Donasi

Buat yang punya rejeki berlebih dan merasa terhibur dengan Situs Cerita Silat Cersil Terbaik ini bisa mendonasikan bantuannya ke
No. Rekening BPD Jateng No. 2004084554
demi keberlangsungan dan keberadaan Blog Cersil Cerita Silat yang sama-sama kita cintai ini. Kritik dan Saran hub No HP.083837358519. Atas Bantuannya disampaikan Terimakasih.

Rabu, 18 April 2018

Komik Jadul Si Raja Pedang Full Komplit 8 Tamat

Komik Jadul Si Raja Pedang Full Komplit 8 Tamat
baca cersil jadul sederenge
----
"Keparat, rasakan pembalasanku!” Kim-thouw Thian-li berseru keras.
Dia cepat-cepat memberi bubuk obat pada pundaknya yang terluka, kemudian dengan kemarahan yang
meluap-luap ia menerjang Liem Sian Hwa dengan nafsu membunuh.
Sian Hwa memutar pedang mempertahankan, diri, namun maklum bahwa ia kalah tenaga dan bingung
menghadapi ilmu golok yang aneh dan ganas itu. Betapa pun juga, dengan mengertakkan giginya nona
pendekar ini melakukan perlawanan nekat. Hatinya gelisah sekali melihat betapa dua orang murid
keponakannya, Thio Ki dan Kui Lok, sudah menjadi orang-orang tawanan, diikat kaki tangan mereka dan
dibawa mundur oleh beberapa orang serdadu musuh.
Kwa Tin Siong juga sudah melihat betapa dua orang murid keponakannya ini tertawan. Akan tetapi dia pun
hanya dapat bergelisah saja karena semenjak pertempuran hebat itu dimulai, Hoa-san It-kiam Kwa Tin Siong
ini sudah menerjang maju dan dikeroyok oleh lima orang perwira pasukan musuh secara berganti-ganti. Sudah
banyak lawan roboh oleh pedangnya yang lihai, akan tetapi dikeroyok begitu banyak lawan tangguh, dia
menjadi terdesak juga dan tidak berdaya menolong dua orang keponakan yang tertawan itu.
Kini melihat betapa sumoi-nya didesak hebat oleh Kim-thouw Thian-li yang ganas, dia berkhawatir sekali.
Sambil berseru keras pedangnya diputar seperti ombak menggelora sehingga dua orang pengeroyoknya roboh
dan yang lain terpaksa mundur dengan gentar. Kesempatan ini digunakan oleh Kwa Tin Siong untuk melompat
dan menerjang Kim-thouw Thian-li.
"Sumoi, jangan khawatir, mari kita bunuh siluman betina ini!" serunya dan pedangnya yang masih berlepotan
darah itu menerjang kuat.
"Hi-hi-hi, seorang sumoi dan suheng-nya yang tak bermalu!" Sambil menangkis Kim-thouw Thian-li
mentertawakan mereka. "Di luar mengaku sebagai sumoi dan suheng, di mulut memaki-maki Kwee Sin yang
serong, tetapi ini bagaimana? Ha-ha-hi-hi-hi, tak bermalu, muka tebal! Siapa tidak tahu bahwa kalian sudah
bertahun-tahun main gila? Di depan guru bersikap alim, katanya saudara seperguruan, tapi di belakang guru?
Hi-hi-hi, hanya kamar kosong menjadi saksi percintaan kotor sumoi dan suheng!"
Kata-kata yang dikeluarkan Kim-thouw Thian-li ini keras dan nyaring sehingga terdengar oleh semua orang di
situ. Wajah Kwa Tin Siong dan Liem Sian Hwa menjadi pucat saking marah mereka. Liem Sian Hwa hampir
dunia-kangouw.blogspot.com
saja pingsan saking marahnya sehingga gerakan pedangnya malah menjadi lambat dan akhirnya ia terhuyunghuyung
dan roboh pingsan.
Kwa Tin Siong membentak, "Siluman betina, mampuslah!"
Pedangnya langsung menyambar, akan tetapi dengan enak Kim-thouw Thian-li dapat pula menangkisnya.
"Ha-ha-ha-ha, malu kan? Kalian saling cinta, siapa tidak tahu akan hal ini? Haiii...! Lian Bu Tojin, kau tosu tua
bangka sudah buta, tidak tahu di belakangmu dua orang muridmu main gila?" Tapi ia terpaksa menghentikan
kata-katanya karena serangan hebat yang dilakukan Kwa Tin Siong.
Ucapan Kim-thouw Thian-li yang nyaring ini hebat akibatnya. Lian Bu Tojin yang ketika itu sedang bertanding
mati-matian melawan Hek-hwa Kui-bo, seketika tergetar tubuhnya dan pada saat dia menengok ke arah Kwa
Tin Siong, dia kurang keras menangkis serangan kebutan sapu tangan sutera yang digerakkan oleh Hek-hwa
Kui-bo.
"Plakkk!"
Ujung sapu tangan menghantam dadanya dan Lian Bu Tojin terhuyung mundur dengan muka pucat. Akan
tetapi sambil menahan napas kakek ini masih dapat terus melompat ke dekat Kim-thouw Thian-li yang masih
mendesak Kwa Tin Siong dengan golok dan dengan mulut yang melontarkan kata-kata menghina tentang dia
dan sumoi-nya.
Lian Bu Tojin cepat menggerakkan tangan kirinya memukul ke depan. Kim-thouw Thian-li berusaha mengelak,
namun terlambat.
"Dukkk!"
Punggung Kim-thouw Thian-li kena digempur hingga tubuhnya mencelat terguling-guling dan roboh tak
bergerak. Darah merah mengalir dari mulut perempuan ini.
Lian Bu Tojin dengan mata mendelik menghadapi Kwa Tin Siong. "Tin Siong, betulkah kau... kau... betulkah
apa yang diucapkan siluman tadi? Betul kau... kau mencinta Sian Hwa?" tanyanya, suaranya yang biasanya
lemah lembut itu sekarang kaku parau sebab kemarahannya sudah memuncak.
Selama hidupnya Kwa Tin Siong tak pernah berbohong kepada suhu-nya. Dengan kepala tunduk dia
menjawab, "Teecu memang cinta kepada Sumoi, Suhu. Akan tetapi cinta yang bersih... tidak seperti yang
dimaksud oleh siluman itu..."
Tiba-tiba terdengar suara ketawa mengejek. "Ha-ha-ha, cinta kasih antara laki-laki gagah dan perempuan
cantik, mana bisa bersih-bersihan? Ha-ha-ha-ha-ha, pintar juga Kwa Tin Siong! Dari pada sumoi-nya tidak laku
menjadi perawan tua... Ha-ha-ha-ha-ha duda dan perawan tua, sudah cocok!" Bukan main hebatnya
penghinaan ini yang keluar dari mulut Giam Kin.
"Blukkk!"
Dalam kemarahannya, Bun Lim Kwi menggunakan kesempatan saat Giam Kin memecah perhatiannya untuk
melontarkan penghinaan ini. Dia berhasil memukul pundak Giam Kin dengan tangan kirinya. Inilah pukulan
Pek-lek-jiu dan andai kata orang lain yang terpukul pasti akan roboh binasa.
Akan tetapi Giam Kin adalah orang yang sudah mempunyai kepandaian tinggi. Pukulan ini benar
merobohkannya, akan tetapi sambil roboh dia sempat menyambitkan segenggam jarum-jarum halus ke arah
Bun Lim Kwi.
Jago muda Kun-lun-pai ini dahulu ketika bertempur melawan Thio Eng pernah roboh dan hampir tewas oleh
jarum-jarum berbisa ini. Maka dengan kaget dia melompat jauh untuk menghindar sambil berseru kepada Thio
Bwee dan Kwa Hong.
dunia-kangouw.blogspot.com
"Ji-wi lihiap, awas!"
Baiknya jarum-jarum itu memang tidak disambitkan ke arah dua orang nona yang ikut mengeroyok Giam Kin
ini, maka mereka tak terancam oleh senjata rahasia yang jahat itu. Sementara itu, Kwa Hong yang juga
mendengar ucapan-ucapan keji Kim thouw Thian-li tadi, sekarang berdiri dengan muka pucat dan memandang
ke arah ayahnya yang ditegur oleh Lian Bu Tojin dan ke arah bibi gurunya yang masih rebah pingsan.
Ada pun Lian Bu Tojin ketika mendengar pengakuan dari Kwa Tin Siong dan kemudian mendengar ucapan
Giam Kin, tubuhnya menjadi limbung.
"Huaaak…!”
Dari mulutnya tersembur darah segar. Inilah akibat pukulan selendang sutera Hek-hwa Kui-bo tadi. Kemudian
orang tua ini menggerakkan pedang pusaka Hoa-san-pai yang lalu dibacokkan ke arah tubuh Liem Sian Hwa
yang menggeletak di atas tanah.
"Suhu…! Ampunkan Sumoi..."
Kwa Tin Siong menubruk maju, menghalangi tubuh sumoi-nya. Lian Bu Tojin kaget dan menahan pedangnya,
akan tetapi karena dia sudah terluka gerakannya kurang kuat dan pedang itu tetap masih membacok ke arah
leher muridnya yang tertua. Terpaksa Kwa Tin Siong menangkis dengan tangan kirinya.
"Crakkk!"
Pedang pusaka Hoa-san-pai yang amat tajam dan ampuh itu tanpa ampun lagi membabat putus lengan kiri
Kwa Tin Siong sebatas pergelangan tangan! Kwa Tin Siong masih terus berjongkok, memondong tubuh Liem
Sian Hwa dengan tangan kanannya. Dia berdiri lalu berjalan pergi terhuyung-huyung dengan langkah limbung,
tapi cepat sekali dia sudah lari turun gunung.
"Ayah...!" Kwa Hong menjerit dan hendak mengejar, akan tetapi tiba-tiba dia pun roboh terguling.
Ternyata dalam keadaan kacau itu, selagi semua orang mencurahkan perhatian ke arah peristiwa itu, Giam Kin
sudah meloncat maju dan menotoknya roboh. Kejadian ini seperti menjadi tanda bahwa pertempuran di mulai
lagi. Bun Lim Kwi menggerakkan pedang menyerang Giam Kin, dibantu Thio Bwee dan kembali mereka
bertempur.
"Beraninya kau melukai muridku!" Hek-hwa Kui-bo yang tadi maju menolong Kim-thouw Thian-li yang terluka
oleh pukulan Lian Bu Tojin, sekarang melayang maju menyerang ketua Hoa-san-pai itu.
Akan tetapi Lian Bu Tojin sudah menderita luka batin yang amat hebat, sekarang kakek ini malah duduk bersila
dan meramkan matanya. Agaknya kakek Hoa-san-pai ini sudah menderita kesedihan terlalu besar karena
persoalan murid-muridnya sehingga sekarang dia sengaja menanti pukulan maut lawannya tanpa mau
membela diri.
Pada saat itu, terdengar sorak-sorak gemuruh di sekeliling tempat pertempuran. Tiba-tiba muncullah ratusan
orang gagah perkasa yang dipimpin oleh seorang tinggi besar. Semua orang menjadi kaget sekali bahkan Hekhwa
Kui-bo sendiri sampai menahan pukulannya.
Akan tetapi setelah menengok dan melihat bahwa yang datang adalah orang-orang yang biasanya disebut
pejuang atau yang oleh pemerintah dianggap pemberontak, Hek-hwa Kui-bo mengeluarkan dengus menghina
dan ia melanjutkan pukulannya.
"Lian Bu Tojin, bersiaplah untuk mampus!"
Pedangnya menusuk ke arah dada sedangkan ujung selendang sutera menotok ke arah ubun-ubun kepala
Lian Bu Tojin. Dua serangan mematikan yang agaknya akan segera menamatkan nyawa ketua Hoa-san-pai.
Akan tetapi pada saat itu tampak dua sinar hitam menyambar.
dunia-kangouw.blogspot.com
"Tranggg…!"
Pedang di tangan Hek-hwa Kui-bo terpukul ke samping sedangkan sinar hitam kedua telah menyambar ke
arah siku kirinya, membuat tangan kirinya menjadi lemas dan hawa Iweekang yang tersalur ke arah selendang
itu lenyap sehingga selendangnya berubah lemas seperti kain biasa. Sekaligus sambaran dua benda hitam
yang ternyata hanya dua buah kerikil itu telah melumpuhkan serangan maut Hek-hwa Kui-bo dan menolong
nyawa Lian Bu Tojin!
Hek-hwa Kui-bo kaget dan marah sekali, cepat memutar tubuh dan ia berhadapan dengan seorang pemuda
yang bukan lain adalah Beng San. Pemuda ini tersenyum kepadanya.
"Apakah selama ini kau baik-baik saja, Hek-hwa Kui-bo?"
Hek-hwa Kui-bo tertegun dan meragu. Serasa ia mengenal muka pemuda ini, akan tetapi kalau diingat akan
kepandaian pemuda ini yang luar biasa tadi ia ragu-ragu dan merasa tidak pernah mengenal seorang pemuda
dengan kepandaian demikian hebatnya.
”Kau siapakah?"
"Hek-hwa Kui-bo, lupakah kau kepadaku? Ingatlah akan pelajaran Thai-hwee, Siu-hwee
dan Ci-hwee..."
"Ahhh, kau Beng San siluman cilik...," dengan marah Hek-hwa Kui-bo teringat akan kitab Im-yang Sin-kiam.
"Bagus, kau serahkan Yang-sin Kiam-sut kepadaku!"
Berbareng dengan bentakan ini dia langsung menyerang dengan pedangnya. Beng San mengelak dan melihat
bahwa nenek itu menyerangnya dengan Ilmu Pedang Im-sin-kiam, tentu saja dengan mudah dia dapat
menghindarkan diri. Akan tetapi karena dia sendiri tidak bersenjata, sukar juga baginya untuk balas menyerang
nenek yang kepandaiannya hebat itu sehingga dia hanya main mundur, mengelak ke kanan kiri, meloncat ke
sana ke mari.
Sementara itu, rombongan orang gagah yang ternyata dipimpin oleh Tan Hok itu sudah menggempur pasukan
pemerintah sehingga perang tanding menjadi semakin ramai. Akan tetapi keadaannya sekarang berubah sama
sekali. Apa bila tadi para tosu Hoa-san-pai melakukan perlawanan sia-sia dan banyak di antara mereka yang
roboh binasa, sekarang keadaannya berbalik.
Tidak saja para anggota Pek-lian-pai yang datang ini rata-rata memiliki kegagahan dan kepandaian, juga
jumlah mereka jauh lebih besar sehingga pasukan pemerintah ditekan hebat dan benar-benar terdesak.
Sebentar saja banyak serdadu Mongol roboh dan yang lainnya mulai lemah semangat.
Pertempuran yang hebat dan seru adalah pertempuran antara Pek Gan Siansu dengan Siauw-ong-kwi. Dua
orang tokoh besar ini benar-benar memiliki kepandaian yang hebat. Mereka tidak mempunyai permusuhan
pribadi, akan tetapi seperti sudah sering kali terjadi, apa bila dua orang tokoh besar bertempur dan saling
mengeluarkan kepandaian, mereka tidak mau saling mengalah.
Mereka bertempur sejak permulaan tadi sampai sekarang, tak pernah berhenti dan sudah mengeluarkan
kepandaian masing-masing sampai dua ratus jurus lebih. Betapa pun juga, ilmu kepandaian Pek Gan Siansu
adalah ilmu yang bersumber pada ilmu bersih dan asli keturunan Kun-lun-pai, maka dasarnya amat kuat.
Sebaliknya, Siauw-ong-kwi mendapatkan kepandaiannya dari kumpulan bermacam ilmu silat dan baginya tidak
ada pilihan apakah ilmu silat itu kotor mau pun bersih sifatnya, semua dipelajari sejak muda dan dari kumpulan
ilmu-ilmu silat inilah dia menciptakan ilmu silatnya sendiri yang ganas dan lihai, yaitu dengan senjata kedua
ujung lengan bajunya yang panjang.
Mungkin karena kalah murni sumber ilmu kepandaiannya, maka setelah lewat dua ratus jurus, perlahan-lahan
Siauw-ong-kwi mulai terdesak oleh sinar pedang Pek Gan Siansu yang hebat itu. Terpaksa dia diam-diam
harus mengakui bahwa Ilmu Pedang Kun-lun Kiam-sut memang benar-benar lihai sekali.
dunia-kangouw.blogspot.com
"Ha-ha-ha, Pek Gan Siansu, ilmu pedang Kun-lun benar-benar bukan omong kosong saja. Kulihat barisan
pemberontak sudah menyerbu, terpaksa aku tidak suka melayanimu lebih lama lagi. Nanti saja pada
pertemuan mendatang kita lanjutkan untuk menentukan siapa sebenarnya Raja Pedang!"
"Siauw-ong-kwi, kau terlalu memuji. Kepandaianmu juga pinto lihat banyak lebih lihai dari pada dulu. Dalam
pertemuan di Thai-san nanti kiranya pinto takkan kuat menghadapimu."
Ucapan kakek Kun-lun-pai ini memang dengan sejujurnya. Tadi dia dapat menindih lawannya dengan ilmu
pedangnya yang lebih murni dan lebih kuat, akan tetapi dalam hal tenaga dan keuletan, kalau pertempuran ini
terus dilanjutkan, dia pasti akan kalah oleh Siauw-ong-kwi yang belasan tahun lebih muda itu.
Siauw-ong-kwi kemudian melesat ke arah muridnya. Ketika itu Giam Kin sudah terdesak hebat oleh Bun Lim
Kwi yang dibantu oleh Thio Bwee. Sekali kebutkan ujung lengan bajunya, Siauw-ong-kwi sudah membuat
pedang Lim Kwi dan Thio Bwee terpental ke belakang, malah Thio Bwee terhuyung beberapa tindak.
Sedangkan Lim Kwi yang lebih tinggi ilmunya hanya tergetar tangannya, tetapi sudah cukup untuk memberi
kesempatan kepada Giam Kin untuk meloncat ke belakang dan menyusul gurunya lari pergi.
Hek-hwa Kui-bo masih saja mengejar-ngejar Beng San dengan Ilmu Pedang Im-sin-kiam. Hatinya terasa
makin penasaran karena dia belum juga dapat merobohkan pemuda ini. Sebetulnya, jangankan merobohkan,
ujung pedangnya bahkan belum pernah mencium ujung baju pemuda itu yang dengan gesit melompat ke sana
ke mari dengan gerakan tidak karuan seperti orang ketakutan, namun setiap lompatannya merupakan kelitan
yang amat sempurna dan tepat untuk menghindari serangan-serangan jurus Im-sin Kiam hoat.
Orang-orang yang berada di situ tadinya sedang sibuk menghadapi lawan masing-masing, maka kedatangan
Beng San tidak menarik perhatian. Tetapi sekarang mereka mendapat kesempatan menonton, maka mereka
merasa amat heran dan juga khawatir menyaksikan pemuda itu terus dikejar-kejar oleh Hek-hwa Kui-bo.
Pek Gan Siansu adalah seorang tokoh besar yang tajam penglihatannya. Melihat keadaan Beng San, sama
sekali dia tidak ragu-ragu lagi bahwa tentu pemuda aneh ini memiliki kepandaian hebat. Akan tetapi karena dia
pun maklum akan keganasan Hek-hwa Kui-bo, maka dia segera berkata, "Ha-ha-ha, sungguh lucu bukan
main. Hek-hwa Kui-bo dengan pedangnya mengejar-ngejar seorang pemuda. Memalukan betul!"
Oleh karena Hek-hwa Kui-bo sendiri maklum bahwa pemuda itu adalah seorang ahli waris Im-yang Sin-kiam,
sekarang melihat pertempuran sudah berhenti dan para serdadu sudah lari cerai-berai, apa-lagi Siauw-ong-kwi
sudah pergi juga, dia merasa tidak ada harapan kalau harus mengamuk seorang diri.
"Bocah, kalau memang kau ada kepandaian, kelak di Thai-san kita bertemu pula!" katanya gemas dan sekali
berkelebat, nenek itu sudah pergi menyusul muridnya dan rekannya yang lain-lain, yang sudah lari lebih
dahulu.
Hebat sekali akibat pertempuran itu. Banyak sekali, lebih dari empat puluh orang tosu Hoa-san-pai,
menggeletak mati atau terluka. Juga ada beberapa belas orang Pek-lian-pai terluka dan serdadu-serdadu itu
meninggalkan mayat dan teman-teman terluka sebanyak tujuh puluh orang lebih. Di tempat itu penuh dengan
mayat dan orang-orang terluka. Darah mewarnai rumput dan tanah, mengerikan sekali.
Lian Bu Tojin masih duduk bersila meramkan mata. Dia terluka hebat dan juga mendapat guncangan batin
yang berat. Kwa Tin Siong dan Liem Sian Hwa tidak kelihatan, sudah lari turun gunung. Kwa Hong, Thio Ki,
dan Kui Lok sudah tertawan, dibawa lari oleh musuh. Tinggal Thio Bwee seorang yang sekarang berlutut di
depan kakek Hoa-san-pai ini sambil menangis. Hari itu Hoa-san-pai benar-benar mengalami pukulan hebat,
pukulan dari luar dan dari dalam.
Bun Lim Kwi berdiri di dekat gurunya, menundukkan muka ikut berduka. Pek Gan Siansu mengelus-elus
jenggotnya dan memandang kepada Beng San yang juga berdiri bingung karena tidak tahu ke mana perginya
para murid Hoa-san-pai yang lain.
"Adik Beng San...!" Seruan ini adalah suara Tan Hok yang datang berlari-lari.
Beng San juga girang dan dua orang ini saling berpelukan.
dunia-kangouw.blogspot.com
"Syukur kau dan teman-temanmu keburu datang, Tan-twako, kalau tidak..."
Tan Hok memandang ke arah tubuh-tubuh yang tergeletak malang melintang di tanah itu. Dia menarik napas
panjang.
"Anjing-anjing Mongol itu benar-benar keji dan sayang sekali tidak dari dulu Hoa-san-pai turut berjuang. Lebih
sayang lagi semua ini hanya gara-gara ada murid Kun-lun-pai yang roboh di bawah pengaruh kecantikan
wanita..." la menuding ke arah mayat Kwee Sin.
”Jangan kau bicara sembarangan!" Thio Bwee tiba-tiba meloncat dan memandang Tan Hok dengan marah.
"Apa kau sangka hanya kau dan orang-orang Pek-lian-pai saja yang patriotik dan gagah? Paman Kwee Sin
biar pun kelihatan bersalah, akan tetapi sebetulnya semua itu dia lakukan demi menjalankan tugasnya sebagai
seorang pejuang. Dia adalah pemimpin di kota raja, terkenal dengan sebutan Si-enghiong..."
"Apa...?!" Tan Hok membelalakkan matanya. "Dia... dia itu Si-enghiong? Si-enghiong dan Ji-enghiong adalah
orang-orang yang memimpin gerakan kami di kota raja... orang-orang kepercayaan Ciu-taihiap! Betulkah
ini...?"
Pek Gan Siansu memuja, "Siancai... siancai..." ia pun menarik napas panjang. "Sungguh bangga hati tua ini
mendengar bahwa Kwee Sin ternyata adalah seorang pejuang besar. Bangga dan sedih serta malu bahwa
pinto telah begitu buta sehingga tidak bisa mengenal murid sendiri! Ahh, Kwee Sin... Kwee Sin... tidak
berharga pinto menjadi gurumu..."
Tiba-tiba Thio Bwee berseru. “Ehh, mana dia? Mana dia Ji-enghiong...?"
Tan Hok makin kaget. "Apa?! Ji-enghiong juga di sini? Mana dia?"
Semua orang mencari-cari dan mengingat-ingat, akan tetapi mereka tadi tidak melihat lagi adanya nona Lee
Giok atau yang disebut Ji-enghiong oleh Kim-thouw Thian-li.
"Betulkah Ji-enghiong tadi di sini? Siapakah dia?" Tan Hok bertanya lagi, terheran-heran. Sedangkan Beng
San juga tertegun mendengar terbukanya rahasia ini, ingin benar dia mendengar keterangan Ji-enghiong pula.
Lian Bu Tojin berdiri perlahan-lahan, lalu memandang Tan Hok dan teman-temannya yang berdiri di
belakangnya. Melihat tadi Beng San berpelukan dengan Tan Hok, kakek ketua Hoa-san-pai ini bertanya, "Beng
San, siapakah tuan ini?"
Beng San menjura. "Totiang, dia ini adalah teman teecu yang gagah perkasa. Namanya Tan Hok dan dialah
pemimpin pasukan gerilya Pek-lian-pai yang patriotik."
Lian Bu Tojin mengangguk-angguk, ”Ah, kiranya. Tan-enghiong. Terima kasih atas semua bantuanmu.
Agaknya Tan-enghiong juga mengenal dua orang pemimpin di kota raja yang disebut Ji-enghiong dan Sienghiong."
"Tentu saja mengenal, Totiang. Hanya mengenal nama, akan tetapi dua orang tokoh itu adalah termasuk
atasan saya. Kiranya Si-enghiong adalah murid Kun-lun-pai, sungguh menggembirakan sekali dan sekaligus
mengubah pandangan kami terhadap Kun-lun-pai. Akan tetapi... siapakah yang mengatakan bahwa dia adalah
Si-enghiong?"
"Tak bisa diragukan lagi. Pasukan pemerintah tadi menyerbu ke sini justru karena mereka hendak menangkap
Ji-enghiong dan Si-enghiong. Si-enghiong adalah... murid Pek Gan Siansu, Kwee Sin. Ada pun Ji-enghiong,
menurut pengakuan tadi adalah seorang nona muda yang bernama Lee Giok dan sekarang entah pergi ke
mana karena agaknya tadi menghilang ketika terjadi pertempuran.”
Mendengar ini, segera Tan Hok bersama teman-temannya dengan penuh penghormatan mengangkat jenazah
Kwee Sin lalu merawat serta mengurusnya penuh penghormatan sebagaimana layaknya seorang pemimpin.
Juga para tosu Hoa-san-pai mengurus semua mayat dan orang-orang yang terluka.
dunia-kangouw.blogspot.com
Dalam hal ini, Lian Bu Tojin membuktikan keluhuran pribudinya dengan memerintahkan anak muridnya untuk
mengurus juga mayat-mayat serdadu Mongol, bahkan mengobati mereka yang luka dan membiarkan mereka
pergi dengan aman.
Beng San yang tidak melihat murid-murid Hoa-san-pai, mengajukan pertanyaan kepada Thio Bwee, "Adik
Bwee, kenapa aku tidak melihat Hong-moi dan dua orang saudaramu Thio Ki dan Kui Lok? Dan ke mana pula
perginya Kwa-lo-enghiong dan bibi gurumu?"
Ditanya begini, tiba-tiba Thio Bwee menangis lagi dan tidak dapat menjawab.
Lian Bu Tojin yang menjawab, "Beng San, hari ini Hoa-san-pai mengalami kehancuran. Kwa Hong, Thio Ki,
dan Kui Lok tertawan musuh dan ditangkap. Ada pun Kwa Sin Tiong dan Sian Hwa, ehh, mereka juga lari
dalam kekacauan tadi."
Mendengar ini, berubah muka Beng San. "Hong-moi tertawan musuh? Juga saudara Thio Ki dan Kui Lok?
Ahh, celaka! Biar kuusahakan pertolongan..." Beng San lari turun dari puncak.
"Lim Kwi, kau bantulah dia!" bisik Pek Gan Siansu.
"Saudara Beng San, tunggu!” Tubuh Lim Kwi melesat mengejar Beng San.
Juga Tan Hok meloncat dan mengejar. "Adik Beng San, tunggu dulu...!"
Akan tetapi aneh sekali, biar pun Beng San kelihatannya hanya lari biasa saja sedangkan dua orang yang
mengejarnya ini meloncat dan menggunakan ilmu lari cepat, sebentar saja tubuh Beng San sudah lenyap dan
sama sekali tidak mereka ketahui ke mana arah larinya. Terpaksa Tan Hok dan Lim Kwi kembali ke puncak.
"Lian Bu totiang," berkata Tan Hok dengan suara menghibur orang tua yang kelihatan berduka itu. "Harap
Totiang jangan khawatir. Adik Beng San bukanlah orang biasa, tentu dia akan berusaha sekuat tenaga untuk
menolong murid-murid Hoa-san-pai yang tertawan itu. Andai kata dia tak berhasil, percayalah, saya akan
mengerahkan teman-teman untuk pergi menolong mereka. Sekarang sudah jelas bahwa murid Kun-lun-pai
sudah menjadi pemimpin pejuang, yaitu mendiang Kwee-enghiong. Dan sekarang Hoa-san-pai juga telah
dimusuhi penjajah, maka tidak ada jalan lain kecuali melanjutkan cita-cita Kwee-enghiong. Alangkah baiknya
kalau mulai sekarang Hoa-san-pai dan Kun-lun-pai ikut serta membantu perjuangan rakyat."
Mendengar ucapan pemimpin gerilya Pek-lian-pai yang gagah dan bersemangat ini, Lian Bu Tojin dan Pek
Gan Siansu saling pandang. Lian Bu Tojin menarik napas panjang dan berkata.
"Sebetulnya, semenjak rakyat memberontak terhadap penindasan pemerintah penjajah, kami semua anggota
Hoa-san-pai sudah merasa simpati dan bahkan pinto sendiri sudah memberi perintah kepada para anak murid
supaya membantu perjuangan. Siapa kira pinto kena diakali oleh Pangeran Souw Kian Bi yang dahulu secara
pengecut telah menculik dua orang cucu muridku. Akan tetapi, dengan adanya penyerbuan hari ini, jelas
bahwa mereka memusuhi kami dan kami sekarang akan mengerahkan semua tenaga untuk ikut membantu
perjuangan mengusir penjajah-penjajah Mongol dari tanah air."
"Bagus, Lian Bu toyu!" Pek Gan Siansu berseru gembira. "Aku sendiri harus menebus kesalahan serta
kebodohanku karena tak dapat mengenal Kwee Sin, dan mulai sekarang Kun-lun-pai juga akan
menggabungkan diri dengan para pejuang.”
Bukan main girangnya hati Tan Hok mendengar ini. Segera dia menjura dengan hormat lalu menceritakan
keadaan perjuangan, sampai di mana kemajuan gerakan barisan rakyat dan bagian mana yang kiranya
membutuhkan bantuan dari dua partai persilatan itu…..
********************
Dengan melakukan perjalanan cepat dan tak mengenal lelah Beng San mengejar barisan pemerintah yang
telah menawan Kwa Hong, Thio Ki dan Kui Lok. Akan tetapi biar pun dia sudah berhasil menyusul barisan
dunia-kangouw.blogspot.com
yang sisanya tinggal beberapa puluh orang saja itu, dia tidak melihat adanya tiga orang muda murid Hoa-sanpai
yang tertawan. Ia menjadi heran dan juga curiga di samping merasa gelisah sekali kalau mengingat akan
nasib mereka, apa lagi kalau dia memikirkan Kwa Hong.
Malam hari itu dia terus berlari cepat, akan tetapi belum juga dia dapat menyusul mereka yang membawa
tawanan-tawanan itu. Dia menduga bahwa tentulah Hek-hwa Kui-bo dan muridnya yang melarikan tawanantawanan
itu, maka dapat demikian cepat larinya.
Untuk melenyapkan keraguannya, dia menangkap seorang serdadu yang sedang berjalan bertiga dengan
teman-temannya sambil menggotong seorang teman mereka yang terluka. Serdadu-serdadu itu terheranheran
dan sangat ketakutan ketika dalam keadaan gelap itu berkelebat bayangan hitam dan tahu-tahu salah
seorang di antara mereka sudah lenyap tak berbekas dan tak meninggalkan suara apa-apa!
"Am... ampunkan hamba..." Serdadu itu meratap-ratap ketika dia merasa betapa tubuhnya dibawa melompat
tinggi dan diletakkan di atas ranting-ranting pohon yang tingginya bukan main dan bergoyang-goyang hampir
tak kuat menahan tubuhnya.
Dia mengira bahwa tentu dirinya diculik oleh iblis karena semenjak tadi penculiknya tidak bicara. Muka penculik
itu juga tidak kelihatan karena selain gelap, juga serdadu itu sudah tidak mampu menggerakkan kepalanya
untuk menengok dan melihat wajah orang yang mengempitnya.
"Hemmm, kau masih ingin hidup? Kau sudah membantu orang-orang berdosa, menculik tiga orang muda dari
Hoa-san-pai, sekarang kau hendak kutinggalkan di sini biar jatuh dan mampus! Ha-ha-ha!" Beng San
mengerahkan lweekang-nya sehingga suaranya terdengar besar menyeramkan dan menusuk telinga.
"Ampunkan hamba... hamba hanyalah tentara biasa, hanya mentaati perintah.”
"Hayo katakan, siapa yang membawa pergi tiga orang muda itu? Cepat mengaku, kalau tidak akan kucabut
nyawamu sedikit demi sedikit!"
Orang itu semakin percaya bahwa yang mengganggunya ini tentu iblis, karena sekarang suara itu terdengar
tinggi melengking, jauh bedanya dari tadi, dan terdengar suara tetapi tidak kelihatan orangnya pula.
"Mereka... mereka dibawa oleh Giam kongcu dan rombongannya..."
"Ke mana?"
”Ke markas besar di Tiang-bun-kwi...”
"Di mana letaknya Tiang-bun-kwi?"
Saking takutnya serdadu itu sampai tidak dapat memikirkan bahwa kalau yang bertanya iblis kiranya akan tahu
pula ke mana tawanan-tawanan itu dibawa pergi. Akan tetapi dia sudah terlampau takut sehingga tak dapat
mempergunakan pikiran sehat pula.
"Di sebelah barat kota raja..." Dia menahan jeritnya karena merasa tubuhnya terjatuh ke bawah. la tidak tahu
bahwa Beng San menariknya dan membawanya turun.
Tahu-tahu pada esok harinya dia siuman dari pingsannya dan berada di bawah sebatang pohon besar lagi
tinggi. Tentu saja dia makin percaya bahwa semalam dia diganggu setan maka dia lari secepat mungkin dari
tempat itu!
Sementara itu, Beng San menjadi girang setelah mendengar bahwa tiga orang tawanan itu dibawa oleh
rombongan Giam Kin ke Tiang-bun-kwi. Segera dia melakukan pengejaran di malam hari itu juga.
Perjalanan jauh itu tak membuat dia lemah semangat, dia hanya berhenti mengaso kalau lapar perutnya tidak
dapat dipertahankan lagi dan hanya berhenti mengaso sejenak untuk melemaskan urat-urat kakinya. Pada
keesokan harinya, menjelang malam tibalah dia di Tiang-bun-kwi.
dunia-kangouw.blogspot.com
Beng San kaget dan khawatir sekali ketika melihat keadaan Tiang-bun-kwi. Dusun di luar kota raja ini ternyata
merupakan markas besar yang amat kuat, menjadi pusat penjagaan kota raja sebelah barat. Dalam
penyelidikannya dia mendengar bahwa di situ berkumpul sedikitnya sepuluh ribu orang serdadu pemerintah
yang setiap hari berpatroli melakukan penjagaan untuk mencegah penyerbuan lawan dari sebelah barat. Dan
Kwa Hong beserta dua orang suheng-nya dibawa ke markas yang kuat ini!
Betapa pun hebatnya berita yang dia dengar tentang Tiang-bun-kwi, Beng San tidak takut. Untuk menolong
ketiga orang itu, terutama sekali Kwa Hong, dia rela berkorban nyawa. Setelah hari menjadi gelap, dia berhasil
menyusup ke dalam benteng besar, kemudian bersembunyi di balik wuwungan yang tinggi dan gelap.
Dia mendengar ribut-ribut dan melihat banyak tentara hilir-mudik dan sibuk sekali, seperti terjadi sesuatu yang
sangat penting. Lalu disusul suara terompet dan tambur. Lapat-lapat terdengar oleh Beng San suara mereka
yang menyatakan bahwa ada tamu agung akan datang mengunjungi benteng itu.
Terdengar kaki-kaki kuda dari luar dan... berdebar jantung Beng San saat melihat bahwa yang datang adalah
Tan Beng Kui bersama Pangeran Souw Kian Bi, didahului pengawal membawa bendera kebesaran dan
diiringkan pengawal bersenjata lengkap.
Beberapa orang perwira yang dipimpin komandan benteng itu sendiri lantas menyambut kedatangan Souw
Kian Bi dan Tan Beng Kui. Melihat dari cara mereka memberi hormat kepada dua orang pendatang ini dapat
diketahui bahwa di samping Souw Kian Bi yang kedudukannya sebagai Pangeran Mongol, juga Tan Beng Kui
memiliki kedudukan tinggi dan penting.
Sakit hati Beng San melihat kakak kandungnya itu dihormati sebagai seorang pembesar pemerintah Mongol
yang dalam pandangan matanya malah sebaliknya, yaitu sebagai antek atau anjing pemerintah penjajah.
Melihat betapa setelah turun dari kuda rombongan itu memasuki sebuah ruangan, dengan hati-hati Beng San
lalu melompat ke atas genteng di depan. Setelah mencari-cari dengan teliti dari atas, akhirnya dia tahu bahwa
rombongan itu duduk dalam sebuah ruangan yang lebar dan amat terang.
la membongkar genteng dan akhirnya, dapat juga pemuda itu mengintai ke bawah dengan hati-hati. Dilihatnya
banyak orang dalam ruangan yang luas itu dan kaget juga dia melihat bahwa Hek-hwa Kui-bo dan Siauw-ongkwi
juga berada di ruangan yang luas itu. Tidak ketinggalan Kim-thouw Thian-li dan Giam Kin yang agaknya
sekarang rapat hubungannya dengan ketua Ngo-lian-kauw itu, buktinya mereka duduk berdekatan dan Giam
Kin sering kali tersenyum-senyum kepada ketua Ngo-lian-kauw yang masih cantik itu. Beberapa orang perwira
duduk pula di situ, sedangkan sekeliling ruangan terjaga oleh tentara yang memegang tombak.
"Saya menghaturkan banyak terima kasih kepada Ji-wi Locianpwe yang telah membantu penumpasan para
pemberontak sehingga berhasil dengan terbunuhnya Kwee Sin yang ternyata adalah Si-enghiong pemimpin
pemberontak. Jasa Ji-wi dan para saudara tentu akan saya catat untuk diberi pahala," kata Pangeran Souw
Kian Bi.
"Sayang sekali, Ji-enghiong yang ternyata adalah nona Lee Giok itu tak dapat tertangkap atau terbunuh," kata
Beng Kui mencela.
"Perempuan hina itu diam-diam telah lari tanpa diketahui orang selagi pertempuran hebat terjadi. Kalau tidak
demikian, mana dia mampu terlepas dari tanganku?" Hek-hwa Kui-bo mendengus.
Siauw-ong-kwi tertawa bergelak. “Kui-bo, kau sendiri ketika itu repot menghadapi seorang pemuda sastrawan
gila, mana kau ada kesempatan menangkap gadis yang diam-diam menjadi pemimpin pemberontak itu? Haha-
ha!"
"Iblis tua bangka, jangan sombong kau. Menghadapi seorang pemuda gila, mana aku sudi turun tangan?
Sebaliknya, kau hampir tak sempat bernapas saat menahan pedang ketua Kun-lun-pai!" balas Hek-hwa Kui-bo
marah.
dunia-kangouw.blogspot.com
"Sudahlah, hal yang sudah terjadi tak perlu diributkan pula," kata Tan Beng Kui, suaranya tegas. "Biar pun dia
sebagai Ji-enghiong amat merugikan kita, setelah dia lari pergi, apa artinya seorang musuh seperti nona muda
itu? Pula, kita sekarang dapat mengerahkan pasukan pergi menangkap orang tuanya. Dengan menahan orang
tuanya, apakah nona itu akhirnya tidak akan menyerahkan diri?"
Pangeran Souw Kian Bi menggebrak meja dengan marah, mengagetkan semua orang. "Keparat betul! Siapa
kira di kota raja sudah berkeliaran demikian banyaknya mata-mata pemberontak. Tan-ciangkun, aku belum lagi
memberi tahukan kepadamu. Setelah timbul dugaanku bahwa Lee Giok adalah Ji-enghiong, aku cepat-cepat
menyuruh orang-orangku pergi menangkap orang tua she Lee itu, akan tetapi ternyata rumahnya telah kosong.
Ia sekeluarga telah lari minggat dari kota raja pada malam hari itu juga."
Tan Beng Kui mengeluarkan seruan kaget. "Aihhh, kiranya begitu? Celaka betul, kalau begitu tentu ada kaki
tangan pemberontak di kota raja yang telah memberi tahukan lebih dahulu kepada mereka.
"Segala usaha kita sudah digagalkan!" Pangeran Souw Kian Bi mengerutkan kening dan suaranya penuh
penyesalan. "Penyerbuan ke Hoa-san-pai sudah mengorbankan banyak serdadu dan mengakibatkan
permusuhan baru dengan pihak Hoa-san dan Kun-lun. Hal ini benar-benar tidak baik sekali, apa lagi kalau
dilihat hasilnya hanya dapat menawan tiga orang anak murid Hoa-san-pai yang tidak berarti."
"Selain tiga orang muda itu, kami masih menawan dua orang anggota Pek-lian-pai," kata komandan yang
memimpin pasukan Mongol tadi, nada suaranya mengandung penonjolan jasa.
"Huh! Apa artinya dua orang anjing Pek-lian-pai? Hayo gusur mereka semua ke sini! Adili mereka sekarang
juga, aku sendiri hendak memeriksanya!" seru Pangeran Mongol yang mengepalai usaha pembasmian para
pemberontak itu dengar suara marah.
Semua orang yang berada di situ, kecuali Hek-hwa Kui-bo dan Siauw-ong-kwi bersama murid-murid mereka
yang tetap tinggal tenang-tenang saja, menjadi gugup juga melihat kemarahan pangeran yang berpengaruh ini.
Aba-aba dikeluarkan dan beberapa orang serdadu pergi dari situ dengan sigapnya untuk menggusur para
tawanan.
Yang mula-mula sekali diseret ke ruangan itu adalah seorang laki-laki setengah tua yang bertubuh kurus kecil
dan bermata tajam, yang wajahnya terluka parah. Kedua lengannya dibelenggu di belakang tubuhnya, dan kini
dia didorong-dorong masuk oleh empat orang serdadu.
"Berlutut kau!" Seorang serdadu mendorong sambil menekan tengkuknya untuk memaksa dia berlutut di depan
Souw Kian Bi dan Tan Beng Kui beserta para perwira yang duduk di situ.
Orang itu terhuyung-huyung hampir roboh, namun dia dapat menguasai dirinya sehingga tidak sampai terjatuh,
lalu berdiri tegak menghadapi pangeran itu dan teman-temannya. Matanya terbuka lebar memandang penuh
kebencian, tubuhnya yang kecil kurus tegak lurus, sedangkan dadanya terangkat dibusungkan, sedikit pun
tidak kelihatan takut-takut apa lagi menghormat.
"Paksa jahanam ini supaya berlutut!" Tan Beng Kui membentak.
Dua orang tentara melangkah maju dan mulailah mereka memukul dan menekan untuk memaksa orang itu
berlutut. Akan tetapi semua usaha mereka sia-sia belaka. Sampai orang itu roboh karena tidak tahan lagi akan
pukulan-pukulan, tetap saja dia tidak mau berlutut!
"Ha-ha-ha, biarkan dia begitu," Pangeran Souw Kian Bi tertawa kagum. "Kau benar-benar gagah perkasa.
Siapakah namamu?"
Sambil menggigit bibir menahan sakit, orang itu yang sudah dapat bangkit dan kini duduk di atas lantai karena
tidak kuat berdiri lagi, menjawab dengan suara kasar dan tegas.
"Aku Gouw Bun anggota pimpinan regu Pek-lian-pai. Sekarang aku sudah tertawan, mau bunuh boleh bunuh!"
dunia-kangouw.blogspot.com
Kembali Pangeran Souw Kian Bu tertawa. "Orang she Gouw, kau benar-benar gagah dan patut menjadi
prajurit. Usiamu paling banyak empat puluh tahun, tentu kau meninggalkan keluargamu. Apakah kau tidak
ingin hidup serta mendapat kedudukan mulia dan mewah? Ingat, aku dapat mengampunimu dan malah dapat
mengangkatmu menjadi perwira kalau kau suka memberi keterangan tentang dua orang yang kalian sebut
sebagai Si-enghiong dan Ji-enghiong."
"Huh, kau kira kami orang-orang Pek-lian-pai dapat disamakan dengan orang-orang Han yang sudah suka
menjadi anjing-anjing penjilat pantat penjajah Mongol? Kami adalah para laki-laki sejati. Sudah berani berjuang
demi tanah air dan bangsa, masa kami takut mati? Kau tentulah Pangeran Souw Kian Bi, Pangeran Mongol
yang sudah tersohor menentang perjuangan kami. Sekarang aku Gouw Bun telah kau tawan, boleh bunuh.
Ingat saja kau dan antek-antek serta anjing-anjingmu, bahwa perjuangan rakyat akhirnya pasti menang dan
manusia-manusia macam kalian akhirnya tentu akan terbasmi!"
Bukan main marahnya Souw Kian Bi. Wajahnya yang tampan menjadi merah.
"Bawa dia keluar, robek jadi empat dengan empat ekor kuda!" perintahnya kepada para penjaga.
Beng San yang mendengarkan di atas genteng merasa ngeri dan timbul keinginan hatinya untuk menolong. la
sudah mendengar tentang cara-cara menghukum yang amat keji dari pangeran ini, di antaranya hukuman
robek menjadi empat potong.
Hukuman ini dilakukan dengan cara mengikat dua lengan dan dua kaki orang itu pada empat ekor kuda yang
kemudian dicambuk supaya lari ke arah empat jurusan. Dengan cara seperti ini, tubuh orang yang ditarik ke
empat jurusan oleh kuda-kuda kuat itu akan robek menjadi empat potong. Bagaimana dia dapat membiarkan
hal ini terjadi pada diri seorang patriot yang gagah perkasa?
“Harus kutolong dia,” pikir Beng San dengan hati berdebar.
la maklum bahwa untuk menolong orang itu sama sekali tidak sukar, akan tetapi untuk berhasil meloloskan diri
dari tempat berbahaya itu masih amat menyangsikan. Apa lagi kalau orang-orang sakti di dalam itu keluar
semua dan menghalanginya.
Tiba-tiba dia melihat cahaya berkelebat dalam ruangan itu. Tubuh Gouw Bun yang tadinya diseret-seret oleh
para penjaga itu roboh tak berkutik lagi dengan dada kiri tertembus pedang, sedangkan Tan Beng Kui nampak
memasukan lagi pedangnya yang sedikit pun tidak bernoda darah, lalu dia duduk kembali dengan tenang.
Beng San bengong setengah mati. Bukan main hebatnya gerakan kakak kandungnya itu. Mencabut pedang
langsung menyerang dan tepat menusuk ke arah jantung, dilakukan demikian cepat dan tepatnya sehingga dia
sendiri sampai silau matanya memandang, apa lagi melihat betapa pedang itu sama sekali tidak bernoda
darah, benar-benar merupakan gerakan ilmu pedang yang luar biasa lihainya.
"Hebat... hebat... itulah ilmu pedang yang hebat!" terdengar Siauw-ong-kwi memuji.
"Mirip gerak tipu ilmu pedangku! Hem... Tan-ciangkun, siapa yang mengajarkan gerakan itu kepadamu?" kata
Hek-hwa Kui-bo.
Diam-diam Beng San juga merasa heran oleh karena dia tadi pun merasa betapa gerakan ilmu pedang tadi
mempunyai persamaan, setidaknya dasarnya tidak berbeda dengan ilmu pedangnya, Im-yang Sin-kiam-sut.
"Ah, segala ilmu pedang pungutan dari jalanan, mana ada harganya mendapat perhatian Locianpwe?" jawab
Tan Beng Kui merendah kepada Hek-hwa Kui-bo.
Nenek ini masih penasaran dan hendak bertanya lagi, akan tetapi ia didahului Pangeran Souw Kian Bi yang
bertanya dengan suara tak senang.
"Tan-ciangkun, kenapa kau membunuhnya? Apa kau tidak suka mendengar dia kujatuhi hukuman tadi?"
dunia-kangouw.blogspot.com
Tan Beng Kui tersenyum sambil menjura kepada Souw Kian Bi. "Harap Taijin maafkan kepadaku. Aku tadi tak
kuat menahan kemarahan menyaksikan kesombongan sikap setan pemberontak itu, maka telah berani turun
tangan sendiri untuk melampiaskan kemarahan. Baru puas hatiku kalau sudah membunuhnya dengan tangan
sendiri."
Souw Kian Bi tersenyum juga. "Agaknya luar biasa bencimu kepada orang Pek-lian-pai. Ha-ha-ha..." Lalu
kepada para penjaga, pangeran ini memberi perintah supaya membawa pergi mayat itu dan menyeret masuk
orang kedua.
Hati Beng San panas dan perih. Ia merasa amat kecewa melihat kenyataan betapa kakak kandungnya
memusuhi para pejuang yang dianggapnya pemberontak. Melihat kakak kandungnya sendiri dengar ganas
membunuh seorang Pek-lian-pai yang demikian gagah perkasa dan patriotik, sungguh membuat Beng San
merasa penasaran, kecewa dan marah. Kalau kau tak dapat mengubah pendirian, agaknya aku sendiri akan
memusuhimu, pikirnya sambil memandang kepada kakak kandungnya yang sudah kembali duduk di sebelah
Souw Kian Bi dan melihat orang kedua yang sudah diseret masuk.
Orang ini masih muda, belum tiga puluh tahun usianya. Tubuhnya besar dan tampak kuat, mukanya gagah.
Dilihat tubuh dan mukanya, benar-benar jauh bedanya dengan orang pertama tadi. Akan tetapi alangkah jauh
pula bedanya sikap orang ini dengan yang tadi.
Begitu diseret masuk, orang ini sudah mengeluh panjang pendek dan tanpa diperintah lagi dia sudah
menjatuhkan diri berlutut di depan Pangeran Souw Kian Bi. Melihat sikap ini saja sudah muak perut Beng San.
"Siapa namamu dan apa yang ingin kau katakan setelah kau tertawan?" tanya Pangeran Souw Kian Bi,
agaknya gembira melihat sikap tawanan ini.
"Hamba Bhe Ti Gi, hamba... hamba mohon pengampunan Taijin... hamba adalah seorang bekas pedagang di
Kwi-bin, hamba... hamba hanya ikut-ikutan saja di Pek-lian-pai, bukan apa-apa... hamba mohon ampun..."
Orang itu lalu menangis ketakutan.
"Pengecut hina!" Beng San memaki dalam hatinya dan ingin sekali dia menampar muka orang itu.
Akan tetapi Souw Kian Bi tertawa bergelak lalu bertanya, suaranya halus. "Bhe Ti Gi, gampang memberi
ampun. Akan tetapi kau harus memberi keterangan tentang dua orang pemimpinmu di kota raja, yaitu Jienghiong
dan Si-enghiong. Apa saja yang kau ketahui tentang mereka?”
Dengan muka berseri penuh harapan orang itu mengangkat muka dan berkata. "Tentu saja hamba tahu
mengenai diri mereka itu, Taijin! Akan tetapi, sesudah hamba memberi keterangan, betulkah hamba akan
diampuni dan dibebaskan?"
"Sraaattt!"
Sinar pedang menyilaukan mata ketika Beng Kui mencabut pedangnya dan membentak, "Bedebah kau!
Keparat berlidah ular! Tak usah kau memutar-mutar omongan, kalau tahu tentang mereka berdua, lekas kau
ceritakan. Soal pengampunan tak perlu disebut-sebut!" Pedangnya tergetar di tangannya membuat tawanan itu
menjadi pucat sekali.
Hemmm, Benar-benar dia benci kepada para pejuang, pikir Beng San. Akan tetapi kali ini hatinya tidak panas
karena memang dia pun benci kepada Bhe Ti Gi yang berwatak khianat dan pengecut itu.
"Am... ampun..." Bhe Ti Gi gemetar seluruh tubuhnya, "hamba... hamba memang tahu tentang Ji-enghiong dan
Si-enghiong... memang semenjak bertahun-tahun mereka sudah terkenal sebagai pemimpin-pemimpin rahasia
di kota raja. Banyak mereka memberi tahu kepada kami tentang keadaan pertahanan pasukan pemerintah.
Tapi tak seorang pun di antara kami semua yang tahu bahwa Si-enghiong adalah Kwee Sin murid Kun-lun-pai
sedangkan Ji-enghiong adalah nona yang bernama Lee Giok itu..."
"Nah, berterus terang lebih baik," kata Tan Beng Kui sambil menyimpan pedangnya lagi. "Katakan sekarang ke
mana larinya nona Lee Giok atau Ji-enghiong itu, jawab dan jangan membohong!"
dunia-kangouw.blogspot.com
"Hamba... hamba mana tahu...? Hamba hanyalah anggota biasa... hamba tidak tahu dan mohon ampun..."
"Hemmm, tikus macam ini untuk apa dilayani lagi, Taijin? Tak patut diberi ampun, lebih baik dihukum mampus
saja agar semua anggota Pek-lian-pai yang mendengar menjadi ketakutan," kata pula Tan Beng Kui dengan
suara kejam.
Souw Kian Bi tertawa lalu memberi perintah kepada para penjaga. "Beri hadiah seratus kali rangketan!"
Bhe Ti Gi mengeluh dan memohon ampun, akan tetapi dengan kasar para penjaga lalu memaksa dia
menelungkup, kemudian terdengar suara gebukan berkali-kali diseling jerit kesakitan tawanan itu.
"Goblok! Kenapa memukul seperti orang kelaparan tak bertenaga lagi? Pukul yang keras, pada punggungnya!"
bentak Tan Beng Kui.
Kasihan juga Bhe Ti Gi. Pukulan tadi saja kalau dilanjutkan sampai seratus kali, tentu dia takkan tahan.
Sekarang karena teguran Tan Beng Kui, algojo yang melakukan hukuman ini memperkeras pukulannya
sehingga dia menjerit-jerit seperti babi disembelih diiringi suara ketawa para perwira dan serdadu. Baru empat
puluh kali saja tulang punggungnya sudah patah-patah dan dia berkelojotan lalu tak berkutik lagi.
Souw Kian Bi memberi perintah supaya mayat kedua ini pun disingkirkan dari situ, lalu dia menyuruh para
penjaga dengan suara keras.
"Bawa masuk tiga orang murid Hoa-san-pai!"
Berdebar jantung Beng San mendengar perintah ini. Tadi melihat penyiksaan terhadap diri Bhe Ti Gi, timbul
juga perasaan kasihan di hatinya, namun ditahan-tahankannya karena dia maklum bahwa menolong Bhe Ti Gi
berarti mendatangkan bahaya besar bagi dirinya sendiri. Sedangkan tujuan utama kedatangannya ke tempat
itu adalah untuk menolong murid-murid Hoa-san-pai terutama Kwa Hong, maka dia menahan sabar
memalingkan muka tidak mau memandang penyiksaan itu.
Kini mendengar bahwa murid-murid Hoa-san-pai hendak dibawa masuk, dia memandang penuh perhatian dan
bersiap-siap menolong. la telah memperhitungkan bahwa kiranya di tempat seperti ini tak mungkin baginya
untuk menolong tiga orang itu sekaligus, maka dia mengambil keputusan untuk menolong Kwa Hong seorang
lebih dahulu, baru kemudian merencanakan pertolongan Thio Ki dan Kui Lok.
Tiga orang muda itu, Kwa Hong, Thio Ki dan Kui Lok, digiring masuk ruangan. Seperti juga yang lain-lain,
mereka dibelenggu kedua lengan mereka ke belakang. Akan tetapi ketiga orang ini bersikap gagah, melangkah
maju dengan kepala dikedikkan dan dada dibusungkan sedangkan sepasang mata mereka memandang tajam
ke depan, penuh sikap menantang.
Diam-diam Beng San kagum sekali melihat sikap tiga orang murid Hoa-san-pai ini. Dan jantungnya berdebar
ketika dia melihat wajah Kwa Hong yang cantik jelita itu agak pucat, sepasang mata yang biasanya berseri dan
bening itu kini berkilat-kilat penuh kemarahan. Kwa Hong, kau gagah dan cantik sekali, bisik hatinya dan
keinginannya untuk menolong gadis ini makin menggelora, kalau perlu akan dia pertaruhkan nyawanya.
Agaknya karena maklum bahwa tiga orang muda ini bukanlah tergolong pemberontak dan terdiri dari orangorang
gagah perkasa, para penjaga tidak berlaku kasar seperti terhadap yang lain tadi. Mereka bertiga berdiri
tegak di depan Souw Kian Bi dengan sikap angkuh dan berani.
"Ha-ha-ha, murid-murid Hoa-san-pai benar-benar sombong! Hemmm, hendak kulihat nanti kalau kalian sudah
menggeletak tak berkepala lagi, apakah kalian masih dapat bersikap sombong seperti sekarang ini," kata
Pangeran Souw Kian Bi dengan suara mengejek untuk menyembunyikan perasaannya yang tersinggung oleh
sikap tiga orang muda ini. "Dan hendak kulihat juga apakah tua bangka Lian Bu Tojin yang melanggar janjinya
itu dapat menolong kalian. Ha-ha-ha!"
"Manusia berbatin rendah!" terdengar suara Kwa Hong memaki, suaranya nyaring sekali. "Siapakah yang takut
akan mati? Anak murid Hoa-san-pai tidak takut mati dan kalau kau si hina hendak membunuh kami, silakan,
dunia-kangouw.blogspot.com
silakan. Tak perlu kau menyebut-nyebut nama besar guru kami. Adalah kau yang berbuat hina, dulu kau telah
menculik aku dan suci-ku dan kau gunakan itu untuk memaksa suhu berjanji untuk tidak membantu kaum
pejuang. Akan tetapi, kiranya kau yang melanggar janji. Kau datang membawa anjing-anjingmu menyerbu
Hoa-san. Hemmm, mati sebagai orang gagah seribu kali lebih baik dari pada hidup sebagai manusia rendah
macam engkau!”
Hampir saja Beng San bertepuk tangan memuji ketika mendengar ucapan dan melihat sikap Kwa Hong yang
amat gagah perkasa ini. Souw Kian Bi memukul meja di depannya sehingga terdengar suara keras.
"Perempuan liar. Di sini kau masih hendak bersikap gagah-gagahan? Hemmm, hukuman mati masih terlampau
ringan bagimu setelah kau berani mengeluarkan ucapan kurang ajar tadi. Lihat nanti, aku akan membikin kau
menjadi lebih hina dari pada yang paling hina. Aku akan memberikan kau sebagai barang permainan
sepasukan tentaraku yang paling rendah pangkatnya. Ha-ha-ha-ha!" Suara ketawa Pangeran Souw Kian Bi
menyeramkan sekali.
Beng San melihat betapa wajah Kwa Hong menjadi semakin pucat dan tubuh gadis itu menggigil, akan tetapi
tetap saja gadis itu rmemandang kepada pangeran ini dengan mata mendelik. Beng San bergidik ketika
mendengar ucapan pangeran itu dan melihat betapa serdadu-serdadu yang berdiri di barisan belakang lantas
tertawa-tawa dan saling berbisik dengan sikap kurang ajar sekali. Juga dia melihat Kui Lok dan Thio Ki menjadi
pucat.
Thio Ki menoleh ke arah Kwa Hong, lalu berkata. "Sumoi, berkatalah sedikit halus, ingat bahwa kita telah
berada di tangan musuh. Biarlah aku menyerahkan nyawaku untuk keselamatanmu." Kemudian pemuda ini
berkata kepada Souw Kian Bi, "Taijin, kami tiga orang murid Hoa-san-pai tidak gentar menghadapi hukuman
mati. Akan tetapi, demi peri kemanusiaan, jangan menjatuhkan hukuman yang demikian hina dan rendah
kepada sumoi-ku. Kalian boleh menghukum aku, boleh mencincang hancur tubuhku, akan tetapi, bebaskanlah
sumoi-ku ini. Biarlah badanku menjadi penggantinya."
Kui Lok cepat berkata, "Tidak! Akulah yang bersedia menggantikan hukuman Hong-moi. Taijin, aku cinta pada
Hong-moi, jangan ganggu dia, biarlah kau jatuhkan hukuman yang sehebat-hebatnya kepada diriku saja asal
kau bebaskan Hong-moi!"
"Lok-te, tutup mulutmu! Hong-moi adalah tunanganku, calon isteriku. Kwa Supek sudah merencanakan untuk
menjodohkan dia dengan aku. Maka sebagai tunangannya, akulah yang patut membelanya dengan
pengorbanan jiwa.”
"Siapa bilang bertunangan? Hal itu belum resmi dan Hong-moi sendiri pun belum pernah menerimanya. Dia
tidak mencinta padamu, dan aku... cintaku kepadanya lebih besar dan suci!"
Beng San menggeleng-geleng kepalanya. Tolol mereka berdua, pikirnya. Masa di dalam keadaan seperti itu
mereka masih memperebutkan cinta kasih Kwa Hong?
Juga Kwa Hong menjadi gemas sekali. "Ji-wi Suheng mengapa meributkan urusan itu? Apa pun hukumannya,
akhirnya orang mesti mati. Siapa takut mati?"
Sementara itu, kelihatan Tan Beng Kui berbisik-bisik kepada Pangeran Souw Kian Bi dan pangeran itu lalu
mengangguk-angguk dan tersenyum seperti iblis. Diam-diam Beng San mendongkol sekali.
Celaka, pikirnya. Kakak kandungnya itu ternyata jahat dan berbisa melebihi ular, tentu dia sudah mengajukan
usul yang amat keji untuk menghukum tiga orang murid Hoa-san-pai ini. Akan tetapi dia merasa belum saatnya
untuk turun tangan, dia masih hendak melihat perkembangannya terlebih jauh.
Souw Kian Bi sudah tertawa lagi, suara ketawanya licik, lalu dia pun berkata, "Seorang di antara kalian berani
dan rela berkorban?” tanyanya jelas ditujukan kepada Thio Ki dan Kui Lok.
"Aku rela berkorban nyawa untuk sumoi!" kata Thio Ki.
"Tidak, lebih baik aku saja. Aku akan mati seribu kali untuk menolong Hong-moi yang tercinta," kata Kui Lok.
dunia-kangouw.blogspot.com
Pangeran itu tertawa lagi. "Bagus, kalian ini orang-orang muda yang mabuk cinta. Jika seorang di antara kalian
mati, yang lain akan bebas dan pergi bersama nona ini menjadi suaminya. Nah, sekali lagi, siapa di antara
kalian mau mati dan mermberikan nona ini kepada yang lain?"
Wajah dua orang saudara itu seketika menjadi pucat, mulut mereka terbuka tapi tak ada suara keluar. Sampai
lama mereka diam saja dan hanya suara ketawa Souw Kian Bi dan Tan Beng Kui yang terdengar. Diam-diam
Beng San gemas sekali kepada dua orang muda murid Hoa-san-pai itu. Benar-benar tolol dan mau saja
dijadikan bahan kelakar.
"Sekarang keputusanku begini," berkata pula Souw Kian Bi setelah berkedip main mata kepada Tan Beng Kui.
"Kalian berdua boleh bertanding dan nona ini akan aku berikan kepada pemenang pertandingan."
Setelah berkata demikian, pangeran ini mencabut pedangnya dan dengan dua kali tebas terbebaslah belenggu
yang mengikat tangan kedua orang muda itu.
"Ambilkan dua batang pedang," katanya lagi.
Dua orang penjaga maju menyerahkan dua batang pedang kepada Thio Ki dan Kui Lok. Seperti orang dalam
mimpi tanpa disadari lagi dua orang muda itu menerima pedang di tangan, sinar mata mereka penuh dendam
dan nafsu membunuh!
"Thio-suheng dan Kui-suheng, apakah kalian telah gila?" teriak Kwa Hong dengan gemas sekali. "Sesudah
bersenjata tidak segera menghancurkan musuh, malah saling gempur sendiri. Mana kegagahan kalian?"
Dua orang muda itu nampak ragu-ragu mendengar ucapan gadis yang mereka cinta ini. Akan tetapi mereka
jeri untuk menyerang musuh yang begitu banyaknya. Pula, mereka dapat berbuat apakah dengan adanya
lawan yang selain banyak juga sakti-sakti itu? Setelah Pangeran Mongol ini sekarang menjanjikan kebebasan
dan diri Kwa Hong kepada pemenang, bukankah ini jalan satu-satunya untuk dapat bebas bagi mereka,
setidak-tidaknya bagi dua orang di antara mereka?
"Sumoi, urusan dirimu di antara kami memang tidak pernah akan beres tanpa adanya keputusan terakhir.
Salah seorang di antara kami harus mati lebih dulu agar yang hidup dapat memperoleh dirimu," kata Thio Ki
dengan suara tegas. "Kui Lok, kau mulailah!"
Kui Lok meragu sejenak, akan tetapi segera dia memandang kepada Kwa Hong dan berkata, "Adik Hong,
kalau aku yang kalah dan mati, biarlah kau hidup bahagia dengan Suheng."
Setelah berkata demikian pedangnya menyambar. Dia sudah mulai membuka serangan. Thio Ki cepat
menangkis dan segera dua orang pemuda murid Hoa-san-pai ini sudah saling serang dengan hebat dan seru.
Dengan air mata berlinang Kwa Hong melihat pertempuran ini. la merasa amat menyesal dan kecewa akan
kebodohan dua orang suheng-nya itu yang begitu tolol sehingga mau dipermainkan oleh Pangeran Mongol,
kecewa melihat suheng-suheng-nya itu di dalam tahanan musuh masih meributkan soal cinta dan masih saling
memperebutkan dirinya.
Dahulu, ketika masih berada di Hoa-san, ia kadang-kadang merasa bangga dan senang melihat dua orang
pemuda ini bersaing untuk merebut hatinya, akan tetapi sekarang ia merasa malu sekali akan sikap mereka. la
anggap mereka itu berwatak rendah.
Air matanya makin deras mengalir keluar dan terbayanglah wajah Beng San. Alangkah jauh bedanya dua
orang suheng-nya ini dengan Beng San. Kalau saja ia tertawan musuh bersama Beng San, kiranya takkan
begini jadinya. Takkan begini sikap Beng San yang tak pernah meninggalkan lubuk hatinya. Teringat akan
Beng San air matanya makin deras mengucur. Alangkah rindu hatinya untuk bertemu sekali lagi dengan
pemuda itu sebelum ia tewas di tangan musuh, sebentar saja untuk menyatakan perasaan cinta kasihnya.
dunia-kangouw.blogspot.com
Pertempuran antara Thio Ki dan Kui Lok berjalan makin seru dan ramai. Memang kedua orang muda ini
setingkat kepandaiannya, apa lagi mereka memang terdidik semenjak kecil dalam satu perguruan, tentu saja
sudah saling mengenal gerakan masing-masing.
Bagi orang yang mengenal ilmu pedang Hoa-san-pai, tentu menyangka bahwa mereka itu main-main saja atau
tengah berlatih. Akan tetapi bagi orang luar mereka kelihatan sedang bertempur dengan hebat, karena
memang ilmu pedang Hoa-san-pai kelihatan amat cepat dan bergaya indah.
Sesungguhnya mereka ini sama sekali tidak main-main, melainkan saling serang dengan mengeluarkan
gerakan-gerakan mematikan. Tiada lagi pilihan bagi Thio Ki dan Kui Lok. Mereka harus memilih satu di antara
dua, membunuh lawan untuk bebas bersama Kwa Hong, atau terbunuh.
Sudah tentu tak ada seorang pun di antara mereka yang sudi mengalah. Bukan persoalan mati hidup yang
penting bagi mereka, melainkan persoalan mendapatkan atau kehilangan diri Kwa Hong, yang mereka cinta!
”Thio-suheng! Kui-suheng! Dengarkan aku baik-baik!" tiba-tiba Kwa Hong berseru nyaring dengan suara
terisak. "Dengarkan sumpahku ini! Siapa pun juga di antara kalian yang menang dalam pertandingan ini, aku
tidak sudi menjadi isterimu! Nah, dengar! Siapa pun juga yang menang, takkan menjadi suamiku malah akan
menjadi musuh besarku selama hidup karena telah membunuh seorang saudara seperguruan!"
Seketika wajah dua orang pemuda Hoa-san itu menjadi amat pucat dan pedang mereka tertahan. Peluh
memenuhi leher dan muka, mata mereka memandang ke arah Kwa Hong dengan sedih, kaget dan bingung.
"Sumoi... kalau begitu... siapakah yang kau... kau cinta?" bertanya Thio Ki dengan suara serak.
"Ya, katakan siapa orangnya yang kau cinta, Hong-moi, agar kami tidak penasaran dan tidak menganggap kau
membohong untuk mencegah kami saling bertempur," kata Kui Lok dengan wajah pucat.
Kwa Hong bingung mendengar kata-kata mereka itu. la maklum bahwa kalau ia tidak bisa menjawab,
keduanya tentu akan bertanding lagi karena menganggap bahwa dia hanya membohong untuk mencegah
mereka saling serang. Kalau ia mengaku, ahh, bukankah hal itu amat memalukan?
Akan tetapi, keadaan sudah mendesak. Dari pada kedua suheng-nya mati saling serang, lebih baik mereka itu
tewas sebagai orang-orang gagah. Lagi pula, dia sendiri sudah tak mempunyai harapan untuk hidup lebih lama
lagi atau keluar dari tempat ini dengan selamat, maka apa salahnya kalau ia mengeluarkan isi hatinya?
Dengan muka merah, air mata mengalir di kedua pipinya, tapi sambil mengangkat dada dan dengan suara
yang nyaring ia berkata. "Aku mencintai kanda Beng San!"
Pada saat itu terdengar suara ketawa keras. "Ha-ha-ha-ha! Kiranya nona manis ini tidak suka menjadi isteri
seorang di antara suheng-nya."
Dan cepat sekali seperti terbang saja tahu-tahu tubuh Giam Kin sudah berada di tengah ruangan itu. Ia
menoleh ke arah Souw Kian Bi dan menjura sambil berkata. "Taijin tadi menyatakan bahwa siapa yang
menang akan mendapatkan diri nona Kwa Hong yang manis ini. Sekarang dua orang Hoa-san ini tidak mau
lagi saling serang agaknya, biarlah hamba merobohkan mereka berdua dan hadiahnya tentu saja diri nona
manis ini. Hamba mengharapkan perkenan Taijin."
"Giam Kin, bukankah nona yang satu lagi dari Hoa-san-pai yang kau cinta?" tanya Souw Kian Bi sambil
tersenyum.
Giam Kin tertawa lagi memandang ke arah Kwa Hong sambil menyeringai. "Yang itu juga cinta, yang ini juga
suka. Kalau bisa kedua-duanya pun boleh. Ha-ha-ha!"
"Dasar mata keranjang. Nah, kau hadapi dua orang itu, apa bila kau menang, boleh kau ambil nona ini," kata
Souw Kian Bi pula sambil tertawa geli.
dunia-kangouw.blogspot.com
Sementara itu, pengakuan Kwa Hong bahwa dia mencinta Beng San tadi memang sudah dapat diduga lebih
dulu oleh Thio Ki dan Kui Lok. Dahulu, di puncak Hoa-san, ketika Kwa Tin Siong hendak memaksa Kwa Hong
untuk menikah dengan Thio Ki, gadis ini pun memberontak dan menolak, malah berani mengaku di depan
ayahnya bahwa dia suka kepada Beng San.
Akan tetapi dahulu itu mereka semua mengira bahwa Kwa Hong yang terkenal keras hati, keras kepala itu
mengaku demikian hanya untuk mencari alasan penolakannya belaka. Pada waktu itu, siapa bisa percaya
bahwa Kwa Hong mencinta seorang pemuda tolol seperti Beng San?
Tapi pengakuan sekarang ini lain lagi, tak mungkin Kwa Hong main-main di depan jurang kematian. Dua orang
saudara seperguruan ini saling pandang dan mata mereka menjadi basah.
Sungguh mereka senasib sependeritaan. Keduanya telah kehilangan ayah, dan keduanya sekarang
kehilangan kekasih pula. Dalam pertemuan pandang mata ini sekaligus lenyap semua kebencian, lenyap
semua persaingan, dan timbullah kasih sayang antara saudara seperguruan yang mesra. Timbul kasih sayang
dan kesetia kawanan.
Baru terbuka mata hati mereka betapa mereka tadi bersikap amat pengecut dan hanya mementingkan diri
sendiri saja. Baru teringat bahwa sebagai murid-murid Hoa-san-pai seharusnya mereka bersikap gagah
perkasa, menghadapi kematian di tangan musuh dengan pedang di tangan, siap mati demi membela
kebenaran, apa lagi dalam hal ini membela tanah air dan bangsa.
"Lok-te, mari kita basmi anjing-anjing penjajah," bisik Thio Ki.
"Ki-suheng, aku sehidup semati denganmu!"
Keduanya melangkah maju dan mereka saling peluk dengan air mata bercucuran. Kedua saudara seperguruan
ini kemudian membalik menghadapi Giam Kin dengan pedang di tangan. Kini pedang itu tetap dan kokoh di
dalam genggaman tangan orang-orang yang sudah siap mempertahankan diri sampai titik darah terakhir!
Sambil tertawa-tawa Giam Kin mencabut pedang di tangan kanan dan suling di tangan kiri, kemudian
membentak keras dan tubuhnya berkelebat ke depan. Dengan gerakan cepat sekali dia telah mengirim
serangan bertubi-tubi ke arah Thio Ki dan Kui Lok.
Tentu saja kedua orang pemuda Hoa-san ini segera menangkis dan balas menyerang. Namun segera dapat
diketahui bahwa tingkat kepandaian mereka masih jauh di bawah Giam Kin karena biar pun mengeroyok dua,
segera sinar pedang Giam Kin mendesak dan menindih kedua pedang mereka. Betapa pun juga, karena dua
orang pemuda ini sekarang bertempur dengan semangat menyala-nyala dan nekat, tidak mudah bagi Giam Kin
untuk merobohkan mereka dalam waktu singkat.
Tadinya pada waktu melihat dua orang murid Hoa-san-pai itu sudah saling serang untuk memperebutkan diri
Kwa Hong, Beng San merasa sangat kecewa dan luar biasa muak sehingga dia tidak ambil peduli. Bahkan
kiranya dia akan mendiamkan saja andai kata melihat dua orang pemuda itu tewas di tangan musuh.
Akan tetapi sekarang, melihat perubahan sikap mereka, dia menjadi terharu dan girang serta kasihan juga.
Melihat betapa mereka berdua kini mati-matian mempertahankan diri dari serangan Giam Kin yang ganas dan
keji serta maklum bahwa tak lama lagi mereka tentu akan roboh, Beng San lalu mengambil keputusan untuk
turun tangan sekarang juga. Betapa pun juga akhirnya dia harus turun menolong Kwa Hong.
"Saudara Thio Ki dan Kui Lok, berikan iblis ular ini kepadaku!"
Sambil mengeluarkan seruan nyaring ini Beng San sudah melayang turun dan tahu-tahu dua orang
seperguruan dari Hoa-san-pai itu tertolak mundur sampai beberapa tindak ke belakang sedangkan Giam Kin
yang mendesak maju merasa tangannya sakit sekali.
Alangkah kagetnya ketika dia melihat betapa pedangnya di tangan kanan sudah pindah tangan, dan sekarang
dipegang oleh pemuda yang bukan lain adalah Tan Beng San si pemuda sastrawan yang lemah dan tolol!
Giam Kin yang mukanya kepucat-pucatan itu menjadi makin pucat, sejenak dia berdiri terlongong.
dunia-kangouw.blogspot.com
Geger di tempat itu ketika tahu-tahu muncul Beng San. Bukan saja para penjaga yang kaget, juga orang-orang
sakti seperti Siauw-ong-kwi dan Hek-hwa Kui-bo terkejut bukan main, juga malu karena mereka sebagai orangorang
sakti sampai tidak tahu bahwa di atas genteng bersembunyi seorang muda yang agaknya telah
mengintai semenjak tadi.
Ada pun Thio Ki serta Kui Lok yang melihat kemunculan Beng San dan menyaksikan kehebatan pemuda ini
yang sekaligus dapat merampas pedang Giam Kin, menjadi girang dan kagum bukan main. Mereka memutar
pedang dan berteriaklah Thio Ki.
"Saudara Beng San lekas kau selamatkan Sumoi!"
"Betul! Kau larikan Hong-moi, biar kami berdua menahan mati-matian!" teriak pula Kui Lok sambil siap-siap
menahan penyerbuan para musuh yang amat banyak itu.
Yang paling girang adalah Kwa Hong. Seperti telah diceritakan di bagian depan, gadis ini sudah maklum akan
kelihaian Beng San, bahkan sudah secara berterang mengaku cinta. Akan tetapi dia lalu kecewa saat
mendengar pengakuan Beng San yang ternyata hanya suka kepadanya sebagai seorang kakak, membuat dia
patah hati dan lari pergi.
Tadinya dia sudah merasa kecewa dan benci kepada Beng San, akan tetapi sekarang melihat munculnya
pemuda yang sudah berhasil menguasai cinta kasihnya itu, timbul pula perasaan mesra dan dia berseru
girang. "San-ko, akhirnya kau datang juga menolongku!"
Akan tetapi Beng San tak dapat atau tak sempat menjawab semua seruan ini karena pada saat itu melayang
beberapa orang yang segera menyerangnya dengan hebat. Mereka ini adalah Siauw-ong-kwi, Hek-hwa Kui-bo
dan Giam Kin yang tanpa malu-malu lagi lalu mengeroyoknya.
Beng San memutar pedang rampasannya dan melayani mereka, memainkan Ilmu Pedang Im-yang Sin-kiamsut
yang sekaligus merupakan gundukan sinar pedang yang amat hebat bagaikan nyala api berkobar-kobar
dahsyat menghantam tiga orang lawannya. Hek-hwa Kui-bo sudah tahu bahwa pemuda ini memiliki Im-yang
Sin-kiam-sut, maka dia tidak amat heran, yang amat kaget dan heran adalah Siauw-ong-kwi dan Giam Kin.
Sementara itu, Thio Ki dan Kui Lok maju menyerbu Pangeran Souw Kian Bi yang mereka anggap adalah
pemimpin pihak musuh. Tetapi sebelum senjata mereka dapat mendekati pangeran itu, beberapa orang
perwira telah meloncat maju dan menghadapi mereka. Sebentar saja Thio Ki dan Kui Lok telah dikeroyok oleh
empat orang perwira yang berilmu tinggi dan mereka berdua kembali terdesak hebat.
Kwa Hong yang masih terbelenggu tangannya dapat menonton dengan hati berdebar, akan tetapi pandang
matanya selalu diarahkan kepada Beng San. Hatinya gelisah akan tetapi juga lega, tidak penasaran seperti
tadi. Sekarang ia mempunyai keyakinan bahwa andai kata ia mati, Beng San juga tewas di tangan musuh,
kalau Beng San berhasil, tentu ia akan diselamatkan pemuda pujaan hatinya itu. Mati hidup bersama Beng
San, dan ia takkan penasaran lagi. Wajah yang tadinya pucat menjadi agak kemerahan, air matanya berhenti
menitik dan pandang matanya berseri-seri.
Jika dua orang murid Hoa-san-pai itu telah nekat dan tak mengenal takut lagi, sedangkan Kwa Hong dalam
kegembiraannya melihat Beng San tidak gentar menghadapi kematian pula, adalah Beng San yang diam-diam
merasa khawatir sekali.
Memang, dengan ilmu pedangnya dia masih mampu mempertahankan diri apa bila hanya dikeroyok oleh Hekhwa
Kui-bo, Siauw-ong-kwi dan Giam Kin saja. Apa lagi penyerangan Hek-hwa Kui-bo mempergunakan Ilmu
Pedang Im-sin Kiam-sut yang sudah dihafalkan benar.
Dengan ilmu pedangnya dia tidak hanya dapat mempertahankan diri, bahkan dapat pula menyerang dengan
gerakan-gerakan dahsyat sehingga sesudah berlangsung dua puluh jurus, ujung pedangnya dengan sinarnya
yang gemilang berhasil melukai pundak Giam Kin, membuat pemuda itu terhuyung mundur dengan ketakutan
dan tidak berani maju lagi. Akan tetapi melihat keadaan Thio Ki dan Kui Lok, yang sudah terdesak hebat, apa
lagi melihat Kwa Hong yang terbelenggu dan tak berdaya sama sekali, hatinya gelisah bukan main.
dunia-kangouw.blogspot.com
Kekhawatirannya segera terbukti pada waktu terdengar seruan mengaduh, kemudian Kui Lok terhuyunghuyung
karena paha kirinya terluka golok lawan. Thio Ki memutar pedang dengan marah, akan tetapi dia pun
hampir roboh ketika pundak kirinya kena dikemplang toya seorang perwira.
Dua orang muda ini mengamuk hebat, sudah merobohkan empat orang lawan, akan tetapi karena jumlah
lawan jauh lebih besar dan yang roboh selalu ada penggantinya, akhirnya mereka juga terluka. Namun,
semangat Thio Ki dan Kui Lok patut dikagumi. Walau pun sudah terluka mereka masih memutar pedang dan
Ilmu Pedang Hoa-san-pai yang cepat itu membuat para pengeroyok mereka belum dapat mendekati dua orang
pemuda itu.
"Souw Kian Bi! Tan Beng Kui! Apakah kalian tidak malu? Lepaskan tiga orang anak murid Hoa-san-pai.
Bukankah dulu kalian telah berjanji dengan Lian Bu Tojin takkan memusuhi Hoa-san-pai?" Beng San berteriakteriak.
Tanpa ragu-ragu dia menyebut nama kakaknya begitu saja karena sudah timbul kebencian dalam
hatinya terhadap kakak kandungnya itu yang dianggapnya terlalu keji.
Kelihatan Tan Beng Kui berbisik-bisik kepada Souw Kian Bi. Bukan main lihainya Beng San! Meski pun sedang
menghadapi pengeroyokan orang-orang sakti, namun dia masih dapat mendengar percakapan mereka.
"Taijin, kalau kita ampunkan mereka, banyak keuntungan yang akan kita dapat,” bisik Tan Beng Kui.
Pangeran itu mengerutkan kening. "Hemmm, Tan-ciangkun, apakah kau kasihan melihat adik kandungmu?"
Tan Beng Kui tertawa. "Ha, kiranya Pangeran sudah tahu akan hal itu. Memang, dia itu adalah adik kandungku
yang dulu lenyap ditelan air bah. Akan tetapi setelah dia menjadi pembantu pemberontak, mana ada hubungan
darah lagi antara dia dengan aku? Usulku hanya untuk kebaikan kita, bukan untuk aku pribadi. Pertama,
dengan mengampunkan murid-murid Hoa-san-pai, tentu Lian Bu Tojin akan berterima kasih dan akan
melupakan permusuhan dengan kita, tidak akan suka membantu para pemberontak. Kedua kalinya, kulihat
bocah itu lihai sekali ilmu silatnya. Kalau dia mau berjanji tak akan memusuhi kita, apa lagi kalau mau
membantu kita, bukankah dia akan merupakan tenaga bantuan yang bahkan lebih hebat dari pada para
locianpwe itu? Dan lebih baik lagi kalau kita dapat mengikatkan dia dengan Hoa-san-pai, misalnya dengan...
mengawinkan dia dengan gadis Hoa-san-pai ini, sehingga mau tak mau dia tentu tidak akan mengingkari
perjanjian antara Hoa-san-pai dengan kita. Lalu diatur begini...”
Suara Tan Beng Kui menjadi bisik-bisik dan Beng San yang didesak hebat oleh Hek-hwa Kui-bo dan Siauwong-
kwi, sekarang tak bisa menangkap lagi apa yang diucapkan kakak kandungnya itu. Diam-diam dia
mendongkol sekali dan lebih hati-hati terhadap kelicikan orang.
Tiba-tiba saja Pangeran Souw Kian Bi berdiri dari kursinya, kemudian berseru menyuruh orang-orangnya untuk
berhenti menyerang. Thio Ki dan Kui Lok yang ditinggalkan para pengeroyoknya menjadi lemas dan setelah
berhenti bersilat mereka menjadi pening dan roboh tak bertenaga lagi.
Pada saat Hek-hwa Kui-bo dan Siauw-ong-kwi menunda penyerangan mereka, Beng San juga melompat ke
belakang. Dengan tenang dan penuh tantangan Beng San berpaling kepada Souw Kian Bi.
"Hemmm, permainan apa lagi yang hendak kau keluarkan, Pangeran?" tanyanya.
"Orang muda, kau hebat sekali. Sayang kalau orang seperti kau dan teman-temanmu ini sampai tewas di sini."
"Hemmm, mudah saja kau bicara. Siapa bilang kami akan tewas? Mungkin kau yang akan mati lebih dulu!"
jawab Beng San.
"Ha, orang muda, selain hebat kau pun sombong dan berani sekali! Tidak perlu lagi kau membuka mulut besar
di sini sebab kau pun tentu maklum bahwa andai kata kau memiliki kepandaian berlipat sepuluh kali, belum
tentu kau dan teman-temanmu akan dapat lolos dari tempat ini. Apa kau hendak berkukuh bahwa kau dapat
melawan ribuan orang tentara kami? Masukmu ke sini mungkin dapat kau lakukan karena kurang telitinya
penjagaan, akan tetapi bagaimana kau akan dapat lari pergi? Lihat!"
dunia-kangouw.blogspot.com
Telunjuk pangeran ini menuding ke sekelilingnya dan Beng San dengan lirikan matanya mendapat kenyataan
bahwa tempat itu sudah terkurung rapat oleh ribuan orang tentara. Bahkan di atas genteng sekarang telah siap
menanti banyak sekali tentara dengan anak panah terpasang di busur. Jangankan hanya seorang manusia,
bahkan seekor burung yang pandai terbang sekali pun kiranya tak akan mungkin meloloskan diri dari tempat
itu.
Akan tetapi dia masih bersikap tenang-tenang saja, malah dengan sekali loncat dia telah berada di dekat Kwa
Hong, sekali renggut dan sekali tepuk dia telah berhasil memutuskan tali belenggu lengan gadis itu dan
membebaskannya dari totokan.
"San-ko, biarlah kita mati bersama..." Kwa Hong berkata mesra dan tanpa ragu-ragu atau malu-malu lagi ia
merangkul lengan tangan Beng San.
Melihat ini, Thio Ki dan Kui Lok yang sudah lemas itu menjadi pucat dan mengeluh dalam hati. Mereka berebut
mati-matian, kiranya gadis itu memilih orang lain!
"Pangeran Souw Kian Bi, sekarang apa yang menjadi maksud kehendakmu?" dengan tenang Beng San
bertanya. “Jangan kau kira bahwa kami berempat takut akan kematian. Orang-orang gagah rela berkorban
nyawa demi kebenaran dan keadilan."
"Bagus, kau benar-benar gagah perkasa, Beng San. Dan kami semua amat suka melihat orang-orang gagah
seperti kalian itu, sayang kalau sampai tewas. Kalian masih muda, juga berkepandaian tinggi."
"Apa maksudmu? Berterus teranglah!" kata Beng San tak sabar lagi mendengar musuh memuji-muji itu.
Souw Kian Bi tertawa. "Beng San, sebetulnya Hoa-san-pai bukanlah musuh kami selama Hoa-san-pai juga
tidak membantu kaum pemberontak. Permusuhan kecil ini hanya terjadi karena salah paham. Sekarang,
melihat bahwa tidak ada kaum pemberontak berusaha menolong murid-murid Hoa-san-pai yang tertawan,
kami anggap tidak ada perlunya kalau permusuhan ini diteruskan. Kami akan membebaskan kalian berempat
dan sebagai tanda persahabatan, marilah kita makan minum bersama.”
Bukan main girangnya hati Thio Ki dan Kui Lok mendengar ini. Juga Kwa Hong girang sekali, dipeluknya
lengan Beng San lebih erat lagi sambil dia berbisik, "San-ko, semenjak sekarang, jangan kau tinggalkan aku
lagi..."
"Tenanglah, Hong-moi, tenanglah kau..." Beng San berkata sambil mengelus-elus pundak gadis itu, dalam
hatinya bingung sekali menyaksikan sikap Kwa Hong seperti ini.
Tentu saja di tempat itu, disaksikan oleh banyak orang, dia merasa sangat malu melihat sikap Kwa Hong, akan
tetapi juga tidak berani menegur gadis itu karena khawatir akan menyinggung perasaan orang. Pikirannya
masih dipenuhi oleh ucapan Tan Beng Kui kepada Pangeran Souw Kian Bi tadi dan otaknya diputar untuk
mencari jalan keluar dari tempat itu.
Terang bahwa kalau dia nekat mengamuk, tiga orang murid Hoa-san-pai ini akan celaka. Bahkan dia sendiri
sedikit sekali ada harapan untuk mampu lolos dari kepungan ribuan orang tentara itu. Lebih baik sekarang dia
menerima uluran tangan pangeran itu untuk menjauhi pertempuran, apa salahnya? Ini hanya siasat untuk
menyelamatkan murid-murid Hoa-san-pai, terutama Kwa Hong. Maka dia tidak membantah lagi dan dengan
tenang dia mengajak Kwa Hong menerima tawaran Pangeran Souw Kian Bi.
Atas perintah pangeran itu, ruangan yang tadinya menjadi medan pertempuran, sekarang cepat dibersihkan
dan diatur menjadi ruang pesta. Seperti sulapan saja, dalam sekejap meja-meja diatur dan hidangan yang
mewah dikeluarkan.
Biar pun lemas, Thio Ki dan Kui Lok yang telah mendapat pengobatan, dapat pula duduk menghadapi meja
hidangan. Arak wangi menyegarkan tubuh mereka dan membangkitkan semangat lagi, meski mereka tidak
mau bicara dan muka mereka masih membayangkan penderitaan batin karena melihat sikap Kwa Hong yang
demikian mesra terhadap Beng San.
dunia-kangouw.blogspot.com
Tan Beng Kui juga berubah sikapnya. Sambil berdiri dia mengangkat cawan arak dan berkata kepada Beng
San, "Setelah bertemu dalam keadaan dewasa, aku mengucapkan selamat kepadamu, adik Beng San.
Engkau telah memperoleh kepandaian tinggi, juga memperoleh... hemmm..." ia melirik ke arah Kwa Hong,
"seorang calon isteri yang gagah dan cantik. Kionghi… kionghi (selamat-selamat)!"
Girang juga hati Beng San. la menahan air matanya yang hendak menitik turun. Betapa pun juga, Beng Kui
adalah orang yang selama ini dia rindukan dan kenangkan. Kakak kandungnya yang dahulu sangat
menyayanginya, akhirnya sekarang mau mengakuinya.
Akan tetapi di balik keharuan dan kegirangan hatinya ini terkandung kepahitan dan kenyataan bahwa sikap
kakak kandungnya ini hanya siasat belaka. Siasat untuk menarik dia, mempergunakan tenaganya untuk
mengabdi kepada pemerintah penjajah.
la pun berdiri dan mengangkat cawannya pula. "Kakak Beng Kui, alangkah bahagianya hatiku karena kau mau
mengaku adikmu ini. Sayang seribu kali sayang, jalan kehidupan kita bersimpangan. Betapa pun juga, adikmu
selalu memujikan supaya kau selamat dan akhirnya dapat memilih jalan baik. Ada pun mengenai nona Kwa
Hong ini, harap jangan salah sangka. Tak berani aku menganggap dia sebagai... sebagai calon isteri..."
Pangeran Souw Kian Bi beserta Tan Beng Kui tertawa bergelak-gelak sehingga di dalam suasana riuh rendah
itu orang tidak memperhatikan betapa dua titik air mata mengalir turun dari sepasang mata Kwa Hong, namun
cepat diusapnya.
"Ha-ha-ha-ha, adikku yang baik. Orang gagah laksana engkau ini, mana boleh bersikap malu-malu kucing?
Siapa orangnya yang tidak tahu bahwa antara kau dan nona ini terjalin kasih sayang yang amat besar? Jangan
kau khawatir, karena kita tidak mempunyai orang tua lagi, aku boleh dibilang mewakili orang tuamu. Akulah
yang akan melamarkan nona ini dari tangan Lian Bu Tojin untukmu. Aku tanggung pasti akan diterima. Ji-wi
Locianpwe, bagaimana pendapat Ji-wi (kalian)?" Beng Kui berpaling kepada Hek-hwa Kui-bo dan Siauw-ongkwi
yang duduk di situ pula bersama Kim-thow Thian-Ii dan Giam Kin.
"Hemmm, baik-baik..." berkata Hek-hwa Kui-bo sambil menenggak araknya. Dia nampak kaget karena
semenjak tadi nenek ini menatap wajah Beng San tiada sudahnya.
Sukar untuk membaca isi hati nenek ini, hanya Beng San yang tahu betapa inginnya nenek ini merampas
kepandaian Yang-sin Kiam-sut dari padanya untuk memperlengkapi Ilmu Im-sin Kiam-sut yang dahulu dicuri
oleh Hek-hwa Kui-bo dari tangan kakek Phoa Ti.
Siauw-ong-kwi sebaliknya tertawa terkekeh-kekeh. "Orang muda saling cinta, menunggu apa lagi kalau tidak
cepat-cepat dirangkapkan? Asal saja tidak mengulang penyakit lama, kalau sudah berjodoh dan punya anak,
lalu bosan dan mencari yang lain. Heh-heh-heh! Kebetulan sekali Tan-ciangkun hendak pergi meminang ke
Hoa-san, karena aku pun hendak melamarkan nona hitam manis dari Hoa-san-pai untuk muridku, si gila Giam
Kin. Ha-ha-ha!"
Giam Kin juga tertawa. Pemuda ini semenjak tadi hanya tersenyum-senyum saja sambil menyikat hidanganhidangan
yang paling enak, tiada hentinya minum arak seakan-akan semua arak itu dituang ke dalam gentong
yang tak berdasar.
Thio Ki dan Kui Lok ternyata tidak kuat minum banyak. Setelah menerima penghormatan Pangeran Souw Kian
Bi dan Tan Beng Kui sebanyak lima cawan saja mereka sudah menjadi pening dan tak dapat ditahan lagi
keduanya tertidur di atas kursi masing-masing. Hal ini terutama sekali karena tubuh mereka yang masih lemah
akibat pertempuran hebat tadi yang menghabiskan sebagian besar tenaga mereka.
"Ha-ha-ha, dua orang ini agaknya belum dapat merasakan kesenangan berpacaran, maka kesenangan satusatunya
hanya tidur saja!" kata Pangeran Souw Kian Bi yang segera memanggil pelayan dan menyuruh
beberapa orang pelayan menidurkan dua orang tamu ini ke dalam sebuah kamar yang bersih.
Ketika melihat Beng San mengerutkan kening atas kejadian ini, Beng Kui segera berkata. ”Adik Beng San,
tidak usah kau berkhawatir. Biarlah dua orang saudara itu melepaskan lelah lebih dahulu. Nanti setelah
mereka bangun, kami akan antarkan kalian semua keluar dari tempat ini dan memberi kuda yang terbagus."
dunia-kangouw.blogspot.com
Kemudian dia bertepuk tangan tiga kali. Tiga orang yang berpakaian seragam kemerahan keluar dari tempat
sembunyi. Mereka ini adalah pengawal-pengawal pribadi dari pangeran dan perwira itu.
"Ambil Arak Pengantin Merah," kata Tan Beng Kui sambil tertawa-tawa riang.
Tak lama kemudian orang-orang itu kembali membawa seguci arak merah yang harum sekali baunya.
Wajah Kwa Hong dan Beng San menjadi kemerahan, akan tetapi diam-diam Beng San menjadi amat curiga
hatinya. Namun apa yang dapat dia katakan? la hanya melihat saja betapa pangeran dan kakak kandungnya
itu menuangkan arak merah ke dalam cawan mereka, juga cawan-cawan Hek-hwa Kui-bo, Siauw-ong-kwi,
Kim-thouw Thian-li, Giam Kin dan beberapa orang perwira tinggi yang ikut mengawani mereka dalam pesta ini.
"Adik Beng San, arak ini namanya Arak Pengantin Merah. Biar pun kalian belum menjadi pengantin, akan
tetapi hatiku sudah amat kegirangan dan mari kita minum tiga cawan untuk kebahagiaan calon sepasang
mempelai!"
"Beng Kui-koko, aku... aku dan Hong-moi ini... ehhh..." gugup sekali Beng San.
Akan tetapi ketika dia melirik ke arah Kwa Hong, dia melihat nona ini biar pun mukanya merah sekali, namun
sudah mengangkat pula cawan araknya dan sepasang mata bintang itu kelihatan membasah. la tidak tega
untuk menolak lagi, dan pula, bukankah semua ini hanya siasat yang mereka pergunakan untuk berhasil
meloloskan diri dari situ? Tanpa banyak cakap lagi dia lalu mengangkat cawan araknya dan menenggak
araknya perlahan.
Ia menaruh perhatian dan waspada, akan tetapi ketika merasa bahwa arak itu hanya wangi dan enak, dan
tidak ada reaksi apa-apa dari tubuhnya yang penuh hawa Im dan Yang itu, dia menelan terus dan tidak
menolak ketika kakaknya menuangkan arak merah itu sampai tiga kali dalam cawannya. Juga Kwa Hong
minum tiga cawan penuh.
Kembali Tan Beng Kui bertepuk tangan dan sekarang memerintahkan pelayan supaya mengeluarkan hidangan
yang disebut masakan ‘anak naga’. Ternyata hidangan ini berupa masakan ikan laut yang amat aneh
bentuknya, benar-benar hampir menyerupai naga kecil.
"Ikan macam ini hanya dapat ditemukan di laut sebelah utara," kata Pangeran Souw Kian Bi. "Baik sekali untuk
kesehatan, terutama untuk... calon pengantin baru, ha-ha-ha!"
Semua orang tertawa gembira kecuali Beng San yang menundukkan mukanya dengan hati tidak enak sekali,
sedangkan Kwa Hong juga menundukkan mukanya yang kemerah-merahan. Akan tetapi bagi gadis ini
keadaan itu amat membahagiakan hatinya. la merasa seolah-olah memang sedang menghadiri pesta
pernikahannya sendiri bersama Beng San!
Biar pun malu-malu, Beng San dan Kwa Hong tidak dapat menolak ketika dipersilakan makan daging ‘anak
naga’ yang ternyata sedap dan lezat rasanya. Tiba-tiba Beng San meramkan matanya. Dia merasa kepalanya
agak terputar dan sepasang matanya berat. Dikerahkannya tenaganya, akan tetapi, semakin dia mengerahkan
tenaga Iweekang-nya ternyata semakin pusing pula kepalanya!
"Celaka..." dia mengeluh dan tanpa dapat ditahan lagi dia menjatuhkan kepalanya di atas kedua lengannya di
meja. Sepasang sumpitnya jatuh.
"San-ko... kau kenapa...?” Kwa Hong segera memegang pundaknya.
"Ha-ha-ha, dia tidak apa-apa, Nona. Mungkin karena tidak biasa minum arak maka dia menjadi mabuk seperti
dua orang saudara tadi."
"Tidak...! Kalian tentu bermain curang! Kalian sengaja sudah meracuni dia...!" Kwa Hong serentak berdiri dan
menjadi marah sekali, siap hendak mengamuk.
dunia-kangouw.blogspot.com
"Jangan salah sangka yang bukan-bukan. Bukankah kau calon adik iparku. Dia ini adalah adik kandungku, dan
sekarang bukan musuh kami lagi, untuk apa kami berlaku curang? Apa bila kau tidak percaya, biarlah dia
disuruh mengaso di dalam kamar, dan kau boleh mengawani dan mengurusnya."
Beberapa pelayan diberi perintah dan tubuh Beng San yang sudah lemas itu diangkat orang menuju ke sebuah
kamar. Kwa Hong dengan siap sedia dan waspada mengikuti dari belakang.
Begitu memasuki kamar, wajah Kwa Hong berubah makin merah. Bukan main indahnya kamar itu dan sudah
diatur amat mewah seperti kamar pengantin saja. Tempat tidurnya, kelambu, perabot-perabotnya, semuanya
serba baru. Seprei dan sarung bantalnya semua berkembang indah, menggambarkan sepasang burung hong
yang sedang bercumbuan. Daun-daun jendela dan daun pintu menggambarkan pasangan-pasangan burung
yang amat rukun dan penuh kasih mesra.
Hatinya berdebar tidak karuan ketika para pelayan itu segera meninggalkan kamar dan membiarkan dia
berdua saja dengan Beng San. Malah pelayan terakhir dengan perlahan menutupkan daun pintu dari luar.
Dengan amat susah payah Kwa Hong melawan perasaan aneh dan debar jantung yang menyesakkan
dadanya itu, lalu dia memeriksa keadaan Beng San dengan hati khawatir. Pemuda itu mengeluh perlahan,
nampak gelisah dan kepalanya bergerak ke kanan kiri. Wajahnya menjadi merah bagaikan udang direbus dan
perlahan-lahan berganti menjadi pucat kehijauan. Diam-diam Kwa Hong gelisah dan terheran-heran.
Teringatlah dia akan muka pemuda ini yang semenjak dahulu sering kali berubah-ubah warnanya sehingga
dahulu dia menyebutnya sebagai ‘bunglon’.
"San-ko... San-ko... bagaimana rasa badanmu...?" tanyanya khawatir sambil menyentuh jidat pemuda itu.
Cepat ia menarik kembali tangannya karena jidat itu terasa dingin seperti es! Dan ketika perlahan-lahan muka
itu berubah kemerah-merahan lagi, jidatnya pun berubah menjadi panas seperti api.
"San-ko... ahhh, San-ko, kau diracun orang..."
Kwa Hong saking bingung dan khawatirnya lalu memeluk Beng San dan menangis sedih. Sementara itu, ia
sendiri merasa betapa ada sesuatu yang aneh terjadi dalam tubuhnya. Darahnya mengalir cepat dan panas,
napasnya sesak serta mukanya menjadi merah sekali.
"Hong-moi... Hong-moi... jangan menangis... ah, Hong-moi, apa yang terjadi...? Aduh, kau cantik sekali Hongmoi."
Kagetlah Kwa Hong ketika tiba-tiba Beng San memeluknya. Ketika ia memandang, ia melihat pemuda itu
memandangnya dengan mata setengah terkatup, sambil mulutnya berbisik-bisik dalam keadaan setengah
sadar.
Kwa Hong amat mencinta Beng San. Semenjak pertemuannya dahulu, ia sudah memiliki perasaan luar biasa
terhadap Beng San. Makin lama perasaan ini menjadi makin kuat dan akhirnya, pertemuan mereka kembali
ketika sudah dewasa, membuat perasaan luar biasa itu berkembang menjadi perasaan cinta kasih yang
mesra.
Apa lagi sesudah mendapat kenyataan bahwa Beng San adalah seorang pemuda yang memiliki ilmu sakti,
cinta kasihnya menjadi makin hebat dan ia rela meninggalkan siapa saja, rela melakukan apa saja demi cinta
kasihnya terhadap pemuda ini. Sekarang, baru sekarang, ia melihat sikap Beng San yang membalas cintanya.
la tidak tahu bahwa keadaan Beng San dalam setengah sadar, tidak tahu bahwa Beng San berada dalam
pengaruh obat mukjijat, tidak sadar pula bahwa dia sendiri pun sudah terpengaruh obat beracun itu.
Betapa pun kuat batin orang, kalau dia masih muda, mudah sekali dia tunduk kepada nafsu. Apa lagi dalam
keadaan seperti mereka itu yang terkena racun, dalam keadaan setengah sadar, mudah sekali bagi iblis untuk
menguasai hati dan pikiran mereka.
dunia-kangouw.blogspot.com
Maka, berbahagialah orang-orang muda yang berbatin teguh, yang kuat untuk menahan nafsu, yang selalu
ingat akan susila, menjauhkan diri dari perbuatan maksiat. Sebaliknya, celakalah mereka yang berbatin lemah!
Masa muda remaja adalah masa yang paling gawat dan paling berbahaya dalam hidup manusia. Justru di
masa inilah, masa akil baliq, pada waktu keadaan jasmani manusia sedang berkembang dan di waktu
semangat sedang bernyala-nyala, pada waktu manusia mengalami perubahan dari kehidupan kanak-kanak
berubah menjadi manusia dewasa, dalam penghidupan paling banyak datang godaan yang beraneka macam.
Dalam menanjaknya usia dewasa ini manusia masih belum banyak mengalami derita pengalaman pahit getir
sebagai akibat dari perbuatannya yang hanya menuruti perasaan hati dan nafsu. Oleh karena kurang
pengalaman ini membuat dia lalai dan lengah. Jiwa yang belum matang oleh gemblengan hidup penderitaan,
membuat hanya melihat hal-hal dari segi keindahannya dan kenangannya belaka. Tidak cukup luas
pandangannya, tidak cukup jauh wawasannya dan semuanya ini mengakibatkan pertahanan batin yang amat
lemah menghadapi godaan iblis yang selalu mengintai di balik hati perasaannya.
Orang muda seperti Beng San sesungguhnya tak mudah tergelincir oleh perangkap yang dipasang iblis di
mana-mana, yang membahayakan setiap langkah dalam kehidupannya. Semenjak kecil biar pun jauh orang
tua, namun boleh dibilang Beng San menemukan keadaan yang amat menguntungkan batinnya. Hidup
sebagai kacung di kelenteng dekat dengan orang-orang saleh yang selalu mengutamakan perbuatan baik,
selalu mempelajari ilmu filsafat kebatinan yang mendekatkan manusia kepada Tuhan dan mengharamkan
perbuatan maksiat.
Godaan terbesar dan paling berbahaya bagi orang muda, yaitu godaan berupa nafsu pelanggaran susila,
sebetulnya tidak akan mudah menundukkannya. la sudah digembleng oleh orang-orang sakti, sudah memiliki
dasar batin seorang ksatria utama, kiranya dia akan lebih suka kehilangan nyawanya dari pada melakukan
perbuatan yang melanggar kesusilaan dan peri kemanusiaan.
Akan tetapi, malang baginya, pada waktu itu dia sudah kehilangan kesadarannya akibat obat yang tercampur
dalam arak dan makanan. Obat mukjijat yang membuat dia lupa diri dan hanya menjadi hamba dari nafsu tidak
sewajarnya yang timbul oleh obat beracun itu. Semua ini ditambah lagi oleh keadaan Kwa Hong yang memang
mencintanya, seorang gadis muda yang semenjak kecil sudah memiliki sifat hendak menurutkan kata hati
sendiri, yang lebih-lebih lagi pada waktu itu juga dipengaruhi oleh racun yang membuat ia menjadi hamba
nafsu mukjijat.
Namun, agaknya memang segala macam peristiwa di dunia ini sudah ditentukan lebih dahulu oleh Tuhan Yang
Maha Kuasa. Manusia boleh berusaha sekuat tenaga, boleh berikhtiar sedapatnya, bahkan sudah menjadi
kewajiban manusia untuk berusaha dan berikhtiar, namun akhirnya hanya Tuhan yang menentukan.
Peristiwa yang nampak kecil selalu menjadi sebab dari perkara besar. Setitik bunga api dapat menyebabkan
kebakaran sebuah kota. Peristiwa yang terjadi malam itu pun kelak mengakibatkan terjadinya cerita hebat,
cerita yang berjudul RAJAWALI EMAS yang akan menjadi cerita tersendiri sebagai lanjutan cerita RAJA
PEDANG ini…..
********************
Gemuruh disertai hiruk-pikuk teriakan-teriakan di luar kamar membangunkan Beng San dari tidurnya. Pemuda
ini membuka mata dan tubuhnya yang sudah memiliki kepandaian silat itu otomatis melompat turun dari
pembaringan, segera siap sedia menghadapi segala kemungkinan.
Kekagetan suara gemuruh itu tidak ada artinya kalau dibandingkan dengan kekagetannya ketika dia melihat
keadaan di dalam kamar yang indah ini. Kwa Hong juga tidur di atas pembaringan itu dalam keadaan yang
membuat wajah pemuda ini seketika pucat. Ingatan dalam otaknya segera dapat membayangkan kembali apa
yang telah terjadi malam tadi.
Kwa Hong juga terkejut mendengar suara gemuruh di luar. Gadis ini membuka mata, bangun duduk dan
melihat Beng San sudah berdiri di pinggir pembaringan. Mata gadis ini memandang sayu, bibir mengulum
senyum dan kedua pipinya menjadi merah.
dunia-kangouw.blogspot.com
Beng San merasa seakan-akan jantungnya ditusuk pedang. Dia terhuyung mundur tiga langkah. Sekarang
ingatannya semakin terang dan sambil memekik aneh dia melompat keluar kamar, sekali dorong dia
merobohkan daun pintu dan terus meloncat keluar.
Dua orang perwira datang menubruk dengan pedang di tangan. Tapi Beng San segera timbul marahnya,
kemarahan luar biasa yang baru sekali ini dia alami selama hidupnya. Tangannya menyambar dan dua orang
perwira itu roboh dengan kepala remuk. Baru kali ini Beng San membunuh orang, membunuh dengan sengaja
karena kemarahannya.
la berlari terus keluar dari bangunan itu dan kiranya di dalam cuaca pagi yang masih remang-remang itu terjadi
peperangan hebat. Benteng itu ternyata diserbu orang dan di sana-sini terjadi perang tanding yang amat hebat.
Semua ini membuat dia berdiri mematung. Dari gerakan orang-orang itu dan menilik dari pakaian mereka, dia
dapat menduga bahwa penyerang itu tentulah barisan orang-orang Pek-lian-pai. Dia melihat pula tosu-tosu
Hoa-san-pai dan orang-orang Kun-lun-pai!
Kiranya Hoa-san-pai dan Kun-lun-pai telah bergabung dengan Pek-lian-pai lalu menyerbu benteng ini. Juga dia
melihat Lian Bu Tojin sendiri bersama Pek Gan Siansu ikut pula mengamuk, malah dua orang ini menandingi
Hek-hwa Kui-bo dan Siauw-ong-kwi. Juga tampak olehnya Thio Bwee ikut berperang di samping Thio Ki dan
Kui Lok.
Yang amat mengherankan hatinya, di situ hadir pula nona Lee Giok yang dulu menyamar sebagai nyonya
Liong atau yang oleh Pangeran Souw Kian Bi disebut Ji-enghiong. Gadis itu ikut bertempur di samping lima
orang gadis lain yang ilmu pedangnya hebat-hebat!
Melihat semua orang gagah ini menyerang barisan pemerintah, hati Beng San semakin perih. Semua orang
itu, patriot-patriot sejati, orang-orang gagah perkasa sejati, berjuang untuk negara, mati-matian bertempur
untuk mengusir penjajah. Dan dia? Ahh, dia sudah kena dibujuk oleh musuh. Untuk menolong nyawa sendiri
dan nyawa Kwa Hong serta dua orang Hoa-san-pai, dia malah sudi berpesta-pora dengan musuh.
Lebih hebat lagi, dia dan Kwa Hong... ahhh, mengapa terjadi hal itu…..?
Seperti orang gila, Beng San menjambak-jambak rambutnya, menampar kedua pipinya dengan tangan sampai
darah mengalir dari mulut dan hidungnya, menjambak-jambak lagi rambutnya sambil menangis.
"Apa yang kulakukan...? Ahhh, Tuhan apa yang kulakukan? Mampus saja kau, mampus!" Ia menampari lagi
mukanya yang sudah tidak karuan macamnya itu.
Tiba-tiba dia dipeluk orang. "San ko... San-ko... kau kenapa... ?"
"Hong-moi... tidak... tidak! Biar aku mampus! Aku harus mampus…!”
la merenggutkan tubuhnya sampai Kwa Hong terpelanting. Tapi gadis ini menubruk lagi sambil menangis,
memeluk tubuh Beng San, rambutnya terlepas, terurai membelai leher Beng San. Hal ini lebih-lebih
mengingatkan Beng San akan peristiwa malam tadi. Kembali dia merenggutkan diri dan terlepaslah pelukan
Kwa Hong.
“San-ko... kau ingatlah... San-ko, lihatlah aku. Aku Hong-moi, aku ini isterimu... San-ko, suamiku..."
Ucapan ini seperti garam pada hati yang terluka, membuat Beng San roboh terguling dan kembali dia
menghantam muka sendiri. Darah mengucur dari pinggir matanya. Ia bertekad untuk memukul kepalanya
dengan pukulan maut.
Akan tetapi tiba-tiba terngiang di telinganya wejangan-wejangan para hwesio di kelenteng dahulu tentang
orang yang membunuh diri. Di waktu dia masih kecil, dia melihat seorang petani membunuh diri setelah
membunuh isterinya sendiri karena keadaan mereka yang terlampau miskin. Hwesio kepala dari kelenteng di
mana dia bekerja berkata tentang itu,
dunia-kangouw.blogspot.com
"Membunuh diri untuk menyesali perbuatan dosa adalah perbuatan yang amat pengecut, malah menambah
berat dosanya. Dosa harus ditebus dengan perbuatan-perbuatan baik. Membunuh diri karena rasa menyesal
berarti tidak mau dan tak berani mempertanggung jawabkan kesalahanannya, tidak berani menghadapi
hukuman atas perbuatannya itu."
Seketika dia menjadi tenang. Dia lalu mengusap darah yang memenuhi mukanya, yang membuat mulutnya
terasa sesak bernapas dan matanya terasa pedas sukar dibuka. Dia lalu bangkit berdiri dan ketika Kwa Hong
hendak memeluknya, dia mengulur kedua tangan menolaknya halus.
"Jangan, Kwa Hong. Jangan ulangi perbuatan kita yang biadab!”
"Apa katamu? San-ko, kau bilang perbuatan biadab? San-ko, aku adalah isterimu, isteri yang mencintamu
sepenuh jiwa ragaku."
"Diam, Kwa Hong! Kita sudah melakukan pelanggaran susila. Aku harus mampus untuk itu, akan tetapi biarlah
kau saja yang membunuhku. Aku... aku tak dapat membunuh diri. Hong-moi, aku telah menodaimu, nah, kau
cabut pedangmu dan, kau bunuh aku."
"Tidak, San-ko. Kau adalah suamiku..."
"Bukan, Hong-moi. Aku tidak bisa menjadi suamimu..."
"Tapi... tapi aku isterimu yang mencinta. Aku... aku cinta padamu..."
Beng San menarik napas panjang, menggeleng kepala. "Dulu sudah kukatakan padamu. Aku tidak
mencintaimu sebagai seorang kekasih. Aku cinta kepadamu sebagai seorang kakak terhadap adiknya. Hongmoi,
memang aku sudah berdosa kepadamu. Aku tidak sengaja... hemmm, tak perlu aku membela diri,
pendeknya, aku sudah berdosa padamu. Hanya tepat bila ditebus nyawa. Kau bunuhlah aku sebelum orang
lain tahu, Hong-moi... bunuhlah aku, bunuhlah!" Beng San menjerit-jerit minta dibunuh.
Namun Kwa Hong terhuyung-huyung mundur, mukanya pucat sekali. Rambutnya yang terurai dan hitam itu
menambah kepucatan mukanya. Air matanya bercucuran.
"Sanko... kau... kau tetap tidak mau mengambil aku sebagai isteri setelah... setelah apa yang terjadi malam
tadi...?"
Beng San merasa jantungnya seperti diremas-remas.
"Tidak, Hong-moi. Kalau aku memaksa diri, dosaku akan makin besar. Hal itu berarti aku membohongimu,
membohongi diriku sendiri. Kau akan lebih tersiksa lagi kelak. Aku... aku tidak bisa menjadi suamimu.”
"San-ko... katakanlah, apakah... apakah ada orang lain...?"
Beng San tersenyum pahit, lalu dia mengangguk. "Sungguh pun sekarang aku tidak ada harganya lagi untuk
mencintanya, namun... di dalam hatiku aku bersumpah... aku hanya dapat mencinta dia seorang..."
”Siapa dia? Bilang, siapa dia?"
Karena sedang bingung dan gelisah, pikirannya kacau-balau, Beng San menerangkan juga. "Dia seorang
gadis gagu, puteri Song-bun-kwi..."
Kwa Hong menjatuhkan diri berlutut, lalu menangis terisak-isak. Hati Beng San semakin hancur melihat gadis
itu berurai rambut sambil menangis demikian sedihnya.
"Hong-moi, kau... kau bunuhlah aku sekarang juga. Aku sudah tidak suka lagi hidup di dunia ini...," katanya
dengan suara serak.
Tiba-tiba Kwa Hong meloncat bangun, mukanya pucat sekali, sepasang matanya tidak lagi menangis.
dunia-kangouw.blogspot.com
"Beng San! Kau... kau manusia berhati kejam! Kau sudah dua kali menghinaku, menolak cintaku dan kau...
ahhh, seharusnya kubunuh engkau!"
"Bunuhlah, aku akan berterima kasih..."
Tiba-tiba Kwa Hong tertawa, nyaring dan aneh bunyinya sampai meremang bulu tengkuk Beng San.
"Jangan tertawa seperti itu Hong-moi, kau bunuhlah aku orang kejam dan hina ini..."
"Ha-ha-ha, tidak! Aku tak akan membunuhmu, biar kau hidup menderita dan gila karena perbuatanmu tadi
malam. Dan aku... Ha-ha-ha, kau dengar Beng San, aku akan kawin dengan laki-laki yang paling buruk, yang
paling bodoh, kawin dengan laki-laki mana saja yang pertama kali kujumpai..."
Setelah berkata demikian Kwa Hong melompat dan berlari pergi dari situ. Dari kejauhan, mengatasi suara
hiruk-pikuk peperangan, terdengar jeritnya melengking tinggi, terdengar seperti tertawa akan tetapi juga seperti
tangis sedih.
Beng San menjatuhkan diri berlutut dan menutupi muka dengan kedua tangannya. Akan tetapi dia tidak lama
berada dalam keadaan seperti ini. Ketika dia teringat akan semua peristiwa yang dialami, kemarahannya
memuncak terhadap Pangeran Souw Kian Bi dan kakak kandungnya, Tan Beng Kui. Dua orang itu yang
menjadi gara-gara sehingga dia mabuk dan melakukan perbuatan hina itu.
Serentak dia bangun, matanya kemerahan dan liar. Lalu, melihat orang-orang berperang tanding, dia
mengeluarkan suara menggeram keras kemudian lari menyerbu ke tengah pertempuran. Seperti menggila dia
mengamuk, entah berapa banyaknya tentara musuh dia robohkan dengan tangan kosong saja.
Setiap memegang seorang tentara musuh, dia tanya di mana adanya Souw Kian Bi dan Tan Beng Kui. Kalau
tentara itu menjawab tidak tahu, lalu dibantingnya orang itu sampai remuk kepalanya. Dan memang dua orang
yang dia cari itu sudah tidak ada lagi di situ, sudah sejak tadi pergi setelah melihat bahwa keadaan benteng tak
dapat dipertahankan lagi.
Malah Hek-hwa Kui-bo, Siauw-ong-kwi, Kim-thouw Thian-li dan Giam Kin juga sudah tidak kelihatan
bayangannya lagi. Mereka pun maklum bahwa kalau pertempuran dilanjutkan, mereka tentu akan menjadi
korban karena selain pada pihak lawan banyak terdapat orang tangguh, juga jumlah lawan makin lama makin
membanjir datangnya, amat banyaknya. Jelas sudah benteng itu tidak dapat dipertahankan lagi, korban pihak
tentara pemerintah luar biasa banyaknya dan yang masih sempat lari mulai menyelamatkan diri.
Setelah mendapat kenyataan bahwa dua orang yang dicarinya itu tidak ada di situ, Beng San lalu berlari pergi
dalam keadaan yang amat mengerikan. Mukanya bengkak-bengkak, hidung dan mulutnya masih berdarah,
matanya merah sekali, rambutnya awut-awutan dan mukanya pucat kehijauan.
Berulang-ulang bala tentara pemerintah diserbu dan dihancurkan oleh pihak para pejuang. Bahkan kini para
pejuang sudah berani mengganggu dan kadang-kadang menyerbu kota raja secara bergerilya. Di sekeliling
kota raja, di luar tembok kota, keadaan sudah mulai tidak aman. Para bangsawan, pembesar dan keluarga
kerajaan mulailah merasa gelisah, bahkan ada yang sudah pergi mengungsi jauh ke utara.
Semua usaha yang telah dilakukan oleh para perwira, terutama sekali Pangeran Souw Kian Bi dan Tan Beng
Kui untuk menghancurkan para pejuang, selalu gagal. Bahkan setiap rencana penyerbuan mereka, tiap gerakgerik
dan taktik perang mereka, agaknya selalu diketahui lebih dahulu oieh pihak pejuang sebelum taktik itu
dilaksanakan.
Misalnya seorang penjaga dan penyelidik melapor akan adanya sepasukan musuh di luar tembok kota.
Pangeran Souw Kian Bi segera mengatur sebuah pasukan yang lebih besar untuk menyergap dan
membinasakan pasukan lawan itu. Tetapi sesampainya di sana, tak seorang pun tentara pejuang yang
kelihatan! Bahkan dalam perjalanan kembali, pasukan pemerintah ini tahu-tahu sudah dikurung oleh musuh
yang lebih banyak jumlahnya dan kemudian dihancurkan!
dunia-kangouw.blogspot.com
Dinasti Goan yang dibangun oleh Jengis Khan itu sekarang sudah berada di pinggir jurang kehancuran.
Kejayaan bangsa Mongol di Tiongkok agaknya sudah hampir berakhir.
Justru kekacauan di kota raja ini yang membuat Beng San selalu tidak berhasil dalam usahanya mencari
Pangeran Souw Kian Bi dan Tan Beng Kui. Berkali-kali dia menyerbu ke istana di kota raja, namun selalu tidak
menemukan dua orang itu yang agaknya amat repot dalam menghadapi penyerbuan-penyerbuan para
pejuang.
Akhirnya dia teringat akan tugasnya yang belum dia laksanakan, yaitu merampas kembali pedang Liong-cu
Siang-kiam. Maka pergilah dia ke Thai-san karena dia teringat bahwa saatnya telah tiba untuk diadakan
perebutan gelar Raja Pedang seperti yang sering dia dengar di luaran.
la merasa yakin bahwa gadis she Cia yang mencuri Liong-cu Siang-kiam itu pasti akan muncul di dalam arena
perebutan gelar Raja Pedang itu mengingat akan ilmu pedangnya yang amat hebat ketika gadis she Cia itu
mendemonstrasikan kepandaiannya di puncak Hoa-san setahun yang lalu dengan mengalahkan Pek Tung
Hwesio beserta Hek Tung Hwesio. Apa lagi sudah jelas bahwa pada masa ini yang memegang gelar Raja
Pedang adalah Cia Hui Gan, ayah gadis itu.
Teringat akan semua ini, Beng San lalu melakukan perjalanan cepat ke Thai-san supaya kedatangannya tidak
sampai terlambat…..
********************
Pagi-pagi benar di puncak Gunung Thai-san sudah nampak kesibukan. Cia Hui Gan atau terkenal pula sebagai
Raja Pedang tinggal di salah sebuah puncak bukit ini. Cia Hui Gan adalah seorang pendekar besar yang
sangat terkenal namanya sebagai ahli waris Ilmu Pedang Sian-li Kiam-sut yang dahulu diciptakan oleh
pendekar wanita sakti Ang I Niocu.
Akan tetapi pendekar ini jarang sekali turun gunung. Sesungguhnya, semenjak isterinya yang tercinta
meninggal dunia, Cia Hui Gan menjadi bosan di dunia ramai. Dia kini hidup sebagai pertapa di puncak Thaisan
bersama puteri tunggalnya, Cia Li Cu.
Sebelum bangsa Mongol menjajah di Tiongkok memang dia adalah keturunan bangsawan kaya raya. Maka
biar pun hidup mengasingkan diri di puncak Gunung Thai-san, dia hidup serba berkecukupan. Apa lagi setelah
berada di tempat sunyi itu, dia tidak membutuhkan banyak keperluan. Ada pun untuk makan sehari-hari
bersama puteri dan pelayan-pelayan serta murid-muridnya, dia mendapatkan hasil dari sawah ladangnya.
Cia Hui Gan amat mencinta puteri tunggalnya sehingga seluruh ilmu pedangnya telah dia turunkan kepada Cia
Li Cu. Bahkan untuk menyenangkan hati puterinya yang agak manja, pendekar ini sengaja mendatangkan dua
belas orang pelayan wanita-wanita yang semua muda-muda dan cantik-cantik untuk menjadi teman Li Cu,
malah berkenan menurunkan ilmu pedang yang cukup lihai bagi para pelayan atau teman anaknya ini.
Pagi hari itu, tidak seperti biasanya, pagi-pagi sekali Cia Hui Gan sudah duduk di ruangan depan rumahnya
yang amat lebar. Semua bangku dan kursi di dalam ruangan dikeluarkan dan diatur di pekarangan itu,
memutari pekarangan yang berlantai rumput hijau.
Pendekar yang usianya telah lima puluh tahun ini nampak gagah dalam pakaiannya yang ringkas berwarna
kuning. Di pinggangnya tergantung sebatang pedang panjang dan dia nampak gesit. Wajahnya yang biasanya
muram kini terlihat berseri.
Para pelayan yang berjumlah dua belas orang dan cantik-cantik itu pun berpakaian serba ringkas, juga pada
pinggang setiap orang pelayan tergantung sebatang pedang. Karena pakaian para pelayan ini semuanya
sama, berwarna kuning berkembang merah, mereka tampak angker dan juga cantik-cantik, seperti puteri-puteri
dalam pesta di istana.
Yang hebat adalah Cia Li Cu sendiri. Gadis itu seperti biasanya berpakaian serba merah, sepasang pedang
Liong-cu Siang-kiam tergantung pada punggungnya. Rambutnya yang panjang menghitam itu digelung ke atas
dunia-kangouw.blogspot.com
sehingga tampak jelas kulit lehernya yang putih kuning. Di dekat nona ini kelihatan seorang nona lain, juga
cantik manis berpakaian serba kuning. Nona ini bukan lain adalah Lee Giok!
Mengapa Lee Giok yang dikenal sebagai Ji-enghiong pemimpin mata-mata pemberontak itu berada di situ?
Hal ini tidak aneh kalau diketahui bahwa Lee Giok sebenarnya masih murid Cia Hui Gan yang kepandaiannya
pun hebat, sungguh pun ia hanya mewarisi ilmu pedang ciptaan Raja Pedang itu sendiri. Ilmu Pedang Sian-li
Kiam-sut terlalu tinggi untuk dapat dipelajari oleh Lee Giok. Tidak sembarang orang dapat mempelajari ilmu
pedang sakti ini karena membutuhkan dasar dan tenaga murni yang kuat.
"Sumoi (adik seperguruan), sekali ini tentu ramai nanti di sini," berkata Lee Giok sambil tersenyum, kelihatan
gembira dan tidak sabar menanti datangnya para tamu yang hendak memperebutkan gelar Raja Pedang.
"Suci (kakak seperguruan), dahulu pada saat diadakan perebutan gelar Raja Pedang, aku masih kecil dan kau
belum menjadi murid ayah. Aku pun ingin sekali melihat apakah ada orang yang akan dapat mengalahkan ilmu
pedang ayah kali ini," kata Li Cu.
Walau pun dalam tingkatan kepandaian, Li Cu jauh lebih tinggi dari pada Lee Giok, akan tetapi karena usia Lee
Giok lebih tua, maka Li Cu menyebutnya suci dan nona she Lee ini menyebutnya sumoi.
Melihat puteri dan muridnya bicara sambil tertawa-tawa, Cia Hui Gan menegur, "Kalian kelihatan gembira
amat. Kiraku kalian takkan segembira ini kalau tahu bahwa kali ini yang datang ke sini tentulah orang-orang
sakti yang sangat lihai kepandaiannya. Aku sendiri meragukan apakah aku masih akan mampu
mempertahankan gelar Raja Pedang yang sesungguhnya kosong melompong itu." Orang tua ini menarik
napas panjang. "Apa lagi setelah umum mengetahui bahwa murid-murid Thai-san banyak yang menjadi
pejuang. Kali ini aku tidak akan dapat menyembunyikan rahasiaku lagi, aku akan berterus terang bahwa
memang kita adalah pejuang-pejuang yang benci melihat penjajahan di negeri kita. Oleh karena itulah maka
aku sengaja menahan Lee Giok, biar mereka tahu bahwa Lee Giok yang terkenal di kota raja adalah muridku!"
Ucapan terakhir ini diucapkannya dengan nada suara bangga. Lee Giok menjadi merah mukanya, kemudian
terbayang kesedihan.
"Suhu, teecu telah gagal dalam tugas teecu... sehingga teecu terlambat pula menolong... Kwee-taihiap..."
"Hemmm, Kwee Sin harus dipuji. Dia adalah seorang patriot sejati yang untuk tanah air dan bangsanya rela
mengorbankan nama baik, mengorbankan perguruan, mengorbankan tunangan dan akhirnya mengorbankan
jiwanya. Di masa sekarang jarang terdapat orang seperti dia." Setelah orang tua ini berkata demikian, keadaan
di sana menjadi sunyi dan terdengarlah isak tertahan dari Lee Giok.
Semua orang, termasuk gurunya sendiri tidak tahu bahwa nona ini selama bekerja sama dengan Kwee Sin,
telah jatuh cinta kepada pemuda Kun-lun-pai itu. Hanya sebentar Lee Giok terisak karena ia segera dapat
menekan perasaannya.
"Suci, memang menyedihkan kalau diingat nasib Kwee-taihiap. Akan tetapi, sesudah kau dikenal sebagai
pejuang, apakah kiranya tak akan ada pasukan pemerintah yang datang mengejarmu ke tempat ini? Ayah, apa
sekiranya pertemuan kali ini tidak akan memancing datangnya pasukan musuh?" tanya Li Cu.
”Biarkan mereka datang! Aku akan melawannya. Pula, kiraku teman-teman seperjuangan kita tidak akan
tinggal diam begitu saja. Pek-lian-pai juga sudah siap sedia. Memang pertemuan kali ini hanya kupergunakan
sebagai kedok saja. Yang paling penting adalah bisa mengumpulkan para orang gagah untuk kubujuk dan
bersama-sama menggulingkan pemerintah penjajah yang sudah makin lemah ini."
"Sumoi dan Suhu harap tidak berkhawatir. Agaknya sudah pasti barisan besar penjajah akan datang ke sini,
akan tetapi semua ini sudah diatur oleh dia di kota raja. Pek-lian-pai juga sudah bersiap-siap bersama
pasukan-pasukan pejuang yang lain. Sudah dapat teecu bayangkan, Suhu, bahwa pada saat di sini kita
merayakan perebutan gelar Raja Pedang, kota raja pasti akan mengalami hal-hal yang hebat sekali!" Kembali
wajah yang tadinya sedih ini berseri-seri dan penuh semangat.
dunia-kangouw.blogspot.com
"Mudah-mudahan dia berhasil..." kata Li Cu. Segera muka gadis cantik jelita ini berubah merah, semerah
bajunya ketika melihat betapa Lee Giok mengerlingnya dengan senyum menggoda.
Tiba-tiba saja terdengar suara gaduh dari bawah puncak, disusul berkelebatnya bayangan orang yang berlarilari
naik sambil berteriak-teriak, "Wah celaka... celaka betul... mana ada aturan begitu...?"
Ketika semua orang memandang, ternyata yang berlari-lari dengan napas sengal-sengal itu adalah seorang
kakek yang tubuhnya bongkok dan matanya besar sebelah. Biar pun dia lari sambil terbongkok-bongkok,
namun kedua kakinya ternyata dapat bergerak cepat sekali.
Cia Hui Gan segera mengenal orang ini dan bertanya. "Yok-mo (Setan Obat), kenapakah kau datang berlarilari
seperti dikejar setan?"
"Hayaaa, memang setan yang mengejarku. Malah raja setan, iblis sendiri..." Kakek itu terengah-engah sambil
menoleh ke belakang ketakutan. "Coba kau pikir, Kiam-ong (Raja Pedang), mana ada aturan begini? Ada
orang memaksa-maksaku untuk menyembuhkan penyakit, ke mana pun aku pergi aku dikejar terus dan
nyawaku terancam..."
"Yok-mo, kau adalah ahli pengobatan, sudah sewajarnya kalau ada orang minta tolong kepadamu," kata Cia
Hui Gan tenang.
Mata yang besar sebelah itu melebar. ”Apa yang kau bilang? Namaku adalah Toat-beng Yok-mo (Setan Obat
Pencabut Nyawa), mana bisa aku menyembuhkan orang? Boleh saja kusembuhkan penyakitnya, tapi
nyawanya harus kucabut."
Wajah Raja Pedang yang angker itu nampak tak senang, lalu kata Cia Hui Gan, suaranya angkuh, "Hemmm,
setiap orang memang berhak mempunyai pendapat sendiri. Toat-beng Yok-mo, habis apa keperluanmu datang
berlari-lari ketakutan ke tempat kami ini?"
"Kiam-ong, kau tolonglah aku kali ini.”
Diam-diam Cia Hui Gan merasa heran juga. Orang seperti Toat-beng Yok-mo ini memiliki kepandaian yang
tinggi. Tidak sembarang tokoh kang-ouw mampu mengalahkannya, apa lagi membuat dia ketakutan seperti itu.
Pendekar ini mengeluarkan dengus mengejek.
"Hemmm, kau sendiri pantang menolong orang tapi masih tidak malu minta tolong kepada orang lain! Yok-mo,
kalau kedatanganmu hanya minta tolong, kau pergilah lagi. Aku tidak suka mencampuri urusanmu."
Toat-beng Yok-mo adalah seorang yang amat cerdik biar pun kadang-kadang dia seperti tidak normal otaknya.
Cepat dia berkata, "Bukan, bukan hanya ingin minta tolong, tetapi terutama sekali untuk menghadiri perebutan
gelar Raja Pedang. Bukankah diadakannya hari ini? Kiam-ong, aku hari ini menjadi tamumu yang pertama!"
Pada saat itu terdengar bentakan, "Yok-mo, kau hendak lari ke mana?!"
Suara ini nyaring dan parau, terdengar dari jauh sekali akan tetapi cukup keras sehingga Cia Hui Gan kembali
terkejut. Jelas bahwa orang yang mengeluarkan bentakan ini adalah seorang yang memiliki Iweekang tinggi
sekali.
Cia Hui Gan lebih-lebih kaget dan heran ketika berbareng dengan bentakan dari jauh itu berkelebat bayangan
merah dan tahu-tahu seorang gadis muda berpakaian merah sudah menyambar dekat. Sinar pedangnya
lantas berkelebat dan bergulung-gulung mengurung tubuh Setan Obat itu!
"Bagus...!" Cia Li Cu tak terasa lagi mengeluarkan seruan memuji karena sebagai seorang ahli pedang, puteri
tunggal Raja Pedang, tentu saja ia segera mengenal ilmu pedang yang amat hebat ini.
Juga Cia Hui Gan mengeluarkan seruan kagum. Sama sekali dia tidak menyangka bahwa yang ditakuti Setan
Obat ini hanya seorang gadis muda dan melihat gerakan pedangnya, memang gadis itu benar-benar seorang
dunia-kangouw.blogspot.com
ahli pedang yang hebat ilmu pedangnya. Saking kagumnya pendekar ini sampai lupa akan bahaya yang
mengancam diri Yok-mo dan mendiamkan saja.
Yang repot adalah Yok-mo sendiri. Baiknya dia adalah seorang tokoh besar yang memiliki kepandaian silat
tingkat tinggi, maka biar pun digulung oleh sinar pedang dan amat gugup, dia masih dapat menyelamatkan
dirinya, mengelak ke sana ke mari, lalu tiba-tiba dia menjatuhkan diri dan bergulingan menuju ke belakang Cia
Hui Gan.
Barulah pendekar ini sadar bahwa sebagai tuan rumah, dia harus mencegah terjadinya pembunuhan terhadap
seorang tamunya. Tiba-tiba dia mendapat pikiran bagus. Nona ini ilmu pedangnya luar biasa sekali, sebaiknya
dicoba dengan ilmu pedang puterinya.
"Li Cu, halangi Nona ini mengacaukan tempat kita," katanya.
Li Cu memang telah gatal tangannya. Sebagai seorang pendekar, tangannya gatal-gatal melihat ilmu pedang
orang lain begitu bagusnya tanpa mengujinya. Secepat kilat ia lantas melompat maju dan menyambar
sebatang pedang dari tangan seorang pelayan.
Bayangan merah berkelebat ketika Li Cu dengan pedang di tangan melompat ke arah gadis yang mengejar
Yok-mo tadi. Mereka kini berhadapan, seakan-akan saling mengukur
kepandaian dan kecantikan masing-masing dengan sinar mata mereka yang bening.
Memang keduanya sebaya, keduanya cantik jelita dan anehnya, keduanya berpakaian serba merah pula!
Hanya bedanya, gadis pengejar Yok-mo ini sepasang matanya indah menyinarkan cahaya yang diliputi
kelembutan dan kedukaan, sebaliknya sinar mata Li Cu penuh semangat dan keangkeran. Dalam hal
kecantikan, keduanya memiliki sifat-sifat tersendiri, keduanya menarik dan jelita.
"Kau cantik...” Li Cu mengeluarkan pujian.
Gadis itu menggerakkan pedangnya ke bawah dan mencoret-coret ke atas tanah. Tampak beberapa huruf
indah di atas tanah itu. Ketika Li Cu membacanya, ternyata huruf-huruf itu berbunyi, ‘Kau lebih cantik lagi’.
Cia Li Cu terheran. Kenapa orang ini tidak bicara, sebaliknya menyatakan pendapatnya dengan bentuk tulisan.
Betapa pun juga, ia kagum melihat gerakan pedang gadis itu saat membuat coretan-coretan itu, karena semua
itu dilakukan dengan gerakan ilmu pedang yang tinggi.
"Bi Goat, sudah kau tangkap Setan Obat itu?" tiba-tiba terdengar suara parau bertanya dan tahu-tahu di situ
sudah muncul seorang kakek kecil kurus berpakaian serba putih.
Gadis itu yang bukan lain adalah gadis gagu Kwee Bi Goat, menoleh kepada kakek ini lalu menggelengkan
kepalanya sambil mengerling ke arah Yok-mo yang masih bersembunyi di belakang Cia Hui Gan.
"Ha-ha-ha, agaknya Si Raja Pedang melindungi Setan Obat!" kata kakek itu yang ternyata adalah Song-bunkwi.
"Hemmm, Song-bun-kwi Kwee Lun. Kiranya kau yang muncul ini! Pantas saja begitu kau muncul terjadi
kekacauan di sini. Ketahuilah, tidak sekali-kali kami melindungi Setan Obat, hanya karena dia pada saat ini
menjadi tamuku untuk menghadiri perebutan gelar Raja Pedang, maka terpaksa sebagai tuan rumah aku tidak
mengijinkan orang mengganggu tamuku. Song-bun-kwi, apakah kedatanganmu hanyalah untuk mengejar Yokmo?
Kalau begitu halnya, harap kau turun gunung lagi dan menanti saja Yok-mo di bawah gunung. Apa bila
kau juga menghadiri perebutan gelar, kau pun menjadi tamuku dan silakan kau duduk!"
"Ha-ha-ha, Bu-tek Kiam-ong, setelah menjadi Raja Pedang kau ternyata sombong sekali. Kau tak ada bedanya
dengan orang-orang yang begitu menduduki tempat tinggi lalu lupa kepada asalnya, berubah menjadi manusia
sombong yang menganggap diri sendiri paling pandai, paling besar dan paling berkuasa. Kedatanganku
bersama muridku ini memang hendak menangkap Yok-mo dan sekalian hendak merebut gelar Raja Pedang.
Bi Goat, kau lanjutkan permainanmu, kau coba ilmu anak Raja Pedang itu!"
dunia-kangouw.blogspot.com
Bi Goat menggerakkan pedangnya, demikian pula Li Cu yang sudah bersiap sedia sejak tadi. Gerakan Pedang
Li Cu amat indahnya seperti seorang bidadari kahyangan sedang menari. Sebaliknya, gerakan Bi Goat cepat
dan keras, mendasarkan gerakannya pada kekuatan dan kekerasan serta kecepatan.
Segera dua orang gadis ini sudah saling serang. Terdengar bunyi tang-ting-tang-ting dan bunga api
berhamburan. Diam-diam kedua orang gadis ini terkejut dan harus mengakui kelihaian lawan masing-masing.
Sementara itu, dengan penuh perhatian Song-bun-kwi menonton puteri atau muridnya memainkan Ilmu
Pedang Yang-sin Kiam-sut untuk menghadapi ilmu pedang lawan yang benar-benar amat hebat dan indah itu.
Sambil bertolak pinggang Cia Hui Gan menonton pula dengan kagum.
Semenjak menjadi Raja Pedang, baru kali ini dia melihat ilmu pedang yang tak dikenalnya dan hebat pula.
Bahkan banyak sekali tanda-tanda bahwa ilmu pedang gadis gagu itu memiliki sumber yang sama dengan ilmu
pedangnya sendiri. Karena ini dia memandang penuh perhatian, penuh keheranan dan penuh penyelidikan.
"Heeei, Song-bun-kwi iblis tua bangka, kau mau borong sendiri gelar Raja Pedang?"
Begitu kumandang suara lenyap, muncul orangnya. Seorang nenek yang masih kelihatan cantik genit, seorang
kakek bertangan baju panjang dan tertawa-tawa nakal, diikuti oleh seorang wanita cantik berpakaian indah
pesolek dan seorang laki-laki muda bermuka pucat. Mereka ini adalah Hek-hwa Kui-bo, Siauw ong-kwi, Kimthouw
Thian-li dan Giam Kin.
Melihat munculnya Hek-hwa Kui-bo, cepat sekali Song-bun-kwi memerintah puterinya, "Bi Goat, mundur kau!"
Bi Goat cepat menarik kembali pedangnya, melompat dan berdiri di sebelah kiri ayahnya. Sementara itu Cia
Hui Gan sibuk menerima para tamu karena di belakang empat orang ini muncul pula tamu-tamu lain.
Makin tinggi matahari naik, makin banyak para tamu datang di tempat itu. Partai-partai persilatan besar hadir
pula, diwakili beberapa orang jagonya. Ada pula yang membawa pengikut sampai puluhan orang anak murid
yang diperlukan untuk memberi suara dan menambah semangat.
Tampak hadir wakil-wakil dari partai Siauw-lim-pai, dari Go-bi-pai, Thai-san-pai, dan partai lainnya. Bahkan
ketua Hoa-san-pai, Lian Bu Tojin dan ketua Kun-lun-pai Pek Gan Siansu, berkenan hadir juga. Dua orang
kakek ini sekarang telah menjadi anggota-anggota pejuang yang gigih, akan tetapi sebagai tokoh-tokoh kangouw
tentu saja mereka tidak mau melewatkan kesempatan ini, menyaksikan perebutan gelar Raja Pedang.
Yang ikut dengan Lian Bu Tojin hanyalah Thio Ki, Thio Bwee, dan Kui Lok. Ada pun Pek Gan Siansu diikuti
oleh Bun Lim Kwi. Semua pendatang ini terheran-heran melihat adanya Lee Giok di pihak tuan rumah, akan
tetapi oleh karena di situ terdapat banyak tamu, pula karena kedatangan mereka hanya berhubungan dengan
akan diadakannya perebutan gelar, maka mereka tak mendapat kesempatan membuka mulut. Ada pun Lee
Giok tanpa ragu-ragu lagi menyambut semua orang penuh penghormatan di samping Li Cu.
Yang kegirangan adalah Giam Kin. Kali ini tidak saja dia dapat melihat gadis pujaannya, Thio Bwee, tetapi juga
mendapat kesempatan mengagumi sekian banyaknya gadis-gadis cantik jelita sehingga berkali-kali mulutnya
berkemak-kemik, dan matanya diobral ke sana ke mari sehingga kadang-kadang dia ditempur oleh pandang
mata Kim-thouw Thian Li.
Sungguh banyak tamu di Thai-san kali ini. Muncul pula di situ Ban-tok-sim Giam Kong, hwesio Tibet hitam
tinggi besar yang memegang tongkat hwesio besar dan berat. Hwesio ini biar pun datang dari Tibet, akan
tetapi sudah amat terkenal di daratan Tiongkok karena dia pun seorang tokoh yang anti Mongol dan ilmu
silatnya hebat. Juga muridnya, Koai Atong, amat terkenal, akan tetapi anehnya pada saat itu Koai Atong tidak
kelihatan hadir.
Selain kakek ini, hadir pula Thai-lek-sin Swi Lek Hosiang bersama muridnya, Thio Eng. Begitu memasuki
ruangan dan bertemu pandang dengan Bun Lim Kwi yang agaknya memang dicari-cari dengan sudut matanya,
wajah gadis ini menjadi kemerahan, begitu pula wajah Lim Kwi.
dunia-kangouw.blogspot.com
Hadirnya Thai-lek-sin Swi Lek Hosiang memperlengkap para tokoh besar di situ karena sekarang hadirlah
semua tokoh nomor satu. Dari barat, Song-bun-kwi. Tokoh nomor satu dari timur, Swi Lek Hosiang. Tokoh
nomor satu dari utara, Siauw-ong-kwi, dan tokoh nomor satu dari selatan, Hek-hwa Kui-bo!
Melihat sekian banyaknya tokoh besar yang hadir, diam-diam Cia Hui Gan terkejut dan amat bangga. Kali ini
jauh lebih banyak jago-jago yang datang dari empat penjuru untuk memperebutkan gelar Raja Pedang.
Untuk melawan mereka mengandalkan kepandaian, ia merasa amat berat karena maklum bahwa tingkat
mereka itu tidak berada di sebelah bawah tingkatnya sendiri. Akan tetapi kalau yang dimaksud ini pertandingan
ilmu pedang, dia boleh merasa yakin akan menang.
Ilmu-ilmu pedang di dunia persilatan telah dikenalnya semua dan kiranya tidak akan ada yang dapat
memenangkan ilmu pedangnya, Sian-li Kiam-sut. Hanya agak gelisah juga hatinya kalau dia teringat akan
gerakan ilmu pedang yang dimainkan gadis gagu tadi.
Setelah rombongan tamu berhenti datang, Cia Hui Gan berdiri dan mengucapkan pidato sambutan singkat. la
menghaturkan selamat datang kepada semua tamu, kemudian dia menambahkan keterangan tentang
pertandingan.
"Siauwte sudah terlalu tua untuk main gila memperebutkan gelar kosong Raja Pedang. Oleh karena itu siauwte
hendak memberi kesempatan kepada yang muda-muda dan yang masih haus akan gelar itu. Siauwte
mengadakan tiga macam peraturan. Para peserta harus mempelihatkan ilmu pedangnya lebih dahulu untuk
dinilai, lalu siauwte mengajukan jago yang sekiranya akan mampu mengalahkannya. Di pihak kami ada tiga
tingkat, yaitu pertama tingkat terendah adalah murid-murid siauwte yang juga merangkap pelayan di Thai-san,
jumlahnya ada dua belas orang. Peserta yang tingkatnya siauwte anggap masih rendah, akan dilayani oleh
dua belas orang pelayan itu. Kalau dia menang, barulah dia akan berhadapan dengan murid siauwte yang
termuda, yaitu Lee Giok. Setelah dapat memenangkan Lee Giok, barulah akan berhadapan dengan anak
siauwte sendiri Cia Li Cu. Sayang bahwa murid kepala siauwte tidak hadir di sini karena sedang bertugas. Jika
ada peserta muda yang dapat mengalahkan Li Cu, kemudian mengalahkan murid kepala siauwte apa bila dia
datang, maka dia berhak menerima gelar Raja Pedang dari kami. Para cianpwe boleh maju pula, dan tentu
saja lawannya adalah siauwte sendiri."
Ucapan ini jujur, singkat dan juga penuh tantangan sehingga membikin jeri hati beberapa orang yang hadir.
Akan tetapi mereka yang merasa dirinya berkepandaian, menjadi amat penasaran juga. Cia Hui Gan tak peduli
atas reaksi para tamunya, malah menggunakan kesempatan itu untuk menyatakan maksud sesungguhnya
pertemuan itu.
"Cu-wi sekalian yang mulia. Memperebutkan gelar merupakan perbuatan bodoh dan gelar adalah kosong
melompong, tidak berjiwa. Apa artinya sampai berpuluh tahun kita semua ini mempelajari kepandaian? Apakah
hanya berebutan gelar kosong belaka? Apa artinya kalau kepandaian kita tidak dipergunakan untuk membuat
jasa terhadap tanah air? Cuwi sekalian, sekarang tanah air sedang terancam bahaya, perjuangan suci sedang
bergolak, kalau kita tidak mempergunakan kepandaian untuk mengabdi pada nusa dan bangsa, alangkah
kecewanya!"
"Cia Hui Gan! Urusan perebutan gelar jangan kau campur adukkan dengan segala urusan pemberontakan!"
Hek-hwa Kui-bo mencela dengan suaranya yang nyaring dan galak.
Cia Hui Gan tersenyum. "Mengapa tidak? Selama kita masih menginjak tanah air, masih menghirup hawa
udara tanah air, kita harus memperjuangkan kesuciannya. Begitu baru bisa disebut sebagai orang gagah."
"Apa-apaan semua pidato kosong ini? Aku ingin melihat sampai di mana kehebatan Sian-li Kiam-sut dari Raja
Pedang!" Orang yang berkata ini adalah seorang laki-laki berusia empat puluh tahunan yang bertubuh tinggi
kurus, di tangan kanannya sudah memegang pedang yang tajam berkilau. Dia ini adalah Bhe Liong, seorang
jago pedang anak murid Bu-tong-pai yang berwatak kasar dan mau menang sendiri.
"Raja Pedang, kau boleh menilai permainan pedang Bu-tong-pai ini!" Pedangnya diputar cepat sampai
mengeluarkan suara mengiung-ngiung.
dunia-kangouw.blogspot.com
Melihat beberapa jurus saja, Cia Hui Gan tersenyum lalu memberi tanda kepada dua belas orang pelayannya.
"Kalian layani Bhe-taihiap ini."
Bagaikan barisan yang diatur, dengan gerak lincah seperti kupu-kupu melayang-layang sehingga para pelayan
yang beraneka warna pakaiannya ini kelihatan seperti penari-penari indah, sebentar saja orang she Bhe telah
dikurung di tengah-tengah.
"Silakan, Bhe-taihiap," seorang pelayan yang paling cantik berkata.
Bhe Liong tertegun, agak malu juga dikurung oleh gadis-gadis cantik itu yang ketika dekat sudah menyiarkan
ganda harum. Namun karena dia hendak memperlihatkan kepandaian dan kalau mungkin merebut gelar Raja
Pedang, dia sudah memutar pedangnya dan berkata, "Hati-hati kalian!"
Ilmu pedang Bu-tong-pai memang boleh dibilang tinggi juga tingkatnya, dan ternyata ilmu pedang orang she
Bhe ini tidak rendah. Akan tetapi, dia sekarang dikurung oleh Sian-li Kiam-tin (Barisan Pedang Bidadari), dua
belas orang pelayan itu bergerak berbareng dan berlari-lari mengitari dirinya. Pedang di tangan dua belas
orang pelayan itu silih berganti menyerangnya, kalau menangkis juga sekaligus ada empat pedang
menangkisnya, maka biar pun Bhe Liong lebih kuat tenaganya dan lebih gesit gerakannya, sebentar saja dia
sudah menjadi pening.
Lewat tiga puluh jurus, permainannya kacau dan beberapa guratan pedang di lengannya membuat dia
terpaksa melepaskan pedangnya. Dia melompat keluar dari kalangan dan kembali ke rombongan Bu-tong-pai
sambil berseru, "Lihai sekali. Aku terima kalah!"
Para tamu tertawa, akan tetapi ada pula yang memuji sifat orang she Bhe ini yang biar pun kasar namun jujur
dan tidak malu-malu mengakui kekalahannya. Setelah orang she Bhe ini, maju lagi beberapa orang, ada yang
dilayani oleh dua belas orang pelayan, ada pula yang dilayani oleh Lee Giok, tapi kesemuanya dikalahkan
dengan mudah.
Kim-thouw Thian-li berbisik-bisik kepada Giam Kin. Pemuda muka pucat ini tertawa lalu meloncat maju
menghadapi Lee Giok yang baru saja mengalahkan seorang jago dari Thai-san-pai dengan susah payah.
Sambil menyeringai dan cengar-cengir Giam Kin kemudian berkata, "Nyonya Liong... ehh, Ji-enghiong... ehh,
salah lagi, nona Lee Giok. Kiranya kau adalah murid dari Raja Pedang! Pantas saja kau berani banyak lagak di
kota raja. Hemmm, kebetulan sekali kita bertemu di sini, biarlah aku mencoba kepandaianmu!" Sambil berkata
demikian, dia mencabut keluar sebatang pedang di tangan kanan dan sebatang suling di tangan kiri.
Angin bertiup dan Cia Hui Gan sudah berdiri di depan pemuda itu dengan sikap kereng. "Giam Kin, aku tahu
kau murid Siauw-ong-kwi! Akan tetapi kalau kedatanganmu hanya untuk mengacau, aku orang she Cia tak
akan takut untuk mengusirmu. Hanya yang ingin berlomba ilmu pedang boleh bertempur."
"He..he..he, aku pun ingin jadi Raja Pedang!"
"Tetapi pertandingan ini hanya terbatas dalam ilmu pedang, sedangkan kau bersenjata suling beracun."
"Ehh, suling ini hanya pelengkap saja.”
"Ha-ha-ha, Raja Pedang! Kalau kau takut terhadap suling muridku, jangan berani pakai gelar Raja Pedang
segala. Kalau muridmu Lee Giok itu takut menghadapi muridku, suruh dia bersembunyi di dapur. Ha-ha-ha!"
Siauw-ong-kwi yang nakal wataknya itu mengejek, membuat banyak orang tertawa.
Cia Hui Gan berpaling kepada Lee Giok dan melihat sinar mata muridnya penuh cahaya kemarahan. "Lee
Giok, ilmu pedangnya sih tidak seberapa, tapi kau hati-hatilah terhadap sulingnya."
"Teecu tak akan mengecewakan Suhu," jawab Lee Giok sambil memutar pedangnya.
Giam Kin tertawa lagi dan segera kedua orang ini bertempur dengan seru. Akan tetapi segera ternyata bahwa
Lee Giok bukanlah lawan Giam Kin. Sebentar saja ia sudah amat terdesak. Baiknya Giam Kin adalah seorang
dunia-kangouw.blogspot.com
pemuda mata keranjang, melihat kecantikan Lee Giok, tentu saja hatinya tidak tega untuk melukai nona ini.
Andai kata Lee Giok bukan seorang wanita, tentu dalam belasan jurus saja Giam Kin sudah menjatuhkan
tangan keji. Sekarang Giam Kin hanya cengar-cengir sambil menggoda, mengeluarkan kata-kata yang kotor
tidak sopan.
"Ehm, begini saja kepandaian Ji-enghiong? Kalau kau benar-benar seorang nyonya Liong yang tua dan buruk,
tentu pedangku sudah akan menebas lehermu. Tapi kau... hemmm, sayang kalau terluka lecet kulitmu. Kalau
aku menjadi Raja Pedang, kau akan kujadikan selir Raja Pedang, maukah? Heh-heh-heh!"
"Si keparat bermulut kotor!" tiba-tiba saja dari pihak Hoa-san-pai melompat keluar seorang pemuda yang
bukan lain adalah Thio Ki adanya.
Pemuda yang patah hati karena cinta kasihnya tidak terbalas oleh Kwa Hong ini, sejak melihat kemunculan
Lee Giok di Hoa-san dahulu, sudah sangat tertarik oleh gadis ini. Menyaksikan kegagahan Lee Giok, apa lagi
sesudah mendengar bahwa Lee Giok adalah ‘Ji-enghiong’, sekaligus timbul kagum dan sukanya. Malah
kenyataan bahwa Lee Giok dengan berterang mengaku cinta kepada Kwee Sin, tidak mengurangi rasa
sukanya.
Sekarang melihat gadis ini dipermainkan Giam Kin, hatinya menjadi panas dan tak dapat menahan
kesabarannya pula. Dengan pedang di tangan dia menyerbu dan langsung menyerang Giam Kin dengan
serangan maut.
Pada saat itu, Giam Kin sedang mendesak Lee Giok dan telah mengirim tusukan yang ditujukan untuk
merobek pakaian sebelah atas gadis itu. Lee Giok sudah terkejut sekali dan maklum bahwa dia akan
menderita malu yang bukan main besarnya andai kata serangan ini berhasil dan bajunya akan terobek ujung
pedang. Maka ia merasa berterima kasih ketika tiba-tiba Thio Ki melompat dan menyerang Giam Kin sehingga
pemuda muka pucat ini terpaksa menarik kembali serangannya dan dengan marah menghajar Thio Ki dengan
sebuah tendangan kilat.
Kepandaian Thio Ki masih kalah jauh oleh Giam Kin, akibatnya tendangan itu langsung merobohkannya. Akan
tetapi dengan nekad Thio Ki bangkit kembali, kemudian dengan kaki terpincang-pincang dia menerjang lagi,
tidak memberi kesempatan kepada Giam Kin untuk mendesak Lee Giok.
"Thio Ki, kau mundur!" Dari tempat duduknya Lian Bu Tojin menegur muridnya.
"Li Cu, kau hadapi manusia sombong itu!" Cia Hui Gan memerintah puterinya.
"Orang she Giam! Biar pun kau sudah mengalahkan Enci Lee Giok, jangan kira kau boleh bersombong dan
sudah menjadi Raja Pedang. Lihat pedangku!"
Cia Li Cu menggerakkan sebatang pedang yang ia pinjam dari pelayannya. Gerakannya cepat sehingga sinar
pedangnya menyilaukan mata.
Giam Kin cepat melompat mundur dan memutar senjatanya pula. Hatinya berdebar-debar tidak karuan
menyaksikan kecantikan yang luar biasa dari lawan barunya.
Sementara itu, Thio Ki dan Le Giok mundur keluar dari kalangan pertempuran.
"Thio-enghiong, terima kasih atas pertolonganmu," kata Lee Giok sambil menjura.
"Ahh, tidak apa, Nona. Untuk membantumu yang gagah dan mulia, biar berkorban nyawa, aku Thio Ki akan
rela!”
Ucapan yang sifatnya terang-terangan menyatakan cinta ini membuat Lee Giok menjadi merah wajahnya. Dia
cepat-cepat mundur ke dekat suhu-nya, dan Thio Ki juga mundur ke rombongannya sendiri.
dunia-kangouw.blogspot.com
Pertempuran kali ini hebat sekali. Meski Giam Kin adalah murid utama dari Siauw-ong-kwi dan kepandaiannya
pun tinggi, namun menghadapi Ilmu Pedang Sian-li Kiam-sut dari Li Cu, dia repot bukan main. Sudah kalah
murni ilmu pedangnya, ditambah lagi kecantikan lawan membuat dia kacau pikirannya.
Dalam jurus ke lima puluh, sulingnya kena dibabat putus dan lengan kanannya tergores pedang. Tanpa malumalu
lagi Giam Kin melompat mundur dan lari mendekati gurunya. Sorak-sorai menyambut kemenangan nona
rumah ini.
Siauw-ong-kwi menjadi pucat mukanya. Dia telah berdiri hendak maju sendiri menghadapi Cia Hui Gan untuk
menebus kekalahan muridnya. Akan tetapi pada waktu itu berkelebat sesosok bayangan merah dan Bi Goat, si
gadis gagu, sudah berdiri di hadapan Li Cu dengan pedang di tangan!
Semua penonton tertegun menyaksikan dua orang nona yang sama-sama berpakaian merah dan keduanya
cantik jelita ini.
”Bagus, sekarang baru ramai!" Toat-beng Yok-mo bertepuk-tepuk dan bersorak gembira sambil melangkah
maju untuk mencari tempat duduk lebih dekat supaya enak menonton.
la sudah sering kali menghadapi ilmu pedang Bi Goat dan merasa ngeri karena kehebatan Yang-sin Kiam-sut
dan sekarang melihat Bi Goat hendak bertanding melawan Cia Li Cu, dia merasa gembira sekali.
Cia Li Cu tersenyum dan bukan main manis wajahnya ketika ia tersenyum. "Eh, adik gagu, apakah kau juga
hendak merebut gelar Raja Pedang?"
Bi Goat yang mengerti kata-kata orang, menggelengkan kepalanya, hanya menudingkan pedangnya ke arah
Toat-beng Yok-mo yang seketika menjadi pucat.
Kembali Cia Li Cu tersenyum. "Ahh, jadi kau penasaran karena Yok-mo itu? Dengarlah, adik yang manis. Apa
bila sudah selesai pertemuan ini, kau boleh saja mengejar dia dan boleh kau bacok putus lehernya, mana sudi
aku ikut campur? Tapi sekarang karena dia seorang tamu, kau tidak boleh mengganggunya." Di dalam hatinya
Li Cu amat suka dan kasihan kepada Bi Goat, maka bicaranya manis.
"Bi Goat, lekas serang, jangan bikin malu orang tua," terdengar Song-bun-kwi berkata.
Kagetlah banyak orang mendengar ini. Baru mereka tahu bahwa gadis cantik yang gagu ini kalau bukan anak
tentulah murid Song-bun-kwi. Gembira hati mereka karena sebagai murid Song-bun-kwi yang sudah mereka
ketahui kesaktiannya, gadis gagu itu tentu lihai sekali dan pertandingan ini tentu akan hebat.
Tetapi siapa sangka, begitu Bi Goat menggerakkan pedangnya menyerang dan ditangkis Li Cu, terdengar
suara nyaring dan pedang Li Cu patah menjadi dua! Banyak orang menahan napas karena kalau dalam
pertandingan ilmu pedang sampai ada pedang yang terpatahkan, maka orang itu boleh dianggap kalah.
Wajah Li Cu agak pucat dan terdengar jerit tertahan dari para pelayannya. Akan tetapi Bi Goat sama sekali
tidak menyerang lagi. Gadis gagu ini dengan wajah tenang memberi isyarat dengan tangannya agar supaya Li
Cu mempergunakan pedang baru. Merah wajah Li Cu karena malu, akan tetapi diam-diam ia memuji
kehalusan budi lawannya.
Sekarang dia maklum bahwa lawannya menggunakan pedang pusaka yang ampuh dan kuat, maka tanpa
ragu-ragu lagi dia menggerakkan tangan kanannya. Sinar menyilaukan berkelebat pada waktu pedang Liongcu-
kiam yang pendek tercabut dari sarungnya. Yang panjang masih tinggal di dalam sarung.
Semua orang kaget dan kagum sekali, terdengar golongan tua berbisik, "Inikah Liong-cu Siang-kiam?"
"Bi Goat, hati-hatilah dan jangan sampai beradu pedang!" Song-bun-kwi berseru kepada anaknya.
Akan tetapi mana Bi Goat mau percaya bahwa pedangnya akan kalah oleh pedang lawan? Dia sudah
menyerang lagi dan dua orang gadis berbaju merah ini sebentar saja sudah bertanding hebat.
dunia-kangouw.blogspot.com
Makin lama gerakan mereka semakin cepat sampai tubuh mereka lenyap tergulung dua sinar pedang. Yang
nampak hanya dua bayangan merah terbungkus oleh dua gulungan sinar pedang yang keemasan dan
keperakan, segulung putih berkilau, yang lain kuning emas.
Semua tamu menahan napas, kagum sekali menyaksikan dua ilmu pedang yang hebat ini. Juga Cia Hui Gan
menahan napas. Makin lama dia makin terheran, kemudian berseru.
"Song-bun-kwi, apakah ini Yang-sin Kiam-sut yang berhasil kau dapatkan itu?"
Song-bun-kwi merah mukanya, lalu dia menjawab. "Yang-sin Kiam-sut apa? Masih belum dapat menangkan
Sian-li Kiam-sut punyamu!"
"Trang! Tranggg!"
Pertempuran terhenti, Bi Goat meloncat mundur dengan muka pucat. Pedangnya sudah patah! Li Cu menahan
pedangnya, nampak bangga lalu berkata.
"Adik gagu, kau ambillah lain pedang."
Song-bun-kwi marah sekali kepada Bi Goat. Tangannya bergerak dan tahu-tahu dia telah mengambil pedang
dari pinggang seorang tamu tanpa si tamu mengetahuinya! Pedang ini sudah melayang ke arah Bi Goat
disertai seruannya. "Pakailah ini!"
Semua orang kaget. Pedang telanjang itu meluncur seperti anak panah dan seakan-akan hendak menembus
dada gadis gagu berpakaian merah itu. Akan tetapi dengan mudah Bi Goat menekuk lututnya dan menyambar
pedang dari bawah dengan kedua tangan.
Kembali mereka bertempur, tapi hanya dalam tiga jurus pedang ini pun patah menjadi tiga potong! Kembali
Song-bun-kwi ‘mencopet’ pedang yang dilemparkan kepada Bi Goat. Patah lagi. Berkali-kali Bi Goat berganti
pedang dengan paksaan ayahnya, tapi mana ada pedang yang dapat menahan pedang Liong-cu-kiam?
Pertandingan itu tidak menarik lagi, lebih berupa demonstrasi ketajaman pedang Liong-cu-kiam.
"Bi Goat belum kalah!" Song-bun-kwi membentak pada saat terdengar suara para tamu supaya pertandingan
itu disudahi saja dan gadis gagu dinyatakan kalah. "Pedangnya patah bukan karena dalam ilmu pedang,
melainkan karena pedangnya kalah baik. Kalau dia sudah roboh mandi darah, barulah boleh disebut kalah. Bi
Goat, serang lagi, biar dengan gagang pedang atau kepala!"
Bi Goat memang sudah merasa malu sekali karena berkali-kali pedangnya dipatahkan. Sekarang mendengar
suara ayahnya, ia pun menjadi nekat dan menubruk maju dengan pedang sepotong!
Li Cu kaget sekali, tidak mengira bahwa gadis gagu yang gagah ini akan berlaku nekat. Kepandaiannya
memang tidak terlalu jauh selisihnya, maka menghadapi serangan nekat ini ia tentu akan celaka kalau tidak
mendahului. Liong-cu-kiam di tangannya bergerak naik turun dan ia sudah mematahkan lagi pedang Bi Goat
yang tinggal sepotong lalu ditambah dengan serangan balasan.
Bagai anak panah Liong-cu-kiam meluncur deras ke arah tenggorokan Bi Goat. Baiknya sebelumnya telah
timbul perasaan suka dan kasihan dalam hati Li Cu, maka gadis ini pun memaksa diri menurunkan tusukannya
mengarah pundak. Para tamu menahan napas, bahkan Song-bun-kwi sendiri mengepal tinjunya melihat
puterinya terancam bahaya.
"Plakkk!"
Pedang di tangan Li Cu tergetar dan gadis ini sendiri terhuyung mundur dua langkah dengan wajah pucat.
Pedangnya tadi telah kena dihantam oleh sebuah benda hitam kecil yang membuat tangannya gemetar dan
pedangnya hampir terlepas dari pegangan.
"Song-bun-kwi, jangan main gila!" Cia Hui Gan membentak marah, mengira bahwa tentu Song-bun-kwi yang
menolong gadis gagu dan mengirim serangan gelap kepada Li Cu.
dunia-kangouw.blogspot.com
"Cia Hui Gan, jangan sembarangan menuduh!" Song-bun-kwi balas membentak marah.
Dua orang tua itu sudah berdiri dan saling pandang dengan mata menantang dan saling mengancam.
Keadaan menjadi tegang. Akan tetapi tiba-tiba banyak orang berseru kaget dan heran. Semua perhatian
sekarang ditujukan kepada bayangan seorang laki-laki yang baru saja naik ke tempat itu dengan langkah
limbung.
Laki-laki ini masih seorang pemuda, namun keadaannya mengerikan sekali. Rambutnya awut-awutan,
mukanya berwarna hijau bagaikan orang terserang racun hebat, matanya merah, mukanya luka-luka berdarah,
pakaiannya kusut tidak karuan.
Selagi semua orang terheran-heran, mereka dibikin lebih heran dan kaget ketika melihat Bi Goat
mengeluarkan suara "uh-uh" kemudian gadis gagu yang cantik jelita ini berlari menyambut orang itu, terus
dipeluknya sambil menangis!
Song-bun-kwi dan Hek-hwa Kui-bo segera mengenal orang ini, bahkan yang lain-lain pun akhirnya
mengenalnya pula. Orang itu bukan lain adalah Beng San!
Memang dia Beng San. Pemuda ini hampir menjadi gila semenjak terjadi peristiwa antara dia dan Kwa Hong di
dalam benteng tentara kerajaan. Sekarang, bertemu dengan Bi Goat yang amat mencintanya sehingga tanpa
ragu-ragu menunjukkan cinta kasihnya di tempat ramai seperti itu, hatinya semakin perih seperti ditusuk-tusuk,
merasa berdosa.
Dengan halus dia membelai rambut gadis gagu itu, lalu berkata perlahan dan mendorong Bi Goat ke samping,
"Bi Goat, kau mengasolah..."
Kemudian dengan sekali melompat dia telah berdiri menghadapi Li Cu yang memandang dengan wajah pucat.
"Kau... kau pencuri pedang! Kembalikan Liong-cu Siang-kiam kepadaku!" kata Beng San, matanya yang merah
memandang tajam seakan-akan hendak menusuk dada gadis cantik itu dengan pandang matanya.
Li Cu yang tadinya merasa ngeri, sekarang berbalik marah ketika mendengar dia dimaki pencuri. Dia tidak
mengenal lagi pemuda yang hanya satu kali ia lihat dahulu di puncak Hoa-san-pai sebagai seorang sastrawan
lemah yang berani mati mencampuri urusan Hoa-san-pai dengan Kun-lun-pai.
"Keparat, kau barang kali sudah gila. Pergi!" Li Cu mengancam dengan pedangnya.
Namun sekali melangkah maju Beng San mengulur tangan hendak merampas pedang itu. Hampir saja
pedangnya kena dirampas kalau Li Cu tidak segera cepat menarik kembali pedangnya. Ia kaget. Gerakan
orang ini cepat dan tidak terduga sekali. Teringat ia akan sambitan gelap tadi.
"Kaukah penjahat yang menyambit pedangku tadi?"
Beng San mengangguk. "Tidak boleh kau melukai Bi Goat. Dan pedang-pedang itu, dia milikku, kembalikan
sekarang juga. Aku segan mempergunakan kekerasan terhadapmu." Ucapan ini keras sehingga terdengar
semua orang.
Orang yang belum mengenalnya tertawa geli, menyangka bahwa dia betul-betul seorang gila. Akan tetapi
Beng San tidak peduli dan melangkah lagi. Kini Li Cu tidak ragu-ragu. Tentu orang ini berilmu tinggi, maka
tidak memalukan kalau kuserang dia.
"Banggat, kau mencari mati sendiri. Lihat pedang!" Pedangnya langsung menusuk seperti kilat menyambar.
Bi Goat kebingungan dan memandang pucat. Akan tetapi sedikit miringkan tubuhnya saja Beng San berhasil
mengelak. Li Cu penasaran dan mengirim serangan berantai. Namun, tujuh kali sambaran pedangnya, selalu
mengenai tempat kosong seakan-akan pemuda ini sudah tahu ke mana pedang hendak menyerang.
dunia-kangouw.blogspot.com
Ia makin penasaran dan hendak menyerang mati-matian akan tetapi tiba-tiba Cia Hui Gan melompat datang.
"Saudara muda, kau siapakah dan apa sebabnya kau mendakwa anakku mencuri pedang Liong-cu Siang-kiam
darimu?" tanyanya.
Beng San mengangkat muka memandang. Cia Hui Gan adalah seorang pendekar besar, akan tetapi dia
bergidik ketika melihat muka yang bersinar kehijauan ini. Diam-diam dia kaget, karena orang yang bermuka
seperti ini hanyalah orang keracunan atau orang yang memiliki Iweekang yang sudah mencapai dasar tenaga
Im. Melihat seorang tua gagah, Beng San segera memberi hormat.
"Agaknya aku berhadapan dengan Raja Pedang Cia Hui Gan. Ketahuilah, anakmu ini telah menyamar sebagai
aku dan menipu mendiang guruku sehingga Liong-cu Siang-kiam diberikan kepadanya. Sebelum mati guruku
berpesan kepadaku supaya aku mencari pencuri pedang itu. Apa bila sudah bertemu, kalau laki-laki harus
kubunuh dan kalau... hemmm..." Beng San dalam gugupnya tak dapat bicara lagi, dia merasa diri bodoh sekali
dan menyesal setengah mati mengapa dia menceritakan hal ini.
"Dan kalau perempuan bagaimana...?" Cia Hui Gan mendesak, mata pendekar pedang bersinar-sinar.
Sekarang baru tampak olehnya wajah Beng San yang asli, wajah seorang pemuda yang tampan dan jujur,
membayangkan kehalusan budi. Seketika sinar kehijauan yang meliputi wajahnya lenyap berubah putih segar
seperti biasa, kemudian berubah merah sekali sampai hitam. Kembali Cia Hui Gan kaget setengah mati. Inilah
wajah seorang yang memiliki Iweekang yang sudah mencapai dasar tenaga Yang!
"Kalau wanita..." kata Beng San "menurut mendiang suhu harus menjadi..., ehh, menjadi isteriku..."
"Ha-ha-ha-ha-ha... lucu betul si maling Lo-tong Souw Lee...," kata Cia Hui Gan.
Beng San merasa lengannya dipegang orang erat sekali. la menoleh dan ternyata yang memegang lengannya
adalah Bi Goat yang memandang dengan air mata berlinang. Ia menepuk-nepuk tangan Bi Goat, lalu berkata
cepat-cepat.
"Cia-enghiong, meski mendiang suhu memesan demikian, aku... aku tak akan mengambil isteri puterimu... ehh,
tidak siapa pun juga, ehhh... aku hanya ingin mengambil kembali Liong-cu Siang-kiam..." la menoleh lagi lalu
mendorong pergi Bi Goat.
Gadis ini tersenyum dan segera mengundurkan diri. Pertunjukan romantis ini ditonton oleh semua orang dan di
sana-sini orang tertawa, ada juga yang terharu. Jelas sekali terlihat bahwa antara pemuda yang mukanya
berubah-ubah seperti bunglon dan gadis yang gagu terdapat jalinan kasih sayang yang amat besar.
Sekarang Cia Hui Gan menoleh kepada puterinya, suaranya kereng ketika bertanya. "Li Cu, kau bilang berhasil
merampas kembali Liong-cu Siang-kiam. Bagaimana sekarang pemuda ini menuduhmu menipu?"
Li Cu melangkah maju dan membentak Beng San, "Orang gila, kau berani menuduhku. Siapa namamu?"
"Aku... namaku Beng San..." Pemuda ini gugup juga menghadapi nona cantik jelita seperti bidadari yang
marah itu.
Seketika wajah Li Cu berubah merah "Ayah... aku... aku bertemu Lo-tong Souw Lee. Dia... dia mengira aku...
aku muridnya yang bernama Beng San. Karena pada waktu itu aku berpakaian sebagai pria dan dia... dia buta,
dia lihai dan aku... aku khawatir tidak akan berhasil merampas maka aku membiarkan saja dia menyangka
bahwa aku muridnya, dan dia memberikan pedang kepadaku...”
"Hemmm, kau memalukan!" bentak Cia Hui Gan, kemudian jago pedang ini berpaling kepada Beng San. "Beng
San, kau dengar sendiri. Anakku sudah mengaku, memang licik perbuatannya. Akan tetapi kau hanya tahu
satu tetapi tidak tahu dua. Pedang Liong-cu Siang-kiam sebetulnya adalah hakku, karena pedang itu dahulu
ratusan tahun yang lalu adalah milik sucouw kami, Ang I Niocu. Setelah terjatuh dalam tangan kaisar, lalu
dicuri oleh Lo-tong Souw Lee. Kalau sekarang kami kembali merampas dari dia, bukankah itu sudah
sewajarnya?"
dunia-kangouw.blogspot.com
"Tidak bisa! Suhu mengambilnya dengan kepandaian, puterimu mengambilnya dengan tipu daya. Dan aku
sudah bersumpah di depan suhu..."
"Hemmm, kau boleh sekarang merampasnya kembali kalau kau ada kepandaian!" tantang Li Cu.
"Baik, kau jagalah!"
Beng San menubruk maju, sekaligus kedua tangannya bergerak, yang kiri menotok leher yang kanan
merampas pedang. Cia Hui Gan melompat mundur membiarkan anaknya menghadapi Beng San.
Gadis itu marah sekali dan memutar pedang membabat tangan Beng San. Akan tetapi gerakan Beng San ini
hanya gerak tipu belaka, tahu-tahu pemuda ini sudah menyelinap ke belakang tubuh Li Cu. Sekali dia
menggerakkan tangan, pedang Liong-cu Siang-kiam yang panjang dan yang tadinya tergantung di punggung
gadis itu sudah kena dia rampas!
Pucat wajah Li Cu. "Keparat, hari ini juga aku Cia Li Cu hendak bertanding mati-matian denganmu!"
Pedang pendeknya diputar cepat, merupakan segulungan sinar keemasan menerjang diri Beng San. Beng San
juga menggerakkan pedangnya dan dua pedang bertemu sehingga mengeluarkan bunga api menyilaukan
mata. Di saat berikutnya dua orang muda ini sudah bertanding seru.
Alangkah herannya semua tamu ketika melihat betapa pemuda yang mengerikan ini biar pun gerakangerakannya
kacau-balau, dan amat buruk kalau dibandingkan ilmu pedang Li Cu, namun selalu gulungan sinar
pedang Li Cu dapat ditahannya dan dipukul kembali.
Bahkan dengan gerakan-gerakan selanjutnya Beng San mulai mendesak Li Cu dengan Ilmu Pedang Im-yang
Kiam-sut yang luar biasa lihai. Ternyata dasar ilmu pedang mereka adalah satu sumber, hanya pecahan Imyang
Kiam-sut lebih ruwet dan kuat. Apa lagi karena dalam diri Beng San sudah terdapat sari tenaga Im dan
Yang, maka setiap kali pedang bertemu, Li Cu merasa seluruh tubuhnya panas dingin dan gemetar.
Cia Hui Gan menonton pertempuran ini dengan mata bersinar-sinar dan timbul rasa suka dan kagumnya pada
Beng San. Pemuda inilah yang sebetulnya bisa mengatasi anaknya, malah agaknya akan dapat mengalahkan
dia sendiri.
Bukankah ilmunya itu ilmu peninggalan Bu Pun Su? la sudah mendengar bahwa Yang-sin Kiam-sut terjatuh ke
tangan Song-bun-kwi dan Im-sin Kiam-sut jatuh ke tangan Hek-hwa Kui-bo. Akan tetapi kenapa pemuda ini
demikian mahir Im-yang Sin-kiam-sut?
Sayang bahwa anaknya sudah memiliki pilihan hati sendiri, yaitu muridnya yang pertama. Kalau tidak begitu...
"ahhh, pemuda ini benar-benar hebat!”
Selagi Beng San dan Li Cu bermain pedang dengan amat berhati-hati karena keduanya maklum akan
kelihaian lawan, sedangkan Beng San juga merasa segan untuk melukai gadis jelita ini, tiba-tiba terdengar
suara hiruk-pikuk seakan akan gunung itu meletus.
Kemudian dari bawah puncak nampak berlari-lari seorang lelaki yang dikejar oleh banyak orang. Setelah tiba di
tempat itu, ternyata orang itu adalah Tan Beng Kui yang menderita beberapa luka ringan pada pundak dan
lengannya. Darah membasahi bajunya.
Begitu sampai di tempat itu dan melihat Beng San masih bertanding melawan Li Cu, Beng Kui melompat maju
dan membentak, "Beng San, berani kau kurang ajar di sini?!"
Beng San terkejut dan melompat mundur. Sebelum dia menjawab, para pengejar sudah sampai di tempat itu
pula dan kelihatan Pangeran Souw Kian Bi bersama belasan orang perwira lain. Pangeran ini kelihatan marah
sekali dan begitu tiba di depan Tan Beng Kui dia memaki.
dunia-kangouw.blogspot.com
"Manusia tak kenal budi! Jadi ternyata engkau telah mengkhianati kami dan ternyata kau pula yang selama ini
disebut Ji-enghiong? Baguslah, bagus...! Kau melarikan diri ke sini, Ha-ha-ha! Kau kira sebagai Ji-enghiong
kau sudah merasa dirimu yang paling pandai dan siasatmu selama ini sudah mengacaukan kerajaan?
Pengkhianat Tan Beng Kui! Sekarang puncak ini sudah dikurung oleh selaksa orang prajuritku! Kau harus
tahu, kau dan semua orang yang ada di sini, kecuali saudara-saudara yang membantu kerajaan, akan dibasmi
habis! Ha-ha-ha!"
Semua orang menjadi terkejut luar biasa, apa lagi ketika mendengar sorakan dan melihat bahwa di lereng
gunung sudah kelihatan banyak sekali tentara negeri mengurung tempat itu. Kekagetan ini bukan hanya
karena ancaman si Pangeran Mongol, tapi terutama sekali mereka yang sudah mengenal Beng Kui merasa
kaget saat mendengar kenyataan bahwa Tan Beng Kui ternyata adalah Ji-enghiong yang terkenal sebagai
seorang pemimpin para pejuang di kota raja!
Ketika Pangeran Souw Kian Bi melihat Lee Giok di situ, dia tertawa lagi, suara ketawanya seperti iblis.
"Ha-ha-ha-ha-ha! Lee Giok, nyonya Liong, bagus sekali kau pun sudah bersiap menerima mampus di sini.
Tubuhmu akan kuserahkan kepada para prajurit, kemudian kau akan dicincang hancur dan kuberikan kepada
anjing! Kau dahulu mengaku sebagai Ji-enghiong untuk mengelabui mataku, kiranya antara kau, Beng Kui, dan
Kwee Sin terdapat kerja sama mengepalai para mata-mata di kota raja. Kau ternyata adalah adik seperguruan
Tan Beng Kui si keparat murid si Raja Pedang. Ha-ha-ha, semua julukan yang muluk-muluk akan hancur lebur
pada hari ini."
Tan Beng Kui yang kelihatan gagah dan sangat bersemangat, berdiri dengan kedua kaki terpentang, matanya
bersinar-sinar dan dia pun menjawab, "Pangeran Souw Kian Bi! Kau terlampau memandang rendah para
pejuang. Kau kira kali ini akan dapat menghancurkan kami? Huh, manusia serendah engkau mana mungkin
mampu menghancurkan kekuatan perjuangan rakyat? Kau bilang di puncak ini terkurung oleh prajuritprajuritmu?
Ha-ha-ha, apa kau kira percuma saja aku bertahun-tahun berjuang di kota raja? Bukan kami yang
akan kau hancurkan, sebaliknya kau dan pasukan-pasukanmu itulah yang akan hancur. Kau lihat!"
Beng Kui mengeluarkan panah api, dilepaskan ke atas dan sinar biru melesat ke udara. Tak lama kemudian
terdengar suara tambur dan terompet disusul sorak-sorai menggegap gempitakan puncak.
"Lihat, Pangeran Souw Kian Bi. Lihatlah baik-baik, puluhan ribu teman-teman kami sudah mengurung di kaki
gunung, siap menggempur pasukan-pasukanmu!"
Tidak hanya Souw Kian Bi yang menengok, akan tetapi semua orang melihat ke bawah dan betul saja, seperti
ular naga besar tampak pasukan pejuang sudah merayap ke atas dan sudah mulai diadakan pertempuran di
bawah gunung.
"Dan kau tidak pernah mimpi bahwa pada saat ini di kota raja terjadi pula penyerbuan, Pangeran. Kau tidak
ada tempat lagi untuk maju atau mundur. Ha-ha-ha!" Tan Beng Kui tertawa dan pangeran itu membentak
marah.
"Kau bohong!"
Akan tetapi tiba-tiba dari bawah berlari naik seorang anggota tentara kerajaan. Wajahnya pucat dan napasnya
sengal-sengal ketika dia melapor, "Lapor pada Pangeran. Ada berita bahwa kota raja sudah diduduki musuh..."
Saking marahnya Pangeran Souw Kian Bi lalu menggerakkan pedangnya dan... robohlah pelapor ini dengan
dada tertusuk pedang. Perbuatan pangeran ini seakan-akan menjadi tanda dimulainya pertempuran.
Tan Beng Kui sudah mengambil pedang dari tangan seorang pelayan, kemudian dengan gerakan yang luar
biasa cepatnya dia menyerang Souw Kian Bi. Belasan orang pengikut pangeran itu pun bergerak, akan tetapi
mereka segera disambut oleh Lee Giok, Li Cu, dan dua belas orang pelayan.
Pertempuran antara Souw Kian Bi dan Tan Beng Kui tidak berjalan lama. Sebentar saja pedang di tangan
Beng Kui sudah berhasil membacok leher pangeran itu yang menjerit dan roboh binasa. Pengikut-pengikutnya
dunia-kangouw.blogspot.com
juga roboh seorang demi seorang. Pertempuran di bawah dan di lereng gunung makin menghebat. Semua
tamu telah berdiri dan menjadi tegang.
Beng San semenjak tadi berdiri memandang kakaknya. Air matanya bercucuran di kedua pipinya. Tangannya
yang memegang Liong-cu-kiam gemetar. Alangkah gagahnya kakak kandungnya. Alangkah hebatnya. Kiranya
kakaknya yang selama ini dia anggap sebagai pengkhianat, ternyata adalah Ji-enghiong pemimpin pejuang di
kota raja! Jadi Kwee Sin, Lee Giok dan lain-lain itu adalah bawahan-bawahannya!
Dan kakaknya ternyata adalah murid kepala dari Raja Pedang yang memiliki kepandaian lebih lihai dari pada Li
Cu. Hebat! Kenyataan ini menampar hatinya. Apa bila dahulu dia memandang rendah kakaknya, sekarang dia
merasa betapa rendah dan hina dirinya kalau dibandingkan dengan Beng Kui.
Sekarang sesudah seluruh musuh-musuhnya tewas, Tan Beng Kui lalu menoleh kepada Hek-hwa Kui-bo, Kimthouw
Thian-li, Siauw-ong-kwi, dan juga Giam Kin. Sikapnya amat mengancam, "Kalian empat orang kaki
tangan Pangeran Souw Kian Bi, apakah kini kalian hendak menuntut balas?" tantangnya.
"Beng Kui, jangan lancang!" tegur Cia Hui Gan. "Mereka adalah tamu-tamu yang sedang menghadiri perebutan
gelar."
Baik Hek-hwa Kui-bo mau pun Siauw-ong-kwi semenjak tadi sudah menjadi gelisah dan gentar. Menghadapi
seorang Tan Beng Kui atau bahkan Cia Hui Gan bagi mereka tentu saja tidak menjadikan takut, akan tetapi
karena mereka tadinya membantu pemerintah dan sekarang berhadapan dengan para pejuang, nyali mereka
sudah menjadi kecil.
"Perebutan gelar sudah berubah menjadi pertempuran urusan kerajaan, biarlah kami pergi saja," kata Siauwong-
kwi yang cepat meninggalkan tempat itu bersama Giam Kin.
"Aku pun pergi saja, lain kali bertemu kembali!" berkata pula Hek-hwa Kui-bo yang cepat pergi diikuti Kimthouw
Thian-li.
Beng Kui sekarang menghadapi Beng San. Wajahnya nampak keras dan marah.
"Bocah gila, apa kau masih tetap hendak mengikuti perebutan gelar Raja Pedang pula? Huh, manusia rendah
semacam engkau, yang menghancurkan kehidupan seorang gadis baik-baik, kau tidak berharga melawan
Suhu dan kau terlalu kotor melawan Sumoi. Kalau kau masih penasaran, hayo kau lawanlah aku! Kalau kau
tidak berani, kau kembalikan pedang itu kepada Sumoi!" Sikap Beng Kui angkuh sekali dan dia memandang
Beng San amat rendah.
Air mata yang mengalir turun di kedua pipi Beng San semakin deras ketika mendengar kakak kandungnya
yang gagah perkasa itu memakinya dan menyebut-nyebut mengenai urusan Kwa Hong. Hatinya bagaikan
diremas-remas. Dengan muka kehijauan dan suara gemetar dia bertanya.
"Kui-ko... mengapa kau menaruh racun...? Kenapa kau melakukan semua itu kepadaku... kau... kau yang
ternyata seorang patriot dan pejuang mulia ini...? Kenapa?"
"Goblok kau. Bodoh! Kalau tidak karena aku, bukankah sekarang kau telah menjadi mayat di benteng itu?"
Yang menaruh racun bukan aku, melainkan Pangeran Souw Kian Bi. Aku diamkan saja karena menurut
pandanganku, kau sudah terlampau untung untuk berjodoh dengan dia. Siapa kira, kau... kau
meninggalkannya. Alangkah rendahnya!"
"Aduh... Beng Kui koko, aku... aku mencinta gadis lain... aku… aku telah menjadi korban racun..."
"Jangan sebut aku koko lagi. Pendeknya, kau mau merebut gelar Raja Pedang atau tidak? Lekas sebelum
habis sabarku!"
Mendadak Beng San mengangkat dadanya dan berkata, "Aku tidak peduli akan segala sebutan Raja Pedang.
Aku tidak suka pula bertempur dengan siapa pun juga, tidak mau ikut bertempur denganmu. Akan tetapi, aku
harus mengambil kembali sepasang Liong-cu Siang-kiam, aku sudah bersumpah di depan suhu."
dunia-kangouw.blogspot.com
"Keparat! Sumoi, tolong pinjam pedangmu!"
Li Cu menyerahkan pedang pendek di tangannya. Begitu memegang Liong-cu-kiam yang pendek, Beng Kui
segera menerjang maju menyerang dengan dahsyat.
Beng San kagum melihat gerakan kakak kandungnya yang ternyata jauh lebih hebat dan kuat dari pada
gerakan Li Cu. Akan tetapi karena dia tidak suka melawan, dia cepat mengelak dan hanya terus mengelak
atau menangkis dengan Liong-cu Siang-kiam yang panjang.
Sementara itu, Li Cu mendekati ayahnya. Tangan gadis ini dingin sekali ketika menyentuh tangan ayahnya.
Cia Hui Gan berbisik.
"Li Cu, aku malu sekali menjadi Raja Pedang. Sekali ini, kalau orang muda adik Beng Kui itu mau, kita semua
akan dapat dia kalahkan dengan ilmu pedang Im-yang Sin-kiam-sut yang tulen. Apa bila dia mau, mudah saja
dia mengalahkan suheng-mu. Aaahhh, sayang sekali..."
"Apanya yang sayang, Ayah? Kenapa kau tidak turun tangan membantu Suheng?"
"Hush, masa aku harus berlaku begitu rendah? Lihat, adiknya itu benar-benar aneh, tidak melawan sama
sekali, entah apa maksudnya." Tiba-tiba wajah Raja Pedang Cia Hui Gan menjadi pucat karena benar-benar
terjadi hal yang luar biasa.
Pada saat pedang Beng Kui menyambar dalam sebuah serangan kilat, Beng San sengaja memasang
pundaknya dan hanya menangkis sedikit. Beng Kui sendiri sampai terkejut, mengapa Beng San sengaja
menerima sambaran pedangnya? Pundak pemuda itu lantas terbabat dan terkupas kulit berikut sedikit
dagingnya. Darah mengalir deras membasahi baju.
"Koko, dalam hal ilmu pedang aku mengaku kalah. Kau dan suhu-mu patut disebut Raja Pedang. Buktinya
pundakku sudah terluka!" seru Beng San.
Akan tetapi tiba-tiba dia melakukan gerakan yang amat aneh yang sekaligus mematikan daya tahan Beng Kui.
Pedang di tangan Beng Kui tertempel pada pedangnya, tidak dapat digerakan atau ditarik kembali, kemudian
tangan kiri Beng San cepat melakukan dua kali totokan ke arah tangan kanan kakaknya.
Beng Kui merasa tangannya lumpuh dan sebelum dia sempat mencegah, pedang pendek Liong-cu-kiam
sudah berpindah ke tangan Beng San!
Beng San lalu melangkah mundur. Dengan dua batang pedang Liong-cu-kiam di tangan, dia memandang
kakaknya dengan air mata bercucuran, kemudian dia berlari pergi tanpa mengucapkan sepatah kata pun.
Terdengar seruan Song-bun-kwi, "Ehh, Bi Goat, kau mau pergi ke mana?!"
Baru sampai di lereng gunung, di lereng sebelah sananya di mana tidak ada perang yang terjadi, Beng San
merasa ada angin menyambar lewat dan tahu-tahu Bi Goat sudah berdiri di depannya. Gadis ini terus
memeluknya dan menangis, berkata, "ah-ah-uh-uh" tidak karuan. Lemas seketika hati Beng San menghadapi
kekasihnya ini.
"Bi Goat... kekasihku... pujaan hatiku, jangan... jangan kau mengejarku. Janganlah kau mencegah
kepergianku... aku terlampau hina dan terlampau rendah untukmu, Bi Goat..."
Mendengar ini, makin menjadi tangis Bi Goat dan makin erat dia mendekap Beng San.
"Aduh, Bi Goat... kau menghancurkan hatiku. Relakan aku, Bi Goat, aku... aku... ahh, aku malah tidak pantas
lagi hidup di dunia ini..."
Bi Goat seperti hendak menjerit-jerit, tetapi yang keluar dari mulutnya hanya ah-ah-uh-uh saja. Akhirnya gadis
itu menjadi lemas dan... roboh pingsan di dalam pelukan Beng San.
dunia-kangouw.blogspot.com
Tentu saja pemuda ini menjadi kaget sekali. la cepat-cepat duduk di atas tanah sambil memangku kepala Bi
Goat, digoyang-goyangnya tubuh nona itu sambil terus dipanggil-panggilnya penuh kekhawatiran.
"Bi Goat... Bi Goat... jangan mati...!" la seperti orang gila dan menangis seperti anak kecil.
Tiba-tiba gadis itu bergerak dan terdengar suara yang merdu, "Beng San... kalau kau pergi... lebih baik aku
mati saja...”.
Beng San terkejut seperti disengat ular berbisa. la menoleh ke kanan kiri dan melihat di sebelah kirinya Songbun-
kwi berdiri dengan muka yang pucat sekali. Sekilas pertemuan pandang mata antara dia dan Song-bunkwi
terjadi persamaan pengertian akan apa yang mereka berdua dengar tadi.
"Beng San... Beng San, jangan tinggalkan aku..."
"Bi Goat, kau bicara," Beng San melompat bangun dan memeluk gadis itu, lupa semua kedukaan hatinya.
"Bi Goat, anakku! Akhirnya kau dapat bicara lagi! Ha-ha-ha-ha-ha!” Song-bun-kwi tertawa terbahak-bahak,
kemudian... menangis. “Ha-ha-ha, benar juga si setan Yok-mo, setelah mengalami kekagetan, kau bisa bicara
lagi..."
"Ayah... kalau kau tidak menahan Beng San supaya selalu di sampingku, aku tidak saja akan gagu lagi, malah
aku akan mati di bawah kakimu!"
"Ya, ya, baik begitu. Heh, Beng San! Apakah kau mencinta Bi Goat?"
"Betul, Locianpwe, akan tetapi aku terlampau hina... aku... aku berdosa dan telah..."
"Stop! Mana ada manusia tak berdosa di dunia ini? Dosaku seribu kali lebih besar dari pada dosamu! Jangan
pedulikan manusia-manusia sombong itu. Hayo kau ikut kami ke Gunung Min-san dan hidup bahagia di sana.
Ha-ha-ha, anakku kini bisa bicara, anakku mendapat suami yang hebat. Dan sebentar lagi aku akan menimang
cucuku yang mungil. Ha-ha-ha, orang she Kwee, pantaskah kau menerima kurnia sebesar ini?”
Bi Goat menggandeng tangan Beng San yang menurut saja diajak oleh ayah dan anak itu. Akan tetapi baru
saja mereka tiba di kaki gunung, di depan mereka berdiri tiga orang menghadang. Mereka ini adalah Cia Hui
Gan, Tan Beng Kui, dan Cia Li Cu.
"Cia Hui Gan, mau apa kau menghadang kami?" Song-bun-kwi yang sedang gembira hatinya itu bertanya
sambil tertawa-tawa. "Apa kau mau bicara urusan gelar Raja Pedang lagi?"
Merah muka jago pedang Thai-san itu. "Song-bun-kwi, aku orang tua hanya mengantar anak-anak, merekalah
yang mempunyai urusan."
Sementara itu, Beng Kui sudah melangkah maju mendekati Beng San, lalu terdengar dia berkata, "Beng San,
kau tak boleh membawa lari sepasang pedang Liong-cu Siang-kiam itu. Pedang-pedang itu adalah milik kami,
harus kau kembalikan kepada aku dan Li Cu!"
Beng San melihat betapa sikap kakak kandungnya ini masih amat tinggi hati dan agaknya masih memandang
rendah kepadanya, sikap seorang pejuang gagah perkasa, seorang jantan dan ksatria yang sudah
membuktikan darma baktinya kepada tanah air, pendeknya sikap seorang mulia terhadap seorang yang
dianggap rendah.
Tadi dia berkukuh merampas pedang karena dia menganggap bahwa di dunia ini bagi hidupnya hanya satu
itulah yang penting. Akan tetapi sekarang setelah dia bertemu Bi Goat, melihat Bi Goat sembuh dari penyakit
gagu, melihat Bi Goat dan ayahnya sudi menerimanya dan dia menghadapi kehidupan baru yang penuh
kebahagiaan bersama Bi Goat, dia tidak hendak mengukuhi pedang-pedang itu lagi. Setelah ada Bi Goat, dia
tidak membutuhkan apa-apa lagi di dunia ini. Dengan tenang tanpa bicara apa-apa Beng San menurunkan
sepasang pedang dari punggungnya.
dunia-kangouw.blogspot.com
"Ha-ha-ha, mudah amat!" Song-bun-kwi tertawa mengejek. "Orang sudah mengambilnya dengan
mengandalkan kepandaian, sekarang jika hendak merampas kembali juga harus mengandalkan kepandaian!"
Beng Kui dan Li Cu saling pandang. Di dalam hati dua orang muda ini sudah mengakui bahwa mereka tak
akan menang bertanding melawan Beng San. Setelah diam sejenak, Beng Kui berkata, "Beng San, kau
dengarlah. Sepasang pedang itu merupakan syarat dan tanda perjodohanku dengan Li Cu sumoi. Kau
kembalikan kepada kami dan sebagai gantinya, aku akan menutup mulut dan tidak mengenalmu lagi."
Mendengar ucapan ini, Bi Goat dan ayahnya menjadi marah. Mana ada aturan seperti ini? Orang diharuskan
berlaku baik, tapi balasannya malah tidak akan dikenal lagi. Tapi Beng San segera menurunkan Liong-cu
Siang-kiam dan berkata dengan suara gemetar.
"Beng Kui koko, terimalah Liong-cu Siang-kiam ini dan anggap sebagai sumbangan untuk perjodohanmu dari
adikmu yang hina ini. Akan tetapi ini hanya sebagai titipan, tiga tahun kemudian harus kau kembalikan
kepadaku."
Beng Kui merasa mendongkol sekali, akan tetapi tanpa menjawab sesuatu dia menerima sepasang pedang itu
dan memberikan yang pendek kepada Li Cu. Dua pedang itu serupa benar, hanya yang sebuah panjang dan
terukir huruf ‘jantan’ sedangkan yang ke dua pendek dan terukir huruf ‘betina’.
Setelah menerima sepasang pedang ini dan tanpa mengucapkan terima kasih, Beng Kui segera mengajak Li
Cu pergi dari situ. Melihat hal ini, Song-bun-kwi dan Bi Goat menjadi makin gemas. Betapa sombongnya orang
yang dipuji-puji sebagai Ji-enghiong pemimpin pejuang itu. Sombong, tinggi hati dan merasa diri sendiri paling
jempol.
Cia Hui Gan agaknya juga merasa tak enak hati melihat sikap murid atau calon mantunya itu. "Song-bun-kwi,
kau menjadi saksinya. Mulai sekarang aku Cia Hui Gan tidak berani menggunakan gelar Raja Pedang lagi,
kalau ada orang masih mempersoalkan gelar Raja Pedang, maka biarlah aku mengakui bahwa orang muda
adik kandung muridku inilah yang patut diberi gelar Raja Pedang. Selamat berpisah sampai jumpa pula!" Kaki
jago pedang ini mengenjot tanah dan tubuhnya berkelebat lenyap dari situ.
”Ha-ha-ha! Mantuku Raja Pedang. Benar mantuku Raja Pedang dan aku akan siarkan hal ini ke seluruh dunia
kang-ouw. Siapa saja yang tak mau menerimanya akan kuhancurkan kepalanya!" Sambil tertawa-tawa dan
berteriak-teriak, kakek ini mengajak Beng San dan Bia Goat melanjutkan perjalanan ke Min-san.
Sambil berjalan di samping Bi Goat yang menggandeng tangannya, terjadi perubahan pada diri Beng San.
Wajahnya tidak seram seperti tadi lagi, warna mukanya telah berubah biasa, bahkan sepasang matanya
bersinar-sinar gembira.
Kakak kandungnya ternyata seorang patriot, seorang pemuda yang harum namanya, yang dikagumi dan dipuji
orang gagah seluruh negeri. Dan kakaknya telah mempunyai calon jodoh yang sedemikian cantik dan
gagahnya seperti Cia Li Cu. Ia girang melihat kakaknya akan hidup bahagia.
Dia sendiri melihat titik terang dalam hidup mendatang. Kebahagiaan bagi dirinya segera menjelang datang
bagaikan sang surya yang mengintai dari balik awan gelap yang mulai tertiup pergi oleh angin. Dengan Bi Goat
di sampingnya dia sanggup untuk melanjutkan hidup, sanggup untuk menempuh semua kesulitan dan sanggup
untuk terus tersenyum. Dia akan memandang dunia yang penuh duri ini, penuh derita hidup ini dari segi-segi
keindahannya.
Tanpa disadarinya dia mempererat gandengannya. Bi Goat merasakan dan gadis ini pun makin erat memeluk
lengan Beng San sambil melirik dan tersenyum manis. Ketika Beng San memandang, dia melihat kedua pipi
gadis itu terhias dua butir air mata yang turun perlahan-lahan. Air mata bening, air mata kebahagiaan…..
>>>>> T A M A T <<<<<
Tag:cersil cersil indo cersil mandarin full cerita silat mandarin online cersil langka cersil mandarin lepas cerita silat pendekar matahari kumpulan cerita silat jawa cersil mandarin beruang salju. cerita silat pendekar mataharicerita silat indonesia cerita silat kho ping hoo cerita silat mandarin online cerita silat mandarin full cerita silat jawa kumpulan cerita silat cerita silat jawa pdf cerita silat indonesia gratis cerita silat jadul indonesia cerita silat indonesia pendekar rajawali sakti cersil indonesia pendekar mabuk cersil langka cersil dewa arak cerita silat jaman dulu cersil jawa download cerita silat mandarin full cerita silat mandarin online cersil mandarin lepas cerita silat mandarin pendekar matahari cerita silat jawa pdf cersil indonesia pdf cersil mandarin beruang salju kumpulan cerita silat pdf
kumpulan cerita silat cersil online
Share:
cersil...
Comments
0 Comments

Arsip Cersil

Best Cersil

Pecinta Cersil