Donasi

Buat yang punya rejeki berlebih dan merasa terhibur dengan Situs Cerita Silat Cersil Terbaik ini bisa mendonasikan bantuannya ke
No. Rekening BPD Jateng No. 2004084554
demi keberlangsungan dan keberadaan Blog Cersil Cerita Silat yang sama-sama kita cintai ini. Kritik dan Saran hub No HP.083837358519. Atas Bantuannya disampaikan Terimakasih.

Selasa, 24 April 2018

Tangan Geledek 4 Tamat

--------

“Apa maksudmu?”
“Hanya dengan perlolongannya maka kitab itu bisa
terjatuh ke dalam tanganku.”
"Siapakah dia? Apakah dia tiaggi sekali ilmu
kepandaiannya?”
"Sangat tinggi, kiranya tidak kalah oleh gakhu dan gakbo.
Kautunggulah saja sebentar lagi kau tentu akan berhadapan
dengan ayah agkatku."
Diam-diam Ceng Ceng menduga-duga tidak mau
mendesak karena takut dianggap tidak sabaran oleb
suaminya. Ia hanya menduga bahwa ayah angkat suaminya
ini tentu seorang kepala bajak seperti Huang-ho Sian-jin.
Akan tetapi kalau lihainya tidak kalah ayah bundanya.
siapakah gerangan orang itu ? Kiranya di antara para bajak,
Huang-ho Sian-jin yang paling lihai dan orang inipun tidak
dapat menangkan ayahnya. Apakah ada bajak laut yang
tidak terkenal di dunia liok-lim dan yang kepandaiannya
sangat tinggi? Mungkin sekali karena ayahnya sendiri sering
berkata bahwa dunia ini terdapat banyak sekali orang
pandai”.
Lebih tebal lagi dugaannya bahwa ayah angkat itu tentu
seorang kepala bajak ketika perahu itu mendarat di pulau.
Belasan orang anak buah yang kelihatannya kasar-kasar
tertawa-tawa menyambut kedatangan “kongcu” mereka.
Yangmengepalai pasukan penyambut ini adalah tujuli orang
setengah tua yang pakaiannya aneh sekali. Pakaian mereka
itu menyolok sekali warnanya, barbeda-beda pula. Ada pula
yang seluruhnya merah, ada yang putih, hitam, hijau, dan
coklat ! Tujuh orang dengau tujuh macam warna pakaian,
25
benar-benar seperti badut-badut hendak main di panggung.
Diam-diam Ceng Ceng yang berwatak riang itu menahan geli
hatinya agar jangan me ledak ketawanya. Dia sama sekali
tIdak tahu bahwa tujuh orang badut itu bukan orang orang
biasa, melainkan jago-jago yang belum lama ini ditarik oleh
Liok Kong Ji ke Pulau Pek-houw-to. Mereka itulah Lamthian-
ebit ong (Tujuh Raja Dunia Selatan ) yang amat
terkenal dengan barisan Chit-seng- tin (Barsan Bintang)
mereka !
“Ha ha ha, kionghi (selamat) Liok-kongcu! Isterimu benarbenar
cantik jelita dan langkahnya ringan seperti seekor
burung, tentu memiliki ginkang yang luar biasa.” Terdengar
si baju merah berkata sambil bergelak. Yang lain juga ikut
tertawa dan mata mereka memandang kepada Ceng Ceng
penuh selidik sepeti mata penaksir-penaksir yang kurang
ajar.
Bukan main mendongkol dan marahnya hati Ceng Ceng
mendengar kata-kata dan melihat sikap yang kurang ajar
itu. Akan tetapi keheranan dan kekagetannya mendengar si
baju merah menyebut Liok-kongcu kepada suaminya,
mengatasi kemarahannya dan ia menoleh memandang
kepada suaminya dengan muka berubah.
Akan tetapi sambil tersenyumlebar Cui Kong
menggandeng tangannya dan memberi isyarat untuk
menghadap dua orang yang mendatangi dengan langkah
lebar. Mau tak mau Ceng Ceng memandang ke arah mereka.
Ia melihat seorang tosu buntung sebelah kaki dan seorang
setengah tua bertubuh jangkung kurus dan berpakaian
mewah, pada muka dan dandanannya menandakan bahwa
dia seorang pesolek mata keranjang. Dua orang sedang
memandang kepadanya dengan penuh selidik pula.
"Niocu, itulah ayah angkatku dan yang seorang adalah
guruku," kata Cui Kong perlahan. "Lekas memberi hormat
kepada me reka." Sedangkan dia sendiri sudah berkata
sambil memberi hormat, "Ayah dan suhu."
26
Akan tetapi Ceng Ceng berdiri seperti patung, mukanya
pucat sekali, direnggutnya tangannya terlepas dari
gandengan suaminya dan ia memandang kepada Liok Kong
Ji sambil bertanya, suaranya gemetar,
“Siapa ..... siapa kau .........?”
"Cui Kong, mengapa isterimu begini tidak tahu aturan?"
Kong Ji me cela sambil menge rutkan kening.
Cui Kong membujuk isterinya, "Niocu, ayah adalah Liok
Kong Ji yang dikenal sebagai Thran.te Bu tek Taihiap ! Dan
suhu adalah Lo-thian Tung Cuu Gi Tosu. Hayo lekas beri
hormat !”
Penjelasan ini memasuki telinga Ceng Ceng seperti
geledek menyambar. Ia menoleh kepada Cui Kong, matanya
terbelalak lebar. “Kau........ kau........... !"
“Tiba-tiba Ceng Ceng menyerang dengan ganasnya ! Cui
Kong mengelak dan berkata, suaranya mengandung
penyesalan besar, "Niocu, jangan begitu.......... kau kan
isteriku ...... .?"
Akan tetapi Ceng Ceag tidak perduli, melihat suaminya
melompat jauh, ia membalik dan kini menyerang Liok Kong
Ji yang berada paling dekat ! Bahkan ia memukul sambil
mencabut pedangnya, laIn menyerang kalang-kabut dengan
nekat sekali.
"Niocu. jangan.... ah, isteriku kau sabarlah …….!” Cui
Kong membujuk, suaranya betul betul bersedih. Untuk
pertama kali dalam hidupnya Cui Kong jatuh cinta dan ia
betul-betul merasa berduka melihat isterinya memusuhi dia
dan ayahnya.
Liok Kong Ji tentu saja merasa malu dan rendah kalau
harus melawan wanita muda yang menjadi mantunya. ia
melompat mundur dan berkata kepada Lam thiab chit ong,
"Chit-ong, kalian cobalah anak mantu ini. Dia perlu dibuka
27
matanya, bahwa kita tak boleh dipandang rendah, akan
tetapi jangan ganggu dial"
Sambil tertawa-tawa tujuh orang yang berpakaian tujuh
macam warna itu sagera bergerak maju mengurung Ceng
Ceng dalambentuk sena (Bintang Purnama). Ceng Ceng
semenjak kecilnya memang seorang yang berjiwa gagah dan
tidak mengenal takut, maka me lihat tujuh orang aneh telah
mengepungnya, ia lalu memutar pedangnya dan menyetang
dengan jurus jurus yang paling berbahaya. Ia memang
cerdas dan maklum bahwa menghadapi sebuah (barisan), ia
harus mencoba untuk membobolkan satu bagian agar dapat
keluar dari kepungan. Oleh karena itu ia sengaja menyerang
baju marah untuk membuat Iawan ini terluka atau keluar
dari barisan. Akain tetaspi, ia tidak s angka bahwu tin itu
memang luar biasa sekali. Begitu melihat Ceng Ceng
mendesak si baju merah, tin berubah dengan cara yang tak
disangka-sangka, dan kini menjadi bentuk Bi -se (Bintang
Buntut)! Si baju merah sudah hilang dan yang
menghadapinya kini si baju hijau. Juga tujuh orang itu
sudah melolos senjata mereka, yaitu sebatang cambuk
panjang dengan warna yang berbeda dari pakaian mereka. Si
baju marah memegang cambuk hijau, si baju hijau
memegaug cambuk hitam, dan begitu seterusnya. Benarbenar
warna yang belang-bentong itu membuat orang yang
terkepung menjadi silau dan bingung. Berkelebatnya
cambuk dan pakaian mendatangkan warna-warna yang
bertentangan dan amat sukar bagi Ceng Ceng untuk
mengetahui lawan seorang demi seorang dan akhirnya
terpaksa ia menghapi tujuh orang itu sekaligus. Tentu saja
ia payah baginya. Menghadapi seorang-seorang saja kiranya
baru berimbang, sekarang menghadapi tujuh orang
sekaligus yang bergerak menurut pergerakan bintang, aneh
dan kadang-kadang ajaib perubahan perubahannya.
Ceng Ceng betul-betul dipermainkan. Sejurus
menghadapi baju merah. jurus berikutnya sudah bertemu
baju hitam. Menangkis cambuk hijau. di lain saat cambuk
28
kuning sudah menyambar ! Pandang matanya sudah
berkunang-kunang dan belum lewat tiga puluh jurus
tenaganya sudah habis. Akhirnya Ceng Ceng menjadi makin
pening ketika barisan itu tiba-tiba berpular-putar, membuat
warna aneka macam berputaran di depan matanya, Sambil
mengeluh yang merupakan isak dari hancurnya hati dan
perasaannya, pedang Ceng Ceng terlepas dan ia sendiri jatuh
mendeprok tak bertenaga lagi, mendekam di dalam lingkaran
dan menangis !
“Cukup !! " Cui Kong be rseru dan melompat menghampiri
isterinya. Sambil tertawa-tawa Lam thian-chit-ong
mengundurkan diri dengan bangga. Untuk kesekian kalinya
Chit seng-tin mereka mengalahkan lawan dengan amat
mudah.
Cui Kong memeluk lalu memondong tubuh isterinya yang
sudah lemah tak bertenaga dibawanya lari memasuki pulau
menuju pondoknya. Ceng Cengmasih terus menangis sedih.
Setelah oleh suaminya di turunkan di atas pembaringan
dalam pondok Cui Kong yang indah dan mewah, baru Ceng
Ceng mengeluarkan suara, mengeluh dan menangis.
"Kau ...... kau orang jabat.......... kiranya kau anak
manusia iblis she Liok itu.......... aku lebih baik aku mati
saja…..”
Cui Kong memeluk isterinya dan membujuk dengan katakata
menghibur.
"Niocu, isteriku sayang, jangan kau terbuai nafsu. Dengar
dulu kata kataku, kau salah sangka.......... “
Ceng Ceng membuka matanya, memandang benci dan air
matanya bercucuran.
“Salah sangka apa lagi. Sudah lama mendengar ayah
menyebut-nyebut adanya manus ia iblis Liok Kong Ji dan
kaki tanganya. Bahkan kitabku yang mancuri juga kaki
tangannya Liok Kong Ji. Kemudian kau datang.... kau
membohong, kau bilang berhasil rampas kitab, tidak
29
tahunya.......... ya Thian Yang Maha Kuasa.......... tak
tahunya kau.......... malah anaknya........!” Kembali Ceng
Ceng menangis.
“Ceng Ceng isteriku. Dengarlah dulu. Tak kusangkal
bahwa aku sekarang menjadi putera Liok Kong Ji, akan
tetapi tadinya aku benar orang she Kwee. Aku hanya anak
angkatnya apa kaukira aku dengan mudah dapat mencuri
kitab itu dari tangannya kalau dia tidak mengambil anak
padaku. Dia suka kepadaku dan mengaku anak, kaulihat
dia seorang gagah perkas a dan seorang ayah amat baik.”
“Ayah bilang Liok Kong Ji adalah penjahat yang paling
keji di kolong langit !" Ceng Ceng membantah.
“Memang banyak orang yang salah sangka. Gak-hu juga
belum melihat sendiri maka menyangka demikian. Orang
baik se lalu dikabarkan buruk, itu sudah jamak. Kau lihat
sendiri, begitu bertemu dia mengaku anak padaku, dan
memberikan kitab supaya aku dapat be rjodoh dengan kau.
Sekarang kau datang-datang menghina dan menyerangnya,
namun ia tidak mau turun tangan sendiri, hanya menyuruh
Lam-thian-chit ong melayanimu, itupun dengan pesan
supaya kau tidak diganggunya. Bukankah semua itu
menunjukkan bahwa ayah seorang yang berhati baik ?"
Biarpun puteri seorang pendekar sakti, namun Ceng
Ceng sebetulnya masih anak-anak, masih hijau. Mana bisa
ia dapat menghadapi Cui Kong yang cerdik dan licin?
Bujukan-bujukan suaminya ini mulai termakan olehnya dan
membuat ia agak terhibur, berkurang kecewa dan sesalnya.
“Akan tetapi mengapa kau mengajakku ke sini ? Ini
tempat apa dan apakah ayah angkatmu itu menjadi bajak
laut ?” tanyanya dengan mata merah dan pipinya masih
basah.
Sambil tersenyum Cui Kong mengusap isterinya,
membersihkan air mata dan mengelus-elus rambut yang
kusut "Sama sekali tidak, isteriku. Ayah angkatku bukan
30
penjahat, juga bukan bajak atau perampok. Kau tahu,
banyak sekali orang jahat di dunia yang memusuhi ayahku.
Oleb karena sudah bosan dengan segala macam
pertempuran, lalu pindah ke pulau ini dan tidak mau
memusingkan diri dengan urusan dunia lagi, dan menikmati
kebahagiaan di tempat sunyi ini."
Memang sesungguhnya dalam pandangan Cui Kong,
orang reperti Liok Kong Ji itu sama kali tidak jahat.
Bagaimana dia akan menganggap jahat kalau Kong Ji
bersikap baik terhadapnya ? Pula, sudah lajim di dunia ini
bahwa tidak ada manusia yang dapat melihat keburukannya
sendiri. Jangankan melihat keburukan diri sendiri, baru
melihat dan mencari kesalahan sendiri saja sudah sama
sukarnya dengan jalan menuju sorga. Kalau semua orang di
dunia ini dapat melihat dan mengetahui kejahatan dan
keburukan sendiri, kiranya dunia takkan sekacau ini !
Melihat sikap suaminya yang sungguh sungguh dan
mendengar kata-kata manis dari Cui Kong yang memang
pandai bicara, Ceng Ceng terpengaruh dan terhibur.
Memangmasih ada ganjalan kecewa dalam hatinya bahwa ia
harus tinggal di satu pulau dengan "ayah mertua" seperti
Liok Kong Ji yang amat dibenci ayahnya, akan tetapi asal
Cui Kong orang baik-baik, yang lain ia tidak perduli.
Akan tetapi setelah beberapa bulan tinggal di situ, hati
Ceng Ceng menjadi makin hancur menyaksikan hal-hal yang
berlawanan dengan perasaan hati dan nuraninya. Apa lagi
penculikan-penculikan terhadap gadis-gadis pantai, benarbenar
membuat ia marah dan mendongkol sekali. Akan
tetapi apa dayanya? Suaminya sendiri kelihatan amat takut
terhadap Liok Kong Ji dan iapun tahu bahwa dia dan
suaminya sama sekali bukan lawan mereka itu.
Penghibur satu satunya bagi Ceng Ceng adalah Leng
Leng, bocah perempuan yang tinggal di situ. Apa lagi ketika
ia tahu bahwa Leng Leng adalah puteri Wan Sin Hong. Ia
makin sayang kepada anak itu dan boleh dibilang semenjak
31
Ceng Ceng berada di situ, Leng Leng selalu berada di
sampingnya. Karena tahu bahwa ini merupakan hiburan
besar bagi si anak mantu, Liok Kong Ji membiarkannya saja.
Andaikata Ceng Ceng hendak memberontak, nyonya muda
itu bisa apakah? Hiburan ke dua bagi Ceng Ceng adalah
betapapun juga, suaminya amat mencinta dan menuruti
segala kehendaknya. Benar-benar terhadap Ceng Ceng, Cui
Kong selalu bersikap halus dan lemah lembut, cintanya
terhadap isteri ini sungguh-sungguh, tidak seperti terhadap
wanita yang lain yang sudah-sudah.
Beberapa bulan kemudian, selagi Ceng Ceng bermainmain
dengan Leng Leng di pantai utara yang sunyi,
mengumpulkan bunga-bunga liar yang amat banyak karena
waktu itu musim bunga telah tiba, terdengar Leng Leng
berseru girang.
"Burung bagus...... burung bagus........!”
Ceng Ceng yang sedang duduk melamun melihat bocah
itu bermain-main sambil memetik kembang, tersadar dari
lamunannya dan sekarang, ia melihat seekor burung besar
terbang di atasnya.
"Tiauw-ko (kakak burung rajawali)! !" serunya kaget,
heran dan girang.
Suaranya terdengar oleh burung itu dan sekaligus
binatang ini mengenal suara majikan mudanya. Dengan
gerakan indah sekali menukik lalu melayang turun.
“Burung bagus.......... bibi, tangkap dia, berikan
padaku.......... !" kata Leng Leng sambil berlari rnendekat.
Ceng Ceng tersenyum dan kagum melihat keberanian
bocah itu, tidak seperti bocah perempuan lain yang biasanya
takut melihat burung besar.
"Kau tidak takut, Leng-ji ?”
32
"Tidak, burung bagus!" kata Leng Leng yang mendekati
dan mengelus-elus bulu di dekat kaki burung itu. Ia kalah
tinggi, hanya bisa mengelus bulu di dekat paha.
“Tiauw-ko. ...... bagaimana kau bisa ke sini? Mana ayah
dan ibu........ ? tanya Ceng Ceng sambil memeluk leber
burung itu, lupa bahwa tentu saja binatang itu tak dapat
bicara. Pek-thouw-tiauw itu hanya menggerak-gerakkan
kepalanya yang putih dan mengeluarkan bunyi lirih, kadangkadang
melirik ke arah Leng Leng karena belum pernah ia
mengenal bocah ini.
Tiba-tiba Ceng Ceng mendapat pikiran bagus. Kalau pekthouw-
tiauw berada di situ, tentu ayah ibunya juga tidak
jauh. Cepat ia memetik sehelai daun yang lebar, mengguratgurat
dengan kukunya menulis beberapa huruf. Tulisan itu
hanya berbunyi; "AKU BERADA DI PEK-HOUW T0."
"Tiauw-ko, bawa daun ini pada ayah ibu. Mengerti ?
Berangkat lah !” ia menepuk punggung burung itu yang
segera menyambar dan mementang sayap terbang cepat
sekali.
"Bibi, burungnya mengapa terbang pergi…! teriak Leng
Leng.
“Nanti dia kembali lagi, Leng-ji.”
Dugaan Ceng Ceng memang tepat sekali.
Burung pek-thouw-tiouw yang dua ekor milik Lie Kong
itu memang tak pernah jauh dari majikannya. Pada saat itu.
Lie Kong dan Souw Cui Eng isterinya tengah berlayar dengan
sebuah perahu kecil. Berhari-hari mereka lakukan
penyelidikan dengan perahu ini untuk mencari Pek-houw-to.
Suami isteri pendekar ini mempunyai hubungan luas di
kalangan kang-ouw. Mereka sendiri adalah pendekarpendekar
pantai timur dan semua orang gagah, dari
kalangan kang-ouw maupun liok-lim hampir semua kenal
mereka. Ketika mereka mencari puteri me reka yang minggat
33
di daerah selatan, mereka bertemu dengan orang-orang liok
lim yang langsung memberi selamat kepada mereka yang
sudah berbesan dengan Thian-te Bu tek Tai-hin Liok Kong
Ji. Malah Seng-jiu-sin touw Si Malaikat Copet, seorang
maling besar bernama Tang Liok, dengan wajah berseri
memberi selamat sambil menegur, “Tai-hiap mengawinkan
puterinya mengapa lupa kepada Seng-jiu-sin touw?"
Hampir saja Lie Kong menampar muka orang ini kalau
saja ia tidak menyabarkan diri, “Kalian ini bicara apa?
Jangan main-main. Siapa yang berbesan dengan Liok Kong
Ji?"
Orang-orang liok-lim itu saling pandang dengan heran.
"Taihiap, bukankah puterimu berjodoh dengan Liok Cui
Kong putera angkat Liok-taihiap? Aku mel ihat sendiri
puterimu sekarang berada di Pek-hauw-to bersama suami
dan mertuanya."
Dapat dibayangkan betapa kagetnya hati suami isteri itu
mendengar keterangan ini. Tanpa memandang waktu lagi
mereka lalu pergi ke pantai dan dengan sebuah perahu
mereka mencari Pulau Pek-houw to. Karena marah dan malu
mereka enggan bertanya kepada orang-orang liok-lim ini dan
berusaha mencari sendiri pulau itu. Jarang suami isteri ini
bicara, namun dari air mata yang selalu membasahi pipi
Souw Cui Eng dan sinar mata suram dan kadang-kadang
marah dari Lie Kong, dapat dibayangkan bahwa dua orang
ini menderita kesedihan dan kemarahan besar. Mereka sadar
sekarang bahwa mereka telah dipermainkan dan ditipu oleh
pemuda yang sekarang menjadi suami Ceng Ceng itu.
“Aku akan membunuhnya ...... “ berkali-kali Lie Kong
berkata perlahan.
Isterinya bergidik mendengar suara yang mengandung
ancaman pasti ini,
“Akan tetapi dia anak kita .....”
34
“Lebih baik Ceng Ceng tak bersuami atau mati dari pada
menjadi menantu Liok Kong Ji manusia iblis!”
Souw Cut Eng tak berani membantah lagi, hanya sering
kali menangisi nasib putri tunggalnya. Juga ia marasa
menyesal mengapa dulu tidak sewaspada suaminya yang
selalu menaruh hati curiga kepada pemuda tampan itu.
Memang dalam menilai seorang pria, wanita kurang waspada
dan hanya se orang laki-laki pula yang dapat menge tahui
sifat baik buat seorang calon mantu laki-laki.
Burung.burung Pek-Inouw-tiauw peliharan Lie Kong
adalah burung yang ce rdik. Dalam mencari Pulau Pek-houw
to, Lie Kong melepas burung jantannya dan berkata, "Tiauwji,
te rbanglah dan mencari Ceng Ceng !”
Pek-thouw-tiauw tentu saja tidak bisa bicara akan tetapi
burung ini sudah sering kali mendengar perintah Lie Kong.
Kini mendengar disebut nama Ceng Ceng yang dikenal baik,
agaknya ia tahu bahwa ia harus mencari majikan mudanya
itu, maka terbanglah ia tiggi di udara mengelilingi kepulauan
yang berkelompok di deerah itu. Melihat sebuah pulau yang
didiami manusia dan ada rumah-rumahnya, ia melayang
turun dan terbang rendah di atas pulau sampai akhirnya ia
terlihat oleh Leng Leng dan Ceng Ceng.
Dengan cepat sekali burung rajawali itu terbang tinggi
kembali ke perahu majikannya dan menukik turun. Sambil
mengeluarkan bunyi kegirangan ia melepaskan daun di
depan kaki Lie Kong dan Souw Cui Eng yang sudah
memburu keluar.
Lie Kong menyambar daun itu dan membaca. Wajahnya
be rsinar girang se telah membaca huruf-huruf “AKU BERADA
DI PEK-H0UW TO” itu.
"Dia benar berada di sana!” katanya girang dan juga
gemas. Tadinya ia masih setengah mengharapkan bahwa
keterangan orang-orang liok-lim itu keliru. Kini tak bisa
salah lagi, Ceng Ceng benar benar telah menikab dengan
35
putera angkat Liok Kong Ji. Tulisan di atas daun itu benar
tulisan anaknya. Souw Cui Eng tak dapat berkata apa-apa,
mukanya pucat.
"Tiauw-ji, antar kami ke tempat Ceng Ceng !”
Burung itu lalu terbang diikuti burung betina, Lie Kong
memasang layar mengikuti kemana terbangnya kedua ekor
burungnya. Tak lama kemudian ia sudah minggirkan
perahunya di daratan Pulau Pek-houw-to ! Dengan penuh
perasaan marah suami isteri ini melompat ke darat dan
berlari mengikuti arah thouw-tiauw terbang.
Kedatangan burung rajawali yang besar sudah terlihat
oleh Liok Kong Ji.
“Suruh isterimu dan Leng Leng berdiam dalam rumah
saja dan mari kita menyambut mereka,” kata Liok Kong Ji
tenang-tenang saja. “Sedapat mungkin kita bicara damai dan
menarik mereka. Kalau mereka sayang anak tentu mereka
suka berdamai."
Pek- thouw-tiauw-ong Lie Kong suami isteri maklum
bahwa memasuki pulau itu berarti menghadapi bahaya
basar karena me reka sudah mengenal sifat jahat dan curang
dari orang macam Liok Kong Ji. Namun dengan amat tenang
Lie Kong dan isterinya berjalan mengikuti terbangnya
rajawal i di atas.
Bahkan ketika tiba tiba muncul Liok Kong Ji dengan Cui
Kong di sebelah kiri dan Cun Gi Tosu di sebelah kanan,
suami isteri pendekar itu masih nampak tenang saja, terus
melangkah maju dengan tindakan kaki tenang. Melihat tiga
orang ini muncul diikuti oleh tujuh orang di sebelah
belakang dan be lasan orang lain merupakan pasukan di
bagian paling be lakang, dua ekor burung pek-thouw-tiauw
terbang berputaran di atas, nampaknya bingung dan gelisah.
Dengan air muka ramah tamah dan tersenyum-senyum,
Liok Kong Ji melangkah maju menyambut kedatangan suami
isteri itu dengan mengangkat kedua tangan memberi hormat.
36
"Selamat datang saudara-saudara besan yang gagah
perkasa ! Benar-benar merupakan kehormatan besar sekali
bahwa jiwi sudi mengunjungi pulauku yang buruk. Memang
setelah antara kita ada ikatan kekeluargaan, habungan perlu
dipererat. Silakan beristirahat di pondokku yang butut."
Lie Kong tetap tenang, namun sepasang matanya
memancarkan sinar kilat, yang menyambar ke arah Cui
Kong dan membuat orang ini berdebar jantungnya. Melihat
sikap tenang dan dingin dari mertuanya ini, diam-diam ia
gentar juga.
“Liok Kong Ji, biarpun jalan hidup antara kita jauh
berbeda, akan tetapi tidak pernah ada persoalan antara kita
sampai kau menyuruh orang mencuri kitab dari tangan
anakku kemudian…….” Mata Lie Kong melirik ke arah Cui
Kong penuh kebencian, "kemudian kau membiarkan
anakmu menipu kami, malah kau membantunya. Liok Kong
Ji, setelah dosa dan penghinaan yang kaulakukan atas diri
kami, masihkah kau harus berpura-pura berramah-tamah
dan sopan-santun ?"
Kata-kata yang keluar dari mulut Lie Kong tetap
dilakukan dengan tenang, akan tetapi seluruh perasaan dan
urat di tubuh pendekar ini sudah siap untuk segera turun
tangan.
Juga Liok Kong Ji bersikap tenang begitu pula Cun Gi
Tosu. Hanya Cui Kong yang tampak makin gelisah saja.
Kong Ji tersenyummendengar ucapan Lie Kong tadi, lalu
menjawab.
"Pek-thouw-tiauw-ong Lie Kong, dua urusan yang
kausebut-sebut itu adalah urusan anak-anak, sama sekali
tidak ada sangkut-paut dengan hubungan antara kau dan
aku. Memang, betul kitab yang kaudapat dari Omei-San itu
pernah diambil oleh puteri angkatku. Maklumlah anak-anak
selalu ingin memiliki barang aneh orang lain, jangankan
anak-anak, bahkan calon kakek-kakek macam kitapun
masih ingin memiliki kitab kitab Omei-san, ha-ha! Akan
37
tetapi harap kaumaafkan dua orang puteri angkatku itu
karena mereka sudah meninggal dunia dalam usia muda.
sayang. Adapun tentang soal ke dua. Bagaimana kau
menganggap itu penghinaan ? Itupun urusan anak-anak
urusan anakmu dan putera angkatku. Sudah lumrah dua
orang muda saling mencinta kita orang orang tua mana bisa
ikut-ikutan. Puterimu suka menjadi isteri pute raku yang
mencintainya. Sekarang mereka sudah menjadi suami isteri
yang hidup bahagia di sini, apa lagi urus annya?”
Sebagai jawaban, tiba-tiba Lie Kong mencabut
pedangnya, diturut oleh isterinya. Dua ekor burung rajawali
kepala putih mengeluarkan bunyi keras menantang ketika
melihat majikan-majikan mereka telah siap dengan pedang
di tangan. Dua ekor burung ini siap-siap membantu Lie
Kong.
“Liok-Kong Ji, tak perlu kau memutar lidah. Siapa sudi
mendengar omongan orang yang terkenal curang dan licik
seperti kau ?” bentak Lie Kong.
"Lie Kong, kau man apakah ?” Liok Kong habis sabarnya
melihat tamu-tamunya mencabut pedang.
"Aku datang untuk mengajak pulang puteri kami dan
menyeret anjing biadab ini!" Dengan pedangnya Lie Kong
menuding ke arah Cui Kong yang menjadi pucat dan orang
muda ini tanpa terasa lagi melangkahkan kaki berdiri di
belakang ayah angkatnya.
"Oho-ho, mudah amat kau bieara !" Liok Kong Ji
mengejek. "Puterimu itu sudah menjadi isteri anakku. Orang
pertama yang berhak adalah Cui Kong, orang kedua adalah
aku sendiri karena aku ayah mertuanya. Dengar jawabanku,
Lie Kong. Ceng Ceng tIdak bisa kaubawa dan tentang
ancamanmu kepada puteraku, hemm, aku sabagai ayahnya
tentu takkan berpeluk tangan kalau kau hendak
mengganggunya."
38
"Bagus! Memang sudah lama aku menahan-nahan
dorongan hati yang hendak memberi hajaran kepada
manusia iblis Liok Kong Ji. Majulah, mari kita bertempur
seribu jurus untuk inenentukan siapa yang lebih unggul.”
Lie Kong menantang.
"Ha-ha, kaukira mudah saja mengadu ilmu kepandaian
dengan aku? Orang yang tidak memiliki kepandaian berarti
mana ada harga untuk bertanding dengan aku atau Cun Gi
Totiang?" Liok Kong Ji memberi isyarat dan majulah Lamthian-
chit-ong. Dengan gerak cepat dan indah mereka telah
membentuk barisan bintang menghadang di depan Lie Kong
dan Souw Cui Eng.
Melihat tujuh orang berpakaian tujuh warna dan bentuk
barisan mereka, Lie Kong tersenyum mengejek. "Eh, kiranya
Lam thian chit-ong sekarang juga sudah menjadi begundal
manusia iblis she Liok !"
Si baju me rah mewakili saudara-saudaranya menjawab,
“Sudah lama kami mendengar nama besar Pek thouw tiauw
ong suami iste ri. Kini bertemu te rnyata yang besar adalah
mulutnya, tidak tahu sampai di mana kepandaiannya atau
tidak sebesar mulutnya, benar-benar amat menggelikaan !”
Enam orang yang lain tertawa mengejek.
Merah muka Lie Kong mendengar hinaan ini. Ia memberi
isyarat kepada iste rinya dan suami isteri ini me langkah maju
berdampingan dengan pedang di tangan, sikap mereka
tenang akan tetapi gagah sekali.
Adapur Lam-thian-chit-ong juga sudah bergerak
membentuk lingkaran barisan bintang mengurung dua orang
lawan itu. Mereka berlaku amat hati-hati dan sudah
mempersiapkan senjata mereka yang lengkap, yaitu di
tangan kiri sebuah pisau pendek dan di tangan kanan
cambuk berwarna yang amat lihai. Mereka mulai bergerak,
berjalan perlahan mengitari dua orang itu. Inilah
pembukaan Chit-san-tin (Barisan Tujuh Bintang) dan
39
gerakan berjalan mengelilingi lawan ini disebut Tujuh
Bintang Mengitari Bulan.
Lie Kong mombisiki isierinya snows ma. berdiri saling
membelakangi, dengan eara ini suami Wert Ira dapat siding
molls. ungi serangan lawan dart belakang.
Melihat kedudukan suami isteri ini yang bersikap tenang
dan masih menanti gerakan barisan yang masih berlarian
mengitari mereka, tujub orang itu mempercepat larinya dan
tiba-tiba si baju merah memberi tanda, cambuknya
menyambar melakukan serangan pertama, disusul oleh
saudara-saudaranya.
Namun Lie Kong dan Souw Cui Eng sudah siap dengan
pedang mereka dan cepat ia menangkis sambil mengerahkan
tenaga. Cambuk yang ditangkis oleh Suuw Cui Eng terpental
saja, akan tetapi yang terkena tangkisan pedang Lie Kong,
merasa telapak tangan mereka sakit dan tergetar ! Tujuh
orang itu masih melanjutkan serangan mereka dengan cara
bergantian sambil bergerak memutar sehingga sepasang
suami isteri merasa ada serangan dari sekeliling me reka juga
cambuk-cambuk yang beraneka warna itu mendatangkan
sinar menyilaukan dan membingungkan.
Namun Lie Kong cepat sekali gerakan pedangnya. Pedang
di tangannya mematahkan se rangan lima orang lawan
sehingga isteri yang tingkat kepandaiannya jauh lebih
rendah dari padanya hanya melayani dua batang dambuk
lawan. Di samping semua serangan ini sinar pedang suami
isteri ini masih mampu melakukan serangan balasan yang
membuat para lawannya terkejut. Mereka bergerak memutar
lebih cepat lagi sehingga Lie Kong maupun isterinya tidak
mampu melakukan desakan pada seorang saja, me lainkan
harus melayani tujuh orang secara bergili ran.
Terpaksa Lie Kong dan Sauw Cui Eng memutar pedang
melindungi diri sehingga pedang mereka berubah menjadi
dua gulung sinar pedang saling melindungi dan merupakan
benteng baja yang amat rapat. Untuk sementara, tujuh
40
orang itu tak dapat mendesak jago pantai timur dengan
isterinya ini.
Si baju merah memberi tanda lagi dan se gera serangan
dihentikan. Kini mereka berlari memutar dari kiri ke kanan,
demikian cepat gerakan mereka sehingga kelihatan
bayangan indah beraneka warna sambung -menyambung
bagaikan pelangi melingkungi dua orang itu. Ini masih
disambung dengan cambuk tujuh warna yang digerakgerakkan
dalam berlari sehingga pemandangan itu benarbenar
indah menakjubkan.
Untuk sejenak Lie Kong dan isterinya tidak tahu apa
makaudnya tujuh orang lawan yang hanya berlari -larian ini,
akan tetapi lama kelamaan mata mereka menjadi silau dan
kepala mereka pening. Memang maksud tujuh orang itu
adalah untuk membikin dua orang lawannya pening. Siapa
yang berada di dalam lingkungan "pelangi” ini mau tidak
mau harus menggunakan mata memandang penuh
pe rhatian agar jangan diserang secara gelap oleh lawan.
Karenanya mata menjadi pedas dan kepala menjadi
pening menghadapi aneka warna yang bergerak memutari
secara cepat itu. Untuk mengalihkan pandangan mata agar
jangan silau adalah tak mungkin karena ini berarti
membuka bahaya bagi mereka sendiri.
Lie Kong adalah seorang pendekar yang banyak
pengalamannya bertempur. Biarpun belum pernah ia
menghadapi barisan sehebat ini sebagai lawan, namun
taktik pertempurannya sudah amat masak dan sebentar saja
memutar otak ia dapat menemukan cara untuk melawan
aksi musuh ini.
“Ikuti aku lari !” katanya kepada isterinya yang sudah
mulai pedas matanya dan tiba-tiba Lie Kong juga membuat
gerakan berlari memutar, tidak dari kiri ke kanan melainkan
sebaliknya, dari kanan ke kiri! Souw Cui Eng dengan taat
mengikuti suaminya yang ia percaya penuh, tetap waspada
dan siap dengan pedangnya.
41
Pemandangan menjadi makin indah dan aneh. Sekarang
ada dua lingkaran yang be rgerak berlawanan, yang luar
dengan aneka macam berputar ke kanan, yang sebelah
dalam be rgerak dari kanan ke kiri Dengan pergerakan ini Lie
Kong dapat membuyarkan pemandangan yang menyilaukan
mata dan pedangnya mulai menyambar-nyamber menyerang
apabila terdapat kesempatan dalam berlari berpapasan
dengan lawan-lawan itu.
Gerakan tujuh orang itu menjadi kacau dan si baju
merah kembali mengeluarkan aba-aba, se gera mereka
berhenti berlari dan dengan teratur sekali barisan itu
berubah menjadi baris an Liong-sang (Bintang Naga) Si baju
merah menjadi kepala, baju hitam dan putih di kanan
kirinya manjadi sepas ang cakar, baju hijau menjadi perut,
baju kuning dan baju biru menjadi kaki belakang.
sedangkan baju coklat menjadi buntut. Bergeraklah barisan
Bintang Naga ini menyerang, cambuk dan pisau bergerak
dengan teratur sekali.
Lie Kong tertawa mengejek. Bersama isterinya ia
menyambut serangan ini dan dalam gebrakan pertama saja
hampir-kampir pundak si baju putih terbabat pedang Lie
Kong. Akan tetapi tiba-tiba barisan itu bergerak dan tahutahu
“naga" ini sudah menggerakkan buntutnya secara
melingkar sehingga dua kaki be lakang dan buntut yang
terdiri dari tiga orang itu secara tidak terduga telah
menyerang dari belakang Lie Kong dan isterinya. Kembali
suami isteri ini terkurung dan kini kurungan tidak seperti
tadi, melainkan berubah-ubah. Kedang-kadang bagian
kepala Bintang Naga itu yang menye rang dan buntutnya
hanya melindungi kepala. dan demikian sebaliknya. Perut
naga atau si baju hijau itu sewaktu-waktu melakukan
sarangan mendadak dengan menyambitkan pisau pendek
sebagai senjata rahsia, dan agaknya mereka ini memang
mempunyai bekal banyak sekali pilau-pisau pendek.
42
Lebih dari dua puluh jurus Lie Kong dan isterinya
te rdesak dan mereka ini hanya mampu mempertahankan
diri, karena jika sewaktu-waktu mereka hendak melakukan
serangan balasan, tentu muncul serangan yang tak terdugaduga
dari fihak lawan. Baiknya ilmu pedang Lie Kong
memang hebat luar biasa, maka biarpun amat terdesak, ia
dan isterinya masih mampu membuat benteng pertahanan
yang tak mudah dibobolkan.
(Bersambung jilid ke XXIII)
1
(PEK LUI ENG)
Karya: Asmaraman S. Kho
Ping Hoo Scan djvu :
syauqy_arr
Convert & edit : MCH
Jilid XXIII
“KAUJAGA buntutnya, biar aku kepalanya !” tiba-tiba Lie
Kong yang sudah mendapat akal lagi berseru kenapa
isterinya. Kini mereka melawan dengan teratur. Keadaan
mereka berimbang karena kalau Souw Cui Eng agak
te rdesak oleh serangan bagian buntut yang terdiri dari tiga
orang itu adalah Lie Kong dapat menindih bagian kepala dan
perutnya. Dalam jurus ke tujuh, terdengar suara nyaring
dan dua pisau pendek terpental, lepas dari tangan si baju
merah dan baju hitam !
Si baju merah menge luarkan aba-aba sambil me lompat
ke belakang dan meringis, karena telapak tangan yang
memegang pisau tadi sakit. Secepat kilat barisan Liong-sang
itu telah berubah lagi, kini berbentuk Bintang Sisir,
merupakan setengah Iingkaran yang mengurung dari depan.
Serentak tujuh orang mengirim se rangan dengan pisau
pendek yang disambitkan ke arah suami isteri perkasa itu !
Lie Kong dan Cui Eng tidak menjadi gentar. Putaran
pedang mereka meruntuhkan semua pisau pendek yang
menyambar seakan-akan burung-burung kecil terpukul
kitiran angin besar. Akan tetapi segera barisan bergerak
2
maju, lima orang menyerang dengan cambuk. yang dua tetap
mengirims ambitan pisau pendek. Dua orang penyambit ini
berganti-ganti, kedudukan mereka amat teratur dan
menyulitkan kedudukan lawan.
Diam-diam Lie Kong memuji. Memang Lam-thian-chitong
telah menciptakan Chit- seng-tin yang luar biasa
kuatnya. Tahu bahwa kalau dilanjutkan, fihaknya, terutama
isterinya akan menghadapi bahaya, Lie Kong cepat
mengeluarkan suara bersuit panjang.
Inilah tanda rahasia bagi dua ekor pek- thouw-tiauw
untuk bergerak maju. Dua ekor burung yang amat setia itu
tadinya hanya terbang berputarao di atas saja, bingung
melihat cara Chit-seng-tin bergerak, tidak tahu harus
berbuat apa, lagi pula, belum ada tanda dari majikan mereka
untuk bergerak maka mereka hanya cecowetan dan
beterbangan di atas, tidak berani sembarangan bergerak.
Kinimendengar suitan Lie Kong, dua ekor burung rajawali
raksasa itu mengeluarkan pekik menantang dan dua tubuh
yang besar ini menukik dan menyambar ke bawah dengan
kecepatan luar biasa.
Begitu dua ekor rajawali ini menggebrak dengan sayap
yang besar, kuat dan paruh yang mengerikan, terdengar
teriakan-teriakan kaget. Dua orang anggauta Chit -seng-tin
telah kehilangan cambuknya, terampas oleh dua ekor
burung itu ! Kedudukan barisan menjadi kacau-balau dan
rusak. Lie Kong tidak menyia-nyiakan waktu baik ini,
pedangnya bekerja cepat sekali dan si baju putih berteriak
kesakitan, pundaknya tergores pedang dan cambuknya
terampas. Juga si baju coklat yang kurang hati-hati saking
kaget melihat datangnya dua ekor rajawali ini, terluka
lengannya dan cambuknyn juga terlepas dari pegangan
ketika Souw Cui Eag menyerangnya dengan hebat.
Sudah dapat diperhitungkan bahwa sebentar lagi tentu
tujuh orang Lam-thian-chit-ong itu akan menderita
kekalahan mutlak karena mereka kini sudah kacau-balau
3
bergerakmelindungi tubuhnya sendiri sendiri, tidak
merupakan barisan teratur lagi!
Kong Ji melihat hal ini dengan hati khawatir. Tujuh
orang itu merupakan pembantu-pembantunya yang boleh
diandalkan. Kalau sekarang dibiarkan tewas oleh Lie Kong,
ia yang akan merasa rugi sekali. Ia memberi isyarat kepada
Cun Gi Tosu dan Cui Kong kemudian ia sendiri meloncat
maju dan membentak,
"Orang: she Lie. jangan menjual lagak di sini !" Kong Ji
merendahkan diri hampir jongkok, mengumpulkan tenaga
sambil menanti datangnya dua ekor pek thouw tiauw yang
menyambar lagi. Melihat sikap Kong Ji itu, Lie Kong yang
be rmata awas dapat duga niat musuhnya ini, akan tetapi
sendiri sedang menghadapi se rangan Cun Gi Tosu sehingga
ia hanya bisa berseru,
"Tiauw-ji, jangan dekat !”
Akan tetapi terlambat. Sepasang burung sudah
menyambar turun. Burung-burung ini se tia sekali dan
mereka mulai mengamuk membela majikan mereka, tidak
tahu bahwa Kong Ji sudab siap mengumpulkan tenaga
lweekang. Ketika sepasang burung ini sudah menyambar
dekat,. Kong Ji memukulkan kedua lengannya dengan
ge rakan Tin-san-kang yang luar biasa hebatnya.
"Blekk !” Tubuh dua ekor burung itu terpental ke atas,
bulu-bulu mereka berhamburan dan dua ekor binatang itu
terbanting ke bawah dalam keadaan tak bernyawa lagi.
Mereka telah menjedi korban pukulan Tin-san-kang yang
dahsyat dan semua isi perut telah hancur lebur oleh
pukulan ini !
"Liok Kong Ji manusia jahanaml" Lie Kong berseru keras
sekali melihat dua ekor binatang kesayangannya tewas.
Pedangnya diputar cepat dalam usahanya hendak
menggempur Kong Ji, akan tetapi tongkat kakek buntung itu
amat kuatnya menghadang dan menyerangnya. Ketika dua
4
buah senjata bertemu, kedua tokoh ini terdorong ke
belakang, tanda bahwa tingkat tenaga lweekang mereka
memang tidak jauh selisihnya. Lie Kong terkejut, tidak
mengira bahwa kakek buntung ini demikian lihai, maka ia
pus atkan perhatiannya dan menghadapi Cun Gi Tosu.
Segera pertempuran seru terjadi, di mana fihak Lie Kong dan
isterinya terdesak hebat karena tujuh orang Lam-thian-chit
ong dan Cui Kong juga sudah membantu.
"Manusia iblis, kau harus mampus!" bentak Souw Cui
Eng. marah sekali melihat “anak mantunya” yang manis itu.
Pedang nyonya ini berubah menjadi sinar bergulung-gulung
menyambar ke arah Cui Kong. Akan tetapi orang muda yang
tak tahu malu ini sudah siap, menangkis dengan senjatanya
yang istimewa, yaitu lengan tangan kering. Tahu bahwa ia
menghadapi lawan tangguh, Cui Kong juga mengeluarkan
huncwe mautnya dan melawan “ibu mertuanya” dengan
senjatanya ini. Karena Cui Kong sibantu oleh sebagian dari
Lam-thian-chit-ong, maka sebentar saja Souw Cul Eng
terdesak hebat.
Pertempuran ini betapapun juga membuat muka Kong Ji
menjadi merah saking jengah dan malu. Ia tahu bahwa
benar-benar akan memalukan sekali apa bila terdengar oleh
orang-orang kang-ouw bahwa dia telah mengeroyok dua
orang besannya. Melihat kenekatan suami isteri yang gagah
perkasra itu, ia menjadi tidak sabar. Pertempuran yang
memalukan fihaknya ini harus segera diselesaikan, pikirnya.
Diam-diam ia menyiapkan Hek-tok ciam di tangannya
Kepandaian istimewa dari Kong Ji memang banyak
macamnya.
Selain ilmu pedangnya yang kini bertambah tinggi saja
setelah ia mempelajari kitab-kitab Omei-san yang dicuri dan
dirampasnya juga ia memiIiki Ilmu Pukulan Tin-san-kang
yang amat lihai seperti yang telah ia perlihatkan ketika ia
sekali pukul menewaskan dua ekor burung pek-thouw-tiauw
tadi. Di samping itu, ia masih memiliki Ilmu Pukulan Hek5
tok ciang (Pukulan Tangan Racun Hitam) dan jarumjarumnya
yang disebut hek-tok-ciam adalah jarum-jarum
beracun yang amat berbahaya.
Tiba-tiba terdengar jeritan menyayat hati dan Ceng Ceng
berlari-lari ke luar dengan rambut riap-riapan. Nyonya muda
ini tadi sedang mencuci rambutnya ketika ia mendengar
berita bahwa di luar terjadi pertempuran hebat. Tempat
pertempuran memang jauh darI tempat tinggalnya. maka ia
segera membawa pedang dan berlari ke luar ketika
mendengar dari penjaga bahwa musuh yang datang
menyerang diikuti oleh dua ekor burung rajawali.
Mukanya pucat sekali, jantungnya hampir meledak dan
rambutnya riap-riapan ketika ia berlari menuju ke arah
pertempuran. Melihat bahwa betul-betul ayah bundanya
yang dikeyok hebat dan hampir kalah itu, ia mengeluarkan
jerit dan menyerbu. Tentu saja ia menyerbu dan menyerang
Cui Kong, suaminya yang sedang bertanding mengeroyok
ibunya.
"Manusia berhati binatang ! Kau berani mengeroyok
ibuku ?" bentak Ceng Ceng, pedangnya dengan hebat
mengamuk dan menyerang Cui Kong.
Cui Kong menjadi kaget dan bingung sekali. Ia memang
betul-betul s ayang kepada isterinya ini, dan menghadapi
serangan Ceng Ceng ia hanya main mundur dan menangkis.
"Niocu, mereka yang mendesak, bukan kami ........” ia
mencoba membela diri.
Sementara itu, ke tika Souw Cui Eng dan Lie Kong
melihat munculnya Ceng Ceng dengan rambut riap riapan
dan melihat puteri mereka itu datang-datang membantu
mereka dan menyerang Cui Kong, hati ayah dan ibu ini
menjadi girang. Bagaimanapun juga pernikahan antara anak
mereka dan Cui Kong adalah suatu kesalahan yang tidak
disengaja oleh Ceng Ceng, karena Cui Kong menggunakan
6
bujukan palsu. Puteri mereka masih tetap seorang gagah
dan baik.
"Ceng-ji.......... dari pada kau menjadi isteri manusia iblis
ini, lebih baik kita melawan mati-matian" teriak Souw Cui
Eng dengan air mata bercucuran saking terharu.
“Ceng-ji, kita telah ditipu oleh jahanam Cui Kong, mari
kita bikin pembalasan !”
teriak ayahnya.
Mendengar ini, hati
Ceng Ceng makin panas.
Ia memang sudah merasa
terjeblos dalam
perangkap yang dipasang
oleh Cui Kong dengan
umpan wajah tampan,
sikap halus dan
kepandaian tinggi.
Tadinya ia masih
terhibur, karena
pandainya Cui Kong
bicara. Akan tetapi
melihat betapa ayah
bundanya dikeroyok, dan
kini melihat sepasang
burung rajawaii tewas
dan mendengar kata-kata ayah bundanya, kemarahan dan
sakit hatinya meluap-luap. Ia menyerang Cui Kong makin
nekat lagi. mengerahkan seluruh tenaga dan kepandaiannya.
"Niocu, jangan..... niocu, jangan......!” Cui Kong mengeluh
sambil mudur terus. Karena ia tidak mambalas dan karena
kemarahan membuat Ceng Ceng menjadi ganas, pundaknya
terserempet ujung pedang dan mengeluarkan darah.
Pada saat itu menyambar sinar-sinar hitam ke arah dada
dan tenggorokan Ceng Ceng. Nyonya muda ini menjerit dan
7
roboh, tewas di saat itu juga. Sebatang Hek-tok ciam
menancap di tenggorokan dan sebatang lagi di dada.
"Niocu ......!” Cui Kong menubruk dan memeluk mayat
isterinya, sedih sekali akan tapi tak dapat marah karena
yang membunuh isterinya adalah Liok Kong Ji. Kong Ji tadi
sudah menyiapkan Hek-tok ciam. Melihat sikap Ceng Ceng,
ia maklum bahwa kalau mantunya itu tidak dibunuh, kelak
tentu se lalu akan menimbulkan keributan.
Setelah menyambitkan Hek-tok ciam ke arah Ceng Cen
iapun mempergunakan kesempatan selagi Lie Kong dan
Souw Cui Eng terkejut me lihat puteri mereka roboh, cepat
Kong Ji membidik dan menyambitkan enam buah Hek-tokciam
dengan kedua tangannya. Dua batang menyambar Cui
Eng, yang empat batang menyambar Lie Kong.
Cut Eng tak dapat mengelak, sebatang Hek tok ciam
menancap di lambungnya. Nyonya ini menjerit, limbung
akan tetapi masih sempat melompat ke dekat Cui Kong dan
menusuk orang muda itu dengan pedangnya. Cui Kong
mendengar sambaran angin mengelak ke samping,
melepaskan tubuh iste rinya. Souw Cui Eng menubruk dan
memeluk mayat puterinya, terguling dan roboh tewas dengan
memeluk Ceng Ceng !
Lie Kong lebih lihai. Dengan pedangnya ia berhasil
menangkis empat batang Jarum Racun Hitam itu, akan
tetapi biarpun berhasil menyelamatkan diri dari ancaman
empat jarum hek-tok-ciam, saat itu tongkat Lo-thian-tung
Sun Gi Tosu sudah menyambar. Ilmu tongkat tosu ini hebat
sekali dan tadipun dengan susah payah Lie Kong dapat
melawan. Sekarang dalam keadaan te rdesak oleh serangan
jarum-jarum berbahaya, ia kurang dapat mempertahankan
diri. Ia masih mencoba untuk mengelak, akan tetapi
sambaran ke dua mengenai kepalanya.
"Tak!" Tongkat terpental, seakan-akan mengenai besi.
Kepala Lie Kong ke lihatan tidak apa-apa, akan tetapi jago
pantai timur ini terhuyung-huyung. Dengan mata melotot ia
8
masih dapat melontarkan pedangnya yang meluncur cepat
seperti pedang terbang ke arah Liok Kong Ji, akan tetapi
sekali mengebutkan lengan baju pedang itu tergulung lengan
baju dan jatuh ke bawah. Lie Kong terhuyung dan roboh tak
berkutik. Napasnya putus setelah melontarkan pedang.
Biarpun kepalanya dari luar tidak kelihatan luka, akan
tetapi sebelah dalamsudah tergoncang hebat pukulan
tongkat yang mengandung tenaga lweekang itu.
Habislah riwayat Pek-thouw-tiauw ong Lie Kong dengan
isteri dan anaknya ! Sungguh amat sayang dan menyedihkan
kematian keluarga ini dibasmi oleh Liok Kong Ji dan kaki
tangannya,
"Bibi.......... ! Bibi .......... ! Siupa yang membunuh
bibi......... ah, bibi jangan.......... tinggalkan Leng Leng..........
!" Bocah perempuan berusia lima tahun itu datang berlarilari
menubruk mayat Ceng Ceng. Akan tetapi sekali tangkap
Liok Kong Ji mencegahnya.
“Jangan pegang !" bentaknya. Ia merasa sebal sekali
melihat bocah yang semenjak kecil dipelihara dengan kasih
sayang itu sekarang berbalik mencurahkan kasih sayang
kepada pihak lawan.
“Bibi…... !" Leng Lung menangis dan me ronta dalam
pegangan Kong Ji. "Manusia jahat mana yang
membunuhmu. ...... .? Akan kupukul kepalanya !”
"Anak setan !" Kong Ji menggerakkan tangan dan tubuh
Leng Leng terlempar sampai empat tombak lebih jatuh
terguling- guling dan anak itu menangis kesakitan.
"Leng Leng, kau pulanglah, jangan turut campur urusan
orang tua !” Can Gi Tosu membentak bocah itu. Akan tetapi
Leng Leng tetap berdiri di situ, memandang ke arah mayat
Ceng Ceng sambil menangis terisak-isak. "Totiang, bocah ini
kelak tentu akan menimbulkan bencana saja. Pohon buruk
lebih baik dicabut selagi masih kecil,” kata Liok Kong Ji,
9
mengerutkan kening. Ia memang jengkel dan sebal melihat
Cui Kong masih menangisi kematian isterinya,
"Taihiap, dia masih kecil . Kalau dididik sepatutnya, kelak
dapat menjunjung tinggi nama kita,” bantah Cun Gi Tosu
yang masih merasa sayang kepada bocah itu. Sebetulnya
kesayangan ini bukan merupakan sebab utama mengapa ia
hendak melindungi Leng Leng. Yang utama sekali, ia diam
diam menganggap Leng-Leng sebagai jimat pelindungnva.
Tosu kaki buntung ini sebetulnya merasa gentar juga
terhadap Sin Hong dan kalau Leng Leng masih berada di
tangannya. Sin Hong tentu takkan berani mengganggunya.
Kalau keadaan mendesak, ia dapat menukarkan nyawanya
dengan anak ini kelak.
Liok Kong Ji merasa tidak baik pada saat seperti itu
meributkan hal bocah ke cil. "Hemm, harus mulai sekarang
dipimpin baik-baik,” katanya, dan dengan langkah lebar ia
menghampiri Leng Leng.
"Leng-ji, jangan menangis. Bibimu itu jahat, hendak
membunuh kita, maka dia harus mati. Kalau tidak dibunuh
dia tentu membunuh kita semua. kaupun akan dibunuhnya
"Tidak, tidak bisa! Bibi tidak jahat!" bantah Leng Leng
dengan berani.
Kong Ji mengerutkan kening. "Bocah tolol ! Kau tidak
menurut kata orang tua? Dia jahat! Hayo kaubilang bibimu
itu jahat!"
“Tidak !" Leng Leng berkukuh sambil menggeleng geleng
kepala dan membanting-bant ing kakinya yang kecil. "Bibi
tidak jahat !”
“Plak” Kong Ji menampar pipi bocah cilik itu sehingga
tubuh Leng Leng tergelimpang. Akan tetapi anak itu merayap
bangun. Pipi kirinya bengkak. Namun tanpa memperdulikan
rasa sakit pada pipinya ia memandang Kong Ji tanpa kenal
takut.
10
"Bilang dia jahat !" bentak Kong Ji makin marah.
“Tidak, tidak! Bibi tidak jahat!” Leng Leng tetap
menggeleng kepala.
"Plakk!" Kembali tubuh kecil itu terpe lanting. Kini agak
sukar Leng Leng me rayap bangun dan pipi kanannya juga
bengkak, kepalanya serasa berputar putar. Anehnya, bocah
ini tadi menangisi kematian Ceng Ceng. Sekarang dipukul
sampai bengkak-bengkak mukanya ia tidak mau menangis,
malah memandang kepada Kong Ji dengan mata bersinar
marah.
Kong Ji sudah melangkah maju, akan tetapi melihat
sepasang mata bocah itu, ia bergidik teringat ia akan
sepasang mata Sin Hong dan menahan tangannya yang
sudah diangkat hendak memukul. Sementara itu Cun Gi
Tosu yang khawatir kalau-kalau Kong Ji membunuh bocah
itu, sudah mendekati dan memondong Leng Leng sambil
be rkata,
"Leng Leng, kau tidak boleh melawan. Harus menurut
kata-kata orang tua." Kemudian kakek buntung ini menjura
kepada Liok Kong Ji.
"Harap Liok-taihiap bersabar. Serahkan saja pendidikan
bocah ini kepada pinto.” Setelah berkata demikian, Cun Gi
Tosu melompat-lompat dengan kakinya yang tinggal sebuah
itu, pergi dari situ.
Juga Kong Ji pulang ke rumahnya dengan hati mengkal,
baiknya selir-selirnya yang cantik-cantik dan muda
menyambut dan menghiburnya dengan sikap dan kata- kata
manis sehingga tak lama kemudian Liok Kong Ji sudah tidur
mendengkur di kamarnya, dipijit dan dikipasi oleh selirselirnya.
Sementara itu, dengan hati sedih Cui Kong mengurus
pemakaman Ceng Ceng dan jenazah Lie Kong dan isterinya
serta bangkai dua ekor burung itu diurus baik-baik dan
11
dimakamkan. Pekerjaan ini dibantu oleh Lam-thian-chit-ong
dan para anak buah.
-oo(mch)oo-
Tanpa mengenal lelah, Tiang Bu melaksanakan
perjalanan ke se latan. Seperti telah diceritakan di bagian
depan, Tiang Bu yang mengobrak-abrikt Ui tiok-lim hanya
be rhasil membasmi Ui tiok-lim dan menewaskan kaki tangan
Liok Kong Ji, akan tetapi Liok Kong Ji sendiri bersama Liok
Cui Kong dapat me larikan diri. Ketika berjumpa dengan Lai
Fei pute ri penebang kayu yang lihai itu menrengur bahwa
ayah Fei Lan terbunuh oleh Lo-thian tung Cun Gi Tosu dan
dari gadis ini ia mendengar bahwa kakek buntung itu pergi
ke laut selatan.
Tentu Kong Ji dan Cui Kong juga ke sana, pikir Tiang Bu.
Kakek buntung itu se orang sahabat baik dan komplotan
Kong Ji kalau dua orang keparat itu hendak bersembunyi,
tentu tempat kakek buntung itu yang paling aman. Oleh
katena sangkaan inilah tanpa mengenal letih Tiang Bu
menuju ke selatan.
Pada suatu senja ia memasuki sebuah dusun. Saatet itu
keadaan sunyi sekali dan yang kelihatan hanya beberapa
orang pe tani sedang pulang memanggul pacul, ada yang
menggiring kerbau. Ket ika pemuda ini tengah berjalan
memasuki dusun, ia melihat be rkelebatnya dua bayangan
orang di sebelah depan. Tahu bahwa dua orang itu tentu
ahli-ahli silat yang mempe rgunakan ilmu lari cepat, Tiang Bu
tertarik dan iapun lalu menggunakan ginkangnya, meloncat
dan berlari mengejar.
Ilmu lari cepat dua orang itu ternyata hebat juga.
Sebentar saja mereka sudah keluar dari dusun. Tiang Bu
makin tertarik dan terus mengejar sampai tiba di sebuah
hutan. Dua orang itu lenyap di dalam hutan. Tiang Bu
penasaran dan mempercepat larinya. Sebentar saja ia sudah
12
memasuki hutan itu dan melihat seorang wanita setengah
tua namun masih cantik sekali sedang duduk bersila di
bawah s ebatang pohon besar.
Kaget hati Tiang Bu ketika mengenal wanita ini.
Andaikata ia lupa lagi akan wajah wanita ini, ia takkan
melupakan sepasang tangan yang kecil mungil akan tetapi
berwarna me rah itu. Ang-jiu Mo-li Si Iblis Wanita Tangan
Merah! Akan tetapi di samping kekagetannya, ia juga
menjadi girang oleh karena ia teringat bahwa wanita ini
dahulu juga membawa lari sebuah kitab dari Omei-san.
Sementara itu, Ang jiu Mo Li sudah memandang
kepadanya dan bertanya, suara nyaring galak, “Orang muda,
sejak tadi kau mengejarku, kau mau apakah?”
Tiang Bu memang biasa jujur dan sederhana dalam katakatanya.
Melihat sikap wanita tengah tua ini dan tahu
bahwa ia berhadapan dengan seorang tokoh besar di dunia
kang-ouw, ia segera menjura dan menjawab,
"Tadi di luar dusun aku melihat dua orang berlari-lari.
Karena tertarik maka aku segera mengejar sampai ke sini.
Tidak tahunya orang di antaranya adalah locianpwe,
sungguh kebetulan sekali karena memang aku masih
mempunyai sebuah urusan untuk dibereskan dengan
locianpwe.”
Ang-jiu Mo-li mengangkat muka memandang tajam.
Bocah seperti ini mempunyai urusan dengan dia?
“Eh, orang muda. Kau ini siapakah? Jangan kau lancang
membuka mulut. Orang seperti kau ini ada urusan apakah
dengan aku ?”
Tiang Bu tersenyum, maklum bahwa orang dengan
tingkat setinggi Ang-jiu Mo-li tentu saja bersikap tinggi dan
sombong terhadap seorang pemuda biasa seperti dia. Akan
tetapi biarpun ia mendongkol, pemuda ini masih mengingat
bahwa Ang-jiu Mo li adalah guru Bi Li, maka ia tetap
bersikap hormat. "Tentu saja locianpwe lupa lagi kepadaku.
13
Akan tetapi pernah satu kali kita saling be rtemu di Omeisan."
Ang-jiu Mo li memandang lagi penuh perhatian ke arah
wajah yang tidak tampan namun membayangkan kegagahan
dan kejujuran itu. Tiba-tiba ia teringat akan bocah murid
dua orang kakek Omei-san yang dulu pernah bertempur
melawan Toat-beng Kui bo. Terkejutlah Ang-jiu Mo li dan ia
serentak melompat berdiri. Tak disangkanya sama sekali
bahwa pemuda yang mengejarnya tadi ini adalah bocah
murrid Omei-san itu.
"Hemm, kaukah ini? Sekarang katakan apa urusan itu,”
tanya Ang jiu Mo-li, hatinya mulai terasa tidak nyaman.
"Sebelumsuhuku menghembuskan nafas terakhir, beliau
meninggalkan pesan kepadaku agar supaya aku pergi
mencari kitab-kitab Omei-s an yang dilarikan orang dan
mengambilnya kembali. Oleh karena cianpwe termasuk
orang di antara mereka yang membawa pergi kitab Ome isan,
kalau tidak salah kitab pelajaran Ilmu Silat Kwan-im
cam-mo, maka bukankah pertemuan ini kebetulan sekali?
Kuharap saja cianpwe sudah merasa cukup puas meminjam
kitab itu selama bertahun-tahun dan sudi
mengembalikannya kepadaku.”
Ang-jiu Mo-li tersenyum mengejek. Alangkah besarnya
nyali pemuda ini. pikirnya. berani minta kembali kitab
begitu saja !
"Orangmuda bernyali naga, siapakah namamu ?”
"Namaku Tiang Bu………”
Ang-jiu Mo-li hilang senyumnya, nampak tercengang.
“Aha, kaukah yang bernama Tiang Bu? Kau anak keluarga
Coa di Kim bun-to ?”
Kini Tiang Bu yang tercengang. Bagaimana wanita sakti
ini dapat tahu akan hal ini? Padahal ia tidak pernah
bercerita kepada siapapun juga, kecuali kepada Bi Li, tentu.
14
Apakah Bi Li pernah bercerita kepada gurunya ini? Akan
tetapi belum lama ia berkumpul dengan Bi Li dan baru saja
berpisah, apa Bi Li sudah berjumpa dengan Ang jiu Mo-li
semenjak buntung lengannya? Betapapun juga, pertanyaan
itu harus dijawabnya.
"Aku hanya .......... anak angkat mereka...”
“Bagus sekali permintaanmu! Kau betul- betul hendak
merampas kembali kitab Kwan-im-cam- mo itu dari
tanganku ? Lihat, memang kitab ini masih kubawa. Kau
mau me rampasnya ?" Ang-jiu Mo-li mengeluarkan sebuah
kitab dari saku bajunya.
“Mana berani aku berlaku kurang ajar ? Aku hanya
mengharapkan kebijaksanaan untuk mengembalikan barang
orang lain.”
"Betul-betul kau hendak minta kembali?"
"Aku adalah seorang murid yang harus mentaati pesan
suhu sampai di manapun juga."
"Kitab-kitab Omei-san terjatuh ke dalamtangan orangorang
pandai yang sama sekali bukan lawanmu. Amat
berbahaya kalau kau menghendaki semua orang itu
mengembalikan kitab. Mengapa kau be rsusah payah, toh
gurumu sudah meninggal dunia? Kalau kau tidak memenuhi
pesan gurumu yang sudah tidak ada lagi itu, tidak ada orang
tahu."
Tiang Bu mengerutkan alisnya yang tebal. “Kali ini
cianpwe khilaf! Cianpwe menyatakan tidak ada orang tahu,
bukankah aku sendiri dan cianpwe mengetahui kalau aku
menjadi murid tidak setia ? Apakah cianpwe dan aku bukan
orang? Biarpun aku akan menghadapi orang orang sakti dan
akhirnya aku harus be rkorban nyawa, tetap aku akan
memenuhi pesan suhu."
15
Diam-diam Ang-jiu Mo-li makin kagum kepada pemuda
yang setia dan berbakti ini. Tadipun ia hanya menguji hati
Tiang Bu.
"Betul-betul kau akan memaksaku menyerahkan kitab
ini?”
"Kalaucianpwe tidak suka mengembalikan dengan suka
rela, terpaksa aku yang muda akan berlaku kurang ajar dan
mencoba kebodohan sendiri." jawab Tiang Bu, sikapnya
menantang.
Ang-jiu Mo-li masih hendak mencoba sekali lagi. Ia
menoleh ke belakang dan berseru ke ras lalu berkata,
“Muridku, kau keluarlah !”
Dari balik ge rombolan pohon berkelebat suatu bayangan
dan di saat lain, se oring gadis telah berdiri di samping Angjiu
Mo-li. Wajahnya menjadi pucat ketika ia memandang
kepada pemuda itu.
"Tiang Bu– ..... "
Tiang Bu girang bukan main. Ia melangkah maju dan
mengulurkan kedua tengannya. "Bi Li...... kau di sini ..........?
Payah aku mencari carimu ........!” Akan tetapi ia segera
teringat bahwa di situ ada Ang-jiu Mo-li, maka dengan muka
sebentar merah sebentar pucat, Tiang Bu menarik kembali
tangannya memandang kepada gadis buntung lenganya itu
dengan wajah diliputi keharuan, kedukaan juga kasih
sayang besar. Juga Bi Li memandang pemuda itu, dan dua
titik air mata membasahi sepasang pipi Bi Li yang pucat.
Gadis ini menggigit bibirnya, seakan-akan menahan isak
tangis dan menahan agar mulutnya tidak mengeluarkan
kata-kata.
Mata Ang-jiu Mo-li yang tajam melihat keadaan dua
orang ini, wajahnya berseri. Kemudian ia berkata,
"Bi Li, kawanmu Tiang Bu ini datang hendak memaksa
aku mengembalikan kitab Kwan-im-cam mo. Karena dia
16
kawanmu, aku tidak tega menjatuhkan tangan
mencelakainya. Akan tetapi dia berkepala batu dan hendak
menggunakan kekerasan. Kausuruh dia membatalkan
maksudnya itu."
Bi Li cukup mengenal watak gurunya yang keras hati dan
tidak mau mengalah, Ia tahu bahwa kalau Tiang Bu
berkeras minta kembali kitab, pasti akan terjadi
pe rtempuran hebat sampai salah seorang menderita luka.
Dan ia sayang keduanya, tidak menghendaki seorang di
antara mereka terluka.
"Tiang Bu, aku minta kau suka mengalah dan jangan
memaksa guruku mengembalikan kitab Omei san.” kata Bi
Li dengan suara lemah sambil menundukkan muka tidak
mau me lihat Tiang Bu karena ia sendiri merasa fihaknya
yang bocengli (tidak pakai aturan),
Tiang Bu menggelengkan kepala perlahan. Mengapa Bi Li
begitu tak adil?
"Bi Li, kitab itu milik mendiang suhu yang sudah
memesan supaya aku mengambil semua kitab yang
dirampas orang dari Omei-san. Siapapun orangnya yang
mengambil kitab itu, harus kuminta kembali. Dalam hal lain
aku boleh mengalah terhadap gurumu, akan tetapi dalam
hal ini ...... tak mungkin.”
Ang-jiu Mo li segera berkata, "Bi Li, mulai saat ini aku
memberikan kitab ini kepadamu, akan tetapi dengan pesan
jangan kau berikan kepada sianapun juga!”
Bi Li maklum akan maksud gurunya ini. Dia sudah
mence ritakan tentang keadaaannya dan hubungannya
dengan Tiang Bu, maka kini gurunya hendak
mempergunakan cinta kasih Tiang Bu terhadapnya untuk
mengalahkan pemuda itu.
"Tiang Bu, mengapa untuk kitab yang satu ini kau tidak
dapat mengadakan penge cualian. Kuharap sekali lagi kau
suka mengalah demi .......... mengingat akan .....
17
persahabatan kita ……..” Kata-kata terakhir ini dikeluarkan
perlahan sekali dan kini air matanya, tak dapat dibendung
lagi, mengucur dari kedua matanya. Gadis ini sebenarnya
amat cinta kepada Tiang Bu yang sudah berkali-kali
membuktikan kegagahan, kecintaan, dan kesetiaannya.
Tiang Bu menjadi pucat mendengar kata-kata ini. Untuk
sejenak ia memandang Bi Li. Ah, alangkah inginnya ia
mendekati, menghibur gadis yang buntung lengannya akan
tetapi baginya malah mempe rtebal kasih sayangnya karena
kasih sayang itu ditambah oleh rasa kasihan besar sekali.
Jangankan baru sebuah kitab, biar seribu buah kitab tentu
akan ia relakan demi mengingat Bi Li. Akan tetapi bukan
kitab ini, kitab yang harus ia ambil kembali, biarpun ia
harus menukar dengan nyawanya.
"Bi Li." katanya mengeraskan hati biarpun suaranya
gemetar. "Seorang laki-laki harus dapat mengesampingkan
perasaan hati dan urusan sendiri. Mana bisa aku
mengkhianati mendiang suhu hanya untuk urusan
pribadiku sendiri ? Kebaktian dan kesetiaan murid terhadap
gurunya adalah suci, dan harus berjalan di atas jalan
kebenaran.
Andaikata mendiang suhu meninggalkan pesan supaya
aku merampas kitab yang bukan menjadi milik dan haknya,
tentu dengan senang hati aku melanggar pasan yang tidak
benar ini.
Akan tetapi pesan suhu ini berlandaskan kebenaran.
Kitab ini adalah kitab dari Omei-san yang diambil oleh
gurumu. Suhu berpesan agar aku mengambil kembali semua
kitab yang hilang, oleh karena kalau kitab-kitab itu terjatuh
ke tangan orang jahat, hanya akan menambah kacau dan
kotornya dunia. Sekarang aku sudah bertemu dengan
gurumu, dan kitab itu sudah bertahun tahun berada di
tangan gurumu, tentu isinya sudah hafal olehnya. Mengapa
masih harus mengukuhi kitab yang bukan menjadi miliknya
?”
18
Bi Li tak dapat menjawab. Dalam hatinya, tentu saja ia
membenarkan pendirian Tiang Bu, akan tetapi di depan
gurunya ia tidak berani berkata apa-apa.
Adapun Ang-jiu Mo-li yang sengaja bersikap keterlaluan
itu hanya untuk menguji hati Tiang Bu, makin lama makin
kagum. Belum pernah ia bertemu dengan seorang muda
yang demikian te guh hatinya, demikian tebal rasa bakti dan
setianya. Seorang pemuda gagah perkasa, hanya t inggal
menguji kepandaiannya saja.
Ang-jiu Mo li telah mendapatkan murid yang ia sayang
itu di dalam hutan. Bi Li hendak memhunuh diri dengan
jalan menggantung leher pada angkinnya di sebuah pohon
besar. Setelah Ang jiu Mo-li menolongnya Bi Li dengan air
mata bercucuran menceritakan nasibnya yang malang,
kehilangan sebuah lengannya yang ditabas buntung oleh
Liok Kong Ji. Kemudian diakuinya betapa Tiang Bu amat
mereintanya dan bahwa sesungguhnya iapun suka kepada
pemuda itu. Hanya karena lengannya sudah buntung ia
meras a tidak berharga menjadi jodoh pemuda itu, maka
diam-diam meninggalkan Tiang Bu dan mencoba membunuh
diri di situ.
Ang-jiu Mo-li marah bukan main, menghibur muridnya
dan berjanji hendak mencari Liok Kong Ji untuk
membalaskan sakit hati muridnya. Kebetulan di tengah jalan
bertemu dengan Tiang Bu, Ang-jiu Mo-li sengaja hendak
menguji batin pemuda yang dipilih muridnya dan ia makin
kagum saja menyaksikan sikap Tiang Bu. Seorang ksatria
tulen, dan kini ia hendak mencoba kepandaian Tiang Bu.
“Orang muda, kau pandai bicara. Kalau kau bertekad
mengambil kembali kitab-kitab Omei-san, tentu kau sudah
mempunyai kepandaian. Kitab ini dulu kudapat tidak
dengan jalan mudah, bukan diberi hadiah, hanya diambil
dengan mempergunakan kepandaian. Kalau kau hendak
minta kembali, kau juga harus mempergunakan kepandaian.
Coba kaulayani aku beberapa jurus, kalau kau bisa
19
menangkan aku, tentu saja kitab ini boleh kau ambil
kembal i.”
Inilah sebuah tantangan dan Tiang Bu memang sudah
bertekat takkan mundur setapak dalam usaha memenuhi
pesan suhunya. Hatinya amat tidak enak terhadap Bi Li,
akan tetapi apa boleh buat. Demi kebenaran, ia bersedia
mengorbankan segala, baik nyawanya ataupun
kebahagiaannya. Ia melirik ke arah Bi Li dan berkata lirih.
"Bi Li, maafkan kalau aku melawan gurumu. Kau tahu
aku melakukannya karena terpaksa oleh kewajiban." Lalu ia
menghadapi Ang-jiu Mo-li dan menjura sambil berkata,
"Aku yangmuda bersedia."
Ang-jiu Mo li masih memandang rendah pemuda itu. Ia
hanya ingin menguji sampai di mana kepandaian Tiang Bu,
biarpun pemuda itu takkan dapat memenangkannya, tetap
saja ia akan mengembalikan kitab karena ia pikir lebih baik
muridnya yang sudah buntung itu menikah dengan pemuda
pilihan ini. Ia mengangkat ki tab Kwan-im Cam-mo itu tinggi
di atas kepala sambil berkata,
"Kau sudah siap sedia? Nah, lekas rampas kitab ini!”
Diam-diam Tiang Bu mendongkol. Ia tahu bahwa
pendekar wanita ini memandang rendah kepadanya, maka
iapun tidak mau sungkan-sungkan lagi.
"Maafkan aku yang bodoh,” katanya tahu-tahu tubuhnya
sudah melesat ke depan tangan kiri menampar pundak,
tangan kann menyambar untuk merampas kitab.
Ang jiu Mo-li masih memandang rendah. Tangan
kanannya menyampok tamparan pemuda itu dengan
pengerahan tenaga. Menulut perhitungannya, tangkisan
sudah cukup kuat untuk membuat pemuda itu terpelanting
dan tentu usahanya merampas kitab akan gagal.
Akan tetapi dapat dibayangkan betapa kagetnya ketika
tangan kanannya bertemu dengan lengan pemuda itu, ia
20
merasa lengannya kesemutan dan seperti lumpuh, tanda
bahwa ia tadi kurang mengerahkan tenaga sehingga
tenaganya tertindih dan kalah kuat, dan sebelum ia dapat
menguasai diri, tahu-tahu kitab di tangan kirinya telah
terambil oleh pemuda itu yang sudah melompat mundur
kembali.
Dalamsegebrakan saja kitab sudah dirampas! Ini tak
boleh jadi, pikir Ang-jiu Mo-li. Cepat laksana kilat
menyambar, tubuh Ang-jiu Mo-li sudah berkelebat maju
mengejar Tiang Bu, kedua tangannya bergantian mengirim
Pukulan Ang-jiu-kang ke arah dada dan perut Tiang Bu!
Harus diketahui bahwa pukulan Ang-jiu-kang dari Angjiu
Mo-li ini hebatnya bukan main. Pernah ia bertemu Liok
Kung Ji dan bertanding dan ternyata Ang jiu kang malah
lebih hebat dari pada Hek-tok ciang dari Liok Kong Ji.
Karena kelihaian tangan merahnya inilah maka Ang Jiu Moli
menjadi terkenal sekali dan ia ditakuti orang di wilayah
utara.
Tangan itu belum sampai, hawa pukulannya sudah
terasa. panas dan kuat sekali. Tiang Bu berlaku waspada,
maklum bahwa menghadapi pukulan macam ini ia tidak
boleh sembrono. Juga ginkang dari Ang jiu Mo-li hat bleu
“dell, gerstannya eepat perti kilat luar biasa sekali,
gerakannya cepat seperti kilat menyambar.
Pemuda itu mengerahkan tenaga untuk menjaga diri.
Sinkangnya berputar-putar dan berkumpul di bagian dada
dan perut untuk melawan hawa pukulan itu, sedangkan ia
sendiri lalu miringkan tubuh agar jangan tersentuh kedua
tangan yang memukul. Akan tetapi, karena perhatiannya
dicurahkan ke arah pukulan-pukulan yang dapat
mengancam nyawanya meninggalkan badan itu, ia tidak
mengira sama sekali bahwa Ang jiu Mo li hanya menggertak
dan tahu-tahu tubuh nyonya sakti aku melejit ke atas dan
..... kitab itu sudah terampas kembali oleh Ang jiu Mo-li
21
Wajah yang tadinya pucat dari Ang-jiu Mo li menjadi
merah kembali. Wanita sakti ini tadinya sudah pucat karena
sekali gebrakan saja kitab di tangannya sudah terampas oleh
seorang pemuda. Hal ini benar-benar langka dan luar biasa
sekali. Akan tetapi dalamgerakan kedua ia dapat merampas
kembali kitab itu, berarti ia sudan dapat membela mukanya.
Akan robohlah namanya kalau terdengar orang betapa
dalam satu jurus ia dikalahkan oleh seorang bocah yang
masih ingusan ! Setelah sekarang ia dapat merampas
kembali kitab itu juga dalam satu gebrakan berarti keadaan
mereka masih seri.
"Bi Li, kaubawa dulu kitab ini" katanya dan kitab itu di
lemparkan ke arah Bi Li yang menyambutnya dengan
sebelah tangan dan memegangnya.
"Nah, sekarang majulah, orang muda. Aku ingin sekali
melihat sampai di mana lihainya murid Ome i-san," kata Ang
jiu Mo-li menantang.
Tiang Bu maklum bahwa menghadapi seorang wanita
sombong seperti Ang-jiu Mo-li, kalau ia tidak
memperlihatkan kepandaiannya tentu sukar untuk
mengambil kembali kitab itu. Juga ia maklum akan
kelihaian wanita ini yang tadi sudah memperlihatkan
pukulan Ang-jiu-kang yang berbahaya dan kecepatan
gerakan yang amat mengagumkan. Maka ia berlaku hati-hati
sekali.
Sebaliknya, tahu bahwa bocah ini benar-benar lihai,
timbul kegembiraan hati Ang-jiu Mo-li. Seperti sebagian
besar tokoh kang-ouw, dia juga termasuk orang yang gila
silat. Be rtemu dengan lawan tangguh, hilanglah sikapnya
tadi dan lupalah wanita ini bahwa dia berniat menguji
kepandaian calon jodoh muridnya. Ia menjadi bersungguhsungguh
dan mabok kemenangan. Oleh karena itu, setelah
melihat Tiang Bu siap, Ang-jiu Mo-li berseru nyaring dan
maju menyerang dengan ganas dan dahsyat !
22
Tiang Bu mengimbangi kecepatan lawannya dan tidak
hanya menghindarkan dari serangan, bahkan membalas
dengan sarangan yang tak kalah dahsyalnya. Ang jiu Mo-li
kaget sekali melihat betapa tiga kali pukulan yang
dilancarkan secara bertubi-tubi itu dielakkan dengan amat
mudah oleh Tiang Bu bahkan pemuda itu membalas dengan
tamparan yang kuat.
Melihat Tiang Bu menamnpar ke arah pundaknya, diamdiam
Ang-jiu Mo-li memuji lagi sikap pemuda ini yang selalu
menjaga agar jangan melanggar susila, maka tamparan yang
menurut teori silat harus ditujukan ke arah kepala itu
dlturunkan menjadi tamparan arah pundak ! Ang-jiu Mo-li
melihat datangnya tamparan perlahan saja namun
membawa hawa pukulan yang kuat sekali, cepat menyambut
dengan tangkisan Ang-iiu-kang. Ia hendak capat-cepat
mengalahkan Tiang Bu kalau sampai pemuda ini terluka
oleh tangan merahnya. hal itu tidak apa karena ia selalu
membekal obat penawarnya.
“Prakk !" Sepasang lengan bertemu dan kesudahannya,
Ang-jiu Mo-li terdorong mundur sedangkan tangan Tiang Bu
tidak apa, hanya kuda-kudanya kena gempur sedikit.
Ang-jiu Mo-li penasaran sekali, juga kaget bukan main.
Mungkinkah pemuda ini memang lebih lihai darinya dalam
hal lweekang? Sukar diperca ya ! Sekali lagi Ang-jiu Mo-li
menyerang dengan dorongan kedua tangannya, kini
dilakukan dengan pengerahan lweekang repenuhnya. Tiang
Bu cerdik, tahu akan maksud lawan mengadu kekuatan,
maka iapun cepat menge rahkan sinkangnya, dan mendorong
pula dengan kedua tangannya. Sebelum empat buah tangan
itu bertemu di udara, hawa pukulan masing-mesing sudah
saling dorong dan akibatnya sekali lagi Ang-jiu Mo-li
terdorong mundur sampai empat langkah! Sedangkan kali
ini Tiang Bu tetap tidak bergeming, tanda bahwa memang
pemuda ini masih jauh lebih menang.
23
Ang-jiu Mo-li menjadi pucat. Sudah jelas bahwa ia kalah
dalam hal tenaga lweekang. Ia makin penasaran dan masih
berkeras kepala. Kalau dalam lweekang aku kalah, belum
tentu ginkang pemuda ini dapat menangkan aku, pikirnya.
Memang Ang jiu Mo-li selain terkenal karena Ang-jiu-kang,
juga terkenal sebagai seorang wanita yang tinggi ilmu ginkangnya,
“Lihat serangan serunya dan tiba-tiba tubuh Ang-jiu Mo
li berkelebat dan menyambar-nyambar. Bi Li yang menonton
pertandingan itu sampai menjadi silau matanya. Gurunya
lenyap berubah menjadi bayangan yang sukar diikuti
pandangan mata, gerak-geriknya cepat dan ringan sekali.
Kali ini Tiang Bu akan kalah, pikir Bi Li, hat inya tidak enak
karena ia mengenal gurunya sebagai seorang yang telengas
sekali kalau sudab marah.
Melihat ginkang sehebat ini, diam-diam Tiang Bu kagum
sekali. Ia pernah bertempur mengtadapi orang-orang lihai,
termasuk. Wan Sin Hong. Akan te tapi harus ia akui bahwa
dalam hal ginkang, baru sekarang ia bertemu dengan lawan
yang benar-benar hebat, mengatasi ginkang dari orang-orang
gagah lainnya bahkan Sin Hong sendiri kiranya masih kalah
sedikit.
Akan tetapi, Tiang Bu adalah seorang muda yang sudah
mewarisi kepandaian sakti dari dua orang kakek Omei-san
dan terutama sekali semenjak mempelajari isi kitab Sen
thian-to, di dalamtubuh pemuda ini mengandung sinking
atau hawa sakti yang hebat, tak dapat diukur lagi betapa
tingginya. Maka dapat dibayangkan betapa kagetnya Bi Li
ketika tubuh Tiang Bu tiba-tiba lenyap, bayangan sekalipun
tidak kelihatan lagi. Ke mana perginya pemuda itu ?
Dilihat begitu saja tubuh Tiang Bu seperti sudah lenyap
dan tidak berada pula di tempat itu, akan tetapi melihat
gurunya masih seperti orang bertempur, menjadi bukti
bahwa sebenarnya Tiang Bu masih berada di situ,
bertanding melawan Ang-jiu Mo-li ! Bi Li sampai bengong
24
te rlongong melihat gurunya seakan-akan bertanding
melawan setan yang tidak kelihatan.
Kalau Bi Li menjadi bengong terheran-heran adalah Angjiu
Mo-li yang menjadi kaget setengah mati dan kagum
bukan main. Ia telah mengerahkan ginkangnya, hendak
mempergunakan kecepatan gerakannya untuk menangkan
pemuda itu. Akan tetapi perkiraannya me leset sekali karena
ke manapun juga ia bergerak, ia telah didahului oleh Tiang
Bu. Kecepatan ditambah dengan Ang-jiu-kang yang ia
andalkan itu seperti mati kutunya menghadapi Tiang Bu.
Ia tadinya bergerak dan memutar cepat untuk membikin
lawannya pening, kiranya sekarang Tiang Bu bergerak lebih
cepat lagi sehingga akibatnya Ang-jiu Mo-li sendiri yang
menjadi pusing! Tadinya Ang-jiu Mo-li berniat mendesak
pemuda itu mempergunakan kecepatannya agar Tiang Bu
menyerah, kiranya sekarang malah dia yang didesak hebat,
setiap pukulan Ang jiu kang didahului oleh totokan-totokan
lihai pemuda itu ke arah pergelangan tangan atau siku dan
pundak sehingga selalu Ang jiu Mo-li harus membatalkan
serangannya.
Karena ilmu silatnya sendiri terang takkan dapat
menguntungkan, Ang-jiu Mo-li tidak merasa malu-malu lagi,
terus saja mainkan Ilmu Silat Kwan-im cam mo yang ia
dapat dari kitab Omei-san ! Ilmu silat ini hebat sekali,
gerakannya lembut dan lambat, sesuai dengan sifat Kwan lm
Pouwsat dewi welas asih itu, namun di dalam kelemahlembutan
mengandung unsur kekuatan yang hebat, di
dalamkelambatan mengandung unsur kecekatan yang luar
biasa. Juga Ang-jiu Mo-li yang memang cantik nampak
agung ketika melakukan ilmu silat ini, seperti se orang dewi
baru turun dari kahyangan sambil menari -nari.
Bi Li mengeluarkan seruan kagum. Juga Tiang Bu kaget
sekali. Ia mengenal dasar-dasar ilmu silat gurunya, akan
tetapi sebagai seorang pria ia belum pernah mempelajari
ilmu silat yang khusus diciptakan untuk murid-murid
25
wanita ini. Tiang Bu berlaku hati-hati tidak berani
sembarangan menye rang. Baru sekarang setelah Ang-jiu Moli
mainkan ilmu Silat Kwan im cam-mo, keadaan mereka
seimbang. Untuk mengimbangi ilmu silat se cabang ini, Tiang
Bu mainkan gerakan -gerakan dari kitab sajak Thian-te-sikeng,
berpangkal pada gerakan lawan.
Pertempuran berjalan lambat namun angin pukulan
menyambar-nyambar di sekeliling dua orang ini, membuat
daun-daun pohon bergoyang-goyang seperti tertiup angin
besar, bahkan Bi Li yang berdiri dalam jarak lima tombak
dari gelanggang pertempuran, merasai sambaran-sambaran
angin yang mengiris kulit. Dari ini saja dapat dbayangkan
betapa lihainya dua orang itu.
Seratus jurus telah lewat dan pertempuran masih
berlangsung ramai. Sebetulnya adalah karena Tiang Bu
te rlampau sungkan sungkan terhadap guru kekasihnya ini
maka pertempuran tidak segera berakhir. Kalau pemuda ini
berlaku kejam dan mencari kemenangan, kiranya
pertempuran takkan berlangsung selama itu.
Ang-jiu Mo-li merasa penasaran di samping
kekagumannya dan keheranannya. Selama hidup, belum
pernah ia be rtemu dengan lawan sehebat ini. Memang
pernah ia berhadapan dengan orang-orang lihai, bahkan
dahulu Toat-beng Kui-bo pernah membuat ia kewalahan dan
harus mengakui bahwa kepandainnya masih kalah setingkat
kalau dibandingkan dengan kepandaian Toat -beng Kui-bo.
Akan tetapi, tak seorangpun di dunia ini pernah
menghadapinya dengan cara yang demikian mudah dan
banyak mengalah seperti pemuda ini.
Karena penasaran, Ang jiu Mo-li mengeluarkan jurus
yang paling ampuh dari ilmu silat Kwan-im cam-mo yaitu
gerakan yang disebut Kwan-im lauw ci (Kwan lm Mencari
Mustika). Jurus ini terdiri dari gerakan serangan beruntun
dengan kedua tangan yang ke lihatannya seperti maraba atau
menangkis ke depan, akan tetapi sesungguhnya merupakan
26
pukulan-pukulan Ang jiu-kang disusul totokan-totokan ke
arah jalan darah penting di tubuh lawan. Kehebatan
serangan ini adalah apabila dielakkan, serangan susulan
menyambar sehingga kedudukan lawan makin lama makin
buruk sampai tak mungkin dapat dielakkan lagi.
Untukmenangkis juga amat berbahaya karena kedua
tangan Ang-jiu Mo-li sudah menjadi me rah darah, tanda
bahwa seluruh tenaga Ang-jiu kang telah terkumpul ke
dalam seluruh jari tangannya. Bau amis dan hawa panas
menyelimuti setiap gerak tangan, semua merupakan
ancaman maut yang mengerikan. Ang jiu Mo-li dalam
penasarannya telah mengerahkan seluruh kepandaian dan
tenaganya !
Tiang Bu kaget bukan main. Ia sekarang merasa yakin
bahwa menghadapi wanita ganas ini percuma saja ia berlaku
halus, percuma saja menyuruhnya mundur hanya dengan
demonstrasi kepandaian yang lebih tinggi. Wanita seperti ini
harus dikalahkan, biarpun terpaksa ia harus melukainya.
Cepat ia menggerakkan kedua tangan pula. Tidak ada
jalan lain untuk melawan jurus Kwan-im lauw-cu yang
dilakukan dengan Ang-jiu-kang sepenuhnya ini kecuali
melawannya keras dengan keras. Berturut-turut ia
manerima serangan Ang-jiu Mo-li dengan kedua tangannya
dan di lain saat dua pasang tangan telah saling tempel pada
telapak tangan, tak dapat dipisahkan lagi !
Ang jiu Mo-li terkejut. Tak disangkanya pemuda ini
berani menerima serangan Ang-jiu-kang dengan cara
demikian. Akan tetapi diam-diam ia girang karena sekarang
ia mendapat kesempatan untuk menang. Ang-jiu-kang ia
kerahkan untuk menyerang Tiang Bu melalui telapak
tangan. Kedua tangan Ang-jiu Mo-li mengeluarkan hawa
panas sampai mengepulkan asap putih. Kalau tangan orang
biasa yang terkena tempel tentu akan menjadi hangus dan
orangnya akan mati seketika itu juga, akan tetapi Tiang Bu
yang maklum bahwa keadaan sekarang bukan main-main
27
lagi melainkan pertandingan adu sinkang yang dapat
mengakibatkan maut, mengumpulkan seluruh tenaga dalam
yang ia dapatkan dengan berlatih Seng-thian-to,
menggerakkan hawa sinkang itu untuk melawan pengaruh
Ang-jiu-kang yang mendesak.
Ang-jiu Mo-li merasa betapa telapak tangan pemuda itu
dingin seperti salju, makin lama makin dingin. Sebaliknya
telapak tangan Ang-jiu Mo-li makin lama makin panas.
Ternyata bahwa kalau Ang jiu Mo-li mempergunakan sari
hawa Yang-kang untuk merobohkan lawannya, Tiang Bu
menghadapi dengan sari tenaga Im-kang. Panas lawan
dingin atau keras lawan lembut !
Bi Li berdiri terpukau. Biarpun tingkat kepandaiannya
belum mencapai setinggi ini namun gadis ini maklum apa
artinya orang yang ia kasihi berdiri tegak dengan dua tangan
ke depan saling menempel. Ia melihat kini tidak hanya
kedua tangan gurunya yang mengepulkan uap, bahkan dari
kepala Ang jiu Mo-li juga mengepulkan uap putih. Anehnya,
Tiang Bu nampak tenang-tenang saja, hanya matanya
memandang lawan tanpa berkedip. Dari sepasang mata
pemuda yang biasanya memang tajam dan aneh ini keluar
cahaya yang membuat jantung Bi Li berdebar.
Juga Ang-jiu Mo-li tidak kuat menghadapi sinar mata
pemuda ini, seakan akan kepalanya tembus oleh sinar mata
itu. Ia tahu bahwa ilmu batin pemuda ini sudah mencapai
tingkat tinggi sekali sehingga tenaga sakti itu dapat
menembus melalui sinar mata.
Setelah tidak kuat menahan sinar mata Tiang Bu,
kedudukan Ang-jiu Mo li makin lemah. Hawa panasnya
makin be rkurang dan sepeminum teh lagi , ia merasa dingin.
Sinar merah pada kedua tangannya mulai buyar, bahkan
membiru!
Ang jiu Mo-li masih berusaha mempertahankan, namun
ia tidak kuat lagi. Uap yang mengebul dari kepalanya makin
tebal mukanya mulai be rpeluh.
28
"Cianpwe , belum cukupkah?" terdengar Tiang Bu
bertanya.
Bukan main kagumnya Ang-jiu Mo-li. Kini takluk betul -
betul. Karena Tiang Bu masih s anggup bertanding tenaga
sambil mengeluarkan kata-kata, itu saja sudah menjadi
bukti nyata bahwa pemuda ini masih jauh berada di
atasnya.
Tanpa malu-malu lagi Mo-li mengerahkan tenaga terakhir
dan menarik kedua tangannya sambil melompat mundur.
Kalau Tiang Bu menghendaki, tentu saja perbuatan ini dapat
berarti matinya Ang-jiu Mo.li. Dalam pe rtandingan dengan
musuh tentu saja Ang-jiu Mo-li tidak mau melompat mundur
dan mati konyol, lebih baik mati dalam pertandingan dari
pada mati melompat mundur dan terpukul oleh tenaganya
sendiri. Akan tetapi Tiang Bu juga membarengi gerakan
lawan dan menarik kembali tenaga sinkangnya.
Ang-jiu Mo-li te rhuyung-huyung akan tetapi tidak sampai
jatuh. Cepat ia duduk bersila mengatur pernapasannya dan
menenteramkan jantungnya yang sudah terguncang hebat.
Mukanya pucat sekali, namun setelah berlalu beberapa
lama, mukanya menjadi merah kembali. Ia lalu membuka
mata, berdiri perlahan dan berkata kepada Bi Li,
"Bi Li, anak bodoh. Kalau kau tetap menjauhkan diri
menolak cinta kasih pemuda ini berarti kau menyiksa hati
sendiri dan menyia-nyiakan hidupmu. Tiang Bu inilah jodoh
yang paling tepat dan baik, di atas dunia kau tak mungkin
berjumpa dengan orang seperti ini. Bi Li, mulai sekarang
kauikutlah Tiang Bu calon jodohmu ini mencari musuh yang
telah membuntungi lenganmu. Kita bertemu di Pek houw-to
dan kelak kalau sudah selesai membasmi orang jahat, aku
sendiri akan mengatur pernikahanmu dengan pemuda sakti
ini !"
Sete lah berkata demikian, Ang-jiu Mo-li lalu berkelebat
dan lenyap dari tempat itu meninggalkan Bi Li yang masih
berdiri bengong menyaksikan periempuran hebat yang
29
mendebarkan hatinya itu. Ketika ia mengangkat kepala
memandang, ia melihat Tiang Bu sedang memandang
kepadanya dengan mata penuh perasaan cinta kasih dan
keharuan.
"Tiang Bu.......... !" Tak teresa lagi Bi Li menutupi muka
dengan tangannya yang tinggal sebelah dan menangis
terisak-isak. Air mata mengucur turun melalui celah-celah
jari tangannya, pundaknya berguncang.
Tiang Bu makin terharu dan kakinya melangkah maju
sampai ia berdiri di depan gadis buntung itu.
"Bi Li ...... , mengapa kau lari meninggalkan aku.......... ?"
tanyanya, suaranya tergetar.
Bi Li tak dapat menjawab, hanya isak tangisnya makin
menjadi, sampai te rdengar ia sesenggrukan.
"Bi Li, mengapa kau meninggalkan aku?" Setelah
menahan isaknya dengan mengeraskan hatinya, Bi Li
mencoba untuk bicara, akan tetapi sukar sekali sehingga
setelah beberapa kali mengulang, baru ia dapat
mengeluarkun kata-kata,
"Tiang Bu, apa perlu kau bertanya lagi.....? Kau sudah
tahu isi hat iku.........”
"Tidak, Bi Li. Justeru aku sama sekali tidak tahu
bagaimana maksud hatimu. Kalau kau membenciku dan
pe rgi, aku hanya bisa menerima dengan segala kesadaran
bahwa aku orang yang buruk dan tak berharga. Akan
tapi.......... kau cinta padaku sepertt aku mencintaimu,
mengapa kau.......... pergi meninggalkan aku……..? Apakah
kau sengaja hendak membikin aku mati merana? Bi Li,
bagaimana kau bisa begitu kejam dan tega…….?”
Bi Li meramkan mata dan menggigit bibir, jantungnya
terasa perih seperti tertusuk duri. Air mata mengucur keluar
dari bulu-bulu matanya.
30
"Tiang Bu.......... jus teru karena cintaku padamu maka
aku sengaja pergI meninggalkanmu. Aku.......... aku telah
menjadi seorang gadis buntung, bercacad selama hidup, tak
berharga lagi.......... hanya akan membikin kau malu. Itulah
mengapa aku mengambil keputusan pergi. biar hatiku
merana asal kau tidak menjadi buah tertawaan orang ......”
"Bi Li!! Suara Tiang Bu menggeledek. "Orang
mentertawakan aku masih tidak mengapa, akan tetapi siapa
berani mentertawakan kau, akan kuhancurkan mulutnya !
Jangan kau memandang begitu rendah kepadaku. Kaukira
aku akan lupa kepadamu setelah kau bercacad ? Tidak,
sebaliknya cintaku kepadamu makin kekal, makin
mendalam. Aku tidak mau be rpisah lagi darimu Bi Li. Kita
sama-sama sebatang kara, kau hanya punya aku dan aku
hanya punya kau seorang. Bi Li. buntungnya lenganmu
tidakmengurangi cintaku, karena bukan tanganmu yang
kucinta, melainkan kau, pribadimu. Bi Li, jangan kau
khawatir, biarpun lenganmu tinggal sebelah saja. dengan
mempelajari ilmu dariku, kau takan kalah oleh orang-orang
berlengan dua yang manapun juga!”
“Tiang Bu ......!" Bi Li menjatuhkan badannya ke dalam
pelukan Tiang Bu dan menangis sepuasnya. Hatinya diliputi
keharuan dan juga kebahagiaan besar. "Tidak, Tiang Bu.
Aku takkan meninggalkan kau, kecuali kalau aku mati....... "
"Hush, gadis bodoh, jangan bicara soal mati. Kau akan
hidup seribu tahun lagi! Tunggu kalau kita sudah
membasmi habis orang-orang jahat yang menjadi musuh
kita, bukankan gurumu sudah berjanji hendak menikahkan
kita?*
Merah wajah Bi Li dan gadis ini merenggutkan kepalanya
dari dada kekasihnya. "Hih, tak tahu malu, Bicara s oal
kawin ! Aku tak sudi mendengar.“ Dengan air mata masih
mene tes turun, Bi Li terse yum. Tiang Bu juga tersenyum,
wajahnya berseri-seri. Bi Li masih seperti dulu, lincah dan
menarik hati.
31
-oo(mch)oo-
Dari Bi Li yang sudah diberi tahu oleh Ang-jiu Mo-li,
Tiang Bu mendengar bahwa Liok Kong Ji dan Liok Cui Kong
telah pindah ke Pulau Pek-houw to di selatan, memboyongi
semua selirnya dan membawa harta bendanya, juga bahwa
di pulau itu berdiam Lo-thian tung Cun Gi Tosu yang lihai.
Dengan penuh kebahagiaan oleh karena Bi Li sudah
berada di sampingnya, Tiang Bu mengajak kekasihnya itu
melakukan perjalanan ke selatan dengan cepat. Lengan yang
buntung itu sudah sembuh sama sekali berkat rawatan Angjiu
Mo-li. Buntungnya di bawah pundak ditutup dengan
lengan baju yang pendek. Juga gadis ini karena terhibur oleh
sikap Tiang Bu yang amat mencinta, se akan-akan lupa
bahwa lengan kirinya buntung dan ia melakukan perjalanan
dengan gembira.
Sementara itu, semeniak penyerbuan Sin Hong kemudian
disusul oleh penyerbuan Pek thouw tiauw ong Lie Kong dan
isterinya, Liok Kong Ji berlaku hati-hati sekali. Ia
mempergunakan hartanya, menyebar mata-mata di sekitar
daerah pantai untuk mengetahui kalau kalau ada musuh
datang menyerang lagi agar ia dapat bersiap-siap.
Oleh karena itu, kedatangan Tiang Bu dan Bi Li ke pantai
laut telah diketahui oleh Liok Kong Ji. Di dunia hanya ada
dua orang yang mendatangkan debar ketakutan dalam hati
Kong Ji. Pertama adalah puteranya sendiri, Tiang Bu, yang
ia tahu takkan mau memberi ampun kepadanya dan yang
kepandaiannya amat luar biasa, lebih lihai dari pada tokoh
manapun juga biarpun usianya masih sangat muda. Orang
ke dua adalah Wan Sin Hong musuh besarnya semenjak
muda dulu, ia takut terhadap kepandaian dan kecerdikan
Wan Sin Hong.
Pada hari itu, Liok Kong Ji menerima berita dari matamatanya,
berita yang amat mengejutkan dan
32
menggelisahkan hatinya. Tidak saja Tiang Bu dan Bi Li telah
berada di pantai, juga ia mendengar bahwa Wan Sin Hong
dan kawan-kawannya sudah menuju ke pulaunya, dan akan
datang tak lama legi. Inilah hebat, pikirnya. Kalau dua orang
ini datang berbareng di Pulau Pek-houw-to, hal ini
merupakaa bahaya hebat!
"Lebih baik mereka dipisahkan. Selagi Sin Hong belum
datang dan masih akan makan waktu satu dua hari baru
tiba di pantai kita harus memancing Tiang Bu agar dapat
cepat datang ke sini untuk kita sambut. Mustahil kalau
dengan keroyokan tak dapat merobohkan bocah itu. Kalau
dia sudah roboh, soal Sin Hong tak perlu dikhawatirkan lagi.
Pokoknya ssal dua setan itu jangan muncul dalamsaat yang
sama." Demikian Liok Kong Ji berunding, dengan anak
angkatnya Liok Cui Kong.
“Mudah,” jawab Cui Kong. "Biar kita mengirim surat
tantangan kepada Tiang Bu agar panas hat inya dan ia segera
datang ke sini mebdahului Wan Sin Hong."
Demikianlah. ketika Tiang Bu dan Bi Li tiba di pantai dan
sedang mencari perahu di tempat yang sunyi sekali itu, tibatiba
mata Bi Li yang tajam melihat sesuatu di atas batu
karang.
“Tiang Bu lihat.......... Seperti kertas; bertulis yang
sengaja dipasang orang di sana!”
Tiang Bu, menoleh. Benar saja, di atas batu karang
terdapat sehetai kertas kuning muda yang ada tulisannya,
ditempel di batu karang. Ketika dua muda-mudi ini
mendekat i, ternyata tulisan itu memang ditujukan kepada
Tiang Bu. Merah muka Tiang Bu ketika membaca tulisan itu
yang berbunyi seperti berikut:
“TIANG BU, ANAK PUTHAUW! KAU DATANG MINTA
AMPUN ATAU MINTA MATI , AYAHMU MENANTI
LIOK KONG JI.
33
"Manusia Iblis !” Tiang Bu memaki gemas "Sombong,
kaukira aku takut padamu ?”
“Lihat, di sana ada perahu datang!” teriak Bi Li yang
sudah menoleh ke arah laut karena ia melihat ancaman
maut di dalamsurat Liok Kong Ji. Gadis ini amat khawati r
akan keselamatan kekasihnya karena ia cukup maklum
betapa lihainya manusia iblis itu bersama kaki tangannya.
Tiang Bu menengok, dan betul saja, dari arah laut datang
sebuah perahu yang layarnya terkembang. Anehnya, perahu
itu kosong tidak ada
penumpangnya.
"Mereka telah
mengirim perahu
untukmu!” kata Bi Li,
suaranya agak geme tar.
Tiang Bu tidak menjawab
melainkan menyambut
perahu yang sudah
sampai di pantai itu.
Benar-benar orang telah
mengirim perahu kosong
untuknya, perahu yang
layarnya dikembangkan
dan kemudinya diatur
sedemikian rupa sehingga
dengan adanya angin
yangmengbembus ke
arah pantai, perahu itu
bisa berlayar sendiri ke
pantai.
"Musuh bersikap sombong sekali," kata Tiang Bu. "Aku
harus ke sana sekarang juga agar jangan dianggap takut. Bi
Li, kau tunggu saja di sini. Biarkan aku sendiri Pergi
memberi hajaran pada manusia-manusia iblis itu untuk
membalaskan sakit hatimu."
34
"Tidak, Tiang Bu. Aku ikut dengan kau !”
"Bi Li," Pemuda itu memegang tangan Bi Li, "jangan salah
sangka. Untuk melindungimu dari mereka aku masih
sanggup dan dengan aku di sampingmu mereka tak
mungkin berani mengganggumu. Akan tetapi, kau tahu
sendiri betapa licik dan curangnya mereka itu, dan inilah
yang kukhawatirkan. Menghadapi ke curanpan mereka lebih
berat dari pada menghadapi kepandaian mereka. Lebih
leluasa bagiku pergi seorang diri. Kau tinggallah saja di sini,
Li-moi, percayalah, aku meninggaikanmu hanya sebentar
saja dan aku meninggalkanmu ini adalah karena s ayangku
kepadamu."
“Akan tetapi .......... aku ingin sekali membalas sendiri
kepada manusia jahanam Liok Kong Ji !”
Tiang Bu mengangguk. "Jangan kau khawatir, aku akan
menyeretnya ke sini sehingga kau dapat membalas sakit
hatimu."
“Betulkah, Tiang Bu !" tanya Bi Li penuh harap.
"Mana aku mau membohongimu. Nah, kau baik baik
menjaga dirimu, tunggu aku di pantai,” kata Tiang Bu
sambil melompat ke perahu.
"Tiang Bu, kau jagalah dirimu baik-baik. Kau tahu
semangat dan hatiku ikut bersamamu .......... " kata Bi Li,
hatinya tidak karuan rasanya melihat kekasihnya pergi
menempuh bahaya seorang diri.
Tiang Bu tersenyum. “Jangan khawatir, Bi Li. Doa
restumu menjadi jimat pelindungku. Kita akan bertemu
kembali, Bi Li." Ketika perahu mulai menjauhi pantai dan Bi
Li berdiri seperti patung di tepinya, Tiang Bu berseru dari
jauh, "Bi Li, aku cinta kepadamu.......... !"
Bi Li mengangguk-angguk, tersenyum dan matanya
menjadi basah. Setelah perahu itu sudah jauh sekali
merupakan titik hitam, gadis itu menjatuhkan di ri berlutut,
35
mukanya diangkat ke atas, matanya meram, bibirnya
bergerak-gerak seperti orang bardoa mohon berkat
perlindungan dari Thian untuk pemuda yang dikasihinya.
Tiang Bu sudah mendengar dari Bi Li bahwa Pulau Pekhouw
to dapat dikenal di antara pulau pulau itu sebagai
pulau yang dari jauh tampak keputih-putihan dan
bentuknya seperti seekor macan mendekam. Dan pulau ini
memang tidak sukar dikenal dari jauh. Setelah perahunya
didayung cepat menuju ke kumpulan pulau-pulau itu, ia
melihat Pulau Pek-houw-to. Hatinya berdebar girang.
Sekarang ia tidak mau bekerja kepalang tanggung.
Ia harus dapat membasmi Liok Kong Ji dan semua kaki
tangannya dan me rampas kembali kitab-kitab Ome i-san
yang sekarang sudah terkumpul ke dalam tangan Liok Kong
Ji dan Cun Gi Tosu. Pemuda ini maklum bahwa ia
menghadapi orang-orang pandai. Lawan-lawan berat yang
tak boleh dipandang ringan akan tetapi ia tidak takut. Ia
percaya penuh akan kekuatan sendiri, dan percaya penuh
akan dapat mengalahkan mereka semua.
Tiba-tiba ia mendengar suitan keras beberapa batang
anak panah menyambar cepat ke arah perahunya,
menancap di atap perahunya melihat anak-anak panah itu
tidak di arahkan kapadanya, melainkan kepada atap
perahunya, Tiang Bu seolah-olah tidak melihat kejadian ini
dan bersikap tenang-tenang saja. Didayungnya perahu
layarnya dengan cepat.
Akan tetapi se gera muncul lima buah perahu kecil
dengan atap melengkung dari balik-balik batu karang yang
menonjol di permukaan laut. Perahu-perahu ini ditumpangi
oleh Lam-thian-chit-ong dan belasan anak buahnya,
berjumlah dua puluh orang lebih, setiap perahu ditumpangi
lima orang. Dengan cepat perahu-perahu ini sudah malang
melintang menghadang kedatangan perahu Tiang Bu.
Pemuda itu tetap tenang maklum bahwa Liok Kong Ji sudah
36
mengirim rintangan pertama untuk menggagalkan
pendaratannya ke Pek-houw-to.
Aku harus hati -hat i, pikir Tiang Bu. Di darat aku tak
perlu memusingkan dua puluh orang lawan ini, akan tetapi
di air, hmm, berat juga.
“He, pemuda yang sudah bosan hidup. Kedatanganmu ini
dengan keperluan apakah ?” Teriak si baju marah, ketua
dari Lam-thian-cit-ong.
Melihat tujuh orang yang pakaiannya tujuh macam ini,
diam-diam Tiang Bu sudah dapat menduga bahwa mereka
tentulah merupakau kelumpok kaki tangan Kong Ji yang
terdiri dari saudara-saudara sepe rguruan, dan tentu
kepandaiannya tidak lemah.
“Badut merah, kau mau tahu maksud. kedatanganku ?”
jawabnya. "Dengarlah baik-baik. Aku datang untuk
membasmi manusia-manusia iblis seperti Liok Kong Ji, Liok
Cui dan kaki tangannya seperti kalian. Sudah jelaskah ?”
Lam-thian-chit ong memang mendapat tugas dari Liok
Kong Ji untuk mencegat perahu pemuda itu. Liok Kong Ji
masih belum tahu apakah kedatangan Tiang Bu dengan
maksud baik ataukah buruk, maka ia menyuruh Lam-thianchit-
ong mewakilinya dan menyelidiki.
Mendengar jawaban Tiang Bu yang tegas itu, Lam-thian
chit ong lalu memerintahkan anak buahnya dan di lain saat
puluhan batang anak panah menyambar ke arah Tiang Bu.
Akan tetapi pemuda ini sama sekali tidak perduli, hanya
menggerakkan dayung mendayung perahunya. Aneh bukan
main, perahu itu seperti bernyawa, bergerak-gerak cepat tak
sebatangpun anak panah mengenai tubuhnya, hanya
menancap di tubuh perahu dan masuk ke laut. Inilah
demons trasi kecelian mata dan kehebatan tenaga
menggerakkan perahu yang amat luar biasa.
37
"Kami menantimu di darat !` terlak si baju merah dan dia
bersama enam orang saudaranya lalu menumpang sebuah
perahu dan mendayungnya ke daratan Pulau Pek houw-to.
Empat buah perabu anak buahnya dengan delapan belas
orang masih mancogat di situ. Malah mereka mendayung
perahu mendekati perabu Tiang Bu dan mengurung dari
empat jurus an.
Harus diketahui babwa Lam-thian-chit ong seperti juga
Tiang Bu, tidak mengert i ilmu dalam air maka siang-siang
mereka meninggalkan Tiang Bu untuk melakukan cegatancegatan
di darat, tidak seperti delapan belas orang itu yang
memang kesemuanya bekas bajak laut. Delapan belas orang
ini semua pandai berenang dan pandai bermain di dalam air,
merupakan ahl i-ahli dan penyelam penyelam. Oleh karena
itulah maka tugas pertama untuk monyerang Tiang Bu
diserahkan kepada delapan belas orang bajak laut ini. Liok
Kong Ji memang sudah siap untuk segalanya dan
kedudukannya ini kuat sekali.
Melibat gerakan empat perahu yang mengurungnya,
Tiang Bu bersiap sedia. Kini ia tidak duduk di dalam
perahunya, melainkan berdiri di kepalanya perahu dengan
dayung di tangan, sepasang matanya awas memandang
gerak-gerik empat perahu lawan yang mengeli lingi. Adapun
tujuh orang yang berbeda-beda warna pakaiannya itu kini
telah mendarat, berdiri di tepi pantai dan menonton
bagaimana para anak buah bajak laut itu hendak
mengalahkan pemuda itu.
Terdengar pemimpin bajak laut itu memberi aba-aba
dengan suitan dan kembali empat perahu itu mereka
menghujankan panah ke arah Tiang Bu. Berbeda dengan
tadi, kini anak panah datang menyerang empat jurusan,
depan belakang dan kiri kanan. Kalau tadi semua anak
panah datang dari depan maka masih dapat Tiang Bu
menggunakan kepandaian menggerakkan perahu untuk
mengelak dari sambaran anak panah-anak panah. Akan
38
tetapi sekarang ia tidak dapat be rbuat seperti tadi. Cepat ia
menggerakkan dayungnya dan....... alangkah terkejut hati
semua bajak laut ketika mereka menyaksikan demontrasi
kepandaian yang luar biasa.
Begitu dayung diputar menangkis anakpanah itu tidak
runtuh ke bawah, melainkan meleset dan terus menyambar.
Anak-anak panah dari depan melesat dan menyambar arah
perabu sebelah kanan, yang dari kiri menyambar ke arah
perahu di belakang. dari kiri monyambar ke depan. Jadi
dengan dayungnya itu, Tiang Bu "mengoperkan" anak
panah-anak panah itu ke arah perahu perahu bajak,
seakan-akan para bajak itu saling se rang sendiri dengan
anak panah-anak panah mereka !
Terdengarmereka berseru kaget dan cepat -cepat
menangkis. Akan tetapi dalam kegugupan karena serangan
istimewa yang tak pernah disangka-s angka itu, seorang anak
buah bajak yang kurang cepat menangkis dan pundaknya
te rtancap anak panah kawan sendiri. Anehnya, buah bajak
itu terus roboh berkelojotan di dalam perahunya dan tewas
seketika itu juga, mukanya berubah hitam !
Melihat hal ini dari atas perahunya, Tiang Bu diam-diam
mengutuk Liok Kong Ji. Ia sekarang tahu bahwa sebelum
menyerangnya, semua anak panah yang dibawa oleh anak
buah bajak ini telah dilumuri racun hitam oleh Liok Kong Ji.
Alangkah kejinya orang berhati iblis itu !
Melihat betapa dengan dayungnya Tiang Bu dapat
menangkis dan malah mengoper semua anak panah, para
bajak tidak berani menyerang dengan anak panah. Serangan
pertama tadi saja sudah mengorbankan nyawa seorang
kawan sendiri dan mereka kini berputar-putar mengelilingi
perahu, menanti saat datangnya aba-aba dari pemimpin
mereka yang sedang memutar otak untuk mengatur
serangan- se rangan barikutnya.
Tiang Bu tetap berdiri di kepala perahu, dengan
dayungnya disentuhkan ke air ia menjaga supaya perahunya
39
tetap di tangah-tengah. Ia kelihatan gagah dan tegap, tenang
dan waspada, membuat para bajak memandang je rih.
Mereka semua tahu bahwa kali ini biarpun mereka terdiri
dari belasan orang mengepung hanya seorang pemuda,
namun tugas mereka jauh lebih berat dari pada kalau
mereka ditugaskan membajak sebuah kapal yang dijaga olek
sepasukan tentara.
Kembali pemimpin bajak bersuit. Suitan-suitan yang
berbeda-beda sudah merupakan tanda tersendiri.
Mendengar suitan ini, semua anak buah bajak
mengeluarkan dua macam senjata. Di tangan kiri memegang
sebuah galah ujungnya dipasangi kaitan besi sedangkan di
tangan kanan memegang sebuah tombak yang runcing. Baik
tombak maupun gala kaitan itu panjangnya ada tiga tombak.
Melihat ini, Tiang Bu maklum bahwa mereka hendak
menyerangnya dengan tombak dan mencoba untuk mengait
dan menggulingkan perahunya. Ia pikir bahwa kalau mereka
berani menyerangnya dengan dua macam senjata itu, ia
sama sekali perlu takut karena dengan mudah dapat
merampas semua senjata mereka dan menggunakan senjatasenjata
panjang i tu untuk menghajar mereka.
Perahu-perahu itu mulai mendekat sampai pada jarak
delapan tombak. Tiba-tiba dari mas ing-masing perahu, dua
orang bajak loncat ke dalam air membawa dua macam
senjata itu terus menyelam. Tiang Bu kaget sekali. Celaka,
pikirnya. Kalau mereka menyerangnya dari bawah dan
menggulingkan perahu, ia bisa tewas !
Cepat Tiang Bu mendayung perahunya mendekati perahu
sebelah kiri. Benar saja dugaannya. Tiba-tiba perahunya
be rgoyang-goyang dan ternyata telah dikait dari bawah oleh
delapan penye lamitu. Perahunya dibotot-betot dan akhirnya
menjadi miring. Air mulai masuk. Tiang Bu mempergunalean
Chian-kin-kang (Tenaga Seribu Kati) untuk membuat perahu
jangan sampai te rguling, akan tetapi karena air sudah
40
mengalir masuk, ilmunya ini hanya membikin perahu
ambles dan air masuk makin banyak.
Para bajak dari empat perahu itu bersorak-sorak melihat
pemuda ini dengan susah payah mempertahankan diri dan
perahunya. Tak lama kemudian perahu Tiang Bu sudah
hampir tenggelam, air sudah mulai membasahi sepatu
pemuda itu.
Saking gembiranya, para bajak itu kurang waspada dan
tidak dapat menduga apa yang dilakukan Tiang Bu. Tahutahu
berkelebat bayangan yang hampir tidak dapat diikuti
pandangan mata dan pemuda itu sudah meninggalkan
perahunya yang tenggelam, kini sudah berada di perahu
bajak yang berada di sebelah kini. Jarak kurang lebih enam
tombak itu dilompati oleh Tiang Bu dengan amat mudah dan
demikian cepatnya hingga seperti burung walet terbang saja.
Panik terjadi di dalam perahu yang diserbu Tiang Bu.
Untuk menyerang pemuda yang sudah berada di perahu
mereka ini, tak mungkin menggunakan dua macam senjata
panjang itu. Selagi mereka bingung hendak mencabut golok
dan pedang, Tiang Bu tidak memberi waktu lagi. Pemuda ini
menggerakkan kaki tangannya dan suara berteriak
mengaduh susul- menyusul. Tiga orang anak buah bajak
yang berada di perahu itu terlempar ke dalam air untuk
te rus tenggelam dan tewas!
Kembali delapan orang penyelam menyerang perahu
bajak yang kini terampas oleh Tiang Bu. Perahu menjadi
miring dan sebentar saja tanggelam, Tiang Bu
mempergunakan ginkangnya, melompat ke perahu ke dua
dan seperti tadi ia mengamuk merobohkan tiga orang anak
buah bajak yang sama sekali tidak berdaya menghadapi
pemuda sakti ini. Akan tetapi penyelam- penyelam itu tidak
mau memberi kesempatan kepada Tiang Bu untuk
menyelamatkan diri. Mereka menyerbu dari bawah air dan
terpaksa Tiang Bu meninggalkan perahunya lagi, melompat
ke perahu ke tiga. Sekarang tanpa ia turun tangan, dua
41
orang bajak yang berada di perahu itu masing-masing sudah
melompat ke dalam air.
Bajak-bajak itu menggunakan s iasat baru. Mereka
be rtekad hendak menenggelamkan semua perahu agar
pemuda itu tidak mendapat tempat berpijak lagi. Kemball
perahu diserbu dan untuk yang ketiga kalinya Tiang Bu
melompat ke perahu bajak yang ke empat ! Perahu ini
ditumpangi oleh pemimpin bajak bersama dua orang anak
buahnya. Mereka sudah siap-siap dengan golok di tangan
dan pada saat tubuh Tiang Bu melayang, mereka
mamapakinya dengan golok yang dibacokkan kuat-kuat.
Namun bacokan tiga orang ini seperti orang membacok
bayangan saja. Dengan ilmu loncat loh-he (gerakan
membalik) yang disebut Sinliong hoan-Sin (Naga Sakti
Membalikkan Tubuh), tubuhnya membuat salto di udara
dan selagi tiga batang golok itu menyambar, ia sudah
melewati atas kepala mereka dan mendarat di atas perahu.
Tiga orang bajak itu cepat membalikkan tubuh akan tetapi
hanya untuk melihat pemuda itu menggerakkan kedua
tangannya dan.......... mereka terlempar ke dalam air.
Tiang Bu maklum bahwa kalau perahu terakhir ini
tenggelam, ia tidak mempunyai tempat untuk melompat lagi.
Maka cepat ia menggerakkan dayung dan mendayung
perahu itu ke arah daratan. Namun kepandaian berenang
para bajak laut itu benar-benar lihai . Secepat ikan ikan hiu
berenang, mereka telah mengejar dan sebelum mencapai
darat, masih ada dua puluh tombak lagi, mereka telah dapat
mengait perahu dari bawah dengan senjata- senjata kaitan
mereka dan cepat membuat perahu itu miring !
(Bersambung jilid ke XXIV.)
1
(PEK LUI ENG)
Karya: Asmaraman S. Kho
Ping Hoo Scan djvu :
syauqy_arr
Convert & edit : MCH
Jilid XXIV
TIANG BU marah sekali. Ia melihat bayangan-bayangan
tak jelas bergerak di dalam air. Dengan tenaga luar biasa
pemuda ini me luncurkan dayungnya ke dalam air
menghantam bayangan itu, di antara para penyelam itu
terkena pukulan dayung yang disambitkan, kepalanya pecah
dan tak lama kemudian mayatnya terapung di permukaan
laut, sebentar tenggelam dipermainkan ombak bersama
dengan mayat-mayat kawannya yang sudah tewas ke tika
Tiang Bu melompat-lompat dari perahu ke perahu tadi.
Perahu tetakhir makin miring dan akhirnya tak dapat
ditahan lagi perahu itu tenggelam! Tiang Bu mengerahkan
tenaga. menjejak perahu yang hampir lenyap dari
permukaan air itu dan melompat ke arah darat. Akan tetapi
hanya dapat mencapai jarak sepuluh tombak lagi dari
daratan tubuhnya jatuh ke dalam air.
“Byuuurr......!” Air memercik tinggi dan tubuh Tiang Bu
tidak kelihatan lagi. Hanya kelihatan para anak buah bajak
dengan tombak di tangan kanan dan kaitan di langan kiri
cepat berenang ke arah tempat pemuda itu tenggelam!
2
-oo(mch)oo-
Untungnya Bi Li tidak melihat keadaan kekasihnya itu.
Kalau ia menyaksikan betapa kekasihnya terjun ke dalam
laut dan dikejar oleh ahli-ahli penyelam yang bermaksud
membunuhnya, dapat dibayangkan betapa akan hancur dan
bingungnya hati Bi Li.
Pada saat Tiang Bu terancam nyawanya Bi Li masih
berlutut di pinggir laut. Sudah lama titik hitam perahu Tiang
Bu lenyap dari pandangan matanya dan gadis ini masih
tetap berlutut, hatinya penuh doa untuk keselamatan Tiang
Bu, orang satu-satunya yang ia miliki di dunia ini.
"Bi Li, kau sedang apa di s ini?" terdengar pertanyaan
halus yang membuat Bi Li terke jut. Seakan-akan gadis ini
ditarik turun dari angkasa lamunannya. Ia melompat berdiri
dan membalikkan tubuh. Ternyata gurunya Ang jiu Mo-li
telah berada di depannya !
"Bi Li, kau sudah sampai di sini mengapa berlutut dan
seorang diri? Mana Tiang Bu ?” tanya pula Ang-jiu Mo-li
sambil menoleh ke sana ke mari, seakan-akan
mengharapkan akan melihat Tiang Bu berada di sekitar
tempat itu.
"Dia sudah berangkat ke Pek-houw to, meninggalkan
teecu seorang diri di sini ."
"Lho, mengapa begitu? Mengapa kau tidak ikut serta ?"
"Teecu disuruh menanti di sini karena katanya..........
amat berbahaya kalau teecu menyerbu. Musuh amat lihai
dan dia hendak turun tangan sendiri agar lebih leluasa.
Dia.......... dia melakukan ini untuk menjaga agar teecu tidak
terancam bahaya." Bi Li membe la dan melindungi
kekasihnya agar tidak dipersalahkan oleh Ang- jiu Mo-li.
"Hemm, dasar anak muda. Bodoh sekali ! Mati hidup
siapakah yang kuasa mengatur kecuali Thian? Mengapa
3
takut mati kalau sudah berani hidup? Bi Li, calon jodohmu
itu keliru dalamhal ini. Dia hendak menjauhkan kau dari
bahaya, akan tetapi sebaliknya dia membuat kau berada
dalam kegelisahan dan penderitaan batin. Bukankah kau
menderita sekali ditinggalkan tidak tahu bagaimana dengan
nasibnya, bukan ?”
Bi Li menundukkan mukanya. "Memang betul..........”
“Dan kau akan suka sekali, rela mati bersama kalau kau
berada di sampingnya, ikut membantunya dalam
penyerbuan ke Pek-hou to, bukan ?"
Kimbali Bi Li mengangguk akan tetapi t idak ada katakata
keluar dari mulutoya untuk membela Tiang Bu.
"Baik kita susul dia. Kau ikutlah dengan aku."
“Akan tetapi ...... dia sudah pesan supaya teecu menanti
di sini……”
Ang-jiu Mo-li membelalakkan matanya yang masih bagus.
"Hemm..... belum jadi isterinya kau sudah begitu setia dan
taat, lebih taat dari pada kepada gurumu.......?”
Bi Li merasa jengah dan malu, hendak berlutut meminta
maaf, akan tetapi tidak jadi ia lakukan ketika mendengar
kata-kata Ang-jiu Mo-li. "Bagus begitu, muridku! seorang
wanita harus setia dan taat kepada suaminya dalam hal
yang sewajarnya. Memang Tiang Bu melarangmu ikut adalah
demi menjaga bese lamatanmu, dan memang ia akan dapat
bergerak lebih leluasa tampa kau di sampingnya yang hanya
akan merupakan gangguan.
Kepandaianmu masih jauh kalau harus berhadapan
dangan musuh- musuh itu. Akan tetapi sekarang ada aku di
sampingmu, aku dapat menjagamu baik-baik. Bahkan kita
berdua akan dapat membantu Tiang Bu, kalau-kalau ia
kewalahan menghadapi lawan-lawannya yang memang
be rat."
4
Bi Li lalu menceritakan tentang tantangan yang ditulis
oleh Liok Kong Ji dan tentang perahu yang dikirim untuk
menjemput Tiang Bu. Ang-jiu Mo-li mengerutkan kening,
"Tiang Bu gegabah sekali. Kalau musuh sudah
mengetahui kedatangannya, itu berarti musuh sudah
bersiap sedia menyambut dengan se gala macam daya. Liok
Kong Ji terkenal jahat dan keji, penuh tipu daya dan
muslihat busuk. Lebih baik menyerbu ke Pek-houw-to
dengan diam-diam. Akan tetapi ini dapat dimengerti. Tiang
Bu seorang pemuda, tentu saja ia tidak tahan menghadapi
tantangan. Mari kita mencari perahu dan segera menyusul."
Bi Li tidak membantah lagi, bahkan diam-diam ia
gembira sekali. Memang sesungguhnya, bagi Bi Li lebih baik
ia ikut dan selalu berada di samping kekasihnya. Lebih baik
mati bersama dari pada hidup terpisah. Se telah pergi
mencari agak jauh dari situ, akhirnya Ang jiu Mo-li dapat
bertemu dengan seorang nelayan miskin yang suka
menyewakan perahu bututnya. Memang semenjak
gerombolan Liok Kong Ji mendiami Pek houw-to, keadaan di
situ sunyi sekali.
Para nelayan sama pergi pindah dari situ, kecuali
nelayan nelayan miskin yang hanya mempunyai perahu
butut. Perahu-perahu butut dan nelayan-nelayan miskin
tentu saja tidak ada harganya bagi anak buah Liok Kong Ji
dan karenanya malah tidak akan diganggu.
Tak lama kemudian, Ang-jiu Mo-li dan Bi Li duduk di
dalam perahu butut itu yang mereka dayung perlahan
menuju ke tengah samudera. Ang-jiu Mo li sudah mencari
keterangan sejelasnya tentang letak pulau ini dan sengaja
memutar perahunya dan mendatangi pulau itu dari timur.
`Karena mereka sudah tahu akan kedatangan Taang Bu
dari pantai, tentu penjagaqn mereka dikerahkan di pantai
pulau sebelah utara. Lebih baik kita ambil jalan dari pantai
timur dan masuk dari pintu belakang,” kata Ang-jiu Mo li
yang bersikap hati-hati sekali, tidak seperti biasanya. Ini
5
adalah karena Ang-jiu Mo-li maklum akan kelihayaian
lawan-lawannya yang berada di Palau Pek houw-to, sama
sekali tidak boleh dibandingkan dengan lawan-lawan yang
pernah dia jumpai dan pernah ia tandingi.
Mari kita mengikuti pengalaman Tiang Bu yang sedang
menuju ke Palau Pek-houw-to untuk melakukan
perhitungan dengan musuh-musuh besarnya. Seperti telah
diceritakan bagian depan, perahu yang ditumpangi oleh
Tiang Bu dihadang oleh bajak-bajak anak buah Liok Kong Ji
dan dikurung. Setelah melakukan pertempuran hebat di atas
perahu, akhirnya bajak-bajak itu menenggelamkan semua
perahu sehingga terpaksa Tiang Bu melompat ke darat.
Namun, betapapun tinggi kepandaian pemuda ini,
lompatannya tidak mencapai darat yang masih amat
jauhnya sehingga ia tercebur ke dalam air. Tubuhnya
tenggelam dan para anak buah bajak itu dengan tombak di
tangan cepat berenang ke arah tempat pemuda itu
tenggelam. Para bajak itu berteriak-teriak girang, tombak di
tangan kiri siap untuk merobek-robek tubuh pemuda itu
untuk mencari pahala.
Memang baik sekali tadi Tiang Bu tidak mengajak Bi Li.
Andaikata kekasihnya itu ikut dan sekarang be rsama dia
tercebur ke dalam air, tentu payah keadaan mereka. Kini
Tiang Bu yang merasa tubuhnya tenggelam, ia cspat
mengenjot kakinya ke bawah. Bagaikan didorong oleh tenaga
raksasa tubuhnya mumbul lagi ke permukaan air.
Kesempatan ini dipergunakan oleh Tiang Bu untuk
menyedot hawa udata. Kemudian ia membiarkan kedua
kakinya lurus sehingga tubuhnya tenggelam lagi ke bawah.
Para bajak melihat ini mengira bahwa Tiang Bu memang tak
be rdaya di air, makin bernafsulah mereka, berenang
menghampiri.
Memangs esungguhnya Tiang Bu tidak pandai berenang.
Akan tetapi ia memiliki lweekang yang sudah mencapai
tingkat yang sukar diukur lagi tingginya. Dengan mengisi
6
paru-paru dengan hawa udara, ia sanggup bertahan tidak
bernapas sampai lama sekali. Ia seorang cerdik yang tabah.
Ia tahu bahwa kalau ia menjadi gugup, ia akan tewas oleh
bajak-bajak itu dan pandai bermain di air. Oleh karena itu ia
bersikap tenang, mengisi dada penuh hawa lalu membiarkan
tubuhnya tenggelam. Setelah kedua kakinya mencapai dasar
laut yang sudah tak begitu dalam lagi karena dekat pantai,
Tiang Bu lalu menggerakkan kedua kakinya berjalan menuju
ke daratan ! Sepasang matanya yang terlatih baik itu dapat
melihat ke depan, ia berjalan terus dengan tenang dan, siap
menanti serangan lawan.
Dapat dibayangkan betapa kaget dan herannya para
bajak itu. Ketika mereka ini mengejar dan menyelam ke
bawah, mereka melihat orang yang dikejarnya itu "berjalanjalan"
di atas dasar laut seperti orang berjalan jalan makan
angin di taman bunga saja ! Untuk sejenak mereka tidak
tahu apa yang harus mereka lakukan. Akan tetapi yakin
akan kepandaian sendiri bermain di dalam air para anak
buah bajak itu beramai lalu menyerbu, menyerang Tiang Bu
dengan tombak dan kaitan mereka. Mereka pikir bahwa di
dalam air tidak mungkin pemuda itu masih selihai di darat.
Akan tetapi perhitungan mereka jauh meleset. Memang
tak dapat disangkal lagi bahwa kalau ia disuruh berenang
atau menyelam bermain seperti ikan di dalam air, Tiang Bu
akan angkat tangan tidak sanggup.
Akan tetapi sekarang soalnya lain lagi. Pemuda itu bukan
berenang atau menyelam, melainkan tenggelam begitu saja
dan berdiri di atas dasar air laut yang sudah berada di tepi,
agak dangkal dan tidak besar ombaknya. Berkat khikang
dan lweekangnya yang sudah sempurna, Tiang Bu dapat
menahan napas dan dapat memberatkan tubuh sehingga
dapat be rgerak lebih leluasa dari pada penyelam atau ahli
berenang yang manapun juga !
Melihat datangnya serangan tombak dan kaitan, Tiang
Bu tidak gentar sama sekali. Dengan kedua tangannya ia
7
menyambar, menangkapi ujung tombak dan sekali gentak
saja orang-orang itu sudah terdorong jauh sekali. Sedanglan
di darat saja mereka itu bukan apa-apa bagi Tiang Bu, apa
lagi di dalam air. Tubuh dan berat badan mereka itu tidak
seberapa, tentu saja dengan mudah mereka dapt dibikin
kocar-kacir. Bahkan ada yang terkena pukulan dan turukan
tombak sendiri, membuat mereka terapung ke permukaan
air dalam keadaan terluka berat.
Para bajak Itu menjadi gentar dan tidak berani lagi
menyerang, membiarkan pemuda “berjalan.jalan” menuju ke
pantai. Air makin lama makin dangkal sampai akhirnya
Tiang Bu tiba di pinggir daratan yang dalamnya hanya
sampai ke leher. Dengan girang ia melihat daratan di depan
mata, dapat ia mengambil pernapasan. Hatinya lega. Se telah
tiba di darat, ia tak usah khawatir lagi akan keroyokan
musuh. Tadipun ia masih untung karena yang
mengerojoknya di dalam air hanya bajak bajak dengan
kepandaian biasa saja. Kalau ia bertemu dengan orang
pandai di dalam air, tentu ia tak dapat melakukan
perlawanan sebagai mana mestinya.
Akan tetapi, begitu ia melompat ke darat ia telah
dihadang oleh seorang pesuruh Liok Kong Ji yang
memegangi sebuah perahu. Pesuruh itu menjura di depan
Tiang Bu lalu berkata.
"Hamba diutus oleh Liok-taihiap untuk mengganti perahu
kongcu yang sudah tenggelam. Kalau kongcu hendak
bertemu dengan Liok taihiap, kongcu dinanti di ujung pulau
ini. Karena perjalanan melalui darat amat sukar dan
khawatir kongcu, sesat jalan, maka perahu ini sengaja
disediakan untuk kongcu. Dengan mendayung perahu ini
sepanjang pantai terus ke sana, dalam waktu satu jam
kongcu akan tiba di tempat Liok taihiap. Demikianlah pesan
taihiap, kecuali kalau kongcu sudah kapok dan takut naik
perahu, kongcu persilahkan mengambil jalan darat yang
lebih jauh dan sukar.”
8
Tiang Bu mendongkol sekali. Ia tak beleh percaya
omongan seorang utusan Liok Kong Ji, akan tetapi embe l
embel dalam ucapan tadi yang menyatakan bahwa kalau ia
takut naik perahu ia dipersilahkan melalui darat,
memanaskan perutnya. Mengapa ia harus takut?
Ia tersenyum mengejek. "Siapa sih yang takut
menghadapi segala bajak tiada guna? Kalau menantangku
naik ke perahu, baik. Aku akan naik perahu ini.”
Setelah berkata demikian, Tiang Bu melompat ke dalam
perabu itu dan mendayung agak ke tengah. Perahu itu
mungil dan enak dayungannya, maka Tiang Bu tidak
mengkhawatirkan sesuatu. Dengan hati-hati akan tetapi
cepat ia mendayung perahu itu. Pantai pulau selalu berada
di sebelah kirinya dan ia menuju ke ujung pulau yang tadi
ditunjukan oleh pesuruh yang membawa perahu.
Pantai yang tadinya berpasir berganti pantai yang terhias
tetumbuhan, pohon-pehon dan batu karang. Batu-batu
karang dan pohon-pohon besar berdiri di tepi pantai, tempat
ini amat baiknya untuk orang bersembunyi memasang
barisan pendam. Tiang Bu melirik dan ia berlaku makin
hati-hati. Ia maklumsekali bahwa kalau fihak musuh
hendakmembokongnya, tempat inilah kiranya yang paling
baik dan tepat. Ia sengaja mendekatkan perahu agak ke
pinggir untuk menjaga agar ia mudah mendarat kalau
sampai terjadi apa-apa.
Tiang Bu sama sekali tidak tahu bahwa semenjak tadi,
sepasang mata yang tajam bersinar aneh mengintainya
dengan penuh kebencian. Inilah mata Liok Cui Kong yang
sejak tadi sudah mengamat-amati gerak- ge rik musuh
besarnya. Akan tetapi hatinya terlalu pengecut untuk
muncul begitu saja, maklum bahwa terhadap Tiang Bu ia
tidak berdaya sedikitpun juga. Di belakangnya juga
sembunyi banyak kawannya, di antaranya Lam-thian-chitong
akan tetapi mereka inipun tidak mau berge rak sebelum
menerima tugas.
9
Ketika Cui Kong sedang memutar otak bagaimana harus
menyerang musuhnya itu, tiba-tiba ia melihat Tiang Bu
mendekatkan perahunya ke pantai. Girang sekali hati Cui
Kong ia mendapat jalan untuk menyerang lawannya. Dengan
pengerahan tenaga sepenuhnya, pemuda jahat ini
mengangkat sebuah batu karang besar sekali dan beratnya
ada lima ratus kati lebih. Ia memasang kuda-kuda,
menggerakkan tangan dan tubuh dan.......... sekali lontar
batu itu melayang jauh menuju ke depan perahu yang
ditumpangi Tiang Bu !
Memang Cui Kong pintar sekali. Ia tahu bahwa perahu
itu bergerak ke depan dan Tiang Bu memiliki tenaga yang
luar biasa, sehingga kalau ia melontarkan batu ke arah
perahu, tipis sekali kemungkinan akan mengenai perahu
dengan tepat. Oleh karena itu ia sengaja membidik ke depan
perahu dan memang perhitungannya tepat sekali. Batu itu
besar dan berat, dilontarkan dengan tenaga lweekang yang
sudah terlatih, maka luncurannya tidak kalah lajunya
dengan sebatang anak panah yang terlepas dari busurnya !
Kalau diserang seperti ini di darat, tentu Tiang Bu akan
memandang ringan saja, akan tetapi sekarang ia berada di
atas perahu yang sedang me luncur di atas air ! Namun,
karena dia memang sudah siap dan waspada, ia tidak
sampai kena bokong, tidak menjadi gugup. Melihat
datangnya batu besar itu hendak menimpanya, Tiang Bu
mendahului dengan gerakan melompat yang indah dan cepat
sekali, bahkan kecepatannya melebihi ke cepatan batu.
Memang hampir tak dapat dipercaya oleh Cui Kong
ketika pemuda ini melihat betapa Tiang Bn melesat ke atas
sebelum batu itu menimpa perahu dan Tiang Bu malah
menginjakkan kaki ke atas batu itu dan dipergunakan
sebagai batu loncatan ke daratan ! Hampir bersamaan
waktunya, ketika batu besar itu menimpa perahu sampai
hancur lebur, Tiang Bu juga sudah tiba di darat dengan
selamat !
10
"Hebat......!” para anggauta Lam-thian-chit-ong berseru
memuji, lupa bahwa yang mereka puji adalah musuh.
Memang, kepandaian yang sudah diperlihatkan oleh Tiang
Bu tadi benar-benar hebat dan mengagumkan.
Sementara itu, melihat Cui Kong, sudah gatal-gatal
tlangan Tiang Bu hendak menyerang. “Cui Kong, manusia
iblis! Sekarang kita sudah berhadapan satu dengan yang
lain, kalau kau benar jantan jungan main curang, mari kita
mengadu tenaga sampai seorang di antara kita menggeletak
tak bernyawa. Ucapan ini dikelurkan oleh Tiang Bu dengan
sikap tenang, akan tetapi mengandung tantangan dan
ancaman yang membuat nyali Cui Kong mengecil. Biarpun
begitu, Cui Kong yang cerdik dan penuh akal bulus ini
segera menyambut tantangan Tiang Bu dengan ketawa
mengejek,
"Ha-ha ha, Tiang Bu
manusia sombong. Kau
datang hanya untuk
mengantar kematianmu
di sini. Kaulihat tujuh
orang gagah ini ? Mereka
adalah paman-pamanku,
Lam-thian-chit-ong yang
terkenal dengan Chitseng-
tin mereka ! Apa kau
berani menerjang barisan
mereka? Ha.ha-ha, Tiang
Bu. Kau takkan dapat
keluar dari kurungan
Chit-seng-tin dengan
tubuh bernyawa !”
Memang Cui Kong
patut menjadi pute ra
angkat Liok Kong Ji.
Pemuda ini memi liki siasat yang lihai dan otaknya dapat
11
dengan cepat mengatur tipu daya. Kegagalannya menyerang
Tiang Bu dengan batu tadi membuat ia makin insyaf bahwa
menghadapi Tiang Bu bukanlah pekerjaan ringan. Maka ia
cepat mengajukan Lam thian-chit-ong untuk dapat menahan
musuh itu untuk sementara sedan Ian dia dapat
mendatangkan bala bantuan.
Oleh karena memang ia tadi mengajukan Lam-thian-chitong
hanya untuk dapat melepaskan diri dari ancaman Tiang
Bu, begitu melihat tujuh orang pembantu ayahnya itu
be rge rak membentuk barisan dan menghampiri Tiang Bu,
Cui Kong diam diam menyelinap pergi untuk memberi
laporan kepada ayah dan gurunya. Akan tetapi ia
mendapatkan ayahnya dan gurunya juga sedang dalam
keadaan panik. Semua tenaga di atas pulau dikerahkan
untuk melakukan penjagaan dan Liok Kong Ji berdua Lo
thian-tung Cun Ga Tosusudah dalam keadaan bersiaga
dengan sejata di tangan, wajah mereka tegang!
Setelah Cui Kong menyelidiki, baru dia tahu bahwa ada
penjaga melapor akan datangnya serbuan Wan Sin Hong dan
kawan-kawannya ke pulau itu mereka masih dalam
perjalanan akan tetapi tak lama lagi, mungkin pada hari itu
atau besok hari, akan tiba di pulau ini. Cui Kong mengetuh.
"Celaka benar, mengapa mereka bisa datang dalam
waktu yang sama? Ayah, sekarang Tiang Bu juga sudah
mendarat, untuk sementara dilayani oleh Lam-thian-chitong.
Aku cepat pulang untuk melapor bahwa usahaku
membikin dia mampus dalam perahu sia-sia belaka."
Liok Kong Ji mengerutkan alisnya. “Kalau anak setan itu
tak dapat dibinasakan cepat -cepat dan Sin Hong keburu
datang, kita bisa menghadapi lawan yang sangat berat. Mari
kita gempur dulu bocah murtad itu, baru kita himpun
tenaga untuk menghadapi Wan Sin Hong yang kabarnya
datang bersama tokoh-tokok kang-ouw.”
Cepat Kong Ji mengajak Cun Gi Tosu dan Cui Kong ke
tempat di mana Tiang Bu tadi dikeroyok oleh barisan Lam12
thian-chit-ong. Mereka melakukan perjalanan cepat sekali
karena khawatir kalau-kalau Lam-thian-chit -ong tidak kuat
menanggulangi amukan Tiang Bu yang mereka semua sudah
kenal kelihaiannya.
Kekhawatiran mereka memang tidak berlebihan. Tiang
Bu yangmenghadapi tujuh orang berpakaian aneh itu
be rlaku teneng sekali bahkan sekali li rik ke arah kedudukan
mereka saja, tahulah pemuda ini bahwa barisan Chit-sengtin
(Barisan Tujuh Bintang, mereka itu mudah saja
pemecahannya. Namun, ia maklum pula bahwa s iapa yang
belum pernah mempelajari kitab-kitab seperti Sen thian-to
dan Thian-te Si-keng, memang akan mengorbankan waktu
berpuluh tahun untuk menciptakan barisan seperti yang
sekarang diatur oleh tujuh orang berpakaian aneh ini. Maka
ia menghela napas panjang. Orang orang ini sudah bersusah
payah menciptakan barisan, yang dalam kalangan kang-ouw
tentu me rupakan barisan istimewa yang sukar dilawa.
Sebetulnya sayang juga kalau usahanya sedemikian sukar
dan lamanya kini dilenyapkan begitu saja.
“Chit-wi loenghiong (tujuh orang tua gagah),
sesungguhnya di antara aku dan chit-wi tidak ada
perhitungan apa-apa yang patut diperhitungkan dengan
pertempuran, tidak pernah ada permusuhan. Melihat
barisan chit-wi ini, berpusat pada Li-seng (Bintang Wanita)
dan Nam-seng (Bintang Pria) dan bersumber pada
pertukaran te rtentu dari pada Im Yang. Cambuk di tangan
kanan cu-wi (saudara sekalian) itu mewakili Im-kang (tenaga
lemas) dan pisau pendek itu mewakili Yang-kang (tenaga
kasar).
Ditilik demikian, barisan cu-wi ini diciptakan oleh
seorang yang sudah tahu akan hukum alam, tahu pula akan
pekerjaan Im Yang. Tidak amat sayangkah kulau sekarang
dipergunakan untuk membantu manusia jahat seperti Liok
Kong Ji dan untuk mengeroyok orang yang sama sekal i tidak
ada hubungan atau permusuhan dengan cu-wi? Ingat, lebih
13
baik pikir masak-masak sebelum bertindak dari pada
menyesal setelah terlambat !”
Dua orang di antara mereka, yang berpakaian putih dan
hitam me lengak dan saling pandang. Mereka kagum dan
heran bukan kepalang mendengar ucapan pemuda ini yang
sekali lirik saja sudah dapat mengenal inti dari pada Chit
seng-tin mereka ! Akan tetapi lima orang yang lain lebih
merasa marah dari pada kagum. Mereka marah dan
mendongkol sekali, apa lagi yang berpakaian merah. Dengan
keras ia membentak s ambil menudingkan pisaunya,
"Bocah sombong ! Kami tidak minta petuah darimu.
Kalau kau takut menghadapi Chit-seng-tin kami, lebih baik
te rus terang saja dan lekas kau minggat dari sini, tak usah
banyak mengoceh seperti burung mau mati.”
Dalamhal mengendalikan perasaan, tentu saja Tiang Bu
menang jauh. Pemuda ini setelah memperdalam
kepandaiannya dari kitab Seng thian-to, memoperoleh
kemajuan hebat sekali lahir batinnya. Ia tersenyum saja
mendengar bentakan si baju merah dan kembali menarik
napas panjang.
“Memang tepat sekalt kalian mengatur pembagian warna.
Warna merah itu bersifat penuh semangat, panas dan
menjadi sifat dari pada api. Dan orang yangmemakai warna
ini memang cocok, telinganya mudah me rah, otak mudah
sinting.”
Si baju merah menjadi makin marah. Dia memang
merupakan pimpinan barisan itu, maka segera ia memberi
tanda kepada kawan-kawannya dengan gerakan cambuknya
ke atas sambil memaki,
"Setan cilik, kau sudah bosan hidup !”
Melihat isyarat yang diberikan oleh saudara tua itu,
semua anggauta Chit-seng-tin bersiap s iaga dengan senjata
mereka dan mulai mengurung Tiang Bu. Akan tetapi si baju
14
putih dan si baju hitam nampak ragu-ragu. Si baju putih
berkata,
"Ang-ko ( kakak merah ), bocah ini tahu akan sifat tin
kita, jangan jangan kita memukul orang segolongan !"
“Be tul, Ang-ko, dia begitu tepat bicara tentang keadaan
tin kita. Apakah tidak lebih baik berunding saja ?” kata si
hitam.
"Tutupmulut, dia musuh Liok-taihiap. Kewajiban kita
untuk membasminya. Serbuuu!" kata si baju me rah.
Tin itu mulai be rgerak dan menurut isyarat si baju
merah, tin itu membentuk gerakan Tujuh Bintang Berpindah
Tempat. Barisan ini bergerak cepat dan melenggang-lenggok
seperti naga berjalan, sukar sekali diduga lebih dulu ke
mana seorang-seorang hendak bergerak. Tahu-tahu cambuk
panjang mereka berbunyi dan susul menyusul menyambar
ke arah kepala Tiang Bu ! Ini masih ditanjutkan dengan
sambitan pisau yang dipergunakan sebagai senjata rahasia.
Tujuh batang pisau kecil runcing melayang ke arah tuhuh
pemuda yang masih tenang-tenang itu sebagai penyerangan
susulan dari tujuh ujung cambuk yang menyambar dari
segala jurusan mengarah jalan darah.
Tiang Bu dalam menghadapi serangan hebat ini, masih
dapat membedakan dan dapat melihat bahwa ujung cambuk
kedua orang berpakaian putih dan hitam itu hanya
meyambar ke arah jalan darah di pundaknya, bagian yang
tidak berbahaya bagi kese lamatan nyawanya. Juga pisaupisau
me reka itu hanya melayang ke arah kedua pahanya,
tidak seperti lima orang yang lain. Lima orang lawan yang
lain ini mengirimsenjata-senjata mereka, baik cambuk
maupun pisau, ke arah bagian yang mematikan.
Menghadapi serangan berantai yang berbahaya ini, Tiang
Bu berlaku tenang sekali akan tetapi tubuhnya segera
bergerak dan empat kaki tangannya bekerja dengan tepat
sekali. Tujuh orang lawannya menjadi te rheran heran karena
15
sebelum cambuk mereka mengenai tubuh pemuda itu,
sudah lebih dulu tertolak kembali oleh semacam hawa
pukulan sakti yang keluar dari kaki tangan itu. Sedangkan
tujuh batang pis au itupun runtuh semua di atas tanah
tanpa melukai kulit atau merobek baju. Sambil terus
menggerak-ge rakkan kaki tangannya, Tiang Bu berkata
seperti orang bernyanyi.
"Bintang-bintang di langit sudah mempunyai jalan
sendiri maka dapat bergerak menurut jalannya dan
terhindar dari kehancuran. Hanya bintang yang
menyeleweng dari jalannya akan hancur. Masih ada
kesempatan bagi kalian, mati hidup ditentukan oleh Thian
akan tetapi sebab-sebabnya ditentukan oleh manusia sendiri
sebagai akibat perbuatannya!”
Setelah berkata demikian, iapun sudah selesai
menangkis semua pakulan cambuk dan Tiang Bu
malangkah mundur tiga tindak, berdiri tegak dan
memandang ke arah musuh-musuhnya dengan mata tajam.
Tidak terdesak, tapi mundur tiga tindak itu hanya boleh
diartikan sebagai gerak mengalah dalam pertandingan silat,
mengalah bukan karena terdesak atau kalah, melainkan
karena pemuda ini enggan menurunkan tangan kepada
orang orang yang tidak ada permusuhan dengannya.
Kalau si baju merah dengan kawan-kawannya itu orang
baik-baik, tentu mereka tahu diri ! Melihat betapa pisau
pisau mereka tadi runtuh dan cambuk mereka terpental
kembali sebelum menyentuh kulit tubuh Tiang Bu,
seharusnya mereka maklum bahwa tingkat mereka masih
jauh di bawah tingkat pemuda luar biasa ini. Akan tetapi
Lam thian chit-ong ini semenjak dahulu terkenal sebagai
pe rampok-perampok jahat yang tidak tahu artinya takut,
tidak mau pula mengenal kesalahan sendiri, maunya
menang saja, benar ataupun salah. Mendengar ucapan Tiang
Bu itu si baju merah tidak mau insyaf, malah mengira
bahwa Tiang Bu merasa jerih menghadapi pengeroyokan tin
16
mereka. Ia kembali memberi isyarat dan majulah barisan itu,
kini berbentuk lingkaran yang mengurung Tiang Bu.
Hanya si baju hitam dan si baju putih yang masih raguragu.
Mereka bergerak lambat dan tidak segera menyerang.
Yang lain-lain sudah mulai mengayun cambuk dan
mengerahkan seluruh tenaga lweekang untuk melakukan
serangan. Tidak seperti tadi, kini semua cambuk diarahkan
ke bagian kepala Tiang Bu dengan pukulan maut ! Hanya si
baju hitam dan si baju putih yang tidak mau menyerang
kepala hanya menyabet ke arah pundak.
"Kalian sudah memilih jalan hidup dan mati, jangan
salahkan aku !" bentak Tiang Bu tanpa menggerakkan kaki
atau tangannya. Akan tetapi setiap kali ada cambuk
menghantam kepalanya, tangannya bergerak cepat sekali
dan aneh sekali.....! Cambuk yang menyambarnya itu
bagaikan bisa bergerak sendiri, ujungnya membalik secepat
kilat dan menyerang si pemegang tepat nada bagian yang
tadi hendak dtserangnya. Si baju merah yang gerakan
cambuknya paling cepat dan paling dulu, menjadi korban
pertama.
Cambuk si baju merah tadi menyambar ke arah ubunuban
kepala Tiang Bu dan ketika ujung cambuk bertemu
dengan jari tangan pemuda itu, secepat kilat cambuk ini
membatik dan ujungnya menghantam ubun-ubun kepala si
baju merah sendiri dengan tenaga yang jauh lebih hebat dari
pada tadi. Hal ini karena tenaga si baju merah membalik,
ditambah oleh tenaga sentilan jari tangan Tiang Bu. Tanpa
dapat mengeluarkan suara lagi, si baju merah terguling
roboh dengan ubun-ubun kepala pecah oleh cambuknya
sendiri dan ia menggeletak tak bernyawa lagi.
Oleh karena gerakan tujuh orang ini hampir berbareng,
yang lain-lain tak sempat mel ihat akibat yang hebat ini
karena mereka sendiripun secara susul menyusul dan
hampir berbareng mengalami akibat itu dari cara pukulan
masing-mas ing. Si baju hijau juga roboh dengan ubun-ubun
17
bolong, si baju biru roboh dengan jidat remuk demikian pula
yang lain lain, roboh tak bernyawa pula. Hanya si baju hitam
dan si baju putih yang roboh tanpa kehilangan nyawa
karena mereka ini hanya terserang oleh cambuk sendiri di
bagian pundak saja, membuut tulang pundak mereka remuk
namun tidak sampai mengakibatkan kematian.
Tiang Bu menarik napas panjang melihat lima orang
lawannya tewas dan dua yang lain merintih-rintih kesakitan.
“Kal ian masih ditakdirkan hidup. Kalau tadinya kalian
berdua merupakan Hek-pek-mo (Iblis Hitam dan Putih),
kuharap sungguh agar kelak kalian bisa menjadi Hek-pekcinjin
(Budiman HitamPutih). Pergilah sebelumkalian
mengalami bencana lebih besar.” Tiang Bu memberi dua
bungkus obat kepada mereka dan dua orang saudara hitam
dan putih ini segera pergi dengan muka pucat. Mereka
maklum bahwi kalau Liok Kong Ji melihat mereka masih
hidup, tentu akan timbul kecurigaan dan bukan hal aneh
kalau mereka juga akan dibunuh sekalian oleh Liok Kong Ji.
Demikianlah, ketika Liok Kong Ji, Cun Gi Tosu, dan Liok
Cui Kong tiba di tempat mereka hanya melihat lima orang
anggaota chit ong yang sudah menjadi mayat. Dua orang lagi
yang berpakaian hitam dan putih tidak kelihatan, juga Tiang
Bu tidak berada di situ.
"Hemm, agaknya mereka ini bukan lawan Tiang Bu," kata
Liok Kong Ji, suaranya terdengar tenang akan te tapi
sebetulnya jantungnya sudah be rdebar tidak karuan. Cui
Kong menjadi pucat sekali.
"Ke mana Hok-pek-hu (paman Hitam) dan Pek-pet-hu
(paman Putih)?" tanyanya dan suaranya jelas menggigil
ke takutan.
"Penakut!" Kong Ji membentak sambil meludah. Hatinya
mendongkol sekali mendengar suara Cui Kong yang
menggigil, "Mereka tentu sudah lari. Mengapa kau begitu
ketakutan?"
18
"Ayah.......... Tiang Bu begitu.......... begitu keji dan
kuat.........”
"Pengecut! Kaukira aku tidak dapat melawannya? Lihat
saja nanti aku akan mencabut isi perut anak durhaka ini!”
Memang Liok Kong Ji tidak hanya menyombong dan bicara
untuk membesarkan hati. Semenjak tinggal di pulau ini, ia
telah melatih diri dengan tekun sekali. Apa lagi ia telah
mempelajari ilmu dari kitab DELAPAN JALAN UTAMA yang
didapatkannya dari Toat-beng Kui-bo. Dari kitab ini ia
memperoleh kemajuan ilmu lwee-kang yang luar biasa, juga
ilmu pedangnya menjadi makin kuat, maka ia menaruh
kepere ayaan bahwa ini kali ia akan dapat mengalahkan
musuh-musuhnya, baik Wan Sin Hong maupun Tiang Bu.
"Cun Gi totiang kedatangan Wan Sin Hong tentu untuk
minta kembali puterinya. Kalau mereka bergabung dengan
Tiang Bu, keadaan musuh akan menjadi lebih kuat. Oleh
karena Leng ji merupakan senjata terakhir kita, dia itu
penting sekali dan jangan sampai terampas oleh musuh.
Harap totiang segera mengambil anak itu lebih dulu sebelum
kita menghadapi musuh. Kalau keadaan musuh terlampau
kuat, mungkin bocah itu akan dapat menyelamatkan kita."
Cun GI Tosu juga percaya akan kepandaian sendiri. Dia
tidak takut berhadapan dengan musuh, akan tetapi ia pikir
ucapan Liok Kong Ji ini memang tepat, mengandung
kecerdikan luar biasa. Maka ia mengangguk dan berkelebat
pergi. Mengagumkan sekali kalau me lihat kakek yang
kakinya tinggal sebelah itu “berlari" se cepat itu, seperti orang
yang tidak cacad saja, bahkan melebihi ahli ginkang yang
kakinya masih utuh.
Liok Kong Ji dan Liok Cui Kong juga pergi dari situ untuk
mengatur penjagaan dengan mengerahkan semua penjaga
yang berada di pulau itu. Akan tetapi dapat dibayangkan
betapa kekagetan dan kegelisahan hati mereka ketika
melihat di sana-sini para penjaga menggeletak dalam
keadaan tertotok atau terluka .
19
“Ki ta harus membantu Cun Gi totiang,” kata Liok Kong Ji
sambil mencabut pedang. "Jangan sampai dia roboh oleh
musuh, apa lagi jangan sampai Leng-ji dirampas. Dengan
berkumpul kita bertiga cukup kuat!"
Ayah dan anak ini dengan hati dag-dig-dug berlari-larian
cepat menyusul ke tempat tinggal Cun Gi Tosu karena Leng
Leng memang disembunyikan di situ, dikawani beberapa
orang pengasuh. Ketika mereka tiba di depan pondok tempat
tinggal Cun Gi Tosu, betul saja tosu itu sedang mati-matian
be rtempur melawan Tiang Bu! Cun Gi Tosu mainkan
tongkatnya secara hebat dan dahsyat, dan Tiang Bu
menghadapinya, dengan tangan kosong.
Bagaimana Tiang Bu bisa muncul di situ dan bertempur
dengan Cun Gi Tosu? Tadinya Cun Gi Tosu berlari cepat
menuju ke pondoknya untuk mengambil Leng Leng, dan di
dalam hatinya ia sudah mempunyai muslihat licik. Ia adalah
guru Leng Leng dan melihat Leng Leng dalam keadaan
selamat, tentu Wan Sin Hong takkan terlalu mendesaknya.
Kalau ia menukarkan Leng Leng dengan keselamatannya,
masa Wan Sin Hong takkan mau menerimanya?
Akan tetapi ketika ia sedang berjalan cepat sampai di
depan pondoknya, dari balik rumpun bambu berkelebat
bayangan lain yang segera menegurnya, "Cun Gi totiang
perlahan dulu !”
Cun Gi Tosu berhenti dan memandang. Di depannya
berdiri seorang pemuda dengan sepasang mata seperti
bintang pagi, bibir tebal membentuk watak teguh dan iman
kuat.
"Siapa kau? Mau apa?” Cun Gi Tosu membentak.
"Cun Gi totiang. Se lama hidupku, baru untuk kedua kali
ini aku bertemu dengan totiang yang bercacad, sebetulnya
patut dikasihani. Sayangnya, perbuatan totiang yang tidak
patut menditangkan kebencian yang lebih besar dari pada
rasa kasihan kepada tubuh totiang."
20
"Eh, bocah lancang. Kau siapakah dan apa artinya semua
ocehanmu tadi?" Cun Gi Tosu membentak marah, namun
hatinya sudah dapat menduga siapa adanya bocah yang
begitu berani mampus, datang-datang mencelanya.
"Aku yang muda dan bodoh bernama Tiang Bu, dahulu
ketika masih kecil pernah melihat totiang ikut menyerbu
Omei-san dan mencuri kitab-kitab dari suhu."
"Ho ho, jadinya kau ini murid Omei san? Dan kau datang
hendak minta kembali kitab kitab Omei-san ?" kali tosu itu
membesarkan hatinya.
"Bukan itu saja, totiang. Selain minta kitab juga aku
tidak dapat membiarkan kejahatanmu yang lain-lain. Kau
sudah membantu manusia-manusia jahat macam Liok Kong
Ji dan Liok Cui Kong. Juga kau sudah menculik anak dari
Wan-taihiap ..... "
“Bocah keparat, jadi kau anak durhaka dari Liok-taihiap?
Alangkah memalukan punya anak macam kau. Rasakan
tongkatku !”
Dengan marah Cun Gi Tosu mengayun tongkatnya
melakukan serangan kilat dengan tongkatnya ke arah kepala
Tiang Bu. Memang tadinya tosu ini sudah sering mendengar
dari Liok Kong Ji dan Cui Kong tentang kelihaian Tiang Bu,
akan tetapi sekarang melihat bahwa Tiang Bu hanya pemuda
yang tidak lebih usianya dari pada Cui Kong muridnya, ia
memandang ringan. Apa lagi ia melihat pemuda ini
be rtangan kosong dan tongkatnya mendapat julukan Lothian-
tung (Tongkat Pengacau Langit), maka serangannya ini
hebat bukan main. Cun Gi Tosu mengira bahwa sekali pukul
ia akan dapat membikin mampus lawan muda ini. Ilmu
tongkatnya memang hebat, pukulannya mengandurg tenaga
lweekang hampir seribu kati dan sukar sekali die lakkan
lawan, apa lagi ditangkis.
Akan tetapi, alangkah heran dan juga gembira hatinya
ketika ia melihat bocah itu mengangkat tangan kanan dan
21
hendak menangkis pukulan tongkat itu dengan telapak
tangan !
“Ha-ha, remuk tulang-tulangmu !” bentak Cun Gi Tosu
sambil mengerahkan seluruh tenaganya. Tak dapat tidak,
pikirnya, tangan pemuda goblok ini pasti remuk. Jangankan
baru telapak tangan orang lagi masih muda, senjata baja
yang bukan pusaka ampuh tentu akan patah-patah atau
hancur !
Sama sekali Cun Gi Tosu tak pernah mimpi bahwa ia
tidak menghadapi seorang manusia dengan kepandaian silat
biasa, melainkan menghadapi seorang ahli waris langsung
dari Omei-san, murid Tiong Sin Hwesio pewaris Tat Mo
Couwsu dan Tiong Sin Hwesio pewaris Hoat Hian Couwsu!
Bukan hanya mewarisi kepandaian kedua orang tokoh Omeisan
yang tidak ada tandingannya itu, malah sudah pula
mewarisi sinkang dari kedua orang sakti itu. Apa lagi setelah
mempelajari kitab Seng-thian-to, tenaga dalam dari pemuda
ini sudah jangan dikata lagi kehebatannya, mendekati
tenaga sakti yang dimiliki oleh para couwsu (guru besar) dari
sekalian partai persilatan besar.
"Plak!" Ujung Tongkat Pengacau Langit bertemu di udara
dengan telapak tangan Tiang Bu dan.......... Cun Gi Tosu
meloncat-loncat ke belakang dengan sebelah kakinya.
Hampir saja ia terjengkang roboh kalau ia tidak cepat-cepat
melambung tinggi dan berpoksai (berjungkir-balik) sampai
tiga kali, baru ia mampu berdiri tegak dan dapat pula
menggunakan tongkatnya untuk menyandarkan diri.
Matanya terbuka lebar lebar dan mulutnya melongo. Serasa
mimpi kejadian tadi, hampir tak dapat ia percaya. Apakah
tiba-tiba tenaganya sudah musnah? Tak mungkin! Ia
mengayun tongkatnya ke arah batang pohon besar di
sebelah kirinya.
“Brakk ...... !” Batang pohon itu patah dan pohonnya
tumbang mengeluarkan suara berisik. Baru ia mau percaya
bahwa pemuda di depannya ini memang sakti bukan main
22
dan mulai ia percaya bahwa muridnya, Cui Kong dan Liok
Kong Ji tidak berlebih-lebihan ketika memuji kepandaian
Tiang Bu. Akan tetapi dia adalah Lo-thian-tung Cun Gi Tosu
yang terkenal berilmu tinggi. Masa ia harus takut
menghadapi lawan begini muda? Mungkin bocah ini sudah
mewarisi tenaga besar, akan tetapi dalam hal ilmu silat.
tentu belum masak, belum lama terlat ih dan belum banyak
pengalaman. Oleh karena pikiran ini, hati Cun Gi Tosu tetap
besar dan tabah. Ia memutar tongkatnya dan menyerang lagi
sambil membentak,
"Bocah, tenagamu bes ar. Akan tetapi jangan kira Lothian
tung takut!"
Memang benar semua dugaan Cun Gi Tosu tadi. Melihat
usianya yang baru dua puluhan, tentu saja dibanding
dengan Cun Gi Tosu, Tiang Bu sama sekali tak dapat
direndengkan dalam hal kematangan latihan den
pengalaman bertempur. Sebelum Tiang Bu terlahir di dunia.
Cun Gi Tosu sudah menjadi seorang tokoh besar. Akan
tetapi, harus diketahui bahwa Tiang Bu telah mewarisi ilmu
silat yang diciptakan sendiri oleh Tat Mo Couwsu dan Hoat
Hian Couwsu.
Mengingat bahwa ilmu ilmu silat yang ada sebagian besar
bersumber pada dua orang guru besar ini, dapat
dibayangkan bahwa ilmu silat yang dipelajari oleh Tiang Bu
memang lebih sempurna dan lebih tinggi tingkatnya dari
pada ilmu silat yang dimiliki oleh Cun Gi Tosu. Memang dia
kalah matang dan kalah pengalaman, andaikata pengalaman
dan kematangan ilmu silatnya sebanding dengan tosu itu
kiranya dalam sepuluh jurus saja tosu buntung itu akan
roboh.
Terjadilah pertempuran yang benar benar hebat. Kali ini
Tiang Bu menghadapi lawan yang benar-benar tangguh
sesudah ia dahulu menghadapi Wan Sin Hong. Seperti juga
dahulu ketika menghadapi Wan Sin Hong, Tiang Bu terdesak
oleh ilmu tongkat yang dimainkan oleh Cun Gi Tosu secara
23
dahsyat sekali. Kemahiran dan kematangan Cun Gi Tosu
dalam bermain silat tongkat benar-benar sudah mencapai
batas tinggi sekali dan dalamjurus jurus pertama Tiang Bu
benar terdesak terus. Akan tetapi lambat laun pemuda ini
dapat memahami inti sari ilmu tongkat lawannya itu dan
mengimbanginya.
Sudah dua kali ia membiarkan pundak dan pahanya
dipukul, hanya dilawan dengan hawa sinkang di tubuhnya
sehingga pukulan-pukulan itu hanya terasa sakit sedikit
saja. Kemudian setelah tiga puluh jurus lamanya ia
memahami inti sari gerakan lawan, baru Tiang Bu membalas
serangan lawan dengan desakan-desakan ilmu pukulannya
yang lihai. Baru Cun Gi Tosu terkejut bukan kepalang.
Tasdinya, mel ithat pemuda itu terdesak, bahkan dua kali
kena pukulannya ia sudah mulai girang den mangira bahwa
ia tentu akan dapat merobohkan lawan ini. Tidak tahunya,
yang tiga puluh jurus lamanya itu memang sengaja
dipergunakan oleh Tiang Bu untuk memahami gerakan
lawan dan mengalah, mempertahankan diri terus mene rus
dengan llmu Kelit Sam-hoan-sam-bu.
Kini setiap pukulan tongkat Cun Gi Tosu, ditangkis atau
dikelit dengan balasan serangan pukulan keras. Kasihan
sekali kakek buntung itu yang harus berloncatan ke sana ke
mari menghindarkan pukulan Tiang Bu yang didahului oleh
sambaran angin pukulan yang kadang-kadang panas
kadang-kadang dingin itu. Cun Gi Tosu makin ketakutan
karena maklum bahwa lweekang pemuda ini sudah
sedemikian tingginya sehingga dalam satu serangan dapat
mempergunakan Im-kang dan Yang-kang secara bergantian
atau dicampur campur. Tingkat setinggi ini biar dia
sendiripun masih belum dapat mencapainya !
Berkali-kali tongkat bertemu dengan telapak tangan
Tiang Bu. Makin lama, setiap kali tongkat dan tangan
bertemu, Cun Gi Tosu terhuyung makin jauh ke belakang
dan pada jurus ke lima puluh. ketika tongkat Cun Gi Tosu
24
menghantam kepala, Tiang Bu menangkis lagi, Cun Gi Tosu
berteriak kaget karena kali ini ia seperti tak bertenaga lagi
dan tahu-tahu ia merasa dadanya sakit sekali. Kembali ia
menghantam, ditangkis lagi dan ia menjerit, dadanya seperti
dipukul orang.
“Totiang, kejahatanmu sudah memuncak. Kau
menghantam diri sendiri sampai mati,” kata Tiang Bu yang
mendesak terus. Memang sesungguhnya, hawa pukulan dari
Tiang Bu adalah hawa bersih yang keluar dari sinkang di
dalam tubuhnya. Pukulan-pukulan Cun Gi Tosu yang
dilakukan dengan pengerahan tenaga lweekang itu makin
lama makin lemah, se lalu dipultul mundur dan akhirnya
tenaganya itu melukai tubuh sendiri di bagian dalam. Makin
hebat ia memukul, kalau ditangkis maka tenaganya itu
makin hebat menghantam tubuh sendiri tanpa ia sadari.
Kembali tongkatnya melayang, kini malah menyodok ulu hati
Tiang Bu. Pemuda ini mengerahkan tenaga dan menerima
totokan itu dengan telapak tangnnya secara tiba-tiba dan
digentakkan.
“Dukk !!” Cun Gi Tosu terpental ke belakang, muntahmuntah
darah dan roboh terlentang tak bernapas lagi.
Jantungnya terkena goncangan hebat oleh tenaga sendiri
yang membalik dan tewas karena jantungnya rusak.
“Tiang Bu....... tolonglah aku…..” tiba-tiba Tiang Bu
merasa seakan-akan tubuhnya kaku mendengar suara ini. Ia
menengok dan..,. apa yang dilihatnya ? Bi Li berada dalam
pondongan Cui Kong dalam keadaan lemas tertotok.
Secepat kilat Tiang Bu me lompat bayangannya seperti
lenyap merupakan sambaran hebat ke arah Cui Kong. Akan
tetapi Liok Kong Ji sudah menghadang di depannya dan
berkata keras , "Tiang Bu, kekerasan hanya berarti tewasnya
kekasihmu ini……”
Kata-kata ini membuat Tiang Bu surut kembali dengan
wajah pucat. "Jangan ....... jangan ganggu dia ...... jangan
kalian berani mengganggu calon isteriku ! Lepaskan !"
25
Liok Kong Ji tersenyum dan memandang ke arah Bi Li
dengan muka berseri “Aha, calon isterimu ya ? Bagus, dia
calon mantuku kalau begitu. Bagaimana aku mau
mengganggu calon mantu sendiri? Tidak, tidak, anakku
gagah perkasa. Aku bukan orang kejam, Kau pun tentu
bukan seorang anak yang kejam mau membunuh ayah
sendiri bukan?"
Kita tinggalkan dulu Liok Kong Ji yang cerdik dan penuh
tipu muslihat itu mencoba menggunakan lidahnya yang
runcing untuk mempengaruhi Tiang Bu. Bagaimanakah Bi Li
dapat terjatuh ke dalam tangan Cui Kong dan Kong Ji ? Mari
kita mundur sedikit.
Seperti telah kita ketahui, Bi Li ditinggalkan di pantai
daratan oleh Tiang Bu yang tidak menghendaki kekasihnya
itu terancam bahaya di pulau musuh musuhnya. Kemudian
datang Ang-jiu Mo li yang mengajak muridnya itu menyusul
ke Pulau Pek-houw-to untuk membalas dendam kepada Liok
Kong Ji yang sudah membuntungi lengan Bi Li.
Tanpa mendapat kesukaran Ang-jiu Mo-li dan Bi Li
mendarat di pulau itu dan cepat berlari-lari dari pantai timur
yang benar seperti dugaan Ang jiu Mo-li tidak terjaga kuat
karena penghuninya menyangka bahwa musuh tentu akan
datang dari barat. Di sana-sini Ang-jiu Mo-li dan Bi Li
melihat penjaga-penjaga menggeletak tertotok atau terluka.
Tahulah mereka bahwa Tiang Bu sudah mulai turun tangan.
Bi Li mendesak gurunya supaya mempercepat perjalanan
karena gadis ini mulai mengkhawatirkan keselamatan
kekasihnya, biarpun ia percaya penuh akan kesakitan Tiang
Bu. Ang jiu Mo-li maklum akan isi hati muridnya dan iapun
mengerti bahwa menghadapi lawan-lawan seperti Liok Kong
Ji dan kaki tangannya memang bukan hal yang boleh
dipandang ringan. Mereka berlari lebih cepat lagi.
Tiba-tiba mereka malihat dua orang laki-laki tengah
be rlari cepat dari depan dan setelah dekat ternyata bahwa
dua orang itu bukan lain adalah Liok Kong Ji sendiri
26
be rsama Liok Cui Kong! Tentu saja Ang-tiu Mo-li menjadi
girang sekali dapat bertemu muka dengan masuh-musuh
besar yang ia cari-cari.
Kegirangannya bercampur aduk dengan kemarahan
besar ketika ia melihat Cui Kong membawa lengan kering
yang dilingkari ular sebagai senjata! Sekali pandang saja
maklumlah ia bahwa pemuda keji itu telah mempergunakan
lengan Bi Li sebagai sebuah senjata yang mengerikan. Juga
Bi Li tahu akan hal ini maka kemarahannya memuncak.
Dengan pedang di tangan gadis ini langsung menyerang Cui
Kong, sedangkan Ang-jiu Mo li membentak.
"Liok Kong Ji manusia iblis, sekarang tiba saatmu untuk
kembali ke neraka jahanam!“Wanita sakti ini lalu maju
menyerang dengan tangannya yang menjadi merah seperti
api.
Melihat muncuInya wanita tokoh besar utara ini, biarpun
dia tidak gentar, namun membuat Kong Ji diam-dram
mengeluh. Tiang Bu sudah merupakan lawan tangguh, dan
di sana masih ada ancaman Wan Sin Hong dengan kawankawannya
yang sedang mendatangi. Sekarang tahu-tahu
ditambah lagi dengan seorang Ang-jiu Mo-li yang ia cukup
kenal kelihatannya. Aneh, dasar ia sedang sial, pikirnya.
Tanpa banyak cakap lagi Liok Kong Ji mempergunakan
pedangnya menghadapi Ang-jiu Mo-li. Pedangnya diputar
cepat sekali dan Ang jiu Mo -li terkejut melihat sinar pedang
berkilauan dan gerakannya selain cepat dan aneh, juga
mendatangkan hawa dingin menandakan bahwa tenaga
lweekang dari musuh besarnya ini telah mendapatkan
kemajuan luar biasa. Ia berlaku hati-hati dan cepat
mengelak mundur, kemudian sekali berseru nyaring Ang-jiu
Mo-li lalu meloloskan selendang suteranya untuk
menghadapi pedang lawan yang tak boleh dipandang ringan
itu.
Memang Liok Kong Ji sekarang jauh bedanya
dibandingkan dengan Liok Kong Ji beberapa tahun yang
27
lalu. Dia sudah memahami isi kitab Omei-s an, tidak saja ia
mewarisi ilmu pedang luar biasa dari Omei san yaitu Ilmu
Pedang Soat-lian-kiam-coansi (Ilmu Pedang Teratai Salju),
akan tetapi juga ia telah mempelajari kitab Pat -sian-jut bun
yang ia rampas dari Lie Ceng Ceng.
Kemudian ia juga mempelajari kitab ke tiga dari Ome isan,
yaitu Soan-bong-kiam-hoat (Ilmu Pedang Angin Payuh).
Ini semua masih belum hebat , yang paling hebat dan yang
membuat ia mendapat kemajuan pesat sekali adalah ketika
ia mempelajari kitab Omei-san yang paling sulit dipelajari
namun merupakan ilmu paling tinggi, yaitu kitab Delapan
Jalan Utama yang ia dapat dari Toat- beng Kui-bo.
Setelah bertempur dua-tiga puluh jurus saja Ang-jiu Moli
sudah merasa bahwa Liok Kong sekarang benar-benar
hebat kepandaiannya dan ia hanya dapat mangimbanginya
dengan amat sukar dan harus mengerahkan seluruh
kepandaian dan tenaganya.
Merasa penasaran karena dahulu ketika Liok Kong Ji
masih tinggal di utara, pernah Ang-jin Mo-li mengacau
pasukan Mongol dan pernah pula ia bertanding dengan Liok
Kong Ji yang ia desak dan permainkan, sekarang desakan
Liok Kong Ji membuat Ang-jiu Mo-li makin marah. Dulu
kalau tidak ada bantuan dari panglima-panglima Mongol,
tentu Liok Kong Ji sudah roboh olehnya. Masa sekarang satu
lawan satu ia kalah?
Tiba-tiba Ang-jiu Mo-li mengeluarkan pekik nyaring.
tangan merahnya melayang ke depan dengan hawa pukulan
sepenuhnya manyambar ke arah dada Liok Kong Ji,
sedangkan selendang suteranya bagaikan ular merah
menyambar kepala Kong Ji. Inilah sejurus dari ilmu Silat
Kwan-Im-cam-mo (Dewi Kwan lm Menaklukkan Iblis) yang ia
pe lajari dari kitab Omei-san yang terjatuh ke dalam
tangannya. Hebatnya serangan ini sudah jangan ditanya
lagi. Ang-jiu Mo-li yang sudah marah itu benar-benar
28
menurunkan tangan maut dan agaknya Liok Kong Ji takkan
dapat menghindarkan diri lagi.
Akan tetapi, kalau kepandaian Ang-jiu Mo-li hanya
bertambah oleh ilmu dari sebuah s aja kitab Omei-san,
adalah Kong Ji menambah kepandaiannya dari empat buah
kitab Omei-san, dan kitab-kitab yang ia pelajari tingkatnya
lebih tinggi pula. Kalau kepandaian Ang jin Mo-li hanya
meningkat dua bagian, kiranya kepandaian Liok Kong Ji
sudah meningkat delapan bagian !
Menghadapi serangan maut itu, Liok Kong Ji juga
mengeluarkan seruan keras, pedangnya berkelebat -kelebat
seperti naga mengamuk, tangan kirinya didorongkan ke
depan. Pedang bertemu selendang, selendang melibat.
Pakulan Ang-sin-ciang bertemu pukulan Tin-san kang
membeleduk di udara membuat Ang-jiu Mo-li, tergetar
seluruh anggauta tubuhnya. Selendang masih melibat,
lemas lawan lemas karena kalau Kong Ji mempergunakan
tenaga kasar pedargnya bisa patah. Tiba-tiba Ang-jiu Mo-li
membetot selendangnya yang menjadi kaku dan keras. Akan
tetapi pedang itu juga menjadi keras dan ...... . "krak !"
selendang itu putus.
Liok Kong Ji tertawa bergelak. Wajah Ang jiu Mo-li
menjadi semerah tangannya. Wanita sakti itu menyerang lagi
mati-mat ian untuk menebus kekalahannya dalam adu
tenaga lwee-kang tadi. Biarpun selendangnya sudah putus
sebagian, namun senjata istimewa ini masih berbahaya
sekali.
Sementara itu, Bi Li yang manyerang Cui Kong dengan
mati-matian, harus meagakui keunggulan pemuda ini.
Sambil tertawa-tawa Cui Kong melayaninya, kadang-kadang
menyindir dan mengejek.
"Hai-hai.......... nona manis, jangan keras. keras
membacok lenganmu sendiri !” katanya sambil mengangkat
lengan kering itu untuk menangkis pedang Bi Li yang
menyambar-nyambar.
29
"Aduh, kau makin cantik jetita saja, seperti patung Kwan
Im yang buntung....... ! Biarpun sudah buntung aku masih
mau ..... .!”
Dapat dibayangkan betapa hebat kemarahan hati Bi Li ia
dilawan dengan sebuah lengannya sendiri yang sudah kering
dan mengerikan, ditambah lagi oleh ejekan-ejekan yang
kadang-kadang bersifat kotor dari lawannya. Dengan nekat
sekali Bi Li menghujankan serangan, kalau perlu ia mati
mengorbankan nyawanya asal dapat membunuh orang ini.
Sepasang mata yang bening itu berkilat, bibir yang merah
digigit dan pedangnya mengeluarkan suara mengaung,
menimbulkan segulung sinar berkeredepan.
Biarpun tingkat kepandaian Cui Kong lebih tinggi dari
pada tingkat kepandaiannya. namun kiranya takkan mudah
bagi pemuda itu untuk merobohkannya. Apa lagi karena
melihat wajah Bi Li yang memang cantik sekali itu, hati Cui
Kong tidak tega untuk membunuhnya dan timbul pikirannya
hendak menawan Bi Li hidup-hidup. Tidak saja pemuda ini
sudah tergila-gila akan kecantikan Bi Li yang sudah buntung
lengannya juga sebagai seorang cerdik seperti ayah
angkatnya, ia maklum bahwa Bi Li dapat ia pergunakan
sebagai perisai terhadap Tiang Bu yang mencinta gadis ini.
Menghadapi kenekatan Bi Li, Cui Kong menjadi
kewalahan juga. Akhirnya ia terpaksa mengeluarkan
huncwenya dan dengan senjata ini ia menyerang Bi Li yang
menjadi kocar-kacir pertahanannya. Selagi gadis ini
terdesak, tiba-tiba Cui Kong meniup huncwenya dan as ap
kekuningan menyambar ke arah muka gadis itu Bi Li
mencoba untuk mengelak, akan tetapi ternyata asap itu
bukan asap beracun, hanya dipergunakan untuk
menggertak saja. Selagi gadis itu mencurahkan perhatian
kepada serangan asap, Cui Kong menggerakkan huncwenya
dan ..... Bi Li roboh tertotok, tak berdaya lagi.
Cui Kong tertawa senang.
30
“Cui Kong, bantulah.....!!" terdengar Kong Ji berseru
melihat anak angkatnya sudah berhasil merobohkan
lawannya.
Cui Kong melompat dan di lain saat Ang-jiu Mo-li sudah
dikeroyok dua oleh ayah dan anak yang lihai ini. Tentu saja
Ang-jiu Mo-li menjadi makin kewalahan. Tadi saja
menghadapi Kong Ji ia sudah berada dalam keadaan
te rdesak. Apa lagi sekarang Cui Kong maju dan kepandaian
pemuda ini memang sudah hebat. Namun Ang-jiu Mo-li tidak
menjadi gentar. Dengan mati-matian ia membela diri dan
membalas serangan kadua orang lawannya dengan sengit.
Setelah menghadapi keroyokan sampai tiga puluh jurus,
Ang-jiu Mo-li menjadi lelah sekali. Kedua lawannya
bertenaga kuat dan setiap kali menangkis ia harus
mengerahkan seluruh lweekangnya.
Lengan kering di tangan Cui Kong menyambar hebat, ular
kecil yang -melingkar di lengan itu siap menggigit. Jari- jari
tangan kering yang mengerikan itu seperti cakar seakan
mengarah muka Ang-jiu Mo-li. Se rangan ini hebat datangnya
karena merupakan susulan dari pada serangan-serangan
Liok Kong Ji yang dapat digagalkan oleh Ang-jiu Mo-li.
Menghadapi serangan dengan lengan kering muridnya ini
timbul kemarahan hat i Ang-jiu Mo-li. Dari mulutnya
terdengar pekik keras sekali, tangannya yang sudah me rah
membara itu menghantam ke depan ke arah lengan dan
ularnya.
"Brakk !” Tulang- tulang kering itu hancur berantakan
berikut tubuh ular kecil yang menjadi remuk berikut tulangtulangnya
! Cui Kong sendiri terdorong mundur, akan tetapi
di lain saat terdengar Ang-jiu Mo-li mengeluh tubuhnya
te rgelimpang dan roboh tak bernyawa lagi. Ang-jiu Mo li
ketika menghantam lengan kering tadi mengerahkan
perhatian dan mengerahkan seluruh tenaganya, maka ia
tidak dapat mengelak lagi ketika pedang di tangan Liok Kong
Ji bergerak ke depan dan menembus dadanya! Tamat lah
31
riwayat hidup Ang-jiu Mo-li, wanita sakti tokoh utara yang
dulu ditakuti Liok Kong Ji akan tetapi sekarang tewas oleh
pedang Liok Kong Ji pula !
“Lekas kita menyusul Cun Gi totiang. Kau bawa bocah
itu, siapa tahu berguna nanti ,” kata Kong Ji kepada Cui
Kong. Memang bapak dan anak angkat ini setali tiga uang,
sama cerdiknya sama liciknya. Tanpa banyak komentar lagi
Cui Kong memondong tubuh Bi Li yang sudah tertotok jalan
darahnya sehingga tak dapat bergerak lagi seperti lumpuh,
tubuhnya lemas sekali.
Demikianlah, ketika Kong Ji dan Cui Kong yang
memondong Bi Li tiba di dekat pondok Cun Gi Tosu, mereka
melihat tosu buntung itu sudah tewas oleh Tiang Bu. Dan
melihat kekasihnya itu, Bi Li yang sudah tak berdaya
mengeluarkan seruan minta tolong.
Seperti sudah diceritakan di bagian depan, melihat Bi Li
tak berdaya dalam pondongan Cui Kong, Tiang Bu melompat
dan menerkam hendak merampas tubuh kekasihnya itu.
Akan tetapi Kong Ji sudah menghadang di depannya dan
mengancam.
"Kalau kau menggunakan kekerasan, berarti calon
isterimu itu akan mati, Tiang Bu, sudah berkata-kali kau
mendurhaka terhadap ayah sendiri. Kalau dulu kau tidak
mendurhaka terhadap ayah sendiri, tentu calon isterimu ini
tidak sampai cacad. Sekarang, lebih baik kau kembali ke
jalan benar, lebih baik kau berpihak kepadaku, kepada
ayahmu sendiri. Se telah kita dapat mengusir musuh-musuh,
tentu aku akan mengawinkan kau dengan gadis ini."
Kata-kata Kong Ji dikeluarkan dengan suara halus,
penuh bujuk rayu, Tiang Bu diam saja, tak bergerak,
keningnya berkerut-kerut. Diamnya pemuda ini dianggap
oleh Kong Ji sebagai keraguan dan ada harapan anaknya
yang sejati itu suka tunduk kepadanya, maka dengan muka
be rseri ia menyambung.
32
“Tiang Bu, puteraku hanya kau seorang. Di dunia ini
hanya ada dua orang yang betul-betul kusayang sepenuh
jiwaku, pertama adalan mendiang ibumu dan ke dua kau
sendiri! Insysflah, anak, tidak bijaksana kau seorang anak
melawan ayah sendiri. Kau bisa dikutuk oleh Thian ..... !."
“Tiang Bu, jangan dengarkan dia. Serang dan bunuh
saja!” Tiba-tiba Bi Li berseru marah. Gadis ini khawatir juga
melihat Tiang Bu diam saja, ia mengira bahwa pemuda
pujaannya itu akan terpengaruh oleh kata-kata Liok Kong Ji.
"Hush, diam kau. Nyawamu di tangan kami!" Cui Kong
membentak Bi Li. Pemuda ini terkejut mendengar ucapan
gadis tadi karena ia sudah takut-takut kalau Tiang Bu yang
ia takuti itu mengamuk.
"Tiang Bu, jangan pe rdulikan aku. Aku dibunuh tidak
apa, asal kau memakai jantung dua orang ini untuk
menyembahyangi rohku, aku akan mati meram," kembali Bi
Li berseru.
Sebetulnya, Tiang Bu be rdiam saja bukan sekali-kali
karena terpengaruh oleh kata-kata yang keluar dart mulut
Liok Kong Ji. Ia tadi berdiam diri karena sedang bingung dan
mencari jalan bagaimana ia dapat menolong kekasihnya.
Teriakan-teriakan Bi Li manyadarkannya. Dua orang ini
terlalu jahat, harus dibasmi. Kalau ia melepaskan mereka,
apa lagi membantu mereka hanya karena hendak
menyelamatkan kekasihnya, itu bukan perbuatan se orang
gagah. Apa lagi Bi Li sendiri rela berkorban nyawa asal dua
orang itu terbinasa. Kalau ia sampai tunduk terhadap
manusia jahat seperti iblis itu, alangkah akan rendahnya,
hiduppun Bi Li takkan sudi memandangnya lagi !
Tiang Bu meluncur bagaikan kilat menyambar ke arah
Cui Kong, berusaha sekali lagi me rampas Bi Li.
"Anak durhaka!” Kong Ji yang be rpemandangan dan
memiliki gerakan cepat sekali sudah menghadang lagi sambi l
melakukan pukulan Hek-tok ciang ke arah dada Tiang Bu.
33
Pemuda ini tidak perdulikan itu, tangan kirinya menyampok
dan tubuh Kong Ji terbuyung huyung oleh bows tangkisan
lust biasa kuatnya itu. Cui Kong ketakutan dan.... melarikan
diri sambil memondong tubuh Bi Li dan berkaok-kaok.
“Tiang Bu, kalau kau mengejarku, kubikin mampus gadis
ini!"
Tiang Bu ragu-ragu karena betapapun juga amat cinta
kepada Bi Li dan merasa tidak te ga kalau sampai kekasih
hatinya itu tewas.
"Tiang Bu, jangan perduli. Aku rela mati asalkan bisa
membasmi ayah dan anak iblis ini !" Bi Li berseru, mencoba
untuk meronta akan te tapi tenaganya habis s ama sekali.
Tiang Bu molompat lagi mengejar. Akan tetapi Kong Ji
menyerangnya dengan pedang terhunus, me lakukan
tusukan yang amat berbahaya sehingga Tiang Bu terpaksa
mengelak.
"Anak durhaka, benarbenar
kau tidak mau
berbaik dengan ayah
sendiri ?” teriak Liok Kong
Ji.
"Perse tan dengan kau,
manusia busuk !" Tiang
Bu balas menyerang.
Pemuda ini mendapat
pikiran baik. Kalau ia
berhasil merobohkan Liok
Kong Ji lebih dulu, tentu
Cui Kong tidak berdaya
lagi. Ia melakukan
serangan balasan dengan
hebat dan di lain saat dua
orang ini, ayah dan anak,
bertanding mati-matian. Kembali Tiang Bu menghadapi
34
lawan berat . Tingkat kepandaian Liok Kong Ji pada waktu
itu malah lebih tinggi dari tingkat Cun Gi Tosu dan
pedangnya amat lihai, pukulan Tin-san-kang dan Hek- tokciang
ia lakukan berganti-ganti, menyambar-nyambar
merupakan tangan-tangan maut yang menjangkau nyawa
lawan.
Melihat ayah angkatnya bertempur melawan Tiang Bu
sehingga musuh ini tidak mengejarnya lagi, Cui Kong
menjadi lega dan melarikan diri terus! Kong Ji gemas sekali
melihat ini.
“Cui Kong, anak tak tahu budi! Apa kau tidak mau
membantuku?" teriak Kong Ji marah.
Tiang Bu tertawa mengejek. "Manusia macam kau
memang pantas mempunyai anak seperti dia, berwatak
rendah dan tak kenal budi.” Pemuda ini menyerang terus
dengan sengitnya, akan te tapi Liok Kong Ji mengelak dan
membalas dengan sama dahsyatnya.
Kalau saja Tiang Bu belum memahami ilmu thian- to dan
belum menguasai semua dasar Ilmu silat yang diturunkan
oleh kedua orang gurunya di Ome i-san, tentu ia takkan kuat
menghadapi Liok Kong Ji yang kepandaiannya sudah amat
tinggi itu. Baiknya Tiang Bu mengenal inti sari semua limu
silat yang dimainkan oleh Liok Kong Ji dengan pedangnya,
baik Ilmu Pedang Spat-iian- kiam- host yang berdasarkan
tenaga Im-kaog maupun Ilmu Pedang Soan-tian kiam hoat
yang berdasarkan tenaga Yang-kang. Bahkan inti sari Ilmu
Delapan Jalan Utama itupun merupakan "pakaian" saja dan
Ilmu Thian- te Si-kong, maka pengaruhnya terhadap Tiang
Bu tidak begitu hebat. Satu demi satu ilmu silat yang
dimainkan oleh Liok Kong Ji dapat dipecahkan dengan baik
oleh Tiang Bu. Sebaliknya, dengan tangan kosong pemuda
itn juga tidak begitu mudah mengalahkan Liok Kong Ji,
sungguhpun tiap serangan pemuda ini membuat pertahanan
Kong Ji kocar-kacir.
35
Debu be terbangan, daun-daun pohon bergoyang-goyang.
Bahkan pada jurus ke tiga puluh, Kong Ji menusukkan
pedangnya dengan gerak tipu Soan-hong-koan jit (Angin
Puyuh Menutup Matahari) sebuah gerakan yang lihai dari
Ilmu Pedang Soan-hong-kiam-hoat. Pedangnya membuat
gerakan melingkar-lingkar, mula-mula lingkaran-lingkaran
kecil, makin lama makin besar sehingga tertutuplah tubuh
Kong Ji dan sebentar kemudian lenyap seakan-akan
tubuhnya sudah bergabung menjadi satu dengan pedang.
Gulungan sinar pedang yang melingkar-lingkar ini
menyambar dengan pesat dan kuatnya ke arah leher Tiang
Bu. Dan dari dalam gulungan sinar pedang itu, Liok Kong Ji
masih mengirim pukulan pukulan Tin-san-kang yang
dilakukan bertubi-tubi dengan tangan kanannya!
Serangan macam ini benar-benar hebat bukan main.
Tiang Bu tidak diberi kesempatan untukmengelak sama
sekali karena lingkaran pedang itu sudah menutup semua
jalan keluar. Namun Tiang Ba yang sudah mengenal dasar
penyerangan ini tidak menjadi gentar. Tubuhnya dikecilkan
dan ia setengah berjongkot untuk menghindarkan tusukan
pedang, kedua tangannya ia dorongkan dari bawah ke atas
dengan gerak tipu Seng thian-pai-in (Naik ke Langit
Mendorong Awan). Dari kedua tangannya yang mendorong
itu keluar tenaga dahsyat yang hawanya saja sudah
membentur pukulan-pukulan Tin-san-kang yang dilakukan
oleh Liok Kong Ji.
“Brakk. ...... .!” Sekarang pohon besar yang tumbang di
belakang Tiang Bu roboh seperti terdorong tenaga dahsyat.
Inilah kehebatan tenaga Tin- san-kang yang dilakukan oleh
Liok-Kong Ji. Tenaga pukulan ini karena tidak mengenai
Tiang Bu bahkan terpental oleh dorongan Seng-thian-pai-in
tadi, terus menyambar ke belakang Tiang Bu dan
merobohkan sebatang pohon yang besarnya melebihi tubuh
Tiang Bu! Dapat dibayangkan betapa tinggi ilmu kepandaian
Liok Kong Ji. Kalau seorang tokoh persilatan biasa saja tak
36
mungkin dapat menghadapi pukulan ini tanpa menderita
malapetaka hebat.
Tiang Bu sendiri mau tidak mau menjadi kagum.
Kepandaian Liok Kong Ji benar-benar hebat dan ia harus
berlaku waspada. Lawan ini malah lebih berat dari pada Cun
Gi Tosu, malahan ia meragukan apakah Wan Sin Hong dapat
menandingi orang ini.
Pemuda ini melihat lawannya melakukan pukulan
dahsyat, tidak tinggal diam saja. Setelah menyelamatkan diri
dari serangan lawan tadi, cepat ia membalas dengan
pukulan jarak jauh yang tidak kalah hebatnya. Empat kali
berturut-turut kedua tangannya melakukan gerakan
memukul ke depan. Kong Ji merasa datangnya hawa
pukulan dahsyat ini , sambil berseru kaget ia me loncat
sampai dua tombak ke kiri sambil mengerahkan tenaga
mengibaskan tangan. Namun tetap saja hawa pukulan Tiang
Bu membuat ia terhuyung-huyung seperti pohon besar
diterjang angin, setelah terhuyung jauh baru ia teebebas dari
pukulan dahsyat itu. Hawa pukulan terus meluncur ke
depan dan terdengar suara keras ketika sebuah batu karang
yang kokoh kuat roboh terguling seperti didorong oleh seekor
gajah mengamuk !
"Lihai sekali........." Kong Ji memuji. Hatinya sudah mulai
gentar karena dari pukulan ini tadi saja ia sudah maklum
bahwa kalau dilanjutkan, akhirnya ia akan kalah juga
melawan anaknya sendiri yang memusuhinya ini. Hatinya
merasa sedih dan bingung. Kalau ia sampai tewas di tangan
musuh-musuhnya, hal itu bukan merupakan suatu yang
patut disedihkan. Mati hidup buat seorang seperti Kong Ji
ini bukan apa-apa, akan tetapi yang membuat ia bingung
dan sedih adalah kalau ia harus mat i di tangan puteranya
sendiri!
"Cui Kong manusia tak kenal budi ......!" Ia memaki dan
bersungut-sungut sambil cepat mengelak ketika Tiang Bu
menyerang lagi. Kong Ji terpaksa melayani dan hatinya
37
penasaran dan marah sekali mengapa Cui Kong tidak
membantunya. Kalau Cui Kong membantu, kiranya ia
takkan begini terdesak.
“Cui Kong, di mana kau.......... ?" Kong Ji berteriak sambil
melompat ke kanan menghindari pukulan maut Tiang Bu,
kemudian ia.......... melarikan diri.
“Manusia lblis , kau hedak lari ke mana?” Tiang Bu
mengejar cepat. Dalam hal ginkang, ia tidak usah menyerah
kalah terhadap Liok Kong Ji, maka dalam beberapa puluh
langkah saja ia sudah dapat menyusul.
Tiba-tiba Liok Kong Ji membalik, tangan ki rinya tarayun,
disusul oleh serangan pedang di tangan kanan, dilanjutkan
dengan pukulan Hek tok-ciang dari tangan kanan. Ayunan
tangan kiri tadi menimbulkan sinar kahitaman yang
menyambar ke arah jalan darah penting di tubuh Tiang Bu.
itulah Hek-tok-ciam (Jarum Racun Hitam), senjata rahasia
jarum yang sudah direndam racun hitam yang amat jahat.
Serangan ini datangnya tiba-tiba dan tidak terduga-duga
karena selagi berlari. mendadak membalik dan menyerang.
Orang lain tentu akan sukar menyelamatkan diri dari
serangan-serangan berantai dari Kong Ji yang betul-betul
lihai dan berbahaya sekali ini. Akan tetapi Tiang Bu memang
sudah s iaps iaga, sudah dapat menduga lebih dulu bahwa
lawannya yang terkenal licik dan jahat itu pasti akan
melakukan serangan gelap. Dengan tenang dan tepat
pemuda ini mangepretkan jari-jari tangan yang dilonjorkan
dari samping ke arah jarum-jarum racun hitamitu dan
semua jarum runtuh di atas tanah. Selanjutnya tangan
kirinya diulur untuk mencengkeram pedang lawan dan
tangan kanannya didorongkan ke depan untuk menyambut
pukulan Hek-tok-ciang !
Liok Kong Ji kaget bukan main, juga he ran dan kagum
sekali. Meruntuhkan jarum-jarum Hek-tok-ciam dengan
kepretan jari-jari tangan terbuka merupakan perbuatan yang
amat berbahaya, karena sedikit saja kulit tergores jarum dan
38
terluka, berart i ancaman maut. Namun pemuda itu dapat
meruntuhkan semua jarum tanpa terluka sediki tpun.
Kemudian cengkeraman dengan gerak tipu Leng-mauw-po-ci
( Kucing Manerkam Tikus) inipun amat luar biasa dan
berbahaya. Tanpa memiliki lweekang yang tinggi tak
mungkin orang berani mencengkeram pedang lawan yang
merupakan pedang pusaka, bukan pedang biasa.
Cengkeraman itu adalah semacam Ilmu Silat Sin-na-hwat
yang aneh dan jari-jari tangan Tiang Bu yang dibentuk
seperti cakar harimau itu menjadi kaku dan kuat melebihi
baja.
Tentusaja Kong Ji tidak membiarkan pedangnya
dicengkeram dan dirampas. Cepat ia menarik kembali
pedangnya dan seluruh perhatiannya ia tujukan ke arah
pukulan tangan kirinya yang merupakan serangan Hek-tokciang
kuat sekali. Ia hendak sekali lagi mengadu tenaga
dengan harapan kali ini ia akan menang karena Tiang Bu
baru saja memecah perhatiannya untuk menghirdarkan
serangan jarum dan pedang.
Dan tenaga raksaaa bertemu di udara ketika dua telapak
tangan itu hampir saling bertumbukan. Akibatnya, Tiang Bu
mundur dua langkah akan tetapi Kong Ji terpental ke
belakang dan hanya dengan berjungkir balik dia dapat
menghindarkan diri te rjengkang! Sekali lagi ia harus
mengakui keunggulan pemuda itu yang telah memiliki
sinkang luar biasa.
Makin kecil hati Kong Ji. Begitu kakinya menginjak
tanah, ia lari lagi secepatnya menuju ke gua-gua di pantai
laut untuk bersembunyi. Tiang Bu tentu saja tidak mau
melepaskannya dan menge jar terus.
Tiba-tiba muncul Liok Cui Kong dari balik batu-batu
karang. Pemuda ini sudah membawa senjatanva yang
istimewa, huncwe maut. Datang-datang pemuda itu dimaki
ayah angkatnya, “Setan, kau ke mana saja. Hayo bantu aku
merobohkan s i durhaka ini!`
39
Cui Kong tersenyum. "Ayah, nona manis yang sudah
lama kurindukan terjatuh ke dalamtanganku, bagaimana
aku bisa menyia-nyiakan waktu dan kesempatan baik ?"
Cui Kong sengaja mengeluarkan ucapan-ucapan yang
menusuk perasaan Tiang Bu. Ini ia lakukan untuk
menjalankan siasatnya. Ia tahu bahwa Tiang Bu cinta
kepada gadis itu, biarpun Tiang Bu memperl ihatkan sikap
kurang perhatian karena gadis itu mendesak agar supaya
Tiang Bu membunuh Kong Ji dan Cui Kong. Akan te tapi
kalau mendengar kata-kata tadi, masa Tiang Bu tidak
menjadi panas hati dan ingin melihat keadaan kekasihnya ?
Memang tepat dugaan Cui Kong. Mendengar ucapan ini,
Tiang Bu naik darah. Secepat kilat ia menerjang Cui Kong
yang memapakinya dengan pukulan huncwe. Akan tetapi
sekali menggerakkan tangan, Cui Kong berikut huncwenya
terlepas sampai tiga tombak lebih!
"Kauapakan dia.......... ? Di mana dia.......... ?” tanya
Tiang Bu dengan muka berubah dan napas terengah-engah
saking marah dan gelisahnya.
Cui Kong yang tidak terluka sudah bergabung dengan
ayah angkatnya. Ia berdiri di dekat Liok Kong Ji,
mempersiapkan huncwe dan menjawab.
"Kau perdeli apa ? Dia sudah menghadapi kematian
mengerikan dan takkan kuberitahukan keadaannya kalau
kau tidak manyerahkan diri dan taluk kepada ayah."
Tiang Bu makin marah. “Jahanam, kalau kau
mengganggu dia, jangan kau bersambat kepada neraka !"
Tubuhnya berkelehat dan ia menerjang lagi ke arah Cui
Kong, dengan maksud menangkap pemuda keji itu dan
memaksanya mengaku di mana Bi Li disembunyikan dan
bagaimana keadaannya.
Akan tetapi sekarang terjangannya dihadapi dua orang.
Kong Ji menusukkan pedang dan Cui Kong menotok dengan
40
huncwenya dibarengi semburan uap hitam dari mulutnya,
uap yang telah me robohkan tokoh-tokoh Kim-bun-to !
Terpaksa Tiang Bu membuang diri ke kanan untuk
mengelak dari serangan-serangan yang tak boleh dipandang
ringan ini, lalu melanjutkan serangannya dari samping.
Pe rtempuran hebat terjadi, kali ini lebih ramai dan seru
karena dengan adanya Liok Cui Kong di sumpingnya,
kedudukan Kong Ji tentu lebih kuat lagi.
Bukan saja kini ia menghadapi dua orang lawan tangguh,
juga hati Tiang Bu sudah terguncang dan gelisah karena
ucapan Cui Kong tadi. Mungkin juga ucapan tadi hanya
siasat belaka, akan tetapi manusia macam Cui Kong itu,
mana bisa dipercaya ? Semua perbuatan keji mungkin
dilakukannya dan hati Tiang Bu gelisah bukan main.
Kong Ji dan Cui Kong memang orang-orang cerdik dan
licik, mereka ini sudah tahu akan kegelisahan hati Tiang Bu.
Maka dengan sengaja Liok Kong Ji dalam pertempuran itu
bertanya kepada anak angkatnya. "Cui Kong, kau benar
benar mata keranjang ! Masa adik iparmu sendiri kausukai?
Benar benarkah kau cinta kepada seorang gadis buntung
lengannya?”
Cui Kong tertawa puas. "Ha-ha-ha, ayah tidak tahu!
Biarpun buntung lengannya, nona Bi Li adalah dara
tercantik yang pernah kujumpai."
Tentu saja Tiang Bu menjadi makin gelisah. Nafsunya
bertempur berkurang banyak dan hatinya ingin sekali
melihat keadaan kekasihnya.
"Jahanam, di mana dia ...... ?" bentaknya berkali-kall
sambil mendesak Liok Cui Kong dengan pukulan-pukulan
berat. Hanya karena Liok Kong Ji membantunya menangkis
dari samping maka Cui Kong tidak roboh oleh desakan ini.
Akhirnya Cui Kong maklum bahwa kalau tidak se gera
mengubah siasat, tentu ia akan ce laka.
41
“Dia di dalam gua ke tiga, mau tahu keadaanya? Lihatlah
sendiri!” I a lalu melompat ke belakang dan tertawa bergelakgelak.
Tiang Bu ragu-ragu. Tentu ini siasatnya untuk
memancing aku memasuki gua sedangkan dia dan Kong Ji
akan melarikan diri, pikirnya. Akan tetapi tiba-tiba
telinganya yang berpendengaran tajam sekali itu mendengar
suara rintihan dari dalam gua itu, rintihan dari orang
ketakutan yang disembunyikan.
Mendengar ini, Tiang Bu melompat ke arah gua ke tiga
yang berjajar di dekat pantai, dari mana tadi Cui Kong
muncul. Ia tidak perdulikan lagi keadaaa ayah dan anak itu
yang tentu saja mempergunakan kesempatan ini untuk
melarikan diri !
(Bersambung jilid ke XXV)
1
(PEK LUI ENG)
Karya: Asmaraman S. Kho
Ping Hoo Scan djvu :
syauqy_arr
Convert & edit : MCH
Jilid XXV
MULA MULA Tiang Bu bingung melihat gua yang gelap
itu dan ia tidakmelihat sesuatu. Lambat laun matanya bias a
dengan kegelapan namun tetapsaja ia hanya melihat batubatu
karang menonjol dan gua itu teruyata menembus ke
pinggir laut, merupakan jurang yang amat curam.
“Bi Li .......... !” teriaknya.
Hanya gema suaranya sendiri yang menjawab.
“Bi Li ......... di mana kau.......... ?! " ia berseru lagi, kini
mengerahkan tenaga khikang sehingga suaranya dapat
te rdengar sampai jauh di luar gua. Ia menanti sampai gema
suaranya sendiri yang panjang itu lenyap, namun tetap saja
tidak ada suara jawaban Bi Li. Marahlah hati Tiang Bu. Ia
meras a tertipu oleh Cui Kong. Setan, pikirnya, mengapa aku
begini bodoh?
Akan tetapi ketika ia hendak keluar dari gua yang ge lap
itu, kembali ia mendengar suara rintihan perlahan seperti
yang ia dangar tadi. Ia memperhatikan dan memasuki gua
lagi sampai di pinggir jurang. Ternyata suara itu keluar dari
bawah! Dengan hati-hati Tiang Bu merebahkan diri
2
telungkup ke pinggir jurang dan melihat ke bawah. Gelap
sekali. Tiba-tiba tangannya meraba sesuatu yang bergoyanggoyang.
Ternyata sehelai tambang yang diikatkan pada batu
karang dan tambang itu menggantung ke luar, masuk jurang
! Dari ujung tambang itulah datangnya suara rintihan.
Tiang Bu mengeretak giginya. Tahulah kini ia bahwa
tubuh Bi Li diikat pada ujung tambang yang digantungkan
ke dalam jurang yang amat curam itu! Cepat ia hendak
menarik tambang, akan tetapi kecerdikannya melarangnya
dan lebih cepat lagi ia menarik kembali tangannya dan
berpikir keras. Tak mungkin orang selicik Cui Kong akan
menggantungkan tubuh Bi Li begitu saja dan mudah
ditolong. Tentu ada apa-apa di balik ini semua.
Tiba-tiba ia melompat dengan gerakan cepat ke luar dari
gua, menduga bahwa tentu Cui Kong dan Kong Ji megintai
di luar gua dan akan melakukan sesuatu untuk
menjebaknya. Akan tetapi di luar kosong saja dan kembali ia
mendengar suara rintihan perlahan dari dalam guha. Ia
memasuki guha kembali dan berpikir-pikir.
“Bi Li, apa kau berada di bawah situ ?" tanyanya sambil
melihat ke bawah.
Matanyn yang tajamdapat melihat samar-samar
bayangan tubuh Bi Li tergantung di bawah, akan tetapi gadis
itu tidak dapat menjawab, hanya menge luarkan suara
perlahan seperti rintihan. Tiang Bu be rlari ke luar lagi,
menggunakan tenaganya untuk membeset kulit pohon yang
ulet. Ia menyambung nyambung kulit ini menjadi sehelai
tambang yang panjang, kemudian berlari masuk lagi ke guha
itu. Ia lupa sudah akan Cui Kong dan Kong Ji.
Seluruh perhatiannya tercurah kepada Bi Li yang hendak
ditolongnya lebih dulu. Dengan cepat dan hati-hati ia
mengikatkan tambang kulit kayu ini pada sebuah batu
karang, kemudiann ia merosot turun ke dalamjurang
melalui tambang sederhana itu. Ia teringat bahwa kalau
musuh musuhnya datang dan memutuskan tambang itu,
3
tentu ia akan menemui bencana besar. Akan tetapi re siko ini
ia harus berani hadapi demi menolong nyawa Bi Li yang
terancam bahaya maut.
Ketika ia sudah merosot sampai di tempat Bi Li
tergantung dan ia dapat melihat keadaan gadis kekasihnya
itu, ia menjali pucat. Tambang yang dipergurakan untuk
mengikat Bi Li dan digantung dari gua itu, dilibatkan pada
sebuab batu karang yang tajam sekali, Tambang itu sudah
tergosok-gosok dan tinggal setengahnya saja. Kalau tadi ia
menarik ke atas , sudah pasti tambang itu akan putus dan
tubuh Bi Li akan jatuh ke bawah menemui kematian yang
mengerikan !
"Cui Kong jahanam keji !" Tiang Bu mengutuk. Cepat ia
meraba-raba tubuh Bi Li dan mendapat kenyataan bahwa
totokan pada tubuh itu sudah dibebaskan, akan tetapi kaki
tangan gadis itu terikat dan mulutnya te rtutup saputangan.
Inilah sebab mengapa Bi Li tidak dapat menjawab
panggilannya. Cepat ia merenggut saputangan yang
menutupi mulut gadis itu sambil berbisik.
"Bi Li, jangan bergerak. Tambang yang mengikatmu
hampir putus."
Peringatan ini penting sekali karena kalau tadi Bi Li
meronta-ronta. tentu tambang itu sudah putus. Mendengar
peringatan ini, Bi Li tidak bergerak, hanya terdengar ia
berkata lemah, "Tiang Bu tanganku sakit sekali .......... “
Tiang Bu menggigit bibir melihat betapa lengan
kekasihnya yang tinggal sebelah itu ditekuk ke belakang dan
digantung. Dapat dibayangkan betapa hebat penderitaan
kekasihnya. Cepat Tiang Bu memutus tali itu dan menarik
tubuh Bi Li sehingga gadis itu dapat manangkap tali kulit
pohon, kemudian tambang yang mangikat kakinya
diputuskan pula.
Dengan hati-hati sekali Bi Li lalu merayap naik dengan
satu tangannya, dibantu oleh Tiang Bu dari bawah. Dengan
4
susah payah mereka naik, akhirnya dapat juga mereka tiba
di atas, selamat di dalam guha yang gelap itu.
Begitu lepas dari bahaya. Bi Li terisak dan menjatuhkan
diri di atas dada Tiang Bu. Tiang Bu mangelus -elus rambut
kekasihnya, membiarkan kekasihnya yang baru saja
terbebas dari bahaya maut mengerikan itu menangis
sepuasnya.
"Bi Li.......... kau .......... kau tidak diganggu oleh Cui
Kong?" bisiknya dengan hati panas terbakar, penuh
kebencian dan dendam kepada Cui Kong.
Tanpa mengangkat mukanya dari dada Tiang Bu, Bi Li
menggeleng kepalanya. Kemudian, setelah agak reda
tangisnya, dengan singkat ia menceritakan pengalamannya,
"Setelah kautinggalkan, guruku datang dan dia yang
mengajak aku menyusulmu. Malang bagi dia, di tengah jalan
bertemu dengan dua orang iblis jahat itu. Terjadi
pertempuran, akhirnya guruku tewas dan aku tertawan.
Tadi iblis Cui Kong itu mengikatku dan menggantungkan ke
luar gua sambil tertawa-tawa mengejek, bilang bahwa aku
akan mati dalam tanganmu sendiri. Aku tidak tahu apa yang
ia maksudkan, akan te tapi.......... hanya Thian yang tahu
betapa gelisah dan takutnya hatiku,Tiang Bu..........”
Tiang Bu memeluk lebih e rat lagi. "Hanya sedikit selisih
...... Bi Li, sedikit saja selisihnya. Kalau aku tadi terburu
nafsu dan menarik tambang di mana kau digantung ..... ah,
ngeri aku membayangkan ! Cui Kong manusia keparat harus
kuhancurkan kepalanya!”
Bi Li nampak kecewa. “Jadi kau belum berhasil
menewaskan mereka ?"
"Sayang sekali belum. Aku mendengar rintihanmu dan
terpaksa kutinggalkan mereka untuk menolongmu."
Bi Li melepaskan diri dari pelukan Tiang Bu. “Tiang Bu,
kau memang benar. Kau lebih benar ketika melarangku
5
datang ke pulau ini. Sekarang ternyata aku hanya menjadi
penghalang, malah guruku tewas di tangan mereka.
"Tidak, Bi Li. Mati hidup berada di tangan Thian.
Memang agaknya sudah menjadi suratan nasib Ang jiutoanio
untuk tewas oleh mereka. Akan tetapi kita masih
mempunyai banyak harapan untuk mengejar dan mencari
mereka. Hayo ke luar dari tempat terkutuk ini.”
Sambil menggandeng tangan Bi Li, Tiang Bu
mengajaknya ke luar. Sesampainya di luar, ia dapat melihat
keadaan kekasihnya. Memang tidak apa-apa, hanya agak
pucat karena mengalami ancaman maut yang menge rikan
tadi. Ia menjadi lega.
Akan tetapi sekarang sudah tidak kelihatan lagi
bayangan Liok Kong Ji maupun Cui Kong. Namun Tiang Bu
tidak putus-asa dan ia mengajak Bi Li terus mencari dan
memeriksa di sebelah dalam atau di tengah pulau.
-oo(mch)oo-
Sementara itu, di pantai Palau Pek-houw to juga terjadi
hal yang menarik. Serombongan orang gagah dipimpin oleh
Wan Sin Hong mendatangi dengan dua buah perahu ke
pulau itu. Inilah rombongan yang dilihat oleh kaki tangan
Liok Kong Ji dan dilaporkan, membuat Kong Ji menjadi
gelisah sekali. Apalagi ketika Kong Ji dan Cui Kong berhasil
melepaskan diri dari desakan Tiang Bu dan hendak
melarikan diri dengan perahu, mereka melihat dua perahu
ini mendatangi, Kong Ji terpaksa kembali lagi ke pulau dan
keadaannya sepetti terjepit.
Wan Sin Hong kali ini tidak datang sendiri dan tidak mau
kepalang usahanya membalas dendam kepada musuh
besarnya. Ia maklumakan kelihaian Kong Ji yang dibantu
oleh Cui Kong, Cun Gi Tosu, dan banyak lagi orang-orang
gagah yang berhasil dibujuk menjadi kaki tangan Liok Kong
Ji. Karena tidak berbasil bertemu dengan Tiang Bu yang
6
akan menjadi pembantu kuat baginya, Wan Sin Hong datang
membawa beberapa orang tokoh yang berkepandaian cukup
tinggi.
Di antara kawan kawannya itu kelihatan muridnya
sendiri, Coa Lee Goat dan suaminya, Wan Sun. Juga
isterinya tidak ketinggalan, yaitu Hui-eng Niocu Siok Li Hwa
yang sudah sembuh dari luka-lukanya ketika bertempur
melawan Liok Cui Kong di Pulau Kim-bun-to. Li Hwa
mempunyai sakit hati besar sekali terhadap Liok Kong Ji dan
kaki tangannya, bukan saja karena anaknya diculik oleh
Cun Gi Tosu, juga karena peristiwa di Kim-bun-to, di mana
Cui Kong mengamuk dan menyebar maut itu.
Selain keluarga gagah parkas a ini, ikut juga Bu Kek
Siansu ketua Bu-tong-pai, tosu tinggi kurus jenggot panjang
itu, dan Pang Soan Tojin ketua Tang-san pai, tosu gemuk
berjenggot pendek. Selain dua orang tokoh tua ini, masih
ada lagi Huang-ho Sian-jin si datuk bajak dari Sungai Huang
ho bersama dua orang pute rinya, Ang Lian yang lincah
jenaka dan Pek Lian yang cantik pendiam dan berpakaian
pria. Juga masih ada dua orang lagi, yaitu Hok Tek Hwesio
dari Siauw lim pai dan Ciu Lee Tai, seorang laki-laki muda
berusia tiga puluh tahun, berwajah tampan dan gagah. Ciu
Lee Tai ini se orang yang bersemangat sekali, pengagum Wanbengcu
dan biarpun ia agak bodoh, namun ia jujur dan
berkepandaian lumayan.
Sebetulnya, Wan Sin Hong maklum bahwa tingkat
kepandaian Ciu Lee Tai dan Hok Tek Hwesio masih
terlampau rendah kalau dibandingkan dengan kelihaian Liok
Kong Ji dengan kawan kawannya, akan tetapi karena
mereka ini orang segolongan dan mereka ikut dengan suka
rela, ia pikir lumayan untuk melayani penjaga-penjaga kaki
tangan Liok Kong Ji.
Demikianlah, rombongan yang terdiri dari sebelas orang
ini mendarat dengan hati-hail dan dengan senjata di tangan.
Mereka semua sudah maklum bahwa mereka menghadapi
7
orang-orang jahat yang amat lihai kepandaiannya. Di
sepanjang perjalanan. Ciu Lee Tai yang biarpun sudah
berusia tiga puluh tahun tapi masih tetap single
(membujang) itu, agaknya amat tertarik kepada Ang Lian,
dara jel ita yang bersikap lincah jenaka dan agak genit itu.
Sedemikian jauh, si jaka tua ini selalu "tahan hinaan" dan
mencemoohkan setiap orang gadis yang memandang
kepadanya dengan kagummelihat ketampanan dan
kegagahannya.
Akan tetapi begitu ia bertemu dengan Ang Lian dan
melihat senyum dan kerling mata gadis ini, jatuhlah
keangkuhannya. Senyum dan kerling itu langsung
menembus jantungnya dan membuat dia tergila-gila !
Si bujang ini beberapa kali melirik-lirik, mengajak
senyum dan pendeknya mempergunakan segala macam
siasat untuk memikat si dara jetita, akan tetapi kali ini ia
"bertemu batunya.” Semua aksinya tidak digubris oleh Ang
Lian, bahkan Ang Lian bersikap jinak-jinak merpati, kadangkadang
nampak mudah didekati akan tetapi kalau orang
bersungguh-sungguh ia terbang menjauh Sikap beginilah
yang membuat hati sang jaka jatuh bangun.
Tentu saja, sedogol -dogolnya, Ciu Lee Tai tidak berani
be rterus terang dengan kata kata menyatakan perasaan
hatinya, apa lagi ia sering melihat wajah datuk bajak Huangho
Sian-jin yang keren galak dan matanya melotot.
Habislah nyalinya kalau ia melihat bapak dara pujaannya
itu. Namun, saking dalamnya asmara menggerogoti
jantungnya, si dogol ini sampai menghadap Wan Sin Hong
dan dengan muka merengek ia mohon bantuan pendekar ini.
"Wan-bengcu." katanya dengan mukanya yang tampan
menjadi merah seperti kepiting dipanggang. Siauwte hendak
mengajukan permohonan kepada bengcu dan mengharap
kemurahan hati bengcu."
8
Wan Sin Hong sudah lama kenal pemuda tua ini dan ia
memang suka kepada Cui Lee Tai yang jujur dan dogol
namun berjiwa ksatria. Bahkan dahulu ia berkenan
menurunkan dua tiga macam ilmu pukulan kepada si dogol
ini. Mendengar permohonan disertai wajah yang
bersungguh-sungguh itu, ia tersenyum.
"Kita berada di tengah perjalanan, di atas laut. Kau
hendak minta aku membantumu dalam hal apakah, Lee Tai
?" Wan Sin Hong memang memanggil namanya begitu saja,
inipun kemauan Lee Tai sendiri yang ingin diaku sebagai
anak buah atau murid. Demikian besar kagumnya terhadap
Wan Sin Hong.
"Sebetulnya bukan sekarang. Siauwte hanya minta
kesediaan bengcu untuk membantuku dalam urusan ini,
kelak kalau urusan penyerbuan ke Pulau Pek-houw-to
selesai. Apakah bengcu bersedia ?”
"Ha, kau ini aneh sekali. Tentu saja aku bersedia
membantumu. Akan tetapi, bagaimana kalau dalam
penyerbuan yang amat be rbahaya ini kau atau aku tewas ?”
“Kalau begitu …… kalau begitu. ...... tentu saja tidak jadi
aku …… kawin……”
"Eh kawin ...... ?”
Muka pemuda itu menjadi makin merah. "Begini, bengcu.
Sebetulnya siauwte hendak minta tolong agar bengcu
suka........... suka menjadi........... menjadi perantara.
Siauwte telah berusia tiga puluh tahun, dahulu ayah ibu
minta siauwte menikah akan tetapi siauwte belumsanggup
menjalani karena memang belum ada yang cocok. Sekarang
ayah ibu sudah tidak ada dan siauwte kerap kali merasa
be rdosa dan bersedih tak dapat memuaskan hati orang tua.
Sekarang siauwte bertemu dengan gadis yang mencocoki
hati. Kiranya kalau siauwte bisa menikah dengan dia. arwah
ayah-bunda siauwte akan menjadi puas.”
9
Sin Hong tidak ketawa lagi. Malah ia menjadi amat
terharu, teringat akan keadaannya sendiri. Diapun menikah
setelah us ianya tiga puluhan lebih, dan tentang orang
tuanya........... juga tidak melihat pernikahannya. Dengan
suara sungguh-sungguh ia menjawab.
"Baik. Lee Tai. Tenangkanlah hatimu. Tentu aku suka
menjadi wakil orang tuamu untuk mengawinkan kau. Tidak
tahu gadis manakah yang kaupenujui ?”
"Puteri ...... pute ri Huang-ho Sian-jin ......”
"Aahhh, dia........... ? Yang mana ?”
“Yang kedua, bengcu. Itu yang namanya Ang Lian yang
senyumnya manis kerlingnya tajam……..”
Sin Hong tak dapat menahan senyumnya dan ia
mengangguk-angguk. “Itu soal mudah. Huang-ho Sian-jin
adalah sahabat karibku, kalau aku yang mintakan kiranya
tak akan sukar. Hanya aku khawatir anaknya sendiri yang
akan rewel. Kalau dia tidak setuju, anak seperti Ang Lian itu
tentu akan menolak keras. Bagaimana pendapatmu, apakah
dia juga........... ada hati kepadamu ?”
"Entahlah, bengcu. Akan tetapi dia sering kali tersenyum
dan melirik. Akan kuselidiki hal itu. Asal Wan-bengcu sudah
bersedia membantu, hatiku sudah lega dan banyak banyak
terimakasih." Tanpa dapat dicegah lagi si dogol lalu
menjatuhkan diri berlutut dan pai-kui sampai tujuh kali.
“Sudah, sudah, hasilnya masih belum tentu kau sudah
jengkang-jengking seperti ayam makan padi.”
Dengan hati gembira dan besar sekali Ciu Le e Tai
mengundurkan diri dan semenjak saat itu lebih berani
melirik-lirik ke arah Ang Lian. Bahkan pada suatu ketika, ia
mendapat kesempatan mendekati Ang Lian di atas perahu
dan berbisik.
"Nona, kalau kelak urus an ini beres, aku akan mengirim
wali mengajukan lamaran kepadamu."
10
Tentu saja Ang Lian melengak. Selama hidupnya belum
pernah ia bertmu dengan orang yang begini terus terang dan
tidak kenal malu. Gadis ini dengan lagak mangejek meludah
ke dalamlaut dan melihat di situ tidak ada orang
memperhatikan mereka, berkata perlahan.
“Enak saja kau mengomong. Kau bisa apa sih mau
melamarku?"
Lee Tai mengangkat dadanya yang memang bidang dan
tegap. "Aku Ciu Lee Tai, di barat terkenal dengan julukan
Kang-thouw ciang (Si Kepalan Baja) dan siapa yang tidak
tunduk terhadap golokku ?" ia menepuk-nepuk golok di
pinggangnya, golok besar yang memang amat lihai kalau ia
mainkan.
Ang Lian menjebikan bibirnya yang merah membuat hati
Lee Tai menjadi gemas terpincut. Biarpun orang ini dogol,
namun Ang Lian diam-diam suka juga melihat ketegapan
tubuh dan ketampanan wajah Ciu Lee Tai.
"Dengar baik-baik, dogol. Tidak sembarang orang bisa
mendapatkan diriku. kecuali kalau ia berkepandaian tinggi."
Bicura begini, Ang Lian teringat akan Tiang Bu yang
membuat cicinya, Pek Lian, tergila-gila dan teringat selalu.
"Be gini syaratnya. Kalau kau bisa mengalahkan manusia
iblis Liok Kong Ji, aku bersedia menerima lamaranmu. Nah,
pergilah.”
Ciu Lee Tai bers eri wajahnya. Ingin ia menari-nari
kegirangan dan saking girangnya ia sampai lupa diri
dan.......... melompat ke dalam air! Tentu saja semua orang
di dalam dua perahu itu menjadi panik melihat tidak karukeruan
sebabnya, si dogol itu melompat ke dalam laut dan
be renang ke sana ke mari sambil bernyanyi nyanyi.
"Lee Tai, kau sedang apa-apaan?" tegur Wan Sin Hong
terheran-heran.
11
Baru Lee Tai sadar akan keadaannya yang memang tidak
sewajarnya itu, maka cepat -cepat ia memutar otaknya yang
puntul untuk mencari jawaban. Akhirnya ia menjawab,
"Wan-bengcu. aku meras a kepanasan dan ingin mandi
sebentar menyegarkan tubuh." Cui Lee Tai meras a bangga
akan jawabannya yang langsung ini, tanda bahwa ia cerdik !
Akan tetapi jawabannya membuat semua orang tertawa
sehingga ia menjadi kebingungan. Apa lagi ketika ia melihat
Ang Lian cekikikan mentertawakannya, ia makin bingung
dan penasaran.
"Apa tidak boleh mandi?" tanyanya mendongkol sambil
menyambar pinggiran perahu dan merayap naik dengan
pakaian basah kuyup.
"Mana ada orang mandi dengan pakaian lengkap? Dan
membawa-bawa golok pula, apekah kau hendakmenyerang
istana Hai-liong-ong di dasar laut?" kata Wan Sun sambil
menahan kegelian hatinya.
Cin Lee Tai menunduk, memandang pakaiannya yang
basah kuyup. Ia tak dapat menjawab, hanya buru-buru
memasuki kamar perahu untuk bertukar pakaian kering.
Akan tapi kegembiraannya tidak lenyap, tidak perduli ia
ditertawakan orang, hatinya sebesar gunung. Liok Kong Ji?
Itu syaratnya? Jangankan harus mengalahkan Liok Kong Ji
biar harus melawan seribu orang Liok Kong Ji ia takkan
gentar asal hadiahnya Ang Lian. Akan kutabas batang leher
Liok Kong Ji dengan golokku, pikirnya.
Pikiran hal membuat ia datang lagi menghadap Sin Hong.
"Ada apa lagi, Lee Tai? Harap kau jangan sekali-kali lagi
terjun dan mandi di laut, banyak ikan hiu di sini, kalau kau
dikeroyok hiu, biar aku sendiri takkan dapat menolong
nyawamu."
"Wan-bengcu, apakah Liok Kong Ji itu sudah pasti
berada di pulau itu?"
12
"Tentusaja, memang kita sedang mencari dia. Mengapa?”
"Harap bengcu memberi kesempatan kepadaku untuk
menghadapi iblis itu. Siauwte ingin sekali menabas batang
lehernya dengan golokku ini, jangan sampai didahului orang
lain !”
Wan Sin Hong maklum akan keberanian orang she Ciu
ini yang luar biasa, juga maklum akan kedogolannya. Akan
tetapi mendengar ini, benar-benar perutnya menjadi sakit
karena menahan tawa. Dia sendiri belum tentu dapat
menahan Liok Kong Ji, dan si dogol ini bersumbar hendak
menebas batang leher Liok Kong Ji ! Benar-benar seperti
seekor katak hendak membunuh kerbau. Akan tetapi Sin
Hong berperasaan halus, tidak mau mengecewakan atau
menyinggung perasaan hati orang lain, maka ia mengangguk
dan menjawab,
`Baiklah, Lee Tai. Asalkan dapat berlaku hati-hati, dia
lihai sekali.”
"Jangan khawatir, bengcu. Golokku biasanya ampuh
sekali menghadapi orang jahat."
Ciu Lee Tai menjadi makin gembira. Semenjak saat itu, ia
kelihatan berseri dan gembira dan bernyanyi-nyanyi.
Memang suaranya merdu, sehingga kegembiraan si dogol ini
menghibur orang-orang lain dan membuat orang lain
gembira pula. Akan tetapi kecuali Ang Lian, tidak ada orang
lain yang dapat menduga mengapa si dogol itu demikian
gembira. Hanya Ang Lian, yang tahu dan diam diam gadis
jenaka ini terharu juga. Ia dapat menjajaki hati Lee Tai dan
tahu bahwa pemuda dogol itu sudah membayangkan akan
dapat menewaskan Liok Kong Ji dengan mudah.
"Sayang.........” Ang Lian be rkali-kali menarik napas
panjang dan berbisik-bisik kepada diri sendiri. "Sayang ia
tidak selihai Tiang Bu....”
Sin Hong membawa rombongannya mendarat di pantai
yang datar dan sunyi. Mereka berlompatan ke darat dengan
13
hati-hati sekali. Mereka merasa heoran dan curiga melihat
pantai itu tidak terjaga dan sunyi sekali. Sin Hong lalu
membagi tugas. Huang-ho Sian jin dan dua orang puterinya
diberi tugas menjaga perahu-perahu di pantai agar perahu
perahu itu tidak sampai diganggu musuh. Kemudian dengan
delapan orang kawan lainnya Sin Hong memasuki hutan di
pulau itu menuju ke tengah pulau.
Mereka menjadi makin heran melihat beberapa orang
penjaga menggeletak, terluka atau tewas. Bahkan mereka
menemukan lima orang yang berpakaian berwarna
menggeletak menjadi mayat.
"Eh. bukankah ini Lam-thian-chit-ong,” kata Hok Tek
Hwesio yang mengenal tokoh-tokoh selatan ini. "Mana lagi
yang dua? Masih ada dua orang yang berpakaian hitam dan
putih, kemana mereka dan siapa yang bisa membunuh
mereka ini? Mereka terkenal lihai dengan Chit-seng-tin
mereka."
Wan Sin Hong juga merasa heran. Ia sudah mendengar
bahwa tujuh orang perampok ini menjadi kaki tangan Liok
Kong Ji. Kiranya hanya satu orang yang dapat mengalahkan
mereka dan orang itu tentu Tiang Bu. Benarkah pemuda itu
sudah menyerbu ke sini?
Ia mengajak kawan-kawannya maju terus. Di rumah
gedung tempat tinggal Liok Kong Ji sunyi sekali. Di sana sini
be rgeletakan para penjaga. Sin Hong mendesak seorang
penjaga yang luka tertotok. Ia membebaskan totokannya dan
bertanya.
"Siapa yang menyerbu ke sini dan melukai kalian ?”
"Hamba tidak tahu. Seorang manusia berkepandaian
seperti setan. Pe rgi datang tidak meninggallan bekas dan
tahu-tahu kami roboh ……” orang itu menerangkan karena
ia memang tidak mengenal Tiang Bu yang merobohkannya.
"Di mana Liok Kong Ji ?"
14
"Tidak tahu, mungkin keluar menghadapi musuh."
Sin Hong tidak mau perdulikan lagi orang itu dan
mengajak kawan-kawannya maju terus. Akan tetapi Ciu Lee
Tai yang merasa kecewa karena Ang Lian tidak diajak
menyerbu dan tetpisah dari sampingnya, melampiaskan
kemarahannya dengan menendang orang itu yang seketika
putus nyawanya.
“Lee Tai, jangan lancang membunuh orang!" te gur Sin
Hong.
"Bengcu, orang seperti ini adalah setengah iblis, kalau
tidak dibunuh kelak tentu menjadi penjahat pula mengacau
rakyat." bantah Lee Tai.
Sin Hong menganggap pendapat ini betul juga
sungguhpun hatinya tidak mengijinkan orang berlaku
kejam. Memang Sin Hong terkenal sebagai seorang pendekar
yang halus budinya, tidak mau memburuh kalau tidak
penting dan terpaksa sekali.
Ketika mereka memasuki rumah gedung itu, di dalamnya
hanya terdapat para selir dan para pelayan wanita. Mereka
ini semua biarpun sudah mempelajari ilmu silat, sekarang
tidak berani berkutik dan berlutut minta diampuni jiwanya.
Juga dari mereka ini Sin Hong tidak bisa mendapat
ke terangan di mana adanya Liok Kong Ji, Liok Cui Kong dan
Cun Gi Tosu. Akan tetapi, ia mendapat petunjuk di mana
adanya pondok Cun Gi Tosu, dan mendengar pula banwa
Leng Leng dibawa pergi oleh tosu itu ke pondoknya.
Wan Sin Hong mengajak rombongannya menyusul ke
pondok itu! Alangkah kage tnya ket ika tiba di depan pondok,
ia melihat tosu buntung itu sudah menggeletak tak
bernyawa di atas tanah.
"Ada yang mendahulul kita!” Teriaknya dan ia berlari-lari,
diikuti oleh isterinya, memasuki pondok Cun Gi Tosu untuk
mencari anak mereka, Leng Leng. Akan tetapi di dalam
15
pondok hanya terdapat seorang pelayan wanita yang
menangis ketakutan.
"Hayo lekas bilang, di mana adanya Leng-ji ?" Li Hwa
membentak sambil menempelkan pedangnya di batang leher
pelayan itu yang menjadi makin ketakutan.
"Tadi .......... tadi di sini .......... hamba yang bertugas
mengasuhnya.......... lalu datang Liok-loya dan Liokkongcu..........
nona Leng Leng dibawa pergi.......... !"
"Ke mana ?” tanya Sin Hong yang berobah air mukanya
mendengar bahwa anaknya dibawa Liok Kong Ji.
"Mana hamba tahu? Ampun, hamba tidak bersalah apaapa..........”
Sin Hong tidak perdulikan lagi pelayan itu, bersama
isterinya dan yang lain lain ia menggeledah ke dalam, akan
tetapi betul saja, tak dapat ia menemukan anaknya di dalam
pondok.
“Tentu ia membawa Leng-ji lari ke luar. Hayo cari,” kata
Sin Hong dan keluarlah mereka. Sesampainya di luar, Sin
Hong lalu membagi rombongannya. Dia sendiri bersama
isterinya, Wan Sun dan Coa Lee Goat menuju ke kiri dan dia
minta supaya rombongan lain yaitu Bu Kek Siansu, Pang
Soan Tojin, Ho Tek Hwesio, dan Ciu Lee Tai mencari di
sebelah kanan. Dengan cara begini Sin Hong hendak
mengepung dan memotong jalan Liok Kong Ji dan Cui Kong.
-oo(mch)oo-
Sementara itu, Tiang Bu dan Bi Li juga mencari terus,
keluar masuk gua-gua yang banyak terdapat di pesisir batu
karang itu. Akan tetapi belum juga mereka dapat
menemukan musuh-musuh mereka.
Tiang Bu mendapat akal. Ia naik ke sebatang pohon
besar dan tinggi, lalu mengintai puncak pohon itu sampai
beberapa lama. Usahanya ini terhasil karena tak lama
16
kemudian ia melihat bayangan dua orang yang dikejarkejarnya
itu bersembunyi di antara batu karang yang
bentuknya seperti menara-menara kecil. Yang membuat ia
terheran adalah ketika melihat Kong Ji memondong seorang
anak perempuan kecil .
la cepat melompat turun dan bersama Bi Li lari ke arah
tempat itu. Setelah dekat menyelinap di antara batu karang
dengan hati-hati. Akhirnya ia muncul di depan Liok Kong Ji
dan Liok Cui Kong yang tentu saja menjadi kaget setengah
mati.
"Liok Kong Ji, kau sekarang hendak lari kemanakah ?"
Tiang Bu mengejek dan siap untuk menye rang.
Liok Kong Ji menjadi bingung. Untuk lari memang
mudah, akan tetapi ia tahu bahwa Tiang Bu dapat
mengejarnya. Untuk mempe rgunakan bocah yang
dipondongnya juga tidak mungkin karena Tiang Bu mana
mau mempe rdulikan bocah itu? Adanya ia membawa Leng
Leng adalah untuk dipergunakan sebagai perisai terhadap
Wan Sin Hong. Kalau Wan Sin Hong dan kawan kawannya
yang mengurungnya, dengan mudah ia dapat
menyelamatkan diri dengan mengancam nyawa bocah itu.
Cui Kong juga tidak melihat jalan keluar lagi kecuali
menyerang mati -matian. Maka ia lalu menggerakkan
huncwenya, langsung menyerang Tiang Bu dengan sengit.
Liok Kong Ji terpaksa menotok Leng Leng agar anak itu
jangan dapat lari, menaruh bocah itu di atas tanah dan
iapun membantu Cui Kong. Dengan maju berdua mereka
masih dapat bertahan menghadapi amukan Tiang Bu yang
luar biasa lihainya itu.
Bi Li tahu diri. Biarpun ia merasa gemas dan benci sekali
melihat dua orang musuh besarnya itu, akan tetapi ia cukup
maklumbahwa kalau ia melawan atau membantu Tiang Bu,
bantuannya itu tidak banyak artinya, bahkan dapat
mengacaukan permainan silat Tiang Bu. Maka ia berdiri saja
menonton. Ia percaya penuh akan kesaktian kekasihnya,
17
namun tidak urung ia berdebar gelisah juga melihat pedang
di tangan Kong Ji menyambar-nyamhar seperti kilat dan
huncwe di tangan Cui Kong bergerak ganas diselingi
semburan asap hitam yang ia sudah merasai sendiri
keganasannya.
Seperti juga tadi, Tiang Bu melayani ayah dan anak itu
dengan tenang, namun setiap gerakannya mengandung
tenaga dalamsehingga tanpa ia kelit, asap hitam itu sudah
buyar sendiri terpukul hawa sinkang yang keluar dari
sepasang tangannya. Pe rtempuran berjalan seru, sengit dan
mati-matian.
Ketika mendapat kesempatan baik, huncwo maut di
tangan Cui Kong menyambar ke arah kepala Tiang Bu
dengan pukulan yang tentu akan meremukkan kepala itu
apa bila mengenai sasaran, sedang pedang di tangan Kong Ji
menusuk ulu hati, dengan gerakan memutar yang sudah
diperhitungkan masak-masak dan amat sukar dielakkan.
Tiang Bu sengaja berlaku lambut sampai Bi Li
mengeluarkan jeritan tertahan. Ketika huncwe itu sudah
menyentuh rambut kepalanya, tiba.tiba Tiang Bu
menggerakkan jari tangannya ke atas, menyentil huncwe itu
dari atas sehingea huncwe menyelonong ke bawah dan tepat
menangkis pedang Kong Ji yang menusuk ulu hatinya.
"Traangg.......... !" Sepasang senjata bertemu keras. Api
berpijar dan di lain saat pedang di tangan Kong Ji sudah
terampas oleh Tiang Bu sedangkan huncwe maut itu sudah
terlepas dari tangan Cui Kong! Tentu saja dalam pertemuan
senjata itu, Cui Kong kalah kuat oleh ayah angkatnya dan
huncwenya sampai terlempar, sedangkan Tiang Bu
mempergunakan kesempatan baik itu untuk merampas
pedang Kong Ji.
Dapat dibayangkan betapa kaget dan gentarnya Liok
Kong Ji dan Cui Kong yang sudah kehi langan senjata.
Hampir berbareng mereka menghujankan Hek-tok-ciam ke
arah Tiring Bu. Akan tetapi sambil tertawa menyeramkan,
18
Tiang Bu memutar pedang rampasan nya dan semua jarum
runtuh ke bawah, bahkan ada yang membalik dan
menyambar dua orang pelepas jarum itu sendiri!
Memang Kong Ji dan Cui Kong orang-orang licik sekali.
Dalam keadaan te rdesak dan senjata dilucuti dan Tiang Bu
yang parkasa malah kini berpedang, mereka masih mampu
mempergunakan siasat cerdik. secepat kilat Kong Ji
menyambar tubuh Leng Leng di atas tanah dan
mempergunakan bocah ini sebagai senjata ! Ia memegang
kedua kaki Leng Leng dan memutar tubuh itu untuk
menghadapi serangan Tiang Bu.
"Tiang Bu, jangan lukai bocah itu……!” Bi Li menjerit.
Gadis ini tidak ingin mel ihat Tiang Bu membunuh bocah
yang mungil itu. Akan te tapi, tanpi cegahannya, Tiang Bu
sendiri tidak sudi membunuh bocah yang tidak diketahui
siapa itu. Hatinya tidak sekejam dan ia terpaksa mengalah
mundur, menyelipkan pedang rampasan di pinggang dan
maju lagi dengan kedua tangan kosong untuk mencoba
merampas bocah itu dari tangan manusia iblis Liok Kong Ji.
Pada saat itu, Cui Kong yang licik juga menyerang lagi
dengan Hek- tok ciam, akan tetapi tidak ditujukan kepada
Tiang Bu, melainkan ke arah .......... Bi Li !
Namun, kalau hanya diserang senjata rahasia saja,
kepandaian Bi Li cukup tinggi untuk menghindarkan dengan
elakan manis dan kebutan tangan kanannya ia dapat
menyelamatkan diri. Akan tetapi Cui Kong telah dapat
melompat jauh meninggalkan tempat itu Kong Ji menyusul.
Ketiks Tiang Bu hendak mengejarnya, ia membentak,
"Terimalah popwe (jimat) ini !” Sambil membentak begitu,
tubuh Leng Leng ia lontarkan sekuat tenaga ke arah Tiang
Bu! Sungguh kejam manusia ini, untuk menyelamatkan diri
ia tak segan-segan untuk membunuh siapapun juga.
Tiang Bi kaget sekali. Kalau tubuh bocah itu tidak ia
terima, tentu bocah itu akan mati terbanting pada batu-batu
19
karang. Ia lalu bersiap dan dengan kedua tangannya ia
menangkap tubuh bocah itu di udara. Ternyata Leng Leng
sudah lemas dan pingsan. Ketika diputar-putar tadi saja
Leng Leng sudah merasa pening dan sukar bernapas,
membuatnya pingsan.
Tiang Bu menyerahkan bocah ini kepada Bi Li dan ia
hendak menge jar, akan tetapi dua orang mushnnya sudah
lenyap, tidak ketahuan ke mana perginya. Ia membantingbanting
kaki. Lagi-lagi dua orang musuh itu terlepas dari
tangannya be rkat kelicikan me reka.
"Aku harus dapatkan mereka, aku harus basmi mereka !”
gerutunya.
Bersama Bi Li ia mencari terus, akan tetapi sementara itu
siang telah berganti senja dan udara mulai gelap. Leng Leng
siuman dari pingsannya dan menangis .
"Diam, nak, diam.......... siapa namamu ?” tanya Bi Li
menimang nimang bocah itu.
"Leng Leng ...... mana Sam-ma?" tanya anak itu
menanyakan inang pengasuhnya.
Bi Li merasa s ayang kepada bocah yangmungil ini,
sambil mengelus kepalanya ia bertanya tentang ayah ibu
bocah itu, akan tetapi Leng Leng yang baru saja mengalami
banyak penderitaan semenjak "bibi Ceng Ceng” terbunuh,
tak dapat banyak memberi keterangan. Ia hanya menangis
dan berkali-kali berkata,
“Paman Kong Ji jahat sekali. ......, jahat sekali.......... “
Akhirnya setelah dihibur dan dibuai oleh Bi Li, ia te rtidur
dalampangkuan Bi Li.
“Heran, bocah ini siapakah dan anak siapakah. Kecilkecil
ia sudah tahu bahwa Kong Ji jahat.” kata Bi Li kepada
Tiang Bu.
Akan tetapi Tiang Bu memberi isyarat supaya jangan
berisik sambil menuding ke depan. Ketika Bi Li
20
memperhatikan, benar saja dari arah itu terdengar suara
orang bicara, makin lama makin keras, tanda bahwa dua
orang yang bicara itu sedang berjalan mendekati tempat
mereka.
“Dengan bocah itu di tanganmu, kau tak dapat menjaga
diri dengan sempurna, lebih baik kau menanti di balik batu
karang.” Tiang Bu berbicara kepada kekasihnya. Bi Li
mengangguk. Memang, kalau fihak musuh muncul dan
terjadi pertempuran. tentu saja dengan adanya bocah itu ia
takkan dapat melakukan pembelaan dari dengan baik, apa
lagi kalau harus melindungi Leng Leng. Tanpa banyak
membantah ia lalu pergi membawa Leng Leng yang sedang
tidur itu, menyelinap di balik batu karang. bersembunyi
sambil mengintai ke arah Tiang Bu.
Keadaan sudah mulai remang-remang, Tiang Bu tidak
mengenal muka dua orang yang datang memasuki hutan itu,
hanya tahu bahwa dua orang itu adalah seorang pemuda
dan seorang gadis. Ia mengira bahwa mereka ini tentulah
kawan-kawan Liok Kong Ji maka tiba-tiba ia melompat ke
luar dan membentak,
"Kalian siapa dan di mana Liok Kong Ji?” Ia sudah siap
untuk menyerang tokoh dua orang itu.
Dua orang itu kage t bukan kepalang, akan tetapi pemuda
itu segera berseru girang. “Tiang Bu.......... “
Gadis itupun berseru kaget dengan sikap jenaka. “Ya
Dewa Maha Agung! Kiranya saudara Tiang Bu ini.......... ??
Ah, bertahun-tahun enci Pek Lian merindukan dan menantinanti,
tidak tahunya dapat bertemu di tempat seperti ini.
Kalau ini bukan jodoh namanya, entah disebut apa !”
"Ang Lian, jangan main-main !" pemuda itu membentak si
gadis baju merah yang jenaka.
Tiang Bu melengak. Tidak tahunya "pemuda?” itu adalah
Pek Lian, gadis yang dulu pernah ia kagumi, gadis cantik
21
yang bijaksana dan lihai bersama Ang Lian adiknya. Dua
orang gadis puteri Huang-ho Sian-jin.
"Adik Pek Lian dan Ang Lian....... ! Kiranya kalian ini?
Bagaimana kalian bisa berada di sini dan dengan s iapa
kalian datang,"
Saking girangnya Ang Lian melangkah maju dan
memegang kedua tangan Tiang Bu. "Saudara Tiang Bu,
benar-benar girang hatiku dapat bertemu dengan kau di
tempat setan ini. Kalau ada kau di sini, aku tidak takut lagi
biar ada lima orang Liok Kong Ji muncul. Dan enci Pek Lian
tentu se ratus kali lebih girang dari pada aku. Kau tahu, ayah
juga ikut datang bersama Wan-bengcu dan yang lain-lain.
Mereka juga tentu girang dapat bertemu dengan kau. Baik
sekali pertemuan ini, lengkap selengkap-lengkapnya. Biar
aku nanti bicarakan urusan perjodohanmu dengan enci Pek
Lian."
"Hush, Ang Lian....... " Pek Lian mencegah dengan muka
berubah me rah sekali.
“Hush apa lagi ? Bukankah kau selalu merindukan dia
ini? Sekarang sudah berhadapan muka, pakai malu-malu
apa lagi? Aku akan bicarakan dengan ayah dan Wan
bengcu..........”
“Se tan, jangan sembarang bicara ! Kalau ..........
kuceritakan kepada Ciu twako ......’ Pek Lian balas
menggoda. Menelengar ini, Ang Lian menjadi kewalahan dan
tak berani banyak bicara lagi.
Sementara itu, mendengar kata-kata dari Ang Lian ini,
Tiang Bu menjadi bingung s ekali. Percuma saja mencegah
seorang gadis seperti Ang Lian berhenti mengoceh.
“Aku sedang mengejar-ngejar Liok Kong Ji,” katanya
kemudian. Ia melirik beberapa kali ke arah tempat
persembunyian Bi Li dan sebelum ia memanggil Bi Li, gadis
ini sudah mucul sambil memondong Leng Leng.
22
Pek Lian dan Ang Lian kaget lagi, memandang kepada Bi
Li dengan penuh curiga.
“Apakah dia ini seorang selir Liok Kong Ji ?” tanya Ang
Lian yang lancang mulut dan salah duga.
“Nona Ang Lian, jangan salah duga. Dia ini adalah nona
Wan Bi Li dan,......”
"Astaganaga .......... !” Ang Lian meloncat dan meme luk Bi
Li dengan mesra. "Maafkan aku, enci Bi Li. Kau boleh
tampar mulutku yang lancangg. Aduh.......... jadi kau ini
adik Wan Sun twako? Pantas…. pantas akan tetapi ....” ia
melihat lengan kiri yang buntung itu dan tak dapat
melanjutkan kata-katanya, akan tetapi dari sepasang
matanya mengucur air mata. Biarpun ia kasar dan jujur,
namun hati Ang Lian baik sekali ia terharu melihat lengan
tangan Bi Li buntung dan ia tak pernah mendengar tentang
hal ini.
Sebaliknya, Bi Li mempunyai hati yang keras. Ia maklum
apa yang menyebabkan Ang Lian mengucurkan air mata. Ini
saja sudah melenyapkan kemendongkolan hatinya ketika
Ang Lian mengira dia ”selir" Liok Kong Ji.
"Adik yang manis kau mau tahu? Lenganku ini buntung
oleh pedang Liok Kong Ji."
Ang Lian membanting-banting kakinya. "Bangsat besar
Liok Kong Ji. Kali ini ia takkan mampu lolos dari hukuman!
Enci Bi Li, tahukah kau, kakakmu juga berada dengan kami
?”
Ang Lian mengira bahwa BI Li tentu akan girang sekali
mendengar ini, akan tetapi Bi Li malah mengerutkan kening,
agaknya berita itu tidak menggembirakan hatinya benar.
Memang, dalam keadaannya seperti sekarang, buntung
lengannya. Ia sudah tawar hatinya untuk bertemu dengan
siapa juga. Memilukan saja, pikirnya.
23
"Anak ini……. anak siapakah?” tanya Pek Lian, sikapnya
hati-hati dan sejak munculnya Bi Li, ia mendapat firasat
yang tidak menyedapkan hatinya. Berkali-kali ia memandang
dari Tiang Bu kepada Bi Li dan hatinya menduga-duga.
“Dia itu kami rampas dari tangan Liok Kong Ji. Tiang Bu
menerangkan. "Kami sendiri tidak tahu dia anak anak siapa,
hanya namanya Leng Leng."
"Ahh, dia ini anak Wan bengcu!" Ang Lian berkata girang
sambil meraih Leng Leng dari pondongan Bi Li sampai bocah
itu sadar dari tidurnya dan memandang bingung. "Benar, dia
anak Wan-bengcu. Bukankan namamu Wan Leng, anak
manis?"
Leng Leng mengangguk-angguk kepada gadis yang tak
dikenalnya ini. Ang Lian menciuminya, "Syuknr, syukur,
syukur ...... alangkah akan girangnya hati Wan bengcu dan
isterinya ...... !"
Karena percakapan itu tidak karuan juntrungnya, Tiang
Bu lalu minta dua orang gadis itu menceritakan
keadaannya. Ang Lian menyerahltan Leng Leng yang diminta
oleh Pek Lian, kemudian ia bercerita.
"Kami sebelas orang datang untuk menyerbu Pek-houwto,
akan tetapi tak menjumpal siapa-siapa ke cuali para seli r
dan pe layan wanita yang tidak berarti. Ayah, aku dan enci
Pek Lian ini sebetulnya bertugas menjaga perahu. Akan
tetapi karena sudah hampir sore mereka belum kembali,
ayah lalu memperkenankan aku dan enci Pek Lian untuk
menyusul mereka. Sebelum kami bertemu dengan seseoraug
di antaea mereka, tahu-tahu malah bertemu dengan kau dan
ternyata Leng-ji sudah tertolong. Menurut keterangan Wanbengcu,
Leng-ji ini dibawa ke sini oleh Cun Gi Tosu."
Tiang Bu mengangguk-angguk. Ia merasa girang sekali
bahwa bocah yang ditolongnya itu ternyata puteri Wan Sin
Hong. Ngeri ia memikirkan kalau sampai bocah itu tewas
dalam pertempuran tadi.
24
`Keadaan di sini masih amat berbahaya," katanya
kemudian kepada dua orang gadis enci adik itu. "Liok Kong
Ji dan Liok Cui Kong masih berkeliaran dan sedang kami
kejar-kejar. Lebih baik kalian kembali kepada ayah kalian
dan bawalah Leng-ji ini agar aman dan terlindung di sana,
sambil menanti kembalinya Wan-siok-siok."
Ang Ltan meugangguk-angguk, akan tetapi Pek Lian
berkata. “Apakah ...... apakah tidak baik kalau aku
membantumu menghadapi Liok Kong Ji ?”
SebelumTiang Bu menjawab, Bi Li be rkata, “Tiang Bu,
tentu baik sekali kalau….. enci Pek Lian ini membantumu.
Tentu dia memiliki kepandaian tinggi dan karenanya kau
akan lebih kuat kedudukanmu."
Tiang Bu seorang yang perasa sekali. Dalam ucapan ini ia
menangkap nada yang membayangkan hati sakit, maka ia
bingung dan cepat ia berkata kepada Pek Lian.
“Nona Pek Lian, bukan aku tidak mengharap bantuanmu.
Akan tetapi harus kauketahui bahwa ilmu kepandaian Liok
Kong Ji dan Liok Cui Kong lihai sekali. Kau bukan lawan
mereka."
Ketika melihat pandang mata Pek Lian be ralih kepada Bi
Li seakan-akan bertanya mengapa kalau Bi Li boleh bersama
dia, Tiang Bu cepat berkata, "Ketahuilah, nona Wan Bi Li
adalah sebagai murid terkasih dari Ang jiu Mo-li dan
memiliki kepandaian yang lebih tinggi tingkatnya diri pada
kalian, masih tidak mampu membantuku mengalahkan Liok
Kong Ji dan Liok Cui Kong."
Mendengar ini, dua orang enci adik itu merasa kagum
kepada Bi Li. Kiranya nona butung ini lebih lihai malah dari
pada mereka ! Akhirnya mereka lalu menurut, membawa
pergi Leng Leng untuk kembali kepada ayah mereka yang
masih menanti di pantai menjaga perahu.
Tiang Bu dan Bi Li terus mencari jejak Liok Kong Ji dan
Liok Cui Kong. Akan tetapi malam tiba dan sepasang muda25
mudi ini terpaksa melewatkan malam gelap di dalamsebuah
gua untuk berlindung dari serangan hawa dingin.
Tiang Bu yang amat memperhatikan Bi Li melihat
pe rubahan pada sikap gadis itu. Setiap kali bertemu
pandang, dari sepasang mata dia itu memancar sinar
kemarahan yang aneh. Semua ini ia dapat me lihat di bawah
penerangan api unggun yang ia buat untuk mengusir
nyamuk yang banyak terdapat di dalam gua di tepi pantai
itu. Ia menduga-duga dan ke cerdikannya membuat ia dapat
mengetahui bahwa gadis ini tentu merasa cemburu dan
penasaran karena kata-kata yang keluar dari mulut Ang Lian
yang amat lancang tadi tentang Pak Lian yang rindu
kepadanya ! Dugaannya memang tepat dan hal ini
dinyatakan oleh Bi Li yang kini mulai membuka mulut
bicara setelah sejak tadi diam cemberut saja.
“Tiang Bu, kau tentu sudah kenal baik sekali dengan
Huang ho Sian-jin, bukan?”
Diam-diam Tiang Bu geli hatinya. Ia tahu bahwa gadis ini
sebetulnya hendak bertanya bahwa ia mengenal baik dua
orang gadis puteri Huang-ho Sian-jin tadi, akan tetapi Bi Li
sengaja bicara memutar.
“Tidak,” jawabnya sungguh-sungguh dan jujur. "Baru
satu kali aku bertemu dengan orang yang gagah itu." Ia
menceritakan bahwa dahulu ia menolong piauwsu yang
dirampas barang-barang berharganya oleh Ang-Lian dan Pek
Lian, kemudian ternyata bahwa barang-barang berharga itu
dirampas oleh anak Huang-ho Sian jin untuk dibagi -bagikan
kepada rakyat yang menjadi korban banjir.
“Pantas saja kalau be gitu. Ayahnya seorang tokoh besar
yang gagah budiman, dua orang gadis itupun gagah dan
cantik-cantik sekali, apalagi yang bernama Pek Lian tadi.
Tiang Bu, kau patut menjadi mantu Huang-ho Sian-jin !”
Nah, ini dia maksud hatinya yang penuh cemburu, pikir
Tiang Bu.
26
“Bi Li mengapa kau bicara begitu ? Jangan
kauperhatikan ucapan Ang Lian yang sejak dulu memang
tukang menggoda orang dan bicaranya sangat sembrono.
Ang Lian masih seperti anak-anak, kalau bicara tidak tahu
kira-kira dan mudah saja menjodoh-jodohkan orang.”
"Tiang Bu, apakah kau tidak be rani mengaaku bahwa
Pek Lian seorang gadis cantik dan gagah ?” Bi Li memandang
tajam.
"Memang," jawab Tiang Bu jujur, "tak dapat disangkal
lagi, Pek Lian seorang gadis yang cantik. Akan tetapi hatiku
telah tertawan oleh seorang gadis lain bernama Wan Bi
Li.......... “
“Siapa ketahui hati laki-laki ? Tiang Bu, kan lebih cocok
dan setimpal kalau berdampingano dengan Pek Lian."
“Bi Li, harap kau sudahi percakapan ini…!” Tiang Bu
memegang tangan Bi Li dengan mesra. “Kau sudah
mengetahui isi hatiku. Selain enkau, tak mungkin di dunia
ini ada wanita yang dapat kucinta seperti aku mencintaimu."
Akan tetapi Bi Li tak dapat melupakan sinar mata yang
memancar keluar dari mata Pek Lian ketika gadis
berpakaian pria itu memandang Tiang Bu, penuh kasih
sayang dan kekaguman. Mendengar ucapan Tiang Bu ini, ia
menunduk dan pikirannya melayang-layang.
"Tiang Bu, kalau urusan di pulau ini sudah selesai, apa
kehendakmu selanjutnya ?" akhirnya dia bertanya perlahan.
"Pertama tama, minta Wan-siok-s iok mengurus
pernikahan kita !” jawabnya tegas.
Cahaya keme rahan dari api unggun menyembunyikan
warna merah yang menjalari muka Bi Li. Ia masih
menunduk dan menarik tangannya yang dipegang Tiang Bu,
lalu jari-jari tangan itu bermain-main dengan sehelai
rumput.
“Setelah itu..........?” desaknya.
27
"Setelah itu? Ah. Bi Li. Alangkah bahagianya kalau kita
sudah menjadi suami isteri. Cita-citaku hanya untuk
membahagiakan hidupmu. Sisa hidupku akan
kupergunakan untuk menyenangkan hatimu. Aku ingin
merantau ke seluruh permukaan bumi ini bersamamu akan
kuajak kau menjelajah di empat penjuru dunia! Bukankah
senang sekali ?” Kembali ia meme gang tangan Bi Li yang
berkulit halus.
Ucapan ini membuat hati Bi Li terasa perih sekali. Tak
dapat disangkal lagi, ia mencinta pemuda ini, mencinta
dengan sepenuh hati karena segala gerak-gerik dan tindaktanduk
pemuda ini benar-benar memikat hatinya. Akan
tetapi ucapan tadi, pergi merantau be rdua di empat penjuru
dunia, benar-benar mendatangkan bayangan dan renungan
yang membuat hatinya perih. Ia dapat membayangkan
betapa dia dengan lengan buntungnya mengawani Tiang Bu
di mana-mana.
Tiang Bu, s eorang pemuda yang gagah perkasa, yang
kelak pasti akan dipuji-puji oleh dunia kangouw karena
selain memiliki kepandaian tinggi juga mempunyai pribudi
luhur, dengan seorang isteri berlengan buntung dan yang
hanya akan menjadi tontonan yang menggelikan orang !
Tiang Bu dikagumi dan dipuji puja. sedangkan dia sebagai
isterinya akan selalu menerima pandang mata orang yang
memandang dengan sinar mata mengandung kasihan
bahkan ejekan! Akan kuatkah hati Tiang Bu manghadapi ini
semua? Kelak akan tiba saatnya Tiang Bu bertemu dengan
seorang seorang gadis cantik jelita yang lebih gagah dari
padanya, gadis yang utuh badannya, tidak buntung
lengannya. Dan Tiang Bu akan jatuh hati betul-betul, dia
akan.... ..akan dilupakan !
“Tidak.......... tidak.......... !" Bi Li menutupi jari-jari
tangannya ke depan mukanya yang menjadi pucat.
“Bi Li ? kau kenapa ...... .?”
28
Bi Li dapat menguasai hatinya yang terkacau oleh
bayangan tadi. Ia menggeleng kepalanya dan berkata. "Aku
tidak mau merantau, hal itu hanya akan memalukan saja,
Tiang Bu. Dengan lengan seperti ini........... “
"Aku tidak malu, Bi Li ! Bahkan kebuntungan lenganmu
itulah yang menambah besarnya cintaku kepadamu. Akan
kuperlihatka kepada dunia bahwa aku bangga mempunya
kau di sampingku, bahwa aku sama sekali tidak malu
karena kau cacad. Coba, siapa berani mengejek atau
menghinamu karena cacadmu tentu akan kuhajar habishabisan
!”
Bi Li terharu sekali. Ia percaya akan cinta kasih pemuda
saperti Tiang Bu ini, dan tidak terasa lagi tangannya
memegang lengan pemuda itu dengan penuh terima kasih.
Kemudian ia menarik kembali tangannya dan bertanya,
"Tiang Bu, andaikata.......... ini andaikata saja ......
perjodoban kita tidak dapat berlangsung, apa yang hendak
kaukerjakan?" Dengan pertanyaan ini Bi Li bendak
memancing dan menjenguk isi hati kekasihnya, sampai di
mana besarnya cinta kasih pemuda ini.
Wajah Tiang Bu berubah. "Tidak akan ada yang
menghalangi perjodohan kita, Bi Li. Iblis sekalipun tidak!
Kecuali ...... kecuali kalau kau yang t idak mau menerima
persembahan cintaku.......... apa boleh buat, kalau demikian
halnya, aku bersumpah takkan mau menikah dengan lain
orang, aku....... aku akan mengundurkan diri dan menjadi
seorang pertapa di Omei-san.
Suara yang keluar dari bibir Tiang Bu ini adalah suara
hatinya, maka terdengar menggetar mengharukan, membuat
Bi Li tak dapat menahan isak tangisnya. Hati gadis ini tidak
karuan, girang, bahagia, tercampur duka, haru, dan
khawatir. Dia diamsaja ketika Tiang Bu meme luk dan
menghiburnya. Akhirnya ia pulas dengan kepala di atas
pangkuan Tiang Bu yang menjaganya semalam penuh agar
29
tubuh kakasihnya tidak diganggu nyamuk yang masih saja
berseliweran biarpun api unggun masih bernyala terus.
-oo(mch)oo-
Pada keesokan harinya, pagi-pagi Tiang Bu bersama Bi Li
sudah mulai lagi mencari jejak Liok Kong Ji dan Cui Kong
yang masih belum juga dapat ditemukan di mana
sembunyinya.
“Mereka tak mungkin ke luar dari pulau ini," kata Tiang
Bu. Setelah Wan siok-siok dan kawan-kawannya datang
dengan perahu, tentu Wan-siok-siok tidak begitu bodoh
untuk meninggalkan penjagaan di pantai. Menurut Ang Lian
dan Pek Lian. Huang-ho Sian-ji ditinggalkan di pantai, tentu
kakek itu me lakukan perondaan dan akan melihat apabila
Liok Kong Ji meninggalkan pulau dan tentu akan memberi
isyarat kepada Wan-siok-siok. Aku yakin mereka itu masih
bersembunyi dalam gua-gua yang banyak terdapat di pesisir
ini.”
Bi Li juga berpendapat demikian dan dua orang muda ini
mulai mencari terus tanpa mengenal lelah. Juga rombongan
Wan Sin Hong mencari cari, akan tetapi mereka itu berada di
lain jurusan dan tidak mencari dalam gua-gua di pesisir
batu karang. Tempat ini memang agak tersembunyi dan
hanya Tiang Bu yang sudah sampai di situ lebih dulu.
Memang dugaan Tiang Bu tepat sekali. Liok Kong Ji tidak
berani meninggalkan pulau, bahkan tidak berani keluar dari
tempat persembunyiannya karena maklum bahwa musuhmusuhnya
yang banyak jumlahnya berkeliaran di atas pulau
itu. Sekali saja ia terlihat, ia akan mengalami pengepungan
dan sukar menyelamatkan diri lagi. Ia tahu bahwa sekali ini
yang mengejarnya orang-orang pandai dari pelbagai
kalangan dan andaikata ia dapat melawan Wan Sin Hong,
belum tentu ia akan dapat melepaskan diri dari tangan Tiang
Bu.
30
Berdua dengan putera angkatnya. Liok Kong Ji
bersembunyi di dalam sebuah gua besar yang menjadi
tempat rahasia di mana ia menyimpan kitab-ki tabnya, dan
gua itu tertutup oleh sebuah batu besar yang amat berat.
Setelah ia memasuki gua itu bersama Liok Cui Kong lalu
mengangkat batu itu dari dalam, menyeretnya ke depan gua
dan menurunkannya di depan gua sehingga sepintas
pandang saja orang takkan tahu bahwa di batu besar itu
terdapat sebuah gua yang mulutnya kecil saja, akan tetapi
sebetulnya kalau dimasuki mulut gua yang hanya tiga kaki
tinggi dan dua kaki lebarnya itu, membawa orang ke dalam
sebuah gua yang besar dan luas penuh dengan perabotperabot
rumah seperti meja kursi, tempat tidur dan yang
semuanya terbuat dari pada kayu-kayu yang baik dan
mahal. Juga di dalam gua itu dihias amat mewahnya,
diterangi lampu minyak dan dinding-dindingrya yang
tertutup papan itu digantungi gambar gambar indah.
Pendeknya, di sebelah dalam merupakan ruangan atau
kamar tidur besar yang mewah dan enak ditinggali.
Maklumakan kelahaian ayah dan anak yan dikejar .
ke jarnya, Tiang Bu tidak membuang pedang yang dapat ia
rampas dari tangan Liok Kong Ji. Bahkan sekarang ia
mencari-cari dengan pedang di tangan. sedangkan Bi Li
be rjalan di belakangnya Akhirnya Tiang Bu dan Bi Li berdiri
di depan batu karang yangmenutup mulut gua kecil. Tiang
Bu menaruh curiga karena di dekat situ ia melihat tapak
kaki yang tidak begitu jelas, tanda bahwa orang yang lewat
di situ memiliki ginkang tinggi dan sengaja berlaku hati-hati
supaya tidak kelihatan tapak kakinya.
Tapak-tapak kaki itu lenyap di situ dan tidak terdapat
sebuahpun gua di dekat situ, maka hal itu amat
mencurigakan hatinya.
“Tiang Bu, batu ini baru saja dipindahkan ke sini. Lihat,
rumput-rumput di bawahnya tertindih dan rusak. Kalau
sudah lama di sini, tentu tidak ada rumput tertindih.
31
Rumput-rumput ini masih hidup dan segar,” kata Bi Li
menuding ke bawah.
Benar saja, memang ada rumput yang te rtindih batu
besar itu. Tiang Bu menjadi girang dan kagum akan
ke awasan mata Bi Li ia mengerahkan tenaga di tangan kiri
dan sekali mendorong, batu karang yang menutupi mulut
gua itu roboh, kelihatanlah sebuah mulut gua kecil itu.
Tiang Bu tercengang melihat bahwa di balik batu karang
itu hanya terdapat gua yang lobangnya sekecil itu. Ia merasa
ragu- ragu dan mulai memandang ke sana ke mari mencaricari
jejak. Ketika ia hendak pergi dari situ, kembali Bi Li
berkata,
`Nanti dulu, Tiang Bu. Aku merasa curiga melihat gua
kecil ini. Kauperhatikan baik-baik, gua ini begini gelap, ini
hanya menandakan bahwa dalamnya besar. Siapa tahu
kalau-kalau mereka bersembunyi di sini. Memang tempat ini
merupakan persembunyian yang baik dan tidak
mencurigakan, maka harus diselidiki baik. baik.”
Tiang Bu sadar dan cepat berkata, “Kau be tul, Bi Li.
Kautunggu saja di sini, biar aku menyerbu masuk !”
Bi Li memegang lengan Tiang Bu yang sudah hendak
melompat ke dalam gua kecil itu.
“Nanti dulu jangan terburu-buru Tiang Bu. Gua ini
mulutnya amat kecil . Kalau betul-betul mereka berada di
dalam dan menyerang selagi kau melompat masuk, apakah
tidak berbahaya sekali? Aku teringat ketika dahulu bersama
ayah Pangerau Wanyen Ci Lun memburu binatang hutan.
Ayah menyuruh orang-orangnya mengasapi gua untuk
memancing ke luar macan dan binatang buas lain. Apakah
tidak lebih baik kita sekarang membakari daun dan ranting
kering di depan gua dan meniup as apnya ke dalam untuk
memaksa mereka keluar. Kalau sudah berada di luar gua,
te rserah kepadamu karena aku percaya kau akan dapat
melawan mereka.”
32
Tiang Bu tersenyum. Sebetulnya ia tidak takut sama
sekali, akan tetapi karena melihat sikap Bi Li demikian
bersungguh-sungguh dan gadis itu amat mengkhawatirkan
keselamatannya, ia tak tega membantah.
“Sesukamulah “ jawabnya tertawa. "Akupun ingin sekali
membuat Liok Kong Ji dan Liok Cui Kong terserang asap dan
tak dapat be rnapas. Alangkah akan lucunya kalau mereka
terpaksa ke luar sambil batuk-batuk tak dapat bernapas.”
Ucapan ini dikeluarkan dengan keras oleh Tiang Bu agar
terdengar dari dalam gua. Ucapan ini saja sudah merupakan
pancing dan ancaman. Maksudnya berhasil baik karena
tiba- tiba terdengar suara mendesis dan dari dalam gua yang
kecil mulutnya itu ke luarlah asap hitam bergulung-gulung.
Tiang Bu melompat ke belakang dan meneorong Bi Li untuk
mundur. Ia mengenal asap dari huncwe maut Cui Kong dan
tahu bahwa dua orang musuhnya betul-betul be rada di
dalam gua itu.
Ting Bu memutar pedangnya ketika melihat sinar-sinar
hitam menyambar pula dari dalam gua. Itulah senjatasenjata
rahasia hek-tok-ciam yang dilepas oleh Liok Kong Ji
untuk menyusul senjata rahasia asap biasa yang
disemburkan oleh Cui Kong.
Memang kali ini Liok Kong Ji dan Liok Cui Kong yang
biasanya amat licin dan cerdik itu kena diakali oleh Tiang Bu
dan Bi Li. Mendengar usul Bi Li untuk mengasapi gua itu,
mereka menjadi terkejut setengah mati. Tentu saja mereka
tidak sudi dijadikan seperti dua ekor tikus yang terpaksa
keluar lemas karena lubangnya diasapi. Menghadapi
serangan, mereka masih dapat mempergunakan ilmu
kepandaian untuk melindungi diri, akan tetapi kalau gua itu
dipenuhi asap. berapa lamakah mereka dapat bertahan ?
Maka dengan hati kecut mereka terpaksa membuka jalan
keluar dan menghujankan senjata rahasia mereka.
Betapapun lihainya ilmu s ilat Tiang Bu pemuda ini tidak
berani berlaku gegabah menye rbu ke dalam gua. Senjata
33
rahasia dua orang itu cukup berbahaya, apa lagi hek-tokciam
itu dilepas di antara asap hitam, tidak ke tihatan dan
amat berbahaya kalau ia terkena Hek-tok-ciam, sungguhpun
ia dapat mengobatinya, namun tentu akan banyak
mengurangi daya serang dan daya tempur menghadapi ayah
dan anak angkat yang be rkepandaian tinggi itu.
“Liok Kong Ji dan Liok Cui Kong manusia-manusia iblis.
Keluarlah untuk menebus dosa-dosamu !” kata Tiang Bu,
siap menanti mereka.
Sambil terus melepaskan jarum-jarumnya, Liok Kong Ji
akhirnya melompat keluar, di ikuti oleh Cui Kong yang
memegang huncwe mautnya. Kini Liok Kong Ji juga sudah
memegang pedang lagi, karena dalam gua itu memong
te rsedia beberapa batang pedangnya yang baik baik.
"Bocah durhaka, kali ini aku tidak ampunkan kau lagi !”
kata Liok Kong Ji sambil memutar pedangnya melakukan
serangan kilat dituruti pula oleh Cui Kong.
Tiang Bu tahu bahwa ucapan itu hanya gertakan belaka,
namun ia tidak berlaku sembrono dan tidak mau
memandang rendah kepada dua orang musuhnya yang
sudah berkali-kali mengakali dan lolos dari desakannya itu.
Cepat ia memutar pedang rampasannya dan menangkis
serangan lawan lalu membalas dengan hebat dan tidak
kalah sengitnya. Serangan tangan kosong saja Tiang Bu
sudah mampu mendesak dua orang lawannya itu, apa lagi ia
menggunakan pedang.
Sebentar saja Kong Ji dan Cui Kong hanya bisa main
mundur dan ke mana saja me reka meloncat, selalu mereka
dibayangi dan dikurung oleh sinar pedang Tiang Bu.
Memang pemuda ini sudah mewarisi ilmu kepandaian yang
luar biasa dan berkali kali Liok Kong Ji sampai merasa
kagum bukan main. Ilmu pedang yang dimainkan oleh Liok
Kong Ji adalah ilmu pedang sakti yang jarang bisa dilawan
orang, lihai dan selain cepat dan kuat, juga membingungkan
lawan.
34
Kiranya sukar mencari orang yang akan kuat menandingi
ilmu pedang Liok Kong Ji pada masa itu. Juga Liok Cui Kong
memiliki kepandaian gabungan, sebagian ia pelajari dari
Kong Ji dan sebagian pula ia dapatkan dari gurunya, Cun Gi
Tosu. Pemuda inipun amat lihai ilmu silatnya, apa lagi
huncwe mautnya merupakan senjata ganjil yang amat sukar
diduga gerakan gerakannya.
Namun dua orang ini tidak berdaya menghadapi Tiang
Bu. Di dalam permainan Tiang Bu terdapat segala dasar
pertahanan yang maha kuat , yang sukar sekali ditemnbus
oleh serangan-serangan dua orang itu. Desakan-desakan
Tiang Bu sebaliknya amat berat mereka rasakan,
sungguhpun untuk merobohkan mereka juga bukan
merupakan hal mudah ba gi Tiang Bu.
Ayah dan anak angkat itu dapat bekerja sama baik
sekali. Mereka telah maklum akan kelihaian Tiang Bu den
ketika mereka bersembunyi di dalam gua. Liok Kong Ji
sudah mengatur siasat bertanding menghadapi Tiang Bu. Ia
telah memberi petunjuk kepada Cui Kong dan sekarang
petunjuk itu dipraktekkan. Keduanya tidak bergerak sendirisendiri
terpisah, melainkan bergabung menjadi satu, saling
melindungi dan saling membantu. Inilah yang membuat
Tiang Bu menghadapi kesukaran untuk segera mengalahkan
mereka. Kedudukan mereka memang kuat, bagai tembok
baja !
Bi Li menonton pertempuran itu dengan gemas. Ia
merasa penasaran tak dapat membantu kekasihnya dan
beberapa kali ia mengepal-ngepal tangannya yang tinggal
satu dan memandang marah penuh kebencian kepada orang
itu, terutama kepada Liok Kong Ji yang sudah membuntungi
lengannya. Ingin ia se gera melihat musuh besar yang sudah
membuat hidupnya hampa dan tubuhnya bercacad ini
segera roboh binasa di bawah pedang Tiang Bu. Akan tetapi
tiba-tiba ia melihat perubahan dan kini Tiang Bu hanya
35
mendesak Cui Kong seorang, seakan-akan tidak bermaksud
merobohkan Kong Ji.
Bi Li mengerutkan keningnya. Apa Tiang Bu tiba-tiba
meras a kasihan dan tidak tega membunuh orang yang
sebetulnya masih ayahnya sendiri itu ? Timbul keraguan dan
“perang” dalam pikiran Bi Li ia teringat akan ayahnya
sendiri. Ayahnya yang sejati, Kwan Kok Sun, juga bukan
seorangmanusia baikt-baik, bahkan dahulunya amat
terkenal jahat. Demikian pula Tiang Bu. Sudah sepatutnya
kalau Tiang Bu ragu-ragu untuk membunuh ayab sendiri.
Akan tetapi ayah Tiang Bu itu telah membikin buntung
lengannya, dosa yang tak dapat ia ampunkan lagi !
Kekhawatiran Bi Li ini sebetulnya kosong belaka. Tiang
Bu sama sekali tidak merasa kasihan kepada Liok Kong Ji.
Ia amat banci kepada orang yang mengaku sebagai ayahnya
ini dan ia akan tega membunuhnya. Dia bukatnya
berkasihan kepada Kong Ji, akan tetapi dia sedang
menjalankan s iasatnya. Menghadapi ayah dan anak angkat
yang dapat bekerja sama dengan baik betul-betul Tiang Bu
menemukan kesukaran untuk mencari kemenangan
secepatnya.
Pertahanan dua orang itu kuat bukan main. Oleh karena
itu Tiang Bu lali mengambil keputusan untuk menyerang
dan mendesak seorang di antara dua pengeroyoknya. Dan di
antara dua oraug itu, Cui Kong paling lemah, maka ia lalu
memusatkan perhatiannya kepada Cui Kong dan
menghujankan serangan-serangan hebat kepada pemuda
itu.
Tentu saja Cui Kong menjadi gelagapan. Biasanya kalau
ada lawan menyerangnya, tangkisan huncwenya dapat
membuat serangan lawannya buyar dan gagal, akan tetapi
kali ini, makin ditangkis pedang di tangan Tiang Bu menjadi
makin ganas, se olah-olah tangkisan huncwe itu menambah
daya serangnya ! Biarpun Liok Kong Ji sudah cepat-cepat
membantu untuk menangkisnya dan bahkan menyerang
36
Tiang Bu dengan dahsyat. Tetaps aja Cui Kong tak dapat
menghindarkan lagi sebuah tusukan pedang yang amat
cepat mengarah perutnya.
Ia mempergunakan segala kelincahannya untuk
mengelak dari tusukan yang sudah tak mungkin ditangkis
lagi itu, akan tetapi ia hanya berhasil menyelamatkan
perutnya, tidak dapat lagi menolong pahanya yang te rtusuk
pedang sampai tembus.
Ketika pedang dicabut, darah mengalir deras dari paha
itu. Tiang Bu hendak menyusulkan tusukan maut ke dua.
namun Cui Kong yang berteriak kesakitan itu sudah
membuang diri ke atas tanah dan menangkis tusukan ini
dengan huncwenya. Terdengar suara keras dan huncwe itu
terlepas dari tangannya, namun ia selamat dan segera
menggerakkan tubuh bergulingan sampai jauh dan baru
berhenti karena di belakangnya adalah tebing batu karang
yang amat curam. Di sini ia merintih-rintih sambil berusaha
membebat luka di pahanya dengan baju yang dirobeknya.
Darah amat banyak mengucur, membuat kepalanya pening.
Kemudian Cui Kong terguling pingsan !
Melihat ini, Bi Li yang sudah menjadi kegirangan segera
berlari menyambar huncwe Cui Kong yang menggeletak di
atas tanah, kemudian ia berlari menghampiri Cui Kong yang
sudah pingsan itu untuk memberi pukulan terakhir.
“Bi Li, jangan dekati dia.......... ..!" Tiang Bu yang masih
bertanding dengan Kong Ji itu melarang. Pemuda ini biarpun
melihat Cui Kong sudah terguling dan tidak bergerak seperti
mati, masih saja curiga dan takut kalau-kalau kekasihnya
menjadi korban kelicikan Cui Kong. Akan tetapi Bi Li yang
sudah sakit hati itu, mana mau dilarang ? Ia makin gemas
dan sekali melompat ia sudah tiba di dekat Cui Kong, lalu
mengayun huncwe itu ke arab kepala Cui Kong !
Tepat dugaan Tiang Bu. Sebe tulnya Cui Kong tidak
pingsan, hanya pura-pura pingsan, untuk menyelamatkan
diri dan mencegah Tiang Bu menyerang terus. Sama sekali ia
37
tidakmengira bahwa Bi Li akan mengejar dan
menyerangnya. Biarpun matanya tertutup, ia dapat
mendengar sambaran angin pukulan huncwenya. Cepat ia
menggulingkan tubuh dan kepala sehingsa huncwe di
tangan Bi Li itu menghantam batu, menimbulkan suara
keras dan bunga api berpijarmembarengi muncratnya batu
yang remuk terkena pukulan huncwe !
Bi Li penasaran dan mengejar lagi, mengirimserangan
hebat. Terpaksa Cui Kong melompat berdiri, akan tetapi
terguling roboh lagi karena pahanya teras a sakit sekali.
Namun dalam mengelak, ia terkena huncwe pada
pundaknya, membuat ia mengerang kesakitan Bi Li
memukul terus, ditangkis oleh lengan kiri Cui Kong.
“Krak !" Tulang lengan itu patah. Tenaga lweekang Cui
Kong sudah banyak berkurang karena lukanya yang hebat,
maka tidak kuat menerima pukulan huncwe. Sebelum Cui
Ko berhasil mengembalikan kese imbangan tubuhnya, Bi Li
sudah menyerang lagi !
"Mampuslah kau jahanam !" se ru Bi Li dengan gemas,
huncwenya kini mendorong dada Cui Kong untuk membuat
pemuda terjengkang ke belakang di mana tebing batu karang
siap menerima tubuh pemuda itu untuk dilempar ke bawah
di mana gelombang laut mengganas kelaparan !
Tidak ada jalan mengelak atau menangkis lagi. Cui Kong
berlaku nekat, tidak mel indungi tubuhnya melainkan
menubruk ke depan dengan kedua tangan mencengkeram
atau memeluk.
"Awas, Bi Li.......... !” Tiang Bu berseru dan meninggalkan
Kong Ji karena melihat bahaya mengancam Bi Li. Namun
terlambat! Cui Kong yang sudah nekat dan ingin mati
mengajak lawan itu, berhasil mencengkeram lengan tangan
Bi Li yang memegang huncwe dan mendorong dada
sedemikian hebatnya sehingga tubuh Cui Kong mencelat ke
belakang membawa tubuh Bi Li bersama. Dua orang itu
38
te rgelincir masuk ke tepi batu karang dan melayang ke
bawah diiringi pekik mengerikan dari Cui Kong.
"Bi Li ......!!” Tiang Bu menjerit dan berlari ke tempat itu,
tidak perduli lagi pada Kong Ji yang terus saja
mempergunakan kesempatan baik itu untuk lari
menyelamalkan diri.
Setibanya di pinggir tebing, Tiang Bu melonguk ke bawah
dan pucatlah wajahnya. Jauh sekali di bawah, puluhan
tombak jauhnya, hanya kelihatan arus ombak menggelora
kepulih putihan. berbuih-buih seperti mulut iblis yang haus
akan darah. Ia hendak meloncat, akan tetapi se gera
kesadarannya melarangnya. Kalau ia meloncat turun, tipis
harapan akan selamat. Apa gunanya membuang jiwa secara
sia-sia belaka? Kong Ji masih belum terbunuh dan pula,
menolong Bi Li harus dilakukan dengan jalan sewajarnya,
bukan dengan jalan membunuh diri. Mengingat akan ini,
TiangBu segera berlari lari ke kanan kiri untuk mencari
tebing yang tidak curam, dari mana ia akan mencari perahu
dan menuju ke tempat di mana Bi Li tadi jutuh bersama Cui
Kong.
Sukar sekali mencari perahu di situ karena perahuperahu
bajak sudah ia tenggelamkan semua. Akhirnya ia
menggunakan pedangnya menebang sebatang pohon dan
menggunakan batang pohon itu untuk perahu ist imewa
Dengan batang pohon ini ia mendayung menuju ke tempat di
mana tadi Bi Li terjatuh.
Akan tetapi ia sudah membuang terlalu banyak waktu,
Ketika mencari-cari tebing kemudian mencari perahu lalu
menebang pohon untuk perahu, ia telah membuang waktu
satu jam lebih. Biarpun begitu, ke tika ia tiba di bawah tebing
curam itu, ia masih sempat melihat tubuh Cui Kong yang
sudah menjadi mayat itu bergerak-gerak di permukaan air
laut yang kini sudah menjadi terang, agaknya sudah
kekenyangan karena mendapatkan dua mangsa manusia itu.
Ketika Tiang Bu mendekat, ia me rasa ngeri juga melihat
39
bahwa mayat Cui Kong itu bergerak-gerak karena dibuat
berebutan oleh beberapa ekor ikan hiu yang ganas dan buas!
Tubuh Bi Li tidak kelihatan sama sekali.
Dengan perahu istimewanya itu Tiang Bu mendayung ke
sana ke mari mencari-cari sambit memanggil nama
kekasihnya,
"Bi Li …….! Bi Li ……..!”
Tiupan angin laut membuat suaranya hilang tak
berbekas. Sia-sia ia mencari-cari tidak kelihatan tubuh yang
ia cari-cari. Tiba-tiba ia melihat sesuatu yang membuat
kerongkongannya serasa tersumbat. Matanya terbelalak
memandang ke arah benda itu, mukanya pucat dan bibirnya
be rgerak-gerak menyebut “Bi Li.........” tanpa mengeluarkan
suara.
Benda itu adalah robekan baju Bi Li di bagian lenhan dan
pundak, robek sama sekali seperli ditarik dengan paksa dari
tubuh kekasihnya itu. Ia menoleh ke arah mayat Cui Kong
yang masih diseret-seret oleh ikan-ikan ganas itu. Tak te rasa
lagi air mata bercucuran dari sepas ang mata Tiang Bu.
“Bi Li…….” Ia dapat membayangkan betapa kekasihnya
itu sudah lebih dulu menjadi mangsa ikan, mayatnya
diseret-seret dan ditarik-tarik oleh ikan-ikan hiu itu sehingga
bajunya robek-robek dan terapung di sini. Dengan isak
tertahan Tiang Bu membawa pedangnya me loncat ke dalam
air dan menyambar robekan baju itu.
"Bi Li.......... !" Ia mendekap robekan baju itu ke dadanya
sambil mendongak ke angkasa, air matanya bercucuran.
Tiba-tiba batang pohon itu bergerak miring dan hal ini
menyadarkan Tiang Bu dari pada kesedihan yang membuat
ia lupa diri itu. Dilihatnya seekor ikan hiu me raba-raba
perahu aneh itu dengan moncongnya. Melihat ikan ini,
bangkit kemarahan Tiang Bu.
40
"Bedebah, kau yang membunuh Bi Li !” Pedangnya
berkelebat dan kepala ikan itu terbelah dua. Air menjadi
merah dan tubuh ikan itu terapung dengan perut di atas.
Darah ikan itu sebentar saja mendatangkan banyak ikan
hiu yang serta merta menyerbu dan menyerang bangkai hiu
tadi. Melihat betapa lahapnya ikan-ikan itu memperebutkan
daging ikan hiu, Tiang Bu menjadi marah. Dalam pandang
matanya, seakan-akan yang diperebutkan itu bukan bangkai
hiu, melainkan mayat kekasihnya Bi Li !
“Binatang iblis, kalian jahat dan keji !” makinya dan
pedangnya berkelebat. Sebentar saja laut di bagian itu
penuh dengan bangkai ikan hiu. Sampai lelah sekali tubuh
Tiang Bu mengamuk dan membunuhi ikan hiu. Akhirnya ia
teringat bahwa perbuatannya ini seperti perbuatan orang
gila. Ia lelah lahir batin, dan dalam keadaan setengah
pingsan Tiang Bu menjatuhkan diri di atas batang pohon
yang ia jadikan perahu. Laut mulai mengombnak lagi dan
batang pehon itu dipermainkan, didorong-dorong sampai ke
tepi.
Dengan hati hancur Tiang Bu mendarat sambil
mendekap robekan kain baju Bi Li. Air matanya kembali
jatuh berderai kalau ia teringat be tapa kekasihnya itu tewas
dalam keadaan menyedihkan, bahkan tidak dimakamkan.
Teringat ini, Tiang Bu lalu menggunakan pedang rampasan
itu untuk menggali tanah, cukup dalam seperti kalau orang
hendak mengubur jenazah manusia.
Setelah itu ia berlari ke dalam gua di mana tadi Kong Ji
bersembunyi dan dia mendapatkan apa yang dicarinva, yaitu
lilin dan hio. Sekembalinya di tanah galian, dengan penuh
khidmat Tiang Bo "mengubur" robekan baju Bi Li yarg ia
anggap sebagai pengganti jenazah kekasihnya. Ia melakukan
upacara pemakaman ini sambil menangis dan menyebut -
nyebut nama Bi Li berulang-ulang.
Ia lalu menguruk kembali lubang itu. Dengan pedangnya
Tiang Bu membuat bongpai sederhana dari batu karang. Ia
41
tidak perduli pedang itu menjadi rusak karenanya, malah
setelah rampung membuat bongpai, ia membuang pedang
rampasan itu. Setelah itu ia lalu menyalakan lilin dan hio,
bersembahyang dengan penuh khidmat dan sedih. Ia
berlutut di depan bongpai (baru nisan) itu dan berkata
keras-keras,
“Bi Li, kau mengasolah dengan tenang. Aku bersumpah
bahwa sebelum membunuh Liok Kong Ji untuk
membalaskan sakit hatimu aku takkan berhenti.
Kautunggulah aku di alam baka. karena setelah tugasku aku
akan hidup sebagai pertapa di Omei-san sampai datang
saatku menyusulmu.”
Ucapan ini diulangi berkali-kali dan sampai lama ia
berlutut di depan "makam." Demikian khidmatnya ia
bersembahyang sampai telinganya yang biasanya amat tajam
itu tidak mendengar datangnya beberapa orang yang berdiri
di belakangnya dan memandang dengan terheran-heran dan
penuh keharuan. Akhirnya seorang di antara mereka yang
bertubuh gagah dan masih muda, mendengar nama Bi Li
disebut-sebut Tiang Bu, nampak kaget sekali dan bertanya,
“Kau bilang.......... Bi Li ..... Bi Li mati? Apakah itu
kuburan Bi Li adikku....?” menudingkan telunjuknya ke arah
makam itu.
Tiang Bu menoleh dan melihat Wan Sin Hong berdiri
sambil bersedakap di situ, memandangnya dengan mata
mengandung kasih s ayang besar. Yang bertanya tadi adalah
Wan Sun, kakak angkat Bi Li, putera dari mendiang
Pangaran Wanyen Ci Lun dan Gak Soan Li, atausaudaranya
sendiri, saudara sekandung berlainan ayah! Orang ketiga
adalah seorang tosu tua yang ia tidak kenal.
"Tiang Bu koko, saudara tuaku yang gagah parkasa,
betulkah itu makam Wan Bi Li adikku.. ..... ,?" Kembali Wan
Sun bertanya s ambil menghampiri Tiang Bu. Tiang Bu
menjadi makin terharu. Inilah adiknya seibu berlainan ayah.
42
Inilah anak kandung lbunya. Ia melompat berdiri dan
memeluk Wan Sun, tak tertahan lagi ia menangis terisak.
"Dia .......... dia sudah mati ...... " hanya itu yang dapat ia
katakan, kemudian ia manjatuhkan diri berlutut di depan
Wan Sin Hong.
Wan Sun cepat berlutut di depan makams ambil
menyalakan lilin kemudian ia berdiri dan bersembahyang,
mulutnva berkemak-kemik, air matanya menit ik turun.
Terbayang semua pengalamannya ketika kecil dan menjelang
dewasa. Bi Li wanita yang sebetulnya merupakan cinta
pertamanya sebelum ia bertemu dengan Coa Lee Goat.
Wan Sin Hong menyuruh Tiang Bu berdiri dan ia
memandang kepada pemuda ini penuh perhatian. Alangkah
bedanya dengan ayahnya, pikir Sin Hong. Bocah tidak
bardosa yang kini menanggung akibat dari dosa ayahnya
yang jahat sekali.
“Tiang Bu, coba kaucoritakan bagaimana Bi Li sampai
tewas dan bagaimana hasilnya usahamu mencari musuh
kita? Kau tentu datang untuk mencari ayah dan anak iblis
itu bukan?”
(Bersambung jilid ke XXVI)
1
(PEK LUI ENG)
Karya: Asmaraman S. Kho
Ping Hoo Scan djvu :
syauqy_arr
Convert & edit : MCH
Jilid XXVI
“BETUL seperti apa yang paman Wan Sin Hong katakan,
siauwtit datang untuk membalas dendam dan mengakhiri
kejahatan manusia-manus ia iblis Liok Kong Ji dan Liok Cui
Kong. Kemudian Bi Li menyusul bersama gurunya, Ang-jiu
toanio. Sayang sekali mereka berdua telah tewas pula di
tangan ayah dan anak iblis itu !” kata Tiang Bu gemas.
“Memang Liok Kong Ji sudah terlampau banyak
melakukan perbuatan jahat, keganasannya melebihi iblis
dan ia telah banyak mengorbankan nyawa orang-orang
gagah. Bahkan Pek-thouw-tiauw-ong bersama isterinya dan
puterinya juga tewas semua di pulau ini,” kala Sin Hong
sambil menarik napas panjang. "Cetakanya, dia menyuruh
anak angkatnya yang sama jahatnya dengan ayahnya itu
untuk mengacau di Kim-bun-to sehingga ayah ibumu juga
tewas olehnya ...... .!!”
“Mendengar ini, kekagetan Tiang Bu seperti orang
disambar petir. Ia hanya dapat memandang dengan mata
terbelalak dan mulut te rnganga, kemudian kedua tangannya
be rge rak memukul ke arah batu karang.
2
“Brakkk….. !” Batu karang yang besar itu hancur lebur di
bagian yang terpukul, debu mengebul dan Tiang Bu
muntahkan darah ! Ternyata dendam dan sakit hati
ditambah kedukaan yang hebat tadi telah menindih
jantungnya, membuat dadanya seperti hampir meledak.
Tahu bahwa sinkangnya yang sudah kuat sekali itu dapat
membahayakan nyawanya sendiri, pemuda ini
melampiaskan amarah dan nafsunya kepada batu karang,
kemudian pukulan itu melepaskan sebagian besar tekanan
pada dadanya, membuat ia muntah darah, akan tetapi
nyawanya tertolong.
Sin Hongmengangguk-angguk dan membiarkan Tiang Bu
menjatuhkan diri berlutut sambil menangisi kematian ayah
bundanya yang biarpun hanya ayah bunda angkat, namun
ia cinta seperti orang tua sendiri.
“Baik sekali kau dapat menghilangkan kemarahan yang
menindih hatimu, Tiang Bu. Seorang laki-laki gagah tidak
saja harus berani menghadapi lawan tangguh, juga harus
kuat menahan pukulan batin, harus tahan menderita.
Segala apa di dunia ini memang nampak bersifat dua macam
yang bertentangan, sesuai dengan hukum Im Yang (positive/
negative). Hanya orang budiman yang sudah mencapai
keselarasan batin yang penglihatannya tidak membedakan
unsur dua bertentangan itu. Semua diterima sama saja,
penuh keyakinan bahwa segala sesuatu yang menimpa diri
memang sudah semestinya demikian. Suka dan duka
merupakan bumbu-bumbu hidup, kalau kita tidak tahu
merasakan duka, bagaimana kenikmatan suka dapat terasa?
Sekarang tenangkanlah semangatmu dan coba kauceritakan
bagaimana pengalamanmu di pulau ini.”
Mendengar wejangan Sin Hong yang amat dikaguminya
itu, Tiang Bu menjadi lebih tenang. Ia lalu menceritakan
semua pengalamannya sejak mendarat sampai tadi bertemu
daegan Wan Sin Hong, Wan Sun, dan tosu yang bukan lain
adalah Bu Kek Siansu ketua Bu-tong-pai.
3
Merdengar akan kamatian Cui Kong, Wan Sin Hong
menarik napas panjang. “Memang sama saja. Baik atau
jahat akhirnya akan mati juga. Akan tetapi kalau sudah
tahu ada baik dan buruk dalam perbuatan dan langkah
hidup, mengapa menjauhkan kebaikan mengejar
keburukan? Cui Kong sudah meninggal dunia tinggal Liok
Kong Ji. Kaukira di mana dia bersembunyi, Tiang Bu?”
“Siauwtit tak dapat menduganya. Wan-pek-pek. Orang
itu memang amat licin dan penuh siasat. Aku malah
khawatirkan dia sudah berhasil menyelamatkan diri,
minggat dari pulau ini."
Sin Hong menggeleng kepala. “Tak mungkin. Kami sudah
mengatur dan pulau ini sudah kami kurung dengan
mengawasan teliti. Huang-ho Sian.jin dan kedua orang
puterinya sudah selalu mengelilingi pulau dengan perahuperahu
mereka. Tak mungkin Liok Kong Ji dapat lolos kali
ini. Hanya aku belummenyapaikan terima kasihku
kepadamu bahwa kau telah berhasil merampas Leng-ji dari
tangan Liok Kong Ji yang jahat.”
Tiang Bu merasa lega. "Syukurlati anak pek-pek sudah
selamat. Sekarang dimana adik Leng Leng itu ?"
Sin Hong lalu menceritakan keadaannya. Sampai penat
mengelilingi Pulau Pek houw-to belum juga mereka
mendapatkan je jak Liok Kong Ji. Kemudian dua rombongan
mereka sudah bertemu dan be rkumpul kembali tanpa hasil.
Hanya mereka menjadi amat kegirangan terutama sekali
Wan Sin Hong dan isterinya ketika melihat Leng Leng sudah
berada di situ dibawa oleh Pak Lian dan Ang Lian.
Leng Leng segera didekap oleh ibunya, dan Wan Sin Hong
dengan wajah berseri berkata kepada Pek Lian. "Pek Lian
dan Ang Lian, kalian telah berjasa besar mengembalikan
anakku. Tak tahu apa yang harus kulakukan untuk
membalas budi kalian."
4
Ang Lian yang kenes itu tertawa jenaka. “Hadiah untuk
enci Pek Lian hanya satu macam, asal Wan taihiap suka
menjodohkannya dengan Tiang Bu, cukuplah …..”
"Ang Lian. tutup mulutmu !" Pek Lian membentak marah,
akan tetapi mukanya menjadi merah "Wan-taihiap, harap
jangan percaya mulut adikku yang lancang itu. Sebetulnya,
kami enci adik mana becus merampas adik Leng dari tangan
Liok Kong Ji yang lihai ? Kami berdua hanya
mengantarkannya saja ke sini, yang merampasnya dari
tangan musuh adalah .......... Tiang Bu. Kami berdua
berjumpa dengan dia dan dialah yang menyuruh kami
membawa adik Leng ke sini sedangkan dia sendiri mas ih
melanjutkan usahanya mencari jejak musuh-musuh kita."
"Bersama seorang gadis cantik sekali akan tetapi
lengannva buntung !" Ang Lian menyambung.
"Bi Li.......... !” Wan Sun berseru kaget mendengar ini”.
“Betul, nona itu adalah adik saudara Wan Sun ini," kata
pula Ang Lian.
Mendengar ini, Wan Sin Hong segera mengajak Wan Sun
dan Bu Kek Siansu untuk menyusul ke daerah batu karang
itu. Kawan-kawan yang lain disuruh menanti dan secara
bergiliran meronda dengan perahu agar Liok Kong Ji tidak
dapat malarikan diri minggst dari pulau.
Demikianlah, setelah akhirnya rombongan tiga orang ini
bertemu dengan Tiang Bu, ternyata Bi Li telah tawas dan
potongan baju dikubur oleh Tiang Bu. Semua orang menjadi
terharu sekali dan diam-diam tahu bahwa Tiang Bu benarbenar
amat mecinta Bi Li. Wan Sin Hong merasa menyesal
bukan main. Jodoh yang setimpal sekali, pikirnya. Tiang Bu
dan Bi Li keduanya keturunan orang-orang jahat akan tetapi
menjadi baik dalam asuhan orang-orang baik. Sayang Bi Li
meninggal dalam keadaan begini menyedihkan ......
"Kalau begitu penjahat Liok Kong Ji tentu mas ih
menyembunyikan diri." kata Bu Kek Siansu yang semenjak
5
dahulu telah menjadi musuh Liok Kong Ji. "Lebih baik
sekarang kita mengerahkan tenaga untuk mencarinya. Kali
ini jangan sampai iblis itu bisa meloloskan diri dari tangan
kita.”
"Benar apa yang totiang katakan,” kata Sin Hong. “Tiang
Bu, apakah kau hendak mencari jejak Liok Kong Ji bersama
kami?”
“Biarlah, pek-pek, siauwtit mencari sendiri. Ingin siauwtit
berhadapan muka satu lawan satu dengan dia!" jawab Tiang
Bu gemas.
Sin Hong maklum akan perasaan hati pemuda yang
mengejar-ngejar ayah sendiri ini dan maklum pula bahwa di
antara semua yang berada di situ, kiranya hati Tiang Bu
yang paling panas. Pula, ia percaya bahwa kepandaian Tiang
Bu lebih dari cukup untuk melawan Liok Kong Ji.
"Baiklah kalau begitu. Cuma pesanku, malam nanti
kalau belum juga Liok Kong Ji kita temukan, kau pergilah ke
pantai se latan di mana kami s emua berkumpul. Kau tentu
sudah ingin bertemu dengan yang lain-lain, terutamna sekali
adikmu Lee Goat yang sudah amat rinda kepadamu."
Tiang Bu mengangguk-angguk terharu sekali dan ia
memandang kepada Wan Sun.
"Adikku yang baik. Aku benar-benar me rasa berbahagia
sekali ketika mendengar bahwa Lee Goat menjadi iste rimu.
Dia itu adikku, kau juga adikku, benar-benar perjodohan
yang amat menggirangkan hatiku."
Wan Sun hanya bisa memegang pundak Tiang Bu dan
memandang tajam. Di dalam lubuk hatinya, Wan Sun
menangis sedih. Alangkah akan baiknya kalau Bi Li tidak
meninggal dunia dan menjadi jodoh Tiang Bu.
Mereka lalu berpisah dan tiga orang itu meninggalkan
Tiang Bu yang masih merasa enggan meninggalkan makam
kekasihnya.
6
-oo(mch)oo-
Liok Kong Ji pandai sekali menyembunyikan diri.
Memang sebelum ia dise rbu oleh musuh-musuhnya, Liok
Kong Ji sudah mengadakan penyelidikan di Pulau Pek-houwto
dan sudah membuat persiapan terlebih dulu. Ia sudah
membuat tempat rahasia yang sukar dilihat dari luar dan di
dalam tempat persembunyian ini dia sudah menyediakan
bahan makan yang cukup banyak. Orang seperti dia yang
banyak musuhnya tentu saja sudah membuat persiapan
kalau kalau ia terpaksa be rsembunyi seperti sekarang ini.
Tempat persembunyiannya itu, jangankan orang luar
bahkan se lir-selirnya sendiri sekalipun tidak ada yang tahu.
Oleh karena itu tak seorangpun di antara selir-selir dan
pelayannya dapat memberi tahu ke mana ia bersembunyi.
Usaha Wan Sin Hong dan kawan-kawannya juga usaha
Tiang Bu, belum juga berhasil . Tiing Bu sudah datang ke
tempat berkumpulnya Wan Sin Hong dan rombongannya.
Pertemuan yang amat menggembirakan, juga amat
mengharukan, terutama sekali pertemuan antara Tiang Bu
dan Coa Lee Goat,
Berada di antara orang-orang gagah ini, Tiang Bu teringat
akan semua pengalamannya ketika ia mas ih kecil dan di
lubuk hatinya ia merasa kecewa sekali mengapa dia putera
Liok Kong Ji yang terkenal jahat dan dimusuhi orang-orang
gagah ini. Aku harus dapat membasmi Liok Kong Ji dengan
kedua tanganku sendiri pikirnya, agar aku dapat mencuci
noda yang didatangkan oleh orang yang mengaku ayahku
itu. Juga pertemuannya dengan pasangan-pasangan seperti
Wan Sin Hong dan Siok Li Hwa, Wan Sun dan Coa Lee Goat,
membuat ia makin teringat kepada Bi Li dan memhuat ia
berduka.
Sudah dua hari dua malam mereka berada di pulau itu
dan setiap hari mencari jejak Liok Kong Ji, namun belum
juga orang yang licin itu dapat mereka temukan.
7
“Lebih baik kita pusatkan penjagaan pada pantai saja,"
Wan Sin Hong menyatakan pendapatnya. "Dan jangan kita
mencari-cari lagi. Dengan sembunyi kita mengintai dan
meronda di sepanjang pantai agar Liok Kong Ji mengira
bahwa kita sudah pergi dari sini. Hanya dengan siasat ini
kiranya ia akan keluar dari tempat sembunyinya"
Semua orang menganggap pendapat ini baik sekali, maka
tadak lagi diadakan usaha mencari ke dalam pulau,
melainkan penjagaan pantai diperkuat.
Hal ini tidak memuaskan hati Tiang Bu dan diam diam ia
menemui Wan Sin Hong katanya,
“Wan pek-pek, memang siasat pek-pek baik sekali. Akan
te tapi, ijinkanlah siauwte se orang diri mencarinya dengan
diam diam menanti sampai ia muncul untuk membekuknya.
Mencari beramai-ramai memang amat berisik dan membuat
ular itu tidak mau keluar dari sarangnya, akan tetapi kalau
seorang saja yang mencari, kiraku tidak akan mengagetkan
dia."
Sin Hong tahu bahwa dengan kepandaiannya yang tinggi,
Tiang Bu tentu saja merupakan penge cualian. Dengan
kepandaiannya itu tentu saja Tiang Bu dapat mencari tanpa
terlihat oleh musuh. Maka ia menyatakan persetujuannya
dan pergilah Tiang Bu dari pantai, kembali ke pedalaman
pulau untuk mencari lagi.
Hal ini terdengar oleh Ciu Lee Tai dan membuat si dogol
ini penasaran. “Mengapa dia diperbolehkan dan aku tidak?"
katanya penasaran. “Biarpun boleh jadi Tiang Bu lihai, akan
te tapi bukankah dia itu pute ra sajati dari Liok Kong Ji?
jangan- jangan menyuruh dia mencari sama halnya dengan
menyuruh dia memberi peringatan kepada Kong Ji ayahnya
lebih berhati-hati dan jangan ke luar dari tempat
persembunyiannya.”
Ucapan ini ia keluarkan di depan Ang Lian, karena sering
kali dua orang muda ini bercakap, atau lebih tepat lagi.
8
sering kali Lee Tai mencari kes empatan untuk mendekati
Ang Lian pada waktu gadis ini berada seorang diri di tepi
pantai.
“Huh. omongan apa ini?” bentak Ang Lian cemberut
marah. "Sekali lagi kau bicara seperti itu, aku selamanya
tidak mau mendengar omonganmu yang busuk lagi. Dia
adalah calon cihuku (kakak iparku), kau tahu? Dan kau
berani menghinanya ?”
“Eh.......... , oh.......... begitukah.......... ? Jadi.......... enci
Pek Lian.........” sungguh mengge likan sikap Lee Tai ini.
Belum apa apa ia sudah menyebut enci kepada Pek Lian,
biarpun usianya lebih tua dari pada Pek Lian yang baru
berusia dua puluh satu tahun.
"Tutupmulut, jangan kaubicarakan hal ini kepada orang
lain. Pendeknya kau tidak berhak memburukkan nama
Tiang Bu. Dia itu seorang yang tinggi ilmunya, bahkan
menurut Wan-bengcu, di dunia persilatan sekarang ini
jarang ada orang yang dapat manandinginya. Kau ini siapa
sih? Janjimu untuk menewaskan manusia iblis Liok Kong Ji
juga hanya omong kosong belaka, syaratku itu masih
berlaku, kau tahu? Kalau tak dapat mengalahkan Liok Kong
Ji. jangan harap aku akan memperdulikanmu lagi !" Setelah
berkata demikian dengan cemberut Ang Lian membalikkan
tubuh dan meninggalkan Ciu Lee Tai seorang diri di atas
batu-batu di pantai itu.
"Adik Ang Lian ...... “
Akan tetapi Ang Lian menengokpun tidak, terus pergi ke
pondok di mana ia bermalam dengan Pek Lian. Rombongan
ini memang membuat pondok-pondok darurat untuk
melewatkan waktu malam.
"Bait," kata Le e Tai yang menjadi panas hatinya. "kauki ra
aku tidak dapat berusaha seperti Tiang Bu? Kaukira aku
tidak bisa pergi sendiri mencari Liok Kong Ji dan
menantangnya bertanding sampai selaksa jurus Ang
9
Lian.......... Ang Lian.......... kau belum kenal adanya Kangthouw-
ciang Ciu Lee Tai!" Pemuda ini bicara seorang diri
sambil menepuk-nepuk dada dan goloknya. Kemudian ia
berlari ke pedalaman pulau untuk mencari Liok Kong Ji.
Ciu Lee Tai memang peenuda yang berhati keras dan
bernyali besar. Dia keturunan orang gagah. Ayahnya Ciu
Beng, adalah seorang piauwsu (pengawal barang) yang gagah
dan terkenal di dae rah Shan-tung. Juga ayahnya berwatak
keras dan tak mau kalah, namun jujur den memiliki jiwa
ksatria. Oleh karena wataknya yang keras, adil dan jujur
inilah maka mereka banyak dimusuhi oleh penjahatpenjahat
di dunia liok-lim. Biasanya, sebagian besar
piauwsu mempergunakan cara-cara halus menghadapi para
perampok, yaitu dengan jalan memberi "uang jalan" atau
juga disebut uang sewa jalan, pendeknya semacam care
menyuap agar perampok-perampok itu tidak mengganggu
barang yang dikawalnya. Akan tetapi Ciu Beng tidak sudi
melakukan cara ini. Dia mengawal mengandalkan
kegagahannya, mengandalkan tajamnya golok.
"Seorang piauwsu adalah seorang pengawal dan tugas
seorang piauwsu adalah mengawal dan melindungi barang
kiriman dengan taruhan nyawa. Ada perampok menghadang
harus dibasmi, selain demi melindungi barang juga demi
mengamankan kehidupan rakyat jelata. Ini baru gagah
namanya!” Demikian Ciu Beng sering menyatakan
pendapatnya.
Wutaknya yang keras dan tidak mau berkompromi
dengan para penjahat itu akhirnya mendatangkan
malapetaka bagi rumah tangganya. Sekawanan perampok
yang menaruh dendam, menyerbu rumahnya, membakar
rumah itu dan di dalam pertempuran hebat Ciu Beng dan
isterinya tewas terbunuh oleh orang-orang jahat,
meninggalkan anak tunggal mereka yaitu Ciu Lee Tai yang
baru berusia sepuluh tahun.
10
Ciu Lee Tai mewarisi watak ayahnya. Se jak kecil ia sudah
gemar akan ilmu silat dan sudah mewarisi dasar-dasar ilmu
silat ayahnya. Setelah ia menjadi yatim piatu dan harta
benda ayahnya habis terbakar, ia lalu menjadi seoring bocah
gelandangan, tiada sanak kadang tiada penolong. Namun
sejak berusia sepuluh tahun, ia sudah memperlihatkan
keteguhan hati sebagai seorang calon pendekar. Ia tidak sudi
melakukan perbuatan jahat seperti mencuri dan lain-lain,
tidak sudi pula mangemis makanan biarpun perutnya sudah
kelaparan. Sebaliknya ia bekerja apa saja yang orang mau
mempergunakan tenaganya.
Berkat kejujuran dan kerajinannya, ia dapat membawa
diri, dapat memelihara diri sendiri sampai dewasa. Juga ia
tidak melupaka kegemarannya akan ilmu silat. Terus ia
melatih diri dan setiap kali ia mendengar akan adanya
seorang guru silat yang pandai, biarpun tempatnya jauh, ia
rela kehilangan pekerjaannya, meninggalkan tempatnya dan
pe rgi ke kota tempat tinggal guru silat itu. Ia rela menjadi
bujang atau penyapu lantai di rumah guru silat itu hanya
untuk menerima pelajaran ilmu silat dengan cuma-cuma.
Memang bagi orang bersemangat dan bersungguhsungguh,
terbentang jalan luas menuju ke pantai cita cita.
Biarpun dengan susah payah, akhirnya Ciu Lee Tai berhasil
juga memiliki ilmu silat yang lumayan, bahkan ia telah
mempelajari ilmu golok yang dulu menjadi andalan ayahnya.
Para orang gagah di dunia kang-ouw amat suka kepadanya
karena selain jujur dan ringan tangan, juga Lee Tai amat
rajin. Biarpun dalam urusan lain ia nampak dogol , namun
dalam mempelajari ilmu silat ia termasuk golongan pandai
dan cerdik, cepat mengerti. Ini pula yang menyebabkan Wan
Sin Hong sampai menurunkan beberapa macam ilmu
pukulan kepadanya.
Sifat baik lain yang ada pada diri Lee Tai ada
hubungannya dengan kematian ayah bundanya. Pemuda ini
amat benci kepada perampok dan setiap kali ia mendengar
11
ada perampok, ia lalu me rcari dan tidak mau berhenti
sebelum dapat membasmi perampok-perampok itu sampai
ke akar-akarnya. Tadinya ia membabi-buta, akan tetapi
pengalamannya dan pergaulannya dengan orang-orang
gagah di dunia kang-ouw membuka matanya sehingga dia
dapat mambedakan antara perampok-perampok yang
memang benar jahat dan perampok-perampok yang
sebetulnya menjadi pembela-pembela rakyat, karena yang
dirampok oleh mereka itu hanya pembesar-pembesar korup
dan bangsawan se rta hartawan keji, kemudian hasil
rampokan diberikan kepada rakyat miskin. Seperti halnya
Huang-ho Sian-jin, kakek yang menjadi datuk bajak ini
mendapat penghargaan tinggi di mata Lee Tai. Apa lagi
karena Huang ho Sian-jin adalah ayah dari Ang Lian.
Di Shantung, nama Cui Lee Tai sudah terkenal dari
kegagahan serta ke jujuran dikagumi orang, biarpun di
samping kekaguman ini juga orang selalu tertawa kalau
bicara tentang dia karena ia dianggap lucu.
Demikianlah riwayat singkat dari Ciu Lee Tai yang
sekarang pergi seorang diri ke dalam hutan di Pulau Pekhouw-
to untuk mencari Liok Kong Ji. Hatinya masih panas
karena ucapan-ucapan Ang Lian, gadis yang membetot
hatinya itu. Karena panas ia menjadi marah dan dengan
nekat ia berjalan terus memasuki hutan sambil berteriakteriak
!
"Liok Kong Ji, keluarlah kalau kau jantan. Mari
bertanding selaksa jurus dengan tuanmu Kang-thouw-ciang
Ciu Lee Tai !”
Sampai serak tenggorokannya dan sampai lelah kakinya,
belum juga Liok Kong Ji muncul atau menjawab. Akhirnya ia
menjadi marah kepada Tiang Bu ketika ia teringat akan
kata-kata Ang Lian yang memuji-muji dia membela Tiang Bu
sebaliknya mencelanya. Ia berteriak lagi, kini mencela nama
Tiang Bu.
12
"Tiang Bu, kau orang apa? Hanya anak bangsat Liok
Kong Ji. Mana bisa lebih lihai dari aku? Anak srigala tak
mungkin menjadi domba. Bapaknya jahat anaknya tentu
jahat pula!"
Makin diingat hatinya makin panas . Tiang Bu anak
penjahat Liok Kong Ji bagaimana bisa diterima menjadi
calon jodoh Pek Lian dan bahkan Ang Lian agaknya suka
kepada Tiang Bu? Sedangkan dia keturunun orang gagah,
selalu dicela oleh Ang Lian ! Padahal apakah Tiang Bu itu?
Mukanya tidak tampan, pendiam tak pandai bicara, agak
angkuh.
“Hei. Tiang Bu! Kalau kau betul gagah dan mau membela
ayahmu, kau juga majulah bersama Liok Kong Ji. Kaukira
aku orang she Ciu takut dikeroyok dua??” ia berteriak-teriak
seperti orang kemasukan setan untuk mengumbar
kemarahan dan kemendongkolan hatinya.
Setelah keluar dari hutan itu, ia tiba lagi di pantai laut, di
bagian yang penuh batu-batu karang tinggi dan aneh-aneh
bentuknya. Ia lelah sekali dan mengaso, duduk di atas
sebuah batu yang licin. Hatinya masih mengkal, akan tetapi
juga agak bingung. Ia me rasa amat lapar dan panas, untuk
kembali di tempat rombongannya, ia tidak tahu jalan lagi.
"Celaka." katanya keras-keras. "Gara Kong Ji dan Tiang
Bu ayah anak keparat aku harus bersengsara !" Karena
marah dan kesal tanpa disadarinya ia mendorong- dorong
batu karang di sebelah kanannya sambil memaki-maki nama
Kong-Ji.
Tiba-tiba ia berteriak kaget karena batu karang besar itu
tiba-tiba berbunyi dan sebuah pintu terbuka pada batu
karang itu! Ternyata bahwa ia telah mendorong dan
menyentuh alat rahasia tempat persembunyian Liok Kong Ji.
Sebelumhilang kagetnya, tahu-tahu ia telah berhadapan
dengan seorang laki-laki tinggi kurus setengah tua yang
13
bermata tajam bukan main. Ciu Lee Tai sampai hampir
terjengkang saking kagetnya.
“Kau ……. kau setankah .......... ?” tanyanya s aking
gugup melihat tahu-tahu ada orang di depannya..
Liok Kong Ji tertawa. Ia tadi telah mendengar makianmakian
orang ini dan ia yang cerdik dapat menduga bahwa
ia berhadapan dengan seorang anggauta rombongan Wan
Sin Hong, seorang muda yang dogol.
"Aku lebih tinggi dari pada setan, akulah penunggu pulau
ini. Kau siapakah dan apa
maksud kedatanganmu ?”
Lee Tai kaget bukan
main, ia setengah percaya
setengah tidak. Penunggu
pulau berarti sebangsa
dewa atau iblis,
bagaimana bisa muncul
di tengah hari? Kalau
mantissa biasa, mengapa
tiba-tiba keluar dari
dalam batu karang?
"Aku ........ aku Ciu
Lee Tai, hendak mencari
Liok Kong Ji untuk
menangkapnya,” katanya
gagah.
Liok Kong Ji tertawa
geli. "Kan ..... ? Hendak menangkap Liok Kong Ji? Apa kau
sudah tahu bahwa Liok Kong Ji itu kepandaiannya tinggi
sekali. lebih tinggi dari pada kepandaian gurumu?"
Lee Tai menepuk dadanya "Aku tidak takut ! Tak
mungkin orang semacam dia lebih lihai dari guruku padahal
guruku yang terakhir adalah Wan bengcu."
14
"Ha ha ha, orang dogol. Aku sendiri belum tentu dapat
nienangkan Liok Kong Ji. Hendak kulihat sampai di mana
sih tingtat kepandaianmu maka kau berani menyombong
berteiak menangkap Liok Kong Ji ?" Tiba-tiba tangannya
bergerak menampar ke depan.
Ciu Lee Tai cepat menangkis sambil mengerahkan
tenaganya untuk memamerkan Kong thouw ciang (Kepalan
Baja). Akan tetapi ia menangkis angin dan tahu-tahu
kakinya kedua-duanya terangkat membuat ia terengkang ke
belakang dan bergulingan. Kepalanya sebelah kiri benjol
sebesar telur ayam karena menumbuk batu.
Ia melompat berdiri sambil memandang denganmata “Eh,
kau pakai ilmu siluman !"
Kong Ji tersenyum mengeiek, penuh hinaan dan juga
geli. "Biagaimana kau bilang aku pakai ilmu siluman ?"
"Kalau memang berkepandaian, adu tebalnya kulit
kerasnya tulang, jangan main je gal-jegalan se cara curang!”
Tanpa menanti jawaban, Lee Tai menyerang lagi, kini ia
memukul dengan tangan kanannya yang keras ke arah dada
Kong Ji.
“Blekkk !"
Lee Tai merasakan kepalanya puyeng saking sakitnya
kepalan tangan kanannya yang bertemu dengan dada Kong
Ji. Mulutnya yang hendak menjerit kesakitan ia tahantahan,
sampai ia menggigit bibirnya, pringisan seperti orang
sakit mules. Tulang-tulang lengan kanannya seperti ditusuki
jarum!
"Kau ...... kau bukan manusia.......... "
Kong Ji tersenyum. "Bocah bodoh, baru sekarang kau
mau mengaku. Memang aku bukan manusia biasa,
melainkan pertapa yang sudah ratusan tahun be rada di sini.
Kepandaian seperti kau miliki itu mana bisa untuk melawan
Liok Kong Ji?"
15
Akan tetapi Lee Tai berpikir lagi. Mungkinkah ia
berjumps dengan setan? Ah, jangan-jangan ia ditipu, janganjangan
orang in menggunakan akal untuk menerima
pukulannya tadi.
"Barangkali kau memakai baju besi di balik bajumu itu !”
Liok Kong Ji sudah mempunyai siasat untuk
menggunakan si dogol ini, maka ia berlaku sabar sekali,
tidak seperti biasanya. Kalau dalam keadaan biasa, ia tidak
terjepit seperti sekarang, tentu dengan satu pukulan saja
akan menghabiskan nyawa orang ini. Ia membuka bajunya,
memperlihatkan dadanya yang tidak terlindung apa-apa.
"Kau masih penasaran?" tanyanya.
Lee Tai betul-betul meras a heran. Memang ia masih
penasaran karena biasanya, tangannya ampuh sekali.
"Kalaukau masih penasaran, boleh kau memukul atau
menendangku tiga kali lagi tampa aku mengelak atau
menengkis."
Lee Tai membelalakkan matanya. "Betul betul kau tidak
akan mengelak ? Bagaimana kalau aku memukul atau
menendang bagian tubuhmu yang berbahaya?"
Kong Ji memang sedang berusaha menundukkan orang
ini untuk dipakai pembantu menyembunyikan diri, maka ia
mengangguk. "Boleh kaupukul atau tendang di mana saja.
aku takkan mengelak atau menangkis. Kalau aku mengaduh
sedikit saja, anggap aku kalah"
"Orang tua, kau sendiri yang menantang, Jangan bilang
aku Ciu Lee Tai seorang pemuda curang. Awas, aku akan
menyerang bagian tubuhmu yang lemah, apa kau berani?"
"Serang saja, serang sampai tiga kali !" kata Kong Ji
tersenyum.
Lee Tai lalu mengerahkan tenaganya dan mengirim
pukulan dua kali dengan kedua kepalan tangannya. Tangan
kanannya menghantam leher sedangkan tangan kirinya
16
menjotos lambung. Pukulan -pukulun ini hebat sekali, apa
lagi pukulan tangan kirinya yang menjotos lambung karena
tangan kirinya masih belum terluka, tidak seperti tangan
kanannya yang sudah merah membiru akibat pukulannya
pertama tadi.
"Bukk! Plak!" Berturut turut kedua kepalan tangannya
mengenai sasaran dengan jitu.
Akan tetapi, seperti juga tadi, Kong Ji tidak bergeming,
sebaliknya Lee Tai tak dapat menahan lagi, mengaduh-aduh
dan kedua tangannya digoyang-goyangkan ke kanan kiri
karena terasa sakit-sakit, linu dan panas sekali.
“Masih boleh satu kali lagi, orang muda,” kata Kong Ji.
Karena penasaran dan rasa sakit, Lee Tai menjadi marah.
Kakinya menendang, tadinya hendak menendang ke arah
anggauta yang paling lemah akan tetapi karena memang
pada dasarnya Lee Tai bukan manusia curang ia merasa
malu sendiri kalau mempergunaka kesempatan untuk
membinasakan orang yang tidak berdosa, masa kakinya
menyeleweng dan menendang perut.
"Blekk !”
Akibatnya hebat sekali, Lee Tai meras a kakinya sepe rti
menendang bola baja sampai-sampai ia merasa tulang
tulang kakinya merasa remuk. Sambil pringisan kesakitan ia
berjingkrak-jingkrak, berloncatan dengan kaki kirinya dan
mengaduh-aduh, akhirnya ia menjatuhkan diri berlutut di
depan Kong Ji. Pemuda dogol ini sekarang menjadi takluk
benar-benar.
"Selama hidup baru kali ini bertemu manusia sakti
seperti locianpwe yang mulia Mohon diberi petunjuk agar
teecu mempunyai kepandaian seperti locianpwe dan dapat
mengalahkan Liok Kong Ji"
"Ha, agaknya kau amat membenci orang she Liok itu. Ada
permusuhun apakah antara kau dengan dia?" tanya Kong Ji.
17
“Sebetulnya teecu tidak mempunyai urusan pribadi
dengan dia, hanya kekasih teecu mengajukan syarat bahwa
dia mau menerima pinangan teeecu kalau teecu dapat
mengalahkan Liok Kong Ji " Lee Tai yang jujur kini sudah
menaruh kepercayaan seribu prosen kepada "manusia sakti"
ini, maka dengan jujur iapun mengutarakan isi hatinya.
Kong Ji mengangguk angguk. "Aku suka kepadamu dan
aku mau memberi pelajaran ilmu silat dan memberi sebuah
kitab yang kalau kau sudah pelajari, seribu orang Liok Kong
Ji kiranya takkan mampu melawanmu."
Lee Tai girang sekali dan buru-buru ia mengangguk
anggukkan kepalanya menghaturkan terima kasih.
"Teeeu bersumpah akan mentaati perintah locianpwe."
Kong Ji adalah seoring yang mempunyai tipu muslihat
licik sekali. Satu kali bertemu ia sudah dapat mengenal
watak Lee Tai, dan ia tahu bahwa betapapun dogolnya
pemuda ini, namun kejujuran Lee Tai adalah aseli dan tentu
pemuda ini menolak perintahnya untuk melakukan sesuatu
yang berlawanan dengan suara hatinya sendiri. Oleh karena
itu ia mengambi l jalan lain dan berkata,
"Permintaanku hanya satu, yaitu kau jangan bilang
kepada siapapun juga tentang diriku di s ini. Aku sudah
puluhan tahun tidak bertemu dengan manusia, dan dengan
kau aku suka memperlihatkan diri oleh karena kita berjodoh
dengan aku. Maukah kau bersumpah takkan mengatakan
kepada siapapun juga bahwa aku berada di s ini dan takkan
membuka mulut tentang pertemuan ini?”
“Teecu bersumpah takkan bicara pada siapapun juga
tentang lo-cianpwe."
"Bagus, aku percaya kepadamu, karena kalau kau
melanggar tentu aku akan datang mengambil nyawamu.
Sekarang tentang hal lain. Tadi aku mendengar kau
menyebut-nyebut nama Tiang Bu, apa kau tidak tahu bahwa
18
Tiang Bu itu adalah anak Liok Kong Ji dan bahwa sekarang
Tiang Bu membantu ayahnya itu untuk bersembunyi ?”
Mata Lee Tai terbelalak kaget. “Betulkah itu, locianpwe"
"Aku selamanya tidak pernah membohong. Aku melihat
sendiri be tapa Tiang Bu bercakap-cakap dengan Liok Kong Ji
dan sambil menangis di depan ayahnya, pemuda itu
menyembunyikan Liok Kong Ji di suatu tempat yang tak
mungkin didapatkan oleh orang lain. Kau tak perlusibuk,
lebih baik kauberitahukan hal ini kepada Wan Sin Hong dan
yang lain-lain agar Tiang Bu itu ditangkap dan dipaksa
mengaku di mana adanya Liok Kong Ji. Tentu dia bisa
memberi tahu.”
"Tentu saja ! Tentu tee cu akan memberitahukan kepada
Wan bengcu dan yang lain-lain. Memang teecu sudah
bercuriga. Mana ada srigala... .....”
"Sst, cukup. Tak perlu memaki di depanku. Akan tetapi,
karena kau sudah bersumpah takkan menyebut-nyebut
namaku, kaupun harus menceritakan bahwa kau melihat
dengan matamu sendirl pertemuan antara Tiang Bu dan Liok
Kong Ji. Jangan kau menyebut-nyebut tentang aku.”
“Tentu teeeu mengerti, dan teeeu akan melaksanakan
semua perintah locianpwe. Hanya teecu mohon pelajaran
Ilmu silat untuk melawan Liok Kong Ji.”
Kong Ji mengeluarkan sejilid kitab kuno dari saku
bajunya.
“Kitab ini adalah pelajaran Ilmu Pedang Swat-lian-kiamcoan-
si, kalau kau mempelajarinya, ilmu pedang ini dapat
membuat kau menjadi seorang sakt i. Akan tetapi jangan
sampai kitab ini terlihat oleh orang lain, apa lagi oleh Tiang
Bu sebelum pemuda itu tertangkap. Dia amat jahat dan
tentu kitab ini akan dia rampas!”
Bukan main girangnya hati Ciu Lee Tai. Ia percaya
seratus prosen bahwa dengan kitab itu tentu ia akan dapat
19
menjadi seorangs akti, dapat melawan Liok Kong Ji sehingga
ia dapat diterima dengan senyum manis oleh Ang Lian.
Sekali saja ia membuka kitab itu, ia mengerti bahwa itu
memang sebuah kitab ilmu silat yang hebat sekali. Memang,
dalam hal-hal lain Lee Tai boleh jadi dogol dan bodoh, akan
tetapi dalam ilmu silat otaknya memang ence r dia dapat
membedakan ilmu silat yang baik. Dengan girang Lee Tai
menghatutkan terima kasih. Lalu timbul kekhawatirannya
kalau-kalau orang sakti ini bertemu dengan Liok Kong Ji dan
menggunakan kepandaian membunuh musuh besar itu,
mendahuluinya. Moka ia cepat berkata,
“Locianpwe, harap locianpwe jangan mengganggu Liok
Kong Ji dulu, biar teecu mempelajari ilmu pedang ini dan
teecu sendi ri yang akan membekuknya !”
Dapat dibayangkan betapa geli hati Liok Kong Ji setelah
mempermainkan Lee Tai mendengar ucapan ini. Akan tetapi
iapun tidak berani muncul terlalu lama. Saking gelinya ia
tak dapat menahan gelak tawanya dan tiba-tiba ia berkelebat
lenyap dari depan Lee Tai yang tentus aja menjadi makin
kagum dan heran. Ah, benar-benar dia seorang dewa,
pikirnya, dan cepat-cepat menyembunyikan kitab itu ke
dalam bajunya.
Lee Tai yang tadinya kegirangan itu medadak menjadi
kaget dan gelisah ket ika ia te ringat bahwa ia berada di
tengah pulau dan t idak tahu ke mana jalan untuk kembali
ke tempat rombongannya ! Ia sudah menjadi bingung dan
tidak tahu lagi mana selatan mana utara, mana barat mana
timur. Akhirnya ia mendapatkan akal juga. Rombongan itu
berada di pantai pulau, kalau aku terus mengikuti sepanjang
pantai masa tidak akan mendapatkan mereka ?
BerpikIr demikian, pemuda ini lalu cepat-cepat berjalan
ke kanan, terus saja berjalan ke depan tidak membelok ke
mana-mana lagi. Tentu saja akhirnya ia sampai juga ke
partai. Gi rang hatinya melihat air laut membiru terbentang
di depannya. Ia lalu berjalan megikuti pantai dengan laut di
20
sebelah kirinya. Untuk menghilangkan kssalnya, ia kadangkadang
membuka lembaran kitab itu dan mulai mempelajari
isinya. Jelek- jelek Lee Tai juga pandai membaca karena
dahulu ia telah belajar pula membaca. Sayang
kepandaiannya dalm hal membaca ini kurang sempurna
sehingga sering kali ia harus mengasah otak untuk
memecahkan arti sebuah huruf yang kelihatan asing
baginya.
Selagi ia enak berjalan, tiba tiba ia mendengar suara
wanita tertawa. ia cepat menengok ke kiri dan ..... Ang Lian
dan Pek Lian mendayung perahu tak jauh dari pantai,
melihat kepadanya dan tertawa-tawa.
"Hee, Ciu twako ! Kau sedang mencari Liok Kong Ji atau
sedang berjalan-jalan makan angin laut ?" te gur Pek Lian.
Lee Tai cepat menyimpan kitabnya dan kelihatan senang
bukan main, me lambai-lambaikan kedua tangannya kepada
dua orang gadis itu.
"Enci Pek Lian dan adik Ang Lian ..... Kebetulan sekali
berjumpa dengan kalian di sini ! Aku sedang bingung
bagaimana bisa kembali ke tempat romboogan kita. Enci Pek
Lian, kaubawalah aku pulang ......”
Pek Liao tersenyum, tidak menjawab, Ang Lian cembe rut
dan bertanya.
"Apakah sudah bertemu dengan Liok Kong Ji ?"
Lee Tai menggeleng kepala. "Belum, akan tetapi aku
mendengar hal penting sekali, tentang dia dan Tiang Bu!”
Mendengar orang bicara tentang Tiang Bu, Pek Lian cepat
mendayung perahu ke tepi dan meloncat ke darat, diikuti
oleh Ang Lian yang menyeret perahu ke pinggir.
"Mendengar hal penting apa? Lekas ce ritakan. Ciutwako."
Pak Lien mendesak karena ia sudah ingin sekali
mendengar tentang Tiang Bu yang pergi seorang diri mencari
21
Liok Kong Ji. “Apa dia sudah berhasil merobohkan Liok Kong
Ji ?”
Muka Lee Tai menjadi pucat dan ia nampak bingung. Ia
tadi ketika melihat Ang Lian menjadi begitu girang sampai ia
lupa akan pesan "dewa" itu. Sekarang ditanya oleh Pak Lian,
ia tidak dapat segera menjawab. Bagaimana ia bisa
menerangkan tanpa menyebut orang sakti itu? Untuk
be rbohong bahwa dia melihat sendiri pertemuan antara
Tiang Bu dan Liok Kong Ji, ia tak sanggup. Selamanya Lee
Tai memang tidak biasa membohong.
“Aku mendengar dari orang lain.” katanva jujur. Akhirnya
ia mengambil keputusan untuk mengaku saja mendengar
dari orang lain tanpa menyinggung orang sakti itu. “Aku
mendengar bahwa Tiang Bu sudah mengadakan pertemuan
dengan Liok Kong Ji. Tiang Bu agaknya ingat kepada
ayahnja yang sejati dan menghianati kita, ia bantu
menyembunyikan Liok Kong Ji!"
"Takmungkin.......... !" Pek Lien membentak keras sampai
Lee Tai menjadi kaget.
Ang Lian meloncat maju menghadapi Lee Tai. Sepasang
mata gadis ini yang bening dan tajam menatap wajah Lee Tai
penuh selidik dan pertanyaan, membuat hati pemuda itu
be rdebar-debar keras.
"Kau bicara sembarangan apa lagi? Mana bisa Tiang Bu
menyembunyikan iblis itu? Tiang Bu mencari-e ari untuk
membunuhnya.
"Apa anehnya?” jawab Lee Tai. "Hal itu sudah sewajarnya.
Bukankah Liok Kong Ji itu ayahnya ?”
"Apa kau melihat sendiri hal itu?” desak Ang Lian.
Lee Tai menjadi bingung. “Tidak, aku aku mendengar dari
orang lain."
"Bodoh, mau percaya saja. Siapa orang yang bilang
kepadamu ?"
22
Lee Tai makin bingung. Biarpun ia agak dogol, akan
tetapi pemuda ini berhati keras dalam hal kejujuran dan
kesetiaan. Biarpun terhadap Ang Lian ia mau dan rela
melakukan apa saja, bahkan kalau perlu mengorbankan
nyawanya, akan tetapi dalam hal melanggar janji apa lagi
sumpah, ia pantang !
"Aku mendengar dari orang lain dan.......... dan aku tidak
bisa mengatakan siapa orang itu.......... Aku tidak
mengenalnya."
“Kau.......... kau bohong!” Pak Lian membentak marah.
Lee Tai boleh jadi dogol den agak bodoh, akan tetapi ia
tidakmau dihina. “Selamanya aku tidak membohong! Lebih
baik aku mati dari pada membohong!" jawabnya tegas.
Diamdiam ada sinar girang dan kagum berpancar keluar
dari mata Ang Lian, dan gadis ini berkata agak halus, "Boleh
jadi kau tidak membohong, akan tetapi sudah pasti orang itu
membohongimu. Mengapa kau tidak mau Mengapa kau
tidakmau bilang siapa dia? Di dalam pulau ini mana ada
orang lain ?"
"Adik Ang Lian, aku.......... aku tidak bisa mengatakan
siapa dia."
"Hemmm, kau agaknya me lindungi dia,” Ang Lian berkata
marah. "Hayo enci, kita pergi, jangan perdulikan si tolol ini."
ia melompat ke dalam perahu, juga Pek Lian naik ke dalam
pe rahu dan mereka mendayung pe rahu itu ke tengah.
"Tunggu dulu ! Aku ikut pulang !"
"Orang sedogol kau l rbih baik jalan kaki,” Ang Lian
be rkata dan mendayung perahu makin cepat.
"Ang Lian …… aku tidak tahu ke mana aku harus pe rgi
untuk pulang ke tempat rombongan kita!” Lee Tai mengeluh.
Ang Lian dan Pek Lian tidak menjawab.
Lee Tai makin bingung. akan tetapi akhirnya timbul juga
ingatannya bahwa tentu dua orang gadis itupun hendak
23
pulang. Melihat pe rahu mereka itu menuju ke kanan, iapun
melanjutkan perjalanannya karena yakin bahwa tantu di
jurusan itu letaknya tempat rombongan mereka. Dalam hal
ini memang ia berpikir tepat. Ternyata tempat berkumpulnya
rombongan itu hanya lima belas li lebih dari tempat
pertemuannya dengan dua orang gadis itu.
-oo(mch)oo-
Dari manakah dua orang gadis itu? Mereka ini bertugas
untuk membawa perahu mengelilingi Pulau Pek-houw-to
untuk menjaga dan mengawasi kalau-kalau Liok Kong Ji
berusaha minggat dari pulau itu.
Dua orang gadis inipun seperti Lee Tai menyimpan
sebuah rahasia. Rahasia hati masing-masing. Diam-diam
mereka sering kali bercakap-cakap tentang Tiang Bu dan Lee
Tai. Setelah melthat watak dan gerak gerik Lee Tai , biarpun
pemuda tampan itu bodoh namun amut jujur dan bernyali
besar. Hal ini membuat Ang-Lian yang centi l dan lincah itu
tertarik hatinya dan ia mengaku te rus terang kepada
encinya. Sebaliknya, biarpun di hadapan orang lain tak
pernah membuka mulut, terhadap adiknya, Pek Lian juga
berte rus terang bahwa ia jatuh hati kepada Tiang Bu yang
gagah perkasa.
Tentu saja berita yang di!erima oleh mereka dari Lee Tai
itu amat menggelisahkan hati mereka. Pek Lian gelisah
sekali karena kalau hal itu be tul-betul, Tiang Bu tentu akan
dimusuhi olehWan Sin Hong dan tokoh-tokoh lain sebagai
seorang pengkhianat. Sebaliknya Ang Lian menjadi gelisah
karena Lee Tai membawa berita buruk ini.
Setelah tiba di tempat rombongan, Pek Lian dan Ang Lian
menemui ayah mereka dan kepada kakek ini mereka
bercerita tenting berita buruk yang mereka dengar dari Le e
Tai.
24
Huang-ho San jin terkejut dan kakek ini menganggukangeuk.
"Sungguh berita ini agak tak masuk di akal, akan
tetapi Lee Tai itu boleh dipercaya omongannya. Baiknya
bukan dia sendiri yang melihat pertemuan antara Tiang Bu
dan Liok Kong Ji, sehingga masih banyak sekali
kemungkinan ia mendengar berita bohong. Anehnya,
siapakah orang di dalam pulau yang menyampaikan berita
itu kepadanya ?"
"Mungkin seorang pelayan Liok Kong Ji yangmasih
berkeliaran dan belumtertangkap," kata Pek Lian.
"Akan tetapi, semua selir dan pelayan sudah kita suruh
keluar dari pulau ini dan kita membiarkan mereka
membawa harta benda Liok Kong Ji. Andaikata ada seorang
pelayan yang masih berkeliaran, mengapa kita tak pernah
melihatnya ? Padahal kita sudah mencari Liok Kong Ji di
seluruh pulau," kata Ang Lian.
Huang-ho Sian jin menepuk nepuk jidatnya. "Betul juga !
Orang macam Liok Kong Ji mana kuat hidup menderta,
seorang diri bersembunyi dari kejaran kita. Tentu ia sudah
berhasil membawa seorang pelayan untuk melayaninya di
dalam tempat persembunyian itu. Bagus sekali ! Kalau
begitu, Lee Tai tentu dapat membawa kita ke tempat
pe rsembunyian Liok Kong Ji.”
"Akan tetapi, ayah. Agaknya si dogol i tu tidak mau
memberi tahu tentang orang yang menyampaikan berita itu
kepadanya, lebih baik menanti sampai dia sendiri
menyampaikan berita itu kepada Wan-bengcu. Nanti kita
baru menyampaikan pandangan ayah ini."
Huang-ho Sian-jin mengangguk-angguk. Kakek ini
bermata awas dan sebagai seorang ayah yang sudah usia
lanjut dan banyak pengalamannya, tentu saja ia dapat
mengetahui hati anak-anaknya. Tanpa diberi tahu oleh
siapapun juga, ia tahu babwa Pek Lian jatuh hati kepada
Tiang Bu dan bahwa Ang Lian juga tertarik pada Lee Tai. Ia
mengerti pula akan maksud ucapan Ang Lian tadi, yaitu agar
25
supaya Ang Lian tidak dianggap mendahului Lee Tai dan
melaporkan halnya kepada Wan Sin Hong. Terhadap kedua
orang pemuda pilihan dua orang puterinya itu, memang
Huan ho Sian-jin sudah penuju sekali, tinggal menanti
perantara.
Dengan bersungut sungut karena tidak dibawa oleh Pek
Lian dan Ang Lian, Lee Tai tiba di tempat berkumpulnya
rombongan itu. Kedatangannya disambut oleh senyuman
Wan Sin Hong yang bertanya,
"Bagaimana hasil penyelidikanmu, Lee Tai ?”
Merah muka Lee Tai.
"Wan bengcu, biarpun teecu belumbertemu muka
dengan Liok Kong Ji , namun teecu membawa berita yang
amat penting sekali.”
Pek Lian, dan Ang Lian saling lirik dan Huang-ho Sian-jin
menatap wajah pemuda pilihan Ang Lian ini dengan penuh
perhatian untuk melihat apakah pemuda ini membohong
atau tidak. Akan tetapi wajah yang tampan itu polos saja,
sama sekali tidak membayangkan kebohonpan. Juga ketika
berkata demikian Lee Tai melirik kepada Pek Lian dan Ang
Lian. Ia girang juga bahwa ternyata dua orang gadis itu tidak
mengadu sesustu di depan Wan Sin Hong.
“Be rita pent ing apa? Coba ceritakan. Apakah kau melihat
jejak Liok Kong Ji ?”
"Tidak, Wan bengcu. Hanya aku mendengar dari orang
yang tak kukenal bahwa Tian Bu telah mengadakan
pertemuan dengan Liok Kong Ji. dan Tiang Bu telah
membantu ayahnya bersembunyi. Kalau hendak mengetahui
di mana adanya Liok Kong Ji, mudah saja, tanya kepada
Tiang Bu dan dia tentu akan dapat memberi tahu, kalau dia
tidak melindungi ayabnya !’
Wajah Sin Hong berubah. Berita ini hebat. Saketika itu
juga ia meragukan kebenaran berita ini.
26
"Aku mendengar dari orang lain yang tidak klukenal dan
tidak dapat kuce ritakan kepada siapupun juga,
Wan.bungcu," jawab Lee Tai terus terang sambil
menundukkan mukanya.
“Lee Tai, kau jangan berlaku sembrono, dan pikirlah
baik-baik. Beritamu ini merupakan dakwaan yang amat
berat bagi Tiang Bu. Kalau kau melihat Tiang Bu benar
mengadakan sekongkol dengan Kong Ji, melihat dengan
mata sendiri, tentu aku percaya dan akan kutanyai Tiang
Bu. Akan tetapi mendengar dari orang lain, ini masih
meragukan. Apa lagi kau tidak mau menceritakan siapa
adanya orang pembawa barita buruk itu. Kalau beritamu itu
tidak betul, bukankah berarti k menanam permusuhan
dengan Tiang Bu ?”
Lee Tai diamsaja. Terbayang wajah orang sakti itu yang
melihat sikap dan kesaktiannya tak mungkin membohong.
Dengan berani maka ia lalu berkata:. "Berita itu tidak
bohong. biarpun teecu tidak melihat dengan mata sendiri
namun teecu menanggung kebenarannya !”
Semua orang melengak, juga Wan Sin Hong. Pendekar ini
sudah mengenal watak Lee Tai yang jujur sekali dan tidak
pernah membohong, dan melihat sikap pemuda ini, benarbenar
mencurigakan.
"Lee Tai, kau kelihatan sudah amat percaya kepada orang
itu dan kau melindungi dia, kau tidak mau menceritakan dia
itu siapa, sedikitnya kau bisa mengatakan mengapa kau
tidak berani mengaku siapa dia.”
"Hal itupun menyesal sekali teecu tidak dapat
menceritakan. Yang terpenting adalah tentang Liok Kong Ji.
Setelah kita mengetahui bahwa Tiang Bu mengerti tempat
sembunyi mengapa kita tidak bertanya kepadanya ?”
Sin Hong diam saja, menjadi bingung. Isterinya Siok Li
Hwa yang amat cerdik berkata,
27
"Lee Tai tentu telah berjanji kapada orang itu untuk
merahasiakan keadaannya. Kalau tidak demikian, tidak
nanti Lee Tai bersikap seperti ini. Hemm, menarik sekali
orang ini...."
Mendengar ini, Lee Tai makin menundukkan mukanya
dan menjawab, “Tepat sekali apa yang dikatakan oleh toanio.
Dan bagi Lee Tai, memegang janji lebih berharga dari pada
nyawa !”
Huangho Sian-jin beasts keras, "Pertemuan Ciu sicu
dengan orang yang membawa berita itu sungguh baik sekali.
Menurut dugaanku, orang itu tentulah seorang pe layan dari
Liok Kong Ji. Buktinya, ketika kita mengusir semua pelayan,
di pulau sudah tidak ada siapa-s iapa lagi dan ketika kita
mencari-cari Liok Kong Ji, juga tidak melihat seorangpun
manusia di pulau. Sekarang muncul orang ini, tentu dia itu
pe layan yang dibawa bersembunyi oleh Liok Kong Ji dan
sengaja menjual obrolan kosong. Kalau sekarang Ciu-sicu
mau membawa kita menemui orang itu dan menangkapnya,
tentu kita dapat menemukau Liok Kong Ji !"
“Tidak........... tidak .......... !" Lee Tai capat menjawab.
"Tak mungkin dia itu pelayan Liok Kong Ji, tak mungkin !
Dan lebih baik aku dipulkul dari pada harus membuka
rahasia orang itu.” Sete lah berkata demikian, pemuda ini
pe rgi dari situ, menuju ke tempat sunyi di tepi pantai dan
duduk di atas batu karang.
Peng Soan toj in, tosu gemuk dari Teng san pai adalah
seorang yang suka akan kejujuran. Ia dapat memaklumi isi
hati Lee Tai, maka ia berkata,
"Betapapun juga, kira harus menghargai kejujuran Ciusicu.
Kalau dia bermaksud jelek dengan sikapnya
merahasiakan orang itu, tentu dia sama sekali tidak akan
bercerita dan kita pun tidak akau tahu akan peeremuannya
dengan orang itu. Juga kecurigaannya terhadap Tiang Bu,
beralasan. Kita semua sudah mengenal Tiang Bu sebagai
seorang pemuda gagah perkasa dan budiman. Bukan tak
28
masuk pada akal apabila dalam pertemuannya dengan Liok
Kong Ji hati pemuda itu menjadi lemah dan teringat akan
hubungan antara anak dan ayah."
Semua orang berdiam lagi, kata-kata inipun amat
beralasan. Akhirnya Wan Sin Hong berkata tenang?,
"Sukar sekali mengadakan dugaan-dugaan dari sebuah
berita yang tidak dilihat sendiri oleh Lee Tai . Karena untuk
memaksa Lee Tai juga tidak mungkin, lebih baik kita
menanti kembalinya Tiang Bu dan aku sendiri yang akan
bertanya kepadanya tentang berita ini."
Menjelang senja, Tiang Bu datang. Semua orang keluar
dari tempat istirahat masing-masing dan menyambutnya.
Wajah pemuda ini tampak keruh dan muram. Ini tidak
mengherankan karena ia masih se lalu mengabungi kematian
Bi Li dan lebih sedih lagi hatinya karena penyelidikannya
sehari penuh itupun tidak membawa hasil. Karena
kesedihan hatinya inilah maka ia tidak pandang mata penuh
perhatian dari semua orang yang menyambut
kedatangannya.
"Tiang Bu, bagaimana hasil penyelidikanmu ? Dapatkah
kau menemukan jejak Liok Kong Ji ?” tanya Sin Hong.
Tiang Bu menggeleng kepala dengan lemah. "Belum
berhasil, pek-pek. Akan tetapi aku akan berusaha terus, biar
untuk itu aku harus tinggal selama hidup di pulau. Aku
tidak akan berhenti mencari sebelum dapat menemukan
iblis itu. ...... "
Tiang Bu masih belum intaf berapa semua mata
memandang ke arahnya dengan penuh selidik dan penuh
perhatian.
“Tiang Bu, kau tentu tahu bahwa aku menganggap kau
bukan orang lain. Ibumu kuanggap sebagai saudara sendiri,
juga ayah angkatmu selalu menjadi saudara-saudaraku yang
terkasih. Kau seperti keponakan atau anakku sendiri."
29
Baru sekarang Tiang Bu merasa bahwa tentu ada
sesuatu. Ia mendengar suara yang terdengar demikian
sungguh-sungguh dan aneh. Ketika mengangkat muka, baru
ia melihat betapa semua orang memandangnya dengan sinar
mata penuh selidik.
“Oleh karena itu, kuharap kau suka berterus-terang dan
jangan menyembunyikan sesuatu dari aku. Apakah benar
kau tidak bertemu dengan Liok Kong Ji dan tidak tahu
tempat sembunyinya ?”
Tiang Bu yang tadinya duduk di atas batu karang,
sekarang bangkit berdiri memandang kepada Wan Sin Hong
dengan mata penuh pertanyaan.
“Wan pek-pek, apa artinya pertanyaan itu? Kalau siauwtit
be rtemu dengan iblis itu, tentu dia atau siauwtit yang
menggeletak tanpa nyawa lagi. Apakah pek pek mencurigai
sesuatu kepadaku? Ada apakah?”
"Tiang Bu, sebetulnya, kami di sini mendengar berita
bahwa kau telah berjumpa dengan Liok Kong Ji...... "
Hening sejenak. Semua mata memandang Tiang Bu yang
menjadi pucat mukanya. Kemudian dengan nada suara
penasaran Tiang Bu bertanya.
“Dan Wan-pek pek percaya akan berita itu ?”
"Belum, karenanya aku sengaja bertanya kepadamu
sendiri !”
"Kalau aku berjumpa dengan iblis itu mengapa aku diam
saja? Ataukah orang mengira aku bersekongkol dengan dia
sengaja menyembunyikan dia? Pek-pek, siapakah orangnya
yang menyampaikan berita itu?”
"Tak perlu kami terangkan, Tiang Bu. Kami tidak
menduga sesuatu, hanya minta penjelasan darimu apakah
betul kau bertemu dengan dia atau tidak,” kata Sin Hong
te gas.
30
“Tidak, Wan-pek-pek. Aku heran......” Tiang Bu
memandang ke sekeliling, menatap wajah tiap orang yang
hadir di situ untuk se jenak, “mengapa orang menuduhku
demikian ....... mengapa!"
Wan Sin Hong hanya menarik napas panjang, Juga yang
lain-lain tidak mengeluarkan suara. Pek Lian menahan
matanya yang menjadi panas hendak menitikkan air mata.
Ia merasa amat kasihan melihat pemuda gagah yang telah
merebut hatinya itu.
"Wan-pek-pek, jawablah. Mengapa orang tidak menaruh
kepercayaan kepadaku? Mengapa orang menuduh aku
mengadakan pertemuan dengan Liok Kong Ji?"
Sampai lama Sin Hong diam saja, akhirnya ia berkata
dengan perlahan. “Agaknya ……. karena kau putera Liok
Kong Ji itulah. Umummenganggap sepantasnya kalau
sekiranya kau membantu ayah kandungmu sendiri untuk
menyelamatkan diri."
Wajah Tiang Bu pucat sekali. Ia berdiri bengong sampai
lama, kemudian ia menundukkan mukanya
menyembunyikan dua titik air mata yang melompat ke luar.
Kemudian ia mengangguk-angguk.
“Memang.......memang aku anak Liok. Kong Ji ..........
memang aku anak seorang jahat seperti iblis. Ayahnya jahat
tentu anaknya jahat pula, seperti.......... Bi Li. Dia puteri
Kwan Kok Sun yang jahat, maka ia tewas .......... akupun
anak orang jahat, patut saja tidak dipercaya ….... aku telah
kotor dan cemar karena menjadi anaknya ......... tidak seperti
kalian .......... !” Ia mengangkat mukanya dan menatap wajah
orang-orang itu dengan mata berkilat. "Kalian anak orang
baik-baik, keturunan orang-orang gagah, tentu saja patut
dianggap orang gagah! Tak patut orang macam aku dekat
dengan dekat dengan kalian, tak patut mendapat
kepercayaan kalian! Betapapun juga kita sama lihat s aja
siapa yang akan mampu membasmi Liok Kong Ji. Biar aku
31
tinggal dalam kerendahanku !” Setelah berkata demikian, ia
melompat bangun dan berlari pergi.
"Tiang Bu ..... ! Jangan salah paham .......... !" teriak Sin
Hong, akan tetapi Tiang Bu tidak perduli lagi dan berlari
terus.
Diam-diam Pek Lian juga berlari mengejar sambil
menangis. Hati Pek Lian seperti di iris-iris melihat keadaan
orang yang dikasihinya itu.
Huang- ho Sian- jin te rdengar batuk-batuk. “Hemm,
semua ini gara-gara Ciu Lee Tai. Pemuda dogol itu terlalu
pe rcaya orang lain .....!”
Mendengar ucapan ayahnya ini, Ang Lian bangkit berdiri
dan be rjalan pergi tanpa pamit. Hatinya te rtusuk dan ia
marah sekali kepada Lee Tai yang menjadi gara-gara semua
ke ributan itu. Selain marah, juga ia penasaran mengapa
ayahnya mencela Lee Tai.
-oo(mch)oo-
“Coa-taihiap, percayalah bahwa aku tidak menganggap
kau sebagai orang jahat. Akulah yang tidak percaya
sedikitpun juga bahwa Coa Tiang Bu yang kutahu se orang
jantan sejati melakukan pengkhianatan. Harap saja kau
suka memaafkan mereka itu karena sesungguhnya
merekapun tidak percaya begitu saja akan berita yang
terdengar oleh mereka." Kata-kata ini adalah ucapan
hiburan yang dikeluarkan oleh Pek Lian kepada Tiang Bu.
Tiang Bu duduk di atas batu karang. Kedua tangannya
menutupi mukanya dan ia diam tidak bergerak seperti
patung. Pek Lian berdiri d depannya dan gadis ini dengan
suara gemetar menyampaikan isi hatinya, dalam usahanya
menghibur hati pemuda yang sedang dirundung duka
nestapa itu.
32
Melihat betapa pemuda itu berdiamsaja dan tak berge rak
seperti patung. Pek Lian menjadi makin kasihan dan juga
khawatir. Ia takut kalau-kalau saking sedihnya, pemuda ini
mengambil keputusan pendek dan nekat. membunuh diri
atau bagaimana ! Hatinya seperti diremas -remas dan tanpa
disadari tangannya bergerak dan jarinya menyentuh pundak
Tiang Bu dengan halus.
"Coa taihiap.......... harap kan jangan terlalu
berduka.......... orang lain di dunia ini boleh membencimu,
akan tetapi aku tidak ! Sampai mati aku takkan
membencimu, takkan berubah pandanganku terhadapmu,
kau seorang yang paling jantan di dunia ini. Taihiap..........
aku bersedia membantumu dalam segala hal ..........
katakanlah, dapatkah aku membantumu...........
menghiburmu ......?”
Tentu saja Tiang Bu yang sedang terbenam dalam
kesedihan itu sejak tadi tahu akan kedatangan Pek Lian,
akan tetapi ia tidak perduli, semua ucapan gadis itu tidak
dapat mengobati luka di hatinya. Memang Tiang Bu
berturut-turut menerima serangan hebat pada hatinya,
pertama-tema karena Bi Li, kemudian sangkaan bahwa ia
bersekongkol dengan ayahnya yang jahat. Setelah ia lari dari
rombongan Wan Sin Hong ia tidak kuat berlari jauh,
menjatuhkan diri di atas batu karang di tepi pantai dan
menangis seperti anak kecil.
"Bi Li ...... ." bis iknya, "Bi Li.......... hanya kau seorang
yang percaya kepadaku, kau se orang yang menjadi kawanku
sejati...... sekarang kau pergi meninggalkan aku pula……”
Kemudian datang Pek Lian yang menghiburnya, maka
Tiang Bu hanya menutupi mukanya dan semua ucapan Pek
Lian tak dapat masuk perhatiannya. Akan tetapi, ucapan
terakhir yang dikeluarkan dengan suara te rgetar den mesra,
dibarengi sentuhan pada pundaknya, mendatangkan getaran
aneh dalam tubuhnya. Seakan-akan Bi Li hidup dan muncul
lagi, seakan akan Bi Li yang bicara kepadanya. Hampir dia
33
tidak dapat percaya bahwa ada lain gadis yang bicara
kepadanya dengan suara seperti Bi Li. Penuh kasib sayang !
Tak terasa ia mengangkat muka dan menurunkan kedua
tangannya. Sinar mata itu seperti sinar mata Bi Li benar,
penuh kemesraan dan penuh cinta! Mungkinkah ini?
"Pek Lian cici, mengapa…… mengapa kau sabaik ini
terhadap aku? Mengapa ...... ? tanyanya lembut.
"Karena ..... bagiku engkaulah orang termulia di dunia
ini, taihiap," jawab Pek Lian kedua pipinya merah sekali
akan tetapi suaranya mengandung ketetapan hatinya.
"Ye Tuhan .......... kau.......... kau suka kepadaku?”
Pek Lian mengangguk. "Kalau saja kau tidak memandang
hina kepadaku .....”
Tiba-tiba tubuh Tiang Bu bergerak dan tahu-tahu ia telah
meloncat sejauh empat tombak lebih dari dekat Pek Lian.
“Pek Lian cici...., jangan! Jangan kau menambah dosaku,
jangan kau menambah beban hidupku ! Aku takkan mau
mengganggu hati orang lain lagi. Aku.... setelah selesai
urusan di pulau ini ..... aku akan bertapa, menjadi seorang
pertapa dan selama hidup takkan mencampuri urusan dunia
lagi. Aku akan be rtapa untuk mencuci noda atas nama
keluargaku, yang dikotori oleh manusia she Liok...! Maafkan
aku. Pek Lian cici ..... maafkan!” Dengan suara berubah
menjadi isak tertahan, tubuh Tiang Bu berkelebat lenyap
dari depan Pek Lian.
Gadis ini berdiri mematung, mukanya pucat sekali.
Kemudian ia tersenyum pahit dan menghadap ke arah
menghilangnya Tiang Bu, berkata keras.
“Tiang Bu, akupun bersumpah takkan menikah dengan
orang lain dan mulai saat ini aku Pek Lian menjadi seorang
pendeta !" ia mengeluarkan pedangnya dan …….. membabat
habis rambut kepalanya yang hitam, halus dan panjang itu !
Setelah itu. Pek Lian lari ke pinggir pantai di mana ia
34
menaruh perahunya dan meloncat ke dalam perahu, terus
mendayungnya perahu itu pergi dari Pulau Pek-houw-to.
Ang Lian tampak berlari-lari di tepi pantai sambil
bersungut-sungut. “Dasar tolol tetap tolol !” gerutunya
berkali-kali. Tiba-tiba ia melihat perahu yang didayung pergi
oleh Pek Lian,
"Pek cici, kau kemanakah ?" teriaknya heran melihat
cicinya itu mendayung pergi menjauhi pulau.
Pek Lian menengok dan kagetlah Ang Lian melihat
cecinya itu kepalanya telah hampir gundul. Hanya tinggal
sedikit rambutnya, pendek saja.
“Ang- moi, aku hendak pergi dulu, sampaikan hormatku
kepada ayah!" hanya demikian Pek Lian berseru dan
sebentar saja perahunya jauh meninggalkan pulau.
Tentusaja Ang Lian menjadi keheran-heran dan gelisah,
Cepat ia be rlari memberitahukan hal ini kepada ayahnya.
Huang-ho Sian-jin mengerutkan kening. Menang semenjak
kecil Pek Lian memiliki watak yang aneh. Baru pakaiannya
saja selalu mengenakan pakaian pria, orangnya pendiam,
hatinya sukar dijajaki. Tidak seperti Ang Lian yang genit,
lincah dan jujur.
“Kalau dia hendak pergi dulu, biarlah. Tentang dia
mamotong rambut, hemm, kita lihat saja nanti, tentu ada
sebabnya.”
Ang Lian termenuug mendengar ucapan ayahnya ini.
Tentu ada hubungan dengan Tiang Bu pikirnya”.
Mungkinkah cicinya menjadi korban asmara ? Ia teringat
akan keadaan diri sendiri dengan Lee Tai. Tadi sebelum
melihat perahu Pek Lian, ia baru saja meninggalkan Lee Tai
dengan marah dan gemas. Ia sengaja mencari Lee Tai untuk
menegurnya tentang gara-gara yang ditimbulkan si dogol itu
tentang Tiang Bu. Ia mendapatkan Lee Tai berada di dekat
pantai seorang diri, sedang berlatih silat dengan goloknya.
Akan tetapi gerakan goloknya itu lucu dan canggung, lebih
35
menyerupai gerakan pedang, maka banyak gerakan
menusuk dari pada membacok berlawanan dengan ilmu
golok.
Melihat Ang Lian datang, si dogol gembira dan
menghentikan permainan, berkata senyum lebar di bibir.
“Adik Ang Lian, kaulihat. Aku tekun berlatih silat untuk
merobohkan si laknat Liok Kong Ji.”
Ang Lian menjebikan bibirnya yang merah.
"Lee Tai, belum juga kau memenuhi syarat-syaratku
mengalahkan Liok Kong Ji, kau sudah mengecewakan
hatiku."
“Aku mengecewakan kau? Lho, apa salahku. manis ?"
"Hussh, bicara jangan seperti orang gila ! Kau
mendatangkan keributan dengan berita busukmu tentang
Tiang Bu. Apa otakmu sudah miring? Lee Tai, aku sendiri
tidak pernah akan dapat memaafkan kau kalau kau
memfitnah Tiang Bu secara pengecut dan curang. Betulkah
kau tidak bohong tentang Tiang Bu ?”
Muka Lee Tai menjadi sungguh-sungguh. “Biar aku
mampus disambar geledek kalau aku membobong, Ang Lian.
Berita itu memang betul, aku mendengar dengan kedua
telingaku seadiri.”
“Tidak kaulihat dengan kedua mata sendiri?."
“Tidak, akan tetapi betul-betul kudengarkau dengan
kedua telingaku ini," jawabnya sambil menjewer kedua
telinganya.
“Siapa itu orangnya yang begitu kaupercaya?” Ang Lian
memancing. Gadis itu berusaha supaya Lee Tai mengaku
agar ia dapat memindahkan kesalahan pemuda ini kepada
sumber berita. Akan tetapi Lee Tai tentu saja tidak mengerti
akan usaha gadis yang hendak menolongnya ini.
"Hal ini.......... tak dapat kuceritakan, Ang-Lian.......... “
36
Ang Lian menjadi marah dan membanting-banting
kakinya. "Kepada akupun kau tidak mau mengalah ?”
Lee Tai menarik napas panjang dan kelihatan sedih
sekali.
“Apa boleh buat, biarpun untuk kau aku sanggup terjun
ke laut api, akan tetapi, aku telah bersumpah takkan
membuka rahasia orang itu dan biar kaupukul mati padaku,
aku tak dapat mengaku, Ang Lian.”
“Kau........... kau tolol !” Ang Lian marah-marah dan
membalikkan tubuh te rus pergi berlari-lari. Hatinya
mendongkol sekali biar pun pada dasar hatinya terdapat
rasa kagum kepada pemuda yang setia ini. Kegelisahannya
karena Lee Tai merupakan biang keladi gara-garanyalah
yang membuat ia merasa gemas bahwa pemuda itu tetap
tidak mau mengaku dari s iapa ia mendengar berita buruk
itu. Akhirnya seperti diceritakan di atas, dalam berlari-lari
ini ia malihat Pek Lian yang mendayung perahu pergi dari
Pulau Pek-houw-to.
Lee Tai juga berduka sekali. Orang-orang lain boleh
marah kepadanya, akan te tapi kalau Ang Lian yang marah,
ini hebat ! Saking sedih dan bingungnya, pemuda ini tidak
mau pulang ke tempat rombongan, melainkan terus sampai
malam tinggal di tepi pantai itu dan melatih ilmu pedang
dari kitab Soat-lian-kiam-coan-si. Dengan tekun ia
mempelajari isi kitab dan saban-saban bermain silat untuk
mempraktekkan pelajaran itu.
Pemandangan malam itu indah sekali. Bulan yang besar,
merah, dan bundar timbul dari permukaan air laut sebelah
timur. Bukan main indah dan megahnya alam di waktu itu.
Cahaya bulan merah di atas air benar-benar mentakjubkan
dan sukarlah dilukiskan betapa indahnya bulan timbul di
permukaan air ini. Hanya parenung-perenung yang
berperasaan halus kiranya akan dapat menangkap
keindahan ini.
37
Akan tetapi Lee Tai sama sekali tidak dapat merasakan
keindahan alam itu. Menengok pun tidak. Ia hanya girang
karena ada cahaya bulan sehingga ia dapat membaca huruf
dalam kitab ilmu pedang itu.
Satelah meneliti bunyi huruf-huruf dalam kitab, ia lalu
melakukan gerakannya, membaca lagi, bersilat lagi.
Demikian berulang-ulang ia melatih diri dengan amat
tekunnya karena pemuda ini memang berhasrat bear untuk
segera menguasai ilmu silat ini untuk merohohkan penjahat
besar Liok Kong Ji! Demikian asyik ia berlatih sampaisampai
ia tidak sadar bahwa semenjak tadi ada sepasang
mata tajam mengintai dan memperhatikan gerak geriknya
dengan penuh perhatian.
Pengintai ini adalah Tiang Bu. Pemuda ini tanpa
mengenal lelah mencari Liok Kong Ji untuk membalas
dendamnya yang be rtumpuk-tumpuk. Bahkan ia mendapat
dugaan bahwa fitnahan yang orang-orang jatuhkan
kapadanya, bahwa dia bers ekongkol dengan Liok Kong Ji,
tentulah juga hasil muslihat orang jahat yang amat licin itu.
Entah bagaimana jalannya, tentu Liok Kong Ji yang menjadi
biang keladi sehingga dia difitnah dan dibenci orang. Ia
dapat menduga pula bahwa hal ini direncanakan oleh Liok
Kong Ji dengan maksudmemecah belah fikakmusuh. Tipu
muslihat yang licin dan licik sekali.
Ketika melihat Ciu Lee Tai, ia hanya memandang sepintas
lalu dengan acuh tak acuh. Pemuda itu tidak ada artinya
baginya dan dalam keadaan sepert i itu, ia tidak ada nafsu
untuk bertemu dengan anggauta rombongan. Akan tetapi
selagi ia hendak pergi mengambil jalan lain pandang
matanya tertarik sekali oleh gerakan golok dan kaki pemuda
yang sedang berlatih silat ini . Gerakan-gerakan itu amat
dikenalnya karena mengandung dasar ilmu silat Ome i-san !
Ia menunda maksudnya meninggalkan Lee Tai, sebaliknya
diam-diam ia menye linap dan menghampiri lalu mengintai
dari balik batang pohon. Alangkah kagetnya ketika ia
38
mendapat kenyataan bahwa betul-betul pemuda dogol itu
sedang berlatih Ilmu Padang Soat Kiam hoat dari Omei-san !
Di samping kekagetannya, ia juga merasa heran bukan
main.
Akan tetapi semua perasaan ini berubah menjadi
kemarahan ketika ia melihat Lee Tai mengeluarkan sebuah
kitab dan mambaca kitab ilmu silat i tu di bawah penerangan
bulan. Sekilas pandang saja Tiang Bu mengenal kitab dari
Omei-san itu. I a tidak dapat menduga dari mana Lee Tai
mendapatkan kitab itu akan tetapi ia tidak perduli. Siapa
yang mempunyai kitab Omei-san, berarti musuhnya dan
kitab itu harus dirampasnya kembali, sesuai dengan
perintah suhu-suhunya ketika hendak menutup mata. Cepat
ia melompat dan membentak,
"Dari mana kauperoleh kitab itu ?”
Bukan alang kepalang kagetnya Lee Tai mendengar
bentakan ini dan melihat orang tiba-tiba me lompat keluar.
Akan tetapi ketika Lee Tai melihat bahwa yang muncul
adalah Tiang Bu, ia teringat akan pesan orang sakti pemberi
kitab bahwa ia harus be rhati-hati terhadap Tiang Bu karena
pemuda itu suka merampas kitab orang lain. Maka ia cepat
menjauh sambil menyimpan kitabnya,
“Kau anak iblis perduli apakah ?”
Tiang Bu marah sekali. “Berikan kitab itu !”
Lee Tai juga marah. Cocok benar kata-kata orang sakti
itu, pikirnya. Begitu berjumpa Tiang Bu sudah hendak
merampas kitab. Ia lihai, lebih baik aku mendahuluinya.
Tanpa banyak cakap lagi Lee Tai membacokkan goloknya ke
arah leher Tiang Bu. Ia bertenaga besar dan gerakan
goloknya cepat. Serangannya itu bukan serangan ringan,
dan amat berbahaya bagi lawannya. Akan tetapi ia
menghadapi Tiang Bu dan lebih hebat lagi, Tiang Bu sedang
marah. Sekali Tiang Bu mengulur tangan memapaki
39
goloknya, golok itu sudah terpukul dari samping dan
terpental lepas dari tangan Lee Tai !
Sebelum Lee Tai sempat menyembunyikan kitabnya.
Tiang Bu yang marah itu sudah melompat dan
menerkamnya dengan tangan kiri menyampuk tangan kanan
Lee Tai sehingga kitab Soat lian-kiam-coan-s i terlempar, jari
tangan kanannya menyambar dengan totokan istimewa ke
arah pundak Lee Tai. Si dogol merintih lemah dan roboh
dengan tubuh lemas tak berdaya, lumpuh dari kepala
sampai ke kaki.
Tiang Bu mengambil kitab itu dan mendapat kenyataan
bahwa itulah kitab Soat-lian-kiam-coan-si, sebuah di antara
kitab-kitab Ome i-san yang lenyap dicuri orang ketika Ome isan
diserbu beramai -ramai oleh orang-orang kang-ouw. Ia
menyimpan kitab itu di dalamsaku bajunya dan hendak
meninggalkan Lee Tai. Akan tetapi ia teringat bahwa Lee Tai
adalah anggauta rombongan. Akan tidak enak sekali
terhadap Wan Sin Hong kalau ia morobohkan Lee Tai tanpa
mengakui alasan-alasannya. Pula ke adaan pemuda ini
mencurigakan sekal i. Bagaimana kitab Omei-san itu bisa
terjatuh ke dalam tangannya. Dan mengapa pemuda ini
mengasingkan diri dari rombongan untuk mempelajari kitab
secara diam-diam ?
Pikiran ini membuat ia tanpa ragu lagi menyambar tubuh
Lee Tai yang sudah seperti kain lapuk lemasnya, mengempit
tabuh itu dan membawanya lari ke tempat rombongan
berkumpul.
Kedatangannya disambut oleh rombongan dengan penuh
pertanyaan dalam pandang masa mereka. Ang Lian lari maju
ketika melihat Lee Tai dikempit oleh Tiang Bu. Gadis ini
merasa khawatir melihat keadaan Lee Tei yang sudah seperti
orang tak bertulang itu. Ia mengira bahwa Lee Tai sudah
bertempur melawan Liok Kong Ji dan dikalahkan.
"Apa dia dilukai oleh Liok Kong Ji?” tanya Ang Lian.
40
Melihat Ang Lian, Tiang Bu teringat kepada Pek Lian dan
menjadi tidak enak sekali. Ia hanya menggeleng kepala dan
hatinya agak lega ketika melihat ke kanan kiri, ia tidak
melihat gadis berpakaian pria itu. Dengan langkah lebar ia
menghampiri Wan Sin Hong yang berdiri tegak sambil
memandangnya penuh perhatian. Di depan Wan Sin Hong,
Tiang Bu melepaskan tubuh Lee Tai yang masih segar
namun tak dapat bergerak itu.
“Dia kenapa, Tiang Bu?” tanya Sin Hong, matanya tajam
memandang.
"Maaf, Wan pek-pek. Aku melibat dia berlatih ilmu Omeisan
dan melihat pula dia
membawa-bawa kitab
ini.” Tiang Bu
mengeluarkan kitab
Soan-lian-kiam-coan-si
dari sakunya. “Ketika
kitegur, dia menyerang.
Terpaksa aku
merobohkannya dan
merampas kitabnya.
Tentu pek-pek tahu akan
tugas siau-tit, siapa yang
membawa kitab Omeisan
dialah musuh, dan
kitab Omei-san harus
kurampas kembali.
Sekarang terserah
kepada pek-pek.” Cepat
Tiang Bu menggerakkan
tangan dan dalam
sekejap mata Lee Tai terbebas dari totokan. Pemuda dogol ini
merayap bangun dan mengeluh perlahan.
Wan Sin Hong menerima kitab itu, memeriksanya dan
keningnya berkerut. Tanpa diketahui oleh orang lain karena
41
pendekar ini pandai sekali menekan peras aannya, di dalam
hati ia terkejut bukan main. Bagaimana Lee Tai bisa
mendapatkan kitab Omei-san? Dari siapakah
mendapatkannya?
“Lee Tai! Sekarang kau harus bicara terus terang, sesuai
dengan kejujuranmu. Darimana kau mendapatkan kitab
ini?" tegurnya, suaranya keren berpengaruh.
Lee Tai sudah merayap bangun dan berdiri dengan kepala
menunduk, sikapnya mendatangkan rasa kasihan dalam
hati Ang Lian. Mendengar bentakan Wan Sin Hong ini, ia
menjawab lirih.
"Wan-bengcu, teecu mendapatkannya dari locianpwe
itu…..”
“Locianpwe yang mana?” hati Sin Hong makin tidak enak
karena ia sudah hampir dapat menduganya.
Kekhawatirannya terbukti ketika pemuda itu menjawab
"Locianpwe yang teecu jumpai …..”
“Aha Kaumaksudkan orang yang berjumpa denganmu,
yang bercerita sepadamu akan persekutuan Tiang Bu
dengan Liok Kong Ji?”
Dengan muka merah Lee Tai mengangguk. Sekarang
tahulab Tiang Bu bahwa yang membawa berita yang
memfitnahnya itu bukan lain adalah Ciu Lee Tai inilah! Ia
menggigit bibir menahan kegemasan hatinya. Ingin ia
menampar muka pemuda dogol itu.
"Dan selain menceritakan berita itu iapun memberi
hadiah kepadamu kitab ilmu pedang ini?" tanya pula Sin
Hong mendesak.
"Dia berkasihan kepada teecu memberikan kitab Ilmu
pedang agar teecu dapat mengalahkan Liok Kong Ji. Teeeu
ingin sekali merobohkan Liok Kong Ji dengan kedua tangan
teecu sendiri, Wan-bengcu."
42
Lee Tai meli rik ke arah Ang Lian yang memandang
dengan hati tidak karuan. Ada rasa mendongkol, gemas, dan
juga girang. Untuk ke sekian kalinya, pemuda dogol ini
membuktikan kesetiaan dan cinta kasih kepadanya.
Mendengar ini, Wan Sin Hong membanting kakinya.
"Bodoh betul! Kalau begitu, orang itu adalah Liok Kong Ji
!!"
Lee Tai terkejut sekali seperti disambar petir.
“Tidak mungkin…...” batahnya perlahan.
"Bukankah dia itu lebih tua sedikit dari pada aku,
bertubuh kurus tinggi, pakaiannya mewah, jenggotnya
sedikit dan meruncing, matanya mengandung sinar aneh?"
Makin pucat muka Lee Tai mendengar ini dan ia hanya
bisa mengangguk-angguk, bingung dan takut.
"Betul Liok Kong Ji orang itu" Sin Hong berseru "Lee Tai,
kau telah tertipu oleh Liok Kong Ji yang menyebar berita
pe rpecahan melalui kau dan telah menyuapmu dengan kitab
ilmu pedang. Lee Tai, sekarang kau harus memberi tahu di
mana tempat sembunyinya penjahat itu”
(Bersambung Jilid ke XXVII )
1
(PEK LUI ENG)
Karya: Asmaraman S. Kho
Ping Hoo Scan djvu :
syauqy_arr
Convert & edit : MCH
Jilid XXVII
Dengan suara gemetar Lee Tai menjawab, "Wan-bengcu.
Baru sekarang mata teecu terbuka dan teecu sungguh bodoh
sekali kena tipu orang. Akan tetapi, teecu sudah bersumpah
takkan membuka rahasia persembunyianya dan mana bisa
teecu melanggar sumpah sendiri! Lebih baik teecu mati dari
pada melanggar janji.”
Wan Sin Hong, Huang-ho Sian-jin, Bu Kek siansu, Pang
Soan Tojin dan yang lain-lain tertegun dan tak dapat bilang
apa-apa lagi mendeogar kata-kata Lee Tai ini. Sin Hong
maklumbetul akan watak Lee Tai yang amat jujur dan setia.
Pemuda berwatak seperti ini akan memegang kata-katanya
dan andaikata ia dibujuk maupun diancam sampai dibunuh
sekalipun, takkan mungkin mengaku dan melanggar
sumpah dan janji yang sudah dikeluarkan di depan Liok
Kong Ji tanpa disadarinya itu!
Tiba-tiba dalam kesunyian yang tidak enak itu, terdengar
suara Tiang Bu,
"Wan-pek pek, memang tidak bisa kita menyalahkan Ciutwako.
Dia berjanji kepada orang yang tidak ia duga Liok
2
Kong Ji adanya. Tentu saja seorang laki-laki gagah takkan
melanggar janjinya. Akan tetapi sebagai laki-laki gagah pula,
kiranya Ciu twako takkan mau sudah begitu saja diingusi
(ditipu) mentah-mentah oleh Liok Kong Ji dan tentu Ciu
twako akan membalas dendam. Ataukah, barangkali Cui
twako jerih menghadapinya? Hal ini terserah kepada Ciutwako
karena dialah yang dipermainkan. Bagi kita yang lain,
lebih baik kita mencari lebih giat karena sudah nyata bahwa
Liok Kong Ji masih tetap berada pulau ini."
Ketika Wan Sin Hong memandang kepadanya, Tiang Bu
diam-diam memberi isyarat dengan matanya. Sin Hong
dapat menangkap maksud Tiang Bu, maka ia menarik napas
panjang dan berkata kepada Lee Tai,
"Sudahlah, kalau kau tidak mau mengaku kamipun tidak
dapat memaksa. Aku hanya merasa menyesal sekali
mengapa kau sampai dapat diperemainkan demikian
mudahnya oleh musuh kita itu."
Huang-ho Sian-jin, tokoh yang sudah berpengalaman
luas di dunia kang-ouw, tentu saja dapat menangkap
maksud hati Tiang Bu dan Sin Hong. Iapun berkata dengan
keras,
"Seorang laki-laki tertipu oleh manusia iblis penuh
muslihat seperti Liok Kong Ji, masih tidak aneh dan dapat
dimaafkan. Akan tetapi seorang yang tertipu dan
dipermainkan seperti itu diam saja tidak membalas benarbenar
dia tidak patut menjadi laki-laki, lebih pantas disebut
banci !"
Panas perut Lee Tai mendengar ini semua, telinganya
merah. Kalau calon mertuanya berkata demikian, benarbenar
terlalu sekali kalau dia diamsaja.
"Liok Kong Ji jahanam keparat, awas kau!" sambil
be rkata demikian, ia lalu lari pergi dari situ tanpa pamit lagi.
Bayangan ke dua berkelebat cepat sekali dan Tiang Bu
sudah lenyap dari situ mengikuti Lee Tai dengan diam-diam.
3
Sin Hong cepat berkata kepada kawan-kawannya, “Siasat
Tiang Bu termakan olehnya. Di luar pengertiannya dan
tanpa sengaja, Lee Tai akan membawa kita ke tempat
persembunyian Liok Kong Ji. Hayo kita kejar dan ikuti dia.
Akan tetapi, hanya Tiang Bu, aku sendiri, Huang-ho Sian-jin
dan kedua locianpwe saja yang boleh mendekat, yang lainlain
mengikuti dari jauh. Lee Tai tentu tidak tahu dirinya
diikuti orang, akan tetapi Liok Kong Ji lihai sekali. Kalau dia
tahu Lee Tai diikuti orang lain, tentu dia tidak mau muncul.”
Demikianlah, ramai ramai mereka lari mengejar. Sin
Hong, Huang-ho Sian-jin, Bu Kek Siansu dan Pang Soan
Tojin di depan, yang lain-lain mengikuti dari belakang.
Bayangan rombongan ini bergerak-gerak di bawah sinar
bulan purnama, seperti setan-setan penghuni pulau itn
karena gerakan mereka cepat dan ringan.
Siasat yang dijalankan oleh Tiang Bu dan Sin Hong
memang tepat sekali . Ucapan-ucapan Tiang Bu, Sin Hong,
dan yang dibumbui oleh Huang-ho Sian-jin itu berhasil
membakar hati Lee Tai yang memang berdarah panas.
Dengan hati mengandung dendam hebat Lee Tai melarikan
diri di sepanjang pantai, mencari tempat pertemuannya
dengan Liok Kong Ji kemarin. Akan tetapi karena ia sedang
marah dan bingung, terutama sekali oleh karena bulan
sudah mulai bersembunyi di ujung barat, ia kehilangan jalan
dan semalamsuntuk ia berputar putar saja keluar masuk
hutan tanpa berhasil menemukan kembali tempat itu. Tentu
saja Tiang Bu yang membayangi di belakangaya menjadi
bingung dan mendongkol sekali. Ada sebuah hutan yang
sudah dimasuki sampai dua kali oleh pemuda dogol itu.
Juga Sin Hong dan kawan-kawannya yang mengikuti dari
jarak agak jauh menjadi bingung.
"Jangan-jangan ia tidak berani menjumpai kembali iblis
itu," gerutu Huang-ho Sian-jin.
4
"Lee Tai tak mengenal takut," Sin Hong berkata
menghibur, "agaknya ia sudah lupa lagi tempat itu dan kini
sedang mencari-cari.”
"Liok Kong Ji amat keji dan penuh muslihat. Kalau Ciu
sicu bertemu dengan dia, pinto khawatir Ciu-sicu akan
terancam bahaya," kata Pang Soan Tojin yang sudah
mengenal baik kekejaman hati Liok Kong Ji .
"Belum tentu,” jawab Sin Hong. "Liok Kong Ji tidak akan
membunuh sembarang orang yang ia anggap tidak penting.
Juga Lee Tai sudah sepatutnya menghadapi resiko itu untuk
menebus kesalahan dan kebodohannya. Pula, bukankah kita
dapat menolongnya dan terutama sekali Tiang Bu berada
tidak jauh darinya. Kalau Tiang Bu melindungi, Kong Ji
takkan mampu mengganggu Lee Tai.”
Bu Kek Siansu menarik napas panjang. "Orang muda itu
patut dikagumi, berbeda jauh dengan ayahnya. Hanya masib
diragukan, setelah ia difitnah sedemikian keji oleh Ciu-sicu,
apakah ia mau memperdulikan kaselamatan Ciu-sicu."
"Biarpun putera Liok Kong Ji, aku yakin Tiang Bu
sedikitpun tidak mewarisi kekejian hati ayahnya sebaliknya
anak itu seperti mendiang ibunya,” kata Sin Hong dengan
suara sungguh-sungguh. “Biarlah kesempatan ini
kupergunakan untuk menguji pribadinya, kuharap saja
dugaanku tidak meleset."
Sementara itu, Tiang Bu menjadi mendongkol ketika
menjelang pagi, Lee Tai menghentikan lari-larinya yang tidak
ke ruan tujuannya itu dan pemuda dogol itu malah duduk
mengaso di bawah pohon ! Tiang Bu memang sedang marah
dan gemas terhadap Lee Tai yang mendatangkan semua
keributan dan prasangka buruk terhadap dirinya. Kalau saja
ia tidak ingat bahwa Lee Tai adalah seorang pemuda
anggauta rombongan Wan Sin Hong, tentu ia akan turun
tangan memberi hajaran. Ia tahu bahwa Wan Sin Hong
adalah seorang pendekar besar yang selain sakti, juga
memiliki kewaspadaan. Tak mungkIn Wan Sin Hong mau
5
membawa-bawa seorang dogol seperti Ciu Lee Tai kalau
pemuda itu tidak memiliki apa-apa yang baik.
Sambil berlari cepat mempergunakan ginkangnya
sehingga gerakannya menjadi amat ringan dan sama sekali
tidak kelihatan atau terdengar oleh orang yang diikutinya,
Tiang Bu memikirkan tentang diri Ciu Lee Tai. Diam-diam ia
harus mengatakan bahwa pemuda dogol itu memiliki
kepribadian dan kesetiaan yang patut dipuji. Biarpun
terhadap seorang jahat seperti Liok Kong Ji, Lee Tai tetap
tidak mau melanggar janji sendiri dan rela mengorbankan
nama dan nyawanya.
Dan sekarang, pemuda yang sudah tahu bahwa ia takkan
mungkin mampu mengalahkan Liok Kong Ji, dengan nekat
hendak mencari Liok Kong Ji dan diajak bertanding. Benarbenar
seorang pemuda yang bernyali besar, biarpun dogol
dan bodoh.
Melihat Lee Tai beristirahat sambil menyusuti peluh,
terpaksa Tiang Bu juga berhenti, bersembunyi di balik pohon
dan memperhatikan gerak-gerik Lee Tai. Pemuda dogol ini
bersungut-sungut dan terdengar ia berkata seorang diri.
"Liok Kong Ji jahanam keparat! Kalau kali ini aku tidak
dapat menghancurkan kepalamu, lebih biik aku Ciu Lee Tai
pulang tak be ryawa lagi !"
Tiang Bu tersenyum geli. Baru kata-katanya saja sudah
dogol dan menggelikan. Kalau sudah tak bernyawa,
bagaimana bisa pulang? Ket ika Tiang Bu menggerakkan
kepala ke belakang, ia tersenyum. ia mel ihat bayangan
empat orang tua dan ia bisa menduga siapa adanya mereka
itu. Memang, Sin Hong dan tiga orang kawannya terpaksa
berherti karena Lee Tai dan Tiang Bu berhenti pula. Dan
jauh di belakang mereka, rombongan kedua juga berhenti.
Hal ini memang kebetulan sekal i bagi rombongan ke dua
yang terdiri dari Ang Lian dan Siok Li Hwa yang
menggendong Leng Leng.
6
Mereka mendapat kesempatan beristirahat karena Leng
Leng yang digendong dan dibawa berlari-lari itu merasa lelah
dan ingin menangis. Khawatir kalau-kalau Leng Leng
menangis, maka Li Hwa mengajak Ang Lian mengikuti dari
jauh saja. Hal ini sebetulnya mengecewakan hati Ang Lian.
Gadis ini diam-diam amat mengkhawatirkan keadaan Lee Tai
dan ingin ia mengejar sampai dekat agar dapat melihat apa
yang sedang dilakukan oleh pemuda dogol yang memikat
hatinya itu.
Ia sekarang dapat mengerti mengapa Lee Tai
merahasiakan orang yang menjadi sumber berita yang
memfitnah Tiang Bu. Kiranya orang itu, yang bukan lain
adalah Liok Kong Ji sendiri, menggunakan kebodohan Lee
Tai untuk menjalankan siasat buruk memecah belah fihak
musuh. Tentu Lee Tai dibujuk didiberi kitab pelajaran ilmu
silat untuk dapat melawan Liok Kong Ji, dan di dalam
hatinya Ang Lian tahu mengapa Lee Tai mati-matian
berusaha mengalahkan Liok Kong Ji. Sebabnya hanya satu,
dia sendiri ! Ucapannnya dahulu yang mengajukan syarat
supaya pemuda itu mengalahkan Liok Kong Ji, rupanya
termakan betul oleh Lee Tai dan menjadi cta-cita pemuda itu
! Semua itu hanya mencerminkan betapa besar kasib sayang
Lee Tai kepadanya, betapa besar hasrat hati Lee Tai untuk
dapat memperisterikannya ! Ang Lian menjadi terharu sekali
kalau memikirkan hal ini.
Kalau orang-orang yang diam-diam mengikuti jejaknya
melamun dalam alam pikiran masing-masing, adalah Lee Tai
yang duduk mengaso itu mengorok dalam tidurnya.
Memang, orang seperti Lee Tai ini berjiwa babas.
Betapapun duka dan masgul hatinya, kalau mata sudah
mengantuk iapun tidurlah!
Orang yang melihat dia tidur hanya Tiang Bu saja,
karena yang lain-lain berada di tempat jauh. Dapat
dibayangkan betapa mendongkolnya hati Tiang Bu. Dia
sendiri merasa tegang dan gemas, ingin lekas- lekas dapat
7
bertemu dengan Liok Kong Ji. Eh, orang yang diharapkan
membawanya ke tempat persembunyian Liok Kong Ji, enakenak
tidur! Ketika matahari sudah naik tinggi tetap Lee Tai
belum juga bangun. Tiang Bu tidak sabar lagi, Diambilnya
tanah lempung dan sekali lontar, tanah lempung itu
mengenai hidung Lee Tai.
“Plak !”
Lee Tai melompat bangun, tersentak kaget. Cepat
mencabut goloknya yang sudah ia ambi l kembali ketika ia
mulai pergi mencari Liok Kong Ji tadi, membolang-balingkan
goloknya dan berseru.
"Liok Kong Ji, kalau be rani jangan menyerang di waktu
aku tidur ! Keluarlah dan mari kita bertanding selaksa
jurus!"
Seruannya keras, sampai terdengar dari tempat di mana
Ang Lian dan Li Hwa beristirahat, Siok Li Hwa menggelenggeleng
kepalanya.
"Bocah itu be rnyali besar, sayang dogol amat."
Ang Lian diam saja, mukanya kemerahan.
Kalau tanah lempung itu disambitkan oleh orang belum
tentu akan dapat terasa oleh Lee Tai. Akan tetapi sambitan
Tiang Bu membuat hidungnya menjadi merah dan terasa
pedas sekali. Seperti kebiasaan ahli silat yang sudah agak
"matang" biarpun dalam keadaan tidur, namun urat
syarafnya selalu bersia siap begitu merasa ada sesuatu yang
menggangu, seluruh urat syarafnya bekerja. Inilah sebabnya
maka begitu hidungnya tercium oleh senjata lempung itu Lee
Tai terus saja melompat dan mencabut golok siap menyerang
!
Sin Hong yang berada di tempat agak jauh dan tidak
melihat perbuatan jahil Tiang Bu tadi hanya saling pandang
dengan kawan-kawannya. Akan tetapi mereka segera bangkit
dan mulai bergerak maju karena mereka melihat Tiang Bu
8
sudah bergerak pula mengikuti Lee Tai yang sudah berlari -
lari ke depan.
Setelah matahari naik makin tinggi, baru Lee Tai
mendapatkan kembali tempat di mana ia bertemu dengan
Liok Kong Ji. Seperti juga kemarin, pemuda ini berdiri di
dekat batu karang. Betapapun dogolnya ia masih mampu
menggunakan pikiran bahwa kalau ia bersikap kasar, Liok
Kong Ji tentu takkan mau keluar. Oleh karena itu, ia lalu
duduk di atas sebuah batu karang kecil dan berkata dengan
suara keras.
"Locianpwe yang sakti ! Teecu mohon locianpwe suka
ke luar lagi untuk memberi penjelasan!"
Lee Tai memang tidak pernah membobong, juga tidak
bisa membohong. Maka ia sengaja menggunakan kata kata
"untuk memberi penjelasan" karena memang ia hendak
meminta penjelas an dari orang tua itu. Kata-katanya yang
jujur ini ternyata malah kebetulan sekali. Tentu saja Liok
Kong Ji yang sedang bersembunyi di dalam gua rahasia.
mendengar suaranya. Liok Kong Ji tadinya menjadi curiga
dan mengintai ke luar dari sebuah lubang rahasia. Akan
te tapi ia tidak melihat orang lain kecuali Ciu Lee Tai yang
duduk di atas batu sambil mengebut ngebut leher dengan
ujung lengan baju mengusir panas. Pemuda itu tidak
memegang kitab tanda bahwa pemuda itu memperhatikan
pesannya, tidak sembarangan mengeluarkan kitab itu. Juga
pemuda itu minta ia ke luar memberi penjelasan. Tak salah
lagi, tentu ia mengalami kesulitan dengan pelajaran Soatlian
kiam hoat, pikir Kong Ji. Ahh dogolnya orang ini !
Kalau aku tidak keluar, tentu ia akan membuka mulut
menimbulkan gaduh, jangan jangan malah menarik
perhatian Wan Sin Hong atau Tiang Bu. Lebih baik aku ke
luar dan mencari akal supaya ia jangan datang lagi, pikir Lio
Kong Ji. Setelah sekali lagi mengintai dan melihat keadaan
di luar betul -betul aman, ia menekan alat rahasia dan
sebuah pintu terbuka.
9
Untuk kedua kalinya Lee Tai tersentak kaget ketika
melihat Liok Kong Ji tahu-tahu sudah berdiri di depannya,
entah dari mana seperti baru muncul dari muka bumi di
depannya saja. Ini adalah karena gerakan Kong Ji amat
ringan dan cepatnya. ia tidak memberi kesempatan kepada
Lee Tai untuk melihat pintu rahasia dari gua
pe rsembunyiannya. Akan tetapi, alangkah heran hati Liok
Kong Ji ketika melihat Lee Tai tidak segera menjatuhkan diri
berlutut, malahan pemuda itu mencabut golok, berdiri tegak
dil depannyat lalu mangeluarkan suara bentakan.
“Kau sebenarnya s iapakah? Apakah kau Liok Kong Ji?”
Kalau tidak sudah luas pengalaman dan tinggi ilmunya,
tentu Liok Kong Ji akan menjadi pucat mukanya “ditodong”
seperti ini oleh Lee Tai. Akan tetapi Kong Ji malah menarik
muka terheran-heran, lalu tersenyum.
"Orangmuda, apa kau sudah mabok? Kan tahu aku
bukan Liok Kong Ji. Bagaimana kau bisa berkata demikian?”
Sikap yang sewajarnya dari Liok Kong Ji kembali te lah
menipu pandangan Lee Tai yang memang betul-betul bodoh
dalam hal ini. Dia terlalu jujur dan iapun menganggap
bahwa orang lain juga tentu jujur seperti dia, karena
menurut anggapannya, mengapa orang harus membohong?
Mendengar kata kata Liok Kong Ji ini, Lee Tai menjadi
bingung. Memang amat sukar, bagaimana bisa menentukan
apakah orang ini Liok Kong Ji atau bukan? Dia selama
hidupnya belum pernah bertemu dengan Liok Kong Ji dan
orang ini begitu bertemu sudah memberi hadiah kitab
pelajaran ilmu pedang, bagaimana ia bisa bersikap tak tahu
terima kasih ?
Akan tatapi, teringat akan kitab, ia mendapat pikiran.
Segera ia bertanya.
"Kitab itu milik Liok Kong Ji, bagaimana kau bisa
memberikannya kepadaku kalau kau bukan Liok Kong Ji ?"
10
Kembali di dalam hatinya Liok Kong Ji terkejut sekali.
Kalau pemuda ini tahu bahwa kitab Soat-tian-kiam-coan-si
itu milik Liok Kong Ji, berarti bahwa kitab itu tentu terlihat
oleh Tiang Bu atau Wan Sin Hong!
"Orang muda, apa kau melanggar janji dan memberi tahu
tentang kitab kepada mereka ?"
"Tidak, sama sekali tidak! Hanya ......... ketika aku
mempelajarinya, Tiang Bu melihatnya dan .......... dan..........
oh, kalau begitu kau betul Liok Kong Ji?"
“Babi hutan ! Dasar kau berotak udang bodoh, goblok
dan tolol ! Aku memang Liok Kong Ji dan kau boleh bawa
nama ini ke mereka! Hayo katakan, sekarang mereka baru
apa?” bentak Liok Kong Ji yang sudah tidak mau main
sandiwara lagi.
Akan tetapi Lee Tai tidak takut. Ia menggerakkan
goloknya dan membentak, "Bagus! Kalau kau Liok Kong Ji,
itulah yang kucari-cari dan kutunggu tunggu! Mari kita
bertempur selaksa jurus, kalau bukan kau yang kupengal
lehermu, tentu aku yang menggeletak di sini tak bernyawa.
Goloknya menyambar cepat sekali ke arah leher Liok Kong
Ji.
Serangan Lee Tai ini boleh jadi akan membahayakan
lawan lain, akan tetapi sekarang berhadapan dengan Liok
Kong Ji. Sekali menggerakkan tubuh ke samping, golok itu
menyambar tempat kosong. Golok Lee Tai menyambar lagi
dengan kecepatan kilat , kenekatan dan kemarahan Lee Tai
membuat gerakan-gerakannya cepat sekali dan serangannya
susul-menyusul bagaikan air hujan. Juga ia melakukan
serangan sekuat tenaga sampai goloknya mengeluarkan
suara berdesing.
Betapapun ia mengerahkan seluruh tenaga dan
kepandaiannya, selalu goloknya menyambar tempat kosong
dan pada jurus ke delapan, ketika tangan kiri Kong Ji
melakukan gerakan menyentil dari samping, terdengar suara
11
nyaring golok itu terlepas dari pegangan Lee Tai, terlempar
jauh. Sebelum Lee Tai sempat memperbaiki kedudukannya,
kaki kanannya kena dicium ujung sepatu Kong Ji, membuat
ia roboh terguling dengan sambungan lutut terlepas !
Namun pemuda ini amat bandel dan nekat. Ia melompat
bangun lagi, dan biarpun sudah terpincang-pincang, ia
menyerang lagi tanpa mengeluarkan keluhan sedikitpun !
“Iblis keji !” terdengar bentakan nyaring dan sebatang
pedang menyambar ke arah punggung Liok Kong Ji, akan
tetapi dapat dielakkan dengan mudah oleh Kong Ji.
"Ang Lian.........” seru Le e Tai, girang dan kaget. "Jangan
dekat-dekat, dia berbahaya!"
"Ciu-twako, aku membantumu!" jawab Ang Lian sambil
menyerang lagi.
Kejadian ini amat mengejutkan hati Tiang Bu, juga Sin
Hong dan yang lain-lain. Tanpa diduga-duga, ketika
menyaksikan betapa Lee Tai tidak berdaya menghadapi Liok
Kong Ji timbul kekhawatiran hati Ang Lian dan gadis ini
segera melompat dan mati-matian membantu pemuda dogol
itu. Dengan ilmu pedang warisan ayahnya, penyerangan
gadis ini hebat juga. Akan tetapi tentu saja semua
penyerangan ini bukan apu apa bagi Liok Kong Ji yang jauh
lebih tinggi tingkat kepandaiannya. Me lihat munculnya gadis
ini. Kong Ji makin gelisah. Take salah lagi, tentu yang lain
akan segera muncul.
"Bagus kau datang," serunya dan cepat tubuh Liok Kong
Ji bergerak. Sebelum Ang Lian dan Lee Tai tahu apa yang
terjadi, karena tiba-tiba bayangan Liok Kong Ji lenyap dari
depan mereka, tahu tahu mereka telah roboh tak berdaya,
te rkena totokan lihai dari manusia iblis itu.
Liok Kong Ji mempunyai siasat bagus untuk
menyelamatkan diri. Melihat dua orang muda itu, ia segera
merobohkan mereka dan hendak mempergunakan mereka
12
sebegai pe risai, atau sebagai tebusan bagi keselamatan dan
kebebasannya.
Akan tetapi, sama sekali di luar persangkaannya bahwa
Tiang Bu sudah dekat tempat itu, karena tiba-tiba hawa
pukulan keras menyambar hebat ketika ia hendak
menghampiri Ang Lian dan Lee Tai yang sudah menggeletak
di atas tanah dan hendak menawan mereka. Hawa pukulan
ini biarpun datang dari jarak jauh, hebatnya bukan main
dan hawanya panas seperti api menyambar.
Link Kong Ji sendiri adalah seorang abli lwee-keh dan ia
memiliki dua macam pukukan lweakang istimewa, yaitu
Hek-tok-ciang dan Tin-san-kang, yang dapat merobohkan
lawan dari jarak jauh. Oleh karena itu, tentu saja ia maklum
bahwa ia sedang diserang oleh se orang lawan yang berilmu
tinggi ia tidak berani berlaku ge gabah, terpaksa ia
mengurungkan niatnya menawan Lee Tai dan Ang Lian.
Sebaliknya ia cepat membalikkan tubuh, menggerakkan
kedua tangan untuk menyampok pukulan lawan ini.
Tubuhnya terhuyung ketika dua tenaga raksasa bertemu
membuat Liok Kong Ji makin terkejut terpaksa ia melompat
jauh ke belakang.
Ketika ia memandang, ternyata bahwa yang
menyerangnya dan yang menolong Lee Tai dan Ang Lian tadi
bukan lain adalah Tiang Bu! Kemudian bermunculanlah
Wan Sin Hong, Huang-ho Sian-jin, Bu Kek Siansu, Pang
Soan Tojin, dan nampak juga Siok Li Hwa yang memondong
Leng Leng. Mereka sudah berdiri di hadapannya, sikap
mereka rata-rata garang dan penuh kemarahan !
Muka Liok Kong Ji menjadi pucat, lalu kehijauan, akan
tetapi ia dapat menekan perasaannya, meringis dalam
senyum buatan. Ia hanya dapat memandang saja ketika
Tiang Bu membebaskan totokan yang membuat Ang Lian
dan Lee Tai tak berdaya. Dua orang muda in segera
mengundurkan diri di belakang orang orang tua, karena
13
mereka maklum bahwa mereka sama sekali bukanlah lawan
Liok Kong Ji yang jagoan itu.
"Ha-ha-ha." Kong Ji tertawa mengejek “Wan Sin Hong
sudah menjadi pengecut, tidak berani datang sendiri dan
membawa seregu pembantu. Apakah kalian ini tua-tua
bangka hendak mengeroyok aku ?"
Sebelumorang lain menjawab, Tiang Bu sudah
membentak marah,
"Perlu apa mengeroyok? Aku sendiri dengan dua
tanganku cukup untuk mengakhir riwayatmu yang busuk !”
Pemuda ini dengan muka merah sudah bersiap saaga
menerkam musuhnya ini. Ia makin membenci Liok Kong Ji
kalau teringat akan Bi Li kekasihnya yang tedinya menjadi
buntung lengannya oleh Liok Kong Ji, kemudian tewas di
laut oleh Liok Cui Kong.
Liok Kong Ji meneogok ke arah pemuda ini, nampaknya
gentar, akan tetapi ia memperlebar senyumnya ketika ia
menoleh kembali kepada Wan Sin Hong.
"Hemmm, bagus sekali, Sin Hong. Kau tahu bahwa bocah
ini adalah keturunanku, anak Soan Li. Dan kau sengaja
menyuruh dia melawanku? Tentu saja aku tidak bisa
bersungguh-sungguh dan tidak leluasa kalau harus
melawan puteraku sendiri, petera tunggal dan……."
"Tutupmulutmu yang busuk !" Tiang Bu membentak lagi
dan tubuhnya berkelebat, di lain saat ia telah mengirim
pukulan ke arah dada Liok Kong Ji!
Kong Ji menangkis, keduanya terhuyung ke belakang,
akan tetapi kalau Tiang Bu tidak merasa sesuatu, adalah
diam-diam Liok Kong Ji mengeluh karena lengannya terasa
panas dan linu.
"Tiang Bu !" Sin Hong mencegah ketika melihat Tiang Bu
hendak menyerang lagi. "Tunggu sampai dia habis bicara !"
14
Tiang Bu mentaati perintah ini dan ia melangkah
mundur, berdiri tegak dengan mata mencorong, mata yang
serupa benar dengan mata Kong Ji, tajam dan bersinar
aneh. Kong Ji maklum bahwa kali ini tidak ada jalan lari lagi
bagiaya, maka dengan sikap keren berkata,
"Sekarang aku sudah terkepurg, akan tetapi aku
menuntut hak seorang kangouw, aku ingin menghadapi
kalian seorang demi seorang. Ini kalau kalian berani.
Pertama-tama aku menantang musuh besarku sejak kecil.
Wan Sin Hong. Majulah kalau kau masih memiliki sifat
jantan !" Sambil berkata demikian, Liok Kong Ji melangkah
maju setindak ke depan Sin Hong.
Wan Sin Hong menjadi merah mukanya dan iapun
melangkah tiga tindak ke depan Liok Kong Ji. Dua orang
musuh besar sejak kecil ini akhirnya berhadapan muka,
satu lawan satu! Teringat mereka akan riwayat dahulu
ketika mereka masih sama-sama kecil, lalu ketika mereka
sama-sama muda menjadi musuh, juga berhadapan seperti
ini. Teringat akan ini, tak tertahan lagi Wan Sin Hong
berkata, suaranya tenang namun mengandung kebencian
besar,
"Kong Ji, teringatkah akan riwayat hidupmu yang penuh
dosa? Hidupmu penuh noda darah orang-orang tak berdosa.
Kekejianmu melebihi iblis dan akhi r akhir ini dalam usia tua
kau bukan menjadi kapok dan menebus dosa-dosa di waktu
muda. malah menambah lagi dosa dosamu dengan dosadosa
baru, kau benar-benar manusia berhati iblis ! Sekarang
tibalah saatmu untuk menebus dos a dosamu itu, tidak
hanya di dunia akan tetapi juga di depan Giam-kun."
Mendengar kata-kata ini, Liok Kong Ji malah tertawa
bergelak.
"Wan Sin Hong, di dunia ini mana ada dosa? Dosa hanya
pandangan orang yang merasa dirugikan. Aku membunuh
untuk mendahului jangan sampai aku yang dibunuh. Kalau
aku tidak pandai menjaga diri, apakah aku tidak kaubunuh
15
dari dulu? Ha-ha, Sin Hong. Aku membunuh orang
kauanggap berdosa, apakah kulau kau berhas il membunuh
aku, kau tidak berdosa? Aku melakukan perbuatan demi
ketenangan hatiku dan orang hidup harus be rsenangsenang,
apa itu kauanggap dosa? Ha-ha-ha !”
Semua orang tertegun mendengar omongan itu, dan Sin
Hongmarah sekali.
“Liok Kong Ji, manusia macam kau ini sama dengan iblis.
Mana kau tahu tentang dosa.? Kau melakukan perbuatanperbuatan
keji, berlawanan dengan kebajikan, berlawanan
kehendak Thian. Kau tentu tidak mengenal Tuhan kau
menurutkan hawa nafsu iblis belaka. Perlukah kau
kuingatkan akan kedosaanmu yang dulu-dulu? Kau
diperlakukan baik-baik oleh gihu (ayah angkat) Lie Bu Tek,
akan tetapi kau membalas dengan menabas buntung
lengannya. Ini kaulakukan ketika kau masih kecil. Kau
menipu orang orang yang menolongmu, mendidiknya
bahkan manipu guru-gurumu. Kau melakukan perbuatan
keji terhadap orang baik-baik, termasuk Gak Soan Li,
perbuatanmu ini saja sudah terkutuk oleh Thian. Lupakah
kau akan semua itu? Berkali-kali kau lolos dari tanganku
karena sias at-siasat burukmu, kau tidak berani menghadapi
segala tantangan seperti orang laki-laki, melainkan
mempergunakan tipu muslihat. Akhir-akhir ini kau
membunuh Pek thouw-tiauw-ong Lie Kong suami isteri dan
puteri mereka, kau menyuruh anakmu yang menjadi iblis
cilik itu menyebar maut di Kim bun-to, membunuh sutitku
dan suaminya, kau membuntungi lengan tangan Wan Bi Li.
Pendeknya, terlalu banyak kau membikin sengsara orang
dan terlalu lama kau mengotorkan dunia. Bersiaplah untuk
menghadap Giam-kun dan menebus dosa-dosamu di neraka
!”
Wan Sin Hong sudah memasang kuda-kuda dan bersiap
untuk melakukan sarangan.
16
Akan tetapi Liok Kong Ji masih bersikap biasa saja,
malah ia tersenyum mengejek.
"Wan Sin Hong, kau pandai mencatat dan membacakan
daftar kesalahan orang lain, akan tetapi kau menutupi
kekejianmu sendiri. Lupakah kau akan perbuatan kejimu
membuat aku bercacad seumur hidupku ?”
Sin Hong terheran-heran mendengar ini. Sepanjang
ingatannya, belum pernah ia melakukan perbuatan itu.
Memang betul ia sering kali merobohkan Liok Kong Ji dan
melukainya, akan tetapi bukan luka yang mendatangkan
derita dan cacad.
“Omongan bohong apa yang kau keluarkan ini ?"
bentaknya.
“Ha-ha-ha, se orang laki-laki tidak berani mengakui
perbuatannya, apakah layak disebut gagah? Kau telah
membuat lengan kiriku bercacad selama hidup, apa masih
tidak mau mengaku ? Kau lupa ini ? Lihatlah baik-baik,
macam apa lenganku sekarang setelah dahulu kau bikin
remuk !”
Liok Kong Ji maju mengulurkan lengan kiri sambil
menyingsingkan lengan bajunya yang kiri, memperlihatkan
lengannya yang barkulit putih, lengan yang kurus dan
nampak kehitataman totol-totol di dekat sambungan siku.
Sikap wajar Liok Kong Ji ini membuat Sin Hong kurang
waspada. Ia dahulu memang pernah mematahkan tulang
lengan Kong Ji ketika ia merampas pedang Pak-kek-sin-kiam
dari musuh ini, akan tetapi tidak mengira bahwa
perbuatannya itu membuat lengan Kong Ji bercacad
selamanya. Karena ingin tahu melangkah makin mandekat
dan melihat lengan itu.
"Wan-pek-pek, awas ...... !! " Tiang Bu berseru keras.
Akan tetapi terlambat ! Langan ki ri Liok Kong Ji yang
disingsingkan lengan bajunya dan sedang dilihat oleh Sin
17
Hong itu, tiba-tiba meluncur ke depan. menghantam dada
Wan Sin Hong dengan pukulan Tin-san-kang yang luar biasa
lihainya !
"Buukk!!" Tubuh Wan Sin Hong terpental sampai dua
tombak lebih terkena pukulan itu dan terdengar Siok Li Hwa
menjerit melihat suaminya terlempar dalam keadaan berdiri
akan tetapi memuntahkan darah segar! Siok Li Hwa
melompat mendekati suaminya, akan tetapi Sin Hong
memberi tanda supaya isterinya mundur, kemudian ia
berjalan tegap menghampiri Liok Kong Ji lagi sambil
menyusut darah dari bibirnya ! Tiang Bu yang sudah hendak
menerjang Liok Kong Ji. terpaksa mundur ketika dengan
tangannya Sin Hong memberi isyarat supaya ia juga
mundur.
“Pengecut jahanam!” maki Siok Li Hwa dengan muka
pucat, gelisah memandang suaminya.
"Iblis tak tahu malu” Ang Lian juga memaki marah.
"Wan-bengcu, mundurlah. Biar aku yang melabraknya!”
Lee Tai terteriak-teriak, akan tetapi segera menutup mulut
ketika Ang Lian mendelik kepadanya.
Wan Sin Hong tersenyum memandang Kong Ji yang
terheran-heran. Kong Ji tadinya memang mengharapkan
dapat memukul mati kepada lawannya ini, akan tetapi Sin
Hong tidak roboh, hanya muntah darah. Hal ini benar-benar
tidak diduga-duganya. Ia tidak tahu bahwa memang Sin
Hong selamanya tidak percaya kepadanya dan tadipun
pendekar ini sudah mengerahkan tenaga sinkangnya
menjaga diri. Sayangnya, Sin Hong tertarik untuk memeriksa
lengannya, maka terlambat mengelak atau menangkis
sehingga terkena pukulan yang biarpun tidak
membabayakan nyawanya, namun telah mendatangkan luka
dalam yang cukup hebat.
"Kong Ji, apa perbuatanmu tadi patut dibanggakan ?”
sindir Sin Hong. "Kau berlaku curang.”
18
“Apa yang curang ? Kau sudah memasang kuda-kuda,
sudah s iap kita mengadakan pertandingan. Perbuatanku
tadi termasuk takt ik pertandingan, apanya yang salah?
Hanya kau yang terlalu goblok, berotak kerbau." Setelah
berkata demikian, Liok Kong Ji te rus menyerang bertubi-tubi
dengan pukulan pukulan Hek-tok-ciang dan Tin-san-kang.
Penyerangannya hebat sekali, gerakan-gerakannya jauh
lebih sempurna dari pada beberapa tahun, bahkan beberapa
bulan yang lalu. Hal ini adalah karena semenjak ia
mampelajari kitab Delapan Jalan Utama ilmu silatnya
bertambah lihai dan mendapat kemajuan pesat sekali.
Diam-diam Sin Hong terke jut dan kagum. Harus ia akui
bahwa ilmu kepandaian Liok Kong Ji telah memperoleh
kemajuan yang jauh di luar sangkaannya. Biarpun dia
sendiri juga selalu berlat ih dan memperdalam ilmunya, akan
tetapi ia harus mengakui bahwa ia kaLah maju. Karena
dahulu memang tingkatnya sudah lebih tinggi, maka
kemajuan yang luar biasa dari kepandaian Kong Ji, hanya
membuat lawan ini sekarang memiliki tingkat yang seimbang
dengan dia.
Sin Hong berlaku hati-hati, mengerahkan semua
kepandaian untuk melawan musuh yang tqngguh ini. Betapa
pun juga Pak-kek Sin-ciang ternyata masih tahan uji dan
dapat dibanggakan, dapat menangkis semua terjangan Liok
Kong Ji. Sayangnya Sin Hong sudah menderita luka dalam
akibat penyerangan gelap tadi, maka di dalam pertandingan
mati-matian ini kadang-kadang ia meras a dadanya sesak
dan terpaksa ia sering kali mengalah dalam hal adu tenaga,
mengalah untuk menghindarinya dan mengelak.
Tentu saja hal ini diketahui baik oleh Liok Kong Ji. Dia
malah berusaha mengadu lwee-kang agar luka di dalam
dada Sin Hong makin menghebat dan parah. Biarpun ia
akhirnya akan roboh di tangan Tiang Bu dan kawankawannya,
kalau ia sudah dapat menewaskan Sin Hong, ia
sudah puas.
19
"Ha ha, Sin Hong. Kau dulu bukan kau sekarang dan
Liok Kong Ji dulu berbeda dengan Liok Kong Ji sekarang !"
ejeknya untuk memanaskan hati lawan.
"Tentusaja kau berbeda dengan dulu. Kau sekarang
lebih pengecut dan lebih keji." balas Sin Hong yang mengelak
dari sebuah pukulan lalu membalas dengan totokan kilat
dari ilmu silatnya Pak-kek Sinciang yang lihai. Akan tetapi
Liok Kong Ji sempat juga menangkis s ambil mengerahkan
tenaga dan sekali lagi dua lengan saling bentur dengan
hebat.
Baiknya Sin Hong adalah ahli tenaga dalam lm yang Sinkang.
Ia dapat menyalurkan tenaga kasar atau lemas
menurut kehendak hatinya dan dapat mengatur harus
mempergunakan tenaga apa untuk menyambut serangan
Kong Ji agar lukanya di dalam dada tidak bertambah parah.
Akan tetapi, setelah lima puluh jurus lewat dan keadaan
Liok Kong Ji be rtambah kuat dan ganas, Sin Hong yang
sudah menderita luka itu terpaksa mengakui bahwa ia
takkan dapat bertahan lebih lama lagi. Peluh telah
memenuhi dahinya dan ia maklum kalau pertempuran
tangan kosong ini dilanjutkan, ia akan menderita kekalahan.
Liok Kong Ji terlalu cerdik sehingga tidak mau mengadu
kecepatan ilmu silat, melainkan selalu mempergunakan Tinsan-
kang atau Hek-tok-ciang untuk mengadu tenaga dalam,
maklum bahwa lawannya sudah terluka parah.
"Kong Ji, hadapilah Pak-kek-sin-kiam yang akan
mengantar nyawamu ke dalam neraka !" Be rkelebat sinar
menyilaukan dan di lain saat pedang Pak-kek-sin-kiam
sudah berada di tangan Wan Sin Hong !
Liok Kong Ji tertawa berkelak. "Belum apa apa sudah
mengeluarkan pedang!” Iapun mencabut padangnya dan di
dalam otaknya terbayang sesuatu yang menyenangkan hati.
Kalau saja aku dapat merampas Pak-kek-sin-kiam, pikirnya.
Di antara mereka semua, yang paling harus dikhawatirkan
hanya Tiang Bu seorang. Yang lain-lain tak masuk hitungan,
20
kecuali Wan Sin Hong. Akan tetapi kalau aku berhasil
menewaskan Sin Hong dan me rampas Pak kek-sin-kiam,
aku sanggup menghadapi Tiang Bu dan terbukalah jalan
keluar ke arah pembebasan !
Dengan pikiran ini, Liok Kong Ji menggerakkan
pedangnya dan memegang pedang itu melintang di depan
dada. Ia memasang kuda-kuda miring dan matanya
memandang tajam ke arah lawan. Juga Wan Sin Hong sudah
memasang kuda-kuda, tangan kanan memegang pedang
melintang di depan, tangan kiri dimiringkan melintang dada
pula, seperti orang bersidekap. Sikapnya tenang, matanya
tajam waspada, akan tetapi peluh di keningnya menandakan
bahwa ia telah lelah.
Melihat dua orang musuh besar berdiri barhadapan
dengan pedang di tangan, diam tak bergerak laksana patung
itu, bagaikan dua ekor jago yang sedang menanti saat baik
untuk menerkam, benar-benar menegangkan hati. Semua
orang maklum bahwa keduanya siap untuk mengadu nyawa,
untuk menentukan siapa menang siapa kalah dengan aliran
darah.
Siok Li Hwa memberikan Leng Leng kepada Ang Lian dan
nyonya ini berdiri dengan kaki gemetar siap dengan senjata
rahasia Cheng-jouw-ciam ( Jarum Rumput Hijau ) di tangan
untuk melindungi suaminya apabila terancam bahaya maut.
Tiang Bu berdiri paling dekat, tegak dengan kedua kaki
terpentang dan kedua tangan tergantung di kanan ki ri,
setiap urat syarafnya pun siap untuk menolong Sin Hong
bila mana perlu. Adapun tiga orang kakek Huang-ho Sianjin,
Bu Kek Siansu dan Pang Soan Tojin berdiri menonton
dengan penuh ketegangan hati. Mereka bertiga maklum
bahwa dua orang yang berilmu tinggi dan sakti sedang
berhadapan untuk mengadu nyawa dan mereka sendiri tak
kuasa berbuat sesuatu karena tingkat mereka lebih rendah.
Kalau dulu, tentu Kong Ji merasa gentar menghadapi Sin
Hong dengan Pak-kek-sin-kiam di tangan. Pedang itu sendiri
21
sudah merupakan pedang pusaka yang ampuh apa lagi di
tangan Sin Hong yang menjadi ahli waris Pak-kek-sin-kiamhoat,
benar-benar merupakan lawan berat. Akan tetapi
sekarang Liok Kong Ji sudah mempelajari banyak ilmu
pedang yang ampuh-ampuh, di antaranya Soat-lian Kiamhoat
dan Soan-bong Kiam hoat, keduanya dari kitab-kitab
Omei-s an yang tentu saja mengandung ilmu pedang kelas
satu. Di s amping itu ilmunya sudah dipermasak oleh
pelajaran dalam kitab Delapan Jalan Utama.
Sampai lama dua orang lawan ini saling berhadapan
tanpa bergerak. Kemudian Kong Ji berkata mengejek, "Kau
memegang Pak kek sin-kiam, tentu saja kau dapat menang
dengan mudah mengandalkan ketajaman pedangmu. Anak
kecilpun bisa menang seperti itu.”
Watak Sin Hong adalah menjunjung tinggi kegagahan.
Biarpun ia maklum bahwa ucapan Kong Ji ini merupakan
siasat, akan tetapi mengandung kebenaran juga. Maka ia
menjawab.
"Jangan khawatir, aku takkan mematahkan pedangmu.
Kalau patah aku takkan menyerangmu, dan kau boleh
bergant i pedang. Seorang di antara kita akan mati dengan
pedang di tangan !”
Tentu saja ucapan ini amat menggembirakan hati Kong
Ji. Sekarang ia tidak takut lagi menghadapi Pak-kek-sinkiam
dan begitu Sin Hong menghentikan ucapannya, ia
mengeluarkan seruan seperti binatang menjerit dan
menerkam ke depan dengan tusukan kilat . Tusukan ini ia
susul dengan ujung pedang diguratkan ke atas menyerang
leher sehingga dalam segebrakan saja pedangnya telah
melakukan dua macam tusukan maut.
Sin Hong berlaku tenang. Ia mengelak dari tusukan
pertama dan tusukan ke dua ia tangkis dengan pedangnya
dimiringkan sehingga bagian yang tajam tidak merusak
pedang lawan. Biarpun demikian Kong Ji merasa padangnya
terge tar dan diam-diam ia mengaku bahwa ilmu pedang
22
lawannya ini benar-benar kuat. Ia lalu berseru keras dan
mulai mainkan Ilmu Pedang Soat -lian Kiam-hoat dari Omeisan.
“Huh, tak tahu malu. Ilmu curian dipakai bertempur !”
Tiang Bu mencela gamas. Tentu saja ia mengenal gerakangerakan
dari ilmu silat Omei-san dan dapat menduga bahwa
tentulah ilmu yang dipelajari dari kitab curian.
Adapun Sin Hong ketika menghadapi pedang ini, merasa
ada hawa dingin sekali menyusup tulang. Hawa ini timbul
dari sambaran pedang Kong Ji. Maklumlah ia bahwa inti dari
ilmu pedang ini berdasarkan tenaga Im-kang yang dalam,
sehingga hawa pukulan pedang mengandung hawa dingin
yang cukup dahsyat untuk merobohkan lawan yang
lweekangnya kurang kuat.
Menghadapi Soan-lian Kiam-hoat ini, terpaksa Sin Hong
juga mengerahkan Im-kangnya untuk menahan hawa dingin.
Dari Pak-kek sin-kiam juga menyambar hawa yang
dinginnya tidak kalah oleh hawa pedang Liok Kong Ji. Bukan
main hebatnya Im-kang dari dua orang jago tua ini sampaisampai
mereka yang menyaksikan pertempuran itu merasa
dingin sekali. Lee Tai dan Ang Lian yang ilmu kepandaiannya
paling rendah di antara mereka semua, sampai menggigil
kedinginan.
Setelah lewat tiga puluh jurus, Kong Ji merobah
permainan pedangnya dan sekarang pedangnya bergerak
bagaikan angin taufan lenyap menjadi gulungan sinar
pedang yang mendatangkan hawa panas sedangkan tangan
kirinya mulai melakukan pukulan Tin san-kang dan Hektok-
ciang secara gencar dan bertubi-tubi. Inilah Ilmu Pedang
Soan-hong Kiam- hoat, juga ilmu pedang yang ia curi dari
Omei-san, yang ia pelajari dari kitab yang dibawa oleh Lo
Chian-tung Cun Gi Tosu.
KembaliWan Sin Hong terpaksa harus mengubah
saluran lweekangnya, dan ia sekarang mengerahkan tenaga
Yang kang untuk melawan musuhnya. Ia dipaksa main adu
23
tenaga dalam oleh Liok Kong Ji yang cerdik dan diam-diam
Sin Hong mengeluh. Dalam ilmu pedang ia tidak mungkin
kalah oleh lawannya, akan tetapi kalau lawannya main adu
ilmu lweekang, ia payah oleh lukanya di dalam dada tadi Ia
sudah mulai merasa mual dan ingin muntah lagi, karena
luka di dalam dadanya yang terdesak oleh pergantian tenaga
itu kini menjadi makin parah.
Celakanya, ia tadi sudah berjanji takkan mematahkan
pedang Liok Kong Ji, maka ini berarti ia sudah kalah
selangkah. Percuma saja ia memegang pedang pusaka,
malah lebih baik memegang pedang biasa saja, tidak usah
menjaga agar pedangnya tidak menabas putus pedang
lawan.
Kong Ji makin bersemangat, menyerang mati-matian.
Terpaksa Sin Hong mengeluarkan ilmunya, pukulan Tin-sankang
yang menyambar datang ia tangkis dengan tenaga
lweekang sedangkan pedangnya membacok pundak Li Kong
Ji dengan gerakan miring, Kong Ji terkejut sekali dan
menangkis.
"Traang.......... .!” Pedang di tangan Liok Kong Ji putus
menjadi dua! Dia melompat mundur dan kesempatan yang
amat baik ini tak dapat dipergunakan oleh Sin Hong yang
sudah berjanji takkan mau mengambil kemenangan dengan
ketajaman pedangnya.
"Aku sudah tak berpedang lagi. Mari lanjutkan dengan
tangan kosong!” Kong Ji menantang, tahu bahwa dengan
tangan kosong akan ia akan lebih mudah memancing adu
tenaga untuk memperoleh kemenangan terakhir.
Dengan sikap tenang Sin Hong manyarungkan
pedangnya, agaknya s iap untuk melayani Kong Ji
selanjutnya. Siok Li Hwa melompat ke dekatnya dan berkata
perlahan penuh khawatiran.
"Kau sudah terluka, lebih baik mengaso dulu, biar yang
lain melayani jahanam ini.” Yang dimaksudkan dengan "yang
24
lain” tentu saja Tiang Bu, karena Li Hwa juga maklum
bahwa selain Tiang Bu atau suaminya, tidak ada yang akan
sanggup melawan Liok Kong Ji.
Kong Ji tertawa keras, "Ha-ha-ha! Wan Sin Hong,
nyonyamu khawatir kau akan mampus dalam pertandingan.
Lekas kau turut dia pulang dan sembunyi di kamar bersama
dia!”
Inilah hinaan hebat sekali. Tidak ada hinaan yang lebih
menyakitkan hati bagi seorang gagah dari pada dikatakan
takut mati dalam pertandingan. Memang sengaja Kong Ji
menghina demikian supaya Sin Hong merasa malu untuk
mengundurkan diri. Dan ia berhasil.
Sin Hong menyuruh iasterinya mundur, lalu mju
menghadapinya. "Kong Ji, jangan sombong. Aku bukan
orang yang takut mati, apa lagi takut padamu. Majulah !”
Sambil berseru ke ras Kong Ji menubruk, mengirimkan
pukulan dahsyat. Sin Hongmengelak dan membalas dengan
pukulan yang tak kalah hebatnya. Dua orang musuh lama
ini kembali bertempur hebat dengan tangan kosong. Daundaun
pohon rontok dan batu-batu kecil berhamburan
terkena sambaran hawa pukulan mereka.
Tiang Bu menonton penuh perhatian. Dari wajah Sin
Hong ia maklum bahwa pendekar itu benar-benar sudah
berkurang tenaganya, akan tetapi tadi ia melihat Sin Hong
mene lan tiga butir pil, maka ia mengerti bahwa luka di
dalam dada pendekar itu biarpun me lemahkan tubuh, tidak
berbahaya lagi. Ia percaya penuh akan kepandaian Sin Hong
mengobati luka sendiri.
Kong Ji juga tahu bahwa biarpun ia akhirnya dapat
menewaskan Sin Hong, namun ia harus lebih dulu
menghabiskan tenaga sendiri dan kalau terjadi pertempuran
terlalu lama, ia akan menjadi terlalu lemah untuk
menghadapi yang lain. Oleh karena itu ia segera mengambil
25
jalan nekat dan cepat. Soalnya bagi dia hanya dua, hidup
atau mati.
Pada saat Sin Hong menggunakan kepalan kanan
memukul dadanya, Kong Ji sengaja bar-laku lamban,
mengerahkan lweekang untuk menahan hawa pukulan
dahsyat itu, kemudian bagaikan ular menyambar, lengan
kirinya bergerak menangkap pergelangan lengan Sin Hong
dan membarengi saat itu memukulkan kepalan kanannya ke
arah kepala lawan.
Sin Hong terkejut sekali, tidak mengira bahwa lawannya
akan mengambil jalan nekat. Kalau ia menggunakan
pukulan kirinya, tentu Kong Ji akan tewas, akan tetapi dia
sendiri terancam oleh pukulan kanan lawannya yang
menyambar bagaikan geledek. Cepat ia mengambil jalan
yang sama karena untuk menyingkir tidak ada waktu lagi,
untuk menangkis masih berbahaya. Dengan gerakan tepat
tangan kirinya mencengkeram dan di lain saat pergelangan
lengan Kong Ji yang kanan juga dapat ia tangkap !
Dua orang jago tua yang lihai ini berdiri memasang kudakuda
teguh, berhadapan muka dan saling memegang
pergelangan tangan kanan lawan, saling mengerahkan
tenaga yang disalurkan melalui lengan tangan masingmasing!
Keadaan menjadi tegang sekali. Dua orang itu diam
tak bergerak seperti patung, akan tetapi urat-urat tangan
mereka menggeliat-geliat, dan tenaga dalam mereka sedang
saling dorong. Tak seorangpun di antara mereka berani
sembarangan melepaskan pegangan pada lengan lawan
karena siapa yang melepaskan pegangan lebih dulu berarti
mendapatkan pukulan lebih dulu pula.
Seperempat jam mereka berkutetan dan saling dorong
dengan tenaga dalam untuk merobohkan lawan. Baik
pergelangan tangan Sin Hong yang menjadi menghitam,
maupun pergelangan tangan Kong Ji yang menjadi biru,
terasa sakit sekali, namun tak seorangpun di antara mereka
yang mau mengalah. Kalau saja Sin Hong belum terluka di
26
dalamdadanya, tak mungkin Kong Ji dapat menang, karena
kalau Sin Hong selalu menyimpan dan memurnikan hawa
dalam tubuhnya, adalah Kong Ji yang menghamburkan
tidak karuan dengan jalan hidup menurutkan hawa nafsu
belaka. Akan tetapi Sin Hong sudah terluka berat dan dalam
usaha terakhir ini kembali ia muntahkan darah dari
mulutnya. Kong Ji mengerahkan seluruh tenaga, maklum
bahwa kemenangan sudah mendekat.
Siok Li Hwa yang melihat suaminya kembali muntahkan
darah, melompat dekat dan memukul Kong Ji dari be lakang.
Akan tetapi, pukulan yang mengenai punggung Kong Ji ini
seperti mengerai daging lunak dan akibatnya kuda-kuda Sin
Hong menjadi tergempur dan hampir saja ia melepaskan
pegangannya. Ternyata bahwa pukulan Li Hwa itu dapat
direrima dan disalurkan oleh Kong Ji, dipakai untuk
menambah tenaganya mendorong Sin Hong!
Melihat ini, Tiang Bu melompat dan menarik tangan Li
Hwa mundur. Kemudian ia sendiri maju di tengah- tengah
dan sekali kedua tangannya memukul, satu ke arah pundak
Sin Hong dan yang kedua ke arah pundak Liok Kong Ji. dua
orang jago tua ini tersentak ke belakang dan pegungan
mereka terlepas !
Sin Hong cepat menjatuhkan diri, duduk bersila untuk
mengatur pernapasannya, memul ihkan kembali hawa di
dalam tubuhnya yang sudah tidak karuan, membuat luka di
dadanya makin parah. Ia perlu beristirahat dan mengatur
pernapasannya untuk mengobati lukanya. Adapun Liok
Kong Ji yang tidak terluka, menjadi marah sekali melihat
Tiang Bu turun tangan,
“Kau curang..........” bentaknya sambil menyerang.
Akan tetapi Tiang Bu yang sudah menjadi gemas s ekali,
tidak mau banyak cakap lagi. Serangan pukulan dahsyat itu
ia tangkis dengan pengerahan tenaga secukupnya dan
akibatnya tubuh Kong Ji terpental ke s amping. Sebelum
Kong Ji sempat menyerang lagi, Tiang Bu sudah me loncat
27
dekat dan sekali tangannya menyambar ke arah pundak,
terdengar suara "kraak !” dan tulang pundak Kong Ji patahpatah!
Kong Ji mengeluarkan jeritan menyayat hati. “Aduuhh ....
kau.......... kau.......... anakku semdiri.........!”
Jeritan ini entah bagaimana membuat Tiang Bu terpukau
dan diam saja tak bergerak untuk sesaat. Saat Ini
dipergunakan oleh Kong Ji untuk menyebar jarum-jarum
Hek-tok-ciam dengan tangan kanan karena lengan kirinya
sudah lumpuh akibat remuknya tulang pundak kirinya.
Kemudian, selagi semua orang sibuk meluputkan diri dari
penyeraagan Hek-tok ciam, ia melarikan diri !
"Kejar,.. ..... !” Li Hwa be rseru.
Tanpa menunggu komando lagi Tiang Bu sudah dapat
menguasai dirinya dan cepat lari mengejar. Di tengah jalan
Kong Ji yang tak sanggup melepaskan diri dari kejaran Tiang
Bu yang jauh lebih gesit itu, membalikkan tubuh dan
kembali jarum-jarum hitam ia lepaskan ke arah Tiang Bu.
Dengan mudah Tiang Bu menyampok semua jarum dan
membentak,
"Iblis jahat. kau hendak lari ke mana ?”
"Tiang Bu, kau anakku...... betul-betulkah kau hendak
membunuhku…...... ?” Kong Ji me rayu sambll mendekat,
"Tutopmulnt.......... “
Mempergunakan kerempatan selagi Tiang Bu menjawab.
Kong Ji sudah memukul lagi dengan tangan kanannya,
memukul dengan Hek tok-ciang sekuat-kuatnya ! Ini
membuktikan sekali lagi betapa curang dan liciknya hati
Liok Kong Ji.
Tiang Bu terpaksa menangkis karena untuk menge lak
tidak ada waktu lagi. Saking marahnya ia mengerahkan
tenaga dalam tangkisannya dan ...... untuk kedua kalinya
tubuh Kong Ji terlempar. Kali ini ia terlalu keras terlempar,
28
sampai tubuhnya bergulingan dan kepalanya terbentur batu
hatu karang. Baiknya ia sudah bertubuh kebal sehingga
hanya mukanya saja babak belur dan berdarah, kalau tidak
tentu kepalanya akan pecah. Akan te tapi ia dapat bangun
lagi dengan cepat dan melarikan diri.
“Iblis, jangan lari!” Tiang Bu mengejar lagi.
Akan tetapi Kong Ji yang sudah tak dapat melihat jalan
ke luar, mulai merasa takut kepada puteranya sendiri. Rasa
takut membuat ia dapat lari cepat bukan main. Terpaksa
Tiang Bu mengerahkan ginkangnya untuk mengejar lebih
cepat lagi sampai Kong Ji tiba di tepi pantai yang amat
curam, penuh batu-batu karang.
Tiang Bu takut kalau Kong Ji dapat melarikan diri ke
laut, maka ia cepat memungut batu karang kecil dan
menyambit. Mendengar suara angin sambaran batu, Kong Ji
mengelak, akan tetapi ia tidak mengira bahwa batu ke dua
yang amat kecil sehingga tak menerbitkan suara datang
menghantam belakang lututnya, membuat ia terjungkal
roboh, tak kuasa mengelak lagi. Sebelum ia dapat bangkit
berdiri, Tiang Bu sudah berada di dekatnya dan pemuda itu
menginjak punggung Kong Ji dengan kakinya.
“Kau hendak pergi ke mana sekarang ?“
“Tiang Bu ......" Kong Ji terengah-engah, “Tiang Bu .....
kau anak kandungku ..... kau lepaskanlah ayahmu ini dan
aku bersumpah ..... ..mulai sekarang takkan berlaku jahat
lagi……. aku bersumpah akan menjadi pertapa mensucikan
diri .......... “
"Iblis, siapa pe rcaya mulutmu ? Bersiaplah untuk
mampus !"
"Tiang Bu ...... ingatlah, kalau tidak ada aku, kaupun
tidak berada di dunia ini .......... aku betul-betul sudah
bertobat. ...... ."
29
Bujuk rayu dan permintaan ampun ini sama sekali tidak
mempengaruhi hati Tiang Bu yang sudah te rlampau sakit
oleh perbuatan-perbuatan "ayahnya” yang seperti iblis ini. ia
membentak keras.
"Kau masih bisa bilang tentang tobat ? Mengapa kau
tidak ingat ketika kau mencemarkan ibuku? Ketika kau
membunuh-bunuhi orang-orang tidak bordosa, ketika kau
membuntungi lengan Bi Li? Kau harus membikin
perhitungan dengan mereka itu di alam baka! Liok Kong Ji,
bersiaplah kau untuk meninggalkan dunia ini!" Tiang Bu
mengerahkan tenaga dan injakannya makin kuat.
"Aahh.......... aaaup.......... ampun.......... Tiang Bu..........’
Tiang Bu tidak memperdulikan jeritan ini, akan tetapi
tiba-tiba terdengar bentakan keren berpengaruh dari sebe lah
be lakangnya.
“Tiang Bu, lepaskan dia !!”
Tiang Bu menengok dengan kaget dan alangkah
herannya melihat Wan Sin Hong dengan muka pasti berdirl
di belakangnya. sikapnya berpengaruh dan tegang. Di
be lakangnya datang anggauta-anggauta rombongan lainnya.
Saking herannya mengapa Sin Hong melarang dia
membunuh penjahat itu. Tiang Bu menurunkan kakinya
dari punggung Kong Ji membuat penjahat itu dapat
bernapas lagi. Terengah-engah dan mengerang-erang seperti
babi disembelih.
"Wan pek-pek, mengapa kau melarangku membunuh
lblis ini?"
"Kurena kau anaknya ! Kau boleh melawan
ke jahatannya, akan tetapi kau tidak boleh membunuh dia
begitu saja! Tak boleh kau mewarisi kekej ian hatinya. Ingat,
kau putera Gak Soan Li, seorang pendekar winita berpribudi
tinggi. Kalau kau membunuh dia dalam ke adaan begitu,
aku.......... aku akan membencimu selama hidupku!” Katakata
Wan Sin Hong ini terdengar penuh perasaan dan
30
be rpengaruh sekali, membuat Tiang Bu mundur dan
terkejut.
"Biarkan aku sendiri yang menamatkan hidupnya,
karena sesungguhnya hal itu adalah kewajibanku semenjak
aku masih muda dulu."
Akan tetapi pada waktu Wan Sin Hong berbicara dengan
Tiang Bu dan semua orang memperhatikan dua orang tokoh
ini, Liok Kong Ji sudah dapat me lompat bangun lagi. Me lihat
ia tak dapat mengharapkan keampunan lagi Kong Ji
melarikan diri ke pinggir batu karang yang curam.
“Kong Ji, kau hendak lari ke mana?” Sin Hong mengejar
sambil mencabut pedangnya. “Pak-kek-s in-kiam yang akan
menamatkan hidupmu !"
Akan tetapi Kong Ji tidak rela mati di tangan Sin Hong.
Dengan nekat ia lalu malompat ke depan dan…….. terdengar
air muncrat ke atas disusul oleh jerit mengerikan dari Liok
Kong Ji, Wan Sin Hong dan kawan-kawannya lari ke pinggir
batu karang, menjenguk ke bawah dan.......... pemandangan
di bawah amat mengerikan hati.
Jauh di bawah, kurang lebih dua ratus meter, kelihatan
Liok Kong Ji berkutetan dan bergumul mati -matian melawan
puluhan ekor ikan hiu yang mengeroyoknya. Baju dan
kulitnya sudah habis dikoyak-koyak ikan-ikan buas itu dan
salahnya dia melakukan perlawanan sehingga nyawanya
agak lama me layang. Saking bingung, takut dan sakitnya,
tiba-tiba Liok Kong Ji tertawa bergelak-gelak. Suara
ketawanya mengandung tenaga khikang yang luar biasa,
bergema di seluruh pe rmukaan air laut seperti suara ketawa
seorang iblis. Akan tetapi suara ini adalah suaranya yang
terakhir karena ia lalu lenyap disere t oleh ikan-ikan itu ke
dasar laut untuk dijadikan rebutan sampai habis seluruh
tubuh berikut tulang-tulangnya !
Sin Hong menarik napas panjang dan ketika ia
menengok, ia meiihat Tiang Bu menutupi mukanya, berdiri
31
bagaikan patung dengan muka pucat sekali. Ia tahu bahwa
pemuda ini pada saat terakhir masih insyaf bahwa manusia
yang dikejar-kejar dan kemudian mendapatkan kematian
secara begitu mengenaskan, betapapun jahatnya, adalah
ayahnya sendiri. Hal ini menyenangkan hati Sin Hong
karena pemuda ini masih mempunyai watak membakti
kepada orang tua. Di samping rasa senang ini juga amat
te rharu sampai ia berdiri dan memeluk pundak Tiang Bu.
“Tiang Bu, pandanglah aku sebagai ayahmu. Terus
terang saja, dahulu pernah aku suka kepada ibumu, rasa
suka yang jauh berlainan dengan rasa suka dalam hati Kong
Ji yang kotor.”
Mendengar ini, Tiang Bu memeluk Wan Sin Hong dan
menangis. Sekali ini Tiang Bu menangis sedih, mencurahkan
seluruh kesedihan hatinya karena ditinggal mati Bi Li dan
karena mempunyai ayah yang demikian jahat.
"Tiang Bu, kepandaianmu tinggi dan kau masih muda.
Masih luas dunia ini terbentang di bawah kakimu dan kau
masih akan dapat melanjutkan riwayat hidupmu yang
gemilang. Masih banyak kebabagiaan dapat kaucapai. Mari
kau ikut kami ke Kim-bun-to.........”
"Tidak, pek-pek. Terima kasih banyak atas kebaikan hati
pek-pek dan yang lain lain. Akan tetapi aku hendak kembali
ke Omei-san ......”
“Sesukamulah. Akupun dengan bibi dan adikmu akan
kembali ke Luliang-san, dan kuharap saja kelak kau suka
memberi bimbingan kepada Leng-ji.”
“Tentu, pek-pek. Kalau sudah tiba masanya, biarlah
siauwtit menurunkan apa yang telah siauwtit pelajari kepada
adik Leng Leng."
Dengan terharu mereka lalu berpisah Tiang Bu lebih dulu
meninggalkan pulau itu untuk kembali ke Omei-san, di
mana ia akan bertapa menjadi orang alim, sesuai dengan
janjinya kepada Bi Li. Adapun Wan Sin Hong lebih dulu
32
menghadiri pernikahan antara Ang Lian dan Ciu Lee Tai
yang dilakukan dengan amat meriah. Melihat Pek Lian yang
sudah memotong pendek rambutnya, diam-diam Wan Sin
Hong dan isterinya memuji kekerasan hati gadis ini. Mereka
adalah orang-orang be rpengalaman, maka mereka dapat
menduga apa yang telah terjadi antara Pek Lian den Tiang
Bu, karena Ang Lian adalah seorang gadis yang tidak dapat
menyimpan rahasia dan sudah menceritakan tentang cicinya
itu.
“Cinta se lalu memhawa korban,” kata Sin Hong menarik
napas panjang. "Biarpun ia diam saja, aku tahu bahwa Tiang
Bu patah hati karena kehilangan Bi Li sehingga ia ingin
kembali ke Omei-san untuk bertapa. Juga Pek Lian yang
mencinta Tiang Bu, tentu telah patah hati karena penolakan
pemuda itu sehingga be rsumpah takkan menikah selama
hidupnya dan hidup sebagai seorang laki laki. Mereka itu
patut dikasihani, anak anak yang baik sekali mengalami
nasib seburuk itu ...... "
Li Hwa tersenyum. "Pek Lian memang patut dikasihani.
Akan tetapi nasib orang siapa yang tahu? Kau juga dulunya
sama sekali tidak pernah mengimpi akan berjodoh dengan
aku, bukan ? Nah, siapa tahu kalau-kalau Pek Lian kelak
menemui jodohnya. Adapun tentang Tiang Bu........... belum
tentu dia menjadi pendeta..........”
"Hee? Apa maksudmu kau bilang begitu ? Mengapa kau
begitu yakin nampaknya?” tanya Sin Hong sambil
memandang wajah isterinya yang cantik.
"Kau mendekatlah agar aku dapat berbisik. Orang lain
tak boleh tahu.........”
Tersenyumkarena sifat berahasia is terinya ini, Sin Hong
mendekat. Li Hwa menempe lkan bibirnya di dekat telinga
Sin Hong berbisik-bisik.
33
Wajah Sin Hong berobah. Nampak gembira bukan main
sampai ia meme luk isterinya, dipondongnya dan dibawa
putar putar di dalam kamar.
"Bagus.......... ! Bagus.......... Ah, aku girang sekali.........!”
"Hush ...... turunkan aku.......... ribut-ribut kalau
membikin kaget sepasang pengantin bagaimana?" tegur Li
Hwa.
-oo(mch)oo-
Apa yang dibisikkan oleh Li Hwa kepada suaminya?
Marilah kita mengikuti perjalanan Tiang Bu yang tanpa
menunda-nunda lagi berangkat menuju ke Omei-san, tempat
pertapaan mendiang guru-gurunya. Ia sudah putus harapan,
sudah hampa hatinya karena ditinggal pergi Bi Li untuk
selamanya. Apa artinya hidup lagi baginya? Dia bukan
seorang pengecut untuk
menghabiskan hidupnya
begitu saja akan te tapi
iapun tidak ada nafsu lagi
untuk hidup di dunia
ramai. Ia akan bertapa,
memperdalam ilmunya,
menanti ajal mencabut
nyawanya dan
membawanya bersatu
kembali dengan Bi Li
kekasihnya.
Sesampainya di puncak
Omei-san, ia
membersihkan gua tempat
suhunya bertapa lalu
mengatur sembahyangan
secara sederhana.
Pertama-tama ia
34
menyembahyangi arwah kedua orang gurunya, lalu arwah
ibunya. Tak lupa ia menyembahyangi arwah ayahnya, Liok
Kong Ji, dan mendoakan supaya ayahnya itu mendapat
pengampunan di alam baka. Akhirnya ia bersembahyang
untuk arwah Bi Li dan ia tak dapat menahan kesedihannya
lagi, menangis di depan meja sembahyang seperti anak kecil .
“Bi Li, kalau kau ada kekuasaan, lekaslah ajak nyawaku
bersamamu. Aku tidak kuat lagi hidup seorang drri di dunia
yang penuh dengan kepalsuan ini," tangisnya sambil
mengeluh panjang pendek. Saking lelah dan duka, Tiang Bu
jatuh pulas di depan meja, mendekam di atas tanah yang
hangat dalam gua itu.
Dan Tiang Bu bermimpi. Ia melihat Bi Li dengan pakaian
serba putih sederhana numun bahkan membayangkan
keindahan wajah dan bentuk tubuhnya, berjalan
menghampirinya, dengan senyum manis dan mata berkacakaca
Bi Li dengan lengan sebelah masih buntung dengan
wajah yang agak kurus dan pucat, namun sepasang mata
yang jernih dan indah masih menyinarkan cinta kasih yang
amat mendalam.
"Tiang Bu, jangan berduka, aku sudah datang di
sampingmu,” demikian Bi Li berkata dengan suara merdu.
Di dalam mimpinya. Tiang Bu merangkul gadis
kekasihnya itu erat-erat.
“Bi Li, jangan kautinggalkan aku lagi"
"Tidak. Tiang Bu. aku takkan meninggalkanmu lagi,”
jawab Bi Li mesra.
Akan tetapi di dalam mimpinya, Tiang Bu melihat tubuh
Bi Li terlepas dari pelukannya dan terbawa angin taufan lalu
terjatuh ke dalam air laut yang bergelombang. Datang ikanikan
hiu mengeroyok Bi Li, persis seperti ketika tubuh Kong
Ji digerogoti ikan-ikan hiu buas itu. Ia mendengar Bi Li
menjerit -jerit seperti Liok Kong Ji pula, akan tetapi enehnya
jerit Bi Li ini bukan minta tolong seperti Liok Kong Ji
35
melolong kemudian tertawa mengerikan, melainkan Bi Li
memanggil-manggil namanya.
“Tiang Bu.......... ! Tiang Bu....! Sadarlah ……..”
Dan Tiang Bu sadar dari mimpinya. Ataukah ia masih
bermimpi? merasa tubuhnya dipeluk, kepalanya di atas
pangkuan dan pundaknya digoyang-goyang. Terdengar suara
Bi Li seperti dalam impian tadi.
"Tiang Bu .......... sadarlah.......... ahh. Tiang Bu, sudah
lama aku menanti di sini, jangan kau tinggalkan aku ......
Tiang Bu…….”
Tiang Bu membuka matanya dan di bawah sinar lampu
yang entah dari mana datangnya ia tak tahu, ia
melihat .......... Bi Li duduk di atas tanah, memangku
kepalanya dan gadis itu meneteskan air mata di atas
mukanya.
Tiang Bu menggigit bibirnya sendiri. Ia tidak berani
bergerak atau mengeluarkan kata-kata karena khawatir
kalau-kalau mimpi indah ini akan lenyap dan ia akan sadar
mendapatkan dirinya seorang diri dalam gua. Ia ingin
menikmati mimpi bertemu dengan Bi Li ini selama mungkin.
Melihat Tiang Bu sudah membuka mata akan tetapi diam
saja, Bi Li berkata,
“Tiang Bu, kenapa kau diam saja? Ini aku, Bi Li. Tidak
senangkah kau melihat aku di sini ?”
Tiang Bu kaget sekali ketika merasa betapa air mata yang
menitik turun dari mata Bi Li itu membasahi pipinya, benarbenar,
karena ketika ia meraba, pipinya sudah basah.
Serentak ia bangkit duduk dan memegang lengan Bi Li.
"Bi Li.......... tidak mimpikah aku.......... ?"
Bi Li menatap wajah kekasihnya dengan air mata
berlinang, lalu menggeleng kepala. "Tidak, Tiang Bu. Kita
dalam keadaan sadar. Aku berada di sampingmu, di puncak
Omei-s an."
36
"Bi Li.... " dada Tiang Bu berombak keras, wajahnya
pucat seperti kertas saking tegangnya peras aan hatinya.
"Bukankah.......... bukankah kau mat i dimakan ikan di laut
Pek houw-to ..... ?"
Bi Li mengambil tangan Tiang Bu dan diciumnya tangan
itu. "Tidak, Tiang Bu. Aku tidak mati, aku masih hidup dan
langsung ke sini untuk menantimu datang …….”
"Bi Li.......... ya Tuhan.......... kau betul -betul masih
hidup.......... ?" Tiang Bu tiba-tiba menjadi lemas dan.......
jatuh pingsan di atas pangkuan Bi Li.
Kegirangan yang tiba-tiba, yang amat keras berlawanan
dengan keputusasaan dan kedukaannya, merupakan
pukulan hebat bagi Tiang Bu, membuatnya roboh pingsan
untuk kedua kalinya. Tadipun ketika ia tertidur, ia
sebetulnya roboh pingsan sampai Bi Li datang dan
menyadarkannya.
Tentu saja Bi Li menjadi bingung, hanya dapat
memanggil-manggil nama Tiang Bu, memijit-mijit kepalanya
dan menyiram mukanya dengan air mata. Akhirnya Tiang Bu
siuman kembali. Begitu ia siuman, ia hanya dapat mame luk
Bi Li dan mendekap kepala gadis itu di dadanya sambil
meramkan mata dan memuji syukur kepada Thian Maha
Pengasih. Sampai lama keduanya berdiam seperti patung
dalam keadaan bagitu, hanya terdengar Bi Li te risak
pe rlahan dengan hati bahagia.
Setelah detak jantungnya normal kembali dan tenaganya
putih pula, baru Tiang Bu me lepaskan dekapannya,
memandangi wajah kekasihnya, membelai rambutnya penuh
kasih sayang, lalu bertanya.
"Aduh, Bi Li, kau benar-benar bisa membikin aku mati
ke girangan. Bagaimana kau bisa berada di sini? Aku melihat
kau jatuh ke dalam laut dan lenyap. Apakah ada jalan dari
dasar laut menembus ke sini?"
37
“Panjang ceritanya, Tiang Bu. Dan yang tahu akan hal ini
kiranya Pek Lian dan bibi Siok Li Hwa. Kemudian, sambil
menyandarkan kepalanya di dada Tiang Bu. Bi Li
mence ritakan pengalamannya seperti yang dice ritakan dalam
bisik-bisik oleh Siok Li Hwa kepada suaminya, Wan Sin
Hong.
Ternyata bahwa ketika Bi Li terseret oleh Liok Cui Kong
jatuh ke dalamlaut, kebetulan sekali lewat perahu yang
ditumpangi oleh Pek Lian dan Siok Li Hwa. Dua orang
wanita ini sedang melepaskan kekesalan hati menunggu di
pantai sambil sekalian meronda, kalau-kalau Liok Kong Ji
akan melarikan diri dari pulau itu.
Melihat Bi Li terseret jatuh oleh Liok Cui Kong. dua orang
Wanita itu segera menolongnya dan membiarkan Liok Cui
Kong habis dimakan ikan hiu. Bahkan mereka cepat-cepat
mendayung perahu itu ke daerah lain agar jangan melihat
kengerian itu.
Melihat bahwa yang menolongnya Pek Lian, Bi Li lalu
teringat akan sikap Pek Lian kepada Tiang Bu. Ia berpikir
bahwa Pek Lian memang jauh lebih cocok untuk menjadi
jadoh Tiang Bu. Gadis ini tidak hanya cantik jelila dan juga
gagah perkasa, malah kedua tengannva masih lengkap, tidak
buntung seperti dia. Di depan Siok Li Hwa, se cara terus
terang ia berkata,
"Aku mohon kepada adik Pek Lian dan bibi Li Hwa, agar
supaya hal diriku ini dirahasiakan dari siapapun juga. Aku
ingin dianggap sudah lenyap dan mati."
"Eh. mengapa begitu, enci Bi Li?" tanya Pek Lian
terheran.
Bi Li memandang ke arah lengannya yang buntung.
"Sebetulnya aku malu masih harus hidup di dunia ini. Aku
hidup hanya karena ingin membalas dendam. Sekarang Cui
Kong si keparat sudah mampus, dan Kong Ji tinggal menanti
saatnya saja. Aku minta bibi dan adik suka berjanji,
38
rahasiakan bahwa aku masih hidup. Sanggupkah menolong
aku orang malang ini?”
Pek Lian benar-benar tidak mengerti. Akan tetapi Li Hwa
yang sudah banyak pengalamannya, dapat menduga bahwa
Bi Li tentu mengalami hal yang amat menyedihkan dan ingin
dianggap mat i oleh seorang tertentu.
Mungkin Tiang Bu orang itu. Mengapa? Ia belum tahu
ke tika itu. Maka ia lalu memberi isyarat kepada Pek Lian
dan menyanggupi permintaan Bi Li.
"Selanjutnya kau hendak ke manakah? Atau hal ini juga
dirahasiakan dari kami ?"
Bi Li menjadi merah mukanya. "Memang aku orang
sengsara ji-wi sudah menolong nyawaku masih saja aku
memberi beban kepada ji-wi. Biarlah ji-wi ketahui bahwa
aku hendak pergi ke Omei-san dan bertapa di sana sampai
aku mati." Setelah berkata demikian, Bi Li lalu
menggunakan sebuah perahu pergi dari situ.
Ia benar-benar langsung menuju ke Omei-san dan
menanti Tiang Bu di sana. Ia hanya mempunyai dua pilihan.
Tiang Bu datang dan betul-betul pemuda itu tidak mau
menerima Pek Lain dan memilih menjadi pertapa itu berarti
pemuda itu betul-betul mencintanya sepenuh hati. Kalau
Tiang Bu tidak datang dan hidup bahagia dengan wanita
lain, ia rela menjadi pertapa di bukit itu.
Dan ternyata Tiang Bu datang, bahkan menyembahyangi
arwahnya ! Dapat dibayangkan betapa bahagia hatinya.
Demikianlah penuturan Bi Li kepada Tiang Bu, juga
penuturan Li Hwa kepada Sin Hong tentu saja dengan cara
lain dan pandangan lain.
"Bi Li," kata Tiang Bu. "Mengapa kaulakukan semua itu ?
Mengapa kau ingin pergi meninggalkan aku dan
membiarkan aku me rana dan berduka, mengira kau sudah
tewas ?”
39
Sambil menyembunyikan mukanya di dada kekasihnya,
Bi Li berkata,
“Aku memberi kesempatan kepadamu memilih Pek Lian,
biar aku menjadi pertapa yang selalu mendoakan untuk
kebabagiaanmu di s ini ...... "
Tiang Bu mencium kepala kekasihnya. "Bi Li, jadi kau
...... kau waktu itu cemburu.......... ?"
Tanpa mengangkat muka, Bi Li berkata li rih, "Cemburu
sih ada sedikit, akan tetapi terutama untuk menguji sampai
di mana besarnya cinta kasihmu, apakah sebesar cinta
kasihku kepadamu…….."
Tiang Bu hanya dapat mendekap kepala kekasihnya
dalam kebahagiaan yang hanya dia sendirilah yang tahu.
Sementara itu, bulan muncul dari balik awan, berseri
menyaksikan pertemuan kembali antara dua orang kekasih
yang penuh kasih mesra itu. Angin gunungpun bersilir,
menerjang memasuki gua untuk membe lai dua orang muda
remaja yang sedang dibuai asmara itu.
Sampai di sini tamatlah cerita Pek lui-eng ini dan
berakhirlah pula kejahatan-kejahatan dan kekejian dari Liok
Kong Ji dan kaki tangannya. Thian Maha Adil, betapa pun
pandai orang seperti Liok Kong Ji itu bermuslihat, akhirnya
orang jahat akan menemui hukumnya. baik di dunia
maupun di akhirat.
Inilah kodrat Tuhan, inilah keadilan Thian, pasti dan tak
dapat dibantah pula, seperti pas tinya siang dan malam. Oleh
karena itu, setiap orang manusia harus selalu mengemudi
nafsunya, harus selalu menguasai dirinya, menjauhkan
kejahatan sedapat mungkin, dan memupuk kebajikan
sebanyak mungkin, kalau dia hendak mendapat
kebahagiaan dinia akhirat !
TAMAT
Tag:cersil cersil indo cersil mandarin full cerita silat mandarin online cersil langka cersil mandarin lepas cerita silat pendekar matahari kumpulan cerita silat jawa cersil mandarin beruang salju. cerita silat pendekar mataharicerita silat indonesia cerita silat kho ping hoo cerita silat mandarin online cerita silat mandarin full cerita silat jawa kumpulan cerita silat cerita silat jawa pdf cerita silat indonesia gratis cerita silat jadul indonesia cerita silat indonesia pendekar rajawali sakti cersil indonesia pendekar mabuk cersil langka cersil dewa arak cerita silat jaman dulu cersil jawa download cerita silat mandarin full cerita silat mandarin online cersil mandarin lepas cerita silat mandarin pendekar matahari cerita silat jawa pdf cersil indonesia pdf cersil mandarin beruang salju kumpulan cerita silat pdf
kumpulan cerita silat cersil online
Share:
cersil...
Comments
0 Comments

Arsip Cersil

Best Cersil

Pecinta Cersil