Donasi

Buat yang punya rejeki berlebih dan merasa terhibur dengan Situs Cerita Silat Cersil Terbaik ini bisa mendonasikan bantuannya ke
No. Rekening BPD Jateng No. 2004084554 a.n Ali Afif
demi keberlangsungan dan keberadaan Blog Cersil Cerita Silat yang sama-sama kita cintai ini. Kritik dan Saran hub No HP.083837358519. Atas Bantuannya disampaikan Terimakasih.

Kamis, 19 April 2018

Cerita Silat Rajawali Emas 2

----
baca juga
"Hemmm, jadi kau ini Bi Goat, dara baju merah yang dulu gagu itu?" tanya Kwa Hong, suaranya mengejek
dan pandang matanya menyapu Bi Goat dari atas ke bawah.
Kini Bi Goat mulai curiga. Pandang matanya tajam menyelidik. "Kau siapakah dan apa keperluanmu datang
ke Puncak Min-san ini?"
"Heh, kau sudah lupa kepadaku. Aku Kwa Hong..."
"Ohhh, murid Hoa-san-pai?"
"Bodoh! Ketua Hoa-san-pai, bukan murid! Aku datang mencari Beng San. Mana dia?"
"Sudah kukatakan tadi, dia sedang pergi." Bi Goat mulai tak senang hatinya.
"Aku mencari Beng San, bukan suamimu."
"Beng San adalah suamiku!" jawabnya Bi Goat sekarang agak ketus.
Kwa Hong tersenyum mengejek, lalu melirik ke arah perut Bi Goat. Dia bertanya penuh ejekan, "Berapa
bulan kau mengandung?"
"Heee?! Kenapa...?" Wajah Bi Goat menjadi merah sekali. Kalau dia tidak ingat bahwa yang mengajukan
pertanyaan ini pun sedang mengandung, tentu ia akan menjadi marah. "Sudah enam bulan, mengapa?"
Kembali Kwa Hong tersenyum mengejek. "Seharusnya tadi kau bilang baru enam bulan, bukannya sudah
enam bulan. Jadi baru enam bulan, kan? Lihat kandunganku ini sudah sembilan bulan! Mana lebih dulu?
Sebelum menjadi suamimu, Beng San sudah menjadi ayah dari anak yang kukandung ini, tahu?"
Seketika wajah Bi Goat menjadi amat pucat. Ucapan Kwa Hong itu betul-betul merupakan pedang yang
menusuk tembus jantungnya. Gemetar seluruh tubuhnya dan suaranya pun menggigil ketika ia berseru,
"Kau... kau bohong...!"
Kwa Hong memperlebar senyumnya. "Kalau tak percaya kau tanyakan saja kepada Beng San. Hayo, mana
dia? Panggil dia keluar, dia harus menyaksikan kelahiran anaknya..." Tiba-tiba Kwa Hong mengeluh sambil
memegangi perutnya.
"Dia sedang pergi... hee, bagaimana ini? Kau kenapa, Cici...?"
Bingung juga Bi Goat melihat Kwa Hong tiba-tiba terhuyung dan tentu sudah roboh kalau tidak cepat dia
tangkap lengannya. Dia melihat wajah Kwa Hong pucat sekali, mulutnya merintih-rintih dan keadaannya
hampir pingsan.
Memang pada dasarnya Bi Goat seorang yang berhati mulia. Biar pun ia tadi marah sekali dan
perasaannya seperti ditusuk-tusuk mendengar ucapan Kwa Hong, akan tetapi melihat keadaan nyonya
muda yang akan melahirkan itu dia menjadi tidak tega dan cepat-cepat menolong.
"Biarlah... aku... aku harus melahirkan... di tempat tinggal... Beng San...," demikian Kwa Hong mengeluh
perlahan ketika siuman.
Sementara itu, Bi Goat sudah berseru memanggil para pelayannya dan Kwa Hong lalu digotong masuk ke
dalam rumah. Karena dia sendiri sedang mengandung, maka Bi Goat memang sudah mengundang
seorang wanita tua yang ahli menolong orang beranak dan yang disuruh tinggal di rumahnya. Maka Kwa
Hong dapat menerima pertolongan yang cepat.
Dalam keadaan setengah sadar saking menahan sakit, Kwa Hong mengigau dan bercerita kepada Bi Goat
tentang hubungannya dengan Beng San dulu, juga tentang pertemuannya yang terakhir. Semua
diceritakan oleh Kwa Hong sehingga Bi Goat yang mendengarkan ini hanya dapat menangis dengan hati
hancur.
dunia-kangouw.blogspot.com
Dia amat mencinta Beng San, sejak dahulu ia mencinta Beng San dengan seluruh jiwa raganya. Ia tidak
rela kalau Beng San membagi cintanya dengan wanita lain, maka dapat dibayangkan betapa hebat dan
parah luka yang ditimbulkan oleh penuturan Kwa Hong ini di dalam hatinya.
Pada tengah malam hari itu, dari dalam rumah Bi Goat terdengarlah suara pertama dari seorang bayi yang
baru saja terlahir. Tangisnya memecahkan kesunyian malam, nyaring melengking. Tangis seorang bayi
laki-laki yang montok dan sehat.
Tidak lama kemudian terdengar lengking lain susul-menyusul menjawab tangis bayi ini, suara lengking
tinggi yang datangnya dari atas rumah. Itulah suara lengking rajawali emas yang menanti munculnya Kwa
Hong sambil mendekam dl atas wuwungan genteng rumah itu. Entah mengapa binatang itu melengking,
mungkin karena tangis bayi itu hampir sama dengan suaranya sendiri.
Meski pun hatinya hancur, siang malam Bi Goat menunggui Kwa Hong dan merawatnya dengan baik.
Sepekan kemudian Kwa Hong sudah sembuh. Dia menggendong anaknya dengan penuh kasih sayang,
lalu ia keluar dari rumah itu memanggil rajawali emas.
Burung itu yang mulai tak sabar dan setiap hari berkaok-kaok di depan rumah, menjadi girang sekali dan
menyambar turun. Bi Goat yang berwajah pucat sekali mengikuti Kwa Hong dari belakang.
"Cici Hong, kau baru sepekan melahirkan, jangan pergi dulu...," katanya menahan.
Akan tetapi Kwa Hong tidak peduli. Ia membawa anaknya melompat ke arah punggung rajawali, lalu
berkata, "Katakan kepada Beng San kalau dia pulang, bahwa aku tidak bisa membunuhnya karena kalah
kuat, dan aku juga tak bisa membunuhmu karena kau telah menolongku ketika aku melahirkan. Akan tetapi
kelak anak inilah yang akan membunuh Beng San, kau dan semua anak anak dan keluargamu!"
Setelah berkata demikian, Kwa Hong menepuk-nepuk leher rajawali emas yang segera melengking tinggi
dan melesat, terbang ke atas dengan cepat sekali. Untuk beberapa lama Bi Goat berdiri bengong,
kemudian dia mengeluh dan tubuhnya menjadi lemas. Dia roboh pingsan di depan pintu rumahnya! Para
pelayan segera mengejar keluar dan sibuk menolong nyonya muda yang menderita kehancuran hati ini.
Bi Goat jatuh sakit dan semenjak hari itu ia tidak kuat lagi bangun dari tempat tidurnya. Badannya panas
dan setiap kali panasnya naik, dia selalu mengigau menyebut-nyebut nama suaminya dan Kwa Hong.
Setiap kali ia berusaha untuk tidak mempercayai semua omongan Kwa Hong, namun hal itu amat sukar
baginya.
Diharap-harapkan kedatangan suaminya supaya dia dapat bertanya mengenai Kwa Hong. Pengharapan
bahwa suaminya akan menyangkal semua itu merupakan sinar kecil yang masih menerangi hatinya, penuh
harapan. Akan tetapi, suaminya tidak kunjung pulang, malah ayahnya yang mencari dan menyusul
suaminya itu, belum juga pulang.
Dua bulan ia jatuh sakit itu, sementara kandungannya makin besar, sudah delapan bulan lamanya dia
mengandung. Pada suatu sore, datanglah Song-bun-kwi Kwee Lun. Bi Goat yang sudah agak kuat segera
turun dari tempat tidurnya dan keluar meyambut.
"Ayah, mana dia? Mana Beng San...?" tanyanya dengan nada suara penuh harapan.
Kwee Lun kaget sekali melihat puterinya menjadi begini kurus dan wajahnya begini pucat. "Bi Goat, kau
kenapakah? Sakitkah kau? tanyanya gugup sambil melangkah maju.
"Ayah, mana suamiku? Mana Beng San-koko?" Bi Goat tidak mempedulikan pertanyaan ayahnya, tapi
mendesak menanyakan suaminya.
Terpaksa Kwee Lun menjawab, "Aku tidak dapat menjumpai dia. Kabarnya dia ke utara, mungkin terlibat
lagi dalam urusan pemberontakan terhadap kaisar baru. Ahhh, anak itu memang tak tahu diri!"
Kekecewaan hebat merupakan palu godam yang menghantam pertahanan terakhir di hati Bi Goat.
Matanya terbelalak, kemudian tertutup dan tubuhnya limbung. Cepat Kwee Lun merangkul dan ayah yang
gelisah dan keheranan ini segera memondong tubuh puterinya, dibawa masuk ke dalam kamar Bi Goat.
dunia-kangouw.blogspot.com
Dengan suara parau Kwee Lun memanggil pelayan-pelayan yang segera berlari-larian mendatangi,
memaki-maki mereka yang dikatakan tidak melayani Bi Goat sebaiknya.
Setelah siuman kembali Bi Goat hanya menangis terus, tidak mau menjawab pertanyaan ayahnya. Dan
pada malam itu juga Bi Goat melahirkan kandungannya yang belum penuh sembilan bulan itu. Kelahiran
yang sukar sekali, membuat nenek yang membantunya bermandikan peluh, para pelayan kebingungan dan
semua ini membuat Kwee Lun yang menjaga di luar kamar menjadi makin gelisah.
Beberapa kali Bi Goat pingsan dan kalau sudah siuman ia memanggil-manggil nama Beng San, mengeluh
tak kuat lagi. Akhirnya menjelang pagi lahirlah bayi dalam kandungannya. Tangisnya keras sekali,
membuat Kwee Lun melonjak kaget dari tempat duduknya. Lalu bagaikan gila kakek ini lalu mendorong
pintu kamar untuk segera melihat wajah cucunya. Apa yang ia lihat?
Ia berdiri tegak bagai patung raksasa. Mukanya pucat, matanya melotot selebar-lebarnya, bukan
memandang kepada bayi laki-laki yang bergerak-gerak dan menangis hebat itu, melainkan ke atas ranjang,
memandang kepada Bi Goat yang telentang tak bergerak, dengan mata setengah terbuka dan mulut
menyeringai kesakitan, wajah yang putih dan mata yang tidak bersinar lagi karena berbareng dengan
lahirnya bayinya ibu muda yang malang ini telah ditinggalkan nyawanya.
Untuk beberapa lama Song-bun-kwi Kwee Lun berdiri tegak dengan muka pucat, telinga seperti tuli tidak
mendengar suara tangis bayi yang bercampur dengan suara tangis para pelayan, tidak melihat betapa
nenek pembantu kelahiran itu sangat sibuk membersihkan bayi kemudian membungkusnya dengan kain
putih bersih.
Akhirnya tampak air mata berkumpul di pelupuk mata tua itu, lalu setetes demi setetes air mata itu mengalir
turun. Bibir kakek itu bergerak-gerak, lalu terdengar suaranya parau, "Bi Goat... kenapa kau mati...? Habis
aku bagaimana..." Berulang-ulang kalimat ini keluar dari mulutnya, kemudian ia menubruk maju dan kakek
ini lalu menangis menggerung-gerung sambil memeluki mayat Bi Goat.
Sampai lama ia menangis bagai anak kecil. Saat ia mengangkat kembali mukanya yang menjadi basah air
mata, matanya merah dan mengerikan. Ia sudah berhenti menangis secara tiba-tiba, lalu ia memandang ke
sana ke mari, menyapu ruangan itu dengan sinar matanya yang beringas.
Ketika ia melihat nenek pembantu kelahiran yang duduk di pojok dengan ketakutan, ia melompat maju dan
sekali terkam nenek itu sudah diangkatnya lalu dibantingnya ke lantai. Sekali banting saja nenek itu tidak
berkutik lagi, kepalanya pecah dan nenek yang malang itu tewas tanpa dapat bersambat lagi, Song-bunkwi
Kwee Lun makin beringas, matanya liar.
"Ampun, Lo-ya (Tuan Tua)... ampun… hamba semua tidak berdosa. Nyonya muda jatuh sakit setelah
kedatangan seorang nyonya yang mengaku bernama Kwa Hong dan yang melahirkan anak di rumah ini.
Menurut pengakuannya, Nyonya Kwa Hong itu adalah isteri pertama Siauw-ya (Tuan Muda)... eh, bukan
isteri... hubungan di luar nikah... datangnya menunggang rajawali emas, mengerikan sekali, Lo-ya...
semenjak itulah Nyonya Muda lalu jatuh sakit..."
Mendengar ini, Kwee Lun mengeluarkan suara menggereng bagai seekor binatang buas, lalu terdengar
suaranya, "Beng San, keparat kau... mampus kau olehku...!"
Tubuhnya yang tinggi besar itu bergerak lagi, kini sekali sambar ia telah mencengkeram buntalan kain yang
terisi bayi yang masih menangis nyaring itu. Bukan main tangis bayi itu, seakan-akan dalam kelahirannya
sekaligus ia menangisi kematian ibunya. Begitu lahir anak ini sudah harus menghadapi kematian ibunya.
Betapa memilukan.
"Mampus kau...! Mampus kau...!" Kwee Lun mengangkat buntalan itu tinggi-tinggi seperti hendak
membantingnya!
"Lo-ya..., ampunkan anak itu yang tidak berdosa..."
"Lo-yaaaa, ampun...!"
"Jangan, Lo-ya, jangan...!" Para pelayan itu menjerit-jerit.
dunia-kangouw.blogspot.com
Jerit tangis pelayan ini seakan-akan menyadarkan Kwee Lun, matanya tidak lagi menatap buntalan,
melainkan liar menyapu ke kanan kiri, kemudian terdengar ia menggereng dan tubuhnya berkelebat lenyap
dari situ. Kakek itu lari keluar dan turun gunung membawa buntalan bayi, cucunya yang baru saja lahir!
Tidak ada jalan lain bagi para pelayan itu kecuali mengurus jenazah Bi Goat dan nenek bidan itu. Dengan
bantuan penduduk kampung di kaki bukit yang mereka mintai bantuan, dua jenazah itu dikuburkan di
belakang rumah dengan upacara sederhana. Para pelayan itu hanya dua yang tinggal untuk mengurus
rumah dan menanti kembalinya Beng San…..
********************
Rencana yang baru saja dirundingkan oleh utusan Raja Muda Lu Siauw Ong dan Ho-hai Sam-ong, benarbenar
dilaksanakan oleh dua golongan yang haus akan kedudukan dan berusaha menggulingkan
kekuasaan kaisar baru, Thai Cu.
Mereka ini benar-benar terlalu percaya kepada kekuatan sendiri sehingga biar pun rahasia mereka itu telah
diketahui oleh Li Cu dan Beng San yang sudah berhasil meloloskan diri, akan tetapi tetap saja mereka
melanjutkan rencana itu. Mereka berhasil mengumpulkan banyak sekali pasukan bajak dan perampok, juga
pihak Raja Muda Lu Siauw Ong yang bertugas merampas tahta selagi Kaisar pergi, berhasil menghasut
pasukan besar tentara.
Pada hari yang telah ditentukan, rombongan Kaisar Thai Cu berangkat meninggalkan kota raja menuju ke
utara, yaitu ke kota raja lama di Peking. Rombongan ini dikawal ketat oleh sepasukan tentara pilihan, yaitu
para pengawal pribadi kaisar.
Sebagai seorang bekas panglima perang, Kaisar Thai Cu tidak merasa gentar melakukan perjalanan jauh
ini walau pun dia sudah tahu akan adanya banyak golongan yang tidak suka kepadanya karena tidak diberi
kedudukan tinggi seperti yang mereka inginkan. Akan tetapi sama sekali Kaisar ini belum tahu akan siasat
busuk yang direncanakan oleh Ho-hai Sam-ong dan Raja Muda Lu Siauw Ong yang sudah bersekongkol
itu.
Di sepanjang jalan rakyat dusun menyambut Kaisar baru itu dengan meriah. Tampaknya rakyat amat
mengagumi Kaisar yang telah berhasil membebaskan negara dari penjajahan bangsa Mongol itu. Orangorang
bersorak memberi hormat, di mana-mana rombongan Kaisar disambut tari-tarian daerah. Malah
setiap dusun tentu mengutus orang-orang muda yang gagah perkasa untuk mengiring rombongan ini
sampai di dusun lain, lalu diganti oleh para muda dusun ini, demikian seterusnya.
Kaisar amat gembira dengan ini semua. Kaisar menyangka bahwa hal itu memang sudah semestinya
karena rakyat merasa sangat gembira dapat terbebas dari penjajahan. Sama sekali Kaisar ini tidak tahu
bahwa biar pun sudah terbebas dari pada penjajahan Mongol, sesungguhnya rakyat kecil apa lagi para
petani masih sama sekali belum bebas dari pada belenggu penjajahan para tuan tanah yang kadang kala
malah lebih keras dan kejam dari pada penjajah Mongol sendiri!
Juga Kaisar ini tidak tahu bahwa sebagian besar dari para pengiring ini, yang terlihatnya sebagai orangorang
kampung, sebenarnya adalah orang-orang gagah dari Pek-lian-pai dan para bekas pejuang yang
setia kepadanya. Mereka ini anak buah dari Tan Hok yang sudah diatur sedemikian rupa sehingga
rombongan Kaisar selalu terkawal anak buahnya. Malah masih banyak lagi orang yang mengawal secara
sembunyi, ada yang mendahului rombongan, dan ada pula yang mengiring dari jauh di belakangnya.
Tan Hok memang hebat. Raksasa ini semenjak berkecimpung dalam perjuangan ternyata sudah makin
matang sebagai seorang pemimpin dan pengatur siasat yang ulung. Secara cepat sekali, sesudah dia
mendengar penjelasan dari Beng San tentang persekongkolan antara Beng Kui dan Ho-hai Sam-ong, ia
pergi ke kota raja dan bersama para panglima pasukan yang setia kepada Kaisar itu lalu berunding dan
membuat rencana.
Cepat sekali dia menyiapkan pasukan Pek-lian-pai dan kawan-kawan seperjuangan yang terpilih, yaitu
orang-orang yang memiliki kepandaian cukup tinggi, untuk secara diam-diam mengiringi, mengawal atau
melindungi rombongan Kaisar yang hendak pergi ke utara.
Juga Beng San sendiri ia serahi tugas yang paling berat, yaitu mengawal Kaisar secara sembunyi. Tan Hok
maklum akan kelihaian Beng San, maka tugas penting ini ia serahkan kepada Beng San, sedangkan ia
dunia-kangouw.blogspot.com
sendiri perlu mengatur pasukan gabungan di kota raja untuk menindas dan menggempur pemberontakan
dari dalam yang hendak dilakukan oleh Raja Muda Lu Siauw Ong.
Pada saat Kaisar menggunakan perahu naga menyeberangi Sungai Huang-ho, keadaan di sungai juga
ramai bukan main. Para nelayan seakan-akan datang dari segenap penjuru untuk mengelu-elukan kaisar
baru ini. Juga di sini Kaisar tidak tahu bahwa para nelayan ini sebagian besar adalah anggota-anggota
Pek-lian-pai, malah ada pula beberapa orang anak buah Ho-hai Sam-ong yang menyelinap, dan ada
beberapa orang pembunuh datang untuk mencari kesempatan baik menghabiskan nyawa Kaisar Thai Cu!
Maka, amat kagetlah Kaisar dan para pengiringnya ketika perahu sampai di tengah sungai di kanan kiri
perahu tiba-tiba timbul enam mayat di permukaan air. Mayat-mayat ini adalah mayat orang-orang yang
tadinya berusaha melubangi perahu dengan jalan menyelam di bawahnya.
Namun anak buah Tan Hok yang waspada dan memang sudah dipilih ahli-ahli dalam air, telah mengetahui
akan hal ini dan cepat mereka itu pun menyelam. Terjadi pertandingan di bawah perahu, di dalam air yang
amat hebat tanpa diketahui oleh mereka yang berada di permukaan air.
Tahu-tahu mayat para penjahat itu timbul di permukaan air mengagetkan semua orang. Kaisar buru-buru
memerintahkan agar perahu dipercepat penyeberangannya.
Sesudah sampai di seberang Sungai Huang-ho sebelah utara dan rombongan memasuki sebuah hutan
yang amat lebat, mulailah terjadi penyerangan yang dilakukan oleh Ho-hai Sam-ong dan pasukannya yang
sudah beberapa hari menghadang di tempat ini. Tiba-tiba terdengar sorak-sorai bergemuruh dan pasukan
bajak dibantu oleh pasukan mereka yang tak puas melihat Cu Goan Ciang menjadi Kaisar, lantas
berserabutan keluar dari tempat persembunyian dengan senjata di tangan.
"Bunuh Ciu Goan Ciang!"
"Seret Kaisar lalim!"
Demikianlah ucapan-ucapan yang ditujukan kepada Kaisar. Mulailah terjadi pertempuran hebat antara para
penyerbu dan para pengawal Kaisar. Makin lama semakin banyaklah penyerbu. Kaisar sendiri tampaknya
tenang-tenang saja karena semenjak penyeberangan tadi tidak memperlihatkan diri, terus bersembunyi
saja di dalam tandunya yang sekarang terpaksa diturunkan dan dilindungi oleh beberapa orang pengawal
pribadi.
Tiba-tiba Ho-hai Sam-ong sendiri, tiga orang kepala bajak yang lihai itu, meloncat ke dekat tandu Kaisar ini.
Mereka memang sengaja mengincar Kaisar dan hendak turun tangan sendiri.
Melihat tandu dengan tanda pangkat Kaisar, serta bendera berkibar di atasnya, Ho-hai Sam-ong girang
sekali. Mereka mengeluarkan tanda suitan. Lalu bermunculan Hek-hwa Kui-bo, Kim-thouw Thian-li, dan
masih banyak lagi kepala rampok dan orang-orang dari golongan hek-to (jalan hitam) datang menyerbu ke
tempat itu.
Para pengawal pribadi dengan gigih menyambut serbuan orang-orang ini, namun dalam beberapa
gebrakan saja robohlah belasan orang pengawal. Lui Cai Si Bajul Besi sendiri dengan sebuah loncatan
meninggalkan kawan-kawannya yang sedang menandingi para pengawal pribadi itu, langsung mendekati
tandu. Senjatanya berupa dayung baja yang besar berat itu sudah diayunnya, mulutnya berseru,
"Ha-ha-ha-ha, Ciu Goan Ciang! Lihat baik-baik, ini Lui Cai datang untuk menghancurkan kepalamu!"
Tiba-tiba kain tenda dari joli itu terbuka dan keluarlah seorang laki-laki tua dengan tubuh menggigll dan
muka pucat. Tangan Lui Cai yang memegang dayung gemetar, ia berteriak sambll melangkah mundur.
Kiranya orang yang berada di dalam joli itu bukanlah Kaisar, melainkan seorang yang menyamar sebagai
Kaisar dan memakai pakaian kaisar!
"Celaka...!" serunya dengan muka pucat. "Kita telah terjebak... dia bukan Kaisar!"
Sementara itu, para pengawai pribadi Kaisar amat repot menghadapi amukan para kepala bajak yang
dibantu oleh Hek-hwa Kui-bo dan Kim-thouw Thian-li yang ganas. Akan tetapi tiba-tiba terlihat bayangan
merah berkelebat cepat didahului sinar pedang yang gemilang.
dunia-kangouw.blogspot.com
Robohlah beberapa orang penjahat seperti alang-alang dibabat. Dalam waktu singkat saja pengamuk ini
sudah berhadapan dengan Ho-hai Sam-ong serta dua orang pembantunya yang paling dahsyat bersama
sepuluh orang lagi kepala rampok.
"Ho-hai Sam-ong, kalian benar-benar ingin mampus!" teriakan yang nyaring tetapi merdu terdengar
lantang.
Kiranya yang muncul ini bukan lain adalah Cia Li Cu yang sebenarnya sudah sejak tadi mengamuk di
sebelah luar hutan untuk menerjang masuk. Seperti diceritakan di bagian depan, Li Cu juga sudah
mendengar semua rencana busuk yang diatur oleh Beng Kui dan Ho-hai Sam-ong, maka cepat-cepat gadis
ini pulang menemui ayahnya dan menceritakan semua yang dia alami, kecuali pengalamannya dengan
Beng San!
Sebagai seorang patriot berjiwa besar, Bu-tek Kiam-ong Cia Hui Gan marah bukan main mendengar
bahwa muridnya yang pertama, murid yang dicintanya dan malah yang akan menjadi mantunya, telah
menyia-nyiakan Li Cu. Hal ini masih belum berapa hebat seperti ketika dia mendengar bahwa Beng Kui
hendak berkhianat.
Wajahnya menjadi merah, matanya berkilat-kilat. Dia lalu menyuruh Li Cu berangkat lagi untuk melindungi
Kaisar secara diam-diam, sementara dia sendiri pergi menuju ke kota raja untuk berhadapan dengan Beng
Kui, muridnya.
Demikianlah, Li Cu segera melakukan perjalanan cepat dan kedatangannya tepat sekali pada saat para
pemberontak itu menyerbu ke dalam peperangan. Dia mengamuk dengan pedang pendek Liong-cu-kiam
yang tajam dan ampuh.
Ketika Ho-hai Sam-ong melihat Li Cu, mereka menjadi marah sekali. Lui Cai melompat maju dan memaki,
"Siluman cilik! Tentunya kau yang sudah membuka rahasia dan Kaisar sekarang sengaja bersembunyi.
Kaulah yang bosan hidup, sekarang kami tidak akan mau mengampunimu lagi!"
Dayungnya lantas menyambar dahsyat, akan tetapi segera ia tarik kembali ketika pedang Liong-cu-kiam
sengaja dibabatkan oleh Li Cu sambil tersenyum. Lui Cai sudah mengenal ketajaman pedang itu dan
kelihaian gadis ini, maka untuk bertempur seorang melawan seorang kiranya dia tak akan dapat menang.
"Ji-te, Sam-te, hayo kita binasakan bocah ini dulu!" teriaknya sambil memutar dayung.
Kiang Hun dan Thio Ek Sui yang juga merasa amat kecewa melihat bahwa yang duduk di dalam joli itu
bukan Kaisar segera memutar senjata dan mengeroyok Li Cu. Sebentar saja Li Cu sudah sibuk dikeroyok
tiga oleh Ho-hai Sam-ong, seperti ketika ia dikeroyok di atas perahu dahulu itu. Akan tetapi ia tidak gentar
dan pedangnya diputar cepat untuk melayani tiga orang musuhnya yang benar-benar tangguh itu.
Sementara itu, Hek-hwa Kui-bo dan muridnya, juga para kepala perampok yang tadinya menyerbu ke sana
untuk bersama-sama membinasakan Kaisar, sekarang sudah mulai bertempur kembali menghadapi para
pengawal yang kini dibantu oleh orang-orang dari Pek-lian-pai yang tadinya menyamar sebagai petani dan
nelayan.
Makin lama makin banyak anggota-anggota Pek-lian-pai yang berdatangan. Bahkan yang mendahului
rombongan Kaisar sudah pula diberi tahu dan kini mereka datang menyerbu dari utara. Hal ini membuat
para pemberontak terdesak hebat, apa lagi karena di pihak Pek-lian-pai terdapat banyak orang-orang
gagah yang tinggi kepandaiannya.
Melihat pihaknya terdesak hebat, Ho-hai Sam-ong menjadi gelisah. Bagaimana dapat muncul demikian
banyaknya yang membantu Kaisar? Tidak salah lagi, ini tentu jebakan yang sengaja diatur oleh Kaisar
yang dulunya juga seorang panglima perang yang pandai. Dan tentu karena rahasia mereka sudah
dibocorkan oleh gadis puteri Bu-tek Kiam-ong ini. Kemarahan Ho-hai Sam-ong terhadap Li Cu makin
menjadi.
"Hek-hwa Kui-bo, harap bantu kami menangkap gadis liar ini!" seru Lui Cai.
Mendengar ini, Hek-hwa Kui-bo yang tadinya sibuk menghadapi pengeroyokan banyak orang Pek-lian-pai,
lantas bersuit keras. Inilah tanda bagi para anggota perampok untuk menahan penyerbuan musuh agar dia
dan Ho-hai Sam-ong tidak terganggu dalam usaha mereka menangkap Li Cu.
dunia-kangouw.blogspot.com
Setelah Hek-hwa Kui-bo datang mengeroyoknya, sebentar saja Li Cu menjadi terdesak hebat. Gadis ini
dengan gigih mempertahankan dirinya.
"Ho-hai Sam-ong dan Hek-hwa Kui-bo, jangan banyak bertingkah!" mendadak terdengar bentakan nyaring
dan tahu-tahu di situ sudah muncul Beng San dengan tangan kosong!
Diam-diam Li Cu girang bukan main, akan tetapi melirik pun ia tidak mau ke arah Beng San. Ada pun Hohai
Sam-ong ketika melihat kedatangan pemuda yang sangat lihai itu, seketika menjadi pucat. Serentak
mereka menyerang pemuda yang bertangan kosong itu. Yang paling cepat menyambar tubuh Beng San
adalah tambang di tangan Kiang Hun.
Beng San menggerakkan tangan menangkap ujung tambang. Sekali membetot tambang itu putus menjadi
dua, tepat di tengah-tengah sehingga separoh tambang itu berada di tangan Beng San dan menjadi
senjatanya! Ketika Beng San menggerakkan tambang itu, kiranya ia tidak kalah hebat memainkan senjata
aneh ini dari pada Kiang Hun!
Li Cu mendapat angin. Pedangnya bergerak cepat, maka robohlah Thio Ek Sui sambil menjerit keras.
Dadanya tertembus oleh Liong-cu-kiam.
Kiang Hun menjadi gugup sekali sehingga kembali pedang Liong-cu-kiam menyerempet pundaknya. Dia
memekik dan meloncat hendak lari, tetapi dari belakangnya menyambar dua batang tombak anggota Peklian-
pai sehingga Kiang Hun juga roboh binasa.
Dengan tambangnya Beng San menghadapi Lui Cai yang masih mengamuk mati-matian, dibantu oleh
Hek-hwa Kui-bo. Sedikit saja Lui Cai terlambat bergerak, jalan darahnya di dada telah disentuh oleh ujung
tambang itu. Ia roboh lemas dan kembali pedang pendek Liong-cu-kiam di tangan Li Cu bekerja,
menamatkan riwayat kepala Ho-hai Sam-ong ini.
"Nona Cia, awas...!"
Beng San cepat meniup dengan mulutnya ke depan, malah mengebut-ngebutkan kedua tangan untuk
mengusir asap beracun berwarna merah. Namun terlambat, Hek-hwa Kui-bo tadi dengan cepatnya
mengebutkan sapu tangannya dan asap kemerahan menyambar ke depan, ke arah Li Cu.
Gadis ini baru saja menewaskan Lui Cai dan kurang waspada. Meski ia sudah mengelak karena
mendengar seruan Beng San, tetapi masih ada asap yang memasuki hidungnya. Ia mengeluh, terhuyunghuyung
dan pedangnya terlepas dari pegangan.
Beng San cepat-cepat memeluk dan memondongnya sambil menyambar Liong-cu-kiam. Ia masih melihat
Hek-hwa Kui-bo menyambar tangan muridnya melarikan diri di antara banyak orang yang bertempur. Ia
tidak peduli lagi. Yang paling perlu Li Cu harus dibawa pergi dari tempat berbahaya itu. Sekali meloncat ia
sudah lolos dari kepungan musuh, lalu mengerjakan kakinya untuk merobohkan setiap orang penghalang,
langsung ia membawa Li Cu ke tempat sunyi di lain bagian dari hutan itu.
Di bawah sebatang pohon besar yang sangat sunyi di dalam hutan itu, Beng San cepat menurunkan Li Cu
dan memeriksanya. Sedikit banyak dia juga sudah mempelajari ilmu pengobatan dari mertuanya, Songbun-
kwi Kwee Lun, terutama mengenai akibat senjata beracun.
Ketika menurunkan tubuh Li Cu dan melihat muka gadis itu, ia kaget bukan main. Wajah Li Cu sepucat
salju dan napasnya sesak hampir berhenti. Dari mulut yang terengah-engah itu tercium bau wangi yang
memuakkan, yaitu bau racun asap kemerahan yang tadi kena tersedot oleh gadis ini.
Beng San lalu memutar otak. Menurut keterangan dari mertuanya, mengobati akibat dari keracunan hanya
dua macam, pertama memasukkan racun yang berlawanan atau obat penawar ke dalam tubuh si sakit
untuk memerangi racun itu. Ke dua, mengeluarkan racun dari tubuh si sakit.
Kalau Li Cu terluka oleh senjata beracun, ia dapat mengeluarkan racun itu dengan cara menyedot lukanya
sehingga racun yang telah bercampur dengan darah itu dapat tersedot keluar. Ada pun Li Cu terserang
racun bukan melalui luka, melainkan racun itu langsung memasuki paru-parunya melalui mulut, bagaimana
ia akan dapat mengeluarkan racun dari dalam paru-paru?
dunia-kangouw.blogspot.com
Dalam bingungnya karena baru pertama kali ini menghadapi orang keracunan oleh racun asap, Beng San
cepat mengambil keputusan. Ia merasa yakin bahwa satu-satunya jalan untuk menolong gadis itu adalah
mengeluarkan asap yang masuk ke dalam paru-parunya.
Ia maklum pula atau dapat menduga bahwa cara pertolongan ini amat berbahaya bagi dirinya sendiri. Akan
tetapi pada saat itu ia tidak mempedulikan keselamatan diri sendiri. Untuk menolong orang, terutama orang
seperti Li Cu ini, dia tidak perlu takut-takut untuk mengorbankan diri sendiri!
Ketika sudah mengambil keputusan ini dan hendak mulai dengan usaha pertolongannya, tiba-tiba mukanya
menjadi kehijauan karena ia merasa jengah dan malu. Akan tetapi ia mengeraskan hatinya. Pada saat
nyawa Li Cu terancam bahaya seperti itu, ia tidak perlu ingat lagi akan tata susila kosong dan akan hukum
adat yang berlaku tentang kesopanan antara pria dan wanita.
Cepat ia mengangkat kepala Li Cu, lalu tanpa ragu-ragu ia membuka mulut gadis itu dengan jari
tangannya. Kemudian ia menunduk dan menempelkan mulutnya sendiri pada mulut Li Cu lalu ia menyedot
dengan pengerahan tenaga khikang sekuatnya!
Ia merasa betapa hawa yang dingin laksana es memasuki rongga dadanya. Tubuhnya menggigil dan cepat
ia melepaskan mulutnya, perlahan-lahan menurunkan kepala gadis itu dan ia lalu duduk bersila,
mengerahkan hawa murni dalam tubuhnya, menyalurkan lweekang-nya untuk melawan hawa dingin di
rongga dada itu.
Hawa Thai-yang di dalam tubuhnya segera bekerja. Dari pusarnya naik hawa panas bagai api membara,
terus hawa panas ini ia desak ke atas, menyerbu ke rongga dada dan menghantam hawa dingin yang tadi
memasuki dadanya melalui mulut Li Cu. Terjadilah perang tanding antara kedua hawa ini, akan tetapi
tenaga dalam dan hawa Thai-yang di tubuh Beng San memang mukjijat sekali. Dengan hati lega orang
muda itu merasa betapa perlahan-lahan tetapi pasti hawa dingin itu buyar dan lenyap.
Setelah hawa dingin di dalam rongga dadanya itu lenyap, ia membuka mata. Li Cu masih belum sadar dan
napasnya masih terengah-engah biar pun tidak seberat tadi. Ia kembali menempelkan mulutnya pada
mulut Li Cu dan menyedot lagi.
Seperti tadi, hawa dingin memasuki dadanya, tapi sebentar saja buyar dihantam tenaga Thai-yang. Girang
hati Beng San. Tubuh gadis yang tadinya sudah dingin itu sekarang agak hangat dan ketika ia menyedot
untuk ke empat kalinya, ia merasa betapa tubuh Li Cu bergerak sedikit.
Kalau saja Beng San tahu bahwa pada saat itu Li Cu sudah setengah sadar, sudah pasti ia akan cepatcepat
melepaskan mulutnya yang menyedot! Di lain pihak, Li Cu yang mulai sadar, seolah-olah dalam
mimpi. Hampir ia tak dapat percaya akan pandangan mata dan perasaan tubuhnya sendiri.
Benarkah orang itu Beng San? Dan benarkah Beng San melakukan perbuatan seperti ini terhadap dirinya?
Saking kaget, malu, ngeri dan marah, Li Cu pingsan kembali. Bukan pingsan karena pengaruh racun asap,
melainkan pingsan karena hantaman perasaannya melihat perbuatan Beng San terhadap dirinya!
Ketika Li Cu siuman kembali, ia membelalakkan kedua matanya. Ia melihat betapa muka Beng San sudah
mendekati mukanya dan dalam anggapannya, Beng San sedang berbuat kurang ajar dan hendak
‘menciumnya’ lagi.
Di samping pemandangan yang mengagetkan ini, ia melihat hal lain yang membuat ia cepat menjerit
sambil mendorong tubuh Beng San sekuat tenaga. Tubuh Beng San terpental.
Li Cu merasa betapa tenaga dorongannya tadi mendatangkan rasa dingin yang sangat menyakitkan di
dadanya. Dan pada saat itu juga, dia mencoba untuk mengelak dengan cara menggulingkan tubuhnya,
akan tetapi tetap saja pukulan yang datang itu mengenai pundaknya, membuat tubuhnya terpental lebih
jauh dari pada Beng San!
Terdengarlah suara orang menggereng seperti binatang buas, gerengan orang yang tadi memukul.
Pukulan itu sebenarnya ditujukan ke arah punggung Beng San. Baiknya pada saat itu Li Cu siuman dan
pukulan orang inilah yang membuat ia menjerit dan mendorong tubuh Beng San. Bahkan pukulan itu
sesudah tidak mengenai tubuh Beng San, malah mengenai dirinya sendiri.
dunia-kangouw.blogspot.com
Beng San melompat bangun dengan kaget sekali. Tadi seluruh perhatiannya dia tujukan untuk mengobati
Li Cu sehingga kesadaran gadis itu pun tidak diketahuinya. Karena itu, kedatangan orang yang
menyerangnya secara diam-diam itu pun sama sekali tidak dia ketahui.
Kini dia merasa kaget sekali setelah tadi tubuhnya didorong ke pinggir oleh Li Cu, kaget bukan main karena
dia melihat ayah mertuanya, Song-bun-kwi Kwee Lun sudah berdiri di depannya seperti seorang iblis
mengerikan. Pakaian ayah mertuanya yang semenjak dia ikut ke Min-san dahulu sudah menjadi biasa
seperti seorang kakek petani, sekarang dia lihat kembali seperti dulu lagi, yaitu pakaian putih, pakaian
berkabung! Anehnya lagi, di dada kakek ini tergantung seorang bayi dalam gendongannya, bayi yang
nampaknya tidur nyenyak.
"Gak-hu (Ayah Mertua)..."
"Bangsat! Laki-laki mata keranjang, kau pergi meninggalkan isteri untuk main gila dengan perempuan
lain?" bentak Song-bun-kwi Kwee Lun dengan kemarahan meluap-luap.
“Tidak... tidak demikian... Gak-hu, harap jangan salah sangka...! Dia telah menyedot racun Ngo-hwa dari
Hek-hwa Kui-bo... aku berusaha menyedot keluar racun itu dan...”
Song-bun-kwi menggereng lagi. "Apa pun juga alasanmu, anakku tidak akan dapat hidup lagi!" Mendadak
ia menyerang dengan hebatnya, menghantam kepala mantunya itu.
Semenjak dahulu Beng San memang tidak suka terhadap Song-bun-kwi yang memang pernah hidup
sebagai seorang yang keji. Malah sudah beberapa kali Beng San hampir dibunuhnya pada waktu pemuda
ini masih kecil (baca Raja Pedang).
Sekarang pun ia menjadi marah karena disangka yang bukan-bukan oleh mertuanya ini dan malah
sekarang ia diserang dengan pukulan maut. Akan tetapi ketika ia mendengar kalimat terakhir ‘anakku tak
dapat hidup lagi’, ia merasa matanya gelap dan jantungnya serasa berhenti berdetik.
"Apa katamu?!" bentaknya dan tangannya menangkis.
Tangkisan ini amat hebat, membuat tubuh Song-bun-kwi seketika terpental ke belakang dan hampir roboh!
Teringat akan kepandaian Beng San yang memang sudah amat hebat, Song-bun-kwi maklum bahwa ia
tidak akan mampu mengalahkan mantunya ini.
Maka Song-bun-kwi menyeringai keji dan berkata penuh geram. "Kau pembunuh anakku, lain kali aku pasti
akan mencarimu untuk mengadu nyawa!" dan setelah berkata demikian kakek ini menggereng kemudian
lari cepat sekali membawa bayi dalam gendongannya.
Untuk sesaat Beng San berdiri dengan muka berubah hijau karena hatinya gelisah bukan main. Kemudian
ia teringat akan bayi di gendongan mertuanya itu. Ia menghitung-hitung dalam benaknya dan teringat
bahwa sudah lewat beberapa bulan sejak waktu kandungan isterinya tiba saatnya dilahirkan. Anak itu
tadi....? Apa yang terjadi?
Tiba-tiba seperti orang gila Beng San memekik. "Bi Goat...!"
Dan tubuhnya melesat seperti seekor burung terbang, pergi dari tempat itu.
Sementara itu, terjadi keanehan pada diri Li Cu. Seperti dituturkan di atas tadi, setelah mendorong tubuh
Beng San ke samping, pukulan yang dilakukan oleh Song-bun-kwi lalu mengenai pundak Li Cu yang
membuat tubuh Li Cu terlempar.
Pukulan itu bukan pukulan biasa, karena tadi Song-bun-kwi sengaja melakukan pukulan dari Ilmu Yangsin-
hoat untuk membunuh Beng San, mantunya. Pukulan itu mengandung hawa Yang-kang yang amat
kuat. Biar pun sudah dielakkan oleh Li Cu, pukulan itu tetap mengenai pundaknya dan terasalah hawa
yang luar biasa panasnya menjalari tubuhnya.
Hawa panas ini lalu bertemu dengan sisa hawa dingin yang masih mengeram di tubuhnya, yang masih
belum disedot keluar oleh Beng San. Dua hawa dahsyat ini bertemu dan... buyarlah keduanya. Pukulan
maut dari Song-bun-kwi tadi malah sudah menyembuhkan sama sekali penderitaan Li Cu akibat racun
asap Hek-hwa Kui-bo!
dunia-kangouw.blogspot.com
Tadinya hati Li Cu penuh dengan kemarahan dan ia menganggap bahwa Beng San sudah berlaku jahat
dan kurang ajar kepadanya, sudah menciuminya di waktu ia pingsan! Bukan main sakit hatinya pada saat
itu. Akan tetapi setelah ia mendengar pengakuan Beng San kepada Song-bun-kwi tadi bahwa
perbuatannya itu adalah usaha untuk menolongnya dari bahaya maut, tak terasa pula air matanya jatuh
berderai dan ia terisak-isak.
Hatinya terharu bukan main. Sudah terlalu sering ia menyangka Beng San sebagai orang jahat, sebagai
laki-laki yang kurang ajar, laki-laki mata keranjang. Dan ternyata ia sudah menuduh yang bukan-bukan,
telah memasukkan fitnah terhadap diri Beng San ke dalam pikirannya. Padahal sudah berkali-kali Beng
San menolongnya, menolong keselamatan nyawanya dengan hati tulus ikhlas. Apa lagi ketika ia melihat
keadaan Beng San, hatinya ikut hancur.
Li Cu menyambar pedangnya yang ditinggalkan Beng San di dekatnya, lalu melompat dan lari mengejar
Beng San yang sudah lari jauh dengan kecepatan laksana terbang itu. Tak dapat ia menyusul Beng San,
akan tetapi ia dapat menduga bahwa orang muda itu tentu pergi ke Min-san.
Sebetulnya ia boleh tak usah pedulikan Beng San. Akan tetapi ada sesuatu yang terjadi di dalam hatinya.
Ia setengah dapat menduga bahwa telah terjadi sesuatu yang mengerikan pada diri isteri Beng San. Ia
seperti melihat awan gelap di atas mengancam Beng San.
Di samping ini, ia merasa bahwa ia harus selalu berdekatan dengan orang itu. Tak dapat lagi ia
ditinggalkan, tak dapat lagi ia berpisah. Ia merasa kasihan kepada Beng San, juga kasihan kepada...
dirinya sendiri karena hidupnya pasti akan merana dan sunyi kalau dia harus berjauhan dengan Beng San.
"Beng San...," rintihnya sambil mengusap air matanya yang berderai turun membasahi pipinya. "Ya
Tuhan... mengapa aku menjadi begini...?" ia mengeluh bingung.
Tidak semestinya ia mengejar Beng San. Seharusnya ia kembali, seharusnya ia malah meninggalkan Beng
San jauh-jauh. Setanlah yang menggodanya ini, setan yang sudah membisikkan hal-hal yang tak boleh ia
lakukan. Tapi... ahhh, mengapa hatinya bulat-bulat menyerah? Mengapa kakinya seperti tidak mau disuruh
pergi ke lain jurusan?
Ia teringat ayahnya, lalu bersambat lirih, "Ayah... anakmu telah gila... telah gila..."
Sementara itu kedua kakinya terus berlari cepat, menuju Min-san! Di dunia ini, apakah yang lebih berkuasa
dan aneh dari pada cinta? Apakah yang lebih gila dari pada orang muda yang sudah mabok madu
asmara? Cinta kasih atau asmara sudah banyak sekali menimbulkan cerita dan peristiwa yang lebih aneh
dari pada dongengan!
Dengan pakaian compang-camping, rambut awut-awutan, muka pucat kurus, serta mata merah, setelah
melakukan perjalanan terus-menerus, akhirnya Beng San sampai juga di puncak Min-san.
Ketika ia memasuki halaman rumahnya, dua orang pelayan wanita yang masih tinggal di situ hampirhampir
tak mengenalnya. Sampai lama mereka memandang dengan bengong dan curiga, karena laki-laki
muda yang berdiri di hadapan mereka itu lebih patut menjadi seorang pengemis yang liar dari pada tuan
muda mereka yang tampan.
"Bi Goat... mana Bi Goat...?" Suara Beng San serak, entah sudah berapa ribu kali kalimat pertanyaan ini
keluar dari mulutnya di sepanjang perjalanan pulang. "Mana isteriku? Mana nyonya muda...?"
Setelah mendengar pertanyaan ini barulah dua orang pelayan tua itu merasa yakin bahwa yang berdiri di
depan mereka sekarang ini adalah ‘tuan muda’ mereka.
"Siauw-ya (Tuan Muda)...!" keduanya kemudian menjatuhkan diri berlutut dan menangis bersaing keras.
"Apa yang terjadi? Mana nyonya muda. Dia kenapa?"
Akan tetapi dua orang pelayan itu menangis makin keras.
Beng San tak sabar lagi. Sekali melompat dia telah memasuki rumah dan berlari-lari di dalam semua
ruangan dan kamar, membuka dan menutup pintu seperti orang mengejar sesuatu. Seluruh bagian rumah,
dunia-kangouw.blogspot.com
sampai ke kamar mandi, dia masuki namun sunyi sepi, tidak ada satu orang pun manusia lagi kecuali dua
orang pelayan wanita yang sedang menangis tersedu-sedu itu.
Akhirnya terpaksa Beng San kembali ke ruangan depan di mana dua orang pelayan itu menangis. Tubuh
Beng San menggigil, matanya berputaran, jantungnya serasa berhenti berdetik.
"Mana dia? Mana Bi Goat? Katakanlah, mana Bi Goat? Ahhh... kuhancurkan kepalamu jika tidak bicara!" ia
mengguncang-guncang pundak seorang pelayan yang menjadi amat ketakutan.
Dengan muka pucat keduanya berhenti menangis, kemudian dengan suara terputus-putus mereka
bercerita, "Mula-mula datang seorang nyonya yang bernama Kwa Hong... dia naik burung menakutkan...
dia melahirkan anak di sini ditolong oleh Nyonya Muda... setelah dia dan anaknya pergi, Nyonya Muda
jatuh sakit... tidak pernah sehat lagi, lalu datang Lo-ya (Tuan Tua) yang tadinya diminta Nyonya Muda pergi
menyusul Siauw-ya... tetapi Lo-ya pulang tanpa Siauw-ya. Nyonya Muda semakin sedih... lalu melahirkan
dan... dan... tidak kuat... Nyonya Muda meninggal dunia..." Tak dapat tertahan lagi dua orang pelayan itu
menangis terisak-isak.
Beng San meramkan matanya, meringis kesakitan. Dadanya sebelah kiri serasa tertusuk, ubun-ubun
kepalanya berdenyut-denyut. Ia sudah tak bisa menangis lagi, lehernya bagai dicekik dan bibirnya yang
putih seperti kertas itu bergerak-gerak perlahan, lalu berhenti bergerak, ternganga dan pandang matanya
jauh ke depan tak bersinar, seakan-akan dia sudah menjadi tubuh tak bernyawa, kehilangan semangatnya.
"Siauw-ya... Siauw-ya..." Pelayan yang tertua menubruk kaki Beng San, tak tahan melihat majikannya
berhal demikian itu.
Beng San bergerak perlahan lalu terdengar suara dari mulutnya, suara yang terdengar seperti suara dari
jauh.
"Di mana makamnya... di mana dikuburnya...?"
"Maafkan hamba, Siauw-ya... karena Lo-ya sudah pergi membawa anak bayi itu, hamba sekalian terpaksa
mengajak saudara-saudara dari kaki gunung untuk mengubur jenazah Nyonya Muda di pekarangan
belakang rumah secara sederhana..."
Beng San lalu melangkah perlahan dan lemas, menuju ke pekarangan belakang, diikuti dua orang pelayan
yang masih menangis terisak-isak. Akhirnya ia berdiri tegak di depan sebuah kuburan yang masih baru,
kuburan sederhana yang tidak diberi batu nisan, hanya ditanami pohon bunga mawar gunung kesukaan Bi
Goat dan pohon kembang itu sudah mulai berbunga.
"Bi Goat... ampun... isteriku... ampun..." Beng San roboh ke depan, mukanya terbanting dan terbenam
pada gundukan tanah kuburan.
Dua orang pelayan itu cepat-cepat menolong Beng San yang sudah pingsan sambil turut menangis. Akan
tetapi setelah siuman kembali Beng San menyuruh dua orang pelayan itu pergi meninggalkannya seorang
diri di kuburan isterinya.
Malam itu hujan turun deras, akan tetapi Beng San tidak beralih dari tempatnya, tidak bergerak dan terusmenerus
terdengar suaranya memanggil-manggil nama Bi Goat dan minta ampun.
Semenjak saat ia roboh pingsan di kuburan isterinya, sampai berhari-hari ia tidak pernah pergi
meninggalkan tempat itu, tak pernah makan tak pernah tidur! Beberapa kali dua orang pelayan yang setia
itu datang menangis dan membujuk-bujuknya, namun Beng San malah marah-marah dan mengusir
mereka pergi dari depannya.
Sepuluh hari kemudian tubuh Beng San telah menjadi kurus sekali dan wajahnya pucat kehijauan, matanya
semakin liar. Hanya karena tubuhnya yang terlatih dan mengandung tenaga luar biasa itu saja yang
membuat ia masih dapat bertahan.
Dua orang pelayan itu sudah tak berdaya lagi, tidak berani mendekati Beng San karena tuan muda ini
marah-marah kalau di ‘ganggu’. Mereka menjadi putus asa dan merasa ngeri kalau membayangkan betapa
pada suatu pagi mereka akan melihat tuan muda itu menggeletak dalam keadaan tak bernyawa karena
kelaparan di kuburan itu.
dunia-kangouw.blogspot.com
Akan tetapi, seperti juga kelahiran tak akan ada, kematian juga tidak akan menimpa diri seorang manusia
kalau Tuhan belum menghendakinya. Demikian pula dengan Beng San. Orang muda ini bukannya sengaja
bermaksud membunuh diri, akan tetapi ia sudah tidak peduli akan keadaan sekelilingnya, ingatannya
sudah berubah akibat tekanan batin yang amat hebat.
Kedukaan yang hebat serta penyesalan yang bertubi-tubi menghantam batinnya. Tak kuat ia menahannya
sehingga ia bagaikan orang yang sudah tidak waras lagi otaknya. Namun agaknya Tuhan Maha Pengasih
suka mengampunkan dosanya.
Malam hari itu hujan turun rintik-rintik. Hawa di Puncak Min-san bukan main dinginnya. Di depan kuburan
Bi Goat, Beng San sedang duduk bersila menghadapi kembang mawar yang sudah rontok dari tangkainya,
mengeluh dan bersambat dengan suara lirih,
"Bi Goat, isteriku. Kau begitu mulia, begitu suci cintamu kepadaku... dahulu kau sampai rela hendak
mengorbankan nyawamu untukku..., ah, Bi Goat, tidak kelirukah kau memilih aku? Aku tidak berharga
mendapatkan cintamu... aku seorang yang rendah. Aku telah mengadakan hubungan dengan Hong-moi...
menjadi ayah dari anak Hong-moi, tapi aku tidak berterus terang kepadamu... Bi Goat... aku laki-laki mata
keranjang, laki-laki berhati lemah yang mudah runtuh menghadapi wanita cantik.” Ia berhenti sebentar dan
terdengar isaknya tertahan.
"Bi Goat, mengapa kau belum juga datang? Marahkah kau kepadaku? Sudah sepatutnya kau marah... aku
minta ampun, Goat-moi... aku telah berdosa padamu. Sekarang kuakui semua dosaku... betul, aku telah
berlaku serong... aku merusak hidup Hong-moi, malah sebelum itu... aku pernah mencinta Thio Eng. Ahh,
aku laki-laki mata keranjang, dan aku hampir runtuh pula pada saat bertemu dengan Nona Cia Li Cu...
hatiku mencinta mereka semua itu, ahhh... padahal kau… begitu suci cintamu... aku berdosa, ampunkan
aku..."
Sesosok bayangan muncul di belakang kuburan itu. Bayangan seorang wanita cantik yang berbaju merah!
Perlahan-lahan bayangan ini melangkah maju dan terdengar suaranya lirih menggetar ditimpa suara hujan
gerimis di malam gelap.
"Beng San..."
Perlahan-lahan Beng San mengangkat kepalanya. Matanya yang pedas dan merah itu ia gosok-gosok,
kemudian ia menubruk maju, berlutut dan merangkul kaki wanita itu.
"Ahh, Bi Goat... akhirnya kau datang juga...? Bi Goat, ampunkan aku... ampunkan aku...."
Wanita itu mengucurkan air mata sehingga air mata itu bercampur dengan hujan gerimis yang
menimpanya, mengalir di sepanjang pipinya. Jari tangannya mengelus-elus rambut kepala Beng San dan
ia berkata terharu.
"Bi Goat sejak dulu mengampunimu... Beng San..."
"...ahhh, betulkah? Betulkah kau sudi mengampuni dosaku? Aku sudah gila... aku sudah gila... aku... aku
menyakiti hatimu... sudikah kau mengampuniku?"
"Aku mengampuni semua kesalahanmu...," jawab wanita itu, "...asal saja... asal saja kau suka menurut
segala kata-kataku."
"Aku akan taat, akan kuturut semua, demi Tuhan. Aku bersumpah akan mentaati segala perintahmu, biar
kau suruh masuk ke lautan api sekali pun!"
"Kalau begitu, bangunlah dan mari kita masuk ke rumah, tak baik berhujan-hujan di sini, hayo kau ikuti aku,
Beng San!"
Beng San bangun berdiri, tersenyum-senyum dan wanita itu makin terharu ketika melihat betapa wajah
laki-laki itu berubah seperti wajah seorang anak kecil yang diampuni orang tuanya karena kenakalannya.
"Aku ikut... aku ikut...," kata Beng San yang kemudian berjalan di belakang wanita itu, terhuyung-huyung
saking lemas badannya.
dunia-kangouw.blogspot.com
Wanita baju merah itu segera memegang lengannya dan membantunya berjalan menuju ke rumah itu. Dua
orang pelayan sudah menyambut di pintu belakang, nampak kelegaan pada wajah mereka.
"Ahh, syukur, Nona. Syukur kau berhasil...," kata mereka.
"Ssttt..." Wanita itu mencegah mereka berbicara. "Lekas sediakan air panas dan pakaian Siauw-ya,
kemudian sediakan makanan yang lunak... jangan lupa hangatkan arak..."
Sambil tersenyum gembira dua orang pelayan itu pergi menyiapkan permintaan wanita itu. Beng San
benar-benar menurut sekali terhadap wanita yang dianggapnya Bi Goat itu. Disuruh membersihkan tubuh
dan menukar pakaian, ia menurut seperti anak kecil, disuruh makan bubur panas dia pun menurut saja.
Kemudian dia pun tidak membantah ketika disuruh tidur di kamarnya sendiri, diselimuti oleh wanita itu yang
duduk di pinggir ranjang dan yang melayaninya dengan penuh perhatian.
Siapakah wanita baju merah itu? Benarkah dia Bi Goat? Tidak mungkin! Bi Goat sudah mati, sudah
dikubur. Ia bukan lain adalah Li Cu!
Seperti dituturkan pada bagian depan, Li Cu tak dapat menahan hati dan kakinya sendiri menyusul Beng
San di Min-san. Ia kalah cepat oleh Beng San, maka baru sepuluh hari kemudian ia tiba di puncak Min-san.
Bukah main sedih dan terharu hatinya ketika ia mendengar penuturan dua orang pelayan itu tentang
keadaan Beng San. Ia mengaku menjadi sahabat baik Beng San dan Bi Goat.
Setelah ia mendengar penuturan dua orang pelayan itu, serta-merta pada hari itu juga ia pergi menyusul
Beng San ke kuburan. Akhirnya dia berhasil membujuk Beng San pulang, sungguh pun perih hatinya
karena Beng San hanya mau menuruti permintaannya setelah mengira bahwa dia adalah Bi Goat!
Bulan-bulan berikutnya merupakan masa yang amat sulit bagi Li Cu. Ingatan Beng San benar-benar telah
berubah, atau telah kehilangan ingatannya sehingga ia menjadi seperti anak kecil saja, anak kecil yang
amat manja. Akan tetapi kemanjaan ini tertuju kepada… isterinya, kepada Bi Goat!
Dia telah lupa segalanya, keinginannya hanyalah berdekatan dengan Bi Goat, tidak boleh ditinggalkan
sebentar juga. Dan yang lebih hebat lagi, dia agaknya telah lupa akan semua kepandaiannya. Beberapa
kali Li Cu mencobanya, tapi Beng San benar-benar tidak ingat lagi bagaimana caranya bersilat, sungguh
pun tenaga murni dalam tubuhnya masih tetap kuat dan tidak ikut lenyap.
Cia Li Cu merupakan keturunan orang-orang yang terkenal keras hati. Agaknya watak ini diwariskan oleh
nenek moyangnya, yaitu Ang I Niocu, pendekar wanita sakti yang terkenal keras hati. Sekali mengambil
keputusan tak akan dapat diubah lagi, sekali menjatuhkan hati takkan dapat pula diubah.
Setelah hatinya dikecewakan Beng Kui dan membuat ia benci sekali kepada suheng-nya itu, barulah ia
sadar bahwa semenjak dahulu sebetulnya ia tidak pernah mencinta Beng Kui. Perasaannya dahulu
terhadap Beng Kui hanyalah kagum saja karena semenjak kecil suheng-nya itu selalu lebih tinggi segalagalanya
dari pada dirinya sendiri, juga dalam ilmu silat. Maka begitu ia melihat watak yang buruk di dalam
diri Beng Kui, apa lagi karena ia dikesampingkan dan suheng-nya menikah dengan wanita lain, rasa
kagumnya sekaligus buyar dan otomatis ia pun tidak ada rasa suka kepada kakak seperguruan itu.
Terhadap Beng San lain lagi perasaannya. Sebetulnya lebih banyak perasaan terharu dan iba akan nasib
orang muda itu dari pada kekaguman. Malah sering kali ia merasa gemas kepada Beng San. Anehnya,
bukan gemas karena perlakuan pemuda itu kepadanya, tapi gemas karena Beng San begitu banyak
kekasihnya!
Memang cinta itu aneh sekali. Mendatangkan cemburu, kadang-kadang mendatangkan benci! Semua ini
hanya dapat terasa oleh mereka yang menjadi korban panah asmara. Demikian hebat kekerasan asmara
sehingga mampu menundukkan seorang gadis seperti Li Cu yang terkenal keras hati, yang berubah
menjadi demikian jinak, demikian telaten dan sabar dalam merawat orang yang dicintanya.
Benar-benar bukan ringan pekerjaan Li Cu ini. Terutama sekali tekanan batin yang harus dideritanya.
Bayangkan, betapa beratnya bagi perasaan seorang gadis yang sedang jatuh cinta untuk merawat orang
yang dicintanya itu dan mendengarkan kekasihnya itu setiap saat memuji-muji dan menyatakan cinta
dunia-kangouw.blogspot.com
kasihnya kepada seorang wanita lain. Lebih hebat lagi bagi Li Cu, Beng San menyatakan cinta kasih
kepadanya karena menganggap dia Bi Goat!
Sering kali dia harus menahan-nahan air matanya karena hatinya bagaikan ditusuk-tusuk rasanya. Kadang
kala terbayang pula senyum di bibirnya yang manis dan cahaya harapan di matanya yang indah itu ketika
Beng San dalam ketidak sadarannya ‘mengaku’ kepada Bi Goat bahwa dia tertarik kepada Li Cu! Sungguh
pun hanya sedikit sekali pengakuan cinta ini, namun sudah merupakan setetes embun menyegari bunga
yang kekeringan di dalam hati Li Cu.
Betapa pun juga, Li Cu adalah seorang gadis yang patut dipuji kebersihan dan kekuatan batinnya. Biar pun
ia jatuh cinta kepada Beng San dan berbulan-bulan tinggal serumah dengan pemuda itu, namun gadis itu
tetap dapat mempertahankan garis pemisah, tetap ia dapat mencegah terjadinya pelanggaran susila yang
terdorong oleh iblis nafsu yang memabokkan.
Bagi Li Cu, cintanya murni dan timbul dari hati nurani yang bersih. Ia hanya mempunyai sebuah keinginan,
yaitu merawat orang yang dicintanya, melihatnya sembuh dan harapan terakhir adalah harapan semua
wanita yang tengah jatuh cinta, yaitu berhasil merebut hati kekasihnya, berhasil membuat dirinya dicinta
kembali berlipat ganda dan akhirnya dapat menjadi seorang isteri yang terkasih. Hal ini mudah saja ia
pertahankan oleh karena kini Beng San benar-benar amat penurut dan mentaati segala kehendaknya.
Dua orang pelayan setia itu masih merasa bersyukur dan berterima kasih sekali kepada Li Cu yang
sekarang mereka anggap sebagai pengganti nyonya muda, sungguh pun mereka diam-diam merasa heran
kenapa seorang nona cantik dan muda suka bersikap demikian baiknya terhadap Beng San.
Namun sebagai orang-orang yang sudah berpengalaman akhirnya mereka dapat menarik kesimpulan
bahwa semua itu adalah akibat dari pada asmara yang mendalam dan suci. Maka tanpa ragu-ragu lagi
mereka pun lalu bercerita kepada Li Cu akan segala yang mereka ketahui tentang diri Beng San dan Bi
Goat. Malah mereka memperingatkan nona itu supaya berhati-hati karena mereka berdua itu takut sekali
kalau-kalau lo-ya-cu, yaitu Song-bun-kwi Kwee Lun kembali dan mengamuk lagi.
"Entah bagaimana nasib bayi puteri Siauw-ya yang belum diberi nama itu," pelayan tertua menutup
kisahnya. "Semoga saja dia tidak menjadi korban keganasan Lo-ya yang sudah demikian kalap. Hamba
benar-benar kuatir, ahh... kalau Lo-ya pulang... apa yang terjadi?"
"Tenanglah, tidak perlu kuatir. Kematian Bi Goat bukanlah karena kesalahan Beng San. Pula andai kata dia
datang dan mau menang sendiri, ada aku di sini untuk melindungi Beng San," kata Li Cu dengan suara
yang gagah.
Akan tetapi sesungguhnya hatinya kecut-kecut kalau ia memikirkan kakek itu. Ia maklum bahwa katakatanya
di depan para pelayan itu hanya omong besar saja, karena kalau disuruh sungguh-sungguh
menghadapi kakek Song-bun-kwi yang sakti itu, sedikit sekali harapan dia akan menang. Oleh karena
inilah pedang Liong-cu-kiam tak pernah terpisah dari tubuhnya, selalu terpasang pada belakang
punggungnya untuk menjaga dari segala kemungkinan.
Sampai tiga bulan lebih Li Cu dengan tekun dan sabar merawat Beng San. Kesehatan Beng San
sebetulnya sudah pulih, akan tetapi hanya kesehatan jasmani saja, ingatannya masih belum sembuh sama
sekali.
Pagi hari itu, seperti biasa Li Cu mengajak Beng San duduk di taman bunga di sebelah kiri rumah. Setiap
pagi gadis ini mengajak Beng San berjemur matahari pagi di tempat itu. Dan seperti biasa, dengan sikap
manja sekali Beng San merebahkan diri di atas bangku panjang dan kepalanya telentang di atas pangkuan
Li Cu!
Dengan kasih mesra gadis ini mengusap-usap rambut Beng San sambil menatap wajah yang nampak
bodoh itu.
"Beng San, masih belum ingatkah kau? Masih belum ingat benarkah bahwa aku adalah Li Cu?" perlahan Li
Cu bertanya dengan suara lirih dan hati-hati sekali.
Beng San tersenyum, "Bi Goat, jangan kau menggoda aku. Kau sudah tahu bahwa aku suka kepada Nona
Cia Li Cu, bahwa aku tertarik dan kagum sekali kepadanya, lalu kau sekarang menggodaku, ya?"
dunia-kangouw.blogspot.com
Seperti biasanya kalau mendengar kata-kata ini, Li Cu merasa tertusuk jantungnya. Dia menggigit bibirnya,
matanya menjadi sayu, akan tetapi ia menguatkan hatinya dan berkata lemah-lembut.
"Beng San, aku sungguh bukan Bi Goat. Aku Cia Li Cu, Beng San, dan aku pun suka kepadamu, tapi... tapi
jangan kau menyangka aku Bi Goat. Bi Goat sudah... sudah mati...," hati-hati sekali ia mengucapkan katakata
ini sambil menatap tajam-tajam muka orang di atas pangkuannya itu dan tangannya membelai dengan
halus.
Beng San serentak bangkit dan duduk, kedua tangan Li Cu dipegangnya lalu ia berlutut di atas tanah.
"Bi Goat, isteriku, jangan kau mempermainkan aku. Kalau Bi Goat sudah mati bagaimana kau bisa berada
di sini? Bi Goat, aku memang berdosa kepadamu, ampunkanlah aku... aku menurut segala kehendakmu,
tapi... tapi jangan kau marah, jangan tinggalkan aku..."
Li Cu menarik napas panjang dan menggoyang-goyang kepalanya. Tidak ada kemajuan sama sekali. Jika
sudah merengek-rengek minta ampun begini Beng San tidak mau sudah kalau belum dia ampunkan.
Terpaksa dia pun berkata, "Sudahlah, aku ampunkan kau."
Dengan girang Beng San rebah lagi dengan kepala di atas pangkuan Li Cu. Ia tersenyum-senyum dengan
wajah berseri girang.
Li Cu makin terharu melihat ini. Selama berbulan-bulan ini Beng San memasuki kamarnya yang terpisah,
dan hal ini pun selalu diturut oleh Beng San meski dengan wajah kelihatan berduka sekali! Li Cu sendiri
mulai merasa ragu-ragu akan kekuatan pertahanan hatinya sendiri. Ia makin kasihan kepada Beng San.
Selama berbulan-bulan menggantikan kedudukan Bi Goat ini, tampaklah jelas olehnya bahwa Beng San
sama sekali bukanlah laki-laki mata keranjang perusak wanita seperti yang telah ia dengar dari suhengnya.
Buktinya, terhadap isteri sendiri saja Beng San begini lemah lembut, menaruh hormat dan tidak mau
bersikap menang sendiri. Apa lagi terhadap wanita lain?
Peristiwa yang terjadi antara Beng San dan Kwa Hong tentu terdorong oleh sesuatu, tidak sewajarnya.
Beng San pernah bercerita kepadanya tentang itu, dikatakannya bahwa Beng San dan Kwa Hong lupa diri
karena pengaruh racun yang sengaja ditaruh dalam makanan oleh musuh dalam ketentaraan Mongol. Tapi
Beng San hanya menyebut nama Pangeran Souw Kian Bu.
Ada pun tentang pengalaman Beng San dalam asmara dengan Thio Eng, dan dengan dia sendiri, ahh, ia
tidak percaya bahwa Beng San sengaja berlaku sebagai seorang pemuda mata keranjang. Dia sama sekali
tidak mau percaya bahwa Beng San berwatak kotor, rendah atau cabul.
"Beng San, cobalah kau ingat-ingat, apakah kau benar-benar lupa akan kepandaian ilmu silatmu?"
Beng San tertawa, matanya berseri jenaka. "Bi Goat, jangan kau goda aku seperti itu! Kau tahu bahwa aku
adalah seorang kutu buku, seorang yang sejak kecil hanya mempelajari kitab-kitab filsafat. Kitab To-tekkeng
aku hafal di luar kepala. Kau pun boleh tanya tentang Su-si Ngo-keng, tentang filsafat hidup dan
pelajaran agama. Akan tetapi ilmu silat? Huh, untuk apa ilmu silat itu? Hanya untuk menakut-nakuti orang,
menyombongkan diri sendiri dan paling banyak hanya bisa menjadi kepandaian tukang-tukang pukul dan
buaya-buaya darat, tukang-tukang berkelahi saja!"
Sekali lagi Li Cu menarik napas kecewa. Ia tadinya tidak percaya sehingga ia pernah menyerang Beng
San. Ternyata menghadapi sebuah pukulan biasa saja Beng San tidak mampu menghindarkan diri. Akan
tetapi lweekang di tubuhnya masih tetap ada dan kuat sungguh pun agaknya Beng San lupa pula
bagaimana untuk menyalurkan hawa murni di tubuhnya itu.
Tadinya ada pikiran padanya untuk melatih Beng San, akan tetapi pikiran ini ia buang lagi ketika ia teringat
betapa tingkat kepandaian Beng San sebetulnya sudah jauh melampaui dirinya sehingga kalau sekarang
Beng San menerima pendidikan mulai pertama dari dia, apakah akan jadinya? Jangan-jangan malah
pelajaran itu menyeleweng dan tidak cocok dengan hawa murni di tubuh Beng San.
Ia menunduk dan memandang wajah yang tampan itu. Ah, kalau ia teringat betapa dahulu Beng San
dengan berani mati menyerbu ke sarang Ho-hai Sam-ong, mati-matian datang untuk menolongnya! Bila ia
teringat akhir-akhir ini betapa Beng San tanpa mempedulikan diri sendiri telah menyedot asap beracun
yang berada di dadanya, menyedot begitu saja dari mulut ke mulut!
dunia-kangouw.blogspot.com
Ahh, ia tidak saja berhutang budi, juga berhutang nyawa. Hanya dapat ia balas dengan cinta kasih. Kalau
sudah mengenangkan itu semua, ingin ia mendekap kepala itu, ingin membelainya dan menunjukkan kasih
sayangnya. Akan tetapi Li Cu menahan hatinya, hanya memandang dengan wajah sayu dan mata redup
setengah dikatupkan.
Gadis ini sama sekali tidak tahu bahwa sudah semenjak ia keluar bersama Beng San dari dalam rumah
tadi, sepasang mata menyaksikan semua yang terjadi antara dia dan Beng San. Sepasang mata yang
tajam, dilindungi alis tebal yang kadang kala mengerut, kadang bergerak-gerak. Sepasang mata itu kadang
kala menjadi redup terharu, kadang-kadang menyorotkan api kemarahan. Sepasang mata milik seorang
laki-laki tua yang tampan dan gagah perkasa, seorang pendekar yang bukan lain adalah Bu-tek Kiam-ong
(Raja Pedang Tanpa Tandingan) Cia Hui Gan, ayah dari Cia Li Cu!
Dan baru saja, dari lain jurusan, datang pula seorang tokoh lainnya yang gerakannya demikian ringan
sehingga tidak terdengar oleh Si Raja Pedang sekali pun. Orang ini pun mengintai dan matanya yang liar
menjadi makin berputaran marah pada saat ia melihat adegan mesra itu, yaitu Beng San rebah telentang di
bangku dengan kepalanya di atas pangkuan seorang dara cantik jelita yang mengelus-elus rambutnya!
Orang ini bukan lain adalah Song-bun-kwi Kwee Lun Si Setan Berkabung! Song-bun-kwi Kwee Lun masih
dapat mendengar tanya jawab antara Li Cu dan Beng San tentang ilmu silat tadi dan kegirangan hatinya
bukan main ketika ia mendengar bahwa Beng San telah hilang ingatannya dan telah hilang atau terlupa
pula ilmu silatnya.
"Si keparat Beng San! Kau telah kehilangan kepandaianmu, dan sekarang kau juga akan kehilangan
nyawamu yang harus menghadap Bi Goat untuk menebus dosa," demikian katanya dalam hati.
Tiba-tiba ia melompat keluar sambil tertawa bergelak. Tanpa berkata apa-apa serentak ia maju menubruk
dan menghantam dada Beng San yang rebah telentang di atas bangku.
Li Cu berseru panjang. Sebagai seorang ahli silat tingkat tinggi, tubuh gadis ini otomatis bergerak dan ia
mendorong tubuh Beng San sekuat tenaga sambil ia sendiri melompat ke belakang dan mencabut
pedangnya.
Biar pun tubuhnya sudah terdorong dan terlempar dari bangku, tetap saja punggung Beng San keserempet
pukulan Song-bun-kwi. Beng San terpelanting hingga terguling-guling sambil muntahkan darah segar dari
mulutnya. Baiknya lweekang di tubuhnya masih ada dan secara otomatis tenaga dalam ini bekerja untuk
menahan atau melindungi tempat yang terpukul, maka Beng San hanya mengalami luka ringan di sebelah
dalam saja dan nyawanya selamat.
Di dalam tubuh Beng San terkandung dua hawa yang amat besar, hawa Im dan Yang, dua hawa yang
bertentangan akan tetapi telah teratur kedudukannya. Berbeda dengan orang lain, bila terpukul dan
menderita luka dalam, muntah darah berarti membahayakan. Sebaliknya, dengan muntah darah ini bagi
Beng San malah menyatakan bahwa tenaga di dalam tubuhnya sudah bekerja dan darah yang
dimuntahkan itu sajalah yang menjadi akibat pukulan tadi.
Melihat Beng San muntah darah, Li Cu kaget setengah mati dan mengira bahwa Beng San pasti terluka
parah. Ia marah bukan main dan pedangnya lalu diputar ke depan.
"Song-bun-kwi manusia iblis! Kau keji dan curang. Kalau memang kau ada kepandaian, mengapa
menyerang orang sakit? Majulah, akulah musuhmu!"
Pedangnya menyambar-nyambar ke depan dan sekejap mata saja gulungan sinar pedang mengurung
Song-bun-kwi dengan hebatnya. Song-bun-kwi tertawa bergelak, pedangnya cepat menangkis dari
samping lalu ia berkata,
"Perempuan tak tahu malu! Aku hendak membunuh mantuku sendiri yang telah menjadi penyebab
kematian anakku, yang telah meninggalkan anakku untuk bermain gila dengan segala perempuan busuk,
kau menghalangi ada hubungan apakah? Apakah kau kekasih barunya?"
Kemarahan Li Cu membuat dia hampir menangis mendengar caci-maki kotor ini. Akan tetapi dia harus
membela Beng San, membela nyawanya juga membela nama baiknya.
dunia-kangouw.blogspot.com
"Song-bun-kwi, kau seorang kakek tua bangka yang sudah mau mati tetapi ucapanmu seperti orang gila
atau seperti anak kecil saja! Beng San bukan menjadi sebab kematian Bi Goat. Selama ini dia pergi karena
dia membantu Kaisar untuk membasmi orang-orang jahat yang akan memberontak. Dia dimintai bantuan
oleh Pek-lian-pai dalam tugas yang mulia. Yang menyebabkan kematian anakmu adalah iblis wanita Kwa
Hong. Kalau kau memang mendendam, mengapa kau tidak mencari dan membalas kepada Kwa Hong?
Andai kata kau hendak membalas kepada Beng San, sebagai orang gagah kau pun harus menanti sampai
dia sembuh dulu agar dia dapat melayanimu. Apakah kau sudah berubah menjadi pengecut?"
Song-bun-kwi mengeluarkan suara menggereng hebat, matanya liar. "Kwa Hong akan kubunuh, Beng San
akan kubunuh, dan kau yang membelanya akan kubunuh lebih dulu!" Setelah berkata demikian ia
menubruk maju dan menyerang dengan pedangnya.
Pedangnya bergerak menusuk kemudian ditarik ke bawah. Kalau serangan ini berhasil tentu korbannya
akan terbelah dada dan perutnya, Namun dengan gerakan lincah dan indah sekali Li Cu sudah mengelak
ke kanan, tubuhnya berputar seperti orang menari kemudian membabat dengan pedangnya ke arah
pedang lawan. Ia hendak mengandalkan ketajaman Liong-cu-kiam untuk mematahkan senjata lawannya.
Akan tetapi Song-bun-kwi bukanlah seorang tokoh yang masih hijau. Ia cukup mengenal Liong-cu-kiam.
Biar pun yang ia pegang juga sebatang pedang yang baik dan kuat, akan tetapi ia tidak berani
mengadukan pedangnya secara langsung dengan Liong-cu-kiam. Ia hanya menyampok pedang lawannya
yang ampuh bukan main itu dari samping dengan pedangnya sehingga peraduan kedua pedang pada
bagian tajamnya dapat dihindarkan.
Serang-menyerang lalu terjadi dengan amat serunya dan mati-matian. Ilmu kepandaian Song-bun-kwi
hebat bukan main, dia adalah tokoh besar dalam dunia persilatan. Biar pun Li Cu juga telah mewarisi ilmu
pedang yang sakti, namun ia kalah pengalaman bertempur biar pun di tangannya ada pedang pusaka
Liong-cu-kiam.
Song-bun-kwi tidak mengenal ampun, mendesak terus sambil mengeluarkan jurus-jurus yang paling hebat
karena ia maklum bahwa lawannya biar pun hanya merupakan seorang gadis muda namun cukup lihai dan
berbahaya. Malah kakek ini di samping pedangnya yang dimainkan dengan Ilmu Pedang Yang-sin Kiamsut
yang dicampur ilmu pedangnya sendiri, juga mulai melancarkan pukulan-pukulan maut dengan tangan
kiri, menggunakan pukulan jarak jauh yang bukan main dahsyatnya.
Tiap kali pukulan ini datang, Li Cu merasa sambaran angin yang hebat ke arahnya. Ia terkejut sekali dan
maklum bahwa biar pun pukulan lawan tidak mengenai tubuhnya, hawa pukulan itu kalau tepat mengenai
bagian berbahaya, bisa mendatangkan celaka. Maka ia selalu mengelak kalau diserang pukulan ini. Hal ini
membuat keadaannya terhimpit.
"Heeei, jangan serang isteriku! Ehhh, kakek yang baik, orang setua engkau seharusnya memberi contoh
yang baik kepada orang muda, mengapa malah suka berkelahi? Heee! Hati-hati, jangan main-main dengan
pedang yang begitu tajam, jangan-jangan kau nanti mencelakai isteriku!" Beng San berteriak-teriak penuh
kekuatiran.
Tadi ia agak nanar, malah ia setengah pingsan oleh pukulan yang membuat ia muntah darah. Tetapi
setelah ia dapat bangun, ia segera berteriak-teriak melarang Song-bun-kwi menyerang ‘isterinya’.
Mana Song-bun-kwi mau pedulikan dia? Makin hebat Song-bun-kwi mendesak sehingga pada suatu saat
Li Cu harus terhuyung-huyung ke belakang, hampir saja menjadi korban pukulan mautnya. Beng San tak
dapat menahan kesabarannya lagi, ia melangkah maju dan menudingkan telunjuknya.
"Orang tua, mengapa kau begini nekat? Isteriku pandai main pedang, kalau sampai dia marah... hemmm,
apakah kau sudah bosan hidup?"
Song-bun-kwi kaget juga menyaksikan sikap Beng San ini. Dilihat sikapnya yang begitu berani, agaknya
pemuda ini masih memiliki kepandaiannya. Sejenak ia tertegun dan ini membuat gerakannya menjadi agak
kalut dan terlambat sehingga Li Cu bisa memperbaiki kedudukannya dan gadis yang tadinya terdesak itu
kini berbalik dapat balas menyerang.
"Bagus, Beng San. Kau majulah, pukul dia mampus dengan ilmu saktimu!" Li Cu berseru keras.
dunia-kangouw.blogspot.com
Song-bun-kwi makin bingung dan kaget, dikiranya Beng San sungguh-sungguh hendak menyerangnya.
Kembali kesempatan ini digunakan oleh Li Cu untuk mainkan pedangnya dan...
"Brettt…!" ujung baju kakek itu terbabat putus!
Song-bun-kwi kaget sekali dan cepat ia melompat ke arah Beng San sambil mengayun pedangnya. Girang
hatinya ketika mendapat kenyataan bahwa sama sekali Beng San tidak dapat mengelak, malah Li Cu yang
menangkisnya serangan ini.
"Aha, kalian mau menipu aku? Ha-ha-ha, kalian harus mampus sekarang juga!"
Dengan ucapan ini Song-bun-kwi mendesak makin hebat sehingga Li Cu menjadi sibuk menangkis dan
mengelak. Sekali pundaknya terkena pukulan tangan kiri Song-bun-kwi sehingga gadis itu terpaksa
menggulingkan diri dan terus bergulingan menjauhkan diri dari Song-bun-kwi. Akan tetapi sambil tertawatawa
kakek ini mengejar terus dengan pedang diangkat, siap untuk membacok.
"Tranggg!"
Pedang Song-bun-kwi terpental dan biar pun pedang itu tidak terlepas dari pegangannya dan ia cepat
dapat melompat mundur, namun lengannya agak di atas pergelangan telah tergores pedang di tangan Butek
Kiam-ong.
Cia Hui Gan yang sudah berdiri dengan gagah di situ. Pendekar pedang inilah yang tadi menangkis
bacokan Song-bun-kwi untuk menolong nyawa puterinya.
Melihat datangnya Raja Pedang ini, Song-bun-kwi mendengus marah, "Huh, kau juga mau ikut-ikut
urusanku?"
"Song-bun-kwi iblis tua! Melihat puterinya hendak dibunuh orang, bagaimana seorang ayah bisa diam
saja?"
Sejenak Song-bun-kwi tertegun. Ia maklum akan kehebatan ilmu pedang Cia Hui Gan, maka dia tidak
berani berlaku sembrono. Kemudian ia menoleh ke arah Beng San yang berdiri bengong di pinggiran.
"Bagus, kau betul sekali, Kiam-ong. Anakku dibunuh orang, mana aku bisa diam saja?" Sambil berkata
demikian ia lalu menubruk ke depan dan menyerang Beng San dengan pedangnya.
Melihat itu Li Cu kembali menggerakkan senjatanya menangkis serangan kakek itu. Kali ini Song-bun-kwi
terlalu bernafsu dalam serangannya, maka pedangnya bertemu secara telak sekali dengan pedang di
tangan Li Cu. Dengan mengeluarkan bunyi nyaring, pedang di tangan Song-bun-kwi terbabat putus
menjadi dua potong oleh Liong-cu-kiam!
"Li Cu, jangan mencampuri urusan mereka!" Cia Hui Gan membentak anaknya, mukanya menjadi merah
dan malu melihat sikap puterinya itu.
Akan tetapi, Li Cu dengan pedang di tangan berdiri memandang ayahnya dengan mata bersinar. "Ayah,
Beng San tidak pernah membunuh anak Song-bun-kwi yang mati karena melahirkan. Beng San bahkan
sangat mencintanya. Mana bisa aku membiarkan orang membunuhnya? Kalau Song-bun-kwi menantang
Beng San dalam keadaan seperti biasa, aku pun tidak peduli. Akan tetapi sekarang Beng San sedang
sakit, sama sekali tidak dapat melawan!"
Song-bun-kwi marah sekali, akan tetapi juga gentar. Menghadapi gadis itu saja sudah payah untuk
mencapai kemenangan, apa lagi sekarang muncul ayahnya yang tentu saja tidak membiarkan ia
mengganggu Li Cu.
Pada saat itu terdengar suara tangis seorang anak tak jauh dari situ. Mendengar suara ini Song-bun-kwi
mengeluarkan gerengan-gerengan marah, lalu ia melompat pergi ke arah suara tangisan anak kecil itu.
Dari jauh terdengar suaranya,
"Bu-tek Kiam-ong, kau mengandalkan nama besarmu untuk bersikap sewenang-wenang. Tunggulah, kelak
aku akan mencarimu di Thai-san!"
dunia-kangouw.blogspot.com
Sejenak hening. Ayah dan anak itu saling berpandangan. Si ayah dengan sinar mata penuh kemarahan, Si
anak tenang-tenang saja akan tetapi tarikan mukanya jelas-jelas membayangkan keteguhan hatinya.
"Li Cu, apa artinya semua ini?" akhirnya suara si ayah terdengar memecah kesunyian.
"Artinya, Ayah, bahwa aku cinta kepada Beng San dan sisa hidupku akan kuhabiskan di sampingnya,"
jawab gadis itu dengan suara penuh ketetapan hati.
Bu-tek Kiam-ong Cia Hui Gan mengerutkan keningnya. "Tapi... tapi ia seorang gila..."
"Dia tidak gila, Ayah. Hanya kehancuran hati membuat ia demikian. Ia kematian isterinya yang tercinta dan
ia merasa berdosa besar terhadap isterinya sehingga kesedihannya itu membuat ia kehilangan ingatan.
Akan tetapi... dia seorang berbatin mulia, Ayah, telah beberapa kali menyelamatkan nyawaku tanpa
mempedulikan keselamatan diri sendiri. Aku ingin membalas budinya dan..."
"Tapi dia tidak menganggapmu sebagai Cia Li Cu..."
"Memang dia menganggap aku sebagai isterinya yang sudah meninggal dunia. Dan ini lebih mempertebal
keyakinanku betapa setia hatinya, penuh cinta kasih murni. Aku tak dapat meninggalkannya, Ayah, karena
hal itu berarti dia akan celaka."
"Li Cu, apa kau juga sudah menjadi gila? Anakku hendak mengorbankan sisa hidupnya untuk seorang
gila? Tidak mungkin! Kakak kandungnya seorang berwatak durhaka dan busuk, adiknya pun tak akan jauh
bedanya. Dia harus mampus saja dari pada merusak hidupmu!"
Tiba-tiba sinar terang berkelebat dan tahu-tahu kakek ini sudah menerjang ke arah Beng San yang berdiri
melongo melihat perdebatan antara ayah dan anak itu.
"Ayah...!" Li Cu bergerak dan…
"Tranggg!"
Bunga api berpijar, pedang Liong-cu-kiam di tangan Li Cu terlepas menancap di atas tanah, akan tetapi
pedang di tangan Cia Hui Gan sudah patah menjadi dua potong.
Kembali ayah dan anak berpandangan, bertentangan mengadu kekuatan kemauan yang sama kerasnya.
"Aku mendengar ejekan si bangsat Beng Kui...," berkata Cia Hui Gan, suaranya perlahan penuh
penyesalan, "bahwa anakku lagi tergila-gila pada seorang laki-laki perusak wanita! Bahwa Beng San ini
sudah merusak penghidupan seorang gadis murid Hoa-san-pai yang ditinggalkannya untuk menikah
dengan anak Song-bun-kwi. Sekarang agaknya ia menjadi penyebab kematian isterinya itu dan dia
sekarang menempel engkau!"
"Ayah...! Semua itu bohong belaka! Semua itu terjadi bukan karena kesalahan Beng San. Tentang aku...,
bukan dia yang menempel, melainkan aku sendiri yang tak dapat berpisah lagi dari padanya."
Bergerak-gerak alis mata Cia Hui Gan. "Hemm, ini pendapat seorang bocah masih hijau! Cintamu mudah
berubah dan berganti-ganti. Orang ini lebih baik mati dari pada merusak hidupmu!" Dengan pedang yang
tinggal sepotong itu Cia Hui Gan melompat ke depan dan menyerang Beng San lagi.
"Ayah, kalau kau hendak membunuhnya, kau boleh melihat anakmu menggeletak tanpa nyawa lebih dulu!"
Li Cu berseru keras dan cepat dia menyambar Liong-cu-kiam dari atas tanah, langsung dia bacokkan ke
lehernya sendiri!
"Anak gila...!"
Pedang buntung di tangan Cia Hui Gan terlepas meluncur ke arah Li Cu dan menghantam Liong-cu-kiam di
tangan gadis itu. Hebat sekali sambitan ini yang merupakan kepandaian istimewa dari Si Raja Pedang,
sehingga Li Cu sendiri tidak sanggup mempertahankan pedangnya yang runtuh terlepas dari tangannya.
Gadis ini menangis dan menutupi mukanya.
dunia-kangouw.blogspot.com
"Ayah..., kau boleh bunuh dia... tapi aku pun tidak sudi lagi hidup di dunia ini...," tangisnya.
Cia Hui Gan menarik napas panjang. Ia sangat sayang kepada puteri tunggalnya ini. Ia hidup hanya berdua
dengan puterinya karena ibu Li Cu sudah semenjak dulu meninggal dunia. Bagaimana ia dapat merelakan
anaknya mati?
Tadi pun ia hanya ingin menyelami hati Li Cu, sampai di mana perasaan yang dianggap cinta kasih oleh
anaknya itu terhadap Beng San. Kakek ini maklum betapa hancur dan sakitnya hati Li Cu oleh karena sikap
dan perlakuan Beng Kui kepadanya. Dan kakek ini maklum pula bahwa meski pun di mulutnya tidak pernah
menyatakan sesuatu, namun di dalam hatinya gadisnya itu tentu menaruh penyesalan kepada ayahnya
sendiri, karena sesungguhnya dialah yang dahulu menjodohkan anaknya itu dengan Beng Kui.
Beng Kui merupakan pemuda pilihan Cia Hui Gan untuk anaknya yang hanya mentaati kehendak ayahnya.
Setelah pilihan itu ternyata keliru, sekarang anaknya mencari pilihan hatinya sendiri, bagaimana dia tega
untuk menghalanginya?
Sebetulnya, sejak dahulu ketika untuk pertama kali bertemu dengan Beng San, memang Cia Hui Gan
menaruh rasa simpati yang besar terhadap pemuda ini dan diam-diam dia mengakui bahwa Beng San
sebetulnya lebih cocok untuk menjadi jodoh puterinya. Akan tetapi sekarang pemuda itu selain sudah
menjadi duda yang ditinggali anak, keadaannya juga tidak normal lagi, kehilangan ingatan dan lupa akan
kepandaiannya sama sekali!
(baca Raja Pedang)
"Kau memang bandel..." akhirnya dia berkata. "Baiklah, kalau kau memang sudah yakin akan cinta
kasihmu terhadap Beng San, akan tetapi kelak jangan kau salahkan ayahmu kalau kau kecewa."
"Ayah... terima kasih, Ayah..." Li Cu menubruk dan merangkul ayahnya sambil menangis.
"Sudahlah, kita harus segera pergi dari sini, kita tak boleh mengacau di tempat orang lain. Hemmm, bocah
itu hanya akan memancing datangnya banyak musuh ke Thai-san..."
Li Cu tidak memberi komentar apa-apa atas ucapan ayahnya barusan, melainkan dengan girang ia lalu
menggandeng tangan Beng San sambil menariknya dan berkata, "Beng San, hayo kau ikut aku ke Thaisan."
"Bi Goat, kenapa kita ke Thai-san?" Beng San bertanya seperti orang bingung.
"Mulai sekarang kita akan tinggal di sana, kau ikutlah saja dengan aku dan jangan banyak bertanya."
Beng San mengangguk-angguk. "Baiklah...baiklah, kita ke Thai-san...aku menurut dan tak akan
membantah asal selalu berada di dekatmu."
Melihat dan mendengar ini Cia Hui Gan menggeleng kepalanya dan diam-diam ia berdoa kepada Tuhan
semoga keputusan yang diambil oleh anaknya itu tidak keliru dan tak akan merusak penghidupan anaknya
dikelak kemudian hari.
Atas pertanyaan Li Cu, dalam perjalanan menuju Thai-san itu Cia Hui Gan menceritakan apa yang telah
terjadi di kota raja.
Seperti yang sudah diceritakan pada bagian depan, para orang gagah berusaha untuk menggagalkan
rencana jahat yang diatur oleh Pangeran Lu Siauw Ong bersama Ho-hai Sam-ong. Di antara mereka itu
terdapat pula Cia Hui Gan dan anaknya Li Cu sendiri, yang pergi menyusul rombongan Kaisar untuk
melindunginya. Ada pun Cia Hui Gan pergi ke kota raja untuk menghukum muridnya yang murtad dan
durhaka.
Telah dituturkan pula di bagian depan betapa Kaisar akhirnya terhindar dari mala petaka pencegatan Hohai
Sam-ong dan anak buahnya serta teman-temannya. Sebagian besar adalah jasa Beng San yang
terlebih dahulu secara sembunyi sudah menjumpai Kaisar di tengah perjalanan dan mengajukan usul
supaya supaya Kaisar diam-diam kembali ke kota Raja, dan menyuruh orang lain menggantikan Kaisar di
dalam joli, Seperti yang telah kita ketahui, Ho-Hai Sam-ong tertipu dan usaha mereka tidak saja hancur
berantakan, malah mereka pun akhirnya tewas.
dunia-kangouw.blogspot.com
Ada pun Cia Hui Gan yang mencari muridnya, Tan Beng Kui di kota saja, datang dalam saat yang
kebetulan pula. Pemberontakan telah pecah, penyerbuan para pemberontak ke dalam istana sedang
terjadi. Akan tetapi, alangkah kaget hati mereka ketika tiba-tiba, tidak saja muncul para pengawal yang
serba lengkap dan kuat, juga muncul banyak sekali anggota Pek-lian-pai di bawah pimpinan Tan-Hok yang
gagah perkasa. Lebih hebat lagi kekagetan para pemberontak ketika tiba-tiba muncul pula Kaisar sendiri
yang memimpin tentaranya untuk menghancurkan barisan pemberontak yang menyerbu.
Sudah terang bahwa Kaisar pergi ke utara dengan rombongannya, mengapa tiba-tiba bisa berada di situ?
Keadaan menjadi kacau-balau dan para pemberontak itu lantas berkurang semangatnya. Apa lagi di pihak
Kaisar terdapat orang-orang gagah, terutama sekali Cia Hui Gan yang mengamuk seperti seekor naga
terbang dan masih ada lagi raksasa muda Tan Hok yang mengamuk dengan anak buahnya yang gagah.
Cia Hui Gan yang sengaja mencari muridnya, akhirnya dapat berhadapan muka dengan Beng Kui yang
berpakaian seperti seorang jenderal besar dan sedang mengamuk dengan pedangnya, Liong-cu-kiam.
Alangkah kagetnya ketika tiba-tiba dia melihat gurunya. Akan tetapi Beng Kui malah menegur,
"Suhu, mengapa Suhu menghalangi cita-cita teecu yang tinggi?"
"Keparat, kau membikin malu gurumu saja dengan perbuatanmu yang hina. Mulai saat ini aku bukan
gurumu lagi!"
"Aha, jadi Suhu juga berpandangan picik seperti Li Cu dan merasa sakit hati karena teecu menjadi
menantu Lu Siauw Ong? Apakah Suhu tidak melihat bahwa kalau teecu kelak menjadi menantu Kaisar dan
calon kaisar, masih belum terlambat untuk menikah dengan sumoi dan Suhu sendiri tentu memperoleh
kedudukan tinggi?"
"Bangsat, tutup mulutmu!" dengan amarah meluap-luap Cia Hui Gan menyerang.
Beng Kui menangkis dan melakukan perlawanan. Tapi betapa pun juga, pedang pusaka Liong-cu-kiam di
tangannya tidak mampu membantu banyak terhadap serangan-serangan gurunya yang lihai bukan main
itu. Apa lagi ketika Beng Kui melihat betapa barisan yang dipimpinnya itu mulai berantakan dan cerai-berai
karena memang kalah kuat, hatinya lalu menjadi risau dan permainan pedangnya kacau-balau.
Kesempatan ini dipergunakan oleh Cia Hui Gan untuk mendesaknya dan pada saat yang baik, pundak kiri
Beng Kui dapat tertusuk oleh pedang gurunya. Ia menjerit dan melompat ke belakang, menghilang di
antara anak buahnya yang mulai berlarian ke sana ke mari mencari jalan keluar. Cia Hui Gan cepat
mengejar karena ia bermaksud membunuh bekas muridnya itu, namun Beng Kui sudah mendapatkan
seekor kuda dan sudah lari jauh.
Demikianlah pengalaman Cia Hui Gan di kota raja. Kaisar sendiri lalu menyatakan terima kasih kepadanya,
akan tetapi Cia Hui Gan tak lama berdiam di kota raja, melainkan terus menyusul puterinya.
Ia mendengar bahwa pencegatan rombongan Kaisar dapat digagalkan serta dihancurkan pula. Akan tetapi
dengan hati kecut ia juga mendengar bahwa puterinya telah terluka dan ditolong oleh Beng San. Kisah ini
ia dengar dari pada anggota Pek-lian-pai yang masih tertinggal di tempat itu karena terluka.
Cia Hui Gan tidak percaya lagi kepada Beng San setelah kekecewaannya pada Beng Kui. Jika kakaknya
seperti itu, mana bisa adiknya baik pula? Dengan hati kuatir ia cepat-cepat melakukan perjalanan
menyusul ke Min-san dan akhirnya ia menyaksikan semua kejadian yang membuat hatinya menjadi penuh
kegelisahan akan hari depan puterinya…..
********************
Setahun lebih Li Cu merawat Beng San dengan penuh kesabaran dan penuh cinta kasih. Melihat keadaan
puterinya itu yang rela mengorbankan segala hal untuk Beng San yang masih saja belum kembali
ingatannya, Cia Hui Gan merasa terharu dan kasihan sekali. Oleh karena keadaan Beng San yang boleh
dibilang telah berubah menjadi seorang yang lemah, maka Raja Pedang ini lalu menggembleng puterinya
dengan ilmu yang lebih tinggi agar kelak sepeninggalannya Li Cu dapat mempertahankan diri dari segala
bahaya yang menimpanya.
Memang Cia Li Cu seorang gadis yang hebat, jarang bandingannya di dunia ini. Cintanya terhadap Beng
San benar-benar cinta yang murni dan suci, cinta yang tidak dikotori nafsu, tidak tercemar oleh keinginan
dunia-kangouw.blogspot.com
menyenangkan diri sendiri. Oleh karena sifat cintanya yang mulus inilah maka ia tahan menderita segala
tekanan batin.
Beng San masih menganggap Li Cu sebagai Bi Goat. Dia masih saja belum mendapatkan kembali ilmuilmu
silatnya.
Sering kali Cia Hui Gan menyatakan kekuatirannya kepada puterinya itu dengan kata-kata nasehat,
"Li Cu, keputusan hatimu untuk mengorbankan diri demi cintamu kepada Beng San, aku sebagai orang tua
tidak akan mengganggu gugat lagi. Akan tetapi engkau harus mengerti bahwa keputusan ini memancing
datangnya banyak musuh. Sudah pasti Song-bun-kwi akan membalaskan anaknya yang kematiannya dia
anggap karena kesalahan Beng San. Juga wanita yang bernama Kwa Hong, murid Hoa-san-pai itu...
hemmm, kiraku dia juga merupakan ancaman bahaya dalam hidupmu kelak. Belum lagi kalau kita ingat
kepada musuh-musuh Beng San yang amat banyak dan yang semuanya terdiri dari orang-orang sakti."
"Aku tidak takut, Ayah," jawab Li Cu gagah. "Biarkan mereka datang, orang-orang jahat itu. Aku akan
membela Beng San mati-matian. Pula, Ayah berada di sini, aku takut apa lagi?" Ucapan terakhir ini
bernada manja.
Bu-tek Kiam-ong Cia Hui Gan menggeleng-gelengkan kepalanya yang sudah mulai penuh rambut putih.
"Tentu saja aku akan melindungimu selama aku masih hidup, Li Cu. Akan tetapi, kau harus mengerti
bahwa usia manusia ada batasnya, demikian pula kepandaian. Menghadapi musuh-musuh Beng San itu,
biar pun aku sendiri maju kiranya masih belum cukup kuat. Oleh karena itu, mari bantulah aku dalam
pembuatan rencanaku yang sudah lama kupikir dan kuciptakan."
"Rencana apakah, Ayah?"
"Kita harus dapat membuat tempat kita ini menjadi tempat yang tidak mudah dikunjungi orang luar. Aku
sudah mempunyai rencana lengkapnya. Kita minta bantuan penduduk di kaki gunung untuk
mengerjakannya dan kurasa dalam waktu setahun tempat kita ini akan menjadi tempat persembunyian
yang takkan gampang-gampang dimasuki orang luar, biar pun mereka memiliki kepandaian tinggi."
Semenjak terjadi percakapan ini, Cia Hui Gan lalu mencari bantuan tenaga para penduduk di kaki gunung
dan mulailah rencananya itu dibuat. Ia memilih sebuah puncak yang amat indah pemandangannya dan
nyaman pula hawa udaranya, pula puncak ini dikelilingi oleh jurang yang terjal dan tak mungkin dilalui
manusia.
Bagian-bagian yang dapat digunakan orang untuk mendaki puncak, sengaja digugurkan sehingga bagi
orang luar tampaknya tempat itu tak mungkin didatangi. Menurut rencana kakek ini mereka akan membuat
jalan rahasia ke puncak, melalui terowongan buatan di bawah tanah.
Terowongan ini selain tidak tampak dari luar, juga di dalamnya dipenuhi alat-alat rahasia sehingga bagi
orang-orang luar amat berbahayalah untuk melaluinya, andai kata dia dapat menemukan pintu terowongan
juga. Selain alat-alat rahasia juga terowongan ini dibangun berliku-liku, banyak cabangnya dan mudah
sekali menyesatkan orang.
Akan tetapi untuk membuat semua ini membutuhkan tenaga dan waktu. Dan kekhawatiran Cia Hui Gan
tentang musuh-musuh besar Beng San ternyata terbukti ketika pembuatan jalan terowongan itu baru mulai
dibuat!
Pada waktu itu matahari baru saja terbit dan penduduk kaki gunung sudah berkumpul dan mulai bekerja
mengangkuti batu-batu yang dibutuhkan untuk pembuatan terowongan. Cia Hui Gan dan Cia Li Cu sedang
mengatur pekerjaan dan berada di puncak, di tempat terbuka yang akan dibangun menjadi tempat tinggal
mereka.
Beng San juga berada di situ, duduk di bawah sebatang pohon besar. Orang muda ini sekarang nampak
sehat, wajahnya segar dan agak gemuk malah, akan tetapi sepasang matanya kehilangan cahaya yang
biasanya bersinar tajam dan aneh. Sekarang bahkan kelihatan seperti orang bodoh.
Pakaiannya bersih dan ia nampak tersenyum-senyum gembira memandang ke arah Li Cu. Ia merasa
heran sekali mengapa orang-orang itu sibuk hendak membuat rumah, akan tetapi seperti biasa ia tidak
mengganggu ‘isterinya’.
dunia-kangouw.blogspot.com
Di pagi hari yang sejuk ini timbul bermacam-macam pertanyaan di dalam otaknya yang tidak sehat.
Kenapa isterinya menyebut ‘ayah’ kepada orang tua yang katanya seorang ahli pedang berjuluk Bu-tek
Kiam-ong bernama Cia Hui Gan? Ia sekarang sudah ingat bahwa ayah dari isterinya adalah Song-bun-kwi!
Tetapi mengapa Song-bun-kwi malah tidak kelihatan? Memang aneh isterinya sekarang! Kelihatannya
begitu mencinta padanya, akan tetapi kenapa amat berubah sehingga tidur pun mereka berpisah? Diamdiam
dia merasa kecewa dan berduka, akan tetapi dia tidak berani membantah. Kalau isterinya marah dan
meninggalkan dia, celaka!
Mendadak terdengar kegaduhan hebat. Orang-orang berteriak-teriak dan ada pula yang memekik
kesakitan, disusul suara gerengan seperti binatang buas mengamuk. Ada pula yang menjerit-jerit ketakutan
disusul ketawa melengking.
Cia Hui Gan dan Li Cu kaget sekali dan cepat mereka memandang. Apa yang mereka lihat membuat
keduanya berubah mukanya. Para pekerja lari cerai-berai dan malah ada yang sudah roboh karena
amukan dua orang yang bukan lain adalah Song-bun-kwi Kwee Lun dan Kwa Hong!
Dengan gerakan-gerakannya yang luar biasa, kakek tua berpakaian putih ini menggereng-gereng dan
kadang-kadang melengking seperti orang menangis sambil menghantam ke kanan kiri merobohkan para
pekerja yang tidak sempat lari menjauhkan diri. Lebih hebat dan mengerikan lagi ialah sepak terjang Kwa
Hong yang duduk di atas rajawali emasnya yang menyambar-nyambar dari atas dan menyebar maut
kepada para pekerja.
Kasihan sekali para penduduk kampung yang tidak mempunyai ilmu kepandaian silat itu. Mereka berusaha
lari menyelamatkan diri, akan tetapi hanya sedikit saja yang berhasil. Sebagian besar tak mampu lagi
menyelamatkan diri dan terpaksa harus menjadi korban keganasan dua orang itu.
Apa lagi mereka hanyalah petani-petani yang tidak berkepandaian. Andai kata mereka memiliki ilmu silat
sekali pun belum tentu mereka akan dapat menghindarkan diri dari dua orang yang memiliki kepandaian
dahsyat dan keganasan seperti iblis itu.
Melihat kejadian ini, tentu saja Bu-tek Kiam-ong Cia Hui Gan merasa dadanya bagaikan dibakar.
Kemarahannya tak dapat ia tahan lagi dan serentak ia lalu mencabut pedang dari belakang punggung,
meloncat ke depan dan membentak keras,
"Iblis jahat Song-bun-kwi dan kau tentu siluman betina she Kwa murid Hoa-san-pai! Hari ini kalian berani
datang ke Thai-san membunuhi orang-orang yang tidak berdosa, aku Cia Hui Gan bersumpah akan
membasmi kalian!" Pedangnya segera digerakkan dan secepat kilat ia menerjang kepada Song-bun-kwi.
Kakek ini pun sudah siap sedia, cepat mengelak dari pada sambaran sinar pedang yang luar biasa itu
sambil memutar pedangnya sendiri untuk balas menyerang. Sementara itu Li Cu juga sudah melompat
maju dan menggerakkan Liong-cu-kiam membantu ayahnya.
Akan tetapi dari atas terdengar suara ketawa mengikik dan menyambarlah sinar kehijauan lima buah
banyaknya ke arah ayah dan anak itu. Cia Hui Gan dan Li Cu melompat ke samping sambil menggerakkan
pedang menangkis.
Terdengar suara keras dan bunga api muncrat menyilaukan mata. Li Cu merasa betapa telapak tangannya
tergetar, maka diam-diam dia terkejut bukan main. Alangkah kuatnya wanita yang naik burung rajawaii itu!
Sambil tertawa-tawa Kwa Hong juga sudah meloncat turun dari atas punggung rajawali yang segera
terbang dan hinggap di atas puncak pohon besar sambil mengeluarkan bunyi melengking nyaring. Empat
orang musuh besar itu kini saling berhadapan, masih belum bergerak lagi setelah gebrakan pertama tadi.
Bagaimanakah Kwa Hong bisa datang bersama-sama Song-bun-kwi di Puncak Thai-san? Hanya hal
kebetulan saja. Ternyata bahwa Song-bun-kwi yang merasa sakit hati terhadap bekas mantunya itu tidak
jauh meninggalkan Thai-san. Ia selalu menanti saat baik untuk menculik dan membunuh Beng San.
Akhirnya pada pagi hari itu ia melihat Kwa Hong menunggang burung rajawali naik ke Thai-san. Giranglah
hatinya karena ia dapat menduga bahwa kedatangan tokoh baru yang menggemparkan ini pasti akan
memusuhi Beng San, maka ia segera menyusul naik dan melihat Kwa Hong menghajar para pekerja, ia
dunia-kangouw.blogspot.com
pun lalu turun tangan menyerbu. Yang amat berat dihadapi bagi Song-bun-kwi hanyalah Bu-tek Kiam-ong,
maka apa bila ia mendapat kawan yang kosen, ia tidak takut.
Sementara itu Kwa Hong sengaja datang ke Thai-san karena ia sudah mendengar tentang keadaan Beng
San yang kehilangan kepandaiannya. Ia ingin sekali menyaksikan dan jika betul demikian berarti ia akan
dapat segera membalas sakit hatinya. Pada saat ia melihat Song-bun-kwi membantunya, ia tidak berkata
apa-apa, malah tidak peduli sama sekali.
Cia Hui Gan sudah sangat marah melihat banyak penduduk menjadi korban keganasan Kwa Hong, maka
dia langsung membentak, “Perempuan liar, kenapa datang-datang kau mengacau tempat orang?!”
“Aku bukan perempuan liar, bukan pula mengacau tempat orang,” Kwa Hong menjawab sambil tersenyum
mengejek. “Aku datang untuk membawa suamiku pulang.”
“Kau pergilah. Di sini tidak ada suamimu, lagi pula kenapa kau harus mencari suamimu di tempat orang?”
kata Cia Hui Gan, nada bicaranya seperti balas mengejek.
Kwa Hong mulai marah, dia tahu Si Raja Pedang barusan menghinanya.
“Itulah suamiku,” kata Kwa Hong sambil menunjuk Beng San yang masih duduk di bawah pohon, dijaga
oleh Li Cu yang begitu melihat gelagat kurang baik langsung menghampiri pemuda itu untuk dijaganya.
“Namanya Tan Beng San!” sambung Kwa Hong.
“Kau perempuan tak tahu malu, mengakui laki-laki lain sebagai suami sendiri!” bentak Cia Hui Gan.
"Cia Hui Gan, kenapa kau begini tak tahu malu? Anak perempuanmu yang bermuka tebal itu telah
melindunginya? Hemmm, apakah hanya begini saja orang yang memiliki julukan Kiam-ong? Ternyata
hanya orang rendah...!" Kwa Hong memaki kalang-kabut.
Wajah Cia Hui Gan menjadi merah bukan main, matanya bersinar-sinar memancarkan api kemarahan,
"Iblis wanita, kau sebenarnya siapa dan apa maksudmu ke sini?" bentaknya.
"He, perempuan muda, jangan kau sembarangan bicara!" Song-bun-kwi juga amat kaget mendengar
ucapan Kwa Hong dan cepat memaki. "Beng San suami anakku, sekarang dirampas oleh anak orang she
Cia ini, Kenapa kau berani mengakunya sebagai suami? Apakah kau orang yang dulu melahirkan anak di
tempatku, ditolong oleh Bi Goat?"
Kwa Hong mengeluarkan suara ketawa mengejek. "Kalian orang-orang tua tahu apa? Dengarlah baik-baik.
Manusia bernama Tan Beng San itu, yang sekarang duduk di sana seperti patung hidup, sebelum dia
menikah dengah Kwee Bi Goat, dia sudah lebih dahulu menjadi ayah dari anakku. Akulah orang yang
paling berhak atas dirinya, dan siapa pun hendak menghalangi akan kubunuh mampus. Hee, Beng San!
Hayo kau ikut denganku. Apakah kau tidak ingin menengok anakmu?"
Beng San hanya melongo, sama sekali ia tidak ingat lagi siapa adanya wanita yang bicara tidak karuan itu.
Suara dan wajahnya serasa ia kenal baik, akan tetapi ia sudah lupa lagi kapan dan di mana. Beng San
memijit-mijit keningnya, mengingat-ingat.
"Ho-ho, nanti dulu!" Song-bun-kwi berseru sambil tertawa mengejek.
"Bukankah kau yang bernama Kwa Hong, anak murid Hoa-san-pai? Aku sudah banyak mendengar tentang
kau! Orang bilang bahwa kau telah menjadi isteri Koai Atong Si Bocah Tua gila. Kalau kau punya anak,
tentulah anakmu dengan Koai Atong itulah! Kau murid Hoa-san-pai jangan banyak membohong di sini."
"Tutup mulut busukmu, tua bangka gila!" Kwa Hong membentak sambil mencabut pedang pusaka Hoasan-
pai. "Buka matamu dan lihat ini. Aku Ketua Hoa-san-pai, bukan murid lagi, tahu? Ini adalah pusaka
Hoa-san-pai, berada di tangan Ketua Hoa-san-pai. Pedang pusaka ini kelak akan memenggal batang
lehermu karena kau sudah berani berkurang ajar kepadaku. Sekarang hendak kupakai membasmi orangorang
yang berani merampas Beng San."
"Ha-ha-ha, bagus, bagus! Keluarga Cia memang patut dibasmi. Mari kubantu kau!" kata Song-bun-kwi
yang cerdik dan licin.
dunia-kangouw.blogspot.com
Semenjak tadi Cia Hui Gan hanya berdiri dengan muka sebentar pucat sebentar merah. Ia merasa susah
dan malu sekali. Sebagai seorang tokoh kang-ouw yang kenamaan tentu saja ia tahu akan peraturan kangouw.
Dua orang yang datang ini memang berhak atas diri Beng San, yang seorang bekas kekasih Beng
San, dan yang seorang lagi mertuanya malah. Memang dia dan puterinya berada di pihak yang salah.
Akan tetapi mana bisa ia tidak membela Li Cu?
Tentu saja Li Cu maklum pula apa yang dipikirkan ayahnya, maka dengan gagah ia melangkah maju dan
berkata lantang, "Kalian bicara seakan mau menang sendiri saja! Song-bun-kwi, sudah jelas bahwa
kematian puterimu bukan karena kesalahan Beng San, melainkan karena Kwa Hong yang merupakan
kenyataan yang menghancurkan hatinya. Malah Beng San demikian mencinta puterimu itu sehingga
kematiannya membuat Beng San kehilangan ingatan. Dan kau, Kwa Hong, kau sungguh tak tahu malu,
perbuatanmu dengan Beng San itu sudah menunjukkan betapa rendah watakmu. Hubunganmu dengan
Beng San terjadi di bawah pengaruh racun, akan tetapi kau begitu tak punya malu untuk menyatakan Beng
San adalah suamimu!"
"Setan betina, tutup mulutmu!" Kwa Hong menjadi marah, mukanya menjadi merah dan matanya liar.
"Suami atau bukan dia adalah ayah anakku. Sebaliknya engkau ini bukan apa-apanya, tapi kenapa
membela mati-matian? Bukankah kau yang tergila-gila kepada Beng San?"
"Memang aku mencinta Beng San!” jawab Li Cu dengan suara tegas dan sikap gagah sambil mengedikkan
kepala. "Aku mencinta Beng San dan aku berhutang budi padanya. Sebaliknya, dia menganggap bahwa
aku adalah isterinya yang sudah meninggal. Demi cintaku dan demi untuk membalas budi, aku akan
melindunginya dengan taruhan nyawa dan ragaku. Apa bila kalian berdua manusia-manusia berhati iblis
bermaksud membunuh atau menculiknya, kalian harus lebih dulu dapat membunuh aku!"
"Bagus, memang aku hendak membunuhmu!" Kwa Hong menjerit dan anak panah-anak panah pada ujung
cambuknya menyambar.
"Trang-trang-trang!"
Li Cu menangkis dengan Liong-cu-kiam. Ujung tiga batang anak panah itu patah semua sedangkan yang
dua buah tidak mengenai pedang pusaka sehingga terhindar dari pada kerusakan.
Bukan main marahnya Kwa Hong melihat betapa dalam segebrakan saja senjatanya telah rusak oleh
pedang lawan yang ternyata amat kuat itu. Ia mencabut Hoa-san Po-kiam dan menerjang lagi.
Li Cu menangkis lagi dan kali ini ia terhuyung mundur dengan tangan sakit-sakit. Pedang di tangan Kwa
Hong sama sekali tidak rusak! Hal ini tidak aneh karena Hoa-san Po-kiam juga merupakan sebatang
pedang pusaka yang ampuh.
Sementara itu Kwa Hong sudah menyerang lagi. Gerakannya dalam penyerangan aneh sekali,
menyambar-nyambar bagaikan gerakan seekor burung. Pedang Hoa-san Po-kiam meluncur ke arah
tenggorokan Li Cu. Baru saja gadis ini hendak mengelak, ujung pedang itu sudah menyambar ke bawah
membelah dada!
Li Cu kaget dan cepat menggunakan Liong-cu-kiam menangkis, akan tetapi lagi-lagi ujung pedang lawan
tidak melanjutkan serangannya dan tahu-tahu tangan kiri Kwa Hong yang memukul dengan gerakan
pukulan Jing-tok-ciang! Li Cu benar-benar kaget sekali ketika tiba-tiba ada angin dingin menyambar dari
sebelah kanannya. Cepat ia mengelak namun karena serangan ini memang tidak tersangka-sangka
olehnya, ia terdorong hawa pukulan Jing-tok-ciang dan kembali ia terhuyung-huyung.
Pada waktu itu pedang Kwa Hong sudah mengejar pula dengan tusukan-tusukan disertai bacokan-bacokan
maut yang amat sukar diketahui perubahannya.
"Li Cu, mundurlah!" kata Cia Hui Gan sambil meloncat maju. Pedangnya menyambar mengeluarkan sinar
kilat dan sekaligus ia telah berhasil mengancam pergelangan tangan Kwa Hong dengan gulungan sinar
pedangnya yang hebat.
"Ayaaaa...!" Kwa Hong berjengit sambil menarik tangannya ke belakang, juga melangkah mundur setindak,
tidak melanjutkan desakannya kepada Li Cu.
dunia-kangouw.blogspot.com
"Ha-ha-ha, Raja Pedang tak tahu malu, mengeroyok seorang perempuan muda!" berkata Song-bun-kwi
sambil terjun ke dalam kalangan pertempuran.
Dengan Ilmu Pedang Yang-sin Kiam-sut ia segera menerjang Cia Hui Gan. Sementara itu, karena tadi
kaget ketika pergelangan tangannya hampir putus oleh pedang Cia Hui Gan, Kwa Hong marah bukan
main. Sambil mengeluarkan pekik melengking ia kini menerjang orang tua dari Thai-san itu sehingga dalam
sekejap mata saja Bu-tek Kiam-ong Cia Hui Gan sudah dikeroyok dua oleh Kwa Hong dan Song-bun-kwi.
Cia Hui Gan berjuluk Bu-tek Kiam-Ong (Raja Pedang Tanpa Tanding), ilmu pedang Sian-li Kiam-sut adalah
ilmu pedang keturunan yang asli dari pendekar sakti Ang I Niocu ratusan tahun yang lalu. Semenjak
ratusan tahun itu, Sian-li Kiam-sut boleh dibilang menjagoi di antara segala ilmu pedang.
Sebetulnya, ilmu pedang ini masih bersumber dengan Im-yang Sin-kiam-sut atau boleh dikatakan
cabangnya. Karena mempunyai ilmu pedang ini yang sudah dilatihnya secara sempurna maka tidak heran
apa bila Cia Hui Gan merupakan jago pedang yang sukar dilawan.
Akan tetapi sekarang ia dikeroyok oleh dua orang lawan yang bukan orang sembarangan. Song-bun-kwi
Kwee Lun adalah seorang tokoh kenamaan, malah tokoh nomor satu dari barat yang selain memiliki ilmu
silat yang tinggi dan sakti, juga telah mendapatkan ilmu silat pedang Yang-sin Kiam-sut. Di dunia kang-ouw
jarang ada yang mampu menandingi dirinya.
Ada pun orang ke dua biar pun tidak ternama dan hanya merupakan murid Hoa-san-pai, akan tetapi Kwa
Hong sekarang sama sekali tidak boleh disamakan dengan Kwa Hong dahulu pada saat menjadi murid
Hoa-san-pai. Kwa Hong telah mempelajari ilmu dari Koai Atong, terutama Jing-tok-ciang dan di samping
ini, yang membuat ia sekarang sekaligus berubah menjadi seorang yang luar biasa adalah ilmu silat yang
ia petik bersama Koai Atong dari gerakan-gerakan rajawali emas yang sekarang menjadi teman dan
binatang tunggangannya.
Li Cu maklum bahwa kepandaian dua orang ini hebat sekali. Ketika dia teringat bahwa pedang di tangan
Kwa Hong ternyata merupakan sebatang pedang pusaka yang ampuh, ia pun kuatir kalau-kalau ayahnya
akan terdesak dan rusak pedangnya. Maka ia segera berseru,
"Ayah, kau pergunakan Liong-cu-kiam ini!"
Oleh karena Cia Hui Gan juga seorang yang bermata awas dan tadi dapat melihat betapa pedang Kwa
Hong dapat menandingi Liong-cu-kiam, ia tidak mau banyak sungkan lagi. Diterimanya pedang Liong-cukiam
pendek itu dengan tangan kirinya, lalu ia berseru,
"Li Cu, bawa Beng San pergi dari sini. Biar aku menandingi dua iblis jahat ini!"
Akan tetapi Li Cu sendiri adalah seorang pendekar yang berhati baja, mana dia sudi pergi meninggalkan
ayahnya yang terancam bahaya dan melarikan diri?
"Tidak, Ayah. Mati hidup aku harus bersamamu, aku harus membantumu. Berikan saja pedangmu
kepadaku!"
"Jangan, Li Cu. Kalau hanya menghadapi dua ekor manusia binatang ini, aku sendirian masih sanggup.
Kau bawa pergi Beng San, selamatkan dia lebih dulu!"
Li Cu ragu-ragu dan sejenak ia berdiri memandang. Betul saja, biar pun dikeroyok dua, sepasang pedang
di tangan ayahnya itu benar-benar hebat, merupakan dua gulung sinar pedang yang berlainan warna,
menyambar-nyambar laksana naga di angkasa raya.
Ilmu pedang ayahnya benar-benar sudah sampai pada puncaknya. Hebat bukan main sampai Li Cu dalam
suasana tegang itu menjadi kagum akan keindahan Ilmu Pedang Sian-li Kiam-sut yang dimainkan
ayahnya.
Andai kata Song-bun-kwi dan Kwa Hong mengeroyoknya tidak menggunakan pedang, kiranya tidak akan
mungkin Cia Hui Gan kuat mempertahankan diri. Tingkat kepandaian Song-bun-kwi tidak lebih bawah dari
pada tingkatnya sendiri, ada pun wanita muda itu benar-benar memiliki ilmu silat yang aneh dan mukjijat
sekali.
dunia-kangouw.blogspot.com
Baiknya dua orang itu pun bermain pedang, sedangkan senjata pedang adalah permainan Cia Hui Gan
semenjak kecil, yang menjadi keahliannya sehingga ia dijuluki Raja Pedang. Maka, menghadapi permainan
pedang kedua orang lawannya, Cia Hui Gan merasa lebih mudah untuk tidak saja mempertahankan diri,
malah balas mendesak dengan jurus-jurus yang lihai.
Selagi Li Cu berdiam bimbang, mendadak terdengar suara bentakan orang, "Li Cu, kau benar-benar
membikin malu aku yang menjadi kekasihmu!"
Li Cu kaget bukan main karena tiba-tiba muncul Tan Beng Kui bersama Hek-hwa Kui-bo! Hek-hwa Kui-bo
segera menghunus pedang dan menyerbu ke dalam pertempuran sambil berseru kepada Song-bun-kwi.
"Hi-hi-hi-hi, tua bangka keparat, jangan kau perlihatkan sendiri kelihaian Yang-sin-kiam. Mana yang lebih
hebat dibandingkan dengan Im-sin-kiam ilmuku?"
Seperti kita ketahui dalam cerita Raja Pedang, kalau Song-bun-kwi dapat merampas kitab pelajaran Ilmu
Pedang Yang-sin-kiam, adalah Hek-hwa Kui-bo yang berhasil merampas kitab pasangannya, yaitu yang
mengandung pelajaran Ilmu Pedang Im-sin-kiam!
Dengan munculnya ahli Im-sin-kiam ini, boleh dibilang Cia Hui Gan menghadapi pasangan ilmu Pedang
Im-yang Sin-kiam-Sut yang hebat bukan main. Tentu saja ilmu pedang ini tidak sehebat kalau dimainkan
oleh satu orang seperti Beng San sebelum dia kehilangan ingatannya. Betapa pun juga, baru dalam
gebrakan-gebrakan pertama saja sudah terlihat betapa Cia Hui Gan menjadi sangat sibuk menghadapi
serangan-serangan pasangan dari dua orang tokoh ilmu silat kelas tinggi itu!
Li Cu kaget sekali melihat kedatangan bekas suheng dan tunangannya beserta Hek-hwa Kui-bo itu. Ini
berarti bertambahnya pihak lawan yang sangat tangguh. Juga di samping kekuatirannya, dia menjadi
marah sekali kepada Beng Kui.
Tanpa banyak cakap lagi dia segera menerjang bekas tunangannya itu dengan pukulan-pukulan maut. Ia
merasa menyesal bukan main karena ia masih belum sempat mengambil pedang lain setelah Liong-cukiam
dipinjamkan kepada ayahnya.
"Ha-ha, Li Cu. Kau tak tahu malu, melarikan laki-laki. Hah, perbuatan rendah dan hina."
"Tutup mulut dan jangan mencampuri urusanku!" bentak Li Cu makin marah.
Li Cu memperhebat serangannya. Akan tetapi dengan mudah Beng Kui dapat mengelak. Memang tingkat
kepandaian Beng Kui lebih tinggi dari pada kepandaian Li Cu, apa lagi memang dahulu sering kali ia
melatih ilmu silat kepada bekas sumoi-nya ini, karena itu gerakan-gerakan Li Cu sudah ia hafal benar.
Tiba-tiba Beng San datang berlari-lari dengan maksud hendak melerai mereka berdua yang sedang
bertanding. Sejak tadi ia mendengarkan semua percekcokan dengan pikiran bingung dan hati berdebar. Ia
menganggap mereka semua itu juga ‘isterinya’, bicara tidak karuan.
Selagi ia mengerahkan pikirannya untuk menyelami maksud dari semua percakapan yang ganjil itu, tibatiba
muncul Tan Beng Kui dan di dalam kebingungannya ternyata ia masih dapat ingat dan kenal kepada
kakak kandungnya ini. Kini kakak kandungnya itu bertempur melawan isterinya, tentu saja ia menjadi makin
bingung dan cepat lari menghampiri untuk mencegah.
"Kui-ko... jangan berkelahi dengan dia. Dia itu isteriku!" tegurnya sambil menggerakkan kedua tangan ke
atas untuk mencegah.
"Aha, sudah menjadi isterinya, ya? Sejak kapan?" Beng Kui mengejek sambil memandang kepada Li Cu.
Gadis ini menjadi merah mukanya, akan tetapi dia mengedikkan kepala dan menjawab lantang, "Kalau
betul kau mau apa? Bukan urusanmu!"
"Bi Goat, dia ini adalah kakak kandungku, jangan kau bertengkar kepadanya," kata pula Beng San,
suaranya penuh permohonan.
“Ha-ha-ha-ha, menjadi isteri seorang gila.” Beng Kui tertawa dan mengejek lagi, kemudian tiba-tiba
tangannya menghantam ke depan, tepat mengenai dada Beng San.
dunia-kangouw.blogspot.com
"Blukkk!"
Tubuh Beng San terlempar sampai beberapa meter jauhnya dan jatuh bergulingan. Akan tetapi ia segera
bangun kembali dan bertanya dengan mata terbelalak heran.
"Kui-ko, kenapa kau memukulku?" tanyanya berulang-ulang sambil melangkah maju lagi.
Beng Kui tadinya girang karena kini mendapat kenyataan bahwa adik kandungnya yang dahulu lihai itu
sekarang benar-benar telah kehilangan kepandaiannya. Tadinya pada saat mendengar berita ini ia masih
ragu-ragu.
Ketika tadi ia mendengar Beng San mengaku Li Cu sebagai isteri dan menyebutnya ‘Bi Goat’, ia tahu
bahwa adiknya benar-benar sudah kehilangan ingatan. Akan tetapi hal ini belum berarti kehilangan
kepandaiannya, karena itu untuk mencobanya ia cepat memukul. Pukulan ini cepat dan tak terduga-duga
sehingga Li Cu sendiri tidak sempat mencegah.
Giranglah hati Beng Kui melihat pukulannya tepat sasaran sehingga membuat adik yang ditakuti itu
terlempar dan bergulingan. Akan tetapi ia kaget bukan main melihat Beng San bangun lagi dan tidak apaapa.
Padahal pukulannya tadi ia lakukan dengan pengerahan tenaga lweekang.
Ia tidak tahu bahwa tenaga lweekang dan hawa murni di tubuh Beng San masih ada dan secara otomatis
bergerak melindungi bagian yang terpukul. Ia mengira bahwa Beng San masih lihai seperti dulu. Akan
tetapi melihat sikap Beng San dan mendengar pertanyaan yang berkali-kali itu ia dapat menduga bahwa
Beng San masih dilindungi oleh hawa murni di tubuhnya, tapi takkan dapat mempergunakan hawa dan
tenaganya untuk menyerang karena semua ilmu telah dilupakannya.
Sementara itu Li Cu marah bukan main melihat Beng San dipukul tadi. Juga ia merasa kuatir kalau-kalau
Beng San terluka parah, meski pun ia melihat Beng San sudah bangkit kembali dan malah mendekati Beng
Kui. Karena kuatir kalau Beng Kui memukul lagi, Li Cu mendahuluinya dan menyerang dengan hebatnya.
Beng Kui tertawa-tawa dan segera melayaninya. Ada pun Beng San terus berteriak-teriak mencegah
mereka bertempur.
Hati Li Cu gelisah bukan main. Biar pun ia sedang berhantam dengan Beng Kui, namun ia dapat
menangkap dengan pendengaran telinganya yang tajam bahwa keadaan ayahnya mulai terdesak hebat.
Hal ini mengguncangkan hatinya dan mengacaukan gerakan kaki tangannya.
"Beng Kui anak durhaka! Lepaskan Li Cu!" tiba-tiba Gia Hui Gan berteriak keras. "Li Cu, bawa Beng San
pergi jauh-jauh!"
Akan tetapi kata-katanya itu disambut dengan ketawa mengejek oleh Beng Kui.
Cia Hui Gan tidak berdaya menolong puterinya karena tiga orang lawannya makin hebat mendesaknya.
Rupanya karena maklum bahwa mereka menghadapi lawan yang sangat tangguh.
Hek-hwa Kui-bo dan Song-bun-kwi dapat bekerja sama dan mempergunakan Yang-sin Kiam-sut dan Imsin
Kiam-sut untuk mengeroyok jago pedang itu. Sedangkan Kwa Hong dengan ilmu silatnya yang tidak
karuan akan tetapi dahsyat sekali, terus saja melancarkan serangan-serangan maut.
Li Cu makin gelisah dan kesempatan ini digunakan dengan baik oleh Beng Kui. Sebuah tendangan pada
sambungan lutut membuat Li Cu roboh dan susulan totokan membuat gadis itu tidak dapat bergerak pula,
"Jangan pukul isteriku...!" Beng San berseru dan menubruk Li Cu.
Akan tetapi dia pun segera lemas tak dapat bergerak karena ditotok oleh Beng Kui pada dua jalan
darahnya yang penting. Kemudian sambil tertawa-tawa Beng Kui mengempit tubuh Li Cu dan Beng San,
lalu di bawa pergi lari cepat dari tempat itu.
"Beng Kui... keparat...! Lepaskan Li Cu...!" Cia Hui Gan membentak dan pedang di tangan kanannya
meluncur cepat mengejar bayangan Beng Kui.
dunia-kangouw.blogspot.com
Orang muda ini maklum akan kehebatan ilmu melempar pedang dari gurunya, ia menjadi pucat dan kaget
sekali. Cepat ia mengelak dan merendahkan tubuh, akan tetapi tetap saja pundaknya tertusuk pedang
yang meluncur dari belakang. Sambil menjerit kesakitan Beng Kui mempercepat larinya. Tubuh Li Cu serta
Beng San masih dikempitnya dan pedang itu pun masih menancap di pundaknya.
Masih untung bagi Beng Kui bahwa pada waktu itu pula Kwa Hong, Hek-hwa Kui-bo dan Song-bun-kwi
mendesak Cia Hui Gan sehingga Raja Pedang ini tidak sempat lagi untuk mengejarnya. Malah kini
keadaan Cia Hui Gan terdesak hebat karena di tangannya hanya terdapat sebatang pedang pendek, yaitu
pedang Liong-cu-kiam karena pedangnya sendiri tadi telah disambitkan ke arah Beng Kui dalam usaha
mencegah bekas murid itu menculik puterinya.
Hal ini ditambah lagi dengan hatinya yang risau memikirkan puterinya, maka permainan pedang Cia Hui
Gan menjadi agak kalut sehingga kurang kuat bagian pertahanannya. Kesempatan yang baik ini digunakan
oleh tiga orang pengeroyoknya untuk menghujankan serangan pedang. Raja Pedang itu kurang cepat dan
kulit lambungnya tergores pedang di tangan Kwa Hong.
Darah mengucur dan membasahi bajunya. Rasa perih menimbulkan kemarahan hebat dan mengobarkan
semangat perlawanan Cia Hui Gan. Kakek yang gagah perkasa ini lalu mengeluarkan seruan panjang.
Pedangnya yang hanya pendek saja itu berubah menjadi sinar bergulung-gulung, dahsyat sekali.
Bunyi nyaring beradunya pedang-pedang pusaka makin sering terdengar dibarengi oleh berpijarnya bungabunga
api. Namun tiga orang pengeroyoknya juga makin memperhebat tekanan karena mereka merasa
penasaran sekali.
Sambil mengerahkan tenaganya yang mukjijat Kwa Hong memutar pedang tiga kali, lalu membalikkan arah
pedang menusuk ke arah perut Raja Pedang itu. Pada saat yang sama Hek-hwa Kui-bo dengan gerakan
lemas membabat kakinya. Dua penyerangan sekaligus dari dua jurusan ini benar-benar berbahaya dan
hebat.
Cia Hui Gan membentak nyaring. Pedangnya berkelebat ketika menangkis tusukan Kwa Hong dan pada
saat itu ia harus pula meloncat tinggi-tinggi untuk menghindarkan diri dari babatan pedang Hek-hwa Kui-bo.
Detik berikutnya pedang di tangan Song-bun-kwi sudah menyambar datang, menusuk punggung. Cepat ia
kembali menurunkan kakinya setelah babatan lewat. Tubuhnya agak miring karena pedangnya masih
tergetar dalam menangkis tusukan Kwa Hong, ia tidak sempat lagi mengelak atau menangkis.
Namun dengan gerakan tiba-tiba, lengan kirinya yang ditekuk itu digerakkan sedemikian rupa sehingga
sikunya membentur pinggir pedang Song-bun-kwi. Tepat dan cepat sekali gerakan ini dan pedang Songbun-
kwi meluncur lewat pinggir tubuhnya, merobek pakaian dan melukai kulit, tapi ia selamat!
"Bagus!" Song-bun-kwi memuji.
Song-bun-kwi kagum sekali melihat betapa dalam cengkeraman maut itu lawannya masih mampu
menyelamatkan diri. Selanjutnya, dengan penuh penasaran hati, ia pun mendesak terus, mainkan Yang-sin
Kiam-sut yang bersifat keras itu.
Tekanan makin hebat. Cia Hui Gan sudah mengerahkan seluruh tenaga, kegesitan dan mengeluarkan
seluruh kemahiran bermain pedang. Namun tetap saja ia didesak terus dan tidak ada jalan keluar lagi
baginya kecuali melawan mati-matian. Dia sudah menderita beberapa luka ringan.
Darah membasahi seluruh pakaiannya. Ia sudah terluka di pundak, di pangkal lengan, di kedua paha,
malah sebuah tusukan yang agak dalam di punggung membuat gerakannya makin lemah dan lambat.
Namun semangatnya tak kunjung padam, sambil mengeluarkan bentakan-bentakan hebat kakek ini
mengamuk terus seperti banteng terluka.
Tiba-tiba Kwa Hong mengeluarkan suara melengking yang aneh dan ternyata kemudian bahwa suara ini
adalah suara panggilan untuk burung rajawali emas yang semenjak tadi bertengger di cabang pohon besar
yang tak jauh dari situ.
Segulung sinar kuning emas meluncur turun dibarengi lengking yang seperti tadi keluar dari mulut Kwa
Hong.
dunia-kangouw.blogspot.com
"Tiauw-heng (Kakak Rajawali), bantulah aku!" seru Kwa Hong sambil memperhebat desakannya kepada
Cia Hui Gan.
Burung itu agaknya sudah hafal akan suara dan perintah Kwa Hong. Melihat bahwa nonanya itu bertempur
melawan Cia Hui Gan, ia cepat menukik ke bawah menerjang Raja Pedang itu.
Tiba-tiba burung itu terbang membalik, berputaran di atas sambil memekik-mekik nyaring. Agaknya ia raguragu
dan merasa bingung, kemudian ia menukik lagi dengan kedua kaki bergerak-gerak menyerang.
Cia Hui Gan memang sudah terdesak dan terkurung hebat sekali, sekarang mendadak ia melihat gerakan
kedua kaki burung itu. Ia tidak dapat menangkis lagi dan... secara aneh sekali tahu-tahu pedang di
tangannya sudah dicengkeram oleh burung itu dan dibetot terlepas dari tangannya.
Cia Hui Gan tadi terkejut melihat gerakan burung itu yang ia kenal. Kemudian teringatlah ia bahwa gerakan
itu mirip, bahkan tidak ada bedanya dengan gerakan Sian-li Teng-liong (Bidadari Menunggang Naga),
sebuah gerakan yang terahasia dari ilmu silatnya Sian-li Kiam-sut.
"Kau... kau...!" serunya terheran-heran.
Akan tetapi dia tidak dapat melanjutkan kata-katanya karena pada saat itu tiga batang pedang sudah
ambles memasuki tubuhnya. Cia Hui Gan tidak mengeluarkan suara lagi, roboh dan tewas di saat itu juga!
Sungguh patut disesalkan nasib seorang Raja Pedang yang namanya sudah puluhan tahun gemilang
dikagumi orang, ternyata sekarang harus mengorbankan nyawa gara-gara asmara yang telah menguasai
hati puterinya!
"Berikan Liong-cu-kiam itu kepadaku!" bentak Song-bun-kwi sambil melotot kepada Kwa Hong yang sudah
menerima pedang pusaka itu dari burung rajawalinya.
"Tidak, harus kau berikan kepadaku!" Hek-hwa Kui-bo membentak sambil menerjang maju hendak
merampas Liong-cu-kiam yang amat diinginkan itu.
Akan tetapi, sekali Kwa Hong menggerakkan kaki secara aneh, usaha Hek-hwa Kui-bo untuk merampas
pedang itu gagal dan ia hanya menangkap angin. Diam-diam nenek ini kaget sekali. Biar pun tadi dalam
pengeroyokan atas diri Raja Pedang ia sudah mendapat kenyataan betapa lihainya wanita muda ini,
namun tak pernah disangkanya akan demikian hebat sehingga serangannya merampas pedang dapat
digagalkan hanya dengan sedikit menggerakkan kaki saja!
"Kalian ini tua bangka tak tahu diri! Bukalah matamu baik-baik dan lihat kepada siapa kalian bicara! Kalau
tidak ada aku dan rajawali emasku, mana bisa kalian mengalahkan Bu-tek Kiam-ong? Sekarang masih
berlagak hendak merampas pedang? Lihat, yang di tangan kananku adalah Hoa-san Po-kiam, pedang
pusaka Hoa-san-pai yang menandakan bahwa aku adalah Ketua Hoa-san-pai. Dan di tangan kiriku ini
adalah Liong-cu-kiam yang menandakan bahwa aku lebih lihai dari pada Bu-tek Kiam-ong dan tentu saja
lebih lihai dari pada kalian para tua-tua bangka. Mau pedang? Hi-hi-hi, bila kalian sudah mengidam
kuburan, boleh, majulah untuk kutebas batang leher kalian seorang satu!" Ia menyodorkan kedua pedang
itu ke depan sambil tersenyum-senyum penuh ejekan.
Hek-hwa Kui-bo dan Song-bun-kwi saling pandang. Baru satu kali selama hidup mereka itu mereka
menerima hinaan dan kekalahan dari seorang muda, yaitu dari Beng San. Dan sekarang ada seorang
gadis muda lagi yang mengejek dan menantang mereka.
Tanpa mengeluarkan suara, saling pandang ini cukup bagi dua orang tokoh itu bersepakat untuk mencoba
kepandaian mereka yang sebetulnya berpasangan itu kepada gadis aneh ini. Serentak keduanya bergerak
menyerang Kwa Hong.
Kwa Hong mengeluarkan suara ketawa sambil menangkis dengan sepasang pedangnya. Akan tetapi suara
ketawanya tak berlangsung lama karena ia segera menjadi repot sekali oleh pengeroyokan dua orang itu.
Hek-hwa Kui-bo mainkan Ilmu Pedang Im-sin Kiam-sut sedangkan Song-bun-kwi memainkan Yang-sin
Kiam-sut dan mereka dapat bekerja sama secara baik sekali.
Menghadapi pasangan ilmu pedang sakti ini, Kwa Hong segera terdesak hebat. Masih untung baginya ia
sudah paham betul akan gerakan dan perubahan geseran kaki menurut gerakan rajawali emas, sehingga
dunia-kangouw.blogspot.com
biar pun terdesak hebat ia masih dapat menyelamatkan diri secara aneh. Akhirnya ia melengking keras
minta bantuan rajawali.
Rajawali emas segera menyambar-nyambar di atas kepala kedua orang itu. Song-bun-kwi dan Hek-hwa
Kui-bo tadi sudah menyaksikan ketika rajawali itu merampas pedang dari tangan Cia Hui Gan, maka
mereka kaget dan cepat-cepat meloncat dan menjatuhkan diri.
Kesempatan ini dipergunakan Kwa Hong untuk meloncat ke atas punggung burungnya, sambil tertawatawa
ia berkata, "Aku tidak ada waktu untuk main-main dengan kalian dua orang tua bangka!"
Cepat burungnya terbang meninggalkan dua orang itu yang menyumpah-nyumpah saking mendongkol dan
marahnya.
"Ahh, kenapa bisa begini tolol? Aku harus menangkap Beng San keparat!" tiba-tiba saja Song-bun-kwi
teringat akan urusannya dan tanpa menoleh lagi kepada Hek-hwa Kui-bo ia berlari cepat mengejar ke arah
larinya Beng San dan Li Cu tadi.
Hek-hwa Kui-bo datang bersama Beng Kui. Memang dia dimintai tolong oleh orang muda itu setelah Beng
Kui mendengar bahwa Beng San kini sudah kehilangan kepandaian dan ingatannya.
Seperti telah dituturkan pada bagian atas, antara Hek-hwa Kui-bo dan Beng Kui terdapat kerja sama lagi
ketika mereka bersama-sama membantu pemberontak-pemberontak yang ingin menggulingkan kedudukan
Kaisar pertama dari Kerajaan Beng. Sekarang Beng Kui berhasil dengan usahanya, yaitu menculik Beng
San dan Li Cu.
Akan tetapi, di belakang orang muda itu mengejar Song-bun-kwi dan mungkin juga Kwa Hong, siapa tahu?
Sudah menjadi tugasnya untuk membantu Beng Kui, maka ia pun lalu meninggalkan tempat itu dan
menyusul Beng Kui karena ia sudah tahu ke mana pemuda itu membawa pergi dua orang korbannya itu.
Dalam kempitan Beng Kui, Beng San tidak berdaya. Akan tetapi diam-diam ia memutar terus otaknya yang
sejak pertempuran di Thai-san tadi mengalami guncangan-guncangan hebat. Banyak hal yang
membingungkannya.
Sekarang kakak kandungnya menangkap dia dan isterinya. Apakah kesalahannya? Apa pula kesalahan
isterinya? Dan ke manakah mereka berdua hendak dibawa? Lalu hendak diapakan?
Seingatnya, isterinya adalah seorang yang memiliki ilmu silat tinggi, yang juga merupakan puteri dari Songbun-
kwi. Dan baru teringat ia sekarang, kenapa tadi Song-bun-kwi tidak menolongnya dan menolong
isterinya?
"Aku tidak peduli itu semua...," akhirnya hatinya memutuskan karena kepalanya serasa pecah karena
kepeningan ketika dia mencoba memecahkan semua rahasia itu. "...asal saja Bi Goat jangan diganggu..."
Ia merasa kuatir sekali kalau-kalau isterinya diganggu orang. Dan apa bila sampai terjadi demikian, biar
pun yang mengganggunya adalah kakak kandungnya, biar pun dia sendiri tak bisa silat, hemm... dia akan
mencegahnya dan melawan mati-matian mempertaruhkan nyawanya sendiri.
"Kui-ko, mengapa kau menangkap kami suami isteri dan ke mana kau hendak membawa kami?" Beng San
akhirnya bertanya.
Akan tetapi yang ditanya tidak menjawab, melainkan berlari makin cepat lagi. Beng San mengulang-ulang
pertanyaannya, namun Beng Kui tetap tidak menjawab sedangkan Li Cu tidak dapat bersuara karena jalan
darah di lehernya telah tertotok.
Semenjak Beng Kui gagal dalam rencana pemberontakannya dulu, hatinya menjadi lebih sakit dan
menaruh dendam besar terhadap Beng San. Ia sudah mendengar betapa adik kandungnya itulah yang
telah menggagalkan pencegatan terhadap Kaisar, malah dia juga mendengar betapa dengan kerja sama
antara Beng San dan Li Cu, Ho-hai Sam-ong telah tewas pula dalam pertempuran.
Semua ini ditambah lagi dengan kenyataan betapa gurunya sendiri pun turun tangan di kota raja
menghadapinya, maka ia menaruh sakit hati terhadap bekas gurunya, terhadap Li Cu dan terutama sekali
terhadap Beng San. Inilah yang menyebabkan mengapa ia lalu sengaja datang ke Thai-san bersama Hekdunia-
kangouw.blogspot.com
hwa Kui-bo ketika ia mendengar berita bahwa Beng San yang ia takuti itu telah kehilangan kepandaiannya
dan menjadi orang gila.
Sebagai seorang bekas pemberontak, tentu saja Beng Kui tidak dapat bergerak bebas. Ia
menyembunyikan diri sambil menunggu saat baik, malah membuat tempat persembunyian tidak jauh dari
Puncak Thai-san.
Di sebuah hutan ia telah mendirikan rumah besar dan ia mempunyai banyak kaki tangan yang masih setia
kepadanya. Pada saat berada di tempatnya ini Beng Kui menganggap diri sendiri seolah-olah sudah
menjadi seorang ‘raja kecil’. Isterinya, puteri pangeran yang bertubuh lemah, tidak ia ajak dalam
perantauan dan persembunyiannya ini, melainkan ia tinggalkan di tempat persembunyiannya di dekat kota
raja.
Menjelang senja Beng Kui telah memasuki sebuah hutan besar di kaki Gunung Thai-san sebelah utara.
Hutan itu gelap dan amat liar, tidak pernah didatangi manusia. Akan tetapi ternyata di tengah-tengah hutan
besar itu terdapat sebuah rumah besar yang dikelilingi oleh rumah-rumah berukuran agak kecil. Inilah
‘perkampungan’ kecil yang menjadi tempat persembunyian Beng Kui bersama pengikut-pengikutnya.
Kedatangan Beng Kui disambut beberapa orang kaki tangannya. Dia langsung memasuki rumahnya
kemudian membanting tubuh Beng San ke atas lantai. Pemuda ini terbanting dan bergulingan, lalu
terdengar beberapa orang anak buah Beng Kui tertawa mengejek.
"Kui-ko, di manakah ini? Rumah siapa dan apa yang hendak kau lakukan terhadap kami? Kau lepaskan
isteriku!" Beng San tak pedulikan tubuhnya yang sakit-sakit lalu merangkak bangun.
Andai kata Beng Kui tidak semarah itu, kiranya hal ini akan menimbulkan keheranannya. Akan tetapi dia
lupa bahwa tadi dia sudah menotok jalan darah di tubuh Beng San yang membuat adiknya itu lumpuh.
"Kau mau tahu apa yang hendak kulakukan? Ha-ha-ha-ha, aku tidak akan membunuhmu sekarang! Kau
harus melihat dulu apa yang akan kulakukan terhadap perempuan tak tahu malu ini!" ia melempar Li Cu ke
atas sebuah dipan diruangan itu.
Gadis itu jatuh lemas dan tidak dapat bergerak, hanya kedua matanya yang memandang tajam penuh
kemarahan dan kebencian. Beng Kui mengejar maju dan sekali tangannya bergerak ia telah membebaskan
totokan pada leher gadis itu sehingga Li Cu dapat bicara kembali. Tetapi, saking marahnya sampai gadis
itu tidak mampu mengeluarkan perkataan apa pun!
"Kui-ko, kau tahu bahwa aku tidak takut mati. Kau mau bunuh aku, boleh bunuh. Akan tetapi kau harus
membebaskan Bi Goat, dia itu tidak mempunyai dosa apa-apa terhadap dirimu. Kalau kau benci kepadaku,
kalau kau marah kepadaku, boleh kau perlakukan aku sesukamu, tapi jangan ganggu Bi Goat!" kembali
Beng San memohon kepada kakaknya.
Beng Kui tertawa mengejek. "Sudah kukatakan tadi, kau tidak akan kubunuh sekarang. Kau perlu hidup
untuk menyaksikan betapa aku akan membuat wanita tak tahu malu ini sebagai barang permainanku. Ya,
aku harus membalas, dia harus menjadi permainanku, ha-ha-ha... dan di depan matamu, Beng San! Nanti
kalau aku sudah bosan, baru kurusak mukanya dan kubebaskan dia dan kau pun akan kulempar ke dalam
jurang di belakang rumah. Sudah terlalu sering kau merusak rencanaku, sudah terlalu banyak usahaku
yang kau gagalkan."
Ia ketawa lagi dan berpaling kepada beberapa orang anak buahnya yang berada di situ, berdiri seperti
patung. "Sediakan hidangan untukku!"
Orang-orang itu memberi hormat sambil berlutut lalu mengundurkan diri. Beng Kui tertawa lagi.
"Lihat Beng San, lihatlah baik-baik. Biar pun kau sudah menggagalkan semua rencanaku, akan tetapi aku
tetap dapat hidup sebagai raja. Dan kau akan kujadikan anjing, manusia bukan binatang pun bukan, hidup
tidak mati pun belum. Dan dia... ha-ha, perempuan yang mencintamu ini, yang melempar aku memilih kau,
dia akan melihat bahwa aku jauh lebih berharga dari padamu."
Beng San sukar menangkap arti semua ucapan itu. Dia berusaha mengingat-ingat dan memeras otaknya,
maka terlihat ia berdiri bengong seperti patung batu.
dunia-kangouw.blogspot.com
Ada pun Li Cu saking marahnya sampai seperti gagu tak dapat bicara, hanya pancaran matanya yang
berapi-api seperti hendak membakar tubuh Beng Kui dengan api kebencian yang berkobar-kobar. Akan
tetapi di samping kebencian dan kemarahannya ini, diam-dian Li Cu menjadi terheran-heran.
Selama hidup belum pernah ia melihat suheng-nya itu seperti sekarang ini. Alangkah jauh bedanya dengan
dahulu. Rasa herannya makin memuncak ketika hidangan yang mewah disediakan di atas meja. Beng Kui
makan minum seorang diri dengan sikap berlebihan.
Orang-orang yang melayaninya kelihatan amat menghormat seolah-olah sedang melayani seorang kaisar
saja. Dilihat keadaannya sekarang dan bila dibandingkan dengan dahulu, agaknya lebih pantas kalau
dikatakan bahwa Beng Kui telah berubah pikirannya atau tidak waras lagi pikirannya.
Setelah selesai makan, Beng Kui melemparkan beberapa potong tulang kepada Beng San sambil tertawa
dan berkata, "He, anjing... nih kuberi tulang, makanlah! Ha-ha-ha!"
Beng San berdiri tak bergerak, hanya memandang kepada kakak kandungnya yang sudah seperti orang
gila itu. "Kui-ko ingatlah... kenapa kau menjadi begini...? Kau seperti orang gila..."
"Keparat!" Tubuh Beng Kui bergerak tangannya kiri kanan menampar dan…
"Plak-plak-plak!" muka Beng San sudah dihujani tamparan yang keras sehingga Beng San terhuyunghuyung
dan kedua pipinya menjadi merah.
"Bersihkan meja dan tinggalkan kami. Tutup pintu depan, lalu jaga baik-baik!" Beng Kui memberi perintah
kepada orang-orangnya yang dengan sigap lalu mengerjakan perintah orang muda itu. Tak lama kemudian
mereka bertiga sudah ditinggalkan pergi oleh para pelayan.
Beng San masih berdiri tegak, bekas tamparan kakaknya masih tampak di kedua pipinya. Setelah semua
pelayan pergi, Beng Kui kemudian mencabut pedang Liong-cu-kiam dari pinggangnya. Dia menghampiri
Beng San yang berdiri dengan sikap tegak, sama sekali tidak kelihatan takut. Kiranya biar pun kehliangan
ingatan dan kepandaian, namun Beng San tidak pernah kehilangan keberanian dan ketabahannya.
"Hemm, kau hendak bunuh aku, Kui-ko? Mau bunuh boleh bunuh, aku tidak takut. Akan tetapi jangan
sekali-kali kau mengganggu isteriku. Dia... dia tidak berdosa, mengapa kau menawannya? Lekas kau
bebaskan dia!"
"Beng San keparat, hayo kau lekas berlutut! Hayo!"
Akan tetapi Beng San berdiri tegak dan memandang dengan matanya yang kini bersinar tenang dan
bodoh. Teringat ia akan segala pelajaran filsafatnya dan ia menjawab, "Kui-ko, aku hanya dapat berlutut
kepada Tuhan, kepada nenek moyang, kepada ayah bunda, kepada guru, kepada pemimpin dan kepada
orang yang telah kuperlakukan dengan keliru sehingga aku patut minta ampun kepadanya. Padamu aku
tidak salah apa-apa, kenapa harus berlutut?"
"Keparat!" Kaki Beng Kui bergerak dan lutut Beng San keduanya sudah kena ditendang dengan cepat.
Beng San tak dapat mempertahankan diri lagi dan jatuh berlutut.
Beng Kui tertawa bergelak-gelak, "Ha-ha-ha, akhirnya kau berlutut juga di hadapanku. Hemmm, kau
mengaku adik kandungku, akan tetapi semenjak pertemuan kita kau selalu menjadi perintang, selalu
menjadi penghalang dan selalu menjadi pengacau hidupku! Sudah sepatutnya kalau kau kubunuh!"
"Beng Kui, kau ini manusia apakah? Cih, kau tak tahu malu, curang, dan benar-benar pengecut besar! Kau
berani bertingkah setelah melihat Beng San kehilangan ingatannya. Coba kalau dia masih seperti biasa,
aku berani bertaruh kau akan lari tunggang-langgang kalau bertemu dengan dia! Huh, muak perutku
melihat mukamu!" Ucapan ini keluar dari mulut Li Cu yang marah bukan main menyaksikan betapa Beng
Kui memperlakukan Beng San seperti itu.
Pucat muka Beng Kui mendengar cacian yang luar biasa menghinanya ini. Selama hidup belum pernah Li
Cu berani bicara seperti ini kepadanya, kepada dia yang menjadi kakak seperguruannya, juga menjadi
bekas tunangan! Benar-benar penghinaan yang melampaui batas.
dunia-kangouw.blogspot.com
Sekali melompat ia telah berada di pinggir dipan, memandang kepada Li Cu yang rebah miring di atas
dipan karena masih tertotok, namun sepasang matanya memandang tajam penuh kebencian.
"Kau berani menghinaku? Apakah kau kira aku pun tidak sanggup mempermainkan dan menghinamu?"
Pedangnya berkelebat dan…
"Brettt" robeklah baju Li Cu.
Baju luar berwarna merah itu robek lebar sekali sehingga tampak baju dalamnya yang berwarna merah
muda. Beng Kui tertawa terbahak-bahak sedangkan Li Cu menjadi pucat sekali, tak berani mengeluarkan
kata-kata lagi saking ngerinya melihat perbuatan bekas suheng-nya yang seperti kemasukan iblis itu.
"Kui-ko, jangan kau ganggu isteriku!" Beng San lari menghampiri dan mengangkat tangan hendak
mencegah kakaknya bertindak lebih jauh.
Akan tetapi sambil membalikkan tubuh Beng Kui menendang lagi dengan keras sehingga tubuh Beng San
terlempar dan terbanting pada dinding. Namun Beng San sudah nekat. Ia bangun lagi, menghampiri dan
berseru.
"Tak boleh kau menghina isteriku... Tak boleh..."
Sekali lagi ia terjungkal karena tendangan Beng Kui pada perutnya. Kali ini agak sukar Beng San untuk
bangkit. Tendangan itu membuat napasnya menjadi sesak. Akan tetapi sambil merangkak mendekati
kakaknya lagi dan merangkul kedua kakinya.
"Kui-ko, jangan... jangan kau menggangu isteriku..., bunuhlah aku kalau kau kehendaki, tapi bebaskan
dia..."
Beng Kui mehjadi gemas sekali, pedang di tangannya berkelebat ke arah Beng San.
Li Cu menjerit dan... rambut di kepala Beng San terbabat putus. Li Cu terisak-isak saking kuatirnya, akan
tetapi Beng San sama sekali tidak kelihatan gentar biar pun tadi pedang itu hampir saja membabat putus
batang lehernya.
"Kui-ko, sekali lagi kuminta, jangan kau ganggu isteriku."
"Bangsat, kalau aku mau mengganggunya kau mau apa? Hayo kau mau apa?” Beng Kui menantang.
"Biar pun aku tidak pandai silat, aku akan melawanmu!" kata Beng San sambil berusaha untuk berdiri.
"Ha-ha-ha-ha, kau hendak melawan? Nah, terimalah bacokan ini!" Pedang di tangannya berkelebat dan
kini benar-benar melayang ke arah batang leher Beng San dengan cepat dan kuat.
"Beng San...!" Li Cu menjerit lagi dengan sekuat tenaga dan ia hampir pingsan melihat pedang itu
menyambar leher kekasihnya.
Beng San terjungkal dan tak bergerak. Akan tetapi lehernya tidak putus dan tidak ada setetes pun darah
keluar. Kiranya tadi Beng Kui hanya menakut-nakuti saja dan membalik pedangnya sehingga punggung
pedangnya yang menghantam belakang kepala Beng San, bukan mata pedangnya.
Pukulan ini keras sekali dan Beng San tersungkur, tak mampu bangun kembali. Ia merasa seperti
melayang-layang dari tempat yang sangat tinggi penuh bintang beraneka warna beterbangan di
sekelilingnya. Ia jatuh terus ke bawah, makin lama semakin cepat.
Mula-mula melalui ruangan yang putih seperti salju, lalu ruangan merah seperti darah, Kemudian setelah
melalui beberapa ruangan yang beraneka warna ia tidak melihat apa pun lagi. Hanya perasaannya yang
menyatakan bahwa ia masih terus melayang-layang ke bawah. Telinganya mendengar suara yang sangat
mengerikan, mengiang-ngiang dan mendengung-dengung, kadang-kadang rendah, lalu disusul suara
ketawa terbahak-bahak yang bergema di sekelilingnya, disusul suara tangis yang memilukan!
dunia-kangouw.blogspot.com
Apakah aku sudah mati? Di mana aku berada? Bukan aku yang mati, melainkan Bi Goat! Ah, Bi Goat
sudah mati dan ia mengunjungi kuburannya. Bi Goat isterinya yang tercinta, telah mati. Apakah aku juga
sudah menyusulnya dan sekarang terseret?
"Bi Goat... Bi Goat..." Ia mencoba untuk memanggil, namun tidak terdengar suaranya.
"Beng San...!" Teriakan ini seperti terdengar dari tempat yang amat jauh.
Beng San merasa seakan-akan ia berhenti melayang. Tahu-tahu ia merasa telah berada di atas bumi.
Mimpikah aku? Siapa yang memanggilku tadi? Apakah Bi Goat? Ia merasa kini bahwa tubuhnya sedang
rebah tertelungkup. Ahh, tentu ia mimpi, tapi...
"Beng San...!" Makin keras panggilan ini, suara wanita dan jerit itu menyayat hati benar.
Ia membuka mata. Benar saja, ia sedang rebah tertelungkup. Akan tetapi mengapa di atas lantai? Kedua
kakinya terasa sakit dan lehernya juga sakit. Ia menoleh ke atas. Apa yang dilihatnya membuat ia bengong
dan terbelalak.
Gilakah dia? Kenapa dia melihat semua ini? Ia melihat Beng Kui kakaknya dan Li Cu yang rebah tidak
dapat bergerak di atas dipan, sedangkan Beng Kui yang berdiri di dekat dipan terus tertawa-tawa.
"Beng San...!" Kembali Li Cu memekik dan kembali Beng Kui tertawa,
"Ha-ha-ha, kau boleh seribu kali memanggilnya. Dia tak dapat bangun lagi, anjing lemah itu. Ha-ha, Li Cu,
benar-benar aku masih hampir tak dapat percaya kalau kau dapat jatuh cinta kepada orang gila!"
“Beng Kui, mengapa kau begini kejam? Apakah kau hendak membunuh adik kandungmu sendiri? Apakah
kesalahannya? Kalau begitu, kau bunuh aku juga, Beng Kui."
"Tidak, kau tak akan kubunuh. Sayang kecantikanmu. Aku masih cinta kepadamu, Li Cu. Dan kau, mau
tidak mau, harus menemaniku di dalam hutan ini."
"Tidak! Aku lebih baik mati! Beng Kui, ingatlah. Aku... aku hanya cinta kepada Beng San. Aku mau mati
atau hidup bersama dia. Kalau kau sudah membunuhnya, kau bunuhlah aku. Jika kau lakukan itu, aku
bersumpah takkan menaruh dendam kepadamu. Bunuhlah aku." Li Cu terisak-isak menangis.
"Benar-benar aneh kau ini, Li Cu. Beng San sudah gila, dia selain gila juga menjadi orang lemah. Kau
dianggapnya isterinya yang bernama Bi Goat, yang sudah mati. Sudah jelas bahwa ia tidak mencintamu
sebagai Li Cu, tetapi mencintamu sebagai Bi Goat. Kenapa kau bisa membalas cinta kasih orang gila
macam itu? Aku belum membunuhnya, Li Cu. Akan tetapi, kalau kau dengan suka rela mau menjadi
isteriku, aku akan bebaskan dia. Sebaliknya, kalau kau tetap keras kepala, aku akan membunuhnya
setelah menyiksanya seperti anjing gila, dan kau tetap akan kujadikan isteriku!"
Sepasang mata Li Cu terbelalak lebar dan kemarahannya tidak mampu ditahannya lagi. "Keparat, kau! Iblis
kau! Tuhan akan mengutukmu, jahanam!"
"Ha-ha-ha, kau hendak mengamuk lagi? Ha-ha, Li Cu, mati hidupmu di tanganku, tahu?"
"Aku tidak takut! Kau iblis bermuka manusia. Terkutuklah kau!"
"Ha-ha-ha, semakin manis saja kalau kau marah-marah." Pedangnya bergerak perlahan dan…
"Brettt!" sekarang pakaian dalam yang menempel di tubuh Li Cu robek pula oleh ujung pedang.
Li Cu menjerit ngeri dan menutupkan matanya yang penuh air mata. Akan tetapi apa dayanya? Tubuhnya
tak mampu bergerak.
Tiba-tiba tubuh Beng Kui terlempar ke belakang, menimpa meja yang tadi ia pakai makan minum sampai
kaki meja itu patah-patah! Kaget bukan main Beng Kui yang tadi merasa seakan-akan tubuhnya bisa
terbang melayang begitu saja.
dunia-kangouw.blogspot.com
Cepat ia meloncat bangun sambil mempersiapkan pedang yang masih terpegang olehnya. Ketika ia
membalikkan tubuh memandang, matanya terbelalak lebar seakan-akan hendak meloncat keluar dari
tempatnya.
Ia melihat Beng San sudah berdiri di hadapannya dengan sepasang mata yang bersinar-sinar penuh api
kemarahan. Sepasang mata itu kini bercahaya ganjil dan menyeramkan seperti dahulu!
Ia masih belum mau percaya kalau Beng San yang tadi melemparkannya. Tidak mungkin! Bukankah tadi
setelah ia hantam belakang kepala Beng San dengan punggung pedang, adiknya itu roboh dan pingsan?
Tentu saja manusia yang sudah mabok kemenangan dan mabok pangkat ini tidak sadar bahwa di dunia ini
kekuasaan manusia sama sekali tidak ada artinya kalau dibandingkan dengan kekuasaan Tuhan.
Manusia yang merasa dirinya menang, yang merasa dirinya kuat sendiri, yang merasa dirinya benar
sendiri, menyatakan bahwa manusia seperti ini adalah manusia yang berjiwa rendah. Atau setidaknya,
pada saat itu hati nuraninya dikuasai oleh iblis.
Segala kemenangan, kekuatan dan kebenaran seluruhnya terletak di tangan Tuhan Yang Maha Kuasa.
Merupakan rahmat-Nya bagi manusia. Oleh karena itu, segala rahmat dari Tuhan harus dipersembahkan
kemudian kepada-Nya dengan jalan mengakui dengan segala kerendahan hati bahwa kesemuanya itu
datang dari pada-Nya. Pengakuan yang tulus akan hal ini akan menjauhkan manusia dari mabok
kemenangan serta kekuasaan.
Pada saat punggung pedang di tangan Beng Kui tadi menghantam belakang kepala Beng San, Tuhan
memperlihatkan kekuasaan-Nya. Hantaman itu tepat mengenai jalan darah yang menjurus ke kepala,
menggetarkan urat saraf di kepala Beng San yang terganggu ketika dia dahulu terpukul oleh kedukaan
karena kematian isterinya.
Bagaikan air yang mengalir kembali setelah bendungannya dibuka, ingatan Beng San kembali perlahanlahan
dan semua ini ditambah oleh pendengarannya ketika Beng Kui dan Li Cu berdebat. Terbukalah
semua ingatan dan pengertiannya, sekaligus membuat ia marah bukan main. Baiknya ia dapat cepat sadar
kembali dan dapat mencegah sebelum Beng Kui melakukan perbuatan yang lebih biadab lagi.
"Beng San...!" Li Cu berseru lirih, namun di dalam seruan lirih ini terkandung jerit yang memecahkan
kesunyian angkasa, penuh kekagetan, penuh keheranan, penuh gairah dan harapan.
Beng San melirik ke arah Li Cu, akan tetapi cepat-cepat ia membuang muka pada saat melihat keadaan
nona itu yang tubuhnya bagian atas tidak tertutup lagi baik-baik karena bajunya yang koyak-koyak lebar itu.
Tanpa banyak cakap ia segera meloloskan bajunya sendiri dan melemparkan bajunya ini di atas tubuh Li
Cu yang tidak tertutup. Barulah ia berani berpaling.
Mereka berpandangan sejenak, keduanya dengan mata berlinangan air mata. Beng San sudah tahu
semua ketika tadi ia mendengar percakapan antara Li Cu dan Beng Kui.
"Nona, biarlah kubebaskan kau dari totokan..."
"Beng San, awas!" teriak Li Cu.
Beng San dengan tenang tapi cepat menggeser kakinya dan tangannya bergerak ke kiri. Pedang Liong-cukiam
menyambar lewat di pinggir kepalanya.
"Beng Kui, kau benar-benar tidak tahu diri...," dia mencela sambil melompat ke tengah ruangan, terpaksa
belum dapat membuka totokan atas diri Li Cu.
Akan tetapi kemarahan Beng Kui sudah memuncak. Sepasang matanya menjadi merah dan berputar-putar
liar.
"Kau orang gila banyak tingkah... mampuslah!" bentak Beng Kui dan pedangnya kembali menyambarnyambar.
Banyak orang bilang bahwa orang gila menganggap diri sendiri waras dan menganggap orang waras
sebagai orang gila. Kiranya keadaan Beng Kui cocok dengan pendapat ini. Dia memaki gila akan tetapi dia
sendirilah yang mengamuk seperti orang gila.
dunia-kangouw.blogspot.com
Pedangnya mengeluarkan suara kemudian berubah menjadi segulung sinar panjang yang melayanglayang
dan menyambar-nyambar hebat ke arah Beng San. Namun, sekaligus Beng San sudah
mendapatkan kembali semua kepandaiannya yang memang tak pernah hilang, hanya ‘terlupa’ oleh
otaknya. Secara otomatis kakinya bergerak-gerak dan semua serangan pedang itu dapat ia hindarkan
dengan amat mudahnya.
"Beng Kui, kau orang tua yang tidak mau dihormati adiknya. Sekali lagi sekarang aku beri kesempatan
kepadamu untuk pergi dari sini dengan aman. Kau pergilah, tetapi tinggalkan Liong-cu-kiam."
"Jangan banyak cakap!" Beng Kui malah memaki dan pedangnya terus menyerang.
Tiga kali Beng San minta kepada kakaknya untuk pergi dengan aman, namun jawabannya selalu serangan
maut yang ditujukan kepadanya secara nekat.
"Kau memang keras kepala!" seru Beng San kemudian.
Saat itu pedang di tangan Beng Kui menusuk dadanya. Beng San tiba-tiba menggunakan gerakan
merendahkan tubuh, kemudian dari bawah tangannya bergerak ke atas, yang kanan merampas gagang
pedang yang kiri memukul dengan pukulan Pek-in Hoat-sut.
Hawa pukulan yang mengandung uap putih itu melumpuhkan seluruh tenaga Beng Kui dan dengan mudah
pedang di tangannya berpindah tempat! Ia masih hendak menerjang dengan tangan kosong, namun kaki
kiri Beng San menendangnya sehingga dia tepental keluar ruangan itu dan bergulingan sampai jauh.
Beberapa orang anak buah Beng Kui menyerbu ke dalam.
"Pergilah kalian!"
Seruan Beng San ini demikian berpengaruh, apa lagi disertai dorongan tangan kirinya ke depan yang
membuat sekaligus tiga orang terjengkang tanpa tersentuh tubuhnya sedikit pun, sehingga mereka semua
menjadi kaget dan jeri. Pada saat itu, terdengar hiruk pikuk di luar dan terdengar pula suara banyak orang
berlari-lari pergi meninggalkan tempat itu, seakan-akan takut menghadapi sesuatu yang hebat.
"Song-bun-kwi setan tua, jangan ganggu orang-orang ini! Nona Kwa Hong, orang-orang ini adalah temanteman
Tan Beng Kui-enghiong, jangan kau ganggu!" Terdengar suara Hek-hwa Kui-bo.
Beng San terheran-heran dan hanya berdiri di tengah ruangan itu, pedang Liong-cu-kiam di tangan.
Celananya robek-robek pada bagian yang ditendang Beng Kui tadi, sedangkan tubuhnya bagian atas
telanjang karena bajunya tadi sudah ia lemparkan kepada Li Cu. Ia kelihatan seperti seorang bajak sungai!
Berturut-turut mereka meloncat masuk. Mula-mula Song-bun-kwi, disusul Kwa Hong dan kemudian sekali
Hek-hwa Kui-bo. Tiga orang itu begitu memasuki ruangan berdiri tertegun seperti melihat setan di tengah
hari!
Ada pun Beng San begitu melihat Song-bun-kwi, segera dia menjura dengan hormat dan berkata
memanggil, "Gak-hu (Ayah Mertua)..."
Song-bun-kwi masih mengira bahwa Beng San kehilangan kepandaiannya, karena itu ia membentak, "Aku
bukan ayah mertuamu! Keparat, kau pembunuh anakku Bi Goat dan karenanya sekarang akan kupatahkan
batang lehermu!" Ia menerjang ke depan.
Tapi sinar hijau menyambar dan menghalangi gerakan kakek ini. Sinar itu tidak lain adalah panah-panah
hijau dari Kwa Hong.
"Perlahan dulu Song-bun-kwi!" Memang Kwa Hong tidak ingin melihat Beng San terbunuh oleh orang lain.
Mati atau hidupnya Beng San dialah sendiri yang berhak memutuskan, begitu pikirnya.
"Hong-moi kau juga di sini?" tegur Beng San dengan suara halus.
Kwa Hong seketika menjadi pucat, apa lagi ketika melihat pedang Liong-cu-kiam di tangan pemuda itu.
"Kau...sudah ingatkah...?"
dunia-kangouw.blogspot.com
"Bangsat, kau sudah membunuh anak perempuanku. Kalau kau sudah ingat, tentu kau tak akan mungkir
lagi!" Song-bun-kwi membentak sambil melangkah maju.
Beng San tersenyum sedih, "Gak-hu, aku amat mencinta Bi Goat. Bagaimana aku dapat membunuhnya?
Bi Goat meninggal karena berduka dan marah yang ditimbulkan oleh Hong-moi. Memang aku lama
meninggalkan Bi Goat, akan tetapi hal itu adalah karena aku merasa amat berduka dan menyesal serta
malu karena perbuatanku bersama Kwa Hong dahulu. Kemudian aku membantu orang-orang gagah untuk
melindungi Kaisar dari pengkhianatan beberapa orang, maka pulangku terlambat. Aku menyesal sekali,
Gak-hu, tapi sesungguhnya bukan aku yang menyebabkan kematian isteriku. Dia tahu bahwa aku
mencintanya. Tapi Tuhan lebih kuasa dari segala di dunia ini..."
Beng San nampak sangat berduka.
"Keparat, kau bisa saja memutar omongan. Isteri melahirkan anak sampai mati tapi kau sebagai suami
tidak menjaganya!"
"Ahh, Gak-hu. Memang aku benar-benar merasa berdosa. Sekarang di manakah anakku itu, Gak-hu?
Biarlah aku akan merawatnya penuh kasih sayang, sebagai pengganti Bi Goat dan..."
"Tutup mulut! Kau laki-laki mata keranjang, kau laki-laki hina-dina, kau... kau sudah main gila dengan
perempuan lain. Hemmm hendak menyangkal, kau?"
Kakek ini menudingkan telunjuknya ke arah Li Cu yang masih rebah terselimut baju luar Beng San, rebah
miring tak bergerak di atas dipan! Semua mata lalu memandang dan Hek-hwa Kui-bo mengeluarkan suara
ketawa genit penuh arti ketika melihat baju Beng San menyelimuti tubuh Li Cu.
Wajah Li Cu sebentar pucat sebentar merah sekali. Namun Beng San tetap tenang.
"Aku tidak pernah main gila dengan siapa pun juga. Mungkin karena kehilangan ingatan aku menjadi
seperti gila dan syukurlah... berkat pertolongan Nona Cia yang berbudi mulia sampai sekarang aku masih
terlindung. Gak-hu, kau berikanlah puteraku."
"Putera apa? Pedang inilah yang akan menghabisi nyawamu!"
"Nanti dulu, Song-bun-kwi. Aku pun hendak bicara dengan Beng San!" Kwa Hong cepat menghadang di
depan dan terpaksa Song-bun-kwi menunda penyerangannya.
Kwa Hong kini menghadapi Beng San. Orang muda itu menjadi agak pucat. Baginya jauh lebih berat
menghadapi Kwa Hong dari pada menghadapi musuh yang mana pun juga.
"Adik Hong, apakah selama ini kau baik-baik saja?" tanyanya, suaranya halus sewajarnya karena di lubuk
hatinya orang muda ini benar-benar merasa kasihan sekali kepada gadis itu.
Tersedu kerongkongan Kwa Hong mendengar pertanyaan yang halus ini. Akan tetapi dia segera
menjawab, "Baik-baik saja, San-ko, aku sengaja mencarimu dan syukurlah kalau kau sudah sembuh
kembali. Marilah kau ikut dengan aku, San-ko. Mari kita pelihara anak kita baik-baik. Tentang musuhmusuhmu
ini, jangan kuatir, San-ko, Hong-moi-mu ini dapat membunuh mereka seperti orang membunuh
anjing!" Setelah berkata demikian, Kwa Hong tertawa, suara ketawanya melengking menyeramkan sekali.
Ucapan terakhir dan suara ketawa Kwa Hong itu menusuk jantung Beng San, karena ia maklum bahwa
Kwa Hong sekarang sudah bukan Kwa Hong yang dulu lagi. Wajahnya jelas membayangkan watak yang
sombong, kejam, dan tidak wajar.
"Hong-moi, kau tahu bahwa tak mungkin aku memenuhi permintaanmu ini. Kau dan aku telah melakukan
perbuatan terkutuk, itu memang benar. Akan tetapi hal itu terjadi di luar kesadaran kita, Hong-moi. Tentang
anak itu kau sendiri hendak mendidiknya syukurlah. Kalau kau keberatan, boleh kau berikan kepadaku
karena anak itu juga menjadi tanggung jawabku."
"Kau... kau...!” Kwa Hong tak dapat melanjutkan kata-katanya karena ia sudah menangis terisak-isak.
dunia-kangouw.blogspot.com
Hatinya sedih bukan kepalang. Tadinya dia mengharapkan akan dapat membawa Beng San dengan
secara paksa karena Beng San sudah kehilangan kepandaiannya dan dia sanggup merampas Beng San
dari tangan siapa pun juga. Akan tetapi sekarang Beng San kelihatannya sudah sembuh kembali,
bagaimana mungkin?
"Beng San, katakan di mana adanya Beng Kui? Pedangnya kau pegang, kau apakan dia?" kali ini Hek-hwa
Kui-bo yang bertanya, menggunakan kesempatan selagi Kwa Hong sedang menangis.
"Dia sudah pergi...," jawab Beng San acuh tak acuh, kemudian ia menoleh ke arah Li Cu dan berkata
"Nona Cia, agaknya lebih baik kita segera pergi dari tempat ini. Tetapi aku harus membebaskan kau dari
totokan lebih dulu..."
Ia melangkah maju. Tapi sebelum ia sempat menyembuhkan Li Cu, tiga bayangan orang berkelebat dan
angin-angin pukulan dahsyat datang menyambar dari tiga jurusan disusul berkelebatnya senjata-senjata
tajam! Beng San maklum bahwa tiga orang sakti itu ‘sudah turun tangan’. Ia menarik napas panjang
dengan sedih, akan tetapi tubuhnya bergerak didahului sinar pedang Liong-cu-kiam tangannya.
Tiga orang itu menyerang dengan sungguh-sungguh, mengerahkan seluruh kepandaian mereka. Namun
Beng San sekarang memegang Liong-cu-kiam panjang. Kalau ia boleh diumpamakan seekor harimau,
sekarang harimau itu tumbuh sayap dan pandai terbang.
Memang ilmu silatnya yang paling hebat adalah ilmu Im-yang Sin-kiam-sut. Sekarang ilmu pedang ini
dimainkan dengan sebatang pedang seperti Liong-cu-kiam yang panjang, tentu saja hebatnya bukan
kepalang.
Tiga orang itu, walau pun masing-masing mempunyai kepandaian luar biasa, akan tetapi menghadapi
Beng San mereka tidak sanggup berdaya banyak, seakan-akan menghadapi benteng baja yang tidak saja
sulit tembus, malah dari dalam benteng kadang menyambar ujung-ujung pedang runcing dan ampuh,
setiap saat mengancam nyawa mereka.
Beng San bukanlah orang yang suka membunuh orang. Sebetulnya dia mempunyai watak yang pantang
membunuh orang. Apa lagi sekarang yang dia hadapi adalah orang-orang yang sedikit banyak sudah ada
hubungan dengannya, yang sudah dikenalnya baik. Tidak mungkin ia mau membunuh mereka.
Kelihaiannya bermain pedang memungkinkannya menggoreskan luka ringan pada pundak Hek-hwa Kui-bo
dan Song-bun-kwi. Dua orang tua ini menjadi malu dan jeri. Sambil mengeluh mereka berturut-turut lalu
melompat pergi meninggalkan tempat itu.
Kwa Hong yang ditinggalkan seorang diri menghadapi Beng San, tadinya menjadi nekat. Pedang Hoa-san
Po-kiam di tangan kirinya, sedangkan di tangan kanannya memegang pedang Liong-cu-kiam yang pendek.
Permainan pedangnya hebat dan liar, dahsyat bukan main sehingga diam-diam Beng San terkejut juga.
Akan tetapi ilmu pedang itu dimainkan dengan cara yang masih mentah.
Lebih-lebih terhadap Kwa Hong, Beng San, sama sekali tidak mau melukainya. Setelah ia menindih
pedang Hoa-san Po-kiam dengan pedangnya sendiri, tangannya lalu bergerak mencengkeram ke depan
sehingga di lain saat pedang Liong-cu-kiam yang pendek telah berpindah ke tangan kirinya.
"Kembalikan pedang itu!" teriak Kwa Hong sambil menangis.
"Yang ini bukan pedangmu, Hong-moi. Tak boleh kau merampasnya," jawab Beng San.
Dengan pekik panjang Kwa Hong memanggil burungnya. Terdengar suara genteng yang hancur
berantakan, langit-langit di atas ruangan itu tiba-tiba menjadi rusak dan berlubang besar di mana
menerobos masuk seekor burung rajawali emas. Beng San pernah melihat burung ini dan kembali ia
menjadi kagum bukan main.
Kwa Hong terisak, kemudian meloncat ke punggung burung. Akhirnya burung itu terbang menerobos
melalui pintu depan dan sebentar saja menghilang dari situ.
Sampai beberapa lamanya Beng San berdiri bengong. Pedang Liong-cu-kiam berada di kedua tangannya.
Kemudian ia membalikkan tubuh menghampiri Li Cu yang masih rebah tak bergerak dan semenjak tadi
menonton semua itu dengan hati terharu. Ternyata bahwa pengorbanannya terhadap diri Beng San tidak
dunia-kangouw.blogspot.com
sia-sia. Buktinya baru saja sembuh Beng San lagi-lagi telah melindungi dan membebaskannya dari
ancaman bahaya maut.
"Nona Cia, maafkan kelancanganku!" kata Beng San.
Tangan Beng San bergerak cepat menotok dua jalan darah di tubuh Li Cu, lalu mengurut punggungnya
sebentar. Setelah itu ia membalikkan tubuh dan berkata, "Nona, setelah kau dapat bergerak, harap bajuku
itu kau pakai dulu."
Muka Li Cu menjadi merah. Ia bergerak perlahan, tubuhnya masih sakit semua rasanya. Ketika ia bangun,
baju yang menyelimuti tubuhnya itu jatuh dan cepat-cepat ia menutupi dadanya. Tapi usahanya ini
sebetulnya tak perlu karena Beng San berdiri membelakangi dirinya.
Karena terpaksa dan tidak mungkin hanya memakai bajunya yang sudah dikoyak-koyak pedang Beng Kui
tadi, ia cepat-cepat mengenakan baju Beng San yang terlalu besar itu. Setelah selesai, ia berkata,
"Kenapa... kau tidak membunuh mereka?"
"Membunuh siapa?" tanya Beng San tanpa menoleh.
"Beng Kui jahanam itu..."
"Dia itu jelek-jelek kakak kandungku, bagaimana aku tega membunuhnya?" jawab Beng San cepat.
"Hek-hwa Kui-bo yang pernah melukaiku dengan racun dan hampir saja membunuhku..." desak pula Li Cu
yang merasa penasaran mengapa semua orang yang jahat itu dibiarkan pergi oleh Beng San.
"Dahulu dia itu pernah menurunkan ilmu silat kepadaku, secara tidak resmi dia adalah guruku pula.
Bagaimana aku dapat membunuhnya? Dan pula, Nona, bukankah akhirnya kau selamat terhindar dari
racunnya itu?" Jantung Beng San berdebar ketika ia teringat cara ia menolong gadis itu dari pengaruh
racun di paru-parunya!
Di belakangnya, wajah Li Cu juga tiba-tiba menjadi merah. Gadis ini merasa heran bukan kepalang. Hampir
dua tahun ia merawat Beng San, otomatis ia sudah merasa menjadi isteri Beng San biar pun hanya dalam
sebutan. Akan tetapi kenapa sekarang ia menjadi begini canggung, sungkan dan malu-malu kepada Beng
San? Diam-diam rasa kuatir dan gelisah menggerogoti hatinya.
Beng San yang kehilangan ingatannya, mau saja hidup di sampingnya, malah selama ini menganggap dia
sebagai isterinya yang bernama Bi Goat. Akan tetapi setelah sekarang sadar dan mendapatkan kembali
ingatannya, apakah dia masih mau hidup seperti itu? Apakah ini bukan berarti saat perpisahan?
"Kwa Hong itu... kenapa juga tidak kau bunuh...?" Ia berusaha menekan hatinya dengan melanjutkan
pertanyaan ini.
"Tak mungkin, Nona. Dia itu... secara tidak sadar... telah menjadi ibu anakku... perbuatan terkutuk di luar
kesadaran kami berdua... dia sudah amat menderita... karena aku, mana mungkin aku membunuhnya?
Walau pun dia akan membunuhku, agaknya aku tetap akan mengalah..."
"Hemm..." suara Li Cu terdengar kaku dan kalau Beng San melihat sinar matanya ia akan tahu-bahwa
gadis itu marah! "Dan Song-bun-kwi...?"
"Apa lagi dia. Dia adalah ayah mertuaku, sama juga dengan ayahku. Mana boleh aku membunuh ayah Bi
Goat?"
Sudah jelas kini! Beng San sekarang sudah kembali ingatannya. Beng San yang terlalu mencinta isterinya,
Bi Goat. Sampai-sampai mengorbankan Kwa Hong. Mana sudi hidup bersama dia? Teringat akan ini, tak
tertahankan lagi Li Cu terisak menangis.
Beng San cepat membalikkan tubuh. "Ehh, kenapa kau menangis, Nona?"
Suara ini mengandung penuh perhatian sehingga tangis Li Cu makin menghebat. Beng San sampai
menjadi bingung, lalu menyerahkan pedang Liong-cu-kiam pendek.
dunia-kangouw.blogspot.com
"Ini... ini pedangmu... jangan kau menangis..."
Li Cu menerima pedang tanpa berkata apa-apa.
"Nona Cia, setelah semua pertanyaanmu kujawab, mengapa kau menangis?" Beng San bertanya, matanya
yang tajam memandang penuh selidik.
Li Cu yang sekarang menjadi gugup. Tentu saja ia tidak sudi menyatakan isi hatinya. Ia mencari alasan
dan pada saat itu ia teringat akan ayahnya. Wajahnya menjadi pucat dan serentak ia meloncat sampai
Beng San menjadi kaget.
"Celaka! Ayahku...! Mereka tadi mengeroyoknya... tak mungkin bisa sampai ke sini kalau tidak... ahhh,
Ayah...!" Li Cu menjerit lalu melompat keluar dan berlari cepat sekali.
Beng San baru saja kembali ingatannya, maka yang diketahui olehnya hanyalah semenjak saat ia sembuh
tadi. Sebelum itu gelap baginya. Karena itu ia tidak ingat betapa Bu-tek Kiam-ong untuk melindunginya
telah dikeroyok oleh tiga orang tokoh sakti tadi.
Meiihat Li Cu yang berlari-lari sambil menjerit memanggil-manggil ayahnya dan menangis, ia pun ikut pula
berlari. Sebentar saja ia dapat menyusul gadis itu, lalu lari di sebelahnya tanpa banyak bertanya.
Setibanya di puncak Gunung Thai-san, kedua orang muda ini melihat betapa penduduk perkampungan di
kaki gunung itu sedang sibuk mengurus dan menangisi jenazah Bu-tek Kiam-ong Cia Hui Gan!
"Ayaaaahhh...!" Li Cu menubruk mayat ayahnya dan roboh pingsan.
Li Cu jatuh sakit. Demam panas menyerang tubuhnya setelah dia berkali-kali pingsan. Sampai sepekan ia
rebah di pembaringan dalam keadaan setengah sadar. Selama itu Beng San merawat dan melayaninya
dengan penuh perhatian.
Beng San mengalami hal-hal aneh ketika ia berhadapan dengan para penduduk yang dulu membantu Cia
Hui Gan merampungkan rencana tempat tinggalnya. Mereka menyebutnya ‘tuan muda’ yang dianggapnya
sebagai suami dari ‘nyonya muda’ yang sekarang sakit. Kemudian, sesudah mereka semua menyatakan
kegembiraan hati bahwa nyonya muda dan suaminya dapat kembali dengan selamat, mereka lalu
menyatakan kegirangan pula bahwa tuan muda sudah sembuh dari sakitnya lupa ingatan.
Mereka pulalah yang menceritakan tentang pertempuran itu sehingga terbuka mata Beng San akan segala
yang telah terjadi kepada dirinya selama hampir dua tahun ini. Tahulah ia bahwa ia sebagai seorang gila
menganggap Li Cu sebagai isterinya, sebagai Bi Goat dan betapa selama hampir dua tahun ini Li Cu
merawatnya penuh kecintaan. Juga ia tahu sekarang bahwa Cia Hui Gan tewas dalam membela dia!
Semua ini ditambah lagi dengan keadaan Li Cu yang mengigau pada saat demam panas menyerangnya.
Li Cu mengigau tentang masa lalu, tentang cinta kasihnya kepada Beng San. Semua ini membuat Beng
San demikian terharu sehingga ia menitikkan air mata ketika duduk di pinggir pembaringan gadis itu.
Dengan amat tekun ia merawat Li Cu dan siang malam tidak pernah meninggalkan kamar itu.
Sembilan hari kemudian demam meninggalkan tubuh Li Cu dan gadis ini pada pagi hari itu sadar.
Dilihatnya Beng San sedang tertidur sambil duduk di kursi! Namun suara gerakan Li Cu cukup untuk
membangunkan Beng San. Mereka berpandangan sejenak.
"Kau... kau masih di sini...?"
"Di mana lagi kalau tidak di sini...?" jawab Beng San halus, sinar matanya gembira sekali.
"Ayah... bagaimana...?" Matanya meragu dan dia memandang ke arah pintu kamarnya, agaknya ingin
menjenguk keluar.
"Sudah beres, sudah kuurus pemakamannya."
Li Cu menarik napas panjang. Hatinya menjerit-jerit, namun air matanya sudah kering. "Berapa lama aku
rebah di sini...?"
dunia-kangouw.blogspot.com
"Kau terserang demam, Nona. Sembilan hari sembilan malam kau dalam keadaan tidak sadar. Karena
itulah aku lancang mewakilimu mengurus pemakaman ayahmu."
Li Cu bergerak hendak duduk. Melihat kelemahan gadis itu, Beng San segera bangkit membantunya. Ia
merasa kasihan sekali dan cepat ia menghibur, "Harap kau kuatkan hatimu. Nona. Ingatlah bahwa mati
hidup seorang manusia berada di tangan Tuhan. Apa bila Tuhan sudah menghendaki kematian seseorang,
ada saja yang menjadi lantarannya. Ayahmu tewas sebagai seorang gagah perkasa, mati dikeroyok tokohtokoh
besar dalam melindungi... aku yang tak berharga..."
"Tidak! Bukan melindungi kau, melainkan membela aku!" Cepat Li Cu membantah.
"Apa bedanya, Nona? Membela engkau karena kau berusaha melindungi aku."
"Kau merawatku terus-menerus selama aku sakit?" cepat Li Cu memotong omongan Beng San, mukanya
yang tadinya pucat menjadi agak merah.
Beng San mengangguk dan memandang dengan mata penuh perasaan. "Nona Cia, apa artinya perawatan
sembilan hari kalau dibandingkan dengan perawatanmu selama hampir dua tahun? Kau amat mulia, kau
mengorbankan..."
"Kau dalam sakit, kau kehilangan ingatan!" Li Cu cepat memotong, mukanya kini menjadi merah sekali.
"Siapa lagi kalau bukan aku yang akan merawatmu? Kau pun beberapa kali sudah menyelamatkan
nyawaku, sudah sepatutnya aku membalas kebaikanmu."
Dengan keras kepala Beng San melanjutkan setelah menggelengkan kepalanya untuk menyangkal alasan
Li Cu yang lemah itu. "Kau mengorbankan dirimu, mengorbankan nama baik ayahmu. Dalam gilaku aku
menganggap kau isteriku, menganggap kau Bi Goat. Namun... kau menerima semua itu, kau malah
memaksa ayahmu membawaku ke sini mengorbankan segalanya untuk aku, malah berusaha membuat
tempat perlindungan yang aman untukku. Li Cu... Nona Cia... mengapa kau lakukan semua itu?"
Li Cu menunduk, menyembunyikan muka di belakang bantal yang diangkatnya. Suaranya terdengar lirih
bertanya, "Semua itu bohong. Kau yang kehilangan ingatan bagaimana kau bisa tahu itu semua?
Bohong..."
"Aku mendengar percakapanmu dengan Beng Kui pada saat aku sadar. Kemudian aku mendengar
penuturan saudara-saudara yang berada di sini, dan ketika kau sakit, kau sering mengigau..."
Cepat bantal itu diturunkan dan sepasang mata itu memandangnya penuh pertanyaan. Wajah itu merah
dan tidak tampak lagi bahwa gadis ini habis sakit kecuali tubuhnya yang agak kurus itu.
"Beng San..." terhenti kata-kata Li Cu ketika ia teringat betapa janggal panggilan ini yang begitu saja keluar
dari bibirnya dengan suara mesra.
"Ya...? Kau hendak bilang apakah, Nona...?"
Li Cu semakin gugup. Biasanya, ketika belum sembuh, Beng San selalu menyebutnya ‘isteriku’ sehingga ia
sudah biasa benar dengan sebutan itu. Sekarang, orang yang telah ia anggap sebagai suaminya dalam
batin itu, menyebutnya nona!
"...andai kata benar semua itu..., tapi waktu itu keadaanmu dalam lupa ingatan. Kau mau tinggal di sini
karena... karena kau mengira bahwa aku Bi Goat. Kau mengira bahwa aku isterimu yang sudah meninggal
dunia itu...," ia berhenti lagi.
"Betul, Nona. Lalu bagaimana?" Beng San bertanya tenang dan sabar,
"...sekarang kau sudah sembuh..., kau telah mendapatkan kembali ingatanmu... kau tahu bahwa aku bukan
isterimu Bi Goat... kau tahu bahwa aku hanya seorang gadis yatim piatu sebatang kara..." Sampai di sini ia
terisak dan menutup mukanya dengan bantal. Beng San tidak berkata apa-apa hanya menanti dengan
sabar.
dunia-kangouw.blogspot.com
"...aku... aku bukan apa-apamu... tak berhak menahanmu... dan kau tentu akan pergi dari sini." Tiba-tiba ia
menurunkan bantalnya dan dengan mata basah ia bertanya, "Mengapa kau masih belum juga pergi dari
sini? Aku bukan Bi Goat!"
Wajah Beng San tiba-tiba menjadi pucat dan matanya membayangkan kegelisahan besar. "Tapi... tapi
kau... isteriku..."
Li Cu menggigit bibirnya, bukan main jengahnya. Ia merasa malu sekali kalau teringat akan semua
perbuatannya itu. Tapi ia harus rnembela diri, tak mungkin ia mengaku begitu saja bahwa ia mencinta Beng
San. Ia harus mencari alasan mengapa ia berbuat demikian, untuk membela diri.
"Isterimu adalah Bi Goat..."
"Tapi.... bukankah hampir dua tahun kau mengaku sebagai isteriku...?"
Li Cu membuang muka. "Karena kau menganggap aku Bi Goat. Aku harus merawatmu dan karenanya
tiada lain jalan kecuali membiarkan kau menganggap aku isterimu Bi Goat. Sekarang kau sudah sembuh,
sudah sadar dan ingat bahwa aku bukanlah isterimu Bi Goat, bahwa aku bukan apa-apamu dan kau boleh
pergi meninggalkanku sekarang juga!"
Beng San merasa tubuhnya lemas, seakan-akan dilolos semua urat-urat dari tubuhnya. Jantungnya terasa
ringan kosong, perasaannya hampa.
Ahh, mengapa aku tidak tahu diri, pikirnya. Sudah terang bahwa Li Cu melakukan semua itu hanya karena
hendak membalas budi pertolongannya karena kasihan, apa lagi? Tidak mungkin gadis seperti Li Cu bisa
cinta kepadanya, seorang laki-laki yang menjadi hina namanya karena urusannya dengan Kwa Hong,
seorang duda yang sudah mempunyai anak. Dua malah anaknya, satu anak Kwa Hong, ke dua anak Bi
Goat. Mana sudi Li Cu kepadanya?
"...ah... maaf... maaf... sungguh aku tak tahu diri..."
Bagaikan mimpi kedua kakinya bergerak menuju ke pintu kamar, dengan langkah limbung seperti orang
mabuk arak ia keluar dari kamar itu. Jiwanya menjerit-jerit, musnah semua harapannya untuk dapat hidup
mengenyam kebahagiaan. Hanya sekelumit harapan untuk hidup baru setelah ditinggal Bi Goat.
“Li Cu, Li Cu....!” Jerit hatinya, “tak kuat aku berpisah dari sisimu!”
Ia tidak melihat betapa dari atas pembaringan Li Cu memandangnya dengan wajah pucat pula dan
sepasang mata itu mengucurkan air mata yang jatuh berderai membasahi kedua pipinya. Tak tahu ia
betapa gadis itu turun perlahan-lahan dari pembaringan dan berjalan pula mengikutinya keluar dari kamar
itu. Dia tak tahu pula betapa jiwa Li Cu menjerit-jerit minta ia kembali pula.
Jeritan jiwa menggetar-getar penuh kekuatan gaib. Seakan-akan terasa oleh kedua orang muda itu. Dalam
detik itu juga terjadilah peluapan rasa melalui bibir dan gerakan mereka masing-masing. Pada saat itu pula
Li Cu menjatuhkan diri berlutut. Berbareng pula jerit mereka keluar dari lubuk hati melalui bibir-bibir yang
bergetar.
"Li Cu, tak kuat aku berpisah dari sisimu...!"
"Beng San, kembalilah Beng San...!"
Keduanya terpaku kaget oleh suara masing-masing dan setelah pengertian mereka dapat menangkap apa
yang diucapkan oleh yang lain, Beng San segera berlari maju dengan kedua lengan terbuka dan diterima
oleh Li Cu dengan kedua lengan terbuka pula. Beng San menjatuhkan diri berlutut dan kedua orang itu
saling berdekapan sambil berlutut, tak kuasa mengeluarkan suara kecuali isak dan sedu.
Sunyi senyap pada saat itu, sunyi yang membahagiakan hati masing-masing yang merasa seakan-akan
baru saja mereka mendapatkan kembali semangat mereka yang tadi hampir hilang. Sampai lama mereka
berpelukan tanpa mengeluarkan suara. Akhirnya terdengar Li Cu berkata tanpa mengangkat mukanya
yang bersembunyi di dada Beng San.
"Tapi... kau hanya mencinta Bi Goat..."
dunia-kangouw.blogspot.com
"Itu dahulu, Li Cu. Setelah dia meninggal... kaulah orang yang menggantikannya... lebih dari pada itu
malah... kau mulia, setia, penuh pengorbanan. Ahhh... alangkah mulianya engkau... aku cinta kepadamu, Li
Cu dan aku tidak kuat untuk berpisah dari sisimu."
"Beng San..." Li Cu menangis penuh kebahagiaan dan keharuan.
"Li Cu... cintakah kau kepadaku? Dan bersediakah kau menjadi isteriku?"
"Masih perlukah kau bertanya, Beng San? Pada waktu kau sakit dan hilang ingatan, aku sudah suka
menjadi isterimu walau pun hanya sebutan belaka. Apa lagi sekarang setelah engkau sembuh. Dan
tentang cinta... belum pernah selama hidupku aku mencinta orang seperti cintaku kepadamu."
"Li Cu, dewiku sayang..."
Hening lagi sejenak dan keduanya terbenam dalam lautan madu, mabok oleh kemesraan asmara yang
bergelora dalam hati masing-masing.
"Beng San, orang bilang kau mata keranjang. Betulkah?"
Beng San tersenyum ditahan. "Memang aku mata keranjang. Akan tetapi, bidadari dari kahyangan sekali
pun belum tentu dapat menggerakkan hatiku. Hanya engkaulah yang membuat aku lupa segala, melihat
engkau aku jadi mata keranjang! Ahh, andai kata ada seribu engkau, aku akan sanggup untuk mencinta
semua!"
"Ahh, kau memang mata keranjang!" tegur Li Cu manja.
"Bertemu dengan seorang dewi seperti engkau, Li Cu, siapa orangnya takkan mencinta? Siapa orangnya
takkan jatuh hati? Kau cantik jelita melebihi bidadari kahyangan, kau setia dan gagah perkasa, pendekar
wanita sejati, kau berbudi mulia seperti Kwan Im, kau dewi pujaan hatiku, cinta kasihmu suci murni,
semoga aku dapat mengimbanginya..." Beng San merayu.
"Iihh, kau selain mata keranjang juga... ceriwis!"
Hati siapa takkan ikut merasa bahagia menyaksikan kebahagiaan sepasang orang muda seperti Li Cu dan
Beng San? Hati siapa takkan turut merasa senang melihat orang lain bahagia? Hanya hati yang dikotori
iblis iri cemburu jua yang tak tahan menyaksikan orang lain berbahagia. Untung, di dunia ini tak banyak
orang demikian. Kita merasa berbahagia melihat orang lain seperti sepasang orang muda itu berbahagia
dalam pertemuan dua hati menjadi satu, diikat dan dikekalkan oleh cinta kasih nan suci.
Sayang, selain mereka yang berbahagia oleh asmara, banyak pula yang sengsara akibat asmara yang
sama. Memang asmara mendatangkan bahagia dan sengsara silih berganti, menimbulkan banyak cerita
yang aneh-aneh. Beng San sendiri hampir saja binasa karena asmara kandas, untungnya dia bertemu
dengan Li Cu dan sebaliknya malah menemukan kembali kebahagiaan hidup.
Memang demikianlah hidup di dunia ini. Kebahagiaan duniawi takkan kekal, berubah-ubah dan hal yang
demikian ini memang berlaku bagi segala benda, mati atau hidup, di dunia ini. Ada siang ada malam, ada
dingin ada panas, ada kalanya hujan ada kalanya terang, ada kalanya sengsara ada kalanya bahagia.
Kebahagiaan datang tidak terduga-duga seperti halnya kebahagiaan Beng San. Demikian pula
kesengsaraan datang tanpa disadari seperti halnya penderitaan Bi Goat yang telah tiada.
Kenyataan ini merupakan pelajaran hidup yang amat penting, yaitu bahwa manusia tidak perlu berputus
asa pada waktu menghadapi kegagalan, juga tidak semestinya bangga dan tidak mabok di kala
mendapatkan kemenangan. Tidak membanjir pada waktu pasang, tak kering pada waktu surut, seperti air
laut yang tenang teguh sehingga sanggup menerima perubahan keadaannya tanpa menderita kerusakan.
Di antara sekian banyaknya orang yang sedang ‘surut’ nasibnya, adalah Thio Ki. Telah diceritakan di
depan betapa Thio Ki dan isterinya, Lee Giok, diserbu oleh Kim-thouw Thian-li yang dibantu oleh Hek-hwa
Kui-bo dan Giam Kin sehingga akhirnya Lee Giok terculik oleh Siauw-coa-ong Giam Kin.
dunia-kangouw.blogspot.com
Seperti kita ketahui, Thio Ki terbebas dari pada kematian karena mendapat bantuan Li Cu dan kemudian
Beng San. Atas permintaan Beng San, Thio Ki lalu pergi ke Hoa-san untuk berobat dan membereskan
urusan Hoa-san-pai yang dikacau oleh Kwa Hong.
Besarlah hati para tosu di Hoa-san-pai ketika mereka melihat munculnya Thio Ki, karena pada waktu itu
Hoa-san-pai benar-benar sudah kacau-balau, tidak ada yang mengurusnya semenjak Lian Bu Tojin tewas
di tangan Kwa Hong.
Bukan main sedihnya hati Thio Ki ketika mendengar dari para tosu tentang nasib Lian Bu Tojin dan Hoasan-
pai. Ia merasa amat marah dan gemas kepada Kwa Hong, juga amat terheran-heran mengapa Kwa
Hong sekarang berubah seperti iblis dan juga amat lihai?
Para tosu tadinya hendak mengangkatnya sebagai Ketua Hoa-san-pai, namun Thio Ki menolak keras.
"Mana bisa aku menjadi Ketua Hoa-san-pai?" teriaknya kaget. "Tingkatku di Hoa-san-pai amat rendah, pula
aku masih muda. Banyak para susiok dan supek di sini, bagaimana aku berani mengangkat diri menjadi
Ketua? Pula, orang dengan kepandaian seperti Sukong Lian Bu Tojin sendiri masih tidak kuat menjaga
keselamatan Hoa-san-pai, apa lagi orang seperti aku? Tidak, aku tidak berani menjadi ketua, tetapi aku
sanggup untuk sementara berada di sini untuk mempertanggung jawabkan Hoa-san-pai. Biarlah kita
menanti sampai kembalinya Tan Beng San Taihiap, karena kiranya hanya dia yang akan dapat menolong
kita."
Akan tetapi sampai berbulan-bulan Thio Ki dan para tosu Hoa-san-pai menunggu dengan sia-sia. Malah
akhirnya dia minta bantuan para tosu yang disebarnya ke segenap penjuru untuk melakukan penyelidikan,
bahkan kemudian dia sendiri lalu pergi mencari isterinya atau Beng San. Hasilnya juga nihil.
Sama sekali Thio Ki tidak tahu apa yang terjadi atas diri isterinya, juga tidak tahu bahwa pada waktu itu
Beng San sendiri juga menghadapi mala petaka yang amat hebat. Hatinya semakin risau dan di dalam
hatinya ia mendapat firasat tidak enak bahwa isterinya tentu mengalami mala petaka besar. Ia berduka
sekali, terutama kalau teringat bahwa isterinya itu sedang mengandung.
Beberapa bulan kemudian, pada suatu hari selagi Thio Ki berlatih silat membimbing para tosu di belakang
kuil, tiba-tiba terdengar suara melengking aneh. Para tosu menjadi pucat mendengar ini. Dahulu mereka
pernah mendengar suara ini, yaitu suara burung rajawali emas yang menjadi binatang tunggangan Kwa
Hong.
Bagaikan anak-anak kelinci takut mendengar auman harimau, mereka berlari ke belakang Thio Ki dengan
wajah pucat dan tubuh gemetar, jantung berdebar keras. Thio Ki sendiri terkejut dan menengok ke atas di
mana ia melihat seekor burung yang besar dan indah terbang berkeliling.
"Ehh, burung apakah itu? Besar sekali!" katanya.
"...celaka... dia datang kembali...!" seorang tosu tua berkata.
Seketika Thio Ki teringat akan cerita yang ia dengar tentang Kwa Hong dan rajawalinya, maka ia pun
terkejut dan menanti penuh perhatian. Ketika ia menengok, ia melihat dengan heran dan kaget bahwa
semua tosu yang berada di belakangnya sudah pada berlutut!
Burung itu terbang semakin dekat, menukik ke bawah dan terdengarlah bentakan nyaring. "Siapa ini berani
menyambut Ketua Hoa-san-pai tanpa berlutut? Apa kau sudah bosan hidup?" Ucapan ini disusul
menyambarnya sinar hijau ke arah kepala Thio Ki.
"Hong-moi...!" Thio Ki berteriak.
Teriakan Thio Ki ini menyelamatkan nyawanya karena sinar itu mendadak menyeleweng tidak jadi
mengenai kepalanya, akan tetapi ada hawa pukulan yang demikian dahsyatnya sehingga tanpa dapat ia
pertahankan lagi Thio Ki terguling dan terbanting ke atas tanah!
"Sumoi...!" Thio Ki memanggil lagi sambil merangkak bangun.
dunia-kangouw.blogspot.com
Kiranya Kwa Hong sudah berdiri di atas tanah. Burung raksasa itu telah terbang ke atas sambil bercuitan.
Thio Ki cepat bangun, akan tetapi kaki kiri Kwa Hong bergerak ke arah lututnya dan... untuk kedua kalinya
Thio Ki roboh lagi.
Thio Ki mengangkat muka dengan heran. Bukan main terkejutnya ketika ia melihat Kwa Hong. Jelas bahwa
wanita ini adalah Kwa Hong, wajahnya masih semanis dan secantik dahulu. Akan tetapi tarikan mulut itu
benar-benar menimbulkan kengerian padanya.
"Heh, kiranya engkau? Thio Ki, biar pun engkau sendiri juga harus berlutut di depanku, di depan Ketua
Hoa-san-pai!"
"Sumoi, apakah kau sudah gila?" Thio Ki segera melompat bangun. "Betulkah kau telah membunuh
Sukong, mengangkat diri menjadi Ketua Hoa-san-pai? Sumoi, kenapa begitu? Kau yang dulu berjiwa
gagah..."
Kata-kata Thio Ki terhenti karena ia sudah roboh kembali, kini agak parah karena ia kena ditampar
pundaknya oleh tangan kiri Kwa Hong yang memiliki hawa pukulan luar biasa dahsyatnya. Mata Kwa Hong
berkilat marah.
"Memang aku bunuh dia. Kau pun akan kubunuh karena kau berani bersikap kurang ajar kepadaku! Kau
bicara tentang kegagahan? Hi-hi-hik, kau sendiri gagah apanya? Isterimu dibawa lari orang lain dan
dipermainkan, kau enak saja di sini. Huh, laki-laki apa kau ini? Lebih baik mampus!"
Thio Ki seketika bangun lagi, lupa akan rasa nyeri luar biasa pada pundaknya. Mukanya pucat. "Sumoi...
kau melihat Lee Giok? Di mana dia? Bagaimana dengan dia...? Apakah si bangsat Giam Kin..." Ia tak
dapat melanjutkan kata-katanya lagi, napasnya sesak karena gelisah dan marah.
"Hi-hik-hik, isterimu dibawa lari orang, dipermainkan orang. Syukur, baru senang rasanya terpisah dari
orang yang kau kasihi, ya? Hu-hu-huuuu..." Mendadak Kwa Hong menangis tersedu-sedu karena dia
teringat akan dirinya sendiri yang juga tidak dapat berkumpul dengan orang yang dia cinta.
Thio Ki terkejut dan juga bingung, akan tetapi berita itu terlalu mengguncangkan hatinya sehingga ia tidak
pedulikan lagi yang lain. Ia bangun dan memegang tangan Kwa Hong. "Sumoi... demi Tuhan... katakanlah,
di mana Giam Kin yang menculik isteriku...?"
Kwa Hong menghentikan tangisnya, lalu matanya liar lagi, penuh kebengisan.
"Kau mau mencari dia? Boleh kuantar kau menyusul dia ke akhirat. Dia sudah kubunuh!"
"Dan Lee Giok bagaimana...? Ahh, sumoi..." mata Thio Ki terbelalak dan sikapnya penuh ancaman,
"apakah kau juga membunuh dia...?"
Kwa Hong tertawa lagi, tertawa menyeramkan. "Kalau betul, kau mau apa?"
"Kau... kau... iblis kejam....!"
Dengan nekat Thio Ki menerjang bekas adik seperguruannya itu. Akan tetapi pada waktu itu tingkat
kepandaiannya masih jauh lebih rendah, tak berarti apa-apa jika dibandingkan dengan tingkat kepandaian
Kwa Hong. Dengan sekali menangkis dan sekali mendorong saja kembali Kwa Hong berhasil
merobohkannya.
Kwa Hong tertawa lagi sambil mengeluarkan pedang Hoa-san Po-kiam. "Hi-hik-hik, kau manusia rendah
berani melawan Ketua Hoa-san-pai? Mampuslah kau!"
Pedang Hoa-san Po-kiam itu diangkat tinggi-tinggi untuk ditebaskan ke arah leher Thio Ki. Pada saat itu
sebutir batu kecil menyambar ke arah pedang itu sehingga gerakan pedang tertahan di udara, disusul
bentakan nyaring.
"Hong Hong!"
dunia-kangouw.blogspot.com
Kwa Hong kaget bukan main. Sambaran batu itu hebat sekali akan tetapi baginya tidaklah terlalu
mengagetkan. Yang membuat ia sangat kaget adalah suara bentakan tadi. Cepat ia memandang dan...
tubuhnya tiba-tiba gemetar dan pedang yang dipegangnya itu terlepas, jatuh ke atas tanah.
Kwa Hong berdiri terpaku laksana patung, matanya terbelalak memandang laki-laki yang melangkah lebar
menghampirinya, lelaki setengah tua yang berwajah kereng dan gagah perkasa, yang tangan kirinya putus
sebatas pergelangan tangan.
"Ayah...!" Hati Kwa Hong menjerit, akan tetapi bibirnya hanya mengeluarkan suara yang serak.
Di lain saat laki-laki itu sudah berdiri di hadapannya dengan mata berapi-api dan alisnya terangkat naik.
Wajahnya membayangkan kemarahan, kedukaan dan sesal yang sangat besar. Laki-laki itu memang ayah
Kwa Hong, yaitu Hoa-san It-kiam Kwa Tin Siong.
Di dalam cerita Raja Pedang telah dituturkan betapa murid pertama dari mendiang Lian Bu Tojin ini
melarikan diri dari Hoa-san bersama sumoi-nya, Kiam-eng-cu Liem Sian Hwa setelah tangan kirinya
buntung oleh pedang gurunya sendiri dalam usahanya menolong nyawa sumoi-nya dari serangan pedang
Lian Bu Tojin.
Kwa Tin Siong tidak dapat menyangkal bahwa ia memang jatuh cinta kepada Liem Sian Hwa, sumoi-nya
sendiri itu. Sebaliknya Sian Hwa juga diam-diam mencinta suheng-nya ini setelah hatinya hancur lebur oleh
kelakuan tunangannya, yaitu mendiang Kwee Sin murid Kun-lun-pai.
Setelah melarikan diri dari Hoa-san, keduanya lalu mengasingkan diri, hidup berdua saja di sebuah puncak
gunung. Mereka merasa malu untuk turun gunung dan karena senasib, pula karena mereka memang
saling mencinta, maka keduanya lalu bersumpah saling setia dan menjadi suami isteri.
Dengan tekun kedua orang ini lalu memperdalam ilmu silat mereka dan karena keduanya memang telah
mewarisi ilmu silat tinggi dari Hoa-san-pai, memiliki dasar-dasar yang amat kuat, maka ketekunan mereka
berhasil baik sehingga ilmu kepandaian mereka maju pesat sekali.
Betapa pun juga, ketika Kwa Tin Siong mendengar akan sepak terjang puterinya terhadap Hoa-san-pai,
bahkan sudah membunuh Lian Bu Tojin, dia tidak dapat terus tinggal diam berpeluk tangan mendengar
Hoa-san-pai dirusak dan dikacau oleh puterinya sendiri yang terkasih. Setelah bermufakat dengan
isterinya, ia lalu turun dari gunung dan pergi menuju ke Hoa-san-pai.
Kedatangannya tepat pada saat Kwa Hong hendak membunuh Thio Ki sehingga ia dapat mencegahnya. Di
belakang Kwa Tin Siong terlihat seorang wanita cantik dan gagah yang menggendong seorang anak kecil.
Inilah Liem Sian Hwa dan anak itu adalah Kun Hong, anak suami isteri ini.
Kita kembali ke pertemuan antara ayah dan anak yang menegangkan ini. Para tosu yang segera mengenal
Kwa Tin Siong segera bangkit dari berlutut dan memandang penuh ketegangan, juga kelegaan hati.
"Hong Hong, jadi benarkah semua berita yang kudengar? Benarkah kau berubah menjadi iblis, membunuh
Lian Bu Tojin sukong-mu sendiri, lalu merampas pula kedudukan ketua Hoa-san-pai, membunuh banyak
orang tosu Hoa-san-pai, dan sekarang kulihat kau malah hendak membunuh Thio Ki? Hong Hong...,
bagaimana kau bisa berubah begini...?"
Naik sedu-sedan dari dada Kwa Hong. Dua butir air mata menitik turun ke pipinya dan ia hanya dapat
berbisik, "Ayah..."
"Kau membunuh Suhu, malah membunuh Supek Lian Ti Tojin, mengusir Kui Lok dan Thio Bwee,
melakukan perbuatan gila-gilaan di luar! Aku mendengar bahwa kau telah memiliki kepandaian yang luar
biasa. Hemmm, sekarang aku, Kwa Tin Siong ayahmu telah berada di sini. Coba kau keluarkan
kepandaianmu itu untuk membunuh ayahmu sendiri! Hayo, kau tunggu apa lagi?" Suara Kwa Tin Siong
yang tadinya bengis sekarang berubah serak mengandung penyesalan besar yang menusuk hatinya.
"Ayah..."
"Tak usah kau ragu-ragu. Lawanlah aku! Kau boleh mencoba membunuh ayahmu ini, kalau tidak akulah
yang akan membunuhmu!"
dunia-kangouw.blogspot.com
"Ayah...!"
"Kasih sayang seorang ayah terhadap anaknya takkan luntur selama dunia belum kiamat, tapi kasih
sayang seorang gagah selalu berdasarkan kebenaran dan keadilan! Demi kasih sayangnya, seorang ayah
yang gagah takkan segan-segan menghukum anaknya sendiri yang menyeleweng dari keadilan dan
kebenaran. Perbuatan-perbuatanmu itu melampaui segala garis, hukumannya hanyalah mati! Apa bila aku
tidak sanggup menghukum mati kepadamu, lebih baik aku mati dalam tanganmu. Majulah!"
"Ayah...!"
Kemarahan Kwa Tin Siong memuncak. Keraguan anaknya ini dianggapnya sebagai sifat pengecut.
"Terimalah hukuman dariku!" Ia membentak.
Kwa Tin Siong menerjang ke depan dengan tangan kanannya. Pukulan yang ia lakukan adalah pukulan
Hoa-san-pai yang amat hebat, pukulan penuh tenaga lweekang yang akan dapat membikin pecah sebuah
batu besar. Maksudnya dengan sekali pukul saja hendak membunuh anaknya agar lekas selesai urusan
yang menghancurkan hatinya itu.
Juga pukulan ini adalah jurus yang disebut Pukulan Dewa Mabuk yang biasa digunakan kalau keadaan
sudah amat terdesak sehingga tak ada jalan keluar lagi. Walau pun amat hebat dan berbahaya bagi yang
diserang, namun tidak kurang berbahayanya bagi yang menyerang sendiri karena sekali dapat dielakkan
atau ditangkis, kedudukan Si Penyerang menjadi lemah sekali dan tidak terjaga sehingga mudah
dirobohkan lawan yang mampu menghindarkan pukulan ini.
Akan tetapi, alangkah kaget hati Kwa Tin Siong ketika melihat betapa puterinya itu sama sekali tidak
mengelak! Betapa pun marahnya terhadap anaknya ini, tapi perasaan sayang dan kasih di hatinya masih
lebih besar lagi. Karena itu, melihat sikap puterinya yang tidak mengelak atau melawan dan hanya
meramkan mata menanti kematian, murid tertua Lian Bu Tojin ini perasaannya lantas melayang terbang.
Tadi Kwa Tin Siong sengaja melakukan pukulan ini karena ia sudah mendengar betapa lihai Kwa Hong
sehingga gurunya sendiri, Lian Bu Tojin, tak mampu melawannya. Tentu ia sudah memperhitungkan
bahwa Kwa Hong pasti akan dapat menghindarkan serangan ini dan berbalik akan merobohkannya. Ia rela
mati di tangan anaknya untuk menebus dosa yang diperbuat oleh Kwa Hong.
Demikian sucinya kasih sayang orang tua ini terhadap puterinya. Oleh karena inilah maka ia kaget sekali
ketika pukulannya sama sekali tidak ditangkis mau pun dielakkan oleh Kwa Hong yang menerimanya
dengan mata meram! Untuk menarik kembali pukulan itu tidak mungkin lagi.
Tiba-tiba bayangan kuning emas menyambar dan tepat pada saat pukulan Kwa Tin Siong mengenai tubuh
Kwa Hong, jago Hoa-san-pai ini terlempar ke belakang karena dipukul sayap rajawali emas. Kwa Hong
terjengkang roboh dan nyawanya tertolong. Serbuan oleh rajawali emas itu menyebabkan pukulan ayahnya
hanya menyisakan setengah kekuatan saja ketika mengenai tubuhnya.
Sambil melengking keras rajawali itu mengamuk, menerjang dengan marah ke arah Kwa Tin Siong yang
terlempar empat meter lebih jauhnya. Akan tetapi sambil membentak marah Liem Sian Hwa sudah
menerjang maju dengan pedang di tangan.
Wanita muda ini berjuluk Kiam-eng-cu (Bayangan Pedang), gerakannya gesit bukan main dan permainan
pedangnya lihai sekali. Biar pun serangannya dapat dielakkan oleh burung itu, namun ia berhasii
menyelamatkan suaminya dari cengkeraman kim-tiauw.
Sementara itu, para tosu serentak bangkit dan mengeroyok dengan pedang mereka. Juga Kwa Tin Siong
yang tidak terluka berat, sudah bangun dan menyambar pedang Hoa-san Po-kiam yang jatuh dari tangan
Kwa Hong. Sekarang burung itu dikeroyok oleh Kwa Tin Siong, Liem Sian Hwa dan puluhan orang tosu
Hoa-san-pai.
Hujan pedang menyambar ke arah tubuh kim-tiauw yang melawan dengan hebat sekali. Tiap kali sayapnya
menampar, sedikitnya ada dua orang tosu roboh. Patuk dan cakarnya sudah membinasakan banyak
lawan.
Tapi jumlah pengeroyoknya terlampau banyak sehingga setiap kali ada pedang mengenai tubuhnya,
beberapa helai bulu rontok beterbangan. Juga pedang di tangan Liem Sian Hwa sudah berhasil melukai
dunia-kangouw.blogspot.com
kakinya sehingga mengeluarkan darah. Namun burung itu terus mengamuk dan sekali lagi Kwa Tin Siong
yang agaknya paling ia benci itu terpukul roboh oleh kibasan sayapnya yang lihai.
Kwa Hong yang telah siuman kembali tiba-tiba mengeluarkan bunyi melengking panjang. Rajawali itu cepat
terbang menyambar tubuh Kwa Hong, dicengkeramnya baju di bagian punggung dan membawa nonanya
itu terbang pergi dengan kecepatan yang luar biasa.
Kwa Tin Siong dan Liem Sian Hwa serta para tosu hanya dapat berdongak memandang dengan penuh
kengerian dan kekaguman sampai burung itu lenyap dari pandangan mata. Kwa Tin Siong menarik napas
panjang ketika melihat betapa dalam pertempuran yang hanya sebentar itu ada delapan orang tosu yang
tewas dan banyak yang terluka!
Pertemuan ini mendatangkan banjir air mata dan Kwa Tin Siong tak dapat menolak ketika para tosu
mengangkatnya sebagai ketua Hoa-san-pai. Ketika Kwa Tin Siong mendengar tentang Lee Giok yang
katanya pun terbunuh oleh Kwa Hong, ia menggigit bibirnya dan menghibur Thio Ki.
"Dia terlampau lihai," katanya. "Baru burungnya saja tak terlawan oleh kita, untungnya tadi dia tidak berani
melawanku. Andai kata dia turun tangan, kita semua kiranya takkan dapat hidup lagi."
Semenjak saat itu Kwa Tin Siong memimpin para tosu dan memperhebat latihan ilmu silat di antara para
murid Hoa-san-pai untuk menjaga kalau-kalau kelak terjadi penyerbuan ke Hoa-san-pai. Juga Thio Ki tekun
memperdalam ilmu silatnya.
Kwa Tin Siong lalu menyebar para tosu, berusaha menyelidiki untuk mencari kebenaran berita tentang Lee
Giok. Dia juga berusaha mencari Li Cu dan Beng San yang mereka harapkan akan dapat memberi
keterangan mengenai isteri Thio Ki itu. Akan tetapi semua usahanya sia-sia belaka.
Akhirnya karena putus asa, Thio Ki bahkan meninggalkan keduniaan dan masuk menjadi seorang tosu. Ia
sekarang tekun mempelajari Agama To sambil memperdalam ilmu silat di bawah pimpinan Kwa Tin Siong
dan Liem Sian Hwa.
Di bawah pimpinan suami isteri yang perkasa ini, lambat laun Hoa-san-pai mendapatkan kembali
keangkerannya dan merupakan partai persilatan yang kuat. Hanya terdapat satu hal yang aneh, yaitu pada
diri Kwa Kun Hong, putera Kwa Tin Siong dan Liem Sian Hwa.
Semua orang kiranya akan menduga bahwa pasangan suami isteri ini tentu akan memberi gemblengan
istimewa kepada putera mereka agar kelak menjadi seorang berkepandaian tinggi yang gagah perkasa.
Namun dugaan ini keliru.
Mungkin sekali karena melihat akibat buruk pada diri puterinya, Kwa Hong, maka ketua Hoa-san-pai itu
agaknya merasa kuatir kalau-kalau puteranya kelak pun akan mengalami nasib buruk karena pandai ilmu
silat. Ia sama sekali tidak melatih ilmu silat kepada Kun Hong, sebaliknya melatih bun (ilmu kesusastraan)
dan tentang agama…..
********************
‘Kakek Waktu’ mempunyai kekuasaan yang amat mengherankan dan tidak dapat dilawan oleh siapa dan
apa pun juga. Segala yang berada di dalam dunia ini ditelan oleh waktu, tanpa pengecualian,
mempergunakan daya keampuhannya yang berupa usia tua. Benda paling keras macam besi pun akhirnya
menyerah kepada waktu, diganyang hancur oleh usia tua. Manusia yang paling pandai, yang paling gagah
perkasa dengan kedudukan tertinggi, kekuasaan terbesar, akhirnya akan menyerah kepada ‘Kakek Waktu’.
Semua akan musnah sedangkan waktu akan berjalan terus, menelan segala apa yang berada di
hadapannya.
Yang sudah lampau hanya merupakan kenangan sepintas lalu saja, seakan-akan masa puluhan tahun
hanya terjadi dalam sekejap mata. Sebaliknya, semua yang akan datang merupakan dugaan dan teka-teki
yang takkan diketahui oleh seorang pun manusia. Hanya Tuhan Yang Maha Kuasa saja yang dapat
menguasai ‘Kakek Waktu’, karena Tuhanlah sang pengatur dan pengisi waktu dengan segala macam
peristiwa di dunia seperti yang dikehendaki-Nya.
dunia-kangouw.blogspot.com
Waktu memang amat aneh. Kalau diperhatikan dan diikuti jalannya, amatlah lambat ia merayap, lebih
lambat dari pada jalannya siput. Akan tetapi kalau tidak diperhatikan, amat cepatlah ia melewat, lebih cepat
dari pada terbangnya pesawat jet atau roket sekali pun.
Demikian pula dengan keadaan waktu di dalam cerita ini. Tanpa kita sadari lagi, tahu-tahu kita sudah
dibawa oleh waktu terbang cepat tujuh belas tahun lamanya semenjak Kwa Tin Siong datang kembali ke
Hoa-san-pai dan menjadi Ketua Hoa-san-pai sebagai pengganti gurunya, Lian Bu Tojin yang telah tewas
oleh Kwa Hong dan Koai Atong. Tujuh belas tahun telah lewat bagaikan dalam sekejap mata saja!
Selama itu, tidak terjadi hal-hal penting. Memang harus diakui bahwa setelah Kaisar yang baru berhasil
menghalau dan membasmi semua bekas teman seperjuangan yang hendak memberontak, keadaan pada
umumnya menjadi aman tenteram.
Di Puncak Hoa-san-pai juga terlihat aman dan damai semenjak terjadi keributan belasan tahun yang lalu
akibat sepak terjang Kwa Hong. Sekarang banyak kelihatan para tosu Hoa-san-pai bekerja di sawah
ladang, memikuli kaleng-kaleng air dari sumber. Bahkan dengan gembira mereka selalu terlihat berlatih
ilmu silat Hoa-san-pai di halaman belakang kuil Hoa-san-pai yang besar itu.
Berbeda dengan belasan tahun yang lalu ketika Hoa-san-pai masih diketuai oleh Lian Bu Tojin, kini Hoasan-
pai tak lagi memiliki murid-murid muda yang bukan tojin. Orang-orang kelihatan berlatih ilmu silat di
situ semua adalah tosu-tosu Hoa-san-pai belaka.
Para tosu amatlah maju kalau dibandingkan dengan dahulu. Dulu para tosu Hoa-san-pai kurang
memperhatikan pelajaran ilmu silat yang agaknya diborong oleh murid-murid yang bukan tosu. Akan tetapi
sekarang para tosu itu lekas kelihatan amat maju dalam pelajaran ini. Ilmu silat yang mereka mainkan amat
baik dan gerakan mereka menunjukkan latihan matang.
Tujuh belas tahun bukanlah waktu singkat untuk mematangkan ilmu silat bagi para murid Hoa-san-pai yang
tadinya memang sudah mempunyai kepandaian dasar. Apa lagi yang melatih mereka adalah Kwa Tin
Siong dan Liem Sian Hwa, sepasang suami isteri yang sudah mewarisi ilmu silat Hoa-san-pai, terutama
sekali ilmu pedangnya.
Juga Thio Ki yang sekarang telah menjadi tosu itu amat maju. Kini dia merupakan murid kepala dan sering
kali mewakili Ketua Hoa-san-pai untuk melatih para tosu di pelataran belakang kuil.
Thio Ki yang sudah menjadi tosu mempunyai nama pendeta Thian Beng Tosu dan ia merupakan tosu yang
amat tekun mempelajari ilmu kebatinan untuk menghibur hatinya yang tertekan hebat. Patut dikasihani
nasib Thio Ki. Kalau ia terkenang kepada isterinya, Lee Giok yang menurut anggapannya sudah terbunuh
oleh Kwa Hong, hatinya menjadi sangat perih. Hanya dengan membaca kitab-kitab Agama To yang
membuat kedukaannya dapat terhibur.
Berbeda dengan Thio Ki yang sudah menjadi tosu, Kwa Tin Siong tidak masuk menjadi tosu. Hal ini adalah
karena ia mempunyai isteri, maka biar pun ia sudah menjadi Ketua Hoa-san-pai, namun ia tetap menjadi
‘orang biasa’ dan bukan pendeta. Oleh karena itu pula, sebagai ketua umum Hoa-san-pai, ia lalu
mengangkat Thian Beng Tosu (Thio Ki) menjadi ketua bagian Agama To, dibantu oleh beberapa orang
tosu tua yang menjadi ahli dalam keagamaan ini.
Kwa Tin Siong sendiri hidup rukun damai dengan isterinya dan puteranya. Pekerjaannya sehari-hari selain
memimpin para tosu Hoa-san-pai dalam ilmu silat, juga sering kali tampak ketua ini bekerja di sawah
ladang bersama para tosu lainnya.
Seperti juga halnya dengan keadaan apa saja di jagat ini, bahwa segala sesuatu takkan kekal adanya, tak
akan ada hujan atau terang tiada akhir, tak akan pula ada kedukaan atau kesenangan tiada akhir. Selama
Kwa Tin Siong menjadi Ketua Hoa-san-pai, keadaan di puncak bukit itu memang tampak aman tenteram,
penuh damai yang menyamankan hati.
Pada suatu hari yang amat sejuk hawa udaranya, amat nyaman cahaya matahari pagi menembusi halimun
gunung, tanpa disangka-sangka datanglah hal-hal yang mengganggu ketenteraman Hoa-san-pai.
Gangguan itu mula-mula terjadi pada malam hari tanpa ada seorang pun anggota Hoa-san-pai yang tahu.
dunia-kangouw.blogspot.com
Ketika pagi-pagi hari para tosu mulai dengan pekerjaan mereka sehari-hari, tiba-tiba saja seorang tosu
berseru heran sambil menuding ke arah atas kuil. Seperti biasa, di puncak kuil itu berkibar bendera Hoasan-
pai yang berdasar kuning dengan tuiisan biru, tanda dari perkumpulan Hoa-san-pai.
Akan tetapi sekarang bendera itu agak turun dan di puncak tiang bendera berkibar sebuah bendera kecil
yang asing. Akan tetapi dari bawah jelas terlihat bahwa bendera itu adalah sebuah bendera berdasar
warna merah dengan sulaman macan hitam. Menaruh bendera di atas bendera Hoa-san-pai hanya
mempunyai satu arti, yaitu orang hendak menghina dan merendahkan Hoa-san-pai.
Ribut-ribut di luar kuil ini menarik hati Thian Beng Tosu yang segera berlari keluar. Melihat bendera kecil
itu, wajahnya segera berubah merah dan dia mengepal tinjunya menahan marah.
Tidak lama kemudian Kwa Tin Siong dan Liem Sian Hwa juga berlari keluar diikuti oleh seorang pemuda
berusia delapan belas tahun yang berwajah tampan dan bersikap halus. Dia ini bukan lain adalah Kwa Kun
Hong. Mereka diberi laporan oleh seorang tosu tentang peristiwa itu, maka tergesa-gesa keluar untuk
rnenyaksikan.
Kwa Tin Siong sendiri, juga isterinya, tidak mengenal bendera merah dengan gambar harimau hitam itu.
Akan tetapi ketika Kwa Tin Siong melihat sikap Thian Beng Tosu (Thio Ki) yang nampak marah, ia segera
bertanya,
"Apakah kau mengenal bendera itu? Apa artinya ini?"
Thian Beng Tosu segera menjawab pertanyaan supek-nya. "Teecu mengenal baik. Tak nyana sama sekali
bahwa kumpulan bangsat itu berani mengejar teecu (murid) ke sini, malah berani menghina Hoa-san-pai!"
Ia menarik napas panjang. "Hemmm, tentu mereka telah mempunyai pimpinan orang pandai sehingga
pada malam hari tanpa kita ketahui sama sekali dapat memasangkan bendera itu."
Liem Sian Hwa adalah seorang tokoh Hoa-san-pai yang semenjak dulu berwatak keras dan gagah. Kedua
telinganya sudah merah ketika ia menyaksikan penghinaan bendera itu. Sekarang mendengar kata-kata
murid keponakannya ia menjadi makin panas hatinya. "Huh, memasang bendera begitu saja apa sih
hebatnya?"
Baru saja ia berkata demikian, tubuhnya sudah melesat ke atas dengan gerakan ringan sekali dan tahutahu
ia sudah meloncat tinggi di puncak tiang bendera! Tangan kirinya bergerak menyambar tiang bendera
sehingga tubuhnya berjungkir-balik dengan lurus, lalu tangan kanannya membetot bendera kecil itu hingga
lepas dari tiang. Kemudian, dengan sebelah tangan pula ia menaikkan bendera Hoa-san-pai di puncak
tiang seperti semula.
Setelah semua ini ia lakukan dengan berjungkir balik dan dengan tangan kiri menahan tubuh di puncak
tiang itu, ia menekan tiang dan tubuhnya melayang turun lagi. Ia hinggap di atas tanah tanpa
mengeluarkan suara dan mukanya sedikit pun tidak menunjukkan tanda-tanda bahwa ia telah
mempergunakan banyak tenaga.
Para tosu berseru kagum dan memuji Sang Nyonya Ketua yang memang patut dipuji. Tak percuma Liem
Sian Hwa mendapat julukan Kiam-eng-cu (Bayangan Pedang), karena memang ginkang (ilmu
meringankan tubuh) yang dimilikinya telah mencapai tingkat tinggi sekali.
Kun Hong bersorak memuji, "Hebat...! Ibu seperti burung saja, ah... bukan main indahnya gerakan Huiliong
Cai-thian (Naga Terbang ke Langit) tadi!"
Seketika wajah Liem Sian Hwa dan Kwa Tin Siong berubah terheran-heran. Mereka saling pandang,
kemudian keduanya memandang kepada putera mereka dengan mata penuh selidik dan penuh
pertanyaan.
Tentu saja mereka amat terheran-heran karena bagaimana pemuda itu bisa tahu bahwa gerakan tadi
adalah gerakan Hui-liong Cai-thian? Padahal di antara para tosu, kiranya hanya Thian Beng Tosu seorang
yang tahu akan ilmu meloncat Hoa-san-pai yang sukar ini, sedangkan Kun Hong sama sekali tidak pernah
belajar silat semenjak kecilnya.
Hampir saja Kwa Tin Siong mengajukan pertanyaan, akan tetapi perhatian mereka tertarik oleh seruan
Thian Beng Tosu, "Ahh, surat apakah yang tertempel di bendera itu?"
dunia-kangouw.blogspot.com
Semua orang melihat. Benar saja. Pada bendera kecil itu ada sehelai surat yang ditempel dengan tusukan
jarum. Liem Sian Hwa lalu menyerahkan bendera berikut surat kepada suaminya yang segera mengambil
surat itu dan membacanya. Keningnya berkerut setelah membaca, dan berkatalah Ketua Hoa-sanpai ini
kepada semua tosu yang mengerumuni tempat itu.
"Gerombolan penjahat bermaksud buruk terhadap kita. Mulai saat ini kalian semua boleh terus bekerja
seperti biasa, akan tetapi jangan berpisahan, harus berkelompok sedikitnya lima orang. Kalau ada orang
asing naik ke gunung, jangan sembrono dan jangan mencari perkara. Langsung laporkan kepada kami."
Sambil berbisik-bisik dengan hati tegang para tosu itu ialu melanjutkan pekerjaan mereka. Kwa Tin Siong
seanak isteri lalu masuk ke dalam mengajak Thian Beng Tosu.
"Ki-ji (Anak Ki)," kata Kwa Tin Siong. Memang sudah biasa ia memanggil Thio Ki dengan sebutan anak Ki,
maka sampai Thio Ki menjadi tosu pun masih disebut demikian. "Apakah kau mengenal penulis surat ini?"
Ia menyerahkan surat kecil itu kepada Thian Beng Tosu yang segera membacanya.
Apa bila dalam waktu dua belas jam Thio Ki tidak turun untuk mengantarkan nyawanya ke Im-kan-kok,
terpaksa kami tidak melihat muka Ketua Hoa-san-pai lagi dan akan menyerbu Hoa-san-pai untuk
mengambil nyawa Thio Ki.
Surat itu ditandai gambar harimau hitam dan tulisannya kasar lagi buruk, bukan tulisan seorang ahli.
Membaca ini, seketika wajah Thio Ki atau sekarang bernama Thian Beng Tosu ini menjadi pucat, giginya
beradu dan tangannya mengepal, surat itu diremasnya.
"Keparat betul Bhe Lam Si Macan Hitam itu!" katanya.
Thio Ki atau Thian Beng Tosu lalu bercerita. Dahulu sebelum ia menjadi tosu Hoa-san-pai dan masih
menjadi seorang piauwsu (pengawal barang) di Sin-yang, pernah pada suatu hari barang kawalannya
dirampok oleh segerombolan perampok yang dipimpin Hek-houw Bhe Lam. Seorang pembantunya tewas
dan barang kawalan itu dirampas.
Thio Beng Tosu atau dahulu masih bernama Thio Ki bersama isterinya, Lee Giok, lalu mendatangi sarang
perampok itu dan setelah bertempur hebat, akhirnya mereka dapat mengalahkan Bhe Lam dan merampas
kembali barang kawalannya. Bhe Lam berhasil melarikan diri setelah menderita luka berat.
"Demikianlah, Supek. Agaknya Bhe Lam itu tidak melupakan urusan lama dan biar pun teecu sudah
menjadi tosu di sini, dia masih terus mencari teecu dan hendak membalas dendam. Perkenankan teecu
pergi untuk menemuinya dan sekali ini teecu tidak akan tanggung-tanggung membasminya agar ia tidak
mengacau ketenteraman dunia." Setelah berkata demikiah Thian Beng Tosu lalu bergerak hendak pergi
mencari musuh besarnya.
Kwa Tin Siong menggerakkan tangan mencegah.
"Nanti dulu, jangan kau terlalu sembrono dan tergesa-gesa. Kalau dahulu dia pernah kau kalahkan dan
sekarang berani datang menantang, sudah tentu dia mempunyai andalan yang kuat. Kalau tidak demikian,
tak mungkin ia bersikap menantang. Pula, kalau hendak menuntut balas, mengapa harus sampai belasan
tahun lamanya? Kita harus hati-hati dan jangan gegabah. Dengan mendatangi Hoa-san-pai, memasang
bendera untuk menghina bendera kita, itu saja menunjukkan bahwa ia memandang rendah kepada Hoasan-
pai. Setelah ia berbuat demikian jauh, bagaimana aku bisa tinggal diam saja?"
"Yang amat mengherankan adalah tempat ia menanti di Im-kan-kok," kata Liem Sian Hwa sambil
mengerutkan keningnya. "Im-kan-kok adalah tempat suci yang juga menjadi tempat larangan bagi kita,
kenapa musuh justru menanti di sana? Thio Ki, kau harus berhati-hati, benar pendapat supek-mu, kita
semua harus menghadapi urusan ini bersama."
Tiba-tiba Kun Hong tertawa, "Orang itu sungguh tak tahu diri sekali berani mengganggu Hoa-san-pai. Twasuko
jangan takut, orang itu memberi waktu dua belas jam, tentu nanti tengah hari ia datang. Biarkan ia
datang, hendak kita lihat bagaimana macamnya. Untuk mendatangi undangannya ke Im-kan-kok hanya
akan membuat dia lebih leluasa mengatur jebakan."
"Hushh, kau tahu apa tentang urusan ini?" ibunya membentak.
dunia-kangouw.blogspot.com
Kwa Tin Siong teringat akan sesuatu dan dia lalu bertanya dengan suara bengis, "Kun Hong, kau tadi tahu
akan gerakan ibumu, dari mana kau tahu? Hayo bicara, jangan kau sembunyikan sesuatu dariku!"
Leher Kun Hong mengkeret ketika ia dibentak ayahnya, wajahnya menjadi merah dan ia menjawab gugup,
"Ahh, tidak sekali-kali aku melanggar larangan Ayah. Aku tidak pernah mempelajari ilmu silat, hanya aku
telah membaca catatan Ayah dan Ibu tentang ilmu silat Hoa-san-pai. Mempelajari tidak boleh, kalau
membaca kan tidak ada larangan, bukan? Aku memang suka membaca apa saja, Ayah."
Diam-diam Ketua Hoa-san-pai ini tertegun. Membaca begitu saja tanpa mempelajari prakteknya, namun
sudah dapat melihat gerakan orang, benar-benar hal ini amat luar biasa dan membutuhkan kecerdikan
yang jarang bandingannya. Ia kagum dan juga bangga sekali, akan tetapi mulutnya berkata, "Hemm, lain
kali kau tidak boleh membaca segala macam kitab pelajaran ilmu silat"
"Baik, Ayah," kata Kun Hong sambil tunduk.
Karena menguatirkan keselamatan puteranya yang tidak pandai ilmu silat, Kwa Tin Siong hendak
menyuruh puteranya itu tinggal saja di kamarnya. Akan tetapi sebelum ia sempat mengeluarkan perintah,
tiba-tiba seorang tosu masuk dan melaporkan bahwa ada tiga orang tosu tua yaitu Pak-thian Sam-lojin
datang berkunjung. Wajah Kwa Tin Siong menunjukkan perasaan girang dan heran akan kunjungan yang
tak disangka-sangka ini.
Tiga Orang Tua dari Utara itu adalah sahabat-sahabat baik mendiang gurunya, Lian Bu Tojin. Tentu saja
kunjungan ini sangat menyenangkan hatinya, apa lagi terjadi pada waktu Hoa-san-pai sedang menghadapi
ancaman musuh. Dari tiga orang kakek yang memiliki kepandaian tinggi itu dapat diharapkan bantuannya.
"Persilakan mereka masuk," katanya, lalu dia bersama isterinya, juga Thian Beng Tosu yang masih ingat
akan nama tiga orang kakek itu segera menyambut di pintu ruangan.
Tidak lama kemudian masuklah tiga orang kakek itu. Usia mereka sudah tua sekali, akan tapi sikap mereka
masih gagah. Tiga orang tosu itu mengenakan pakaian longgar, dengan wajah kereng dan tindakan kaki
ringan, tanda bahwa mereka memiliki ilmu kepandaian tinggi.
Melihat mereka, Kwa Tin Siong, isterinya dan Thian Beng Tosu segera menjura dengan hormat. Tiga orang
kakek itu mengelus jenggot dan seorang di antara mereka yang tertua dan yang berjenggot panjang sekali
segera berkata,
"Sudah lama kami mendengar bahwa Hoa-san-pai sudah berganti ketua. Menyesal kami tidak dapat
datang ketika terjadi mala petaka di Hoa-san. Mula-mula memang kami ingin datang dan membalaskan
sakit hati sahabat kami Lian Bu Tojin, akan tetapi kemudian kami mendengar bahwa Sicu telah
menggantikan kedudukan mendiang sahabat kami itu. Betapa pun juga, kami ingin menyaksikan dengan
mata kepala sendiri bahwa Hoa-san-pai sudah bangun kembali. Siapa kira di tengah perjalanan kami
melihat adanya gerombolan orang jahat yang mengancam Hoa-san-pai. Apakah Sicu sudah
mengetahuinya?"
Kwa Tin Siong mempersilakan para tamunya duduk, lalu ia menghaturkan terima kasih. "Sam-wi
Locianpwe benar-benar sudah mencapaikan diri untuk memperhatikan keadaan Hoa-san-pai. Untuk budi
kecintaan itu kami menghaturkan banyak terirna kasih. Memang benar seperti yang Locianpwe katakan
tadi, ada segerombolan penjahat hendak datang mengganggu, akan tetapi kiranya hal ini tidak patut untuk
membikin Sam-wi capai hati. Hanya urusan kecil saja."
Kui Tosu, yaitu tosu tertua dari tiga kakek itu, mengerutkan alisnya yang sudah putih. Ia memang berwatak
berangasan. "Hemm, Sicu sebagai murid dari Lian Bu Tojin sudah tentu telah mewarisi ilmu yang hebat
dari Hoa-san-pai. Akan tetapi harap diketahui bahwa kepandaian tiada batasnya dan kiraku hari ini belum
tentu kepandaian Hoa-san-pai akan dapat diandalkan untuk mengalahkan musuh. Apakah Sicu sudah tahu
siapa yang datang mengganggu?"
Diam-diam Kwa Tin Siong tidak senang mendengar ucapan ini. Dia adalah seorang gagah yang tidak
pernah takut menghadapi lawan. Akan tetapi, oleh karena tiga orang kakek ini datang sebagai tamu dan
merupakan sahabat-sahabat mendiang gurunya, dia menahan kesabaran dan bertanya,
dunia-kangouw.blogspot.com
"Yang baru saya ketahui hanyalah bahwa orang yang memimpin gerombolan pengacau itu bernama Bhe
Lam, seorang penjahat Sin-yang berjuluk Hek-houw (Harimau Hitam). Penjahat cilik macam itu perlu apa
diributkan?"
Tosu termuda dari tiga orang kakek itu yang bernama Lai Tosu tertawa bergelak.
"Ha-ha-ha-ha! Kalau hanya harimau hitam saja apa artinya? Besar atau kecil kalau hanya Hek-houw saja
tak lebih dari pada seekor kucing hitam! Ketahuilah, Kwa-sicu, di belakang si Harimau Hitam itu masih ada
dua makhluk yang lebih menakutkan lagi. Kau tahu siapa mereka? Yang seorang adalah Kim-thouw Thianli
Ketua Ngo-lian-kauw dan yang ke dua adalah Toat-beng Yok-mo (Setan Obat Pencabut Nyawa)!"
Kwa Tin Siong terkejut sekali mendengar nama-nama ini. Tentu saja ia sudah mengenal Kim-thouw Thian-li
yang sudah berkali-kali membikin keruh keadaan Hoa-san-pai, bahkan wanita inilah yang mula-mula
merusak Hoa-san-pai sehingga terjadi hal yang berlarut-larut dan permusuhan yang menjadi-jadi. (baca
cerita Raja Pedang)
Kim-thouw Thian-li merupakan musuh besar Hoa-san-pai, berarti musuh besarnya pula. Kepandaian
wanita itu memang hebat sekali, akan tetapi dia sama sekali tidak merasa gentar untuk menghadapinya.
Yang membikin Ketua Hoa-san-pai ini kaget sekali adalah disebutnya nama Toat-beng Yok-mo. Kakek iblis
itu sudah belasan tahun menghilang dari dunia kangouw, mengapa sekarang bisa muncul bersama Kimthouw
Thian-li membantu Hek-houw Bhe Lam?
Melihat kekuatiran di wajah tuan rumah, Bu Tosu orang ke tiga dari Pak-khia Sam-lojin dengan sombong
berkata, "Kwa-sicu tidak usah kuatir, Kim-thouw Sian-li dan Toat-beng Yok-mo boleh menakuti orang lain,
akan tetapi lihat saja, ada pinto bertiga di sini yang siap untuk meghancurkannya!"
Kwa Tin Siong belum hilang rasa kagetnya dan ia berkata, "Terima kasih atas janji Sam-wi untuk
membantu kami. Akan tetapi benar-benar saya tidak mengerti mengapa Toat-beng Yok-mo dapat berada
dengan mereka?"
"Ha-ha-ha-ha, Kwa-sicu masih belum mendengar? Agaknya karena belasan tahun sibuk mengurus Hoasan-
pai, tidak tahu akan kejadian di dunia luar! Kakek tua bangka tukang obat itu tergila-gila kepada Kimthouw
Thian-li dan kabarnya ia telah memperisteri Ketua Ngo-lian-kauw itu. Ha-ha-ha, benar-benar tua
bangka tak tahu malu!" kata Lai Tosu.
"Akan tetapi Sicu tak perlu merasa kuatir," sambung Kui Tosu tenang. "Biarkan mereka datang, kita akan
atur jebakan untuk mereka. Para tosu supaya mengatur bai-hok (barisan terpendam) di sekeliling puncak,
siap dengan senjata lengkap. Kami sudah melihat bahwa gerombolan mereka hanya terdiri dari tiga puluh
orang lebih. Jumlah kita menang banyak. Kita biarkan mereka masuk dan Sicu boleh menghadapi Bhe Lam
sedangkan kami bertiga akan menggempur Toat-beng Yok-mo. Tentang Kim-thouw Thian-li, kami rasa
cukup bila dihadapi oleh isterimu dan murid-muridmu. Sementara itu, para tosu datang mengurung dan
mengeroyok anak buah mereka yang tidak banyak jumlahnya itu. Dengan cara ini, kami rasa kita akan
dapat membunuh mereka semua, jangan ada yang bisa lolos supaya kelak mereka tidak mendatangkan
bencana pula!"
Kwa Tin Siong dan Liem Sian Hwa mengangguk-angguk, setuju dengan rencana siasat ini.
Akan tetapi tiba-tiba Kun Hong berseru marah, "Tidak boleh...! Tidak boleh, jahat sekali itu! Masa kita Hoa-
San-pai harus membunuhi orang-orang itu? Tidak boleh, mana ada aturan manusia membunuh manusia
lain? Ini perbuatan terkutuk oleh Thian!"
Semua orang kaget, apa lagi Pak-thian Sam-lojin. Mereka menengok memandang kepada pemuda itu
dengan heran.
"Kwa-sicu, siapakah orang muda ini?" tanya Kui Tosu.
"Dia adalah Kun Hong, anak kami yang bodoh," Kwa Tin Siong menjawab dan ia sudah melototkan
matanya untuk menegur anaknya.
Akan tetapi Kui Tosu sudah mendahuluinya, bertanya dengan kereng. "Orang muda, kalau kau
menganggap rencana kami itu tidak boleh dijalankan, habis kalau menurut pikiranmu bagaimana baiknya
menghadapi musuh-musuh yang akan menyerbu?"
dunia-kangouw.blogspot.com
"Ha-ha, bocah berlagak pintar!" kata Lui Tosu. "Apakah kau ingin agar mereka itu datang menyerbu dan
membunuh kita semua?"
"Tidak demikian maksudku. Harap Sam-wi Totiang tidak salah sangka," jawab Kun Hong, suaranya tetap
dan tegas. "Kalau ada seorang gila memaki-maki seorang waras, lalu si waras itu balas memaki-maki si
gila, lalu bagaimana perbedaan antara mereka? Mana si waras dan mana pula si gila? Demikian juga kalau
ada orang jahat berencana hendak membunuh kita, lalu kita berencana pula untuk membunuh mereka,
bukankah watak kita tiada bedanya dengan orang jahat itu? Mereka hendak membunuh kita, kita pun
hendak membunuh mereka. Siapa di antara kita yang jahat? Siapa benar siapa salah?"
Kwa Tin Siong sendiri melengak mendengar omongan puteranya ini. Memang ia sudah tahu bahwa watak
puteranya sangat keras dan juga amat berani dalam mengemukakan pendapatnya, akan tetapi tidak
disangkanya akan seberani ini.
Tiga orang kakek itu saling pandang dengan terheran-heran. Kui Tosu lalu membantah.
"Tentu ada bedanya! Kita hendak membunuh mereka dengan dasar hendak membasmi orang-orang
jahat!"
"Apa Totiang mengira bahwa mereka tidak mempunyai dasar dengan kehendak mereka membunuh kita?
Setiap perbuatan tentu ada dasarnya, yaitu dasar untuk kemenangan diri sendiri, untuk kebaikan sendiri.
Pendapat seorang takkan sama, dasar yang dipakai orang tidak sama pula. Semua orang memperebutkan
kebenaran, kebenaran diri sendiri tentu!"
"Habis, kalau menurut pendapatmu, bagaimana?" Kui Tosu mulai marah.
Oleh karena bocah ini adalah putera Ketua Hoa-san-pai, maka ia mau melayaninya. Kalau bukan putera
Kwa Tin Siong, tentu tidak sudi bicara dengannya.
"Maaf, Totiang. Harap Totiang, juga Ayah dan Ibu beserta para susiok dan suheng suka menjawab dulu
pertanyaanku. Kalau kukatakan bahwa yang berhak atas sesuatu benda adalah pembuatnya, apakah salah
kata-kataku ini?"
"Tentu saja begitu," jawab Thian Beng Tosu karena yang lain-lain tidak menjawab.
"Nah, Suheng sudah menjawab dan membetulkan kata-kataku. Yang berhak atas sesuatu adalah
pembuatnya. Lalu, siapakah yang membuat manusia ini hidup di dunia? Salahkah kalau kukatakan bahwa
Tuhan yang memberi hidup?"
Kembali pemuda ini berhenti dan memandangi mereka dengan sepasang matanya yang bersinar tajam.
"Benar pula, Kun Hong," jawab Thian Beng Tosu.
"Nah, kalau kita semua mengakui bahwa yang memberi hidup adalah Tuhan, berarti hidup kita ini millk
Tuhan. Oleh karena itu pula, hanya Tuhanlah yang berhak untuk mengakhiri hidup kita, jadi hanya Tuhan
pula yang berhak membunuh manusia. Kalau kita sudah tahu akan hal ini, mudah saja bagi kita menjawab.
Perbuatan membunuh itu baik atau jahat?"
Tidak ada yang menjawab, Kun Hong penasaran dan menghadapi ayahnya.
"Ayah selalu mengajar agar supaya aku hanya mengatakan apa yang menjadi isi hatiku. Mengapa
sekarang pertanyaanku tidak ada yang menjawab? Ayah, bukankah menurut sebab-sebab tadi, membunuh
itu adalah perbuatan jahat?"
"Memang, membunuh adalah perbuatan yang tidak baik," akhirnya ayahnya pun berkata perlahan.
Mata Kun Hong berseri-seri dan bersinar-sinar. "Nah, apa bila perbuatan membunuh ini termasuk
perbuatan jahat, mengapa kita malah merencanakan hendak membunuh orang? Mengapa kita hendak
membalas kejahatan dengan kejahatan pula? Kalau orang lain yang hendak membunuh termasuk
golongan penjahat, habis kita ini golongan apa kalau juga meniru perbuatan mereka? Membalas perbuatan
baik dengan kebaikan pula adalah sikap seorang budiman. Membalas kejahatan dengan kebaikan hanya
dunia-kangouw.blogspot.com
mungkin dapat dilakukan oleh alam, hanya mungkin dapat dilakukan oleh Tuhan. Hanya manusia yang
sudah dapat menyatukan diri dengan alam saja yang akan mencapai kebajikan ini, yaitu membalas
kejahatan dengan kebaikan. Tapi seorang manusia bijaksana, seorang budiman biar pun belum dapat
membalas kejahatan dengan kebaikan, paling sedikit harus bisa membalas kejahatan dengan keadilan!"
Semua orang yang berada di situ maklum bahwa semua yang dikemukakan oleh pemuda itu adalah
ajaran-ajaran dalam agama dan filsafat yang memang telah dipelajarinya sejak ia kecil.
"Semua orang sudah mempelajari kebenaran, akan tetapi tidak berani mempertahankan dan membela
kebenaran yang dipelajarinya itu! Ayah dan ibu beserta semua susiok dan suheng, Hoa-san pai tak akan
bernama kalau dibangun dengan darah dan pembunuhan. Hoa-san-pai merupakan perkumpulan untuk
menuntun orang-orang mempelajari Agama Tao supaya manusia dapat membersihkan diri dari pada
kejahatan, bagaimana mungkin mengajar orang membersihkan diri dari kejahatan dengan jalan terjun ke
dalam kejahatan itu sendiri?"
Melihat pemuda ini makin lama semakin bersemangat, Kwa Tin Siong merasa tidak enak hati, maka dia
lalu membentak, "Kun Hong, kau ini anak kecil hendak memberi pelajaran kepada orang-orang tua? Kalau
soal begitu saja, kita semua sudah tahu, apa lagi Sam-wi Locianpwe ini. Yang kau kemukakan itu adalah
pelajaran-pelajaran yang masih rendah dan semua juga sudah mengetahuinya."
“Tahu tidak sama dengan mengerti, malah mengerti pun tidak sama dengan sadar, Ayah! Tahu saja tanpa
mengerti isinya percuma. Mengerti sekali pun tanpa kesadaran tak akan ada gunanya. Yang penting tahu,
lalu mengerti akan isinya, dan sadar untuk menerapkan pengertian ini dengan batinnya, kemudian harus
disusul dengan ketaatan bulat terhadap pengertian ini. Apa gunanya kalau kita hanya tahu dan mengerti
bahwa membunuh itu jahat, akan tetapi kita malah nekat melakukannya? Pendeknya, anak tidak setuju
kalau Hoa-san-pai mempunyai orang-orang yang suka menjadi pembunuh sesama manusia!"
"Hemm, hemmm, aneh sekali anakmu ini, Kwa-sicu!" kata Kui Tosu dengan muka merah. Tosu tua yang
berangasan ini tak dapat menahan lagi kesabarannya.
"Ehhh, kongcu cilik, habis kalau menurut pendapatmu, bagaimana kita akan menghadapi gerombolan
Harimau Hitam itu?"
"Alam mempunyai hukum yang diatur oleh Tuhan. Manusia pun mempunyai hukum yang diatur oleh
pemerintahan negara. Kita sebagai manusia harus tunduk kepada hukum pula. Masyarakat telah diatur
dengan adanya petugas-petugas yang berkewajiban mengatur hukum-hukum itu. Kalau ada hal yang tidak
beres dan melanggar hukum, merekalah yang wajib mengurusnya. Sekarang gerombolan itu kalau sudah
datang ke sini, kita ajak bicara secara aturan. Kalau mereka tidak mau terima uluran dan hendak
melanggar hukum, biar kita laporkan kepada lurah dan para petugas di dusun, tak jauh di kaki gunung
sana."
Meledak suara ketawa tiga orang tosu tua itu pada saat mendengar omongan ini. Kwa Tin Siong menjadi
amat merah mukanya sebab sikap Kun Hong ini jelas membuka kenyataan bahwa puteranya itu tidak tahu
menahu tentang dunia persilatan, di mana hukum yang dipakai adalah hukum persilatan yang jauh
bedanya dengan hukum pemerintah.
"Kwa-sicu, kau benar-benar aneh sekali mendidik anakmu seperti ini! Ha-ha-ha, tak nyana mendiang Lian
Bu Tojin mempunyai cucu murid seperti ini!" Kun Tosu tertawa-tawa sambil memegangi perutnya saking
geli.
"Locianpwe, harap maafkan puteraku. Memang semenjak kecil dia tidak pernah diberikan pendidikan ilmu
silat, melainkan hanya ilmu surat dan filsafat. Betapa pun juga, menurut pendapatku yang bodoh, jauh lebih
baik tidak tahu akan ilmu silat sehingga jauh dari pada bermusuh-musuhan seperti dalam penghidupan kita
orang-orang persilatan."
Pada saat itu terdengar suara nyaring di luar pintu, suara wanita yang berteriak-teriak, "Hayo, mana dia si
orang she Kwa? Suruh dia lekas keluar menyerahkan pedang Hoa-san Po-kiam dan kepalanya!"
Semua orang kaget sekali. Bagaimana bisa ada seorang musuh datang begitu saja tanpa diketahui oleh
para penjaga yang sudah diatur serapi-rapinya? Kwa Tin Siong menyangka bahwa yang datang tentulah
Kim-thouw Thian-li, maka dia lalu melangkah keluar, diikuti semua orang termasuk Pak-thian Sam-lojin.
dunia-kangouw.blogspot.com
Setelah mereka tiba di luar, semua orang ini dibikin bengong saking herannya. Bukan Kim-thouw Thian-li
yang berdiri di situ, melainkan seorang gadis tanggung berusia sekitar tujuh belas tahun, yang berdiri
dengan tegak di tengah pelataran depan kuil.
Gadis ini cantik sekali. Sepasang matanya tajam bergerak-gerak cepat memandang ke kiri kanan, mulut
kecil yang berbibir merah itu manis tersenyum-senyum setengah mengejek. Pakaiannya sangat sederhana,
hanya terbuat dari kain kasar dengan jahitan sederhana seperti biasanya pakaian gadis-gadis gunung, juga
tidak kelihatan membawa senjata apa pun sehingga benar-benar seperti seorang dara gunung yang cantik
manis sekali.
Karena ia tidak bersenjata, maka ia mirip seorang gadis yang kurang waras pikirannya. Kalau tidak
demikian, bagaimana seorang gadis seperti dia berani bicara tidak karuan di Hoa-san-pai? Berbeda
kiranya kalau dia membawa senjata, tentu dia merupakan seorang gadis kang-ouw yang berkepandaian
silat maka berani membuka suara besar.
Melihat banyak orang keluar dari kuil dan sikap mereka rata-rata gagah, gadis itu kembali berteriak,
suaranya nyaring, meski pun merdu dan halus akan tetapi jelas bernada keras mengancam, "Mana Ketua
Hoa-san-pai she Kwa?"
Dengan tenang dan sabar Kwa Tin Siong melangkah maju dan balas bertanya, "Nona siapa dan dari
mana? Ada keperluan apakah kau mencari Ketua Hoa-san-pai she Kwa?"
Dengan pandang matanya yang tajam gadis itu memandang Kwa Tin Siong penuh selidik, lalu berkata,
"Sudah kukatakan tadi, dia harus menyerahkan Hoa-san Po-kiam kepadaku, juga kepalanya. Pedang dan
kepalanya harus kubawa pergi."
Jawaban ini demikian sewajarnya sehingga para pendengarnya menjadi bengong. Banyak tosu
menganggap bahwa gadis ini tentu miring otaknya, apa bila tidak demikian, masakah mengajukan
permintaan yang begitu gila?
Kwa Kun Hong menjadi marah. Dengan mata melotot ia melangkah maju dan berdiri dekat sekali di depan
gadis itu. Lagaknya seperti seorang guru memarahi muridnya yang goblok. Telunjuknya menuding ke arah
muka yang cantik.
"Nona cilik, apakah kau tidak pernah diajar orang tuamu? Ucapan apa yang kau keluarkan itu? Sungguh
tidak patut! Mana ada aturan orang seperti kau ini hendak membunuh orang dan minta kepalanya? Ah,
dosa... dosa..., benar-benar kau berdosa besar sekali. Apa kau tidak takut ditangkap oleh yang berwajib
dan dijebloskan ke dalam penjara? Kalau terjadi demikian, aduh… kasihan sekali kau yang masih begini
muda!"
Gadis muda itu nampak bingung dan memandang kepada Kun Hong dengan hati tertarik. "Penjara? Apa
itu? Yang berwajib itu siapa? Kenapa aku hendak ditangkap?"
Kun Hong mengira bahwa gadis itu tentu takut dengan gertakannya, karena itu hatinya menjadi girang.
"Nah, belum apa-apa kau sudah takut! Maka jangan sembarangan bicara. Yang berwajib itu tentu saja
petugas pemerintah yang menjadi penegak hukum. Penjara adalah tempat orang-orang jahat dihukum.
Nona, kau masih muda, seorang gadis yang semestinya bersikap lemah lembut dan membantu pekerjaan
ibu di rumah. Aku kasihan sekali kepadamu dan sungguh mati aku tidak ingin melihat kau sampai
ditangkap dan dimasukkan penjara."
Kwa Tin Siong dan Liem Sian Hwa hanya bisa menarik napas panjang menyaksikan sikap putera mereka
yang tentu dianggap tolol oleh semua orang itu. Akan tetapi karena gadis itu pun kelihatannya bodoh, maka
mereka itu mendiamkannya saja.
Tiba-tiba gadis muda itu kelihatan marah. "Siapa berani menangkap aku? Aku tidak takut! Kau ini... kau
menakut-nakuti aku. Apakah kau she Kwa?"
Kun Hong tersenyum lebar. "Ehh, ehh, kiranya kau sudah mengenal aku? Di mana kita pernah bertemu?
Bagiku, mimpi pun belum pernah bertemu dengan kau yang lucu ini."
"Siapa pernah bertemu dengan engkau? Apakah kau she Kwa?"
dunia-kangouw.blogspot.com
"Kalau belum pernah bertemu, bagaimana kau mengenalku dan mengerti bahwa aku she Kwa? Aneh
sekali, aku memang betul she Kwa!"
Secepat kilat tangan gadis itu bergerak dan tahu-tahu leher baju Kun Hong telah berhasil ditangkapnya dan
sekali tarik Kun Hong sudah berada di dalam kekuasaannya. Semua orang kaget, Kwa Tin Siong dan Liem
Sian Hwa sudah bersiap menolong puteranya. Akan tetapi gadis itu hanya mengancam.
"Apakah kau Ketua Hoa-san-pai?"
Kun Hong kaget bukan main, lalu berkata gemas, "Kau ini wanita apa laki-laki? Tenagamu amat besar dan
kau tarik-tarik aku mau apa sih?"
"Kalau kau Ketua Hoa-san-pai akan kupenggal kepalamu!"
Kun Hong meleletkan lidahnya mengejek. "Kau kira aku takut dengan ancamanmu? Andai kata aku benarbenar
Ketua Hoa-san-pai, tentu aku akan mengaku dan tidak takut kau sembelih seperti ayam. Sayangnya
aku bukan Ketua Hoa-san-pai."
Gadis itu melepaskan leher bajunya dan mendorongnya perlahan, akan tetapi dorongan ini cukup membuat
Kun Hong terlempar dan terguling.
"Benar-benar kau jahat sekali, tak tahu dikasihani orang!" kata Kun Hong setelah bangkit berdiri.
Gadis itu mengomel, "Syukur kau bukan Ketua Hoa-san-pai, aku tidak senang kalau harus membunuh
orang lemah seperti kau. Lagi pula tak mungkin kalau kau Ketua Hoa-san-pai. Menurut keterangan ibu,
Ketua Hoa-san-pai sangat jahat. Kau... tidak mungkin jahat, kau laki-laki lemah tak berguna."
Kun Hong hendak membantah lagi, akan tetapi Kwa Tin Siong menariknya ke belakang lalu menghadapi
gadis itu. Suaranya kereng ketika dia bertanya, "Nona, sebenarnya kau ini siapa dan apa kehendakmu
mengacau di Hoa-san-pai?"
"Apakah kau she Kwa? Dan siapa Ketua Hoa-san-pai?"
"Betul, akulah Kwa Tin Siong Ketua Hoa-san-pai."
Gadis itu memandang tajam, tampaknya ragu-ragu. "Kau pun tidak pantas menjadi orang amat jahat.
Jangan kau membohong. Kalau benar kau orang she Kwa Ketua Hoa-san-pai, mana pedang pusaka Hoasan
Po-kiam?"
Kwa Tin Siong tersenyum. Sikap gadis cilik itu amat menarik hatinya, biar pun aneh dan agak sombong,
namun lucu dan banyak memiliki sifat-sifat yang dapat menimbulkan rasa sayang. Ia mencabut Hoa-san
Po-kiam sambil berkata,
"Inilah Hoa-san Po-kiam. Nah, apakah sekarang kau sudah percaya bahwa aku adalah Ketua Hoa-sanpai?
Sekarang katakanlah, kau ini bernama siapa dan sesungguhnya apa yang menyebabkan kau bersikap
begini aneh?"
Gadis itu tak menjawab, hanya matanya memandang tajam ke arah wajah Kwa Tin Siong. Sejenak
kemudian, mendadak gadis itu menggerakkan kedua tangannya dan menyerang Ketua Hoa-san-pai itu
dengan pukulan-pukulan yang cepat dan bertubi-tubi.
Kwa Tin Siong kaget bukan kepalang. Bukan kaget akibat diserang, baginya sudah terlalu biasa
menghadapi serangan-serangan mendadak. Akan tetapi dia kaget dan heran sekali melihat cara
menyerang dari gadis itu.
Melihat gerakan lengan kiri yang pertama-tama memukul dadanya, tak bisa salah lagi itu merupakan gerak
tipu Burung Hong Mematuk Hati dari ilmu silat Hoa-san-pai. Akan tetapi digerakkan amat aneh dan dengan
kecepatan luar biasa sehingga hampir saja dadanya kena pukul!
Sebelum ia kehilangan kagetnya setelah berhasil mengelak, serangan ke dua sudah tiba pula. Kali ini juga
sebuah gerak tipu dari ilmu silat Hoa-san-pai yang disebut Sepasang Naga Mengejar Awan. Lagi-lagi ia
dunia-kangouw.blogspot.com
melengak dan repot sekali menggunakan tangan kirinya menangkis sambil membuang diri ke belakang
karena kedua kepalan gadis itu bergerak terlalu cepat dan juga aneh sekali.
Dia adalah Ketua Hoa-san-pai, dan semenjak kecil ia sudah melatih diri dengan ilmu silat Hoa-san-pai dan
sudah hafal, malah ilmu silat ini sudah mendarah daging dalam dirinya. Akan tetapi mengapa diserang dua
kali dengan tipu dari ilmu silat ini dia menjadi repot sekali?
Yang amat hebat adalah perubahan-perubahan yang susul-menyusul dari serangan gadis itu. Karena
begitu Kwa Tin Siong membuang diri ke belakang, tahu-tahu gadis itu sudah menyerangnya lagi, sekarang
dengan gerak tipu yang amat dahsyat, yaitu yang disebut Harimau Sakti Menerkam Kuda. Dengan kedua
tangan terbuka gadis itu sudah meloncat dan menyambar ke arah punggungnya dengan jari-jari tangan
terbuka.
Tentu saja Kwa Tin Siong merasa amat tidak enak untuk balas menyerang seorang gadis cilik seperti itu.
Apa lagi gadis itu ternyata selalu mempergunakan jurus-jurus dari ilmu silat Hoa-san-pai dalam
menyerangnya.
Akan tetapi karena diam-diam ia mengakui bahwa gerakan gadis ini agak berbeda dengan ilmu silatnya
sendiri walau pun jurus-jurus itu sama benar, malah diam-diam ia terkejut karena daya penyerangan gadis
cilik ini amat dahsyat, ia lalu mengambil keputusan untuk memberi sedikit hukuman kepadanya.
Melihat gadis itu kembali menerjangnya dengan gerakan Harimau Sakti Menerkam Kuda, ia membiarkan
gadis itu sudah melayang dekat, lalu tiba-tiba ia menggerakkan tangan kiri menangkis ke depan dengan
pengerahan tenaga lweekang-nya. Terdengar seruan kaget dari kedua pihak.
Gadis itu kaget sekali saat tangan kanannya tergetar dalam pertemuan dengan tangkisan Ketua Hoa-sanpai
itu sampai seluruh tubuhnya ikut tergetar. Akan tetapi, Kwan Tin Siong kaget bukan main ketika dalam
keadaan seperti itu, tanpa tersangka-sangka sama sekali, tangan kiri gadis itu tiba-tiba sudah menotok ke
arah pergelangan tangan kanannya yang memegang pedang dan sekaligus dapat merampas pedang itu
dari tangannya!
Merah kini wajah Kwa Tin Siong. Pedang pusaka Hoa-san-pai dapat terampas dari tangan Ketua Hoa-sanpai,
benar-benar hal ini merupakan hal yang amat memalukan! Ia harus mengakui bahwa gerakan-gerakan
gadis ini dalam ilmu silat Hoa-san-pai amat mahir dan juga amat aneh, akan tetapi perampasan pedang
tadi terjadi karena ia tidak menyangka sama sekali dan karena ia sudah banyak mengalah terhadap gadis
muda itu.
"Bocah tidak tahu diri! Kau benar-benar semakin kurang ajar. Hayo lekas kau kembalikan pedangku!"
katanya kereng.
Gadis muda itu menjebirkan bibirnya yang merah. "Pedang ini aku yang berhak. Karena aku merasa bahwa
bukan kau orang yang kumaksudkan, maka kau tidak kubunuh. Orang yang kumaksudkan itu biar pun she
Kwa juga, akan tetapi jauh lebih jahat dari padamu."
Diam-diam hati Kwa Tin Siong berdebar. Tidak salah lagi, tentu yang dimaksudkan oleh gadis ini adalah
Kwa Hong.
"Kau siapakah? Siapa namamu dan siapa orang tuamu?"
"Namaku Li Eng, orang tuaku... hemm, mereka tak ada sangkut-pautnya dengan urusanku ini, kau tidak
perlu mengenal mereka." Setelah berkata demikian, gadis itu menengok ke belakang dan agaknya takuttakut.
"Ha, kau bocah nakal!" mendadak Kun Hong berseru sambil tertawa. "Aku tahu sekarang! Kau tentu
minggat di luar tahunya orang tuamu, maka kau tidak berani menyebut nama mereka karena takut kami
memberi tahu orang tuamu."
Gadis ini nampak semakin ketakutan. "Jangan..." katanya seperti anak kecil ditakut-takuti. "Jangan katakan
kepada orang tuaku...!"
Kun Hong tertawa menggoda. "Nah, begitu baru anak baik, takut kepada orang tua! Hayo lekas kau
kembalikan pedang ayah jika kau tak mau telingamu dijewer oleh ibumu nanti!"
dunia-kangouw.blogspot.com
Gadis itu ragu-ragu. "Tapi... tapi... kata ibu... pedang ini adalah hak ayah ibu dan... dan..."
"Lekas berikan, jika tidak awas, nanti kuberi tahukan ayah ibumu!" Kun Hong mengancam. "Tidak boleh
mempergunakan pedang untuk membunuh orang."
"Aku tidak membunuh... boleh kau bawa dulu pedang ini, tetapi aku harus mencoba dulu sampai di mana
hebatnya kepandaian Ketua Hoa-san-pai, mengapa dia berani menghina orang lain. Bawalah, tapi jangan
kau berikan kepada siapa pun juga."
"Nah, begitu baru disebut gagah! Memang sudah sepantasnya bila kau hendak mencoba kepandaianmu.
Tanpa pedang ini mana kau mampu mengalahkan ayahku? Baik, kubawa pedang ini dan kau boleh cobacoba
dengan ayah. Kalau kau kalah, kau harus mengaku semuanya dan minta ampun atas kekurang
ajaranmu."
"Huh, enak saja. Mana mungkin aku bisa kalah? Kalau aku menang, pedang itu harus kau kembalikan
kepadaku dan Ketua Hoa-san-pai harus meninggalkan Hoa-san!"
"Ha-ha-ha, boleh, boleh...," kata Kun Hong yang tidak mau percaya kalau ayahnya akan kalah oleh gadis
ini. "Gerakanmu ketiga-tiganya tadi salah semua. Agaknya kau pun telah mempelajari ilmu silat Hoa-sanpai,
mana bisa kau menandingi ayah dalam ilmu silat ini? Gerakanmu yang pertama Burung Hong
Mematuk Hati, kemudian disusul Sepasang Naga Mengejar Awan lalu yang terakhir tadi Harimau Sakti
Menerkam Kuda semuanya salah dan aneh, jelas bukan ilmu silat Hoa-san-pai yang asli, sama sekali tidak
cocok dengan catatan ayah!"
Lagi-lagi Kwa Tin Siong dan Liem Sian Hwa melengak terheran karena sekali lagi putera mereka
membuktikan bahwa hanya dengan melihat catatan anak itu sudah bisa mengenal ilmu yang dimainkan
oleh gadis aneh ini.
Juga gadis itu terheran, tapi makin penasaran. Ia memberikan pedang Hoa-san Po-kiam kepada Kun
Hong, lalu memasang kuda-kuda menghadapi Kwa Tin Siong.
"Kalau benar engkau adalah Ketua Hoa-san-pai, majulah. Hendak kulihat sampai di mana kepandaianmu,"
tantangnya.
Semenjak tadi Kwa Tin Siong sudah menaruh curiga kepada anak perempuan itu. Tidak salah lagi bahwa
gerakan-gerakannya tadi adalah Hoa-san Kun-hoat, namun bagaimana gerakannya demikian aneh?
Memang betul Kun Hong, gerakan-gerakan itu agak berbeda dan menurut pandangannya sendiri adalah
dilakukan dengan keliru, akan tetapi harus ia akui bahwa kekeliruan itu justru agaknya memperhebat daya
penyerangannya!
Kwa Tin Siong menjadi ragu-ragu. Siapakah gadis ini dan apa maksud kedatangannya? Siapa yang
menyuruhnya?
"Hayo, apakah kau takut kepadaku?" gadis itu menantang lagi melihat keraguan Kwa Tin Siong.
"Bocah tak tahu diri!" Liem Sian Hwa yang memang berwatak keras tak dapat menahan kemarahannya
lagi. "Sudah jelas bahwa ilmu silatmu adalah ilmu silat Hoa-san-pai, biar pun kurang matang. Bagaimana
kau sekarang datang menantang Ketua Hoa-san-pai? Kau terhitung murid Hoa-san-pai juga, walau pun
entah dari mana kau mencuri ilmu silat kami. Pergilah, kami tidak sudi berurusan dengan anak kecil!"
Gadis itu memandang Sian Hwa dengan matanya yang jeli. "Hemm, kau cantik, seperti ibu. Apakah kau
juga she Kwa? Kalau kau she Kwa, kau majulah!"
"Hush, jangan kau kurang ajar kepada ibuku!” Kun Hong membentak dari samping.
"Aha, jadi dia ini ibumu? Kalau begitu juga tidak becus apa-apa seperti kau?"
Kui Tosu, orang pertama dari Pak-thian Sam-lojin, walau pun usianya sudah hampir tujuh puluh tahun tapi
wataknya amat berangasan. Sebagai tamu terhormat dia menjadi marah sekali menyaksikan lagak bocah
itu, maka sekarang sambil mengebutkan ujung lengan bajunya, ia melangkah maju dan berkata,
dunia-kangouw.blogspot.com
"Siancai... siancai... alangkah buruk takdir Hoa-san-pai. Saudara Lian Bu Tojin tewas di tangan murid jahat,
sekarang agaknya ada lagi murid Hoa-san-pai yang jahat dan datang-datang hendak mengacau
perguruannya sendiri. Ehh, bocah, cepatlah kau minggat dari sini. Kami bersama Kwa-sicu sedang
menghadapi urusan penting, tiada waktu meladeni anak-anak macam kau ini!"
Gadis itu memandang lucu, tertawa-tawa geli ketika melihat jenggot yang panjang dari Kui Tosu. "He-hehe,
kau ini seperti kambing tua mengembik saja. Baru menghadapi penjahat kecil yang berkumpul di Imkan-
kok sudah ribut-ribut. Aku datang untuk berurusan dengan Ketua Hoa-san-pai she Kwa, kau ini
kambing tua datang-datang menjual lagak mau apa sih?"
"Bocah kurang ajar!" Kui Tosu tak dapat menahan kemarahannya lagi, lalu tangan kirinya bergerak dan
ujung lengan baju yang lebar itu menyambar merupakan tamparan keras ke arah kepala gadis itu.
"Ehh-ehh, kambing tua keluar tanduknya? Suruh dua ekor kambing tua temanmu itu maju semual" Gadis
yang mengaku bernama Li Eng itu mengejek.
Serangan yang hebat itu dapat ia elakkan hanya dengan penggeseran kaki ke belakang dan miringkan
kepala saja. Hebatnya, sambil mengelak ini kakinya yang kiri menyambar ke depan, ke arah lambung
kakek itu!
Kui Tosu kaget sekali melihat tendangan yang amat cepat dan hebat ini. Ia sudah lama mengenal Lian Bu
Tojin, karena itu ia pun sudah mengenal ilmu silat Hoa-san-pai. Jelas bahwa tendangan dan gerakan gadis
ini adalah dari ilmu silat Hoa-san-pai.
Andai kata yang mainkan ilmu silat itu adalah Lian Bu Tojin sendiri atau setidaknya Kwa Tin Siong, ia tidak
akan merasa aneh kalau melihat kehebatan ilmu silat itu. Akan tetapi sekarang yang memainkannya hanya
seorang gadis belasan tahun usianya, bagaimana bisa demikian cepat dan juga aneh?
Serangan balasan dengan tendangan ini sebetulnya tidak pada tempatnya untuk melayani tamparan tadi,
bahkan membahayakan si penendang sendiri. Maka Kui Tosu juga tidak menyia-nyiakan kesempatan baik
ini untuk memberi hajaran dan membikin malu gadis nekat ini. Tangan kirinya menyambar dari bawah
dengan maksud menangkap kaki yang menendang untuk kemudian didorong supaya gadis itu jatuh.
Akan tetapi begitu tangan kakek ini menyentuh sepatu Li Eng, dengan kaget ia terhuyung mundur karena
pada saat itu tanpa disangka-sangka sama sekali Li Eng dapat memutar kakinya yang langsung
menendang ke pundak Kui Tosu. Serangan ini sama sekali tidak tersangka-sangka olehnya karena amat
aneh, maka tanpa dapat ia hindarkan, pundaknya telah didorong ujung sepatu, biar pun tidak
mengakibatkan luka parah, akan tetapi cukup membuat ia terhuyung-huyung dan kehilangan muka!
Marah sekali kakek ini. Tanpa berkata apa-apa ia kemudian menerjang kembali, sekarang mengeluarkan
serangan yang hebat. Bahkan kakek ke dua, Bu Tosu, juga membentak sambil menyerang.
"Heh-heh, kambing tua yang satu lagi kenapa tidak maju?" Li Eng mengejek.
Tahu-tahu tubuhnya sudah berkelebatan ke sana ke mari, menyelinap di antara serangan dua orang kakek
dari utara itu. Bagaikan seekor burung walet yang amat gesit tubuhnya berloncatan, menyelundup,
mengelak dan semua itu digerakkan dengan langkah-langkah ilmu silat Hoa-san-pai yang amat sempurna
sehingga Kwa Tin Siong dan Liem Sian Hwa, dua orang ahli ilmu silat Hoa-san-pai, yang melihat itu jadi
saling pandang dengan penuh keheranan.
Apa lagi ketika Lie Eng menggunakan langkah-langkah Hoa-san Pat-kwa-pouw, tak terasa lagi Kwa Tin
Siong berbisik kepada isterinya, "Dari mana dia mempelajari ini?"
Sementara itu, Kui Tosu dan Bu Tosu menjadi makin penasaran karena sudah beberapa belas jurus
mereka menyerang, belum juga mampu mengalahkan gadis aneh itu. Jangan kata mengalahkan,
menyentuh ujung bajunya saja tak mampu.
Melihat ini, Lai Tosu tiba-tiba teringat akan sesuatu dan ia maju pula sambil membentak, "Siluman cilik,
apakah kau anggota rombongan di Im-kan-kok yang hendak mengacau Hoa-san-pai?"
"Hi-hik, kambing tua, kau majulah sekalian, mengapa banyak bertanya? Kalau benar aku anggota
rombongan, apakah kau takut?"
dunia-kangouw.blogspot.com
"Bagus, kalau begitu kami akan menangkapmu lebih dulu!"
Lai Tosu segera menyerbu dan pertandingan menjadi makin ramai karena sekarang Lie Eng di keroyok tiga
oleh Pak-thian Sam-lojin. Sungguh pemandangan yang luar biasa lucu apa bila melihat betapa seorang
gadis belasan tahun kini dikeroyok tiga oleh tokoh-tokoh ternama seperti Pak-thian Sam-lojin.
Kwa Tin Siong mengerutkan kening. Dua macam perasaan mengaduk dan menguatirkan hatinya. Pertamatama,
sungguh pun Pak-thian Sam-lojin adalah tamunya dan bertindak untuk membantu Hoa-san-pai,
namun sungguh amat tidak layak kalau tiga orang tokoh persilatan mengeroyok seorang gadis cilik.
Kedua kalinya, jika betul gadis ini adalah anggota rombongan yang menyerbu Im-kan-kok, benar-benar
berbahaya sekali. Baru gadis cilik ini saja sudah begini lihai, apa lagi yang lain-lain?
Heran dia, bagaimana seorang seperti Hek-houw Bhe Lam dapat mengajak seorang gadis selihai ini? Dan
lebih aneh lagi, kini jelas baginya bahwa gadis ini benar-benar seorang ahli silat Hoa-san Kun-hoat,
sungguh pun gerakan-gerakannya sangat aneh dan bahkan lebih cepat dan lebih hebat dari pada ilmu silat
Hoa-san-pai yang asli.
Selagi ia hendak turun tangan mencegah dilanjutkannya pertempuran yang seimbang itu, tiba-tiba gadis itu
mengeluarkan suara suitan panjang yang mengagetkan semua orang. Apa lagi setelah melihat betapa
tubuh gadis itu lenyap berubah bayangan yang cepat bukan main.
Tiga orang kakek itu mengeluarkan suara kaget, apa lagi Kui Tosu dan Bu Tosu karena entah bagaimana
caranya, tahu-tahu gadis itu sudah dapat menyambar jenggot mereka yang panjang, lalu melilitnya menjadi
satu, dan menarik-narik jenggot itu sehingga dengan gerakan kacau-balau dua orang tosu ini terpaksa
berjingkrakan.
Mereka merasa kesakitan. Apa lagi sekarang Li Eng lari berputaran dan dalam keadaan yang kacau balau
itu dia malah memutari tubuh Lai Tosu sehingga tosu ke tiga ini terbelit jenggot-jenggot itul Tiga orang tosu
itu saling bertabrakan dengan kacau dan dua orang tosu yang dipegangi jenggotnya berteriak-teriak,
"Lepaskan jenggot! Lepaskan jenggot!"
Keadaan benar-benar sangat lucu dan terdengarlah suara ketawa Kun Hong, "Ha-ha-ha, lucu sekali."
"Apakah yang lucu?" Kwa Tin Siong membentak marah. "Bocah itu kurang ajar sekali." Ia melompat maju
dan mencengkeram ke arah lengan tangan gadis itu sambil membentak, "Bocah kurang ajar, pergilah!"
Serangan Kwa Tin Siong ini hebat bukan main karena ia telah menggunakan jurus Dewa Menangkap
Geledek. Namun ternyata bocah itu lebih lihai lagi karena dengan kecepatan luar biasa ia lalu
mencengkeram jenggot-jenggot itu sambil berseru keras. Seketika itu pula jenggot-jenggot itu putus di
tengah-tengah dan sebelum sempat tangan Kwa Tin Siong menyentuhnya ia telah menyambitkan rambut
jenggot dalam genggamannya itu ke arah muka Ketua Hoa-san-pai.
"Aiiih!" Kwa Tin Siong cepat membuang diri ke samping dan rambut jenggot itu meluncur cepat di samping
kepalanya. Bukan main hebatnya tenaga dalam gadis itu yang mampu menyambitkan rambut menjadi
senjata rahasia yang ampuh.
Sementara itu, Pak-thian Sam-lojin benar-benar marah. Hinaan ini membuat mereka bagai kebakaran
jenggot dan mencak-mencak saking marahnya. Juga Lai Tosu yang tidak putus jenggotnya, yang tadi
tubuhnya terbelit jenggot kedua saudaranya sampai pakaiannya robek-robek, menjadi marah sekali.
Seperti dikomando saja ketiganya menggerakkan tangan dan tahu-tahu tangan mereka telah memegang
sebatang pedang. Dengan muka merah mata melotot dan sikap penuh ancaman, ketiganya menghadapi Li
Eng yang tersenyum-senyum mengejek.
Kwa Tin Siong hendak membuka mulut mencegah tiga orang tamunya itu mengeroyok gadis aneh tadi
dengan pedang di tangan.
Akan tetapi pada saat itu terdengar suara keras, "Aih, tiga orang tua bangka mengeroyok seorang bocah?
Ha-ha, betul-betul tak tahu malu Pak-thian Sam-lojin menghadapi lawan yang patut menjadi cucunya!"
dunia-kangouw.blogspot.com
Ucapan ini keras dan parau, lalu disusul melayangnya sesosok tubuh ke tengah pelataran itu. Ketika tubuh
ini jatuh berdebuk di atas tanah kiranya itu adalah tubuh seorang tosu Hoa-san-pai yang sudah mati dan
tubuhnya hitam hangus seperti terbakar.
Li Eng gadis aneh itu tertawa, lalu sekali mengenjot tubuhnya ia telah meloncat ke atas sebuah pohon,
duduk ‘nongkrong’ di atas cabang pohon itu, duduk dengan enak seperti orang hendak menonton
pertunjukan yang menarik hati.
Dan sementara itu, dari luar pelataran datang beberapa orang aneh. Yang paling depan adalah seorang
kakek tua yang bongkok, giginya sudah ompong dan matanya besar sebelah, pakaiannya tambal-tambalan
dan tangan kanannya memegang sebatang tongkat hitam. Di sampingnya berjalan seorang wanita yang
biar pun usianya sudah lima puluh tahun lebih namun pakaiannya masih mewah dan wajahnya masih
cantik.
Kwa Tin Siong dan isterinya, juga Pak-thian Sam-lojin segera mengenal dua orang ini yang bukan lain
adalah Toat-beng Yok-mo dan Kim-thouw Thian-li, dua orang kang-ouw yang sudah tersohor karena
kejahatan dan kelihaiannya.
Toat-beng Yok-mo, sesuai dengan nama julukannya Yok-mo (Setan Obat), adalah ahli pengobatan yang
tiada duanya di dunia kang-ouw. Kepandaiannya mengobati luar biasa sekali sehingga boleh dibilang
segala macam penyakit ia sanggup mengobatinya sampai sembuh. Akan tetapi hebatnya, setelah orang
yang diobati sembuh, ia tentu akan turun tangan membunuhnya. Inilah sebabnya mengapa ia mendapat
julukan Toat-beng Yok-mo (Setan Obat Pencabut Nyawa). Ada pun Kim-thouw Thian-li adalah Ketua Ngolian-
kauw yang terkenal jahat, kejam, dan curang sekali.
Di belakang dua orang tokoh ini kelihatan seorang laki-laki tinggi besar dengan mata bundar, di
punggungnya terlihat sebatang golok yang mengkilap dan besar. Kwa Tin Siong dan yang lain-lain tidak
mengenal orang ini, akan tetapi Thio Ki atau Thian Beng Tosu segera mengenalnya. Itulah musuh
lamanya, Hek-houw Bhe Lam! Di belakang tiga orang ini masih terdapat sekelompok orang berjumlah tiga
puluh dan rata-rata mempunyai air muka yang kasar dan kejam.
Dengan keberanian luar biasa, sebelum orang lain bergerak, Kun Hong sudah melangkah lebar
menyambut kedatangan rombongan yang dikepalai oleh kakek bongkok seperti iblis itu. Dengan nada
suara marah Kun Hong berkata, "Apakah kalian ini yang menulis surat dan hendak mengacau Hoa-sanpai?"
Kim-thouw Thian-li yang semenjak dulu berwatak genit dan gila laki-laki, melihat pemuda yang tampan ini
menjadi tertarik hatinya dan memandang kagum. Ia selamanya kagum sekali melihat pemuda tampan yang
mempunyai keberanian besar seperti Kun Hong ini. Diam-diam ia mengira bahwa pemuda ini tentu seorang
pendekar muda yang memiliki kepandaian tinggi.
Sementara itu, Toat-beng Yok-mo tertawa ha-ha-he-he lalu menjawab, "Yang menulis surat adalah Bhesicu
ini, aku hanya turut datang saja. Orang muda, kau mau apakah? Orang tidak memiliki ilmu silat seperti
kau ini tak perlu maju. Heh-heh!" Sekali pandang dapat melihat bahwa Kun Hong tidak mengerti ilmu silat,
hal ini saja sudah membuktikan ketajaman mata kakek ini.
"Aku tidak akan bicara tentang ilmu silat, juga tentang maksud kedatangan kalian biar kita bicarakan
belakangan. Yang sekarang penting untuk kita bicarakan adalah tentang ini!" Kun Hong makin marah
ketika menudingkan telunjuknya ke arah muka tosu yang rebah menggeletak di atas tanah dalam keadaan
mengerikan itu.
"Apakah kalian yang membunuh seorang saudara kami ini?"
"He-heh-heh..." Toat-beng Yok-mo terkekeh geli dan bertukar pandang dengan Kim-thouw Thian-li.
Wanita genit ini merasa semakin kagum saja menyaksikan ketabahan pemuda tampan itu. Diam-diam ia
masih tidak percaya kata-kata Toat-beng Yok-mo yang tadi menganggap pemuda ini tiada kepandaian.
Seorang tanpa kepandaian silat mana seberani ini?
"Pemuda tolol, kalau betul kami yang membunuh lalu kau mau apa?" Kakek ompong itu kembali tertawa
sehingga tampak mulutnya yang tak bergigi lagi.
dunia-kangouw.blogspot.com
Kun Hong makin marah. "Mana ada aturan ini? Kalian ini benar-benar jahat sekali, apa kalian tidak patut
dihukum? Mana bisa kalian membunuh begitu saja? Aku tidak terima!"
"Habis, kau mau apa?" Hek-houw Bhe Lam melangkah maju menantang.
"Apa kau yang bernama Hek-houw?" Kun Hong bertanya.
"Betul Kau siapa dan apa maksudmu berlagak?" jawab kepala rampok ini.
“Betul-betul tak kenal aturan. Datang-datang membunuh orang. Jika kulaporkan kau tentu ditangkap dan
dihukum mati. Apa bila kau dan teman-temanmu datang hendak mengadu kepandaian, itu sih masih
mendingan. Akan tetapi kalian datang-datang telah melakukan pembunuhan, benar-benar penasaran!
Tunggu saja aku akan menyuruh seorang saudara melaporkan kepada kepala kampung di kaki gunung,
kau tentu akan ditangkap dan diseret ke pengadilan!"
Hek-Houw Bhe Lam melengak heran dan terdengarlah suara ketawa ramai di antara para pendatang itu.
Bhe Lam akhirnya tertawa juga, tertawa bergelak,
"Ha-ha-ha-ha, kiranya di Hoa-san-pai ada orang gila berotak miring. Jangan banyak mulut, pergilah!"
Tangannya bergerak memukul dada Kun Hong.
Kwa Tin Siong kaget sekali dan melompat hendak menolong puteranya, akan tetapi…..
Pada saat itu pula Bhe Lam berseru kesakitan dan menarik kembali tangannya. Ternyata bahwa tangannya
itu tersambit sebutir buah mentah yang dilempar dari atas.
Tiba-tiba dari atas pohon meluncur benda panjang hitam yang secara kilat telah membelit pinggang Kun
Hong dan... pemuda itu seperti terbang melayang ke atas pohon. Kun Hong berteriak-teriak kaget dan
tahu-tahu dia sudah duduk di atas cabang pohon dekat Li Eng yang tertawa-tawa sambil mengomel.
"Kenapa kau begini tolol, membiarkan dirimu menjadi buah tertawaan orang dan menjadi bahan pukulan?
Lebih baik duduk di sini menonton, kan enak?"
Kun Hong berpegangan kuat-kuat pada batang pohon yang didudukinya, masih kaget dan terheran-heran.
Ketika ia melihat, ternyata bahwa gadis itu tadi telah mengereknya naik dengan sehelai sabuk sutera yang
hitam dan panjang sekali. Diam-diam ia merasa kagum dan juga heran. Akan tetapi wajahnya segera
berubah pucat karena tubuhnya bergoyang, ia merasa ngeri duduk di tempat yang begitu tinggi.
"Apa kau takut jatuh?"
"Ti...tidak!" Kun Hong dapat menetapkan hatinya.
Ia merasa malu kepada gadis cilik ini kalau duduk di atas cabang pohon saja ketakutan. Ia memandang ke
bawah dan melihat bahwa semua orang sedang memandang ke atas.
Kwa Tin Siong dan Liem Sian Hwa tadinya terkejut sekali, akan tetapi sesudah melihat putera mereka
duduk dengan aman di dekat gadis bernama Li Eng itu serta mendengar percakapan mereka, kini
keduanya merasa lega dan juga geli. Di atas pohon itu putera mereka akan aman, apa lagi gadis aneh itu
agaknya melindunginya.
Karena ada urusan yang lebih penting dihadapi, maka mereka lalu menujukan perhatian pada Hek-houw
Bhe Lam dan teman-temannya. Sekarang Kwa Tin Siong bisa menduga dengan hati lega bahwa gadis
yang amat lihai itu kiranya bukan teman rombongan musuh ini, buktinya tadi menyambit tangan Bhe Lam
untuk menolong Kun Hong.
Li Eng berbisik di dekat telinga Kun Hong, "Kakek ompong itu lihai sekali. Dia membunuh tosu itu dengan
racun ular laut hitam yang sangat berbahaya. Hemmm, hendak kulihat siapa yang berani menjamah mayat
itu..."
Kun Hong bergidik, "Dia pembunuh keji, harus ditangkap, harus diseret ke pengadilan!"
dunia-kangouw.blogspot.com
Gadis itu terkikik tertawa lalu menutup telinga Kun Hong seperti anak kecil bermain-main menggoda
temannya. "Kau ini orang aneh... hi-hi-hi, menggelikan sekali. Bagaimana bisa menangkap dia?"
"Tak peduli dia lihai, dia harus tunduk kepada hukum!"
"Ssttt, jangan ribut-ribut, kau lihat saja...," gadis itu berbisik lagi.
Kun Hong merasa tidak enak sekali. Gadis itu duduk terlalu dekat dengannya, tidak hanya berendeng
melainkan berhimpitan sehingga pundaknya menyentuh pundak gadis itu. Saat gadis itu berbisik, lehernya
tertiup napas hangat dan hidungnya mencium bau harum yang keluar dari rambut gadis itu yang berkibar
tertiup angin mengenai leher dan mukanya.
Ingin ia menjauhkan diri, akan tetapi ia tidak berani bergerak karena cabang itu demikian kecil dan
bergoyang-goyang terus. Mengerikan! Terpaksa dia mengalihkan perhatiannya dan memandang ke bawah.
Pak-thian Sam-lojin baru saja menderita penghinaan hebat dari Li Eng. Oleh gadis cilik itu mereka seolaholah
dipermainkan di depan anggota Hoa-san-pai. Betul-betul memalukan betapa tiga orang tokoh besar
seperti mereka telah dipermainkan sedemikian rupa oleh gadis yang sama sekali tidak terkenal di dunia
kang-ouw, malah yang mempergunakan ilmu silat Hoa-san-pai untuk mempermainkan mereka itu.
Mereka bertiga dapat menduga bahwa meski di luarnya Ketua Hoa-san-pai tidak senang melihat gadis itu
mempermainkan mereka, namun karena gadis itu memainkan ilmu silat Hoa-san-pai, sudah barang tentu
para tosu Hoa-san-pai sedikit banyak merasa bangga dan senang. Hati mereka masih penuh dengan
dendam dan amarah, maka kedatangan rombongan musuh-musuh Hoa-san-pai ini hendak mereka
gunakan untuk ‘mencuci muka’ mereka dan memperlihatkan kegagahan.
Orang pertama yang melangkah maju adalah Bu Tosu yang jenggotnya tinggal sepotong, sekarang
panjangnya hanya sebatas leher karena tadi telah direnggut putus oleh Li Eng yang nakal. Begitu
melangkah maju ia membuka mulut dan berkata dengan nyaring,
"Yok-mo, keadaan negara sedang aman dan damai, mengapa kau orang tua mencari perkara di Hoa-sanpai?
Kau lihat, kami bertiga orang-orang tua dari Pak-thian sengaja datang ke Hoa-san untuk bertemu dan
beramah-tamah dengan Ketua Hoa-san-pai, Kwa Sicu yang gagah. Setelah melihat kami bertiga, apa kau
tidak dapat mengingat hubungan lama dan menjadi tamu yang terhormat agar kita dapat minum arak
bersama?"
"Heh-heh-heh, Pak-thian Sam-lojin benar-benar seperti bunglon, plin-plan!" kata Yok-mo sambil tertawa
terkokeh-kekeh, "Dahulu kau menjadi begundal Kaisar, diam-diam dahulu menganggap Hoa-san-pai
sebagai musuh, walau pun di luarnya kalian berpura-pura baik. Sekarang kalian mendekati Hoa-san-pai,
he-he-heh, bukankah karena kalian tertarik oleh kedudukan Ketua Hoa-san-pai? Memang bagus sekali,
bagus untuk kalian tentu, itu pun kalau kalian bisa memimpin para tosu di Hoa-san."
Wajah tiga orang tosu itu menjadi merah sekali. Diam-diam Kwa Tin Siong merasa heran mendengar ini
dan memandang ke arah tiga orang tamunya dengan tajam penuh selidik.
"Isteriku yang manis, katakan, bukankah tiga orang keledai tua ini teman seperjuanganmu membantu
Kaisar Mongol? Heh-heh-heh."
Kim-thouw Thian-li menjebirkan bibirnya yang masih digincu merah sekali. "Memang betul, tetapi mereka
ini hanya mendesak-desak apa bila ada rejeki untuk dibagikan, sebaliknya segera kabur pada waktu ada
bahaya mengancam. Siapa sudi mengaku mereka sebagai teman?"
Makin merah wajah tiga orang kakek itu. "Jangan buka mulut seenaknyal" kata Kui Tosu sambil mencabut
pedangnya. "Apakah kalian kira kami Pak-thian Sam-lojin takut kepada kalian?"
Bu Tosu segera menyambung. “Yok-mo, tadi aku bicara baik padamu tetapi kau malah menghina. Menurut
pendapat kami, sesungguhnya tidak ada perlunya kalian memusuhi Hoa-san-pai. Apa lagi datang-datang
kalian sudah membunuh seorang tosu Hoa-san-pai, benar-benar ini keterlaluan. Kalau kau mau bicara
tunggulah aku menyingkirkan mayat ini, kasihan sekali saudara ini menggeletak di sini."
Dari atas pohon Kun Hong bicara perlahan, "Hemmm, aneh sekali. Tadinya ketiga orang kakek itu
sombong dan keras, kenapa sekarang tosu itu begitu baik hatinya?"
dunia-kangouw.blogspot.com
"Hi-hi-hik, baik apanya? Sebentar lagi ia akan mampus!" jawab Li Eng.
"Apa maksudmu...?" Kun Hong kaget bukan main. Memang ia merasa paling ngeri kalau mendengar orang
bicara tentang mati begitu gampangnya.
"Begitu ia menyentuh mayat ia akan mati...," kata pula Li Eng tak pedulikan.
Kun Hong terkejut dan cepat memandang ke bawah. Pada saat itu, dengan lagak gagah, dan hal ini
terutama sekali untuk ‘mencuci muka’ mereka dari semua hinaan dan untuk memamerkan di depan para
tosu Hoa-san-pai bahwa dia adalah seorang yang berhati penuh welas asih, Bu Tosu berlutut dan
mengangkat mayat itu dengan kedua tangannya. Akan tetapi tiba-tiba ia berteriak kaget.
Disusul oleh suara ketawa terkekeh-kekeh dari Yok-mo, Bu Tosu melepaskan lagi mayat itu. Ia cepat
meloncat berdiri, akan tetapi segera terhuyung-huyung ke belakang.
"Kenapakah, Suheng...?" tanya Lai Tosu dan hendak memegang kakak seperguruannya.
"Mundur dan jangan sentuh!" seru Kui Tosu sambil mendorong pergi Lai Tosu.
Sungguh keadaan Bu Tosu amat mengerikan. Kedua tangannya menjadi kehitaman dan dia menjerit-jerit
kesakitan.
"Maaf Ji-sute, terpaksa untuk menolong nyawamu!" Kui Tosu berseru dan menggerakkan pedangnya
membacok.
"Crokkk!"
Kedua lengan Bu Tosu terbabat putus sebatas pergelangan tangan. Dua buah tangan yang sudah hitam
sekali itu jatuh ke atas tanah dan sedikit pun tidak ada darah keluar. Mengerikan sekali.
"Bagaimana, Ji-sute?" Kui Tosu melihat penuh perhatian.
Bu Tosu masih menjerit-jerit dan ternyata warna kehitaman sudah menjalar di lengannya yang sebelah
kanan, ada pun lengan kirinya yang buntung mulai mengeluarkan darah. Hal ini berarti bahwa racun itu
sudah menjalar terus ke lengannya yang kanan.
Melihat ini, dengan muka sedih sekali Kui Tosu kembali menggerakkan pedangnya dan...
“Crokk!”
Lengan kanan Bu Tosu sebatas pundak terbabat putus! Dari luka di pundak itu mengucur darah merah,
berarti bahwa racun itu sudah tidak berada di tubuhnya.
"Tertolong jiwamu, Ji-sute...," kata Kui Tosu dengan lega.
Akan tetapi tiba-tiba Bu Tosu mengeluarkan suara serak yang amat keras dan tubuhnya yang sudah tak
bertangan lagi itu menerjang maju, kepalanya menyeruduk ke arah perut Yok-mo.
Kakek iblis ini terkekeh-kekeh lagi, tangan kanannya bergerak dan ujung tongkat hitamnya menotok ubunubun
kepala lawannya. Tanpa mengeluarkan suara lagi Bu Tosu langsung roboh dan... tubuhnya berubah
menjadi hitam. Kiranya ujung tongkat itu mengeluarkan racun yang amat hebatnya.
"Keparat keji!" teriak Kui Tosu dan Lai Tosu yang cepat mengerjakan pedang mereka menggempur Yokmo.
Oleh karena urusan Hoa-san-pai belum disinggung-singgung dan pertempuran antara tiga orang tamunya
melawan pihak musuh ini terjadi karena pembunuhan atas diri Bu Tosu, maka Kwa Tin Siong ragu-ragu
dan belum mau turun tangan. Dia hanya melihat betapa dua orang tosu itu mengeroyok Yok-mo.
Juga dari pihak Yok-mo, hanya seorang iblis tua ini saja yang bergerak dan menghadapi pengeroyokan itu.
Kim-thouw Thian-li, Bhe Lam yang lain-lain hanya menonton. Bahkan Kim-thouw Thian-li hanya tersenyum
dunia-kangouw.blogspot.com
mengejek saja, seolah-olah pertempuran yang terjadi antara suaminya dan dua orang tosu itu hanya mainmain
saja.
Di atas pohon terjadi keributan. Dengan muka pucat Kun Hong melihat semua itu. Hatinya ngeri bukan
main, tubuhnya menggigil, tapi ia masih dapat memandang kepada Li Eng dengan mata melotot marah.
"Kau... kau gadis berhati kejam. Jadi kau sudah tahu bahwa siapa yang memegang mayat itu akan mati?"
Li Eng balas memandang, masih tersenyum lalu mengangguk lucu. Bibirnya tertutup tapi mulutnya
bergerak-gerak seakan-akan giginya menggigit-gigit sesuatu dan kebiasaan ini membuat ia nampak makin
manis saja.
Bukan kepalang kemarahan Kun Hong. "Kau... kau patut dihajar!"
Tangannya diangkat, lalu digerakkan menampar pipi kiri gadis itu. Li Eng dengan enaknya menundukkan
kepalanya sehingga tamparan itu mengenai angin saja dan... tubuh Kun Hong terguling dari atas cabang.
Dalam kemarahannya tadi ia sampai lupa kalau ia duduk di atas cabang pohon, maka ia berani menampar
sekuat tenaga. Karena tamparannya tidak mengenai sasaran, maka ia terpelanting dan jatuh!
Tubuh Kun Hong tiba-tiba terhenti di tengah udara. Ia merasa pinggangnya dilibat sutera hitam, lalu
perlahan-lahan tubuhnya dikerek naik, bukan di cabang yang tadi, melainkan di sebuah cabang yang
berada paling tinggi di pohon itu. Di situlah ia didudukkan, di atas cabang yang kecil sehingga cabang itu
melengkung dan bergoyang-goyang pada saat ia duduk diatasnya. Li Eng sambil tertawa turun lagi dan
duduk di atas cabang besar yang tadi, jauh di bawah Kun Hong.
"Heee..., turunkan aku...!" Kun Hong berteriak-teriak sambil memeluk ranting-ranting yang berada di
dekatnya. Bukan main ngerinya melihat ke bawah, begitu tinggi tempatnya dan cabang itu bergoyanggoyang
keras.
Li Eng menoleh ke atas, tersenyum mengejek. "Diamlah, jangan berteriak-teriak dan lebih baik nonton
pertunjukan hebat di bawah. Kalau kali ini kau banyak bergerak dan jatuh, aku malas untuk menolongmu
lagi."
Menghadapi gadis yang nakal itu, Kun Hong yang biasanya pandai berdebat dan tak mau kalah, menjadi
diam dan memeluk cabang kuat-kuat sambil memandang ke bawah. Apa yang dilihatnya di bawah
membuat ia semakin ngeri. Ia melihat betapa kedua pihak, yaitu pihak Hoa-san-pai dan pihak Bhe Lam dan
teman-temannya, kini sudah mulai bertempur sehingga terlihat seperti perang kecil.
Ternyata bahwa Kui Tosu dan Lai Tosu tak dapat menandingi permainan tongkat Yok-mo yang luar biasa
dan amat ganas itu. Kakek ompong bongkok ini biar pun dikeroyok dua oleh Kui Tosu dan Lai Tosu yang
memiliki tingkat ilmu pedang yang tinggi, tidak menjadi gugup. Terutama sekali ia mengandalkan kepada
tongkat hitamnya yang benar-benar membuat dua orang tosu itu agak jeri dan ngeri mengingat akan
keampuhan racun yang berada dalam tongkat itu. Makin lama makin terdesaklah Kui Tosu dan Lai Tosu.
Melihat keadaan demikian itu, hati Kwa Tin Siong menjadi tidak enak sekali. Memang harus diakui bahwa
kedua orang tosu ini bertempur untuk membalas kematian saudara mereka, dan tak ada hubungannya
dengan Hoa-san-pai. Akan tetapi maksud kedatangan mereka mula-mula adalah untuk membantu Hoasan-
pai sungguh pun tadi ia meragukan akan maksud-maksud tersembunyi lain yang masih belum terbukti.
Andai kata tiga orang tosu tua itu tidak datang ke Hoa-san-pai di saat Hoa-san-pai didatangi musuh-musuh,
sudah pasti mereka takkan menemui kesulitan, Bu Tosu tak akan tewas dan kedua orang tosu itu tidak
akan bertempur melawan Yok-mo yang lihai itu.
Namun, Kwa Tin Siong tetap merasa enggan untuk ikut mencampuri pertempuran ini. Dia adalah seorang
Ketua Hoa-san-pai, maka untuk menjaga nama baik Hoa-san-pai, segala sepak terjangnya ia perhitungkan
betul.
Pada saat ia meragu, tiba-tiba saja Hek-houw Bhe Lam sambil tertawa melangkah maju menghadapi Thian
Beng Tosu dan berkata, "Thio Ki, meski pun kau sudah menyamar sebagai tosu, jangan kira kau akan
terlepas dari tanganku!"
dunia-kangouw.blogspot.com
"Bhe Lam, sungguh sayang sekali bahwa selama belasan tahun ini kau masih belum mau kembali ke jalan
benar. Pinto tidak menyamar, memang pinto sekarang bukan Thio Ki lagi melainkan Thian Beng Tosu dan
kalau kau masih saja menaruh dendam atas hukuman yang jatuh kepadamu ketika kau melakukan
kejahatan dahulu, majulah. Kali ini pinto tidak akan memberi ampun lagi kepadamu."
"Ha-ha-ha, keledai busuk yang sombong. Kematian sudah di depan mata masih hendak berlagak lagi?"
Hek-houw Bhe Lam meloloskan golok besarnya dan segera maju menerjang. Thian Beng Tosu juga sudah
mencabut pedangnya dan dua orang musuh lama ini segera bertanding.
Melihat betapa pihak lawan sudah mulai menyerang, Kwa Tin Siong membuang keraguan hatinya dan
segera dia berseru keras, "'Toat-beng Yok-mo, sebagai seorang tokoh besar tidak seharusnya kau
mengacau Hoa-san-pai. Aku yang bertanggung jawab di sini, tidak bisa membiarkan kau menyebar
kematian!"
Dengan Hoa-san Po-kiam di tangannya dia lantas melompat ke gelanggang pertempuran, membantu Kui
Tosu dan Lai Tosu yang sudah terdesak hebat sekali oleh tongkat hitam di tangan Yok-mo itu. Makin hebat
pertandingan itu, dan Toat-beng Yok-mo tetap melayani tiga orang lawannya sambil terkekeh-kekeh.
Kim-thouw Thian-li sudah mencabut pedangnya dan di lain saat ia sudah dihadapi oleh Liem Sian Hwa
yang juga sudah memegang pedang telanjang. Dua orang musuh besar ini saling berhadapan dan saling
memandang penuh kebencian.
Memang semenjak dahulu Sian Hwa sangat membenci Ketua Ngo-lian-kauw ini. Wanita inilah yang
mendatangkan segala penderitaan bagi dia dan Hoa-san-pai, membuat dirinya harus kehilangan
tunangannya, yaitu Kwee Sin murid Kun-lun-pai. Gara-gara wanita ini pula maka ia dan suaminya yaitu
Kwa Tin Siong bekas suheng-nya, lari dari Hoa-san-pai dan suaminya itu sampai terbabat putus tangan
kirinya. (baca cerita Raja Pedang)
Kini wanita ini berani kembali datang mengacau Hoa-san-pai, mengacau penghidupannya yang sudah
belasan tahun dalam ketenteraman. Dapat dibayangkan betapa kemarahan dan kebenciannya memuncak.
"Siluman betina dari Ngo-lian-kauw, hari ini aku Liem Sian Hwa harus mengadu nyawa denganmu!"
"Hemmm, perempuan tak tahu malu, kebetulan sekali kalau kau sudah bosan hidup. Hayo majulah, aku
akan mengantarmu ke neraka!" Kim-thouw Thian-li mengejek.
Sian Hwa berseru keras dan pedangnya berkelebat menyerang, ditangkis oleh Kim-thouw Thian-li. Mereka
pun segera terlibat dalam pertempuran dahsyat yang mati-matian.
Sementara itu, tanpa dikomando lagi, para tosu Hoa-san-pai sudah maju menyerang tiga puluh orang
pengikut Bhe Lam dan terjadilah perang kecil yang diikuti teriakan-teriakan sehingga keadaan di puncak
Hoa-san-pai yang biasanya tenang dan damai itu sekarang menjadi kacau dan gaduh.
Dalam hal ini Hek-houw Bhe Lam salah hitung. Ia masih mengira bahwa tosu Hoa-san-pai adalah tosu-tosu
yang hanya pandai membaca kitab saja. Ia tidak tahu akan perubahan di Hoa-san-pai semenjak Kwa Tin
Siong menjadi ketua.
Sekarang jauh berbeda dengan dulu. Setiap orang tosu Hoa-san-pai adalah ahli-ahli silat yang tekun
melatih diri sehingga rata-rata mereka mempunyai kepandaian yang lumayan. Apa lagi jumlah mereka jauh
lebih banyak dari pada anak buah Bhe Lam sehingga anak buahnya itu setiap orang harus melawan
sedikitnya tiga orang tosu!
Memang, apa bila melihat para pemimpinnya, terlihat Bhe Lam sudah memperhitungkan masak-masak
bahwa tokoh-tokoh yang menyertainya itu akan mampu mengalahkan para pimpinan Hoa-san-pai. Akan
tetapi, dalam hal anak buahnya, benar-benar ia salah hitung.
Anak buahnya memang para perampok yang kejam dan yang sudah biasa menghadapi pertempuran. Akan
tetapi berhadapan dengan jumlah banyak, apa lagi yang memiliki ilmu silat Hoa-san-pai asli, anak buahnya
tak dapat berkutik. Sebentar saja korban di pihaknya bergelimpangan!
dunia-kangouw.blogspot.com
Toat-beng Yok-mo tidak saja amat hebat dalam ilmu pengobatan, juga ilmu silatnya bukan main tingginya.
Hal ini tidaklah aneh jika diingat bahwa ia masih keturunan langsung dari pada Yok-ong (Raja Obat) yang
pernah menggemparkan dunia kang-ouw ratusan tahun yang lalu. Walau pun dikeroyok tiga, ia masih
mampu mengimbangi permainan tiga orang lawannya, malah dengan tongkatnya ia mampu mendesak Kui
Tosu dan Lai Tosu.
Baiknya Kwa Tin Siong tadi segera maju. Terhadap pedang Ketua Hoa-san-pai ini dia tak berani mainmain.
Ilmu pedang Hoa-san-pai yang dimainkan Kwa Tin Siong benar-benar telah mencapai tingkat tinggi
sehingga mengganggu pergerakannya. Apa lagi pedang itu adalah pedang Hoa-san Po-kiam yang ampuh.
Pertandingan antara Thian Beng Tosu dan Hek-houw Bhe Lam juga ramai sekali. Boleh dibilang
kepandaian dua orang ini berimbang karena ternyata selama ini Bhe Lam sudah memperdalam ilmu
kepandaiannya. Si Macan Hitam itu mainkan goloknya dengan ilmu golok dari utara yang mengandalkan
tenaga, maka sekarang dilayani dengan ilmu pedang Hoa-san-pai yang mengandalkan tenaga lembut serta
kecepatan, pertempuran ini ramai sekali dan seimbang. Sinar golok dan pedang bergulung-gulung
menyilaukan mata dan di antara siutan desing kedua senjata ini terdengar seruan-seruan dan bentakan
Hek-houw Bhe Lam.
Sementara itu, di lain bagian, Kim-thouw Thian-li mendesak Liem Sian Hwa dengan hebat. Ketua Ngo-liankauw
ini seperti biasa bersenjatakan sebatang golok dan sehelai selampai merah. Ilmu pedang Liem Sian
Hwa cepat dan ganas, gerakan tubuhnya ringan bagaikan burung menyambar-nyambar.
Memang tak mengecewakan nyonya ini memiliki julukan Kiam-eng-cu (Bayangan Pedang) karena
permainan pedangnya demikian cepat sehingga sinar pedang itu bergulung-gulung menelan lenyap
bayangannya sendiri. Akan tetapi kini menghadapi Kim-thouw Thian-li, ia menemukan tandingan yang
berat.
Tingkat kepandaian Ketua Ngo-lian-kauw ini memang lebih tinggi dari padanya, apa lagi setelah Kim-thouw
Thian-li mewarisi ilmu pedang Im-sin Kiam-sut dari gurunya, Hek-hwa Kui-bo, biar pun hanya beberapa
jurus. Di samping ini, ilmu pedangnya Ngo-lian Kiam-sut yang dibantu dengan sambaran-sambaran
selampai merahnya, benar-benar sangat lihai dan berbahaya. Setelah mengerahkan seluruh
kepandaiannya, barulah Sian Hwa dapat mengimbanginya, namun tetap saja pihak lawan lebih sering
melancarkan serangan dari padanya.
Pada suatu saat, secara aneh selampai merah itu menyambar dan melibat pedang Sian Hwa. Terjadilah
tarik menarik dan dalam saat yang berbahaya ini, golok di tangan kanan Kim-thouw Thian-li menyambar ke
arah leher Sian Hwa!
Bingung sekali Sian Hwa menghadapi ini. Pedangnya belum dapat ia lepaskan dari libatan selampai dan
serangan golok itu tak mungkin ia elakkan tanpa meloncat mundur. Apakah ia harus melepaskan
pedangnya?
Selagi ia kebingungan, tiba-tiba Kim-thouw Thian-li menjerit, "Keparat curang!"
Dan Ketua Ngo-lian-kauw ini menarik kembali golok dan selampainya sambil melangkah mundur. Ternyata
dari atas pohon sudah menyambar sebutir buah mentah yang tepat menghantam jalan darah di dekat
sikunya sehingga ia merasa tangannya lumpuh. Itulah perbuatan Li Eng yang sekarang tertawa-tawa di
atas pohon sambil menonton jalannya pertandingan. Tadi ketika ia melihat keadaan Sian Hwa terancam
bahaya, ia segera turun tangan dan membantu.
Baik Sian Hwa mau pun Kim-thouw Thian-li tahu akan campur tangan gadis di atas pohon itu, karena tadi
pun mereka sudah melihat kelihaian gadis aneh itu yang menolong Kun Hong dari serangan Bhe Lam
menggunakan sambitan serupa.
"Siluman cilik, apa kau sudah bosan hidup?" Kim-thouw Thian-li memaki sambil goloknya diacungacungkan
ke arah Li Eng di atas pohon.
"Hi-hi-hi, siluman besar, kau sudah tua tentu kau akan mati lebih dulu dari padaku!" jawab Li Eng. Sambil
menjawab sekaligus kedua tangannya diayun ke depan, maka puluhan butir buah mentah itu menyambar
ke arah delapan belas jalan darah di tubuh Kim-thouw.
dunia-kangouw.blogspot.com
Ketua Ngo-lian-kauw ini kaget sekali. Ia cepat memutar goloknya menangkis, akan tetapi masih ada tiga
butir ‘senjata rahasia’ yang mengenai tubuhnya. Baiknya buah itu biar pun masih mentah tapi tidak
seberapa keras dan lweekang-nya sendiri sudah amat kuat maka ia tidak terluka parah, hanya merasa
gemetar dan lumpuh di bagian yang kena sambit.
Pada saat itu, Sian Hwa tidak mau menyia-nyiakan waktu dan kesempatan ini. Bagaikan seekor burung
walet ia lalu menerjang maju, pedangnya berkelebatan menyilaukan mata. Kim-thouw Thian-li berusaha
menangkis, namun meleset tangkisannya karena pada saat itu ia masih belum dapat menguasai dirinya
karena sambitan Li Eng tadi.
Pedang di tangan Sian Hwa bagaikan kilat menyambar menusuk lehernya. Ia membuang diri ke belakang
sambil miringkan bagian atas tubuhnya sehingga pedang itu tidak tepat mengenai leher melainkan
menyambar pundaknya.
Kim-thouw Thian-li menjerit kesakitan, pundaknya tertusuk pedang. Cepat dia melompat berjungkir-balik ke
belakang lalu... melarikan diri secepatnya dengan pundak bercucuran darah!
Sebetulnya Lim Sian Hwa hendak mengejar, akan tetapi pada saat itu ia mendengar pekik mengerikan dan
ketika ia menengok ke arah gelanggang pertempuran, ternyata Kui Tosu terkena tusukan tongkat Toatbeng
Yok-mo hingga tubuhnya menjadi hangus, sedangkan di saat berikutnya Lai Tosu terkena hantaman
tangan kiri kakek bongkok yang lihai itu sehingga kepalanya pecah dan tewas di saat itu juga! Bukan main
hebatnya kepandaian Yok-mo yang merobohkan dua orang lawannya dalam keadaan tertawa-tawa.
Terkejut hati Liem Sian-Hwa. Ia membatalkan niatnya mengejar Kim-thouw Thian-li dan cepat ia melompat
dekat suaminya lalu langsung mengeroyok Yok-mo. Kalau tadi dibantu oleh dua orang tosu tua itu saja
suaminya tidak mampu mengalahkan Yok-mo, apa lagi sekarang seorang diri. Karena inilah maka Sian
Hwa lalu membantu suaminya dan suami isteri ini dengan mati-matian lalu mengeroyok Yok-mo yang
masih saja melayani mereka sambil tertawa-tawa.
Baru setelah melihat Sian Hwa menerjangnya, kakek bongkok itu nampak kaget.
"Ehh, ehhh... mana isteriku?"
"Sudah terluka pundaknya dan kabur. Sekarang giliranmu untuk mampus!" bentak Sian Hwa.
Ucapan ini membuat Yok-mo marah bukan main. Dengan seruan seram seperti teriakan binatang buas ia
menerjang dengan tongkatnya yang hebat, kini tidak tertawa-tawa lagi, dan gerakan tongkatnya benarbenar
luar biasa sekali membuat suami isteri itu terdesak hebat.
Pertempuran antara anak-anak buah Hek-houw Bhe Lam dan para tosu Hoa-san-pai tidak berlangsung
lama. Karena kalah banyak dan para tosu Hoa-san-pai sekarang rata-rata juga pandai ilmu silat, sebentar
saja tiga puluh orang pengikut Bhe Lam itu roboh semua, tewas atau terluka. Tak seorang pun berhasil
melarikan diri.
Melihat keadaan ini, apa lagi tadi melihat Kim-thouw Thian-li sudah melarikan diri, hati Bhe Lam menjadi
keder juga dan karena itu permainan goloknya lantas menjadi kacau-balau. Kesempatan baik ini
dipergunakan oleh Thian Beng Tosu untuk mempercepat permainan pedangnya dan dengan serangan
miring dari samping kiri, sesudah memancing dengan sebuah tendangan, ia berhasil melukai lengan kanan
Bhe Lam.
Kepala rampok ini terluka parah. Dia berteriak marah dan menyambitkan piauw dengan tangan kirinya ke
depan. Thian Beng Tosu cepat membuang diri ke kanan dan dua buah senjata rahasia piauw meluncur
lewat di dekat lehernya. Ketika ia memperbaiki kembali posisinya, ternyata lawannya sudah lari jauh.
"Hek-houw, kau hendak lari ke mana?" Thian Beng Tosu cepat melompat dan mengejar musuh besarnya
itu.
Ada pun Kun Hong yang menyaksikan dengan mata kepala sendiri pembunuhan secara besar-besaran
yang terjadi di dalam pertempuran ini, mukanya menjadi pucat, napasnya sesak dan matanya melotot
lebar.
dunia-kangouw.blogspot.com
"Celaka... celaka... bagaimana Hoa-san-pai bisa menjadi begini...?" Berulang-ulang dia berseru dengan
ngeri dan panik.
Sekarang yang bertempur di bawah hanya tinggal kedua orang tuanya yang mengeroyok Toat-beng Yokmo.
Melihat betapa semua teman kakek bongkok itu tewas atau terluka dan ada yang lari, Kun Hong
menjadi kasihan sekali. Peristiwa hebat yang ia saksikan di bawah itu sama sekali tak pernah terduga
dapat terjadi.
Ia yang selalu belajar tentang kebajikan, tentang KeTuhanan dan peri kemanusiaan, tentu saja dalam
mimpi pun belum pernah melihat manusia saling bunuh seperti ini. Semua ini membuat ia lupa akan
ketakutan berada di atas cabang kecil di tempat begitu tinggi. Ia melihat gadis nakal itu masih saja duduk
dengan kedua kaki tergantung dan tertawa-tawa.
Ia teringat bahwa gadis itu memiliki kepandaian yang aneh. Maka cepat Kun Hong melorot turun dari
cabang yang didudukinya dan tanpa takut sedikit pun ia melalui cabang-cabang mendekati Li Eng. Gadis
itu sampai terkaget-kaget ketika tahu-tahu pemuda itu berada di dekatnya.
"Ehhh, kau berani turun?" tanyanya heran.
"Kau... kau tolonglah aku... kau turunlah dan pergunakan kepandaianmu untuk melerai mereka. Jangan
biarkan ayah ibu membunuh orang atau terbunuh..."
Gadis itu tersenyum lebar sehingga kelihatan deretan giginya putih mengkilap dan teratur rapi seperti
mutiara berderet. "Jadi kau ini anak mereka? Anak Ketua Hoa-san-pai? Kok aneh benar, orang-orang Hoasan-
pai itu biar pun kepandaiannya tidak tinggi tapi cukup bersemangat dan gagah, kenapa anaknya keluar
tikus seperti kau?"
"Kau mau menolong tidak?" tanya Kun Hong gemas.
Gadis itu menggelengkan kepala. "Ketua Hoa-san-pai she Kwa adalah orang yang harus kubunuh, juga
kakek bongkok itu aku tidak suka, mengapa aku harus melerai mereka? Biarlah mereka saling bunuh. Hihi-
hik!"
Kun Hong tahu bahwa dia tidak dapat memaksa gadis itu, maka dia lalu melorot turun dengan susah payah
dari pohon itu, ditertawai oleh gadis itu yang kembali menggodanya. "Hi-hi-hik, kau seperti anak monyet
menuruni pohon!"
Kun Hong tidak pedulikan lagi padanya. Setelah tiba di bawah dia lalu lari menghampiri medan
pertempuran. Ia bergidik pada waktu berlari melalui mayat-mayat manusia yang menggeletak di kanan kiri,
ngerinya bukan main.
"Ayah... Ibu... sudahlah, jangan berkelahi lagi... sudah terlalu banyak korban...!" teriaknya berulang-ulang
sambil mendekati pertempuran yang sedang hebat-hebatnya itu.
"Kun Hong, pergi...!" ibunya berteriak kaget melihat puteranya berani mendekati tempat itu.
Akan tetapi Kun Hong nekat dan makin dekat. "Jangan bunuh orang lagi, Ibu... ah, celaka sekali...
bagaimana Hoa-san bisa menjadi tempat penyembelihan manusia...?" Kun Hong hampir menangis.
Akan tetapi pada saat itu ayahnya berseru, "Pergi kau...!"
Dan sebuah tendangan membuat Kun Hong terpelanting sejauh lima meter lebih. Ayahnya telah
menendangnya! Biar pun ia tidak merasa sakit, tapi Kun Hong merangkak bangun dengan mata terpentang
lebar. Bagaimana ayahnya sudah berubah begitu ganas? Dia sendiri malah ditendangnya!
Tentu saja pemuda ini sama sekali tidak mengetahui bahwa dengan mendekati tempat pertempuran itu,
nyawanya berada di dalam bahaya karena gerakan tongkat Yok-mo dan pedang ayah serta ibunya
mengandung tenaga lweekang yang hawa pukulannya saja akan cukup membuat Kun Hong tewas. Tidak
tahu pula ia bahwa tendangan ayahnya tadi adalah usaha untuk menjauhkan dia dari tempat berbahaya itu.
dunia-kangouw.blogspot.com
Kebetulan sekali Kun Hong terpelanting ke dekat tumpukan mayat-mayat para anak buah perampok. Ia
melihat mayat-mayat itu dalam keadaan luka hebat, malah ada di antaranya yang belum mati, terluka
parah dan mengaduh-aduh. Darah berceceran di mana-mana.
Kun Hong merasa hendak muntah melihat itu semua. Ia lalu bangkit berdiri, memegangi kepalanya sambil
mengeluh, "Keji... kejam sekali... ah, tak sudi aku melihatnya...," Ia lalu lari tersaruk meninggalkan Puncak
Hoa-san.
Sementara itu, Toat-beng Yok-mo masih terus mendesak suami isteri itu dengan tongkat hitamnya. Makin
lama makin beratlah bagi Kwa Tin Siong dan Liem Sian Hwa. Ternyata baik dalam tenaga lweekang, apa
lagi dalam ilmu silat, kakek bongkok itu masih setingkat lebih tinggi dari pada mereka.
Apa lagi setelah Toat-beng Yok-mo mendengar tentang terlukanya Kim-thouw Thian-li. Ia menjadi marah
bukan main sehingga gerakan-gerakan tongkatnya mengandung ancaman maut karena digerakkan
dengan penuh nafsu membalas dendam dan membunuh.
Kwa Tin Siong dan Liem Sian Hwa repot sekali menghadapi amukan kakek bongkok itu. Mereka maklum
bahwa jika pertandingan ini dilanjutkan, mereka tentu akan celaka.
Anak buah Hoa-san-pai tidak ada yang berani mencoba untuk membantu tanpa menerima perintah ketua
mereka. Selain ini, mereka juga tidak berani sembarangan mendekati pertempuran yang demikian
dahsyatnya, karena maklum pula bahwa kepandaian mereka masih jauh di bawah tingkat mereka yang
sedang bertanding.
Namun demikian, jika Kwa Tin Siong mau mengeluarkan perintah, para murid Hoa-san-pai tentu tidak akan
ragu-ragu dan takut-takut untuk menyerbu. Meski di antara mereka tentu banyak yang roboh binasa, kakek
bongkok itu sendiri sudah pasti takkan kuat menghadapi pengeroyokan demikian banyak orang.
Akan tetapi, Kwa Tin Siong adalah seorang yang berjiwa gagah. Mana mungkin ia mau mengeluarkan
perintah kepada para muridnya untuk melakukan pengeroyokan? Di dalam hukum persilatan,
mengandalkan banyak teman untuk mengeroyok adalah perbuatan hina yang akan menjatuhkan nama
baik. Sedangkan nama baik bagi seorang gagah lebih berharga dari pada selembar nyawa. Karena inilah
maka baik Kwa Tin Siong mau pun isterinya, biar pun sudah terdesak hebat dan berada dalam ancaman
maut, mereka tidak mau membuka mulut minta bantuan para murid Hoa-san-pai dan melawan mati-matian.
Pada saat itu terdengarlah teriakan dari atas pohon, "Heiii, kakek bongkok buruk! Ketua Hoa-san-pai masih
ada urusan dengan aku, tak boleh kau membunuhnya!"
Suara ini adalah suara Li Eng yang segera dapat mengetahui bahwa suami isteri Ketua Hoa-san-pai itu
tidak akan menang melawan Si Kakek Bongkok yang mengerikan dan amat lihai itu. Kedua tangannya
segera bekerja, menyambit-nyambitkan buah mentah dari pohon yang ia duduki cabangnya itu.
Sambitan gadis ini bukan main-main dan tidak boleh dipandang ringan karena dilakukan dengan
pengerahan tenaga lweekang yang luar biasa. Sambitannya susul-menyusul dan walau pun kakek bongkok
itu dikeroyok dua oleh suami isieri Hoa-san-pai sehingga tubuh ketiga orang itu berkelebatan dan
berloncatan ke sana ke mari, namun sambitan-sambitan Li Eng selalu tepat menuju sasarannya, yaitu
bagian-bagian lemah dan jalan-jalan darah di tubuh Toat-beng Yok-mo! Akan tetapi alangkah kaget hati Li
Eng ketika melihat bahwa semua buah mentah yang ia sambitkan itu, jatuh runtuh berserakan begitu
mengenai tubuh Toat-beng Yok-mo.
"Siluman cilik, tunggu saja kau, akan datang giliranmu nanti!" Yok-mo membentak dengan nada mengejek
sambil memperhebat tekanan tongkat hitamnya kepada suami isteri yang sudah mandi keringat dan sudah
mulai kehabisan tenaga itu.
Li Eng segera memutar otaknya. Ia dapat menduga bahwa tentu kakek itu memiliki daya kekebalan yang
dapat menutup jalan darah yang terkena sambitan, maka tidak terluka oleh sambitannya. Ia segera berseru
nyaring mentertawakan,
"Hee, kakek ompong! Kau hendak menyombongkan kepandaianmu, ya? Baiklah, matamu yang besar
sebelah itu amat tidak menyenangkan hatiku, hendak kubikin meram semua!"
dunia-kangouw.blogspot.com
Kembali kedua tangan Li Eng bergerak. Bagaikan peluru-peluru besi buah-buah mentah itu meluncur
susul-menyusul, kini yang dijadikan sasaran adalah mata yang besar sebelah di muka Toat-beng Yok-mo!
Kali ini terdengar Tok-mo berseru marah sekali. Betapa pun saktinya, tidaklah mungkin manusia dapat
membikin sepasang biji matanya kebal! Dan ia maklum bahwa satu kali saja matanya terkena sambitan itu,
ia akan menjadi buta.
Repot juga tangan kirinya bergerak-gerak menyampok runtuh ‘senjata-senjata rahasia’ yang tiada habisnya
menyerang matanya itu. Tentu saja perhatiannya menjadi terpecah, malah boleh dibilang sebagian besar
ditujukan untuk menyelamatkan kedua matanya dari serangan hebat dari atas pohon itu.
Oleh karena inilah maka Kwa Tin Siong dan isterinya mendapatkan ‘angin baru’. Melihat kekosongankekosongan
dan kelemahan-kelemahan pada lawan, maka mereka tak ingin menyia-nyiakan kesempatan
baik ini dan segera menghujankan serangan-serangan maut.
"Ceppp!"
Ujung pedang di tangan Liem Sian Hwa menancap di pundak kiri Yok-mo. Terdengar raungan mengerikan,
tangan kiri Yok-mo mencengkeram ke depan dan...
“Pletakk!” ujung pedang Sian Hwa patah.
Akan tetapi, sekali lagi Yok-mo meraung hebat ketika pedang Kwa Tin Siong menusuk lambungnya. Cepat
ia miringkan tubuh dan tongkat hitamnya menghantam pedang itu.
Bukan main kagetnya Kwa Tin Siong dan Sian Hwa. Tangkisan tongkat hitam itu hampir saja membuat
pedang Hoa-san Po-kiam terlempar dari tangannya. Kwa Tin Siong cepat melompat mundur dan
terhuyung-huyung, sedangkan Sian Hwa melompat mundur sambil melihat pedangnya yang sudah
buntung. Bukan main hebatnya kakek tua itu, biar pun terluka di pundak dan lambung, namun masih
demikian hebatnya sehingga hampir Kwa Tin Siong suami isteri celaka.
"Aduh, keparat...!" Yok-mo menjerit ketika pinggir mata kirinya tersambar buah mentah.
"Hi-hi-hik, siluman tua, sekarang kedua matanya sipit, tidak besar sebelah lagi, tapi lebih menjijikkan...!" Li
Eng menggoda.
Kemarahan Yok-mo tak tertahankan lagi. Ia telah menderita dua luka tusukan oleh suami isteri Hoa-sanpai,
dan luka di pinggir mata oleh gadis nakal di atas pohon itu. Semua ini adalah gara-gara gadis di pohon
itu, maka kemarahannya segera tertumpah kepada Li Eng.
"Siluman cilik, kau harus mampus sekarang!"
Tubuhnya dienjot dan dengan cepat sekali ia telah melayang naik ke atas pohon sambil memutar
tongkatnya karena ia hendak membunuh gadis itu dengah sekali serang untuk melampiaskan kemarahan
hatinya.
"Celaka... kita harus bantu dia...," kata Kwa Tin Siong kepada Sian Hwa.
Isterinya mengangguk menyetujui karena sepadang suami isteri ini maklum bahwa tadi mereka telah
ditolong dan dibantu oleh sambitan-sambitan gadis itu. Bagaikan sepasang burung garuda, kedua suami
isteri ini meloncat dan menerjang Yok-mo dari belakang.
"Krakkk... bruuuukk!"
Cabang yang tadi dipakai duduk Li Eng menjadi patah dan tumbang oleh pukulan tongkat hitam Yok-mo.
Akan tetapi Li Eng tidak ikut jatuh karena tanpa diketahui penyerangnya gadis itu telah berada di cabang
yang lebih tinggi lagi.
"Hi-hi-hik, kakek bongkok ompong, aku di sini!"
Akan tetapi Toat-beng Yok-mo sekarang terpaksa melayani suami isteri yang ternyata sudah mengejar dan
menyerangnya.
dunia-kangouw.blogspot.com
"Hei, kakek bongkok yang tak tahu malu, apakah kau sudah menyerah dan tidak berani mengejarku? Hi-hihik,
beranimu hanya terhadap suami isteri yang tiada guna itu. Dan kalian, suami isteri Ketua Hoa-san-pai
she Kwa, jangan begitu tak tahu malu. Aku tidak minta bantuan kalian, tahu?"
Mendengar ini, Yok-mo mengeluarkan seruan marah dan kembali dia meloncat ke atas dengan tongkat
hitam diputar.
Li Eng sudah siap menanti, malah dia sempat berteriak, "Manusia she Kwa jangan bantu aku, aku tidak
sudi!"
Ucapan ini tentu saja membuat Kwa Tin Siong dan Liem Sian Hwa membatalkan niat mereka membantu
dan membuat mereka marah juga malu. Terpaksa mereka lalu berdiri di tengah lapangan sambil
menonton.
Kembali terdengar suara hiruk-pikuk. Cabang-cabang serta ranting-ranting pohon besar itu susul-menyusul
patah dan tumbang karena hantaman tongkat Yok-mo. Akan tetapi, cepat dan ringan seperti seekor burung
Li Eng sudah berpindah-pindah cabang sehingga dalam waktu yang tak begitu lama pohon itu sudah
menjadi pohon gundul, hanya tinggal batangnya. Kemana perginya Li Eng?
Gadis yang lihai ini ternyata sudah melompat jauh dan telah berada di sebuah pohon lain yang lebih besar
dan tinggi.
"Hi-hi-hik, Toat-beng Yok-mo. Benar-benarkah engkau hendak mencabut nyawaku? Aku berani
mempertaruhkan kepalamu bahwa kau tak akan mampu?"
Digoda seperti ini, Yok-mo menjadi kehilangan kewaspadaannya, menjadi makin marah. Dengan tekad
bulat untuk membunuh Li Eng, ia melompat juga mengejar ke arah pohon itu.
Akan tetapi, bukan main kagetnya ketika tiba-tiba ada sinar hitam meluncur memapaki tubuh yang masih
terapung di udara dalam lompatannya tadi. Benda itu bagaikan seekor ular hidup yang besar dan panjang,
telah mematuk ke arah leher, dada dan pusarnya dengan gerakan bertubi-tubi dan berganti-ganti.
Kalau dia tidak sedang meloncat tentu dengan mudah dia akan menghadapi serangan macam itu, akan
tetapi celakanya kini tubuhnya sedang di udara. Ia memutar tongkatnya untuk menangkis, akan tetapi tibatiba
sinar hitam yang ternyata adalah sehelai sutera itu telah melibat-libat tongkat di tangannya. Yang
hebat, sutera itu seperti hidup saja karena dengan tenaga terbagi-bagi sekarang membetot-betot tongkat
hitamnya dengan kekuatan yang mengagetkan.
Karena Yok-mo memaksa diri mempertahankan tongkatnya agar jangan sampai dirampas lawan, maka
kekuatan lompatannya menjadi patah setengah jalan dan sekarang tubuhnya mulai jatuh ke bawah. Ia
masih memegangi tongkatnya yang terlibat sutera, karena itu sekarang ia jadi menggantung pada
tongkatnya!
"He-he, Yok-mo, kau seperti seekor laba-laba besar hendak bertelur!" Li Eng mengejek sambil menariknarik
suteranya sehingga tubuh kakek itu pun ikut ‘menari-nari’ di bawah gantungan.
"Siluman cilik, akan kubetot jantungmu, akan kukorek otakmu, dan kujadikan bahan obat jin-sin-tan!" Yokmo
memaki-maki sekaligus mengancam, kemudian ia merambat ke atas melalui tongkatnya.
Sebentar kemudian ia telah berhasil menyambar sabuk hitam itu, melepaskan tongkatnya dan dengan
sikap liar yang mengerikan ia mulai merayap naik melalui sabuk hitam, makin mendekati tempat Li Eng
duduk, yaitu di sebuah cabang besar.
"Hemmm, bocah liar itu mencari penyakit!" gumam Kwa Tin Siong.
Ia sebetulnya tidak ingin melihat gadis yang aneh dan pandai ilmu silat Hoa-san-pai itu celaka di tangan
Yok-mo, akan tetapi karena bocah itu sendiri melarang ia membantu, tentu saja ia malu untuk turun tangan.
"Melihat sikapnya, ia pun tentu bukan murid orang baik," kata Liem Sian Hwa. "Akan tetapi dia demikian
cantik dan muda, kasihan kalau sampai mengorbankan nyawa di tangan Yok-mo. Apa lagi disengaja mau
dunia-kangouw.blogspot.com
pun tidak dia tadi telah menolong kita. Tunggu saja, bila dia terancam, tidak peduli dia tidak suka dibantu,
kita turun tangan."
Kwa Tin Siong menyetujui usui isterinya ini. Maka, mereka lalu siap-siap di bawah pohon untuk membantu
apa bila sewaktu-waktu gadis itu terancam bahaya di tangan Yok-mo yang mukanya sudah merah hitam
saking marahnya itu.
"Monyet tua, kau mau buah mentah? Nih, makan!"
Dan segera menghujanlah buah-buah mentah ke arah tubuh dan muka Yok-mo. Karena sambaran buahbuah
itu sebagian besar ditujukan pada kedua matanya, terpaksa Yok-mo menundukkan muka, meramkan
mata dan menutup jalan-jalan darah yang berbahaya agar jangan sampai tertotok oleh sambitan-sambitan
itu.
Sementara itu ia merambat terus ke atas, semakin mendekati Li Eng. Ia merasa betapa luka-luka di pundak
dan lambungnya mengucurkan darah dan terasa sakit sekali. Akan tetapi dengan mengeraskan hati, kakek
yang sudah marah karena dipermainkan Li Eng ini terus mengerahkan tenaga merayap ke atas.
Hampir ia mencapai tempat Li Eng dan ia pun telah mengangkat tongkat hitamnya untuk menyerang gadis
itu. Tiba-tiba saja tubuh Yok-mo meluncur ke bawah dan baru berhenti setelah ia hampir menyentuh tanah.
Yok-mo memaki-maki, kiranya sutera hitam itu diulur oleh Li Eng! Sambil memaki-maki Yok-mo merayap
lagi, merambat ke atas dengan cepat sekali. Sebaliknya, Li Eng juga memaki-maki, mengejek sambil
menyambit muka kakek itu dengan buah-buah mentah.
Biar pun kakek itu kebal dan tidak terluka oleh sambitan-sambitan itu, namun ia sedikitnya merasa
mukanya sakit dan pedas. Ia mempercepat rambatannya ke atas dan sebentar saja ia sudah mendekati Li
Eng lagi. Akan tetapi... tiba-tiba tubuhnya meluncur turun lagi sampai dekat tanah.
Sambil memutar tongkatnya melindungi muka dari sambitan buah, Yok-mo memandang dan dengan girang
ia melihat bahwa kini gadis itu memegangi ujung sutera hitam. Hal ini berarti bahwa sutera yang panjang
itu sudah habis dan tak akan dapat diulur lagi.
"Keparat cilik, kau hendak lari ke mana sekarang?" teriaknya sambil merambat lagi ke atas dengan cepat.
"Keparat gede!" Li Eng balas memaki. "Aku tidak lari ke mana-mana, kaulah yang jangan lari."
Begitu tubuh kakek itu sudah sampai di atas, gadis yang nakal ini sekaligus melepaskan sutera yang
dipegangnya. Tanpa dapat dihindarkan lagi tubuh kakek itu jatuh ke bawah! Baiknya ia memang lihai sekali
sehingga jatuhnya enak saja dengan kedua kaki di atas tanah.
Akan tetapi, bukan main herannya Kwa Tin Siong dan Liem Sian Hwa ketika melihat betapa tiba-tiba kakek
itu berteriak-teriak kesakitan, melepaskan tongkatnya, memandang kepada kedua tangannya yang sudah
menjadi hitam dan... sambil menjerit-jerit kakek itu lantas lari secepatnya meninggalkan puncak Hoa-sanpai,
diiringi suara ketawa nyaring gadis itu yang cepat-cepat melompat ke bawah.
"Hi-hi-hi-hik, termakan racunmu sendiri kau sekarang!" katanya puas sambil menggulung kembali sabuk
suteranya.
Tahulah sekarang Kwa Tin Siong dan istarinya bahwa tadi ketika sabuk melibat tongkat, sabuk itu telah
terkena racun yang keluar dari ujung tongkat. Ketika kakek itu merambat melalui sabuk otomatis kedua
tangannya juga terkena racun hebat dari tongkat itu. Tidak mengherankan jika kedua tangannya itu
menjadi hangus dan kakek itu lalu melarikan diri ketakutan.
Mengingat bahwa gadis itu telah menyelamatkan nyawanya, Kwa Tin Siong lalu berkata dengan nada
menghormat, "Gadis yang gagah perkasa, entah sudah kau sengaja atau tidak, akan tetapi kau tadi telah
menyelamatkan nyawa kami suami isteri. Maka, terimalah ucapan terima kasihku kepadamu."
Gadis itu menjebirkan bibirnya. "Siapa menyelamatkan siapa? Kakek bongkok itu sudah berani mengotori
Im-kan-kok, tidak kubunuh juga sudah untung. Kau ini orang she Kwa yang menjadi Ketua Hoa-san-pai,
sekarang juga kau harus menyerahkan pedang Hoa-san Po-kiam itu kepadaku berikut kepalamu."
dunia-kangouw.blogspot.com
Sambil berkata demikian ia melangkah maju dengan sikap tenang. Kwa Tin Siong yang mendengar itu
lebih merasa heran dari pada marah. Sudah tentu ada sebab-sebab yang aneh kalau anak ini sampai
memusuhinya, tak mungkin memusuhi tanpa sebab.
"Nanti dulu, kalau kau betul-betul datang hendak memusuhiku, hal itu adalah wajar asal ada alasannya
yang kuat. Kau jelaskanlah lebih dahulu mengapa kau hendak merampas Hoa-san Po-kiam dan hendak
membunuhku? Apa sebabnya?"
"Apa sebabnya kau tidak perlu tahu. Pendeknya aku harus merampas kembali Hoa-san Po-kiam dan
membunuh Ketua Hoa-san-pai she Kwa! Hayo kau majulah dan serahkan pedang serta kepalamu, aku
sudah hilang sabar!"
Kwa Tin Siong orangnya memang berwatak sabar, akan tetapi tidak demikian dengan Liem Sian Hwa.
Nyonya ini menjadi marah bukan main, tak dapat ia menahan perasaan hatinya yang terbakar ketika ia
mendengar orang menghina suaminya. Cepat ia mencabut pedangnya yang sudah buntung ujungnya tadi
dan membentak,
"Siluman cilik, enak saja kau bicara! Siluman macam kau tak mungkin bisa diajak bicara baik-baik. Kalau
memang kedatanganmu hendak memusuhi kami, kau matilah dan lawan pedangku!"
Li Eng tertawa mengejek dan memandang pedang buntung itu. "Hi-hik, dengan pedang itu kau hendak
melawanku? Ahhh, sedangkan ilmu pedang Hoa-san Kiam-sut saja baru kau pelajari setengah-setengah,
matang tidak mentah pun tidak, lalu bagaimana kau hendak melawanku menggunakan pedang buntung?
Bibi yang cantik, aku hanya ingin mengambil kepala orang she Kwa. Kalau kau ingin mencoba
kepandaianmu yang masih setengah matang, kau...majulah!"
Sampai pucat wajah Liem Sian Hwa mendengar ejekan ini. Dia merupakan seorang tokoh Hoa-san-pai,
boleh dibilang menjadi orang ke dua sesudah suaminya. Semenjak kecil dia sudah mempelajari ilmu silat
Hoa-san-pai dan untuk kehebatan ilmu pedangnya ia malah telah menggemparkan dunia kang-ouw hingga
mendapat julukan Kiam-eng-cu (Bayangan Pedang). Masa sekarang ia dihina oleh seorang bocah cilik
yang menyatakan bahwa ilmu pedangnya Hoa-san Kiam-sut matang tidak mentah pun tidak? Biar pun
hanya berpedang buntung, namun ia masih sanggup untuk menghadapi lawan yang tangguh.
"Bocah setan, kau benar-benar terlalu sombong. Keluarkan senjatamu dan mari kau boleh merasakan ilmu
pedangku yang mentah tidak matang pun tidak ini!" tantangnya.
"Untuk menghadapi kau dan pedang buntungmu cukup dengan tangan kosong.”
"Sombong, lihat pedang!"
Sian Hwa tak dapat menahan kemarahannya lagi. Tubuhnya segera menerjang maju dan pedangnya
bergerak menyerang. Dengan gerakan cepat sekali sehingga sinar pedangnya bergulung-gulung, ia
mengirim tiga kali tikaman berantai dengan jurus Lian-cu Sam-kiam.
"Hemmm Lian-cu Sam-kiam yang baik sekali. Sayang tidak ada isinya!" Li Eng mengejek dan cepat
mengelak.
Karena ia tahu benar agaknya akan perubahan gerak dari jurus ini, maka dengan mudah Li Eng dapat
menyelamatkan diri. Sian Hwa merubah gerakannya, mengirim bacokan dari kanan kiri sambil
mempergunakan kecepatannya.
"Aha, Hun-in Toan-san (Awan Melintang Putuskan Gunung)! Juga tidak mengandung inti sari, masih
mentahl" Lagi-lagi Li Eng mengelak dan mengejek.
Sian Hwa makin marah, juga diam-diam terkejut sekali karena semua serangannya selalu dikenal oleh
lawan. Dalam penyerangan-penyerangan berikutnya, baru saja dia bergerak gadis cilik itu sudah
menyebutkan jurusnya dan malah mengelak dengan gerakan-gerakan dan langkah-langkah dari ilmu silat
Hoa-san-pai asli.
"Tahan dulu!" tiba-tiba saja Kwa Tin Siong maju, melerai yang sedang bertempur setelah pertempuran itu
berjalan puluhan jurus.
dunia-kangouw.blogspot.com
Ketua Hoa-san-pai ini menjadi curiga karena tadi ia melihat dengan jelas betapa ilmu silat gadis itu betulbetul
asli Hoa-san Kun-hoat, akan tetapi dimainkannya demikian aneh dan hebat. "Nona kau sebetulnya
murid siapakah?"
Juga Sian Hwa di samping kemarahan dan kegemasan karena penasaran, merasa heran sekali. Belum
pernah selama hidupnya dia bertemu dengan lawan yang begini muda tapi begini hebat ilmu silatnya, apa
lagi ilmu silat dari Hoa-san-pai pula!
Li Eng tersenyum mengejek. "Murid siapa juga kau peduli apakah? Pendeknya, kau harus menyerahkan
Po-kiam dari Hoa-san-pai berikut kepalamu. Kau tak berhak menjadi Ketua Hoa-san-pai!"
Kwa Tin Siong mencabut pedangnya, pedang Hoa-san Po-kiam, lalu dia melangkah maju. "Nah, ini
pedangnya dan ini kepalaku, kau boleh ambil kalau kau bisa."
Kwa Tin Siong menjadi marah juga melihat sikap gadis yang bandel dan nekat ini dan ia ingin mencoba
sendiri kepandaian gadis itu. Setelah suhu-nya meninggal, yaitu Lian Bu Tojin, kiranya tidak berlebihan
kalau dia menganggap bahwa ahli silat Hoa-san-pai yang paling tinggi ilmunya pada saat itu adalah dia
sendiri. Kalau gadis ini pun ahli ilmu silat Hoa-san-pai, mana mungkin lebih tinggi tingkatnya dari pada dia
sendiri?
"Bagus, kau kehendaki kekerasan? Awas!"
Li Eng menggerakkan tangannya mencengkeram ke arah pedang dan kakinya menyapu dengan kecepatan
kilat. Akan tetapi Kwa Tin Siong melangkah mundur dan pedangnya berkelebat membacok tangan gadis
itu. Li Eng menarik tangannya, meloncat ke kiri dan kembali menyerang dengan maksud hendak
merampas pedang.
Kini tubuhnya bergerak-gerak cepat, kadang-kadang melakukan pukulan yang amat cepat dan berbahaya,
lain saat ia berusaha merampas pedang dari tangan Kwa Tin Siong. Akan tetapi, kali ini ia betul-betul
menghadapi seorang ahli silat yang sudah sangat matang oleh pengalaman, juga yang memiliki tenaga
dalam kuat sekali. Sampai lima puluh jurus belum juga Li Eng berhasil merampas pedang.
Di lain pihak, diam-diam Kwa Tin Siong makin terheran-heran. Harus ia akui bahwa ilmu silatnya sendiri
kalau dibandingkan dengan ilmu silat gadis itu, ia jauh lebih ahli, juga lebih matang. Akan tetapi ada
sesuatu yang aneh pada ilmu silat yang dimainkan gadis cilik ini, gerakan-gerakannya mengandung daya
serang yang hebat sekali, yang tak ada pada ilmu silat asli Hoa-san Kun-hoat.
"He, Nona kecil, apakah kau pernah belajar pada Supek Lian Ti Tojin?" Tiba-tiba Kwa Tin Siong bertanya
karena ia mendapat dugaan yang aneh.
"Aku adalah murid ayah ibu sendiri. Sudahlah jangan banyak cakap, lihat dalam beberapa jurus aku akan
merampas pedangmu!"
Tiba-tiba benda hitam panjang seperti ular hidup menyambar ke arah muka Kwa Tin Siong yang menjadi
kaget luar biasa. Cepat Ketua Hoa-san-pai ini menyabet dengan pedangnya sambil mengerahkan tenaga
untuk membabat putus benda itu.
Akan tetapi alangkah kagetnya ketika benda itu tiba-tiba malah melibat pedangnya dan tak dapat
dllepaskan lagi. Ia cepat mengerahkan tenaga menarik dan gadis itu pun menahan sehingga keduanya
saling betot. Kiranya benda itu adalah sutera hitam yang tadi dipakai mengerek tubuh Yok-mo dan
sekarang sudah berada lagi di tangan gadis aneh itu.
Melihat keadaan suaminya dalam bahaya, Sian Hwa tidak dapat tinggal diam saja. Sambil berseru keras ia
menggerakkan pedang buntungnya dan menerjang Li Eng.
Gadis ini tertawa. "Bagus, kalian boleh maju bersama-sama!"
Sabuk sutera hitam terlepas dan ia lalu bersilat dengan senjata aneh ini, kini dikeroyok dua!
Pada waktu itu, tingkat kepandaian suami isteri ini sudah sangat tinggi dan kiranya tidak sembarang lawan
dapat mengalahkan mereka. Mereka merupakan pasangan yang amat hebat dengan ilmu pedang mereka.
dunia-kangouw.blogspot.com
Akan tetapi ternyata keduanya tidak dapat mendesak Li Eng, sungguh pun gadis ini harus mengaku bahwa
kini dia menghadapi dua lawan yang amat tangguh. Gadis itu mainkan senjatanya yang aneh secara cepat
dan yang hebat sekali adalah bahwa ilmu silatnya tak salah lagi adalah ilmu silat Hoa-san Kun-hoat!
Benar-benar penasaran bagi Kwa Tin Siong dan isterinya yang merupakan tokoh-tokoh pertama dari Hoasan-
pai. Mereka sekarang tak berdaya menghadapi seorang gadis yang juga mainkan ilmu silat Hoa-sanpai,
padahal gadis itu hanya bersenjatakan sehelai sabuk sutera!
Makin lama pertempuran itu berjalan makin seru, bahkan akhirnya menjadi pertandingan mati-matian. Pada
suatu saat, Kwa Tin Siong dan Sian Hwa dalam waktu yang sama menerjang sedemikian hebatnya
sehingga tak mungkin dapat dielakkan lagi oleh gadis itu.
Li Eng kaget dan berseru keras, tubuhnya mencelat ke belakang dan sabuk suteranya berkibar, seperti
kilat menyambar cepat sekali dan seperti kupu-kupu melayang indahnya, kedua ujung sabuk itu tahu-tahu
telah membelit kedua pedang di tangan Kwa Tin Siong dan Sian Hwa yang mengancamnya.
Gadis ini memegangi sabuk di tengah-tengah dan berada agak jauh sehingga suami isteri itu tak dapat
menyerangnya lagi dengan tangan kiri karena mereka tidak suka mengambil resiko pedang mereka
terampas. Ketiganya berdiri memasang kuda-kuda, mengerahkan tenaga dan terjadilah adu tenaga
memperebutkan pedang.
Li Eng mulai berpeluh. Tak kuat dia dikeroyok dua dalam adu tenaga ini. Wajahnya agak pucat. Jika ia
melepaskan libatan sabuknya, maka ia dapat terluka di dalam tubuhnya. Ia bertekad terus bertahan, akan
tetapi kedudukannya mulai bergerak dan terseret ke depan sedikit demi sedikit.
Keringat dingin mulai membasahi jidat yang halus itu. Akan tetapi sepasang mata yang jeli dan bening itu
sama sekali tidak memperlihatkan rasa takut sedikit pun juga.
"Li Eng, jangan kurang ajar!" terdengar bentakan suara wanita.
"Kwa-supek, maafkan anakku yang nakal!" terdengar pula suara seorang laki-laki.
Dua suara ini disusul dengan berkelebatnya dua sosok bayangan yang tahu-tahu sudah tiba di tempat
pertempuran dan langsung bayangan laki-laki itu maju menengahi. Kwa Tin Siong dan Liem Sian Hwa
merasa betapa tenaga mereka yang tadi dipersatukan untuk mempertahankan pedang masing-masing itu
seperti terlolos dan mencair, lenyap tak tentu sebabnya dan tahu-tahu pedang mereka telah terlepas dari
libatan sabuk sutera yang juga sudah ditarik kembali oleh Li Eng.
Ketika suami isteri ini memandang, dapat dibayangkan betapa heran, kaget dan girangnya hati mereka
karena yang sekarang berdiri di depan mereka ini bukan lain adalah Kui Lok dan Thio Bwee, dua orang
anak murid Hoa-san-pai yang dulu lenyap setelah terusir oleh Kwa Hong!
Kui Lok cepat-cepat menjatuhkan diri berlutut di hadapan paman guru dan bibi gurunya, sedangkan Thio
Bwee juga cepat menyeret tangan Li Eng kemudian ia sendiri bersama gadis itu pun berlutut di depan
suami isteri Ketua Hoa-san-pai.
Para tosu Hoa-san-pai yang juga mengenal Kui Lok dan Thio Bwee, menjadi gempar dan terdengarlah
seruan-seruan gembira disertai isak tertahan. Memang mengharukan sekali pertemuan itu.
Kwa Tin Siong segera memeluk Kui Lok sedangkan Liem Sian Hwa lalu merangkul Thio Bwee. Mereka
bertangisan. Hanya Li Eng gadis nakal itu yang sekarang berdiri bingung memandang kedua orang tuanya
yang berpelukan sambil bertangisan dengan dua orang Ketua Hoa-san-pai yang baru saja bertanding matimatian
dengannya.
"Ayah, Ibu... dia ini adalah Ketua Hoa-san-pai she Kwa!" akhirnya dia tak dapat menahan lagi hatinya,
menegur ayah bundanya.
Ibunya, Thio Bwee sudah dapat menetapkan hatinya dan melepaskan pelukan Liem Sian Hwa, bibi
gurunya. Dia memandang kepada puterinya dengan mata penuh teguran, lalu berkata, "Li Eng, tanpa
perkenan Ayahmu, mengapa kau berani lancang sampai ke sini dan mengacau Hoa-san-pai?" kemudian
nyonya ini memandang ke sekeliling, ke arah mayat-mayat manusia yang amat banyak, kemudian
suaranya makin bengis, "Kau telah mengacau dan membunuh orang-orang ini?"
dunia-kangouw.blogspot.com
"Aku... tidak, tidak, Ibu. Aku tidak membunuh siapa-siapa!" Li Eng menjawab cepat dan ketakutan, apa lagi
ketika melihat ayahnya pun memandangnya dengan wajah bengis. "Aku... aku keluar dari tempat kita dan
aku melihat serombongan orang di Im-kan-kok yang bicara mengenai maksud mereka menyerbu Hoa-sanpai.
Karena mereka berbicara tentang Ketua Hoa-san-pai pula, hatiku jadi tertarik dan aku lalu datang ke
sini untuk merampas kembali Hoa-san Po-kiam dari Ketua Hoa-san-pai dan membunuh orang she Kwa ini.
Bukankah orang she Kwa ini yang ayah ibu katakan jahat dan sudah merusak Hoa-san-pai?"
"Anak tolol, sama sekali bukan! Dia ini adalah paman guruku, dan yang itu adalah bibi guruku, sekaligus
juga paman guru dan bibi guru ibumu. Jadi kau masih terhitung cucu murid mereka. Hayo lekas berlutut
dan minta ampun!" kata Kui Lok.
Li Eng kaget sekali dan cepat ia menjatuhkan diri berlutut. "Kakek dan Nenek guru, aku Kui Li Eng mohon
ampun..."
Liem Sian Hwa menubruk cucu muridnya itu dan memeluknya. "Tidak kusangka-sangka aku mempunyai
cucu murid begini hebat..." katanya girang.
Kwa Tin Siong menarik napas panjang. "Sudahlah... sekarang aku tahu siapa yang dia maksudkan orang
she Kwa itu. Tentu Kwa Hong bukan?"
Kui Lok dan Thio Bwee hanya mengangguk.
Pada saat itu terdengar suara berseru, suara wanita, "Supek...!"
Semua orang memandang dan melihat orang berlari cepat ke puncak itu. Mereka ini bukan lain adalah
Thian Beng Tosu bersama dua orang wanita, yang seorang setengah tua dan yang kedua seorang gadis
yang cantik dan berpakaian sederhana. Melihat wanita setengah tua itu, Liem Sian Hwa segera lari
memapaki dan mereka berangkulan.
"Lee Giok... kau benar-benar telah membuat suamimu hidup menderita!"
Memang benar, wanita itu bukan lain adalah Lee Giok, isteri dari Thio Ki atau Thian Beng Tosu. Dan gadis
cantik sederhana itu adalah puterinya! Bagaimana mereka bisa muncul di saat itu bersama Thian Beng
Tosu? Untuk mengetahui hal ini marilah kita ikuti perjalanan Thian Beng Tosu beberapa saat yang lalu.
Telah diceritakan bagaimana Thian Beng Tosu berhasil mendesak musuh lamanya, yaitu Hek-houw Bhe
Lam. Kepala rampok ini melarikan diri dikejar oleh Thian Beng Tosu dan kejar-mengejar ini membawa
mereka turun dari puncak, hingga tiba di hutan tak jauh dari Im-kan-kok. Bhe Lam sudah terluka pangkal
lengannya, tetapi larinya masih cepat sekali. Betapa pun juga, karena Thian Beng Tosu lebih biasa di
tempat itu, setibanya di dalam hutan ini ia tersusul.
Tosu Hoa-san-pai ini membentak, "Hek-houw, percuma saja kau lari. Kejahatanmu sudah melampaui
takaran, hari ini kau harus tewas di tanganku!"
Hek-houw Bhe Lam yang tahu bahwa dia tak mungkin dapat melarikan diri lagi mendadak membalikkan
tubuhnya dan tangan kirinya bergerak. Belasan buah senjata piauw lantas melayang ke arah lawannya.
Namun Thian Beng Tosu sudah menduga akan hal ini, cepat memutar pedangnya menangkis.
Pada saat itu Hek-houw Bhe Lam bersuit ketika ia mengerahkan seluruh kepandaiannya untuk
menghadapi lawannya. Dengan perlahan namun pasti Thian Beng Tosu mendesak penjahat itu. Belasan
jurus kemudian Bhe Lam masih dapat bertahan, walau pun keadaan kepala rampok ini terdesak makin
hebat.
Akan tetapi tiba-tiba terdengar suitan dari dalam hutan dan tak lama kemudian muncullah tiga orang tinggi
besar yang segera menerjang Thian Beng Tosu dengan golok di tangan. Mereka ini adalah orang-orang
yang sengaja disuruh menjaga di situ oleh kepala rampok ini dan tadi ia memang sengaja memancing
Thian Beng Tosu memasuki hutan ini agar ia bisa mendapatkan bantuan tiga orang temannya.
Setelah tiga orang itu mengeroyok, keadaan menjadi terbalik. Sekarang tosu inilah yang terdesak dan
dihujani serangan dari kanan kiri, depan dan belakang. Ia mulai sibuk dan terpaksa hanya dapat
dunia-kangouw.blogspot.com
mempertahankan dirinya tanpa mampu balas menyerang. Keadaan Thian Beng Tosu benar-benar
berbahaya sekali dan Hek-houw Bhe Lam mulai mengejek serta mentertawakan.
Akan tetapi tiba-tlba terdengar bentakan nyaring dan seorang gadis muda yang cantik manis dengan
pakaiannya yang sederhana, diikuti oleh seorang wanita setengah tua yang berpakaian seperti seorang
pertapa tahu-tahu muncul dari balik pepohonan dan langsung kedua orang wanita itu menerjang empat
orang penjahat tadi. Hebat sekali permainan pedang gadis sederhana itu, akan tetapi lebih hebat
permainan silat wanita pertapa yang hanya memegang sebatang ranting kecil. Dalam beberapa gebrakan
saja empat orang penjahat itu telah terjungkal dalam keadaan terluka.
Gadis itu dengan gemas menggerakkan pedang hendak membunuh Hek-houw Bhe Lam, akan tetapi tibatiba
Thian Beng Tosu berseru, "Jangan bunuh!"
Gadis itu menahan pedangnya dan memandang kepada tosu Hoa-san-pai ini dengan sinar mata penuh
keharuan. Sebaliknya Thian Beng Tosu dan wanita pertapa ini berdiri seperti patung dan saling pandang
seperti terkena pesona.
"Lee Giok... kau Lee Giok..." bibir Thian Beng Tosu bergerak-gerak mengeluarkan bisikan.
Wanita pertapa itu meramkan kedua matanya dan menitiklah air mata pada kedua pipinya yang masih
segar kemerahan. Memang benar ia adalah Lee Giok, isteri Thian Beng Tosu!
"Dan dia ini...?" lagi-lagi Thian Beng Tosu berkata amat perlahan sambil menoleh ke arah gadis cantik
yang gagah perkasa itu.
"...dia Hui Cu... anak kita...," terdengar wanita pertapa itu berkata.
Mendengar ini, gadis itu yang bernama Thio Hui Cu, segera menjatuhkan diri berlutut di depan Thian Beng
Tosu sambil berkata, "Ayah...!"
Tosu ini membungkuk dan meraba kepala anaknya, air matanya bercucuran, kemudian ia menarik bangun
anaknya, memandangi sampai lama sekali lalu berdongak ke atas dan berkata, "Siancai... Tuhan Maha
Adil... siapa sangka aku akan dapat bertemu dengan kalian dalam keadaan selamat? Ya Tuhan, terima
kasih atas kemurahan-Mu..."
Setelah keharuan mereka mereda, Lee Giok berkata, "Dia ini... bukankah dia penjahat Bhe Lam yang
dahulu itu?"
Baru sekarang Thian Beng Tosu teringat akan empat orang penjahat yang masih berada di situ karena
tidak berani melarikan diri. "Betul, dan mereka inilah yang menjadi lantaran pertemuan kita. Karena itu,
biarlah kita ampunkan mereka. Bhe Lam, sekali lagi kami mengampunimu, harap saja kau dapat sadar dan
insyaf bahwa menyimpang dari jalan kebenaran bukanlah hal yang akan dapat menyelamatkan dirimu.
Nah, lekas pergilah dan semoga Thian akan memberi bimbingan kepada jiwamu."
Dengan malu sekali, juga merasa bersyukur karena kembali dia diampuni, Bhe Lam dan teman-temannya
pergi terpincang-pincang. Setelah mereka pergi, suami isteri dan anak mereka ini saling berpandangan,
penuh kebahagiaan dan penuh keharuan.
"Kau... selama ini di manakah? Kenapa tidak kembali ke Hoa-san mencariku?"
Dalam pertanyaan yang halus ini sama sekali tidak terkandung suara penyesalan, namun cukup membuat
Lee Giok kembali mengucurkan air mata.
"Bagaimana aku berani? Aku... aku... telah ternoda oleh si jahat Giam Kin. Baiknya ada Adik Hong yang
menolongku... dan aku lari ke sini, aku... aku bersembunyi dalam hutan, bertapa... kemudian mendidik
anak kita ini... aku telah mengambil keputusan tidak akan menggangumu kecuali kau yang mendapatkan
aku. Siapa duga... kau bertempur dengan mereka itu dan... dan... ahhh, kenapa kau sekarang telah
menjadi tosu?"
Thian Beng Tosu tersenyum, kemudian dengan penuh kebahagiaan ia memegang tangan isterinya di
tangan kanan, tangan Hui Ci di tangan kiri.
dunia-kangouw.blogspot.com
"Dan kau sendiri? Kau pun menjadi seorang tokouw (pendeta perempuan). Bagus sekali! Ternyata bukan
aku saja yang sudah menemukan jalan benar, juga kau, isteriku Lee Giok, sekarang tinggal kita
mendoakan saja demi kebahagiaan hidup anak kita. Marilah ikut aku ke puncak menemui Supek. Tahukah
kau bahwa sekarang yang menjadi ketua adalah Supek Kwa Tin Siong?"
Dengan penuh kegembiraan Thian Beng Tosu bersama anak dan isterinya lalu menuju ke Puncak Hoasan.
Di tengah perjalanan mereka saling menceritakan pengalaman mereka yang pahit dan penuh
penderitaan. Dapat dibayangkan betapa kebahagiaan ini menjadi makin berlimpah ketika mereka tiba di
tempat pertempuran tadi melihat bahwa Kui Lok dan Thio Bwee berada pula di situ, malah Li Eng gadis
nakal yang lihai itu ternyata adalah puteri mereka!
Hujan tangis terjadi pada saat Thian Beng Tosu muncul bersama Lee Giok dan Hui Cu. Segera Kwa Tin
Siong memerintahkan para murid untuk mengurus mayat-mayat itu dan merawat mereka yang terluka. Dia
sendiri dengan perasaan duka bercampur suka ria mengajak para murid Hoa-san-pai itu masuk ke dalam
kuil.
Akan tetapi tiba-tiba Liem Sian Hwa berkata dengan kaget, "Ehh, di mana Kun Hong?"
Beberapa orang tosu menjawab bahwa mereka tadi melihat Kun Hong berlari pergi dari tempat itu, turun
dari puncak. Ketika para tosu hendak mencegah dan memberi tahu bahwa mungkin ada orang jahat di
lereng gunung, Kun Hong malah marah-marah dan membentak mereka.
"Jangan bicara padaku, kalian semua juga jahat, pembunuh-pembunuh kejam. Aku tidak sudi lagi tinggal di
sini!"
Tentu saja Liem Sian Hwa berkuatir sekali. Akan tetapi Kwa Tin Siong yang sekarang merasa betapa
puteranya itu amat lemah dan tak dapat dibandingkan dengan Li Eng atau Hui Cu yang biar pun
merupakan anak-anak perempuan akan tetapi memiliki kegagahan, segera berkata,
"Biarkanlah, memang sudah tiba waktunya bagi dia untuk meluaskan pengalaman ke bawah gunung. Kalau
sudah banyak menghadapi kesukaran, baru ia menjadi dewasa dan dia tentu akan kembali ke sini." Ia pun
mencegah dan menghibur isterinya yang tadinya bermaksud untuk mengejar dan mencari puteranya.
Sian Hwa sendiri karena merasa malu kalau harus memperlihatkan kelemahan puteranya dan juga
kelemahannya sendiri yang terlalu menguatirkan seorang anak laki-laki, terpaksa menurut walau pun
hatinya penuh kegelisahan.
Mereka semua lalu masuk ke dalam kuil dan menceritakan pengalaman masing-masing. Yang membuat
Ketua Hoa-san-pai ini girang dan bangga sekali adalah ketika mendengar bahwa Kui Lok dan Thio Bwee
kini telah mewarisi ilmu kepandaian yang ditinggalkan oleh Lian Ti Tojin sehingga tingkat kepandaian dua
orang murid keponakan ini jauh melampaui tingkatnya sendiri. Hal ini berarti memperkuat kedudukan Hoasan-
pai.
Keluarga besar keturunan Lian Bu Tojin ini sekarang telah berkumpul di Hoa-san-pai. Dan dengan adanya
mereka, kiranya tidak akan ada sembarang orang yang berani mengacau Hoa-san-pai lagi…..
********************
Hati Kun Hong penuh kedukaan dan kemarahan. Sama sekali di luar dugaannya bahwa ayah bundanya,
juga para tosu Hoa-san-pai yang setiap hari belajar tentang kebajikan, sekarang berubah menjadi
pembunuh-pembunuh yang amat kejam menurut pendapatnya. Puluhan orang manusia dibunuh di puncak
Hoa-san.
"Aku tidak mau melihat mereka lagi, aku tidak sudi lagi kembali ke Hoa-san-pai!" demikian hatinya menjerit
penuh kengerian saat di depan matanya terbayang mayat-mayat manusia yang menggeletak tumpangtindih
itu. Celaka, pikirnya. Ayahnya, ibunya dan semua tosu Hoa-san-pai tentu akan ditangkap dan
dimasukkan penjara!
Biar pun ia, tidak pernah belajar ilmu silat, namun Kun Hong memang pada dasarnya memiliki tubuh yang
sehat kuat dan berkat kemauannya yang luar biasa kokoh kuatnya, ia tidak merasakan kelelahan kedua
kakinya. Ia berlari terus menuruni puncak. Maksudnya hendak mencari dusun terdekat untuk menemui
dunia-kangouw.blogspot.com
kepala dusun dan melaporkan mengenai pertempuran di puncak itu, Biarlah yang berwajib yang
mengurusnya, tetapi ia tidak akan kembali ke sana, pikirnya.
Tiba-tiba ia melihat orang berjalan terhuyung-huyung, mengeluh lalu roboh tak jauh dari tempat ia berdiri.
Cepat Kun Hong lari menghampiri dan kagetlah ia ketika melihat bahwa orang itu tak lain adalah Toat-beng
Yok-mo, kakek bongkok yang tadi ia lihat mengamuk di Puncak Hoa-san.
Hatinya memang penuh welas asih. Melihat kakek itu luka-luka di pundak dan lambung, mengucurkan
darah, ia segera berlutut dan bertanya, "Toat-beng Yok-mo, kau kenapa?"
Kakek itu mengeluh dan membuka matanya, kelihatan kesakitan sekali. Ketika ia melihat Kun Hong,
sekejap ia kelihatan kaget, akan tetapi kemudian terheran-heran.
"Lekas... tolong kau ambilkan bumbung (tabung bambu) dalam buntalanku di punggung ini... lekas... dan
hati-hati, jangan sampai menyentuh tanganku...," katanya dengan suara terengah-engah.
Kun Hong melihat ke arah kedua tangan kakek itu dan bergidik ngeri. Kedua tangan kakek itu sudah
menghitam seperti hangus terbakar dan teringatlah ia akan racun hebat yang mengakibatkan kematian
tosu Hoa-san-pai dan kemudian karena dipegang oleh Bu Tosu mengakibatkan hal yang amat mengerikan.
Ingin ia lari pergi menjauhi kakek yang seperti iblis ini, akan tetapi melihat orang tua itu terluka dan berada
dalam keadaan payah sekali, hatinya tidak tega. Ia lalu menurunkan bungkusan dari punggung kakek itu
dan membukanya. Di antara bungkusan-bungkusan obat dan pakaian, ia mengambil sebatang bambu
besar dan pendek yang disumbat kayu dan tabung itu diberi lubang untuk hawa, seperti tempat jangkerik
akan tetapi tabung itu besar.
"Inikah bumbung itu?" tanyanya.
"Betul, buka sumbatnya dan keluarkan isinya. Hati-hati, katak putih hijau ini jangan sampai terlepas. Kau
peganglah erat-erat!" Toat-beng Yok-mo berkata tergesa-gesa dan sinar kegembiraan terpancar keluar dari
sepasang matanya yang tadi nampak sayu dan penuh kegelisahan.
"Katak?" kata Kun Hong terheran-heran sambil membuka sumbatnya dan tiba-tiba seekor katak yang besar
dan berkulit seperti salju meloncat keluar dari tabung itu.
"Wah, terlepas...!" kata Kun Hong.
"Goblok kau! Celaka... lekas tangkap, jangan sampai hilang. Kalau dia hilang aku mati...!"
Mendengar ucapan ini Kun Hong menjadi pucat, lalu ia mengejar katak itu sampai jatuh bangun. Ini urusan
nyawa orang, pikirnya.
Katak itu tidak begitu cepat gerakannya, akan tetapi selambat-lambatnya katak, ia pandai melompat
sehingga tiap kali Kun Hong menubruk, katak itu melompat membuat pemuda itu terpaksa mengejar lagi
dan menubruk lagi sampai jatuh bangun dan pakaiannya kotor semua. Akan tetapi akhirnya dapat juga ia
menangkap katak itu.
Biar pun pakaiannya kotor semua dan kedua lengannya babak-belur tertusuk duri, namun Kun Hong girang
sekali karena dapat menangkap kembali katak itu. Pemuda ini segera lari kepada Toat-beng Yok-mo
sambil membawa katak itu.
"Sudah dapat kutangkap kembali, Yok-mo," katanya girang.
Keadaan Toat-beng Yok-mo makin payah, napasnya terengah-engah. "Lekas... dekatkan katak itu ke
mulutku..."
Kedua tangan yang hangus itu tidak dapat digerakkan lagi. Kun Hong mendekatkan katak itu ke mulut Yokmo
dengan heran karena tidak tahu apa yang dimaksudkan. Akan tetapi alangkah herannya ketika dia
melihat kakek itu membuka mulut dan... menggigit kaki belakang katak itu sampai mengucurkan darah
yang lalu dihisap!
"Eh... ehh, kau mau makan katak hidup ini?" teriaknya heran dan mencoba untuk menarik katak itu.
dunia-kangouw.blogspot.com
Akan tetapi tiba-tiba kaki Yok-mo bergerak menendang dan tubuh Kun Hong mencelat jauh. Pemuda ini
merayap bangun dan bersungut-sungut.
"Kau memang jahat! Katak tidak berdosa kau gigit dan kau juga menendangku!"
Akan tetapi ia melihat keanehan setelah kakek itu minum darah katak. Kedua tangannya yang tadinya
hangus itu cepat sekali pulih kembali dan lenyaplah warna hitam tadi. Tak lama kemudian kakek itu
mengambil katak dari mulutnya, memasukkannya kembali ke dalam tabung dan... tertidurlah kakek itu
mengorok enak sekali!
Kun Hong adalah seorang yang cerdik. Melihat ini tahulah ia bahwa darah katak itu adalah obat yang amat
mujarab bagi racun hitam. Ia ingin sekali bertanya karena merasa tertarik bukan main. Akan tetapi karena
kakek itu tertidur nyenyak, ia tidak mau mengganggunya dan perhatiannya segera tertarik oleh tiga jilid
kitab yang terletak di dalam bungkusan kakek itu yang masih terbuka.
Segera ia mendekati, kemudian mengambil buku-buku itu. Ternyata itu adalah kitab-kitab pengobatan.
Kitab pertama berjudul ‘SELAKSA MACAM OBAT’, dan kitab kedua berjudul ‘SELAKSA MACAM CARA
PENGOBATAN’ sedangkan yang ketiga berjudul ‘RAHASIA PEREDARAN DARAH DALAM TUBUH’.
Kun Hong adalah seorang kutu buku. Melihat kitab sama dengan orang kelaparan melihat roti. Dengan
lahapnya ia lalu membuka kitab-kitab itu dan membacanya. Yang dibukanya adalah kitab rahasia tentang
peredaran darah dalam tubuh.
Biar pun pusing kepalanya membaca huruf-huruf kuno dengan gambar tentang perjalanan darah disertai
ribuan macam istilah yang asing baginya, tetapi karena nafsunya membaca amat luar biasa, ia memaksa
diri membaca terus.
Setengah hari Yok-mo tidur nyenyak dan setengah hari pula Kun Hong membaca kitab itu. Sekarang dia
baru mengerti bahwa peredaran darah erat sekali hubungannya dengan pernapasan dan bahwa
pernapasan menjadi sumber dari tenaga dalam di tubuh manusia. Asyik sekali ia membaca dan mulai
banyaklah hal-hal menarik dalam kitab itu, terutama pengertian tentang keadaan tubuh yang berhubungan
dengan cara pengobatan.
"Aduh... keparat... pundak dan lambungku panas sekali..."
Tiba-tiba saja suara ini membangunkannya dari alam mimpi yang amat menarik hati. Akan tetapi ia segera
mengerti bahwa yang mengeluh itu adalah Toat-beng Yok-mo, maka ia tidak mempedulikan dan
melanjutkan bacaannya.
"Uh... uhh... sakit dan panas... heee! Jangan baca kitab-kitabku!”
Kun Hong menutup buku itu dan meletakkannya dalam bungkusan, lalu menoleh. Kakek itu masih rebah
telentang, nampak lemah dan kesakitan. Ia cepat menghampiri.
"Bagaimana, Yok-mo? Sudah sembuhkah tanganmu?"
Tiba-tiba tangan kakek itu bergerak dan tahu-tahu pergelangan tangan Kun Hong sudah dicengkeram eraterat.
Pemuda ini merasa tangannya amat kesakitan. Ia mencoba untuk melepaskan cengkeraman itu,
namun tak berhasil.
"Ehh, kau ini ada apakah? Lepaskan tanganku!" teriak Kun Hong sambil terus mencoba menarik
tangannya.
"Tak boleh kau membaca kitab-kitabku!"
"Baca saja apa salahnya, sih? Kalau kau tidak membolehkannya, aku pun tidak memaksa. Hemm,
tanganmu panas sekali, lepaskan aku."
Yok-mo melepaskan pegangannya. Dia mengeluh lagi dan berkata dengan napas sesak, "Luka-lukaku...
mengakibatkan demam panas... lekas kau carikan daun pohon sari darah, akar buah ular dan cacing
hitam..."
dunia-kangouw.blogspot.com
Kun Hong menjadi bingung. "Ke mana aku mencari? Dan yang bagaimanakah macamnya daun dan akar
serta cacing yang kau sebutkan itu?"
"Ah... benar juga... kau mana tahu? Celaka..., selain demam aku pun... banyak kehilangan darah... ahh,
kau tolonglah aku, orang muda..."
Kun Hong merasa kasihan sekali. Ia meraba jidat kakek itu dan ternyata panas sekali. "Ah, Yok-mo, aku
benar-benar ingin sekali menolongmu. Akan tetapi bagaimana caranya? Jika hanya mencarikan obat-obat
yang kau sebutkan tadi aku tentu mau, akan tetapi aku tidak tahu..."
"Tak usah kau mencari... kau antarkan saja aku... ke tempat tinggalku... di sana terdapat segala obat yang
kubutuhkan..."
"Mengantar kau kembali ke tempat tinggalmu? Tentu, boleh saja. Mari kuantar kau..." jawab Kun Hong
cepat.
Tentu saja pemuda yang berwatak jujur ini tidak tahu akan maksud kakek itu sebenarnya. Toat-beng Yokmo
maklum bahwa dalam keadaan terluka seperti sekarang ini, kalau dia sampai bertemu dengan musuhmusuhnya,
dalam hal ini orang-orang Hoa-san-pai, tentu ia akan celaka dan tidak dapat melakukan
perlawanan. Dengan membawa Kun Hong di dekatnya, ia dapat rnempergunakan pemuda ini sebagai
jaminan untuk keselamatannya!
"Kau baik sekali... uhh... uhhh..." Ia mencoba berdiri akan tetapi kepalanya terasa pusing dan terguling
kembali.
"Bagaimana? Apakah kau tidak bisa jalan...?" tanya Kun Hong kuatir dan penuh perasaan iba.
Sebagai seorang cerdik yang sudah banyak pengalaman, Toat-beng Yok-mo sudah dapat menyelami
watak Kun Hong, maka kembali ia sengaja mengeluh dan mengaduh untuk memperdalam perasaan iba di
hati pemuda itu.
Kemudian, dengan suara bisik-bisik seperti orang yang amat payah keadaannya, ia pun berkata, "Aku...
aku tidak bisa jalan... berdiri pun tidak kuat... ah, anak yang baik... kalau kau kasihan kepada aku orang
tua... kau gendonglah aku..."
Kun Hong benar-benar sudah tergerak hatinya dan merasa amat kasihan kepada kakek itu. "Baiklah, Yokmo,
kau akan kugendong."
Ia lalu membungkus kembali bawaan kakek itu dan mengikatnya di punggung Toat-beng Yok-mo, setelah
itu lalu menggendong kakek ini di punggungnya sendiri dan berjalan ke arah yang ditunjuk oleh Toat-beng
Yok-mo! Kun Hong bertubuh kuat dan bertenaga besar, maka menggendong tubuh yang kecil kering dan
tua itu tidaklah sukar baginya. Akan tetapi karena tubuhnya tidak terlatih dan tidak biasa bekerja berat,
perjalanan mereka ini berlangsung lambat sekali dan sering kali terpaksa beristirahat.
Diam-diam Toat-beng Yok-mo terheran-heran mengapa Ketua Hoa-san-pai yang gagah itu mempunyai
seorang putera yang begini tidak ada gunanya. Karena ia membutuhkan bantuan Kun Hong untuk
menggendongnya dan dijadikan jaminan akan keselamatannya, maka pada waktu istirahat ini dia mengajar
Kun Hong cara berduduk diam (bersemedhi), mengatur pernapasan untuk memperkuat daya tahan tubuh
sehingga membuat pemuda ini lebih tahan berjalan jauh.
"Toat-beng Yok-mo, aku sudah membaca kitab-kitabmu biar pun hanya sedikit, dan aku tertarik sekali. Baik
sekali memiliki kepandaian untuk mengobati orang sakit. Kalau kau suka mengajarku dalam ilmu
pengobatan, aku suka menjadi muridmu."
Diam-diam kakek ini menyeringai. Dia sudah mengambil keputusan hendak membawa kepandaiannya
sampai mati, tidak akan ia turunkan kepada siapa pun juga. Kecuali kalau ada murid yang suka berjanji
bahwa murid itu akan membunuh setiap orang yang sudah diobatinya. Akan tetapi ia tahu pula bahwa
pemuda ini tak mungkin mau menerima syarat itu, maka ia berpura-pura.
dunia-kangouw.blogspot.com
"Kau anak baik sekali, tentu saja aku suka menerima kau menjadi muridku. Dan kau tahu, pelajaran
semedhi dan mengatur napas yang kuajarkan ini adalah tingkat pertama dari ilmu pengobatan. Maka kau
berlatihlah baik-baik setiap kali kita beristirahat."
Oleh karena kurang pengalaman, Kun Hong mempercayai omongan ini. Dan betul saja, ia berlatih giat
sekali di waktu beristirahat dan di waktu malam. Ia sama sekali tidak tahu bahwa kakek itu melatih ia
semedhi dan mengatur pernapasan agar badannya kuat dan tahan lebih lama melakukan perjalanan jauh
itu sambil menggendong!
Baiknya kakek itu ternyata mempunyai simpanan banyak emas dalam buntalan sehingga untuk makan dan
menyewa rumah penginapan bukan soal yang sulit lagi bagi mereka. Sebetulnya, setelah makan obat yang
dibeli di kota yang mereka lalui, kakek itu sakitnya sudah banyak mendingan dan sudah kuat berjalan lagi.
Akan tetapi, kesehatannya belum pulih semua dan andai kata ia bertemu lawan tangguh, ia masih belum
sanggup melawan. Maka untuk membuat Kun Hong sungkan meninggalkannya, ia berpura-pura masih
tidak kuat jalan dan membiarkan pemuda itu terus menggendongnya sepanjang jalan!
Pada suatu hari, menjelang tengah hari yang panas bukan main, Kun Hong dan Yok-mo beristirahat di
sebuah hutan yang amat liar. Mereka sudah tiba di daerah lembah Sungai Huai di mana banyak sekali
terdapat hutan-hutan lebat dan gunung-gunung yang masih liar. Daerah ini sudah dekat dengan tempat
tinggal Toat-beng Yok-mo, yaitu di pusat gerombolan Ngo-lian-kauw yang dikepalai oleh Kim-thouw Thianli.
Karena merasa bahwa dia sudah berada di daerah sendiri dan sekarang tidak mungkin kiranya orangorang
Hoa-san-pai bisa mengejarnya, Yok-mo mengambil keputusan untuk mencabut nyawa pemuda yang
selama ini mengantar dan menggendongnya. Ia tidak lagi memerlukan pemuda ini, baik sebagai pengantar
mau pun sebagai jaminan.
Sesungguhnya dalam beberapa hari ini ia sudah merasa bosan sekali digendong oleh pemuda yang tidak
dapat berjalan cepat itu. Andai kata ia melakukan perjalanan sendiri, dengan ilmunya berlari cepat, kiranya
ia sudah sampai di rumahnya. Semata-mata untuk menjamin keselamatannya belaka maka ia terpaksa
membiarkan dirinya digendong oleh Kun Hong.
Melihat betapa pemuda ini sekarang sedang tekun duduk bersila, mengumpulkan panca inderanya dan
mengatur pernapasan, kakek ini tersenyum menyeringai. Diam-diam dia harus mengakui bahwa pemuda
ini sesungguhnya memiliki tulang bersih dan bakat yang amat baik, pula amat cerdas sehingga sekali
membaca atau mendengar sudah hafal dan tak akan melupakannya lagi.
"He, Kun Hong... bangunlah jangan tidur saja!" ia menegur.
Kun Hong membuka matanya. Ia terheran-heran melihat kakek itu duduk bersandar pohon seperti
biasanya sambil tersenyum-senyum aneh.
"Yok-mo, aku tidak tidur, melainkan melatih semedhi seperti biasa. Latihan ini baik sekali, aku merasa
sehat dan kuat semenjak berlatih. Kitabmu itu benar-benar mengandung pelajaran pengobatan yang luar
biasa."
"Heh-heh-heh, apa kau ingin membaca lagi?"
Wajah Kun Hong nampak kecewa. "Semenjak pertemuan kita dahulu kau sudah tahu jelas bahwa tidak ada
keinginan lain padaku kecuali membaca tiga kitabmu itu. Tapi kau selalu melarang."
"Heh-heh-heh, kau benar-benar ingin membacanya? Kun Hong, kau sudah melepas budi kepadaku,
merawat dan mengantarkan aku sampai sini. Jika sekarang aku membolehkan kau membaca ketiga
kitabku, apakah aku boleh menganggap budimu itu sudah terbalas dan sudah lunas?"
Kun Hong memang seorang yang berwatak polos dan bersih. Ia menolong kakek itu tanpa pamrih apa-apa,
tanpa mengharap balasan malah sama sekali tidak ada ingatan dalam hatinya bahwa ia telah melepas budi
kepada orang.
Mendengar kakek itu membolehkan ia membaca kitab-kitab itu, ia menjadi girang sekali dan berkata,
"Terima kasih, Yok-mo, kau baik sekali!"
dunia-kangouw.blogspot.com
Tanpa mempedulikan yang lain-lain lagi ia lalu membuka buntalan yang ditaruh di bawah pohon, lalu
mengeluarkan ketiga kitab itu dan segera ia mulai membaca. Belum lama ia membaca, tiba-tiba terdengar
suara melengking tinggi yang menggetarkan isi hutan itu.
Kun Hong terkejut sekali dan lebih-lebih herannya ketika dia melihat kakek bongkok itu sudah berdiri
dengan tongkat di tangan, memandang ke depan dengan mata terbelalak. Keheranannya ini bercampur
rasa girang karena kalau kakek itu sudah dapat berdiri, berarti kesehatannya sudah mulai pulih.
Akan tetapi segera ia terkejut sekali melihat cahaya kuning emas menyambar turun dari atas, tidak jauh
dari tempat itu. Seekor burung yang sangat besar meluncur turun untuk menyusup ke dalam semaksemak.
Akan tetapi burung itu cepat sekali gerakannya, dan tahu-tahu seekor kelinci sudah dapat
dicengkeramnya. Akan tetapi, sebelum burung itu dapat terbang kembali, dengan satu kali melompat saja
Toat-beng Yok-mo sudah berada di dekatnya.
"Rajawali emas! Bagus sekali... aku harus dapat menangkap burung ini!" sambil berkata demikian kakek itu
menerjang dengan kedua tangan terpentang, siap menangkap burung besar itu.
Akan tetapi alangkah kagetnya ketika burung itu tiba-tiba menggerakkan sayap kanannya menghantam ke
arah kepalanya. Yok-mo cepat mengelak akan tetapi tahu-tahu tubuhnya sudah terpukul oleh sayap kiri
burung itu yang ternyata menggunakan cara penyerangan yang aneh sehingga kelihatannya sayap kanan
yang menampar, tidak tahunya sayap kiri yang betul-betul bergerak.
Akan tetapi Yok-mo adalah orang yang memiliki kepandaian tinggi. Pukulan itu membuat tubuhnya
terpental akan tetapi tidak melukainya. Ia cepat meloncat bangun dan sepasang matanya bersinar-sinar.
"Hebat...! Inilah kim-tiauw (rajawali emas) yang jarang ada bandingannya! Jantung dan otaknya akan
menjadi bahan obat kuat yang mukjijat!" Ia melompat lagi dan kembali ia menyerang.
Burung itu agaknya menjadi marah dan anehnya, ia tidak mau terbang pergi. Bahkan kini dia melepaskan
bangkai kelinci tadi dan berdiri tegak, seperti seorang pendekar yang siap menghadapi datangnya
penyerangan lawan.
Toat-beng Yok-mo dengan hati-hati sekali menerjang maju, siap untuk mencengkeram leher burung itu
sambil memperhatikan gerakan binatang ini, agar jangan tertipu seperti tadi. Ia sengaja memukul ke arah
dada burung dengan tangan kiri, sedangkan tangan kanannya mencengkeram ke arah leher. Hebat sekali
serangannya ini.
Akan tetapi kembali ia melengak ketika melihat betapa dengan langkah-langkah kaki yang amat aneh,
diikuti gerakan kedua sayapnya, burung itu telah dapat mengelakkan kedua serangannya ini dengan
sangat mudahnya. Malah bukan sekedar mengelak, burung itu dengan kecepatan yang luar biasa sudah
menggerakkan kepala dan mematuk mata kiri Toat-beng Yok-mo!
"Celaka...!"
Yok-mo cepat melompat ke kanan. Tetapi gerakannya belum cepat karena kesehatannya memang belum
pulih benar-benar. Kagetnya bukan kepalang melihat penyerangan yang lebih dahsyat dari pada tusukan
pedang itu. Akan tetapi, sekali lagi ia tertipu karena begitu ia melompat ke kanan, burung itu menarik
kembali kepalanya dan kaki kirinya bergerak ke depan menendang.
Sekali lagi tubuh kakek itu terlempar, kali ini malah bergulingan seperti seekor trenggiling! Hebatnya,
gerakan kaki burung itu persis sekali dengan tendangan kaki manusia, dan digerakkan secara cepat serta
mengandung tenaga yang amat kuat.
Yok-mo mengeluh dan merangkak bangun. Bermacam perasaan mengaduk di hatinya ketika ia
memandang kepada burung itu dengan mata terbelalak. Heran, kaget dan marah sekali.
Sudah bertahun-tahun dia ingin mendapatkan seekor burung seperti ini, burung rajawali emas yang jarang
sekali terdapat di dunia ini dan hanya muncul dalam dongeng-dongeng kuno. Menurut pengetahuannya
tentang ilmu pengobatan, jantung burung rajawali emas dapat dibuat menjadi obat penguat tubuh yang luar
biasa sedangkan otak burung itu dapat dibuat menjadi bahan obat terhadap bermacam-macam luka
berbisa.
dunia-kangouw.blogspot.com
Sekarang, tanpa terduga-duga olehnya, dia bertemu burung ini. Akan tetapi siapa sangka bahwa burung ini
ternyata bukanlah burung biasa, gerakan-gerakannya hebat sekali bagai seorang ahli silat kelas tinggi!
Betapa pun juga, Yok-mo menjadi penasaran. Ia masih belum mau kalah. Mungkin karena tubuhnya masih
belum pulih benar maka tenaganya berkurang dan kecepatannya pun tak seperti biasanya sehingga dua
kali dia dibikin roboh oleh burung itu. Sekarang dia telah mengeluarkan tongkatnya, tongkat hitam yang
selama ini dia sembunyikan saja di balik bajunya. Dengan kemarahan meluap-luap kakek ini lalu melompat
maju dan menyerang burung itu dengan tongkat hitamnya.
Aneh sekali, burung itu agaknya tahu akan keampuhan tongkat hitam itu. Ia mengeluarkan bunyi
melengking lalu terbang dan dari atas dia menyambar kepala Toat-beng Yok-mo. Kakek ini sudah siap
sedia, cepat mengelak dan membalas dengan tusukan tongkatnya. Burung ini ternyata merasa gentar
menghadapi tongkat hitam itu sehingga serangannya selalu gagal karena ia harus mengelak dari sambaran
tongkat yang ampuh itu.
Pertempuran itu menjadi seru sekali. Burung itu menang gesit, tapi dengan mengandalkan tongkatnya yang
ditakuti lawannya, Yok-mo dapat mempertahankan dirinya, malah dapat balas menyerang dengan hebat.
Sementara itu, semenjak tadi Kun Hong melongo. Kagumnya bukan main melihat burung yang indah
sekali, dengan bulu mengkilap berwarna kuning keemasan itu. Segera saja ia merasa suka dan sayang
kepada binatang itu. Lebih-lebih kagumnya pada saat ia melihat betapa burung itu dengan mudah dapat
membuat Toat-beng Yok-mo yang berkepandaian tinggi itu terguling-guling.
Pemuda ini sebetulnya mempunyai rasa kagum dan suka akan kegagahan sungguh pun ia benci sekali
terhadap pembunuhan dan penyiksaan. Baginya, kegagahan seharusnya dipergunakan untuk menegakkan
keadilan tanpa melakukan pembunuhan, cukup dengan mengalahkan yang jahat dan memaksanya
kembali ke jalan benar.
Melihat burung indah itu mengalahkan Yok-mo, ia merasa kagum sekali. Akan tetapi rasa kekagumannya
itu berubah menjadi kekuatiran besar saat Yok-mo mengeluarkan tongkat hitamnya yang mengerikan dan
terjadi pertempuran seru antara dua lawan yang memiliki gerakan cepat sehingga membuat ia bingung
memandangnya itu.
Karena tadi Kun Hong terpesona oleh keindahan burung dan sekarang menjadi bingung menyaksikan
pertempuran mati-matian itu, tanpa disadari tiga jilid kitab yang dipegangnya itu ia masukkan dalam saku
bajunya yang lebar. Ia lalu berdiri dan menyambar tabung bambu terisi katak putih. Hanya itulah yang akan
dapat mengobati luka mengerikan yang diakibatkan oleh tongkat hitam itu, pikirnya.
Sambil membawa tabung itu dia lalu berlari sambil berteriak, "Jangan bunuh burung itu, Yok-mo! Sayang
sekali kalau sampai ia terluka...!"
Setelah dekat dengan tempat pertempuran, Kun Hong semakin suka dan kagum melihat burung itu yang
memang indah luar biasa. Juga ia melihat adanya sebuah kalung mutiara tergantung di leher burung itu.
Maka tahulah ia bahwa burung ini tentulah ada yang punya, tentu burung peliharaan orang.
"Yok-mo, jangan bunuh dia, tentu ada pemiliknya. Lihat kalung itu!"
Tentu saja Toat-beng Yok-mo sudah melihat kalung mutiara besar-besar yang tergantung di leher burung
itu pula. Akan tetapi sudah tentu saja dia tidak ambil peduli. Ada yang punya atau tidak, burung ini harus ia
tangkap, ia bunuh untuk diambil jantung dan otaknya. Ia memperhebat permainan tongkatnya dan semakin
lama ia bersilat, ia merasa bahwa kekuatannya mulai pulih kembali.
Burung itu pun mulai menjadi marah sekali. Apa lagi ketika ia meiihat Kun Hong datang berlari-lari,
dianggapnya bahwa tentu ia akan dikeroyok. Ia memekik keras dan menerjang Yok-mo dengan serbuan
yang dahsyat sekali.
Yok-mo juga kaget, tak menduga bahwa burung itu dapat melakukan serangan demikian hebatnya. Dalam
kegugupannya melihat sepasang sayap berikut sepasang cakar serta sebuah paruh yang kuat dan runcing
itu sekaligus menyerangnya, Yok-mo cepat memutar tongkatnya untuk melindungi diri. Akan tetapi, secara
aneh sekali cakar kiri burung itu dapat menyelinap di antara gulungan sinar tongkatnya dan mencengkeram
ke arah muka Yok-mo.
dunia-kangouw.blogspot.com
"Mati aku...!" Yok-mo berteriak kaget dan ia menjadi nekat.
Ia menarik tongkatnya itu lalu ia tusukkan ke arah kaki berkuku runcing mengerikan yang hendak
mencengkeram mukanya. Tepat sekali ujung tongkatnya menusuk telapak kaki burung itu. Akan tetapi,
pada saat itu pula sayap kanan burung itu menghantam kepala dan pundaknya.
"Blukkk!"
Tubuh Toat-beng Yok-mo terlempar jauh dan kakek ini lantas roboh pingsan. Bukan main hebatnya
hantaman sayap tadi yang akan dapat menghancurkan kepala seekor harimau.
Burung itu menjerit-jerit kesakitan dan anehnya, kaki kirinya menjadi putih sekali seperti kaki mati. Dalam
kesakitan itu ia menjadi makin marah dan segera ia melompat ke arah tubuh Yok-mo.
"Hee... jangan... dia sudah kalah, jangan kau serang lagi!" Kun Hong berteriak mencegah sambil
menghadang di antara Yok-mo dan burung itu.
Kebetulan sekali tadi tubuh Yok-mo terlempar ke arahnya sehingga ia dapat mendahului burung itu dan
menghadang di tengah jalan sambil mengacungkan tabung bambu untuk menakuti.
Akan tetapi burung itu mana takut terhadap Kun Hong? Ia memekik keras dan menerjang. Sebelum Kun
Hong tahu apa yang terjadi, dia merasa tubuhnya melayang ke atas dan kiranya baju pada punggungnya
telah dicengkeram oleh kaki kanan burung itu dan dibawa terbang tinggi!
Dulu, di waktu ia dikerek oleh Li Eng ke atas sebatang pohon tinggi, ia sudah ketakutan sekali. Sekarang ia
dibawa terbang jauh lebih tinggi lagi di atas pohon-pohon yang paling tinggi, bagaimana ia tidak akan
ketakutan setengah mati? Melihat pohon-pohon yang ada di bawahnya makin lama makin kecil, Kun Hong
berteriak-teriak.
"Heee... lepaskan aku... ehh, jangan lepas… jangan lepas! Kau... turunkanlah aku, burung yang baik..."
Akan tetapi jawaban burung itu hanya memekik-mekik marah dan kesakitan. Mendengar ini, Kun Hong
teringat bahwa burung itu terluka kaki kirinya. Ia memandang dan melihat betapa kaki kiri burung itu
berubah putih semua, seputih kukunya. Ia teringat akan tabung yang masih dipegangnya. Cepat ia
membuka sumbat tabung itu dan berkata,
"Kau terluka oleh tongkat Yok-mo, lekas kau minumlah sedikit darah katak putih di dalam tabung ini..."
Baru saja dia berkata demikian, dia melihat bayangan putih melompat keluar dari dalam tabung. Kun Hong
kaget sekali sampai tabung kosong itu terlepas dari tangannya.
"Celaka... dia terlepas lagi..."
Akan tetapi burung itu segera berbunyi nyaring. Tubuhnya menyambar ke depan sampai Kun Hong merasa
matanya berkunang karena tubuhnya sendiri pun terbawa melayang cepat ke depan. Dengan paruhnya
yang runcing dan terbuka lebar, burung itu mematuk katak yang tadi melompat keluar dari dalam tabung,
kemudian langsung menelan katak itu sehingga binatang kecil itu lenyap ke dalam perutnya!
Kembali ia melengking girang sampai berkali-kali. Tiba-tiba ia melepaskan cengkeraman kakinya pada baju
Kun Hong. Setelah dilepaskan, tentu saja tubuh pemuda ini melayang ke bawah dengan kecepatan yang
membuat ia merasa makin ketakutan.
"Waah...!" teriaknya ketika makin lama semakin cepatlah tubuhnya meluncur ke bawah, disambut pohonpohon
yang makin membesar dan kelihatan mengerikan sekali.
Tiba-tiba Kun Hong yang sudah setengah pingsan itu merasa tubuhnya terapung lagi ke atas, tertahan
luncurannya ke bawah tadi. Kiranya burung itu sudah menangkapnya lagi dan mencengkeram bajunya
dengan tepat.
Kemudian perlahan-lahan burung itu melayang turun dan sesampainya di atas tanah ia melepaskan Kun
Hong. Kun Hong yang tadinya sudah ketakutan dan tidak mengharapkan akan dapat hidup lagi, serta
merta memeluk burung itu.
dunia-kangouw.blogspot.com
"Kim-tiauw-heng (Kakak Rajawali Emas) yang baik, kau telah menolong nyawaku. Terima kasih!" Ia
menjura di depan burung itu seolah-olah ia sedang berhadapan dengan seorang manusia!
Aneh sekali! Burung itu mengeluarkan bunyi mencicit dan... segera berlutut kemudian mendekam di depan
Kun Hong. Ketika pemuda ini dengan terheran-heran melihat dengan teliti, ternyata bahwa kaki kiri burung
itu sudah pulih menjadi merah seperti sedia kala. Ia menengok ke kanan kiri mencari-cari, akan tetapi
ternyata Toat-beng Yok-mo telah lenyap bersama tongkat dan buntalan pakaiannya.
"Dia sudah dapat berjalan sendiri, mengapa selama ini menipu?" Gemas juga kalau ia teringat betapa
setiap hari ia harus menggendong kakek itu yang sebetulnya malah lebih kuat dari padanya.
"Kim-tiauw-heng, kau datang dari manakah? Aku suka sekali kepadamu, kau baik dan mengenal budi
orang, tidak seperti Toat-beng Yok-mo yang hati dan pikirannya penuh terisi kehendak jahat. Kim-tiauwheng,
kau tentu milik seorang gagah, siapakah pemilikmu dan di mana tempat tinggalmu?"
Burung itu mengeluarkan bunyi mencicit lagi, kemudian dia maju mendekati Kun Hong. Dengan lehernya
yang berbulu halus dan hangat itu ia membelai leher Kun Hong, lalu ia berlutut dan dari belakang
menyelinapkan kepalanya di bawah kedua kaki pemuda itu. Dengan begini maka Kun Hong duduk pada
punggungnya, lalu burung itu menggerakkan kedua sayapnya membawa Kun Hong terbang lagi!
"Heee... bagaimana ini... aduh, aku bisa jatuh...!” Kun Hong panik lagi dan ketakutan.
Akan tetapi karena burung itu terbang perlahan dan tubuhnya sama sekali tak bergoyang, Kun Hong
akhirnya dapat duduk dengan enak. Ia mulai menyesuaikan, malah ia segera berpegang pada kalung yang
melingkari leher burung itu. Makin lama burung itu terbang makin tinggi, berputaran di atas hutan itu dan
makin memuncak pula ketakutan Kun Hong.
Akan tetapi segera ia tertarik oleh pemandangan di bawah dan tak terasa lagi mulutnya berseru
kegirangan. "Aduh... bagus sekali, betapa indahnya pemandangan alam di bawah itu. Hee, hati-hati Kimtiauw-
heng, jangan sampai aku jatuh!"
Demikianlah, di antara rasa takut dan rasa girang serta kekaguman melihat keindahan pemandangan di
bawah, Kun Hong tak berdaya membiarkan dirinya dibawa terbang oleh burung rajawali emas yang aneh
itu.
Mudah saja diduga burung apakah yang telah membawa terbang Kun Hong itu. Memang dugaan Toatbeng
Yok-mo tidak keliru bahwa burung seperti itu tak ada dicari keduanya di dunia ini. Burung itu bukan
lain adalah burung rajawali emas sakti, yang pernah kita kenal sebagai burung tunggangan Kwa Hong,
juga burung yang secara tidak langsung menjadi guru dari Kwa Hong.
Seperti telah kita ketahui bahwa tujuh belas tahun yang lalu, pada saat Kwa Hong untuk penghabisan kali
mendatangi Hoa-san-pai dan hendak membunuh Thio Ki, dia bertemu muka dengan ayahnya, Kwa Tin
Siong sehingga hampir saja ia tewas karena membiarkan dirinya diserang oleh ayahnya yang marah itu.
Burung rajawali emas menolongnya dan membawanya pergi, kembali ke tempat ia semula tinggal, yaitu di
puncak Pegunungan Lu-liang-san. Semenjak itu, Kwa Hong tidak berani lagi memperlihatkan mukanya di
dunia ramai.
Ketika ia pergi ke Hoa-san itu, ia pun meninggalkan puteranya yang baru berusia setahun dalam asuhan
seorang inang pengasuh yang ia dapatkan dari penduduk di kaki Gunung Lu-liang-san. Semenjak saat itu,
Kwa Hong berdiam di Lu-liang-san, jauh dari keramaian dunia dan agaknya sudah tak mau mengurus
persoalan duniawi lagi. Semua perhatiannya ia tumpahkan kepada puteranya yang ia beri nama Sin Lee.
Betapa pun juga, wanita ini belum juga dapat melupakan cinta kasih terhadap Beng San berikut perasaan
iri hati dan cemburu terhadap wanita yang telah berhasil menjadi isteri kekasihnya itu. Oleh karena ini pula
ia tekun mendidik puteranya itu yang semenjak kecil sudah dilatihnya dengan ilmu silat sehingga semenjak
kecilnya Sin Lee menjadi seorang anak laki-laki yang bertubuh kuat dan bertenaga besar.
Sudah menjadi sifat pembawaan bahwa anak laki-laki lebih nakal dari pada anak-anak perempuan karena
anak laki-laki pada umumnya lebih bandel dan lebih berani. Kenakalan anak laki-laki bisa dikendalikan oleh
dunia-kangouw.blogspot.com
perhatian orang tuanya yang mendidik dan menuntun agar kebandelan dan keberanian ini menjurus
kepada kebenaran.
Akan tetapi Kwa Hong yang mendidik anaknya seorang diri tanpa disertai suami, hanya mencurahkan
perhatian kepada ilmu silat saja, malah terlalu memanjakan puteranya. Hal inilah kiranya yang menjadi
sebab hingga Sin Lee menjadi seorang anak yang luar biasa nakalnya, luar biasa berani dan nekatnya.
Tidak ada orang di dunia ini yang ditakutinya, dan satu-satunya orang yang kiranya akan ia takuti, yaitu
ibunya, terlalu menyayangnya sehingga ia menjadi seorang anak yang tak kenal takut lagi.
Anak yang masih kecil ini kalau tidak bermain-main dengan burung rajawali emas, tentu pergi jauh ke
bawah gunung dan bermain-main dengan anak-anak penduduk di situ. Dan sebentar saja semua anak
sudah takut kepadanya karena siapa yang tidak mau menuruti kehendaknya tentu dipukulnya. Bahkan
setelah ia berusia sepuluh tahun, tak seorang pun laki-laki dewasa berani menentangnya. Kalau ada yang
menentang, biar orang tua akan ia pukul.
Mula-mula, pada waktu ia masih belum kuat benar, orang-orang itu takut mengganggunya karena takut
kepada Toanio (Nyonya besar) yang tinggal di puncak. Akan tetapi setelah Sin Lee menjadi seorang anak
yang benar-benar memiliki kepandaian silat yang hebat, orang-orang takut kepadanya karena memang
takut dipukuli oleh anak yang luar biasa itu.
Sudah terlalu sering Sin Lee membuat gara-gara. Apa bila tidak memukul orang, ia tentu menyerang
kampung lain yang belum dikenalnya dan memaksa orang-orang kampung itu mengakui dia sebagai
‘jagoan cllik’ yang tak terkalahkan!
Pada suatu hari ia malah membikin ribut di sebuah kelenteng yang berada di kaki gunung sebelah timur.
Kelenteng tua ini hanya ditinggali oleh lima orang hwesio dan menjadi tempat sembahyang para penduduk
kampung di sekitar kaki Gunung Lu-liang-san.
Lima orang hwesio ini hidup dengan aman dan tenteram. Setiap hari mereka bekerja di ladang, menanam
sayur-sayuran atau buah-buahan untuk bahan makanan mereka dan melayani setiap keperluan
bersembahyang dari penduduk.
Karena tidak ada pekerjaan lain, maka tanaman sayuran mereka terpelihara baik dan ladang sayuran
hwesio-hwesio itu terkenal sebagai ladang sayuran yang paling subur dan menghasilkan sayur-sayuran
pilihan.
Pada suatu hati yang cerah, seorang hwesio tinggi besar tengah bekerja di ladang sayur itu dengan wajah
berseru gembira. Betapa tidak? Ladang itu ditumbuhi bermacam-macam sayur yang sangat subur, juga
buah labu yang sudah dekat masanya dipetik, besar-besar dan gemuk-gemuk menyenangkan. Hwesio itu
tengah bekerja mencabuti rumput liar yang mengganggu kesuburan tanaman.
Tiba-tiba serombongan anak-anak berusia antara sepuluh sampai tiga belas tahun, semua laki-laki, muncul
dari lereng gunung. Jumlah mereka ada sekitar lima belas orang dan kelihatannya nakal-nakal. Setelah
dekat dengan ladang itu, kemudian terdengar mereka berteriak-teriak.
"Losuhu, minta labunya!"
"Losuhu, berilah kami seorang satu!"
Simpang siur anak-anak itu berteriak-teriak sambil tertawa-tawa.
Hwesio tinggi besar itu bangkit berdiri menoleh dan dengan muka sabar ia tersenyum lalu menjawab,
"Belum waktunya, anak-anak. Labu-labu ini belum waktunya dipetik.. Nanti apa bila pinceng panen labu,
tentu selebihnya pinceng bagi-bagikan kepada orang tua kalian, sudahlah, main-main ke sana, jangan
mengganggu pinceng yang sedang bekerja."
Seperti telah diatur sebelumnya, anak-anak itu segera berteriak-teriak.
"Hwesio pelit!"
"Hwesio medit, kikir!"
dunia-kangouw.blogspot.com
Hwesio itu diam saja, tidak ambil peduli dan mulai bekerja lagi mencabuti rumput-rumput liar. Anak-anak itu
makin berani, malah ada yang memaki-makinya.
"Kalau malam babi-babi hutan mengambil labu kau diam saja, tapi kalau kami yang minta tidak diberi.
Dasar hwesio busuk!" terdengar suara seorang anak.
Hwesio itu kembali berdiri. Keningnya berkerut ketika ia memandang kumpulan anak-anak nakal itu.
"Hemmm, karena mereka itu babi hutan termasuk golongan binatang maka mereka tidak mengenal aturan
dan makan apa saja yang ada karena mereka lapar. Akan tetapi kalian adalah anak manusia, mengerti
aturan. Apakah kalian mau jika pinceng samakan dengan anak-anak babi hutan?"
"Ahh.. hwesio pelit. Banyak alasan untuk menutupi kepelitannya!" anak-anak itu ribut-ribut lagi, mengejek
dan memaki.
Sesabar-sabarnya orang, namun menghadapi ejekan dan makian anak-anak ini memang merupakan ujian
berat. Jarang sekali ada orang mampu mempertahankan kesabarannya.
Hwesio itu mulai membelalakkan kedua matanya. Akan tetapi karena ia masih ingat akan kesabaran, maka
ia pun bertanya, "Anak-anak, kalian minta labu untuk apakah? Apakah kalian lapar dan hendak
memakannya?"
"Aku mau yang bundar untuk main bola!"
"Aku yang panjang untuk bikin kereta!"
Hwesio itu menjadi marah. "Enak saja kalian bicara! Pinceng menanam sayur dan labu untuk bahan
makan, bukan untuk main-main. Hayo kalian pergi, tidak boleh minta labu!"
Kembali anak-anak itu memaki-maki, tetapi hwesio itu tidak mempedulikan mereka lagi, malah melanjutkan
pekerjaannya. Sekarang ia ke ladang sayur-sayuran untuk memeriksa kalau-kalau sayur-sayurnya
dihinggapi ulat. Kesempatan ini dipergunakan oleh anak-anak nakal itu untuk menyerbu ladang dan
mengambil labu yang besar-besar.
"Ehh, anak-anak nakal, kalian tiada bedanya dengan babi hutan!"
Hwesio itu melompat dan menampar anak-anak yang dekat dengannya. Anak-anak itu berteriak-teriak, ada
yang menangis dan mereka berserabutan lari.
"Kalian perlu dihajar supaya kelak tidak menjadi manusia-manusia berwatak babi hutan!" hwesio itu masih
memaki sambil menempiling anak-anak yang terdekat.
Pada waktu itu, sesosok bayangan berkelebat di belakangnya dibarengi bentakan suara anak-anak,
"Hwesio gundul, berani kau memukuli teman-temanku?"
Hwesio itu kaget sekali. Akan tetapi ia tak sempat membalikkan tubuhnya sebab tiba-tiba bayangan yang
ternyata adalah Sin Lee anak berusia sepuluh tahun itu sudah menampar kepalanya yang gundul. Walau
pun hanya tamparan seorang anak kecil, namun karena tamparan itu menggunakan gerakan ilmu silat dan
tangan anak itu semenjak kecil sudah terlatih, hwesio ini menjadi pening dan terhuyung-huyung lalu roboh
tertelungkup.
Sin Lee berseru girang dan menindih tubuh hwesio yang tertelungkup di atas tanah itu dan memukulinya.
Malah ia berteriak-teriak, "Kawan-kawan, hayo kalian hajar hwesio ini!"
Anak-anak yang tadi berlari serabutan, sekarang dengan girang lalu datang dan dengan tangan-tangan
kecil mereka anak-anak itu memukuli tubuh dan kepala hwesio tadi! Tentu saja hwesio yang bertubuh kuat
dan memiliki kepandaian silat itu tak merasakan pukulan anak-anak itu. Akan tetapi pukulan yang jatuh
oleh tangan Sin Lee benar-benar membuat ia luka-luka parah juga sehingga membuat ia pingsan.
"Omitohud... anak-anak, jangan nakal!" tiba-tiba terdengar bentakan halus.
dunia-kangouw.blogspot.com
Nampak seorang hwesio tua menggerakkan dua lengan bajunya ke arah anak-anak yang memukuli hwesio
tinggi besar tadi. Lima orang anak langsung terlempar, kemudian jatuh bergulingan. Mereka menangis, lalu
semua orang anak itu berlari pergi.
Hwesio tua itu terheran-heran melihat seorang anak kecil tidak bergeming oleh sambaran lengan bajunya
tadi, malah sekarang anak itu sudah meloncat bangun dan berdiri tegak di depannya dengan mata
bersinar-sinar marah!
"Hwesio tua! berani kau memukul teman-temanku? Tidak malukah kau? Aturan mana yang membolehkan
orang tua seperti kau ini memukul anak-anak kecil?"
Diam-diam hwesio tua itu tertegun. Ucapan anak nakal berusia antara sepuluh tahun ini tidak patut keluar
dari mulut seorang anak sekecil ini. Dan melihat keadaan muridnya yang pingsan itu sudah dapat diduga
bahwa tentulah anak ini yang merobohkannya. Diam-diam ia heran dan kagum.
Jika anak sekecil ini bisa mengeluarkan kata-kata seperti itu, apa lagi dapat merobohkan muridnya, sudah
dapat dipastikan bahwa anak ini bukanlah anak sembarangan dan kalau bukan putera tentulah murid
seorang pandai. Maka berhati-hatilah kakek itu dan sambil tersenyum sabar ia bertanya,
"Ehh, anak yang baik, kalau kau bilang bahwa seorang kakek seperti pinceng memberi penghajaran
kepada anak-anak nakal adalah tidak menurut aturan, apakah kau bersama teman-temanmu yang
menyerang dan memukul seorang hwesio sampai pingsan ini juga termasuk aturan benar?"
"Tentu saja benar! Tadi hwesio ini tidak mau memberi labu kepada anak-anak dan ketika anak-anak
mengambil sendiri, malah dia pukul."
Kembali hwesio tua itu melengak. Memang amat tidak patut apa bila anak-anak kecil itu mengeroyok dan
memukuli muridnya, akan tetapi lebih keterlaluan lagi kalau muridnya itu yang telah menjadi hwesio,
berurusan dengan anak-anak kecil saja tak mampu menahan nafsu dan menggunakan tangan memukul.
Dia menarik napas panjang memandang muridnya. Sebagai seorang ahli silat yang sudah matang
kepandaiannya, ia mengerti bahwa biar pun mukanya matang biru dan kepalanya benjol-benjol, muridnya
itu hanya terluka di luar saja dan tidak berbahaya.
"Sudahlah, jika betul murid pinceng ini yang salah, pinceng yang memintakan maaf. Kau pergilah."
"Tidak bisa!" Sin Lee membantah. "Kau pun tadi sudah mempergunakan kepandaianmu memukul temantemanku.
Kau mengandalkan kegagahan sendiri, apa kaukira aku takut?"
Merah muka kakek itu. Anak ini benar-benar aneh dan liar silatnya.
"Hemm... hemmm... kalau begitu kau mau apakah?"
"Aku harus balas memukulmu."
"Begitu? Kau benar-benar nekat. Nah, kau boleh coba pukul kalau bisa, anak bandel."
Sin Lee mengeluarkan pekik nyaring dan tubuhnya seperti seekor burung saja menerjang maju. Dua
kepalannya yang kecil memukul bertubi-tubi dari kanan kiri, sulit diketahui yang mana yang betul-betul
memukul dan sementara itu, kedua kakinya menendang-nendang.
"Omitohud..." hwesio tua itu menyebut nama Buddha saking merasa kagum dan heran serta kagetnya.
Akan tetapi sekali mengibaskan ujung lengan bajunya saja tubuh Sin Lee terguling seperti tertiup angin
puyuh. Sebentar Sin Lee nanar, akan tetapi dia segera merangkak bangun. Ia kembali menyerang, malah
lebih hebat dari pada tadi. Akan tetapi kembali ia terguling, bahkan lebih hebat lagi.
Beberapa kali ia bangun dan menyerang lagi, akan tetapi semakin keras ia menyerang, semakin keras pula
ia roboh sehingga akhirnya ia menyerah. Ia maklum bahwa ia tidak mampu menandingi kakek tua itu, maka
tanpa banyak cakap lagi ia bangun setelah agak lama ia nanar, lalu membalikkan tubuh dan pergi dari situ.
"Hee... anak yang aneh, kau tunggu dulu, aku hendak bicara denganmu!" Hwesio tua itu mengejar.
dunia-kangouw.blogspot.com
Tiba-tiba Sin Lee membalikkan tubuh, sikapnya angkuh dan matanya berapi.
"Aku sudah kalah, kenapa kau masih banyak cerewet lagi?" Setelah berkata demikian ia mengeluarkan
bunyi melengking keras.
Pada saat itu juga dari udara terdengar bunyi lengking yang lebih nyaring lagi dan seekor burung
menyambar turun seperti kilat menyambar. Sin Lee meloncat ke atas punggung burung itu yang segera
terbang meninggi, meninggalkan kakek tua itu yang masih berdiri terlongong di bawah.
"Omitohud... apakah itu yang oleh orang-orang disebut kim-tiauw milik orang sakti yang dipanggil toanio
dan anak itu, kiranya puteranya... benarkah di dunia ada hal seaneh dan sehebat ini...?” Ia menarik nafas
berulang-ulang dan diam-diam dia menguatirkan bahwa kelak di dunia kang-ouw pasti akan muncul
seorang tokoh luar biasa, yaitu bocah tadi.
“Semoga ia tidak tersesat..." demikian doanya.
Betapa pun juga nakalnya, Sin Lee memiliki watak gagah yang jarang terdapat dalam diri anak kecil
berusia sepuluh tahun. Contohnya, kekalahan terhadap hwesio tua itu sama sekali tidak ia beri tahukan
kepada ibunya. Ia tidak mendendam malah tidak ada dalam pikirannya sama sekali pada waktu itu untuk
minta bantuan burungnya. Juga ia tidak mau minta ibunya supaya membalaskan kekalahannya.
Banyak sekali kenakalan dilakukan oleh Sin Lee, akan tetapi semenjak kekalahannya oleh kakek itu, ia
mendapat pengalaman pahit sekali. Belum pernah ia mengalami kekalahan dalam perkelahian, maka
semenjak ia kalah oleh kakek tua itu, ia makin tekun belajar ilmu silat dari ibunya. Tentu saja Kwa Hong
yang tidak menyangka sesuatu, menjadi gembira sekali dan menurunkan seluruh kepandaiannya.
Watak keras yang dulu dimiliki Kwa Hong kiranya menurun pula kepada Sin Lee, malah lebih hebat lagi.
Ketika ia berusia enam belas tahun, Sin Lee melakukan perbuatan yang amat merugikan dia sendiri dan
ibunya.
Sudah menjadi kebiasaan binatang peliharaan, sekali-kali tentu ingin bebas lepas tak ingin terganggu.
Demikian pula burung rajawali emas. Meski pun kelihatan amat setia kepada Kwa Hong dan Sin Lee,
namun ada kalanya burung ini terbang pergi sampai beberapa hari tidak kembali. Mungkin burung ini
terbang untuk pergi mencari teman-temannya, atau mungkin juga mencari mangsa di tempat-tempat jauh.
Ini hanya dugaan Kwa Hong dan Sin Lee saja. Padahal sebenarnya burung itu sering kali pergi pulang ke
tempat asalnya, yaitu di puncak sebuah gunung yang tak pernah didatangi manusia, tempat di mana ia
tinggal sebelum ia bertemu dengan Kwa Hong dan kemudian dipeliharanya.
Pada suatu hari, seperti sudah sering kali tejadi, Sin Lee marah-marah karena rajawali itu tidak pulang.
Sudah hampir sebulan rajawali itu tidak pulang dan telah payah pula Sin Lee mencari ke dalam hutanhutan,
bersuit-suit memanggil tanpa ada jawaban.
Pemuda berusia enam belas tahun ini sampai tak enak makan tak enak tidur memikirkan burungnya. Dan
ia menjadi marah bukan main ketika pada suatu pagi, burung itu datang!
"Keparat, kau benar-benar menggemaskan!" kata Sin Lee yang menyambut kedatangan burungnya.
Tanpa banyak pikir lagi ia lalu... mencabuti bulu-bulu sayap burung itu. Bukan sekali-kali ia bermaksud
untuk menyiksa, melainkan saking marahnya ia bermaksud untuk menghukum burung itu agar burung itu
tidak mampu terbang lagi.
Burung adalah seekor binatang biasa. Kalau ia dibaiki tentu ia akan membalas kebaikan itu dengan
kesetiaan. Akan tetapi kalau ia disakiti, siapa pun yang melakukannya tentu akan dilawannya.
Sekali dua kali bulunya dicabut ia diam saja, hanya memekik-mekik. Akan tetapi setelah Sin Lee terus saja
mencabuti bulunya, ia menjadi marah dan menampar. Pemuda itu yang tidak menduga akan ditampar,
terlempar tubuhnya.
"Setan, kau menantang berkelahi?”
dunia-kangouw.blogspot.com
Bagi Sin Lee, siapa pun yang menantangnya berkelahi pasti akan dilayani. Kemarahannya memuncak
ketika burung yang ia anggap bersalah dan hendak ia hukum itu malah berani menyerangnya.
"Kita lihat siapa yang akan menang! Kalau aku kalah, aku tidak akan mencabuti bulumu, akan tetapi kalau
kau yang kalah, tidak hanya sayapmu, malah ekormu akan kucabut habis untuk hukumanmu!" Kemudian ia
menerjang maju, menyerang burungnya.
Sudah menjadi kebiasaan Kwa Hong di waktu Sin Lee masih kecil untuk melatih anaknya itu bertempur
melawan rajawali, akan tetapi dalam latihan ini rajawali emas tak bertempur sungguh-sungguh. Betapa pun
juga, makin besar anak itu, semakin hebat kepandaiannya dan akhirnya dalam setiap latihan, akhirnya
burung itulah yang kalah. Sin Lee pun tidak mau menyakitinya, apa lagi membunuhnya, cukup dia
dianggap menang kalau ia dapat menangkap leher burung dalam kempitannya membuat burung itu tak
mampu bergerak lagi.
Akan tetapi sekarang keduanya berhadapan sebagai lawan yang sungguh-sungguh akan bertempur. Sin
Lee dalam kemarahannya hendak menghukum burung yang dianggapnya jahat itu, sebaliknya rajawali
emas itu dengan nalurinya merasa bahwa pemuda ini hendak berbuat jahat kepadanya, hendak
menyakitinya, maka ia pun tidak mau main-main lagi.
Melihat penyerangan hebat dari Sin Lee, burung rajawali emas itu pun cepat mengelak dan mengibaskan
sayapnya. Biar pun burung itu sudah termasuk berusia tua, akan tetapi tenaganya tidak berkurang
semenjak dahulu. Kibasan sayapnya memiliki tenaga ratusan kati.
Sin Lee yang melihat tamparan sayap ini pun maklum bahwa burungnya tidak main-main, maka ia menjadi
makin marah. Cepat tubuhnya berkelebat mengelak dan dengan keras ia memukul kepala binatang itu.
Gerakan rajawali emas tetap gesit. Serangan itu dapat ia elakkan pula dan dibalasnya dengan
tendangannya yang biasanya hebat sekali. Namun Sin Lee yang sudah hafal akan semua gerakan
burungnya, dapat menghindar.
Terjadilah pertandingan yang bukan main serunya. Tubuh burung dan manusia itu sama berkelebatan
sampai tidak kelihatan lagi, hanya tampak gulungan sinar kuning emas dan bayangan-bayangan yang
menjadi satu. Debu mengebul tinggi dan daun-daun pohon di dekat tempat pertandingan itu bergerakgerak
bagaikan tertiup angin, malah daun-daun yang sudah menguning pada rontok berhamburan.
Sejam lebih mereka bertempur, akhirnya burung itu harus mengakui keunggulan Sin Lee. Dua kali dadanya
terkena pukulan dan segenggam bulu di lehernya sudah copot karena cengkeraman pemuda itu. Sambil
mengeluarkan keluhan panjang burung itu lalu terbang pergi. Ia tidak mau turun kembali, biar pun dipanggil
dan dimaki-maki oleh Sin Lee.
Kwa Hong menyesal sekali setelah mendengar tentang pertempuran ini. Dia mendapat kenyataan bahwa
kali ini burung rajawali itu benar-benar tak mau pulang ke Lu-liang-san. Akan tetapi Sin Lee tidak pernah
memperlihatkan rasa sesalnya.
"Bila dia tidak mau lagi ikut kita, kenapa kita harus menyesal? Biarlah dia tidak kembali lagi, tidak apa-apa."
"Lee-ji, kenapa kau berkata begini? Burung itu sudah belasan tahun ikut dengan aku, aku sayang padanya
dan... ah, bukankah kalau ada dia mudah sekali kita hendak pergi ke mana-mana? Dia adalah seekor
binatang tunggangan yang jarang ada keduanya di dunia ini."
"Aku masih mempunyai kedua kakiku, kalau tidak ada dia, aku dapat pergi ke mana saja dengan jalan kaki.
Ibu, bukankah ibu sering kali mengatakan bahwa hidup di dunia ini terutama sekali harus mengandalkan
diri sendiri dan tidak boleh bersandar kepada orang lain?"
Kwa Hong telalu menyayangi puteranya, maka dia pun tidak tega untuk memarahinya. Diam-diam ia girang
karena anaknya ini ternyata mendapatkan kemajuan pesat sehingga burung rajawali emas yang tidak
mudah dikalahkan orang itu akhirnya kalah juga ketika menghadapi puteranya. Maka, ia kemudian lebih
tekun menggembleng Sin Lee sehingga akhirnya dia sendiri dengan pedang di tangan kanan dan cambuk
anak panah di tangan kiri tidak mampu menandingi pedang puteranya, lebih dari lima puluh jurus!
Usia Sin Lee sudah delapan belas tahun ketika Kwa Hong membuka rahasia hatinya yang terpendam
selama belasan tahun ini.
dunia-kangouw.blogspot.com
"Lee-ji puteraku sayang, kau sekarang telah mewarisi semua kepandaian ibumu, dan kau sudah terlalu
besar untuk tinggal terus di puncak gunung ini. Sudah tiba waktunya kau harus turun gunung memperluas
pengetahuan dan... mencari jodoh."
"Aku tidak inginkan jodoh!" Sin Lee memotong cepat dengan kedua pipinya kemerahan.
Ibunya memandang penuh kasih, dengan mata berseri-seri sambil tersenyum. Alangkah tampan
puteranya, melampaui Beng San! Teringat Beng San, jantungnya berdebaran dan terbayanglah semua
peristiwa yang lalu dan perasaannya menjadi panas.
"Dengar, puteraku. Dulu kau sering kali menanyakan ayahmu dan selalu kujawab bahwa ayahmu telah
mati. Itu memang benar, akan tetapi baru sekarang hendak kuceritakan kepadamu sebab kematian
ayahmu."
Sin Lee segera memandang ibunya dan mendengarkan penuh perhatian. Sejak kecil dia merasa berduka
dan kecewa sekali mendengar bahwa ayahnya telah mati.
"Apakah sebab kematian ayahku, Ibu?" tanyanya mendesak.
Kwa Hong menarik napas panjang berulang-ulang, agaknya berat hendak mengeluarkan kata-kata.
Akhirnya ia bicara dengan suara serak.
"Anakku..., ayahmu she Tan jadi namamu Tan Sin Lee. Ada pun kematian ayahmu tidak sewajarnya,
melainkan dibunuh orang."
Tldak ada reaksi apa-apa pada pemuda itu. Memang Sin Lee aneh orangnya. Ia tidak bisa menaruh hati
dendam karena selama ia hidup di gunung itu ia tidak pernah menghadapi sesuatu dan segala peristiwa
yang menimpa siapa pun juga ia anggap sudah sewajarnya, pasti ada sebab menjadikan peristiwa itu.
Umpamanya ketika ia kalah oleh hwesio tua, ia anggap hal itu terjadi karena ia memang kalah pandai dan
habis perkara. Ia tidak menaruh dendam. Dan kini, mendengar ayahnya mati dibunuh orang, otomatis ia
menganggap bahwa ayahnya dibunuh akibat kalah dalam pertempuran, jadi menurut pendapatnya,
ayahnya yang bersalah mengapa sampai kalah!
"Banyak orang yang membunuh ayahmu. Pertama-tama adalah seorang lelaki bernama... Tan Beng San!"
ia berhenti sebentar dan menahan air matanya, memandang puteranya.
Sin Lee kelihatan mengerutkan keningnya karena terheran-heran. "Dia pun she Tan, Ibu? Bukankah orang
yang sama she-nya itu berarti masih keluarga?"
"Tidak... tidak... banyak orang she-nya sama tapi bukan apa-apa," jawab Kwa Hong cepat.
"Hemmm, lalu siapa lagi, Ibu?"
"Orang ke dua adalah seorang wanita bernama Cia Li Cu, isteri dari Tan Beng San itu."
Ia memang sudah mendengar bahwa Beng San sudah menikah dengan Li Cu, maka dia menyebut nama
wanita yang dibencinya karena iri hati dan cemburu ini.
"Ada pun orang ke tiga... dia adalah Song-bun-kwi Kwee Lun. Nah, tiga orang itulah yang telah membunuh
ayahmu dan yang membuat ibumu hidup menderita. Kau harus mencari mereka. Kau bunuhlah Cia Li Cu
dan Song-bun-kwi Kwee Lun, tapi... kau jangan bunuh Tan Beng San, kau tangkap saja dan kau seret dia
ke sini!"
Sin Lee memandang ibunya dengan mata membelalak, "Kenapa, Ibu? Kenapa aku harus membunuh
mereka? Mereka tidak mempunyai urusan apa-apa denganku."
Kwa Hong balas memandang dengan marah. "Apa?! Kau tidak mau mewakili ibumu untuk membalas sakit
hati? Percuma sajakah aku mempunyai seorang anak laki-laki seperti kau, hidup menderita untukmu dan
menurunkan semua kepandaianku untukmu?"
dunia-kangouw.blogspot.com
Sin Lee cepat-cepat memeluk ibunya yang telah menangis. "Sudahlah, Ibu. Sama sekali bukan begitu
maksudku. Aku hanya menyatakan isi hatiku bahwa aku tidak mempunyai permusuhan dengan mereka.
Akan tetapi jika Ibu memerintah anakmu ini, biar pun harus melawan naga berapi akan kujalani.
Terangkanlah maksud Ibu bagaimana, anak akan segera melaksanakan semua kehendakmu."
Dengan terharu dan girang Kwa Hong memeluk puteranya, lalu berkata dengan sungguh-sungguh.
"Tugas yang kuserahkan kepadamu ini bukanlah tugas ringan, Anakku. Tiga orang yang kusebut-sebut tadi
adalah orang-orang yang mempunyai kepandaian luar biasa tingginya. Song-bun-kwi Kwee Lun adalah
seorang kakek sakti yang kepandaiannya dahsyat sekali. Dia terkenal dengan ilmu pedangnya Yang-sin
Kiam-sut dan suling tangisnya yang dapat melumpuhkan semangat lawan. Dahulu, Song-bun-kwi Kwee
Lun ini adalah tokoh nomor satu dari barat. Nah, kau harus cari orang ini di puncak Min-san, bunuhlah dia
karena dia telah menjadi sebab rusaknya kehidupan ibumu," sambil berkata demikian, dengan gemas Kwa
Hong mengenangkan Bi Goat yang dianggap telah merampas cinta kasih Beng San.
Sekarang Bi Goat sudah meninggal dunia, maka ia anggap sudah semestinya kalau dia menyuruh
puteranya membunuh kakek itu. Padahal ia mempunyai maksud lain dengan perintah ini. Ia tahu bahwa
putera Bi Goat diambil oleh Song-bun-kwi maka mencari kakek itu berarti mencari putera Bi Goat dan Beng
San!
"Kalau kau sudah bertemu dengan kakek itu, selain dia kau harus pula membinasakan seorang pemuda
sebaya engkau yang menjadi cucunya atau putera seorang wanita bernama Bi Goat."
Sin Lee mengerutkan keningnya, di dalam hatinya sebetulnya ia tidak setuju dengan tugas membunuhbunuhi
orang yang sama sekali tak dikenalnya itu. Akan tetapi ia tidak mau mengecewakan hati ibunya,
orang yang amat dikasihinya itu.
"Hemmm, jadi kakek itu tinggal di Min-san, Ibu? Lalu yang lain-lain itu tinggal di mana?"
"Orang yang harus kau bunuh lagi adalah Cia Li Cu. Kau harus sangat berhati-hati kalau berhadapan
dengan dia ini. Dia adalah murid mendiang Raja Pedang. Ilmu pedangnya hebat sekali. Dia tinggal di Thaisan
bersama... orang ke tiga itu, yang bernama Tan Beng San."
"Jadi Cia Li Cu itu isteri dari Tan Beng San?" tanya Sin Lee.
"...ehh, hemm... betul. Cia Li Cu harus kau bunuh. Kemudian kau seret Tan Beng San itu ke sini, kau
hadapkan padaku. Ingat betul, jangan kau bunuh dia itu, boleh kau lukai kalau dia melawan, akan tetapi
jangan sekali-kali kau bunuh. Aku yang hendak membunuhnya dengan kedua tanganku sendiri!"
Melihat pandang mata dan gerakan tangan ibunya, diam-diam Sin Lee terkejut sekali.
"Ibu, kenapa kau amat membenci Tan Beng San ini?"
Sampai lama Kwa Hong tak dapat menjawab. Mata yang tadinya bersinar ganas dan liar itu pelan-pelan
melunak dan air matanya hampir menitik turun. Cepat-cepat ia mengusap kedua matanya, kemudian
berkata perlahan, "Dia itulah yang menghancurkan hidupku, memaksa ibumu hidup menyendiri di puncak
gunung ini. Kau harus berhasil menangkap dia, tak peduli apa pun yang terjadi. Dia harus kau tangkap, kau
seret ke sini, Anakku..."
Suaranya ibunya yang penuh permohonan ini membanjirkan perasaan haru dan kasihan dalam dada Sin
Lee. Diam-diam ia mengambil keputusan untuk memenuhi permintaan ibunya ini, apa pun yang akan
terjadi dengan dirinya.
"Ibu, agaknya aku akan berhasil menangkapnya dan menyeretnya ke depan kakimu. Akan tetapi... dia itu
orang macam apakah?"
Kwa Hong menarik napas panjang. "Kau tidak boleh memandang rendah Song-bun-kwi Kwee Lun, kau
harus berhati-hati terhadap Cia Li Cu. Akan tetapi menghadapi orang ini, Anakku... aku sungguh-sungguh
sangsi apakah kau akan mampu melawannya. Dia itulah Raja Pedang sesungguhnya. Ilmu pedang serta
ilmu silatnya luar biasa sekali, belum pernah aku melihat dia dikalahkan orang. Dia hebat... dia hebat..."
dunia-kangouw.blogspot.com
Kwa Hong merenung, wajahnya agak berseri. Bangkit kembali cinta kasihnya kalau dia merenungkan
bekas kekasihnya itu.
"Dia laki-laki hebat..." kembali ia berkata dan kali ini dengan keluhan.
Panas hati Sin Lee mendengar ini. Biasanya ibunya hanya menganggap bahwa dialah orang yang paling
pandai di dunia ini, sekarang ibunya memuji seorang musuh!
"Ibu, aku bersumpah akan menyeret Tan Beng San itu ke hadapan kakimu. Kalau belum terjadi hal ini, aku
bersumpah tak akan kembali ke sini."
Sin Lee segera berkemas, membawa pedang pusaka pemberian ibunya dan membuntal pakaian serta
membawa beberapa potong emas, lalu turun gunung. Kwa Hong mengantar puteranya sampai di lereng
gunung dan membekalinya banyak nasehat dan memesannya agar berhati-hati…..
********************
Tag:cersil cersil indo cersil mandarin full cerita silat mandarin online cersil langka cersil mandarin lepas cerita silat pendekar matahari kumpulan cerita silat jawa cersil mandarin beruang salju. cerita silat pendekar mataharicerita silat indonesia cerita silat kho ping hoo cerita silat mandarin online cerita silat mandarin full cerita silat jawa kumpulan cerita silat cerita silat jawa pdf cerita silat indonesia gratis cerita silat jadul indonesia cerita silat indonesia pendekar rajawali sakti cersil indonesia pendekar mabuk cersil langka cersil dewa arak cerita silat jaman dulu cersil jawa download cerita silat mandarin full cerita silat mandarin online cersil mandarin lepas cerita silat mandarin pendekar matahari cerita silat jawa pdf cersil indonesia pdf cersil mandarin beruang salju kumpulan cerita silat pdf
kumpulan cerita silat cersil online
Share:
cersil...
Comments
0 Comments

Arsip Cersil

Best Cersil

Pecinta Cersil