Donasi

Buat yang punya rejeki berlebih dan merasa terhibur dengan Situs Cerita Silat Cersil Terbaik ini bisa mendonasikan bantuannya ke
No. Rekening BPD Jateng No. 2004084554
demi keberlangsungan dan keberadaan Blog Cersil Cerita Silat yang sama-sama kita cintai ini. Kritik dan Saran hub No HP.083837358519. Atas Bantuannya disampaikan Terimakasih.

Jumat, 20 April 2018

Cerita Darah Pendekar 4

----
Karena dua orang ini merupakan tokoh -tokoh besar di dunia hitam, Tung -hai -tiauw menerima
ucapan selamat itu sambil tertawa gembira dan bangga, mengucapkan terima kasih sambil mengangkat
cawan dan sekali tenggak habislah arak da-lam cawannya. Sebelum kedua orang rekannya itu
kembali ke tempat duduk mereka, Tung-hai-tiauw berkata kepada mereka, "Dua sahabat baik yang
jauh -jauh datang tentu membawa keperluan pen-ting. Nah, setelah kini upacara pemilihan Raja Lautan
yang baru telah selesai, harap kalian suka. menceritakan keperluan penting itu."
Dua orang itu lalu menarik bangku dan duduk di depan Rajawali Lautan itu, dan Si Buaya Sakti
dengan suaranya yang tinggi lalu berkata, "Sesung-guhnya kami berdua diutus oleh keturunan dari
junjungan golongan kita, yaitu yang mulia Raja Kelelawar, untuk menemuimu dan menanyakan
apakah engkau sudah menerima surat undangan beliau beberapa bulan yang lalu ?"
Tung -hai -tiauw mengerutkan alisnya dan memandang tajam kepada kedua orang tamunya. Kalau
bukan dua orang ini yang datang bercerita, tentu dia tidak akan mau percaya. Dua orang ini adalah
raja-raja kaum sesat golongan darat dan sungai, mana mungkin dapat menjadi utusan kalau yang
mengutusnya itu bukan orang yang benar-benar hebat sekali kepandaiannya ? Mereka itu memiliki
kedudukan dan kepandaian yang seting-kat dengan dirinya, dan kini mereka datang seba-gai utusan,
agaknya untuk menegurnya karena dia telah mengabaikan surat undangan yang diterima-nya secara
aneh itu.
"Memang benar, aku telah menerimanya. Akan tetapi aku harus hati -hati. Siapa tahu ada orang yang
memalsukan nama junjungan kita itu dan mengaku -aku saja. Kita sendiri kan belum pernah bertemu
dengan tokoh yang disebut Raja Kelela-war itu. Kita cuma mendengar saja dari dongeng nenek
moyang kita. Mana kita bisa tahu apakah yang muncul ini tulen ataukah palsu ?"
San -hek -houw mengerutkah alisnya dan pan-dang matanya mengandung kemarahan. Dia sudah
takluk benar kepada Raja Kelelawar dan dia su-dah yakin bahwa raja iblis itu memang benar amat
sakti dan memiliki kesaktian -kesaktian seperti yang terdapat dalam dongeng tentang Raja Kele-lawar.
Kini sebagai orang kepercayaan Raja Kele-lawar, dia mendengar bahwa keaselian junjungan-nya itu
diragukan orang, maka hatinya menjadi panas. Akan tetapi dia bukan orang bodoh dan dia tahu
bahwa dia sebagai seorang tamu di sarang ba-jak, mempunyai kedudukan yang amat lemah dan
berbahaya. Oleh karena itu, diapun menelan saja perasaan dongkolnya dan memberi isyarat dengan
pandang matanya kepada Buaya Sakti agar mereka cepat -cepat pergi dari tempat itu. Si Buaya Sakti
maklum akan kemarahan kawannya, maka diapun berkata dengan suara datar,
"Kami berdua hanya utusan saja, dan jawaban Hai -ong tentu akan kami sampaikan seperti apa
adanya kepada Raja Kelelawar yang mengutus kami. Nah, sekarang kami berdua terpaksa mohon diri
untuk kembali ke tempat kami masing -ma-sing."
"Ah, kenapa tergesa -gesa ?" Tung -hai -tiauw berkata, merasa tidak enak juga karena tidak ingin
dianggap kurang ramah apa lagi mengusir dua orang tamunya ini. Diapun tahu bahwa di darat, dua
orang ini jauh lebih terkenal dari pada dirinya-dan juga kedudukan mereka berdua ini lebih kuat.
Dengan dua orang seperti ini, yang telah dirang-kaikan dengan dia sebagai Si Tiga Jahat, lebih aman
kalau bersahabat, bukan bermusuhan. "Apa-kah kalian tidak ingin melihat perlumbaan perahu-perahu
kita malam nanti ? Dan yang lebih mena-rik lagi, apakah kalian tidak ingin melihat upacara
penyerahan korban perawan jelita di Pusaran Maut ?"
"Tidak, terima kasih." Kini Harimau Gunung, yang menjawab. "Kami harus cepat -cepat pulang untuk
membuat laporan kepada Raja Kelelawar."
Rajawali Lautan Timur bukan tidak berkesan mendengar tentang Raja Kelelawar itu. Kalau dua orang
rekannya ini sudah begitu tunduk, tentu to-koh yang mengaku sebagai Raja Kelelawar ini benar -
benar hebat kepandaiannya. Akan tetapi, dia sendiri baru saja menangkan kedudukan Raja Lautan,
mana mungkin dia memperlihatkan kele-mahan dan rasa jerihnya terhadap tokoh yang baru muncul
dan yang belum dikenal serta diketahui sampai di mana kelihaiannya itu ? Pula, dia berada di tempat
sendiri, di daerah bajak, di mana hadir orang -orang lihai yang akan membantunya dan membela
kawan sendiri seperti Petani Lautan, Ra-ja Muda Selatan dan semua anak buah yang de-mikian
banyaknya. Takut apa ? Maka diapun tersenyum mengejek mendengar ucapan Harimau Gu-nung
tadi.
dunia-kangouw.blogspot.com
"Hemm, baiklah. Aku tidak akan menahan lagi. Akan tetapi, kita bertiga yang sudah lama menjadi
rekan-rekan, yang nama kita dikaitkan orang seba-gai Sam -ok, sungguh sayang kita kini berbeda
pendapat dalam hal kekuasaan dan kedaulatan kita. Sampaikan saja salam kami kepada orang yang
mengaku keturunan Raja Kelelawar itu. Katakan bahwa kami, orang -orang lautan, ingin hidup be-bas
tanpa, harus diperintah orang dari golongan lain."
Ucapan ini merupakan tantangan halus yang ditujukan kepada Raja Kelelawar! Dua orang to-koh
sesat itu marah dan mendongkol sekali. Kalau saja mereka tidak berada di wilayah bajak, tentu
mereka akan menyerang Rajawali Lautan. Akan tetapi mereka tahu diri, maka mereka tidak menjawab
dan hanya mengangguk. Tung -hai -tiauw juga tidak mau banyak cakap lagi, lalu dia sendiri
mengantar dua orang tamu ini keluar dan melihat sampai keduanya benar -benar telah pergi meninggalkan
pulau itu.
Setelah dua orang yang dianggapnya saingan berbahaya itu pergi, Tung -hai -tiauw yang kini untuk
ketiga kalinya kembali telah menduduki sing-gasana Raja Lautan dan berhak menjadi majikan dari
pulau dengan istananya itu, lalu mengajak dua orang tangan kanannya, yaitu Petani Lautan dan juga
Raja Muda Selatan untuk melihat perlumbaan perahu. Dengan diiringkan oleh para pengawal, para
dayang dan juga isteri dari Rajawali Lautan, mereka semua lalu pergi ke panggung yang didiri-kan di
tepi telaga, dengan wajah gembira nonton perlumbaan yang baru akan dimulai setelah Raja Lautan itu
hadir di panggung.
Senja telah mendatang, matahari telah condong jauh ke barat. Perlumbaan yang hendak diadakan
sekarang adalah perlumbaan terakhir yang merupa-kan puncak pertunjukan karena kini yang akan
berlumba hanya tiga buah sampan saja. Akan te-tapi, para penumpangnya adalah thouw -bak-thouwbak
(mandor -mandor bajak) yang meru-pakan pembantu -pembantu utama para raja bajak yang telah
memiliki kepandaian tinggi. Tentu saja keadaan menjadi menegangkan dan panas, karena tiga perahu
yang akan berlumba itu seakan -akan mewakili golongan masing -masing, yaitu golongan anak buah
tuan rumah yang menjadi Raja Lautan, golongan anak buah Petani Lautan dan anak buah Raja Muda
Selatan.
Setelah tiga buah perahu yang ditumpangi ma-sing-masing oleh tiga orang itu siap, dimulailah
perlumbaan dan terjadilah perlumbaan seperti yang sudah terjadi kemarin. Akan tetapi sekarang lebih
ramai-lagi karena para penghuni perahu itu adalah orang -orang yang lihai, bukan hanya lihai ilmu
silatnya akan tetapi juga lihai dalam mengemudikan dan melayarkan perahu mereka. Dan se-perti
juga kemarin, perlumbaan ini lebih berupa, perkelahian di atas perahu atau usaha untuk saling;
menenggelamkan perahu lawan dari pada perlum-baan adu cepat. Setiap kali ada sebuah perahu
yang agaknya meluncur paling cepat, yang dua lalu menggunting dari kanan kiri dan menyerang perahu
itu dengan dayung-dayung panjang mereka, bukan hanya berusaha menghantam badan perahu
atau merusak layar atau merobohkan tiang layar, akan tetapi bahkan tidak segan -segan untuk sa-ling
hantam ! Mereka sungguh ahli mengemudikan perahu. Perahu -perahu itu sampai miring, saling,
serobot dan saling tabrak, akan tetapi dengan ce-katan mereka mampu menghindar dan balas menyerang
untuk menggenjot perahu lawan dari sam-ping dalam usaha mereka menggulingkan lawan.
Perlumbaan atau perkelahian antara tiga pera-hu itu terjadi dalam suasana panas, apa lagi karena
tepuk sorak para pendukung masing -masing tak pernah berhenti memberi semangat kepada jagoan
masing -masing. Beberapa kali ada perahu yang tertabrak dan terguling. Akan tetapi dengan ce-katan
para penumpangnya sudah berhasil memba-likkan perahu mereka dan mendayung lagi. Ada yang
kepalanya benjol -benjol terkena hantaman dayung. Akhirnya, dengan kepala benjol-benjol dan perahu
dalam keadaan tidak utuh lagi, perahu anak buah Raja Muda Selatan keluar sebagai pemenang
setelah lebih dulu berhasil mencapai garis yang ditentukan. Mereka menerima sambutan sorak-sorai
dan juga menerima hadiah-hadiah dari Raja Lautan.
Sementara itu, matahari telah terbenam dan se-bagai gantinya, bulan yang amat besar dan merah
muncul dari permukaan laut sebelah timur. Sete-lah perlumbaan selesai, kini disusul pesta air ! Raja
Lautan dan keluarganya, juga para kepala bajak seperti Petani Lautan dan Raja Muda Selatan, naik
perahu yang dihias meriah dengan lampu -lampu gantung yang berwarna -warni, dan berpesta-pora di
atas telaga. Terdengar bunyi musik mengiringi nyanyian wanita-wanita penghibur dan semua orang
mulai bermabok -mabokan. Acara terakhir malam itu adalah penyembahan korban untuk Dewa Laut
yang akan dilakukan di Pusaran Maut. Seo-rang perawan jelita akan dikorbankan, seperti yang terjadi
setiap tiga tahun sekali!
dunia-kangouw.blogspot.com
Tiupan rumah kerang raksasa menjadi tanda bahwa upacara itu akan segera dilaksanakan. Perahuperahu
dipersiapkan dan semua perahu yang berpesta -pora lalu minggir. Perahu Rajawali La-utan
dan perahu -perahu para pimpinan bajak te-lah siap mengikuti upacara itu. Sebuah perahu yang
dihias secara khas nampak diturunkan ke air dari pantai. Lalu dari pantai nampak sebuah ge-robak
dorong yang didorong orang ke atas perahu. Di atas gerobak dorong ini nampak seorang gadis yang
duduk bersandar tiang dalam keadaan terbe-lenggu kaki tangannya. Gadis itu dalam keadaan sadar
dan dengan sepasang matanya yang mengelu-arkan sinar berapi -api, gadis itu memandang ke kanan
kiri. Jelas bahwa ia berada dalam keadaan terancam, akan tetapi hebatnya, sedikitpun ia tidak
kelihatan takut. Kedua lengannya terbelenggu ke belakang tubuhnya, diikat oleh belenggu besi pada
tiang, dan kedua pergelangan kakinya juga dibelenggu dengan belenggu besi yang dipasang di papan
gerobak. Dara itu bukan lain adalah Ho Pek Lian !
Seperti telah kita ketahui, dara itu memasuki pulau dengan berani dalam usahanya mencari Bu Seng
Kun, A-hai, dan juga Bu Bwee Hong, di samping juga berusaha untuk mencari ayahnya yang pernah
didengar suaranya di dalam sebuah perahu. Akan tetapi, karena terkejut melihat pa-tung yang tibatiba
hidup, ia ketahuan dan akhir-nya dikeroyok dan tertawan. Sungguh malang ba-ginya, pada waktu
itu Raja Lautan membutuhkan seorang dara jelita yang pantas untuk menjadi korban yang akan
dipersembahkan kepada Dewa Laut, dan iapun terpilih ! Bahkan Tung-hai-tiauw merasa bangga dapat
mempersembahkan seorang dara yang bukan hanya cantik jelita melainkan ju-ga gagah perkasa. Dia
percaya bahwa Dewa La-utan akan merasa girang sekali dengan persembah-an istimewa ini dan
tentu akan memberi berkah kepada semua bajak sehingga di masa mendatang akan berhasil baik
dalam pekerjaan mereka mem-bajak !
Perahu kecil terhias yang membawa Pek Lian itu pun meluncur perlahan, diiringkan oleh perahuperahu
Rajawali Lautan, Petani Lautan, Raja Mu-da Selatan dan para kepala bajak lainnya. Iringiringan
perahu itu amat banyak, seperti armada saja akan tetapi suasananya tetap gembira, apa la-gi
karena bulan purnama yang bundar besar ke-merahan itu nampak cemerlang tidak terhalang awan
seolah -olah sang bulan ikut merestui kesi-bukan mereka yang akan mempersembahkan kor-ban
sedemikian mulusnya kepada Dewa Laut! Bulan purnama yang kemerahan itu nampak besar dan
perlahan-lahan naik menjauhi permukaan laut. Malam yang amat indah. Lautpun tenang sekali,
seolah -olah tidak ada keriputnya sedikitpun juga. Langit bersih sekali sehingga nampak bin-tangbjintang
dengan cahayanya yang pudar karena dikalahkan oleh sinar bulan.
Akan tetapi, kini para anak buah bajak mulai tenang dan suara kegaduhan merekapun mereda,
bahkan lalu menghilang. Mereka maklum bahwa perjalanan sekali ini bukan lagi kelanjutan dari pesta
-pora, melainkan perjalanan yang keramat dan penting, juga berbahaya! Mereka akan mela-kukan
upacara persembahan korban seorang pera-wan suci, kebiasaan tradisionil nenek moyang mereka.
Yang membuat mereka merasa ngeri adalah karena persembahan korban itu dilakukan di daerah
yang teramat berbahaya dan yang amat mere-ka takuti, yaitu daerah pusaran maut, tempat yang
mereka anggap sebagai pintu gerbang menuju ke neraka. Oleh karena itu, makin dekat dengan tempat
mengerikan itu, makin teganglah hati mereka dan makin sunyilah keadaan di atas perahu-perahu
yang beriringan itu.
Pek Lian yang duduk terbelenggu di atas ge-robak dorong yang berada di atas perahu itu, memandang
semua kegiatan ini. Ia tahu bahwa ia menghadapi bahaya maut walaupun ia belum mengerti
bahaya maut macam apa yang dihadapinya. Ia tertawan dan dalam keadaan tertotok, ia telah
ditelanjangi dan dimandikan oleh para dayang, di-mandikan dengan air yang diberi wangi -wangian
seperti seorang calon mempelai saja. Kemudian, pakaian yang baru dari sutera dikenakan pada tubuhnya.
Sampai ia dibelenggu di atas gerobak dan didorong menuju ke perahu itu, ia masih belum
mengerti apa yang akan dilakukan orang terhadap dirinya. Namun, ia bersikap tenang walaupun hati
dan pikirannya tak pernah berhenti berusaha men-cari kesempatan untuk dapat meloloskan diri. Ia
sudah terbebas dari totokan dan sudah beberapa kali ia mengerahkan tenaga mencoba kekuatan belenggu
kaki tangannya. Maka satu -satunya harap-an hanyalah pada saat orang membebaskannya
dari belenggu itu, baru ia akan bergerak mengamuk mati -matian. Kalau perlu, ia akan meloncat ke
dalam lautan dari pada mati di tangan iblis -iblis berwajah manusia ini. Satu -satunya hal yang
membuatnya berduka hanyalah bahwa ia belum berhasil menemukan ayahnya dan yang amat aneh
terasa olehnya adalah betapa dalam keadaan menghadapi bahaya maut seperti itu, yang terba-yang
olehnya hanya wajah ayahnya dan wajah A-hai! Di manakah pemuda itu sekarang ? Masih hidupkah
? Apakah masih ingat kepadanya ? Per-tanyaan -pertanyaan ini tanpa disengaja menyeli-nap dalam
hatinya dan membuatnya heran sendiri.
dunia-kangouw.blogspot.com
Kini semua orang mulai dapat mendengar suara itu. Suara yang selalu mendatangkan rasa ngeri di
hati setiap orang bajak laut. Suara gemuruh bagai-kan guntur. Wajah para bajak laut menjadi pucat.
Itulah suara Pusaran Maut! Dan sungguh luar bi-asa sekali, berbareng dengan terdengarnya suara
gemuruh itu, seperti secara mendadak sekali, nam-pak awan tebal hitam bergulung -gulung datang
dan menutupi bulan purnama. Keadaan yang tadi-nya terang-benderang itu tiba-tiba menjadi ge-lapgulita
dan lampu-lampu perahu kini baru nampak terang berkelip-kelip. Semua orang me-mandang ke
arah bulan yang menyelinap ke balik awan hitam itu dengan hati cemas. Suara gemuruh semakin
keras terdengar, membuat semua orang menjadi gelisah.
Tiba-tiba sekali sehingga membingungkan semua orang, terdengarlah suara mengiang yang
merupakan lengking tinggi, seperti suara nyamuk di dekat telinga. Mengiang tajam sekali, membuat
semua orang menjadi semakin ngeri. Semua orartg yang memandang ke atas mengharapkan agar
awan yang menutup bulan cepat berlalu. Mereka tidak ingin datang ke daerah Pusaran Maut dalam
cuaca yang gelap -gulita seperti itu. Terlalu berbahaya ! Akhirnya, awan tebal itu sedikit demi sedikit
meninggalkan bulan purnama.
Para pengawal yang menjaga Pek Lian berna-pas lega. Calon korban masih terikat di tempat-nya
seperti tadi. Akan tetapi, tiba-tiba juru mudi perahu calon korban itu mengeluarkan teriakan tertahan,
disusul kata -katanya yang gagap,
"Heiii ! Lihatlah! Lihatlah bulan itu!
Ada manusia di dalamnya!!"
Semua orang, di atas perahu -perahu itu me-mang sudah melihatnya dan semua mata terbela-lak.
Memang benar ucapan juru mudi perahu ca-lon korban itu ! Di sana, di atas leher burung raja-wali
sebagai penghias ujung perahu Rajawali La-utan, nampak seorang laki -laki berpakaian hitam-hitam
dan bermantel hitam pula, berdiri membela-kangi bulan purnama, maka dia kelihatan seolah-olah
berada di dalam bulan yang besar itu ! Karena pakaiannya serba hitam dan bulan itu sendiri ku-ning
keemasan, maka nampak kontras dan indah seperti lukisan saja. Pek Lian sendiri juga sudah melihat
bayangan itu dan jantungnya berdebar te-gang ketika ia mengenal bahwa orang itu serupa benar
dengan orang yang pernah dijumpainya di atas pulau nelayan. Raja Kelelawar!
Semua orang masih memandang dengan mata terbelalak dan mulut ternganga, wajah pucat. Me-reka
tidak tahu bagaimana tiba-tiba tubuh orang berpakaian serba hitam itu melayang dengan kecepatan
seperti burung terbang saja menuju ke arah perahu di mana Pek Lian terbelenggu. Mantel hitam itu
berkibar di belakangnya seperti sayap yang lebar dan tahu -tahu dia sudah berada di atas dek perahu
dekat gerobak di mana Pek Lian terikat. Kedua tangannya bergerak -gerak dan terdengarlah besi
belenggu itu patah -patah dan dalam sekejap mata saja Pek Lian telah be-bas ! Akan tetapi, Pek Lian
masih belum mampu bergerak. Tubuhnya masih kaku -kaku karena terlalu lama dibelenggu.
Para pengawal tadinya tertegun seperti orang-orang terpesona oleh permainan sulap yang mengherankan
saja-Akan tetapi, mereka segera sadar bahwa tawanan telah dibebaskan orang, maka empat
orang pengawal dengan senjata di tangan me-nerjang dan menyerang pria tinggi kurus berjubah
hitam itu.
Bit-bo-ong atau Raja Kelelawar, orang yang mukanya kaku seperti topeng itu, seperti tidak
memperdulikan datangnya empat buah senjata ta-jam yang menyerangnya. Dia hanya mendengus,
tangan kirinya bergerak cepat dan terdengar empat kali suara pekik mengerikan dan empat orang
pengawal itu roboh terpelanting dengan kepala berlubang tertembus jari-jari tangan yang runcing
bagaikan pedang. Tentu saja para pengawal lain yang berada di atas perahu itu menjadi ngeri dan
jerih. Bunyi terompet tanda bahaya segera ditiup-kan orang dan perahu -perahu yang lain berdatangan
mengepung perahu calon korban.
"Hemmmm !" Raja Kelelawar mendengus,
tangan kirinya bergerak ke arah Pek Lian dan ga-dis ini mengeluh karena ia telah tertotok dan di lain
saat tubuhnya sudah diangkat dan dipanggul di atas pundak iblis itu. Gilanya, agaknya sesuai dengan
watak iblisnya yang biadab, tangan kanan iblis itu mengelus -elus pinggul dara yang membu-sung itu,
sedikitpun tidak merasa takut atau ma-lu biarpun ditonton oleh begitu banyaknya musuh yang
mengepungnya ! Kasihan Pek Lian yang ha-nya dapat mematikan rasa malunya karena ia sama
sekali tidak berdaya biarpun ia merasa betapa pinggulnya dielus-elus dan beberapa kali dicubit!
dunia-kangouw.blogspot.com
Terdengar aba -aba dari Rajawali Lautan dan ratusan anak panah menyambar ke arah Raja Kelelawar.
Agaknya tak mungkin orang dapat meng-hindarkan diri dari sambaran ratusan anak panah itu
kecuali kalau dapat memutar senjata menang kis atau kalau mengelakpun harus meloncat keluar
perahu. Akan tetapi, iblis itu sama sekali tidak mengelak, juga tidak menggunakan senjata untuk
menangkis, melainkan menggerakkan tangannya dan jubah lebarnya bergerak melingkari dan menyelimuti
seluruh tubuhnya dan tubuh Pek Lian yang dipanggulnya. Anak panah yang ratusan banyaknya
itu begitu menyentuh jubahnya, berjatuh-an di sekeliling badannya sampai bertumpuk -tumpuk.
Tidak ada sebatangpun yang mampu me-nembus jubah itu. Anak panah yang ratusan banyaknya
itu berserakan di sekeliling kakinya. Me-lihat kesaktian ini, para anak buah perahu calon
korban cepat-cepat meninggalkan perahu, pindah ke perahu lain karena merasa takut dan ngeri terhadap
iblis itu.
Para thauw -bak dengan suara gagap dan kaki gemetaran mencoba untuk mengumpulkan kembali
anak buah masing -masing yang dilanda ketakut-an. Melihat munculnya orang yang sama sekali tidak
pernah mereka sangka -sangka itu, apa lagi karena tadi Raja Lautan memang membicarakan, iblis ini
dengan kedua orang pembantunya, maka Tung -hai -tiauw, Petani Lautan dan Raja Muda Selatan
serentak berloncatan dari perahu masing-masing menuju ke perahu calon korban di mana iblis itu
masih berdiri sambil memanggul tubuh Pek Lian, dengan sikap yang amat tenang. Tiga raja bajak itu
tiba di perahu calon korban hampir berbareng, dari tiga jurusan. Melihat ini, tiba -tiba Raja Kelelawar
mengeluarkan suara melengking nyaring dan begitu dia menggerakkan jubahnya yang dikembangkan
dengan kekuatan dahsyat, tum-pukan anak panah di sekelilingnya itu terbang ber-hamburan kembali
ke tempat masing -masing !
Kembali terdengar jerit-jerit mengerikan dan belasan orang anak buah bajak roboh dengan tu-buh
tertembus anak panah ! Ada pula yang sempat menyelamatkan diri di balik perisai mereka. Tiga orang
raja bajak itu sendiri cepat mengibaskan ta-ngan mereka dan runtuhlah anak panah yang me-luncur
ke arah mereka.
Kini Tung -hai -tiauw, Petani Lautan, dan Ra-ja Muda Selatan sudah berdiri berhadapan dengan iblis
itu. Mereka bertiga tentu saja sudah mende-ngar dongeng penuturan nenek moyang mereka tentang
Raja Kelelawar dan kini, berhadapan de-ngan orang yang mengaku keturunan Raja Kelela-war,
mereka memandang tajam penuh selidik. Terutama sekali Tung -hai -tiauw yang baru saja tadi
menolak untuk menakluk kepada iblis ini karena bagaimanapun juga, dia masih belum dapat menerima
begitu saja munculnya seseorang yang meng-aku sebagai keturunan raja -diraja penjahat yang
hanya hidup sebagai dongeng itu. Apa lagi kalau dia, seorang Raja Lautan, harus takluk begitu saja !
Bagaimanapun juga, hati tiga orang raja bajak ini gentar juga. Orang yang berdiri dengan tegak di
depan mereka itu memang mempunyai ciri -ciri seperti Raja Kelelawar dalam dongeng yang mere-ka
dengar dari orang -orang tua dan guru -guru mereka. Orangnya tinggi kurus dengan pakaian serba
hitam, mantel atau jubah hitam pula dan mukanya tersembunyi dalam gelap karena membe-lakangi
bulan, muka yang nampak kaku seperti to-peng. Di pinggangnya sebelah kiri terselip dua buah pisau
panjang yang gagangnya indah berta-bur batu pennata. Tiga orang raja bajak itu terta-rik dan juga
merasa tergetar hatinya, Menurut dongeng yang pernah mereka dengar, raja iblis ini memiliki ilmu -
ilmu yang sakti dan tidak lumrah. Kabarnya memiliki ginkang atau ilmu meringankan tubuh yang tidak
ada bandingnya yang disebut Bu -eng Hwee -teng (Loncat Lari Tanpa Bayang-an), ilmu silat sakti Kim
-liong Sin -kun (Naga Emas) dan tenaga sinkang yang dinamakan Pat-hong Sin -ciang (Tangan Sakti
Delapan Dewa).
Akan tetapi, mereka bertiga memberanikan diri dan mengandalkan ilmu kepandaian mereka sendiri
yang tidak boleh dipandang rendah. Maka, mere-kapun bersikap menantang dan bersiap untuk
melayani iblis itu. Raja Kelelawar melangkah maju dan dengan suaranya yang tajam dan tinggi dia
bertanya,
"Siapakah di antara kalian yang berjuluk Raja-wali Lautan Timur ?"
Tung -hai -tiauw juga maju selangkah dengan berani, kemudian menjawab dengan suara nyaring,
lebih nyaring dari biasanya untuk menambah se-mangatnya sendiri, "Akulah Tung -hai -tiauw yang
juga menjadi Hai -ong ! Siapakah engkau ?"
Iblis itu mendengus. "Huh, mengapa engkau tidak mau datang memenuhi perintahku mengha-diri
pertemuan di kuil atas bukit itu ? Kenapa pula engkau tidak menerima kedua orang utusanku siang
dunia-kangouw.blogspot.com
tadi secara baik ? Benarkah engkau tidak mau bersatu di bawah benderaku, seperti yang terjadi pada
jaman nenek moyang kita dahulu ? Apakah engkau masih meragukan aku ? Nah, kalau begitu,
majulah, akan kuperlihatkan bahwa aku adalah keturunan Raja Kelelawar yang sejati!"
Sambil berkata demikian, dengan lengan kiri masih memanggul tubuh Pek Lian di atas pundak-nya,
tangan kanan bertolak pinggang, raja iblis itu melangkah maju dengan sikap menantang se-kali !
Tung-hai-tiauw adalah seorang tokoh yang memiliki kepandaian tinggi. Apa lagi dia merasa sebagai
Raja Lautan, tentu saja dia tidak mau memperlihatkan kelemahannya. Ditantang seperti itu, tentu saja
dia tidak sudi untuk undur selangkah.
"Bagus! Hendak kulihat macam apa adanya orang yang berani menggunakan nama Raja Kele-lawar
untuk mengacau"
Tung -hai -tiauw sudah menggunakan ilmu andalannya, yaitu Tiauw -jiauw -kang (Ilmu Kuku Rajawali)
yang begitu dipergunakan, kuku -kuku jarinya menjadi kaku dan keras seperti baja. Akan tetapi,
cakaran -cakaran kedua tangannya itu di-sambut oleh tangan kanan Bit -bo -ong seenaknya saja dan
setiap kali cakar yang kuat itu bertemu dengan tangan Raja Kelelawar, Tung -hai -tiauw merasa
betapa tangannya panas dan tergetar he-bat ! Padahal, lawannya itu menyambut seranganserangannya
hanya dengan sebelah tangan saja karena tangan kirinya masih memanggul tubuh Pek
Lian di pundaknya !
Tung-hai-tiauw merasa penasaran sekali dan dia sudah mengeluarkan senjatanya yang ampuh, yaitu
kipas besi dan segera menubruk ke depan, ta-ngan kirinya tetap mencengkeram ke arah kepala
lawan sedangkan kipas besinya sudah menotok ke arah pusar. Kembali Raja Kelelawar memperlihatkan
kelihaiannya. Dengan mudah saja dia menang-kis cengkeraman pada kepalanya sedangkan
totok-an kipas besi itu diterimanya dengan badan yang terlindung jubah pusakanya.
"Trakkk !" Tubuh Tung -hai -tiauw terpental ke belakang karena ketika kipas besinya menotok,
senjatanya itu membalik dengan amat kerasnya. Dia menjadi semakin penasaran dan dicabutlah
golok pusaka Toat-beng-to hadiah dari Petani Lautan. Kini golok dan kipasnya berkelebatan cepat
menyerang Bit -bo -ong tanpa memperduli-kan kalau -kalau senjatanya itu akan mengenai tu-buh
nona yang dipanggul oleh raja iblis itu. Na-mun, tiba -tiba saja tubuh Raja Kelelawar itu le-nyap dari
pandang matanya dan dari samping, tangan kanan iblis itu sudah mencengkeram ke arah pelipisnya!
Demikian cepat gerakan iblis itu sehingga Tung -hai -tiauw tidak mampu mengikuti gerakannya
dengan pandang mata! Namun, Raja Lautan inipun lihai dan dari angin pukulan yang menyambar dia
tahu di mana lawan yang pandai "menghilang" itu, dan diapun membacokkan golok nya menangkis
untuk membuntungi lengan lawan. Kembali Bit -bo -ong mengelak dan kmi dengan mengandalkan
kelincahan gerakan tubuhnya yang seolah-olah pandai menghilang atau beterbangan amat cepatnya
itu, dia dapat mempermainkan Tung -hai -tiauw !
Raja Lautan itu merasa terkejut bukan main. Lawannya itu memanggul tubuh dara itu, dan ha-nya
mempergunakan sebelah tangan saja, tangan kosong pula, namun sanggup menghadapi golok dan
kipas besinya. Maklumlah dia bahwa memang
benar lawan ini sakti bukan main, maka diapun lalu memberi isyarat kepada dua orang pembantu-nya.
Memang sejak tadi Petani Lautan dan Raja Muda Selatan sudah merasa penasaran. Mereka
berduapun merasa tidak rela kalau sampai kedau-latan mereka di atas lautan digeser dan dikuasai
oleh seorang asing yang berada di daratan. Maka, begitu melihat isyarat Raja Lautan, mereka berdua
lalu terjun ke dalam perkelahian itu dan memper-gunakan senjata mereka.
"Plakkk !" Tiba -tiba sebuah tamparan tangan kanan Raja Kelelawar mengenai punggung Raja
Lautan. Tamparan itu memang bertemu dengan baju emas yang melindungi tubuh Tung-hai-tiauw
sehingga tidak sampai terluka. Akan tetapi hawa tamparan itu sedemikian kuatnya sehingga dia merasa
seolah -olah isi dadanya rontok semua ! Un-tung bahwa pada saat itu, kedua orang pembantu
utamanya sudah menerjang. Petani Lautan mem-pergunakan senjata cangkul bergagang panjang
sedangkan Raja Muda Selatan mempergunakan pedang pemutus urat yang berbahaya itu.
Bit -bo -ong mengeluarkan suara mendengus keras dari hidungnya. Harus diakuinya bahwa se-telah
tiga orang raja bajak ini mengeroyoknya, dia tidak mungkin dapat melayani mereka seenaknya seperti
itu. Betapapun lihainya, harus diakuinya bahwa tiga orang itupun memiliki tingkat kepan-daian yang
cukup tinggi. Maka diapun lalu meng-gerakkan tangan kanannya dan tahu -tahu dia sudah mencabut
keluar sebatang pisau panjang yang gagangnya indah bertaburan batu permata itu. Karena tangan
dunia-kangouw.blogspot.com
kirinya masih merangkul Pek Lian yang dipanggulnya, maka dia hanya dapat mempergunakan
sebatang pisau panjang saja. Na-mun, ini juga sudah cukup karena dengan ilmunya meringankan
tubuh yang luar biasa, ditambah pula lindungan yang kuat dari jubah hitamnya, tiga orang lawannya
itu tidak mampu berbuat banyak. Senjata mereka hanya dapat mengenai jubah hitam dan selalu
senjata mereka terpental tanpa dapat melukai lawan, sedangkan gerakan iblis itu me-mang amat
cepat, sukar diikuti dengan pandang mata. Betapapun juga, karena mereka bertiga itu dapat bekerja
sama dan saling bantu, bagi raja iblis itupun tidak mudah untuk dapat merobohkan seorang di antara
mereka. Kalau saja iblis itu tidak memanggul tubuh Pek Lian, kiranya tiga orang jagoan laut itu tidak
akan mampu bertahan sedemikian lamanya.
Pertempuran satu melawan tiga ini sungguh amat seru dan mati -matian. Sebetulnya, kalau saja Raja
Kelelawar menghendaki, biarpun dia me-manggul tubuh Pek Lian, dengan ilmunya yang mujijat,
agaknya dia masih mampu merobohkan dan membunuh para lawannya dengan serangan-serangan
maut. Akan tetapi, dia tidak menghen-daki demikian. Dia membutuhkan bantuan rajaraja bajak ini
untuk memperluas kekuasaannya, maka dia harus mampu menaklukkan mereka, bu-kan membunuh
mereka. Tenaga mereka akan sa-ngat berguna baginya kelak. Karena inilah maka pertempuran itu
berjalan seru dan sampai lewat ratusan jurus belum ada yang kelihatan menang atau kalah.
Perkelahian tingkat tinggi ini amat menegang-kan hati para anak buah bajak, juga para raja ba-jak
kecil yang tidak berani maju karena merasa be-tapa tingkat kepandaian mereka masih belum cu-kup
untuk membantu raja mereka. Mereka demi-kian tegang dan tertarik, hampir tak pernah ber-kedip
menyaksikan pertempuran di atas perahu calon korban itu sehingga mereka tidak sadar bah-wa
perahu -perahu itu bersama -sama terbawa arus yang halus mendekati daerah Pusaran Maut! Baru
setelah sebagian dari mereka terkena percik-an air laut yang halus seperti kabut, mereka sadar! Tadi,
suara gemuruh itu seolah -olah tertelan oleh suara mengaungnya senjata -senjata yang digerak-kan
oleh tangan -tangan yang memiliki tenaga sakti amat kuat itu. Kini, tahu-tahu mereka sadar bahwa
perahu-perahu mereka telah berada di dae-rah Pusaran Maut. Semburan air akibat berpu-singnya air
di pusaran maut itu telah mengenai mereka, padahal pusaran itu masih jauh sekali. Setelah mereka
sadar, kini suara gemuruh itu menggeratak dan tiba-tiba saja seperti menulikan telinga. Mulailah
mereka menjadi panik dan ber-teriak -teriak, apa lagi setelah perahu -perahu mereka itu mulai terasa
oleng terbawa arus dan gelombang yang amat kuat menyeret perahu -pe-rahu itu ke satu jurusan.
Tadi mereka tidak merasakan bahwa perahu-perahu mereka terseret karena perkelahian tingkat tinggi
itu memang hebat bukan main. Demikian cepatnya gerakan Raja Kelelawar menghindarkan diri dari
kepungan tiga orang lawannya sehingga perkelahian itu dilakukan sambil berloncatan di antara
perahu -perahu, tiang -tiang layar, atap dan bergantungan pada tali-tali layar. Memang menakjubkan
sekali menyaksikan kehebatan gin-kang dari Raja Kelelawar yang seolah -olah me-mang hendak
mendemonstrasikan kepandaiannya sambil memanggul tubuh dara yang masih lemas tertotok itu.
Setelah kini mereka sadar, mereka semua ter-kejut bukan main dan mereka menjadi ketakutan
karena mereka maklum akan ancaman bahaya maut yang amat mengerikan. Bagaikan orang-orang
yang baru sadar dari mimpi buruk, semua orang tidak lagi memperdulikan pertempuran yang masih
berlangsung mati -matian itu dan mereka semua berusaha untuk mendayung perahu masing-masing
menjauhi atau keluar dari daerah berba-haya itu. Akan tetapi, arus air begitu kuatnya menarik perahuperahu
itu ke arah satu jurusan dan kini terasa hembusan angin yang amat kuat disertai alunan
gelombang yang makin meninggi. Perahu-perahu itu menjadi cerai -berai. Semua perahu seperti
tersedot ke arah suara gemuruh sehingga suasana menjadi semakin kacau dan semua orang menjadi
panik ketakutan. Kabut tebal menggelap-kan cuaca. Semua orang berteriak-teriak ketakutan. Perahuperahu
mereka tak dapat mereka kuasai lagi, tersedot aras yang amat kuat dan melaju melingkari
kabut tebal itu. Mereka telah berada dalam kekuasaan cengkeraman Pusaran Maut! Pe-rahu -perahu
berputaran semakin cepat dan sema-kin ke tengah. Kabut air makin tebal, orang -orang berteriak dan
tiba -tiba terdengar suara gemeratak seperti benda kayu patah -patah disusul jeritan-jeritan
mengerikan. Pusaran Maut telah mendapat-kan korban pertama dengan pecahnya sebuah pera-hu
dan menghanyutkan semua penumpangnya, ter-sedot oleh air yang berpusing itu entah ke mana.
Para bajak yang berada di atas perahu -perahu yang agak besar dan yang belum benar -benar tercengkeraman
sedotan air berpusing itu berusaha mati -mat,ian untuk menjauhi tempat berbahaya itu.
Akan tetapi perahu mereka itu rasanya seperti ada yang menahan dari belakang dengan kekuatan
yang mengerikan, seperti ada tangan tak nampak yang memegangi buritan mereka. Saking panik dan
ketakutan, ada bajak yang meloncat ke laut, ingin berenang menjauhi tempat itu. Akan tetapi justeru -
dengan perbuatan itu, mereka itu seperti benda kecil ringan yang dengan mudahnya terseret ke pusat
dunia-kangouw.blogspot.com
dari Pusaran Maut. Hanya terdengar te-riakan -teriakan mereka yang minta tolong melo-long-lolong
lalu sunyi, sunyi yang mengerikan. Korban -korban berikutnya berjatuhan ketika ada tiga buah perahu
yang seperti saling diadu oleh tangan raksasa yang tidak nampak, pecah beran-takan dan para
penumpangnya terlempar disambut air berpusing lalu disedot entah ke mana.
Para bajak itu menjadi semakin panik. Biasanya, dalam upacara persembahan korban kepada Dewa
Laut di Pusaran Maut, mereka tidak pernah sampai ke tempat sedekat itu dengan air berpusing itu.
Tadi, saking terpesona oleh perkelahian tingkat tinggi di atas perahu, mereka tidak sadar dan tahutahu
semua perahu telah berada begitu dekat di tempat berbahaya itu. Perahu di mana tiga orang itu
bertanding kini juga sudah berada di tepi pu-saran dan diseret berputar -putar tak dapat diken-dalikan
lagi.
Tentu saja perkelahian itu terhenti secara men-dadak. Tiga orang raja bajak itu memandang ke-luar
perahu dengan muka pucat dan mata terbela-lak, tidak perduli lagi kepada Raja Kelelawar yarig
berdiri tegak di atas dek sambil memanggul tubuh Pek Lian. Anak buah bajak yang kebetulan berada
di perahu itu sibuk berusaha mendayung, namun usaha mereka sia-sia belaka, bahkan ada dayung
yang patah ketika melawan arus. Tiga orang raja bajak itu adalah ahli-ahli dalam air dan jagoanjagoan
dalam mengemudikan perahu. Akan tetapi sekali ini mereka berdiri bengong dengan muka pucat
seperti kehilangan akal. Angin menghembus semakin kuat dan ombak mengganas menggiriskan
hati. Awan hitam bergulung -gulung dan tiba-tiba turun hujan badai yang dahsyat. Tentu saja hujan
badai ini tercipta oleh pusaran maut itu karena di daerah itu langit nampak bersih.
Setelah berada dalam keadaan seperti itu, maka setiap orang hanya ingat akan keselamatan diri
sendiri saja. Masing -masing hendak mencari ke-selamatan sendiri -sendiri. Rasa takut merupakan
perasaan yang paling kuat untuk menyeret manusia menjadi mahluk yang paling pengecut, paling kejam,
dan paling tidak berperikemanusiaan! Kalau ada orang yang melakukan perbuatan kejam, pada
hakekatnya di lubuk hatinya terdapat rasa takut yang amat besar. Kalau ada orang melakukan perbuatan
yang pengecut, diapun sedang dicengkeram oleh rasa takut yang amat besar. Rasa takut
meng-hilangkan kewaspadaan dan ketenangan, membuat orang melakukan tindakan karena
dorongan rasa takut itu, yang kadang-kadang merupakan perbu-atan yang membuta. Bermacam -
macam bentuk-nya rasa takut. Ada yang takut menghadapi kesu-litan, takut kehilangan, takut
kesepian, takut menderita, takut dijauhkan dari kesenangannya, dan takut akan kematian. Akan tetapi,
semua bentuk rasa takut itu sesungguhnya berdasar sama, yaitu sang pikiran atau si aku yang
membayangkan sesu-atu yang tidak menyenangkan, yang mungkin akan menimpanya. Kalau kita
dapat terbebas dari rasa takut dan menghadapi segala sesuatu yang menim-pa diri kita pada saat itu
juga, tanpa membayang-kan sesuatu yang belum terjadi, maka kita akan selalu tenang dan waspada
dan pada saat -saat bahaya mengancam, kita akan dapat bertindak atau memberi tanggapan yang
tepat berdasarkan ke-waspadaan dan ketenangan. Dan untuk dapat ter-bebas dari rasa takut tentu
saja harus meniadakan si aku yang membayang-bayangkan hal-hal yang belum ada itu.
Tiga orang raja bajak itu cepat mencari perleng-kapan untuk menyelamatkan diri. Mereka memang
selalu membawa perlengkapan untuk menolong diri kalau-kalau perahu mereka pecah atau terba-lik
diserang badai atau apa saja. Kini mereka telah membawa sebuah jangkar dengan tali yang pan-jang.
Raja Laut yang lebih dulu mengayun jang-karnya ke belakang, menggaet sebuah papan dari pecahan
perahu. Dengan tepat jangkarnya meng-gaet papan itu dan diapun meloncat sambil meme-gangi tali,
lalu berenang menuju ke arah papan. Dari situ dia meloncat lagi, jangkarnya menggaet lain benda.
Dengan cara demikan, juga berkat kepandaian renangnya yang mahir, akhirnya dia dapat lolos dari
sedotan Pusaran Maut. Dua orang: rekannya juga melakukan hal yang sama. Untuk melontarkan
jangkar ke perahu lain tak mungkin karena jarak mereka dengan perahu -perahu lain cukup jauh dan
kabut tebal membuat cuaca gelap. Hanya sedikit sinar bulan yang menembus kabut dan awan buatan
Pusaran Maut itu, membuat se-keliling tempat itu nampak air berkilauan seperti cengkeraman -
cengkeraman tangan maut yang hi-dup.
Raja Kelelawar bersikap tenang untuk memper-lihatkan kebesarannya. Akan tetapi sesungguhnya
diapun agak bingung menghadapi ancaman maut mengerikan ini. Dia tahu bahwa sebagai seorang
manusia, betapapun saktinya, dia tidak akan mam-pu melawan kekuatan alam yang demikian dahsyatnya.
Pula, ilmu -ilmunya adalah ilmu di da-ratan, dan dia sama sekali bukanlah jago air seperti
tiga orang raja bajak itu, walaupun ini tidak ber-arti bahwa dia tidak pandai berenang. Untuk dapat
melakukan penyelamatan diri seperti tiga orang raja bajak tadi, dia merasa tidak mampu. Akan te-tapi,
tokoh yang satu ini memang luar biasa. Dia sama sekali tidak menjadi panik sehingga dia tidak
kehilangan kewaspadaannya. Sambil memanggul tubuh Pek Liari, dia melangkah ke tepi perahu. Dia
dunia-kangouw.blogspot.com
masih mempunyai ilmu yang dapat diandalkan un-tuk menyelamatkan dirinya, yaitu ilmu ginkangnya
yang sudah mendekati kesempurnaan itu. Setelah mencari -cari dengan pandang matanya seperti
hendak menembus kegelapan, akhirnya dia meli-hat sebuah tiang layar hanyut tak jauh dari perahu.
Cepat dia menurunkan tubuh Pek Lian dari pang-gulan, mengempit tubuh itu dengan lengan kirinya
dan diapun menggerakkan kedua kakinya meloncat keluar dari perahu. Tubuhnya melayang dengan
ringannya dan ketika kedua kakinya hinggap di atas tiang layar yang terapung itu, diapun sudah
menggunakan tiang itu sebagai landasan untuk meloncat lagi menjauh dan kini yang hendak dijadikan
tumpuan loncatan adalah sesosok mayat orang yang terapung. Dengan cekatan dia melon-cat
ke atas perut mayat itu dan menggunakannya untuk mengenjot tubuhnya lagi ke arah pecahan perahu
di dekatnya. Karena pecahan perahu itu cukup besar, dia memperoleh kesempatan untuk berhenti
sejenak di atasnya. Akan tetapi dia tidak boleh terlalu lama di situ karena walaupun dia te-lah agak
menjauhi pusat Pusaran Maut, namun pecahan perahu itupun masih terseret ke tengah lagi. Maka
ketika dia melihat sebuah balok besar lewat, diapun meninggalkan pecahan perahu itu dan meloncat
ke arah balok besar. Ketika dia tiba di atas balok, dia mendengar suara hiruk -pikuk dan ternyata
perahu yang tadi dipakai meloncat telah "dimakan" pusaran air dan hancur beran-takan. Kini dengan
perimbangan badan yang luar
biasa, dia berdiri di atas balok yang bergoyang-go-yang. Hujan angin membuat penglihatannya kabur
dan dia tidak dapat melihat terlalu jauh. Dia men-cari -cari dengan pandang matanya kalau -kalau
terdapat perahu untuk dipakai menyelamatkan diri dari tempat mengerikan itu, karena diapun tidak
mungkin dapat terlalu lama bertahan di atas balok itu. Kalau tidak ada tempat lain yang lebih aman,
kalau sampai dia tergelincir ke dalam air dan ter-seret ombak, akan celakalah dia !
Jilid XV
TIBA-TIBA dia mengeluarkan suara tertahan sa-king girangnya. Dia tidak tahu betapa Pek Lian sejak
tadi menderita ketakutan yang amat hebat. Dara ini dalam keadaan tertotok dipanggul dan di-bawa
berkelahi mati -matian, lolos dari lubang ja-rum di antara sambaran senjata tiga orang raja ba-jak yang
mengeroyok raja iblis itu. Kemudian, se-karang dibawa berloncatan berjuang memperta-hankan
nyawa diancam kematian mengerikan di Pusaran Maut! Ingin rasanya Pek Lian menjerit dan
menangis, akan tetapi dara ini menguatkan ha-tinya dan hanya memejamkan mata melihat ombak
menggunung yang setiap saat seperti hendak me-nelannya. Beberapa kali mukanya disiram air laut
dan mulut, hidung dan matanya terasa asin dan pedas sekali. Ketika raja iblis itu mengeluarkan suara
tertahan dengan girang, Pek Lian membuka matanya dan dara inipun melihat bayangan sebu-ah
perahu yang hanya nampak samar -samar dalam cuaca remang -remang itu. Perahu itu masih agak
jauh, dan Raja Kelelawar memperhitungkan bahwa untuk mencapai perahu itu dia membutuhkan tiga
atau empat kali loncatan lagi. Balok tempat dia berdiri sudah mulai berputaran kencang. Raja Iblis itu
memandang ke sekeliling dan tiba -tiba di de-kat balok yang dipijaknya itu tersembul dua sosok
mayat. Otaknya bekerja cepat sekali. Tangan ka-nannya mencengkeram rambut kepala dua mayat itu
dan menariknya ke atas. Karena ditambah be-ban dua sosok mayat itu, balok yang dipijaknya
tenggelam, akan tetapi raja iblis itu telah memper-gunakan balok itu untuk mengenjot tubuhnya meloncat
ke arah perahu di depan sambil melempar-kan sebuah di antara dua mayat yang dicengkeramnya.
Mayat itu menimpa permukaan air dan kedua kaki Raja Kelelawar menyusul cepat, hinggap di
atas punggung mayat itu dan diapun melontarkan mayat ke dua ke depan, meloncat lagi dan dia
sudah hinggap lagi di atas mayat ke dua. Kini dia sudah makin mendekati perahu itu, tinggal dua kali
loncatan lagi. Akan tetapi tidak ada benda yang mengapung dekat, sedangkan tentu saja dia tidak
mungkin dapat berdiri terlalu lama di atas mayat itu yang merupakan benda yang tidak tahan terapung.
Sekarangpun mayat itu telah mulai turun dari permukaan air dan kedua kakinya sudah terendam
! Sekali ini, Raja Kelelawar benar-benar merasa ngeri. Tidak ada jalan lain lagi, pikirnya
cepat. Sebelum dia terendam terlalu dalam sehing-ga sukar untuk meloncat, dia sudah mengenjot
tubuhnya lagi menggunakan mayat itu sebagai lan-dasan, dan tubuhnya melayang ke depan. Karena
tidak ada apa-apa yang dapat dijadikan tempat mendarat, kini dia melemparkan tubuh Pek Lian ke
atas air setelah terlebih dahulu menotoknya sehingga jalan darah dara itu pulih kembali.
dunia-kangouw.blogspot.com
"Byuuurrr!!" Tubuh Pek Lian jatuh ke air dan tiba-tiba kaki Raja Kelelawar telah mengin-jak
punggungnya. Nona itu gelagapan dan me-ronta, akan tetapi tiba-tiba tubuhnya tertekan kuat dan
diapun tenggelam. Kiranya tubuhnya dipakai landasan meloncat oleh Raja Kelelawar yang kini
meloncat ke arah perahu yang telah dekat. Akan tetapi oleh karena ketika dipakai landasan meloncat,
tubuh Pek Lian tenggelam dan meronta, maka loncatan Raja Kelelawar itu tidak dapat mencapai
sasaran dan tubuhnya melayang turun masih ku-rang tiga meter dari perahu itu! Kalau orang lain yang
meloncat seperti itu, tak dapat dicegah lagi tentu tubuhnya akan terjatuh ke dalam air. Akan tetapi
Raja Kelelawar bukanlah manusia biasa, melainkan orang yang telah memiliki tingkat ke-pandaian
yang amat hebat. Maka ketika tubuh-nya melayang turun, dia lalu mengeluarkan sa-buknya, melolos
sabuk itu dan dihantamkannya sa-buk itu ke atas permukaan air laut. Terdengar bu-nyi ledakan keras
seperti cambuk yang dipukulkan dan ketika ujung sabuk itu mengenai permukaan air, terjadilah
gelombang besar dan tubuhnya sendiri dapat berjungkir balik ke atas sampai mende-kati perahu,
kurang satu setengah meter lagi! Kini sabuknya kembali bergerak menyambar pinggiran perahu dan
sekali dia membetot, tubuhnya melun-cur ke arah perahu. Dengan gerakan yang istime-wa, akhirnya
Raja Kelelawar itu berhasil mendarat di atas dek perahu itu. Hatinya lega bukan main. Akan tetapi
ketika dia menoleh ke arah air di ma-na tadi dia melemparkan tubuh Pek Lian, ternyata nona itu sudah
tidak nampak lagi. Akan tetapi raja iblis ini tidak memperdulikannya lagi. Dia lalu mendayung
perahunya dan menyelamatkan dirinya dengan membawa perahu itu menempuh ombak dan badai,
menjauhi Pusaran Maut.
Badai dan ombak makin menggila dan agaknya keadaan ini malah dapat menyelamatkan sebagian
dari para anak buah bajak. Perahu -perahu itu ada yang ditiup badai dan dibawa ombak menjauhi
Pusaran Maut, walaupun banyak pula perahu yang diseret tenggelam berikut para pemumpangnya.
Tiga orang raja bajak itu dapat menyelamatkan diri mereka dan dengan lesu mereka semua berkumpul
di pulau Raja Laut, menghitung anak buah masing -masing dan ternyata sepertiga bagian dari
anak buah mereka lenyap menjadi korban Pu-saran Maut. Sekali ini, bukan seorang perawan suci
yang mereka persembahkan kepada Dewa La-ut, melainkan anak buah mereka sendiri yang pu-luhan
orang jumlahnya. Diam -diam mereka menyalahkan peristiwa tiru. kepada Raja Kelelawar, akan
tetapi di samping itu merekapun harus meng-akui bahwa Raja Kelelawar itu sungguh luar biasa sekali
ilmunya dan memang pantas menamakan diri sebagai keturunan raja iblis itu. Biarpun dia masih
terpilih sebagai Raja Lautan, namun sekali ini pengangkatannya sebagai raja diawali peristiwa yang
amat tidak menyenangkan, membuat Tung-hai -tiauw berhati -hati dan cepat menyusun ke-kuatan
anak buahnya lagi dengan mengambil ang-gauta -anggauta baru.
Pek Lian mengeluh ketika punggungnya diin-jak oleh kala Raja Kelelawar. Kekuatan yang mendorongnya
membuat tubuhnya tenggelam. Ia gela-gapan, meronta dan akhirnya dapat muncul kembali
di permukaan air laut. Untung bahwa ia su-dah keluar dari arus berputar yang dibawa oleh
Pusaran Maut. Sekuat tenaga ia berenang menja-uhi walaupun seluruh tubuh, terutama punggungnya,
terasa nyeri -nyeri. Akkhirnya ia berhasil meraih sebuah papan yang cukup lebar dan yang lewat
di dekatnya. Agaknya papan itu adalah be-kas pintu kamar perahu. Ia lalu naik dan merebah-kan diri
di atas papan itu, lalu dibiarkannya ombak membawa papan itu ke mana saja. Ia sudah keha-bisan
tenaga dan ia memasrahkan dirinya kepada kekuasaan yang menggerakkan air laut luas itu. Dan
iapun terlelap, setengah pingsan, tak tahu apa -apa lagi.
Fajar telah menyingsing. Matahari yang lembut sinarnya, kemerahan dan bulat besar, muncul dari
permukaan air laut sebelah timur. Sudah tidak ada bekasnya lagi hujan badai semalam. Langit nampak
bersih cerah, dengan awan -awan putih kebi-ruan menghias di!sana-sini, nampak begitu tenang
tenteram penuh damai yang mengamankan hati. Tiada angin menggerakkan awan -awan tipis itu.
Burung camar beterbangan di udara. Sepagi itu mereka belum sibuk mencari ikan, agalknya masih
bermalas -malasan membiarkan dirinya melayang dan meluncur berkeliling di udara. Sayap mereka
hanya bergerak sekali -kali saja, dan hanya dikem-bangkan untuk menjaga keseimbangan tubuh
ketika meluncur di langit yang kosong. Ekornya kadang-kadang bergerak bersama kepala, agaknya
untuk mengemudikan penerbangan mereka yang seenak-nya itu. Kadang -kadang mereka
mengangkat ke-pala agak tinggi dan mengeluarkan teriakan, mung-kin memanggil pacarnya atau
temannya. Namun gerakan tubuh yang meluncur berkeliling itu, teri-akan sekali -kali yang parau itu,
sama sekali tidak mengganggu keheningan yang terasa menyelimuti dunia di saat itu. Mereka bahkan
menjadi sebagi-an dari kesunyian dan keheningan itu, dan tanpa mereka keheningan itu takkan
lengkap agaknya.
dunia-kangouw.blogspot.com
Matahari pagi menciptakan sebuah lorong emas di permukaan air laut yang tenang, sebuah lorong
emas memanjang yang kadang -kadang dilintasi bayangan ikan yang tersembul dari permukaan air,
nampak siripnya lalu menyelam kembali mening-galkan lingkaran -lingkaran di permukaan air. Makin
lama, lorong keemasan itu berobah semakin terang dan akhirnya terganti menjadi lorong perak yang
mulai menyilaukan mata. Pada saat itu orang sudah tidak lagi berani memandang ke arah mata-hari
yang telah berobah menjadi bola perak yang bernyala -nyala.
Pek Lian mengeluh, membuka matanya dan sejenak ia bingung. Akan tetapi, begitu terasa be-tapa
punggung dan pundaknya nyeri, dan menge-nal papan di mana ia rebah, ia segera teringat akan
keadaannya dan iapun memaksa tubuhnya untuk bangkit duduk. Laut tenang sekali sehingga papan
yang ditumpanginya itu hampir tidak bergerak. Ia memandang ke sekeliling. Air dan air biru yang
mulai berkilau tertimpa cahaya perak matahari. Ketika menoleh ke arah timur, matanya menjadi silau
dan cepat -cepat ia membuang muka. Ia ti-dak tahu sampai di mana papan itu membawanya, dan di
sekitarnya yang nampak hanya air laut sa-ja. Perutnya terasa perih dan lapar bukan main.
Ketika ia melihat sebatang dayung di dekatnya, ia merasa girang bukan main dan cepat mengambilnya.
Ia tidak ingat lagi kapan ia menemukan dayung ini, mungkiri semalam ketika ia naik ke papan
ini, ia tidak tahu lagi. Yang penting, da-yung ini akan dapat membawanya ke darat! Ia harus cepat -
cepat menemukan daratan kalau ia ingin hidup karena tidak mungkin ia dapat berta-han lama di atas
papan ini tanpa makan dan mi-num, sedangkan tubuhnya masih lelah dan nyeri semua rasanya. Ia
tahu bahwa ia berada di laut timur, maka ia tidak ragu lagi bahwa daratan tentu berada di barat, arah
sebaliknya dari matahari. Maka iapun mulai mendayung ke arah yang seba-liknya dari matahari terbit,
ke barat. Punggung dan pundaknya terasa nyeri ketika mendayung, na-mun ia memaksa diri dan
mendayung dengan gerak-an tetap, tidak berani terlalu mengerahkan tenaga karena hal ini akan
cepat menghabiskan tenaganya. Karena air laut amat tenang, maka papannya dapat meluncur
dengan kelajuan yang cukup membesar-kan hati.
Akan tetapi kebesaran hatinya mulai mengecil dan harapannya makin menipis setelah matahari naik
tinggi dan sinarnya menimpa ubun-ubun kepalanya, kedua lengannya sudah pegal -pegal senerti
hendak patah-patah rasanya, punggung dan pundaknya kiut -miut rasanya, namun belum juga
nampak adanya daratan atau pulau. Perutnya sudah terasa lapar sekali dan tabuhnya lemas. Tenggorokannya
kering. Tubuh terasa setengah lumpuh dan matanya mulai berkunang-kunang. Pek Lian
mengeluh dan menghentikan gerakan tangannya yang mendayung. Ia memejamkan kedua matanya,
merasa bahwa kematian agaknya tak lama lagi ten-tu datang menjemputnya. Dari jauh ia seperti melihat
wajah ayah dan ibunya. Mereka datang hen-dak menjemputnya ! Ayahnya nampak berpakaian
serba putih, jenggotnya yang panjang dan putih itu berkibar tertiup angin dan ibunya yang telah tiada
itu nampak masih muda dan cantik sekali. Mereka berdua itu mengulurkan tangan kepada
nya dan iapun tidak ingat apa -apa lagi !
Samar-samar dilihatnya lagi ayahnya yang ber-pakaian putih, bersama ibunya yang juga berpa-kaian
serba putih. Mereka itu lewat atau lebih tepat melayang agak jauh dari tempat ia rebah. Mereka
meninggalkannya.
"Ayaaahhh ! Ibu !" Pek Lian mengeluh dan memanggil lalu tersadar. Ia membuka matanya.
Bayangan ayah bundanya sudah tidak nampak lagi. Dan ia mendapatkan dirinya berada di dalam
sebuah kamar kecil, rebah di atas sebuah dipan. Ia terbawa oleng ke kanan kiri dan telinganya dapat
mendengar suara hempasan air memukul dinding kamar. Ia berada dalam sebuah bilik perahu! Ketika
menoleh ke kiri, ia melihat seorang gadis berpakaian serba putih duduk di atas sebuah kursi kayu,
memejamkan kedua matanya, agaknya tertidur atau beristirahat. Ketika Pek Lian meneliti dirinya,
ternyata pundak kirinya telah dibalut dan terasa olehnya betapa punggung dan pundaknya hangat
dengan obat lumur, juga ada tercium bau obat olehnya. Sekalipun tubuhnya masih penat-penat, akan
tetapi punggung dan pundaknya sudah tidak terasa nyeri lagi ketika digerakkan. Ia memandang ke
sekeliling memeriksa keadaan dalam bilik itu. Di atas meja kecil terdapat bermacam -macam gelas
obat, agaknya obat -obat untuknya. Akan tetapi tiba -tiba hidungnya mencium bau yang aneh. Ia
menjadi waspada dan ketika ia mengenal bau harum dupa yang biasa dipakai orang untuk
menyembahyangi orang mati, alisnya berkerut. Kurang ajar ! Agaknya orang -orang dalam perahu ini
menganggap bahwa ia sudah mati! Akan tetapi, pada saat itu timbul gagasan yang membuat dara ini
hampir tertawa cekikikan. Kalau ia dianggap sudah mati, biarlah ia akan membuat mereka se-mua itu
ketakutan! Tentu mereka itu akan ngeri melihat ia hidup kembali ! Ia melirik ke arah gadis yang
terkantuk-kantuk di atas kursi dan tersenyum. Orang pertama yang akan melihat "mayat hidup" adalah
dunia-kangouw.blogspot.com
gadis ini. Ia membayangkan betapa gadis itu akan terkejut dan ketakutan setengah mati, ter-kencing -
kencing!
"Ehem! Ehem!!" Ia terbatuk-batuk sambil duduk menghadapi gadis itu.
Benar saja. Gadis itu terbangun dari tidurnya. Akan tetapi bukan gadis itu yang terkejut ketakutan
melihat mayat hidup, melainkan Pek Lian sen-diri yang kecelik karena gadis itu sama sekali tidak
kelihatan takut, bahkan girang. Gadis itu lalu me-loncat mendekati dan berusaha mencegahnya un-tuk
duduk terlalu lama.
"Aihh nona sudah siuman kembali? Dan eh, harap nona jangan banyak bergerak dulu, harap suka
rebah saja"
Akan tetapi Pek Lian tidak mau rebah kembali. Sambil memandang tajam iapun bertanya, "Dimana
aku berada ? Dan siapakah engkau?
Sebelum gadis itu menjawab, pintu bilik perahu itu terbuka dan muncullah seorang gadis cantik je-lita
yang berperawakan langsing. Juga gadis ini berpakaian serba putih, terbuat dari pada sutera halus.
Wajah yang cantik itu tersenyum ramah ke pada Pek Lian.
"Enci Lian berada di perahu kami. Lupakah enci kepadaku ? Kami adalah kaum Tai-bong-pai dan enci
pernah membantuku ketika aku sedang diobati oleh keluarga keturunan Tabib Sakti bebe-rapa bulan
yang lalu."
"Ahli engkau adik Kwa Siok Eng ?"
Pek Lian berkata lirih, kini teringat kepada gadis remaja yang cantik itu, yang dahulu menderita sakit
lumpuh dan diusung dalam keranjang pada tengah malam oleh anak buah Tai-bong-pai, di-antar oleh
nyonya Kwa tokoh Tai -bong -pai, ibu dari gadis ini.
"Enci Pek Lian, aku sangat berterima kasih ke-padamu atas budimu yang besar itu." Siok Eng
menjura dengan hormat, kemudian mendekati pem-baringan dan dengan halus ia membujuk agar Pek
Lian suka rebah kembali karena gadis itu sedang berada dalam pengobatan. "Lukamu yang berada di
sebelah dalam cukup gawat, enci, maka engkau perlu beristirahat dan mengalami pengobatan yang
teliti."
"Terima kasih, adik Eng. Kalau tidak bertemu dengan perahumu eh, bagaimana engkau dapat
menolongku dan dengan siapa saja engkau berlayar ini ? Dan hendak ke mana?"
Siok Eng tersenyum dan nampak deretan gigi yang putih dan rata seperti rangkaian mutiara. Diam -
diam Pek Lian harus mengakui bahwa da-ra ini juga amat cantik jelita ! Hanya sayangnya, wajah yang
rautnya manis ini nampak kepucatan seperti wajah orang -orang Tai -bong -pai pada umumnya. Siok
Eng merasa geli mendengar hujan pertanyaan itu.
"Enci Lian, aku sedang pergi hendak mencari Ban -kwi -to "
"Ban -kwi -to ?" Pek Lian bergidik, teringat bahwa Ban -kwi -to (Pulau Selaksa Setan) adalah
tempat tinggal orang -orang yang amat lii hai dan kejam seperti Bouw Mo -ko dan Hoan Mo -li, kakek
nenek cabul tak tahu malu yang gai nas dan amat jahat itu.
Siok Eng mengangguk. "Dengan ditemani ti-gabelas orang dayang dan ahli-ahli perahu, aku berlayar
mencari Ban -kwi -to dan kebetulan seka0 li aku melihat engkau rebah pingsan di atas panan itu. Aih,
betapa besar rasa terima kasihku kepada Dewa Lautan yang telah mempertemukan kita se-hingga
aku berkesempatan untuk membalas segala budi kebaikanmu dahulu, enci Lian." Ia berhenti sebentar
dan menatap wajah Pek Lian, lalu melan-jutkan dengan pertanyaan, "Akan tetapi, sungguh tak ada
habisnya aku berheran bagaimana engkau tahu -tahu berada di tengah lautan, di atas sebuah papan
pintu, dalam keadaan terluka dan kehabisan tenaga, enci Lian?"
Pek Lian menarik napas panjang. "Ah, agak panjang ceritanya, adik Eng. Aku tertawan oleh anak
buah Raja Lautan, hendak dijadikan korban Pusaran Maut agaknya."
dunia-kangouw.blogspot.com
"Ah, bukan main! Engkau terpilih menjadi korban Dewa Laut di Pusaran Maut ? Tentu me-reka itu
kembali mengadakan pemilihan Raia La-utan yang diadakan tiga tahun sekali, bukan ? Dan
bagaimana engkau dapat lolos dari bahaya maut seperti itu ?"
"Terjadi keributan dengan munculnya Raja Ke lelawar "
"Ihhh ......!" Siok Eng membelalakkan mata-nya yang bening. "Benarkah raja iblis itu muncul di sana ?
Di pulau Raja Lautan ?"
"Tidak, tahu-tahu dia muncul di antara pe-rahu-perahu, hendak menundukkan tiga raja ba-jak laut.
Terjadi perkelahian hebat dan perahu-perahu itu tanpa mereka sadari telah terseret oleh Pusaran
Maut. Semua orang nyaris tewas dan aku sendiri akhirnya dapat menyelamatkan diri dan
menumpang pada papan itu " Pek Lian tidak
mau menceritakan semua pengalamannya yang mengerikan, juga memalukan. Mana mungkin ia
menceritakan betapa ia ditawan Raja Kelelawar, dipanggul dan pinggulnya dielus -elus dan dicubit,
kemudian betapa ia dijadikan batu loncatan oleh raja iblis itu yang hendak menyelamatkan diri?
Siok Eng menarik napas panjang. "Ah, ternyata para dewa masih melindungimu, enci Lian! Lolos dari
tangan mereka sungguh merupakan keajaiban, dan lolos dari Pusaran Maut juga merupakan suatu
kemujijatan."
"Dan dalam keadaan hampir mati bertemu de-nganmu merupakan berkah yang luar biasa besar-nya,
adik Eng. Sebenarnya, orang seperti engkau ini mau apa pergi ke Pulau Selaksa Setan yang menjadi
sarang manusia-manusia iblis yang amat kejam itu ?"
Siok Eng tersenyum. "Biarkan aku memeriksa lagi luka-lukamu, enci, nanti kuceritakan semua-nya
kepadamu." Dara itu lalu membuka balut pun-dak Pek Lian, memeriksa dan memijat sana -sini
dengan jari -jari yang ahli.
"Engkau sekarang telah menjadi seorang ahli pengobatan yang hebat, Eng-moi," ia memuji. "Dan
tentu engkau sekarang sudah sembuh sama sekali dari penyakitmu dahulu itu, bukan ?"
Dara yang usianya baru kurang lebih tujuhbelas tahun itu mengangguk. "Ya, aku sudah sembuh
berkat pertolongan locianpwe Kam Song Ki "
"Apa ? Kaumaksudkan kakek murid ke tiga dari Raja Tabib, yang amat hebat ilmu ginkang-nya itu ?"
Pek Lian berseru dan terbayanglah wa-jah yang tampan dari Kwee Tiong Li, ketua lem-bah pemimpin
para patriot itu. Biarpun dia menye-but nama kakek itu, namun sesungguhnya yang ter-bayang
olehnya adalah pemuda itu yang pergi bersama si kakek. "Di manakah adanya kakek itu sekarang ?"
Siok Eng menggeleng kepalanya. "Entahlah, setelah dia mengobati aku, bersama muridnya dia lalu
pergi meninggalkan tempat kami, entah ke mana. Apakah enci mengenal mereka ?"
Pek Lian mengangguk tanpa menjawab. Wajah yang tertimpa sinar lampu itu nampak demikian
cantiknya dan karena lampu itu terbungkus kertas warna merah sehingga sinarnya kemerahan maka
kepucatan wajahnya tertutup oleh sinar itu. Di lain fihak, Siok Eng yang dipandang seperti itu oleh
Pek Lian, menjadi agak heran dan malu-malu. Ia melanjutkan pengobatannya, memberi obat lumur ke
pundak dan punggung Pek Lian sambil bercerita.
"Engkau tadi bertanya mengapa aku pergi mencari Pulau Selaksa Setan? Sesungguhnya aku mencari
tempat tinggal orang -orang beracun dari pulau itu adalah untuk mencari Hek -kui -hwa (Bunga Mawar
Hitam atau Bunga Setan Hitam) yang berdaun putih. Menurut ayahku, bunga itu hanya tumbuh di
sana dan bunga itulah yang da-pat menjadi obat untuk membantuku menyempur-nakan latihan ilmu
keturunan Tai -bong -pai. De-ngan bantuan racun bunga itu, yang dalam hal umum mengandung
racun yang mematikan dan tidak ada obat penawarnya, maka aku akan dapat menyalurkan sinkang
untuk membuka jalan darah yang paling rumit dan gawat, yaitu Kim -nauw-hiat di ubun -ubun kepala.
Tanpa dapat menem -bus jalan darah itu, ilmu keturunan kami tidak akan danat dikuasai dengan
sempurna. Akan tetapi me-mang banyak bahayanya menyempurnakan ilmu itu sehingga ayah telah
melarangku. Akan tetapi aku nekat karena ingin sekali mewarisi ilmu itu dan akibatnya engkau telah
dunia-kangouw.blogspot.com
tahu sendiri. Aku menjadi lumpuh dan hampir saia mati. Melihat kenekatan-ku. setelah aku sembuh,
ayah membuka rahasia ini, yaitu bahwa kalau aku bisa memperoleh Hek-kui-hwa dari Pulau Ban-kwito,
maka aku akan dapat berhasil mewarisi ilmu itu. Sampai kini, hanya ayah seorang saja yang telah
menguasai ilmu ketu-runan itu dengan sempurna."
Pek Lian mendengarkan dengan hati penuh ka-gum. Semuda itu, Siok Eng telah mempelajari ilmu
yang sedemikian hebatnya dan semangat dara ini demikian besar sehingga berani menempuh bahaya
dengan mencari pulau yang ditakuti oleh se-mua tokon kang-ouw itu. Mereka melakukan pe
layaran sampai seminggu lamanya. Karena diobati dengan tekun dan dibantu pengerahan tenaga
sinkang dari Siok Eng, maka kesehatan Pek Lian pulih kembali.
Setiap kali melihat cara Siok Eng melakukan siulian, Pek Lian merasa heran sekali. Nona dari Tai -
bong -pai itu kalau melakukan samadhi, sela-lu dikelilingi berpuluh dupa wangi yang membara
sehingga asap hio itu menyelimuti seluruh tubuh-nya. Akhirnya ia tidak dapat menahan diri dan
bertanya tentang hal ini kepada Siok Eng.
"Biasanya orang bersamadhi sebaiknya memi-lih tempat di mana hawa udaranya bersih dan te-nang,
akan tetapi mengapa justeru engkau meng-gunakan begitu banyak dupa yang asapnya dapat
menyesakkan pemapasan ?"
Siok Eng tersenyum mendengar ucapan itu. "Enci yang baik, hio -hio yang kubakar ini adalah dupa
khusus buatan kami kaum Tai -bong -pai. Setiap batang hio mengandung sari obat penguat urat-urat
dan jalan darah. Siapa saja dari kami yang mulai mempelajari sinkang perguruan Tai-bong -pai akan
menggunakan dupa -dupa itu se-bagai landasan atau dasar dari ilmu kami yaitu Tenaga Sakti Asap
Hio yang membuat badan dan keringat kami berbau harum seperti hio."
Diam -diam Pek Lian bergidik. Keringat yang berbau harum seperti hio mengingatkan orang akan iblis
dan siluman. Hanya iblis dan siluman sajalah agaknya yang keringatnya berbau hio. Akan tetapi tentu
saja ia tidak menyatakan isi hati itu melalui mulut. "Sudah lamakah engkau melatih ilmu ra-hasia
khusus Tai -bong -pai ?"
"Tentu saja sejak aku masih kecil. Akan tetapi ilmu -ilmu yang sukar hanya dapat dipelajari se-telah
dewasa."
Pek Lian mengangguk-angguk dan meman-dang kagum. "Hemm, engkau tentu sekarang telah
menjadi lihai bukan main."
Siok Eng menggeleng kepala dan berkata me-rendah, "Masih belum, enci Lian. Aku masih ha-rus
dapat menembus pintu Kim -nauw -niat di ubun -ubun itu, baru ada kemungkinan aku berha-sil baik."
Seorang dayang kepercayaan yang sejak tadi mendengarkan percakapan itu dan melihat betapa
nonanya selalu merendah, menjadi tidak sabar. "Nona kami memang pandai merendah! Sebenar-nya
nona kami adalah nomor tiga tingkat kepandaiannya di dalam perguruan kami. Nomor satu tentu saja
adalah pangcu (ketua), kemudian nomor dua adalah siauw -ya (tuan muda) yaitu kakak dari nona
kami, dan nomor tiga adalah nona Kwa Siok Eng. Toa -hujin saja kalah oleh nona !"
Mendengar ini, Siok Eng hanya mendengus dan menyuruh dayangnya berhenti bicara sedangkan Pek
Lian mendengar dengan hati penuh kagum. Ia pernah melihat betapa ibu nona ini memiliki ilmu
kepandaian yang luar biasa lihainya. Jadi, kalau Siok Eng sudah dapat melampaui ibunya, maka
sukar dibayangkan betapa hebatnya ilmu kepan-daian nona remaja ini! Padahal, Siok Eng kelihatan
begitu lemah lembut dan halus.
Malam itu gelap. Bulan tua belum lama mun-cul di langit timur, hanya memberi cahaya yang remang -
remang. Akan tetapi banyak bintang ber-munculan di angkasa. Setiap kali angkasa tiada bidan atau
yang ada hanya bulan sepotong yang remang -remang, pasti bintang -bintang bermun-culan. Dua
orang gadis itu berada di atas geladak perahu dan melihat -lihat bintang yang memang nampak
cemerlang indah seperti ratna mutu ma-nikam yang menghias langit -langit beludru hitam kebiruan
yang lembut dan maha luas.
"Di manakah adanya Pulau Selaksa Setan itu, Eng-moi? Apakah masih jauh dari sini?" tanya Pek
Lian. Ia sendiri merasa heran mengapa ia kini betah tinggal di sebuah perahu. Pelayaran ini terasa
indah dan menyenangkan baginya, mungkin hal ini karena baru saja ia mengalami pelayaran yang
dunia-kangouw.blogspot.com
penuh bahaya dan sama sekali tidak menyenang-kan hatinya. Kini ia merasa begitu aman tenteram
dan penuh damai di perahu milik Tai -bong -pai itu. Apa lagi di situ terdapat Siok Eng yang amat
ramah dan halus budi.
"Entahlah, enci Lian. Kami sendiri belum per-nah melihatnya. Akan tetapi aku telah mempela-jari
keadaan pulau itu dari keterangan yang dapat kukumpulkan. Menurut penyelidikanku itu, Pulau
Selaksa Setan tidak nampak dari jauh karena se-lalu diliputi kabut tebal sehingga sukarlah dite-mukan
dan orang luar tidak dapat melihat keada-annya. Mungkin sekali kabut itu tercipta dari ha-wa beracun
yang memenuhi pulau itu. Kabar-nya, semua benda, binatang, tumbuh -tumbuhan dan apa saja yang
berada di sana mengandung ra-cun. Juga kabarnya, menurut para nelayan yang pernah melihatnya,
pulau itu dapat berpindah-pin-dah, mengikuti arus air laut."
"Ih, kenapa bisa begitu ?" Pek Lian bertanya heran mendengar ada pulau yang bisa pindah-pindah.
"Itulah sebabnya maka pulau itu dinamakan Pulau Selaksa Setan," kata Siok Eng sambil terse-nyum.
"Bukan hanya karena beracun, melainkan juga karena dapat berpindah-pindah seolah-olah ada setansetan
yang mendorong pulau itu pin-dah tempat."
"Tapi tapi, mana mungkin dongeng tahyul seperti itu dapat terjadi sungguh-sungguh ?"
"Aku sendiri tidak percaya ada setan mendo-rong -dorong pulau, enci Lian. Akan tetapi, an-daikata
benar terjadi pulau itu pindah -pindah tempat, ada kemungkinannya. Mungkin saja tanah dari pulau itu
di bagian bawahnya tidak menjadi satu dengan dasar laut, hanya menempel saja. De-ngan demikian,
apa bila ada terjadi arus yang kuat, bukan tak boleh jadi pulau itu tergeser dari tempatnya. Bukankah
kemungkinan itu besar dan masuk akal, enci Lian ?"
Pek Lian memandang kagum. "Adik Eng, eng-kau sungguh membuat hatiku kagum. Engkau pandai
dan cerdik, lihai ilmu silatmu dan cantik jelita lagi. Alangkah bahagianya pemuda yang da-pat
menyuntingmu kelak. Dan aku yakin sebentar lagi ilmumu akan melebihi ayahmu."
"Aihh, cici pandai benar memuji orang! Siapa pula sudi mengawini gadis yang pernah lum-puh
sepertiku ini ?" Siok Eng berkata dengan mu-ka kemerahan. Akan tetapi di sudut hatinya ia
bergembira sekali. Terbayang di matanya wajah seorang pemuda yang jangkung dan tampan sekali,
pemuda yang pernah menyelamatkannya, bahkan yang hampir saja mengorbankan nyawanya sendiri
demi penyakit lumpuh yang dideritanya. Pemuda itu mengobati dirinya yang waktu itu dalam kea-daan
telanjang bulat. Seorang pemuda yang tam-pan, gagah perkasa, dan berbudi. Bu Seng Kun! Hatinya
ingin sekali bertemu dengan pemuda itu, untuk menyatakan rasa terima kasihnya. Akan te-tapi, apa
bila ia teringat bahwa ia pernah bertelan-jang di depan pemuda itu, ia merasa malu sekali dan sukar
untuk membayangkan bagaimana ia akan dapat berhadapan muka dengan pemuda itu.
"Heii, itu di sana ada ikan besar terapung! Tu-kang dayung! Tangkaplah ikan itu, kita adakan pesta
besar malam ini!" Tiba -tiba terdengar se-man seorang dayang yang menudingkan telunjuk-nya ke
sebelah kanan perahu mereka.
Sibuklah anak buah perahu itu menangkap ikan yang besarnya seperti manusia dewasa itu. Ikan
meronta -ronta dalam jala. Dua orang gadis itu cepat mendekati dan memeriksa ikan yang dari ja-uh
nampak kebiruan itu. Dan memang benar. Ikan itu segala-galanya berwarna biru. Sisiknya, ma-tanya,
dagingnya dan segalanya.
"Awas, lepaskan dia! Ikan itu beracun!" kata Siok Eng dan mereka lalu, melepaskan kembali ikan itu
yang segera menyelam ke dalam air. "Ah, kita sudah dekat dengan daerah Ban -kwi -to ! Agak-nya
tidak sia -sia jerih payah kita berlayar sekian lamanya. Ikan itu menurut keterangan adalah satu di
antara penghuni perairan di sekitar pulau. Kulihat tadi dia terluka di bagian kepalanya, maka tersesat
ke sini." Siok Eng lalu memanggil seorang pembantunya yang ahli dalam memeriksa arus gelombang.
Kakek setengah tua yang juga menjadi kepala bagian pendayung itu mengadakan pemeriksaan
dengan teliti. Dia lalu menunjukkan arah arus air yang menuju ke kiri. Sementara itu, bu-lan tua sudah
naik semakin tinggi. Perahu mereka terus dilajukan ke arah kiri dan semua orang ber-sikap tegang
namun waspada karena nona mereka sudah mengatakan bahwa mereka telah berada dekat dengan
tempat yang mereka cari.
"Nona, lihatlah! Air laut ini warnanya keme-rahan seperti darah !" kata seorang dayang.
dunia-kangouw.blogspot.com
"Dan baunya busuk sekali!" kata Pek Lian yang juga berada di tepi geladak perahu bersama Siok Eng.
Siok Eng juga meneliti ke arah air dan cuping hidungnya yang tipis itu berkembang -kempis. Ti-ba-tiba
ia berkata, suaranya mengandung kete-gangan dan kegembiraan, "Hati -hati, agaknya daerah ini
sudah termasuk perairan Ban -kwi -to. Air laut di sini sudah beracun. Tutup hidung kali-an dengan
saputangan, udaranya juga mengan dung racun. Nanti kuberi obat penawar."
Setelah nona itu mengeluarkan obat penawar berupa pel -pel putih kecil yang dibagi -bagikan kepada
anak buahnya, juga Pek Lian disuruh me-nelan sebutir, mereka tidak perlu lagi melindungi
pernapasan dengan saputangan. Akan tetapi ka-rena bau air laut amat busuk, para dayang itu berbangkis
-bangkis dan ada yang mau muntah.
Pek Lian bergidik ngeri. Sukar untuk dapat membayangkan bagaimana ada manusia dapat hi-dup di
tempat seperti ini. Dan iapun semakin ka-gum kepada Siok Eng. Ia tahu bahwa kaum Tai-bong -pai
adalah ahli -ahli racun, akan tetapi me-lihat seorang dara remaja seperti Siok Eng bersikap
sedemikian tenangnya menghadapi tempat yang amat berbahaya itu, ia merasa kagum sekali. Hatinya
terasa besar dan gembira untuk menghadapi petualangan bersama seorang kawan seperti
puteri ketua Tai -bong -pai ini.
Makin dalam mereka memasuki daerah itu, makin keras bau busuk dari air laut merah. Akan tetapi
tiba -tiba saja mereka telah melewati air berbau busuk itu, akan tetapi sebagai gantinya, airnya kini
berobah kehijauan dan baunya juga amat kecut, seperti bau keringat yang sudah lama.
"Ihh, seperti bau keringatmu, A -cin !' seorang dayang berolok kepada temannya.
"Sialan ! Keringatku tidak bau seperti ini, A-cui. Keringat seperti ini hanya patut dimiliki oleh laki-laki !"
"Hi -hik, ketahuan sekarang! Si A -cin agaknya sudah hafal akan bau keringat laki -laki!" seorang
dayang lain menggoda. "Tentu keringat pacarnya
seperti ini baunya. Wahhhh I"
"Lancang mulut! Kalau keringat pacarku se-perti ini baunya, dalam waktu sehari saja mana aku kuat
?" kata pula A -cin dan semua dayang tertawa. Pek Lian ikut tersenyum. Para dayang itu agaknya,
sebagai orang -orang Tai -bong -pai, juga memiliki nyali yang besar sehingga di tempat seperti itu
masih sempat berkelakar. Memang bau air laut amat kecut, mirip bau keringat.
"Hei, kalian tenanglah!" tiba-tiba Siok Eng berkata. "Dan simpan kelakar kalian itu. Ketahui-lah, kita
sudah dekat! Ayah pernah bercerita bah-wa air laut yang merah berbau busuk itu merupa-kan
perbatasan, dan kalau sudah tiba di daerah air laut kehijauan yang berbau masam, itu tanda-nya
bahwa pulau itu akan kelihatan. Kita perhati-kan saja, menurut ayah air laut akan berobah lagi
kebiruan dan bau kecut itu akan terganti bau wa-ngi dan pulau itu tentu akan kelihatan di depan kita."
Semua orang termasuk Pek Lian, kini dengan serius memperhatikan keadaan sekeliling. Dan
memang benar seperti yang dikatakan oleh Siok Eng tadi, air laut makin lama makin berobah war-na
menjadi kebiruan dan bau yang masam tadi mulai berobah dengan bau yang wangi, wangi yang aneh
seperti sari seribu bunga bercampur bau manis. Dan perlahan-lahan, di antara kabut yang masih
remang-remang, nampaklah garis-garis daratan pulau. Tentu saja semua orang me-mandang dengan
hati penuh ketegangan karena mereka semua tahu bahwa sebentar lagi mereka akan tiba di tempat
yang penuh bahaya. Pulau Selaksa Setan terkenal sebagai pulau terlarang ba-gi orang luar dan
kabarnya, siapapun juga tidak berani masuk karena siapa yang masuk tentu tidak akan dapat keluar
kembali dalam keadaan hidup-hidup ! Anak buah Tai -bong -pai memang pem-berani, apa lagi mereka
itu mengiringkan nona me-reka yang mereka percaya penuh sebagai orang yang memiliki kepandaian
luar biasa tingginya.
Memang Siok Eng amat mengagumkan. Biar-pun usianya baru tujuhbelas tahun, masih remaja,
namun" sikapnya sudah dewasa. Ia bersikap tenang dan berwibawa sebagai seorang yang bertingkat
tinggi. Dengan hati -hati ia membagi -bagikan pel pencegah keracunan kepada semua orang, termasuk
Pek Lian. Ada pel anti hawa beracun, pel anti tanaman beracun, berikut minyak pelumurnya untuk
mengobati luka -luka yang terkena racun. Ia-pun memimpin pendaratan perahu mereka, memi-lih
tempat yang agak menonjol ke depan yang di-tumbuhi pohon -pohon rindang sehingga ketika mereka
mendarat, mereka terlindung oleh pohon-pohon itu.
dunia-kangouw.blogspot.com
Waktu itu, tengah malam telah lewat. Bulan tua itu tidak mampu menembusi daun -daun pohon yang
rimbun sehingga tempat itu nampak gelap, sunyi dan menakutkan. Di dalam kesunyian itu seperti
terasa oleh mereka adanya ancaman maut yang mengintai dari tempat -tempat gelap. Diam-diam Pek
Lian sendiri bergidik. Ia adalah seorang gadis gemblengan yang semenjak ayahnya ditawan telah
mengalami banyak hal -hal yang mengerikan dan membuat hatinya mengeras dan tabah. Akan tetapi,
berada di pulau aneh ini, yang namanya sa-ja Pulau Selaksa Setan dan penghuninya adalah iblis -
iblis macam kakek dan nenek bergerobak itu, mau tidak mau hatinya gentar juga. Namun ia melihat
betapa Siok Eng masih kelihatan te-nang -tenang saja.
Dengan tenang dan penuh wibawa Siok Eng berkata kepada para anak buahnya, "Kalian semua tidak
boleh turun dari perahu. Siap dan waspada-lah karena tempat ini benar -benar berbahaya. Sama
sekali tidak boleh memegang benda -benda atau mahluk hidup di tempat ini karena semua itu
mengandung racun yang ganas. Air itu, rumput itu semua mengandung racun. Kalian sudah memakai
obat penawar, akan tetapi, kalau kalian me-megang apa lagi memakannya, belum tentu obat
penawar itu akan dapat melindungi kalian. Makan dan minum saja dari perbekalan sendiri. Tunggu di
sini sampai tiga hari. Kalau sampai tiga hari ti-ga malam aku belum kembali, kalian pulanglah dan beri
laporan kepada ayah. Nah, aku pergi. Hayo, Lian-ci !"
Kecut juga rasa hati Pek Lian ketika ia digan-deng oleh Siok Eng meninggalkan perahu di mana
semua anak buah Tai -bong -pai menanti itu. Bi-arpun pada waktu lain atau dalam keadaan umum,
berada bersama orang-orang Tai-bong-pai yang berbau dupa dan pucat-pucat itu sudah merupakan
hal yang menyeramkan, namun kalau dibandingkan dengan memasuki pulau setan itu, sungguh jauh
le-bih senang tinggal bersama mereka! Akan tetapi, melihat ketabahan Siok Eng, Pek Lian lalu menekan
perasaannya. Masa ia harus kalah berani di-bandingkan dengan dara remaja ini?
"Mari, adik Eng, dan berhati -hatilah," kata-nya dengan sikap dewasa.
"Kaupergunakan ini, enci. Lumurilah semua muka leher dan kedua tanganmu agar kulit -ku-litmu
terlindung dari serangan racun," kata Siok Eng sambil menyerahkan sebuah poci kecil di ma-na
tersimpan minyak membeku yang berwarna kuning dan berbau harum. Pek Lian lalu memakai minyak
itu, dioleskan pada seluruh muka, telinga, leher dan kedua tangannya, pendeknya semua bagian
tubuh yang tidak terlindung pakaian. Siok Eng agaknya sudah sejak tadi memakainya dan da-ra ini
membantu Pek Lian sampai pemakaian obat penawar itu rata benar. Kemudian merekapun
melanjutkan perjalanan di malam remang -remang itu.
Biarpun mereka berdua sama -sama belum pernah datang ke pulau ini, namun karena Siok Eng
sudah banyak mencari keterangan dan mem-pelajari keadaan pulau ini, maka dara remaja inilah yang
memimpin perjalanan. Mereka menyelinap dan menyusup di antara pohon -pohon menuju ke tengah
pulau. Tak lama kemudian Siok Eng me-nunjuk ke depan karena sejak tadi mereka tidak mau
mengeluarkan suara dan hanya memakai ge-rak tangan untuk saling memberi tahu. Pek Lian juga
sudah melihat adanya lampu-lampu di kejauh-an. Mereka berdua mulai merasa tegang. Itulah sarang
penghuni Ban -kwi -to yang amat terkenal itu. Dengan amat hati -hati keduanya menyelinap di antara
pohon -pohon, hanya melanjutkan ge-rakan setelah meneliti lebih dulu dan merasa yakin bahwa tidak
ada manusia lain di sekitar tempat itu.
Tiba-tiba Siok Eng mengangkat tangan me-nyuruh kawannya berhenti. Mereka berdua ber-sembunyi
di balik sebatang pohon besar, po-hon terakhir karena ternyata mereka tiba di tempat yang terbuka,
tanah kosong yang tidak ditumbuhi pohon, bahkan tidak ditumbuhi rumput. Yang ada pada tanah
kosong itu hanyalah kerikil dan batu-batuan berserakan, seperti dasar sebatang sungai yang sudah
tidak ada airnya dan kering. Ditimpa sinar bulan tua dan bintang -bintang, batu -batu di. tempat itu
berwarna kehijauan, padahal tidak terdapat lumut atau rumput di situ. Dan seolah-olah ada uap tipis
kehijauan yang melayang dari tempat itu.
"Awas, Lian -ci. Inilah daerah dari Ceng -ya-kang atau Si Kelabang Hijau itu, orang yang ke lima dari
Ban -kwi -to, di mana terdapat tujuh orang tokohnya. Batu -batuan di depan itu adalah tempat di mana
dia memelihara kelabang -kela-bangnya," bisik Siok Eng kepada Pek Lian yang mau tidak mau
bergidik ngeri membayangkan ke-labang -kelabang beracun. Baru kelabangnya saja ia sudah merasa
jijik dan ngeri, apa lagi kalau yang beracun.
"Lalu bagaimana kita harus melalui tempat ini ? Lihat, di seberang sudah nampak genteng-genteng
rumah mereka," bisiknya kembali sambil memandang ke arah batu-batuan itu dengan alis berkerut.
dunia-kangouw.blogspot.com
"Enci Lian, lihat baik -baik. Kaulihat batu-batu di sebelah kanan itu ? Lihat batu -batu besar yang
bagian atasnya lebih mengkilap terkena sinar bulan dan yang menonjol di antara batu-batu lain ?
Batu-batu itu tentu biasa diinjak orang. Ha-yo kita lewat di sana, tidak perlu kuatir akan je-bakan."
Pek Lian menelan ludah dan mengangguk, ti-dak berani menjawab karena khawatir kalau-ka-lau
suaranya akan membayangkan rasa ngerinya. Siok Eng menekan tangannya lalu dara remaja itu
melangkah dengan hati -hati, mengerahkan gin-kangnya dan Pek Lian mengikuti di belakangnya,
mempergunakan jejak kaki kawannya sehingga ia tidak akan menginjak tempat lain yang mungkin
mengandung jebakan. Dengan ringan Siok Eng lalu meloncat dari batu ke batu, memilih batu-batu
yang puncaknya mengkilap, terus dibayangi oleh Pek Lian. Di tengah -tengah tempat itu, Pek Lian
melihat sinar -sinar hijau merayap di an-tara batu -batu dan ia bergidik. Tentu itulah kela-bang -
kelabang yang dimaksudkan oleh Siok Eng! Kalau sampai terpeleset dan jatuh lalu dikeroyok
kelabang beracun! Hihh! Sungguh menyeramkan bayangan itu dan Pek Lian cepat -cepat mengumpulkan
kekuatan batinnya untuk melawan rasa ta-kutnya.
Akhirnya Pek Lian mendaratkan kakinya di se-berang dengan hati lega. Mereka telah berhasil
melewati daerah kelabang itu. Melihat sebuah ke-bun sayur di mana terdapat tanaman sayur kobis
yang cukup subur dan sama sekali tidak memperli-hatkan tanda -tanda bahaya adanya racun, Pek
Lian menghampirinya.
Akan tetapi Siok Eng memegang lengannya. "Sstt, hati -hati, enci Lian. Lihat semut -semut itu !"
Pek Lian terkejut dan menahan langkahnya. Ia melihat betapa kobis -kobis yang kelihatan segar itu
penuh dengan semut-semut merah.
"Semut -semut apakah itu?" tanyanya gagap.
"Semut -semut ini beracun. Binatang -binatang ini dipelihara untuk memberi makan kepada kela-bang
-kelabang tadi. Dan kebun ini bukan kebun kobis seperti yang biasa kita makan, akan teta-pi sejenis
tumbuh -tumbuhan yang mengandung inti racun hijau!"
Pek Lian memandang dengan mata terbelalak kepada kobis -kobis itu dan meleletkan lidahnya. Kini,
kobis-kobis yang tadinya nampak menggiur-kan dan segar itu seolah -olah berobah menjadi pemandangan
yang menyeramkan, seolah -olah tadi ia melihat wajah bidadari yang tiba -tiba saja berubah
menjadi wajah iblis.
Siok Eng menunjuk ke kiri. "Rumpun-rumpun bambu itulah yang merupakan daerah aman dan bebas
dari racun, begitu menurut keterangan ayah yang pernah satu kali datang ke sini. Nah, kita mengambil
jalan melalui kebun bambu hijau itu."
Mereka berdua dengan hati -hati menyelinap di antara rumpun bambu menuju ke sebuah ba-ngunan
yang berada di tengah -tengah rumpun bambu itu. Mereka menyelinap ke samping ba-ngunan dan
melihat adanya pintu yang terbuka.
Dari pintu itu keluar bau bacin yang menyerang hidung mereka dan membuat mereka hampir muntah-
muntah. Siok Eng mengeluarkan dua helai sapu-tangan merah dan menyerahkan sebuah kepada
kawannya untuk menutupi hidung. Ketika Pek Lian menggunakan saputangan merah itu di de-pan
hidungnya, tercium olehnya bau harum yang keras dan segera bau bacin itupun lenyap atau ka-lah
oleh bau harum. Dengan isyarat tangannya, Siok Eng mengajak kawannya masuk karena dari luar
nampak jelas betapa pondok yang pintunya terbuka itu kosong tidak ada orangnya. Mereka melihat
sebuah panci yang penuh dengan air kehi-jau -hijauan mendidih di atas tungku api dan uap air
mendidih inilah yang menyebarkan bau bacin tadi. Di dalam almari tak jauh dari situ nampak banyak
sekali botol -botol besar kecil. Dan di da-lam sebuah keranjang sampah di sudut nampak bangkai
kelabang-kelabang yang besar, nampak berkilauan kulitnya tertimpa sinar lampu gantung. Uap yang
keluar dari dalam guci itu menyambar hidungnya, mem-buat Pek Lian hampir tak dapat bernapas.
"Cepat telan pel ini, kelabang -kelabang itu amat berbisa !" kata Siak Eng yang melihat keadaan Pek
Lian. Gadis ini menurut dan cepat menelan sebutir pel kecil dan dadanya terasa lega kembali. Ia
bergidik. Sungguh berbahaya sekali. Baru ha-wa atau uapnya saja sudah demikian berbahaya, apa
lagi sengatannya !
dunia-kangouw.blogspot.com
Siok Eng mengajak mereka keluar dengan ce-pat dari tempat itu. Dengan berindap keduanya menuju
ke gedung induk. Tempat itu kelihatan sepi sekali seolah -olah tidak ada penghuninya sa-ma sekali.
Namun mereka berdua tidak pernah mengurangi kewaspadaan. Tak mungkin di situ ti-dak ada orang,
karena buktinya terdapat lampu-lampu yang tentu dinyalakan dan dipasang orang. Mungkin para
penghuninya sedang tidur.
"Heh -heh -heh -heh !"
Pek Lian terperanjat seperti disengat kelabang hijau. Suara ketawa kecil itu keluar dari sebuah kamar
di bangunan sebelah kiri. Dua orang dara itu cepat menyelinap keluar dan menyusup ke balik rumpun
barnjbu dengan hati berdebar tegang. Ki-ranya suara ketawa itu keluar dari sebuah jendela yang kini
terbuka lebar. Sinar terang dari lampu di dalam kamar itu menyinari halaman. Siok Eng menyentuh
tangan kawannya dan mengajaknya berindap mendekati jendela, bersembunyi di antara daun-daun
bambu yang tumbuh di luar jendela, mengintai ke dalam dengan hati -hati sekali. Me-reka melihat ada
dua orang pria duduk saling ber-hadapan, menghadapi meja sambil bercakap -ca-kap. Pria yang
berkepala gundul dan tubuhnya ge-muk pendek berperut gendut duduk menghadap ke arah jendela
sedangkan orang yang diajaknya bicara adalah seorang pria yang agaknya masih muda. Kamar itu
cukup indah dengan lampu gan-tung yang mewah dan kain -kain sutera bergan-tungan. Si gendut
pendek itu tersenyum lebar, nam-paknya amat ramah kepada tamunya, pemuda itu.
Siok Eng mendekatkan bibirnya ke telinga ka-nan Pek Lian, lalu berbisik lirih sekali sehingga Pek Lian
yang telinganya demikian dekat dengan mulutnyapun harus mengerahkan ketajaman pendengarannya
untuk dapat menangkap apa yang di-katakan temannya.
"Kalau tidak salah si gundul itu adalah Ceng-ya -kang Si Kelabang Hijau. Awas kalau berha-dapan
dengan dia. Orang itu licik dan kejam bu-kan main, suka menyiksa musuhnya sambil berke-lakar.
Anehnya, apa yang dilakukannya lewat te-ngah malam mengobrol dengan tamunya?"
Diam -diam Pek Lian terkejut mendengar bah-wa si gendut itu adalah Si Kelabang Hijau yang
disohorkan sebagai tokoh Ban -kwi -to. Mereka berdua menahan napas dan mengintai. Makin dili-hat,
makin heranlah hati mereka karena sikap si gendut itu sungguh teramat manis, bahkan terasa oleh
mereka betapa sikap itu berlebihan manisnya, mendekati rayuan!
"Kongcu, di tempat ini engkau tidak perlu kha-watir. Tidak akan ada seorangpun setan yang be-rani
mengganggumu selama aku berada di dekat-mu. Dan apapun yang engkau kehendaki, tentu akan
dapat kuadakan. Maka senangkanlah hatimu tinggal di sini, kongcu"
"Terima kasih, locianpwe. Aku hanya ingin me-luaskan pengalaman dan menambah pengetahuan-ku
saja," jawab pemuda itu dan dari suaranya, dua orang gadis itu dapat menduga bahwa pemuda ini
bukan orang sembarangan dan juga bukan orang kasar, bahkan kata-katanya teratur dan halus seperti
ucapan seorang terpelajar. Maka, tentu saja mereka berdua menjadi semakin tertarik dan he-ran.
Atas bujukan si gendut, mereka berdua itu lalu makan minum dengan gembira dan dua orang dara itu
menjadi bingung melihat betapa kakek gendut itu makin lama makin gila omongannya. "Kongcu,
selama ini banyak sudah kutemui pemuda-pemuda yang gagah dan tampan, akan tetapi baru
sekarang aku bertemu dengan seorang ganteng seperti eng-kau. Ha -ha -ha, betapa senang hatiku
dapat ber-kenalan denganmu!" Sambil berkata demikian, kakek itu mengajak si pemuda untuk minum
lagi arak wangi dari cawan mereka.
"Aku sudah cukup banyak minum arak, locian-pwe," pemuda itu agaknya segan juga untuk meno-lak.
"Ha -ha -ha, makin banyak minum, makin ke-merahan pipimu, kongcu. Ha-ha, sungguh segar dan
tampan sekali engkau!" Kakek gendut itu mengulur tangannya, mula -mula tangan itu me-megang
tangan si pemuda untuk dibelainya, akan tetapi tangan itu terus merayap ke atas, mengelus dagu!
"Ah, jangan begitulah, locianpwe," pemuda itu nampak bingung seperti kehilangan akal mengha-dapi
tingkah kakek yang makin genit itu. Pek Lian dan Siok Eng saling pandang dengan mata terbela-lak
dan wajah mereka berobah merah karena jengah dan malu. Namun merekapun ingin sekali tahu ka--j
rena mereka tidak mengerti mengapa ada seorang kakek begitu genit merayu dan membelai seorang
pemuda!
dunia-kangouw.blogspot.com
Akan tetapi, kakek gendut itu agaknya sudah terlalu banyak minum arak dan sudah setengah mabok
karena penolakan pemuda itu bahkan membuat dia merayu semakin panas! "Kongcu, aku sungguh
kagum dan tergila -gila kepadamu. Aku akan menurunkan semua ilmuku kepadamu, akan tetapi,
jangan kecewakan hatiku, kau harus menjadi kekasihku!"
Wajah dua orang dara itu menjadi semakin me-rah, akan tetapi hati merekapun diliputi keheranan
besar mendengar seorang kakek hendak menjadi-kan seorang pemuda kekasihnya! Apakah kakek itu
sudah gila ataukah memang pulau itu menjadi tempat orang-orang yang miring otaknya? Dua orang
dara itu tidak tahu bahwa memang kakek Ceng-ya-kang atau Si Kelabang Hijau ini me-miliki sifat yang
lain dari pada pria-pria biasa. Dia tidak suka atau tidak tertarik oleh kecantikan wanita, akan tetapi
sejak muda dia suka bercinta dengan pria! Jasmaninya adalah pria, akan tetapi watak dan sifatnya
cenderung kepada sifat dan wa-tak wanita. Memang banyak terdapat orang -orang seperti Si
Kelabang Hijau ini. Alam telah memberi keadaan yang bertentangan antara badan dan ba-tin mereka
dan mereka ini adalah oiang-orang yang patut dikasihani. Mereka suka bergaul dan berde-katan,
bahkan bermesraan dan bermain cinta de-ngan pria dan hal ini sama sekali tidak mereka se-ngaja,
dan bukan timbul dari watak yang buruk atau cabul. Sama sekali tidak, karena memang de-mikianlah
keadaan batin mereka. Mereka kagum melihat sifat jantan, mereka akan merasa bahagia kalau
dikasihi oleh seorang pria yang jantan. Mere-ka tidak suka berdekatan dengan wanita sebagai
kekasih, kecuali hanya sebagai teman, bahkan ada yang merasa muak kalau memikirkan bahwa
mere-ka harus berkasih sayang dengan seorang wanita. Keadaan seperti ini dapat terjadi karena
kesalahan keadaan jasmaniah yang mempengaruhi batin, akan tetapi juga mungkin diperkuat oleh
keadaan ling-kungan hidupnya di waktu kecil sehingga batin yang mempengaruhi jasmani. Memang,
antara ba-dan dan batin selalu terjadi isi-mengisi, saling mem-pengaruhi.
Karena sifatnya inilah maka Si Kelabang Hijau itu sering kali meninggalkan Pulau Selaksa Setan dan
merantau sampai jauh ke seluruh pelosok du-nia, dan sering mendekati pria -pria yang tampan dan
gagah. Karena watak ini pula maka tokoh se-sat ini pernah menjadi sahabat dari Yap Kim, putera
kandung dari ketua Thian-kiam-pang yaitu Yap Cu Kiat, murid dari mendiang Sin -kun Bu -tek yang
sakti.
Kalau saja Pek Lian dan Siok Eng sudah tahu akan sifat dan watak seorang laki-laki seperti Ceng-yakang,
tentu mereka akan segera pergi dan ti-dak sudi untuk nonton terus. Akan tetapi karena mereka
belum tahu dan tidak mengerti, maka ke-inginan tahu membuat mereka bertahan untuk me nyaksikan
adegan yang mereka anggap aneh dan luar biasa itu. Mereka melihat betapa kakek itu membujuk -
bujuk dan berusaha untuk memegang tangan si pemuda yang berulang kali mengelak de-ngan
menarik tangannya dan dengan halus minta agar kakek itu jangan melanjutkan sikapnya yang ganjil.
Tiba -tiba dua orang dara itu terkejut melihat berkelebatnya bayangan dua orang yang dengan cepat
sekali melayang masuk dari pintu dan tahu-tahu di situ telah berdiri dua orang wanita yang
nampaknya masih muda, tidak lebih dari tigapuluh tahun usianya dan wajah mereka serupa benar.
Se-pasang wanita kembar, hal ini mudah dilihat dari dandanan pakaian, gelung rambut, perhiasan dan
wajah mereka yang serupa benar. Pakaian mereka itu ketat membayangkan dada, perut dan paha
yang menonjol. Mereka berdiri dengan kaki agak terpentang, tangan kiri bertolak pinggang, dan si-kap
mereka genit bukan main. Mereka berdiri se-perti pohon cemara tertiup angin saja, pinggul me-reka
agak bergoyang -goyang, mulut mereka yang digincu merah tebal itu tersenyum merekah, alis mereka
bergerak -geiak diangkat -angkat, dan ma-ta mereka itu melirik -lirik genit ke arah si pemu-da yang
kebetulan berdiri membelakangi jendela dan menghadap ke arah dua orang wanita itu. Dua orang
dara yang berada di luar jendela itu meman-dang penuh perhatian, agak terkejut melihat mun-culnya
dua orang wanita yang demikian cepat ge-rakannya tanpa mengeluarkan sedikitpun suara itu.
Biarpun dua orang wanita itu masuk ke ka-mar tanpa menimbulkan suara, namun kakek gen-dut yang
tadinya berdiri dalam usahanya merayu si pemuda, kini tiba -tiba duduk kembali dan tan-pa menoleh
diapun berkata, "Suci berdua kenapa malam -malam begini berkunjung ke daerahku ? Apakah kalau
ada keperluan tidak bisa datang di siang hari ?" Dari nada suaranya, jelas bahwa dia merasa marah
dan terganggu, dan biarpun mulut-nya tersenyum, akan tetapi wajahnya masam.
Mendengar ucapan si gendut itu, Siok Eng me-nempelkan bibirnya di dekat telinga kawannya dan
berbisik, "Mereka itu orang ke tiga dan ke empat dari iblis -iblis Ban -kwi -to. Mereka kembar dan
pandai beralih rupa. Kelakuan mereka sangat ter-sohor buruknya, segala hal yang kotor -kotor mereka
lakukan !" Suara bisikan Siok Eng mengandung rasa jijik.
dunia-kangouw.blogspot.com
Dua orang wanita itu mencibirkan bibir mereka mendengar pertanyaan Ceng -ya -kang tadi dengan
sikap yang penuh kegenitan dan ejekan, lalu seo-rang di antara mereka berkata, suaranya nyaring
dan genit, "Huh! Kami ke sini cuma ingin melihat apakah engkau sudah kembali ke rumah. Lupakah
engkau bahwa esok pagi adalah hari perayaan wa-fatnya guru kita yang ke sepuluh ? Toa -suheng
mengharapkan agar semua orang dari Ban-kwi-to hadir di tempat toa-suheng." Sambil berkata demikian,
wanita itu dan saudara kembarnya tiada hentinya menatap ke arah wajah pemuda yang duduk
berhadapan dengan Ceng -ya -kang itu lirak-lirik dan senyum simpul penuh daya pikat.
"Aku sudah kembali sejak kemarin!" Kakek gendut itu mendengus dengan suara tak senang. "Aku
telah datang, sekarang kalian pergilah. Kita bisa berkelahi kalau kalian tidak mau segera pergi dan
jangan ganggu aku !"
Pek Lian yang mengintai dan mendengarkan di luar jendela, merasa heran bukan main. Bagaima-na
mungkin hari wafat seorang guru malah diraya-kan, bukan berkabung malah berpesta ? Dan bukankah
mereka itu saudara -saudara seperguruan, segolongan pula, sebagai saudara -saudara yang
sama-sama menjadi penghuni Ban-kwi-to, akan tetapi kenapa sikap mereka satu sama lain begitu
tidak bersahabat dan bahkan seperti bermusuhan saja ? Pek Lian lupa bahwa mereka itu adalah golongan
hitam, kaum sesat, bahkan tokoh -tokoh be-sarnya yang sudah tidak lagi mengindahkan
segala macam aturan dan sopan santun dan mengeluarkan semua isi hati melalui mulut tanpa
disaring lagi. Merekapun sudah tidak sudi lagi untuk bermanis muka. Apa lagi hanya terhadap
saudara seperguru-an, bahkan terhadap guru sendiripun mereka sudah tidak mau lagi bersopan
santun atau menggunakan tata cara manusia beradab. Mereka tidak perduli terhadap orang -orang
lain. Golongan mereka ha-nya mengenal pamrih seenaknya untuk diri sendiri. Yang ada hanya
kepentingan diri pribadi, lahir ba-tin. Dan menghadapi orang lain, yang ada hanya dua perasaan, yaitu
berani atau takut. Kalau mere-ka berani, nah, segala hal bisa saja mereka lakukan, sampai yang
paling kurang ajar, yang paling kejam, sadis dan tidak tahu aturan sekalipun. Akan tetapi kalau
mereka merasa kalah dan takut, mereka tidak malu -malu untuk melakukan segala macam kecurangan
atau melarikan diri. Dan untuk kepenting-an pribadi, segala cara dihalalkan, menipu, membokong,
bahkan membunuh kawan sendiri sekalipun. Pendeknya, mereka hidup tanpa adanya suatu
ke-tertiban apapun, tiada bedanya dengan kehidupan binatang -binatang liar di dalam hutan dan
hukum satu -satunya bagi mereka hanyalah hukum rimba raya, yaitu siapa kuat dia menang dan siapa
me-nang dia benar dan harus dipatuhi dan ditaati.
Seperti yang telah diterangkan oleh Siok Eng kepada Pek Lian, kakek gundul gendut itu memang
benar berjuluk Ceng -ya -kang atau Thian -te Tok -ong dan merupakan tokoh ke lima dari Ban-kwi -to.
Terdapat tujuh orang tokoh Ban -kwi -to yang merupakan saudara -saudara seperguruan, juga
merupakan saudara segolongan yang tinggal di kepulauan setan itu. Orang pertama terkenal dengan
julukan Tikus Beracun Bumi, yang ke dua berjuluk Tiat -siang -kwi (Setan Gajah Besi), orang ke tiga
dan ke empat adalah dua orang wanita kembar yang masing -masing bernama Jeng -bin Sam -ni
(Nyonya Ke Tiga Bermuka Seribu), dan Jeng -bin Su -nio (Nyonya Ke Empat Bermuka Se-ribu).
Mereka ini dikenal dengan julukan Jeng-bin (Muka Seribu) karena kepandaian mereka beralih rupa,
walaupun mereka masih memiliki banyak ma-cam keahlian lagi. Ceng -ya -kang atau Thian-te-Tokong
adalah tokoh yang ke lima. Tokoh ke enam dan ke tujuh adalah suami isteri Im -kan Siang-mo,
yaitu Bouw Mo-ko dan Hoan Mo-li, kakek dan nenek yang selalu menggunakan gerobak itu.
Mendengar ucapan adik seperguruan mereka yang kasar dan menantang itu, Jeng-bin Siang-kwi,
yaitu sebutan bagi mereka berdua, hanya senyum-senyum saja dan tidak kelihatan marah. Tentu saja
senyum itu bukan ditujukan kepada Ceng-ya-kang, melainkan kepada pemuda itu yang kelihatan
duduk dengan gelisah.
"Hi -hi -hik, pantas saja engkau tidak mau muncul-muncul biarpun sudah kembali ke mari.... kiranya
engkau telah memperoleh seorang korban baru yang ganteng!" kata Jeng-bin Su -nio.
"Pergi kalian !" Tiba -tiba si gundul gendut itu mencelat dari kursinya. Gerakannya demikian cepatnya,
tidak sesuai dengan tubuhnya yang gendut pendek, dan tahu -tahu dia sudah meloncat sambil
membalikkan tubuhnya, langsung saja menyerang kedua orang wanita itu dengan pukulan yang
me-ngandung angin dahsyat. Akan tetapi, dua orang wanita itu mengeluarkan suara ketawa mengejek
dan segera mengelak, menangkis dan balas me-nyerang dengan tak kalah cepat dan hebatnya. Angin
pukulan menyambar -nyambar dan dua orang gadis yang mengintai di luar jendela itu mencium
bau amis, tanda bahwa pukulan -pukulan tiga o-rang yang saling hantam itu mengandung hawa
beracun yang jahat sekali.
dunia-kangouw.blogspot.com
Siok Eng menarik tangan Pek Lian, diajak per-gi menjauhi tempat itu. Setelah jauh, dara ini me-narik
napas panjang. "Betapa ganas dan kejinya mereka itu. Mari kita segera mencari Hek -kui-hwa itu, enci
Lian. Tak perlu kita mencampuri mereka yang berengsek itu."
"Ke mana kita mencari, adik Eng ?"
Aku harus mencarinya. Bunga itu hanya dapat tumbuh di tempat terbuka, tidak boleh terlindung oleh
benda atau tumbuh -tumbuhan lainnya, ha-rus sepenuhnya menerima sinar matahari dan bu-lan, dan
terpisah dari tanam-tanaman lain. Bunga mawar hitam atau setan hitam itu bentuknya seper-ti mawar
biasa, hanya tidak berbau sama sekali, warnanya hitam legam dan daunnya putih."
"Mari kubantu engkau mencarinya, Eng-moi," kata Pek Lian dan mereka segera mulai mencari-cari di
pulau itu. Akan tetapi mereka tidak berha-sil, apa lagi menemukan bunga itu, bahkan tidak
menemukan daerah terbuka seperti yang dimak-sudkan oleh Siok Eng tadi.
"Sungguh heran, kenapa pulau ini demikian ke-cil ? Dan bangunannya juga hanya ada sebuah itu. Di
mana para penghuninya yang lain ?" Pek Lian berkata dengan hati kecewa karena kegagalan mereka
menemukan, bunga yang dicari sahabatnya itu.
Enci Lian, Ban-kwi-to bukan terdiri dari se-buah pulau saja, melainkan terdiri dari lima buah pulau
yang berpencar akan tetapi juga saling ber-dekatan. Tiap pulau dihuni oleh seorang tokoh, kecuali si
kembar itu dan sepasang suami isteri yang masing-masing keduanya mendiami sebuah pulau.
Kaulihatlah di seberang sana itu."
"Ah, engkau benar! Itu adalah sebuah pulau yang lain. Akan tetapi, bagaimana kita dapat menyeberang
ke sana ? Apakah kita harus mengambil perahu kita ? Tentu bunga itu berada di pulau
yang lain, tidak mungkin di sini."
"Agaknya benar, enci. Akan tetapi karena kita tidak tahu persis di mana tumbuhnya bunga itu,
terpaksa kita harus mencarinya di semua pulau. Hanya, kita harus berhati -hati sekali. Sungguh aneh,
bagaimana dua orang wanita kembar tadi da-pat datang ke sini ? Tidak nampak adanya perahu
mereka."
Tiba -tiba mereka mfelihat bayangan berkele-bat keluar dari rumah Ceng -ya -kang dan mereka
berdua cepat menyelinap bersembunyi. Tak lama kemudian, nampaklah dua orang wanita kembar itu
berjalan lewat lalu berhenti tak jauh dari tempat persembunyian mereka.
"Bangsat gundul keparat jahanam!" terdengar seorang di antara mereka memaki -maki sambil
mengacungkan tinju ke arah rumah Ceng-ya-kang.
"Anjing banci disambar geledek kamu !" Orang ke dua memaki pula dan keduanya lalu memaki-maki
dengan kata -kata yang jorok dan cabul. A-gaknya mereka itu merasa mendongkol dan pena-saran,
yang hendak mereka lampiaskan dengan caci maki dan sumpah -serapah mereka terhadap kakek
gundul gendut itu.
"Sialan ! Bocah gundul itu telah mencapai titik kesempurnaan dalam menyerap Ilmu Racun Kela-bang
Hijau yang lihai itu," kata Jeng-bin Sam-nio dengan suara penasaran.
"Benar, sungguh jahanam ! Tak kusangka dalam pengembaraannya dia dapat meningkatkan ilmu-nya
sampai ke titik mendekati kesempurnaan. Li-hat ini! Kantongku racun bunglon merah menjadi tawar
terkena ilmunya ludah inti racun kelabang hijau. Sialan! Untung aku selalu dapat menghin-dari
semburan ludahnya!"
"Ludahnya yang bacin itu sungguh berbahaya," kata orang ke dua. "Sayang kita tidak membawa alat -
alat rias kita. Hemm, ingin aku tahu, mana yang lebih hebat, ludah bacinnya ataukah bedak-bedak
harum kita!"
"Biarlah lain kali kita coba lagi. Hatiku pena-saran kalau sampai kalah oleh adik seperguruan kita."
"Eh, ngomong -ngomong, pemuda tadi tampan benar, ya ? Dan kelihatan jantan. Sayang, sudah lebih
dulu disekap oleh si gundul gila itu '!"
dunia-kangouw.blogspot.com
"Aih, sudahlah! Kita sendiri kan sudah mem-punyai simpanan yang tidak mengecewakan," kata.
yang lain sambil tersenyum genit sekali. "Tidak rugi kita main kucing -kucingan dengan perahu Si
Harimau Gunung."
"Sayang mereka belum mau tunduk . . . . . ."
"Akhirnya akan tunduk juga, dan ingat, yang sukar ditundukkan itu sekali tunduk, waahhh hebat deh !"
Mereka berdua cekikikan seperti kun-tianak dan dua orang gadis yang mendengarkan dalam tempat
persembunyian mereka menjadi mu-ak. Pek Lian dan Siok Eng melihat betapa kedua orang wanita
kembar itu memasuki sebuah rum-pun bambu kuning. Sampai lama mereka tidak muncul kembali dan
keadaan begitu sunyi senyap. Dua orang dara itu menjadi curiga lalu dengan ha-ti -hati merekapun
memasuki rumpun bambu itu. Ternyata di tengah -tengah rumpun bambu itu ter-dapat sebuah lubang
besar yang masuk ke dalam tanah. Ketika mereka memeriksa, ternyata lubang itu adalah terowongan
di dalam tanah yang agak-nya lewat di bawah laut!
Dua orang dara yang gagah perkasa itu dengan hati-hati sekali mengikuti terowongan itu. Jalan-nya
gelap dan menurun sekali, akan tetapi mereka berdua adalah dua orang dara gemblengan yang berilmu
tinggi, maka mereka tidak merasa takut. Mere-ka merasa yakin bahwa dua orang wanita kembar
itu tentu mengambil jalan ini dan mereka dapat men duga bahwa tentu inilah jalan yang menghubungkan
satu dengan lain pulau. Pantas saja dua orang wanita kembar tadi tidak menggunakan perahu.
Kiranya mereka datang ke pulau daerah Si Kela-bang Hijau melalui sebuah terowongan bawah laut.
Ketika dua orang dara itu muncul di pulau yang lain, kiranya mereka itu tiba di sebuah ruangan ke-cil
di sudut taman, merupakan pondok kecil yang mungil. Cepat mereka meloncat keluar dan
bersembunyi, meneliti keadaan sekeliling. Bulan tua telah condong ke barat, akan tetapi bintangbintang
di langit masih nampak terang. Tentu telah jauh lewat tengah malam. Dan agaknya semua
orang yang berada di pulau ini sudah tidur. Tidak terdengar suara orang, tidak nampak seorangpun
penjaga. Agaknya para penghuni kepulauan ini sudah begitu percaya akan keadaan tempat tinggal
mereka yang penuh dengan racun sehingga orang luar yang berani memasuki daerah mereka tentu
akan mati sendiri terkena racun. Dengan adanya racun-racun yang terkandung dalam tumbuhtumbuhan,
dalam gigitan binatang -binatang kecil, bahkan dalam udara, maka tidak diperlukan lagi
penjaga. Orang luar tentu akan tewas kalau me-masuki daerah kepulauan Ban -kwi -to ini.
Ketika dengan hati -hati Siok Eng dan Pek Lian mulai mencari -cari bunga Hek -kui -hwa, mereka
mendapat kenyataan bahwa keadaan pulau ini jauh sekali bedanya dengan pulau milik Si Ke-labang
Hijau yang baru saja mereka tinggalkan. Pulau kecil milik wanita kembar ini penuh dengan taman
bunga -bunga yang indah, keadaannya te-rawat dan bersih apik, tidak seperti keadaan pulau milik Si
Kelabang Hijau yang penuh pohon belu-kar dan awut -awutan. Akan tetapi, biarpun di situ terdapat
banyak sekali bunga beraneka macam dan warna, dua orang dara itu tidak berhasil mene-mukan
bunga mawar hitam berdaun putih.
"Sungguh heran ! Sedemikian banyaknya bunga-bunga di sini, akan tetapi bunga yang kaucari itu
tidak ada ! Adik Eng, tidak kelirukah keterangan yang kaudapat mengenai Hek -kui -hwa itu ?" Pek
Lian berkata dengan nada suara meragu.
"Tidak, enci Lian. Memang, menurut keterangan ayah, bunga itu langka sekali dan ayahpun tidak
dapat memastikan apakah bunga itu ditanam di pulau -pulau ini. Hanya satu hal adalah pasti, yaitu
bunga Hek -kui -hwa itu berada dalam kekuasaan Tujuh Iblis dari Pulau Selaksa Setan ini. En-tah di
mana mereka sembunyikan. Aku harus menemukannya. Heii, awas, enci Lian! jangan kausentuh
bunga -bunga itu. Biarpun kelihatannya begitu bersih dan indah, akan tetapi bunga itu beracun. Bunga
-bunga ini memang ditanam untuk memelihara dan mendapatkan racun-racunnya.
”Ssttt , itu ada perahu datang. Cepat sem bunyi !" Mereka menyelinap lagi ke balik semak-semak
beberapa rumpun alang-alang yang ditanam sebagai penghias dan pagar taman.
Tiba-tiba bumi di sekitar tempat itu tergetar ketika seorang raksasa melangkahkan kakinya.
Berdentam-dentam bunyinya, seolah-olah bumi di-timpa oleh benda yang amat berat setiap kali
raksa-sa itu membanting kakinya. Anehnya, dia agaknya sengaja membanting kakinya ketika
melangkah me-masuki taman ! Rambutnya gimbal dan kotor, ma-tanya lebar dan membelalak. Jubah
dan pakaiannya terbuat dari kain kotak -kotak yang dibelit-belitkan di tubuhnya. Bagian dadanya
terbuka dan nampak betapa dada itu penuh bulu tebal. Mulutnya lebar dan seperti nampak ada taring
dunia-kangouw.blogspot.com
di antara giginya yang besar-besar. Raksasa ini sungguh tinggi besar, tingginya tidak kurang dari dua
meter, bahkan le-bih. Ada suara seperti ngorok ketika dia melang-kah memasuki taman.
Ketika raksasa itu tiba di dekat tempat dua orang dara itu bersembunyi, tiba -tiba saja dia
menghentikan langkahnya. Dua orang dara itu mencium bau amis yang menusuk hidung, membu-at
mereka hampir saja muntah-muntah. Dan rak-sasa itupun mengembangkempisikan hidungnya. Mulutnya
menyeringai buas, matanya yang besar itu melotot dan mengamat-amati sekelilingnya, dan air
liurnya menetes -netes dari ujung bibirnya,
"Heh –heh.. bau daging segar ! Daging lunak!
Hemm, alangkah sedapnya!" Matanya jela-latan ke kanan kiri, mencari -cari.
Tentu saja dua orang dara itu seketika mandi keringat dingin! "Mereka bukan penakut, bahkan Siok
Eng telah mewarisi ilmu kepandaian yang he-bat. Akan tetapi bagaimanapun juga, mereka itu hanyalah
dua orang gadis remaja dan keadaan manu-sia raksasa itu memang sungguh amat
menyeram-kan. Apa lagi dalam perjalanan mereka dengan perahu, Siok Eng sudah pernah
menceritakan ke-pada Pek Lian bahwa orang ke dua dari Tujuh Iblis ini, yang berjuluk Tiat -siang -kwi
( Setan Gajah Besi) kabarnya suka makan daging manusia.
Biarpun seluruh urat syaraf mereka sudah me-negang dan bersiap siaga, akan tetapi ketika rak-sasa
itu melangkah mendekati tempat mereka ber-sembunyi, mereka merasa tubuh mereka panas di-ngin !
Akan tetapi pada saat itu terdengar suara ke-tawa cekikikan yang nyaring dari arah gedung di tengah
pulau. Suara cekikikan yang penuh kegenit-an, terkekeh -kekeh dibuat -buat. Mendengar sua-ra itu, si
raksasa berhenti melangkah dan menoleh ke arah gedung. Agaknya suara itu mengingatkan dia akan
maksud kedatangannya ke pulau itu. Mendadak dia lari tunggang-langgang menuju ke arah gedung.
Tanah yang diinjaknya ketika dia ber-lari itu tergetar seperti gempa bumi dan dua orang dara itu
bernapas lega.
"Mari kita pergi !" Siok Eng menarik tangan Pek Lian. Sekali ini, Pek Lian yang biasanya berwibawa
dan memimpin karena ia adalah seo-rang patriot di lembah, menurut saja karena ia maklum betapa
berbahayanya tempat itu dan bah-wa Siok Eng lebih tahu dari pada ia sendiri me-ngenai kepulauan
setan itu.
Siok Eng mengajak Pek Lian menggunakan pe-rahu milik Tiat -siang -kwi itu. Ia ingin mencari bunga
Hek -kui -hoa di pulau ke tiga setelah ga-gal mencari di kedua pulau pertama. Mereka men-dayung
perahu itu dengan cepat. Di depan nampak dua buah pulau kecil berdampingan. Dari jauh, kedua
pulau itu nampak gersang tidak ditumbuhi pohon sama sekali. Ketika mereka mendekat, ma-ka
mereka melihat bahwa pulau yang satu terdiri dari batu -batu dan pasir melulu. Menurut penge-tahuan
Siok Eng, pulau ini adalah tempat tinggal si raksasa, orang ke dua dari tujuh iblis. Kabar-nya, entah
berapa ratus orang yang menjadi korban iblis raksasa ini di tempat itu, tulang -tulangnya berserakan
dan terpendam dalam batu -batu dan pasir. Adapun pulau yang ke dua terdiri dari ra-wa-rawa dan di
tengah rawa nampak sebuah gu-buk besar yang berdiri di atas tiang -tiang dari ka-yu yang tahan air.
Itulah tempat tinggal suami is-teri Im -kan Siang -mo ( Sepasang Iblis Neraka ), yaitu kakek dan nenek
yang selalu bergerobak dan tak tahu malu itu.
"Eng-moi, pulau yang mana harus kita darati lebih dulu ?" tanya Pek Lian, melihat betapa ka-wannya
itu hanya membawa perahu mereka ber-putar -putar tak menentu.
"Kita terus saja, enci Lian. Pulau -pulau ini adalah tempat tinggal Tiat -siang -kui dan Sepa-sang Iblis
Neraka, yaitu orang ke dua, ke enam dan ke tujuh dari Tujuh Iblis. Melihat keadaan kedua pulau ini,
juga melihat macamnya raksasa itu, tak mungkin dia yang menanam atau menyimpan Hek-kui -hwa.
Juga suami isteri itu jarang berada di ru-mah, selalu mengembara dan pulaunya terdiri dari rawa -
rawa pula, kiranya tidak mungkin berada di sana itu."
"Lalu bagaimana ? Ke mana kita harus men-cari ?"
"Enci Lian, kepulauan mereka hanya ada lima buah. Yang empat telah kita ketahui dan agaknya
bunga itu tidak berada di situ. Tinggal sebuah pu-lau lagi yang menjadi tempat tinggal tokoh perta-ma
dari mereka, yaitu Te-tok-ci (Tikus Beracun Bumi). Ke sanalah kita menuju."
Pek Lian menutup mulut menahan ketawanya. "Sudah banyak kita melihat orang aneh. Ingin aku
melihat bagaimana macamnya yang berjuluk Tikus Beracun itu. Apakah mukanya seperti tikus?"
dunia-kangouw.blogspot.com
Siok Eng tersenyum geli. "Mungkin saja. Aku sendiri belum pernah melihatnya. Akan tetapi ayah
bilang bahwa dia mempunyai koleksi banyak ma-cam tikus yang aneh -aneh dan buas. Tikus-tikus itu
dibuat beracun dan mereka ditempatkan di te-rowongan -terowongan yang banyak terdapat di pulau
tempat tinggalnya."
Pek Lian bergidik. Di antara binatang -bina-tang kecil, tikus merupakan binatang yang menji-jikkan
baginya. Ara lagi kalau jumlahnya banyak, dan beracun lagi. "Mudah-mudahan aku tidak ha-rus
berhadapan dengan tikus-tikus lebih baik aku melawan Te -tok -ci itu sendiri," katanya.
"Lebih baik kalau bisa jangan, enci. Kepandai-an iblis itu paling lihai dan diapun kabarnya pa-ling
kejam di antara Tujuh Iblis."
"Aku sungguh merasa heran, adik Eng. Engkau sudah tahu betapa lihainya Tuiuh Iblis dan betapa
besarnya bahayanya mengunjungi Ban-kwi-to, akan tetapi mengapa engkau lakukan juga petualangan
ini ? Apakah engkau tidak takut sedikitpun juga ?"
Siok Eng tersenyum dan wajahnya yang pucat itu nampak manis sekali kalau tersenyum. "Enci,
engkau tidak tahu. Kami orang-orang Tai-bong-pai mengutamakan kegagahan. Aku sendiri lebih
menghargai kegagahan dari pada nyawa, maka un-tuk mematangkan ilmuku, biar harus menempuh
bahaya yang mengancam nyawa sekalipun, akan kujalani tanpa rasa takut sedikitpun." Dan kini sepasang
mata yang bening itu mengeluarkan sinar yang dingin dan menyeramkan sehingga Pek Lian
tidak mau bertanya lagi. Ia teringat akan ceritacerita yang pernah didengarnya bahwa Tai -bong-pai
adalah golongan yang termasuk sesat dan hitam. Heran ia membayangkan bahwa seorang gadis
yang begini ramah dan lemah lembut, begini cantik je-lita, adalah puteri dari ketua Tai -bong -pai! Padahal,
nama Tai -bong -pai di dunia persilatan ti-dak kalah seram dan menakutkannya dibandingkan
dengan nama Pulau Selaksa Setan ini! Teringat ini, Pek Lian bergidik dan baru ia teringat bahwa dara
yang menjadi kawan akrabnya ini sebenarnya datang dari dunia yang sama sekali berlainan de-ngan
dunianya sendiri. Ia teringat bahwa Tai-bong-pai adalah golongan yang ahli dalam hal racun, mungkin
tidak kalah keji dan berbahayanya diban-dingkan dengan Tujuh Iblis penghuni kepulauan ini.
Akhirnya mereka melihat pulau terakhir, sebu-ah pulau yang bulat dan berbentuk sebuah bukit kecil.
Pulau ini banyak ditumbuhi pohon -pohon seperti pohon cemara yang kecil dan tinggi. Pada waktu itu,
fajar telah menyingsing. Langit timur seperti terbakar, kemerahan oleh sinar matahari yang telah
mendahului sang raja siang. Udara se-juk dan angkasa cerah. Indah dan nyaman, sungguh
berlawanan dengan bahaya yang mengancam di pulau itu yang nampaknya begitu hening dan
menyenangkan. Mereka mendarat dengan hati-hati, memilih celah -celah di mana terdapat semaksemak
belukar.
Baru saja mereka menarik perahu ke pinggir dan melangkahkan kaki, hampir saja Pek Lian men-jerit
ketika tiba-tiba muncul seekor tikus berbulu hitam yang besarnya seperti kucing bunting. Tikus ini
muncul di dekat kakinya, hampir terinjak. He-batnya, tikus itu tidak melarikan diri, bahkan ber-henti
dan melotot ke arah Pek Lian, dan bibirnya ditarik ke atas, menyeringai memperlihatkan gigi-nya
seperti seekor harimau kalau marah. Sikapnya seakan -akan hendak menyerang, dan bulu di ba-gian
lehernya tegak, sedikitpun dia tidak kelihatan takut menghadapi manusia!
"Ssttt ! Hushhhhttt!" Pek Lian mencoba
mengusirnya dengan desisan suara.
Akan tetapi tikus itu bukannya takut malah me-runcingkan moncongnya dan mengeluarkan bunyi
menguik tajam, kepalanya diangkat dan lagaknya siap untuk menyerang.
"Sudahlah, enci, lebih baik jangan kita usik dia. Mari kita pergi ke dalam pulau," kata Siok Eng yang
merasa ngeri juga melihat ada tikus sebesar itu yang berani melawan manusia.
"Hei, awas, Eng -moi! Lihat di belakangmu dan itu juga di sebelah kananmu. Awas!" Tiba-tiba Pek
Lian berseru dan Siok Eng hampir me-loncat saking kagetnya. Ternyata kini bermunculan tikus -tikus
hitam yang besar -besar, seperti me-ngepung mereka dan tikus-tikus itu nampak me-nyeringai dan
mengeluarkan bunyi, siap tempur !
Beberapa ekor lagi nampak datang dengan sikap mengancam.
dunia-kangouw.blogspot.com
"Wah, wah hiiih, jijik aku. Mari kita cepat
pergi, enci Lian!" kata Siok Eng yang sudah me-nyambar tangan Pek Lian dan kedua orang nona itu
sudah berloncatan pergi menjauhi tikus -tikus yang melotot marah itu. Dengan bulu tengkuk meremang
keduanya sudah berlari cepat mengelilingi pulau. Mereka mencari -cari bunga mawar hitam di
antara semua tanaman yang tumbuh di pulau dan mereka sengaja menjauhi bangunan -bangunan rumah
yang nampak berdiri di tengah -tengah pulau. Akan tetapi sekian jauhnya mereka belum juga
ber-hasil menemukan apa yang mereka cari dan akhir-nya mereka tiba di pantai yang landai dan
penuh pasir. Dan tiba -tiba mereka menyelinap dan ber-sembunyi di balik batu karang. Mereka
melihat banyak perahu besar kecil berlabuh di tempat itu. Bermacam-macam perahu yang agaknya
datang dari tempat asing yang jauh.
"Aihh, banyak benar tamu yang datang berkun-jung ke pulau ini, enci," kata Siok Eng dengan suara
mengandung keheranan. "Lihat perahu-pe-rahu itu, ada yang berbendera asing pula. Yang kiri itu
kelihatannya seperti bendera orang-orang Mo-ngol."
Pek Lian mengangguk. "Tak salah lagi, itu me-mang bendera Mongol. Dan yang di kanan itu, pe-rahu
bercat kuning itu. Bukankah orang -orangnya memakai pakaian seragam perajurit pemerintah ?
Hemm, apakah tempat ini diserbu pasukan pemerin-tah ?"
"Ah, kurasa tidak, enci. Lihat saja perahu Mongol itu. Di sana juga terdapat pasukan asing dan
mereka nampak bersahabat dengan pasukan pemerintah. Hemm, ada apa pula ini? Padahal, antara
pasukan pemerintah dan para raja kecil Mongol selalu terjadi permusuhan. Mengapa kini kedua pihak
nampak rukun dan bersama -sama berada di sini?
Tidak nampak tanda -tanda pertempuran dan mereka itu agaknya datang ke sini dengan baik-baik"
Pek Lian sebagai puteri menteri dan juga pe-mimpin pasukan patriot, sedikit banyak tahu akan hal itu,
maka iapun berkata dengan alis berkerut, "Sungguh membingungkan. Kedua pasukan itu nampak
bersahabat, padahal di perbatasan utara antara kedua pasukan selalu terjadi pertempuran. Tentu ada
hal -hal yang aneh dan tidak beres di sini."
Karena matahari mulai bersinar dan di tempat itu terdapat demikian banyaknya orang, dua orang dara
itu lalu bersembunyi di antara pohon-pohon yang tumbuh di sepanjang pantai itu. Ketika me-lihat
sebatang pohon besar yang daunnya lebat, ke-duanya lalu naik ke atas bersembunyi di dalam pohon
itu, di antara daun-daun yang lebat. Karena mereka telah memakai olesan obat anti racun, maka
mereka tidak takut menghadapi serangan bi-natang-binatang kecil. Dari tempat persembunyi-an ini
mereka memandang ke arah pantai di mana terdanat perahu -perahu dan para perajurit itu.
Tiba -tiba jantung Pek Lian berdebar tegang ketika ia melihat sebuah perahu besar yang baru saia
meninggalkan pulau itu. Perahu besar itu berbendera asing dan ia mengenalnya sebagai pe-rahu di
mana ia dan Bwee Hong pernah berkelahi melawan para penumpang perahu, dan di mana ia pernah
mendengar suara ayahnya. Akan tetapi perahu itu agaknya baru saja meninggalkan pulau sehingga
hati Pek Lian menjadi kecewa sekali. Ingin ia dapat menyelidiki keadaan perahu itu, untuk melihat
apakah benar ayahnya berada di perahu besar itu.
Di tempat persembunyian ini, mereka berdua merasa aman, danat melepaskan lelah sambil mengatur
rencana selanjutnya dalam usaha mereka men-cari Hek -kui -hwa. Tiba -tiba terdengar suara
banyak orang. Mereka cepat menoleh dan dari arah tengah pulau nampak belasan orang
berbondong-bondong menuju ke pantai. Pakaian mereka itu aneh -aneh dan dari sikap mereka
mudah diduga bahwa mereka adalah orang -orang dari dunia per-silatan. Di antara mereka terdapat
orang -orang yang dari pakaiannya mudah diduga bersuku Bang-sa Mancu dan Mongol. Semua orang
membawa senjata dan sikap mereka gembira sekali ketika me-reka menuju ke perahu -perahu itu. Di
belakang mereka nampak belasan orang pula yang agaknya merupakan rombongan tuan rumah,
sikap mereka seperti mengantar tamu itu menuju ke perahu -pe-rahu mereka. Mereka berjalan
beriringan sambil tertawa -tawa gembira.
dunia-kangouw.blogspot.com
Jilid XVI
DENGAN penuh perhatian dua orang gadis itu memandang ke arah mereka. Kini matahari telah
membuat mereka dapat meneliti wajah orang -orang itu dengan jelas. Yang berjalan pa-ling depan di
dalam rombongan tuan rumah adalah seorang laki -laki pendek kecil yang pakaiannya mewah sekali.
Orang ini mempunyai sepasang mata yang kecil dan dalam, akan tetapi mata itu berkilat -kilat penuh
kecerdikan dan kelicikan. Dari gerak -gerik dan pandang matanya saja mudah di-duga bahwa orang
ini tentu lihai sekali.
Rombongan tuan rumah itu mengantar para tamunya sampai mereka semua naik ke perahu masing -
masing dan perahu -perahu itu berlayar me-ninggalkan pulau. Dapat dibayangkan betapa ka-getnya
hati Siok Eng dan Pek Lian ketika melihat rombongan tuan rumah itu kini menuju ke arah pohon
tempat mereka bersembunyi. Biarpun pohon itu besar dan daunnya lebat, akan tetapi kalau orang -
orang itu berada di bawah pohon, tentu mereka berdua akan ketahuan.
"Adik Eng, lihat, ada lubang besar di batang pohon ini!" Tiba -tiba Pek Lian berkata sambil menuding
ke bawah. Memang benar. Pohon itu memiliki batang yang amat besar, sebesar pelukan tiga empat
orang dewasa dan kini setelah Pek Lian menyingkap daun-daun yang rimbun, nampak ada lubang
besar tepat di tengah -tengah batang pohon itu.
"Bagus, kita bersembunyi saja di dalamnya!" kata Siok Eng yang mendahului Pek Lian memasuki
lubang itu. Pek Lian mengikuti dan ternyata lubang itu memang cukup besar untuk mereka ma-suki
berdua. Akan tetapi, ternyata lubang itu terus menembus ke bawah, merupakan terowongan gelap
yang terus ke dalam tanah ! Kiranya, itu merupakan sebuah jalan rahasia pula! Tentu saja keduanya
yang takut ketahuan itu menjadi heran dan girang, lalu melanjutkan perjalanan mereka melalui terowongan.
Di bawah tanah, mereka dapat berjalan sambil merunduk, akan tetapi cuacanya menjadi
semakin gelap sehingga mereka harus meraba-raba ke atas dan ke depan agar kepala mereka tidak
terbentur dan kaki mereka tidak terjeblos. Karena makin lama lorong terowongan itu menjadi semakin
dalam dan gelap, Pek Lian merasa khawatir juga.
"Eng-moi, apakah tidak sebaiknya kita kembali saja ? Guha ini gelap menyeramkan dan kita tidak
mengenalnya sama sekali, tidak tahu ke mana terowongan ini menuju. Bagaimana kalau terowongan
ini runtuh dan jalannya terputus ? Kita tentu akan terkubur hidup -hidup di sini, kita akan megap -
megap kehabisan napas, seperti tikus-tikus
tertimbun- aiiihhhh !" Pek Lian menjerit
saking ngerinya ketika tiba-tiba saja kakinya meng-injak seekor tikus besar yang menggigit betisnya!
Untung bahwa betisnya telah diolesi obat penawar dan juga dilindungi kaos kaki dan ia tadi
mengerah-kan sinkang sehingga tidak sampai terluka. Sekali ia menggerakkan kaki menginjak,
terdengar bunyi "cieeettt prakkk i" dan tikus itu mati dengan kepala dan tubuh pecah, isi tubuhnya dan
darah-nya muncrat ke mana-mana. Tercium bau wangi bercampur amis yang memuakkan.
"Ihhh ! Adik Eng, sungguh menjijikkan . . . ."
Pek Lian berseru. "Aku aku menginjak tikus
dan kuinjak ia sampai lumat!"
"Hihhh mengerikan ., I" Siok Eng juga
bergidik jijik, akan tetapi ia segera menguatkan batinnya. "Akan tetapi terowongan ini agaknya sudah
biasa dimasuki orang. Coba raba, tanahnya begini bersih dan kering dan terowongan ini agak-nya
menuju ke tengah pula. Siapa tahu ini meru-pakan jalan rahasia yang akan membawa kita ke tempat
Si Tikus Beracun ?"
"Tapi tapi tikus -tikusnya " Pek
dunia-kangouw.blogspot.com
Lian bergidik. Ia masih merasa ngeri membayang-kan tikus-tikus besar yang pernah menghadang
mereka dan membayangkan tikus yang diinjaknya pecah tadi. "Adik Eng, aku bukan takut mati, akan
tetapi siapa tahu terowongan ini penuh dengan
tikus beribu -ribu banyaknya ? Hiihh, kalau harus berhadapan dengan ribuan tikus, sebelum apa-apa
aku mungkin sudah akan mati lemas karena jijik...!"
"Baiklah, enci Lian, mari kita kembali saja
eh, awas, ada orang datang!" Siok Eng berkata li-rih dan menarik tangan kawannya, diajak bersembunyi
mepet di dinding terowongan, lalu mundur ke bagian yang berbelok.
Tak lama kemudian, laki -laki pendek kecil yang tadi mereka lihat di luar, lewat di terowongan itu.
Untung bahwa tempat itu gelap sehingga laki-laki itu tidak melihat dua orang gadis yang mepet di
dinding. Tangan kanan laki -laki ini memegang sebatang cambuk. Setelah melewati tempat persembunyian
dua orang dara itu sampai beberapa langkah, tiba -tiba dia berhenti dan hidungnya
mendengus -dengus.
"Hemm, ada bau asing di tempat ini! Apa yang dibawa anak -anak itu ke sini ?" terdengar dia
menggerutu.
Tentu saja hati kedua orang dara itu berdebar tegang. Apakah jejak mereka telah diketahui ? Bukan
main tajamnya daya cium manusia ini. Apa-kah dia ini yang berjuluk Te-tok-ci, orang pertama dari
Ban-kwi-to ? Akan tetapi menurut keterang-an yang diperoleh Siok Eng, Tikus Beracun itu sudah
berusia enampuluh tahun lebih, sedangkan orang pendek kecil ini usianya paling banyak tiga-puluh
lima tahun.
Pada saat orang itu dengan penuh keraguan hendak berbalik dan dua orang dara itu sudah siap
siaga menghadapi segala kemungkinan, tiba -tiba terdengar suara riuh mencicit dari depan sana. Demikian
gaduh dan riuh suara itu, suara dari mungkin ratusan ekor tikus yang bercuitan, se-hingga
orang pendek kecil itu tidak jadi kembali.
"Kurang ajar! Ada apakah dengan anak -anak setan itu ?" gerutunya dengan suara geram. Dia
meloncat ke depan dan tubuhnya meluncur dengan cepatnya. Dua orang gadis itu memandang ke depan
dan tiba-tiba nampak cahaya terang di depan, seolah -olah ada pintu yang dibuka. Mereka berdua
menjadi tertarik dan karena tidak ada jalan lain untuk keluar dari tempat itu, merekapun tidak jadi
kembali, khawatir bertemu dengan orang-orang yang baru masuk, dan merekapun lalu berindap-indap
melangkah maju dengan hati -hati. Kini te-rowongan menjadi tidak segelap tadi, remang -re-mang dan
mereka dapat melihat ke depan.
"Ah, di depan itu terang benar, agaknya kita menuju ke lubang keluar, Eng -moi," kata Pek Lian
dengan suara berbisik gembira. Ia merogoh saku hendak mengambil saputangan untuk meng-hapus
keringatnya, akan tetapi ternyata kantongnya kosong. Agaknya saputangannya itu terjatuh ketika ia
menginjak tikus tadi. Mereka berjalan terus ke depan, ke arah sinar terang.
Akan tetapi ternyata mereka kecelik. Sinar te-rang itu sama sekali bukan datang dari lubang ke-luar,
melainkan dari sebuah lampu minyak yang besar sekali, yang berdiri di atas meja batu. Di tem-pat ini,
terowongan menjadi besar dan membentuk sebuah ruangan yang luas penuh dengan batu-batu besar
berserakan. Dan di ruangan luas ini, terdapat pintu-pintu terowongan lain yang semuanya ber-jumlah
delapan buah termasuk, terowongan dari mana mereka datang. Tentu saja dua orang dara itu menjadi
bingung sekali. Tidak nampak laki-laki kecil pendek tadi, dan mereka berdua tidak tahu ke mana
mereka harus pergi, mulut terowongan mana yang harus mereka ambil untuk dapat keluar dari tempat
itu.
"Wah, enci Lian, sungguh aku menyesal sekali telah membawamu ke sini. Agaknya kita akan be-narbenar
terkubur hidup-hidup di sini,"
"Jangan sesalkan hal itu, adik Eng. Kalau bukan engkau yang menolong, bukankah aku juga sudah
mati ditelan lautan ? Sekarang kita belum ma ti, tidak boleh putus asa, walaupun aku aku seperti
mendapat firasat bahwa kita telah memasuki tempat yang sangat mengerikan." Bayangan tikus yang
diinjaknya tadi masih membuat nona ini ber-gidik ngeri dan jijik.
dunia-kangouw.blogspot.com
"Bagus, enci. Engkau telah membangkitkan se-mangatku kembali. Kita memang tidak boleh putus asa
dan kita hadapi bersama segala bahaya yang mungkin menimpa kita. Akan tetapi karena kita
kehilangan jejak orang tadi, mari kita cari sendiri saja jalan keluar secara untung-untungan."
"Lalu mulut terowongan mana yang harus kita pilih, Eng -moi ?"
"Aku yakin bahwa satu di antara mulut -mulut terowongan itu tentu menuju ke istana Te -tok -ci.
Karena kita baru saja keluar dari mulut terowongan yang di kanan, maka untuk menuju ke tengah pulau
tentu harus mengambil jalan yang bertentangan, yaitu yang berada di lari. Akan tetapi, di sebelah
kiri terdapat tiga buah mulut terowongan yang ha-rus kita pilih salah satunya. Enci Lian, berkali-kali
engkau lolos dari cengkeraman maut, itu tandanya bahwa nasibmu masih baik. Oleh karena itu, biar
aku membonceng nasib baikmu itu dan engkaulah yang memilih satu di antara tiga pintu terowongan
itu."
Pek Lian tersenyum.. "Mudah -mudahan saja nasibku akan selalu mujur dan tidak salah memilih
terowongan ini. Bagaimanapun juga, andaikata sa-lah pilih, kita masih dapat kembali ke sini dan memilih
yang lain lagi, bukan ? Nah, mari kita memasuki lubang yang di tengah itu."
Ternyata lubang ini tidaklah selebar yang me-reka lalui tadi. Juga amat sukar dilaku karena di
dalamnya banyak sekali batu -batu karang yang tajam dan runcing bertonjolan di kanan kiri atas dan
bawah. Mereka harus berhati -hati, kadang-kadang meloncat dan harus selalu waspada karena kalau
tidak hati -hati, kepala mereka dapat ter-tumbuk batu di atas. Apa lagi lubang itu tidak begitu terang,
hanya remang -remang.
Tiba -tiba terdengar suara ledakan cambuk di sebelah depan. Tentu saja dua orang gadis yang sejak
tadi sudah merasa tegang dan amat berhati-hati itu, menjadi terkejut dan mereka berhenti melangkah,
saling berpegang tangan dan meman-dang tajam ke depan.
"Enci Lian, itu dia! Kiranya masuk juga ke terowongan ini," bisik Siok Eng.
Mereka bergerak dengan hati -hati menuju ke depan. Dari depan ada angin bertiup lembut dan
mereka menutupi hidung. Angin itu membawa bau yang menyengat hidung karena amis dan busuk.
Tibalah mereka di sebuah ruangan yang luas dan pada dinding -dinding ruangan itu terdapat beberapa
buah lampu minyak yang terang. Ketika de-ngan hati -hati mereka mengintai ke ruangan itu,
mereka bergidik dengan hati ngeri. Di atas lantai, di tengah -tengah ruangan itu nampak bangkai ratusan
ekor tikus berserakan dan bertumpuk-tumpuk! Dan di antara bangkai -bangkai itu berdiri
seorang laki-laki memegang cambuk yang digerak-gerakkan ke kanan kiri seperti orang mengancam.
Itulah laki-laki pendek kecil tadi.
Pek Lian dan Siok Eng mengintai dari tempat sembunyi mereka dengan hati ngeri. Kini nampak jelas
oleh mereka bahwa bangkai-bangkai tikus itu terdiri dari dua macam tikus yang besar -besar, yang
berbulu kemerahan dan kehitaman. Dan kini nampaklah oleh mereka bahwa di sebelah kiri nampak
tikus berbulu merah, ratusan banyaknya, dengan sikap ganas dan siap menyerang. Sedang-kan di
sebelah kanan orang pendek itupun ber-gerombol ratusan ekor tikus hitam yang berbintik-bintik putih,
semua juga menyeringai buas se-perti tikus -tikus merah. Mudah diduga bahwa dua macam
gerombolan tikus ini telah mengadakan pe-rang, terbukti adanya bangkai -bangkai dua ma-cam tikus
di tempat itu.
Dua gerombolan tikus yang masih hidup itu, nampak buas dan marah, siap untuk saling serang akan
tetapi mereka itu kelihatan tunduk dan takut kepada si kecil pendek yang berdiri dengan cambuk di
tangan, di antara mereka. Agaknya si pendek inilah yang tadi menghentikan perang antar tikus ini.
"Bedebah busuk! Keparat jahanam! Tikus-tikus tengik yang tak tahu aturan ! Kenapa kamu saling
serang dan saling bunuh ? Kurang ajar ! Be-rani ya kalian menyerang tanpa diperintah ? Uhh,
percuma saja kamu dipelihara dan diberi makan.
Tar -tar -tarrrr !!" Cambuknya meledak-ledak dan tikus-tikus kedua pihak itu undur ketakutan.
"Binatang -binatang busuk, di mana pengasuh -pengasuh kalian? Ang -lojin ! Hek -lojin Di mana
kalian? Kenapa bocah-bocah peliharaamnu kalian biarkan saling bunuh?"
Gema suaranya yang mengandung tenaga khi-kang itu menerobos ke seluruh lorong -lorong ba-wah
tanah itu, kemudian lenyap dan suasana men-jadi amat sepi. Dan di dalami kesunyian ini tiba-tiba
dunia-kangouw.blogspot.com
terdengar suara rintihan dari lubang terowong-an sebelah kanan. Di ruangan itu terdapat empat buah
lubang terowongan. Pulau kecil yang men-jadi tempat tinggal atau sarang Te -tok -ci atau Tikus Tanah
Beracun ini memang merupakan tem-pat yang paling berbahaya. Di bawah tanah pulau ini penuh
dengan jalur -jalur lalu lintas bawah ta-nah, terowongan -terowongan yang mempunyai banyak
cabang dan ranting, penuh rahasia dan di-pasangi alat -alat rahasia pula, bahkan di situ terdapat
tikus-tikus beracun peliharaan Te-tok-ci. Maka, dapat dibayangkan betapa berbahayanya keadaan di
pulau ini. Dari atas memang nampak sebagai sebuah pulau yang indah dan menyenang-kan, namun
di bawah pulau tersembunyi jebakan-jebakan dan binatang-binatang peliharaan yang kalau
dikerahkan akan merupakan pasukan yang menyeramkan dan berbahaya. Apa lagi kalau sampai ada
musuh yang terjebak ke dalam terowongan ini!
Mendengar suara rintihan dari terowongan se-belah kanan ini, si pendek kecil berkelebat ke ka-nan
dan lenyap ke dalam terowongan itu. Dan be-gitu orang itu pergi, tikus -tikus kedua pihak yang sejak
tadi memang sudah siap tempur itu sudah saling berlompatan menyerang lawan dengan ga-nasnya.
Terdengar suara hiruk -pikuk menggiris-kan dan darah tikus berhamburan, udara menjadi amat busuk
dan amis. Apa lagi ketika muncul see-kor tikus hitam berbintik putih yang sangat besar, dua kali
besarnya dari pada teman -temannya. Ti-kus ini menyerang dengan buas dan biarpun dike-royok oleh
lima ekor tikus merah, dia masih dapat mengungguli mereka. Darah makin banyak ber-hamburan dan
bau amis membuat dua orang gadis yang menonton semua ini dari tempat persembu-nyian mereka
itu hampir muntah.
"Enci Lian, mari kita pergi" Suara Siok.
Eng agak menggigil karena ia merasa ngeri. "Kalau sampai kita yang dikeroyok ribuan atau laksaan
tikus hihih, aku bisa jatuh pingsan karena jijik."
Akan tetapi pada saat itu kembali terdengar bunyi cambuk meledak-ledak dan sungguh luar biasa
sekali, tikus -tikus yang tadinya saling terkam, saling gigit dan saling bantai itu mendadak saja
berhenti dan mereka mundur ke tempat masing-masing, bersatu dengan kawan-kawannya. Tikustikus
yang mati menambah banyak bangkai yang berserakan, sedangkan tikus-tikus yang terluka parah
dengan susah payah beringsut-ingsut dan ter-saruk -saruk mencoba untuk berkumpul ke dalam
barisan teman-temannya.
Si pendek kecil itu datang lagi dan tangan kiri-nya menarik lengan seorang kakek yang berkulit hitam
legam mengkilat. Kakek itu nampak keta-kutan dan tubuhnya agak gemetar. Dia berjalan setengah
diseret dan kelihatan lemah dan terhu-yung seperti orang sakit.
"Tar -tarrr !" Cambuk itu meledak di udara. "Jahanam-jahanam gila ! Apa yang telah terjadi? Apakah
dunia telah kiamat dan neraka muncul di tempat ini ? Agaknya setan -setan berkeliaran dan
memasuki tubuh kalian semua ! Heh, Hek -lojin. Hayo katakan, apa yang telah terjadi di sini ? Kenapa
engkau sampai menderita luka dalam akibat pukulan ? Dan di mana adanya Ang -lojin ?"
Kakek berkulit hitam itu lalu menjatuhkan diri-nya berlutut dan kelihatan semakin ketakutan! Dengan
suara lirih dan gemetar, kakek yang usia-nya sudah enampuluh tahun lebih itupun mulai bercerita. Dia
dan Ang -lojin merupakan dua di antara delapan orang penjinak atau pawang tikus-tikus liar yang
menjadi kaki tangan Te-tok-ci. Tentu saja keduanya, bersama enam orang lainnya, adalah sahabatsahabat
dan rekan-rekan yang mempunyai daerah -daerah sendiri di dalam dunia bawah tanah itu,
mengepalai gerombolan tikus masing-masing. Akan tetapi, ketika rombongan pera-hu asing itu datang
bertamu, muncul seorang pe-rempuan yang menjadi pelayan di sebuah di antara perahu -perahu itu.
Ketika perempuan itu turun ke pulau untuk mencari air, Hek -lojin melihatnya, tertarik dan merayunya.
Perempuan itu, seorang perempuan peranakan Mongol, mau menyambut dan melayani rayuannya.
Akan tetapi celakanya, perempuan itu adalah seorang perempuan yang ti-dak puas dengan hanya
seorang pria saja dan iapun melayani rayuan Ang-lojin. Tentu saja hal ini mengakibatkan cemburu
dan persaingan.
"Demikianlah, siauw -ya (tuan muda), kami berkelahi dan tentu saja kami berdua juga mengerahkan
binatang-binatang peliharaan kamii untuk saling menyerang. Kami berdua sama-sama terluka "
"Keparat tolol! Hanya untuk urusan perem-puan saja saling gasak dengan rekan sendiri ? Ja-hanam !
Hayo. katakan, di mana sekarang Ang-lo-jin ?" Orang cebol yang galak itu membentak-ben-tak.
"Dia dia bersama perempuan itu di gudang makanan"
dunia-kangouw.blogspot.com
"Bangsat!" Si cebol itu memaki-maki dengan segala macam makian kotor dan tubuhnya sudah
berkelebat pergi lagi. Tak lama kemudian, setelah menemukan Ang-lojin yang sedang dirawat karena
luka -lukanya oleh seorang perempuan Mongol, dia menyeret kedua orang itu kembali ke tempat di
mana Hek-lojin masih berlutut dengan takut-takut. Setelah tiba di situ, dengan kasar si cebol itu mendorong
Ang-lojin dan perempuan itu sehingga me-rekapun jatuh bersimpuh dan berlutut.
Pek Lian dan Siok Eng mengintai dengan jan-tung berdebar. Ang-lojin bermuka merah dan memang
dia itu beberapa tahun lebih muda dan kelihatan ganteng apa bila dibandingkan dengan Hek -lojin
yang berkulit hitam legam ! Pantaslah kalau perempuan itu lebih condong hatinya kepada si muka
merah ini. Dan wanita itu sendiri sebenar-nya bukan seorang wanita cantik. Usianya tentu sedikitnya
tigapuluh lima tahun, bermuka kasar se-perti orang-orang Mongol dan juga tubuhnya be-sar seperti
pria. Akan tetapi dari pandang mata dan senyum mulutnya nampak jelas bahwa ia ada-lah seorang
wanita yang "panas" dan besar nafsu berahinya.
"Hek-lojin dan Ang-lojin, bagaimana seka-rang ? Kalau kalian sudah menyadari kesalahan, minta
maaf kepadaku dan saling memaafkan, me-lupakan semua permusuhan, baru aku akan mem-beri
ampun. Kalau tidak, aku sendiri yang akan menghukum kalian !" bentak si cebol yang sudah nampak
marah sekali.
Hek -lojin dan Ang -lojin yang masih berlutut itu lalu berkata, hampir berbareng. "Harap siauw-ya sudi
memaafkan saya."
"Bagus, sekarang kalian berjabat tangan dan saling melupakan semua kesalahan masing-masing."
Dua orang kakek itu saling pandang, kemudian mereka mengulurkan tangan dan saling berpegangan
dan pada saat itu juga habislah semua permu-suhan dan dendam di antara mereka karena mereka
sadar bahwa permusuhan antara mereka hanya akan mencelakakan diri mereka sendiri.
Tiba -tiba si cebol tertawa. Dua orang dara yang menonton semua itu, mengkirik. Si cebol ini sungguh
mengerikan. Baru saja maki -maki dan marah -marah, tiba -tiba dapat tertawa segembira itu. Dan tiba
-tiba si cebol sudah menubruk ke depan dan menangkap perempuan itu. Tentu saja perempuan itu
menjerit kaget, akan tetapi si cebol sudah membenamkan mukanya pada leher perem-puan itu !
Terdengar jerit melengking mengerikan.
Pek Lian dan Siok Eng memandang dengan muka pucat. Mereka mengira bahwa si cebol itu
melakukan hal yang kurang ajar dan cabul, men-cium leher perempuan itu. Akan tetapi ketika me-reka
melihat darah bercucuran, tahulah mereka bahwa si cebol bukannya mencium, melainkan menggigit
putus urat darah di leher perempuan itu! Hampir saja Pek Lian meloncat ke depan, akan tetapi Siok
Eng sudah memegang lengannya dan mencegahnya.
Kini sambil tertawa, si cebol melepaskan gigit-annya dan perempuan itu kelihatan terbelalak dan
terhuyung, lehernya mengucurkan darah seperti pancuran karena urat darah di lehernya putus. Si
cebol menggerakkan cambuknya, terdengar suara meledak dan tubuh perempuan itu terlempar ke
daerah gerombolan tikus. Dan terjadilah peman-dangan yang amat mengerikan hati dua orang dara
itu. Tikus -tikus yang tadinya saling serang itu kini beramai -ramai menyerang tubuh perempuan yang
sudah terluka lehernya itu. Hanya sebentar saja perempuan itu meronta -ronta dan menjerit-jerit.
Suaranya hilang dan tubuhnya berhenti me-ronta, mengejang sedikit lalu terdiam, dan dalam waktu
singkat saja semua daging tubuhnya habis, tinggal tulang -tulangnya saja! Dan dua orang kakek itu
hanya memandang dingin saja kepada bekas kekasih mereka yang terbunuh dalam keada-an yang
demikian mengerikan.
Pek Lian hampir pingsan. Ia memejamkan matanya dan dipeluk oleh Siok Eng. Agaknya, dara yang
lebih muda ini lebih tabah menghadapi pe-nyiksaan yang demikian sadis tadi. Hal ini tidak aneh
karena gadis itu adalah seorang puteri Tai-bong-pai, perkumpulan yang oleh dunia kang-ouw
dianggap sebagai perkumpulan iblis juga.
Kini si cebol duduk di atas batu karang bundar di tengah -tengah ruangan itu. Tidak ada bangkai tikus
lagi di situ karena semua telah habis "disi-kat" tikus -tikus yang liar tadi. Agaknya mereka telah
menerima perintah atau ijin dari pamong atau pawang masing -masing dan mereka bukan hanya
makan daging perempuan Mongol itu, melainkan juga bangkai -bangkai tikus yang berserakan itu
mereka ganyang beramai -ramai. Kemudian tikus-tikus itupun pergi dan ruangan itu kembali bersih,
bahkan darah yang tadinya berceceran di mana-mana telah bersih dijilati tikus -tikus itu. Yang ada
dunia-kangouw.blogspot.com
hanya tinggal tulang -tulang besar tubuh perempu-an itu yang tidak dapat dihabiskan atau ditelan oleh
tikus -tikus itu.
Si cebol meraih ke atas di mana tergantung se-buah genta besar, lalu memukulnya. Terdengar su-ara
nyaring yang bergemuruh dan gemanya mem-balik dari semua penjuru. Tak lama kemudian,
panggilan ini telah mendapat sambutan dan terde-ngar suitan -suitan dari lorong -lorong itu. Dan
muncullah enam orang lain yang rata -rata memi-liki tampang yang menyeramkan. Bersama Ang-lojin
dan Hek -lojin, mereka berdiri mengelilingi batu di mana si cebol yang mereka sebut siauw -ya itu
duduk. Si cebol memandang kepada mereka se-mua, seorang demi seorang, dengan pandang mata
tajam penuh wibawa.
"Dengarlah kalian semua ! Ayah amat sibuk dan tidak ingin diganggu, maka kalian harus tidak menimbulkan
keributan. Hari ini ayah menerima ba-nyak tamu. Akan tetapi ketahuilah, Selain kawankawan
ayah dari dunia kang -ouw dan liok -lim yang berkunjung untuk bersahabat dan minta se-suatu
dari ayah, ada pula seorang jago silat bekas musuh ayah yang datang untuk suatu keperluan yang
belum kita ketahui. Karena itu, ayah menyu-ruhku menghubungi kalian agar kalian bersiap-siap dan
berhati -hati. Semua peliharaan harus diper-siapkan agar sewaktu-waktu dibutuhkan, dapat segera
dipergunakan. Periksa alat rahasia yang menghubungkan tempat ini dengan istana. Dan ingat baik -
baik. Musuh yang datang sekarang ini bukanlah sembarang orang, akan tetapi dia adalah keturunan
seorang datuk dari utara. Bukan musta-hil kalau ayah sendiri tidak akan mampu menun-dukkan. Maka
kita harus bersiap -siap, kalau ter-paksa dia akan kujebak ke dalam terowongan."
Setelah selesai menyampaikan berita penting itu, yang disambut oleh delapan orang pembantu yang
mengangguk -angguk, si cebol yang ternyata adalah putera dari Te -tok -ci itu meloncat ke arah meja
batu di mana terdapat sebuah lampu mi-nyak. Meja itu didorongnya ke samping sampai miring. Tibatiba
di atas langit -langit ruangan itu terbuka sebuah lubang kecil dan secepat kilat si cebol sudah
meloncat dan menerobos keluar ke atas. Tak lama kemudian meja itu tegak kembali seperti semula
dan lubang di atas itupun tertutup kembali oleh sebongkah batu karang besar.
Si cebol itu adalah putera Te -tok -ci dan dia memakai julukan Siauw -thian -ci (Tikus Langit Kecil)!
Agaknya, dalam hal julukan, dia tidak mau kalah oleh ayahnya yang berjuluk Tikus Beracun Bumi. Dia
berjuluk Tikus Langit! Hanya ditambah Kecil karena tentu saja dia tidak berani melampaui ayahnya.
Dan semua anak buah Tikus Beracun menyebut siauw -ya (tuan muda).
Setelah Siauw-thian-ci pergi, delapan orang itupun meninggalkan ruangan itu, kembali ke tem-pat
tugas masing-masing. Sampai lama Pek Lian dan Siok Eng belum berani bergerak, sampai mere-ka
merasa yakin benar bahwa tidak ada lagi orang yang kembali ke tempat itu.
"Ke mana sekarang, Eng -moi ? Menerobos lo-wat lubang langit -langit seperti dia tadi ?"
"Itu sangat berbahaya, enci Lian. Siapa tahu dia masih berada di atas, sedangkan untuk kembali kita
tidak mengenal alat rahasianya dari atas. Apa lagi kalau di sanapun masih terdapat pintu -pintu
rahasia seperti ini."
"Habis bagaimana ? Tinggal di sini kita menjadi seperti tikus -tikus itu, tidak dapat keluar."
"Mari kita ke sana saja." Siok Eng menunjuk ke arah lubang terowongan yang paling lebar. Me reka
berjalan dengan hati -hati sekali dan bersikap waspada. Tiba -tiba keduanya menghentikan lang-kah
dan mepet di dinding terowongan. Seorang di antara delapan anak buah yang tadi berkumpul se-dang
berjalan membawa sebuah keranjang yang nampaknya berat. Orang itu bermuka putih pucat dan dia
membelok ke kiri lalu menuruni anak tang-ga. Di dasar tangga itu terdapat sebuah ruangan berpintu
baja. Dua orang dara perkasa itu meng-ikutinya dan mengintai ketika orang itu berdiri di depan pintu
baja. Si muka putih mencabut setang-kai obor yang terpasang di atas pintu baja dan pin-tu itupun
terbuka secara otomatis.
Ketika pintu terbuka, hampir saja dua orang dara itu mengeluarkan teriakan kaget dan jijik. Di balik
pintu baja itu terdapat sebuah guha yang luas dan di situ berkumpul tikus berbulu putih yang mungkin
ribuan ekor banyaknya! Orang bermuka putih itu melontarkan isi keranjang besar ke dalam. Tikus -
tikus putih berebutan sambil mengeluarkan suara bercicit riuh rendah. Sebentar saja isi keran-jang
itupun habis dan agaknya tidak mencukupi. Tikus -tikus yang tidak mendapat bagian kelihatan
menjadi buas dan marah. Mereka menyerbu ke arah pintu. Melihat ini, Pek Lian menangkap le-ngan
dunia-kangouw.blogspot.com
Siok Eng dan mencengkeramnya dengan hati penuh kengerian. Kalau bukan puteri ketua Tai-bongpai
yang dicengkeramnya, tentu lengan itu akan terluka!
Akan tetapi, dengan tenang saja si muka putih itu mencabut keluar sebuah tabung bambu besar lalu
mengeluarkan isi tabung yang berupa bubuk putih. Tercium bau yang keras ketika bubuk putih itu
digenggamnya dan aneh sekali, tikus -tikus yang tadinya buas menyerbu ke depan itu, seketika undur
kembali ketakutan dan kembali ke tempat masing-masing. Si muka putih menyeringai gembira.
"Nah, begitu baru anak -anak baik namanya. Nanti aku akan kembali membawa makanan lebih
banyak lagi." Kakek itu lalu menutupkan kembali pintu baja dengan mengembalikan obor di tempat
semula, lalu diapun pergilah dari situ. Ketika orang itu lewat, dua orang dara cepat bersembunyi di
dalam lubang -lubang dan celah -celah batu. Ke-tika orang itu datang dekat, dia lalu memandang ke
kanan kiri, cuping hidungnya kembang kempis. Akan tetapi dia lalu menciumi tangannya yang tadi
menggenggam obat bubuk dan dia mengge-leng kepala lalu lewat pergi.
"Aih, orang-orang di sini mempunyai pencium-an yang peka sekali, enci. Untung dia tidak menemukan
kita. Mari kita ikuti dia !"
Dengan hati-hati dua orang dara itu memba-yangi si muka putih. Ketika tiba di persimpangan jalan
terowongan, muncul berturut-turut tujuh orang anak buah yang lain dan mereka semua juga
memegang tabung bambu besar berisi obat bubuk putih yang merupakan obat yang ditakuti tikus itu.
Mereka mengumpulkan tabung -tabung itu dan dua orang di antara mereka lalu membawa tabung -tabung
itu ke sebuah ruangan besar setelah melalui jalan berbelak -belok. Agaknya dua orang ini bertugas
untuk mengumpulkan dan menyimpan ta-bung -tabung itu, karena isinya merupakan barang
yang amat penting bagi mereka dan tidak boleh sampai terjatuh ke tangan musuh. Bubuk putih itu
merupakan senjata ampuh untuk mengusir tikus-tikus liar.
Ada dua buah pintu di ruangan itu, dan mereka berdua itu lalu membuka pintu hijau, menyimpan
tabung itu ke dalam sebuah kamar di balik pintu hijau. Kemudian merekapun pergi melalui jalan
terowongan di sebelah kiri, meninggalkan dua orang nona yang membayangi mereka. Setelah dua
orang kakek itu pergi, Siok Eng berbisik, "Kita perlu se-kali dengan bubuk putih itu. Kita harus
mengam-bil yang cukup untuk dipergunakan kalau perlu." Pek Lian mengangguk dan mereka lalu
berindap-indap menghampiri pintu hijau, membuka daun pintu yang tidak dipasangi alat rahasia. Siok
Eng yang sebagai puteri ketua Tai-bong-pai amat ahli tentang racun, mengambil bubuk putih,
membung-kusnya dengan saputangan dan Pek Lian melakukan hal yang sama. Kemudian mereka
berunding sam-bil bisik -bisik.
"Sekarang lihat baik -baik pintu merah itu, enci Lian. Di atasnya ada tulisan yang melarang orang
masuk. Kurasa itu menandakan bahwa di dalam kamar di balik pintu merah itu tentu ada rahasianya
yang penting. Kita masuk ke situ!"
"Tapi bagaimana kalau di dalamnya menanti jebakan -jebakan atau orang -orang yang sudah siap?
Bukankah itu berarti kita seperti ular-ular mencari penggebuk ?"
"Kita harus berani menghadapi resiko itu. Ku-rasa tulisan itu ditujukan kepada para anak buah dan ini
berarti bahwa hanya orang -orang penting seperti ketuanya sendiri saja yang boleh masuk. Dan
mustahil kalau jalan untuk sang ketua dipasangi jebakan. Mari, ikuti aku."
Mereka berdua mendorong pintu merah yang terbuka dengan mudah. Keduanya tertegun. Di balik
pintu itu terdapat sebuah kamar yang indah dan di dekat dindingnya terdapat sebuah tempat tidur
yang besar.
"Ehh !" Pek Lian menahan seruannya dan menghampiri meja, lalu mengambil benda yang ternyata
adalah sebuah cincin. Cincin ayahnya ! Cincin stempel tanda kebesaran Menteri Ho !
"Cincin apakah itu, enci ?"
"Cicin ayahku ! Ah, benar ! Tentu ayah terba-wa oleh perahu yang sekarang berlabuh di sini ! Ayahku
berada di sini!" Pek Lian merasa gembira sekali dan matanya berkilat -kilat. Ia menyimpan cincin itu di
saku bajunya sebelah dalam.
dunia-kangouw.blogspot.com
"Hemm, obat ini pentin”
Tiba-tiba Pek Lian melihat sekilat cahaya di balik lemari. "Eng -moi, lihat. Ada sinar dari belakang
lemari. Ini berarti bahwa di belakang lemari itu tentu ada ruangan lain. Mari kita geser!"
Mereka bekerja sama menggeser lemari itu dan setelah tergeser mereka melihat adanya sebuah
lorong yang menuju ke atas. Akan tetapi lorong ini kemudian terpecah menjadi dua. Mereka lalu
memilih yang kiri. Dengan hati -hati mereka me-langkah, takut kalau -kalau ada jebakan rahasia di
depan. Lorong itu berakhir dengan sebuah pintu dan ketika mereka membuka dan mengintai, mere-ka
melihat bahwa di luar daun pintu itu terdapat sebuah taman yang indah, dengan kolam renang di
tengah-tengah dan pada saat itu terdapat belasan orang wanita cantik yang sedang mandi sambil
bersendau-gurau. Kedua orang dara itu dapat menduga bahwa tempat ini tentu merupakan tem-pat
tinggal para isteri atau selir pemilik pulau. Mereka tidak berani memasuki taman, menutupkan kembali
daun pintu itu dan kembali sampai di lo-rong bercabang, lalu kini mengambil lorong yang kanan. Dan
tidak lama mereka tiba di akhir lorong ini yang merupakan sebuah halaman terkurung pa-gar besi dan
di tengah halaman itu tumbuh sebuah pohon bunga yang luar biasa. Daun-daunnya pu-tih dan
bunganya hitam mengkilat! Itulah bunga yang dicari-cari oleh Siok Eng ! Melihat bunga ini, Siok Eng
melompat kegirangan, hampir ia ber-sorak dan seperti seorang anak kecil mendapatkan sebuah
mainan yang sudah lama diinginkannya, ia menghampiri pohon bunga itu.
"Hati-hati, enci, kau jangan memegang bunga ini," katanya dan ia sendiri lalu mengeluarkan se-buah
botol berisi cairan berwarna kuning, kemudian menggunakan cairan itu untuk melumuri semua bagian
kedua lengannya dan jari-jari tangannya. Setelah itu, barulah ia memetik beberapa kuntum bunga
hitam dan disimpannya baik-baik ke dalam guci kecil yang sudah ada airnya. "Aih, benar kata ayahku
dan tidak sia-sialah perjalananku yang jauh dan berbahaya ini," kata Siok Eng sambil tersenyum
manis. "Dan engkau juga berjasa atas hasil yang kuperoleh ini, enci. Terima kasih !"
"Adik Eng, bukan engkau yang harus berterima kasih, melainkan aku. Sekarang, bagaimana kita akan
dapat keluar dari lubang tikus ini ? Ingat, selama kita belum dapat meninggalkan pulau ini, belum
berarti bahwa kita berhasil."
"Engkau benar, cici. Lebih baik kita mengam-bil jalan lewat taman itu. Andaikata kita ketahuan, lebih
baik kita melayani musuh di tempat terbuka dari pada di dalam terowongan ini. Kalau mereka
menutup saja pintu rahasia terowongan ini, berarti kita akan terkubur hidup-hidup dan menjadi santapan
tikus-tikus menjijikkan itu !''
Membayangkan ini, Pek Lian sendiri bergidik. "Marilah, Eng-moi !'" Diingatkan tentang tikus-tikus itu,
kedua orang dara ini lalu bersicepat me-nuju ke daun pintu yang berada di akhir terowong-an kiri.
Mereka membuka daun pintu dan ternyata para wanita cantik tadi sudah selesai mandi dan ti-dak ada
orangnya dan di situ mereka melihat ba-nyak pakaian wanita yang indah-indah. Kiranya itu adalah
sebuah kamar pakaian yang serba leng-kap.
"Adik Eng, aku mempunyai gagasan baik. Ba-gaimana kalau kita menyamar saja sebagai seorang di
antara wanita-wanita itu? Dengan demikian, setidaknya memudahkan kita untuk mencari jalan keluar."
"Bagus, enci Lian. Gagasanmu itu baik sekali!" kata Siok Eng sambil tertawa girang. Keduanya lalu
memilih pakaian yang cocok untuk ukuran tu-buh mereka dan sambil cekikikan seperti dua orang
anak nakal, mereka lalu berdandan. Dan karena keduanya memang cantik jelita, tentu saja setelah
berdandan, mereka nampak makin menarik sehing-ga keduanya saling memuji.
"Wah, adik Eng, kalau melihat engkau, agak-nya wanita-wanita itu takkan terpakai lagi oleh majikan
pulau ! Engkau cantik seperti bidadari!"
"Aih, tidak menang dibandingkan denganmu, enci. Pakaian itu pantas benar kaupakai!"
Akan tetapi, tiba-tiba mereka waspada dan sa-ling pandang ketika ada langkah kaki menuju ke kamar
itu. Pek Lian berkedip, lalu ia membuka pintu dan dengan suara berwibawa menegur, "Sia-pa berani
menganggu kami?"
dunia-kangouw.blogspot.com
Kiranya yang datang adalah seorang penjaga dan dibentak demikian, dia kelihatan ketakutan dan
cepat menjatuhkan dirinya berlutut. "Maaf, saya tidak tahu bahwa ji-wi (kalian berdua) berada di sini.
Saya diperintahkan oleh tocu (majikan pulau) untuk minta kepada dua orang hujin dari puri ini sebagai
wakil para hujin lain untuk mene-rima tamu."
Pek Lian mengerutkan alisnya. Sebagai seorang pemimpin ia memiliki kecerdikan dan ia sudah da-pat
menduga apa yang terjadi, maka iapun meng-ambil sikap angkuh dan bertanya dengan lagak seorang
nyonya besar bertanya kepada pelayannya. "Masa hanya kami berdua ? Siapakah tamu-tamu-nya ?"
"Bukan hanya ji-wi hujin (kedua nyonya) yang diharapkan hadir. Setiap puri diwakili oleh dua orang,
jadi dari empat puri berjumlah delapan orang. Adapun yang menjadi tamu-tamunya ba-nyak sekali.
Ada orang-orang Mongol, ada orang-orang kang-ouw, dan ada seorang datuk dari utara bersama
murid-muridnya. Delapan orang hujin dari empat puri diminta mengatur dan mengepalai para pelayan
untuk menghormat para tamu."
Karena penjaga itu bicara sambil berlutut maka dua orang dara itu sempat untuk saling pandang dan
Siok Eng memberi tanda setuju dengan meng-angguk sedikit kepada temannya. Mereka tidak
mempunyai pilihan lain. Menolak berarti membu ka rahasia. Mereka akan menerima saja dan nanti
akan dicari jalan terbaik kalau sudah tiba saatnya yang gawat. Apa lagi mendengar nama julukan datuk
utara itu, membuat hati Pek Lian tertarik.
"Apakah kaumaksudkan datuk utara itu adalah Yap-lojin ketua Thian-kiam-pang ?" tanyanya.
Pertanyaan yang tepat ini tidak mengherankan hati si penjaga. Sebagai isteri atau selir majikan-nya,
tidak aneh kalau wanita cantik ini tahu akan nama tokoh-tokoh dunia persilatan. Maka diapun
mengangguk. "Benar dugaan hujin yang mulia."
Tentu saja Pek Lian menjadi girang bukan main. Bagaimanapun juga, Yap-lojin adalah seorang
pendekar besar dan hal ini dapat diartikan bahwa mereka berdua mempunyai seorang kawan dalam
sarang iblis ini. Apa lagi kalau Yap Kiong Lee, murid utama atau putera angkat Yap-lojin berada di
situ. Pemuda perkasa itu sudah pasti tidak akan membiarkan ia dan Siok Eng celaka dan bantuan-nya
sangat boleh diharapkan dan diandalkan. Be-sarlah hati Pek Lian mendengar bahwa Yap-lojin dan
murid-muridnya, para pendekar Thian-kiam-pang itu, berada pula di pulau iblis ini.
Dua orang dara itu lalu mengikuti si pengawal dan akhirnya terkumpul delapan orang "nyonya"
bersama mereka. Tentu saja para selir itu meman-dang kepada mereka dengan heran karena tidak
mengenal mereka. Akan tetapi, karena mereka menghadapi tugas penting dan mereka sudah terbiasa
dengan adanya muka-muka baru di kalang-an mereka, yaitu selir-selir baru yang diambil oleh
Tikus Beracun, merekapun tidak banyak bertanya, hanya memandang dengan alis berkerut seperti
pandang mata seorang wanita terhadap madu baru yang dianggap saingan. Dengan iringan
pengawal, mereka lalu menuju ke pendapa di mana telah ber-kumpul para tamu. Karena pakaian
mereka serupa, maka kehadiran dua orang dara di antara para selir ini tidak terlalu menyolok dan
sekelebatan mereka itu tidak ada bedanya dengan yang lain.
Di ruangan pendapa itu terdapat lebih dari li-mapuluh orang tamu. Dengan bantuan pelayan-pelayan
yang juga cantik-cantik akan tetapi pakaian mereka lebih sederhana, delapan orang selir ini lalu
melayani para tamu, menyuguhkan hidang-an-hidangan dan minuman-minuman. Pek Lian mencaricari
dengan pandang matanya dan akhir-nya ia menemukan orang yang dicarinya. Mereka duduk di
deretan depan. Seorang kakek yang usia-nya sudah tujuhpuluhan tahun, berpakaian putih-putih
dengan jenggot putih panjang, sikapnya ga-gah. Di sebelahnya duduk seorang pemuda perkasa
berusia tigapuluh tahun lebih, juga mengenakan pakaian serba putih dengan pedang di punggung. Di
sebelah kiri kakek itu duduk seorang gadis yang luar biasa cantik jelitanya, berpakaian hitam dari
sutera sehingga kulit leher dan tangannya nampak semakin putih mulus. Hampir semua mata para
tamu pria, baik tua maupun muda, tiada hentinya mengerling ke arah gadis yang luar biasa cantik-nya
ini.
Melihat tiga orang ini, Pek Lian hampir berte-riak kegirangan. Tidak saja ia mengenal Yap-lojin dan
Yap Kiong Lee, akan tetapi juga ia mengenal gadis berpakaian sutera hitam itu karena gadis itu bukan
lain adalah Bu Bwee Hong atau lebih tepat lagi bermarga Chu, karena gadis ini adalah anak kandung
dari Pangeran Chu Sin! Di samping rasa girang yang luar biasa melihat bekas teman seper-jalanan ini
ternyata masih hidup, juga timbul rasa herannya bagaimana gadis yang terbawa hanyut oleh
dunia-kangouw.blogspot.com
gelombang lautan dan terpisah darinya itu tahu-tahu berada di situ bersama Yap-lojin ketua Thiankiam-
pang dan murid pertamanya.
Juga Siok Eng merasa girang bukan main ketika ia mengenal Bwee Hong, puteri dari keluarga Bu
yang telah menolongnya, bahkan telah menyelamat-kan nyawanya dengan pengorbanan nyawa
suami isteri Bu dan terbukanya putera mereka, kakak dari Bwee Hong. Akan tetapi, tiga orang itu
sama se-kali tidak mengenal Pek Lian dan Siok Eng yang tidak mudah dibedakan dari selir-selir tuan
rumah yang lain. Baru setelah Pek Lian melayani meja mereka dan sengaja menginjak kaki Bwee
Hong, nona cantik jelita ini mengangkat muka meman-dang dan sinar mata mereka bertemu. Pek Lian
berkedip dan memberi isyarat kepada Bwee Hong agar tidak mengeluarkan suara. Bwee Hong
terkejut dan girang bukan main ketika mengenal Pek Lian, akan tetapi melihat isyarat itu, ia tidak
berani ber-kata sesuatu, hanya memandang bengong. Apa lagi ketika Bwee Hong mengenal pula
Siok Eng sebagai gadis Tai-bong-pai yang pernah diobati oleh ayah bundanya, ia terheran-heran
dan juga amat girang.
"Enci, kalian bertiga harus menelan pel ini un-tuk menjaga diri terhadap racun," bisik Siok Eng sambil
memberikan tiga butir pel kepada Bwee Hong, akan tetapi gadis cantik jelita itu tersenyum.
"Jangan khawatir, adik yang baik. Kami telah minum obat penawar racun," jawabnya dengan bisikan
lirih. Siok Eng mengangguk dan iapun mera-sa tenang karena ia percaya bahwa nona cantik ini
adalah puteri seorang datuk yang menjadi keturun-an Sin-yok-ong, Si Raja Tabib Sakti. Tentu saja
dara ini seorang ahli pengobatan yang tidak takut akan segala macam racun !
Adapun Yap-lojin dan putera angkatnya yang belum begitu akrab dengan Pek Liari, tidak menge-nal
nona ini. Baru setelah Bwee Hong berbisik-bisik kepada ketua Thian-kiam-pang itu, Yap-lojin
mengerutkan alisnya. Dia teringat kepada ga-dis yang menjadi tawanan isterinya, Siang Houw Nionio.
Akan tetapi dia diam saja, hanya merasa heran apa lagi yang dikerjakan oleh gadis pembe-rani
itu di tempat seperti ini.
Pek Lian dan Siok Eng juga tidak sempat bica-ra dengan Bwee Hong karena pada saat itu mun-cul
tuan runyah, yaitu Tikus Beracun Bumi! Para tamu bangkit dani tempat duduk mereka untuk
menghormati tuan rumah yang terkenal sebagai datuk pertama dari Tujuh Iblis Ban-kwi-to ! Ka-rena
para tamu bangkit berdiri, Siok Eng dan Pek Lian merasa aman, mereka tertutup oleh para tamu
sehingga tuan rumah yang bertubuh pendek kecil itu tidak dapat melihat mereka.
Te-tok-ci atau Tikus Beracun Bumi itu ter-nyata memliliki tubuh yang sama sekali tidak serem seperti
namanya. Kakek ini usianya sekitar enam-puluh lima tahun, tubuhnya pendek kecil nampak lemah,
mengenakan pakaian mewah seperti seorang bangsawan saja. Mukanya kecil sempit dan pan-jang ke
muka, memang dari samping wajahnya me-miliki bentuk seperti muka tikus. Di sebelah kanan-nya
berjalan laki-laki berusia tigapuluh tahun le-bih yang juga bertubuh kecil pendek. Itulah Siauw-thian-ci,
putera tunggal Tikus Beracun Bumi, yaitu pria kecil pendek kejam, yang pernah dilihat oleh Pek Lian
dan Siok Eng di dalam tero-wongan bawah tanah itu.
Setelah tiba di tempat duduk yang dipersiapkan untuknya, yaitu di antara kursi para tamu kehormatan,
tuan rumah yang pendek ini lalu berdiri di atas tangga, menjura ke empat penjuru dan suaranya
lantang ditujukan kepada semua tamu yang bangkit berdiri ketika dia datang.
"Cu-wi sekalian, selamat datang dan silahkan duduk ! Semua dipersilahkan untuk menikmati hidangan
yang kami suguhkan !"
Setelah berkata demikian dia bersama Siauw-thian-ci duduk menghadapi meja yang penuh hidangan,
kemudian tanpa banyak cakap lagi ayah dan anak ini lalu makan minum dengan lahapnya,
sama sekali tidak memperdulikan kanan kiri lagi! Dan lucunya, biarpun di atas semua meja tamu telah
tersedia hidangan yang nampaknya lezat dan mewah, namun tidak ada seorangpun yang berani
menyentuhnya, apa lagi makan ! Hal inipun tidak mengherankan, karena siapakah yang akan berani
menyentuh hidangan yang disuguhkan oleh datuk sesat ahli racun yang paling kejam dan berbahaya
di dunia ini ? Selain itu, agaknya para tamu yang sebagian besar terdiri dari tokoh-tokoh sesat itu
memang sudah tahu akan adegan yang sudah diatur ini dan agaknya sikap tuan rumah itu memang
ditu-jukan kepada para tamu yang bukan segolongan dengan mereka, terutama sekali ditujukan
kepada ketua Thian-kiam-pang. Maka, para tokoh sesat yang hadir hanya tersenyum-senyum saja
dunia-kangouw.blogspot.com
menon-ton pertunjukan yang mereka anggap sebagai lelu-con yang menarik. Mereka tersenyumsenyum
geli dan gembira melihat aksi Te-tok-ci dan Siauw-thian-ci.
Akan tetapi, bagi manusia sopan pada umum-nya, aksi ayah dan anak itu sungguh memuakkan,
menjijikkan dan juga memanaskan perut! Mana ada pihak tuan rumah makan minum seenak perutnya
sendiri tanpa memperdulikan para tamu, bah-kan mereka makan minum dengan lahap, berdahak
dan kadang-kadang meludahkan tulang-tulang ikan ke kanan kiri. Setengah jam lamanya para tamu
disuguhi tontonan ini dan seperti orang baru tahu bahwa para tamu tidak ada yang makan hi-dangan
di atas meja depan mereka, terdengar Te-tok-ci tertawa dan bicara dengan puteranya.
"Ha-ha-ha, dunia penuh penakut dan penge-cut, anakku yang gagah ! Lihat, tidak ada yang berani
menyentuh hidangan di atas meja. He-hehe, siapa yang makan minum hidangan itu dan tidak
mampus mendadak, aku sungguh kagum
padanya dan akan kuangkat saudara!"
Ucapan ini sungguh merupakan ejekan menghi-na yang sepatutnya hanya diucapkan orang gila.
Seorang tamu yang usianya baru tigapuluh tahun lebih dan berwatak berangasan, dari golongan sesat
yang agaknya belum paham akan sikap tuan rumah dan. dia merasa tersinggung, bangkit dari
tempat duduknya. Dia tidak berani menentang tuan rumah, akan tetapi merasa tidak senang de-ngan
sikap itu dan diapun melangkah pergi hendak meninggalkan ruangan itu. Akan tetapi, beberapa orang
pengawal, anak buah Si Tikus Beracun, su-dah menghadangnya dengan tombak melintang.
"Sicu hendak pergi ke mana ? Sebelum to-cu selesai makan minum, tidak ada yang boleh pergi
kecuali seijin to-cu !"
"Apa ?" Laki-laki bermuka hitam itu melotot. "Aku Tiat-pi Hek-kwi (Setan Hitam Lengan Be-si), datang
dan pergi tidak pernah diatur orang lain. Aturan gila mana ini ?" Dia hendak memaksa pergi dan ketika
tiga orang pengawal itu tetap mengha-dang, dia menggunakan kedua lengannya untuk mendorong
dan tiga orang pengawal itupun ter-jengkang. Ternyata Setan Hitam Lengan Besi ini memang memiliki
sepasang lengan yang kuat sekali.
Si Tikus Beracun yang sedang asik makan mi-num itu menoleh dan sepasang matanya yang kecil itu
menyipit, akan tetapi mengeluarkan sinar berkilat. Marahlah dia melihat ada orang berani ber-sikap
menentangnya.
"Cuhh !" Dia meludah ke atas lantai yang sudah, kotor dengan ludah dan tulang-tulang ikan itu.
"Bunuh orang itu !" teriaknya bengis.
Tiga orang kepala pengawal berloncatan datang dan mereka memegang alat semprotan dari bambu.
Begitu mereka menggerakkan alat itu, ada benda cair yang amat lembut dan beruap menyambar ke
arah Si Setan Hitam dari tiga jurusan. Tentu saja orang itu berusaha mengelak dan mtelawan, namun
begitu uap mengenai tubuhnya, dia menjerit kesa-kitan. Kulit tubuhnya dan pakaian yang terkena uap
itu hancur dan melepuh, seperti terbakar dan orang itupun tak dapat menahan lagi rasa nyerinya. Dia
terguling dan berkelojotan di atas lantai, seka-rat dan tewas seketika!
Semua tamu memandang dengan muka pucat dan mereka bergidik. Akan tetapi, Yap-lojin ketua
Thian-kiam-pang yang melihat ini menjadi marah sekali. Mukanya berobah merah dan diapun bang-kit
berdiri, diikuti oleh Yap Kiong Lee dan Chu Bwee Hong. Bagaimanapun juga, sebagai seorang tamu
Yap-lojin tidak sudi mencampuri urusan orang, apa lagi urusan antara Setan Hitam dan tu-an rumah
yang keduanya adalah orang-orang go-longan sesat. Dengan sikap hormat namun gagah.
Yap-lojin menjura ke arah Tikus Beracun dan su-aranya terdengar lantang.
"Te-tok-ci, aku datang ke sini untuk berjumpa dengan seorang di antara penghuni Ban-kwi-to, yaitu
Thian-te Tok-ong atau yang juga dikenal sebagai Ceng-ya-kang. Aku ingin bertanya kepa-danya
tentang puteraku!"
Yang ditanyakan Yap-lojin adalah tokoh ke li-ma dari Tujuh Iblis Ban-kwi-to. yaitu si gendut pendek
yang berjuluk Thian-te Tok-ong (Raja Racun Bumi Langit) atau juga terkenal dengan se-butan Cengya-
kang (Kelabang Hijau) karena dia suka mengumpulkan kelabang beracun. Seperti te-lah
dunia-kangouw.blogspot.com
diceritakan di bagian depan, tokoh sesat ini nampak gulang-gulung dengan Yap Kim, putera kandung
Yap Cu Kiat atau Yap-lojin itu yang kini lenyap dan sedang dicari oleh ayahnya dan suheng-nya.
Tentu saja Tikus Beracun sudah tahu akan hal ini dan memang sejak tadi semua adegan yang disuguhkan
di situ hanya untuk memancing keturunan datuk utara ini. Sekarang, melihat tamu yang dianggap
musuh besar ini sudah bangkit dan menge-luarkan suara, pihak tuan rumah menemukan
alasan untuk turun tangan, seperti yang telah dilakukan-nya terhadap Setan Hitam tadi.
Pada saat itu, mulut Si Tikus Beracun penuh makanan. Dia mengangkat muka memandang ke arah
Yap-lojin, lalu dia memuntahkan makanan itu ke atas lantai dan menudingkan telunjuknya ke-arah
kakek itu sambil membentak, "Bunuh juga orang itu ! !"
Tiga orang kepala pengawal itu sudah mengu-rung Yap-lojin dan dua orang muda itu, kemudian tanpa
menanti perintah kedua kalinya lagi, tiga o-rang yang memang mempunyai hobby membunuh orang
itu menyemprotkan alat semprot mereka yang mengandung racun amat jahat itu. Akan teta-pi, karena
tadi mereka sudah menjaga diri dengan minum obat penolak racun yang diberikan oleh Bwee Hong,
mereka tidak takut terhadap racun itu, dan untuk menjaga pakaian mereka, tiga orang ini lalu
menggerakkan kedua tangan dikibaskan ke depan. Bahkan Yap Kiong Lee sudah mengerahkan
tenaga Thian-hui Khong-ciang yang luar biasa, itu, yang menjadi ilmu keturunan dari datuk utara Sinkun
Bu-tek. Akibatnya luar biasa hebatnya karena tiga orang itu terjengkang dan tidak dapat bangkit
kembali, napas mereka empas-empis dan muka mereka pucat, tubuh terasa lumpuh kehilang-an
tenaga!
Gegerlah ruangan itu ketika para anak buah Ti-kus Beracun maju mengeroyok. Bahkan Tikus Beracun
sudah berteriak-teriak minta bantuan para tamu. Para tamu yang sebagian besar adalah tokohtokoh
kaum sesat itu dan menjadi sekutu Tujuh Iblis Ban-kwi-to tentu saja berpihak kepada Ti-kus
Beracun dan terjadilah pengeroyokan atas diri tiga orang itu. Namun, mereka bukanlah orang-orang
sembarangan ! Nona Chu Bwee Hong adalah keturunan dari datuk selatan Sin-yok-ong yang memiliki
ilmu silat luar biasa tingginya. Yap-lojin adalah ketua Thian-kiam-pang yang merupakan keturunan
datuk utara Sin-kun Bu-tek yang amat lihai, sedangkan Yap Kiong Lee, murid utama atau putera
angkatnya, telah sedemikian maju dalam ilmunya sehingga tidak jauh selisihnya dengan ilmu kakek
itu sendiri! Inilah sebabnya yang membuat para orang sesat itu seperti air bah membentur batu
karang yang kokoh kuat. Bwee Hong mengan-dalkan ginkangnya yang istimewa. Tubuhnya berkelebatan
seperti terbang saja di antara pengero-yokan banyak orang. Tidak ada sebuahpun senja-ta
mampu menyentuhnya dan ia membagi-bagi pukulan dan tendangan secepat kilat. Dengan gin-kang
keturunan datuk selatan Sin-yok-ong yang luar biasa, yaitu yang dinamakan Pek-in Gin-kang (Ilmu
Meringankan Tubuh Awan Putih), tubuhnya berkelebatan seperti kilat dan Ilmu Silat Kim-hong-kun
(Silat Burung Hong Emas) membingungkan para pengeroyoknya.
Yap-lojin bersikap tenang-tenang saja meng-hadapi semua pengeroyokan. Kakek ini hanya
menggerak-gerakkan kedua lengannya dan ujung jubahnya yang lebar itu mendatangkan angin keras,
membuat para pengeroyoknya terpelanting atau terdorong mundur. Akan tetapi, sepak terjang Yap
Kiong Lee lebih hebat lagi. Pemuda ini mengamuk dan kedua tangannya bergetar menimbulkan suara
gemuruh seperti angin ribut. Itulah Hong-i Sin-kun (Ilmu Silat Sakti Angin Badai) yang hebat, d: sertai
penggunaan tenaga sakti Thian-hui Khong-ciang yang mengeluarkan suara ledakan seperti pe-tir dan
menghancurkan benda-benda di sekitar-nya. Semua orang terkejut ketakutan dan menjauh-kan diri,
tidak kuat menahan pukulan-pukulan sakti ketiga orang itu. Semua orang menjadi kagum sekali,
bahkan si kakek Yap-lojin juga diam-diam amat kagum terhadap murid ini.
"Kiong Lee, engkau cari adikmu, biar kuhadapi tikus-tikus ini!" kata Yap-lolin yang menduga bahwa
tentu puteranya, Yap Kim, disembunyikan di pulau itu.
"Baik, suhu !" kata Kiong Lee yang sudah mulai membuka jalan dengan menghambur-hamburkan
pukulan saktinya ke kiri untuk keluar dari kepung-an.
Akan tetapi tiba-tiba Pek Lian berteriak, "Locianpwe, puteramu tidak berada di sini. Mari ikut dengan
kami!"
Karena teriakan ini, Kiong Lee meragu dan tidak jadi keluar dari kepungan, dan sebaliknya, Pek Lian
dan Siok Eng ketahuan dan dikeroyok pula. Karena ingin mencari kawan, Pek Lian dan Siok Eng
mengamuk dan mendekati Yap-loiin bertiga sehingga kini mereka berlima mengamuk dan medunia-
kangouw.blogspot.com
robohkan banyak pengeroyok yang berani menye-rang terlalu dekat. Melihat kehebatan lima orang
musuh ini, Tikus Beracun dan puteranya menjadi marah. Mereka sibuk berteriak-teriak memberi
komando kepada para pengawal. "Semprotkan darah maut!" "Taburkan bubuk pencabut nyawa!"
"Bakar dupa setan sebanyaknya !" "Serang dengan jarum kalajengking!" Para pengawal sibuk
melaksanakan perintah-perintah ini, namun karena lima orang itu semua telah melumuri tubuh dengan
obat anti racun, juga sudah menelan obat mujijat dari Raja Obat Sakti atau juga terkenal dengan
julukan Tabib Sakti, se-dangkan Pek Lian dan Siok Eng telah dilindungi obat anti racun dari Tai-bongpai,
maka semua racun yang mengerikan itu tidak dapat melukai me-reka. Apa lagi dengan ilmu silat
mereka yang amat hebat itu, semua senjata dan racun dapat ditolak dan yang celaka bahkan para
tamu yang ikut me-ngeroyok. Yang terkena racun-racun itu berjatuh-an dan berkelojotan sekarat dan
tewas seketika da-lam keadaan amat mengerikan.
Melihat kehebatan lawan, Tikus Beracun dan puteranya lalu tiba-tiba menghilang. Mereka hen-dak
mempersiapkan diri untuk menjebak musuh-musuh yang amat tangguh itu agar terperosok ke dalam
terowongan rahasia mereka karena mereka maklum bahwa menghadapi mereka takkan mungkin
menang kalau hanya mengandalkan ilmu silat dan pengeroyokan.
Melihat mundurnya tuan rumah, para tamu yang memang sudah gentar menghadapi lima orang
pendekar itu, juga banyak yang mulai menjauhkan diri sehingga pengepungan tidak begitu ketat lagi.
Sementara itu, Pek Lian yang mencurigai kepergian Si Tikus Beracun dan puteranya, dengan cerdik
su-dah dapat menduga apa yang akan dilakukan oleh tuan rumah yang licik dan amat curang itu.
Tuan rumah telah menghilang, para pengawal juga mun-dur sehingga mereka berlima ditinggalkan di
ruang-an depan itu.
"Yap-locianpwe, harap hati-hati terhadap jebakan rahasia. Jangan sembarangan menginjak lantai
yang mencurigakan ahhhh!!"
Ia yang memperingatkan, akan tetapi ia sendiri bersama Siok Eng yang berdiri di sebelahnya yang
lebih dulu menjadi korban ketika lantai yang mere-ka pijak dan yang tadinya kokoh kuat itu tiba-tiba
saja bergerak dan mereka berduapun terjeblos ke bawah tanpa dapat mereka hindarkan lagi.
"Adik Lian, awas !!" Bwee Hong berteriak
dan gadis yang memiliki ginkang luar biasa hebat-nya ini sudah melesat ke depan, maksudnya Untuk
menolong Pek Lian dan Siok Eng, akan tetapi aki-batnya ia sendiripun ikut terjeblos bersama dua
orang dara itu !
Melihat betapa tiga orang dara itu telah terje-blos dan lenyap ke bawah, sedangkan lantai itu te-lah
menutup kembali, Yap-lojin menyambar tangan muridnya dan berkata, "Mari kita keluar!"
Mereka berdua meloncat dengan cepatnya, melayang untuk keluar dari pintu. Akan tetapi tiba-tiba
dari luar menyambar puluhan batang anak panah beracun ke arah mereka! Karena maklum bahwa
anak panah itu berbahaya sekali, keduanya terpaksa menangkis dan meruntuhkan senjata-senjata
rahasia itu dengan pukulan sakti, akan tetapi terpaksa pula mereka menurunkan kaki menginjak
ambang pintu dan merekapun terjeblos ke bawah karena lantai berikut pintunya juga terjeblos
dalam jebakan rahasia itu! Guru dan murid ini mengerahkan sinkang dan mereka berhasil berjungkir
balik, membuat poksai (salto) ke atas sehingga tubuh mereka yang sudah terjeblos ke bawah itu
mencelat ke atas lagi. Akan tetapi, kembali puluhan anak panah menyambar. Tentu saja mereka
terpaksa menangkis dan tubuh mereka jatuh lagi ke bawah dan lantai itupun telah tertutup kembali
ketika tubuh mereka meluncur ke dalam lubang yang amat gelap.
"Kerahkan ginkang!!" Yap-lojin masih sempat memperingatkan muridnya karena dia kha-watir kalaukalau
di bawah terdapat senjata-sen-jata runcing menyambut tubuh mereka. Hanya dengan
pengerahan ginkang yang hebat saja mere-ka dapat menghindarkan maut kalau terjadi hal seperti itu
dan paling banyak hanya akan menga-lami sedikit luka-luka pada kaki mereka, Tentu saja Yap Kiong
Lee yang sudah banyak pengalam-an di dunia kang-ouw itupun telah tahu akan hal ini sehingga tubuh
guru dan murid itu melayang turun dengan ringan. Akan tetapi, mereka merasa lega dan juga heran
karena kedua kaki mereka hinggap di atas tanah kering biasa, tidak ada sen-jata yang menerima
tubuh mereka. Mereka telah tiba di dalam sebuah terowongan, lorong di bawah tanah dan ada sinar
menerangi terowongan itu dari depan dan belakang.
dunia-kangouw.blogspot.com
Sebelum mereka mengambil keputusan ke mana mereka akan mencari jalan keluar, tiba-tiba terdengar
bunyi ledakan cambuk, disusul suara gemuruh dan mencicit. Suara tikus ! Dan kini nampaklah
tikus-tikus itu. Tikus-tikus itu berwarna coklat dengan kepala dan ekor berwarna putih. Kalau ha-nya
seekor dua ekor, tentu binatang-binatang itu merupakan tikus-tikus yang menarik, mungkin ba-gus
untuk dipelihara. Akan tetapi, yang muncul ini bukan seekor dua ekor melainkan ratusan dan ti-kustikus
itu luar biasa besarnya, bukan seperti tikus biasa. Juga mereka itu nampak ganas dan liar,
sambil mencicit mereka menyerbu maju, ratusan banyaknya, hampir memenuhi terowongan itu !
Melihat ini, guru dan murid cepat membalikkan tubuh dan melarikan diri dari tempat itu, menjauh.
Mereka mengikuti terowongan yang berbelak-belok itu dan akhirnya berhadapan dengan seorang
kakek berwajah putih menyeramkan yang berdiri di de-pan sebuah pintu baja. Kakek ini menyeringai
dan tangannya bergerak mencabut obor yang tertancap di atas pintu. Tiba-tiba pintu terbuka dan
ratusan, bahkan ribuan tikus putih menerobos ke-luar dan dengan bunyi bercicitan menyerbu ke arah
guru dan murid itu !
Yap-lojin adalah ketua Thian-kiam-pang yang sudah sering kali menghadapi penjahat-penjahat kejam
dan sudah sering menghadapi maut pula. dan Yap Kiong Lee juga seorang pendekar yang
berpengalaman. Namun belum pernah mereka menghadapi penyerbuan ribuan ekor tikus yang
kelihatan buas itu, maka mereka berdua terbelalak memandang dan merasa betapa bulu tengkuk mereka
meremang bergidik. Mereka meloncat ke be-lakang dan membalikkan tubuh hendak menjauh
kan diri, akan tetapi dari arah belakang, barisan tikus coklat yang tadi mengejar sudah datang, kini
digiring oleh seorang kakek yang berambut coklat penuh uban sambil tertawa-tawa. Karena berada di
jalan terowongan dan sudah terjepit dari depan dan belakang oleh dua barisan tikus, terpaksa Yaplojin
dan Yap Kiong Lee berdiri tegak beradu punggung saling membelakangi, memasang kudakuda
dan siap untuk membela diri menghadapi ri-buan ekor tikus itu. Diam-diam mereka mengerah-kan
tenaga sakti Thian-hui Khong-ciang dan be-gitu tikus-tikus itu sudah menyerbu dekat, kedua orang
guru dan murid ini lalu menggerakkan kedua tangan menyerang dan memukul ke depan. Terde-ngar
suara gemuruh angin pukulan dahsyat me-nyambar ke depan dan bagaikan petir menyambar
pukulan-pukulan sakti itu mengenai tikus-tikus dan batu-batu dinding. Tikus-tikus itu terpental dan
darah berhamburan, debu mengepul tebal.
"Hati-hati, Kiong Lee. Jangan sampai tero-wongan runtuh terkena pukulanmu!" teriak Yap-lojin
memperingatkan muridnya. Dia tahu bahwa muridnya itu marah dan pukulannya mengandung tenaga
dahsyat. Kalau sampai terowongan itu run-tuh karena pukulan muridnya, berarti mereka akan terkubur
hidup-hidup. Diam-diam guru ini amat kagum dan sayang kepada muridnya atau anak angkatnya itu.
Memang Kiong Lee memiliki bakat yang luar biasa sehingga dalam usia semuda itu te-lah mewarisi
ilmu-ilmu sakti dari perguruannya, bahkan hampir mencapai tingkat yang sama de-ngannya.
Puluhan ekor tikus tewas dan hancur terbanting kepada dinding terowongan, dan bau yang amat amis
dan busuk memenuhi udara, memusingkan kepala guru dan murid itu,
"Suhu, tikus-tikus ini beracun !" teriak Kiong Lee.
"Tentu saja! Lindungi hidung dengan saputa-ngan." Mereka lalu mengeluarkan saputangan dan
mengikatkan saputangan itu di depan hidung.
Akan tetapi, tikus-tikus itu sungguh nekat dan liar sekali. Biarpun guru dan murid itu sekali pukul
membunuh puluhan ekor, namun yang datang se-makin banyak. Mati sepuluh datang seratus! Dan
ribuan ekor masih berjubel-jubel di belakang se-perti berebut untuk dapat mengeroyok dua orang
manusia yang menjadi musuh mereka itu, atau juga merupakan calon-calon mangsa mereka.
Bau amis membuat mata mereka berkunang. Biarpun mereka sudah melindungi hidung dengan
saputangan, tetap saja hawa beracun tikus-tikus itu membuat mereka pengap dan sukar bernapas.
Memang, dengan pukulan-pukulan Thian-hui Khong-ciang, tikus-tikus itu tidak ada yang mam-pu
mendekat, akan tetapi sampai kapan mereka akan mampu bertahan ? Tikus-tikus itu tak ter-hitung
banyaknya, dan agaknya bukan liar atau bu-as lagi, melainkan sudah gila dan agaknya sebelum habis
sama sekali tidak akan mau mengaku kalah atau mundur. Dan tidak mungkin guru dan murid itu akan
sanggup bertahan demikian lamanya sam-pai tikus-tikus itu habis.
"Suhu, kita menyerbu satu jurusan saja membu-ka jalan darah !" Tiba-tiba Kiong Lee berkata, dan
gurunya menjadi kagum dan girang. Memang be-nar pendapat muridnya. Kalau mereka beradu
punggung, masing-masing menghadapi satu ba-risan tikus, berarti mereka terjepit dan harus medunia-
kangouw.blogspot.com
layani barisan itu sampai habis, yang agaknya tidak mungkin. Akan tetapi kalau mereka menyerbu
satu jurusan saja, dengan kerja sama mereka, agaknya mereka masih memiliki harapan untuk dapat
mele-paskan diri dari himpitan maut ini.
"Baik, aku membantumu !" Yap-lojin berseru dan diapun membalik setelah lebih dulu mengirim
pukulan dahsyat yang membuat tikus-tikus di de-pannya itu terlempar jauh ke belakang dan menjadi
kacau. Mempergunakan kesempatan ini, dia mem-balik dan membantu muridnya. Dengan pukulan
mereka berdua, tentu saja akibatnya lebih hebat lagi. Gabungan pukulan mereka membuat tikus-tikus
coklat itu seperti sekumpulan daun kering di-tiup angin badai. Ratusan ekor tikus terlempar saling
bertubrukan dan bertumpuk-tumpuk. Guru dan murid itu melakukan pukulan bertubi-tubi, lalu
meloncat dan menggunakan tumpukan bangkai tikus untuk menjadi batu loncatan, terus melarikan diri
setelah melompati barisan tikus coklat itu. Ka-kek penggiring tikus itupun tidak berani turun ta-ngan
menyerang, bahkan mepet di dinding karena merasa gentar melihat kelihaian guru dan murid itu.
Akan tetapi, diapun cepat membunyikan cam-buknya berdetak-detak dan tikus-tikus coklat itu.
diikuti oleh tikus-tikus putih, melakukan pengejar-an sambil mengeluarkan bunyi bercicitan riuh-rendah.
Udara di terowongan itu penuh dengan hawa beracun dari tikus-tikus itu. Yap-lojin dan Kiong Lee
merasa betapa kepala mereka pening sekali, akan tetapi mereka harus berlari terus kalau tidak ingin
celaka. Tiba-tiba mereka mendengar suara Pek Lian sayup-sayup memanggil-manggil.
Mereka berdua mempercepat lari mereka ke depan dan nampaklah oleh mereka tiga orang dara itu
berdempetan, berdiri ketakutan di sebuah ru-angan luas, dikepung oleh ribuan tikus yang ber-macammacam
bentuk moncongnya dan berma-cam-macam pula warna bulunya. Ada yang hitam, ada yang
kemerahan atau bintik-bintik. Tikus-tikus itu sungguh amat luar biasa banyaknya, sam-pai bertumpuktumpuk.
Dan dari jarak jauh, nam-pak beberapa orang kakek memegang cambuk yang dengan
berbagai gaya dan cara memerintahkan ba-risan masing-masing menyerang tiga orang dara itu.
Namun, sungguh aneh. Tikus-tikus itu agak-nya tidak berani menyerang, hanya memandang, mencicit
dan memperlihatkan taring dengan buas-nya tanpa berani maju menyerang. Tentu saja di-kerumuni
ribuan ekor tikus yang memperlihatkan sikap buas mengancam itu, tiga orang dara menja-di
ketakutan dan jijik sekali. Agaknya merekapun sudah bosan melawan tikus-tikus yang tiada
habishabisnya itu, lelah dan muak karena hawa beracun yang berbau busuk, apek dan amis.
"Yap-locianpwe tolonglah kami!"
Pek Lian berseru ketika melihat Yap-lojin dan Yap Kiong Lee berlarian datang.
Akan tetapi ia tidak tahu bahwa untuk menolong diri sendiri saja guru dan murid itu sudah kerepot-an
sekali. Kini tikus-tikus yang berada di ruangan itu, begitu melihat munculnya Yap-lojin dan Kiong Lee,
sudah membalikkan tubuh dan disertai suara mencicit riuh-rendah mereka semua menyerbu ke arah
Yap-lojin dan muridnya. Tentu saja guru dan murid ini menyongsong mereka dengan pukulan sakti
Thian-hui Khong-ciang. Kembali darah berhamburan ketika tikus-tikus itu dilanda pukulan sakti.
Akan tetapi binatang-binatang itu agaknya sudah sejak tadi menahan kemarahan mereka ketika
mereka secara aneh tidak berani menyerang tiga orang dara itu. Seperti sekawanan tikus kelaparan
melihat daging empuk tiga orang dara yang tinggal mengganyang saja namun ada sesuatu yang
mela-rang mereka atau membuat mereka tidak berani menyerang. Kini, mereka menumpahkan
semua kemarahan dan kerakusan mereka kepada dua orang pendatang baru ini. Bagaikan air bah
mereka itu menerjang datang. Tikus-tikus ini terdiri dari ber-macam-macam jenis, menyerang menjadi
satu, ri-buan banyaknya, disertai bau busuk menyengat hidung. Kembali guru dan murid itu
mengamuk, mengirim pukulan berantai bertubi-tubi, namun tikus-tikus itu makin banyak juga yang
datang menyerbu. Bau racun bercampur bau darah dan bau kotoran mereka sungguh membuat udara
di situ penuh racun.
Yap-lojin adalah seorang yang sakti, juga mu-ridnya amat gagah perkasa, dan tiga orang dara itiipun
bukan orang sembarangan. Di samping ini, mereka semua sudah menelan pel anti racun yang amat
mujarab. Namun, menghadapi bau yang ter-amat busuk ini, mereka tidak dapat bertahan lagi dan isi
perut mereka meronta, lalu mereka itu muntah-muntah!
Pek Lian yang memang sudah mempunyai pe-rasaan jijik terhadap tikus, dan di antara mereka
berlima itu dara inilah yang terhitung paling le-mah, tidak kuat dan muntah-muntah lalu jatuh terdunia-
kangouw.blogspot.com
duduk. Kepalanya pening bukan main. Untung ti-dak ada tikus yang berani menyerangnya, karena
kalau terjadi hal demikian, tentu ia dan dua orang kawannya tidak akan dapat melawan dan tentu
mereka akan dikeroyok dan diganyang sampai ha-bis oleh tikus-tikus itu. Mengerikan ! Syukur bah-wa
tidak ada seekorpun yang berani menyerang padahal begitu Yap-lojin dan muridnya muncul, semua
tikus berobah ganas dan menyerang dengan buas dan berani. Mengapa demikian ?
Dalam kepeningannya, sambil duduk bersandar dinding terowongan itu Pek Lian merenung. Apakah
karena mereka bertiga itu wanita maka tikus-tikus ini tidak berani menyerang ? Ah, mustahil!
Bukankah ketika pertama kali ia bertemu tikus-tikus itu bersama Siok Eng, iapun dikejar-kejar?
Kenapa sekarang ah, kenapa ia lupa ? Bukankah ia dan Siok Eng membawa bubuk putih yang
mereka bungkus dengan saputangan itu?
Bukankah bubuk putih itu merupakan racun anti tikus ? Benar ! Itulah sebabnya dan agaknya Siok
Eng yang demikian gagahnya akan tetapi demikian takutnya terhadap tikus sampai lupa pula akan hal
itu saking jijiknya menghadapi ribuan ekor tikus.
Kesadaran akan hal ini membangkitkan sema-ngat Pek Lian dan iapun membuka matanya. Dilihatnya
kedua temannya sudah terduduk dengan lemas pula, di kanan kirinya. Ketika ia melihat ke
depan, ternyata guru dan murid yang lihai itu ma-sih mengamuk, akan tetapi mereka berdua sudah
kepayahan, terhuyung-huyung dan mepet ke din-ding terowongan. Tenaga pukulan mereka tidaklah
sedahsyat semula. Agaknya mereka mulai kehabis-an tenaga atau keracunan oleh bau yang amat busuk
itu. Pakaian guru dan murid itu yang terbuat dari sutera putih, yang semula indah dan bersih, kini
sudah koyak-koyak dan berlepotan darah. Di depan kedua orang ini bertumpuk bangkai tikus dan
daging-daging tikus yang hancur berserakan.
Baunya amat menjijikkan dan penglihatan itu sung-guh amat mengerikan. Tikus-tikus itu masih terus
menyerbu, tiada habis-habisnya dan jauh di bela-kang mereka nampak kakek-kakek yang menjadi
pawang-pawang mereka itu memegang cambuk, mendorong anak buah mereka sambil tertawa-tawa
mengejek. Tikus-tikus itu mundur setiap kali dua orang guru dan murid memukul, akan tetapi apa bila
mereka berdua diam, mereka menyerbu. Ada beberapa ekor telah bergantung di pakaian gu-ru dan
murid itu, mati akan tetapi mereka masih mengait pada celana. Mengerikan!
Dengan tubuh lemah Pek Lian lalu mengeluar-kan bungkusan bubuk putih itu sambil berbisik kepada
Siok Eng, "Eng-moi kita lupa tidak mempergunakan bubuk anti tikus kita "
Siok Eng membuka matanya. Karena sinkang-nya jauh lebih kuat dibandingkan dengan Pek Lian,
maka iapun cepat dapat menguasai dirinya. "Aih, benar, enci!" Dan iapun cepat mengeluarkan saputangan
yang membungkus obat putih itu.
Dengan penuh harapan mereka lalu mengambil sejumput bubuk putih dan menyebarkannya ke arah
tikus-tikus yang mengurung guru dan murid itu. Dan begitu bubuk putih itu disebarkan, tikus-tikus
yang berada di dekat bubuk putih itu mencicit ke-takutan dan cepat pergi menjauh. Hal ini menggembirakan
hati dua orang dara itu yang cepat ber-jalan sambil menyebarkan bubuk putih, membuka
jalan ke arah Yap-lojin dan muridnya. Bwee Hong juga sudah bangkit berdiri dan memandang dengan
girang. Ia tahu apa artinya bubuk putih itu.
"Locianpwe, marilah mendekat ke sini !" kata Pek Lian. Yap-lojin dan Kiong Lee juga merasa girang
sekali. Melihat jalan terbuka, mereka berdua lalu berloncatan mendekat dan bersatu dengan tiga
orang gadis itu di dalam ruangan, sedangkan tikus-tikus itu mengurung agak jauh, tidak berani mendekat
lagi dan mereka itu gelisah karena di satu pihak, para pawang mereka membujuk mereka untuk
maju, akan tetapi bubuk putih itu membuat me-reka ketakutan dan memaksa mereka untuk
mundur menjauh.
Pek Lian berangkulan dengan Bwee Hong. Ba-ru sekarang mereka, dalam keadaan sama-sama
lemas, mendapat kesempatan untuk berdekatan.
"Enci Hong, akhirnya kita dapat berkumpul dan sama-sama menempuh segala bahaya lagi!" kata Pek
Lian sambil mencium pipi yang kemerahan dan halus itu dengan hidungnya. Bwee Hong membalas
dunia-kangouw.blogspot.com
ciuman itu dan kedua pipinya menjadi semakin me-rah karena Pek Lian bersikap sedemikian terbuka,
padahal di situ ada Yap-lojin dan terutama sekali Yap Kiong Lee.
"Ah, adik Lian. Sungguh aku berterima kasih kepada Thian yang telah mempertemukan kita kembali,
dan sekali ini engkau kembali telah menolong-ku dengan bubuk putihmu yang mujijat itu!"
"Hi-hik, bubuk ini adalah milik mereka," kata-nya sambil memandang ke arah para pawang. "Un-tung
adik Eng yang memperingatkan sehingga kami berdua membawanya dengan saputangan."
"Kita harus cepat-cepat keluar dari sini sebe-lum hawa beracun in'i membuat kita semua ping-san,"
Yap-lojin berkata. "Hawa beracun ini lebih berbahaya dari pada tikus-tikus itu sendiri."
"Ke mana kita harus pergi ? Lorong-lorong di sini penuh rahasia dan tikus-tikus itu" Kiong Lee
mengeluh.
Sementara itu, para pawang sudah memberi pe-rintah kepada tikus-tikus itu dengan bermacam
gerakan, suara dan ledakan cambuk. Dan tiba-tiba terdengar suara berdesis-desis dan beberapa macam
tikus jenis tertentu mengeluarkan semburan yang mengeluarkan bau yang luar biasa kerasnya,
membuat ruangan itu penuh dengan hawa beracun ! Lima orang itu merasakan ini dan kepeningan
me-nyerang mereka, membuat mereka terhuyung-hu-yung.
"Mari kita pergi" Yap-lojin memimpin kelompok itu meninggalkan ruangan se-telah dia menerima
saputangan berisi obat bubuk putih dari Pek Lian, sedangkan Kiong Lee juga menerima saputangan
berisi bubuk putih itu dari Siok Eng lalu dia berjalan di belakang. Dengan senjata bubuk putih ini,
mereka dapat keluar dari tempat itu. Akan tetapi keadaan mereka sudah payah, terutama sekali Pek
Lian yang paling lemah sinkangnya. Kepalanya terasa pening dan ia ter-paksa dipapah oleh Bwee
Hong dan Siok Eng yang lebih kuat sinkang mereka. Mereka semua merasa khawatir sekali. Biarpun
untuk sementara waktu, berkat khasiat bubuk putih, mereka terhindar dari maut karena tikus-tikus itu
takut menyerang me-reka, namun keadaan mereka begini lemah dan ka-lau sampai tuan rumah, Si
Tikus Beracun, turun ta-ngan, bagaimana mereka akan mampu bertahan ?
Pada saat yang amat gawat itu, Siok Eng ter-ingat akan botol berisi cairan kuning yang diambil-nya
dari dalam kamar merah, botol yang ada tulis-annya bahwa cairan kuning itu adalah obat pena-war
segala macam racun! Ia tadi sedang kebi-ngungan, karena biarpun Tai-bong-pai merupakan
perkumpulan para ahli racun, namun di antara obat-obat penawar racun yang dibawanya sebagai
bekal tidak terdapat obat untuk melawan hawa be-racun seperti yang dikeluarkan oleh tikus-tikus itu.
Kini ia teringat akan obat dalam botol yang diper-olehnya di kamar Tikus Beracun, maka dikeluarkanlah
obat itu. Setelah diperiksanya, sebagai se-orang ahli ia tahu bahwa obat itu dapat dipergunakan
dengan cara meminumnya, atau menciumnya atau mengoleskannya. Memang benar obat penawar
segala macam racun. Iapun mencobanya dan menciumnya dan seketika peningnya lenyap ketika
ia mencium bau yang agak harum itu,
"Ah, inilah obat penawarnya. Harap kalian men-cium dan menyedotnya secara bergilir," katanya.
Empat orang yang lain itu menjadi girang dan cepat menyedot dari botol cairan kuning itu dan
memang mujarab bukan main. Mereka sembuh dan merasa tubuh mereka segar kembali. Akan tetapi,
tiba-tiba Pek Lian jatuh terkulai.
"Celaka" keluhnya "obat bius" dan dara inipun sudah jatuh pingsan !
Siok Eng dan Bwee Hong terkejut, apa lagi ke-tika mereka berduapun tiba-tiba merasa lemas se-perti
dilolosi semua urat dalam tubuh. Mereka men-coba mempertahankan diri, namun terhuyung dan
akhirnya jatuh pingsan pula !
Terdengar suara pecut meledak-ledak dan de-lapan orang pawang tikus telah mengurung dan
menyerang dengan cambuk-cambuk mereka. Yap-lojin dan Yap Kiong Lee juga merasa betapa kelemahan
menyelubungi diri mereka, namun dengan pengerahan sinkang dan kemauan membaja, mereka
berdua masih dapat melakukan perlawanan dan dengan pukulan-pukulan sakti, mereka berdua
masih dapat menahan delapan orang itu sehingga me-reka tidak berani terlalu mendekat, hanya
mengan-dalkan cambuk-cambuk panjang mereka untuk menyerang dari jarak jauh.
Akan tetapi, betapapun mereka mengerahkan tenaga mengamuk, dari dalam ada suatu daya melumpuhkan
membuat guru dan murid itu menjadi bulan-bulanan patukan dan gigitan ujung cambuk
dunia-kangouw.blogspot.com
delapan orang anak buah Tikus Beracun itu. Keti-ka Kiong Lee terhuyung ke kiri, dia disambut oleh
pukulan beracun pawang tikus putih, sebuah pu-kulan keras yang menyambut dadanya.
"Bukkk ! !" Kiong Lee mengeluh dan terpental, kemudian terbanting ke dinding ruangan itu dan jatuh
terkapar dekat tubuh tiga orang dara yang sudah pingsan terlebih dulu. Pemuda ini tidak bergerak
lagi.
Tentu saja Yap-lojin merasa terkejut dan kha-watir bukan main. Dia tidak tahu apakah murid-nya
tewas atau hanya pingsan oleh pukulan yang keras tadi. Dia mengamuk dan mengerahkan sinkangnya,
namun tenaganya semakin lemah dan diapun terhuyung-huyung.
'Ha-ha-ha-ha ! Kiranya hanya sekian saja-kah kelihaian Yap-lojin yang terkenal sebagai ke-turunan
datuk utara Sin-kun Bu-tek itu ? Ha-lia-ha, tidak berapa hebat! Baru kau tahu seka-rang betapa
lihainya para jago dari Ban-kwi-to, ha-ha !" Ini adalah suara Tikus Beracun dan dia sudah berdiri di
situ bersama puteranya si Tikus Langit Kecil yang berdiri dengan sikap angkuh.
Yap-lojin berhenti memandang dan kepalanya terasa semakin pening. Matanya menjadi kabur dan
musuh-musuhnya hanya kelihatan samar-samar saja. Akan tetapi, kakek yang gagah perkasa ini tidak
mau menyerah begitu saja, sedikitpun dia ti-dak menjadi gentar. Nyawa empat orang muda yang
sudah roboh entah pingsan entah tewas itu, kalau masih ada, terletak dalam tangannya. Kalau dia
jatuh, mereka semua tidak akan tertolong lagi. Dia sendiri sudah lemah bahkan untuk berdiri tegakpun
sudah sukar, namun dia tidak memperlihatkan kelemahannya.
"Hemm, kalian majulah semua !" bentaknya.
"Tar-tar-tar-tarr!" Delapan orang pawang itu tetap tidak berani mendekatinya karena dari kedua
tangannya keluar hawa pukulan yang masih ampuh.
"Minggirlah kalian !" tiba-tiba Siauw-thian-ci membentak. "Biar kuhadapi tua bangka ini!"
Sikap Siauw-thian-ci angkuh dan sombong karena memang matanya yang kecil sipit akan tetapi tajam
itu sudah dapat melihat bahwa kakek itu sudah kehilangan tenaga saktinya dan gerakannya sudah
kacau dan lemah. Kalau tidak melihat de-mikian, mana dia berani omong besar ? Tadi dia sudah
menyaksikan sendiri kehebatan ketua Thian-kiam-pang ini. Bahkan ayahnya sendiri tidak mampu
melawan dan mengalahkannya. Melihat kelemahan kakek itu, Siauw-thian-ci dengan sikap
sombongnya, untuk pamer kepada anak buahnya, melepaskan cambuknya dan maju menyerang
Yap-lojin dengan tangan kosong! Melihat ini, biarpun dia sudah lemah dan terancam, Yap-lojin tidak
mau mencabut pedangnya. Kalau tadi dia tidak mencabut pedang ketika dikeroyok delapan, ada-lah
karena untuk menghadapi cambuk-cambuk lemas itu lebih baik menggunakan kedua tangan,
sekarang dia tidak mungkin dapat menggunakan pedang melihat betapa penyerangnya hanya bertangan
kosong saja.
Siauw-thian-ci menubruk ke depan dan me-ngirim pukulan kilat ke arah dada Yap-lojin. Ka-kek ini
mengenal pukulan berat, maka diapun cepat menangkis karena untuk mengelak, dia sudah ku-rang
gesit dan pandang matanya sudah kabur.
"Dukk !" Benturan kedua lengan yang keras itu membuat tubuh Yap-lojin terhuyung dan sebelum dia
mampu menguasai dirinya, Siauwthian-ci sudah menerjang lagi dengan tendangannya yang
mengenai pinggang lawan.
"Dess !" Tubuh kakek itu terpelanting.
Akan tetapi, kakek yang gagah perkasa ini masih bangkit kembali, hanya untuk menerima pukulan
yang mengenai lehernya, membuat dia jatuh lagi dan terkapar pingsan. Siauw-thian-ci menyeri-ngai
puas dan bangga, lalu memandang kepada ayahnya, sikapnya menanti perintah.
Si Tikus Beracun memandangi tubuh lima orang yang sudah tak bergerak di atas lantai itu, lalu dia
berkata, "Hemm, mereka ini orang-orang berbaha-ya. Bunuh saja mereka sekarang, tidak usah terlalu
lama dibiarkan hidup, hanya akan merongrong kita saja!"
"Akan tetapi, tiga orang dara itu muda-muda, cantik dan mulus, ayah, apa lagi yang berpakaian hitam
itu. Sayang kalau dibunuh begitu saja," kata Siauw-thian-ci, sikapnya ragu-ragu.
dunia-kangouw.blogspot.com
Tikus Beracun menyeringai dan mengusap ku-misnya yang hanya beberapa lembar, kumis tikus.
"Heh-heh, benar juga ! Tapi yang berpakaian hi-tam itu untuk aku. Kau ambil saja yang dua itu." Lalu
dia memandang kepada Yap-lojin dan mu ridnya. "Akan tetapi cepat bunuh dua orang itu, baru kita
bersenang-senang dengan tiga orang da-ra itu."
Siauw-thian-ci menyeringai, terkekeh girang dan dia menghampiri tiga orang dara yang sudah
terkapar tak bergerak itu. Tangannya digerakkan ke depan, ke arah dada Pek Lian, entah apa yang
hendak diperbuatnya.
Sebelum jari-jari tangan yang kurang ajar itu berhasil menyentuh baju, tiba-tiba terdengar ke-luhan
dan ternyata Kiong Lee siuman ! Pemuda ini mengeluh dan bangkit duduk, kepalanya digoyanggoyang
seperti mengusir kepeningan, matanya dibu-ka. Tentu saja Te-tok-ci dan Siauw-thian-ci
menjadi terkejut dan khawatir sekali.
"Anakku, bunuh saja dulu bocah itu !" teriak Te-tok-ci.
Tanpa menanti perintah kedua kalinya, Siauw-thian-ci mengerahkan tenaga pada tangan kanan-nya,
lalu dia menerjang ke depan, menghantam dengan pengerahan tenaga sepenuhnya ke arah ke-pala
Kiong Lee yang masih duduk dan masih nanar itu. Kiong Lee terkejut dan cepat mengangkat lengan
menangkis.
"Desss !" Benturan tenaga dahsyat itu mengakibatkan, tubuh Siauw-thian-ci terlempar ke belakang
sedangkan tubuh Kiong Lee yang baru saja siuman itupun terguling-guling. Akan tetapi pemuda ini
cepat meloncat bangun dalam keadaan sadar sepenuhnya, sebaliknya Siauw-thian-ci me-mandang
dengan muka pucat. Kiong Lee menoleh ke arah gurunya dan tiga orang dara itu. Melihat mereka
menggeletak pingsan, diapun marah bukan main dan dicabutnyalah sepasang pedang dari
punggungnya. Nampak sinar berkilat disusul dua gulungan sinar pedang menyambar-nyambar !
(Bersambung jilid ke XVII.)
Jilid XVII
SIAUW-THIAN-CI dan Te-tok-ci kaget setengah mati. Cepat-cepat mereka melon-cat ke sana-sini
untuk menghindarkan cengkeram-an maut melalui sinar pedang itu dan merekapun sudah mencabut
senjata masing-masing. Te-tok-ci mengeluarkan sebatang golok. Biarpun kelihat-annya sebatang
golok biasa saja, akan tetapi se-sungguhnya golok ini istimewa sekali. Bukan ha-nya terbuat dari
logam mulia yang amat kuat, akan tetapi juga diperlengkapi dengan alat-alat rahasia sehingga golok
ini dapat digerakkan dengan per menjadi memanjang atau memendek sesuka hati pemegangnya, dan
gagangnya dapat menyem-burkan jarum-jarum beracun. Selain itu, juga ga-gang golok itu diikat
dengan tali yang membuat golok itu dapat dilempar seperti golok terbang dan dapat kembali kepada
pemiliknya ketika tadinya ditarik. Sebuah senjata istimewa yang berbahaya sekali! Sedangkan Siauwthian-
ci lebih suka mempergunakan senjata kepercayaannya, yaitu cambuk panjang yang
mengandung rambut-rambut baja halus dan mengandung racun pula.
"Cringgg!" Sedikit bulu cambuk rontok ketika bertemu pedang.
"Tranggg ! !" Telapak tangan Te-tok-ci tergetar hebat. Ayah dan anak itupun terkejut dan
maklum bahwa pemuda pakaian putih itu sungguh merupakan seorang tokoh Thian-kiam-pang yang
amat lihai. Sepasang pedang itu kini menyambar-nyambar, membentuk dua gulungan sinar yang
panjang dan menyilaukan, seperti sepasang naga bermain di angkasa, menyemburkan maut!
Biarpun dikeroyok dua oleh tokoh pertama Tu-juh Iblis Ban-kwi-to dibantu puteranya yang ju-ga amat
lihai, namun Kiong Lee sama sekali tidak terdesak. Bahkan gulungan sinar pedangnya me-rupakan
bahaya besar bagi kedua orang pengero-yoknya, terutama sekali Siauw-thian-ci yang berkali-kali
terpaksa harus berlindung menyela-matkan diri di belakang ayahnya. Beberapa kali jarum-jarum
rahasia dari golok itu menyambar, namun hal itu sia-sia belaka karena semua jarum runtuh oleh sinar
dunia-kangouw.blogspot.com
pedang yang seolah-olah telah membentuk benteng sinar yang kokoh kuat. juga beberapa kali golok
itu melayang, terbang me-nyambar ke arah lawan seperti benda hidup, akan tetapi hampir saja
pedang di tangan Kiong Lee berhasil memukul jatuh golok itu sehingga pemi-liknya menjadi gentar
untuk melemparkannya lagi.
Sementara itu, tiga orang dara dan Yap-lojiri mulai bergerak dan mengeluh. Melihat ini, tentu saja Tetok-
ci menjadi khawatir sekali. Dia me-ngeluarkan seruan panjang dan bersama puteranya dia
menghilang di balik dinding yang ada rahasia-nya. Juga delapan orang pawang tikus telah
menghilang.
Kiong Lee cepat menolong gurunya dan tiga orang dara itu. Dengan totokan, dia mempercepat
kesadaran mereka. Dan mereka belima terheran-heran karena kini, setelah siuman, tenaga mereka
bukan hanya pulih kembali, bahkan merasa betapa tubuh mereka segar sekali, seperti orang yang
baru habis makan kenyang atau mandi air sejuk! Itulah khasiat dari cairan kuning yang mereka sedot
tadi! Cairan kuning itu membersihkan, bukan hanya membersihkan hawa beracun, akan tetapi juga
membersihkan darah dan rongga dada dan perut secara luar biasa sekali. Akan tetapi, saking kerasnya
obat ini, pemakainya memang biasanya terti-dur atau pingsan lebih dulu, seperti yang dialami
oleh mereka. Untung bahwa Kiong Lee yang ping-san terlebih dahulu sehingga dia lebih dahulu pula
siuman dan dapat menyelamatkan mereka berlima yang terancam bahaya maut.
Setelah ditinggalkan oleh Tikus Beracun dan anak buahnya, lima orang itu mulai mencari jalan keluar.
Akan tetapi, mereka berputar-putar menu-rutkan lorong bawah tanah dan tidak pernah ber-hasil
menemukan jalan keluar dari terowongan itu. Tiba-tiba Kiong Lee membungkuk dan mengam-bil
sesuatu dari atas lantai lorong.
"Aih, itu saputanganku !" tiba-tiba Pek Lian berkata sambil menerima saputangan itu dari Kiong Lee.
"Benar, saputanganku yang terjatuh tanpa kuketahui. Ah, aku ingat sekarang. Tak jauh dari sini
terdapat pintu rahasia keluar. Kita jalan lurus saja dari sini, jangan berbelok-belok. Saputangan ini
terjatuh ketika untuk pertama kalinya aku dan adik Siok Eng memasuki terowongan ini. Aku ter-lonjak
kaget ketika menginjak seekor tikus. Ingatkah engkau, adik Eng ?"
Siok Eng mengangguk dan merasa girang karena iapun ingat bahwa tak jauh dari situ terdapat jalan
keluar. Mereka lalu maju terus, kini Pek Lian di depan sebagai penunjuk jalan. Ingatan nona ini kuat
sekali sehingga tak lama kemudian mereka tiba di jalan buntu, tertutup oleh sebuah pintu baja. Pek
Lian mengamati pintu itu dan berseru girang.
"Nah, inilah pintu rahasia itu! Di balik pintu ini terdapat jalan keluar. Akan tetapi, aku tidak tahu rahasia
cara membukanya. Tentu ada alatnya. Mari kita sama-sama mencari alat rahasia untuk
membukanya."
"Biar kudobrak saja dengan kekerasan," kata Kiong Lee.
Gurunya mencegahnya. "Jangan. Pintu rahasia tidak boleh dibuka dengan kekerasan, karena kalau
hal itu dilakukan tentu akan mendatangkan baha-ya lain. Mari kita cari alat rahasia pembukanya itu."
Akan tetapi, sampai pusing dan bosan mereka mencari, tidak juga mereka dapat menemukan alat
rahasia pembuka pintu itu. Akhirnya mereka men-jadi bosan dan putus asa. "Kita cari jalan keluar lain
saja !" kata Bwee Hong.
"Nanti dulu " Pek Lian berseru dan ia teringat akan tempat lampu minyak di atas pintu baja di mana
tikus-tikus itu ditempatkan. Ia lalu meloncat ke atas, tangannya bergantung kepada celah-celah di atas
pintu dan meraba-raba. Benar saja, di atas daun pintu terdapat sebuah lubang dan di situ terdapat
pula sebuah lampu minyak. Ia mencoba untuk mencabut lampu itu, akan tetapi tidak bergoyang
sedikitpun. Lalu diputar-putarnya dan tiba-tiba terdengar suara berkerotokan dan daun pintu itupun
terbuka! Semua orang bersorak kegirangan.
"Engkau memang hebat, enci Lian!" Siok Eng memujinya ketika Pek Lian melompat turun.
"Sudahlah, mari kita lari ke pantai!" kata Pek Lian. Mereka berlima cepat berlari-larian menuju pantai,
Pek Lian dan Siok Eng menjadi penunjuk jalan karena kedua orang dara ini hendak mencari perahukecil
mereka, yaitu milik Tiat-siang-kwi, tokoh ke dua dari Tujuh Iblis Ban-kwi-to, perahu yang mereka
larikan itu. Begitu mereka menemukan perahu, mereka berlima segera naik ke perahu kecil itu dan
dunia-kangouw.blogspot.com
mendayungnya meninggalkan pulau. Pada saat itu, mereka melihat orang berbondong-bon-dong lari
ke pantai. Mereka telah ketahuan oleh Tikus Beracun dan anak buahnya, akan tetapi pe-rahu mereka
telah menjauh dan mereka telah aman dari gangguan iblis-iblis jahat itu.
"Ah, ternyata telah sehari penuh kita terkurung di dalam terowongan bawah tanah itu," kata Yap-lojin.
"Untung ada nona Ho Pek Lian, kalau tidak ah, agaknya aku orang tua ini sekarang hanya tinggal
nama saja. Aku dan muridku ini sungguh berhutang budi dan nyawa kepada nona Ho."
"Aih, Yap-locianpwe, bagaimana dapat bersi-kap sungkan begitu ? Di antara kita ini mana bisa
dikatakan melepas dan berhutang budi ? Aku bah-kan berterima kasih sekali dapat bertemu kembali
dengan enci Bwee Hong. Bagaimanakah enci Bwee Hong dapat muncul secara demikian tiba-tiba
bersama locianpwe di pulau iblis itu ? Aih, enci Hong, aku sudah putus harapan dan mengira eng-kau
telah benar-benar lenyap ditelan lautan ga-nas," kata Pek Lian.
"Sama saja dengan kekhawatiranku, adik Lian. Kusangka engkaupun sudah lenyap ketika aku tercebur
ke dalam lautan itu."
"Ah, aku kebetulan sekali bertemu dengan pera-hu adik Siok Eng dan ialah yang menolongku. Kemudian
ia mengajakku ke Pulau Ban-kwi-to itu karena ia hendak mencari setangkai bunga obat yang
hanya terdapat di sana. Dan engkau sendiri bagaimana, enci Hong ?"
"Akupun terapung-apung dan kebetulan ber-temu dengan perahu Yap-locianpwe sehingga be-liau dan
Yap-taihiap yang menyelamatkan aku. Karena mereka berdua sedang menuju ke Pulau Ban-kwi-to
untuk mencari putera Yap-locianpwe, maka akupun ikut dengan mereka. Sama sekali tidak pernah
kuduga bahwa di tempat pesta yang berbahaya itu aku akan bertemu dengan engkau dan adik Siok
Eng yang menyamar sebagai selir-selir cantik!"
Tiga orang gadis itu lalu bercakap-cakap de-ngan gembira setelah pertemuan yang sama sekali tak
tersangka-sangka itu, pertemuan yang menda-tangkan kegembiraan karena melihat kenyataan bahwa
teman yang disayangnya itu ternyata masih dalam keadaan selamat. Apa lagi setelah apa yang
mereka alami di terowongan itu dan kemudian mereka bersama berhasil menyelamatkan diri dari
ancaman bahaya maut.
"Nona Ho," akhirnya Yap-lojin berkata, "ka-lau nona mengetahui di mana adanya puteraku, harap
segera memberi tahu karena aku ingin sekali tahu di mana dia berada."
"Dia berada tak jauh dari sini, locianpwe. Di pulau kediaman Thian-te Tok-ong "
"Hemm, Si Kelabang Hijau tokoh ke lima dari Tujuh Iblis itu ?"
"Benar, locianpwe. Lihat, air laut di sini berwarna kekuning-kuningan dan berbau busuk."
"Memang begitu," kata Siok Eng yang banyak tahu tentang Ban-kwi-to karena sebelum berang-kat ia
telah mempelajarinya dari ayahnya. "Air laut di sini terkena pengaruh racun membusuk dari bangkaibangkai
dan tulang-tulang yang dibuang oleh Tiat-siang-kwi tokoh ke dua dari Tujuh Iblis. Tempat ini
sudah termasuk wilayahnya. Nah, itu pulau yang nampak gersang di depan, di sanalah raksasa itu
tinggal."
"Hemm, tempat mengerikan," kata Kiong Lee. "Tidak nampak pohon sama sekali. Hanya batu dan
pasir melulu. Tempat berbahaya !"
"Lebih baik kita berputar dan menghindari tem-pat ini. Bukan main busuk baunya."
Perahu didayung terus meninggalkan pulau ger-sang itu dan bau busuk itupun makin menghilang dan
kini air laut berobah warnanya menjadi agak kebiruan bercampur warna ungu, dan bau yang tadinya
busuk seperti bangkai itu kini berobah menjadi amis sekali, makin lama makin memuakkan! Semua
orang memencet hidung karena bau itu membuat orang ingin muntah.
"Daerah ini termasuk wilayah orang terakhir dari Tujuh Iblis Ban-kwi-to, yaitu suami isteri Im-kan
Siang-mo. Pulau kediaman mereka penuh dengan lumut dan rawa-rawa, banyak terdapat binatang air
dan binatang melata yang beracun sekali. Lihat, itu pulaunya sudah tampak dari sini," kata pula Kwa
Siok Eng puteri ketua Tai-bong-pai itu.
dunia-kangouw.blogspot.com
Karena ingin tahu, Yap-lojin mengajak mereka untuk mendayung perahu itu mendekati pulau, apa lagi
karena arus di situ kuat sekali. Tiba-tiba mereka mendengar suara mendengung-dengung dari atas
pulau dan nampaklah sekelompok lebah terbang lewat dan tercium bau wangi arak.
"Ahh lebah arak putih !" seru Yap-lojin
dan wajahnya berobah karena dia tahu betapa ja-hat dan berbahayanya lebah-lebah itu.
"Kurang ajar !" Tiba-tiba Kiong Lee memaki dan memalingkan mukanya agar tidak melihat apa yang
terjadi di atas pasir di pantai yang berdekatan. Akan tetapi, tanpa disengaja, seruannya itu bahkan
membuat tiga orang dara memandang ke arah pan-tai. Mata mereka terbelalak, muka mereka
berobah merah sekali dan cepat-cepat merekapun membu-ang muka. Apakah yang mereka lihat di
sana ? Dua orang manusia berlainan kelamin, seorang pria dan seorang wanita, sudah kakek dan
nenek, akan tetapi gaya dan lagaknya membuat orang-orang muda merasa malu. Mereka berdua itu
sedang bersendau-gurau bermain cinta di atas pasir dalam keadaan telanjang bulat!
Dua orang itu bukan lain adalah Im-kan Siang-mo, yaitu Bouw Mo-ko dan Hoan Mo-li, suami isteri
yang jahat seperti iblis dan yang tidak tahu malu itu, orang ke enam dan ke tujuh dari Tujuh Iblis Bankwi-
to. Ketika mereka melihat ada pe-rahu lewat, keduanya cepat mengenakan pakaian, lalu mereka
memaki-maki, mencak-mencak dan mencari perahu mereka untuk melakukan pengejar-an. Akan
tetapi, Yap-lojin dan rombongannya su-dah cepat meninggalkan pulau cabul itu !
Atas petunjuk Siok Eng, perahu itu kini memasuki daerah yang berbau semerbak harumi dan air laut
kini berobah warnanya, menjadi kemerahan! Siok Eng memperhatikan sekeliling lalu berkata, "Kita
telah memasuki daerah kekuasaan Jeng-bin Siang-kwi (Sepasang Iblis Bermuka Seribu), dua orang
wanita kembar yang menjadi tokoh ke tiga dan ke empat dari iblis-iblis itu. Mereka adalah sepasang
wanita cantik yang ganas dan kejam bu-kan main. Kesukaannya adalah mengumpulkan pe-mudapemuda
tampan."
"Heii ! Perahu kita oleng !" teriak Pek Lian.
Air laut nampak bergelombang dan perahu me-reka oleng ke kanan kiri. Tiba-tiba mereka merasa
perahu mereka tertumbuk sesuatu dan tergetar he-bat seperti dihantam oleh sesuatu dari bawah. Dan
di sekeliling perahu itu mendadak muncul moncong-moncong binatang yang bergigi tajam ma-cam
moncong buaya.
"Wah, perahu kita bocor!" teriak Kiong Lee "Cepat dayung perahu ke pulau !" teriak pula Yap-lojin dan
dia menggunakan dayung, dibantu muridnya, menghantam ke arah moncong-moncong buaya laut
yang tersembul di sekitar perahu. Akan tetapi, air mulai memasuki perahu dan untunglah bahwa tiga
orang dara yang mendayung perahu itu memiliki tenaga sinkang yang kuat sehingga pera-hu sudah
hampir mencapai pantai ketika air semakin memenuhinya. Merekapun berloncatan ke pan-tai. Perahu
tenggelam !
Sejenak mereka berlima berdiri bengong meman-dang ke arah perahu mereka yang tenggelam dan
perahu itu bergerak ke sana-sini seperti diserang oleh binatang-binatang buas itu di dalam air. Tak
lama kemudian, nampak pecahan-pecahan perahu mereka terapung di permukaan air.
Yap-lojin menghela napas panjang sedangkan gadis-gadis itu bergidik. "Untung kita sudah dekat
dengan pulau ini, kalau di tengah-tengah lautan bisa berbahaya. Sekarang kita harus berusaha mendapatkan
perahu lain."
Dengan hati-hati mereka berlima menyusuri pantai. Pulau itu merupakan pulau yang indah dan subur,
penuh dengan pohon-pohon yang hijau dan rimbun daunnya. Juga banyak pohon-pohon bunga
tumbuh di sana-sini, bentuk dan warnanya ber-macam-macam, selain indah dipandang, juga se-dap
dicium karena baunya harum semerbak.
"Kita harus hati-hati. Biarpun bunga-bunga itu kelihatan indah dan berbau harum, akan tetapi semua
itu beracun !" kata Siok Eng memperingat-kan. Bwee Hong dan Pek Lian memandang kagum dan
menjulurkan lidah.
Tiba-tiba Yap-lojin memberi isyarat dan me-reka semua cepat menyelinap dan bersembunyi di balik
pohon-pohon, mengintai ke depan. Dari ja-uh nampak dua orang wanita kembar sedang ber-jalan
dunia-kangouw.blogspot.com
mendatangi tempat itu, bergandeng tangan dengan dua orang pemuda. Kedua orang pemuda itu
kelihatan lesu dan loyo, mandah saja digandeng dan diajak berjalan ke manapun. Ketika mereka
sudah tiba agak dekat, Bwee Hong memegang ta-ngan Pek Lian. Nona inipun sudah mengenal kedua
orang pemuda itu. Yang seorang adalah kakak Bwee Hong, yaitu Chu Seng Kun, sedangkan pemuda
yang ke dua adalah A-hai, pemuda sinting yang aneh itu !
"Kakakku !" Bwee Hong berbisik, lirih
akan tetapi terdengar oleh empat orang kawannya.
"Ssttt !" Kwa Siok Eng memberi isyarat.
"Hati-hati, lebih baik kita membayangi mereka. Kelihatannya kakakmu itu keracunan, mungkin terbius
atau keracunan hebat karena racun peram-pas ingatan."
"Hemm, itukah kakakmu yang kaucari-cari itu?" tanya Yap-lojin
Kemudian langsung masuk ke dalam sebuah gedung, langsung memasuki ruangan belakang. Dua
orang pelayan wanita sibuk mengeluarkan hidangan di atas meja dan me-reka berempat lalu
berpesta-pora, makan minum Sepasang iblis itu dengan sikap manja dan genit beberapa kali
menyuguhkan arak kepada sepasang pemuda tampan, atau menyuapkan makanan de-ngan sumpit
mereka, dan kadang-kadang men-cumbu mereka. Melihat ini, kembali tiga orang dara itu menjadi
merah mukanya, akan tetapi seka-li ini Bwee Hong hampir tidak kuat bertahan dan ingin menyerbu
saja.
"Enci Hong, harap bersabar. Kita harus berha-ti-hati. Ilmu silat kedua orang iblis itu sih tidak perlu
dikhawatirkan, akan tetapi mereka itu licik sekali dan ilmu mereka tentang racun amat hebat. Apa
gunanya kita turun tangan menolong kakakmu kalau kemudian ternyata bahwa kakakmu keracun-an
hebat dan sukar ditolong nyawanya? Kedua orang pemuda itu jelas dalam keadaan tidak wajar.
Tentu ada sebabnya," bisik Siok Eng.
Pek Lian mengangguk-angguk. "Enci Hong. apa yang diucapkan Eng-moi itu memang benar. Kaulihat
saja A-hai itu. Dia adalah seorang yang wajar dan tidak mampu pura-pura, kini diapun kelihatan tidak
wajar dan seperti kehilangan akal. Aku yakin bahwa mereka berdua itu dalam keada-an terbius atau
terampas akal mereka oleh racun yang digunakan oleh dua iblis itu. Kita menanti saat yang baik."
Akan tetapi kini dua orang wanita kembar itu sudah bangkit dan menggandeng kedua orang pe-muda
memasuki sebuah kamar besar dan lima orang yang mengintai itu tidak dapat mengintai lagi.
Sebelum mereka tahu apa yang harus mereka la-kukan, tiba-tiba terdengar suara parau dari jauh.
"Siang-sumoi! Di mana kalian?"
Kemudian, terdengar langkah-langkah yang membuat lantai tergetar. Muncullah seorang rak-sasa
yang memasuki ruangan itu dan langsung ma-suk ke dalam kamar besar di mana dua orang iblis
cantik dan dua orang mangsanya tadi masuk.
"Kiong Lee, lihatlah apa yang terjadi di dalam, Biar kami menanti di sini dan baru turun tangan kalau
kauberi isyarat. Hati-hati, jangan semba-rangan bertindak."
"Baik, suhu !" Dan tubuh pemuda itu sudah mencelat ke atas, menerobos daun-daun pohon dan
hinggap di atas wuwungan rumah. Gerakan-nya gesit seperti terbang saja sehingga Bwee Hong yang
telah memiliki ginkang paling hebat itupun memandang kagum. Apa lagi Pek Lian yang paling rendah
tingkat kepandaiannya, memandang terbe-lalak. Siok Eng juga kagum memuji, "Bukan ma-in !"
"Dia memang anak yang baik dan patut dibang-gakan," kata sang guru sambil tersenyum. Yap-lojin
sengaja mengutus murid atau putera angkat-nya itu untuk melakukan pengintaian sendiri saja. Kalau
mereka berlima semua mengintai di atas wuwungan, tentu mudah diketahui lawan, dan se-lain itu,
yang terpenting baginya adalah agar tiga orang dara itu tidak usah melihat apa yang terjadi di dalam
kamar itu, yang diduganya tentulah adeg-an cabul yang tidak layak ditonton gadis-gadis seperti
mereka.
dunia-kangouw.blogspot.com
Kiong Lee mengintai ke dalam. Dari sebuah lubang di genteng dia melihat Seng Kun, kakak Bwee
Hong itu, rebah di atas sebuah kursi panjang sambil minum arak. Pemuda lain yang bertubuh tinggi
tegap berwajah tampan gagah, yang oleh Pek Lian disebut bernama A-hai, nampak tertelungkup di
atas meja, agaknya sudah mabok dan tertidur.
Di atas tempat tidur rebah dua orang wanita kembar itu, dengan pakaian hampir telanjang. Me-reka itu
cekikikan, entah apa yang mereka bicara-kan dan tertawakan.
"Siang-sumoi, di mana kalian ?" seruan lantang dari Tiat-siang-kwi, ji-suheng mereka itu mem-buat
mereka cepat bangkit dari tempat tidur. Akan tetapi sebelum mereka sempat membetulkan pakai-an
dalam yang awut-awutan itu, si raksasa sudah muncul dari luar memasuki kamar besar itu.
"Ha-ha-ha, Siang-sumoi, kalian sungguh tidak manis kepadaku ! Berkali-kali kalian menghindar-kan
diri, menjauhi aku dan tidak mau melayaniku seperti biasa, padahal dahulu kalian suka saling berebut
untuk melayaniku. Hemm, sejak kalian merampas dua orang bocah itu dari tangan San-hek-houw dan
Sin-go Mo Kai Ci, kalian seperti sudah lupa diri. Ini namanya mendapatkan keka-sih baru melupakan
yang lama. Jangan begitu, Siang-sumoi, sekali ini kalian harus melayani aku, untuk mengobati rinduku
kepada kalian yang su-dah bertumpuk-tumpuk !" Raksasa itu lalu me-langkah maju mendekat.
Kini dua orang wanita itu sudah berdiri berdam-pingan menghadapi si raksasa. Mereka memang
cantik dan bertubuh denok menggairahkan dan nampaknya usia mereka antara tigapuluh sampai
tigapuluh lima tahun.
"Ji-suheng, pergilah dan jangan ganggu kami. Kami sedang lelah" kata seorang di antara mereka.
"Biar lain hari saja kami melayanimu, ji-su-heng!" kata yang ke dua.
"Ha-ha-ha, kalian lelah karena susah payah membujuk dua orang muda yang keras kepala itu, ya ?
Ha-ha, kenapa susah-susah membujuk rayu orang-orang yang tidak mau. sebaliknya menolak orang
yang mau dan bergairah besar seperti aku ? Sudahlah, Siang-sumoi, kita panggang saja daging
kedua orang muda ini. Dagingnya kalau dipang-gang tentu lezat dan akan kuajarkan kalian makan
daging manusia yang selain lezat juga dapat men-datangkan kekuatan. Dan mari kalian layani aku,
mari kita main-main sepuasnya seperti dahulu !" Raksasa itu mengulur tangan hendak merangkul
mereka.
Akan tetapi dua orang wanita itu mengelak dan kelihatan marah. "Ji-suheng, ingat bahwa engkau
berada di tempat kami. Pergilah dan jangan gang-gu kami. Ataukah kami harus menggunakan kekerasan
?"
"Ha-ha-ha, apakah kalian juga ingin aku menggunakan kekerasan untuk bermain-main de-ngan
kalian?" Raksasa itu menubruk ke depan,. akan tetapi kedua orang wanita itu bukan hanya mengelak,
bahkan kini menyerang dari kanan kiri dengan hebatnya !
Terjadilah perkelahian mati-matian dalam ka-mar itu ! Walaupun mereka itu masih merupakan sekutu
bahkan saudara-saudara seperguruan, na-mun karena mereka adalah datuk-datuk kaum sesat yang
batinnya dipenuhi oleh nafsu pementingan diri sendiri, mereka saling serang dengan sungguhsungguh
dan mati-matian. Mereka tidak saling mempergunakan racun karena maklum bahwa hal itu
tidak berguna mengingat bahwa mereka bertiga itu sudah kebal racun, maka mereka berkelahi dengan
mempergunakan ilmu silat saja. Dan dalam hal ilmu silat dan tenaga, sepasang wanita kembar
itu harus mengakui keunggulan si raksasa.
Tiat-siang-kwi (Setan Gajah Besi) tertawa-tawa ketika dia mulai dapat melukai dua orang sumoi-nya
dengan pukulan-pukulan, tendangan dan ka-dang-kadang cengkeraman tangannya. Dia mera-sa
gembira bukan main dapat menghajar dua orang wanita itu. Tubuh yang hanya tertutup pakaian
dalam yang banyak memperlihatkan kulit tubuh yang mulus itu menjadi bulan-bulan pukulan, tamparan
dan tendangan, nampak lecet-lecet dan matang biru babak-belur. Bahkan darah mulai mele-leh
dari mulut dan hidung mereka. Hal ini mem-buat si raksasa semakin bernafsu dan gembira.
Tentu saja Tiat-siang-kwi tidak pernah men-cinta dua orang wanita itu dalam arti yang sesungguhnya,
baik mencinta sebagai pria terhadap wanita maupun mencinta sebagai saudara
dunia-kangouw.blogspot.com
terhadap adik-adik seperguruannya. Yang ada hanya nafsu dan kalau dia kadang-kadang bermain
cinta de-ngan mereka, sepenuhnya yang menjadi pendorong hanyalah nafsu berahi yang memperalat
orang lain demi pemuasan diri. Kini, nafsu berahinya agaknya telah berobah menjadi nafsu
kekejaman dan kesa-disan melihat tubuh yang mulus itu mulai babak belur dan berdarah.
Chu Seng Kun yang tadinya rebah di atas kursi sambil minum arak, memandang dengan sikap tenang
dan tidak acuh, akan tetapi A-hai yang ta-dinya tertelungkup di atas meja dan seperti tidur
nyenyak, kini sudah bangkit berdiri, mukanya men-jadi pucat melihat penyiksaan sadis yang dilakukan
oleh si raksasa itu terhadap dua orang wanita yang kini hanya dapat melawan dengan lemah saja.
Mu-lut A-hai komat-kamit dan terdengar dia menge-luh panjang pendek.
"Ahhh jangan berkelahi ...... jangan mem bunuh, ahhh jangan menggunakan kekerasan untuk
menyiksa orang lain" Ketika dia melihat darah bercucuran dari hidung dan mulut sepasang iblis
kembar yang cantik itu, A-hai menutupi mu-kanya dengan kedua tangan dan dengan terhuyunghuyung
seperti orang mabok diapun sempoyongan menuju ke arah pintu keluar.
"Ha-ha-ha !" Si raksasa terbahak dan dengan dua kali jotosan, tubuh dua orang wanita itu terpelanting
roboh dengan napas senin-kemis. Melihat betapa dua orang lawannya sudah tidak mampu
melawan lagi, dan melihat A-hai menuju ke pintu, Tiat-siang-kwi membentak, "Heh, kelinci tolol,
kau hendak lari ke mana ? Engkau kasihan dan-sayang kepada mereka, ya ? Pantas mereka tidak
mau lagi dengan aku. Huh, lihat saja nanti kalau sudah kuganyang dagingmu dan kuminum darahmu!"
Melihat raksasa itu mengejar ke pintu, ke arah A-hai yang hendak pergi meninggalkan kamar itu,
Kiong Lee sudah bersiap-siap. Dia tidak mungkin membiarkan raksasa itu membunuh pemu-da yang
kelihatan lemah itu. Akan tetapi, tiba-tiba terdengar siulan keras. Itulah siulan gurunya yang
memanggilnya ! Dia cepat menoleh dan meman-dang ke bawah. Kiranya di dalam gelap itu telah
terjadi pertempuran. Si Tikus Beracun dan Im-kan Siang-mo, suami isteri cabul itu, telah datang membawa
anak buah mereka. Melihat ini, Kiong Lee menjadi bingung, mana yang harus dibantunya lebih
dulu.
Terdengar suara gaduh di dalam kamar. Dia memandang dan dia mengerutkan alisnya. Ternya-ta dia
telah terlambat. Pemuda itu telah dihajar, terkena pukulan keras dari kepalan tangan yang besar dan
kuat dari Tiat-siang-kwi sehingga pe-muda itu terlempar menabrak meja, lalu jatuh tunggang-langgang
dengan darah mengucur dari luka di dahinya. Pemuda itu bangkit duduk, nam-pak nanar dan
tangannya meraba ke arah dahi yang terbuka.
Kembali terdengar siulan gurunya. Kiong Lee semakin bingung. Dia melihat betapa Tiat-siangkwi
sudah mencabut senjatanya, yaitu golok gergaji yang besar mengerikan. Agaknya raksasa itu benarbenar
hendak membantai dan menguliti pemuda itu. Pada saat itu, A-hai mengusap lukanya dan
ketika dia melihat tangannya penuh darah, juga mukanya menjadi berlepotan darah, terjadi perobahan
hebat pada dirinya. Matanya terbelalak, mencorong ganas, dan lidahnya terjulur menjilati darah yang
berlepotan di telapak tangannya sambil menggumam lirih, "Darah darah !" Melihat ini, Kiong Lee
terbelalak dan merasa kasihan sekali. Dia mengira bahwa tentu pukulan si raksasa tadi telah
mengakibatkan luka di dalam kepala pemuda itu sehingga dia mendadak menjadi gila!
Dan Tiat-siang-kwi sendiripun melihat ini dan si raksasa tertawa lalu menyimpan kembali goloknya.
"Ha-ha-ha, akan kubeset kulitmu dengan ku-ku jari tanganku saja, ha-ha-ha!" katanya dan tiba-tiba
kata-katanya terhenti dan matanya ter-belalak ketika dia melihat secara luar biasa sekali pemuda
yang menjilati darah dari telapak tangan-nya itu mendadak terbang! Ya, gerakan pemuda itu hanya
tepat disebut "terbang" karena tidak nampak dia membuat gerakan meloncat dan tahu tahu tubuhnya
sudah meluncur ke atas, ke depan dan menyerangnya. Kiong Lee sendiri terbelalak
melihat ini, sungguh penglihatan yang ajaib dan membuat dia merasa seperti dalam mimpi. Sementara
itu, Chu Seng Kun yang sedang minum arak itu masih enak-enak saja minum araknya da-lam
keadaan tidak sadar, terbuai dalam kemabokan mendalam.
"Haaaiiiittt!" Tiat-siang-kwi menangkis, bahkan menyambut serangan itu dengan hantaman tangannya
yang terbuka seperti cakar naga.
dunia-kangouw.blogspot.com
"Blaarrrrr !" Dua tenaga raksasa bertemu dan seluruh ruangan sampai ke atas genteng ter
getar hebat. Akibatnya tubuh raksasa sebesar gajah itu terlempar melayang menghantam dinding
sehingga dinding kamar itu jebol dan tubuhnya yang besar itu terbanting keluar !
"Adouuhh ehhh ohhh,, !" Si raksasa merangkak bangun, memandang dengan muka pucat dan mata
terbelalak melalui lubang besar di dinding kepada pemuda itu, kemudian membalikkan tubuh dan lari
tunggang-langgang! A-hai, yang sudah berobah menjadi buas itu segera mengejar melalui lubang di
dinding.
Kiong Lee mengucek-ngucek kedua matanya, lalu berkejap-kejap, masih belum dapat percaya akan
penglihatannya sendiri. Raksasa itu demikian lihai dan kuat sehingga dua orang sumoinya juga tidak
kuat melawannya. Akan tetapi apa yang telah terjadi sehingga sekali hantam saja A-hai telah
membuat tubuhnya terlempar keras membobolkan dinding dan membuat raksasa itu lari ketakutan ?
Siulan gurunya untuk ketiga kalinya membuat dia sadar. Dia cepat meloncat turun. Kiranya gup runya
dan juga tiga orang dara perkasa itu berada dalam keadaan berbahaya! Gurunya dikeroyok oleh Tikus
Beracun dan puteranya, sedangkan tiga orang dara itu berkelahi melawan kakek dan ne-nek cabul.
Tentu saja mereka berempat akan dapat mengalahkan lawan-lawan itu dengan mudah da-lam
keadaan biasa. Akan tetapi, mereka berempat itu kewalahan, bukan oleh lawan melainkan oleh ribuan
ekor lebah putih yang beterbangan di atas kepala mereka dan menyerang mereka dengan ga-nas
membuat empat orang pendekar itu benar-be-nar kewalahan. Bukan hanya bahaya penyengatan
mereka yang beracun itu yang mengkhawatirkan, melainkan juga suara mereka yang berdengung seperti
gemuruh air terjun itu membuat Yap-lojin dan kawan-kawannya panik. Bahkan ketika Kiong Lee
menyerbu, pemuda itupun segera dikeroyok oleh ribuan ekor lebah putih.
"Lari ke bawah pohon itu !" Tiba-tiba Yap-lojin berteriak dan empat orang muda itu mengerti
maksudnya. Kalau mereka berada di bawah pohon yang rindang daunnya itu, tentu lebah-lebah ini
akan kurang leluasa beterbangan di atas kepala mereka, atau setidaknya tentu jumlah mereka berkurang
karena sempitnya ruangan di atas kepala mereka. Maka mereka lalu memutar sebelah tangan
di atas kepala sedangkan tangan lain dipergunakan untuk menghadapi serangan musuh, dan merekapun
akhirnya berhasil menyusup ke bawah pohon walaupun Tikus Beracun, puteranya dan sepasang
suami isteri iblis itu mencoba untuk menghalangi mereka.
Akan tetapi, hanya sebentar saja mereka merasa lega karena benar-benar ribuan lebah itu tidak
begitu leluasa menyerang mereka, karena tiba-tiba Pek Lian menjerit-jerit dan diikuti oleh dua orang
gadis lainnya ketika kaki mereka dirambati semut-semut merah yang buas sekali! Semut merah beracun
yang buas. Repotlah mereka sekarang harus melawan musuh yang cukup berbahaya sambil
menghalau lebah-lebah dan menepuk mati semut-semut yang merayap ke mana-mana !
"Lari ke dalam rumah !" Kembali Yap-lojin memberi komando dan merekapun berlari-larian memasuki
ruangan di mana A-hai dan Seng Kun berada. Biarpun mereka masih dikeroyok oleh empat orang iblis
yang dibantu lebah-lebah mere-ka, namun kini mereka tidak sesibuk tadi. Lebih dari tiga perempat
bagian dari pasukan lebah itu kebingungan, tertahan di antara daun-daun pohon tadi. Sedangkan
yang masih mengeroyok mereka di dalam rumah juga tidak dapat bergerak leluasa. Melihat betapa
kawan-kawannya tidak kerepotan lagi, Bwee Hong segera lari menghampiri Seng Kun.
"Koko !" katanya sambil merangkul pemuda itu. Akan tetapi Seng Kun hanya memandang
kepadanya dengan sinar mata bingung karena kakak ini tidak mengenal adiknya lagi. Bwee Hong
cepat memeriksa denyut nadi tangan kakaknya dan setelah melakukan pemeriksaan, iapun mengerti
bahwa kakaknya berada di dalam pengaruh obat bius perampas ingatan yang amat kuat.
Pada saat itu, tiba-tiba nampak berkelebatnya orang ke dalam ruangan itu. Ternyata dia adalah si
raksasa yang melarikan diri dikejar oleh A-hai.
"Dess !" Tubuh raksasa itu tunggang-langgang mengacaukan pertempuran yang sedang
berlangsung.
"Aduh aduhh tobat! Aku menyerah!" teriaknya dengan suara parau dan mulutnya muntahkan darah
segar.
dunia-kangouw.blogspot.com
Akan tetapi, agaknya A-hai sudah seperti kese-tanan. Dia mengeluarkan suara gerengan buas,
tubuhnya melayang ke atas dan jari-jari tangan-nya terbuka, mencengkeram ke arah kepala raksa-sa
itu. Melihat ini, Kiong Lee terkejut. Bagaimana-pun juga, dia tidak ingin melihat pemuda aneh itu
menjadi seorang pembunuh keji, membunuh lawan yang sudah mengaku kalah dan bertobat. Dia menyayangi
pemuda luar biasa itu, maka untuk men-cegah agar A-hai jangan menjadi pembunuh keji,
diapun cepat menggerakkan tubuhnya dan meng-gunakan tangannya memukul ke arah lengan A-hai
yang terulur hendak mencengkeram kepala Tiat-siang-kwi itu.
"Dukkk !" Dua lengan bertemu, keduanya terisi tenaga sinkang yang luar biasa kuatnya. Akibatnya,
pukulan A-hai itu menyeleweng dan menghantam lantai di bawah, dekat kaki Tiat-siang-kwi.
"Blarrrr ...... !" Debu mengepul tinggi dan lan-tai itu berlubang besar. Semua orang terkejut dan
memandang kagum. Kiong Lee sendiri terkejut bukan main ketika lengannya bertemu dengan le-ngan
pemuda itu dan dia sudah meloncat ke bela-kang sejauh tiga meter. Kini dia berdiri tegak dan
memandang dengan mata bernyala. Hatinya terba-kar juga. Sebagai seorang pemuda perkasa, dia
te-lah menemukan tandingan. Kini kedua orang muda itu berdiri saling pandang, sama-sama tegap
dan gagah. Akan tetapi sepasang mata A-hai tidaklah sebuas tadi, agak meredup, agaknya ada
sesuatu yang meringankan kegilaannya yang kambuh itu.
Melihat ini, Pek Lian meninggalkan sepasang suami isteri tua yang masih bertanding melawan Siok
Eng dan iapun cepat menghampiri dua orang pemuda yang saling berhadapan dalam jarak tiga meter
seperti dua ekor ayam jantan yang hendak berlaga itu.
"Saudara Yap, dia tidak sadar akan apa
yang dilakukannya. Jangan layani dia!" Setelah berkata demikian, Pek Lian menghampiri A-hai.
"A-hai , lupakah engkau kepadaku ?"
A-hai memandang kepada Pek Liari, alisnya berkerut dan dia menggeleng kepalanya, akan teta-pi
walaupun dia tidak mengenal gadis ini, agaknya ada sesuatu yang membuat hatinya lunak dan pandang
matanya tidak seganas tadi.
Pada saat itu, tanpa diketahui orang lain, Tiat-siang-kwi yang nyaris melayang nyawanya kalau tidak
ditolong oleh Kiong Lee, tiba-tiba melompat dan menubruk Bwee Hong yang sedang memeriksa
keadaan kakaknya. Semua orang terkejut dan Pek Lian menjerit. Akan tetapi terlambat karena Bwee
Hong yang tidak mengira akan diserang itu, tahu-tahu telah dicengkeram bahu dan tangan kirinya. Ia
dibikin tidak berdaya dengan pukulan jari ta-ngan pada tengkuknya, dan kini kuku-kuku jari yang
runcing melengkung itu menusuk daging balut dan lengannya yang lembut. Darah mengalir ke-luar.
Sambil tertawa si raksasa itu menyeret Bwee Hong, dengan kasar dan buas, menjauhi Seng Kun
yang masih memandang dengan linglung. Sambil tertawa-tawa ganas, raksasa itu lalu mencengkeram
kaki Bwee Hong, diangkatnya dara itu dan iapun mengamuk, memutar-mutar tubuh Bwee Hong untuk
mencari dan membuka jalan keluar dan mem-bantu kawan-kawannya. Tentu saja Yap-lojin dan
teman-temannya menjadi khawatir dan cepat mundur, tidak berani menyerang karena takut kalaukalau
serangan mereka mengenai tubuh Bwee Hong yang diputar-putar itu. Mereka memandang
gelisah, tidak tahu bagaimana harus menghadapi lawan yang amat curang itu.
Akan tetapi, tiba-tiba terdengar suara geraman buas seperti keluar dari mulut seekor binatang liar.
Sepasang mata A-hai yang tadinya sudah mere-dup, berobah ganas lagi. Sepasang mata itu kini
memandang ke arah si raksasa dengan pandang mata buas, seperti mata harimau yang penuh nafsu
membunuh. Tubuhnya perlahan-lahan bergerak, berputar ke arah raksasa yang tertawa terbahakbahak
kegirangan melihat musuh-musuhnya yang tangguh itu menyingkir semua. Tiba-tiba, kedua
lengannya mengeluarkan uap putih dan begitu ta-ngan kirinya digerakkan ke depan seperti menusuk
ke arah kaki Tiat-siang-kwi, raksasa itu berteriak kesakitan dan kakinya terkulai, lututnya tertekuk. Dia
hanya merasa seolah-olah pahanya dihantam palu godam yang tidak nampak. Dia mencoba bangkit,
akan tetapi jatuh berlutut lagi. A-hai kembali menggerakkan tangan kanannya, kini mem-buat gerakan
membacok ke arah pundak. Kembali raksasa itu berteriak kesakitan dan lengan kanan-nya terkulai.
Tentu saja Bwee Hong terlepas jatuh ke lantai dan Siok Eng cepat menyambarnya dan memulihkan
jalan darahnya yang tadi tertotok.
dunia-kangouw.blogspot.com
Sementara itu, Yap-lojin yang sejak tadi meng-ikuti semua gerakan A-hai, ternganga dan tanpa
disadarinya dia menggeleng-geleng kepala dan
berkata, "Thai-kek Sin-ciang !"
Kiong Lee terkejut. Yang disebut gurunya itu adalah ilmu pukulan yang kabarnya hanya dimiliki dewa
saja, yang hanya terdapat dalam dongeng. Akan tetapi, melihat apa yang dilakukan oleh A-hai tadi,
dia percaya bahwa ilmu pukulan jarak ja-uh itu sungguh amat luar biasa.
Sikap A-hai sungguh luar biasa sekali. Setelah si raksasa roboh, kebuasannyapun lenyap dan kini dia
termangu-mangu memandang kepada Bwee Hong yang juga sudah bangkit berdiri dan meman-dang
kepadanya setelah terbebas dari totokan. Dan tiba-tiba saja, A-hai menangis ! Air matanya bercucuran
dan dia memandang kepada Bwee Hong melalui air matanya, kemudian diapun berlari ke
depan, menubruk kedua kaki itu dan menangis.
"Ibu ....... ibu ......!" A-hai meratap sambil
merangkul kedua kaki Bwee Hong. Sejenak suasa-na menjadi hening, akan tetapi melihat robohnya
adiknya yang ke dua, Te-tok-ci lalu mengeluar-kan aba-aba lagi dan semua anak buahnya berge-rak
lagi mengeroyok. Pertempuran pecah lagi dan kini pihak tuan rumah ditambah dengan dua orang
wanita kembar yang agaknya sudah pulih kesehat-annya dan sudah berpakaian. Yap-lojin memimpin
kawan-kawannya untuk melakukan perlawanan. Hanya A-hai dan Bwee Hong yang tidak
memperdulikan itu semua. A-hai masih merangkul kedua kaki dara itu sambil menangis.
Sejenak Bwee Hong menjadi bengong termangumangu. Akan tetapi, melihat penolongnya yang
memiliki kesaktian luar biasa itu kini berlutut di depannya sambil memeluk kedua kakinya dan menangis,
Bwee Hong membiarkannya saja. Sedikit banyak ia sudah mendengar dari Pek Lian tentang
pemuda aneh ini yang agaknya mengalami guncangan jiwa yang amat hebat. Melihat keadaan
pemuda ini, timbul rasa iba yang amat mendalam di hati Bwee Hong. Tak terasa lagi kedua tangannya
menyentuh dan membelai rambut kepala A-hai yang awut-awutan itu dan dengan suara halus ia mem
bujuk, "Jangan menangis!" Akan tetapi ia sendiri tidak dapat menahan menetesnya beberapa butir air
mata dari sepasang matanya karena terha-ru dan kasihan.
Mendengar suara halus ini, A-hai mengangkat mukanya. Air mata gadis itu mengalir turun dan
menetes dari wajahnya yang menunduk, jatuh me-ngenai dahi A-hai, mengalir turun bercampur dengan
air mata pemuda itu. Tiba-tiba tubuh A-hai bergetar. Agaknya ada suatu pergolakan jiwa ter-jadi
di bawah sadarnya dan tiba-tiba saja tangis-nya meledak, terisak-isak tak terkendalikan lagi.
Hati Bwee Hong semakin terharu. Ia merasa betapa pemuda itu merangkul kakinya sambil me-nangis
sesenggukan, membasahi sepatunya dengan air mata yang hangat. "Sudahlah harap jangan
menangis" bujuknya akan tetapi ia sehdiripun menangis.
Menghadapi peristiwa ini, semua orang menjadi bengong. Akan tetapi pada saat itu terdengar suara
berdengung nyaring, bergemuruh datang dari luar. Itulah suara pasukan lebah, pikir Pek Lian dengan
hati ngeri.
"Yap-locianpwe, kita harus cepat pergi dan sini !" katanya.
"Benar," kata Yap-lojin setelah tadi dia sendiri termangu menyaksikan hal-hal yang luar biasa itu.
"Kiong Lee, engkau mengendong Chu Seng Kun !"
Kiong Lee juga melihat datangnya ancaman ba-haya. Agaknya pihak lawan yang tadi mengundur-kan
diri karena merasa kalah kuat, kini telah me-nyusun kembali kekuatannya dan hendak datang
menyerbu. Maka diapun cepat menggendong Chu Seng Kun yang selain kehilangan ingatannya, juga
kelihatan amat lemah. A-hai kini tidak kelihatan lemah lagi walaupun dia juga seperti kebingungan dan
bahkan tidak mengenal Pek Lian. Akan tetapi, begitu Bwee Hong mengulurkan tangan dan berka-ta,
"A-hai, mari kita pergi dari sini." Diapun bang-kit dan kelihatan girang, seperti seorang anak kecil yang
diajak pesiar oleh ibunya.
"Mari ikut aku !" Pek Lian berkata cepat dan segera ia membawa rombongan itu melalui tero-wongan
di bawah laut yang menuju ke pulau Si
dunia-kangouw.blogspot.com
Kelabang Hijau, tokoh ke lima dari para penghuni Ban-kwi-to itu. Selagi mereka berlari-lari me-masuki
terowongan, terdengar suara Te-tok-ci dan anak buahnya mengejar dari belakang.
Akan tetapi, agaknya para pengejar itu juga ti-dak terlalu berani sehingga pengejaran mereka itu
dilakukan dari jarak jauh saja sehingga memudah-kan Yap-lojin dan rombongannya untuk melarikan
diri. Setelah mereka keluar dari mulut terowongan dan tiba di pulau tempat kediaman Kelabang Hi-jau,
Yap-lojin dibantu Kiong Lee lalu menggu-nakan tenaga sinkang mereka menggempur batu karang di
mulut terowongan sehingga batu-batu itu terbongkar dan terowongan itu. tertutup !
"Inikah pulau di mana puteraku berada ?" tanya Yap-lojin.
"Benar, locianpwe. Inilah tempat tinggal Thian-te Tok-ong atau Ceng-ya-kang Si Kelabang Hi-jau
tokoh ke lima dari Tujuh Iblis itu," jawab Pek Lian. Mereka lalu memasuki bangunan yang ber-ada di
tengah pulau. Akan tetapi, ternyata rumah itu kosong dan biarpun mereka telah mencari ke seluruh
pulau itu, namun mereka tidak dapat me-nemukan bayangan Si Kelabang Hijau maupun ba-yangan
Yap Kim. Tentu saja Yap-lojin dan kawan-kawannya menjadi kecewa sekali.
"Tentu iblis itu telah tahu akan kedatangan kita maka dia sudah lebih dahulu melarikan diri meng-ajak
putera locianpwe," kata Pek Lian.
Pada saat itu, terdengar bunyi terompet kapal ditiup nyaring. Mendengar ini, Kwa Siok Eng terbelalak.
"Ah, itu suara kapalku berada dalam ba-haya. Dayang-dayangku memanggil agar aku segera
kembali ke perahu kami."
Rombongan itu lalu berlari-lari ke arah di mana perahu besar Tai-bong-pai itu disembunyikan. Seperti
kita ketahui, ketika Siok Eng dan Pek Lian meninggalkan perahu, para dayang atau anak bu-ah Taibong-
pai itu oleh Siok Eng diperintahkan untuk menunggu dan bersembunyi di situ sampai ia kembali.
Ketika rombongan ini sedang berlari menuju ke pantai di mana perahu itu disembunyikan, di jalan
mereka bertemu dengan seorang anak buah Tai-bong-pai yang terhuyung-huyung dan mukanya
kehijauan. "Siocia perahu kita dirampas seorang gendut dan seorang pemuda" dan dayang itu
terguling dan terkulai, tewas.
"Si Kelabang Hijau!" Siok Eng berseru marah melihat tewasnya anak buahnya dengan muka
kehijauan itu. Ia tahu bahwa itulah akibat pukulan yang mengandung racun kelabang hijau yang amat
ganas. Mereka lalu mempercepat lari mereka ke arah pantai dan benar saja, di atas pe-rahu besar itu
nampak belasan orang anggauta Tai-bong-pai kewalahan menandingi seorang kakek gemuk pendek
dan berkepala gundul yang lihai sekali.
"Iblis keparat, berani engkau mengacau orang-orang Tai-bong-pai ?" Siok Eng membentak ma-rah
dan ia mendahului yang lain, menerjang ke atas perahu dan langsung menyerang kakek gundul
pendek itu.
"Plak-plak-plakk !" Tiga kali tamparan Siok Eng dapat ditangkis oleh Si Kelabang Hijau akan tetapi
kakek itu repot juga menghadapi kecepatan gerakan dara Tai-bong-pai ini.
"Wah-wah-wah, galaknya !" Dia berteriak-teriak dan berloncatan ke belakang. "Yapkongcu,
bantulah !"
Tiba-tiba berkelebat bayangan orang dari dalam bilik perahu dan seorang pemuda menerjang Siok
Eng untuk membantu kakek gendut pendek itu. Akan tetapi dari samping, Kiong Lee sudah meloncat
dan menangkap tangan pemuda itu sam bil berseru, "Sute !!"
Pemuda tampan itu menoleh dan terkejut bukan main melihat Kiong Lee. "Eh, toa-suheng!" te-riaknya
girang.
"Sute, lihat siapa yang datang !" Kiong Lee me-nunjuk ke kiri dan ketika Yap Kim menoleh, dia makin
terkejut dan girang.
"Ayah !" teriaknya sambil menghampiri
dunia-kangouw.blogspot.com
ayahnya dan menjatuhkan dirinya berlutut di depan kakek itu. Yap-lojin mengelus jenggotnya, dan
alisnya berkerut. Hatinya lega melihat puteranya dalam keadaan sehat dan selamat, akan tetapi
perasaannya tidak sedap melihat puteranya itu bersa-habat dengan iblis macam Kelabang Hijau,
bahkan tadi dilihatnya puteranya hendak membantu kakek iblis itu menghadapi Siok Eng.
"Hemmm, bagus sekali! Engkau bergaul de ngan segala macam iblis dan sekarang engkau malah
hendak membantu iblis Kelabang Hijau ini mela-wan kami ? Boleh, majulah dan lawanlah aku!" bentak
Yap-lojin dengan muka merah karena marah.
"Tapi tapi Tok-ong itu baik sekali, ayah!" Yap Kim berkata dengan muka pucat mendengar ucapan
ayahnya yang mengandung ke-marahan itu.
"Hemm , dia baik ? Orang yang mengatakan bahwa Tujuh Iblis penghuni Ban-kwi-to baik hanyalah
orang jahat, dan dia adalah tokoh ke lima dari Tujuh Iblis itu !"
"Tapi tahukah ayah ketika aku terluka oleh Raja Kelelawar dan hampir mati, kalau tidak ada Tokong
yang menolongku, tentu sekarang aku hanya tinggal nama saja. Aku berhutang nyawa padanya,
ayah, dan kulihat selama ini dia bukan orang jahat. Perahu ini milik orang-orang Tai-bong-pai,
bukankah perkumpulan itu termasuk perkumpulan kaum sesat, ayah ? Kenapa ayah dan suheng
malah berpihak kepada orang-orang Tai-bong-pai ?'"
Yap-lojin adalah seorang gagah perkasa yang berwatak adil. Mendengar ucapan puteranya itu, dia
termangu-mangu. Memang benar ucapan pu-teranya yang terakhir itu. Tai-bong-pai terkenal sebagai
perkumpulan hitam yang sesat, akan tetapi karena Siok Eng, puteri ketua Tai-bong-pai baik, diapun
menganggapnya baik. Agaknya demikian pula dengan puteranya, yaitu menganggap baik kepada
Thian-te Tok-ong karena Tok-ong bersi-kap baik, bahkan telah menyelamatkan nyawanya.
Sesungguhnya, baik atau buruk hanyalah pendapat yang berdasarkan penilaian dan penilaian tentu
saja amat pribadi, tergantung ke aku-an masing-masing. Dia menoleh dan melihat betapa Kelabang
Hijau terdesak hebat karena sekarang Kiong Lee membantu Siok Eng.
"Kiong Lee, bebaskan dia!" katanya. Mende-ngar bentakan ini, Kiong Lee melompat mundur, dan Siok
Eng juga menghentikan penyerangannya dan memandang dengan ragu.
Sementara itu, Thian-te Tok-ong meloncat turun dari perahu menghadapi Yap-lojin sambil tertawatawa.
"Ha-ha-ha-ha. Yap-lojin tidak suka kepadaku, hal itu tidaklah aneh ! Akupun ti-dak suka
kepadamu, dan tidak suka kepada para pendekar karena mereka itu adalah orang-orang sombong
sok suci ! Kami memang golongan jahat, akan tetapi setidaknya kami tidaklah berpura-pura suci.
Tangan kami memang kotor dan kami mengakuinya, tidak menutupinya dengan sarung tangan bersih!
Ha-ha-ha, terus terang saja, aku suka kepada Yap-kongcu karena dia tidaklah pura-pura suci seperti
para pendekar."
"Thian-te Tok-ong, Tujuh Iblis Ban-kwi-to sudah terkenal dengan kejahatannya. Orang yang suka
bermain dengan racun seperti engkau, mana bisa dibilang baik ?"
"Bagus! Bagus ! Memang sejak kecil aku sudah diajar bermain dengan segala macam binatang
beracun. Dan binatang-binatang beracun itu lebih baik dari pada manusia. Setidaknya, mereka itu
mempergunakan racun mereka untuk membela diri dan mereka tidak pura-pura. Sebaliknya, sikap
gagah dan baik, sikap manis dari manusia menyem-bunyikan racun yang lebih jahat dari pada
binatang beracun."
Siok Eng termangu mendengar ucapan itu, ucap-an yang sering kali didengarnya di antara para tokoh
Tai-bong-pai sendiri! Ucapan yang me-ngandung kepahitan hati orang-orang yang di-anggap
jahat dan kotor, dipandang dengan sinar mata menghina oleh para tokoh kang-ouw yang
menganggap diri mereka pendekar-pendekar bu-diman dan baik. Ia sendiri tidak setuju dengan tindakan-
tindakan kasar dan bengis dari orang-orang Tai-bong-pai, namun kadang-kadang terasa pu-la
olehnya betapa kaumnya itu dikesampingkan dan bahkan kadang-kadang dihimpit dan disudutkan
oleh orang-orang yang menganggap diri me-reka "baik".
Sementara itu, Yap-lojin merasa penasaran men-dengar kata-kata tokoh sesat itu yang jelas menyerang
pihak pendekar. "Tok-ong, apakah eng-kau hendak mengatakan bahwa kaum sesat lebih
benar dari pada para pendekar ? Kalian adalah orang-orang yang suka melakukan kejahatan, mengandalkan
kekerasan dan bertindak sewenang-we-nang, sedangkan kami para pendekar mempergudunia-
kangouw.blogspot.com
nakan kepandaian untuk menentang kejahatan dan membela pihak lemah yang tertindas. Bukankah
sudah jelas adanya garis pemisah antara kita ?"
"Ha-ha-ha, Yap-lojin, apa yang berbeda ? Kalau kami mempergunakan kekerasan dan membu-nuh,
kalian para pendekar juga menggunakan keke-rasan dan membunuh. Apa bedanya ? Dan garis
antara baik dan buruk, di mana letaknya ? Pula, apakah engkau hendak melupakan bahwa tanpa
adanya kami, kalian tidak akan ada ? Tanpa ada-nya Im takkan ada Yang, tanpa adanya buruk takkan
ada baik, tanpa adanya kanan takkan ada kiri ! Kekayaan dapat dinikmati hanya karena adanya
kemiskinan ! Kesehatan dapat dinikmati karena adanya penyakit, dan apa artinya ahli pengobatan
tanpa adanya racun-racun dan penyakit-penyakit? Ha-ha-ha, dipikir lebih mendalam, kalian para
pendekar yang suka sok suci ini sepatutnya berte-rima kasih kepada kami, karena sesungguhnya
kamilah yang mengangkat nama kalian sehingga di-puji-puji sebagai pendekar !"
Yap-lojin termangu bingung. Orang ini memi-liki kepandaian bicara yang luar biasa, pikirnya. Pantas
puteranya mudah terpikat. Dia menoleh kepada kawan-kawannya yang juga termangu bi-ngung
mendengar ucapan-ucapan yang langsung menyentuh hati mereka itu. Hanya A-hai seorang-lah yang
tidak acuh, juga Chu Seng Kun yang ma-sih "linglung".
Apa yang diucapkan oleh Thian-te Tok-ong atau Ceng-ya-kang Si Kelabang Hijau secara ugal-ugalan
itu memang sesungguhnya mengan-dung kenyataan-kenyataan yang patut untuk kita pikirkan. Di
dunia ini kehidupan manusia sudah terbelenggu dengan kuatnya oleh dua hal yang se-lalu
bertentangan. Baik-buruk, senang-susah, ka-ya-miskin, pintar-bodoh, sorga-neraka dan se-lanjutnya.
Keduanya merupakan lingkaran setan yang saling kait-mengait mempermainkan batin manusia
sehingga setiap saat terjadilah konflik da-lam batin antara yang satu dengan yang lain. Di antara
semua dualisme itu yang terbesar menggun-cang dunia dan manusia adalah perang dan damai.
Karena adanya perang orang rindu akan perdamai-an, lalu menggunakan segala cara, kalau perlu dengan
cara berperang pula, untuk mencapai keda-maian ! Padahal, kalau tidak ada perang, tidak
seorangpun membutuhkan damai! Jadi, bukan
damai yang perlu dikejar-kejar, melainkan perang yang perlu dihentikan atau dibuang jauh-jauh.
Demikian pula dengan golongan yang baik dan yang jahat. Kaum pendekar yang "baik" ini menentang
kaum yang dianggap jahat, kalau perlu dengan jalan kekerasan, bahkan membunuh. Akan
tetapi, mungkinkah kejahatan dapat dibunuh atau dibasmi ? Orangnya tentu dapat dibunuh atau disiksa,
akan tetapi kejahatan itu letaknya bukan di luar atau di tubuh, melainkan di dalam batin! Jadi, yang
diobati haruslah batinnya kalau kita ingin melihat kejahatan lenyap. Kejahatan seperti penya-kit, harus
kita usahakan agar penyakitnya itu le-nyap.
Bagaimanapun juga, setelah kita terseret ke da-lam kebudayaan seperti sekarang ini, di mana kita
terbelenggu oleh dualisme-dualisme yang saling berlawanan, kita dapat melihat bahwa segala hal-hal
negatip ini bukannya tidak ada manfaatnya ! Karena adanya kebodohan maka timbul gairah un-tuk
belajar. Karena ada kemiskinan maka timbul perjuangan untuk memperoleh kemajuan dalam materi.
Karena ada ancaman neraka maka timbul usaha untuk memperoleh sorga, dan sebagainya. Dan
apakah artinya kekayaan kalau tidak ada ke-miskinan ? Kalau kita semua manusia di seluruh dunia ini
kaya, siapakah yang akan dapat menik-mati kekayaan lagi ? Kalau tidak ada kebodohan, apa lagi
artinya menjadi orang pintar ? Bahkan setelah kita memasuki lingkaran setan dalam kebuda-yaan kita
sekarang ini, jangankan orang-orang ma-cam Tujuh Iblis itu, bahkan Setan sendiripun bukan tidak ada
manfaatnya! Adanya Setan menjadi pendorong bagi manusia untuk berpaling dan men-cari Tuhan!
Andaikata tidak ada Setan, andaikata tidak ada dosa, mungkinkah manusia mencari Tu-han lagi ?
Untuk apa ?
Karena ucapan Si Kelabang Hijau itu menda-tangkan kebingungan, maka Yap-lojin lalu berseru
kepada puteranya, "Kim-ji, katakan saja, engkau hendak ikut ayahmu pulang ataukah engkau akan
tinggal bersama dia selamanya ? Jawab !"
Yap Kim kebingungan. Selama dia berkelana bersama Kelabang Hijau, dia merasakan kehidupan
yang lain. Dia merasa bebas dan tidak ada ikatan apapun, tidak ada penghalang-penghalang berupa
peraturan-peraturan dan pantangan-pantangan, hidup bebas seperti burung di udara, melakukan apa
saja yang dibisikkan oleh hatinya, bicara apa saja yang dikehendaki hatinya. Akan tetapi, sejak kecil
dia digembleng oleh ayahnya untuk menjadi pendekar dan dia tahu bahwa jawabannya ini akan
merupakan keputusan. Dan bagaimanapun senang-nya hidup seperti ketika dia berkelana dengan Kedunia-
kangouw.blogspot.com
labang Hijau, tidak mungkin dia dapat melepaskan ayahnya begitu saja.
"Aku ikut bersama ayah," jawabnya lirih.
"Kalau begitu, mari kita pergi dari neraka ini! kata Yap-lojin.
"Silahkan naik ke perahu kami, locianpwe," ka-ta Siok Eng dan semua orang naik ke dalam perahu
besar itu. Dayung digerakkan, layar dipasang dan perahu itu meninggalkan pantai pulau diiringi suara
ketawa bergelak-gelak oleh. Kelabang Hijau yang berdiri di pantai dengan kedua kaki terpentang lebar
dan kedua tangan di pinggang. Tak seorangpun di atas perahu itu melihat betapa kedua mata
kakek pendek gendut itu menjadi basah ketika dia melihat Yap Kim ikut terbawa pergi oleh perahu itu.
Perahu itu melaju dengan cepatnya. Layar ter-kembang penuh didorong angin. Semua orang me-rasa
lega hatinya. Ho Pek Lian bergidik, merasa ngeri hatinya.
"Ih, aku tidak mau lagi pergi ke pulau-pulau itu. Benar-benar mengerikan sekali! Heii, kenapa gatal
amat ?" Iapun menggaruk punggung tangan-nya dan melihat bercak-bercak putih. Teriakan-nya
disusul oleh teriakan Siok Eng dan Bwee Hong.
"Celaka, ini racun lebah putih itu !" seru Siok Eng.
"Saya saya kedinginan" kata seorang anggauta Tai-bong-pai kepada Siok Eng.
"Saya juga, nona" kata yang ke dua dan disusul oleh yang ke tiga. Muka mereka pucat ke-hijauan
dan tubuh mereka menggigil.
"Hemm, itu tentu pukulan Si Kelabang Hijau, pukulan beracun kelabang hijau!" kata pula Siok Eng.
"Hemm, kakiku juga terasa panas dan gatal ga-tal !" Kiong Lee juga berkata dan ketika dia menyingkap
celananya, kakinya nampak ada totol-to-tol merah.
"Gigitan semut merah !" seru Siok Eng. "Racun-nya juga jahat sekali!"
Semua orang kebingungan, akan tetapi Yap-lo-jin tetap tenang dan tiba-tiba dia bertanya kepada Pek
Lian dan Siok Eng, "Bukankah kalian masih mempunyai obat penawar racun cairan kuning dari Bankwi-
to itu ?"
"Aihh, benar ! Kenapa kita lupakan obat
itu, adik Eng ?" teriak Pek Lian yang memegang lengan Siok Eng. Puteri ketua Tai-bong-pai ini-pun
menjadi girang dan cepat mengeluarkan sisa obat cairan kuning yang diambilnya dari kamar Te-tok-ci
itu. Semua orang yang keracunan diberi obat ini dan sungguh amat luar biasa sekali! Agak-nya
memang obat itu khusus dibuat oleh Te-tok-ci untuk melawan segala macam racun yang ada di Bankwi-
to, karena begitu memakai obat ini, se-mua orang sembuh. Bahkan Chu Seng Kun dan A-hai juga
sembuh dari kehilangan ingatan mereka, walaupun tubuh mereka, terutama Seng Kun, masih terasa
lemah !
Begitu keduanya diberi minum obat ini, kedua orang pemuda ini segera tertidur pulas setengah
pingsan, demikian pula yang lain-lain karena ke-rasnya obat itu bekerja. Orang terakhir yang siu-man
dari pingsannya adalah A-hai dan Seng Kun Akan tetapi karena A-hai memang sudah lebih dulu
linglung, maka ketika sadar diapun masih tetap lupa segala, kecuali Pek Lian dan Bwee Hong! Begitu
melihat Pek Lian, dia tersenyum dan cepat bangkit berdiri, memandang dengan wajah berseri.
"Engkau nona Pek Lian !" katanya girang. Pek Lian juga memandang dengan tersenyum manis.
"A-hai, engkau sudah sembuh !"
Akan tetapi A-hai memandang ke sekeliling dan ketika dia melihat Bwee Hong, terdengar se-ruan
heran dan kaget di kerongkongannya dan dia-pun melangkah maju menghampiri gadis ini, memandang
bengong lalu berkata bingung, "Nona .... nona ?"
Bwee Hong tersenyum, mengangguk. "Namaku Chu Bwee Hong."
dunia-kangouw.blogspot.com
"Chu Bwee Hong, Chu Bwee Hong"
A-hai berulang-ulang menyebut nama itu lirih-lirih seperti seorang anak kecil sedang menghafal tiga
buah huruf baru. Semua orang memandang kepadanya dengan hati kasihan sekali, akan tetapi,
sungguh Pek Lian merasa heran kepada diri sendiri mengapa sikap A-hai itu mendatangkan rasa
tidak enak di hatinya! Ia merasa seolah-olah tidak di-perdulikan lagi oleh A-hai dan pemuda itu kini
duduk dekat Bwee Hong seperti seekor anjing yang tidak mau jauh dari majikannya! Ia merasa iri
ataukah cemburu ? Ia sendiri tidak tahu, akan tetapi yang jelas, ia merasa betapa hatinya tidak sedap.
Seng Kun sadar paling akhir karena dialah yang paling banyak terkena racun dari Kepulauan Ban-kwito.
Begitu sadar dia bangkit duduk dan terhe-ran-heran melihat semua orang berkumpul di da-lam
perahu, merubungnya. Akan tetapi, wajahnya berseri gembira ketika dia melihat adiknya.
"Hong-moi !"
"Koko !" Dara yang cantik jelita itu membiarkan dirinya dirangkul oleh kakaknya.
"Nona Ho ! Dan engkau saudara A-hai! Syu-kurlah kalian juga selamat!" kata Seng Kun. Akan tetapi
dia melihat Yap-lojin, Kiong-Lee dan juga Siok Eng. Alisnya berkerut memandang Yap-lojin dan Kiong
Lee yang tak dikenalnya.
"Koko, ini adalah Yap-locianpwe, ketua Thian-kiam-pang dan ini adalah saudara Yap Kiong Lee,
putera beliau. Mereka berdua telah menyelamat-kan aku dari ancaman bahaya tenggelam di lautan."
"Ah, sungguh besar budi ji-wi yang telah me-nyelamatkan nyawa adikku," ' kata Seng Kun yang cepatcepat
menjura dengan hormat. Tentu saja Yap-lojin dan muridnya cepat membalas penghor-matan
itu.
Pada saat itu, terdengar suara halus, "In-kong, kami menghaturkan selamat dan hormat."
Seng Kun memandang dan dia melihat seorang gadis cantik bersama semua anak buah perahu yang
terdiri dari wanita-wanita cantik, berlutut di de-pannya ! Seng Kun mengerutkan alisnya dan dia tidak
ingat lagi kepada gadis cantik itu.
"Koko, ia adalah Kwa Siok Eng, puteri dari ke-tua Tai-'bong-pai yang pernah kita obati dahulu itu."
"Ahhh !" Seng Kun teringat dan kedua
mukanya menjadi merah. Dia bukan hanya merasa jengah teringat kepada dara yang hampir mati,
yang diobati olehnya dan oleh ayah bundanya yang ter-nyata kemudian hanyalah paman kakeknya
suami isteri, dan pengobatan itulah yang mengakibatkan matinya dua orang tua itu. Dia merasa
jengah mengingat betapa gadis ini dahulu telanjang bulat di depan matanya ketika diobati, akan tetapi
di samping rasa malu-malu ini, juga dia teringat akan kematian paman kakek dan isterinya itu, yang
su-dah dianggapnya sebagai orang tua sendiri.
"In-kong (tuan penolong), perkenankanlah saya menghaturkan terima kasih atas pertolongan in-kong
dahulu, yang in-kong lakukan dengan pe-ngorbanan yang teramat besar."
Seng Kun menggerakkan tangan menolak. "Su-dahlah, nona, harap jangan memakai banyak peraturan
dan sungkan-sungkan. Kita berada di an-tara teman sendiri dan sudah seharusnyalah kalau
selagi hidup kita saling bantu-membantu."
Sikap yang sederhana dan halus dari pemuda ini mendatangkan rasa kagum dalam hati Yap-lojin
dan muridnya, apa lagi mengingat bahwa pemuda inilah ahli waris utama dari ilmu-ilmu sakti yang
dimiliki oleh mendiang Raja Tabib Sakti!
Kalau semua orang ikut terharu menyaksikan adegan ini, adalah A-hai yang bersikap tidak per-duli,
bahkan seperti orang bingung dia hanya duduk memandang wajah Bwee Hong yang cantik jelita itu,
membuat Bwee Hong kadang-kadang tersipu malu, akan tetapi membuat hati Pek Lian merasa
semakin tidak enak saja.
Malam itu lewat tanpa peristiwa yang berarti. Perahu mereka melaju, cepat sekali menuju ke ba-rat,
ke arah daratan besar. Karena lautan cukup tenang dan angin kuat, perahu mereka dapat mela-ju
dunia-kangouw.blogspot.com
dengan amat cepatnya. Setelah berlayar sehari lagi, menjelang senja mereka sudah dapat melihat
daratan besar, merupakan garis hitam di barat. Tentu saja hati mereka merasa gembira setelah lama
mereka merantau di lautan ganas dan di anta-ra pulau-pulau yang mengerikan. Hanya dua orang
yang nampak tidak gembira, yaitu Yap Kim dan Pek Lian. Agaknya pemuda putera tunggal ketua
Thian-kiam-pang itu merasa kehilangan kebebas-annya setelah dia kembali ke "dunia sopan" di mana
dia terikat oleh peraturan-peraturan, tidak seperti ketika dia berada di dunianya Si Kelabang Hijau
yang serba bebas. Sedangkan Pek Lian me-rasa gelisah memikirkan ayahnya yang juga belum dapat
ditemukan, walaupun ia telah berkumpul kembali dengan Seng Kun dan Bwee Hong.
"Heiiii! Perahu besar di depan !" Tibatiba
terdengar teriakan wanita penjaga di atas. Semua orang keluar dari bilik dan memandang
kedepan. Benar saja, remang-remang nampak sebuah perahu besar di depan, bahkan kini perahu
besar itu mulai menyalakan lampu lampunya yang cuku banyak.
"Eh, itu perahu Mongol yang dipimpin orang-orang bermuka merah dan berambut putih itu!" Tiba-tiba
Pek Lian berseru.
"Benar sekali, adik Lian!" seru Bwee Hong.
"Di mana engkau mendengar suara ayahmu itu, nona Ho ?" tanya Seng Kun dengan hati tertarik. Dia
sudah mendengar dari Pek Lian dan Bwee Hong tentang pengalaman mereka ketika berpisah
darinya.
"Kalau begitu, kita harus menolong Menteri Ho !" kata Yap-lojin yang juga berjiwa gagah dan sudah
lama kagum kepada menteri itu. Sejak da-hulu dia memang tidak suka kepada keluarga kaisar, dan
inilah sebabnya mengapa dia sampai cekcok dengan isterinya karena isterinya, bibi dari kaisar,
mengajaknya menghambakan diri kepada kaisar. Sejak dahulu Yap-lojin berpihak kepada para
pendekar dan orang gagah yang menentang kelaliman, maka kini mendengar bahwa mungkin Menteri
Ho yang dikaguminya itu tertawan musuh dan berada di perahu besar di depan, timbul sema-ngatnya
untuk menolong menteri itu.
"Kita kejar perahu di depan !" katanya penuh semangat dan sikapnya ini tentu saja menggirang-kan
hati Seng Kun, Bwee Hong, dan Pek Lian yang memang bertugas untuk menyelamatkan Menteri Ho.
Layar cadangan dipasang dan perahu melaju cepat menyusul perahu besar di depan.
"Ayah, aku mendengar bahwa orang-orang dari utara itu bukan orang Mongol asli dan mereka adalah
ahli-ahli di lautan. Kulihat perahu besar itu tentu kuat sekali dan banyak anak buahnya. Perahu kecil
kita dengan tenaga kita yang sedikit ini mana dapat menang ? Pula, perlu apa kita men-campuri
urusan orang lain dan menanam permu-suhan dengan mereka ?" Yap Kim berkata.
Mendengar ucapan putera kandungnya ini, se-pasang mata Yap-lojin melotot. "Apakah engkau tidak
tahu siapa adanya Menteri Ho itu ? Dia ada-lah seorang patriot besar, seorang menteri yang setia dan
bersih, jujur, berani menentang kelaliman kaisar dan pembela rakyat jelata. Dan kau bilang
mencampuri urusan orang lain kalau kita kini hen-dak menyelamatkannya dari tangan musuh-musuhnya
yang menawannya ? Sungguh ucapan yang tolol sekali. Tolol!"
Yap Kini menarik napas panjang. "Maaf, ayah. Bukan maksudku untuk bersikap pengecut dan tentu
aku akan membantu ayah dengan taruhan nyawa. Hanya kupikir, bodoh sekali dan sama se-kali
bukan gagah kalau nekat menyerbu lawan yang jauh lebih kuat. Dan agaknya di dunia ini terlalu
banyak terjadi permusuhan karena pencampurta-nganan pihak ke tiga."
Sang ayah tidak membantah lagi walaupun amat marah karena ketika itu, perahu mereka telah berdekatan
dengan perahu besar di depan yang agak-nya juga memperlambat pelayaran dan menanti
mereka. Dan tiba-tiba saja, para perajurit di atas perahu besar itu bersorak-sorak dan menghujan-kan
anak panah ke arah perahu para pendekar! Bukan anak panah biasa, melainkan anak panah yang
membawa api! Jarak mereka sudah terlam-pau dekat untuk serangan anak panah, akan tetapi masih
terlampau jauh untuk meloncat dan menyer-bu, maka para pendekar sibuk menangkis anak pa-nah
yang datang seperti hujan itu. Melihat A-hai sama sekali tidak mampu mengelak atau menang-kis,
dunia-kangouw.blogspot.com
Bwee Hong sudah memutar pedangnya melindungi pemuda ini yang kelihatan ketakutan dan bingung.
Para anak buah perahu sibuk memadam-kan kebakaran-kebakaran yang diakibatkan anak panah api
itu, dan karena kesibukan ini, maka be-berapa orang di antara mereka roboh terkena anak panah.
Keadaan menjadi kalut, apa lagi ketika ke-bakaran makin menghebat dan layar sudah terma-kan api,
juga tiang layar dan perahu itupun mulai terbakar ! Sukar meloncat ke perahu musuh yang memang
sengaja menjauh itu, maka tiada pilihan lain, para pendekar itu berloncatan ke air yang gelap !
Pek Lian gelagapan. Di dalam hatin ya ia me-ngeluh. Kenapa ia harus terlempar ke air lautan lagi ?
Apakah sudah menjadi nasibnya untuk mati di lautan ? Ia menggerakkan kaki tangannya ber-usaha
berenang ke arah perahu besar di mana didu-ga ayahnya berada. Ia ingin naik ke perahu besar itu
dan mengamuk, kalau perlu mati demi membela ayahnya. Akan tetapi, perahu besar itu setelah
melihat perahu kecil terbakar, lalu cepat menjauh-kan diri dan terdengar sorak-sorai para perajurit itu
yang merasa memperoleh kemenangan besar. Pek Lian tidak mampu mengejar perahu itu dan ia
hampir kehabisan tenaga dipermainkan gelombang.
Tiba-tiba terdengar seruan, "Adik Lian, ke si-nilah !"
Remang-remang dilihatnya Bwee Hong dan dua orang lain di atas atap perahu mereka. Atap ini masih
utuh, akan tetapi perahunya entah lenyap ke mana, juga entah ke mana perginya orang-orang lain.
Pek Lian mengerahkan sisa tenaganya dan akhirnya terengah-engah ia berhasil mencapai atap
perahu itu dan dibantu oleh Bwee Hong dan dua orang itu yang ternyata adalah Seng Kun dan A-hai,
iapun naik dan terkapar di atas papan dalam keadaan setengah pingsan.
"Nona Pek Lian! Nona Pek Lian!!"
Suara itu terdengar sayup-sayup, seperti pang-gilan orang dari jauh, dan ia mengenal benar suara
itu, karena selama ini, suara itu hampir selalu ter-ngiang di dalam telinganya. Suara A-hai! Pek Lian
merasa seolah-olah ia terbawa oleh air, ha-nyut di atas perahu kecil, makin jauh meninggalkan A-hai
yang juga berada di atas perahu lain dengan seorang dara jelita yang bukan lain adalah Bwee Hong !
Dan A-hai memanggil-manggilnya. Ah, betapa ingin hatinya menjawab panggilan itu, dan betapa
inginnya untuk dekat dengan pemuda yang sejak semula telah menimbulkan rasa iba dan suka
bercampur kagum di dalam hatinya. Akan tetapi, kini A-hai bersama dengan Bwee Hong dalam
sebuah perahu dan ia tahu betapa akrab hubungan antara mereka. Ia tidak ingin menjadi penghalang,
tidak ingin menyaingi Bwee Hong! Maka iapun tidak menjawab dan membiarkan perahunya hanyut
makin jauh meninggalkan A-hai. Hatinya seperti ditusuk rasanya dan tak tertahankan lagi, iapun
menangis terisak-isak ! Padahal, tidak mudah bagi pendekar wanita ini untuk menangis!
"Nona Pek Lian !" Kembali terdengar seruan A-hai, sekali ini suaranya terdengar amat dekat.
"Adik Lian, engkau kenapakah ?" Tiba-tiba terdengar suara Bwee Hong, juga dekat sekali.
Pek Lian membuka kedua matanya dan melihat betapa A-hai dan Bwee Hong berlutut di dekat-nya,
mengguncang-guncang tubuhnya yang basah kuyup dan kedinginan itu. Ia masih terpengaruh mimpi
tadi, mengira bahwa mereka berdua berha-sil mengejarnya dan kini berada di atas perahunya dan
berusaha menghiburnya. Keramahan mereka bahkan menambah perih pada luka di hatinya, maka
iapun menggerakkan kedua lengannya meno-lak dengan halus dan berkata dengan nada suara sedih,
"Biarkan aku-sendiri ah, biarkan aku sendiri dalam kemalanganku hu-huhuuhhh "
Dan iapun terisak menangis karena ia segera teri-ngat akan ayahnya dan merasa betapa sengsara
hidupnya.
Seng Kun memberi isyarat kepada adiknya dan A-hai untuk membiarkan dara itu menangis. Pe-muda
ini dapat menduga apa yang menyebabkan Pek Lian berduka, tentu karena teringat akan ayahnya,
pikirnya. Tentu saja dia tidak dapat menduga lebih mendalam dari pada itu. Setelah tangis Pek Lian
agak mereda, diapun menghibur.
"Nona Ho, harap engkau dapat menenangkan hatimu. Bagaimanapun juga, aku tidak akan ber-henti
berusaha untuk menemukan kembali ayahmu. Hal itu merupakan tugasku, perintah dari sri bagin-da
kaisar sendiri."
dunia-kangouw.blogspot.com
Pek Lian sadar akan kelemahannya. Iapun bangkit duduk, menyusut air matanya, memandang
dengan sinar mata bersyukur kepada Chu Seng Kun dan menarik napas panjang. "Harap kalian
maafkan kelemahanku tadi," katanya kepada Bwee Hong, sedangkan A-hai diam saja, memandang
bingung karena dia tidak mengerti urusan.
Perahu istimewa mereka itu dipermainkan ge-lombang samudera dan karena mereka berempat tidak
berdaya, merekapun hanya dapat menyerah-kan nasib mereka kepada lautan luas. Mereka mencaricari,
namun tidak pernah dapat melihat tanda-tanda tentang teman-teman mpreka yang lain. Tidak
ada bayangan seorangpun di antara teman-teman uriereka. Padahal mereka begitu banyak. Kwa Siok
Eng dengan anak buahnya, Yap-lojin, Yap Kiong Lee dan Yap Kim. Apakah mereka semua itu telah
menjadi korban dan ditelan lautan ?
"Mudah-mudahan saja mereka dapat tertolong, seperti juga kita," kata Seng Kun menghibur hati Pek
Lian dan Bwee Hong yang merasa gelisah dan berduka kalau membayangkan malapetaka menimpa
teman-teman mereka itu.
Akan tetapi, pada keesokan harinya, begitu matahari terbit, mereka bergembira sekali melihat
daratan begitu dekatnya ! Daratan besar ! Perahu mereka yang dipermainkan gelombang itu ternyata
telah dihanyutkan oleh gelombang menuju pantai. Seperti pulih kembali tenaga mereka dan dengan
wajah cerah mereka mendayung perahu yang se-sungguhnya bukan perahu melainkan atap perahu
itu, mendekat tepi. Mereka hanya menggunakan tangan saja untuk mendayung, akan tetapi karena
mereka adalah pendekar-pendekar yang memiliki kekuatan hebat, mereka berhasil juga mendayung
perahu atap itu sampai kandas ke pasir. Mereka berlompatan dan dengan pakaian basah kuyup
mereka tiba di daratan.
Chu Seng Kun dan A-hai masih lemah walau-pun mereka sudah sembuh. Agaknya, pemuda sinting
itu pada dasarnya memiliki tubuh luar biasa yang jauh lebih kuat dibandingkan dengan Seng Kun,
karena tubuhnya tidaklah selemas Seng Kun yang benar-benar harus banyak istirahat untuk
memulihkan kembali tenaganya.
Mereka berempat duduk di tepi pantai ketika tiba-tiba hidung mereka mencium bau harum du-pa !
Cuping hidung mereka kembang-kempis dan mereka menoleh ke kanan kiri. Pantai lautan itu sunyi
dan tidak nampak adanya manusia lain, na-mun jelas bahwa yang tercium oleh miereka itu adalah
bau dupa harum. Pek Lian dan Bwee Hong saling pandang dan berbareng mereka berbisik, "Dupa
harum kaum Tai-bong-pai!"
"Adik Siok Eng selamat !" kata Pek Lian
girang karena mengira bahwa tentu dara puteri ketua Tai-bong-pai itu yang mengeluarkan bau dupa
harum seperti ini.
Akan tetapi, mereka berempat memandang de-ngan curiga dan khawatir ketika muncul belasan orang
laki-laki kasar yang dipimpin oleh seorang pria berusia kurang lebih tigapuluh tahun yang
berperawakan kurus. Orang ini juga kelihatan ka-sar dan menyeramkan. Pakaiannya serba putih,
rambutnya awut-awutan dan kaku, mukanya se-perti muka mayat saja, pucat dan jarang bergerak.
Wajah itu sebetulnya tampan, akan tetapi karena pucat dan tak bergerak seperti mayat, maka menyeramkan
sekali. Begitu tiba di situ, belasan orang itu segera mengurung dan bau hio semakin
keras.
Empat orang itu bangkit berdiri dan Pek Lian cepat menjura ke arah pemuda yang seperti mayat itu.
"Kami adalah sahabat-sahabat dari adik Kwa Siok Eng. Di manakah dia ? Apakah ia selamat?"
Akan tetapi, pertanyaan ini agaknya membuat belasan orang itu marah-marah. Mereka menge-pal
tinju dan memandang dengan sikap mengan-cam. Pek Lian tidak tahu bahwa pertanyaan keselamatan
merupakan pantangan bagi para anggauta Tai-bong-pai! Mereka itu menganggap diri mereka
sebagai keluarga kuburan, sebagai orang-orang yang telah mati, maka pertanyaan tentang
kesela-matan itu seperti ejekan atau penghinaan saja bagi mereka ! Pemuda pucat itupun marahmarah
dan tanpa banyak cakap dia sudah mengeluarkan tong-katnya dan menyerang Pek Lian.
"Eh, eh gila !" Pek Lian cepat mengelak, akan tetapi sambaran tongkat itu lihai bukan main
seolah-olah tongkat itu bernyawa dan terus mengikuti ke mana ia mengelak, sampai Pek Lian
terpaksa bergulingan menyelamatkan diri.
dunia-kangouw.blogspot.com
"Manusia jahat!" Bwee Hong membentak sam-bil menotok dari belakang ke arah punggung pe-muda
miuka pucat itu. Akan tetapi, biarpun totok-an yang dilakukan oleh Bwee Hong itu bukan sem-barang
totokan melainkan ilmu keturunan dari Si Tabib Sakti, ternyata pemuda itu mampu mengelak dengan
cekatan ! Diam-diam Bwee Hong terke-jut juga, dan maklumlah dara perkasa ini bahwa ia berhadapan
dengan seorang lawan yang amat tangguh.
Pek Lian dapat bernapas lega karena serangan bertubi-tubi tadi tidak dilanjutkan dan kini pe-muda
mengerikan itu telah ditandingi oleh Bwee Hong yang jauh lebih lihai dari padanya. Akan te-tapi ia
sendiripun tidak dapat tinggal enak-enakan karena belasan orang sudah mengeroyoknya dengan
sengit. Kiranya para anggauta Tai-bong-pai itu membencinya karena pertanyaan keselamatan tadi!
Tentu saja Pek Lian melawan mati-matian dan untung baginya bahwa tingkat kepandaian para
anggauta Tai-bong-pai ini tidaklah sehebat pe-muda muka pucat itu. Biarpun demikian, repot jugalah
ia karena dikeroyok oleh belasan orang ka-sar dan ia sendiri bertangan kosong. Pedangnya telah
hilang ketika ia terlempar ke lautan.
Keadaan Bwee Hong sama buruknya dengan Pek Lian. Ternyata pemuda kurus pucat itu lihai bukan
main ! Dan makin kagetlah hati Bwee Hong ketika melihat betapa pemuda itu mengeluarkan ilmu-ilmu
yang mujijat dari Tai-bong-pai, ilmu-ilmu yang pernah didengarnya. Begitu sebuah pu-kulan
menyerempet lengannya, ia melihat lengan bajunya menjadi merah dan ternyata darah telah keluar
dari lubang pori-pori kulit lengannya! Tahulah ia bahwa itu adalah ilmu mengerikan dari Tai-bong-pai
yang disebut Pukulan Penghisap Darah! Dan tenaga pemuda kurus itu sungguh membuatnya pening,
karena tenaga sinkang yang amat kuat itu mengeluarkan bau asap hio wangi! Selain Tenaga Sakti
Asap Hio ini, yang membuat keringat pemuda itu berbau dupa, juga ilmu silatnya aneh dan
mengerikan. Tentu itulah yang dina-makan Ilmu Silat Mayat Hidup karena kadang-ka-dang gerakan
pemuda itu kaku seperti mayat hidup. Hanya dengan kelebihan ginkang (ilmu meringan-kan tubuh)
sajalah maka sampai sekian lamanya Bwee Hong masih mampu mempertahankan diri dan tidak
sampai terkena pukulan-pukulan ampuh itu. Entah mana yang lebih berbahaya, sinar tong-kat yang
menyambar-nyambar itu ataukah cengke-raman tangan kiri itu.
"Jangan berkelahi ah, jangan berkelahi....!"
A-hai berteriak-teriak kebingungan, mengangkat kedua tangan ke atas dan lari ke sana ke sini.
Dengan matanya yang bersinar tajam, Seng Kun dapat melihat bahwa adik kandungnya terancam
bahaya besar. Pukulan-pukulan orang kurus pucat itu sungguh amat ampuh dan dia tahu bahwa
sekali terkena pukulan itu, tentu adiknya akan terluka parah dan mungkin akan keracunan. Dia sendiri
masih amat lemah, tenaganya belum pulih benar, akan tetapi tentu saja tak mungkin dia mendiamkan
adiknya terancam bahaya tanpa membantu. Meli-hat betapa adiknya ini hanya dapat mengelak ke
kanan kiri mengandalkan kegesitannya, Seng Kun lalu meloncat ke depan dan membantu adiknya,
mengirim pukulan yang merupakan tamparan ta-ngan kanan ke arah leher pemuda kurus pucat itu.
Hebat tamparan ini dan si muka pucat terkejut,
lalu diapun menggunakan lengan kiri menangkis sambil mengerahkan tenaga.
"Wuuuuttt ! Plakkk ! !"
Pertemuan dua tenaga sinkang yang kuat itu amat hebat dan seandainya keadaan Seng Kun sehatsehat
seperti biasa, belum, tentu dia kalah kuat. Akan tetapi, dia masih belum pulih benar kesehatan
dan kekuatannya, maka pertemuan tena-ga itu tidak dapat tertahan oleh tubuhnya yang masih lemah.
Dia terdorong ke belakang dan terpelanting ke atas tanah, sedangkan si muka pu-cat itu hanya
terhuyung mundur.
Jilid XVIII
dunia-kangouw.blogspot.com
KOKO !" Bwee Hong menubruk kakaknya yang terengah-engah bangkit duduk itu, dan A-hai juga
mendekatinya. Juga Pek Lian yang masih menghadapi pengeroyokan belasan orang anggauta Taibong-
pai itu menengok. Perbuatan ini mencelakakan dirinya karena tahu-tahu belasan orang telah
menubruknya dan betapapun ia meronta, tetap saja ia tertangkap, dan kaki tangannya dibelenggu
sampai dara ini tidak mampu bergerak lagi.
Sementara itu, si kurus pucat sudah menyerang lagi, tongkatnya bergerak seperti kitiran cepatnya
dan menyerang ke tubuh Bwee Hong. A-hai meng-hadang di depan, bertolak pinggang sambil
berkata, "Eh, eh, mengapa kalian menyerang orang-orang tak berdosa ?"
Melihat sikap A-hai yang begitu polos, agaknya si kurus pucat itu menjadi tertegun dan malu. "Ka-mi
harus menawan kalian dan baru akan kami be-baskan setelah urusan kami di tempat ini selesai,"
katanya, seperti mayat bicara.
"Kalau cuma begitu, kenapa tidak bicara dari tadi ? Tanpa kekerasanpun, kami tidak akan mela-wan.
Silahkan kalau mau menawan kami!" Men-dengar ini, diam-diam Pek Lian, Bwee Hong dan Seng Kun
tercengang. Pemuda ini sungguh penuh keanehan, kadang-kadang sikapnya begitu matang, tenang
dan menguasai keadaan. Dan memang si-kapnya itu membuat si pemuda kurus pucat men-jadi serba
salah.
"Baiklah, kalau begitu kalian ikut bersama kami Asal tidak melawan kamipun tidak akan menggunakan
kekerasan," katanya dan dengan isyarat ta-ngan ia memerintahkan anak buahnya membebaskan
Pek Lian dari belenggu. Lalu mereka ber-empat digiring oleh belasan orang itu ke sebuah bukit
yang letaknya tak jauh dari pantai itu.
Siapakah pemuda kurus pucat yang amat lihai itu ? Dia memang bukan orang sembarangan. Namanya
Kwa Sun Tek dan dia adalah putera dari ketua Tai-bong-pai. Kwa Siok Eng adalah adik
kandungnya! Pemuda kurus ini telah mewarisi ilmu-ilmu Tai-bong-pai dari ayahnya, maka tentu saja
dia lihai sekali, lebih lihai dari pada adiknya dan semuda itu dia telah dijuluki Song-bun-kwi (Setan
Berkabung) yang sesuai dengan pakaiannya yang serba putih.
Empat orang muda itu dibawa masuk ke dalam sebuah kuil kosong yang berada di puncak bukit.
Mereka dimasukkan ke dalam sebuah kamar dan dijaga ketat oleh belasan orang anak buah Songbun-
kwi Kwa Sun Tek. Dan di tempat itu terdapat puluhan orang anak buahnya yang lain. Mereka
kelihatan seperti sedang menunggu kedatangan tamu.
Mengapa putera ketua Tai-bong-pai berada di tempat itu dan siapakah yang dinantikannya ? Dan
biarpun Pek Lian telah menyebut nama Kwa Siok Eng, adik kandungnya, mengapa pemuda kurus
pucat itu seakan-akan tidak memperdulikan nama adiknya ?
Song-bun-kwi Kwa Sun Tek tak dapat diban-dingkan dengan adiknya. Dan diapun telah menyeleweng
dari pada peraturan dan kebiasaan Tai-bong-pai. Tai-bong-pai semenjak dahulu me-mang
tersohor sebagai perkumpulan rahasia yang penuh misteri, penuh dengan keanehan, akan tetapi
biarpun perkumpulan ini dapat digolongkan seba-gai perkumpulan hitam atau sesat, namun Tai-bongpai
memiliki keangkuhan dan tidak pernah mau melibatkan diri dalam urusan orang-orang lain.
Namiun Kwa Sun Tek tak dapat mempertahan-kan tradisi nenek moyangnya. Dia tidak sama seperti
nenek moyangnya yang selalu mempertahan-kan keangkuhan sebagai pimpinan suatu golongan
tersendiri yang tidak tunduk kepada siapapun dan tidak bersekutu dengan siapapun, mielainkan
meng-andalkan kekuatan sendiri malang-melintang di dunia kang-ouw. Kwa Sun Tek termasuk
seorang muda yang ambisius dan diam-diam dia menga-dakan persekutuan dengan golongangolongan
yang hendak mengadakan pemberontakan terhadap kerajaan ! Dia mengharapkan kalau
sampai pem-berontakan itu berhasil, dia akan memperoleh ke-dudukan. Kemuliaan dalam kedudukan
tinggi ini-lah yang diidamkannya, karena yang lain-lain, seperti kekayaan, kepandaian dan nama
besar sudah dimilikinya sebagai putera ketua Tai-bong-pai.
Setiap orang manusia di dunia ini tentu pernah mengalami dorongan hasrat untuk mengejar dan
memperoleh kemuliaan hidup ini. Hampir semua orang dicengkeram hasrat ini, keinginan untuk
memperoleh kemuliaan hidup yang dianggapnya sebagai sumber dari pada kesenangan ! Dan kedunia-
kangouw.blogspot.com
muliaan hidup ini mereka lihat bersembunyi di dalam beberapa hal. Dalam kedudukan dan kehormatan.
Dalam harta benda. Dalam kekuasaan. Inilah sebabnya mengapa kita semua seakan-akan
berebut dan berlomba untuk memperolehnya, ka-lau perlu dengan cara apapun juga, dengan jegaljegalan,
dengan pukul-pukulan, dan saling gasak, saling bermusuhan dan saling bunuh. Kita selalu
mementingkan tujuan sehingga muncullah cara-cara yang sesat. Kita seolah-olah menghalalkan
segala cara untuk mencapai tujuan. Yang menjadi langkah-langkah dalam hidup kita, penuh dengan
kepalsuan seperti sekarang ini, tidak wajar lagi karena setiap langkah hidup, setiap kelakuan dan
perbuatan kita, hanya merupakan jembatan untuk dapat membawa kita ke arah tujuan yang kita kejarkejar.
Demikian pula dengan Song-bun-kwi Kwa Sun Tek. Dia mempunyai ambisi besar, mempunyai citacita
yang menjadi tujuannya, yaitu hidup se-bagai seorang penguasa, dan untuk mencapai tujuan ini,
cara apapun akan dipergunakannya. Dan dia melihat kesempatan dan harapan untuk dapat mencapai
cita-citanya itu melalui persekutuan dengan pihak pemberontak yang menentang dan hendak
menggulingkan kaisar.
Pada waktu itu, para pemberontak memang te-ngah menyusun kekuatan. Seperti telah kita keta-hui,
pemerintah mengerahkan pasukan-pasukan kuat yang dipimpin oleh Jenderal Beng Tian yang dibantu
pula oleh Pek-lui-kong Tong Ciak, dan berkat kepandaian dua orang tokoh istana ini, pa-sukanpasukan
para pemberontak di sekitar Lem-bah Yang-ce telah diobrak-abrik dan dihancurkan. Banyak
yang tewas dan sisanya melarikan diri cerai berai. Pasukan-pasukan pemberontak itu adalah
sebagian besar pasukan yang dipimpin oleh Chu Siang Yu, yaitu pemimpin para pemberontak yang
lihai, keturunan Jenderal Chu yang amat terkenal sepanjang sejarah. Setelah pasukannya
dihancurkan oleh pemerintah, Chu Siang Yu bukan mundur, sebaliknya hal ini malah mengobarkan
semangat nya untuk membalas dendam. Cita-citanya seting-gi langit, yaitu untuk merebut kekuasaan
kaisar! Dan untuk mencapai cita-cita ini, dia mengorban-kan semua harta bendanya dan
kepandaiannya, mengumpulkan orang-orang gagah, dihimpun dan dibujuk, dibakar semangat mereka
sampai akhirnya dia memiliki banyak pengikut yang setia.
Kini Chu Siang Yu mengadakan persekutuan rahasia dengan fihak mana saja yang dapat menguntungkan
gerakannya. Dia merasa sakit hati ka-rena daerahnya, yaitu Lembah Yang-ce yang subur
itu direbut pemerintah. Mulailah dia memimpin anak buahnya yang jumlahnya cukup banyak sam-pai
melebihi selaksa orang itu untuk bergerak menggempur dari timur. Desa demi desa, sampai kota demi
kota direbutnya. Gerakan itu baru berhenti ketika bala tentara kerajaan datang menyam-but dan
menggempurnya. Pasukan pemberontak yang dipimpin Chu Siang Yu menjadi kewalahan dan
terpaksa mundur, lalu pemimpin pemberontak ini mengadakan persekutuan dengan para pembesar di
wilayah timur. Sampai gubernur daerah pantai timur ditempel dan dipengaruhinya. Di samping ini,
juga dia tidak segan-segan untuk bersekutu dengan orang-orang asing dari utara, peranakan Mongol
yang memiliki pasukan yang cukup kuat. Pendeknya, untuk mencapai cita-citanya, yaitu
menggulingkan kekuasaan kaisar, cara apapun akan ditempuhnya. Maka, bersekutu dengan orang
asingpun bukan merupakan sesuatu yang diharamkan. Kemudian, diapun mengajak orang-orang Taibong-
pai bersekutu setelah melihat betapa pemuda Tai-bong-pai, Kwa Sun Tek, ke-lihatan berambisi
besar. Pasukan Tai-bong-pai memang tidak dapat dikata besar untuk dipergu-nakan dalam perang.
Akan tetapi sama sekali tidak kecil artinya mengingat bahwa pasukan itu adalah orang-orang yang
ahli dalam mempergunakan racun sehingga mereka itu dapat meniadi pasukan istimewa. Juga
pemuda itu lihai sekali ilmu silat-nya, dapat menjadi pembantu yang amat mengun-tungkan
Demikianlah, pada hari itu, di dalam kuil di atas bukit dekat pantai itu akan diadakan pertemu-an
rahasia antara pemberontak pimpinan Chu Siang
Yu yang diwakili oleh Kwa Sun Tek yang sudah mendapat kepercayaan dari pimpinan itu, lalu pasukan
Mongol yang dipimpin sendiri oleh kepala mereka, seorang bertubuh raksasa yang bertenaga
besar sekali, dan utusan gubernur dan para pejabat daerah.
Gerakan Chu Siang Yu ini diam-diam diikuti oleh para pendekar, yaitu para pendekar penentang
kaisar karena kelalimannya, para pendekar yang bergabung dalam pasukan yang dipimpin oleh Liu
Pang. Di antara para kelompok atau gerombolan pemberontak yang timbul di sana-sini pada jaman
itu, yang patut disebut hanyalah pasukan pimpinan Chu Siang Yu dan para pendekar pimpinan Liu
Pang. Pasukan Chu Siang Yu memang lebih besar jumlahnya, namun pasukan Liu Pang yang tidak
berapa besar itu terdiri dari para pendekar yang rata-rata memiliki kepandaian silat yang cukup tinggi.
Apa lagi, karena Liu Pang berasal dari ke-luarga tani sederhana dan di antara para pendekar-pun dia
dunia-kangouw.blogspot.com
disebut dengan sebutan sederhana, yaitu Liu-twako, maka dia memperoleh dukungan dari rakyat
jelata, terutama kaum tani. Sebaliknya, Chu Siang Yu adalah keturunan ningrat dan untuk
membangkitkan semangat para pengikutnya, dia menjanjikan pangkat-pangkat dan kemuliaan.
Berbeda dengan Liu Pang yang didukung oleh orang-orang yang ingin "berbakti" kepada nusa dan
bangsa, ingin menjadi pahlawan dan patriot.
Memang banyaklah "cara" untuk menggerakkan manusia menuju kepada cita-cita. Dalam hal peperangan,
caranya hanyalah kekerasan, kekejaman, saling bunuh dan memperebutkan kemenangan.
Jadi, kemenangan itulah tujuannya. Akan tetapi tentu saja bukan tujuan terakhir karena kemenang-an
itu hanyalah merupakan "jembatan" saja untuk mencapai yang diidam-idamkan, yaitu kedudukankehormatan,
kemuliaan, harta benda. Para pimpin-an yang berambisi pandai sekali membangkitkan
semangat rakyat dengan berbagai cara. Ada yang membangkitkannya melalui kepahlawanan, patriot
atau pejuang, rela berkorban nyawa! Ada pula yang membangkitkan semangat melalui janji-janji
muluk, kedudukan, kehormatan, kemuliaan atau harta benda. Apapun tujuannya, kalau caranya
adalah saling bunuh dengan kejam, sudah dapat dipastikan bahwa tujuannya itupun hanya merupakan
pementingan diri sendiri, pemuas kehausan nafsu sendiri belaka, mencari sesuatu yang dianggap
akan mendatangkan kesenangan hidup, seperti kedudukan, kemuliaan, kehormatan dan harta
ben-da !
Gerakan Chu Siang Yu yang membalas dendam kepada pemerintah ini, mula-mula memang didiamkan
saja oleh Liu Pang. Pada waktu itu, memang kelaliman kaisar membuat rakyat menderita.
Rak-yat ditindas, dipaksa bekerja membuat Tembok Besar, kaum sasterawan dikejar-kejar dan
dibunuh, menteri-menteri yang setia dan jujur dipecat dan dihukum, hukum rimba berlaku di manamana.
Karena itu, rakyat membenci kaisar dan pemerin-tahnya. Dan karena ini pula, maka melihat
gerakan Chu Siang Yu, Liu Pang dan pasukannya mendiam-kannya saja, menganggap bahwa
memang sudah sepatutnya kalau kaisar ditentang. Akan tetapi, setelah mendengar bahwa Chu Siang
Yu bersekong-kol dengan pasukan asing, Liu Pang menjadi marah sekali dan mencap Chu Siang Yu
sebagai seorang pengkhianat yang hendak menjual negara kepada orang asing. Maka bergeraklah
Liu Pang, memim-pin pasukan para pendekar, membantu tentara kerajaan dan menggempur pasukan
asing yang bersekongkol dengan pasukan pemberontak Chu Siang Yu-
Karena pasukan Liu Pang merupakan pasukan istimewa yang menggiriskan, rata-rata memiliki ilmu
silat tinggi, maka pasukan pemerintah berha-sil merebut kembali dusun dan kota yang jatuh ke tangan
bala tentara pemberontak Chu Siang Yu.
Marahlah pimpinan pemberontak she Chu itu dan mulai saat itu, dia menganggap Liu Pang se-bagai
saingan dan juga musuh. Dan biarpun per-musuhan di antara mereka tidak atau belum terjadi secara
terbuka, namun di dalam hati masing-imasing mereka itu telah menganggap masing-masing se-bagai
musuh dan saingan berbahaya.
Akan tetapi, bantuan dari Liu Pang dan kawan-kawannya inipun tidak dapat diterima begitu saja oleh
pihak pemerintah. Para pendekar itu terkenal sebagai orang-orang yang mendukung para sasterawan
dan menteri yang diperlakukan dengan se-mena-mena oleh kaisar, dan mereka itupun dianggap
sebagai pemberontak. Mereka selalu dicurigai dan hubungan antara mereka tidak akrab sama sekali.
Padahal, ketika Chu Siang Yu memberontak dibantu oleh pasukan asing itu, Liu Pang benarbenar
berniat membantu pemerintah. Apa lagi ketika mendengar keputusan kaisar yang mengam-puni
para menteri yang telah dipecat, hal ini me-nimbulkan suka di hati para pendekar.
Chu Siang Yu maklum akan sikap pemerintah yang mencurigai Liu Pang, maka di manapun juga, dia
menyuruh anak buahnya untuk menyebar fit-nah dan berita-berita bohong untuk memanaskan
suasana dan untuk mengadu domba antara pasukan para pendekar dengan pasukan pemerintah !
Demikianlah keadaan pemerintah yang dirong-rong oleh para pemberontak pada waktu itu dan si
kurus Kwa Sun Tek bersama anak buahnya te-ngah menanti datangnya para tamu penting pada hari
itu.
Matahari naik semakin tinggi dan hari nampak cerah. Terdengar derap kaki kuda naik ke bukit itu
menuju ke kuil. Mereka adalah tiga orang ber-pakaian perwira kerajaan yang dikawal oleh sepuluh
orang pasukan berkuda. Mereka ternyata adalah pasukan pengawal gubernur daerah pantai timur dan
mereka datang sebagai utusan sang gubernur yang bersekongkol dengan pemberontak Chu Siang
dunia-kangouw.blogspot.com
Yu. Kwa Sun Tek menyambut mereka dan setelah melihat pakaian yang gemerlapan dan bendera
pengenal itu dengan seksama, dia merasa heran sekali. Setelah menyambut dengan ucapan selamat
datang, dia bertanya.
"Maaf, sam-wi ciangkun (tiga perwira), apakah tidak berbahaya dan tidak akan menimbulkan kecurigaan
dan perhatian orang dengan pakaian sera-gam sam-wi seperti ini ?"
Perwira yang berkumis tebal tertawa. "Ah, sa-ma sekali tidak. Bahkan kami kira lebih aman be-gini.
Orang-orang tentu mengira bahwa kami se-dang menjalankan tugas atau sedang meronda. Dan
pertemuan ini adalah pertemuan penting, kami tidak ingin menjatuhkan martabat kami!"
Kwa Tek Sun mengangguk-angguk dengan alis dikerutkan karena diam-diam dia merasa bahwa
orang-orang pemerintah ini sungguh berpeman-dangan sempit dan bodoh. Akan tetapi tentu saja dia
tidak berani banyak mencela lagi dan memper-silahkan tamu-tamu itu duduk di sebelah dalam, di
mana terdapat sebuah ruangan dan di situ telah tersedia bangku-bangku untuk menerima para tamu.
Karena pertemuan itu adalah pertemuan rahasia, maka tempat pertemuanpun seadanya dan tidak
ada yang mengeluh karena hal ini.
Beberapa orang anggauta Tai-bong-pai datang menghadap Kwa Sun Tek, melaporkan bahwa ada
sebuah perahu besar berlabuh. Tak lama kemudian, nampak seorang raksasa tua berjenggot putih
me-langkah lebar menuju ke kuil, diiringkan pasukan asing yang bersenjata lengkap. Itulah kepala
suku yang memimpin pasukan asing peranakan Mongol itu.
Setelah utusan ketiga golongan itu datang, per-temuan segera diadakan. Yang mengadakan percakapan
dalam rapat rahasia itu adalah Kwa Sun Tek, tiga orang perwira, dan Malisang, yaitu kepala
suku peranakan Mongol yang tinggi besar itu. Anak buah Tai-bong-pai, pasukan pengawal gubernur,
dan juga anak buah Malisang berjaga di luar dan di sekitar kuil.
"Chu-bengcu (pemimpin rakyat Chu) meng-hendaki agar gerakan di timur dimulai dari pantai ini,"
antara lain Kwa Sun Tek menyampaikan pe-rintah Chu Siang Yu. "Di bagian barat, gerakan pa-sukan
Chu-bengcu telah berhasil merebut beberapa kota dan dusun."
"Memulai gerakan mudah saja, akan tetapi kita harus melakukan penyelidikan dengan seksama akan
kekuatan penjagaan di setiap daerah," kata si raksasa peranakan Mongol yang bernama Malisang itu.
"Tentu saja dan tentang hal itu, kami percaya sam-wi ciangkun ini tentu lebih paham," kata Kwa Sun.
Tek. Sebelumnya, mereka semua memang sudah sepakat untuk membagi gerakan mereka menjadi
dua bagian. Bagian barat digerakkan oleh pasukan yang dipimpin oleh Chu Siang Yu sendiri,
sedangkan bagian timur dilakukan oleh gabungan sekutu mereka, yaitu pasukan peranakan Mongol
dan pasukan gubernur dan para pejabat tinggi. Adapun pasukan Tai-bong-pai yang hanya ber-jumlah
kecil hanya bertugas membantu sana-sini untuk tugas-tugas praktis.
Perwira berkumis tebal mengangguk-angguk. "Hal itu sudah kami selidiki. Panglima kerajaan yang
ditempatkan di daerah timur ini adalah Lai-goanswe (Jenderal Lai), bawahan Jenderal Beng Tian yang
dipercaya. Dia seorang ahli perang yang pandai, juga memiliki pasukan yang terdidik dan terlatih baik.
Harus diakui bahwa bukan merupa-kan pekerjaan ringan untuk menandingi pasukan yang dipimpin
oleh Jenderal Lai itu."
Kwa Tek Sun berkata, "Chu-bengcu juga su-dah tahu akan hal itu dan karenanya beliau meng-utus
kami dari Tai-bong-pai untuk mencari jalan baik membantu gerakan saudara sekalian. Kami sudah
mendengar berita bahwa sebagian pasukan pendekar pimpinan Liu Pang juga berada di daerah ini.
Kami akan berusaha agar terjadi bentrokan antara pasukan Liu Pang dan pasukan Jenderal Lai.
Kalau mereka itu bentrok sendiri, maka tugas kita untuk membuka dan memulai gerakan di ti-mur ini
akan menjadi lancar dan mudah."
Semua orang mengangguk tanda setuju. Lalu seorang di antara tiga perwira itu berkata, "Akan tetapi,
bagaimana hal itu dapat dilakukan ? Bukan-kah kaisar telah mengampuni para menteri, bahkan akan
mengembalikan kedudukan mereka dan se-mua itu dilakukan kaisar untuk memberi hati ke-pada Liu
Pang dan anak buahnya ?"
dunia-kangouw.blogspot.com
"Memang benar demikian," jawab Kwa Sun Tek yang sebagai pembantu terpercaya dari Chu Siang
Yu, agaknya mengenal baik keadaan negara pada waktu itu. "Karena itulah, maka Liu Pang bersikap
lembut kepada kaisar dan bahkan melakukan ge-rakan membantu pasukan kerajaan menentang kita.
Bahkan Liu Pang agaknya telah sadar bahwa yang meniup-niupkan kebencian antara pasukannya
dan pasukan pemerintah adalah pihak kita, maka dia bersikap hati-hati. Kami telah mendengar kabar
bahwa dia telah mengutus wakilnya ke daerah ini untuk menghubungi Lai-goanswe dan untuk menyampaikan
iktikad baiknya membantu pemerintah menghadapi pemberontakan. Selain itu, juga kabarnya
dia hendak menanyakan mengapa janji kai-sar untuk mengembalikan para menteri ke tempat
kedudukan masing-masing, sampai sekarang belum juga terlaksana."
Kini Malisang, raksasa Mongol yang sejak tadi hanya mendengarkan dengan penuh perhatian,
mengangguk-angguk maklum. "Ah, jadi kalau be-gitu, Chu-bengcu yang memerintahkan agar Men-teri
Ho dibawa ke daerah ini, sebenarnya ada hu-bungannya dengan persoalan ini ?"
"Benar demikian!" kata Kwa Sun Tek. "Men-teri Ho dapat kita pergunakan sebagai alat untuk
memecah belah di antara pihak perajurit kerajaan dan pihak anak buah Liu Pang. Dengan demikian
maka usaha Liu Pang untuk berdekatan dengan pihak pemerintah akan gagal dan itu merupakan
keuntungan yang tak ternilai harganya bagi kita"
"Eh, bagaimana caranya ?" tanya perwira ber-kumis tebal.
Biarpun di ruangan itu hanya ada mereka ber-lima dan kuil itu dijaga oleh banyak sekali anak buah
mereka, namun sebelum menjawab orang she Kwa yang kurus itu menengok ke kanan kiri lebih dulu,
kemudian berbisik, "Mendekatlah ke sini dan dengarkan baik-baik rencana yang telah diatur oleh
Chu-bengcu " Mereka lalu berbisik-bisik
dengan kepala saling berdekatan.
Empat orang muda itu, Chu Seng Kun, A-hai, Ho Pek Lian, dan Chu Bwee Hong, masih berada di
dalam kamar kuil di mana mereka ditahan dan kamar itu dijaga ketat oleh orang-orang Tai-bong-pai.
Seng Kun hanya duduk bersila dan berusaha untuk memulihkan kesehatannya. Dia baru saja
mengalami keracunan ketika bersama A-hai dia menjadi tawanan Jeng-bin Siang-kwi, dua orang
wanita iblis dari Ban-kwi-to itu. Dan belum juga kesehatannya pulih, dia harus mengalami hal-hal yang
berat, bahkan terlempar ke lautan, dan baru saja dia terkena pukulan ampuh dan kuat dari Kwa Sun
Tek. Memang tubuhnya sudah tidak keracun-an, akan tetapi masih lemah dan tenaganya belum pulih
benar. Agaknya A-hai memang memiliki tubuh yang luar biasa sekali maka pengaruh racun-racun itu
tidak begitu hebat terasa olehnya dan tubuhnya tidak kelihatan lemah.
Pek Lian, seperti juga Bwee Hong dan A-hai, duduk di atas lantai kamar itu dan termenung. Dara ini
diam-diam merasa gelisah sekali memikirkan ayahnya. Ia sama sekali tidak pernah mengira bah-wa
pada saat itu justeru nama ayahnya disebut-sebut dan menjadi bahan percakapan antara orang-orang
yang sedang mengadakan rapat di ruangan dalam kuil itu. Sebagai murid dari Liu Pang, dan sebagai
pemimpin dari pasukan pendekar, tentu saja Ho Pek Lian juga tahu akan keadaan negara pada waktu
itu. Ia tahu pula akan gerakan Chu Siang Yu yang menentang kaisar dengan ambisi untuk merampas
kedudukan. Gadis yang banyak berkecimpung dalam pergolakan negara itu dapat mengumpulkan
data-data bahwa pada waktu itu, negara sedang kacau-balau dan terjadi perpecahan-perpecahan dan
pemberontakan-pemberontakan akibat dari kelaliman kaisar. Kaisar yang agaknya menurutkan
bisikan beracun para pembantunya yang palsu, telah melakukan banyak hal yang mem-bangkitkan
kemarahan rakyat. Bukan hanya me-nindas rakyat dengan pekerjaan berat yang mema-kan banyak
korban jiwa seperti pembangunan Tem-bok Besar, juga kaisar telah membakar kitab-kitab kaum
sasterawan, bahkan mengejar dan membunuh banyak sasterawan dan pendekar. Hal ini tentu saja
menimbulkan kemarahan di kalangan rakyat dan menimbulkan pemberontakan-pemberontakan-Pek
Lian mjaklum bahwa golongan gurunya adalah ka-um pendekar yang menentang kelaliman kaisar
untuk membela rakyat dan mereka tidak berambisi mengejar kedudukan. Kalau kaisar dapat merobah
sikapnya dan rakyat tidak menderita, tentu gerak-an Liu Pang ini akan berhenti pula. Golongan ke dua
adalah golongan pemberontak yang tadinya bermarkas di lembah Yang-ce, yaitu pemberon-tak yang
dipimpin oleh Chu Siang Yu, pemberon-takan yang berpamrih merampas kedudukan. Ten-tu saja
selain golongan pendekar yang dipimpin-nya bersama suhunya itu dan golongan pemberon-tak
pimpinan Chu Siang Yu, juga ada golongan pemerintah sendiri yang menentang pemberontak-an,
dunia-kangouw.blogspot.com
yaitu bala tentara pemerintah yang memiliki banyak jenderal-jenderal yang tangguh terutama jenderal
Beng Tian. Kemudian, gadis inipun meli-hat munculnya golongan baru yaitu golongan kaum sesat
yang agaknya akan dihimpun dan dibangun oleh seorang tokoh sesat yang menyeramkan, yaitu Bitbo-
ong Si Raja Kelelawar !
Sementara itu Bwee Hong juga duduk bersila mengumpulkan hawa murni karena bagaimanapun juga,
setelah mengalami segala hal yang mengeri-kan di Kepulauan Selaksa Setan itu dan telah be-berapa
kali keracunan, walaupun racun telah lenyap dari tubuhnya, namun ia perlu beristirahat dan
memulihkan kekuatannya. A-hai sendiri juga du-duk di lantai, dan pemuda ini dengan bengong
memandang kepada Bwee Hong penuh kagum, dan kadang-kadang dia menoleh dan memandang
ke-pada Pek Lian, alisnya berkerut seperti orang hen-dak mengingat-ingat namun lupa segalanya.
Tiba-tiba pintu kamar itu terbuka dan muncul lah pemuda kurus yang menawan mereka tadi. Kiranya
rapat itu telah bubar dan para tamu telah pergi. Kwa Sun Tek menghampiri empat orang muda itu dan
menjura dengan sikap hormat.
"Harap maafkan kami bahwa terpaksa kami me-nahan kalian berempat di sini karena kami mempunyai
urusan yang sangat penting. Tak seorang-pun boleh melihat atau mendengar urusan kami itu.
Akan tetapi setelah sekarang urusan selesai, kalian boleh meninggalkan tempat ini."
Pek Lian dan kawan-kawannya tentu saja me-rasa mendongkol sekali. Apa lagi mengingat bah-wa
mereka ini adalah orang-orang Tai-bong-pai, anak buah Kwa Siok Eng yang mereka kenal de-ngan
baik. Akan tetapi, mereka tidak sudi berurus-an dengan orang-orang kasar ini dan di dalam hati saja
mereka itu berjanji akan melaporkan sikap orang-orang Tai-bong-pai ini kepada Kwa Siok Eng kelak
kalau mereka berkesempatan bertemu dengan dara puteri ketua Tai-bong-pai itu. Tan-pa bicara dan
tanpa pamit mereka berempat lalu pergi meninggalkan kuil, menuruni bukit dan me-nuju ke pantai
kembali.
"Heiii ! Perahu besar di sana itu! Bukankah itu perahu yang telah kita kenal ?" Tiba-tiba Pek Lian
menuding ke arah lautan di mana nampak sebuah perahu besar yang baru saja berangkat berlayar.
"Benar! Dan perahu itu baru saja berangkat dari sini !" kata Bwee Hong.
"Hemm, ini ada sebatang anak panah di pantai Serupa benar dengan anak panah yang diperguna-kan
untuk menyerang perahu kita," kata Seng Kun. "Hemm, si kurus itu ternyata mengadakan persekutuan
dengan pasukan asing. Pantas orang lain tidak boleh melihat atau mendengar pertemuan
mereka di sini. Sungguh mencurigakan sekali. Kita harus melaporkan hal ini kepada Jenderal Beng
Tian !"
Tiba-tiba terdengar suara ketawa. Empat orang muda itu terkejut dan ketika mereka yang tadinya
memandang ke arah perahu di lautan itu membalik-kan tubuh, ternyata di situ telah berdiri si kurus
bersama puluhan orang anak buah Tai-bong-pai! Si kurus Kwa Sun Tek telah mendengar ucapan
Seng Kun tadi dan kini dia tersenyum mengejek dan berkata, "Tepat dugaanku bahwa kalian tentu
bukan orang-orang semibarangan. Tepat pula sia-satku pura-pura melepaskan kalian tadi. Kiranya
kalian adalah orang-orang yang menentang kami. Hemm, dari golongan manakah kalian ? Anak buah
Liu-twako ? Ataukah petugas kerajaan ?"
Pek Lian mewakili teman-temannya menjawab cepat, "Kami hanyalah pendekar-pendekar yang
menentang kejahatan ! Dan ketahuilah bahwa adik Kwa Siok Eng adalah sahabat baik kami!"
"Hemm, adikku Siok Eng memang suka bergaul dengan golongan-golongan yang menjadi musuh
kami. Anak itu masih saja tolol dan tidak pernah menjadi dewasa. Kalian adalah para pendekar ?
Kalau begitu berarti menjadi kaki tangan Liu Pang! Dan kalian, hendak melaporkan kepada Jenderal
Beng Tian ? Kalau begitu juga menjadi mata-mata pemerintah. Kami terpaksa menangkap kalian lagi!"
Empat orang itu terkejut dan heran. Ternyata si kurus ini adalah kakak dari Kwa Siok Eng, akan tetapi
agaknya kakak beradik ini memiliki watak yang amat berbeda, seperti bumi dan langit.
dunia-kangouw.blogspot.com
"Engkau iblis jahat!" Pek Lian membentak marah dan ia sudah menerjang maju menyerang Kwa Sun
Tek dengan pukulan kedua tangannya bertubi-tubi. Akan tetapi, pemuda kurus itu ter-tawa mengejek
dan dengan mudah mengelak, bah-kan balasan tangannya yang mencengkeram ke arah muka Pek
Lian mengejutkan dara ini dan membu-atnya terpaksa meloncat mundur dengan gugup. Seng Kun
yang masih lemah itu juga tidak dapat membiarkan mereka ditangkap begitu saja dan dia-pun
bersama adiknya sudah melakukan perlawan-an, dikeroyok oleh Kwa Sun Tek dan puluhan orang
anak buahnya.
"Jangan berkelahi lagi , ah, kenapa kita
harus selalu berkelahi menggunakan kekerasan ?" A-hai berteriak-teriak marah melihat betapa orangorang
itu suka sekali berkelahi. Akan tetapi, tentu saja tidak ada yang memperdulikannya, bahkan dia
sudah ditubruk dari belakang oleh dua orang lalu dibelenggu kaki tangannya.
Terjadilah perkelahian yang berat sebelah. Pek Lian, Bwee Hong dan Seng Kun melawan matimatian.
Biarpun Seng Kun sendiri yang paling lihai di antara mereka masih lemah namun karena
mereka adalah keturunan orang-orang yang lihai, tidak mudah bagi Kwa Sun Tek untuk menangkap
mereka tanpa membunuh. Maka dia lalu menggu-nakan asap harum yang mengandung obat bius dan
barulah tiga orang lawan itu menjadi pening dan terhuyung-huyung, permainan mereka menjadi kacau
dan dengan mudah mereka lalu ditubruk dan diringkus, kemiudian dibelenggu seperti juga A-hai.
"Jangan bunuh mereka sekarang. Ikat mereka pada pohon-pohon. Kita mengadakan upacara hio
nanti malam!" terdengar Kwa Sun Tek berkata dengan suara gembira dan para anak buahnya juga
menyambut perintah itu dengan gembira. A-hai, Seng Kun, Pek Lian dan Bwee Hong lalu diseret ke
dekat pohon-pohon di kaki bukit, kemudian diikat pada batang pohon-pohon itu. Seng Kun diikat pada
sebatang pohon bersama adiknya, Bwee Hong, saling membelakangi, terhalang batang po-hon. Pek
Lian diikat pada sebatang pohon yang lebih kecil, tak jauh dari situ, demikian pula A-hai diikat pada
sebatang pohon. Mereka hanya dapat saling pandang, tidak tahu apa yang akan terjadi atas diri
mereka. Mereka tidak tahu apa artinya "upacara hio" yang dikatakan oleh pemuda kurus itu dan tidak
berani menduga-duga.
"Koko " Terdengar bisikan suara Bwee Hong yang ditujukan kepada kakaknya di balik batang pohon.
"Ya ?" kakaknya menjawab. Orang-orang Tai-bong-pai berjaga-jaga agak jauh dari situ dan mereka itu
agaknya sibuk dengan sesuatu bahkan ada yang dari jauh datang menggotong peti mati! Karena itu,
kakak beradik ini memperoleh kesempatan untuk bercakap-cakap.
"Koko, apakah tidak ada jalan keluar ?"
Suara Bwee Hong agak gemetar-Ia bukan seorang gadis penakut, akan tetapi melihat orang-orang
Tai-bong-pai yang mengerikan itu menggotong peti mati, ia menjadi serem dan takut juga.
"Hong-moi, tenagaku belum pulih. Apakah engkau tidak dapat menggunakan sinkang untuk
mematahkan ikatanmu dan menolongku ?" Seng Kun balas bertanya. "Belenggu ini tidak berapa kuat,
kalau engkau menggunakan tenaga Pai-hud-ciang"
"Iblis keparat itu tadi menotokku dan pengaruh totokannya masih terasa, membuat aku tidak dapat
mengerahkan sinkang sekuatnya," jawab Bwee Hong lirih dan jengkel.
"Hemmm, mungkin ikatan ini terlalu kuat bagi nona Ho, akan tetapi kalau saja A-hai sadar akan
kekuatannya, kalau saja dia kumat, tentu sekali renggut akan bebaslah dia dan dengan
kepandaiannya yang hebat, dia akan dapat menyelamatkan kita semua, tapi"
"Tapi dia dalam keadaan sadar dan lupa akan segala ilmunya itu, koko. Lalu bagaimana ? Apa-kah
kita harus menghadapi semua ancaman ini tanpa berdaya sedikitpun ?"
"Tenanglah, adikku. Aku sudah sembuh, hanya tenagaku yang belum pulih. Tunggu, aku akan
mengumpulkan hawa mumi sebanyaknya dan mu-dah-mudahan saja usahaku tidak terlambat. Kalau
tenagaku sudah pulih, aku dapat membebaskan kalian semua dan kurasa aku akan dapat pula menandingi
ilmu sesat dari si kurus itu."
dunia-kangouw.blogspot.com
Bwee Hong lalu berdiam diri, memberi kesem-patan kepada kakaknya untuk memulihkan te-naganya
dan ia sendiripun lalu menghimpun hawa murni untuk memulihkan tenaga sinkangnya yang tidak
dapat dikerahkan dengan baik akibat totokan yang dilakukan oleh Kwa Sun Tek terhadap diri-nya.
Malam tiba. Gelap sekali. Tempat itu hanya diterangi sebuah api unggun yang dibuat oleh orangorang
Tai-bong-pai. Cahaya api yang merah menerangi tempat itu, akan tetapi hanya re-mangremang
saja. Tidak ada angin bertiup, suasana amat sunyi menyeramkan. Di dekat api unggun
berjajar empat buah peti mati dan di atas tanah dipasangi hio-hio membara yang mengeluarkan asap
putih dan bau harum tapi menyeramkan. A-sap hio yang membubung tinggi itu kadang-kadang tegak
lurus karena tidak banyak angin bersilir ma-lam itu.
Seng Kun yang sedang tekun sekali menghimpun hawa murni untuk memulihkan tenaga sinkangnya,
menjadi terganggu sekali oleh bau asap hio itu-
Akan tetapi dia berkeras untuk mengusir gangguan ini dan melanjutkan usahanya. Memang agak sukar
baginya karena kedudukan tubuhnya. Kalau dia melakukannya dengan bersila, tentu hasilnya
akan lebih cepat. Akan tetapi, dia berdiri dan ke-dua lengannya terangkat ke atas karena terikat pa-da
tali yang digantungkan pada cabang pohon itu.
Bau asap hio itu sungguh keras menusuk hi-dung. Beberapa kali A-hai sampai terbangkis. Ada
duapuluh lima orang Tai-bong-pai duduk bersila mengelilingi api unggun itu dan Kwa Sun Tek sendiri
duduk bersila di dekat api. Upacara hio itu agaknya dimulai!
Apakah sesungguhnya upacara hio ini ? Suatu kebiasaan dari Tai-bong-pai yang amat mengeri-kan !
Semacam upacara menghukum musuh dari Tai-bong-pai yang merupakan upacara tradisio-nil.
Tadinya dimaksudkan untuk menghormati arwah orang-orang mati dengan memberi korban.
Biasanya, dalam sembahyang menghormat arwah orang mati, korban berupa ayam, bebek, babi dan
bermacam masakan yang seolah-olah merupakan sebuah pesta yang dihidangkan kepada arwah si
mati yang diundang. Akan tetapi, dalam upacara hio itu, yang dikorbankan adalah orang-orang hidup,
yaitu musuh-musuh yang tertawan, sebagai hukuman mati bagi musuh dan sebagai hidangan bagi
arwah orang mati. Hebatnya, yang bertugas membunuh musuh adalah mayat-mayat yang sengaja
dihidupkan untuk keperluan ini! Dan bukan sembarangan orang yang akan mampu memimpin
upacara ini. Dia harus memiliki tenaga Sakti Asap Hio dan juga mahir dengan Pukulan Mayat Hidup,
ilmu yang paling tinggi dari Tai-bong-pai dan pada waktu itu, hanya tiga orang saja yang menguasainya,
yaitu ketua Tai-bong-pai Kwa Eng Ki, isterinya, dan Kwa Sun Tek inilah. Kwa Siok Eng
sendiri ketika melatih diri dengan ilmu-ilmu ini, karena salah latihan, sampai menderita lumpuh.
Tenaga sakti ini, digabungkan dengan ilmu hitam, dapat dipergunakan untuk memanggil roh dan
memerintahkan roh memasuki mayat, membuat mayat hidup kembali untuk sementara, untuk
membunuh musuh yang dijatuhi hukuman.
Suasana semakin sunyi. Empat orang muda yang menjadi tawanan itu memandang dengan mata
terbelalak dan muka pucat. Mereka belum tahu apa yang akan terjadi atas diri mereka, namiun mereka
dapat merasakan adanya suasana yang menge-rikan dan ada getaran-getaran aneh yang membuat
Pek Lian kadang-kadang menggigil. Tidak terdengar sesuatu kecuali lirih-lirih suara Kwa Sun Tek
membaca mantera, mulutnya berkemak-kemik ketika dia bersila sambil mengheningkan cipta di dekat
api unggun.
Tiba-tiba terjadi keanehan. Masih tidak ada angin bertiup sama sekali, akan tetapi kini api unggun
yang bernyala-nyala itu bergoyang-goyang dan asap hio-hio itupun tidak tegak lurus lagi, melainkan
menari-nari seperti ada yang meniup-nya, atau seolah-olah ada angin menyambal kare-na kehadiran
sesuatu yang baru datang tapi tidak nampak oleh mata.
Melihat ini, para anggauta Tai-bong-pai itu yang duduk bersila, lalu menelungkup dengan ke-dua
lengan di atas tanah, di depan kepala, seolah-olah memberi penghormatan kepada "yang baru
datang". Sementara itu, Kwa Sun Tek masih terus bersila memejamkan kedua mata dan bibirnya berkemak-
kemik semakin cepat.
Hampir saja Pek Lian menjerit ketika kebetulan ia memandang ke arah peti-peti mati itu, ia me-lihat
empat sosok mayat dalam peti mati itu kini bangkit duduk dari dalam peti mati, kemudian dengan
gerakan kaki empat sosok mayat itu keluar peti dan turun di atas tanah lalu menari-nari kaku dekat api
unggun! Sungguh merupakan peman-dangan yang amat mengerikan sekali. Mayat-mayat itu
melangkah kaku, dengan kedua lengan seperti kejang, pakaian compang-camping dan mengeludunia-
kangouw.blogspot.com
arkan bau busuk ! Ada yang sudah mulai membu-suk. Air kekuningan yang berbau busuk menetesnetes
dari tubuh mereka, bahkan ada yang sudah mengeluarkan belatung! Suasana menyeramkan
menyelubungi tempat itu.
Tiba-tiba Kwa Sun Tek membuka matanya, memandang ke arah empat sosok mayat hidup dan
tersenyum puas. Lalu dia melayangkan pandang matanya ke arah empat orang tawanan, dan menyeringai
girang melihat keadaan mereka yang dicekam ketakutan. Dengan perlahan dia lalu menudingkan
telunjuk larinya ke arah Seng Kun, orang yang dia ketahui memiliki ilmu kepandaian paling
tinggi akan tetapi berada dalam keadaan sakit, lalu dia berseru, "Bunuh orang itu !"
Empat sosok mayat itu memutar tubuh meman-dang ke arah si kurus, kemudian perlahan-lahan
memutar tubuh ke arah yang ditunjuk dan ketika mereka melihat Seng Kun dan agaknya mengerti
makna perintah itu, bersicepat mereka berempat itu seperti berlumba dengan langkah-langkah kaku
menghampiri Seng Kun. Ketika mereka lewat di dekat Pek Lian, tak tertahankan lagi Pek Lian muntah-
muntah karena bau busuk itu sungguh membu-atnya merasa muak dan jijik. Melihat ini, Seng Kun
sudah siap siaga. Dia sudah merasa betapa seba-gian dari tenaganya pulih kembali. Akan tetapi pada
saat itu, sebelum dia bergerak, nampak ba-yangan berkelebat dan bayangan putih itu ternyata adalah
seorang dara cantik yang muncul dari ke-gelapan malam.
"Koko, jangan !" teriak gadis berpakaian
putih itu dan ia ini bukan lain adalah Kwa Siok Eng. Tanpa membuang waktu lagi Siok Eng lalu duduk
bersimpuh di dekat kakaknya, mulutnya berkemak-kemik, Sungguh aneh. Empat sosok mayat itu tibatiba
berhenti melangkah, bahkan tiba-tiba mereka itu roboh. Kemudian, nampak asap hio dan api
kembali bergerak-gerak seperti tadi ketika Kwa Sun Tek memanggil arwah-arwah, agaknya kini
arwah-arwah itu pergi meninggalkan tempat itu. Suasana yang menyeramkan dan aneh itupun lenyap
bersama dengan datangnya kema-rahan yang membuat muka Kwa Sun Tek yang biasanya pucat itu
menjadi kemerahan.
Akan tetapi Siok Eng tidak perduli. Melihat bahwa bahaya mengerikan telah lewat, ia lalu ber-lari ke
depan dan menjatuhkan diri berlutut di depan kaki Seng Kun. Dengan pandang mata me-sra dan
lembut, dara itu terdongak memandang wajah penolongnya.
"In-kong, harap sudi memaafkan kesalahan kakakku yang ceroboh dan jahat itu."
Seng Kun memandang wajah cantik itu dan tersenyum halus. "Tidak mengapa, nona Kwa, agaknya
ini hanya kesalahpahaman belaka"
Kwa Sun Tek sudah bangkit berdiri. Senjata pacul penggali kuburan itu menggigil di tangan kanannya
dan mukanya kembali menjadi pucat seperti muka mayat, matanya mengeluarkan sinar berkilat
saking marahnya.
"Siok Eng! Berani kau!" bentaknya dan dia sudah melompat ke depan, mengepal tinju.
Dara itupun meloncat berdiri dan pada saat itu, Kwa Sun Tek sudah menerjangnya. Siok Eng menangkis
dan dua tenaga sakti bertemu. Akan teta-pi, baru saja Siok Eng memperoleh bunga hitam
berdaun putih, dan ia belum sempat menyempur-nakan ilmunya, maka ketika kedua lengan bertemu,
iapun terjengkang dan bergulingan di atas tanah.
"Bocah lancang, berani engkau membela mu-suhku ? Engkau layak dihajar!" bentak Kwa Sun Tek
yang agaknya sudah marah sekali. Pemuda kurus itu sudah menerjang maju lagi, mengirim hantaman
ke arah Siok Eng yang baru saja bangun dengan pakaian kotor terkena debu.
"Desss !!" Tubuh Kwa Sun Tek terpental
ke belakang dan dia memandang dengan mata ter-belalak. Kiranya yang menangkis pukulannya atau
yang menyambut dorongan tangannya dengan do-rongan lain dari depan itu bukan lain adalah pemuda
jangkung tampan yang tadinya masih terbe-lenggu. Seng Kun telah dapat melepaskan belenggunya
dan membantu Siok Eng menangkis pukulan itu dengan pengerahan tenaga sinkang. Tenaga
dunia-kangouw.blogspot.com
sakti Pai-hud-ciang ternyata berhasil memukul mundur tenaga sakti Asap Hio ! Dan pada saat itu, Pek
Lian, Bwee Hong dan A-hai juga sudah ter-bebas dari belenggu dan berdiri dengan sikap me-nantang.
Kiranya sebelum menangkis pukulan, Seng Kun juga berhasil membebaskan totokan yang
mempengaruhi tubuh adiknya sehingga dengan sinkangnya Bwee Hong mampu mematahkan ikatan
kaki tangannya kemudian gadis ini membebas-kan Pek Lian dan A-hai. Melihat semua tawanannya
sudah terlepas dan melihat betapa kini tenaga pemuda jangkung itu hebat sekali, Kwa Sun Tek
menjadi gentar juga.
Akan tetapi, Kwa Sun Tek mengandalkan anak buahnya. "Serbu dan bunuh mereka!" bentaknya
kepada anak buahnya. Akan tetapi Siok Eng juga melangkah ke depan menghadapi anak buah Taibong-
pai.
"Siapa berani maju melawan aku ?"
Tentu saja melihat puteri ketua mereka, semua anak buah atau anggauta Tai-bong-pai menjadi
ketakutan dan tidak ada yang berani maju atau bergerak! Mereka takut dan taat kepada Kwa Sun Tek
sebagai putera ketua mereka, akan tetapi me-rekapun takut kalau harus melawan puteri ketua mereka
sendiri.
"Siok Eng!" Kwa Sun Tek membentak marah. "Engkau hendak berkhianat dan menghadapi Tai-bongpai
sebagai lawan? Tahu engkau apa hu-kumannya sebagai seorang pengkhianat ? Engkau akan
dikorbankan kepada arwah-arwah kalau ku-laporkan kepada ayah dan ibu tentang sikapmu membela
musuh Tai-bong-pai ini!"
"Hemm, engkaulah yang akan menjalani hukum-an itu kalau kulaporkan kepada ayah ibu !" Siok Eng
juga membentak. "Mereka ini bukan musuhmusuh Tai-bong-pai, sebaliknya malah. Taihiap ini adalah
penolongku. Dia telah menyelamatkan aku dengan mengorbankan nyawa ayah bundanya. Kalau
engkau membunuhnya, berarti engkau mem-berontak dan berkhianat kepada ibu. Lihat baik-baik, apa
yang dimilikinya ini ?" Siok Eng lalu menarik tali kalung yang tergantung di leher Seng Kun dan kini
nampaklah benda yang berada di ujung kalung, yang tadinya tersembunyi di balik baju. Sebuah
bendera logam dari Tai-bong-pai!
Melihat benda itu, Kwa Sun Tek terkejut sekali. Itulah bendera pusaka yang biasanya hanya dipegang
dan dimiliki ayah bundanya saja. Kalau pe-muda ini memilikinya, berarti bahwa dia telah
dianggap sebagai orang yang sederajat dengan ke-tua Tai-bong-pai dan selalu harus dilindungi oleh
Tai-bong-pai! Hatinya merasa penasaran dan kecewa sekali, akan tetapi di depan adiknya, dia tidak
berani menentang. Kalau dia menentang dan sampai terdengar oleh ayah bundanya, tentu dia tidak
akan mampu meloloskan diri. Maka, dengan wajah bersungut-sungut dia lalu menjura kepada Seng
Kun dan berkata, "Maafkan kami, karena ti-dak tahu telah berani mengganggu. Tai-bong-pai akan
selalu melindungi pemegang bendera pusaka."
"Ah, tidak mengapa. Sebagai kakak nona Siok Eng, bolehkah kami mengenal namamu ?" Akan tetapi
pertanyaan Seng Kun ini tidak dijawab kare-na Kwa Sun Tek telah menjura lagi dan pergi dari tempat
itu setelah memberi isyarat kepada para anak buahnya yang segera membawa mayat-mayat dan petipeti
itu pergi pula meninggalkan tempat itu entah ke mana.
Setelah mereka pergi, Pek Lian memegang ta-ngan Siok Eng. "Adik yang baik, sungguh menge-rikan
sekali ilmu-ilmu dari Tai-bong-pai itu. Dan melihat keadaanmu, sungguh hampir aku tidak percaya
bahwa engkau adalah puteri ketua Tai-bong-pai dan adik dari si kurus yang lihai tadi"
Siok Eng menarik napas panjang. "Aku memang menjadi anak bandel dan suka melawan dalam keluarga
kami, karena aku tidak menyetujui banyak hal dalam Tai-bong-pai. Karena itulah maka ayah
tidak menurunkan ilmu-ilmu yang tertinggi sehingga terpaksa aku belajar sendiri sampai terse-sat dan
hampir mati karena salah latihan. Setelah demikian, barulah ayah bundaku menolong mem-bimbing.
Kakakku itu sebenarnya tidak jahat, menurut ukuran Tai-bong-pai dan dia taat sekali terhadap
perkumpulan kami. Memang kadang-ka dang perkumpulan kami keras dalam menghukum musuhmusuh
yang merugikan kami. Tapi, ibu sebenarnya bukan wanita kejam ah, sudahlah.
Semua orang tahu bahwa Tai-bong-pai adalah sebuah perkumpulan sesat dan aku adalah puteri dari
ketuanya." Dara itupun menarik napas pan-jang lagi dan kelihatan berduka.
dunia-kangouw.blogspot.com
Melihat ini, Pek Lian menyimpangkan perca-kapan dan berkata, "Eh, bagaimana engkau dapat
menyelamatkan diri dari lautan itu, adik Eng ?"
Mereka lalu saling menceritakan pengalaman mereka semenjak mereka saling berpisah karena
perahu Tai-bong-pai itu pecah terbakar. Ter-nyata Siok Eng dan anak buahnya berhasil menyelamatkan
diri.
"Banyak anak buahku yang tewas tenggelam. Setelah kami berhasil mendarat, aku perintahkan
mereka pulang memberi laporan kepada ayah ten-tang segala hal, dan aku sendiri lalu mencari ke
sepanjang pantai kalau-kalau ada di antara kalian yang selamat. Untung aku dapat mencium bau hio
itu dari jauh, kalau tidak "
Mereka bercakap-cakap sambil melanjutkan perjalanan menuju ke sebuah kota terdekat. Kota itu
adalah kota Yen-kin yang berada paling dekat dengan pantai di daerah itu. Mereka berlima memasuki
sebuah restoran dan memesan hidangan. Biarpun malam telah agak larut, banyak juga tamu
yang makan di situ. Semenjak mereka memasuki kota Yen-kin, sudah terasa suasana panas karena
perang-Rakyat sudah berkelompok dan terpisah-pisah, terasa ada ketegangan dan permusuhan. Agaknya
bentrokan dan kerusuhan dapat saja terjadi sewaktu-waktu di kota itu. Banyak toko menutup
pintunya dan yang buka memberi harga tinggi kepada barang-barang dagangan mereka. Rakyat
sudah bersiap dan mengumpulkan barang-barang untuk sewaktu-waktu dibawa pergi mengungsi.
Padahal, perang baru terjadi di daerah barat dan utara, belum melanda daerah itu. Namun, suasana
panas sudah terasa, bahkan percakapan-percakap-an di dalam restoran, di antara para tamu yang
se-dang makan, juga berkisar sekitar pemberontakan-pemberontakan itu.
"Pemberontak-pemberontak itu telah mere-but sebuah kota lagi!" seorang laki-laki berpa-kaian
pedagang bercerita kepada temannya sambil menghadapi hidangan.
Lima orang muda itu saling pandang, akan te-tapi tentu saja A-hai tidak begitu memperhatikan
suasana ini. Seng Kun bertukar pandang dengan adiknya. "Hemm, orang she Chu keturunan jende-ral
itu agaknya kini memberontak secara terbuka," bisiknya.
"Ihh, koko, jangan memburukkan she-nya. Ingat, kitapun sekarang she Chu juga!" cela Bwee Hong.
Kakaknya menghela napas panjang. "Sayang bahwa kenyataannya demikian. Mudah-mudahan
antara kita dan dia, si pemberontak itu, tidak ada hubungan darah kekeluargaan."
"Sayang bahwa kaisar banyak melakukan tin-dakan-tindakan yang mengecewakan hati rakyat. Kalau
rakyat merasa tidak senang kepada kaisar, hal ini akan membuat mereka mudah terpancing oleh
kaum pemberontak dan keadaan sungguh amat berbahaya," kata pula Bwee Hong.
Pek Lian yang mengikuti percakapan mereka, mengangguk. "Memang benar-Dan agaknya para
pemberontak maklum akan hal ini dan memanfaat-kannya."
Tiba-tiba Seng Kun memandang kepada Siok Eng dan bertanya lirih, "Maaf, nona. Apakah Tai-bongpai
juga melibatkan diri dalami kekeruhan negara ini ?"
Dengan keras Siok Eng menggeleng kepala. "Setahuku tidak, in-kong. Tai-bong-pai adalah
perkumpulan bebas yang tidak mau melibatkan diri dengan urusan di luar Tai-bong-pai."
"Tapi kakakmu " Setelah meragu sejenak,
Seng Kun melanjutkan, berpikir bahwa terhadap dara ini yang sudah dikenal wataknya, lebih baik dia
berterus terang karena dara ini tentu berpihak kepadanya atau kepada yang benar. "Dengar, no-na.
Perahu besar pasukan asing yang menyerang perahumu itu, ternyata berlabuh di sini dan agak-nya
para pemimpinnya mengadakan pertemuan rahasia dengan kakakmu. Aku merasa curiga se-kali
bahwa ada persekutuan rahasia antara kakak-mu dengan orang-orang Mongol itu."
Siok Eng mjengerutkan alisnya. "Ah, kakakku Kwa Sun Tek itu memang sejak dahulu berwatak keras
dan aneh, suka memakai jalan kekerasan dan mencari menang sendiri. Entah apa lagi yang hendak
dilakukannya sekarang. Biar, aku akan mem-beritahukan ayah agar diselidikinya dan kalau per-lu
dicegah perbuatannya yang akan menyeret Tai-bong-pai kepada kehancuran."
dunia-kangouw.blogspot.com
Setelah makan sambil bercakap-cakap lirih, mereka lalu mencari penginapan. Tiga orang dara itu tidur
sekamar, dan dua orang pemuda itu tidur di lain kamar. Seng Kun mengatakan bahwa dia perlu untuk
beristirahat dan menghimpun hawa murni untuk memulihkan seluruh tenaganya yang sudah pulih
sebagian besar akan tetapi belum se-penuhnya itu.
Tiga orang dara itu masih belum tidur dan me-reka masih bercakap-caikap. Tiba-tiba Siok Eng
memberi isyarat agar mereka diam. Dara puteri ketua Tai-bong-pai ini memang paling tinggi ilmunya
dibandingkan dengan kawan-kawannya. Diperhatikannya suara di luar pintu dan ia mende-ngar
langkah-langkah orang, langkah-langkah dari orang-orang yang berkepandaian ! Kini Pek Lian dan
Bwee Hong juga mendengarnya. Ada beberapa orang lewat di depan kamar mereka.
"'Kita harus berhasil menyelamatkannya !" Ka-limat ini terdengar oleh tiga orang gadis itu dan tentu
saja mereka menjadi tertarik, terutama sekali Pek Lian dan Bwee Hong yang keduanya sedang
melakukan tugas rahasia, yaitu mencari ayah Pek Lian. Karena besarnya hasrat hatinya menyelamatkan
ayahnya, maka mendengar kalimat itu, Pek
Lian menjadi curiga dan tanpa kata-kata ia mem-beri isyarat kepada kawan-kawannya, kemudian
iapun keluar dari dalam kamar melalui jendela. Dua orang temannya mengikuti dan bagaikan tiga ekor
burung saja, mereka berloncatan naik ke atas wuwungan rumah dan melakukan pengintaian. Mereka
melihat empat orang laki-laki yang dari langkah kakinya dapat diketahui berilmu silat tinggi. Empat
orang ini keluar dari rumah pengi-napan, dan setelah berjalan keluar kota, merekapun melanjutkan
perjalanan dengan ilmju berlari cepat. Tentu saja tiga orang gadis itu tertarik dan mem-bayangi
mereka. Tak lama kemudian, di tempat yang sunyi empat orang itu berhenti dan di situ telah
berkumpul belasan orang pula. Ketika seo-rang di antara mereka bicara, Pek Lian menjadi girang dan
juga terkejut bukan main.
"Para penyelidik kita mendengar berita bahwa Menteri Ho akan menjalani hukuman mati, dilaku-kan
oleh perajurit-perajurit pemerintah, di luar kota Yen-tai, pada besok malam. Kita harus cepat bergerak.
Yang penting, kita harus cepat memberi tahu kepada Sin-kauw Song-taihiap. Dia berada di sini."
Mendengar ucapan ini, tentu saja Pek Lian girang sekali. Ia berbisik kepada dua orang ka-wannya.
"Mereka ini tentu teman Sin-kauw Song Tek Kwan, seorang di antara Huang-ho Su-hiap, yaitu
seorang di antara guru-guruku. Mereka akan berusaha membebaskan ayah. Aku akan mengikuti
mereka, aku ingin bertemu dengan guruku."
"Tapi, bagaimana dengan A-hai dan kakakku yang sedang mengobati dirinya di rumah pengi-napan
itu ?" tanya Bwee Hong.
"Kalian pulanglah, biar aku sendiri yang pergi," jawab Pek Lian.
"Aih, mana bisa begitu ?" bantah Bwee Hong. "Aku harus menggantikan tugas kakakku."
"Biarlah aku yang kembali ke penginapan dan besok akan kuceritakan kepada in-kong tentang
kepergian kalian ini," kata Siok Eng. Dua orang kawannya setuju dan puteri ketua Tai-bong-pai itupun
segera meninggalkan tempat itu, kembali ke rumah penginapan.
Sementara itu, Pek Lian dan Bwee Hong segera mengikuti dan membayangi rombongan orang gagah
yang berangkat meninggalkan tempat perte-muan di luar kota itu. Mereka memasuki hutan,
mendaki bukit dan turun di sebuah lembah yang sunyi. Dan mereka itu tiba di tepi sebuah hutan kecil
di mana terdapat sebuah pondok bambu se-derhana.
"Song-taihiap ! Kami datang dari Lembah Yang-ce!"
Seorang di antara mereka berkata ke arah pintu pondok yang tertutup. Kiranya itu merupakan katakata
sandi untuk saling mengenal di antara para pendekar patriot. Daun pintu terbu-ka dan seorang
laki-laki yang usianya menjelang limapuluh tahun, mukanya kecil hidungnya pesek dan muka itu
kelihatan seperti muka monyet, keluar sambil membawa lampu gantung.
Melihat kakek ini, Pek Lian merasa terharu sekali dan iapun meloncat keluar dari tempat sembunyinya
sambil berseru memanggil, "Song-suhu!"
dunia-kangouw.blogspot.com
Semua orang terkejut dan Sin-kauw Song Tek Kwan, orang ke empat dari Huang-ho Su-hiap, juga
terkejut dan mengangkat obornya tinggi-ting-gi sambil membalikkan tubuh memandang Pek Lian.
Seketika wajahnya berseri gembira ketika dia mengenal wajah muridnya yang tercinta itu.
"Nona Ho Pek Lian !" teriaknya sambil melangkah maju menghampiri.
"Suhu!" Hubungan antara Pek Lian dan keempat orang suhunya memang akrab sekali, seperti kepada
paman sendiri saja. Maka kinipun, dalam keadaan terharu, Pek Lian tidak melakukan banyak
peraturan, melainkan lari menghampiri dan memegang tangan gurunya itu, matanya basah dan
air mata menitik turun ke atas pipinya-"Song suhu ah, Tan-suhu dan Liem-suhu " Ia tidak dapat
melanjutkan, lehernya seperti tercekik rasanya teringat akan kematian dua orang guru-nya ketika
mereka dikeroyok oleh pasukan peme-rintah.
Sin-kauw (Monyet Sakti) Song Tek Kwan mengangguk-angguk. "Aku sudah tahu, aku sudah
mendengar akan hal itu. Mereka berdua tewas sebagai pendekar sejati, dan darah mereka hanya
menambah mengalirnya darah pendekar di bumi kita, semoga menjadi pupuk bagi tanah air. Sudahlah,
seorang wanita perkasa seperti engkau ini tidak patut kalau meruntuhkan air mata, nona Ho. Siapakah
kawanmu itu ?" tanya Sin-kauw Song Tek Kwan sambil menunjuk kepada Bwee Hong yang
juga muncul mengikuti Pek Lian.
"Ia adalah enci Chu Bwee Hong "
"She Chu?" Sin-kauw Song Tek Kwan memotong, memandang kaget.
"Jangan khawatir, suhu. Biarpun enci Hong ini she Chu, akan tetapi tidak ada hubungannya sedikitpun
juga antara ia dan Chu Siang Yu. Dan ia ini adalah pewaris dari Bu-eng Sin-yok-ong."
"Ahhh !" Si Monyet Sakti berseru takjub dan cepat menjura sebagai penghormatan terhadap gadis
yang diperkenalkan sebagai keturunan Raja Tabib Sakti Tanpa Bayangan itu. Bwee Hong ce-pat
membalas penghormatan itu dan Sin-kauw la-lu memperkenalkan dua orang gadis itu kepada temantemannya.
Semua pendekar memandang Pek Lian dengan hormat karena semua pernah mendengar
nama murid Liu-twako yang telah diangkat menjadi pemimpin para pendekar, bahkan yang ayahnya
amat terkenal karena ayahnya ada-lah Menteri Ho yang sedang dijadikan bahan per-cakapan itu.
Mereka lalu memasuki pondok untuk bercakap-cakap di dalam pondok. Berada di an-tara para
pendekar ini Pek Lian merasa betah se-perti di rumah sendiri, juga Bwee Hong merasa suka akan
sikap para pendekar yang gagah itu.
"Kebetulan sekali engkau datang, nona Ho. Ka-mi memang sedang merencanakan untuk menyelamatkan
Menteri Ho, ayahmu. Kami mendengar berita bahwa Menteri Ho akan dihukum mati oleh
pasukan pemerintah di luar kota Yen-tai-Maka kami berkumpul di sini dan mempersiapkan ka-wankawan
untuk menyergap dan menyelamatkan ayahmu besok malam, sebelum pelaksanaan hu-kuman
itu terjadi."
Mereka lalu mengatur siasat dan membagi tu-gas. Para pendekar itu mendapatkan tugas untuk
menghubungi dan mengajak para pendekar yang berada di luar kota, dan pada besok sore sudah
harus berkumpul di semua pintu gerbang kota Yen-tai. Setelah mengadakan perundingan sampai jauh
malam, mereka semua beristirahat dan dua orang gadis itupun beristirahat di dalam pondok bambu,
mendapatkan kamar untuk dipakai mereka berdua sedangkan para pendekar pria beristirahat di
ruangan luar.
Pada keesokan harinya, mereka berpencar, ada yang pergi mencari para pendekar, dan ada pula
yang langsung menuju ke kota Yen-tai yang le-taknya kurang lebih duapuluh li dari situ. Pek Lian dan
Bwee Hong bersama Sin-kauw Song Tek Kwan menuju ke pintu gerbang kota Yen-tai sebelah barat,
di mana mereka menanti kawan-kawan dan menanti datangnya malam sambil mengintai ke arah pintu
gerbang untuk melihat setiap orang yang keluar masuk. Mereka mengenal banyak pen-dekar yang
berdatangan, akan tetapi mereka itu hanya saling pandang dan pura-pura tidak saling mengenal,
namun kesemuanya bersiap-siap tak jauh dari pintu gerbang. Demikian pula dengan para pendekar
yang telah mengadakan persiapan di pintu-pintu gerbang lain dan di antara pintu-pintu gerbang ini
terdapat kontak melalui kurir-kurir yang pergi datang tiada hentinya.
dunia-kangouw.blogspot.com
Malam tiba dan apa yang mereka tunggu-tung-gupun terjadilah. Sebuah kereta yang jendela dan
pintunya tertutup rapat keluar dari pintu gerbang barat, diiringkan oleh pasukan pengawal yang kuat.
Melihat ini, Sin-kauw, Pek Lian dan Bwee Hong bergegas membayangi dan para pendekar yang
berjaga di pintu-pintu gerbang lainnya segera diberi kabar dan merekapun cepat melakukan pengejaran
dan ikut membayangi. Jumlah para pen-dekar ini lebih dari seratus orang!
Sesuai dengan rencana para pendekar, ketika kereta tiba di sebuah dataran luas, para pendekar
menghadang dan mengepungnya. Lebih dari se-ratus orang pendekar mengepung dan menyerbu.
Pasukan pengawal yang jumlahnya hanya duapu-luh lima orang itu melawan. Akan tetapi tentu saja
mereka kewalahan walaupun mereka merupakan pasukan pengawal pilihan karena para penyerbu itu
selain berjumlah lebih besar, juga rata-rata memiliki ilmu silat yang kuat. Para perajurit penga-wal itu
mundur sambil melawan sedapat mungkin, akan tetapi banyak di antara mereka yang roboh. Kereta
itupun ikut dibawa mundur sampai ke lem-bah yang tak berapa jauh dari dataran itu. Ketika para
pengawal itu sudah terdesak hebat dan seba gian besar di antara mereka sudah roboh, tiba-tiba saja
pintu kereta terbuka dan dari dalam kereta itu muncul seorang laki-laki kurus yang memiliki gerakan
gesit sekali. Dan begitu dia meloncat ke-luar dan menerjang para pengeroyok, empat orang anggauta
pasukan pendekar terlempar ke sana-sini, dan pada saat itu tercium bau dupa harum yang keras. Pek
Lian dan Bwee Hong terkejut sekali ketika mengenal pemuda kurus yang bukan lain adalah Kwa Sun
Tek, kakak dari Siok Eng, putera ketua Tai-bong-pai yang amat lihai itu.
Melihat kelihaian pihak lawan ini, Sin-kauw Song Tek segera menubruk dengan sebuah loncatan
cepat. Kedua tangannya terulur hendak menceng-keram muka dan dada lawan. "Haiiiiittt!" Bentak-nya
dengan serangan kilat sambil melompat itu.
"Huhh !" Pemuda kurus yang kini mengenakan jubah biru itu mendengus dan kedua lengannya
menangkis dari atas ke bawah.
"Desss !" Tubuh Sin-kauw Song Tek
terpelanting clan dia tentu akan roboh terbanting kalau saja dia tidak memiliki kegesitan dan cepat dia
menggulingkan tubuh ke atas tanah.
Melihat betapa kakek itu sama sekali tidak da-pat menandingi Kwa Sun Tek jagoan muda Tai-bongpai
yang lihai itu, Pek Lian dan Bwee Hong segera menerjang maju dan menyerangnya. Dua orang
dara perkasa ini masih dibantu oleh beberapa orang pendekar. Tentu saja Kwa Sun Tek merasa
kewalahan dan maklum bahwa dia dikeroyok oleh orang-orang lihai, terutama dara cantik jelita Chu
Bwce Hong yang memiliki ginkang istimewa itu. Maka sambil berteriak panjang Kwa Sun Tek meloncat
ke belakang, lalu naik kembali ke dalam kereta yang dilarikan cepat turun ke lembah.
"Kejar ! Rampas kereta itu !" teriak Sin-kauw Song Tek Kwan menganjurkan kawan-kawannya dan
mereka semua melakukan pengejaran sampai ke lembah.
Kereta itu berhenti di tengah lembah dan begi-tu semua pendekar masuk lembah itu, tiba-tiba
terdengar terompet disusul sorak-sorai gemuruh. Muncullah ratusan orang perajurit yang tadinya
bersembunyi di balik semak-semak belukar dan tempat itu telah terkepung ketat!
"Celaka! Kita terjebak. Mundur lari!"
Sin-kauw Song Tek Kwan berteriak lantang.
Namun terlambat. Tidak ada jalan keluar lagi. Pasukan yang besar jumlahnya itu sudah menge-pung
dan menyerbu dari segala jurusan. Para pen-dekar itu tentu saja melawan mati-matian dan terjadilah
perang kecil di lembah itu, perang yang dahsyat dan mengerikan, kejam dan tidak menge-nal ampun.
Akan tetapi, biarpun para pendekar melawan mati-matian dan nekat, pertempuran itu lebih
menyerupai pembantaian karena jumlah para pendekar itu kalah jauh. Sin-kauw Song Tek Kwan
sendiripun akhirnya roboh dan para pende-kar itu satu demi satu roboh terluka atau tewas. Melihat ini,
bukan main marahnya hati Pek Lian dan dara ini mengamuk bagaikan seekor naga dan agaknya ia
akan melawan terus sampai mati kalau saja tangannya tidak disambar oleh Bwee Hong dan diajak
pergi dari situ.
dunia-kangouw.blogspot.com
"Mari kita pergi, adik Lian !" teriak Bwee Hong sambil menarik dara itu dan membawanya loncat
menjauh. Pek Lian hendak membantah akan tetapi Bwee Hong menyeretnya dan berkata, "Tidak
perlu bunuh diri, lain waktu kita masih dapat membuat perhitungan !"
Akhirnya, dengan amukan mereka, dua orang dara itu berhasil lolos dari kepungan dan melarikan diri.
Akan tetapi, di antara seratus lebih orang pen-dekar yang menjadi anak buah Liu-bengcu itu, tidak
ada yang dapat lolos. Semua dibantai, seba-gian besar tewas dan sebagian pula dengan sengaja
hanya dibuntungi lengan mereka dan dibiarkan hidup untuk menyaksikan hukuman mati yang dilaksanakan
di tempat itu juga terhadap seorang kakek berusia limapuluh tahun lebih yang bersikap
tenang dan agung. Kakek ini mengenakan pakaian pembesar yang sudah rompang-ramping,
tubuhnya kurus, jenggot dan rambutnya panjang riap-riapan, akan tetapi pandang matanya masih
tajam dan lembut. Para pendekar yang roboh terluka dan belum tewas, dengan terkejut mengenal
Menteri Ho yang dibawa ke tempat itu oleh rombongan pcrajurit. Kemudian, para pendekar yang
terluka itu hanya dapat mengucurkan air mata ketika me-reka melihat betapa menteri tua yang
mereka ka-gumi dan hormati itu dihukum mati dengan tusuk-an pedang pada lambungnya ! Tubuh tua
kurus itu terkulai dan tewas mandi darahnya sendiri, menggeletak begitu saja di atas tanah yang
sudah ternoda darah pertempuran tadi. Menteri yang se-tia dan jujur ini tewas dalam keadaan
menyedih-kan, tanpa upacara, bahkan pelaksanaan hukuman itupun nampaknya liar, disaksikan oleh
para pen-dekar yang sudah luka-luka !
Ketika kakek bangsawan ini tewas, para peraju-rit bersorak dan jenazah bekas menteri itu lalu dikubur
di tempat itu juga secara sederhana, hanya dilemparkan ke dalam lubang dan ditimbuni tanah
dan batu. Setelah itu, pasukan pemerintah mening-galkan tempat itu, membiarkan bekas lawan yang
terluka begitu saja tanpa membunuh mereka dan ini memang merupakan perintah yang harus mereka
laksanakan sebagai siasat atasan mereka. Para pen-dekar yang dibiarkan hidup dalam keadaan
terluka dan buntung kaki atau tangannya itu, menjadi saksi dari pada pelaksanaan hukuman mati
terhadap diri Menteri Ho dan tentu saja para pendekar yang dibiarkan hidup ini akan menjadi corong
dan te-rompet mereka untuk mengabarkan kepada rakyat jelata bahwa pasukan pemerintah
membantai para pendekar dan menghukum mati Menteri Ho. Sia-sat inilah yang dijalankan oleh Kwa
Sun Tek dan sekutunya sebagai rencana yang diatur oleh pem-berontak Chu Siang Yu dalam
usahanya mengadu domba antara pemerintah dan para pendekar di bawah bimbingan Liu-bengcu.
Kwa Sun Tek memasuki kota Yen-tai bersama sekutunya dengan gembira sekali. Mengingat akan
jasa-jasanya, maka Kwa Sun Tek lalu dijamu oleh para perwira yang menjadi utusan gubernur wilayah
timur yang bersekutu dengan pemberontak Chu Siang Yu, dan hadir pula di situ sekutu mere-ka
yang lain, yaitu raksasa peranakan Mongol yang bernama Malisang itu. Apa yang telah terjadi siang
tadi, pembantaian para pendekar dan dilaksana-kannya hukuman mati terhadap Menteri Ho di depan
para pendekar yang terluka tapi belum tewas, adalah pelaksanaan dari pada siasat yang dibisikkan
oleh Kwa Sun Tek pada rekan-rekan sekutunya ketika diadakan pertemuaan di antara mereka itu.
Ternyata siasat itu berjalan dengan baik sekali. Sekali pukul mereka memperoleh dua keuntungan
besar. Pertama dapat menghancurkan sebagian dari pada kekuatan para pasukan pendekar yang
dipimpin oleh Liu Pang, dan ke dua menanam persangkaan rakyat dan terutama para pendekar
bahwa Menteri Ho dihukum mati oleh kaisar yang berarti kaisar mengingkari janji. Hal ini pasti akan
menimbulkan dendam dan tentu para pendekar akan menentang kaisar sehingga keduanya akan
terpecah. Hal ini amat menguntungkan bagi usaha pemberontakan Chu Siang Yu. Dan memang kenyataannyapun
demikianlah. Para pendekar yang terluka dan buntung kaki atau tangannya itu, dengan
susah payah dapat melarikan diri dari lembah dalam keadaan luka parah, dan tentu saja mereka
tidak tinggal diam dan menceritakan semua peris-tiwa itu kepada siapa saja. Dengan demikian, sebentar
saja menjadilah berita di kalangan rakyat bahwa Menteri Ho telah dihukum mati oleh kaisar,
dan bahwa pasukan pendekar di bawah pimpinan Liu-bengcu telah dibantai habis-habisan oleh
para perajurit pasukan pemerintah.
Pek Lian dan Bwee Hong yang berhasil melo-loskan diri itu juga mendengar akan pelaksanaan
hukuman mati dari Menteri Ho dan dibasminya semua pendekar. Mereka belum jauh meninggalkan
tempat itu dan mereka bertemu dengan seorang pendekar yang buntung lengannya dan dari pendekar
inilah mereka mendengar berita itu. Tentu saja Pek Lian menjadi berduka dan terkejut sekali. Ia
menangis sepanjang perjalanan ketika ia dibujuk untuk kembali ke Yen-kin, di mana menunggu Seng
Kun, A-hai dan Siok Eng.
dunia-kangouw.blogspot.com
Ketika Siok Eng dan Seng Kun mendengar be-rita buruk itu, mereka ikut merasa berduka dan
penasaran sekali. A-hai yang ikut mendengarkan hanya mengerutkan alisnya, bukan karena berita itu,
melainkan karena terharu dan kasihan melihat Pek Lian menangis demikian sedihnya.
"Sudahlah, enci Lian," kata Siok Eng dengan tenang. Dara ini hidup di antara kaum sesat dan sudah
banyak mengalami hal-hal mengerikan, ma-ka jaranglah ada hal yang dapat membuat darah-nya
yang dingin menjadi terharu. "Kematian bukan apa-apa bagi seorang gagah."
Pek Lian menyusut air matanya dan memandang kepada gadis Tai-bong-pai itu. "Aku tidak menangisi
kematian ayah, melainkan menangis karena menyesal mengapa aku sebagai anaknya tidak
mampu menyelamatkan ayah di depan hidungku sendiri."
Tiba-tiba Siok Eng kelihatan marah dan me-ngepal tinjunya. "Hemm, kakakku yang keparat itu! Siapa
kira dia melanggar pantangan Tai-bong-pai dan membiarkan dirinya menjadi kaki tangan pemerintah !
Aku akan melaporkan hal ini kepada ayah dan dia pasti akan menerima hukum-annya !"
Bwee Hong mengerutkan alisnya. "Aku merasa heran sekali mengapa sri baginda kaisar melanggar
janji sendiri dan menjatuhkan hukuman mati juga kepada Menteri Ho."
Seng Kun sejak tadi termenung saja tidak me-ngeluarkan kata-kata, akan tetapi diam-diam diapun
merasa heran seperti adiknya. Akan tetapi dia tetap tidak dapat percaya bahwa pelaksanaan
hukuman terhadap Menteri Ho itu adalah atas pe-rintah kaisar. Bukankah kaisar telah mengutus dia
untuk mencari dan menyelamatkan Menteri Ho yang diculik orang ? Tidak mungkin kalau kaisar
memberi perintah lain untuk menghukum mati menteri itu. Tentu ada hal-hal yang tidak beres dalam
urusan ini. Apa lagi melihat munculnya Kwa Sun Tek, pemuda Tai-bong-pai itu yang kemarinnya telah
mengadakan pertemuan di dekat pantai dengan pasukan kapal asing. Diam-diam dia merasa curiga
sekali dan ingin menyelidiki apa yang sesungguhnya terjadi di balik peristiwa hu-kuman aneh itu.
"Aku harus melihat kuburan ayah dan bersembahyang di sana. Harus!!" tangis Pek Lian.
"Akan tetapi, hal itu tentu sangat berbahaya, enci!" cela Siok Eng. "Siapa tahu pasukan meng-adakan
penjagaan dan pengintaian dan akan turun tangan terhadap siapa saja yang berani datang
bersembahyang."
"Aku tidak perduli! Kalau ada yang menggang-guku, aku akan mengamuk dan biarlah aku mati di
kuburan ayahku !" Kembali gadis itu menangis. Teman-temannya segera menghiburnya.
"Baik, malam nanti kita bersama pergi ke ku-buran. Aku pun ingin sekali tahu apa yang sebe-tulnya
telah terjadi," kata Seng Kun. "Kesehatan-ku telah pulih, tenagaku telah kembali, aku akan dapat
membantumu sekarang, nona."
Mereka menanti sampai siang terganti senja. "Kuharap saudara A-hai tinggal saja di losmen ini,
menanti kami pulang," Seng Kun berkata ke-pada pemuda sinting itu.
A-hai menggeleng kepala keras-keras. "Aku tidak suka ditinggal, aku mau ikut! Nona Bwee
Hong,' Pek Lian, biarkan aku ikut!"
Memang aneh pemuda sinting ini. Dia lupa segala, akan tetapi nama Pek Lian dan Bwee Hong dia
tidak pernah lupa!
"Tapi kita melakukan perjalanan yang berbahaya sekali!" Siok Eng mencegah karena khawatir ka-laukalau
terjadi sesuatu dan pemuda sinting ini tidak dapat menjaga diri, kecuali kalau sedang ku-mat.
Akan tetapi siapa tahu kapan kumatnya ?
"Biarpun berbahaya aku tidak takut. Biarlah kalian berempat tidak usah memikirkan aku, tidak perlu
menjagaku. Apapun yang terjadi kepada di-riku, aku tanggung sendiri dan tidak akan menya-lahkan
kalian."
Tentu saja empat orang pendekar itu tidak da-pat membantah lagi. Bagaimanapun juga, mereka
semua maklum bahwa kalau pemuda ini sedang kambuh, tidak ada seorangpun di antara mereka
yang akan mampu menandingi kelihaiannya. A-hai gembira sekali ketika diperbolehkan dan malam itu
dunia-kangouw.blogspot.com
berangkatlah mereka meninggalkan losmen dengan cepat menuju ke lembah bukit di mana terjadi
per-tempuran pada siang hari tadi.
Baru saja mereka keluar dari pintu gerbang kota, serombongan orang yang berpakaian ringkas dan
bersikap gesit mendahului mereka. Orang-orang itu lalu menoleh dan menghentikan langkah mere-ka,
seorang di antara mereka menyapa lirih, "Ka-lian dari gunung mana ?"
Tentu saja Seng Kun dan teman-temannya termangu-mangu mendengar pertanyaan ini. Me-reka tahu
bahwa pertanyaan itu merupakan sema-cam kata sandi untuk mengenal lawan atau kawan, akan
tetapi karena mereka sama sekali tidak tahu arti kata sandi itu, merekapun hanya memandang
bengong. Akan tetapi A-hai segera menjawab dengan nada suara lucu, tanda bahwa pemuda ini
sedang bergembira dan dalam keadaan sehat, "Ma-af, kami bukan dari gunung !"
Serombongan orang itu memandang dengan pe-nuh kecurigaan, akan tetapi karena cuaca hanya
remang-remang, mereka tidak dapat melihat ba-nyak. Seng Kun dan teman-temannya juga tidak
banyak cakap dan melanjutkan perjalanan dengan cepat. Di tengah perjalanan A-hai mengomel.
"Heran sekali, kenapa tiba-tiba bertanya apa-kah kita datang dari gunung ? Eh, nona-nona, apakah
orang macam aku ini kelihatan kampungan dan seperti orang gunung ?" A-hai menunjuk hi-dungnya
sendiri. Melihat sikap ini, tiga orang dara itu tertawa dan sejenak Pek Lian dapat melupakan
kesedihannya.
"Engkau sepantasnya datang dari alam rahasia, A-hai !" kata Siok Eng menggoda.
Ketika mereka tiba di kaki bukit, di tepi hutan kecil nampak beberapa orang laki-laki berdiri di tepi
jalan. Ketika mereka lewat, orang-orang itu menyapa mereka dengan pertanyaan yang sama, "Kalian
dari gunung mana ?"
Kembali rombongan Seng Kun tak dapat men-jawab dan melihat betapa rombongan yang mereka
sapa itu tidak dapat menjawab, merekapun cepat pergi. A-hai menggaruk-garuk kepalanya. "Du-hai
betapa banyaknya orang gila di dunia ini!"
Kembali kawan-kawannya tersenyum melihat sikap A-hai ini. Dia sendiri kalau sedang kumat kaya
orang gila tanpa disadarinya sendiri, kini me-ngatakan orang lain gila.
"Agaknya ada sesuatu yang tidak wajar. Kita harus berhati-hati," kata Seng Kun kep mnjadi marah
dan tanpa banyak cakap lagi mereka berempat lalu menerjang ke depan dan mengamuk. Biarpun
para pengeroyok itu berjum-lah puluhan orang, akan tetapi ternyata mereka itu merasa kewalahan
menandingi amukan empat orang pendekar muda yang lihai itu. Hanya A-hai yang tidak ikut berkelahi.
Pemuda ini hanya berdiri bingung dan berulang-ulang menegur dan men-cela, menyuruh mereka
jangan berkelahi. Tentu saja pemuda ini akan celaka dan terluka kalau saja Bwee Hong dan Pek Lian
tidak selalu melindungi-nya. Dua orang dara ini mengamuk tidak jauh dari tempat A-hai berdiri dan
setiap kali ada penge-royok berani mendekati dan menyerang A-hai, tentu mereka robohkan dengan
tamparan atau ten-dangan.
'Tahan, jangan berkelahi!" Tiba-tiba terde-ngar seruan orang yang penuh wibawa dan semua
pengeroyok menahan senjata dan mundur. Seo-rang laki-laki yang gagah perkasa, sikapnya tenang
namun berwibawa, berpakaian sederhana seperti petani, mukanya agak kurus dan tubuhnya jangkung,
muncul menghadapi lima orang muda itu. Ketika melihat laki-laki gagah perkasa yang usia-nya
antara tigapuluh lima sampai empatpuluh ta-hun ini, Pek Lian berteriak girang.
"Suhu !!"
"Nona Ho, tak kusangka akan dapat bertemu denganmu di sini!" kata laki-laki gagah itu yang bukan
lain adalah Liu Pang atau lebih terkenal dengan sebutan Liu-twako atau Liu-bengcu. "Mari kita
menjauhi tempat ini dan bicara di tem-pat aman."
Tanpa membantah Pek Lian lalu mengajak kawan-kawannya pergi bersama mereka, menghi-lang di
dalam kegelapan sebuah hutan tak jauh dari lembah. Kiranya di tengah hutan ini telah didirikan
sebuah pondok darurat dan Liu Pang mengajak lima orang muda itu masuk ke dalam pondok di mana
dinyalakan sebuah lampu gantung.
dunia-kangouw.blogspot.com
Pek Lian memperkenalkan gurunya kepada te-man-temannya. "Inilah guruku."
Seng Kun, Bwee Hong, dan Siok Eng, juga A-hai memberi hormat kepada laki-laki gagah per-kasa itu
dan A-hai berkata lantang, "Pantas saja nona Pek Lian gagah perkasa, kiranya gurunya juga seorang
yang amat gagah!" Mendengar ini, Liu Pang hanya tersenyum. Pemuda itu kelihatan begitu gagah,
akan tetapi kejujurannya itu berbau ketololan!
"Sudah lama kami mendengar nama besar Liu-bengcu !" kata Seng Kun.
"Nona Ho, siapakah teman-temanmu ini ? Se-muda ini sudah memiliki kepandaian demikian hebatnya
sehingga para pendekar kewalahan dibuat-nya." Pendekar yang kini menjadi pimpinan rakyat
itu memang selalu menyebut nona Ho kepada mu-ridnya, hal ini tentu saja karena Pek Lian adalah
puteri seorang menteri yang berkedudukan tinggi.
"Suhu, twako dan enci ini adalah Chu Seng Kun dan Chu Bwee Hong, keduanya adalah keturunan
dan ahli waris dari Bu-eng Sin-yok-ong! Dan adik ini adalah Kwa Siok Eng, puteri ketua Tai-bong-pai!
Sedangkan twako ini adalah eh,
namanya dikenal sebagai A-hai saja. Dia sendiri lupa akan asal-usulnya, akan tetapi kalau dia sedang
kesetanan, tidak ada seorangpun di dunia ini yang akan dapat melawannya !"
"Wah, wah, jangan begitu Pek Lian. Apakah aku kadang-kadang kemasukan setan ?" A-hai
memprotes, menimbulkan senyum mereka.
"Siancai, tak kusangka akan dapat bertemu dengan orang-orang muda yang ternyata adalah
keturunan tokoh-tokoh besar yang amat hebat! Sungguh merupakan kegembiraan besar sekali. Sayang
kami sedang dalam keadaan prihatin sehing-ga tidak dapat menyambut sepatutnya kepada cuwi
(anda sekalian). Nona Ho, bagaimana engkau dapat muncul di sini bersama sahabat-sahabatmu
ini?"
Ditanya demikian, tak tertahankan lagi Pek Lian menangis. "Suhu ayah" Ia tidak dapat melanjutkan
kata-katanya.
Jilid XIX
LIU-BENGCU menarik napas panjang. "Aku sudah tahu akan hal itu, juga kehancuran teman-teman
yang seratus lebih banyaknya, bah-kan ada puluhan lain teman kita yang kini masih tertawan di Yentai.
Karena itulah maka aku da-tang ke sini bersama kawan-kawan dan kami telah mengatur siasat.
Ketika tadi rombonganmu lewat, kawan-kawan mengira bahwa kalian dari pihak musuh atau pihak lain
yang akan mengacaukan rencana kami, maka mereka menyergap kalian."
"Aku ingin menyembahyangi kuburan ayah, suhu"
Kembali pendekar besar itu menarik napas pan-jang. "Aku mengerti bagaimana perihnya hatimu,
nona. Akan tetapi ayahmu tewas sebagai seorang pahlawan sejati. Kami bahkan mempunyai rencana
yang lebih besar dari pada sekedar menyembah-yanginya. Kami bermaksud mengambil jenazah
ayahmu agar dapat kita makamkan sebagaimana layaknya."
"Ah, terima kasih, suhu!" Pek Lian berkata pe nuh semangat dan kegembiraan. "Bagaimana ren-cana
itu ? Aku akan membantu, kalau perlu ber-korban nyawa menghadapi para pembunuh ayah itu !"
"Jangan terburu nafsu, muridku. Di dalam urusan ini terdapat hal-hal yang penuh rahasia. Pada
mulanya aku sendiripun penasaran sekali mengapa sri baginda kaisar yang sudah mengam-puni para
menteri bahkan berjanji akan mendu-dukkan mereka kembali ke kursi mereka semula, tiba-tiba saja
memerintahkan pasukan kerajaan untuk melaksanakan hukuman mati terhadap ayah-mu secara liar.
dunia-kangouw.blogspot.com
Akan tetapi sekarang aku mengerti dan kiranya semua ini terjadi karena ada pihak ke tiga yang
hendak memberontak terhadap kaisar dan juga hendak menghancurkan kita dan merusak nama baik
kita."
Liu Pang lalu menceritakan dengan singkat. Dia telah menyelidiki di rumah kepala daerah di Yen-tai
dan melihat betapa pembesar itu bersama para perwira telah mengadakan perjamuan untuk menghormati
orang-orang Mongol dan beberapa orang lain yang telah membantu terlaksananya siasat
mereka itu. Liu Pang tidak menyebut nama Kwa Sun Tek, akan tetapi Siok Eng mendengarkan dengan
jantung berdebar dan muka merah. Dari percakapan dalam pesta itu, Liu Pang yang melakukan
pengintaian itu baru mengerti bahwa pem-bunuhan terhadap Menteri Ho dan penyergapan yang
merupakan perangkap terhadap anak buah-nya adalah siasat yang direncanakan dari perseku-tuan
pemberontak itu.
"Mereka sudah tahu pula akan gerakan rom-bonganku yang tiba di sekitar kota," sambung pemimpin
para pendekar itu. "Dan mereka telah merencanakan siasat baru untuk menghancurkan rombonganku
dengan jalan menyebar berita bahwa kuburan Menteri Ho akan dibongkar pada besok malam. Mereka
berpendapat bahwa kita tentu akan mengambilnya lebih dulu sebelum malam datang dan mereka
telah mempersiapkan pasukan untuk menjebak dan menyergap kita."
Seng Kun mengangguk-angguk. Tepat seperti yang diduganya. Tentu ada pihak ke tiga yang
mengacau.
"Maaf, Liu-bengcu, kalau boleh saya tahu. Siapakah pihak ke tiga itu ? Siapakah yang meng-gerakkan
persekutuan ini ? Apakah pembesar se-tempat sini yang hendak memberontak ?"
Liu Pang menghela napas panjang. "Memang belum terdapat buktinya, akan tetapi melihat cara
mempergunakan siasat yang amat cerdik itu, aku mempunyai dugaan bahwa yang berada di balik
semua ini tentulah otak dari Chu Siang Yu."
”Bengcu yang bergerak di barat itu ?'" tanya Seng Kun.
Liu Pang mengangguk. "Aku pernah memban-tunya dan tahu akan kecerdikannya."
"Suhu, lalu apa yang harus kita lakukan selan-jutnya ?" Pek Lian bertanya.
"Pertama-tama, malam ini juga kita harus da-pat mengambil jenazah ayahmu! Kita bergerak kilat
sehingga mereka tidak menduga-duga. Me-reka tentu mengira bahwa belum ada yang akan bergerak,
baru besok setelah berita itu disiarkan. Mereka tidak mengira bahwa aku telah mendengar siasat
mereka, maka kita harus mendahuluinya ma-lam ini juga."
"Baik, kami akan membantu, suhu !" kata Pek Lian mewakili teman-temannya yang tentu saja merasa
setuju.
Malam telah larut ketika mereka menuju ke lembah. Di mulut lembah terdapat pasukan pera-jurit
pemerintah berjaga-jaga di tempat gelap. Tentu saja Liu Pang dan para pendekar muda itu tahu akan
hal ini dan dengan mudah mereka dapat menyelinap masuk tanpa diketahui oleh para pe-rajurit
penjaga itu. Dengan jalan memutar, mele-wati tebing, Liu Pang dan lima orang muda itu menuruni
lembah dan ketika mereka tiba di tem-pat yang sunyi dan menyeramkan itu, tempat per-tempuran,
mereka menjadi bingung. Di tempat itu, di tempat bekas pertempuran, nampak gundukan makam
yang banyak ! Puluhan banyaknya ! Mereka tidak tahu, makam yang mana yang terisi jenazah
Menteri Ho. Kiranya para korban telah ditanam secara kasar dan semua gundukan tanah itu sama
tanpa ada tandanya sama sekali.
"Ah, bagaimana kita dapat menemukan makam ayah kalau begini ?" keluh Pek Lian.
"Hemm, sungguh gila mereka itu. Tak mungkin kita harus membongkar semua makam ini untuk
menemukan jenazah ayahmu," kata Liu-bengcu. Tiba-tiba terdengar suara bisikan dan mereka
semua, kecuali A-hai, terkejut bukan main karena mereka semua maklum apa artinya bisikan yang
seolah-olah dibisikkan di dekat telinga mereka itu. Itu adalah pengiriman suara dari jarak jauh atau
apa yang disebut Coan-im Jip-bit dan pengirim-nya tentu telah memiliki khikang yang amat kuat
sehingga suara dari jauh itu terdengar demikian jelas di dekat telinga masing-masing.
"Kalau kalian ingin mencari makam Menteri Ho, di sinilah tempatnya."
dunia-kangouw.blogspot.com
Liu Pang diikuti oleh lima orang muda itu lalu menghampiri ke arah datangnya suara itu, walau-pun
bagi orang yang kurang tajam pendengarannya suara itu tidak mempunyai arah melainkan terde-ngar
di dekat telinga. Dan di dalam keremangan malam mereka melihat bayangan dua orang berdiri di
dekat sebuah gundukan tanah kuburan, di bawah sebatang pohon yang tidak berdaun dimakan
musim rontok. Karena tubuh mereka terselimut oleh
bayangan pohon, maka kedua orang itu hanya ke-lihatan seperti dua tonggak hitam saja.
Maklum bahwa dia berhadapan dengan orang pandai, Liu Pang bersama lima orang muda itu
melangkah maju menghampiri dengan hati-hati sekali. Setelah dekat barulah dia dapat melihat bahwa
dua orang itu adalah seorang kakek yang sangat tua dan seorang muda yang gagah. Dia sama sekali
tidak mengenal dua orang itu, akan tetapi Pek Lian segera berseru heran.
"Ah, kiranya Kwee-kokcu (ketua lembah Kwee) dan locianpwe " Pek Lian meragu karena ia belum
yakin benar siapa adanya kakek ini walaupun ia sudah mendengar tentang murid-murid Sin-yok-ong.
Seng Kun dan Bwee Hong belum pernah bertemu dengan murid ke tiga dari Sin-yok-ong ini, yang
masih terhitung adik seperguruan kakek guru mereka, akan tetapi mereka sudah banyak mendengar
tentang tokoh ini dari mendiang Bu Kek Siang dan pernah pula mendengar penuturan Pek Lian
tentang pertemuan dara itu dengan ka-kek yang ginkangnya luar biasa itu. Maka Seng Kun sudah
dapat menduga siapa adanya kakek ini, apa lagi ketika mendengar bahwa pemuda gagah itu adalah
kokcu dari Lembah Yang-ce seperti yang pernah diceritakan oleh Pek Lian.
"Kam-susiok-couw, teecu Chu Seng Kun dan Chu Bwee Hong menghaturkan hormat," kata
Seng Kun sambil menjura dengan sikap hormat.
Kakek yang memegang tongkat itu menatap tajam kepada Seng Kun dan Bwee Hong, lalu mengerutkan
alisnya. "Kalian kalian she Chu? Menyebutku susiok-couw ? Ah, kalian inikah yang
dahulu diambil anak oleh Bu Kek Siang?"
Dua orang muda itu lalu menjatuhkan diri ber-lutut. Akan tetapi kakek itu menggerakkan tong-katnya
ke depan dan seperti ada tenaga sakti yang mengangkat mereka, kedua orang muda itu terpak-sa
bangkit berdiri lagi dan menjura.
"Tidak perlu banyak peraturan dalam keadaan seperti ini," kata kakek itu yang segera menghadapi Liu
Pang. "Aku gembira dapat bertemu dengan Liu-bengcu yang gagah perkasa."
Liu Pang cepat menjura dengan hormat. "Ma-afkan bahwa saya tidak mengenal nama dan juluk-an
locianpwe, akan tetapi saya berterima kasih atas petunjuk locianpwe. Inikah makam jenazah Men-teri
Ho ?"
"Benar dan kalau kalian hendak membongkar, cepat-cepatlah. Para penjaga itu telah kami bikin pulas
sampai pagi sehingga sementara ini kalian tidak akan ada yang mengganggu."
Maka mulailah mereka menggali lubang kubur-an baru itu. A-hai tanpa diminta juga membantu dan
ternyata tenaganya besar ketika dia menggali tanah dan batu itu. Juga Seng Kun bekerja keras,
dibantu pula oleh Kwee Tiong Li, ketua Lembah Yang-ce atau murid dari pemberontak Chu Siang Yu
yang kini menjadi murid dari kakek sakti Kain Song Ki itu. Akhirnya, jenazah itu dapat dikeluar-kan
dari timbunan tanah dan batu, dan ternyata jenazah itu masih utuh walaupun pakaiannya masih
compang-camping. Darah dari lambungjnya telah mengering dan kakek bangsawan itu kelihatan seperti
orang tidur saja.
"Ayaaaahhh ! !" Pek Lian tidak dapat menahan kesedihan hatinya dan ia lalu menjatuhkan diri
berlutut di dekat mayat ayahnya sambil menangis. Semua orang memandang dengan terharu ketika
melihat gadis yang perkasa itu bersimpuh dan mengguguk. Seorang gadis yang malang. Keluarganya
menjadi korban keadaan dan pergolakan.
Tanpa mengenal lelah, gadis ini telah menempuh segala macam bahaya dan kesukaran untuk
mencari dan menyelamatkan ayahnya. Kini, ia hanya menemukan ayahnya yang sudah menjadi
mayat dalam keadaan yang demikian menyedihkan.
dunia-kangouw.blogspot.com
Kakek Kam Song Ki yang juga masuk ke dalam lubang itu dan berdiri di belakang Pek Lian dengan
tongkat di tangan kiri, melangkah maju dan me-nyentuh pundak gadis yang sedang menangis sesenggukan
itu. "Cukup, nona. Tidak baik yang sudah mati ditangisi, tidak ada gunanya dan hanya
mengeruhkan suasana dan pikiran saja." Sentuhan di pundak itu mengandung getaran hangat dan
sekaligus membersihkan pikiran Pek Lian dan mem-bangkitkan semangatnya. Ia menoleh dan
tangisnya terhenti.
"Terima kasih, locianpwe," katanya sambil bangkit berdiri. Ketika ia bangkit berdiri itulah ia
berhadapan dan bertemu pandang mata dengan Kwee Tiong Li, pemuda yang juga berlutut di de-kat
kepala jenazah itu, memegang tongkat dan me-ngerutkan alisnya. Dan pertemuan pandang mata itu
mengingatkan Pek Lian siapa adanya pemuda ini. Murid kesayangan Chu Siang Yu ! Dan menu-rut
perhitungan gurunya, semua kejadian itu diatur oleh Chu Siang Yu si pemberontak. Berarti, kema-tian
Tayahnya adalah akibat perbuatan Chu Siang Yu dan pemuda ini adalah murid kesayangannya.
Siapa tahu, murid inilah yang menjadi pelaksana rencana gurunya.
"Engkau harus mempertanggungjawabkan keja-hatan gurumu !" bentaknya dan tiba-tiba gadis itu
menyambar pedang yang tadi diletakkan di atas tanah dan dengan pedang itu diserangnya Kwee
Tiong Li yang menjadi terkejut sekali.
"Trang-trang-tranggg ! !" Tiga kali Tiong Li mengangkat tongkat untuk menangkis serangan pedang
itu dan dia sengaja tidak mengerahkan te-naga agar pedang di tangan gadis yang sedang kalap itu
tidak sampai terlepas. Sementara itu, yang lain-lain sudah cepat turun tangan melerai.
"Nona Ho, dalam keadaan seperti ini, tidak baik sembarangan saja menuduh orang," kata Liu Pang.
Pemimpin inipun melihat bahwa sikap pemuda dan kakek itu tidak seperti musuh, maka diapun berhati-
hati dan tidak mau menyangka orang tanpa melihat buktinya lebih dahulu.
"Nona, aku tidak tahu-menahu dan tidak men-campuri urusan ini!" kata Tiong Li dengan wajah
berduka.
"Nona, semenjak kita saling berpisah, Tiong Li selalu bersamaku. Dia tidak mempunyai hubungan lagi
dengan segala macam pemberontakan," kakek Kam Song Ki juga menerangkan.
Pek Liian sadar akan kelancangannya, maka de-ngan muka merah ia memandang kepada Tiong Li
sambil berkata, "Maafkan pikiranku sedang kacau "
Tiong Li tersenyum kasihan. "Tidak mengapa nona. Aku mengerti."
Liu Pang lalu mengeluarkan segulung kain lebar dan jenazah itu dibungkus, kemudian mereka pergi
meninggalkan lembah itu. Setelah tiba di luar lembah, kakek Kam Song Ki berkata, "Kami berdua
harus pergi dari sini. Selamat tinggal!" Dan sekali berkelebat, kedua orang itupun lenyap dari depan
mereka.
Melihat ini, Liu Pang menggeleng-geleng ke-palanya dengan penuh kagum. "Di jaman ini masih ada
orang dengan ginkang seperti itu, sungguh sukar untuk dipercaya kalau tidak melihatnya sen-diri."
"Suhu, kakek itu adalah murid ke tiga dari mendiang Sin-yok-ong locianpwe," kata Pek Lian.
Liu Pang mengangguk-angguk dan menjadi semakin kagum, juga diam-diam dia merasa heran
mengapa kini bermunculan keturunan dari para datuk sakti di jaman dahulu. Apakah ini menjadi
pertanda akan terjadinya perobahan besar di dunia? Pemimpin ini sama sekali pada saat itu tidak pernah
mengira bahwa dialah orangnya yang akan mendatangkan perobahan besar itu seperti terbukti
dalam sejarah bahwa Liu Pang inilah yang kelak akan menjadi kaisar yang berkuasa penuh !
Jenazah Menteri Ho dipanggul oleh Liu Pang sendiri dan fajar telah menyingsing ketika rom-bongan
itu tiba kembali di dalam hutan, di mana para pendekar berkumpul. Jenazah itu dengan upacara
sederhana namun penuh hormat, menerima penghormatan para pendekar itu, kemudian diperabukan.
Setelah upacara penyempurnaan jenazah Men-teri Ho selesai, pada pagi hari itu juga Liu Pang
mengadakan musyawarah dengan para pimpinan pendekar, dihadiri pula oleh Pek Lian, Bwee Hong,
dunia-kangouw.blogspot.com
Siok Eng, Seng Kun, dan A-hai. Sebelum mu-syawarah dimulai, Liu Pang yang sudah mendengar
keterangan muridnya tentang kawan-kawan mu-ridnya itu berkata, "Saudara sekalian hendaknya
maklum bahwa Chu-taihiap ini dan adiknya, ada-lah dua orang utusan pribadi sri baginda kaisar..."
"Ahhh ! !" Beberapa orang pendekar kaget dan memandang dengan mata terbelalak.
Liu Pang mengangkat tangan menyuruh mereka tenang. "Harap kalian tenang. Mereka ini adalah
putera dan puteri dari Bu Hong Sengjin kepala kuil istana Thian-to-tang yang berpihak kepada para
menteri yang baik. Dan mereka ini diutus oleh kaisar untuk menyelamatkan Menteri Ho. Jadi,
pekerjaan mereka ini sama sekali tidak bertentang-an dengan perjuangan kita." Mendengar ini, para
pendekar itu mengangguk-angguk dan tidak men-jadi gelisah lagi.
"Dan nona Kwa Siok Eng ini adalah puteri dari ketua Tai-bong-pai "
Kembali para pendekar menjadi terkejut dan gelisah. "Pemuda kurus yang bernama Kwa Sun Tek
itupun putera ketua Tai-bong-pai dan dia membantu persekutuan pemberontak!"
"Kwa Sun tek adalah kakak kandungku, akan tetapi dia menyeleweng dari peraturan Tai-bong-pai
yang tidak membolehkan semua anggautanya melibatkan diri dengan urusan orang lain, apa lagi
urusan pemberontakan. Jadi, kalau dia bersalah, harap kalian jangan melibatkan Tai-bong-pai yang
tidak tahu apa-apa, itu adalah kesalahan pribadinya."
Keterangan nona itu cukup jelas dan dapat di-terima karena orang-orang muda itu adalah sa-habatsahabat
dari nona Ho Pek Lian, maka merekapun dapat mempercaya keterangan gadis Tai-bong-pai
itu.
"Dan saudara A-hai ini adalah seorang sahabat yang sudah banyak membantuku." Pek Lian melanjutkan
keterangan gurunya karena tidak ada seorangpun di antara mereka yang tahu betul siapa
sebenarnya pemuda aneh ini. Bahkan orangnya sendiripun tidak tahu asal-usulnya sendiri.
Musyawarah lalu dimulai. "Jelaslah bahwa gu-bernur wilayah ini telah bersekongkol dengan pasukan
asing yang dipimpin oleh orang Mongol. Mereka itu akan menjebak kita di lembah malam ini dan
mengharapkan kita akan datang merampas jenazah. Kita telah berhasil mendahului mereka dan
makam itu telah kita tutup kembali sedangkan para penjaga itu dalam keadaan pulas akibat ban-tuan
kakek sakti sehingga mereka tidak tahu bahwa jenazah telah kita rampas. Adanya pasukan asing itu
sungguh amat berbahaya bagi negara kita, maka kewajiban kita adalah untuk menghancurkan
pasukan asing itu. Dan kalau bala tentara kerajaan yang berada di bawah kekuasaan para pembesar
setempat membantu pasukan asing, berarti mereka itu, adalah pengkhianat-pengkhianat yang harus
kita hancurkan pula."
Dengan panjang lebar Liu Pang lalu memberi gambaran keadaan di waktu itu. Bahwa ada keku-atan
lain yang memberontak terhadap kaisar, yang bersekongkol dengan pasukan asing. "Kita bukan
membela kaisar pribadi, melainkan membela negara agar tidak dicengkeram oleh para pemberontak
yang mementingkan diri pribadi untuk merampas kedudukan, juga harus menghancurkan pasukan
asing agar jangan menduduki tanah air kita. Kalau perlu, kita rampas dusun dan kota yang berada di
bawah kekuasaan bala tentara pemerintah yang memberontak dan bersekongkol dengan pasukan
asing." Demikian antara lain dia berkata.
Mereka lalu mengatur siasat. Jumlah anak buah Liu Pang yang telah berkumpul di sekitar tempat itu
tidak kurang dari tigaratus orang. Ka-rena dia tahu bahwa kekuatan pasukan penjaga kota Yen-tai dan
pasukan asing akan dikerahkan untuk menjebak mereka di lembah itu sehingga kota Yen-tai akan
ditinggalkan kosong atau tidak terjaga kuat, dia mengambil keputusan untuk me-nyerbu dan
menduduki kota Yen-tai!
"Kita pecah kekuatan kita menjadi dua. Murid-ku, nona Ho ini memimpin para sahabatnya yang
berilmu tinggi dibantu oleh belasan orang yang memiliki kepandaian tinggi, pergi ke lembah malam ini,
pura-pura hendak mengambil jenazah. Hal ini akan menarik seluruh perhatian dan pemusatan
kekuatan musuh ke lembah. Sementara itu, sisa seluruh kekuatan kita akan kupimpin sendiri menyerbu
kota Yen-tai, mendudukinya dan membe-baskan ratusan teman-teman kita yang tertawan."
Sehari itu, para pendekar ini mengatur siasat dan membagi-bagi pekerjaan. Ada pula yang bertugas
memancing perhatian musuh dengan me-nyelidiki keadaan lembah sehingga menimbulkan kesan
dunia-kangouw.blogspot.com
bahwa malam nanti para pendekar hendak mendahului pasukan pemerintah membongkar ma-kam !
Sementara itu, diam-diam beberapa orang anggauta rombongan yang berkepandaian tinggi
melakukan penyelidikan ke kota Yen-tai dan me-lihat gerak-gerik dan gerakan pasukan di kota itu.
Memang tepat dugaan Liu Pang seperti yang telah dipaparkan kepada teman-temannya. Setelah
menyebar berita desas-desus bahwa malam itu pa-sukan hendak membongkar makam Menteri Ho,
dan setelah melihat adanya orang-orang yang melakukan penyelidikan ke makam, maka pasukan
pemerintah dibantu oleh pasukan asing dipusatkan ke sekeliling lembah. Lembah itu seperti mereka
kepung untuk menanti datangnya rombongan pen-dekar untuk menjebak dan membinasakan mereka
seperti yang telah dilakukan kemarin. Dan karena pemusatan kekuatan ke lembah itu, maka kota Yentai
hanya dijaga oleh pasukan kecil saja.
Setelah rencana diatur matang berangkatlah Pek Lian bersama Seng Kun, Bwee Hong, Siok Eng dan
tidak ketinggalan pula A-hai, disertai pula oleh beberapa orang pendekar sehingga jumlah mereka ada
limabelas orang menuju ke lembah. Mereka itu sengaja mengambil jalan menyusup-nyusup seperti
orang-orang yang sungguh-sungguh hendak melakukan pekerjaan rahasia, memasuki lembah. Tentu
saja gerakan mereka itu diketahui oleh pasukan yang sudah berjaga-jaga dan para pemimpin
pasukan sudah menggosok-gosok tangan dengan gembira dan puas, merasa betapa siasat mereka
berhasil baik dan para pendekar telah berdatangan ke lembah. Mereka itu percaya bahwa yang
datang tentu banyak pendekar, tentu dengan jalan menyusup-nyusup dari berbagai jurusan.
Para pemimpin pasukan itu menanti sampai tidak nampak lagi adanya musuh yang menyusup
memasuki lembah. Cuaca mulai remang-remang karena senja telah mendatang ketika lembah yang
sunyi itu tiba-tiba menjadi gempar oleh suara terompet sebagai tanda bagi pasukan-pasukan itu untuk
menyerbu ke dalam lembah. Dan mereka itu dihadapkan pada suatu kenyataan yang membingungkan
! Ternyata yang berada di dalam lem-bah itu hanya ada limabelas orang saja, di antaranya
malah tiga orang gadis cantik. Dan empatbe-las orang di antara mereka, karena yang seorang
biarpun nampak gagah perkasa hanya tinggal diam saja, sudah menyambut pasukan dengan senjata
pedang di tangan, lalu empatbelas orang pendekar itu menerjang dan mengamuk. Dan biarpun yang
terjadi kemudian adalah sebuah pertempuran yang terlalu berat sebelah, empatbelas orang melawan
beratus-ratus perajurit pemerintah yang dibantu oleh perajurit-perajurit asing, namun para perajurit itu
benar-benar merasa kecelik karena ternyata bah-wa empatbelas orang ini lihai bukan main dan dalam
waktu singkat saja sudah ada puluhan orang perajurit yang roboh! Melihat ini, para pimpinan pasukan
cepat merobah siasat dan tak lama kemu-dian, yang maju mengeroyok hanyalah perajurit-perajurit
yang pandai ilmu silat dibantu oleh per-wira-perwira yang lihai. Juga mereka ini mem-pergunakan
senjata panjang seperti tombak dan toya agar tidak usah terlalu berdekatan dengan para pendekar
yang lihai itu. Setelah diadakan siasat seperti ini, ditambah pula dengan bantuan para perajurit yang
luar biasa banyaknya, mulailah para pendekar itu terdesak dan terhimpit!
Pek Lian melihat keadaan yang tidak mengun-tungkan. Memang, mereka telah berhasil mero-bohkan
banyak lawan, akan tetapi pihaknya mulai terdesak dan ada dua orang pendekar yang sudah
menderita luka cukup parah sehingga mereka itu mulai lemah. Tugas pasukan kecil ini memang
hanya untuk memancing dan mengalihkan perha-tian, agar musuh memusatkan kekuatan di lembah
ini sementara Liu Pang dan pasukannya menyerbu kota. Akan tetapi untuk menyuruh teman-temannya
mundur, Pek Lian khawatir kalau-kalau hal itu akan menggagalkan usaha gurunya. Ia harus dapat
bertahan selama mungkin dan baru setelah melihat tanda rahasia gurunya, yaitu sorak-sorai dan
panah api ke udara ia boleh meninggalkan tempat itu. Akan tetapi, keadaan pasukannya yang kecil
mulai terhimpit dan hanya ia sendiri, Siok Eng, Seng Kun dan Bwee Hong sajalah yang masih
kelihatan segar. Namun, berapa lama mereka akan dapat bertahan menghadapi lawan yang begini
ba-nyaknya ?
Tiba-tiba Pek Lian teringat kepada A-hai. Pemuda ini masih berdiri dengan mata terbelalak dan muka
pucat menyaksikan pertempuran. Ia ta-hu bahwa pemuda itu amat membenci perkelahian dan merasa
ngeri kalau melihat darah. Darah ! Itulah yang akan membuat A-hai kumat dan kalau pemuda itu
kumat dan ia dapat mempergunakan kedahsyatan kepandaian A-hai, tentu ia dan ka-wan-kawannya
akan dapat tertolong dan perta-hanan itu dapat dilakukan cukup lama sehingga gurunya mendapatkan
kesempatan cukup banyak untuk melakukan penyerbuan ke kota Yen-tai.
Pada saat itu, sebatang tombak menyambar dan menusuk ke arah lambungnya dari kanan. Pek Lian
membiarkan saja tombak itu lewat, hanya miringkan sedikit tubuhnya dan begitu nampak bayangan
tombak lewat, cepat ia menangkap ba-tang tombak dengan tangan kirinya, lalu membetot dengan
pengerahan sinkang dan berbareng tubuh-nya membalik ke kanan, pedangnya menyambar dan
dunia-kangouw.blogspot.com
terdengarlah pekik mengerikan ketika lawan yang memegang tombak itu roboh dan darah muncrat
dari dadanya. Pek Lian melangkah maju dan se-ngaja membiarkan tangan kirinya terkena percikan
darah yang cukup banyak. Setelah itu, sekali lon cat ia telah mendekati A-hai yang memandang dengan
mata terbelalak.
"A-hai bantulah aku !" kata Pek Lian sambil menangkap lengan kanan pemuda itu dengan tangan
kirinya yang bernoda darah.
"Ah, aku...... aku tidak berani, Pek Lian... aku tidak suka berkelahi" jawab A-hai menggelengkan
kepalanya.
"Lihat, lenganmu berlepotan darah, A-hai !"
Tiba-tiba Pek Lian menepuk lengan itu dengan keras dan begitu A-hai melihat ke arah lengan-nya,
seketika wajahnya menjadi pucat, matanya terbelalak, dan tubuhnya gemetaran.
"Darah... ! Darah... ! Ahhh, ibuuuu... darah... darah... !!" Makin keras tubuh itu gemetar dan kini
dengan hati ngeri Pek Lian men-dengar suara berkerotokan di seluruh tubuh pemuda itu !
Pada saat itu, dua orang musuh sudah mener-jang Pek Lian dari kanan kiri, menggunakan golok
mereka. Kedua orang ini adalah perwira-perwira musuh yang cukup lihai. Pek Lian yang sudah
melihat betapa terjadi perobahan pada diri A-hai, cepat mengelak sambil menarik lengan A-hai ke
arah dua orang penyerang itu dan berkata, "A-hai, tolonglah aku !"
"Bresss... !" Tubuh A-hai bertemu dengan terjangan kedua orang itu dan sebatang golok menghantam
pundaknya, akan tetapi golok itu mental dengan keras seperti bertemu baja.
"Aku menolongmu, Pek Lian, aku menolong-mu!" A-hai berkata di antara tangisnya dan se-kali kedua
tangannya merenggut, dia sudah men-jambak rambut dua orang perwira itu dan menga-du kepala
mereka.
"Prakkk... !" Pecahlah dua kepala perwira itu dan A-hai melontarkannya ke depan, lalu diapun
mengamuk ! Siapa saja yang dekat dengan dia, tentu terkena sambaran angin pukulannya yang
cukup membuat orang terlempar, terbanting dan semaput! Semua senjata yang mengenai dirinya,
mental seperti mengenai baja sehingga tentu saja keadaan menjadi geger! Akan tetapi celakanya, Ahai
tidak memandang bulu. Ketika dia kebe-tulan dekat dengan Seng Kun, diapun menghantam dan
Seng Kun yang sudah tahu akan kehebatan pemuda ini, cepat menggulingkan tubuhnya karena untuk
mengelak sudah tidak keburu lagi. Diapun terguling-guling dan meloncat bangun dengan muka
pucat, maklum betapa berbahayanya pu-kulan A-hai tadi. Pek Lian cepat mendekati Bwee Hong.
"Enci, mari kita bujuk dia agar membantu kita dan jangan menjauh dari kita !"
Wajah Bwee Hong berobah merah dan meng-angguk, lalu menerobos di antara hujan senjata itu
mendekati A-hai.
"A-hai, bantulah aku !" Pek Lian berseru.
"Pek Lian, aku membantumu !" A-hai berkata seperti orang mimpi dan diapun menubruk ke arah
seorang Mongol tinggi besar yane mengeroyok Pek Lian. Orang Mongol itu bertubuh raksasa dan
nampak kuat sekali, maka melihat A-hai menu-bruknya, dia menyeringai lebar dan kedua lengan-nya
yang panjang dan besar itu segera diulur dan menangkap. Tangan kanan dengan jari-jari pan-jang
besar itu mencengkeram pundak dan tangan kiri mencengkeram bahu, kemudian raksasa Mo-ngol
yang menjadi ahli gulat itu mengerahkan te-naga hendak mengangkat tubuh lawannya yang jauh lebih
kecil darinya itu untuk kemudian diban-ting. Akan tetapi, tubuh kecil itu tidak bergoyang sedikitpun
juga, jangankan terangkat! Si Mongol mendengus-dengus mengerahkan kekuatannya, dari mulutnya
terdengar suara ah-ah-uh-uh dan mukanya menjadi merah, otot-ototnya menggem-bung seperti orang
sakit perut tak dapat buang air besar dengan lancar.
Tadinya A-hai yang sedang kumat itu agaknya bingung dan heran mengapa orang ini memelukmeluknya,
seperti tidak mengajak berkelahi, kemu-dian agaknya dia merasa bosan dan sekali kedua
dunia-kangouw.blogspot.com
tangannya menangkap pinggang yang besar itu dan membentak, tubuh raksasa itu terangkat ke atas,
kemudian dibanting.
"Brukkk... !!" Tubuh besar itu terbanting keras dan berkelojotan, mengeluarkan suara tidak karuan
dan orang itupun sekarat karena tulang punggungnya patah ketika terbanting tadi.
"A-hai, bantulah aku... !" Bwee Hong mencoba untuk berteriak setelah dianjurkan oleh Pek
Lian. Dara inipun sedang menandingi pengeroyokan empat orang lawan.
"Bwee Hong, aku membantumu !" teriak A-hai dan sekali meloncat, diapun sudah menggerakkan
kedua tangan mendorong dan dua orang pengero-yok Bwee Hong terjengkang dan muntah darah,
tewas tanpa tersentuh tangan pemuda itu sedikit-pun juga!
Ternyata A-hai dalam keadaan kumat itu masih teringat kepada Pek Lian dan Bwee Hong. Pek Lian
berteriak kepada Siok Eng dan Seng Kun untuk mencoba pula. Akan tetapi ketika dua orang ini minta
bantuan A-hai, pemuda sinting itu sama sekali tidak menjawab, bahkan dengan bingung dia
menyerang Siok Eng dengan dorongan tangan kirinya. Angin pukulan dahsyat menyambar ke arah
gadis itu.
"Ilihhhh ...... !" Siok Eng berseru kaget dan karena melihat tidak ada kesempatan menghindar lagi,
puteri ketua Tai-bong-pai inipun lalu meng-gunakan kedua tangannya menolak dan biarpun belum
sempurna, tenaga sakti Asap Hio melin-dunginya dan dari kedua tangannya meluncur uap putih.
Bagaimanapun juga, tetap saja ketika dua tenaga sakti bertemu, tubuh dara ini terguling dan untung ia
cepat menggulingkan tubuhnya ke kiri dan meloncat bangun dengan muka pucat.
Karena maklum bahwa A-hai hanya mengenal ia dan Bwee Hong, Pek Lian lalu mengeluarkan
saputangan kuning dan merobek-robeknya, mem-bagi-bag'kan robekan kain kuning itu kepada semua
anggauta rombongannya yang masih sibuk menghadapi pengeroyokan banyak musuh dan me-nyuruh
mereka memasang kain kuning itu pada rambut masing-masing.
"A-hai, jangan menyerang teman yang memakai kain kuning di rambutnya !" Demikian Pek Lian dan
Bwee Hong berseru kepada A-hai.
"Baik ! !" jawab A-hai dan kini pemuda itu mengangguk sambil melihat ke arah rambut setiap orang
yang digempurnya. Gegerlah keadaan di tempat itu dan terpaksa para pimpinan dua pasukan itu
mengerahkan orang-orangnya yang terpandai karena para pendekar itu, terutama pemuda tinggi
tegap yang mengamuk secara meng-giriskan itu, merupakan lawan yang amat lihai dan tangguh.
Setelah A-hai mengamuk, rombongan itu tidak begitu terdesak lagi. Bahkan pasukan itu kocar-kacir
dan sebagian besar dari mereka menjadi gentar sekali dan menjauhkan diri.
Sementara itu, di kota Yen-tai juga terjadi hal yang amat hebat. Liu Pang dengan pasukannya yang
terdiri dari para pendekar dan berjumlah se-kitar tigaratus orang menyerbu gedung kepala dae-rah.
Serangan ini terjadi amat tiba-tiba karena para pendekar itu telah menyelundup dengan di-am-diam ke
dalam kota. Tentu saja kota menjadi geger. Pasukan pengawal dan penjaga melakukan perlawanan,
dipimpin sendiri oleh pembesar yang menjadi kepala daerah Yen-tai. Namun, para pendekar yang
dipimpin oleh Liu Pang itu ternyata jauh lebih kuat dan kepala daerah itu terpaksa melarikan diri
dikawal oleh pasukan pengawalnya, menuju ke kota gubemuran.
Liu Pang membebaskan para tawanan sehingga kini jumlah mereka mendekati limaratus orang dan
mereka segera menduduki kota, melakukan penja-gaan di pintu-pintu gerbang dan rakyat menyambut
mereka dengan gembira. Mereka ini memper-oleh simpati dari rakyat oleh karena sikap para anak
buah pasukan Liu Pang ini memang gagah perkasa dan sopan. Mereka adalah pendekar-pendekar
dan terdiri dari rakyat jelata pula, maka tentu saja mereka tidak mau mengganggu rakyat. Liu-Pang
lalu memerintahkan anak buahnya untuk melepas panah-panah berapi sebagai tanda keberhasilan
mereka kepada Pek Lian dan kawan-kawannya yang bertugas di lembah.
Melihat panah-panah berapi itu meluncur di udara arah kota Yen-tai, dibarengi sorak-sorai para
pendekar dan rakyat, Pek Lian gembira bukan main. "Suhu berhasil! Mereka telah menduduki kota
Yen-tai! !"
dunia-kangouw.blogspot.com
Sebaliknya, pasukan yang mengeroyok mereka terkejut sekali. Para pimpinan mereka lalu memerintahkan
mereka untuk meninggalkan lembah. Apa lagi, para pendekar yang berada di lembah itu
hanya limabelas orang saja, tidak cukup berharga untuk dibasmi, kalaupun mereka mampu melakukannya
karena para pendekar itu benar-benar lihai bukan main. Amukan mereka itu telah merobohkan
puluhan orang perajurit.
A-hai tetap mengamuk biarpun para perajurit telah mengundurkan diri. Para pendekar melihat dengan
penuh takjub. Bahkan Seng Kun sendiri memandang dengan mata terbelalak. Pemuda itu memang
hebat bukan main. Kini pemuda itu ber-silat secara aneh, gerakannya mantap, kedua ka-kinya
bergeser-geser ke depan, bukan melangkah dan kedua tangannya memukul-mukul ke depan dengan
telapak tangan terbuka. "Set-set-settt !" kedua kaki itu bergeser ke depan dan ketika kedua tangan itu
memukul-mukul dengan dorongan kuat, nampak hawa yang seperti sinar putih keluar dari kedua
telapak tangan dan tiap kali kedua telapak tangan itu bergesekan, terdengar suara meledak dan
nampak seperti ada bunga api berpijar! Tangan kanan itu meluncur ke kanan, ke arah bayangan
hitam yang mungkin dianggap musuh oleh A-hai.
"Braaaakkkk !" Dan robohlah sebatang pohon besar.
A-hai memukul ke kiri sambil membalikkan tubuh, menghantam ke arah bayangan hitam, lain.
"Blaarrrr!" Sebongkah batu karang besar pecah berantakan dan terguling!
"Bukan main ! Itu agaknya Thai – lek Pek-kong-ciang!" kata Seng Kun dengan takjub. Dia
pernah mendengar cerita dari Bu Kek Siang tentang ilmu pukulan mujijat itu akan tetapi belum pernah
menyaksikannya. Dan kalau sekarang pemuda sinting itu mampu melakukan ilmu pukulan mujijat itu
sedemikian baiknya, maka asal-usul pemuda itu sungguh menjadi semakin menarik dan penuh
rahasia.
Pek Lian yang maklum bahwa kalau dibiarkan berlarut-larut, keadaan A-hai bisa berbahaya, lalu
menggandeng tangan Bwee Hong dan mende-kati pemuda itu. Keduanya membujuk, "A-hai, lihatlah
kami... jangan mengamuk lagi, jangan berkelahi lagi, sudah tidak ada musuh yang harus dilawan !"
A-hai menghentikan permainan silatnya, memandang kosong kepada dua orang dara itu dan nampak
bingung. "Jangan berkelahi..... jangan membunuh..... ahhh.. Pek Lian..... Bwee Hong, jangan
berkelahi..." Dan diapun menjatuhkan diri berlutut dan tubuhnya menjadi lemas.
Mereka lalu kembali ke kota Yen-tai dan di-sambut oleh Liu Pang sendiri yang memuji mereka
sebagai orang-orang yang telah berhasil menunai-kan tugas penting. "Kita harus terus melakukan
pengejaran dan menyerbu kota Yen-kin, menang-kap gubernur yang bersekutu dengan pasukan
asing itu," katanya dan merekapun bersiap-siap. Ke-menangan Liu Pang dan pasukannya ini
disambut gembira oleh rakyat dan banyaklah rakyat di sekitar daerah itu yang berdatangan dan
masuk menjadi anggauta suka rela! Bahkan banyak pula bekas-bekas perajurit pasukan pemerintah
yang menye-berang dan membantu gerakan Liu Pang yang hendak melakukan pembersihan
terhadap para pengkhianat dan pasukan asing.
Pada kesokan harinya, Liu Pang memimpin pa-sukannya yang menjadi semakin besar jumlahnya itu
menuju ke Yen-kin. Chu Seng Kun dan Chu Bwee Hong ikut membantu karena kakak beradik ini
maklum bahwa gerakan Liu Pang itu adalah untuk membantu pemerintah menghancurkan para
pengkhianat yang hendak memberontak dan yang bersekutu dengan pasukan asing.
Di sepanjang perjalanan menuju ke Yen-kin, berbondong-bondong rakyat dan perajurit kerajaan yang
menyeberang menyambut dan masuk pula menjadi sukarelawan untuk mengusir pasukan asing dan
menghajar pasukan pemerintah yang hendak memberontak dan berkhianat. Apa lagi karena semua
orang mendengar bahwa Liu Pang adalah seorang pemimpin rakyat yang sejati, yang datang dari
kalangan rakyat petani. Demikian banyaknya rakyat mendukung sehingga jumlah pasukan itu setelah
tiba di Yen-kin sudah mencapai hampir sepuluh ribu orang !
Ternyata Gubernur Ci yang berkuasa di propinsi bagian timur (sekarang Shan-tung) itu telah menerima
pelaporan kepala daerah Yen-tai dan sudah bersiap-siap dengan pasukannya, dibantu pula
oleh pasukan asing yang dipimpin oleh Malisang, raksasa peranakan Mongol itu. Juga ada pula padunia-
kangouw.blogspot.com
sukan yang menjadi anak buah pemberontak Chu Siang Yu, yang dibantu oleh Kwa Sun Tek tokoh
Tai-bong-pai bersama anak buahnya, yaitu ang-gauta-anggauta Tai-bong-pai yang dibawa menyeleweng
oleh Kwa Sun Tek, bersekutu dengan para pemberontak untuk mencari kedudukan. Gubernur
Ci merasa yakin akan dapat menghancurkan pasukan pimpinan Liu Pang yang dianggap
sebagai penghalang cita-citanya itu karena dia menerima laporan bahwa pasukan yang menyerbu
Yen-tai itu hanya berjumlah tigaratus orang lebih. Padahal, pasukan keamanan di daerahnya yang
dikumpulkan itu berjumlah limaribu orang, belum lagi ratusan orang pasukan asing dan pasukan
pemberontak Chu Siang Yu. Jumlah pasukannya tidak kurang dari enamribu orang. Mana mungkin
musuh yang hanya tigaratus orang lebih itu akan mampu menandingi enamribu orang? Dia sama
sekali tidak pernah mimpi bahwa dalam waktu singkat, rakyat dan para perajurit yang menyeberang
berbondong-bondong menjadi sukarelawan dan kini pasukan Liu Pang berjumlah selaksa orang!
Dapat dibayangkan betapa kagetnya Gubernur Ci dan para sekutunya ketika mendengar bahwa Liu
Pang datang dengan pasukan yang mendekati selaksa orang jumlahnya ! Terjadilah perang yang
dahsyat di luar kota Yen-kin. Perang yang mema-kan waktu setengah hari lebih. Akan tetapi karena
Liu Pang dibantu oleh orang-orang gagah, walau-pun sekali ini A-hai tidak ikut berperang, dan juga
karena jumlah pasukan Liu Pang jauh lebih banyak, akhirnya pasukan gubernur itu lari cerai-berai dan
banyak yang tewas. Gubernur dan sekutunya ter-paksa melarikan diri ke utara dan kota Yen-kin
diduduki oleh Liu Pang.
Karena maklum bahwa di depan terdapat bala tentara kerajaan yang kuat dan pula dia harus
membiarkan pasukannya beristirahat, Liu Pang ti-dak melakukan pengejaran dan mengatur kota Yenkin
yang didudukinya itu, mengatur penjagaan dan menyebar para penyelidik untuk menyelidiki
keadaan musuh yang melarikan diri ke arah kota Cin-an.
Gubernur Ci adalah seorang yang cerdik, apa-lagi dia adalah sekutu pemberontak Chu Siang Yu yang
telah memberi rencana siasat kepadanya. Be-gitu melarikan diri dari Yen-kiri, gubernur ini bersama
pasukan pengawalnya dan pasukan-pa-sukan lain yang melarikan diri, langsung menuju ke Cin-an
dan mendatangi Lai-goanswe yang menjadi panglima yang berkuasa atas benteng dan bala tentara
kerajaan di daerah timur. Gubernur itu lalu memberi laporan dan tentu saja dia me-mutarbalikkan
kenyataan. Dia melaporkan bahwa pemberontak Liu Pang melakukan gerakan tiba-tiba di timur,
menduduki kota Yen-tai dan Yen-kin, dan kini mengumpulkan barisan pemberontak yang jumlahnya
selaksa orang dan hendak bergerak ke barat.
Mendengar laporan ini, Lai-goanswe (Jenderal Lai), terkejut sekali. Tentu saja dia sudah men-dengar
nama besar Liu Pang sebagai pemimpin rakyat, sebagai bengcu yang mengepalai para pen-dekar
dan yang ikut memprotes tindakan-tindakan kaisar terhadap ditangkapnya para menteri. Dan dia juga
maklum bahwa Liu Pang adalah seorang pendekar yang berilmu tinggi, seorang pendekar dan jagoan
pedang yang disuka oleh para pende-kar kang-ouw. Baru pemberontakan-pemberon-
34 takan yang dilakukan oleh Chu Siang Yu dan yang bergerak di daerah barat saja sudah amat
memu-singkan, apalagi kalau Liu Pang kini memberontak pula. Lai-goanswe adalah seorang jenderal
ber-usia empatpuluh lima tahun yang pandai dan juga gagah perkasa, merupakan pembantu utama
dari Jenderal Beng Tian dan seorang perajurit sejati yang tidak melibatkan diri dengan politik, dan hatinya
bulat menjunjung tugasnya, yaitu membela negara dan mentaati perintah atasan.
Begitu mendengar tentang pemberontakan Liu Pang, Lai-goanswe cepat mempersiapkan pasukannya
yang selaksa orang jumlahnya. Dan diapun mempergunakan sisa pasukan dari Gubernur Ci
untuk memperkuat pasukannya. Akan tetapi tentu saja ketika menghadap Jenderal Lai, Gubernur Ci
sama sekali tidak bercerita tentang persekutuannya dengan Chu Siang Yu, apa lagi dengan bantuan
pasukan asing! Dan jenderal itupun tidak tahu sama sekali bahwa dia telah ditipu dan diadu dom-ba
dengan Liu Pang oleh Gubernur Ci.
Tentu saja Liu Parig terkejut bukan main me-lihat pasukan besar Jenderal Lai datang dan menyambutnya
dengan serangan. Dia sama sekali tidak bermaksud melawan pasukan pemerintah.
Semua yang dilakukan hanyalah membasmi pasu-kan asing dan menentang para pejabat yang bersekutu
dengan orang-orang asing. Akan tetapi, sudah tidak ada waktu lagi. baginya untuk menjer-nihkan
kesalahpahaman ini. Pasukan Jenderal Lai sudah datang menyerbu. Bahkan diam-diam Liu Pang
menjadi penasaran sekali dan mengira bahwa memang kaisar berhati palsu dan bercabang, di satu
pihak pura-pura membetulkan kesalahannya dan hendak mengangkat kembali para menteri jujur, di
dunia-kangouw.blogspot.com
lain pihak menggunakan tangan besi menentang para pendekar patriot Maka Liu Pang lalu mela-wan
dan mengerahkan pasukannya.
Pertempuran yang amat dahsyat dan seru ter-jadilah di luar kota Cin-an. Setelah kedua pihak
kehilangan banyak perajurit, pasukan kerajaan ter-desak sehingga terpaksa mundur dan melakukan
pertahanan di dalam kota yang dikepung oleh pasukan Liu Pang. Di luar kehendaknya sendiri, Liu
Pang mulai hari itu secara resmi dianggap sebagai pemberontak oleh kerajaan.
Bentrokan langsung dengan pasukan pemerintah ini membuat Chu Seng Kun dan Chu Bwee Hong
merasa kikuk dan bingung. Tidak mungkin me-reka dapat membantu Liu Pang dan pasukannya untuk
menentang pemerintah sendiri! Ayah me-reka, Pangeran Chu Sin yang kini telah menjadi kepala kuil
istana yang berjuluk Bu Hong Sengjin, adalah seorang anggauta keluarga istana yang pen-ting. Seng
Kun sendiri menerima tugas dari kaisar untuk mencari Menteri Ho, berarti diapun seorang utusan dan
petugas kaisar bagaimana mungkin dia berada di dalam pasukan para pendekar yang kini telah
digempur pasukan pemerintah sebagai pemberontak ? Seng Kun tidak dapat menyalahkan Liu Pang
dan dia dapat memaklumi bahwa sesung-guhnya bukanlah kehendak Liu Pang dan pasukan-nya
untuk memberontak.
"Liu-bengcu, harap maafkan kami berdua. Dalam kedudukan saya sebagai utusan kaisar yang berarti
bahwa saya adalah seorang petugas kera-jaan, keadaan sekarang ini tentu tidak memungkin-kan
saya untuk terus berkumpul dengan pasukan bengcu lebih lama lagi. Kami berdua akan kembali ke
kota raja dan membuat laporan tentang apa yang terjadi atas diri Menteri Ho."
Liu Pang menarik napas panjang dan nampak-nya menyesal sekali. "Sungguh kami sendiri tidak
pernah mengira bahwa akibatnya akan menjadi begini. Akan tetapi, sungguh kebetulan sekali kalau jiwi
hendak menghadap sri baginda kaisar. Selama beberapa hari ini, semenjak terjadi pertem-puran
secara terbuka dengan pasukan pemerintah, saya memikirkan dan mencari jalan bagaimana ca-ranya
agar kesalahpahaman antara kami dengan kaisar tidak sampai berlarut-larut. Ji-wi telah beberapa
lama mengikuti gerakan kami dari de-kat, bahkan membantu kami menghadapi pasukan asing. Maka
kami percaya bahwa ji-wi tentu akan dapat melaporkan secara sejujurnya kepada sri baginda kaisar
apa yang sebenarnya telah terjadi dan bagaimana sesungguhnya kedudukan kami."
"Tentu saja, Liu-bengcu. Kami berdua kakak beradik tentu akan berusaha menjernihkan suasana
yang tidak enak ini !" kata Chu Seng Kun dengan suara pasti.
Melihat kedua orang kakak beradik itu berpa-mit, tiba-tiba A-hai yang sejak tadi memandang kepada
Bwee Hong lalu berkata, "Akupun akan pergi. Kalau kalian boleh, aku akan ikut pergi. Aku sungguh
tidak betah berada di sini. Aku membenci pertempuran, membenci bunuh-membunuh yang kejam itu!"
Chu Seng Kun dan Chu Bwee Hong tentu saja tidak dapat menolak permintaan pemuda sinting itu.
Apa lagi karena pemuda itu dengan mati-mati-an telah menyelamatkan Bwee Hong ketika dara itu
berada dalam tangan Tiat-siang-kwi, tokoh ke dua dari Ban-kwi-to. Di samping itu, kakak beradik yang
menjadi ahli waris Bu-eng Sin-yok ong ini memang merasa tertarik akan keadaan A-hai dan kalau
mungkin mereka ingin mencoba kepandaian mereka dalam hal pengobatan untuk memeriksa dan
menyembuhkan pemuda aneh itu.
"Tentu saja engkau boleh ikut bersama kami, saudara A-hai," jawab Seng Kun dengan ramah.
"Kebetulan sekali sayapun mempunyai keinginan yang sama, Liu-bengcu," tiba-tiba Kwa Siok Eng
berkata. "Saya harus segera pulang dan melapor-kan semua pengalaman saya kepada ayah dan ibu,
terutama sekali, tentang penyelewengan kakakku dan juga tentang hasil perjalanan saya. Karena itu,
sayapun berpamit untuk mengundurkan diri."
Liu Pang menarik napas panjang. Kemudian dia menengadah dan seolah-olah berkata kepada diri
sendiri, "Betapa gembira berusia muda bebas dari segala ikatan, bebas lepas seperti burung di udara,
ke manapun hendak pergi tidak ada yang melarang, tidak ada ikatan yang membelenggu kaki tangan.
Akan tetapi, ahhh setelah terbelenggu oleh ikatan yang demikian kuat ini, yang telah menjadi
tugas yang mendarah daging, mana mung-kin aku mengikuti jejak orang-orang muda yang bebas
lepas ?"
Biarpun tidak secara berterang, namun pemim-pin para pendekar itu mengeluhi nasib sendiri dan
agaknya iri hati melihat orang-orang, muda itu. Seng Kun melihat bahwa sebenarnya keadaan di-rinya
dunia-kangouw.blogspot.com
tidaklah jauh bedanya dengan pemimpin ini karena bukanlah dia sendiri juga terikat oleh tugas yang
diberikan oleh kaisar kepadanya ? Mende-ngar keluhan gurunya itu, Pek Lian yang wataknya polos
dan tidak suka menyembunyikan perasaan-nya itu berkata, "Akan tetapi, suhu. Apa artinya hidup ini
kalau tidak ada tugas-tugas yang meng-ikat kita ? Bukankah kegembiraan terasa apa bila kita
berhasil melaksanakan tugas kita ? Hidup akan kosong tanpa ikatan, dan untuk ikatan itu kita berjuang
dalam hidup!"
Gurunya tersenyum dan menggeleng kepala. "Nona Ho, engkau masih terlalu muda untuk dapat
mengerti tentang ikatan-ikatan dalam kehidupan."
"Maaf, suhu. Akan tetapi saya kira suhupun masih muda, atau belum terlalu tua untuk meng-anggap
saya masih terlalu muda !" bantah nona itu.
Liu Pang tersenyum lebar dan wajahnya ber-seri. Begitu dia tersenyum lebar, nampaklah bah-wa
tokoh ini memang belum tua benar. Usianya memang baru tigapuluh enam tahun, akan tetapi
perjuangan dengan segala kepahitannya menggem-blengnya lahir batin sehingga dia nampak jauh
lebih tua dari pada usianya.
"Muridku, tua muda atau matang mentahnya seseorang tidak selalu ditentukan oleh usianya. Akan
tetapi memang apa yang kaukatakan tadi ada benarnya. Di dalam setiap ikatan memang terda-pat
kesenangan, kalau tidak begitu, tidak nanti ia mengikat! Akan tetapi yang kita lupakan adalah bahwa
setiap kesenangan selalu dibayangi oleh saudara kembarnya, yakni kesusahan. Dan celaka-nya,
antara dua saudara kembar ini, Duka lebih banyak muncul dalam batin manusia dibandingkan dengan
Suka!"
"Maaf, Liu-bengcu. Saya pernah mendengar wejangan ayah bahwa Suka-Duka itu sesungguh-nya
tidak ada. Dalam setiap benda, setiap peristiwa, tidak terdapat .suka atau duka itu-Mereka ini baru
muncul apa bila pikiran kita membuat ban-dingan-bandingan dan penilaian."
Liu-bengcu mengangguk-angguk. "Ayah ji-wi adalah Bu Hong Sengjin dan saya pernah men-dengar
bahwa ayah ji-wi itu selain memiliki ke-pandaian silat yang tinggi, juga amat bijaksana. Tidak keliru
sama sekali wejangan beliau itu. Me-mang suka atau duka timbul karena pikiran kita sendiri yang
menilai berdasarkan untung rugi bagi diri pribadi. Yang menguntungkan menimbulkan suka dan yang
merugikan menimbulkan, duka. Kita semua terseret oleh dualitas ini."
"Akan tetapi, locianpwe," kata Siok Eng yang juga tertarik mendengar percakapan itu. "Bukan-kah itu
sudah menjadi watak manusia pada umum-nya ? Kita semua menghendaki untung dan senang,
siapakah manusianya menghendaki rugi dan susah?"
Liu Pang mengangguk-angguk. "Pernyataan yang amat jujur dan aku memang mendengar bah-wa
Tai-bong-pai mengutamakan kejujuran dan kepolosan walaupun kadang-kadang diikuti oleh tindakan
yang nampaknya sadis dan kejam. Me-mang, umum menganggapnya demikian. Akan teta-pi, apakah
umum harus selalu benar ? Umum con-dong untuk ikut-ikutan, untuk mengekor dan agak-nya tidak
memperdulikan lagi tentang benar atau salah. Kita melihat bahwa kita terbelenggu, namun kita tidak
berani membebaskan diri dari pada belenggu ini. Aihh, betapa lemahnya kita manusia ini!" Kembali
pemimpin ini menarik napas pan-jang-
Hening sejenak dan percakapan yang menyim-pang ke soal kehidupan yang ruwet itupun macet.
Menggunakan kesempatan ini, Siok Eng berkata, "Saya pamit sekarang, locianpwe dan banyak terima
kasih atas kebaikan semua kawan kepadaku sewaktu kita berkumpul." Dara itu bangkit dan pada
saat itu. Seng Kun juga ikut bangkit dan menjura.
"Nona Kwa aku ingin bicara sedikit "
Puteri Tai-bong-pai itu memandang dengan sinar mata berseri dan ia memandang wajah pemu-da
tampan dan gagah itu dengan lembut. "Silahkan, in-kong."
"Pada waktu ini, keadaan negara sedang dalam suasana kacau dan di mana-mana terjadi pertenr
tangan sehingga tidak aman. Biarpun nona memi-liki kepandaian tinggi, akan tetapi sebagai seorang
wanita muda, melakukan perjalanan sendirian saja tentu akan memancing datangnya banyak sekali
halangan dan bahaya. Hatiku merasa tidak enak dan khawatir sekali membayangkan engkau melakukan
perjalanan seorang diri."
dunia-kangouw.blogspot.com
Sejak pemuda itu bicara, sepasang mata Siok Eng yang indah tajam itu menatap tanpa pernah
berkejap dan mata itu kini berseri, sepasang pipinya berobah agak kemerahan dan jantungnya
berdegup kencang. Hatinya merasa senang sekali melihat kenyataan bahwa pemuda yang diam-diam
dipu-janya di dalam hati semenjak ia merasa berhutang nyawa dan budi itu begitu memperhatikan
kesela-matan dan keadaannya.
"Sungguh in-kong amat baik hati dan aku berterima kasih sekali atas perhatianmu. Akan tetapi, aku
dapat menjaga diri dalam perjalanan, maka harap in-kong tidak merasa khawatir"
"Aku mengerti, nona... tapi bolehkah aku mengajukan suatu permintaan kepadamu ?"
Mendengar pertanyaan ini, hati Siok Eng me-rasa tergerak dan terharu. Sejak kecil ia hidup di antara
lingkungan orang-orang sesat yang hampir tidak mempunyai kepekaan atau kehalusan pera-saan
lagi. Akan tetapi sejak ia diobati di rumah keluarga Bu, terjadilah perobahan di dalam batin nya.
"Aihh, in-kong, mengapa bertanya begitu ? Harap in-kong tidak ragu-ragu untuk mengatakan apa
yang menjadi keinginan hatimu. In-kong tentu mengerti betapa besar rasa terima kasih kami
sekeluarga terhadap in-kong sekeluarga. Bu-locianpwe suami isteri telah tewas karena aku.
Sekarang, mengapa in-kong masih sungkan kepa-daku ? Nah, katakan saja, apapun permintaanmu,
akan kulaksanakan. Biar nyawaku sekalipun akan kuserahkan kalau in-kong minta !"
Semua orang yang mendengar ucapan yang dikeluarkan dengan suara bening, lembut dan pe-nuh
getaran perasaan itu, menjadi tertegun dan juga terharu. Mereka ini telah tahu bahwa gadis remaja itu
adalah puteri ketua Tai-bong-pai, sebuah perkumpulan yang terkenal sebagai per-kumpulan iblis yang
dianggap sesat oleh dunia kang-ouw. Akan tetapi, gadis ini yang menjadi satu di antara tokoh-tokoh
utama Tai-bong-pai ternyata dapat bersikap demikian lembut, menge-nal budi dan amat perasa !
"Karena hatiku akan selalu merasa khawatir kalau engkau melakukan perjalanan seorang diri dalam
suasana yang sedang kemelut ini, maka aku minta sukalah engkau melakukan perjalanan bersa-ma
kami lebih dulu ke kota raja. Kalau urusan kami sudah selesai di kota raja, aku akan mengantarkanmu
pulang sampai ke tempat tinggalmu, nona. Tentu saja kalau engkau tidak menaruh keberatan."
Keberatan ? Hampir saja Siok Eng bersorak dan menari saking girangnya. Kalau ada suatu hal yang
amat diinginkan di dunia ini pada saat itu adalah berdekatan dengan Chu Seng Kun, melaku-kan
perjalanan dengan pemuda ini dan kalau boleh jangan lagi sampai saling berpisah lagi.
"Terima kasih, in-kong. Tentu saja saya merasa terhormat dan suka sekali untuk dapat melakukan
perjalanan bersama dengan in-kong dan teman-teman lainnya."
Maka berangkatlah empat orang muda itu, Seng Kun, Bwee Hong, A-hai dan Siok Eng, meninggalkan
bala tentara yang dipimpin oleh Liu Pang dan yang sedang menghadapi ancaman penyerbuan
pasukan pemerintah itu. Mereka menunggang em-pat ekor kuda pemberian Liu Pang dan membalapkan
tunggangan mereka itu menuju ke kota raja.
Yang merasa paling sedih oleh kepergian empat orang muda itu adalah Pek Lian. Baru saja ia
kematian ayahnya dan kini ia ditinggalkan kawan-kawan baiknya dengan siapa ia telah mengalami
banyak hal-hal yang mengesankan. Bersama-sama lolos dari cengkeraman maut dan terutama sekali
yang membuat hatinya terasa amat tidak enak ada-lah karena ia harus berpisah dari A-hai dalam
keadaan seperti itu! Ia melihat betapa pemuda sinting itu amat akrab dengan Bwee Hong dan kalau
dahulu A-hai kelihatan amat jinak kepada-nya, bahkan tidak pernah melupakan namanya, kini
pemuda itu kelihatan begitu jinak dari dekat dengan Bwee Hong. Bahkan pemuda itu ikut pula
bersama Bwee Hong dan kakaknya pergi ke kota raja.
Setelah empat orang muda itu berangkat, Pek Lian lari memasuki kamarnya dan iapun menjatuhkan
diri di atas pembaringan kamarnya dan me-nahan tangisnya. Hanya air matanya yang mem-basahi
pipi. Ia merasa begitu kesepian, merasa ditinggalkan dan nelangsa. Terutama sekali yang membuat
hatinya amat menderita adalah bayangan A-hai yang kelihatan begitu mesra terhadap Bwee Hong. Ia
tahu bahwa sikap Bwee Hong yang ma-nis dan baik terhadap A-hai adalah karena gadis itu berterima
dunia-kangouw.blogspot.com
kasih dan terharu melihat betapa A-hai membela dan menyelamatkannya sehingga gadis itu merasa
berhutang budi dan bersama ka-kaknya bermaksud untuk mencoba mengobati dan menyembuhkan
A-hai. Akan tetapi, ia dapat menduga pula bahwa A-hai yang hanya mengan-dalkan perasaan dan
nalurinya, agaknya jatuh cinta kepada gadis cantik jelita itu.
Mengapa aku harus merasa tidak senang karena mereka begitu akrab ? Mengapa aku seperti gelisah
kalau-kalau mereka saling mencinta? Mengapa begini ? Pek Lian tidak mau, bahkan tidak berani
mengaku dalam hatinya sendiri bahwa ia telah ja-tuh cinta kepada A-hai, pemuda sinting itu ! Akan
tetapi, perasaannya yang tidak enak ketika melihat A-hai pergi bersama Bwee Hong, adalah perasaan
cemburu !
Sementara itu, pertempuran berhenti ketika ba-la tentara pemerintah yang dipimpin oleh Jenderal Lai
itu menarik pasukannya mundur ke dalam kota
Cin-an. Liu Pang mempergunakan kesempatan ini untuk menyusun kembali sisa pasukannya dan
berunding dengan para pembantunya. Tentu saja Pek Lian hadir pula dalam perundingan ini dan Liu
Pang lalu mengatur siasat, merencanakan ge rakan mereka selanjutnya. Kebetulan sekali, pa-sukan
kecil yang dipimpin oleh Hek-coa Ouw Kui Lam juga sudah tiba dan pasukan ini menggabung-kan diri
dengan pasukan induk. Seperti kita keta-hui, Hek-coa Ouw Kui Lam ini adalah seorang di antara
empat Huang-ho Su-hiap, yaitu guru-guru dari Pek Lian. Di amtara Empat Pendekar Huang-ho itu,
hanya tinggal dia sendiri yang masih hidup. Tiga lainnya, yaitu Kim-sui-poa Tan Sun, Pek-bin-houw
Liem Tat dan Sin-kauw Song Tek Kwan telah gugur semua. Hek-coa Ouw Kui Lam juga ikut duduk
dalam perundingan itu.
"Pemerintah agaknya telah benar-benar meng-anggap kita sebagai musuh," antara lain Liu Pang
mengemukakan pendapatnya. "Karena itu, kitapun harus memperkuat diri, dan kurasa sebaiknya
kalau kita menuju ke barat dan menyatukan diri dengan kawan-kawan yang berpencaran menjadi
pasukan-pasukan yang berpisah-pisah. Sambil melakukan perjalanan mengumpulkan teman-teman
dan mem-perkuat barisan, kita melakukan pembersihan di sepanjang jalan. Kita gempur pasukanpasukan
asing yang membantu penguasa-penguasa daerah yang memberontak, dan kita basmi pula
para pembesar yang bersekongkol dengan pasukan-pasukan asing, pengkhianat-pengkhianat penjual
negara dan bangsa itu !"
Demikianlah, Liu Pangj memimpin pasukannya dan mulailah dia melakukan "long march" yang
panjang dan bersejarah itu. Di sepanjang perjalan-an, pasukannya makin bertambah karena rakyat
jelata bersimpati dengan perjuangannya. Dan ka-rena Liu Pang juga lahir dari keluarga petani dan
sudah terbiasa hidup di antara petani, maka dia pandai bergaul dengan anak buahnya dan dikenal
sebagai seorang pemimpin yang gagah perkasa juga menyenangkan hati semua anak buahnya.
Bukan hanya rakyat jelata, kaum tani yang bergabung dengan pasukannya, keluarga dari mereka
yang tewas karena kerja paksa yang diperintahkan kaisar melalui kaki tangannya, akan tetapi juga
banyak perajurit-perajurit yang lari menyeberang karena mereka tidak suka diharuskan bekerja sama
dengan pasukan asing oleh para komandan mereka. Liu Pang tidak pernah mengampuni pembesarpembe-
sar yang bersekongkol dengan pasukan asing. Setiap dusun dan kota di mana terdapat
pasukan asing-nya tentu digempur dan tempat-tempat itu didu-duki, akan tetapi kota yang
pembesamya masih setia kepada pemerintah, dilewati saja dan tidak diganggu.
Akhirnya pasukan itu berhenti di lembah Sungai Huang-ho, tak jauh dari kota besar Lok-yang yang
merupakan kota ke dua besarnya setelah Tiang-an yang menjadi ibu kota atau kota raja di mana
kaisar tinggal.
Liu Pang membentuk benteng pertahanan di lembah ini dan mengajak kawan-kawannya untuk
berunding lagi. Biarpun dia seorang pemimpin dengan kekuasaan penuh dan semua anggauta
pasukan itu taat kepadanya, namun Liu Pang selalu mengajak para pimpinan atau pembantunya
untuk bermusyawarah setiap kali menghadapi hal-hal penting, tidak mengambil keputusan sendiri
begitu saja. Inilah merupakan satu di antara kebi-jaksanaan Liu Pang yang jarang dimiliki oleh para
penguasa. Biasanya, kalau orang sudah duduk di kursi tertinggi, lalu menjadi lupa akan pendapat
orang-orang lain dan menganggap bahwa penda-patnya sendirilah yang paling benar.
"Chu Siang Yu telah bergerak maju dan pasu-kannya telah merebut beberapa kota besar di dae-rah
barat dan utara. Agaknya bala tentara peme-rintah tidak berdaya menahan arus serangannya. Hal ini
terjadi karena di dalam tubuh pemerintah sendiri terjadi kekacauan dan membuat kekuatan menjadi
dunia-kangouw.blogspot.com
terpecah-belah. Suasana seperti ini mem-buat daerah-daerah menjadi tidak puas dan ba-nyak daerah
mengambil sikap memberontak dan ingin memisahkan diri dari pusat. Adalah menjadi tugas kita
sebagai pendekar-pendekar dan patriot-patriot untuk berjuang agar keadaan seperti ini jangan
sampai berlarut-larut dan kita harus me-nyelamatkan negara dan bangsa agar tinggal. utuh dan kuat."
"Benar sekali ucapan itu !" Tiba-tiba Hek-coa Ouw Kui Lam yang tinggi besar dan bermuka hitam itu
berseru dengan suara yang lantang. "Biarlah para pembesar istana menganggap kita pemberontak,
biarlah kaisar salah kira dan mencap kita pemberontak, perduli amat! Keadaan negara dan bangsa
terancam bahaya perpecahan, dan ter-ancam penjajahan pasukan-pasukan asing. Kita harus
bergerak, tak mungkin tinggal diam saja. Kita basmi pasukan-pasukan asing yang berkeli-aran di sini.
Kita hajar daerah-daerah yang mem-berontak dan kita persatukan lagi negara ini agar kuat seperti
dahulu lagi!"
Mendengar kata-kata yang penuh semangat ini, yang lain-lain bertepuk tangan dan menyatakan
persetujuan mereka. "Kami semua mentaati perintah Liu-bengcu !" demikianlah teriakan-te-riakan
mereka.
Liu Pang mengangguk-angguk dan mengang-kat tangan menyuruh mereka tenang. "Tugas kita masih
banyak dan bukan ringan. Kalian semua harus selalu ingat bahwa kita adalah pasukan rak-yat, kita
datang dari rakyat, oleh karena itu, aku melarang siapapun juga mengganggu rakyat di sepanjang
perjalanan. Rakyat jelata, kaum tani, adalah sekutu kita. Tanpa dukungan mereka kita akan lemah
dan jatuh. Maka, siapa berani meng-ganggu rakyat di sepanjang perjalanan, merampok, menyerang
apa lagi membunuh atau melarikan wanita, akan dihukum mati dan mungkin tangan-ku sendiri yang
akan melaksanakan hukuman itu !"
Suara pemimpin ini terdengar begitu penuh wi-bawa dan semua orang menjadi gentar. "Liu-beng-cu,
jangan khawatir. Kita sendiri juga datang dari rakyat, mana mungkin kita akan mengganggu me-reka ?
Kalau ada yang berani melanggar pantangan itu, kami kira bengcu tidak perlu turun tangan karena
teman-teman yang lain tentu akan turun tangan mencegah atau menghukumnya !" demikian seorang
di antara mereka berkata.
"Kita sekarang berada di dekat Lok-yang. Kita tidak tahu bagaimana keadaan kota ini, bagaimana
sikap para pembesar di Lok-yang. Kita tidak bo-leh bertindak sembrono dan nanti setelah kita
mengenal benar keadaan kota itu, barulah kita berunding lagi untuk mengatur siasat bagaimana harus
mengambil tindakan. Biarkan pasukan ber-istirahat dan menyusun kekuatan di sini. Aku sen-diri
bersama muridku, nona Ho Pek Lian, akan memasuki kota dan melakukan penyelidikan. Se-barkan
beberapa orang kawan yang cukup tinggi ilmunya untuk menyusup ke kota melakukan pe-nyelidikan
pula. Akan tetapi ingat, mereka yang diselundupkan harus berani bertanggung jawab dan memilih
mati dari pada membuka rahasia kita kepada musuh."
Setelah berunding dan mengatur siasat, Liu Pang bersama Pek Lian lalu berangkat untuk ber-tugas
sebagai mata-mata di kota Lok-yang. Liu Pang menyamar sebagai seorang petani dan murid-nya
juga. Rambut pemimpin yang hitam lebat itu kini berobah putih, juga mukanya berkeriputan walaupun
badannya nampak sehat dan terbakar matahari, seperti seorang kakek petani yang biasa bekerja
berat di tempat terbuka. Pek Lian juga melumuri muka, leher dan bagian kulit tubuhnya yang nampak
dengan ramuan yang membuat kulit yang putih mulus itu menjadi kehitaman. Alisnya yang indah
bentuknya itu dibikin tebal, bibirnya yang kecil dan merah basah itu digosok ramuan yang membuat
bibirnya menjadi kasar dan agak kebiruan. Ia berobah sebagai seorang gadis dusun yang lugu dan
tidak mengenal cara berias. Ram-butnya juga agak kasar dan kotor, digelung seder-hana seperti
gelung gadis dusun.
Setelah menyamar dengan baik, keduanya be-rangkat pada senja hari itu memasuki kota Lok-yang.
Kota ini ramai dan kelihatan sibuk sekali, kesibukan yang agaknya tidak wajar karena banyak nampak
perajurit berkeliaran. Banyak pula peng-ungsi-pengungsi yang mengaso di emper-emper to-ko, yakni
mereka yang datang dari luar kota karena takut akan berita perang yang terjadi. Pasukan-pa-sukan
penjaga berkeliling dan meronda dengan muka bengis dan mata tajam menyelidik. Akan tetapi,
penyamaran Liu Pang dan Pek Lian amat sempurna sehingga tidak ada seorangpun yang ter-tarik
kepada kakek dusun dan gadisnya ini.
Ketika mereka sedang berjalan di tepi jalan raya, mereka berpapasan dengan seregu perajurit yang
terdiri dari belasan orang. Akan tetapi pasu-kan kecil ini tidak berjalan dalam bentuk barisan,
dunia-kangouw.blogspot.com
melainkan berjalan dengan kacau dan di antara mereka bahkan ada yang jalannya terhuyung-hu-yung
karena mabok. Tentu pasukan ini sedang bebas tugas dan menghibur diri di kota. Juga tidak nampak
seorangpun dipengaruhi arak.
"Heh-heh, manis, mari ikut dengan kami. Tanggung engkau akan kenyang lahir batin, heh-heh-heh!"
seorang di antara mereka berkata, dan tangannya menyambar ke arah buah dada Pek Lian. Gadis ini
miringkan tubuhnya, dengan ge-rakan biasa saja bukan gerakan ahli silat, seperti seorang gadis yang
ketakutan. Ia membiarkan ta-ngan itu mengenai lengannya, akan tetapi perajurit mabok itu begitu
menyentuh lengan yang gempal dan lunak lalu mencubit.
"Aduhh !" Pek Lian menjerit tanpa mengerahkan tenaga dan cepat melangkah mundur "Ha-ha, kakek
dusun. Berapa kau mau jual anak gadismu ini ? Jual saja kepada kami untuk semalam ini. Kami
sudah bosan dilayani pelacur-pelacur !"
"Benar, aku ingin tidur dengan gadis dusun yang sehat ini!"
Pek Lian sudah mengepal tinju dan akan meng-amuk, akan tetapi lengannya dipegang oleh Liu Pang
yang segera berkata sambil menarik muridnya, "Saudara-saudara harap jangan mengganggu kami.
Gadisku ini sudah dipesan oleh Coa-ciangkun dan kalau kalian mengganggu, tentu akan kami laporkan
!"
Tentu saja Liu Pang hanya ngawur menyebut Coa-ciangkun. Akan tetapi agaknya ngawurnya itu
kebetulan karena para perajurit itu terkejut, saling pandang, lalu seorang di antara mereka yang tidak
mabok berkata, "Paman, harap jangan marah. Kami tidak tahu bahwa nona ini adalah pesanan Coaciangkun.
Nah, nona, kami ucapkan selamat, yang baik-baik saja melayani Coa-ciangkun yang
perutnya gendut itu !" Mereka lalu pergi sambil tertawa-tawa dan wajah Pek Lian masih merah sekali
karena marah. Akan tetapi suhunya sudah mengajaknya melanjutkan perjalanan sambil me-nyumpahnyumpah
perlahan.
Guru dan murid ini memasuki sebuah kedai makan yang sederhana akan tetapi cukup luas dan
mempunyai meja kursi yang dapat menampung sedikitnya tigapuluh orang. Tempat itu ramai dan
terdapat beberapa orang perajurit yang sedang bercakap-cakap. Liu Pang mengajak muridnya duduk
agak jauh dari para perajurit itu, dan Pek Lian sengaja duduk menghadap ke arah mereka dan agar
mukanya yang di tengah jalan tadi sudah lebih diperjelek lagi nampak oleh mereka dan melenyapkan
selera mereka untuk menggoda. Se-telah memesan bakmi dan beberapa masakan se-derhana
lainnya berikut minuman teh, Liu Pang memperhatikan percakapan para perajurit itu. Mereka bercerita
tentang jatuhnya beberapa kota dan dusun ke tangan pasukan Liu Pang yang kuat. Mereka bercerita
pula tentang pasukan pemberon-tak Chu Siang Yu dari arah barat dan utara.
"Eh, Lo Ciang, kaupikir mana yang lebih kuat antara pasukan Liu Pang dan pasukan Chu Siang Yu itu
?" seorang di antara mereka bertanya kepa-da rekannya yang berkumis panjang dan yang lebih tua,
juga agaknya si kumis ini yang lebih mengerti keadaan karena dialah yang bercerita dengan bersemangat,
terdorong oleh arak yang sudah banyak diminumnya.
Yang ditanya menggeleng-geleng kepala lalu mengerutkan alis seperti orang berpikir dalam-da-lam,
lalu berkata, "Sukar dikatakan siapa lebih kuat. Chu Siang Yu adalah keturunan jenderal, di samping
ahli silat pandai, juga dia pandai sekali dalam hal ilmu perang. Pasukan-pasukannya amat kuat dan
terlatih. Sedangkan Liu Pang yang dise-but Liu-bengcu itu biar amat lihai ilmu silatnya akan tetapi dia
bukan ahli mengatur barisan. Bi-arpun demikian, dia seorang pendekar gagah per-kasa, dan
pergerakannya memperoleh dukungan para pendekar dan juga rakyat jelata, maka diapun amat kuat
dan sama sekali tidak boleh dipandang ringan."
"Ah, ceritamu menakutkan, Lo Ciang. Lalu, apakah kaupikir pasukan-pasukan pemerintah tidak akan
mampu membasmi mereka itu ?"
Si kumis menghela napas panjang.. "Sukar sekali! Kekuatan bala tentara kita hanya pasukan yang
dipimpin oleh Jenderal Beng Tian seorang dan hanya pasukan itu yang dapat diandalkan.
Pasukan-pasukan daerah tak dapat diharapkan lagi karena banyak daerah yang merasa tidak puas
dan ada gejala-gejala hendak memberontak sendiri. Lihat saja adanya pasukan-pasukan asing dan
liar itu "
dunia-kangouw.blogspot.com
"Sssttt... , Lo Ciang. Jangan sembarangan engkau bicara. Hati-hatilah. Kau lihat, kepala daerah kita
sendiri menerima kedatangan pimpin-an pasukan asing beberapa hari yang lalu. Siapa tahu di antara
mereka ada yang berada di sini ?"
"Takut apa ? Komandan kita sendiri, Gui-ciang-kun, juga tidak suka dengan adanya pasukan asing itu.
Kemarin hampir saja Gui-ciang(kun atasan kita itu bentrok dengan Bouw-ciangkun, karena urusan
pasukan asing itu, ketika diadakan rapat para pim-pinan kota. Kebetulan aku bertugas mengawal Guiciangkun
ke pertemuan itu."
Pada saat itu, nampak empat orang perajurit memasuki kedai dan mereka langsung menuju ke meja
di mana duduk empat orang perajurit rekan mereka tadi. Empat orang pendatang baru ini nampak
loyo dan seorang di antara mereka terbalut lengannya. Mereka lalu duduk di atas bangku-bangku
yang disediakan oleh para pelayan dan delapan orang perajurit itu duduk menghadapi meja.
"Eh, engkau kenapa ?" tanya si kumis melihat betapa empat orang rekannya itu kelihatan lelah,
bahkan ada pula yang mukanya benjol-benjol be-kas pukulan.
"Kami baru saja bentrok dengan pasukan Bouw-ciangkun yang dibantu oleh beberapa orang pasu-kan
asing itu. Pasukan asing itu ternyata pandai main banting sehingga kami mengalami banyak
kerugian."
"Keparat ! Orang-orang liar itu semakin berani saja, berani menyerang perajurit tuan rumah!" Seorang
di antara mereka berseru marah.
"Kenapa kalian sampai bentrok dengan pasukan Bouw-ciangkun ?" Si kumis bertanya dan agak-nya
dia merupakan anggauta pasukan yang tertua di antara mereka dan paling dihormati.
"Siapa tidak marah ? Tadinya keributan terjadi hanya soal perebutan pelacur, hal yang biasa saja.
Akan tetapi mereka berani mengatakan bahwa pa-sukan kita katanya akan dilucuti dan dipenjarakan
karena Gui-ciangkun kita berani menentang ke-hendak kepala daerah dan tiga komandan lainnya.
Bahkan katanya, Gui-ciangkun akan dihukum mati karena beliau berani menyarankan agar kita
semua mendekati Liu-bengcu dengan jalan damai dan bersahabat. Huh, mereka sungguh menghina.
Jumlah kita ada seribu orang, masa akan begitu mudah saja dilucuti dan dipenjarakan ?"
"Mereka sombong dan membual !" kata yang lain-lain.
Akan tetapi si kumis mengerutkan alisnya. "Belum tentu kalau ancaman mereka itu hanya bu-al
kosong saja. Dalam keadaan seperti sekarang ini, apapun dapat saja terjadi. Kita harus waspada dan
siapa tahu komandan kita dalam bahaya. Bagai-manapun juga, jumlah mereka semua itu kalau
digabung ada empat lima kali lipat dari pada ke-kuatan pasukan kita, dan masih ada pasukan liar
yang membantu. Sebaiknya kita lekas kembali ke markas dan melaporkan kepada Gui-ciangkun !"
Setelah membayar harga makanan, delapan orang perajurit itu lalu meninggalkan kedai. Akan tetapi
baru saja mereka tiba di luar kedai, mereka berpapasan dengan duabelas orang perajurit yang
melihat seragam mereka agak kuning tentu bukan rekan-rekan dari delapan orang perajurit pertama.
Dan mereka berhadapan di depan kedai dengan sikap tegang. Ternyata duabelas orang perajurit itu
adalah anak buah pasukan Bouw-ciangkun !
Karena, kedua rombongan yang sudah saling mendendam ini berpapasan tepat di depan pintu, maka
bentrokan agaknya tak dapat dihindarkan lagi.
"Minggir kalian ! Kami hendak masuk !" bentak seorang di antara duabelas orang perajurit seragam
kuning itu.
"Kalian yang minggir dan biarkan kami keluar dulu !" bentak seorang di antara kelompok perajurit si
kumis yang seragamnya agak biru,
"Nona Ho, engkau duduk saja di sini. Agaknya mereka akan berkelahi dan aku akan membantu anak
buah Gui-ciangkun," bisik Liu Pang kepada muridnya dan Pek Lian mengangguk. Tentu saja gurunya
ingin membantu anak buah Gui-ciangkun dan menentang pasukan-pasukan yang bersekong-kol
dengan pasukan asing itu.
dunia-kangouw.blogspot.com
Perang mulut segera disusul perkelahian. Dua-belas orang itu mencabut senjata dan hal ini mengejutkan
delapan orang perajurit anak buah Gui-ciangkun. Biasanya, perkelahian antara perajurit
hanya menggunakan tangan kosong sehingga tidak sampai membunuh lawan. Akan tetapi agaknya
duabelas orang anak buah Bouw-ciangkun ini sudah begitu nekat sehingga begitu menyerang mereka
menggunakan senjata tajam. Tentu saja me-rekapun segera mencabut golok masing-masing dan
ributlah di depan kedai itu. Para tamu yang makan minum di dalam kedai menjadi seriba salah dan
panik. Mau keluar, di depan justeru menjadi medan perkelahian. Maka mereka semua ber-bondongbondong
lari ke belakang, hendak mela-rikan diri dari pintu belakang dan karena pintu belakang itu
kecil sekali, melalui lorong kecil, mereka berebutan, berhimpitan sehingga keadaan di dalam kedai itu
tidak kalah kacaunya dengan keadaan di luar.
Delapan orang perajurit anak buah Gui-ciang-kun itu pasti akan celaka karena mereka kalah banyak,
kalau saja tidak ada uluran tangan secara diam-diam oleh Liu Pang. Dengan menggunakan
segenggam kacang goreng, Liu Pang membantu mereka. Tanpa diketahui orang, berjejal di antara
mereka yang berani nonton perkelahian di luar kedai, Liu Pang menggunakan jari-jari tangannya
untuk menyentil kacang-kacang itu ke arah para anak buah Bouw-ciangkun. Biarpun hanya sebu-tir
kacang goreng, akan tetapi kalau meluncur de-ngan amat cepatnya dan menyambar mata, hidung,
pipi atau mulut, sama nyerinya dengan kalau di-sambit dengan batu. Dalam keadaan kesakitan itu,
mudah bagi anak buah Gui-ciangkun untuk membabat dan merobohkan mereka dengan golok.
Akhirnya, duabelas orang itu roboh semua, terluka oleh bacokan-bacokan golok anak buah Guiciangkun,
bahkan di antaranya ada yang tewas ! Melihat akibat perkelahian itu, si kumis menjadi
khawatir sekali. "Hayo kita cepat kembali ke mar-kas melapor kepada ciangkun !" katanya dan delapan
orang itupun berlari-larian menuju ke mar-kas mereka.
Liu Pang mengajak muridnya untuk pergi membayangi setelah membayar harga makanan kepada
pengurus kedai yang sudah pucat dan menggigil ketakutan itu. Akan tetapi, dasar peda-gang, biarpun
di depan kedainya terjadi perkelahi-an dan kini ada duabelas orang mandi darah menggeletak di situ,
dia tidak pernah salah meng-hitung harga makanan dan minuman, dan biarpun tangannya menggigil,
sigap saja dia menerima pembayaran !
Akan tetapi, sebelum delapan orang itu tiba di markas mereka, di tengah jalan mereka disusul
serombongan perajurit berkuda, anak buah pasu-kan Bouw-ciangkun yang sudah mendengar akan
terjadinya perkelahian di depan kedai makanan itu. "Itu dia ! Mereka pembunuh kawan-kawan kita di
depan kedai itu. Tangkap mereka! Lucuti sen-jata mereka sekarang. Bunuh! Mereka agaknya hendak
memberontak !"
Delapan orang itu melawan, akan tetapi belasan orang perajurit berkuda itu dibantu oleh tiga orang
perajurit asing dan terjadilah perkelahian yang berat sebelah. Liu Pang tidak dapat membantu secara
menggelap seperti tadi karena mereka ber-ada di tempat terbuka. Pula, bagi pemimpin ini, ada hal-hal
yang jauh lebih penting lagi untuk dilaksanakan dari pada hanya menyelamatkan nya-wa delapan
orang perajurit itu. Menolong mereka secara berterang berarti membuka penyamarannya dan hal ini
amat merugikan bagi tugasnya.
"Nona, engkau cepat kembali ke pasukan kita. Katakan kepada gurumu Hek-coa Ouw Kui Lam itu dan
para saudara lain bahwa aku memerintah, kan agar mereka mengatur pasukan untuk mengu-rung
kota ini. Besok pagi-pagi sebelum matahari terbit, pasukan kita harus sudah berada di luar benteng.
Kita hancurkan pasukan asing dan pasu-kan pengkhianat di kota ini!" "Suhu sendiri bagaimana ?"
"Aku akan metoemui Gui-ciangkun dan me-nyelamatkan sisa pasukannya, setidaknya sampai besok
pagi. Kalau aku berhasil menggerakkan hati Gui-ciangkun, maka kita dapat menggempur kota dari
luar dan dalam. Pasukan yang seribu orang kekuatannya bukan main-main, kalau pandai
menggunakan dapat berguna sekali." "Baiklah, suhu."
"Seperti biasa, aku akan melepas panah api hi-jau sebagai tanda penyerbuan !"
Pek Lian lalu menyelinap pergi dan cepat me-ninggalkan kota, kembali ke pasukannya. Semen-tara
itu, Liu Pang membalik dan melihat betapa delapan orang perajurit anak buah Gui-ciangkun itu
dibantai habis oleh pasukan berkuda yang di-bantu oleh tiga orang asing tinggi besar yang kalau dia
tidak salah duga tentulah orang-orang liar dari luar Tembok Besar, dari daerah Mongol.
Liu Pang segera meninggalkan tempat itu dan seorang diri dia mencari benteng pasukan yang
dipimpin oleh Gui-ciangkun. Tidak sukar baginya untuk mencarinya karena setiap orang tahu belaka
dunia-kangouw.blogspot.com
di mana adanya bentengi kecil itu. Sebuah barak pasukan yang dikelilingi oleh parit yang lebar dan
dalam. Terdapat sebuah pintu gerbang besar dan yang menghubungkan pintu besar itu dengan seberang
parit adalah sebuah jembatan gantung dari besi
Liu Pang mempergunakan ilmunya untuk men-dekati parit, menyelinap ke tempat gelap dan
mempelajari keadaan benteng itu. Dari luar sudah nampak kesibukan di dalam benteng. Jembatan
gantung terangkat ke atas dan agaknya di setiap penjuru terjaga ketat. Banyak pula yang mondarmandir
dengan sikap tegak. Suasananya jelas me-nunjukkan kesiapsiagaan dan agaknya berita tentang
perkelahian itu sudah sampai pula di dalam benteng. Liu Pang tetap bersembunyi, memikirkan
rencana yang kiranya dapat dilakukan untuk me-nyelamatkan benteng ini dan menggandeng pasukan
Gui-ciangkun sehingga dapat dimanfaatkan besok, membantu penyerbuan pasukannya dari luar
benteng.
Jilid XX
DIA masih sangsi apakah Gui-ciangkun mau menerimanya kalau dia datang berterang. Apa lagi dia
menyamar sebagai seorang; kakek pe-tani dan tidak ada seorangpun yang mengenal wajah Liubengeu.
Tiba-tiba, selagi Liu Pang mencari akal dan me-renung, terdengarlah sorak-sorai dan derap kaki kuda
yang banyak sekali mendatangi tempat itu. Sepasukan tentara yang berjumlah ratusan, bahkan
mungkin ada seribu orang, datang mengepung ben-teng itu. Dari seragam mereka yang agak kekuningan,
Liu Pang dapat menduga bahwa mereka itu tentulah anak buah Bouw-ciangkun. Dugaan-nya
memang tepat, bahkan yang memimpin pasukan itu adalah Bouw-ciangkun sendiri, seorang perwira
yang bertubuh pendek gendut. Di sebelah pembe-sar ini nampak beberapa orang perwira pasukan
asing.
Terdengar bunyi terompet dan pintu gerbang di seberang terbuka. Muncullah seorang perwira tinggi
kurus. Perwira ini bukan lain adalah Gui ciangkun sendiri yang sengaja keluar menyambut
kedatangan pasukan berkuda yang dipimpin oleh Bouw-ciangkun, rekannya. Kota Lok-yang dijaga
oleh empat pasukan besar, dan dua di antaranya dikepalai oleh Gui-ciangkun dan Bouw-ciangkun.
Jembatan gantung tidak diturunkan dan kini dua orang komandan pasukan itu berdiri berhadapan,
dipisahkan oleh parit yang lebar itu.
"Gui-ciangkun, menyerahlah engkau dan pa-sukanmu dengan baik-baik dari pada harus di-gempur
dan dihancurkan !" teriak Bouw-ciangkun dengan sikap garang. Perutnya yang gendut sekali itu
bergerak-gerak ketika dia bicara.
Gui-ciangkun mengerutkan alisnya. "Bouw-ciangkun, kita adalah rekan, sama-sama menjaga
keselamatan kota ini sebagai komandan pasukan kita masing-masing. Engkau tidak berhak bicara
seperti itu kepadaku, apa lagi untuk menangkap-ku dan minta pasukanku menyerah !"
"Hemm, engkau masih belum menginsyafi do-sa-dosamu ? Engkau membiarkan anak buahmu
membunuhi anak buahku di depan kedai !" teriak Bouw-ciangkun.
"Perkelahian antara perajurit adalah soal biasa. Akan tetapi anak buahku yang delapan orang itu
dibantai oleh belasan orang-orangmu yang dibantu oleh orang-orang liar. Kinipun aku melihat engkau
bersanding dengan perwira-perwira bangsa liar, sungguh menjemukan sekali, dan engkau berani
bicara tentang pasukanku harus menyerah ?"
"Orang she Gui, engkau hendak memberontak?'' "Orang she Bouw, engkaulah yang hendak memberontak
dengan bersekongkol bersama pasukan-pasukan asing yang liar!"
Bouw-ciangkun marah sekali. Dia mencabut pedangnya, mengangkat pedangnya ke atas sambil
berteriak, "Pasukan panah, seraaanggggg !"
dunia-kangouw.blogspot.com
Pasukan berkuda itu segera bertebaran dan mulailah mereka menyerang dengiui anak panah ke arah
benteng. Bouw-ciangkun tentu saja se-gera bersembunyi dan berlindung karena dari ben-tengpun
datang anak panah seperti hujan sebagai serangan balasan. Korban kedua pihak mulai ber-jatuhan-
Kini seluruh pasukan Bouw-ciangkun dikerahkan dan jumlah mereka tidak berselisih banyak dengan
pasukan Gui-ciangkun.
Perang anak panah itu amat gencar akan tetapi sampai tengah malam, belum juga Bouw-ciangkun
yang dibantu oleh pasukan kecil bangsa asing itu mampu menyeberangi parit. Beberapa usaha mereka
lakukan, akan tetapi mereka selalu mengha-dapi perlawanan gigih. Perahu-perahu yang me-reka
kerahkan tenggelam dan mereka terpaksa mundur kembali ketika pasukan dari benteng me-lemparlemparkan
batu-batu besar ke arah perahu-perahu itu dan menghujani anak buah pera-hu-perahu itu
dengan anak panah.
"Bakar saja benteng itu !" teriak Bouw-ciangkun marah.
Melihat betapa anak buah Bouw-ciangkun kini mempersiapkan bahan-bahan bakar dan panah-panah
berapi, hati Liu Pang menjadi gelisah juga. "Celaka," pikirnya. "Kalau digunakan api, tentu habislah
benteng itu!" Dia tidak tahu bagaimana dia seorang diri akan mampu menolong benteng itu.
Akan tetapi, sebelum perintah menyerang de-ngan panah api dikeluarkan, tiba-tiba terdengar bunyi
terompet tanda bahwa ada pembesar datang. Yang muncul adalah seorang pembesar gagah berkuda,
diapit oleh dua orang perwira tinggi dan dikawal oleh pasukan pengawal yang berpakaian indah.
Kiranya dia adalah Jenderal Lai, yaitu panglima daerah timur dan sepanjang pantai, pang-lima yang
menjadi pembantu Jenderal Beng Tian itu. Tentu saja para komandan di kota Lok-yang termasuk
bawahannya dan melihat munculnya panglima ini, Bouw-ciangkun cepat memberi hor-mat dan
menyambutnya sehingga penyerangan dengan panah api itu tertunda.
Dengan muka merah dan alis berkerut, Jende-ral Lai menegur, "Bouw-ciangkun apa artinya pengepungan
dan penyerangan terhadap benteng re-kannya sendiri itu." Bouw-ciangkun lalu
melaporkan tentang apa yang telah terjadi, tentang ben-trokan antara anak buahnya dan anak buah
Gui-ciangkun. Tentu saja dalam laporan kepada atas-annya ini dia menimpakan semua kesalahan
kepada Gui-ciangkun yang dicapnya pemberontak.
"Saya mengundangnya baik-baik untuk saya bawa menghadap Lai-goanswe, akan tetapi dia tidak
mau, bahkan menggunakan kata-kata kasar dan menantang. Saya sudah menegurnya dan
mengancamnya agar dia menyerah tanpa perlawan-an, akan tetapi Gui-ciangkun membangkang dan
menentang," demikian perwira gendut itu menutup pelaporannya.
Jenderal yang terhitung masih muda, baru ber-usia empatpuluh lima tahun itu mengerutkan alis-nya
dan suaranya terdengar tegas, "Bouw-ciang-kun ! Seorang perajurit, apapun pangkatnya, ha-rus
mentaati peraturan dan berdisiplin. Engkau sendiripun telah melakukan pelanggaran dalam hal ini.
Tanpa surat perintahku untuk membawa-nya menghadap, mana mungkin Gui-ciangkun mentaatimu ?
Kami tidak berpihak siapapun dalam keributan ini. Besok pagi akan kupanggil Gui-ciangkun. Aku ingin
agar suasana menjadi jernih . Kekuatan kita tidak boleh dipecah-pecah seperti ini karena hal itu hanya
akan mengeruhkan sua-sana dan melemahkan kedudukan kita sendiri. Nah, sekarang tariklah
pasukanmu dan kembalilah ke bentengmu sendiri!"
Setelah pasukan Bouw-ciangkun ditarik kembali, tempat itu menjadi sunyi kembali. Hanya di dalam
benteng itu saja yang masih terjadi kesi-bukan, yaitu para perajurit merawat teman-teman yang
terluka. Gui-ciangkun memeriksa anak bu-ahnya dan memerintahkan agar penjagaan dilan-jutkan
dengan ketat.
Liu Pang melihat semua itu dan pemimpin para pendekar ini merasa prihatin sekali. Keadaan di
daerah sungguh kacau-balau. Pasukan saling han-tam sendiri dan agaknya pemerintah tidak akan
dapat mengatasi keadaan. Kalau dibiarkan berla-rut-larut, di sernua tempat tentu akan muncul
pemberontakan-pemberontakan dan kalau api itu sudah membakar negara, akan sukarlah untuk dipadamkan.
Kaisar dan para pembantunya di kota raja agaknya tidak tahu atau tidak memperdulikan
keadaan negara yang terancam bahaya gawat ini. Mereka itu hanya pandai mengumbar nafsu, bersenang-
senang di kota raja dan menganggap ringan pemberontakan-pemberontakan itu. Bahkan
kaisar agaknya hanya tahu bahwa yang melakukan pem-berontakan adalah Chu Siang Yu saja, di
utara dan barat. Padahal, keadaan di timur dan selatan tidak kalah gawatnya. Daerah yang dianggap
aman ini sebenarnya sedang bergolak dan sewaktu-waktu akan meledak menjadi pemberontakan
dunia-kangouw.blogspot.com
yang akan menghancurkan pemerintah. Pasukan asing ber-keliaran di daerah ini dan banyak
pembesar dan pasukan yang bersekongkol dengan mereka. Ce-lakanya, pemerintah pusat bahkan
percaya akan laporan para pembesar yang sebenarnya merupakan musuh dalam selimut itu, para
pembesar yang bersekongkol dengan orang-orang asing, percaya akan laporan mereka bahwa Liu
Pang dan para pendekarlah yang memberontak! Padahal, yang menjadi dasar pada gerakannya
adalah untuk me-nyelamatkan negara dan pemerintah, untuk meng-halau pasukan asing dan
menghajar para pembesar yang bersekongkol dengan mereka.

Tag:cersil cersil indo cersil mandarin full cerita silat mandarin online cersil langka cersil mandarin lepas cerita silat pendekar matahari kumpulan cerita silat jawa cersil mandarin beruang salju. cerita silat pendekar mataharicerita silat indonesia cerita silat kho ping hoo cerita silat mandarin online cerita silat mandarin full cerita silat jawa kumpulan cerita silat cerita silat jawa pdf cerita silat indonesia gratis cerita silat jadul indonesia cerita silat indonesia pendekar rajawali sakti cersil indonesia pendekar mabuk cersil langka cersil dewa arak cerita silat jaman dulu cersil jawa download cerita silat mandarin full cerita silat mandarin online cersil mandarin lepas cerita silat mandarin pendekar matahari cerita silat jawa pdf cersil indonesia pdf cersil mandarin beruang salju kumpulan cerita silat pdf
kumpulan cerita silat cersil online
Share:
cersil...
Comments
0 Comments

Arsip Cersil

Best Cersil

Pecinta Cersil