melihat mereka menerjang maju, dia segera memainkan ilmu silat
ciptaannya. Tongkatnya berkelebat hingga sinarnya bergulung-gulung, diselingi dengan pukulan-pukulan
tangan kirinya yang mengeluarkan uap putih!
Baik Bhewakala mau pun It-to-kiam Gui Hwa mau tidak mau amat kagum dan diam-diam memuji
kehebatan ilmu silat Pendekar Buta ini karena mereka berdua sama sekali tidak mampu mendekatinya.
Jangan kata sampai terbentur tongkat yang mengeluarkan sinar merah, baru terkena angin pukulannya
saja mereka merasa betapa tenaga yang sangat hebat mendorong senjata mereka ke belakang. Belum lagi
pukulan tangan kiri itu yang mendatangkan hawa pukulan ganas dan mukjijat sehingga membuat mereka
sama sekali tidak berani menangkisnya.
Sebaliknya, Kun Hong diam-diam juga terkejut. Dia sudah terluka karena mengadu tenaga dengan Hek
Lojin yang sakti. Walau pun luka itu tidak membahayakan keselamatannya, akan tetapi setidaknya banyak
membutuhkan pengerahan hawa sakti di tubuhnya untuk melawannya. Hal ini mengurangi kekuatannya
dan kini menghadapi dua orang yang tak boleh dipandang ringan ini, tenaganya hanya dapat menandingi
dengan berimbang saja.
Baiknya ilmu silatnya memang amat aneh dan tinggi sehingga dua orang itu sendiri tidak dapat menyelami
inti sarinya dan menjadi bingung oleh sambaran tongkat dan dorongan tangan kirinya. Yang paling
diperhatikan oleh Kun Hong adalah cambuk panjang di tangan Bhewakala.
Cambuk itu benar-benar lihai sekali dan sukar diduga gerakannya, bergerak bagai seekor binatang hidup
yang kadang-kadang merentang panjang, akan tetapi kadang-kadang juga melingkar-lingkar. Hebatnya,
cambuk hitam yang sekarang dimainkan oleh Bhewakala ini sangat ampuh serta kuat, beberapa kali
dihantam oleh tongkat Kun Hong, hanya mental kembali tetapi tidak putus.
Tiba-tiba Bhewakala mengeluarkan suara pekik rendah menggetarkan jantung, kemudian berkata-kata
seperti orang membaca doa dalam bahasa asing. Memang orang Nepal ini sedang berbicara seorang diri
dengan keras, dan sebetulnya dia memuji-muji kepandaian Kun Hong dan juga menyatakan penasarannya.
Akan tetapi gerakan cambuknya kini berubah, sama sekali tak lagi menyerang tubuh Kun Hong, melainkan
mengejar dan memapaki tongkat Pendekar Buta itu dengan cambuknya. Cambuk hitam yang panjang itu
seperti seekor ular kecil panjang segera melibat dengan kecepatan yang tak terduga oleh Kun Hong.
Pendekar Buta ini cepat menggentakkan tongkatnya dengan tenaga sakti untuk membikin senjata lawan itu
terputus. Akan tetapi hebat sekali, cambuk itu bukannya putus karena dapat mulur seperti karet, malah
terus bergerak melibat-libat seluruh tongkat, tangan dan lengan kanan Kun Hong, masih terus melibat
pundak, leher dan lengan kiri.
Dalam sekejap mata tampaknya Kun Hong telah kena terbelenggu oleh cambuk mukjijat itu! Pada saat itu
juga, It-to-kiam Gui Hwa menggunakan kesempatan itu menubruk maju dan mengirim pukulan maut ke
arah ulu hati Kun Hong dengan gerakan cepat karena dia memainkan jurus Tit-ci Coan-sim (Tudingkan Jari
Tusuk Hati) dari ilmu Pedang Kun-lun Kiam-sut yang paling ampuh.
"It-to-kiam, jangan bunuh dia, sayang kepandaiannya!" Bhewakala berseru dengan suara keras untuk
mencegah, namun dia tidak berdaya untuk menolong karena dia pun sedang mengerahkan tenaga untuk
melibat tubuh Kun Hong dengan cambuknya itu.
"Sruuuuuttttt! Cringggg... krakkk!"
Apa yang terjadi dalam sedetik ini benar-benar hebat dan sekaligus membuktikan bahwa Si Pendekar Buta
benar-benar telah memiliki kesaktian yang jarang bandingannya. Dalam keadaan yang serba sulit itu dia
dunia-kangouw.blogspot.com
masih bisa menyelamatkan diri, malah terlihat It-to-kiam Gui Hwa sudah roboh tak berkutik karena dadanya
tertembus oleh tongkat Kun Hong, sedangkan cambuk hitam yang tadi melibat-libat tubuh Kun Hong itu kini
berantakan dan putus-putus!
Kiranya dengan tenaga saktinya, ketika menghadapi bahaya maut tadi, Kun Hong masih sempat
menggerakkan kaki dan melakukan langkah ajaib sehingga dia terhindar dari pada tusukan maut It-to-kiam,
kemudian sekali mengerahkan tenaga terdengar suara keras dan cambuk hitam itu hancur berantakan, dan
akhirnya sinar merah berkelebat dan tahu-tahu tubuh It-to-kiam sudah roboh binasa. Saking cepatnya
tongkat itu bergerak, sampai tidak kelihatan bagaimana senjata ini tadi menembus tubuh It-to-kiam!
Bhewakala terkejut setengah mati dan bulu tengkuknya berdiri. Selama hidupnya belum pernah dia
menyaksikan hal seperti ini. Mana mungkin tubuh seorang manusia mampu membikin hancur berantakan
cambuk hitamnya yang terbuat dari pada bulu binatang sakti di Pegunungan Himalaya itu?
Ia cepat menubruk lagi dan mengirim pukulan dengan pengerahan tenaga dalamnya yang amat kuat. Akan
tetapi kali ini Kun Hong sudah siap. Tubuhnya tiba-tiba bergerak miring sehingga pukulan itu luput dan
tahu-tahu Bhewakala roboh karena kaki Kun Hong sudah menyerampangnya dan menyentuh jalan darah
di dekat lutut.
Bhewakala semakin kaget dan maklum bahwa sekali tongkat yang ampuh itu bergerak, nyawanya tak akan
tertolong lagi. Akan tetapi aneh, tongkat itu tidak bergerak, malah Kun Hong hanya berdiri tegak sambil
berkata,
"Bhewakala, tadi kau menyayangkan nyawaku, aku pun tak tega membunuhmu. Memang di antara kita
tidak ada permusuhan. Pergilah, atau... biarkanlah aku pergi dengan aman."
Bhewakala bangkit. Dia memandang dengan matanya yang agak kebiruan itu, kemudian menganggukangguk.
"Kau hebat. Tak perlu lagi aku di sini, aku harus pulang dan belajar sepuluh tahun lagi." Setelah
berkata demikian, dengan langkah panjang dia lari pergi dari tempat itu.
"Kun Hong, tolong...!"
Jeritan Hui Kauw ini seperti menyendal semangat Kun Hong. Kaget dan khawatir sekali hatinya. Seperti
kilat cepatnya tubuhnya melompat ke arah suara dan ternyata di sebelah kanan pondok itu telah berdiri
Ang-hwa Sam-cimoi dengan pedang di tangan. Kui Siauw, orang termuda dari Ang-hwa Sam-cimoi
memegang lengan Hui Kauw yang tidak berdaya lagi karena sudah ditotok jalan darahnya.
"Hui Kauw, kau di mana? Apa yang terjadi...?!" Kun Hong berteriak dan berdiri bingung.
"Kun Hong, aku... tertawan Ang-hwa Sam-cimoi...," kata Hui Kauw lemah.
Kun Hong menggerakkan tongkatnya mengancam, "Lepaskan dia!" suaranya mengguntur.
Kui Ciauw dan Kui Biauw tertawa mengejek, kemudian Kui Ciauw berkata, "Pemberontak buta. Lebih baik
kau menyerahkan diri saja sebelum kekasihmu ini kami bunuh!"
Kun Hong ragu-ragu. Dia maklum bahwa kalau dia bergerak, biar pun akhirnya dia akan menang, Hui
Kauw tentu akan terbunuh lebih dulu.
"Kun Hong, serang mereka. Jangan pedulikan aku!" ucapan Hui Kauw ini membangkitkan semangat Kun
Hong.
Akan tetapi cepat Kui Ciauw berseru, "Kau benar-benar ingin dia mampus?!"
''Lepaskan dia!"
Kun Hong melompat dan tongkatnya menerjang Kui Siauw karena dari suara Hui Kauw dia tahu siapa yang
harus dia serang lebih dulu untuk menolong kekasihnya.
"Plak-plak-plak!"
dunia-kangouw.blogspot.com
Kun Hong terhuyung mundur. Tongkatnya sampai tiga kali bertemu dengan senjata lunak tapi kuat bukan
main, disertai tenaga sakti yang mampu melawan tenaga dan tongkatnya.
"Ha-ha-ha, Kwa Kun Hong. Lebih baik kau menyerah kalau kau menghendaki nona itu dan kau sendiri
selamat."
"Bhok Hwesio!" Kun Hong berteriak marah. "Apa bila kalian memusuhi aku, itu memang sudah sepatutnya
karena kau dan teman-temanmu adalah anjing-anjing penjaga istana yang menganggap aku telah
memberontak. Akan tetapi apa salahnya Hui Kauw? Segera kau lepaskan dia dan mari kita bertanding
seribu jurus sebagai laki-laki!"
"Hemm, bocah buta yang sombong. Apa kau kira pinceng takut kepadamu? Soal nona itu, tidak usah
dibicarakan lagi. Ada pun mengenai kepandaian, kalau memang kau merasa jagoan, majulah biar pinceng
layani."
Kun Hong sudah marah sekali, tongkat di tangannya tergetar. Akan tetapi sebelum dia sempat bergerak,
terdengar suara halus di belakangnya.
"Omitohud, semoga Tuhan mengampuni kesalahan hambaNya..."
Suara itu sedemikian halusnya, namun pengaruhnya membuat Kun Hong seketika lemas dan lenyap
kemarahannya. Ia merasa terheran-heran dan menanti dengan telinga dibuka lebar-lebar untuk
mengetahui siapakah gerangan orang yang mempunyai suara demikian berpengaruh.
Ada pun Hui Kauw yang berada dalam tawanan Kui Siauw juga memandang penuh perhatian. Tadinya ia
terbelalak penuh kekhawatiran terhadap diri Kun Hong ketika di situ tiba-tiba muncul Bhok Hwesio.
Tadi dia sedang menonton perlawanan Kun Hong terhadap Bhewakala dan It-to-kiam Gui Hwa dari
samping pondok. Mendadak dari arah belakangnya berkelebat tiga bayangan yang cepat sekali
gerakannya. Hui Kauw hendak melawan, akan tetapi ia kalah jauh oleh Ang-hwa Sam-cimoi sehingga
dalam beberapa jurus saja ia telah tertotok dan tertawan.
Ia tidak takut mati, juga tidak takut melihat Kun Hong menghadapi Ang-hwa Sam-cimoi karena ia memang
sudah nekat untuk mati bersama. Akan tetapi tidak tega juga hatinya melihat kekasihnya yang buta itu akan
dikeroyok oleh orang-orang sakti, maka munculnya Bhok Hwesio yang amat sakti itu menggelisahkan
hatinya.
Kini ia terbelalak memandang tiga orang yang datang dengan langkah lambat dan ringan. Mereka ini
adalah tiga orang hwesio tua yang jalan berjajar. Yang kanan dan kiri serupa benar bentuk badan dan
muka, seperti hwesio tua yang kembar, bertubuh kurus pendek. Yang berada di tengah adalah seorang
hwesio tinggi kurus berusia sedikitnya delapan puluh tahun dan hwesio inilah tadi yang mengeluarkan katakata.
Besar keheranan hati Hui Kauw pada saat melihat betapa Bhok Hwesio menjadi berubah mukanya. Malah
dengan sikap menghormat Bhok Hwesio sekarang melangkah maju dan menjura hingga badannya yang
tinggi besar itu hampir berlipat menjadi dua, lalu mulutnya berkata,
"Thian Ki suheng, ji-suheng dan sam-suheng, siauwte menghaturkan hormat."
Kedua hwesio kembar itu hanya mengangguk. Ada pun hwesio di tengah yang disebut Thian Ki suheng
oleh Bhok Hwesio itu, memandang sejenak, kemudian bibirnya bergerak mengeluarkan ucapan yang halus
tapi penuh teguran,
"Bhok-sute, semenjak kapankah murid Siauw-lim-pai mencampuri urusan kerajaan? Sejak kapan murid
Siauw-lim-pai tamak akan harta benda atau kemuliaan duniawi?"
Suaranya penuh wibawa dan sampai lama Bhok Hwesio tidak dapat menjawab. Ada pun Kun Hong dan
Hui Kauw yang pernah mendengar nama Thian Ki Losu, yaitu pendeta Siauw-lim-pai yang amat terkenal
kesaktiannya itu, menjadi terkejut.
dunia-kangouw.blogspot.com
Thian Ki Losu terkenal sebagai seorang di antara para tokoh tua Siauw-lim-pai yang tidak pernah muncul,
akan tetapi yang kabarnya memiliki kepandaian bagai dewa. Oleh karena itu Kun Hong hanya diam saja.
Dia hanya mendengarkan penuh perhatian dan menanti perkembangannya lebih jauh sambil bersiap siaga.
Akan tetapi, Ang-hwa Sam-cimoi yang semenjak mudanya merantau ke dunia barat, tidak mengenal nama
Thian Ki Losu, maka mereka tak peduli sama sekali. Apa lagi ketika Kui Siauw melihat betapa sinar mata
dan muka Hui Kauw berseri-seri seakan-akan gadis itu mengharapkan bantuan, ia menjadi marah dan
berkata,
"Kwa Kun Hong, kalau kau tidak lekas berlutut dan menyerah, sekarang juga aku akan membunuh
kekasihmu!"
Hui Kauw benar-benar tidak berdaya. Kui Siauw yang galak itu sudah mencengkeram batang lehernya dan
sekali menggerakkan tangan, tentu jalan darah yang menuju ke otak akan dihancurkan dan dia akan tewas
dalam sekejap mata. Kun Hong sudah menggigil kedua kakinya, siap melompati penawan Hui Kauw itu
dan kalau perlu mengadu nyawa.
"Omitohud, sesama manusia mana berhak saling bunuh? Ada pinceng di sini, tidak boleh orang berlaku
keji!" Inilah suara Thian Ki Losu dan tahu-tahu tubuhnya sudah melayang seperti kapas tertiup angin ke
arah Kui Siauw.
Orang termuda dari Ang-hwa Sam-cimoi ini marah dan membentak, "Hwesio tua, kau mau apa?" Berkata
demikian, ia memukul dengan tangan kanan sambil mengerahkan tenaga sedangkan tangan kirinya tetap
mencengkeram tengkuk Hui Kauw.
"Omitohud, keji sekali...!" Thian Ki Losu berseru, lengan bajunya dikebutkan berkibar-kibar menerima
pukulan sedangkan lengan baju yang lain juga bergerak ke arah Hui Kauw.
Entah bagaimana, tahu-tahu tubuh Kui Siauw seperti dilemparkan tenaga raksasa, lantas melayang sampai
lima meter lebih jauhnya dan cengkeramannya pada tengkuk Hui Kauw tadi seketika terlepas. Dan lebih
hebat lagi, tanpa kelihatan kapan bergeraknya, tubuh Hui Kauw sudah terbebas dari pada totokan dan
gadis itu cepat berlari ke arah Kun Hong, berdiri di samping Kun Hong, sedangkan Thian Ki Losu sudah
kembali berdiri di antara kedua orang adik seperguruannya seperti tidak pernah terjadi sesuatu!
Kui Ciauw dan Kui Biauw mencabut pedangnya masing-masing, akan tetapi tidak berani sembarangan
bergerak, apa lagi melihat bahwa sumoi mereka tak terluka. Juga Kui Siauw sudah mencabut pedangnya,
akan tetapi juga tidak berani sembarangan bergerak karena maklum bahwa hwesio tua renta itu benarbenar
seorang sakti yang tidak boleh dibuat sembrono.
Bhok Hwesio melihat kejadian itu, mengerutkan keningnya dan berkata menegur, "Suheng berat sebelah.
Bocah buta itu adalah seorang pemberontak, juga gadis itu. Mereka harus ditawan."
"Bhok-sute," suara Thian Ki Losu tetap tenang dan sabar, "hal itu bukanlah urusan kita. Sebelum berlarutlarut
kau terbelit oleh urusan kerajaan, marilah kau ikut pinceng kembali, semoga Buddha
mengampunimu."
"Tidak, Suheng. Siauwte sudah berjanji akan membantu menghancurkan pemberontak. Suheng pulanglah
dahulu, kelak siauwte akan pulang dan mohon ampun kepada Suheng bahwa hari ini siauwte berani
membantah perintah Suheng."
"Bhok-sute, kau tahu apa hukumannya murid yang murtad? Sekali lagi, marilah pulang bersama kami,
kalau tidak, terpaksa pinceng akan melaksanakan hukuman di sini juga."
"Thian Ki suheng, kau terlalu! Di depan banyak orang merendahkan aku seperti ini, kalau aku tidak mau
ikut pulang, kau mau apa?"
"Omitohud, terpaksa pinceng melakukan hal yang berlawanan dengan hati!" Hwesio tua itu berseru dan
tiba-tiba dia menggerakkan kedua lengannya mendorong ke depan.
Terdengar suara berciutan dan seketika itu tubuh Bhok Hwesio bergoyang-goyang. Bhok Hwesio tentu saja
mengenal kelihaian kakak seperguruannya ini, maka dia pun bergerak dan mendorong.
dunia-kangouw.blogspot.com
Kakak beradik seperguruan ini berdiri dalam jarak antara dua meter. Oleh karena mereka masing-masing
mengulurkan lengannya, maka telapak tangan mereka saling mendekati, hanya terpisah satu meter. Akan
tetapi, meski telapak tangan mereka tidak saling sentuh, namun jangan dikira bahwa mereka itu tidak
saling serang.
Hawa sakti yang keluar dari telapak tangan masing-masing saling dorong dan dua tenaga sakti yang
dahsyat bertemu di udara. Mereka berdiri tak bergerak, dan hanya satu menit Bhok Hwesio kuat bertahan.
Mukanya tiba-tiba menjadi pucat dan dia mengeluh perlahan, kemudian tubuhnya terjengkang.
Thian Ki Losu melangkah empat tindak dan kembali dia menggerakkan tangannya cepat sekali ke arah
pundak. Pada lain saat Bhok Hwesio sudah menjadi pingsan dan digotong oleh dua orang hwesio kembar,
seorang memegang pundak dan seorang lagi memegang betis.
Thian Ki Losu memandang sekeliling, dan pada saat itu terdengar suara hiruk-pikuk tidak jauh dari situ, lalu
tampak api mengebul dibarengi sorak-sorai dan suara tambur perang. Kakek itu menggeleng-geleng
kepalanya.
"Omitohud, perang... perang... sekali lagi perang. Manusia saling bunuh, buta oleh karena kemuliaan dunia.
Bilakah semua ini berakhir?" Lama dia memandang kepada Kun Hong, menggeleng-geleng kepala dan
berkata lagi. "Sayang... sayang..."
Kemudian kakek ini mengajak dua orang sute-nya pergi dari tempat itu, membawa tubuh Bhok Hwesio
yang sudah pingsan.
Ang-Hwa Sam-cimoi tadi tidak berani bergerak. Setelah hwesio-hwesio itu pergi, mereka serentak
mengurung Kun Hong yang juga sudah siap.
Suara gaduh semakin menghebat dan sambil bersiaga Kun Hong bertanya, "Hui Kauw, suara apakah itu?
Apakah... mereka sudah datang...?"
"Agaknya perang sudah dimulai!" jawab Hui Kauw penuh semangat.
Kun Hong merasa girang. Tahulah dia sekarang bahwa saat itu orang-orang Pek-lian-pai dan Hwa-i Kaipang,
mungkin dengan pasukan dari utara, telah menyerbu dan bertanding melawan pasukan pengawal
dan para anggota Ngo-lian-kauw.
Benar saja dugaannya. Datang berlarian dua orang wanita yang terengah-engah melapor dari jauh.
"Kauwcu (ketua)... musuh menyerbu... semua dibakar...!"
Mendengar ini, Ang-hwa Sam-cimoi makin marah dan serentak mereka menerjang Kun Hong.
"Hui Kauw, mundur...!"
Kun Hong cepat menggerakkan tongkatnya menangkis dan diam-diam ia harus mengakui bahwa tiga
orang lawannya ini hebat sekali ilmu pedangnya. Menangkis yang satu datang yang ke dua menyambar,
disusul lagi yang ke tiga. Terus menerus mereka itu mendesak dengan penyerangan bertubi-tubi, sangat
teratur seakan-akan barisan yang sudah diatur terlebih dahulu. Juga tenaga mereka itu rata-rata amat kuat.
Kun Hong mengeluh. Benar-benar hari ini dia harus menghadapi banyak orang pandai.
Namun Hui Kauw tidak mundur, bahkan cepat ia mengambil pedang It-to-kiam Gui Hwa tadi dan serta
merta ia menyerbu dan membantu Kun Hong. Karena maklum bahwa tiga orang wanita itu amat sakti, Hui
Kauw segera mainkan ilmu pedang simpanannya yang ia dapatkan dari kitab rahasia. Setelah ia
menyerbu, maka terpaksa Kui Siauw melayaninya sehingga lumayan juga bagi Kun Hong yang hanya
menghadapi dua orang lawan.
Pada saat itu terdengar suara orang yang parau, "Ang-hwa Sam-cimoi, celaka sekali! Kita terjebak dan
terkepung musuh. Lekas bereskan si buta itu!"
Dan muncullah Souw Bu Lai dan Ka Chong Hoatsu, sedangkan di belakangnya tampak berlari-lari
mendatangi Lui-kong Thian Te Cu yang juga berteriak-teriak.
dunia-kangouw.blogspot.com
"Bereskan jahanam buta itu dan lekas lari! Tentara dari utara yang datang menyerbu. Jumlah mereka amat
banyak!"
Ketiga orang itu, Souw Bu Lai, Ka Chong Hoatsu dan Lui-kong Thian Te Cu serta merta menggunakan
senjata menerjang Kun Hong yang sekarang dikepung lima orang! Repot juga Kun Hong, apa lagi dia
merasa gelisah karena Hui Kauw makin terdesak hebat oleh Kui Siauw yang jauh lebih lihai. Tidak mungkin
untuk membantu kekasihnya karena dia sendiri pun sedang dihujani serangan maut oleh lima orang itu.
Kun Hong timbul marahnya, dengan bentakan yang melengking nyaring ia menggunakan jurus mematikan,
tongkatnya menyambar ke depan dibarengi sambaran tangan kirinya. Namun lima orang lawannya sudah
cepat mundur sambil menangkis, lalu mengepung lagi dengan rapat.
Pada saat Kun Hong dan Hui Kauw terdesak hebat di tengah-tengah medan pertempuran yang sekarang
makin gaduh karena perang antara pasukan utara dan para pengawal itu agaknya makin mendekat,
nampak berkelebat bayangan dua orang bagai garuda-garuda menyambar. Mereka ini bukan lain adalah Si
Raja Pedang Tan Beng San serta isterinya Cia Li Cu!
"Kun Hong, jangan takut, aku dan bibimu datang membantumu!"
Mendengar suara ini, bukan main lega dan gembiranya hati Kun Hong.
"Paman Beng San! Bibi Li Cu! Lekas, inilah musuh-musuh Thai-san-pai! Ka Chong Hoatsu dan Ang-hwa
Sam-cimoi mempunyai peran besar dalam penyerbuan itu!"
Bukan main marahnya Beng San dan isterinya ini. Beng San segera menerjang Ka Chong Hoatsu yang
kelihatan paling lihai di antara pengeroyok-pengeroyok Kun Hong. Kakek ini menangkis dengan tongkatnya
dan di lain saat kedua orang tokoh sakti ini sudah saling gempur mati-matian dengan amat hebatnya.
Ada pun Cia Li Cu sambil membentak nyaring segera menerjang Lui-kong Thian Te Cu yang juga kelihatan
amat kuat dengan senjatanya yang aneh, yaitu tanduk rusa. Seperti juga suaminya, nyonya yang berilmu
tinggi ini segera lenyap terbungkus sinar pedangnya ketika ia menandingi tokoh Go-bi-san ini.
Kun Hong mendapat hati setelah dua orang di antara pengeroyoknya yang paling kuat disambut oleh
paman dan bibinya. Dia memekik keras dan robohlah Souw Bu Lai dengan kepala retak-retak akibat
terkena pukulan tangan kiri Kun Hong. Kui Ciauw dan Kui Biauw terkejut sekali sehingga permainan
pedang mereka menjadi kacau. Akan tetapi Kun Hong tidak mempedulikan mereka, langsung dia melesat
ke arah Hui Kauw.
"Hui Kauw, mundurlah!" serunya.
Telinganya yang sangat tajam dapat membedakan suara pedang dan segera tongkatnya menyambar ke
arah Kui Siauw. Wanita ini mendengar suara berdesing dan sinar merah menyilaukan matanya. Dia cepat
menangkis dan inilah kesalahannya, karena kehebatan serangan Kun Hong hanya sebagian saja terletak
pada sambaran pedang dalam tongkat itu, sedangkan sebagian lagi terletak pada tangan kirinya yang
sudah mengirim pukulan maut.
Tubuh Kui Siauw terjengkang ke belakang, pedangnya terpental dan ia tewas tanpa dapat bersambat lagi.
Seperti juga dengan nasib Souw Bu Lai, kepalanya retak-retak tersambar hawa pukulan Pek-in Hoat-sut!
Sekarang Kui Ciauw dan Kui Biauw tidak sanggup menahan kemarahannya lagi. Mereka mengerahkan
seluruh tenaga dan kepandaian, mengeroyok Kun Hong dengan serangan-serangan nekat. Kun Hong yang
sudah lega hatinya karena Hui Kauw telah terlepas dari bahaya, melayani mereka dengan tenang, namun
dia selalu mencari kesempatan untuk merobohkan kedua orang ini.
Ada pun pertandingan antara Ka Chong Hoatsu dan Tan Beng San, amatlah dahsyat. Kakek dari Mongol
ini tidak mengira bahwa dia akan bertemu dengan Tan Beng San ketua Thai-san-pai di situ.
Pada waktu mereka menyerbu Thai-san-pai dahulu, dialah orang yang menyamar sebagai Song-bun-kwi.
Dan dia pula yang membunuh Tan Hok serta beberapa orang anak murid Thai-san-pai. Karena dia pun
maklum bahwa ketua Thai-san-pai ini tentu tidak akan mau mengampuninya, maka ia mengerahkan
kepandaiannya, cepat memutar tongkat pendeta dengan tenaga bergelombang, dengan penuh keyakinan
akan dapat mengalahkan ketua Thai-san-pai itu.
dunia-kangouw.blogspot.com
Akan tetapi dia tidak mengenal Tan Beng San, Si Raja Pedang. Hanya tampaknya saja Beng San terdesak
oleh tongkat yang mengamuk itu, akan tetapi memang semakin tua permainan pedang Tan Beng San
semakin matang dan amat tenang.
"Kau menyerbu Thai-san-pai, membakar tempat kami? Hemmm, ada permusuhan apakah antara kita,
kakek jahat?" Di antara berkelebatnya tongkat dan pedang, Beng San masih sempat bertanya.
Ka Chong Hoatsu kaget. Dia mengira sudah berhasil mendesak lawan, siapa kira lawan masih enak-enak
mengajak dia mengobrol. Orang yang terdesak mana bisa mengobrol? Dia tidak menjawab, melainkan
mendesak makin hebat.
Kun Hong mendengar ucapan Beng San dan dialah yang menjawab dengan tenang pula, seakan-akan dia
melayani dua orang wanita itu dengan seenaknya.
"Paman, dia itu tokoh Mongol, dia turut menyerbu Thai-san membantu mendiang Ching-toanio bekas isteri
Giam Kin. Ada pun Ang-hwa Sam-cimoi ini adalah sumoi-sumoi dari Hek-hwa Kui-bo. Itu yang melawan
Bibi adalah Lui-kong Thian Ti Cu tokoh Go-bi, penjilat istana."
Seperti juga Ka Chong Hoatsu, dua orang saudara Ang-hwa itu merasa kaget dan heran bagaimana si buta
yang mereka hujani bacokan itu masih enak-enak mengobrol, tanda bahwa si buta ini masih banyak
mengalah. Mereka memperhebat gerakan pedang untuk menekan lawan.
Sementara itu, Hui Kauw gembira dan kagum bukan main menyaksikan sepak terjang ketua Thai-san-pai
dengan isterinya. Terutama ia kagum sekali melihat permainan pedang Cia Li Cu yang amat indah. Wanita
yang sudah setengah tua itu nampak cantik jelita dan gagah, seperti seorang bidadari tengah menari-nari
menandingi Thian Te Cu yang lihai. Karena dapat melihat betapa nyonya gagah itu agaknya sukar untuk
mengalahkan lawan, tanpa banyak ragu lagi ia meloncat dan membantu.
"Bibi, maaf, perkenankanlah saya membantu."
Li Cu melirik dan heran ia melihat gadis yang suaranya merdu dan halus, sikapnya sopan santun, serta
ilmu pedangnya lihai, akan tetapi mukanya hitam menutupi kecantikannya, maju membantunya.
"Anak, kau siapakah?" tanyanya sambil menangkis senjata Thian Te Cu yang kini tiba-tiba menyambar ke
arah Hui Kauw.
"Bibi, dia itu Kwee Hui Kauw, dia... eh, dia... eh..." sukarlah Kun Hong menjawab. Mana mungkin dia
mengakui Hui Kauw begitu saja sebagai isterinya di depan ibu Cui Bi?
"Kun Hong, lawan bibimu itu kuat juga, mari kita cepat bereskan mereka ini!" kata Beng San yang juga
melirik ke arah isterinya.
"Baik, Paman."
Terdengar bunyi nyaring beradunya senjata dan sukar dikatakan siapa yang lebih dahulu berhasil karena
tahu-tahu tubuh Ka Chong Hoatsu roboh mandi darah, juga tubuh Kui Biauw roboh dengan dada tertembus
tongkat sedangkan Kui Ciauw meski pun sempat mengelak namun sebuah tendangan membuat ia
terguling dan pedangnya terlepas dari pegangan.
Kun Hong tidak menyerang lagi, membiarkan Kui Ciauw merayap bangun dan wanita ini pun menangis
sambil menyambar tubuh kedua orang adiknya dan memeluki tubuh itu.
Kun Hong menarik napas panjang. "Penyesalan selalu akhirnya datang terlambat! Ahhh, kenapa orang
baru menyesal kalau sudah terlambat?"
Kui Ciauw menghentikan tangisnya dan matanya memandang sedih pada Lui-kong Thian Te Cu yang juga
roboh sesudah Beng San melompat dan menyerang tiga empat jurus membantu isterinya. Semua
temannya sudah tewas atau melarikan diri. Matanya beringas memandang ke arah Kun Hong, Hui Kauw, Li
Cu, dan Beng San yang berdiri dengan sikap mengancam. Kemudian ia berkata,
dunia-kangouw.blogspot.com
"Kun Hong, apa bila kau memberi kesempatan kepadaku untuk mengubur jenazah kedua adikku,
tunggulah beberapa tahun lagi, aku Ngo Kui Ciauw bersumpah akan mencarimu dan menagih hutang!"
Kun Hong menggeleng-gelengkan kepala. "Nasibku! Terikat karma, bunuh membunuh. Sesukamulah, aku
hanyalah merobohkan orang yang menyerangku, kalau sekarang kau tidak menyerangku, aku pun tidak
akan mengganggumu."
Kui Ciauw lalu memanggul jenazah kedua orang adiknya dan sambil menangis ia lari dari tempat itu.
Rambutnya terurai panjang dan darah dari tubuh dua orang adiknya mengalir membasahi muka dan
pakaiannya, sungguh menyeramkan sekali.
Beng San menghela napas. "Kun Hong, yang seorang itu karena hari ini kau ampuni, kelak akan
mendatangkan banyak persoalan kepadamu."
Kun Hong hanya menunduk. Beng San lalu menghampiri dan merangkulnya.
"Kun Hong, kau sudah tahu akan mala petaka yang menimpa kami?"
"Kun Hong, tahukah kau bahwa Cui Sian...," dengan suara mengandung isak Cia Li Cu ikut berkata pula.
"Tenanglah, Bibi, Paman, saya sudah tahu semuanya, malah adik Cui Sian juga sudah berada dalam
keadaan selamat."
Li Cu menjerit dan menangis sambil merangkul Kun Hong. Girangnya bukan main dan ia tertawa-tawa
sambil menangis, menciumi Kun Hong sambil berkata,
"Anak baik... kau anak baik."
Adapun Beng San mengusap dua butir air mata dengan kepalan tangan sambil tersenyum mengerling ke
arah isterinya. "Hampir saja... aku kehilangan segala-galanya..."
Dia teringat akan ancaman isterinya yang tidak akan sudi melihatnya tanpa Cui Sian!
Dengan singkat Kun Hong menceriterakan keadaan Cui Sian yang sudah tertolong oleh Sin-eng-cu Lui Bok
dan kini berada di tempat yang aman. Kedua suami isteri itu berterima kasih sekali pada kakek yang aneh
itu dan menyatakan hendak datang sendiri menjemput puteri mereka setelah bertemu kembali dengan Sin
Lee dan Kong Bu.
Kiranya Sin Lee dan Kong Bu bersama isteri mereka juga sudah berada di tempat itu, sedang membantu
para pejuang yang menggempur barisan pengawal dan para anggota Ngo-lian-kauw. Karena adanya
bantuan mereka inilah maka sebentar saja pertempuran itu selesai. Ngo-lian-kauw dibasmi habis, para
pengawal banyak yang tewas dan sebagian pula melarikan diri.
Kiranya Sin Lee bersama isterinya yang membawa surat rahasia dan menuju ke utara, di tengah
perjalanan bertemu dengan pasukan dari utara yang dipimpin orang kepercayaan Raja Muda Yung Lo.
Ketika mendengar tentang surat rahasia, panglima itu menunjukkan surat kuasa dan mengusulkan untuk
mengirim surat rahasia itu melalui sepasukan prajurit pilihan agar surat itu dapat cepat dibawa kepada Raja
Muda Yung Lo.
Sin Lee dan isterinya tidak keberatan, malah begitu mendengar tentang niat pasukan itu yang hendak
menggempur Ngo-lian-kauw dan mendengar pula bahwa banyak jagoan dari istana berada di sana,
mereka segera ikut. Di tengah perjalanan pasukan yang terdiri dari dua ratus orang prajurit ini bertemu
dengan Kong Bu dan Li Eng. Bukan main girang hati empat orang itu dan Kong Bu bersama isterinya juga
serta merta ikut pula dalam barisan.
Pertempuran hebat terjadi, akan tetapi karena pihak utara lebih besar jumlahnya, apa lagi dibantu oleh
empat orang gagah itu, dengan mudah pihak Ngo-lian-kauw dan pengawal istana dapat dihancurkan.
Kebetulan sekali pada saat pertempuran terjadi, Beng San yang mencari keterangan dari orang-orang Peklian-
pai tentang musuh-musuhnya, sampai juga di situ.
Ada pun Cia Li Cu bukan kebetulan berada di situ, karena sesungguhnya nyonya perkasa ini sudah lebih
maju dalam penyelidikannya dari pada suaminya. Ia sudah mendapat tahu bahwa penyerbu Thai-san-pai
dunia-kangouw.blogspot.com
adalah orang-orang Ching-coa-to, malah ia sudah sampai di Ching-coa-to. Dari para pelayan pulau yang
kosong itu ia mendapat keterangan bahwa semua orang gagah pergi ke Ngo-lian-kauw, maka ia segera
menyusul musuh-musuhnya.
Tak perlu diceriterakan lagi betapa gembira dan girangnya hati para orang gagah ini yang saling berjumpa
di tempat yang tidak disangka-sangka, apa lagi mendengar berita tentang selamatnya Cui Sian. Hanya
saja, kegembiraan mereka terganggu oleh kabar mengenai kematian Song-bun-kwi.
Karena memang sejak dahulu keturunan orang-orang gagah, Beng San mengajak putera-puteranya untuk
membantu Raja Muda Yung Lo yang dianggap benar berdasarkan surat wasiat peninggalan kaisar tua.
Berkat bantuan orang-orang gagah seperti mereka inilah maka perjuangan Yung Lo akhirnya berhasil
merebut kekuasaan hanya dengan perang selama empat tahun saja. Dia naik tahta pada tahun 1403,
menggantikan Kaisar Hui Ti yang hanya berkuasa dari tahun 1399 sampai 1403.
Walau pun Kun Hong tidak dapat turut membantu peperangan, akan tetapi dia menunda pernikahannya
dengan Hui Kauw sampai perang selesai, barulah pernikahan dirayakan secara amat meriah di Hoa-sanpai.
Semua orang gagah dari semua penjuru memerlukan datang, karena ketika itu nama Pendekar Buta
sudah amat terkenal di dunia kang-ouw.
Terharu sekali hati orang tua Kun Hong, yaitu ketua Hoa-san-pai dan semua orang gagah yang hadir
menyaksikan pasangan pengantin itu. Yang pria buta, yang wanita bermuka hitam. Lebih-lebih terharu hati
para orang tua mengingat akan ucapan Hui Kauw ketika di depan para orang tua, Kun Hong berkata,
"Sebetulnya, mukanya itu hanya terkena racun dan aku sanggup mengobati sampai sembuh dan lenyap
warna hitamnya."
Dan bagaimana jawaban Hui Kauw? Dengan suara halus gadis ini berkata, "Tidak perlu. Memang
sebaiknya begini, agar kami berdua masing-masing mempunyai cacat, lagi pula, mukaku boleh hitam atau
putih, apa bedanya baginya? Aku tidak ingin kelihatan cantik oleh mata orang lain, kecuali hanya cantik
untuk suamiku."
Akan tetapi ketika sepasang mempelai dipertemukan dan mereka berdua berkesempatan bicara berdua di
dalam kamar pengantin, Hui Kauw terpaksa tidak dapat mempertahankan terus pendapatnya itu. Dengan
suara berbisik mereka bercakap-cakap. Begini…..
"Hui Kauw, kau harus membiarkan aku mengobati mukamu."
"Aku tidak ingin mukaku putih. Aku tidak ingin memamerkan kecantikan pada orang lain kecuali
kepadamu."
"Hushh, bukan untuk pamer, tetapi kau ingat, ibunya bermuka hitam, anaknya pun akan bermuka hitam.
Apa kau suka bila kelak melihat anakmu mukanya menjadi hitam seperti pantat kuali?"
"Ihhhhh, ceriwis kau, tak tahu malu...!"
Akan tetapi akhirnya ia tidak berani mencegah suaminya mengobati mukanya sehingga pulih menjadi putih
bersih dan membuat dia tampak cantik seperti bidadari, karena tentu saja dia takut kalau-kalau betul
seperti kata suaminya bahwa kelak muka anaknya akan menjadi hitam!
Tiga bulan kemudian Kun Hong dan isterinya pergi ke Liong-thouw-san di mana mereka kemudian tinggal.
Di situ pula Yo Wan atau A Wan putera janda Yo, dididik sebagai murid. Sin-eng-cu Lui Bok bersama
rajawali emas sudah pergi lagi melakukan perantauan yang tiada tujuan tertentu.
Bagaimana dengan Tan Loan Ki? Gadis lincah jenaka yang kehilangan orang tuanya akan tetapi sebagai
penggantinya mendapatkan jodohnya, Nagai Ici jagoan samurai Jepang itu, ikut dengan suaminya ke
Jepang. Tempat tinggal warisan ayahnya masih ia pertahankan. Kadang kala ia bersama suaminya
menyeberangi lautan untuk tinggal selama beberapa bulan atau tahun di tempat lama. Seperti juga Kun
Hong, Loan Ki dan suaminya hidup bahagia.
Bun Wan putera Kun-lun-pai yang ternyata adalah seorang kepercayaan Raja Muda Yung Lo, mendapat
penghargaan dan diberi kedudukan sebagai panglima muda. Orang gagah yang mengorbankan sebelah
matanya ini juga mengawini Hui Siang dan hidup mulia dan megah di kota raja utara.
dunia-kangouw.blogspot.com
Tan Beng San ketua Thai-san-pai, setelah menjemput puterinya di Liong-thouw-san dan menghaturkan
terima kasih kepada Sin-eng-cu Lui Bok, lalu kembali ke Thai-san-pai yang sudah dirusak oleh orang-orang
jahat. Suami isteri ini sangat bahagia karena Kun Hong mendapat seorang jodoh yang baik sebagai
pengganti puteri mereka dan mereka amat berterima kasih karena biar pun sudah buta, ternyata Kun Hong
selalu membela mereka.
Keadilan Tuhan selalu akan mendatangkan rahmat serta keselamatan jiwa raga bagi orang-orang yang
menjunjung tinggi dan melaksanakan kebenaran dalam hidupnya, dan selalu mendatangkan hukum dan
kehancuran bagi mereka yang menyeleweng dari pada kebenaran serta mengabdi kepada nafsu dan
kesenangan pribadi, menyengsarakan dan menindas orang lain demi kepentingan diri sendiri.
Wahai kasih, aku di sini…..
>>>>> T A M A T <<<<<
Tag:cersil cersil indo cersil mandarin full cerita silat mandarin online cersil langka cersil mandarin lepas cerita silat pendekar matahari kumpulan cerita silat jawa cersil mandarin beruang salju. cerita silat pendekar mataharicerita silat indonesia cerita silat kho ping hoo cerita silat mandarin online cerita silat mandarin full cerita silat jawa kumpulan cerita silat cerita silat jawa pdf cerita silat indonesia gratis cerita silat jadul indonesia cerita silat indonesia pendekar rajawali sakti cersil indonesia pendekar mabuk cersil langka cersil dewa arak cerita silat jaman dulu cersil jawa download cerita silat mandarin full cerita silat mandarin online cersil mandarin lepas cerita silat mandarin pendekar matahari cerita silat jawa pdf cersil indonesia pdf cersil mandarin beruang salju kumpulan cerita silat pdf
kumpulan cerita silat cersil online
Share:
cersil...
Comments
0 Comments

Arsip Cersil

Best Cersil

Pecinta Cersil