Donasi

Buat yang punya rejeki berlebih dan merasa terhibur dengan Situs Cerita Silat Cersil Terbaik ini bisa mendonasikan bantuannya ke
No. Rekening BPD Jateng No. 2004084554
demi keberlangsungan dan keberadaan Blog Cersil Cerita Silat yang sama-sama kita cintai ini. Kritik dan Saran hub No HP.083837358519. Atas Bantuannya disampaikan Terimakasih.

Selasa, 24 April 2018

Cersil Mandarin Terbaru : Pedang Pelangi 4

-----
"Kurang ajar! Ternyata engkau berisi juga seperti
tokoh Im-yang-kau tua itu! Mampu melayani tiga
jurus seranganku tanpa terluka! Tapi jangan
bergembira dulu, karena semuanya ini baru dimulai.
Serangan sebenarnya baru akan keluar sebentar
lagi...."
Sambil berbicara Mo Hou melangkah ke tengah
ruangan, menjauhi tubuh Lo-jin-ong dan Giam Pit
Seng. Sekejap wajah yang tampan tapi berkesan licik
itu meringis seperti menahan sakit.
"Kau memang beruntung. Bun-bu Siu-cai. Apabila
aku tidak terluka oleh pukulan Put-pai-siu Hong-jin,
kau tak mung kin bisa menghindari pukulanku tadi."
"Put-pai-siu Hong-jin? Kau berkelahi dengan orang
tua itu?"
"Hmm... Lo-jin-ong dan Put-pai-siu Hong-jin
mencoba menyelamatkan para perajurit itu. Sayang
usaha mereka sia-sia. Lo-jin-ong melarikan diri dari
pertempuran, sementara Put-pai-siu Hong-jin
terbenam ke dalam laut."
Liu Wan merasa semakin kecut hatinya. Meskipun
dia juga merasa memiliki kepandaian, namun kalau
dibandingkan dengan Put-pai-siu Hong-jin dan Lo-jinong
terang ia belum apa-apanya. Apabila benar
593
mereka itu dikalahkan oleh Mo Hou, berarti dia pun
tak mungkin bisa selamat pula.
Tapi Liu Wan tak ingin menyerah begitu saja. Di
dalam pertarungan silat semua kemungkinan bisa
terjadi. Orang yang memiliki ilmu silat lebih tinggi
belum tentu selalu mendapatkan kemenangan.
Kadang-kadang kecerdikan dan akal budi lebih
diutamakan. Bahkan nasib orang pun sering
menentukan pula.
Liu Wan benar-benar mengerahkan seluruh
kemampuannya. Hong-lui Sin-kang (Tenaga Sakti
Petir Badai) yang telah dipelajarinya selama bertahuntahun
terungkap sampai ke puncaknya. Kulitnya
berubah kecoklatan seperti tembaga yang berkilat
ditimpa matahari.
Mo Hou juga maklum bahwa lawannya memiliki
kepandaian tinggi. Tanpa ilmu silat yang baik, tidak
mungkin pemuda itu mendapatkan julukan Bun-bu
Siu-cai dan mengalahkan Sogudai. Sogudai telah
dikenalnya dengan baik. Begitu pula dengan ilmu
silatnya.
Oleh karena itu begitu bergerak Mo Hou
mengerahkan hampir tiga perempat kekuatannya.
Tangannya menyambar ubun ubun Liu Wan, diikuti
oleh tebaran udara dingin yang berhembus memenuhi
ruangan. Pemuda yang diikat bersama-sama dengan
Lo-jin-ong itu tampak bergetar menahan dingin.
Liu Wan merendahkan tubuhnya. Dari bawah ia
mendorong ke atas dengan dua telapak tangan
594
terbuka. Seluruh tenaga saktinya bagai terhentak
keluar, menerjang dada Mo Hou. Wuuuuuus!
Suaranya terdengar bergemuruh laksana guruh yang
menggelegar di antara hujan.
Mo Hou berputar ke samping untuk mengelakkan
pukulan berbahaya tersebut. Kecepatan geraknya
sungguh mentakjubkan. Sepintas lalu tubuhnya seperti
bayang-bayang yang meluncur dan berkelebat pergi
menjauhi Liu Wan. Namun di lain saat bayangan itu
kembali datang dengan serangan yang lebih dahsyat
lagi.
Liu Wan mencoba untuk mengimbangi kecepatan
lawannya, tapi tak berhasil.
Semakin lama gerakan Mo Hou semakin cepat,
sehingga Liu Wan terpaksa mengobral Pukulan
Geledeknya untuk bertahan. Tanpa benteng pukulan
geledek itu ia tak mungkin bisa menahan kecepatan
lawannya.
"Tampaknya ilmu silatmu sudah habis. Padahal aku
belum mengeluarkan seluruh kemampuanku, apalagi
ilmu andalan perguruanku. Bagaimana...? Ingin
diteruskan juga?" Sambil melesat berputaran
mengelilingi lawannya. Mo Hou mengejek.
"Sombong! Kalau memang mampu, cepat kau
jatuhkan aku!"
"Tentu saja! Biasanya aku memang tidak pernah
membuang-buang waktu. Kalau sekarang aku tidak
lekas-lekas meringkusmu, hal itu disebabkan karena
rasa kesal dan penasaranku. Kau telah banyak
595
merusak rencanaku, membuat sengsara anak buahku,
sehingga aku merasa sayang kalau cepat-cepat
membunuhmu. Biarlah kau menyadari dulu
kesalahanmu sebelum mati. Siapa sebenarnya yang
kauhadapi, dan seberapa tinggi ilmu yang kau miliki,
hingga kau berani mengacaukan rencanaku."
"Anak liar! Ayoh, jangan bicara saja!" Liu Wan
menggeram sambil menerjang ke depan.
Tampaknya Mo Hou sudah merasa cukup memberi
pelajaran kepada Liu Wan. Sikapnya yang agak
kendor itu kini telah berubah menjadi kaku lagi
seperti biasanya. Dengan sinar mata dingin ia
menyongsong terjangan Liu Wan itu dengan keras
pula. Kipasnya terayun ke depan, menyambut kepalan
Liu Wan.
Tentu saja Liu Wan tidak berani adu tenaga. Selain
tenaga dalamnya masih lebih rendah, kipas Mo Hou
juga bisa melukai tangannya. Oleh karena itu pada
kesempatan terakhir Liu Wan memutar pergelangan
tangannya dalam jurus Memutar Kemudi Menggulung
Layar. Gelombang getaran yang kuat seolah-olah
keluar dari telapak tangannya, menerjang ke depan,
menepis kipas Mo Hou. Hanya menepiskan sedikit
saja, karena selain kalah tenaga, kipas itu juga terbuat
dari lembaran-lembaran baja tipis yang sulit
dirusakkan.
Namun tepisan yang hanya sedikit itu sudah cukup
bagi Liu Wan untuk melanjutkan gerakannya. Begitu
arah kipas itu sedikit melenceng, maka kedua
596
tangannya cepat dihentakkan ke bawah, seperti
menarik tali layar secara mendadak! Berbareng
dengan itu, kaki kanan Liu Wan menggempur ke atas,
ke arah kipas lawannya!
"Bagus!" Mo Hou berseru.
Sambil menyerang Liu Wan masih sempat menatap
wajah lawannya. Sekilas ia melihat senyum
kemenangan di bibir pemuda itu. Liu Wan terkesiap,
tapi terlambat.
Dhuuuaaar! Kipas itu terlempar ke udara. Tapi pada
saat yang sama tangan kanan Mo Hou menyelinap ke
bawah, menyongsong tendangan kaki Liu Wan. Cepat
bukan main! Tahu-tahu kaki Liu Wan terasa
kesemutan, dan selanjutnya tidak bisa digerakkan lagi.
Lemas!
Liu Wan hampir jatuh tertelungkup karena kaki itu
tak mau menyangga tubuhnya. Sambil terpincangpincang
Liu Wan berusaha membuang tubuhnya ke
samping. Mo Hou tidak mengejarnya.
"Hehe, masih mau melawan juga?" Mo Hou
tertawa puas.
Lui Wan mencoba memunahkan totokan Mo Hou,
tapi tak berhasil.
"Kurang ajar!"
Tanpa mempedulikan kakinya Liu Wan nekad
menerjang lawannya lagi. Seluruh tenaga dalamnya
tersalur melalui lengannya. Duaarr! Duaaar! Ledakanledakan
kecil memburu bayangan Mo Hou. Semakin
597
lama semakin cepat, sehingga bangunan kecil di atas
empang itu bagaikan hendak meledak karenanya.
Mo Hou berkelebat semakin cepat mengelilingi Liu
Wan. Sambil tertawa mengejek pemuda itu sekalisekali
menggebrak pertahanan Liu Wan. Dan
beberapa kali pula serangannya itu mampu mengecoh
benteng angin yang diciptakan Liu Wan, bahkan
melukainya.
Dhiegh!
Dhuuuuuar! Dhuaaaaarr!
Pertempuran mereka dapat diibaratkan seperti
pertarungan seorang matador melawan seekor banteng
liar. Liu Wan yang memiliki ilmu silat keras dan lugas
bagaikan seekor banteng liar, mengumbar pukulanpukulan
petirnya. Sementara Mo Hou yang gesit dan
lincah, laksana seorang matador, melenting ke sana ke
mari menghindarinya.
Hong-lui-kun-hoat memang dahsyat tiada terkira.
Tapi sayang sekali ilmu silat itu terlalu banyak
menguras tenaga dalam. Menghadapi lawan yang
lincah dan pandai mengelak, ilmu itu tak bisa berbuat
banyak. Malah akhirnya bisa menjadi bumerang bagi
tuannya.
Demikianlah, seperti halnya banteng liar yang
hanya mengandalkan kekuatannya, akhirnya Liu Wan
kehabisan tenaga. Apalagi ketika Mo Hou beberapa
kali dapat memasukkan pukulannya. Liu Wan
semakin terdesak.
598
Tampaknya Mo Hou benar-benar ingin
membuktikan ancamannya. Pemuda itu tidak ingin
langsung membunuh Liu Wan, tapi ingin mengikat
dan membakarnya bersama yang lain. Oleh karena itu
seperti sengaja bermain-main ia menotok satu-persatu
anggota badan Liu Wan.
Liu Wan memang tak bisa berbuat banyak.
Berturut-turut jalan darah pada anggota badannya
tertotok lemas oleh ujung kipas Mo Hou. Setelah kaki
kanannya tak bisa digerakkan, lalu disusul oleh tangan
kirinya. Dan beberapa saat kemudian diikuti pula oleh
sambaran kipas pada jalan darah pang-hu-hiat di
tangan kanannya, sehingga otomatis Liu Wan hanya
bisa menggerakkan kaki kirinya saja.
Kini Liu Wan tinggal bisa berloncatan dengan satu
kaki. Namun demikian pemuda itu tetap tidak mau
menyerah. Bagaikan burung bangau yang berloncatan
dengan satu kaki, pemuda itu tetap menerjang. Dia
berloncatan menyerang dengan sabetan kakinya.
Tapi hal itu tidak berlangsung lama. Sejurus
kemudian ujung kipas Mo Hou kembali menyelinap
dan menghajar dengan tepat jalan darah teng-liu-hiat
di atas lutut Liu Wan. Thuuuuk...!
Bruug! Tubuh Liu Wan yang tegap itu terbanting
ke lantai seperti banteng liar yang jatuh berdebam
terkena jerat!
"Hehehe... apa kataku tadi? Seperti yang lain-lain
itu maka engkau pun bukan lawan yang setimpal
599
buatku! Kini kau juga tak bisa bergerak pula seperti
mereka."
"Sudahlah, aku memang kalah! Kau bisa
membunuhku sekarang!" Liu Wan yang masih dapat
berbicara itu menggeram marah.
"Tentu! Tapi aku berhak menentukan cara-cara
yang kusukai untuk membunuhmu! Membunuh
orang-orang sombong yang suka mencampuri urusan
orang lain! Dan cara yang kuinginkan adalah...
membakar tubuh kalian, seperti layaknya membakar
babi panggang di atas perapian, heheheh!" Mo Hou
tertawa kejam.
"Manusia kejam! Manusia berhati binatang!"
"Tapi sebelum aku membakar tubuhmu, aku ingin
menyaksikan dulu tampang aselimu. Seperti apakah
Bun-bu Siu-cai itu?" Mo Hou buru-buru
menambahkan.
Selesai berkata, tangan Mo Hou benar-benar
mencopoti penyamaran Liu Wan, sehingga wajah
aseli pemuda itu terlihat dengan jelas.
"Hei, ternyata kau masih muda dan tampan. Wah...
sayang juga kalau mati. Tapi... apa boleh buat. Kau
memang layak untuk mati!"
Demikianlah, setelah melemparkan tubuh Liu Wan
ke pojok ruangan di mana tokoh-tokoh Im-yang-kau
tadi berada. Mo Hou lalu menaburkan jerami kering
yang banyak terdapat di ruang belakang. Dan sesaat
kemudian ia telah siap dengan pemantik apinya.
"Nah, selamat jalan... kalian semua!"
600
Bersamaan dengan berkobarnya api yang mulai
membakar pondok kayu itu. Mo Hou melesat pergi
melalui jembatan penyeberangan. Untuk beberapa
saat pemuda itu masih berdiri di tepi empang,
menyaksikan lidah api yang mulai merembet ke atas
atap. Selanjutnya dengan wajah puas ia berlari
meninggalkan tempat itu.
BEGITULAH, kalau Liu Wan dan para tokoh
Aliran Im-yang-kau itu merasa kepanasan akibat
kobaran api di sekitarnya, maka nun jauh di tengah
lautan A Liong justru kedinginan karena harus
bertarung melawan gelombang laut yang hendak
menelannya.
Seharian penuh pemuda itu diombang-ambingkan
ombak. Untunglah sejak kecil pemuda itu sudah
terbiasa bermain-main di sungai, sehingga dia bisa
mengatur tubuhnya agar tidak tenggelam. Dan lebih
beruntung lagi ketika di tengah laut dia mendapatkan
sebuah gentong kayu besar, yang biasa dipergunakan
oleh para nelayan untuk menyimpan air tawar.
Tampaknya benda itu berasal dari perahu Au-yang
Goanswe dan pasukannya. Air tawar yang masih
tersisa di dalam genting kayu itulah yang akhirnya
banyak membantu kehidupan A Liong.
Sejak kecil A Liong memang sudah terbiasa
menghadapi nasib buruk. Bahkan pemuda itu juga
sudah sangat akrab dengan segala macam kesulitan
dan kesengsaraan hidup. Namun justru kesulitan dan
601
kesengsaraan hidup itulah yang menggembleng dan
menggodoknya menjadi lebih cepat dewasa dan
matang.
Dengan usianya yang baru enam belas tahun itu A
Liong telah memiliki watak dan kepribadian yang
kokoh serta tahan uji. Semangat hidupnya tak pernah
padam. Bahkan dalam keadaan yang sangat
menyedihkan itu dia tetap bergembira dan
bersemangat.
Demikianlah ketika cuaca kembali cerah, dan bulan
yang cantik itu muncul di atas langit, maka tubuh A
Liong masih tetap terayun dan terbuai oleh ayunan
gelombang laut. Bahkan dengan mengikatkan
sabuknya pada gentong kayu itu, A Liong sempat
terkantuk-kantuk.
Karena perutnya kosong, maka di dalam kantuknya
pemuda itu membayangkan makanan dan minuman
yang enak-enak. Dibayangkannya sendiri seolah-olah
dia sedang berbaring di kursi goyang, dan belasan
orang bidadari cantik datang mengerumuni dirinya.
Gadis-gadis cantik itu melayani makan, minum, serta
memijiti kakinya. Oh, bukan main nikmatnya!
Tiba-tiba pemuda itu tersentak kaget, matanya
melotot, memandang gejolak air di sekelilingnya.
Belasan benda aneh tampak timbul tenggelam di
dekatnya. Semakin dekat benda itu semakin sering
berada di atas air. Bahkan sering meloncat tinggi ke
udara. Rasa takut membuat pemuda itu tidak berani
bergerak.
602
"Ah, kelihatan seperti ikan besar. Jangan-jangan
ikan hiu!"
Beberapa saat kemudian benda-benda aneh yang
belum pernah dilihat oleh A Liong itu telah tiba.
Ternyata mereka adalah sekawanan ikan lumba-lumba
yang datang karena tertarik pada A Liong. Begitu
datang mereka segera berputaran di sekeliling A
Liong. Bahkan beberapa ekor di antaranya malah
menggesek-gesekkan kulitnya kepada A Liong,
seolah-olah binatang cerdik itu mau mengajaknya
bermain.
Tapi karena belum pernah melihat binatang itu, A
Liong tetap tidak berani berbuat apa-apa. Bergerak
pun ia tak berani. Takut kalau binatang itu kaget dan
marah kepadanya.
Sebaliknya ikan lumba-lumba itu kelihatan senang
dan amat tertarik kepada A Liong. Bagaikan binatangbinatang
piaraan yang senang bercanda, ikan lumbalumba
itu mengerumuni A Liong. Mereka
menggosok-gosokkan kulitnya, bahkan moncong
hidungnya ke kepala A Liong.
Akhirnya A Liong tidak merasa takut lagi. Ikanikan
bertubuh besar itu ternyata sangat bersahabat dan
sama sekali tidak bermaksud jahat terhadap dirinya.
Diam-diam pemuda-pemuda itu tersenyum geli. Di
dalam pikirannya kembali terbayang bidadari-bidadari
cantik yang datang mengerumuninya.
Malam semakin larut. Bulan yang cerah itu sudah
tidak kelihatan lagi. Gumpalan awan yang tebal
603
menutupi seluruh wajahnya, sehingga dunia seolaholah
berubah menjadi hitam kelam. Cahaya jutaan
bintang di langit tetap tak kuasa menggantikan sinar
rembulan.
Laut pun tampak hitam legam, sehingga A Liong
merasa seperti berkubang dalam genangan darah yang
mengerikan. Anehnya, kawanan ikan lumba-lumba itu
tetap berseliweran di dekat A Liong. Mereka bagaikan
binatang piaraan yang berusaha melindungi tuannya.
Bahkan kawanan lumba-lumba itu seperti menggiring
A Liong melalui tempat yang aman.
Dalam keadaan gelap seperti itu A Liong tidak tahu
arah lagi. Pemuda itu hanya merasa seperti
dihanyutkan oleh arus laut ke arah Utara. Semakin
lama airnya semakin terasa dingin.
"Aduh... gelapnya! Andaikata ada lammm.... oh?!"
A Liong terdesak dan hampir saja terminum air
yang menyiram wajahnya, ketika matanya tiba-tiba
melihat cahaya lampu minyak melayang mendatangi.
Tentu saja A Liong buru-buru menghindar ke balik
gentong kayunya. Tapi sesaat kemudian mulutnya
kembali melongo.
"Gila!" Pemuda itu berdesah dan terlongonglongong
bingung ketika menyaksikan lampu minyak
yang hendak melanggar dirinya tadi mendadak lenyap
tak keruan arahnya.
Sekejap ada perasaan seram di dalam hati A Liong.
Jangan-jangan ada hantu yang hendak menakut-nakuti
dirinya. Tapi dasar A Liong. Rasa takut itu hanya
604
singgah sebentar saja dalam hatinya. Sesaat kemudian
matanya justru mencari-cari, ke mana perginya lampu
aneh itu.
Namun sampai beberapa waktu kemudian lampu itu
tak dapat dilihatnya kembali, sehingga A Liong
menganggap dia tadi hanya melihat bayang-bayang
saja. Mungkin karena dia terlalu lelah, lapar dan
mengantuk, pandangannya menjadi kabur. Seolaholah
matanya melihat sebuah lampu minyak yang
sebenarnya tak pernah ada.
"Ah, karena kedinginan dan kelaparan, pikiranku
membayangkan hal yang bukan-bukan. Aku... hei?!?
Ke manakah kawanan ikan besar tadi?"
Sekali lagi mata A Liong belingsatan ke sana ke
mari. Tapi tak terlihat apa pun di sekelilingnya. Di
mana-mana hanya hitam. Hitam dan hitam. Hanya
sekali-sekali terlihat kilatan sinar bintang yang
memantul di ujung riak dan gelombang.
"Wah, jangan-jangan ikan itu juga... hantu laut!"
Rasa seram kembali mencekam hati A Liong.
Kubangan hitam di bawahnya itu entah sampai di
mana dasarnya. Dan di dalamnya tentu dihuni oleh
bermacam-macam makhluk mengerikan. Tiba-tiba
ingin rasanya ia menarik kakinya dan naik ke atas
gentong kayu itu. Tapi mana mungkin ia bisa
melakukannya? Gentong kayu itu tak cukup kuat
untuk menampung tubuhnya. Akibatnya ia seperti
berada di depan mulut ikan paus, yang sewaktu-waktu
akan menelannya.
605
Kini rasa takut benar-benar telah menguasai hati A
Liong. Keberanian yang dimilikinya hampir tak kuasa
lagi bertahan menghadapi peristiwa yang belum
pernah dialaminya itu. Bagaimanapun juga rasa lelah
dan lapar membuat daya tahannya menurun.
"Oooh, tampaknya... tampaknya aku sudah... hei,
apa itu?"
Untuk ketiga kalinya mata A Liong terbelalak!
Entah dari mana datangnya, tiba-tiba saja sebuah
sampan kecil muncul dan melintas dengan cepat di
depannya! Sekilas tampak bayangan seorang manusia
duduk di dalamnya.
"Cici Siau In...?!? " Otomatis lidah A Liong
menyebut nama Siau In.
Seperti orang kesetanan A Liong berenang
mengejar sampan itu. Demikian bersemangatnya
sehingga gentong kayu yang terikat dengan sabuknya
itu hampir terlepas dari tubuhnya.
Tapi bersamaan dengan datangnya segulung
ombak, sampan itu mendadak lenyap begitu saja.
Sampan kecil itu bagaikan ditelan masuk ke dalam
perut ombak yang ganas.
Beberapa saat lamanya A Liong masih mencari ke
sana ke mari, tapi suasana yang gelap itu tidak
menguntungkannya. Seluruhnya kembali berwarna
hitam. Hitam mengerikan.
A Liong tertunduk lemah. Rasa lelah dan lapar
benar-benar membuat keseimbangan batinnya
menjadi kacau.
606
"Gila! Lama-lama aku bisa gila kalau begini...!"
Demikianlah, sampai saatnya matahari
memancarkan sinarnya di ufuk timur. A Liong tetap
tak bisa memejamkan matanya. Rasa lapar benarbenar
sangat menyiksanya sehingga matanya terasa
berkunang-kunang. Air laut yang bergejolak merah
bak genangan darah itu tak mampu lagi menarik
perhatiannya.
Burung-burung laut mulai beterbangan mencari
mangsa. Suaranya terdengar nyaring di antara
gemuruhnya deru gelombang. Mereka melayang
berputaran di atas kepala A Liong, seolah-olah
mereka ingin memastikan makhluk aneh yang
terapung di bawah mereka. Bahkan ada satu dua ekor,
yang berani mendekati dan menyambar rambut
pemuda itu.
Tapi gangguan burung itu tak mampu lagi
mengusik perhatian A Liong. Pemuda itu sudah
memutuskan untuk tidak mempedulikan lagi bayangbayang
buruk yang menggoda matanya. Pemuda itu
tetap mengira bahwa semua yang dilihatnya hanyalah
bayangan, yang sekejap kemudian tentu akan hilang
tertiup angin.
Demikian pula ketika tiba-tiba pemuda itu melhat
kawanan ikan lumba-lumba datang mendekati. A
Liong sama sekali tak peduli. Bahkan pemuda itu
tetap tak tertarik pula ketika binatang-binatang
menyenangkan itu bermain-main di atas permukaan
air. Mereka bergantian meloncat ke udara dan
607
berenang berputaran mengelilingi sebuah sampan
yang ditumpangi oleh seorang kakek tua.
"Ah, tipuan lagi...! Paling-paling cuma bayangan
yang hendak menggoda mataku saja! Huh!" A Liong
bergumam sambil memejamkan matanya.
Duuuuk! A Liong terperanjat. Seekor di antara ikan
lumba-lumba itu menyentuh punggungnya, dan nyaris
melemparkannya ke dalam air. Ketika A Liong
berputar untuk melihat pengganggunya, sampan kecil
itu telah berada di depan matanya. Bahkan ia dapat
melihat dengan jelas senyum kakek itu.
A Liong mengucak-ucak matanya. Dia tetap belum
percaya apa yang dilihatnya. Tapi ketika kakek di atas
sampan itu menyapanya, A Liong baru tergagap
kaget.
"Anak muda, kau siapa.....? Mengapa kau terapungapung
di sini? Apakah kau juga dari Pondok Pelangi?"
A Liong yang masih dalam keadaan gugup tak bisa
segera menjawab. Pemuda itu masih belum yakin
kalau yang dihadapi adalah manusia biasa seperti
dirinya. Dia masih tetap beranggapan bahwa apa yang
dilihatnya itu cuma bayangan seperti tadi malam.
Byuuuuuur! Sebuah ombak yang amat besar
menghantam sampan kecil itu hingga terlempar jauh.
Begitu pula dengan gentong kayu A Liong. Barang itu
terlempar pula bersama-sama dengan penumpangnya.
A Liong gelagapan seperti anak ayam yang tercebur
ke dalam kolam. Namun demikian, begitu muncul dari
dalam air, yang pertama dicarinya adalah kakek tua
608
itu. Tapi sekali lagi hatinya menjadi kecewa sekali.
Tak ada sebuah benda pun tampak di sekitarnya.
"Gila! Aku sudah gila!" Umpatnya penuh geram.
Byuuuuur! Makian dan kekesalan pemuda itu
dijawab dengan gempuran geiombang lagi. Bahkan
kali ini ombak yang datang lebih besar daripada tadi.
Begitu besarnya sehingga gentong kayu itu terlempar
jauh dan terlepas dari A Liong!
A Liong tidak menyadari bahwa tubuhnya terseret
ke dalam pusaran air yang sangat ganas. Sebuah
pusaran yang tercipta dari pergesekan dua buah arus
laut. Air laut di tempat itu berputar dengan kuat
sekali. Jangankan manusia kecil seperti A Liong,
sebuah perahu besar pun dengan mudah akan
dipilinnya seperti baling-baling.
Seperti sehelai daun kering yang tak ada artinya,
tubuh A Liong timbul tenggelam tak berdaya.
Memang, bagaimanapun hebat kekuatan dan
kesaktian manusia, dia tetap takkan mampu melawan
keganasan alam. Akhirnya yang bisa dilakukan oleh A
Liong hanya bertahan dan mencoba untuk
menyelamatkan diri.
Agaknya Tuhan memang belum menghendaki
nyawa A Liong. Terbukti dengan segala kekuatannya
pemuda itu masih bisa melepaskan diri dari pusaran
air yang menggulungnya. Bahkan dengan sisa-sisa
tenaganya A Liong masih bisa berenang menjauhi
tempat itu.
609
A Liong berenang bagaikan dikejar setan. Pemuda
itu sama sekali tak sempat memikirkan arah dan
tujuannya. Yang penting bagi pemuda itu, bagaimana
menjauhkan diri dari tempat tersebut secepatnya.
Setelah terbebas dari cengkeraman maut, barulah
terasa oleh A Liong betapa lemas seluruh tubuhnya.
Tiba-tiba saja semangat dan kekuatannya seperti tiada
lagi. Bahkan untuk bertahan agar tidak tenggelam pun
pemuda itu sudah tak mampu lagi. Bagaikan
sebongkah batu yang tak memiliki kekuatan apa-apa,,
tubuh A Liong tenggelam.
Tiba-tiba seutas tali menjerat kaki A Liong dan di
lain saat tubuh pemuda itu ditarik ke atas lagi. A
Liong tidak tinggal diam. Merasa ada yang
membantunya, tangannya berusaha menggapai
sekenanya. Pemuda itu berpendapat, asal tangan dan
kakinya bergerak tubuhnya tak kan tenggelam.
Tapi pada gerakan yang kesekian kalinya, tangan A
Liong merasa menyentuh sesuatu. Ketika pemuda itu
mengangkat kepalanya, hampir saja dahinya
melanggar dinding sampan yang mendadak saja sudah
berada di depan hidungnya. Dalam kekagetannya
tangan A Liong masih tak lupa untuk meraih
pinggiran sampan itu. Bahkan pemuda itu tak
menampik ketika kakek tua yang mengemudikan
sampan itu mengulurkan tangan untuk menolongnya.
"Wah, kita benar-benar mendapatkan ahli waris itu!
Bukan main! Semula aku sudah tidak yakin dia bisa
keluar dari pusaran air itu! Sudah sekian puluh tahun
610
kita menunggu, tak seorang manusia pun mampu
keluar dari lubang itu! Hmm... ternyata benar juga
kata Souw Ju Kang." Tiba-tiba terdengar suara di
belakang A Liong.
A Liong tertegun dan hampir saja melepaskan
tangannya yang dipegang oleh kakek itu. Ia bergegas
membalikkan badannya untuk mencari asal suara itu.
Dan entah dari mana datangnya, tiba-tiba di
belakangnya telah ada sebuah sampan yang lain.
Sampan kecil dengan seorang kakek pula sebagai
penumpangnya. Orang itulah yang berbicara tadi.
A Liong mengejap-ngejapkan matanya. Walaupun
sudah yakin kalau mereka adalah orang-orang biasa,
namun dandanan dan wajah mereka tetap terasa aneh
bagi mata A Liong.
Kakek pertama, yang berada di dekat A Liong
bertubuh gemuk pendek. Rambutnya yang putih
seperti perak itu digelung ke atas dan diikat seperti
layaknya para pendeta Agama To. Jubahnya sudah
sangat lusuh dan penuh tambalan.
Namun wajah kakek itu kelihatan terang dan
bercahaya. Anehnya, walaupun rambut di kepalanya
sudah putih semua, tetapi alis mata, kumis dan
jenggotnya tetap berwarna hitam legam seperti rambut
pemuda belasan tahun.
Sedangkan kakek yang ke dua, bertubuh kurus,
rambutnya dibiarkan terurai panjang di belakang
punggungnya. Namun seperti halnya kakek pertama,
rambut yang tumbuh di kepala kakek itu juga terbagi
611
dua. Bahkan pembagian warnanya benar-benar sangat
aneh dan tidak masuk akal. Kepala itu bagaikan
terbelah menjadi dua bagian! Bagian sebelah kiri,
rambutnya berwarna putih, sementara di bagian kanan
berwarna hitam legam. Pembagian warna itu benarbenar
sangat aneh dan mentakjubkan.
"Hei, bocah! Apa yang kau lihat? Kau belum
pernah melihat orang seperti kami?" kata yang
bertubuh kurus itu bertanya. Suaranya keras dan kaku.
Raut mukanya tampak dingin penuh rasa curiga.
"Lalala... tentu saja dia masih bingung, Kek Ong!
Ayoh, kita tolong dulu, baru nanti kita tanyakan siapa
dia! Jangan kau takut-takuti dia dengan wajahmu yang
jelek itu, lalala!" Kakek pertama yang bertubuh
gemuk itu menegur temannya sambil tertawa.
Kakek kurus itu terdiam. Matanya yang tajam bagai
mata burung elang itu menatap kawannya. Kemudian
sambil membuang muka ia menggeram, seolah-olah
berbicara dengan burung-burung laut yang
beterbangan di sekitar mereka.
"Huh, kaukira tampangmu yang bulat berminyak
itu juga tampan, heh? Sejak dulu setiap orang selalu
mengatakan kalau Bok Kek Ong lebih ganteng dari
pada Soat Ban Ong."
Kakek Soat Ban Ong yang gemuk itu tidak
mempedulikan kedongkolan hati kawannya. Ia tetap
tertawa terkekeh-kekeh. Sambil tertawa tangannya
menarik tubuh A Liong ke dalam sampannya.
612
"Jangan takut, anak muda. Kami berdua memang
sering berselisih dan suka berolok-olok, tetapi kami
tak pernah bersungguh-sungguh. Kami adalah sahabat
karib selama enam puluh tahun, la-lalaaaaaa.
Bukankah begitu, Kek Ong?"
"Huh!" Bok Kek Ong hanya mendengus saja. Ia
memutar sampannya dan mendahului berangkat
meninggalkan tempat itu.
Kakek Soat Ban Ong segera membalikkan
sampannya pula dan mengayuhnya di belakang Kakek
Bok Kek Ong. Belasan ikan lumba-lumba tiba-tiba
muncul kembali di sekitar mereka. Kawanan ikan
besar itu berenang di kanan kiri mereka bagaikan
sepasukan pengawal yang sedang melindungi
junjungannya.
Sambil mendayung Kakek Soat Ban Ong bercerita.
Mereka berdua tinggal di sebuah gugusan pulau yang
terpencil di tengah-tengah samudra luas. Gugusan
pulau itu terdiri dari delapan pulau kecil-kecil, yang
hanya ditumbuhi jamur dan lumut. Dan mereka sudah
lebih dari setengah abad tinggal di sana.
Sayang keadaan dan situasi di tempat itu membuat
mereka berdua selalu terkurung dan tak bisa keluar ke
tempat lain. Apalagi kembali ke daratan Tiongkok.
"Mengapa tak bisa? Bukankah Locian-pwe berdua
juga bisa bersampan sampai ke tempat ini?" Tak
terasa A Liong berseru. Meskipun demikian pemuda
itu tak berani sembarangan menyebut nama mereka.
Ia tahu bahwa mereka adalah orang-orang sakti.
613
Kakek Soat Ban Ong menoleh sambil tersenyum. Ia
kelihatan amat gembira melihat A Liong sudah mau
bicara. Ia tidak segera menjawab pertanyaan A Liong,
tapi sebaliknya malah menepuk pundak pemuda itu.
"Lalala, tampaknya rasa kagetmu sudah hilang
sekarang. Bagus, siapa namamu, Nak? Dari mana kau
datang? Apakah kau terjatuh dari perahu yang kautumpangi?"
A Liong menarik napas panjang. Perasaannya
memang telah menjadi tenang sekarang.
Pertemuannya dengan kedua orang itu benar-benar
telah menyingkirkan kegalauan hatinya. Tapi dengan
demikian tiba-tiba dia merasakan betapa dinginnya
udara di tempat itu. Bahkan dalam guyuran sinar
mentari yang kemerah-merahan itu kulitnya masih
tetap terasa tebal dan kaku.
"Lalala... mengapa mulutmu terdiam lagi?"
"Eh-oh, maaf... Locianpwe. Aku hanya merasa
kaget saja, mengapa tiba-tiba udara menjadi dingin
sekali?"
"Jadi kau tidak merasakan dinginnya udara di sini?
Wah, hebat sekali kalau begitu! Coba kaulihat
sekelilingmu! Laut di sini tidak begitu bergolak
seperti di sana tadi, tapi airnya bisa kau rasakan
perbedaannya. Sekali tercebur ke dalam air, tubuhmu
akan segera berubah menjadi balok kayu yang tak bisa
ditekuk-tekuk lagi. Lalala"
614
A Liong terkejut. Tangannya segera meraup air di
bawahnya. Dan tangan itu cepat-cepat ditariknya
kembali. Jarinya serasa membeku. .
"Locianpwe... di mana kita sekarang? Mengapa air
laut di sini dingin sekali?"
"Lho, masa kau tidak tahu kalau kita berada di Laut
Utara?"
"Laut Utara?"
A Liong benar-benar kaget. Bagaimana mungkin
hanya dalam waktu sehari semalam dia bisa terseret
ombak sedemikian jauhnya?
"Hei, mengapa
kau kelihatan
terperanjat?
Memangnya kau
dari mana?" Soat
Ban Ong bertanya
dengan kening
berkerut.
Sekali lagi A
Liong menghela
napas panjang.
Matanya
memandang kakek
Soat Ban Ong
seolah tak percaya.
Dari Hang-ciu ke
Laut Utara ada
615
ribuan lie jauhnya. Bagaimana mungkin ia bisa
percaya akan hal itu?
"Locianpwe, namaku A Liong. Siaute datang dari
daratan Tiongkok, dari kota Hang-ciu di Propinsi Sekiang..."
"Hang-ciu? Di mana itu? Ah, sejak kecil aku
memang belum pernah menginjak daratan Tiongkok,
jadi... ya, mana aku tahu tempat itu?"
Kakek itu terdiam, begitu pula A Liong, sehingga
suasana menjadi sunyi untuk beberapa saat lamanya.
Gelombang laut pun hampir tidak ada lagi.
Permukaan air kelihatan tenang. Namun A Liong
menjadi heran ketika merasakan sampan, yang
ditumpanginya itu melaju semakin cepat tanpa
dikayuh.
"Lociapwe, sampan ini... sampan ini bisa berjalan
sendiri?" serunya bingung.
"Berjalan sendiri? Lalala... masa engkau tidak tahu?
Kita berada di jalur arus laut yang menuju ke utara,
maka tanpa dikayuh pun sampan ini akan berjalan
sendiri Kita hanya menjaga saja agar sampan tidak
berputar-putar."
"Arus laut...? Masa di dalam genangan air juga ada
air yang mengalir? Aneh!"
Soat Ban Ong tertawa. "A Liong, tampaknya kau
belum mengenal jenis-jenis laut di sini. Sungguh
mengherankan. Belum kenal, tapi kau mampu
membebaskan diri dari sedotan pusaran maut itu.
616
Hmmm, tampaknya Thian memang benar-benar
mengirimkan kau kepadaku."
A Liong tidak tahu maksud perkataan Soat Ban
Hong, tapi ia tak berkata apa-apa. Sementara itu
sampan Kakek Bok Kek Ong yang berada jauh di
depan tampak diselimuti kabut tebal. Sampan itu
kelihatan bergoyang-goyang, ke kanan dan ke kiri.
Bahkan sejenak kemudian Bok Kek Ong tampak
berusaha mempertahankan sampannya. Sampan itu
mulai berputar-putar. Ketika A Liong mencoba
memperhatikannya lebih lama, ternyata air laut yang
tenang itu sudah mulai bergolak di depan sana.
"Locianpwe, lihat...! Bok Locianpwe seperti
mendapat kesulitan." A Liong berseru.
"Jangan khawatir. Tenang saja. Kami sudah biasa
melewati tempat itu. Daerah ini adalah daerah tempat
kami bercanda dan bermain-main setiap hari." Soat
Ban Ong menjawab tenang.
Tiba-tiba A Liong teringat sesuatu.
"Locianpwe, kau tadi mengatakan bahwa kalian
berdua hidup terkurung di pulau itu, tanpa bisa pergi
ke mana-mana. Tapi... eh, bukankah Locianpwe bisa
bersampan ke mana saja? Apa maksud perkataan
Locianpwe itu?"
-- o0d-w0o --
617
JILID XV
OAT BAN ONG menatap mata A Liong
beberapa saat lamanya, kemudian, menghela
napas panjang berkali-kali.
"Kelihatannya laut di sini biasa-biasa saja.
Tidak berbahaya. Bahkan berkesan sangat
tenang. Tapi pada waktu-waktu tertentu air
laut ini akan berubah menjadi ganas dan mengerikan.
Jangankan hanya sampan kecil seperti ini, perahu
dagang yang sangat besarpun tidak akan berani
melewati tempat ini. Itulah sebabnya daerah ini sangat
sepi dan tak pernah dilalui orang."
"Tapi Locianpwe berdua berani juga sampai di sini,
walaupun hanya dengan sampan kecil."
Soat Ban Ong tertawa. "Ya, karena selama setengah
abad kami berdiam di sini, kami telah mengenal betul
semua lika-liku dan rahasianya. Sehingga kami bisa
memilih dan menghindari bahaya-bahaya yang ada.
Nah, kau lihat tempat yang kini sedang dilalui oleh
Kakek Bok Kek Ong itu? Tempat itu justru tempat
yang paling aman dibandingkan dengan tempattempat
yang lain. Tempat itu merupakan titik
pertemuan antara arus laut dari arah barat dan arus
laut dari arah selatan. Karena tempat itu adalah tempat
bertemunya dua buah arus laut, maka di sekelilingnya
banyak terbentuk pusaran-pusaran maut yang
berbahaya. Kami pernah menghitung, kira-kira ada
sebelas pusaran besar dan kecil di tempat itu. Semua
S
618
pusaran itu dapat menghisap dan menelan perahu
sebesar apa pun."
"Menghisap dan menelannya?"
"Ya, pusaran itu berputar pada porosnya. Semakin
mendekati porosnya, putarannya semakin cepat dan
kuat. Dan pada porosnya itu terdapat lubang
menganga, yang siap menelan semua mangsanya."
A Liong mengerutkan dahinya dengan perasaan
ngeri. Pikirannya segera membayangkan dasar laut
yang gelap dan dalam di mana pusat dari pusaran itu
berada. Di sana tentu banyak barang-barang atau
makhluk-makhluk yang pernah ditelan oleh pusaran
itu.
"Ah!" A Liong berdesah pendek. "Tapi mengapa
kita tidak menghindar saja sejauh-jauhnya, keluar dari
aliran arus ini?"
"Waduh, tidak semudah itu melakukannya. Keluar
dari arus ini berarti kita harus bertempur dengan
rombongan ikan hiu dan ikan cucut yang haus darah.
Kita tidak dapat melawan mereka dengan sampan
sekecil ini. Lubang mulut mereka mampu mencaplok
dan menelan sampan ini berikut isinya."
"Lalu... kenapa Locianpwe tidak berusaha membuat
perahu yang lebih besar agar bisa keluar dari tempat
ini?"
"Hai, bagaimana kami bisa membuat perahu besar
kalau di pulau itu hanya ada tumbuhan jamur dan
lumut? Coba kaulihat sampanku ini! Sampan ini
hanya terbuat dari tulang rusuk ikan hiu. Ratusan
619
batang tulang rusuk ikan hiu kami susun dan kami
rekatkan dengan getah jamur. Kau tahu, berapa tahun
kami harus menyelesaikan pembuatan sampan ini?
Lima belas tahun!
A Liong terbelalak. Otomatis tangannya meraba
pinggiran sampan itu. Memang benar, sampan itu
terbuat dari jajaran tulang rusuk ikan hiu. Kotoran dan
lumut tebal yang tumbuh di sela-selanya telah
menyembunyikan bentuk aslinya.
"Bukan main...." A Liong membatin.
Bok Kek Ong telah berhasil melewati daerah
berbahaya itu. Kini giliran sampan Kakek Soat Ban
Ong yang harus melewati daerah tersebut. Hati A
Liong menjadi tegang. Goncangan air di bawah
sampan mereka mulai terasa. Semakin lama semakin
kuat. Bahkan hantaman ombak datang dari segala
jurusan. Kadang kala dari depan, kemudian dari
belakang, dan di lain saat dari samping. Akibatnya
Soat Ban Ong menjadi sulit mengendalikan arahnya.
Namun demikian kakek itu tetap berusaha
mengarahkan sampannya ke tempat pertemuan dua
arus itu.
A Liong merasa ngeri menyaksikan deburan air
yang semakin lama semakin menggila. Semburan air
yang melonjak ke atas membasahi udara di sekitarnya,
membuat tempat itu bagaikan tertutup oleh kabut
tebal. Bagi yang belum tahu, tempat itu tentu akan
dihindari dan dijauhi. Padahal justru tempat itulah
daerah yang paling aman untuk menyeberang Di luar
620
daerah itu merupakan daerah berbahaya yang
menyimpan seribu jebakan mengerikan.
Rasa takut justru membuat A Liong tidak bisa
memejamkan matanya. Begitu menembus kabut air itu
ia merasakan goncangan-goncangan yang keras pada
sampannya. Tubuhnya yang terguyur semburan air itu
merasakan adanya hawa panas dan dingin di
sekitarnya. Remang-remang A Liong melihat jilatanjilatan
lidah ombak menggapai ke udara. Sepintas lalu
bagaikan jin dan setan yang berloncatan gembira
dalam semburan kabut tebal.
Kakek Soat Ban Ong mati-matian mengendalikan
sampannya. Namun demikian ia selalu berseru
memperingatkan A Liong agar berpegangan dengan
kuat. Sekali terpental dari sampan dan jatuh ke dalam
air, berarti jiwa A Liong tak bisa tertolong lagi.
Meskipun tak bisa melihat dengan jelas, tapi A
Liong benar-benar kagum menyaksikan kehebatan
Kakek Soat dalam mengemudikan sampannya.
Berkali-kali kakek itu harus melompat, berjumpalitan,
dan menjepit sampannya, untuk tetap menjaga agar
sampan itu tidak terbalik.
"A Liong, pejamkan matamu! Jangan melihat apaapa!
Rasa ngeri akan membuatmu mual dan pusing!
Berpeganglah kuat-kuat pada pinggiran sampan!
Tapi mana bisa A Liong memejamkan matanya?
Semakin dahsyat gempuran air laut menggoncang
sampannya, justru semakin lebar pula pemuda itu
membuka matanya. Rasa takut dan ngeri malah
621
membuat pemuda itu semakin waspada. Matanya
justru jelalatan ke sana ke mari, berjaga-jaga bila ada
sesuatu yang membahayakan dirinya.
Semburan air yang tinggi, ditingkah oleh
gemuruhnya suara air dan angin, membuat suasana di
tempat itu benar-benar menakutkan! Namun justru di
tempat itulah A Liong melihat betapa hebatnya
kepandaian Kakek Soat Ban Ong. Kakek tua yang
bertubuh gemuk pendek itu bergerak lincah melebihi
kemampuan anak muda. Untuk mengendalikan
sampan agar tidak bergeser dari tujuannya, serta
menjaga agar sampan itu tidak terbalik. Kakek itu
benar-benar mengeluarkan segala kesaktiannya.
Sampan kecil yang ditumpangi A Liong itu bagaikan
sebuah barang mainan saja baginya. Kadang-kadang
sampan itu dijepit dengan kedua kakinya dan dibawa
melenting ke atas seperti menjinjing keranjang
sampah, atau suatu saat dayung kecilnya yang terbuat
dari tulang itu menghantam lidah ombak yang hendak
menggempur sampannya. Dan A Liong sampai
melongo menyaksikan ombak itu meledak
berhamburan seperti menerjang batu karang!
"Siapa sebenarnya kakek ini? Rasanya aku belum
pernah mendengar namanya di Dunia Persilatan...."
Mungkin ada sepeminuman teh lamanya mereka
harus bertarung dengan tempat berbahaya itu. Begitu
terlepas dari tempat itu Kakek Soat masih harus
mengendalikan sampannya agar tetap berada pada
jalur arus laut yang membawanya. Sedikit saja
622
melenceng, maka kemungkinan hidup akan sangat
kecil. Kalau tidak ditelan oleh pusaran air, mereka
tentu akan dikeroyok dan diperebutkan oleh kawanan
ikan buas.
A Liong mendengar bermacam-macam gaung suara
angin di sekitarnya. Ada yang bernada rendah, tapi
juga ada yang bernada tinggi. Suara itu seperti suarasuara
gasing di lomba permainan anak-anak.
"Suara apa itu, Locianpwe?"
Soat Ban Ong menarik napas lega. Setelah
melewati daerah berkabut itu tugasnya menjadi lebih
ringan, walaupun sebenarnya bahaya-bahaya yang
lain masih banyak lagi.
"Itulah suara Pusaran Air yang kuceritakan tadi. Di
kanan-kiri jalur perjalanan kita ini terdapat belasan
Pusaran Air. Begitu kencangnya putaran air sehingga
menimbulkan gesekan angin seperti itu."
Walaupun tidak merasa ngeri lagi, tapi wajah A
Liong masih tampak pucat. Pemuda itu hanya dapat
mengangguk-anggukkan kepalanya mendengar
penjelasan kakek itu.
Kakek Bok Kek Ong yang telah menunggu di
depan, melambaikan tangannya begitu melihat Kakek
Soat Ban Ong keluar dari tabir kabut.
Kakek Soat Ban Ong membalas lambaian itu dan
memberi isyarat untuk meneruskan perjalanan
mereka.
"Kau lihat gugusan pulau-pulau di garis cakrawala
itu? Di sanalah tempat tinggal kami...." Kakek Soat
623
Ban Ong mengangkat jarinya ke depan. "Oooo, indah
sekali...!" A Liong membelalakkan matanya. Di depan
matanya terbentang sebuah panorama alam yang luar
biasa sekali. Permukaan laut tampak berkilat-kilat
kuning kemerahan. Sementara kabut yang tercipta dari
semburan air pusaran, bertebaran ke udara bagaikan
mau menggapai langit. Ditingkah oleh cahaya mentari
maka semburan kabut itu menciptakan beberapa
lembar pelangi, yang berkelak kelok mempesonakan.
Benar-benar keindahan alam yang sangat
mentakjubkan!
"Tempat ini memang selalu dikelilingi pelangi.
Kabut tipis yang ditimbulkan oleh pusaran air itu akan
membiaskan cahaya matahari dalam bentuk warna
yang indah-indah."
Tiba-tiba A Liong teringat ucapan Kakek Soat Ban
Ong tadi malam, pada saat kakek itu melihat dia untuk
pertama kali.
"Locianpwe... kalau tidak salah tadi malam
Locianpwe mengatakan bahwa aku datang dari
Pondok Pelangi. Apa yang Locianpwe maksudkan?
Apakah ada Pondok Pelangi di sekitar tempat ini? Di
mana tempatnya?"
Sungguh mengherankan. Mendengar pertanyaan A
Liong tentang Pondok Pelangi, wajah Kakek Soat Ban
Ong tampak kaget. Tapi cuma sebentar, karena di lain
saat orang tua itu telah tertawa kembali.
"Yah... jauh di sebelah utara sana memang ada
sebuah gugusan pulau lagi. Namanya Kepulauan
624
Pelangi, karena setiap hari tempat itu juga diselimuti
pelangi. Berbeda dengan tempat tinggal kami, tempat
itu sangat subur dan menyenangkan untuk tempat
tinggal. Maka tidak mengherankan bila pulau-pulau
itu telah dihuni orang sejak ribuan tahun lalu. Mereka
hanya terdiri dari tiga buah keluarga besar, yaitu
Keluarga Soat, Souw, dan Bok. Karena tempat itu
terpencil dan tidak bisa didatangi orang, maka mereka
mendirikan kekuasaan sendiri, terlepas dari daratan
Tiongkok. Mereka menyebut negeri mereka Kerajaan
Pelangi. Mereka mendirikan sebuah istana sederhana
yang disebut Pondok Pelangi. Dan yang paling
menonjol dari mereka adalah ilmu silat khusus yang
hanya bisa dipelajari oleh masyarakat mereka
sendiri...."
A Liong mengerutkan keningnya dan kakek itu
tertawa melihatnya.
"Kau tak percaya?"
A Liong tersenyum kecut. Ia memang tidak
mempercayainya. Bagaimana mungkin sebuah ilmu
silat hanya bisa dipelajari oleh masyarakat tertentu?
Apakah ilmu silat itu menuntut sesuatu yang khusus
dari orang yang ingin mempelajarinya ? Misalnya
orang itu harus mempunyai empat tangan atau empat
kaki?
Kakek Soat Ban Ong duduk di pinggiran sampan.
Mereka telah melewati daerah berbahaya, dan kini
tinggal mengikuti arus saja. A Liong merasa lega.
625
Sambil lalu pemuda itu ikut-ikutan duduk di tepi
sampan.
"Aaaaaaah...!"
A Liong menjerit. Sampan itu bergoyang miring
begitu menerima beban tubuhnya. Untunglah Kakek
Soat Ban Ong cepat menyambar lengannya.
"Lalala, kenapa kau ini? Mau bunuh diri, ya? Enak
saja duduk di pinggiran sampan. Kaukira tubuhmu itu
enteng? Tubuh gembrot segede gajah begitu mau
main goyang-goyangan, lalalalaaaa."
"Tapi... tapi... Locianpwe sendiri juga duduk di
pinggiran sampan. Padahal Locianpwe... malah lebih
gemuk dari pada saya." Dalam kegugupannya A
Liong mencoba membela diri.
Tak terduga orang tua itu tertawa terkekeh-kekeh.
Begitu geli hatinya sehingga matanya yang sipit itu
sampai mengeluarkan air mata. Selesai tertawa tibatiba
orang tua itu melemparkan dayungnya ke laut,
lalu tubuhnya yang gemuk pendek itu melesat
mengejarnya.
Dayung kecil dari tulang ikan yang panjangnya
hanya satu lengan orang dewasa itu jatuh di atas
permukaan air. Dan sebelum benda itu hanyut dibawa
gelombang, kaki kanan Soat Ban Ong lebih dulu
mendarat di atasnya. Selanjutnya bagaikan seorang
pemain sulap kakek itu berayun-ayun di atas dayung
kecil tersebut. Sungguh sangat mengherankan sekali,
dayung kecil itu sama sekali tidak amblas atau
terbenam karenanya.
626
Tentu saja pertunjukan ilmu meringankan tubuh
yang nyaris sempurna itu benar-benar mengagumkan
hati A Liong.
"Wah, seharusnya aku sudah tahu sejak tadi kalau
orang tua ini memiliki kesaktian yang hebat."
Selesai mempertunjukkan kebolehannya Kakek
Soat Ban Ong kembali meloncat ke dalam sampan.
Tak lupa dayung kecilnya itu dibawa pula. Dengan
mengulum senyum ia mengawasi A Liong.
"Nah, sebelum kau bisa berdiri di atas dayung ini...
tak mungkin kau dapat duduk di pinggiran sampanku.
Lalalaaaaa..."
"Wah, mana mungkin bisa...." A Liong menyahut
dengan cepat.
"He, kenapa tidak bisa? Asal mau belajar setiap
orang pasti bisa."
A Liong tak menjawab. Sebenarnya ingin sekali dia
belajar Ilmu Meringankan Tubuh seperti orang tua itu,
karena dia juga ingin bisa bergerak lincah seperti
halnya Siau In. Tapi bagaimana caranya? Sebagai
orang yang baru saja kenal, tak mungkin kakek itu
mau mengajarinya.
"Tapi Locianpwe tadi mengatakan bahwa ilmu silat
dari Kerajaan Pelangi tidak bisa dipelajari oleh
sembarang orang." A Liong menjawab sekenanya.
Tak terduga wajah Soat Ban Ong berubah hebat
mendengar jawaban tersebut. Matanya yang sipit
berkilat-kilat memandang A Liong.
627
"Kau bilang apa? Kau tahu ilmu silatku dari... dari
Pondok Pelangi?"
A Liong menjadi kaget juga. Sebenarnya dia cuma
bicara sembarangan, karena otaknya yang cerdas
hanya menerka-nerka saja tentang siapa kakek itu.
"Maaf, Locianpwe. Aku hanya menduga-duga saja
dari cerita Locianpwe tadi. Locianpwe mengatakan
bahwa Pondok Pelangi hanya dihuni oleh keluarga
Soat, Souw dan Bok. Sementara Locianpwe berdua
dari keluarga Soat dan Bok...."
Kakek Soat Ban Ong termangu sebentar, tapi sesaat
kemudian tawanya meledak lagi.
"Bukan main! Kau sangat cerdas dan teliti sekali,
lalalala."
Wajah A Liong menjadi merah oleh pujian itu. Dan
kakek itu semakin senang melihatnya.
"Sudahlah! Kita sudah sampai. Lihat ...! Pulau itu
tak memiliki apa-apa, bukan?"
A Liong mengangkat mukanya. Benar, pulau itu
telah berada di depan matanya. Sebuah gugusan pulau
berpasir putih, dengan batu-batu karang berwarna
putih pula, membuat pulau itu bagaikan lembaran
kapas yang terapung di atas air.
Demikianlah, akhirnya mereka sampai juga di
tempat Kakek Soat Ban Ong. A Liong melihat Kakek
Bok Kek Ong sudah mendaratkan sampannya di atas
pasir. Bahkan kakek itu telah menyeretnya jauh ke
daratan. Tampaknya kakek itu tak ingin sampannya
628
yang sangat berharga itu terseret kembali ke tengah
lautan.
Selesai menyimpan sampannya, Kakek Bok Kek
Ong segera menyelinap pergi tanpa menunggu
kedatangan mereka. Namun Kakek Soat Ban Ong
juga tidak peduli. Setelah mengikat sampannya di
tempat aman, Kakek Soat Ban Ong segera
menggandeng lengan A Liong.
"Nah, A Liong... marilah kita pergi ke rumahku
dulu. Setelah menyiapkan makan kita bisa bercerita
lagi. Ayoh...!"
Mereka berjalan ke tengah pulau, mengikuti jejak
Bok Kek Ong yang telah berjalan lebih dulu. Di
sepanjang jalan A Liong tidak henti-hentinya
mengagumi panorama di atas pulau itu. Walaupun
tidak ada tumbuh-tumbuhan besar, namun bebatuan
yang ditumbuhi lumut dan jamur itu mampu
menampilkan pemandangan tersendiri.
Di bawah pantulan cahaya matahari, batu-batu
karang yang menonjol di sana-sini itu seperti
memercikan sinar warna-warni. Merah, biru, kuning,
hijau. Sungguh indah sekali. Apalagi lumut dan jamur
yang tumbuh di atasnya juga memiliki warna yang
bermacam-macam. Dari jauh tumbuh-tumbuhan kecil
itu seperti rangkaian bunga yang mekar bersamasama.
"Ah, suasananya benar-benar seperti di taman
istana saja!" Tak terasa lidah A Liong berdecak
kagum.
629
Kakek Soat Ban Ong mengajak A Liong ke suatu
tempat di mana terdapat rimba batu karang yang
menjulang tinggi ke udara. Seperti halnya bebatuan di
tepi pantai tadi, maka batu karang raksasa yang ada di
tempat itu juga memiliki warna yang beraneka
macam. Berkilat-kilat gemerlapan seperti batu
permata.
Kakek Soat Ban Ong memasuki sebuah gua kecil.
Di dalamnya tampak tertata rapi. Ada bermacammacam
peralatan di pojok gua itu. Ada peralatan
masak, peralatan memancing dan sebagainya.
"Locianpwe tinggal di gua ini?"
Kakek Soat Ban, Ong mengangguk. "Memangnya
ada apa?"
A Liong tidak menjawab. Dia justru keluar dan
melongok ke luar gua. "Sejak tadi aku tidak melihat
Bok Kek Ong Locianpwe. Ke manakah dia?"
"Lalalalaa... tentu saja dia berada di rumahnya
sendiri. Eh, apakah kau ingin berkunjung ke sana, A
Liong?"
"Oh? Jadi Locianpwe tidak tinggal bersama?"
"Wah, gawat! Jelek-jelek kami berdua ini lelaki
semua. Masa kami harus tinggal bersama seperti
suami isteri, heh? Kau pikir salah satu dari kami ini
banci?"
A Liong cepat merangkapkan tangan di depan dada.
"Maaf, Locianpwe Bukan... bukan begitu maksudku.
Locianpwe berdua tidak memiliki sanak saudara lagi.
630
Bukankah lebih baik hidup berdekatan... agar dapat
saling tolong-menolong satu sama lain?"
"Wah, siapa bilang kami tidak mempunyai sanak
saudara lagi? Kau salah! Keluarga kami sangat
banyak. Cuma kami tak bisa bertemu dengan mereka,
karena semuanya berada di Kepulauan Pelangi."
Kakek Soat Ban Ong menyela dengan suara tinggi.
"Sangat banyak?" A Liong berdesah kaget. "Tapi...
mengapa tak bisa ke sana? Bukankah Locainpwe
dapat naik sampan?"
Kakek Soat Ban Ong menatap A Liong dengan
tajamnya. Mata itu seperti hendak berbicara banyak,
tapi tak jadi. Kakek itu membalikkan tubuhnya dan
melangkah masuk ke dalam gua. Wajah yang
biasanya tampak gembira itu tertunduk lesu.
A Liong bergegas mengikutinya. Tapi kini pemuda
itu tak berani berkata sembarangan lagi. Dia segera
duduk pula ketika kakek itu merebahkan tubuhnya di
atas batu datar, yang selama ini dipergunakan sebagai
tempat tidur.
"Kau ingin tahu mengapa kami tidak dapat kembali
ke Kepulauan Pelangi? Baiklah, aku akan bercerita.
Tapi sebelumnya aku ingin tahu juga tentang kau. Kau
belum berkata sepatah pun tentang dirimu sendiri...."
Akhirnya Kakek Soat Ban Ong berkata pelan.
A Liong tersenyum kecut. Setiap kali ditanya
tentang dirinya atau riwayat hidupnya, pemuda itu
selalu bingung dan salah tingkah. Riwayat hidupnya
631
yang kurang manis itu membuatnya tidak enak setiap
kali harus diceritakan.
"Tak ada yang bisa diceritakan, Lo-cianpwe. Siaute
(aku yang hina ini) hanyalah anak keturunan
pengemis gelandangan yang hidup dari mengais-ngais
sisa makanan di jalanan. Siaute tidak tahu siapa orang
tuaku, karena sejak kecil siau-te berada dalam
lingkungan kelompok pengemis yang selalu berjalan
dan berpindah-pindah dari kota ke kota."
Soat Ban Ong tersentak kaget. Matanya
memandang wajah A Liong hampir tak percaya. Masa
anak gelandangan yang hidup menjadi pengemis bisa
memiliki tubuh kekar, kuat dan sehat seperti itu?
"Kalau begitu... apa nama keluargamu?" kakek
sakti itu bertanya ragu.
A Liong cepat menggelengkan kepalanya.
"Jangankan nama keluarga, nama sendiri pun siau-te
tak punya. Nama A Liong hanyalah sebutan yang
diberikan oleh kawan-kawan, karena ada gambar tatto
naga di dada siau-te."
Jawaban itu benar-benar mencengangkan Soat Ban
Ong. Orang tua itu sama sekali tak menduga kalau A
Liong mempunyai riwayat hidup yang runyam seperti
itu.
"Lalu... bagaimana kau bisa tercebur ke laut dan
terseret ombak sampai ke Laut Utara? Apakah kau
sudah bosan hidup dan berniat bunuh diri?"
A Liong tersenyum. "Ah, Locianpwe ini ada-ada
saja. Bagi siau-te hidup ini terasa nikmat dan
632
menyenangkan. Bagaimana mungkin siau-te berniat
untuk meninggalkannya?"
"Kalau begitu... yah, sudahlah! Ceritakan saja
semua riwayatmu! Tentu saja sejauh yang kauingat!" '
A Liong menurut. Dibeberkannya semua
pengalaman dan riwayat hidupnya, seperti yang
pernah dia ceritakan pula kepada Siau In. Lalu
diceritakannya juga perjalanannya ke rumah Tabib
Tong Kiat Teng bersama gadis itu. Hanya dalam hal
terseretnya dia ke Laut Utara, dia benar-benar tak
tahu. Selain malam sangat gelap, suasana di laut pun
sangat asing baginya, sehingga ia benar-benar tidak
tahu bagaimana dia sampai di Laut Utara.
Soat Ban Ong benar-benar terkesan pada penuturan
A Liong. Terutama ketika A Liong menceritakan
tragedi pembantaian di tepi pantai itu. Walaupun pada
saat itu A Liong dalam keadaan pingsan, tapi Siau In
telah menceritakan semuanya, sehingga A Liong bisa
menuturkannya dengan lancar. Sebuah pertempuran
yang amat dahsyat, yang melibatkan tokoh-tokoh
kenamaan dari Beng-kau, Im-yang-kau, dan orangorang
Hun.
Kakek Soat Ban Ong sama sekali tidak mengenal
tokoh-tokoh dalam cerita itu. Tapi cerita tentang
kedahsyatan ilmu mereka benar-benar menggelitik
hatinya. Sebagai orang yang sangat menyukai ilmu
silat, maka kaki dan tangannya menjadi gatal untuk
menjajal ilmu kepandaian tokoh-tokoh dalam cerita
itu.
633
"Kau bilang Orang Hun itu bisa bergerak... seperti
ini?" Orang tua itu berseru penasaran.
Telapak tangan Soat Ban Ong tiba-tiba menepuk
batu di bawahnya. Plaak! Kontan tubuhnya yang
gemuk itu mencelat ke atas bagaikan seekor belalang
yang menyentakkan kaki belakangnya. Gerakannya
cepat bukan main, sehingga mata A Liong sama sekali
tak bisa mengikutinya. Tahu-tahu kakek sakti itu
sudah melekat di atas langit-langit gua, seperti seekor
cecak yang sedang menanti mangsa.
Mulut A Liong ternganga menyaksikan kecepatan
gerak orang tua itu. Namun demikian A Liong tak
bisa membandingkan, mana yang lebih cepat dan
lebih tangkas antara Mo Hou dan Soat Ban Ong.
Seperti telah diketahui pada saat pertempuran itu
berlangsung A Liong dalam keadaan pingsan. Tapi
yang jelas bagi A Liong kakek yang berada di
depannya itu memang benar-benar hebat. Gerakan
kakek itu sama sekali tak bisa diikuti dengan matanya.
Bahkan kakek itu juga mampu menempelkan
tubuhnya di langit-langit gua. Tubuh yang gemuk itu
melekat seperti cecak.
"Maaf, Locianpwe... siau-te tak bisa menilai.
Pengetahuan siau-te tentang ilmu meringankan tubuh
sama sekali tidak ada." A Liong menjawab malumalu.
Soat Ban Ong tertawa, lalu turun kembali di depan
A Liong. Dia tidak mendesak lebih lanjut, karena dari
634
sinar mata A Liong saja dia bisa menduga apa yang
ada di dalam pikiran pemuda itu.
"Jangan khawatir, Kami berdua sudah sepakat
untuk mengajarkannya kepadamu. Meskipun kau
tidak akan dapat mendalami rahasia ilmu Pondok
Pelangi secara tuntas, tapi paling tidak kau dapat
mengenal dan mainkan jurus-jurusnya. Dengan cara
begitu tubuhmu akan selalu sehat dan cekatan,
sehingga kau bisa bertahan hidup di pulau ini
sepeninggal kami nanti."
"Apa...? Mengapa harus tinggal di sini? Apakah
Locianpwe berdua hendak menyandera aku?" A Liong
menjerit ketakutan.
Kakek Soat Ban Ong tertawa. "Lala-la, tenang A
Liong... tenang! Jangan menjerit-jerit begitu! Aku
tidak bermaksud apa-apa. Aku tidak bermaksud
menyandera kamu. Apa gunanya? Tanpa kami
sandera pun kau tak mungkin bisa keluar dari
kawasan ini. Kau lihat kami berdua, aku dan Kakek
Bok Kek Ong itu? Apakah kaukira kami berdua tak
ingin keluar dari pulau ini dan kembali ke Pon dok
Pelangi? Telah enam puluhan tahun kami berada di
sini dan entah sudah berapa ribu kali kami
mencobanya. Tapi hasilnya? Padahal ilmu yang kami
pelajari rasa-rasanya juga sudah cukup untuk modal
menghadapi segala macam kesulitan. Nah...!"
Ucapnya kemudian dengan suara renyah. Sama sekali
tak ada kesan sedih ataupun kesal di wajahnya.
635
A Liong lah yang kemudian tertunduk sedih. Apa
yang dikatakan orang tua itu tentu saja benar. Mereka
tentu sudah kembali ke keluarganya kalau memang
mampu. Mengapa harus susah-susah hidup sendirian
di tempat terpencil seperti ini?
Ingat akan hal itu A Liong menjadi sedih sekali.
Tak terasa satu persatu wajah kawan-kawannya
berkelebat di pelupuk matanya. Mereka hidup susah
dan selalu dalam kesulitan, namun mereka selalu
bergembira. Selalu berbagi rasa dan berbagi rejeki
bersama-sama. Bahkan setelah ia memisahkan diri,
karena ingin bekerja dan mendapatkan uang sendiri, ia
selalu menyempatkan diri menjumpai kawankawannya
itu. Dengan gaji yang diperolehnya, ia
sering mentraktir atau membeli makanan untuk
berpesta bersama.
Kawan-kawannya itu tentu akan merasa kehilangan
apabila lama dia tidak muncul. Pernah terjadi,
gerombolannya itu berjalan berkeliling ribuan Lie
jauhnya di daerah Tiong-goan, dari kota yang satu ke
kota yang lain, hanya untuk mencari dirinya. Waktu
itu secara diam-diam ia pergi ke utara, keluar dari
Tembok Besar untuk mencari pengalaman.
"Sudahlah, A Liong. Kau tidak perlu bersedih. Kau
tidak boleh berputus asa. Setiap orang memiliki
keberuntungannya sendiri-sendiri. Kami berdua
memang tidak mampu keluar dari tempat ini, tapi
siapa tahu Thian mentakdirkan lain buatmu? Nah,
kalau memang nasibmu baik dan memperoleh jalan
636
keluar dari tempat ini, kau harus tetap memiliki badan
dan semangat yang sehat. Jangan menjadi manusia
yang loyo dan sinting. Tidak akan ada gunanya lagi
kalau waktu keberuntungan itu datang, engkau telah
berubah menjadi sinting dan loyo. Benar tidak?"
Nasihat sederhana itu ternyata sangat mengena di
hati A Liong. Ya, siapa tahu? Selama ini ia selalu
memiliki semangat yang tinggi. Segala macam
kesulitan dan kesengsaraan selalu diterimanya dengan
penuh tawakal dan lapang dada. Dia tak pernah
mengeluh ataupun menyesali nasibnya. Sebaliknya
dia malah selalu
memberi
semangat dan
membesarkan hati
teman-temannya.
Nah, kalau begitu
mengapa sekarang
dia harus
bersedih?
Tidak seorang
pun tahu, apa
yang akan terjadi
besok atau lusa.
Manusia hanya
wajib berusaha
dan berikhtiar.
Yah, siapa tahu
nasibnya memang lain daripada kedua orang tua itu?
637
"Terima kasih, Locianpwe. Siau-te benar-benar
beruntung bisa menjadi muridmu. Siau-te berjanji
akan belajar dengan sepenuh hati. Mudah-mudahan
siaute mampu menerimanya sehingga tidak
mengecewakan Locianpwe berdua."
A Liong segera berlutut di depan Kakek Soat Ban
Ong.
"Bagus! Bagus! Aku tahu kau anak yang baik.
Lalalala...."
Orang tua itu merangkapkan kedua tangannya
sambil menengadahkan kepalanya ke atas, ke langitlangit
gua. Sepasang matanya tampak berkaca-kaca.
Demikianlah pada hari berikutnya A Liong sudah
mulai belajar ilmu silat dari Kakek Soat Ban Ong.
Karena A Liong pada dasarnya memang belum pernah
belajar silat, maka Soat Ban Ong juga memulainya
dari awal.
"Hari ini kau berlatih menggerak-gerakkan kaki
tanganmu dulu, agar urat-uratmu menjadi lemas dan
mapan. Cobalah dengan berlari mengelilingi pulau
ini!"
"Baik, Locianpwe."
"Lalala, bagaimana kau ini? Panggil aku Suhu,
dong!"
A Liong tertegun sebentar, namun segera
menyadarinya. Bergegas ia menekuk lututnya.
"Baik, Suhu." Ia memberi hormat dengan
bersemangat. "Murid akan segera berlari mengelilingi
pulau ini."
638
"Bagus! Nah, mulailah!"
A Liong mengangguk, kemudian bergegas ke
pantai. Dengan bersemangat ia lalu berlari di atas
pasir. Karena sejak kecil dia sudah terbiasa
melakukan cara-cara pernapasan yang diajarkan oleh
orang tua tak dikenal itu, maka sekarang pun secara
otomatis dia juga melakukannya pula.
Dengan hembusan dan tarikan napas yang teratur A
Liong berlari perlahan.
Kadang-kadang juga di dalam air yang dangkal.
Karena pulau itu memang kecil dan berpantai pasir
landai, maka A Liong tidak menemui kesulitan untuk
mengelilinginya. Bahkan sambil berlari dia sempat
melihat-lihat panorama indah di sekitar pulau tersebut.
Memang benar . apa yang dikatakan oleh gurunya
kemarin, bahwa gugusan pulau itu terdiri dari
beberapa buah pulau kecil-kecil. Malah antara pulau
yang satu dengan pulau yang lain hampir melekat satu
sama lain. Masing-masing hanya dibatasi oleh air
setinggi lutut saja.
"Kelihatannya Suhu Bok Kek Ong tidak tinggal di
pulau ini, tapi di pulau seberang itu."
Sementara itu Soat Ban Ong mengambil beberapa
macam jamur yang secara khusus ditanamnya di pulau
itu. Dia ingin menyiapkan makan siang untuk A Liong
nanti. Dia juga mengambil beberapa ekor ikan laut
yang diternakkannya di dalam kolam.
Kakek Soat Ban Ong memang pandai memasak.
Ikan laut itu dioles dengan jamur yang telah
639
dilumatkan, kemudian diberi bumbu dan dibakar di
atas api. Beberapa waktu kemudian asapnya yang
berbau gurih itu telah berhembus ke mana-mana,
memenuhi udara di atas pulau kecil itu.
"Hei kura-kura gemuk! Kau mau berpesta, ya?"
Entah dari mana datangnya, tiba-tiba saja Kakek Bok
Kek Ong telah berdiri di dekat Soat Ban Ong.
"Lalalala, apa kataku? Mudah sekali untuk
memanggilmu. Buat saja masakan yang enak,
tanggung mukamu yang rusak itu akan segera
muncul." Soat Ban Ong tertawa meledek.
Tapi Bok Kek Ong tidak mempedulikan ejekan itu.
Bahkan tanpa berbasa-basi lagi dia memungut ikan
yang telah masak dan mencicipinya. Liurnya sampai
menetes saking nikmatnya ia merasakan ikan laut
bakar itu.
"Bukan main...! Enak sekali! Cek... cek... cek!"
"Wah! Wah! Masakan ini bukan untuk kita, Cacing
Kurus! Ini untuk murid kita! Apakah kau tak melihat
dia sedang berlari melemaskan otot-ototnya mengelilingi
pulau ini? Huh, kau ini!"
Tiba-tiba Bok Kek Ong menengadahkan wajahnya.
Mulutnya berhenti mengunyah.
"Jadi... dia setuju menjadi murid kita?" katanya
kemudian seperti tak percaya.
Soat Ban Ong mengangguk. Bibirnya yang tertutup
kumis dan jenggot lebat berwarna hitam legam itu
tersenyum.
640
"Tapi kau tak memaksanya, bukan?" Bok Kek Ong
menegaskan lagi.
"Tentu saja tidak. Kau ini ada-ada saja.
Memangnya mudah mempelajari ilmu silat dari
Pondok Pelangi? Apalagi tanpa keinginan dan
semangat yang tinggi dari orang itu sendiri? Memaksa
orang untuk belajar ilmu silat Pondok Pelangi, sama
saja memaksa orang menjadi gila!"
Bok Kek Ong tertawa dan kembali mengunyah
makanannya. "Wah, aku juga cuma bertanya saja,
kok! Siapa tahu karena sulitnya mencari ahli waris,
engkau lantas jual murah ilmu silat kita? Apalagi
selama ini juga baru sekali ini ada orang yang mampu
keluar dari pusaran iblis itu. Dan kebetulan pula orang
itu adalah seorang bocah yang bertulang amat bagus."
Soat Ban Ong ikut tertawa pula. sambil
mengangkat pundak dia berkata santai. "Yah, kita
memang orang yang beruntung. Karena selalu sabar
dan tawakal, jerih payah kita selama ini akhirnya
membuahkan hasil pula. Memang untuk mendapatkan
ikan besar, diperlukan umpan yang sepadan pula.
Bukankah begitu Lo Kek Ong (Si Tua Kek Ong)?"
Bok Kek Ong tidak menjawab. Tapi dia tersenyum,
suatu hal yang tidak pernah dilakukannya selama ini.
Biasanya setiap kali berhadapan dengan Soat Ban
Ong, mereka tentu bertengkar dan berdebat. Bahkan
kadang-kadang sampai berkelahi pula. Kelihatannya
kedatangan A Liong tersebut telah mengubah
perangainya.
641
Karena Bok Kek Ong tidak menjawab, maka Soat
Ban Ong pun tidak ambil pusing pula. Diambilnya
ikan-ikan bakar yang telah masak itu, ditaruhnya di
dalam mangkuk batu, lalu dibawanya ke pantai. Bok
Kek Ong bangkit pula. Seperti seekor kucing ia
mengikuti dari belakang.
"A Liong...! A Liong...!" Soat Ban Ong berseru.
Sampai di atas hamparan pasir tiba-tiba Soat Ban
Ong tertegun. Matanya terbelalak mengawasi bekasbekas
sepatu di atas pasir tersebut. Hampir saja
mangkuk batu yang dibawanya itu terlepas.
Bok Kek Ong cepat menghampiri. "Ada apa, Lo
Ban Ong (Si Tua Ban Ong) ...?" Ia menegur.
Soat Ban Ong menunjuk ke bekas sepatu itu.
"Banyak benar bekasnya! Berapa puluh kali anak itu
mengelilingi pulau ini?"
"Lhoh... memangnya kausuruh bagaimana dia?"
Soat Ban Ong menghela napas panjang. Matanya
segera melongok ke sana ke mari mencari bayangan A
Liong. Dan wajahnya menjadi lega begitu melihat
pemuda itu berlari mendatangi.
"A Liong berhenti dulu!" Dia berteriak memanggil.
Pemuda itu berhenti di depan Soat Ban Ong.
Namun serentak dilihatnya Bok Kek Ong juga ada di
situ, A Liong cepat menghampiri dan berlutut di
hadapannya.
Bok Kek Ong menyembunyikan perasaan
gembiranya. Tangannya meraih pundak A Liong dan
ditariknya agar berdiri. Mereka saling berpandangan.
642
Tiba-tiba Bok Kek Ong tertegun menyaksikan wajah
A Liong yang tampan itu sama sekali tidak
berkeringat. Wajah pemuda itu masih tampak segar,
seakan-akan tidak pernah berlari atau melakukan
sesuatu yang menguras tenaganya. Bahkan
pernapasannya pun tetap halus dan teratur. Sama
sekali tidak tampak lelah atau tersengal-sengal.
Ternyata Soat Ban Ong menjadi heran melihat
kenyataan tersebut. Melihat bekas sepatu yang ada di
atas pasir, bisa dikira-kira kalau A Liong lebih dari
puluhan kali melewati tempat itu. Tapi, mengapa
pemuda itu sama sekali tidak kelihatan lelah? Bahkan
berkeringat pun tidak?
"Anak baik, duduklah!" Akhirnya Bok Kek Ong
menyuruh A Liong untuk duduk di atas pasir.
"Benar, A Liong. Duduklah! Marilah kita kukuhkan
secara resmi hubungan guru dan murid ini dengan
berpesta ikan bakar...." Soat Ban Ong berkata pula.
"Lo Ban Ong...?" Bok Keng Ong berdesah. Ia tak
tahu apa yang hendak dilakukan oleh Soat Ban Ong
terhadap A Liong.
Soat Ban Ong memberi tanda kepada kawannya itu.
"Kita berpesta dulu. Urusan yang lain kita bicarakan
belakangan."
Demikianlah siang hari itu Soat Ban Ong dan Bok
Kek Ong meresmikan A Liong sebagai murid mereka.
Bok Kek Ong yang lebih tua daripada Soat Ban Ong
disebut Toa-suhu, sedangkan Soat Ban Ong disebut
dengan Ji-suhu. Selesai melakukan upacara sederhana,
643
mereka berpesta ikan bakar yang dimasak oleh Soat
Ban Ong tadi.
"Hmmmh! Omong-omong... sudah berapa kali kau
mengitari pulau ini?" Selesai makan Soat Ban Ong
segera bertanya kepada A Liong.
A Liong mengangguk. "Lima puluh kali, Suhu!"
"Lima... puluh kali?" Soat Ban Ong dan Bok Kek
Ong berseru hampir berbareng. Mata mereka
terbelalak seolah tak percaya.
"Benar, Suhu. Mengapa? Apakah masih harus
ditambah lagi?" A Liong bertanya dengan suara tegas.
"Ah, sudah cukup!" Soat Ban Ong buru-buru
menggoyangkan tangannya.
Namun diam-diam Soat Ban Ong saling pandang
dengan Bok Kek Ong. Sinar mata mereka
menunjukkan perasaan heran, karena menurut cerita A
Liong sendiri, pemuda itu belum pernah belajar ilmu
silat. Tapi kenyataannya berlari dari pagi hingga siang
hari, pemuda itu masih tetap segar bugar dan tidak
mengeluarkan keringat yang berarti. Bahkan
pernapasannya pun tetap biasa pula, tidak tersengalsengal.
Apakah sebenarnya yang terjadi?
Apakah A Liong telah membohongi mereka? Tapi,
bagaimana dengan jejak-jejak sepatu di atas pasir itu?
Tidak mungkin jejak itu tiba-tiba tercipta sendiri,
seolah-olah ada sepasukan hantu yang berbaris di
tempat itu.
644
Satu-satunya kemungkinan memang hanya pada A
Liong sendiri. Mungkin pemuda itu memang telah
menyembunyikan kepandaiannya.
Akhirnya Soat Ban Ong dan Bok Kek Ong sepakat
menanyakannya kepada A Liong.
"A Liong... tampaknya kau pernah belajar ilmu
silat, ya? Kau tidak merasa lelah meskipun telah
berlari sekian lamanya. Napasmu juga tidak tersengalsengal
pula...." Soat Ban Ong bertanya perlahan.
A Liong menatap kedua orang tua itu bergantian.
Alisnya berkerut. Tapi sesaat kemudian otaknya yang
cerdas segera menangkap kecurigaan mereka. Pemuda
itu masih ingat akan keheranan Siau In ketika
tubuhnya mampu menahan pukulan dayung.
"Ah, maaf... Suhu. Siau-te memang benar-benar
belum pernah belajar ilmu silat. Tapi kalau yang Suhu
maksudkan itu tentang cara-cara pernapasan untuk
menguatkan tubuh, siau-te memang pernah
mempelajarinya. Seorang kakek aneh mengajarkan
kepada siau-te ketika siaute masih kecil."
"Cara-cara pernapasan? Dapatkah kau perlihatkan
cara pernapasan itu kepada kami?" Soat Ban Ong dan
Bok Kek Ong berdesah hampir berbareng.
"Tentu saja, Suhu. Begini...."
A Liong lalu duduk bersila di atas pasir.
Punggungnya tegak lurus sampai kepala, sementara
matanya menatap tajam ke arah ujung hidungnya
sendiri. Kedua buah telapak tangannya yang terbuka
terkatup rapat di depan dada. Kemudian dengan sikap
645
yang amat tenang, serta penuh keyakinan, dia
melakukan cara pernapasan seperti yang telah
diajarkan oleh kakek aneh dulu.
Dan tak lama kemudian dari ubun-ubun A Liong
mengepul asap tipis berwarna putih. Asap itu tidak
buyar tertiup angin. Asap itu melayang ke atas
perlahan-lahan, bagaikan ular kobra yang meliuk dan
menari mengikuti irama suling. Dan anehnya asap itu
makin lama makin pekat, bahkan warnanyapun juga
berubah. Sedikit demi sedikit asap putih itu berubah
menjadi merah.
Bukan main kagetnya hati Soat Ban Ong dan Bok
Kek Ong! Cara dan bentuk ilmu pernapasan itu mirip
sekali dengan ilmu pernapasan mereka! Asap yang
timbul di atas kepala pun nyaris sama pula.
Perbedaannya, asap A Liong itu jauh lebih pekat
dan lebih kental daripada asap milik mereka! Dan
asap yang timbul di atas kepala A Liong cuma ada
dua macam warna saja, yaitu merah dan putih.
Demikian pula dengan bentuk asapnya. Asap milik A
Liong cuma bergerak naik di atas kepalanya.
Sebaliknya asap yang mereka miliki bisa -berubahubah
dalam tujuh macam warna, sesuai dengan warna
pelangi. Bentuknya pun tidak hanya mengepul di atas
kepala, tetapi bisa menebar lembut menyelimuti
badan.
Akan tetapi bagaimanapun juga kenyataan itu telah
membuka mata Soat Ban Ong dan Bok Kek Ong,
bahwa A Liong memiliki sebuah ilmu pernapasan
646
yang mirip dengan ilmu pernapasan dari Pondok
Pelangi. Dan kenyataan itu benar-benar menggelitik
hati mereka untuk menyelidikinya.
Dengan sangat hati-hati Soat Ban Ong mendekati A
Liong "Baiklah, A Liong... kau...?"
Ucapan Soat Ban Ong tiba-tiba terhenti ketika
hidungnya mencium bau amis yang amat keras!
Demikian kuatnya bau amis itu sehingga perut mereka
menjadi mual dan mau muntah!
"Bau keringat! Kenapa bau keringat A Liong
seperti ini?" Bok Kek Ong berseru kaget.
A Liong menghentikan latihannya. Wajahnya
kelihatan bingung ketika Soat Ban Ong tiba-tiba
mengulurkan tangannya, dan meraba tempurung
kepalanya. Bahkan Bok Kek Ong yang berdiri di
belakangnya pun ikut-ikutan memeriksa beberapa
jalan darah di sepanjang tulang belakangnya.
"Aaaaaah...!" Soat Ban Ong dan Bok Kek Ong
sama-sama berteriak kaget.
Keduanya saling memandang, kemudian bersamasama
menganggukkan kepala mereka. Ternyata dalam
waktu yang bersamaan tadi mereka telah memeriksa
tubuh A Liong. Soat Ban Ong meneliti bentuk tulang
kepala A Liong, sedangkan Bok Kek Ong memeriksa
susunan urat di sekitar tulang belakang. Dan ternyata
mereka berdua menemukan hal-hal yang aneh dan
mustahil!
Ternyata beberapa buah urat penting di kanan-kiri
tulang belakang A Liong, telah disusun secara khusus
647
seperti halnya anak keturunan penghuni Pondok
Pelangi. Dan susunan tersebut telah dibentuk sejak A
Liong lahir, sehingga tempurung A Liong telah
tumbuh dalam bentuk yang khusus pula.
Soat Ban Ong memegang pundak A Liong dan
menatap wajah pemuda itu dengan tajamnya. Kalau
semula mereka hanya berpendapat bahwa ilmu
pernapasan A Liong sangat mirip dengan ilmu
pernapasan mereka, kini mereka justru menjadi yakin
bahwa ilmu yang dimiliki A Liong benar-benar ilmu
dari Pondok Pelangi!
"A Liong! Katakan yang sebenarnya! Siapakah kau
ini? Bukankah engkau datang dari Pondok Pelangi
juga?"
Perubahan sikap gurunya itu benar-benar
membingungkan A Liong. Dengan wajah pucat ia
memandang Soat Ban Ong dan Bok Kek Ong
bergantian. Sinar matanya tampak bergetar, karena
tidak mengerti apa yang sebenarnya dikehendaki oleh
gurunya.
"Lo-cian... Locianpwe! A-ada apa sebenarnya?
Bukankah siau-te... sudah mengatakannya? Siau-te
anak seorang pengemis, , dan siau-te... tidak tahu
menahu soal Pondok Pelangi."
A Liong berkata dengan suara gemetar,
menandakan ucapannya itu benar-benar keluar dari
lubuk hatinya. Dan sesungguhnya, baik Soat Ban Ong
maupun Bok Kek Ong dapat merasakan juga. Tapi
tanda-tanda khusus yang mereka temukan pada tubuh
648
A Liong itu tidak mungkin salah lagi. Tanda-tanda itu
persis seperti milik mereka! Tanda-tanda khusus bagi
keturunan warga Pondok Pelangi!
Mereka benar-benar pusing. Di suatu pihak mereka
percaya akan semua penuturan A Liong. Tapi di pihak
lain mereka juga yakin bahwa anak itu tentu anak
keturunan dari Warga Pondok Pelangi.
Hanya ada satu hal yang membuat mereka sedikit
ragu akan kebenaran dugaan mereka itu, yaitu bau
amis yang keluar dari badan A Liong. Penghuni
Pondok Pelangi rata-rata memiliki bau harum, bau
khas yang timbul bila mereka menghentakkan tenaga
sakti mereka.
"A Liong, ketahuilah! Kami berdua benar-benar
bingung melihatmu.... Semula kami memang percaya
pada riwayat hidupmu. Tapi setelah menyaksikan
kemampuanmu dan meneliti keadaan tubuhmu,
kepercayaan tersebut menjadi kabur lagi. Ternyata
sejak lahir susunan urat darahmu telah dibentuk sesuai
dengan ilmu warisan dari Pondok Pelangi. Nah, hal
itu berarti kau memiliki hubungan dengan Pondok
Pelangi, karena hal itu tidak mungkin dilakukan oleh
orang lain. Kecuali orang tuamu atau salah seorang
dari para pengemis itu tahu tentang ilmu warisan
tersebut. Dan kalau memang demikian halnya, berarti
orang itu adalah orang dari Pondok Pelangi pula."
Soat Ban Ong berkata dengan hati-hati.
649
"Tapi... jangan khawatir! Kami masih tetap percaya
pada ceritamu. Kau tentu takkan membohongi kami."
Bok Kek Ong ikut menambahkan.
Soat Ban Ong tersenyum. "Benar. Kami tetap
percaya padamu. Tapi harap kau ingat juga, bahwa
kami tetap berpendapat bahwa kau tentu seorang anak
keturunan Pondok Pelangi. Hanya saja... kami tak bisa
menerka, apa yang dulu terjadi padamu. Mungkin kau
memang keturunan seorang warga Pondok Pelangi
yang terdampar di daratan Tiongkok."
Namun demikian kami juga belum yakin pula pada
dugaan itu, karena... tiba-tiba badanmu mengeluarkan
bau amis yang amat menyengat! Padahal ilmu
pernapasan dari Pondok Pelangi justru mengakibatkan
bau harum pada pemiliknya, bukan bau amis seperti
itu." Bok Kek Ong menambahkan lagi.
Soat Ban Ong mengangguk. "Itulah sebabnya kami
menanyakan lagi asal-usulmu. Tapi kalau kau
memang benar-benar tidak tahu, kami berdua juga
memakluminya. Mungkin kau memang anak
keturunan warga Pondok Pelangi, yang ditemukan
oleh kawanan pengemis, yang kemudian menjejalimu
dengan makanan-makanan kotor, sehingga bau
keringatmu menjadi amis ketika mengerahkan tenaga-
.
Bok Kek Ong menepuk pundak A
Liong. "Tapi bisa juga kau bukan anak keturunan
Pondok Pelangi. Mungkin kau memang anak
pengemis, yang pada saat kelahiranmu mendapat
650
pertolongan dari seorang warga Pondok Pelangi. Dan
orang itu kebetulan menyukaimu, serta ingin
mengangkatmu sebagai murid, se hingga ia
mempersiapkan susunan urat-urat di dalam tubuhmu."
"Maksud Suhu... orang tua yang mengajariku ilmu
pernapasan itu? Tapi... orang itu hanya sekali saja
bertemu denganku." A Liong mencoba mengikuti
jalan pikiran gurunya.
"Mungkin juga. Yah, siapa tahu? Kau bisa
menanyakannya bila bertemu nanti! Lalalalala...!
Kulihat riwayat hidupmu sangat aneh dan menarik.
Kurasa masih ada suatu rahasia yang belum kau
ketahui. Kau kelihatan berbeda dangan anak-anak
sebayamu. Dan kau tidak sesuai menjadi seorang anak
pengemis. Kau tentu bukan anak sembarangan. Tapi...
yah, sebaiknya kau menyelidikinya sendiri nanti.
Lalalalala...!" Soat Ban Ong yang suka melucu itu
tertawa.
A Liong tercenung diam. Kata-kata gurunya itu
benar-benar tercerna ke dalam hatinya. Rahasia?
Benarkah masih ada rahasia yang belum
diketahuinya? Apakah itu?
Selama ini A Liong memang tidak pernah
memikirkan siapa dirinya. Dia sudah pasrah akan
nasibnya, dan ia tak pernah mempersoalkan siapa
orang tuanya. Ia sudah menganggap dirinya sebagai
bagian dari kelompok pengemis itu.
Tapi kata-kata gurunya itu masuk akal juga. Selama
ini nasibnya, jalan hidupnya, memang tampak berbeda
651
dengan para pengemis yang lain. Benarkah ia bukan
keturunan mereka? Lalu anak siapakah dia
sebetulnya?
' "Tapi... apa yang telah siau-te ceritakan itu
memang benar, Lo-cianpwe. Siau-te tidak
berbohong." Akhirnya A Liong berkata dengan
memelas.
"Yaya, kami tahu. Itulah sebabnya kami tetap
menginginkan kau menjadi murid kami." Soat Ban
Ong mengiyakan. "Nah, sekarang kami akan menguji
dulu kemampuanmu. Sebelum kami memberi
pelajaran silat."
Soat Ban Ong dan Bok Kek Ong lalu membawa A
Liong ke tempat yang lebih datar. Mereka duduk
melingkar saling berhadapan.
"Sekarang... coba kau kerahkan ilmu pernapasanmu
tadi, lalu pukullah telapak tanganku ini!" Soat Ban
Ong mengangkat tangannya ke depan.
"Memukul? Tapi cara pernapasan itu hanya
digunakan untuk melawan hawa dingin, Suhu."
"Sudahlah! Kau turuti saja perintah kami!" Bok
Kek Ong menimbrung.
Meskipun agak ragu, tetapi A Liong melaksanakan
juga perintah itu. Setelah mengerahkan ilmu
pernapasannya, sehingga uap putih mengepul di atas
kepalanya, tangannya diayun ke depan, ke arah
telapak tangan gurunya.
Whuuuuuut... dhug! A Liong meringis kesakitan.
Buku tangannya bagaikan membentur sebongkah batu
652
karang! Sebaliknya Soat Ban Ong merengut karena
kecele. Dia terlanjur mengerahkan sebagian besar
tenaga dalamnya, karena ia melihat pekatnya asap
yang mengepul di ubun-ubun A Liong. Namun
pukulan yang terlontar dari tangan pemuda itu
ternyata tak berisi apa-apa. Bocah itu benar-benar tak
tahu ilmu silat. Tidak tahu cara menyalurkan tenaga
sakti untuk menyerang lawan!
Orang tua itu memandang Bok Kek Ong untuk
menanyakan pendapatnya. "Baiklah! Kalau memang
dia hanya membutuhkan ilmu itu untuk bertahan
terhadap udara dingin, artinya dia bisa
menggunakannya untuk mempertahankan diri.
Sekarang... biarlah dia tetap bertahan! Kau saja yang
menyerangnya!" Bok Kek Ong berkata.
"Menyerang dia? Hei, kau jangan main-main!
Bocah ini bisa lumat oleh pukulanku!"
"Belum tentu! Apakah kau tidak melihat asapnya
tadi? Asapmu belum tentu setebal itu!"
"Tapi...?" Soat Ban Ong bergumam ragu.
"Yah, tentu saja kau pun harus melihat keadaan
pula. Terlalu meremehkan, kau bisa celaka. Tapi
terlalu bernafsu, kau juga bisa membunuhnya. Nah,
lakukanlah!"
"Tidak! Kalau begitu kau saja yang menguji dia!
Tenaga dalammu lebih baik daripada aku. Kaulah
yang bisa mengaturnya."
Bok Kek Ong yang kurus itu menarik napas
panjang. Terpaksa dia mengambil alih ujian itu.
653
Sambil menggeser badannya ia mengangguk kepada
A Liong.
"Baiklah! Nah, A Liong... kau lakukan lagi cara
pernapasan itu! Berbuatlah seperti kalau kau bertahan
terhadap udara dingin, dan aku akan mencoba
menghembuskan udara dingin kepadamu. Berusahalah
untuk bertahan! Syukur kau bisa menolak atau
menentangnya!"
"Baik, Suhu!"
Sekali lagi A Liong melakukan cara-cara
pernapasannya. Begitu uap putih yang keluar dari
ubun-ubunnya berubah menjadi merah, maka Bok
Kek Ong juga mengerahkan tenaga dalamnya. Uap
putih mengepul pula menyelimuti tubuh Bok Kek
Ong, seakan-akan tubuh yang kurus itu telah berubah
menjadi sebongkah es yang dingin. Lalu perlahanlahan
tangan orang tua itu mendorong ke depan.
Serangkum udara dingin meluncur menuju ke dada
A Liong. Desau suaranya seolah-olah mengalahkan
suara angin yang bertiup dari arah barat. Untuk
menguji kekuatan A Liong, Bok Kek Ong sengaja
mengeluarkan sepertiga dari seluruh tenaga saktinya.
A Liong tidak bereaksi atau berbuat apa-apa, selain
tetap meneruskan semadinya. Di dalam hatinya hanya
ada satu keinginan, yaitu melawan hawa dingin yang
tiba-tiba membentur dadanya.
654
Dan apa yang terjadi kemudian benar-benar
membuat kecut hati Bok Kek Ong. Hentakan udara
dingin dari telapak tangannya tiba-tiba terserap ke
dalam aliran darah
A Liong, dan ikut
berputar di dalam
tubuh, kemudian
keluar melalui
ubun-ubun dalam
bentuk asap putih
yang semakin tebal.
Bok Kek Ong
terkejut. Dorongan
tenaga saktinya itu
cukup untuk
membunuh seekor
kerbau liar, namun
kenyataannya tak
selembar rambut
pun tergoncang dari
tubuh A Liong. Bahkan dari raut wajahnya, pemuda
itu sama sekali tak merasakan gangguan tersebut.
Bok Kek Ong menambah tenaganya. Dan kali ini
kedua telapak tangannya bersama-sama mendorong ke
depan, menggempur dada A Liong dengan dua pertiga
bagian dari seluruh kekuatannya.
"Lo Kek Ong (Si Tua Kek Ong)...!" Soat Ban Ong
berseru kaget, karena kekuatan Bok Kek Ong itu
655
dapat melemparkan seekor gajah dengan
gampangnya.
Tapi kekuatan A Liong benar-benar mentakjubkan.
Begitu mendapat serangan yang lebih kuat, kekuatan
yang terpendam di dalam tubuhnya tiba-tiba juga
bereaksi dengan keras pula. Segumpal hawa panas
otomatis muncul dari bawah pusarnya, kemudian
berputar dengan cepat ke arah seluruh jalan darah di
tubuhnya, membentuk asap tipis yang membungkus
kulitnya.
Tiupan angin dingin yang meluncur dari tangan
Bok Kek Ong itu menggempur asap tipis yang
menyelubungi badan A Liong! Terdengar suara desis
yang keras sekali, seperti suara bara api tersiram air.
Asap mengepul semakin tebal di sekeliling tubuh A
Liong, namun pemuda itu seperti tak merasakan apaapa.
Bahkan ketika Bok Kek Ong menjadi penasaran,
dan kemudian menghentakkan pukulan udara
kosongnya, tiba-tiba timbul daya tolak yang hebat dari
tubuh A Liong!
Wuuuuuus...! Blugh!
Badan Bok Kek Ong yang kurus itu terlempar
tinggi ke udara, kemudian terhempas kembali ke atas
pasir! Untunglah orang tua itu sudah menduganya
lebih dahulu, sehingga tubuhnya tidak terbanting ke
pasir, tapi mendarat dengan ringan bagaikan segumpal
kapas tertiup angin!
656
Untuk sesaat air muka Bok Kek Ong menjadi
merah padam. Dia benar-benar tak mengira kalau A
Liong memiliki tenaga simpanan sedahsyat itu!
Sementara itu A Liong telah membuka matanya.
Dengan penuh harap ia menanti pendapat kedua orang
tua itu. Sama sekali tak disadarinya, bahwa ia baru
saja melemparkan Bok Kek Ong ke udara.
Soat Ban Ong buru-buru menghampiri sahabatnya.
"Kau tidak apa-apa?"
Bok Kek Ong menggelengkan kepalanya. "Untung
bukan engkau yang mengujinya. Kalau kau yang
maju, niscaya salah seorang dari kalian akan mati di
tepian pantai ini...."
"Ya-ya-ya, kulihat... kulihat tenaganya hebat
sekali!"
Bok Kek Ong melirik ke arah A Liong', lalu
mengangguk kuat-kuat. "Anak itu... benar-benar
mempunyai tenaga ajaib. Dan... ia sama sekali tak
menyadarinya. Yang dia ketahui... tenaga itu hanya
dipergunakan untuk menolak hawa dingin. Wah, Lo
Ban Ong... jangan-jangan dia masih menyimpan
tenaga yang lebih besar lagi!"
Soat Ban Ong menatap sahabatnya dengan mata
melotot. "Maksudmu... maksudmu lwekangnya masih
lebih tinggi lagi? Waduh, kalau begitu kau harus
mengujinya lagi. Kita harus tahu, sampai di mana
kekuatannya, agar kita bisa menyesuaikan pelajaran
silatnya nanti."
657
Bok Kek Ong mengerutkan keningnya. Kedua
alisnya yang berbeda warna itu seolah-olah
menumpuk jadi satu di tengah dahi.
"Baiklah...!"
"Bagaimana, Suhu?" A Liong tidak sabar lagi
menantikan jawaban gurunya.
"Aku belum selesai, A Liong. Coba, kau ulangi lagi
cara pernapasanmu tadi! Aku akan mengujimu
kembali."
A Liong berdesah pajang. Ia kelihatan kurang
bergairah untuk melaksanakan perintah itu. Tapi apa
boleh buat, ia terpaksa melakukannya juga.
Demikianlah, ketika asap putih di atas kepala A
Liong sudah berubah menjadi merah, Bok Kek Ong
segera mengerahkan lwekangnya pula. Karena dengan
dua pertiga bagian tenaganya belum dapat mengusik
kekuatan A Liong, maka kini Bok Kek Ong
mengerahkan hampir seluruh tenaga saktinya.
Terdengar suara gemeratak di dalam tubuh kurus itu,
seolah-olah tulang-tulangnya pada berpatahan.
Untuk menguji kekuatannya, orang tua itu menepuk
batu karang di sampingnya. Perlahan-lahan saja.
Plaaak...! Tapi batu karang sebesar kerbau itu tiba-tiba
merekah dan terbelah menjadi dua bagian!
Melihat demikian besar kekuatan yang dipersiapkan
untuk menguji A Liong, Soat Ban Ong berteriak
khawatir.
"Lo Kek Ong, hati-hati! Kalau anak itu sampai
mati, kau harus bertanggung jawab!"
658
Bok Kek Ong tersenyum untuk menenangkan hati
sahabatnya. Lalu perlahan-lahan tangannya terangkat
ke atas. Wuuuuuus...! Sekonyong-konyong tangan itu
menerkam ke bawah, menuju ke dada A Liong! Angin
dingin menyambar dengan dahsyatnya seolah-olah
hendak membelah tubuh pemuda itu!
"Kek Ong, awas... kalau sampai cedera, kubunuh
kau!" Di dalam puncak kekhawatirannya Soat Ban
Ong menjerit keras sekali.
Thaaaaaas! Klaaaak!
Tak ada benturan! Tak ada suara kesakitan! Tapi
hanya suara tepukan yang lemah! Namun apa yang
terlihat di arena sungguh diluar dugaan!
Dalam posisi tetap berdiri Bok Kek Ong masih
menempelkan telapak tangannya yang penuh tenaga
itu di dada A Liong! Sedang pemuda itu sendiri juga
tetap dalam keadaan duduk bersamadhi seperti
semula. Bedanya, kalau wajah A Liong tetap tenang,
segar dan bersih, sebaliknya wajah Bok Kek Ong
tampak merah padam, kaku dan penuh keringat!
Bahkan mata orang tua itu tampak melotot menahan
sakit!
Sekejap Soat Ban Ong tak tahu apa yang terjadi di
antara mereka. Tapi ketika tampak olehnya sinar mata
ketakutan di wajah sahabatnya itu, ia baru menyadari
apa yang terjadi. Bok Kek Ong mendapat kesulitan
besar!
"A Liong...! Hentikan! Hentikan ilmu
pernapasanmu!"
659
Sambil berteriak Soat Ban Ong melesat ke belakang
Bok Kek Ong. Kemudian dengan cepat ia
mengerahkan tenaga saktinya dan menepuk punggung
sahabatnya itu. Plaaaak! Arus tenaga yang amat kuat
mengalir dari dalam tubuhnya, membanjir ke dalam
tubuh Bok Kek Ong, dan berbaur menjadi satu.
Dengan tenaga gabungan itu mereka melawan daya
sedot yang keluar dari dada A Liong!
Sedikit demi sedikit Soat Ban Ong meningkatkan
penyaluran tenaga saktinya. Tapi betapa kagetnya dia
ketika seluruh kekuatan lwekangnya telah terhentak
keluar, tenaga gabungan mereka tetap tak dapat
mengatasi daya sedot yang keluar dari dalam tubuh A
Liong!
Sekarang mereka benar-benar dalam kesulitan!
Mereka tak kuasa untuk mengalihkan perhatian lagi.
Sedetik saja mereka melepaskan konsentrasi, nyawa
mereka akan melayang!
Yang bisa mereka lakukan sekarang hanyalah
bertahan. Bersama-sama mereka menghentakkan
seluruh sisa-sisa tenaga mereka. Keringat sampai
membanjir membasahi pakaian mereka. Bahkan
sesaat kemudian tangan dan kaki mereka mulai
bergetar.
Soat Ban Ong dan Bok Kek Ong mulai berpikir
untuk berdoa ketika daya sedot itu mendadak hilang.
Ternyata pada saat-saat terakhir A Liong telah
menghentikan semadinya. Teriakan Soat Ban Ong tadi
telah menyadarkannya, meskipun agak lambat.
660
A Liong membuka matanya. Melihat dua orang
gurunya terlentang tumpang tindih di depannya,
wajahnya segera men jadi pucat ketakutan. Bergegas
ia berlutut memohon maaf.
"Suhu! Apakah... apakah siau-te telah berbuat
salah?"
Soat Ban Ong dan Bok Kek Ong bangkit dengan
cepat. Mereka saling pandang dengan wajah merah.
Mereka hampir-hampir tidak percaya akan kejadian
itu. Bagaimana mungkin seorang anak berusia lima
belas tahun dapat mengalahkan tenaga gabungan,
yang telah mereka himpun selama lima puluhan
tahun? Sungguh tidak masuk akal! Kekuatan
sedahsyat itu hanya bisa diperoleh setelah berlatih
selama seratus tahun! Mungkinkah A Liong seorang
anak ajaib yang muncul setiap lima ratus tahun sekali?
Kalau memang demikian halnya, mereka benar-benar
beruntung. Mereka mendapatkan bibit unggul untuk
mewarisi ilmu mereka. Dan kenyataan itu sungguh
sangat menggembirakan mereka.
-- o0d-w0o --
661
JILID XVI
ETELAH membersihkan pasir yang
mengotori pakaian mereka. Soat Ban Ong
dan Bok Kek Ong mendekati A Liong
kembali. Kini cara mereka memandang
kepada A Liong telah berubah.
"A Liong! Kau tahu apa yang baru saja
terjadi? Hmm, kau telah mengalahkan kami berdua!
Rasa-rasanya kami tak mungkin lagi menjadi
gurumu...." Bok Kek Ong berkata tegas.
"Suhu...?" A Liong berseru kecewa, "Siau-te benarbenar
tak tahu apa-apa. Siau-te belum pernah belajar
silat. Belum pernah berguru kepada siapapun juga.
Siau-te hanya pernah diajari cara bernapas untuk
mengusir hawa dingin oleh seorang kakek asing.
Itupun hanya sekali saja, ketika siau-te berumur lima
atau enam tahun! Suhu, siau-te berkata sebenarnya!
Jangan tolak aku! Berilah aku kesempatan untuk
berguru kepadamu...!"
Sekali lagi kedua orang tua itu saling pandang satu
sama lain. Mereka saling bertukar pendapat.
Akhirnya Soat Ban Ong menganggukkan
kepalanya. "Baiklah, A Liong. Kami memang percaya
padamu. Kami menyadari bahwa hal-hal aneh dan
ajaib itu, tentu bukan karena kehendakmu sendiri.
Kami juga tahu bahwa sampai sekarang pun kau juga
belum tahu apa yang telah terjadi pada dirimu. Ada
S
662
suatu rahasia besar yang tampaknya menyelubungi
kehidupanmu."
"Jadi...?"
"Yah! Kami tetap akan mengajarimu ilmu silat,
agar kekuatanmu itu bisa dikendalikan dan
dipergunakan dengan baik."
Betapa leganya hati A Liong! Untuk beberapa saat
dia menatap wajah kedua gurunya itu dengan air mata
berlinang. Kemudian dengan bersemangat ia berlutut
dan menghentakkan dahinya berulang-ulang ke atas
pasir.
"Sudahlah, silakan kau berdiri! Kami berdua akan
meneliti keadaan tubuhmu dulu. Kami ingin tahu di
mana letak ke-ajaibanmu itu."
"Silakan, Suhu! Silakan...!"
A Liong melepas bajunya. Demikian pula dengan
celana luarnya, sehingga ia hanya mengenakan celana
dalam saja.
Soat Ban Ong dan Kek Ong benar-benar kagum
menyaksikan badan yang tegap dan penuh otot itu.
Sungguh seorang anak yang sehat dan berbakat untuk
belajar silat!
Ketika tampak oleh mereka gambar 'tatto naga' di
dada A Liong, mereka saling memandang dengan
kening berkerut. Ternyata mereka berdua, yang belum
pernah menginjakkan kaki di daratan Tiong-kok, tidak
mengenal tanda itu. Mereka juga belum pernah
mendengar bahwa di dunia kang-ouw ada partai
persilatan yang memiliki tanda khusus seperti itu. Tak
663
heran kalau akhirnya mereka menggeleng-gelengkan
kepala tanda tak tahu.
Soat Ban Ong menarik napas panjang sambil
memandang A Liong. "A Liong! Apakah kau ingat,
siapa yang melukis gambar tatto naga di dadamu itu?"
A Liong menunduk, melihat gambar tatto naga di
dadanya,, kemudian menggeleng. "Tidak, Suhu. Sejak
kecil gambar ini sudah ada di sini. Semua orang yang
mengenal aku juga mengatakan demikian. Itulah
sebabnya orang memanggilku... A Liong (Si Naga)!"
Soat Ban Ong menatap mata Bok Kek Ong,
demikian pula sebaliknya. Keduanya sama-sama
berpikir bahwa gambar itu tentu ada artinya. Tapi,
apakah itu?
"Bagaimana dengan pengemis-pengemis tua di
kelompokmu? Apakah mereka juga tidak tahu?"
Sekali lagi A Liong menggelengkan kepalanya.
"Mereka juga tidak tahu, Suhu. Ketika orang tua
angkatku membawa aku ke dalam kelompok
pengemis itu dan bergabung dengan mereka, gambar
ini juga sudah ada. Tak seorangpun bisa
menghapusnya, walaupun telah dibubuhi bermacammacam
obat penyembuh luka. Sampai orang tua
angkatku tiada, dan aku berkeliaran sendiri bersama
kelompokku, gambar ini tetap menempel di sini.
Bahkan semakin bertambah umur, gambarnya juga
semakin jelas."
664
"Dan... kau tak pernah berusaha untuk mencari tahu
makna gambar itu? Setidak-tidaknya ingin tahu, siapa
sebenarnya engkau ini?" Bok Kek Ong bertanya.
A Liong terhenyak. Matanya terbuka lebar, seolaholah
pertanyaan itu sangat aneh dan mengejutkannya.
Tapi rasa kaget itu hanya sekejap. Di lain saat
kepalanya telah tertunduk kembali.
"Siapa sebenarnya... Aku? Ah, Suhu! Bukankah
aku anak gelandangan yang tak punya ayah ibu? Aku
lahir di tempat sampah, seperti teman-temanku yang
lain. Lalu, apa yang harus dicari?"
Bok Kek Ong tertawa sambil menggoyangkan
tangannya. "Aaah, pendapat itu terlalu picik dan tidak
masuk akal, A Liong. Mungkin kawan-kawanmu
memang anak keturunan pengemis yang lahir di
tempat sampah. Tapi..., kau? Rasanya tak seorangpun
mau percaya kalau kau katakan dirimu seorang
gelandangan yang tidak memiliki ayah ibu, apalagi
lahir di tempat sampah seperti katamu tadi. Sikap dan
kepribadianmu sama sekali tak mencerminkan hal itu.
Kami justru beranggapan bahwa kau memiliki asalusul
yang menarik. Kau bukan keturunan manusia
sembarangan. Dari gambar tatto naga itu bisa diduga
bahwa kau berasal dari keluarga atau golongan yang
punya nama di tengah-tengah masyarakat ramai.
Kau... atau teman-temanmu seharusnya tahu atau
berpikir tentang hal itu."
A Liong tertegun. Matanya terbelalak lebar
menatap wajah gurunya. Ucapan orang tua itu
665
bagaikan kilatan petir yang tiba-tiba menyeruak
menerangi otaknya. Benarkah apa yang dikatakan
orang tua itu?
"Maaf, Suhu. Siau-te... siau-te memang tak pernah
memikirkannya. Kami, anak-anak pengemis, tidak
pernah berpikir tentang kehidupan. Setiap hari kami
hanya berjuang untuk tetap hidup, dan tak pernah
berpikir tentang asal-usul kami. Apalagi harus
berpikir tentang hari esok. Kami sudah pasrah pada
nasib yang telah diberikan kepada kami." A Liong
berhenti sejenak. Kemudian dengan nada yang agak
bersemangat ia meneruskan. "Tapi ucapan Suhu tadi,
rasanya... ada benarnya juga. Kadangkala terlintas
iuga dalam pikiran siau-te tentang hal itu. Benarkah
aku ini anak seorang pengemis? Kalau benar,
mengapa keadaanku banyak berbeda dengan anakanak
pengemis lainnya? Mengapa hanya aku yang
memiliki gambar tatto naga ini? Mengapa hanya aku
pula yang memiliki benjolan aneh di bawah perut?
Dan... mengapa hanya aku juga yang mempunyai
tubuh sehat dan kuat? Suhu benar! Seharusnya aku
sudah memikirkan sejak dulu, dan tidak terlena oleh
anggapan tentang anak sampah itu. Tidak mungkin
manusia lahir dari sampah. Aku tentu mempunyai
ayah ibu...."
Soat Ban Ong beringsut mendekati A Liong dan
menepuk pundaknya. "Nah, kalau kau bisa keluar dari
tempat ini, kau selidikilah asal-usulmu! Jangan
666
sampai kau menyesal di kemudian hari! Siapa tahu
orang tuamu masih mencarimu sampai sekarang!"
"Suhu...???" A Liong berseru dengan wajah pucat.
"Sudahlah! Kau tak usah memikirkannya sekarang!
Setelah tamat belajar silat nanti, kau boleh
memikirkannya lagi! Sekarang duduklah! Biar kami
meneliti keadaan di dalam tubuhmu. Mudah-mudahan
kami bisa menemukan rahasia kehebatanmu tadi,
sehingga kami dapat menemukan cara yang tepat
dalam memberi tuntunan silat kepadamu."
"Benar, kau tak usah memikirkannya sekarang.
Kini bersiap sajalah untuk kami periksa keadaan di
dalam tubuhmu ...!" Bok Kek Ong menambahkan.
Demikianlah dengan sangat hati-hati, kedua orang
tua itu mencoba mencari, di mana letak rahasia tenaga
sakti A Liong. Soat Ban Ong duduk di depan sambil
menempelkan kedua telapak tangannya di dada A
Liong. Sedangkan Bok Kek Ong bersila di belakang
dengan tangan melekat di punggung pemuda itu.
Masing-masing berusaha menyusupkan tenaga
dalamnya ke tubuh A Liong dengan hati-hati. Begitu
ada perlawanan dari tenaga dalam A Liong, mereka
cepat-cepat menariknya kembali, dan berpindah ke
bagian lain.
Keringat mulai menitik di dahi Soat Ban Ong dan
Bok Kek Ong. Meskipun tidak sedang bertempur,
namun cara mereka mengerahkan tenaga dalam secara
khusus itu benar-benar menguras tenaga mereka. Dan
semakin turun mendekati pusar A Liong, loncatan
667
tenaga balik yang diakibatkan oleh daya tolak pemuda
itu semakin kuat. Sedikit saja tenaga dalam kedua
orang tua itu tersalur, maka sebuah kekuatan yang
maha dahsyat segera menyembur keluar dari bawah
pusar A Liong! Terlambat sedetik saja menarik
saluran tenaga mereka, nyawa merekalah taruhannya!
Untunglah dengan cara dari muka dan belakang,
otomatis tenaga dahsyat itu terbelah menjadi dua
jurusan. Namun demikian tetap saja mereka berdua
tak kuasa menghadapinya.
Ketika sampai di bawah pusar, di mana benjolan
sebesar ibu jari itu berada, telapak tangan Soat Ban
Ong bergetar dengan hebat. Belum juga tenaga dalam
orang tua itu tersalur, tempat itu sudah bergolak
seperti kepundan gunung api!
Mata Soat Ban Ong terbeliak ketakutan! Tangannya
yang menempel di atas benjolan itu tiba-tiba seperti
tersedot ke dalam perut A Liong!
Untunglah Bok Kek Ong yang berada di belakang
A Liong, segera tanggap akan bahaya yang menimpa
sahabatnya! Kedua jari telunjuknya buru-buru
ditekuk, kemudian menekan jalan darah keh-ping-hiat
di kanan kiri tulang pinggul A Liong!
Untuk sedetik daya sedot dari perut A Liong seperti
terhambat. Dan kesempatan tersebut tidak disia-siakan
oleh Soat Ban Ong. Kakek itu cepat menarik
tangannya hingga terlepas!
Soat Ban Ong dan Bok Kek Ong bangkit berdiri
sambil menyeka keringat mereka. Hampir saja mereka
668
mendapat kesulitan lagi. Untung mereka bisa
menyelamatkan diri.
Kedua orang tua itu memandang A Liong dengan
kagum sekali. Sekarang mereka sudah mengetahui
rahasia kekuatan A Liong. Pemuda itu memiliki
sesuatu yang aneh di dalam perutnya, yang membuat
tenaga dalamnya menjadi berlipat ganda kekuatannya.
Tapi mereka tidak tahu, benda apa yang tersimpan di
sana. Dan hal ini semakin meyakinkan mereka, bahwa
asal-usul A Liong tidaklah seperti yang
diceritakannya. Tentu ada rahasia tersembunyi dalam
asal-usulnya, yang tidak diketahui oieh anak muda itu
sendiri.
"A Liong...! Sekali lagi kau membuat kaget kami
berdua! Ternyata di dalam perutmu tersimpan barang
aneh, yang membuat tenaga saktimu (sinkang)
menjadi tidak terukur tingginya! Kami tidak tahu
barang apa itu, tetapi yang jelas barang tersebut telah
berada di dalam perutmu sejak kau lahir di dunia. Dan
kami yakin benda itu tidak berada begitu saja di dalam
badanmu. Tentu ada orang yang sengaja
memasukannya. Dan orang itu tentu mempunyai
hubungan dekat denganmu. Mungkin orang tuamu
yang aseli, atau keluargamu yang lain. Dan... mereka
tidak mungkin orang biasa, apalagi seorang pengemis
atau gelandangan! Benda-benda langka seperti itu
biasa dimiliki oleh tokoh-tokoh sakti atau orang-orang
yang memiliki kedudukan tinggi di masyarakat!"
669
A Liong menatap gurunya dengan wajah kosong.
Semua yang dikatakan orang tua itu merupakan halhal
baru yang belum pernah dipikirkannya. Namun
demikian apa yang mereka katakan itu terasa
mengandung kebenaran. Bahkan pikiran dan
perasaannya dapat menerimanya.
"Suhu maksudkan... Suhu maksudkan benjolan di
bawah pusarku ini? Memang dari sinilah bau amis itu
bermula...."
Baik Soat Ban Ong maupun Bok Kek Ong
menganggukkan kepalanya. "Ya! Untunglah selama
ini tak ada orang yang berusaha mengambilnya.
Benda itu merupakan sumber bahaya bagimu, sebab
setiap orang tentu ingin memilikinya. Terutama
orang-orang dari dunia persilatan!"
"Aaah...!"A Liong berdesah ketakutan.
Tapi Soat Ban Ong cepat mengelus pundak A
Liong. "Jangan khawatir, A Liong! Kami akan
mengajarimu mengendalikan kekuatan itu. Setelah
kau mampu mengendalikannya, hmmmmm... tak
seorangpun di dunia ini dapat mengalahkanmu.
Termasuk kami berdua, bahkan Ketua Pondok Pelangi
sendiri! Meskipun ilmu silatnya sangat sempurna, tapi
kekuatannya takkan bisa menandingimu!"
"Ketua Pondok Pelangi? Siapakah dia, Suhu?" A
Liong bertanya kaget.
Soat Ban Ong terbelalak. Ternyata tanpa disadari
mulutnya telah kelepasan omong. Sebenarnya dia dan
Bok Kek Ong tidak ingin bercerita tentang ketua
670
Pondok Pelangi. Tapi kata-kata itu telah terlanjur
keluar dan tak bisa dijilatnya kembali.
Memang sebenarnya mereka enggan bercerita
tentang Pondok Pelangi. Selain mereka berdua berasal
dari tempat itu, mereka juga memiliki keluarga dan
sanak saudara di sana. Bahkan mereka berdua
mempunyai kedudukan tinggi dalam sistim
pemerintahan di kepulauan kecil itu.
"Suhu, mengapa Suhu diam saja? Apakah dia
musuhmu? Apakah dia pula yang mengasingkan Suhu
ke mari?"
Soat Ban Ong dan Bok Kek Ong tersentak. "Ah,
tidak...! Bukan begitu...!" Mereka buru-buru
menerangkan.
Demikianlah, karena tak ingin terjadi salah
pengertian pada A Liong, maka kedua orang tua itu
terpaksa berbicara tentang Pondok Pelangi!
Kepulauan kecil yang jauh terpencil dari dunia
ramai itu hanya berpenduduk sekitar dua ribu orang.
Mereka hanya terdiri dari tiga nama keluarga, yaitu
Soat, Souw, dan Bok. Masing-masing marga atau
keluarga itu mempunyai seorang Kepala Marga, yang
sangat dijunjung tinggi oleh marganya. Mereka adalah
orang yang paling dituakan dan paling tinggi ilmu
silatnya di antara warganya. Dan sebagai kepala
pemerintahan atau Pemimpin dari Negeri Kepulauan
itu dipilih salah seorang dari tiga Kepala Marga
tersebut. Orang itu akan bertindak sebagai raja di
kepulauan kecil tersebut.
671
Hampir sepanjang tahun negeri itu dibalut oleh
udara dingin. Hanya beberapa bulan saja mereka
melihat wajah matahari. Mereka biasa beternak rusa
dan anjing, sementara kaum wanitanya menanam
rumput laut, jamur-jamur karang, dan tanaman obatobatan.
Penduduk kepulauan itu memiliki sebuah
keistimewaan, yaitu ilmu silat keturunan yang hanya
bisa diwarisi oleh kalangan mereka sendiri. Ilmu silat
keturunan itu telah berabad-abad diwariskan kepada
mereka oleh nenek moyang Keluarga Soat, Souw dan
Bok. Ilmu silat keturunan itu diciptakan berdasarkan
kekhususan daerah itu, yaitu kabut pelangi yang selalu
menyelimuti kepulauan tersebut. Nenek moyang
mereka menyebut ilmu silat itu dengan Ilmu Silat
Cahaya Pelangi! Konon khabarnya ilmu silat itu
merupakan sumber dari segala ilmu silat Tiongkok
asli, sebelum Tat-mo Cou-su membawa ilmu silat
baru dari India.
Sayang sekali, sekitar lima abad yang lalu salah
seorang warga mereka melarikan diri dari kepulauan
itu. Warga mereka yang bernama Souw Gi itu menjadi
nekad karena patah hati. Cintanya ditolak oleh gadis
dari Marga Bok. Tapi kepergian Souw Gi itu ternyata
dengan membawa Pedang Pusaka kaum mereka, yaitu
Pedang Pelangi! Semua itu bisa terjadi karena ayah
Souw Gi adalah Kepala Marga Souw yang terpilih
sebagai Ketua Pondok Pelangi!
672
Ayah Souw Gi membentuk pasukan khusus untuk
mencari pedang pusaka serta anaknya. Pasukan
pilihan yang terdiri dari sepuluh orang itu berangkat
dengan perahu-perahu kecil. Mereka menyebar ke
segala penjuru.
Namun bertahun-tahun kemudian, hingga ayah
Souw Gi meninggal, dan digantikan oleh ketua yang
baru, pasukan pilihan itu tidak pernah kembali. Begitu
pula ketika Ketua yang baru membentuk pasukan
pilihan lagi, dan mengirimkan mereka keluar pulau,
tidak seorangpun kembali pulang.
Sejak itu setiap pergantian Ketua, terjadi semacam
tradisi untuk mengirimkan utusan khusus untuk
mencari pedang pusaka tersebut. Tapi seperti halnya
yang terdahulu, utusan-utusan itu tidak pernah
kembali pula.
Demikian pula halnya yang terjadi pada empat
puluh tahun lalu. Saat itu terjadi pergantian Ketua,
karena ketua yang lama telah meninggal, Kebetulan
terpilih sebagai utusan khusus adalah Soat Ban Ong
dan Bok Kek Ong!
Pada saat itu Soat Ban Ong dan Bok Kek Ong baru
berusia dua puluh tahun. Keduanya memiliki bakat
alam yang hebat, sehingga dalam usia muda mereka
telah menyempurnakan ilmu silatnya. Kebetulan pula
mereka adalah putera Kepala Marga mereka masingmasing.
Sebenarnya tugas itu sangat menyedihkan keluarga
mereka, apalagi masing-masing sudah menikah pula.
673
Tapi di lain pihak tugas itu juga membuat keluarga
mereka merasa bangga. Utusan khusus untuk mencari
pedang pusaka itu merupakan tugas suci dari warga
Pondok Pelangi. Oleh karena itu sebelum berangkat
mereka berpesan kepada keluarga masing-masing,
agar supaya anak mereka yang belum lahir bisa
dikawinkan satu sama lain bila ternyata lelaki dan
perempuan.
Demikianlah, Soat Ban Ong dan Bok Kek Ong
berangkat dengan sebuah jukung kecil tanpa layar.
Mereka berlayar ke selatan, menuju ke daerah panas,
karena mereka berpendapat bahwa seorang yang lari
dari pulau mereka tentu menuju ke daerah panas.
Tidak mungkin menuju ke kutub atau ke laut lepas.
Namun seperti halnya pendahulu-pendahulu
mereka, mereka berdua pun ternyata tak kuasa
melawan keganasan alam. Belum juga keluar dari
daerah pusaran air, jukung mereka telah dihantam
gelombang laut hingga pecah dan terdampar di
gugusan pulau itu.
Sudah empat puluh tahun Soat Ban Ong dan Bok
Kek Ong bertahan di gugusan pulau karang itu.
Mereka terjebak di dalam lingkungan daerah
berbahaya yang tidak mungkin bisa dilalui oleh
manusia. Daerah itu adalah daerah berbahaya, di mana
beberapa arus laut lewat dan bertemu. Badai laut pun
setiap saat juga selalu melanda daerah itu. Bahkan
badai salju pun sering menyerang daerah itu pula.
674
Tanpa memiliki perahu besar tak mungkin bisa
lewat di tempat itu. Namun dengan ketekunan dan
latihan keras, disertai pengamatan lingkungan yang
teliti, akhirnya mereka berdua bisa bermain-main agak
jauh dengan sampan buatan mereka. Meskipun
demikian mereka tetap belum dapat keluar dari daerah
berbahaya itu. Sampan kecil itu tak dapat bertahan
terhadap badai laut. Celakanya, di kawasan berbahaya
itu juga banyak dihuni oleh ikan hiu dan cucut, yang
besarnya sepuluh atau lima belas kali lipat besar
sampan mereka. Mudah saja bagi binatang itu untuk
melahap mereka!
"Begitulah A Liong...!" Empat puluh tahun kami
hidup di tempat ini. Setiap, hari yang kami lakukan
hanyalah berlatih silat dan mencari jalan, keluar dari
tempat ini."
"Dan... Suhu berdua belum mendapatkan jalan itu?"
Soat Ban Ong saling pandang dengan Bok Kek
Ong, lalu menganggukkan kepala. "Kami hampir
menemukannya. Tapi karena jalan keluar itu menuju
ke timur, kami tak berani mencobanya. Kata orang di
tempat matahari terbit itu tak ada kehidupan.
Seluruhnya hanya terdiri dari air yang tak berujung
pangkal. Tak mungkin manusia bisa hidup di sana,
apalagi hanya dengan sampan kecil seperti milik
kami."
"Kami lalu mencoba jalan yang lain lagi. Kami
mencoba bersampan melawan arus menuju ke
selatan...." Bok Kek Ong meneruskan cerita
675
sahabatnya. "Semula memang sangat sulit sekali.
Bayangkan! Arus itu deras sekali! Dengan segala
kekuatanku aku bisa mengayuhnya maju. Tapi sekejap
saja aku berhenti mengayuh, sampan itu sudah
kembali ke tempat semula. Nah, akibatnya seharian
penuh sampan itu hampir tak dapat bergerak maju...."
"Tapi... Suhu bisa mengayuhnya sampai jauh ke
selatan, ke tempat Suhu menemukan aku itu." A
Liong memotong cerita gurunya.
"Tentu saja, karena kami telah berlatih selama
sepuluh tahun untuk melakukan hal itu. Latihan keras
untuk menaklukkan arus itu membuat tenaga dalam
kami tumbuh berlipat ganda. Kalau semula sekali
kayuh kami hanya dapat maju setombak jauhnya, kini
sekali kayuh kami bisa meluncur sepuluh atau dua
belas tombak ke depan!" Soat Ban Ong tersenyum
bangga.
"Maka kami benar-benar kaget ketika tenaga
gabungan kami tak dapat mengalahkanmu! Kami
berdua benar-benar tak percaya, karena dengan
tingkat kami sekarang, rasanya Ketua Pondok Pelangi
sendiri takkan mampu mengalahkan kami!" Tiba-tiba
Bok Kek Ong menyela perkataan sahabatnya.
"Ah, Suhu... Jadi Jiwi Suhu tetap yakin bahwa
menentang arus itu merupakan jalan keluar satusatunya?"
A Liong mengalihkan pembicaraan tentang
dirinya itu dengan bertanya kepada Bok Kek Ong.
"Yah, hanya itu jalan keluarnya. Di luar jalur arus
adalah daerah berbahaya. Mengikuti arus, sama saja
676
pergi ke daerah tak berujung-pangkal alias... mati.
Maka menurut kami, hanya menentang aliran arus
itulah satu satunya jalan kebebasan. Tapi sekarang
niat itu kami tangguhkan dulu. Kami akan
mengajarimu ilmu silat, agar kau juga bisa mengikuti
kami keluar dari tempat ini."
A Liong cepat berlutut di depan Soat Ban Ong dan
Bok Kek Ong. Wajahnya sangat terharu.
"Terima kasih, Suhu...."
Betapa gembiranya hati A Liong mendengar
kesanggupan gurunya. Tak terasa terngiang kembali
janjinya kepada Siau In, bahwa pada suatu saat dia
akan menjadi jago silat nomer satu. Dan tampaknya
janji itu kini sudah mulai terasa di dalam
genggamannya.
Demikianlah, hari itu A Liong selalu teringat
kepada Siau In, gadis cantik yang telah menolongnya
dari keganasan orang-orang Hun. A Liong sama sekali
tak menyangka bahwa gadis itu berada dalam
cengkeraman penghuni kuburan.
KITA kembali lagi ke kuburan tua di balik bukit
itu. Siau In yang dikurung di dalam ruangan gelap di
bawah tanah masih saja merenungi nasibnya. Ruangan
itu sama sekali tak ada pintu keluarnya.
"Cici, maafkan aku." Rintihnya perlahan. "Aku...
aku, hah? Bau apa ini?"
677
Tiba-tiba hidung Siau In terasa membaui asap
masakan yang enak, sehingga otomatis perutnya
menjadi lapar sekali.
"Nenek tua itu sedang memasak dan asapnya
menjalar sampai di sini. Hmm, berarti ada ruangan
lain di dekat ruangan ini. Baik, aku akan
mencarinya...."
Seperti seekor anjing pelacak Siau In lalu
menggunakan hidungnya untuk mencari asal asap
masakan itu. Dan ternyata kegigihannya membawa
hasil pula. Ketika ia menunduk di samping peti-peti
yang paling ujung, bau asap itu terasa makin
menyengat.
Siau In segera menggeser peti mati itu ke tengah.
Sinar terang tampak menyorot ke luar dari sebuah
lobang besar di bawahnya. Ternyata lobang itulah
pintu keluarnya, tempat di mana nenek tua itu keluar
masuk ke dalam ruangan tersebut.
Siau In menjenguk ke dalam. Ia melihat sebuah gua
besar di balik lubang itu. Gua yang sudah ditata rapi
dan diratakan lantainya. Bahkan berbagai macam
perabotan sederhana tampak tersusun pula dengan
teratur. Almari, tempat tidur, meja kursi, semuanya
terbuat dari kayu kasar. Sebuah lampu minyak terletak
di atas meja.
Dengan hati-hati Siau In masuk ke dalam. Bau
masakan tetap menyengat hidung, tetapi tak seorang
pun tampak di dalam ruangan itu. Ruangan itu benarbenar
bersih dan rapi. Beberapa potong pakaian
678
wanita tampak tergantung di dekat almari. Pakaian
model lama tapi masih kelihatan terawat baik. Di
dekat almari itu terlihat lobang besar, yang tampaknya
adalah pintu keluar dari ruangan tersebut. Dan dari
lubang itulah datangnya bau masakan tadi.
Siau In bergegas menuju ke lubang besar itu. Bau
masakan makin menusuk hidung.
"Siapakah kau...? Mengapa kau bisa sampai ke
sini?" Tiba-tiba terdengar suara wanita menyapa di
dalam ruangan itu. Suaranya amat jelas dan nyaring,
suatu tanda kalau orang itu memiliki tenaga dalam
yang sangat tinggi.
Siau In hampir melompat saking kagetnya.
Otomatis seluruh uratnya menegang, siap menghadapi
segala kemungkinan. Matanya berputar, mencari arah
suara itu. Aneh, tak seorang pun dilihatnya.
"Aku... aku tidak melihatmu. Di manakah k-kkau...?"
Siau In menjawab dengan suara gemetar.
Bayangan nenek tua itu kembali menghantuinya.
"Jawab dulu pertanyaanku, baru aku keluar
menemuimu!"
Siau In mulai ketakutan. "Namaku... Tio Siau ln,
dari aliran Im-yang-kau. Aku tersesat dan tidak dapat
keluar dan tempat ini!"
"Tersesat? Siapa yang membawamu ke mari?"
"Lhoh...?" Siau In tertegun. Ternyata orang itu
bukan Si Perempuan Tua yang menculiknya itu.
Hening sejenak. Berdebar hati Siau In menantikan
jawaban orang itu. Kalau bukan penculiknya, lalu
679
siapakah orang ini? Wah, jangan-jangan yang ini
justru hantu sungguhan!
"Jawablah! Mengapa diam saja?" Suara itu kembali
berdentang.
"Eh-oh... aku Tio Siau In, murid ketua Cabang Imyang-
kau wilayah Timur. Guruku bernama Giam Pit
Seng." Siau In tersentak kaget dan buru-buru
menjawab dengan suara gemetar.
"Anggota aliran Im-yang-kau?"
"Yah... kau pernah mendengarnya?"
"Ya, tapi aku tidak mengenal tokoh-tokoh yang
baru. Apakah Toat-beng-jin yang biasa disebut Lo-jinong
itu masih hidup?"
Siau In mengerutkan dahinya, lalu mengangguk.
Perasaannya menjadi tidak enak karena orang itu
menanyakan tokoh yang paling dihormati di dalam
aliran Im-yang-kau.
"Ah... tentu sudah tua sekali. Eeem, lalu...
bagaimana dengan... Kau Cusi (Pengurus Agama)
Tong Ciak?"
Tong Ciak merupakan orang kepercayaan
mendiang Kaisar Chin Si Hong-te, seperti halnya
mendiang Jendral Beng Tian. Setelah kaisar terakhir
Dinasti Chin tersebut runtuh dan kerajaan jatuh ke
tangan Kaisar Liu Pang, Tong Ciak kembali lagi ke
tempat asalnya, yaitu ke aliran Im-yang-kau. Karena
sejak semula tingkat kedudukannya memang sudah
tinggi, maka ia segera diangkat menjadi Pengurus
Agama. Dan itu terjadi pada tiga puluhan tahun yang
680
lalu, saat Tong Ciak masih berumur tiga puluh
delapan tahun.
Hati Tio Siau In semakin kecut. Ternyata orang itu
juga sudah mengenal Tong Ciak pula. Bahkan caranya
menyebut seperti kepada sahabat atau orang yang
memiliki kedudukan setingkat.
"Beliau juga dalam keadaan baik. Tapi... sekarang
beliau menjabat sebagai Ketua, bukan sebagai
Pengurus Agama lagi."
"Oh... ya? Sekarang Ilmu Silat Kulit Dombanya
tentu telah mencapai puncaknya. Kata orang, lima
belas tahun lalu dia sudah berada di tingkat ke
sebelas."
Dada Siau In semakin berdebar-debar. Orang itu
juga mengenal ilmu silat Aliran Im-yang-kau yang
sangat dirahasiakan. Padahal Ilmu Silat Kulit Domba
hanya diketahui oleh tokoh-tokoh puncak mereka.
Gurunya sendiri yang sudah berkedudukan cukup
tinggi, juga belum di-ijinkan untuk mempelajari ilmu
rahasia tersebut.
"Locianpwe... si-siapakah?" Di dalam keraguannya
Siau In bertanya. Ia tidak berani bersikap
sembarangan lagi.
"Kau ingin tahu... siapa aku? Baik! Lihatlah...!"
Siau In tersentak dan hampir saja menjerit ketika
tiba-tiba di depannya telah berdiri seorang wanita
yang sangat cantik. Cantik dan matang!
Dilihat dari rambutnya yang telah bercampur uban,
usianya tentu sudah lebih dari empat puluh tahun.
681
Tapi kalau dilihat dari kulit wajahnya yang tetap licin
dan segar, orang takkan percaya kalau dikatakan
umurnya lebih dan tiga puluh tahun. Pakaiannya yang
longgar dan panjang itu hampir menutupi seluruh
tubuhnya yang tinggi langsing. Hampir saja Siau In
mengira bahwa ia sedang berhadapan dengan Souw
Giok Hong, gadis ayu yang dijumpainya di atas pohon
itu. Wajah mereka sangat mirip satu sama lain. Hanya
umur dan penampilan mereka saja yang berlainan.
"Kau terkejut? Mengapa? Kau pernah bertemu
dengan aku?" Wanita cantik itu bertanya. Suaranya
nyaring berwibawa.
Siau In menggeleng. Mulutnya belum bisa
menjawab.
"Jangan takut! Aku tidak akan berbuat jahat
kepadamu. Aku hanya ingin tahu, bagaimana kau bisa
sampai ke tempat ini. Hmm, siapakah namamu tadi?
Tio Siau In? Benarkah?"
Siau In mengangguk. Mulutnya tetap terkunci.
"Baiklah! Tenangkanlah dulu perasaanmu! Atau...
kita keluar dulu? Marilah, akan kuperkenalkan kau
dengan saudaraku!"
Wanita cantik itu lalu menggandeng lengan Tio
Siau In dan membawanya keluar melalui lubang besar
tadi. Mereka menyusuri lorong panjang yang di kanan
kirinya banyak dipasangi lampu minyak, sehingga
tempat tersebut tampak terang benderang. Hembusan
angin dingin menerpa tubuh Siau In, seolah-olah
dinding gua itu mempunyai banyak lubang angin.
682
Lorong itu berbelok-belok, naik turun, dan kadangkadang
menembus ke lubang gua yang lain.
Demikianlah, setelah beberapa saat lamanya mereka
berjalan, akhirnya Siau In melihat sinar terang di
kejauhan. Ternyata ujung lorong itu menembus ke
permukaan tanah.
Begitu keluar yang terlihat oleh Siau In adalah air
terjun. Curahan air yang menebar panjang itu
bagaikan selembar daun pintu yang menutupi pintu
gua. Dan persis di mulut gua itu terlihat seorang
wanita yang tidak kalah cantiknya dengan wanita
yang datang bersama Siau In. Bahkan usia mereka
pun tampak sebaya pula. Hanya bedanya, perawakan
wanita yang kini baru memasak itu lebih kecil dan
agak lebih pendek. Penampilannya juga tampak lebih
sabar dan lembut.
"Lan-moi, lihatlah... siapa yang kubawa ini? Aku
hampir saja salah lihat. Kukira kau yang berada di
Bilik Semadhi, ternyata... dia! Lihat wajahnya, mirip
denganmu, bukan?"
Wanita cantik yang sedang memasak itu agak kaget
juga melihat kehadiran Siau In. Bibirnya tersenyum,
tapi senyumnya segera hilang begitu melihat wajah
Siau In. Matanya terbuka lebar seolah-olah ada
sesuatu yang menarik perhatiannya. Tetapi kemudian
mata itu kembali meredup, bahkan mulai berkacakaca.
"Kau benar... Cici. Aku benar-benar terkejut
melihatnya. Siapakah dia...? Ah, kalau saja Cu Hua
683
masih hidup...." Wanita berwajah lembut itu
bergumam perlahan.
"Maafkan aku, Lan-moi. Aku tidak bermaksud
membangkitkan ingatanmu pada Cu Hua." Wanita
yang datang bersama Siau In itu cepat meminta maaf.
Wanita berwajah lembut itu menghela napas
panjang sekali. Bahkan kepalanya menggeleng
beberapa kali, seperti ingin melepaskan diri dari kabut
kenangan yang menyedihkan.
"Tidak apa, Cici. Melihat sikapmu kepada anak itu,
aku juga tahu... bahwa kau pun ingat kepada Han Sui
pula. Anak ini memang sebaya dengan kedua anak
kita itu. Sayang bocah-bocah manis itu telah
mendahului kita."
Wanita cantik yang datang bersama Siau In itu tibatiba
juga menarik napas panjang. Bahkan ia buru-buru
berpaling untuk menyembunyikan matanya yang
mulai memerah.
"Ah, Lan-moi... sudahlah. Bagaimana dengan
masakanmu? Sudah siap belum? Ayolah, kita
bersantap bersama. Kita jamu tamu kita ini sambil...
kita tanyakan asal-usulnya." Katanya kemudian untuk
mengalihkan suasana yang kurang menyenangkan itu.
Demikianlah, tiga orang wanita itu lalu makan
bersama-sama. Matahari sudah naik hampir di atas
kepala, membuat ruangan sempit di mulut gua itu
terasa segar dan nyaman. Suasana itu membuat nafsu
makan Siau In menjadi semakin bertambah, sehingga
tanpa malu-malu lagi gadis itu menyerbu hidangan
684
yang tersedia. Tingkahnya yang bebas tanpa kendali,
namun wajar serta alami itu, justru sangat
menyenangkan tuan rumah.
Dan pada saat makan itulah Siau In baru menyadari
kalau tangan kiri wanita cantik yang sudah mulai
beruban rambutnya itu, hanya sebatas siku saja
panjangnya. Tampaknya lengan itu cacat atau terputus
karena kecelakaan.
Namun demikian wanita cantik itu bergerak dengan
leluasa. Cacat tubuhnya sama sekali tidak
membuatnya kikuk. Sikapnya juga kelihatan biasa
saja dan wajar.
"Tio Siau In, ketahuilah... kami berdua telah lebih
dari sepuluh tahun tinggal di guha ini. Riwayat hidup
kami sangat menyedihkan sehingga kami tidak ingin
mengingatnya lagi. Kau boleh menyebutku Bibi Lian,
dan memanggil adikku itu... Bibi Lan. Kau boleh
tinggal bersama kami... kalau mau."
Siau In tersenyum sambil mengucapkan terima
kasih.
"Lan-moi, anak ini bernama Tio Siau In. Gurunya
adalah Ketua Cabang Im-yang-kau wilayah timur.
Katanya dia diculik seorang wanita bongkok dan
dibawa masuk ke lubang kuburan di atas sana."
"Im-yang-kau...?" Wanita cantik berwajah lembut
yang disebut Bibi Lan itu tersedak. Matanya yang
redup dan sayu menatap wajah Siau In dengan
tajamnya.
685
"Apakah Bibi Lan juga sudah mengenal Lo-jin-ong
dan Tong Kaucu?" Tak terduga Siau In bertanya lebih
dulu dengan suara lucu. Dia berkata sambil melirik ke
arah Bibi Lian.
Wanita yang disebut Bibi Lan itu tiba-tiba
menundukkan wajahnya. Bibirnya yang tipis
bergumam perlahan.
"Tentu saja. Bukankah aku dan Bibi Lian
bersaudara? Apa yang dia kenal, tentu aku ketahui
pula. Aku mengenal Lo-jin-ong seperti mengenal
kakekku sendiri. Ah, apakah dia masih hidup?"
"Dia memang masih hidup, Lan-moi. Katanya
tubuh Lo-jin-ong sudah bongkok, tetapi masih tetap
bersemangat mendampingi Kau Cu-si Tong Ciak,
yang kini telah diangkat menjadi Kau-cu."
"Benarkah...?" Wanita berwajah lembut itu
berdesah pendek, kemudian menundukkan mukanya
kembali. Matanya terpejam seperti ada sesuatu yang
mengganjal di hatinya.
Mereka lalu terdiam untuk beberapa saat, sehingga
kesempatan itu segera dipergunakan Siau In untuk
menceritakan pengalamannya selama ini. Dia
bercerita tentang tugas yang diberikan gurunya, serta
pengalamannya bersama A Liong,
Kedua wanita cantik itu saling berpandangan.
Wajah mereka sedikit berubah. Bahkan Bibi Lan
bergumam, tapi tak jelas.
"Lo-jin-ong mencari pemuda bertato. Pihak
kerajaan juga mengumpulkan pemuda bertatto naga?
686
Oh, apakah mereka masih tetap mencari keturunan
Pangeran Liu Yang Kun?"
"Pangeran Liu Yang Kun? Siapakah dia, Bibi?"
Lagi-lagi kedua wanita cantik itu menarik napas
panjang. Keduanya tidak segera menjawab.
Tampaknya seperti ada sesuatu yang mereka pikirkan.
"Pangeran Liu Yang Kun adalah putera mendiang
Kaisar Liu Pang yang lenyap ketika akan dinobatkan
menjadi Kaisar. Ah, sudahlah! Lanjutkan saja
ceritamu! Tak ada hubungannya dengan ceritamu."
Akhirnya Bibi Lian menerangkan dengan suara berat.
Meski tidak puas tapi Siau In tidak berani bertanya
lebih lanjut. Dia lalu meneruskan ceritanya. Dia
bercerita tentang Wanita Bongkok yang membawanya
ke liang kuburan.
"Kaumaksudkan... di atas Ruang Semadi itu ada
Kamar Mayatnya? Eh, mengapa tidak kaukatakan
sejak tadi? Lan-moi, mari kita lihat!" Bibi Lian tibatiba
berseru.
Tiba-tiba saja kedua wanita cantik itu menghilang
dari depan Siau In! Sepintas hanya terlihat bayangan
mereka, berkelebat masuk ke dalam gua! Siau In
sampai melongo saking kagumnya! Gerakan mereka
sama cepatnya dengan gerakan pemimpin rombongan
orang Hun yang membantai prajurit kerajaan itu.
Siau In bangkit sambil menggeleng-gelengkan
kepalanya. Timbul perasaan kagum dan perasaan
ingin dapat menjadi seperti mereka. Alangkah bahagia
hatinya bila dapat menjadi murid wanita-wanita sakti
687
itu. Sambil melamun Siau In melangkah mengikuti
mereka.
Namun baru selangkah kakinya menapak, Siau In
mendengar suara nyaring di balik tumpahan air terjun.
Dengan tangkas Siau In membalikkan tubuh dan
berjalan keluar mendekati air terjun. Sambil
berlindung dari semburan air yang memercik ke
mana-mana, Siau In berusaha mengintip keluar.
Suara teriakan yang disertai desau angin pukulan
terdengar semakin jelas. Tapi Siau In tetap tak bisa
melihatnya, karena curahan air , menimpa bebatuan di
depan gua itu amat deras sekali. Percikan air seolaholah
menyelimuti tempat itu sehingga semuanya
tampak remang-remang. Kadang-kadang memang
kelihatan bayangan di luar air terjun.
"Wah, tampaknya ada pertempuran di luar sana.
Tapi lubang gua ini tidak ada jalan keluarnya. Jalan
satu-satunya hanya menerobos air terjun itu...."
Siau In mengawasi batu-batu besar yang berserakan
di depan gua, di mana air terjun itu tercurah dari atas.
Batu-batu itu kelihatan licin dan berbahaya, sementara
air yang menimpanya tentu memiliki kekuatan yang
dahsyat pula.
"Apa boleh buat... kalau ingin keluar memang harus
berani mencobanya!"
Tapi sebelum kakinya melangkah, tiba-tiba
terdengar suara panggilan yang berdengung di lubang
telinganya.
688
"Siau In...!" Suara itu bergetar jelas melalui
gelombang ilmu Coan-im-ji-bit.
"Wah, Bibi Lian memanggilku...." Siau In
bergumam dan terpaksa mengurungkan niatnya untuk
menerobos air terjun.
Siau In lalu masuk kembali ke lorong gua dengan
tergesa-gesa. Setelah beberapa kali berbelok, serta
melewati beberapa buah gua, Siau In sampai ke
sebuah lorong kecil yang menanjak ke atas.
Di tempat itu baru Siau In sadar bahwa dia tersesat.
Lorong itu bukan jalan menuju Ruang Semadi.
"Ah, seharusnya aku sudah sadar ketika tidak
melewati lorong berlampu minyak itu...! Aduh,
bagaimana sebaiknya? Oh, ada sinar terang di ujung
lorong ini. Tentu ada lampu di sana. Baiklah, aku
berjalan terus saja."
Karena lorong itu terlalu sempit, Siau In terpaksa
merangkak. Beberapa saat kemudian telinga Siau In
mendengar desau angin dan burung berkicau. Udara
yang berhembus pun terasa lebih segar.
"Hei... ini jalan keluar!" Siau In bersorak gembira.
Otomatis Siau In menjadi bersemagat. Dan benar
juga dugaannya. Sebentar kemudian mata Siau In
menjadi silau oleh sorot matahari.
Siau In segera melompat keluar. Ternyata lubang
keluar itu berada di antara dua batu besar di tepi
sungai. Lubang itu hampir tidak kelihatan karena
tertutup ilalang dan lebarnyapun hanya setebal tubuh
manusia dewasa.
689
Siau In melesat ke kanan dan ke kiri. Tempat itu
benar-benar sepi. Sungai di depannya juga besar dan
lebar, di mana airnya mengalir dengan tenang tanpa
riak yang berarti.
"Sungai ini tentu dalam sekali dan... aha, kalau aku
mengikuti alirannya, tentu akan sampai di air terjun
itu! Bagus, aku akan ke sana!"
Dengan wajah riang Siau In berlari di antara batubatu
yang berserakan di pinggir sungai. Sebentar saja
ia sudah mendengar suara gemuruh itu.
"Nah, apa kataku? Lorong gua tadi memang berada
di bawah sungai ini. Air terjun itu... wah!"
Tiba-tiba mulut Siau In ternganga. Aliran sungai itu
sekonyong-konyong terputus dan meluncur turun
dengan derasnya. Air sungai yang dalam dan lebar itu
bagai ditumpahkan ke bawah begitu saja! Dan ketika
Siau In mencoba melongok ke bawah, kakinya buruburu
ditarik kembali ke belakang.
Ternyata air terjun itu cukup tinggi. Mungkin ada
tiga belas atau lima belas tombak tingginya. Untuk
menuruninya Siau In harus berjalan memutar cukup
jauh, karena dinding tebing yang membatasi air terjun
itu sangat terjal dan licin berlumut.
Sampai di bawah Siau In semakin berhati-hati.
Pengalamannya selama ini telah mengajarkan
kepadanya, agar dia selalu waspada di manapun juga
berada. Dia belum tahu siapa yang sedang berkelahi,
tapi mengingat suara teriakan mereka yang mampu
menindih, bahkan dapat mengalahkan suara air terjun,
690
Siau In yakin bahwa mereka bukan orang
sembarangan.
Ternyata benar juga dugaan Siau In. Dia segera
mengenal orang-orang yang sedang berkelahi itu.
Mereka adalah orang-orang yang dilihatnya di
kuburan pagi tadi, yaitu Si Wanita Bongkok dan tiga
orang aneh berkain belacu kasar itu.
Sendirian Wanita Bongkok itu melawan tiga orang
lawannya. Meskipun sudah tua namun gerakannya
tetap luar biasa lincahnya. Tubuhnya yang sudah
melengkung itu
melenting ke sana
ke mari.
Dia tidak
membawa senjata
apa-apa, tapi dari
kedua telapak
tangannya selalu
tersembur angin
tajam yang
memburu lawanlawannya.
Dan
bau aneh seperti
bau dupa wangi
menyebar sampai
ke tempat Siau In.
Tapi ketiga
orang lawannya juga tidak kalah pula lincahnya.
Mereka justru bergerak dengan cara yang lebih aneh
691
dan mengerikan. Setiap kali kaki mereka menapak di
tanah, tubuh mereka tampak terhuyung-huyung
seperti orang mabuk berat. Namun setiap kali hendak
jatuh tubuh mereka segera melenting lagi dengan
tangkasnya.
Demikianlah, pertempuran mereka benar-benar seru
dan menegangkan. Dibandingkan dengan pertempuran
di tepi Pantai Hang-ciu, pertempuran itu memang
belum seberapa. Namun demikian pertempuran ini
memiliki kesan tersendiri bagi Siau In. Cara dan gaya
mereka berkelahi sama sekali berbeda dengan ilmu
silat kebanyakan.
Ternyata pada puncak pertempuran mereka, kedua
pihak mempergunakan ilmu yang sama. Mereka
bergerak kaku dan selalu bergoyang, seperti layaknya
orang yang berdiri di atas geladak kapal. Entah
mengapa, cara mereka bersilat yang aneh itu lamalama
menimbulkan perasaan seram dan ngeri di hati
Siau In. Gadis itu serasa melihat sebuah acara ritual
para pengikut setan. Bau dupa wangi serta kabut tipis
tampak menyelimuti tubuh mereka, seperti halnya
acara persembahan atau acara memanggil roh.
Bahkan suasana segar dan cerah tadi tiba-tiba juga
berubah menjadi sunyi mencekam. Suara gemuruh air
yang semula terasa bising, mendadak juga mereda.
Sebaliknya telinga Siau In seperti mendengar suara
nyamuk yang mendenging tiada henti-hentinya.
692
"Aduuuuh...!" Sekonyong-konyong Siau In
mendekap kepalanya. Mulutnya meringis menahan
sakit.
Ternyata suara mendenging itu semakin lama
semakin kuat dan tajam, hingga telinga Siau In
menjadi sakit. Dan sebelum gadis itu sempat menutup
telinganya, mendadak suara itu melengking makin
kuat. Akibatnya seperti ada ribuan jarum yang tibatiba
menyusup ke dalam telinga Siau In dan
menyerang otaknya!
"Hentikan...!!!" Karena tidak tahan lagi, maka Siau
In berteriak sambil meloncat keluar dari
persembunyiannya.
Tapi apa yang dilakukan gadis itu benar-benar
suatu kesalahan besar. Rasa kaget membuat orangorang
itu cenderung untuk membela diri. Otomatis
semuanya bergerak menyerang Siau In. Ada yang
melontarkan jarum-jarum kecil. Ada yang
menghembuskan asap beracun. Dan ada pula yang
menerjang dengan pukulan penuh tenaga sakti!
Serangan tak terduga itu menyambar dengan cepat
sekali dan tidak mungkin Siau In bisa
mengelakkannya. Apalagi kepandaian mereka ratarata
memang berada jauh di atas gadis itu.
Disertai jerit kesakitan tubuh Siau In terpental ke
belakang. Sesaat gadis itu mencoba untuk bangkit
kembali, namun gagal. Tubuhnya kembali terhempas
ke tanah dan pingsan. Semua serangan lawannya tidak
ada yang meleset. Semua. mengenai tubuhnya.
693
Sejenak pertempuran itu berhenti. Masing-masing
melihat korban serangan mereka. Tapi ketika tidak
seorang pun di antara mereka yang mengenal Siau In,
mereka saling bercuriga satu sama lain.
"Kukira Kwa Yung Ling, ternyata... bukan! Hemm,
siapakah gadis ini, Tai-bong Kui-bo (Kuntilanak dari
Kuburan Besar)?" Salah seorang dari tiga lelaki
berbaju putih itu bertanya kepada Wanita Bongkok.
"Mana aku tahu? Aku juga mengira dia kawan yang
kaubawa dari Tai-bong-Pai (Partai Kuburan Besar).
Sejak dulu kalian, Giam-lo Sam-kui (Tiga Hantu
Akherat), tak pernah pergi sendirian. Selalu saja
bertiga atau mencari kawan yang lain." Wanita
Bongkok yang mempunyai julukan Tai-bong Kui-bo
itu mengejek.
Orang tertua dari Giam-lo Tai-bong-pai itu
mendengus. Wajahnya yang pucat itu tampak semakin
kusam.
"Kurang ajar, perempuan tua tak tahu diri! Sudah
dekat liang kubur, masih juga bersikap sombong!
Ayolah, kita teruskan lagi pertempuran kita! Jangan
harap kau dan Kwa Yung Ling bisa melepaskan diri
dari hukuman Tai-bong-pai! Lihat serangan...!"
"Bagus! Kalau kalian memang bisa mengalahkan
aku, akan kukatakan di mana Kwa Yu Ling berada!"
Maka pertempuran pun pecah kembali. Masingmasing
tak mau mengalah lagi. Begitu bergebrak
mereka segera mengeluarkan kemampuan
694
sepenuhnya. Sekali lagi tempat itu menjadi ajang
pertempuran yang dahsyat.
Meskipun dari perguruan yang sama tapi
kemampuan mereka memang berbeda. Sejak kecil
Tai-bong Kui-bo ikut keluarga mendiang Ketua Taibong-
pai lama, Kwa Eng Ki. Meskipun tidak diambil
sebagai murid, tapi Kwa Eng Ki juga memberinya
pelajaran silat.
Ketika Kwa Eng Ki meninggal dan diganti Kui Mo
Siang, sutenya, Tai-bong Kui-bo diangkat menjadi
Pengurus Rumah Tangga Perguruan. Meskipun
demikian Tai-bong Kui-bo tetap berada di rumah
keluarga Kwa Eng Ki. Wanita itu tetap mengasuh
Kwa Yung Ling, cucu perempuan Kwa Eng Ki.
Malapetaka timbul setelah Kui Mo Siang
meninggal dunia. Penggantinya Yok Si Ki, murid Mo
Siang sendiri. Tapi watak mereka benar-benar
bertolak belakang. Yok Si Ki sangat kejam dan licik.
Usianya yang masih terhitung muda, ditambah dengan
ilmu silatnya yang tinggi membuat wataknya menjadi
sombong dan sewenang-wenang. Lebih celaka lagi
Yok Si Ki memiliki watak hidung belang dan suka
main perempuan.
Banyak wanita dan gadis baik-baik yang menjadi
korban kebiadabannya, diantaranya adalah Kwa Yung
Ling, cucu Kwa Eng Ki sendiri. Padahal saat itu Kwa
Yung Ling masih terlalu muda. Hanya karena
menolak menjadi isteri mudanya, Kwa Yung Ling
ditangkap dan dimasukkan ke dalam penjara. Dan di
695
dalam penjara itu berkali-kali Kwa Yung Ling
diperkosa dan dihina, sehingga akhirnya ia melahirkan
seorang bayi perempuan.
Dua belas tahun lamanya Kwa Yung Ling
terkurung bersama anaknya. Dan selama itu pula
pengasuhnya, Tai-bong Kui-bo, tak pernah kelihatan
batang hidungnya. Perempuan itu menghilang sejak
dikalahkan oleh pengawal-pengawal Yok Si Ki.
Selama dua belas tahun itu pula Yok Si Ki selalu
menyebar anak buahnya untuk mencari Tai-bong Kuibo,
karena wanita itu ternyata menghilang bersama
buku pusaka Tai-bong Pit-kip. Tetapi usahanya tak
pernah berhasil. Tak seorang pun di antara orangorangnya
yang dapat menemukan perempuan itu. Taibong
Kui-bo seakan-akan sudah lenyap ditelan tanah.
Maka Yok Si Ki benar-benar tidak menduga ketika
dua tahun yang lalu Tai-bong Kui-bo tiba-tiba muncul
di gedung penjara, membunuh para penjaga, kemudian
membawa pergi Kwa Yung Ling dan anaknya!
Bahkan ketika Tai-bong Kui-bo yang kini sudah tua
dan bongkok itu kepergok dengan Hiat-tok Mo-li
(Iblis Wanita Darah Beracun), dia masih bisa
mengecoh dan meloloskan diri. Padahal Hiat-tok Moli
merupakan orang nomor tiga di partai Tai-bong-pai
setelah Yok Si Ki dan Mo-gan Wan-ong (Si Raja Kera
Bermata Iblis).
Sebab itulah selama dua tahun ini Yok Si Ki benarbenar
mengerahkan seluruh kekuatannya untuk
memburu Tai-bong Kui-bo. Seluruh pelosok negeri
696
diaduknya. Puluhan orang kepercayaannya tersebar
hampir di segala tempat. Tak heran kalau akhirnya
jejak perempuafr tua itu dapat ditemukan juga. Giamlo
Sam-kui, tiga orang Petugas Hukum dari Tai-bongpai,
berhasil mencium jejak persembunyiannya. Dan
sekarang ketiga Iblis Neraka itu berusaha untuk
meringkusnya.
Kepandaian Giam-lo Sam-kui memang masih di
bawah Mo-gan Wan-ong maupun Hiat-tok Mo-li.
Tapi di dalam Partai Tai-bong-pai, kedudukan Giamlo
Sam-kui sangat dihormati. Mereka bertiga adalah
Pengawas Hukum di dalam Partai Tai-bong-pai.
Kedudukan mereka sejajar dengan Pengurus Partai,
yang kini dipegang oleh Mo-gan Wan-ong. Oleh
karena itu tidak mengherankan bila mereka bertiga
mampu melayani Tai-bong Kui-bo dengan baik.
Sebenarnya kepandaian Tai-bong Kui-bo sendiri
juga sulit diduga pula. Selama dua belas tahun
bersembunyi, ditambah dengan dua tahun dalam
pelariannya bersama Kwa Yung Ling, kesaktiannya
benar-benar lain dengan Tai-bong Kui-bo dahulu.
Dengan mempelajari Buku Pusaka Tai-bong Pit-kip
yang berisi rahasia Ilmu Silat Tai-bong-pai, ilmunya
telah meningkat berlipat ganda. Sayang sekali cacat
pada tulang punggungnya, akibat keroyokan pengawal
Yok Si Ki lima belas tahun lalu, membuat dia tidak
bisa mempelajari Tai-bong Pit-kip secara tuntas.
Itulah sebabnya dalam pertempuran sekarang, Taibong
Kui-bo tampak sangat geram kepada Giam-lo
697
Sam-kui, karena ketiga Iblis Neraka tersebut termasuk
pula di antara para pengeroyoknya pada waktu itu.
Demikianlah, pada lima belas tahun lalu memang
mudah bagi Giam-lo Sam-kui untuk mengalahkan
Tai-bong Kui-bo. Tapi sekarang mereka tidak dapat
melakukannya lagi. Kini ilmu silat Tai-bong Kui-bo
telah sejajar dengan ilmu silat mereka. Bahkan tenaga
dalam perempuan tua itu juga sudah mencapai
tingkatan tertinggi pula.
Oleh karena itu pertempuran mereka tidak mungkin
selesai dalam waktu pendek. Masing-masing sudah
saling mengenal ilmu silat lawannya. Mereka hanya
bisa mengandalkan kemujuran saja, siapa tahu lawan
mereka lengah atau salah langkah.
Demikianlah, lima puluh jurus telah berlalu. Dan
matahari pun mulai bergeser ke arah barat. Tubuh
mereka telah mulai basah dengan keringat, sementara
kekuatan mereka telah berimbang.
Namun menginjak jurus ke sembilan puluh, tibatiba
perimbangan kekuatan mereka mulai berubah.
Sedikit demi sedikit gerakan Tai-bong Kui-bo
kelihatan melemah. Bahkan setiap kali beradu tenaga,
mulut perempuan tua itu tampak menyeringai
kesakitan. Malah sesekali perempuan tua itu
terhuyung seolah-olah kehilangan tenaga.
Ternyata perbedaan usia dan jumlah lawan
berpengaruh juga pada daya tahan mereka. Walaupun
berkepandaian tinggi tetapi tulang dan otot Tai-bong
Kui-bo tidak sekuat dan sesegar tubuh Giam-lo Sam698
kui yang masih muda. Apalagi Tai-bong Kui-bo
memiliki cacat pada punggungnya, sehingga ia selalu
merasa kesakitan setiap kali beradu kekuatan.
Semakin lama perimbangan kekuatan mereka juga
semakin berat sebelah. Pelan tetapi pasti perbedaan
kekuatan itu membuat Tai-bong Kui-bo mulai
terdesak. Malah beberapa saat kemudian satu dua
pukulan mulai mendarat pada tubuh bongkok itu.
"Iblis pengecut...!" Perempuan tua itu menjerit-jerit.
"Sudahlah, Kui-bo! Lebih baik kau menyerah saja
dan katakan di mana Kwa Yung Ling berada!"
"Persetan! Kalian tidak mungkin... aduuuh!"
Sebuah sabetan kaki mengenai pinggang
perempuan itu sehingga tubuhnya terlempar jauh.
Tapi dengan gin-kangnya yang tinggi Tai-bong Kuibo
mampu mendaratkan kakinya di atas tanah
kembali. Meskipun demikian tendangan itu tetap
melukai bagian dalam perutnya.
"Ayoh, cepat katakan! Di mana Kwa Yung Ling,
hah...?" Saudara tertua dari Giam-lo Sam-kui
membentak seraya menahan dua saudaranya untuk
memberi kesempatan kepada lawannya.
Namun Tai-bong Kui-bo tak menjawab. Matanya
justru mendelik penuh hawa pembunuhan. Dan itu
sudah cukup bagi Giam-lo Sam-kui untuk segera
mengakhiri pertempuran mereka. Oleh karena itu
Giam-lo Sam-kui segera mempersiapkan diri mereka
untuk menggempur perempuan itu dengan kekuatan
penuh.
699
Meski sedang goyah, tapi Tai-bong Kui-bo
menyadari bahaya yang hendak menimpanya. Dalam
keadaan terdesak itulah timbul kenekatannya. Lebih
baik mati daripada jatuh ke tangan lawannya.
Tiba-tiba Tai-bong Kui-bo bergeser mundur,
berbareng dengan itu kedua tangannya terayun ke
depan dan belakang bergantian. Serentak dari kedua
telapak tangannya berhembus angin berputar
mengelilingi tubuhnya, membentuk sebuah benteng
untuk melindungi diri dari sergapan lawannya.
Pusaran angin yang keluar dari telapak tangan Taibong
Kui-bo makin lama terasa semakin kuat,
sehingga pengaruhnya mulai melanda pinggiran air
terjun itu. Semak-semak mulai bergoyang, sementara
dedaunan juga mulai tanggal dan bertebaran ke segala
penjuru.
Tapi ke tiga iblis itu hampir tak terpengaruh oleh
kedahsyatan ilmu Tai-bong Kui-bo tersebut. Mereka
bertiga tetap menerjang ke depan, menerobos benteng
angin itu. Di dalam puncak ilmu mereka, Giam-lo
Sam-kui benar-benar memiliki kekuatan seperti iblis.
Ketiga pasang tangan mereka bagaikan palu godam
yang menggedor benteng pertahanan Tai-bong Kuibo.
Dan akibatnya sungguh mendebarkan!
Dhuuuuaaaaaarrrr!
Tubuh Tai-bong Kui-bo terpental balik bagaikan
layang-layang putus! Sebaliknya salah seorang di
antara lawannya juga jatuh terduduk di atas rumput!
700
Ternyata benturan kekuatan itu telah membawa
korban!
"Kui-bo...!" Tiba-tiba terdengar jeritan dari jauh.
"Kwa Yung Ling!" Tiga Iblis dari Neraka itu
menggeram bersama-sama. Salah seorang dari Giamlo
Sam-kui yang jatuh tadi telah dapat berdiri kembali.
Sekejap kemudian seorang wanita cantik berusia
tiga puluh satu atau tiga puluh dua tahun, datang ke
tempat itu dan menubruk tubuh Tai-bong Kui-bo yang
tergeletak lemah di atas tanah. Darah segar tampak
mengalir deras dan mulut perempuan tua itu.
"Kui-bo, bertahanlah! Aku akan mengobati
lukamu...!" Wanita yang tidak lain memang Kwa
Yung Ling itu menangis di samping Tai-bong Kui-bo.
Dia sama sekali tidak mempedulikan Giam-lo Samkui
yang berdiri garang di sekelilingnya.
Mata yang terpejam itu terbuka. Ketika melihat
kehadiran Kwa Yung Ling, mata yang telah mulai
meredup itu tampak kaget. Dengan segala kekuatan
yang masih tersisa bibir itu dipaksakan untuk berkata.
"Ce-cepatlah... 1-laari!" Bibir itu bergetar lemah,
kemudian terkatup rapat kembali. Nyawa tua itu
keburu lepas dari tubuhnya.-
"Kui-bo...!!!" Sekali lagi wanita yang baru tiba itu
menjerit pilu dan memeluk tubuh Tai-bong Kui-bo.
"Diam! Kau tidak perlu menangis lagi! Sekarang
berikan buku itu dan ikut kami ke Tai-bong-pai!"
Tiba-tiba orang tertua dari Giam-lo Sam-kui
menghardik dan menyambar lengan Kwa Yung Ling.
701
Tapi dengan tangkas wanita cantik itu menghindar.
Walau sedang menangisi pengasuhnya, namun Kwa
Yung Ling tetap waspada terhadap lawan-lawannya.
Maka ketika tangan Giam-lo Sam-kui menyambar, dia
buru-buru melompat ke samping. Di lain saat ia telah
berdiri tegak di hadapan lawan-lawannya. Bahkan
tangan kanannya telah memegang selendang putih
yang tadi membelit di pinggangnya. Di kedua ujung
selendang itu terpasang gelang kecil dan besar.
"Kalian bertiga memang bukan manusia baik-baik.
Kalian telah mengkhianati sumpah kalian terhadap
Tai-bong-pai. Kalian mengabdi kepada Si Iblis Yok Si
Ki, yang telah berbuat makar terhadap Tai-bong-pai.
Sebagai pejabat Pengawas Hukum seharusnya kalian
tahu bahwa Yok Si Ki telah menginjak-injak
peraturan dan adat istiadat Tai-bong-pai, yang selama
ini dijunjung tinggi oleh leluhur kita."
Wajah Giam-lo Sam-kui yang putih pucat itu untuk
sesaat berubah menjadi merah padam. Namun rasa
malu justru membuat mereka menjadi marah sekali.
Dengan pandangan mengerikan ketiga iblis itu
mengangkat tangannya. Terdengar suara berkerotokan
ketika lengan itu mengeluarkan asap tipis berwarna
kemerahan.
Sebagai seorang anggota partai Tai-bong-pai, Kwa
Yung Ling segera tahu apa yang sedang dilakukan
lawannya. Cepat ia mengerahkan segala
kemampuannya, semua ilmu yang diberikan
mendiang Tai-bong Kui-bo selama dua tahun ini.
702
Selendang itu cepat direntangkan di depan dadanya.
Seluruh tenaga sakti dia kerahkan di kedua lengannya,
karena ia tahu bahwa dia bukan tandingan Giam-lo
Sam-kui. Namun yang jelas ia tak mau menyerah
begitu saja.
"Mulutmu sangat tajam, maka tiada jalan lain bagi
kami selain membungkam mulutmu selama-lamanya!
Nah, bersiaplah untuk mati!" Orang tertua dari Giam
lo Sam-kui menggeram, kemudian memberi aba-aba
kepada saudaranya untuk menyerang.
Wuuuuuus! Singgggg! Taaaaak!
Giam-lo Sam-kui tidak peduli lagi akan pandangan
orang. Sebagai seorang tokoh Tai-bong-pai mereka
tidak malu-malu lagi mengeroyok seorang wanita
muda. Bagi mereka yang penting adalah menunaikan
tugas yang diberikan oleh Jcetua mereka. Mereka
tidak ingin kehilangan kesempatan itu. Mereka harus
segera memanfaatkan kesempatan untuk mendapatkan
buku Tai-bong Pit-kip itu kembali.
Mereka bertiga menyerang tanpa belas kasihan lagi.
Seluruh kemampuan mereka tercurah untuk
secepatnya membunuh Kwa Yung Ling, kemudian
mengeledahnya.
Kwa Yung Ling memang tidak bisa berbuat
banyak. Tai-bong Kui-bo saja kalah, apalagi dia.
Meskipun selendangnya yang berujung gelang itu
sangat cepat dan bergerak lincah melindungi diri, tapi
ketiga lawannya memiliki ilmu yang lebih tinggi
daripada dia. Maka belasan jurus kemudian gerakan
703
selendang itu justru menjadi kacau dan menyulitkan
dirinya sendiri. Beberapa kali gelang di ujung
selendang itu malah berbalik menyerang dirinya.
Bahkan tangkai selendang itu sering membelit dan
membelenggu tangannya sendiri.
"Hihihi, kelihatannya selendangmu justru ingin
menggantung lehermu sendiri. Lihat saja...!" Saudara
termuda dari Giam-lo Sam-kui tertawa mengejek.
Benar juga. Pertempuran selanjutnya ketiga Iblis
Neraka itu selalu berusaha untuk mempengaruhi
jalannya ujung selendang Kwa Yung Ling. Mereka
membuat gerakan agar selendang itu selalu berbalik
menyerang kepada tuannya. Dan hal itu tidak sulit
mereka lakukan karena kepandaian mereka memang
jauh lebih tinggi daripada Kwa Yung Ling.
Beberapa jurus kemudian wanita cantik itu benarbenar
dalam kesulitan. Beberapa kali ia ingin
membuang selendangnya, tapi Giam-lo Sam-kui
selalu mencegahnya. Selendang itu selalu berbalik
kembali ke dalam genggamannya. Akhirnya dalam
keputusasaannya Kwa Yung Ling nekat untuk
mengadu jiwa. Ia tidak lagi mempedulikan
keselamatannya. Selendang itu diputar di atas
kepalanya, kemudian ia hentakan dalam jurus yang
tak terduga.
Giam-lo Sam-kui memang terkejut bukan main.
Dalam gerakan ilmu silat Tai-bong-pai, tidak ada
jurus memutar senjata sambil menghentak seperti itu.
Gerakan itu justru sangat membahayakan keselamatan
704
sendiri, karena di dalam ajaran tenaga dalam Taibong-
pai, gerakan tersebut justru akan memecah
himpunan tenaga sakti di dalam tubuh, kemudian
menutup seluruh jalan darah yang ada. Menggunakan
gerakan seperti itu sama saja dengan bunuh diri.
Tapi justru itu memang sengaja diciptakan oleh
Tai-bong Kui-bo, yang kemudian diajarkan kepada
Kwa Yung Ling, untuk sewaktu-waktu dipergunakan
bila tidak ada jalan lain lagi.
-- o0d-w0o --
JILID XVII
EMIKIANLAH, dalam keadaan kaget
Giam-lo Sam-kui tidak menyangka kalau
selendang yang berputar di atas kepala
Kwa Yung Ling itu mendadak terputus
menjadi beberapa bagian. Dan mereka
juga tidak menduga pula ketika potonganpotongan
selendang itu tiba-tiba menerjang ke arah
mereka. Ternyata hentakan tenaga Kwa Yung Ling
tadi telah memotong selendang itu menjadi beberapa
bagian.
Mati-matian Giam-lo Sam-kui berusaha
menghindar dari potongan selendang itu. Mereka
berjungkir balik sambil mengibaskan lengan baju
mereka yang longgar. Namun tetap saja beberapa
D
705
potongan selendang melesat mengenai mereka.
Ketiganya meringis menahan sakit. Ketika mereka
berdiri tegak kembali, tampak baju mereka telah
terbuka di sana sini. Bahkan darah mulai mengalir
membasahi kain yang sobek itu. Beruntung bagi
mereka karena memiliki sinkang lebih tinggi,
sehingga luka-luka itu tidak terlalu dalam.
"Keparat! Hampir saja dia membunuhku!" Orang
termuda dari Giam-lo Sam-kui mengumpat, karena
dialah yang terparah lukanya.
Namun mereka tidak bisa menghukum Kwa Yung
Ling lagi, karena sejalan dengan jurus terakhirnya itu
maka seluruh jalan darah wanita itu telah tertutup,
sehingga jantungnya juga berhenti berdenyut. Wanita
cantik itu telah mati mengikuti pengasuhnya.
Giam-lo Sam-kui bergegas mengobati lukalukanya,
kemudian cepat-cepat menggeledah tubuh
kedua korbannya. Dan sebuah buku kecil mereka
dapatkan di balik pakaian Kwa Yung Ling.
"Ah, Tai-bong Pit-kip telah kita dapatkan kembali!"
Orang tertua dari Giam Lo Sam-kui berdesah
kegirangan. Buku itu segera dimasukkannya ke dalam
saku. "Ji-te, Sam-te... ayoh, cepat kita tinggalkan
tempat ini! Kita harus segera melaporkan penemuan
ini kepada Yok Ciangbun (Ketua Yok)!"
Namun belum sempat mereka melangkahkan kaki
meninggalkan tempat itu, segera seorang dara remaja
berusia empat belas tahun menghambur datang. Gadis
706
itu berteriak setinggi langit begitu melihat mayat Kwa
Yung Ling.
"Ibuuuuuu...!!!"
"Tahan! Bukankah anak ini... Yok Ting Ting?"
Orang tertua dari Giam-lo Sam-kui tiba-tiba
mencengkeram lengan kedua saudaranya.
"Kita tak usah pedulikan dia. Kita sudah
membunuh kedua buruan itu, dan sudah mendapatkan
buku mereka pula. Kita tak usah membuang-buang
waktu untuk mengurusi anak itu." Orang kedua dari
Giam-lo Sam-kui memperingatkan kakaknya.
"Benar, Twako. Perjalanan kita masih panjang. Kita
tak usah mencari perkara yang lain. Biarlah anak itu
mengurusi Ibu dan pengasuhnya." Orang termuda dari
Giam-lo Sam-kui berkata pula.
"Ah, bodoh benar kalian ini! Bagaimanapun juga
dia adalah puteri Yok Ciang-bun. Kedatangan anak ini
akan menambah kegembiraan beliau. Hmm, ayoh...
kita bawa anak ini!"
Orang kedua dan ketiga dari Giam-lo Sam-kui tidak
mau membantah lagi. Sambil saling memandang dan
mengangkat pundaknya, mereka berdua cepat
melangkah ke depan untuk meringkus Yok Ting Ting.
"Nona Yok, Ibumu sudah mati. Tak perlu
kautangisi lagi. Marilah sebaiknya kau ikut kami
untuk menemani Ayahmu."
"Pembunuh! Kalian bertiga benar-benar manusia
busuk! Kalian telah membunuh Ibuku dan Nenekku!
Aku... aku... ah, kubunuh kalian bertiga!" Yok Ting
707
Ting berteriak tinggi, kemudian dengan nekad
melompat dan memukul orang tertua dari Giam-lo
Sam-kui.
Tapi hanya dengan sebelah tangan orang tertua dari
Giam-lo Sam-kui menangkap pergelangan tangan Yok
Ting Ting. Kemudian hanya dengan sekali sentak
gadis itu terkulai lemas dalam pelukannya. Sebuah
totokan jari telah membuat gadis itu tak berdaya.
Namun sebelum ketiga iblis itu beranjak pergi, dari
balik air terjun terdengar suara bentakan nyaring.
"Lepaskan anak itu...!"
Dengan gesit Giam-lo Sam-kui membalikkan
badan. Dan mata mereka segera menangkap dua sosok
bayangan wanita berkelebat menghampiri tempat itu.
Salah seorang dari bayangan itu tiba-tiba telah berdiri
di depan mereka, sementara bayangan yang lain
melesat ke tempat di mana Tio Siau In tergeletak.
Sekejap ketiga iblis itu melongo menyaksikan wajah
cantik berkesan agung itu.
"Engkau... siapa?" Di dalam kekagetan mereka
orang tertua dari Giam-lo Sam-kui itu bertanya.
Wanita cantik di depan Giam-lo Sam-kui, yang
tidak lain adalah Bibi Lian itu berdesah pendek.
"Kalian tak perlu tahu... siapa kami berdua. Kami
hanya meminta agar anak itu dilepaskan!"
"Oh...!" Saudara tertua dari Giam-lo Sam-kui
menggeram. Kulit wajahnya yang pucat itu kembali
memerah. Hatinya tersinggung. "Tahukah Kau... siapa
gadis ini? Dia puteri ketua kami yang hilang sejak dua
708
tahun lalu. Kami telah menemukannya kembali, dan
akan membawanya ke Tai-bong-pai. Nah, apakah kau
tetap ingin mencampuri urusan kami?"
"Bohong...! Penjahat ini berbohong! Aku bukan
anak Yok Si Ki! Orang-orang ini justru telah
membunuh Ibu dan Nenekku!" Tak terduga Yok Ting
Ting berteriak keras sekali.
Tentu saja Giam-lo Sam-kui menjadi marah sekali.
Kelima jari-jari tangan kanannya tiba-tiba terayun ke
ubun-ubun Yok Ting Ting.
Gadis itu menjadi pucat seketika. Dia tak mungkin
bisa mengelak, karena tubuhnya tertotok lemas dan
tak bisa bergerak!
Namun di dalam situasi yang kritis itu mendadak
terdengar suara berdesis seperti suara bara api terjatuh
ke dalam air. Cush! Dan Giam-lo Sam-kui tiba-tiba
melihat cahaya kebiruan melesat menerjang ke arah
jari tangannya yang hendak mencoblos kepala Yok
Ting Ting!
Ujung jari yang hampir menembus ubun ubun Yok
Ting Ting itu cepat ditarik kembali. Sebagai gantinya
orang tertua dari Giam-lo Sam-kui itu mengebutkan
ujung lengan bajunya ke arah cahaya yang datang.
Taaak...! Taaaak! Tak terasa lengannya bergetar hebat
seperti menahan gempuran pedang, sehingga Yok
Ting Ting terlepas dari pelukannya! Dan pada saat itu
pula wanita cantik tersebut berkelebat menyambar
tubuh gadis itu!
709
"Aaiiih...!?" Tiga Iblis dari Neraka itu
membelalakkan mata mereka. Ujung lengan baju
saudara tertua mereka tampak berlubang di kedua
sisinya. Lubang sebesar ujung jari itu bagaikan lubang
bekas tertembus anak panah.
"Kau... kau dari keluarga Souw?" Saudara tertua
dari Giam-lo Sam-kui bertanya gugup.
"Benar! Ia memang puteri kesayangan Hong-gihiap
Souw Thian Hai!" Tiba-tiba dari pinggir arena
terdengar suara lembut dan merdu.
Semuanya berpaling dengan cepat ke arah suara itu.
Di tepian kolam, di mana air terjun itu tertumpah
tampak seorang gadis cantik bak bidadari. Tubuhnya
yang tinggi langsing itu melenggang gemulai
bagaikan pohon yang-liu tertiup angin. Sementara itu
wajahnya yang bulat telur kelihatan bercahaya laksana
bintang kejora.
Kalau Giam-lo Sam-kui terbelalak matanya melihat
kecantikan yang tiada tara itu, sebaliknya Bibi Lian
tersentak keheranan seperti melihat hantu!
"Kau... kau siapa? Bagaimana kau bisa mengenal
aku?"
Gadis ayu itu tersenyum sambil memberi hormat
kepada Bibi Lian. "Cici, kau tentu telah melupakan
Adikmu, karena aku pun hampir melupakan wajahmu
pula. Tapi Ayah telah memberikan ciri-ciri wajahmu,
sehingga aku bisa mencarimu...."
"Kau... kau mencariku? Apakah kau... Souw Giok
Hong?"
710
Gadis ayu yang kemarin berjumpa dengan Tio Siau
In di atas kuburan itu mengangguk. "Benar, Cici Lian
Cu. Ayah sangat prihatin dan tidak pernah percaya
kalau kau mati dalam musibah kebakaran itu. Beliau
tetap mencarimu ke mana-mana bersama Ibu.
Beruntunglah aku bisa melacakmu sampai di tempat
ini. Cici, Ayah sangat kangen padamu...."
Terdengar suara tertahan di tenggorokan wanita
bertangan buntung itu. Matanya pun tampak berkacakaca.
Perlahan-lahan tangannya yang memegang Yok
Ting Ting itu terkulai lemas, sehingga gadis remaja
itu melorot turun ke atas rumput.
Sementara itu Giam-lo Sam-kui saling memberi
isyarat untuk secara diam-diam meninggalkan tempat
tersebut, karena melihat kesaktian wanita buntung tadi
mereka sadar bahwa mereka tak mungkin bisa
menghadapinya. Apalagi wanita itu masih memiliki
dua orang kawan yang belum mereka ketahui
kepandaiannya. Namun mereka percaya bahwa kedua
orang itu tentu memiliki kesaktian yang serupa pula.
Tapi ketika Giam-lo Sam-kui mulai bergerak
melangkahkan kakinya, gadis ayu yang baru datang
itu cepat membentak.
"Berhenti...! Kalian telah membunuh orang! Hmm,
bagaimana mungkin pergi begitu saja?"
Bukan main malunya ketiga iblis neraka itu.
Mereka benar-benar menjadi marah sekarang.
Walaupun tahu berhadapan dengan tokoh sakti yang
mereka perkirakan dari keluarga Souw, tapi mereka
711
juga pantang dihina. Bagaimanapun juga mereka
adalah tokoh dari
partai persilatan
terkenal pula.
"Hmmh! Peduli
apa dengan
engkau? Kami
adalah petugas
Pengawas Hukum
dari Tai-bong-pai!
Dan kedua wanita
yang kami bunuh
itu adalah
anggota-anggota
partai kami yang
harus kami adili
karena telah
berbuat
kesalahan!
Apakah engkau hendak mencampuri urusan kami?"
Saudara tertua dari Giam-lo Sam-kui menggeram.
Ketiga Iblis Neraka itu lalu berdiri berdampingan,
siap untuk bertempur. Sebaliknya gadis ayu itu
tergagap bingung mendengar ucapan lawannya.
Melihat hal itu Bibi Lian atau Lian Cu segera
memunahkan totokan Yok Ting Ting dan bertanya
kepada gadis itu.
"Benarkah Nenek dan Ibumu anggota Partai Taibong-
pai?"
712
Gadis remaja itu memandang jenazah ibu dan
pengasuhnya. Air matanya kembali bercucuran.
"Orang-orang itu sangat jahat! Mereka adalah Giamlo
Sam-kui! Mereka... uhuk-huk...!"
"Jawablah pertanyaanku dulu! Benarkah Ibu dan
Nenekmu itu anggota Partai Tai-bong-pai seperti
mereka?" Wanita bertangan buntung itu kembali
mendesak.
Sambil tersedu-sedu Yok Ting Ting mengangguk.
"Tapi... tapi Ibuku dipaksa oleh...." Jawabnya
tersendat, lalu tiba-tiba terdiam kembali dan tak mau
melanjutkan kata-katanya.
"Ya, sudah! Kalau begitu urusan ini memang
urusan Partaii Tai-bong-pai sendiri! Orang luar tidak
berhak untuk mencampurinya." Wanita buntung itu
melirik Souw Giok Hong.
"Tapi... dia telah membunuh Ibuku! Aku harus
membunuhnya!" Yok Ting Ting melengking tinggi.
Wanita berlengan buntung itu melepaskan
pegangannya. "Kalau engkau sendiri yang hendak
melawan mereka, silakan...! Kau dan mereka memang
sama-sama anggota Tai-bong-pai! Cuma... hm,
rasanya kepandaianmu masih terlalu lemah
dibandingkan mereka. Melawan mereka sekarang,
sama saja dengan bunuh diri. Dan hal itu berarti
dendam Ibu dan Nenekmu tidak ada yang
membalaskan lagi."
Yok Ting Ting terbelalak. Di balik ucapannya
wanita cantik itu seolah-olah memberi harapan
713
kepadanya. Harapan untuk belajar ilmu silat
kepadanya. Dan ketika menoleh, gadis ayu bak
bidadari tadi juga tampak mengedip-ngedipkan mata
kepadanya.
Akhirnya Yok Ting Ting memberi hormat. "Bibi,
kau... kau mau menerima aku sebagai murid?"
Katanya dengan suara gemetar.
Wanita cantik itu menghela napas.
Matanya menerawang jauh, seperti ada banyak
masalah yang sedang membebani pikirannya.
"Sudahlah, hal itu bisa kita pikirkan belakangan.
Sekarang biarkanlah Giam-lo Sam-kui pergi. Lebih
baik kita urus sendiri jenazah Ibu dan Nenekmu."
Akhirnya wanita cantik itu berdesah dengan suara
berat. Lalu tangannya dikibaskan untuk memberi
isyarat agar lawannya segera pergi meninggalkan
tempat itu.
Bagi Giam-lo Sam-kui yang penting adalah tugas
yang diberikan oleh ketua mereka, yaitu mencari Taibong
Kui-bo dan Buku Pusaka Tai-bong Pit-kip.
Sekarang mereka telah berhasil menyelesaikan tugas
tersebut dengan baik. Selain sudah berhasil
menemukan Tai-bong Kui-bo dan membunuhnya,
mereka juga berhasil mendapatkan Tai-bong Pit-kip
pula. Oleh karena itu urusan Yok Ting Ting
sebenarnya tidak penting bagi mereka. Kalau tadi
mereka berniat menangkap gadis itu, sesungguhnya
hanya untuk menyenangkan ketua mereka saja. Maka
melihat Yok Ting Ting sekarang dilindungi oleh
714
orang-orang yang lebih kuat, mereka tidak ingin
mencari kesulitan lagi. Mereka bergegas
meninggalkan tempat tersebut.
Begitu ketiga iblis itu pergi, Yok Ting Ting segera
menubruk mayat ibunya dan menangis sekuatkuatnya.
Sementara itu dari arah lain Bibi Lan datang
bersama Tio Siau In. Wanita cantik itu, yang begitu
tiba tadi langsung menghampiri tubuh Siau In,
berhasil menyelamatkan gadis itu dari maut.
Wajah Tio Siau In kelihatan pucat sekali. Meskipun
dapat berjalan, namun gadis itu masih tampak lemah
sekali. Serangan Giam-lo Sam-kui dan Tai-bong Kuibo
tadi benar-benar telah melukai bagian dalam
tubuhnya dengan parah. Apabila tadi tidak cepat-cepat
ditolong oleh Bibi Lan, mungkin dia sudah mati.
"Cici Tui Lan...? Benarkah?" Melihat kedatangan
wanita cantik itu, Souw Giok Hong tiba-tiba berseru
gembira.
Wanita cantik yang datang bersama Siau In itu
terkejut. Matanya menatap Souw Giok Hong dengan
tajamnya. Karena merasa belum pernah kenal juga,
maka ia memandang Lian Cu, seakan-akan menuntut
penjelasan.
"Lan-moi, kau masih ingat gadis kecil yang sering
digendong Ayahku dahulu?" Wanita bertangan
buntung itu akhirnya berkata pelan.
"Maksudmu dia ini... Giok Hong?" Wanita yang
datang bersama Siau In itu bertanya ragu.
715
Lian Cu mengangguk sambil meraih pundak Giok
Hong.
"Benar, Lan-moi entah bagaimana caranya dia
sampai bisa menemukan persembunyian kita ini.
Padahal sudah dua belas tahun kita menghilang, dan
kukira setiap orang juga beranggapan bahwa kita
sekeluarga telah terbakar hangus di dalam istana itu.
Aaah!" Wanita cantik itu berdesah sedih.
"Semua orang memang berpendapat begitu, karena
perajurit yang memeriksa reruntuhan istana itu telah
menemukan mayat dua wanita yang sedang memeluk
anak-anaknya. Jadi semua orang menganggap bahwa
Cici sekeluarga memang telah menjadi korban
kebakaran itu. Cuma... Ayah dan Ibu yang tidak
percaya pada khabar itu. Menurut Ayah, Cici bedua
memiliki kepandaian tinggi. Tidak mungkin Cici mati
hanya karena kobaran api itu. Dan sampai sekarang
pun Ayah tetap mencari Cici."
Sekali lagi wanita bertangan buntung itu berusaha
menahan sedu-sedannya. Terbayang kembali wajah
Hong-gi-hiap Souw Thian Hai, ayahnya, yang kini
tentu sudah tua.
"Aku bersama kakakmu Tui Lan memang dapat
menyelamatkan diri. Tapi anak-anak...? Ah, kasihan
sekali mereka. .... "
Sementara itu Siau In yang tidak pernah melupakan
wajah Giok Hong, menyapa dengan suara lemah pula.
"Hei, Cici... ternyata kita bertemu kembali."
716
"Ah, kau? Mengapa kau tampak kesakitan begitu?
Apakah engkau terluka?" Giok Hong menyahut kaget.
"Aku terkena pukulan Perempuan Bongkok yang
kukatakan tadi malam itu. Kebetulan aku
menemukannya di dekat air terjun ini dan sedang
berkelahi dengan lawan-lawannya. Tetapi ketika
mereka melihat aku, entah mengapa... tiba-tiba
semuanya berbalik menyerangku." Siau In bercerita
dengan suara lirih dan agak gemetar.
"Begitukah? Padahal sebenarnya Perempuan
Bongkok itu tidak begitu jahat. Kelakuannya yang
aneh itu disebabkan oleh keinginannya untuk
melindungi anak dan cucunya, lihatlah, dia telah
menjadi korban lawan-lawannya!"
"Oooh! Lalu... ke mana tiga orang lawannya itu?
Apakah mereka menemukan anak dan cucunya?"
Souw Giok Hong mengangguk sambil menunjuk
Yok Ting Ting yang sedang menangisi mayat ibunya
"Itu dia anak dan cucunya. Hampir saja mereka mati
di tangan orang-orang itu."
"Sudahlah!" Tui Lan atau Bibi Lan menengahi.
"Kita urus dulu mayat mereka! Setelah itu kita bisa
berbincang-bincang lagi sepuasnya. Bagaimana?
Setuju?"
Lian Cu dan Giok Hong mengangguk.
Mereka lalu membujuk Yok Ting Ting, agar
merelakan kedua orang tuanya dikuburkan. Semakin
cepat dikuburkan akan semakin baik buat mereka.
717
Semula Yok Ting Ting menolak. Gadis yang
sekarang merasa sebatangkara dan tidak memiliki
sanak saudara lagi itu tidak memperbolehkan ibunya
dikubur. Namun setelah Lian Cu dan Tui Lan
membujuknya, gadis itu mau juga menurut.
Sambil menimbun tanah ke liang lahat, Lian Cu
mendekati Giok Hong. Ia berbisik ke telinga gadis ayu
itu. "Eh, Giok Hong! Bagaimana dengan Pangeran
Liu Yang Kun? Apakah dia telah pulang ke istana?"
Tapi gadis ayu itu menggelengkan kepalanya.
"Belum, Cici. Sampai sekarang Pangeran Liu Yang
Kun belum muncul juga. Entahlah, semua orang juga
sudah melupakannya. Malah sekarang Permaisuri Li
telah mengangkat puteranya sendiri untuk
menggantikan Pangeran Liu Yang Kun menjadi
putera mahkota. Anehnya... Pangeran mahkota yang
baru itu mendadak juga hilang dari istana. Persis
seperti peristiwa hilangnya Pangeran Liu Yang Kun
pada lima belas tahun yang lalu. Dan sekarang sudah
lebih dari dua tahun pangeran muda itu menghilang
dari istana. Permaisuri Li sudah berkali-kali
mengerahkan pasukan rahasia untuk mencari
puteranya itu."
Terdengar tarikan napas yang berat di dada Lian
Cu. Matanya juga menerawang jauh. Kenangannya
bersama Pangeran Liu Yang Kun kembali terbayang
di depan matanya.
"Apakah dia benar-benar sudah tiada...?" Lian Cu
bergumam seperti kepada dirinya sendiri.
718
Memang sebenarnyalah bahwa kedua wanita cantik
itu adalah isteri Pangeran Liu Yang Kun. Mereka
bernama Han Tui Lan dan Souw Lian Cu. Mereka
berdua merupakan jago-jago silat berkepandaian
tinggi, sebelum menjadi isteri Pangeran Liu Yang
Kun. Han Tui Lan adalah Anggota Aliran Im-yangkau,
sedangkan Souw Lian Cu adalah puteri Hong-gihiap
Souw Thian Hai dari isteri pertamanya.
Seperti telah dituturkan pada permulaan cerita ini,
istana Pangeran Liu Yang Kun terbakar habis bersama
seluruh isinya. Semua orang berpendapat bahwa
keluarga Pangeran Liu Yang Kun habis terbakar api.
Namun anggapan itu ternyata tidak benar. Kedua
isteri Pangeran Liu Yang Kun dan putera puteri
mereka ternyata dapat lolos dari malapetaka tersebut.
Semuanya selamat walaupun terpisah dan saling tidak
mengetahui keadaan masing-masing.
Han Tui Lan dan Souw Lian Cu dapat
menyelamatkan diri dengan luka bakar di seluruh
badan mereka. Sedangkan putera puteri mereka dapat
diselamatkan oleh Tabib Tong Kian Teng, walaupun
akhirnya anak-anak tersebut juga hilang di dalam
perjalanan mereka.
Karena mengira anak-anak mereka sudah mati,
apalagi mereka berdua juga menderita luka bakar
yang parah, maka Souw Lian Cu dan Han Tui Lan
sengaja menyembunyikan diri di gua itu sambil
mengobati luka-lukanya. Sepuluh tahun telah berlalu
dan mereka sudah dapat melupakan peristiwa sedih
719
itu. Namun peristiwa tak terduga pada hari ini, telah
membangkitkan kembali kenangan lama mereka.
Kenangan yang sangat menyakitkan, yang membuat
luka di hati mereka seolah-olah..terkoyak kembali.
"Lalu... bagaimana dengan mayat para dayang dan
anak-anak yang ditemukan setelah kebakaran itu?
Apakah mereka juga dikuburkan secara layak? Hmm,
kasihan sekali para dayang itu! Mereka tentu telah
berusaha menyelamatkan anak-anak...." Souw Lian
Cu meneruskan pertanyaannya begitu upacara
penguburan itu selesai.
"Benar, Cici. Mereka dimakamkan secara
terhormat, karena semua orang memang menyangka
bahwa mereka adalah isteri dan putera-puteri
Pangeran Liu Yang Kun. Permaisuri Li malah
mengadakan upacara kebesaran di seluruh negeri.
Ah... semua orang tentu akan kaget sekali kalau tibatiba
Cici berdua muncul di depan mereka."
"Jangan dipikirkan dulu masalah itu! Sebaliknya
kita mengatur rencana sebelum melangkah. Dan
pertama-tama... kita bicarakan dulu masalah Yok Ting
Ting ini. Eh... namamu Yok Ting Ting, bukan?
Kudengar Giam-lo Sam-kui menyebut namamu
tadi...." Souw Lian Cu mengalihkan pembicaraan
kepada Yok Ting Ting.
Gadis yang masih dibalut kesedihan itu
mengangguk.
720
"Kau boleh memilih, tinggal bersama kami atau
pulang ke Tai-bong-pai?" Souw Lian Cu bertanya
dengan suara perlahan.
Yok Ting Ting menundukkan mukanya. Beberapa
kali dia mengusap matanya yang basah.
"Aku... aku sudah tidak memiliki siapa-siapa lagi.
Semua orang Tai-bong-pai juga memusuhi aku.
Maka... kalau diperbolehkan aku akan tinggal di sini
saja. Aku bisa membantu apa saja. Memasak,
menyediakan teh, mencuci pakaian...."
Ucapan itu benar-benar menyentuh lubuk hati
Souw Lian Cu dan Han Tui Lan. Mereka jadi ingat
akan anak-anak mereka sendiri, yang tidak dapat
mereka asuh karena musibah itu. Mereka tentu telah
tumbuh sebesar Yok Ting Ting atau Tio Siau In ini
apabila masih hidup.
Dengan penuh kelembutan Han Tui Lan lalu
mengelus rambut Yok Ting Ting. Bahkan matanya
tampak berkaca-kaca ketika berkata.
"Anak manis, jangan khawatir! Kau boleh tinggal
bersama kami sesukamu. Sampai kau bosan. Lihatlah,
kau akan mempunyai banyak teman di sini. Gadis ayu
yang ada di depanmu ini bukan bidadari, tapi adik
Bibi Lian Cu. Namanya ... Souw Giok Hong. Dan
gadis di dekatku ini bernama Tio Siau In, dari Aliran
Im-yang-kauw. Dia akan lama berada di sini, karena
luka dalamnya sangat parah. Mudah-mudahan aku dan
Bibi Lian Cu bisa menyembuhkan lukanya."
721
Yok Ting Ting melelehkan air mata saking
gembiranya. Ia segera berlutut di depan Han Tui Lian
dan Souw Lian Cu.
Han Tui Lan dan Souw Lian Cu saling pandang
dengan tersenyum. Mereka berdua benar-benar
merasa bahagia, seolah-olah kehilangan mereka akan
keluarga selama ini sedikit terhibur dengan
kedatangan mereka. Gua yang sepi itu tiba-tiba terasa
semarak.
Mereka lalu saling menceritakan pengalaman
mereka masing-masing. Souw Lian Cu bercerita
tentang penderitaannya bersama Han Tui Lan pada
waktu menyelamatkan diri dari istana dua belas tahun
lalu. Mereka berdua berlari tanpa mengenakan
sepotong pakaian pun di tubuh mereka. Baju yang
mereka pakai telah habis dimakan api. Bahkan hampir
semua kulit tubuh mereka melepuh, sementara rambut
di kepala mereka juga tidak ada yang tersisa sarna
sekali. Oleh karena itu selain merasa kesakitan,
mereka juga malu bertemu orang. Keadaan mereka
pada waktu itu lebih pantas disebut mayat daripada
manusia hidup. Begitulah, mereka lalu mencari
tempat sunyi untuk bersembunyi dan mengobati lukaluka
mereka.
"Mengapa Cici tidak pulang saja ke rumah? Ayah
dan Ibu tentu akan mengobati luka-luka itu." Souw
Giok Hong menyela keputusan kakaknya untuk
menyendiri.
722
Han Tui Lan tersenyum. "Ah, saat itu kami benarbenar
sudah putus asa. Suami hilang, anak mati
terbakar, sementara kami sendiri juga lebih pantas
disebut kuntilanak daripada manusia."
"Ya... mana ada keinginan untuk kembali lagi?"
Souw Lian Cu menambahkan sambil tersenyum.
"Tapi sekarang Cici berdua telah pulih menjadi
cantik lagi." Souw Giok Hong memuji.
"Ah, kami telah menjadi tua sekarang. Dan kami
berdua merasa betah di tempat ini, sehingga kami
tidak ingin ke mana-mana lagi."
"Cici, kau...?" Souw Giok Hong tiba-tiba cemberut.
"Sudahlah! Sekarang ganti kau yang bercerita.
Bagaimana kau dapat menemukan kami di sini?"
Souw Lian Cu cepat mengalihkan pembicaraan lagi.
Merasa belum puas bicara tentang kakaknya, Souw
Giok Hong hampir saja tidak mau bercerita tentang
dirinya. Tapi dengan nada halus dan lembut akhirnya
Han Tui Lan bisa juga membujuknya, sehingga gadis
itu lalu menceritakan pengalamannya.
"Ayah sering mengajak aku dan Ibu berkeliling ke
seluruh pelosok negeri untuk mencari jejak dan berita
Cici. Walaupun semua orang menganggap kami gila,
tapi kami tak peduli. Dan bertahun-tahun kemudian,
setelah aku selesai mempelajari ilmu silat Keluarga
Souw, aku berusaha mencari Cici sendiri. Setiap kali
mendengar berita tentang pendekar wanita yang
muncul di dunia kang-ouw, aku segera mencarinya."
723
"Giok Hong, kau memang gila... mencari orang
yang sudah dianggap mati!" Souw Lian Cu menyela.
"Tetapi... bukankah jerih payahku tidak sia-sia?
Akhirnya aku juga dapat menemukan Cici berdua."
Souw Lian Cu menatap adik tirinya dengan
perasaan haru. "Baiklah, teruskan ceritamu!"
Souw Giok Hong tersenyum, lalu melanjutkan
ceritanya. "Sebulan yang lalu aku mendengar dongeng
tentang Dewi Bulan yang sering muncul di daerah
pantai timur ini. Malah selain Dewi Bulan aku juga
mendengar cerita tentang Perempuan Bongkok pula.
Demikianlah, hampir sebulan lamanya aku
berkeliaran di daerah ini untuk menemui Dewi Bulan
atau Perempuan Bongkok itu. Siapa tahu salah
seorang di antara mereka adalah Cici?"
. "Benar. Aku malah melihat sendiri penduduk
kampung di tepi sungai itu mengadakan upacara
memanggil Dewi Bulan di atas tebing. Ketika aku
membuntuti mereka, tiba-tiba datang Perempuan
Bongkok menculik salah seorang di antara mereka.
Eh...??"
Tak terasa Siau In menyela. Tapi mulutnya segera
terdiam manakala menyebut Si Perempuan Bongkok.
Dia segera sadar bahwa perempuan bongkok itu
adalah pengasuh Yok Ting Ting.
Untunglah Yok Ting Ting tidak merasa tersinggung
oleh ucapan Siau In. Bahkan gadis itu mau memberi
penjelasan kepada mereka.
724
"Maaf, Cici. Orang-orang Tai-bongpai memang
memiliki sifat dan adat istiadat aneh yang lain dari
orang kebanyakan. Kami sering dianggap jahat dan
disebut sebagai pengikut ajaran ilmu hitam. Bahkan
untuk mempelajari ilmu silat Tai-bong-pai, sering
dilakukan dengan cara-cara yang aneh. Dengan
upacara-upacara mistik serta menggunakan bendabenda
yang dianggap bertuah. Dan salah satu di antara
benda bertuah yang dapat menambah kekuatan kami
adalah... memanfaatkan zat yang keluar dari mayat
manusia."
"Mayat manusia...?" Siau In bergidik ngeri.
"Ya! Itulah yang dilakukan Tai-bong-Kui-bo
selama ini. Untuk menambah kekuatan Ilmu Perampas
Ingatan yang sedang dia pelajari, dia harus banyak
menyadap dari bangkai manusia. Karena sudah
kehabisan bangkai manusia, maka Tai-bong Kui-bo
mulai menculik orang kampung. Ah, kasihan dia. Dia
melakukan hal itu karena ingin membalaskan dendam
kami kepada Ketua Tai-bong-pai."
"Hei! Bukankah mereka masih satu perguruan?"
Souw Giok Hong bertanya keheranan.
Wajah Yok Ting Ting tiba-tiba berubah. Mulutnya
terdiam, tapi sinar matanya menyimpulkan kesedihan,
kegeraman, sekaligus juga keputusasaan yang dalam.
Souw Lian Cu cepat menepuk pundak Yok Ting
Ting. "Sudahlah! Kau tak usah menceritakannya kalau
keberatan."
725
Sekonyong-konyong Yok Ting Ting memeluk
Souw Lian Cu dan menangis sekeras-kerasnya. Tentu
saja kelakuannya itu mengagetkan yang lain. Namun
dengan sabar dan telaten Han Tui Lan dan Souw Lian
Cu membujuk dan membesarkan hatinya.
Akhirnya Yok Ting Ting mau juga menceritakan
siapa sebenarnya dia dan ibunya. Siapa pula
sesungguhnya Tai-bong Kui-bo itu. Dia juga bercerita
tentang aib yang disandang ibunya. Bagaimana
penderitaan ibunya selama ini. Mereka sangat
membenci Yok Si Ki. Benci sekali. Tapi dia tak bisa
berbuat apa-apa, karena bagaimanapun juga orang itu
adalah ayahnya.
Semuanya berdesah dan menggeram, seolah-olah
ikut terbuai dalam kekalutan pikiran Yok Ting Ting.
Terutama Tio Siau In. Gadis yang biasanya acuh tak
acuh dan suka berbuat sekehendak hatinya itu, seperti
bisa merasakan penderitaan Yok Ting Ting dan
ibunya.
"Sudahlah, kau benar. Kau memang tidak boleh
memusuhi Ayahmu sendiri. Perbuatannya yang tak
terpuji itu tentu akan mendapatkan balasan nanti.
Biarkan saja orang lain yang melakukannya. Sekarang
tenangkanlah hatimu di sini. Anggaplah kami semua
ini sebagai pengganti keluargamu." Souw Lian Cu
menghibur.
"Te-terima kasih! Terima kasih...!" Yok Ting Ting
sekali lagi memberi hormat sambil meneteskan air
mata.
726
Untuk beberapa saat mereka hanyut dalam
keharuan. Tapi Siau In segera mengganggu
keheningan itu dengan pertanyaannya.
"Cici Hong, kau belum selesai dengan cerita Dewi
Bulanmu tadi. Selesaikan dulu, dong!"
Souw Giok Hong tidak menjawab. Justru Souw
Lian Cu yang meneruskan kisah adiknya itu.
"Ternyata daya cium Giok Hong kali ini memang
benar. Meskipun sempat dikacaukan oleh keberadaan
Tai-bong Kui-bo di sini, tapi tokoh yang dianggap
sebagai Dewi Bulan itu memang kami berdua adanya.
Dan anggapan penduduk itu berawal dari seringnya
kami berdua membantu segala macam kesulitan
mereka secara diam-diam. Oleh karena kami hanya
berani keluar di malam hari, maka mereka
menganggap kami sebagai seorang dewi. Dan sebagai
imbalan atas bantuan itu mereka mengadakan
persembahan makanan kepada kami. Ah, mereka
memang terlalu bodoh dan sederhana...."
"Untunglah pada saat-saat terakhir aku bisa melihat
Cici. Kalau tidak, ah... aku tentu akan segera pergi
begitu melihat perempuan bongok itu bukan Cici.
Dalam benakku perempuan bongkok itu juga... Dewi
Bulan."
Souw Lian Cu memeluk adiknya. "Thian memang
telah mentakdirkan kita bersua kembali."
Demikianlah, mulai hari itu Tio Siau In tinggal
bersama mereka untuk memulihkan kembali lukalukanya.
Dia memang selalu teringat kepada
727
kakaknya. Tapi dengan keadaannya sekarang, tidak
mungkin dia bisa meninggalkan tempat itu.
SEMENTARA itu jauh di luar Kota Hang-ciu, di
sebuah pondok kecil yang terpencil di tengah-tengah
rawa, Tio Ciu In benar-benar berada dalam keadaan
putus asa. Dengan badan lumpuh akibat totokan dan
dada terbuka akibat kekasaran Ho Bing, gadis itu
meratapi nasibnya.
Tiada aib yang lebih menyakitkan dan memilukan
hati seorang gadis selain diperkosa oleh laki-laki yang
dibencinya. Dan kini Tio Ciu In akan mengalami hal
seperti itu, diperkosa oleh seorang pengemis yang
belum pernah dikenalnya.
Demikianlah, dalam keadaan putus asa segala
macam usaha segera dicoba oleh Tio Ciu In. Ketika
tiba-tiba muncul bayangan Pendekar Buta di
benaknya, maka gadis itu segera ingat akan pesannya.
Apabila ingin berjumpa dengan orang tua itu dia harus
menyanyikan lagu "Menanti Kekasih". Dan harapan
itulah yang sekarang dicoba oleh Tio Ciu In. Dia
menyanyikan lagu itu dengan penuh perasaan. Dia tak
peduli lagi apakah lagu itu dapat didengar atau tidak.
Apabila di malam gelap gulita,
Tiba-tiba muncul Bulan Purnama.
Malam pun bagai tersentak dari tidurnya,
Menyambut hangatnya Sang Pelita Malam!
Kekasihku ........?
728
Aku selalu mengharap kedatanganmu!
Karena merasa tak berpengharapan lagi, maka suara
itu bebar-benar bergetar dari lubuk hati. Suaranya
mengalun pedih penuh dengan dorongan perasaan.
Maka getaran suara yang tercipta pun mampu
menggetarkan udara di sekitarnya.
Sementara itu
Si Tongkat
Bocor Ho Bing
meninggalkan
ruangan tersebut
dengan hati
mendongkol.
Ketika
menyanggupi
perintah Mo
Goat, dia sudah
berpesan bahwa
dia akan bekerja
sendiri dan tidak
mau diganggu
sebelum selesai
menunaikan
tugasnya. Maka kedatangan seseorang di saat seperti
itu benar-benar tidak disukainya.
"Bangsat kurang ajar! Kalau urusan yang dibawa
cuma sepele, akan kubunuh orang itu!"
729
Ho Bing agak terkejut juga ketika sampai di ruang
tengah. Ruangan berukuran tiga tombak persegi itu
penuh dengan bangkai serigala. Begitu pula halnya
dengan ruangan depan. Bau darah terasa anyir
memuakkan.
Ruangan depan itu tampak sepi. Halaman depan
yang terlihat dari pintunya yang terbuka juga
kelihatan sunyi. Yang tampak hanya tumpukan
bangkai serigala di mana-mana.
Ho Bing mulai curiga. Bbrrrrrrh! Tiba-tiba seekor
elang putih menukik dari atas dan terbang masuk ke
dalam rumah. Ho Bing meloncat mundur. Namun
sebelum kakinya mendarat, matanya terbelalak kaget!
Entah dari mana datangnya, tiba-tiba di depan pintu
telah berdiri seorang lelaki berambut panjang.
Wajahnya putih pucat, seputih warna pakaian yang
dipakainya.
"Kau... kau siapa? Mengapa kau masuk rumah
orang seenaknya? Kaukah yang membunyikan
lonceng tadi?" Di dalam kegugupannya Ho Bing
membentak garang.
"Benar. Akulah yang menarik loncengmu. Tapi kau
tak perlu tahu namaku, karena aku hanya ingin
mengambil gadis yang datang bersamamu tadi."
Orang yang berpenampilan aneh dan menakutkan itu
menjawab dengan suara dingin.
Ho Bing menggeram. Jawaban orang itu benarbenar
memuakkan hatinya, sehingga hasratnya untuk
membunuh orang benar-benar timbul sekarang.
730
"Kurang ajar! Enak saja kau bicara!
Kau kira mudah mengambil sesuatu dari tangan Si
Tongkat Bocor Ho Bing?"
Tak terduga orang itu meludah. "Aku tidak peduli!
Untuk menyingkirkan kau tak perlu waktu lama.
Paling-paling cuma dua jurus saja! Itu pun nyawamu
sudah melayang!"
Saking marahnya Ho Bing malah tak bisa bicara
lagi. Tongkatnya segera terayun ke depan dengan
derasnya. Kekuatannya sungguh hebat luar biasa,
sehingga tongkat berlubang itu mengeluarkan suara
melengking seperti suling.
Namun pada saat yang hampir bersamaan, orang itu
juga melesat ke depan untuk menyongsong tongkat
Ho Bing. Tubuhnya berputar cepat di udara,
sementara telapak tangannya menyambar ke arah
kepala Ho Bing. Kecepatannya benar-benar sulit
diikuti dengan pandang mata biasa. Ho Bing hanya
bisa melihat lawannya menerjang ke arah dirinya
dengan cara berputar seperti gasing di udara. Tapi
akibatnya sungguh di luar dugaan! Rambut Ho Bing
yang digelung ke atas itu tiba-tiba jatuh ke tanah!
Rambut itu seolah-olah dipangkas dengan pisau
cukur!
Wajah Ho Bing seolah-olah tak berdarah lagi! Putih
pucat seperti mayat! Apalagi ketika menyadari bahwa
rambut itu hanya ditabas dengan sisi telapak tangan
saja! Oh, kalau saja tebasan tangan itu sejengkal lebih
ke bawah, pikirnya.
731
Ho Bing benar-benar menjadi lemas. Dia yang
selama ini sangat ditakuti orang, ternyata ditaklukkan
orang dalam satu gerakan saja. Sungguh suatu
kepandaian yang amat mentakjubkan!
"Tu-tuan... si-siapa?" Ho Bing bertanya dengan
suara gemetaran.
Untunglah pada saat itu juga terdengar suara
nyanyian Tio Ciu In, mengalun perlahan melintasi
ruangan tersebut. Hawa pembunuhan yang memenuhi
ruangan itu mendadak surut kembali.
"Hmmh... sedang apa dia? Mengapa bernyanyinyanyi
begitu? Apa dia sedang mandi, heh?" Orang
berambut panjang itu menurunkan tangannya, lalu
melangkah ke ruang dalam.
Ho Bing mencoba menggerakkan kakinya untuk
menghadang, tetapi tidak bisa. Kekuatannya seperti
tidak ada lagi. Dan pada saat itu pula sekonyongkonyong"
dari ruang dalam menyambar burung elang
putih, yang tadi masuk ke dalam rumah. Burung itu
terus melesat keluar dan terbang tinggi ke udara.
"Hehehe....! Tampaknya kau ingin memanggil
bantuan dengan burungmu itu?" Orang berambut
panjang itu berhenti melangkah, dan berpaling sambil
tertawa menghina.
Ho Bing terkejut. Dia juga mengira burung itu
milik lawannya. "Jadi... burung itu... burung itu juga
bukan milik Tuan?"
"Apa...? Jangan mengada-ada! Huh!"
732
Wajah Ho Bing menjadi merah! Hatinya sungguh
amat sakit. Biarpun berpakaian pengemis, tapi selama
ini tak seorang pun berani membentak-bentak dirinya
seperti itu! Bahkan setiap orang cenderung segan dan
takut kepadanya! Namun apa boleh buat, sekali ini
lawannya memang benar-benar bukan tandingannya.
Sedikit saja ia salah ngomong, nyawanya bisa
melayang. Oleh karena itu dia tidak boleh bermain
kasar. Dia harus pandai-pandai melihat keadaan. Dia
harus menghadapinya dengan kecerdikan.
"Baiklah! Tuan boleh mengambil gadis itu. Tapi
sebelumnya perkenankanlah aku mengetahui nama
besarmu agar hatiku merasa puas karenanya." Ho
Bing memberi hormat.
Wajah pucat itu tampak sangat puas. "Apakah kau
benar-benar ingin tahu namaku? Hehehe, dengarlah!
Namaku... Yok Si Ki! Kau pernah mendengarnya?"
"Yok... Si... Ki? Tuan ini... Ketua Tai-bong-pai?"
Suara Ho Bing menjadi gemetaran lagi.
"Nah... kau mulai ketakutan, bukan?"
Ho Bing menggeretakkan giginya. Nama itu
memang sangat mengerikan baginya. Meskipun baru
sekarang melihat orangnya, tapi nama itu telah
didengarnya sejak dulu. Nama itu sangat terkenal di
dunia persilatan. Setiap orang tentu tahu, siapa Ketua
Partai Tai-bong-pai yang ganas itu.
"Tidak! Aku hanya ingin bertanya sedikit..."
"Bertanya...? Apa yang hendak kautanyakan?"
733
"Tuan tadi mengatakan... bahwa Tuan ingin
bertemu dengan gadis itu. Hemmm, apakah Tuan
mempunyai hubungan keluarga dengan dia?"
Tak terduga orang itu berkata kasar. "Kau gila!
Kaukira rupaku mirip dengan dia, hah? Aku ingin
bertemu dia karena dia seorang gadis yang cantik
menggairahkan! Tahu? Sudah berbulan-bulan aku
tidak menjumpai gadis secantik dia. Hahaha... aku
akan menyesal sekali kalau kesempatan ini tak
kupergunakan!"
Bukan main kagetnya Ho Bing. Ternyata orang itu
mempunyai keinginan yang sama dengan dirinya.
Sama-sama ingin menikmati tubuh cantik itu. Tibatiba
timbul akalnya yang cerdik.
"Bagus! Kalau begitu... maksud Tuan tidak berbeda
dengan tugas yang diberikan kepadaku. Tidak ada
bedanya, siapa yang harus menikmati gadis itu,"
Yok Si Ki bukan orang bodoh. Bahkan sebagai
ketua sebuah partai persilatan besar, yang terkenal tak
disukai orang, maka otaknya juga penuh dengan akal
dan kelicikan pula. Namun demikian sekali ini Yok Si
Ki tidak dapat menebak, apa yang ada di belakang
ucapan Ho Bing itu.
"Apa maksudmu? Katakan lekas!"
"Seseorang telah mengupah aku untuk memperkosa
gadis itu sampai mati. Nah, bukankah tidak menjadi
soal bagiku... siapa yang harus memperkosanya?
Pokoknya gadis itu mati dalam keadaan sudah
diperkosa. Habis perkara."
734
Yok Si Ki mengerutkan keningnya. Masa ada tugas
seaneh dan seenak itu? Dibayar pula?
"Hei! Siapa yang mengupahmu itu? Apakah dia
telah ditolak lamarannya oleh gadis itu?"
Ho Bing meringis. "Ditolak? Wah, bukan... bukan!
Dia juga seorang perempuan! Bukan karena itu...!"
"Perempuan? Oh, kalau begitu... tentu bersaing
dalam kecantikan. Mereka tentu bersaing dalam hal
kecantikan. Karena kalah cantik, maka perempuan itu
ingin menghabisi saingannya. Lalu dia mengupahmu
untuk membunuh gadis itu. Begitukah?"
"Tidak. Bukan begitu. Gadis yang mengupah aku
itu juga cantik sekali. Bahkan menurut pendapatku dia
justru lebih menarik dan lebih bergaya."
Yok Si Ki mengerutkan dahinya. "Jadi, mengapa
dia mengupahmu? Ooooh... apakah mereka, saling
berebut lelaki?"
Ho Bing menatap lawannya. Melihat wajah
lawannya tidak sekeruh dan seganas tadi, hatinya
menjadi lega.
"Aku juga tidak tahu persis sebabnya. Menurut
keterangan beberapa orang pelayan rumah makan di
dalam kota, mereka memang pernah berkelahi. Malah
pada waktu berkelahi, masing-masing membawa
teman, sehingga pertempuran mereka benar-benar
seru. Dan pertempuran itu baru berhenti setelah
seorang lelaki buta datang memisah mereka."
735
"Kalau begitu mereka mengupahmu karena...
dendam? Lalu... berapa dia memberi uang
kepadamu?"
Ho Bing menatap lawannya sambil menghela
napas. Tidak mungkin dia membohongi orang itu.
"Sepuluh tail emas! Dan akan ditambah lagi bila
tugas itu bisa kuselesaikan dengan baik." jawabnya
singkat.
"Wah... begitu murahkah harga gadis secantik itu?
Tapi, baiklah... sekarang serahkan saja uang itu
kepadaku! Biarlah aku yang melakukan tugasmu! Dan
kau boleh mengambil uang tambahannya nanti.
Bagaimana...?"
Ho Bing tak bisa mengelak lagi. Terhadap Yok Si
Ki ia tidak bisa berbuat apa-apa, karena orang itu
dapat berbuat apa saja. Termasuk hal-hal yang tidak
mungkin dilakukan oleh manusia biasa. Jangankan
harus menolak atau memilih, dapat lepas dari
keganasannya saja sudah untung bagi Ho Bing. Maka
tiada jalan lain baginya selain harus memenuhi
perintahnya.
Yok Si Ki menerima uang itu dengan sorot mata
dingin. "Nah, sekarang tunjukkan tempat gadis itu!
Awas, kau jangan bertingkah macam-macam di
depanku!"
Ho Bing terpaksa membawa Yok Si Ki ke ruang
bawah tanah. Mereka berjalan beriringan. Ho Bing di
depan, dan Yok Si Ki mengikuti di belakangnya.
Sayup-sayup masih terdengar alunan suara Tio Ciu In
736
menyanyikan lagu "Menanti Kekasih". Semakin lama
suara itu semakin jelas.
"Dia menggunakan Coan-im-jib-bit. Tampaknya
dia ingin menghubungi seseorang...." Yok Si Ki
bergumam perlahan.
"Menghubungi teman-temannya? Ah, mana
mungkin! Temannya hanya Tabib Ciok ketika datang
ke mari tadi. Dan orang tua itu sudah pergi bersama
pembantunya."
"Hanya Tabib Ciok? Bukankah kau tadi
mengatakan bahwa temannya sangat banyak?"
"Yah... tapi mereka tidak ada gunanya
dibandingkan Tuan. Hanya dengan sebelah tangan
saja Tuan mampu mengalahkan mereka."
"Jangan terlalu meremehkan kekuatan orang lain.
Satu persatu mereka mungkin tidak bisa melawanku.
Tapi kalau mereka maju bersama? Huh... bisa
merepotkan juga!"
"Kalau begitu... apa yang hendak Tuan lakukan?
Membawa gadis itu pergi dari tempat ini?"
Yok Si Ki tersenyum. Senyum pertama sejak
kemunculannya tadi. "Kau memang pandai menebak
hati orang. Aku memang baru saja memikirkannya."
Ho Bing juga tersenyum. Senyum lega karena jalan
untuk mengambil hati orang itu terasa kian licin.
Namun senyumnya segera hilang begitu lawannya
meneruskan ucapannya.
"Tapi... aku juga harus lebih berhati-hati
terhadapmu! Orang seperti engkau tentu sangat
737
berbahaya! Dan... aku tidak ingin terkecoh olehmu.
Ingatlah itu! Sedikit saja aku curiga, jangan harap
kepalamu masih bertengger di situ!"
Ho Bing terkesiap. Ketua Tai-bong-pai itu ternyata
lebih cerdik dan lebih berbahaya dari yang ia duga.
"Lihat, Tuan! Itulah kamarnya!" ucapnya keras
untuk menghilangkan rasa kecut di hati.
"Bagus! Masuklah! Aku ikut di belakangmu! Ingat,
jangan berbuat yang mencurigakan!"
Tapi ketika Ho Bing meraih daun pintu, Yok Si ki
membentak kembali. "Tahan! Ada orang datang...!"
"Siapa? Aku tidak mendengarnya...." Ho Bing
berbisik.
"Mereka masih satu lie dari sini. Ah; banyak
sekali...."
"Satu lie? Ah, masih jauh! mungkin mereka hanya
lewat saja. Walaupun terpencil, kadang-kadang
tempat ini juga dilewati orang. Mungkin...."
"Diam! Mereka menuju ke tempat ini. Ada kira-kira
sepuluh atau lima belas orang banyaknya. Ah, lebih
baik gadis itu kita bawa keluar dulu. Ayoh, cepat!"
Mereka bergegas masuk. Dan Tio Ciu In hampir
saja bersorak begitu melihat bayangan Yok Si Ki.
Namun kegembiraan itu segera hilang begitu
menyadari siapa yang datang. Sepintas lalu
penampilan Ketua Partai Tai-bong-pai itu memang
mirip dengan Pendekar Buta. Keduanya sama-sama
jangkung dan berambut panjang.
738
Begitu datang mata Yok Si Ki dan Ho Bing tak
pernah lepas dari dada Tio Ciu In yang terbuka. Gadis
itu benar-benar memiliki dada yang mulus dan indah.
Bahkan kulitnya yang bersih itu seperti mengeluarkan
cahaya di dalam gelap.
"Gila! Sungguh sempurna! Ayoh, kita bawa dulu
gadis ini keluar! Kita sembunyikan agar tidak
diketahui orang! Ah, sungguh beruntung sekali aku
hari ini...!" Yok Si Ki berkata sambil menyambar
tubuh Tio Ciu In dan dibawa keluar.
"Ouuuugh! Lepaskan aku! Lepaskan ...!" Tio Ciu In
menjerit-jerit, tapi ia tak bisa berbuat apa-apa.
Tubuhnya lemas bagai tak bertulang.
Yok Si Ki melompat dan berlari ke luar, diikuti
oleh Ho Bing. Tapi langkah mereka segera terhenti di
halaman depan. Sekelompok pengemis tampak berdiri
bergerombol menantikan mereka. Dua pengemis tua
tampak memimpin rombongan itu. Mereka adalah
Jeng-bin Lo-kai dan Pek-bi-kai.
Yok Si Ki terkejut. Ternyata ia salah perhitungan.
Tak disangka mereka datang begitu cepat. Yok Si Ki
tidak tahu bahwa kaum pengemis, terutama anggota
Tiat-tung Kai-pang, mengenal daerah itu seperti
mengenal diri mereka sendiri. Mereka mengenal jalan
pintas dan jalan setapak yang biasa dilalui binatangbinatang
buruan.
Ketika Yok Si Ki berusaha menghindar, Jeng-bin
Lo-kai buru-buru menghadang.
739
"Maaf, Tuan! Ijinkanlah kami berbicara
sebentar...." Orang tua itu cepat menganggukkan
kepalanya dan memberi hormat.
"Kalian siapa?" Yok Si Ki menggeram penuh
kewaspadaan.
"Mereka anggota Tiat-tung Kai-pang ...." Ho Bing
buru-buru membisiki Yok Si Ki. Suaranya sedikit
gemetar.
Sementara itu di dalam gendongan Yok Si Ki, Tio
Ciu In seperti mengenal suara orang-orang yang baru
saja datang itu. Tapi karena dipanggul secara terbalik
di atas pundak Yok Si Ki, maka pandangannya
terhalang oleh punggung orang itu.
"Kami adalah pengemis-pengemis hina dari Tiattung
Kai-pang. Aku adalah Jeng-bin Lo-kai dan di
sebelahku ini... Pek-bi-kai. Dan kalau tidak salah lihat
kami sedang berhadapan dengan Ketua Tai-bong-pai.
Benarkah?"
Yok Si Ki mengerutkan keningnya. Dia juga pernah
mendengar nama-nama itu. Mereka adalah orangorang
yang memiliki nama besar di dunia persilatan.
Walaupun demikian ia tidak peduli. Yang perlu
diwaspadai adalah sahabat-sahabat mereka, karena
para pengemis itu bersahabat dengan tokoh-tokoh
persilatan ternama.
"Benar, Lo-kai. Kau memang tidak salah lihat. Aku
memang Yok Si Ki dari Tai-bong-pai. Lalu... apa
kehendak Lo-kai menghentikan aku?"
740
Tiba-tiba Jeng-bin Lo-kai mengalihkan
pandangannya ke arah Ho Bing. "Maaf Yok Ciangbun.
Kami mempunyai urusan penting dengan kawan
Yok Ciang-bun ini. Salah seorang anggota kami
melihat dan mendengar bahwa kawan Yok Ciang-bun
ini mengaku sebagai anggota Tiat-tung Kai-pang,
bahkan mengaku sebagai tangan kananku. Padahal
setiap orang tahu, bahwa Ho Bing Si Tongkat Bocor
bukan anggota kami lagi. Dia kami keluarkan dari
Tiat-tung Kai-pang karena telah berbuat kesalahan
besar terhadap perkumpulan.... Nah, Yok Ciang-bun,
ijinkanlah kami bertanya kepadanya. Apakah yang ia
inginkan dengan kebohongannya itu? Apakah karena
soal wanita lagi seperti dulu?"
Yok Si Ki menghela napas lega. "Oh! Jadi Lo-kai
ingin berurusan dengan dia? Aha, silakan kalau
begitu. Sebenarnya kami bukan sahabat atau kawan.
Kebetulan saja kami punya urusan kecil di sini. Nah,
silakan! Aku akan pergi dulu ...!"
"Jeng-bin Lo-kai...! Jeng-bin Lo-kai, tolong...!"
Tiba-tiba Tio Ciu In berteriak begitu tahu siapa yang
mencegat mereka.
Yok Si Ki dan Ho Bing terkejut. Mereka lupa
bahwa tawanan mereka sudah terlepas dari totokan
gagunya. Namun hal itu justru sangat
menggembirakan hati Ho Bing, karena tidak mungkin
para pengemis itu membiarkan Yok Si Ki pergi.
741
"Hei, Nona Tio Ciu In rupanya! Ah, Yok Ciangbun...
jangan pergi dulu!" Benar juga. Pengemis tua
itu buru-buru menghentikan Yok Si Ki.
"Kurang ajar! Apa sebenarnya kemauanmu,
Pengemis Tua? Bukankah kau ingin berurusan dengan
Ho Bing? Mengapa tiba-tiba berubah pikiran? Apakah
kau ingin melihat darah anak buahmu berceceran di
tempat ini?"
"Ah, ternyata benar juga dugaanku. Tidak ada
masalah lain bagi Ho Bing selain masalah wanita.
Bahkan kali ini masalahnya menjadi besar dengan ikut
campurnya ketua Tai-bong-pai. Nah, Yok Ciang-bun,
kami semua memang bukan lawan yang setimpal
bagimu. Tapi mengingat gadis itu adalah kawan kami,
kami memberanikan diri memohon kepadamu.
Lepaskanlah dia...!"
Tak terduga Yok Si Ki tertawa panjang. "Ah-ahah...
tampaknya kalian lebih menyukai kawan
daripada nyawa kalian sendiri. Baiklah, kalian boleh
mengeroyokku untuk merebut gadis ini. Aku siap
melayani. Tapi jangan salahkan aku kalau namanamamu
nanti akan tinggal kenangan bagi sahabatsahabatmu
yang lain, ho-ho-hoh-ha-ha."
"Jadi Yok Ciang-bun tetap tidak mau melepaskan
gadis itu?" Jeng-bin Lo-kai berdesah.
"Jangan banyak bicara! Majulah!"
Jeng-bin Lo-kai tahu, Yok Si Ki merupakan tokoh
paling terkemuka dari golongan ilmu hitam. Selain
ilmu silatnya yang berbau ilmu hitam itu sangat
742
tinggi, dia juga seorang ketua partai persilatan besar
yang mempunyai banyak anggota di dunia kang-ouw.
Walau ilmu silatnya tidak seganas dan sekeji ilmu
silat orang-orang dari Lembah Tak Berwarna, tapi
Yok Si Ki sangat ditakuti orang.
Namun demi menyelamatkan teman Kwe Tek Hun,
putera sahabat mereka, Jeng-bin Lo-kai rela
menyabung nyawa.
Sebelum maju ke depan pengemis tua itu memberi
isyarat kepada Pek-bi-kai.
"Baiklah, Yok Ciang-bun. Aku Si Pengemis Tua ini
minta pelajaran darimu." Katanya kemudian sambil
melangkah ke depan.
Jeng-bin Lo-kai lalu mengangkat tongkatnya.
Tongkat besi sepanjang satu setengah depa, yang
selama ini telah mengangkat namanya di dunia
persilatan. Setelah memberi peringatan, orang tua itu
lalu memancing reaksi lawan dengan menyodokkan
tongkat itu ke arah ulu hati. Sambil menyodok
kakinya siap bergeser ke kiri apabila lawannya
menghindar. Sebaliknya ia juga siap dengan jurus
berikutnya apabila lawan menangkis serangan itu.
Tapi apa yang dilakukan oleh Yok Si Ki sungguh di
luar perkiraan Jeng-bin Lo-kai. Tokoh ilmu hitam itu
ternyata tidak menangkis atau menghindari
sodokannya. Pada saat yang paling kritis, orang itu
justru balas menyerang dengan cengkeraman jarijarinya.
Wus! Jeng-bin Lo-kai segera mengendus bau
bangkai dari hembusan tangan itu!
743
Dan pada saat yang bersamaan pula, Pek-bi-kai
tiba-tiba bersiul keras sekali! Suara siulan itu segera
disambut dengan suara suara siulan yang lain di
kejauhan. Bahkan di beberapa tempat kemudian
tampak panah berasap meluncur ke udara.
Yok Si Ki dan Ho Bing terkejut. Otomatis jari
tangan Yok Si Ki yang telah mencengkeram ujung
tongkat Jeng-bin Lo-kai itu dilepaskan kembali.
Tokoh ilmu hitam itu mundur selangkah. Sebaliknya
Jeng-bin Lo-kai juga mundur pula sambil mengamati
tongkatnya yang telah melengkung dan penyot di
ujungnya. Ujung tongkat itu bagaikan meleleh dibakar
api.
"Bukan main! Besi saja menjadi penyok begini,
apalagi kulit dan daging manusia!" Jeng-bin Lo-kai
berkata di dalam hati.
Yok Si Ki mendengus dengan suara di hidung.
"Huh! Kau mau mengundang seluruh anggota Tiattung
Kai-pang ke tempat ini? Silakan kalau memang
itu keinginanmu. Tempat ini akan menjadi kuburan
masai bagi Tiat-tung Kai-pang!"
Ho Bing yang dari tadi hanya diam di tempatnya,
tiba-tiba melangkah maju. "Tuan, mereka
memberikan isyarat tanda bahaya kepada semua
orang, kepada semua sahabat-sahabat mereka yang
kebetulan berada di sekitar tempat ini. Lebih baik kita
segera pergi, karena sebentar lagi mereka akan datang.
Mungkin sepuluh, dua puluh, atau lebih banyak lagi.
744
Kita berdua tak mungkin melawan mereka." Bisiknya
dengan suara khawatir.
Sekali lagi Yok Si Ki mendengus. "Bagus! Biarlah
mereka datang! Biar mereka saksikan di sini, suatu
kejadian yang takkan mereka lupakan seumur hidup
mereka. Musnahnya sebuah perkumpulan pengemis
yang terkenal sejak dulu!"
"Tapi kalau hal itu benar-benar terjadi, justru
Tuanlah yang tak bisa tidur nyenyak setiap hari.
Harap Tuan memikirkannya juga." Ho Bing yang
tidak ingin mendapat kesulitan di kemudian hari,
mencoba membujuk Yok Si Ki.
"Apa katamu? Aku tak bisa tidur nyenyak?
Mengapa?"
"Tuan memang dapat membantai mereka. Tapi
selanjutnya seluruh kaum persilatan akan memusuhi
Tuan, bahkan memusuhi Tai-bong-pai. Semua orang
akan datang mencari Tuan..." Ho Bing berhenti
sebentar, lalu lanjutnya pula. "Mungkin Tuan tidak
takut menghadapi mereka. Tapi tak mungkin Tuan
melayani mereka terus menerus. Satu kalah, tentu
yang lain akan datang. Dua kalah maka berpuluhpuluh
yang lain akan datang pula. Belum lagi kalau
mereka bersatu, beramai ramai menghadapi Tuan.
Apakah Tuan tidak akan menjadi kewalahan nanti?"
"Apa...?" Ketua Tai-bong-pai itu mendelik, namun
kata-kata itu termakan juga di hatinya.
"Ingatlah, Tuan. Tuan tentu tahu juga, bahwa Tiattung
Kai-pang selalu bersahabat dengan Hong-gi-hiap
745
Souw Thian Hai dan Keh-sim Tai-hiap Kwe Tiong Li.
Bagaimana kalau salah seorang di antara mereka juga
mencari Tuan? Apakah Tuan juga sudah siap
menghadapi mereka?"
"Aku tidak takut! Mereka tidak akan bisa
mengalahkan aku." Yok Si Ki berteriak, tapi tampak
sekali perubahan wajahnya ketika Ho Bing
menyebutkan nama Hong-gi-hiap Souw Thian Hai.
Ho Bing menarik napas panjang. Matanya menatap
para pengemis yang mengepung tempat itu. "Baiklah!
Kalau begitu, silakan Tuan bertempur dengan mereka!
Lebih baik aku pergi menyelamatkan diri! Nah,
selamat tinggal...!"
Sekonyong-konyong Ho Bing membalikkan
tubuhnya, kemudian melesat masuk kembali ke dalam
rumah. Gerakannya cepat sekali dan tak dapat terduga
oleh siapapun juga.
"Hei! Mau ke mana kau? Tunggu...!" Yok Si Ki
berteriak, lalu menjejakkan kakinya mengejar.
Gerakannya juga tidak kalah cepat pula. Bahkan
tampak lebih ringan dan lebih lincah meskipun di
pundaknya ada Tio Ciu In!
"Lepaskan aku! Lepaskan...!" Tio Ciu In menjerit.
"Yok Ciang-bun jangan lari! Lepaskan Nona
Tio...!" Jeng-bin Lo-kai berseru keras seraya
melompat ke depan. Namun Pek-bin-kai segera
menahannya.
"Jangan masuk, Lo-heng! Kedua orang itu sangat
licik! Kita jangan sampai terperangkap oleh akal bulus
746
mereka. Biarlah mereka di dalam. Rumah ini sudah
kita kepung. Kita tunggu dulu bantuan yang datang.
Nanti kita gempur bersama-sama." Pengemis beralis
putih itu menasehati Jeng-bin Lo-kai.
"Benar. Hampir saja aku terkecoh oleh kelicikan
Ho Bing."
Sementara itu Ho Bing melesat ke ruang bawah
tanah kembali. Yok Si Ki yang tak ingin kehilangan
Ho Bing cepat menyusup ke dalam pula sebelum
pintu itu tertutup kembali.
Sambil berlari menuruni tangga Ho Bing menoleh.
"Tuan beruntung mau menerima saranku. Sebentar
lagi tempat ini akan terkepung oleh puluhan, bahkan
mungkin malah ratusan pendekar persilatan. Tuan
tentu tahu, bahwa peristiwa pembantaian prajurit dan
para pemenang sayembara itu membuat pendekarpendekar
persilatan datang ke daerah ini."
"Lalu... mau ke mana kita? Bersembunyi di ruang
ini?"
Ho Bing berdiri di tengah ruangan. Air mukanya
yang kelimis, walaupun rambutnya terpotong pendek,
tampak berseri-seri. Pandang matanya menunjukkan
kegembiraan.
"Lepaskan aku! Lepaskan aku...!" Tio Ciu In yang
menjadi ketakutan karena dibawa kembali ke dalam
ruangan itu, berteriak dan menjerit-jerit. Gadis itu
benar-benar ketakutan.
"He-he-he, Yok Ciang-bun. Tentu saja kita
bersembunyi di tempat ini. Mau ke mana lagi?"
747
Pengemis licik itu tertawa senang. Tampak sekali
kalau dia amat yakin akan keselamatannya.
"Apa maumu, heh?" Yok Si Ki membentak berang.
Tiba-tiba saja Ketua Tai-bong-pai itu menyambar
dada Ho Bing. Cepat bagai kilat. Ho Bing yang sudah
bersiaga itu mengelak dan berteriak mengancam
lawannya. Di tangannya tergenggam botol berisi
cairan berwarna merah.
"Berhenti, Yok Ciang-bun! Atau... kau dan gadis
itu akan mati di ruangan ini!"
"Apa maksudmu...?" Yok Si Ki menggeram sambil
membuang sobekan kain baju Ho Bing yang
tersambar oleh tangannya tadi.
Diam-diam hati Ho Bing menjadi kecut juga.
Dalam puncak kesiagaannya, ternyata tetap saja ia
hampir mati disambar tangan Yok Si Ki. Gerakan
orang itu benar-benar seperti setan cepatnya.
-- o0d-w0o --
JILID XVIII
API keadaan itu justru membuat hati Ho
Bing semakin mantap. Dia sudah siap untuk
mati bersama kalau perlu.
"Yok Ciang-bun, kau tidak punya
kesempatan untuk lari lagi sekarang. Di atas
tentu sudah berkumpul ratusan pendekar T
748
yang hendak menangkapmu. Di sini pun kau juga
tidak mempunyai pilihan lain. Kau memang gampang
membunuh aku. Tapi kalau botol yang kubawa ini
jatuh dan pecah, hehehe... ruangan ini akan penuh
asap beracun yang mematikan!" Ho Bing mengancam.
Yok Si Ki mendengus. "Huh! Kaukira aku takut
menghadapi mereka? Hehe, sekarang pun aku juga
siap untuk kembali ke atas lagi. Aku mengejarmu
karena aku tak ingin kehilangan kau. Kau harus mati
dulu sebelum aku bertempur dengan mereka."
Keringat dingin mengalir membasahi punggung Ho
Bing. Tampaknya Yok Si Ki benar-benar ingin
membunuh semua lawannya.
"Baiklah, kalau memang itu yang Tuan inginkan...."
Ho Bing berdesah sambil mengangkat botol itu ke
atas kepalanya.
"He! Tunggu!" Yok Si Ki tiba-tiba berteriak
khawatir.
"Tidak peduli! Lebih baik kita mati bersama!"
"Jangan! Jangan! Aku... aku...? Baiklah, aku
menyerah! Katakan apa maumu, nanti kita rundingkan
lagi."
Ternyata Yok Si Ki menjadi takut juga. Ruangan
itu kedap udara, sementara pintu keluarnya juga
terbuat dari besi yang hanya bisa digerakkan dengan
kunci rahasia pula. Kalau asap beracun itu benarbenar
ditebarkan oleh Ho Bing, maka dalam waktu
singkat dia tak mungkin bisa mendobrak pintu
tersebut.
749
Ho Bing menahan tangannya. Matanya memandang
Yok Si Ki.
"Baiklah, Yok Ciang-bun. Aku tak akan
membanting botol ini asal kau memberikan gadis itu
dan mengembalikan uang tadi kepadaku."
Wajah Yok Si Ki menjadi merah. "Kau memang
patut mati!" Ia menggeram dengan suara tertahan.
Tapi Ho Bing seperti tak mempedulikan lawannya.
Botol racun itu segera diangkat kembali ke atas
kepalanya.
"Silakan! Kita mati bersama-sama." Ucapnya
sambil mengayunkan tangannya ke bawah.
"Baik! Baik! Bangsat! Terimalah ini! Aku
kembalikan semuanya kepadamu!"
Saking khawatirnya Yok Si Ki melemparkan tubuh
Tio Ciu In begitu saja, sehingga gadis itu jatuh
berdebam di atas lantai. Kemudian dengan tergesagesa
pula tangannya mengeluarkan uang pemberian
Ho Bing tadi dan melemparkannya kepada pengemis
itu.
"Aduh...! Kalian semua manusia jahat dan keji!
Lepaskan aku!" Tio Ciu In melengking kesakitan.
Ho Bing tidak jadi membanting botolnya. "Bagus.
Ternyata Yok Ciang-bun masih dapat berpikir jernih
juga. Sekarang silakan Yok Ciang-bun keluar! Aku
akan membuka pintunya dari sini."
Tapi Yok Si Ki tidak beranjak dari tempatnya.
Ketua Tai-bong-pai itu justru melipat lengannya di
depan dada. Sikapnya menjadi tak acuh.
750
"Huh!" Dia berdesah melalui hidungnya. "Jangan
dikira hanya kau yang cerdik dan tidak takut mati.
Kini keadaanku sama dengan keadaanmu tadi. Tidak
ada plihan lain selain tergantung pada keinginan
lawan. Dan... aku juga siap pula menghadapinya
seperti engkau tadi. Terserah kepadamu, kau pilih
yang mana. Kalau pilih mati, yah... banting saja
botolmu itu! Dan aku segera akan membunuhmu
sebelum racun itu menghentikan detak jantungku!
Tapi kalau kau ingin tetap hidup, hehehe... terpaksa
kita harus saling bahu-membahu keluar dari tempat
ini! Nah, bagaimana? Pikirkanlah dengan baik, karena
nyawa kita saling bergantung satu sama lain. Kalau
salah satu ingin mati, yah... matilah semuanya!
Keputusan kuserahkan kepadamu!"
"Maksud Yok Ciang-bun...?" Keringat dingin
semakin deras mengalir dari punggung Ho Bing.
Yok Si Ki tertawa dingin. "Aku tahu bahwa
sebenarnya kau masih ingin tetap hidup kalau diberi
kesempatan. Begitu pula dengan aku saat ini.
Sebenarnya aku ingin sekali membunuhmu. Tapi
kalau aku membunuhmu, maka kau tentu akan segera
meledakkan botol racunmu itu sehingga aku pun tidak
akan dapat menyelamatkan diri. Maka aku memilih
tidak membunuhmu agar aku juga tetap hidup pula.
Bahkan aku rela menyerahkan kembali gadis dan
uangmu. Tapi..."
"Tapi... apa?"
751
Yok Si Ki tertawa dingin. "Tapi... jangan
kauanggap aku ini bodoh dan mudah ditipu. Hehehe,
kulihat kau sangat yakin bisa menyelamatkan diri di
ruangan ini, padahal pintunya cuma terbuat dari besi
yang mudah dirusakkan. Para pengemis itu akan
mudah sekali menjebolnya. Aku curiga kau
mempunyai jalan rahasia lain di ruangan ini, hehehe."
Ho Bing benar-benar kaget melihat kecerdikan
lawannya. "Yok Ciang-bun, aku..." Serunya gugup.
"Nah, melihat roman mukamu dan suaramu yang
gemetar, aku semakin yakin bahwa kau memang
menyembunyikan pintu rahasia itu!"
Ho Bing semakin pucat. "Yok Ciang-bun, ini...
ini..."
Yok Si Ki menggeram. "Ayoh, cepatlah! Orangorang
itu sudah berada di ruang tengah. Sebentar lagi
mereka akan tiba di depan pintu. Kau tidak ingin mati,
bukan?"
"Tapi... tapi... maukah Yok Ciang-bun berjanji?
Berjanji tidak akan... membunuh aku dan mengambil
gadis itu?" Dalam keadaan tegang dan terburu-buru
Ho Bing masih mencoba untuk menekan lawannya.
Yok Si Ki memandang geram. "Bodoh! Tentu saja
aku takkan membunuhmu! Kalau aku memang ingin
membunuhmu, buat apa harus bertele-tele begini?
Bunuh saja dan habis perkara! Masa aku tak bisa
mencari sendiri pintu rahasiamu itu? Kalaupun tidak
bisa, masa aku juga tidak dapat meloloskan diri dari
kepungan mereka?"
752
Dok! Dok! Tiba-tiba pintu ruangan itu digedor dan
luar!
Ho Bing terkejut. Pintu itu memang kuat, tapi tak
mungkin bertahan kalau digedor terus menerus
dengan benda yang kuat.
"Ayoh cepat! Sebentar lagi pintu itu akan jebol!"
Yok Si Ki menghardik.
Akhirnya Ho Bing menurut juga. "Baiklah, Yok
Ciang-bun... aku percaya ucapanmu!" Katanya
menyerah sambil menyambar tubuh Tio Ciu In, lalu
melompat ke pojok ruangan.
Yok Si Ki tak mau lepas dari Ho Bing. Melihat
pengemis kelimis itu meloncat, ia segera menempel di
belakangnya. Pengemis itu menyodokkan ujung
tongkatnya ke susunan batu-bata paling bawah, dan
dinding itu sekonyong-konyong bergeser dengan
suara gemuruh. Lalu beberapa saat kemudian diantara
dua dinding itu terbuka sebuah celah sempit selebar
tubuh manusia.
"Yok Ciang-bun, marilah,..,, Waktunya tidak
banyak! Celah ini akan segera tertutup kembali."
Benar juga. Begitu Yok Si Ki masuk ke dalam
celah, dinding itu berderak keras menutup lagi.
Lorong rahasia itu benar-benar gelap sekali.
Jangankan melihat lawan, memandang tangan sendiri
pun tak bisa. Tapi, bagi jago silat seperti mereka, hal
itu bukanlah halangan. Apalagi bagi Yok Si Ki,
dengan naluri dan perasaannya yang terlatih, ketua
Partai Tai-bong-pai itu mampu membaca keadaan di
753
sekitarnya dengan baik. Dan Ho Bing tahu benar akan
hal itu.
Sementara itu untuk menghilangkan rasa takutnya
Tio Ciu ln mulai menyanyi lagi. Meskipun suaranya
menjadi kacau karena tubuhnya terguncang dalam
pondongan Ho Bing, namun ia tidak peduli. Dia terus
menyanyi sebisanya.
"Diam kau!" Yok Si Ki membentak.
"Biar saja Yok Ciang-bun! Lorong ini berada di
bawah tanah dan sudah jauh dari pondok itu, tak
seorangpun dapat mendengar suaranya. Biarkan
saja...! Hitung-hitung dapat hiburan."
"Huh!" Yok Si Ki mendengus, lalu diam kembali.
Sepeminuman teh kemudian, setelah berbelakbelok
ke sana ke mari, akhirnya lorong itu mulai
terasa lembab dan agak basah. Lapat-lapat mulai
terdengar suara air.
"Nah, sekarang berhentilah bernyanyi! Kalau
tidak... hmm, akan kucium bibirmu sampai tak bisa
bernapas!" Tiba-tiba Ho Bing mengancam Tio Ciu In.
Ancaman itu lebih menakutkan daripada ancaman
mati. Kontan saja Tio Ciu In menghentikan
nyanyiannya.
Ketika Yok Si Ki melihat cahaya samar-samar di
ujung terowongan, wajahnya tampak lega dan
gembira.
"Kita hampir sampai di atas tanah lagi?"
"Belum, Yok Ciang-bun. Itu hanya cahaya kunangkunang...."
754
"Kunang-kunang? Sama saja! Kunang-kunang juga
hidup di udara terbuka."
"Bukan, maksudku bukan kunang-kunang, tapi...
serangga lain yang tubuhnya bersinar seperti kunangkunang."
Ho Bing buru-buru menerangkan.
Benar juga. Keluar dari lorong itu, mereka belum
juga sampai di atas. Mereka justru masuk ke dalam
lorong yang lebih luas dan lebih lebar lagi. Dan Yok
Si Ki menjadi kaget ketika kakinya menginjak air
yang mengalir.
"Hati-hati, Yok Ciang-bun! Jangan terlalu ke
tengah! Kita berada di sungai bawah tanah!
Berpeganglah terus pada dinding gua ini!" Ho Bing
memperingatkan.
"Gila! Akan sampai di mana lubang gua ini?"
Ternyata timbul juga perasaan khawatir di hati Yok
Si Ki. Walaupun bangunan partai Tai-bong-pai juga
didirikan di sebuah kuburan kuno, di mana di
dalamnya juga memiliki lorong-lorong rahasia seperti
liang tikus, tapi lorong gua yang diinjaknya sekarang
tetap saja membuatnya ngeri dan kecut. Apalagi jika
melihat cahaya-cahaya kebiruan yang bertebaran di
sekelilingnya. Cahaya yang timbul dari tubuh
serangga-serangga kecil di dalam gua itu bagaikan
mata kawanan iblis yang sedang mengintai mereka.
"Sungai ini akan bermuara di laut, di Pantai Sarang
Lebah." Ho Bing menjawab tanpa menghentikan
langkahnya.
"Kau maksudkan Gua Seribu Jalan itu...?"
755
Ho Bing berhenti sehingga Yok Si Ki hampir saja
menabraknya. "Oh, Yok Ciang-bun juga sudah pernah
ke sana..? Memang benar, pantai itu banyak dikenal
orang karena keanehannya. Selain memiliki tebing
yang curam dan batu karang besar-besar, pantai itu
juga memiliki ratusan lubang gua, sehingga orang
menyebutnya... Pantai Sarang Lebah... Gua Seribu
Jalan, dan sebagainya. Dan lorong ini memang
bermuara di sana. Yok Ciang-bun dapat melihatnya
nanti. Tapi sebelum itu, lorong gua ini akan terpecah
dan bercabang-cabang seperti liang semut....."
Apa yang dikatakan Ho Bing memang benar. Di
dalam keremangan cahaya ratusan atau ribuan
serangga tadi, Yok Si Ki melihat bahwa sungai itu
beberapa kali berbelok dan berpecah menjadi
beberapa jurusan. Begitu seringnya aliran sungai itu
bercabang menjadi beberapa jurusan, sehingga Yok Si
Ki tak bisa mengingat lagi, berapa kali mereka telah
berbelok dan berganti arah.
"Gila! Jangan-jangan kita terjebak di lorong ini,
berputar-putar sampai tua! Ho Bing...! Bagaimana kau
dapat memilih arah yang benar? Apakah kau pernah
melewatinya?" Yok Si Ki menggeram. Suaranya
sedikit bergetar oleh rasa ngeri.
"Jangan khawatir, Yok Ciang-bun! Aku sudah dua
kali melewati terowongan ini. Kelihatannya memang
membingungkan, tapi sebenarnya sangat mudah.
Asalkan kita selalu mengikuti arus air ini, kita tentu
756
akan sampai juga di laut. Pokoknya jangan sekali-kali
melawan arus."
"Benar juga...." Yok Si Ki membatin.
Namun demikian suara gemuruh di terowongan itu
tetap saja mengejutkan hati Yok Si Ki. Apalagi ketika
dasar sungai itu menjadi semakin dalam, sehingga air
itu rasanya merambat naik dan hendak menelan
mereka.
Ternyata rasa ngeri tersebut juga dirasakan pula
oleh Tio Ciu In. Dalam keadaan tertotok lemas seperti
sekarang, gadis itu merasa seperti burung tak
bersayap, yang tak mampu berbuat apa-apa bila
bahaya datang. Beberapa kali terlintas di benak gadis
itu, .kalau tiba-tiba mereka terperosok ke dalam air
dan dia terlepas dari gendongan Ho Bing! Kalau hal
itu sungguh-sungguh terjadi, maka tiada lain nasibnya
selain tenggelam secara mengenaskan!
"Lepaskan aku...! Biarlah aku berjalan sendiri!"
"Benar, Ho Bing. Biarlah dia berjalan sendiri agar
langkahmu menjadi lebih cepat." Yok Si Ki berkata
pula.
Ho Bing yang merasa lelah juga menggendong Tio
Ciu In, akhirnya mau juga menurunkan gadis itu dan
memunahkan totokannya.
"Tapi ingat..., Nona! Kau jangan terlalu jauh
dariku! Sekali kakimu salah menginjak lubang sumur,
maka arus air akan menyeretmu ke dalam sumursumur
gelap tak berujung! Ketahuilah, di tengah
757
tengah sungai ini banyak lubang sumur yang dihuni
ular berbisa."
Suasana di gua itu tetap gelap gulita. Namun
demikian Tio Ciu In tetap saja menutup dadanya yang
terbuka itu dengan wajah merah padam.
"Ooouh...!" Gadis itu menjerit kecil ketika tiba-tiba
kakinya menginjak bagian yang agak dalam.
Bayangan lubang sumur berisi ular berbisa segera
membuat Tio Ciu In menjadi ketakutan, sehingga air
yang mengalir di sela-sela kakinya terasa seperti
gesekan tubuh ular yang hendak membelit tubuhnya.
"Bagaimana kalau seandainya... permukaan air
sungai ini menutupi seluruh lubang gua...?" Yok Si Ki
tak bisa menyembunyikan kekhawatirannya.
Ho Bing tersenyum, meskipun senyum itu tak bisa
terlihat oleh lawan-lawannya. "Yah, apa boleh buat,
kita terpaksa kembali lagi ke tempat semula untuk
mencari lubang yang lain."
"Huh...!?" Yok Si Ki menggerutu.
Sebenarnya menyesal juga Yok Si Ki mengikuti Ho
Bing ke dalam lubang neraka itu. Rasanya lebih
mudah baginya menghadapi keroyokan para pengemis
tadi daripada harus melewati bahaya seperti itu.
Paling tidak, di dalam pertempuran, kesempatannya
untuk tetap hidup akan lebih banyak daripada
mengadu nasib di tempat itu.
Waktu rasanya berjalan terlalu lambat dan mereka
merasa seperti berputar-putar di tempat yang sama.
Begitu banyaknya lubang yang mereka hadapi,
758
sehingga mereka tak tahu lagi berapa banyak mereka
berganti arah. Tentu saja semuanya menjadi tegang
dan takut. Takut salah jalan dan mati sia-sia di tempat
yang mengerikan itu.
"A-aku... ta-takut! Bo-bolehkah aku menyanyi
lagi... agar rasa takutku berkurang?" Tiba-tiba Tio Ciu
In yang melangkah di samping Ho Bing berdesah
pelan. Pelan sekali, namun sudah cukup untuk
mengejutkan Yok Si Ki yang sedang kalut pikirannya.
"Apa katamu?" Yok Si Ki membentak, sehingga
Tio Ciu In tersentak ketakutan.
"Aaaah, mengapa berteriak-teriak begitu, Ciangbun?
Suaramu justru akan membangunkan Hantu
Penunggu Gua ini ..." Ho Bing cepat menengahi.
"Biarlah gadis ini menyanyi. Dalam saat begini,
rasanya kita memang membutuhkan hiburan untuk
mengurangi ketegangan."
Yok Si Ki tak menjawab dan untuk beberapa saat
mereka tak berbicara. Mereka berjalan sambil
berpegangan pada dinding gua.
"Baiklah! Menyanyilah sesukamu...!" Akhirnya
Yok Si Ki berkata dengan suara rendah.
"B-benarkah...?" Tio Ciu In bertanya Wajahnya
berseri penuh harapan.
"Menyanyilah...!" Ho Bing tertawa. "Jangan
khawatir, aku takkan mencium bibirmu! Hohohoho!"
Entah, mengapa, Tio Ciu In masih tetap berharap
akan datangnya pertolongan dari Pendekar Buta itu.
Bahkan Tio Ciu In juga percaya bahwa pendekar sakti
759
itu akan menepati janjinya, menolong dia dari tangan
penjahat-penjahat tersebut. Oleh karena itu dengan
sangat bersemangat dia bernyanyi lagi.
Apabila di malam gelap gulita,
Tiba-tiba muncul Bulan Purnama,
Malampun bagai tersentak dari tidurnya.
Menyambut hangatnya Sang Pelita Malam!
Kekasihku......?
Aku selalu mengharap kedatanganmu!
Selesai menyanyikan bait pertama, Tio Ciu In lalu
meneruskan lagi dengan bait selanjutnya.
Semalam penuh aku duduk sendiri,
Mengenang wajahmu dalam bayangan,
Kutanya Sang Bulan bila ada pesanmu,
Jatuhkan saja ke dalam pangkuanku!
Kekasihku......?
Aku selalu mengharapkan kedatanganmu!
Suara Tio Ciu In memang lembut. Meskipun
gemetaran, namun nada suaranya benar-benar cocok
untuk lagu itu. Iramanya terdengar sendu dan
menyedihkan, sehingga Yok Si Ki dan Ho Bing
seperti terhanyut dalam kesepian pula.
"Wah, kau pandai benar menyanyi...." Yok Si Ki
memuji.
"Benar. Dan rasanya... suasana juga tidak menjadi
tegang lagi." Ho Bing menambahkan sambil tertawa.
760
Tio Ciu In mengambil napas dalam-dalam, siap
untuk mengulang kembali lagunya. Tapi ketika lagu
itu hampir terlepas dari bibirnya, sekonyong-konyong
dari arah depan terdengar suara suling melengking
menyayat hati! Suaranya mengalun tinggi dalam lagu
yang sama, lagu "Menanti Kekasih"!
Yok Si Ki dan Ho Bing tersentak kaget! Di dalam
gua bawah tanah seperti itu ada orang meniup suling?
Siapakah dia? Hantu?
Tiba-tiba Yok Si Ki menyambar leher Ho Bing.
Wuuuuut! Dan Ho Bing sama sekali tak bisa
menghindar! Jalan darah Hong-to-hiat di leher
pengemis itu telah dicengkeramnya!
"Kau punya teman di sini? Huh!"
Mata Ho Bing mendelik ketakutan. "Jangan! Jajangan
lakukan! Ciang-bun... kau keliru! Kau salah
sangka! Aku tidak tahu siapa dia!" Pekiknya dengan
suara parau.
"Bohong...! Siapa orang yang mau berada di tempat
ini selain orang sendiri?"
Ho Bing terbatuk-batuk hampir kehabisan napas.
Keringat dingin segera membanjir membasahi
dahinya.
"Nanti dulu...! Tempat ini sudah dekat dengan
pantai sarang lebah! Si-siapa t-t-tahu... suara itu
terbawa angin dari sana dan masuk ke dalam gua ini?"
Sambil berbicara Ho Bing mencoba melepaskan
diri, tapi tak bisa. Cengkeraman itu seperti
761
menyumbat seluruh saluran tenaga saktinya, membuat
kekuatannya hilang entah ke mana.
Cengkeraman itu mengendor sedikit.
"Apa? Sudah dekat dengan pantai?" Yok Si Ki
menggeram.
"Be-benar! Satu tikungan lagi kita akan tiba di Gua
Besar! Dari tempat ini sudah kelihatan lubang
keluarnya...!"
"Benarkah...?" Yok Si Ki melepaskan tangannya.
"Awas kalau kau berbohong!"
"Oough...!" Ho Bing berdesah sambil mengusap
lehernya yang kemerah-merahan bekas jari.
Di pihak lain suara suling itu bagaikan air
kehidupan yang menetes ke dalam jiwa Tio Ciu In.
Begitu lega rasanya. Begitu gembira hatinya. Siapa
lagi yang meniup suling itu selain Si Pendekar Buta?
Tapi untuk menghindari kecurigaan lawannya, Tio
Ciu In sengaja berpura-pura tidak tahu. Dia tetap
menyanyi, seolah-olah tidak mendengar suara suling
tersebut.
"Diam...kau!" Yok Si Ki membentak. "Ho Bing,
mari kita lihat siapa orang itu!"
Mereka lalu bergegas menyusuri lorong gua itu
lagi. Dan beberapa saat kemudian lorong itu benarbenar
menikung ke kiri.
"Yok Ciang-bun, lihat! Bau air laut sudah terasa,
bukan? Tuh, di depan...! Kita sudah sampai di Gua
Besar!" Ho Bing yang berada di depan berseru lega.
762
Yok Si Ki menyusul. Pandangannya segera
terbentur pada sebuah gua besar bercahaya remangremang,
di mana pada dinding-dindingnya terdapat
banyak lubang besar yang mengalirkan air dari
dalamnya. Dan jauh di ujung sana, beberapa buah
lubang kosong tampak menyorotkan sinar yang
menyilaukan.
"Itu dia lubang keluarnya!" Ho Bing bersorak
gembira. Jarinya menunjuk ke arah lubang yang
menyilaukan itu.
Aliran sungai itu ternyata tidak memenuhi
permukaan lantai di Gua Besar. Airnya hanya
mengalir di tengah-tengah gua, di antara bongkahan
batu-batu besar yang berserakan di tempat itu.
Suaranya gemericik menyejukkan hati. Sementara di
bagian atas gua itu banyak sekali kelelawar
bergelantungan. Binatang-binatang malam itu
mengeluarkan suara mencicit tak henti-hentinya.
"Heran? Ke mana suara suling tadi? Mengapa tibatiba
menghilang?" Ho Bing bergumam heran.
Tak ada jawaban. Semuanya memasang mata dan
telinga. Yok Si Ki juga mengerahkan seluruh
kemampuannya untuk memeriksa tempat itu. Tempat
yang sangat sulit, karena selain gelap juga banyak
batu besar berserakan. Sangat sulit mencari sosok
manusia di tempat seperti itu.
"Tampaknya orang itu memang berada di luar
gua...." Yok Si Ki membatin.
763
Ketika mereka bertiga bergeser ke depan, sebuah
benda hitam yang sejak semula mereka sangka batu
karang, mendadak bergerak dan berdiri di depan
mereka! Begitu mengejutkan sehingga gadis seperti
Tio Ciu In sampai terpekik saking kagetnya!
"Apakah Cu-wi ingin mendengarkan suara sulingku
lagi...?" Benda hitam yang tiada lain adalah seorang
manusia mengenakan mantel kehitaman itu tiba-tiba
berkata pelan.
"K-kau... siapa?" Ho Bing buru-buru menyapa.
Tapi Tio Ciu In segera mengenali orang itu. Tubuh
yang tinggi kurus, dengan rambut panjang menutupi
bahu, siapa lagi kalau bukan Si Pendekar Buta?
"Locianpwe...?" Tio Ciu In berbisik.
Orang itu tidak menjawab. Dia malah mengangkat
sulingnya. Tapi sebelum suling itu ditiup, Yok Si Ki
sudah lebih dulu melesat ke depan orang itu.
"Tahaaaaan...!" Teriak Ketua Tai-bong-pai itu
keras.
Orang itu tak lain adalah Si Pendekar Buta itu,
menurunkan sulingnya kembali. "Tuan siapa? Apakah
Tuan ingin meniup sulingku juga?"
"Jangan bergurau! Aku Yok Si Ki, Ketua Partai
Tai-bong-pai angkatan ke tujuh! Siapakah kau?
Rasanya aku belum pernah melihatmu di dunia
persilatan...."
Tak terduga Pendekar Buta itu berdesah panjang
sekali. Wajahnya yang tertutup rambut itu mendongak
ke atas, sehingga dari kejauhan penampilannya benar
764
- benar seperti kembar dengan Yok Si Ki. Sama-sama
jangkung, kurus dan berambut panjang. Perbedaan
mereka hanya pada warna rambut dan warna kain
yang mereka pakai. Kalau Yok Si Ki berambut hitam
dan berpakaian serba putih, sebaliknya Pendekar Buta
mengenakan pakaian serba gelap dan rambutnya
sudah bercampur putih.
"Aku memang jarang keluar dari pertapaanku!
Tentu saja Tuan tidak mengenal aku! Orang biasa
menyebutku... Si Buta!"
"Kau... buta?" Yok Si Ki terperanjat.
Pendekar Buta itu mengangguk. "Apakah Tuan
merasa kaget? Kaget menyaksikan orang bermata buta
seperti aku bisa sampai di tempat ini? Ah, maaf...
Tuan tak usah kaget! Aku memang tinggal di sini.
Gua ini... tempat tinggalku."
"Namamu Si Buta? Kau tinggal di sini? Hmmh,
jangan main-main! Katakan saja terus terang... Siapa
namamu sebenarnya?"
"Maaf! Aku sudah lama tidak berhubungan dengan
orang lain. Aku sudah melupakan namaku. Tapi sejak
aku keluar lagi, orang memanggilku Si Buta, dan aku
menerimanya. Jadilah namaku sekarang Si Buta!"
Sementara itu, Tio Ciu In yang sejak tadi merasa
belum diperhatikan oleh Pendekar Buta, segera
melangkah ke depan.
"Locianpwe...? Kau... kau mendengar suara
nyanyianku tadi, bukan?" Tio Ciu In berbisik dan
mencoba mendekat.
765
Tapi Ho Bing segera membentak. "Mau ke mana
kau? Cepat... ke sini!"
Namun entah bagaimana cara bergeraknya, tibatiba
Si Pendekar Buta itu telah berada di antara Tio
Ciu In dan Ho Bing! Demikian cepatnya sehingga
tokoh seperti Yok Si Ki pun sampai kecolongan! Pada
saat menangkap gerakan lawan, Ketua Tai-bong-pai
itu cepat mengangkat kakinya, namun terlambat.
Orang buta itu telah berdiri di dekat Tio Ciu In.
Bahkan Ho Bing yang hanya tiga langkah jaraknya
dari gadis itu tak mampu berbuat banyak.
"Gila...! Karena terlalu meremehkan orang, maka
aku jadi kehilangan selangkah di belakangnya!" Yok
Si Ki menggeram.
Pendekar Buta membawa Tio Ciu In ke samping.
"Ya, Nona Tio... burung elangku memang mendengar
suaramu dan memberitahukannya kepadaku. Emm...
aku tidak terlambat, bukan?"
"Tidak Locianpwe... aku tidak apa-apa."
"Syukurlah...!" Orang tua itu berdesah lega.
"Burung elang...? Oh-oh, jadi burung elang putih
itu kepunyaanmu?" Ho Bing tersentak kaget. "Awas,
Yok Ciang-bun! Tampaknya orang ini adalah
Pendekar Buta yang dikatakan oleh pelayan rumah
makan itu!"
Tiba-tiba Si Buta itu menoleh ke arah Ho Bing.
Keningnya yang tertutup itu berkerut.
"Pelayan rumah makan? Apakah hubungannya
pelayan itu dengan Ji-wi berdua? Ah, ya-ya... aku
766
tahu. Ji-wi tentu kawan si pengacau dari luar Tembok
Besar itu, bukan?" Tak terduga Pendekar Buta itu
memotong ucapan Ho Bing.
Tio Ciu In cepat meraih lengan penolongnya.
"Locianpwe, kau benar. Pengemis jahat ini memang
orang upahan Mo Goat, gadis dari luar Tembok Besar
itu. Dia mau membunuhku!"
"Sudahlah, Nona Tio. Kau tak perlu khawatir. Yok
Si Ki adalah tokoh terkemuka di dunia persilatan. Dia
seorang ke tua partai persilatan yang dihormati orang.
Tentu saja dia takkan mau menghina seorang gadis
muda seperti engkau. Kau akan...."
"Cukup!" Yok Si Ki berteriak. "Kau tidak perlu
mengejek aku! Aku memang tidak berniat
mengganggunya! Aku lebih tertarik kepada kepalan
tanganmu!"
"Sudahlah Yok Ciang-bun... aku tidak ingin
bertentangan denganmu. Aku sudah bosan berkelahi.
Kekerasan tidak akan menyelesaikan masalah.
Kekerasan hanya akan menimbulkan rasa sakit. Sakit
di badan atau pun sakit di hati. Tak ada kedamaian
dan kebahagiaan yang diperoleh dari jalan
kekerasan!"
Bukan main berangnya hati Yok Si Ki. "Aku tidak
butuh ceramahmu! Aku butuh pukulan dan
tendanganmu! Nah, apakah kau takut berhadapan
dengan aku?"
767
Ternyata Pendekar Buta tidak goyah oleh tantangan
lawan. Pendekar itu justru menarik lengan Tio Ciu In
dan mengajaknya pergi.
Tio Ciu In memandang penolongnya dengan
perasaan kagum. "Kau memang hebat, Locianpwe!
Dari sikapmu aku bisa melihat bahwa sebenarnya kau
tidak takut kepadanya. Namun demikian ternyata kau
tidak melayani tantangannya! Kata Guruku, sikap
seperti itu baru bisa dicapai orang setelah dia bisa
mengalahkan dirinya sendiri."
Pendekar itu tersenyum kecut, lalu menggeleng.
"Kau keliru, Nona Tio. Aku bukan manusia seperti
itu. Aku memang benar-benar sudah bosan berkelahi."
"Hei! Berhenti...! Enak saja kau membawa
gadisku!" Tiba-tiba Ho Bing meloncat dan berteriak
lantang.
Tio Ciu In dan Pendekar Buta berhenti melangkah,
lalu dengan berani gadis itu menghadapi Ho Bing.
"Pengemis jahat, kau mau apa? Minta digebuk...?"
Sekarang di bawah perlindungan Pendekar Buta, Tio
Ciu In menjadi galak dan tidak takut lagi kepada
lawan-lawannya.
Ho Bing terkejut. Sesaat ada juga rasa keder
melihat orang buta di belakang gadis itu. Namun
menyaksikan Yok Si Ki juga melesat datang dan
berdiri di sebelahnya, hatinya menjadi besar kembali.
"Hohoho... kau menjadi galak sekarang! Tapi...
tidak apa-apa. Aku justru senang menghadapi gadis
768
bersemangat! Marilah, sayang...!" Ho Bing
mengembangkan lengannya dan maju ke depan.
Tangan Pendekar Buta menyentuh bahu Tio Ciu In
dari belakang. "Nona, kau siap menghadapi dia...?"
Dia berbisik perlahan.
Tio Ciu In mengangguk. "Aku akan
mencobanya...."
"Baiklah. Tapi... kau harus berhati-hati! Dari suara
langkah kakinya, dia tentu memiliki ilmu silat tinggi.
Tapi, terserah kau. Aku... akan menjaga orang yang
bernama Yok Si Ki itu. Tampaknya dia lebih
berbahaya daripada temannya. Nah, demi
keamananmu... bawalah sulingku ini! Selipkan di
pinggangmu! Suaranya bisa menjadi pedoman bagiku
untuk mengikuti gerakanmu." Pendekar Buta itu
berbisik lagi di telinga Tio Ciu In.
Tio Ciu In menerima suling itu dan
menyelipkannya di balik tali pinggang. Setelah itu
kakinya melangkah ke depan sambil mengayunkan
tangan kiri, menyongsong kedatangan Ho Bing. Entah
kapan ia mencabut senjatanya, tapi yang jelas tangan
itu telah memegang sepasang pedang pendek.
"Bagus...!" Ho Bing memuji sambil mengayunkan
tongkatnya untuk menangkis.
Traaaaang! Bunga api muncrat berhamburan
menerangi gua itu.
Keduanya bergetar mundur. Ho Bing tergetar
selangkah ke belakang, sementara Tio Ciu In
terdorong empat langkah lebih banyak.
769
Seperti tahu saja, Pendekar Buta itu berbisik
dengan ilmu Coan-im-jib-bit.
"Jangan terlalu sering mengadu tenaga! Lebih baik
kau mengambil keuntungan dengan pedang
pendekmu. Dia memang lebih kuat, tetapi tidak
segesit gerakanmu. Pedangmu dapat meluncur lebih
cepat daripada tongkat besinya. Lawanlah dari jarak
dekat. Jangan terlalu jauh. Nah, apabila beruntung kau
akan bisa mengalahkannya."
Tio Ciu In
melirik heran.
Rasanya orang
tua itu seperti
tidak buta saja,
dan bisa melihat
apa yang terjadi.
Namun demikian
apa yang
dikatakan orang
itu ia lakukan
juga.
Demikianlah,
sekejap
kemudian terjadilah
pertempuran seru
di dalam gua itu. Tio Ciu In dengan dukungan
Pendekar Buta, berusaha mendesak Ho Bing yang
lebih berpengalaman. Dan sesuai petunjuk
770
penolongnya itu, Tio Ciu In merangsak terus, tanpa
memberi kesempatan pada lawannya untuk
mengambil jarak.
Bertempur di tempat gelap, di antara bebatuan
besar yang berserakan, memang membutuhkan
kemampuan tersendiri. Untunglah dalam
penggemblengannya selama ini, Tio Ciu In bersama
su-heng dan adiknya, juga mendapatkan pelajaran
tentang cara bergerak berdasarkan perasaan nalurinya.
Traaaaang! Traaanng....!
Beberapa kali pedang Tio Ciu In membentur
tongkat lawan, sehingga lengannya terasa linu.
Namun dengan semangatnya yang tinggi gadis itu
tetap menerjang dan bertempur terus dalam jarak
dekat. Ho Bing memang menjadi kewalahan dengan
gaya tempur seperti itu. Tongkat panjangnya sama
sekali tidak mendapatkan ruang gerak untuk
berkembang. Dalam ruang gerak yang sempit,
tongkatnya hanya bisa dipergunakan untuk menangkis
dan membela diri.
Meskipun demikian gaya tempur seperti itu juga
amat berat bagi Tio Ciu In. Tanpa didukung dengan
tenaga dalam yang lebih kuat dan ilmu silat yang lebih
tinggi daripada lawan, gaya tempur seperti itu akan
segera berbalik menjadi bumerang yang akan
menyulitkan diri sendiri.
Sejak semula Pendekar Buta mengira bahwa Tio
Ciu In telah mempelajari Ilmu Silat Kulit Domba,
yang merupakan ilmu andalan Im-yang-kau. Dengan
771
ilmu silat pilihan itu Pendekar Buta berharap Tio Ciu
In mampu menggebrak dan mengacaukan lawannya.
Bahkan dengan kelebihan ilmu silatnya itu, Tio Ciu In
mampu melukai lawannya lebih dulu.
Namun harapan itu tidak terwujud. Tampaknya Tio
Ciu In memang belum mencapai tataran yang tertinggi
dalam ilmu silat Im-yang-kau itu. Malah beberapa
jurus kemudian gadis itu mulai kelihatan keteter dan
terdesak mundur.
Ho Bing memang bukan tokoh sembarangan.
Sebenarnya lelaki pesolek itu bukanlah pengemis
sungguhan. Dia adalah orang kepercayaan Au-yang
Goan-swe yang ditanam di daerah itu untuk
mengawasi kepentingan mereka di sana. Dan pondok
di tengah-tengah rawa itu adalah markas mereka di
daerah pantai timur kota Hang-ciu.
Begitulah, karena sebelumnya memang sudah ada
jalinan rahasia antara Au-yang Goan-swe dan Mo
Tan, maka tidak mengherankan kalau Mo Goat bisa
berhubungan denga Ho Bing. Ketika Mo Goat yang
amat asing di daerah itu, membutuhkan orang yang
bisa membantu dia mencari Tio Ciu In dan kawankawannya,
dia segera menghubungi orang-orang Auyang
Goanswe di daerah itu. Mo Goat lalu bertemu
dengari Ho Bing, dan selanjutnya mengupah
pengemis itu untuk melampiaskan dendamnya.
Sementara itu Ho Bing sendiri sebelum menjadi
orang kepercayaan Au-yang Goanswe, merupakan
tokoh yang amat ditakuti di daerah Barat. Dengan
772
tongkatnya yang berlubang-lubang seperti suling,
tokoh itu malang melintang sebagai jai-hoa-cat
(penjahat pemetik bunga). Berkali-kali para pendekar
dari golongan putih mencarinya, namun tak seorang
pun mampu mengatasinya. Ilmu tongkatnya memang
sulit dicari tandingannya. Selain kuat dan ganas,
jurus-jurusnya juga penuh dengan gerakan-gerakan
licik dan berbahaya. Apalagi di dalam tongkat itu juga
dipasangi berbagai macam jebakan dan senjata rahasia
mematikan.
"Hohoho, bidadariku...! Menyerah sajalah! Kau
bukan lawan yang setimpal buatku! Jangan-jangan
pukulanku malah bisa merusakkan kulitmu nanti...!"
Begitu merasa kemenangan telah berada di tangannya,
Ho Bing mulai mengejek dan tertawa.
Sebenarnyalah Tio Ciu In mulai terdesak di bawah
angin. Dengan makin seringnya mengadu senjata,
maka tenaga simpanan gadis itu juga semakin
berkurang pula. Dan akhirnya tenaga itu benar-benar
terkuras habis.
Begitulah, setelah Tio Ciu In kehabisan tenaga,
maka tongkat Ho Bing mulai melebarkan sayapnya.
Dalam medan tempur yang lebih luas, tongkat
berbahaya itu segera menampakkan kehebatannya.
Terdengar suara mengaung panjang, meliuk-liuk
tinggi rendah, ketika lubang-lubang di dalam tongkat
itu diterobos angin.
Meskipun demikian ternyata sulit juga untuk segera
menjatuhkan Tio Ciu In. Walaupun kalah segala773
galanya, tapi ilmu silat gadis itu juga bukan ilmu silat
pasaran. Dengan segala keuletan dan latihannya
selama ini, Tio Ciu In cukup bisa menjaga dirinya.
Akhirnya habis juga kesabaran Ho Bing. Ketika Tio
Ciu In menangkis sabetan tongkatnya, Ho Bing cepat
memencet salah satu lubang tongkatnya. Buuuuuushh
...! Dari ujung tongkat yang berada tidak jauh dari
wajah Tio Ciu In itu tersebar bubuk kehijauan, yang
kemudian menyelimuti kepala gadis itu.
"Huk-huk-huk... ah, h-h-huk-hukk-huuuuk!" Tio
Ciu In tersedak, kemudian terbatuk-batuk.
"Nona Tio! Apa yang terjadi? Kau kenapa...?"
Tiba-tiba Pendekar Buta menghambur ke depan.
Kesepuluh jari-jari tangannya yang terkembang itu
mendorong ke tubuh Ho Bing. Wussh! Hembusan
angin tajam berbau amis menerjang dengan
dahsyatnya, sehingga Ho Bing maupun Yok Si Ki
menjadi terperanjat bukan main!
"Ho Bing, menghindarlah...!" Yok Si Ki menjerit.
Sambil memberi peringatan Yok Si Ki melesat ke
depan. Sisi tangannya menabas ke arah pukulan
Pendekar Buta. Taaaas! Hembusan angin berbau amis
itu menghantam sisi telapak tangannya dan membias
ke segala penjuru.
"Aaaaah...!" Pendekar Buta mengeluh perlahan dan
tubuhya bergoyang-goyang mau jatuh. Tebasan
tangan Yok Si Ki yang mengandung tenaga bias itu
ternyata bisa membalikkan kekuatannya.
774
"Locianpwe...?" Tio Ciu In yang terbebas dari
semburan bubuk beracun itu segera menubruk
penolongnya.
Pendekar Buta mengambil napas panjang untuk
meluruskan kembali pernapasan dan jalan darahnya.
Setelan semuanya kembali normal, dia baru mengerah
kan perhatian ke sekelilingnya. Dicobanya untuk
mendengarkan keadaan lawannya.
"Jangan khawatir, Nona Tio. Aku tidak apa-apa.
Cuma... penyakit lamaku kelihatannya kambuh
kembali. Aku juga tidak menyangka penyakit itu akan
kambuh pada saat-saat begini. Tapi... sudahlah, aku
bisa mengatasinya. Eh, bagaimana dengan Ketua Taibong-
pai itu? Apakah dia juga baik-baik saja?"
Tio Ciu In melirik. Dilihatnya Yok Si Ki berdiri
tegak di tempatnya. Orang itu tampak garang dan
seperti tidak mengalami gangguan apa-apa.
"Dia... dia berdiri tegak di depan kita. Tampaknya
dia segera akan menyerangmu lagi."
"Aaah, dia memang hebat sekali! Sayang
penyakitku tiba-tiba kambuh...."
"Locianpwe... sakit?" Tio Ciu In berdesah
ketakutan.
"Benar. Sebenarnya aku butuh istirahat untuk
memulihkannya kembali. Tapi dalam keadaan
begini... yah, apa boleh buat! Oleh karena itu kalau
aku tidak bisa menolongmu nanti, kau harus cepatcepat
menerobos ke dalam gua lagi! Jangan keluar
775
dari gua sebelum mereka pergi! Di luar kau akan
mudah ditangkap mereka."
"Locianpwe...?"
"Sudahlah, kau ikuti saja kata-kataku!"
Sementara itu Yok Si Ki melangkah mendekati
Pendekar Buta. Matanya yang tajam dan dingin
seperti mata burung hantu menatap lawannya. Ada
rasa heran dan kurang percaya dalam sorot matanya.
"Sungguh dahsyat sekali pukulanmu! Tidak
kusangka orang tak dikenal seperti engkau, memiliki
tenaga dalam sehebat itu. Sekarang aku benar-benar
menjadi curiga. Siapakah sebenarnya engkau ini ...?"
Yok Si Ki memuji dengan suara menyelidik.
"Sudahlah, Yok Ciangbun. Aku benar-benar tidak
ingin berkelahi denganmu. Lepaskan saja kami berdua
dan biarkan kami pergi."
"Uh, enaknya...! Jangan biarkan mereka lolos,
Ciangbun! Mereka telah berada di bawah kekuasaan
kita. Orang buta ini tidak kuat menahan pukulan sisi
tanganmu. Dan... gadis ini juga sudah terkena
pengaruh bubuk laba-labaku. Sebentar lagi dia akan
roboh dengan sendirinya, hehehe!" Ho Bing berseru
sambil melangkah mendekati Tio Ciu In.
Tapi sebagai orang yang sangat berpengalaman,
Yok Si Ki tidak percaya begitu saja apa yang
dilihatnya. Ia melihat beberapa keanehan pada
lawannya. Semula ia melihat kedahsyatan pukulan
orang buta itu. Rasanya kekuatan orang itu mampu
meruntuhkan sebuah bukit. Tapi anehnya, ketika arus
776
pukulan itu membentur pukulannya, tiba-tiba saja
kekuatan itu menyusut dan hilang.
Ada sesuatu yang tidak dia ketahui. Mungkin
jebakan, tapi kemungkinan juga bukan.
"Orang ini sangat mencurigakan. Satu-satunya jalan
untuk membongkar kedoknya cuma
mengalahkannya...." Yok Si Ki bergumam dalam hati.
"Bagaimana, Yok Ciang-bun? Bolehkah kami
berdua meninggalkan tempat ini?" Pendekar Buta
bertanya perlahan.
Yok Si Ki memandang tajam. "Boleh, tapi... dengan
satu syarat...."
"Syarat...? Apakah syaratnya?"
"Mudah saja, yaitu... kau kalahkan aku dulu!"
Sekonyong-konyong tubuh Pendekar Buta
bergoyang-goyang lagi. Tio Ciu In menjerit dan buruburu
melompat mendekati. Namun seperti halnya
Pendekar Buta, gadis itu mendadak juga terhuyunghuyung.
"Nona Tio...?" Pendekar Buta menyambar
pinggang Tio Ciu In dan menotok beberapa jalan
darah di punggungnya untuk menahan pengaruh racun
yang tampaknya mulai menyerang gadis itu.
Akan tetapi Yok Si Ki tidak memberi kesempatan
lagi. Selagi Pendekar Buta itu sibuk menolong Tio
Ciu In, tangannya segera melayang, menghantam
tengkuk pendekar itu.
"Lihat pukulan!" Dia memberi peringatan.
777
Pendekar Buta terperanjat. Dengan keadaannya
sekarang ia tidak mungkin berkelahi dengan siapapun
juga. Jangankan melawan Yok Si Ki ataupun Ho
Bing, menghadapi Tio Ciu In saja ia takkan mampu.
Tapi ia tak bisa menghindar lagi. Sambil
mendorong tubuh Tio Ciu In, ia membalik dan
terpaksa menangkis pukulan Yok Si Ki. Meskipun dia
tak yakin bisa mengerahkan kekuatannya kembali,
tapi ia tetap mencobanya pula.
Dieees! Dua kekuatan yang maha dahsyat saling
berlaga di udara! Dan kali ini mereka berdua samasama
tergetar mundur! Hanya bedanya, Yok Si Ki
tampak biasa-biasa saja, sementara Pendekar Buta
tampak mengalirkan darah segar dari sudut bibirnya.
"Yok Ciang-bun...! Tampaknya kau telah berhasil
mempelajari Tenaga Sakti Inti Roh atau Tenaga Sakti
Inti Seribu Nyawa, ciptaan mendiang Kwa Eng Ki."
Pendekar Buta berdesis dengan suara terengah-engah.
Ternyata kekuatannya dapat keluar juga, walaupun
baru sebagian saja.
Yok Si Ki terbelalak kaget. Kakinya melangkah
mundur. "Dari mana kau tahu tentang ilmu rahasia
itu? Kau...? Hmm, siapakah kau sebenarnya?"
"Sudah kukatakan, aku hanya seorang lelaki buta
yang tak punya nama. Tak ada gunanya kau
membunuh aku. Lebih baik kau biarkan aku pergi,
dan aku akan sangat berterima kasih kepadamu."
Yok Si Ki mendengus. Hatinya makin penasaran
karena orang buta itu ternyata telah mengenal
778
ilmunya, yang berarti orang itu sudah pernah
mengenal atau berhadapan dengan ilmu tersebut.
Padahal sepengetahuannya baru dia sendiri yang
berhasil mempelajari ilmu tersebut.
"Lalu dengan siapa dia pernah berhadapan?
Mendiang ketua Tai-bong-pai lama, Kwa Eng Ki?
Atau... jangan-jangan dia bertemu dengan Tai-bongpai
Kui-bo, yang telah bisa memecahkan kunci
rahasia ilmu itu di buku Tai-bong Pit-kip...!" Yok Si
Ki membatin.
Begitu ingat Tai-bong Kui-bo, ketua Tai-bong-pai
itu seperti tersentak dari tidurnya. Hatinya menjadi
curiga. Jangan-jangan orang buta di depannya itu
memang pernah bertemu dengan Tai-bong Kui-bo dan
merampas bukunya.
"Kau.... kau? Apakah kau kenal dengan Tai-bong
Kui-bo?" Tak terasa mulutnya terbuka.
Pendekar Buta mengerutkan dahinya. "Apa? Taibong
Kui-bo? Siapakah dia? " Katanya tak mengerti.
Yok Si Ki tertegun. Ia melihat kejujuran pada
wajah lawannya.
"Baiklah, kalau memang tidak tahu... ya, sudah!
Sekarang kita selesaikan saja persoalan kita dengan
kaki tangan."
Selesai berkata Yok Si Ki benar-benar menyerang
Pendekar Buta. Kedua telapak tangannya mendorong
ke depan dengan kekuatan penuh. Dari kedua
tangannya itu tersebar bau wangi menusuk hidung.
779
Pendekar Buta buru-buru melangkah ke samping.
Meskipun lawannya belum mempergunakan Tenaga
Sakti Inti Roh, tetapi Hio-yen Sin-kang (Tenaga Sakti
Asap Dupa) yang ia hadapi sekarang juga tidak kalah
berbahaya pula. Tenaga Sakti yang menjadi tumpuan
para anggauta Tai-bong-pai itu sangat terkenal di
dunia persilatan.
Namun pada saat yang sama, rasa sakit itu tiba-tiba
kambuh lagi! Begitu sakitnya sehingga Pendekar Buta
kembali terhuyung-huyung mau jatuh. Akibatnya
serangan Yok Si Ki tak bisa dihindari sepenuhnya!
Sreeet...! Angin pukulan Yok Si Ki menyerempet
bahu Pendekar Buta, sehingga tubuh orang tua itu
terpelanting menabrak dinding!
Yok Si Ki tak mau memberi kesempatan lagi.
Sesuai dengan wataknya yang ganas dan kejam, maka
serangan berikutnya segera tertuju pada jantung
lawannya.
Wuuuuuus...! Dan kali ini Yok Si Ki benar-benar
mempergunakan Tenaga Sakti Inti Roh! Pasir dan
kerikil tampak bertebaran di sekelilingnya, sehingga
ketua Tai-bong-pai itu seperti dikurung pusaran pasir
lembut.
"Locianpwe...!" Tio Ciu In menjerit dan mencoba
menolong Pendekar Buta yang jatuh terlentang di
lantai gua.
"Nona Tio, jangan mendekat..." Pendekar Buta
berseru.
780
Terlambat. Tio Ciu In yang berada di garis pukulan
Yok Si Ki tak mampu mengelak lagi. Disertai dengan
suara jeritannya yang keras gadis itu terpental dan
tubuhnya menimpa Pendekar Buta.
"Nona Tio...!?!" Pendekar Buta yang tidak bisa
melihat bagaimana keadaan gadis itu berteriak
ketakutan.
Orang tua itu cepat meraba seluruh tubuh Tio Ciu
In. Ketika kemudian tersentuh oleh jarinya darah yang
mengalir dari mulut gadis itu, kemarahannya tak bisa
dibendung lagi. Bergegas gadis itu diletakkan di
dekatnya, lalu tiba-tiba tubuhnya melenting berdiri
dan mengaum keras sekali!
"Aaaaaaarrrrrgghh.....„!!!"
Begitu kuat dan keras getarannya sehingga gua itu
bagaikan digoyang oleh gempa. Dan getaran itu
semakin menjadi-jadi ketika dalam kemarahannya
Pendekar Buta itu menjebol sebuah batu besar, dan
membantingnya kuat-kuat!
Dhuuuuuuaaaaaar......!
Pecahan batu kerikil dan pasir berhamburan disertai
suara gemuruh memekakkan telinga. Akibatnya gua
itu bergetar hebat seolah mau runtuh. Bahkan getaran
itu juga menyebabkan batu dan debu di atas langitlangit
gua berhamburan ke bawah.
Ribuan kelelawar penghuni gua itu mencicit
ketakutan. Mereka mencoba menyelamatkan diri
dengan terbang keluar gua. Begitu kacau dan ributnya
781
suasana sehingga banyak yang saling bertabrakan di
udara, atau jatuh menggelepar tertimpa pecahan batu.
Suasana di dalam gua itu benar-benar seperti
neraka. Debu dan pasir bertebaran, disertai jatuhnya
bongkahan-bongkahan batu yang retak dan copot dari
langit-langit gua.
"Yok Ciang-bun! Cepat kita keluar sebelum gua ini
benar-benar runtuh!" Ho Bing berteriak dan lebih dulu
meloncat ke arah pintu gua.
Yok Si Ki tidak menjawab, tapi dengan tangkas
tubuhnya berloncatan di antara hujan batu. Mereka
sama sekali tak memikirkan nasib Pendekar Buta dan
Tio Ciu In lagi. Bagi mereka yang penting adalah
menyelamatkan diri mereka sendiri.
Dalam situasi demikian, maka tingkat kesaktian
seseorang akan tampak dengan jelas. Ho Bing yang
tangkas dan memiliki tenaga dalam cukup tinggi,
tetap bisa bergerak dengan cepat dan lincah.
Tubuhnya dapat meliuk-liuk, ke kanan dan ke kiri,
menghindari batu-batu besar yang berjatuhan dari
langit-langit gua. Tongkatnya berputar seperti gasing
di atas kepalanya, bagaikan lembaran kain payung
melindungi badan dari guyuran debu dan kerikil
tajam.
Gerakan Ho Bing benar-benar hebat. Ketika
kemudian kakinya menginjak pintu gua, tubuhnya
sama sekali tidak terluka. Bahkan pakaian yang dia
kenakan masih tetap bersih dan rapi. Hanya sepatu
782
dan ujung celananya saja yang tampak kotor terkena
debu.
Namun apa yang dilakukan Ho Bing tersebut
ternyata belum sehebat apa yang dikerjakan oleh Yok
Si Ki. Dalam keadaan hiruk-pikuk seperti itu, ternyata
gerakan yang dilakukan oleh Yok Si Ki benar-benar
sulit diterima akal sehat.
Seperti saat mengerahkan Tenaga Sakti Inti Roh
tadi, maka sambil berloncatan tubuh Yok Si Ki seperti
mengeluarkan angin berputar yang membiaskan
segala macam benda yang datang kepadanya.
Tubuhnya seakan-akan terlindung oleh tabung kaca
yang tak kelihatan oleh mata. Sebentar saja tubuh
ketua Tai-bong-pai itu telah berada di luar gua,
mendahului Ho Bing yang sebenarnya sudah lebih
dulu menyelamatkan diri.
Ho Bing benar-benar semakin keder melihat
kesaktian Yok Si Ki. Orang itu seperti setan saja,
tahu-tahu telah berdiri di luar gua.
Sementara itu hiruk-pikuk di dalam gua itu masih
saja berlangsung dengan hebatnya. Bahkan debu tebal
bercampur pasir juga menyembur sampai ke luar gua,
sehingga lubang-lubang mulut gua itu bagaikan
kepundan gunung berapi yang sedang menyemburkan
asapnya.
Ho Bing dan Yok Si Ki terpaksa melompat ke
belakang menjauhi lubang gua itu.
"Bagaimana... dengan gadis itu, Yok Ciang-bun?
Apakah Si Buta mampu menyelamatkannya?" Di
783
dalam ketegangannya Ho Bing masih juga
memikirkan Tio Ciu In.
Yok Si Ki menghela napas panjang.
"Entahlah...! Rasanya sulit untuk keluar dari gua itu
kalau kita harus menggendong orang lain."
"Lalu... apa yang akan kita perbuat? Menunggu
sampai reda dan mencari mereka?"
Yok Si Ki mengangguk. "Kita harus tahu,
bagaimana keadaan mereka. Mati atau hidup. Kalau
sudah mati, kita tinggalkan saja tempat ini. Tetapi
kalau ternyata mereka masih hidup, kita harus
membunuhnya lebih dulu. Aku tidak ingin menanam
bibit kesulitan di kemudian hari."
Akan tetapi sampai matahari hampir terbenam,
reruntuhan di dalam gua itu belum juga tuntas. Sekalisekali
masih terdengar suara gemuruh jatuhnya
bebatuan dari langit-langit gua. Tentu saja Yok Si Ki
dan Ho Bing tak ingin mengambil resiko masuk ke
dalam.
"Lihat, Yok Ciang-bun! Aliran sungai dari dalam
gua itu tidak mengalir ke luar lagi. Tampaknya alur
sungai itu telah tertimbun tanah dan bebatuan. Dan hal
itu. berarti terowongan-terowongannya akan penuh
terisi air. Oleh karena itu kalau mereka masih hidup,
mereka akan tetap sulit pula untuk menyelamatkan
diri."
Sekali lagi Yok Si Ki menganggukkan kepalanya.
"Tampaknya memang demikian. Kalau begitu kita
tinggalkan saja tempat ini!"
784
Demikianlah, mereka berdua lalu meninggalkan
pantai itu, dan kembali ke kota Hang-ciu. Sama sekali
mereka tak menduga kalau lawan-lawan mereka
masih tetap hidup di antara reruntuhan gua itu.
Ternyata pada saat bencana itu terjadi, Pendekar
Buta dengan sisa-sisa tenaganya, masih dapat
menyeret tubuh Tio Ciu In ke dalam lubang
terowongan yang dikenalnya. Kemudian sambil
menunggu redanya bencana tersebut, Pendekar Buta
mencoba mengobati luka-luka dalam yang diderita
oleh gadis itu. Namun karena luka-lukanya memang
terlalu parah, sementara Pendekar Buta sendiri juga
dalam keadaan lemah, maka usaha tersebut kurang
membawa hasil. Gadis itu tetap tergolek pingsan di
tempatnya, meskipun nyawanya masih bisa
diselamatkan.
Ketika hari semakin gelap, dan hawa malam mulai
terasa mengalir dalam gua, Pendekar Buta merasakan
tubuhnya mulai membaik. Sementara itu Tio Ciu In
juga mulai siuman dari pingsannya. Gadis cantik itu
mulai membuka matanya.
"Locianpwe...??" Jeritnya lirih tatkala melihat
Pendekar Buta itu duduk di dekatnya.
"Syukurlah... kau telah siuman kembali, Nona. Aku
benar-benar khawatir melihat keadaanmu. Pukulan
Ketua Tai-bong-pai tadi sungguh dahsyat sekali.
Pukulannya menyebabkan jalan darahmu menjadi
kacau. Bahkan beberapa diantaranya tertutup.
Beruntung aku segera dapat memperbaiki dan
785
membukanya kembali. Namun demikian kau tetap
harus beristirahat penuh dalam beberapa hari ini.
Engkau harus berlatih dan membiasakannya lagi
secara hati-hati."
"Terima kasih, Locianpwe. Kau telah menolong
jiwaku. Aku tidak tahu bagaimana jadinya bila
Locianpwe tidak ada.
Oooohh!!"
Tio Ciu In bangkit dan merangkapkan dua
tangannya di depan dada. Tapi mulutnya segera
menjerit kecil ketika sadar tubuhnya tidak
mengenakan pakaian sama sekali. Otomatis kulit
mukanya menjadi merah sekali.
Meskipun tidak bisa melihat, tetapi Pendekar Buta
bisa menebak apa yang terjadi. Tergopoh-gopoh ia
meminta maaf.
"Maaf, Nona Tio. Aku terpaksa membuka
pakaianmu. Tidak ada jalan lain untuk menolongmu,
selain harus cepat-cepat membenahi jalan darah yang
kacau itu. Keadaanmu tadi benar-benar sangat
mengkhawatirkan. Celakanya, setelah pengobatan
selesai dan keadaanmu telah menjadi baik, aku justru
tidak berani mengenakan pakaianmu kembali. Aku
memang orang tua yang canggung. Sekali lagi,
maafkanlah aku..." Orang tua itu berkata dengan rasa
sesal yang dalam.
Sebenarnya Tio Ciu In sudah hampir menangis.
Namun melihat kesungguhan orang tua itu, hatinya
menjadi sadar kembali. Bagaimanapun juga orang tua
786
itu telah menolong jiwanya. Apalagi orang tua itu
menolong dengan sungguh-sungguh. Tidak ada tandatanda
buruk yang menyatakan bahwa orang tua itu
berniat jelek terhadapnya.
Tio Ciu In segera mengenakan pakaiannya kembali.
Rambutnya yang kusut ia rapikan kembali, walaupun
tanpa tali pita, karena talinya telah hilang entah ke
mana. Begitu pula dengan sepasang sepatunya.
Barang itu juga hilang. Kemudian sambil memasang
ikat pinggangnya, dia melirik ke arah penolongnya.
Tiba-tiba matanya terbelalak. Dilihatnya orang tua
itu mengcengkeram perut dan dadanya. Mulutnya
meringis menahan sakit, sementara tubuhnya tampak
bergetar seperti orang kedinginan. Bahkan dahinya
sudah penuh keringat.
"Locianpwe...??" Tio Ciu In menjerit kaget.
Namun orang tua itu tak menjawab. Dia sedang
sibuk melawan rasa sakit yang menyerangnya. Ketika
tubuhnya kemudian bergetar dengan hebat dan
bergoyang-goyang mau jatuh, Tio Ciu In menubruk.
Ternyata pendekar tua itu telah pingsan. Matanya
terpejam, sementara pakaiannya basah oleh keringat.
"Locianpwe....? Locianpwe...!" Tio Ciu In
berteriak-teriak memanggil sambil mengguncang
tubuh tua itu.
Beberapa saat kemudian mata itu terbuka kembali.
Tetapi selain sangat pucat, orang tua itu tampak lemah
sekali.
787
"Maaf, Nona Tio... penyakit lamaku benar-benar
kambuh lagi. Untuk beberapa hari aku tidak akan bisa
berbuat apa-apa. Kaki dan tanganku lumpuh. Aku
hanya dapat menggerakkan kepalaku saja."
"Lumpuh...? Locianpwe lumpuh?" Tio Ciu In
berdesah tak percaya.
"Benar. Aku akan menderita lumpuh untuk
beberapa hari, sampai penyakit itu pergi...."
Tio Ciu In memandang wajah yang hampir tertutup
oleh kumis dan jenggot panjang itu. Dia benar-benar
tak mengerti, penyakit apa yang diderita orang tua itu,
sehingga harus menderita sedemikian hebatnya.
Tampaknya Pendekar Buta tahu apa yang
dipikirkan Tio Ciu In.
"Nona Tio, aku menderita penyakit 'Salah Jalan'.
Belasan tahun yang lalu ketika sedang berlatih
menghimpun tenaga sakti, seorang musuh telah
membokong aku, sehingga latihanku menjadi 'salah
jalan'. Lebih celaka lagi, dalam situasi yang tidak
menguntungkan itu, musuh-musuhku yang lain juga
datang dan mengeroyok aku. Terpaksa dalam keadaan
lemas dan hampir lumpuh aku menghadapi mereka.
Ketika akhirnya aku bisa juga meloloskan diri,
keadaanku benar-benar sudah hancur luar-dalam.
Badanku penuh' darah, sementara luka di bagian
dalam tubuhku juga parah sekali. Boleh dikatakan
keadaanku saat itu seperti mayat hidup. Hidup tidak,
tapi matipun juga belum."
788
Orang tua itu berhenti sebentar untuk mengambil
napas. Kulit mukanya tampak semakin pucat.
"Akhirnya luka-luka itu memang bisa
kusembuhkan. Tapi akibat dari 'salah jalan' itu masih
kuderita sampai sekarang. Apabila penyakit itu
datang, aku sama sekali tidak bisa berbuat apa-apa
untuk mencegahnya. Badanku akan lumpuh untuk
beberapa hari."
Tio Ciu In menganguk-angguk. Gurunya memang
pernah bercerita, bahwa dalam ilmu silat sering terjadi
'salah jalan'. Semakin tinggi dan rumit ilmu yang
dipelajari, semakin banyak pula resiko untuk
menderita 'salah jalan'. Bahkan kesalahan itu sering
membawa kematian.
"Lalu... di mana keluarga Locianpwe? Tentunya
mereka yang merawatmu jika penyakit itu datang."
Orang tua itu menarik napas dalam-dalam. Dan
jawabannya sungguh mengejutkan Tio Ciu In.
"Aku tidak memiliki keluarga lagi, Nona.
Semuanya telah tiada. Ayahku, Ibuku, isteriku, anakanakku,
semuanya telah mati mendahului aku. Kini
aku hanya sebatang kara saja di dunia ini."
"Sendirian...? Lalu... siapa yang merawatmu selama
ini kalau penyakit itu datang? Bukankah kau tidak
bisa apa-apa?"
Orang tua itu tersenyum kecut. "Sudah lama aku
ingin mati, agar arwahku bisa segera berkumpul
dengan keluargaku. Maka di saat-saat kambuh seperti
ini, aku justru berharap segera bisa mati. Tapi sampai
789
sekarang penyakit itu belum juga bisa mencabut
nyawaku. Meskipun berhari-hari perutku tak diisi,
tergolek di tanah dikerumuni semut dan nyamuk, aku
tetap masih hidup."
"Aaaah...!" Tio Ciu In menggeleng-gelengkan
kepalanya.
"Bahkan penyakit ini pernah kambuh di saat aku
sedang mandi di sungai bawah tanah itu. Begitu
mendadak, sehingga aku tidak bisa berbuat apa-apa
untuk menyelamatkan diri. Aku tergolek tak berdaya
di dalam air dingin itu selama berhari-hari. Celakanya,
kepalaku masih tersangkut diantara dua batu, sehingga
aku masih tetap bisa bernapas."
"Aaah! Lalu, berapa hari biasanya penyakit itu
menyerang?"
"Yah, tergantung keadaan. Kadang-kadang tiga
hari... lima hari, atau... sepuluh hari. Tapi biasanya
cuma lima hari."
"Lima hari? Lama juga..." Tio Ciu In bergumam.
"Ah, biarkan saja. Aku juga tidak pernah
memikirkannya lagi. Aku malah senang kalau bisa
mati. Semuanya berakhir, dan aku segera bisa bertemu
dengan isteriku... anak-anakku. Mereka sudah terlalu
lama menungguku."
"Locianpwe....?"
"Sudahlah, Nona. Kau tak perlu berpikir apa-apa.
Yang penting kini adalah mengembalikan tenagamu.
Berlatihlah dengan tekun agar kesehatanmu cepat
790
pulih kembali. Setelah itu kau bisa keluar dari gua
ini."
Tio Ciu In terdiam. Matanya memandang orang tua
itu dengan penuh perasaan haru dan sedih. Orang tua
yang memiliki ilmu silat sangat tinggi itu ternyata
sangat menderita dalam hidupnya. Entah mengapa,
tiba-tiba timbul perasaan kasihan di dalam hatinya.
"Locianpwe, kau juga tidak perlu khawatir.
Sementara aku di sini, aku akan merawatmu. Kita
sama-sama memulihkan kesehatan."
Demikianlah, untuk membalas budi orang tua itu
Tio Ciu In merawatnya dengan baik. Atas petunjuk
orang tua itu Tio Ciu In membawa penolongnya itu ke
gua tempat tinggalnya. Gua itu dapat dicapai melalui
lorong-lorong kecil di dalam tanah. Karena Tio Ciu In
sendiri juga masih lemah, maka perjalanan itu
membutuhkan waktu yang lama.
Gua itu bersih dan nyaman. Hembusan udara yang
mengalir lewat aliran sungai di depan pintu gua,
membuat tempat tersebut tidak panas dan pengap.
Sementara di dalam ruang gua telah diatur dan ditata
seperti sebuah kamar besar. Ada tempat memasak,
mencuci, serta tempat untuk istirahat.
Malam itu angin laut bertiup dengan kencangnya,
sehingga udara segar juga berhembus pula dengan
kuatnya ke dalam gua. Tio Ciu In mengambil selimut
yang ada di rak batu dan menutupkannya di atas tubuh
Pendekar Buta.
791
Tiba-tiba gadis itu menarik napas panjang. Entah
mengapa, pikirannya melayang kepada Liu Wan,
pemuda yang selalu berbaik hati menolongnya.
Pemuda itu tentu sedang mencarinya sekarang.
Mungkin pemuda itu bersama Jeng-bin Lo-kai dan
kawanan pengemisnya sedang mengobrak-abrik
pondok kecil di tengah rawa itu.
SAMA SEKALI tidak terpikirkan oleh Tio Ciu In,
bahwa pada saat itu Liu Wan justru sedang
menghadapi maut. Dalam keadaan tertotok lemas
pemuda itu harus menghadapi api yang berkobar
hebat di sekelilingnya.
-- o0d-w0o --
JILID XIX
ETIKA dinding pondok itu mulai
terkoyak api, maka satu persatu kayu
penahan genting pun mulai berjatuhan
pula. Sementara itu di bagian bawah, tiang
penyangga rumah juga sudah mulai goyah
digerogoti api.
Liu Wan terbatuk-batuk. Matanya hampir tak bisa
dibuka lagi. Ruangan itu penuh asap tebal yang
menyesakkan napas.
K
792
Mendadak lantai ruangan itu berderak patah.
Ternyata lidah api benar-benar telah membakar balok
penyangga lantai, sehingga lantai papan di atasnya
langsung rontok pula ke bawah. Otomatis semua
orang yang ada di dalam ruangan itu terjeblos ke
bawah.
Byuuuuur......!
Dalam keadaan lumpuh dan terikat mereka tak
mungkin dapat bergerak atau berenang
menyelamatkan diri. Apalagi ketiga tokoh Aliran Imyang-
kau itu terikat menjadi satu. Yang bisa mereka
lakukan hanya berusaha untuk tetap mengambang dan
menempatkan hidung mereka di atas air. Tapi untuk
melakukan hal itu juga sulit bukan main. Terutama
bagi orang-orang Im-yang-kau itu. Selain guncangan
air membuat mereka selalu bergerak timbultenggelam,
mereka harus bisa saling bergantian
mengambil napas di permukaan air. Dan usaha itu
semakin sulit dengan adanya kayu-kayu yang
berjatuhan dari rumah.
Untunglah mereka berempat merupakan jago-jago
silat yang sudah terbiasa melakukan latihan bernapas
di dalam air. Sehingga dengan kemampuan dan
kecerdikan mereka, mereka bisa memanfaatkan setiap
kesempatan yang ada. Bahkan dengan memanfaatkan
alunan gelombang air, mereka dapat menghindari
kayu dan api yang berjatuhan di sekitar mereka.
Karena pondok itu memang terpencil dan jauh dari
pemukiman penduduk, maka tak seorang pun
793
mengetahui kebakaran tersebut. Sampai pondok itu
habis roboh ke dalam air, tidak seorang pun datang
melawat ke tempat itu.
Akhirnya dengan memanfaatkan gelombang air,
mereka berempat dapat mendarat di tepian empang.
Mula-mula yang dapat membebaskan diri dari
pengaruh totokan adalah Lo-jin-ong. Orang tua itu
segera melepaskan diri dari ikatan dan keluar dari
dalam air. Kemudian berturut-turut ia menolong Tan
Sin Lun, Giam Pit Seng, dan Liu Wan. Dan begitu
selesai mengeluarkan mereka, orang tua itu lalu duduk
bersamadi untuk memulihkan tenaga lebih dulu.
Beberapa saat kemudian orang tua itu menarik
napas panjang. Lalu tubuh yang bongkok itu berdiri.
Wajah tua renta itu sudah berseri-seri kembali.
Liu Wan memandang kagum. Orang tua itu benarbenar
memiliki kepandaian yang sangat tinggi. Hanya
dalam waktu singkat dia bisa memunahkan totokan
lawan.
Padahal dengan segala kepandaiannya Liu Wan
masih tetap belum bisa melepaskan diri. Bahkan
usahanya itu justru membuat otot-ototnya menjadi
sakit.
"Locianpwe, tolonglah aku. Bukalah totokanku
ini..." Akhirnya pemuda itu memohon perlahan.
Orang tua itu menoleh. Mulutnya yang ompong tak
bergigi itu tersenyum lebar.
"Anak muda, ilmu silatmu tadi benar-benar hebat.
Kau bisa melayani Bocah Gila itu dalam beberapa
794
saat lamanya. Aku lantas teringat kepada sahabatku,
yang memiliki gerakan seperti ilmu silatmu itu. Dia
bernama Hong-lui-kun Yap Kiong Lee (Si Tinju Petir
dan Badai). Hemmm, kau kenal dengan dia?"
Liu Wan tak segera menjawab. Selama ini ia selalu
menyamar karena tak ingin dikenal orang, sehingga
pertanyaan itu sulit dijawabnya. Untunglah pada saat
yang bersamaan terdengar suara ramai mendatangi.
"Apakah itu...?" Liu Wan pura-pura kaget.
Lo-jin-ong menoleh. Dilihatnya beberapa orang
penduduk berlari ke tempat itu. Karena hari sudah
gelap, mereka membawa obor di tangan.
Ternyata ada juga seorang penduduk yang melihat
kebakaran itu. Kebetulan sore tadi ia ingin berobat ke
rumah Tabib Ciok. Melihat pondok itu dimakan api,
dia cepat kembali memberi tahu tetanggatetangganya.
Tapi karena kampung mereka cukup
jauh, maka kedatangan mereka sudah terlambat.
Namun demikian kedatangan orang-orang itu cukup
memberi pertolongan kepada Liu Wan dan kawankawannya.
Mereka membawa Liu Wan dan
rombongan orang Im-yang-kau itu ke kampung
mereka. Mereka bergantian menggotong Liu Wan,
Giam Pit Seng dan Tan Sin Lun. Hanya Lo-jin-ong
yang bisa berjalan sendiri.
Ternyata mereka tidak mengenal Liu Wan. Wajah
pemuda itu sama sekali tidak mirip Tabib Ciok,
karena penyamarannya telah dicopot dan dipereteli
oleh Mo Hou. Apalagi alat penyamarannya yang lain,
795
seperti bantal pengganjal pung gung, gigi palsu, dan
lain-lainnya, juga copot di dalam empang.
Orang-orang itu tinggal di dekat kuil Pek-hok-bio,
yang semalam baru saja diobrak-abrik oleh kawanan
pengemis dari Tiat-tung Kai-pang.
Tag:cersil cersil indo cersil mandarin full cerita silat mandarin online cersil langka cersil mandarin lepas cerita silat pendekar matahari kumpulan cerita silat jawa cersil mandarin beruang salju. cerita silat pendekar mataharicerita silat indonesia cerita silat kho ping hoo cerita silat mandarin online cerita silat mandarin full cerita silat jawa kumpulan cerita silat cerita silat jawa pdf cerita silat indonesia gratis cerita silat jadul indonesia cerita silat indonesia pendekar rajawali sakti cersil indonesia pendekar mabuk cersil langka cersil dewa arak cerita silat jaman dulu cersil jawa download cerita silat mandarin full cerita silat mandarin online cersil mandarin lepas cerita silat mandarin pendekar matahari cerita silat jawa pdf cersil indonesia pdf cersil mandarin beruang salju kumpulan cerita silat pdf
kumpulan cerita silat cersil online
Share:
cersil...
Comments
0 Comments

Arsip Cersil

Best Cersil

Pecinta Cersil